42. Perang Hari Kedua

220

42. Perang Hari Kedua

Duryodhona sangat senang karena di hari pertama Kurawa berhasil memetik kemenangan. Ia berkata lantang di depan seluruh balatentara Kurawa, seakan kemenangan akhir sudah di tangan.

Sebaliknya, pihak Pandawa menderita kekalahan besar. Mahasenapati Dristadyumna menyusun siasat baru agar tak banyak korban berjatuhan di pihak Pandawa.

Arjuna berkata kepada Krishna, sais keretanya, kalau pertempuran seperti kemarin terjadi lagi, maka balatentara Pandawa pasti hancur musnah dalam waktu singkat. Ia berpendapat, yang pertama-tama harus disingkirkan ada-lah Bhisma.

“Kalau memang demikian pendapatmu, bersiaplah! Kita hancurkan kereta Bhisma!” jawab Krishna sambil melecut kudanya menuju kereta Bhisma.

Dari jauh Bhisma melihat kereta Arjuna datang mendekat. Cepat-cepat ia lemparkan berpuluh-puluh tombak ke arah Arjuna, susul-menyusul. Melihat Bhisma diserang, Duryodhona memerintahkan anak buahnya untuk melindungi Bhisma dari serangan musuh, terutama serangan Arjuna. Semua tahu, tidak ada yang bisa menandingi Arjuna, kecuali Bhisma, Drona dan Karna. Tetapi, kali ini dengan dahsyat Arjuna menyerang Bhisma. Dari atas keretanya yang

berlari kencang bagai petir menyambar-nyambar, Arjuna bahkan mampu menghancurleburkan bala bantuan yang dikirim Duryodhona. Demikianlah, setiap penghalang disapu bersih bagai alang-alang kering dijilat api di musim panas.

Pertempuran di hari kedua membuat hati Duryodhona berdebar-debar. Kepercayaannya kepada Bhisma mulai mengendur. Dengan marah ia berkata kepada kesatria tua itu bahwa selama Bhisma dan Drona masih hidup, serangan Arjuna dengan kereta yang disaisi Krishna pasti akan menghancurkan seluruh balatentara Kurawa. Duryodha-na bahkan menuduh, orang tua itulah yang menyebabkan pengabdian dan kesetiaan Karna diabaikan. Ia merasa ter-tipu oleh mereka, karena mereka tidak mau menghancur-kan Arjuna. Mendengar tuduhan ini, Bhisma hanya bung-kam seribu bahasa dan tetap meneruskan perlawanannya terhadap Arjuna.

Pertempuran antara dua kesatria besar itu sungguh menakjubkan. Keduanya adalah kesatria paling sakti di jaman itu. Tak terhitung banyaknya anak panah dan

tombak yang dilepaskan dari kedua pihak. Beberapa anak panah Bhisma menancap di tubuh Arjuna dan Krishna. Sebaliknya, beberapa kali busur Bhisma patah kena panah Arjuna. Kini kereta kedua kesatria itu berada sangat dekat satu sama lain. Para dewata di kahyangan menyaksikan pertempuran mereka dengan penuh haru.

Sementara itu, Drona sedang berhadap-hadapan de-ngan Dristadyumna. Dengan pengalaman dan kesaktian-nya, Drona membuat mahasenapati Pandawa itu luka parah. Tetapi, Dristadyumna bukan prajurit muda yang tak paham soal pertempuran. Meski luka-lukanya parah, dia bangkit berdiri lalu dengan perkasa membalas sera-ngan Drona. Panah dan tombak mereka melayang di uda-ra. Beberapa anak panah Drona tepat mengenai sais kereta Dristadyumna, hingga sais yang setia itu tewas seketika. Kereta Dristadyumna hancur. Segera Arjuna, melompat ke luar sambil melemparkan beberapa tombak kepada Drona, yang menangkisnya dengan lincah. Dristadyumna meng-hunus pedangnya dan dengan cepat menyerbu Drona. Tetapi, serangan itu berhasil dielakkan Drona. Bahkan pedang itu berhasil dipatahkannya. Tepat pada saat yang kritis itu, Bhima melepaskan anak panah ke arah Drona. Kereta Drona hancur diterjang anak panah Bhima dan membuat Mahaguru itu terpelanting. Secepat kilat Bhima melompat dan menyambar Dristadyumna lalu melarikan-nya ke tempat yang aman.

Kemudian Bhima berhadapan dengan pasukan Kalinga. Bhima mengamuk bagaikan banteng terluka, membunuh ratusan prajurit Kalinga. Melihat itu, Bhisma segera me-ngerahkan sepasukan prajurit untuk membantu pasukan Kalinga. Bhima dibantu Satyaki dan Abhimanyu. Sebuah tombak berat Satyaki tepat mengenai sais kereta Bhisma dan menewaskannya. Kereta Bhisma tidak dapat dikuasi lagi, kudanya berlari liar meninggalkan medan pertem-puran.

Kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya oleh pasukan Pandawa. Arjuna menyerang dan menerjang bagai topan. Pasukan Kurawa kocar-kacir. Tidak terhitung ba-nyaknya yang tewas. Mayat bergelimpangan, berserakan bagaikan daun kering di musim gugur. Begitu banyaknya kawan mereka yang tewas hingga balatentara Kurawa merasa gentar.

Ketika senja tiba, lewat Drona, Bhisma memerintahkan agar pertempuran hari itu dihentikan. Semua pasukan harus kembali ke kubu masing-masing. Semangat para perwira Kurawa mulai layu. Sebaliknya, Pandawa mem-peroleh kemenangan besar karena semangat mereka tinggi.

~ Article view : [88]