37. Krishna dalam Wujud Wiswarupa

374

37. Krishna dalam Wujud Wiswarupa

Sejak Sanjaya berangkat menuju perkemahan PandawaSdi Upaplawya, Dritarastra gelisah dan cemas menan-tikan berita yang akan dibawa kembali oleh utusannya. Siang tak enak makan, malam tak enak tidur. Ia memanggil Widura untuk menemaninya bercakap-cakap.

Widura berkata, “Yang terbaik dan paling aman adalah mengembalikan wilayah kerajaan Pandawa seperti semula. Hanya itu yang akan membawa kebaikan dan keabadian bagi kedua belah pihak. Perlakukan Pandawa dan putra-putramu dengan kasih sayang yang sama. Dalam hal ini, cara yang benar adalah penyelesaian yang bijaksana.”

Demikianlah Widura mencoba menghibur dan memberi jalan kepada Dritarastra yang buta agar raja itu dapat bertindak tepat terhadap anak-anaknya dan kemenakan-nya.

Esok harinya Sanjaya telah kembali ke Hastinapura. Ia memberikan laporan panjang lebar. Sebelum menutup laporannya, ia berkata, “Yang terpenting, Duryodhona harus tahu apa yang dikatakan oleh Arjuna, yaitu:

“… Krishna dan aku akan hancurkan Duryodhona dan seluruh pengikutnya. Jangan kalian keliru tentang ini. Panah Gandiwaku sudah tidak sabar untuk dibawa ber-tempur. Busur panahku bergetar biarpun tidak kubidik-kan. Di dalam sarungnya, anak panahku bergemerincing beradu, minta segera dilepaskan dari tali busurnya untuk menembus dada Duryodhona yang serakah dan nekat menantang aku dan Krishna. Ingat, dewa-dewa pun takkan bisa mengalahkan kami.’

“Demikianlah yang dikatakan Dhananjaya kepadaku.”

Bhisma mencoba menasihati Dritarastra agar melarang putra-putranya mengadu kekuatan dengan Arjuna dan Krishna. Berkatalah Bhisma, “Karna yang membanggakan diri sanggup membunuh Pandawa kesaktiannya tidak sam-pai seperenambelas kesaktian Pandawa. Putra-putramu membiarkan diri mereka terseret ke lembah kehancuran karena mendengarkan kata-kata Karna.

“Ketika Arjuna membalas serangan putra-putramu ter-hadap Raja Wirata dan kemudian mengalahkan Duryodhona, apa yang dilakukan Karna? Ketika Chitrasena si raja raksasa menaklukkan dan menawan Duryodhona, di manakah Karna? Bukankah Arjuna yang membebaskan Duryodhona dan mengusir Chitrasena?” Demikianlah Bhisma terpaksa menjelaskan tentang bagaimana sebenar-nya sikap Karna selama ini.

“Apa yang engkau katakan, wahai Bhisma sang tetua keluarga, adalah satu- satunya jalan yang patut ditempuh,” sahut Dritarastra. Lalu ia melanjutkan, “Setiap orang bijaksana berkata demikian. Aku sendiri juga yakin, itulah satu-satunya jalan untuk mencapai perdamaian. Tetapi apa yang dapat kulakukan? Anak-anakku memang sera-kah dan buta hati. Mereka ingin menempuh jalan mereka sendiri, tanpa meminta persetujuanku.”

Duryodhona, yang mendengar pembicaraan ayahnya dengan Bhisma, menyela, “Ayahanda, jangan cemaskan keselamatan kami. Jangan takut! Kami tahu kekuatan kami. Kita pasti menang. Yudhistira juga tahu. Kulihat ia sudah putus asa dan akhirnya hanya minta lima desa. Apalagi yang kurang jelas? Ia sudah mulai ketakutan akan menghadapi sebelas divisi balatentara kita. Apa yang dapat dilakukan Pandawa untuk melawan balatentara kita? Kenapa Ayahanda meragukan keunggulan kami?”

“Anakku sayang, sebaiknya kita hindari perang. Belum puaskah kamu memiliki separo dari kerajaan ini? Yang menjadi hakmu itu sebenarnya lebih dari cukup apabila kita bina dengan sebaik-baiknya,” kata Dritarastra.

Tetapi Duryodhona tidak mengindahkan nasihat ayahnya. Ia sudah muak mendengar berbagai nasihat. Kemudian ia berkata dengan keras, “Sejengkal tanah pun takkan kuberikan kepada Pandawa. Setapak pun aku tak sudi bergeser!” Setelah berkata demikian, ia meninggalkan ayahnya tanpa mohon diri.

Sementara itu, setelah Sanjaya meninggalkan Upapla-wya, Yudhistira berunding dengan Krishna. Katanya, “Wasudewa, Sanjaya adalah bayangan Dritarastra. Dari ucapannya, aku mencoba menangkap apa yang sebenar-nya ada dalam pikiran Dritarastra. Ia mencoba mengajak kami berdamai, tanpa mengembalikan tanah kami. Sejeng-kal pun tidak. Mulanya aku senang mendengar ucapannya. Tapi, setelah menyimak dan merenungkan kata-katanya, aku sadar, kegembiraanku tidak beralasan. Kemudian ia menyatakan keinginan untuk berdamai, tetapi dengan syarat yang membuat posisi kami lemah karena mereka takkan mengembalikan hak kami.

“Dritarastra memang bersikap tidak adil kepada kami. Berarti saat-saat gawat semakin dekat. Tidak ada orang lain, kecuali engkau yang dapat menolong kami. Aku telah ajukan tuntutan sesedikit mungkin: hanya lima desa. Teta-pi Kurawa yang serakah pasti tetap menolak. Bagaimana kami bisa bertenggang rasa menghadapi sikap seperti itu? Hanya engkau yang dapat memberi nasihat kepada kami. Hanya engkau yang bisa menunjukkan apa tugas kami sekarang. Hanya engkau yang mampu memimpin kami dalam dharma.”

Krishna menanggapi, “Demi kebaikan kalian, kedua belah pihak—maksudku, sebaiknya aku pergi ke Hastina-pura. Aku akan mencoba memintakan hak kalian tanpa peperangan. Kalau usahaku berhasil, itu berarti kebaikan bagi dunia dan umat manusia.”

Kata Yudhistira, “Wahai Krishna, engkau tak perlu pergi ke Hastinapura. Apa gunanya engkau pergi ke tempat musuh? Duryodhona sebenarnya penakut, membenci ke-bajikan, dan keras kepala. Aku tidak setuju engkau pergi menemuinya. Aku mengkhawatirkan keselamatanmu kare-na Kurawa yang licik akan nekat dan bisa berbuat apa saja.”

Krishna menjawab, “Dharmaputra, aku tahu Duryodha­na memang jahat, tetapi kita tetap harus berusaha men-capai penyelesaian secara damai agar rakyat tidak menu-duh kita tidak berusaha untuk menghindari peperangan. Cara apa pun akan kita tempuh, demi perdamaian. Jangan khawatirkan keselamatanku. Jika Kurawa berani meng-ancam atau melukai aku yang datang sebagai duta perda-maian, aku akan remukkan mereka hingga menjadi abu!”

Yudhistira berkata lagi, “Engkau tahu segala dan semua. Engkau tahu hati kami dan hati mereka. Memang, engkaulah utusan yang paling baik dan paling tepat.”

Krishna menanggapi, “Ya, aku mengenalmu dan menge­nal Duryodhona dengan baik. Jiwamu selalu teguh meme-gang kebenaran. Jiwa mereka selalu diliputi kebencian, iri hati dan permusuhan. Aku akan berusaha sebaik mungkin agar apa yang kau cita-citakan tercapai, yaitu penyelesaian tanpa perang. Memang, kemungkinan itu sangat kecil dan situasi sekarang ini membuahkan firasat buruk. Tetapi, kewajiban kita untuk selalu mengusahakan perdamaian.”

Demikianlah percakapan Yudhistira dengan Krishna sebelum Raja Dwaraka itu berangkat ke Hastinapura diiringkan Satyaki. Sebelum berangkat, sekali lagi Krishna mengajak Pandawa berunding dengan sungguh-sungguh.

Dalam perundingan itu, sungguh terasa bahwa setiap orang di pihak Pandawa menghendaki perdamaian. Bah-kan Bhima, yang terkenal keras kepala, juga memilih perdamaian. Demikian kata Bhima, “Janganlah kita me­musnahkan bangsa kita; juga keturunannya. Kalau bisa diusahakan, aku lebih memilih perdamaian.”

Tetapi Draupadi tidak bisa melupakan penghinaan yang pernah dialaminya. Sambil mengusap-usap rambutnya yang panjang, dengan suara tersendat-sendat ia berkata kepada Krishna, “Madusudana, perhatikanlah rambutku ini, bekas penghinaan. Kehormatan apa yang harus dijun-jung? Tidak ada perdamaian tanpa kehormatan! Kalaupun Bhima dan Arjuna tidak setuju jalan perang, ayahku— walaupun sudah tua—pasti akan pergi ke medan perang bersama anak-anakku. Mungkin ayahku tidak setuju, teta-pi anak-anakku dan Abhimanyu, anak Subadra, akan memimpin pertempuran melawan Kurawa. Demi pengab-dianku kepada Dharmaputra, tiga belas tahun kulewatkan dengan memendam kebencianku pada Kurawa. Tetapi kini, aku sudah tidak tahan lagi!”

Krishna menjawab, “Mungkin sekali anak-anak Drita-rastra tidak akan peduli akan usul perdamaian ini. Dalam perang, mereka akan berjatuhan dan musnah. Tak ada yang akan melakukan upcara persembahyangan untuk mereka. Mayat mereka akan jadi santapan serigala dan anjing hutan.

“Engkau akan menyaksikan kami pulang membawa kemenangan. Semua penghinaan yang pernah engkau teri-ma, akan mereka bayar mahal. Sabarlah, saat itu akan segera tiba.” Setelah berkata demikian, berangkatlah Krish­na alias Madhusudana ke Hastinapura.

Berita kedatangan Krishna telah sampai ke Hastinapura jauh sebelum dia dan pengiringnya melewati perbatasan. Dritarastra memerintahkan agar Hastinapura dihias de-ngan semarak dan upacara penyambutan dipersiapkan dengan sebaik- baiknya. Kediaman Duhsasana, yang paling indah dari semua kediaman Kurawa, disiapkan untuk tempat beristirahat Krishna dan pengiringnya.

Dritarastra meminta nasihat kepada Widura, “Sebaik­nya kita siapkan upacara pemberian gelar dan hadiah untuk Krishna. Kita hadiahkan kereta kencana, gajah, kuda, dan sejumlah hadiah lain.”

Widura menjawab, “Krishna tak mungkin dibujuk dengan gelar dan hadiah. Berikan apa yang ia kehendaki. Bukankah ia datang untuk mengusahakan penyelesaian secara damai? Usahakan untuk memenuhinya. Krishna takkan silau

oleh hadiah dalam bentuk apa pun. Ia akan puas jika kedatangannya membuahkan perdamaian.”

Ketika Krishna dan para pengiringnya tiba di Hastina-pura, penduduk berdiri di pinggir jalan, mengelu-elukan kedatangannya. Saking padatnya jalanan, kereta mereka nyaris tak bisa bergerak. Pertama-tama Krishna pergi ke istana Dritarastra, kemudian ke kediaman Widura. Dewi Kunti menemuinya di kediaman Widura. Ibu para kesatria Pandawa itu menangis ketika bertemu dengan Krishna. Ia sedih karena ingat akan penderitaan putra-putranya sela-ma tiga belas tahun. Krishna menghibur Dewi Kunti dengan mengabarkan bahwa saat itu Pandawa selamat dan sejahtera.

Dari kediaman Widura, Krishna pergi ke kediaman Duryodhona untuk menyampaikan maksud kedatangan-nya, yaitu mengharapkan penyelesaian yang wajar.

Duryodhona menyambut Krishna dan mengundangnya untuk makan-makan, tetapi dengan halus Krishna meno-laknya. Katanya, “Terima kasih atas undanganmu. Saya terima undangan makan-makan itu. Tetapi, sebaiknya itu dilaksanakan setelah kita mencapai kesepakatan untuk memilih jalan damai.”

Setelah menyampaikan pesannya kepada Duryodhona, Krishna minta diri untuk kembali ke kediaman Widura. Di sanalah ia tinggal selama ia menjalankan tugasnya di Hastinapura. Krishna dan Widura lalu mengadakan pembi-caraan. Widura menjelaskan kepada Krishna bahwa keang-kuhan Duryodhona disebabkan oleh keyakinannya akan kesaktiannya sendiri.

Kecuali itu, Bhisma dan Drona tetap berada di pihak-nya. Widura memberi isyarat bahwa sebaiknya Krishna dan pengiringnya tidak masuk ke ruang perundingan yang akan diselenggarakan oleh Duryodhona. Ia yakin, Duryo-dhana dan saudara-saudaranya pasti telah merencanakan suatu perangkap untuk membunuh Krishna.

“Apa yang engkau katakan tentang Duryodhona itu benar. Aku datang kemari dengan harapan bisa merun-dingkan penyelesaian secara damai. Aku tidak ingin diku-tuk oleh dunia. Jangan engkau khawatirkan keselama­tanku,” kata Krishna.

Keesokan harinya Duryodhona dan Syakuni datang menemui Krishna, mengatakan bahwa Dritarastra telah menunggu kedatangannya. Krishna segera pergi ke tempat perundingan bersama Satyaki dan Widura. Pada waktu Krishna memasuki ruangan, semua yang hadir di situ serentak berdiri dan memberikan salam hormat dengan mengatupkan kedua telapak tangan. Kemudian Krishna dipersilakan duduk di kursi yang telah disediakan baginya. Setelah upacara penyambutan selesai, tibalah giliran Krishna untuk bicara.

Sambil memandang Dritarastra dengan penuh hormat, Krishna menjelaskan maksud kedatangannya kepada hadi-rin. Ia juga menjelaskan apa yang sebenarnya diinginkan pihak Pandawa. Akhirnya secara khusus Krishna berkata kepada Dritarastra, “Paduka Raja, hendaknya Tuanku jangan membawa kehancuran bagi rakyat. Renungkan ini: sesuatu dikatakan jelek apabila baik bagi dirimu sendiri dan sesuatu dikatakan baik apabila jelek bagi dirimu sen-diri.

“Tugasmu adalah untuk menuntun putra-putramu. Pandawa siap bertempur, tetapi mereka memilih perda-maian. Mereka ingin hidup rukun dan bahagia di bawah pimpinanmu. Perlakukan mereka sebagaimana putra-putramu sendiri. Berusahalah

untuk mencari penyelesaian yang damai dan terhormat. Pasti dunia akan menghormati engkau!” Demikianlah, Krishna berkata dengan sungguh­sungguh. Dritarastra yang buta berkata kepada para hadi­rin, “Saudara-saudara dan sahabat- sahabatku, dalam hal ini aku tidak bersalah. Aku juga mengharapkan perda-maian, sama seperti yang dikatakan Krishna. Tetapi aku tidak berdaya. Putra-putraku tidak mau mendengarkan kata-kataku. Krishna, aku harap kau berhasil menasihati Duryodhona.”

Krishna menoleh ke arah Duryodhona dan berkata, “Engkau keturunan keluarga agung dan terhormat. Ber-jalanlah di jalan dharma. Buanglah iri, dengki dan dendam di hatimu karena itu tidak sesuai dengan keagunganmu. Perasaan seperti itu hanya pantas bagi orang yang berasal dari keturunan berbudi rendah. Karena engkaulah, keturu-nan dan keluarga ini berada dalam bahaya kehancuran. Dengarkan dan pertimbangkan usul kami yang adil dan wajar ini.

“Pandawa menghendaki Dritarastra menjadi raja dan engkau menjadi ahli warisnya. Berdamailah dengan mere-ka dan serahkan separo kerajaan ini kepada mereka.”

Bhisma dan Drona menasihati Duryodhona agar mau mendengarkan kata-kata Krishna. Tetapi hati Duryodhona sudah keras, tidak bisa dilembutkan.

“Aku kasihan melihat ayahmu, Dritarastra, dan ibumu, Dewi Gandhari. Karena keserakahanmu, mereka mende­rita, putus asa dan kehilangan segalanya,” kata Widura kepada Duryodhona.

Sekali lagi Dritarastra berkata kepada putranya, “Dur­yodhana! Kalau engkau tidak mau mendengarkan nasihat Krishna, bangsamu akan musnah.”

Bhisma dan Drona tidak putus-putusnya menasihati Duryodhona agar tidak berjalan ke arah yang salah. Tetapi Duryodhona justru kehilangan kesabaran. Ia tidak dapat menahan kekesalannya lagi, lebih-lebih karena merasa dipojokkan untuk menyetujui penyelesaian secara damai. Kekesalan dan amarahnya meledak! Dia berdiri lalu berka­ta lantang, “Wahai, Krishna, engkau menyalahkan aku sebab engkau memihak Pandawa. Yang lain juga menya-lahkan aku, tetapi aku yakin bukan aku yang harus diku-tuk. Atas kehendak mereka sendiri Pandawa telah mem-pertaruhkan kerajaan mereka. Mana bisa aku yang harus bertanggung jawab atas urusan ini? Setelah kalah dalam permainan, sesuai permufakatan yang terhormat, mereka harus masuk hutan seperti kesepakatan kita semula.

“Sekarang, kesalahan apalagi yang mereka tuduhkan kepada kami? Mengapa kami dituduh haus perang dan pembunuhan? Aku tidak gentar menghadapi ancaman apa pun. Ketika aku masih bocah, orang-orang yang lebih tua selalu menyalahkan dan menyakiti hati kami dengan selalu membenarkan, membela, dan menyanjung Pandawa. Aku tidak tahu, mengapa mereka harus mendapat setengah dari kerajaan ini padahal sesungguhnya mereka sama sekali tidak berhak. Waktu itu, aku diam dan setuju saja. Tetapi, bukankah mereka telah mempertaruhkan kerajaan-nya dalam permainan dadu dan mereka kalah? Sejengkal pun takkan kuberikan wilayah kerajaanku kepada Panda­wa!” kata Duryodhona tanpa rasa bersalah sama sekali.

Krishna tersenyum dan berkata, “Bukankah engkau telah mempersiapkan permainan itu dengan licik? Bersama dengan Syakuni, kau memperdayakan Pandawa. Permainan kauatur sedemikian hingga Pandawa tak mungkin menang.

Dengan keji kauhina Draupadi di depan para raja dan tamu-tamu lainnya. Tanpa malu engkau tetap bersitegang bahwa engkau sama sekali tidak bersalah.”

Duhsasana menanggapi pembicaraan tersebut dengan mengatakan bahwa Bhisma dan para tetua lainnya sudah termakan oleh kata-kata Krishna yang memojokkan Duryo-dhana. Tiba-tiba ia berdiri lalu berkata dengan lantang, “Saudaraku, rupa-rupanya orang-orang dalam perundi-ngan ini telah menyiapkan rencana jahat terhadap dirimu. Mereka hendak mengikat kaki dan tanganmu dengan tali tipu muslihat dan menyerahkan dirimu pada Pandawa. Ayo, kita pergi dari sini.”

Demikianlah, Duryodhona dan saudara-saudaranya segera meninggalkan perundingan.

Krishna meneruskan pembicaraan dengan hadirin yang masih ada. Ia berkata, “Tuan-Tuan yang mulia, bangsa Yadawa dan bangsa Wrisni kini hidup damai dan bahagia setelah Kamsa dan Sisupala mati. Demi menyelamatkan seluruh rakyat, mungkin kita perlu mengorbankan satu-dua orang.

“Bukankah ada kalanya sebuah desa harus dikosong-kan atau dimusnahkan demi menyelamatkan seluruh negeri dari petaka wabah penyakit? Aku khawatir, kita terpaksa mengorbankan Duryodhona bila Tuan-Tuan hen-dak menyelamatkan bangsa ini. Inilah satu-satunya jalan.”

Dritarastra menyuruh Widura memanggil Dewi Gandha-ri, permaisurinya dan ibu para Kurawa. Ia berharap Duryodhona mau mendengarkan nasihat ibunya dan mengambil keputusan dengan akal sehat. Tetapi Duryo-dhana berkata dengan mata merah melotot, “Tidak, tidak, tidak!” lalu pergi tanpa memberi hormat kepada siapa pun.

Duryodhona menyusun rencana untuk menculik dan membunuh Krishna. Rencana itu segera sampai ke ruang perundingan. Krishna, yang sudah mengetahui rencana itu sejak semula, tiba-tiba memperlihatkan keaslianNya. Selama beberapa saat Dritarastra yang buta dapat melihat Krishna dalam wujudNya yang suci dan agung, wujud sebagai penjelmaan Hyang Widhi yang membawa perda-maian. Dritarastra lalu menyembah.

“Oh Hyang Widhi, setelah melihat Engkau dalam bentuk Wiswarupa, aku tidak ingin melihat apa-apa lagi. Biarlah aku buta untuk selama-lamanya,” katanya sambil meme­jamkan matanya lagi. Seketika itu ia kembali buta seperti

sediakala.

Dritarastra meneruskan ucapannya, “Semua usaha kita gagal. Duryodhona memang kepala batu.”

Setelah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, pertemuan diakhiri. Krishna segera meninggalkan ruangan didampingi Satyaki dan Widura. Ia langsung menemui Dewi Kunti dan mengabarkan bahwa usahanya gagal. Dewi Kunti meminta agar Krishna menyampaikan restunya kepada putra-putranya.

“Sekarang saatnya menunjukkan untuk apa sebenarnya seorang ibu membesarkan putra-putranya hingga menjadi kesatria, yaitu untuk dikorbankan di

medan perang. Semo­ga engkau dapat menuntun mereka dalam pertempuran,” kata

Dewi Kunti kepada Krishna. Setelah bercakap-cakap sebentar, Krishna cepat-cepat naik ke keretanya lalu melecut kudanya agar berlari kencang menuju Upaplawya.

Jalan damai sudah diusahakan, tapi peperangan tak terhindarkan!

~ Article view : [160]