8. Mahatma Widura

445

8. Mahatma Widura

Resi Mandawya adalah seorang resi yang telah memper-oleh kekuatan jiwa dan menguasai pengetahuan tentang kitab-kitab suci. Ia mengisi hari-harinya dengan bertapa dan melaksanakan kebajikan-kebajikan sesuai ajaran suci. Ia tinggal di sebuah pertapaan di tengah hutan.

Pada suatu hari, ketika ia sedang khusyuk bertapa menyatukan jiwa dan pikirannya di bawah sebatang pohon rindang di luar pondoknya, datang segerombolan penya-mun ke pertapaannya. Mereka melarikan diri ke dalam hutan, dikejar-kejar balatentara kerajaan. Mereka mengira akan aman di dalam pertapaan itu. Para penyamun itu bersembunyi di sudut pertapaan dan menyembunyikan harta mereka di sana. Sementara itu, balatentara kerajaan mengikuti jejak mereka sampai ke pertapaan itu.

Pemimpin balatentara kerajaan melihat Resi Mandawya yang sedang khusyuk bertapa, tetapi ia tidak menghor-matinya. Dengan suara keras ia berkata kepada pertapa itu, “He, pertapa, apakah kau melihat perampok lewat di sekitar sini? Ke arah mana mereka pergi? Jawablah segera agar kami bisa menangkap mereka.”

Resi Mandawya yang benar-benar sedang khusyuk ber-yoga, tidak menjawab apa-apa. Pemimpin itu mengulangi pertanyaannya dengan kasar. Tetapi resi itu tidak mende-ngar apa-apa karena khusyuk bertapa. Sementara itu, beberapa prajurit memasuki pertapaan dan menggeledah pondok sang pertapa. Mereka menemukan barang-barang rampokan di sana. Segera saja mereka melaporkan pene-muan itu kepada sang pemimpin.

Mendengar itu, sang pemimpin memerintahkan pasu-kannya untuk menyerbu pertapaan itu. Memang benar, semua barang curian mereka temukan di sana. Bukan hanya itu, mereka juga menemukan para perampok yang bersembunyi di situ.

Pemimpin balatentara kerajaan itu berpikir, “Sekarang aku tahu mengapa brahmana ini pura-pura diam dan tenggelam dalam samadinya. Sesungguhnya, dialah kepala para penyamun itu. Dialah yang merencanakan peram­pokan ini.”

Kemudian ia memerintahkan anak buahnya mengurung pertapaan itu sementara ia pergi melapor ke istana bahwa Resi Mandawya telah ditangkap dan semua barang rampo-kan ditemukan di pertapaannya.

Raja sangat marah mendengar kelancangan kepala perampok yang berani menyamar sebagai seorang resi yang disegani. Tanpa memeriksa laporan itu dengan cermat, Raja langsung memerintahkan agar penjahat licik itu disik-sa dengan tombak. Pemimpin balatentara itu segera kem-bali ke pertapaan dan memerintahkan prajurit-prajuritnya menusuki tubuh resi itu dengan tombak. Setelah puas menusuk-nusuk tubuh resi itu, mereka memancangnya dengan tombak.

Mereka meninggalkan sang resi dalam keadaan terpan-cang di ujung tombak yang ditegakkan. Kemudian mereka kembali ke istana untuk mempersembahkan semua barang rampokan.

Sebagai orang suci, meskipun tubuhnya hancur ditusuk-tusuk tombak, Resi Mandawya tidak mati. Ia tetap hidup karena kekuatan yoganya. Kabar tentang apa yang menimpa Resi Mandawya tersebar ke seluruh hutan. Para resi yang tinggal di bagian lain hutan itu berdatangan ke pertapaan Resi Mandawya dan menanyakan apa yang menyebabkan sang resi menderita seperti itu.

Resi Mandawya menjawab, “Siapa yang bisa disalahkan? Balatentara raja hanya melaksanakan tugas mereka, yaitu melindungi rakyat dari para penjahat. Dan para penjahat memang harus dihukum.”

Raja terkejut dan cemas ketika mendengar bahwa resi yang telah ditusuk-tusuk dan dipancangkan dengan tom-bak ternyata masih hidup dan sedang dikerumuni resi-resi yang bertapa di hutan. Segera ia memerintahkan bala-tentaranya mengawalnya pergi ke hutan. Sesampainya di sana, Raja memerintahkan agar resi itu diturunkan dari tombak. Kemudian ia berlutut sambil menyembah dan meminta ampun atas perbuatan keji yang ia perintahkan.

Resi Mandawya sama sekali tidak marah kepada Raja. Setelah memaafkan Raja, ia segera menghadap Bagawan Dharma, pewarta keadilan suci yang sedang duduk di singgasananya. Sampai di sana, ia bertanya kepada Baga-wan Dharma, “Kejahatan apakah yang telah kulakukan hingga aku menerima hukuman seperti ini?”

Bagawan Dharma, yang mengetahui kesaktian Resi Mandawya, menjawab dengan hati-hati, “Wahai, Resi Man­dawya, tanpa kausadari engkau sering menyiksa burung dan kumbang. Kebaikan dan kejahatan sekecil apa pun pasti akan mendapat ganjaran yang setimpal.”

Resi Mandawya terkejut mendengar jawaban Bagawan Dharma. Ia bertanya lagi, “Kapankah aku berbuat kesala­han itu?”

Bagawan Dharma menjawab, “Ketika engkau masih kanak-kanak.”

Resi Mandawya lalu mengucapkan kutuk-pastu pada Bagawan Dharma, “Hukuman yang engkau putuskan sungguh keterlaluan, jauh melampaui batas kesalahan yang diperbuat oleh kanak-kanak yang tidak tahu apa-apa. Karena itu, lahirlah engkau ke dunia sebagai manusia!”

Bagawan Dharma yang di-kutuk-pastu oleh Resi Man-dawya menitis, berinkarnasi dan terlahir ke dunia sebagai Widura, yaitu pelayan Ratu Ambalika, istri Maharaja Wichitrawirya.

Kelak Widura, yang sesungguhnya adalah inkarnasi Bagawan Dharma, disegani orang-orang sebagai seorang mahatma yang sakti dan mumpuni dalam ilmu penge-tahuan tentang dharma, peradilan, sastra, dan ketatanega-raan. Widura

tidak pernah mempunyai ambisi apa pun dan sama sekali tidak pernah marah. Kemudian Bhisma mengangkatnya sebagai penasihat utama Raja Dritarastra ketika Widura baru berumur belasan tahun. Menurut Bagawan Wyasa, tak ada orang yang bisa menandingi Widura di ketiga dunia ini, baik dalam ilmu pengetahuan maupun dalam kebajikan.

Suatu ketika Dritarastra mengijinkan anak-anaknya berjudi dadu. Widura segera menyembah di kakinya sambil berkata, “O, Tuanku Raja, hamba tak dapat menyetujui perbuatan itu. Putra-putra Tuanku akan berselisih dan berseteru karena berjudi. Mohon Paduka renungkan kata-kata hamba dan jangan ijinkan mereka berjudi.”

Sayang sekali, Maharaja Dritarastra berwatak lemah. Cintanya yang sangat mendalam kepada putra-putranya membuatnya tak kuasa menolak permintaan mereka. Ia bahkan meminta Yudhistira agar mau menerima undangan Kurawa untuk berjudi dadu.

~ Article view : [209]