54. Musnahnya Bangsa Yadawa

302

54. Musnahnya Bangsa Yadawa

Perang di padang Kurukshetra telah berakhir. Yudhistira telah dinobatkan menjadi raja dan telah melaksanakan upacara agung aswamedha. Setelah semua mapan dan tenteram, Krishna minta diri kepada Pandawa untuk kem-bali ke negerinya, Dwaraka.

Dalam perjalanan pulang, Krishna bertemu dengan kawan lamanya, seorang brahmana bernama Utanga. Krishna berhenti, turun dari kereta, lalu memberi salam. Terjadilah percakapan panjang di antara dua kawan lama itu. Mereka saling berkabar tentang keluarga dan pengala-man masing-masing selama mereka berpisah.

Utanga juga menanyakan keadaan Pandawa, karena ia tahu Krishna adalah keluarga dekat mereka. Brahmana itu sama sekali tidak mendengar berita tentang

perang besar yang telah berlangsung di medan Kurukshetra. Krishna terheran- heran, sampai tak tahu apa yang harus dikata-kannya.

Akhirnya Krishna bercerita panjang lebar tentang pertempuran dahsyat antara Kurawa dan Pandawa. Dia juga bercerita bahwa Pandawa sudah berusaha keras mena-warkan perdamaian agar perang itu tidak terjadi. Tetapi usaha mereka sia-sia. “Tak terbilang yang tewas di medan pertempuran itu. Yang selamat dan masih hidup sangat sedikit. Siapa dapat mengelakkan diri dari nasib seperti itu?” Krishna mengakhiri ceritanya.

Mendengar cerita itu, Utanga merasa muak dan jijik melihat kawannya itu. Amarahnya menggelegak, matanya memerah dan hatinya panas. Ia berteriak mengutuk Krishna, menuduhnya telah membiarkan perang itu terjadi tanpa berusaha menghindarkannya. Ia menuduh Krishna menipu dan tidak melakukan kewajibannya sebagaimana mestinya hingga menyebabkan musnahnya Kurawa.

“Bersiaplah untuk menerima kutuk-pastu-ku,” katanya.

Krishna berusaha menyabarkan brahmana itu. Sambil tersenyum ia menasihati brahmana itu agar tidak menggu-nakan hasil tapanya untuk tindakan yang sia-sia. Diminta-nya Utanga mendengarkan ceritanya dengan cermat sebe-lum mengucapkan kutuk-pastu.

Krishna mengulang ceritanya secara terperinci. Tetapi Utanga tetap tidak mengerti inti persoalan itu. Karena itu, Krishna memperlihatkan dirinya dalam wujud Wiswarupa atau perwujudan Hyang Tunggal dan berkata, “Aku terlahir dalam segala wujud dan di segala jaman untuk menye-lamatkan dunia dan menegakkan kebenaran. Dalam wujud apa pun, aku harus mengikuti kodrat jasmaniku. Jika aku terlahir berwujud dewa, aku harus bertindak sebagai dewa. Jika aku terlahir berwujud yaksa atau raksasa, aku harus bertingkah laku seperti yaksa atau raksasa. Jika aku ter-lahir sebagai manusia, aku harus bertindak seperti manusia. Dengan berbagai wujud ragaku, aku menjalankan tugasku sampai kelahiranku sebagai wujud tertentu selesai.

“Aku telah menasihati Kurawa agar jangan berkeras kepala, tetapi mereka tidak peduli. Mereka terus membuat kesalahan dan kejahatan yang akhirnya menimbulkan perang yang memusnahkan mereka sendiri.

“Brahmana yang budiman, demikianlah ceritanya. Engkau tidak punya alasan untuk marah-marah.”

Setelah mendengar penjelasan Krishna dan memahami siapa sesungguhnya kesatria itu, amarah Utanga lenyap seketika.

Krishna lega. Ia berkata, “Nah, sekarang apa yang dapat kuberikan kepadamu?”

Utanga bersyukur bisa bertemu dengan Hyang Tunggal yang menjelma dalam wujud Krishna. Ia berkata bahwa ia tak ingin memohon sesuatu. Tetapi, ia terus didesak agar meminta sesuatu.

Akhirnya, ia mengajukan permohonan, “Kalau Engkau hendak menganugerahkan sesuatu kepadaku, aku minta mantra yang bisa menolongku mendapat air segar kapan saja dan di mana saja.” Krishna meluluskan permintaan itu.

***

Pada suatu hari, dalam perjalanan melintasi padang rum-put, Utanga merasa sangat haus. Ia mencari-cari, tetapi tidak menemukan air setetes pun untuk minum. Ia ter-ingat akan mantra pemberian Krishna. Segera setelah ia mengucapkan mantra itu, seorang pemburu tiba-tiba muncul di hadapannya. Pakaiannya compang- camping dan kumal berdebu. Bau keringatnya menusuk hidung. Tangan kanannya memegang alat berburu, di pinggangnya terselip sebilah kapak. Sebuah kantong kulit berisi air tergantung di pundak kirinya. Seekor anjing mengibas-ngibaskan ekornya dekat kakinya. Lelaki kotor dan menjijikkan itu menyeringai dan berkata, “Rupanya Brahmana sangat kehausan. Aku punya air dalam kantong kulit ini. Silakan minum.” Ia mengisi cangkir bambunya dengan air untuk disuguhkan kepada Utanga.

Melihat lelaki kotor dan anjingnya yang dekil itu, Uta­nga berkata jijik, “Ah, aku tidak haus. Terima kasih!” Da-lam hati ia marah karena menganggap mantra pemberian Krishna hanyalah olok-olok belaka.

Lelaki kotor itu berulang-ulang menawarkan air kepada Utanga, karena ia tahu brahmana itu sangat kehausan. Utanga menjadi marah dan semakin jijik melihatnya. Tiba-tiba, pemburu dan anjingnya yang menjijikkan itu lenyap dari pandangan.

Ketika pemburu itu lenyap dan ia kembali sendirian, Utanga berpikir-pikir, siapa gerangan lelaki kotor yang muncul dan lenyap secara gaib itu? Ia mulai merenung, lelaki itu tidak mungkin orang paria, nishada (orang kotor dan kumal), atau orang biasa. Ia merenung dan berkata­kata dalam hati, “Mungkin peristiwa tadi adalah cobaan bagiku. Ah, aku telah berbuat tolol! Kenapa aku dengan angkuh menolak airnya, padahal sebenarnya aku sangat haus? Sungguh tolol aku ini!”

Sesaat kemudian muncul Krishna membawa cakra dan trompet kerangnya. Ia tersenyum di depan Utanga.

Brahmana itu berkata keras, “Hai, Krishna alias Puru­shottama, engkau menguji aku dengan cara kasar, yaitu memberiku air dari tangan seorang lelaki paria yang nista dan tabu kusentuh. Jangan mengolok-olok aku. Lelucon­mu tidak lucu.”

Krishna alias Janardana tersenyum, lalu mengatakan apa yang tadi dikerjakannya. Sewaktu Utanga mengucap-kan mantra, Krishna meminta Batara Indra untuk mem-berikan amerta atau air kehidupan kepada Utanga, untuk melepaskan dahaganya. Batara Indra tidak mau memberi-kan amerta kepada manusia biasa, sebab air kehidupan itu sesungguhnya hanya bagi mereka yang tidak akan mene-mui kematian seperti manusia di dunia. Tetapi Krishna terus mendesak sampai akhirnya Batara Indra setuju dengan syarat ia sendiri yang memberikan kepada Utanga dalam penyamarannya sebagai seorang nishada. Batara Indra memang ingin mencobai Utanga. Jika Utanga benar-benar telah mencapai jnana atau menguasai ilmu pengeta-huan suci tertinggi, brahmana itu pasti menerimanya. Tapi ternyata Utanga yang dungu menolak airnya. Akibatnya, Krishna merasa sangat malu di hadapan Batara Indra.

Mendengar cerita itu, Utanga menyesal dan malu atas ketololannya sendiri.

***

Demikianlah, Krishna kembali ke negerinya dan meme-rintah selama tiga puluh enam tahun. Di masa pemerinta-hannya, rakyat hidup makmur dan sejahtera. Suku Wrisni dan Bhoja yang masih berkerabat dengan bangsa Yadawa —bangsa asal keturunan Krishna, terkenal suka berse-nang-senang. Karena hidup makmur,

mereka jadi suka mengumpulkan barang-barang mewah, makan makanan lezat, minum minuman keras, dan berpesta pora. Lambat laun mereka menjadi bangsa yang angkuh, liar, suka mabuk, gemar mengumbar hawa nafsu, lengah dan gegabah. Mereka yang bekerja sebagai narapraja umumnya tidak jujur, gemar main wanita jalang, mudah disuap, dan hanya memburu kekayaan. Sementara itu, yang masih muda suka mabuk-mabukan dan hidup sesukanya tanpa mengindahkan adat dan kepercayaan.

Pada suatu hari, seorang resi dari negeri asing datang berkunjung ke Dwaraka. Begitu masuk ke gerbang kera-jaan, ia dicegat segerombolan pemuda. Mereka mengolok-olok dan mengejek resi itu dengan lelucon yang tidak lucu. Salah seorang dari mereka, yaitu Samba putra Krishna, bertindak terlalu jauh. Ia mengganjal perutnya dengan kain-kain lalu mengenakan pakaian hamil. Sambil berjalan tertatih- tatih seperti perempuan hamil tua, ia pergi mene-mui resi itu. Kawan-kawannya tertawa-tawa, menertawa-kan lelucon mereka sendiri.

Dengan gemulai Samba menari-nari di depan brahmana itu dan bertanya kepadanya, “Wahai Resi yang tahu segala­nya, katakan, anak yang kukandung ini perempuan atau laki-laki?”

Resi itu tersinggung. Sambil menggumamkan kutuk-pastu, ia menjawab, “Pemuda ini akan melahirkan sebuah gada, bukan bayi laki-laki atau bayi perempuan. Gada itu akan menjelma menjadi Batara Yama yang akan memus­nahkan bangsa Yadawa, termasuk kalian semua.”

Mereka kaget mendengar jawaban resi itu. Mereka menyesal telah mengolok- olok dia dan takut menghadapi kutuk-pastu-nya.

Benarlah, beberapa hari kemudian Samba merasa perutnya sakit seperti orang hamil hendak melahirkan. Alangkah panik kawan-kawannya ketika melihat Samba benar-benar melahirkan sebuah gada, bukan bayi laki-laki atau bayi perempuan. Semua ketakutan, karena ramalan resi itu terjadi. Semua berpikir, resi itu benar dan sekarang gada itu akan memusnahkan bangsa mereka, termasuk mereka sendiri.

Mereka memungut gada itu lalu beramai-ramai menghancurkannya dan membakarnya hingga menjadi abu. Mereka lalu membuang abu itu jauh-jauh. Abu itu ditebarkan ke laut hingga tersebar ke mana-mana ditiup angin dan dibawa ombak sampai ke tepi pantai.

Lama tak terjadi apa-apa. Para pemuda itu sudah lupa akan lelucon mereka sendiri. Samba menjadi laki-laki biasa lagi. Tahun demi tahun berganti, musim demi musim berlalu, rakyat terus hidup makmur dan bahagia. Mereka tak tahu, sebagian abu gada itu jatuh ke pasir pantai. Ajaib! Lambat-laun pantai itu ditumbuhi rumput raksasa yang rimbun dengan batang-batang sebesar batang bam-bu.

Di antara bangsa Yadawa yang ikut berperang di medan Kurukshetra, Krishna, Satyaki dan balatentara mereka bertempur di pihak Pandawa, sementara Kritawarma dan pasukannya bertempur di pihak Kurawa. Setelah kembali dari Kurukshetra, Krishna membuat peraturan yang melarang bangsanya minum minuman keras. Tetapi peraturan itu kemudian diubah sedikit, yaitu rakyat diijinkan minum minuman keras pada hari-hari tertentu.

Sebagai bangsa yang berwatak periang, bangsa Yadawa sangat gemar berpesta dan berwisata. Pada suatu hari mereka berdarmawisata ke pantai yang ditumbuhi rumput raksasa. Mereka bersenang-senang, makan-makan dan minum

minuman keras sampai mabuk. Dalam keadaan mabuk, terjadilah pertengkaran mulut yang kemudian pecah menjadi perkelahian hebat. Mula-mula saling meng-hantam dengan tangan kosong, kemudian ada yang memulai mencabut sebatang rumput raksasa berdaun runcing.

Dengan itu mereka saling menusuk. Mereka tak tahu, itu rumput ajaib. Tertusuk ujung daunnya atau terhantam batangnya bisa menyebabkan kematian.

Perkelahian hebat itu berawal dari pertengkaran kecil. Awalnya Kritawarma adu mulut dengan Satyaki, padahal dua-duanya dalam keadaan mabuk.

Satyaki mengejek Kritawarma, “He, Kritawarma, kau telah mempermalukan bangsa kita. Engkau membunuh musuhmu yang sedang tidur nyenyak. Itu bukan perbuatan kesatria sejati! Gara-gara kau, selama-lamanya bang-sa kita akan menanggung malu!”

Kritawarma tersinggung mendengar ejekan itu. Ia membalas dengan pedas, “Engkau tak ubahnya jagal sapi. Engkau membunuh Bhurisrawa yang sedang bersamadi. Engkau pengecut yang berlagak kesatria!”

Sorak-sorai pengikut mereka membuat Satyaki dan Kritawarma semakin memanas.

Pertengkaran mulut tidak berhenti di situ, tetapi malah memanas menjadi pertarungan bebas. Suasana kacau. Pengikut Satyaki bertarung melawan pengikut Kritawarma dalam pertarungan bebas yang membolehkan apa saja. Putra Krishna, Pradyumna, juga ada di situ. Ia berniat menolong Satyaki, tetapi malah terlibat dalam pertem-puran dan akhirnya menemui ajalnya. Kutuk-pastu resi yang pernah mereka hina menjadi kenyataan. Batang rumput berdaun runcing menjadi senjata utama.

Demikianlah, semua akhirnya mati kena hantaman atau tusukan batang rumput ajaib berdaun runcing. Musnahlah bangsa Yadawa.

Balarama yang menyaksikan peristiwa itu merasa sangat malu. Ia pergi meninggalkan tempat itu lalu menghabiskan hari-harinya dengan melakukan yoga di bawah pohon besar sampai maut menjemputnya. Krishna juga menyaksikan bagaimana bangsanya memusnahkan diri mereka sendiri. Ketika tahu bahwa Balarama, kakaknya, meninggalkan kehidupan duniawi dan memilih hidup men-jalankan yoga, Krishna pergi mengembara ke hutan. Di tengah lebatnya hutan belantara, ia merebahkan diri sam­bil berkata, “Telah tiba waktunya. Aku akan pergi selama­nya meninggalkan dunia ini!”

Seorang pemburu bernama Jaras kebetulan lewat dekat tempat Krishna merebahkan diri. Jaras melepaskan anak panahnya, mengira Krishna seekor rusa yang sedang duduk melepas lelah. Anak panah itu tepat menembus kaki dan tubuh Krishna. Seketika itu juga Krishna alias Wasudewa menghembuskan napasnya yang penghabisan. Jiwanya melayang, meninggalkan raganya, meninggalkan dunia manusia.

Kabar meninggalnya Krishna sampai ke Hastinapura. Arjuna segera datang ke Dwaraka untuk melakukan upa-cara pembakaran jenazah Krishna. Beberapa hari kemu-dian, Negeri Dwaraka dilanda banjir bandang. Air bah datang bergulung- gulung bagai gelombang samudera dahsyat. Negeri Dwaraka terseret arus ke laut dan akhirnya tenggelam di dasar samudera.

~ Article view : [142]