50. Mahasenapati Drona Tewas Secara Terhormat

345

50. Mahasenapati Drona Tewas Secara Terhormat

Pertempuran di medan Kurukshetra makin hari makin bertambah sengit. Aturan-aturan perang sudah diting-galkan, dilanggar, dan tak dihiraukan lagi. Kedua pihak merasa bahwa pertempuran di siang hari saja tidak cukup. Maka perang diteruskan sampai malam. Demikianlah, ketika matahari sudah terbenam dan malam telah turun, kedua pihak masih terus bertempur diterangi obor.

Dua kesatria muda paling terkenal yang menjadi pujaan di medan Kurukshetra adalah Abhimanyu dan Gatotkaca. Mereka dipuja dan disayang Pandawa karena berjiwa be-sar, berwatak kesatria, pemberani dan sakti mandraguna.

Setelah Abhimanyu gugur, tinggal Gatotkaca yang men-jadi tumpahan kasih sayang Pandawa. Putra Bhima yang beribu Arimbi dan berdarah raksasa itu dengan pasukan raksasanya memberikan bantuan penting bagi Pandawa, lebih-lebih setelah pertempuran diteruskan sampai malam. Pasukan raksasa yang dipimpinnya lebih tangkas dan lebih mahir bertempur di kegelapan malam.

Ia menyerang pasukan musuh dengan para raksasa yang garang-garang. Beribu-ribu balatentara Kurawa dibunuh oleh para raksasa itu. Duryodhona cemas dan putus harapan karena tak terbilang banyaknya prajuritnya yang mati. Pertempuran di malam hari ternyata jauh lebih mengerikan daripada di siang hari.

“Karna, bunuhlah Gatotkaca. Kalau tidak, dalam waktu singkat seluruh balatentara kita akan habis. Bunuh Gatot­kaca! Sekarang juga!” kata Duryodhona mendesak Karna.

Walaupun badannya masih letih karena bertempur sepanjang hari, Karna merasa ngeri melihat Gatotkaca dan pasukan raksasanya mengamuk di malam hari. Hatinya panas membayangkan kemusnahan yang diakibatkan amukan Gatotkaca. Kemarahannya membuat hatinya serasa ditusuk-tusuk, hingga ia memutuskan untuk menumpas habis pasukan raksasa yang dipimpin Gatotkaca. Ia ingat tombak hadiah dari Batara Indra yang semula akan digunakannya untuk membunuh Arjuna.

Kemudian Karna bangkit, menerjang ke depan, dan menghadapi kesatria Pandawa berketurunan raksasa itu. Sungguh menyeramkan pergumulan mereka. Mula-mula Karna hanya bertahan, tetapi tiba-tiba ia mengerahkan tenaganya untuk menyerang. Sesaat Gatotkaca lengah dan Karna berhasil menusuk dadanya dengan tombak sakti pemberian Batara Indra. Bagai gunung meletus Gatotkaca langsung roboh membentur tanah, mati seketika.

Di medan lain, Drona mengamuk dengan dahsyatnya. Beratus-ratus pasukan Pandawa gugur di medan itu. Dalam keadaan seperti itu, Krishna memberi tahu Arjuna: jika perang terus berlangsung dan Drona tetap memimpin Kurawa, Pandawa pasti hancur. Satu-satunya jalan ada-lah membunuh Drona. Dan satu-satunya cara untuk me-ngalahkan guru Pandawa dan Kurawa itu adalah dengan mengabarkan kepadanya bahwa Aswatthama, anaknya, telah gugur. Berita itu pasti akan

membuatnya kaget, sedih, putus asa, dan meletakkan senjatanya. Sebab itu, salah seorang harus pergi menemui Drona dan mengabar-kan berita itu.

Arjuna kaget mendengar saran Krishna. Ia tidak sang-gup berbohong, apalagi kepada mahagurunya. Dia akan menanggung aib. Tidak! Ia tidak setuju usul itu. Yang lain juga menolak usul Krishna.

Setelah lama berpikir dan tidak melihat ada jalan lain, Yudhistira bangkit lalu berkata, “Ya, baiklah akan aku pikul dosa ini.” Dia terpaksa membohongi gurunya walau-pun hati kecilnya menentang perbuatan itu. Kemudian ia menyuruh Bhimasena melakukan sesuatu.

Bhimasena lalu mencari gajah yang namanya sama dengan nama putra Drona: “Aswatthama”. Sesuai perintah Yudhistira, dia harus membunuh gajah yang besar, kuat, dan pandai berlaga itu. Setelah menemukannya, Bhima-sena mengangkat gadanya lalu menghantamkannya ke kepala Aswatthama si gajah. Gajah itu langsung roboh ber-debam ke tanah dan mati seketika. Setelah gajah Aswat-thama mati, Bhimasena menyelinap ke dekat kemah Drona, lalu mengaum lantang agar terdengar oleh Maha-senapati Kurawa itu.

“Aku telah bunuh Aswatthama,” teriaknya.

Mendengar kata-kata Bhimasena, Drona langsung bang-kit dan pergi menemui Yudhistira. Ia hendak bertanya sambil dalam hati mengucapkan mantra brahmastra, “Yu­dhistira, benarkah anakku telah mati terbunuh?” Ia yakin, satu-satunya orang yang tak pernah berbohong adalah Dharmaputra. Kesatria Pandawa itu selalu mengatakan yang sebenarnya dan tak pernah berani berbohong.

Ketika Drona bertanya kepada Dharmaputra, Krishna mengawasi mereka dengan cemas dan hati berdebar-debar. Demikian pula Bhimasena, ia merasa ngeri dan malu karena tadi dia yang “meneriakkan” berita itu. Yudhistira berdiri gemetaran, ngeri akan perbuatan dusta dan akibat mantra brahmastra yang diucapkan Drona.

“Kalau sekarang engkau tidak sanggup menjawab, kita semua akan hancur. Brahmastra yang menyertai ucapan Drona mengandung kekuatan magis untuk memusnahkan Pandawa,” bisik Krishna kepada Yudhistira.

Mendengar bisikan Krishna, Yudhistira menjawab perla-han dengan suara lirih sekali, “Biarlah ini menjadi dosa­ku.” Lalu dengan suara jelas ia berkata kepada Drona, “Benar, Aswatthama telah mati terbunuh.”

Ucapannya itu menusuk hatinya sendiri. Ia tahu, dengan berbohong ia telah merendahkan martabat dan pekertinya. Kemudian ia meneruskan kata-katanya dengan suara yang semakin lirih, “Aswatthama gajah yang kuat dan mahir bertempur.”

Kata gajah diucapkan sangat lirih agar tidak terdengar oleh Drona.

Mendengar berita itu dari mulut Yudhistira yang terkenal tak pernah berbohong, Drona langsung lemas. Ia yakin, ia benar-benar telah kehilangan anak yang sangat dicintainya. Semangatnya menguap, bagaikan embun pagi disinari matahari. Semua keinginan duniawi hapus dari pikirannya, hilang tidak berbekas sedikit pun. Drona, mahaguru dan kesatria tua yang perkasa itu terlihat pucat dan layu.

Pada saat itu Bhimasena berkata lantang kepadanya karena kecewa terhadap bekas mahagurunya, “Wahai guruku, sebagai brahmana engkau telah meninggalkan tugas dan kewajibanmu sesuai varna-mu. Engkau memilih varna kesatria dengan

mengangkat senjata dan menye-babkan banyak raja, putra mahkota, dan kesatria tewas dalam perang ini. Jika engkau tidak terlalu bernafsu atau berambisi untuk meraih kekuasaan, pastilah kaum kesa-tria tidak mengalami kemusnahan seperti sekarang. Varna-mu sebagai brahmana mengajarkan bahwa ahimsa — tindakan tanpa kekerasan— adalah dharma tertinggi. Teta-pi engkau menolak dharma itu dan memilih menjadi maha-senapati yang memimpin pertempuran. Sekarang, setelah korban berjatuhan, engkau ingkari semuanya. Perbuatan-mulah yang membuat hidupmu penuh dosa. Dan engkau harus menerima akibatnya.”

Drona merasa tersinggung dan terhina oleh kata-kata Bhimasena. Perasaan hampa karena tewasnya Aswattha-ma, putranya, semakin parah karena hinaan Bhimasena. Dengan putus asa ia meletakkan semua senjatanya, melepas pakaian dan atribut perangnya, kemudian duduk bersila di keretanya untuk beryoga. Tidak berapa lama kemudian Drona kemasukan roh halus.

Pada saat itu Dristadyumna datang berlari mendekati Drona dengan pedang terhunus. Kesatria itu hendak menghabisi brahmana yang telah banyak membunuh kaum kesatria. Tanpa bertanya-tanya, ia melompat ke dalam kereta Drona sambil berteriak nyaring, “Mampus engkau Brahmana!”

Dengan sekali tebas ia memenggal leher Drona. Kepala mahasenapati itu menggelinding, jatuh tepat di di sisinya. Tetapi, ajaib! Dari leher yang terpotong itu memancar cahaya kedewaan yang kemudian terbang ke angkasa, menuju surga, manunggal dengan Hyang Widhi.

***

Gugurnya Mahasenapati Drona menimbulkan berbagai tanggapan di kalangan senapati Kurawa. Duryodhona menganggap hal itu wajar, sedangkan Kripa merasa sangat kehilangan. Bagaimanapun juga, mereka tak mungkin lama berduka. Perang belum selesai. Mereka harus segera mengangkat mahasenapati lain untuk menggantikan mahaguru itu.

Setelah berunding, Kurawa memutuskan untuk meng-angkat Karna sebagai mahasenapati. Dalam upacara yang khidmat, Karna dilantik sebagai mahasenapati balatentara Kurawa. Setelah dilantik, Karna diberi kereta perang yang megah dengan Salya, Raja Negeri Madra, sebagai saisnya. Balatentara Kurawa bersiap untuk bertempur lagi dengan semangat baru.

Menjelang hari-hari terakhir pertempuran, yang pada waktu itu sesungguhnya belum diketahui, banyak ahli per-bintangan yang dimintai nasihat dan petunjuk oleh kedua pihak, yaitu untuk menentukan posisi barisan dan serangan-serangan yang hendak mereka lancarkan. Di hari-hari terakhir itu, Bhimasena sering menyertai Arjuna. Mereka semakin dekat satu sama lain setelah kedua putra mereka gugur di medan perang.

Di pihak Kurawa, Karna lebih sering didampingi Duhsasana.

Suatu hari, dalam pertempuran yang berkecamuk sengit, tiba-tiba Duhsasana menyerang Bhimasena. Serangan itu disambut Wrikodara dengan tertawa dalam hati. “Kini aku mendapat kesempatan untuk meremukkan Duhsasana yang sendirian. Sumpahku di hadapan Draupadi akan kubayar hari ini.”

Dengan ucapan itu dalam hatinya dan ingatan akan penghinaan Duhsasana di masa lalu, Wrikodara memacu keretanya menuju kereta Duhsasana. Setelah benar- benar dekat, ia melompat ke kereta musuhnya. Bagaikan macan garang menerkam

mangsanya, Bhimasena menyergap Duhsasana sambil berteriak, “Manusia jahanam! Inikah tanganmu yang najis? Tangan yang telah menyeret Draupadi dengan mencengkeram rambutnya. Terimalah pembalasanku!” Begitu selesai berkata-kata, Bhimasena mem-banting lawannya keras-keras, mematahkan tangan dan kakinya.

“Siapa yang mau membelamu, boleh saja, silakan maju!”

Bagaikan kerasukan setan, Bhimasena mengisap darah Duhsasana lalu melempar-lemparkan tubuh putra Dritarastra yang tidak bertangan dan berkaki itu, sesuai sumpahnya di hadapan Draupadi dulu. Setelah puas, ia berkata lantang, “Aku telah penuhi sumpahku dengan meremukkan manusia durjana ini. Sekarang tinggal menyelesaikan perhitungan dengan Duryodhona, pangkal segala kemusnahan ini!” Ia memandang ke kanan dan ke kiri, mencari-cari Duryodhona dengan mata yang merah membara.

Tindakan Bhimasena membuat hati Karna kecut dan ngeri Ia ingin menyingkir, menghindari kekejaman di luar batas itu, tetapi Salya menahannya sambil berkata, “Jangan mundur dan lari! Engkau Mahasenapati kami. Sungguh tak pantas jika kau lari dan memperlihatkan tindakan

pengecut. Waktu Duryodhona gemetar ketakutan dan sendirian, engkau tak boleh ikut-ikutan gentar. Setelah Duhsasana tewas, seluruh kekuatan dan tanggung jawab atas balatentara Kurawa ada di tanganmu. Eng-kaulah yang harus memikul beban ini sekarang. Majulah sebagai kesatria besar. Bunuh Arjuna! Rebut kemenangan abadi!”

Mendengar nasihat Salya, Karna kembali bersemangat. Dengan air mata berlinang Karna meminta Salya memacu keretanya ke arah Arjuna.

Terjadilah pertempuran amat sengit antara Karna dan Arjuna. Karna melepaskan panah api ke arah Arjuna. Tepat pada saat itu, Krishna menghentakkan tali kekang dan memutar kereta sampai masuk ke lumpur. Panah api itu mendesing, hanya seujung rambut di atas kepala Arju-na dan menembus mahkota senapatinya. Mahkota itu jatuh terpelanting ke tanah. Arjuna malu dan marah kare-na kejadian itu. Susah payah Krishna berusaha menge-luarkan keretanya dari lumpur. Belum lagi berhasil, Karna menyusulnya. Tiba-tiba kereta Karna juga masuk ke dalam lumpur, roda kiri kereta itu tenggelam. Kereta itu tak bisa digerakkan lagi. Karna melompat turun, hendak membe-tulkan roda itu.

“Tunggu! Keretaku masuk lumpur. Sebagai kesatria besar yang memahami dharma, hendaknya engkau berbuat adil dan tidak memanfaatkan kecelakaan ini sebagai ke-sempatan untuk menggempur aku. Setelah aku berhasil keluar dari lumpur ini, kita bertarung lagi!” demikian teriak Karna.

Arjuna sudah siap mengangkat Gandiwanya. Ia memilih anak panah yang pantas untuk melumpuhkan lawannya. Sementara itu, Karna bingung karena ingat

akan sumpah Arjuna. Ia berteriak lagi, meminta Arjuna memegang kehormatan dan tata krama kaum kesatria, yaitu tidak menyerang musuh yang tidak berdaya.

Krishna memotong kata-kata Karna dengan lantang, “Hai, Karna, sungguh baik engkau masih ingat kata-kata ‘adil dan kehormatan kesatria’. Sayang, baru sekarang kauingat. Dulu waktu Duryodhona, Duhsasana dan Syakuni menghina Draupadi, engkau lupa dan berlagak bodoh.

Engkau juga membantu Duryodhona yang menipu dan jahat terhadap Pandawa. Ingatkah engkau akan permainan dadu, meracuni dan membakar Pandawa hidup-hidup, lalu mengusir mereka ke dalam hutan. Apa yang kaumaksud dengan ‘kehormatan dan tata krama kesatria’? Dan dharma mana yang kauingat? Mulutmu yang lancang telah menghina Draupadi seperti ini:

“‘Suamimu, Pandawa telah meninggalkan engkau. Kawinlah dengan laki-laki lain.’

“Sekarang engkau bicara tentang keadilan, kehormatan kesatria dan dharma. Setelah bicara tentang itu, apakah engkau tidak malu ikut membunuh Abhimanyu beramai-ramai? Engkau bicara tentang keadilan, kehormatan dan budi pekerti, tetapi kau justru mengingkarinya.”

Mendengar kata-kata Krishna, Karna menundukkan kepala. Ia malu dan tidak berani mengucapkan sepatah kata pun. Ia bangkit lalu naik kembali ke keretanya, mengambil busur, dan melepaskan anak panah yang nyaris mengenai Arjuna. Dhananjaya terhenyak sesaat. Dengan cepat Karna turun untuk membetulkan roda keretanya yang terperosok ke dalam lumpur. Ia mencoba mengingat mantra brahmastra pemberian Parasurama, tetapi seperti telah diramalkan oleh Parasurama, Karna tak bisa mengingatnya.

“Jangan membuang-buang waktu lagi, Dhananjaya,” kata Krishna kepada Arjuna. “Panahlah dia! Bunuhlah manusia jahat itu!”

Mula-mula Arjuna ragu, tangannya gemetar. Tetapi setelah mendengar kata- kata Krishna, ia membidikkan panahnya ke arah Karna. Secepat kilat ditariknya tali busur dan dilepaskannya anak panah itu. Seketika itu juga putra Batara Surya roboh, tewas. Di punggungnya tertancap anak panah Arjuna.

Sesungguhnya, menurut aturan perang, siapa pun tidak dibenarkan menyerang atau membunuh musuh yang tidak berdaya, luka parah, atau berada dalam posisi tak bisa melawan atau mempertahankan diri. Jika itu dilakukan, artinya orang itu melanggar dharma! Tetapi di padang Kurukshetra waktu itu, aturan perang sudah tidak diin-dahkan, bahkan dilanggar. Bagaimana mungkin mereka dapat dikatakan menjalankan dharma-nya sebagai kesatria jika saudara dan kerabat saling membunuh? Bukankah peperangan sebenarnya adalah adharma atau kejahatan?

~ Article view : [146]