46. Gugurnya Mahasenapati Bhisma

765

46. Gugurnya Mahasenapati Bhisma

Ketika fajar hari kedelapan menyingsing, Bhisma me-ngatur balatentara Kurawa dalam formasi kurma-wyuha atau kura-kura. Di pihak Pandawa, Yudhistira memerintahkan Dristadyumna agar menyusun pasukan-nya dalam formasi trisula atau tombak bermata tiga. Mata pertama dipimpin Bhimasena, mata ketiga dipimpin Sat-yaki dan mata yang tengah dipimpin Dharmaputra.

Hari itu Arjuna sedih karena kehilangan Irawan, putra-nya dari istrinya yang berasal dari Negeri Naga. Pemuda gagah dan tampan itu datang setelah mendengar berita tentang pertempuran ayahnya di medan Kurukshetra. Negeri Naga memang terkenal dengan kesatria-kesatria perangnya. Karena itu, Duryodhona mengirimkan raksasa Alambasa untuk menghadapi kesatria dari Negeri Naga itu. Irawan tewas setelah bertempur sengit melawan Alambasa.

Mendengar berita bahwa anaknya gugur, hati Arjuna hancur. Dengan sedih ia berkata kepada Krishna, “Benar­lah kata Widura, kedua pihak akan terjerumus ke dalam kedukaan yang tak terperikan. Untuk apa kita saling membunuh? Hanya demi memperoleh warisan? Setelah saling membunuh, kebahagiaan seperti apa yang bisa kita rasakan? Wahai Krishna, sekarang aku mengerti mengapa Yudhistira hanya meminta bagian lima desa saja dari Dur-yodhana. Dharmaputra juga menyatakan bahwa sebaiknya kita tidak berperang. Duryodhona yang menjadi biang keladi semua ini karena dia menolak memberikan lima desa. Hanya gara-gara permintaan sepele saja kita semua terjerumus ke dalam dosa.

“Sekarang aku bertempur hanya karena malu disebut pengecut. Jika kulihat mayat para prajurit dan kesatria bergelimpangan di medan perang ini, hatiku diliputi duka dan penyesalan. Alangkah jahatnya kita semua, terus saja menimbun dosa dengan saling membunuh.”

Melihat Irawan terbunuh, Gatotkaca tak bisa menahan kemarahannya. Ia berteriak lantang lalu maju menggem-pur dan mengobrak-abrik formasi balatentara Kurawa hingga kacau-balau. Duryodhona segera mendekat dan menerjang Gatotkaca. Raja Wanga dan pasukan gajahnya menggabungkan diri dengan Duryodhona. Pertempuran berlangsung seru. Duryodhona banyak sekali membunuh prajurit Gatotkaca. Sebaliknya, Gatotkaca banyak pula menghancurkan pasukan gajah Raja Wanga. Akhirnya Gatotkaca melepaskan anak panah sakti ke arah kereta Duryodhona. Tepat saat itu, gajah yang dinaiki Raja Wanga lewat di samping kereta Duryodhona. Akibatnya, gajah itulah yang terkena panah. Gajah yang perkasa itu lang-sung rubuh ke tanah, menguak keras lalu mati.

Bhisma cemas melihat Duryodhona yang hanya bisa bertahan, tidak mampu membalas serangan. Ia segera mengirimkan bala bantuan yang dipimpin Drona. Semen-tara itu, Gatotkaca tetap menyerang dengan garang. Bala bantuan terus mengalir bagi Kurawa. Sebab itu, Yudhis-tira juga mengirimkan bala bantuan yang dipimpin Bhima-sena untuk menolong Gatotkaca. Pertempuran semakin seru. Tidak kurang dari enam belas saudara Duryodhona dapat diremukkan Bhimasena dalam pertempuran di hari kedelapan.

***

Pada hari kesembilan, pagi-pagi sekali sebelum pertempu-ran dimulai, Duryodhona pergi menemui Bhisma. Dengan nada pahit ia menyatakan ketidakpuasannya akan jalan-nya pertempuran dari hari ke hari. Kata-katanya tajam

menusuk hati, bagai lembing menghunjam ke dalam dada. Tetapi Bhisma adalah kesatria tua yang berjiwa besar. Ia menjawab dengan tenang meskipun nada bicaranya terde­ngar sedih, “Wahai Putra Mahkota, aku ibarat minyak un­tuk lentera sembahyang, kuserahkan hidupku seluruhnya untukmu. Tetapi kenapa engkau selalu menyakiti hatiku, padahal aku telah berusaha dengan segala dayaku? Bica-ramu seperti orang yang tak punya pengertian yang baik, tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kata orang, jika seseorang akan menemui ajalnya, pohon-pohon pun tampak bagaikan emas. Engkau selalu melihat segala sesuatu tidak seperti hakikat sebenarnya. Penglihatanmu telah diliputi kabut dan mendung sangat tebal. Ketahuilah, mereka semua sesungguhnya memberi-kan segala-galanya, semata-mata sebagai jalan bagiku untuk memenuhi kewajibanku.

“Tidak mungkin aku membunuh Srikandi, sebab aku telah bersumpah tidak akan mengangkat tanganku untuk melawan perempuan. Demikian pula, tanganku tidak akan sanggup menetakkan pedang di leher Pandawa, sebab hati dan jiwaku tidak akan mengijinkan. Selain dua hal itu, tugas-tugasku kulakukan dengan sebaik- baiknya, walau-pun harus membunuh sekian banyaknya kesatria yang berani menantangku sebagai musuhmu.

“Ingatlah, tak sesuatu pun akan kauperoleh jika kau ingkari hati nuranimu. Bertempurlah sebagai layaknya kesatria maka kehormatan akan selalu ada padamu!”

Selesai berkata demikian, Bhisma memberikan bebera-pa perintah kepada para pemimpin pasukan untuk meng-hadapi pertempuran hari itu. Berkat kata-kata kesatria tua itu, semangat Duryodhona timbul kembali. Dengan tegas ia memberi perintah kepada Duhsasana untuk mengerahkan seluruh kekuatan yang ada untuk menghadapi pertem-puran hari itu.

“Sekarang aku baru yakin, Bhisma ternyata bertempur di pihak kita dengan sepenuh hati. Tetapi ia tidak bisa menghadapi Srikandi karena sumpahnya. Karena itu, usa-hakan agar ia jangan sampai berhadapan dengan Srikandi. Ingat, seekor anjing akan mampu membunuh singa yang tidak mau melawan.”

Demikianlah, begitu fajar menyingsing di hari kesembi-lan, pertempuran segera dimulai. Abhimanyu berhadapan dengan raksasa Alambasa. Ia tidak mau kalah dari ayah-nya, Arjuna. Karena itu, dikerahkannya segenap kemahi-rannya dan dibuatnya Alambasa lari tunggang-langgang. Pada waktu yang sama, berlangsung pertarungan antara Aswatthama melawan Satyaki dan Drona melawan Arjuna.

Di tempat lain, kecuali Arjuna, semua Pandawa me-nyerbu Bhisma. Duryodhona menyuruh Duhsasana mem-bantu kesatria tua itu walaupun yang dibantu telah bertempur dengan sangat garang. Pandawa terpukul mun-dur beberapa kali. Akibatnya, di beberapa medan pertem-puran pasukan Pandawa berantakan, bahkan ada yang melarikan diri ke dalam hutan. Krishna, yang melihat keadaan seperti itu, segera menghentikan keretanya dan berkata kepada Arjuna, “Partha, engkau dan saudara-sau-daramu telah tiga belas tahun menyabarkan diri dan menunggu-nunggu saat seperti ini. Jangan ragu atau bimbang. Tewaskan Bhisma! Ingatlah tugasmu sebagai kesatria!”

“Sebelumnya aku berpendapat, lebih baik hidup dalam pengasingan di hutan daripada harus membunuh Bhisma, Mahaguru yang kucintai dan kuhormati. Tetapi, setelah mendengar kata-katamu, aku merasa mantap… sebagai kesatria aku

memang harus bertempur. Sekarang, lecutlah kudamu!” jawab Arjuna dengan kepala tertunduk dan hati berat. Dengan sedih ia meneruskan pertempuran itu.

Ketika balatentara Pandawa melihat kereta Arjuna dipa-cu ke arah Bhisma, semangat mereka berkobar lagi. Begitu berhadapan dengan Arjuna, Bhisma melepaskan anak panah, bertubi-tubi, ke arah Arjuna. Anak panah-anak panah itu melesat susul-menyusul bagai semburan api dari kepundan gunung meletus. Dengan cekatan Krishna mengemudikan kereta hingga semburan anak panah Bhis-ma dapat dihindari. Arjuna membalas dengan melesatkan anak panah saktinya. Semua tepat mengenai sasaran. Beberapa kali Bhisma terpaksa mengganti busurnya yang patah diterjang anak panah Arjuna.

“Engkau tidak bertempur dengan sepenuh hati, Partha!” kata Krishna sambil tiba-tiba turun dari kereta lalu berlari ke kereta Bhisma.

Melihat Krishna berlari mendekatinya, Bhisma berteri­ak, “Hai, Kesatria bermata kembang teratai! Bahagialah hatiku, bisa mati di tanganmu. Mendekatlah kemari!”

Bagaikan induk kucing menyergap anaknya, Arjuna me-narik Krishna ke keretanya untuk diselamatkan. Dipeluk-nya Krishna erat-erat sambil berkata, “Apakah engkau hendak membatalkan sumpahmu? Engkau telah berjanji takkan menggunakan senjata dalam pertempuran ini. Eng-kau hanya bertugas menjadi sais keretaku. Ingat, menggu-nakan senjata adalah tugasku. Dan itu akan kulakukan sekarang juga, tanpa menunda-nunda lagi. Akan kuakhiri hidup Bhisma dengan panahku ini. Pegang kembali tali kendali ini dan cambuklah kuda-kuda itu agar kereta berlari kencang!”

Hari itu Pandawa menderita banyak kekalahan. Tetapi semangat balatentara Pandawa tetap tinggi karena kemu-dian mereka melihat Arjuna bertarung sengit melawan Bhisma. Tak lama kemudian pertempuran hari kesembilan berakhir. Matahari telah masuk ke peraduannya.

***

Tibalah hari kesepuluh. Arjuna menyerang Bhisma bersa-ma Srikandi. Partha mulai melepaskan panah ke arah Bhisma, tetapi panah Srikandi-lah yang pertama menem-bus dada kesatria tua itu. Dengan dada tertembus panah, Bhisma menoleh, memandang Srikandi. Sesaat lamanya mata Bhisma berbinar-binar bagai permata yang terkena cahaya gemilang. Itulah tanda bahwa ia sedang marah.

Tetapi Mahaguru sakti dan berjiwa luhur itu menahan hatinya, sebab ia ingat akan sumpahnya: tidak akan membalas Srikandi yang terlahir sebagai perempuan.

“Menepati sumpah adalah perbuatan kesatria,” bisik hatinya.

Srikandi terus menyerang Bhisma dengan panahnya. Tak disadarinya bahwa kesatria tua itu sama sekali tidak membalas serangannya. Sesuai sumpahnya, kini Bhisma justru merasa tenang. Ia tahu, saat kematiannya telah tiba. Di pihak lain, Partha juga mendapat kekuatan hati untuk membidikkan anak panahnya pada bagian-bagian tubuh Bhisma yang lemah.

Mula-mula satu per satu senjata Bhisma dihancurkan-nya. Kemudian sekujur tubuh Bhisma dihujani panah dari Gandiwanya. Tetapi, Bhisma malah tersenyum dan berkata kepada Duhsasana yang ada di dekatnya, “Semua panah yang menembus badanku ini berasal dari Partha, bukan dari Srikandi. Panasnya mulai

terasa membakar tubuhku, bagaikan anak-anak kepiting yang merayap-rayap dan menjepit-jepit melukaiku.”

Meskipun sekujur badannya luka-luka berlumuran darah, namun kesatria tua itu tetap melaksanakan tugas-nya dengan tegar. Dilemparkannya bola-bola besi ke arah Arjuna, yang disambut lesatan panah Partha. Beradunya senjata-senjata Bhisma dengan panah-panah Arjuna menimbulkan percikan api di udara. Kedua jenis senjata itu meledak dan jatuh hancur berkeping-keping.

Partha terus menghujani Bhisma dengan anak panah-nya sampai sekujur tubuh kesatria tua itu bagaikan bermandi darah. Bhisma hendak turun dari keretanya dan menyerang Arjuna dengan pedang dan tameng di tangan. Tetapi, tiba-tiba tamengnya terbelah dua ditembus panah Partha yang ujungnya setajam kapak. Tak sejari pun kulit tubuhnya yang tak ditembus anak panah Arjuna. Kesatria termasyhur itu roboh, bagaikan pohon beringin tumbang terkena angin topan. Bhisma jatuh terguling dari kereta-nya, tetapi karena tubuhnya penuh ditancapi panah-panah Arjuna, ia tidak menyentuh tanah.

Ketika kesatria tua itu jatuh, pertempuran di seluruh medan berhenti. Para dewata di kahyangan terharu me-nyaksikan gugurnya Bhisma. Semua menundukkan kepa-la, mengatupkan kedua telapak tangan, memberi penghor-matan terakhir kepada kesatria besar yang luar biasa itu.

Demikianlah putra Dewi Gangga itu gugur. Sang Ibu turun ke bumi, membawa cahaya untuk melingkari jasad kesatria itu. Bhisma gugur setelah melakukan tugasnya, membayar hutang keadilan dan kebenaran kepada Duryodhona dan Kurawa.

Para raja, putra mahkota, perwira, senapati, dan prajurit kedua pihak, semua turun dari kereta, gajah atau kuda mereka, lalu bergegas mendekati Bhisma, yang terba-ring bagai gundukan raksasa disangga tiang-tiang anak panah. Mereka menyembah dan memberikan penghormatan terakhir.

“Kepalaku terkulai, tidak beralaskan apa-apa,” kata Bhisma. Mereka yang berdiri di dekatnya segera mencari-kan setumpuk bantal, tetapi Bhisma menolak sambil tersenyum. Katanya, “Cucuku Partha, beri aku bantal yang pantas bagi seorang prajurit yang gugur.”

Arjuna segera mencabut tiga anak panah dari kantong panahnya, lalu meletakkannya di bawah kepala Bhisma dengan ujung-ujung menghadap ke atas hingga menembus kepala kesatria tua itu.

Kemudian Bhisma berkata lagi dengan tenang, “Wahai para kesatria sekalian, para raja dan putra mahkota, apa yang dilakukan Partha sungguh tepat. Bantal yang kumak-sud adalah

anak panah, sebab sekujur badanku telah ditembus anak panah. Aku benar-benar puas. Sekarang aku bisa berbaring dengan tenang sampai matahari terbe-nam nanti. Setelah itu, barulah jiwaku akan meninggalkan jasad ini. Bila aku telah tiada,

mungkin di antara kalian akan ada yang menyusulku. Sampai bertemu kembali. Kalau tidak, kuucapkan selamat tinggal!”

Kemudian Bhisma menatap wajah Partha dan berkata kepadanya, “Aku haus sekali. Beri aku minum.”

Arjuna segera membuat lingkaran kecil di tanah, dekat telinga kanan Bhisma, lalu menancapkan anak panahnya dalam-dalam ke tanah. Ketika anak panah itu dicabut, dari lubang itu menyembur air jernih, tepat menyentuh bibir Bhisma. Demikianlah, kesatria tua itu minum sepuas-puasnya.

Setelah bercakap-cakap dengan Partha, Bhisma mena-tap wajah Duryodhona, lalu berkata dengan lembut, “Wa­hai Putra Mahkota, semoga engkau dapat memetik hikmah dari semua yang telah terjadi. Apakah engkau melihat bagaimana Arjuna memberiku air minum yang jernih untuk pengobat hausku? Berdamailah engkau sekarang juga, jangan ditunda-tunda lagi. Akhirilah peperangan ini sekarang juga. Perhatikan kata-kataku. Cucuku Duryo-dhana, berdamailah engkau dengan Pandawa!”

Tetapi, hati Duryodhona telah membatu, keras dan tak tergoyahkan. Siapa yang bisa disalahkan?

***

Mendengar berita gugurnya Bhisma, Karna segera berlari mendekat. Ia bersimpuh di dekat kaki kesatria tua itu, menyembah dengan penuh hormat, dan berkata, “Wahai sesepuh bangsa Bharata yang kuhormati, aku anak Radha yang telah menyebabkan engkau kesal dan marah karena ketololanku. Aku datang bersujud ke hadapanmu. Ampu­nilah segala kesalahanku.”

Kemudian Karna bangkit berdiri dan menatap wajah Bhisma yang pucat pasi. Perlahan-lahan kesatria tua itu membuka matanya dan tersenyum. Ia terharu mendengar kata-kata Karna. Diisyaratkannya agar Karna mendekat, lalu diletakkannya tangannya yang sudah dingin di kepala kesatria itu sambil berkata dengan penuh kasih sayang, “Wahai anak muda, sesungguhnya engkau bukan anak Adiratha, bukan pula anak Radha. Engkau adalah putra Dewi Kunti yang sulung. Bhagawan Narada mengetahui semua rahasia ini dan menceritakannya padaku. Ayahmu adalah Bhatara Surya. Percayalah, aku tidak pernah mem-bencimu. Tapi aku sedih, karena kebencianmu kepada Pandawa semakin menjadi-jadi dan karena sebetulnya itu tidak beralasan. Aku tahu siapa engkau, dan aku menga-gumi ketangkasanmu, kecerdasanmu dan kejujuranmu. Aku juga tahu, sebagai kesatria engkau tak kalah hebatnya dengan Palguna atau Krishna. Sungguh baik jika engkau bisa bersahabat dengan Pandawa, lebih-lebih karena eng-kau yang sulung di antara putra-putra ibumu. Harapanku, semoga peperangan ini segera dihentikan.”

Setelah mendengarkan dengan penuh perhatian, Karna menjawab dengan penuh hormat, “Kakek yang kuhormati, aku tahu aku ini anak Dewi Kunti, bukan anak sais kereta. Tetapi, aku berutang budi kepada Duryodhona, aku hidup dan makan dari hasil bumi tanah milik Kurawa. Aku ha-rus jujur kepadanya dan menepati janjiku sebagai kesatria. Tidak mungkin bagiku untuk menyeberang ke pihak Pandawa sekarang. Ijinkan aku membalas jasa Duryodha-na dengan jiwaku. Ijinkan aku melunasi hutangku terha-dap kepercayaan dan cintanya kepadaku. Engkau pasti memahami ini dan memaafkan aku. Aku mohon restumu.”

Bhisma memahami jiwa besar dan keluhuran budi Karna. Ia membenarkan apa yang diucapkan Karna dan berkata, “Jika memang demikian ketetapan hatimu, laku-kanlah sebaik-baiknya. Sebab, itulah yang paling pantas kaulakukan.”

Sesuai sumpahnya, selama Bhisma memimpin balaten-tara Kurawa, Karna menyisihkan diri. Sedikit pun ia tidak pernah mengingkari sumpah yang ia ucapkan di hadapan Bhisma.

“Jika engkau, Bhisma, dapat membunuh Pandawa dan memenangkan balatentara Kurawa, aku, Karna, akan merasa bahagia. Aku akan meninggalkan keramaian ini dan masuk ke hutan untuk bertapa. Tetapi jika engkau tewas lebih dulu, aku —yang telah kauyakinkan bahwa bukan anak sais kereta— akan memacu kudaku sekencang angin.

Aku akan bertempur melawan semua musuhku. Akan kuhancurkan mereka dan kubawa kemenangan gemilang bagi Duryodhona.” Demikianlah sumpah Karna dahulu.

Setelah diam sejenak, Karna berkata kepada Bhisma, “Wahai Kesatria Tua, engkau sekarang terbaring di medan pertempuran. Engkau selalu memberi petunjuk tentang jalan kebenaran. Hidupmu menjadi teladan bagi kami, yaitu selalu bersih dalam kata-kata dan perbuatan, selalu suci dalam keyakinan. Kini kau terbaring dengan tubuh penuh luka. Peristiwa ini menjadi bukti bahwa di dunia ini tidak seorang pun akan dapat mencapai apa yang patut diperolehnya sesuai jasa dan pengabdiannya. Ibarat sebu-ah kapal, engkau telah menjadi tumpangan bagi semua Kurawa dalam mengarungi lautan suka duka.

“Setelah kau meninggal, pasti besarlah kekalahan yang akan diderita Kurawa. Serangan Pandawa nanti bagaikan api raksasa membakar hutan kering. Krishna dan Arjuna pasti akan menghancurkan Kurawa. Tetapi, Kakek yang kumuliakan, bukalah matamu dan pandanglah aku. Beri-lah aku restumu untuk memimpin balatentara Kurawa.”

Bhisma memandang Karna, lalu memberikan restunya, “Engkau ibarat tanah subur, engkau ibarat hujan di mu-sim tanam yang memberi harapan pada benih- benih yang akan tumbuh. Engkau selalu menepati janjimu. Engkau selalu jujur dan setia. Bantulah Duryodhona dan selamat-kanlah dia! Engkau menaklukkan Kamboja untuk Duryo-dhana. Engkau memusnahkan balatentara Giriwraja atas namanya. Engkau membuat balatentara Kirata dari Gu-nung Himalaya menyerah kepadanya. Tak terhitung jasa-mu untuk Duryodhona. Pimpinlah balatentara Kurawa sebagai milikmu yang paling berharga. Semoga engkau berhasil memimpin pasukan Duryodhona. Semoga engkau selalu mendapat kemenangan. Bertempurlah engkau mela­wan musuhmu!”

***

Akhirnya Bhisma gugur di medan Kurukshetra. Ketika ia menghembuskan napasnya yang terakhir, anak-anak panah yang menjadi pembaringannya terangkat sedikit. Jiwa kesatria tua itu telah lepas, meninggalkan jasadnya, kembali ke kahyangan. Seisi mayapada dan kahyangan berkabung, menghormati gugurnya kesatria besar yang disegani dan dihormati itu.

~ Article view : [23601]