44. Pahlawan-Pahlawan Muda Berguguran

214

44. Pahlawan-Pahlawan Muda Berguguran

Pada hari keempat, pagi-pagi benar Bhisma, Drona dan Duryodhona telah mengumpulkan balatentara Kau-rawa. Siapakah yang tidak takjub melihat keperkasaan pasukan Kurawa? Hari itu Bhisma menyiagakan pasu-kan-pasukan yang mengusung persenjataan berat, pasu-kan berkuda dan penunggang gajah. Kesatria tua itu tam-pak perkasa, berdiri tegap di kereta perangnya bagaikan Batara Indra yang sedang mempersiapkan pertempuran di angkasa.

Arjuna melihat Bhisma memerintahkan pasukan-pasu-kan Kurawa untuk maju. Ia sendiri sudah siap di kereta-nya.

Begitu matahari terbit, sangkakala ditiup, tanda pepe-rangan dimulai. Pagi-pagi benar Abhimanyu telah dike-pung oleh Aswatthama, Bhurisrawa, Citrasena, Salya dan Cala, putra Salya. Putra Arjuna yang masih muda itu ber-tarung dengan sengit, bagaikan seekor singa menghadapi lima ekor gajah. Belum lama berperang, dia sudah berhasil membunuh Cala. Melihat putranya tewas mengenaskan, Salya sangat marah dan menantang Dristadyumna. Tetapi sebelum Dristadyumna sempat membalas tantangannya, Abhimanyu sudah menyerang Salya. Raja itu pasti kalah kalau tidak segera dibantu oleh Duryodhona dan saudara-saudaranya.

Melihat Abhimanyu dikeroyok, Bhima cepat-cepat mem-berikan bantuan. Saudara-saudara Duryodhona ngeri me-lihat Bhima mendekat sambil mengacung- acungkan gada besi yang luar biasa besarnya dan menggeram-geram se-perti singa. Mereka gemetar ketakutan. Duryodhona marah melihat saudara-saudaranya ketakutan. Ia mengerahkan ratusan gajah untuk menerjang Bhima. Melihat ratusan gajah berlari ke arahnya, Bhima meloncat dari keretanya siap menghadang mereka dengan gada terayun-ayun. Di-hadang seperti itu, gajah-gajah itu lari tunggang- langgang ketakutan. Banyak yang mati terkena hantaman gada Bhima atau terinjak- injak gajah lain. Bangkai binatang raksasa itu bergelimpangan dan tak sedikit prajurit Kau-rawa yang mati terlindas gajah yang lari tunggang-lang-gang karena panik.

Duryodhona menjadi mata gelap. Ratusan anak panah dilesatkannya ke arah Bhima. Beberapa tepat mengenai Bhima yang lalu bergegas naik kembali ke keretanya. Kepada sais keretanya ia memerintahkan agar kereta dipa-cu ke kubu Kurawa, “Ayo Wisoka, ini hari yang gemilang. Aku melihat anak-anak Dritarastra siap kuremukkan, mudah sekali. Semudah menggoyang dahan jambu agar buahnya rontok berserakan di tanah. Rupanya Kurawa sudah tak sabar ingin segera dikirim ke neraka!”

Delapan saudara Duryodhona mati remuk terkena amu-kan gada Bhima. Akhirnya Duryodhona maju dan menan-tang Bhima dengan garang. Busur Bhima terpelanting kena panah Duryodhona. Dengan cekatan Bhima mengam-bil busur baru dan membalas serangan Duryodhona dengan anak panah bermata pedang yang tepat mengenai busur Duryodhona hingga patah jadi dua. Tak kalah tang-kasnya, Duryodhona mengambil busur baru untuk mem-bidik Bhima. Kesatria Pandawa itu terkena dadanya, tubuhnya tersentak lalu jatuh terduduk. Tanpa membuang waktu, Duryodhona menggunakan kesempatan itu untuk meluncurkan beratus-ratus anak panah ke arah Bhima. Gatotkaca, yang melihat ayahnya terduduk setengah tak sadarkan diri, segera maju menyerang pasukan Kurawa.

Sadar akan keadaan pasukan Kurawa yang sudah sangat payah dan hari memang sudah sore, Bhisma meme-rintahkan Drona untuk mengundurkan pasukan

mereka ke perkemahan. Bhisma tahu, Gatotkaca, putra Bhima dari istrinya yang raksasa, akan bertambah kuat dan sakti jika hari mulai gelap. Bertambah malam kesaktiannya semakin bertambah. Itu adalah ciri khas anak raksasa.

“Esok saja kita hadapi Gatotkaca,” kata Bhisma.

Sampai di perkemahan, Duryodhona duduk termangu-mangu. Air matanya menetes, hatinya sedih mengenang kekalahan tadi siang. Peperangan baru berlangsung empat hari, tetapi sudah delapan saudaranya yang tewas dan tak terhitung banyaknya prajurit Kurawa yang kehilangan nyawanya atau menjadi cacat. Kekalahan itu semakin terasa berat karena banyak kereta perang yang hancur dan gajah serta kuda yang mati.

Setiap hari Raja Dritarastra mendapat laporan tentang jalannya pertempuran dari Sanjaya, orang kepercayaan dan penasihatnya. Mendengar laporan tentang jalannya pertempuran pada hari keempat, ia menjadi marah. Katanya dengan nada keras, “Sanjaya, setiap hari engkau selalu menyampaikan kabar buruk. Laporanmu hanya berisi kesedihan, kekalahan dan kematian mereka yang kucintai. Aku tidak tahan mendengar semua ini.”

“Tuanku Raja, bukankah ini semua adalah akibat dari kesalahan Tuanku sendiri? Aku hanya melaporkan apa yang kulihat, sama sekali tidak mengada-ada. Memang menyedihkan. Tapi, bagaimana aku bisa mengabarkan berita baik, jika kenyataannya tidak demikian? Tuanku Raja harus menerima kenyataan ini dengan sabar,” jawab Sanjaya.

***

Pada hari kelima pertempuran dimulai pagi-pagi sekali. Bhisma mengatur pasukan Kurawa dalam formasi yang kokoh. Sebaliknya, Pandawa mengatur pasukan mereka dengan cara lain. Bhima dan pasukannya ditugaskan untuk siaga di ujung depan formasi mereka, disusul bertu-rut-turut pasukan Srikandi, Satyaki, dan Dristadyumna yang dipilih menduduki pusat formasi atau pusat keku-atan. Ujung belakang formasi dijaga oleh Dharmaputra dan saudara kembarnya, Nakula dan Sahadewa.

Hari belum lagi terang ketika Bhisma mengerahkan pasukan Kurawa dalam jumlah sangat besar untuk meng-gempur pasukan Pandawa yang belum siap benar. Tak bisa dihindarkan, prajurit yang dipimpin Bhima banyak yang tewas. Pandawa menderita kekalahan. Dhananjaya segera membantu Bhima. Musuh dapat dipukul mundur dan Bhisma dibuat kewalahan.

Duryodhona kecewa dan mengeluh kepada Drona, “Eng­kau tidak bertindak dengan sepenuh hatimu. Apa artinya semua ini? Katakan terus terang!”

Dengan pedas Drona menjawab, “Putra Mahkota yang berhati keras, engkau berbicara tanpa menunjukkan pengertianmu. Selama ini kau meremehkan kekuatan Pandawa. Kami telah melaksanakan kewajiban kami dengan sebaik-baiknya.”

Menjelang tengah hari, Drona berhadapan dengan Sat-yaki. Drona melancarkan serangan bertubi-tubi terhadap Satyaki, tetapi kesatria itu belum terkalahkan juga. Justru Drona yang membutuhkan bantuan. Maka datanglah Salya dan Bhisma untuk membantunya.

Pertempuran dan pertarungan kesatria-kesatria perkasa itu berlangsung sangat dahsyat! Dari pihak Pandawa tam-pil Srikandi, seorang laki-laki yang terlahir dengan raga perempuan.

Melihat Srikandi mendekatinya, Bhisma menghindar. Pantang baginya untuk bertarung melawan perempuan karena begitulah dulu ia bersumpah. Drona menggantikan Bhisma dan langsung menghadapi Srikandi. Serangan Drona yang bertubi-tubi membuat Srikandi kewalahan.

Demikianlah, pertempuran di hari kelima itu berlang-sung tanpa mengindahkan aturan perang. Pembunuhan kejam terjadi di seluruh medan perang. Menjelang sore Duryodhona mengirimkan pasukan besar untuk melawan Satyaki. Tetapi, dengan mudah Satyaki menghancurkan mereka semua. Berikutnya Bhurisrawa maju menghadapi Satyaki dan menyerangnya dengan membabi buta. Putra-putra Satyaki yang berjumlah sepuluh orang tidak mem-biarkan ayah mereka dikeroyok. Serentak mereka maju dan melancarkan serangan balasan. Serangan putra-putra Satyaki itu dihadapi Bhurisrawa dengan garang. Dengan seluruh kekuatannya ia meremukkan sepuluh kesatria itu hingga tewas semuanya.

Satyaki sangat sedih dan marah melihat putra-putranya gugur. Dengan nekat ia menumbukkan keretanya ke ke-reta Bhurisrawa hingga kedua kereta itu hancur. Kemu-dian, sambil berdiri dengan gagah ia menghunus pedang dan bertarung satu lawan satu dengan Bhurisrawa. Meli-hat itu, Bhima memacu keretanya mendekat. Begitu sam-pai ke dekat kedua orang itu, ia mengayunkan gadanya, memukul bahu Bhurisrawa. Lalu, dengan tangkas ia me-nyambar Satyaki, menaikkannya ke kereta dan membawa-nya menjauh. Bhima tahu, Bhurisrawa sangat tangkas berolah pedang. Kepandaiannya itu tak tertandingi. Ia tidak rela Satyaki tewas karena kalah adu ketangkasan memainkan pedang.

Sementara itu, Arjuna telah membabat habis ratusan prajurit Kurawa, seperti peladang yang dengan kesal menerabas semak belukar. Setiap bala bantuan yang dikirim Duryodhona langsung dihabisi Arjuna.

Hari sudah sore. Sebentar lagi gelap turun. Bhisma memerintahkan agar pertempuran dihentikan. Kedua belah pihak kembali ke perkemahan masing-masing untuk ber-istirahat dan memulihkan kekuatan untuk menghadapi perang esok hari.

Di perkemahan Pandawa, Arjuna yang telah menewas-kan ratusan musuh disambut dengan sorak sorai yang meriah.

***

Sementara itu, suasana di perkemahan Kurawa tampak muram. Hari itu mereka menderita kekalahan luar biasa, kekalahan yang jauh lebih berat dan memalukan daripada yang pernah mereka alami.

Duryodhona termenung-menung. Hatinya gundah me-mikirkan kekalahannya. Hatinya mulai bimbang. Keyaki-nannya mulai goyah. Apakah Kurawa bisa menang jika pertempuran terus berlanjut?

Akhirnya dia menghadap Bhisma dan berkata, “Kakek yang kuhormati, di mata dunia engkau adalah kesatria agung yang tidak mengenal takut. Demikian pula Drona, Kripa, Kritawarma, Aswatthama, Sudakshin, Bhurisrawa, Wikarna dan Bhagadatta. Bagi para kesatria agung itu, kematian bukan apa-apa. Keberanian dan kebesaranmu, seperti mereka, juga tidak mengenal batas. Tak ada yang mampu mengalahkan engkau, biarpun kelima Pandawa maju serentak melawanmu. Tetapi,

aku merasa ada sesua-tu yang aneh. Setiap hari anak-anak Kunti selalu berhasil mengalahkan pasukan kita. Apakah rahasia mereka?” Me­nilik kata-katanya, jelas Duryodhona mencurigai Bhisma.

“Putra Mahkota, dengar kata-kataku. Dalam setiap ke-sempatan, aku selalu menasihatimu demi kebaikanmu sendiri. Tetapi, engkau selalu menolak pertimbangan kami yang lebih tua. Berulang-ulang kukatakan kepadamu, jalan yang terbaik adalah berdamai dengan putra-putra Pandu. Kalian berasal dari satu keturunan bangsawan agung. Demi kebaikanmu dan kebaikan jagat ini, perda-maian adalah satu-satunya jalan. Apalagi kerajaan yang amat luas ini akan tetap menjadi milik kalian. Kunosi-hatkan hal ini berulang-ulang, tetapi engkau tetap menya-lahkan Pandawa.

“Ingat, Pandawa dilindungi Krishna. Adakah yang bisa mengalahkan Krishna? Apa pun yang telah terjadi, seka-rang masih ada waktu untuk berdamai. Percayalah, jalan damai adalah jalan yang paling terhormat. Jadikan sepupu kalian itu teman baik, bukan musuh. Kalian akan hancur musnah kalau terus menghina Dhananjaya dan Nara­yana*,” jawab Bhisma.

* Dhananjaya = nama lain Arjuna; Narayana = nama lain Krishna

Duryodhona tidak menyahut dan tidak marah-marah lagi. Ia segera kembali ke kemahnya lalu merebahkan diri untuk beristirahat. Tetapi, sepanjang malam ia tidak bisa tidur. Hatinya kesal dan tidak bisa menerima nasihat Bhisma. Dasar keras kepala!

Di istana Hastinapura, dengan setia Sanjaya melaporkan jalannya pertempuran. Semua diceritakannya dengan ter-perinci karena ia dikaruniai kesaktian untuk melihat sesuatu yang jauh.

Dan … setiap kali mendengar laporannya, Raja Dritaras-tra selalu mengeluh berkepanjangan, “Aku ini seperti pelaut yang terkatung-katung di samudera luas setelah kapalnya tenggelam. Aku pasti tenggelam dalam lautan kedukaan ini. Bhima pasti bisa membunuh semua anakku. Aku tidak tahu, adakah kesatria mahasakti yang sanggup melindungi anak-anakku dari kemusnahan? Apakah Bhisma, Kripa, Drona dan Aswatthama hanya berpangku tangan melihat kehancuran yang dialami anak-anakku? Apa sebenarnya rencana mereka? Bagaimana dan kapan mereka mau membantu Duryodhona dengan sungguh­sungguh?” Dritarastra menangis, dari matanya yang buta mengalir air mata kesedihan.

Sanjaya mencoba menyabarkan raja yang sudah tua itu, “Bersabarlah Tuanku Raja. Ingatlah! Pandawa melandas-kan kekuatan mereka pada kebenaran dan keadilan. Itu sebabnya mereka menang. Putra-putramu memang pembe-rani, tetapi mereka berhati busuk dan tak segan berbuat curang. Keberuntungan takkan memihak putra-putramu. Mereka telah menghina Pandawa dan memperdaya mereka. Kini putra-putramu memetik buah perbuatan mereka.

“Pandawa menang bukan karena memiliki ilmu gaib. Mereka menang karena menjalankan dharma sebagai kesa-tria. Mereka menempuh jalan benar dan karena itu mereka dikaruniai kekuatan.

“Sahabat-sahabat Tuanku, yaitu Widura, Drona, Bhis-ma dan aku telah berulang kali memberi saran, tetapi Tuanku selalu menuruti keinginan putra-putra

page194image21904

Tuanku. Ibarat orang yang sakit keras, Tuanku telah menolak obat pahit yang harus Tuanku minum agar bisa sembuh.”

Di kemahnya, Duryodhona juga mengeluhkan hal itu.

Bhisma menasihatinya, “Yang dapat kukatakan kepada­mu sekarang adalah: berdamailah dengan Pandawa.”

~ Article view : [99]