47. Rencana Penculikan Yudhistira

212

47. Rencana Penculikan Yudhistira

Dengan gugurnya Bhisma, padamlah semangat bala-tentara Kurawa. Tetapi, begitu mendengar bahwa Karna sudah mendapat restu dari kesatria tua itu untuk memimpin mereka, semangat mereka untuk berperang kembali berkobar. Duryodhona senang sekali. Dipeluknya Karna dengan gembira. Segera ia berunding dengan Karna untuk menentukan siapa saja yang pantas dipilih menjadi mahasenapati.

Karna berpendapat bahwa setiap raja atau putra mah-kota serta kesatria yang bergabung dengan balatentara Kurawa pantas diangkat menjadi mahasenapati. Alasannya, mereka semua mempunyai kekuatan, kecaka-pan, keberanian, ketangkasan, kewibawaan, keagungan dan kebijaksanaan yang setara. Tetapi, tentu saja tidak mungkin mengangkat beberapa mahasenapati sekaligus. Jika salah satu di antara mereka dipilih, yang lainnya mungkin akan merasa dihina, iri hati atau sakit hati. Aki-batnya, semua akan menderita. Menurut pikiran Karna, sebaiknya Drona yang diangkat sebagai mahasenapati, sebab ia adalah mahaguru dari hampir semua kesatria yang tergabung dalam pasukan Kurawa. Dengan mantap Duryodhona menyetujui usul itu.

Kemudian Duryodhona pergi menghadap Mahaguru Drona. Di hadapan para senapati balatentara Kurawa, ia dengan singkat mengumumkan pengangkatan Drona. Mula-mula kata-katanya ditujukan kepada mahaguru itu, “Mahaguru yang kami hormati dan kami cintai, engkau orang yang tidak ada bandingnya dalam kewibawaan, ketu-runan, kecakapan, kebijaksanaan, keagungan, umur dan ilmu pengetahuan. Kami mohon, kiranya engkau sudi diangkat menjadi mahasenapati pasukan perang kita. Di bawah pimpinanmu, kita pasti menang.”

Kemudian Duryodhona berkata kepada para hadirin, “Saudara dan sahabatku sekalian, sesuai pilihan kami, Mahaguru Drona akan memimpin kita dalam pertempu-ran-pertempuran selanjutnya. Bersiaplah untuk menerima-nya sebagai pimpinan.”

Semua yang hadir menyambut ucapan Duryodhona dengan hangat dan meriah, sambil bersorak-sorai dan bertepuk tangan. Demikianlah, Drona dilantik menjadi Mahasenapati dalam upacara yang meriah, diiringi tambur, genderang dan trompet yang gegap gempita. Balatentara Kurawa mendapat semangat baru dari pemimpin yang baru.

Pada hari pertama Drona memimpin, pasukan Kurawa diatur dalam formasi bola. Karna yang selama sepuluh hari tidak muncul di medan perang, pada hari kesebelas itu tampak siap dengan keretanya yang kokoh dan megah. Banyak prajurit berbisik-bisik, membicarakan ketidakhadi-rannya selama sepuluh hari ini. Mereka berpendapat, Karna tidak mau ikut berperang karena Bhisma yang memegang pimpinan. Mereka juga berpendapat bahwa kekalahan yang mereka derita adalah kesalahan Bhisma. Hampir semua menyalahkan kesatria tua yang telah gugur itu dalam pertempuran itu. Sekarang, di bawah pimpinan Karna, mereka membayangkan kemenangan akan berpi-hak pada mereka dan Pandawa akan hancur.

Diam-diam Duryodhona berunding dengan Drona, Kar-na dan Duhsasana. Duryodhona mengemukakan maksud-nya untuk menangkap Yudhistira hidup-hidup. Ia berkata, “Aku tidak menginginkan apa-apa, tidak juga kemenangan, asalkan

Yudhistira bisa ditangkap hidup-hidup. Kalau Mahaguru Drona bisa melakukan ini, kita semua akan puas.”

Mendengar rencana Duryodhona, hati Drona sangat senang. Dalam hati sesungguhnya ia tidak suka berperang melawan Pandawa, apalagi menghabisi mereka. Dalam sikap lahiriah, tentu ia harus patuh dan setia memihak Kurawa. Karena itu, ia menanggapi rencana Duryodhona ini dengan puji-pujian. Katanya, “Putra Mahkota, semoga engkau selalu mendapat restu dari Brahma Yang Esa. Ren-canamu untuk tidak membunuh Yudhistira sungguh mulia dan membuatku bahagia. Sesungguhnya, di dunia ini Yudhistira tidak punya musuh. Rencanamu untuk menak-lukkan Pandawa dengan jalan menjadikan Yudhistira seba-gai tawanan, kemudian membagi-bagi kerajaan, dan hidup damai dalam persahabatan dengan mereka, sungguh sangat agung. Aku melihat kemungkinan itu dengan jelas sekali. Kita semua akan lakukan ini dengan sebaik­baiknya.”

Tetapi, sebenarnya niat Duryodhona sama sekali lain dari yang dimengerti oleh Mahaguru Drona. Yang ada di benak Duryodhona adalah: Jika Yudhistira tewas dalam pertempuran, tidak sesuatu pun akan diperoleh dari keme-nangan itu karena hal itu justru akan membuat saudara-saudaranya semakin marah dan garang. Pertempuran akan semakin seru dan korban akan semakin banyak. Lebih penting dari itu, Duryodhona sadar bahwa kekalahan pasti ada di pihaknya. Lagi pula, jika pertempuran diteruskan sampai kedua pihak hancur lebur, Krishna masih akan tetap hidup. Dan, ia pasti akan mengangkat Draupadi atau Dewi Kunti untuk menduduki takhta kerajaan, sebagai pewaris sah Kerajaan Hastina. Jika demikian, apa gunanya membunuh Yudhistira? Karena itu, jalan yang terbaik adalah menangkap Yudhistira hidup-hidup dan segera menghentikan perang. Langkah kedua adalah meman-faatkan kebaikan hati Yudhistira untuk maksud-maksud selanjutnya, yaitu dengan mengundangnya untuk bermain dadu lagi. Duryodhona sudah memperhitungkan bahwa undangan main dadu itu pasti tidak akan ditolak.

Selanjutnya tidak ada soal lagi, sebab Syakuni tetap satu-satunya ahli siasat main dadu. Pandawa, yang pasti akan kalah, akan diusir lagi ke pengasingan selama tiga belas tahun.

Menurut kenyataan, selama sepuluh hari bertempur Kurawa lebih sering kalah. Ini berarti, sulit bagi Duryo-dhana untuk meraih apa yang diinginkannya. Ketika Dur-yodhana mengungkapkan niatnya dengan terus terang, Mahaguru Drona merasa tertipu. Dalam hati ia mengutuk Duryodhona. Tetapi, apa pun niat Duryodhona, ada satu hal yang pasti, yaitu: ia tidak akan membunuh Yudhistira. Hal itu membuat Drona merasa agak lega.

Demikianlah, ia berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk menangkap Yudhistira hidup-hidup dan menyerah-kannya kepada Duryodhona. Tetapi, rencana itu sampai ke telinga Pandawa melalui mata-mata mereka. Karena itu, Pandawa semakin waspada dan selalu menugaskan bebe-rapa prajurit yang perkasa untuk mengawal Dharmaputra.

Pertempuran di hari kesebelas berlangsung dengan seru. Di bawah pimpinan Drona, pasukan Kurawa ung-gul. Mereka berhasil membelah formasi pasukan Pandawa menjadi dua, menembus ke pusat formasi dan langsung berhadapan dengan Dristadyumna. Terjadilah pertarungan satu lawan satu di seluruh medan pertempuran. Sahadewa melawan Syakuni yang ahli siasat dan tipu muslihat di meja perjudian maupun di medan pertempuran. Di tempat lain, Bhimasena melawan

Wiwimsati, Salya melawan Nakula, Kripa berhadapan dengan Dristaketu, Karna melawan Wirata, Satyaki berhadapan dengan Kritawarma, dan Pau-rawa melawan Abhimanyu.

Dalam situasi demikian, Drona memerintahkan pasu-kan Kurawa untuk langsung menyerang dan menangkap Yudhistira. Alangkah gagahnya Drona dengan kereta emasnya yang ditarik empat kuda jantan dari lembah Sin-dhu. Yudhistira menyambut serangan Drona dengan tang-kas dan membalasnya dengan melepaskan anak panahnya yang bergerigi dan dihiasi kitir bulu burung garuda. Drona membalasnya hingga busur Yudhistira patah. Tiba-tiba Dristadyumna mendekat, berusaha menghalangi laju kereta Drona. Tetapi ia dengan mudah dikalahkan oleh Mahasenapati Kurawa itu. Anak buah Dristadyumna tiba-tiba berteriak lantang, “Awas, awas Dharmaputra hendak ditangkap! Awas Dharmaputra hendak ditangkap!”

Mendengar teriakan itu, secepat kilat Arjuna meluncur mendekat dengan keretanya. Gemuruh keretanya yang melaju membelah udara. Ia berhasil memotong jalan kereta Drona yang sudah sangat dekat dengan kereta Yudhistira. Dari Gandiwanya menyembur ratusan anak panah susul-menyusul, membuat Drona mundur dan membatalkan niatnya.

Pertempuran antara Drona dan Arjuna tidak berlanjut karena saat itu matahari telah tenggelam.

***

Pertempuran hari kesebelas sudah berakhir. Rencana untuk menculik Yudhistira gagal. Drona melaporkan itu kepada Duryodhona. Ia mengalami kesulitan besar karena Arjuna masih hidup. Mereka harus mencari siasat lain untuk menculik Yudhistira.

Mendengar itu, Susarma, Raja Trigarta kemudian berga-bung dengan balatentara Kurawa lalu berunding dengan Duryodhona dan saudara-saudaranya. Mereka mengucap-kan sumpah Samsaptaka hendak bertempur mati-matian melawan Arjuna. Mereka akan berusaha keras untuk memisahkan Dharmaputra dari Partha.

Demikianlah, sumpah itu diucapkan sesuai dengan tra-disi, yaitu dengan duduk mengelilingi api unggun agnihotra dan mengenakan pakaian yang terbuat dari rumput. Upacara ini diiringi korban mecaru, yaitu upacara yang menggambarkan mereka seolah-olah telah tewas. Upacara ini dilanjutkan dengan upacara sumpah,

“Kami tidak akan kembali sebelum membunuh Arjuna. Jika kami takut dan lari meninggalkan pertempuran, semoga Batara Shiwa menghukum kami karena perbuatan itu. Aum Swastyastu.”

Melalui mata-mata Pandawa, Arjuna mengetahui ten-tang sumpah itu. Arjuna segera melaporkan hal itu kepada Dharmaputra. Sesuai adat para kesatria, Arjuna harus menghadapi tantangan itu secara kesatria. Yudhistira ter-nyata sudah tahu bahwa Drona berencana menangkap dirinya dan telah menjanjikan itu kepada Duryodhona. Kecuali itu, Susarma sebenarnya berniat mengubah stra-tegi perang mereka.

Yudhistira mengingatkan bahwa Drona adalah maha-guru yang tak terkalahkan, berani, kuat, dan pandai. Namun Arjuna berpegang teguh pada keputusannya. Ia berkata kepada Dharmaputra, “Tuanku Raja, Satyajit akan

membela engkau. Selama ia tetap hidup dan ada di sisimu, tidak sesuatu pun bakal terjadi pada dirimu.”

Kemudian Arjuna merentangkan Gandiwanya dan mele-paskan anak panah sebagai tanda bahwa ia menerima tantangan sumpah Samsaptaka. Prajurit kedua pihak ber-sorak-sorak menyambut itu. Gemuruh suara mereka mem-buat langit bergetar. Kemudian Krishna melecut kudanya, langsung menyerang pasukan Trigarta yang dipimpin Susarma. Baru saja berhadapan dengan Arjuna, mereka buyar, takut tertimpa hujan anak panah yang menyembur dari Gandiwa Arjuna. Susarma terpaksa berteriak-teriak lantang mengingatkan sumpah mereka di hadapan Batara Agni.

Gandiwa Arjuna terus menyemburkan anak panah, menebarkan maut bagi pasukan Trigarta. Beratus-ratus mayat pasukan Susarma bergelimpangan di tanah; banyak di antaranya yang kepalanya terpenggal akibat amukan anak panah Arjuna. Sementara Partha sibuk menghadapi pasukan Susarma, Drona memerintahkan seluruh kekua-tan pasukan Kurawa untuk memusatkan serangan mereka ke sasaran, yaitu di sekitar tempat Yudhistira berada.

Hal ini diketahui Dharmaputra yang segera memberi-tahu Dristadyumna yang lalu mendahului menggempur Drona.

Dengan tangkas Drona menghindari serangan Drista-dyumna dan dengan mudah mengobrak-abrik pasukan Pandawa. Tak terhitung banyaknya korban yang jatuh di pihak Pandawa. Satyajit membalas serangan Drona dengan berani. Ia dibantu Wrika, salah seorang putra Raja Pan-chala. Tetapi, kedua kesatria muda itu dapat ditewaskan oleh Drona.

Satanika, putra Raja Wirata, melecut kudanya dan memacu keretanya siap menggempur Drona. Tetapi, ia tewas di tangan Drona. Kemudian Raja Katama maju ber-tempur melawan Drona. Ia juga tewas di tangan Maha-senapati itu. Washudana menyerbu, membalaskan kema-tian Katama, tetapi ia gugur terkena senjata Drona.

Yudhamanyu, Uttamaujas, Satyaki dan Srikandi mele-cut kereta mereka dengan kencangnya, memotong arah kereta Drona yang melaju bagai angin kencang ke arah Yudhistira berada. Tetapi, semua serangan Pandawa yang bagaimanapun dahsyatnya dapat digagalkan oleh Drona. Mahasenapati itu semakin mendekati Dharmaputra. Pada saat yang sama, Panchala, adik Draupadi dan Drista-dyumna, menyerang Drona seperti singa kelaparan me-nyergap mangsa. Tetapi Panchala dan keretanya dapat diremukkan oleh Drona. Mereka jatuh terguling ke tanah dan tewas seketika.

Melihat keperkasaan dan kemenangan mahasenapati-nya, Duryodhona senang sekali. Ia berkata kepada Karna, bahwa tidak lama lagi Pandawa pasti menyerah kalah.

Karna menggeleng dan menjawab dengan tajam, “Pan­dawa tidak akan semudah itu menyerah kalah. Pengala-man pahit mereka membuktikan bahwa mereka semua ulet dan tangguh. Mereka takkan melupakan pengalaman buruk mereka di masa lalu.

“Ingat, ketika engkau mencoba meracuni mereka dan ketika engkau mencoba membakar mereka hidup-hidup! Engkau pernah menghina mereka dalam permainan dadu, kemudian engkau buang mereka ke hutan, kaupaksa mereka hidup dalam

pengasingan selama tiga belas tahun. Mereka tidak akan melupakan semua itu. Dan mereka tidak akan menyerah!”

Ketika mereka gagal menghentikan laju kereta Drona, Bhimasena datang. Bagaikan angin puyuh, ia menghalang-halangi majunya Drona ke arah Yudhistira. Serangan Bhi-ma disusul serangan Satyaki, Yudhamanyu, Kesatradhar-ma, Nakula, Uttamaujas, Drupa, Wirata, Srikandi, Drista-ketu, dan para kesatria lainnya yang memihak Pandawa.

Melihat itu, Karna mendesak Duryodhona agar mengi-rim bantuan untuk menolong Drona.

***

Sementara itu, Duryodhona berpendapat bahwa untuk menaklukkan Bhimasena perhatian kesatria itu harus dialihkan ke gelanggang lain. Ia akan memimpin dan mengerahkan pasukan gajah secara besar-besaran. Sewaktu berhadapan dengan Duryodhona, Bhimasena mempertahankan diri dengan gagah. Bhima melemparkan tombaknya yang berujung pisau bulan sabit, tepat mengenai busur dan panji-panji Duryodhona yang lang-sung rontok ke tanah. Akhirnya Duryodhona dibantu Raja Angga dalam memimpin pasukan gajah.

Bhimasena terus-menerus melontarkan tombak sakti-nya ke arah Raja Angga. Salah satu tombaknya mengenai gajah yang ditunggangi raja itu, sementara tombak yang lain mengenai tubuhnya. Seketika itu juga, tewaslah Raja Angga bersama gajahnya.

Melihat itu, balatentara Kurawa menjadi bingung. Mereka berlarian ke sana kemari, simpang siur tak tentu arah. Mereka membuat gajah-gajah yang lain panik dan kalang kabut berlarian. Tak sedikit prajurit yang mati terinjak-injak.

Bhagadatta, raja Negeri Pragjotisa, mempunyai seekor gajah bernama Supratika yang termashyur di seluruh dunia. Gajah perkasa itu menerjang Bhimasena dan dengan belalainya yang kuat membuat kereta Bhima rusak terlipat- lipat. Sesaat Bhima terpelanting, kereta dan kuda-nya remuk digilas gajah itu hingga tak berbentuk lagi.

Pada waktu jatuh, Bhimasena dapat menguasai diri dan dengan cepat berhasil menyelinap ke bawah binatang itu. Bhima tahu betul bagaimana caranya menghadapi gajah yang sedang mengamuk dan tahu benar bagian-bagian lemah badan seekor gajah. Sambil bergayut pada salah satu kaki gajah itu, Bhima menusuk-nusuk titik-titik lemah di tubuh Supratika hingga gajah itu melengking kesakitan. Dengan belalainya, Supratika mencoba mele-paskan Bhima dari kakinya, tetapi parang tajam Bhima menebasnya. Dengan belalai yang tertebas, Supratika semakin ganas mengamuk karena kesakitan. Semua yang ada di dekatnya hancur. Tetapi Bhimasena tetap bergayut pada kakinya dan terus menusuk-nusuk perut gajah itu. Ibarat jengkerik digelitik, gajah itu mengamuk kalang kabut.

Ketika Bhimasena tidak muncul-muncul dari bawah tubuh si gajah, anak buahnya berteriak-teriak mengatakan Bhima tewas diinjak-injak Supratika. Yudhistira mende-ngar teriakan itu, kemudian memberi isyarat kepada Raja Dasarma yang juga menunggang gajah. Dasarma lalu menggempur Bhagadatta. Kedua gajah itu bertarung sengit. Tetapi Supratika memang gajah paling unggul. Keti-ka mereka sedang seru-serunya berkelahi, Bhima menyeli-nap keluar dari kaki Supratika. Ia selamat.

Satyaki maju menyerang Bhagadatta. Meskipun sudah lanjut usianya, rambutnya sudah putih, dahinya penuh kerutan, alisnya jatuh menutupi mata, punggungnya sudah bungkuk, dan kulitnya sudah kisut, Bhagadatta bertarung dengan perkasa. Setapak pun ia tidak mau mundur. Dengan penuh semangat ia menggempur Panda-wa, bagaikan Bhatara Indra yang mengendarai Airawata melawan balatentara raksasa. Satyaki yang menyerang diterjangnya, kereta dan kudanya diterjang gajah Supra-tika sampai remuk.

Bhimasena dan Satyaki yang dapat menyelamatkan diri segera mempersenjatai diri dan bersiap untuk bertarung lagi dengan Bhagadatta. Kesatria tua itu sungguh sangat mengagumkan. Supratika, gajahnya, telah dilatih sejak kecil dan sangat mahir menggunakan belalainya. Supratika menyemburkan cairan beracun dari belalainya. Siapa pun, kuda atau gajah, yang berani mendekatinya pasti mati terkena racunnya.

Seluruh medan Kurukshetra panik karena amukan Supratika. Pasukan Pandawa terpaksa lari menyelamatkan diri. Gajah dan kuda menjadi liar, berlarian ke sana kemari, saling bertumbukan. Medan pertempuan menjadi redup dan keruh, penuh debu beterbangan. Derap langkah kaki-kaki gajah membahana, debu mengepul tinggi ke angkasa.

Saat itu Arjuna sedang menghadapi pasukan Susarma yang telah bersumpah, “Arjuna harus mati atau mereka yang hancur.” Melihat kepanikan yang ditimbulkan Bhaga-datta dan gajah Supratika, Arjuna menyuruh sais kereta-nya untuk memutar haluan dan memacu kereta ke arah Bhagadatta. Kesatria tua dan gajahnya itu sungguh sakti tiada bandingnya dan jika dibiarkan tanpa perlawanan pasti akan menghancurkan semangat Pandawa.

Ketika Krishna membelokkan kereta Arjuna, Susarma dan saudara-saudaranya berteriak-teriak, menyumpahi dan mengatai Arjuna pengecut. Mereka terus berteriak­teriak sambil menyerang Arjuna dari belakang, “Dasar pengecut! Kau bukan kesatria! Kau tak berani menantang sumpah Samsaptaka!”

Mendengar teriakan dan caci-maki mereka, Arjuna men-jadi bingung. Apakah akan terus menyerang Bhagadatta yang sedang mengamuk, atau menghadapi sisa- sisa pasu-kan Trigarta. Tepat ketika Arjuna ragu-ragu dan lengah, Susarma melontarkan dua butir bola besi, satu mengenai Arjuna, satunya mengenai Krishna. Mereka terluka. Untunglah lukanya tidak parah. Segera Arjuna membalas dengan lontaran tiga bola besi. Tiga-tiganya tepat mengenai Susarma. Melihat itu, saudara- saudara dan anak buah Susarma langsung lari terbirit-birit.

Kesempatan itu digunakan Krishna untuk melarikan keretanya menuju ke tempat Bhagadatta. Kesatria tua itu tak kenal lelah, terus mengamuk bersama gajahnya, Supratika.

Arjuna dan Bhagadatta saling menyerang dengan panah. Arjuna berhasil menghancurkan perisai gajah Supratika hingga remuk. Gajah itu jatuh terjerembap, mukanya membentur tanah dengan keras dan kepalanya hancur berkeping-keping. Sebaliknya, tombak Bhagadatta tepat mengenai ketopong Arjuna, membuat ketopong itu terlontar jatuh.

Setelah memusatkan hati dan berdoa sebentar, Arjuna menantang Bhagadatta, “Wahai Bhagadatta, kesatria lanjut usia. Pandanglah dunia ini sekali lagi dan bersiaplah untuk mati!”

Setelah berkata demikian, Arjuna membidikkan bola besinya, tepat mengenai busur Bhagadatta yang dipegang dengan tangannya. Kemudian, sebuah anak panah dilepaskan Partha, tepat mengenai ikat kepala Bhagadatta yang berwarna merah dan berguna untuk menahan alisnya yang menjuntai agar tidak menutupi matanya. Karena ikat kepalanya jatuh dan alisnya terjurai menutupi matanya, Bhagadatta sulit melihat ke depan. Arjuna tahu benar kelemahan kesatria tua itu. Setelah tak ada lagi senjata di tangannya dan ia sulit melihat ke depan, akhirnya Bhagadatta memecut Arjuna dengan cemetinya yang sakti sambil mengucapkan mantra Waishnawa. Arjuna nyaris tewas kena cemeti itu. Untunglah Krishna berhasil menge-lakkan Arjuna dengan mantra Batara Wishnu. Cemeti itu jatuh lemas di pundak Arjuna. Lalu sambil bergurau Krishna mengalungkan cemeti itu ke lehernya, bagaikan kalung bunga melati.

Sekarang Arjuna tinggal membunuh Supratika. Ia mele-paskan anak panah berbentuk ular, tepat menembus mulut gajah perkasa itu. Sesaat gajah itu tertegak kaku, kemudian jatuh berdebam dengan kaki teracung ke atas. Dalam hati Arjuna kasihan pada Supratika. Tetapi, tak ada jalan lain, jika ingin mengalahkan kesatria tua itu, gajah saktinya harus dibunuh lebih dulu. Sebagai usaha terakhir, Arjuna melemparkan tombak berujung pisau bulan sabit tajam, tepat membelah dada Bhagadatta. Kesatria tua itu roboh dan tewas seketika. Jasadnya berhias kalung kebesaran yang berpendar-pendar disinari matahari senja.

Dengan tewasnya Bhagadatta, pasukan Kurawa menja-di panik. Syakuni berusaha mengirimkan saudara-sauda-ranya, Wrisna dan Achala, untuk membantu Bhagadatta dengan menyerang Arjuna dari belakang dan dari samping. Tetapi serangan mereka dapat ditangkis dan dibalas oleh Arjuna. Mereka bahkan menemui ajal di tangan kesatria Pandawa itu. Alangkah gagah dan tampannya wajah dua kesatria yang mati muda itu. Keberanian mereka menan-tang bahaya membuat hati Arjuna menjadi gundah.

Syakuni marah melihat kedua saudaranya gugur serentak. Ia bertekad membalas. Dengan senjata tipuan, diserangnya Arjuna habis-habisan. Tetapi tipu muslihat dalam permainan judi dengan dadu tidak bisa disamakan dengan tipuan senjata perang dalam pertempuran. Arjuna tahu bagaimana caranya menangkis senjata-senjata gaib itu. Tidak sia-sia ia mendaki Gunung Himalaya dan men-dapat ilmu untuk menangkal segala macam tipuan sewaktu mengembara dalam pengasingan. Dibalasnya serangan Syakuni dengan senjata-senjata serupa. Akibat-nya, ahli siasat dan tipu daya itu lari terbirit-birit.

Demikianlah pertempuran hari kedua belas itu ber-akhir. Rencana Duryodhona dan Drona untuk menculik Yudhistira dapat digagalkan.

~ Article view : [112]