14. Istana dari Papan Kayu

291

14. Istana dari Papan Kayu

Seiring dengan bertambahnya usia dan semakin dalam-nya ilmu olah senjata serta siasat perang yang dipela-jari oleh Kurawa dan Pandawa, Duryodhona semakin iri melihat keperkasaan Bhima dan kesaktian Arjuna dalam segala hal. Duryodhona kemudian mengangkat Karna dan Syakuni sebagai penasihatnya dan menugaskan mereka untuk merencanakan siasat-siasat licik untuk mengalah-kan Pandawa.

Dritarastra, ayah Kurawa, sebenarnya bijaksana dan sangat mencintai Pandawa, putra-putra adiknya. Sayang-nya, ia berwatak lemah. Dalam menentukan segala sesu-atu, ia terlalu memihak putra-putranya sendiri. Semua keinginan putra- putranya, terutama keinginan Duryodha-na, selalu dikabulkannya. Tidak jarang, dengan sadar ia menuruti mereka meskipun tahu bahwa mereka salah.

Bagi Duryodhona, yang lebih menyakitkan hati adalah kenyataan bahwa rakyat Hastina, terutama yang tinggal di ibukota Hastinapura, selalu memuji-muji Pandawa secara terang-terangan. Mereka senantiasa menyerukan bahwa Yudhistiralah yang paling tepat dinobatkan sebagai raja, menggantikan Dritarastra. Rakyat bergerombol di jalan-jalan, memperdebatkan siapa yang paling pantas menjadi raja mereka. Sering terdengar percakapan seperti ini.

“Dritarastra tidak pantas menjadi raja karena ia buta. Ia tidak mampu memerintah kerajaan dengan baik karena kekurangannya itu. Bhisma juga tidak mungkin menjadi raja, karena ia telah bersumpah akan mengabdikan selu-ruh hidupnya pada kebenaran, keadilan dan kesucian. Kecuali itu, ia memang tidak ingin menjadi raja dan sudah bersumpah takkan pernah menikah. Karena itu, Yudhis-tiralah yang paling pantas dinobatkan menjadi raja. Hanya dialah yang akan dapat memerintah wangsa Kuru dan kerajaan ini dengan adil.”

Demikianlah rakyat berbicara di mana-mana. Mende-ngar semua itu, telinga Duryodhona terasa panas. Hatinya sakit didera rasa iri dan kebencian. Ia menghadap ayah­nya, mengadukan hal itu. Katanya, “Ayahanda, rakyat kerajaan ini telah menghina kita. Mereka sama sekali tidak punya rasa hormat kepada orang- orang yang patut dimu-liakan seperti Bhisma dan Ayahanda sendiri. Menurut mereka, kerajaan ini seharusnya diperintah oleh Yudhistira karena dialah yang paling pantas menjadi raja.

“Mereka berkata bahwa karena buta, sebenarnya Aya­handa tidak pantas menjadi raja. Jika mereka bersikeras meminta penobatan Yudhistira, itu berarti

kehancuran bagi kita. Ayahanda telah mengalah kepada Paman Pandu. Kalau tidak karena Paman Pandu mengundurkan diri, Aya-handa takkan pernah menjadi raja. Sekarang, jika Yudhis-tira menuntut haknya untuk menggantikan ayahnya, ke manakah kita akan pergi? Tak ada lagi kesempatan bagi keturunan kita untuk menjadi raja, karena hanya keturu-nan Yudhistira atau Pandawa yang berhak menjadi raja. Keturunan kita akan menjadi orang-orang miskin yang menggantungkan hidupnya pada belas kasihan keturunan Pandawa.”

Dritarastra merenung mendengar kata-kata anaknya. Beberapa lama kemudian dia berkata, “Anakku, apa yang engkau katakan itu benar. Namun, Ayah percaya, Yudhis-tira pasti takkan menyimpang dari jalan yang benar dan penuh kebajikan. Ia mengasihi kita semua. Ia mewarisi semua sifat mulia ayahnya. Rakyat mengagumi dia dan mereka pasti mendukung dia. Semua menteri dan senapati juga mencintai Pandu dan mereka pasti akan mengabdi padanya dengan sepenuh hati. Rakyat memang memuja Pandawa. Kita tak dapat menentang mereka atau menung-gu kesempatan baik untuk mengalahkan Pandawa. Sean-dainya kita berbuat tidak adil dan tidak benar, rakyat akan berontak melawan kita. Mereka akan mengusir kita dan kita akan terjerumus dalam kubangan kutuk dan cemooh.”

Duryodhona menjawab, “Rasa cemas Ayahanda tidak beralasan. Dalam keadaan paling buruk pun Bhisma tetap tidak akan memihak, sedangkan Aswattama pasti akan patuh padaku. Dan itu berarti bahwa ayahnya, Mahaguru Drona, dan Mahaguru Kripa ada di pihak kita. Widura tak mungkin menentang kita secara terang-terangan, kecuali jika dia punya alasan lain, sebab ia tidak punya pengikut atau kekuatan apa pun. Kirimlah Pandawa ke Waranawata secepatnya.

“Ayahanda, sejujurnya hatiku terasa sesak, penuh den-dam dan iri hati. Aku tak tahan lagi memendam semua perasaan ini. Aku selalu gelisah, tak enak makan dan tak enak tidur. Semua ini seakan-akan merobek-robek dada-ku. Hidupku terasa penuh siksa dan derita.

“Ayahanda, segera kirimlah Pandawa ke Waranawata. Setelah itu, kita akan menghimpun kekuatan kita.”

Setelah Duryodhona berkata demikian, para penasihat raja datang dan bergantian memberikan nasihat kepada Dritarastra. Mereka semua mendukung rencana Duryodha-na. Kanika, tangan kanan Syakuni dan pemimpin kelompok ini, mengusulkan kepada Dritarastra, “Paduka, hamba mo-hon Paduka berhati-hati dan waspada terhadap anak-anak Pandu, sebab kebaikan dan pengaruh mereka merupakan ancaman bagi kewibawaan Paduka. Ketahuilah, semakin dekat hubungan keluarga, semakin dekat dan semakin mengerikan pula bahaya itu. Mereka sangat kuat.”

Dritarastra diam, mendengarkannya sungguh-sungguh.

Kemudian Kanika melanjutkan, “Jangan Paduka gusar kepada hamba jika hamba katakan bahwa seorang raja harus berkuasa dalam nama, di atas takhta dan tinda-kannya, sebab tak seorang pun akan percaya pada keku-atan yang tidak pernah diperlihatkan. Hal-hal yang berkai-tan dengan tata kerajaan memang harus dirahasiakan. Tetapi, bukti nyata suatu rencana bijak bagi rakyat adalah pelaksanaannya. Bodoh sekali kalau menunjukkan kemes-raan terhadap mereka.

“Demikianlah, keburukan harus dilenyapkan sama sekali. Ibarat duri dalam daging, jika dibiarkan akan menyebabkan luka membisul. Musuh yang perkasa harus dihancurkan, namun musuh yang kecil dan lemah jangan dilalaikan. Ibarat

bara, jika tidak segera dipadamkan bisa berkobar menyala membakar hutan. Jika tak bisa meng-hancurkan musuh perkasa dengan kekuatan senjata, kita gunakan tipu muslihat.”

Duryodhona meyakinkan ayahnya bahwa ia telah ber-hasil menghimpun sekutu dan pengikut yang setia. Kata­nya, “Ananda telah menghadiahkan harta benda, pangkat dan kehormatan kepada semua pengawal kerajaan Has-tina. Ananda telah membuat mereka bersumpah untuk setia kepada kita. Begitu Ayahanda mengirim Pandawa ke Waranawata, seisi ibukota dan kerajaan ini akan memihak kita. Tak ada lagi sekutu Pandawa di kerajaan ini. Begitu kerajaan ini ada di tangan kita, mereka akan kehilangan kekuasaan. Setelah itu, barulah kita pikirkan bagaimana caranya melenyapkan mereka.”

Jika seseorang banyak mendengar tentang apa yang sebenarnya ingin ia yakini, maka ia akan merasa bahwa keyakinannya itu benar. Demikianlah, pikiran Dritarastra goyah oleh desakan anaknya dan anjuran para penasihat-nya. Tanpa mampu berpikir jernih, ia merestui rencana Duryodhona.

Sejak itu, para senapati Hastina sengaja memuji-muji keindahan Waranawata di hadapan Pandawa. Mereka membisikkan, bahwa di sana akan diadakan upacara pemujaan Batara Shiwa secara besar-besaran. Pandawa sama sekali tidak curiga mendengar semua itu. Lebih-lebih setelah Dritarastra menyuruh mereka mengikuti upacara itu. Dritarastra menambahkan, bahwa bukan saja upacara itu sangat penting, tetapi rakyat di Waranawata sudah lama merindukan kunjungan Pandawa.

Demikianlah, Pandawa memutuskan untuk pergi ke Waranawata setelah mendapat restu dari Bhisma dan para tetua lainnya.

Duryodhona senang karena rencana pertamanya berha-sil. Bersama Karna dan Syakuni, ia menyusun rencana untuk membunuh Dewi Kunti dan Pandawa di Warana-wata. Pertama-tama mereka mengirimkan Purochana de-ngan perintah rahasia yang harus dilaksanakan dengan taat dan hati-hati.

Jauh sebelum Pandawa berangkat ke Waranawata, Purochana sudah mendahului pergi ke sana dengan tugas membangun istana peristirahatan untuk Pandawa. Istana itu dibangun dari papan-papan kayu yang diukir indah. Di sudut- sudut tersembunyi disisipkan bahan-bahan yang mudah terbakar, seperti lak, minyak kental, dan karung kering. Semua perabotannya juga terbuat dari bahan-bahan yang mudah terbakar.

Penjagaan diatur secara ketat dan rahasia agar Pandawa tidak curiga. Sebelum upacara dilaksanakan, di Waranawata diadakan pesta meriah, lengkap dengan bermacam-macam hiburan dan pertunjukan kesenian.

Rencananya, lewat tengah malam, ketika Pandawa tidur pulas kecapekan setelah berpesta, istana itu akan dibakar. Kurawa akan menyambut Pandawa dengan ramah dan penuh hormat. Jika istana terbakar, rakyat tidak curiga dan mereka menyimpulkan bahwa kebakaran itu terjadi tanpa sengaja dan tidak akan melemparkan tuduhan kepada mereka. Tak seorang pun akan menyalahkan Kurawa, sementara Duryodhona akan puas karena ber-hasil memusnahkan Pandawa.

Demikianlah dengan berbagai cara Duryodhona beru-saha memusnahkan Pandawa. Hanya Widura yang ingin menyelamatkan wangsa Kuru dari malapetaka itu.

~ Article view : [115]