29. Duryodhona yang Haus Kekuasaan

280

29. Duryodhona yang Haus Kekuasaan

Dritarastra tampaknya hidup tenang dan bahagia di istana Hastinapura. Tetapi, sebenarnya ia selalu memikirkan akibat dari pertentangan antara anak-anaknya dan Pandawa. Apakah Yudhistira akan selalu bisa mere-dakan amarah Bhima yang mudah menggelegak dengan alasan-alasan yang bisa diterimanya? Dritarastra juga cemas memikirkan kebencian Pandawa yang dipendam bagai air dalam bendungan, sewaktu-waktu bisa bobol dan mengamuk seperti air bah, menghanyutkan segala dan semua.

Kelak, jika Pandawa kembali dari pengasingan, mereka pasti telah semakin kuat dan sakti. Mereka telah menem-puh bermacam-macam cobaan hidup selama tiga belas tahun mengembara. Waktu yang cukup lama untuk mem-buat manusia matang pengalaman. Sementara itu, Syakuni, Karna, Duhsasana dan Duryodhona hidup bergelimang kekuasaan dan menjadi lupa daratan.

Itulah yang selalu membuat hati Dritarastra risau.

Pada suatu hari, Karna dan Syakuni berkata kepada Duryodhona, “Kerajaan yang tadinya ada di tangan Yudhistira kini menjadi milik kita. Kita tidak perlu lagi iri kepadanya.”

Duryodhona menjawab, “Oh Karna, itu betul. Tetapi alangkah nikmatnya kalau aku dapat melihat penderitaan Pandawa dengan mata kepalaku sendiri. Kita hina mereka dengan memperlihatkan kesenangan dan kebahagiaan kita kepada mereka. Kita harus pergi ke hutan untuk melihat bagaimana kehidupan mereka di pembuangan.”

Sebelum menjalankan rencananya, Duryodhona sudah kesal karena yakin ayahnya pasti takkan mengijinkannya. Ia berkata lagi, “Tapi Ayahanda pasti tidak akan mengijin-kan. Ayahanda takut pada Pandawa, sebab mereka dianugerahi kesaktian oleh para dewata selama dalam pertapaan dan penyucian diri. Ayahanda pasti melarang kita pergi ke hutan untuk melihat dan mengolok-olok mereka. Ah, kesenangan ini kurang memuaskan kalau kita tak bisa melihat penderitaan Draupadi, Bhima dan Arjuna. Bukankah hidup tanpa kepuasan berarti hidup dalam siksaan? Syakuni dan engkau, Karna, harus berusaha agar Ayahanda mengijinkan kita pergi.”

Keesokan harinya Karna datang menemui Duryodhona dengan wajah berseri- seri. Katanya, “Bagaimana pendapat­mu kalau kita minta ijin pergi ke Dwaitawana, ke ladang dan padang penggembalaan ternak kita? Baginda pasti tidak keberatan. Dari sana, sambil berburu, kita bisa meneruskan rencana kita.”

Duryodhona dan Syakuni langsung setuju. Mereka lalu menyuruh penjaga Dwaitawana untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Dritarastra tidak menyetujui rencana itu. Katanya, “Berburu memang baik untuk putra-putra raja. Aku pun berniat memeriksa ternak kita di sana. Tetapi karena Pandawa sedang berada dalam hutan dekat situ, aku tidak mengijinkan kalian pergi ke sana. Jika kuijinkan kalian pergi, sementara Bhima dan Arjuna ada di dekat Dwai­tawana, itu sama artinya dengan membangunkan singa dari tidurnya.”

Duryodhona menjawab, “Kami tidak akan pergi dekat­dekat situ. Kami akan berhati-hati dan menghindari mereka.”

Dritarastra berkata lagi, “Betapapun hati-hatinya eng-kau, dekat-dekat saja sudah berbahaya. Siapa tahu, salah satu pengawalmu tersesat dan bertemu dengan Pandawa.

Itu dapat menimbulkan perselisihan. Akan kukirim orang lain untuk memeriksa ternak kita. Kalian tidak boleh pergi.”

Syakuni menyela, “Tuanku, kami tahu, Yudhistira itu bijaksana dan patuh akan dharma. Ia telah bersumpah di depan para tetua dan banyak orang. Pandawa pasti patuh padanya. Putra-putra Kunti tidak akan memperlihatkan permusuhan kepada kita. Sebaliknya, jangan menghalangi keinginan Duryodhona untuk berburu setelah memeriksa ternak. Aku akan menemani dan menjaganya agar dia tidak pergi ke dekat tempat Pandawa.”

Seperti biasa, karena didesak-desak Dritarastra menye­rah. Katanya, “Jika demikian, pergilah. Puaskan hatimu.”

Demikianlah Kurawa pergi ke Dwaitawana diiringkan sepasukan pengawal. Duryodhona dan Karna sangat senang. Dengan pongah mereka berniat untuk menertawa-kan kesengsaraan Pandawa. Setelah memeriksa ternak, antara lain, sapi, banteng, biri-biri, dan kambing, Duryo-dhana dan rombongannya mengadakan pesta. Mereka ber-senang-senang, menyanyi, menari, berteriak-teriak, dan bersorak-sorai. Setelah puas berpesta dan cukup ber-istirahat, mereka pergi berburu ke dekat hutan tempat Pandawa menjalani pengasingan. Duryodhona menyuruh para pengawal mencari tempat yang baik untuk berkemah.

Mereka menemukan sebuah tempat yang lapang di tepi telaga. Tetapi Chitrasena, raja raksasa yang perkasa, su-dah beberapa hari berkemah di situ bersama para penga-walnya. Balatentara Chitrasena menyuruh para pengawal Duryodhona mencari tempat lain. Para pengawal itu melapor kepada Duryodhona yang merasa ditantang. Ia memerintahkan balatentaranya mengusir Chitrasena dan memasang kemah Kurawa di tempat itu. Balatentara Duryodhona kembali ke tepi telaga dan mencoba melak-sanakan perintah itu. Tetapi balatentara Chitrasena telah siap melawan. Para pengawal Duryodhona kalah dan terpaksa lari terbirit-birit.

Duryodhona sangat marah mendengar kekalahan pengawalnya. Ia memerintahkan balatentaranya menyerbu. Maka terjadilah pertempuran sengit antara pengawal Dur-yodhana dan pengawal Chitrasena. Raja raksasa itu tidak membiarkan pertempuran itu berlangsung lama, karena ia sangat mengenal dan menguasai wilayah itu. Segera ia memerintahkan balatentaranya menggunakan senjata-senjata sakti. Banyak pengawal Duryodhona yang tewas, sisanya lari meninggalkan kereta, kuda, dan senjata mere-ka. Karena lebih kuat dan berpengalaman, dalam waktu yang tidak lama pengawal Chitrasena berhasil memenang-kan pertempuran; sementara Duryodhona mendapati dirinya ditawan lawan dan ditinggalkan pengawalnya. Dengan tangan dan kaki terikat ia dimasukkan

ke dalam kereta Chitrasena. Sangkakala, terompet dari kerang besar, ditiup mengalun keras menandai kemenangan pihak Chi-trasena.

Beberapa pengawal Duryodhona yang melarikan diri sampai ke tempat pengasingan Pandawa. Bhima senang mendengar Duryodhona kalah. Ia segera menyampaikan berita itu kepada Yudhistira. Katanya, “Pasukan raksasa telah mengalahkan Duryodhona. Aku yakin, dia sengaja datang ke sini untuk menghina dan mengejek kita. Aku pikir, ada baiknya kita bersahabat dengan Chitrasena.”

Tetapi Yudhistira menjawab, “Saudaraku tercinta, ini bukan saat yang tepat bagi kita untuk bergembira. Kau-rawa adalah kerabat kita, keturunan mereka adalah ketu-runan kita juga. Sekarang mereka sedang mendapat malu, dan itu berarti tamparan bagi kita juga. Kita tidak boleh membiarkan penghinaan ini. Kita harus membantu sau-dara-saudara kita.”

Bhima tidak setuju. Ia berkata, “Mengapa kita mesti melindungi manusia durhaka dan penuh dosa yang pernah mencoba membakar kita hidup-hidup di dalam istana kayu waktu itu? Mengapa kita harus kasihan kepada orang yang pernah mencoba membunuhku dengan racun dan meneng-gelamkan aku di sungai? Rasa persaudaraan seperti apa yang dimiliki manusia durhaka yang telah menghina Draupadi, menyeret rambutnya dan berusaha menelanja-nginya di depan orang banyak?”

Sementara mereka berdebat, terdengarlah rintihan Dur-yodhana. Yudhistira kasihan dan menasihati Bhima agar melupakan semua pengalaman buruk itu. Ia meminta Bhima menolong Kurawa. Meskipun tak bisa memahami keputusan Yudhistira, Bhima dan Arjuna patuh pada perintah kakaknya. Mereka mengumpulkan para pengawal Duryodhona yang melarikan diri ke tempat pengasingan mereka lalu memimpin penyerbuan ke perkemahan bala-tentara raksasa itu.

Chitrasena mendengar hal itu, tetapi ia tidak ingin ber-tempur melawan Pandawa. Ia menawarkan perundingan. Setelah berunding akhirnya ia mau membebaskan Duryo-dhana dan tawanan lainnya. Chitrasena berkata bahwa ia hanya ingin memberi pelajaran pada Duryodhona yang congkak.

Kurawa kembali ke Hastinapura. Di tengah jalan, Karna menggabungkan diri. Duryodhona sangat malu dan terhina. Ia mencurahkan perasaannya kepada saudara-saudaranya. Baginya lebih baik mati di tangan Chitrasena daripada dipermalukan seperti itu. Ingin rasanya ia berpuasa seumur hidup, sampai mati. Katanya kepada Duhsasana, “Engkau kuangkat menjadi raja sebagai peng­gantiku. Pimpinlah kerajaan ini. Aku tidak sanggup hidup lebih lama dan menjadi tertawaan musuh-musuh kita.”

Duhsasana terharu mendengar kata-kata kakaknya. Karna menghibur, “Tidak pantas seorang kesatria keturu-nan Kuru berputus asa. Apa gunanya berputus asa karena perasaan sedih dan duka? Itu hanya akan membuat mu-suh-musuh kita semakin senang. Lihatlah Pandawa. Mereka tidak berpuasa sampai mati, meskipun menang­gung malu yang amat besar.”

Syakuni menambahkan, “Dengarkan kata-kata Karna. Mengapa engkau berpikir untuk bunuh diri padahal seluruh kerajaan, termasuk yang kita rampas dari tangan Pandawa, adalah milikmu? Berpuasa dengan niat seperti itu sama sekali tidak ada gunanya. Kalau engkau memang menyesal, lebih baik kau berdamai dengan Pandawa dan mengembalikan hak mereka atas kerajaan ini.”

Mendengar nasihat Syakuni, bukannya berterima kasih, Duryodhona justru menjadi marah. Dengan berang ia ber­kata, “Daripada mengembalikan kerajaan kepada Pandawa, lebih baik aku mati. Itu jauh lebih buruk daripada keka-lahan dan penghinaan. Tidak, aku akan hancurkan Pan­dawa!”

“Kau sungguh jantan. Begitulah seharusnya sikap seorang kesatria,” kata Karna menyetujui. Kemudian ia menambahkan, “Apa masuk akal memilih mati dengan cara yang memalukan? Kau hanya dapat berbuat sesuatu jika kau masih hidup.”

Dalam perjalanan pulang, Karna menambahkan, “Aku bersumpah kepadamu, di hadapan para dewata dan roh para suci, bila tahun ketiga belas yang telah disepakati itu habis, aku akan membunuh Arjuna dalam perang besar!” Karna mengolesi pedangnya dengan ludahnya, kemudian mengacungkan pedang itu sebagai tanda ia telah ber-sumpah.

Demikianlah, rasa benci semakin bertakhta di lubuk hati Kurawa yang tak pernah merasa puas. Ibarat api dalam sekam, tak terlihat sebelumnya tahu-tahu sudah membesar, berkobar-kobar.

Ketika Duryodhona berniat melangsungkan upacara Rajasuya, para brahmana menasihatinya. Kata mereka, Duryodhona belum patut melaksanakan niatnya karena Dritarastra dan Yudhistira sebagai pewaris kerajaan Astina dan keturunan sah Kuru masih hidup. Saat itu, yang boleh dilaksanakannya adalah upacara Waishnawa.

Dengan penuh kemegahan, Duryodhona melaksanakan upacara Waishnawa. Setelah upacara selesai, banyak yang membicarakan upacara itu, yaitu yang tidak lebih dari seperenambelasnya upacara Rajasuya yang diselenggara-kan Yudhistira dulu. Namun kawan-kawan Duryodhona mengatakan bahwa upacara itu menyamai kebesaran upacara-upacara yang pernah dilaksanakan oleh Yayati, Mandhata, Bharata dan lainnya.

Ya, kawan-kawan Duryodhona adalah para penjilat yang suka mencari muka, tukang puji dan tukang gunjing. Kesempatan seperti itu pasti mereka gunakan untuk me-nyanjung, meninabobokan, bahkan menghasut Duryodha-na. Karna, misalnya, mengatakan kepada para pendukung Duryodhona bahwa upacara Rajasuya yang akan diadakan Duryodhona ditunda karena Pandawa belum dimusnahkan dan ia belum membunuh Arjuna.

Seperti biasa, Karna berkata dengan congkak, “Sebelum aku dapat membunuh Arjuna, aku bersumpah tidak akan makan daging dan minum minuman yang memabukkan; aku juga tidak akan menolak permintaan kawanku, siapa pun dia. Inilah sumpahku.”

Demikian Karna bersumpah dalam pertemuan keluarga Kurawa. Anak-anak Dritarasta merasa beruntung karena Karna memihak mereka.

Mata-mata Pandawa melapor tentang sumpah Karna ke-pada Pandawa. Yudhistira menanggapi itu sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh berbahaya, karena ia tahu Karna adalah kesatria sakti yang mahir menggunakan segala macam senjata.

Pada suatu malam, Yudhistira bermimpi, semua bina-tang di hutan itu datang kepadanya dan memohon agar mereka dilindungi dan jika mungkin Pandawa pindah dari hutan itu. Pagi harinya, ketika terjaga, Yudhistira merasa bahwa mimpinya itu

adalah firasat buruk, pertanda akan adanya bahaya. Rasa kasihnya kepada binatang-binatang hutan mendorongnya mengambil keputusan untuk me-ninggalkan hutan itu.

Pada suatu hari, Resi Durwasa dan seribu pengikutnya menemui Duryodhona. Duryodhona sudah mengetahui sifat Resi Durwasa yang suka menguji dan mencari- cari kesalahan orang. Duryodhona menerima rombongan tamu itu dengan sangat hati-hati. Ia sendiri yang melayani Resi Durwasa dengan ramah tamah. Puas atas sambutan Dur-yodhana, Resi Durwasa mengijinkan Duryodhona meminta satu anugerah. Duryodhona tidak melewatkan kesempatan itu. Dengan pikiran agar resi itu mencari-cari kesalahan Pandawa, ia berkata, “Bapa Resi yang kami hormati, kami merasa mendapat restu luar biasa karena kedatangan Bapa ke sini. Sambutan dan jamuan yang kami hidangkan hanya sederhana. Saudara-saudara kami, Pandawa, kini sedang mengembara di hutan. Mohon Bapa Resi meluang-kan waktu untuk mengunjungi mereka dan membuat mereka senang karena merasa direstui.”

Kemudian Duryodhona mengusulkan hari untuk ber-kunjung ke hutan. Hari itu ditentukan setelah memper-hitungkan kapan persediaan makanan Pandawa habis dan karenanya mereka pasti tak bisa menjamu Resi Durwasa dan seribu pengikutnya. Dalam keadaan demikian Pan-dawa akan mendapat kutuk-pastu dari sang Resi.

Resi Durwasa menjawab, “Baiklah kalau itu perminta­anmu. Aku akan mengunjungi Pandawa di hutan pada hari yang telah engkau tentukan.”

Bukan main senangnya hati Duryodhona mendengar jawaban sang Resi. Pandawa pasti takkan sanggup meneri-ma tamu sebanyak itu dengan sambutan penuh kehorma-tan dan hidangan mewah melimpah. Dan jika Resi Durwa-sa marah, ia pasti melancarkan kutuk-pastu yang mengeri-kan terhadap Pandawa. Demikianlah yang dibayangkan oleh Duryodhona.

Seperti diharapkan oleh Duryodhona, Resi Durwasa ber-sama pengikutnya pergi ke tempat Yudhistira. Sampai di sana kira-kira pada saat makan siang. Waktu itu Pandawa baru saja selesai makan. Mereka mengucapkan selamat datang kepada rombongan Resi Durwasa dengan penghor-matan sepatutnya. Resi itu berkata, “Kami ingin member­sihkan badan dulu di sungai. Kami akan kembali ke sini kira-kira waktu makanan telah siap. Kami sudah lapar.” Setelah berkata demikian, Resi Durwasa pergi mandi ke sungai bersama pengikutnya.

Selama mengembara di pengasingan, secara teratur Yudhistira selalu bersamadi dan bertapa brata. Dalam samadinya, Batara Surya mengunjunginya dan menganu-gerahkan tempurung berisi bahan makanan sambil bersab­da, “Bahan makanan dalam tempurung ini akan cukup untuk kebutuhan kalian sehari-hari dan akan memberi kekuatan kepada kalian selama dua belas tahun dalam pengasingan. Isi tempurung ini takkan habis sebelum semua orang dan Draupadi makan.”

Dalam tradisi, tamu harus dipersilakan makan lebih dulu, lebih-lebih jika dia brahmana. Sesudah tamu, giliran tuan rumah dan yang terakhir adalah istri atau ibu anak-anak. Tetapi, ketika Resi Durwasa tiba di tempat pengasi-ngan Pandawa, semua orang sudah selesai makan dan makanan sudah habis. Draupadi menjadi bingung sebab pengikut Resi Durwasa berjumlah seribu. Dalam keadaan demikian, Draupadi berharap Krishna datang menolong-nya. Berkat kebesaran dharma, Krishna tiba-tiba muncul dan langsung berkata, “Aku sangat lapar. Bawakan

maka-nan untukku. Sedikit tidak apa, asal ada yang bisa dima-kan. Setelah itu baru kita bicara.”

Draupadi kaget, tak tahu harus berbuat apa kecuali berterus-terang bahwa makanan telah habis sama sekali. Ia mengaku sangat mengharap kedatangan Krishna untuk menolongnya menjamu Resi Durwasa dan seribu pengikut-nya. Saat ini mereka sedang mandi-mandi di sungai.

Krishna tetap berkata bahwa ia lapar dan ingin makan sekadarnya. Untuk membuktikan bahwa memang sudah tidak ada makanan, Draupadi mengajak Krishna ke dapur untuk melihat sendiri. Krishna melihat ada kerak nasi dan sisa sayur lekat di dasar tempurung. Setelah Krishna makan kerak nasi dan sisa sayur itu, Draupadi berkata, “Aku malu, belum sempat membersihkan alat-alat dapur.”

Kemudian Krishna menyuruh Bhima menjemput Resi Durwasa dan mengatakan bahwa makanan telah siap. Tetapi Bhima bingung, sebab ia tahu tak ada lagi makanan untuk Resi Durwasa dan pengikutnya. Mungkin resi itu akan marah dan merasa dihina. Tetapi, Bhima selalu patuh kepada Krishna. Meskipun hatinya cemas, ia tetap pergi menjemput Resi Durwasa untuk menyampaikan pesan Krishna. Mendengar bahwa Krishna ada di situ, Resi Durwasa dan pengikutnya merasa bersyukur dan senang. Tiba-tiba saja rasa lapar mereka hilang. Selesai member-sihkan badan, mereka berduyun-duyun menemui Krishna dan bersujud menyembahnya.

Berkatalah Resi Durwasa, “Kami datang kemari untuk meminta makan kepada Yudhistira. Tetapi Engkau, Yang Kami Muliakan, ada di sini dan itu menyebabkan kami tidak lapar lagi. Kami bahagia. Restui dan berkatilah kami, oh putra Basudewa!”

Mereka lalu mohon diri untuk pulang. Resi Durwasa dan pengikutnya menganggap Krishna sebagai Sang Pem-bimbing Yang Maha Bijaksana. Mereka bersyukur bisa bertemu denganNya dan karena itu tidak merasa lapar lagi. Itulah makna sabda Batara Surya kepada Dharmaputra, bahwa dalam keadaan apa pun dharma akan selalu bersa-ma Yudhistira, memberi petunjuk dan menguatkan iman-nya dalam menghadapi penderitaan dan kesengsaraan.

~ Article view : [103]