Apakah Saya Hindu?

997

AM I A HINDU (APAKAH SAYA HINDU ?)

Ed. Viswanathan (Diterjemahkan oleh NP Putra)

Pengantar Kepada Agama Hindu

AYAH, BOLEHKAN AKU BERTANYA KEPADAMU?

Tentu saja.

AKU AKAN MENGAJUKAN BANYAK PERTANYAAN KEPADA AYAH MENGENAI AGAMA KITA

Silahkan ajukan pertanyaan yang kamu inginkan

DARIMANA SAYA HARUS MULAI?

Mulai dengan pertanyaan pertama yang muncul dalam pikiranmu

OK. APAKAH AKU, SEORANG HINDU?

Tentu. Kita memeluk agama Hindu, karena itu kita disebut orang Hindu, sama seperti orang yang mengikuti agama Kristen disebut Kristen. Dilihat dari satu sisi, agama Hindu adalah suatu upaya pencarian kebenaran tanpa kenal lelah. Sebagai demikian ia adalah agama untuk selamanya. Hanya ada satu Tuhan dan satu kebenaran. Weda-weda menyatakan, “Ekam Sat, Viprah Bahudha Vadanti.” (Hanya ada satu kebenaran, hanya manusia menjelaskan hal ini dengan cara berbeda). Karena itu seorang Kristen, seorang Hindu, seorang Muslim dan seorang Jahudi semuanya satu dan sama. Dilihat dari sisi lain, Hinduisme bukan agama tapi satu cara hidup (a way of life). Hanya demi argumentasi, kita dapat mengatakan bahwa andaikata semua kitab suci Hindu dihancurkan pada suatu hari, agama yang sudah ada sejak zaman dahulu kala ini akan hidup kembali dalam hanya beberapa tahun, karena ia hanya mencari kebenaran yang mutlak.

AYAH, SEBELUM AKU MELANJUTKAN, AKU INGIN MENGINGATKAN ANDA BAHWA AKU ADALAH SE ORANG REMAJA YANG LAHIR DI USA, JADI BEBERAPA DARI PERTANYAANKU MUNGKIN TERDENGAR AGRESIF. AKU HARAP ANDA TIDAK TERSINGGUNG.

Nak, kamu dapat bertanya mengenai apapun yang kamu inginkan. Anggaplah dirimu jaksa penuntut umum, menginterogasi ayah di kursi saksi. Percaya padaku, tidak akan ada petanyaanmu yang menyinggungku. Aku akan menjawab semua pertanyaanmu selangsung mungkin. Aku tidak akan pernah membalasmu dengan jawaban balas dendam. Lagi pula, aku akan menyertakan ide-ide tentang agama lain dan ilmu pengetahuan dalam jawabanku. Aku harap kamu akan puas.

SEJUJURNYA, DAPATKAH AGAMA HINDU MENGHADAPI INTEROGASI?

Agama Hindu tidak mempunyai masalah menghadapi pertanyaan apapun. Ia tidak perlu bersembunyi dibalik kata-kata Sansekerta yang sulit diucapkan atau dogma spiritual. Sebaliknya ia menyerap ide-ide baru seperti sepon.

Percaya atau tidak, agama Hindu memperkuat dirinya kembali (recharge) dengan pikiran-pikiran modern. Teknologi, psikologi, parapsikologi, astronomi modern, phisika baru dan genetik semua memperkaya agama Hindu.

Dalam agama Hindu kamu dapat berpikir dan berargumentasi mengenai subyek apapun. Kamu bahkan dapat menyatakan “tidak ada Rama maupun Krishna” dan kamu masih tetap seorang Hindu. Agama Hindu tidak memiliki hierarki, tidak memiliki satu badan yang mengatur orang Hindu.

Dalam agama Hindu kita akan jarang menemukan pernyataan dengan “Engkau tidak akan” (Thou shall not). Ketika kamu mempelajari agama Hindu kamu akan menemukan agama ini dipenuhi dengan berbagai jenis ide. Dia memiliki Advaita dan Raja Yoga yang memiliki spiritualitas yang tinggi pada satu sisi dan philafat Charvaka materialistik dan hedonistik yang tidak percaya pada Tuhan dan Weda, pada sisi yang lain, Pada satu sisi pemujaan citra adalah satu bagian dari agama Hindu, dan pada sisi lain, sebagaimana dikatakan oleh philsuf Jerman Max Muller, “Agama Weda tidak mengenal patung.”. Jahala Upanishad mengatakan, “Citra dimaksudkan hanya sebagai alat bantu meditasi bagi orang yang bodoh.”

Mitologi kuno Hindu dipenuhi dengan berbagai macam cerita. Pada satu sisi, Advaita hanya berbicara mengenai Brahman (Yang Tak terbatas), dan lagi pada sisi yang lain, mitologi bicara mengenai ribuan dewa-dewa. Hindu sesungguhnya adalah kesatuan dalam perbedaan. Mengambil satu subyek secara acak (random) dari kitab suci Hindu akan membingungkan kamu. Tapi bila kamu duduk dan mempelajarinya semua, kamu akan mampu memahami kebenaran yang sejati dalam semua kitab-kitab suci Hindu itu. Dewasa ini banyak tersedia buku-buku agama Hindu dalam bahasa Inggris dan lainnya sehingga pengetahuan bahasa Sansekerta bukan suatu keharusan untuk mengerti kitab-kitab suci Hindu

AYAH, SEBELUM ANDA MENJELASKAN LEBIH LANJUT, AKU INGIN MENGAJUKAN SATU PERTANYAAN YANG KRITIS. MOHON JANGAN TERSINGGUNG. PERTANYAANKU ADALAH, WEWENANG APA YANG ANDA PUNYAI UNTUK BERBICARA TENTANG AGAMA HINDU?

Saya senang kamu mengajukan pertanyaan ini. Arjuna, pangeran-ksatria dalam epik Mahabarata, mengajukan pertanyaan yang sama kepada Krishna selama pemaparan Bhagawad Gita, kitab suci Hindu itu. Krishna, sebagai jawaban atas Arjuna, menunjukkan swaroopa (Bentuk dari Yang Tak Berbentuk yang Agung) dan Arjuna yang terkagum-kagum menyaksikan seluruh alam semesta bergerak dalam badan Tuhan. Arjuna mendapat jauh lebih banyak jawaban dari yang dimintanya. Well, aku tidak dapat menunjukkan kepadamu hal seperti itu untuk membuktikan pendapat-pendapatku.

Kamu boleh tertawa, tapi karena bahkan Arjunapun menanyakan kewenangan Krishna, adalah tepat sekali bagimu untuk mengajukan pertanyaan yang sama. Pada sisiku, aku hanya dapat mengatakan bahwa aku hanyalah seorang pencari kebenaran yang sederhana seperti banyak orang lain. Tentu saja aku telah membaca banyak buku (kurang lebih 500) mengenai agama Hindu dan semua agama-agama lain. Maksudku hanyalah untuk meletakkan di hadapanmu sejarah dari agama Hindu dan hal-hal penting yang lain mengenai agama Hindu. Setelah mendengar jawabanku, kamu pada bagianmu sendiri harus menginvestigasi kebenaran dari pernyataanku. Pada saat ini, ijinkan aku mengulangi satu stanza dari kitab suci

Tiada seorangpun tahu apa yang benar dan apa yang salah;
Tiada seorangpun tahu apa yang baik dan apa yang buruk;
Ada satu dewa yang bersemayam dalam dirimu;
Temukan dan ikuti perintah-perintahnya.

Itulah jawabanku. Mohon dimengerti bahwa dewa yang disebut dalam stanza di atas tidak lain adalah “suara hati nurani” (inner voice) mengenainya Aurobindo, mistikus modern Hindu telah menulis berpuluh buku. Aku hanya ingin menunjukkan kepadamu bahwa semua jawaban final adalah di dalam. Seperti seorang guru Zen, aku ingin mengatakan bahwa mencari jawaban di luar diri adalah sia-sia dan bodoh. Buddhis Zen mengatakan bahwa kebenaran tidak dapat diajarkan melalui kata-kata yang keluar dari mulut dan bahwa pengetahuan yang sejati hanya datang dari pengalaman pribadi.

Sekali lagi please, jangan ambil stanza di atas sebagai lampu hijau bagi perilaku tak bermoral dan melakukan segala sesuatu sesuai dengan perintah emosi. Emosi dalam diri kita sangat menipu. Emosi itu bisa keluar dengan otoritas intelektual dan membuat setiap tindakan buruk kelihatan memiliki arti. Emosi itu bahkan menipu maharesi besar untuk mempercayai sentimen egoistik pribadi mereka dan bertindak dengan sangat bodoh. Maka hati-hatilah dengan stanza yang aku kutip di atas.

APAKAH AGAMA HINDU SATU-SATUNYA JALAN UNTUK MENCAPAI TUHAN (GOD-REALIZATION)?

Satu hari seorang gentelman berkata kepada seorang Philsuf Amerika yang terkenal bahwa ia telah mempelajari hampir semua philsafat dan agama-agama dunia, dan ia akhirnya yakin bahwa agama Kristen sesungguhnya merupakan satu-satunya philsafat dan agama yang benar. Emerson (Ralph Waldo) menjawab : “Itu hanya menunjukkan, my friend, bagaimana sempitnya anda membaca mereka.” Pernyataan yang sama juga berlaku bagi agama Hindu. Tiada seorangpun mempunyai hak untuk mengatakan agama Hindu adalah satu-satunya jalan. Sesungguhnya, orang-orang Hindu akan merasa absurd untuk mengatakan bahwa agama-agama lain di dunia ini sebagai palsu.

Bagawad Gita (4:11) berkata, “Jalan manapun yang ditempuh manusia untuk mendekati Aku, dengan jalan itu Aku terima mereka; jalan manapun yang mereka pilih pada akhirnya mereka akan mencapai aku.” Dari sloka ini, setiap orang dengan mudah mengerti bahwa agama Hindu tidak memproyeksikan dirinya sebagai satu-satu jalan untuk pengejawantahan Tuhan. Agama Hindu tidak mengklaim monopoli atas kebijaksanaan. Agama Hindu mentoleransi semua bentuk pemikiran. Seorang Yogi Hindu tidak akan pernah mencoba untuk mengkonversi seseorang dari agama lain ke dalam agama Hindu. Sebaliknya ia malah akan mencoba orang tersebut setia kepada agamanya. Bagawad Gita menyatakan :

“Dalam bentuk apapun seorang bhakta menyembahKu dengan yakin, Aku akan membuat ia setia dalam bentuk itu sendiri.” Jadi dalam agama Hindu, kamu dapat memuja Yang Maha Kuasa, yang tidak berbentuk dan abadi, sebagai Krishna, Rama, Hyang Widhi atau yang lain. Selama kamu memiliki keyakinan dalam bentuk Yang Kuasa itu, kamu akan mengikuti satu agama yang benar dan kamu pada akhirnya akan mencapai kebenaran, sekalipun kamu mengikuti bentuk pemujaan yang kasar. Menurut agama Hindu tiada seorangpun akan tersesat.Melalui jalan manapun seorang mencari Tuhan, dia akan selalu berada di jalan Tuhan.

Bila seseorang menyebut “Itu” (It) Krishna, “Itu” akan datang sebagai Krishna. Bila seseong menyebut “Itu” Rama, dia akan datang sebagai Rama. Bahkan bhakta Hindu yang paling terkenal, Maharesi Narada, dalam Sutra kedua dari Narada Bhakti Sutra, menyebut Tuhan dengan nama Asmin, artinya “Itu (That, Tat).” Kaum mistikus Muslim yang besar, kaum Sufi, mengatakan, “Kemanapun kamu memalingkan wajahmu, di sanalah Wajah Allah.”

Dalam semua bentuk pemujaan, pada akhirnya sang pemuja akan mengatasi (transcend) nama dan bentuk dari Tuhan pribadinya (personal God, Istadewata, pen). Lihatlah tulisan-tulisan dari Chaitanya, Sri Ramakrishna Paramahamsa, St. Francis dari Asisi, atau para mistikus Sufi.. Chaitanya menyeru Vital dan Ramakrishna menyeru Ibu Kali. Tapi kita mempelajari semua karya-karya di atas, kita dapat melihat bahwa yang Mutlak yang mereka cari atau ikuti tidak memiliki nama dan berada di luar kemampuan manusia untuk menggambarkannya. Semua dari mereka mulai dengan mengikatkan diri mereka pada satu Istadewata (personal God) dan berakhir dengan satu Yang Maha Kuasa yang abadi dan tidak berbentuk.

Kata ‘Islam’ berarti pasrah kepada kehendak Allah,” dan Allah tidak memiliki definisi yang tepat. Seorang Muslim sejati menyembah Allah yang tidak bernama dan berbentuk, yang sesungguhnya Kekuasaan Yang Tertinggi. Kaum Muslim keberatan dengan sebutan “Mohammedanism” karena kata itu mengandung arti pemujaan kepada Mohammad. Kaum Muslim tidak pernah memuja Muhammad. Seluruh orang Muslim percaya pada kalimat sahadat : “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusanNya.” Allah adalah seperti Tao dari Taoisme, Brahman dari agama Hindu, Ayin dari mistik Yahudi Kabblah, atau Jehovah (Aku, I Am) dari Perjanjian Lama. Dia tidak bernama, tidak dapat didefinisikan, kekuatan atau mahluk murni dari mana segala sesuatu berasal.

Tidak ada agama yang memiliki hak monopoli atas Tuhan. Mengatakan itu persis sama dengan mengatakan “Matahari hanya terbit di New York dan (hanya) terbenam di pantai Honolulu. Matahari yang bersinar di kolam-kolam rumah-rumah besar (mansion) di Berverly Hill dan New York juga bersinar di kampung-kampung kumuh di Kalkuta atau Jakarta di gurun-gurun pasir di Arab. Sama halnya, Tuhan yang kamu lihat dalam Bagawad Gita adalahTuhan yang sama yang kamu lihat dalam Injil atau Al Qur’an

APAKAH AGAMA HINDU PERCAYA DENGAN KONVERSI SECARA PAKSA?

Sama sekali tidak. Seorang penganut Hindu sejati tidak akan melakukan proselitasi (mencari pengikut baru dari orang-orang yang sudah beragama lain), tapi orang-orang Hindu dengan gembira akan menerima setiap orang yang ingin masuk Hindu karena mencintai nilai-nilai atau ajaran Hindu. Bagawad Gita mendesak semua orang untuk mengikuti agama dimana orang itu lahir. Orang-orang Hindu tidak pernah membuat janji-janji palsu kepada orang yang baru masuk Hindu.

Sama seperti orang Hindu, orang-orang yang beragama Yahudi juga toleran terhadap keyakinan lain. Orang-orang Yahudi juga tidak pernah membujuk orang lain untuk ikut agama mereka. Tentu saja banyak orang lain yang masuk agama Yahudi, tetapi orang-orang Yahudi tidak pernah mempropagandakan agama mereka secara aktif. Untuk sebatas tertentu, sama seperti agama Hindu, agama Yahudi juga merupakan satu cara hidup (a way of life)

Lagipula orang Hindu melihat agama sebagai satu ilmu dasar (basic science). Pernahkah kamu mendengar seseorang dikonversikan kedalam ilmu kimia India, Phisika Inggris? Karena itu akan terasa absurd bahkan hanya untuk membicarakan konversi. Hanya ada satu kebenaran. Semua dari kita memiliki hak yang sama terhadap kebenaran itu, sama halnya kita memiliki hak yang sama terhadap Effect Raman India, Teori Quantum dari Yahudi-Jerman Einstein, atau percobaan Edison yang orang Amerika. Bagawad Gita, Injil, Torah, Qur’an, Dammapada, dan kitab suci lainnya terbuka bagi semua orang.

Semua kita memiliki hak yang sama untuk mengutip Krishna dan Lao-Tse dan Socrates dan Mohammad dalam kalimat yang sama. Sama seperti ilmu pengetahuan yang terbuka bagi setiap orang, demikian juga semua agama.

APAKAH AGAMA HINDU TOLERAN TERHADAP AGAMA-AGAMA LAIN?

Dalam agama Hindu, toleransi bukan hanya sekedar soal kebijakan tetapi merupakan satu keyakinan dasar (an article of faith). Sejarahwan seperti H.G. Wells mengatakan bahwa raja-raja Hindu sesungguhnya menerima dengan tangan terbuka misionaris Kristen, kaum fakir Islam dan biksu Buddha untuk pertukaran pikiran yang bebas. Sebenarnya, raja Hindu terbesar, Ashoka (269-232 SM), mengganti agamanya menjadi Buddhis dan menyebarkan agama Buddha ke seluruh India. “Hukum Dharma” atau kebenaran dan inskripsi epigrafi yang ditinggalkan oleh Ashoka di berbagai batu karang dan pilar di seluruh India sama bersejarahnya dengan “Bill of Rights” dari USA. Anakku, bila kamu ingin belajar mengenai satu-satunya raja di seluruh sejarah India, maka raja itu adalah Raja Ashoka. H.G. Wells, yang tidak pernah memberikan pujian kepada raja manapun dalam buku sejarah dunia yang ditulisnya, membuat satu pengecualian mengenai Ashoka dan menulis, “nama Ashoka bersinar terang sendirian, satu bintang dalam sejarah dunia.”

Salah seorang rasul Kristen terbesar, Saint Thomas, datang ke Madras India untuk menyebarkan agama Kristen di India, dan meninggal di Mylapore, Madras. Adalah fakta bahwa pada tahun 70 AD, ketika orang-orang Roma menjadikan orang-orang Kristen sebagai makanan singa di Eropa, di Kerala orang-orang Kristen menyembah Saint Thomas di gereja. Bahkan dewasa ini, ketika orang-orang Yahudi dianiaya di seluruh dunia, di Cochin, India, mereka memiliki kebebasan tak terbatas untuk beribadah di Synagoge. (Orang Yahudi datang ke India pada abad 5 A.D). Sesungguhnya banyak orang Yahudi yang dikirim ke Israel dari Kerala telah kembali lagi ke India karena ini adalah negeri yang sangat toleran. Dewasa ini, ketika orang Yahudi tidak boleh dikonversi menjadi Kristen di Israel, ketika orang tidak boleh membawa Injil di Arab Saudi, dan ketika orang Muslim tidak boleh dikristenkan di Malaysia, ribuan orang Hindu di India dikonversi menjadi Kristen. India kini memiliki seminari Katolik yang terbesar di dunia – hampir 3,856. (Dewasa ini ada gerakan dari organisasi Hindu untuk mengkonversi kembali orang-orang Hindu yang beralih agama sebelumnya. Missi Kristen sering menimbulkan ketegangan dengan orang-orang Hindu di India. Tahun lalu satu keluarga missi Protestan dari Australia dibunuh dalam mobilnya. Orang-orang Hindu di India kini tampaknya menyadari toleransi tidak berarti menerima segalanya. Sikap toleran tanpa batas ini merugikan orang-orang Hindu sendiri. Seperti dikatakan oleh philsuf besar Hindu, Sarvepalli Radhakrishnan, Hindu menderita karena toleransinya, pen).

Seorang penganut Hindu sejati tidak pernah mencerca agama lain. Dia menerima kebenaran yang ada pada setiap agama. Seorang suci Hindu dengan bahagia membaca Bible atau Qur’an pada para pengikutnya. Swami Vivekananda berkata, “Saya bangga menjadi pemeluk satu agama yang mengajarkan kepada dunia toleransi dan penerimaan universal. Kita percaya tidak hanya pada toleransi universal, tapi kita menerima bahwa semua agama sebagai benar. Seperti sungai yang berbeda yang memperoleh mata air mereka di sumber yang berbeda, semuanya menjadi satu di samudera, demikianlah jalan yang berbeda yang dijalani oleh tiap orang dengan kecenderungan yang berbeda, sekalipun beragam tampaknya, bengkok atau lurus, semua menuju Tuhan.”

AYAH, APAKAH ORANG HINDU DIIJINKAN MEMPELAJARI AGAMA-AGAMA LAIN?

Tentu saja, anakku. Agama Hindu tidak saja mengijinkan tapi sesungguhnya mendorong kita untuk mencari kebenaran dari segala sumber. Agama Hindu secara tegas melarang perbandingan dari metoda-metoda lain untuk penggejawantahan Tuhan (God realization), karena semua metoda adalah benar dan semua membawa para pemuja pada Tuhan. Setelah mempelajari agama Hindu dengan baik, seorang Hindu harus membaca dan mempelajari semua agama-agama lain yang benar. Dengan demikian dia melihat agama Hindu sebagai ensiklopedi dari agama-agama. Bila seorang mengetahui agama Hindu dengan baik, maka Bible, Qur’an dan Adi Grantha (kitab suci agama Sikh) akan menjadi bacaan menarik.

Salah satu dari Purana Hindu yang besar, Srimad Bhagawatam mengatakan, “Seperti lebah madu mengumpulkan tetesan madu dari bunga-bunga yang berbeda, orang bijaksana menerima saripati dari kitab suci yang berbeda dan melihat hanya hal-hal yang baik dalam semua agama.” Dengan ideologi semacam itu, seorang Hindu seharusnya terdorong untuk membaca semua buku-buku agama-agama dunia.

AYAH, APAKAH AGAMA HINDU MEMPUNYAI PAUS?

Tidak. Seperti telah aku katakan sebelumnya, dalam agama Hindu tidak ada hierarki jabatan. Seorang dari maharesi zaman dulu, Adi Sankara, mendirikan 4 pertapaan di sudut-sudut India yang berbeda, yang secara populer dikenal dengan nama Sankaramath. Pertapaan itu ada di Sringeri (Mysore), Badrinath (Himalaya), Dwaraka (Gujarat) dan Puri (Orissa). Pendeta kepala pada tiap pertapaan itu disebut Sankaracharya, dan para pendeta di pertapaan itu mengajarkan seluruh aspek agama Hindu kepada orang Hindu. Tentu saja, pertapaan ini tidak mempunyai kekuasaan untuk mengatur kehendak pribadi dari orang Hindu. Ada banyak pertapaan di India di luar dari empat yang aku sebutkan di atas. Semuanya bebas satu sama lain, semua mengajarkan nilai-nilai dan cita-cita Hindu dengan cara-cara mereka sendiri tanpa mengkeritik yang lain.

Tiada seorangpun di keluarkan dari agama Hindu (excommunicated), dan tidak seorangpun dihukum (karena memiliki pemikiran yang berbeda,pen) dalam agama Hindu. Agama Hindu pernah memiliki orang-orang revolusioner seperti Buddha (yang menolak mengakui otoritas Weda-Weda) dan Adi Sankara (yang menyebarkan phalsafah Advaita), tapi agama Hindu tidak pernah memiliki Martin Luther dan tidak akan pernah, karena agama Hindu terbuka terhadap segala macam kritik dari segala arah.

AYAH, APAKAH MUNGKIN MENGEKSPRESIKAN “KEBENARAN YANG HALUS (SUBTLE TRUTHS)” DALAM BAHASA YANG SEDERHANA? DAPATKAH PIKIRAN MANUSIA MENYADARI KEBENARAN TERAKHIR (ULTIMATE TRUTHS)?

Aku menjawab “tidak” untuk pertanyaanmu. Agama Hindu dimulai dengan Sruti, “itu yang terdengar”. Guru-guru zaman Weda yang seperti Kristus, yang disebut Rishi, mendengar kebenaran abadi dalam hati dan pikiran mereka dan mengajari para murid mereka secara telepathi, melalui transfer pikiran yang sebenarnya. Baru kemudian bahasa seperti Sansekerta dan Pali muncul. Untuk jangka waktu yang sangat lama belum ada teks tertulis. Weda-Weda dan Upanishad diajarkan melalui sloka-sloka yang dinyanyikan (chanted lyrics)

Kita tahu bahwa pikiran adalah media yang paling baik untuk mewujudkan ilmu pengetahuan, tapi karena kita tidak dapat mentransfer pikiran, kita mengungkapkannya dalam bahasa-bahasa. Bahasa verbal lebih baik dari bahasa ucapan dalam menyatakan pikiran-pikiran. Sansekerta, Pali, Latin, Yunani dan Ibrani dipergunakan untuk menyatakan pikiran-pikiran di zaman dahulu. Dikatakan bahwa konon Jesus berbicara dalam bahasa Armenia dan beberapa tahun setelah penyalibannya Perjanjian Baru ditulis dalam tiga bahasa : Ibrani, Aramaic dan Yunani. Perjanjian Baru masih memelihara beberapa pernyataan dalam bahasa Aramaic seperti “Eli, Eli, Lama Sabachthani” – “Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkanku (“My God, my God, why has Thou forsaken me?”) (Matthew 27:46). Dalam abad 15, versi pertama Injil dalam bahasa Inggris ditulis oleh William Tyndale (1525). Malangnya, dia dituduh bidaah (menghujat Tuhan) dan kemudian dibakar hidup-hidup di tiang pancang.

Setelah Tyndale, berturut-turut tujuh versi Injil ditulis dalam bahasa Inggris, versi terakhir, versi King James, yang paling populer, dikompilasi oleh sejumlah besar teolog dibawah pimpinan Raja James dari Inggris dalam tahun 1611. Malangnya, bahkan edisi pertama dari versi King James ini mengandung lebih dari 300 kesalahan di dalamnya (‘How We Got the Bible’, Neil R. Lighfoot). Ini hanya menunjukkan bagaimana sulitnya menuliskan pikiran dalam kata-kata. Terpisah dari itu, Injil itu penuh dengan angka-angka simbolis. Misalnya, 666 adalah untuk Antikristus dan 12 adalah untuk kemampuan spiritual. Semua hal-hal baik diasosiasikan dengan angka 12 : duabelas rasul, duabelas anak Jacob, duabelas suku Israel, duabelas pintu surga, dst. Dengan dasar simbolisme seperti itu, terjemahan Injil akan menjadi lebih sulit lagi.

Dewasa ini bahasa Inggris dipergunakan oleh masyarakat secara luas – vokabolarinya sudah berkembang demikian maju, dan menjadi alat utama untuk menyampaikan pikiran-pikiran. Jadi bahasa Inggris mungkin satu-satunya bahasa di dunia yang dapat menyampaikan kebenaran dalam bentuk yang dapat dimengerti. Kita beruntung, kita juga mempunyai matematika, phisika dan ilmu lainnya yang membantu kita untuk memahami kebenaran yang halus dewasa ini.

Lagipula, pengertian adalah suatu yang sangat pribadi. Misalnya, “E=mc2” mungkin hanya beberapa huruf bagi orang biasa, tapi bagi mahasiswa sains angka itu berbicara banyak sekali. Jadi kebenaran abadi hanya dapat dimengerti bila kita berkembang cukup tinggi untuk memahaminya. Ini juga benar untuk agama Hindu, Kristen, Islam dan agama-agama lain.

Taoisme mengatakan bahwa impresi (kesan) dari kehidupan tidak dapat disampaikan dengan kata-kata. Mistikus China Lao-Tse mengatakan, “Dia yang tahu tidak pernah mengatakan. Dia yang mengatakan tidak pernah tahu.” Ini menunjukkan bahwa kebenaran yang halus memang sulit sekali untuk dinyatakan dengan kata-kata, karena kata-kata akan mencoba membatasi ukuran mereka. Adalah benar untuk menyimpulkan bahwa pikiran manusia tidak akan pernah dapat membayangkan kebenaran terakhir dari alam semesta.

Memang Einstein mencoba untuk mengembangkan “a unified field theory” (apa terjemahannya ini? pen.) untuk menjelaskan teka-teki dari alam semesta, tapi ia gagal dengan sangat menyedihkan.. Akhirnya ia mengakui kekalahannya dan berkata ; “Pikiran manusia tidak mampu memahami alam semesta. Kita seperti anak kecil memasuki perpustakaan yang maha besar.” Gauthama Buddha dengan jelas mengatakan bahwa hanya dengan mengatasi eksistensi manusia, seseorang dapat memahami realitas tertinggi. Itulah mungkin alasannya mengapa Buddha, yang meninggalkan negara sebagai seorang pangeran muda untuk memperoleh penyembuhan yang cepat (instant remedy, obat mujarab) bagi usia tua dan kematian, kembali dengan delapan jalan ke Nirwana yang terkenal. Andaikan ada jawaban siap pakai bagi teka-teki alam semesta, guru-guru agung seperti Buddha sudah pasti akan menyerahkannya kepada dunia. Karena jawaban-jawaban mereka samar-samar (ambiguous) bagi hampir semua dari kita, kita harus menghadapi kenyataan bahwa kebenaran terakhir ada di luar pikiran dan di luar persepsi dualitas.

Dewasa ini, terikat pada kursi rodanya, tidak mampu bicara karena dilumpuhkan oleh satu penyakit yang tak dapat disembuhkan, ahli phisika Inggris yang besar Stephen Hawking mencari Grand Unification Theory (sekali lagi, apa ini terjemahannya, teman-teman phisikawan mungkin bisa bantu, pen.) yang akan menjelaskan semua teka-teki alam semesta. Apakah ia akan berhasil? Apakah ia akan sanggup membuka kunci misteri alam semesta? Ini sebuah pertanyaan yang berharga satu miliar dolar. Alam semestanya Isaac Newton sudah sempurna, linear dan dapat diduga. Alam semestanya Einstein jadi agak tidak dapat diduga dan mengambil satu pola gelombang (took on wave patterns, nah ini lagi?pen.). Para ilmuwan dewasa ini menyatakan bahwa alam semesta agak kacau dan tak dapat diduga.

APAKAH AYAH BETUL-BETUL BERPENDAPAT BAHWA KATA-KATA DAPAT SALAH DITERJEMAHKAN DAN SALAH DIMENGERTI?

Ya memang. Karena kekurangan kata-kata dalam bahasa Aramaik, Kristus dipaksa menggunakan kata-kata seperti “Kerajaanku,” dan “Aku adalah Raja” untuk menjelaskan kebenaran yang halus mengenai spritualitas kepada rakyat. Tapi kata-kata yang sama itu membuat orang-orang Roma marah, karena ‘kerajaan” dan “raja” memiliki arti yang sama sekali berbeda bagi mereka.

Lihat pada kehidupan para Sufi. Seperti guru-guru Hindu yang sudah mendapat pencerahan mengatakan “Aku Brahman” (Jiwa), masing-masing dari mereka (para Sufi itu) mengatakan “Aku Tuhan”. Tapi kaum fundamentalis Islam pada zaman itu tidak dapat menangkap makna sejati dari ucapan kaum Sufi besar itu, dan semua Sufi itu dihukum mati. Sepanjang sejarah kamu dapat menemukan banyak contoh dari kesalah-pahaman semacam itu yang disebabkan oleh kemiskinan vokabulari dalam bahasa. Kristus berkisah dengan parabel, dan kita juga mempunyai kisah-kisah mitologis untuk menjelaskan kebenaran yang halus dari alam. Aku rasa andaikata Krishna, Buddha atau Kristus datang kembali dewasa ini, mereka akan menggunakan elektron, DNA, elektromagnetik dan konsep-konsep ilmiah lain untuk menjelaskan kebenaran yang halus itu.

AYAH, APAKAH ANDA PIKIR SEJARAH DAN TRADISI MEMILIKI PERANAN PENTING DALAM SETIAP KITAB SUCI AGAMA?

Tepat demikian adanya. Sejarah agama Hindu berkembang secara amat perlahan. Itulah sebabnya mengapa dalam Rig Weda, kita melihat satu masyarakat nomad yang baru menetap di tepi-tepi sungai Indus, menyembah segala macam dewa-dewa alam dan mengatakan : “Pada akhirnya, siapa yang tahu, siapa yang dapat mengatakan dari mana semuanya ini datang dan bagaimana penciptaan terjadi?”

Lihatlah kitab suci yang paling tua, Manusmerti. “Hukum Manu” sesungguhnya adalah sejarah dari suatu masyarakat nomad yang berakar pada tepi-tepi Sungai Indus. Selama periode Rig Weda bangsa Arya selalu terlibat dalam peperangan, dan minum dan judi merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya mereka. Yang meminum Sura dikenal sebagai Para Sura atau Dewa, dan yang menolak meminum minuman ini dikenal sebagai Asuras. Kamu akan melihat bahwa Manu membatasi kebebasan manusia dalam berbagai cara. Dia juga meletakkan dasar-dasar sistem kasta.

Sama halnya, lihat dalam Exodus di Perjanjian Lama. Dalam menceritakan kepada kita eksodus dari orang Jahudi dari Mesir, kitab ini menggambarkan satu masyarakat yang mengampuni perbudakan. Perjanjian Lama adalah sejarah sebenarnya dari orang Jahudi pada zaman itu. Jadi saya sepenuhnya setuju dengan kamu, hampir semua kitab suci di dunia ini merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah dan tradisi.

APAKAH METAPORA MERUPAKAN SATU BAGIAN DARI KITAB SUCI?

Mungkin banyak yang tidak setuju denganku, tapi aku harus mengatakan bahwa metapora merupakan bagian utuh dari kitab suci semua agama. Penyair dalam diri orang suci telah mengambil bagian dan menulis ketentuan-ketentuan atau isi dalam hampir semua kitab suci agama-agama dunia. Kita akan segera menemukan baris-baris yang sama seperti “Pemakan Teratai” (Lotus Eaters) dari Tennyson dalam semua kitab suci agama-agama dunia.

Karena itu kitab-kitab suci agama-agama harus di scan untuk mendapat arti yang tepat dari pada mengangap benar setiap kata yang tertulis. Kita akan melakukan kesalahan yang amat besar kalau kita mencoba manganalisis arti harfiah dari kitab-kitab suci itu. Sesungguhnya, pada tanggal 14 Desember 1990, Paus Johanes Paulus II mengingatkan orang-orang Kristen atas penerjemahan secara literal dari Bible. “Buku-buku dari Bible memiliki Tuhan sebagai pengarang, tetapi manusia yang menyusun buku-buku itu juga adalah pengarang yang sebenarnya.” Dia menambahkan bahwa arti esensial dari Bible akan hilang dalam terjemahan yang didasarkan secara tegas pada fakta-fakta yang dapat diamati.

APAKAH ANDA MENGATAKAN BAHWA ADA SEORANG PENYAIR DALAM SETIAP ORANG SUCI (NABI, RASUL, MAHARESI), DAN BAHWA SEMUA TULISAN-TULISAN DAPAT TERDIRI ATAS KEBENARAN DAN JUGA UNSUR-UNSUR DARI IMAGINASI ORANG SUCI ITU?

Kamu mengatakan hal itu dengan benar. Aku tidak akan dapat mengatakan dengan kata-kata yang lebih baik. Jadi semua kitab suci tidak harus diikuti kata demi kata, tapi kitab-kitab suci itu discan untuk menemukan kebenaran. Ini berlaku untuk agama Hindu dan semua agama lain termasuk agama Kristen.

AYAH, SIAPAKAH ORANG ATHEIS ITU? APAKAH ORANG ATHEIS DAN ORANG AGNOSTIK ITU SATU DAN SAMA?

Kata “theism” berarti “percaya pada Tuhan atau Dewa-Dewa.” Jadi kata “atheism” berarti tidak adanya keyakinan akan Tuhan, atau keyakinan bahwa Tuhan atau Dewa-Dewa itu tidak ada dalam bentuk apapun. Jadi secara singkat, seseorang yang tidak percaya pada adanya Tuhan adalah seorang atheis.

Seorang agnostik, pada sisi lain, adalah seorang yang percaya bahwa ada sesuatu di luar pikiran manusia. Seorang agnostik mungkin percaya mungkin pula tidak percaya pada Tuhan. Jadi seorang agnostik bisa seorang theis atau seorang atheis. Istilah “gnostic” atau “agnostic” dibuat oleh philsuf-pemikir Thomas Huxley pada tahun 1869. “Gnostic” berasal dari akar kata “gnosis”, artinya “mengetahui” (to know).

Penjelasan terbaik dari kedua istilah ini terdapat dalam Catholic Encyclopedia sebagai berikut : “Seorang agnostic bukanlah seorang atheis. Seorang atheis menolak keberadaan Tuhan, sesorang agnostik mengakui ketidak-tahuannya mengenai keberadaaan Tuhan. Bagi orang agnostik, Tuhan mungkin ada, tapi akal tidak dapat membuktikan keberadaan atau ketidak beradaanNya.”

APAKAH ANDA HENDAK MENGATAKAN KEBANYAKAN ORANG ADALAH AGNOSTIK?

Saya hendak mengatakan beberapa intelektual agnostik, tapi pada saat yang sama, kebanyakan massa yang tidak terdidik adalah orang-orang beriman. Kebanyakan agama menggunakan ketakutan kepada Tuhan dan neraka untuk membuat rakyat percaya kepada agama itu. Tapi hal ini tidak akan pernah kamu temui dalam agama Hindu, dimana seorang yang percaya, seorang atheis dan seorang agnostik dapat hidup berdampingan dengan bahagia. Mari kita lihat kasus Bertrand Russell. Banyak yang melihat dia sebagai seorang atheis, tapi ia sesungguhnya seorang agnostik. Dia mempertanyakan segalanya tapi ia tidak pernah sampai pada satu kesimpulan. Satu-satunya kesalahan yang ia lakukan adalah menulis satu buku berjudul “Why I Am Not a Christian.” Dia seharusnya tidak memberi judul bukunya seperti itu, sebab ia tidak memiliki hak untuk melukai perasaan jutaan pemeluk teguh agama Kristen di seluruh dunia. Dia seharusnya memberi judul bukunya “The Doubts I Have About World Religions.” Itu akan menyelamatkan dia dari kritik-kritik yang tidak perlu dari berbagai pusat-pusat agama dan juga penolakan terhadap tugas mengajar di New York City College.

Bagaimanapun aku kira dia tidak pernah menulis bahwa Tuhan itu tidak ada. Karena itu akan berlawanan dengan gayanya, menolak atau menyetujui sesuatu yang ia sendiri tidak memiliki ide atau definisinya. Russell tidak menolak Tuhan, karena ia tidak dapat mendefinisikan Tuhan. Dari sudut pandang agama Hindu, orang bisa menghormati dan mengagumi orang-orang seperti Russell, Freud dan Darwin.

Agama Hindu memiliki saham dalam atheisme dan agnotisme. Philsafat Charvaka dan pada sisi tertentu philsafat Vaisesika mempertanyakan keberadaan dari satu Tuhan personal (Saguna Brahman, pen). Reshi Kanada, pendiri dari philsafat Vaisesika, hanya menyebut Tuhan dengan “Itu” (That, Tat, pen) dalam seluruh tulisannya.

AYAH, APAKAH ANDA BERMAKSUD MENGATAKAN BAHWA SEORANG AGNOSTIK AKAN MENJADI AGNOSTIK UNTUK SELAMANYA?

Seluruh kitab suci Hindu menunjuk pada kenyataan bahwa agnotisisme merupakan titik awal dari pencarian kebenaran tanpa lelah. Sama seperti sesendok garam pergi mencari kedalaman sasmudra dan menjadi bagian tak terpisahkan dari samudera itu, seorang agnostik akhirnya akan menemukan kebenaran sejati bila ia tetap teguh dalam pencarian kebenaran itu. Tapi sama seperti Buddha, dia tidak akan sanggup menjelaskan kepada dunia kebenaran yang ia temukan,karena kebenaran itu berada diluar batasan atau perbandingan. Saya rasa kebanyakan agnostik akan menjadi pribadi seperti J. Krishnamurti dan Buddha, asalkan saja mereka tidak mencoba mencari jawaban-jawaban intelektual atas teka-teki alam semesta. Sebagai seorang anak yatim-piatu, Krishnamurti dipungut oleh mendiang Annie Besant untuk menjadi pemimpin besar dari Theosphical Society. Tapi bersama dengan berjalannya waktu Krishnamurti mengatasi (transcend) semua kedudukan dan kekuasaan dan mempertanyakan integritas dari segala sesuatu dalam setiap agama. Akhirnya ia menjadi sebuah lembaga sendiri dalam dirinya, tanpa ego setitikpun . Tentu saja, Krishnamurti bukan sama sekali agnostik. Dia adalah seorang ahli logika (logician) dengan kemampuan yang sangat besar. Jadi sejauh menyangkut agama Hindu, agnotisme adalah titik awal dari pencarian kebenaran tanpa kenal lelah.

AYAH, APAKAH ANDA PERCAYA PADA TUHAN?

Anakku, aku datang dari keluarga yang sangat religius dan karena itu aku percaya pada Tuhan dan kadang-kadang bahkan percaya pada Tuhan yang sangat bepribadi (Saguna Brahman). Kadang-kadang aku lihat Tuhan sebagai satu entitas (pribadi) tanpa perasaan atau kesadaran. Sesuai dengan tempat dan waktu, konsepku mengenai Tuhan berobah. Ketika aku masih remaja aku tidak mempunyai masalah dengan memvisualisasikan “Dia” sebagai Batara (Lord) Krishna, ketika aku menjadi lebih tua aku mulai melihat “Dia” sebagai sumber kekuatan, sesuatu di luar imajinasiku yang paling liar sekalipun. Tentu saja, aku tidak ada masalah mendengar seseorang yang menjelaskan “Dia” sebagai Batara Krishna atau Yesus atau Allah atau Jehovah atau Buddha atau sesuatu yang lain, tidak pula aku keberatan mendengar orang yang menjelaskan “Dia” sebagai suatu yang tanpa bentuk, tidak musnah, abadi, tidak lahir, entitas yang tidak terjelaskan. Satu hal aku tahu dengan yakin. Kita semua adalah bagian utuh dari alam. Kita hanya sekedar alat dari entitas atau energi atau kekuasaan yang tidak kita ketahui atau sesuatu yang tak dapat didefinisikan. Pada satu sisi kita hanyalah kumpulan dari bahan-bahan kimiawi, hanya rangkain DNA. Pada sisi lain kita adalah satu entitas yang memiliki kesadaran.

Sejujurnya, aku dalam kesesatan total (total loss) bilamana aku berpikir tentang Tuhan. Untuk memulai, aku tidak tahu harus mulai dari mana, dan makin banyak aku membaca tentang “Dia”, makin banyak aku belajar tentang sains modern, makin sadar aku tentang Tuhan dan alam semesta. Itu tidak berarti bahwa agama mempunyai semua jawaban. Semua agama-agama dunia tidak menjelaskan secara tuntas banyak dari prinsip-prinsip utama mereka. Namun demikian, kekurangan jawaban-jawaban yang wajar membuatku menjadi manusia yang rendah hati. Dewasa ini, aku tahu dengan pasti bahwa kita hanya tahu sedikit sekali mengenai diri kita dan alam semesta.

Kelahiran dan Perkembangan Agama Hindu

SIAPAKAH PENDIRI AGAMA HINDU?

Secara khusus tidak ada. Ia adalah hasil riset dari banyak para maharesi yang tidak diketahui, semua mereka adalah guru-guru seperti atau setara Kristus.

KAPAN AGAMA HINDU LAHIR?

Waktu yang tepat tidak dapat dipastikan. Ada banyak teori mengenai kelahiran agama Hindu. Bila kamu melihat dari kisah-kisah mitologi Hindu, maka agama Hindu adalah agama yang sudah berumur triliunan tahun. Beberapa mengatakan agama Hindu mulai segera setelah berakhirnya zaman es. Beberapa mengatakan awal agama Hindu adalah 6000-7000 tahun sebelum masehi. Beberapa teolog seperti Max Muller dari Jerman melacak awal agama Hindu pada milenium ketiga sebelum masehi. Menurut teori ini, suku-suku nomad dari Eropa turun ke India dan menetap di tepi-tepi sungai Indus, Gangga, dan Brahmaputra. Suku-suku bangsa ini disebut Arya (Orang Mulia, Noble One). Setelah mereka menetap, mereka memulai suatu “proses berpikir”, yang belakangan dikenal sebagaiagama Hindu.

Siapa sesungguhnya yang memulai proses berpikir ini di India? Apakah suku nomad Arya yang menetap di India memulai ini, atau ini sesungguhnya dimulai oleh orang-orang India dengan kulit gelap yang dikenal dengan nama Dravidia, yang telah hidup di India sebelumnya? Ini pertanyaan seharga jutaan dolar. Menurut banyak teolog Hindu, pengetahuan telah senantiasa ada di India sejak zaman dahulu kala. Menurut mereka, pemukim awal di India Utara mencampur pengetahuan mereka dengan peradaban dari orang-orang kulit-gelap di India Selatan, orang-orang Dravidia, dan dengan itu memulai agama Hindu.

Penemuan yang amat mengagumkan mengenai peradaban lembah Indus di Mohenjodaro dan Harappa bertanggal 6000-7000 tahun sebelum masehi. Penggalian Mohenjodaro dan Harappa menyatakan peradaban lembah Indus bukan saja non-Aryan tapi juga mendahului peradaban Arya (pre-Aryan) berdasarkan pada : (a) keberadaan kota-kota yang indah, (b) ketiadaan dari baja dalam kota-kota ini, dan (c) ketiadaan kuda. Dari artifak yang diangkat di Harappa, kita tahu dewasa ini bahwa orang-orang lembah Indus memuja Tuhan Siwa atau Tuhan Rudra, memuja dewi pertiwi, membanguan tempat-tempat permandian ritual, mempraktekan Yoga, dan mempunyai lubang api (tungku perapian). Kota-kota ini mempunyai jalan yang dipaving dan saluran-saluran air di bawah tanah.

Menurut beberapa teolog lain, orang-orang dari peradaban Maya adalah pelaut-pelaut ulung dan sekali waktu menaklukan satu bagian dari anak benua India, yang mengakibatkan percampuran peradaban Maya dengan Arya. Walmiki dalam epiknya yang indah Ramayana merujuk kepada invasi Danawa terhadap India. Beberapa orang percaya bahwa Danawa tersebut sesungguhnya adalah orang-orang Maya. Dalam epik yang lain, Mahabarata pahlawan Arjuna berperang melawan Danawa di Hiranyapura. Beberapa orang percaya orang-orang Maya menulis Sourya-siddhanta, satu risalah kuno mengenai astronomi di India.

Orang-orang Dravidia mungkin telah memulai “proses berpikir” mengenai agama Hindu, tapi kemudian dipengaruhi oleh peradaban orang-orang Arya, Maya, Mesir dan Yunani. Beberapa hal mengindikasikan hal itu :

“Hanya ada satu Tuhan, tapi Tuhan itu dinyatakan dalam bentuk yang berbeda-beda”, mungkin merupakan anak dari peradaban Mesir.

Teori mengenai hidup sesudah mati mungkin merupakan ide Mesir yang digarap lebih lanjut oleh orang Yunani dan akhirnya menjadi bagian tak terpisahkan dari peradaban Arya.

Rudra, Tuhan Pemusnah yang dipuja oleh orang-orang Arya, sesungguhnya adalah dewa Dravidia . Rudra belakangan dikenal dengan nama Siva dalam kitab-kitab suci Hindu yang kemudian.

Dewa-dewa seperti Waruna (air) Bayu (udara) memiliki kesejajaran dengan mitologi Yunani.

Dewasa ini, semua agama-agama besar dunia adalah campuran dari pikiran-pikiran dan ide-ide yang bertentangan satu sama lain. Sama halnya dengan agama Kristen adalah campuran yang kompleks dari Agama Yahudi, Platonism (phalsafah Plato), Gnoticism, dan agama asli Romawi. Sesungguhnya, menurut Encyclopedia Britanica, Teolog Kristen awal Augustine dari Hippo (354-439 AD), “mencampur agama dari Perjanjian Baru dengan tradisi Platonic dari philsafat Yunani.” Kebanyakan pengaruh agama-agama asli (pagan) terjadi setelah Kaisar Roma Constantine (306-327 AD) menjadi seorang penganut Kristen pada tahun 312 AD.

AYAH, BAGAIMANA AWAL AGAMA HINDU?

Menurut kitab-kitab suci Hindu, agama Hindu mulai dengan Sruti. Sruti secara harfiah berarti “itu yang didengar.” Para ilmuwan besar waktu itu yang disebut Reshi yang telah menyempurnakan diri mereka dengan meditasi dikatakan mendengar dalam hati mereka kebenaran-kebenaran yang abadi, dan kebenaran ini diajarkan kepada para murid mereka secara telepathi. Untuk waktu yang sangat lama tidak ada buku untuk merekam hal ini. Weda-Weda dan Upanishad dalam bentuk Sruti untuk jangka waktu yang cukup lama. Sesungguhnya kata Upanishad berarti Upa (dekat), Ni (di bawah), Shad (duduk). Ini berarti pengajaran Upanishad disampaikan oleh Guru ketika para murid-muridnya duduk dekatnya.

Menurut para teolog Kristen, Bible adalah kitab suci yang mendapat inspirasi dari Roh Kudus (Holy Spirit). II Peter 1:21 terbaca : “Sebab ramalan zaman dahulu tidak datang dari kehendak manusia; tapi dari orang suci dari Tuhan yang berbicara ketika mereka digerakkan oleh Roh Kudus (Holy Ghost). II Timothy 3:16 mengatakan bahwa “Semua kitab suci diberikan oleh Inspirasi Tuhan (All scripture is given by inspiration of God).

Demikian juga halnya, semua kitab-kitab Sruti dianggap sebagai wahyu kebenaran Tuhan. Kitab-kitab Weda, menurut satu aliran philsafat (Nyaiyayikas), disusun oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Menurut aliran philsafat Mimamsa, semua kitab-kitab Sruti telah ada secara abadi dalam bentuk suara. Karena itu suara dari kata-kata Weda-Weda dan Upanishad-Upanishad adalah sangat penting.

APAKAH NAMA AWAL DARI AGAMA HINDU?

Sanatana Dharma, artinya “kebenaran yang abadi” (“righteousness forever”) dari “yang tidak memiliki awal dan akhir” adalah nama aslinya. Adalah orang-orang Persia yang menyerbu India pada abad 6 sebelum masehi, yang memberikan nama Hindu. Kata ini berasal dari akar kata “Indus”. Beberapa ahli mengatakan kata ini berasal dari satu kata Persia yang berarti “sungai rakyat.”

Dengan nama Sanathana Dharma, agama Hindu menyatakan dirinya kepada dunia bahwa kebenaran abadi akan ada untuk selamanya, dan para Rishi kebetulan yang pertama-tama membuka kerannya. Santo Agustinus pada bagiannya mengatakan, “Agama yang benar sudah (senantiasa) ada dan (agama yanag sudah ada itu, pen) menjadi Kristen setelah kemunculan Yesus Kristus.” Demikianlah kebenaran yang sama dapat ditemukan oleh siapa saja yang mencari kebenaran itu tanpa mengenal lelah, bahkan kalaupun dia sama sekali tidak memiliki ide mengenai agama Hindu.

Sama seperti para ilmuwan di seluruh dunia, sewaktu-waktu tanpa sengaja menemukan penemuan yang sama, kebenaran abadi dikenal oleh para Sufi, Buddha, Socrates, Nanak dan lain-lain sekalipun mereka tahu ataupun tidak tahu sepatah katapun mengenai kitab-kitab suci Hindu. Secara pribadi aku merasa Sanathana Dharma adalah nama yang paling tepat bagi Agama Hindu.

DALAM BAHASA APAKAH KITAB-KITAB SUCI HINDU DITULIS?

Sansekerta. Bahasa ini adalah bahasa kuno seperti bahasa Ibrani dan Latin. Sansekerta memiliki lima puluh dua alphabet, dan percaya atau tidak, kata-kata pertama dari bahasa Inggris, “father” dan “mother” berasal dari kata-kata Sansekerta “pitha” dan “mata” menurut buku “The Story of English.” Hampir semua dari enambelas bahasa-bahasa di India berasal dari bahasa Sansekerta.

APAKAH SEMUA KITAB-KITAB SUCI HINDU DISUSUN OLEH PENGARANG KHUSUS?

Kita hanya mempunyai dugaan-dugaan spekulatif mengenai kepengarangan dari kitab-kitab suci Hindu yang berbeda. Hampir semua kitab-kitab suci Hindu disusun oleh penyusun anonim. Melalui semua kitab-kitab suci Hindu kita dapat melihat para penyusun itu mencoba dengan penuh pertimbangan untuk menghindari mencantumkan nama mereka.

Lagi pula, termasuk Bagawad Gita, semua kitab-kitab suci Hindu disusun dengan bentuk penceritaan oleh pihak ketiga. Dalam Bagawad Gita, Batara Krishna (orang pertama), menasehati pangeran-pahlawan Arjuna (orang kedua), dan nasehat itu didengar dan dilihat secara telepathi oleh seorang suci (santo) yang bernama Sanjaya (orang ketiga) dan dikisahkan kepada Raja Dhartharashtra (orang keempat).

Epik yang lain, Ramayana, ditulis sebagai sebuah narasi tentang kisah Batara Rama oleh seekor burung kecil yang baru saja kehilangan kekasihnya karena anak panah seorang pemburu jahat. Kitab suci Yoga Vasishta yang berasal dari Ramayana adalah sebuah diskusi antara Batara Rama dan Rishi Vasishta. Narasi yang paling dramatik dapat kita temukan dalam Srimad Bagawatam, dimana Rishi Suka menjelaskan seluruh kisah dari sepuluh Awatara Wisnu kepada Raja Parikesit yang kena kutuk dalam tujuah hari. Pada hari ketujuh Raja Parikesit dibunuh oleh naga Thaksaka.

Secara tidak langsung Srimad Mahabhagawatam menyatakan kepada dunia bahwa semua dari kita seperti Raja Parikesit yang kena kutuk, hidup di dunia ini dengan waktu yang sangat terbatas, maka pencarian (pengejawantahan) Tuhan adalah tugas yang paling penting bagi kita semua.

Tak ada seorangpun dapat mengatakan dengan jelas mengapa upaya yang penuh pertimbangan untuk menyembunyikan penyusun kitab-kitab suci ini dilakukan oleh hampir semua para orang suci Hindu itu? Barangkali ini dimaksudkan untuk menghindari munculnya ego yang tidak perlu, atau ini mungkin suatu pernyataan kepada dunia bahwa semua kisah-kisah ini adalah kebenaran abadi dan sebagai demikian tidak perlu ditanyakan mengenai pengarangnya.

APAKAH AGAMA HINDU MEMBINGUNGKAN DAN BERTENTANGAN SATU SAMA L AIN?

Sama sekali tidak. Bagi seorang yang membaca kitab-kitab suci Hindu secara tergesa-gesa, agama Hindu mungkin tampak agak membingungkan dan bertentangan satu sama lain. Tetapi bagi seseorang yang belajar dengan sungguh-sungguh atau melakukan penelitian terhadap kitab-kitab suci ini, agama Hindu berdiri sebagai satu sosok kebenaran (embodiment of truth). Karena agama Hindu merupakan proses pikir yang berkembang dengan perlahan, di dalamnya kamu dapat melihat keberadaaan dari agama-agama primitif dan juga agama-agama yang sangat maju. Memang agama Hindu mengijinkan ratusan dari pemikiran-pemikiran yang secara harfiah tampak bertentangan satu sama lain hidup bersama di dalamnya. Agama Hindu sama seperti sains modern. Persis seperti ratusan ilmuwan di seluruh dunia sedang melakukan penelitian atas ide-ide berbeda yang kadang-kadang kelihatan bertentangan satu sama lain, dalam agama Hindu para Rishi dahulu merenungkan unsur-unsur yang bertentangan dari teka-teki alam semesta.

Agama Hindu tidak pernah melakukan “pembersihan rumah” (house cleaning) dalam lima ribu (5000) tahun sejarahnya. Itu sebabnya mengapa ia tampak sebagai sup besar. Pada satu sisi kamu melihat moralitas yang sangat ketat, pada sisi lain kamu lihat erotisme Tantrik. Pada satu sisi ada Tuhan Pribadi (Saguna Brahman), pada sisi lain agama Hindu bicara tentang satu Brahman yang tidak memiliki perasaan. Agama Kristen, pada bagiannya, melakukan pembersihan rumah secara tahunan (yearly house cleaning) sejak awal ia lahir. Sejak Sidang di Niccaea pada tahun 325 A.D, agama ini melempar keluar siapa saja yang tidak mengikuti ajaran-ajaran Gereja secara harfiah. Itulah sebabnya mengapa Saksi Jehova dan Mormon ada di luar (mainstream) agama Kristen.

Lagi pula, kontradiksi ada dalam setiap kitab-kitab suci agama-agama dunia. Perjanjian Lama bertentangan secara langsung dengan Perjanjian Baru dalam banyak aspeknya. Bila Perjanjian Baru bicara mengenai “memberikan pipi yang lain” ketika dipukul, Perjanjian Lama bicara mengenai ideologi “satu mata lawan satu mata.” Bila Perjanjian Lama bicara secara rinci mengenai segala macam aspek aktivitas seksual, termasuk incest (hubungan seks ayah dengan dua orang putrinya, kisah nabi Luth, pen), Perjanjian Baru memegang standar moralitas yang sangat tinggi. Tuhan dari Perjanjian Lama menuntut dan mengijinkan korban manusia. Tapi kamu akan melihat satu Tuhan yang penuh kasih dan pengertian dalam Perjanjian Baru. Disamping itu semua, Injil dari Santo Thomas (“Doubting Thomas”) agak berbeda dari Injil Mattew, Mark, Luke dan John. Memang, Injil dari Santo Thomas tidak dimasukkan dalam Perjanjian Baru, mungkin karena perbedaan-perbedaannya dengan Injil-Injil yang lain.

Sekali lagi, adalah salah untuk menilai suatu kitab suci dunia ini hanya dengan mengutip satu baris dari sana sini. Kita harus melihat pada ide-ide pokok dari seluruh kitab-kitab suci dan tidak arti kata dari tiap baris tertentu.

APAKAH HINDU SEBUAH AGAMA SEPERTI KRISTEN?

Tidak. Agama Hindu lebih merupakan cara hidup dari pada sebuah agama yang khusus. Seperti telah kukatakan sebelumnya kepadamu, dalam agama Hindu kamu dapat menemukan semua agama-agama dunia. Jain, Buddha, Sikh lahir dari agama Hindu. Agama Sikh dibentuk oleh Guru Nanak dengan menggabungkan hal-hal baik dan penting dari agama Hindu dan Islam.

Sama halnya, Kristen dan Islam datang dari agama Yahudi. Adalah dari agama Yahudi baik Kristen maupun Islam mewarisi banyak prinsip-prinsip moral, dan praktek-praktek agama. Tanpa mempelajari agama Yahudi, adalah sangat sulit bagi orang untuk mempunyai gambaran yang jelas mengenai Kristen maupun Islam. Sesungguhnya, aku hendak menyimpulkan bahwa agama Hindu dan agama Yahudi adalah dua ibu dari seluruh agama-agama dunia.

AYAH, APAKAH ASPEK YANG PALING PENTING DARI AGAMA HINDU?

Karena ada banyak aspek dari agama Hindu, sulit sekali untuk mengatakan bahwa satu aspek lebih baik dari aspek yang lain. Namun, aku rasa bersikap benar terhadap diri sendiri adalah aspek yang paling penting dari Agama Hindu.

MANA YANG LEBIH MUDAH, MENJADI ORANG PERCAYA ATAU ORANG TAK PERCAYA?

Agak mudah untuk menjadi orang tak percaya. Katakan saja, “Aku tak ingin mendengar itu; aku tak percaya apapun yang kamu katakan,” tutup pikiranmu terhadap kebenaran, dan seperti burung unta menyembunyikan kepalanya dalam timbunan pasir. Untuk menjadi orang percaya sejati orang harus berpikir dan mengkaji semua wilayah pemikiran. Batara Krishna berkata “Bagi mereka yang ragu-ragu tidak ada kebahagiaan baik di dunia ini maupun di dunia sana. Keragu-raguan datang dari kebodohan dan harus dihancurkan dengan pedang ilmu pengetahuan.” (Bagawad Gita 4:40,42).

APAKAH KAMU HARUS PERCAYA PADA AGAMA HINDU UNTUK MEMPELAJARINYA?

Sama sekali tidak. Kamu dapat mempelajari agama Hindu seperti kamu mempelajari matematika, phisika atau kimia. Kamu bahkan tidak perlu percaya dengan Tuhan Pribadi (Saguna) atau Tuhan Takberpribadi (Nirguna). Kamu hanya perlu memiliki pikiran terbuka dan siap untuk mengeksplorasi wilayah-wilayah baru pemikiran. Inilah semuanya yang diperlukan oleh seseorang yang ingin mempelajari agama Hindu.

Sejauh pemahamanku, mempelajari agama Hindu seperti melihat melalui sebuah kaleidoskop raksasa. Setiap kali kamu menggoyang satu kaleidoskop, kamu melihat satu gambar yang berbeda. Sama halnya, setiap kali kamu mempelajari agama Hindu kamu akan bertemu dengan satu pemikiran yang berbeda.

AYAH, MENURUTMU APA YANG MENARIK DARI AGAMA HINDU?

Yang utama adalah kebebasan berpikir. Itulah yang menarikku pada agama Hindu. Dimana lagi kamu dapat melihat Krishna, Buddha (yang mempertanyakan otoritas Weda-Weda), Adi Sankara (yang merevolusi pemikiran dalam agama Hindu) dan Charvaka (yang menciptakan phalsafah materialistik) dan semuanya diperlakukan dengan rasa hormat yang sama? Andaikata Buddha dan Sankara lahir dalam agama lain, mereka sudah dibakar hidup-hidup. Lihat apa yang terjadi pada Socrates dan William Tyndale. Lihat apa yang terjadi terhadap Sufi suci (a.l Al-Hallaj,di Irak, Seh Siti Jenar di Jawa, pen) ketika mereka mengatakan diri mereka adalah Tuhan, sama seperti mantra “Aham Brahmasmin” (“Aku Brahman atau Aku Tuhan.”). Semua mereka itu dihukum mati karena pemikiran bebas mereka.

Jadi dalam agama Hindu kamu dapat berdebat mengenai subyek apapun dan kamu tidak harus menerima apapun sampai kamu sepenuhnya yakin akan kebenaran di baliknya. Sekali lagi, agama Hindu tidak memonopoli ide-ide. Ide-ide adalah hukum tak tertulis dari alam semesta; mereka terbuka kepada semua orang yang mencari kebenaran tanpa kenal lelah.

APA YANG MEMBUAT AGAMA HINDU MENJADI SUNGGUH-SUNGGUH BESAR?

Agama Hindu adalah sebatang pohon beringin besar. Dari ‘saka-saka’nya (lengan-lengannya) orang dapat melihat prinisp-prinsip dari semua agama-agama besar dunia. Yoga penyerahan diri secara total yang dikatakan oleh Yesus dapat orang lihat dalam Bagawad Gita. Pernyataan sufi bahwa “Aku adalah Tuhan (Anna al Haq) orang dapat melihatnya dalam Upanishad sebagai “Aham Brahmasmin”. Pernyataan Lao-Tse bahwa segalanya adalah Tao dapat dilihat sebagai “segalanya adalah Brahman” dalam Upanishad.. Hanya dalam agama Hindu orang dapat melihat kehadiran bersama yang aneh dari seorang atheis, seorang agnostik dan seorang theis. Bila Socrates dan kaum Sufi dihukum mati di Barat dan Timur Tengah, di India kita mengagumi Buddha, yang tidak mengakui otoritas Weda-Weda, dan mentoleransi Charvaka, yang meremehkan Weda-Weda dan menyerang keberadaan Tuhan. Jadi mari kita hadapi ini.

Agama Hindu mengakui kenyataan bahwa rakyat berada pada level yang berbeda. Hal-hal tidak berlaku kepada semua orang dalam cara yang sama. Ibuku bisa ‘trance’ hanya karena melihat gambar Batara Krishna. Tapi untuk kamu dan aku, itu tidak terbayangkan. Aku dapat menghargai syair-syair Sansekerta dalam Mahabarata, tapi bagimu mungkin itu sulit. Inilah alasannya mengapa agama Hindu, yang berisi ratusan ide-ide, akan menarik bagi semua orang.

AYAH, BAGAIMANA SEBENARNYA IDE HINDU MENGENAI TUHAN?

Hindu percaya pada satu Tuhan yang diekspresikan dalam bentuk-bentuk yang berbeda. Agaknya, bahwa Tuhan tidak dapat dibandingkan dengan apapun yang diketahui manusia. Orang Hindu tidak percaya Tuhan memiliki bentuk seperti manusia sebagaimana dijelaskan dalam mitologi atau Kitab Kejadian dalam Injil. Tidak akan salah untuk mengatakan bahwa Tuhan tidak membuat manusia dalam citraNya sebagaimana dikatakan oleh Perjanjian Lama, tapi sebaliknya manusia membuat Tuhan sesuai dengan citra (manusia itu). Tuhan sesungguhnya entitas yang abadi dan tanpa bentuk. Sama seperti Allah dalam Islam, Tao dari Taoisme, dan Ayin dari Kabbalah tidak mempunyai definisi, Tuhan dalam agama Hindu juga tidak memiliki batasan. Dalam Kabbalah, mistikisme dalam agama Yahudi, Ayin artinya “nothing” (tidak ada apapun). Ayin berada di luar eksistensi. Ayin tidak memiliki sifat-sifat. Ketika Moses bertanya kepada Tuhan, “Siapa Engkau?” jawaban datang dari semak yang sedang terbakar “Aku adalah Aku” (“I am what I am”). Itu dengan jelas membuktikan bahwa Jehovah (‘i am”) bukan mahluk dengan sifat-sifat menusia. Injil juga menyatakan bahwa “Tuhan adalah Jiwa” (God is spirit – John 4:23-24) dan dia yang memuja dia memuja jiwa. Psalm 139:7-10 menyatakan Tuhan adalah jiwa yang ada dimana-mana. Luke 24:39 menyatakan jiwa tidak memiliki daging dan tulang. Tidak ada kata-kata atau gambar-gambar yang dapat mengekspresikan kebesaran Tuhan Kembali kepada konsep Hindu tentang Tuhan, dapat dijelaskan lebih jauh sbb :

Semua datang dari satu Itu yang tidak dapat didefinisikan. Disebut Brahman (monisme). Buddhist tidak percaya pada Brahman. Mereka mengatakan hal-hal seperti itu tidak dapat didefinisikan secara tepat.

Segala sesuatu datang dari Itu, maka semua keberadaan (eksistensi) adalah baik dan suci (pantheism)

Hanya ada satu Tuhan (montheism)

Semua dari kita adalah Dewa-Dewa. Ini tentu saja seperti mengatakan bahwa bila kamu menganalisis satu titik air laut, maka kamu mengetahui segala sesuatu mengenai seluruh laut itu, atau bahwa bila kamu mengetahui sifat-sifat dari listrik yang ada dalam bohlam, maka kamu mengetahui segala sesuatu mengenai listrik.

Mencari Tuhan adalah seperti sesendok garam mencari dasar samudra.Pada saat garam itu menyentuh permukaan samudra, ia menjadi bagian tak terpisahkan dari samudra itu. Demikianlah halnya, seorang bhakta yang mencari Tuhan menjadi bagian dari Itu.

APA SESUNGGUHNYA PERBEDAAN ANTARA TUHAN DENGAN KITA?

Ini pertanyaan yang amat sulit untuk dijawab karena Tuhan berada dibalik semua batasan-batasan. Tapi sampai ukuran tertentu aku rasa jawabannya adalah mirip dengan energi yang ada dalam bohlam (bola lampu) dengan energi yang ada pada seluruh jaringan PLN. Energi dalam bohlam itu adalah merupakan replika yang tepat dari energi dalam seluruh jaringan, tapi energi dalam bohlam itu sangat kecil keculi ia secara terus-menerus menghubungkan dirinya dengan energi dalam jaringan. Demikianlah sekalipun kita memang Tuhan (Atman, unsur dari Brahman yang ada dalam diri kita, pen), kita tidak memiliki kekuasaan Tuhan kecuali kita menghubungkan diri secara terus-menerus dengan Tuhan. Hal itu hanya dapat di capai dengan menyerahkan diri individu kepada kehendak Tuhan. Ini lebih mudah diucapkan dari pada dilaksanakan.

APAKAH MASING-MASING DARI KITA MERUPAKAN TITIK PUSAT DARI ALAM SEMESTA?

Sejauh berkaitan dengan agama Hindu ide itu benar adanya. Kamu dan aku adalah titik-titik pusat dari alam semesta. Tapi “Aku” itu adalah satu. Jadi tidak ada lagi “kamu” dan “aku”. Tak ada lagi subyek dan obyek. Satu dan hanya satu …atau “aku” dengan alam semesta.

Teori mengenai alam semesta yang senantiasa bertambah luas (the expanding theory of the universe) mengatakan bahwa setiap titik dalam alam semesta yang senantiasa memperluas adalah pusat dari alam semesta, dan, menurut agama Hindu, setiap mahluk dalam alam semesta adalah focal point (titik pusat) dari mana alam semesta itu muncul.

Agama Hindu juga menyatakan bahwa setiap individu adalah satu Sukshma-Jagat, atau “dunia kecil” (microcosmos). Ia berasal dari keyakinan bahwa apapun yang ada dalam alam semesta juga ada dalam tubuh manusia. Manusia adalah bagian utuh dari alam semesta dan tubuh manusia dibuat dengan bahan yang sama dan sebagai demikian para orang suci Hindu mengatakan bahwa semua jawaban ada di dalam. Bila kita dapat memehami kekuatan-kekuatan yang ada di dalam, maka kita akan akan dapat memahami semua kekuatan-kekuatan dalam alam. Dalam Jahudi Kabbalah, manusia dipandang sebagai mahluk microkosmos, gambaran mini dari alam semesta. Kabbalah memiliki keyakinan yang mirip dengan agama Hindu bahwa tindakan-tindakan manusia mempengaruhi alam semesta, dan alam semesta pada gilirannya mempengaruhi kesejahteraan manusia.

APAKAH AGAMA HINDU MENYATAKAN BAHWA SEMUA KEBENARAN ADALAH ABADI?

Biar kukatakan ini dengan cara lain. Orang Hindu percaya bahwa ada kebenaran abadi dan dia terbuka untuk semua orang, bahkan sekalipun mereka tidak mengerti kitab-kitab suci dan ideal-ideal agama Hindu. Jadi seorang Kristen sejati, seorang Muslim sejati atau seorang Jahudi sejati secara otomatis adalah seorang Hindu sejati. Kebenaran-kebenaran ada untuk selamanya. Masing-masing nabi menemukan kebenaran-kebenaran itu secara independen dan menyampaikannya kepada dunia dalam bahasanya sendiri. Jadi apa yang disebut dengan kata “ciptaan” (invention) tidak sepenuhnya benar. Kita tidak dapat menemukan sesuatu yang tidak pernah ada dalam alam. Satu kata yang lebih baik agaknya “menemukan” (discover). Ernst Kapp, philsuf Jerman, menyatakan bahwa semua “ciptaan” (invention) sampai kepada komputer adalah perpanjangan alam dari hakikat manusia.

APAKAH BENAR SEPERTI DIKATAKAN BANYAK ORANG BAHWA AGAMA HINDU ADALAH AGAMA PRIBADI?

Memang benar demikian. Agama Hindu kalau saja seseorang ingin menyebut batasan-batasannya, memang sesungguhnya sebuah agama pribadi. Masing-masing orang Hindu sembahyang dan melakukan meditasi sendiri. Bhajan (menyanyikan lagu pujaan secara kelompok) adalah bagian dari perkembangan modern dalam agama Hindu. Tidak ada kata “pooja” dalam kitab-kitab Weda. Puja adalah satu bagian dari kitab-kitab mitologis dalam agama Hindu. Maharesi-maharesi besar biasa duduk dan sembahyang untuk masalah-masalah bersama dan kemudian pergi. Sembahyang semacam ini dikenal sebagai Yatna. Menurut agama Hindu, agama tiap orang adalah unik. Dia mencari ke dalam untuk semua jawaban, karena itu kita harus menyimpulkan bahwa agama Hindu adalah satu agama pribadi. Seorang Guru dapat saja seorang Raja Yoga dan muridnya bisa saja seorang Bhakti Yoga. Setiap orang mengikuti satu agama yang unik. Itulah keindahan dari agama Hindu.

APAKAH TUJUAN HIDUP DARI ORANG HINDU?

Tujuan Hindu dalam hidup secara populer dikenal sebagai Purusharta atau tujuan-tujuan manusia. Tujuan itu adalah Dharma (tingkah laku yang benar), Artha (kekayaan materi), Kama (cinta seks) dan Moksha (keselamatan). Semua manusia mencoba mencapai keempat tujuan-tujuan itu dalam hidup mereka.

APA YANG HARUS DIKATAKAN OLEH AGAMA HINDU MENGENAI PENCIPTAAN?

Menurut agama Hindu, penciptaan tidak memiliki awal dan akhir. Ia merupakan proses yang berlanjut. Lahir dan mati merupakan bagian utuh dari penciptaan. Miliaran galaksi lahir setiap hari dan miliaran juga menghancurkan dirinya sendiri tiap hari. Batara Nataraja, Dewa tarian dalam agama Hindu, adalah simbol dari siklus penciptaan dan penghancuran alam semesta.

Sesuai dengan prinsip ini, energi tidak dapat diciptakan atau dihancurkan. Orang-orang Hindu menggunakan kata manifestasi ketika bicara mengenai penciptaan. Penciptaan dimanifestasikan dari Prakriti, atau Alam, dan kemudian dia kembali ke tempat dari mana ia berasal. Saya sungguh-sungguh mengharapkan kamu sekarang mengerti dengan benar pandangan agama Hindu mengenai penciptaan.

APA SESUNGGUHNYA MASALAH KITA?

Sejauh yang aku tahu adalah ritme dari hidup, dan ketidaktahuan manusia mengenai fakta yang penting ini menciptakan semua masalah bagi dirinya. Bahkan Rig Weda, kitab suci pertama dari agama Hindu, bicara mengenai tatanan kosmik yang dikenal sebagai Rta. Dari merobah aliran listrik kepada segala sesuatu yang lain, hidup merupakan lingkaran dan juga ritmik. Segala sesuatu di dunia berdenyut. Lihatlah cahaya. Ia hanyalah satu bentuk dari radiasi elektromagnetik yang berjalan dalam gelombang yang berbeda-beda. Lao-Tse, mistikus China yang besar, mengajarkan bahwa dunia bergerak mengikuti satu pola suci yang terefleksikan dalam ritme dan gerakan siklik dari alam, dan bahwa kebahagiaan manusia tergantung dari kemampuanya untuk memahami ritme dan tatanan keteraturan dari alam semesta.Siva Nataraja, melalui tarian kosmiknya, menunjukkan kepada kita bahwa dunia ada dalam ritme, melibatkan penciptaan dan peniadaan secara serta merta.

Semua materi, termasuk kamu dan aku, memiliki gerakan ritmik di dalamnya, dan permintaan kita seharusnya untuk menciptakan satu ritme harmoni yang wajar dalam diri kita sendiri. Mantra Yoga , Pranayama dan latihan-latihan lain membantu seorang manusia untuk membuat vibrasi ritmik. Menurut Mantra Yoga, semua mahluk hidup dalam semua keadaan eksistensinya memiliki bentuk tubuh yang sepenuhnya diselaraskan dengan prekuensi-prekuensi tertentu dari vibarasi itu. Mantra, satu sistem silabel (suku kata) yang dibuat dengan prekuensi-prekuensi khusus dari vibrasi, dipergunakan untuk merobah prekuensi vibrasional seseorang kepada keadaan yang lebih baik.

Kamu merasa bahagia duduk dekat samudra karena vibarasi-vibrasimu mencoba untuk menyesuaikan diri dengan prekuensi dari gelombang samudra. Begitu juga dalam aspek bhakti dari semua agama dimana para bhakta memanggil Krishna, Rama, Jesus atau Jehovah, penyempurnaan akhir adalah ritme – satu pengertian tentang ritme dari alam semesta. Menurut teori alam semesta yang senantiasa berkembang (expanding theory of the universe) seperti juga teori alam semesta yang mengkerut, alam semesta itu sendiri adalah ritmik – kurang lebih bertindak sebagai satu jantung yang berdetak. Agama Hindu menyebut ritme agung dari alam semesta dengan nama ‘spandhanam’. Bumi dan alam semesta berada dalam satu tarian kosmik abadi, menurut Fitjof Capra dan bukunya yang amat terkenal, ‘The Tao of Physics’

MENURUTMU APA YANG MERUPAKAN PARADOX TERBESAR DALAM HIDUP?

Aku kita “Aku” yang misterius atau ego adalah paradox terbesar dalam hidup. Kita selalu berkata “aku”, “miliku”, “anakku”, “rumahku” “mobilku”, dst. Tapi kita tidak tahu jawaban atas pertanyaan “Siapakah aku?” Ketika jiwa meninggalkan badan pada waktu kematian, tubuh yang mati itu tidak berkata “aku disini”, dan tidak juga jiwa yang pergi itu berkata, “aku disini di luar badan.” Tapi bila jiwa dan tubuh kembali menjadi satu, kita mendengar ‘aku” sepanjang waktu. Tidakkah kamu pikir ini paradox yang terbesar?

Rasa “aku” atau “ego” membuat hidup kita menderita. Bila kukatakan padamu ada seribu rumah dihancurkan oleh bom di sebuah desa terpencil di Timur Tengah, maka kamu akan menggelengkan kepala seolah-olah tidak terjadi apapun. Tapi kalau kuberitahu kamu bahwa ada api kecil di salah satu rumah di jalan tempat tinggalmu, kamu segera menjadi panik. Tapi pada waktu yang sama, bila kamu meningkatkan rasa memilikimu dari yang terbatas menjadi yang tak terbatas, kamu akan merasa bebas. Ketika kamu berpikir mengenai anakmu kamu khawatir mengenai kesejahteraannya, tapi bila kamu berpikir mengenai semua anak-anak di dunia kamu tidak khawatir lagi dan sesungguhnya kamu menjadi amat bahagia. Dikatakan bahwa orang yang mengejawantahkan Tuhan melihat “aku” sebagai alam semesta dan alam semesta sebagai “aku.” Jadi ketika ego yang terbatas menjadi ego universal, kita mencapai kebahagiaan abadi.

Tentu saja, untuk merobah ego terbatas menjadi ego universal bukanlah perkerjaan mudah, tapi dengan praktek terus menerus mengenai metode berbeda untuk mencapai Tuhan kita dapat menyelesaikan tugas mahabesar (Herculean task) yang menghadapi kita semua. Menurut Ramana Maharshi, “menemukan aku yang sesungguhnya” adalah tujuan utama dari hidup manusia, dan ajarannya didasarkan atas penghapusan ego.

APA YANG HARUS DILAKUKAN MANUSIA UNTUK MEMPEROLEH HIDUP BAHAGIA?

Bila kamu menginginkan jawaban satu baris dariku, maka jawaban itu adalah’menjadi selaras dengan alam’. Kebanyakan dari masalah manusia mulai ketika mereka berkelahi dengan alam. Manusia tahu dengan baik sekali bahwa dia tidak dapat menemukan atau menciptakan apapun yang sudah ada dalam alam. Tapi masih juga manusia bertarung melawan alam. Kembali ke alam tidak berarti hidup seperti manusia zaman batu. Ia hanya berarti membawa kembali kebenaran, cinta-kasih dan kedamaian dalam hidup kita sehari-hari. Seperti kukatakan sebelumnya, Lao-Tse mengatakan bahwa dunia bergerak dalam satu pola ritmik dan siklus, dan kebahagiaan manusia tergantung dari kemampuannya untuk memahami ritme dan sifat teratur dari alam semesta ini. Alam adalah basis dari Taoisme.

Indology

AYAH, APAKAH INDOLOGY?

Indology adalah studi mengenai sejarah, kesusasteraan, agama-agama dan bahasa-bahasa India oleh orang-orang Barat. Studi ini dimulai dengan publikasi terjemahan sajak-sajak Reshi Bhatrihari dalam bahasa Belanda oleh seorang missionaris Belanda di India Selatan, Roger Abraham pada tahun 1651. Sajak-sajak Bhatrihari berkaitan dengan agama dan kebiasaan kaum Brahmin. Kemudian, dalam tahun 1790, seorang pastor Austria bernama Fra Paolino de San Bartolomeo menulis dua buku tata bahasa Sansekerta untuk digunakan oleh missionaris Kristen di India.

Antusiasme Barat terhadap India mencapai puncaknya setelah Voltaire merujuk Yajur Weda dalam bukunya “Customs and Spirit of Nation” (1759). Orang yang sesungguhnya menyebabkan perkembangan Indology tidak lain dari Gubernur Jenderal Inggris pertama di India, Warren Hasting (1732-1818). Dia sesungguhnya tenggelam dalam keindahan Bhagawad Gita dan dia mengatur terjemahan pertama dari Gita kedalam bahasa Inggris. Dia menulis dalam kata pengantar terjemahan ini (1875) bahwa Gita akan tetap hidup terus setelah matinya dominasi Inggris di India.

Warren Hasting meminta para pandit untuk menyiapkan satu ringksan teks dari kode dan hukum Hindu yang berasal dari kitab-kitab kuno itu. Buku ini, aslinya ditulis dalam bahasa Sansekerta, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan pada tahun 1776 dengan nama “A Code of Gentoo Law” oleh Nathaniel Halhed.

Setelah Warren Hasting, banyak sekali sarjana dari Eropa tertarik dengan kitab-kitab suci Hindu, dan mereka mempelajari bahasa Sansekerta dan menerjemahkan banyak kitab-kitab dalam bahasa Sansekerta ke dalam bahasa Inggris. Seorang sarjana Jerman, Gundart, pergi ke Kerala dan menulis satu kamus bahasa Malayalam.

Jerman adalah satu negara di dunia dimana Indology masih tetap populer. Philsuf seperti Max Muller dan ilmuwan seperti Oppenheimer (bapak bom atom) sangat tertarik dengan agama Hindu setelah mempelajari Indology. Ketika bom atom pertama meledak di gurun pasir Mexico, Oppenheimer yang sangat gembira menyambutnya dengan menyanyikan satu sloka dari Bhagawad Gita. (Tambahan : seorang philsuf Jerman yang lain, Sophenhouer, menyatakan “Upanishad-Upanishad adalah penghiburan bagi hidup dan kematianku.”, NPP)

Mungkin tidak salah untuk menyimpulkan bahwa Adolf Hitler juga dipengaruhi oleh bagian Tantra dari agama Hindu. Darimana lagi ia mengambil swastika dan salam tangannya yang unik yang menyerupai Abhaya Mudra dari agama Hindu? Anyway, itu suatu hal untuk spekulasi.

Sruti dan Smerti

AYAH, APAKAH KITAB-KITAB SUCI HINDU?

Anakku, Kitab-kitab suci Hindu secara luas dalam dikelompokkan dalam 2 golongan. Pertama adalah Sruti (“itu yang didengar”) dan yang lain adalah Smriti (“itu yang diingat”). Kedua kelompok kitab-kitab suci ini dianggap “wahyu Tuhan” sama seperti semua kitab-kitab Injil dianggap mendapat inspirasi Tuhan (God-inspired).

KITAB MANA YANG PALING SUCI?

Kitab-kitab itu disebut Weda-Weda, yang berarti “pengetahuan”.Ada empat Weda dan mereka menyatakan untuk mengajari manusia kebenaran tertinggi dan dapat menuntun manusia kepada Tuhan. Tiga Weda pertama disebut Tri Weda.

Rig Weda (Weda Nyanyian Pujaan, Weda of Hymns) terdiri dari 1028 nyanyian pujaan atau hymne (dalam sepuluh buku) kepada para Dewa, seperti Indra dan Agni.

Yajur Weda (Weda of Liturgy) berkaitan dengan pengetahuan upacara. Weda ini berdasarkan pada Rig Weda. Dia berisi aturan yang menjelaskan bagaimana melaksanakan semua upakara. Ia terdiri dari prosa dan puisi. Weda ini sesungguhnya buku untuk pendeta, bahkan menjelaskan aturan membuat sebuah altar. Pengorbanan (upacara) adalah satu bagian penting dari Weda ini.

Sama Weda (Weda of Music) berkaitan dengan pengetahuan pengucapan mantra (chants). “Sama” artinya “melodi”. Musik klasik India berasal dari Sama Weda. Weda ini terdiri dari 1549 sloka. Weda ini juga berdasar kepada Rig Weda, dan sloka dari Sama Weda dinyanyikan oleh para Reshi ketika upacara korban Soma dilakukan. Weda ini mirip dengan Psalms (Mazmur) dari agama Kristen. Sampai ukuran tertentu banyak dari sloka Weda ini merupakan pengulangan dari Rig Weda, dinyanyikan dalam bentuk melodi. Mantra dalam Weda ini ditujukan kepada Soma (bulan), Agni (api) dan Indra (Tuhan surga). Satu kitab pelengkap dari Sama Weda adalah Chandogya Upanishad.

Atharva Weda berisi pengetahuan yang diberikan oleh Maharesi Atharwa. Ia terdiri dari 731 hymne dengan 6000 ayat. Beberapa orang mengatakan bahwa Atharwa bukan menyusun kitab ini tapi beberapa pendeta kepala dalam upacara yang berkaitan dengannya. Atharwa yang disebut dalam Rig Weda, dianggap sebagai putra pertama dari Tuhan Brahma, Tuhan Pencipta (God of Creation). Atharwa Weda juga dikenal dengan Brahma Weda sebab ia digunakan sebagai manual oleh pendeta kepala upacara dan para Brahmin. Kitab ini berisi rumusan-rumusan magis dan jampi-jampi.

Sejumlah besar Upanishad sebenarnya berasal dari Atharwa Weda. Percaya atau tidak, banyak dari mantra pengusir setan (exorcisme) dalam agama Hindu berasal dari Weda ini. Agak mengejutkan catatan-catatan tertua dari Weda-Weda tidak berbicara mengenai Weda ini. Tidak ada referensi mengenai Weda ini dan Chandogya Upanishad atau teks-teks Brahmana atau Jataka atau Bhagawad Gita. Ini menunjukkan dengan jelas bahwa Atharwa Weda tidak ada ketika Tri Weda disusun.

APA ISI MASING-MASING WEDA ITU?

Weda-Weda pada umumnya berisi :
1. Samhita. Teks dasar untuk himne, formula dan japa (chants).
2. Brahmana. Petunjuk pelaksanaan upacara
3. Aranyaka. Berisi Mantra dan tafsir dari upacara-upacara.
4. Upanishad. Ini adalah sejumlah teks yang mengungkapkan kebenaran-kebenaran spiritual tertinggi dan berbagai anjuran mengenai cara untuk mencapai atau mengejawantahkan kebenaran itu. Kata Upanishad terdiri dari Upa (dekat), Ni (dibawah, down) dan Shad (duduk, to sit). Suatu Upanishad adalah sebuah pengajaran oleh seorang Guru ketika para murid duduk sangat dekat sehingga tidak seorang lain pun dapat ‘nguping’ ajaran-ajaran tersebut.

ADA BERAPA BANYAK UPANISHAD?

Ada lebih dari 108 buku Upanishad. Tiga belas Upanishad yang paling penting adalah : Isa, Kena, Katha, Prasna, Mundaka, Mandukya, Aitereya, Taittirya, Chandogya, Brihad-Aranyaka, Kausitaki, Shvetasvatara dan Maitri. Beberapa dari Upanishad dinamai menurut Reshi besar yang ditokohkan atau digambarkan dalam Upanishad tersebut. Para Reshi besar itu adalah Mandukya, Shvetasvatara, Kaushitaki dan Maitri. Upanishad yang lain diberi nama berdasarkan kata pertama dari kitab itu.

Kita juga memiliki sebelas Yoga Upanishad yang lebih kecil. Yang paling penting dari Upanishad ini adalah Yogatattwa, Dhyanabindu, dan Nadabindu. Yogattava berisi semua rincian mengenai praktik yoga. Nadabindu, seperti digambarkan oleh namanya, berkaitan dengan phenomena indra pendengaran yang menyertai latihan-latihan yoga tertentu. Dhyanabindu berkaitan dengan suku kata AUM dan dengan banyak wahyu mistik.

Rig Weda

APA SEBENARNYA ISI RIG WEDA?

Rig Weda adalah kitab Sruti yang paling utama. Ia terdiri dari 1,028 nyanyian pujaan (hymne) dengan jumlah total 10.562 baris yang dijelaskan dalam 10 buku. Satu hymne memiliki tiga bagian dasar. Bagian pertama adalah permohonan (exhortation), bagian kedua adalah pujian terhadap Dewa tertentu dalam bentuk doa, dan bagian ketiga adalah permohonan khusus (special request). Agama yang dijelaskan dalam Rig Weda dapat disebut Brahmanisme atau Wedisme. Dalam Rig Weda kita melihat bangsa Arya baru saja menetap di lembah-lembah sungai Indus dan memuja semua kekuatan alam seperti udara (Bayu), air (Baruna), matahari (Surya), bulan (Soma) dan api (Agni). Rig Weda tampaknya bukan kitab suci yang disusun selama periode waktu tertentu tapi satu kitab suci yang disusun dalam tahapan selama beberapa abad.

Satu ide yang paling penting yang datang dari Rig Weda adalah tatanan kosmik yang disebut Rta. Rta berarti “tatanan suci dan alam semesta (“cosmic and sacred order”) satu tatanan paling harmonis dan tertinggi dari struktur realitas. Belakangan tatanan alam semesta yang disebut Rta ini menjadi atau disebut sebagai Sanathana Dharma atau “kebenaran abadi.” Dharma tidak saja menjadi hukum universal tapi juga hukum moral dari agama Hindu.

Sekalipun dalam Rig Weda kita melihat satu masyarakat yang sedang berkembang memuja seluruh aspek alam semensta, kita juga melihat kelahiran dari pemikiran yang sangat maju dalam masyarakat itu. Silahkan baca apa yang disebut Hymne Penciptaan (Rig Weda X, 129, 7-7) di bawah ini :

“Akhirnya, siapa yang tahu, dan siapa yang dapat mengatakan Darimana semua ini datang, dan bagaimana penciptaan terjadi? Dewa-Dewa sendiri ada setelah penciptaan Jadi siapa yang sesungguhnya tahu kapan hal ini terjadi?

Kapan semua ciptaan ini dimulai?

Dia (Yang Maha Kuasa), apakah Dia membentuknya atau apakah Dia tidak membentuknya,
Dia Yang menyelidiki semua ini dari surga, Dia tahu – atau mungkin Dia tidak tahu.”

Tidak ada pengarang khusus dari Rig Weda. Ia merupakan karya kolektif dari banyak Maharesi besar. Salah satu upacara terbesar dalam Rig Weda adalah upacara korban Soma. Soma adalah sejenis minuman yang diambil dari satu macam tanaman yang oleh banyak orang dikira cendawan. Rig Weda tidak memuat upacara kelahiran tapi Wiweha (perkawinan) dan kremasi dari orang mati. Dari semua Dewa-Dewa yang dijelaskan dalam Rig Weda, Rudra adalah yang paling penting. Dalamnya juga ada referensi mengenai perpindahan jiwa dari tubah ke tubuh lainnya.

AYAH, APA SESUNGGUHNYA AJARAN-AJARAN DARI UPANISHAD?

Seperti telah kusebutkan sebelumnya, Upanishad adalah kitab Sruti yang terakhir. Kebanyakan dari Upanishad dalam bentuk dialog antara para Maharesi atau antara Tuhan dengan para Maharesi. Brihad-Aranyaka dan Chandogya Upanishad adalah Upanishad yang paling panjang. Dr. S. Radhakrishnan mengatakan, “Begitu banyak penjelasan mereka tentang kebenaran, begitu banyak dugaan-dugaan mereka mengenai Tuhan, sehingga hampir setiap orang dapat mencari di dalamnya apa yang ia inginkan dan menemukan apa yang ia cari, dan setiap aliran pemikiran dogmatik mungkin menyelamati dirinya sendiri karena menemukan doktrinnya sendiri dalam ucapan-ucapan dari Upanishad-Upanishad itu.”

Jadi pengajaran Upanishad sangat kompleks, dan pengaruh mereka terhadap agama Hindu sangat sulit untuk dinilai. Upanishad sesungguhnya membuka semangat pemikiran bebas dalam agama. Mereka menantang rasionalitas dari dewa-dewa dan upacara-upacara. Kebanyakan sloka-sloka dalam Upanishad awal dalam bentuk prosa dan mereka juga dalam bentuk tanya jawab. Beberapa buku yang sangat baik mengenai Upanishad ditulis oleh Hume, Dr. S. Radhakrishnan, R.D. Ranade, dan Swami Chinmayananda.

Salah seorang Maharesi terkemuka dari Upanishad adalah Yatnavalkya. Beberapa penanya dalam Upanishad adalah wanita bernama Maitreyi (istri Yatnavalkya) dan Gargi (putri dari Maharesi Vachaknu). Orang biasa yang membaca Upanishad secara tergesa-gesa akan menemukan kitab-kitab ini membingungkan dan berlawanan satu sama lain. Tapi bila dia mempelajari seluruh Upanishad dengan cara yang sangat teratur, maka ia akan mengerti arti sesungguhnya yang diberikan oleh kitab-kitab itu. Sekarang mari kita melihat secara singkat ajaran-ajaran pokok dari beberapa Upanishad utama.

Brihad-Aranyaka Upanishad (sangat populer di kalangan teolog Barat dengan nama ‘Buku Besar dari Hutan’/ “Great Forest Book”) adalah salah satu dari Upanishad yang paling awal dan paling panjang. Salah seorang guru terbesar dari Upanishad ini adalah Maharesi Yatnavalkya. Yatnavalkya berkata, “Egkau tidak dapat melihat yang melihat segala sesuatu; engkau tidak dapat mendengar yang mendengar segala sesuatu; engkau tidak dapat memikirkan yang memikirkan segala sesuatu; engkau tidak dapat mengerti yang mengetahui segala sesuatu. Itu yang ada diluar semua pemahaman adalah jiwa (sang diri, self) yang ada di dalam dirimu.”

Upanishad ini berbicara lagi mengenai sang diri secara lain, sbb :
“Ketika seorang bernafas, orang itu mengetahui dia sebagai nafas;
Ketika seorang bicara, orang itu mengetahui dia sebagai ucapan;
Ketika seorang melihat, orang itu mengetahui dia sebagai mata;
Ketika seorang mendengar, orang itu mengetahui dia sebagai telinga;
Ketika seorang berpikir, orang itu mengetahui dia sebagai pikiran.”

(Brihad-Aranyaka) Inilah Upanishad yang sesungguhnya membedah aspek-aspek dari Tuhan. Ia mendiskusikan dewa-dewa yang banyak dan akhirnya menyatakan bahwa hanya ada satu Tuhan dan itu adalah Nafas (Breath). Upanishad ini juga menjelaskan Tuhan sebagai Brahman – Jiwa yang Absolut. Ia menyebutkan bahwa Atman – jiwa individu hanya sebuah refleksi (pantulan) dari Brahman.

Dalam dialog antara Raja Janaka (Ayah Dewi Sita) dan Maharesi Yatnavalkya, cahaya dari Brahman dijelaskan dengan satu cara yang sangat menarik. Menurut Upanishad ini, segala sesuatu di dunia ini memiliki nama, bentuk dan kegiatan. Yang Mutlak, yang tidak mengejawantah (unmanifest), adalah manifestasi dari ketiga aspek ini.

Salah satu dari doa yang paling populer dari agama Hindu datang dari Upanishad ini sebagai berikut:

“Tuntunlah kami dari yang tidak nyata ke dalam yang nyata,
Tuntunlah kami dari kegelapan ke dalam cahaya,
Tuntunlah kami dari kematian kepada kehidupan.”
(Om Shanti, Shanti, Shanti, Om)

Bila seorang bhakta mengucapkan sembahyang atau doa, baris terakhir selalu ditambahkan pada doa itu.

Chandogya Upanishad adalah Upanishad panjang yang lain. Menurut Upanishad ini segala sesuatu adalah Brahman. Ia dengan jelas menyatakan bahwa pada awalnya adalah Mahluk, dan dunia ini adalah manifestasi dari padanya dan tidak menjadi atau berasal dari Non-being (ketiadaan).

Reshi Saudilaya berkata, “Pada waktu kematian, yang mengetahui Brahman harus memusatkan pikiran (meditasi) kepadanya. “Engkau tidak bisa dihancurkan;

Engkau adalah kenyataan yang tidak berobah; Engkau adalah sumber dari kehidupan.” Dalam Sloka 3:14, Upanishad ini mengatakan “Sesungguhnya, seluruh dunia ini adalah Brahman. Biarlah tiap orang memujanya sebagai itu (as that) sebagai asal dari mana mereka datang, sebagai tujuan kemana mereka akan kembali, sebagai tempat dimana mereka akan lenyap menjadi satu, dan sebagai itu dengan mana mereka bernafas.”

Katha Upanishad mulai dengan satu kisah. Sekali peristiwa adalah seorang terpelajar bernama Vajasrabasa yang sedang mengorbankan segala yang dimiliknya, (seekor kerbau tua, pen) dengan harapan untuk mendapat anugrah suci (surga, pen). Di tengah-tengah upacara korban itu, salah satu dari putranya, Nachiketa, memohon kepada ayahnya untuk mempersembahkan dirinya kepada Dewa Kematian, Yama. Akhirnya ayahnya mengorbankan putra yang dicintainya itu kepada Yama. Ketika anak ini mencapai kediaman Yama, Dewa Kematian itu bingung dengan tindakan Nachiketa dan memintanya kembali kepada ayahnya. Percakapan teologis yang hidup antara Nachiketa dengan Yama (dialog manusia dengan kematian, pen) adalah merupakan isi dari Katha Upanishad. Yama menjelaskan rahasia-rahasia tertinggi dari alam semesta dan hakikat dari Brahman (Tuhan) dalam Upanishad yang indah ini.

Kena Upanishad mengatakan bahwa itu yang tidak dapat dinyatakan dalam kata-kata dengan mana lidah bicara – ketahuilah bahwa itu Brahman. Itu yang dengan mana pikiran memahami – ketahuilah bahwa itu Brahman. Menurut Upanishad ini, Brahman adalah faktor utama (ultimate factor) dari alam semesta. Organ-organ indriya bekerja karena Brahman. Dia yang mengatakan mengetahui Barhman (sesungguhnya) tidak mengetahui Brahman, sebab mengetahui itu (dia) berarti melenyapkan identitas dari orang bersangkutan dalam Brahman, seperti sesendok garam yang mencoba menemukan dasar lautan manjadi satu dengan lautan itu. Mungkin itulah sebabnya mengapa mistikus China terbesar Lao-Tse berkata, “Dia yang mengetahui tidak mengatakan. Dia yang mengatakan tidak pernah mengetahui.”

Aiteriya Upanishad memberikan satu kisah yang menarik mengenai penciptaan.

Kisahnya seperti berikut. Mula-mula ada Atman. Dia sendirian. Kemudian ia menciptakan air. Kemudian ia ingin menciptakan dewa-dewa. Kemudian dia menciptakan seorang manusia. Untuk orang ini satu mulut diberikan. Dari mulut itu keluar percakapan dan Tuhan Api. Kemudian Dia memberikan manusia ini lubang hidung dan dari lubang hidung ini datang nafas dan Tuhan Udara. Kemudian dia memberi manusia itu mata dan dari mata ini datang cahaya dan Tuhan Matahari. Kemudian dia memberi manusia ini lengan yang berbeda dan dari lengan-lengan itu datang banyak dewa-dewa. Akhirnya Atman memasuki manusia ini pada celah-celah rambut di kepala dan menjadi “Aku.”

Prasna Upanishad merupakan dialog menarik antara Reshi Pippilada dengan para bhaktanya, bernama Sukesha, Gargya, Kousalya, Bhargava dan Kabhandi. .Diskusi dimulai dengan pertanyaan Kabhandi, “Tuan, bagaimana mahluk-mahluk menjadi (mahluk)” (“Sir, how did the creatures come into being?”)

Mundaka Upanishad membedakan pengetahuan kedalam pengetahuan yang lebih tinggi dan lebih rendah. Pengetahuan yang lebih tinggi adalah pengetahuan dengan mana kita mengetahui realitas yang tidak berobah. Pengetahuan yang lebih rendah adalah Weda-Weda.

Mandukya Upanishad memuat pengajaran Reshi Mandukya mengenai empat tahap dari kesadaran, yaitu bangun (jaga), mimpi, tidur yang dalam (Sushupati) dan akhirnya Turiya. Keadaan Turiya itulah satu-satunya yang nyata. Atman hanya dapat direalisasikan dalam keadaan Turiya. Mandukya Upanishad adalah yang terkecil dari ketigabelasUpanishad utama.

Taittirya Upanishad berisi lima cara berbeda untuk menjelaskan dunia. Menurut Upanishad ini, Panca Butha atau Panca Tattwa, atau lima elemen dengan mana semua materi dibuat, masing-masing berasal dari satu sama lain. Misalnya, Ether (Akasha) lahir dari Atman, Udara (Wayu) lahir dari Ether, Api (Agni) lahir dari Udara, Air (Jala) lahir dari Api, dan Bumi (Pertiwi) lahir dari Air.

Shvetashvatara Upanishad memuat pengajaran dari Reshi Shvetashvatara. Tidak seperti Reshi-Reshi yang lain, dia mengajarkan theisme dan bukan Brahman Yang Mutlak (Absolut Brahman). Dia mengajarkan bahwa melalui meditasi orang dapat melihat Tuhan. Max Muller menjelaskan Shvetashvatara Upanishad sebagai “yang paling sulit, dan pada saat yang sama merupakan satu dari yang paling menarik dari karya sejenis.” Adi Shankara sendiri mengatakan Upanishad ini berlawanan langsung dengan ide monistiknya. . Upanishad ini mulai dengan banyak pertanyaan teologis seperti, “Apakah penyebab dari kelahiran kita?” dan “Apa yang menunjang hidup kita?” Upanishad ini sangat banyak dikaitkan dengan Siwaisme dan kadang-kadang dianggap sebagai kitab suci dari sekte Siwaisme.

Anaku yang kusayang, mohon dipahami bahwa penjelasan-penjelasanku mengenai beberapa Upanishad utama amat sangat singkat dan karena itu kamu harus meluangkan waktu dan membaca beberapa buku untuk dapat menangkap dengan baik ajaran-ajaran dari Upanishad tersebut.

Dharma Sutra

MOHON JELASKAN PADAKU, SIAPA PEMBUAT HUKUM PERTAMA DARI AGAMA HINDU (THE LAW-GIVERS OF HINDUISM?

Mereka adalah Maharesi Manu, Yatnavalkya, Parasara dan Gauthama.

APA NAMA KITAB HUKUM MEREKA?

Nama buku-buku hukum mereka adalah Dharma Sutra

APA ISI DARI KITAB-KITAB DHARMA SUTRA ITU?

Kitab-kitab Dharma Sutra merupakan bagian dari kitab-kitab Vedanga. Kitab-kitab itu memberikan penjelasan yang sangat rinci mengenai aturan tingkah laku dan kewajiban manusia pada tahap hidup yang berbeda serta hak-hak dan kewajiban-kewajiban para raja. Kitab-kitab itu juga menjelaskan masalah-masalah keagamaan seperti upacara penyucian (prayascita) dan penguburan. Kitab-kitab ini juga menjelaskan hak-hak dan kewajiban-kewajiban wanita dan mengenai masalah-masalah pengadilan. Juga dijelaskan mengenai penyesalan atas dosa-dosa. Dharma Sutra yang paling penting adalah Manusmriti atau Kode (Hukum) Manu. Kitab ini mempunyai 2.684 sloka yang diatur dalam 12 bab.

Urutan berikutnya adalah Yatnavalkya Smriti. Kitab ini memiliki 1.013 sloka. Yang lain yang penting adalah Gauthama Smriti. Hukum Manu masih sangat populer dalam masyarakat Hindu. Pelaksanaan dari kitab-kitab Dharma Sutra memiliki pengaruh abadi terhadap agama Hindu. Kitab-kitab itu merupakan tulang punggung dari etika dan moralitas Hindu. Tentu saja banyak dari ritual yang dijelaskan dalam kitab-kitab Dharma Sutra tidak lagi dipraktekkan dewasa ini. Tapi Pancha Maha Yajna masih dipraktekkan.

AYAH, APA ITU PANCHA MAHA YAJNA?

Lima kewajiban dharma sehari-hari yaitu :

  1. Dewa yajna – persembahan atau pengorbanan kepada Tuhan.
  2.  Brahma Yajna – persembahan kepada Tuhan Brahma .(di Indonesia, menjadi Reshi Yajna – pengorbanan kepada para petugas agama (Pendanda/Pemangku/Ida Resi/Sengguhu dll)
  3.  Pitri Yajna – persembahan kepada roh leluhur.
  4.  Nara Yajna – pengorbanan kepada sesama manusia (di Indonesia : Manusa Yajna)
  5.  Bhuta Yajna – pengorbanan kepada roh selain roh manusia (spirits).

Hukum Manu (Code of Manu)

AYAH, APAKAH KODE/HUKUM MANU?

Kode Manu adalah aturan etika yang ditulis oleh Reshi Manu. Sangat sedikit yang diketahui mengenai Manu. Dalam mitologi, dia dikenal sebagai Manu Svayambhuva. Kode Manu dikenal sebagai Manusmriti atau Manu-Shamhita atau Manawa Dharmashastra. Inilah buku hukum pertama dari agama Hindu. Menurut mitologi Hindu, Manu mendiktekan hukumnya dalam seratus ribu sloka kepada Reshi Brighu, yang pada gilirannya mengajarkan kepada Reshi Narada. Narada, berdasarkan pertimbangan sendiri mengurangi aturan itu menjadi dua belas ribu sloka. Buku hukum ini kemudian dikurangi lagi menjadi delapan ribu sloka oleh Reshi Markandeya. Percaya atau tidak, Reshi yang lain, Sumathi, menguranginya lagi menjadi empat ribu sloka. Akhirnya, reshi lain yang tidak dikenal, mengurangi lagi menjadi 2.685 sloka.

Kode Manu memiliki dua belas bab dan ini menyentuh semua sisi kehidupan manusia, seperti kewajiban menghormati orang tua (2:225-229), penyesalan dan pengakuan (dosa) (11:228-231), pelaksanaan upacara korban (3:69-81) Upacara penyucian perang (memberi persetujuan atau pembenaran atas suatu perang, sanctioning of wars) (7:87-201), makanan yang dilarang dan dibolehkan (5:11,17), dan pelanggaran dan penyesalan (11:49-266).

Salah satu bagian penting dari Buku Manu adalah penjelasan mengenai system kasta yang populer. Manu menulis, “Untuk pertumbuhan dunia, Brahman menciptakan Brahmana (golongan pandita), Kshatriya (golongan prajurit, warior), Waisya (golongan pedagang), dan Sudra (golongan pekerja manual, phisik).

Mengenai kewajiban-kewajiban wanita (Buku 5), Manu menulis bahwa seorang gadis, seorang wanita muda, bahkan seorang wanita berumur, tidak dapat melakukan apapun secara independen, bahkan di dalam rumahnya sendiri. Dia harus dilindungi oleh ayahnya selama masa anak-anak, oleh suaminya selama dalam perkawinan, dan oleh putra-putranya ketika tua. Tidak ada upacara (korban), sumpah atau puasa dapat dilakukan oleh seorang wanita tanpa suaminya.

Buku 1 memberikan penjelasan mengenai penciptaan. Manu mencatat penjelasan yang sangat lengkap dan teliti mengenai penciptaan alam semesta. Pada mulanya alam semesta lahir dari kegelapan, dan Tuhan menciptakan dunia, cahaya dan air, demikian urutannya. Dari air keluar satu telur emas dan dari dalam telur emas itu Dia sendiri lahir sebagai Dewa Brahma (Tuhan Pencipta). Kemudian Dewa Brahma menciptakan seorang Laki-laki dan seorang Wanita.

Kode manu juga menyebut mengenai teori reinkarnasi. Manu menulis, “Manusia mendapat kehidupan yang tidak bergerak (tanaman, pohon, dll) sebagai hasil dari kejahatan yang dilakukan dengan badan, hidup sebagai burung-burung dan binatang buas sebagai hasil kejahatan yang dilakukan dengan ucapan, dan kehidupan terendah sebagai hasil kejahatan yang dilakukan dengan pikiran.”

Buku 2,3,4,5 dan 6 menjelaskan empat tahapan hidup manusia. Yaitu, Kaumaram (masa muda), Garhastyam (hidup berumah tangga), Vanaprastham (hidup sebagai pertapa) dan Sanyasam (meninggalkan hidup sehari-hari). Selama masa Kaumaram seorang manusia diharapkan menjadi Brahmacari 100% (membujang). Selama masa Grihasta manusia diharapkan untuk kawin dengan perjaka atau gadis. Bila karma seseorang sebagai kepala rumah tangga sudah selesai dilaksanakan dan bila ia sudah berumur, dia diharapkan mencari perlindungan di hutan dan menjadi pertapa dan akhirnya menjadi Sanyasin. Hidup sebagai Sanyasin berarti penyerahan kehendak bebas seseorang kepada kehendak Tuhan.

AYAH, APAKAH ADA SATU KISAH DALAM AGAMA HINDU YANG MIRIP DENGAN KISAH PERAHU NOAH DALAM TORAH?

Dalam agama Hindu ada satu kisah yang sangat mirip dengan kisah perahu Noah (Nuh). Menurut salah satu kisah dalam kitab-kitab suci Hindu awal, yaitu Satapatha-Brahmana, ketika Manu sedang mandi di laut seekor ikan mampir di tangannya. Ikan itu berkata “pelihara aku, nanti aku akan menyelamatkan kamu dari banjir besar.” Pada mulanya Manu tidak percaya tapi kemudian memutuskan untuk mengikuti permintaan ikan itu. Manu menaruh ikan itu dalam gentong kecil. Ketika ikan itu tumbuh melebihi gentong, Manu menaruhnya di kolam kecil. Kemudian ikan itu tumbuh besar melebihi kolam kecil itu dan menjadi raksasa. Kemudian ikan itu menasehati Manu untuk membuat sebuah perahu dan mengingatkan dia akan adanya satu banjir besar yang akan menghancurkan seluruh dunia. Manu mengikuti nasehat ikan itu dan membuat sebuah perahu. Ikan ini adalah Avatara pertama dari Batara Wisnu, secara populer dikenal dengan nama Matsya Avatar. Ketika banjir besar itu tiba, Manu memasuki perahu. Banjir itu menghanyutkan atau membawa perahu itu ke puncak sebuah gunung. Banjir itu menghanyutkan semua mahluk, dan hanya Manu sendiri yang selamat hidup.

Setelah banjir surut, Manu turun ke lembah. Dikisahkan bahwa ia bekerja memulai kehidupan untuk selama 4.320.000.000 tahun (waktu untuk empat Yuga. Krita atau Sathya. Treta, Dvapara dan Kali). Orang-orang Hindu percaya bahwa kisah ini akan selalu berulang pada setiap awal dari alam semesta yang tak terhitung jumlahnya.

JADI MANU BUKAN NAMA SESEORANG TAPI SATU TITEL?

Kamu benar sekali. Nama Manu berarti Kepala Keluarga Penguasa Bumi (Patriachal Earth Ruler). Manu datang dan pergi pada setiap awal penciptaan alam semesta dalam waktu yang tak terbatas. Masing-masing Manu hidup untuk jangka waktu yang disebut Manvantara (periode Manu). Menurut salah satu kisah mitologis, satu Kalpa (8.640.000.000 tahun manusia) terdiri dari empat belas Manu atau Para Manu. Empat belas Manu adalah :

1. Svayambhuva (Manu Pemberi Hukum, law-giver);
2. Svarochisha;
3. Uttama;
4. Tamasa;
5. Raivata;
6. Chakshusa;
7. Vaivasvata (Noahnya Hindu, Manu dewasa ini);
8. Savarna (akan datang);
9. Daksha Savarna;
10. Brahma-Savarna;
11. Dharma Savarna;
12. Rudra-Savarna;
13. Rauchya;
14. Bhautya.

Seperti telah kukatakan sebelumnya, semua para Manu ini datang dan pergi dalam siklus yang tak berakhir.

Kode/Hukum Manu – lanjutan

AYAH, AKU TAHU MANU MELIPUTI BANYAK SUBYEK. TOLONG BERITAHU AKU BAGIAN

MANA YANG PALING MENARIK BAGIMU?

Konsepnya mengenai waktu dan peryataannya bahwa alam semesta menjalani siklus lahir dan pralina tiada henti yang paling menarik perhatianku. Manu menjelaskan waktu sbb ; Bila kelopak mata bergerak delapan belas kali, waktu yang berlalu disebut Kashta; tiga puluh Kashta disebut satu Kala; Tiga puluh Kala manjadi satu Muhurta; tiga puluh Muhurta menjadi satu hari dan satu malam.

DENGAN SEGALA HORMAT KEPADA KODE MANU, AYAH, TIDAKKAH ANDA PIKIR PERNYATAANNYA MENGENAI WANITA MERUPAKAN OMONG KOSONG BESAR? BAGAIMANA PULA IA MEMBUAT SISTEM KASTA YANG MERUPAKAN NODA BESAR BAGI AGAMA HINDU? SAYA BAHKAN SEDIH MENGAKUI INI SEBAGAI SATU BAGIAN DARI AGAMA HINDU.

Aku sepenuhnya bisa mengerti perasaanmu dan aku sepenuhnya setuju dengan pernyataanmu. Tetapi mohon dimengerti bahwa melalui kode Manu, kamu menyaksikan satu masyarakat sedang berkembang mengambil pijakan di tepi-tepi sungai di India Utara. Sebagian besar dari kodenya dimaksudkan bagi masyarakat pada masa itu dan ia tidak memiliki hubungan apapun dengan masyarakat modern dimana kita hidup. Sama halnya, bila kamu membaca Perjanjian Lama, khususnya Exodus, kamu akan melihat pernyataan-pernyataan berkaitan dengan perlakuan terhadap budak-budak, dsb.(Al Qur’an juga masih mengijinkan perbudakan, pen). Kita semua tahu bahwa kamu tidak dapat memperlakukan siapapun sebagaimana mereka memperlakukan budak-budak selama waktu Perjanjian Lama.. Seperti telah kukatakan padamu sebelumnya, sejarah adalah bagian dari setiap kiab suci, karena itu kita tidak dapat menghakimi secara tergesa-gesa pernyataan-pernyataan yang berbeda di dalamnya. Satu masyarakat yang menjadi dewasa dalam zaman kegelapan sudah pasti akan banyak melakukan kesalahan.

Semua agama di dunia ini telah memberikan kedudukan terhormat kepada laki-laki dan memberikan posisi yang merendahkan kepada wanita. Mohon dimengerti bahwa pada titik itu dalam sejarah, wanita merupakan gologan seks yang lebih lemah secara emosi juga phisik. Dewasa ini, tiada seorangpun akan bermimpi untuk membuat satu pernyataan seperti itu. Ingat, demokrasi yang paling populer di dunia, India, telah memiliki satu pemimpin puncak yang adalah wanita, dan semua dari kita di seluruh dunia masih bangga dengan mendiang Indira Gandhi.

Orang-orang boleh setuju atau tidak setuju dengan kebijaksanaannya tapi semua topi terangkat untuk keberanian dan kemampuannya. Dia adalah, menjadi apa yang dia inginkan, Joan Arc of India. Mohon jangan lupa bahwa Manu, yang membatasi kebebasan wanita, juga berkata, “wanita harus dihormati dan disayangi oleh ayah dan saudara laki-lakinya, oleh suami, dan juga oleh saudara-saudara ipar, yang sangat mengharapkan kemakmuran. Dimana wanita dihormati, disana para Dewa akan gembira, tapi dimana mereka tidak dihormati, disana semua upacara akan sia-sia.” Sama halnya, aku harus katakan kepadamu bahwa sistem kasta merupakan noda bagi agama Hindu.

Aku tidak berpikir bahwa ada orang yang berpikir benar akan mendukung sistem kasta. Ini hanya membantu satu golongan untuk mendominasi golongan lain dan juga menyebabkan sejumlah besar konversi orang-orang Hindu ke dalam Islam dan Kristen. (Faktor lain yang juga menyebabkan konversi itu adalah tekanan kekerasan dan kekuasaan, pen). Mohon juga diingat bahwa Buddha tidak mengakui sistem kasta. Jadi sistem kasta mungkin timbul karena kebutuhan tertentu, tapi dengan berlalunya waktu, ia menjadi kutukan atas agama Hindu dari pada sebuah rahmat. Gandhi berkata, ” bila kechandalaan merupakan bagian dari agama Hindu, saya akan meninggalkan agama Hindu.”

Panchatantra dan Artha Shastra

APAKAH PANCHATANTRA (LIMABUKU)?

Buku-buku itu adalah kumpulan kisah-kisah yang diceritakan oleh seorang bijaksana yang bernama Vishnusharman kepada beberapa pangeran untuk mengajari mereka mengenai urusan-urusan dunia. Di balik setiap cerita ada satu moral, menunjukkan arah yang tepat dari tindakan yang harus diambil oleh seorang yang bijaksana. Ia juga mengajarkan ilmu ketatanegaraan dan pengertian yang benar mengenai sifat-sifat manusia. Dalam kisah-kisah ini kejahatan diungkapkan melalu karakter dari binatang-binatang. Bagian yang paling penting dari kisah-kisah ini dimainkan oleh dua ekor serigala, Karataka dan Damanaka. Konon buku fabel Hindu yang terkenal ini ditulis pada tahun 200 AD. Salah satu dari buku terbaik dari buku-buku Panchatantra ini diterjemahkan oleh Arthur W. Ryder (University Of Chicago Press, 1925). Terjemahan bagus yang lain ditulis oleh Mr. D. Ghosal, diberi nama “Tiga puluh lima cerita dari Panchatantra” (Thirty Five Stories From the Panchatantra”, Kalkuta, 1925)

AYAH, APAKAH ARTHA SHASTRA?

Artha Shastra adalah kode etik untuk para raja yang ditulis oleh Perdana Menteri Dinasti Mourya yang tidak begitu suci (not-so-saintly prime minister) yang bernama Kautilya atau Chanakya. (Arti literal dari Kautilya adalah ‘bengkok, tak lurus, tak jujur’ (croockedness) atau ‘pengkhianat’ (treachery). Artha Shastra dipersembahkan untuk Venus dan Jupiter, dan membahas doktrin Nyaya dan Atharwa Weda. Percaya atau tidak, persis seperti ‘Dead Sea Scrolls’ (Bagian dari Injil yang berbentuk gulungan yang ditemukan di Laut Mati, pen), kitab ini baru ditemukan pada tahun 1905. Buku ini dibagi dalam lima belas bagian membahas berbagai subyek politik dan masyarakat. Di samping membahas mengenai pemerintahan yang benar, buku ini juga mengajari tentang sistem spionase yang efektif. Buku ini juga mengajarkan tentang cara-cara menyiksa musuh. Ia mengajarkan berbagai cara menyiksa badan, seperti dipecut sampai mati, penyiksaan dengan tabung air dan segala macam pemotongan organ tubuh dan lengan. Inilah doktrin yang paling sinis yang pernah dikenal manusia. Ia juga merupakan kitab hukum pidana yang sangat ganas.

APAKAH HUKUM-HUKUM HINDU BEROBAH DARI WAKTU KE WAKTU?

Biasanya memang seperti itu. Maharesi-maharesi besar yang membimbing agama Hindu dari satu zaman ke zaman lain melakukan perobahan-perobahan sesuai dengan kebutuhan zaman.

JADI HINDU MEMPERKENANKAN DIBUATNYA HUKUM BARU?

Ya. Dewasa ini masyarakat Hindu telah berkembang menjadi sangat besar, dan sayangnya kebanyakan dari orang Hindu hanya tahu kisah-kisah mitologis dan beberapa baris dari Bagawad Gita.

APAKAH ITU BERARTI HINDU AGAMA YANG MATI?

Sama sekali tidak. Karena kita tidak mengetahui banyak dari kitab-kitab suci kita, itu tidak berarti kita bodoh mengenai ide-ide, cita-cita dan kode-kode, peraturan-peraturan agama Hindu. Sebagian besar orang Hindu mempraktekan agama Hindu dalam kehidupan mereka sehari-hari. Keluarga mereka, kehidupan sosial dan profesional mereka adalah cerminan dari agama Hindu yang mereka praktekkan, dengan sadar ataupun tidak sadar. Karena kita mengikuti kode etik Hindu, kita memiliki lebih sedikit noda dan stres (stain and stress) dalam hidup kita. Aku tahu anakku, kamu sangat ingin menanyakan pertanyaan khusus tapi mari kita teruskan dulu sejarah dan perkembangan agama Hindu.

Charvaka – Philsafat Materialisme dalam Hindu

AYAH, APAKAH BENAR BAHWA AGAMA HINDU SUATU KETIKA MEMPUNYAI PHILSAFAT MATERIALISTIK?

Ya memang. Pendirinya adalah Charvaka. Buku terpenting dari sistem ini adalah Brihaspati Sutra. Saya menjawab kamu dalam kalimat masa lalu, sebab sejauh yang ku ketahui tidak ada lagi sekarang di India. Kita hanya mempunyai kutipan dari buku itu dari pengarang-pengarang lain yang menolak philosophi Charvaka.

Philsafat Charvaka dikenal dengan nama philsafat Nastika dalam agama Hindu sebab philsafat ini bebas atau tidak tergantung dari ide-ide dan prinsip-prinsip Weda. Ia menolak keberadaan Tuhan dan menganggap agama sebagai suatu penyimpangan.

Menurut philsafat ini, dunia materi adalah nyata dan hanya ia sendiri yang ada; pengetahaun kita mengenai hal ini berasal dari persepsi indriya. Materi dibuat dari udara, tanah, api dan air. Kesadaran hanyalah satu fungsi dari materi, jiwa berarti badan, tidak ada kehidupan sesudah mati, tidak ada Tuhan, dunia menciptakan dirinya sendiri, mengejar kesenangan adalah tujuan hidup. Weda-Weda ditulis oleh badut-badut. Hukum Karma tidak memiliki dasar. Philsafat ini mengatakan, “Nikmati hidup selama kamu bisa, sekali kamu dikremasi, kamu tidak akan pernah kembali ke bumi ini.”

Aku dapat terus menyebutkan aspek-aspek yang berbeda dari philsafat inidan semua itu akan kedengaran seperti suatu philsafat Atheistik dewasa ini. Untuk sangat berterus terang kepadamu, aku rasa banyak dari pernyataan-pernyataan dalam philsafat ini persis seperti ucapan ‘bumi ini datar’ (ini pernyataan dalam kitab suci agama rumpun Yahudi, pen) dan seterusnya tanpa dasar yang memadai. Pada saat yang sama, kehadiran dari philsafat ini saja dalam agama Hindu menunjukkan simbol yang amat penting dari toleransi Hindu. Dalam agama-agama lain, rasul (penyampai) dari philsafat seperti ini sudah akan disalib atau dibakar hidup-hidup.

Seperti kukatakan sebelumnya, philsafat ini tidak ada lagi di India dewasa ini dan semua buku-buku agama Hindu tidak menyebut bahkan bahwaphilsafat ini pernah ada pada suatu zaman. Aku rasa philsafat ini berasal dari atau diakibatkan oleh kekakuan orthodoksi Hindu pada zaman dahulu, dan, pada saat yang sama, philsafat ini mati dengan sendirinya karena kemudian adanya kebebasan pemikiran yang amat luas dalam agama Hindu.

Brahma Sutra dan (Kitab-Kitab) Agama

MOHON JELASKAN PADAKU APA BRAHMASUTRA YANG TERKENAL ITU?

Brahma Sutra adalah sejumlah pernyataan-pernyataan singkat mengenai seluruh ajaran Upanishad. Brahma Sutra juga dikenal sebagai Vedanta Sutra. Kitab-kitab ini menjelaskan secara mendalam hakikat dari Tuhan (Brahman).

SIAPA PENGARANG DARI BRAHMA SUTRA?

Maharesi Badrayana (Veda Vyasa) adalah pengarang dari Brahma Sutra.

APA ITU (KITAB-KITAB) AGAMA?

Kitab-kitab itu adalah kitab-kitab Smriti. Agama artinya “kitab suci” (scripture). Kitab-kitab itu adalah sekelompok literatur mengenai pemujaan Tuhan dalam banyak bentuknya dan kitab-kitab itu menjelaskan secara rinci pelatihan disiplin bagi para bhakta.

ADA BERAPA BANYAK KITAB-KITAB AGAMA?

Seperti Upanishad ada banyak kitab-kitab Agama. Mereka secara luas dapat dibagi dalam tiga kelompok utama menurut Dewa yang dipuja, yaitu – Wisnu, Siwa dan Sakta. Tiga kelompok dari kitab-kitab Agama ini menimbulkan tiga cabang dari agama Hindu, utamanya Waisnawa, Siwa Sidhanta dan Sakta. Waisnawa Agama memuja Yang Mahakuasa sebagai Wisnu, Siwa Agama memuja Yang Makakuasa sebagai Siwa. Sakti Agama memuja Yang Mahakuasa sebagai Ibu dari Alam Semesta ini. Percaya atau tidak, tidak ada kitab Agama untuk Brahma.

Siwa Sidhanta memiliki 28 Agama dan 108 Upagama (pengajaran yang lebih kecil, lesser teachings). Shakta mengakui 77 Agama. Terpisah dari ini, Shakta memiliki sejumlah besar kitab-kitab Tantra. Waisnawa menganggap Pancha Ratra Agama yang paling penting dari semuanya. Mohon jangan kacaukan ini dengan karya Pancha Tantra yang tidak lain adalah kisah-kisah. Satu dari buku yang paling popluler dari Vaisnawa Agama adalah Wisnhu Samhita.

Tiap-tiap Agama terdiri dari empat bagian :
1. Philsafat,
2. Disiplin mental,
3. Peraturan membangun Pura,
4. Praktek-praktek keagamaan. Semua kitab Agama berdasar pada Sruti.

APAKAH CARA YANG BERBEDA UNTUK MENCAPAI TUHAN?

Pada intinya ada empat cara untuk mencapai Tuhan dalam agama Hindu yang secara luas dikenal sebagai Yoga atau Marga. Kata Yoga berarti “Persatuan dengan yang Suci” (Union with the divine). Tentu saja kata Yoga dipergunakan dalam banyak cara yang berbeda dalam agama Hindu.

Dalam buku Amarakosa, Yoga diberi arti mulai dengan “alam” (nature), “keadaan keselamatan” (the state of salvation), ketetapan (determination) “bab” (chapter) “ciptaan” (creation), “persatuan” (union), “pandangan logis” (logical view) dan bahkan juga “persiapan perang” (preparation of war). Dalam Bagawad Gita, kata Yoga dipergunakan dalam setiap awal bab untuk menandainya. Sebagai contoh, Arjuna Vishada Yoga berarti “bab mengenai kebimbangan Arjuna”

Keempat Yoga itu adalah :
1. Jnana Yoga (Marga) – jalan pengetahuan
2. Bhakti Yoga (Marga) – jalan pemujaan (devotion)
3. Karma Yoga (Marga) – jalan kerja
4. Raja Yoga (Marga) – jalan yang didasarkan atas praktek pranayama dan pengendalian pikiran

Cara atau jalan yang berbeda itu tidaklah dipisahkan secara ketat, sebaliknya mereka saling bercampur satu sama lain.

Jnana Yoga

APAKAH JNANA YOGA ATAU DARSANA?

Jnana Yoga atau Darsana dikenal sebagai philsafat Hindu. Pada intinya ada enam sistem Jnana Yoga. Semuanya berdasar pada Weda-Weda dan dikembangkan dari teori reinkarnasi. Semua jalan menuju kepada keselamatan. Enam sistem Jnana Yoga adalah sebagai berikut :
1. Samkhya,
2. Yoga,
3. Mimamsa,
4. Vaisheshika,
5. Nyaya,
6. Vedanta. Sistem Vedanta selanjutnya dibagi menjadi sistem Advaita dan Dvaita.

1. Sistem Samkhya. Inilah sistem philsafat yang tertua di dunia. Sistem ini didirikan oleh Reshi Kapila. Sistem ini mengakui tidak ada Tuhan berpribadi (personal God). Sistem ini melihat alam semesta dengan kekuatan-kekuatan Purusha (jiwa) dan Prakriti (materi).

2. Sistem Yoga. Kata yoga berasal dari akar kata “Yuj,” artinya “memasang kuk” (to yoke, bhs Bali “uga”) atau “menggabungkan” (to join). Sistem Yoga mirip dengan sistem Samkhya. Idenya didasarkan pada dualisme (melihat alam semesta sebagai dua – subyek dan obyek) dan tidak bicara mengenai satu Tuhan berpribadi. Sampai tarap tertentu ia bicara mengenai Tuhan sebagai obyek tak bernyawa dengan kata “Itu” (It). Raja Yoga dan Hatha Yoga adalah Yoga yang paling penting.

3. Sistem Mimamsa. Tokoh-tokoh utama dari cabang philsafat ini adalah Reshi Kumarila dan Prabakara. Sistem Mimamsa didasarkan atas penghindaran kelahiran kembali. Mimamsa berarti mulainya Weda-weda. Pendiri sebenarnya dari sistem ini adalah Reshi Jaimini, murid dari Reshi Veda Vyasa. Jaimini menulis buku Mimamsa Sutra, yang merupakan buku paling berpengaruh dari sistem ini.

4. Sistem Vaisheshika. Ini artinya “kekhususan” (particularity). Sistem ini adalah aliran atomis dalam philsafat Hindu. Sistem in didirikan oleh Reshi Kanada, ia menulis buku Vaisheshika Sutra. Philsafat ini mengajarkan bahwa alam semesta ini dibuat dari sembilan unsur : bumi, air, udara, api, jiwa, pikiran, ether, ruang dan waktu. Tuhan tidak disebut-sebut dalam sistem ini. Tuhan hanya disebut sebagai “Itu” (Tat)

5. Sistem Nyaya. Sistem ini didirikan oleh Reshi Gauthama. Ia menulis buku yang disebut Nyaya Sutra. Sistem ini utamanya membahas analisis secara logika mengenai dunia dan sifatnya yang atheistik. Sistem ini menyerupai sistem Vaisheshika.

6. Sistem Vedanta. Vedanta artinya “akhir dari Weda-weda”, mengindikasikan bahwa ini ditulis berdasarkan atas Upanishad-Upanishad yang ada sesudah Weda-Weda. (Sistem Mimamsa sebenarnya merupakan permulaan dari Weda-weda dan didasarkan atas ideologi Wedik). Sistem Wedanta didirikan oleh Reshi Badaryana (Veda Vyasa), yang menulis buku bernama Vedanta Sutra atau Brahma Sutra. Doktrin sentral dari Wedanta adalah Tuhan (Brahman) dan jiwa individu (Atman) adalah satu dan sama. Menurut sistem ini, tiada suatupun ada kecuali Brahman. Masalah manusia bukan dosa tapi kebodohan. Kebodohan atas sifat sebenarnya dari diri-sendiri menghasilkan lingkaran lahir dan lahir kembali tanpa akhir.

Philsafat Advaita dan Dvaita adalah dua cabang yang paling penting yang muncul dari sistem Wedanta. Tokoh terbesar dari philsafat Advaita adalah Reshi Adi Shankaracharya.

Melalui komentarnya atas Upanishad dan Brahma Sutra, Shankara mengukuhkan sistem Wedanta. Tokoh-tokoh besar dari sistem Dvaita adalah Reshi Ramanuja dan Madhva. Teori Shankara mengenai Advaita adalah bahwa hanya ada satu kenyataan (realitas) dan itu diketahui sebagai Brahman, sementara itu Ramanuja dan Madhva berpendapat bahwa realitas itu ada dua: yang bergantung dan tidak bergantung (dependent and independent). Tuhan adalah tidak bergantung (independent). Materi dan jiwa adalah tergantung kepada Tuhan dan dikendalikan oleh Tuhan.

Adi Sankara

AYAH, AKU TAHU ANDA SANGAT TERTARIK DENGAN ADI SANKARA. AKU INGIN TAHU LEBIH BANYAK MENGENAI DIA.

Ya, anakku. Aku memang memuja dia bagaikan pahlawan. Dia pendiri dari philsafat Advaita. Dia adalah seorang suci dengan pengaruh seperti Kristus, tapi ia terkenal karena pendekatan philsafatnya dalam menafsirkan Weda-weda.

Dia adalah genius dalam segala bidang yang meninggalkan jejaknya dalam setiap aspek dari agama Hindu. Dia melaksanakan upacara kematian ibunya dan ia mengarang puisi dan doa-doa kepada dewa-dewi. Namun ia bicara tentang Brahman saja (yang sejati ada, pen) Swami Chinmayananda sering mengatakan , ” Sankara mulai dimana Einstein berakhir.” Demikian luasnya pengetahuan Sankara.

Dia lahir di Kaladi, kurang lebih enam mil dari Always, di negara bagian Kerala. Pada usia delapan tahun ia telah menguasai keempat Weda, dan pada usia duabelas tahun ia telah memahami seluruh kitab-kitab suci Hindu. Pada usia enam belas tahun ia telah selesai menulis banyak buku-buku penting, dan pada usia tiga puluh dua tahun ia meninggalkan dunia ini. Menurut para sejarahwan Barat Sankaracharya hidup antara tahun 788 dan 820 AD. Dikatakan bahwa ketika ia berumur delapan tahun ia pergi ke India Utara dan menjadi murid dari Gowinda Bhagavadpada, yang merupakan murid dari Gaudapada.

Kemudian Sankara pergi ke Banaras, dan disana Padmapada, Hastamalaka dan Totaka menjadi muridnya. Menurut beberapa orang, hari-hari terakhir dari Sankara dipergunakan di Kanchi, dimana ia meninggalkan badannya. Menurut beberapa orang, Sankara tidak pernah meninggal. Ia hanya hilang dari pandangan. Sekte Siwa percaya bahwa Sankara adalah Avatara dari Siwa.

Selama persinggahannya yang singkat di dunia ini, Sankara telah menulis banyak buku. Dia menulis komentar atas Bagawad Gita, Upanishad, Brahma Sutra dan Vishnu Sahasranama. Dia menulis dua buku manual bebas yang diberi nama Upadesashasri dan Vivekachoodamani. Ia juga menulis Adma Bodham dadn Bhaja Govindam. Dari semua sajak bhakti yang ia tulis, Saundarya Lahari adalah yang paling baik.

Dia juga mendirikan empat pertapaan (biara) di sudut-sudut India yang berbeda yang dikenal dengan nama Sankaramath. Keempat pertapaan itu adalah di Sringeri (Mysore), Bandrinath (Himalaya), Dwaraka (Gujarat) dan Puri (Orissa). Sankaramath di Kanchi (Tamil Nadu) adalah sebuah ‘saka’ (cabang) dari Sankaramath di Sringeri.

Sama seperti Jesus Kristus, Sankara datang bukan untuk menghancurkan tapi untuk memenuhi kekosongan spiritual di India selama satu periode waktu tertentu dalam sejarah India. Sankaracharya menghentikan serangan gencar dari agama Buddha atas ide-ide Hindu dan mengembalikan agama Hindu pada kejayaannya sebelumnya. Menurut dia,”hanya Brahman satu-satunya yang ada; semua yang lain adalah maya atau ilusi. Jiwatman atau jiwa individu adalah Brahman itu sendiri dan sama sekali bukan yang lain. Manusia diikat oleh lingkaran reinkarnasi yang tiada akhir disebabkan oleh kebodohannya.

Kebodohan adalah akar sumber dari segala masalah. Pengetahuan menghapuskan kebodohan dan membebaskan manusia dari ikatan.”

Sankara juga mengatakan, “perbedaan antara manusia dengan Tuhan adalah masalah derajat. Pada hakikatnya mereka adalah satu dan mahluk yang sama. Itu yang ada dalam manusia disebut Atman, dan itu yang memeluk seluruh alam semesta dikenal sebagai Brahman. Mereka adalah satu dan sama seperti ruangan dalam cangkir dan ruangan di luar cangkir adalah satu dan sama.”

Sama seperti Tao dalam Taoisme, Allah dari Islam dan Ayin dari mistik Yahudi, Brahmannya Sankara tidak memiliki sifat-sifat, tidak memiliki bagian bagian dan kesadaran, dan juga abadi. Bila kamu membaca tulisan Sankara mengenai Brahman dan tulisan Lao-Tse mengenai Tao, keduanya tampak sama.

Agama Hindu berutang cukup banyak kepada Sankara. Pengajarannya adalah perwujudan yang sebenarnya dari kebebasan mutlak, dan ajaran-ajaran itu tidak dibatasi hanya pada satu kelompok tertentu dalam agama Hindu. Kamu harus berupaya membaca dan mempelajari semua buku-bukunya dalam hidupmu.

AYAH, PERNAHKAH SANKARA MENJELASKAN KENAPA BRAHMAN, YANG SEMPURNA DALAM DIRINYA SENDIRI, MENCIPTAKAN DUNIA YANG TIDAK SEMPURNA DAN PENUH MASALAH?

Aku menyesal untuk mengatakan bahwa Adi Sankara tidak pernah enjelaskan pertanyaan ini dalam tulisan-tulisannya. Banyak Vedantis, termasuk istikus Aurobindo (1872-1950), telah menunjukkan masalah ini dengan teori-teori Sankara. Kenapa Brahman, yang sempurna dan lengkap dalam dirinya sendiri, mengembangkan jaring besar Maya atau ilusi dari esensinya sendiri? Bila Dia sempurna mengapa ketidak-sempurnaan datang dari dia? Bila Brahmannya Sankara mengatasi (transcends) semua perasaan-perasaan pribadi (personality feelings), bagaimana Dia membuat satu ciptaan dengan kesadaran? Menurut Aurobindo, Sankara tidak berhasil menjelaskan, atas prinsip-prinsip negativistiknya, mengapa Yang Mutlak harus turun kepada yang terbatas. Baik Mahabagawatam maupun Bhagavad Gita menyebut-nyebut hal ini dengan cara tidak langsung. Keduanya bicara mengenai ciptaan sebagai alat bantu atau perantara (instrumentality of creation). Srimad Mahabagavatam menyatakan bahwa adalah merupakan Leela (permainan suci) bagi Tuhan untuk menciptaan sesuatu. Bhagawad Gita, pada sisi lain menyatakan bahwa adalah bagian dari alam untuk mencipta dan melahirkan (to create dan procreate). Malangnya, tidak ada kitab suci yang dengan jelas menjawab pertanyaan “kenapa dan apa” tentang penciptaan itu. Demikian juga dalam Kitab Kejadian (Genesis) kita melihat penciptaan sebagai alat bantu atau perantara, dimana Elohim berobah menjadi Jehovah (“I am” atau “Aku ada”) dan menciptakan alam semesta dalam enam hari. Dalam Vedanta Sutra kata Leela (Lila, pen) – Permainan Suci digunakan untuk menjelaskan penciptaan sebagai ekspresi tanpa keinginan dari Tuhan (desireless expression of God). Kenapa Tuhan ingin menyatakan (mengekspresikan) dirinya? Aku kira kita tidak akan pernah mendapat jawaban atas pertanyaanmu dari siapapun dengan kemampuan manusia (yang terbatas) di dunia ini.

Sankara sendiri mengatakan bahwa sebuah pertanyaan seperti yang kamu ajukan tidak mempunyai dasar, karena alam semesta materi ini sesungguhnya adalah ilusi atau Maya, hanya kilasan khayalan semata. Kamu dan aku memiliki masalah karena kita tidak mampu mengatasi kerudung besar dari Maya itu. Sankara tidak pernah mengatakan bahwa dunia ini tidak penting. Ia hanya menunjukkan fakta bahwa dunia yang kita lihat bukan dunia yang nyata. Dunia yang kita lihat senantiasa berobah. Duduk dalam mobilmu, satu mil dari sini, air yang kamu lihat di jalan sementara memang nyata, tapi bila kamu dating lebih dekat kepada air itu apa yang kamu lihat menjadi bayangan udara. Perampok dalam mimpi yang menyerang kamu adalah nyata dalam mimpi. Dalam mimpi kamu berkelahi melawannya. Tapi ketika kamu bangun, kamu akan berkata kepada dirimu sendiri, “ini hanya mimpi.” Sankara mengatakan seseorang akan mengatakan hal yang sama mengenai dunia pada saat ia menyadari atau mencapai pengetahuan yang benar. Apapun kritik yang ditujukan terhadap aspek-aspek yang lebih halus dari Advaitanya Sankara, aku pribadi merasa philsafat Advaita akan tetap ada selamanya. Bila besok seorang manusia dibuat di laboratorium, tanpa bantuan sperma dari laki-laki dan ovum dari wanita, hampir semua agama terorganisasi di dunia ini akan runtuh. Tapi philsafat Advaita dari Sankara sendirian akan tegak tinggi pada hari itu. Bila pada saat itu Sankara dapat membangkitkan tubuhnya sendiri, ia akan berteriak, “Tuhan menciptakan ilusi tapi kini manusia sendiri mulai melakukan hal itu!” Pada hari itu hanya philsafat Advaita yang akan bersorak kegirangan, semua yang lainnya akan hancur luluh.

APAKAH PHILSAFAT DVAITA?

Philsafat ini adalah philsafat mengenai dualitas yang disebarkan oleh Madhva (1197 AD), yang percaya bahwa bhakti (devotion) kepada Tuhan adalah sangat penting. Menurut dia, dunia ini adalah nyata dan ada satu perbedaan antara manusia dengan Tuhan. Realitas menurut dia ada dua macam, yang bebas dan yang tidak bebas. Tuhan satu-satunya realitas yang bebas. Materi dan jiwa manusia tergantung dan dikendalikan oleh Tuhan. Jiwa itu aktif dan bertanggung jawab untuk kebebasannya sendiri dari kelahiran berulang kali yang tak terhitung melalui bhakti kepada Tuhan.

Ramanuja, rasul pertama dari philsafat Dvaita, lahir kira-kira tahun 1050 AD. Ia adalah pemuja Wishnu. Dia mengambil jalan tengah antara philsafat Advaita dengan Dvaita. Reshi Ramanuja mengatakan bahwa Tuhan bukanlah prinsip yang tidak memiliki sifat-sifat, sebagaimana dikatakan oleh Adi Sankara, tapi adalah satu Tuhan berpribadi (Saguna Brahman) yang dapat dicintai dan dimengerti melalui bhakti. Ia mendebat Adi Sankara yang menolak bhakti kepada Tuhan ini. Tapi pada saat yang sama, Ramanuja percaya pada posisi tradisonal dari Wedanta mengenai kesatuan dengan Tuhan Yang Mahakuasa. Ia percaya pada prinsip Jivatman (jiwa individu) dan Paramatman (jiwa absolut) dan persatuan dari jivatman ke dalam Paramatman untuk mencapai moksha. Baik philsafat Advaita maupun Dvaita masih berjaya di India dalam kedudukan terhormat yang sama bahkan sampai dewasa ini. (Masih ada lanjutannya)

AYAH, AKU BINGUNG. BILA PHILSAFAT ADVAITA DAN DVAITA BERBEDA, YANG MANA YANG BENAR?

Seperti telah kukatakan sebelumnya, adalah normal sekali-sekali untuk dibuat bingung oleh kedua sistem philsafat ini. Sesungguhnya, kedua philsafat ini adalah satu dan sama tapi mereka beda hanya menurut dataran dari mana kita memandang mereka. Bila aku melihat kamu dan sebuah robot sebagai satu bundel elektron dan proton, maka kamu berdua adalah satu dan sama. Tapi bila dilihat dari dataran yang lain mahluk manusia sangat berbeda sekali dengan robot yang tidak bernyawa. Keduanya benar, tapi mereka berbeda dalam dataran persepsi. Wajah seorang model sangat cantik di depan mata telanjang, tapi akan buruk sekali di bawah mikroskop elektron yang sangat kuat. Ketika dataran persepsi itu berobah kebenaran yang dilihatnya juga berobah.

Tengoklah kepada cahaya yang dapat dilihat. Sir Isaac Newton berkata, “Cahaya bergerak dalam garis lurus.” Albert Einstein, dengan quantum teorinya, memproklamirkan kepada dunia, “Cahaya bergerak dalam pola gelombang.” Sekarang kita mempelajari keduanya, teori Newton dan Einstein mengenai cahaya dan menggunakannya untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Pada satu sisi cahaya adalah satu gelombang tetap dalam gerakan, dan pada sisi lain cahaya yang sama itu terbuat dari partikel-partikel independen dalam gerakan. Memeriksanya lebih jauh, cahaya itu adalah satu radiasi elektromagnetik dalam jarak panjang gelombang (range wavelength) termasuk infra merah, cahaya ultraviolet dan cahaya yang dapat dilihat, dengan kecepatan kurang lebih tiga ratus miliar meter per detik bila ia berjalan dalam ruang hampa.

Tanpa persepsi dualitas tindakan tidak mungkin. Kita dapat memahami (perceive) dunia ini hanya karena dia adalah satu seri dari dualitas yang bertentangan (rwa bineda). Manusia hanya dapat bertindak dalam satu lingkungan subyek-obyek. Menurut Taoisme, Satu Yang Mutlak itu (the Absolute One) menjadi dua dalam ciptaan.

I Ching atau Buku tentang Perobahan dari China yang terkenal itu, melihat alam semesta ini sebagai Yin dan Yang atau laki-laki dan wanita. Yin adalah kekuatan phisik dan emosional, dan Yang adalah kekuatan spiritual atau intelektual. Mereka sesungguhnya adalah dua aspek dari satu kekuatan absolut, sama seperti kutub utara dan selatan dari sebuah magnet. Pengikut Tao mencoba untuk memperoleh keseimbangan yang wajar antara Yin dan Yang. Dikatakan bahwa pemuka awal dari sistem pasangan (binary system) yang terkenal itu, Orang Jerman jenius Gottfried Wilhelm Leibniz, dalam tahun 1666 meletakkan dasar dari komputer elektronik modern berdasarkan atas ide-ide yang ia terima dari I Ching mengenai Yin dan Yang. Menurut dia, “satu” mewakili Tuhan, “nol” mewakili kosong (void), dan dari satu ke kosong segala sesuatu datang sama seperti satu dan kosong dapat menjelaskan ide-ide matematika. Jadi dalam sirkit-sirkit yang terintegrasi dari komputer modern, kita dapat melihat sistem Advaita dan Dvaita.

Dengan menjaga tombol mocroscope eletronik pada sebuah komputer modern dalam posisi “on” atau “off”, mewakili satu dan kosong, manusia sesungguhnya telah menciptakan satu dunia impian. Semua masalah-masalah rumit dunia ini oleh sebuah komputer elektronik hanya dilihat sebagai posisi “nol” dan “satu”, sebagai “off” dan “on” dari sejumlah besar nomor tombol. Ini kedengaran mengagetkan pikiran, tapi itulah sesungguhnya kebenarannya. Aku harap dengan contoh-contoh di atas akan sangat mudah untuk memahami mengapa philsafat Advaita dan Dvaita mempunyai posisi penting yang sama bagi orang Hindu.

Dan lagi, tidak ada pemisahan yang ketat antara aliran philsafat. Adi Sankaracharya sendiri menulis beberapa puisi bhakti untuk bentuk-bentuk Tuhan yang berbeda. Sama seperti Taoisme, Adi Sankara tidak menolak dunia materi atau kehidupan yang biasa, tapi meminta para pengikutnya untuk mengunakan dunia materi dan kehidupan biasa itu mengatasi (transcend) dunia materi itu. Doktrin Maya, yang telah banyak sekali ditulis oleh Adi Sankara, tidak menyatakan bahwa dunia ini tidak nyata tapi bahwa persepsi kita mengenai dunia ini salah. Persepsi kita mengenai dunia ini adalah relatif, tergantung atas waktu, ruang dan penyebab (causation). Kata Maya biasanya dijelaskan oleh orang-orang suci Hindu sebagai “peniadaan” (negation) dan “karena itu ayo hentikan semua tindakan.” Penjelasan semacam itu sangat jauh dari kebenaran dan melawan semua ajaran Bhagawad Gita. Kata ilusi berasal dari bahasa Latin yang berarti “memainkan permainan” (to play the game). Jadi kita tidak dapat menghentikan tindakan sampai tindakan secara alamiah berhenti dalam hidup kita atau sampai kita melihat “tidak-bertindak dalam tindakan dan tindakan dalam tidak-bertindak” (inaction in action and action in inaction) seperti dijelaskan dengan panjang lebar oleh Bhawagad Gita.

Kepada sebagian orang philsafat Advaita akan menarik dan kepada sebagian yang lain philsafat Dvaita akan menarik sesuai dengan sifat-sifat individu mereka masing-masing. Secara pribadi, aku merasa kedua philsafat ini merupakan bagian tak terpisahkan dari satu philsafat besar, seperti kutub utara dan kutub selatan dari sebuah magnet. Kedua philsafat ini membantu agama Hindu untuk secara sungguh-sungguh mengeksplorasi wilayah-wilayah tak dikenal dari hidup kita. (Masih ada lanjutannya, satu kali lagi)

APAKAH ANDA MENYIMPULKAN, AYAH, BAHWA ADVAITA MUNGKIN BENAR TAPI BAHWA DVAITA ADALAH SISTEM YANG DAPAT DIPRAKTEKKAN?

Aku kira aku telah menjelaskan hal itu. Anyway, mari kujelaskan sekali lagi. Bila kamu melihat philsafat Advaita dan Dvaita sebagai dua philsafat yang berbeda, maka Advaita adalah Kebenaran Mutlak. Tapi bila kita hidup dalam satu dunia hubungan subyektif – obyektif, kita dipaksa bertindak dibawah prinsip-prinsip Dvaita. Bahkan Sankara sendiri tidak sama sekali menolak prinsip-prinsip Dvaita, seperti ditunjukkan oleh contohnya yang termashur mengenai “tali dan ular” dalam komenternya atas Karika Gaudapada. Seorang manusia yang melihat seutas tali sebagai seekor ular dalam kegelapan dipaksa mengalami stres mental karena harus menghadapi seekor ular. Kemudian, ketika ia menemukan bahwa ular itu sesungguhnya hanya seutas tali, ia mungkin akan berpikir betapa bodohnya dirinya. Tapi tak seorangpun dapat menyalahkan orang itu karena melihat tali sebagai ular dalam kegelapan.

Seseorang mengalami mimpi melihat seekor harimau mengejarnya. Dalam mimpinya ia mencoba lari dari harimau itu. Tanpa bergerak seincipun dari tempat tidurnya, ia merasa lari bermil-mil jauhnya melalui hutan onak-duri, tapi ketika ia tiba-tiba terbangun ia berkata kepada dirinya sendiri, “ini hanya mimpi.” Pengalaman menyedihkan yang ia alami dalam mimpi tiba-tiba hanya menjadi suatu kebodohan ketika ia bangun. Menurut Adi Sankara, kita akan merasakan hal sama mengenai dunia materialistik ini ketika kita bangun dari mimpi materialistik ini.

Pada saat yang sama, semua dari kita harus berjuang di dunia dualitas ini sepanjang kita melihat dunia ini sebagai dualistik dalam sifatnya. Berteriak-teriak mengenai Advaita tidak akan membuat kita menyadari kesatuan kita dengan alam semesta ini. Tapi, bersama Sankara, banyak sekali guru-guru telah menyatakan kemampuan mereka untuk melihat dunia ini sebagai Advaita – satu kesatuan (one entity). Para santo sufi adalah contoh sempurna. Bila kamu mencari, akhirnya kamu akan mencapai keadaan dari para Sufi itu dan Adi Sankara.

Ramayana

APA SAJA EPIK YANG TERKENAL DAN SIAPA PENULISNYA?

Dua epik atau Ithihasa yang terkenal adalah Ramayana dan Mahabharata. Reshi Valmiki menulis yang pertama dan Reshi Veda Vyasa, putra dari Reshi Parasara, menulis yang kedua. Kisah mengenai Reshi Valmiki ada dalam Uttara Kanda, satu tambahan pada epik besar Ramayana.

BAGAIMANA KISAH VALMIKI?

Pada bagian awal dari hidupnya, Valmiki adalah seorang perampok jalanan tanpa nama. Ia biasa merampok orang-orang yang lewat untuk menghidupi anak-anak dan istrinya. Suatu hari Maharesi Narada lewat dan perampok itu menyerang orang suci itu. Narada bertanya pada Valmiki mengapa ia merampoknya. “Untuk menghidupi keluargaku,” jawab perampok itu. “Ketika kamu merampok seseorang kamu juga menimbulkan banyak dosa. Apakah keluargamu juga mau memikul dosamu itu?” tanya Mahareshi itu. “Aku yakin mereka mau,” jawab perampok. “Baiklah,” kata Mahareshi, “mengapa kamu tidak mengikat aku disini, pulang, dan tanyai setiap orang apakah mereka siap membagi dosamu dengan uang yang kamu bawa pulang?” Perampok itu setuju. Dia mengikat Maharesi pada sebatang pohon dan lari ke rumahnya yang sederhana. Disana ia menanyai semua anggota keluarganya dengan pertanyaan, “Maukah kamu membagi dosaku?” Seluruh anggota keluarga termasuk istrinya, memberikan jawaban empati “tidak.”

Untuk pertama kali dalam hidupnya, perampok itu memahami kebenaran. Dengan air mata berguguran di pipinya ia lari kepada Narada dan mamohon ampun. Mahareshi itu mengajari perampok itu bagaimana memuja Tuhan. Konon perampok itu begitu tenggelam dalam samadi sehingga semut-semut membangun bukit semut di sekitar dirinya. Akhirnya, setelah bertahun-tahun samadi, sebuah suara datang entah dari mana meminta perampok yang samadi itu untuk bangun dari meditasinya. Suara itu menamainya Valmiki, artinya “dia yang lahir dalam bukit semut. Inilah kisah Valmiki.

BAGAIMANAKAH KISAH DIBALIK PENULISAN EPIK RAMAYANA?

Ketika Valmiki berjalan melintasi hutan ia melihat sepasang merpati sedang berkasih-kasihan. Ketika Maharesi sedang terpesona oleh pemandangan itu, satu anak panah melewatinya dan mengenai merpati jantan. Merpati betina terbang turun dalam kesedihan dan menangisi kekasihnya yang sudah mati. Valmiki melihat pemburu itu dan menyebutnya bajingan, tapi segera merasa bahwa sebagai orang suci ia tidak pantas berkata seperti itu. Lalu sebuah suara dari langit berkata, “Oh! Valmiki, kata-katamu sangat puitis; jangan sedih. Inilah waktu yang tepat bagimu untuk menulis mengenai Batara Rama.” Setelah menerima perintah dari suara di langit itu, Valmiki menulis puisi abadi Ramayana, kisah dari Batara Rama. Valmiki menulis seluruhnya sebagai narasi dari merpati betina yang menangis kepadanya. Pada awal setiap bab, dia membuat pembaca sadar mengenai fakta bahwa seekor burung yang menangis yang mengisahkan kisah agung mengenai Batara Rama.

TERDIRI DARI APA EPIK RAMAYANA ITU?

Secara singkat, Ramayana adalah kisah dari Batara Rama dan Dewi Sita. Ia adalah satu puisi dengan 24.000 couplet. Kisah singkatnya adalah sebagai berikut. Pada suatu waktu adalah seorang raja bernama Dasaratha yang memiliki tiga istri, Kausalya, Kaikeyi dan Sumitra. Malangnya, Dasaratha tidak mempunyai anak dari ketiga istrinya, karena itu ia melakukan suatu upacara khusus yang disebut Puthra Kamesthi Yagam. Dari api upacara itu keluar satu obat mujarab untuk segala penyakit (elixir) yang diminum oleh ketiga ratu itu. Sebagai akibatnya, Kausalya mempunyai seorang putra yang diberi nama Rama, Kaikeyi mempunyai seorang putra yang diberi nama Bharata, dan Sumitra mempunyai dua putra yang diberi nama Lakshmana dan Shatrugna. Rama dan Lakshmana menjadi sahabat kental sejak masa-masa kanak-kanak sampai seterusnya, demikian juga Bharata dan Shatrugna.

Ketika anak-anak masuk masa remaja, Rama mengawini Dewi Sita, putri piatu dari raja besar Janaka. Setelah itu, raja Dasarata berpikir untuk meninggalkan singasana dan mengangkat putra mahkota Rama menjadi raja. Seluruh negeri bergembira mendengar berita itu, keculai Kaikeyi dan pelayannya Mandara. Akhirnya kecemburuan dan intrik Ratu Kaikeyi membuat Rama meninggalkan kerajaan dan pergi ke hutan bersama istrinya Sita dan saudaranya tercinta Lakshmana. Di dalam hutan, Sita yang malang diculik oleh Rahwana, raja-rakasasa dari Sri Langka. Rama datang membebaskan Sita dengan bantuan raja-kera Sugriwa dan perdana menterinya Hanuman. Dalam satu pertempuran besar, Rama menghancurkan Rahwana beserta pasukannya. Rama, bersama Dewi Sita, akhirnya kembali ke kerajaan Ayodhya.

Ramayana adalah puisi yang sangat digemari oleh orang-orang Hindu. Pestival Deepavali suci adalah perayaan kemenangan Rama atas raja-raksasa Rahwana. Deepavali atau Diwali – Pestival Cahaya – dirayakan di seluruh India.

Rama adalah Awatara dari Wishnu dan Ramayana adalah satu kisah yang memproyeksikan ideal-ideal atau cita-cita Hindu mengenai kehidupan. Rama adalah manusia sempurna, Sita adalah istri sempurna dan Lakshmana adalah saudara yang sempurna. Ada berbagai versi Ramayana. Versi Hindu ditulis oleh Reshi Tulsi Das. Versi Malayalam ditulis oleh Thuncheth Ezuthchan. Teks asli Ramayana ditulis dalam bahasa Sansekerta yang sangat indah.

Yoga Vasishtha

APAKAH YOGA VASISHTHA YANG TERKENAL ITU?

Ia adalah salah satu karya terpenting dalam philsafat Hindu, beberapa orang percaya buku ini ditulis selama abad ketujuh A.D., walaupun karena buku ini muncul dari epik Ramayana banyak yang mengatakan bahwa buku ini juga ditulis oleh Walmiki. Yoga Vasishtha terdiri dari 29.000 sloka (sajak). Seluruh aspek dari Darsana (philsafat Hindu), sejak dari Samkhya sampai Wedanta, secara halus dianyam dalam Yoga Vasishtha. Tokoh utama dalam buku in adalah Batara Rama dan Reshi Vasishtha. Sama seperti Bagawad Gita, ini adalah sebuah dialog, kali ini antara Vasihtha dengan Rama. Vasishtha menasehati Rama mengenai seluruh aspek dari kehidupan.

Vasishtha adalah tokoh penting dalam agama Hindu. Manu menyebutnya sebagai salan seorang dari eksponen agama Hindu. Adi Sankaracharya menyebutnya sebagai Reshi pertama aliran philsafat Wedanta. Salah satu bagian terpenting dari Yoga Vasishtha adalah doktrin mengenai pikiran. Menurut buku ini, ketika pikiran bergetar, dunia menjadi (ada), ketika pikiran berhenti bergetar, dunia hancur. (Bandingkan dengan Descartes, philsuf Perancis abad pertengahan yang terkenal dengan ucapannya “cogito ergo sum” aku berpikir karena itu aku ada, pen).

Bahasa dangaya dari Yoga Vasishtha sangat puitis. Ia dipenuhi oleh kisah-kisah pantastik dan wacana philsafat. Valmiki mengakhiri Yoga Vasishtha dengan pernyataan bahwa dia yang mendengarkan dialog antara Reshi Vasishtha dan Batara Rama akan dibebaskan dan mencapai pengetahuan mengenai Brahman.

Mahabharata

AYAH, EPIK MAHABHARATA ITU BERKAITAN DENGAN APA?

Mahabharata itu berisi episode-episode, kisah-kisah, dialog-dialog, wacana-wacana dan kotbah-kotbah. Ia terdiri dari 110.000 sajak atau 220.000 baris dalam delapan belas Parwa atau bagian. Masing-masing Parwa itu adalah : Adi Parwa, Sabha Parwa, Wana Parwa, Wirata Parwa, Udyoga Parwa, Bhisma Parwa, Drona Parwa, Karna Parwa, Salya Parwa, Sauptika Parwa, Stri Parwa, Santi Parwa, Anusasana Parwa, Aswamedhika Parwa, Ashrama Parwa, Mausala Parwa, Mahaprasthanika Parwa, Swargarohana Parwa. Di luar dari delapan belas Parwa ini adalah puisi yang merupakan appendiks sebanyak 16,375 sajak, yang dikenal dengan nama Hariwamsa Parwa. Jadi secara total ada sembilan belas Parwa sekalipun beberapa orang suci tidak menganggap bagian terakhir sebagai Parwa penting. Mahabharata adalah puisi terpanjang di dunia. Bhagawad Gita adalah bagian dari Mahabharata.

DAPATKAN ANDA MENCERITAKAN PADAKU KISAH SEBENARNYA DARI MAHABHARATA?

Sangat sulit mengisahkan cerita Mahabharata dalam beberapa kata. Walaupun demikian, mari kucoba mengisahkannya kepadamu secara singkat. Batara Brahma berputra Atri. Soma adalah putra Atri. Buddha dan Pururawas adalah putra-putra Soma. Ayus adalah putra Pururawas. Yayathi, Dhushyantha, Bharata, Kuru dan Santhanu lahir dari garis keturunan Ayus.

Raja Santhanu mempunyai seorang putra dari Dewi Ganga, dikenal sebagai Ganeya, Dewabrata, dan secara populer dikenal sebagai Bhisma. Setelah kelahiran Bhisma, Dewi Gangga berpisah dengan Raja Santhanu. Kemudian Santhanu jatuh cinta pada seorang wanita bernama Satyawati (dari suku nelayan). Ayah Satyawati membuat Bhisma bersumpah untuk membujang seumur hidup sebagai syarat diijinkannya putrinya kawin dengan Raja Santhanu. Dari Satyawati Raja Santhanu memiliki dua putra bernama Chitrangada dan Vichitravirya. Mereka menikahi dua putri dari raja Kasi, Ambika dan Ambalika. Chitrangada dibunuh oleh seorang Gandharwa (celestial being) dan Vichitravirya mati karena suatu penyakit. Tiba-tiba negeri itu tidak memiliki penguasa. Karena itu Ratu Satyawati mengundang putranya (dari Reshi Parasara), Reshi Veda Vyasa, untuk menghamili kedua putri itu. Putri Ambika melahirkan Dhristarashtra. Putri Ambalika melahirkan seorang putra bernama Pandu.

Veda Vyasa juga menghamili seorang gadis pelayan yang kemudian melahirkan Vidura. Pandu, sekalipun putra bungsu, menjadi raja karena kakaknya, Dhristarashtra buta. Pandu mengawini Kunti dan Madri, dan dari Kunti ia mempunyai tiga putra yaitu Yudhishtira (juga disebut Dharmaputra), Bhima dan dan Arjuna. Dari Madri ia mempunyai dua putra yaitu Nakula dan Sahadewa. Kelima putra Pandu secara bersama disebut Pandawa.

Dhristarashtra mengawini Dewi Gandhari, dan mempunyai seratus putra dan seorang putri. Putranya tertua bernama Duryodana dan putrinya bernama Dussala. Raja Pandu tiba-tiba meninggal, karena itu Dhristarashtra dinobatkan menjadi raja. Tapi ia sepenuhnya berada di bawah pengaruh putra tertuanya, Duryodana. Ketika Pandawa datang untuk menetap di Hastinapura, ibu kota, Duryodana berusaha melenyapkan mereka. Permusuhan antara Kaurawa dengan Pandawa akhirnya menimbulkan satu perang yang sangat hebat yang dikenal sebagai Perang Mahabharata. Krishna memihak Pandawa dalam perang ini. Dalam perang ini semua Kaurawa terbunuh. Setelah perang Yudhistira menjadi raja. Beberapa tahun kemudian, Krishna, bersama wangsanya yang disebut Yadava meninggalkan dunia ini. Segera setelah itu Yudhishtira dan saudara-saudaranya menyerahkan kerajaan kepada Parikshit, cucu Arjuna, dan para Pandawa pergi ke surga. Demikianlah secara ringkas epik besar Mahabarata itu.

Bhagawad Gita

APAKAH NAMA DARI KITAB SUCI HINDU?

Mayoritas orang Hindu menganggap Bhawagad Gita adalah kitab suci Hindu. Konon dikatakan dalam salah satu kitab suci bahwa bila Upanishad-Upanishad adalah lembu, Bhagawad Gita dianggap sebagai susu. Sesungguhnya, Bhagawad Gita adalah saripati dari Weda-Weda. Ia memang adalah penyajian terakhir dari Upanishad-Upanishad. Bhagawad Gita disajikan dalam bentuk percakapan antara Arjuna dan kusirnya sekaligus sahabatnya Krishna pada awal dari Perang Mahabharata. Sesaat sebelum pertempuran dimulai, Arjuna menolak berperang ketika dia melihat bahwa dia harus membunuh bangsanya sendiri. Krishna menasehatinya secara rinci atas berbagai subyek. Pada akhirnya, Arjuna menerima nasehat Shri Krishna dan bertempur dalam perang dahsyat itu.

Bhagawad Gita terdiri dari delapan belas bab dan kurang lebih tujuh ratus sloka. Ia membahas secara mendalam semua yoga atau jalan untuk mencapai Tuhan. Ada berbagai versi dari Bhagawad Gita yang tersedia di pasar. Terjemahan dalam bahasa Inggris yang pertama dilakukan oleh Charles Wilkins pada tahun 1785, dengan kata pengantar oleh Warren Hasting, Gubernur Jenderal Inggris pertama di India. Tapi yang paling populer adalah terjemahan bahasa Inggris yang dikerjakan oleh Sir Edwin Arnold, dengan judul “The Song Celestial.” (Nyanyian Abadi).

Bhagawad Gita memiliki jawaban untuk setiap masalah yang mungkin dihadapi oleh manusia dalam hidupnya. Bhagawad Gita tidak pernah memerintahkan seseorang mengenai apa yang harus dilakukan. Sebaliknya, ia memberikan plus dan minus dari setiap masalah dan keputusan terakhir diserahkan kepada orang yang bersangkutan. Dalam seluruh Bhagawad Gita kamu tidak akan menemukan satu barispun yang mulai dengan ” Engkau tidak akan” (Thou shalt not).

Bila kitab suci Kristen bicara mengenai neraka abadi untuk para pendosa, Bhagawad Gita menyatakan keselamatan untuk semua orang dalam berbagai slokanya (4:36, 9:30, 9:32). Semua dari kita, apakah kita percaya pada Tuhan atau tidak, pada suatu saat, akan mencapai keselamatan (salvation). Hanya faktor waktu yang membedakan yang terbaik dan terburuk di antara kita. Bhagawad Gita menegaskan, “kebenaran akan membebaskan kamu.”

AYAH, MENGAPA BHAGAWAD GITA MERUPAKAN KITAB SUCI YANG PALING PENTING BAGI ORANG HINDU?

Aku kira Bhagawad Gita merupakan kitab suci yang paling penting karena berbagai subyek yang didiskusikan dalam tujuh ratus slokanya. Ia mengajarkan pelenyapan keinginan dan ego. Ia menganjurkan kerja tanpa mementingkan diri sendiri. Ia mengajarkan berbagai cara untuk mengendalikan pikiran dan indriya. Seluruh pengajaran besar dari Kristus mengenai pemujaan (devotion) dan kesatuan dengan Tuhan kamu dapat dilihat dalam Bagawad Gita. Bhagawad Gita menjelaskan kesatuan dengan Tuhan dalam bab 11, 12, 13, 14 dan 18 dengan kata-kata seperti “masuklah ke dalamKu,” “capailah Aku,” “tinggallah dalamKu,” “ejawantahkan Aku,” “capailah Brahman,” dst. Keindahan dari Bagawad Gita adalah bahwa ia meminta seorang manusia melakukan perobahan menyeluruh dari kesadarannya dari pada perobahan dalam gaya hidup dan penampakan luar. Ingatlah selalu bahwa setelah percakapan besar Bhagawad Gita Arjuna tidak menjadi pertapa, tapi sebaliknya bertempur dalam perang dahsyat menghancurkan musuh-musuhnya.

Kebanyakan kaum intelektual paling sedikit sekali dalam hidupnya membaca Bhagawad Gita. Aldous Huxley menulis dalam kata pengantar untuk ‘The Song of God’ dari Swami Prabhavananda dan Christopher Isherwood, sebagai berikut : “Bhagawad Gita mungkin satu-satunya kitab suci yang paling sistematis mengungkapkan philsafat perenial philsafat abadi) .” Bhagawad Gita memenangkan minat dan perhatian dari para intelektual seperti Von Humboldt dari Jerman dan Ralph Waldo Emerson dari Amerika Serikat. Ia juga mempengaruhi pemikir seperti Hegel dan Schoupenhauer.

Robert Oppenheimer, pemimpin pertama dari Komisi Energi Atom Amerika Serikat, benar-benar menggoncangkan dunia ketika ia mengutip satu sloka Bhagawad Gita (Bab 11:12) setelah menyaksikan percobaan peledakkan bom atom pertama di gurun pasir negara bagian New Mexico. Kemudian dalam dengar pendapat Kongres Amerika, ia mengatakan bahwa bom nuklir mengingatkan ia kepada Dewa Hindu Wishnu yang mengatakan, “Aku adalah Maut, penelan segala sesuatu.”

Aku merasa seluruh kisah Mahabharata dengan perangnya yang dahsyat ditulis oleh Reshi Veda Vyasa untuk menciptakan suasana yang tepat untuk menyampaikan kepada dunia hukum tak tertulis dari alam semesta. Aku kira bahkan Batara Krishna dan Arjuna secara khusus juga diambil oleh Maharesi itu untuk menyediakan wawasan yang betul-betul berkuasa kepada kebenaran terakhir yang ingin diketahui oleh dunia. Sebagai contoh, bila aku mendiskusikan konstitusi Amerika Serikat bahkan seekor lalat pun tidak akan mau mendengarkan. Tapi bila Ketua Mahkamah Agung AS mengucapkan satu kata mengenai konstitusi AS, seluruh orang Amerika akan mendengarkan. Bila rincian dari konstitusi itu didiskusikan oleh Presiden dan Ketua MA Amerika Serikat, seluruh dunia akan mendengarkan. Analogi yang sama berlaku untuk narasi Bhagawad Gita. Bila ia ditulis seperti “Veda Vyasa mengatakan demikian,” ia tidak akan dibaca oleh banyak orang, tapi karena ia ditulis sebagai sebuah percakapan yang hidup antara pemanah besar dunia, Pangeran Arjuna, dan guru terbesar dunia, Batara Krishna, pada permulaan dari perang besar Mahabharata, seluruh dunia dengan senang hati membacanya.

Legenda mengatakan bahwa setelah Veda Vyasa menulis Mahabharata, Reshi Narada mendesaknya untuk menulis Srimad Bhagawatam Purana dengan bantuan Ganapathi, sehingga bahkan orang biasapun dapat memahami semua pengajaran Bhagawad Gita dalam satu bentuk yang sangat devosional.

AYAH, MENURUT PENDAPATMU AJARAN-AJARAN DARI BHAGAWAD GITA LEBIH PENTING DARI PRIBADI KRISHNA?

Ini sesungguhnya pertanyaan yang amat sulit untuk dijawab. Kepada seseorang yang percaya Krishna adalah Kepribadian Mutlak dari Tuhan (the Absolute Personality of the Godhead), Krishna berada sejajar atau lebih tinggi dari ajaran-ajaran Bhagawad Gita. Tapi bagi ribuan intelektual di seluruh dunia, ajaran-ajaran dari Bhagawad Gita lebih penting dari Krishna karena mereka tidak mengetahui mitologi kita. Ketika mereka membaca Bhagawad Gita, mereka tidak akan membayangkan citra dari Gopi yang penuh warna, cakap dalam segala hal, dan suka bermain. Mereka mempelajari Bhagawad Gita seperti mereka mempelajari matematika, phisika atau kimia. Dalam ilmu pengetahuan, teori relativitas dan hukum-hukum tindakan (laws of action) lebih penting dari Einstein atau Newton. Dalam cara yang sama, para intelektual membaca Gita lebih sebagai “Ilmu pengetahaun dasar” (basic science) dari pada sesuatu yang diajarkan oleh Krishna. Dalam satu hal, ketika seseorang berpikir secara mendalam, orang itu akan dapat menemukan bahwa Krishna adalah gambaran mikrokosmik dari Yang Takterbatas.

Krishna menunjukkan bahwa “bentuk yang tak berbentuk” (shapeless shape or formles form) dari dirinya sendiri sebagai Viswarupa kepada Arjuna dalam bab sebelas dari Bhagawad Gita. Krishna mengatakan, “Arjuna, kamu tidak dapat melihatku dengan matamu, oleh karena itu aku memberikan kamu penglihatan suci. Lihatlah kekuatan Yogaku yang tertinggi.” (Bab 11:18). Kemudian Arjuna melihat seluruh alam semesta dengan banyak bagiannya bersandar pada tubuh Tuhan dari segala Dewa (Bab 11:334). Dalam bab yang sama, mulai sloka 14 sampai dengan 31, Arjuna menjelaskan bahwa “bentuk yang tanpa bentuk” itu dalam detilnya. Jadi kita harus menyimpulkan bahwa Yang Mahakuasa turun sebagai Krishna dan dalam kata-ka tanya dia akan turun ke dunia lagi berkali-kali dalam bentuk yang berbeda-beda kapanpun dunia menghendakinya. Jadi sekalipun adalah normal bagi aku dan kamu untuk membayangkan satu pribadi menarik dari Krishna, adalah lebih baik untuk memahaminya sebagai Kekuasaan Tertinggi yang juga turun sebagai Buddha atau nabi-nabi lainya di dunia.

Melalui seluruh Bhagawad Gita, Krishna mengatakan “Akulah Jalan itu,” dan “Datanglah kepadaKu.” Dalam Injil Jesus Kristus membuat pernyataan yang sama beberapa kali. Krishna dan Kristus berbicara sama karena keduanya dating sebagai Kekuasaan Tak terbatas dalam bentuk-bentuk terbatas. Untuk memahami kata-kata abadi dari Kristus, seseorang memerlukan Bhagawad Gita dan kitab-kitab suci Hindu yang lain. Tanpa bantuan dari agama Hindu, orang bias sampai pada kesimpulan yang salah ketika ia mencoba menjelaskan kata-kata Krisus. Jesus Kristus berkata, “Dan bila mata kananmu bersalah terhadap kamu, cukil ia keluar, dan buanglah dari kamu, sebab sangat beruntung bagimu bahwa satu anggota tubuhmu akan hancur dan bukan seluruh tubuhmu akan dibuang di neraka,” dan “bila tangan kananmu bersalah terhadap kamu, potonglah dia, dan buanglah dari dirimu; sebab itu lebih menguntungkan bagimu bahwa satu anggota badanmu hancur, dan tidak seluruh tubuhmu dibuang ke dalam neraka (Matthew 5:29,30 dan baca juga Mark 9:45,46,47). Bagaimana menjelaskan ini? Bila kamu membaca Bhagawad Gita, kamu akan melihat penjelasan yang sangat rinci mengenai apa yang dikatakan oleh Kristus. Dalam sloka 58 sampai 70 bab kedua, Krishna berkata, “Seluruh Indriya mempunyai kisah cinta dengan obyek-obyek perasaan. Sama seperti kura-kura yang menarik kakinya kedalam kulitnya (shell) ketika ia merasa ada bahaya mengancam, demikian pula orang bijaksana menarik indriya mereka ketika mereka melihat bahwa indriya tersesat dalam obyek-obyek indriya itu.” Tanpa pengendalian yang sewajarnya, tiada seorangpun dapat mencapai Kebenaran Yang Mutlak (Tuhan) Tidakkah kamu pikir dengan penjelasan ini kamu bisa mengerti kata-kata abadi Kristus dengan lebih baik?

Kembali ke Bhagawad Gita, jalan manapun yang kamu tempuh, kamu akan mengikuti jalan yang benar. Bila kamu mengikuti ajaran Bhagawad Gita dalam cara yang sangat logis dan matematis, kamu akan mencapai keselamatan (moksha), karena Bhagawad Gita mengandung hukum taktertulis dari alam semesta. Pada sisi lain, bila kamu membacanya dengan penuh bhakti kepada Krishna dan bila kamu mengikuti Bhagawad Gita atas dasar bhakti, kamu juga akan mencapai keselamatan. Baik jalan intelektual maupun jalan bhakti akan menuntun kamu kepada Tuhan

Hari-hari terakhirKrishna

AYAH, DAPATKAH ANDA MENJELASKAN MENGENAI HARI-HARI TERAKHIR KRISHNA? BAGAIMANA IA MENINGGAL?

Setelah perang Mahabharata, Krishna membawa Gandhari mengelilingi medan pertempuran Kurukshetra untuk melihat tubuh-tubuh dari ke seratus anaknya yang telah meninggal. Setelah menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu, ia mengutuk Krishna : “Oh! Krishna, engkau adalah penyebab dari perang ini. Andaikata engkau tidak ikut serta dalam perang ini, anak-anakku akan masih hidup hari ini. Krishna, kamu dan keluargamu akan hancur dalam cara yang sama.” Mendengar kutukan Gandhari, Krishna berkata : “Terima kasih, Ibu, Aku dengan senang menanti hari itu.” Krishna mengatakan itu karena keluarganya sendiri telah menjadi beban bagfi Ibu Pertiwi, karena tindakan-tindakan jahat meraka yang memang pantas untuk sutu penghancuran.

Krishna kembali ke ketanah kerajaannya, Dwaraka, setelah penobatan Yudhistira, sulung dari Pandawa. Suatu hari, ketika Saptha Reshi yang agung (tujuh Reshi yang hidup abadi), melewati Dwaraka, beberapa orang anak muda dari kaum Yadawa berniat untuk menjadikan mereka bahan lelucon. Para pmuda itu mendandani seorang remaja uasia 16 tahun seperti seorang gadis yang sedang hamil dan mereka bertanya kepada ketujuh Reshi Agung itu kapan gadis hamil itu akan melahirkan dan apa jenis kelamin bayi itu? Dalam satu suara ketujuh Reshi agung itu menjawab, “Gadis ini akan melahirkan satu gada baja dan seluruh wangsa Yadawa akan hancur lenyap oleh gada itu.” Setelah berkata demikian, Saptha Reshi itu menghilang ke dalam udara yang tipis.

Orang-orang muda Yadawa itu tertawa-tawa tidak mengetahui bahaya yang segera akan datang. Siapakah yang pernha mendengar seroang anak- laki-laki melahirkan sebuah gada? Setelah beberapa jam, lihat dan perhatikan! Aanak laki-laki itu melahirkan sebuah gada baja yang buruk rupa. Anak-anak muda yang ketakutan itu segera mengambil gada itu dan membawanya kepada Ugrasena, salah seorang tokoh terkemuka dari klan Yadawa. Ugrasena menggiling gada itu menjadi tepung dan membuangnya ke laut didmana ia menjadi tepung ilalang. Tepung itu kemlbai ke pantai dan menjadi semacam rumput yang menyerupai pisau. Satu keping tajam sisa gada yang dilempar ke laut ditelan oleh seekor ikan. Seorang nelayan yang bernama Jaras kebetulan menangkap ikan itu, ketika ia membuka mulut ikan itu ia terkejut menemukan seserpih baja yang aneh. Ia memberikan serpihan itu kepada seorang pemburu yang menjadikannya mata anak panah.

Sementara itu Krishna, mengetahui segala apa yang terjadi, mengundang Narada, bhaktanya yang terbesar, dand memberi tahu dia bahwa waktunya telah tiba bagi semluruh wangsa Yadawa, termasuk dirinya sendiri, akan dihancurkan untuk meringankan beban Ibu Pertiwi. Dia berkata bahwa dia sendiri akan terbunuh dan bahwa ia akan kembali ke Vaikunta sebagai Batara Wishnu. Dia berkata bahwa dengan pelenyapan dari wangsa Yadawa dia telah memenuhi tugasnya sebagai Awatara.

Suatu hari wangsa Yadawa mengadakan suatu perayaan besar di tepi pantai. Tiba-tiba permusuhan muncul di antara mereka dan mereka saling menyerang satu sama lain dengan rumput panjang yang menyerupai pisau. Perkelahian di antara para wangsa Yadawa menjadi demikian ganas sehingga dalam hitungan berapa jam seluruh anggota wangas Yadawa mati di tepi pantai. Setelah mengetahui bahwa seluruh wangsa Yadawa telah meninggal, Balarama, kakak dari Krishna, melompat ke laut dan mengakhri hidupnya dengan satu methoda Yoga yang khusus.

Krishna pergi ke hutan dan berbaring di bawah sebatang pohon. Pada saat itu seorang pemburu lewat, melihat jari kaki Krishna mengiranya sebagai seekor kelinci, dan menusuknya dengan panahnya. Krishna yang mengetahui segalanya dan mahakuasa, mulai berdarah dengan deras. Pemburu itu, melihat malapetaka yang ditimbulkannya, bersimpuh di depan Krishna dan memohon pengampunannya. Krishna tersenym dan memberi tahu pemburu itu bahwa ia sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun dan bahwa ia (Krishna) sesungguhnya mengikuti hukum Karma yang tidak tertulis, sebab dalam hidupnya sebelumnya ia telah membunuh pemburu itu dalam cara yang licik ketika pemburu itu adalah raja-kera Subali dan Krishna adalah Rama yang agung. Krishna kemudian meminta pemburu itu pergi dan memberi tahu setiap orang di Dwaraka bahwa ia akan meninggalkan badannya dan bahwa Dwaraka akan tenggelam di bawah air beberapa jam kemudian setelah kematiannya. Singkat cerita, Krishna meninggalkan badannya dan kembali ke Vaikunta sebagai Batara Wishnu.

Setelah kepergian Krishna dari kehidupan di bumi ini, Dwaraka tenggelam di bawah laut. Dikatakan bahwa Batara Wishnu mengambil bentuk Krishna bilamana seorang bhakta memujanya dengan keyakinan yang dalam.

Purana dan Srimad Bhagawatam

PURANA-PURANA ITU KITAB APA?

Purana-purana adalah kitab yang berisi cerita-cerita keagamaan yang menjelaskan tentang kebenaran. Sama seperti cerita kiasan (parabel) yang dikisahkan oleh Jesus Kristus, kisah-kisah ini diceritakan kepada orang kebanyakan supaya mereka mengerti kebenaran-kebenaran dari kehidupan yang lebih tinggi. Misteri alam semesta diungkapkan kepada orang-orang yang secara spiritual sudah bangun tapi kepada yang lain misteri-misteri itu harus dijelaskan dalam cerita kiasan Berdasarkan catatan ini, Purana-Purana itu dapat dikatakan Weda-Weda dari orang kebanyakan, karena kitab-kitab itu menyajikan seluruh misteri melalui mitos dan legenda.

Kata Purana berarti “purba” (ancient). Purana-Purana itu selalu menekankan bhakti kepada Tuhan. Hampir semua Purana berkaitan dengan penciptaan dan penghancuran alam semesta, garis keturunan atau asal-usul (genealogi) dari dewa-dewa dan para orang suci, dan rincian mengenai dinasti Bulan (Lunar) dan Matahari (Solar). Beberapa dari Purana-Purana itu, seperti Mahabbhagawatam, mempunyai penjelasan tentang peristiwa-peristiwa yang akan datang sama seperti Kitab Wahyu dalam Injil.

Diantara sejumlah besar Purana-Purana itu, delapan belas disebut Purana Besar atau Maha Purana. Masing-masing dari padanya menyediakan satu daftar dari kedelapan belas Purana termasuk dirinya sendiri, tapi nama-nama dalam daftar itu dalam beberapa Purana sedikit bervariasi, oleh karena itu kita mempunyai satu daftar dari duapuluh Maha Purana. Dari duapuluh Purana ini, enam ditujukan kepada Wishnu, enam kepada Siwa dan enam kepada Brahma.

Purana-Purana ini ditulis dalam bentuk “tanya jawab.” Mereka umumnya berisi kisah-kisah mengenai Dewa dan Dewi Hindu, mahluk supernatural, orang suci dan manusia biasa. Purana-Purana ini tidak memiliki catatan waktu kapan ia ditulis, tapi beberapa orang mengatakan Purana-Purana itu ditulis mulai abad enam A.D.

AYAH, APA SAJA DUAPULUH PURANA YANG PENTING ITU?

Enam Purana yang ditujukan kepada Wishnu adalah Wishnu Purana, Narada Purana, Srimad Bhawata Purana, Garuda Purana, Padma Purana dan Waraha Purana.

Enam Purana yang ditujukan kepada Siwa adalah Matsya Purana, Kurma Purana, Lingga purana, Wayu Purana, Skanda Purana dan Agni Purana.

Enam Purana yang ditujukan kepada Brahma adalah Brahma Purana, Brahmanda Purana, Brahma-Waiwaswata atau Brahma-Waiwarta Purana, Markandeya Purana, Bhawishya Purana dan Wamana Purana.

Menurut banyak orang, Siwa (atau Saiwa atau Dewi-Bhagawata) Purana dan Hariwamsa Purana adalah juga termasuk Maha Purana, sekalipun mereka tidak termasuk dalam daftar dari delapan belas Maha Purana (Major Purana).

AYAH, APAKAH JUGA ADA PURANA KECIL?

Ya memang. Purana kecil (Minor Purana) dikenal sebagai Upa Purana. Percaya atau tidak, ada paling sedikit duapuluh Purana Kecil. Mereka adalah : Aditya, Ascharya, Ausanasa, Bhaskara (Surya), Dewi, Saiwa (beberapa menyebut ini Purana Besar), Durwasa, Kalika, Kalki, Kapila, Mahaswara, Manawa, Marichi, Nandikeswara, Narada, Narasimha, Parasara, Samba, Sanathkumara, Siwadharma, Surya, Suta-Samhita, Usanas, Waruna, Yuga, Waya dan Wrihan. Aku yakin sekali bahwa daftar yang saya berikan kepadamu tidak lengkap. Mungkin masih ada Purana dalam agama Hindu yang tidak diketahui bahkan oleh rasul atau pemikir doktrin Hindu.

APAKAH SRIMAD BHAGAWATAM KITAB SUCI YANG PENTING?

Ia adalah kitab suci yang penting bagi orang Hindu dan khususnya bagi para bhakta Hare Krishna. Ia berisi 18,000 sloka. Ia mempunyai dua belas bab yang disebut Skanda. Ia ditulis oleh Reshi Badarayana, yang juga dikenal sebagai Veda Vyasa. Tokoh paling penting dari Srimad Bhawatam adalah Reshi Suka, putra dari Veda Vyasa. Buku ini dibacakan kepada Raja Parikshit, dinasti terakhir dari Pandawa, oleh Reshi Suka satu minggu sebelum kematian raja karena gigitan ular yang telah diramalkan. Sebagian besar isi dari buku ini merupakan dialog antara Raja Parikshit dengan Reshi Suka.

Srimad Bhagawatam memuat kisah-kisah seluruh Awatara dari Wishnu. Bab sepuluh dari buku ini memuat kisah Krishna secara rinci. Bab terakhir secara khusus menjelaskan mengenai Kali Yuga, zaman sekarang, dan Awatara terakhir dari Wishnu yaitu, Kalki. Disini juga ada gambaran yang sangat jelas mengenai Pralaya, atau Banjir Besar Buku ini merupakan sumber penting bagi Sekte Waisnawa dan, seperti telah kukatakan sebelumnya, buku ini merupakan kitab suci yang amat penting bagi pengikut Hare Krishna.

Menurut Srimad Bhawatam, alam semesta ini menjadi ada karena Tuhan menghendakinya sebagai permainan atau Lila. Seorang pemuja yang sudah tercerahkan (a realized devotee) melihat dirinya sendiri dan seluruh mahluk sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Tuhan. Menurut kitab suci ini, ada sembilan cara berbeda untuk menunjukkan bhakti kepada Tuhan, seperti mendengarkan kisah-kisah tentang Tuhan, meditasi, melayani, dan akhirnya penyerahan diri kepada kehendak Tuhan.

Thirukural – Kitab Suci Sekte Siwa

AYAH, DAPATKAH THIRUKURAL DIANGGAP SATU KITAB SUCI HINDU?

Ia memang sebuah kitab suci Hindu yang besar tapi tidak diketahui oleh orang Hindu pada umumnya karena kitab suci ini, tidak seperti yang lain, ditulis dalam bahasa Tamil (sekarang sudah diterjemahkan oleh Satguru Siwaya Subramuniya Swami, Hawai, dengan judul “Weaver’s Wisdom). Ia sesungguhnya merupakan bagian dari kebudayaan Dravidia di India Selatan. Thirukural dapat dianggap sebagai kitab suci (holy bible) dari penganut sekte Siwa.

Kitab ini ditulis oleh seorang penenun (weaver) bernama Thiruvalluar pada abad pertama sebelum masehi (empat ratus tahun sebelum Injil Kristen atau Perjanjian Baru selesai ditulis, pen). Dalam bahasa Tamil, “Thiru” artinya suci dan “Kural” artinya singkat atau pendek. Kitab suci ini terdiri dari bait-bait (couplets) pendek. Sesungguhnya, seluruh kitab suci ini terdiri dari 133 bab, dan tiap bab terdiri dari sepuluh bait. Jadi secara total ada 1330 bait dalam kitab suci ini. Sekalipun Thirukural dianggap sebagai kitab suci dari sekte Siwa, kitab suci ini sendiri bersifat universal. Ia mengajarkan manusia nilai-nilai kehidupan. Dalam satu hal ia merupakan versi yang diperluas dari Sepuluh Perintah Tuhan (Ten Commandments, sepuluh perintah Tuhan yang diberikan kepada Moses, dalam tradisi Yahudi).

Hampir setiap orang yang kebetulan membaca kitab suci ini pasti akan jatuh cinta, disebabkan oleh universalitas dan kesederhaan dari pengungkapan fakta-fakta. Para pengikut Jainisme senang sekali membaca kitab ini, sebab ia memperluas ideal-ideal atau cita-cita dari Ahimsa atau non-kekerasan. Orang-orang Kristen di India Selatan senang membaca kitab ini, karena banyak hal yang ditulis dalam kitab ini mirip dengan Kotbah di Bukit.

Mendiang Dr. Albert Schweitzer menyebutnya “satu dari pencapaian agung dari pikiran manusia.” Aku harap dengan sangat kamu membaca kitab suci yang dicintai ini.

Awatara lebih lanjut

APAKAH AWATARA ITU?

Seorang Awatara adalah seorang inkarnasi Tuhan. Ketika Tuhan turun ke bumi dalam suatu bentuk hidup apapun, maka kita menyebut itu Awatara.

AYAH, APAKAH TUJUAN DARI AWATARA ITU?

Dalam Bagawad Gita ditulis, “Bilamana ada kerusakan dharma (kebenaran) dan kejayaan Adharma (ketidak-benaran), aku datang ke dunia untuk melindungi kebaikan, untuk menghancurkan kejahatan dan menegakkan kembali Dharma. Aku lahir dari zaman ke zaman.”

APAKAH YESUS JUGA SEORANG AWATARA?

Tentu, dia juga Awatara seperti Krishna dan Buddha. Dia datang dengan suatu missi,menyampaikan missi itu, dan akhirnya pergi tanpa terikat kepada seseorang atau sesuatupun. Awatara tidak terbatas hanya untuk India. Mereka terjadi di seluruh dunia.

APAKAH YESUS PERNAH MENGUNJUNGI INDIA?

Ada inskripsi dalambahasa Pali di Tibet mengenai seorang suci (santo) yang bernama Isa atau Issa. Beberapa orang percaya bahwa Santo Isa adalah Jesus Kristus dan bahwa dia ada di India selama tahun-tahun tak dikenal dalam hidupnya. Tapi kita tidak memiliki bukti yang meyakinkan. Sesungguhnya, aku mendiskusikan hal ini dengan “the Worldwide Church Of God” di Pasadena, California, dan mereka mengatakan bahwa perjalanan Jesus ke Timur tidak mempunyai dasar Bible. Namun demikian, apa yang amat mengegelitikku adalah kesamaan dalam beberapa aspek dari Agama Kristen dan agama Buddha, dan juga agama Hindu. Tentu saja, semua ini mungkin hanya kebetulan.

APAKAH KITA ORANG-ORANG HINDU PERCAYA SEORANG AWATARA YANG LAIN AKAN DATANG DI MASA DEPAN?

Ya, sama seperti orang Kristen dan Muslim, orang-orang Hindu juga percaya akan hal itu. Bila Tuhan datang ke dunia lagi, masing-masing akan melihat “Itu” menurut keyakinan peribadinya. Seorang Kristen mungkin melihat “Itu” sebagai seorang Kristus – seorang manusia dengan seekor kuda putih (Wahyu 6:1-2), seorang Hindu mungkin melihat “Itu” sebagai seorang Kalki – juga seorang manusia dengan kuda putih, dan seorang Muslim mungkin melihat “Itu”sebagai Allah. (Orang Islam menamai nabi yang akan datang itu “Imam Mahdi”, pen)

Al Qur’an memberi tahu orang-orang Muslim bahwa Pengadilan akhir akan dating pada akhir zaman ini dan bahwa Allah akan memberikan keadilan kepada setiap orang. Jadi ada kemiripan keyakinan antara Hindu, Kristen dan Islam. Agama Kristen yakin bahwa hal itu akan terjadi dalam seribu tahun (satu milenium, pen), sementara itu agama Hindu percaya bahwa hal itu akan terjadi hanya pada akhir Kali Yuga – yaitu 427.000 (empat ratus dua puluh tujuh ribu tahun) dari sekarang.

Ayurweda dan Jyotisha

APAKAH AYURWEDA DAN JYOTISHA?

Ayurweda adalah salah sastu Upaweda dari Atharwa Weda. Empat Upaweda yang populer adalah Ayurweda, Dhanurweda, Gandharweda dan Artha Shastra. Ayurweda memiliki akarnya dalam Atharwa Weda. Dikatakan bahwa teks asli Ayurweda, disusun oleh Brahma sendiri, berisi 100.000 sloka tersebar dalam ribuan bab dan disusun jauh sebelum penciptaan mahluk (Susruta Samhita 1:1-5). Sekarang, Atharwa Weda hanya terdiri dari enam ribu (6.000) sloka, jadi beberapa orang menyebut Ayurweda adalah Weda Kelima.

Ayurweda bukan mistikisme. Ia bukan voodoo (sihir), tapi satu studi sistematik dari tubuh, pikiran dan jiwa manusia. Bila pengobatan Barat, dengan pil dan pemeriksaannya, tanpa lelah mencari untuk mengisolasi dan menghancurkan organisme yang menyerang masuk, Ayurweda mempercayakannya pada observasi klinik termasuk seni kuno mendiagnose pengobatan seorang pasien dengan merasakan denyut nadinya – untuk mengindentifikasi ketidak-seimbangan dari tiga kekuatan dasar yang bernama Wata, Pitta dan Kapha.

Secara definisi, Wata bertanggung jawab untuk gerakan badan dan psikologi – nada otot dan kemurungan (muscle tone and moodiness). Orang yang didominasi oleh Wata lekas gugup, gelisah, dan cenderung bagi tekanan darah tinggi. Pitta mengatur panas dan metabolisme. Orang yang didominasi oleh Pitta adalah sungguh-sungguh (serius, intense), memiliki intelek yang tajam dan cepat marah. Sakit kulit dan bisul mungkin berasal dari dominasi kekuatan ini.

Kapha menjaga/mempertahankan struktur dan stabilitas. Orang dengan tipe Kapha adalah kuat, berkepribadian tenang, seimbang yang cenderung mudah menjadi gemuk.

Menurut Ayurweda, sepuluh kepribadian yang berbeda muncul dari kombinasi berbeda dari kekuatan Wata, Pitta dan Kapha dalam tubuh. Dengan menyeimbangkan tiga kekuatan itu melalui mediasi, diet, daun-daun (herbal) dan latihan khusus, seseorang akan mencapai kesehatan yang sempurna.

Dokter-dokter termashur dari Ayur Weda adalah Charraka (80 – 180 AD), Susruta (350 AD), Vagbhata (610 – 850) dan Madhwa (1370 AD).

APAKAH ASTROLOGI DAN ASTRONOMI ADA KAITANNYA?

Dalam agama Hindu, kata Jyotisha berarti astrologi dan astronomi. Keduanya merupakan bagian dari kelompok yang disebut Wedangga. Sejarahwan Hindu menolak teori bahwa orang Hindu mewarisi pengetahuan mereka mengenai astronomi dan astrologi dari orang Yunani. Menurut mereka, astronomi dan astrologi berasal dari India sejak 6.000 tahun yang lalu. Tulisan Hindu paling awal mengenai astronomi dikenal sebagai Siddhanta. Aryabhata (467-520), ahli matematika Hindu, adalah orang pertama yang mencoba menjelaskan penyebab sebenarnya dari gerhana. Astronom besar Hindu yang lain adalah Warahamihira (505-567)

Orang-orang Hindu senantiasa tertarik dengan astrologi. Astrologi Hindu berfungsi dengan realitas-realitas dari karma, reinkarnasi, dan dunia dalam yang kita tempati pada waktu mati. Menurut legenda, Reshi Brighu menulis peta astrologi yang memberikan horoskop untuk setiap orang yang lahir atau akan lahir di dunia ini. Tulisan-tulisan Brighu dikenal secara popular sebagai Brighu Samhita dan masih dimiliki oleh beberapa astrologer di India.

Risalah besar lain mengenai astrologi dikenal sebagai Sathya Samhita, Narada Samhita dan Saptarisi Nadi. Saptarisi Nadi terdiri dari 12 buku dan dicetak dalam bahasa Tamil. Brighu Samhita terdiri dari empat buku dan kira-kira sepuluh ribu sloka. Beberapa orang mengatakan bahwa pada suatu waktu astrologi merupakan ilmu pengetahuan yang berkembang dengan baik. Tapi dewasa ini astrologi hanya tinggal kerangka saja, dengan kebanyakan pengetahuannya yang berharga hilang karena praktek-praktek kerahasiaan yang keterlaluan oleh orang-orang terpelajar dalam masyarakat Hindu.

APAKAH ANDA BERMAKSUD MENGATAKAN BAHWA KITA HENDAKNYA MENGABAIKAN SAMA SEKALI ASTROLOGI?

Aku tak bisa mengatakan demikian. Bila bulan dapat mempengaruhi gelombang laut, mengapa bintang-bintang tidak dapat mempengaruhi gelombang hidup seorang manusia? Manusia pada intinya adalah sebuah jaringan eletromagnetik. Jadi gerakan-gerakan dari planet-planet dan bintang-bintang yang mempengaruhi lapangan magnetik bumi dapat juga mempengaruhi lapangan magnetik dari mahluk hidup. Nostradamus (1505-1566 A.D), dokter dan astrologer Prancis itu, memang telah meramalkan banyak kejadian dalam sejarah dunia, seperti penghukuman mati Raja Charles IX, kemunculan dan kejatuhan Napoleon dan Adolf Hitler, dan bahkan pembunuhan Presiden Kennedy. Beberapa dari peristiwa ini mungkin hanya kebetulan yang aneh dan beberapa dari padanya mungkin dapat dijelaskan dengan teori probabilitas. Bagaimanapun, aku tidak akan mengesampingkan astrologi sebagai suatu ilmu palsu tanpa agumentasi fanatik untuk menentang ataupun membelanya.

Matematika Hindu

AYAH, APAKAH BENAR BAHWA INDIAKUNO MENGEMBANGKAN SISTEM MATEMATIKA YANG SANGAT TINGGI?

Benar sekali. Bila aku mengatakan matematika Hindu atau matematika India, nama yang akan muncul dalam pikiranmu adalah nama Ramanujam (ahli matematika India abad 20 yang diakui dunia, pen), manusia yang mengetahui ketidak-terbatasan. Tapi percaya padaku, jauh sebelum Ramanujam, jauh sebelum orang Arab (orang Arab mengambil matematika Hindu ketika mereka menyerbu India pada tahun 712. Dari Arab ilmu ini kemudian menyebar ke Eropa Barat, pen), India telah memiliki pengetahuan besar mengenai matematika. Angka nol diciptakan oleh bangsa India kuno. Demikian juga sistem desimal. Matematika Hindu atau matematika India dikenal sebagai Sulwa Sutra,. Atau “tali dari sloka” (cord of verses). Ini berkaitan dengan pembangunan altar tempat pemujaan dan upacara korban. Formula dari Sulwa Sutra sifatnya empirik. Sesungguhnya, dikatakan bahwa Sulwa Sutra mungkin merupakan pengaruh di belakanag perkembangan kemudian dari geometri Yunani. Mari kujelaskan sekali lagi bahwa dari semua hal yang datang dari matematika India, angka nol adalah yang paling menonjol.

Aryabhata, yang hidup pada tahun 476 – 520 A.D, adalah ahli matematika Hindu pertama yang dikenal dunia. Risalah atau tulisannya mengenai subyek ini adalah karya Hindu yang pertama mengenai matematika murni, dan terdiri dari tiga-puluh-tiga sloka. Ia menjelaskan mengenai sebab-sebab gerhana matahari dan bulan. Dia memberikan peraturan (rule) untuk pemecahan sederhana dari persamaan sederhana lanjutan (simple intermediate equations) dan penetapan yang tepat mengenai nilai (accurate determination of value). Percaya tau tidak, Aryabhata menyatakan hubungan keliling sebuah lingkaran pada diameternya (relation of the circumperence of a circle to its diameter). *

Setelah Aryabhata, ahli matematika besar Hindu berikutnya adalah Brahma Gupta, yang hidup dari tahun 598 sampai 660 A.D. Karyanya dikenal sebagai Brahma-Siddhanta dan ini terdiri dari dalil dan peraturan (theorem and rules). Setelah Brahma Gupta, ahli matematika bessar berikutnya adalah Lalla yang dalam tahun 748 menulis buku tipis mengenai teori matematika. Mahawira, yang hidup dalam tahun 850 A.D, membahas persamaan kwadrat (quadratic equations).

Informasi yang amat berharga mengenai matematika Hindu terdapat dalam manuskrip/prasasti Bakshali yang ditemukan di India Utara pada tahun 1881. Dalam manuskrip ini, sebuah tanda tambah kecil dipergunakan untuk mewakili jumlah negatif dan nol diwakili oleh sebuah titik.

Seorang ahli matematika belakangan menjadi termashur adalah Bhaskara, yang hidup dari tahun 1114 sampai 1160 A.D. Dia adalah pengarang dari Bija-Ganita, satu karya mengenai matematika, Siddhanta-Siromani mengenai astronomi, dan Lilawati mengenai aljabar. Percaya atau tidak, dalam komputasinya mengenai ukuran dari atom hidrogen ia menggunakan kalkulus diferensial.

Bhakti Yoga

APAKAH BHAKTI YOGA?

Satu dari Yoga atau jalan yang paling mudah untuk diikuti atau dipraktekkan adalah Bhakti Yoga. Bhakti berasal dari akar kata Bhaj yang berarti “terikat kepada” (to be attached to). Hubungan bhakti antara manusia dan Tuhan dijelaskan dalam enam bentuk yang berbeda :

1. Madhura Bhawa – cinta seksual
2. Kanta Bhawa – cinta isteri kepada suami
3. Shanta Bhawa – cinta anak kepada orang tua
4. Watsalya Bhawa – cinta orang tua kepada anak
5. Sakhya Bhawa – persahabatan
6. Dasya Bhawa – kasih pelayan kepada tuannya

Salah seorang pendukung besar dari Bhakti Yoga adalah Reshi Narada. Dia mengatakan dalam bukunya Narada Bhakti Sutra, “Seorang manusia yang mencintai Tuhan tidak memiliki keinginan atau penderitaan. Dia tidak membenci tidak pula hidup dalam semangat besar untuk memperoleh hasil apapun bagi dirinya sendiri. Melalui bhakti ia memperoleh kedamaian dan senantiasa bahagia dalam jiwanya.” Dalam aspek tertinggi dari Bhkati Yoga, sang bhakta melakukan “penyerahan total kepada Tuhan.” Krishna menjanjikan dalam Bhagawad Gita bahwa dia sendiri akan mengambil beban dari masalah sehari-hari dari seorang bhakta yang mendedikasikan dirinya kepada Tuhan dengan menyerahkan kehendak bebasnya. Janji Tuhan ini diulangi berkali-kali dalam Bhagawad Gita, dalam sloka-sloka yang berbeda. Thema penyerahan Total dari diri sendiri sering pula diulang-ulang dalam Injil.

APA YANG DICAPAI SEORANG BHAKTA DENGAN BHAKTI YOGA?

Seperti Yoga-yoga yang lain, tujuan akhirnya adalah keselamatan atau moksha. Bhakti juga secara tidak langsung menuntun kepada peleburan “Aku” atau ego.Menurut agama Hindu, ego adalah penyebab dari semua masalah.

SIAPAKAH PENDUKUNG UTAMA DARI BHAKTI YOGA?

Ada beberapa Reshi besar yang mempraktekkan Bhakti Yoga di India. Sedikit dari yang sangat terkemuka adalah Chaitanya, Tulsi Das dan Meera Dewi. Reshi Chaitanya dan Meera Dewi memuja Tuhan sebagai Krishna. Tulsi Das memuja Tuhan sebagai Rama. Salah seorang tokoh Bhakti di zaman modern ini adalah Sri Ramakrishna Paramahamsa. Dia memuja Tuhan sebagai Ibu Kali.

APAKAH BHAKTI LEBIH RENDAH DARI YOGA YANG LAIN?

Agama Hindu tidak pernah menyatakan bahwa suatu bentuk Yoga lebih tinggi dari yang lain. Sesungguhnya agama Hindu memandang rendah setiap upaya oleh orang fanatik yang mempraktekkan Jnana Yoga, Karma Yoga atau Raja Yoga yang menghina atau menyalahkan Bhakti Yoga. Dalam seluruh agama Hindu, kita juga dapat melihat bahwa seorang murid mengambil jalan atau yoga berbeda dari gurunya. Reshi Ashtawakra, yang adalah Awaduta (seorang Yogi yang sepanjang waktu melakukan perjalanan), adalah Guru dari Raja Janaka (yang memerintah sebuah negara), dan Raja Janaka adalah Guru dari Reshi Suka yang sesungguhnya adalah seorang Bhakti Yogi yang besar. Sama halnya, Guru Sri Ramakrishna Paramahamsa adalah Totapuri (seorang Awaduta) dan muridnya adalah Swami Wiwekananda, yang adalah seorang Raja Yogi.

Sekolah-sekolah Bhakti (Bhakti Schools)

AYAH, APAKAH SEKOLAH-SEKOLAH BHAKTI DALAM AGAMA HINDU?

Bhakti seperti kukatakan sebelumnya berarti “pemujaan kepada Tuhan.” Tapi secara historis, pemujaan yang mendalam kepada Tuhan dihubungkan dengan pemujaan Wisnu (manifestasi Tuhan sebagai Pemelihara) atau inkarnasinya yang paling populer, Yaitu Krishna. Aliran atau sekte yang dihubungkan dengan pemujaan Wisnu atau Krishna dikenal sebagai Waisnawa. Kebangkitan Bhakti terjadi di India mulai abad 12 sampai dengan abad 16. Ada lima sekolah atau aliran utama Bhakti yang berasal dari Waisnawa, dan semua dari mereka menentang doktrin monastik dari Adi Sankara.

1. Sekolah Ramanuja.
Ramanuja lahir kira-kira tahun 1050 A.D. Dialah yang pertama menyebarkan atau mempropagandakan Waisnawa Bhakti, yang dimulai dengan bhakta mistikus dari India Selatan yang disebut Alvars, dalam bentuk yang wajar. Ia menulis banyak teks Wedik dan membangun cara pemujaan yang benar.

2. Sekolah Madwa.
Madwa (1197-1280 A.D) tidak puas dengan philsafat Sankara. Dia berpendapat bahwa Tuhan adalah bebas atau tergantung pada dirinya sendiri (self-dependent) dan bahwa dunia dan jiwa tergantung pada Tuhan (God-dependent). Dia mendirikan philsafat Dwaita atau dualistik. Dia menekankan lima perbedaan :

> Antara Tuhan dengan jiwa individu;
> Antara Tuhan dengan dunia tak berjiwa;
> Antara satu jiwa individu dengan dunia tak berjiwa;
> Antara satu jiwa individu dengan jiwa individu lainnya;
> Antara satu obyek tak berjiwa dengan obyek tak berjiwa lainnya.

Seperti beberapa ajaran Kristen, dia juga mengajarkan bahwa beberapa jiwa indvidu telah ditakdirkan untuk celaka selamanya dan tidak dapat berharap untuk mendapat pembebasan. Ada duapuluh empat ashram utama di India yang menjalankan tradisi Madhwa.

3. Sekolah Nimbarka.
Nimbarka membuka jalan untuk pemujaan populer bagi Radha dan Krishna sekitar abad 14. Dialah yang pertama mengidentifikasikan Brahman Yang Mahatinggi (Supreme Brahman) sebagai pasangan suci “Radha-Krishna.” Dalam hal ini idenya menyerupai Yin dan Yang dalam Taoisme. Philsafatnya terkenal dengan nama Dwaitawaita “kesatuan dan perbedaan,” satu posisi antara monisme Sankara dan dualisme radikal Madhwa. Dia mengatakan bahwa aspek dualistik dan non-dualistik sama-sama nyata. Jiwa-jiwa dan materi tak bernyawa adalah bagian dari Tuhan, bukan terpisah dari Dia. Bhakti atau devosi kepada Tuhan akhirnya akan membawa ilmu pengetahuan, yang akan membebaskan jiwa dari kelahiran-kelahiran yang akan datang.

4. Sekolah Wallabha.
Wallabha (1479-1531 A.D) mengajarkan monisme murni. Dia mengajarkan tentang Saguna Brahman – Tuhan dengan sifat-sifat. Dia melihat segala sesuatu sebagai Krishna. Segala sesuatu adalah Tuhan dan karena itu baik. Dia mengatakan bahwa jiwa-jiwa adalah satu dengan Tuhan, seperti percikan api dengan api, dan mengandung sifat-sifat Tuhan, seperti keabadian, pengetahuan dan kebahagiaan (Sat, Chit dan Ananda). Dia mengajarkan, jalan dengan mana waranugraha Tuhan diperoleh melalui pemujaan, membawa pembebasan, moksha. Dalam sekolahnya, Tuhan disembah sebagai Krishna ketika masih bayi. Citra atau patung Krishna yang masih anak-anak sedang mengangkat bukit Gowardana dipuja dan disembah oleh aliran ini.

5. Sekolah Chaitanya.
Chaitanya (1485-1534 A.D) menekankan pentingnya mengagungkan nama Tuhan dan mengucapkannya dengan berirama dalam persembahyangan bersama dengna para pemuja, disebut Sankirtan. Ia mengajarkan bahwa segala sesuatu di dunia adalah satu namun berbeda dari Tuhan – Achintyabbhedabheda.

Dalam sekte yang didirikan oleh Chitanya,Krishna dan Radha dipuja sebagai personifikasi dari cinta yang tertinggi. Chaitanya berkata, “Tuhan ada di mana-mana dan dalam segala sesuatu; namun Tuhan tidak ada dimanapun dan tidak ada sesuatupun kecuali dia yang ditemukan dalam surga tertinggi.” Philsafat Chaitanya merupakan perpaduan yang aneh dari Adwaitanya Sankara dan Dwaitanya Madhwa. Gerakan Hare Krishna, dimulai oleh Saguru Prabhupada, didasarkan atas pemikiran-pemikiran sekolah Chaitanya.

Karma Yoga

APAKAH KARMA YOGA?

Kata Karma berasal dari kata Sansekerta Kri, artinya “melakukan” (to do). Kata karma memiliki banyak arti dalam agama Hindu. Disini arti kata karma adalah kerja. Kita melakukan karma sepanjang waktu. Ketika kita bernafas, ini adalah karma. Ketika kita berpikir, ini adalah sebuah karma. Karma-karma yang kita lakukan menentukan masa lalu, masa kini dan masa depan kita. Menurut agama Hindu, seluruh kewajiban yang telah ditetapkan adalah karma-karma baik bila itu adalah tugas-tugas yang secara populer dikenal sebagai Swadharma.

Menurut philsafat Samkhya, karma-karma kita dikendalikan oleh tiga kekuatan : Tamas, Rajas dan Sattwa. Tamas mewakili ketidak-aktifan (kemalsan). Rajas mewakili keaktifan atau aktifitas. Sattwa adalah keseimbangan dari keduanya. Karma Yoga meliputi pemanfaatan dari ketiga faktor ini secara wajar atau seimbang untuk melaksanakan pekerjaan kita dengan lebih baik.

Seperti telah kukatakan sebelumnya, jalan yang berbeda-beda untuk mencapai Tuhan dalam agama Hindu bukanlah terpisah secara ketat, tapi mereka saling mempengaruhi atau lebur satu sama lain. Demikianlah Karma Yoga banyak memerlukan Bhakti Yoga dan Jnana Yoga. Bab 3, 4, dan 5 Bhagawad Gita menjelaskan mengenai Karma Yoga.

SINGKATNYA, APA ITU KARMA YOGA?

Mencapai kebebasan melalui kerja yang tidak mementingkan diri sendiri yang dikenal dengan nama Nishkama Karma. Kerja yang mementingkan diri sendiri memperlambat pencapaian tujuan kita. Kerja tanpa mementingkan diri sendiri menuntun kita kepada tujuan kita. Jadi Karma Yoga adalah sistem untuk mencapai kebebasan melalui tindakan-tindakan tanpa mementingkan diri sendiri. Eisntein, Father Damien dan Ibu Theresa adalah beberapa orang Karma Yogin di luar agama Hindu.

APA YANG DIKATAKAN BHAGAWAD GITA MENGENAI KARMA YOGA?

Bhagawad Gita menyediakan tiga bab dan 114 sloka untuk menjelaskan Karma Yoga. Beberapa pokok-pokok penting adalah sebagai berikut :

Tiada seorangpun akan mencapai keadaan Nishkarmata (actionlessness – ketiadaan tindakan) dengan menghindari kerja.

Tindakan adalah hakikat dari semua mahluk dalam penciptaan Dia yang mengendalikan keinginan-keinginan daging atau tubuhnya dan melakukan kerja tanpa mementingkan diri sendiri adalah manusia terhormat.

Laksanakan kerja tanpa mementingkan diri sendiri, karena kerja demikian akan menjamin kebebasan (moksha) bagimu.

Lihatlah kepadaKu, aku adalah Tuhan. Tidak ada apapun yang harus Kulakukan dalam tiga dunia ini. Tiada sesuatupun dalam tiga dunia ini yang Aku perlukan atau tidak bisa Aku peroleh. Namun demikian aku bekerja sepanjang waktu.

Seorang manusia harus melakukan tugasnya (Swadharma). Seorang manusia akan celaka atau menderita bila ia melakukan tugas orang lain. Swadharma, betapapun remehnya, adalah lebih baik dari tugas orang lain.

Indriya adalah baik. Pikiran lebih baik dari indriya. Jiwa lebih baikdari pikiran.

Dalam bentuk apapun seorang manusia memujaKu, Aku akan menerimanya. Jalan manapun yang ditempuh oleh seorang manusia, pada akhirnya ia akan sampai padaKu.

Dia yang melakukan pekerjaan tanpa terikat pada hasilnya dengan menyerahkannya kepadaKu tidak akan tersentuh oleh dosa, sama seperti air jatuh di daun teratai tidak akan membasahi daun itu.

Tindakan tidak menodaiKu, tidak pula Aku mempunyai keinginan akan hasil-hasilnya. Dia yang mengetahui hakikatKu ini, tidak akan terikat oleh tindakannya.

Raja Yoga

APAKAH RAJA YOGA?

Raja Yoga pada intinya adalah satu jalan yang sangat ilmiah untuk mencapai (mengejawantahkan) Tuhan. Dalam jalan ini, Tuhan kurang lebih dianggap sebagai energi murni. Reshi Patanjali, pengarang dari Yoga Sutra, adalah orang pertama yang mensistematisasi praktek-praktek dari Yoga ini.

Patanjali mendefiniskan Yoga sebagai “Chitta-Writti-Nirodha.” Yoga artinya “persatuan dengan yang suci” atau “moksha” (salvation). Chitta artinya “pikiran.” Writti artinya “penyederhanaan ” (modifications) atau “getaran” (vibrations). Nirodha artinya “penghentian” (stoppage), “penekanan” (suppression), atau “penahanan” (restraint). Jadi menurut Reshi Patanjali, persatuan dengan yang suci atau moksha berarti penghentian dari getaran-getaran, atau penyederhanaan pikiran. Menurut Patanjali, penyederhanaan pikiran adalah lima lapis dan pada hakikatnya bisa sakit bisa juga tidak sakit. Kelima lapis itu adalah Pengetahuan Yang Benar, Pengetahuan Yang Salah, Khayalan, Tidur dan Ingatan.

Praktek Raja Yoga mulai sejak zaman Weda. Bhagawad Gita mengagungkannya dan memujinya mulai dengan pernyataan , “Raja Yoga, Raja Guhyan (rahasia yang dijaga bagaikan raja), Pawitram (yang amat disucikan), Uttamam (yang paling baik), Pratyakshawagaman (yang cepat memberi hasil), Dharmyam Kartum (setia kepada Dharma)…” (Bab 9:2)

AYAH, SIAPAKAH PATANJALI?

Pendiri Raja Yoga, yang diperkirakan hidup dari tahun 240 sampai 180 S.M. Ada perdebatan antara para sarjana mengenai apakah ia Patanjali yang sama dengan ahli bahasa yang menyusun komentar Mahabsya yang besar terhadap komentar kritis (Warttika) dari Katayana atas Tatabahasa Sansekerta dari Panini, atau tidak. Beberapa orang mengatakan dia tidak lain adalah reinkarnasi dari raja naga Anathan.

APAKAH YANG DICAPAI OLEH SEORANG YANG MEMPRAKTEKAN RAJA YOGA?

Dalam Raja Yoga, seorang bhakta (devotee) mencoba untuk mencapai satu keadaan di atas pikiran dan dalam satu cara mencoba untuk mencapai keadaaan tanpa pikiran (a mindless state). Sangat sulit untuk menjelaskan hal ini dalam kalimat sederhana. Seorang mahasiswa parapsikologi mungkin mampu memahami aspek ilmiah dari Raja Yoga lebih baik dari siapapun juga. Orang biasa yang keadarannya terbatas pada pikiran yang lebih rendah dapat membayangkan hanya citra-citra nyata dari obyek-obyek, yang berasal dari organ indriya. Secara singkat, bagi seorang Raja Yogi yang sempurna, berpikir adalah sebuah proses sukarela sepanjang waktu, tidak seperti kebanyakan dari kita yang memikirkan begitu banyak hal secara tidak sukarela. Kita berpikir tentang baik buruk pro kontra dari setiap masalah, bahkan bila kita tidak ingin memikirkan mengenai masalah itu sama sekali. Sebagai contoh, bila kita memutuskan untuk tidak memikirkan monyet-monyet untuk sejam yang akan datang, kita malah memikirkan monyet-monyet itu untuk sejam kemudian. Ini cara kerja pikiran kita sepanjang waktu.

Yoga Sutra Patanjali terdiri dari 196 sloka. Dalam bukunya Patanjali tidak pernah menyatakan atau menyebutkan bahwa inilah satu-satunya jalan untuk mencapai Tuhan, tapi secara tersirat mengatakan bahwa keadaan pikiran yang ia jelaskan, seperti juga pencapaian Tuhan, dapat dicapai pula oleh praktek-praktek keagamaan yang lain.

APAKAH DISIPLIN DAN LATIHAN DALAM RAJA YOGA?

Raja Yoga menyebutkan delapan jenis disiplin. Yama, Niyama, Asana, Pranayama, Pratyhara, Dharana, Dhyana dan Samadhi. Yama artinya menjauhkan diri dari semua kejahatan. Niyama artinya melaksanakan kesucian dan kepuasan hati. Asana artinya posisi yang tepat untuk meditasi. Pranayama terdiri dari mengeluarkan nafas panjang (Rechaka), menarik nafas panjang (Purakha), dan menahan nafas (Kumbhaka). Latihan ini dimaksudkan untuk dilakukan hanya di bawah bimbingan dari guru yang sudah mumpuni. Dalam latihan Pranayama, sang bhakta diharuskan untuk mengendalikan aliran hidup dalam badan. Pratyahara artinya penarikan atau penciutan dari organ indriya dari obyek-obyek indriya. Dhyana artinya meditasi.

Samadhi adalah keadaan yang terakhir. Dia yang melakukan meditasi mencapai Samadhi. Dalam keadaan itu, pikiran kehilangan identitasnya secara total dan mencapai keadaan tanpa bentuk, sekalipun ia dapat mencapai bentuk dari obyek apapun yang direnungkannya (kontemplasi). Dalam Samadhi, sang bhakta menyadari kebenaran yang terakhir. Nirwikalpa Samadhi dan Sawikalpa Samadhi adalah dua jenis Samadhi dengan mana para bhakta mencapai tujuan suci mereka.

Samadhi dan Kosha

APAKAH SAWIKALPA SAMADHI?

Arti dari Samadhi adalah “persatuan dengan Tuhan” (Sam artinya “dengan”, Adhi artinya “Tuhan” atau ‘lord’) Sawikalpa Samadhi artinya “memiliki keterpisahan” (having separateness). Jadi dalam Sawikalpa Samadhi dualitas dari persepsi dipertahankan. Sang bhakta dengan sengaja bermaksud mempertahankan keterpisahan identitas ini sepanjang waktu. (Keterpisahan antara jiwa individu dengan Tuhan, pen)

APAKAH NIRWIKALPA SAMADHI?

Nirwikalpa Samadhi artinya “tidak memiliki keterpisahan”. Dalam Nirwikalpa Samadhi dualitas persepsi tidak ada sama sekali. Pada tahap ini, sang bhakta menjadi satu dengan Tuhan.

APAKAH EMPAT TINGKAT KESADARAN ITU?

> Menurut agama Hindu, ada empat tingkat kesadaran :
> Keadaan jaga,
> Keadaan mimpi,

Keadaan tanpa mimpi, atau Sushupti, Turiya. Keadaan yang keempat, Turiya, adalah suatu keadaan di atas pikiran dan ini adalah tingkat tertinggi dari kesadaran. Kamu mungkin tidak pernah melihat keadaan Turiya disebut dalam buku-buku psikologi modern. Diyakini bahwa seorang Yogi yang sudah tersadarkan (a realized Yogi) memasuki keadaan Turiya bilamana ia melakukan meditasi.

APAKAH BEDA ANTARA JIWANMUKTA DAN WIDEHAMUKTA?

Jiwanmukta artinya “seorang yang telah dibebaskan ketika ia masih hidup.”

Widehamukta artinya “seorang yang dibebaskan setelah meninggal, hidup dalam jiwa.” Seorang Jiwanmukta hidup di dunia ini sama seperti kita, tapi ia tidak terikat dengan dunia ini.

APAKAH TUBUH INI MERUPAKAN KUMPULAN DARI BANYAK KOSHA?

Menurut Tantra, tubuh ini adalah sebuah kumpulan dari lima Kosha atau sarung (sarung keris, sheath). Mereka adalah :

1. Annamaya Kosha (Anna – makanan; Maya – terbuat dari)
2. Pranamaya Kosha (Prana – energi vital)
3. Manomaya Kosha (Mano – pikiran)
4. Wijnanamaya Kosha (Wijnana – intelek)
5. Anandamaya Kosha (Ananda – kebahagiaan)

Lima kosha dari sang diri (self, jiwa) membuat sang diri terbentuk atau berwujud sebagai jiwa. Mereka ini adalah : materi (Prakriti), hidup (Prana), kesadaran (Manas), intelejensi (Wijnana) dan kebahagiaan (Ananda).

Hukum Karma dan Reinkarnasi (Bagian – 1)

AYAH, APA SEBENARNYA HUKUM KARMA ITU?

Orang-orang Hindu percaya pada kehidupan sesudah mati. Mereka juga percaya Hukum Karma. Dalam kitab suci Kristen Perjanjian Baru ada ungkapan, “Apa yang ditabur oleh seorang manusia, itulah yang akan dituainya.” (Galatians 6:7). Diucapkan dalam kalimat ilmu pengetahuan modern, orang-orang Hindu percaya bahwa setiap aksi menimbulkan reaksi. Tidak ada aksi tanpa hasil. Orang-orang Hindu percaya bahwa setiap pikiran, menghasilkan satu reaksi. Orang-orang Hindu percaya bahwa setiap pikiran dan setiap tindakan ditimbang pada neraca keadilan yang abadi. Hukum Karma adalah salah satu dari “sebab dan akibat”. Dia bekerja dalam dunia ilmiah dan dunia moral. Hukum Karma yang tidak tertulis ini adalah universal dan kita tidak bisa lain harus patuh padanya. Hukum-hukum ini bertindak dalam cara yang sama dalam lingkungan yang mirip. Misalnya, bila kamu menaruh tanganmu dalam api, kamu secara otomatis membakar jari-jarimu. Ini terjadi di setiap tempat dan setiap waktu, berlaku bagi bayi yang baru lahir dan seorang ahli phisika yang telah melakukan penelitian khusus mengenai api selama lima belas tahun. Tiada seorangpun yang mampu bebas dari cakar Hukum Karma, karena secara alamiah sepanjang waktu kita semua melakukan tindakan-tindakan. Bahkan mereka yang duduk menganggur juga melakukan tindakan dengan pikiran mereka, sekalipun tindakan mereka tidak menghasilkan apa dan bodoh. Doktrin Karma berawal pada zaman Rig Weda dan ia dijelaskan dengan sangat baik dalam Brihad-Aranyaka Upanishad.

APAKAH YANG TERJADI PADA KITA KETIKA KITA MATI?

Menurut agama Hindu, hanya badan saja yang mati, jiwa tidak pernah mati. Tapi jalan yang ditempuh oleh jiwa ditentukan oleh perbuatan-perbuatan di masa lalu yang secara populer disebut Karma.

Tindakan-tindakan dari badan sebelumnya tidak mati bersama (matinya) badan. Seperti kukatakan di atas, tindakan-tindakan yang telah dilakukan terikat pada jiwa dan tindakan-tindakan itu menentukan jalan yang dilalui oleh jiwa. Jadi bila kamu lahir kaya atau miskin, itu hanyalah disebabkan oleh tindakanmu dalam hidup terdahulu. Bila kamu lahir dengan penyakit, itu juga adalah buah dari perbuatanmu dalam hidup terdahulu. Setelah kematian, jiwa membawa sejumlah beban Karma dan mencari satu tubuh yang cocok untuk lahir kembali. Bila kamu hidup sebagai manusia busuk dalam hidupmu yang terakhir, maka jiwamu akan lahir dalam sebuah rumah dimana orang-orang melakukan kehidupan yang buruk. Bila kamu hidup secara baik, maka kamu akan lahir kembali dalam keluarga yang ideal dimana kedua orang tuamu akan hidup patuh dengan agama dan bahagia.

Menurut agama Hindu, jiwa meneruskan perjalanannya dengan membawa beban karma dari satu kehidupan kepada kehidupan yang lain sampai dia menghabiskan semua karmanya dengan mengalami penderitaan atau kesenangan dalam badannya. Metode berbeda-beda dalam upaya mencapai Tuhan menyediakan cara-cara yang mudah untuk mengakhiri drama ini. Kemudian jiwa individu ini, yang secara populer dikenal sebagai Jiwatman, akan bersatu degnan Jiwa Mutlak atau kekuatan yang tak terbatas, yang secara populer dikenal sebagai Paramatman. Proses menjadi satu ini dikenal sebagai moksha (salvation).

AYAH, APAKAH PIKIRAN-PIKIRAN KITA PENTING?

Menurut agama Hindu, setiap pikiran, betapapun mungkin remehnya, tetap dihitung. Setiap pikiran yang kita hidupkan akan mengelilingi kita. Sebuah pikiran tidak pernah mati. Ia mungkin kehilangan kekuatannya karena waktu. Tapi ia tidak pernah benar-benar mati. Bila kamu berpikir terus-menerus tentang suatu hal yang sama, maka pikiran itu akan menjadi satu sumber kekuatan. Bila kamu terus-menerus berpikir bahwa kamu akan mendapat kecelakaan, maka keinginanmu akan terpenuhi. Kamu akan mendapat musibah. Adalah pikiran negatifmu yang kuat yang menghasilkan musibah itu. Pada level yang sama, bila kamu mengembangkan pikiran-pikiran sejahtera dalam dirimu, maka hidupmu akan berobah secara dramatis, sekalipun kamu pada saat ini adalah seorang anak yatim piatu yang miskin.

Bila kamu membenci seseorang, dan kamu menghidupkan atau memelihara pikiran itu terus menerus, kamu akan menjadi perwujudan dari kebencian. Dalam perjalanan waktu, kamu akan menemukan bahkan kawanmu yang paling baikpun akan jijik dengan kehadiranmu. Mengetahui kekuatan dari pikiran penuh dendam, Mahatma Gandhi berkata, “Berjuanglah tanpa kebencian.” Kita mempunyai hak untuk memerangi ketidak adilan tanpa membenci orang-orang atau lingkungan yang terkait.

AYAH, APAKAH MENURUTMU HUKUM KARMA ITU BENAR?

Nak, coba pikirkan, bagaimana lagi kita dapat menjelaskan ketidak-samaan di sekitar kita? Seorang lahir di gurun pasir kering di Ethiopia; bayi yang lain lahir di istana Buckingham yang mewah. Kedua-duanya adalah bayi-bayi yang tidak berdosa. Yang seorang menderita karena gizi yang buruk dan berbagai penyakit, sementara yang lain tumbuh berkembang dalam kemewahan. Alangkah paradoksnya! Nak, sekarang katakan padaku, apakah ada jawaban lain?

Hukum Karma dan Reinkarnasi sesungguhnya menjawab banyak pertanyaan. Mereka menjelaskan bermacam-macam kepribadian yang kita temukan di dunia ini, jurang antara yang baik dan yang buruk, kaya dan miskin, dan seterusnya. Mereka (Karma dan Reinkarnasi) menjelaskan semua ketidak-samaan. Mereka memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan, seperti kenapa seorang mati muda dan yang lain mati tua.

APAKAH MENURUTMU MASALAH-MASALAH KITA MERUPAKAN HUKUMAN TUHAN?

Tidak, Nak. Tuhan tidak pernah menghukum kita. Tuhan telah menciptakan manusia hampir mendekati sempurna dan telah memberikan manusia kehendak bebas untuk menentukan apapun yang ia inginkan. Tuhan tidak pernah mencampuri keputusan manusia. Tidaklah ada cerita mengenai kutukan (lihat Bhagawad Gita sloka 5:14, 15 dan 4:14). Kita Sendirilah yang membuat hidup kita menderita atau bahagia. Bahkan dalam Bhagawad Gita, Krishna tidak pernah mencoba mempengaruhi kehendak bebas Arjuna. Krishna, seperti seorang penasehat, hanya mendiskusikan dengan Arjuna berbagai pilihan yang dapat ia ambil dalam hidupnya. Jadi bodoh sekali untuk mengatakan seperti “pembalasan Tuhan.”

APAKAH TUHAN JUGA TERIKAT OLEH HUKUM KARMA?

Orang-orang Hindu percaya bahwa bahkan Tuhan juga terikat oleh hukum Karma ketika ia mengambil bentuk manusia. Misalnya, ketika Tuhan turun ke dunia sebagai atau menjadi Krishna, ia harus dibunuh oleh seorang pemburu karena ia sebelumnya pernah membunuh pemburu itu dalam hidupnya terdahulu dengan cara yang sangat ‘cerdik’. (dalam hidupnya terdahulu, ketika Tuhan turun sebagai Rama, ia membunuh raja-kera Subali dengan memanahnya dari belakang). Kaum Yadawa, klan dari Krishna, juga terbunuh karena tindakan kolektif mereka membuahkan pemusnahan mereka.

Sains Reinkarnasi

AYAH, BAGAIMANA KONSEP REINKARNASI ITU BERMULA?

Penyebutan pertama reinkarnasi dalam sejarah dunia adalah dalam Rig Weda,tapi orang Mesir Kuno juga percaya dengan perpindahan jiwa. Kalimat-kalimat dalam “Buku Kematian” dari orang Mesir (Egyptian Book of the Dead) menyiratkan kemungkinan dari satu “kelahiran kedua.” Sejarawan Yunani Herodotus memberi tahu kita bahwa orang Mesir Kuno percaya pada satu jiwa yang abadi, yang terpisah dari badan. Mereka bahkan berpikir bahwa orang-orang yang berasal dari keturunan ningrat dapat memilih bentuk tubuh mereka setelah kematian. Idea Mesir mengenai reinkarnasi kemudian diambil oleh philsuf Yunani seperti Plato dan Aristoteles. Plato mengajarkan tentang keberadaan dari satu jiwa abadi yang mengalami kelahiran berulang kali.

Akhir-akhir ini reinkarnasi adalah satu topik yang hangat di seluruh dunia, khususnya di media Kristen. Banyak teolog Kristen menyebut reinkarnasi sebagai “tahyul penyembah berhala” (pagan superstition). Beberapa teolog Kristen bahkan menyebut teori reinkarnasi bersifat setan (satanic). Jutaan orang dewasa ini ingin tahu mengenai reinkarnasi, dan banyak yang percaya bahwa mereka pernah hidup sebelumnya. Menurut suatu survai baru-baru ini, satu dari empat orang Amerika dan Eropa Barat sekarang percaya kepada reinkarnasi. Reinkarnasi merupakan thema yang sering diangkat dalam novel dan film. Makin banyak orang di seluruh dunia yang melakukan pengobatan dengan ‘melihat kehidupan sebelumnya’ (past-life regression) untuk mengungkapkan siapa diri mereka dalam banyak kehidupan mereka sebelumnya. Reinkarnasi merupakan keyakinan utama dari gerakan ‘New Age.’ Kita menemukan reinkarnasi dalam pengajaran masyarakat theosophi dan ‘psychics’ seperti Jeanne Dixon dan mendiang Edgar Cayce.

APA SEBENARNYA SAINS REINKARNASI ITU?

Mari kuulang secara ringkas kepadamu apa yang dikatakan oleh Krishna kepada Arjuna mengenai reinkarnasi. Krishna berkata : “Pada waktu kematian, badan mati tapi jiwa tidak pernah mati. Jiwa pergi dari satu badan ke badan lain seperti badan berganti baju. Jiwa terus memasuki berbagai badan lain, sampai jiwa menghabiskan karma-karma yang melekat padanya. Proses ini dikenal sebagai reinkarnasi” (Bagawad Gita 2:22).

Untuk menjelaskan lebih lanjut, para orang suci Hindu menemukan bahwa hidup kita bukanlah sebuah kecelakaan atau kebetulan, Tuhan juga tidak bertanggung jawab atas ketidak-samaan di antara kita. Menurut agama Hindu, hidup adalah suatu aliran tanpa henti, tanpa awal tanpa akhir. Segala sesuatu adalah bagian tak terpisahkan dari keberadaan ini. Segalanya ada dari satu kehidupan kepada kehidupan lain, sampai ia mencapai pengetahuan yang benar mengenai dirinya sendiri atau sampai terjadi persatuan antara jiwa individu dengan Tuhan. Masing-masing dari kita akan mempunyai banyak kesempatan untuk mewujudkan jati diri kita yang sebenarnya. Doktrin reinkarnasi memberikan harapan kepada semua orang. Tiada seorangpun yang dihukum secara abadi. Yang terbaik dari kita akan mencapai moksha dengan satu kali kehidupan dan yang terburuk di antara kita akan mencapai moksha melalui kehidupan berkali-kali.

APAKAH PEMBEBASAN (SALVATION)?

Bila jiwa individu (Jiwatman) telah menghabiskan semua karma-karmanya dan bersatu dengan Tuhan, jiwa yang tak terbatas (Paramatman), maka kita katakan jiwa individu itu telah mencapai pembebasan.

APAKAH SEMUA MANUSIA YANG MATI AKAN BEREINKARNASI SEBAGAI MANUSIA DALAM KEHIDUPAN MEREKA BERIKUTNYA?

Tidak harus demikian. Bila seorang manusia menunjukkan sifat-sifat kebinatangan dalam hidupnya, dia akan lahir kembali sebagai seekor binatang buas. Krishna mengatakan, “Aku akan menjadikan manusia-manusia kejam dan jahat lahir berkali-kali sebagai binatang buas” (Bhagawad Gita 16:19).

Seorang manusia yang rakus mungkin akan lahir sebagai seekor babi atau binatang yang lebih rendah. Weda-Weda berbicara mengenai 8.5 miliar spesies kehidupan, sejak dari amoeba sampai manusia dan dewa-dewa. Seorang manusia dapat mengambil salah satu dari bentuk-bentuk kehidupan ini. Kadang-kadang jiwa juga berada dalam keadaan tidak berobah atau diam dalam periode waktu yang cukup lama tanpa memasuki satu badan atau bentuk tertentu. Tapi, mohon dimengerti bahwa jiwa itu dapat bebas dari karma-karmanya hanya bila ia mengambil satu bentuk badan. Jadi untuk mencapai kebebasan (moksha), jiwa diharuskan untuk reinkarnasi.

AYAH, BETULKAH KRISHNA MENGATAKAN BAHWA KEHIDUPAN SESEORANG DI MASA YANG AKAN DATANG DITENTUKAN OLEH PIKIRAN-PIKIRANNYA PADA SAAT KEMATIANNYA?

Tentu saja, Krishna mengatakan bahwa apapun yang dipikirkan oleh seseorang pada saat kematiannya, maka ia akan mencapai apa yang dipikirkannya. Tapi pada saat yang sama, kamu memahami dengan baik bahwa seorang manusia yang memiliki pikiran-pikiran kebinatangan selama hidupnya tidaklah akan memikirkan Tuhan pada waktu kematian menjemputnya, Hanya manusia yang patuh pada Tuhan akan memikirkan Tuhan pada saat kematiannya; yang lain Memikirkan berbagai hal tapi tidak memikirkan Tuhan.

APA YANG TERJADI PADA SEORANG MANUSIA YANG SANGAT BAIK SEPANJANG HIDUPNYA TAPI BERAKHIR SEBAGAI MANUSIA YANG BURUK PADA WAKTU KEMATIANNYA?

Seperti telah kukatakan sebelumnya, ketika seorang mati jiwanya membawa serta sejumlah karma baik dan karma buruk. Bila jumlah total dari tindakannya adalah buruk, dia akan mandapat kehidupan yang buruk.Jadi jumlah total dari karma itu yang menentukan jalan yang akan ditempuh oleh jiwa itu. Satu atau dua perbuatan buruk tidak akan menentukan akhir dari jiwa
(Bhagawad Gita 6:40-43)

DAPATKAH KITA SIMPULKAN BAHWA SEORANG BAYI YANG LAHIR SAKIT ATAU CACAT, MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB BERSAMA DARI ORANG TUA DAN BAYI ITU?

Menurut hukum Karma, orang tua itu memang harus mempunyai anak cacat dan bayi itu juga lahir cacat karena karmanya masing-masing. Tapi agar dipahami, baik orang tuanya maupun anak itu dapat membuat hidupnya lebih baik dengan perbuatan-perbuatan positif yang baru.

BAGAIMANA KITA MENGETAHUI BAHWA SUATU PERBUATAN ADALAH BAIK?

Yang paling penting dari suatu tindakan adalah motif di balik tindakan itu. Bila motifnya buruk, maka perbuatan yang paling baikpun adalah racun. Misalnya, katakanlah kamu menolong seorang gadis miskin dan tak berdosa. Tapi bila kamu melakukan ini dengan maksud untuk mengeksploitasinya dikemudian hari, maka tindakanmu adalah buruk dan jahat. Tapi bila maksudmu adalah semata-mata karena kemanusiaan, maka tindakanmu sesungguhnya sangat bijaksana. Ahli bedah dan tentara itu melakukan tindakan yang bertentangan secara diagonal. Yang satu menyelamatkan hidup dan yang lain mengambilnya, tapi motif di balik kedua tindakan itu adalah bagus. Jadi kedua tindakan itu adalah bagus.

AYAH, APA YANG TERJADI PADA SESEORANG YANG BUNUH DIRI?

Menurut agama Hindu tindakan demikian itu akan menghukum jiwa selama seribu tahun, dan dia akan dipaksa untuk memulai kehidupan dari awal dari tahap evolusi yang paling rendah. Jiwa itu akan harus menunggu bertahun-tahun untuk dapat memperoleh tubuh manusia. Kadang-kadang jiwa itu akan tetap dalam keadaannya, menjadi hantu tanpa memiliki tubuh, demikian menurut Mahabhagawatam.

APAKAH TEORI REINKARNASI COCOK DENGAN TEORI EVOLUSI DARWIN?

Ia tidak saja cocok tapi selangkah lebih maju dengan mengatakan bahwa jiwa seorang manusia bahkan dapat kembali ke tangga terendah dari evolusi mengambil bentuk amoeba.

Ini mungkin hanya kebetulan belaka, tapi pada saat yang sama sangat menarik untuk mencatat bahwa sepuluh awatara dari Wishnu sangat cocok dengan teori evolusi Darwin. Pertama Wishnu datang sebagai Matsya (ikan – hidup dalam air). Lalu dia datang sebagai Kurma (kura-kura – hidup di air dan di darat), lalu Waraha (babi hutan, seekor binatang – hanya hidup di daratan), lalu Narasimha (manusia-singa, kombinasi binatang dan manusia). Berikutnya dia datang sebagai Wamana (anak-anak atau orang kerdil), kemudian Parasurama (prajurit ganas lahir untuk membunuh para ksatria), lalu sebagai Rama (seorang raja dengan semua masalah manusia biasa), lalu Krishna (super-human, dalam satu hal manusia super yang tiada bandingnya), lalu Buddha (orang yang diam, guru yang sudah tercerahkan) dan akhirnya yang akan datang adalah Kalki (penghancur yang akan melenyapkan seluruh ciptaan, sehingga seluruh proses penciptaan kembali dapat dimulai dari awal).

Seperti telah kukatakan sebelumnya, ini mungkin kebetulan yang sangat aneh, atau mitologi mungkin telah ditulis berdasarkan pengetahuan para Maharesi yang sangat dalam mengenai reproduksi dan perkembangan manusia dalam kandungan, dimana janin mengalami transformasi tepat pada waktunya sesuai dengan teori evolusi Darwin.

Satu teori mengatakan bahwa embriyo seekor ikan, embriyo seekor babi dan embriyo sesorang manusia semuanya sama persis. Hanya transformasi sesuai waktu yang membuat yang satu menjadi seekor ikan, yang lain menjadi seekor babi dan yang lain lagi menjadi seorang manusia. (Lihat teori rekapitulasi embriyo oleh Ernest Haeckel, tahun 1860. Tentu saja teori ini ditentang oleh banyak orang).

BILA KARMA ADALAH PENYEBAB DARI REINKARNASI, LALU MENGAPA AKU HARUS LAHIR, BILA SEBENARNYA AKU TIDAK MEMILIKI KARMA?

Aku dapat menjawab bahwa kamu pertama kalinya adalah amoeba lalu dari kehidupan itu secara perlahan berkembang dalam ribuan reinkarnasi menjadi seorang mahluk manusia, tapi pertanyaanmu selanjutnya mungkin adalah, “Bagaimana aku lahir sebagai satu amoeba?” Aku tidak ingin berspekulasi. Tidak ada kitab suci yang bicara mengenai hal ini.Bhagawad Gita mengatakan, “Penciptaan datang dari makanan yang datang dari hujan yang datang dari Yajna. Yajna datang dari Karma, yang datang dari alam, yang terakhir dating dari Tuhan (Yang Takterbatas).”

Jawaban ini menunjukkan bahwa penciptaan itu bersifat instrumental. Ini juga menunjukkan bahwa kelahiran kita murni bersifat instrumental dan keinginan kita untuk mencapai moksha juga murni bersifat instrumental. Selama kamu merasakan kesenangan dan kesedihan, kamu dipaksa untuk memperbaiki jalan yang kamu lalui dan berupaya melampaui pengalaman-pengalaman itu. Bila kamu dapat melampaui pengalaman-pengalaman itu, kamu otomatis sudah menjadi jiwa yang tercerahkan.

Aku yakin bahwa andaikata kamu berkontemplasi atas pertanyaan di atas, pada suatu hari kamu akan menemukan jawabannya, tapi bila kamu sudah mengetahui jawaban itu, kamu tidak akan mampu menyatakannya dalam kata-kata kepada siapapun. Ingat Pangeran Siddhartha meninggalkan kehidupan duniawi untuk menemukan jawaban-jawaban atas usia tua dan penyakit dan akhirnya menjadi Buddha, Orang yang Diam (the Silent One). Ketika para muridnya bertanya kepadanya mengenai jawaban atas usia tua dan penyakit, dia memberi tahu mereka untuk mengikuti delapan jalan mulia dan itu akan membimbing mereka kepada kebenaran dan menyediakan semua jawaban.

APAKAH TUHAN MENCIPTAKAN KARMA?

Jawaban terbaik yang dapat kamu temukan adalah dalam Bhagawad Gita. Dalam Sloka 5:14, Krishna berkata, “Tuhan tidak menciptakan Karma atau aktivitas untuk manusia, Dia juga tidak meminta manusia untuk bertinbak, Dia juga tidak menciptakan hasil bagi tindakan-tindakan. Adalah alam yang menciptakan tindakan-tindakan.” Dalam sloka 5:15 Krishna berkata, “Tuhan tidak mengambil dosa atau perbuatan baik seseorang. Pengetahuan yang benar ditutupi oleh kebodohan.”

AYAH, APAKAH KAMU BERPENDAPAT RAKYAT ETHIOPIA DIKUTUK DAN BAHWA ITULAH ALASAN MENGAPA MEREKA MENDERITA DEWASA INI?

Mohon jangan memikirkan hal itu bahkan dalam mimpi-mimpimu yang paling liar sekalipun. Tuhan tidak dapat mengutuk siapapun. Wedanta Sutra mengatakan, “Tuhan tidak membenci juga tidak mencintai siapapun, sekalipun kelihatannya Ia melakukan hal itu.” Seperti telah kukatakan kepadamu sebelumnya. Tuhan telah memberikan kita kehendak bebas dan nasib kita ditentukan oleh tindakan-tindakan dan pikiran-pikiran kita sendiri. Setiap saat dalam hidup kita, kita melakukan sesuatu yang menentukan nasib kita. Tindakan-tindakan kita di masa lalu dalam hidup kita yang terakhir menentukan lintasan perjalanan dari jiwa kita dimasa kini.

Jadi, sesuai dengan hukum Karma Hindu, orang-orang yang telah melakukan karma buruk dalam dalam hidup mereka yang lalu lahir dalam keadaan yang pahit dalam hidup ini. Malangnya, banyak jiwa yang karma masa lalunya sangat buruk lahir bersama di gurun Ethiopia, tapi mereka tidak ditakdirkan untuk menderita selamanya. Pada bagian mereka sendiri mereka harus membantu diri mereka untuk keluar dari keadaan yang menyedihkan ini. Pada sisi kita sendiri, kita harus menolong mereka untuk melakukan hal itu. Adalah kewajiban kita untuk melakukan apapun yang dapat kita lakukan untuk menghilangkan kelaparan dan penderitaan dari Ethiopia. Dengan melayani mereka kita sebenarnya memperbaiki karma kita, karena bahkan yang terbaik dari kita mungkin memiliki banyak karma buruk dari kehidupan terdahulu. Jadi janganlah menghakimi. Satu-satunya hal yang dapat kita lakukan untuk orang-orang miskin dan orang sakit adalah membantu mereka untuk keluar dari penderitaan itu, dan dengan melakukan itu, kita membuat hidup kita kini dan yang akan datang menjadi lebih baik. Hukum Karma Hindu menjelaskan semua masalah-masalah yang kita lihat dalam hidup kita.

AYAH, AKU TAHU BAHWA HUKUM KARMA DIDASARKAN ATAS REINKARNASI. APAKAH SAINS REINKARNASI NYATA?

Aku harus mengakui sejujur-jujurnya bahwa kita tidak memiliki bukti nyata secara ilmiah untuk membuktikan sains atau teori reinkarnasi itu. Banyak buku telah ditulis oleh orang-orang yang penuh semangat yang terhanyut oleh ide reinkarnasi *). Oleh karena itu aku tidak bisa menunjukkan kepadamu bukti nyata, tapi pada saat yang sama, aku ingin mengatakan bahwa ada sebuah misteri mengenai mati dan reinkarnasi dan kecuali atau sampai seseorang dapat membuktikan kepada dunia bahwa sains reinkarnasi adalah palsu, sains yang telah berusia tua ini akan tetap tegak disini dan tak dapat ditolak. Tolong beritahu aku, apakah ada teori yang lebih baik untuk menjelaskan masalah-masalah dunia ini dari pada teori Karma dan sains reinkarnasi? Bahkan ada pernyataan dalam Bible yang menunjuk kepada sains reinkarnasi. Kristus berkata, “Tapi aku berkata kepadamu, bahwa Elias telah datang, dan mereka tidak mengenalnya.” (Mattew 17:12) dan, “Kemudian para murid mengerti bahwa ia berkata kepada mereka mengenai John Pembaptis.”(Mattew 17:13). Melalui kalimat ini Kristus menyatakan kepada dunia bahwa John Pembaptis yang dipenggal kepalanya adalah reinkarnasi dari Elias.

APAKAH AGAMA KRISTEN AWAL PERCAYA PADA REINKARNASI?

Para teolog Kristen awal seperti Saint Augustine dari Hippo sangat dipengaruhi oleh para philsuf Yunani seperti Plato dan Aristoteles. Sampai tahun 553 A.D Gereja Kristen, mempunyai ketertarikan yang aneh dengan reinkarnasi. Justin Martyr (100-165 A.D), pendiri dari sekolah (philsafat) Kristen pertama di Roma, menulis dalam bukunya berjudul “Dialog With Trypho” bahwa jiwa menempati serangkaian tubuh yang berbeda-beda, tapi ia, jiwa itu, tidak dapat mengingat kehidupannya sebelumnya. Teolog Kristen yang lain, Origen, mencoba untuk menggabungkan banyak dari kepercayaan Yunani dan Hindu ke dalam agama Kristen. Ide-ide ini telah menjadi demikian controversial sehingga pada abad keenam ide-ide itu secara resmi dikutuk sebagai bidah dalam Konsili Kedua Gereja Kristen yang diadakan di Konstantinopel. Pengajaran Origen mengenai reinkarnasi sejak itu dibuang dari doktrin Gereja, dan tidak pernah diakui lagi.

MENURUTMU MENGAPA GEREJA KRISTEN AWAL MENENTANG TEORI REINKARNASI?

Alasan satu-satunya yang dapat kupikirkan adalah ketakutan akan ide-ide orang Roma, Yunani dan Hindu akan mengalahkan doktrin-doktrin Kristen. Para teolog seperti Saint Augustine dari Hippo, Origen dan Tertulian dikaitkan secara erat dengan Platonisme. Beberapa dari hari raya agama Romawi menjadi hari raya Kristen pada masa Gereja awal (Natal, hari raya utama agama Kristen sebetulnya merupakan kelanjutan dari hari raya agama Romawi untuk menghormati Dewa Matahari yang tak terkalahkan, Sol Invictus, yang dirayakan pada tiap tanggal 25 Desember oleh orang Roma sebelum lahirnya agama Kristen, pen). Terlepas dari itu, Gnosticisme, dengan ide-ide timurnya mengenai Tuhan, mencoba untuk mengambil alih agama Kristen. Orang-orang Gnostik, seperti orang-orang Hindu, percaya pada Tuhan yang impersonal (Nirguna Brahman) – tanpa nama, tidak dapat diketahui yang mereka sebut “Abyss.” Para Gnostik juga berpikir bahwa pengampunan dosa tidak terkait dengan kematian Jesus Kristus. Pengampunan dosa semata-mata upaya dari masing-masing orang untuk membebaskan dirinya dari daging. Para Gnostik percaya dengan penemuan spiritual seperti orang-orang Hindu dan Buddhis, dan membedakan diri mereka dengan kaum Kristen yang lain dengan pernyataan mereka bahwa mereka memiliki “gnosis” atau pengetahuan rahasia yang diwahyukan oleh satu Tuhan yang tak dikenal. Seperti orang-orang Hindu, mereka percaya bahwa manusia adalah bagian dari Tuhan, percikan dari yang suci, dan bahwa mencapai pengetahuan yang benar adalah tujuan akhir dari mahluk manusia.

Karena itu penganut Kristen awal tidak dapat mentoleransi semua ide-ide yang berasal dari agama Romawi, Yunani dan Hindu. Itulah alasan mengapa reinkarnasi menjadi tabu dalam agama Kristen hingga dewasa ini.

APAKAH JESUS KRISTUS MENDUKUNG TEORI REINKARNASI?

Selain dari kata-kata yang diucapkan Jesus mengenai John Pembaptis yang telah disebut di atas, tidak ada bukti lain dalam Bible yang dapat kita baca mengenai hal itu. Kristus tidak mendukung tidak pula mengutuk teori reinkarnasi, sekalipun teori ini ada dalam pikiran para Rasul, Raja Herod dan kaum Pharisi.

APAKAH MENURUTMU JESUS MATI DI KAYU SALIB?

Menurut agama Hindu, Kristus mati di kayu salib untuk mengambil (menebus) dosa-dosa dari semua rasul dan murid-muridnya. Orang-orang Hindu tidak percaya bahwa Kristus mengambil hutang Karma dari seluruh manusia. Kalau memang benar ia mengambil seluruh kesalahan manusia, maka seharusnya tidak akan orang sakit atau orang menderita di dunia ini. Seorang anak lahir di rumah yang mewah berkelimpahan dan anak yang lain lahir di gurun pasir Ethiopia. Seorang bayi hidup dalam kelimpahan yang lain kekurangan makanan dan menderita segala macam penyakit. Bila memang Kristus telah mengambil seluruh Karma manusia, paradoks-paradoks itu seharusnya tidak terlihat lagi di dunia ini. Hanya dengan hukum Karma kita dapat menjelaskan hal itu.

APAKAH KAMU PERCAYA AKAN KONSEP BAHWA MEREKA YANG MENYERAHKAN KEHENDAK INDIVIDU MEREKA KEPADA KEHENDAK JESUS KRISTUS TIDAK AKAN MEMPUNYAI DOSA?

Ini memang benar sejauh berkaitan dengan keyakinan Hindu. Bhagawad Gita dengan jelas mengatakan bahwa mereka yang menyerahkan kehendak individunya kepada Yang Mahakuasa tidak akan memiliki hutang Karma. Dalam Bhagawad Gita (Bab 18:66) Krishna berkata, “Bila seorang manusia menghentikan seluruh aktivitas materi dan agama dan menyerahkan kehendaknya kepadaKu, maka Aku menyelamatkannya dari semua hutang-hutang Karma dan apa yang disebut dosa.”

Penyerahan diri kepada Tuhan ini dijelaskan dengan sangat baik dalam kitab-kitab bhakti yang lain. Masalahnya adalah bahwa hanya sedikit saja orang mempunyai kemampuan untuk methode penyerahan diri ini, mungkin hanya satu dalam sejuta. Manusia karena hakikatnya ingin melakukan segala sesuatu sesuai dengan perintah egonya, dan sangatlah sulit baginya untuk menyerahkan kehendaknya kepada kehendak Tuhan.

Memang sangat sulit bagi orang biasa untuk menyerahkan kehendak pribadinya kepada Tuhan yang mereka tidak dapat lihat, dengar atau raba. Sekali lagi, penyerahan ini lebih mudah dikatakan dari pada dilaksanakan.

AYAH, APAKAH ANDA MENYIRATKAN BAHWA TEORI REINKARNASI LEBIH UNGGUL DARI TEORI KEBANGKITAN TUBUH?

Tidak, aku tidak akan pernah mengatakan itu. Sejauh pendapatku, keduanya, teori reinkarnasi dan kebangkitan tubuh hanyalah teori, karena keduanya kekurangan bukti ilmiah untuk membuktikan kebenaran dari kopsep-konsep mereka. Teori reinkarnasi tidak dapat menjelaskan alasan atau alasan-alasan bagi “kelahiran pertama.” Pada sisi lain, kebangkitan Jesus merupakan bagian tak terpisahkan dari Perjanjian Baru yang merupakan keyakinan agama Kristen. Ensiklopedia Katolik menyatakan bahwa tulisan-tulisan Perjanjian Baru adalah dokumen-dokumen kepercayaan yang ditulis oleh orang percaya untuk orang percaya. Jadi dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa reinkarnasi dan kebangkitan tubuh adalah sistem kepercayaan yang didukung oleh kitab suci, masing-masing Hindu dan Kristen, yang mendapat inspirasi dari Tuhan.

Kebanyakan orang Kristen percaya bahwa nasib akhir mereka adalah apakah kebahagiaan abadi bersama Tuhan di surga atau penderitaan dan keputusasaan abadi di neraka, semantara teori reinkarnasi menyatakan, “Pembebasan adalah bagi semua; hanya faktor waktu yang membedakan antara yang terbaik dan terburuk di antara kita. Yang terbaik akan mencapai pembebasan dalam sekali kehidupan, sementara yang terburuk akan mencapai pembebasan setelah melalui banyak kehidupan.”

Orang Kristen memandang waktu secara linear, dengan satu awal dan akhir yang pasti, sementara orang Hindu percaya waktu bersifat siklus, pengulangan kejadian-kejadian tanpa akhir.

Siddhi

APAKAH SIDDHI?

Kemampuan seperti ‘clairaudience’ (mendengar suara yang tak dapat didengar oleh telinga manusia normal), ‘clairvoyance’ (kemampuan untuk melihat obyek yang atidak ada didepan indrya mata), dan ‘telepathy’ (kemampuan untuk mengirim dan menerima pikiran) adalah beberapa Siddhi (occult power) yang dikenal oleh manusia. Begitu pula kemampuan untuk mengadakan dan menghilangkan sesuatu sesuai dengan keinginan disebut juga Siddhi. Menurut agama Hindu, Siddhi merupakan suatu halangan bagi pencapaian Tuhan karena ia mengembangkan ego yang tidak dikehendaki dalam diri seorang pemuja. Jadi agama Hindu memandang rendah Siddhi. Tapi beberapa orang lahir dengan Siddhi. Bagi mereka kekuatan Siddhi keluar begitu saja seperti bau harum mengalir dari bunga mawar. Mereka biasanya tidak menganggap hal ini penting. Mereka tidak berusaha untuk mempengaruhi masyarakat dengan Siddhinya ini.

Dikatakan bahwa kekuatan ‘psychic’ dari tingkatan yang lebih rendah dapat dikembangkan dengan menggunakan sejenis ramuan obat (drug) tertentu. Tapi metoda yang menggunakan bahan kimia untuk mengembangkan Siddhi adalah cara yang sangat berbahaya dengan akibat-akibat yang sangat mengerikan.

BAGAIMANA TEPATNYA KEKUATAN SIDDHI DIKEMBANGKAN DALAM DIRI SESEORANG?

Menurut agama Hindu, Siddhi dikembangkan dalam diri manusia dengan mengangkat kekuatan Kundalini atau kekuatan ular melalui saraf tulang belakang. Kekuatan Kundalini ini berada pada ‘Muladhara’ di balik organ seksual pada dasar dari saraf tulang belakang manusia. Diyakini bahwa ketika seorang manusia berkembang secara spiritualitas, kekuatan ini bangkit secara perlahan dan bergerak melewati enam pusat (Chakra) di saraf tulang belakang (spinal cord) dan akhirnya menjadi satu pada titik paling atas dalam otak yang disebut ‘Sahasrara’. Pada titik itu orang tersebut mengembangkan Siddhi. Jadi diyakini bahwa merangsang kekuatan itu secara artifisial dari titik istirahatnya dengan bahan kimia dapat menimbulkan kerusakan yang hebat pada badan, karena badan yang normal tidak didesain untuk bertemu dengan kekuatan yang demikian hebat.

APAKAH MANTRA MEMBANTU MENGEMBANGKAN SIDDHI?

Beberapa Mantra seperti Pranawa atau Gayatri dapat mengembangkan kesadaran dan tidak ada batas bagi pengembangan kesadaran itu. Mantra-mantra ini adalah Mantra dari tingkatan yang tertinggi dan mereka mengembangkan Siddhi secara perlahan dan alamiah, karena itu hal ini diterima dengan baik. Ada beberapa Mantra tertentu seperti Mantra Wasikarni yang dapat dipergunakan untuk tujuan khusus, yaitu untuk mempengaruhi atau menarik seseorang.

AYAH, APAKAH MENURUTMU SIDDHI ITU SANGAT BERBAHAYA?

Hampir semua orang yang tahu sedikit-sedikit mengenai spiritualitas juga berbicara mengenai Siddhi (occultisme), khususnya mengenai occultisme Hindu, dalam khotbah mereka sehari-hari. Tapi tidak seorangpun yang mengatakan kepada pendengarnya apa sesungguhnya occultisme itu – mana bagian yang berbahaya, mana bagian yang baik. Agama Hindu mengatakan bahwa kekuatan Siddhi tidak perlu dicari. Bila ia datang kepadamu, itu akan datang secara alamiah sebagai hasil samping (by-product) dari usaha pencarian Tuhan.

Satu hal lain ingin kukatakan. Jangan berupaya melakukan semua jenis latihan Hatha Yoga. Struktur tubuh orang Barat tidak sesuai untuk semua latihan itu. Kamu harus melakukannya dibawah bimbingan dan pengawasan seorang guru Yoga yang ahli.

Bila seseorang ingin melakukan pranayama, pengajaran atau latihan yang terbaik diberikan oleh “the Self-Realization Fellowship” di Los Angeles, California. Metoda mereka disebut Kriya Yoga dan ini adalah Pranayama ‘psychic’ (bathin; jiwa). Alamat mereka ada dalam buku “Autobiography of a Yogi” oleh Paramahamsa Yogananda yang dijual di setiap toko buku. (Telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Anand Krishna dengan judul “Otobiographi Seorang Yogi”, pen).

Dikatakan bahwa ketika Aleksander Agung menaklukan bagian utara India, dia terkagum-kagum menyaksikan kedalaman spiritualitas Hindu dan juga oleh occultisme Hindu. Asal mula dari Siddhi Hindu ini dapat ditelusuri kebelakang kepada kebudayaan Dravidia di India, jauh sebelum kedatangan orang Arya, paling sedikit lima ribu tahun sebelum masehi.

Para teolog Hindu menganggap magi hitam (black magic), jampi-jampi untuk mencelakakan orang, dan praktek-praktek berbahaya dari Yoga sebagai occultisme. Latihan pernafasan biasa seperti metoda Hamsa atau Kriya Yoga seperti yang diajarkan oleh “Self-Realization Fellowship” bukan occultisme.

Tentu saja semua teolog Hindu mengingatkan para muridnya agar tidak mempraktekkan latihan-latihan tertentu dalam buku-buku Yoga tanpa bimbingan seorang yang ahli mengenai hal itu. Gheranda-Samhita dan Hatha-Yoga-Pradipika kemungkinan akan mengundang penyakit dengan melakukan latihan-latihan yang keras tanpa bimbingan seorang ahli. Sirshasana, seni berdiri di atas kepala, hanya bagus bila itu dilakukan secara benar. Bila ini dilakukan secara tidak tepat, seseorang bisa mendapat masalah seperti halusinasi yang sangat menekan.

APAKAH OCCULTISME ADA DIMANA-MANA DI DUNIA?

Ia ada dimanapun di dunia ini, termasuk dalam agama Hindu. Kepada mereka yang menyerang agama Hindu sebagai pembawa obor dari occultisme, aku hanya mempunyai satu jawaban. Mohon jangan gunakan lagi uang dollar Amerika Serikat karena uang itu membawa simbol occultisme. Simbol atau emblem itu terdiri dari piramid Mesir, Mata Ketiga dari Dewa Siwa (mata yang-melihat-semuanya dari gereja-gereja Kristen Inggris) dan pernyataan “Annuit Coeptis” (artinya “dia menyejahterakan usaha kita”) dan “Novus Ordo Seclorum” (artinya “orde baru dari abad-abad” – abad Aquarian, menurut astrologi terjadi setelah abad Emas, Perak, Perunggu dan Baja).

Konon dibalik dari stempel besar Amerika Serikat, dilukis emblem Masonic yang disebutkan di atas karena lebih dari lima puluh orang penanda-tangan dari Deklarasi Kemerdekaan AS adalah penganut Mason atau Rosicrusian *) dan mereka sangat gemar dengan ilmu-ilmu esoterik seperti astrologi dan Kabbalah. Nama Pentagon untuk markas besar militer AS mempunyai awal occult. Percaya atau tidak, sinar laser yang paling kuat di atas bumi ini disebut “Siva,” menyimbolkan cahaya dari mata ketiga Siwa yang amat kuat, dan kata “trident” berasal dari senjata Siwa (Trisula, pen). Aku rasa nama-nama mitologi Hindu dibawa ke lembaga pertahanan dan luar angkasa Amerika Serikat oleh para ilmuwan Jerman yang datang ke Amerika Serikat setelah Perang Dunia Kedua. Tampaknya mereka sangat paham tentang Indology. Jadi kita dapat melihat simbol-simbol dari occultisme ada dimana di dunia ini.

Kamu dapat melihat aspek metaphisik dari occultisme dalam Rig Weda dan aplikasi praktisnya dalam semua aspek Yoga. Satu kitab suci yang dapat disebut otoritas mengenai occultisme Hindu adalah Atharwa Weda, yang terdiri dari segala mantra-mantra dan juga jampi-jampi magik. Bahkan satu bagian dari Ayurweda (pengobatan Hindu), disebut Bhuta-Widaya, berkaitan dengan penyakit yang disebabkan oleh roh.

Sekali lagi, agama Hindu tidak mendukung penggunaan occultisme untuk motive-motive pribadi dan menasehati setiap orang untuk tidak terlibat dalam occultisme.

AUM – Kata dan Suara

APAKAH AUM (OM)?

Suku kata AUM (OM) yang suci adalah lambang dari Tuhan yang Mutlak. Ia diucapkan pada awal dan akhir dari hampir seluruh doa Hindu. Mahareshi Manu mengatakan bahwa Aum berarti “bumi,” “langit,” dan “surga.” AUM dianggap sebagai inti dari Weda-Weda. Beberapa orang mengatakan bahwa “A” merupakan simbol atau mewakili keadaan jaga (Jagra), “U” mewakili keadaan tidur (Nidra), “M” mewakili keadaan tidur yang dalam/pulas (Sushupti) dan gabungan dari AUM mewakili seluruh kesadaran. Katha Upanishad mengatakan, “Kata yang diucapkan oleh semua Weda dan para sanyasin, dan keinginan dari orang yang melaksanakan hidup suci – kata yang akan kujelaskan kepadamu secara singkat. Suku kata ini sesungguhnya adalah Brahman; suku kata ini sesungguhnya adalah Yang Maha Tinggi.” Mandukya Upanishad mengatakan, “AUM -suku kata ini berarti seluruh dunia.” Masa lalu, masa kini, masa depan, segalanya hanyalah suku kata AUM. Bahkan tiga waktu hanyalah AUM.”

Mahareshi Patanjali yang menulis Yoga Sutra berbicara tentang Tuhan sebagai “AUM.” Dia menulis, “Pusatkan pikiran pada AUM supaya dapat berhubungan dengan Tuhan. AUM adalah simbolNya.” Dalam Bible agama Kristen, AUM disebutkan sebagai Kata. “Pada awalnya adalah Kata, dan Kata ada bersama dengan Tuhan. Kata adalah Tuhan.” Kalimat yang persis sama dalam Rig Weda terbaca, “Pada awalnya adalah Brahman, dengan dia adalah AUM (Kata), dan Kata itu sesungguhnya Brahman yang Tertinggi.” Kata AUM, “Amen’ Kristen dan ‘Amin’ Islam, semuanya mewakili hal yang satu dan sama. Dalam Upanishad-Upanishad, AUM dijelaskan sebagai Pranawa.

MOHON JELASKAN PADAKU BAGAIMANA MENGUCAPKAN (CHANT) AUM?

Nak, begitu banyak telah ditulis mengenai AUM dalam seluruh kitab suci Hindu. Banyak orang berpikir bahwa mereka dapat dengan gampang mengucapkan AUM dengan suara manusia mereka. Kenyataan sebenarnya adalah bahwa karena AUM adalah suara yang mempunyai getaran (vibrasi) sangat tinggi atau sangat rendah, ia tidak dapat diucapkan dengan suara manusia Suara kosmis dari AUM tidak terpahami oleh indriya, tapi ia dapat dialami oleh meditasi yang amat dalam. Hampir semua mistikus dari Timur dan Barat telah membuktikan pengalaman nyata dari suara kosmis ini. Saint Francis dari Assisi, misalnya, menyebutnya sebagai satu musik yang demikian manis dan indah dan bila saja musik itu berlangsung sedikit lebih lama, dia akan sepenuhnya lenyap hilang dalam musik itu. Cara yang benar untuk mengucapkan AUM adalah dengan pengucapan dalam pikiran dan super-kesadaran. AUM harus diucapkan dengan Pratyahara (internalisasi perhatian) dan Pranayama (pengendalian prana – daya hidup – life force dan penarikan indriya secara wajar dari obyek-obyek indriya). Dikatakan bahwa dia yang mengetahui Tuhan sebagai suara kosmis menemukan dirinya bebas dari semua penderitaan dan kematian.

APAKAH ANDA MENGATAKAN “KATA” YANG DISEBUTKAN DALAM BIBLE TIDAK LAIN DARI AUM ATAU BRAHMAN DALAM KITAB SUCI HINDU?

Silahkan kamu lihat sendiri kemiripan antara pernyataan dalam Rig Weda dan Bible mengenai “Kata” itu. Alangkah miripnya mereka! Weda-Weda (3000 tahun sebelum Masehi) menyatakan, “Prajapati Vai Idam Agre Aseet (Pada awalnya adalah Prajapati, Brahman, Tuhan).” Tasya Vag Dvitiya Aseet (dengan Dia adalah Kata), Vag Vai Parama Brahman (dan Kata itu sesungguhnya adalah Brahman Yang Tertinggi.” John 1:1 (50-100 A.D) menyatakan, “Pada awalnya adalah Kata, dan Kata itu bersama Tuhan, dan Kata itu adalah Tuhan.”

Mantra-Mantra dan Mantra Yoga

APAKAH MANTRA YOGA?

Mantra Yoga berasal dari Weda-Weda dan Tantra. Yoga ini membawa perobahan dalam kesadaran material oleh perantaraan suara. Tentu saja, “suara” Mantra Yoga merujuk kepada suara misterius yang tidak dapat didengar oleh telinga manusia.

Dari pengetahuan modern kita tahu tiga fakta penting : 1. Materi adalah satu ekspresi dari energi, 2. Energi ini bergetar pada frekuensi yang berbeda dalam jenis materi yang berbeda. 3. Organ indriya kita hanya dapat menerima sensasi yang dibuat dalam lingkup frekuensi yang sangat terbatas. Misalnya, kita hanya dapat mendengar suara yang dibuat dalam satu cakupan (range) frekuensi terbatas – apapun di atas itu disebut ultrasound dan yang di bawahnya disebut infrasound. Tentu saja, kita tidak dapat menyimpulkan bahwa suara dalam Mantra Yoga termasuk dalam salah satu kategori di atas.

Kita dapat mengatakan bahwa Mantra Yoga itu didasarkan atas aspek getaran dari energi dan modifikasinya kedalam materi yang bervariasi. Mantra dipergunakan untuk menghasilkan hasil-hasil yang penting dan juga penyatuan dan pengungkapan dari kesadaran. Mantra Yoga sendiri bukanlah satu Yoga khusus; sebaliknya ia dipergunakan secara luas oleh para pemuja yang berasal dari semua aliran Yoga yang lain untuk peningkatan dan pengembangan kesadaran.

APAKAH MANTRA DAN KENAPA IA BEGITU PENTING?

“Mantra” menggabungkan dua akar kata – Man artinya berpikir dan Tra artinya “instrumentalitas.” Singkatnya, Mantra berarti “bentuk pikiran” (thought-form). Sebuah Mantra adalah ucapan yang memiliki kekuatan magis. Kebanyakan dari Mantra-mantra penting berasal dari Tantra. Dalam agama Hindu, dewa-dewa diwakili oleh Mantra dan setiap dewa dihubungkan dengan satu Mantra khusus. Dikatakan bahwa kekuatan Mantra bisa mengundang dewa memasuki sebuah patung dan membuat patung itu menjadi “hidup.” Semua Mantra Hindu dibentuk dari alphabet Sansekerta. Dipercayai bahwa setiap huruf memiliki potensi kekuatan yang tidak terbatas dan beberapa dari huruf itu secara tepat dikelompokkan menjadi satu Mantra.

Kemudian Mantra itu akan membantu untuk menciptakan efek khusus. Menurut kekuatannya, Mantra dikelompokkan kedalam jenis laki-laki, perempuan dan netral. Mantra yang berakhir dengan suku kata “Hum” atau “Phat” disebut Mantra maskulin (laki-laki), yang berakhir dengan “Swaha” disebut Mantra feminin (wanita), yang berakhir dengan “Namah” disebut Mantra netral. Ada lima puluh dua huruf dalam alphabet Sansekerta, jadi ada lima puluh dua elemen kekuatan yang tersedia untuk menciptakan Mantra dalam berbagai kombinasi yang berbeda. Tentu saja tidak seorangpun dapat mengatakan bahwa hanya suara-suara yang dihasilkan oleh alphabet Sansekerta yang bisa menjadi Mantra. Satu-satunya hal yang dikatakan disini adalah bahwa Mantra-mantra Hindu diciptakan oleh para ilmuwan kuno zaman Weda, para Mahareshi, dan evaluasi yang sangat mendalam dilakukan sebelum menerima gabungan kata sebagai Mantra. Dalam agama Hindu Mantra tidak terbatas jumlahnya.

BAGAIMANA CARA YANG TEPAT UNTUK MENGUCAPKAN MANTRA?

Sebagai awal, sebuah Mantra harus diberikan kepada seorang pemuja oleh seorang Guru bila manfaat yang besar ingin diperoleh dari Mantra ini. Tentu saja seseorang boleh mengambil Mantra apapun dan mulai mengucapkannya, dan selama orang tersebut memiliki keyakinan pada Mantra itu maka ia akan memperoleh beberapa hasil yang positif. Japa adalah tehnik terbaik yang dikenal dalam Mantra Yoga, dimana suatu Mantra diulang secara terus-menerus, mula-mula kedengaran oleh telinga manusia kemudian secara diam-diam dan secara mental. Ketika pemuja itu terus mengucapkan Mantra favoritnya, dia akan merasakan perobahan dalam kesadarannya. Tapi tidak perlu untuk melihat perobahan apapun dalam badan kasarnya. Ada beberapa jenis Mantra diantaranya Pranawa dan Gayatri Mantra adalah yang paling populer.

Persis seperti satu biji tumbuh menjadi satu jenis pohon tersendiri sesuai dengan jenis dari biji itu, demikian pula efek dari setiap Mantra.

Mantra yang diucapkan oleh penganut Hare Krishna adalah, “Hare Krishna, Hare Krishna, Krishna, Krisha, Hare, Hare; Hare Rama, Hare Rama, Rama, Rama, Hare, Hare.” Mantra ini khususnya dipergunakan untuk membebaskan seseorang dari Karma atau ikatan (tumimbal lahir) menurut Srimad Mahabhagawatam. “OM Namah Shiwaha” adalah Mantra yang sangat populer di India Selatan. Mantra populer yang lain adalah, “Sree Ram, Jaya Ram, Jaya Jaya Ram; Sree Ram, Jaya Ram, Jaya Jaya Ram.”

Ada banyak sekali Mantra dalam agama Hindu. Bahkan ada Mantra-mantra seperti Wasikarni Mantra untuk menarik lawan jenis. “Om Mani Padme Hum” adalah satu Mantra Buddhis yang agung, yang merujuk kepada “mutiara dalam bunga padma dari hati.” Dalam agama Yahudi, “Baruch Attah Adoni” berarti “Terahmatilah Engkau, O Tuan Tuhan kami.” Untuk orang Kristen, nama Jesus sendiri adalah sebuah mantra yang besar. Dalam tradisi Katolik, “Hail Mary” dipergunakan sebagai Mantra yang hebat. “Bismilah Ir-Rahman Ir-Rahim” adalah Mantra Muslim yang artinya “Dalam nama Allah, yang pengasih dan penyayang.”

Gayatri Mantra

AYAH, APAKAH GAYATRI MANTRA?

Gayatri Mantra dan Pranawa Mantra (AUM atau OM) adalah Mantra-mantra yang paling populer dari agama Hindu. Gayatri Mantra berasal dari Rig Weda (III, 62:10) Beberapa orang menyebut Mantra ini Sawitri Mantra karena berisi kata Sawitri. Legenda mengatakan bahwa Mantra ini disusun oleh Mahareshi dari India Selatan Wishwamitra, yang adalah seorang ksatriya karena kelahiran dan akhirnya menjadi Brahmin karena tapanya yang serius dan bhakti kepada agama Hindu.

Seperti Mantra lainnya, untuk mendapat hasil yang tepat, Mantra ini harus diterima dari seorang Guru. Bila seseorang ingin mengucapkan (japa, chant), ia hendaknya mengikuti tulisan Dewanagari. Mohon jangan ikuti versi Inggrisnya yang saya berikan di bawah ini. Menurut agama Hindu, satu Mantra yang diucapkan secara salah lebih buruk dari pada tidak mengucapkan mantra itu sama sekali.

Secara pribadi aku merasa bahwa seperti semua Mantra yang lain, Mantra agung ini berasal dari Tantra dan itulah mungkin sebabnya mengapa ia menyimpan dalam dirinya kekuatan yang tidak dapat dijelaskan.

Gayatri Mantra bunyinya kira-kira sebagai berikut :

OM
Bhur bhuwah swah
Tat Savitur warenyam
Bhargo dewasya dhimahi
Dhiyo yo nah prachodayat

Menurut agama Hindu Mantra ini tidak bisa diterjemahkan, menulis suatu terjemahan yang salah dianggap oleh banyak orang Hindu sebagai bidah.

Bagaimanapun supaya kamu dapat menghargainya, inilah kira-kira terjemahannya yang mendekati : “OM! Mulia (Glory) untuk Sawitri, yang mulia, cahaya dari Yang Suci, marilah kita meditasi kepadanya. Mudah-mudahan ia memberi kita inspirasi dengan pengertian, ia adalah Gayatri.” Terjemahan lain : “Ya Tuhan Yang Maha Esa penguasa alam semesta, Marilah kita bersemadi pada cahaya suci Tuhan yang patut disembah itu, yang memberikan penerangan suci pada pikiran kita.”

Dikatakan bahwa suku kata dari Mantra agung ini adalah merupakan puncak dari empat Weda. Tantra Wishwamitra mengatakan, “dua puluh empat suku kata Gayatri adalah merupakan dua puluh empat shakti atau kekuatannya. Tata cara pemujaan hendaknya sesuai dengan bentuk dari Sakti ini.”

Bahkan Mahareshi Wasishtha, yang telah melakukan perdebatan yang sengit dengan Wishwamitra, memuji Mantra ini, menyatakan bahwa bahkan orang-orang bodoh, kaum kriminal dan orang-orang cacat mental dapat memperoleh manfaat dari Gayatri Mantra. Mantra ini telah dipromosikan oleh hampir semua orang-orang suci Hindu, termasuk Adwaitist seperti Adi Sankara.

Transcendental Meditation

APAKAH “TM” ATAU TRANSCENDENTAL MEDITATION?

TM dimulai oleh Mahareshi Mahesh Yogi pada tahun 1956. Ia sesungguhnya adalah Mantra Yoga yang oleh Mahareshi dihidupkan kembali dan diperkenalkannya kepada dunia. TM menjanjikan pikiran tanpa stres, pengetahuan dan ketenangan batin tanpa obat-obatan. Kebanyakan dari tehnik-tehnik meditasi TM amat dirahasiakan, tapi prosedurnya sangat sederhana dan langsung. Pertama pergi dan temuilah Mahareshi atau salah seorang dari instrukturnya yang terpilih.

Instruktur ini akan menanyai kamu mengenai kesehatan, perasaan, pendidikan dan status perkawinanmu. Setelah mendengarkan jawabanmu, pelatih itu akan menasehati kamu untuk mengucapkan satu Mantra khusus. Seperti telah kamu ketahui, ada beberapa Mantra, jadi kamu akan diberikan satu Mantra khusus yang paling cocok bagimu. Setelah menerima Mantra itu kamu harus mengucapkannya secara mental selama dua puluh menit setiap pagi dan sore. Sebagai hasilnya, stresmu akan hilang dan kamu akan menjadi seorang yang lebih baik, demikian menurut Maharshi. TM sesungguhnya mempunyai banyak sekali aspek-aspek positif.

TM juga mendapat banyak publikasi negatif. Kerahasiaannya dan ketertarikan khusus dari banyak selebriti telah membuatnya menjadi seperti “agama selebiriti” palsu. Tapi menurut Maharshi, “TM bukan sebuah agama, ia adalah ilmu pengetahuan.” Apapun yang dikatakan oleh para pengeritik, TM telah menyelamatkan banyak manusia dari kemerosotan spiritual.

APAKAH TM SATU-SATUNYA CARA YANG BENAR UNTUK MEDITASI?

Saya kira bahkan penganjur dari TM tidak akan membuat pernyataan semacam itu. Maharshi Mahesh Yogi memang merevolusikan seluruh konsep meditasi. Dia membuatnya manjadi sangat sederhana dan sangat dicintai atau digemari oleh semua orang . Dia sebenarnya mengeluarkan meditasi dari dogma semua agama dan menyajikannya kepada dunia di atas piring perak, tapi pada saat yang sama tiada seorangpun yang dapat mengatakan bahwa TM hanyalah satu-satunya metoda yang benar untuk meditasi. Bila itulah satu-satunya cara yang benar, Shri Krishna tidak akan menggunakan delapan belas bab dan tujuh ratus sloka untuk mengajari Arjuna mengenai metoda meditasi dan jalan yang berbeda untuk mengejawantahkan Tuhan. TM akan cocok untuk sebagian orang, tapi untuk sebagian orang lainnya ia mungkin sama sekali tidak cocok. Untuk sebagian orang mungkin sangat cocok dengan metoda Hare Krishna yang ritualistik, kaku dan sangat asketik. Untuk yang lain, metoda intelektual Tuan J. Krishnamurti untuk mencari kebenaran mungkin adalah jawabannya. Mohon dimengerti pula bahwa beberapa pernyataan dari TM telah dipertanyakan oleh banyak orang, termasuk Prabhupada (dari gerakan Hare Krishna) dan Krishnamurti. Krishnamurti bahkan sampai mengatakan bahwa pengulangan “OM” atau bahkan “Coca Cola” akan mempunyai akibat yang sama pada pikiran. Namun bagaimanapun, aku tidak mempunyai pikiran untuk mengecilkan atau merendahkan hadiah besar dari Maharshi kepada Dunia. Aku hanya ingin mengatakan kepadamu bahwa ada banyak cara yang benar untuk meditasi.

Meditasi

AYAH, APAKAH MEDITASI?

Kata meditasi berasal dari kata Latin “meditari” yang berakar pada kata Latin “mederi” artinya “menyembuhkan” (to heal). Jadi meditasi adalah “ilmu pengetahuan mengenai penyembuhan” – ilmu penyembuhan semua penyakit tubuh dan mental. Ada ribuan buku mengenai meditasi dan ribuan definisi mengenai meditasi. Agama Hindu sendiri berbicara mengenai dua puluh tingkat kesadaran atau tahapan-tahapan mental yang berbeda. Jadi untuk mengatakannya secara sangat sederhana, meditasi adalah seni untuk membuat pikiran stabil. Untuk menjelaskannya dalam istilah orang awam, dengan meditasi seseorang memasuki satu keadaan pikiran tanpa pikiran (a state of mind where there are no thoughts).

AYAH, APAKAH PIKIRAN (MIND)?

Ini suatu pertanyaan sulit yang lain untuk dijawab. Pikiran mempunyai ribuan definisi dan bila kamu membaca mereka semua kamu akan lebih bingung lagi. Definisi yang paling mudah adalah: Pikiran (mind) adalah satu ruang di dalam mana pikiran-pikiran (thoughts) berada, berdiam. Jadi bila kita katakana pikiran telah menjadi tenang, itu artinya pikiran telah memasuki satu keadaan tanpa-pikiran (a thought-less state).

AYAH, MENGAPA SUKAR SEKALI UNTUK MEDITASI?

Untuk memulainya, orang-orang membingungkan diri mereka sendiri dengan segala macam definisi mengenai meditasi dan melekatkan kepadanya segala macam dogma spiritual yang tidak perlu. Beberapa orang bahkan memberikan kedudukan penting yang tidak pada tempatnya kepada seluruh ide meditasi dengan wawasan yang sangat snobis (sok).

Orang-orang dengan bangga mengatakan, “aku telah bermeditasi selama empat jam terakhir.” Lalu apa? Apakah kamu pernah mendengar seseorang mengatakan bahwa dia telah tidur selama delapan jam, dan karena itu seluruh dunia harus menghormatinya? Semuanya itu, seperti telah kukatakan di atas, adalah halangan untuk meditasi yang sebenarnya. Jadi yang paling penting adalah memahami bahwa meditasi itu sealamiah seperti tidur (Shusupti) dan ini adalah latihan yang vital yang diperlukan oleh semua mahluk manusia dari sejak lahir hingga mati.

Seni meditasi sendiri disalah-mengerti secara kasar oleh banyak orang. Banyak Yogi menjadikan pengendalian pikiran adalah prasyarat untuk meditasi dari pada menyatakan pikiran yang terkendali adalah hasil atau buah dari meditasi. Mencoba untuk mengendalikan pikiran secara sewenang-wenang adalah seperti mencoba untuk mengendalikan kegiatan seekor monyet yang lari di seantero hutan.

Tiada seorangpun yang dapat melawan pikiran dan angin. Pikiran adalah kekuatan yang sangat perkasa. Satu-satunya hal yang kita lakukan adalah menjinakkannya dengan metoda yang tepat. Bahkan Krishna sekalipun mengakui kekuatan dari pikiran dan memberi tahu Arjuna yang kebingungan, “Tak diragukan, oh pahlawan agung, pikiran sangat sukar untuk ditundukkan. Dia tak pernah istirahat sepanjang waktu, tapi putra Kunti, pikiran dapat ditaklukan dengan latihan terus-menerus dan penarikan diri dari obyek-obyek indriya” (Bhagawad Gita 6:34).

JADI BAGAIMANA CARA YANG TEPAT UNTUK MEDITASI?

Ada banyak cara untuk meditasi, beberapa di antaranya bersifat langsung dan yang lain bersifat tidak langsung. Salah satunya adalah dengan memperhatikan pikiran-pikiran (thoughts) yang datang kepada ‘pikiran’ (mind = seat of consciousness, feeling, thouht an and will; pikiran adalah tempat dari kesadaran, pikiran, perasaan dan kehendak, npp) tanpa mengontrolnya dengan cara apapun atau mencoba berpartisipasi dalam pikiran-pikiran itu. Cara ini kedengaran sulit tapi bila kamu mulai mempraktekkannya, banyak pertanyaan-pertanyaan yang kamu miliki akan menghilang sama sekali. Pranayama dan Mantra Japa adalah cara-cara tidak langsung untuk memperhatikan pikiran (mind).

AYAH, APAKAH ANDA BERMAKSUD MENGATAKAN BAHWA AKU HANYA MELAKSANAKAN MEDITASI BEGITU SAJA TANPA DIGANGGU OLEH “APA YANG HARUS DILAKUKAN DAN YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN” MENGENAI AGAMA HINDU?

Yang harus dan tidak boleh dilakukan (“do’s and don’t’s, kewajiban dan larangan) yang baru saja kamu sebutkan dikenal sebagai Yama-Niyama. Aku sama sekali tidak punya maksud untuk mengecilkan arti penting mereka. Aku merasa bahwa orang pada umumnya berhubungan dengan agama dengan maksud untuk merobah segala sesuatu dalam semalam. Sesungguhnya mereka memang bertindak persis seolah-olah mereka mencoba untuk membuat satu kekosongan yang sempurna (perfect vacuum). Tapi tidak ada kekosongan sempurna seperti itu. Bagimanapun, adalah lebih mudah untuk mengganti satu bentuk gas dengan gas yang lain dalam kamar yang tertutup rapat yang kedap angin.

Inilah ide dimana aku mendasarkan teoriku. Kita pertama-pertama hendaknya dengan serius memulai latihan-latihan meditasi dan tidak terlalu keras terhadap diri kita mengenai “apa yang harus dan apa yang tidak boleh.” Hal itu tidaklah berarti bahwa kita mentoleransi emosi-emosi yang tak terkendali. Misalnya, bila kamu menonton tv selama enam atau tujuh jam setiap hari, cobalah menguranginya menjadi satu atau dua jam dan menonton dengan cara yang konstruktif. Bila kamu mempunyai kebiasaan makan setiap waktu, cobalah merobahnya menjadi tiga kali sehari, dan begitu seterusnya. Perobahan harus dibuat tanpa memberi kesempatan kepada pikiran untuk menentang balik dengan keras.

Ingatlah Krishna mengatakan, “Yoga bukanlah untuk mereka yang tidak makan sama sekali tidak pula bagi mereka yang makan dengan serakah. Yoga bukanlah untuk mereka yang tidak tidur dan mereka yang tidur sepanjang siang dan malam.” Kita tidak hidup di lereng gunung Himalaya tapi di kota-kota dimana ribuan obyek-obyek indriya muncul setiap waktu untuk merangsang indriya kita. Moderasi adalah yang paling diperlukan.

APA SEBENARNYA YANG TERJADI SELAMA MEDITASI?

Ilmu pengetahuan masih harus mengeksplorasi topik ini. Satu-satunya hal yang kita ketahui sejauh ini adalah bahwa selama meditasi badan menjadi relaks dan ada perobahan dalam gelombang listrik otak. Departemen parapsikologi di seluruh dunia sedang melakukan banyak percobaan mengenai hasil-hasil dari meditasi, tapi sejauh ini tiada seorangpun membawa hasil kecuali bahwa selama meditasi otak membuat gelombang alpha dan kadang-kadang bahkan gelombang theta dan delta. Otak kita adalah sekumpulan sirkit (arus) listrik yang secara terus menerus bolak-balik mengirimkan antara berbagai pusat otak, mengingat hal itu, akan perlu waktu bertahun-tahun sebelum kita mengetahui apa sesungguhnya yang terjadi selama meditasi.

Gelombang-gelombang otak dan Biofeedback

APAKAH GELOMBANG ALPHA, THETA DAN DELTA?

Well, mari kujelaskan segalanya dari awal. Otak menghasilkan sejumlah kecil listrik yang dapat diukur. Dewasa ini para dokter mengambil listrik ini dengan menggunakan sebuah mesin yang disebut electroencephalograph (EEG). Listrik yang diambil dengan cara itu diperbesar dan ditayangkan dalam bentuk visual oleh sebuah pen mengikuti garis naik turun (jagged line) di atas

kertas graphik yang bergerak. Para dokter menyebut ini graphik gelombang otak. Sesuai dengan variasi dalam frekuensi, para ilmuwan menamakan empat gelombang dasar otak alpha, beta, delta (satu sampai empat lingkaran/cicle per detik) dan theta (empat sampai tujuh lingkaran/cicle per detik). Yang paling cepat dari keempat gelombang itu adalah beta, dengan tigabelas atau lebih getaran per detik, satu pola gelombang dihubungkan dengan sebuah kondisi sadar atau aktif. Gelombang alpha (tujuh atau tigabelas getaran/vibrasi per detik) terjadi dalam otak selama dalam keadaan relaksasi yang lebih maju. Penemuan dari gelombang -gelombang alpha sesungguhnya mengejutkan masyarakat ilmiah dan menghasilkan perkembangan dari sistem biofeedback.

APA YANG DIMAKSUD DENGAN SISTEM BIOFEEDBACK?

Ketika pada ilmuwan menemukan jenis-jenis gelombang otak yang berbeda, mereka berpendapat gelombang-gelombang otak itu di luar kontrol manusia. Kemudian secara kebetulan mereka menemukan bahwa manusia secara sadar dapat menempatkan diri mereka ke dalam keadaan gelombang alpha dari otaknya. Ini sesunguhnya suatu penemuan revolusioner dalam dunia sains. Kemudian sejumlah ilmuwan memulai percobaan dengan manusia, membuat mereka secara sadar (sengaja) menghasilkan gelombang-gelombang alpha.

Metode dimana seorang manusia secara sadar menghasilkan gelombang-gelombang alpha dengan secara nyata mengetahui sebelumnya gelombang-gelombang yang dihasilkan oleh otaknya disebut sebagai biofeedback. Dijelaskan secara lebih rinci, pertama orang tersebut disambungkan pada satu mesin electroencephalograph. Setiap kali gelombang alpha muncul mesin itu mengeluarkan bunyi. Orang tersebut kemudian mencoba menjaga bunyi atau nada itu berlanjut terus dengan membuat gelombang-gelombang alpha, dan ini disebut sebagai biofeedback. Kebanyakan orang menemukan bahwa mereka sungguh-sungguh merasa rileks dalam keadaan gelombang alpha. Kemudian beberapa orang mulai menyatakan bahwa mereka menemukan prinsip-prinsip dasar yang ada di balik meditasi Yoga.

APAKAH BIOFEEDBACK DAN MEDITASI ADALAH SATU DAN SAMA?

Sistem biofeedback adalah sangat penting dan ia membantu sejumlah besar orang untuk rileks secara benar. Tapi ia tidak dapat dibandingkan dengan meditasi. Para ilmuwan telah menemukan bahwa beberapa meditator bergerak dari alpha ke theta dan kadang-kadang ke gelombang-gelombang delta selama meditasi. Lagi pula tiada seorangpun dapat membuat sebuah mesin seperti electroencephalograph sebagai seorang hakim untuk membandingkan biofeedback dengan meditasi. Mesin ini hanya memberikan satu ukuran kasar dari aktifitas otak.

Ia tidak punya kemampuan untuk melihat lebih dalam ke dalam “kenapa” dan “bagaimana” gelombang-gelombang otak itu. Tentu saja EEG digunakan dalam diagnosis yang tepat untuk penyakit-penyakit seperti epilepsi dan kasus-kasus lain dari kerusakan otak. Dewasa ini ia digunakan secara luas untuk menentukan apakah seseorang hidup atau mati. Tapi ilmu pengetahuan hanya tahu bahwa berhentinya aktivitas listrik dalam otak berarti mati.

Ia tidak tahu bagaimana memasukkan atau merangsang aktivitas listrik dalam otak yang sudah berhenti atau mati. Jadi kita masih harus menempuh jalan yang amat panjang untuk mengetahui otak dan gelombang-gelombang otak. Bagaimana ilmu pengetahuan dapat menjelaskan kemampuan dari seorang Yogi yang dapat tetap sadar secara penuh dan dengan menutup dirinya sepenuhnya dari dunia luar? Kemampuan dari beberapa Yogi untuk melakukan ini sepenuhnya dibenarkan oleh pusat-pusat penelitian parapsychologi. Baiklah kuulangi lagi bahwa seseorang sama sekali tidak dapat mengumumkan penilaian atas meditasi atau bahkan perbandingan biofeedback dan meditasi dengan semacam alat seperti EEG itu.

Mesin ini hanya menilai aktivitas listrik dipermukaan otak dan sebagai demikian hanya menyediakan ukuran-ukuran sangat kasar dari aktivitas listrik dalam otak. Buku Plato “Republic” dan buku Aldous Huxley “Brave New World” diperintah oleh rangsangan otak. Para ilmuwan di seluruh dunia melakukan banyak sekali percobaan-percobaan mengenai Yogi, dan kita hanya dapat berharap bahwa suatu hari nanti mereka mungkin menemukan hal-hal yang sangat berharga dari meditasi.

Hippocrates (400 SM) berkata, “Manusia harus mengetahui bahwa dari otak dan hanya dari otak muncul kesenangan, kebahagiaan, tawa dan senda gurau/lelucon sebagaimana juga kesedihan, kesakitan, penderitaan dan air mata kita.”

Samadhi dan impuls listrik otak

AYAH, APAKAH MENURUT PENDAPATMU SAMADHI DAN TAHAPAN-TAHAPAN MENTAL LAIN YANG DICAPAI DENGAN MEDITASI SESUNGGUHNYA MERUPAKAN HASIL DARI PEROBAHAN (SWICTHING) KEBETULAN ATAS SEL-SEL TERTENTU DARI OTAK?

Kita belum tahu mengenai hal itu. Otak terbukti sebagai organ yang paling rumit dari tubuh manusia. Ia tidak dapat digantikan dan, seperti kukatakan sebelumnya, dewasa ini, mati didefiniskan sebagai “kematian otak” atau ketiadaan aktivitas listrik dalam otak.” Otak diperkirakan memiliki 10.000.000.000.000,- sel. Sembilan puluh persen dari padanya adalah ‘glia.’ Selebihnya adalah ‘neuron.’ Berpikir dan merasa tidak lain dari aktivitas elektro-kimia dalam sel-sel otak itu. Para ilmuwan juga telah menemukan bahwa hal yang sebaliknya juga adalah benar. Artinya bila sel-sel otak diberikan dorongan atau rangsangan kimia (drug) dan listrik dalam ukuran yang tepat, otak akan melahirkan phenomena “berpikir dan merasa.” Mungkin ini bagimu tampak seperti satu halaman yang lepas dari novel Frankenstein, tapi percaya atau tidak, banyak percobaan mengenai hal tersebut yang sedang dilakukan dewasa ini. Rangsangan listrik atas otak sesungguhnya ide yang sudah dikenal dengan baik. Para ilmuwan telah menemukan bahwa mereka dapat mempengaruhi otak dengan mengalirkan impuls listrik dari luar (?) ke dalam otak, kepada electroda yang ditanamkan di bagian-bagian berbeda dari otak. Rangsangan atas berbagai bagian otak dilaporkan mengurangi atau meningkatkan aggresi pada binatang. Delgardo dari Spanyol menunjukkan hal ini dengan melakukan percobaan yang membuat nafas kembang kempis. Dia menanamkan elektroda dalam otak seekor banteng dan membiarkan binatang ganas itu menyerangnya, di depan penonton di arena adu banteng. Ketika banteng sudah dekat sekali kepadanya Delgardo mengirimkan sinyal kepada eletroda yang ada dalam otak banteng, dan di depan banyak orang yang terkagum-kaum dan terheran-heran, banteng itu tiba-tiba menjadi jinak. Tentu saja, bahkan para ilmuwan pun mengakui tiada seorangpun boleh membandingkan otak seekor banteng atau otak monyet dengan otak manusia.

Otak binatang hanya bereaksi terhadap instink dan ia tidak memiliki kemampuan untuk berpikir seperti yang kita punya. Adalah kenyataan yang sudah sangat dikenal bahwa para ilmuwan masih belum mengetahui penggunaan yang sebenarnya dari beberapa bagian otak manusia, yang masih tetap merukapan teka-teki yang rumit bagi dunia ilmiah. Namun demikian, beberapa kitab suci Hindu, seperti Raja Yoga, mengatakan bahwa kesenangan dan kesedihan ada dalam otak.

Jadi saya setuju denganmu bahwa ada satu kemungkinan yang baik bahwa hasil-hasil dari meditasi mungkin merupakan hasil dari perobahan tak sengaja (accidental switch) atas beberapa sel-sel tak dikenal dalam otak. Seorang Yoga akan menjelaskan kepadamu bahwa unsur-unsur yang berbeda dari Samadhi dicapai karena atau sebagai akibat dari hasil kebangkitan kekuatan Kundalini dalam badan, tapi ilmu pengetahuan masih belum mempunyai ide mengenai keberadaan dari kekuatan-kekuatan kehidupan (prana, vital) seperti itu dalam badan. Namun, satu hal sangat pasti – beberapa dari pengalaman aneh seperti mengalami perasaan keluar dari tubuh (out of body experience, pen)juga dialami oleh orang yang telah menggunakan obat-obatan ‘hallucinogenic.’ Tapi bagi orang biasa pengalaman itu sangat menyakitkan, berbahaya dan kejam, sementara bagi seorang Yogi pengalaman itu sangat lancar dan damai. Kita mungkin akan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai berbagai tingkatan Samadhi bilamana parapsikologi telah lebih maju dalam penelitiannya. Dengan menemukan makna sebenarnya dari meditasi, ilmu pengetahuan suatu hari mungkin akan membuktikan kepada dunia konsep agama bahwa kita semua adalah hanya robot-robot bionic dari entitas (pribadi) yang tidak dikenal, yang sebagaian besar dari kita lebih suka menyebutnya Tuhan.

Kita masih akan menempuh perjalanan panjang. Kita mungkin suatu hari akan mengerti arti sebenarnya dari pernyataan yang amat berwibawa dari Krishna kepada muridnya, “nimitta Matram Bhava,” atau “Jadilah sebuah alat” (Be an instrument) (Bhagawad Gita 11:33). Menurut Mahabhagawatam, semua ciptaan ini hanya sebuah Leela (permainan-anak-anak) bagi Yang Maka Kuasa. Kita akhirnya mungkin menemukan bahwa kita tidak dapat berbuat lain kecuali mengikuti hukum-hukum tak tertulis alam semesta, karena kita hanya alat dari Kekuatan yang Maha Tinggi itu.

MENURUT PENDAPATMU MEDITASI DAPAT MEMPUNYAI PENGARUH BURUK ATAS ORANG-ORANG TERTENTU?

Meditasi itu sendiri adalah positif. Dia tidak memiliki akibat-akibat negatif. Tapi bila seseorang menggunakan depresi sebagai satu bentuk meditasi, dia akan mendapat banyak masalah. Beberapa orang menggunakan obat-obatan untuk membantu mereka selama meditasi. Itu juga bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar dari meditasi. Metoda meditasi Hindu dan Buddha secara tegas melarang pengunaan obat-obatan (drug) dalam bentuk apapun. Dalam beberapa teknik meditasi Hindu bahkan perangsang seperti the atau kopi saja dilarang. Beberapa orang mengira meditasi adalah satu bentuk dari magi hitam (black magic) atau perbuatan setan. Beberapa orang mengira meditasi adalah satu bentuk cuci otak (brain washing). Pendapat-pendapat seperti itu jauh dari kebenaran. Orang-orang melakukan banyak hal karena takut kehilangan hidup tapi ketika mereka yakin bahwa mereka tidak akan kehilangan hidup mereka, mereka tenang kembali.

Tuduhan terakhir namun bukan yang terkecil terhadap meditasi adalah bahwa meditasi membuat manusia bodoh. Tapi sungguh mengagetkan, hampir semua orang yang melakukan meditasi adalah orang-orang yang lebih baik dalam kehidupan dan profesi mereka. Semua studi yang dilakukan oleh para ahli TM membuktikan kebenaran ini. Untuk mengulangi, sepanjang orang-orang tidak menggunakan meditasi sebagai satu bentuk untuk memikir-mikirkan atau mengembangkan kebencian atau pikiran-pikiran beracun maka tidak akan ada masalah sama sekali. Sesuatu yang telah bertahan selama berabad-abad pastilah memiliki suatu kebaikan intrinsik dalam dirinya.

BEBERAPA TEOLOG KRISTEN MENYATAKAN BAHWA DALAM MEDITASI TIMUR PIKIRAN DIPERLAKUKAN SEBAGAI MUSUH DARI JIWA, DAN INI MELIBATKAN PENUTUPAN PIKIRAN. APAKAH INI BENAR?

Itu jauh dari kebenaran. Meditasi Timur melibatkan penghentian semua kegiatan mental yang berasal dari kegiatan indriya dalam obyek-obyek indriya dan menemukan kembali sang diri yang sebenarnya atau Atman. Menurut agama Hindu, Atman dibanjiri oleh ribuan pikiran-pikiran, dan dengan meditasi kita secara perlahan akan “mengetahui diri kita sendiri” (know thyself). Ingat Jesus mengatakan, “Kerajaan Tuhan ada dalam dirimu,” dan dengan meditasi Timur orang mencoba mencapainya. . Melalui meditasi Timur, ego seorang manusia yang terbatas menjadi ego universal. Misalnya, dari pada hanya menyayangi anak-anak kita sendiri, kita akan mulai mencintai anak-anak di seluruh dunia.

Beberapa teolog Kristen meminta jemaatnya untuk bermeditasi atas Tuhan. Masalahnya dengan meditasi semacam ini adalah ia melibatkan konsentrasi atas satu Tuhan dengan nama dan bentuk. Ketika pikiran mengambil suatu apapun yang memiliki nama dan bentuk, ia akan menjadi resah, bukannya tenang. Kecuali kalau seseorang melampaui (transcend) nama dan bentuk, meditasi tidak mungkin atau tidak ada gunanya.

Pranayama

APAKAH PRANAYAMA?

Pranayama memainkan peran yang amat penting dalam Raja Yoga. Tidak ada definisi yang tepat untuk Prana. Prana tidak berarti “nafas” atau “pikiran.” Beberapa orang mengatakan Prana artinya “aliran hidup” (vital currents) dalam tubuh. Ayama artinya “menahan” (restraint). Jadi, Pranayama artinya menahan aliran kehidupan dalam badan. Beberapa orang mendefinisikan Prana sebagai penghubung antara kesadaran absolut dan pikiran dan badan. Hubungan intim yang ada antara Prana, pikiran dan nafas dipergunakan dalam berbagai aliran Yoga. Dalam beberapa bagian dari Raja Yoga, Chitta Vritti, atau getaran-getaran mental dikendalikan oleh kekuatan kehendak (will power), dan Prana secara tidak langsung berada di bawah kendali pikiran.

APAKAH NAFAS DAN PRANA ADALAH SATU DAN SAMA?

Nafas bukan Prana, tapi para Mahareshi telah menemukan satu hubungan langsung antara keduanya. Maharshi Patanjali mengatakan dalam Yoga Sutra, “Pengaturan kendali nafas atau kendali Prana adalah penghentian penarikan dan pengeluaran nafas.” Dalam Bhagawad Gita, Krishna menjelaskan Pranayama dengan cara yang sangat rinci. Beberapa orang menawarkan Prana (nafas keluar) dalam apana (nafas masuk) dan apana dalam Prana, menahan jalan Prana dan apana, diserap dalam Pranayama. Bhagawad Gita menggambaran sebagai dua ekor ular, masing-masing saling menelan yang lain dan mempertahankan / memperoleh satu tahap ketiadaan dalam kiasan diatas. Anyway, langkah pertama dalam Pranayama adalah bernafas dengan ritmik.

MOHON JELASKAN PADAKU LATIHAN-LATIHAN PRANAYAMA YANG SEBENARNYA?

Dengan mengendalikan gerakan jantung dan organ pernafasan, kita bisa secara tidak langsung mengendalikan Prana yang bergetar di dalam diri kita semua. Beberapa orang mempraktekkan satu jenis Pranayama yang disebut Purakha (menghirup nafas). Beberapa orang mempraktekkan Pranayama yang disebut Rechaka (mengeluarkan nafas). Beberapa orang mempraktekkan Kumbhaka, dimana nafas ditahan di dalam tubuh. Umumnya praktek Pranayama adalah gabungan dari metoda Purakha, Kumbhaka dan Rechaka. Ada beberapa jenis Pranayama. Secara mendasar mereka dibagi menjadi Adhama, Madhyama dan Uttama. Pembagian ini didasarkan atas perbedaan waktu dalam Periode Purakha. Ratio atau pebandingan waktu antara Purakha, Kumbhaka dan Rechaka dalam ketiga metoda ini adalah 1:4:2. Sagarbha Pranayama adalah Pranayama yang dilakukan bersama dengan pengucapan (Japa) Mantra seperti Gayatri atau Pranawa (AUM). Kriya Yoga adalah metoda Pranayama yang terbaik yang diajarkan oleh orang-orang suci Hindu. Bernafas secara ritmik adalah keseimbangan tindakan antara tahapan Purakha, Kumbhaka dan Rechaka.

APAKAH LATIHAN BERNAFAS DALAM-DALAM MERUPAKAN BENTUK DARI PRANAYAMA?

Latihan-latihan bernafas dalam-dalam bukan Pranayama.Latihan-latihan semacam itu dapat dilakukan oleh siapa saja di setiap waktu. Pranayama hendaknya dilakukan di bawah bimbingan seorang Guru yang ahli. Pranayama hendaknya tidak dilakukan dengan membaca buku atau dengan mendengarkan penjelasan (narasi). Tubuh harus dikondisikan untuk menerima kekuatan yang ditimbulkan di dalamnya dengan mengendalikan Prana. Kontrol makanan yang tepat juga perlu untuk mencapai hasil yang lebih baik. Biasanya Pranayama dipraktekkan oleh seorang pemula dengan duduk dalam posisi Padmasana (bunga teratai, bunga padma) Ia juga dapat dipraktekkan dalam posisi Shawasana (posisi tubuh orang mati).

APAKAH HAMSA ATAU PRANAYAMA BAYI?

Inilah jenis yang paling mudah dari semua Pranayama. Ia dapat dilakukan oleh siapa saja dimana saja dan dibawah kondisi apapun. Hamsa artinya angsa. Dijelaskan bahwa metoda ini adalah semurni dan setenang angsa. Dalam metoda ini, pelaku memperhatikan nafas yang masuk (yang menciptakan suara Ham) dan nafas yang keluar (yang menciptakan suara Sa) tanpa mengendalikan aktivitas nafas dalam cara apapun. Dalam metoda ini, seseorang secara tidak langsung mengucapkan Mantra “Sah Aham” artinya “Dia adalah Aku.” Tidak ada akibat-akibat negatif terhadap badan. Ini membantu relaksasi dan menghilangkan stres di tubuh. Hasil pertama dari metoda ini akan membuat tidur tanpa mimpi (Sushupti).

AYAH, APAKAH LATIHAN PERNAFASAN MONOPOLI DARI AGAMA HINDU?

Sama sekali tidak. Dalam agama Taoisme China, ada latihan pernafasan yang dikenal dengan T-ai-si atau pernafasan embryonic. Orang-orang China mempraktekkan latihan pernafasan ini untuk panjang usia dan ia tidak memiliki nilai spiritual. Dalam beberapa cara, Taoisme menyerupai Hatha Yoga dalam agama Hindu.

Pengendalian nafas juga dipraktekan oleh kaum Sufi, Islam. Teknik Dhikir menyerupai latihan pernafasan Hindu. Bahkan dalam agama Kristen ada beberapa bukti penggunaan nafas sebagai pencerahan spiritual. Nafas memainkan peranan penting dalam Genesis (2:7).

Kriya Yoga dan Hatha Yoga

APAKAH KRIYA YOGA?

Kriya Yoga adalah bentuk yang sangat maju dari Pranayama yang diajarkan oleh para Yogi di India. Kriya Yoga dapat disebut “Pranayama jiwa/batin (psychic Pranayama). Salah seorang tokoh Kriya Yoga terbesar di zaman modern ini adalah mendiang Swami Parahamsa Yogananda. Menurut Swami Yogananda, dengan mempraktekkan Kriya Yoga seseorang mencapai Kesadaran Kosmis.

APAKAH HATHA YOGA DAN ASANA?

Hatha Yoga adalah Yoga dari Asana, Yoga dari posisi badan, dipraktekkan untuk kesehatan dan panjang usia. Dalam satu hal, dengan mempraktekkan Hatha Yoga seseorang dapat menciptakan keadaan bagi dirinya untuk meditasi atas Tuhan. Asana membantu melemaskan otot-otot dan sendi-sendi badan. Yoga ini juga mendorong aliran bebas dari energi ke seluruh badan. Postur-postur Yoga juga baik untuk organ-organ internal dan kelenjar-kelenjar tubuh. Telah ditemukan bahwa postur-postur tubuh dapat mempengaruhi sikap mental, dan sikap mental dapat menumbuhkan penyakit atau kesenangan dalam badan. Dengan merobah pola bernafas, kita dapat secara sungguh-sungguh merobah sikap mental kita. Postur-postur Yoga adalah alat bantu yang sangat berharga dalam pengembangan sika-sikap positif pada diri manusia.

Relaksasi adalah hasil yang paling penting dari mempraktekkan Asana. Asana hendaknya tidak dilakukan di bawah kondisi yang berat. Mereka yang mempraktekkan Asana secara teratur akan mengikuti diet makanan, kode etik dan moral yang ketat. Ada beberapa jenis dari Asana dan mereka hanya dilakukan di bawah pengawasan langsung oleh seorang guru yang ahli.

APAKAH JENIS-JENIS ASANA YANG DIPRAKTEKKAN OLEH PARA YOGI DI INDIA DEWASA INI?

Beberapa dari Asana terpenting yang dipraktekkan oleh Para Yogi di seluruh dunia adalah sebagai berikut :

1. Shirshasana – berdiri di atas kepala
2. Sarwanggasana – berdiri di atas bahu
3. Chakrasana – posisi badan melingkar
4. Dharurasana – badan melengkung seperti busur
5. Halasana – badan membentuk sudut 90 derajat
6. Janushirasana – kepala menyentuh lutut
7. Garudaasana – badan diliukkan (twisted) seperti burung
8. Padahastasana – badan diliukkan seperti pisau lipat besar
9. Sasangasana – badan melengkung seperti kelinci
10. Sukhasana – duduk dengan posisi enak
11. Vajrasana – duduk dengan posisi tegak
12. Siddhasana – duduk dengan posisi sempurna
13. Kukkutasana – duduk seperti seekor ayam betina
14. Padmasana – posisi bunga teratai
15. Shavasana – berbaring seperti mayat.

Kebanyakan para Yogi duduk dalam posisi Padmasana atau Siddhasana ketika bermeditasi atas Tuhan. Beberapa bahkan bermeditasi dengan berbaring dalam posisi Shavasana. Masih banyak lagi Asana yang lain. Semua Asana ini dipraktekkan setelah mandi, sembahyang dan latihan menarik nafas dalam-dalam di bawah bimbingan seorang guru yang ahli.

APAKAH SALAGRAMA?

Ia adalah batu halus yang dikatakan sebagai bentuk alamiah (Swaroopa) dari Wishnu. Sesungguhnya, kata “Salagrama” adalah salah satu nama dari Wishnu. Batu halus ini umumnya ditemukan di dasar sungai Gandaki di Nepal. Batu ini diambil dari sungai dan disembah begitu saja, tanpa upacara penyucian. Namun, gambar Dewa-Dewa masih diijinkan untuk dipahat di permukaan batu Salagrama. Seperti patung-patung di Pura Badrinath (di Katmandu). Penyembahan Salagrama tidak dihubungkan dengan jenis tertentu dari Pooja. Bahkan pengucapan Mantra dan air suci tidak perlu. Keberadaan Salagrama saja di dalam sebuah rumah dianggap membawa semua kemakmuran. Menurut beberapa Purana, semua dosa lenyap seketika dengan pemujaan Salagrama. Purana-purana Hindu menyebutkan tentang 19 jenis Salagrama.

Ashtanga Yoga dan Laya Yoga

APAKAH ASHTANGA YOGA?

Ashtanga Yoga secara bunyi hurufnya berarti “Yoga dengan delapan lengan.” Inilah yang dijelaskan oleh Patanjali dalam bukunya Yoga Sutra. Tentu saja Yoga ini tidak lain dari Raja Yoga yang saya jelaskan sebelumnya. Delapan lengan dari Yoga adalah :

  1. Yama (terdiri dari kebenaran, tidak-mencuri, hidup membujang dan tanpa-kekerasan/ahimsa)
  2. Niyama (terdiri dari kemurnian pikiran, kepuasan, penyesalan, mempelajari kitab-kitab suci dan meditasi atas Tuhan)
  3. Asana (posisi-posisi tubuh)
  4. Pranayama (pengendalian Prana)
  5. Pratyahara (penarikan ogan-organ indriya dari obyek-obyek indriya)
  6. Dharana (pemusatan pikiran atas suatu obyek)
  7. Dhyana (meditasi)
  8. Samadhi (keadaan terakhir dari pengejawantahan Tuhan)

APAKAH LAYA YOGA?

Yoga yang berkonsentrasi untuk membangunkan kekuatan Kundalini dikenal sebagai Laya Yoga. Oleh karena itu beberapa orang menyebutnya Kundalini Yoga. Kebangkitan atau pengembangan dari Kundalini dicapai dengan meditasi atas Chakra-Chakra dalam urutan yang benar, di bawah bimbingan dari seorang Guru yang sangat kompeten. Dikatakan pengembangan Kundalini secara premature sangat berbahaya dan karena itu agama Hindu mengingatkan agar hati-hati sekali melaksanakan jenis Yoga ini. Dikatakan bahwa obat-obatan tertentu dapat membangkitkan secara tiba-tiba kekuatan dari Kundalini atau Kekuatan Ular ini, dan bahwa itulah alasannya kenapa agama Hindu melarang penggunaan obat-obatan untuk membantu meditasi.

Bentuk paling mudah dari Meditasi

AYAH, MENURUTMU APA BENTUK MEDITASI YANG PALING MUDAH DAN PALING AMAN?

Nak, sejauh pengetahuanku, Hamsa atau metoda yang secara umum dikenal sebagai Pranayama Bayi (Baby Pranayama) adalah metoda yang paling mudah dan paling aman dari semuanya. Telah diketahui bahwa binatang-binatang yang waktu bernafasnya lebih panjang (waktu untuk satu kali penarikan dan pengeluaran nafas) hidup lebih lama. Sementara binatang-binatang yang menggunakan waktu lebih pendek untuk bernafas, hidup lebih singkat. Juga menarik sekali untuk diperhatikan bahwa karakter dan kesehatan seseorang merupakan refleksi yang tepat dari pola bernafasnya. Umumnya orang yang bernafas pendek-pendek adalah lemah, nervous dan sangat tidak dapat diandalkan. Sementara mereka yang bernafas panjang-panjang dan dalam biasanya dapat dipercaya, merupakan orang yang berbahagia. Ketika seseorang teragitasi, pola bernafasnya berobah dengan cepat, karena gerak nafasnya semakin singkat. Bila seseorang mengembangkan pemikiran-pemikiran sublim dalam dirinya, pola nafasnya akan semakin panjang. Ribuan tahun yang lalu, Para Mahareshi, (yang adalah) para ilmuwan besar dari agama Hindu telah menemukan bahwa aliran hidup (vital current) dalam badan yang disebut

“Prana.” Mereka juga menemukan bahwa ada hubungan yang dekat antara nafas dan Prana, Prana dan ide (gagasan, thought ), ide dengan pikiran (mind). Singkatnya, mereka menemukan bahwa Prana tersambungkan (interconected) dengan seluruh mekanisme badan, dan mereka menciptakan sistem latihan yang disebut Pranayama.

Seperti telah kukatakan kepadamu sebelumnya, Pranayama adalah metoda yang paling ilmiah untuk mengendalikan aliran hidup dalam badan. Pranayama harus dipraktekkan hanya di bawah bimbingan dari seorang Guru yang sangat kompeten dan ini dikaitkan dengan banyak sekali “kewajiban dan larangan,” atau Yama-Niyama.

Hamsa secara literal berarti angsa – burung-burung putih yang sangat indah berenang di danau yang sunyi. Dalam agama Hindu, angsa juga merupakan simbul dari kemurnian dan ketenangan. Dalam metoda ini seseorang secara tidak langsung mengucapkan Mantra “Sah-Aham,” artinya “Dia adalah aku.” Juga berharga untuk diperhatikan bahwa ketika seorang menarik nafas ia membuat suara “Ham” atau “Aham.” Ketika mengeluarkan nafas ia membuat suara “Sa” atau “Sah”.

Sekarang mari kembali ke pokok bahasan. Metoda Hamsa adalah metoda memperhatikan nafas masuk dan nafas keluar tanpa mencampurinya dengan ritme bernafas. Metoda ini sangat sederhana. Kamu bisa duduk, berdiri atau berbaring dalam posisi apapun yang kamu kehendaki. Kamu dapat melakukan ini setiap waktu siang maupun malam. Kamu dapat melakukan ini dimanapun. Kamu dapat melakukan ini selama kamu inginkan.Sebelum mengikuti metoda ini, bila bisa membantu, kamu bisa saja melakukan latihan-latihan bernafas dalam-dalam untuk merangsang “bernafas berirama” (rhythmic breathing) dalam sistemmu untuk lima atau sepuluh menit. Sekarang mari kujelaskan secara lebih rinci mengenai metoda Hamsa yang sebenarnya. Perhatikan saja nafasmu yang keluar dan masuk tanpa mencampuri dengan proses bernafas, tanpa sama sekali mencoba mengontrol gerakan dada atau hidung. Bahkan jangan juga mencoba untuk merobah ritme bernafas. Katakan saja kepada dirimu, “aku hanya akan memperhatikan nafasku – aku akan merasa senang karena memperhatikan gerakan nafasku – aku akan menikmati kesenanganku memperhatikan gerak nafasku.” Itu saja.

Hasil pertama yang akan kamu terima adalah bahwa engkau akan tertidur selama latihan ini. Menurut agama Hindu, tidur adalah halangan bagi meditasi. Tapi aku rasa orang-orang akan merasa bahagia bila mereka jatuh tertidur dalam latihan ini (daripada) karena banyak dari mereka meminum pil tidur dalam dosis tinggi supaya dapat tidur. Dila kamu sudah sudah dapat mengatasi tidur, tahap berikutnya kamu akan mulai masuk ke dalam kondisi mental yang baru tanpa memikirkannya sama sekali. Dalam keadaan mental ini, kamu juga akan menemukan pola bernafasmu makin melambat secara nyata. Dalam keadadan pikiran ini, kamu akan mulai menikmati kedamaian dan kebahagiaan yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya. Tentu saja, pada awalnya kamu akan menikmati keadaan mental yang membahagiakan ini hanya untuk beberapa menit saja. Dengan berjalannya waktu, keadaan mental ini akan berlangsung untuk beberapa menit dan akhirnya beberapa jam.

Latihan ini akan segera mengurangi stres yang ada dalam dirimu. Stres adalah kondisi mental yang terjadi pada seseorang sebagai akibat dari pikiran-pikiran yang tidak dikehendaki (involuntary thinking). Metoda ini juga membantumu untuk menghadapi keadaan-keadaan sulit dalam hidup. Satu hal berharga untuk dikatakan mengenai metoda latihan ini adalah bahwa ia sama sekali tidak memiliki efek negatif apapun.

Penjelasan ilmiah mengenai hal ini sederhana sekali. Dalam keadaan stres dan tahap emosianal yang tinggi, pola bernafasmu sangat kacau dan kamu menunjukkan satu kecendrungan untuk mengambil nafas makin pendek. Tapi bila kamu mempraktekkan latihan ini kamu akan sanggup mengembangkan bernafas ritmik seperti perobahan gelombang sinusoidal (?). Karena hubungan yang sangat erat antara nafas, gelombang otak, ide dan pikiran (thought and mind), kita mengendalikan pikiran secara tidak langsung, gelombang otak dan mind dengan memperhatikan secara langsung nafas-nafas yang berlangsung secara tidak sengaja. Bila kamu melihat lebih dalam pada metoda ini, juga akan melihat bahwa karena praktek ini, nafasmu akan makin melambat karena kamu mencoba membuat nafas yang terjadi secara tidak sengaja menjadi nafas yang terjadi secara sengaja dalam badan. Selama mempraktekkan metoda ini, gelombang-gelombang otakmu akan berobah menjadi gelombang-gelombang alpha awal.

Metoda ini sangat sederhana, dan percaya atau tidak, kita semua melakukan hal ini paling sedikit sekali setiap hari. Mengherankan, nafas adalah hal terakhir yang kita sadari ketika kita pergi tidur setiap hari. Untuk mengulangi, latihan ini tidak memiliki akibat negatif sama sekali, dan sekalipun kamu setuju atau tidak setuju sepenuhnya dengan beberapa dari tafsir ilmiahku, aku kira kamu harusnya mencoba metoda meditasi ini.

Tantra, Chakra dan Kekuatan Kundalini

APAKAH TANTRA?

Tantra adalah cabang dari agama Hindu. Kebanyakan kitab-kitab Tantra masih dirahasiakan dan arti sebenarnya dan yang sudah diketahui masih merupakan teka-teki. Kebanyakan orang-orang Hindu, termasuk para sarjana besar, pada umumnya tidak mendiskusikan Tantra.

Kata Sansekerta dari Tantra artinya “memperluas” (to expand). Berbeda dengan agama Hindu pada umumnya, sebagian dari Tantra percaya kepada kenikmatan hidup material. Tidak seorangpun mengetahui secara tepat kapan Tantra mulai atau Mahareshi mana yang memulainya. Bukti menunjukkan bahwa Tantrisme ada selama zaman Weda. Bahkan Sankara menyebut keberadaannya dalam bukunya Saundarya Lahari. Ada sekitar seratus delapan buku mengenai Tantra. Tantrisme dan Saktiisme hampir satu dan sama. Dalam Tantrisme, Istadewa yang dipuja adalah Siwa-Sakti, kombinasi dari Siwa dan saktinya Parwati. Tantra adalah satu sistem dari praktek-praktek yang dipergunakan untuk meningkatkan spiritual. Bagian terbaik dari Tantra adalah pengetahuannya mengenai energi Kundalini yang luas yang belum dimanfaatkan di dalam tubuh manusia. Tantra juga melakukan penelitian mengenai ilmu kimia, astrologi, astronomi, palmistry (ilmu meramal melalui rajah tangan), cosmologi (ilmu tentang alam semesta, awal, perkembangan, dan akhirnya) dan bahkan teori atom. Mantra-mantra adalah hadiah dari Tantra kepada agama Hindu dan dunia. Yantra, sket-sket dan bentuk-bentuk geometral yang dihubungkan dengan Mantra, juga merupakan hadiah yang sama pentingnya dari Tantra kepada kemanusiaan.

MENURUT TANTRA SARAF APA YANG PALING PENTING?

Menurut Tantra adalah tiga urat saraf yang peling penting, yaitu Sushumna, Ida dan Pinggala, mulai dari Muladhara Chakra, di dasar tulang belakang. Sushumna adalah yang paling penting dari semua saraf, atau Nadi, dan ia tidak kelihatan dan sangat halus. Ia bergerak melalui jaringan pusat dari tulang belakang dan bergerak jauh sampai titik paling atas dari kepala. Ida dan Pinggala bergerak paralel dengan Sushumna di sebelah kiri dan kanan dari saraf tulang belakang. Ida dan Pinggala bertemu dengan Sushumna di Ajna Chakra, titik yang terletak antara alis mata. Mereka berpisah lagi dan mengalir melalui sisi kiri dan kanan hidung.

APAKAH CHAKRA?

Sepanjang Sushumna, ada tujuh pusat-pusat bathin (psychic centers) mulai dari Muladhara Chakra. Mereka tak dapat dilihat dengan mata telanjang. Mereka dipercaya berbentuk seperti bunga teratai dengan warna-warna yang berbeda, dan masing-masing mengendalikan kegiatan dari organ indriya yang berbeda.

  • Muladhara Chakra (pada dasar dari tulang belakang) memiliki empat daun bunga dan mengendalikan bau.
  •  Swadishthana Chakra (pada dasar kelamin) memiliki enam daun bunga dan mengendalikan rasa
  •  Manipura Chakra (di seberang pusar) mempunyai sepuluh daun bunga dan mengendalikan pandangan.
  •  Anahata Chakra (sejajar dengan hati) mempunyai duabelas daun bunga dan mengendalikan sentuhan.
  •  Wisuddha Chakra (pada jakun kerongkongan) memiliki enam belas daun bunga dan mengendalikan pendengaran
  •  Ajna Chakra (di antara alis) memiliki dua daun bunga dan mengendalikan pikiran
  •  Sahasrara Chakra (terletak diatas titik paling atas dari kepala) mempunyai seribu daun bunga. Disini Yogi telah meperoleh Kesadaran Kosmis.

APAKAH KEKUATAN KUNDALINI?

Menurut Kitab-kitab Tantra, ada kekuatan hebat yang sangat rahasia di dalam tubuh manusia yang disebut kekuatan Kundalini atau kekuatan ular. Ia berbaring seperti seekor ular dalam gulungan atau bentuk yang tidak aktif pada dasar dari tulang belakang di Muladhara Chakra. (Tiga dari saraf yang paling penting dari tubuh manusia, Sushumna, Ida dan Pinggala, juga berawal dari titik yang sama). Menurut Tantra, karena kekuatan yang hebat ini tetap tidur (dormant) selama kehidupan seseorang, kebanyakan orang tidak menyadari keberadaannya. Dipercayai bahwa ketika seorang manusia mengembangkan spiritualitas dengan meditasi atau latihan Pranayama, kekuatan ini bangkit ke atas perlahan-lahan melalui saraf Sushumna. Bergeraknya ke atas secara perlahan dari kekuatan Kundalini ini dikenal sebagai kebangkitan dari Kundalini.

Kekuatan ini begerak ke atas secara perlahan-lahan dan mantap dan tidak melesat ke atas dalam satu garis lurus. Ketika melewati setiap pusat batin (psychic center), orang itu akan memiliki kendali penuh atas organ-organ indriyanya. Misalnya, bila ia mencapai Manipura Chakra di seberang pusar, orang itu akan mempunyai kendali penuh atas atas pandangan. Tidak ada Samadhi (persatuan dengan Tuhan) yang dapat dilakukan tanpa kebangkitan kekuatan ini. Dikatakan bahwa kekuatan Kundalini melewati keenam Chakra dan akhirnya bersatu dengan Sahasrara di atas (tiara, crown) dari kepala. Ketika ini terjadi orang tersebut telah mencapai kesadaran kosmis, bentuk tertinggi dari pengejawantahan (Tuhan).

MENGAPA ORANG-ORANG HINDU TIDAK MEMBICARAKAN TANTRA?

Aku kira satu-satunya alasan adalah karena sifat erotik dari beberapa bagian kitab-kitab Tantra. Sayangnya, Tantra juga membahas masalah-masalah magi hitam (black magic) dan latihan-latihan yoga-seks antara pengikut wanita dan pria. Menurut Tantrisme, tindakan demikian itu akan membantu para penganut untuk menjelajahi indriya mereka dari pada ditundukkaan oleh mereka, dan untuk secara nyata mempergunakan energi seksual mereka untuk peningkatan spiritual. Penganut wanita yang ambil bagian dalam latihan-latihan erotik ini dianggap seorang Sakti. Terpisah dari apa yang kukatakan di atas, dalam banyak praktek Tantrik para penganutnya mengikut “Lima M.” Yaitu Madya (anggur), Mamsa (daging), Matsya (ikan), Mudra (nasi keras) dan Maithuna (persatuan seksual). Selama pelaksanaan upacara tertentu, para penganut Tantra bahkan mengunakan obat-obatan dan kimia.

Salah satu dari praktek Tantrik dikenal dengan nama Chakra Pooja, atau “pemujaan melingkar” (circle worship). Dalam upacara ini sejumlah pasangan laki-laki dan wanita bertemu di tengah malam di tempat yang dipilih, misalnya sebuah kuburan dan melakukan “hubungan seks suci” (holy intercouse). Persatuan seks ini sangat rumit dan terperinci, mulai dengan tindakan-tindakan “pemujaan badan.” Banyak dari ukiran dan lukisan erotik di India mengambarkan kegiatan-kegiatan Chakra Pooja ini. Sekalipun kebanyakan agama, termasuk agama Hindu (menurut Hukum Manu), melarang hubungan seks selama menstruasi, Tantra malah mendorongnya dengan keyakinan bahwa selama periode ini energi seorang wanita ada pada puncaknya. Ada Mudra atau gerak tangan yang khas Tantrisme, kebanyakan melambangkan kegiatan seksual. Bahkan lambang AUM tampak dalam banyak Tantra sebagai sebuah simbol mistik yang menekankan persatuan pria dan wanita. Tantrisme memiliki padanannya dalam Jainisme dan juga Buddhisme, yang memiliki empat aliran Tantra.

Seluruh upacara erotik ini bertentangan dengan dasar fundamental dari agama Hindu. Sekarang kamu tahu dengan pasti alasan mengapa banyak sarjana Hindu tidak ingin mendiskusikan Tantra. Pada saat yang sama, setiap orang mungkin heran kenapa kitab-kitab yang memberi kita pengetahuan tentang kekuatan Kundalini dalam badan, Mantra-mantra dan Yantra-Yantra juga menggunakan anggur dan seks.

Keberadaan dari Tantra di India adalah contoh lain dari toleransi Hindu. Di dalam agama lain, proses berpikir seperti dalam Tantrisme sudah ditindas dengan kekerasan

Siwalingga, Yantra dan Mandala

APAKAH SIWALINGGA MERUPAKAN BAGIAN DARI TANTRA?

Ia adalah bagian dari Tantrisme. Dewasa ini kamu tidak akan menemukan sebuah Pura Hindu tanpa sebuah Siwalingga berdiri dalam sebuah Yoni. Menurut Siwa Purana, itu melambangkan ruang di mana alam semesta menciptakan dan melenyapkan dirinya berulang-kali. Menurut Tantra, ia melambangkan ‘phalus’ dan ‘yoni’ – perwujudan dari sifat laki-laki dan wanita dari Tuhan. Ia juga melambangkan prinsip-prinsip kreatif dari kehidupan.

Siwalingga bisa bersifat Chala (bergerak) atau Achala (tidak bergerak).Chala Lingga dapat ditempatkan di Pura atau rumah atau dapat dibuat secara sementara dari tanah liat atau adonan atau nasi. Achala Linga adalah yang ditempatkan di Pura. Mereka dibuat dari batu. Bagian terbawah dari Siwalingga disebut Brahmabhaga yang melambangkan Brahma. Bagian tengah yang berbentuk segi delapan disebut Wishnubhaga yang melambangkan Wishnu. Bagian menonjol yang berbentuk silinder disebut Rudrabhaga, pemujaan kepadanya disebut Poojabhaga.

APAKAH YANTRA?

Yantra adalah sebuah bentuk geometrik seperti – dalam bentuknya yang paling sederhana – sebuah titik (Bindu) atau segi tiga terbalik. Ada berbagai bentuk yang sangat rumit, simetris dan non-simetris, yang dapat disebut Yantra. Semua bentuk-bentuk ini didasarkan atas bentuk-bentuk matematika dan metoda-metoda tertentu.Yantra ini melambangkan para dewa seperti Siwa, Wishnu, Ganesha, Krishna dan khususnya Sakti. Mantra dan Yantra sangat saling terkait. Pikiran dinyatakan dalam bentuk halus sebagai satu Mantra dan pikiran yang sama dinyatakan dalam bentuk gambar sebagai sebuah Yantra. Percaya atau tidak, ada lebih dari sembilan ratus Yantra. Salah satu dari Yantra yang terpenting adalah Sri Yantra, atau Navayoni Chakra, melambangkan Siwa dan Sakti. Kamu akan melihat Yantra ini dari Pura (aliran) Sakti.

APAKAH MANDALA?

Mandala artinya “lingkaran.” Ia sesungguhnya bentuk Yantra yang paling rumit. Ia berwujud dalam segala bentuk dan sifatnya sangat artisitik. Dalam agama Hindu, Mandala digunakan sebagai alat bantu meditasi. Keindahan dari Pura-Pura Hindu terletak dalam jumlah Mandala yang dipahat di batu-batu di dinding Pura. Sebuah Mandala terdiri dari satu pusat dan garis-garis dan lingkaran-lingkaran diletakkan secara geometrik di sekeliling lingkaran. Pusatnya biasanya adalah sebuah titik (Bindu).

Kita juga dapat melihat Mandala di Wihara Buddha. Dibalik setiap Mandala terdapat sejumlah besar pikiran-pikiran. Kadang-kadang melihat sebuah Mandala seperti melihat melalui sebuah kaleidoscop.

APAKAH SRI CHAKRA?

Ia sebenarnya adalah satu dari Yantra yang paling kuat dalam agama Hindu, yang digunakan oleh penganut (sekte) Sakti, Dewi Ibu, dalam pemujaan mereka. Sri Chakra adalah simbol dari Lalitha aspek dari Ibu Suci. Ia terdiri dari sebuah titik (Bindu) pada pusatnya, dikelilingi oleh sembilan Trikona, lima dari padanya dengan puncak menghadap ke bawah dan empat yang lain menghadap ke atas. Interseksi atau persinggungan dari sembilan segi tiga ini menghasilkan empat puluh tiga segi tiga secara total. Ini dikelilingi oleh lingkaran konsentris dari delapan daun bunga teratai. Ini dikelilingi lagi oleh tiga lingkaran konsentris. Akhirnya pada sisi paling luar, ada sebuah segi empat (Chaturasra) yang dibuat dari tiga garis, garis yang satu ada di dalam garis yang lain, membuka ditengah-tengahnya masing-masing sisi sebagai empat gerbang.

Salagrma, Mudra dan Nyasa

APAKAH SALAGRAMA?

Ia adalah batu halus yang dikatakan sebagai bentuk alamiah (Swaroopa) dari Wishnu. Sesungguhnya, kata “Salagrama” adalah salah satu nama dari Wishnu. Batu halus ini umumnya ditemukan di dasar sungai Gandaki di Nepal. Batu ini diambil dari sungai dan disembah begitu saja, tanpa upacara penyucian. Namun, gambar Dewa-Dewa masih diijinkan untuk dipahat di permukaan batu Salagrama. Seperti patung-patung di Pura Badrinath (di Katmandu). Penyembahan Salagrama tidak dihubungkan dengan jenis tertentu dari Pooja. Bahkan pengucapan Mantra dan air suci tidak perlu. Keberadaan Salagrama saja di dalam sebuah rumah dianggap membawa semua kemakmuran. Menurut beberapa Purana, semua dosa lenyap seketika dengan pemujaan Salagrama. Purana-purana Hindu menyebutkan tentang 19 jenis Salagrama.

APAKAH MUDRA?

Sebuah Mudra adalah bentuk sangat artistik dari tangan yang berpegangan dan jari-jari untuk mengindikasikan satu arti tertentu. Kebanyakan dari gerak tangan itu merupakan posisi-posisi jari. Mereka dimaksudkan untuk membangkitkan dalam pikiran kekuatan suci dan juga untuk mengintensifkan konsentrasi. Seluruh dewa-dewa Hindu mempertunjukan beberapa jenis Mudra. Mudra yang penting adalah Yoni Mudra, Padma Mudra, Gada Mudra, Mtsya Mudra, Tattwa Mudra, Sankha Mudra dan Abhaya Mudra. Abhaya Mudra artinya, “Jangan takut, aku akan melindungimu.” Yoni Mudra adalah sebuah Sakti Yantra dilakukan untuk mengundang kekuatan dari Dewi dalam Sadhaka (pencari spiritual).

APAKAH NYASA?

“Nyasa” artinya “menempatkan atau menandai,” tapi ini sebenarnya sebuah “sentuhan.” Dalam upacara ini, berbagai titik kesadaran di badan disentuh dengan ujung jari dan telapak tangan kanan. Dengan melakukan itu, badan dibangunkan dari tidurnya demikian menurut Tantra. Nyasa yang paling populer disebut Sadanga Nyasa.

Kamasutra

APAKAH KAMASUTRA?

Kama artinya “keinginan untuk pemuasan seksual.” Menurut mitologi, Dewa Kama (Tuhan dari Cinta) adalah Dewa dengan busur dan panah, dan bilamana ia memanah seseorang dengan anak panahnya, maka dalam diri orang itu akan tumbuh keinginan seksual kepadanya. Legenda mengatakan bahwa Dewa Siwa membakar Dewa Kama menjadi abu dengan api dari matanya yang ketiga karena mencoba membangkitkan nafsunya kepada Parwati. Dewa Siwa kemudian menghidupkan kembali Dewa Kama, yang kemudian menjadi Ananga (tanpa badan).

Literatur terpenting mengenai Kama adalah Kama Sutra, ditulis oleh Reshi Vatsyayana sekitar abad keempat AD. Buku ini menjelaskan mengenai kegiatan rutin dari seorang manusia biasa. Buku ini juga menjelaskan mengenai piknik, pesta minum, permainan, dsb.

Buku ini mendiskusikan secara rinci seni percintaan. Segala sesuatu yang dapat dibayangkan oleh seseorang mengenai seks dijelaskan dalam buku ini. Lebih jauh lagi, pengarang ini mengkategorikan bentuk-bentuk pelukan, ciuman dan jenis-jenis wanita. Maksud dari pengarangnya mungkin untuk mengajari kaum laki-laki bagaimana merayu wanita untuk menjadi isterinya, tapi tulisannya banyak sekali bertentangan dengan ide-ide dasar dari agama Hindu. Orang-orang Hindu bahkan tidak mengakui buku ini sebagai bagian dari agama Hindu karena buku ini bisa membawa orang kepada kemunduran spiritual dari pada membantu manusia dalam hidup perkawinannya

Guru

SIAPAKAH GURU?

Dewasa ini kata Guru telah digunakan sedemikian luas sampai-sampai seseorang disebut “Guru Wall Street.” Kebanyakan orang beranggapan bahwa “guru sekolah” (teacher) adalah arti dari kata Guru. Tapi dalam agama Hindu, Guru artinya Tuhan itu sendiri.

Hanya para ahli (master) yang sudah merealisasikan Tuhan dapat disebut Guru. Hanya mereka yang mempunyai hak untuk meminta bhakti dan penyerahan kehendak yang tak dapat dipertanyakan dari para pengikut mereka. Satu sifat pokok dari seorang Guru yang benar adalah kehadirannya dimana-mana (omnipresence).

Mayoritas orang yang disebut Guru hanyalah guru-guru sekolah. Tidak seorangpun menjadi Guru hanya dengan belajar philsafat atau agama dan tidak seorangpun disebut Guru hanya karena dia ahli dalam akrobatik kata-kata.

AYAH, APAKAH KITA HARUS MENCARI GURU?

Tidak ada perlunya bagi seorang calon untuk secara fanatik mencari seorang Guru. Mahreshi Narada menyatakan bahwa di seluruh dunia ada ratusan Guru, banyak dari mereka hidup dalam jiwa (tanpa badan, pen), secara terus-menerus mencari murid-murid yang berharga. Jadi Guru itu mudah di dapat, tapi sangat sulit untuk mendapat murid-murid yang setia dan loyal. Bila seseorang mencari kebenaran, ratusan Guru akan datang mengetuk pintunya untuk menyampaikan kebenaran itu. Swami Wiwekananda tidak mengambil Gurunya, sebaliknya Sri Ramakrishna mengambil Wiwekananda sebagai muridnya.

MAKSUD ANDA MURID-MURID YANG SETIA SANGAT KURANG?

Menurut agama Hindu, ada tujuh Guru yang hidup, dikenal sebagai Saptha Resi, yang memelihara dunia selamanya. Mereka dengan tiada hentinya membimbing kita dalam keinginan spiritual kita. Jadi tidaklah ada perlunya untuk merindukan seorang Guru. Apa yang harus diikuti oleh seorang calon adalah kebenaran dan kebenaran itu saja.

Baik Yahudi Kabbalah dan kaum Rosicrucian juga percaya dengan tujuh manusia-dewa yang hidup di Timur. Keyakinan mengenai tujuh guru ini dipopulerkan oleh Madame Helena Blavatsky, pendiri dari Masyarakat Theosofi (Theosophical Society) ketika ia menulis bukunya bernama “Isis unveiled.” Menurut Blavatsky, semua master itu tinggal di Tibet tapi berkeliling dunia dalam tubuh yang berbeda-beda. Guru yang sebenarnya adalah hadiah suci bagi manusia. Tidak seorangpun dapat menjadi Guru dengan pernyataan diri sendiri. Mahreshi Ashtawakra, yang merupakan salah seorang dari Saptha Reshi, adalah Guru dari Raja Janaka, dan murid dari Raja Janaka yang materialistik adalah Reshi Suka, tokoh besar dari Bhakti Yoga. Apa yang diperlihatkan oleh hal tersebut adalah bahwa Guru yang berbeda menunjukkan kualitas atau sifat yang berbeda sekalipun mereka menggantikan satu sama lain.

Bila kita merobah kesadaran kita, bila kita menginginkan Tuhan melalui bhakti dan tindakan tanpa-mementingkan diri sendiri, seorang Guru pasti akan datang kepada kita. Guru itu tidak harus datang dalam (bentuk) badan; dia dapat dalam bentuk jiwa.

BAGAIMANA MEMBEDAKAN GURU YANG BENAR DARI YANG PALSU?

Memang sangat sulit membedakan seorang Guru yang benar dari begitu banyak guru di sekitar kita. Sayangnya, ada banyak guru palsu dewasa ini di dunia. Seorang calon hendaknya sangat hari-hati dalam mengikatkan aspirasi spiritualnya dengan guru palsu seperti itu. Sebab hal itu dapat menyebabkan penghancuran dari kehidupan spiritualnya. Oleh karena itu adalah lebih baik bagi siapapun untuk mengambil Guru yang hidup dalam jiwa dari pada yang hidup dalam daging (badan). Hubungan Guru-murid dalam agama Hindu adalah sangat khusus dan sekali hubungan itu dibuat, tidak boleh lari dari hubungan itu. Siapa Guru yang sebenarnya?. Seorang yang cepat marah dan menjadi resah dan yang memamerkan emosi jelaslah bukan seorang Guru. Kecuali seseorang menjadi pencari kebenaran secara sungguh-sungguh, dia tidak akan mengenali seorang Guru sejati, sekalipunGuru itu datang kepadanya. Guru-Guru sejati semacam itu boleh lewat seribu kali di depanmu, tapi bila kamu tidak melakukan komunikasi dalam gelombang yang sama dengan mereka, kamu tidak akan mengenali mereka. Semua dari kita adalah seperti radio transistor kecil yang dapat dibawa kemana-mana, dan sampai kita mencocokkan dorongan Spiritual kita dengan tepat, kita tidak mempunyai harapan untuk berhubungan dengan Guru-guru sejati. Mereka dekat sekali dengan kita, namun mereka belum dapat datang kepada kita, karena kita belum berfungsi dalam rentang-gelombang mereka. Dan lagi, kamu harus tahu bahwa seorang Guru tidak perlu datang dalam jubah jingga tua; dia bisa datang kepadamu dalam bentuk apapun dan dalam segala macam pakaian, bahkan dalam pakaian tiga-potong.

APAKAH PENGETAHUAN DAN REALISASI SATU DAN SAMA?

Agama Hindu dengan tegas membedakan kedua kata-kata ini. Ribuan orang tahu mengenai Tuhan dan kitab-kitab suci, tapi hanya satu dalam sejuta yang merealisasikan Tuhan. Pada saat yang sama, sejarah telah menunjukkan bahwa pengetahuan tentang kitab suci bukanlah keharusan untuk merealisasikan Tuhan. Agama Hindu juga percaya bahwa siapapun yang mencari kebenaran mutlak akhirnya akan merealisasikan Tuhan.

Pencarian kebenaran dapat dilakukan melalui pengabdian atau kewajiban yang menjadi pilihannya. Misalnya, jiwa-jiwa manusia seperti Albert Einstein, Mahatma Gandhi, Father Damian dan Ibu Teresa mungkin lebih dekat kepada pengejawantahn Tuhan dari ribuan guru yang mengelilingi dunia ini. Sangat sulitlah bagi kita untuk mengatakan siapa yang telah mengejawantahkan Tuhan siapa yang tidak. Seseorang dengan jubah jingga mungkin kadang-kadang lebih rendah dari seorang yang menjual drug di New York’s Times Square. Dengan kepandaian kita, kita dapat membedakan “apa dan siapa” (who is who). Hanya Guru yang telah mengejawantahkan Tuhan yang dapat melakukan itu. Guru-Guru sejati itu belum tentu mencari orang-orang terpelajar pada zamannya, tapi jiwa-jiwa yang penuh pengertian dewasa itu, yang adalah tumpuan atau alas sejauh berkaitan dengan evolusi. Dengan berkah Karma, sekalipun mereka hanyalah nelayan, kasta yang sangat rendah pada zaman itu. Tapi coba pikir, Mahareshi Weda Wyasa sendiri adalah anak seorang wanita yang berasal dari suku nelayan, dan Mahareshi Walmiki adalah seorang buas, merampok orang-orang di hutan-hutan.

Citra

AYAH, APAKAH AGAMA HINDU MENDORONG PENYEMBAHAN PATUNG?

Untuk memulainya, kitab-kitab suci Hindu tidak merekomendasikan pemujaan sebuah patung sebagai Tuhan. Sebagaimana dikatakan oleh philsuf Jerman Mac Muller, “Agama Weda-Weda tidak mengenal patung.” Sesungguhnya, kitab-kitab suci dengan jelas menyatakan bahwa sebuah patung bukanlah pengganti Tuhan, tapi hanyalah sebuah sarana untuk membuat pikiran berpikir tentang Tuhan. Sebuah patung di Pura persis sama dengan salib yang ada di Gereja. Keduanya membantu manusia untuk memusatkan pemujaannya kepada Tuhan.

Lagipula, agama Hindu dengan jelas menyatakan bahwa pemujaan secara mental / batin lebih tinggi dari pemujaan citra (patung atau gambar), tapi semua pemujaan dimulai dengan citra. Orang-orang biasa tidak dapat memahami sesuatu yang tanpa bentuk. Dalam setiap agama, Tuhan dipuja dengan berbagai bentuk. Agama Hindu mempunyai keberanian untuk mengakui ini kepada dunia.

Dalam Raja Yoga, bagian ilmiah dari agama Hindu, Tuhan dipandang sebagai energi murni. Dalam bagian ini, tidak ada pernyataan Tuhan dengan bentuk. Dalam Upanishad, Tuhan dijelaskan sebagai Neti, Neti, artinya, “Bukan ini-bukan ini.” Bahkan Bhagawad Gita menyatakan, “Orang-orang bodoh karena tidak mengetahui hakikat transedentalku yang tidak berobah mengira bahwa aku, yang tak-termanifestasikan, dilengkapi dengan sebuah yang bentuk yang termanifestasi.”

Jadi sekalipun Tuhan abadi dan tanpa bentuk, sama sekali tidak ada salahnya dalam memuja Dia dengan bentuk. Pada kenyataannya banyak orang suci, para santo, termasuk mendiang Sri Ramakrishna Paramahamsa, percaya bahwa konsep Tuhan berpribadi (Ishta Dewata, personal God) sangat berguna dalam penyucian-diri (self-purification).

Dewa-Dewa dalam agama Hindu

MOHON JELASKAN PADAKU MENGENAI DEWA-DEWA DALAM AGAMA HINDU?

Menurut Bible Kristen, segala sesuatu datang dari Kata, dan Kata adalah Tuhan. Hampir sama, kita dalam agama Hindu percaya bahwa segala sesuatu datang dari Brahman, dan Brahman adalah Tuhan. Aspek bergetar (vibratory) dari Brahman disebut AUM atau OM. Jadi orang Hindu mengatakan AUM adalah Tuhan. Dari AUM datang Tuhan Ibu (Mother God) dan Ketuhanan yang dibagi menjadi tiga yang secara populer dikenal sebagai Tri Murti. Yaitu Brahma (Pencipta), Wishnu (Pemelihara) dan Siwa (Pemerelina).

Bila ketiga manifestasi Tuhan ini mengambil bentuk manusia atau bentuk lainnya, kita menyebutnya Awatara. Awatara Wishnu yang paling popular adalah Rama dan Krishna. Seperti telah disebutkan di depan Wishnu memiliki sepuluh Awatara.

Siwa artinya “yang sangat menguntungkan,” adalah personifikasi dari peleburan termasuk penghancuran ego.

SIAPAKAH DEWA-DEWA HINDU YANG LAIN?

Karena agama Hindu berkembang dari proses-berpikir yang berkembang secara perlahan, ia memiliki banyak dewa-dewa. Banyak dari mereka merepresentasikan kekuatan-kekuatan alam seperti Bayu (udara), Waruna (air), Agni (api), Aditya (matahari), Yama (dewa kematian), dll.

AYAH, MENGAPA HINDU MEMUJA BANYAK DEWA-DEWA?

Menurut titik pandang seorang Hindu, semua dewa-dewa itu hanyalah berbagai representasi dari Tuhan yang satu. Agama Hindu berkali-kali mengatakan bahwa hanya ada satu Tuhan. Weda-Weda menyebut dia Brahman. Upanishad-Upanishad menjelaskan Dia dengan cara Neti-Neti (“Bukan ini-bukan ini”). Kadang-kadan Tuhan disebut sebagai Itu, sebuah obyek yang tidak hidup, karena tidak ada penjelasan manusia yang berlaku adil terhadap keluasannya. Rig Wed menyatakan, “Tuhan atau Kebenaran itu Satu, hanya manusia (orang bijaksana) menyebutnya dengan berbagai cara.”

Sekarang kembali kepada pertanyaan pokokmu mengenai mengapa begitu banyak dewa-dewa, ini sebetulnya cukup mudah untuk dijelaskan. Manusia biasa hanya dapat membayangkan atau memahami satu Tuhan dalam bentuk manusia dan mereka melakukan pemujaan dengan berbagai bentuk untuk berbagai dewa-dewa, sekalipun mereka sesungguhnya hanya memuja satu Tuhan.

Untuk menjelaskan lebih lanjut, mari kita pakai ibumu sebagai contoh. Kamu memandangnya sebagai ibumu yang kamu sayangi yang memelihara kamu; aku memandangnya sebagai pasangan dalam hidup, dengan siapa aku membagi segala sesuatu; ayahnya memandangnya sebagai putri kecilnya yang masih perlu banyak belajar. Kamu lihat sekarang, hanya ada seorang manusia, tapi kita bertiga melihat orang yang satu itu dari sudut yang berbeda. Kita bertiga benar dalam melihat dia secara berbeda, sekalipun sebenarnya hanya ada satu orang. Jadi sekalipun kamu memuja ratusan dewa-dewa, kamu sesungguhnya hanya memuja satu Mahluk Tertinggi, satu Tuhan.

Tentu saja sulit bagi orang Barat untuk memahami ideologi ini, sekalipun aspek “trinitas” Tuhan dalam agama Kristen agak mirip dengan dewa-dewa dalam agama Hindu. Trinitas dalam agama Kristen adalah satu Tuhan yang dinyatakan dalam tiga bentuk yang berbeda; Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Roh Kudus (Suci). Kristen awal tidak memiliki konsep mengenai Trinitas. Sesungguhnya Ensiklopedia Katolik menyatakan bahwa doktrin Trinitas tidak diajarkan dalam Perjanjian Lama. Tuhan tiga dalam satu (Triune) ini disebutkan dalam Perjanjian Baru, dan itupun hanya dalam satu tempat dalam empat gospel, dalam Mattew 28:19. Saksi Jehovah (Jehovah Witness) tidak percaya dengan Trinitas. Konsili (musyawarah, Mahasabha) Nicaean (325 A.D) sesungguhnya diadakan oleh Kaisar Constantine untuk mengangkat Jesus Kristus pada posisi kedua dalam Trinitas, dengan demikian membunuh ajaran pendeta Arius, yang menyatakan bahwa Kristus adalah seorang mahluk yang diciptakan, bukan sang pencipta, dan bahwa Jesus Kristus lebih rendah tingkat kesuciannya dari bapaknya.

AYAH, APAKAH ARAH DAN RUANG DIJAGA OLEH DEWA YANG BERBEDA?

Dalam agama Hindu, beberapa Dewa-dewa secara simbolik diangap sebagai penguasa dan pelindung dari arah tertentu dalam ruang. Arah timur dilindungi oleh Indra, Dewa Surga. Arah barat dilindungi oleh Waruna, Dewa Air. Arah utara dilindungi oleh Kubera, Dewa Kemakmuran. Arah Selatan dilindungi oleh Yana, Dewa Maut. Timur laut dijada oleh Soma, Dewa bulan, Timur laut oleh Bayu, Dewa angin, tengara oleh Agni, Dewa api dan barat daya oleh Surya, Dewa Matahari.

AKU INGIN TAHU. APAKAH ANDA TELAH MENYEBUTKAN SEMUA DEWA DALAM AGAMA HINDU?

Aku kira aku tidak akan dapat memberikan semua nama dewa-dewa dalam agama Hindu. Banyak orang mengatakan bahwa ada paling sedikir 330.000.000 dewa dalam agama Hindu. Bahkan beberapa orang suci dianggap sebagai dewa. Lagi pula, banyak dewa yang dipuja oleh orang Hindu memiliki nama-nama yang berbeda dalam Weda-Weda. Misalnya, Siwa dikenal dengan nama Rudra dalam Weda. Tindakan menyembah begitu banyak dewa pada saat yang sama tidak menjadi masalah bagi orang Hindu, karena mereka percaya semua bentuk itu adalah manifestasi dari satu Tuhan atau Kekuatan.

AYAH, APAKAH ADA RUJUKAN MENGENI PEMUJAAN DEWA-DEWA DALAM UPANISHAD?

Upanishad menjelaskan keberadaan satu Tuhan yang dikenal sebagai Brahman. Satu-satu rujukan terhadap benyak dewa dalam Upanishad berasal dari percakapan dalam Brihad-Aranyaka Upanishad antara seorang pemuja bernama Widagda Sakalya dan Reshi Yatnawalkya.

Percakapan yang hidup itu adalah sebagai berikut :
“Ada berapa banyak dewa-dewa, Yatnawalkya?”
“Tiga ribu tiga ratus dan enam,” jawab Yatnawalkya.
“Ya, tapi sebenarnya ada berapa banyak dewa, Yatnawalkya?”
“Tiga puluh tiga,” jawab Yatnawalkya.
“Ya, tapi sebenarnya ada berapa banyak dewa, Yatnawalkya?”
“Enam,” jawab Mahareshi itu.
“Ya, tapi sebenarnya ada berapa banyak dewa, Yatnawalkya?”
“Tiga.”
“Ya, tapi sebenarnya ada berapa banyak dewa, Yatnawalkya?”
“Dua.”
“Ya, tapi sebenarya ada berapa banyak dewa, Yatnawalkya?”
“Satu setengah.”
“Ya, tapi sebenarnya ada berapa banyak dewa-, Yatnawalkya?”
“Satu,” jawab guru besar agama Hindu itu.

Dari percakapan ini dapat kita simpulkan bahwa sekalipun ada banyak dewa, dalam kenyatannya hanya ada satu saja. Satu Tuhan tampak dalam seribu bentuk yang berbeda kepada pemuja sesuai dengan cara merka membayangkan Kekuatan Tertinggi itu.

SIAPKAH NATARAJA?

Ia adalah Siwa, dewa tarian. Nataraja sangat penting bagi orang Barat. Kamu mungkin telah melihat Nataraja dalam beberapa film James Bond. Nata artinya “menari,” dan Raja artinya “raja.” Dewa Siwa diharapkan menari di atas raksana Apasmara, Kebodohan – ego, yang membuat kita lupa siapa kita sesungguhnya. Nataraja menyebabkan kehancuran ego. Dia juga adalah simbul yang kelihatan dari ritme alam semesta. Dia dilingkari oleh lingkaran api, melambangkan proses hidup dari penciptaan semesta. Mudra, gerak tangannya, melambangkan kegiatan-kegiatan yang berbeda. Dalam satu tangan Nataraja memegang gendang, dan tangannya yang kedua menunjukkan Abhaya Mudra (“Jangan takut, Aku akan melindungimu”). Dalam telapak tangannya yang ketiga dia memiliki lidah api sebagai symbol dari penghancuran, dan tangan yang keempat menunjuk kepada kakinya yang terangkat. Ini melambangkan keselamatan bagi pemujanya.

APAKAH ORANG-ORANG HINDU MENYEMBAH BRAHMA?

Mungkinkamu akan kaget mendengar bahwa orang-orang Hindu umumnya tidak memuja Brahma. Pembebasan jiwa dikaitikan dengan Wishnu dan Siwa, dan itu mungkin sebabnya kenapa Brahma tidak dipuja oleh orang-orang Hindu. Tentu saja ada lambang Brahma di hampir semua pura, dan namanya disebut-sebut dalam hampir semua upacara.

Kali dan Korban Manusia

AYAH, SIAPAKAH KALI?

Kali adalah Dewi Ibu (Mother Goddes) – simbol teror dan kematian di luar, tapi di dalam simbol cinta dan kasih. Para pemujanya menyembah dia sebagai energi pertama atau kesadaran murni. Sri Ramakrishna Paramahamsa adalah pemuja Kali yang terbesar di abad modern ini. Dia biasanya digambarkan memakai sebuah kalung dari kepala manusia. Dalam dua tangannya ia memegang pedang dan belati, dan dalam dua tangan yang lain ia memegang dua kepala yang sudah putus dengan darah mengalir. Kali juga diasosiasikan dengan swastika tangan kiri.

Gambar Kali adalah gambar yang sangat seram. Dikatakan bahwa Dewi Ibu mengambil bentuk seram ini untuk membunuh seorang raksasa bernama Mahishasura, karena ia tidak dapat dibunuh oleh manusia atau binatang buas.

Kali dipuja di Bengala, khususnya di Kalkuta. Pemujaan Kali juga dihubungkan dengan Tantrisme. Sesunguhnya, kebanyakan pemuja Kali juga ahli dalam Tantrisme.

BENARKAH KORBAN MANUSIA DILAKUKAN DI DEPANNYA?

Sayangnya, selama tahap-tahap awal dari agama Hindu, itu memang mungkin terjadi. Namun, tidak ada aturan mengenai korban manusia ditemukan dalam kitab-kitab suci Hindu.

Korban manusia memang ada dalam sejarah dari semua agama. Dalam Perjanjian Lama, kita menyaksikan satu Tuhan yang terus-menerus marah dan yang menikmati penderitaan manusia. Dia menuntut dan membenarkan upacara korban manusia. Tentu saja, orang melihat satu Tuhan yang sangat pengasih dalam Perjanjian Baru. Sejauh berkaitan dengan Bible, Jesus Kristus adalah domba korban bagi dosa manusia. Dewasa ini orang Kristen merendahkan setiap kata korban dan mengutuk korban dengan darah.

Abraham siap mengorbankan anaknya dalam Perjanjian Lama, dan dalam Katha Upanishad putra Vajrasrabasa dengan sukarela mengorbankan dirinya kepada Yama, Dewa Kematian. Dalam Perjanjian Baru berkali-kali Kristus dikatakan sebagai domba di altar. Lagi pula, perujukan kepada daging dan darah Kristus selama Perjamuan Terakhir (Last Supper) menunjukkan bahwa upacara korban manusia ada pada waktu hidupnya Kristus. Kelaziman dari upacara korban manusia adalah satu-satunya alasan kenapa Kristus yang mahakuasa menggunakan kata-kata seperti darah dan daging untuk menunjukkan keluhuran dari ajaran-ajarannya.

BENARKAH KORBAN BINATANG MASIH DILAKUKAN DI KALKUTA?

Sayangnya, ini memang kenyataan yang terjadi di beberapa Pura di India. Tapi mayoritas orang Hindu tidak menyukai tindakan ini. Darah dan produk darah tidak diijinkan dalam kebanyakan Pura Hindu. Tidak ada Pura Hindu di Amerika Serikat yang mengijinkan darah dalam bentuk apapun, sekalipun sebagai produk daging. Orang-orang yang sedang luka dan wanita yang datang bulan tidak diijinkan memasuki Pura. Kebanyakan orang Hindu adalah vegetarian.

Swami Sri Ramakrishna Paramahamsa adalah seorang pemuja Kali terbesar. Hendaknya tidak seorangpun boleh lupa bahwa Ramakrishna adalah personifikasi dari kasih sayang dan cinta dalam agama Hindu dan ia bahkan tidak melukai seekor semut dalam hidupnya. Pemuja besar Kali yang lain adalah Kalidasa, penyair terkenal yang telah menulis buku-buku seperti Shakuntala, Vikramorvasi, Maghaduta, Rahuvamsa, Ritu-Samhara dan Kumara-Sambhawa. Jadi menyimpulkan bahwa semua yang memuja Kali melakukan korban binatang akan merupakan kesimpulan yang sangat keliru.

Sekali lagi, tidak ada Pura Hindu di Amerika Serikat yang mengijinkan daging atau alkohol dalam wilayah Pura. Tanyalah seorang Hindu mengenai korban binatang, ia akan melihat kamu dengan padangan tidak senang.

Sama seperti kamu, aku berdoa bahwa semua upacara korban binatang akan berakhir di seluruh dunia. Dalam semangat yang benar dari Buddha, Mahawira dan lain-lain, semua korban binatang harus dihentikan. Kita tidak mempunyai hak untuk membunuh binatang untuk apa yang disebut peningkatan spiritual kita.

Rasionalitas Pemujaan Dewa-Dewa.

AYAH,DENGAN SEGALA HORMAT, BAGAIMANA SEORANG DAPAT MENDUKUNG PEMUJAAN DEWA-DEWA?

Nak, bahkan Adi Shankaracharya, rasul besar philsafat Adwaita, tidak menganggap remeh praktek pemujaan Dewa-dewa. Untuk memulainya, orang-orang ada pada tingkat yang berbeda untuk memahami kebenaran. Orang-orang biasa yang hanya mengerti mitologi, sangat sulit untuk menyadari fakta bahwa hanya ada satu Tuhan. Mari kita ambil energi listrik sebagai contoh. Aku dapat menjelaskannya kepadamu dengan mudah dengan bantuan theori electron, sementara ibuku memahaminya dengan sebuah pernyataan bahwa “listrik mengalir

seperti air.” Subyek yang sama tapi ibuku dan aku memahaminya dalam dua bentuk yang berbeda sekalipun kami berdua memiliki hasil yang sama bila menggunakan energi listrik.

Lagi pula, Krishna sudah menjanjikan bahwa sekalipun kamu memuja seribu bentuk Tuhan, melalui semua bentuk itu kamu sesungguhnya memuja Dia – bukan Krishna sang Awatara, tapi Krishna Yang Maha Kuasa.

Akhirnya, dengan kode etik Hindu, para Yogi diperingatkan untuk tidak merusak kepercayaan rakyat. Menurut agama Hindu, bila orang memiliki keyakinan yang kuat atas idealnya, dia akhirnya akan menemukan kebenaran. Jadi betapapun tampak remehnya cara memujanya, kebenaran akhirnya akan datang kepadanya.

Pemujaan orang-orang Hindu terhadap Dewa-Dewa mirip sekali dengan pemujaan ornag-orang Katolik atas para santo pelindungnya. Orang-orang Katolik memuja santo-santo seperti Saint Jude, Saint Anthony dan Saint Sophia dan lain-lain untuk membantu mengatasi berbagai problem yang berbeda. Orang Hindu memuja Ganesha untuk menghilangkan segala hambatan, Lakshmi untuk kemakmuran, dst.

APAKAH TIDAK ADA MASALAH DALAM PEMUJAAN BANYAK DEWA ITU?

Seperti kukatakan sebelumnya, tidak ada masalah mengenai pemujaan Dewa-Dewa, tapi satu yang perlu diperhatikan oleh seorang pemuja adalah perasaan bahwa satu bentuk Tuhan tertentu lebih tinggi dari bentuk Tuhan yang lain. Dalam bhakti kepada Tuhan, seorang diharapkan untuk menghilangkan “ke-akuan” (“I-ness”), atau menghapus ego. Sebaliknya bila seseorang mengembangkan ego dengan berperang untuk Tuhannya, maka seluruh dasar dari bhakti Yoga hilang lenyap sama sekali. Ego adalah ego, apapun bentuknya, dan adalah baik sekali bagi seorang bhakta untuk sejak awal menyadarinya dan menghapuskannya.

Ingatlah perkelahian antara penganut Waisnawa dan Siwaisme yang hanya membuat agama Hindu mundur sampai akhirnya Adi Sankaracharya mengembalikannya kepada kejayaannya dewasa ini. Jadi kamu boleh memuja Istha Dewatamu (personal God) tapi coba melihatnya dalam semua bentuk dari Tuhan. Dengan demikian kamu akan mampu membangun keesaan dari Tuhan dan juga sekaligus menghilangkan egomu yang merupakan batu penghalang bagi perkembangan spiritualmu.

Membangun Pura

BAGAIMANA SEBUAH PURA DIBANGUN?

Untuk memulainya, banyak orang Hindu percaya bahwa hanya orang-orang suci seperti Adi Shankaracharya yang memiliki kemampuan untuk ‘ngenteg linggih’ (mensucikan; mentasbihkan) sebuah pura. Faktanya, sesuai dengan sejarah, semua pura utama di ditasbihkan oleh Maharesi dan dibangun oleh raja-raja Hindu. Pembangunan dan penyucian sebuah pura dilakukan sesuai dengan Silpa Shastra, buku arsitektur Hindu. Proses pembangunan dan penyucian sebuah pura sangat terperinci. Untuk memulainya, pura dibangun di tempat yang Shubha (indah dan luas), dalam lingkungan sebuah sungai. Dalam keadaan apapun, pura harus dibangun hanya dalam laingkungan yang menyenangkan. Pendiriannya dianggap penyatuan kembali (reintegration) dari Prajapati (manusia pertama yang diciptakan), memungkin dia untuk melanjutkan kegiatan penciptaannya. Dari urutan upakara yang amat penting terkait dengan pembangunan dan penyucian pura adalah Pratishta (pemasangan patung/ icon) dan Khumbha-Abhishekam (peresmian pemakaian). Pratishta adalah sebuah proses dengan mana ‘icon-icon’ itu diberikan kesucian.

Pilar kosmis adalah satu bagian yang amat penting dari sebuah pura. Ia diharapkan menjadi saluran komunikasi antara manusia dengan Tuhan. Di zaman modern ini, salah satu pura yang palih indah di dunia adalah Sri Venkateswara di Pitttsburg, Pensylvania, AS, yang pembangunan dan upacara ‘ngenteg linggih’nya, disimpan dalam film dokumenter yang sangat informative dan jelas.

AYAH, BAGAIMANA PATUNG-PATUNG ITU DIBUAT?

Pembuatan patung adalah sebuah proses yang sangat rumit. Ia dibuat dari kayu yang khusus, dan juga dari batu yang istimewa. Bila mereka dibuat dari kayu, pohonnya harus dipotong pada hari dan waktu yang bertuah (dewasa ayu) menurut perhitungan astrologi. Seniman yang membuat patung itu disebut Silpi. Sebelum membuat patung Silpi harus menjalani upakara pembersihan dan memohon bantuan kepada Tuhan. Dikatakan, Silpi melakukan meditasi dan menvisualkan secara mental patung yang akan dibuatnya. Setelah patung dibuat, dibersihkan dengan air, rumput darbha, madu dan ghee (keju yang dicairkan). Dan dengan upakara Nyasa yang khusus (upakara sentuhan) Dewa dimohon untuk masuk dalam patung. Akhirnya dengan satu Mantra khusus, Prana atau “nafas kehidupan” dihembuskan ke dalam patung. Sekarang pembuatan patung itu sudah selesai. Tentu saja penjelasanku sangat singkat dan upakara yang sesungguhnya sangat rumit dan penuh warna.

APAKAH GARBHA GRIHA?

Ia adalah ruang paling dalam dari sebuah pura, dimana patung itu ditempatkan dan ditasbihkan. Arti kata dari Garbha Griha adalah “rumah bagi kehamilan” yang sebenarnya berarti kandungan. Beberapa pura memiliki beberapa ‘enclosures’ (tanah berpagar); itu mewakili tubuh manusia yang dianggap memiliki lima Kosha atau sarung (sheath). Lapisan yang paling dalam mewakili Annamaya Kosha (sarung yang dibuat dari makanan) dan Dewa yang tinggal di dalam Garbha Griha mewakili Atman atau jiwa.

Mythologi

AYAH, AKU INGIN MENGAJUKAN BANYAK PERTANYAAN TENTANG MYTHOLOGI. DAPATKAH ANDA MENJAWAB SEMUANYA?

Nak, untuk memulainya, aku ingin mengingatkanmu bahwa mythologi, sesuai dengan arti katanya, adalah “logika dari mithos.” Jadi pasti akan ada contoh-contoh dimana satu hal tertentu berlawanan dengan mythologi. Bila seseorang melihat ke dalam agama Hindu, diaharus melihat ke dalam Bagawad Gita, Upanishad-Upanishad, dan Raja Yoga ddan kemudian bertanya mengenai buku-buku tersebut. Bagaimanapun aku akan mencoba menjelaskan kepadamu konsep mythologi sejelas yang kumampu.

BILA AGAMA HINDU MENGANJURKAN MONOGAMI, LALU KENAPA BATARA KRISHNA MEMPUNYAI 16.008 ISTRI?

Untuk memulainya, Betara Krishna adalah Tuhan dalam daging, bukan manusia biasa. Kedua, Maharsi Narada sendiri merasa bahwa Krishna adalah seorang poligamis. Suatu hari Narada pergi ke 16.008 rumah, dan dia melihat Krishna melaksanakan tugas-tugas rumah tangga dalam setiap rumah. Dari pengamatan itu, dia sampai pada kesimpulan bahwa Krishna adalah seorang poligamis, dan Mahluk Tertinggi (Supreme Being).

Ada penjelasan lain mengenai dan istri-istrinya, yang kebanyakan dari mereka adalah Gopi (gadis gembala). Cinta Gopi pada Krishna melambangkan kerinduan kepada Jiwatman, jiwa individu, untuk melebur dengan Paramatman, Tuhan. Disini para Gopi itu merepresentasikan Jiwatman dan Krishna merepresentasikan Paramatman. Bagi manusia biasa yang membaca lagu-lagu Swami Jayadeva lagu itu akan nampak sebagai berlebih-lebihan, tapi lagu-lagu itu sesungguhnya lambang dari persatuan Jiwatman-Paramatman.

AYAH, ANDA SEBELUMNYA MENJELASKAN PADAKU BAHWA AHIMSA ADALAH KEBAJIKAN HINDU YANG TERTINGGI. LALU KENAPA DEWA-DEWA HINDU MEMBAWA SENJATA DAN MEMBUNUH BEGITU BANYAK RAKSASA?

Ahimsa Paramo Dharmah – “Ahimsa adalah kebajikan tertinggi” – ditulis untuk orang kebanyakan. Tentu saja, Mahatma Gandhi mempergunakannya dengan sangat efektif sebagai sebuah senjata untuk melawan Inggris di India. Tapi Dewa-Dewa bertindak pada tataran yang sama sekali berbeda. Tindakan-tindakan mereka sama sekali tidak dimotivasi oleh kemarahan, keserakahan atau egoisme. Mereka bertindak dalam cara yang sangat matematis dan logis. Lihatlah cara Rama membunuh Rahwana. Rama melakukan hal itu tanpa kemarahan apapun. Dia dapat merobah Rahwana, tapi Rahwana menginginkan mati di tangan Rama, sehingga ia dapat mencapai pembebasan. Untuk memberimu contoh yang lain, mari kita andaikan kamu menaruh tanganmu di api. Kamu terbakar. Kamu menangis karena sakit, tapi api itu tidak mempunyai kehendak khusus untuk melukaimu. Adalah sifat alamiahnya untuk membakar. Dewa-Dewa bertindak dalam cara yang sama. Ketika mereka membunuh seorang raksasa, mereka melakukan itu tanpa kemarahan. Mereka dapat merobah raksasa itu, tapi mereka lebih baik membunuhnya, karena tindakan-tindakan raksasa itu membuatnya harus mengalami sakit bagi tubuhnya di dunia ini. Di sini kita kembali lagi kepada Hukum Karma.

AYAH, KENAPA ANDA BEGITU SUNGKAN UNTUK MENJAWAB PERTANYANNKU MENGENAI MYTHOLOGI?

Nak, kamu tahu dengan baik bahwa sangatlah sulit untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai mythologi dengan menggunakan logika dan akal. Misalnya, bagaimana mungkin seseorang menjelaskan Dewa Ganesha, menggunakan seekor tikus kecil sebagai kendaraannya? Bagaimana seseorang dapat menjelaskan sepuluh muka Rahwana dan seribu kepala dari naga Ananta? Ilmu pengetahuan, masih belum mampu menangani kembar Siam, apalagi sepuluh atau seribu kepala dari satu badan. Lucu juga mendengar orang-orang mengeritik Rama karena menyerahkan dewi Shinta, istrinya tercinta. Mereka tahu bahwa bagaimanapun mereka tidak akan mendapat jawaban yang memuaskan atas pertanyaan mereka, tapi kritik atas mythologi seperti ini akan terus ada. Kisah-kisah mythologis mungkin saja telah ditulis dengan ideologi yang sangat tinggi, tapi malangnya dengan pengetahuan kita yang terbatas kita tidak dapat memahaminya.

Dengan bantuan ilmu pengetahuan modern kita mungkin sudah bisa mengerti hal-hal seperti Brahmastra (sebagai senjata nuklir), Chakra Sudarshananya Krishna (sebagai sejenis senjata inisiatif pertahanan strategis dengan kemampuan menyerang yang sangat besar seperti SDI), kisah kelahiran Hanuman, dimana Dewa Parwati memindahkan kehamilannya kepada istri dari dewa angin (sebagai ibu pengganti, ‘surrogate mother’), empat putra Dewi Kunti (sebagai

bayi tabung), seratus anak Dewi Gandhari (dia tidak menggunakan test-tube tapi belanga-belanga besar dari tanah liat), Pushpaka Vimana (sebagai helikopter), dan seterusnya. Tentu saja semua ini hanya spekulasi dan sebagai demikian kita lebih baik menggunakan mithologi untuk memahami hukum-hukum tak tertulis dari alam semesta. Bertengkar mengenai kisah mythologis adalah tindakan salah dan karena itu semua argumen mengenai hal ini hendaknya dihindari.

Sapi dan Orang-orang Hindu

MENGAPA SAPI BEGITU PENTING BAGI ORANG-ORANG HINDU?

Ketika orang-orang Arya menetap di India, sapi adalah satu-satunya binatang yang dapat mereka ternakan. Pada zaman Weda, sapi adalah anugrah yang sangat berharga bagi masyarakat. Sapi menyediakan bagi mereka susu, daging, keju dan yogurt. Kulit sapi yang mati dipergunakan utuk tempat berteduh dan pakaian.

Jadi masyarakat dalam zaman Weda sungguh-sungguh berhutang budi dalam banyak hal kepada sapi. Ini kemudian membuat mereka memandang sapi dengan penuh penghormatan. Mythologi berbicara tentang seekor sapi abadi (celestial cow) bernama Kamadhenu yang dapat memberikan dan memenuhi semua keinginan. Krishna adalah pengembala dan dia menghabiskan masa kanak-kanak dan masa mudanya memelihara sapi. Sejalan dengan waktu, sapi dipandang sebagai sebuah simbol ibu. Bahkan dalam tulisan Manu ada referensi khusus kepada sapi, dan melarang pembunuhan sapi. Rig Weda (6:28) mengatakan, “Sapi-sapi adalah Tuhan; mereka tampak bagiku menjadi Indra, Dewa Surga.” Masyarakat Hindu diharapkan menjadi vegetarian. Bagi orang-orang Hindu fanatik, sapi masih merupakan segala sesuatu. Tentu saja mayoritas orang Hindu menghindari makan daging. Namun bagaimanapun, diantara massa fanatik di India, membunuh sapi akan merupakan masalah yang sangat kontroversial untuk masa-masa yang akan datang.

AYAH, APAKAH KISAH SEBENARNYA DIBALIK VEGETARIAN DALAM AGAMA HINDU?

Nak, aku telah memikirkan dan membaca banyak hal mengenai masalah ini. Sebenarnya, kamu akan terkejut mengetahui bahwa pantang makan daging lebih merupakan idea Buddhis dan Jain daripada sebuah idea Hindu. Bahkan Bagawad Gita tidak mempunyai perintah khusus melarang makan daging. Sapi-sapi disebutkan dalam Rig Weda sebagai “aghya,” atau tidak untuk dibunuh, adalah sapi yang memberi susu. Rig Weda tidak mengesampingkan pembunuhan banteng dan sapi pada berbagai kesempatan keagamaan. Aitareya Brahmana berbicara mengenai pengorbanan anak sapi kepada para dewa. Dalam Griha Sutra, pengorbanan sapi dikaitkan dengan banyak upacara keagamaan, bahkan Manu,

yang dalam berbagai peraturannya melarang makan daging, mengatakan, “Seseorang boleh makan daging bila daging itu sudah diperciki air suci dan dimantrai, ketika seseorang terlibat dalam menyiapkan suatu upakara sesuai hukum, dan bila hidup seseorang dalam bahaya (Manusmriti 5:27). Dalam Ramayana , Maharesi Agastya memakan kambing jantan sehingga dia mampu menghilangkan raksasa Vatapi. Dalam Mahabharata dikatakan bahwa dalam istana Rantidewa, kurang lebih dua ribu sapi dibunuh tiap hari untuk memberi makan para Brahmin. Segala macam daging disediakan pada perkawinan Panjali (Pancahali, Darupadi, pen) dalam Mahabharata.

Aku rasa bahwa, mengenai Purana-purana yang ditulis setelah kelahiran Buddhis dan Jainisme, orang-orang Hindu dilarang makan daging apapun atau produk-produk daging. Dengan masalah penyakit jantung dan kolesterol di seluruh dunia, kita hendaknya mempropagandakan vegetarianisme dan meninggalkan daging sama sekali.

Status wanita dalam agama Hindu

KENAPA WANITA HINDU MEMAKAI TITIK (BINDU) DI KENING MEREKA?

Sesunguhnya, semua orang Hindu diharapkan memakai titik (bindu) di kening mereka. Titik itu diharapkan ada pada titik pertemuan kedua mata untuk melindungi titik yang penting itu. Titik yang penting itu dikenal sebagai “mata spiritual” atau “mata ketiga” atau “Ajna Chakra,”. Ada banyak sekali diskusi mengenai titik pusat ini dalam buku-buku yang membahas kekuatan Kundalini (literatur Tantrik). Bindu ini dibuat dari bubuk daun (kunyit, tumeric) dan cendana.

Hanya orang yang memusatkan pikirannya pada titik ini yang dianggap melihat cahaya. Orang-orang Hindu menafsirkan bahwa Jesus Kristus menunjuk kepada titik ini ketika dia berkata, “Jika karena itu matamu hanya satu, seluruh tubuhmu akan penuh oleh cahaya” (Matthew 6:22). Di India kaumWaisnawa memakai titik ini dalam bentuk yang memanjang, mulai dari tengah-tengah antara kedua mata terus sampai ketitik teratas dari dahi, yang dikenal dengan nama Sahasrara, untuk memperlancar dan melindungi seluruh jalan yang dialiari oleh kekuatan Kundalini, yang telah kujelaskan sebelumnya. Namun demikian, sejalan dengan waktu, wanita terus memakai bindu, dan satu titik warna merah berarti wanita itu adalah seorang wanita menikah yang terhormat. Para janda tidak diharapkan memakai bindu. Tidak ada arti khusus yang dapat diberikan kepada sistem ini dewasa ini. Beberapa wanita bahkan bertidak lebih jauh dengan memaki warna bindu yang sesuai dengan warna sari yang mereka kenakan.

BAGAIMANAKAH WANITA DIPERLAKUKAN DALAM AGAMA HINDU?

Dalam agama Hindu, pada satu sisi wanita adalah obyek pemujaan dari para santo dan Maharesi, dan pada sisi lain dia dipandang rendah dan digambarkan sebagai penyebab semua masalah dunia ini. Semua agama-agama dunia, termasuk Hindu dan Kristen, telah memandang rendah wanita melalui kitab-kitab suci dan mitholigi-mithologi mereka yang terkait. Lihat pada Kitab Kejadian Kristen, wanita (Eva) dikatakan sebagai akar dari kejatuhan manusia. Ibu Kristus digambarkan sebagai “ibu yang sempurna” (the immaculate conception), tapi sungguh mengagetkan, dia tidak pernah menjadi salah satu rasul. Apa yang diajarkan agama-agama kepada manusia diulangi dalam pola pikir dunia. Konstitusi Amerika Serikat masih terbaca, “Semua laki-laki adalah sederajat” (All men are equal) dan tidak “semua laki-laki dan wanita adalah sederajat” (All men and women are equal).

Di India kuno, setelah orang-orang Arya menetap di tepi-tepi sungai Indus mereka memangun satu sistem sosial, dimana ayah, bukan ibu, menjadi kepala keluarga . Sesungguhnya, di seluruh India, hanya di masyarakat Nair di Kerala wanita adalah kepala keluarga dan mempunyai hak milik kekayaan. Sepanjang sejarah kuno, para wanita harus tunduk pada hukum-hukum yang dibuat oleh kaum laki-laki untuk kaum wanita. Namun demikian, adalah juga benar bahwa masyarakat Wedik memiliki sejumlah wanita dalam posisi-posisi kunci dan beberapa tindakan pengekangan diri (austerities) tidak dapat dilakukan oleh kaum laki-laki tanpa istri mereka.

Sebagaimana halnya dengan empat lapis sistem kasta, Kode Manu adalah titik awal yang membuat wanita inferior terhadap laki-laki. Manu dengan cara yang empatik mengatakan, “wanita tidak berhak atas kebebasan.” Weda-Weda penuh dengan doa-doa bagi kelahiran seorang putra. Percaya atau tidak, ada upacara dan doa dalam agama Hindu yang mencoba menghalangi kelahiran seorang bayi perempuan. Misalnya, kita dapat membaca dalam Brihad-Aranyaka Upanishad upacara yang rumit untuk kelahiran seorang putra. Beberapa ucapan pemberkatan dari perkawinan dimulai dengan “Jadilah ibu bagi laki-laki.” Bila kita meneliti seluruh khasanah agama Hindu, kita akan menemukan contoh berulang-ulang dari dominasi laki-laki atas wanita.

Tidaklah jelas apakah ini dilakukan untuk untuk melindungi wanita, karena mereka adalah pihak yang lebih lemah, atau untuk membuat mereka sebagai obyek kesenangan. Namun demikian, apa yang kita lihat dalam agama Hindu kuno adalah pengulangan yang persis dari sejarah orang Yahudi dalam Perjanjian Lama. Dalam buku itu, kaum wanita diwajibkan untuk patuh pada hukum-hukum yang dibuat oleh kaum laki-laki. Hal yang sama juga tampak dalam agama Hindu. Karena itu kita harus melihat kepada agama Hindu dahulu sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah sebuah peradaban yang mulai matang yang keluar dari zaman-zaman gelap, ketika laki-laki memang adalah tokoh yang dominan.

Manu menyatakan bahwa bagi seorang wanita, perkawinan adalah “untuk seumur hidup, tak dapat dibatalakan dan tak dapat dipertanyakan.” Dia melarang perceraian dan kawin kembali (bagi wanita). Tapi dengan Undang-Undang Perkawinan Hindu tahun 1955 (di India), semua orang Hindu diijinkan untuk menikah dan juga untuk bercerai sesuai kehendak hatinya.

Pada sisi yang positif, Manu juga meminta masyarakat untuk memuja wanita, karena mereka adalah “cahaya rumah” (the light of the house). Agama Hindu percaya bahwa seorang wanita yang membaktikan seluruh hidupnya bagi kesejahteraan suaminya akan menjadi seorang Pativrata dan akan dianugrahi dengan berbagai kekuatan yang biasanya diperolah oleh para Maharesi.

Dalam agama Hindu, Saraswathi adalah Dewi Ilmu Pengetahuan, Lakshmi adalah Dewi Kemakmuran, dan Parwati adalah Dewi Kekuasaan. Mereka masing-masing adalah sakti dari Brahma, Wisnu dan Siwa. Dewi Ibu (Mother Goddess) ada sebelum Tri Murti. Jadi dalam mythologi dan literatur Sruti, kaum wanita diberi penghormatan yang sangat tinggi. Dalam Brihad-Aranyaka Upanishad, satu dari sejumlah orang yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan tajam kepada Maharesi Yatnawalkya tidak lain dari seorang perempuan suci yang bernama Gargi. Saka Agama atau kitab-kitab Tantra mengagungkan Yang Tertinggi (Tuhan) sebagai Ibu dari Alam Semesta di bawah nama dan bentuk Dewi. Dalam Tantra, para bhakta wanita dilihat sebagai perwujudan dari Sakti dan ia dipuja melalui ritual seperti Kumari Puja (penyembahan perawan) dan Sakti Upasana (pemujaan Dewi).

Status wanita dalam agama Hindu.

Agama Hindu mempunyai cukup banyak wanita-wanita mistikus seperti, Andal, Karaikal, Auvaiyar dari Tamil Nadu, Mahadewi dari Karnataka, Lalla dari Kashmir, Chellachi dari Sri Langka, Mirabai dari Rajasthan, Janabai dan Muktabai dari Maharashtra. Dewasa ini Amritanandamayi dari Kerala sangat terkenal di Amerika Serikat.

Percaya atau tidak, ada masyarakat di India sepanjang sejarahnya dimana wanita memainkan peranan penting dalam masyarakat. Misalnya, dalam masyarakat Nair di Kerala, semua hak milik atas harta hanya dipunyai oleh kaum wanita dalam keluarga. Dalam sistem ini ibu senantiasa adalah “kepala keluarga.”

Diantara penganut sekte Sakti, kaum wanita senantiasa diperlakukan dengan penghormatan yang tinggi. Bila para penganut Sakti ini bicara mengenai Dewa-dewa mereka senantiasa menyebutkannya dengan kombinasi laki-wanita, seperti Lakshmi-Narayan, Gauri-Sankar, Radha-Krishna. Mythologi juga menunjukkan bahwa wanita diijinkan memiliki suami lebih dari satu. Salah satu dari tokoh mythologis yang sangat dihormati Panchali (Draupadi)

mengawini lima orang Pandwa bersaudara. Atharwa Weda mengatakan bahwa seorang wanita dapat kawin lagi setelah memiliki sepuluh suami. Wanita lain yang dihormati di India, Tara, yang lahir dari lautan susu, mengawini Bali (Subali) raja-monyet, dan setelah kematian Subali mengawini saudaranya Sugriwa. Wanita nelayan Sathyawati mempunyai seorang putra dari Maharesi Parasara, dan kemudian mengawini Raja Santhanu dan memiliki dua putra lagi.

Selain Gargi yang telah disebut diatas, wanita suci lain dalam Upanishad adalah Maitreyi, istri dari Maharesi Yatnawalkya. Mythologi berbicara dengan hormat tentang Anusuya, istri Maharesi Atri, Arundhati, istri Maharesi Wasishta dan Sakuntala. Bahkan mythologi tidak memandang rendah gadis-gadis penari surga seperti Urvasi dan Menaka, yang selalu mendapat kesulitan setiap saat.

Wanita yang menyerahkan kehendaknya pada suaminya disebut Prativrata dan dikatakan bahkan Dewa-dewa tidak mampu menyamai kekuatannya. Dalam Ramayana, Dewi Sita dianggap memiliki sebuah kekuatan yang besar. Dikatakan Rama meminta Sita untuk berdiam di balik api (atau melompat ke dalam api) sehingga Rahwana jatuh cinta pada Maya Sita (Sita bayangan). Adalah mungkin Rahwana tidak akan jatuh cinta pada Sita yang sebenarnya. Siapa yang mau mencium matahari atau api? Rahwana tidak akan menyentuh Sita secara phisik. Dia hanya membawa tanah diatas mana Sita berdiri kembali ke pulau kerajaannya. Dikatakan bahwa satu-satunya cara Rahwana dapat memperoleh Maya Sita adalah apabila Sita sendiri mengehendakinya. Setelah penghancuran Rahwana, Sita Maya melompat ke dalam api dan Sita yang sesungguhnya muncul kembali. Itulah alasan orang melihat Sita melompat dua kali ke dalam api dalam Ramayana. Banyak yang tidak bisa memahami bagian dari Ramayana ini, dan secara keliru menyalahkan Rama atas dominasi laki-laki dan penghinaan Sita.

Sejauh pendirianku, hal yang amat merendahkan wanita yang terjadi dalam agama Hindu adalah perkawinan anak-anak dan sistem Dewa Dasi. Adalah suatu waktu (sekarang tidak lagi – perkawinan anak-anak merupakan kejahatan kriminal di India dewasa ini) dimana semua gadis dibawah usia dua belas tahun dikawinkan dengan laki-laki yang usianya dua atau tiga kali lipat. Dari Ramayana kita mengetahui bahwa Rama berusia enam belas tahun ketika menikahi Sita,dan Sita hanya berusia enam tahun pada saat itu.

Dalam Brahma Purana ditulis bahwa seorang gadis yang berusia empat tahun siap untuk kawin. Percaya atau tidak, ada sloka-sloka dalam Mahabharata yang menunjuk kepada perkawinan pada waktu lahir. Kebiasaan mengawinkan anak-anak yang belum lahir adalah biasa pada suatu ketika. Seorang laki-laki akan mengawini seorang janin yang belum lahir dan bila janin yang lahir itu adalah seorang wanita, dia akan mengawininya. Perkawinan anak-anak ini distop pada tahun 1929 dengan Undang-Udang Sarda, berdasarkan undang-undang ini tidak dibolehkan sesorang laki-laki mengawini seorang wanita di bawah usia empat belas tahun.

Dari semua hal yang menggerogoti agama Hindu, sistem Dewa Dasi (pelayan atau budak Tuhan) adalah yang paling buruk. Sistem Dewa Dasi pada awalnya dibentuk seperti biarawati Kristen, dimana gadis-gadis dari keluarga baik-baik dipersembahkan kepada Tuhan untuk memelihara pura. Ini kemudian disalah-gunakan oleh pendeta pura dan juga oleh keluarga bangsawan.

Mereka menggunakan gadis-gadis belia ini sebagai prostitusi. Padma dan Bhavishya Purana berbicara mengenai sistem Dewa Dasi, tapi kedua Purana ini tidak pernah mengharapkannya persis seperti biarawati Kristen, dan system ini akhirnya jatuh kepada level Times Square (tempat hiburan malam di New York VII Avenue, pen). Seorang gadis disumbangkan ke sebuah pura pada usia tujuh atau delapan tahun. Gadis ini segera dikawinkan dengan satu Dewa, yang biasanya Betara Krishna. Kemudian seorang pendeta pura atau seseorang dari keluarga bangsawan akan membuatnya kehilangan keperawanannya. Setelah itu, gadis itu akan dilatih menarikan tarian erotik, biasanya menggambarkan interlude (waktu cengkerama) romantik antara Krishna dengan istrinya Radha. Sampai India memperoleh kemerdekaannya, profesi penari dianggap sebagai profesi prostitusi. Merupakan hal yang merendahkan bagi seorang gadis dari keluarga terhormat untuk mempelajari tari India klasik apapun. Tentu saja semua hal itu telah berobah sekarang. Orang-orang India dewasa ini melihat tarian sebagai suatu profesi yang sangat terhormat.

Ketika seorang Dewa Dasi menjadi seorang wanita dewasa dan kemudian menjadi sangat tua, dia diijinkan untuk mengembara ke seluruh negeri melakukan kehidupan sebagai prostitusi. Artha Shastra (karangan Canakya, pen) bahkan bicara mengenai penggunaan prostitusi sebagai salah satu sumber pendapatan bagi negara. Terimakasih kepada kaum reformer Hindu, Buddha, Jain, dan pemerintah kolonial Inggris, sistem Dewa Dasi dewasa ini telah dihapus lenyap sama sekali di India.

Dewasa ini di India, dibandingkan dengan negera-negara seperti Amerika Serikat, wanita mendapat penghormatan yang lebih baik di masyarakat juga dalam kehidupan pribadi. Di India, wanita memiliki gaji yang sama dengan laki-laki dalam semua jenis profesi. Seorang wanita dokter mendapat gaji yang sama dokter laki-laki, seorang insinyur wanita mendapat gaji yang sama dengan insinyur laki-laki.

Sati – Perbuatan yang sangat menghebohkan

APAKAH SATI DAN APAKAH IA MEMILIKI DASAR DALAM KITAB SUCI HINDU?

Sati adalah perbuatan yang sangat menghebohkan (horrendous act) mengenai bunuh diri dari para janda dengan melompat ke dalam api pembakaran jenasah suaminya, kadang-kadang dengan sukarela, kadang-kadang dengan paksaan oleh orang lain. Sati adalah ritual yang sangat kuno yang ada diantara suku Rajput di Baratlaut India. Sati dihapuskan oleh Inggris pada tahun 1829. Sati sama sekali tidak memiliki dasar dalam kitab suci Hindu. Tidak ada kitab suci Hindu yang bicara bahkan sedikitpun mengenai Sati. Mengatakan Sati adalah bagian dari agama Hindu persis sama dengan mengatakan bahwa inquisisi (hukuman berdasarkan pengadilan agama Kristen) berdarah yang dilakukan oleh orang-orang Spanyol atas Mexico pada tahu 1483 dan perburuan penyihir di Salem pada tahun 1692 adalah bagian tak terpisahkan dari agama Kristen. Penghancuran kuil-kuil bangsa Indian Mayan dan pembunuhan jutaan orang Mexico oleh orang-orang Spanyol tidak ada hubungannya dengan agama Kristen yang benar yang dikotbahkan oleh Jesus. Perburuan penyihir Salem tidak ada kaitannya dengan agama Kristen yang benar.Hal-haltersebut jelas-jelas berlawanan dengan prinsip-prinsip Kristen. Begitu pula halnya, Sati tidak ada kaitannya dengan agama Hindu. Ia sama sekali bertentangan dengan prinsip-prinsip pokok dari agama Hindu. Tidak ada apapun dalam Weda yang membenarkan tindakan itu. Sesungguhnya, sesuai dengan kidung penguburan dalam Rig Weda, setelah upakara janda tidur di samping mayat suaminya, dia diijinkan kawin dengan saudara suaminya (iparnya).

Tak ada peristiwa dalam mythologi Hindu yang demikian luas yang sesuai atau mendukung Sati. Sebagai contoh, dalam Ramayana, ketika ayah Rama, raja Dasarata meninggal, tiada seorangpun dari ketiga istrinya bunuh diri, dan tidak pula istri raja kera Subali bunuh diri ketika Subali terbunuh, tidak pula Mandhodhari bunuh diri ketika Rahwana, suaminya terbunuh.

Tidak pula ada tindakan Sati dalam Mahabharata, epik yang paling panjang di dunia. Tiada seorangpun para istri dari seratus Korawa melaksanakan Sati. Satu-satunya peristiwa yang dapat disebut adalah ketika semua istri-istri Krishna bunuh diri ketika Awatara ini meninggalkan dunia ini. Disini mereka melakukan bunuh diri bukan karena Krishna adalah suami meraka, tetapi karena dia adalah Yang Maha Kuasa.

Tindakan para istri Ksrihna tidak ada hubungannya dengan Sati. Satu-satunya tindakan dalam seluruh Mahabharata yang dapat disejajarkan dengan Sati adalah tindakan Madri, istri raja Pandu, yang bunuh diri dalam api pengabenan Pandu. Disini juga tindakan Madri dilakukan sebagai penyesalan atas dirinya sendiri, karena sebagai akibat dari sebuah kutukan seorang suci, percintaan Madri dengan Pandu menjadi sebab kematian suaminya. Dan lagi, untuk membuktikan bahwa tindakan Madri bukan Sati, kita harus mengetahui bahwa istri kedua Pandu, Kunti, tidak melakukan bunuh diri tapi menjalani hidup yang sangat panjang.

DARI MANA DATANGNYA SATI? APAKAH IA KEBIASAAN YANG DIPRAKTEKKAN DI SELURUH INDIA?

Baiklah akan kujawab pertanyaan kedua lebih dulu. Sati dilarang di India pada tahun 1829 oleh pemerintah jajahan Inggris , setelah seorang teolog Hindu, Raja Rammohan Roy, bekerja siang dan malam mengenai hal ini. Jadi untuk semua tujuan-tujuan praktis, kamu tidak akan mendengar mengenai Sati di India dewasa ini.

Sati, menurut seorang teolog Hindu terkemuka, memiliki akarnya di masyarakat Yunani kuno. Korban api mirip sati ada dalam masyarakat Jerman, Slavia dan ras lain di samping Yunani. Sangat mungkin praktek Sati datang ke India dalam tahun 1 AD. Melalui Kushana, sebuah ras Asia Tengah yang memerintah bagian barat laut India. Sati tidak pernah dipraktekkan di manapun di India Selatan. Bahkan di India Utara, ia dipraktekan kebanyakan di antara suku perang yang disebut Rajput yang merupakan keturunan dari Kushana, Saka dan Parthiana.

Suku bangsa Rajput adalah suku pahlawan perang Hindu yang sangat fanatik, yang senantiasa dalam peperangan melawan kaum muslim dan juga diantara mereka sendiri. Tampaknya bangsa Rajput ini memiliki banyak janda-janda muda yang mungkin akan menimbulkan masalah etik dan moral dalam masyarakat monogami. Dari pada mengijinkan seorang laki-laki, seperti orang Islam, memiliki lebih dari satu istri, kaum Rajput memakai cara mudah untuk menyelesaikan soal janda yang tidak diharapkan dengan Sati. Itulah satu-satunya alasan logis yang dapat kita ambil mengenai praktek Sati yang sangat menghebohkan ini.

Kesehatan dan Aura

KENAPA ORANG-ORANG HINDU TIDAK BERPELUKAN DAN BERCIUMAN SEPERTI ORANG LAIN?

Tentu saja masalah kesehatan dan ketakutan akan tertular penyakit banyak berkaitan dengan hal ini. Terpisah dari itu, seperti dimanapun di dunia ini, kita juga khawatir dengan tindakan-tindakan sederhana seperti itu akhirnya bisa membawa kepada inces (hubungan kelamin orang tua dengan anaknya, pen)

Terlepas dari semua itu, ada juga teori occult dibalik tidak menyentuh satu sama lain. Menurut teori ini, setiap orang memiliki aura; secara singkat, setiap mahluk, termasuk tanaman, memiliki aura. Aura ini, kurang lebih seperti corona mengelilingi kabel listrik tegangan tinggi yang ada di udara. Dikatakan bahwa aura para Maharesi tampak dengan jelas oleh mata telanjang. Aura dari seseorang merupakan kumpulan dari pikiran-pikiran, tindakan-tindakan dan karma-karmanya di masa lalu. Dikatakan, misalnya, bahwa bila seseorang dengan siapa kita berpelukan mempunyai pikiran-pikiran depresif yang kuat, hal ini akan memberi pengaruh buruk bagi aura kita. Sama halnya, aura kita akan diuntungkan bila kita memeluk seseorang dengan pikiran-pikiran positif yang kuat. Pada saat yang sama, berpelukan dengan lawan jenis sangat berbahaya, bahkan bagi Guru-guru yang telah mengejawantahkan Tuhan, karena bahkan mereka sekalipun dapat jatuh di bawah kekuatan daya tarik seksual.

Jadi, dengan cara apapun kamu melihat hal ini, bepelukan dan berciuman bukanlah tindakan baik untuk ditiru sebagai suatu kebiasaan ketika bertemu dengan seseorang dalam hidup kita sehari-hari, bahkan sekalipun tindakan itu didorong oleh pikiran mulia. Lagi pula adalah keliru untuk percaya bahwa rasa kasih sayang dapat diekspresikan hanya melalui sentuhan badan.

MOHON BERITAHU AKU LEBIH BANYAK MENGENAI AURA?

Ilmu pengetahuan modern belum memberi bukti apapun mengenai keberadaan aura. Pada saat yang sama, telah dapat disimpulan bahwa otak kita adalah generator listrik kecil dan pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan kita hanyalah impuls-impuls listrik.

Namun, kembali kepada pertanyaan mengenai aura, dipercayai bahwa ujung-ujung jari adalah satu titik melalui mana kekuatan aura dapat diperbaharui. Itulah alasan kenapa, ketika guru-guru yang sudah mengejawantahkan Tuhan merahmati kamu dengan menyentuh titik paling atas di kepalamu, yang adalah pusat terkuat yang dikenal dengan nama sebagai Shasrara dalam buku-buku mengenai kekuatan Kundalini. Untuk melindungi diri mereka dari kehilangan kekuatan aura, orang-orang Hindu menunjukkan tanda Namaste (menyentuhkan ujung-ujung jari dari kedua tangan), selama itu mereka menjaga aura dalam posisi aliran pendek (close-circuited posisition) seperti kekuatan dari dua magnet yang dijaga utuh oleh ‘spacers’ yang menghubungkan kedua kutub.

AYAH, APAKAH NAMASTE?

Namaste adalah ucapan salam Hindu yang paling populer, dilakukan dengan menyatukan kedua telapak tangan di dekat hati dengan kepala ditundukkan dengan hormat ketika seseorang mengatakan, “Namaste.” Tanda dengan mencakupkan tangan seperti itu disebut Anjali Mudra. Ada satu simbol besar di balik ucapan salam ini. Kedua tangan menggambarkan dualitas (rwa bhineda, pen) seperti Yin dan Yang atau kekuatan positif dan negatif, dan menyatukan tangan bagi seorang Hindu berarti mengakui kesatuan atau Adwaita dari dunia. Seluruh tindakan ini menyampaikan pesan, “Engkau dan aku adalah satu. Aku menghormati, menghargai dan memuja Tuhan yang ada dalam dirimu.” Ia juga berarti, “aku bersimpuh di hadapanmu yang merupakan bayangan kaca (mirror-image) dari diriku, dengan badan, pikiran dan jiwa.”

Dalam bahasa Sansekerta, kata Namas berarti, “membungkuk dalam salam penuh hormat.” Te artinya “kepadamu.” Jadi Namaste secara ringkas berarti “aku membungkuk kepadamu.” Salam ini membuat seorang Hindu mengingatkan dirinya sendiri bahwa Tuhan ada dimana-mana dan dalam setiap mahluk yang kita temukan dimana saja dan kapan saja.

Ashrama Dharma dan Non-Kekerasan

AYAH, APAKAH ASHRAMA DAN ASHRAMA DHARMA?

Seperti telah kukatakan padamu sebelumnya, dalam agama Hindu seseorang harus menjalani empat tahapan dalam hidupnya. Mereka dalah Brahmachari atau Kaumaram (siswa hidup membujang), Garhastyam (hidup kawin-berkeluarga, grihasta), Wanaprastham (pertapa) dan Sanyasam (renunsiasi pengembara). Keempat tahapan ini secara bersama-sama disebut sebagai Ashrama. Dalam setiap tahapan, seseorang diharapkan bekerja keras untuk mencapai keselamatan. Selama dalam tahapan Brahmachari, siswa yang membujang menerima pelajaran tentang kitab-kitab suci, dan mempelajari pengendalian diri dan menyiapkan dirinya untuk menerima tanggung jawab kehidupan. Pada tahap Garhastyam seseorang kawin dan mengambil suatu pekerjaan. Dia menjalani kehidupan keluarga sesuai dengan perintah Dharma Sutra. Dalam Wanaparastham Ashrama, seseorang menyiapkan dirinya untuk melepaskan atau meninggalkan (ikatan-ikatan) dunia dengan tinggal di hutan sebagai pertapa. Dalam Sanyasam Ashrama, seseorang meninggalkan urusan-urusan duniawi secara total, memutuskan dirinya dari dunia dan menjadi santo pengembara.

Kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan dalam setiap tahapan ini disebut sebagai Ashrama Dharma. Seluruh Ashrama Dharma ini ditulis dalam Dharma Sutra, di sana ada empat puluh upakara dalam Garhastyam Ashrama, tapi menurut Griha Sutra jumlah upakara dalam Garhastyam Asharama adalah enam belas. Ashrama Dharma membimbing seseorang mencapai tujuan akhir dari pengewantahan Tuhan.

APAKAH ORANG-ORANG HINDU MEMPRAKTEKAN NON-KEKERASAN?

Ada ucapan yang sering dikutip yang berbunyi, “Ahimsa Paramo Dharma,” yang berarti “Non-kekerasan adalah kewajiban tertinggi.” Jauh sebelum Jesus Kristus, agama Hindu telah mengajarkan manusia untuk membalas kejahatan dengan kebaikan. Banyak sloka dalam Mahabharata dan Mahabhagawatam dapat dikutip untuk mendukungnya.

Ahimsa atau non-kekerasan, adalah untuk mereka yang berani dan kuat. Lari dari gertakan dan tindakan kejam dan menyebut hal ini non-kekerasan adalah bentuk paling buruk dari penipuan diri sendiri. Non-kekerasan sesungguhnya mengajarkan pengendalian kekuatan spiritual atas kekuatan kasar (badan). Semangat non-kekerasan ada pada setiap agama. Ahimsa yang sesungguhnya mengandung kelembutan, sopan santun, kebaikan, keramahan, kemanusiaan dan kasih. Mahatma Gandhi adalah rasul terbesar dari Ahimsa dalam zaman modern. Dia menggunakan ahimsa dalam perjuangannya membebaskan bangsa India dari penjajahan Inggris. Non-kekerasan mempunyai dua sisi seperti kusebutkan di atas. Pada sisi negatif, ia sama artinya dengan melarikan diri dari kebenaran dan kewajiban karena takut membuat sakit mahluk lain. Pada sisi positif, ia berarti kasih tanpa mementingkan diri yang sempurna (perfect selfless love) atas semua mahluk. Non-kekerasan tidak boleh digunakan untuk menutupi kepengecutan.

“Untouchables” atau “Kaum Harijan” (Bagian pertama)

SIAPAKAH KAUM YANG TAK BOLEH DISENTUH ITU?

Ketika bangsa Arya menetap di pinggir-pinggir sungai Indu, Gangga dan Brahmaputra, mereka dipaksa untuk membagi masyarakat mereka ke dalam empat kelompok yang berbeda berdasarkan atas pekerjan untuk memperlancar pembagian tugas atau fungsi dari masyarakat. Empat kelompok itu adalah :

  1. Brahmana – kelompok pendeta bekerja di pura, belajar dan menyebarkan agama
  2.  Kshatriya – kelompok prajurit untuk memerintah dan membela negara
  3.  Waisya – kelompok pengusaha untuk menjadikan semua komoditas didistribusikan secara benar
  4.  Shudra – untuk membantu kelompok lain dalam tugas mereka masing-masing.

Menurut Manu, Brahma menciptakan kaum Brahmana dari mukanya, Kshatriya dari lengannya, Waisya dari pahanya dan Shudra dari kakinya. Dalam bab 4 sloka 13 dari Bhagawad Gita, Krishna berkata, “Sesuai dengan Tri Guna (Sattwika, Rajasika dan Tamasika) dan pembagian kerja yang wajar, masyarakat Chatur Warna Kuciptakan.” Pembagian berdasarkan pekerjaan adalah ide yang bagus, tapi dengan berjalannya waktu dia menjadi merosot. Beberapa orang mengatakan bahwa pembagian kelima muncul dalam agama Hindu dengan berjalannya waktu, dan kaum ini dikenal sebagai di luar kasta (outcasts) atau kaum yang tak boleh disentuh (untouchables, chandala).Kelompok sejarawan yang lain mengatakan bahwa kaum Shudralah yang menjadi ‘untouchable.’ Mahatma Gandhi menyebut mereka dengan nama Harijan (anak-anak Tuhan) dan berjuang bagi emansipasi mereka. Sesungguhnya Gandhi suatu kali berkata, “Aku tidak ingin dilahirkan kembali, tapi bila aku lahir kembali, aku ingin lahir di antara kaum ‘untouchable’ ini sehingga aku dapat merasakan penderitaan, kesedihan, dan penghinaan yang ditujukan kepada mereka dengan demikian aku akan berusaha membebaskan diriku dan mereka dari kondisi yang menyedihkan itu.”

Tiada yang lebih rumit dalam agama Hindu melebihi sistem kasta ini. Ia sesungguhnya noda terbesar dalam agama Hindu. Sekali peristiwa, India memiliki tiga ribu (3.000) kasta dan dua puluh lima ribu (25.000) sub-kasta. Bahkan pernah ada seribu delapan ratus (1.800) kasta Brahmana di India. Alangkah memalukannya! Bahkan zaman dahulu antara kasta Brahmana yang berbeda itu tidak mau bercampur atau bergaul satu sama lain. Di atas semua itu, India kuno memiliki kaum ‘chandala.’ Mahatma Gandhi berkata, “Kechandalaan adalah kejahatan terhadap Tuhan dan manusia.” Abbedkar (Dr. Bimrao Ambedkar, tokoh kaum chandala, yang ikut merancang Konstitusi India, pen) menulis, berdasarkan pengalamannya, “Bagi kaum chandala, agama Hindu adalah kamar yang amat mengerikan (veritable chamber of horror).”

Pemerintah India telah menghapuskan praktek kechandalaan ini pada tahun 1949 dengan pernyataan, “Kechandalaan dihapuskan dan prakteknya dalam bentuk apapun dihapuskan,” dan dewasa ini kaum Harijan diperhatikan dengan baik dalam lingkungan pemerintahan. Kechandalaan jelas sekali sangat bertentangan dengan semua ide-ide dan prinsip-prinsip agama Hindu. Hal ini hanya membantu konversi dari agama Hindu ke agama-agama lain, sekalipun warna kulit manusia masih menjadi bahan perbedaan antara bangsa-bangsa dan masyarakat dunia. Jadi sistem kasta bukan khas bagi agama Hindu saja, tapi ia merupakan bagian dari ras manusia.

APAKAH ANDA MENGATAKAN BAHWA SISTEM KASTA DIKEMBANGKAN OLEH MANU DENGAN MAKSUD HANYA UNTUK PEMBAGIAN KERJA DAN TIDAK DIDASARKAN ATAS WARNA KULIT MANUSIA?

Untuk memulainya, seperti telah kukatakan sebelumnya, tidak ada orang Hindu yang bahagia dengan keberadaan sistem kasta dalam agama Hindu, sekalipun kamu dapat menyaksikan prasangka ras dalam setiap masyarakat di dunia ini. Namun demikian, tiada seorangpun tahu apa alasan sebenarnya dari Manu untuk memberikan tekanan yang begitu penting bagi sistem kasta ini. Apakah ia melakukan itu untuk pembagian tugas yang baik antara suku-suku nomad ini yang baru menetap di pinggir-pinggir sungai Indu (Sindu) dan Ganga? Atau apakah ia melakukan itu untuk mengendalikan dan merendahkan orang-orang Dravidia yang berkulit gelap di India Selatan? Semua kita hanya bias menebak-nebak dengan satu dan lain cara.

Bila kamu melihat pada sistem kasta sebagai sistem warna, hanya ada sedikit bahan untuk membuktikannya. Salah satu bahan utama dalam pemisahan kasta adalah pertimbangan kemurnian, dengan kaum Brahmin sebagai yang termurni dan kaum Shudra sebagai yang paling kurang murni. Sangat mengagetkan, kata kasta datang dari kata bahasa Portugis “casta” yang berarti “ras murni.” Dalam kitab-kitab suci Hindu sistem kasta disebut Chatur Warna, artinya empat warna. Tampaknya harus diasumsikan bahwa bangsa Arya, yang menetap di pinggir-pinggir sungai, menemukan warna kulit mereka lebih terang dari penduduk asli Dravidia, yang hitam kulitnya. Dengan demikian mereka memisahkan masyarakat atas dasar warna kulit manusia. Sebenarnya Manu menulis bahwa kaum Brahmin adalah putih, Kshatriya merah, Waisya coklat dan Shudra hitam.

Manu mungkin yang memulai hal ini, tapi kebanyakan para santo Hindu tidak menghentikan pembusukan masyarakat yang disebabkan oleh sistem kasta ini. Bahkan seorang dari para philsuf besar Hindu, Adi Sankara dari Kerala, tampak mendukung sistem kasta ini. Sebenarnya, legenda mengatakan bahwa seuatu ketika Sankara dengan marah meminta seorang chandala untuk pergi dari depannya dan bahwa chandala itu menjawab dengan tajam, “Tuan yang terhormat! Apa yang ingin anda usir? Badan atau jiwa?” Atas pertanyaan ini Sankara berkata, “Chandala yang berkata seperti itu pastilah tiada lain dari guru saya, Weda Wyasa,” dan ia bersimpuh di depannya. Legenda ini mungkin ditulis sebagai satu episoda dalam hidup Sankara, tapi kita harus menganggap ini sebagai pengungkapan bahwa bahkan Sankara secara tidak langsung mendukung sistem kasta. Andaikata ia menentang sistem kasta, maka seharusnya dia tidak meminta chandala itu menyingkir dari jalannya.

Para Mahareshi berasal dari semua kelompok masyarakat. Tentu saja ada banyak santo besar di India yang datang dari kasta yang dianggap lebih rendah. Weda Wyasa adalah putra dari Sathyawati, yang adalah wanita nelayan. Memang ayahnya adalah Maharesi Parasara. Walmiki adalah seorang perampok yang ditransformasi oleh Maharesi Narada, dan sebagai demikian kita tidak tahu ia berasal dari kasta apa. Orang suci dari India Selatan Thiruvalluar, yang menulis Thirukural hanyalah seorang penenun.

Namun demikian, setelah Manu merumuskan sistem kasta, ia tumbuh dengan cepat di seluruh India. Berbagai kasta memiliki teorinya sendiri mengenai asal-usulnya. Sistem kasta di India bahkan mempengeruhi orang-orang yang telah beralih agama kepada Kristen dan Islam, sebab merekapun mempraktekkan beberapa bentuk dari sistem kasta di antara mereka sendiri.

Kebenaran – sebuah kebajikan

APAKAH KEBENARAN ADALAH KEBAJIKAN UTAMA HINDU LAIN?

Agama Hindu menyatakan “Satyameva Jayate,” artinya “Hanya kebenaran yang menang.” Menjadi benar terhadap diri sendiri adalah salah satu dari banyak ajaran penting dari agama Hindu. Rasul terbesar dari kebenaran pada zaman modern ini tiada lain dari Mahatma Gandhi. Otobiografinya, “My Experiments with Truth,” (Percobaan-percobaan Saya dengan Kebenaran, diterjemahkan oleh Ibu Gedong Oka, diterbitkan oleh Sinar Harapan, NPP) persis mengenai hal itu. Pengikut kebenaran terbesar di zaman kuno adalah Raja Harischandra.

Konon dikatakan raja besar ini meninggalkan kerajaan, istri dan satu-satunya putranya demi menjunjung kebenaran (sebagaimana dijanjikannya) kepada Maharesi Wishwamitra. Menurut Narada Smerti, kebenaran adalah alat terbaik untuk menyucikan jiwa. Konon dikatakan bila pengucapan sebuah kebenaran ditimbang dengan korban seribu ekor kuda, akan diketahui bahwa kebenaran lebih berat timbangannya.

Kebenaran menurut Manu, adalah tapa (pengekangan diri, austerity) terbesar yang dapat dilakukan oleh seorang manusia dan seseorang yang mempraktekkan kebenaran memperoleh moksha dalam hidup ini. Adalah kekurangan kebenaran dan pengucapan kepalsuan yang membuat hidup kita menderita. Bilamana kita berbohong, kita sesungguhnya menghukum diri kita hanya untuk memperoleh tujuan-tujuan sementara untuk mana kita harus membayarnya di masa depan dengan masalah-masalah yang sangat besar. Adalah merupakan kebiasaan pada sekelompok banyak orang untuk mengatakan kebohongan, tapi dalam pikirannya mereka menderita karena hati nuraninya merasa bersalah.

TIDAKKAH ANDA PIKIR ADALAH SANGAT SULIT UNTUK MENYATAKAN KEBENARAN DAN HIDUP DI ZAMAN MODERN INI?

Well, tidak ada peraturan bahwa kamu harus selalu mengatakan kebenaran, sampai sejauh, atau apabila itu membuat hidup orang lain menderita. Misalnya, bila kamu melihat seorang ibu dengan seorang anak yang sangat buruk, kamu tidak harus mengatakan kepadanya, “alangkah buruknya bayimu!” Di sini kebenaran tidak perlu. Sebaliknya bila kamu katakan, “Saya berdoa semoga Tuhan menganugrahi kesehatan dan kebahagiaan kepada anak anda,” kamu menyatakan kebenaran yang lain dan kamu menghindari menyakiti seorang ibu secara tidak perlu . Kamu juga dapat menghindari untuk memberi komentar apapun.

Bila kamu salesman mobil, beritahu calon pembeli mengenai kekurangan atau keterbatasan dari mobil yang kamu jual bersama dengan kelebihan-kelebihan dari mobil itu. Dengan menyatakan kebenaran, kamu, sebagai salesman, akan mampu menjual mobil lebih banyak lagi selama mobilmu mempunyai segi-segi positif bagi mereka. Bila kamu menipu orang lain dalam profesimu, ingatlah selalu bahwa orang lain juga dapat menipu kamu seribu kali dalam profesi mereka. Misalnya, seorang mekanik mobil dapat mengembalikan mobilmu dengan remnya selesai dikerjakan hanya setengah saja dan itu bias menyebabkan kecelakaan yang fatal. Baby sitter yang menjaga anakmu bias tidak perhatian dan itu bisa menyebabkan bayimu meninggal. Saya mengakui bahwa kebenaran akan menyakiti untuk sementara, tapi dalam jangka panjang ia akan membalasmu dengan kebaikan. Misalnya bila kami tidak suka dengan tingkah laku dari seorang temanmu, kamu lebih baik memberi tahu dia dari pada mencoba untuk menutup-nutupi dengan kebohongan dan kemudian menderita karenanya. Jadi adalah lebih baik bagimu untuk menyatakan kebenaran dan menjalaninya bahkan bila itu akan melukaimu untuk sementara.

Ketentuan Makanan Hindu (Hindu Diet Code)

APAKAH ADA SATU PERATURAN MENGENAI DIET HINDU?

Menurut agama Hindu, makanan dibagi ke dalam tiga kategori ; Sattvic, Rajastic dan Tamasic.

  • Tamasic adalah makanan yang paling buruk dari semuanya. Makanan yang merupakan sisa dan telah terkontaminasi biasanya disebut makanan Tamasic. Makanan ini dianggap menghasilkan iri hati dan keserakahan di antara manusia.
  • Makanan yang terdiri dari daging binatang disebut makanan Rajastic. Makanan Rajastic juga terdiri dari bumbu, bawang merah, bawang putih, merica pedas, asam-asaman dan makanan lain yang serupa. Makanan Rajastic dianggap menghasilkan aktivitas dan perasaan atau emosi yang kuat di antara manusia.
  • Makanan Sattvic adalah makanan-makanan yang tidak merangsang (mengagitasi) perut anda sama sekali. Kebanyakan dari makanan Sattvic terdiri dari buah-buahan, kacang-kacangan dan sayur-sayuran. Makanan-makanan ini dianggap menghasilkan ketenangan dan kemuliaan di antara manusia.

Peraturan makanan Hindu (Hindu diet code), bukan peraturan moral (moral code) melarang dengan tegas konsumsi daging sapi dan babi. Sesuai dengan peraturan itu, memakan buah-buahan dan sayur-sayuran meningkatkan daya magnet seseorang. Dari apa yang kita ketahui dewasa ini mengenai diet, kita yakin bahwa para orang suci Hindu di zaman dahulu telah memiliki ide yang bagus sekali mengenai makanan pada umumnya dan akibatnya atas tubuh serta pola pikir manusia. Ekspresi dari jiwa tergantung dari badan, dan badan tergantung dari makanan. Jadi untuk pengembangan spiritual yang baik, makanan yang baik adalah suatu keharusan bagi setiap orang.

Tirtha Yatra (Hindu Pilgrimages)

APA ARTI TIRTHA YATRA?

Tirtha secara bunyi hurufnya berarti “melintasi tempat” (crossing place) atau arung (ford) dan Yatra artinya “bepergian” (travel) atau ziarah. Arung di suatu sungai adalah tempat yang paling aman untuk menyeberangi sebuah sungai. Tapi mengunjungi tempat-tempat suci dianggap sebagai suatu Tirtha Yatra. Kebanyakan dari tempat-tempat Tirtha Yatra yang penting di India terletak di tepi-tepi sungai besar seperti Ganga, Narmada, Godwari, Kaveri dan Brahmaputra. Tirtha Yatra tidak sekedar tindakan phisik mengunjungi tempat-tempat suci tetapi juga mengandung arti disiplin moral dan mental. Orang-orang Hindu pergi ke tempat-tempat ziarah untuk penyucian dan pengampunan dari dosa sesuai dengan tradisi mythologi. Beberapa dari tempat-tempat penting di India adalah Badrinath (Uttar Pradesh) di utara, Puri di timur, Rameshwaran di selatan dan Dwaraka di barat. Setiap perjalanan ke Himalaya dianggap sebagai suatu ziarah karena Himalaya dikenal sebagai Dewalaya atau “tempat para dewa.” Di Himalaya tempat yang paling penting adalah ziarah ke Gangotri, tempat dimana sungai Gangga berawal.

Purana-purana adalah sumber yang tak dapat diabaikan mengenai informasi tentang tempat-tempat suci di India kuno. Pura Guruvayur dan Sabarimala di Kerala, Pura Sri Venkateswara di Tirupati, Kasi, Hardwar, Pandharpur dari Maharashtra dan tempat-tempat lain dapat dianggap sebagai tempat-tempat penting untuk Tirtha Yatra. Tirtha Yatra yang terpenting terjadi pada waktu perayaan Kumbha Mela, dan juga perayaan Maha Kumbha Mela yang terjadi tiap dua belas tahun sekali.

Kumbha Mela

APAKAH PERAYAAN KUMBHA MELA?

Ia adalah perayaan tirtha yatra Hindu terbesar yang dilakukan tiga tahun sekali. Menurut ‘Guiness Book of Records’ perayaan ini adalah pertemuan keagamaan yang terbesar di muka bumi ini. Ini adalah perayaan keagamaan yang dilaksanakan segara bergiliran antara empat tempat. Allahabad (di tepi sungai Ganga, Yamuna dan mythikal Saraswati), Hardwar (Ganga), Ujjain (Sipra) dan Nasik (Godawari). Perayaan yang dilaksanakan di Allhabad setiap

dua belas tahun sekali dikenal sebagai Maha Kumbha Mela. Ini biasanya dirayakan ketika konfigurasi planet-planet yang langka terjadi : Jupiter dalam Taurus, matahari dan bulan dalam Capricorn, dan satu seri pehitungan yang rumit dari astrologi Hindu. Mandi di sungai-sungai itu selama Kumbha Mela dianggap sebagai tindakan spiritual yang besar. Adi Sankaracharya sendiri memberikan kemuliaan yang besar terhadap perayaan ini dan mendesak para orang suci mengadakan pertemuan selama perayaan ini untuk melakukan pertukaran pikiran yang bebas. Mela ini menarik jutaan orang dari Dirgambara (orang suci Jain yang telanjang) sampai ke Sanyasin yang tinggal sepanjang tahun di gua-gua tinggi di Himalaya. Dalam tahun 1954 pada waktu Kumbha Mela di Allahabad, orang banyak diperkirakan berjuta-juta dan karena berdesak-desakan demikian rupa lebih dari lima ratus orang meninggal terinjak-injak.

Konon, sekali peristiwa, para Dewa dan Asura bertempur untuk sebuah Kumbha (pot, periuk) yang berisi Amrita (yang membuat usia panjang) yang keluar selama pemutaran lautan susu. Wishnu menyelamatkan amrita ini dari para Asura dan memberikannya kepada para Dewa. Selama mereka tinggal di dunia, para Dewa meletakkan periuk itu di empat tempat, dengan demikian menyucikan tempat-tempat untuk Kumbha Mela. Peristiwa mythologis ini menyebabkan adanya perayaan yang terkenal itu.

Benaras – Kota Suci Hindu

APAKAH KOTA YANG PALING SUCI BAGI ORANG HINDU?

Sejumlah besar kota-kota di India adalah kota-kota suci, dan diantaranya Benaras adalah yang paling suci dan paling populer. Kota ini ada di tepi sungai Ganga antara Calcutta dengan Delhi. Nama kuno dari kota ini adalah Kasi, kota terang dari cahaya. Dalam bahasa Sansekerta dan dalam bahasa Hindi kota ini bernama Varanasi. Satu jalan sepanjang tiga puluh enam mil melingkari bagian paling suci dari kota ini. Benaras memiliki ribuan pura, dari padanya Pura Kasi Wishawanatha adalah yang paling terkenal. Bagian yang paling penting dari tirtha yatra ke Benaras adalah mandi di air suci Ganga. Di sepanjang sungai ini ada paling sedikit tujuh puluh ghat tempat mandi (tempat mendarat atau tepi). Dikatakan mandi di sungai Ganga di Benaras membersihkan semua dosa.

Benaras adalah kota tertua yang masih hidup di dunia. Ia menarik manusia dari lima benua. Konon para santo dan nabi seperti Buddha, Mahawira dan Sankara datang ke Benaras untuk memuja dan mengajar. Benaras dikatakan kota dari Dewa Siwa, karena itu ia sangat suci bagi pengikut Siwa.

Setelah mengunjungi Benaras, Mark Twain berkata, “Benaras lebih tua dari sejarah, lebih tua dari tradisi, lebih tua dari legenda, dan kelihatan dua kali lebih tua dari semua itu digabungkan menjadi satu.”

Ritual Hindu

APA SAJA RITUAL DALAM AGAMA HINDU?

Ritual adalah seni penuh warna untuk memuja Tuhan. Dua ritual yang paling populer adalah Puja dan Yajna. Puja adalah yang paling umum dari ritual. Weda-Weda tidak bicara tentang Puja, yang berisi bentuk-bentuk terinci dari pemujaan di rumah atau di pura. Satu bagian utama dari ritual ini adalah persembahan yang dibuat dari banyak bahan yang disebut Upacara (persembahan dengan pernuh hormat, offering with honor) kepada Tuhan. Upacara terdiri dari makanan, air wangi, daun-daun Tulsi, bubuk cendana, dupa, bunga, abu dan baju. Orang yang melakukan atau memimpin Puja di pura di sebut Pujari. Arati adalah bagian lain yang penting dari upacara Puja. Ia adalah ritual biasa mengayunkan (waving) cahaya di depan patung Tuhan. Setelah Puja, kepala rumah tangga atau Pujari membagikan persembahan kepada Tuhan, disebut Prasad, kepada para bhakta yang lain. Prasad terdiri dari makanan dan tepung daun-daunan.

Yajna dilakukan pada altar yang dibangun sementra (‘asagan,’ ‘sanggah cucuk,’pen) sesuai dengan hukum-hukum Tantra. Altar-altar ini dibuat khusus untuk Yajna, dan segera setelah Yajna selesai altar ini dihancurkan. Yajna tidak melibatkan citra atau patung Tuhan. Yantra yang khusus (bentuk geometrikal yang komplek) di gambar di atas altar dan Yantra ini mempersonifikasikan Dewa yang dipuja. Kebanyakan ritual Yajna melibatkan japa simultan oleh banyak pendeta.

Ada dua jenis Yajna, satu dilakukan secara khusus untuk kesejahteraan umum dan yang satu lagi untuk kebaikan keluarga. Yajna untuk umum biasanya disponsori oleh raja, tapi sekarang disponsori oleh beberapa manajemen pura dan organisasi sosial keagamaan.

Yajna biasanya dilakukan untuk kesejahteraan material manusia. Tentu saja dengan melaksanakan Yajna, seorang manusia secara tidak langsung akan dibawa makin dekat kepada Tuhan, karena ia secara sepenuhnya memahami kekuasaan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu dari ritual yang paling kuno adalah Rajasuya Yajna atau upacara korban kuda. Ia adalah ritual Weda yang biasanya dilakukan pada waktu penobatan raja-raja. Istilah Rajasuya berarti “melahirkan-raja” (king-engendering). Dikatakan dalam Mahabharata bahwa Pandawa melaksanakan ritual Rajasuya dibawah bimbingan Krishna. Seluruh upacara ini dilaksanakan

selama dua tahun. Sekalipun ritual ini dikaitkan dengan penobatan raja-raja, ia juga menekankan kelanjutan dari ritme kosmis tentang kelahiran dan kematian. Agnihotra adalah ritual rumah tangga yang masih dilakukan sampai sekarang.

Selain dari upacara-upacara yang dijelaskan di atas, ada sejumlah ritual Weda yang dikenal dengan nama Samskara, artinya “perbaikan” atau “pemurnian” (refinements).Sebenarnya kata terdekat dalam bahasa Inggris dengan Samskara adalah “sascrament.” Samksara terdiri dari semua upacara sejak waktu kelahiran sampai waktu kematian. Ada paling sedikit enam belas Samskara, yaitu :

  1. Garbhadhana – upacara untuk menjamin pembentukan janin (conception)
  2.  Pumsavana – upacara untuk melindungi janin dan untuk mendapat anak laki-laki
  3.  Simantonayanan – upacara dilakukan pada bulan terakhir kehamilan untuk pembentukan mental yang benar pada bayi
  4.  Jatakarma – upacara kelahiran termasuk persiapan peta astrologi bagi si anak
  5.  Namakaran – upacara pemberian nama. Upacara ini dilakukan di rumah ketika bayi berusia sebelas atau empat belas hari
  6.  Nishkramana – upacara membawa anak keluar rumah untuk pertama kali
  7.  Annaprasana – upacara pertama kali memberi makan nasi pada bayi, biasa dilakukan di pura
  8.  Chudakarana – upacara potong rambut pertama kali
  9.  Karnavedha – upacara pembolongan telinga untuk diberi anting-anting emas.
  10.  Vidyarambha – upacara permulaan anak belajar huruf
  11.  Upanayana – upacara benang suci dengan mana seorang anak menjadi Dwija atau “lahir duakali”. Upacara ini dilakukan ketika anak berumur sembilan dan lima belas tahun
  12.  Vedarambha – upacara permulaan belajar Weda
  13. Keshanta – upacara pencukuran rambut pertama
  14. Samavartana – upacara pulang setelah selesai belajar Weda
  15. Wiweha – upacara perkawinan
  16. Anthyesthi – upacara kematian.

Upacara-upacara yang dilakukan pada waktu kematian secara bersama-sama disebut sebagai Shraddha. Upacara-upacara ini berlangsung selama dua belas hari. Segera setelah kematian mayat dikremasi dan api pembakaran dinyalakan oleh putra pertama dari si mati. Upacara berikutnya dilakukan untuk mempermudah perjalan jiwa menuju dunia leluhur. Upacara ini terdiri dari mempersembahkan ‘bola-bola nasi’ kecil (rice balls, di Bali : ‘telompokan’atau ‘penek’) kepada burung-burung, seperti gagak. Burung-burung gagak itu dianggap sebagai jiwa-jiwa yang berangkat. Upacara Shraddha ini sangat kuno, berasal dari awal zaman Weda. Shraddha dilakukan setiap tahun untuk jiwa-jiwa yang berangkat.

Tirtha yatra, atau mengunjungi tempat-tempat suci, adalah ritual lain yang sangat penting bagi kehidupan seorang Hindu. Agama Hindu menjelaskan upacara-upacara yang sesuai dengan berbagai keadaan dan wilayah.

Hari Raya Hindu

APAKAH HARI RAYA HINDU?

Hari Raya Hindu (Hindu holy festivals) disebut sebagai Utsava dalam bahasa Sansekerta. Selama hari raya itu, masyarakat mengenyampingkan masalah-masalah keduniawian dan bergembira bersama, menghormti Tuhan dalam berbagai bentuknya dan perobahan musim. Ada banyak hari raya Hindu dan masing-masing berbeda dari satu tempat dengan tempat lain. Holi adalah hari raya Hindu di India Utara, tapi tidak dirayakan di India selatan.

Deepavali atau Diwali, festival cahaya, adalah hari raya Hindu yang sangat penting dirayakan selama bulan Kartika (Oktober/November). Ia adalah salah satu hari raya yang dirayakan di seluruh dunia, menjadi hari raya nasional di India, Fiji dan Trininad. Deepa artinya “cahaya’ (light) dan Avali artinya “jajaran/barisan” (row), jadi Deepavali artinya “jajaran cahaya.”

Ada beberapa kisah mythologis di belakang hari raya ini. Deepavali adalah perayaan kemenangan dan kembalinya Rama dan isterinya Sita ke ke kerajaan Ayodhya setelah menghancurkan Rahwana, raja raksasa dari Sri Langka. Selama perayaan ini, orang-orang menyalakan barisan lampu-lampu kecil atau lampu minyak di balkon dan jendela untuk menyambut kedatangan Rama dan Sita pulang ke rumah.

Kisah mythologi yang lain di balik Deepavali adalah perayaan kemenangan Krishna atas raksasa dari neraka, Narakasura. Kisah mengenai penghancuran raksasa ini ditulis dalam Sabha Parva dari Mahabharata. Menurut legenda, Narakasura, putra bumi, adalah raja Pragjyotishapura. Dengan anugrah yang ia terima dari Brahma dan Siwa, ia menaklukan tidak saja dunia ini tetapi juga surga. Akhirnya para dewa dan orang suci meminta bantuan Krishna untuk membunuh Narakasura. Dalam pertempuran yang hebat, Krishna, dibantu oleh permaisurinya, Sathyabama, sebagai sais kereta, membunuh Narakasura. Setelah kematian Narakasura, ibunya memohon kepada Krishna agar kejatuhan anaknya dihidupkan dalam kenangan semua orang di dunia sebagai satu hari perayaan dari kebaikan. Jadi Deepavali adalah perayaan atas pembebasan bumi dan surga dari genggaman Narakasura.

Perayaan Holi juga memiliki latar gelakang mythologi. Konon suatu kali dunia ini dikuasi oleh seorang raja-raksasa, Hiranyakashipu. Ia memproklamasikan dirinya sendiri sebagai Tuhan dan memaksa setiap orang untuk menyembahnya, tapi putranya, Prahlada, tetap bersikeras menyembah Wishnu. Atas perintah Hiranyakasipu, seorang raksasa wanita bernama Holika, yang percaya dirinya imun terhadap api, membawa Prahlada ke dalam api. Konon karena anugrah Wishnu, Prahlada keluar dengan selamat dari api tanpa terbakar sedikitpun, sementara Holika hangus terbakar jadi abu. Hari raya Holi merayakan peristiwa ini.

Hari raya Holi dirayakan selama bulan Februari/Maret, adalah salah satu hari raya terpenting di India Utara. Satu api unggun juga dinyalakan malam sebelum hari raya Holi (mirip ‘ngrupuk di Bali, NPP). Sehari setelah Holi, orang-orang saling melempar tepung daun-daunan dan air yang berwarna satu sama lain. Sama seperti hari raya Deepavali, selama perayaan Holi orang-orang saling memberi hadiah.

Navaratri dikenal sebagai perayaan malam (Festival of Nights), dilaksanakan pada hari kesembilan bulan Kanya (September/Oktober). Persembahyangan dilakukan selama 9 hari. Tigahari pertama memuja Durga (Dewi Keberanian), tiga hari kedua untuk memuja Lakshmi (Dewi Kemakmuran), tiga hari terakhir untuk memuja Saraswathi (Dewi Ilmu Pengetahuan). Di India Utara selama malam-malam ini dipertunjukkan tarian Garbha dan di India Selatan, rumah-rumah dihias dan boneka-boneka yang diberi nama Bomma Kolam dipertunjukkan. Hari kesepuluh disebut sebagai Vijaya Dasami, Dasara atau Dussera. (Dari lamanya perayaan Navaratri sama dengan Galungan di Indonesia , NPP).

Masih ada beberapa hari raya lain di India. Sivaratri (Februari/Maret) adalah hari raya untuk memuja Siva. Hari raya ini dirayakan di seluruh India. Krishna Janmashtami (Agustus/September) adalah perayaan hari lahir Krishna. Vasant Panchami (Januari/Februari) adalah hari raya untuk memuja Dewi Saraswathi (sama dengan hari Saraswati di Indonesia, NPP). Guru Purnima (Juni/Juli) adalah perayaan untuk menghormati para Guru atau para ahli di bidang kerohanian (masters).

Brahman Yang Rahasia

APAPAH BRAHMAN YANG RAHASIA (MISTERIUS) INI?

Tiada yang lebih rahasia dalam agama Hindu dari Brahman. Brahman artinya “yang satu tiada duanya” (the one without a second). Dari semua nama yang diberikan kepada Tuhan dalam kitab suci, Brahman adalah yang paling rahasia. Dalam Upanishad-Upanishad, Brahman adalah Yang Mutlak, yang membuat segala sesuatu diketahui. Menurut philsafat Advaita, hanya Brahman yang nyata, dan semua yang lain adalah tidak nyata dan illusi atau Maya. Mencoba untuk memahami Brahman dengan pikiran manusia adalah seperti melihat kepada mata dengan mana kita melihat segala sesuatu. Untuk mengetahui Brahman, seseorang harus mengalami kesatuan dirinya dengan Brahman melalui salah satu cara pengejawantahan Tuhan. Dalam Upanishad, ‘Neti-Neti’ (bukan ini-bukan ini) adalah cara dengan mana Brahman dijelaskan.

AYAH, APAKAH BRAHMAN DAN ATMAN ITU SATU DAN SAMA?

Mereka sebenarnya adalah satu dan sama. Jiwa individu dalam badan dikenal sebagai Sang Diri (Self) atau Atman. Ia juga dikenal sebagai Jiwatman. Jiwa yang terikat oleh Karma disebut Atman. Ketika jiwa itu terbebas dari ikatan karma-karmanya, ketika itu ia memperoleh keselamatan dan menjadi satu dengan Brahman atau Paramatman. Untuk memberikan kamu contoh yang mendekati, aku akan mengatakan bahwa bila listrik yang ada dalam komputermu dapat disebut Atman, maka seluruh energi listrik dalam jaringan PLN adalah Brahman. Seperti telah kukatakan kepadamu sebelumnya, dengan cara apapun kamu tidak akan mampu memahami kata-kata ini dengan pikiranmu sebab kita bicara mengenai hal-hal yang jauh berada di luar pikiran.

SSETELAH MENDENGAR PENJELASANMU TENTANG BRAHMAN DAN ATMAN, AKU KIRA TUHAN ADALAH ENERGY. BAGAIMANA MENURUT PENDAPATMU?

Well, adalah salah untuk membuat definisi seperti itu karena Tuhan berada di luar definisi atau batasan-batasan dan konsep tentang pemahaman dan merealisasikan Dia adalah berada di atas pikiran. Sekalipun demikian, aku akan mengatakan bahwa hampir setiap waktu Tuhan bertindak seolah-olah Dia adalah energy, mengikuti hukum tak tertulis dari alam semesta. Hukum-hukum tak tak tertulis ini bertindak dalam cara yang sama sepanjang waktu. Seorang bayi yang baru lahir yang menyentuh konduktor listrik yang hidup akan mendapat sengatan listrik; demikian juga yang akan terjadi terhadap seorang ilmuwan yang mungkin telah mengadakan penelitian khusus tentang listrik saja selama dua puluh tahun.

Kosep energi tentang Tuhan membuat dia sejalan dengan ilmu pengetahuan modern. Hukum-hukum Newton, Maxwell dan Einstein tiba-tiba menjadi sama religiusnya seperti Hukum Manu atau Upanishad-Upanishad. Penelitian terakhir tentang gelombang otak Alpha, Beta dan Gamma juga memberikan satu korelasi antara kebahagiaan dan gelombang otak. Dalam salah satu buku yang ditulis mengenai Raja Yoga, dikatakan bahwa semua kebahagiaan dan pengejawantahan terletak di kepala, oleh karena itu cobalah untuk menyadap sumber kebahagiaan yang demikian luas di kepala dengan meditasi.

Raja Yoga, Mantara-Mantara, Tantra-Tantra, keberadaan kekuatan Kundalini yang tertidur, Chakra-Chakra dan aura-aura menunjuk kepada arah Tuhan sebagai energy. Konsep energy juga tampak dalam Bible. Namun demikian, semua mereka yang mengetahui Tuhan tidak pernah mendefinisikan Tuhan, jadi kita tidak dapat menyimpulkan bahwa Tuhan adalah energy atau sesuatu yang lain, tapi konsep energy tentang Tuhan adalah sebuah topik yang bagus untuk diskusi.

“Aham Brahmasmin” dan Mantra-Mantra lain

AKU TAHU BAHWA ADA BEBERAPA UCAPAN YANG DIPERGUNAKAN OLEH ORANG-ORANG SUCI HINDU DALAM DHARMAWACANA MEREKA, DAPATKAH ANDA MENJELASKAN SEMUA ITU KEPADAKU? MISALNYA, APA ARTI DARI “AHAM BRAHMASMIN”?

Arti sebenarnya dari “Aham Brahmasmin” adalah “Aku adalah Tuhan, sang Jiwa). Tentu saja, setiap orang dapat mengatakan baris ini dengan mudah, tapi hanya Guru yang telah merealisasikan Tuhan yang mengalaminya. Semua dari kita, sekalipun kita adalah energi atau jiwa murni, masih menemukan sulit untuk melawan ilusi (Maya) yang berkata “Aku adalah badan.”

Namun demikian, ide yang dinyatakan dalam kata-kata “aham Brahmasmin” dapat dijelaskan dengan cara lain. Lihat pada satu tubuh yang mati dan satu yang masih hidup. Keduanya identik, tapi tubuh yang hidup memiliki sesuatu yang tidak miliki oleh tubuh yang mati. Apa yang tiada dalam tubuh yang mati adalah jiwa, Brahman, tapi pada saat yang sama, ketika Brahman hadir dalam badan, ia menimbulkan ilusi yang terbesar “Aku adalah badan” itu.

Aku akan beri kamu contoh lain. Lihat pada komputermu. Ia melakukan berbagai hal yang mengagumkan bagimu, tapi bila kamu tanpa sengaja men’switch off’ “circuit-breaker” yang utama, maka komputermu yang mahal menjadi mesin mati. Jadi, disini aliran listrik adalah Brahman. Kita tahu bahwa itu (Brahman) bertindak dengan cara berbeda pada orang-orang yang berbeda atau mahluk-mahluk sesuai dengan karma-karma mereka. Sama halnya, aliran listrik yang sama adalah pemikir dalam sebuah komputer, pemanas dalam strikaan dan sebuah pendingin dalam AC.

APAKAH ARTI ‘TAT TWAM ASI”?

“Itu adalah kamu” adalah arti dari ucapan di atas. Ucapan ini adalah pengulangan tidak langsung dari “Aham Brahmasmin,” yang artinya “Aku adalah Brahman.” Seperti yang telah kamu lihat, kedua pernyataan itu adalah satu dan sama. Brahman sendiri yang ada, segala sesuatu yang lain adalah Maya. “Tat Twam Asi” sebenarnya dipetik dari Chandogya Upanishad, “Inti sari yang halus itu adalah sang diri dari seluruh dunia ini. Itulah yang nyata, itulah sang diri. Itulah kamu.”

APA YANG KAMU MAKSUD DENGAN “SAT-CHIT-ANANDA”?

“Keberadaan yang mutlak – pengetahuan yang mutlak – kebahagiaan yang mutlak.” Orang-orang suci biasanya menggunakan ucapan ini untuk membangkitkan perasaan spiritual dalam diri para bhakta dan memutuskannya dari ikatan materi.

APAKAH ARTI DARI “SATYAM-SHIVAM-SUNDARAM”?

“Kebenaran-kebahagiaan-keindahan.” Ucapan ini menyatakan lagi hakikat sebenarnya dari seseorang yang sudah menyatu dengan Tuhan. Seseorang yang telah mengejawantahkan Tuhan akan mengalami “kebenaran-kebahagiaan-keindahan” sepanjang waktu.

APAKAH “HAM AHAM SAH” ADALAH SEBUAH MANTRA?

Ya, itu adalah sebuah Mantra. Artinya “Aku dia, dia adalah aku.” Mantra ini berasal dari kata Hamsa. Hamsa artinya angsa. Ia adalah simbol Brahman. Mereka yang telah mencapai kesadaran kosmis sering disebut Paramahamsa, atau “Angsa yang agung.” Mantra ini mirip dengan kata Ibrani ‘Jehovah’ (Tuhan dalam Perjanjian Lama) yang berarti “Aku ada” (I am).

“Aku Tuhan” (I am God).

AYAH, BANYAK ‘NEW AGERS’ SELALU BERKATA “I AM GOD.” APA YANG MEREKA MAKSUD? DAPATKAH ANDA MENJELASKAN?

Ucapan itu sesungguhnya pengulangan dari dua ucapan Hindu dengan menyatakan “Aku adalah Tuhan.” Satu adalah “Aham Brahmasmin,” yang artinya “Aku adalah Brahman,” Yang Taktebatas. Yang satu lagi adalah “Tat Twam Asi,” Itu adalah engkau,” artinya bahwa jiwa individu itu sebenarnya adalah Jiwa Tertinggi (Supreme Soul).

Bila orang tidak mengerti seluruh cerita, “Aku Tuhan” (I am God) akan kedengaran bodoh dan egoistik. Orang-orang Hindu percaya bahwa dalam setiap badan ada satu jiwa yang tidak hancur yang bernama Atman. Jiwa ini diperdayai (ditipu) oleh tindakan-tindakan atau karma-karmanya di masa lalu dan masa kini. Karena itu, ia lupa bahwa ia adalah satu bagian tak terpisahkan dari jiwa universal, yang disebut Paramatman atau Brahman atau Tuhan. Menurut agama Hindu, dengan berbagai jalan seseorang hendaknya menyadari bahwa jiwa yang ada dalam dirinya adalah bagian tak terpisahkan dari Jiwa Universal. Oleh karena itu semua orang Hindu mencoba untuk menyadari kenyataan itu. Penyadaran seperti itu dalam agama Hindu disebut keselamatan (Salvation).

Perbandingan terdekat mengenai Atman dan Paramatman adalah “listrik dalam sebuah komputer dan listrik dalam seluruh jaringan PLN.” Listrik dalam komputer adalah listrik yang sama yang ada dalam seluruh jaringan perusahaan listrik di seluruh dunia. Karena itu bila kamu mengetahui semua tentang listrik dalam komputer, maka kamu akan mengetahuai segala sesuatu tentang listrik di seluruh dunia. Tiada seorangpun mengatakan bahwa listrik dalam sebuah lampu dapat melakukan keajaiban, kecuali memberikan kemampuan kepada kawat fijar untuk memberikan cahaya dan panas. Demikian juga dengan jiwa individu, terperangkap dalam badan, dikondisikan oleh Hukum Karma. Itulah sebabnya kenapa tidak Krishna, tidak Buddha dan tidak pula Kristus dapat merobah dunia dengan satu perbuatan saja. Semua guru-guru agung telah menunjukkan kepada kita jalan tapi mereka tidak mampu menjelaskan tujuan yang terakhir. Tujuan terakhir ini ada di luar pikiran manusia, diluar kosa kata dari bahasa apapun di atas bumi ini. Manusia hanya dapat menjelaskan sesuatu yang dapat ia perbandingkan. Sebagai demikian, tujuan terakhir tetap merupakan sebuah misteri.

Namun demikian, dengan hanya mengucapkan “Aku Tuhan,” tiada seorangpun dapat mengejawantahkan Tuhan. Semua kita harus bekerja untuk mengejawantahkan hal itu dengan tindakan-tindakan baik, pikiran-pikiran baik dan meditasi. Agama Hindu tidak menawarkan alternatif yang mudah. Jadi bila kamu mendengar seseorang mengatakan bahwa ada jalan yang mudah, dia bicara bohong.

Jehovah berkata kepada Moses yang menanyakan siapa namanya, “Aku adalah Aku” (I am who I am) (Exodus 3:14). Jesus Kristus mengucapkan hal sama dengan mengatakan bahwa “Sebelum Abraham ada, Aku ada.” Mereka yang mendengar Kristus meledak dengan marah, mengutuk dia karena menyamakan dirinya dengan Tuhan, dan kemarahan musuh-musuhnya semakin bertambah ketika Jesus mengatakan “Aku dan Bapa adalah satu” (John 10:30). Jesus Kristus membuat lebih dari tujuh pernyataan yang dimulai dengan “I am” (Aku ada) dalam Perjanjian Baru. Krishna mengucapkan kalimat yang sama beberapa kali dalam Bhagawad Gita. Karena dibuat binggung oleh kalimat ini (seperti Moses) murid Krishna, Arjuna bertanya, “siapakah engkau?” Lalu Krishna memperlihatkan kepadanya ‘Wiswarupa’nya yang sebenarnya merupakan jumlah keseluruhan dari alam semesta, dengan masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Sama juga, para Sufi mistik Islam mengucapkan kata-kata “Aku Tuhan” (Anna al Haq, diucapkan antara lain oleh Al Hallaj di Irak dan Sjech Siti Jenar di Jawa, NPP) dan itu menyebabkan mereka dihukum mati (Kepala Al Hallaj, setelah dipotong dari badannya, ditusuk dengan tombak dan dipancang di pinggir kota Bagdad, sebagai contoh bagi orang yang berpikir ‘menyimpang’, menyekutukan Tuhan, NPP) . Jadi ucapan “Aku Tuhan” telah diulang-ulang sepanjang sejarah oleh banyak orang suci yang betul-betul telah mengalami kesatuan dengan Tuhan.

Dalam Zohar (Buku Kemegahan, ‘Book of Splendor’) ajaran mistik dalam agama Yahudi, kita membaca bahwa kalau seorang berkontemplasi pada sesuatu hal dalam meditasi mistik, segala sesuatu akan diungkapkan sebagai satu kesatuan. Beberapa kali Jesus mengatakan , “Tuhan adalah Jiwa.” Ia juga mengatakan, “Bapa yang ada dalam diriku melakukan karya-karyaNya.” Jadi, semua yang menunjukkan bahwa Tuhan ada dalam kamu dan bahwa segala sesuatu adalah Tuhan.

“Aku Tuhan” diulang beberapa kali dalam Upanishad-Upanishad dalam bentuk yang berbeda-beda. “Tat Twam Asi,” atau “Itu adalah engkau,” adalah salah satu dari ucapan-ucapan penting itu. Orang-orang Hindu percaya mengenai kesatuan fundamental dari seluruh pengalaman dan keberadaan. Keselamatan adalah pengetahuan atau penyadaran mengenai identitas seseorang dengan Tuhan.

Seorang Hindu, dengan mengucapkan “Aku Tuhan” hanyalah mengulangi kesatuan dirinya dengan Tuhan atau hakikatnya yang sebenarnya. Adalah bodoh untuk berpikir bahwa hanya dengan mengucapkan kata-kaa ini tanpa meditasi yang benar seseorang dapat mencapai Kesadaran Kosmis. Lagi, dengan mengucapkan “Aku Tuhan” bila seseorang mengembangkan ego yang palsu, orang itu sedang bekerja secara total melawan tujuannya untuk menjadi satu dengan Tuhan. Mengunakan “Aku Tuhan” untuk memuaskan dorongan emosi seseorang hanya akan menciptakan berbagai masalah.

Mistikus Barat Meister Eckhart, yang sangat terpesona dengan agama Hindu, menjelaskan hukum tentang identifikasi diri sebagai Tuhan, mengatakan bahwa “mata dengan mana seseorang melihat Tuhan adalah mata yang sama dengan mana Tuhan melihat orang itu.”

BILA APA YANG ANDA KATAKAN BENAR, KENAPA BANYAK TEOLOG KRISTEN MENYERANG DENGAN KERAS UCAPAN “I AM GOD”?

Sebabnya karena kebanyakan teolog Kristen tidak mengetahui perbedaan antara konsep Hindu dan Kristen tentang Tuhan. Dalam agama Hindu, Brahman atau Tuhan tidak mempunyai sifat-sifat atau nama (qualities or attributes). Ia abadi dan ia tidak memiliki kesadaran atau perasaan “Aku” Agama Buddha bahkan tidak mengenal kata Brahman, menyatakan bahwa definisi semacam itu ada di luar pikiran manusia. Agama Buddha bahkan tidak memiliki konsep tentang Tuhan. Tapi dalam lingkungan Yahudi-Kristen, sekalipun Tuhan dijelaskan sebagai jiwa, mayoritas mereka memuja Tuhan sebagai Tuhan berpribadi dalam bentuk seorang Bapa suci yang cinta kasih.

Dalam Genesis (Kitab Kejadian, Perjanjian Lama, NPP) Tuhan berkata, “Marilah kita buat manusia dalam citra kita.” Jadi Tuhan Yahudi-Kristen mempunyia citra (patung, bentuk) sebagai figur ayah dengan sifat-sifat manusia. Agama Kirsten penuh dengan kata-kata seperti “Tuhan mencintai,” “Tuhan pengampun,” dst.. Sekalipun dalam buku-buku bhakti agama Hindu kamu akan menemukan kalimat-kalimat yang sama, seorang Yogi akan mengatakan bahwa penjelasan yang demikian personal (berpribadi) mengenai Yang Takterbatas adalah sifat-sifat yang dikagumi oleh orang dalam orang lain. Agama Hindu menyatakan tidak ada yang salah dalam mencari Tuhan yang berpribadi (Saguna Brahman, NPP) tapi sementara para pemuja berkembang dalam bhaktinya, dia akan mulai melihat Tuhan sebagai yang tidak berbentuk, tidak bernama (Nirguna). Bahkan dalam tulisan-tulisan Ramakrishna Paramahamsa, yang memuja Kali, dan Chaitanya Mahaprabhu, yang memuja Vital, kita akan membaca Tuhan yang tanpa nama dan tanpa bentuk.

Sekali lagi, aku ingin menunjukkan kepadamu bahwa menyatakan diri sebagai Tuhan dalam konteks Yahudi-Kristen adalah omong kosong besar. Seorang Hindu tidak pernah menyatakan “Aham Brahmasmin” dengan keyakinan bahwa ego palsunya berkuasa atas seluruh alam semesta. Satu-satunya yang ia katakana adalah bahwa ia bukan ego palsu dalam sebuah badan, tapi jiwa abadi, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Tuhan. Sekali lagi, satu-satunya perbandingan yang dapat aku berikan adalah antara aliran listrik dalam bola lampu dengan enegi listrik dalam seluruh jaringan PLN. Bola lampu menyala dan menjadi panas karena kehadiran listrik di dalamnya, dan alairan listrik itu adalah replika yang tepat dari listrik dimanapun dalam jaringan PLN. Pada saat yang sama, listrik dalam lampu tidak berdiri sendiri (tidak bebas dari listrik dalam jaringan PLN). Seperti kekuatan yang ada dalam diri kita masing-masing adalah bagian tak terpisahkan dari Tuhan, listrik dalam bola lampu sebenarnya adalah bagian tak terpisahkan dari jaringan listrik PLN.

Kekurangan pengetahuan tentang konsep Tuhan yang benar dalam agama Hindu membuat banyak teolog Kristen menyerang pernyataan “I am God,” dan meminta orang-orang seperti Shirley Maclaine (Aktris Hollywood, kakak Warren Beaty, NPP) untuk memciptakan bongkahan salju atau menunjukan “keajaiban” lainnya. Apa yang orang-orang “new agers” seperti Shirley Maclaine ucapkan adalah omong kosong besar bila kamu melihatnya melalui definsi Tuhan menurut konsep Yahudi-Kristen, tapi pernyataan mereka memiliki banyak arti bila kamu melihatnya melalui ajaran-ajaran Hindu, Buddha dan Tao.

Beberapa orang yang menimbang-nimbang ide mengenai sebuah dunia yang sempurna dengan batas yang sangat jelas akan mempunyai masalah serius dalam memahami konsep Tuhan menurut agama Hindu dan Buddha. Agama Hindu dan agama Buddha dengan jelas menyatakan bahwa dunia ini adalah dualitas (rwa bineda) : baik dan buruk, terang dan gelap, dst. Sebagai demikian, satu-satunya kedamaian yang akan dilihat oleh manusia adalah dalam dirinya sendiri, yang tidak memiliki kaitan apapun dengan apa yang terjadi di sekitarnya.

Memalukan sekali menyaksikan argumen dan kontra argumen atas pertanyaan mengenai ucapan “I Am God” tanpa meneliti aspek fundamental dari ucapan yang sudah ada sejak zaman dahulu kala itu.

Dosa dalam Agama Hindu

APAKAH ORANG-ORANG HINDU PERCAYA DENGAN KATA-KATA “DOSA” DAN “PENDOSA”?

Kecuali dalam mythologi, dalam kitab-kitab suci Hindu tidak ada disebut mengenai dosa. Agama Hindu menangani dosa dengan sangat ilmiah, melalui penjelasan tentang hukum Karma, mengenai sebab dan akibat. Seluruh parable (cerita perumpamaan, ibarat) menjelaskan bagaimana melihat masalah dosa-dosa dengan cara yang sangat positif. Ketika seorang anak menaruh tangannya di api, dia terbakar. Tindakannya disini disebabkan oleh ketidaktahuannya mengenai kekuatan api. Anak itu tidak melakukan dosa, tapi disebabkan oleh ketidak-tahuannya akan kebenaran bahwa api membakar, dia melakukan karma buruk dan dia telah menerima hasilnya menjadi terbakar. Agama Hindu melihat semua tindakan dalam cara seperti contoh yang telah dijelaskan di atas. Kita semua berdosa atau melakukan karma buruk karena kebodohan. Kebodohan adalah akar dari kejahatan. Pengetahuan menghilangkan kebodohan. Itulah caranya ide tentang dosa dijelaskan dalam agama Hindu. Agama Kristen menekankan pada dosa dan takut pada Tuhan dan neraka. Agama Hindu, seperti kujelaskan sebelumnya menentang doktrin tentang dosa. Swami Ramakrishna Paramahamsa selalu memandang rendah ide Barat bahwa manusia adalah para pendosa. Bhagawad Gita menyatakan, “Sekalipun engkau adalah pendosa yang paling buruk, engkau akan melewati lautan dosa dengan perahu kebijaksanaan / pengetahuan ini.” (Bab 4:36). Adi Sankaracharya dalam doktrinnya tentang Advaita, melihat kebodohan sebagai ilusi atau Maya, dan berkali-kali menulis bahwa pengetahuan adalah satu-satunya jawaban dari semua masalah manusia. Agama Hindu melarang kesadaran tentang dosa dalam bentuk apapun. .

Kitab-kitab suci menyatakan, bahkan Tuhan sekalipun tidak dapat menyelamatkan seseorang yang kasihan pada diri sendiri (self-pity) dan merasa sebagai pendosa. Seorang Yogi yang telah maju akan melihat pada seorang bhakta, seorang pelacur dan pembunuh sama saja, karena dia tahu bahwa kia semua adalah bagian dari proses evolusi. Beberapa orang berada

jauh di depan dan berjalan sangat cepat ke arah Tuhan, dan beberapa yang lain ada pada gerbang permulaan dan berjalan selambat keong menuju Tuhan. Beberapa orang dalam bentuk yang suci, dan beberapa orang dalam keadaan mental binatang buas sekalipun ia memiliki bentuk manusia.

Bhagawad Gita menyatakan, “Yoga – persatuan dengan Yang Suci – adalah bagi semua.” Jadi semua kita akan mencapai keselamatan (moksha, salvation) pada suatu hari. Hanya faktor waktu yang berbeda antara seorang individu dengan individu lain. Tuhan telah memberi kita kehendak bebas, supaya kita dapat memutuskan kapan kita akan mencapai Tuhan. Beberapa orang melakukan percobaan dengan hidupnya dan mengambil ribuan tahun untuk mencapai Tuhan, dan beberapa orang secara mental memahami kebenaran dan mencapai Tuhan secara sangat cepat dengan mengikuti metoda yang ditemukan oleh para Mahareshi. Jadi bagi orang Hindu yang percaya pada kebenaran “Keselamatan bagi semua,” kata-kata “dosa” dan “pendosa” sama sekali

Maya – Asal dari dosa

AYAH, APAKAH MAYA?

Nak, kata Maya berarti ilusi. Dunia adalah Maya, artinya bawa dunia ini selalu berobah dari apa yang sekarang menjadi sesuatu yang lain tanpa henti. Orang-orang Hindu tidak mengatakan bahwa dunia tidak penting, tapi mereka menekankan kenyataan bahwa dunia yang kita lihat bukanlah dunia nyata.Dunia yang sebenarnya di luar semua penjelasan di luar konsep waktu. Namun agama Hindu juga tidak menganjurkan untuk lari dari dunia. Agama Hindu meminta para pengikutnya untuk bekerja dalam (di) dunia sampai mereka mencapai pengetahuan yang sebenarnya.

Menurut agama Hindu, kita menyaksikan dualitas dalam dunia, seperti benar dan salah, baik dan buruk, dan ‘yin, dan ‘yang’ yang ditimbulkan oleh Maya.

Kita semua menderita karena Maya atau persepsi dualitas (rwa bhineda). Maya membuat kita lupa pada hakikat kita yang sebenarnya. Adalah Adi Sankara yang menggunakan kata Maya secara sangat luas untuk menjelaskan philsafat Advaitanya. Menurut Sankara, Tuhan atau Brahman saja yang nyata, dan segala sesuatu yang lainnya adalah Maya. Menurut Sankara Maya adalah pengetahuan palsu. Sankara mengatakan bahwa Maya akan hilang ketika seseorang mencapai pengetahuan yang benar. Dalam salah satu Upanishad, ditulis bahwa alam atau Prakriti adalah Maya dan Yang Makakuasa adalah pemegang dan pengguna (wielder of) Maya. Maya adalah sebuah kata yang sering digunakan oleh orang-orang Hindu. Malangnya, beberapa orang menggunakan kata ini untuk motif mementingkan diri sendiri (selfish motives). Beberapa orang tidak mau bekerja sama sekali dan menjelaskan ideologi mereka dengan pernyataan, “Dunia materi ini adalah Maya dan karena itu perkerjaan itu tidak ada gunanya.” Ini sama sekali bertentangan dengan ajaran-ajaran Bhagawad Gita. Bhagawad Gita secara khusus menyatakan bahwa tiada seorangpun akan mencapai keadaan tidak bekerja, Nishkarma (state of inaction) dengan meninggalkan kewajibannya (Swadharma) karena manusia secara hakikatnya melakukan pekerjaan sepanjang waktu (Bab 3:4). Maya sebenarnya adalah “dosa asal” seperti yang dijelaskan dalam Genesis, dan pengetahuan yang benar hanyalah satu-satunya jalan untuk bebas dari padanya.

Penciptaan dan Peleburan alam semesta

MENURUT AGAMA HINDU APAKAH WAKTU?

Menurut agama Hindu, hanya Brahman yang abadi (timeless). Semua yang lain, yang muncul dari Brahman, akan berobah bentuk dalam waktu. Lahir dan mati adalah bagian tak terpisahkan dari penciptaan. Mereka juga adalah bagian dari waktu.

Menurut hukum Manu, alam semesta ini menjalani lingkaran lahir dan mati tanpa akhir. Menurut Manu : “bila kelopak mata bergerak delapan belas kali, waktu yang diambilnya disebut satu Kashta; tiga puluh Kashta menjadi satu Kala; tiga puluh Kala menjadi satu Muhurta; tiga puluh Muhurta menjadi satu siang dan malam.”

Agama Hindu dipengaruhi oleh astronomi Yunani dalam perhitungan waktunya. Tujuh hari seminggu diperkenalkan di India oleh orang Yunani, dan India mulai mengikuti perhitungan hari ini pada zaman dinasti Gupta (320-480 AD). Tanda-tanda zodiak juga di bawa ke India oleh orang Yunani.

APAKAH BRAHMA MUHURTA?

Waktu antara 3 a.m dan 6 a.m, dianggap sebagai Brahma Muhurta. Waktu ini dianggap sebagai waktu yang paling bertuah pada hari itu. Konon selama waktu itu semua mahluk surgawi sedang beristirahat dan hanya ada sedikit aktivitas pikiran di dunia nyata ini (di tempat dimana waktu itu sedang berjalan, pen). Karena itu, periode ini dianggap waktu terbaik untuk meditasi dan kegiatan spiritual. Dikatakan bahwa setiap masalah dapat diselesaikan bila kamu mencoba untuk menyelesaikannya semala periode waktu itu.

MOHON DIJELASKAN TENTANG “KALPA” DAN “YUGA” SECARA RINCI?

Waktu sejak zaman dahulu kala diukur dalam siklus (lingkaran) disebut Kalpa. Satu Kalpa adalah satu hari dan satu malam Brahma , Dewa Pencipta. Setelah masing-masing Kalpa, ada satu Kalpa yang lain.

Masing-masing Kalpa dibagi menjadi dua ribu Mahayuga. Masing-masing Mahayuga dibagi menjadi empat Yuga atau zaman. Keempat Yuga itu adalah Krita atau Sathya, Treta, Dvapara, dan Kali. Krishna hidup pada Dvapara Yuga. Kita hidup pada Kali Yuga. Pada akhir Kali Yuga, alam semesta akan dihancurkan oleh Pralaya (banjir besar) untuk memulai penciptaan kosmik sekali lagi. Segala sesuatu di alam semesta menjadi buruk dari Yuga ke Yuga.

Krita atau Sathya Yuga ditandai oleh kebenaran dan keadilan. Inilah zaman terbaik untuk hidup. Tidak ada hubungan seks pada zaman ini. Anak-anak, seperti semua hal lain, lahir hanya karena semata-mata dari kehendak. Warna dari zaman ini adalah putih. Manusia hidup selama empat ribu tahun. Manusia hanya memiliki satu Weda.

Treta Yuga memiliki kebenaran yang agak menurun dibandingkan dengan Krita Yuga. Pengetahuan adalah kebajikan utama dalam zaman ini. Penciptaan terjadi karena sentuhan. Warna zaman ini adalah merah. Manusia hidup selama tiga ribu tahun. Manusia memiliki empat Weda sekarang.

Dvapara Yuga memiliki kebenaran yang makin menurun. Manusia menjadi subyek penyakit dan penderitaan. Sistem kasta dimulai pada zaman ini. Anak-anak lahir karena hubungan seks. Warna zaman ini adalah kuning. Kitab suci zaman ini adalah Purana-Purana. Manusia hidup kira-kira selama dua ribu tahun.

Kali Yuga adalah yang terburuk dari semua Yuga dan diperkirakan mulai pada tahun 3102 SM pada waktu penobatan Raja Parikshit pada singasana Hastinapura. Kebenaran dan keadilan berhenti pada zaman ini. Warna zaman ini adalah hitam. Kitab suci zaman ini adalah Tantra. Segala sesuatu bersifat seks pada zaman ini. Homoseks akan mengambil alih heteroseks sebagai jalan hidup zaman ini. Wanita akan memerintah zaman ini. Manusia hidup untuk seratus tahun.

Krita Yuga empat kali lamanya Kali Yuga. Lamanya Krita Yuga adalah 1,728.000 tahun manusia. Treta Yuga tiga kali lamanya Kali Yuga, yaitu 1.296.000 tahun manusia. Dvapara Yuga dua kali lamanya Kali Yuga, yaitu 864.000 tahun manusia. Lamanya Kali Yuga adalah 432.000 tahun manusia. Dengan demikian lamanya satu Mahayuga adalah 4.320.000 tahun manusia.

Penciptaan dan Peleburan alam semesta. Bagian kedua – habis

AYAH, SAYA SANGAT BINGUNG. PADA SATU SISI ANDA MENGATAKAN BERULANG KALI BAHWA ALAM SEMESTA DAN PENCIPTAAN DICIPTAKAN DAN DIHANCURKAN BERKALI-KALI. TAPI ANDA JUGA MEMBERI KESAN BAHWA KITA HARUS KHAWATIR MENGENAI KESELAMATAN. BILA SEGALA SESUATU ADALAH MURNI BERSIFAT INSTRUMENTAL, LALU KENAPA SETIAP ORANG HARUS KHAWATIR MENGENAI KESELAMATAN?

Untuk memulainya, mohon jangan mengatakan bahwa kita ‘khawatir’ mengenai keselamatan. Bahkan janganlah berkata kita prihatin (concerned) terhadap keselamatan. Apakah kamu akan berkata bahwa sungai Mississippi khawatir atau prihatin mengenai mencapai Teluk Mexico? Tidak, sebab kamu tahu bahwa, sesuai dengan hukum phisika, Sungai Mississippi tidak mempunyai pilihan lain kecuali mencari dan bersatu dengan Teluk Mexico. Itulah hakikat sungai itu. Ideologi yang sama akan muncul dalam menjelaskan hakikat dari pencarian keselamatan. Jiwa individu (jiwatman) oleh hakikatnya mencari untuk mencapai jiwa yang mutlak (Paramatman). Bila kamu tanya aku apakah itu semua murni instrumental, jawabannya adalah ya, itu adalah instrumental. Melalui kehendak manusia kita, kita dapat menunda atau mempercepat persatuan jiwa dengan Yang Mutlak tapi kita tidak punya pilihan. Menurut Bhagawad Gita, Yoga, atau persatuan dengan Yang Suci atau Yang Mutlak, adalah untuk semua. Seperti kukatakan sebelumnya, perbedaannya hanya pada faktor waktu antara yang terbaik dengan yang terburuk di antara kita. Beberapa orang akan mencapai Moksha dalam sekali kehidupan dan beberapa akan mengambil ribuan kehidupan untuk mencapai Moksha. Sekarang kembali kepada bagian pertama dari pertanyaanmu, aku kira kebenaran yang paling telanjang dari sifat instrumental dari alam semesta seperti pengulangan lahir dan mati dari alam semesta menegaskan kenyatan bahwa desakan untuk mencapai keselamatan (Moksha) di antara kita adalah murni instrumental atau tidak sukareala atau alamiah.

Selama kita merasakan senang dan sakit dan selama kita merasa bahwa tubuh phisik ini adalah “Aku” yang terakhir (ultimate “I”), kita tidak akan senang dengan kehidupan sebagaimana adanya. Jadi desakan untuk mencapai kebahagiaan dan kedamaian abadi sudah melekat dalam diri kita semua. Tentu saja pencarian kebahagiaan dan kedamaian abadi pasti akan dimulai atas dasar percobaan dan kesalahan (trial and error). Ingat, setiap kali saya bawakan kamu sebuah boneka ketika kamu masih anak-anak, kamu merasa telah mencapai kebahagiaan di dunia ini. Lihat dirimu sekarang. Kamu kira sebuah mobil sport model terbaru akan memberikan kamu semua kebahagiaan di dunia. Dalam beberapa tahun, bila kamu sudah memiliki mobil itu, kamu akan ingin memiliki suatu yang lain. Apa yang kukatakan sebelumnya adalah benar terhadap kamu, aku dan semua orang lain. Pencarian kebenaran dalam obyek materi akan terus berlanjut sampai kita menemukan kebahagiaan dan kedamaian dalam diri kita sendiri. Kita mungkin akan melakukan kesalahan-kesalahan dalam pencarian kebahagiaan dan kedamaian abadi itu. Yang paling bijaksana di antara kita akan belajar dengan sedikit kesalahan sementara yang lain akan mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama berkali-kali lagi. Jadi adalah dalam hakikat diri kita semua untuk mencari keselamatan dan kita tidak punya pilihan. Semua kita adalah murni instrumental.

Pralaya – Armagedon Hindu

Agama Hindu juga bicara mengenai Armagedon biblikal (Revelation 16:16) sebagai Pralaya (banjir besar). Penjelasan yang sangat rindi mengenai Pralaya ditulis dalam Srimad Mahabhagavatam. Sejauh terkait dengan agama Hindu, Pralaya bukanlah sesuatu yang menunjukkan keputusasaan tapi pengharapan. Orang-orang Hindu sangat percaya dengan hukum Karma dan Pralaya sebagai suatu kebutuhan untuk memelihara atau menyelesaikan Karma-karma kolektif dari orang banyak. Bahkan kaum Yadawa (keluarga Krishna) dan Krishna sendiri juga terhapus dari muka bumi ketika tindakan-tindakan mereka menjamin kepunahan mereka dari muka bumi.

Orang-orang Hindu percaya dalam siklis dari penciptaan dan peleburan dari alam semesta. Dalam hukum Manu, ditulis bahwa alam semesta dan penciptaan datang danpergi dalam taanan siklikal (lingkaran). Tidak ada akhir bagi drama penciptaan dan peleburan alam semesta. Seperti telah kusebutkan, ada empat periode waktu yang disebut Yuga : Krita atau Sathya, Treta, Dvapara dan Kali. Jumlah total dari periode waktu keempat Yuga ini disebut Kalpa. Pada akhir tiap Kalpa atau Kali Yuga, alam semesta ini akan dihancurkan oleh Pralaya, atau banjir besar. Lalu Kalpa yang lain akan mulai. Dikatakan bahwa pada waktu Pralaya, Wishnu akan menjadi Awatara kesepuluh dikenal dengan nama Kalki (manusia dengan kuda putih). Dikatakan bahwa keadaan terburuk terjadi sekarang ini, dalam Kali Yuga.

Setan dan Hantu

APAKAH AGAMA HINDU PERCAYA AKAN KEBERADAAN SETAN ATAU DEVIL?

Menurut agama Hindu, Setan adalah Maya. Dalam agama Kristen, dikatakan bahwa Setan “jatuh dari surga.” Dalam Bible dijelaskan sebagai berikut : “Dia adalah pembunuh sejak awal, dan tidak tinggal dalam kebenaran, karena tidak ada kebenaran dalam dirinya. Ketika ia mengatakan satu kebohongan, dia mengatakan kebohongannya sendiri : karena ia adalah seorang pembohong, dan ayah dari pembohong” (John 8:44). Dalam bahasa Ibrani (Hebrew) kata Satan berarti “menentang dan mengganggu” seseorang, khususnya dengan menuduh orang itu. Jadi menurut agama Kristen awal, Satan berarti “penuduh” atau “penuntut.” Gereja awal dibasmi oleh orang-orang Roma, dan karena itu gereja awal menyebut orang-orang Roma dengan nama Setan. Sesungguhnya, arti sebenarnya dari “devil” adalah “seorang penuduh yang memfitnah” ( a slanderous accuser). Setan digambarkan dalam seni Kristen dalam abad keenam, nampak sebagai sosok seorang malaikat dalam ukuran kecil dan fresco. Tapi selama abad pertengahan Setan digambarkan dalam bentuk raksasa buruk dan mengerikan. Menurut Ensiklopedia Katolik yang Baru, bahkan istilah Antichrist adalah seorang yang menentang karya Tuhan, khususnya yang diselesaikan oleh Jesus Kristus. Antichrist mungkin lebih tepat berbentuk semangat atau kekuatan dari pada berbentuk manusia, menurut Ensiklopedia Katolik yang Baru. Bertrand Russell sekali waktu berkata bahwa Tuhan dan Setan pada intinya adalah figur manusia, yang satu proyeksi dari diri kita dan yang lain proyeksi dari musuh-musuh kita.

Agama Hindu mengakui kekuatan Satanik itu sebagai akibat dari Maya, yang disebabkan oleh kebodohan. Meditasi adalah salah satu cara untuk keluar dari delusi ini. Namun demikian, Agama Hindu tidak menganggap Setan sebagai personifikasi dari satu mahluk yang berbahaya, tapi hanya sebagai satu kekuatan negatif yang menghalangi perkembangan spiritual dari manusia.

Siapa yang menciptakan kekuatan-kekuatan demonik di dunia? Kita sendiri, secara individu atau kolektif melalui sifat mementingkan diri sendiri dan pikiran-pikiran, perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan destruktif, melahirkan banyak setan (demonik). Agama Hindu menyebut demon-demon ini Kritiya. Kekuatan-kekuatan demonik ini menyerang yang lemah dan yang muda di antara kita. Ini sebabnya kenapa orang-orang suci Hindu mengatakan bahwa dengan membenci seseorang kita mungkin tanpa kita ketahui menghancurkan kesucian dari rumah, atau bahkan memberi sumbangan bagi penghancuran dari kesejahteraan dari anggota keluarga kita yang lebih muda dan lebih lemah. Bila seluruh bangsa mempersonifikasikan dirinya dengan kebencian terhadap seseorang, bangsa itu pada akhirnya akan menemukan kehancuran.

APAKAH ANDA BERMAKSUD MENGATAKAN BAHWA DALAM AGAMA HINDU SAMA SEKALI TIDAK ADA HANTU?

Baiklah, ketika aku memberitahumu mengenai setan-setan, saya mencoba untuk memberi kamu sebuah penjelasan yang benar berdasarkan atas kitab suci Hindu yang sangat maju. Tetapi bila kamu mengambil mitologi, ia penuh dengan hantu dan mahluk-mahluk setan. Disana utamanya ada Preta dan Bhuta, yang sesungguhnya adalah jiwa-jiwa manusia.

Preta adalah jiwa yang meninggalkan tubuh mereka dan karena kesalahannya sendiri tidak mampu memasuki suatu badan baru apapun. Preta dianggap berada di bawah penderitaan terus-menerus dan mereka senang mengunjungi tempat-tempat kotor. Konon mereka mudah mempengaruhi orang-orang dengan pikiran lemah. Bhuta, seperti Preta adalah membuat susah, dan dikatakan bahwa Preta dan Bhuta tidak datang ke tempat orang-orang yang percaya pada Tuhan. Aku tahu akan sulit bagimu untuk percaya kepada Preta atau Bhuta dan aku dapat mengerti pola pikirmu. Mythologi, seperti kuberi tahu kamu sebelumnya, penuh dengan kisah-kisah dan terserah padamu untuk percaya pada apapun yang kamu mau.

Swastika

APAKAH SWASTIKA SESUNGGUHNYA SIMBUL HINDU?

Simbul Swastika (keberuntungan atau kesejahteraan) adalah simbul Hindu. Itu adalah simbul yang bertuah bagi orang-orang Hindu, Buddha dan Jain. Orang-orang Hindu dan Jain menggambar tanda Swastika di atas buku, pintu, persembahan dst. Tanda ini juga telah ditemukan di gedung-gedung Byzantine, monumen-monumen Celtic dan mata uang Yunani. Tanda ini bahkan ditemukan di kuburan beberapa suku Indian di Amerika. Ia merupakan lambang yang sangat perkasa di Inggris sejak tahun 3000 SM sampai dengan 300 AD. Dikatakan bahwa Orang-orang Kristen awal bahkan menggunakan Swastika sebagai lambang dari dinding ‘catacomb,’ dimana mereka secara rahasia mempraktekkan keyakinan agama mereka untuk menghindar dari para penghukum Roma.

Bentuk Swastika adalah dalam bentuk tanda silang Yunani dengan ujung-ujung lengan dibengkokkan ke arah sudut kiri. Swastika tangan kanan bergerak seperti arah jarum jam dan Swastika tangan kiri bergerak berlawanan dengan gerak jarum jam. Simbul ini menciptakan impresi dari pergerakan yang tiada henti. Swastika tangan kanan dianggap sebagai simbol matahari atau simbol api. Swastika tangan kiri kadang-kadang dianggap sebagai tanda kejahatan. Menurut Max Muller, dualisme dalam Swastika ini dimaksudkan untuk mewakili matahari musim semi dan musim gugur. Masing-masing jenis Swastika ini, digunakan untuk menjamin perjalanan dan kembalinya matahari. Di negeri-negeri Skandinavia Swastika melambangkan palu Thor, dewa kilat.

Umumnya semua Swastika berwarna putih di atas dasar hitam, tapi selama pemerintah Nazi, Swastika tangan kiri yang hitam, yang diberi nama Swastika atau “Hakenkreuz” menjadi karakteristik dari emblem partai Nazi. Hitler mengambilalih tanda ini pada tahun 1920 dari Korp Baltik Jerman dan mengambilnya sebagai badge pada topi baja dari pasukan yang bertugas di Finland. Tetapi, sekarang Swastika menjadi simbul yang amat dibenci di dunia. Tidak seorangpun yakin apakah penyalah gunaan pengaruh Swastika Hindu ini yang menyebabkan kebangkitan dan kejatuhan Adolf Hitler.

Hare Krishna

SIAPAKAH PARA PENGIKUT HARE KRISHNA ITU?

Sejak zaman Brahmana, orang-orang Hindu percaya bahwa penciptaan datang dari kata AUM dan bahwa Ketuhanan adalah tritunggal (triune), dengan Dewi Ibu terpisah dari Trimurti ini. Trimurti adalah Brahma (Pencipta), Wishnu (Pemelihara) dan Siwa (Pemrelina). Dewi Ibu dikenal sebagai Sakti. Tiga kelompok utama muncul dalam agama Hindu, yaitu Waisnawa (mereka yang memuja Wishnu), Saiwa (mereka yang memuja Siwa) dan Sakta (mereka yang memuja) Dewi Ibu. Tiga kitab-kitab suci yang terkait dengan ketiga kelompok ini dikembangkan, yaitu, Waisnawa Agama, Saiwa Agama dan Sakta Agama. Sakta Agama juga dikenal dengan nama Tantra.

Beberapa sejarahwan mencatat bahwa gerakan Waisnawa menurun dalam perjalanan sejarah karena peperangan yang terus-menerus dengan kaum Saiwa dan juga karena masalah sistem Dewa Dasi, dimana wanita dari keluarga baik-baik dipergunakan sebagai pelacur pura dibawah samaran melayani Dewa Wishnu dan praktek-praktek Tantra. Kemunculan agama Buddha sebagai agama utama di antara masyarakat berkat pengaruh Maharaja Ashoka juga menyumbang bagi kejatuhan Waisnawa. Pada tahun-tahun belakangan ini, seorang suci besar dari India, Swami A.C. Bhakti Vedanta Swami Prabhupada, menghidupkan kembali gerakan Waisnawa yang kuno sebagai “The International Society for Krishna Consciousness” atau ISKON. Nama populer dari masyarakat ini adalah Hare Krishna, artinya “Kemenangan untuk Krishna” (Victory to Lord Krishna).

DAPATKAN ANDA MENJELASKAN LEBIH JAUH MENGENAI HARE KRISHNA?

Pertama-tama mari kuulangi untukmu nama sebenarnya dari masyarakat itu – the International Society for Krishna Consciouseness atau ISKON. Masyarakat Hare Krishna adalah salah satu sekte yang paling asketik (hidup sangat sederhana, seperti pertapa) dan ritualistik di dunia ini. Kadang-kadang orang heran bagaimana masyarakat Hare Krishna dapat menarik para pengikut (bhakta) dengan kode etik dan moral yang begitu ketat. Para anggota sama sekali dilarang untuk minum (minuman keras), merokok dan sek bebas. Pengucapan di depan umum (public chanting) dari Mantra “Hare Krishna, Hare Krishna, Krishna Krishna, Hare, Hare; Hare Rama, Hare Rama,Rama Rama Hare, Hare” adalah satu dari kegiatan penting dari para bhakta (devotee). Menurut Srimad Bhagavatam, siapapun yang mengucapkan Mantra ini dan juga siapapun yang kebetulan mendengar Mantra ini akan diberkati oleh Tuhan.

Sebagai tambahan dari pengucapan di depan umum, masing-masing bhakta mengulangi Mantra ini 1,728 kali setiap hari. Pengucapan mantra (japa) ini dihitung oleh satu genitri dengan seratus delapan (108) biji Tulsi. Jadi genitri ini dihitung enam belas kali setiap hari. Para pengikut Hare Krishna melakukan pekerjaan kasar sebagai perembahan untuk Krishna. Mereka membersihkan badan mereka paling tidak dua kali sehari, dan bahkan di antara pengikut yang berkeluarga seks hanya dibolehkan untuk melahirkan anak (prokreasi). Sama seperti kelompok masyarakat lain, kontroversi masih melanda kelompok masyarakat ini. Beberapa orang menyatakan bahwa anak mereka telah dicuci otak oleh masyarakat yang saleh ini, tapi tidak seorangpun dapat mengatakan dengan tepat seberapa banyak kebenaran dalam tuduhan-tuduhan ini. Para bhakta Hare Krishna adalah murni vegetarian, dan mempraktekkan non-kekerasan.

Setiap orang yang ingin tahu mengenai sifat dan motive dari gerakan Hare Krishna harus membaca “The Dark Lord : Cult Images and The Hare Krishnas ini America” oleh Larry D. Shinn (Wesminster Press, Philadephia). Buku ini memperingatkan orang-orang tentang ketakutan yang tidak beralasan terhadap semua sekta-sekta Agama-agama Timur yang ada di dunia Barat.

 Panchabhuta

DARI APAKAH MATERI DIBUAT?

Menurut agama Hindu materi dibuat dari lima unsur, yaitu :

1. Prathiwi – tanah (padat, solid)
2. Jala – air (cair)
3. Teja – api (cahaya)
4. Bayu – udara (gas)
5. Akhasa – ether (ruang)

Unsur-unsur ini secara populer dikenal sebagai Panchabhuta atau Pancha Tattwa. Ada sesuatu yang sangat aneh mengenai unsur-unsur ini. Perhatikan konfigurasi elektron dari seluruh unsur, mulai dengan pertama – padat – dan berakhir dengan Akhasa atau ruang. Kamu akan melihat satu peningkatan perlahan dari elektron-elektron bebas dalam struktur atomik dari unsur-unsur itu. Tidak seorangpun dapat mengatakan apakah ini suatu kebetulan yang aneh atau para orang suci Hindu telah mengetahui sesuatu mengenai variasi dari elektron-elektron bebas dalam struktur atom dari unsur-unsur ini. Menurut agama Hindu, pada waktu Pralaya alam semesta yang termanifes (mewujud) ini akan pecah kedalam unsur-unsurnya dan dia akan tetap dalam keadaan seperti itu sampai alam semesta yang lain akan lahir dan mulai hidup lagi. Kelahiran Penciptaan (Birth of Creation) Menurut agama Hindu

MENURUT AGAMA HINDU BAGAIMANA PENCIPTAAN MULAI? APAKAH IA BERBEDA DENGAN TEORI MODERN?

Kitab suci mengatakan bahwa Brahman adalah hakikat kenyataan terakhir yang tiada lain dari kata kosmik AUM. Tiupan terompet kerang dan gemerincing genta pura mewakili suara kosmis.

Dalam agama Kristen, Genesis (Kitab Kejadian) menjelaskan awal dari penciptaan. Menurut kitab-kitab suci Hindu, alam semesta pertama yang keluar dari AUM adalah Alam Semesta Penyebab (Causal Universe). Dari Alam Semesta Penyebab ini datang Alam Semesta Astral. Dari Alam Semesta Astral dating Alam Semesta Materi. Menurut mitologi, seluruh ciptaan diciptakan oleh Brahma. Ada cukup banyak kisah mitologis mengenai penciptaan ini.

Chandogya Upanishad mengatakan, “pada awalnya dunia ini tidak ada (3:19:1). “Kepada apakah dunia ini kembali? Kepada ruang…sesungguhnya, seluruh benda disini muncul dari ruang. Mereka menghilang kembali ke dalam ruang, karena ruang itu sendiri lebih besar dari ini semua. Ruang adalah tujuan teakhir.” (1:9:1). Beberapa astronom percaya bahwa alam semesta ini lahir kira-kira lima belas miliar tahun yang lalu sebagai hasil dari ledakan dahsyat dari beberapa molekul-molekul hidrogin yang sangat kecil. Teori ini dikenal dengan “Teori Ledakan Besar” (Big Bang Theory). Dan ini mengingatkan kita tentang ide Hindu bahwa segala sesuatu datang dari Brahman yang adalah “lebih halus dari atom, lebih besar dari yang terbesar” (Katha Upanishad 2:20). Tentu saja teori ledakan besar tidak menjelaskan bagaimana atom-atom hidrogin lahir atau darimana mereka berasal. Para astronom juga berpikir bahwa sistem matahari kita lahir sekitar lima miliar tahun yang lalu dan Planet Bumi lahir sekitar empat setengah miliar tahun yang lalu. Menurut para ilmuwan, dewasa ini semua planet-planet dan bintang-bintang bergerak saling menjauh satu sama lain. Pheomena ini dikenal sebagai “Teori Alam Semesta Yang Terus Berkembang” (Expanding Theory of the Universe).

Apakah phenomena ini akan berobah dan alam semesta pada suatu hari mulai mengkerut? Mungkin saja itu terjadi tapi tak seorangpun dapat memberikan satu jawaban yang jelas. Sekarang para astronom menemukan galaksi triliunan tahun cahaya jauhnya. Satu tahun cahaya adalah jarak yang ditempuh oleh satu cercah sinar dalam satu tahun. Secercah sinar bergerak 186.000 mil per detik. Tiap-tiap galaksi terdiri dari miliaran sistem matahari (solar system) dan ada beberapa miliar galaksi di alam semesta. Kita tidak pernah menemukan papan tanda yang berbunyi, “Stop, alam semesta berakhir disini.” Dan lagi, kita tidak pernah tahu apakah bila semua galaksi itu dikumpulkan jadi satu dengan galaksi kita hanyalah menjadi satu atom dari satu galaksi yang lebih tinggi, dan apakah galaksi yang lebih tinggi itu hanyalah satu atom dari sebuah galaksi yang lebih tinggi lagi dan begitu seterusnya.

Astronomi modern, dengan penemuannya sehari-hari yang mengagumkan dan mengejutkan pikiran, membuat semua kita tampak seperti mikro-mikroorganisme dan periode hidup kita di atas bumi ini seperti pecahan-mikro-mikro detik, yang persis seperti apa yang kamu lihat dalam agama Hindu dengan rinciannya mengenai Yuga, Kalpa dan penciptaan dan peleburan alam semesta yang terus-menerus.

Semakin kita mengetahui alam semesta di sekeliling kita dewasa ini, semakin kita menyadari betapa sedikitnya kita tahu tentang penciptaan dan peleburan alam semesta.

 Pencarian Hindu terhadap Tuhan

APAKAH SEORANG HARUS PERGI KE HUTAN UNTUK MENCARI TUHAN?
Tidak ada satupun kitab-kitab suci Hindu menyatakan bahwa seorang harus melarikan diri dari kewajiban dan milik duniawinya (Swadharma) untuk mencapai pengejawantahan Tuhan (God-realization). Sebaliknya, Bagawad Gita menganjurkan kita melakukan tugas kita. Setelah percakapan besar Bagawad Gita, Krishna berkata kepada Arjuna, “Mam Anusmara Yudhyacha” (Mengingat Aku, bertempurlah dalam peperangan ini), yang berarti “ingat kepada Tuhan, laksanakan tugas kewajibanmu.” Jadi tidak dimanapun dikatakan bahwa orang harus lari ke hutan untuk mencari Tuhan. Memang, agama Hindu mengatakan bahwa perobahan mentalitas dari material ke spiritual sangat lambat, seperti ulat rakus yang makan tiga atau empat kali berat badannya dan akhirnya menjadi seekor kupu-kupu. Demikianlah perubahan dilakukan secara perlahan tanpa harus membuat frustrasi. Agama Hindu mendukung pernyataan, “anda dapat memiliki benda-benda, tapi jangan dimiliki oleh benda-benda itu.” Raja Janaka adalah satu contoh yang sempurna. Pada satu sisi ia adalah raja materialistik dari zamannya, dan pada sisi lain, dia adalah salah seorang Yogi besar India yang pernah diketahui. Pahami, Yogi yang berkelahi untuk cawatnya dalam musim dingin yang hebat di Himalaya tidak lebih baik dari seorang bisnisman yang cerdik/licik. Keduanya dikuasai oleh keserakahan dan kemarahan. Jadi, perobahan kesadaran lebih penting dari perobahan penampilan luar atau perobahan gaya hidup.

AYAH, APAKAH ANDA BERMAKSUD MENGATAKAN BAHWA TUHAN TIDAK DATANG KEPADA KITA KECUALI KALAU KITA MEROBAH KESADARAN KITA?

Itulah tepatnya yang kukatakan kepadamu lagi. Bahkan Swami Wiwekananda mendapat masalah ketika gurunya Sri Ramakrishna Paramahamsa membuat ia melihat Tuhan untuk pertama kalinya, karena kesadarannya pada waktu itu belum lagi pada puncak yang tertinggi. Wiwekananda, waktu itu bernama Narendra, mengganggu/merecoki setiap orang dengan pertanyaannya yang menyelidik, “Pernahkah anda melihat Tuhan?” Sri Ramakrishna Pamahamsa sendiri menjawab Narendra, “Nak, aku melihat Dia seperti aku melihat kamu,” dan menyentuh dahi Narendara. Narendra, yang telah menyusahkan begitu banyak Yogi dengan pertanyaan-pertanyaannya yang tajam mengenai Tuhan kemudian mengeluarkan jeritan seperti embikan domba. Konon kekuatan itu begitu tak tertahankan untuk dipikul oleh seorang putra besar India, dan dia memohon, “Tinggalkan aku, Tuan, aku mempunyai ayah, ibu dan yang lain-lain di rumah.” (Lihat The Life of Swami Wiwekananda oleh muridnya di Barat maupun di Timur). Tidak ada jalan yang mudah. Tuhan demikian dekat dengan kita namun Dia tidak dapat datang kepada kita. Kita menjauhkan Dia dari kita. Adalah fakta bahwa tanpa upaya individu, tanpa merobah kesadaran, Tuhan tidak dapat datang kepada siapapun, sekalipun Tuhan juga dekat kepada setiap orang dari kita.

AYAH, APAKAH PENGETAHUAN AKAN KITAB SUCI SYARAT MUTLAK UNTUK PENGEJAWATAHAN TUHAN?

Tidak! Sama sekali tidak. Siapapun yang secara tulus mencari kebenaran mutlak pada akhirnya akan mengejawantahkan kebenaran mutlak itu, bahkan sekalipun dia sama sekali tidak tahu Weda atau Upanishad. Semua kitab-kitab suci agama-agama hanyalah alat bantu dalam pencarian kebenaran dan mereka bukanlah satu “keharusan” dalam pencarian kebenaran terakhir.

Jadi apakah seseorang sangat fasih atau hafal dengan kitab-kitab suci atau tidak, bila dia tulus dalam keinginannya untuk mengetahui kebenaran, dia akhirnya akan mengejawantahkan kebenaran itu. Tuhan muncul di depan setiap orang yang menyerahkan kehendak pribadinya kepada kehendak Tuhan. Dalam banyak sloka Bagawad Gita, Krishna mengajarkan cara sangat mudah dengan mana orang dapat mencapai Tuhan. Dalam sloka 12:6-7, Krishna berkata , “Mereka yang menyerahkan seluruh tindakannya kepada Ku dan menganggap Aku sebagai tujuan tertinggi dan menyembah Aku dengan bhakti segenap hati akan terselamatkan olehKu dari pengulangan lahir dan mati.” Dalam sloka yang lain ia berkata, “hentikan semua perbuatan saleh atau tidak saleh dan datanglah kepadaKu; cari perlindungan padaKu. Maka Aku akan membebaskan kamu dari semua dosa; jangan bersedih” (Bagawad Gita 18:66)

Melalui seluruh baris-baris itu Tuhan meminta bhakti sepenuh hati dan tanpa ragu dari pemuja dan tidak ada sama sekali disebutkan mengenai mempelajari kitab-kitab suci. Tidak ada salahnya dengan mempelajari kitab suci, tapi adalah salah untuk merasa bahwa orang yang tidak tahu kitab-kitab suci tidak mempunyai kesempatan untuk mencapai moksha (keselamatan). Itulah sebabnya kenapa dalam agama Hindu, semua cara mencapai Tuhan sama pentingnya. Puisi atau lagu penuh perasaan dari seorang Bhakti Yogi, perbuatan tanpa mementingkan diri sendiri dari seorang Karma Yogi, praktek Pranayama dari seorang Raja Yogi dan kontemplasi atas kitab suci dari seorang Jnana Yogi semuanya diperlakukan dengan sikap yang sama dalam agama Hindu. Bhajan Meera, philsafat Advaita dan Yoga Sutra Patanjali mempunyai status yang sama dalam agama Hindu.

AYAH, APA YANG ANDA ATAU ORANG LAIN INGIN CAPAI DENGAN MEMPRAKTEKKAN AGAMA HINDU?

Adalah mudah untuk mengatakan “keselamatan” (salvation), tapi itu adalah tujuan yang terakhir. Saat ini, kita mencoba untuk mencapai kedamaian dan harmoni dalam hidup. Dalam satu hal kita ingin mempunyai satu kehidupan yang bebas stres. Cara hidup Hindu membantu upaya itu. Mereka yang mengikuti agama Hindu umumnya tenang hatinya dan mereka mengekspresikan ketenangan itu dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mereka tidak berteriak atau ngomel-ngomel ketika makan malam mereka tidak dilayani pada waktunya atau bila mereka terjebak dalam kemacetan jalan atau bila mereka baru saja kehilangan pekerjaan. Sekali waktu mereka juga marah, tapi keadaan pikiran itu hanya bersifat sementara. Seperti telah kukatakan padamu sebelumnya, adalah mudah sekali untuk mengikuti agama Hindu, karena agama Hindu percaya bahwa kebodohan adalah akar dari semua kejahatan dan pengetahuan yang benar adalah jawaban dari semua masalah. Pertama-tama, cobalah untuk memahami kebenaran itu, dan kemudian coba untuk mempraktekan dan mengejawantahkan kebenaran itu.

Jadi sebagian besar pemeluk agama Hindu tidak mencoba menjadi para Guru atau pertapa atau philsuf. Kita hanya berupaya untuk hidup tanpa tekanan, hidup yang damai. Bila keadaan itu bisa dicapai, maka seseorang sungguh-sungguh berhasil dengan studinya tentang agama Hindu. Cara-cara yang dijelaskan sangat sederhana, dan siapapun dapat mempraktekkannya. Aku harap aku telah membuatkan terang benderang kepadamu apa yang kumaksud.

Masalah Sehari-hari dan Agama Hindu

AYAH, APAKAH ANDA PIKIR MASALAH-MASALAHKU SEDERHANA?

Dari mana kamu mendapatkan ide itu? Masalah-masalahmu, masalah-masalahku bahkan masalah-masalah seorang bayi yang baru lahir sama pentingya. Aku tahu bahwa kamu ada dibawah banyak tekanan di sekolah dan di rumah. Di sekolah kamu harus mendengarkan hal-hal keduniawian yang dikatakan oleh taman-temanmu kepadamu dan di rumah kamu mempunyia situasi yang sama sekali berbeda. Jadi benturan ide-ide itu sendiri dapat melahirkan ratusan masalah bagimu.Kamu ingin menjadi satu dengan teman-temanmu di sekolah, dalam cara “bertingkah laku di Roma seperti tingkah laku orang Roma,” dan di rumah kamu ingin mengikuti garis yang didiktekan oleh bapak dan ibumu. Aku juga berada di bawah tekanan di tempat kerjaku. Jadi, kita semua mempunyai masalah dan semua masalah adalah penting. Kamu tidak akan pernah melihat seorang Yogi meremehkan masalah orang lain. Dia akan mencoba membantu dengan saran-saran sesuai dengan kitab-kitab suci. Apapun yang kita lakukan dalam hidup kita adalah penting sekali. Itulah sebabnya kenapa Manu menyusun Ashrama Dharma terdiri dari Brahmachari, Grihasta, Wanaprastha dan Sanyasa. Maharesi sekalipun tidak tidak diijinkan untuk melangkari atau membypass tahapan dalam hidup mereka. Legenda mengatakan bahwa Weda Wyasa mencoba dengan sebaik-baiknya untuk menghentiakn putranya dari melompat dari Balyam (masa anak-anak) kepada Sanyasin. Legenda juga mengatakan bahwa Sankaracharya tertunda mendaki Sarvajna Pedam di Benares karena ia tidak dapat menjawab pertanyaan Dewi Sarawasthi mengenai Grihastya Dharma (kewajiban rumah tangga). Sankaryacharya dipaksa meninggalkan tubuhnya untuk masuk ke dalam tubuh seorang pandita yang sudah meninggal di Karhmir untuk satu tahun, agar ia dapat menjawab semua pertanyaan mengenai Grihastya Dharma. Jadi setiap menit dari hidup kita adalah penting dari masa anak-anak sampai usia tua. Tahapan hidup dimana aku dan kamu berada sama pentingnya dengan tahapan hidup dari seorang pertapa yang ada di tepi-tepi sungai Ganga.

Kita semua mencari penyempurnaan dalam tindakan, dan agama membantu kita dengan begitu banyak saran tentang bagaimana mengatasi masalah sehari-hari. Seperti telah kukatakan padamu berkali-kali sebelumnya, kamu sendirilah yang harus memutuskan apa yang baik bagimu dan bagian mana dari agama yang cocok untukmu. Beberapa orang hanya dapat berpikir tentang Krishna dan menjadi trance, tapi untuk banyak orang , cara seperti meditasi tak terpikirkan. Jadi mari kuulangi bahwa masalah-masalahmu, masalah-masalahku dan bahkan masalah-masalah seorang bayi yang baru lahir sama pentingnya. Agama Hindu hanya memberi kita saran tentang bagaimana mengatasi masalah-masalah itu. Kamu dan aku mempunyai kebebasan mutlak untuk melakukan apapun yang kita inginkan atas hidup kita, tapi bila kita tidak hati-hati, bila kita tidak tidak mendengarkan ide-ide, petunjuk-petunjuk yang tertulis dalam kitab-kitab suci, kita mungkin akan melakukan ksesalahn dengan akibat-akibat fatal. Hanya itu.

Misrepresentasi Agama Hindu

AYAH, APA YANG SALAH DENGAN AGAMA HINDU DEWASA INI?

Sama sekali tidak ada yang salah dengan agama Hindu. Beberapa orang memahami secara keliru esensi dari agama Hindu, dan itu menciptakan masalah dan penderitaan di antara orang-orang lain. Misalnya, beberapa orang melarikan diri dari kewajibannya dan menamakan diri mereka Sanyasin atau Sadhu dan menjalani hidup sebagai pengemis. Bagawad Gita secara khusus menyatakan bahwa tidak seorang pun akan mencapai keadaan tidak-bertindak (niskarmata) dengan menghindari tugas-kewajibannya, karena manusia sesuai hakikatnya melakukan kegiatan sepanjang waktu. Juga salah untuk percaya bahwa agama Hindu dapat dimengerti hanya kalau berpakaian dengan jubah kavi tidak pernah memakai pakaian tiga potong.

Karma dan nasib adalah dua kata yang paling sering disalah-gunakan disalah-mengerti oleh orang-orang Hindu. Beberapa orang sama sekali menolak memakai kehendak bebas mereka dan menjalani hidup sebagai cacing tanah di bawah samaran penyerahan total kepada Tuhan. Dengan tidak menggunakan kehendak bebas mereka, mereka menjadi korban dari emosi mereka sendiri dan seluruh negeri harus membayar untuk kemalasan mereka. Melakukan tindakan salah dan kemudian memakai kitab suci untuk mendukung kesalahan itu adalah kesalahan lain yang dilakukan oleh beberapa orang.

Beberapa dari generasi muda melihat agama Hindu sebagai tabu, yang hanya disentuh ketika meraka mencapai usia 60 tahun. Mereka membayangkan agama Hindu penuh dengan dogma tanpa bahkan membaca satu barispun dari Weda atau Upanishad.

Beberapa orang mencampur aduk mitologi, ajaran Weda dan Upanishad. Itu menciptakan perdebatan yang tidak perlu mengenai kitab-kitab suci. Berdebat mengenai kisah-kisah mitologis adalah tindakan paling bodoh dari segala tindakan.

AYAH, BILAMANA ORANG BICARA TENTANG AGAMA HINDU, MEREKA MENGANGKAT HAL-HAL SEPERTI, “SAPI-SUCI, KAUM PARIA, BANYAK TUHAN,” DAN MENYIMPULKAN BAHWA AGAMA HINDU ADALAH AGAMA BODOH, BENARKAH MEREKA?

Mereka benar persis seperti mereka menyimpulkan bahwa New York adalah Harlem (daerah kumuh dan penuh kriminal) dan Times Square (daerah pelacuran). Tempat-tempat yang buruk itu adalah bagian dari New York, tapi kita semua tahu kedua tempat itu tidak merepresentasikan New York yang sesungguhnya. Broadway, museum-museum, galeri-galeri seni dan ribuan orang saleh dengan berbagai warna kulit telah membentuk New York. Argumen yang sama juga berlaku bagi agama Hindu. Tentu saja karena agama Hindu berkembang dalam kurun waktu yang amat panjang dan agama Hindu memberikan kebebasan mutlak dalam berpikir dan bertindak kepada para pengikutnya, dia memiliki banyak aspek yang tampak saling bertentangan. Sapi suci dan sistem kasta adalah bagian dari agama Hindu, dia bukanlah yang membentuk agama Hindu. Demikian halnya mitologi dimaksudkan untuk orang-orang biasa yang tidak dapat mengerti kebenaran-kebenaran dalam Weda dan Upanishad.

Philsafat Advaita, Bhagawad Gita, Raja Yoga, Pranayama,Mantra-mantra, dst adalah pilar-pilar agama Hindu. Siapapun yang tidak ingin mendiskusikan hal-hal itu hanyalah mencari lumpur dan mendapatkan lumpur, berton-ton lumpur.

Kebanyakan pengeritik melihat kedalam agama Hindu dengan pandangan yang dibentuk oleh prasangka dan visi yang berwarna. Dengan melakukan hal itu, mereka sebenarnya hanya merendahkan diri mereka pada taraf yang memalukan.

APAKAH ILMU PENGETAHUAN MEMILIKI SEMUA JAWABAN?

AYAH, APAKAH ANDA PIKIR SUATU HARI SAINS AKAN MENJAWAB SEMUA TEKA-TEKI HIDUP INI?

Aku tidak tahu jawabnya dan aku pikir bahkan ilmuwan terkemuka pun tidak akan mencoba menjawab pertanyaan ini. Tentu saja kita telah cukup maju dalam riset kita mengenai genetika dan biologi molekular (molecular biology). Dewasa ini, kita telah mengetahui bahwa inti (nucleus) dari setiap cell manusia normal berisi dua puluh tiga pasang chromosom, masing-masing memiliki sruktur seperti benang (thread-like structure) yang terbuat dari kira-kira delapan puluh ribu gene. Sejak tahun 1953, kita tahu bahwa gene-gene ini terdiri dari DNA (doble-helix molecule of deoxyribonucleic acid) dan pada interval (jarak waktu) yang teratur sepanjang rangkaian sebuah DNA, satu dari empat kimia yang berdasar nitrogen (nitrogen based chemicals) dilekatkan/disambungkan. Zat-zat kimia itu disingkat A, G, C dan T, adalah “huruf” dari kode genetik itu. (Saya mohon bantuan Pak Klian untuk memperbaiki terjemahan ini, NPP). Tapi sains masih belum tahu secara pasti bagaimana kode genetik ini bekerja, dan para ilmuwan masih bekerja untuk menemukan cara untuk mengurutkan atau merangkaikan mereka secara tepat. Pasti kita berharap pemahaman tentang kode genetik ini akan meletakkan dasar untuk menaklukan hampir sebagian besar penyakit dan juga untuk memecahkan banyak sekali teka-teki kehidupan. “Apakah ada sinar di ujung terowongan?” adalah sebuah pertanyaan yang membingungkan. Setiap kali sains menemukan sesuatu, penemuan itu memunculkan lagi seribu pertanyaan lain. Kita harus menunggu dan melihat jawaban-jawaban apa yang akan diberikan oleh sains terhadap teka-teki kehidupan ini.

NASEHAT PENUTUP

AYAH, HAMPIR SELAMA ENAM ATAU TUJUH JAM ANDA TELAH MENJAWAB SEMUA PERTANYAANKU. MOHON JAWAB PERTANYAAN TERAKHIR INI. APAKAH ANDA SUNGGUH-SUNGGUH BERPIKIR BAHWA SAYA HARUS MEMPELAJARI DAN MEMPRAKTEKKAN AGAMA HINDU?

Nak, sampai kamu berusia sembilan belas tahun, saya mungkin dapat memaksa kamu untuk membaca dan memahami agama Hindu sebab aku rasa adalah kewajibanku untuk menunjukkan kepadamu semua hal-hal baik dalam hidup, tapi aku tidak akan menjawab “ya” atau “tidak’ atas pertanyaanmu. Apakah kamu akan mengikuti agama Hindu untuk selama hidupmu terserah kepadamu.

Kamu punya pikiran yang analitis, jadi kamu yang memutuskan mengenai hidupmu. Kini guliranmu untuk duduk dan menganalisis dunia di sekitarmu. Apa yang kamu lihat? Pada fajar kedatangan abad dua puluh, sains modern masih meraba-raba dalam gelap. Sains sampai kini hanya memiliki teori tentang awal dari alam semesta; sains masih belum dapat mendefinsikan kamatian; penemuan-penemuannya hanya menciptakan makin banyak keserakahan, kemarahan, penipuan dan stres pada manusia.

Lihat pertanyaan tentang usia tua, misalnya. Terlepas dari semua penelitian, para ilmuwan masih belum tahu mengapa manusia menjadi tua dan mati, sekalipun mereka percaya bahwa hal itu disebabkan oleh akumulasi pecahan-pecahan dari substansi dasar keturunan yang dikenal dengan DNA.

Ingatlah, sains modern menyediakan kita dengan kaleng-kaleng erosol (erosol cans) dan bahan pendingin (coolants) seperti freon (CFC) yang menghancurkan lapisan ozon di atas kita. Lapisan ozon ini telah melindungi dunia selama berabad-abad dari radiasi matahari yang mematikan. Sekarang ini, para ilmuawan telah menemukan dua lubang pada lapisan ozon, satu diatas Antartica dan satu lagi di atas Arctic.

Ingatlah, sains modern yang telah memberikan kita energi nuklir, masih bergulat dengan masalah-masalah untuk membuang atau memusnahkan sampah nuklir ini – yang akan ada bersama kita untuk ribuan tahun yang akan datang, bahkan setelah para ilmuwan menemukan satu bentuk energi yang aman bagi kita.

Aku sama sekali tidak ingin meremehkan pencapaian besar dari ilmu pengetahuan dalam rekayasa genetika atau biologi molekuler atau cabang ilmu pengetahuan yang lain. Aku menghormati pencapaian-pencapaian besar itu dan mempelajarinya dengan sepenuh hati seperti kamu dan orang-orang lainnya. Satu hal yang aku tidak suka adalah pengagungan yang tidak perlu dari ilmu pengetahuan. Pada akhir abad ke dua puluh, sains mungkin hanya menyentuh ujung dari gunung es besar ilmu pengetahuan. Ingat, ada paling sedikit seratus miliar galaksi dalam alam semesta ini dan masing-masing daripadanya terdiri dari miliaran bintang-bintang. Kita mungkin tidak akan pernah melihat sebuah papan tanda, “Stop, alam semesta berhenti di sini.”

Kita masih mencari unit atomik yang terakhir (ultimate atomic unit), sekalipun dewasa ini hal itu adalah quark. Ingat bahwa setiap tetes air terdiri dari ribuan bentuk-bentuk hidup. Setiap kali para astronom melihat melalui teleskop yang amat kuat mereka menemukan galaksi-galaksi baru. Setiap kali para biolog melihat melalui mikroskop yang amat kuat mereka menemukan bentuk-bentuk kehidupan yang baru. Inilah yang terjadi dalam ilmu pengetahuan di dunia dewasa ini. Jadi, sains modern masih dalam keadaan orang buta. Kita tidak dapat menyerahkan hidup kita kepada ilmu pengetahuan untuk diatur seratus persen, karena sains sendiri belum tahu kemana dia akan pergi. Rekayasa genetika mungkin menuntun kita kepada satu kehidupan yang bebas masalah atau ia dapat membuat hidup kita menjadi satu mimpi buruk genetika (genetic nightmare). Percaya padaku, aku hanya menyebutkan fakta-fakta dan sama sekali tidak berprasangka sedikitpun dalam pernyataan-pernyataanku.

Melihat hakikat dunia yang sebenarnya, pertanyaanku kepadamu adalah : Apakah kamu tidak menjadi lebih baik memasuki dunia ini dipersenjati dengan pengetahuan yang diajarkan oleh agama Hindu? Mohon dipahami bahwa ketika aku bicara tentang agama Hindu, aku tidak bicara tentang upacara persembahyangan atau gerak-gerak seremonial. Aku tidak juga bicara tentang perjalanan ke pura atau tempat-tempat suci. Aku secara tegas bicara mengenai pengetahuan yang diajarkan atau ditawarkan oleh Weda-Weda dan Bhagawad Gita. Setelah mempelajarinya, cobalah untuk mempelajari agama-agama lain. Aku juga tidak meminta kamu untuk membuang kesenangan yang disediakan oleh materi bagimu. Aku hanya meminta kamu bahwa kamu mempelajari kebenaran-kebenaran yang diajarkan oleh agama Hindu, sebab agama Hindu bukan hanya agama tetapi juga cara hidup (way of life). Kemudian, bila kamu menemukan satu cara yang lebih baik untuk menjawab semua masalah-masalahmu, bila kamu melihat sains dapat memecahkan semua teka-teki dalam hidup, kamu bisa saja membuang agama Hindu dan semua agama yang lain. Semoga berhasil! Mohon diingat, unsur yang paling penting dari agama Hindu adalah menjadi benar atau jujurlah terhadap dirimu sendiri (being truthful to yourself). Bila kamu tidak memiliki kualitas itu, kamu tidak akan mampu menangkap baik agama maupun sains.

~ Article view : [259]

SHARE
Previous articleMetatah
Next articleSilsilah Wayang Indonesia