40. Saat-Saat Sebelum Perang

212

40. Saat-Saat Sebelum Perang

Hampir semua orang sudah siap berperang. Kedua belah pihak telah berkumpul di kubu masing-masing. Demi kehormatan dan kemuliaan perang kaum kesatria, mereka bertekad untuk memegang teguh aturan-aturan perang dalam melancarkan serangan dan gempuran terha-dap lawan.

Perang di jaman itu dibatasi dengan aturan-aturan yang berbeda dengan aturan di jaman-jaman yang kemudian. Menjelang matahari terbenam, perang harus dihentikan dan masing-masing pihak kembali ke kubu pertahanan untuk beristirahat. Sering terjadi, pihak-pihak yang ber-musuhan berkumpul dan bergaul bebas dalam suasana persaudaraan selama matahari berada dalam peraduan-nya. Mereka melupakan segala peristiwa yang terjadi siang harinya. Tidak seorang pun dibenarkan mengangkat senja-ta atau mengepalkan tinju di malam hari.

Pertarungan satu lawan satu hanya boleh dilakukan di antara dua pihak yang setara. Tidak seorang pun boleh berbuat sesuka hati di luar aturan-aturan dan norma-norma yang telah ditetapkan dalam dharma. Yang mundur atau yang terjatuh, apalagi yang menyerah, tidak boleh diserang atau dipukul lagi. Seorang prajurit berkuda hanya boleh diserang oleh seorang prajurit berkuda; demikian pula prajurit berkereta dan penunggang gajah. Prajurit yang berjalan kaki hanya boleh diserang oleh lawan yang seimbang.

Tidak seorang pun boleh membela kawan atau menye-rang lawan yang sedang bertarung satu lawan satu. Orang yang tak bersenjata tidak boleh diserang dengan senjata. Jadi, orang-orang dari kelompok bukan prajurit, misalnya pemukul genderang, peniup trompet dan barisan penolong korban perang, tidak boleh diserang. Mereka yang lari menyerah ke pihak lawan tidak boleh dianiaya atau dibu-nuh. Demikianlah beberapa aturan perang disepakati oleh Kurawa dan Pandawa dan diumumkan sebelum perang di padang Kurukshetra dimulai.

Jauh di kemudian hari, tata krama perang tersebut dilanggar sendiri oleh manusia. Begitu pula pengertian tentang benar dan salah, tentang baik dan buruk, tentang kebajikan dan kebatilan, semua dilanggar sendiri oleh ma-nusia si pencipta aturan. Masing-masing merasa pihaknya paling benar, paling kuat, dan paling berkuasa. Demikian-lah, jauh di kemudian hari, orang tidak lagi berperang berhadap- hadapan dengan lawan, tetapi juga menyerang sasaran-sasaran lain. Rakyat biasa, laki-perempuan, tua-muda, tanpa pandang bulu, semua dihancurkan asalkan memang dapat dihancurkan. Ringkasnya, segala upaya dilakukan agar pihak musuh hancur!

Meskipun sudah ada aturan yang membatasi pepe-rangan, penyimpangan dan pelanggaran akan terjadi jika manusia tidak dapat mengendalikan diri dan ingin saling membunuh. Tetapi, betapapun pelanggaran terjadi, budi pekerti luhur tetap

mengatakan bahwa yang salah adalah salah, yang jahat adalah jahat, yang batil adalah batil, yang tercela harus dicela dan seterusnya.

“Wahai para kesatria! Sekarang inilah kesempatan gemi­lang bagimu. Di hadapananmu kini terbuka pintu gerbang surga selebar-lebarnya! Keabadian di hadapan Batara Indra dan Batara Brahma menunggu dharma dan baktimu. Ikutilah jejak nenek moyangmu dan melangkahlah di jalan dharma kesatria. Bertempurlah dengan gembira untuk mencapai kemuliaan dan kemasyhuran. Seorang kesatria pasti tidak ingin mati di ranjang karena sakit atau usia tua. Ia lebih memilih gugur di medan perang!” Demikian kata-kata singkat Bhisma dalam peresmian pasukan perang Kurawa yang disambut dengan sorak sorai mem-bahana.

Demikianlah persiapan-persiapan yang dilakukan kedua pihak. Di pihak Kurawa tampak panji-panji megah berki-bar-kibar di udara. Di kereta Bhisma, sang Senapati Agung, berkibar panji-panji berlambang pohon kelapa dan lima bintang emas. Di kereta Aswatthama tampak panji-panji berlambang singa mengaum garang. Di kereta Drona terpancang panji-panji berlambang mangkuk pendita dan busur-panah warna kuning keemasan. Di kereta Duryo-dhana berkibar panji-panji berlambang ular kobra. Duryo-dhana mengenakan jubah longgar bertudung kepala, yang hiasannya melambai-lambai ditiup angin ketika keretanya bergerak maju. Mahaguru Kripa membawa panji-panji ber-lambang banteng; sementara Jayadratha memilih lambang babi hutan. Alangkah hebat dan megahnya panji-panji pasukan Kurawa yang berkibaran di udara. Hati siapa yang tidak berdebar menyaksikan kehebatan pasukan Kurawa yang berderap menuju medan Kurukshetra?

Mengetahui bahwa balatentara Kurawa jauh lebih besar jumlahnya, Yudisthira menyampaikan pesan kepada Arjuna agar menggunakan taktik-taktik pemusatan pasu-kan, bukan penyebaran, dan serangan-serangan berfor-masi jarum.

Tetapi, ketika Arjuna menyaksikan kedua pihak berha-dapan di medan Kurukshetra, siap untuk saling menye-rang, hatinya menjadi ragu dan sedih memikirkan akibat peperangan. Krishna tidak membiarkan Arjuna dirundung keraguan dan kesedihan. Ia segera memberikan petuah-petuah mulia untuk menguatkan tekad Arjuna dalam menghadapi Kurawa, musuh sekaligus saudara- saudara sepupunya.

Sesaat sebelum pertempuran dimulai, ketika segala sen-jata siap digunakan untuk menyerang musuh, ketika kete-gangan jiwa memuncak, tiba-tiba Yudhistira yang gagah berani meletakkan senjatanya, menanggalkan tudung kebesaran dari kepalanya, lalu turun dari keretanya. Ia melangkah mendekati Senapati Agung Kurawa.

Semua orang yang melihat perbuatan Yudhistira terce-ngang, bingung, dan bertanya-tanya dalam hati, apa gera-ngan yang hendak dilakukan Yudhistira sekarang. Arjuna sangat terkejut dan segera turun dari keretanya lalu mengejar Yudhistira. Krishna dan saudara-saudara Arjuna yang lain mengikuti langkah Arjuna. Mereka cemas, kalau-kalau Yudhistira hendak menyerah tanpa perlawanan, demi tercapainya perdamaian.

Sambil mengejar dari belakang, dengan suara keras Arjuna berseru kepada Yudhistira, “Hai, Raja Yang Kami Hormati, apa sebabnya engkau berbuat seaneh ini? Tanpa memberitahu kami, kau pergi ke tempat musuh, tanpa senjata, tanpa pengawal dan dengan berjalan kaki. Kata­kan, apa maksudmu?!”

Tetapi Yudhistira tidak menjawab sepatah kata pun. Ia tenggelam dalam renungan jiwanya dan terus berjalan ke tempat musuh.

Setelah memandang wajah Yudhistira beberapa saat lamanya, Krishna yang mengetahui jiwa dan perasaan manusia, juga jiwa dan perasaan Dharmaputra saat itu, berkata kepada Pandawa lainnya dengan tenang, “Ya, aku tahu maksudnya. Ia hendak pergi menemui Bhisma, Mahaguru Drona dan para tetua lainnya untuk memohon restu sebelum peperangan dahsyat dimulai. Apa yang dilakukan-nya memang sesuai dengan sopan santun dan adat kesatria. Dengan restu para tetua, ia berharap kita akan dapat melakukan kewajiban kita di medan perang dengan sebaik-baiknya.”

Pasukan Duryodhona, yang melihat Yudhistira datang tanpa senjata tanpa pengawal dan dengan kepala tunduk, mengira kesatria itu datang untuk mencari penyelesaian secara damai, karena gentar melihat kekuatan pasukan Kurawa. Mereka saling berbisik, mengatakan Dharma-putra pengecut dan tindakannya membuat malu para kesatria. Banyak yang mengutuknya. Kenapa orang seperti Dharmaputra terlahir di lingkungan kesatria? Tetapi, ada juga yang merasa lega karena mengira kemenangan akan diperoleh dengan mudah, tanpa harus melancarkan satu pukulan pun, karena Dharmaputra datang sendiri untuk menyerah.

Yudhistira terus berjalan, menembus barisan pasukan Kurawa yang berderet tegap dan rapi, lengkap dengan senjata perang mereka. Ia tenggelam dalam lautan pasu-kan perang yang dipimpin Bhisma. Sampai di hadapan senapati agung itu, Yudhistira sujud dan menyembah kaki Bhisma yang ia muliakan sambil berkata, “Kakek yang kumuliakan, ijinkan kami memulai peperangan ini. Kami memberanikan diri untuk melawan Kakek, kesatria yang tak tertandingi dan tak bisa ditaklukkan. Kami memohon restumu.”

“Cucuku, engkau terlahir sebagai keturunan Bharata. Engkau bertindak mulia, sesuai tata krama para kesatria. Hatiku sangat bahagia menyaksikan semua ini. Aku bukan prajurit yang bebas. Aku, karena terikat oleh kewajibanku terhadap Dritarastra, harus bertempur di pihak Kurawa. Bertempurlah engkau. Kemenangan akan ada di pihakmu,” kata Bhisma sambil memberikan restunya kepada Dhar-maputra.

Setelah memperoleh restu dari Kakek Bhisma, Yudhis-tira pergi menemui Mahaguru Drona. Sampai di hadapan mahaguru itu, sesuai adat para kesatria, ia sujud, me-nyembah dan memohon restunya.

Mahaguru Drona berkata, “Wahai Dharmaputra, aku tak mungkin mengingkari kewajibanku. Kepentingan pri-badi telah memperbudak kita dan menjadi majikan kita. Aku terikat oleh kepentingan itu dan harus bertempur di pihak Kurawa. Tapi, engkau pasti menang. Bertempurlah kalian dengan sepantasnya.”

Setelah mohon pamit dari Mahaguru Drona, Yudhistira pergi menghadap Mahaguru Kripa dan Raja Salya, paman-nya, untuk maksud yang sama. Setelah mendapat restu dari kedua orang itu, ia kembali ke pasukan Pandawa.

Demikianlah, perang besar Bharatayudha dimulai.

Terjadi pertarungan satu lawan satu di antara para kesatria perkasa dari kedua belah pihak: Bhisma lawan Partha, Brihatbala lawan Abhimanyu, Kritawarma lawan Satyaki, Salya lawan Yudhistira, Duryodhona lawan Bhima dan Drona lawan

Dristadyumna. Pasukan berkuda berha-dapan dengan pasukan berkuda, pasukan gajah mengha-dapi pasukan gajah, semuanya berlangsung sesuai undang-undang dan aturan perang di masa itu.

Di samping pertempuran-pertempuran yang sesuai dengan aturan-aturan perang di masa itu, perang bebas juga terjadi, yaitu antara pasukan berjalan kaki dari kedua belah pihak. Pertempuran bebas seperti itu disebut sanku-la yuddha.

Demikianlah padang Kurukshetra telah menyaksikan sankula yuddha yang tidak ada batasnya, lebih-lebih setelah peperangan berlangsung beberapa hari dan orang-orang yang berperang sudah tak dapat mengendalikan diri lagi. Mereka saling membunuh dengan garang, benar-benar haus darah, tidak peduli apa pun asal dapat me-mancung leher lawan. Gemuruh kereta-kereta perang yang dipacu, lengkingan gajah, bunyi tombak dan pedang ber-adu, desing ribuan anak panah yang melesat ke arah lawan… semua itu menjadi pemandangan sehari-hari sela-ma berhari-hari di padang Kurukshetra yang amat luas!

~ Article view : [87]