30. Telaga Ajaib

309

30. Telaga Ajaib

Tahun pengasingan yang kedua belas sudah hampir ber-Takhir. Pandawa berunding, mencari cara untuk mele-watkan tahun ketiga belas tanpa dikenali siapa pun. Ketika itu, datanglah seorang brahmana meminta bantuan mere-ka untuk menangkap seekor menjangan yang melarikan pedupaannya.

Demikianlah kisahnya.

Seekor menjangan datang mendekati pedupaan milik sang brahmana. Mungkin karena gatal atau mungkin kare-na kedinginan, ia menggosok-gosokkan badannya pada pedupaan itu. Brahmana yang melihat itu, segera mengha-launya. Menjangan itu terlonjak kaget, lalu berlari menja-uh. Pedupaan itu tersangkut pada tanduknya dan terbawa lari.

“Wahai Pandawa, menjangan itu membawa lari pedupa­anku. Tolonglah aku, aku tidak mampu mengejar menja­ngan itu,” kata brahmana itu kepada Yudhistira.

Pandawa kemudian memburu menjangan itu beramai-ramai dan mengepungnya dari berbagai arah. Tetapi, rupa-nya itu bukan sembarang menjangan. Ia terus berlari men-jauh dan selalu berhasil lolos dari kepungan. Tanpa sadar Pandawa telah jauh masuk ke dalam hutan dan men-jangan itu seakan hilang ditelan rimba raya. Pandawa yang lelah menghentikan pengejaran dan beristirahat di bawah sebatang pohon beringin hutan yang rindang.

Nakula mengeluh, “Alangkah merosotnya kekuatan kita sekarang. Menolong seorang brahmana dalam kesulitan sekecil ini saja kita tidak bisa. Bagaimana dengan kesu­litan yang lebih besar?”

“Engkau benar. Ketika Draupadi dipermalukan di depan orang banyak seharusnya kita bunuh saja manusia-manu-sia kurang ajar itu! Tetapi… kita tidak berbuat apa-apa. Dan sekarang inilah akibatnya,” kata Bhima sambil me­mandang Arjuna.

Dengan sikap membenarkan, Arjuna berkata, “Ya benar, aku juga tidak berbuat apa-apa ketika dihina oleh anak sais kereta itu. Inilah upahnya sekarang!”

Yudhistira merasakan kesedihan hati saudara-saudara-nya. Mereka kehilangan semangat juang mereka. Untuk melengahkan pikiran, ia berkata kepada Nakula, “Adikku, panjatlah pohon itu. Lihatlah baik-baik, barangkali di dekat-dekat sini ada sungai atau telaga. Aku haus sekali.”

Nakula naik ke pohon yang tinggi. Setelah melihat seke-lilingnya, ia berteriak, “Di kejauhan kulihat ada air terge­nang dan burung-burung bangau. Mungkin itu telaga!”

Yudhistira menyuruhnya turun dan pergi mengambil air. Nakula pergi dan memang menemukan sebuah telaga. Karena sangat haus, ia berpikir untuk minum dulu sebe-lum membawakan air untuk saudara-saudaranya. Baru saja ia hendak mencelupkan tangannya ke dalam air, tiba­tiba terdengar suara, “Janganlah engkau tergesa-gesa. Telaga ini milikku, hai anak Dewi Madri! Jawablah dulu pertanyaanku! Jika kau bisa menjawab, barulah kau boleh minum.” Nakula terkejut mendengar suara itu, tetapi karena sangat haus, ia tidak mempedulikan suara itu. Ia langsung mencedokkan tangannya, mengambil air dan meminumnya. Seketika itu juga ia jatuh tidak sadarkan diri.

Setelah lama menunggu dan Nakula tak juga kembali, Yudhistira menyuruh Sahadewa mencarinya. Setelah men-cari-cari beberapa lama, Sahadewa terkejut melihat Nakula terbaring tak sadarkan diri di tepi telaga. Tetapi karena merasa haus, ia memutuskan untuk minum dulu. Tiba­tiba suara tadi terdengar lagi, “Wahai Sahadewa, telaga ini telagaku. Jawab dulu pertanyaanku, baru engkau boleh menghilangkan dahagamu.” Sahadewa tidak peduli. Ia mencedokkan tangannya mengambil air yang jernih segar itu. Begitu minum seteguk, ia jatuh tersungkur tak sadar-kan diri.

Bingung memikirkan kedua saudaranya yang belum kembali, Yudhistira menyuruh Arjuna mencari Nakula dan Sahadewa. “Tetapi jangan lupa untuk kembali membawa air,” katanya kepada Arjuna.

Arjuna pergi berlari dan menemukan kedua saudaranya terbaring tak sadarkan diri. Ia sangat terkejut, mengira mereka tewas dianiaya musuh. Ia marah dan ingin meng-hancurkan yang telah membunuh saudara-saudaranya. Tetapi, karena haus, Arjuna memutuskan untuk minum dulu. Tiba-tiba suara itu terdengar lagi, “Jawab

dulu pertanyaanku sebelum engkau minum air telaga ini. Telaga ini milikku. Kalau engkau tidak menurutiku, nasibmu akan sama dengan nasib saudara-saudaramu.”

Arjuna sangat marah mendengar suara itu dan ber­teriak, “Hai, siapa engkau?! Tunjukkan dirimu! Jangan pengecut! Kubunuh kau!”

Sambil berkata demikian, Arjuna membidikkan panah-nya ke arah datangnya suara itu. Suara itu tertawa meng­ejek, “Panahmu hanya akan melukai angin. Jawab perta-nyaanku dulu, baru kau boleh memuaskan dahagamu. Bila engkau minum air tanpa menjawab pertanyaanku, engkau akan mati!”

Arjuna senang bisa berhadapan dengan pembunuh adik-adiknya. Tetapi, ia tak kuasa menahan rasa hausnya. Apa hendak dikata, setelah minum seteguk ia langsung rebah tak sadarkan diri.

Setelah lama menunggu dan Arjuna tak juga kembali, Yudhistira berkata kepada Bhima, “Bhimasena saudaraku, Arjuna belum juga datang. Sesuatu yang aneh mungkin terjadi. Bintang-bintang kita hari ini memang tampak buruk. Carilah mereka. Dan bawakan air untukku. Aku haus sekali.”

Begitu mendapat perintah Yudhistira, Bhima segera berangkat. Sampai di tepi telaga, ia sedih melihat ketiga saudaranya terbaring tak bergerak. “Ini pasti perbuatan para jin dan raksasa jahat,” pikirnya. “Akan kumusnahkan mereka! Tapi aku sangat haus. Setelah minum, akan kutamatkan pembunuh itu.” Lalu ia turun ke tepi telaga.

Suara gaib itu terdengar lagi, “Hati-hatilah, hai Bhima-sena. Engkau boleh minum, setelah menjawab pertanya-anku. Kamu akan mati jika tidak mau mendengarkan kata-kataku.”

Mendengar itu Bhima berteriak, “Siapa engkau? Berani benar memerintah aku!” Lalu ia minum air telaga itu. Seketika itu otot dan tulang Bhima yang liat bagai kawat baja dan keras bagai besi menjadi lemas. Seperti saudara-saudaranya, ia jatuh tak sadarkan diri.

Yudhistira menunggu dan menunggu dengan cemas. Dahaganya serasa tak tertahankan. Terbayang dalam pikirannya, “Apakah mereka terkena kutuk-pastu? Apakah mereka lenyap ditelan rimba dan tak tahu jalan kembali? Apakah mereka mati karena kehausan?” Kemudian Yudhistira bangkit dan berjalan mengikuti jejak- jejak kaki saudara-saudaranya. Ia memperhatikan setiap semak yang dilaluinya dengan teliti. Ia melihat jejak menjangan dan babi hutan, semuanya menuju arah yang sama. Ia mene-ngadah melihat burung-burung bangau beterbangan, per-tanda ada bentang air di dekat situ.

Setelah berjalan beberapa lama, ia sampai ke tanah terbuka. Di depannya terbentang telaga. Airnya berkilau jernih bagaikan cermin cemerlang. Dan … di pinggir telaga ia melihat keempat saudaranya tergeletak tak bergerak. Dihampirinya

satu per satu, dirabanya kaki, tangan, dahi, dan denyut jantung mereka. Yudhistira berkata dalam hati, “Apakah ini berarti akhir dari sumpah yang harus kita jalani? Hanya beberapa hari sebelum berakhirnya masa pengasingan kita, kalian mati mendahului aku. Rupanya para dewata hendak membebaskan kita dari keseng­saraan.”

Menatap wajah Nakula dan Sahadewa, pemuda-pemuda yang di masa hidupnya periang dan perkasa tapi kini ter­bujur dingin tak bergerak, hati Yudhistira sedih. “Harus­kah hatiku terbuat dari baja agar aku tidak menangisi kematian saudara-saudaraku? Apakah hidupku masih ada gunanya setelah keempat saudaraku mati? Untuk apa aku hidup? Aku yakin, ini bukan peristiwa biasa,” gumam Yudhistira. Ia tahu, tak seorang kesatria pun akan

mampu membunuh Bhima dan Arjuna tanpa melewati pertarungan hebat.

“Tak ada luka di badan mereka. Wajah mereka tidak seperti wajah orang yang kesakitan. Mereka kelihatan tenang, seperti sedang tidur dalam damai.” Hatinya terus bertanya-tanya. “Sama sekali tak ada jejak kaki, apalagi bekas-bekas tanah atau rumput yang terinjak-injak dalam perkelahian. Ini pasti peristiwa gaib! Mungkinkah ini tipu muslihat Duryodhona? Mungkinkah Duryodhona telah meracuni air telaga ini?”

Dengan berbagai pikiran di kepalanya, perlahan-lahan ia turun ke tepi telaga. Ia ingin melepaskan dahaganya yang sudah tak tertahankan lagi. Tiba-tiba suara gaib itu terdengar lagi, “Saudara-saudaramu telah mati karena tak menghiraukan kata- kataku. Jangan engkau ikuti mereka. Jawab dulu pertanyaanku, setelah itu baru puaskan haus­mu. Telaga ini milikku.”

Yudhistira yakin, suara itulah yang menyebabkan sau-dara-saudaranya mati. Pikirnya, ini pasti suara yaksa. Ia berpikir, mencari cara untuk mengatasi situasi itu. Kemu-dian Yudhistira berkata kepada suara yang tidak berwujud itu.

Yudhistira : “Silakan ajukan pertanyaanmu.” Suara gaib : “Apa yang menyebabkan matahari bersinar

setiap hari?” Yudhistira : “Kekuatan Brahman.” Suara gaib : “Apa yang dapat menolong manusia dari

semua marabahaya?”

Yudhistira : “Keberanian adalah pembebas manusia dari marabahaya.”

Suara gaib : “Mempelajari ilmu apakah yang bisa membuat manusia jadi bijaksana?”

Yudhistira :”Orang tidak menjadi bijaksana hanya karena mempelajari kitab- kitab suci. Orang menjadi bijaksana karena bergaul dan berkumpul dengan para cendekiawan besar.”

Suara gaib : “Apa yang lebih mulia dan lebih menghidupi manusia daripada bumi ini?”

Yudhistira : “Ibu, yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya, lebih mulia dan lebih menghi­dupi daripada bumi ini.”

Suara gaib : “Apa yang lebih tinggi dari langit?” Yudhistira : “Bapa.”
Suara gaib : “Apa yang lebih kencang dari angin?” Yudhistira : “Pikiran.”

Suara gaib : “Apa yang lebih berbahaya dari jerami kering di musim panas?” Yudhistira : “Hati yang menderita duka nestapa.”
Suara gaib : “Apa yang menjadi teman seorang pengem­bara?”
Yudhistira : “Kemauan belajar.”

Suara gaib : “Siapakah teman seorang lelaki yang tinggal di rumah?”

Yudhistira : “Istri.”

Suara gaib : “Siapakah yang menemani manusia dalam kematian?”

Yudhistira : “Dharma. Hanya Dialah yang menemani jiwa dalam kesunyian perjalanan setelah kema­tian.”

Suara gaib : “Perahu apakah yang terbesar?”

Yudhistira : “Bumi dan segala isinya adalah perahu terbesar di jagad ini.”

Suara gaib : “Apakah kebahagiaan itu?”

Yudhistira : “Kebahagiaan adalah buah dari tingkah laku

dan perbuatan baik.”

Suara gaib : “Apakah itu, jika orang meninggalkannya ia dicintai oleh sesamanya?”

Yudhistira : “Keangkuhan. Dengan meninggalkan keang­kuhan orang akan dicintai sesamanya.”

Suara gaib : “Kehilangan apakah yang menyebabkan orang bahagia dan tidak sedih?”

Yudhistira : “Amarah. Kehilangan amarah membuat kita tidak lagi diburu oleh kesedihan.”

Suara gaib : “Apakah itu, jika orang membuangnya jauh­jauh, ia menjadi kaya?”

Yudhistira : “Hawa nafsu. Dengan membuang hawa nafsu orang menjadi kaya.”

Suara gaib : “Apakah yang membuat orang benar-benar menjadi brahmana? Apakah kelahiran, kela­kuan baik atau pendidikan sempurna? Jawab dengan tegas!”

Yudhistira : “Kelahiran dan pendidikan tidak membuat orang menjadi brahmana; hanya kelakuan baik yang membuatnya demikian. Betapapun pandainya seseorang, ia tidak akan menjadi brahmana jika ia menjadi budak kebiasaan

jeleknya. Betapapun dalamnya penguasaan-nya akan kitab-kitab suci, tapi jika kelakuan­nya buruk, ia akan jatuh ke kasta yang lebih rendah.”

Suara gaib : “Keajaiban apakah yang terbesar di dunia ini?”

Yudhistira : “Setiap orang mampu melihat orang lain pergi menghadap Batara Yama, namun mereka yang masih hidup terus berusaha untuk hidup lebih lama lagi. Itulah keajaiban terbesar.”

Demikianlah yaksa itu menanyakan berbagai masalah

dan Yudhistira menjawab semuanya tanpa ragu. Pertanya-

an terakhir yang diajukan yaksa itu langsung berkaitan dengan saudara- saudaranya.

Suara gaib : “Wahai Raja, seandainya salah satu saudara­mu boleh tinggal denganmu sekarang, siapa­kah yang engkau pilih? Dia akan hidup kem­bali.”

Yudhistira : (Berpikir sesaat, kemudian menjawab.) “Kupilih Nakula, saudaraku yang kulitnya bersih bagai awan berarak, matanya indah bagai bunga teratai, dadanya bidang dan lengannya ramping. Tetapi kini ia terbujur kaku bagai sebatang kayu jati.”

Suara gaib : (Belum puas akan jawaban Yudhistira, yaksa itu bertanya lagi.) “Kenapa engkau memilih Nakula, bukan Bhima yang kekuatan raganya enam belas ribu kali kekuatan gajah? Lagi pula, kudengar engkau sangat mengasihi Bhima. Atau, mengapa bukan Arjuna yang mahir menggunakan segala macam senjata, terampil olah bela diri dan jelas dapat melindungimu? Jelaskan, mengapa engkau memilih Nakula!”

Yudhistira : “Wahai Yaksa, dharma adalah satu-satunya pelindung manusia, bukan Bhima bukan Arjuna. Apabila dharma tidak diindahkan, manusia akan menemui kehancuran. Dewi Kunti dan Dewi Madri adalah istri ayahku dan mereka

adalah ibuku. Aku, anak Kunti, masih hidup. Jadi Dewi Kunti tidak kehilangan ketu-runan. Dengan pertimbangan yang sama dan demi keadilan, biarkan Nakula, putra Dewi Madri, hidup bersamaku.”

Yaksa itu puas sekali mendengar jawaban Yudhistira yang membuktikan bahwa ia adil dan berjiwa besar. Akhir-nya, yaksa itu menghidupkan kembali semua saudara Yudhistira.

Ternyata, menjangan dan yaksa itu adalah penjelmaan Batara Yama, Dewa Kematian, yang ingin menguji kekua-tan batin dan dharma Yudhistira.

Batara Yama berdiri di depan Yudhistira lalu memeluk-nya sambil berkata, “Beberapa hari lagi masa pengasingan­mu di hutan rimba akan selesai. Di tahun ketiga belas, kalian harus hidup dengan menyamar. Yakinlah, masa itu pun akan dapat kalian lewati dengan baik. Tidak seorang musuh pun akan mengetahui keberadaan kalian. Kalian pasti lulus dalam ujian yang berat ini. Dharma akan selalu menyertaimu, Yudhistira.” Setelah berkata demikian, Bata-ra Yama menghilang.

Pengalaman Arjuna dalam perjalanan mencari senjata pamungkas yang sakti, pengalaman Bhima bertemu de-ngan Hanuman dan Dewa Ruci, dan pengalaman Yudhis-tira bertemu dengan Batara Yama, menambah kekuatan jasmani, keyakinan batin serta kemuliaan rohani Pandawa. Secara sendiri-sendiri maupun bersama- sama mereka semakin tekun menjalani dan mengagungkan dharma.

~ Article view : [89]