Api di Bukit Menoreh [ series 11-14]

341

Karya : SH Mintardja

 

Series 11

Sumangkar memandang orang itu. Orang yang bertubuh kekar itu. Ia melihat beberapa cacat tubuhnya. Jari-jari tangan kirinya tidak lagi genap. Tiga di antaranya terpotong dalam pertempuran. Sebuah goresan melintang menghias dadanya, dan di pelipisnya tampak bekas luka pula.

“Aku bukan lagi mondar-mandir saja Tundun. Tetapi aku lagi menanak nasi di belanga itu.”

Tundun, orang yang besar kekar itu mengerutkan keningnya, jawabnya, “Tetapi menanak nasi tidak terus-menerus harus kau tunggui. Bukankah kau dapat melakukan pekerjaan yang lain sambil menunggu nasi itu masak.”

“Ah,” desah Sumangkar. “Biarlah kita mengerjakan pekerjaan ini di antara kita.”

“Aku mendapat tugas untuk mengawasi dan menjaga perkemahan ini,” jawabnya lantang.

Sumangkar masih berdiri di tempatnya. Dilihatnya kemudian Tundun menghampirinya dengan mata yang memandanginya tajam-tajam. “Ayo lakukan!” bentaknya.

“Jangan takut bahwa kami akan terlambat,” sahut Sumangkar.

Tetapi orang itu membentak sekali lagi. “Jangan membantah. Kalau tak kau lakukan perintahku, aku robek mulutmu, tua Bangka.”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya sekali lagi mata orang itu. Mata itu menjadi semakin tajam memandanginya. Sumangkar tersenyum di dalam hati. Tetapi ia menundukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berjalan kembali ke tempat kawan-kawannya bekerja.

Ketika ia kemudian membungkukkan badannya meraba tubuh rusa yang menggeletak di samping perapian, maka terdengar kawannya yang pertama-tama bertanya kepadanya itu berbisik, “Sudahlah. Biarlah nanti aku kerjakan.”

Sumangkar berpaling. Dilihatnya kawannya itu. Seorang yang bertubuh kecil. Jawabnya, “Biarlah, biarlah aku lakukan perintah Tundun itu.”

“Kau sudah terlalu tua untuk bekerja terlalu banyak,” katanya. “Aku menyesal menanyakannya kepadamu, sehingga Tundun membentak-bentakmu.”

Sumangkar menepuk bahu orang yang bertubuh kecil itu. Kini ia benar-benar tersenyum. “Biarlah Bajang, biarlah aku mengerjakannya.”

Orang bertubuh kecil dan mendapat panggilan Bajang itu masih juga berkata, “Sudahlah Sumangkar. Duduk sajalah di samping rusa itu. Tundun akan menyangka bahwa kau sudah bekerja untuk melakukan perintahnya. Nanti kalau aku sudah selesai dengan pekerjaan ini, biarlah aku mengerjakannya.”

Tetapi Sumangkar menyentuh tubuh rusa itu, dan kemudian mengerjakannya dengan cekatan. Memang orangtua itu mempunyai keahlian sebagai juru masak yang baik. Tetapi beberapa orang menganggapnya, meskipun ia juru masak yang baik, namun ia agak terlalu malas. Tetapi Bajang menganggap lain. Sumangkar sudah terlalu tua. Bukan semata-mata karena malas.

Dalam mengerjakan pekerjaan itu, pikiran Sumangkar tidak dapat lepas dari murid saudara tua seperguruannya. Tohpati, yang hari ini terasa sangat aneh. Ia melihat betapa persiapan Tohpati itu melampaui kebiasaan yang dilakukannya. Kali ini Macan Kepatihan itu terlalu teliti. Perintahnya menentukan semuanya, dan Sumangkar melihat perintah itu sedemikian rapinya, sehingga ia seakan-akan melihat gelar Dirada Meta yang perkasa benar-benar akan melanda Sangkal Putung. Tetapi Sumangkar menyadari pula, bahwa di Sangkal Putung ada Untara dan Widura. Kedua orang itu benar-benar telah mengagumkannya pula.

Tetapi yang terlebih aneh lagi bagi Sumangkar adalah percakapannya sendiri dengan Macan Kepatihan itu. Ketika pasukan Tohpati itu telah benar-benar dipersiapkan, maka tiba-tiba Sumangkar ingin melihat, apakah yang akan terjadi di medan pertempuran. Ia melihat perbedaan-perbedaan pada sikap dan perbuatan Tohpati menjelang keberangkatan laskarnya.

Tetapi Tohpati itu berkata, “Tidak Paman. Paman tinggal di perkemahan ini. Paman sudah cukup lama mengalami masa-masa yang pahit. Sekarang biarlah Paman beristirahat. Biarlah pekerjaan ini dilakukan oleh yang muda-muda.”

Tohpati benar-benar berbeda dari kebiasaannya. Ketika Macan Kepatihan itu kemudian bermohon diri kepadanya maka katanya, “Paman, kali ini bagiku adalah kali yang terakhir. Hanya ada dua kemungkinan bagiku kali ini. Menang atau kalah. Supaya peperangan ini tidak menjadi semakin berlarut-larut.”

“Apakah maksudmu Raden,” Sumangkar mencoba bertanya.

Tohpati menggelengkan kepalanya. Dan Sumangkar ditinggalkannya. Beberapa langkah kemudian Tohpati itu berpaling, seolah-olah ia ingin mengatakan seseatu, tetapi tidak jadi.

“Apakah ada yang akan Angger katakan,” Sumangkar mencoba bertanya.

“Tidak Paman. Tidak ada yang akan aku katakan.”

Tohpati kemudian pergi. Pergi ke gubugnya. Sampai kemudian pasukannya berangkat. Sumangkar tidak bercakap-cakap lagi dengan Macan Kepatihan itu. Ia hanya melihat Tohpati berdiri di muka pasukannya dengan tanda-tanda kebesaran sepenuhnya. Bukan sekedar tanda-tanda kebesaran dari suatu susunan kesatuan, tetapi benar-benar tanda-tanda kebesaran Jipang selengkapnya.

Kali ini Sumangkar melepaskan Tohpati dengan hati yang risau. Aneh. Seperti melepaskan anak-anak menyeberangi sungai yang lagi banjir.

Tetapi Sumangkar itu terkejut ketika tiba-tiba ia merasa punggungnya didorong seseorang. Karena Sumangkar itu sama sekali tidak menyangka, maka hampir-hampir ia jatuh terjerembab. Ketika ia berpaling, dilihatnya Tundun berdiri di belakangnya. “Jangan termenung. Aku bilang kerjakan rusa itu.”

“Ya. Ya Tundun,” jawab Sumangkar cepat-cepat.

“Tetapi kalau aku pergi, kembali kau duduk saja termenung. Kau benar-benar malas. Kalau Macan Kepatihan mengetahui kemalasanmu lehermu itu pasti akan dipatahkannya.”

“Ya, Tundun maksudku…”

“Diam!” bentak Tundun. “Aku mau kau bekerja, tidak menjawab setiap kata-kataku.”

Sumangkar tidak menjawab. Ternyata ketika kenangannya terbang mengikuti Tohpati, tangannya berhenti bekerja.

“Sudahlah Tundun,” tiba-tiba Bajang menyahut, “biarlah orang tua itu bekerja menurut kekuatan tenaganya. Jangan dipaksa. Ia telah terlalu lemah.”

Tundun berpaling. Dipandanginya Bajang dengan matanya yang tajam. Kemudian terdengar ia membentak, “Jangan turut campur Bajang. Aku tahu apa yang harus aku kerjakan.”

“Tetapi kau terlalu kasar, Tundun.”

“He!” teriak Tundun. “Kau berani membantah, dan mengatakan aku terlalu kasar?”

“Aku mengatakan sebenarnya.”

“Gila kau Bajang, apa aku harus menampar mulutmu?”

“Aku tidak mau kau perlakukan kasar.”

Tundun benar-benar menjadi marah. Tiba-tiba kakinya terayun deras sekali ke arah Bajang berjongkok di samping Sumangkar. Tetapi ternyata Bajang pun cekatan. Segera ia meloncat menghindari kaki Tundun. Bahkan kemudian Bajang telah berdiri tegak. Di tangannya masih tergenggam sebilah pisau yang tajam berkilat-kilat.

“Kau berani melawan aku Bajang?” suara Tundun gemetar karena marahnya.

“Kau sangka bahwa karena tubuhmu yang cacat karena ciri-ciri peperangan itu kau ditakuti orang, Tundun. Bajang adalah seorang prajurit pula. Aku menyesal telah dilemparkan di dapur yang kotor dan memuakkan ini. Ayo, kalau kau ingin melihat, apakah Bajang juga mampu berkelahi.”

Tundun hampir-hampir tidak mampu menahan diri lagi. Tetapi ketika mereka hampir bertempur, maka segera Sumangkar berkata, “Jangan bertengkar. Kalau kalian bertengkar, maka kalian akan mempercepat kebinasaan kita sendiri.”

Tetapi Tundun dan Bajang tidak mendengarnya. Masing-masing kemudian setapak maju lagi. Namun tiba-tiba mereka terkejut ketika di kejauhan mereka mendengar suara ribut. “Siapa itu he, siapa itu?” Disusul dengan suara tawa nyaring. Kemudian terdengar teriakan di kejauhan. “Aku datang dengan dada terbuka. Ayo. Siapa yang berada di perkemahan ini?”

“Jangan membunuh diri,” terdengar jawaban.

Tundun dan Bajang terpaksa menghentikan permusuhan yang hampir-hampir meledak itu. Dengan marahnya Tundun menggeram, “Tunggu Bajang, akan datang saatnya kepalamu terkelupas.”

Bajang pun tidak kalah marahnya. Meskipun ia bertubuh kecil tetapi ternyata ia lincah bukan kepalang. Dengan beraninya ia menjawab, “Asal kau datang dari depan saja, Tundun. Jangan memperkecil arti Bajang yang kecil ini.”

Kemarahan Tundun tiba-tiba terungkat semakin tajam. Tetapi di kejauhan terdengar pula suara nyaring. “Ayo. Siapa yang bertugas menunggu kemah ini.”

Dada Tundun tergetar mendengar suara itu. Suara itupun seakan-akan menantangnya. Sebab ialah yang bertugas memimpin beberapa orang untuk menunggui kemah ini.

Karena itu, maka segera Tundun berlari ke arah suara itu. Sesaat ia melupakan Bajang dan Sumangkar. Namun Bajang pun mendengar pula suara di kejauhan. Dan iapun ingin melihat siapakah yang dengan beraninya mendatangi perkemahannya. Perlahan-lahan iapun melangkah ke arah Tundun menghilang di belakang belukar, dan Sumangkar pun menyusul pula di belakang mereka.

***

Di kejauhan kemudian Tundun melihat dua anak buahnya yang bertugas di sisi Utara berdiri tegang menatap kebalakang gerumbul.

“Ayo, kemarilah,” berkata salah seorang penjaga itu, “apakah kau bernyawa rangkap?”

Tiba-tiba sekali lagi terdengar suara tertawa itu. Dan tiba-tiba muncullah dari balik gerumbul seorang anak muda yang lincah sekali. Sambil tertawa ia berdiri bertolak pinggang. Kemudian katanya, “He, apakah laskar Tohpati tidak berangkat seluruhnya?”

Tundun terkejut bukan buatan melihat anak muda itu. Anak muda itu pernah dilihatnya di medan peperangan ketika ia ikut mencoba merebut Sangkal Putung. Tetapi ia kurang yakin.

Karena itu maka tubuhnya segera menjadi gemetar. Gemetar karena marah. Namun juga gemetar karena cemas.

Sekali lagi Tundun melihat orang itu tertawa sambil bertolak pinggang. Sambil mennjuk kepadanya ia berkata, “Ha. Itu datang satu lagi. Ayo. Kumpulkan semua kawan-kawanmu yang tinggal. Lima puluh atau sepuluh orang?”

Tundun memandang kedua kawannya yang lebih dahulu melihat orang yang bertolak pinggang itu. Kemudia ia berpaling, dan dilihatnya di belakangnya. Punggungnya terasa berdesir, sebab Bajang masih menggenggem pisau dapur yang tajam berkilat-kilat. Tetapi Tundun itu berlega hati ketika ternyata Bajang pun kemudian berdiri di sampingnya sambil memandang anak muda yang tertawa menjengkelkan.

“Kau siapa?”yang bertanya mula-mula sekali adalah Bajang.

Yang ditanya masih juga tertawa.

Bajang menjadi marah. Sekali ia membentak. “He. Diam! Jangan seperti orang mabuk.”

Suara tertawa itu terputus. Dipandangnya Bajang dari ujung kaki ke ujung kepalanya. “Kau belum mengenal aku?”

“Apakah namamu cukup bernilai untuk dikenal oleh setiap orang?”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Jawaban Bajang benar-benar menyakitkan hatinya. Namun selain menyakitkan hati anak muda itu, juga menyakitkan hati Tundun. Seakan-akan Bajang itu lebih berani daripadanya.

Karena itu Tundun itupun berteriak, “Jangan merasa dirimu dikenal setiap orang. Andaikata aku mengenalmu sekalipun aku tidak akan terkejut melihat tampangmu di sini.”

Anak muda itu menggeram. Namun sekali lagi ia tertawa. Katanya, “Hem. Empat orang. Apakah masih ada yang lain?”

Untuk apa kau cari yang lain? Agaknya kau anak yang terlalu sombong.”

“Terserahlah kau menilai diriku. Tetapi kalian berempat ini bagiku hampir tak berarti sama sekali. Aku datang karena aku ingin melihat kekuatan perkemahanmu. Aku ingin menghitung ada berapa gubug yang kau dirikan di sini, dan ada berapa luas tanah yang kau perlukan.”

“Cukup!”teriak Tundun. Tetapi terasa suaranya ragu-ragu, sebab ia pernah mengenal akan muda itu di medan pertempuran. Namun ia menjadi heran. Kenapa kali ini anak muda itu tidak berada di medan? Apakah ia mendapat tugas khusus dari Untara untuk mendatangi perkemahan ini?

Tetapi anak muda itu masih tertawa. Suaranya semakin menyakitkan hati. Bahkan suara tertawa itu menjadi semakin dibuat-buat agar yang mendengar menjadi marah.

“Jangan membentak-bentak. Aku ingin berjalan berkeliling kemah ini. Kau dengar. Kalau kau berani, halangiaku. Berempat, atau panggil kawan-kawanmu yang lain. Kalau tidak, biarkan aku berjalan-jalan di sini.”

Bajang masih heran melihat Tundun, pemarah itu, masih berdiri saja di tempatnya. Biasanya, dalam keadaanyang demikian, ia pasti sudah berlari menyerbu dengan garangnya. Tetapi kini Tundun itu masih tegak seperti patung meskipun terdengar giginya gemeretak. Bahkan sekali lagi ia memandang berkeliling. Dua orang anak buahnya, dan Bajang. Kemudian berempat dengan dirinya sendiri. Meskipun baru saja ia bertengkar dengan Bajang, namun ia mengharap Bajang tidak mengkhianatinya. Meskipun demikian, kalau perlu ia dapat memanggil orang-orangnya yang lain dengan sebuah tanda yang telah mereka tentukan. Empat atau lima orang akan datang bersama-sama. Tetapi apabila langsung mereka terlibat dalam perkelahian, setidak-tidaknya mereka berempat lebih dahulu yang harus bertahan. Mungkin berlima dengan Sumangkar. Tetapi Sumangkar itu tidak dilihatnya. Dan Sumangkar bagi Tundun adalah seorang tua pemalas yang sama sekali tidak berguna. Namun dalam pada itu sekali lagi terdengar Bajang menggeram, “Kau belum menjawab pertanyaanku, siapakah kau itu?”

Anak muda itu memandangnya dengan nyala ketidak senangan di matanya. Kemudian kepada Tundun ia berkata, “Apakah kau juga belum mengenal aku?”

Tundun menggeleng. Pura-pura ia belum mengenalnya pula. Katanya pula, “Yang aku kenal hanyalah orang-orang yang penting di daerah ini. Tohpati, Widura, Untara, Tambak Wedi. Sedang tampangmu sama sekali tidak berarti bagiku. Apalagi sebentar lagi kau akan mati terkubur di sini.”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Bagus. Mungkin kalian akan mencincang aku. Tetapi baiklah aku perkenalkan diriku. Kalian pernah mendengar nama Tambak Wedi.”

“Jangan menyebut nama itu. Apakah kau bermaksud menempatkan dirimu di sisi nama itu?”

Anak muda itu tertawa. “Tidak. Itu tidak mungkin, sebab aku adalah muridnya.”

Yang mendengar jawaban itu terkejut bukan kepalang. Mereka pernah mendengar cerita tentang murid Tambak Wedi yang bernama Sidanti. Seorang yang kini berhasil menempatkan dirinya di samping Macan Kepatihan.

Karena itu maka dada mereka menjadi semakin berdebar-debar. Tundun memang pernah melihat kegarangan anak muda itu, yang pernah berhasil membunuh Plasa Ireng. Mengerikan. Bulu kuduk Tundun itu meremang. Iakini menjadi yakin. Siapakah yang kini berdiri di mukanya. Mayat Plasa Ireng yang hampir tidak berbentuk itu terbayang di wajahnya. Gila. Anak muda itu adalah anak muda yang sangat buas. “Pantas, ia tidak berada di medan.

Aku pernah mendengar, bahwa ada perselisihan antara Sidanti dan Widura. Hem. Aku pernah melihat tampangnya, dan aku pernah mendengar nama Sidanti. Tetapi baru sekarang aku pasti, bahwa yang bernama Sidant iitu adalah anak yang membunuh Plasa Ireng itu pula.”Tundun yang bergumam di dalam hatinya itu kemudian mencoba mengingat-ingat kembali pada saat Plasa Ireng terbunuh. Pada saat itu ia hampir tidak mempedulikannya, siapakah yang membunuh. Baginya orang-orang Pajang sama saja semuanya. Semuanya harus dibinasakan.

Namun dengan demikian ia menjadi ragu-ragu. Apalagi kedua kawan-kawannya yang lain. Mereka berdiri membeku di tempatnya. Kalau benar Sidanti itu telah menjadi sejajar dengan Tohpati, maka akan binasahlah mereka semuanya.

Tetapi tiba-tiba timbul pikiran yang memberi harapan bagi Tundun. Apabila Sidanti itu benar-benar berselisih dengan Widura dan Untara, maka apakah kedatangannya itu dapat dianggap sebagai kawan? Karena itu maka segera Tundun bertanya, “Sidanti, kenapa kau tidak berada di medan. Bukankah hari ini berkobar perang yang terbesar yang pernah terjadi di Sangkal Putung?”

Sidanti mengerutkan keningnya. Ia menjajagi pertanyaan itu. Katanya, “Kenapa kau bertanya tentang hal itu”

“Ya kenapa? Bukankah kau prajurit Pajang?”

Sidanti tertawa. Jawabnya, “Aku dapat berbuat sekehendakku. Apakah aku ingin berperang, apakah aku ingin melihat-lihat hutan ini. Tak seorangpun pula yang dapat mencegah kehendakku.”

Dada Tundun menjadi berdebar-debar. Namun dipaksanya juga mulutnya berkata, “Hem, aku dengar kau tidak lagi berada dalam lingkungan keprajuritan Pajang.”

Tundun terkejut mendengar jawaban Sidanti. “Apa perdulimu?”

Sesaat Tundun terdiam. Tetapi kemudian ia bertanya pula, “Lalu apa maksudmu kemari?”

“Sudah aku katakan. Aku ingin melihat, berapa kemah yang ada dan berapa luas tanah yang diperlukan. Aku ingin mengira-ngirakan kekuatan Tohpati.”

“Untuk apa?”

“Sekehendakku.”

Tiba-tiba Tundun bertanya, “Apakah kau tidak bermaksud bekerja bersama dengan Macan Kepatihan?”

Sidanti tertawa. Benar-benar menyakitkan telinga, katanya, “Kau sudah gila agaknya. Apa arti Tohpati bagiku, dan apakah arti seluruh kekuatannya?”

Sekali lagi dada Tundun berdesir. Betapapun juga ia adalah seorang prajurit. Karena itu, maka meskipun ia telahmendengar bahwa Sidanti itu mempunyai kesaktian yang hampir setingkat dengan Macan Kepatihan, namun adalah kewajibannya untuk menunaikan tugasnya. Karena itu maka katanya, “Sidanti. Aku hormat kepadamu. Akupernah mendengar bahwa kau memang seorang anak muda yang pilih tanding. Tetapi kali ini perkemahan ini menjadi tanggung-jawabku. Maka jangan mencoba berbuat hal-hal yang dapat membahayakan keselamatannmu.”

Kini Sidanti itu tertawa terbahak-bahak. Di antara tertawanya terdengar ia berkata, “O, prajurit yang malang.

Kenapa kau berani berkata demikian padaku? Sudah aku katakan, tak seorangpun dapat memerintah aku, dan takseorangpun dapat menghalangi kemauanku. Kali ini aku ingin berjalan-jalan mengelilingi perkemahan ini. Janganmencoba mencegahnya.”

Hati Tundun adalah hati yang mudah terbakar. Kali inipun betapa bara menyeka di dadanya. Namun terhadap Sidanti ia harus berhati-hati. Sekali lagi ia memandang kedua kawannya yang seolah-olah telah membeku. Di sampingnya berdiri Bajang seperti patung pula. Namun tampak bahwa wajah orang yang bertubuh kecil ini sama sekali tidak menunjukkan kecemasan di hatinya. Bajang masih juga berdiri dengan wajah menyala. Bahkan kemudian ia menggeram. “Sidanti. Jangan menganggap kami di sini sebagai anak-anak yang takut mendengar anjing menggonggong.”

Sidanti terkejut mendengar kata-kata itu. Benar-benar menyakitkan hati. Karena itu maka tiba-tiba warna merah menjalar di wajahnya. Katanya, “Siapa kau?”

“Namaku Bajang.”

“Kau masih belum terlalu tua. Kenapa kau mencoba membunuh dirimu? Apakah kau tidak senang hidup di lingkungan Macan Kepatihan?”

“Jangan mengigau. Cobalah kau maju selangkah lagi. Maka kau akan berkubut di tanah ini.”

Sidanti benar-benar telah terbakar oleh kemarahannya yang memuncak. Karena itu tiba-tiba ia meloncat maju sambil berteriak. “Kumpulkan semua pengawal barak-barak di perkemahan ini. Ayo, inilah Sidanti, murid Tambak Wedi.”

Tundun, kedua prajurit yang lain, dan Bajang sendiri kini tidak dapat mengelakkan diri lagi. Mereka harus menghadapi anak muda yang berani dan perkasa ini. Bagaimanapun juga mereka adalah prajurit-prajurit yang sudah terlalu sering bermain-main dengan senjata dan bercumbu dangan maut.

Ketika mereka melihat Sidanti dengan sigapnya meloncat maju, maka merekapun segera mendekat pula. Tanpa berjanji mereka berdiri seberang-menyeberang. Seakan-akan mereka sengaja mengepung Sidanti yang dengan garangnya berdiri di antara mereka.

“Kau yang tajam mulut,” geram Sidanti sambil menunjuk kepada Bajang, “kaulah yang pertama-tama akan aku sobek mulutmu.”

Tetapi agaknya Bajang sama sekali tidak takut. Dengan pisaunya ia bersiap menghadapi setiap kemungkinan.

Tundunpun kemudian bersiap pula. Ia tidak mau kalah daripada Bajang. Bajang yang hanya bersenjatakan pisau dapur betapapun besar dan tajamnya, berani menghadapi Sidanti dengan tatagnya, maka Tundun yang di pinggangnya tergantung sebilah pedang, pasti harus lebih berani daripadanya.

Sidanti yang berdiri di antara mereka, sekali lagi memandang setiap wajah di sekitarnya. Tundun yang cacat, Bajang yang kecil dan kedua prajurit yang lain. Tiba-tiba Sidanti itu berkata nyaring. “Ayo, siapkan senjata-senjata kalian. Apakah kalian dapat menggerakkannya dengan baik?”

Tanpa dikehendaki, maka tiba-tiba tangan mereka yang berdiri di sekeliling Sidanti itu menarik senjata masing-masing.

Dengan serta merta senjata-senjata itupun segera tertuju ke arah Sidanti.

“Nah, kalian ternyata sigap pula menarik senjata. Sekarang aku ingin tahu, apakah kalian mampu bermain-main dengan senjata-senjata itu.”

Tundun tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia melompat menusuk Sidanti. Tetapi Sidanti benar-benar lincah selincah sikatan. Pedang itu meluncur beberapa cengkang di muka telinga kanannya.

Sambil menghindar Sidanti sempat berteriak. “Ha. Ternyata kau adalah prajurit yang baik. Meskipun tubuhmu telah dipenuhi oleh cacat badaniah, namun kesetiaanmu kepada Macan Kepatihan tidak juga berkurang.”

***

Tetapi ternyata mereka salah sangka. Sidanti sama sekali tidak berusaha untuk mencegah orang yang membunyikan tanda bahaya itu. Bahkan sambil tertawa ia berkata, “Baik. Aku beri kesempatan kalian memanggil kawan-kawan kalian. Berapa orangkah semua yang masih ada di perkemahan ini? Sepuluh atau lebih? Kalau lebih dari sepuluh, aku harus berpikir-pikir untuk segera mengurangi jumlah itu supaya aku tidak kelelahan.”

Kata-kata itu benar-benar menyiksa perasaan prajurit-prajurit Jipang itu. Dengan penuh luapan kemarahan mereka berjuang sekuat tenaga mereka. Tetapi bagi Sidanti mereka benar-benar tidak berarti.

Beberapa kawan-kawan mereka di tempat-tempat yang lain terkejut mendengar tanda itu. Mereka menyangka bahwa beberapa orang Pajang telah menyerang mereka. Beberapa orang yang tidak dipasang dalam gelar untuk melawan Macan Kepatihan. Karena itu segera mereka berlari-lari menuju ke arah tanda itu. Empat orang dari dua sudut penjagaan datang hampir bersamaan. Tetapi mereka terkejut ketika mereka melihat, bahwa di tempat itu hanya ada seorang yang sudah bertempur melawan empat orang prajurit Jipang.

Dengan nanar mereka mencoba memandang berkeliling. Namun mereka tidak melihat orang selain daripadayang sedang bertempur itu. Sehingga salah seorang dari mereka berteriak, “Kenapa dibunyikan tanda bahaya?”

“Kau lihat lawan ini?” berteriak Tundun.

“Yang hanya seorang itu?”

“Buka matamu lebar-lebar,” jawab Tundun. “Meskipun seorang tetapi ia adalah anak iblis.”

Yang terdengar kemudian adalah suara tertawa Sidanti, katanya, “Ya. Yang seorang ini anak iblis. Berapa orang kalian yang datang? Apakah genap enam orang, sehingga semua berjumlah sepuluh dengan orang-orang yang pertama?”

Keempat orang yang datang itu baru menyadari keadaan lawannya, mereka kini melihat keempat kawannya masih berkelahi dengan sekuat-kuat tenaga mereka dengan senjata di tangan. Namun lawannya yang hanya seorang itu, dengan tersenyum selalu menghindarkan diri dari serangan yang bagaimanapun dahsyatnya. Bahkan merekapun kemudian melihat bahwa yang seorang itu masih belum mempergunakan senjatanya.

“Jangan berdiri seperti patung!” teriak Tundun. “Apakah kalian menunggu kami menjadi bangkai?”

Teriakan itu benar-benar telah membangunkan mereka dari kekaguman mereka melihat tata gerak Sidanti. Lincah, tangguh dan membingungkan. Karena itu segera mereka mencabut senjata masing-masing dan terjun ke dalam arena perkelahian itu.

“Apakah kalian tidak akan saling menusuk di antara kawan-kawan sendiri?” teriak Sidanti.

Tak seorangpun yang menjawab. Namun kini kepungan mereka menjadi semakin rapat. Ujung-ujung senjata semakin cepat menyambar kulit Sidanti dari segala arah. Karena itu maka katanya kemudian, “Nah, sekarang baru aku merasa perlu mempergunakan pedang. Ayo, sebutkan jumlah kalian, berapa?”

Tetapi pertanyaan itu dijawab dengan serangan yang datang bertubi-tubi dengan sengitnya. Namun akhirnya Sidanti berhasil menghitung mereka, katanya, “Delapan. Aku harus mengurangi tiga di antara kalian. Aku hanya ingin melawan lima orang.”

“Gila!” geram Tundun. Tetapi segera ia terdiam ketika pedang Sidanti yang baru saja ditarik itu hampir-hampir menyentuh hidungnya. Dan hampir-hampir cacat di wajahnya bertambah seleret lagi.

Demikianlah perkelahian itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Dalam pada itu Tundun masih menunggu beberapa orang kawannya yang sedang nganglang.

Tetapi kawan-kawannya yang nganglang itu berada di tempat yang cukup jauh. Mereka tidak menyangka bahwa akan datang bahaya di perkemahan mereka, sehingga mereka kehilangan kewaspadaan. Mereka bahkan sedang asyik berburu rusa dan kijang.

Karena itu maka mereka sama sekali tidak mendengar tanda yang dibunyikann oleh kawan Tundun di perkemahan.

Maka Tundun terpaksa bertempur dengan kawan-kawannya yang telah ada. Delapan orang. Kemudian datang pula dua orang, namun mereka sama sekali bukan prajurit. Mereka adalah orang-orang dapur, kawan-kawan Sumangkar. meskipun demikian, mereka membawa senjata di tangan mereka. Tetapi dalam perkelahian itu merekatidak segera dapat ikut serta.

Sidanti kemudian berkelahi dengan lincahnya melawan delapan orang. Ia menyangka bahwa ia akan dapat bermain-main dengan lawannya itu. Tetapi ternyata keadaannya berbeda dengan dugaannya. Prajurit Jipang adalah sebenarnya prajurit. Hanya satu dua dari mereka adalah orang-orang yang kurang baik. Namun yang lain adalah prajurit-prajurit yang cukup. Meskipun bukan orang-orang puncak.

“Hem,” desis Sidanti sambil meloncat-loncat, “ternyata kalian cukup terlatih. Karena itu, maka jangan lebih dari lima supaya aku dapat bermain-main dengan baik tanpa menyakiti kamu sekalian. Tetapi kalau di antara kalian tidak ada yang meninggalkan arena ini, aku terpaksa memaksamu.”

Tak seorangpun yang menjawab. Bahkan mereka bekerja semakin keras. Senjata-senjata mereka berganti-ganti sambar-menyambar tak henti-hentinya, sehingga semakin lama Sidanti semakin merasa bahwa sangat berat baginya untuk melawan delapan orang itu sekaligus. Ia terpaksa sekali-sekali meloncat jauh ke belakang, kemudian dengan cepatnya melingkar dan menyerang seperti petir menyambar di udara.

Kedelapan orang itupun merasa, betapa besar tenaga anak muda yang bernama Sidanti itu. Kini Tundun mulai dirayapi oleh kepercayaannya bahwa Sidanti benar-benar mampu menempatkan diri hampir sejajar dengan Macan Kepatihan.

Namun betapapun kuatnya Sidanti, untuk melawan delapan orang sekaligus adalah berat baginya. Karena itu, ia kemudian terpaksa bekerja mati-matian. Sebab kedelapan orang itupun bekerja dengan keras dan bertempur mati-matian pula.

“Sebenarnya aku tak ingin menyakiti kalian, ”teriak Sidanti, “tetapi ternyata melawan kalian berdelapan adalah berat sekali. Kalian benar-benar prajurit yang tangguh. Karena itu, seandainya pedangku melukai salah seorang dari kalian, janganlah kalian menjadi sakit hati.”

Kata-kata itu sama sekali tidak mendapat perhatian. Bahkan dengan demikian Tundun dan kawan-kawannya merasa, bahwa Sidanti merasa terdesak. Karena itu justru mereka memperketat tekanan mereka.

Sidanti yang merasa semakin terdesak akhirnya menjadi marah pula. Darahnya semakin lama benar-benar semakin panas. Apalagi ketika kemudian sebuah goresan melukai punggungnya. Goresan itu tidak terlalu dalam. Namun goresan itu telah menyobek baju dan menyentuh kulitnya.

Luka itu, meskipun tidak seberapa, namun karena darah yang menetes, maka hati Sidanti telah benar-benar terbakar karenanya. Hilanglah kemudian segala pengamatan diri. Dan dengan demikian maka anak murid Tambak Wedi itu menggeram dengan dahsyatnya. Sekali ia meloncat dengan lincahnya beberapa langkah surut, namun kemudian dengan cepatnya ia melingkar, menyerang menyambar-nyambar dengan sengitnya.

Perkelahian itu segera meningkat dengan cepatnya. Semakin lama semakin dahsyat. Masing-masing piak telah mengerahkan segenap kemampuan yang ada pada mereka.

Tundun pun kemudian merasa, bahwa kekuatannya bersama kawan-kawannya dapat mengimbangi kelincahan Sidanti yang hanya seorang itu. Tetapi untuk mengalahkan, menangkap atu membinasakan adalah sulit sekali. Sidanti itu benar-benar seperti anak setan. Sekali ia menerobos di antara lawan-lawannya, namun kemudian melontar dan menyerang dari sisi dan belakang mereka. Kalau Tundun dan kawan-kawannya berusaha untuk mengepungnya, maka usaha itu selalu gagal. Sidanti mampu meloncat dengan jarak yang tidak dapat mereka jangkau dengan loncatan dan senjata.

Ketika pertempuran itu menjadi semakin meningkat, maka terdengarlah Tundun berteriak, “Bunyikan kembali lagi tanda bahaya. Supaya kawan-kawan kita yang nganglang mendengarnya.”

Kembali salah seorang dari mereka meloncat keluar arena perkelahian. Kali ini Sidanti tidak membiarkannya. Tetapi ia tidak mampu mencegahnya, sebab tujuh orang yang lain dengan garangnya mencoba melindungi kawannya yang seorang itu.

“Gila!” teriak Sidanti. “Bukan maksudku membunuh salah seorang dari kalian, tetapi kalian benar-benar keras kepala. Karena itu, aku akan terpaksa melakukannya.”

Maka Sidanti itupun kemudian sampai pada puncak permainannya. Rasa nyeri di punggungnya telah memaksanya untuk mendendam. Karena itu, maka sesaat kemudian, terdengar sebuah keluhan tertahan. Bajang meloncat surut dari lingkaran pertempuran sambil meraba pundaknya. Tampak darah yang merah segar meleleh dari luka itu.

***

“Anak setan!” teriaknya. Kemudian kepada kawan-kawannya juru masak yang berdiri menonton perkelahian itu dengan wajah pucat ia berkata, “Berikan pedangmu itu.”

Kedua kawannya yang biasanya hanya dapat menunggui perapian segera berlari kepadanya dan memberikan pedangnya kepada Bajang. “Terima kasih. Senjataku terlalu pendek sehingga pundakku terluka.”

Bajang yang teruka itu kemudian dengan kemarahan yang membakar ubun-ubunnya meloncat kembali ke arena.

Tetapi demikian ia sampai, terdengar pula orang lain mengeluh. Sekali lagi, salah seorang dari mereka meloncat ke luar arena. Kali ini agaknya lebih parah dari luka yang diderita Bajang. Ternyata darah mengucur dari tangannya. Dua buah jarinya terpenggal dan pedangnya terlempar jatuh.

Wajah prajurit yang kehilangan jari-jarinya itu menjadi merah padam. Merah padam karena menahan marah dan sakit. Ketika ia melihat seorang juru masak berdiri dengan pedang di tangan, tetapi tidak ikut dalam pertempuran, terdengar ia berteriak, “Berikan pedangmu.”

Orang itu ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian diberikan juga pedangnya.

Prajurit itu menerima dengan tangan kirinya. Cepat ia meloncat kembali ke arena dengan pedang di tangan kiri. Meskipun tangan kirinya tidak setangkas tangan kanan, namun tandangnya hampir-hampir tak berkurang.

Ternyata tanda bahaya yang kedua itu menggema, jauh lebih dalam dari yang terdahulu. Kawan-kawan Tundun, sebanyak empat orang yang sedang nganglang dan berburu rusa, terkejut mendengar tanda itu. Sesaat mereka berdiri termangu-mangu. Seakan-akan bunyi tanda bahaya itu terdengar di telinga mereka.

“Kau dengar,” bergumam salah seorang dari mereka.

“Ya,” sahut yang lain.

“Aku hampir tak percaya. Apakah orang-orang Pajang tidak memasang seluruh orang-orangnya dalam perlawanan kali ini?”

“Mungkin. Mungkin mereka sengaja membagi kekuatan.”

“Bodoh. Kalau aku menjadi pemimpin pengawal kemah ini, aku biarkan mereka masuk. Aku biarkan mereka merusak kemah-kemah kita, sebab Macan Kepatihan pasti akan berhasil masuk Sangkal Putung.”

“Kau yakin benar.”

“Ya, kalau pasukan Pajang mengurangi kekuatannya, Sangkal Putung pasti akan pecah.”

“Tetapi Kakang Tundun memanggil kita dengan tanda itu.”

“Mari kita pulang.”

Keempatnya segera berlari-lari kembali ke kemah mereka. Mereka menyangka bahwa di dalam perkemahan itutelah terjadi peperangan antara para pengawal yang jumlahnya sangat terbatas, melawan sebagian orang-orang Pajang yang sengaja tidak dipasang dalam peperangan di Sangkal Putung.

Semakin dekat mereka dengan kemah mereka, hati mereka menjadi semakin berdebar-debar. Mereka masih belum melihat tanda-tanda peperangan di dalam perkemahan itu.

“Aneh,” desis salah seorang dari mereka.

Sebelum yang lain menyahut, mereka telah memasuki daerah perkemahan mereka.

“Tidak ada apa-apa,” gumam yang lain.

“Kita lihat berkeliling,”berkata yang lain pula.

Mereka segera berjalan berkeliling. Dilihatnya tempat-tempat penjagaan sudah kosong. Karena itu mereka pun menjadi semakin berhati-hati.

Ketika mereka sampai di sisi Utara, barulah mereka melihat kawan-kawannya berkumpul dalam satu lingkaran perkelahian. Mereka melihat kawan-kawan mereka berkelahi melawan satu orang saja.

“Gila!” teriak salah seorang dari mereka. “Apakah aku harus nonton permainan yang menggelikan ini.”

Tundun yang memimpin pertempuran di antara kawan-kawannya itu menjadi marah. Jawabnya lantang, “Buka matamu, jangan mulutmu!”

Keempat kawannya itu berdiam diri. Sesaat mereka memandangi perkelahian itu. Dilihatnya beberapa orang kawan-kawannya telah menjadi payah. Bahkan ada yang terluka.

“Bukan main,” desis salah seorang dari mereka. “Siapa anak muda yang gila itu?”

Tiba-tiba salah seorang yang lain dapat mengenal wajah itu. Jawabnya, “Anak muda yang membunuh Plasa Ireng.”

“Pantas ia berhasil membunuh Plasa Ireng. Tetapi ia kini tak akan lolos lagi.”

Orang itupun segera berlari menghambur menerjunkan diri ke dalam arena pertempuran.

Tetepi tiba-tiba langkahnya terhenti ketika ia mendengar salah seorang kawannya berteiak tinggi. Ia melihat sosok tubuh terhuyung-huyung. Untunglah ia cepat dapat menangkapnya.

“Dadaku,” keluh orang itu. Dan dari dadanya mengalir darah dengan derasnya.

Karena itu ia tidak segera dapat bertempur. Dipapahnya orang itu menepi dan diserahkannya kepada dua orang dapur yang berdiri terpaku di sisi pertempuran itu. Namun ketiga kawan-kawannya yang lain telah meloncat pula mendahuluinya memasuki arena.

Sidanti yang melihat kedadiran keempat orang baru itu menjadi semakin marah. Dengan sekuat tenaga ia berhasil mengurangi satu lawan. Namun yang empat itu pasti lebih baik dari yang seorang yang terlempar dari perkelahian itu.

“Kalian benar-benar jemu hidup,” teriak Sidanti. “Ternyata kalian tidak mau mendengar permintaanku. Karena itu, aku tidak akan dapat menahan ujung senjataku.”

“Persetan dengan kesombonganmu. Ternyata kau tidak akan dapat keluar dari perkemahan ini, sehingga kau akan berkubur di sini,” sahut Tundun. Namun suaranya itu disaut oleh sebuah teriakan. Satu lagi kawannya terluka.

Telinganya tergores pedang Sidanti, sehingga hampir putus. Tetapi dengan demikian yang akan dapat terjadi.

Dengan demikian perkelahian itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Masing-masing telah menumpahkan segenap kemampuan yang ada pada diri mereka. Sidanti yang hanya seorang itupun, tenpaksa memeras kesaktiannya. Untunglah ia murid Ki Tambak Wedi yang namanya menakutkan setiap orang yang mendengarnya. Namun melawan sekian banyak orang, maka akhirnya ia mendapat kesulitan juga. Bahkan nyawanya kini terancam.

Tetapi perkelahian itu tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah teriakan nyaring. Teriakan itu demikian kerasnya, sehingga hampir-hampir memecahkan telinga mereka. Meskipun mereka sedang bertempur dengan dahsyatnya, namun suara itu dapat menembus ke dada mereka.

“Berhenti, berhenti!” berkata suara itu melengking-lengking.

Semua orang di dalam arena berloncatan mundur. Ketika mereka berpaling, mereka melihat seorang tua dengan wajah yang tegang, dan mata yang tajam memandangi mereka satu per satu.

Dada para prajurit Jipang berdesir melihat orang itu. Tatapan matanya terasa terlalu dalam menghunjam ke dalam dada mereka. Meskipun mata itu tidak seliar mata Sidanti, namun sinar matanya memancarkan nada serupa.

Tetapi orang itu ternyata kemudian tersenyum. Dipandanginya Sidanti sambil berkata, “Jangan bersungguh-sungguh Sidanti. Bukankah kita tidak akan menyakiti hati mereka.”

Sidanti menggigit bibirnya.

“Kau telah melukai beberapa orang di antaranya.”

“Mereka benar-benar ingin membunuhku,” sahut Sidanti.

Para prajurit Jipang masih saja mematung. Mereka belum pernah melihat orang tua itu. Mereka menjadi semakin heran ketika orang tua itu berkata kepada mereka, “Maafkanlah muridku ini.”

Tak seorangpun yang segera menjawab. Mereka masih berdiri kaku di tempatnya, dengan senjata-senjata mereka siap di tangan.

“Kalian heran melihat kehadiranku? Mungkin kalian belum mengenal aku. Aku adalah Ki Tambak Wedi.”

Kembali dada prajurit-prajurit Jipang berdesir. Ternyata orang inilah yang bernama Tambak Wedi. Orang yang namanya menghantui seluruh lereng Gunung Merapi. Kini orang itu berada di hadapan mereka dengan muridnya yang bernama Sidanti.

“Aku minta maaf,” berkata Tambak Wedi itu pula. “Maksud kedatangan kami semula adalah baik. Kami ingin mengetahui keadaan kalian di sini.”

Yang menjadi pimpinan pasukan pengawal itu adalah Tundun. Karena itu, maka ialah yang menjawab, “Kiai, kami minta maaf atas kelancangan kami. Kami terpaksa melakukan perlawanan karena tugas-tugas kami.”

“Bagus,” potong Ki Tambak Wedi. “Kalian adalah prajurit. Jadi kalian harus melakukan kewajiban kalian.”

Jawaban itu benar-benar tidak disangka-sangka oleh Tundun. Dan justru karena itu ia menjadi bingung, sehingga ia tidak tahu, apalagi yang akan dikatakannya.

Yang berkata kemudian adalah Ki Tambak Wedi. “Kisanak. Kedatangan kami sama sekali tidak bermaksud untuk menyakiti hati kalian. Kami hanya ingin sekedar memperkenalkan diri kami. Aku dan muridku. Apakah kalian bersedia menerima salam perkenalan ini?”

Tundun menjadi semakin bingung. Ia tidak tahu maksud Ki Tambak Wedi. Karena itu, maka ia masih saja berdiam diri tegak seperti tonggak.

Ki Tambak Wedi yang melihat para prajurit Jipang itu tertawa. Katanya, “Kenapa kalian menjadi seperti orang kehilangan ingatan? Percayalah, aku tidak akan berbuat apa-apa. Mungkin muridku telah terlanjur melukai beberapa orang di antara kalian, tetapi itu hanya karena umurnya yang masih muda sehingga ia tidak mudah untuk mengendalikan dirinya. Meskipun maksudnya memang ingin mencoba bermain-main dengan kalian, tetapi tidak untuk melukai apalagi membunuh.”

Tundun dan kawan-kawannya semakin tidak mengerti maksud kata-kata itu. Dengan demikian mereka masih saja berdiri membisu.

Karena tidak seorangpun menyahut, Tambak Wedi itu berkata terus. “Maksud muridku memang ingin berkelahi untuk sekedar memperkenalkan diri. Maksudnya akan memberitahukan kepada kalian bahwa Tohpati sama sekali bukan manusia yang aneh. Bukan manusia yang melampaui batas kemampuan manusia yang lain. Sekarang kalian telah melihat muridku dan mengalami perkelahian. Sudah tentu kalian akan dapat menilai, manakah yang lebih sakti. Macan Kepatihan atau Sidanti.”

Debar di dada prajurit Jipang itu menjadi semakin deras. Apalagi ketika terdengar Tambak Wedi berkata, “Itupun aku masih menganggap bahwa Sidanti masih harus berjuang membentuk dirinya mempelajari ilmuku untu menjadi sempurna.”

“Muridnya telah mampu berbuat sedemikian,” pikir para prajurit itu, “apalagi gurunya.”

“Nah bagaimana menurut penilaian kalian? Apakah Sidanti sudah sama dengan Macan Kepatihan?”

Tak seorangpun yang menjawab pertanyaan itu.

“Bagus, kalian pasti tidak akan dapat menjawabnya. Tetapi biarlah kami memberikan pertanyaan-pertanyaanyang lain. Apakah kalian masih tetap ingin berjuang bersama-sama Macan Kepatihan?”

Masih tidak menjawab.

“Tentu, kalian tentu tidak akan menjawab. Tetapi ketahuilah,” berkata Ki Tambak Wedi seterusnya, “bahwa kami pernah datang kepada Tohpati. Kami ingin berbuat baik kepadanya. Kami menawarkan jasa-jasa kami dan tenaga kami untuk kemenangannya. Tetapi maksud kami itu ditolaknya. Sayang.”

Mendengar keterangan itu Tundun mengerutkan keningnya. Sejak semula ia sudah menanyakannya kepada Sidanti kemungkinan itu, tetapi Sidanti malah menghinanya, menghina pasukan Jipang itu seluruhnya.

Tambak Wedi melihat perasaan yang bergerak di dalam hati Tundun. Maka segera ia berkata, “Aku mendengar pertanyaanmu di permulaan perkenalanmu dengan muridku. Dan muridku sengaja menghinamu, untuk membangkitkan kemarahanmu, supaya muridku dapat bermain-main dengan kau. He, apakah kau pemimpin pasukan pengawal ini?”

Tanpa sesadarnya Tundun mengangguk sambil menjawab, “Ya.”

“Nah, ketahuilah kami terlampau baik. Kami masih tetap menawarkan tenaga kami untuk kepentingan kalian.”

Tambak Wedi diam sesaat. Namun kemudian diteruskannya, “Tetapi kalau Macan Kepatihan menolak, apa boleh buat. Meskipun demikian, ada yang wajib kalian ketahui. Macan Kepatihan kini tidak lagi mempunyai tempat yang akan dijadikannya pencadan dalam gerakannya. Ia berada di mana-mana, seperti kapuk diterbangkan angin.

Tetapi aku dan muridku itu, masih mempunyai tempat untuk berpijak. Sedang kalian telah melihat sendiri, bahwa muridku tidak kalah dengan Macan Kepatihan.” Kembali Tambak Wedi berhenti sesaat, namun segera diteruskannya, “Aku hanya ingin kalian dapat menilai keadaan kami.”

***

Tundun dan kawan-kawannya masih belum dapat mengerti dengan pasti maksud Tambak Wedi itu. Beberapa orang di antara mereka saling berpandangan dan bertanya-tanya di dalam hati.

Ki Tambak Wedi yang melihat kebingungan itu berusaha untuk menjelaskan. “Kisanak. Kalian menurut tangkapanku, adalah prajurit-prajurit yang baik. Prajurit-prajurit yang setia pada cita-cita. Bukan sekedar prajurit yang bertempur tanpa arah, selain untuk membunuh atau dibunuh. Karena itulah maka kalian tetap berada dalam lingkungan Macan Kepatihan. Tetapi aku ingin mengatakan, bahwa Macan Kepatihan dengan caranya sekarang tidak akan dapat memenangkan perjuangannya. Sedang tawaran kami untuk membantunya telah ditolaknya. Nah, kalau kalian memang setia kepada cita-cita kalian, menolak kekuasaan Pajang, maka kalian dapat mempertimbangkan antara Macan Kepatihan dan Sidanti. Macan Kepatihan yang telah kehilangan landasan perjuangannya dan Sidanti yang baru mulai dengan tekad yang masih segar. Kelebihan Sidanti yang lain adalah, Sidanti berkuasa di lereng Gunung Merapi. Suatu daerah yang cukup luas untuk membangun kekuatan dam benteng pertahanan. Dan ia berkuasa pula di suatu daerah yang luas di sebelah Alas Mentaok, Bukit Menoreh.”

Tundun dan kawan-kawannya kini baru menjadi jelas maksud Ki Tambak Wedi itu. Ternyata Ki Tambak Wedi telah menawarkan pilihan kepada para prajurit itu. Dan tawaran itu tenyata telah mempengaruhi perasaan mereka.

Namun Tundun, seorang prajurit yang sudah lama menjadi bawahan Tohpati, sejak terjadi parselisihan antara Jipang dan Pajang, tidak akan segera dapat melepaskan ikatan itu. Karena itu maka jawabnya, “Ki Tambak Wedi. Tawaranmu bagus sekali. Tetapi jangan mencoba mempengaruhi kesetiaan kami kepada pimpinan kami. Kalau kau ingin menyatukan dirimu ke dalam lingkungan kami, maka mengharap, mudah-mudahan pimpinan kami dapat menerimanya. Tetapi kalau kau mencoba mempengaruhi kesetiaan kami itu, jangan mengharap.”

Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia tertawa. “Aku tahu, bahwa jawaban kalian akan berbunyi demikian. Memang aku mengharap kalian menjawab seperti yang diucapkan oleh pimpinan kalian ini. Kalau tidak demikian, maka kalian sama sekali tidak berharga. Bagi kamipun tidak. Tetapi karena kesetiaan itulah maka kalian baru dapat disebut seorang prajurit jang baik. Jawaban itu kalian ucapkan sebab kalian belum mempunyai kesempatan untuk berpikir. Kalau kalian belum sempat berpikir, tatapi segera mempercayai kata-kata orang lain, maka kalian adalah sampah jang tidak berarti. Tetapi kamipun tidak ingin mendengar jawaban kalian sekarang ini. Seperti aku katakan, jawaban yang akan aku dengar sudah aku ketahui. Namun aku mengharap kalian sempat memikirkan tawaran itu. Aku hanya ingin kalian memikirkan dan mempertimbangkan. Lain tidak.”

Tundun terdiam untuk sesaat. Ia menjadi heran kembali mendengar jawaban Tambak Wedi. Tetapi dengan demikian ia terpaksa untuk mencari sebab-ebabnya.

Yang terdengar kemudian adalah kata-kata Tambak Wedi itu kembali. “Meskipun seandainya, kami tidak dapat bertemu dalam pembicaraan, karena kesetiaan kalian terhadap pimpinan kalian, namun biarlah hubungan persaudaraan ini kita langsungkan. Kami akan selalu menunggu kalian di tempat kediaman kami. Dan dalam keadaan yang memuncak, muridku akan dapat membangun kekuasaan tandingan dari Pajang itu di daerah asalnya: di sebelah Barat Alas Mentaok. Daerah itu akan dapat dibukanya menjadi daerah yang akan dapat mengimbangi kekuasaan Pajang. Setidak-tidaknya di daerah Barat, dan Selatan.”

Tundun dan kawan-kawannya seolah-olah menjadi beku mendengar keterangan itu. Ki Tambak Wedi yang mempunyai pengamatan yang tajam, melihat bahwa kata-katanya bergolak di dalam hati para prajurit Jipang itu.

Maka katanya selanjutnya, “Nah. Bandingkan dengan hari depan Tohpati. Sidanti mempunyai kekuasaan atas suatu daerah. Meskipun daerah itu kini seakan-akan masih asing bagi kalian. Daerah yang masih jarang-jarang diketemukan pedukuhan dan padesan. Tetapi di daerah itu dapat dibangun kekuasaan yang besar. Apalagi dengan bantuan prajurit-prajurit yang berpengalaman.”

Terasa sesuatu menyentuh hati para prajurit itu. Seakan-akan di hadapan mereka ditunjukkan oleh Ki Tambak Wedi, betapa suram hari depan mereka. Betapa suram hari depan Macan Kepatihan. Tetapi dengan suatu perubahan di dalam hidup mereka, maka hari depan merekapun akan dapat berubah pula.

Tiba-tiba merayap di dalam hati para prajurit itu pertanyaan, “Kenapa Tohpati menolak uluran tangan Ki Tambak Wedi?”

Tetapi pertanyaan itu disimpannya di dalam hati. Mereka kini seakan-akan telah menjadi patung yang hanya boleh mendengarkan Ki Tambak Wedi berbicara. Katanya meneruskan, “Selanjutnya terserah kepada kalian. Tetapi aku telah memberikan perbandingan-perbandingan.”

Suasana di perkemahan itu kemudian menjadi sepi. Beberapa oranq berdiri tegak dengan senjata di tangan. Namun ujung-ujung senjata itu sudah terkulai di tanah. Mereka berdiri saja seperti patung mengerumuni dalam jarakyang tidak jauh, seorang tua namanya ditakuti karena kesaktiannya bersama seorang muridnya yang garang.

Dalam suasana yang sepi itulah maka kata-kata Tambak Wedi seakan-akan meresap semakin dalam di hati para prajurit Jipang yang memang sudah terlalu lama mengalami kepahitan hidup di hutan-hutan dan pengembaraan sebagai orang-orang liar. Apabila mereka menemukan tempat yang baik, maka keadaan mereka pasti akan lebihbaik. Seandainya mereka masih haruss berjuang untuk menghancurkan Pajang, maka landasan mereka akan lebih kokoh.

Sejenak Ki Tambak Wedi pun berdiam diri pula. Dibiarkannya para prajurit Jipang itu mencernakan kata-katanya.

Ia mengharap seandainya tidak sekarang, namun orang-orang itu pasti akan memperbincangkan kata-katanya denqan beberapa orang kawan-kawannya. Semakin lama akan menjalar semakin luas di antara orang-orang Macan Kepatihan.

Tetapi kesepian itu kemudian dipecahkan oleh kehadiran seorang tua, juru masak Macan Kepatihan yang malas, Sumangkar yang dengan terbata-bata berkata. “Tundun; Tunduu; rusa itu sudah masak. Apakah kau tidak mencium baunya? Aku bumbui rusa panggang itu dengan tanganku sendiri.”

Dalam suasana yang sepi tegang, kehadiran Sumangkar benar-benar mengejutkan. Apalagi sebelum ia sendiri hadir di tengah-tengah kesepian itu, suaranya telah lebih dahulu melengking di antara mereka. Sehingga ketika Sumangkar berlari-lari, maka beberapa orang telah berloncatan menyibak tanpa mereka kehendaki sendiri.

Tundun pun terperanjat pula. Ia melihat Sumangkar berlari-lari ke arahnja dan kemudian berdiri di hadapannya sambil terengah-engah.

“Gila!” teriak Tundun yang masih berdebar-debar karena terkejut.

“Rusa itu sudah masak Tundun,” ulang Sumangkar.

“Gila. Aku sangka apa saja yang kau teriakkan itu. Apakah kau tidak melihat apa yang sedang terjadi di sini?”

Sumangkar terdiam sesaat. Dipandangnya beberapa orang yang berdiri di sekitarnya. Dan kemudian dipandanginya kedua orang yang berdiri di antara mereka. Guru dan murid.

Tetapi sebelum Sumangkar berkata-kata sepatah katapun, maka kembali terdengar Tundun membentak. “He orang tua yang bodoh. Coba lihat tangan-tangan kami masih menggenggam senjata. Dan keringat kami masih belum kering. Ayo, pergi. Atau kepalamu kami pangkas dengan pedang kami.”

“Jangan Tundun,” sahut Sumangkar. “Aku datang sekedar memberitahukan, bahwa apa yang harus ku kerjakan sudah selesai. Rusa panggang. Dahulu Adipati Arya Penangsang gemar sekali akan rusa panggang pula. Dahulu ketika Adipati Jipang itu masih berkuasa di Jipang.”

“Tutup mulutmu!” bentak Tundun.

Tetapi Sumangkar berbicara terus, seakan-akan ia tidak mendengar Tundun membentak-bentak dan tidak melihat kehadiran orang-orang di sekitarnya, orang-orang Jipang sendiri dan kedua orang asing itu. Katanya, “Tetapi sayang Adipati Jipang itu sudah tidak ada lagi. Dahulu Adipati Jipang tidak pernah melupakan rusa panggang dalam setiap perburuan. Pamanda Kepatihan, Mantahun pun senang sekali akan rusa panggang pula. Sayang, giginya telah hampir habis karena usianya, sehingga Patih Mantahun tidak dapat ikut menikmatinya.”

“He, orang gila,” potong Tundun berteriak keras sekali, “pergi dari sini sebelum aku bunuh kau.”

“Ternyata sekarang Macan Kepatihan, kemanakan Mantahun itu, gemar pula akan rusa panggang. Tetapi kasian Macan Kepatihan itu. Ia kini hidup seperti sehelai kapuk diterbangkan angin. Tidak mempunyai tempat landasan bagi perjuanganya. Dahulu Arya Jipang mempunyai landasan yang kuat. Satu Kadipaten Jipanq memihaknja, lengkap dengan seluruh pasukan Wira Tamtama dari Kadipaten itu. Jipang adalah Kadipaten yang lengkap. Bukan sekedar padukuhan atau padesan yang masih harus dibangun, meskipun dibantu oleh prajurit-prajurit yang berpengalaman.

Tetapi Jipang sudah besar sejak permulaan mengangkat senjata. Prajuritnja sudah lengkap di bawah pimpinan Patih Mantahun di samping Arya Penangsang sendiri. Dan kemudian dibantu oleh Raden Tohpati. Bukan suatu daerah asing di seberang hutan belantara. Namun Jipang yang kuat itu dapat dipecahkan oleh kekuatan Pajang di bawah pimpinan Adipati Adiwijaja, yang bernama Mas Karebet semasa ia masih menjadi seorang anak gembala. Apalagi daerah-daerah terpencil, padukuhan dan padesan yang ringkih dan sepi.”

“Cukup!” tiba-tiba hutan itu tergetar oleh suara Tambak Wedi yang marah bukan buatan. Ia tahu benar maksud kata-kata Sumangkar itu. Demikian marahnya, sehingga hantu dari lereng Gunung Merapi itu berteriak sekuat-kuatnya.

Semua orang yang berdiri memutarinya terkejut. Hampir saja mereka berloncatan menjauh. Tundun pun terkejut pula mendengar teriakan itu.

Bukan saja terkejut karena Tambak Wedi berteriak. Tetapi segera Tundun pun menjadi cemas melihat Tambak Wedi itu terbakar oleh kamarahan. Wajahnya merah dan sepasang matanya seolah-olah menyala seperti bara.

“Kalau Tambak Wedi ini menjadi marah, dalam suasana yang telah menjadi tenang ini, dan membunuh kami sekalian, maka kami tidak akan dapat malawannya,” pikir Tundun. Karena itu maka segera ia menimpakan kesalahan itu kepada Sumangkar. Untuk mengurangi kemarahan Tambak Wedi, maka Tundun itupun berteriak pula.

“He Sumangkar yang gila. Bukan orang lain yang akan membunuhmu karena mulutmu yang lancang itu. Tetapi aku sendiri. Dengan pedangku dan tanganku, maka kepalamu akan aku pancung di muka kawan-kawanmu ini.”

Tetapi Sumangkar itu seolah-olah tidak mendengar suara Tundun dan Tambak Wedi. Dan Tundun itupun kemudian terkejut bukan buatan. Ketika ia melangkah setapak maju untuk menyingkirkan Sumangkar yang telah membangkitkan kemarahan Tambak Wedi yang menakutkan itu, tiba-tiba dilihatnya Sumangkar memutar tubuhnja, membelakanginya dan menghadap Ki Tambak Wedi. Bahkan kemudian dilihatnya Sumangkar itu tersenyum sambil berkata, “Jangan marah Kakang Tambak Wedi. Jangan marah supaya kau tidak menjadi lekas tua.”

“Sumangkar,” teriak Tambak Wedi, “kehadiranmu di sini benar-benar mengejutkan aku. Kenapa kau tidak ikut pergi ke medan pertempuran Setan tua?”

Sumangkar menggeleng. “Tidak Kakang. Aku adalah seorang juru masak.”

“Tetapi kau kali ini benar-benar ingin merusak semua rencana yang sudah aku susun bersama muridku ini.”

Sumangkar tertawa. Sekali ia berpaling, dan dilihatnja Tundun berdiri ternganga di belakangnya. Alangkah peningnya kepala pemimpin prajurit pengawal perkemahan ini. Tiba-tiba saja ia melihat seolah-olah Sumangkar, juru masak yang malas itu telah mengenal dan dikenal olah Ki Tambak Wedi.

“Jangan heran Tundun,” berkata Sumangkar, “aku kini berjumpa dengan kawan bermain di waktu muda. Tetapi sayang bahwa ia kini menjadi seorang guru yang ternama, dan aku menjadi seorang juru masak yang malas. Yang sehari ini selalu kau bentak-bentak saja.”

Namun kata-kata itu terputus oleh teriakan Ki Tambak Wedi. “Jangan mengigau. Apakah kehendakmu sebenanya?”

Mendengar teriakan Tambak Wedi itu, sekali lagi Sumangkar tersenyum. Dan sekali lagi ia berkata, “Jangan marah Kakang Tambak Wedi.”

“Persetan!” teriak Tambak Wedi. “Lihat, kalau kau masih saja berdiri di situ, aku bunuh kau dan prajurit-prajurit Jipang seluruhnya.”

Ancaman itu telah menyadarkan Tundun dari keheranannya. Kini kembali ia dicengkam oleh ketakutan. Dan sekali lagi Tunduu menimpakan kesalahan itu kepada Sumangkar, katanya, “He; juru masak yang malas. Untuk membebaskan kami dari kemarahan Ki Tambak Wedi, maka aku terpaksa membunuhmu.”

Kali ini Sumangkar terpaksa berpaling dan menjawab, “Jangan Tundun. Jangan mengorbankan kawan sendiri untuk memuaskan orang lain karena kau melihat kepentinganmu sendiri. Karena kau ingin hidup. Tentu aku tidak mau menjadi korban. Kalau kita menjadi korban bersama-sama, marilah, biarlah aku mati paling awal dari kalian. Tetapi kalau aku sendiri harus mati karena kalian ketakutan akan mati itu, nanti dulu.”

Tundun menggeram mendengar kata-kata itu. Terbersit di hatinya kebenaran kata-kata Sumangkar. Tetapi ketakutannya kepada Ki Tambak Wedi telah mengatasi segalanya, maka katanya, “Jangan banyak bicara. Kau tidak berarti di sini.”

“Kalau kau bunuh aku Tundun, Macan Kepatihan pasti akan marah. Aku adalah juru masak yang dibawanya sejak dari istana kepatihan. Tentu. Tentu kau belum mengenal aku, sebab saat-saat itu kau adalah seorang Wira Tamtama yang tidak bertugas di istana Kadipaten maupun di istana Kepatihan. Hanya orang-orang tua dan mereka yang bertugas di istana dan istana Kepatihan sajalah yang mengenal Sumangkar. Di antaranya adalah Sanakeling. Dan Ki Tambak Wedi. Bukankah begitu Kakang?”

“Tutup mulutmu, Sumangkar! Lihat, kawanmu sudah siap akan membunuhmu,” sahut Ki Tambak Wedi, yang kemudian berkata kepada Tundun, “Kalau kau bunuh tikus tua itu, aku maafkan kalian.

Tundun yang lebih sayang kepada jiwanya sendiri menggeram. Selangkah ia maju dan pedangnya telah siap menusuk punggung Sumangkar. Tetapi ia mendengar Sumangkar berkata, “Cara yang baik untuk mengadu sesama kawan. Kini tinggallah kita sendiri, Tundun. Apakah kita ini sebangsa domba-domba yang siap untuk diadu, ataukah kita ini sebangsa prajurit yang setia kepada tugas dan pimpinan kami. Pilihlah olehmu Tundun.”

Tundun terhenti. Kembali dadanya berdesir. Kata-kata Sumangkar yang terakhir telah benar-benar menggugah kesadarannya. Namun ketika sekali lagi dilihatnya Ki Tambak Wedi ia menyahut, “Adalah salahmu sendiri Sumangkar. Kau ternyata ikut campur dalam persoalan yang hampir dapat aku selesaikan dengan caraku. Tetapi karena kelancanganmu, maka persoalannya menjadi panas kembali. Dan nyawamu akan dapat menjadi tebusan dari sekian banyak orang. Karena itu bersedialah untuk mati.”

“Baik Tundun, aku bersedia untuk mati. Tetapi biarlah Ki Tambak Wedi sendirilah yang membunuh Sumangkar. Itu kalau ada keberanian padanya. Sebab Tambak Wedi sudah mengenal siapakah Sumangkar itu. Tetapi aku tidak akan bersedia mati karena pedang kawan sendiri.” Kemudian kepada Tambak Wedi ia berkata, “Kakang, jangan mengharap akan timbul perkelahian di antara kita. Kau tahu, bahwa Tundun tidak akan dapat membunuh Sumangkar, dan kau tahu, bahwa apabila dikehendaki Sumangkar akan mampu membunuh semua orang Jipang yang bertugas di sini sekaligus seperti apa yang akan dilakukan oleh Tambak Wedi. Tetapi kalau lidahmu berhasil mengadu kekuatan di antara kami, maka aku dapat menghindari, melarikan diri dari tempat ini tanpa seorangpun yang dapat menangkapnya. Kaupun tidak.”

Dada setiap orang yang mendengar kata-kata itu berdesir. Namun Tundun yang lebih mementingkan keselamatan diri dan kawannya, dan sejak semula menganggap Sumangkar tidak berguna itu, agaknya lebih baik mengorbankanya. Dengan marah ia mendengar seakan-akan kata-kata Sumangkar itu sebagai kicauan burung yang memuakkan.

Karena itu tiba-tiba ia meloncat dan menusuk punggung Sumangkar dari belakang. Geraknya cepat seperti kilat meloncat di langit. Kawan-kawannya yang melihat loncatan itu terkejut. Apalagi seorang yang bernama Bajang. Terdengar ia berteriak nyaring, “Kau gila Tundun. Aku sudah terluka. Kau sekarang ingin mengorbankan kawan sendiri. Ayo, biarlah aku jadi banten. Aku akan mati bersama Sumangkar.”

Tetapi suara itu tak didengar oleh Tundun. Ia sama sekali tidak mengurungkan niatnya. Bahkan loncatannya dipercepatnya sebab ia melihat Bajang bergerak untuk mencegahnya.

Kawan-kawannya yang lain berdiri saja seperti patung. Tak seorangpun yang mampu mencegah atau membenarkan tindakan Tundun dan Bajang. Mereka benar-benar dicengkam oleh kebingungan dan kekaburan pikiran. Mereka menganggap kata-kata Tundun dan tindakannya itu dapat menyelamatkan mereka, tetapi perasaan mereka hampir tidak rela melihat Sumangkar dikorbankan tanpa belas kasihan. Betapapun juga Sumangkar telah berada di dalam lingkungan mereka, sejak mereka meninggalkan Jipang.

Tetapi Bajang yang berdiri agak jauh itu terlambat. Tundun telah berhasil mencapai Sumangkar dengan ujung pedangnya yang langsung mengarah punggung.

Beberapa orang yang tidak sampai melihat pembunuhan itu memejamkan matanya. Bajang sendiri langkahnya terhenti. Sesaat ia tertegun, namun kemudian ia memalingkan wajahnya sambil berteriak, “Gila kau Tundun. Aku kelak yang akan membunuhmu.”

Tetapi alangkah dahsyatnya goncangan perasaan mereka saat itu. Seakan-akan darah mereka membeku dan nafas mereka terhenti mengalir. Yang mereka lihat kemudian sama sekali bukan Sumangkar yang jatuh tersungkurdan menyemburkan darah dari luka di punggungnya. Tetapi yang mereka lihat, Tundun terdorong beberapa langkah ke samping dan mereka melihat Sumangkar itu berdiri dengan garangnya dengan pedang di tangannya.

Belum lagi gelora di dada mereka berhenti, terdengar Sumangkar berkata, “Terima kasih Tundun. Ternyata kau baik hati. Kau telah memberi aku senjata untuk mengusir Tambak Wedi yang tamak ini.”

Yang paling terkejut atas peristiwa itu adalah Tundun sendiri. Ketika ia meloncat menusuk punggung Sumangkar, maka ia sudah pasti bahwa pedangnya akan menghunjam sampai ke jantung. Meskipun di dalam dadanya, merayap juga keraguan-raguan dan kekhawatiran, bahwa Macan Kepatihan akan marah kepadanja, serta bagaimanapun juga ada rasa kasihan kepada orang tua itu, namun hasratnya untuk hidup telah memaksanya melakukan tindakan itu, dan ia akan dapat mengatakan berbagai alasan kelak kepada Macan Kepatihan.

Tetapi tanpa disangka-sangka, maka terasa bahwa pedangnya tergetar. Bukan karena ujungnya menyobek kulit orang tua itu, tetapi, ia melihat, orang tua itu bergeser cepat sekali ke samping. Pedangnya berlari tidak lebih dari tebal jari tangannya di samping tubuh juru masak yang malas itu. Namun sasaat kemudian dunianya seakan-akan berguncang. Ia sendiri terdorong ke samping oleh kekuatan yang dahsyat dan tangannya terasa nyeri bukan buatan, sehingga tanganya itu terasa lumpuh. Ketika ia menyadari keadaannya, pedangnya telah terlepas dari tangannya berpindah ke tangan Sumangkar, juru masak yang memuakkannya.

Sesaat Tundun membeku di tempatnya. Tangannya masih terasa sakit bukan buatan di pergelangan. Bahkan Tundun itu menjadi cemas bahwa tangannya menjadi retak, dan cacat di tubuhnya bertambah-tambah lagi.

“Menepilah anak manis,” berkata Sumangkar itu, “jangan turut mencampuri urusan orang tua-tua.”

Tundun memandangnya dengan pandangan yang bergejolak. Matanya memancarkan beribu macam perasaan yang aneh di dalam dirinya, yang justru telah mendorongnya ke dalam suatu keadaan yang tak dikenalnya. Sumangkar itu telah membingungkannya.

Tetapi Tambak Wedi dan Sidanti sama sekali tidak terkejut melihat peristiwa itu. Mereka sudah mengetahui, bahwa akan demikianlah akhirnya. Tetapi mereka mengharap, bahwa kawan-kawan Tundun akan membela pemimpinnya itu dan bersama-sama menyerang Sumangkar. Dengan demikian maka ia dengan bebas dapat membunuh Sumangkar bersama muridnya tanpa gangguan apapun, meskipun orang-orang Jipang itu sama sekali tidakakan berarti.

Tetapi keadaan itu berkembang menurut iramanya sendiri. Sumangkar yang telah menggenggam pedang di tangannya cepat-cepat berteriak sebelum Ki Tambak Wedi berhasil mempengaruhi suasana. “Nah, orang-orang Jipang. Sekarang, apakah kalian akan berdiam diri? Apakah kalian akan mengikuti perbuatan Tundun membunuhku? Dengar. Kalian bersama-sama telah dapat mengalahkan, setidak-tidaknya membuat murid Tambak Wedi itu tidak berdaya. Apakah kalian tidak berbangga karenanya. Murid Tambak Wedi yang menakutkan itu dapat kalian kalahkan. Sekarang, meskipun Tundun tidak akan mampu ikut berkelahi, namun kalian masih cukup kekuatan untuk mengulangi kemenangan itu. Sedang Tambak Wedi, serahkanlah kepadaku. Kalau aku tidak mampu memancung kepalanya, biarlah kepalaku yang kalian pancung di hadapan Tambak Wedi.

Bukan main besar pengaruh kata-kata Sumangkar itu. Yang pertama-tama menyadari kedudukannya adalah Bajang.

Dengan sigapnya ia meloncat maju sambil berkata, “Aku telah dilukainya. Kini aku akan membalasnya.”

“Bagus Bajang, kesempatan itu akan datang. Bagaimana yang lain. Apakah kalian lebih senang melihat kawan sendiri terbunuh, atau kalian ingin melihat kita bersama-sama melakukan kewajiban dengan baik?”

Apa yang terjadi telah benar-benar menggerakkan hati prajurit-prajurit Jipang itu. Ketika mereka kemudian melihat Bajang yang telah melelehkan darah itu bergerak, maka serentak merekapun bergerak pula. Tanpa disadari, maka lingkaran di sekitar Tambak Wedi dan Sidanti telah pulih kembali. Kedua orang itu kini berdada di tengah-tengah kepungan.

“Gila,” geram Tambak Wedi, “ternyata kalian telah sekarat.

“Setiap prajurit menyadari, bahwa kemungkinan itu dapat terjadi. Mati di peperangan. Tetapi bukan mati karena pedang kawan sendiri,” sahut Sumangkar.

“Persetan! Aku akan menunjukkan bahwa Tambak Wedi tidak dapat dilawan oleh siapapun juga.”

“Sumangkar adalah salah satu perkecualian,” sahut Sumangkar lantang.

Sidanti ternyata tidak dapat mengekang dirinya lagi. Tiba-tiba ia memutar pedangnya, dan dengan derasnya pedang itu menyambar kepala Sumangkar.

Yang melihat gerakan itu berdesir. Gerak itu terlampau cepat. Jauh lebih cepat dari yang dilakukan oleh Tundun. Karena itu, maka terdengar desis tertahan. Seakan-akan mereka pasti bahwa kepala Sumangkar akan terpangkas.

Tetapi sekali lagi mereka menjadi heran. Ternyata Sumangkar mampu menghindari serangan. Dengan cepat pula ia berhasil merendahkan dirinya dan melontar ke samping. Bahkan dengan satu gerakan yang lebih cepat dari gerakan Sidanti, Sumangkar berhasil memukul pedang anak muda itu. Demikian keras dan dahsyatnya sehingga pedang itu terpental, lepas dari genggaman dan jatuh beberapa langkah.

Tambak Wedi yang melihat peristiwa itu menggeram marah sekali. Ia sudah tentu tidak akan membiarkan muridnya terbunuh di hadapan hidungnya. Cepat seperti petir yang meloncat di langit, Tambak Wedi menyerang Sumangkar. Di tangannya telah tergenggam sepasang gelang yang melindungi tangannya, sekaligus merupakan senjata yang berbahaya pula. Sentuhan dari gelang itu akan dapat memecahkan tulang-tulang kepala dan merontokkan iga.

Seandainya Tohpati ada di tempat itu dan bertempur berpasangan bersama Sumangkar, maka Sidanti sudah tida kakan dapat keluar lingkaran pertempuran itu dengan tubuhnya. Tohpati pasti akan dapat menyesuaikan dirinya, selagi pedang Sidanti itu terjatuh. Sebab Sumangkar telah langsung melawan Tambak Wedi dengan sekuat tenaganya, sehingga Tambak Wedi tidak sempat untuk menolong muridnya itu. Tetapi kali ini yang ada di sekitar perkelahian itu adalah prajurit-prajurit Jipang yang berdiri keheranan. Mereka baru menyadari keadaan itu ketika Sidanti

telah berhasil memungut pedangnya kembali dan siap bertempur melawan mereka itu.

Sumangkar yang melihat Sidanti telah berhasil menguasai dirinya kembali menjadi kecewa. Karena itu segera ia berteriak, “He, anak-anak Jipang yang berani. Kenapa kalian berdiri saja seperti tonggak. Ayo, selesaikan tugasmu.”

Suara Sumangkar itu seolah-olah jatuhnya sebuah perintah dari seorang panglima yang mereka segani. Serentak mereka berloncatan yang menyerang sejadi-jadinya. Tetapi Sidanti pun telah bersiap pula. Karena itu, demikian serangan itu datang, maka dengan sekuat tenaganya, serangan itu dilawannya. Dengan lincahnya ia menari-nari diantara ujung-ujung senjata lawannya. Namun lawannya ternyata terlalu banyak, sehingga dengan seluruh kekuatan dan kecakapannya ia harus mempertahankan dirinya. Tetapi terasa jari-jari tangannya menjadi nyeri karena senjatanya beradu dengan senjata Sumangkar sampai terlepas, sehingga betapapun kecilnya berpengaruh juga atas kelincahan tangannya.

Tambak Wedi yang melihat keadaan muridnya menjadi cemas. Sidanti ternyata mengalami tekanan-tekanan yang berat. Sedang dirinya sendiri terikat pada lawannya yang menyerangnya seperti orang yang sedang mabuk, meskipun pasti tak akan dapat menjatuhkannya.

Sumangkar memang berjuang dengan sepenuh tenaga. Diperasnya segenap kemampuan dan kekuatannya. Menurut perhitungannya, seandainya ia akan kehabisan tenaga, namun Sidanti akan lebih dahulu runtuh daripadanya, sebab betapapun saktinya anak muda itu, tetapi melawan prajurit-prajurit Jipang yang sekian banyaknya adalah pekerjaan yang mustahil dapat dilakukannya.

Tambak Wedi yang telah menyimpan pengalaman yang banyak sekali di dalam dirinya melihat pula keadaan itu. Setidak-tidaknya ia mengerti apa yang dikehendaki oleh Sumangkar. Namun sebagai seorang yang sakti, segera ia dapat mengerti pula, bahwa sebenarnya muridnya akan banyak mengalami kesulitan, sedang dirinya sendiri tidak akan dapat segera memberinya pertolongan.

“Sumangkar ini benar-benar gila,” desahnya di dalam hati. Karena itu segera ia mencari cara untuk melepaskan diri dari keadaan yang mengkhawatirkan itu.

Tiba-tiba dalam keriuhan pertempuran terdengar Tambak Wedi menggeram. “Sidanti jangan kau lukai lawan-lawanmu.  Jangan kau sakiti hatinya. Meskipun Sumangkar yang gila ini merusakkan rencana kita, namun aku masih tetap dalam pendirianku. Kami harus membuka pintu untuk menolong anak-anak yang malang ini.”

Sidanti tidak segera mengerti maksud gurunya. Bahkan ia mengumpat-umpat di dalam hatinya. Beberapa kali terasa ujung-ujung senjata lawannya telah menyentuh pakaiannya, dan bahkan beberapa kali terasa goresan pada kulitnya, namun kenapa gurunya masih melarangnya untuk melukai lawannya.

Dan terdengar kembali suara Tambak Wedi. “Sidanti, bukankah maksud kita kali ini hanya segera memperkenalkan diri. Nah kini pekerjaan kita sudah selesai. Marilah kita tinggalkan perkemahan ini.”

Barulah Sidanti menyadari maksud gurunya. Betapapun kemarahan meluap di hatinya, tetapi ia harus mengakui pula keadaannya. Ia harus menyadari bahwa ia tidak akan mampu melawan orang-orang Jipang itu sekaligus, apalagi jari-jari tangannya kini terasa menjadi nyeri.

Dalam pada itu terdengar kembali suara gurunya. “Nah, Sidanti lepaskanlah lawan-lawanmu. Biarlah mereka tetap dalam keadaannya. Kita akan tetap menanti kedatangan mereka di padukuhan kita atau di tempat asalmu kelak apabila perlu.”

Sidanti tahu benar akan kesulitannya sendiri. Alasan gurunya mengorbankan harga dirinya. Karena itu, tiba-tiba ia meloncat dengan memberinya kesempatan meninggalkan pertempuran itu dengan lincahnya, memutar senjata untuk menerobos lawan-lawannya yang selalu berusaha untuk mengepungnya. Geraknya benar-benar cepat tidak terduga, sehingga sesaat kemudian Sidanti telah berhasil keluar dari lingkungan pertempuran.

Dengan tangkasnya kemudian Sidanti menghindari setiap sergapan sambil melangkah surut. “Aku sudah bebas guru,” katanya sambil terus-menerus mengundurkan dirinya sambil melawan dan berusaha untuk tidak masuk kedalam kepungan.

“Bagus,” sahut gurunya, “kau adalah muridku yang baik. Betapapun juga kau mengalami kesulitan, tetapi kau tetap tidak mau menyakiti hati prajurit-prajurit Jipang yang berani. Nah, tinggalkan mereka. Akupun akan segera pergi.”

Sidanti tidak menunggu perintah gurunya itu diulangi. Segera ia bersiap melontar surut dan melepaskan diri dari daerah perkemahan itu.

Sumangkar yang melihat cara Tambak Wedi dan muridnya melepaskan diri mengumpat tak habis-habisnya. Katanya, “Pengecut. Kalian telah berani masuk ke dalam sarang srigala. Tetapi sifat-sifat kalian lari, meskipun alasan kalian tampaknya terlalu menyakinkan?”

Sidanti yang sudah agak jauh mendengar teriakan itu. Darah mudanya kembali menyala di dalam dadanya, sehingga tiba-tiba ia berhenti sambil menyahut. “Ayo, kelinci-kelinci yang mengaku srigala, inilah Sidanti.”

“Jangan hiraukan,” teriak gurunya, “kalau kau bertempur lagi Sidanti, mungkin kau akan terpaksa membunuh lawan-lawanmu. Dengan demikian di antara kita akan timbul persoalan-persoalan yang sulit kita lupakan. Tinggalkan tempat ini.”

Sidanti menggeram ketika ia mendengar Sumangkar tertawa. “Bagus. Apapun alasanmu, tetapi kami di sini akan mendapat kesan atas nilai-nilai pribadi Tambak Wedi dan muridnya.”

Tambak Wedi-lah yang menyahut kata-kata itu. “Suatu ketika kau akan berkata lain, Sumangkar.”

Sumangkar tidak menjawab. Tetapi ia menyerang terus dan bahkan terdengar ia meneriakkan aba-aba. “Jangan lepaskan Sidanti. Ia akan kembali dengan dendam di dalam hatinya. Jangan biarkan ia dapat melepaskan diri.”

“Jangan hiraukan, Sidanti,” teriak Tambak Wedi.

Betapapun juga, namun Sidanti dapat mengerti perintah gurunya. Karena itu, meskipun darah di dalam jantungnya serasa menyala, namun ia terpaksa meninggalkan pertempuran itu.

Demikian Sidanti menghilang, maka demikian pula Tambak Wedi melontarkan dirinya, menghindari serangan-serangan Sumangkar yang datang bertubi-tubi. Sekali ia melawan namun di saat-saat lain ia meloncat surut, semakin lama semakin jauh, tetapi Sumangkar masih belum melepasnya.

Namun ternyata Tambak Wedi yang sebenarnya tidak kalah dari Sumangkar itu, berhasil pula melepaskan dirinya. Dengan menyusup ke dalam gerumbul-gerumbul liar di sekitar tempat itu, ia dapat menghindari serangan-serangan dan kejaran Sumangkar.

Sumangkar menggeram marah sekali. Terdengar ia berteriak di antara kawan-kawannya, “Ayo, kenapa kalian hanya berdiri terpaku seperti nonton pacuan kuda? Kepung setan itu.”

Tetapi betapapun usahanya, namun Tambak Wedi benar-benar berhasil lolos dari mereka, seolah-olah mampu menghilang. Namun di kejauhan terdengar suaranya melingkar-lingkar di dalam hutan. “Sumangkar, suatu ketika kau akan menyesal.”

“Setan!” sahut Sumangkar dengan suara yang keras, “sekarang kami siap menunggumu.”

Tetapi Tambak Wedi itupun lenyap dari antara mereka.

Meskipun demikian, meskipun Tambak Wedi tidak berhasil mempengaruhi orang-orang Jipang pada saat itu, namun ia telah berhasil melontarkan tawarannya. Ia telah berhasil menyatakan perbandingan antara diri mereka dengan Macan Kepatihan. Sehingga bagaimanapun juga, Tambak Wedi yakin bahwa di saat-saat mereka duduk termenung, tawarannya akan berkumandang kembali di dalam hati mereka. Dengan demikian, Tambak Wedi itu telah berhasil meletakkan sebuah persoalan di dalam hati prajurit-prajurit Jipang yang sedang mengalami kesulitan lahir dan hatin.

Tetapi yang mula-mula menggoncangkan hati anak-anak Jipang itu adalah Sumangkar itu sendiri. Juru masak yang malas itu telah menimbulkan berbagai pertanyaan di dalam hati setiap orang yang telah melihat apa saja yang telah dilakukannya. Apalagi Tundun, yang kini berdiri membeku. Sekali-sekali mulutnya menyeringai karena sengatan rasa sakit pada tangannya. Ketika ia melihat Tambak Wedi yang ganas itu melarikan dirinya, maka hatinya benar-benar bergelora. Ia tidak menyangka bahwa juru masak itu berhasil mengusir Tambak Wedi yang menakutkan di seluruh wilayah lereng Gunung Merapi itu. Namun setelah itu, setelah Tambak Wedi tidak nampak lagi di mata mereka, timbullah kecemasan dan ketakutan yang lain di dada Tundun itu. Betapa Sumangkar akan membalasnya. Ia pasti tidak akan mampu berbuat apa-apa, seperti ia tidak akan mampu melawan Tambak Wedi.

Karena itu, maka kemudian dipandangnya Sumangkar itu dengan gelora di dalam dirinya.

“Apakah yang akan dilakukannya?” katanya dalam hati. Aneh. Orang itu adalah orang yang aneh. Apakah ada setan yang manjing ke dalam dirinya?

Sumangkar sendiri kemudian berdiri kaku di tempatnya. Ia menjadi sangat kecewa atas lenyapnya Tambak Wedi dan Sidanti. Kedua orang itu tidak kalah berbahayanya daripada pasukan Pajang di Sangkal Putung bagi Macan Kepatihan dan pasukannya. Mungkin suatu saat Macan Kepatihan akan kehilangan kewibawaannya atas anak buahnya karena pokal Tambak Wedi itu. Mungkin anak buahnya satu demi satu akan menghilang dan menggabungkan diri dengan Hantu Lereng Merapi itu. Dengan demikian persoalannya akan menjadi semakin sulit. Macan Kepatihan harus menghadapi persoalan baru yang tidak kalah rumitnya dengan persoalan-persoalan yang telah ada, apalagi hal itu pasti akan langsung menyentuh harga diri Macan Kepatihan itu.

Sedangkan apabila Macan Kepatihan menerima kehadiran mereka di dalam lingkungannya, maka keadaannya sama sekali tidak akan bertambah baik. Hubungan antara pasukan Jipang dengan Pajang pasti akan bertambah buruk. Pertentangan akan semakin menyala dan membakar rakyat Jipang dan Pajang sendiri. Kematian dan bencana akan menjadi semakin bertambah-tambah. Sedangkan tujuan terakhir dari perlawanan itu sama sekali tidakakan dapat diharapkan. Pajang tidak saja berisi Untara, Widura dan anak buahnya di Sangkal Putung. Tetapi Pajang memiliki panglima-panglima yang mumpuni. Ki Gede Pamanahan adalah lambang dari kekuatan Wira Tamtama Pajang, dan puteranya Loring Pasar adalah kekuatan yang tidak ada taranya di antara angkatan mudanya.

Sesaat Sumangkar itu tenggelam dalam angan-angannya. Tetapi kemudian disadarinya, bahwa di sekitarnya masih berdiri para prajurit Jipang. Bahkan mereka yang lukapun masih belum mendapat perawatan sama sekali.

“He, kenapa kalian menjadi bingung,” katanya kemudian. “Lihat kawan-kawanmu yang luka. Nah, tolonglah dan obati mereka.”

Beberapa orang tersadar dari kekagumannya. Segera mereka mencoba merawat kawan-kawan mereka dan membawa mereka kembali ke perkemahan. Tetapi ketika seseorang mengajak Bajang kembali, terdengar Bajang menjawab, “Aku masih mampu berjalan sendiri.”

Tetapi sepeninggal kawannya itu, Bajang berjalan perlahan-lahan mendekati Sumangkar. Dengan hormatnya ia mengangguk sambil berkata, “Maafkan aku. Bagaimana aku harus bersikap setelah aku melihat apa yang telah kau lakukan.”

“Oh,” seru Sumangkar, “aku tidak menuntut perubahan sikap kalian terhadapku. Aku tetap seorang juru masak.”

“Hem,” desah Bajang, “alangkah bodohnya aku. Kenapa aku tidak melihat keadaan ini sebelumnya. Kenapa aku tidak tahu siapakah sebenarnya Sumangkar itu.”

“Jangan ribut,” sahut Sumangkar. “Kembalilah dan pelihara lukamu. Mungkin Sidanti dan Tambak Wedi akan datang di saat-saat lain.”

Kembali Bajang mengangguk hormat. Kemudian ia melangkah pergi meninggalkan Sumangkar yang masih berdiri di tempatnya.

Yang tinggal kemudian adalah Tundun sendiri. Dengan cemas ia melihat Sumangkar masih menggenggam pedangnya. Orang tua itu masih belum meninggalkan tempatnya dan bahkan kemudian perlahan-lahan melangkah mendekatinya.

“Kenapa kau masih berdiri disitu?” terdengar orang tua itu bertanya.

Tundun itupun kemudian menjawab dengan gemetar, “Tidak, tidak.”

“Apa yang tidak?” bertanya Sumangkar pula.

Tundun menjadi bingung. Ia tidak tahu, bagaimana menjawab pertanyaan itu.

Perlahan-lahan Sumangkar datang kepadanya sambil berkata, “Kenapa kau tidak kembali ke perkemahan?”

“Ya, ya,” sahut Tundun terbata-bata, “aku akan kembali.”

“Nah kembalilah,” berkata Sumangkar pula.

Tundun memandang Sumangkar tanpa berkedip. Terasa tengkuknya meremang, seakan-akan Sumangkar itu telah mencengkamnya dan dengan penuh kemarahan membantingnya jatuh di tanah.

Tetapi Sumangkar masih tegak. Bahkan kembali ia mendengar suaranya. “Marilah kita kembali bersama-sama.”

Seperti orang kehilangan kesadaran ketika Tundun melihat Sumangkar berjalan mendahului, iapun berjalan pula dibelakangnya dengan kepala tunduk. Hanya sekali-sekali terasa sakit di tangannya masih menyengat-nyengat. Tetapi ia sama sekali tidak berani mengeluh. Bahkan ia terkejut ketika tiba-tiba Sumangkar berkata, “Apakah tanganmu masih sakit?”

Sesaat Tundun menjadi bingung. Namun kemudian ia menjawab, “Tidak. Sudah tidak sakit.”

Mendengar jawaban itu Sumangkar berhenti. Ketika ia berpaling, dilihatnya tangan kiri Tundun meraba-raba tangan kanannya. Dan Tundun pun terkejut pula. Tergagap-gagap ia berkata, “Masih. Tanganku masih sakit.”

Sumangkar tersenyum. Ia masih menggenggam pedang Tundun. Karena itu maka katanya sambil menyerahkan pedang itu, “Inilah pedangmu.”

Tundun memandang Sumangkar seperti memandang hantu sehingga Sumangkar tertawa karenanya. “Jangan cemas, aku tidak apa-apa.”

Kata-kata Sumangkar itu seolah-olah telah mengembalikan segenap kesadaran Tundun. Tiba-tiba ia merasa betapa besar kesalahan yang telah dilakukan atas orang tua itu sehari ini. Sehingga sampai pada puncak kebodohannya mencoba membunuhnya. Karena itu tiba-tiba Tundun itu berjongkok di hadapan Sumangkar sambil berkata, “Maafkan aku. Maafkan aku. Aku tidak tahu siapa sebenarnya Tuan.”

“E, e,” Sumangkar terkejut melihat sikap itu. Dengan serta merta ditariknya lengan Tundun. “Berdirilah, aku bukan orang berpangkat di sini. Aku adalah seorang juru masak.”

“Tetapi apa yang Tuan lakukan telah benar-benar mengejutkan. Tuan telah berhasil mengusir Ki Tambak Wedi.”

“Bukan aku seorang diri,” jawab Sumangkar, “tetapi bersama-sama.”

“Tetapi aku telah berani mencoba membunuh Tuan.”

“Jangan sebut-sebut itu lagi. Lupakanlah. Namun hal ini dapat kau jadikan pelajaran, bahwa kau harus lebih banyak mempergunakan otakmu daripada tenaga dan perasaanmu.”

“Baik Tuan.”

“Jangan panggil aku tuan.”

Tundun tidak menyahut, tetapi ia hanya mengangguk saja.

“Nab, kembalilah dahulu,” berkata Sumangkar, “rusa panggang itu telah masak.”

“Bukan untukku,” sahut Tundun.

Kembali Sumangkar tertawa. Dipandanginya saja kemudian, ketika Tundun itu meninggalkannya kembali keperkemahan. Sekali-sekali ia masih meraba-raba tangannya yang seakan-akan terkilir. la hanya merasakan sebuah tangkapan pada pergelangan tangannya. Dan yang diketahui kemudian pedangnya terlepas dan berpindah ketangan Sumangkar, sedang dirinya sendiri terdorong beberapa langkah ke samping.

“Benar-benar di luar dugaanku,” keluh Tundun.

Sepeninggal Tundun, Sumangkar berdiri seorang diri dalam terik cahaya matahari yang menyusup di antara celah-celah dedaunan. Sekali-sekali ia memandangi matahari itu. Dan setiap kali ia bergumam dengan lirih, “Apa yang terjadi di pertempuran itu?”

Kedatangan Tambak Wedi dan Sidanti telah menambah hati orang tua itu menjadi gelisah. Ia tidak sampai hati melihat Macan Kepatihan kehilangan kewibawaannya, kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri, sebagai penerus keturunan ilmu Kedung Jati. Tetapi ia sebenarnya tidak bisa melihat perkembangan yang semakin suram dari murid saudara seperguruannya itu dalam perjuangannya. Sebenarnya Sumangkar tidak dapat menyetujui seluruh apa yang dilakukan oleh Tohpati. Tetapi ia tidak dapat mencegahnya. Ia tidak dapat berbuat lain daripada apa yang dilakukannya sampai saat terakhir. Justru karena Tohpati tahu, bahwa ia tidak sependapat dalam beberapa hal, maka diletakkannya Sumangkar di sudut-sudut perkemahan, di tepi-tepi perapian, seperti kesenangannya sendiri. Memasak.

“Saat ini anak itu sedang berjuang melawan maut,” desis Sumangkar itu sambil sekali lagi menatap matahari, “mudah-mudahan ia selamat.”

Namun hatinya berdesir mengenang pertempuran kali ini. Pertempuran yang menurut kata-kata Macan Kepatihan sendiri, adalah pertempuran terakhir?

“Kenapa terakhir?” gumamnya.

Sumangkar kemudian berjalan menepi. Perlahan-lahan diletakkannya tubuhnya di bawah rindangnya pohon Benda. Sekali-sekali dikenangnya wajah Tambak Wedi yang bengis dan sekali dibayangkannya wajah-wajah yang tegang di medan peperangan sangkal Putung.

“Keduanya merupakan bahaya,” desisnya, “kenapa aku tidak diperbolehkannya ikut serta.” Sumangkar itu berkata kepada diri sendiri. “Tetapi kalau aku pergi, maka perkemahan ini pasti akan menjadi ajang pengaruh Tambak Wedi itu. Mungkin Tundun dan kawan-kawannya telah pergi meninggalkan Macan Kepatihan. Dengan demikian, maka perkemahan ini akan menjadi kosong. Nanti apabila laskar itu datang kembali, maka mereka akan menjadi semakin parah. Parah karena pertempuran itu, dan parah karena mereka datang di tempat yang kosong. Tanpa penyambutan, tanpa makanan. Alangkah sedihnya Macan Kepatihan. Apalagi kalau usahanya kali ini untuk merebut sangkal Putung tidak berhasil.”

***

Sumangkar menggelengkan kepalanya. Namun ia tidak juga berdoa supaya Macan Kepatihan berhasil merebut Sangkal Putung. Ia tidak ingin membayangkan bagaimana perempuan dan kanak-kanak Sangkal Putung menjadi ketakutan dan menjadi barang rayahan yang akan diperlakukan dengan semena-mena.

Karena itu Sumangkar menjadi bingung. Apakah yang sebaiknya dilakukan?

Ketika kemudian ia melihat seseorang di kejauhan, maka segera ia berdiri dan berjalan ke perkemahan kembali.

Kepada orang yang dilihatnya itu Sumangkar melambaikan tangannya memanggil.

Orang yang dipanggilnya itupun datang mendekat, seolah-olah sedang menyongsongnya.

“Akan kemanakah kau?” bertanya Sumangkar.

“Mengambil air,” jawab orang itu.

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Apakah luka Bajang sudah diobati?”

“Sudah.”

“Bagaimana keadaannya?”

“Tidak apa-apa. Ia sudah dapat bekerja lagi di dapur.”

“Tolong panggil anak itu kemari.”

Orang itupun segera kembali untuk memanggil Bajang. Sumangkar sendiri tidak meneruskan Iangkahnya. Kini kembali ia duduk di bawah rimbunnya dedaunan hutan. Sekali-sekali diamat-amatinya burung-burung liar yang berterbangan, hinggap dari dahan yang satu ke dahan yang lainnya.

Bajangpun segera datang mendekatinya. Tetapi sikap anak itu telah jauh berbeda dari sikapnya sehari-hari.

“Kiai memanggil aku?” ia bertanya.

Mendengar pertanyaan itu Sumangkar terkejut, tetapi iapun tersenyum. “Sejak kapan kau menyebut aku demikian?”

Bajang menjadi tersipu-sipu sehingga ia tidak dapat menjawab pertanyaan itu.

“Duduklah Bajang,” minta Sumangkar.

Bajang pun segera duduk di samping Sumangkar. Terasa beberapa pertanyaan melonjak-lonjak di dalam dadanya. Dalam tanggapannya Sumangkar yang duduk di sampingnya itu sama sekali bukan Sumangkar yang dikenalnya setiap hari. Sumangkar itu seolah-olah adalah orang baru di dalam perkemahan itu. Orang baru yang sakti melampaui kesaktian Macan Kepatihan sendiri.

“Bajang,” berkata Sumangkar. Sumangkar sendiri tidak tahu, kenapa tiba-tiba ia menaruh kepercayaan kepada anak itu. Tiba-tiba saja ia melihat kelebihan Bajang dari orang-orang lain, sejak ia melihat sikap anak itu menghadapi kekasaran Tundun atasnya. Dan kemudian dilanjutkannya kata-katanya. “Apakah pekerjaanmu sudah siap?”

“Belum seluruhnya Kiai, tetapi segera akan selesai.”

“Maksudku, bagaimanakah kalau aku hari ini berhalangan membantumu di dapur? Apakah pekerjaan kita dapat selesai sebelum petang?”

“Oh, tentu, tentu. Dan seharusnya Kiai tidak lagi bersusah payah bekerja di dapur. Kiai dapat memerintahkan Tundun untuk melakukannya. Ia pasti tidak berani membantah lagi.”

“Tidak Bajang. Aku sendiri memang memilih pekerjaan itu. Jangan kau sangka bahwa Macan Kepatihan tidak mengenal aku. Sanakeling dan Alap-alap Jala tunda itupun mengenal siapa Sumangkar. Tetapi sengaja aku minta mereka untuk membiarkan aku melakukan pekerjaan yang aku senangi.”

“Oh, jadi Raden Tohpati telah mengenal Kiai?”

“Sudah Bajang. Sejak di kepatihan Jipang. Mantahun adalah kakak seperguruanku.”

“Oh,” Bajang menjadi pucat.

Tetapi cepat-cepat Sumangkar menyambung, “Tetapi aku sama sekali bukan seorang pejabat pemerintahan seperti Patih Mantahun. Aku sejak di kepatihan, adalah seorang juru masak.”

Bajang menundukkan kepalanya. Baru kini ia menjadi jelas siapakah kawannya yang selama ini dianggapnya sebagai seorang tua yang telah tidak lagi mampu bekerja terlalu keras, yang oleh orang-orang lain disebutnya jurumasak yang malas.

“Tetapi Bajang,” berkata Sumangkar kemudian, “jangan kau menganggapku berlebih-lebihan. Sikapmu jangan kau rubah seperti terhadap seorang pemimpin.”

“Bajang,” kembali terdengar suara Sumangkar, “bagaimana dengan pertanyaanku? Hari ini aku tidak dapat membantumu?”

“Tidak apa-apa Kiai. Betul, aku dan kawan-kawan yang lain akan dapat menyelesaikannya. Silahkan Kiai beristirahat.”

Sumangkar menggeleng. Katanya, “Aku tidak ingin beristirahat, Bajang.”

Sekilas Bajang berpaling. Dilihatnya wajah Sumangkar yang suram. Lalu terdengar ia bertanya, “Apa yang akan Kiai lakukan sekarang?”

“Aku akan pergi.”

“Pergi?”

“Ya.”

“Kiai akan pergi ke mana?” desak Bajang.

Sesaat Sumangkar menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian jawabnya, “Sebenarnya sejak Macan Kepatihan berangkat, hatiku menjadi gelisah. Seolah-olah aku melepas anak di tepi sungai.”

Bajang mengangkat wajahnya. Tiba-tiba ia bertanya, “Kenapa Kiai tidak turut ke Sangkal Putung. Bukankah tenaga Kiai akan sangat berguna untuk merebut daerah itu?”

“Aku tidak tahu, kenapa Macan Kepatihan menolak tawaranku. Disuruhnya aku tinggal di perkemahan ini.”

“Apakah sekarang Kiai akan menyusul ke Sangkal Putung?”

Sumangkar mengangguk. “Ya,” jawabnya, “aku ingin melihat pertempuran itu.”

Bajang mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Apakah aku dapat ikut serta Kiai.”

Sumangkar menggeleng. “Jangan. Perjalananku mempunyai bentuk yang lain dari perjalanan sebuah pasukan. Karena itu, biarlah aku pergi sendiri. Bukankah kau mempunyai pekerjaan yang cukup penting di sini, menyiapkan makan untuk pasukan itu.”

Bajang mengangguk. Gumamnya, “Baik Kiai.”

Mereka berdua, Bajang dan Sumangkar, untuk sesaat saling berdiam diri. Mata Sumangkar yang redup memandang jauh menembus rimbunnya hutan. Hatinya kini sedang dilibat oleh kebimbangan dan keragu-raguan. Ia merasa bahwa seakan-akan kini ia berdiri di simpang jalan. Dan diketahuinya bahwa kedua simpangan itu sama-sama tidak dikehendakinya. Bahkan kembalipun tidak akan dapat ditempuhnya.

Tiba-tiba Sumangkar itu tersentak ketika ia mendengar seperti jerit seseorang. Ketika ia mengangkat wajahnja, barulah disadarinya, bahwa suara itu adalah suara seekor burung elang yang bertempur di udara.

“Hem,” desahnya, “aku harus pergi Bajang.”

Bajang berpaling sambil mengangguk, “Silahkan Kiai. Kedatangan Kiai akan banyak memberi bantuan kepada pasukan itu.”

Sumangkar menggeleng. “Belum tentu. Bahkan mungkin aku akan diusir oleh angger Tohpati.”

“Kalau Raden Tohpati itu memerlukannya, maka kehadiran Kiai akan sangat membesarkan hatinya.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia berdiri, membenahi pakaiannya dan berbisik seakan-akan kepada dirinya sendiri, “Aku akan pergi. Tetapi aku harus kembali dulu ke perkemahan.”

“Marilah Kiai,” sahut Bajang.

Sumangkar kemudian tidak berkata-kata lagi. Cepat-cepat ia berjalan ke perkemahan langsung masuk ke dalam gubugnya. Bajang yang mengikutinja, berdiri tegak di muka pintu gubug sambil mengawasi apa yang sedang dicari oleh Sumangkar itu di bawah tumpukan jerami, tempat ia tidur di malam hari.

Bajang terkejut ketika ia melihat benda itu. Ia pergi ke mana saja bersama pasukan dan ia pergi ke mana saja bersama Sumangkar, tetapi ia belum pernah melihat benda itu.

“Benda ini adalah benda peninggalan,” desis orang tua itu. “Jarang kau melihatnya. Aku selalu membawanya di antara barang-barang yang lain dan terbalut kain.”

Benda itu mirip benar dengan benda yang paling berharga dalam pasukan itu, meskipun agak lebih kecil. Tongkat baja putih, dengan kepala yang berwarna kekuning-kuningan. Mirip benar dengan tongkat baja putih milik Tohpati.

Dengan suara gemetar Bajang bertanya, “Apakah benda itu lain dengan yang dimiliki oleh Raden Tohpati?”

“Gurunya adalah seperguruan dengan aku. Kami masing-masing menerima senjata serupa. Dan Senjata kakak seperguruanku itu kini telah jatuh ke tangan Tohpati, murid satu-satunja.”

Bajang mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia belum pernah melihat Sumangkar menjinjing senjata, selain menjinjing kapak, pisau dapur atau sebuah kelewang pembelah kayu. Kini orang tua itu menjinjing sebatang tongkat baja putih berkepala kekuning-kuningan berbentuk tengkorak, agak lebih pendek sedikit dari tongkat Tohpati. Alangkah jauh bedanya. Sumangkar yang setiap hari berjongkok di dapur dan Sumangkar yang menjinjing tongkat itu. Karena itu maka terasa hatinya berdesir.

“Kiai, ternyata Kiai adalah seorang yang menakjubkan. Meskipun Kiai dapat mengimbangi kesaktian Tambak Wedi, namun selama ini Kiai dapat merendam diri dalam keprihatinan,” berkata Bajang kemudian.

“Kau salah sangka Bajang,” sahut Sumangkar. “Selama ini aku sama sekali tidak merendam diri dalam keprihatinan. Bahkan aku merasa bahwa aku mendapat istirahat yang panjang. Aku tidak perlu lagi bekerja terlalu berat di peperangan. Betapapun saktinya seseorang, namun perang adalah pekerjaan yang berat. Mungkin aku merasa bahwa seseorang tidak berarti dalam olah senjata, namun di dalam peperangan ia tidak berdiri sendiri. Dan aku tidak hanya melawan musuh-musuh itu seorang lawan seorang. Seandainya musuh-musuhku adalah orang-orang yang lemah dan sama sekali tidak berarti sehingga aku akan dapat membunuhnya seperti menebas batang ilalang, namun dalam keadaan yang demikian, musuh yang terberat adalah perasaan sendiri. Apakah aku akan dapat tidur dengan tenang setelah aku mengotori tanganku dengan darah orang yang lemah dan tidak berarti itu? Apakah aku akan dapat tidur nyenyak kalau aku sempat menghitung orang yang telah aku bunuh? Tidak Bajang. Aku tidak bisa. Karena itu pekerjaan di dapur adalah pekerjaan yang menyenangkan bagiku. Bagi seorang pemalas.”

Bajang tidak menjawab. Kini ia melihat Sumangkar itu telah siap. Dan Bajang itu mendengar Sumangkar berkata, “Lakukan pekerjaanmu baik-baik Bajang. Aku akan pergi ke Sangkal Putung untuk melihat peperangan itu.”

Bajang melangkah ke samping ketika Sumangkar berjalan ke pintu. Lamat-lamat terdengar ia berdesis, “Selamat jalan Kiai. Mudah-mudahan perjalanan Kiai akan sangat berarti.”

Sumangkar mengangguk. Sahutnya, “Mudah-mudahan. Apakah kau ingin aku turut bertempur?” bertanya orang tua itu.

Bajang mengangguk, “Ya,” jawabnya.

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Kata-kata Bajang adalah kata-kata yang wajar. Setiap prajurit Jipang menghendaki kemenangan. Setiap prajurit Jipang ingin segera membelah Sangkal Putung, menguasainya, dan memiliki setiap kekayaan yang ada di dalamnya. Tetapi apakah dengan mengalahkan Sangkal Putung, Pajang akan tunduk di bawah kaki Macan Kepatihan?

“Hem,” Sumangkar itu menggeleng. “Jauh. Terlalu jauh jalan yang harus ditempuh,” katanya di dalam hati.

“Mungkin sepanjang umurku keinginan untuk itu tidak akan pernah tercapai. Yang dapat dilakukan adalah menduduki suatu tempat, untuk kemudian meninggalkannya setelah dirampas segenap kekayaan. Dalam keadaan demikian, maka sulitlah bagi laskar Jipang untuk mengekang diri dalam lingkaran peradaban dan kemanusiaan.”

Dalam kebimbangan itulah kemudian Sumangkar siap meninggalkan perkemahannya. Ia tidak tahu, manakah yang paling baik dilakukan. Ia tidak sampai hati melihat Macan Kepatihan selalu disiksa oleh kekalahan demi kekalahan, namun ia tidak akan sampai hati pula melihat Sangkal Putung menjadi ajang kehancuran.

Sebelum Sumangkar itu meninggalkan perkemahan, maka pesan yang diberikan kepada Bajang adalah, “Hati-hatilah dengan kawan-kawanmu Bajang. Tawaran Tambak Wedi dapat mempengaruhi kesetiaan mereka kepada Macan Kepatihan.”

“Aku akan mencoba memperhatikannya Kiai,” jawab Bajang.

Sumangkar itupun kemudian berjalan dengan hati yang bimbang. Dijinjingnya tongkatnya, namun ia tidak yakin, apakah tongkat itu akan dipergunakannya. Sudah terlalu lama ia menyimpannya, bahkan hampir ia tidak pernah membayangkan, bahwa tongkat itu akan dipergunakannya lagi, meskipun keadaannya masih terbelenggu dalam kekalutan dan peperangan.

Tetapi tongkat itu kini dijinjingnya. Sekali-sekali Sumangkar yang tua itu menengadahkan wajahnya. Di langit matahari berjalan dengan malasnya. Namun terik panasnya seakan-akan membakar kulit.

Sumangkar itu kemudian mempercepat langkahnya. Sekali-sekali ia masih harus meloncati air yang tergenang, sisa hujan yang lebat semalam.

Dalam pada itu di ujung Kademangan Sangkal Putung pertempuran yang dahsyat masih saja terjadi. Pekik dan ratap di antara dentang senjata. Anak-anak muda Sangkal Putung sudah tidak berteriak-teriak lagi. Mereka seakan-akan sudah kehabisan tenaga dalam perlawanan yang semakin berat.

Semakin lama terasa bahwa anak-anak Sangkal Putung menjadi semakin kendor. Untara yang melihat keadaan itu menjadi semakin prihatin. Pertempuran itu semakin bergeser ke kanan. Bukan saja bergeser ke kanan, tetapi Untara terpaksa beberapa kali menarik diri untuk memberi kesempatan kepada Sedayu dan Swandaru untuk membantu mengurangi tekanan-tekanan di induk pasukan. Hudaya di satu sisi bersama Agung Sedayu dan Sonya beserta Patra Cilik di sisi yang lain bersama Swandaru telah memeras tenaga mereka. Mereka bertempur sambil berusaha untuk tetap memberi kesegaran kepada anak-anak muda Sangkal Putung. Namun pedang-pedang mereka sudah tidak terayun sederas pada saat mereka mulai. Bahkan dengan demikian, maka korban berjatuhan. Satu demi satu.

Setiap kali Swandaru mendengar pekik kesakitan, setiap kali ia menggeram, dan pedangnya menyambar-nyambar seperti kilat di langit. Tetapi lawannya adalah prajurit-prajurit terlatih yang sedang berputus asa, sehingga bagaimanapun juga, maka ia harus berjuang sekuat-kuat tenaganya. Untunglah bahwa Kiai Gringsing telah memberinya bekal secukupnya, sehingga ia tidak perlu berkecil hati menghadapi prajurit-prajurit itu. Tetapi kawan-kawannya, anak-anak muda Sangkal Putung adalah berbeda.

Tohpati tersenyum melihat kemenangan-kemenangan yang dicapainya. Ia telah lupa segala-galanya. Ia lupa kebimbangan-kebimbangan yang mencengkam hatinya. Ia lupa kejemuan-kejemuan yang selama ini merayapi jantungnya.

Sebagai seorang prajurit yang mendapatkan beberapa kemenangan di medan perang, maka pastilah akan menggugah tekadnya lebih dahsyat. Demikianlah Macan Kepatihan saat itu. Kemenangan-kemenangan itu seakan-akan telah menambah kekuatannya. Bahkan perasaan itu melimpah kepada setiap prajurit yang ikut dalam pertempuran itu.

***

Agak jauh dari pertempuran itu, Sumangkar berhenti di bawah rindangnya pepohonan liar di pinggir lapangan rumput dan tanah-tanah persawahan yang tidak ditanami, tempat pertempuran itu terjadi. Begitu asyiknya ia melihat pertempuran itu, sehingga perhatiannya seluruhnya ditumpahkannya kepada gemerlapnya pedang dan sorak kemenangan pada tiap-tiap kelompok. Sorak yang masih dapat membangkitkan gairah dan nafsu untuk menggerakkan senjata. Berganti-ganti para prajurit itu bersorak-sorak. Sekali-sekali terdengar prajurit Pajang meneriakkan kemenangan-kemenangan kecil apabila ada lawan-lawannya yang terdesak dan jatuh tersungkur di kaki mereka.

Namun kemudian prajurit Jipang berusaha menebus kekalahannya. Dan bersorak pulalah mereka, apabila mereka dapat merebut kembali garis pertempuran yang semula ditinggalkan mundur beberapa langkah. Namun semakin lama prajurit Jipang-lah, yang semakin sering mendesak. Apalagi di sisi kanan.

Widura yang berada di sisi kiri dalam gelar pasukan Pajang berusaha mengimbanginya dengan gigih. Widura mengharap, bahwa kemenangan yang betapapun kecilnya akan masih dapat menyalakan tekad dan membesarkan hati anak-anak muda Sangkal Putung. Namun karena induk pasukan itu sendiri mengalami beberapa tekanan yang tak dapat dihindarkan, maka pasukan Pajang benar-benar harus menarik diri beberapa kali.

Widura melihat kesulitan di induk pasukan itu. Karena itu, maka dilepaskannya beberapa orangnya untuk ikut serta memperkuat induk pasukan. Justru mereka adalah prajurit-prajurit yang cukup baik. Sebab menurut perhitungan Widura, lebih baik sayap yang dipimpinnya yang agak mengalami kesulitan daripada induk pasukan.

Usaha Widura dapat juga sedikit membantu. Untara dapat menahan arus yang semakin dahsyat dengan beberapa tenaga dari sayapnya, sehingga pasukan itu tidak harus menarik diri terus menerus.

Sumangkar melihat pertempuran itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali-kali ia tersenyum melihat kemenangan-kemenangan yang didapatkan oleh Macan Kepatihan. Meskipun Macan Kepatihan sendiri tidak dapat mengatasi lawannya, seorang lawan seorang, namun pengaruh pertempuran itu seluruhnya, ternyata telah memperkuat kedudukannya. Untara yang pikirannya terpecah-belah, ternyata harus berjuang sekuat tenaganya, agar kepalanya tidak disambar oleh tongkat baja putih yang berkepala tengkorak di tangan Macan Kepatihan itu.

Sekali-kali terlintas juga di dalam hati Sumangkar, betapa sengsaranya rakyat Sangkal Putung apabila anak Jipang yang telah menjadi buas itu berhasil menembus pertahanan Untara kali ini. Anak-anak, perempuan danorang-orang tua pasti akan banyak mengalami bencana. Namun apakah ia akan dapat membiarkan laskar Jipang itu terpecah porak-poranda.

Di luar kehendaknya sendiri, maka Sumangkar itu berbangga atas murid kakak seperguruannya itu. Ia bangga melihat tongkat yang mirip dengan tongkatnya itu, menyambar-nyambar dengan dahsyatnya, seolah-olah ia melihat dirinya sendiri pada masa-masa mudanya.

“Dahsyat” geramnya “Macan Kepatihan memang pantas memakai gelarnya. la benar-benar garang segarang harimau jantan.”

Sumangkar kini berdiri bersandar sebatang pohon yang rindang. Ia tidak dapat melihat seluruh medan denganjelas. Namun karena pengalamannya dan pengetahuannya mengenai peperangan, ia dapat membayangkan seluruhnya di garis peperangan itu, sekali-kali ia berdiri di atas ujung-ujung kakinya, dan bahkan sekali-kali ia meloncat pada bongkahan-bongkahan tanah yang agak tinggi. Lalu kemudian kembali ia bersandar di batang pohon itu.

Ketika ia mengangkat wajahnya menatap langit, maka dilihatnya matahari telah melampaui puncaknya. Perlahan-lahan matahari itu merayap turun, menuju ke cakrawala di ujung Barat.

“Tentu.” Sumangkar itu mengangguk-anggukan kepalanya. “Anak-anak muda Sangkal Putung tidak akan dapat bertahan sampai tengah hari. Sebentar lagi pertahanan Untara pasti akan terpecah belah. Anak-anak sangkal Putung pasti meninggalkan pertempuran. Meskipun mereka sama sekali tidak takut mati, tetapi mereka tidak akan mampu bertempur selama itu.”

Namun tiba-tiba ia bergumam, “Kasihan. Mereka akan menjadi korban karena mereka ingin mempertahankan tanahnya, kampung halamannya. Agaknya Untara melupakan keadaan itu.”

Kembali timbul berbagai persoalan di dalam dada sumangkar. Namun akhirnya ia berdesis, “Biarlah pertempuran itu berlangsung sebagaimana seharusnya. Biarlah aku menonton di sini, apapun yang akan terjadi.”

Sebenarnya bahwa laskar Sangkal Putung bersama-sama dengan prajurit Pajang mengalami kesulitan. Meskipun Widura telah menyerahkan beberapa bagian dari kekuatannya, namun karena kekuatan anak-anak Sangkal Putung telah menjadi semakin surut, maka pasukan Pajang dan Sangkal Putung itu berkali-kali harus menarik diri, membuat kedudukan-kedudukan baru yang dapat mengurangi tekanan laskar Jipang. Beberapa orang yang memillii kelebihan dari prajurit-prajurit biasa, telah mencoba memeras tenaga mereka. Agung Sedayu, semakin lama menjadi semakin mantap. Kalau semula ia ragu-ragu karena pertimbangan-pertimbangan yang bersimpang-siur di kepalanya, maka kini ia tidak lagi dapat mempertimbangkannya. Setiap kali ia mendengar anak-anak muda Sangkal Putung berdesis menahan goresan-goresan pedang lawan, dan sekali-kali terdengar mereka memekik tinggi, karena tubuhnya terluka. Karena desakan rasa iba akan nasib kawan-kawannya itulah maka lenyaplah segi-segi perasaan ibanya yang lain. Dengan demikian, maka anak muda itu menjadi seakan-akan burung rajawali yang menyambar-nyambar di antara anak-anak kelinci yang lemah. Hanya dalam kelompok-kelompok yang kuat orang-orang Jipang berani menempuhnya. Demikian pula Swandaru Geni. Namun mereka dikelilingi oleh lawan-lawan mereka. Sedang kawan-kawannya telah menjadi semakin lemah, semakin lemah. Meskipun prajurit Pajang berjuang sekuat tenaga mereka, tetapi lawan mereka seakan-akan menjadi bertambah banyak.

Dalam keprihatinan itulah tiba-tiba mereka mendengar di kejauhan sorak yang gemuruh. Pemimpin laskar cadangan yang datang dari sangkal Putung telah mendengar, betapa laskar mereka di garis peperangan mengalami kesulitan. Karena itu, meskipun mereka masih jauh, namun mereka berusaha untuk mempengaruhi gairah setiap prajurit yang sedang bertempur itu.

Kedua belah pihak terkejut mendengar sorak yang bergelora itu. Sesaat mereka mencoba melihat, siapakah yang sedang, bersorak-sorak. Dan apa yang mereka lihat, benar mempengaruhi perasaan mereka, sebelum laskar cadangan itu mempengaruhi pertempuran itu dengan tenaga mereka yang segar, maka keadaan pertempuran itu telah berubah.

Anak-anak muda Sangkal Putung yang seakan-akan telah kehabisan tenaga tiba-tiba menjadi bingar kembali. Meskipun mereka tidak dapat bertempur sesegar pada saat mereka baru mulai, namun kedatangan kawan-kawan mereka itu telah menumbuhkan semangat yang menyala-nyala. Dengan demikian, maka seakan-akan di dalam diri mereka tumbuh kembali kekuatan-kekuatan yang seolah-olah telah larut dihanyutkan angin.

Melihat kehadiran laskar cadangan itu Tohpati menggeram. Terasa di dalam dirinya sesuatu yang bergejolak. Mau tidak mau terpaksa ia mengumpat di dalam hatinya. “Gila Untara ini. Ternyata ia cerdik seperti setan. Kenapa ia menyimpan tenaga cadangan itu?”

Bukan saja Tohpati yang mengumpat-umpat di dalam dirinya, namun semua orang di dalam pasukan Jipang itu mengumpat-umpat. Bahkan ada di antara mereka yang menjadi cemas bahwa pasukannya akan mengalami kegagalan lagi. Karena itu, maka mereka menjadi semakin buas karena keputus-asaan. Mereka sudah tidak tahan lagi untuk tinggal di hutan-hutan, makan apa saja yang diketemukan. Berkawan dahan-dahan kayu yanq beku dan tidur beralas yang kotor. Ketika tumbuh di dalam dada mereka harapan untuk merubah nasib mereka dengan memecah pertahanan rakyat Sangkal Putung, maka tiba-tiba harapan mereka larut bersama datangnya anak-anak muda Sangkal Putung dan beberapa orang prajurit Pajang yang ditarik dari gardu-gardu perondaan.

Kini Untara merasa, bahwa ia akan dapat bernafas kembali. la bersyukur bahwa laskar cadangan itu tidak terlambat datang, karena kelambatan perintahnya, Untara pun sama sekali tidak menyangka bahwa laskar Jipang itu terlampau kuat, sehingga laskar cadangan itu hampir-hampir menemukan pasukannya telah bercerai-berai.

Pasukan cadangan itu sendiri, ketika melihat ujung-ujung pedang yang berkilat-kilat di kejauhan, seakan-akan mereka tidak bersabar lagi. Langkah mereka serasa terlalu lambat. Karena itu, maka tanpa mereka sengaja, seakan-akan mereka berjanji untuk berlari bersama-sama. Semakin lama semakin cepat. Senjata-senjata merekapun telah mereka tarik dari sarungnya dan mereka acung-acungkan ke udara. Sedang gemuruh sorak mereka, tidak henti-hentinya membelah udara yang panas karena terik matahari.

Pasukan Pajang dan laskar Sangkal Putung yang kelelahan dan kecemasan itu tiba-tiba menjadi meluap-luap. Merekapun tiba-tiba bersorak gemuruh menyambut kedatangan kawan-kawan mereka.

“Gila…!!” geram Macan Kepatihan “Kau menyimpan cecurut-cecurut itu, Untara…”

Untara tidak menjawab. Namun di kejauhan di luar kesengajaannya, ia melihat sesosok tubuh meloncat ke atas sebuah bongkahan tanah yang agak tinggi, menjinjing sebatang tongkat putih berkilat-kilat.

Untara mengernyitkan alisnya. Namun dari jarak itu ia tidak segera dapat melihat, siapakah orang yang agaknya sangat tertarik melihat pertempuran yang semakin sengit. Orang itu tidak lain adalah Sumangkar. Ketika ia mendengar suara sorak yang menghambur di kejauhan dan kemudian melihat sepasukan laskar Sangkal Putung dan beberapa orang prajurit Pajang mendatangi pertempuran itu, hatinya berdesir. Di luar sadarnya ia berkata kepada diri sendiri, “Oh, alangkah bodohnya aku. Ternyata aku salah sangka. Aku kira Untara melupakan kemungkinan itu. Kemungkinan bahwa anak-anak muda sangkal Putung kehilangan kekuatan dalam peperangan ini karena kelelahan.  Tetapi ternyata Untara dan Widura adalah orang yang limpat pengetahuannya dalam olah peperangan.”

Sumangkar itu menjadi semakin tegang ketika ia melihat pasukan yang datang itu menjadi semakin dekat dengan induk pasukannya. Hatinya menjadi semakin berdebar-debar melihat Macan Kepatihan yang bertempur melawan Untara di tengah-tengah hiruk pikuknya peperangan.

Ketika laskar cadangan itu telah menjadi semakin dekat, Sumangkar melihat pasukan itu memecah diri. Agaknya Untara telah meneriakkan aba-abanya, yang disaut dan diteruskan oleh penghubungnya. Dan perintah itu kemudian telah dilaksanakan. Tenaga yang segar itupun kemudian terbagi. Di induk pasukan, sayap kanan, dan sayap kiri.

“Hem,” Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. la dapat segera melihat akibat dari kehadiran tenaga yang segar itu. Pasukan Pajang dan Sangkal Putung yang semula telah terdesak itu, kini dapat bertahan pada garis yang terakhir. Bahkan kemudian Sumangkar melihat bahwa keseimbangan pertempuran itu segera berubah.

Laskar sangkal Putung dan pasukan Pajang yang baru, yang telah ditarik dari gardu-gardu peronda itu, segera melibatkan diri dalam pertempuran yang sudah menjadi semakin berkisar masuk ke garis pertahanan Pajang. Para prajurit yang baru datang itu dapat melihat, betapa parah keadaan kawan-kawannya yang selama ini mencoba bertahan mati-matian. Karena itulah maka darah mereka serasa mendidih sampai di kepala. Jantung mereka serasa meledak karena kemarahan yang meluap-luap. Mereka merasa, seperti tubuh mereka sendiri yang telah tersayat oleh kekuatan lawan. Dengan demikian maka segera mereka mengerahkan tenaga mereka yang masih segar menempur prajurit Jipang yang sedang mengamuk seperti harimau luka.

Segera peperangan itu meningkat semakin dahsyat. Tohpati menggeram penuh dendam dan kemarahan. Tongkatnya yang putih berkilat-kilat menyambar-nyambar dengan dahsyatnya.

Untara, yang menyambut kedatangan pasukannya yang segar, segera memberikan perintah-perintahnya. Dicobanya untuk melihat segenap kemungkinan dan pertimbangan.

Namu tiba-tiba Untara itu terkejut mendengar sorak orang-orang Jipang di sayap kanannya. Tetapi ia tidak segera melihat, apakah yang telah terjadi. Justru tepat pada saat orang-orangnya yang segar itu terjun ke arena.

Yang dilihat sepintas, adalah pergolakan di sayap itu. Beberapa lamanya ia melihat orang-orangnya mendesak dalam satu lingkaran dan orang-orangnya yang baru datang, segera masuk ke dalam pertempuran.

Baru kemudian disadarinya bahwa telah terjadi malapetaka di sayap itu. Ternyata ketika Sanakeling, yang memimpin sayap kiri lawan, melihat kehadiran orang-orang baru dari Sangkal Putung, kemarahannya seakan-akan meledak. Itulah sebabnya, maka dari dalam dirinya meledak pulalah kekuatan yang tidak disangka-sangka. Meskipun Citra Gati tidak melawannya seorang diri, namun tiba-tiba ia kehilangan kesempatan untuk menghindari serangan yang datang seperti air bah. Ketika ia menangkis pedang di tangan kanan Sanakeling itu, tiba-tiba terasa sebuah sengatan di pundak kirinya. Begitu kerasnya sehingga tubuhnya terguncang, dan seolah-olah ia telah dilemparkan ke samping. Ternyata senjata Sanakeling yang lain, sebuah bindi di tangan kirinya, telah meremukkan tulangnya. Sesaat Citra Gati menyeringai, ia masih sempat melihat ujung pedang yang mengarah ke dadanya. Dengan sisa tenaganya yang terakhir ia memukul pedang itu. Tetapi ia sudah tidak memiliki keseimbangan yang mantap, sehingga meskipun pedang itu tidak menghunjam ke dadanya, namun lambungnya tersobek oleh tajam senjata lawannya.

Citra Gati mengeluh pendek. Matanya menjadi gelap dan ia tidak melihat apa yang terjadi kemudian. Ia tidak melihat ketika Sanakeling meloncat sambil memekik tinggi, untuk sekali lagi menusukkan pedangnya di tubuh Citra Gati. Tetapi untunglah bahwa Sendawa melihat semuanya itu. Seperti orang gila ia menyerbu Sanakeling yang sedang gila pula. Senjata orang yang bertubuh raksasa itu terayun deras sekali mengarah ke tubuh Sanakeling. Tetapi Sendawa benar-benar tidak menyangka bahwa Sanakeling dapat melenting secepat belalang, sehingga dengan demikian, serangannya itu dapat dihindarkan. Sendawa sendiri bahkan terseret oleh kederasan senjatanya, sehingga terhuyung-huyung beberapa langkah ke samping.

Meskipun demikian, apa yang dilakukan itu ternyata berguna pula. Dalam pada itu, beberapa orang telah menyadari keadaan. Dengan serta merta beberapa orang bersama-sama menyerbu, seperti apa yang dilakukan oleh Sendawa itu. Dengan demikian, maka Sanakeling sekali lagi berteriak tinggi melontarkan dendam dan kemarahan yang meluap-luap. Namun orang-orang Jipang yang sempat menyaksikan Sanakeling berhasil menjatuhkan lawannya, bersorak dengan kerasnya, meneriakkan kemenangan itu. Merekapun segera berloncatan mengambil kesempatan, selagi orang-orang Pajang lagi berbuat gila, melindungi pimpinannya yang terluka parah tanpa menghiraukan keadaan mereka sendiri.

Namun beruntunglah. Pada saat yang demikian itulah maka tenaga baru yang segera terjun dan meluas di arena itu, sehingga orang-orang Jipang tidak sempat berbuat banyak. Mereka harus segera menghadapi lawan-lawannya yang baru, sementara beberapa orang sempat membawa Citra Gati mengundurkan diri dari pertempuran.

“Gila!” teriak Sanakeling membelah hiruk pikuknya dentang senjata. “Ayo siapa menyusul?”

Teriakan Sanakeling itu bagi anak buahnya seakan-akan merupakan perintah untuk bertempur lebih dahsyat lagi. Seolah-olah merekapun ikut serta meneriakkan kata-kata itu. Dan bahkan beberapa orangpun ikut serta menantang dengan kata-kata yang garang. “Ayo, laskar Pajang. Majulah bersama-sama. Bawalah panglima-panglimamu beserta kalian.”

Setiap prajurit Pajang yang melihat peristiwa itu, seakan-akan darahnya meluap ke kepala. Kemarahan, kebencian dan dendam membakar dada mereka. Citra Gati adalah salah seorang pemimpin kelompok yang baik. Seorang yang telah cukup mengendap di dalam pertempuran dan di dalam pergaulan. Karena itu, banyak orang yang senang kepadanya. Sehingga jatuhnya Citra Gati telah membuat prajurit Pajang terbakar.

Betapapun orang-orang Jipang meneriakkan kemenangan, namun orang Pajang sama sekali tidak menjadi gentar. Apalagi di antara mereka telah hadir orang-orang baru itu, demikian mereka hadir, demikian mereka melihat Citra Gati jatuh tersungkur di tanah. Maka kemarahan dan kebencian merekapun segera tertumpah pula.

Teriakan orang-orang Jipang, mengatakan bahwa pemimpin sayap kanan itu telah jatuh. Bahkan sebelum mereka tahu pasti apa yang terjadi, maka mereka telah berteriak, “Pemimpin sayap kanan telah binasa.”

Untarapun akhirnya mendengar pula bahwa Citra Gati mengalami cedera. Ia belum menerima berita resmi apakah Citra Gati terbunuh atau tidak. Namun berita itu telah menggoncangkan hatinya. Demikjan ia mendengar berita itu, demikian giginya gemeretak karena marah. Apalagi ketika kemudian ia mendengar Tobpati tertawa sambil berkata, “Sayapmu patah, Untara.”

Untara mencoba melihat sayapnya. Sesaat itu terdesak beberapa langkah. Namun untunglah Sendawa bertindak cepat. Segera ia mengambil alih pimpinan sambil berteriak, “Sayap ini tidak akan terpengaruh karena hilangnya Kakang Citra Gati. Apalagi sekarang telah datang laskar cadangan yang akan mampu menebus setiap kekalahan.”

Untara menjadi agak tenang melihat kesigapan Sendawa. Namun tiba-tiba ia terkejut ketika di sisi yanq lain ia mendengar sebuah teriakan nyaring, “He, apakah Citra Gati mengalami bencana?”

Tak ada jawaban. Namun kembali terdengar suara, “Serahkan pembunuh itu kepadaku.”

Akhirnya Untara melihat, seseorang yang mencoba menerobos pertempuran langsung menyeberang ke sayap yang lain. Orang itu adalah Hudaya. Karena itu segera ia berteriak, “Hudaya. Berhenti.”

“Kakang Citra Gati terbunuh. Akulah gantinya. Siapakah yang telah berani berbuat itu?”

“Hudaya,” teriak Untara, “kembali.”

Hudaya benar-benar telah menjadi gila. Citra Gati adalah sahabatnya yang terdekat. Sejak semula mereka telah bersama-sama memasuki lingkungan kaprajuritan. Sejak semula mereka mengalami pahit-getir, asin-manisnya hidup sebagai seorang prajurit. Kini tiba-tiba ia mendengar sahabatnya itu terbunuh. Karena itu, maka perasaannya tidak lagi dapat dikendalikan.

Tingkah laku Hudaya itu benar-benar mencemaskan Untara. la tidak mau melihat korban dari antara pemimpin-pemimpin kelompoknya jatuh satu lagi. Karena itu, maka sekali lagi Untara berteriak, “Hudaya. Kembali ketempatmu.”

“Aku akan menuntut kematian Citra Gati.”

Untara menjadi semakin cemas. Lawan Citra Gati itu adalah Sanakeling. Citra Gati ternyata tidak dapat menahan arus serangan Sanakeling itu. Sedang Hudaya seorang pemimpin kelompok yang tidak berada di atas tingkat Citra Gati. Sekali lagi ia mencoba mencegah perbuatan gila itu, menyeberang langsung dari sisi yang satu ke sayap yang lain, apalagi di sayap yang lain itu telah menunggu seorang yang bernama Sanakeling. Katanya, “He, Hudaya. Kembali ketempatmu. Kau dengar?”

“Tidak.”

“Jangan gila. Kau dengar. Ini perintah senopati daerah lereng Merapi atas nama Panglima Wira Tamtama.”

Sebutan itu ternyata berpengaruh pada hati Hudaya yang sedang gelap. Ia sadar, bahwa Untara kini sedang mengemban jabatan. Namun dengan demikian hatinya menjadi semakin sakit. Dan sakit di hatinya itu diteriakannya keras-keras. “Jadi apakah dibiarkannya saja pembunuh Citra Gati itu?”

Untara berpikir sejenak. Namun serangan Tohpati justru semakin dahsyat, sehingga Untara menjadi terdesak beberapa langkah. Ia harus segera mengambil keputusan. Dan tiba-tiba keputusannya jatuh. “Agung sedayu. Kau mendapat tugas itu. Sayap kanan.”

Agung Sedayu yang tidak terlampau jauh dari Untara mendengar teriakan itu. Sekali ia meloncat surut melepaskan lawan-lawannya. Dan terdengar ia menjawab. “Baik. Aku lakukan.”

“Bersama aku,” teriak Hudaya.

”Hem,” Untara menggeram. Hudaya telah kehilangan kepatuhannya karena perasaan yang lepas kendali. Kali ini Untara tidak mencegahnya. Namun sisi kiri dari induk pasukannya harus mendapat seorang pemimpin. Maka katanya berteriak sekali lagi, “Sonya, gantikan tugas Hudaya.”

Terdengar Sonya menyahut. Suaranya kecil melengking tinggi. “Ya. Aku kerjakan.”

Untara masih melihat Hudaya melangkah mundur. Ia tidak langsung menyeberangi pertempuran itu, berjalan dan induk pasukan ke sayap yang lain. Sementara itu Agung sedayu telah mendahului meloncat ke sayap kanan lewat belakang garis peperangan.

Namun karena kesibukan itulah, Untara kehilangan sebagian dari perhatiannya. Tiba-tiba selagi ia sedang sibuk mengatur orang-orangnya, ia merasa Tohpati mendesaknya. Agaknya Macan Kepatihan sedang mempergunakan kesempatan itu untuk mendesak lawannya. Dengan sepenuh tenaga dan kemampuannya ia menyerang Untara seperti badai menghantam gunung. Betapa deras dan cepatnya. Tongkat putihnya terayun dengan dahsyatnya kearah kepala Untara yang sedang disibukkan oleh hilangnya Citra Gati.

Untara terkejut melihat tongkat baja putih Macan Kepatihan seperti seekor burung elang menyambarnya. Untunglah. Bahwa pada saat terakhir, ia berhasil mengerutkan tubuhnya dan merendahkan kepalanya, sehingga ia dapat menyelamatkan dirinya dari benturan yang dahsyat. Benturan yang pasti akan memecahkan kepalanya. Meskipun demikian, namun tongkat Macan Kepatihan telah menyambar ikat kepalanya, sehingga ikat kepala itu terlempar jatuh.

Bukan main dahsyatnya gelora hati Untara. Seolah-olah dadanya akan meledak karenanya. Senopati itu merasa bahwa nyawanya hampir-hampir terlepas dari tubuhnya. Tetapi meskipun ternyata ia berhasil menghindarkan diri dari maut, namun betapa ia merasa dihinakan. Ikat kepalanya terlempar dari kepalanya.

Dengan penuh dendam Untara menggeretakkan giginya. Sekali ia melontar surut. Seolah-olah ia ingin memandangi seluruh tubuh Tohpati sepuas-puasnya. Dan tiba-tiba ia berteriak nyaring di antara dentang dan gemerincingnya senjata. “He, prajurit Pajang dan laskar Sangkal Putung. Jangan kau beri kesempatan pada lawan-lawanmu untuk bertahan sampai senja. Waktu telah menjadi semakin sempit. Besok adalah hari yang harus dapat kita nikmati sebagai hari kemenangan. Karena itu hancurkan musuhmu hari ini.”

Tohpati mencoba tidak memberi kesempatan kepada Untara untuk menyelesaikan kata-katanya. Dengan dahsyatnya ia menyerang dengan senjatanya yang mengerikan. Tetapi Untara telah benar-benar siap melawannya. Itulah sebabnya ia dapat menghindarkan diri dan menyelesaikan kalimatnya. Sesudah itu maka Untara-lah yang bergerak seperti angin pusaran. Menyerang Tohpati dengan kemarahan yang menyala di dalam dadanya.

Pertempuran antara keduanya menjadi semakin dahsyat. Keduanya telah sampai pada puncak kemarahan dan kekuatannya sehingga keduanya benar-benar tenggelam dalam permainan maut yang mengerikan. Untara kini hampir-hampir tidak terpengaruh lagi oleh keadaan pasukannya. Menurut perhitungannya, maka setidak-tidaknya pasukannya tidak akan dapat dikalahkan segera. Ia mengharap bahwa pertempurannya akan lebih dahulu dapat menentukan keadaan daripada seluruh pasukan itu. Kehadiran orang-orang baru membuatnya tenang dan memberinya kesempatan untuk memusatkan perhatiannya kepada lawannya, Macan Kepatihan.

Agung Sedayu yang berpindah tempat dari sisi induk pasukan ke sayap yang berseberangan telah masuk ke dalam lingkungan peperangan. Ia melihat betapa Sendawa dan beberapa orang mengalami kesulitan untuk menahan arus kemarahan Sanakeling. Agung Sedayu masih sempat melihat seseorang terlempar jatuh karena sentuhan pedang Sanakeling. Betapa ia melihat Sanakeling seperti orang gila mengamuk sambil mengayun-ayunkan pedang serta bindinya. Beberapa orang yang mencoba bersama-sama melawannya, hampir tak berani mendekatinya.

Agung Sedayu menarik nafas melihat kedahsyatan gerak Sanakeling. Kasar dan betapa kuat tenaganya. Sesaat Agung Sedayu dirayapi oleh perasaan-perasaan yang aneh. Namun tiba-tiba ia menggeram. Ia pernah merasakan betapa maut pernah menyentuhnya. Dan ia masih tetap hidup.

Agung Sedayu yang telah berhasil memecahkan kungkungan perasaan takutnya itupun segera membulatkan tekadnya, untuk menghadapi lawannya yang seakan-akan telah menjadi liar dan buas. Dengan nyaringnya ia berteriak, “Sendawa, lepaskan lawanmu.”

Sendawa terkejut mendengar suara itu. Ia tidak segera tahu, siapakah yang akan menggantikan kedudukan Citra Gati. Karena itu ia masih tetap melawan sambil bertanya, “Siapakah kau?”

Sendawa sama sekali tidak berani melepaskan lawannya sekejappun untuk berpaling. Ujung pedang Sanakeling ternyata lebih cepat dari kejapan mata.

Di belakangnya terdengar jawaban, “Aku telah mendapat perintah untuk berada di sayap ini. Agung Sedayu.”

“Oh,” Sendawa tiba-tiba dirayapi oleh perasaan yang menenangkannya. Ia pernah mendengar kepahlawanan Agung Sedayu. la pernah melihat kelebihan Agung Sedayu daripada Sidanti di lapangan Sangkal Putung. Kini Sedayu itu hadir menggantikan kedudukan Citra Gati.

Tetapi Sendawa itu terkejut ketika terasa seseorang mendesaknya dan langsung menyusup ke dalam lingkaran pertempuran itu mendahului Agung Sedayu. Orang itu langsung menyerang Sanakeling dengan membabi buta.

“Paman Hudaya,” teriak Agung Sedayu.

Hudaya tidak mendengarnya. Senjatanya berputar melampaui kecepatan baling-baling. Namun perhitungannya tidak wajar lagi, sehingga betapa cepatnya ia menyerang, tetapi senjatanya sama sekali tidak dapat menyentuh kulit Sanakeling.

“He, kau juga man bunuh diri,” teriak Sanakeling.

Hudaya tidak menjawab. Sekali lagi ia menyerang dengan dahsyatnya. Namun sekali lagi Sanakeling berhasil menghindarkan dirinya, bahkan dengan kemarahan yang meluap-luap Sanakeling berhasil memukul senjata Hudaya hampir pada tangkainya.

Hudaya terkejut. Terasa tangannya dipatuk oleh getaran yang dahsyat. Betapapun ia mencoba bertahan, namun senjatanya terlempar beberapa langkah daripadanya.

Terdengar Sanakeling berteriak nyaring. Sekali ia meloncat maju dengan pedang terjulur. Demikian cepatnya, sehingga Sendawa sama sekali tidak berdaya berbuat sesuatu untuk membantu Hudaya. Meskipun ia mencoba meloncat sejauh-jauh ia dapat, tetapi kecepatan gerak Sanakeling melampaui kecepatan gerakannya.

Hudaya masih mencoba untuk memiringkan tubuhnya. Namun gerakannya itu hampir tak berarti. Ia masih melihat ujung pedang Sanakeling itupun beringsut seperti geseran tubuhnya sendiri. Karena itu, segera ia mencoba melindungi dadanya dengan tangannya yang bersilang. Tetapi ia sadar, bahwa tangannya itu sama sekali tidak akan berarti melawan tajam ujung pedang Sanakeling.

Tetapi Hudaya terkejut, dan bahkan Sanakeling pun menggeram ketika terdengar senjatanya berdentang. Sanakeling itu merasa tangannya berkisar, dan karena itulah maka ujung pedangnyapun berkisar pula.

Dalam pada itu terdengar Hudaya mengaduh pendek. Beberapa langkah ia terdorong ke samping. Terasa lengannya menjadi pedih. Ia sempat melihatnya, maka tampak darahnya memerahi lengan bajunya.

Tetapi ia telah terhindar dari maut, ternyata pedang Sanakeling tidak merobek dadanya, meskipun ia terluka.

“Setan,”terdengar Sanakeling mengumpat. “Kau berani mengganggu aku? Kau selamatkan kelinci itu, tetapi kau sendiri yang akan terbunuh oleh pedangku.”

Kini yang berdiri di hadapan Sanakeling adalah Agung Sedayu. Dengan cepat ia datang tepat pada waktunya menyelamatkan nyawa Hudaya. Meskipun belum mapan benar, tetapi ia telah berhasil memukul pedang Sanakeling, sehingga pedang itu berubah arah. Namun pedang Sanakeling itu masih juga mematuk lengan Hudaya.

“Siapakah kau, he?” teriak Sanakeling. Matanya menjadi merah dan liar.

Terasa tengkuk Agung Sedayu meremang. Ia pernah melihat mata yang seliar itu di belakanq halaman Kademangan Sangkal putung ketika ia berkelahi melawan Sidanti.

“Apakah kau belum mengenal Sanakeling,” teriak Sanakeling.

Tidak sesadarnya Agung Sedaju mengangguk. Jawabnya singkat, “Belum. Baru sekarang aku mengenalmu, meskipun aku pernah mendengar nama itu, satu dari sekian nama prajurit Jipang.”

Agung Sedayu menjawab dengan jujur, tanpa maksud apapun. Namun Sanakeling yang garang itu merasa, jawaban itu suatu hinaan baginya. Bagi seorang yang merasa dirinya hanya selapis tipis di bawah Macan Kepatihan yang namanya mengumandang dari pesisir Lor sampai ke pesisir Kidul. Sedang yang berdiri di hadapannya tidak lebih dari seorang anak-anak yang memandanginya dengan pandangan mata yang kosong.

“He, apakah kau benar-benar belum mengenal Sanakeling?”

Sedayu kini menjadi heran. Di dalam hiruk pikuk peperangan lawannya masih sempat menanyakan dirinya sendiri. Namun Agung Sedayu tidak ingin mendahului.

Tetapi sekali lagi Agung Sedayu terkejut. Seseorang meloncat di sampingnya sambil mengayunkan pedangnya kearah Sanakeling. Tetapi dengan tenangnya Sanakeling menghindar, sambil berteriak, “Kau benar-benar ingin mati, kelinci yang malang?”

Hudaya yang telah kehilangan segala pertimbangannya itu tiba-tiba telah menyerang Sanakeling kembali. Kali ini dengan segenap kemampuan dan ketangkasannya, ditumpahkannya segenap sisa tenaganya. Namun sekali lagi Hudaya menyeringai kesakitan. Kini tangannya terbentur bindi Sanakeling. Untunglah tidak terlalu keras, karena Sanakeling tidak sempat mengerahkan tenaganya. Meskipun demikian, sekali lagi senjata yang telah dipungutnya terlempar dari tangannya.

Agung Sedayu melihat Sanakeling tertawa seperti suara hantu melihat mayat tergolek di pekuburan. Semakin keras dan menyakitkan telinga. Bersamaan dengan itu, Agung Sedayu melihat Sanakeling mengangkat pedangnya dan terayun deras sekali ke leher Hudaya.

Hudaya masib berusaha untuk mengelak. Direndahkan tubuhnya sambil berkisar ke samping. Tetapi nada suara Sanakeling meninggi. Seperti seekor kucing bermain-main dengan seekor tikus ia berkata nyaring, “O, kau mencoba melompat ke samping orang yang malang. Bagus. Kau lihat ujung pedangku, supaya kau melihat maut menghampirimu.”

Hudaya melihat ujung pedang Sanakeling. Tetapi perasaannya seakan-akan telah mati lebih dahulu daripada dirinya sandiri. Karena itu Hudaya sama sekali tidak menjadi gentar. Bahkan berkedippun tidak.

Tetapi sekali lagi Sanakeling berteriak tinggi. Kemarahannya benar-benar memuncak sampai ke ubun-ubun. Kali ini sekali lagi pedangnya membentur sesuatu. Tidak saja pedangnya bergeser arah, tetapi pedangnya seakan-akan menghantam dinding baja, sehingga terasa tangannja bergetar.

“Setan, hantu, gendruwo.” umpatnya “kau benar mau mati he, anak demit?”

Agung Sedayu berdiri dengan kokohnya. Kakinya seakan-akan jauh menghunjam menembus bumi. Kini ia dapat mengetahui, betapa Sanakeling benar-benar memiliki tenaga raksasa. Terasa tangannya tergetar pada saat senjatanya membentur tenaga Sanakeling. Bahkan hampir-hampir senjata itu lepas. Untunglah, segera ia dapat mengatasi keadaan sehingga senjata itu tetap berada di dalam genggamannya.

Namun kali ini Agung Sedayu tidak dapat membiarkan Hudaya berbuat di luar nalar dan pikirannya. Karena itu maka segera ia berteriak, “Paman Hudaya. Menepilah.”

“Aku akan membunuhnya,” sahut Hudaya.

“Menepilah,” ulang Agung Sedayu.

“Jangan campuri urusanku,” bentak Hudaya keras-keras.

“Akulah pimpinan sayap kanan,” sahut Agung Sedayu tegas-tegas.

Hudaya terdiam sesaat. Namun hatinya berdesir ketika ia melihat, Sanakeling tanpa berkata sepatah katapun menyerang Agung Sedayu dengan kecepatan yang mengagumkan. Bahkan nafas Hudaya itupun serasa berhenti karenanya. Demikiam cepat dan tangkasnya Sanakeling itu meloncati lawannya. Ia tidak dapat melihat kecepatan itu, selagi ia sendiri bertempur melawannya.

Namun ketika Sanakeling itu menyerang Agung Sedayu, barulah disadarinya, betapa berbahayanya orang itu.

Tetapi sekali lagi dadanya berdesir ketika ia melihat bagaimana cara Agung Sedayu melepaskan diri dari terkaman itu. Lincah seperti burung sikatan. Mengendap lalu melontar ke samping, sementara itu pedangnya menusuk lambung Sanakeling yang terbuka. Sanakeling terkejut melihat ketangkasan lawannya yang masih muda itu. Jauh lebih muda dari lawannya yang telah dijatuhkannya, dan lawannya yang satu lagi, yang hampir dibunuhnya sampai dua kali. Karena itu mulutnya yang kasar sekali lagi mengumpat, ”Anak setan. Tataplah langit untuk yang terakhir kalinya, sebelum perutmu terbelah oleh pedangku. Siapa namamu he anak muda?”

Agung Sedayu tidak segera menjawab. Tetapi terpaksa ia melihat ketangkasan Sanakeling itu sekali lagi. Dengan lincahnya Sanakeling berhasil menghindarkan dirinya dari sambaran pedang Agung Sedayu. Bahkan sambil meneruskan kata-katanya, “Katakanlah siapa namamu, supaya aku kelak dapat mengatakan, bahwa nama itu adalah nama dari salah seorang anak muda yang telah aku bunuh, karena kesombongannya sendiri.”

Hati Agung Sedayu bergetar mendengar kata-kata itu. Ia sama sekali tidak senang melihat sikap, kata-kata dan anggapan Sanakeling terhadap dirinya. Karena itu maka dijawabnya Sanakeling, “Adakah gunanya bagimu untuk mengetahui namaku yang tidak berarti? Aku adalah hanya seorang prajurit dari sekian banyak prajurit-prajurit yang lain. Bahkan aku adalah prajurit yang berpangkat paling rendah dari prajurit-prajurit yang lain.”

”Gila,” geram Sanakeling, “jangan jual tampang di pertempuran ini. Sebut namamu!”

“Baik,” jawab Agung Sedayu, “namaku adalah Agung Sedayu.”

“He, Agung Sedayu,”ulang Sanakeling.

“Ya.”

Tiba-tiba Sanakeling itu tertawa. Ia pernah mendengar sekali dua kali nama itu disebut oleh Alap-Alap Jalatunda. Dan bahkan nama itu pernah disebut-sebut oleh hampir setiap bibir orang Sangkal Putung. Laskar Jipang di dalam hutan itupun pernah mendengar nama itu dalam lingkungan kelaskaran Pajang dan Sangkal Putung dari orang-orang yang sengaja ditempatkannya sebagai telik dan petugas-petugas rahasia yang berhasil sedikit-sedikit mendengar tentang Sangkal Putung. Bahkan akhirnya Sanakeling berkata lantang, “He bukankah kata orang, Agung Sedayu itu adik Untara dan kemanakan Widura?”

Agung Sedayu tidak tahu, kenapa hatinya bergetar mendengar pertanyaan itu. Agaknya namanyapun termasuk nama yang harus di perhitungkan oleh orang-orang Jipang. Namun dijawabnya, “Ya. Aku adalah adik Untara.”

“Pantas, pantas,” geram Sanakeling. Tiba-tiba geraknya menjadi semakin cepat. Serangannya datang menyambar-nyambar seperti elang menyerang anak ayam di tanah lapang. Menukik dan menyambar dengan kuku-kukunya.

Tetapi Agung Sedayu kini bukan lagi anak ayam yang ketakutan melihat elang melayang di langit. Tangannya kini tidak lagi gemetar menggenggam tangkai pedang. Meskipun kadang-kadang hatinya masih dilapisi seribu satu macam pertimbangan, tetapi anak itu tidak lagi harus melawan ketakutan dan, kecemasannya.

Hudaya yang terluka itu, melihat pertempuran antara Sanakeling dengan Agung Sedayu dengan mulut ternganga. Pertempuran itu berjalan semakin lama semakin dahsyat. Sanakeling yang marah menyerang Agung Sedayu dengan sengitnya, sedang Agung Sedayu pun melawannya dengan tekad yang menyala di dalam dadanya.

Jatuhnya Citra Gati merupakan peringatan baginya, bahwa apabila ia lengah sedikit saja, niscaya nasibnya tidak akan lebih baik dari Citra Gati itu.

Demikianlah maka keduanya tenggelam dalam perkelahian yang semakin seru. Keduanya adalah orang-orang yang memiliki beberapa kelebihan dari prajurit-prajuri yang lain.

***

Lawannya, Agung Sedayu adalah orang baru di dalam arena pertempuran. Tetapi keprigelannya menggerakkan senyatanya tiba-tiba mencengangkan. Ilmu yang tersimpan di dalam tubuhnya ternyata cukup mampu untuk menghadapi Sanakeling yang perkasa itu. Tempaan yang pernah diterimanya dari Kiai Gringsing, ketekunannya dan bekal yang telah diletakkan oleh ayah dan kakaknya, telah membentuknya menjadi Agung Sedayu yang lincah, tangguh, dan cekatan.

Namun Agung Sedayu adalah seorang yang tidak cukup berpengalaman dalam olah keprajuritan. Ia mampu bertempur seorang lawan seorang, sekelompok lawan sekelompok, tetapi ia tidak dapat memanfaatkan setiap keadaan pada suatu gelar yang luas, atau bagian-bagian dari gelar itu. Setiap kali Agung Sedayu menjadi ragu-ragu apabila tiba-tiba ia menghadapi gelombang serangan yang berubah-ubah dari pasukan lawannya. Setiap kali ia tidak dapat berbuat banyak dalam keadaan yang tiba-tiba. Bahkan beberapa kali ia mendengarkan Sanakeling meneriakkan aba-aba dan melihat gerakan-gerakan yang kurang dimengertinya dari laskar lawannya. Sekali Sanakeling memberikan kesempatan kepadanya untuk mendesak maju, namun tiba-tiba kedua sisi sayap Sanakeling itu seolah-olah menekannya dari kedua arah. Serentak pasukan Jipang itu menyempit dalam garis lengkung yang dalam.

Hudaya yang terluka itu, kini telah menggengam pedangnya kembali. Tetapi ia hanya mampu mempertahankan dirinya dari serangan-serangan yang datang dengan tiba-tiba dari prajurit-prajurit Jipang. Ia kini terpaksa melihat kenyataan, bahwa tubuhnya telah menjadi semakin lemah, sehingga ia sudah cukup tidak seharusnya tampil kedepan langsung melawan musuh-musuhnya.

Tetapi dalam keadaan-keadaan yang demikian ia sempat melihat susunan sayap kanan laskar Pajang dan sangkal Putung itu. Sayap itu semakin lama menjadi semakin kurang teratur. Agung Sedayu sama sekali tidak pernah memberikan perintah dan petunjuk kepada pasukannya. Ia hanya memusatkan perhatiannya kepada perlawanannya menghadapi Sanakeling.

Tetapi itu bukan karena Agung Sedayu mengalami kesulitan. Bukan karena Sanakeling berhasil mendensaknya dan menyudutkannya ke dalam keadaan yang sulit. Tetapi itu adalah karena Agung Sedayu bukan seorang prajurit yang berpengalaman. Ia bukan seorang Senapati yang terlatih. Ia sendiri mampu bertempur, namun ia tidak mampu untuk membuat sikap dan suasana perlawanan bagi seluruh sayap yang harus dipimpinnya. Sehingga karena itulah maka seakan-akan setiap prajurit harus mencari sikap sendiri menghadapi lawan-lawan mereka yang bertempur dalam satu kesatuan yang utuh.

Untara yang bertempur melawan Macan Kepatihan di induk pasukan melihat suasana itu. Baru saja ia mendapatkan ketenangan, kini ia melihat persoalan baru pada sayapnya itu. Baru kemudian disadarinya bahwa Agung Sedayu bukanlah seorang senapati yang berpengalaman. Apalagi ternyata, yang berada di sayap lawan sama sekali bukan Alap-alap Jalatunda; tetapi Sanakeling.

Sayap kiri, yang dipimpin oleh Widura, yang mendapat tambahan kekuatan, menjadi semakin baik keadaannya. Ia hanya memerlukan separo dari tenaga yang diberikan kepadanya, sedang yang lain dikembalikannya kepada induk pasukan untuk memperkuat kedudukan Untara. Namun Widura itupun kemudian menjadi berdebar-debar melihat tata pertempuran di sayap kanan. Ia mendengar pula, bahwa Citra Gati telah dapat dilumpuhkan oleh Sanakeling. Ia mendengar lewat penghubungnya, bahwa Agung Sedayu-lah yang kini berada di sayap itu. Karena itu, seperti Untara, ia segera mengetahui kelemahan anak muda itu. Agung Sedayu bukan seorang senapati perang, meskipun ilmunya, ilmu tata bela diri dan tata perkelahian menyamai seorang Senapati. Tetapi Widura tidak segera dapat berbuat sesuatu.

Tetapi semakin lama, Widura dan Untara melihat, sayap itu menjadi semakin tertib dan teratur. Beberapa bentuk tata perlawanan yang bagus terjadi di sayap itu. Seakan-akan mereka telah digerakkan oleh suatu perintah dari seseorang yang cukup berpengalaman. Seolah-olah Citra Gati telah terjun kembali ke arena itu.

“Sendawa tidak mampu melakukannya,” gumam Untara di dalam hati. “Meskipun orang itu cukup lama menjadi seorang prajurit, dan bahkan kemudian menjadi seorang pemimpin kelompok seperti Citra Gati pula, namun otaknya tidak secerah Citra Gati.”

Tetapi Untara dan Widura tidak sempat meraba-raba terlalu lama, sebab tugas mereka sendiri cukup berat. Namun peruhahan di sayap kanan itu, benar-benar menggembirakan hati Untara, siapapun yang melakukanya.

“Mungkin juga Sendawa,” pikir Untara.

Sebenarnya sayap kanan memang menjadi semakin baik. Ketika Hudaya menyadari keadaannya, dan melihat bagaimana cara Agung Sedayu melawan Sanakeling, hatinya menjadi tenang. Perlahan-lahan ia menemukan keseimbangan perasaan. Jatuhnya sahabatnya, tidaklah berarti, bahwa ia harus berbuat di luar batas-batas kemungkinannya, dan kemungkinan seluruh pasukannya. Dengan demikian, maka pikirannya semakin lama menjadi semakin bening.

Meskipun ia terluka, namun ia masih mampu menilai keadaan sayap kanan itu. Agung Sedayu ternyata seorang yang baik. Seorang yang cukup tangguh untuk melawan Sanakeling, namun ia bukan seorang Senapati. Segera Hudaya melihat kelemahan-kelemahan itu. Dan segera ia menyadari keadaannya. Dengan demikian, maka tiba-tiba terdengarlah aba-abanya melengking di antara dentang senjata kawan dan lawan. Dengan cepat ia membentuk sayap itu menjadi suatu benteng yang tangguh. Sendawa, meskipun ia berada lebih lama di sayap itu, namun ia menyadari keadaannya, sehingga dengan senang hati ia melepaskan pimpinan yang diambilnya langsung setelah Citra Gati tersingkirkan.

Tetapi mula-mula Agung Sedayu-lah yang terkejut mendengar aba-aba yang keluar dari mulut Hudaya, sehingga ia melontar surut sambil herteriak, “Apa artinya Paman Hudaya.”

“Aku sudah tidak gila lagi,” sahut Hudaya. “Aku sedang mencoba memperbaiki tata gelar sayap ini. Maafkan, bahwa aku mengambil pimpinan di tanganku, tetapi aku tidak akan melawan orang itu.”

Sanakeling yang mendengar jawaban itu pula menggeram. Mula-mula iapun melihat kelemahan pimpinan yang baru di sayap. Karena itu, segera ia membuat bentuk-bentuk yang dapat membingungkan lawan yang bergerak menurut cara mereka sendiri-sendiri. Namun tiba-tiba Hudaya berhasil mengatasi keadaan.

“Setan!” teriak sanakeling. “Ayo, majulah bersama-sama.”

Agung Sedayu tidak dapat menghindar lebih lama. Seperti angin ribut Sanakeling menyerangnya. Namun ia masih mendengar Hudaya berkata, “Jangan ragu-ragu. Aku lebih-berpengalaman dalam olah gelar peperangan. Hadapi lawanmu. Mudah-mudahan dendam Citra Gati akan terbalas.”

Sanakeling tidak memberi kesempatan Agung Sedayu untuk membalas. Betapa marahnya orang itu melihat cara-cara yang tidak lazim telah dipergunakan oleh Agung Sedayu dan Hudaya bersama-sama. Namun Sanakeling terpaksa mengagumi, ketangkasan berpikir orang-orang Pajang itu untuk mengatasi keadaan yang serba tiba-tiba.

Akhirnya Untara pun teringat, bahwa Hudaya berada pula di sayap kanan. “Mudah-mudahan orang itu menyadari dirinya,” gumam Untara di dalam hati, “dan mudah-mudahan ialah yang telah memperbaiki keadaan.”

Demikianlah pertempuran itu dalam keseluruhannya telah berubah. Keseimbangan di antara kedua belah pihak telah berubah. Orang-orang baru yang terjun di dalam arena benar-benar telah mempengaruhi keadaan. Meskipun mereka sebagian besar adalah anak-anak muda Sangkal Putung, namun ada pula di antara prajurit-prajurit Pajang yang ditarik dari gardu-gardu. Dan di gardu-gardu itulah ditempatkan anak-anak muda Sangkal Putung dan orang-orang tua yang masih sanggup memukul tanda bahaya.

Macan Kepatihan melihat perubahan itu. Sekali-sekali terdengar ia menggeram dan giginya gemeretak. Ia sudah bertekat bahwa kali ini adalah kali yang terakhir baginya. Kalah atau menang. Karena itu, maka keadaan yang tiba-tiba saja berubah itu sangat mempengaruhi perasaannya. Namun bagaimanapun juga, ia masih ingin bertahan sampai matahari tenggelam. Kalau ia mampu bertahan, maka keadaan anak buahnya pasti masih baik. Tekad dan nafsu mereka pasti belum lenyap, sehingga besok ia akan dapat menempuh cara yang lain untuk menerobos masuk ke Sangkal Putung.

Tetapi perlahan-lahan namun pasti, laskar Sangkal Putung bersama-sama dengan prajurit-prajurit Pajang berhasil mendesaknya. Setapak demi setapak.

Di kejauhan Sumangkar menggigit bibirnya. Ia melihat perubahan itu. Dan hatinya menjadi berdebar-debar pula karenanya.

Wajahnyapun tiba-tiba tampak berkerut-kerut. Sedang tanpa sesadarnya tangan orang tua itu segera menimang-nimang tongkatnya.

“Hem,” gumamnya, “Untara dan Widura benar-benar seorang Senapati yang limpat. Dengan cerdik mereka telah berhasil mengatasi gelar Macan Kepatihan yang garang.”

Mata orang tua itu semakin lama menjadi semakin suram. Kembali ia terlempar ke simpang jalan yang tak mudah dipilihnya. Ia tidak akan dapat melihat pasukan Macan Kepatihan hancur dilanda oleh prajurit Pajang dan laskar Sangkal Putung. Namun kalau ia memasuki arena peperangan itu, maka apakah ia sampai hati pula membunuhi anak-anak muda Sangkal Putung yang masih baru dapat berlari-larian itu?

“Apakah aku harus meniadakan Angger Untara,” desisnya. Tetapi perasaannya telah menolaknya. “Tidak sepantasnya,” katanya di dalam hati.

Sumangkar itu menjadi semakin bingung. Ia masih tegak di atas sebongkah tanah padas jang menjorok agak tinggi. Dari tempat itu ia berhasil melihat keadaan medan dengan agak jelas. Meskipun ia tidak mengira-ngirakan pusat-pusat daripada peperangan itu. Di induk pasukan, pertempuran berkisar di antara Macan Kepatihan melawan Untara. Induk pasukan itu kini telah menjadi semakin luas, karena cara-cara Untara untuk membuat garis peperangan yang menguntungkannya. Di sayap kanan dari laskar Jipang, Sumangkar melihat keadaan pertempuran yang sulit bagi pasukan Macan Kepatihan. Semakin lama semakin sulit. Ia tidak tahu pasti siapa yang berada disayap itu untuk melawan Alap-alap Jalatunda. Namun karena ketajaman pengetahuannya mengenai peperangan Sumangkar segera menduga, bahwa lawan Alap-alap Jalatunda pasti mempunyai beberapa kelebihan dari padanya.

“Mungkin Widura sendiri,” gumamnya. “Orang itu pasti tidak berada di sayap yang lain,” sambungnya sambil melihat sayap kiri pasukan Jipang itu. Sumangkar mula-mula melihat keuntungan dari pasukan Tohpati. Tetapi kemudian iapun melihat perlawanan yang gigih dan bahkan semakin lama menjadi semakin sulit bagi pihak Jipang.

Hati orang tua itupun menjadi gelisah. Setiap kemenangan pihak Pajang telah menyentuh hatinya. Seperti sepercik api yang menyentuh perasaannya. Semakin banyak menjadi semakin panas, dan bahkan kemudian terasa seolah-olah sebongkah bara telah menyala di dalam dadanya.

“Kasihan Raden Tohpati,” desahnya.

Series 12

BETAPAPUN kebimbangan bergelora di dalam batinnya, namun akhirnya Sumangkar itu tidak juga dapat membiarkan kekalahan demi kekalahan melanda pasukan murid kakak seperguruannya. Karena itu berkali-kali terdengar ia berdesah, kemudian menggeram. Wajahnya semakin lama menjadi semakin tegang. Dan orang tua itu menjadi semakin kuat menggenggam senjatanya.

Ketika ia mendengar orang-orang Pajang bersorak, seakan-akan dirinyalah yang disorakinya. Seorang tua yang tidak berarti dan tidak tahu diri.

Di dalam arena pertempuran itu sendiri, Sanakeling terpaksa melihat kenyataan, bahwa adik Untara yang bernama Agung Sedayu itu benar-benar seorang anak muda yang tangguh. Anak muda yang lincah dan cekatan. Geraknya kadang-kadang terasa aneh dan membingungkan. Sebenarnya Agung Sedayu mempunyai cara yang khusus dalam olah pertempuran. la tidak saja mempergunakan unsur-unsur yang dipelajarinya dari gurunya, dari ayahnya, dari kakaknya, dan dari pengalamannya yang sedikit itu, tetapi Agung Sedayu telah berhasil membuat cara-cara dan unsur-unsur tersendiri, karena ketekunannya membuat gambar-gambar di atas rontal. Sehingga Sanakeling yang dengan telah berani melawan Widura kini terpaksa bertempur dengan memeras segenap ilmu yang dimilikinya.

Di induk pasukan Tohpati pun mengalami banyak kesulitan. Apalagi setelah Untara dapat melepaskan segenap perhatiannya atas sayap kanannya yang agak mengalami kesulitan. Kini sayap itu telah menjadi mantap kembali. Karena itu ia tinggal memusatkan perhatiannya kepada Tohpati dan induk pasukannya. Namun Sonya, di sisi kiri dan Swandaru di sisi kanan, ternyata banyak membantunya, memperingan tekanan-tekanan yang langsung ke pusat pasukannya.

Apalagi di sayap kiri, Widura telah mencoba mempengaruhi seluruh medan lewat sayapnya. Dikerahkannya kekuatan sayapnya untuk mendesak semakin maju. Kemenangan yang dicapainya diharapkannya dapat langsung menimbulkan pengaruh pada induk pasukan lawan dan lebih-lebih bagi Tohpati sendiri. Menurut perhitungan Widura, kini telah sampai saatnya, Tohpati mengalami kesulitan yang sama seperti yang dialami oleh Untara di permulaan peperangan ini.

Sekali-sekali terdengar di induk pasukan, Tohpati menggeram sambil menggeretakkan giginya. Kemarahannya telah memuncak sampai ke ujung ubun-ubunnya. Tetapi ia tidak mau hangus terbakar oleh kemarahannya. Karena itu, ia masih mempergunakan segenap kesadaran serta perhitungan. la harus bertanan sampai matahari terbenam meskipun seandainya harus menarik mundur pasukannya benerapa langkahuntuk beberapa kali. Tetapi ia harus memelihara agar pasukannya tidak terpecah. Sebab dengan demikian, maka akan hilanglah gairah segenap anak buahnya. Hati mereka akan berkeriput sekecil nati tikus. Apapun yang akan dilakukan besok, apabila hati anak buahnya masih tetap terpelihara seperti hari ini, maka kemungkinan-kemungkinan lain masih akan terjadi.

Namun ia masih harus menghadapi kenyataan. Pasukan Pajang dan Sangkal Putung mendesaknya seperti prahara.

Sumangkar yang melihat kekalahan-kekalahan yang semakin lama semakin sering, menjadi kehilangan segenap keragu-raguannya. Bara yang menyala di dalam dadanya terasa menjadi semakin panas. Dan tiba-tiba terdengar ia bergumam, “Tahanlah sesaat ngger, mudah-mudahan aku akan dapat membantumu.”

Kata-kata Sumangkar itu, seakan-akan merupakan sebuah perintah bagi dirinya sendiri. Tiba-tiba terasa darahnya bergolak. Usianya yang sudah lanjut itu sama sekali tidak berpengaruh atas ilmu dan ketangkasannya. Bahkan semakin tua ilmunya menjadi semakin masak, dan segala geraknya menjadi semakin mapan.

Demikianlah dengan sigapnya Sumangkar meloncat turun dari bongkahan tanah padas. Kemudian diamat-amatinya tongkatnya sambil bergumam kepada diri sendiri, “Masa itu datang kembali.” Dan kepada tongkatnya ia berkata, “Kau sudah terlalu lama beristiratat. Marilah kita bekerja kembali. Aku tidak akan membawamu bertempur melawan kelinci-kelinci yang tidak berdaya dari sangkal Putung dan Pajang. Pekerjaanmu hanya mempengaruhi tekad dan gairah peperangan itu. Tolonglah aku, karena aku terpaksa, menyingkirkan angger Untara.”

Sumangkar itu kemudian mengangkat wajahnya. Di berbagai tempat dilekukan-lekukan tanah yang dalam, masih dilihatnya air yang tergenang sisa hujan semalam, meskipun karena panas yang terik di sana-sini tampak debu yang berhamburan.

“Maafkan aku Angger Untara, “ desisnya, “aku terpaksa melakukannya.”

Sumangkar itu kemudian menggigit bibirnya, seolah-olah ia sedang mengusir parasaan lain yang mengganggunya. Kemudian dengan dada tengadah ia melangkah menuju kearena peperangan.

Namun tiba-tiba langkah orang tua itu terhenti. Lamat-lamat ia mendengar orang memanggilnya. Perlahan-lahan seperti sebuah bisikan.

“Adi Sumangkar. Adi, berhentilah sebentar.”

Langkah sumangkar tertegun. Dipalingkannya wajahnya. Dan ia benar-benar terkejut ketika dilihatnya seseorang duduk di bawah sebuah gerumbul kecil di samping bongkahan tanah padas tempatnya berdiri menyaksikan peperangan itu.

Tetapi Sumangkar itupun telah menyimpan pengalaman yang banyak sekali di dalam dirinya, sehingga sesaat kemudian ia sudah berhasil menguasai dirinya. Bahkan sambil tersenyum ia menjawab, “Ah. Aku terkejut mendengar sapa Ki Sanak.”

Orang itu mengangguk. “Maafkan kalau aku mengejutkanmu. Bukan maksudku berbuat demikian, sehingga karena itu, aku menyapamu perlahan-lahan.”

“Ya, ya. Kau sudah berhati-hati. Tetapi orang-orang tua seperti aku ini memang mudah menjadi terkejut. Bukankah begitu.”

Orang itupun tersenyum. Orang itupun sudah setua Sumangkar, bahkan setahun dua tahun di atasnya. Sambil tersenyum ia menjawab, “Benar. Kau benar Adi. Orang-orang tua mudah benar menjadi terkejut.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Apakah Ki Sanak memerlukan aku?”

“Ya,“ sahut orang itu. “Aku ingin mempunyai seorang kawan untuk melihat peperangan itu.”

“Baik,“ jawab Sumangkar, “aku akan mengawanimu. Tetapi biarlah aku melihatnya dahulu dari dekat. Nanti aku akan segera kembali.”

Orang tua itu menggeleng. Sambil masih duduk bersandar sebongkah padas ia menggeleng, “Jangan nanti. Dan sebaiknya Adi tidak usah pergi ke arena. Bukankah di sana tempat anak-anak muda saling menyombongkan kecakapan mereka memainkan senjata? Sama sekali bukan tempatnya orang-orang tua seperti kita?”

Dada Sumangkar berdesir. Sebagai seorang yang telah cukup makan asin pahit penghidupan, segera ia menyadari maksud kata-kata itu. Karena itu maka kemudian iapun tersenyum. Ia berdiri menghadap orang yang duduk bersandar padas itu. Perlahan-lahan mengangguk-angguk sambil tersenyum. Senyumnya membayangkan tanggapannya atas orang itu.

Sumangkar itupun segera mengerti siapakah yang duduk di hadapannya. Orang itu pasti seorang yang pilih tanding sehingga Sumangkar sama sekali tidak mengetahui kehadirannya. Sikapnya dan kata-katanya yang tenang meyakinkan. Sorot matanya yang tajam menembus langsung ke pusat jantungnya.

Dan ternyata sesaat kemudian Sumangkar segera mengetahui, meskipun ia belum pasti. Tetapi tidak ada orang lain yang dapat disangkanya, orang yang duduk di hadapannya itu. Sehingga karena itu maka segera ia berkata, “Hem. Bukankah Kakang yang menamakan diri Kiai Gringsing?”

Orang itu mengangguk sambil tertawa kecil. Katanya, “Dari mana Adi tahu tentang aku?”

“O,“ sahut Sumangkar, “bukankah kita pernah bertemu? Bukankah Kiai pernah mengunjungi daerah ini bersama dua orang murid Kakang selagi aku sedang bermain-main dengan K i Tambak Wedi bersama muridnya yang bernama Sidanti.”

Orang tua itu, yang sebenarnya adalah Gringsing, tertawa pula. Katanya, “Benar. Benar. Ingatanmu baik sekali Adi. Ternyata meskipun saat itu malam tidak terlalu terang, kau masih juga dapat mengenal aku.”

Sumangkar tertawa pula. Namun hatinya berdebar-debar menghadapi persoalan yang tiba-tiba saja tumbuh. Sudah tentu Kiai Gringsing akan berbuat sesuatu, apabila ia benar-benar akan terjun ke dalam arena. Karena itu, maka ia harus menentukan suatu sikap untuk mengatasi setiap perkembangan keadaaan.

Tanpa sesadarnya tiba-tiba ia berpaling ke arah peperangan yang masih saja berkobar dengan dahsyatnya. Sekali lagi dadanya berdesir. Ia melihat beberapa bagian dari gelar Dirada Meta telah terdesak-mundur. Gelar perang yang tangguh itu benar-benar sudah berada dalam bahaya.

“Kiai,“ berkata sumangkar itu kemudian, “aku tidak banyak mempunyai waktu. Apakah Kiai tidak berkeberatan apabila Kiai duduk di sini sebentar? Aku akan pergi ke arena itu, ikut serta dengan anak-anak Jipang bermain-main senjata.”

***

“Ah,“ sahut Kiai Gringsing perlahan-lahan. “Sudahlah. Jangan melelahkan diri sendiri, marilah duduk di sini. Kita lihat pertunjukan itu.”

“Kau aneh Kiai,“ berkata Sumangkar. “Pertunjukan itu terlalu menjemukan bagiku. Apakah tidak demikian bagimu?”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Ia melihat Sumangkar berdiri tegak seperti sebatang tonggak yang kokoh. Karena itu maka perlahan-lahan orang tua itupun berdiri. Banyak hal yang dapat terjadi menilik sikap Sumangkar itu.

“Apakah yang akan kau lakukan atas permainan yang menjemukan itu?” bertanya Ki Tanu Metir.

Sumangkar terdiam sesaat. Sekali lagi ia berpaling, dan sekali lagi ia melihat pasukan Jipang yang terdorong mundur beberapa langkah.

“Kiai Gringsing,“ berkata Sumangkar, “aku adalah seorang bawahan dari Macan Kepatihan. Apakah aku akan dapat berdiam diri melihat pertempuran itu? Ternyata Angger Untara memliliki kecemerlangan rencana untuk menghadapi Macan Kepatihan. Sebelum ini aku mengagumi ketangguhan dan ketangkasan pasukan Jipang di bawah pimpinan Tohpati. Namun ketika akan melihat cara yang ditempuh dan perhitungan-perhitungan yang matang dari Angger Untara, maka aku benar-benar menundukkan kepala untuk itu.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk kepalanya. Sahutnya, “Lalu, bagaimana sekarang?”

“Aku harus ikut dalam permainan itu, Kiai berkeberatan?”

“O, tidak. Tentu tidak. Adalah menjadi kewajibanmu untuk melakukannya. Bukankah kau seorang prajurit?”

Sumangkar menjadi bimbang mendengar jawaban itu. Ia tidak dapat mengerti kenapa Kiai Gringsing seakan-akan membiarkan untuk berbuat sesuatu atas pertempuran itu. Namun Sumangkar bukan anak-anak yang mudah terpedaya oleh ucapan-ucapan yang meragukan. Karena itu, maka ia tidak akan dapat mempercayainya, seandainya Kiai Gringsing dengan suka-rela membiarkannya masuk ke dalam arena. Meskipun demikian katanya, “Terima kasih Kiai. Agaknya Kiai akan bersabar menunggu aku kembali dari arena.”

“Nanti dulu, Adi “ sahut Ki Tanu Metir.

Sumangkar tertegun sejenak. Tetapi ia sebelumnya telah memperhitungkannya, bahwa pekerjaannya akan bertambah berat. Ia tidak akan begitu saja dapat hadir di dalam peperangan itu, apalagi memusnahkan Untara, selagi Kiai Gringsing masih berada di tempat itu.

“Jangan tergesa-gesa.”

“Waktuku hanya sedikit Kakang. Lihatlah, pasukan Jipang telah terdesak jauh ke belakang garis benturan antara kedua gelar itu.”

“Belum Adi. Mereka sekarang berada pada garis yang terjadi pada saat kedua pasukan itu berbenturan. Kau hanya melihat pasukan Jipang terus menerus mundur. Tetapi aku melihat sejak pertempuran itu terjadi. Mula-mula pasukan Pajang dan anak-anak muda Sangkal Putunglah yang terdesak sampai jauh kebelakang garis itu. Sekarang mereka mendesak maju. Namun belum terlalu jauh melampaui garis benturan itu?

“O, agaknya kau lebih dahulu sampai di sini Kiai?”

“Aku melihat sejak peperangan itu mulai. Sejak pasukan Jipang muncul dari balik pepohonan hutan dangan panji-panji kebesaran, rontek dan umbul-umbul yang megah itu. Aku melihat pasukan Pajang dan anak-anak Sangkal Putung datang dari arah yang lain dengan ketiga panji-panji yang mereka agung-agungkan. Dan aku melihat bagaimana mereka berbenturan.”

“Hem, “Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kalau demikian, kau melihat kedatanganku pula Kakang.”

“Ya, aku melihat kau berdiri di sini. Sekali-sekali kau meloncat naik ke atas tanah padas itu. Sekali kau meloncat turun. Aku tidak akan mendekatimu, kalau aku tidak tertarik pada tongkat yang kau bawa itu. Tongkat itu mirip benar dengan tongkat Macan Kepatihan.”

Sumangkar mengangguk-angukkan kepalanya, “Ya tongkat ini memang mirip dengan tongkat Angger Tohpati.”

“Apakah Tohpati membagikan tongkat semacam itu kepada para prajuritnya?”

Sumangkar menarik alisnya. Namun demikian ia tersenyum. Jawabnya, “Pertanyaanmu membingungkan Kiai. Baiklah aku mencoba menjawabnya. Tongkat ini adalah ciri dari perguruan Kedung Jati. Aku kira Kiai sudah mengetahuinya pula.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, “sahutnya. “Macan Kepatihan adalah murid Mantahun. Saudara seperguruanmu.”

“Tepat. Bukanlah wajar kalau aku membantunya? Selain paman gurunya, aku adalah prajurit Jipang pula.”

“Sudah aku katakan, bahwa adalah kewajibanmu membantu Angger Tohpati. Namun aku ingin memberitahukan pula kepadamu. Kalau Tohpati itu murid kakak seperguruanmu, maka Untara adalah kakak dari muridku.”

Sumangkar menarik nafas. Ia melihat kemungkinan yang ada di hadapannya. Namun ia masih tersenyum, katanya, “Kalimat yang disilang-balikkan. Membingungkan Kiai.”

“Tidak terlalu sulit,“ jawab Kiai Gringsing sambil tersenyum pula.

“Angger Tohpati adalah murid dari kakak seperguruanku. Jelas?”

“Ya, aku tahu.”

“Kalau demikian, maka kewajibanmu atas Angger Tohpati tidak akan jauh berbeda dari kewajibanku atas Angger Untara, “berkata Kiai Gringsing pula. “Namun aku tetap berdiam diri melihat angger Untara terdesak dengan sengitnya, sebelum laskar cadangan itu datang.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Semuanya sudah pasti baginya. Tak ada jalan lain. Karena itu, maka lebih baik segala sesuatunya segera terjadi daripada masih harus menunggu perkembangan yang kecil sekali kemungkinannya.

Karena itu maka katanya, “Ada satu perbedaan Kiai. Aku prajurit Jipang. Apakah Kiai prajurit Pajang atau laskar Sangkal Putung? Seandainya demikian, maka kita berbeda pendirian. Mungkin Kiai dapat berdiam diri terhadap Untara, tetapi aku tidak akan dapat berbuat demikian. Aku harus menyingkirkan Angger Untara.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditatapnya wajah Sumangkar dengan tajamnya, namun sekali-sekali ia berpaling memandangi arena pertempuran pula. Ia tahu benar bahwa Sumangkar tidak akan dapat dicegahnya dengan kata-kata. Tetapi ia masih ingin mencoba untuk memperpanjang waktu sehingga Sumangkar akan terlambat. Kiai Gringsing itupun melihat pula, bahwa pasukang Jipang sudah semakin lemah dan terus menerus terdesak mundur.

Maka katanya sambil tersenyum, “Jangan begitu Adi. Jangan berkata sekeras itu. Bukankah kita, yang tua-tua ini sudah tidak pantas ikut bermain-main dengan senjata? Sebaiknya kita duduk saja di sini sambil melihat kalau Adi setuju, marilah kita bertaruh, siapakah yang akan menang.”

“Apakah yang akan kita pertaruhkan?” bertanya Sumangkar. “Apakah Kiai, mempunyai barang-barang berharga?”

“Apa saja dapat kita pertaruhkan, “sahut Kiai Gringsing, “ikat kepala, kain panjang kita, atau timang kita?”

“Bagaimana kalau aku usulkan Kiai?” berkata Sumangkar.

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum sambil menjawab, “Boleh. Barangkali Adi mempunyai usul yang baik.”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Taruhan kita adalah anak-anak muda itu. Macan Kepatihan dan Untara.

“He?” bertanya Kiai Gringsing sambil mengusap keningnya, “bagaimana mungkin? Kalau kita mengadu ayam, maka mereka adalah ayam jantan kita masing-masing.”

“Permainannyalah yang harus kita tentukan, “potong Sumangkar.

“Oh, “Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sumangkar sudah tidak akan dapat diperlunak lagi. Ternyata orang itu berkata, “Marilah kita yang berlomba, bukan hanya sekedar membuat taruhan.”

“Apakah perlombaan itu?”

“Kita berlomba lari sampai ke arena, “ajak Sumangkar.

Kiai Gringsing menggeleng. “Aku bukan seorang pelari. Tetapi kalau Adi akan berlari, mungkin aku akan mencoba menangkan ujung kainmu.”

Orang-orang tua itu sudah sampai pada kemungkinan terakhir, menyelesaikan soal mereka dengan cara yang tak mereka kehendaki. Tetapi mereka tidak akan dapat berbuat lain. Mereka ternyata telah berada dalam puncak kemungkinan itu.

“Kiai Gringsing, “berkata Sumangkar kemudian, “Kiai telah pernah melihat aku bermain-main melawan Ki Tambak Wadi, tetapi aku belum pernah melihat, bagaimana Kiai melontarkan kaki. Karena itu, maafkan aku. Aku akan mulai dengan usulku. Terserahlah kepada Kiai, apakah Kiai akan turut serta berlomba lari atau tidak.”

Sumangkar tidak menunggu jawaban lagi. Segera ia melontar surut sambil memutar tubuhnya. Ia mengharap Kiai Gringsing akan meloncat mencegatnya. Tetapi sumangkar menjadi kecewa, Kiai Gringsing belum beranjak dari tempatnya, katanya, “Apakah aku harus mengejarmu?”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Sambil menahan gelora di dadanya ia bertanya, “Kenapa Kiai tidak mengejar aku dan menangkap kainku seperti kata Kiai.”

“Aku akan mencobanya kalau kau betul-betul telah mulai dengan lomba itu.”

“Hem, “desis Sumangkar. Ia menjadi jengkel melihat ketenangan Kiai Gringsing. “Kiai yakin benar akan perhitungan Kiai? Aku pasti tidak akan berlari terus meninggalkan Kiai dengan membiarkan diriku membelakangi Kiai. Begitu? Aku tidak akan membiarkan punggungku tersentuh oleh tangan Kiai. Karena itu Kiai tidak perlu mengejar aku. Tetapi bagaimana seandainya aku membuat perhitungan pula, bahwa Kiai tidak akan mengejar dan mencegat aku, lalu aku benar-benar berlari ke arena yang semakin parah bagi Jipang itu?”

“Adi, “berkata Kiai Gringsing. “Sebenarnya apa yang akan kita lakukan itu tidak akan ada gunanya. Seandainya kita membuat permainan sendiri, maka permainan kita tidak akan mempengaruhi pertempuran itu. Betapapun lemahnya satu di antara kita, tetapi kita pasti akan memerlukan waktu. Dan lihatlah kini. Betapa laskar Jipang telah terdesak semakin jauh.”

Dada Sumangkar bergetar mendengar kata-kata Kiai Gringsing itu. Ia dapat mengerti dan ia sependapat pula. Menurut perhitungan, seandainya Kiai Gringsing memiliki ilmu yang tidak terpaut banyak daripadanya, maka waktu yang diperlukan pasti akan lebih banyak dari waktu yang diperlukan oleh pasukan Pajang untuk memecah barisan Macan Kepatihan. Tetapi kadang-kadang perasaan seseorang tidak sejalan dengan pikirannya. Meskipun Sumangkar menyadarinya, namun apakah ia akan duduk diam dan menonton pasukan Jipang terpecah belah tanpa berbuat sesuatu? Dan benarkah bahwa Kiai Gringsing memiliki ilmu yang cukup baik untuk bertahan cukup lama.

Akhirnya Sumangkar tidak lagi ingin membuat perhitungan-perhitungan. Tetapi ia harus berbuat sesuatu. Karena itu maka katanya, “Kiai, aku kagum melihat sikap dan ketenangan Kiai. Tetapi aku tidak akan terpengaruh oleh apapun. Aku tetap dalam pendirianku. Angger Untara harus dilenyapkan supaya prajurit Pajang menjadi kehilangan pegangan, dan bertempur tanpa ikatan.”

“Jangan supaya aku tidak berusaha meniadakan Macan Kepatihan pula.”

“Terserah kepadamu. Aku tetap akan melakukan rencanaku.”

Kiai Gringsing menarik nafas. Setapak ia maju, ia tidak akan membiarkan Sumangkar berlari ke arena, dan langsung membunuh Untara.

Melihat Kiai Gringsing bergerak, Sumangkar tiba-tiba merenggangkan kakinya. Tongkatnya digenggamnya dengan tangan kanannya dan sinar matanya tajam hinggap di wajah Kiai Gringsing.

Kiai Gringsing kini sudah tidak tersenyum lagi. Ia pernah melihat Sumangkar bertempur melawan Tambak Wedi. Tetapi Sumangkar tidak mempergunakan senjatanya yang mengerikan itu. Kini senjata itu berada dalam genggamannya. Karena itu maka nilai orang itu pasti akan berbeda. Sumangkar kali ini pasti akan berada di puncak kemampuannya.

Kedua orang tua itu, Kiai Gringsing dan Sumangkar kini telah berdiri berhadapan. Keduanya adalah orang-orang yang berfikir bening dan berilmu hampir mumpuni. Namun kini mereka terpaksa berdiri dalam kesiagaan yang paling tinggi.

“Adi Sumangkar, apakah kita orang tua-tua inipun terpaksa tidak tahu diri dan saling bertengkar seperti anak-anak?” bertanya Kiai Gringsing.

“Aku tidak ingin itu terjadi Kiai, bukankah aku hanya ingin menyingkirkan Untara dari peperangan itu, “sahut Sumangkar.

“Baiklah. Aku tidak mempunyai pilihan lain. Bukankah sudah aku katakan, bahwa Untara adalah kakak dari murid perguruanku?”

“Terserah kepada Kiai. Aku sudah siap.”

Kiai Gringsing kemudian menarik ujung kainnya dan diselipkan di ikat pinggangnya. Kain itu adalah kain gringsing. Perlahan-lahan ia mengambil sesuatu dari bawah bajunya, melingkar di perutnya.

“Senjata Sumangkar adalah senjata pilihan, “desisnya di dalam hati. “Aku harus berhati-hati.”

Tiba-tiba di tangan Kiai Gringsing itupun tergenggam sebuah cambuk yang pendek namun berjuntai panjang. Itulah senjatanya yang paling berbahaya.

Sumangkar mengerutkan keningnya melihat senjata itu. Ia mencoba mengingat-ingat. Perguruan manakah yang mempunyai ciri khusus sebuah cambuk yang berjuntai panjang, kira-kira satu setengah kali panjang pedang biasa. Tetapi Sumangkar belum berhasil menemukannya.

***

“Hem, “katanya dalam hati, ”orang semacam Kiai Grinsing itu pasti seorang yang berbahaya sekali. Meskipun aku belum melihat geraknya, tetapi agaknya ia lebih berbahaya dari Ki Tambak Wedi.”

Dalam pada itu Kiai Gringsing pun berkata di hatinya, “Alangkah tinggi tekad Sumangkar. Dan alangkah tabah hatinya menghadapi persoalan yang semakin gawat ini. Agaknya ia masih mencoba untuk mengatasi persoalan ini. Persoalan antara dirinya sendiri dan persoalan anak-anak Jipang itu.”

Dan ketika tiba-tiba Sumangkar sorak di medan perang, ia berpaling sekali lagi. Dilihatnya pasukan Jipang terdesak dalam jarak yang cukup panjang. Meskipun kemudian mereka berhenti dan mencoba bertahan lagi, namun Sumangkar semakin menjadi cemas bahwa pasukan itu segera akan pecah sebelum senja.

Tanpa disengajanya, tiba-tiba ia melangkah maju mendekati Kiai Gringsing. “Tak ada pilihan lain, “desisnya.

Kiai Gringsing mengangguk, “Ya tak ada pilihan lain.”

“Apakah Kiai siap?” bertanya Sumangkar sambil menggerakkan ujung tongkatnya yang kuning dan berbentuk tengkorak.

Kiai Gringsing mengangguk. “Aneh” desisnya, “aku bersembunyi karena aku takut Angger Untara membawa aku serta dalam peperangan itu. Tetapi tiba-tiba aku terpaksa menghadapi seorang lawan.”

“Jangan terlalu merendahkan diri Kiai, “sahut Sumangkar, ”marilah, sebelum anak-anak itu selesai bermain-main.”

Kiai Gringsing tidak menjawab. Tetapi ia mempersiapkan dirinya menyambut segala kemungkinan.

Sumangkar pun kemudian maju selangkah. Kini tongkatnya telah bergerak-gerak. Dan ketika ia mendengar sekali lagi sorak yang gemuruh maka tiba-tiba ia meloncat menyerang Kiai Gringsing.

Kiai Gringsing telah bersiap menyambut serangan itu. Selangkah meloncat ke samping dan tiba-tiba ia menggerakkan tangannya. Ujung cambuknya bergetar cepat sekali menyambar lawannya yang melontar disampingnya.

Sumangkar benar-benar terkejut melihat ujung cambuk yang seakan-akan mengejar untuk mematuk tengkuknya. Cepat ia menghindar sambil merendahkan dirinya. Tetapi sekali lagi ia terkejut, ujung cambuk yang tidak menyentuhnya itu meledak di atas kepalanya seperti ledakan petir di langit.

Sumangkar menggeram. Sekali lagi ia meloncat ke samping untuk mengambil jarak yang cukup. Namun Sumangkar adalah orang yang cukup cekatan mengimbangi gerak Kyai Gringsing. Demikian ia berjejak di atas tanah, demikian ia melontar menyusup ke dalam batas pertahanan lawannya. Tongkatnya terayun deras sekali ke arah kaki Kiai Gringsing.

Kini Kiai Gringsing-lah yang terkejut. Tetapi ia adalah orang yang cukup berpengalaman menghadapi setiap kemungkinan. Dengan lincahnya ia meloncat ke samping dan dengan lincahnya pula ia menggerakkan senjatanya.

Sumangkar yang gagal mengenai lutut Kiai Gringsing cepat-cepat melontar surut menghadapi kejaran ujung cambuk lawannya yang seakan-akan mempunyai biji mata. Hanya karena ketrampilannya maka ia berhasil melepaskan diri dari sengatan-sengatan ujung cambuk itu.

Demikian mereka terbenam dalam pertempuran yang semakin lama semakin sengit. Orang-orang tua itu bertempur dalam jarak yang tidak demikian jauhnya dari garis pertempuran. Sekali-sekali mereka mendengar sirak yang gemuruh dari kedua belah pihak. Pasukan Jipang yang walaupun selalu terdesak mundur namun sekali-sekali mereka masih juga menjumpai kemenangan-kemenangan kecil. Bahkan sekali-sekali mereka juga berhasil maju selangkah dua langkah. Tetapi sesaat kemudian mereka terdesak kembali.

Sorak-sorai yang gemuruh itu seakan-akan adalah sorak-sorai para penonton yang menyoraki kedua orang-orang trua itu. Bagaimanapun juga maka suara-suara itu telah mempengaruhi perasaaan mereka. Seolah-olah para prajurit itu melihat bahwa sekali-sekali Kiai Gringsing terpaksa berloncatan surut namun disaat yang lain Sumangkar terpaksa berguling-guling menghindari ujung cambuk Kiai Gringsing.

Pertempuran di kedua arena itu berlangsung terus meskipun sifatnya sangat berbeda. Di satu lingkaran, mereka bertempur dalam garis perang yang panjang. Benturan antara dua kekuatan yang besar dalam gelar yang sempurna. Masing-masing dipimpin oleh Senapati yang cukup tangguh dan beberapa senapati pengapit.

Sedangkan di arena kecil, tidak begiitu jauh dari garis perang itu, dua orang yang sudah menjelang hari-hari tuanya, bertempur dengan serunya pula. Keduanya mampu bergerak melampaui kecepatan gerak orang kebanyakan. Di antara bayangan yang berloncatan mengeletarlah suara letupan-letupan cambuk Kiai Gringsing dan kilatan cahaya keputih-putihan dari tongkat baja kuning Sumangkar. Sekali-sekali cahaya kekuningan seleret-seleret menyambar seperti pijar bara api.

Kedua arena pertempuran yang berbeda bentuk dan sifat itu semakin lama menjadi semakin seru. Dan matahari pun semakin lama semakin menurun disisi langit sebelah Barat.

Untara yang mempimpin seluruh kekuatan Pajang dan Sangkal Putung melihat bahwa ia akan dapat mengatasi keadaan. Karena itu, semakin besarlah usahanya untuk segera mengakhiri peperangan sebelum korban menjadi semakin lama semakin banyak di kedua belah pihak.

Dengan penuh tanggung-jawab ia bertempur melawan Macan Kepatihan sambil sekali-sekali mengawasi setiap sudut pertempuran. Ketika ia yakin bahwa kedudukan sayap-sayapnya pun menjadi bertambah baik, maka seperti angin taufan ia memperkuat serangan-serangannya atas Macan Kepatihan.

Sekali-sekali Macan Kepatihan itu menggeram dan menggertakkan giginya. Semakin lama disadarinya, bahwa pasukannya menjadi semakin kalut. Satu-satu korban berjatuhan dan sekali-kali ia mendengar pekik dan keluh kesah, bahkan sekali sebuah jeritan melengking menyayat hatinya yang parah.

Widura pun melihat keadaan itu. Kesempatan ini tidak boleh lampau. Ia tidak boleh menunggu anak-anak muda Sangkal Putung yang dating kemudian menjadi kelelahan dan dengan demikian kekuatan seluruh pasukannya menjadi surut kembali. Karena itu, maka ia pun segera memperketat tekanan atas sayap lawan. Pedangnya yang berat terayun-ayun seperti baling-baling. Lawannya, Alap-alap Jalatunda yang bertempur bertiga melawannya dengan gigih. Tetapi Widura adalah seorang Senapati yang berpengalaman menghadapi setiap keadaan medan, sehingga dengan mudahnya ia berhasil mempersempit kesempatan lawannya.

Di sayap yang lain, Agung Sedayu gigih melawan Sanakeling. Dalam pertempuran itu Sanakeling terpaksa mengakui, anak yang masih sangat muda, adik Untara itu tidak dapat diabaikannya. Bahkan beberapakali ia mengalami kesulitan dengan unsur-unsur gerak yang aneh dan hampir tak dapat dimengertinya. Untunglah bahwa Sanakeling adalah prajurit sejak mudanya. Karena itu, maka dengan bekal kemampuan dan pengalamannya ia masih tetap bertahan mengimbangi kecepatan bergerak Agung Sedayu. Namun Agung Sedayu benar-benar telah lupa akan kewajibannya yang lain. Ia merasa bahwa ia berada dalam keadaan sendiri, lepas dari kewajiban-kewajiban lainnya. Untunglah Hudaya masih tetap berada disampingnya meskipun kian lama ia menjadi semakin pucat dan lemah. Darah masih saja mengalir dari lukanya meskipun tidak begitu deras. Meskipun demikian ia tidak dapat meninggalkan arena, karena ia pun menyadari sepenuhnya, bahwa Agung Sedayu adalah seorang anak muda yang mampu bertempur dengan baik, tetapi ia belum seorang Senapati yang baik, yang melihat pertempuran dalam keseluruhan.

Demikian tegalan kering itu telah menjadi kancah pertempuran yang dasyat. Tanah yang telah menjadi merah berlumuran darah, menghamburkan debunya menjulang tinggi ke langit. Matahari menjadi suram karenanya, sesuram wajah anak gadis yang ditinggalkan kekasihnya ke medan pertempuran.

Kilatan cahaya yang terpantul di ujung-ujung senjata masih gemerlapan. Panji-panji, rontek dan umbul-umbul masih tegak di kedua pihak meskipun tidak lagi semegah semula. Namun angin yang semakin kencang telah menyentuh-nyentuhnya dan melambaikan daun-daun rontek dan umbul-umbul. Panji-panji yang megah berkibaran seperti tangan yang menggelepar menyentak-nyentak, seolah-olah tangan seorang senapati sedang memberi aba-aba.

Agak jauh dari mereka, Sumangkar masih bertempur melawan Kiai Gringsing dengan gigihnya. Kedua orang tua yang telah kenyang makan pahit manis perkelahian itu, bertempur dengan cara mereka sendiri.

Tetapi bagaimanapun juga, mereka tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh peperangan yang berlangsung di sebelah. Sorak-sorai yang gemuruh dan gerakan-gerakan surut dari salah satu pihak dari antara mereka.

Sejenak kemudian, tiba-tiba Sumangkar melontar mundur beberapa langkah sambil berdesis, ”Tunggu Kiai. Aku ingin melepaskan diri sebentar.”

Kiai Gringsing mendengar desis itu. Ia adalah seorang yang dapat menghadapi lawan dengan hati lapang. Ia tidak mau berbuat curang selagi lawan dalam keadaan yang tidak wajar, karena itu demikian ia mendengar desis Sumangkar itu, ia pun segera menghentikan serangannya. Dan bahkan terdengar ia bertanya, “Apa yang mengganggumu Adi?”

Sumangkar tidak menjawab. Namun ia tahu pasti bahwa Kiai Gringsing akan menghargai nilai-nilai kejantanannya, sehingga ia tidak akan menyerangnya selagi ia tidak bersiaga.

Kini ia berdiri tegak bagaikan patung batu. Nafasnya yang tersengal-sengal satu-satu, meluncur lewat lubang-lubang hidungnya. Ia mengakui kini bahwa Kiai Gringsing adalah seorang yang luar biasa. Seorang yang tidak kalah nilainya dari Ki Tambak Wedi yang merasa dirinya tidak terlawan. Namun ternyata orang yang tidak dikenal ini sama sekali tidak berada di bawah tingkat ilmu Ki Tambak Wedi. Bahkan diam-diam ia mengakui, bahwa ia pasti tidak akan dapat mengalahkannya.

Tetapi bukan itulah yang mendebarkan jantungnya. Bahkan di luar sadarnya ia berkata, “Lihatlah Kiai, pasukan Jipang terdorong jauh ke belakang.”

“Ya, “jawab Kiai Gringsing singkat.

Namun dengan serta merta terloncatlah dari mulut Sumangkar yang gelisah, “Umbul-umbul itu kini sudah tidak tegak lagi.”

Kiai Gringsing tidak menjawab. Tetapi ia melihat apa yang dikatakan oleh Sumangkar. Pasukan Jipang terdorong jauh. Namun tiba-tiba garis perang itu terhenti bergeser. Kiai Gringsing dan Sumangkar melihat apa yang terjadi. Macan Kepatihan sedang berusaha mempersempit gelarnya.

“Bukan main, “guman Kiai Gringsing.

Sumangkar berpaling, “Apa yang bukan main Kiai”

“Murid kakak seperguruanmu, “jawab Kiai Gringsing, “Ia berhasil menemukan cara untuk mengurangi tekanan lawannya.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Tohpati telah berusaha memperpendek garis perangnya.

Dengan kekuatan yang lebih baik, seorang-seorang, ia mengharap dapat mengurangi kekalahan-kekalahan yang selama ini dideritanya. Macan Kepatihan mengharap, bahwa dalam keadaan yang demikian, anak-anak muda Sangkal Putung tidak akan mendapat kesempatan yang baik. Bahkan ketika pertempuran itu baru mulai, mereka menjadi kebingungan untuk mengambil tempat.

Tetapi Widura di sayap kiri bukan orang yang mudah dikelabuhi. Ketika ia melihat gelar lawannya menyempit, segera ia menebarkan ujung sayapnya, mencoba melingkar dan mencapai garis serangan dari belakang gelar lawannya. Tetapi Alap-alap Jalatunda tidak membiarkannya, sehingga terpaksa ujung pasukannyapun menebar pula mencegah pasukan Widura yang ingin memotong garis di belakang gelar.

Tohpati menggeram melihat cara Widura melawan gelarnya. Tetapi ia tidak dapat mencegahnya. Bahkan ia pun akan mengambil sikap serupa seperti apa yang dilakukan oleh Alap-alap Jalatunda apabila ia menghadapi keadaan yang serupa.

Tetapi Tohpati tidak juga dapat bertahan lebih lama lagi. Ketika matahari menjadi semakin rendah, pasukannya telah benar-benar terdesak jauh ke belakang. Ketengah-tengah padang rumput yang terbentang di sisi hutan tempat persembunyian Macan Kepatihan.

Sekali-sekali Macan Kepatihan masih mencoba meneriakkan aba-aba. Namun gunanya hampir tidak ada sama sekali. Pasukannya telah benar-benar menjadi payah dan kehilangan kesempatan. Betapa Sanakeling mencoba menekan lawannya, namun Agung Sedayu mampu mengimbanginya dengan baik. Bahkan sekali-sekali terdengar Sanakeling mengumpat dengan kata-kata yang kotor.

Kini Macan Kepatihan sudah tidak dapat berbuat lebih banyak lagi. Hatinya menyala seperti nyala matahari di langit. Tetapi banyak hal yang telah mengganggunya selama ini. Ketika ia berkesempatan menebarkan pandangan matanya sesaat kepada pasukannya maka hatinya berdesir. Pasukannya benar-benar telah menjadi payah. Kalau Untara berhasil memecah pasukannya itu segera sebelum gelap dan masih jauh dari hutan itu maka pasukannya kali ini akan benar-benar hancur. Kesempatan untuk mengundurkan diri dengan selamat, sangat kecil. Pasukannya pasti akan diremuk lumatkan saat mereka mencoba mengundurkan dirinya. Korban pasti akan bertimbun-timbun dan untuk seterusnya akan sulit baginya untuk menyusun kekuatan kembali.

Karena itu, maka ia harus berjuang sekuat-kuat tenaga untuk bertahan sampai matahari terbenam ataumundur dalam gelar yang teratur sampai ke tepi hutan itu.

Tetapi Untara bukan tidak dapat menebak maksud itu. Ia tahu benar bahwa Macan Kepatihan sedang berusaha mencari kesempatan yang sebaik-baiknya untuk menyelamatkan pasukannya. Karena itulah justru beberapa kali terdengar ia meneriakkan aba-aba, aba-aba yang sebenarnya hanya merupakan cara-cara yang dapat mempengaruhi daya dan gairah bagi prajurit-prajuritnya.

Sumangkar yang melihat peperangan itu menjadi semakin tegang. Ia melihat umbul-umbul dan rontek, bahkan panji-panji Jipang kadang-kadang telah tidak tegak lagi. Sekali-sekali ia melihat umbul-umbul itu condong bahkan hampir roboh didorong oleh geseran garis perang. Sekali-sekali ia melihat sebuah rontek dari antara sekian banyak rontek, terseret jauh di belakang pasukan Jipang yang sedang bertahan mati-matian. Bahkan semakin lama, Sumangkar tidak dapat melihat umbul-umbul dan rontek, serta panji-panji Jipang masih berada di tempat yang seharusnya bagi sebuah gelar Dirada Meta.

***

Sementara itu peperangan menjadi semakin riuh. Hati Macan Kepatihan menjadi semakin cemas, matahari baginya berjalan terlampau lambat. Bahkan seakan-akan telah berhenti di langit. Sedang korban dipihaknya, satu-satu berjatuhan tak henti-hentinya. Di sayap kirinya, betapapun Sanakeling berusaha, namun Agung Sedayu mampu mengimbanginya.

Kini yang ditempuh oleh Macan Kepatihan adalah cara yang kedua. Perlahan-lahan pasukannya bergeser surut terus-menerus. Mereka mencoba mendekati hutan yang sudah menjadi semakin dekat. Pasukan itu harus mundur dalam gelar yang teratur apabila mereka masih ingin sebagian besar dapat menyelamatkan diri. Meskipun dengan demikian, korban akan tetap berjatuhan.

Tetapi Untara tidak dapat membiarkannya. Segera ia memberi pertanda kepada beberapa orang penghubungnya. Dan naiklah panji-panji pimpinan di belakangnya dengan gerak-gerak yang khusus diulang-ulang. Gerak dari panji-panji itu adalah perintah, gelar dari pasukan Pajang dan Sangkal Putung harus segera berubah. Gelar Sapit Urang.

Tampaklah beberapa perubahan di dalam gelar Pajang. Macan Kepatihan yang melihat perubahan itu, mencoba mempergunakan kesempatan. Dengan kemarahan yang menyala-nyala ia menyerang langsung keinduk pasukan berserta beberapa orang pengiringnya. Namun induk pasukan itu telah siap menerimanya, sehingga usahanya itu sama sekali tidak berarti.

Dengan kemarahan yang seakan-akan meledakkan dadanya ia melihat Widura merubah sikap sayapnya menjadi sebuah sapit raksasa, yang siap memotong usaha Dirada Meta itu mengundurkan dirinya. Meskipun Agung Sedayu tidak cepat mengatur sayapnya, namun Hudaya telah membantunya. Meskipun dalam saat perubahan itu terjadi, sayap kanan terpaksa surut beberapa langkah. Sehingga gelar Untara menjadi agak condong. Namun sesaat kemudian sapit kanan itupun segera dapat mengimbangi sapit yang lain, melingkar dalam usaha pencegahan pasukan Jipang tenggelam ke dalam hutan.

Darah Macan Kepatihan seakan telah mendidih melihat sikap gelar pasukan Untara. Terdengar ia menggeram keras sekali. Tetapi ia tidak dapat hanya sekedar marah-marah saja. Ia harus cepat mengambil tindakan untuk menyelamatkan orang-orangnya.

Macan Kepatihan sesaat menjadi bimbang. Namun tiba-tiba melonjaklah di dalam benaknya, beberapa persoalan yang beberapa saat yang lampau mempengaruhi perasaannya. Pertemuannya dengan orang tua dipinggir sungai. Beberapa persoalan tentang orang-orangnya sendiri, kejemuan, dan berpuluh-puluh macam persoalan lagi. Apakah ia masih harus melihat pertentangan yang terjadi itu berkepanjangan tanpa ujung dan pangkal? Apakah ia masih harus melihat bencana menimpa rakyat Demak yang sedang dilanda oleh perpecahan yang semakin dahsyat? Pembunuhan-pembunuhan liar, perampokan, pemerasan, perkosaan terhadap peradaban.

Dan yang terakhir terngiang kembali adalah kata-katanya sendiri, “Kali ini adalah kali yang terakhir.”

Gigi Macan Kepatihan gemeretak. Tetapi ia telah menemukan keputusan di dalam dirinya. Pertempuranini harus merupakan pertempuran yang terakhir bagi pasukannya. Kalau umbul-umbul, rontek, dan panji-panji Jipang itu akan roboh di arena ini, biarlah umbul-umbul, rontek, dan panji-panji itu tidak akan bangkit kembali. Yang tidak akan muncul lagi dalam percaturan sejarah kerajaan Demak. Kalau pasukannya mau hancur, hancurlah sekarang. Persoalan akan segera selesai. Kejemuan dan ketidak-pastian bagi sisa anak buahnya akan hilang.

Tatapi apakah ia harus mengorbankan orang-orangnya? Orang-orang yang di antaranya sama sekali tidak ikut bertanggung-jawab atas pertentangan antara Jipang dan Pajang? Orang-orang yang hanya terseret oleh arus permusuhan tanpa tahu sebab-sebabnya? Bahkan orang-orang yang sama sekali tidak mengenal siapakah Arya Penangsang, dan siapakah Adipati Adiwijaya yang juga bernama Jaka Tingkir di masa kecilnya?

Semua itu bergolak di dalam kepala Tohpati justru pada saat-saat yang sangat berbahaya. Pada saat-saat sapit-sapit raksasa dari gelar Sapit Urang itu bergerak melingkar untuk mencoba mengurungnya dalam lingkaran maut.

Dalam keadaan yang cukup baik, Macan Kepatihan dapat segera merubah gelarnya dalam bentuk yang lain, yang sanggup menghadapi lawan dari setiap arah, dan sanggup mematahkan kepungan di setiap sisi. Gelar Cakra Byuha. Gelar sebuah lingkaran bergerigi. Namun dalam keadaan yang telah payah benar itu, Macan Kepatihan tidak melihat manfaatnya. Bahaya setiap usaha merubah gelar akan memberi peluang bagi lawannya di saat-saat perubahan itu terjadi. Tetapi Macan Kepatihan, seorang Senopati Jipang yang terpercaya itupun tidak akan dapat mengorbankan orang-orangnya.

Sumangkar melihat pertempuran itu dengan dada yang berdebar-debar. Setiap kali ia melihat sebuah umbul-umbul roboh, setiap kali terasa segores luka membekas di dalam hatinya.

Ialah yang pernah menyelamatkan umbul-umbul, rontek dan panji-panji Jipang dari kepatihan ketika Jipang dipukul hancur oleh pasukan Pajang dibawah pimpinan Ki Gade Pemanahan. Kini ia menyaksikan satu demi satu umbul-umbul, rontek dan panji-panji itu roboh. Karena itulah maka jantungnya serasa dibelah dengan sembilu. Namun ia kini tidak dapat menghindari kenyataan. Di sampingnya berdiri seorangyang tidak dikenal sebelumnya, namun orang itu pasti akan dapat mencegahnya, apa saja yang akan dilakukan.

Ketika sekali lagi ia melibat sebuah umbul-umbul roboh maka tanpa sesadarnya ia berdesis, “Harapan itu kini telah tenggelam sama sekali seperti tenggelamnya umbul-umbul dan rontek itu di dalam arus peperangan.”

Kiai Gringsing yang mendengar desis itu maju selangkah. Kesan permusuhan pada wajah kedua orang itu kini sama sekali tidak berbekas. Bahkan dengan nada yang serupa Kiai Gringsing berkata, “Ya. Pasukan Jipang itu tidak akan dapat ditolong lagi.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Angger Macan Kepatihan kali ini mengambil tindakan yang akibatnya dapat berbahaya sekali, seperti apa yang ternyata sedang terjadi kini.”

“Ya, “sahut Kiai Gringsing.

Sesaat keduanya terdiam. Namun wajah-wajah mereka kini menjadi tegang. Mereka sedang menyaksikan saat-aat terakhir dari peperangan itu. Sumangkar hatinya dicengkam oleh kecemasan, kepedihan dan kepahitan yang tiada taranya. Sedang Kiai Gringsing sedang mencemaskan sikap para prajurit Padjang. Apakah mereka cukup berjiwa besar menghadapi kehancuran lawannya? Apakah mereka tidak akan kehilangan diri mereka sebagai manusia yang mengagungkan kemanusiaan sebagai ungkapan bakti mereka kepada Sumber Hidup mereka?

Sebenarnyalah saat itu Macan Kepatihan telah melakukan tindakan terakhir untuk menyelamatkan orang-orangnya. Dengan lantang ia berteriak, memerintahkan segenap pasukannya menarik diri ke dalam hutan yang sudah tidak terlampau jauh. Mereka diberi kesempatan selagi sapit raksasa lawan itu belum selesai dalam usaha mereka mengepung pasukan yang sedang payah.

Sanakeling menggeram melihat isyarat itu. Tetapi ia tidak mampu berbuat apapun juga. Iapun harus meyakini, bahwa kali ini mereka tidak akan berhasil mengalahkan laskar Sangkal Putung yang bertempur bersama-sama dengan para prajurit Pajang. Karena itu maka perlahan-lahan ia membuat gerakan-gerakan untuk mempersiapkan pengunduran pasukannya dengan hati-hati dan penuh bahaya. Sebab apabila gerakan mundur ini gagal pula, maka akan tumpaslah segenap anak buahnya.

Tetapi Sanakeling itu terkejut ketika ia melihat Tohpati dengan tongkat baja putihnya ia mengamuk sejadi-jadinya. Seperti orang yang kehilangan kesadaran, Macan Kepatihan bertempur dengan gigihnya. Bahkan ia sama sekali tidak berkisar dari tempatnya meskipun laskarnya telah surut beberapa langkah.

“Raden Tohpati, “teriak Sanakeling yang mencemaskan.

“Cepat mundur!” teriak Tohpati tidak kalah kerasnya.

Sanakeling tidak tahu maksud Macan Kepatihan yang sama sekali tidak ada tanda-tanda untuk menarik dirinya mengikuti laskarnya.

“Cepat!” teriak Macan Kepatihan itu kemudian. “Kalau kau terlambat, maka kaulah yang akan aku penggal lehermu.”

Sanakeling menggigit bibirnya. Kedua senjatanya masih bergerak dengan cepatnya, melindungi dirinya. Berkali-kali ia meloncat menyelamatkan diri dari terkaman Agung Sedayu yang menjadi semakin garang, sehingga sekali-sekali Sanakeling mengeluh di dalam hati, “Gila adik Untara ini.”

Namun perintah Macan Kepatihan yang terakhir benar-benar mengejutkannya. Bahkan Untara pun terkejut pula mendengar perintah Macan Kepatihan yang keras bagi anak buahnya.

Tetapi Sanakeling tidak berani melawan perintah itu. Perlahan-lahan ia menarik dirinya di antara pasukannya mengundurkan diri ke tepi padang yang berbatasan dengan hutan.

“Licik, “geram Untara. Namun ia tidak yakin akan perkataannya sendiri. Apa yang dilakukan oleh Macan Kepatihan adalah suatu sikap wajar yang mencerminkan kematangannya dalam olah peperangan. Apabila terasa bahwa pasukannya tidak mungkin bertahan lebih lama lagi, maka pasti dicari jalan untuk menyelamatkan diri.

Untara segera mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh Macan Kepatihan itu. Karena itu maka segera jatuhlah perintahnya, untuk memecah pasukan lawan sebelum berhasil menyembunyikan diri di balik pepohonan dan lenyap ke dalam hutan.

Pasukan Pajang pun serentak mendesak maju. Mereka mencoba untuk mengurungkan usaha Macan Kepatihan dengan menggagalkan gerak mundur yang teratur itu.

Betapa beratnya usaha yang dilakukan oleh Macan Kepatihan dan senapati-senapati bawahannya. Tekanan prajurit Pajang semakin terasa menekan hampir tak tertahankan. Hanya kesadaran mereka, bahwa apabila gelar mereka terpecah sebelum mereka mencapai hutan, berarti kehancuran mutlak, itulah yangmasih tetap mengikat mereka dalam satu kesatuan.

Macan Kepatihan melihat, tekanan yang semakin lama semakin menjadi pepat. Itulah sebabnya, maka tiba-tiba ia melontar jauh ke samping dan segera melepaskan Untara dari lingkaran perkelahian. Dengan garangnya ia berloncatan melindungi pasukannya yang masih mencoba mencapai jarak yang semakin dekat.

“Gila, “geram Untara. Dengan satu ayunan tongkat, ia melihat dua prajuritnya jatuh terkapar di tanah. Karena itu alangkah marahnya Senapati Pajang itu, dengan serta merta ia meloncat mengejar Macan Kepatihan. Tetapi Macan Kepatihan selalu berusaha menjauhinya. Di antara prajurit Pajang ia berloncatan sambil memutar senjatanya untuk menahan arus pasukan Pajang yang menjadi semakin deras. Setiap kaliia meluncur seperti tatit mencari tempat baru untuk melepaskan kemarahannya dan menahan arus lawan.

Sekali lagi Untara menggeram. Dengan marahnya ia mendesak terus mengejar Macan Kepatihan. Namun Macan Kepatihan selalu berloncatan kian kemari.

Sanakeling yang melihat Macan Kepatihan segera menyadari, bahwa Macan Kepatihan dengan caranya berusaha mencoba menghambat gerak maju pasukan Pajang. Perkelahian di dalam lingkungan prajurit-prajurit Pajang melawan Tohpati yang berkeliaran itu berpengaruh juga atas gerak maju pasukan Pajang. Sebab mereka selalu saja memperhatikan, jangan-jangan tongkat Tohpati itu tiba-tiba hinggap dipunggung mereka, atau kepala mereka terpecahkan oleh tongkat baja putih yang mengerikan itu.

Tetapi Sanakeling tidak dapat berbuat lain daripada membawa pasukannya mengundurkan diri. Meskipun demikian, ia melihat beberapa orang yang terlalu setia kepada Macan Kepatihan, membatalkan niatnya untuk beringsut mundur. Bahkan seperti Macan Kapatihan mereka menceburkan diri mereka ke tengah-tengah pasukan lawan, seperti serangga yang menyeburkan diri mereka ke dalam api. Namun usaha Macan Kepatihan dan beberapa orang yang setia kepadanya itu berguna pula. Meskipun satu demi satu orang-orang itu tergilas oleh arus kemarahan para prajurit Pajang dan Sangkal Putung, namun gerak itu mendapat kesempatan lebih banyak dari semula.

***

Widura pun kemudian melihat cara yang ditempuh oleh Macan Kepatihan itu. Karena itu, maka segera ia harus ikut serta mengatasinya. Maka dihentikannya usahanya untuk mengejar Alap-alap Jalatunda. Usaha itu diserahkannya kepada anak buahnya. Bagaimanapun juga, Alap-alap Jalatunda sedang berusaha seperti Sanakeling membawa orang-orangnya bergeser mundur, sehingga Alap-alap itu hampir-hampir sama sekali tidak berbahaya.

Dengan tangkasnya Widura pun mencoba menyusup di antara prajurit Pajang sendiri. Ia melihat Macan Kepatihan semakin lama semakin dekat ke sayapnya, sebab Untara selalu berusaha mengejarnya. Dengan penuh tanggung-jawab, tiba-tiba Widura, berhasil berdiri berhadapan dengan Senapati Jipang itu.

“Setan tua, “teriak Tohpati, “kau mencoba mengganggu aku, Paman Widura? “

Widura tidak menjawab, tetapi pedangnya terjulur lurus ke arah dada Macan Kepatihan. Namun Macan Kepatihan itu dengan garangnya menggeram dan menghindar, melepaskan diri dari tusukan pedang itu, sekaligus dengan melontarkan serangan balasan. Tongkatnya terayun dengan derasnya ke arah pelipis Widura. Namun Widura pun segera berhasil menghindarkan dirinya. Cepat ia beringsut ke samping dan meloncat kembali dalam satu putaran menyambar lambung lawannya. Tetapi Tohpati tiba-tiba meloncat jauh-jauh dan sesaat kemudian ia telah tenggelam dalam hiruk pikuk pasukan Pajang. Sekali-sekali tampak tongkatnya terayun-ayun, dan bertebarlah para prajurit Pajang menjauhkan diri dari padanya. Widura melihat peristiwa itu dengan darah yang mendidih. Ketika ia meloncat maju, dilihatnya Untara pun telah sampai pula di samping Macan Kepatihan itu.

Dada Macan Kepatihan berdesir ketika ia melihat dua orang Senapati Pajang itu bersama-sama datang kepadanya. Sesaat ia diam mematung sambil berpikir. Namun tiba-tiba ia meloncat dengan cepatnya menyusup masuk ke dalam lingkungan prajurit-prajurit Pajang sambil mengayunkan tongkat kian kemari. Dengan loncatan-loncatan yang panjang ia berusaha meninggalkan Widura dan Untara. Namun sama sekali tak dikehendakinya untuk ikut serta mundur bersama-sama dengan pasukannya. Sebab dengan demikian, apabila ia ikut serta menarik diri, pasukan Pajang akan mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk memecah pasukannya yang telah menjadi semakin parah. Widura dan Untara, ketika melihat Tohpati mencoba menghilang di antara pasukannya, segera mengejarnya. Tetapi Untara dan Widura tidak dapat berbuat seperti Tohpati. Melanggar siapa saja yang berada di hadapannya. Menerjang dan bahkan menginjak tubuh yang terdorong jatuh. Untara dan Widura harus mencari jalan di antara mereka. Kadang-kadang menunggu seseorang menyibak, dan kadang-kadang harus mendorong seseorang ke samping, tetapi tidak sekasar Tohpati. Untara dan Widura tidak dapat mencari jalan dengan memutar pedangnya di antara laskarnya sendiri. Dan laskarnyapun tidak akan berdesak-desakan menyisih seperti apabila mereka melihat Tohpati dengan beberapa orang yang paling setia kepadanya lewat di antara mereka. Meskipun para prajurit Pajang bukanlah prajurit-prajurit pengecut, namun mereka pasti masih harus mempunyai berbagai pertimbangan untuk langsung berhadapan dengan Macan Kepatihan beserta tongkat baja putihnya.

Karena itulah, maka Untara dan Widura tidak dapat cepat menyusul Tohpati. Meskipun demikian Tohpati itu tidak terlepas dari pengamatan mereka. Kemana Tohpati itu pergi, maka Untara dan Widura selalu berada di belakangnya. Dengan demikian Tohpati pun tidak mempunyai keleluasaan untuk bertempur disatu titik. Setiap kali ia harus melontar pergi meninggalkan seorang atau dua orang korban luka, atau bahkan ada pula yang tak mampu bertahan karena hantaman tongkat baja putih itu.

Tetapi para prajurit Pajang bukannya dengan sukarela menyerahkan diri mereka. Dengan gigih mereka memberikan perlawanan apabila mereka sudah tidak mungkin lagi untuk menghindar. Dengan demikian, maka setiap kali mereka melihat seseorang di antara mereka jatuh di tanah, apakah ia terluka apakah iagugur dalam peperangan itu, namun setiap kali pula ujung-ujung pedang tergores pada tubuh Senapati Jipang yang perkasa itu. Dengan demikian, maka baju dan bahkan segenap pakaian Tohpati itu telah dibasahi bukan saja oleh keringat yang mengalir semakin deras, namun percikan-percikan darah telah menodainya di sana-sini. Goresan-goresan yang bahkan ada yang cukup dalam dan panjang telah membekas ditubuh itu, seperti guratan-guratan pada tubuh seekor harimau dalam rampogan di alun-alun. Seekor macan jantan yang garang, yang dilepaskan di alun-alun di antara prajurit bertombak dalam hari-hari besar yang khusus.

Demikian itulah keadaan Macan Kepatihan yang tidak kalah garangnya dengan harimau jantan yang betapapun besarnya.

Di sayap kanan, Agung Sedayu yang mencoba memberikan tekanan yang semakin berat kepada Sanakeling selalu berusaha untuk tidak memberi kesempatan kepada senapati Jipang itu mengatur anak buahnya menarik diri dari peperangan. Apalagi dibantu oleh Hudaya yang lebih cakap daripadanya mengatur pasukannya. Namun ternyata Sanakeling masih mampu juga, perlahan-lahan menarik seluruh pasukannya dengan teratur, meskipun beberapa kali mereka mengalami kesulitan. Satu-satu anak buahnya berjatuhan. Namun baginya tidak ada cara lain yang lebih baik. Cara itu adalah cara yang paling sedikit menyerahkan korban-korban di antara anak buahnya.

Agung Sedayu yang sedang dengan gigih bertempur melawan Sanakeling yang bertempur dengan olah-playu di dalam suasana yang paling mungkin dilakukan itu, tiba-tiba terkejut, ketika terjadi hiruk pikuk di belakangnya. Ketika ia berpaling, dilihatnya kilatan-kilatan tongkat baja putih di antara ujung senjata anak buahnya. Dalam cahaja matahari yang semakin rendah tongkat itu memantulkan sinarnya yang sudah menjadi kemerah-merahan.

Dada Agung sedayu berdesir. Ketika sekali lagi Sanakeling menarik diri jauh-jauh dari padanya, ia tidak mengejarnya. Bahkan kemudian ia terpaksa memperhatikan apakah yang terjadi dalam hiruk-pikuk itu.

Agung Sedayu melihat beberapa orang terpaksa menyibak. Hudaya yang terluka itupun terpaksa menjauh dari ayunan tongkat baja putih itu. Ia sama sekali tidak sekedar menyelamatkan nyawanya, tetapi dengan penuh kesadaran dan perhitungan, beberapa orang telah berusaha secara bersama-sama mengepung Macan Kepatihan yang sedang mengamuk.

“Hem, “desis Agung Sedayu. “Macan yang garang itu sampai di sayap ini pula.”

Sekali ia berpaling kepada Sanakeling. Betapa ia mengumpat di dalam hatinya. Sanakeling telah menjadi semakin jauh. Tanpa Agung Sedayu usahanya menjadi bertambah lancar. Berangsur-angsur ia membawa anak buahnya semakin jauh mendekati hutan yang berada tidak jauh lagi dari mereka.

Tetapi Agung sedayu tidak dapat membiarkan Macan Kepatihan merusak orang-orangnya di belakang garis peperangan. Karena itu, dengan serta merta ia meloncat surut dan langsung masuk ke dalam lingkaran pertempuran itu.

Macan Kepatihan melihat Senapati di sayap kanan itu. Dengan serta merta ia menyerangnya. Namun Agung sedayu berhasil menghindarinya. Bahkan dengan kelincahannya ia segera menyerangnya kembali.

Macan Kepatihan heran melihat kelincahan lawannya. Anak yang masih sangat muda ini. Tetapi hatinya yang telah menjadi semakin gelap telah mendorongnya untuk bertempur semakin garang.

Dalam pada itu, Untara dan Widura pun telah menjadi semakin dekat dengan lingkaran pertempuran antara Agung sedayu dan Macan Kepatihan yang lukanya telah menjadi arang kranjang.

Ketika mereka melihat, bahwa Agung Sedayu telah terlihat dalam pertempuran melawan Tohpati yang mengamuk itu, maka keduanya tertegun. Sesaat mereka berdua melihat, betapa Agung Sedayu mampu melawan Macan yang garang itu. Mereka melihat bahwa kelincahan dan ketangkasan anak muda itu benar-benar membanggakan. Namun dalam siasat dan tangguh, ternyata bahwa pengalaman Macan Kepatihan berlipat-lipat berada di atas Agung Sedayu.

Untara dan Widura tidak terlalu lama membiarkan Agung Sedayu bertempur sendiri melawan Tohpati, Mereka menyadari bahwa setiap gerak Macan Kepatihan mempunyai kemungkinan yang membahayakan jiwa Agung sedayu. Karena itu maka segera mereka berdua berloncatan maju.

Demikian Tohpati melihat Untara dan Widura, maka segera ia melepaskan lawannya yang masih muda itu. Dengan cepatnya ia mencoba menyusup kembali ke tengah-tengah lawan. Ketika sebuah goresan yang panjang menyilang di lambungnya. Macan Kepatihan sama sekali tidak menghiraukannya. Ternyata pedang Agung Sedayu masih sempat menyentuhnya, pada saat Tohpati berusaha menghindari Untara dan Widura. dan menambah segores lagi luka pada tubuh Senapati Jipang yang perkasa itu. Darah yang merah segera mengalir dari luka itu seperti darah yang mengalir dari luka-luka yang lain. Namun luka ini agaknya lebih dalam dari luka-luka yang telah lebih dahulu menghiasi tubuh Tohpati.

Untara dan Widura melihat usaha menghindar itu. cepat mereka berusaha memotong arah. Tetapi mereka terkejut, ketika mereka tiba, sebuah pedang yang besar, dengan derasnya menyambar tubuh Macan Kepatihan itu.

Macan Kepatihan pun terkejut. Tak ada waktu baginya untuk menghindar. Karena itu, maka segera dilawannya pedang itu dengan tongkatnya.

Terjadilah sebuah benturan yang dahsyat. Seolah-olah bunga api memercik ke udara dari titik benturan itu.

Pedang yang berat itu terpantul. Terasa tangan yang menggerakkannya bergetar. Seakan-akan perasaan pedih menjalar dari tajam pedangnya menyengat tangannya. Tetapi pedang itu tidak terlepas dari tangan seperti beberapa saat yang lampau. Pedang itu masih tetap dalam genggaman dan bahkan sesaat kemudian pedang itu telah terayun-ayun kembali.

Sekali lagi Tohpati terkejut. Setelah ia meninggalkan Agung sedayu ditemuinya pula seorang anak muda yang mengherankan baginya. Seorang anak muda yang memiliki kekuatan raksasa. Ternyata dalam benturan itu tangan Tohpatipun bergetar meskipun tongkatnya tidak terpantul seperti pedang yang menghantamnya. Anak muda itu adalah seorang anak muda yang gemuk bulat. Ketika Tohpati menatap wajah anak muda itu, tampaklah sekilas wajah itu menyeringai menahan pedih, namun sesaat kemudiam wajah itu telah tersenyum.

“He kelinci bulat, “teriak Tohpati, “kau ingin membunuh dirimu?”

Sambil tersenyum anak muda itu, yang tidak lain adalah Swandaru Geni menjawab, “Jumlah lukamu seperti bintang yang melekat di langit. Tanpa dapat dihitung lagi. Apakah kau masih akan bertempur terus.”

Macan Kepatihan tidak menjawab. Tongkatnya dengan kerasnya terayun ke kepala Swandaru. Swandaru yang telah dapat mengukur kekuatan Macan Kepatihan segera menghindar. Ia tidak berani melawan pukulan tongkat itu dengan pedangnya. Demikian tongkat itu meluncur beberapa jari saja dari kepalanya, pedangnya segera terjulur lurus-lurus ke lambung lawannya. Tohpati yang tidak dapat mengenai lawannya melihat pedang itu cepat ia meloncat surut. Namun kembali ia terkejut, Agung Sedayu telah berada disampingnya sambil menggerakkan pedangnya pula.

Cepat Macan Kepatihan melontarkan diri jauh-jauh. Ia berusaha menghindari setiap senapati Pajang. la hanya ingin menahan arus desakan pasukan lawannya atas pasukannya yang sedang mundur. Namun tak teraba apa yang tersembunyi di dalam hatinya. Berkali-kali terngiang di dalam dadanya, “Serangan ini akan merupakan serangan terakhir bagiku.”

Tohpati itupun kemudian mengayun-ayun tongkatnya sambil berloncatan di antara para prajurit Pajang. Kekacauan yang ditimbulkannya memang berpengaruh atas tekanan-tekanan pasukan Pajang. Sekali-sekali mereka terganggu pula karena hiruk pikuk yang ditimbulkan oleh amuk Tohpati.

Sanakeling yang melihat betapa senapatinya telah terluka arang kranjang menjadi berdebar-debar. Betapapun juga, terasa luka itu seperti luka pada tubuhnya sendiri. Karena itu, maka ia berteriak, “Raden, mundurlah. Kami akan melindungi.”

“Gila kau Sanakeling, “teriak Tohpati yang bertempur tidak demikian jauh dari Sanakeling yang sedang menyelamatkan anak buahnya. “Kalau kau gagal, kepalamu menjadi taruhan. Bukan kau yang melindungi kalian. Selamatkan orang-orangmu. Jangan keras kepala.”

Sanakeling tidak menjawab. Tetapi ia berdesah hati. Apalagi ketika dilihatnya Macan Kepatihan kemudian menjadi semakin lemah. Meskipun demikian, tandangnya justru menjadi semakin garang.

Laskar Jipang itu semakin lama menjadi semakin dekat dengan batas hutan. Di sana-sini telah bertebaran gerumbul-gerumbul liar. Ternyata keadaan medan telah memberikan sedikit perlindungan kepada sisa pasukan Jipang itu. Sesaat lagi mereka telah sampai ke batas hutan, dan sesaat lagi mataharipun akan tenggelam di bawah cakrawala. Tetapi waktu yang sesaat itu adalah waktu yang menentukan bagi Macan Kepatihan sendiri yang mati-matian mencoba melindungi anak buahnya sejauh-jauh yang dapat dilakukan.

Setiap kali goresan-goresan ditubuhnya itu bertambah-tambah juga. Setiap kali ia menghindari seorang Senapati Pajang, maka setiap kali ditemuinya Senapati yang lain, seakan-akan segenap jalan telah tertutup rapat baginya.

Untara, Widura, Agung Sedayu dan anak yang gemuk bulat itu. Anak yang mewakili anak-anak muda Sangkal Putung. Tidak seperti dalam pertempuran yang terdahulu, maka kini Swandaru telah memiliki bekal dari gurunya, Kiai Gringsing meskipun belum setinggi Agung Sedayu.

Macan Kepatihan melihat bahwa kemungkinannya untuk menghindar telah tertutup rapat-rapat. Tetapi ia melihat juga, bahwa pasukannya telah hampir mencapai ujung hutan dan bahkan ia melihat juga bahwa warna merah di langit sudah menjadi semakin suram.

Setiap pemimpin kelompok prajurit Pajang telah berusaha untuk memperlambat gerakan mundur pasukan Jipang. Tetapi setiap kali usaha mereka terganggu oleh hiruk pikuk yang ditimbulkan oleh Tohpati dan beberapa orang yang terlalu setia kepadanya. Meskipun satu demi satu orang-orang itu terpaksa menjadi korban. Namun beberapa langkah lagi, pertempuran itu telah sampai di batas hutan. Batas yang menentukan, bahwa pasukan Jipang telah berhasil dalam gerakan menghindarkan diri dari kehancuran mutlak meskipun untuk tujuan itu, korban harus berjatuhan.

***

Dalam pada itu Macan Kepatihan masih juga berjuang sekuat-kuat tenaganya. Dalam hiruk-pikuk yang semakin riuh, dalam ketegangan yang semakin memuncak sejalan dengan jarak hutan yang semakin pendek dan matahari yang semakin rendah, betapa Macan Kepatihan harus berjuang melawan prajurit-prajurit Pajang yang berkerumun di sekitarnya seperti semut mengerumuni gula. Namun sekali-kali lingkaran prajurit Pajang itu menebar apabila tongkat Tohpati terayun berputaran. Tetapi Widura, Untara, Agung Sedayu dan Swandaru tidak turut berpencaran mundur. Mereka siap menunggu setiap kemungkinan dengan pedang di tangan mereka. Setiap kali Macan Kepatihan meloncat ke salah seorang dari mereka, maka pedang di dalam genggaman menyambutnya dengan penuh gairah. Dan setiap kali pula tubuh Tohpati menjadi bertambah rapat dihiasi dengan luka-luka yang mengalirkan darahnya yang merah. Seakan-akan warna merah bara yang menyala.

Tetapi tubuh Tohpati itu adalah tubuh yang terdiri dari kulit daging dan tulang. Betapa besar tekad yang menyala di dalam dadanya, namun kekuatan tubuhnya ternyata sangat terbatas sebagai tubuh manusia biasa. Sehingga semakin lama, Macan yang garang itu pun menjadi semakin lemah, meskipun tekadnya sama sekali tidak surut.

Sumangkar menyaksikan semuanya itu dari jarak yang semakin dekat. Sumangkar sendiri kini berdiri dibatas hutan, di atas sebongkah batu padas. Sekali-sekali wajahnya menjadi tegang, dan sekali-sekali ia memalingkan wajahnya. Meskipun warna-warna senja telah menjadi suram, namun Sumangkar yang tua itu masih dapat menyaksikan betapa Macan Kepatihan mengamuk seperti harimau lapar. Tetapi di sekitarnya berdiri senapati-senapati Pajang, Untara, Widura, Agung Sedayu dan Swandaru. Meskipun keempat orang itu ternyata telah dikekang oleh kejantanan mereka sehingga mereka tidak bertempur berpasangan bersama-sama. Dan bahkan seakan-akan mereka menunggu dengan tekunnya, siapakah di antara mereka yang dipilih oleh Macan Kepatihan itu melawannya. Namun Tohpati tidak segera berbuat demikian. Ia masih saja berusaha untuk melepaskan dirinya dan berjuang di antara hiruk-pikuk pasukan-pasukan Pajang, meskipun ternyata usahanya sia-sia.

Tetapi tiba-tiba gerak Tohpati itu terhenti. Ditegakkannya lehernya tinggi-tinggi. Ia masih melihat pasukan yang bertempur itu susut seperti air yang tergenang dan tiba-tiba mendapatkan saluran untuk mengalir. Bahkan seolah-olah seluruh pasukan yang bertempur itu terhisap masuk ke dalam hutan. Hati Tohpati itu berdesir. Tiba-tiba terdengar ia berteriak, “Hei, apakah kalian berhasil?”

Tak ada jawaban. Tetapi dengan demikian Tohpati itu yakin bahwa pasukannya telah berhasil menyelamatkan diri ke dalam hutan itu. Apalagi matahari telah sedemikian rendahnya sehingga di dalam hutan itu pasti sudah menjadi semakin gelap.

Terdengarlah kemudian suara tertawa Tohpati itu meledak. Berkepanjangan seperti gelombang laut menempa pantai, beruntun bergulung-gulung berkepanjangan. Di antara derai tertawanya terdengar kata-katanya, “Bagus. Bagus. Kalian telah berhasil.”

Untara, Widura, Agung Sedayu dan Swandaru melihat pula pasukan Jipang yang berhasil melepaskan diri itu. Terdengar gigi mereka gemeretak. Hampir-hampir mereka berloncatan mengejar pasukan yang berlari itu. Tetapi kesadaran mereka, bahwa hal itu tidak akan berarti sama sekali, telah mencegah mereka. Dan bahkan kemudian mereka menyadari, bahwa di antara mereka masih berdiri senapati Jipang yang terpercaya, Macan Kepatihan.

Keempat senapati Pajang itu berdiri mematung. Ujung-ujung pedang mereka lurus-lurus terarah kepada Macan Kepatihan yang masih saja tertawa terbahak-bahak. Seakan-akan sama sekali tidak dilihatnya keempat Senapati yang berdiri mengitarinya. Untara, Widura, Agung Sedayu dan Swandaru itupun belum juga mengganggunya. Dibiarkannya Macan Kepatihan itu tertawa sepuas-puasnya. Baru ketika suara tertawa itu mereda, mereka berempat seperti berjanji maju beberapa langkah mendekati.

Tohpati itupun kemudian tersadar bahwa ia masih berada dalam kepungan. Apalagi terasa olehnya bahwa darahnya telah terlampau banyak mengalir. Namun ia adalah seorang Senapati. Karena itu dengan lantang ia berkata, “Ayo, inilah Macan Kepatihan. Majulah bersama-sama hai orang-orang Pajang.”

Untara mengerutkan alisnya. Ketika ia memandangi keadaan di sekelilingnya, dilihatnya beberapa orang prajurit masih berdiri mengerumuninya, selain mereka yang berusaha mengejar prajurit Jipang ke dalam hutan, yang pasti tidak akan banyak hasilnya. Tetapi dalam keadaan yang demikian, terasa seakan-akan ia tidak sedang berada dalam peperangan yang masing-masing telah memasang gelar yang sempurna. Kini, ia merasa seakan-akan ia berhadapan seorang dengan seorang. Untara dan Macan Kepatihan. Karena itu, maka Untara itupun melangkah maju sambil berkata, “Kakang Tohpati. Kalau Kakang bertempur seorang diri, maka salah seorang dari kamipun akan melayani seorang diri pula.”

Tohpati mengerutkan keningnya. Kemudian terdengar ia menggeram. Namun di dalam hatinya terbersitlah perasaan hormatnya kepada senapati muda ini. Dalam peperangan sebenarnya Untara dapat menempuh jalan lain untuk membunuhnya. Ia dapat memerintahkan setiap orang dan senapati bawahannya untuk membunuhnya beramai-ramai. Tetapi Untara tidak berbuat demikian. la masih menghargai nilai-nilai keperwiraan orang-seorang, sehingga betapa berat akibatnya, ia menyediakan diri untuk melakukan perang tanding.

Macan Kepatihan itu tidak segera menjawab. Perlahan-lahan ia memandang seorang demi seorang. Untara, Widura, Agung Sedayu dan Swandaru. Ketika mata Tohpati hinggap pada anak muda yang bertubuh bulat itu hati Untara menjadi berdebar-debar. Barulah disadari kesalahannya. la tidak dengan tegas menawarkan dirinya sendiri untuk menghadapi Tohpati, tetapi ia memberi kesempatan kepada Macan Kepatihan untuk memilih lawan. Apabila kemudian Macan Kepatihan itu memilih Swandaru atau Agung Sedayu sekalipun maka keadaan anak-anak muda itu pasti akan sangat mengkhawatirkan. Meskipun Tohpati sudah bermandikan darah karena luka-luka pada seluruh tubuhnya, namun tandangnya masih saja segarang Macan Kepatihan pada saat ia terjun di dalam arena peperangan itu.

Tetapi agaknya Swandaru sama sekali tidak menginsyafi bahaya itu. Ketika Tohpati memandangnya dengan tajamnya, anak muda itu tersenyum. Senyum yang hampir-hampir tak pernah hilang dari bibirnya. lakini sama sekali tidak takut menghadapi harimau yang garang itu. Bahkan ia ingin tahu, mencoba, sampai dimana kemampuannya setelah ia berguru kepada Kyai Gringsing.

Tetapi Tohpati bukan seorang yang licik. Ia tidak dapat merendahkan harga dirinya, sebagaimana Untara telah bersikap jantan pula kepadanya. Ia tahu benar, bahwa yang paling lemah dari mereka berempat adalah anak yang gemuk bulat itu. Tetapi dengan lantang ia menjawab, “Baik Adi Untara. Kalau kau menawarkan lawan, baiklah aku memilih. Orang yang aku pilih adalah Adi sendiri. Untara, senapati Pajang yang mendapat kepercayaan untuk menyelesaikan sisa-sisa pasukan Jipang di Lereng Gunung Merapi.”

Hati Untara berdesir mendengar jawaban itu. Sebagaimana Tohpati merasa hormat akan keputusannya untuk melakukan perang tanding, maka Untara pun menganggukkan kepalanya sebagai ungkapan perasaan hormatnya. “Terima kasih, “sambutnya. “Aku telah bersedia.”

Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Selangkah ia maju menghadap kepada Untara. Sementara Untara maju pula, mendekatinya. Dalam pada itu Untara masih sempat berbisik kepada Widura, “Paman, tariklah seluruh pasukan. Sangat berbahaya untuk bekejar-kejaran di dalam hutan yang kurang kita kenal.”

Widura mengangguk. Tetapi ia tidak mau meninggalkan perang tanding itu. Karena itu, diperintahkannya seorang penghubung untuk memukul tanda, dan memerintahkannya supaya Hudaya menghimpun kembali segenap pasukan.

Sementara itu, Untara kini telah siap menghadapi setiap kemungkinan. Tohpati pun telah berdiri dengan kaki renggang menghadapi senapati muda itu. Tongkatnya erat tergenggam di tangannya yang telah basah oleh darah. Seleret-seleret warna merah tergores pula pada tongkat baja putihnya. Pada saat-saat tongkat itu menyambar kening lawan, maka darah yang terpercik daripadanya pasti membasahi tongkatnya pula.

“Ayo, mulailah Untara. Senja telah hampir menjelang kelam. Kita selesaikan, persoalan di antara kita sebelum malam, “geram Tohpati.

Untara tidak menjawab. Ia melangkah selangkah lagi maju. Pedangnya segera menunduk tepat mengarah kedada lawannya. Dalam pada itu, Tohpati tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia meloncat menyerang dengan sebuah ayunan tongkat baja putihnya. Meskipun lukanya arang kranjang, namun kecepatannya bergerak masih belum susut barang serambutpun.

Untara yang telah bersiap menghadapi kemungkinan itu, dengan cepatnya menghindarkan diri. Bahkan pedangnyapun segera terjulur mematuk lambung. Namun Tohpati masih sempat pula mengelakkan dirinya.

Demikianlah kini mereka terlihat dalam perang tanding yang dahsyat. Tohpati memeras ilmunya dalam kemungkinan yang terakhir. Disadarinya bahwa Untara adalah seorang senapati yang pilih tanding. Dalam keadaan yang sempurnapun ia tidak akan dapat mengalahkannya, apalagi kini. Darahnya telah menetes dari luka, dan keringatnyapun seolah-olah telah kering terperas. Tetapi ia adalah seorang senapati besar yang sadar akan kebesaran dan harga dirinya sebagai seorang laki-laki jantan.

Meskipun senja telah menjadi semakin suram namun Sumangkar masih dapat melihat apa yang terjadi ditengah-tengah arena itu. Ia melihat dari daerah yang lebih kelam karena dedaunan. Bahkan kemudian iatidak puas melihat peristiwa itu dari tempatnya.

Tiba-tiba ia melompat turun dari bongkahan batu padas itu dan menyusur tepi hutan yang kegelapan maju semakin dekat. Di belakangnya Kyai Gringsing selalu mengikutinya. la tidak ingin melepaskan Sumangkar. Kalau-kalau orang itu berbuat sesuatu dengan tiba-tiba. Tetapi ternyata Sumangkar itu tidak langsung menuju ke arena. Beberapa langkah ia berhenti, dan kembali ia mencari tempat yang agak tinggiuntuk menyaksikan perkelahian antara Macan Kepatihan dan Tohpati. Sedang Kyai Gringsing pun tidak kalah nafsunya untuk melihat pertempuran itu, sehingga kemudian ia berdiri tepat di belakang Sumangkar.

Dengan tegangnya Sumangkar mengikuti perkelahian itu. Selangkah demi selangkah dinilainya dengan seksama. Ia sama sekali tidak memperdulikan hiruk-pikuk para prajurit Pajang yang sedang berhimpun kembali, tidak jauh di hadapannya, namun para prajurit Pajang itupun sama sekali tidak memperhatikannya, karena ujung malam yang turun perlahan-lahan, seperti kabut yang hitam merayap dari langit merata keseluruh permukaan bumi.

Tetapi pertempuran antara Macan Kepatihan dan Untara masih berlangsung terus. Semakin lama semakin dahsyat. Sedang Sumangkar yang menyaksikan pertempuran itupun menjadi semakin tegang.

Tiba-tiba ketegangan Sumangkar itupun memuncak. Kini ia berdiri di atas ujung kakinya dan dijulurkannya lehernya, supaya ia dapat melihat semakin jelas.

“Oh, “desahnya kemudian. Suaranya seolah-olah tersekat di kerongkongan, dan darahnya serasa berhenti mengalir. Diangkatnya kedua belah tangannya menutup wajahnya. Perlahan-lahan ia berpaling. Gumamnya perlahan-lahan dengan suara parau, “Raden.”

Kyai Gringsingpun melihat apa yang terjadi. Ia melihat Tohpati menyerang dengan kekuatannya yang terakhir. Namun tubuh Untara yang masih segar sempat menghindarinya, tetapi ujung pedangnya dijulurkannya lurus-lurus tepat mengarah ke lambung lawannya. Tohpati yang sudah menjadi semakin lemah, kurang tepat memperhitungkan waktu. Ia terdorong oleh kekuatannya sendiri, dan langsung lambungnya tersobek oleh pedang Untara. Terdengar Tohpati menggeram pendek. Selangkah ia surut. sebuah luka yang dalam menganga pada lambungnya.

Betapa kemarahannya membakar jantungnya, namun tiba-tiba tarasa tulang-tulangnya seolah-olah terlepas dari tubuhnya. Meskipun demikian tanpa disadari oleh Untara, Macan Kepatihan melontarkan tongkatnya secepat petir menyambar di udara. Betapa Untara terkejut melihat sambaran tongkat baja putih berkepala tengkorak itu.

***

Dengan kecepatan yang mungkin dilakukan ia merendahkan dirinya dan berusaha memukul tongkat itu dengan pedangnya. Tetapi demikian cepatnya sehingga ia tidak dapat melakukannya dengan sempurna.

Pedangnya berhasil menyentuh kepala tongkat itu, tetapi dengan demikian ujung yang lain menyadi oleng dan dengan kerasnya memukul kening Untara.

Untara yang sedang merendahkan diri itu terdorong mundur, dan sesaat ia kehilangan keseimbangan. Dengan kerasnya ia terbanting jatuh. Beberapa kali ia berguling. Matanya terasa menjadi gelap dan kepalanya menyadi sangat pening. Seakan-akan sebuah bintang di langit telah jatuh menimpanya. Namun ia masih cukup sadar. Ia sadar bahwa lawannya, Macan Kepatihan masih tegak berdiri di hadapannya. Karena itu cepat ia memusatkan kekuatannya dan meskipun dengan tertatih-tatih ia mencoba berdiri, bersiaga menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi atasnya. Tetapi kini ia sudah tidak menggenggam pedang lagi. Pedangnya terpelanting dari tangannya, pada saat ia jatuh berguling di tanah.

Meskipun demikian terasa kening Untara masih sedemikian sakitnya. Bintik-bintik putih seolah-olah berterbangan di dalam rongga matanya. Beratus-ratus bahkan beribu-ribu. Karena itu maka dengan sekuat tenaganya, ia mencoba untuk menembus keremangan ujung malam dengan pandangan matanya yang kabur.

Untara itu melihat Tohpati maju selangkah mendekatinya. Namun tiba-tiba ia terhuyung-huyung. Sesaat kemudian Macan yang garang itu terjatuh pada lututnya dan mencoba menahan tubuhnya dengan kedua tangannya.

Untara masih tetap berdiri di tempatnya. Sekilas matanya menyambar orang-orang yang berdiri mengitarinya. Widura, Agung Sedaju, Swandaru Geni dan kini beberapa orang lain telah hadir pula. Ki Demang Sangkal Putung dan beberapa orang pemimpin kelompok. Ketika ia kembali memandangi Tohpati, maka dilihatnya orang itu menjadi semakin lemah.

Sesaat tepi hutan itu dicengkam oleh kesepian. Kesepian yang tegang. Desir angin di dedaunan terdengar seperti tembang megatruh yang menawan hati. Sayup-sayup di kejauhan suara burung hantu terputus-putus seperti sedu sedan yang pedih, sepedih hati biyung kehilangan anaknya di medan peperangan.

Dalam kesenyapan itu, tiba-tiba terdengar suara Tohpati bergetar di antara desah angin malam yang lirih, “Adi Untara, aku mengakui kemenanganmu.”

Dada Untara berdesir mendengar suara itu. Bukan saja Untara, tetapi juga Widura, Agung Sedaju, Swandaru, Ki Demang Sangkal Putung dan beberapa orang yang lain. Namun di antara mereka yang paling dalam merasakan sentuhan suara itu adalah Untara sendiri, sehingga justru sesaat ia diam mematung. la tersadar ketika sekali lagi Tohpati berkata dengan suaranya yang parau dalam, “Aku mengucapkan selamat atas kemenangan ini Adi Untara.”

Untara tidak dapat menahan hatinya lagi mendengar pengakuan yang jujur itu. Pengakuan dari seorang Senapati jantan dari Jipang. Karena itu, maka beberapa langkah ia maju mendekati Macan Kepatihan yang sudah menjadi sangat lemas.

“Kakang Tohpati…, “ terdengar suara Untara patah-patah, “maafkan aku.”

Tohpati menggeleng, “Jangan berkata demikian Untara. Berkatalah dengan nada seorang Senapati yang menang dalam peperangan. Supaya aku puas mengalami kekalahan ini.”

Untara terdiam. la tidak tahu apa yang akan diucapkannya. Karena itu kembali ia mematung. Matanya tajam-tajam menembus malam yang semakin gelap, hinggap pada tubuh yang sudah menjadi kian lemah dan lemah.

Perlahan-lahan Tohpati terduduk di tanah. Bahkan kemudian terdengar ia menggeram, “Aku akan mati.”

Untara maju selangkah lagi. Ia melihat dengan wajah yang tegang Tohpati menjatuhkan dirinya, terlentang sambil menahan desah yang kadang-kadang terlontar dari mulutnya.

Sumangkar melihat Tohpati itu terbujur di tanah, diam hatinya terasa menyadi sangat pedih. Anak itu bukan anaknya, bukan muridnya, tetapi ia telah berada dalam satu lingkungan yang sama-sama dialami. Pahit, manis dan lebih-lebih lagi ia adalah murid saudara seperguruannya. Harapan sebagai penerus ilmu perguruan Kedung Jati. Tetapi anak itu kini terbujur dengan darah yang mengalir dan luka-lukanya yangarang kranjang. Darah Sumangkar itupun tiba-tiba bergelora. Dengan tangkasnya la meloncat turun dari bongkahan batu padas sambil menggeram, “Celaka aku, Kyai…”

Kyai Gringsing terkejut melihat sikap itu, sehingga untuk sesaat ia masih berdiam diri. Namun lamat-lamat ia melihat wajah Sumangkar yang kosong memancarkan perasaan putus asa.

“Kyai, “berkata Sumangkar pula, “tak ada yang menahan aku untuk hidup terus. Karena itu, marilah kita membuat perhitungan terakhir. Perhitungan orang-orang tua.”

Kyai Gringsing menarik nafas dalam-dalam, tetapi ia belum beranjak dari tempatnya. Bahkan ia masih sempat berpaling dan melihat Untara, Widura, Agung Sedaju dan Swandaru beserta beberapa orang lain berlutut di samping Macan Kepatihan yang nafasnya seakan-akan tinggal tersangkut di ujung kerongkongannya.

“He Kyai, “panggil Sumangkar, “turunlah. Kita bertempur seorang lawan seorang. Antarkan aku menemani Angger Macan Kepatihan”

Sekali lagi Kyai Gringsing memandangi orang-orang yang berdiri mengerumuni Macan Kepatihan dan orang yang berlutut di sekitarnya. Ternyata tak seorangpun di antara mereka yang mendengar kata-kata Sumangkar, sehingga mereka berdua masih tetap belum dilihat oleh mereka. Namun Kyai Gringsing masih belum bergerak. Tetapi ia menjadi kian berhati-hati. Ketika dilihatnya Sumangkar menggenggam tongkatnya semakin erat pada pangkalnya siap untuk digunakannya.

Dan apa yang disangkanya itu terjadi. Ketika Kyai Gringsing tidak juga mau turun dari bongkahan batu padas, tiba-tiba Sumangkar berkata, “Baiklah kalau Kyai tidak mau mulai. Aku yang akan mulai. Terserahlah kepadamu apakah kau bersedia untuk melawan dan membunuhku, atau aku yang akan membunuhmu.”

Sumangkar tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia meloncat dan mengayunkan tongkatnya menyambar lutut Kyai Gringsing. Tetapi Kyai Gringsing telah bersiaga. Segera ia meloncat menghindar dan sekaligus melontar turun dari atas batu padas itu.

Namun Sumangkar tidak melepaskannya. Dengan sebuah loncatan yang panjang dan cepat ia mengejarnya. Seperti orang kerasukan, tongkatnya terayun-ayun deras sekali menyambar-nyambar. Seolah-olah iatelah kehilangan segenap perhitungan dan pikirannya yang bening seperti Macan Kepatihan sendiri.

Kyai Gringsingpun segera berloncatan menghindari. Dengan lincahnya ia melontar-lontarkan dirinya, menyusup disela-sela putaran tongkat baja putih berkepala tengkorak yang bergerak secepat itu. Tetapi Kyai Gringsing mampu bergerak melampaui kecepatan tongkat itu, sehingga berkali-kali ia masih saja dapat menghindari setiap serangan yang datang

Sumangkar benar-benar telah waringuten. Tongkatnya bergerak semakin lama semakin cepat, sehingga kemudian seolah-olah telah berubah menyadi gumpalan awan putih yang mengejar Kyai Gringsing kemana ia pergi. Gumpalan awan yang siap untuk menelannya dan menghancur-lumatkan.

Demikianlah maka serangan Sumangkar itu menyadi semakin lama semakin dahsyat seperti prahara yang mengamuk di padang-padang yang dengan dahsyatnya pula menghantam bukit-bukit dan lereng-lereng gunung. Namun Kyai Gringsing adalah lawan yang tangguh baginya. Dengan kecepatan yang melampaui kecepatan prahara, ia selalu mampu menghindari setiap serangan yang datang.

Betapapun kalutnya otak Sumangkar, namun ia bukanlah seorang yang mudah kehilangan harga diri dan kejantanan. Usianya yang telah lanjut itupun telah menuntunnya menjadi seorang yang dapat melikat sikap-sikap yang tidak wajar. Demikian pula kali ini. Beberapa kali ia mencoba meyakinkan dugaannya dengan memperketat serangan-serangannya atas Kyai Gringsing itu. Namun akhirnya ia yakin, bahwaKyai Gringsing menghadapinya dalam sikap yang tidak wajar. Orang itu sama sekali tidak pernah membalasnya dengan serangan-serangan, tetapi orang itu hanya sekedar menghindari serangan-serangannya yang bahkan dapat berakibat maut. Karena itu, maka betapapun gelap pikirannya, namun ia masih mampu untuk menilai sikap itu. Sehingga tiba-tiba ia menghentikan serangannya sambil berkata, “Kyai, kenapa Kyai tidak melawan? Kenapa Kyai hanya sekedar menghindar dan meloncat surut? Apakah menurut anggapan Kyai, Sumangkar tidak cukup bernilai untuk berdiri sebagai lawan Kyai?”

Kyai Gringsing menarik nafas. Dengan dahi yang berkerut-kerut ia menjawab, “Tidak. Sama sekali tidak. Aku menghargai Adi Sumangkar sebagai murid kedua dari perguruan Kedung Jati yang tak kalah nilainya dari Ki Patih Mantahun sendiri. Tetapi kini kau tidak sedang bertempur melawan Kyai Gringsing, sehingga karena itu aku tidak dapat melayanimu.”

“He, “Sumangkar terkejut. “Kenapa aku kau anggap tidak sedang bertempur melawan Kyai Gringsing?”

Kyai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Dijawabnya, “Adi Sumangkar. Ternyata kau tidak sedang bertempur, tetapi kini kau sedang membunuh dirimu karena itu aku tidak dapat menjadi alat untuk itu.”

Dada Sumangkar berdesir mendengar jawaban itu. Terasa sesuatu menyentuh langsung ke pusat jantungnya. Sekali terdengar ia menggeram, namun kemudian tangannya menjadi lemah. Tongkatnya kini tergantung lunglai pada tangan kanannya yang kendor. Perlahan-lahan terdengar ia bergumam, “Hem, Kyai menebak tepat. Aku memang sedang membunuh diri, dan aku mengharap Kyai dapat membantuku.”

Kyai Gringsing menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak Adi Sumangkar. Aku tidak dapat melakukannya.”

“Aku tidak peduli. Kalau Kyai tidak mau membunuhku, maka jangan menyesal kalau aku yang membunuhmu. Namun kata-kata Sumangkar itu sama sekali tidak meyakinkan. Tangannya masih tergantung lemah dan genggamannya atas senjatanya pun tidak bertambah erat.

“Adi Sumangkar, “berkata Kyai Gringsing. “Apakah keputusanmu itu sudah kau pertimbangkan baik-baik.”

“Tentu, “Sahut Sumangkar. “Keputusanku tidak akan dapat berubah.”

Kyai Gringsing memandangi wajah Sumangkar tajam-tajam. Meskipun malam telah menjadi semakin kelam namun terasa oleh Kyai Gringsing, bahwa pada wajah Sumangkar benar-benar terbayang keputus-asaan yang dalam.

“Adi, “berkata Kyai Gringsing, “kenapa kau akan membunuh dirimu?”

“Aku telah jemu melihat kehidupan Kyai, hidupku, hidup orang-orang Jipang dan hidup kita semua.”

“Apakah Adi sudah berpikir jauh? Mungkin Adi ingin menghindari kepahitan yang mencengkeram jantung Adi, namun dengan jalan yang sama sekali salah. Macan Kepatihan telah mati terbunuh dalam peperangan sebagai seorang jantan. Tetapi bagaimana kata orang dengan Sumangkar? Murid kedua dari perguruan Kedung Jati?”

“Aku mati dalam peperangan melawan seorang sakti bernama Kyai Gringsing.”

Kyai Gringsing menggeleng. “Tidak. Kesannya akan menjadi lain sekali. Sumangkar mati membunuh diri, itupun terserah kepadamu Adi. Tetapi aku tidak dapat mendengar orang lain mengatakan, Kyai Gringsing-lah yang telah melakukan itu. Tidak. Aku bukan alat untuk membunuh diri.”

“Tak ada orang yang mengetahui, bahwa kau membunuh aku pada saat hatiku gelap.”

“Ada.”

“Siapa?”

“Hatiku sendiri”

“Persetan!” geram Sumangkar. “Terserah kepadamu. Kalau kau tidak mau, maka aku akan membunuhmu.”

“Aku akan lari meninggalkan tempat ini sejauh-jauhnya. Kau pasti tidak akan dapat mengejar aku. Dan aku akan bersembunyi sampai terdengar kabar, bahwa Sumangkar telah mati. Entah ia membunuh diri, entah ia mati dikeroyok orang.”

Kembali dada Sumangkar menjadi bergelora. Terasa bahwa kata-kata Kyai Gringsing itu menyentuh langsung ke pusat jantungnya, sehingga karena itu ia diam sesaat mencoba memandangi wajah Kyai Gringsing yang seolah-olah ditabiri oleh sebuah selaput yang kelam.

Yang terdengar kemudian adalah suara Kyai Gringsing kembali, “Adi Sumangkar. Daripada Adi sibuk membunuh apakah tidak lebih baik Adi mencoba melihat, apakah Raden Tohpati itu masih hidup ataukah benar-benar sudah mati?”

“Tak ada gunanya, “geram sumangkar.

“Mungkin ada. Kalau ia masih hidup ia akan dapat memberi pesan kepada Adi.”

“Kalau ia sudah mati?”

“Adi akan dapat mengurusnya. Menguburkannya dengan baik sebagai murid dari kakak seperguruanmu.”

Kembali Sumangkar terdiam. Namun tiba-tiba ia berkata, “Apakah Untara akan mengijinkan aku mendekatinya?”

“Aku sangka ia tidak akan berkeberatan.”

“Apakah Kyai yakin?”

“Ya.”

“Kalau ia menolak kehadiranku, maka aku akan tersinggung sekali karenanya. Padahal aku sama sekali tidak ingin membunuh lagi. Bahkan aku ingin terbunuh oleh siapapun.”

“Marilah kita pergi bersama.”

Sumangkar mengerutkan keningnya. Namun Kyai Gringsing seakan-akan tidak mempedulikannya lagi. Ia berjalan ke arah orang-orang yang berkerumun itu sambil bergumam, “Marilah Adi.”

Sumangkar menjadi ragu-ragu sesaat. Tetapi kemudian iapun melangkah di samping Kyai Gringsing, berjalan ke arah Macan Kepatihan terbaring.

Ketika kemudian beberapa orang mendengar langkahnya, mereka menjadi terkejut. Mereka segera bersiaga. Tetapi dalam pada itu terdengar Kyai Gringsing berkata “Aku, Tanu Metir.”

“Oh, “desah beberapa orang.

Untara, Agung Sedayu dan orang-orang lainpun mendengar suara itu. Serentak mereka mengangkat kepala mereka dan mencoba mengetahui arah suara yang melontar dari luar lingkaran orang-orang yang sedang berkerumun.

“Apakah itu Kyai Tanu Metir?” bertanya Untara.

“Ya, “sahut suara itu.

“Kyai datang tepat pada waktunya, “berkata Untara itu kemudian.

Kyai Gringsing sama sekali tidak tahu maksud kata-kata itu. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Ia berjalan langsung manerobos beberapa orang yang menyibak, memberinya jalan. Namun beberapa orang itu bertanya-tanya di dalam hati mereka, siapakah orang yang berjalan bersama ki Tanu Metir itu?

Demikian Agung Sedayu dan Swandaru melihat kedatangan Kyai Gringsing beserta Sumangkar, segera mereka berdiri. Diamatinya orang itu, dan terasa bahwa mereka pernah melihatnya.

Namun yang pertama-tama menyebut namanya adalah Agung Sedayu. Dengan nada yang penuh kebimbangan ia berkata, “Apakah paman ini paman Sumangkar?”

Sumangkar mengerutkan keningnya. Sekali ia berpaling memandang wajah anak muda itu dan kemudian jawabnya, “Ya Ngger. Aku adalah Sumangkar.”

Dalam pada itu tanpa sesadarnya Untara pun segera meloncat berdiri. Selangkah ia surut. Ditatapnya wajah itu dengan tajamnya. la pernah mengenalinya dahulu, sebeum terjadi persoalan antara Jipang dan Pajang, meskipun hanya sepintas. Tetapi bersamaan dengan pecahnya Jipang orang itupun kemudan menghilang. Baru kemudian didengarnya, babwa orang itu datang pada saat Macan Kepatihan hampir menghembuskan nafasnya yang terakhir. Kenapa ia tidak datang bersama pasukannya seperti yang mereka perhitungkan sejak semula?

Tetapi ketika Untara melihat kehadiran ki Tanu Metir bersama Sumangkar, maka hatinya menjadi agak tenang. Meskipun demikin ia masih tetap berdiri kaku di tempatnya.

Melihat kecurigaan Uptara, Sumangkar menarik nafas panjang-panjang. Timbullah kembali kecemasannya, seandainya tiba-tiba Untara itu mengusirnya, atau bahkan mencobanya untuk menangkap? la sama sekali sudah tidak berhasrat untuk bertempur, apalagi membunuh seseorang. Namun apabila hatinya tersinggung, maka hal itu akan dapat terjadi. Tetapi kemudian disadarinya bahwa Kyai Gringsing berdiri disampingnya. Maka apabila terjadi demikian, ia mengharap Kyai Gringsing akan membunuhnya saja.

Sesaat mereka dicengkam oleh kebekuan yang tegang. Masing-masing saling berpandangan dengan penuh kecurigaan.

Kebekuan itupun kemudian dipecahkan oleh sebuah gumam perlahan sekali. “Siapakah yang datang?” suara itu adalah suara Tohpati.

Semua berpaling kepada yang terbaring diam. Hanya dadanya saja yang masih tampak bergelombang, menghembuskan nafas yang tidak teratur lagi.

Yang menjawab pertanyaan itu adalah Sumangkar. “Aku Raden, pamanmu Sumangkar.”

“O, “desah Tohpati, “apakah paman dapat mendekati aku?”

Sumangkar menjadi ragu-ragu. Ditatapnya wajah Untara, seolah-olah ia meminta ijin kepadanya.

Untarapun tidak segera mengatakan sesuatu. Seperti Sumangkar ia menjadi ragu-ragu. Bahkan kemudian ia berpaling kepada Ki Tanu Metir. Dalam keremangan malam ia melihat Ki Tanu Metir menganggukkan kepalanya, sehingga Untara itupun kemudian berkata, “Silahkan, Paman.”

“Terima kasih Ngger,” gumam Sumangkar, yang kemudian berjongkok di samping Macan Kepatihan.

Untara, Widura, Agung Sedayu, Swandaru dan beberapa orang lain masih berdiri di tempatnya. Mereka sadar bahwa Sumangkar adalah seorang yang tidak dapat diduga-duga kesaktiannya. Kalau tiba-tiba sajaia menggerakkan tongkat baja putihnya, maka akibatnya tidak dapat dibayangkan. Meskipun ada di antara mereka itu seorang yang bernama Kyai Gringsing, namun Kyai Gringsing pun pasti memerlukan waktu untuk mengatasi keadaan. Sedang dalam waktu yang tiba-tiba itu, pasti sudah jatuh korban di antara mereka.

Di samping Sumangkar itu, kemudian mereka melihat Kyai Gringsing berjongkok pula. Dengan saksama diamat-amatinya tubuh Tohpati yang arang kranjang itu.

“Paman Sumangkar, “ terdengar suara Macan Kepatihan perlahan-lahan sekali.

Sumangkar itu menggeram. Tiba-tiba terasa tenggorokannya menjadi kering, ketika dilihatnya luka-luka yang tiada terhitung di tubuh murid kakak seperguruahnya itu. “Angger, “desisnya, “lukamu tiada terhitung jumlahnya. Kau telah berjuang untuk melindungi seluruh anak buahmu dengan mengorbankan dirimu sendiri.”

Macan Kepatihan mencoba untuk memperbaiki pernafasannya. Tetapi terasa bahwa nafas itu semakin lemah.

Dalam pada itu tiba-tiba terdengar suara Untara di belakang Kyai Gringsing, “Kyai, apakah Kyai masih melihat kemungkinan untuk mengobati kakang Tohpati?”

Kyai Gringsing mengerutkan keningnya. Namuh sebelum menjawab terdengar suara lemah Macan Kepatihan, “Tak ada gunanya. Tak akan ada gunanya, karena aku sudah terlalu lemah. Bahkan seandainya mungkinpun, maka kesembuhanku akan berakibat tidak baik bagi keadaan.”

“Kenapa?” bertanya Untara.

“Kematianku adalah akhir daripada bencana yang menimpa rakyat Demak. Aku adalah sisa terakhir dari senapati yang mendapat kepercayaan para prajurit Jipang. Sepeninggalku aku mengharap bahwa mereka akan membuat pertimbangan-pertimbangan. Bukankah begitu paman Sumangkar?”

Sumangkar menganggukkan kepalanya. Jawabnya singkat, namun meluncur dari dasar hatinya. “Ya Ngger.”

“Baik. Baik, “Macan Kepatihan meneruskan. Suaranya menjadi semakin lambat, sedang nafasnya menjadi semakin tak teratur. Kepada Untara kemudian ia berkata, “Adi Untara. Di manakah kau?”

Untara itu melangkah maju. la sudah lupa akan setiap bahaya yang mengancamnya, apabila Sumangkar itu berbuat hal-hal di luar dugaan. Kini ia berjongkok dekat di samping kepala Macan kepatihan.

“Adi Untara, kau benar-benar seorang kesatria. Kau mampu melupakan dendam atas seseorang yang menghadapi saat-saat kematiannya. Jarang orang dapat berbuat seperti kau ini.”

Untara tidak menjawab. Dan didengarnya suara Macan kepatihan terputus-putus, “Paman Sumangkar tidak bersalah. Orang itu tidak pernah turut bertanggung-jawab dalam segala gerak dan perbuatan pasukan Jipang. Karena itu aku minta maaf untuknya.”

Untara menganggukkan kepalanya pula. Dari mulutnya demikian saja meluncur jawabnya, “Ya. Paman Sumangkar tidak turut bertanggung-jawab.”

“Seluruh tanggung-jawab ada padaku Adi.”

“Ya, “sahut Untara.

“Angger, “tiba-tiba Sumangkar memotong, “biarlah kita berbagai tanggung-jawab. Kenapa aku tidak ikut bertanggung-jawab pula atas segalanya yang telah terjadi?”

“Jangan membantah paman, “sahut Macan Kepatihan. “Ini adalah kata-kataku terakhir.”

Sumangkar tertegun. Tetapi ia tidak berkata apapun. Dan didengarnya kemudian suara Macan kepatihan terputus-putus, “Paman. Adakah paman dapat membantu aku?”

“Tentu Ngger, tentu, “sahut Sumangkar cepat-cepat.

“Terima kasih, Paman. Paman akan sudi menguburkan mayatku, apabila Adi Untara tidak berkeberatan. Mudah-mudahan kematianku menjadi pertanda bahwa tidak ada gunanya perselisihan ini akan berlangsung terus.”

Tohpati mencoba menarik nafas dalam-dalam, namun ia menjadi semakin lemah, semakin lemah. Getar darahnya pun semakin lama semakin menjadi lemah pula. Ketika ia mencoba memandangi orang-orang yang berdiri di sekelilingnya, maka yang dilihatnya hanyalah bayangan-bayangan hitam yang tidak dapat dikenalnya lagi.

“Paman, “desisnya.

Sumangkar beringsut maju semakin dekat. Dirabanya tangan Macan Kepatihan yang menjadi bertambah dingin.

“Adi Untara, “panggilnya lambat.

Untara pun berkisar pula ke samping Sumangkar.

Agaknya Tohpati ingin minta kepada mereka. Tetapi nafasnya menjadi semakin lamban.

“Angger, “panggil sumangkar.

Terasa tangan Tohpati bergetar, dan mulutnya berdesis. Sumangkar segera meletakkan telinganya ke bibir murid kakak seperguruannya itu, dan didengarnya kata-kata terakhir. “Mudah-mudahan Tuhan mengampuni aku.”

“Mohonlah Ngger. Mohonlah ampun.”

Tetapi Tohpati sudah tidak mampu menjawab. Kini matanya sudah berpejam dan nafasnya menjadi kian lemah. Sesaat kemudian tangannya tergerak sedikit dan nafasnyapun berhentilah untuk selama-lamanya.

“Angger, “desis Sumangkar.

Tetapi Tohpati tidak lagi dapat menyahut. Ketika Sumangkar itu kemudian yakin bahwa Macan Kepatihan yang garang itu sudah tidak dapat mendengar panggilannya, tiba-tiba ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Terasa sesuatu bergelora di dalam dadanya. Nafasnya sendiri serasa akan putus pula seperti nafas Macan Kepatihah itu.

Sumangkar yang tua itu terkejut sendiri ketika terasa setetes air jatuh ke tangannya. “Hem, “ia menarik nafas dalam-dalam. “Anak, ini telah pergi mendahului aku.”

Suasana di pinggir hutan itu kemudian menjadi hening. Daun-daun pepohonan seolah-olah menundukkan tangkai mereka, dan angin berhenti berhembus. Di kejauhan terdengar suara burung hantu menyentuh ulu hati. Ngelangut.

***

Mereka semuanya tersentak ketika mereka mendengar guruh meledak di udara, didahului oleh cahaya kilat yang memercik sekilas. Seperti berjanji mereka menengadahkan wajah-wajah mereka menatap langit. Dan kembali mereka terkejut ketika mereka melihat awan yang kelam menggantung di langit. Mendung yang seakan-akan siap untuk meluncur turun ke permukaan bumi.

“Adi Sumangkar, “terdengar suara Kiai Gringsing, “bagaimana dengan Angger Macan Kepatihan?”

“Aku akan mencoba memenuhi pesannya, Kiai, apabila Angger Untara mengijinkannya.”

“Silahkan Paman, “sahut Untara.

“Aku akan segera kembali. Dan aku menunggu keputusan Angger atas diriku.”

Untara menggigit bibirnya. Kemudian katanya, “Paman telah menunjukkan kesediaan Paman untuk tidak lagi berbuat hal-hal yang bakal merugikan Pajang. Karena itu, berdasarkan pertimbangan-pertimbangan bahwa Paman tidak turut serta bertanggung-jawab atas segala tingkah laku pasukan Jipang, maka aku akan mencoba memohonkan ampun untuk Paman Sumangkar.”

Tiba-tiba Sumangkar menggelengkan kepalanya, katanya, “Aku tidak ingin belas kasihan. Aku tidak ingin mengingkari tanggung-jawab yang betapapun beratnya, yang akan turut menentukan hukuman atasku.”

Untara mengerutkan keningnya. Katanya, “Lalu apakah arti kata-kata Macan kepatihan pada saat terakhir ini?”

“Ia ingin membebankan kesalahan pada dirinya sendiri.”

“Kalau begitu Paman tidak ingin mengakui kebenaran kata-katanya. Sehingga Paman menolak setiap pemaafan?”

“Aku tidak ingin mendapatkan belas kasihan itu.”

“Kalau begitu apa maksud Paman sebenarnya? Apakah Paman akan mengambil alih pimpinan dari tangan Macan Kepatihan?” desak Untara.

Tiba-tiba Sumangkar berdiri. Dipandanginya wajah Untara yang telah berdiri pula di hadapannya.

“Angger, “berkata Sumangkar yang hatinya sedang kelam seperti kelamnya langit. “Aku telah berkata bahwa aku akan kembali dan akan menerima semua hukuman yang akan ditimpakan kepadaku. Kau tidak percaya? Apakah kau akan mencoba menangkap Sumangkar sekarang?”

“Paman,” terdengar suara Untara menjadi semakin berat. Sebagai seorang senapati muda maka ia tidak segera dapat mengatasi gelora di dalam dadanya sendiri. Hatinya benar-benar tersinggung ketika ia mendengar penolakan Sumangkar atas tawarannya untuk mendapatkan keringanan hukuman dan pengampunan atas kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya. Karena itu sebagai seorang pengemban tugas ia berkata, “Aku adalah Senapati Pajang yang mendapat kepercayaan di daerah ini. Aku telah mencoba melihat kebenaran dan kealpaan pada tempatnya sendiri-sendiri. Tetapi penolakan Paman sangat menyakitkan hati. Karena itu apakah aku harus meneruskan tindakan pengamanan dengan cara yang telah aku tempuh sampai saat ini terharap Macan Kepatihan?”

Sumangkar itu mundur selangkah. Tiba-tiba digenggamnya tongkat baja putihnya erat-erat. Dengan tajamnya dipandanginya wajah Untara. Dari sela-sela bibirnya yang gemetar ia berkata, “Baik. Kalau itu yang kau inginkan Ngger. Silahkan. Aku bersedia menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi atasku. Umurku sudah lanjut, dan aku sudah jemu untuk melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk dimuka bumi ini. Karena itu, marilah. Apa yang akan kau lakukan atasku.”

Untara pun tiba-tiba menggeram. Dari matanya seolah-olah memancar api kemarahan. Ia adalah senapati Pajang yang berwenang untuk melakukan kebijaksanaan di daerah ini. Karena itu, maka tanpa sesadarnya, ia memandang berkeliling. Kepada Widura, Agung Sedayu, Swandaru, dan kepada para pemimpin-pemimpin kelompok pasukannya.

Sambaran mata Untara itu, seakan-akan merupakan perintah bagi mereka, bagi Widura, Agung Sedayu, Swandaru dan semua orang yang berdiri mengitari mereka serentak mereka bersiaga dan serentak pedang-pedang mereka siap untuk menerkam Sumangkar yang berdiri di tengah-tengah lingkaran manusia itu.

Tiba-tiba dalam ketegangan yang memuncak itu, terdengarlah suara tertawa. Perlahan-lahan, namun nadanya seakan-akan menghantam dinding jantung.

Suara itu adalah suara Ki Tanu Metir, yang masih saja berada di tempatnya. Namun kini iapun telah berdiri, menghadap ke arah Sumangkar. Diantara suara tertawanya yang perlahan-lahan itu terdengar ia berkata, “Adi Sumangkar yang bijaksana. Apakah sebenarnya yang akan kau lakukan? Apakah kau masih ingin membunuh dirimu? Barangkali cara inipun akan dapat kau tempuh. Mati dikeroyok orang. Apakah cara ini juga dapat memberi kepuasan kepadamu?”

“Tidak. Aku hanya bersedia mati oleh tangan Kiai Gringsing yang cukup bernilai bagiku. Bukan karena tangan anak-anak ataupun siapa saja. Sumangkar akan bertahan sampai kesempatan yang terakhir. Kecuali kalau kau ikut serta dengan mereka. “

Kembali suara tertawa Kiai Gringsing mengumandang di pinggiran hutan itu, seolah-olah menelusur sampai ke kaki bukit. Katanya, “Untara. Naluri keprajuritan Adi Sumangkar masih terlalu tebal. la melihat murid kakak seperguruannya mati karena tusukan pedang. Ia melihat Macan Kepatihan bukan saja sebagai senapati yang dibanggakannya, tetapi Raden Tohpati adalah penerus dari perguruan Kedung Jati. Itulah sebabnya ia merasa kehilangan. Perasaan itu sedemikian menusuk hatinya, sehingga betapapun mengendapnya hati Adi Sumangkar, namun kadang-kadang ia kehilangan keseimbangan dalam kejutan yang tiba-tiba semacam ini. Harga dirinya sama sekali tidak tersentuh seandainya Macan Kepatihan itu tidak lebih dan tidak kurang dari panglima perangnya saja. Tetapi karena Macan kepatihan itu bersangkut-paut dengan perguruannya, maka ternyata sentuhan itu agak terlalu tajam baginya.”

Untara mendengar penjelasan itu, kata demi kata. Baginya apa yang dikatakan oleh Kiai Gringsing itu cukup jelas. Tidak lain adalah permintaan yang serupa seperti yang telah diucapkan. Pengampunan. Namun ternyata Kiai Gringsing mengucapkan dalam nada yang berbeda. Meskipun demikian, ia masih tetap berdiri tegak dengan pedang di dalam genggamannya siap untuk bertindak apabila keadaan memaksa.

Namun bagi Sumangkar, kata-kata Kiai Gringsing itu benar-benar telah melemahkan segala sendi tulangnya. Ia merasa seolah-olah dihadapkan pada sebuah cermin yang besar untuk melihat dirinya sendiri. Kegugupan, kegelisahan, kecemasan, harga diri, putus-asa dan segala perasaan bercampur baur sehingga ia tidak menemukan keserasian nalar dan perasaan. Tiba-tiba orang tua itu menundukkan kepalanya. Ia sadar, bahwa Kiai Gringsing pun telah mencoba meredakan kemarahan Untara dan mencoba mencegah ia untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menyulitkan keadaan.

Sesaat suasana kembali menjadi sepi-senyap. Kembali di kejauhan terdengar suara burung hantu seperti mengetuk-ngetuk dada. Dan malampun serasa bertambah dalam.

“Adi sumangkar, “kembali terdengar suara Kiai Gringsing. “Bagaimana kalau aku ulangi kata-kata Macan Kepatihan? Bahwa sepeninggalnya perselisihan akan tidak berlangsung terus?”

Sumangkar menganggukkan kepalanya. Jawabnya lirih, “Ya, Kakang.”

“Nah, sekarang marilah kita singkirkan perasaan harga diri kita masing-masing yang terlalu berlebih-lebihan. Sekarang lakukan yang kau kehendaki. Menguburkan Tohpati dengan baik menurut cara yang kau inginkan. Sesudah itu, kau akan kembali dan persoalan akan selesai. Begitu?”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Kata-kata Kiai Gringsing itu sama sekali tidak berbeda dengan kata-kata Untara. Tetapi kini ia telah menjadi semakin menyadari keadaannya. Bahkan kemudian ia berkata sambil membungkukkan kepalanya. “Baik Kakang. Aku akan menerima segala persoalan dengan senang hati. Kalau aku harus menerima pengampunan, biarlah aku mengucapkan terima kasih kalau aku akan menerima hukuman, biarlah hukuman itu akan aku jalani.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia melihat Untara akan mengucapkan sesuatu, cepat-cepat ia mendahului, “Sekarang, bukankah Adi Sumangkar akan kau persilahkan membawa Raden Tohpati. Ngger?”

Untara tertegun sejenak. Namun ia menganggukkan kepalanya. “Ya Kiai.”

“Dan kau akan menerimanya kembali kelak?”

Kembali Untara mengangguk, “Ya Kiai.”

“Bagus. Aku bukan Panglima prajurit Pajang, bahkan seorang prajuritpun bukan. Tetapi, aku yakin bahwa Angger Untara memang akan berbuat demikian.”

Hati Untara itupun menjadi luluh pula melihat sikap Sumangkar yang kini seakan-akan melepaskan segala macam kepentingan sendiri. Bahkan harga dirinya sekalipun. Karena itu, maka terdengar Untara itupun kemudian berkata, “Silahkan Paman Sumangkar. Kesempatan itu akan Paman dapat seperti yang Paman kehendaki.”

Sekali lagi Sumangkar menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Katanya, “Terima kasih. Aku akan membawa angger Tohpati di antara anak buahnya. Aku akan mengucapkan kembali kata-kata terakhirnya, bahwa kematiannya akan menjadi pertanda bahwa perselisihan tidak akan berlangsung terus.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Sesaat dadanya terasa bergetar. Ada yang akan dikatakannya, namun ia menjadi bimbang. Namun setelah melalui beberapa pertimbangan ia berkata, “Demi kakuasaan yang ada padaku Paman Sumangkar, aku akan memberikan pengampunan kepada anak buah Macan Kepatihan yang dengan suka rela dan tulus menyerahkan dirinya. Namun seterusnya aku akan melakukan tugasku sabaik-baiknya, apabila ada di antara mereka yang menolak uluran tangan ini.”

Sekali lagi dada Sumangkar berdesir. Namun betapapun juga ia harus melihat kenyataan, memang sebenarnyalah bahwa perkataan Untara itu benar. Apa yang terjadi bukannya satu persetujuan antara seorang senapati Jipang dan seorang senapati Pajang. Tetapi yang terjadi adalah penyerahan. Manyerah karena tak ada lagi kekuatan untuk melawan.

Betapapun rasa sakit menghentak-hentak dada, namun Sumangkar tidak lagi membantah kata-kata senapati muda dari Pajang itu. Betapapun pahitnya kata-kata yang dipergunakan, menyerahkan diri, namun tidak ada lain yang dapat dilakukan untuk menghentikan kerusuhan-kerusuhan yang masih akan berkembang berlarut-larut. Meskipun bagi dirinya sendiri masih akan banyak dicari kemungkinan-kemungkinan lain, bahkan kemungkinan yang terakhir, yang baginya lebih baik daripada menyerah itu, yaitu mati, tetapi kematiannya tidak akan berarti apa-apa bagi ketenteraman yang akan dicarinya. Ketenteraman bagi rakyat Demak. Ketenteraman seperti yang dipesankan oleh Tohpati. Bahkan kematian Tohpati pun akantidak berarti apa-apa.

Bila tanpa penyerahan dari anak buahnya. Malahan kerusuhan akan menjadi semakin memuncak, sebab sisa-sisa prajurit Jipang itu akan menjadi semakin tak terkekang. Namun mudah-mudahan hilangnya pemimpin mereka, akan memperlunak hati mereka. Mudah-mudahan mereka menjadi seakan-akan kehilangan pegangan. Dan dalam keadaan yang demikian, mereka akan mendengar kabar pengampunan yang diberikan oleh Untara, bagi mereka yang bersedia menyerahkan diri.

Tetapi bukan saja bagi Sumangkar kata-kata itu mengetuk hati. Widura yang mendengar kata-kata Untara itu mengangkat kepalanya. Sesaat hatinya bergelora. Namun kemudian ia berhasil mengendapkannya. Dalam saat yang pendek ia dapat mangerti maksud dari kemanakannya itu. Dan iapun kemudian tidak berkata apa-apa. Hatinya dikendalikannya. Sebagai seorang prajurit yang telah cukup berpengalaman, maka nalarnya mampu menguasai perasaannya yang melonjak-lonjak menghadapi keputusan itu.

Namun tiba-tiba mereka terkejut ketika mereka melihat beberapa orang hampir bersamaan mendesak maju. Yang paling depan dari mereka adalah Swandaru. Dengan kalimat yang patah-patah karena desakan perasaannya yang bergejolak ia berkata, “Kakang Untara. Apakah artinya pengampunan itu?”

***

Untara mengerutkan keningnya. Terasa bahwa keputusannya mengejutkan beberapa anak buahnya sendiri. Dan barulah kini terasa bahwa seharusnya ia tidak tergesa-gesa mengucapkannya sebelum ia berbicara dengan beberapa orang pemimpin pasukan Pajang dan Sangkal Putung, serta memberi penjelasan kepada mereka. Namun kata-kata itu sudah diucapkannya, karena ita maka jawabnya, “Adi Swandaru. Kata-kataku cukup jelas. Aku akan memberikan pengampunan bagi mereka yang dengan suka rela menyerah, meskipun bukan pengampunan yang mutlak. Tetapi bagi mereka yang tidak mematuhi perintah itu, akan aku hancurkan sampai lumat.”

“Keputusan itu terlalu lunak. Kakang tidak memperhitungkan kesalahan dan bencana yang telah mereka timbulkan.”

Untara manggigit bibirnya. Ia dapat mengerti pertanyaan yang dilontarkan oleh Swandaru itu. Maka jawabnya, “Kau benar Swandaru. Tetapi kita tidak akan membiarkan diri kita terus menerus berada dalam suasana perang. Perkelahian demi perkelahian. Pertempuran demi pertempuran. Korban yang akan terus menerus berjatuhan. Dan kegelisahan yang semakin meningkat di antara rakyat.”

“Tidak!” tiba-tiba terdengar suara lain, “Mereka akan kita musnahkan dalam waktu yang singkat. Lihat, Kakang Citra Gati telah menjadi korban. Aku telah terluka dan beberapa anak buah telah terbunuh hanya dalam satu kali pertempuran, kali ini. Belum lagi terhitung dalam peperangan-peperangan yang lain. Apakah kita akan dapat melupakan korban-korban yang telah berjatuhan itu? Apakah kita dapat melihat kehadiran orang-orang yang tangannya bergelimang darah kawan-kawan kita itu hidup di antara kita sendiri dengan tenteram? Tidak. Hati kita akan selalu dikejar oleh perasaan tanggung-jawab dan kesetia kawanan.”

Untara berpaling ke arah suara itu. Dilihatnya Hudaya berdiri dengan teguhnya sebagai menara baja. Ditangannya masih tergenggam pedangnya yang berjalur-jalur merah karena darah.

“Kau benar Hudaya, “sahut Untara, “kau benar. Swandaru pun benar. Tak ada lagi kini yang dapat menghalangi kita untuk menghancurkan sisa-sisa pasukan Jipang yang sudah kehilangan pemimpinnya itu. Mereka telah menjadi demikian lemahnya sehingga kita akan dapat menumpasnya.”

“Nah, kenapa kita akan memberikan pengampunan?” teriak Hudaya yang disusul oleh Sendawa, “Kita musnahkan saja mereka.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Sedang Sumangkar yang berdiri di hadapannya bergeser setapak menghadap suara itu. Terasa dadanya yang pedih bertambah pedih. Lebih pedih dari tusukan pedang didada itu. Tetapi ketika ia akan memotong kata-kata itu terasa Kyai Gringsing menggamitnya, sehingga Sumangkar itu hanya mendekap kepedihan itu di dalam hatinya.

“Kalian benar, “terdengar kembali suara Untara. “Kami akan dapat melakukannya. Dan hal itu pasti akan kita lakukan. Tetapi bagaimana dengan orang-orang Jipang yang kemudian menyesal atas segala perbuatannya? Bagaimanakah kemudian dengan musuh-musuh kita yang merasa dirinya bersalah dan ingin menghentikan perlawanannya? Tidak semua dari mereka tahu benar apa yang telah dilakukan. Nah, bagi mereka yang dengan jujur merasa bersalah dan menyerah, kita tunjukkan kebesaran jiwa kita. Sebagai mana Tuhan akan mengampunkan dosa-dosa kita, kitapun harus bersedia memaafkan kesalahan sesama. Tentu bagi mereka yang jujur. Tuhan melihat kejujuran dan kecurangan di hati kita. Tetapi kita tidak dapat melihat hati sesama. Namun kita mempunyai cara-cara untuk itu. Melalui penelitian dan percobaan. Nah, serahkanlah hal itu kepada pimpinan Pajang. Namun dengan demikian kita mengharap bahwa ketenteraman akan segera dapat dipulihkan. Sedang kita akan segera melihat, siapakah yang dapat kita maafkan, dan siapakah yang harus kita hancurkan. Meskipun aku harus mengatakan sekali lagi, bahwa pengampunan yang aku maksudkan, bukanlah pengampunan yang mutlak membebaskan mereka dari tanggung-jawab atas segala perbuatan mereka.”

Untara itu berhenti sejenak. Dicobanya untuk melihat penilaian orang-orang yang berdiri di sekitarnya atas kata-katanya. Tetapi malam menjadi semakin gelap di pinggiran hutan itu, sehingga Untara menjadi sulit untuk dapat melihat setiap wajah dari anak buahnya.

Namun sesaat tak ada seorangpun yang menyahut. Batas hutan itu kembali diliputi oleh suasana yang sepi. Kembali terdengar semakin jelas suara burung hantu dikejauhan.

Dalam kesunyian itu terdengar kemudian suara Untara kembali.

“Nah. Apakah kalian dapat mengerti maksudku?”

Jawaban Swandaru mengejutkan. Katanya, “Tidak.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Ia masih juga mendengar beberapa orang bergumam di antara mereka.

“Jadi bagaimana kenginanmu Swandaru?” bertanya Untara langsung kepada Swandaru.

Swandaru terkejut mendengar namanya disebut. Namun ia menjawab. “Dihancurkan sampai tujuh turunan.”

“Hem, “sekali lagi Untara menarik nafas. Kemudian katanya, “Jadi kita menutup pintu bagi mereka yang ingin menyerah tanpa kecuali? Jadi kita mengingkari penglihatan kita, bahwa ada di antara mereka yang berada di pihak Adipati Jipang hanya karena terpaksa dan kemudian tidak dapat melepaskan dirinya karena berbagai persoalan. Persoalan yang sangkut-menyangkut. Ketakutan mereka terhadap ancaman kawan sendiri, ketakutan mereka terhadap sikap para prajurit Pajang yang tidak dapat dimengertinya, ketakutan mereka terhadap bayangan mereka sendiri. Lebih-lebih bagi mereka yang pada saat belum ada persoalan antara Jipang dan Pajang tidak lebih dari seorang hamba dan prajurit Kadipaten. Mereka tidak menyadari apa yang akan terjadi atas mereka. Dan bahkan mereka telah mengutuk Arya Penangsang sedalam lautan. Namun mereka tidak melihat jalan kembali, sehingga mereka harus, mau tidak mau, turut serta dalam peperangan melawan kita. Kepada mereka itulah kita akan mencoba membuka pintu.”

“Bagaimana kita dapat membedakan satu dengan yang lain di antara mereka? Bagaimana kalau kemudian orang-orang semacam Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda datang memenuhi seruan itu?”bertanya Hudaya dengan suara parau bergetar.

“Mereka harus menghadapi pertanggungan jawab. Mereka yang benar-benar sadar akan perlawanannya, kepada mereka itu akan berlaku hukuman yang akan diberikan oleh pimpinan Pajang melalui ketentuan-ketentuan yang berlaku.”

“Sesudah mereka membunuh banyak orang di antara kita?” desak Sendawa.

“Ya. Kita akan memperhitungkan setiap perbuatan mereka. Sebab mereka telah melakukannya dengan sengaja dan sepenuh kesadaran mereka.”

Kembali mereka terlempar dalam kesepian. Swandaru, Hudaya, Sendawa dan banyak lagi di antara mereka yang menjadi pening. Mereka tidak mengerti arti dari pengampunan yang diberikan oleh Untara. Tetapi mereka mencoba untuk melihat, apakah yang kelak akan terjadi. Betapa perasaan mereka melonjak-lonjak, tetapi mereka tidak dapat berdebat dengan senapati mereka. Sebagai seorang prajurit mereka masih cukup menyadari kedudukan mereka. Karena itu merekapun berdiam diri. Meskipun bukan berarti bahwa mereka sependapat dengan senapatinya.

Untara pun kemudian tidak ingin berbantah terlampau lama ia akan memberi penjelasan nanti kepada anak buahnya di kademangan, atau kepada beberapa orang yang penting, untuk di teruskan kepada setiap prajurit dan orang Sangkal Putung. Ia sendiri dapat merasakan betapa beratnya keputusan yang diambilnya itu. Namun salah satu saran yang pernah di dengar langsung dari Panglima Wira Tamtama, Ki Ged ePemanahan, adalah pengampunan semacam itu atas mereka yang sama sekali tidak turut bertanggung-jawab terhadap persoalan antara Jipang dan Pajang sepeninggal Sultan Trenggana.

Karena itu, maka kemudian ia berpaling kepada Sumangkar yang masih berdiri dengan tegangnya. “Paman Sumangkar ambillah tubuh Macan Kepatihan. Terserah kepada paman, apakah yang akan paman lakukan.”

Sumangkar tersadar dari ketegangan yang mencengkamnya. Sekali lagi ia membungkuk hormat. Lalu perlahan-lahan ia melangkah mendekati tubuh Tohpati yang terbaring membeku.

“Terima kasih Ngger, “katanya, “biarlah anak buahnya melihatnya. Dan biarlah peristiwa ini menimbulkan kesan-kesan baru terhadap sikap mereka selama ini.”

“Bagus, “sahut Untara.

Sumangkar kemudian mengangkat tubuh itu dan disangkutkannya di atas pundaknya. Sekali ia memandang berkeliling, atas orang-orang yang berdiri di sekitarnya. Kemudian ia melangkah surut sambil berkata, “Aku akan meninggalkan tempat ini atas ijin Angger Untara.”

“Silahkanlah Paman, “berkata Untara.

Sejenak kemudian Sumangkar itu melangkah di antara beberapa orang yang menyibak memberinyajalan. Sesaat kemudian bayangan itupun masuk ke dalam gelap malam di antara dedaunan yang rimbun.

Sepeninggal Sumangkar tiba-tiba Untara berkata, “Sedayu, ada perintah untukmu.”

Sedayu terkejut, selangkah ia maju. Dengan wajah yang tertanya-tanya ia menunggu perintah yang dikatakan oleh kakaknya.

“Ikuti Paman Sumangkar dengan diam-diam, kau harus dapat melaporkan kepadaku. Di mana letak perkemahan mereka dengan tepat. Sudut-sudut yang lemah dan penjagaan-penjagaan yang ada di antara mereka.”

Agung Sedayu terkejut mendengar perintah itu. Namun tidak ada kesempatan untuk mempersoalkannya. Kakaknya menyebutnya dengan perintah. Perintah seorang senapati harus dilakukannya betapapun beratnya. Mengikuti Sumangkar bukanlah pekerjaan yang mudah. Orang itu adalah seorang yang sakti, yang pendengarannya jauh lebih tajam dari pendengarannya sendiri.

Meskipun demikian, dada Agung Sedayu dijalari pula oleh suatu perasaan yang tidak dapat diingkarinya. Bangga, namun juga cemas. Bangga atas tugas yang dipercayakan kepadanya, tidak kepada orang lain. Namun ia cemas bahwa ia akan gagal melakukannya. Bukan karena ia tidak berani, tetapi disadarinya sepenuhnya, siapa yang dihadapinya kali ini.

Dalam pada itu terdengar kakaknya berkata, “Agung Sedayu kau harus kembali sebelum malam besok.”

Tanpa berpikir Agung Sedayu menjawab, ”Baik Kakang.”

“Nah, cepat berangkat. Kalau kau terlambat kau akan kehilangan jejak Paman Sumangkar.”

“Baik Kakang, “sahut Sedayu pula.

Namun sebelum Sedayu berangkat, terdengar Kyai Gringsing berkata, “Apakah kau sungguh-sungguh, Untara.”

Untara berpaling. Ditatapnya wajah Kyai Gringsing. Kemudian jawabnya, “Tentu Kyai. Aku memerlukan laporan tentang daerah lawan, keadaannya, kekuatannya dan segala macam persoalan yang mungkin dapat kita perhitungkan dalam setiap saat dan keadaan yang perlu.”

“Bukankah kau mempunyai beberapa orang pembantu dan bahkan ada yang dekat dengan lingkungan mereka?”

“Aku kurang mempercayainya seperti aku mempecayai Agung Sedayu. Mungkin aku berhadapan dengan ular berkepala dua, karena itu aku harus mencocokkan keadaan, sebelum aku melakukan tindakan terakhir. Bukankah Sumangkar akan menunjukkan jalan itu.”

Kyai Gringsing menarik nafas dalam-dalam, kemudian katanya, “Kenapa Agung Sedayu, bukan orang lain, Angger Widura misalnya?”

Untara menggigit bibirnya. Sesaat ia terdiam, namun kemudian ia menjawab, “Paman Widura adalah pimpinan prajurit Sangkal Putung. Ia tidak dapat meninggalkan tugasnya.”

“Bagus, bagus, “desah Kyai Gringsing, “kau cerdik Untara.”

“Kenapa?” bertanya Untara.

“Tidak apa-apa, “sahut Kyai Gringsing. “Pergilah Agung Sedayu.”

“Baik Kyai, “sahut Agung Sedayu, kemudian dengan ringkas ia mohon diri kepada kakak dan pamannya. “Aku berangkat Kakang, dan aku minta doa Paman Widura, semoga berhasil.”

Widura berdiri tegak seperti patung. Ia menyadari bahaya yang dapat terjadi atas kemenakannya. Sumangkar bukan orang yang setingkat dengan anak muda itu, karena itu ia ragu-ragu melepaskannya. Meskipun demikian, perintah itu datang dari senapati yang mendapat kekuasaan langsung dari Panglima Wira Tamtama Pajang, karena itu dengan hati berat ia menjawab, “Hati-hatilah Agung Sedayu. Tugasmu terlampau berat.”

Agung Sedayu tidak berkata apa-apa lagi. Ia takut kehilangan jejak. Karena itu, segera ia melangkah, meninggalkan kakaknya, pamannya dan para prajurit Pajang dan laskar Sangkal Putung.

Swandaru yang tertegun keheranan atas perintah itu, tiba-tiba seperti orang tersadar dari mimpi. Terbata-bata ia berkata, “Aku ikut serta Kakang Sedayu.”

Sebelum Sedayu menjawab, terdengar Untara menyahut. “Jangan Swandaru. Biarlah ia berjalan sendiri.”

Yang mendengar jawaban Untara itupun menjadi heran pula. Apakah sebenarnya maksud Untara dengan perintahnya kepada adiknya itu. Perintah yang sangat berbahaya dan hampir-hampir tak masuk akal mereka. Agung Sedayu harus mengikuti jejak orang sesakti Sumangkar.

Namun kemudian mereka benar-benar harus melepaskan Agung Sedayu. Mereka hanya dapat memandang anak muda itu berjalan dan menghilang di dalam gelap searah dengan menghilangnya Sumangkar.

Demikian Agung Sedayu masuk ke dalam hutan, demikian ia merasa terlempar ke dalam suatu daerah kelam yang sama sekali tak dikenalnya, yang dapat dilihatnya hanyalah tabir hitam pekat menyelubunginya. Satu-satu ia dapat melihat remang-remang pepohonan yang sudah sedemikian dekat dengan hidungnya. Namun yang lain tak dapat dilihatnya.

Barulah ia kini menyadari, betapa sulit tugas yang dibebankan kepadanya. Ia tidak tahu, ke mana ia harus berjalan dan bagaimana mungkin ia dapat mengikuti jejak orang yang bernama Sumangkar. Ia sama sekali tidak mendengar langkah kaki, desah nafas dan apalagi melihatnya.

***

Tetapi ia tidak dapat kembali. Ia telah berangkat membawa tugas Karena itu tugas itu harus dilakukannya sebaik-baiknya. Apapun yang akan terjadi.

Sekali-sekali timbul di dalam hatinya perasaan-perasaan aneh seperti yang pernah dimilikinya dahulu. Gendruwo bermata satu, macan putih dari Lemah Tengkar, hantu berwajah tampan dari gunung Gowok. Satu-satu kenangan itu timbul tenggelam di dalam benaknya. Namun Agung Sedayu kini bukanlah Agung Sedayu yang dahulu. Meskipun perasaannya tentang hal-hal serupa masih saja sering membuat lehernya meremang.

Agung Sedayu itu pun kemudian berjalan setapak demi setapak maju. Tangan kirinya meraba-raba batang-batang pohon yang dilampauinya, sedang lengan kanannya kadang-kadang meraba hulu pedangnya, di lambung kiri. Setiap saat ia memerlukan pedang itu, sebab setiap saat ia akan bertemu dengan bahaya.

Setelah agak lama Agung Sedayu berada di dalam gelapnya hutan, maka perlahan-lahan matanya dapat menyesuaikan diri dengan keadaan. Perlahan-lahan ia dapat melihat beberapa bagian hutan itu di sekitarnya. Bahkan ketika ia menengadahkan wajahnya, ia masih dapat melihat bayangan langit yang gelap karena mendung yang mengalir dari Selatan di celah-celah dedaunan. Namun di antara awan yang kelabu itu, Agung Sedayu kadang-kadang melihat seleret bintang seolah-olah berkeredip kepadanya.

“Hem, “Agung Sedayu menarik nafas. Ia masih belum tahu sama sekali, ke mana ia akan pergi. Ia menjadi cemas; jangan-jangan akan tersesat dan tidak dapat menemukan jalan keluar.

Tetapi bagaimanapun perasaannya bergolak, namun Agung Sedayu itu berjalan terus. Ia tidak tahu, apakah ia akan dapat bertemu dengan jejak Sumangkar atau tidak. Tetapi ia begitu saja memilih jurusan tanpa diketahui arahnya.

Dengan hati-hati Agung Sedayu berjalan terus. Setiap kali ia berhenti memperhatikannya kalau-kalau ia mendengar sesuatu. Mungkin langkah seseorang atau mungkin tarikan nafasnya. Tetapi yang didengarnya hanyalah desir angin yang menggerakkan dedaunan. Gemerisik lambat-lambat.

Agung sedayu berjalan terus. Perlahan-lahan di antara semak-semak tang tumbuh di bawah pepohonan yang besar. Agung sedayu tidak saja harus hati-hati menghadapi lawan-lawannya, tetapi ia harus hati-hatipula menghadapi segala macam binatang. Lebih-lebih lagi ular. Binatang yang sangat berbahaya dan hampir-hampir tak dapat dilihatnya bagaimana binatang itu menyerang.

Dalam keremangan malam yang gelap itu, tiba-tiba Agung Sedayu melihat sesuatu. Ia melihat gerumbul-gerumbul tumbuh tidak wajar. Namun kemudian ia mengambil kesimpulan, bahwa gerumbul itu baru saja diterobos oleh seseorang. Tidak hanya seseorang menilik dahan-dahan yang patah dan daun yang terinjak-injak.

Dengan saksama Agung sedayu mencoba memperhatikan gerumbul-gerumbul itu. Lama sekali, sebab malamnya pun gelap sekali. Hampir ia mengamat-amati setiap daun dan ranting. Diraba-raba dengan tangannya. Akhirnya Agung Sedayu berkesimpulan, bahwa bukan Sumangkar yang ditemukannya jejaknya, tetapi prajurit Jipang yang mengundurkan diri.

“Bukankah sama saja, “pikir Agung Sedayu, “kedua-duanya membawa aku ke sarang mereka.”

Tetapi dengan demikian Agung Sedayu menjadi semakin menyadari, betapa sulitnya pekerjaannya. Betapa bahaya yang dihadapinya. Mungkin ia akan bertemu dengan beberapa orang dari prajurit Jipang yang mengundurkan diri itu. Dan ia harus bertempur di dalam hutan. Meskipun ia sering berlatih bertempur malam hari dengan pamannya dan kakaknya Untara, namun bertempur di dalam hutan yang gelap, memerlukan kecakapan yang khusus.

“Jangan-jangan anak buah Macan Kepatihan sudah terlalu biasa bertempur dalam gelap, “katanya didalam hati. Namun ditepiskannya untuk menghibur dirinya sendiri. “Ah, tidak. Mereka masih memerlukan obor waktu mereka menyerang sangkal Putung di malam hari. Kalau demikian, maka kita akan mendapat kemungkinan yang sama apabila kita harus bertempur di malam gelap.”

Kembali Agung Sedayu maju perlahan-lahan. Ia tidak mau kehilangan jejak. Setiap kali ia berhenti mengamat-amati setiap dahan-dahan perdu yang patah dan daun-daun yang tersibak. Ditelusurinya bekas-bekas itu selangkah demi selangkah. Dan ia tidak mau jejak itu terputus.

“Mereka berjalan tergesa-gesa, “pikir Agung Sedayu seterusnya “sehingga jejak mereka menjadi sangat jelas. Mudah-mudahan aku dapat menemukan sarang mereka.”

Semakin lama Agung Sedayu tenggelam semakin dalam ke dalam hutan itu. Sedang malam pun semakin lama menjadi semakin dalam tenggelam ke pusatnya.

Dalam pada itu Agung sedayu pun menjadi semakin mengenal jejak-jejak yang harus diikutinya.

Namun kemudian terasa tubuhnya semakin lama menjadi semakin penat. Sehari ia bertempur. Sehari ia tidak makan dan minum kecuali makan pagi. Karena itu, kini terasa, betapa ia lapar dan haus. Dengan demikian langkahnya pun menjadi semakin lambat, bahkan kemudian ia berpikir, “Apakah tidak lebih baik aku beristirahat? Besuk apabila hari menjadi terang, aku pasti akan dapat menemukan sarang mereka.”

Namun kemudian timbullah pikirannya yang lain, “Tetapi di siang hari kedatanganku pasti segera diketahui oleh mereka. Padahal besok sebelum malam aku harus sudah melaporkannya kepada Kakang Untara.”

Agung Sedayu menjadi bimbang. Akhirnya, betapapun letihnya, betapapun haus dan lapar, ia berjalan terus. Ia mengharap dapat menemukan tempat itu, kemudian ia mengharap hujan turun supaya ia mendapatkan air untuk minum.

“Tetapi apabila hujan turun, aku akan kehilangan jejak. Dan mungkin aku tidak akan dapat kembali menemukan jalan ini, “pikirnya.

“Ah, aku harus membuat tanda-tanda sendiri, “desisnya tiba-tiba.

Agung sedayu itu pun segera menarik pedangnya. Ia ingin membuat tanda-tanda yang lebih jelas dengan pedang itu, supaya besok ia tidak tersesat pulang apabila hujan menghapuskan jejak-jejak yang ditinggalkan oleh orang-orang Jipang. Apabila daun-daun yang tersibak itu akan menjadi kabur karena hujan, dan karena daun-daun itu ditundukkan oleh air hujan yang lebat.

Dengan pedangnya, Agung Sedayu membuat goresan-goresan yang dalam pada batang-batang pepohonan, dan memotong dahan-dahan yang agak besar. Membuat tanda-tanda dengan menancapkan beberapa potong kayu di tanah dan berbagai macam yang lain dengan sangat teliti, supaya suaranya tidak mengganggu ketenangan malam di dalam hutan itu.

Ketika kemudian terdengar burung hantu di kejauhan, kembali leher Agung Sedayu meremang. Burung hantu mempunyai kesan yang khusus bagi yang mendengarnya. “Ah, “katanya di dalam hati, “suara itu adalah suara burung hantu. Ia tidak dapat bersiul dengan cara yang lain, seperti burung kepodang misalnya.” Namun meskipun demikian, setiap bunyi burung itu; terasa sebuah ketukan di jantungnya.

Tetapi Agung Sedayu itu tiba-tiba tertegun. la mendengar sebuah suara yang lain. Bukan suara burung hantu. Perlahan-lahan, namun terus menerus. Agung Sedayu itu pun berhenti. Diperhatikannya suara itu dengan saksama. Suara itu bukan suara binatang. Tetapi suara itu adalah suara seseorang. Agung sedayu menarik nafas. Pedangnya masih di dalam genggamannya, dan dengan ujung pedang mendatar setinggi perutnya ia berjalan dengan sangat hati-hati. Dengan penuh kewaspadaan ia mengamat-amati keadaan. Mencoba menangkap setiap suara dan melihat setiap gerak. Namun keadaan di hutan itu terlampau sepi. Dan suara itu masih saja, didengarnya. Agung Sedayu itu pun kemudian berhenti. Semakin lama, semakin jelas, bahwa suara itu adalah suara rintihan seseorang.

“Siapa?” desis Sedayu di dalam hatinya.

Tetapi Agung Sedayu tidak segera mendekatinya. Ia tidak tahu pasti apa yang telah terjadi. Apakah suara itu suara rintihan seseorang yang terluka dalam suatu perkelahian? Kalau demikian maka lawan orang itu pasti masih ada di sekitarnya dalam keadaan yang baik. Tetapi bagaimana kalau karena sebab lain?

Agung Sedayu itu pun kemudian malahan mencoba mencari perlindungan di belakang dedaunan. Mungkin sesuatu terjadi. Namun beberapa saat kemudian rintihan itu masih saja didengarnya. Selain itu, sepi sehingga Agung Sedayu itu menjadi tidak sabar.

Meskipun ia tidak kehilangan kewaspadaan, namun ia berusaha mendekatinya. Perlahan-lahan, menyusur gerumbul-gerumbul yang cukup pekat. Agung Sedayu masih cukup sadar, bahwa bahaya mungkin akan menerkamnya dengan tiba-tiba. Karena itu, maka setiap gerak selalu disertai dengan kesiagaan tertinggi.

Tetapi suara itu masih saja didengarnya. Terus menerus dan dari arah yang sama. Maka dengan tidak banyak kesukaran Agung Sedayu kemudian berhasil mendekatinya.

Ketika Agung Sedayu telah berada beberapa langkah saja dari suara itu. Agung sedayu berhenti. Ia kini berada di dalam sebuah gerumbul kecil. Sekali-sekali terasa tubuhnya tersentuh beberapa macam tumbuh-tumbuhan berduri. Namun ia berdiri saja tidak bergerak. Bahkan ia mencoba menguasai suara pernafasannya.

Dan suara itu masih saja didengarnya. Sebuah rintihan yang panjang. Terus menerus tidak henti-hentinya. Ketika Agung Sedayu mencoba mengamati keadaan di sekelilingnya, maka tiba-tiba dilihatnya orang itu. Orang yang merintih-rintih dengan pedihnya.

Dalam keremangan. malam, Agung sedayu melihat tubuh orang itu tergolek di tanah di antara pohon-pohon perdu.

Sesaat Agung Sedayu masih tegak di tempatnya. Ia masih ragu-ragu, apakah orang itu benar merintih karena sesuatu penderitaan jasmaniah, atau karena sebab-sebab lain. Bahkan dalam keadaan serupa itu, Agung Sedayu dapat berprasangka bahwa orang itu sebenarnya sama sekali tidak menderita apapun namun dengan sengaja telah memancingnya untuk mendekat. Adalah berbahaya sekali apabila tiba-tiba orang itu menyerangnya selagi ia kehilangan kewaspadaan.

Namun suara orang itu selalu menyentuh-nyentuh perasaannya. Rintihan itu terdengar sedemikian pedihnya. Bahkan beberapa kali ia mencoba untuk memanggil beberapa nama. Tetapi Agung Sedayu tidak begitu jelas mendengarnya.

Akhirnya Agung Sedayu, yang perasaannya mudah tergetar karena bermacam-macam hal dan keadaan menjadi tidak sabar lagi.

Seakan-akan ia melihat seseorang yang sedang bergulat melawan maut. Itulah sebabnya, maka dengan sangat hati-hati ia melangkah maju lagi. Pedangnya terjulur lurus-lurus ke arah tubuh yang terbaring itu. Setiap gerakan akan cukup menjadi alasan untuk sekali loncat dan pedangnya akan membenam di tubuh itu.

Tetapi tubuh itu terbaring diam. Hanya suara rintihannya sajalah yang terdengar menggamit hati.

Ketika jarak orang itu tinggal beberapa langkah lagi, Agung sedayu berhenti. Ditatapnya tubuh yang tergeletak itu dengan saksama. Namun dalam keremangan malam, ia sama sekali tidak dapat mengetahui, apakah ada sesuatu cedera jasmaniah pada orang itu.

Dalam keadaan yang penuh dengan keragu-raguan dan ketegangan terdengar Agung Sedayu berdesis, “Siapa kau, dan kenapa kau terbaring di situ?”

Orang yang merintih itu agaknya mendengar suaranya. Dengan suara yang parau dan tertahan-tahan ia menyapa lirih, “Siapakah kau?”

“Aku bertanya siapa kau?” sahut Agung Sedayu curiga.

Agung Sedayu melihat orang itu bergerak. Selangkah ia meloncat surut, dan pedangnya terjulur lurus kedepan. Namun orang itu tidak bangkit dan suara rintihannya kembali terdengar.

***

Tetapi Agung Sedayu masih saja dicengkam kebimbangan, karena ia belum memliki pengalaman yang cukup menghadapi berbagai keadaan yang belum dikenalnya.

Yang terdengar kemudian adalah desis yang sayu, “Aku hampir mati karena lukaku. Apakah kau dapat memberi aku air?”

“Air?” ulang Agung Sedayu.

“Ya, kerongkonganku serasa kering.”

Agung Sedayu menyadi bingung, Darimana ia mendapatkan air, sedang ia sendiri haus bukan main. Karena itu maka jawabnya, ” Sayang. Aku tidak tahu kemana aku harus mencari air.”

“Oh, “ orang itu mengeluh, lalu katanya, “siapakah kau?”

“Kau siapa? Dan kenapa kau terluka?

“Prajurit Pajang lah yang telah melukai aku.”

Dada Agung Sedayu berdesir. Cepat ia dapat mengambil kesimpulan, bahwa orang itu adalah orang Jipang. Tetapi kenapa ia terbaring sendiri di tengah-tengah hutan ini? Apakah ini bukan sekedar pancingan untuk menjebaknya.

Tetapi Agung Sedayu telah terlanjur berdiri didekat orang itu, karena itu maka ia bertanya pula, “Hem. Kenapa kau dilukainya?”

Orang yang terbaring itu menjawab sayup-sayup, “Kami sedang berperang. He, siapakah kau? Apakah kau bukan kawan kami?”

Agung Sedayu berbimbang sesaat. Kemudian jawabnya, ”Bukan.”

“Oh, apakah kau orang Pajang? Kalau begitu selesaikan pekerjaanmu. Bunuhlah aku dari pada aku tersiksa disini?”

“Kemana kawan-kawanmu?”

Aku tidak tahu. Aku berjalan di ujung belakang karena lukaku, sehingga tubuhku menjadi sangat lemah. Ketika aku terjatuh disini; tak seorangpun yang melihatnya.”

Agung Sedayu terdiam sesaat. Dicobanya untuk mengurai persoalan yang dihadapinya itu. Namun kata-kata orang yang terbaring itu masuk diakalnya. Meskipun demikian ia tidak dapat segera mempercayainya. Maka kembali ia bertanya, ”Orang manakah kau? Dan kenapa kau berperang dengan orang Pajang?”

Orang itu tidak segera menyawab. Dicobanya untuk bergerak, tetapi kemudian terdengar ia mengeluh panjang, ”Aku sudah tidak dapat menggerakkan tubuhku sama sekali. Darahku sudah terlampau banyak mengalir. Karena itu aku tidak perlu merahasiakan diriku lagi. Aku adalah prajurit Jipang. Apakah kau bukan orang Pajang?”

Kembali Agung Sedayu terdiam sesaat. Bagaimana ia harus menyawab pertanyaan itu. Namun sehelum ia menjawab, terdengar suara lemah dan parau dari orang yang terbaring itu, ”Kalau kau orang Pajang kau pasti tahu, kenapa kami berperang melawan prajurit Pajang.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk menenangkan hatinya. Baru kemudian menjawab, “Ya. Aku memang orang Pajang.”

Orang yang terbaring itu menggeram. Kemudian katanya, ”Bagus. Kenapa kau bertanya segala macam sebab peperangan ini? Kau hanya berpura-pura untuk memancing pendirianku. Sekarang bunuhlah aku daripada aku menderita.”

“Ki Sanak, “berkata Agung Sedayu kemudian, “kenapa kawan-kawan mu tidak menolongmu?”

“Apa kepentinganmu menanyakan itu? Bukankah kau telah membunuh kawan-kawanku pula. Sekarang apa yang kau tunggu lagi? Hadiahmu akan bertambah sehelai kampuh karena kau berhasil membunuh seorang lagi dari antara kami.

“Jangan berkata begitu.”

“Kenapa?”

“Didalam peperangan kita saling membunuh. Itu bukan kemauan kita orang seorang. Tetapi kita dihadapkan pada suatu keadaan yang tak dapat kita hindari. Bukankah kau merasakannya juga.”

Terdengar nafas orangyang terbaring itu terengah-engah. Rupa-rupanya didalam dadanya yang semakin lemah itu telah menyala api kemarahan yang membakar segenap darah dagingnya. “Persetan, “geramnya. Namun terdengar suaranya menjadi semakin dalam, ”Sekarang bunuhlah aku supaya aku tidak membunuhmu. Bukankah didalam peperangan hanya ada satu pilihan dari dua kemungkinan, membunuh atau dibunuh?”

“Kita sekarang tidak berada dalam peperangan. Kita dapat menemukan kemungkinan yang lain, “sahut Agung Sedayu.

“Kenapa kau mengingkari tugasmu sebagai seorang prajurit? Bunuhlah musuhmu. Habis perkara.”

“Seorang prajurit bukanlah seorang manusia yang biadab. Prajurit harus memiliki sifat kejantanan, namun harus memiliki pula sifat-sifat ksatria.”

Agung Sedayu berhenti sesaat. Ketika orang yang terbaring itu tidak menyahut, maka diteruskannya, “Seorang kesatria harus memiliki pengabdian yang lengkap. Bukan saja pengabdian lahiriah. Pengabdian kepada tanah tumpah darah, kepada kampung halaman, tetapi harus juga memiliki pengabdian rohaniah. Pengabdiannya kepada tanah tumpah darah, kepada kampung halaman harus dilambari atas pengabdian dan kebaktiannya kepada Sumber hidupnya dan kepada kemanusiaan.”

“Jangan sesorah. Aku tidak dapat mendengar lagi, “sahut orang itu terbata-bata, ”kalau benar kau memiliki sifat-sifat yang tajam dalam pengabdianmu atas kemanusiaan, kenapa kau tidak membunuh aku? Supaya aku tidak menderita?”

“Kau belum mati. Setiap nyawa yang masih melekat ditubuhnya masih ada kemungkinan untuk hidup terus. Kalau aku membunuhmu dengan dalih kemanusian, maka kemanusiaan yang demikian adalah kemanusiaan yang tidak berpijak pada Sumber Hidupnya, kepada Tuhannya.”

“Dalam peperangan kau juga membunuh”

“Bukankah kita membunuh karena kita ingin menghindarkan pembunuhan yang lebih besar? Kita membunuh dalam batas-batas peri kemanusiaan. Sebab kita mempunyai keyakinan bahwa kita sedang mempertahankan unsur kemanusiaan yang lebih besar. Kita menghindarkan pembunuhan yang bakal terjadi karena perbuatan lawan kita atas kami dan keluarga kami. Meskipun cara yang dipergunakan berbeda-beda. Bahkan pembunuhan dengan cara perlahan-lahan adalah lebih mengerikan. Kalau musuh kita merampas segala milik kita, menindas kita dan memperlakukan kita diluar batas peri-kemanusiaan, ituadalah sama kejamnya dengan pembunuhan itu sendiri. Penghisapan, pemerasan, dan pengingkaran atas keadilan dan kebenaran sejati.”

Orang yang terbaring itu tidak menyahut.

“Ki Sanak. Lukamu agak parah. Kau tidak akan dapat barbuat sesuatu lagi bagi kami. Karena itu aku tidak dapat membunuhmu. Tetapi aku tidak mempunyai alat dan cara untuk menolongmu.”

Orang tu masih terdiam.

“Bagaimana?”

Terdengar keluhan yang panjang dari mulut orang yang terbaringku. Kemudian katanya, “Terserah kepadamu. Kalau kau tidak mau membunuhku, aku tidak dapat memaksamu.”

“Kenapa kawan-kawanmu meninggalkan kau sendiri?”

“Mereka tidak mengetahuinya. Aku terjatuh jauh dibelakang mereka. Dan suaraku tidak cukup keras untuk memanggil mereka.”

“Apakah mereka belum lama lewat disini?”

“Belum.”

“Apakah paman Sumangkar juga baru saja lewat disini?”

“Sumangkar? la adalah juru masak kami, ia tinggal di perkemahan.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Meskipun tidak diketahuinya, apakan benar kata orang itu bahwa Sumangkar seorang juru masak, namun menurut orang itu ternyata ia belum lewat tempat ini.

Karena itu, maka kembali Agung Sedayu berdebar-debar. Kalau saja Sumangkar itu lewat dan melihatnya apakah katanya? Tetapi kembali timbul keragu-raguannya. Sumangkar sudah berjalan lebih dahulu, apalagi ia seorang sakti yang telah mengenal daerah dengan baik. Mustahil kalau Sumangkar dapat dilampauinya.

Maka kemudian ia bertanya, ”Apakah ada jalan lain keperkemahanmu selain jalan ini?”

“Ada seribu jalan.”

“Kenapa seribu?”

“Seribu jalan atau tak ada jalan sama sekali. Semua arah dapat dilalui. Semua arah merupakan hutan yang pepat.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Semua kata-katanya masuk akal baginya. Terasa orang yang telah terluka itu berkata seadanya. Seakan-akan tak ada yang disembunyikannya lagi. Meskipun demikian Agung Sedayu tetap tidak kehilangan kewaspadaan. Perlahan-lahan ia mendekatinya. Dan sekali lagi ia mendengar orang itu mengerang, ”Aku sangat haus.”

Timbullah iba yang dalam dihati Agung Sedayu. Tetapi apayang akan dilakukannya?

Ketika ia melangkah semakin dekat. Ujung pedangnya sama sekali tidak bergeser dari arah tubuh orang yang terbaring itu. Agung Sedayu kemudian melihat sesuatu terletak disampingnya. Sebatang tombak. Agaknya tombak itu adalah senjatanya.

“Kau tak perlu bersiaga, “desah orang itu, “aku tidak kuat lagi mengangkat tombakku. Ambillah dan tusukan kedadaku. Aku sudah tidak mampu melawan.”

“Tidak, “sahut Sedayu. Namun pedangnya tidak juga menunduk.

Orang itu mengeluh. Dan keluhan itu telah membuat hati Agung Sedayu semakin berdebar-debar karena ibanya.

Dalam pada itu kebimbangan didadanya menjadi kian melonjak-lonjak.

Tetapi semakin dekat, Agung Sedayu dapat merasakan, betapa nafas orang itu terengah-engah. Perlahan-lahan erangnya menyentuh hatinya.

“Apakah lukamu parah?”

“Hampir mencabut nyawaku. Aku ingin itu lekas terjadi.”

“Jangan, “potong Agung Sedayu.

Orang itu tidak menyawab. Dalam keadaan yang tegang Agung Sedayu mencoba mencari jalan untuk dapat menolong orang itu. la kini telah menemukan jejak yang dapat membawanya keperkemahan orang-orang Jipang. Kalau ia dapat menolong orang ini, membawanya menepi dan keluar dari hutan ini: mungkin orang ini akan tertolong. Seterusnya ia dapat meninggalkannya di tepi hutan setelah diberinyaminum, atau menyerahkannya kepada kawan-kawannya apabila masih ada yang dapat dijumpai di bekas-bekas pertempuran. Mereka yang bertugas merawat orang yang terluka.

Tetapi kemudian ia menjadi ragu-ragu. Bagaimana kalau dengan demikian tugasnya terlambat. Bagaimana kalau kemudian hujan yang lebat menghapus bekas-bekas jejak orang-orang Jipang, sehingga ia tidak dapat menemukannya lagi? Bagaimanakah kalau perintah yang harus dilakukannya itu gagal?

Agung Sedayu menjadi bimbang. Disatu pihak ia merasa wajib melakukan tugasnya, namun dilain pihak ia merasa wajib menolong jiwa yang sedang berjuang melawan maut.

Dalam keragu-raguan itu Agung Sedayu bahkan berdiri saja ditempatnya seperti patuhg. Sekali-sekali ia ingin meneruskan perjalannya, namun sesaat kemudian rintih orang yang terluka itu seakan-akan menggores dalam di jantungnya.

Dalam kegelapan malam Agung Sedayu mencoba memperhatikan tubuh itu sebaik-baiknya. Bahkan kemudian ia melangkah semakin dekat lagi.

“kau ingin melihat luka itu?”desah orang yang terbaring itu.

Tanpa sesadarnya Agung Sedayu berkata, ”Iya.”

“Mendekatlah. Lambungku sobek karena tusukan tombak orang Pajang.”

Agung Sedayu mendekatkan wajahnya. Pedangnya kini bahkan telah melekat didada orang itu. Sehingga akhirnya ia dapat melihat luka itu. Benar-benar sebuah luka yang parah. Darahnya masih saja mengalir tak henti-hentinya. Karena itu, maka tiba-tiba ia menggeser pedangnya, dan meraba luka itu dengan sebelah tangannya.

Orang itu mengeluh. Dan keluhan itu telah membuat hati Agung Sedayu semakin berdebar-debar karena ibanya.

Dalam pada itu kebimbangan didadanya menyadi kian melonjak-lonjak.

Ketika ia sibuk mempertimbangkan keputusan yang akan di ambilnya, maka hutan itu menjadi sepi. Betapapun orang yang terbaring itu mencoba menahan diri, namun masih juga terdengar ia mengeluh.

“Aku sangat haus, “katanya.

“Disini tidak ada air, “sahut Sedayu.

Orang itu terdiam. Agung Sedayupun terdiam pula.

Namun tiba-tiba Agung terkejut. Ia mendengar gemerisik daun disampingnya. Cepat ia menegakkan pedangnya. Dengan satu loncatan ia telah tegak diatas kedua kakinya yang kokoh. Pedangnya telah siap menghadapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi.

Gemerisik dedaunan itu masih didengarnya. Bahkan semakin jelas. Dan tiba-tiba ia melihat sesosok tubuh muncul dari dalam rimbunnya dahan perdu. Bukan sesosok tubuh saja, tetapi sesosok orang lain tergantung dipundaknya.

“Paman Sumangkar, “desis Agung Sedayu.

Sumangkar memandangi Agung Sedayu dengan tajamnya. Seakan-akan mata itu dapat menyala didalam gelap. Dari sela-sela bibirnya terdengar ia menggeram, ”Angger Agung Sedayu, kenapa angger berada ditempat ini?”

Agung Sedayu menjadi bimbang. Bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu? Karena itu untuk sesaat ia berdiam diri. Namun keringat dinginnya telah membasahi seluruh tububnya.

Dalam pada itu terdengar Sumangkar berkata perlahan-lahan, ”Aku sudah menyangka, bahwa seseorang pasti akan mengikuti jalanku.”

Agung Sedayu masih berdiri kaku tegang ditempatnya, seakan-akan anak muda itu membeku. Namun tanpa dikehendakinya sendiri pedangnya perlahan-lahan terangkat dalam genggamannya yang semakin kuat.

Yang terdengar adalah suara Sumangkar, ”Ternyata dugaanku tepat. Malahan angger Agung Sedayu sendiri yang telah mendapat kehormatan mengikuti jejakku. Namun agaknya angger terlalu tergesa-gesa. Angger tidak mencari jejakku, tetapi angger telah terjerumus kedalam bekas-bekas jejak orang-orang Jipang yang mengundurkan diri.”

***

Agung Sedayu menggigit bibirnya, ia melihat bahaya menghadang di hadapanya. Namun sejak ia berangkat, ia telah menyadari tugasnya. Tugas itu sangat berat. Tugas untuk mengikuti seorang sakti seperti Sumangkar. Ternyata bahwa bukan ia yang mengikuti orang itu tetapi sebaliknya, Sumangkarlah yang telah mengikutinya. Namun semuanya sudah terjadi. Kini ia sudah langsung berhadapan dengan bahaya.

Terasa dada Agung Sedayu berdesir.

“Tetapi agaknya Angger Agung Sedayu menganggap bahwa tak ada bedanya mengikuti jejakku atau jejak prajurit Jipang itu. Memang sebagian anggapan Angger benar, karena Angger pasti akan sampai pula di perkemahan kami.”

Agung Sedayu masih berdiri mematung. Sepatah katapun ia belum menjawab.

Karena Agung Sedayu masih berdiam diri, kembali terdengar suara Sumangkar, “Nah, Ngger, apakah Angger masih tetap akan meneruskan usaha Angger untuk menemukan tempat itu?”

Terdengar Agung Sedayu menggeram. Pertanyaan itu benar-benar memusingkan kepalanya. Ia mendapat tugas untuk melihat dengan mata kepala sendiri perkemahan itu. Menelusuri jalan-jalan yang dapat dilalui, bukan saja bagi dirinya sendiri, tetapi bagi seluruh kekuatan pasukan Pajang. Kakaknya agaknya kurang puas dengan laporan-laporan yang telah diterimanya mengenai perkemahan itu, sehingga salah seorang kepercayaannya harus sempat mengetahui kebenarannya. Namun apakah di hadapan Sumangkar ia dapat mengatakan yang sebenarnya.

Dalam kebimbangan itu terdengar Sumangkar mendesak, “Bagaimana?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Diaturnya debar jantungnya, ketika ia menjadi agak tenang maka ia menjawab, “Aku telah menerima perintah itu, dan aku harus melakukannya. Kecuali kalau hal itu tidak mungkin aku lakukan.”

“Apakah menurut penilaian Angger, Angger akan mungkin melakukannya?”

“Aku tidak tahu, tetapi aku harus mencoba.”

“Apakah Angger tidak menyadari, bahwa aku adalah salah seorang dari penghuni perkemahan itu?”

“Ya.”

“Bahwa aku akan dapat membunuh Angger Sedayu dengan mudah apabila aku mau.”

“Ya.”

“Nah, sekarang apakah Angger masih tetap dalam pendirian Angger untuk berjalan terus?”

Dada Agung Sedayu bergolak. Ia adalah seorang anak muda yang pada dasarnya tidak senang cepat mati. Bahkan demikian takutnya Agung Sedayu kepada kematian itu, sehingga ia pernah mengalami suatu masa yang sangat memalukan. Namun kini, betapa ia tidak ingin mati, tetapi terasa sesuatu yang bergelora di dalam dadanya. Tugas yang diberikan oleh kakaknya, seakan-akan sedemikian berat membebani diri dalam pertanggung-jawaban atas kehormatannya.

Karena itu, maka pertanyaan Sumangkar itu tiba-tiba telah membakar jantungnya. Dengan wajah yang menyalakan tekad yang membara di dalam dadanya terdengar Agung Sedayu menjawab, “Paman Sumangkar, aku telah berangkat melakukan tugas atas perintah Senapati Pajang yang ditempatkan di daerah ini, dan aku telah menyanggupkan diri untuk melakukannya. Karena itu, aku harus berjalan terus. Kalau aku harus terbunuh dalam tugas ini, maka itu adalah salah satu akibat yang selalu dapat terjadi atas seseorang yang sedang melakukan kewajiban yang penting.”

Jantung Sumangkar berdentangan mendengar jawaban itu. Bahkan terasa mulutnya menjadi gemetar, sehingga kata-katanya pun gemetar pula, karenanya.

“Angger, kau telah membuat aku bingung.”

Agung Sedayu berdiam diri. Namun ia cukup bersiaga.

“Aku menyesal bahwa aku mengintip terlalu lama di belakang gerumbul, sehingga aku melihat bagaimana Angger telah berbuat atas salah seorang kawanku ini.”

Tanpa disengaja Agung Sedayu berpaling ke arah orang itu yang masih nampak mengerang, betapapun ia mencoba menahan sakitnya.

“Orang itu benar-benar terluka, “katanya di dalam hati. “Kalau apa yang dilakukan itu hanya sekedar pancingan, maka setelah paman Sumangkar hadir di tempat ini ia tidak perlu masih harus berbaring di tanah yang lembab dan kotor itu.”

Tetapi yang didengarnya adalah kata-kata Sumangkar, “Kalau aku tidak melihat, apa yang telah Angger lakukan dan Angger katakan kepada orang yang terluka ini, maka aku tidak usah berpikir terlampau panjang, mungkin Angger telah terbunuh saat ini karena Angger telah mencoba memata-matai aku.”

Gelora di dalam dada Agung Sedayu pun menjadi semakin keras dan ia mendengar Sumangkar berkata terus. “Kenapa Angger tidak mau membunuh atau membinasakan saja orang itu, supaya aku tidak ragu-ragu melakukan perbuatan serupa atas Angger. Kenapa Angger tidak membelah dadanya dan menyilang punggungnya dengan pedang seperti yang pernah dilakukan oleh Angger Sidanti atas Plasa Ireng dahulu?”

Agung Sedayu masih terbungkam. Yang terdengar hanyalah gemeretak giginya karena berbagai perasaan yang bergelut di dalam dadanya.

Sejenak mereka terdiam. Sumangkar berdiri termangu-mangu dengan Tohpati masih di pundaknya. Agung Sedayu tegak, seperti patung seorang prajurit yang siap menusukkan pedang di lambung lawannya. Sedang di sampingnya masih terbaring seorang yang luka parah sambil mengerang kesakitan.

Angin malam yang dingin perlahan-lahan mengusik tubuh mereka. Daun-daun yang bergetaran membuat suara gemerisik, seperti suara orang yang saling berbisik di antara batang-batang yang tegak berserak-serak.

Yang terdengar kemudian adalah suara orang yang terluka itu perlahan-lahan, “Apakah kau Sumangkar juru masak itu?”

“Ya, aku Sumangkar juru masak.”

“Apa kerjamu di sini?”

“Tidak apa-apa.”

Orang itu mengerang kembali. Kemudian katanya, “Apa kau dapat menolong aku?”

Sumangkar tertegun sejenak. Dan orang itu berkata terus, “Rupa-rupanya kau sedang membujuk prajurit Pajang itu untuk membunuhku Sumangkar, kalau kau dapat usahakanlah. Aku memang sudah tidak akan dapat sembuh.”

“Tidak.”

Tiba-tiba terdengar suara Agung Sedayu meledak. Suara itu seakan-akan dilontarkannya dengan serta merta untuk melepaskan tekanan-tekanan yang selama itu menghimpit dadanya.

Sumangkar terkejut mendengar teriakan itu. Bahkan orang yang sudah terbaring itupun terkejut. Sekali ia menggeliat namun kemudian kembali terdengar keluhnya semakin pedih dan melambat.

“Paman Sumangkar, “berkata Agung Sedayu lantang, ”lakukanlah apa yang akan kau lakukan, kalau kau akan mencoba membunuhku cobalah. Kalau aku mati terbunuh cepatlah terjadi. Kalau aku mampu menyelamatkan diriku biar segera terjadi pula. Kemudian salah seorang dari kita akan mendapat kesempatan untuk menolong orang ini.”

Yang terdengar adalah tarikan nafas Sumangkar. Bahkan kemudian terdengar ia mengeluh, “Hem, kenapa Angger Agung Sedayu yang mendapat tugas ini.”

“Apa bedanya?”

“Baiklah, “berkata Sumangkar sambil mengangkat wajahnya. “Aku adalah seorang prajurit. Aku tidak boleh tenggelam dalam kebimbangan perasaanku. Aku harus dapat mengendalikan perasaanku dengan nalar. Karena itu, maka bagaimanapun juga Angger Agung Sedayu harus tidak dapat mengikuti jejakku maupun jejak para prajurit Jipang.”

“Aku sudah bersiap, “sahut Agung Sedayu dengan tatagnya, “apapun yang akan kau lakukan.”

Terdengar Sumangkar menggeram. Namun ia tidak beranjak dari tempatnya. Jantungnya terasa berdentangan dan otaknya diamuk oleh kebimbangan dan keragu-raguan. Sebagai seorang prajurit ia tidak dapat mengorbankan pasukannya terjebak dalam perangkap lawan. Namun sebagai manusia, ia tidak dapat berbuat apa-apa atas Agung Sedayu setelah ia melihat dan mendengar bagaimana anak muda itu bersikap dan berpendirian terhadap salah seorang prajurit Jipang.

Kembali mereka terdampar dalam keheningan yang semakin tegang. Angin malam terdengar seperti suara gemerisik, seolah-olah suara tarikan nafas berpuluh-puluh, bahkan beratus-ratus orang yang sedangmengintai kedua orang yang berdiri kaku di tempat masing-masing.

Namun tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara orang yang luka parah itu, meskipun sangat perlahan-lahan, “Aku haus. Air. Air.”

Dada Agung Sedayu tersentak mendengar keluhan itu. Suara itu langsung menyentuh dadanya. Sehingga sesaat ia berjuang untuk mengatasi perasaannya, namun terloncat pula kata-katanya.

“Orang itu perlu air.”

Sumangkar mengangguk

“Ya, ia sangat memerlukan air.”

Tetapi keduanya tidak tahu, bagaimana cara untuk menolongnya sebab masing-masing sedang terikat dalam kewajiban mereka sendiri-sendiri.

Dalam ketegangan itu tiba-tiba kembali mereka dikejutkan oleh suara gemerisik yang lain. Seperti digerakkan oleh satu tenaga gaib, mereka berpaling, bahkan digerakkan oleh naluri mereka masing-masing, maka segera mereka bersiap menghadapi setiap kemungkinan.

Series 13

TETAPI yang terdengar adalah suara tertawa lemah. Suara itu melontar dari balik sebatang pohon yang besar. Hampir bersamaan muncullah sebuah bayangan hitam, berjalan beberapa langkah mendekati mereka.

“Hem, kalian telah terbenam dalam kepentingan kalian masing-masing sehingga kalian tidak sempat memperhatikan saat-saat yang paling berbahaya dalam hidup seseorang.”

Agung Sedayu tersentak. Tiba-tiba dari mulutnya terdengar la berdesis, “Kiai Gringsing.”

Kiai Gringsing tidak menjawab. la berjalan terus ke arah orang yang terbaring itu. Dengan cekatan ia memijit-mijit beberapa bagian dari sisi luka itu, kemudian mengambil sebungkus ramu-ramuan obat-obatan dari dalam bajunya.

Terdengar orang itu berdesis, kemudian mengerang semakin keras.

“Memang agak pedih,” berkata Kiai Gringsing, “mudah-mudahan akan dapat menolongmu,” berkata Kiai Gringsing sambil mengusap luka itu dengan ramuan obatnya.

Kemudian kepada Agung Sedayu ia berkata, “Bawalah orang ini ke tepi hutan. Carilah air untuknya, dan bawalah ke banjar desa bersama orang-orang lain yang terluka.”

“Kiai,” potong Sumangkar, “apakah artinya ini?”

Kiai Gringsing berpaling. Dipandanginya wajah Sumangkar dalam kesamaran gelap malam.

“Biarlah aku mencoba menolong jiwanya. Aku adalah seorang dukun. Aku tidak dapat melihat seseorang yang berjuang melawan maut tanpa berbuat apa-apa. Sedang kalian masih saja bertengkar tanpa ujung pangkal. Sehingga aku tidak tahan lagi bersembunyi sambil mendengar keluhan ini.”

“Lalu, maksud Kiai seterusnya.”

“Biarlah Agung Sedayu kembali ke Sangkal Putung. Akulah yang akan mengambil alih tugasnya,” sahut Kiai Gringsing.

Mendengar jawaban Kiai Gringsing itu wajah Sumangkar menjadi merah padam. la tahu benar arti kata-kata itu. Dan ia tahu, akibat dari kata-kata itu pula. Karena itu sesaat ia terbungkam. Bukan saja Sumangkar yang terkejut, tetapi juga Agung Sedayu terkejut. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Kiai, apakah Kakang Untara akan membenarkan?”

“Kakangmu tidak akan berbuat apa-apa. Baginya, siapa saja yang melakukan perintahnya tidak ada bedanya.”

Sedayu masih ragu-ragu. la masih saja berdiri di tempatnya. Sehingga Kiai Gringsing berkata pula, “Selagi masih ada kesempatan, maka setiap jiwa yang terancam maut harus mendapat pertolongan. Adalah wajib kita berusaha, namun apabila ditentukan lain, kita manusia tidak dapat melawan kehendak-Nya.”

Tetapi Agung Sedayu masih ragu-ragu. Dan karena Agung Sedayu ragu-ragu Kiai Gringsing berkata, “Agung Sedayu, pergilah. Bukankah kau masih dapat mengenal jalan kembali. Tempat ini masih belum terlampau dalam-dalam.

Kau dapat mengikuti jejak prajurit Jipang dalam-dalam arah yang berlawanan.”

“Tetapi perintah itu.”

Serahkan kepadaku. Kakakmu adalah seorang Senapati yang cerdik. Aku tahu benar, kenapa yang diperihtahkannya adalah kau. Bukan orang lain. Padahal Untara tahu, siapakah Adi Sumangkar itu. Kakakmu pasti mempunyai perhitungan sendiri. la pasti, bahwa aku tidak akan melepaskan kau sendiri dalam tingkat sekarang. Sebab kakakmu segan untuk langsung meminta aku melakukan pekerjaan ini.”

Terasa sesuatu bergetar di dada Agung Sedayu. Ternyata bukan dirinya sendirilah sasaran dari perintah kakaknya. “Hem,” Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

Terdengarlah pula Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Bahkan seakan-akan orang tua itu mengeluh.

“Sekarang pergilah,” perintah Kiai Gringsing.

Agung Sedayu tidak dapat menghindar lagi. Perintah kakaknya baginya sama beratnya dengan perintah gurunya. Namun bahwa gurunya akan mengambil alih tugasnya, telah membesarkan hatinya.

Perlahan-lahan Agung Sedayu menyarungkan pedangnya. Dan perlahan-lahan pula ia berjongkok di samping gurunya. Dengan hati-hati, orang yang terluka itu dipapahnya pada kedua tangannya.

“Berat?” bertanya Kiai Gringsing.

“Cukup berat,” sahut Agung Sedayu.

“Hati-hatilah. Kalau kau telah memberinya minum maka orang itu akan dapat kau papah pada lambungnya. Mungkin ia dapat menggantungkan dirinya pada pundakmu. Kalau tidak, kau masih harus mengangkatnya sampai kebanjar desa.”

Agung Sedayu mengangguk, jawabnya, “Baik Kiai.”

Ketika Agung Sedayu kemudian berputar dan melangkah, terdengar Sumangkar menggeram. “Kiai, ternyata senapati Pajang itu tidak berkata sejujur hatinya.”

“Kenapa?” sahut Kiai Gringsing.

Agung Sedayu yang mendengar perkataan Sumangkar itu berhenti sambil berpaling. Tetapi Kiai Gringsing berkata, “Berjalan terus Sedayu. Jangan menunggu orang itu mati.”

Sedayu mengangguk. Ia melangkah kembali meninggalkan gurunya dan Sumangkar masuk ke dalam gelapnya malam yang semakin kejam.

Orang di tangannya itu masih mengerang. Bahkan terdengar ia berbisik, “Akan kau bawa kemana aku, Kisanak.”

“Mencari air,” sahut Agung Sedayu.

Orang itu terdiam. Namun perasaannya bergolak tidak menentu. la tidak tahu, apakah yang telah mendorong prajurit Pajang itu menyelamatkannya. Karena itu, maka rasa heran dan haru berkecamuk di dalam dadanya.

“Kisanak,” desisnya lirih, “bukankah bagimu lebih mudah menusukkan pedangmu ke ulu hatiku dari pada membawa aku mecari air?”

Agung Sedayu tidak menjawab. Dalam keadaan demikian Agung Sedayu sama sekali tidak teringat lagi batas antara prajurit Pajang dan prajurit Jipang. Namun perasaan kemanusiaannyalah yang telah mendesak semua persoalan yang pernah ada antara dirinya, sebagai seorang yang berada dalam barisan Pajang dan orang itu prajurit Jipang.

Sepeninggal Agung Sedayu, Kiai Gringsing berdiri berhadapan dengan Sumangkar yang masih membawa tubuh Macan Kepatihan di pundaknya. Keduanya berdiri tegak dalam jarak beberapa langkah saja.

“Kiai,” berkata Sumangkar, “kalau benar Angger Untara akan mengusahakan pengampunan kenapa Untara masih dikungkung oleh perasaan curiga.”

“Kenapa?” bertanya Kiai Gringsing.

“Ternyata Untara masih mengirim seseorang untuk mengikuti aku. Bukankah dengan demikian, pengampunan yang dikatakan itu tidak lebih dari satu jebakan saja bagi Jipang.”

“Adi Sumangkar,” berkata Kiai Gringsing, “kita yang selama ini berdiri pada pihak yang bermusuhan, sudah tentu tidak dapat melenyapkan kecurigaan hati kita masing-masing dalam sekejap. Sudah tentu bukan hanya Angger Untara yang bercuriga, bukankah kau bercuriga pula? Bukankah kau bercuriga bahwa perkataan Untara itu hanya sekedar sebuah pancingan.

“Kalau tidak,” sahut Sumangkar, “ia tidak akan mengirim seseorang untuk mengikuti aku.”

“Tetapi sebelum kau temukan Agung Sedayu di sini, kecurigaan telah ada di hatimu. Bukankah kau katakan bahwa kau sudah menyangka bahwa seseorang akan mengikuti jejakmu? Bukankah itu juga semacam perasaan curiga? Nah, kita sama-sama curiga. Lebih baik tidak usah aku ingkari. Tetapi kecurigaan kami didasari atas kemauan yang baik. Siapa yang menyerah, akan mendapat pergampunan meskipun tidak mutlak seperti kata-kata Angger Untara. Yang tidak mau menyerah itulah yang akan dimusnahkan. Karena itu Angger Agung Sedayu harus tahu, jalan yang dapat ditempuh untuk menghancurkan mereka yang membangkang perintah.”

Sumangkar masih saja berdiri seperti patung. Namun hatinya berkata seperti apa yang dikatakan oleh Kiai Gringsing itu pula, “kita yang selama ini berdiri pada pihak yang bermusuhan, sudah tentu tidak dapat melenyapkan kecurigaan hati kita masing-masing dalam sekejap.”

Tetapi Sumangkar masih ingin menghindarkan diri dari jebakan yang mungkin dibuat oleh Untara, katanya, “Kiai, apakah tidak mungkin bahwa setelah Angger Untara mengetahui perkemahan orang-orang Jipang, maka dengan serta merta dihancurkannya, tanpa menunggu pernyataan mereka yang berhasrat untuk benar-benar mencari jalan kembali?”

“Kecurigaan itu beralasan,” sahut Kiai Gringsing. “Seperti juga Angger Untara bercuriga. Jangan-jangan Sumangkar hanya ingin mempengaruhi perasaan orang-orang Pajang untuk mendapat kesempatan melepaskan bersama anak buah Tohpati. Apakah kami dapat mengetahui dengan pasti, bahwa apa yang dikatakan oleh Sumangkar untuk kembali setelah menguburkan mayat Tohpati dan bersedia menerima segala macam hukuman sebagai janji yang pasti ditepati?”

“Apakah kalian orang-orang Pajang tidak percaya kepadaku, Kiai?”

“Perasaan kami serupa. Seperti kau tidak percaya bahwa kami yang benar-benar bertekad untuk menyelesaikan persoalan ini sebaik-baiknya. Bahkan kau berprasangka, seolah-olah kami akan menjebakmu dan orang-orang Jipang yang lain.”

Sumangkar terdiam sejenak. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berpikir. Kemudian terdengar ia berkata, “Lalu, apakah yang akan kau lakukan kini, Kiai?”

“Meneruskan pekerjaan Agung Sedayu.”

“Memata-matai aku?”

“Ya.”

“Bagaimana kalau aku menolak.”

“Adi Sumangkar. Kalau aku orang yang taat pada kewajibanku, maka aku harus menjawab seperti Agung Sedayu. Apapun yang akan terjadi. Tetapi untuk menghindari hal-hal yang saling tidak kita inginkan, maka aku dapat menjawab lain. Sebenarnya bagi Kiai Gringsing, sama sekali tidak perlu, apakah Sumangkar sedang lewat, apakah ada bekas-bekas anak buah Angger Tohpati, atau petunjuk-petunjuk yang lain. Bagi Kiai Gringsingi mencari perkemahanmu tidaklah sesulit mencari kutu di kepala.”

“Hem,” Sumangkar menggeram, disadarinya kini dengan siapa ia berhadapan. Kiai Gringsing ternyata telah mengucapkan tekadnya. Dalam pada itu kadang-kadang tumbuh lagi niatnya untuk membunuh dengan meminjam tangan Kiai Gringsing, barangkali saat-saat yang sedemikian ini dapat dimanfaatkannya. Kalau ia mencoba mengusir Kiai Gringsing, maka ada kemungkinan mereka terlibat dalam perkelahian. Tetapi Sumangkar hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia telah menyanggupi, melakukan pesan terakhir Macan Kepatihan. Mengubur mayatnya baik-baik.

Kata-kata Kiai Gringsing itupun cukup tegas baginya, dan ia percaya bahwa Kiai Gringsing mampu melakukannya, mencari perkemahannya tanpa petunjuk-petunjuk apapun. Karena itu maka akhirnya Sumangkar berkata, “Baiklah Kiai. Silahkan Kiai melakukan pekerjaan Kiai Gringsing. Aku percaya, bahwa Kiai akan berhasil.”

“Terima kasih,” sahut Kiai Gringsing. “Tetapi aku harap kau tidak berprasangka. Angger Untara benar-benar berkemauan baik untuk menyelesaikan persoalan sisa-sisa anak buah Tohpati dengan menghindarkan pertumpahan darah sejauh mungkin. Seperti yang dikatakannya, bahwa Panglima Wira Tamtama sendiri memberinya saran itu.”

“Ya. Ya. Kiai. Aku akan berjalan terus membawa mayat Angger Macan Kepatihan di antara anak buahnya. Mungkin mayat ini dan pesan-pesannya di saat terakhir akan bermanfaat bagi penyelesaian itu. Aku akan mengakui kekuranganku, bahwa aku tidak dapat menghalang-halangi Kiai.”

“Marilah kita menganggap bahwa kita saat ini tidak bertemu. Aku akan mencari jalan sendiri, sehingga apabila aku menemukan perkemahanmu, bukanlah karena kesalahan Sumangkar, yang seakan-akan telah menuntun musuhnya menemukan perkemahan sendiri.”

“Baik Kiai. Kini aku akan pergi.”

Kiai Gringsing mengangguk. “Silahkan,” jawabnya.

Sumangkar pun kemudian berputar, meneruskan langkahnya, menyusup ke dalam gerumbul dan menghilang didalam kelamnya malam. Sambil membawa mayat Raden Tohpati, Sumangkar berjalan cepat-cepat untuk segera sampai ke perkemahannya. Betapa hatinya menolak maksud Kiai Gringsing untuk melihat perkemahannya dan mengetahui segala seluk-beluknya, namun ia tidak mampu menghalang-halanginya. Sebenarnya Sumangkar ingin sampai saat-saat terakhir, meskipun dirinya sendiri kemudian akan menyerahkan dirinya bersama dengan orang-orang yang sependirian, namun ia tidak akan membiarkan orang-orang yang selama ini bersama-sama berdiri pada suatu pihak mengalami bencana yang mengerikan. Yang seolah-olah karena kesalahannya. Bahkan akan dapat dituduh, karena pengkhianatannya, maka mereka akan dimusnahkan.

“Tetapi Kiai Gringsing memiliki beberapa kelebihan,” desisnya.

Karena itu dicobanya untuk menenangkan perasaannya. Ia mencoba untuk berlaku seperti apa yang dikatakan oleh Kiai Gringsing, seolah-olah mereka tidak pernah bertemu di dalam hutan, seolah-olah Kiai Gringsing mencari jalan sendiri. Dan apabila Kiai Gringsing itu sampai di perkemahan juga, itu adalah karena kecakapannya sendiri.

Dalam kesibukan angan-angan, akhirnya Sumangkar menjadi semakin dekat dengan perkemahannya. Beberapa langkah lagi ia menyibak gerumbul terakhir dan beberapa langkah lagi, orang tua itu telah sampai di halaman yang kotor dari perkemahan yang sangat sederhana.

Seorang penjaga dengan tangkasnya meloncat, dan pedangnya langsung diangkatnya setinggi dada sambil membentak, “Berhenti! Siapa kau?”

Sumangkar berhenti. Dengan sareh ia menjawab, “Sumangkar.”

“O,” gumam orang itu. Namun tiba-tiba terdengar suaranya menghentak, “Dari mana kau?”

Sumangkar tidak segera menjawab. la berjalan semakin dekat. Dan tiba-tiba penjaga itu berkata, “He. Apakah kau baru saja berburu? Apakah yang kau dapatkan itu?”

Sumangkar tidak menjawab. la berjalan terus semakin dekat.

“Apa he? Apakah orang yang lain berhasil mendapatkat buruan itu, dan kau harus memasaknya?”

“Tutup mulutmu!” bentak Sumangkar. Tiba-tiba saja dadanya dirayapi oleh kemuakan yang sangat mendengar pertanyaan yang manyakitkan hatinya. Yang dipundaknya itu adalah mayat murid kakak seperguruannya, pemimpin tertinggi prajurit Jipang sepeninggal patih Mantahun.

Penjaga itu terkejut mendengar bentakan itu. Sesaat ia diam mematung, namun kemudian tumbuhlah marahnya. Juru masak itu berani membentak-bentaknya. Baru saja ia kembali dari peperangan yang hampir menghancur lumatkan pasukannya. Baru saja ia menegang nyawanya. Belum lagi ia sempat beristirahat, ia sudah mendapat tugas untuk berada disudut-sudut penjagaan yang diperkuat bersama-sama beberapa orang lain yang sama sekali tidak mengalami cidera. Tiba-tiba juru masak itu membentak-bentaknya. Karena itu, maka dengan kasar ia menjawab, “He, Sumangkar. Apakah kau tidak dapat menjaga mulutmu he?”

Sumangkar tidak menjawab. Ia berjalan menyusur sisi halaman perkemahan itu, tidak melewati tempat prajurit itu berjaga-jaga. Tetapi prajurit yang marah itu mengejarnya dan sekali lagi membentaknya, “He, tikus tua. Mintalah maaf supaya mulutmu tidak aku remas.”

Tetapi orang tua itu berpalingpun tidak. Ia berjalam terus. la ingin segera sampai ke pusat perkemahan dan menyerahkan tubuh Macan Kapatihan kepada pimpinan yang masih ada. Namun prajurit yang marah itu mengejarnya terus.

“Berhenti!” teriaknya. “Kalau tidak aku sobek punggungmu dengan pedangku.”

Sumangkar berhenti. Sambil memutar tubuhnya ia berkata, “Apakah sebenarnya yang kau kehendaki? Buruanku ini?”

“Keduanya. Buruanmu dan mulutmu.”

Sumangkar yang hatinya sedang gelap itu tiba-tiba menjadi bertambah gelap. Dalam keadaan yang serupa itu, tiba-tiba tanpa disangka-sangka, tanpa ancang-ancang, terasa sesuatu menyengat mulut prajurit itu. Demikian kerasnya sehingga prajurit itu terlempar beberapa langkah ke samping. Terdengar tubuhnya terbanting di tanah dan terdengar ia mengeluh pendek.

Dalam pada itu terdengar suara Sumangkar parau, “Mulutmulah yang harus kau jaga.”

Prajurit yang terbanting itu merangkak-rangkak bangun. Mulutnya yang berdarah, menghamburkan kata-kata kotor. Setelah ia memungut pedangnya yang terlepas dari tangannya, ia berdiri tegak sambil berkata, “Sumangkar. Apakah kau sudah menjadi gila. Sekarang aku benar-benar akan membunuhmu.”

Sebelum Sumangkar menjawab, prajurit yang marah itu telah meloncat beberapa langkah maju sambil langsung menusukkan pedangnya menghunjam ke arah jantung Sumangkar. Namun sekali lagi prajurit itu terkejut. Sumangkar itu seakan-akan lenyap dari tempatnya. Dan tiba-tiba sekali lagi kepalanya terasa pening. Sekali lagi ia terdorong beberapa langkah dan jatuh terbanting di tarah.

Kini terasa matanya berkunang-kunang. Hampir-hampir ia kehilangan kesadaran. Kepalanya terasa hampir pecah dan nafasnya hampir terputus di kerongkongan.

Prajurit itu mengerang. Dicobanya untuk mengatasi segala macam perasaan sakitnya. Ketika ia dengan susah payah berhasil bangkit dan duduk di atas tanah, maka yang dilihatnya bayangan Sumangkar menghilang di dalam gelap.

“Gila,” umpatnya, “orang itu telah menjadi gila.”

Tertatih-tatih prajurit itu berdiri Sekali lagi ia memungut pedangnya yang terlepas. Kepalanya yang pening dan sakit itu masih mampu melontarkan berbagai pertanyaan tentang juru masak yang dianggapnya sudah menjadi gila. Juru masak yang malas itu tiba-tiba menjadi garang. Segarang babi hutan jantan.

Prajurit itu tak habis heran. Kenapa Sumangkar yang malas itu dapat berubah menjadi seorang yang mampu melakukan perbuatan di luar dugaannya, bahkan melampaui segala kecepatan gerak yang pernah dilihatnya, pada pemimpinnya yang disegani, Macan Kepatihan sekalipun.

Meskipun demikian, prajurit yang masih dibakar oleh kemarahan itu sama sekali tidak puas mengalami perlakuan itu. Mungkin adalah kebetulan saja Sumangkar mampu berbuat demikian. la benar-benar ingin membuktikannya. Karena itu kemudian dengan langkah yang gontai ia berjalan kembali ke sudut penjagaannya minta ijin kepada kawan-kawannya untuk mencari Sumangkar ke dapur.

“Kenapa kau?” bertanya seorang kawannya ketika in melihat prajurit itu berjalan tertatih-tatih.

“Tidak apa-apa,”jawabnya.

“Di mana orang tua itu. Bukankah yang kau kejar tadi Sumangkar? Apakah ia mencoba menyembunyikan sesuatu?”

“Aku ingin melihatnya ke dapur.”

Kawan-kawannya tertawa. Mereka menyangka bahwa prajurit ingin mendapat sebagian dari hasil buruan orang tua itu.

Dalam pada itu Sumangkar berjalan terus. Sekali ia membelok dan menyusur jalan sempit menuju ke kemah Macan Kepatihan. la mengharap bahwa para pemimpin yang masih ada, berada di tempat itu.

Semakin dekat Sumangkar dengan pintu kemah hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Sekali-sekali terbayang di wajahnya, senapati Jipang yang dipanggulnya itu bertempur sampai titik darahnya yang terakhir untuk melindungi anak buahnya, kemudian terbayang pula senapati muda dari Pajang yang berkata kepadanya bahwa iaakan mengusahakan pengampunan untuk mereka yang dengan kemauan sendiri karena kesadaran, menyerah kepada pasukan-pasukan Pajang di Sangkal Putung.

“Kedua-duanya adalah anak-anak muda yang perkasa,”katanya di dalam hati. “Keduanya memiliki sifat-sifat yang mengagumkan. Tetapi ternyata dalam olah kaprajuritan senapati muda dari Pajang itu dapat melampaui Angger Tohpati. Bukan saja ketrampilan bermain pedang, namun ternyata senapati muda Pajang itu cukup cerdas dan bijaksana. Seandainya apa yang dikatakannya benar, pengampunan meskipun tidak mutlak, maka anak muda itu adalah anak muda yang terpuji.”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Untara telah mengijinkannya membawa mayat Macan Kepatihan untuk dikuburkannya. Tetapi kemudian terdengar ia bergumam. “Mudah-mudahan ini bukan sekedar suatu jebakan saja. Ternyata angger Untara benar-benar mengirim orang untuk mengikuti aku.”Namun terdengar kembali jawaban dari dasar hatinya. “Bukankah Kiai Gringsing dapat melakukannya meskipun tidak mengikuti bekaskaki atau jejak siapapun?”

Dalam pada itu langkah Sumangkar menjadi semakin dekat dengan pintu perkemahan Macan kepatihan. Sekali lagi ia bertemu dengan seorang penjaga. Ketika penjaga itu melihatnya segera ia menyapanya, “Siapa?”

“Aku, Sumangkar.”

“O, kau mau kemana?”

“Di mana Angger Sanakeling?”

“Kau dapat rusa untuknya?”

“Ya,” sahut Sumangkar pendek.

“Di dalam kemah itu. Mereka menunggu Raden Tohpati.”

***

Sumangkar mengangguk. Kemudian ia meneruskan langkahnya. Namun baru beberapa langkah ia mendengar prajurit itu bertanya dengan nada yang aneh, “He, Sumangkar. Siapakah itu?”

Sumangkar berhenti sejenak. Kemudian jawabnya, “Inilah yang sedang mereka tunggu.”

“He?” tiba-tiba prajurit itu gematar. Mulutnya serasa terbungkam dan dengan lemahnya ia tersandar pada sebatang pohon di samping kemah Macan Kepatihan itu.

Sumangkar melihat betapa besar pengaruh hilangnya Macan Kepatihan atas para prajurit Jipang. Mereka seakan-akan kehilangan kekuatannya. Meskipun Macan Kepatihan seorang saja tidak akan mampu berbuat apa-apa tanpa prajuritnya dan para pejuang lain, namun pengaruh dan wibawanya seakan-akan telah mencengkam segenap hati anak buahnya.

Sumangkar tidak berkata apa-apa lagi kepada prajurit itu. Sambil menundukkan kepalanya ia berjalan terus ketika ia sampai di muka pintu, ia tertegun sejenak. Dilihatnya cahaya obor memancar lewat pintu yang masih terbuka sedikit jatuh di atas tanah yang kotor lembab.

Dengan ragu-ragu Sumangkar mendekat. Disentuhnya pintu itu dengan tongkatnya. Dan tiba-tiba ia mendengar suara dari dalam pintu itu menyentak, “Kakang tohpati.”

Sanakeling terlonjak ketika dilihatnya sebatang tongkat baja putih menyentuh pintu. Dengan sebuah loncatan ia telah mencapai pintu diikuti oleh beberapa orang lain. Tetapi ketika ia melihat, siapa yang berdiri di muka pintu dan apa yang dibawanya, maka serasa darahnya membeku. Dengan suara yang serak parau ia berkata, “Paman Sumangkar, apakah itu Kakang Tohpati?”

Sumangkar mengangguk. Tetapi ia tidak mengucapkan kata-kata. Ketika ia melangkahi tlundak pintu semua orang yang berdiri di dalamnya, menyibak. Merekapun terdiam seperti Sumangkar. Dengan mata terbelalak danhati melonjak-lonjak mereka melihat Sumangkar meletakkan tubuh itu di atas sebuah amben bambu. Terdengar suaranya berderit seolah-olah sebuah goresan yang tajam berderit di jantung mereka.

Sesaat mereka berdiri tegak seperti patung. Semua mata tertancap kepada tubuh yang terbujur diam. Pakaiannya masih berwarna darah karena lukanya yang arang kranjang. Sedang di tubuh Sumangkar pun darah itu meleleh membasahi pakaian orang tua itu pula.

Ruangan itu menjadi sunyi senyap. Tak seorangpun yang bergerak. Hanya hati merekalah yang bergelora, melonjak-lonjak menggapai langit seperti sebuah nyala api yang membakar gunung.

Yang terdengar kemudian adalah desir angin yang menggerakkan dedaunan. Sekali-kali kilat memancar di langit, disusul oleh suara guruh bersahut-sahutan. Perlahan-lahan, namun semakin lama semakin keras.

Tetapi ruangan itu masih tetap sepi.

Hati mereka seakan-akan pecah ketika mereka mendengar Sumangkar berkata sambil menunjuk tubuh Tohpati itu dengan tongkatnya, “Inilah orang yang kalian tunggu.”

Yang pertama-tama bergerak adalah Sanakeling. Selangkah ia maju mendekati tubuh yang terbujur itu. Sambil menggigit bibirnya ia menunduk mengamat-amati mayat yang sudah membeku dingin. Sanakeling menarik nafas dalam-dalam. Luka itu luka arang kranjang.

Tiba-tiba orang kedua sesudah Macan Kepatihan itu menggeram seakan-akan ingin melontarkan tekanan yang menghimpit dadanya.

“Raden Tohpati terbunuh dengan luka arang kranjang karena ingin menyelamatkan kita.” desah Sanakeling. Wajahnya yang ditimpa oleh sinar obor yang nyalanya bergerak-gerak disentuh angin tampak menjadi tegang dan buas. Seperti seekor serigala yang kehilangan anaknya, Sanakeling itu menggeretakkan giginya sambil menghentakkan kakinya di tanah.

Kembali ruangan itu tenggelam dalam kesenyapan. Hanya nafas-nafas mereka yang bekejaran terdengar seperti desah angin di luar yang menggetarkan dedaunan dan ranting-ranting.

Sekali-kali kilat memancar di langit dan kembali suara guruh terdengar bersahut-sahutan. Namun kemudian sunyi kembali.

Tetapi tanpa sepengetahuan mereka, di luar gubug yang satu itu, semakin lama semakin banyak orang-orang Jipang berkumpul. Mereka mendengar dari prajurit yang melihat Sumangkar membawa mayat Tohpati memasuki gubug itu. Berjejal-jejal mereka ingin menyaksikan apakah yang dikatakan oleh kawannya itu benar.

Sumangkar, Sanakeling dan orang-orang yang berada di dalam gubug itu terkejut ketika mereka mendengar pintu berderak karena desakan orang-orang di luar. Ketika mereka berpaling, mereka melihat wajah-wajah yang kaku tegang.

Sanakeling yang dibakar oleh luapan kemarahannya itu memandang mereka dengan mata yang menyala. Seakan-akan dari matanya memancar dendam tiada taranya. Seakan-akan dari matanya itu memancar tuntutan atas kesetiaan orang-orang Jipang kepada pemimpinya itu.

Sumangkar melihat mata yang menyala itu. Sumangkar menangkap apa yang terbersit dari pancaran itu. Karena itu ia menjadi berdebar-debar. Ia belum sempat menyampaikan pesan terakhir Macan Kepatihan kepada Sanakeling, kepada Alap-alap Jalatunda, kepada pemimipin-pemimpin Jipang yang lain. Kini tiba-tiba pemimpin-pemimpin Jipang yang marah itu akan langsung berhadapan dengan para prajurit yang pasti akan mudah sekali terbakar hatinya. Dalam keadaan yang sedemikian, maka mereka dapat melakukan kebuasan dan kebiadaban yang mengerikan. Apalagi kini Macan kepatihan sudah tidak ada lagi. Tidak ada lagi yang dapat mencegah mereka melakukah apa saja yang mereka kehendaki. Apa saja yang mereka lakukan, apalagi untuk mengungkapkan kemarahan kebencian, dendam, bahkan untuk mengucapkan kegembiraan hati mereka, mereka dapat melakukan hal-hal yang tidak wajar. Sepeninggal Arya Jipang, sepeninggal Patih Mantahun, maka sebagian besar para prajurit Jipang telah kehilangan pegangan. Seandainya pada saat-saat yang demikian itu tidak ada Macan Kepatihan, maka mereka akan dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat liar, sebab mereka sudah kehilangan tujuan. Namun kemungkinan yang lain, bahwa sebagian besar dari mereka justru akan meletakkan senjata mereka, apabila mereka mendapat kesempatan dan jaminan bahwa kepada mereka tidak akan diperlakukan di luar batas-batas ketentuan yang ada.

Dan kini Macan Kepatihan itu sudah tidak ada. Kemungkinan yang demikian itu pasti akan berlaku lagi. Sebagian dari mereka pasti akan melepaskan dendam mereka, kebencian mereka dan perbuatan-perbuatan lain yang tanpa terkendali. Namun sebagian dari mereka justru akan meletakkan senjata, apabila mereka mendengar jaminan yang telah diucapkan oleh Untara, senapati Pajang yang langsung mendapat kekuasaan dari Panglima Wira Tamtama.

Kini tinggal bagaimana cara menyampaikan kepada sebagian besar para prajurit Jipang itu. Kalau Sanakeling yang berbicara kepada mereka, maka pasti yang akan dikobarkannya adalah dendam dan benci. Akan dibakarnya hati para prajurit itu. Dan hati merekapun segera akan terbakar. Mereka akan bertebaran ke segala penjuru dengan bara di dada mereka. Dan mereka dapat berbuat apa saja di sepanjang perjalanan mereka. Mereka dapat menakut-nakuti rakyat pedesan. Bahkan mereka akan dapat melakukan berbagai perkosaan atas sendi-sendi kemanusian.

Karena itu Sumangkar harus bertindak cepat. Mendahului Sanakeling yang menjadi buas, karena melihat Macan Kepatihan yang terbunuh dengan luka arang kranjang.

Tatapi selagi Sumangkar sedang menimbang-nimbang, maka yang terdengar dahulu adalah suara Sanakeling, “He, para prajurit Jipang yang berani. Kini kalian dapat melihat, betapa biadabnya orang-orang Pajang Pemimpinmu terbunuh dengan luka arang kranjang.”

Dada Sumangkar berdesir mendengar kata-kata itu. Kata-kata itu adalah permulaan dari cara Sanakeling membakar hati mereka. Dada Sumangkar itu semakin bergelora ketika sekilas ia melihat mata yang menyala pada setiap wajah para prajurit Jipang. Dalam sinar obor yang kemerah-merahan, maka dilihatnya mata mereka seakan-akan melampaui panas api obor itu.

Kali ini Sumangkar tidak mau terlambat lagi. Karena itu maka segera ia menyahut, “Ya. Lihatlah. Angger Macan Kepatihan telah meninggalkan kita. Macan Kepatihan yang garang ini telah bertempur untuk melindungi kalian, sehingga nyawanya sendiri telah dikorbankan.”

Semua orang yang berdiri di samping mayat yang terbujur itu diam. Dan mereka mendengar kata-kata Sumangkar itu dengan hati yang penuh haru.

Namun Sumangkar masih melihat bara di wajah-wajah mereka. Bara yang justru menjadi semakin panas.

Tetapi Sumangkar berkata terus, “Nah. Apakah yang akan kalian lakukan sebagai balas budi yang tiada taranya itu?”

Sanakeling sendiri menatap wajah Sumangkar dengan gelora yang hampir menghimpit jalan pernafasannya. Yang pertama-tama berteriak adalah Sanakeling sendiri, “Pembalasan!”

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh di luar gubug itu. “Ya. Pembalasan. Pembalasan. Nyawa dengan nyawa. Darah dengan darah.”

Sumangkar meredupkan matanya. Ia melihat tekad yang menggelora. Namun di antara suara yang bergemuruh itu, terdengar jantungnya sendiri berdentangan melampaui gemuruh suara orang-orang di luar gubug itu.

“Bagus!” teriak Sumangkar. “Bagus. kalian harus melakukan pembalasan.” Sumangkar berhenti sesaat. Lalu diteruskannya, “Apakah kalian masih memiliki kesetiaan kepada pemimpin-pemimpinmu ini?”

Para prajurit Jipang itu serentak menjawab, “Tentu. Kami masih memiliki kesetiaan yang utuh.”

Sumangkar memandang berkeliling. Sanakeling, Alap-alap Jalatunda, orang-orang yang berdiri di dalam dan di luar gubug itu. Dengan hati-hati ia berbicara terus, “He, orang-orang Jipang. Aku menunggu saat Angger Tohpati menghembuskan nafasnya yang penghabisan. Aku menunggu saat-saat Raden Tohpati mengucapkan pesan-pesannya yang terakhir. Nah, apakah kalian ingin mendengar pesan yang terakhir itu?”

“Ya. Kami ingin mendengar,” sahut mereka serentak.

Sumangkar terdiam sesaat. Ia menjadi ragu-ragu. Apakah sudah tiba saatnya menyampaikan pesan terakhir itu? Apakah dengan demikian, maka tidak akan menimbulkan salah paham pada para pemimpin Jipang yang masih ada?

Namun Sumangkar berjalan terus meskipun ia harus berhati-hati sekali. Katanya, “Pesan itu amat sulit kita lakukan.”

“Biar apapun yang harus kami lakukan, kami tidak akan gentar,” sahut mereka serentak.

“Terlalu berat,” seakan-akan Sumangkar bergumam kapada sendiri.

“Jangan memperkecil arti kami yang ada disini, Paman,” berkata Sanakeling dengan mata menyala. “Apakah kau sangka kami tidak mempunyai cukup keberanian untuk melakukannya?”

“Memang,” sahut Sumangkar, “kesetiaan hanya dapat diwujudkan dengan perbuatan. Bukan sekedar kata-kata dan janji. Namun apa yang harus kita lakukan seakan-akan berada di luar jangkauan kita semua. Bahkan selama ini belum pernah terpikirkan, bahwa kita akan melakukannya.”

“Ya, apakah menyerang jantung kota Pajang? Apakah kami harus berusaha membunuh Adiwijaya? Atau kami harus membalas dendam atas kematian Arya Penangsang dengan berusaha membunuh Ngabehi Loring Pasar meskipun secara diam-diam. Atau Untara, Widura? Apa? Apa yang harus kami lakukan?” teriak Alap-alap Jalatunda.

Sumangkar menggeleng. Selangkah ia maju dengan tongkat baja putihnya terayun-ayun. Cahaya yang berkilat-kilat memantul dari tongkatnya itu berwarna kemerah-merahan, seperti sinar obor yang dengan lincahnya menari di ujung-ujung bumbung dan jlupak.

“Kalian lihat tongkat ini?” berkata Sumangkar kepada orang-orang Jipang.

“Ya. Kami lihat. Itu adalah ciri kebesaran Macan Kepatihan.”

“Kalian salah,” sahut Sumangkar, “ini bukan tongkat Angger Tohpati.”

Semuanya terdiam mendengar kata-kata itu. Serentak mereka memandangi tongkat itu tajam-tajam. Akhirnya mereka menemukan perbedaan itu. Mereka mengenal tongkat Macan Kepatihan baik-baik seperti ia mengenal orangnya, tongkat ini agak lebih kecil dari tongkat Raden Tohpati. Karena itu timbullah keheranan di dalam hati mereka. Apakah Sumangkar juga mempunyai tongkat baja putih berkepala tengkorak yang kekuning-kuningan seperti Macan Kepatihan? Apakah ia memilikinya juga?

Tiba-tiba mereka tersadar, bahwa mereka berhadapan dengan juru masak yang malas. Mereka sama sekali bukan berhadapan dengan seorang pemimpin mereka. Namun meskipun demikian, mereka menunggu dengan tidak sabar. Apakah yang akan dikatakannya tentang pesan terakhir itu.

Tetapi merekapun menjadi heran, kenapa Sanakeling, Alap-alap Jalatunda, tiba-tiba saja memberi kesempatan kepada orang tua itu untuk seakan-akan memimpin pertemuan yang tidak sengaja mereka adakan itu?

Dalam kebimbangan dan keheranan itulah maka Sumangkar akan sampai pada tingkat terakhir dari permainannya. Sebelum ia mengatakan pesan Tohpati, ia harus cukup mempunyai wibawa atas orang Jipang itu. Setidak-tidaknya setingkat dengan wibawa yang dimiliki oleh Sanakeling.

Karena itu, Sumangkar itu maju beberapa langkah. Kini ia berdiri di muka pintu keluar. Ia melihat orang-orang Jipang yang berdiri berdesak-desakan, bahkan ada di antara mereka yang membawa obor-obor di tangan; sedang ke dalam ia melihat Sanakeling, Alap-alap Jalatunda dan beberapa pemimpin yang lain berdiri tegang kaku seperti patung. Namun, baik wajah-wajah orang-orang Jipang maupun para pemimpinnya membayangkan ketidak-sabaran, mereka menunggu kata-kata Sumangkar tentang pesan terakhir Macan Kepatihan.

Terdengar Sumangkar kemudian berkata, “Nah, jadi adakah kalian lihat bahwa tongkat ini bukan tongkat Angger Tohpati? “

“Ya kami lihat,” sahut mereka. Namun Sanakeling, Alapalap Jalatunda dan para pemimpin yang lain tampak seolah-olah berdiri saja membeku. Meskipun sebagian dari mereka mengerti bahwa sebenarnya Sumangkar bukanlah sekedar juru masak namun tongkat baja putih itu benar-benar mengejutkan mereka. Mereka sama sekali belum pernah melihat, bahwa Sumangkar pun memiliki tongkat semacam itu. Apalagi Sanakeling yang jarang sekali berada di pusat pemerintahan Jipang, dan jarang sekali bertemu dengan Sumangkar, meskipun ia tahu bahwa Sumangkar adalah seorang sakti yang berada di dalam lingkungan istana kepatihan. Tetapi sampai pecahnya Jipang, Sanakeling dan Sumangkar berada di medan yang berbeda.

“Itulah yang menyedihkan aku,” berkata Sumangkar. “Aku tidak berhasil membawa tongkat Angger Macan Kepatihan kembali. Aku tidak dapat mengambilnya dari medan setelah Angger Macan Kepatihan terbunuh.” Sumangkar berhenti sesaat. Kemudian katanya melanjutkan, “Tongkat ini adalah tongkatku.”

Sumangkar melihat berpasang-pasang mata terbelalak karenanya. Apalagi ketika mereka mendengar kata-kata Sumangkar seterusnya, “Aku adalah paman guru dari Angger Macan Kepatihan. Nah, itulah aku. Dan itulah sebabnya maka Angger Macan Kepatihan mempercayakan pesannya kepadaku, sebab aku adalah saudara seperguruan Patih Mantahun.”

Gubug itu menjadi sunyi senyap di dalam dan di luarnya. Sesepi tanah pekuburan, orang-orang yang berdiri tegak di halaman dan di dalam gubug itu seperti tonggak-tonggak batang kamboja yang membeku.

Pengakuan Sumangkar terdengar oleh sebagian besar dari mereka seperti suara guruh yang meledak di langit. Orang-orang Jipang itu benar-benar terkejut. Sumangkar, yang mereka kenal sebagal seorang juru masak yang malas, ternyata adalah seorang yang sakti. Saudara seperguruan Patih Mantahun.

Tetapi beberapa orang sudah tidak terkejut lagi. Sanakeling juga tidak terkejut. Siapapun Sumangkar itu, bagi Sanakeling tidak ada bedanya. Sebab ia sudah tahu sebelumnya, bahwa Sumangkar adalah seorang yang sakti.

Kecuali Sanakeling dan beberapa pemimpin yang lain, di antara para prajurit Jipang yang berkumpul di luar pintu itu, terdapat Bajang, juru masak kawan sepekerjaan Sumangkar. Sambil senyum ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Kepada orang yang berdiri di sampingnya ia berkata, “Aku sudah tahu lebih dahulu dari kalian semuanya.”

Kawannya mengerinyitkan alisnya sambil bertanya, “Darimana kau tahu?”

“Apakah kau sudah bertemu dengan Tundun?”

“Belum.”

“Anak itu belum bercerita kepadamu tentang Ki Tambak Wedi dan Sidanti yang datang ke perkemahan ini ketika kalian sedang pergi berperang?”

“Aku belum bertemu dengan Tundun. Bagaimana ia bisa bercerita kepadaku?”

“Mungkin Ki Lurah Sanakeling pun belum sempat mendengar laporan Tundun,” berkata Bajang. “Tambak Wedi yang mengerikan itu datang bersama muridnya Sidanti. Kalau tidak ada juru masak yang malas itu, entahlah apa yang terjadi. Kami bertempur bersama-sama dengan semua orang yang ada di sini. Tetapi melawan muridnya, Sidanti pun kami tidak mampu. Apalagi Ki Tambak Wedi.”

“Dan Sumangkar mengalahkannya?”

“Ya, Sumangkar telah mengusirnya.”

Orang yang mendengar cerita itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Pantas. Pantas,” gumamnya.

Ketika mereka kemudian memandangi pintu gubug itu, kembali mereka melihat Sumangkar berdiri tegak seperti batu karang pinggir pantai. Tiba-tiba mereka melihat seolah-olah orang yang berdiri itu bukan lagi seorang juru masak yang mereka kenal sehari-hari.

Wajah Sumangkar kini seolah-olah memancarkan kewibawaan yang mengejutkan hati mereka. Tongkat baja putih itu benar-benar mirip tongkat Tohpati. Dan tongkat itu adalah milik Sumangkar.

Dalam pada itu terdengar Sumangkar meneruskan, “Meskipun aku tidak berhasil membawa tongkat Angger Tohpati, namun aku telah memiliki tongkat yang serupa. Tongkat yang akan mampu melakukan apa saja seperti yang dapat dilakukan oleh tongkat Angger Macan Kepatihan.

Semua orang masih terdiam. Namun mereka mulai dirayapi oleh kepercayaan bahwa sebenarnya Sumangkar mampu berbuat seperti Macan Kepatihan.

Namun Sanakeling yang mendengar kata-kata itu mengerutkan dahinya. Ia belum tahu pasti arah kata-kata Sumangkar seterusnya. Tetapi sebagai orang kedua sesudah Tohpati, Sanakeling merasa berhak untuk memimpin prajurit-prajurit Jipang itu sepeninggal Macan kepatihan, sehingga dadanya mulai berdebar-debar melihat Sumangkar mengangkat tongkat baja putihnya.

“Apakah Sumangkar akan langsung mengambil alih pimpinan dari Raden Tohpati,” berkata Sanakeling di dalam hatinya.

Dan terdengarlah Sumangkar berkata terus, “Nah, sekarang apakah kalian dapat mempercayai kata-kataku?”

Kembali mereka terlempar dalam kesepian. Sesaat tak seorangpun yang menyahut, sehingga Sumangkar menjadi ragu-ragu. Kalau mereka tidak percaya, maka untuk menekankan pesan-pesan Tohpati, apakah ia perlu menunjukkan beberapa macam permainan sehingga ia tidak lagi dianggap hanya sekedar omong kosong?

Tetapi tiba-tiba terdengar di belakang seseorang berteriak, “Aku telah melihat sendiri Ki Sumangkar mengalahkan Ki Tambak Wedi.”

Semua orang berpaling ke arah suara itu. Tetapi mereka tidak segera melihat siapakah yang telah berteriak-teriak itu. Namun kemudian terdengar kembali orang itu berkata, “Kami yang tinggal di perkemahan pada saat kalian berperang telah melihat sendiri apa yang dilakukan oleh Ki Sumangkar.”

Beberapa orang segera mengenal bahwa suara itu adalah suara Bajang, seorang juru masak yang masih muda, kawan Sumangkar. Beberapa orang menjadi justru bercuriga, apakah Bajang tidak sekedar mengangkat nama kawan sepekerjaannya. Namun tiba-tiba dari beberapa sudut terdengar orang-orang lain menyambut. “Ya kamipun menyaksikan. Kami telah menyaksikan sendiri.”

Sumangkar kemudian memandang berkeliling. Dan sekali lagi ia berkata, “Siapakah yang dapat mempercayai kata-kataku?”

Tiba-tiba menggeloralah jawaban, “Kami percaya, kami percaya.”

Sanakeling masih berdiri di tempatnya dengan wajah yang tegang. Seharusnya dirinyalah yang wajib berdiri dihadapan para prajurit Jipang itu sebagai penggganti Macan Kepatihan. Tiba-tiba tanpa disadarinya, orang lain telah mendahului. Meskipun demikian, ia masih mampu menahan dirinya. Mungkin Sumangkar akan menguntungkannya. Mampu membakar hati para prajurit itu, untuk dibawanya membalas sakit hatinya atas hilangnya pemimpin yang mereka segani.

“Terima kasih,” berkata Sumangkar kemudian. “Kalau demikian kalau kalian percaya akan kata-kataku, maka biarlah aku menyampaikan pesan terakhir Angger Tohpati. Namun seperti kataku tadi, pesan itu terlampau berat bagi kita sekalian. Sebab pesan itu sama sekali berada di luar angan-angan kita selama ini.”

Sekali lagi terdengar para prajurit Jipang itu berteriak, “Kami akan melakukan apa saja yang dipesankan oleh Raden Tohpati. Biar masuk ke dalam api sekalipun, kami akan mematuhinya.”

Sumangkar mengerutkan keningnya. Katanya seperti kepada diri sendiri, namun karena diucapkannya keras-keras, maka semua orang mendengarnya, “Aku kurang yakin, apakah kami mampu melakukannya.”

Orang-orang Jipang menjadi hampir tidak sabar lagi. Karena itu mereka berteriak-teriak, “Kami bersumpah, kami bersumpah.”

***

Sanakeling pun menjadi tidak sabar pula. Beberapa langkah ia maju mendekati Sumangkar sambil berkata, “Berkatalah, jangan melingkar-lingkar. Apakah pesan terakhir itu. Kami akan melakukannya. Aku adalah pemimpin laskar Jipang sepeninggal Macan Kepatihan. Dan aku sanggup untuk memimpin pasukan ini berbuat apa saja. Meskipun aku harus membakar istana Pajang sekalipun dan merampas permaisurinya.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Sahutnya, “Baik. Baik. Akan segera aku katakan.” Namun di dalam hati Sumangkar bergumam, “Kalau kau mampu Sanakeling, kau tidak akan berkeliaran di dalam hutan seperti sekarang. Apalagi kau, sedang Arya Penangsang dan Patih Mantahun pun tidak mampu melawan Ki Gede Pemanahan, Penjawi, dan anak muda Ngabehi Loring Pasar, di samping Adiwijaja sendiri.”

Tetapi kemudian yang dikatakan adalah pesan terakhir Macan Kepatihan. Sambil melangkah maju, Sumangkar menengadahkan wajahnya. Gubug itu kemudian menjadi sunyi senyap. Yang terdengar hanyalah deru nafas orang-orang Jipang itu memburu lewat lubang-lubang hidung mereka yang mengembang. Mereka ingin mendengar kata demi kata, pesan dari pemimpin mereka yang mereka segani.

“Dengarlah,” berkata Sumangkar, “sudah aku katakan bahwa pesan itu terlampau berat bagi kami, sebab pesa nitu berbunyi,” Sumangkar berhenti sesaat. Ditatapnya setiap wajah yang seolah-olah menyalakan tekad di dalam dada mereka. Sesaat kemudian Sumangkar meneruskan, dan kata-katanya terdengar seperti suara guntur dan guruh bersama-sama, beruntun susul-menyusul.

“Pada saat nafas Angger Tohpati telah satu-satu meluncur, ia berkata ’Kematianku adalah akhir daripada bencana yang menimpa rakyat Demak. Aku adalah sisa terakhir dari Senapati yang mendapat kepercayaan para prajurit Jipang. Sepeninggalku aku mengharap bahwa mereka akan membuat perhitungan-perhitungan. Bukankah begitu paman Sumangkar?’ Kemudian diteruskannya pada kesempatan lain dimana nafasnya menjadi semakin lemah, berkata Macam Kepatihan itu, ’Mudah-mudahan kematianku menjadi pertanda bahwa tak ada gunanya perselisihan ini akah berlangsung terus.’ Dan Sumangkar itupun berhenti sesaat. Dengan tajamnya ia memandangi orang-orang yang berdiri di sekitarnya.

Setiap orang yang mendengar kata-kata Sumangkar itu, darahnya seakan-akan berhenti mengalir. Pesan itu sama sekali bukan pesan untuk membunuh Untara, Widura atau Adiwijaya sekali. Bukan perintah untuk membakar istana Pajang dan melakukan serangkaian pembunuhan sebagai pembalasan. Tetapi pesan itu seolah-olah pesan yang sama sekali bertentangan dengan dugaan mereka.

Suasana yang sepi bertambah sepi. Mulut-mulut yang meskipun ternganga namun serasa terbungkam. Hati-hati yang membara seolah-olah meledak justru karena tersiram air dengan tiba-tiba. Tetapi mereka semua benar-benar tenggelam dalam perasaan yang aneh. Bingung dan kehilangan dasar tanggapan seterusnya.

Sumangkar membiarkan suasana itu berlangsung beberapa lama. Dibiarkannya setiap orang berada dalam pergolakan perasaan. Dibiarkannya mereka sampai pada kesimpulan masing-masing apabila mereka telah menemukan keseimbangan dan sempat mempertimbangkan.

Namun suasana yang sepi itu tiba-tiba dipecahkan oleh teriakan Sanakeling melengking menghentak setiap jantung. “Paman Sumangkar. Apakah arti daripada pesan itu. Apakah dengan demikian Kakang Macan Kepatihan mengharap kita semua bertekuk lutut di bawah kaki Untara? He?”

Sumangkar tidak terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia sudah menduga sebelumnya, bahkan hampir pasti, bahwa Sanakeling adalah orang yang pertama menolak pesan itu. Karena itu dengan tenang ia menjawab, “Ya Ngger. Demikianlah kira-kira pesan itu. Namun agaknya pertimbangan Angger Macan Kepatihan telah cukup masak untuk mengucapkan pesan-pesan itu.”

“Jadi haruskah kami merangkak-rangkak di bawah kaki Untara seperti anjing kudisan?” teriak Sanakeling.

“Kata-kata itu terlampau tajam.”

“Tidak. Kata-kata itu tepat seperti yang akan terjadi apabila kita menuruti pesan itu. Dan kita akan dijerat leher kita, diseret di sepanjang jalan antara Sangkal Putung dan Pajang. Dipertontonkan kepada setiap orang sebelum kita digantung di alun-alun Pajang. Berderet-deret seperti jemuran yang tidak kering-keringnya.”

Sumangkar mendengar kata-kata itu diucapkan dengan penuh nafsu. Bahkan Sumangkar pun kemudian melihat wajah-wajah yang seakan-akan membeku di hadapannya, mulai menegang. Kata-kata Sanakeling agaknya telah menggugah hati mereka. Menggugah hati keprajuritan mereka.

Karena itu segera Sumangkar berkata, “Angger Sanakeling benar. Tetapi tidak tepat sebab aku belum mengatakan rangkaian dari pesan itu. Pesan itu diucapkan oleh Angger Tohpati di hadapan Untara yang menungguinya pula pada saat-saat terakhir. Menungguinya tidak seperti dua orang yang sedang bermusuhan. Agaknya mereka di saat-saat terakhir itu telah mengenangkan masa-masa lampau. Masa-masa Demak masih diikat oleh tali persatuan yang erat. Keduanya adalah sahabat yang baik dari dua daerah Kadipaten. Angger Macan Kepatihan dari Kadipaten Jipang dan Angger Untara dari Kadipaten Pajang. Pertentangan antara Jipang dan Pajang telah mempertentangkan mereka pula. Namun kebesaran jiwa dari keduanya telah menemukan kembali persahabatan itu di saat-saat Angger Macan Kepatihan menghadapi maut. Meskipun maut itu beralatkan tangan Untara sendiri.”

Kembali mereka diterkam oleh kesenyapan. Terasa setiap kata, baik yang diucapkan oleh Sumangkar maupun yang diucapkan Sanakeling benar belaka. Meskipun makna dari keduanya berlainan bahkan bertentangan. Karena itu, setiap jantung yang berdegup di dalam dada menjadi bingung siapakah yang akan dianut? Sumangkar melihat hari depan yang tenang, hari depan yang damai. Mereka tidak akan lagi berlari-larian sepanjang hutan. Mereka tidak perlu lagi selalu dikejar-kejar oleh kegelisahan. Mereka akan dapat hidup seperti manusia biasa. Meskipun mungkin sebulan dua bulan mereka tidak dapat bebas berbuat karena hukuman yang akan diterimamya. Namun setelah itu, tidak ada lagi persoalan yang selalu menghantuinya siang dan malam. Seluruh negeri akan menjadi aman. Pasar-pasar akan kembali mengumandang, dan di malam hari kembali akan terdengar tembang. Seruling gembala di padang-padang dan anak-anak bermain di halaman. Orang-orang tua akan menikmati bunyi burung perkutut dengan tenang.

Tetapi gambaran-gambaran yang damai dan tenteram itu tiba-tiba telah digoyahkan oleh pendirian Sanakeling. Pendirian seorang prajurit yang tidak dapat ditundukkan oleh peristiwa-peristiwa yang bagaimanapun dahsyatnya. Mereka akan menjadi orang tangkapan dan diarak sebagai tawanan apabila mereka menyerah. Hilanglah kejantanan mereka, dan harga diri mereka akan terkorbankan. Lebih baik mengorbankan nyawa daripada harga diribagi seorang prajurit sejati. Apabila mereka harus berlari-lari ke hutan, bersembunyi di antara semak-semak dangerumbul, di antara padang-padang dan lereng-lereng gunung, adalah akibat dari perjuangan mereka. Akibat dari keteguhan hati seorang prajurit yang tidak miyur.

Demikianlah setiap wajah kemudian memancarkan kebimbangan hati yang tiada ujung pangkal. Keduanya benar bagi mereka. Keduanya mapan, dan keduanya wajib diturut. Pesan terakhir pemimpin mereka yang mereka segani lewat paman gurunya yang perkasa, dan yang lain adalah pendapat senapati yang seharusnya langsung memimpin mereka sepeninggal Macan Kepatihan.

Dalam kebimbangan itu terdengar kemudian suara Sanakeling seperti membelah langit, “Paman Sumangkar. Aku adalah seorang prajurit. Prajurit hanya mengenal dua arti dalam perjuangannya. Menang atau mati. Selain itu, adalah nista sekali untuk dijalani. Apalagi menyerahkan dan di bawah injakan kaki lawan. Apakah paman Sumangkar ini telah bukan lagi seorang prajurit yang baik?”

Sumangkar memandangi wajah Sanakeling sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian jawabnya, “Aku hanya menyampaikan pesan terakhir Angger Macan Kepatihan.” Kemudian kepada para prajurit Jipang Sumangkar berkata, “Pesan itu adalah pesan Macan Kepatihan yang sampai saat terakhir telah mengorbankan jiwa raganya sebagai seorang prajurit jantan. Sebagai seorang pemimpin sejati ia telah berusaha melindungi kalian. Nah, katakanlah, apakah ia seorang prajurit yang baik atau bukan, Hai, orang-orang Jipang. Sebutlah pemimpinmu itu, apakah ia seorang prajurit yang baik atau bukan? Ayo, katakanlah, apakah Macan Kepatihan seorang prajurit yang baik atau seorang pengecut?”

Terdengarlah jawaban menggemuruh, “Ia adalah seorang prajurit yang baik. Seorang laki-laki jantan. Seorang senapati yang tiada taranya.”

“Bagus,” sahut Sumangkar. “Pesan itu keluar dari mulutnya. Keluar dari mulut seorang senopati jantan, keluar dari mulut seorang prajurit yang baik.”

“Bohong!” potong sanakeling dengan nada yang tinggi. “Senapati yang baik, prajurit jantan tidak akan mengeluarkan perintah serupa itu. Itu pasti akal-akalmu sendiri, Paman Sumangkar. Itu pasti caramu untuk melepaskan kejemuanmu sendiri.”

Sumangkar mengerutkan keningnya. Dan ia mendengar Sanakeling berbicara terus, “Aku tidak percaya kalau Kakang Tohpati telah mengeluarkan pesan itu.”

Sumangkar tidak mau kehilangan kesempatan. Karena itu segera ia menyahut, “Itulah bedanya. Seorang yang berjiwa besar dan orang lain yang tidak dapat mengikuti kebesaran jiwanya. Kalian dapat berpikir untuk terlalu mementingkan diri sendiri. Kalian dapat berpijak pada harga diri yang berlebih-lebihan. Harga diri seorang prajurit yang pantang menyerah. Tetapi itu adalah pikiran yang sempit. Prajurit tidak akan menyerah apabila ia berjuang untuk suatu cita-cita yang tegas, suatu cita-cita yang diyakini kebenarannya. Tetapi apakah kalian berbuat demikian? Apakah kalian yakin, bahwa kalian telah berjuang dalam suatu pengabdian sebagai seorang prajurit. Coba katakan, apakah yang kalian capai dengan peperangan yang tiada ujung dan pangkal ini?”

“Kau telah berputus asa, paman Sumangkar,” teriak Sanakeling. “Kau telah kehilangan akal. Perjuangan Arya Penangsang adalah perjuangan atas hak dan waris atas tahta. Ini adalah perjuangan jantan. Perjuangan yang luhur.”

“Bukankah perjuangan itu telah berpijak atas kepentingan diri? Warisan atas tahta-tahta. Bukan perjuangan atas dasar yang luas bagi seluruh rakyat Demak untuk meningkatkan kesejahteraan hidup mereka? Perjuangan itu adalah perjuangan yang sempit. Warisan memang dapat membuat sanak dan kadang sendiri saling bertengkar. Tetapi jangan rakyat dikorbankan dalam pertengkaran itu. Bagi rakyat yang penting bukan siapa ahli waris yang paling berhak atas tahta. Tetapi bagi rakyat, siapakah yang paling baik bagi mereka, yang paling banyak berpikir dan berbuat untuk mereka. Tidak untuk sendiri. Tidak untuk seorang atau beberapa orang pemimpin. Tidak untuk Arya Penangsang atau Adiwijaya. Tidak. Tetapi bagi rakyat, siapakah paling langsung berbuat banyak untuk kepentingan mereka, ialah yang paling berhak atas pimpinan negara. Orang itulah ahli waris yang sah atas tahta.”

Kata-kata Sumangkar itu mencengkam setiap hati. Namun kata-kata Sanakeling telah membakar setiap jantung dan mendidihkan darah yang mengalir di dalam jaringan-jaringan urat darah. Keduanya beralasan dan keduanya dapat mereka mengerti. Karena itulah maka setiap orang menjadi semakin bimbang, siapakah di antara merekayang harus mereka turuti.

Mendengar penjelasan Sumangkar, Sanakeling menggeram marah. Kemudian kepada prajurit-prajurit Jipang ia berteriak, “Akulah pemimpin kalian sepeninggal Macan Kepatihan. Semua perintahku sama nilainya dengan perintah Kakang Tohpati.”

Semua mata kemudian berpaling ke arahnya. Sanakeling itupun kini telah berdiri di ambang pintu di samping Sumangkar. Wajahnya yang keras dan penuh ditandai oleh dendam dan kebencian telah menyala seperti nyala api neraka. Tetapi Sumangkar masih tetap tenang. Ia tidak menyahut dan memotong kata-kata Sanakeling. Dibiarkannya Sanakeling berbicara pula, “Kita telah kehilangan pemimpin kita. Sekarang orang tua ini menganjurkan kita merangkak di bawah kaki Untara. Tidak! Dengar perintahku, Kobarkan dendam di segala penjuru. Setiap orang Jipang harus mendengar bahwa Macan Kepatihan mati dengan luka arang kranjang karena kebiadaban orang-orang Pajang seperti pada saat Plasa Ireng terbunuh dengan dada dan punggung terbelah. Macan Kepatihan itu sama nilainya dengan seribu orang Pajang dan setiap nyawa di antara kita bernilai seratus orang Pajang. Timbulkan kengerian di mana-mana. Setiap orang Pajang bertanggung-jawab atas kematian Macan Kepatihan, sehingga kepada mereka dendam kita dapat kita tumpahkan.”

Bulu-bulu kuduk Sumangkar meremang mendengar perintah itu. Perintah itu telah diduganya akan terjadi seandainya orang-orang Jipang itu tidak mendapat keseimbangan. Perintah itu berarti pembunuhan yang semena-mena atas semua orang yang akan ditemui oleh Sanakeling. Semua orang Pajang diperlakukan sama. Karena itu maka segera ia berkata, “Bagus. Apabila Angger Sanakeling bertekad demikian. Aku tidak akan menghalang-halangi, sebab aku tidak mempunyai pendirian tersendiri.”

Sanakeling yang segera akan memotong kata-kata Sumangkar tertegun mendengarnya. Karena itu niatnya diurungkan. Terasa bahwa Sumangkar telah mundur setapak dari pendiriannya.

Dan terdengar kata-kata Sumangkar itu, “Apa yang aku katakan hanyalah sekedar pesan. Pesan Angger Tohpati yang telah terbunuh karena melindungi nyawa kita. Seandainya Macan Kepatihan itu tidak mengorbankan nyawanya, maka kitalah yang akan mati terlebih dahulu. Dan kitalah yang akan mengucapkan pesan-pesan itu kepada orang terakhir yang kita temui. Dan dalam pesan-pesan yang terakhir itulah sebenarnya kita akan menunjukkan nilai dan kebesaran jiwa kita. Namun apabila kini dikehendaki lain oleh seseorang yang berwenang, aku akan menundukkan kepala. Memenuhi perintah yang akan dijatuhkan. Tetapi kitapun akan segera mendengar perintah yang serupa keluar dari mulut Untara. Bahkan mungkin dari mulut Ki Gede Pemanahan atau Adiwijaya sendiri. Perintah itu akan berbunyi serupa, ’Bunuhlah setiap orang Jipang siapapun sebab mereka semuanya turut bertanggung-jawab atas kerusuhan-kerusuhan yang terjadi’. Dan orang-orang Pajang akan melakukan perintah itu sebaik-baiknya. Apalagi mereka, yang sanak kadangnya akan menjadi korban perintah Angger Sanakeling. Malah mereka

akan dapat mengamuk seperti orang mabuk. Anak-anak kita, isteri, ayah bunda dan saudara-saudara kita yang sekarang selalu berada di dalam kegelisahan karena mereka menunggu kita pulang ke rumah. Namun yang sampai sekarang mereka masih dibiarkan hidup dan menetap di rumah-rumah mereka sendiri. Tetapi apabila kita melakukan perintah Angger Sanakeling itu, akan dapat berarti menekan mereka ke dalam lembah kehancuran. Bukan orang-orang Pajang saja, tetapi orang-orang Jipang. Semua akan musnah. Dan rakyat Demak akan menjadi punah. Hancur lebur. Bunuh membunuh tiada habis-habisnya. Demak akan lenyap dibakar oleh dendam yang tiada akan dapat dipadamkan lagi.”

Terdengar gigi Sanakeling menggeretak mendengar kata-kata itu. Tetapi ia tidak segera dapat menyahut. Kata-kata itu meresap ke dalam dadanya seperti meresapnya berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus ujung jarum kedalam jantungnya. Tetapi ia dapat mengerti dan mengakui bahwa hal yang sedemikian itu mungkin terjadi.

Kembali gubuk dan sekitarnya itu ditelan oleh kesenyapan. Dalam keheningan itu maka orang-orang Jipang sempat berpikir. Menimbang yang baik dan yang buruk. Menilai makna dari setiap kata kedua orang pemimpinyang telah membingungkan hati mereka.

Kembali mereka berdiri di persimpangan jalan. Mereka dapat mengerti sepenuhnya kata-kata Sumangkar, namun mereka sependapat pula dengan Sanakeling bahwa mereka harus mempertahankan harga diri mereka sebagai seorang prajurit. Tetapi merekapun menjadi ngeri ketika mereka mendengar uraian Sumangkar yang terakhir setelah darah mereka dibakar oleh perintah Sanakeling. Semula perintah itu telah menggelegak di dalam dada mereka. Semua orang Pajang harus dimusnahkan. Tetapi bagaimana kalau berlaku pula perintah yang serupa yang dikatakan Sumangkar. Bagaimana dengan anak-anak, isteri, dan sanak kadang mereka yang tidak tahu-menahu tentang perbuatan mereka?

Perlahan-lahan maka setiap orang telah terdorong dalam satu pilihan di antara keduanya. Tetapi sayang, bahwa tidak semua dada berisi jantung dan hati yang serupa. Tanpa diketahui, maka pendirian orang-orang Jipang ituterbelah seperti pendirian pemimpinnya. Sebagian dari mereka terdorong ke dalam pendirian Sumangkar, dan sebagian lagi terseret oleh api kemarahan Sanakeling.

Namun dalam pada itu, ketika mereka sedang dilanda oleh arus kebimbangan, terdengarlah suara tertawa di belakang mereka, di belakang orang-orang Jipang itu. Suara tertawa yang tinggi melengking menyakitkan telinga mereka yang mendengarnya.

Seperti digerakkan oleh tenaga ajaib, serentak mereka semuanya yang berada di tempat itu berpaling. Mereka serentak mencari sumber suara itu. Namun mereka tidak segera dapat melihat. Tabir yang hitam pekat seakan-akan telah menyekat pandangan mata mereka.

Sementara itu, suara tertawa itu masih terdengar. Bahkan semakin lama semakin keras.

Sanakeling yang mendengar pula suara tertawa itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia menjadi muak, dan tiba-tiba pula ia berteriak keras-keras, “Cukup! Jangan membuat jantungku pecah. Siapakah yang tertawa itu?”

Suara tertawa itu masih terdengar. Namun kini menjadi semakin perlahan-lahan. Di antara derai tertawa itu terdengar jawaban, “Aku angger Sanakeling.”

“Aku siapa?” teriak Sanakeling. “Setiap orang menyebut dirinya dengan sebutan serupa. Aku.”

Suara tertawa itu kemudian berhenti. Tetapi mereka tidak segera mendengar jawaban. Sejenak mereka menunggu, dan terasa malam yang sepi menjadi semakin sepi.

“Siapa kau, he?” sapa Sanakeling semakin keras. “Siapa yang telah berani memasuki perkemahan prajurit Jipang? Apakah sudah jemu melihat matahari besok pagi?”

“Jangan lekas marah,” jawaban itu semakin mengejutkan. Terdengar Suara itu kini sudah menjadi semakin dekat. Namun gelap malam masih melindunginya, sehingga belum seorangpun yang dapat melihatnya. Tetapi orang-orang Jipang itu merasa, Sanakeling dan Sumangkar merasa, bahwa orang itu pasti dapat melihat mereka dengan jelas karena cahaya-cahaya obor di dekat mereka.

Tetapi orang itu tidak berusaha bersembunyi terlalu lama.

Sesaat kemudian orang-orang Jipang itu menjadi tegang ketika mereka melihat bayangan yang bergerak-gerak di bawah pepohonan. Bayangan yang semakin lama menjadi semakin jelas. Ketika kemudian cahaya obor yang lemah dapat mencapainya, maka terbersitlah hati setiap orang yang melihatnya. Orang itu adalah seorang tua, bermata tajam dan berhidung lengkung seperti paruh burung hantu.

Beberapa orang yang telah mengenalnya mendjadi berdebar-debar karenanya. Sementara itu terdengar Sumangkar berdesis, “Ki Tambak Wedi.”

Orang yang datang itu adalah Ki Tambak Wedi. Ketika ia telah bendiri beberapa langkah dari para prajurit Jipang yang berkerumun itu, kembali orang tua itu tertawa. Tetapi suara tertawanya kini tidak lagi terlalu keras.

Sanakeling yang mendengar Sumangkar menyebut namanya mengerutkan keningnya. Inikah orang yang bernama Ki Tambak Wedi, guru Sidanti? Tiba-tiba dada Sanakeling itu bergolak. Tanpa dikehendakinya sendiri terdengar Sanakeling itu berteriak, “He, adakah kau yang disebut orang Ki Tambak Wedi dari lereng Gunung Merapi?”

Orang itu menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ya. Mereka yang sudi menyebut namaku, demikianlah.”

Sanakeling mengerutkan keningnya. Tiba-tiba wajahnya menjadi semakin tegang dan kembali tanpa dikehendakinya sendiri tangannya meraba hulu pedangnya.

“Apakah maksudmu datang kemari?” bertanya Sanakeling itu pula.

Ki Tambak Wedi tersenyum. Wajahnya yang keras itu menjadi kemerah-merahan oleh sinar obor yang mengusapnya.  Jawabnya, “Aku tidak akan berbuat apa-apa Ngger. Jangan berprasangka. Aku hanya ingin sekedar mendengarkan, apakah yang akan dikatakan oleh pepunden para prajurit Jipang.”

Sanakeling mengerutkan keningnya. “Pepunden?” ulangnya.

“Ya. Bukankah Adi Sumangkar itu seorang pepunden bagi para prajurit Jipang?”

“Siapa yang mengatakannya?”

“Adi Sumangkar sendiri.”

“Bohong!” teriak Sanakeling.

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Kini ia tidak saja berhadapan dengan Sanakeling yang ternyata berbeda pendirian dengan dirinya. Namun tiba-tiba datang Ki Tambak Wedi yang licik itu. Dengan sebutannya yang pertama-tama diucapkan, segera Sumangkar tahu maksud kedatangan hantu lereng Merapi itu. Dan lebih celaka lagi tanggapan yang pertama-tama diucapkan oleh Sanakeling adalah sangat menguntungkan hantu itu. Meskipun demikian Sumangkar tidak segera menyahut. Dicobanya untuk menilai keadaan dengan seksama. Namun ia belum menemukan pertimbangan yang tepat, sebab ia belum tahu tanggapan para prajurit Jipang itu, atas pendiriannya dan pendirian Sanakeling.

Mendengar teriakan Sanakeling yang serta merta itu, Ki Tambak Wedi tersenyum. Kemudian katanya lebih lanjut, “Ah. Jangan menyia-nyiakan orang tua itu Angger. Bukankah Ki Sumangkar itu adik seperguruan Patih Mantahun. Bukankah Adi Sumangkar itu paman guru dari pemimpinmu yang kau segani, Macan Kepatihan?”

“Aku hormati Patih Mantahun yang sakti itu. Aku hormati Kakang Raden Tohpati yang perkasa. Tetapi Paman Sumangkar dalam kedudukannya adalah seorang juru masak. Tidak lebih dan tidak kurang.”

***

Terasa dada Sumangkar berdesir. Apalagi ketika ia mendengar jawaban Ki Tambak Wedi, “Tetapi ia mendapat pesan langsung dari Angger Tohpati. Angger Tohpati yang perkasa itu berpesan kepada Adi Sumangkar agar membawa segenap anak buahnya untuk menyerahkan dirinya, tanpa syarat.”

“Bohong! Bohong!” teriak Sanakeling. “Aku tidak percaya.”

“Kenapa kau tidak percaya? Bukankah Adi Sumangkar adalah satu-satunya orang dari antara kalian yang menunggui saat-saat terakhir dari Raden Tohpati, selain Untara, Widura, dan orang-orang Pajang. Sudah tentu Adi Sumangkar berkata dengan jujur. Pasti bukan karena bujukan Untara atau janji-janji daripadanya untuk Adi Sumangkar pribadi.”

Sekali lagi dada Sumangkar berdesir. Kali ini lebih keras. Kata-kata Ki Tambak Wedi yang seakan-akan memihaknya itu adalah suatu pancingan yang berbahaya. Berbahaya baginya dan berbahaya bagi pesan Tohpati itu sendiri.

Ternyata kecemasannya itu beralasan. Dengan serta merta Sanakeling menegakkan lehernya. Ia mencoba memandangi Ki Tambak Wedi dengan seksama. Namun kemudian Sanakeling itu pun berpaling kepada Sumangkar. Matanya kini seakan-akan menyala memancarkan kemarahan hatinya. Dengan suara yang keras parau ia berkata, “He, Paman Sumangkar, kenapa kau sempat menunggui saat-saat terakhir Kakang Macan Kepatihan?”

Sumangkar tidak segera menjawab. Ditatapnya mata Sanakeling yang menyala itu, langsung ke pusatnya. Seakan-akan Sumangkar ingin menjajagi betapa panasnya nyala yang memancar dari padanya.

Tiba-tiba Sanakeling itu melemparkan pandangan matanya. Terasa betapa dalam perbawa orang itu. Juru masak yang malas. Namun ketika disadarinya, bahwa matanya yang menghujam ke wajah Sumangkar itu tergeser, timbullah kegelisahan yang sangat di dalam dadanya. Sehingga untuk menutupinya maka Sanakeling itu berteriak keras-keras, kepada orang-orang Jipang, “He, orang-orang Jipang, apakah kau percaya bahwa Paman Sumangkar mendapat pesan itu dari Kakang Tohpati? Apakah bukan karena Paman Sumangkar sebenarnya berpihak kepada Pajang dan ditanam dalam perkemahan kita?”

Kembali suana menjadi sepi. Sepi sesepi kuburan. Namun di dalam setiap dada bergolak berbagai macam tanggapan.

Untuk memuaskan hatinya maka Sanakeling berkata terus, “Itulah, sebabnya, maka setiap serangan yang kita lancarkan pasti sudah diketahui oleh orang-orang Sangkal Putung. Bahkan tidak mustahil bahwa orang tua inilah yang telah, memperlemah tekad perjuangan yang menyala di dalam setiap dada anak-anak Jipang.” Kemudian kepada Sumangkar ia berkata, “Nah Paman Sumangkar, katakanlah kepadaku kenapa kau dapat mendekati Kakang Macan Kepatihan pada saat-saat terakhirnya? Kenapa kau tidak dikeroyok seperti rampogan macan di alun-alun, sehingga betapa saktinya kau, maka kaupun pasti akan terbunuh pula dengan luka arang kranjang. Tetapi kau malahan dapat membawa mayat Kakang Tohpati itu kemari dan mempergunakannya untuk mempengaruhi tekad anak-anak Jipang yang telah membaja di dalam dada mereka? He?”

Pertanyaan itu memang sulit untuk dijawab. Pertanyaan itu memang memerlukan pembuktian. Tetapi tak ada seorang saksi pun yang melihat, bahwa apa yang dikatakan itu bukanlah suatu cerita yang telah dikarangnya sendiri. Bukan suatu mimpi yang didapatnya pada saat-saat ia tertidur di siang hari. Tetapi semuanya adalah sebenarnya demikian.

Karena Sumangkar tidak segera dapat menjawab, maka terdengar Ki Tambak Wedi berkata, “Bagaimana Adi Sumangkar? Angger Sanakeling telah mengajukan beberapa pertanyaan. Kenapa tidak segera dapat kau jawab? Apakah pertanyaan itu tepat seperti yang terjadi sebenarnya?”

Sumangkar menggeretakkan giginya. Pertanyaan Ki Tambak Wedi itu lebih mendorongnya ke sudut yang sangat sulit. Namun Sumangkar masih berdiri tegak dengan tenangnya. Betapa hatinya bergelora namun ia sama sekali tidak goreh di tempatnya, seolah-olah sepasang kakinya telah jauh menghunjam seperti akar yang kukuh berpegangan pada batu karang yang teguh. Dan sikapnya itulah yang telah menyelamatkan wibawanya atas orang-orang Jipang.

Namun yang terdengar kemudian adalah suara Sanakeling yang gelisah, “He, bagaimana Paman Sumangkar? Apakah kau masih akan ingkar lagi?”

Tiba-tiba Sanakeling itu menggeram ketika ia melihat Sumangkar tersenyum. Orang tua itu seakan-akan sama sekali tidak menjadi cemas dan takut. Bahkan ia masih sempat tersenyum.

Di antara senyumnya terdengar Sumangkar berkata, “Baiklah aku mencoba menjelaskan apa yang telah terjadi.” Sumangkar berhenti sesaat. Dicarinya kata-kata yang sebaik-baiknya. Karena ia tidak segera menemukan, maka yang pertama-tama dikatakan adalah, “Namun sebelumnya, biarlah aku mengucapkan selamat datang kepada Kakang Tambak Wedi yang bijaksana.”

Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Tetapi hatinya mengumpat melihat ketenangan Sumangkar.

Kemudian berkata Sumangkar, “Aku akan menolak segala tuduhan bahwa seolah-olah aku adalah orang yang diselipkan di antara kalian orang-orang Jipang oleh Pajang. Sayang, bahwa tidak banyak yang mengenal siapakah Sumangkar? Sebenarnya Angger Sanakeling pun tidak. Sebab kami, aku dan Angger Sanakeling selalu berada dimedan yang berbeda. Tetapi kalau ada yang telah mengenal Sumangkar baik-baik, bertanyalah kepada mereka siapakah yang telah menyelamatkan tanda-tanda kebesaran Jipang? Rontek, tunggul, dan umbul-umbul bahkan panji-

panji kebesaran? Semuanya itu telah kalian bawa hari ini ke medan peperangan. Kalian telah menjadi berbesar hati dan bertambah berani, karena di atas gelar perang berkibar segala macam tanda-tanda kebesaran itu. Nah, katakanlah siapakah yang paling banyak berbuat untuk Jipang pada saat Jipang runtuh. Pada saat Arya Jipang terbunuh dan kemudian Patih Mantahun? Semuanya pada saat itu hanya dapat bercerai berai, semuanya hanya dapat mengungsikan diri sendiri. Nah, Angger Sanakeling, apakah yang dapat kau lakukan saat itu? Timbanglah apa yang dilakukan oleh Sumangkar yang tua ini.”

Kembali mereka terlempar ke dalam cengkaman kesenyapan. Kembali orang-orang Jipang terseret ke dalam pertentangan tanggapan atas pemimpin mereka.

Kini Sanakeling-lah yang terbungkam. Semuanya itu memang benar telah terjadi. Namun di antara kesepian, itu menyelusuplah suara tertawa Ki Tambak Wedi. Katanya, “Ini adalah suatu cerita yang telah terjadi atas seorang Sumangkar. Betapa besar jasa-jasanya atas Jipang, namun akhirnya dikhianatinya para prajurit yang telah mengorbankan hampir segala miliknya itu.”

Dada Sumangkar seolah-olah tertimpa Gunung Merapi yang runtuh saat itu. Terasa betapa licik dan licin lidah iblis yang bernama Tambak Wedi. Namun betapa jantungnya menjadi gemetar, tetapi Sumangkar tidak mau kehilangan kejernihan pikiran. Ia berhadapan tidak saja dengan seorang yang sakti tetapi juga seorang yang lidahnya mengandung bisa.

Kata-kata Tambak Wedi itu ternyata telah menolong Sanakeling untuk menjawab pertanyaan Sumangkar. Katanya, “Nah, Paman Sumangkar. Apa yang terjadi terdahulu bukanlah ukuran dari apa yang terjadi sekarang. Suatu saat Sumangkar adalah seorang pahlawan, namun di saat ini Sumangkar adalah seorang pengkhianat.”

Alangkah panas hati Sanakeling ketika ia masih melihat Sumangkar tersenyum. “Benar Ngger,” sahut Sumangkar. Namun jantungnya serasa akan meledak. Hanya karena hatinya yang mengendap, maka ia masih dapat bertahan dalam ketenangan.

“Kau Benar. Apa yang terjadi terdahulu bukanlah ukuran dari apa yang terjadi sekarang. Kalau dahulu setiap hidung dari para prajurit Jipang menghormati Macan Kepatihan, sekarang Macan Kepatihan tidak lebih dari sesosok mayat. Kalau dahulu Sanakeling berjuang untuk suatu tujuan, kini Sanakeling tidak lebih dari seorang prajurit yang dalam keputus-asaannya berbuat di luar batas perikemanusiaan. Betapapun kabur dan sempitnya tujuan perjuangan itu dahulu, namun masih juga ada kemungkinan untuk mencapainya. Tetapi sekarang yang terjadi, tidak lebih dari menjajakan dendam di mana-mana.”

“Cukup!” teriak Sanakeling penuh kemarahan. Wajahnya yang merah menjadi semakin marah. Matanya yang liar menjadi semakin liar. Hampir saja ia meloncat dan menerkam wajah Sumangkar. Tetapi ketika kemudian terpandang olehnya sebatang tongkat baja putih berkepala tengkorak kekuning-kuningan, maka ia tertegun diam. Hanya giginya sajalah yang terdengar gemeretak.

Dalam pada itu Sumangkar masih saja tersenyum dan berkata, kali ini kepada orang-orang Jipang, “Nah, timbanglah di hatimu. Kalian telah mendengar apa yang aku katakan dan apa yang dikatakan oleh Sanakeling. Aku tidak menyalahkannya, pendiriannya adalah pendirian seorang prajurit yang tertempa dalam perjuangan yang berat. Tetapi pendirian itu bukanlah satu-satunya pendirian yang terbentang di hadapan kita. Taraf perjuangan kalian kini telah sampai pada suatu titik yang berbeda dengan pada saat kalian baru mulai.”

Tetapi kata-kata Sumangkar terputus oleh kata-kata Ki Tambak Wedi di antara derai tertawanya. “Bagus. Kau memang benar-benar licik Adi. Kau mampu, memutar balikkan keadaan dan, memutar balikkan penilaian atas sesuatu persoalan. Aku bukan orang Jipang. Aku sejak semula adalah penghuni lereng Merapi. Sejak Demak berkuasa, aku seakan-akan terlepas dari kekuasaan itu. Apalagi sekarang. Namun aku menaruh hormat pada perjuangan Angger Sanakeling. Aku kecewa melihat seorang Sumangkar dengan mudahnya mengingkari dan mengkhianati perjuangan yang telah dirintis, bahkan dikorbani dengan nyawa dari orang-orang sebesar Adipati Jipang sendiri, Patih Mantahun, dan yang terakhir adalah Angger Macan Kepatihan.”

Ki Tambak Wedi belum selesai dengan kata-katanya. Namun Sumangkar kini yang memotongnya. “Ki Tambak Wedi adalah penghuni lereng Merapi sejak semula. Karena itu Ki Tambak Wedi tidak banyak mengetahui apa yang terjadi di Jipang, di Pajang dan di perkemahan ini. Karena itu, apa yang dikatakan adalah semata-mata suatu cara untuk melumpuhkan kita. Dengar, apakah kata-katanya bukan sekedar usaha untuk memecah pendirian kita? Antara aku dan Angger Sanakeling. Ternyata usahanya hampir terjadi seperti pada saat ia membakar hati Tundun dan kawan-kawannya di perkemahan ini siang tadi. Usaha itupun hampir berhasil. Untunglah Sumangkar masih mampu mengusirnya. Sekarang kau kembali lagi dengan bisa di mulutmu. Sayang Ki Tambak Wedi.”

Kata-kata Sumagkar benar-benar menikam jantung Tambak Wedi. Kini ialah yang dibakar oleh kata-kata itu sehingga darahnya tersirap sampai ke kepala. Dengan serta merta ia menjawab lantang, “Kau bena-benar licik. Tetapi kau di sini berdiri seorang diri. Kalau Angger Sanakeling bersedia aku ingin berdiri di pihaknya. Mungkin tak seorangpun dari kalian yang mampu melawan Sumangkar. Tetapi bagi Tambak Wedi, Sumangkar bukan seorang yang menyilaukan.”

Sanakeling yang hatinya telah terbakar lebih dahulu tidak dapat menimbang lagi mana yang buruk, mana yang baik. Hatinya telah dibutakan oleh ketamakannya atas pimpinan sepeninggal Macan Kepatihan, atas harga dirinya sebagai seorang prajurit pilihan, atas dendam yang membara di dadanya. Itulah sebabnya tiba-tiba ia berteriak, “Jangan banyak bicara setan tua. Ayo, selama darah prajurit masih mengalir di dalam dada kalian, kalian akan tetap dalam pendirian kalian yang telah kalian letakkan sejak semula. Kini apabila kalian masih tetap dalam sumpah kalian sebagai prajurit Jipang, dengar perintahku. Tangkap orang tua ini!”

Teriakan Sanakeling itu menggelegar menembus gelap pekatnya hutan, memukul pepohonan dan bergema berulang-ulang. Susul menyusul seperti gelombang yang menghentak-hentak pantai.

Sumangkar yang mendengar perintah itu tiba-tiba mundur selangkah. Tanpa sesadarnya ia membelai tongkat baja putihnya. Bahkan tiba-tiba pula ia berkata lantang, “Ayo! Inilah Sumangkar. Siapa yang ingin menangkap Sumangkar, tangkaplah! Aku sudah tua. Sudah banyak yang aku alami dan sudah banyak yang aku lakukan. Tetapi kalau masih ada sepercik sinar di dalam hatimu, hati seorang manusia yang berdiri di atas kemanusiaannya, dengarlah kata-kataku. Mungkin kata-kataku terakhir. Kalau aku tidak sempat melakukan, kuburkanlah mayat Angger Macan Kepatihan baik-baik. Ia adalah seorang yang berhati jantan, tetapi ia adalah seorang yang berhati lembut, selembut hati seorang ibu. Pada saat terakhirnya, ia berkorban untuk kalian, namun ia juga memikirkan hari-hari depan kalian. Hari-hari yang masih panjang, buat anak cucu kalian dan hari yang masih panjang buat Demak. Ayo! Sekarang aku sudah bersiap. Siapa yang pertama-tama? Sanakeling atau Tambak Wedi?”

Suara Sumangkar yang tua itupun terasa seakan-akan menusuk langsung ke setiap dada. Orang-orang Jipang yang mendengar suaranya seakan-akan darahnya menjadi beku. Mereka melihat orang tua itu menggenggam tongkatnya erat-erat, siap untuk terayun dengan derasnya.

Tetapi bukan hanya suara Sumangkar itu yang mempengaruhi hati setiap orang Jipang, makna dari kata-kata itupun telah menyentuh hati sebagian mereka pula.

Namun Sanakeling telah benar-benar bermata gelap. Dengan serta merta ia menarik pedangnya. Dan sekali lagi suaranya menggelegar memenuhi hutan. “Ayo, tangkap orang tua ini. Orang tua yang telah mengkhianati perjuangan kalian. Bahkan sampai hati untuk merendahkan diri mencium kaki orang-orang Pajang.”

Tiba-tiba orang-orang Jipang yang berdiri di muka gubug itupun seakan-akan bergetar. Beberapa orang menjadi saling berdesakan. Dan beberapa di antara merekapun tiba-tiba menarik pedangnya pula sambil berteriak menyambut perintah Sanakeling. “Kita telah siap Ki Lurah. Kita siap menangkap orang tua itu.”

Sumangkar memandang orang-orang Jipang itu dengan sudut matanya. Ia melihat beberapa orang benar-benar telah mengacungkan pedang-pedang mereka. Dan karena itulah maka hatinya bena-benar menjadi gelisah. Bukan karena ia takut mati. Tetapi apakah ia sampai hati urtuk menebaskan tongkatnya kepada orang-orang yang tidak menyadari apa yang akan dilakukannya itu? Karena itu ketika ia melihat beberapa orang di antara mereka berdesakan maju, maka kegelisahannya menyadi semakin menyekat hati.

Apalagi ketika di kejauhan terdengar suara Tambak Wedi, “Bagus. Kalian telah bertindak tepat. Kalau tidak adadi antara kalian yang dapat melakukannya, maka aku bersedia menolong kalian menangkap orang tua itu.”

Sumangkar berdesis. Kemarahannya kini telah memuncak pula. Tetapi kepada Ki Tambak Wedi. Bukan kepada orang-orang Jipang itu. Sehingga ketika ia melihat Sanakeling maju selangkah maka Sumangkar itu mundur setapak.

“Jangan mencoba lagi!” bentak Sanakeling.

Sumangkar menggeram. Namun tiba-tiba, sekali lagi ia terkejut. Kini ia melihat orang-orang Jipang itu seakan-akan terbagi. Beberapa orang yang telah menarik senjata mereka, seakan telah berkumpul di bagian depan dari orang-orang Jipang yang berkerumun itu. Tetapi sebagian yang lain masih tetap berdiri tegak di tempat mereka. Bahkan kemudian terjadilah suatu hal yang tidak terduga-duga. Tiba-tiba di antara mereka yang masih berdiri ditempatnya itu terdengar sebuah teriakan nyaring. “Jangan sentuh orang tua itu. Kami berdiri di pihaknya.”

Setiap orang berpaling ke arah suara itu. Sanakeling dan Sumangkar pun berpaling pula. Sebelum mereka melihat siapa yang berteriak itu, terdengar orang lain menyambut, “Kami berada di pihak Ki Sumangkar.”

Tanpa disangka-sangka pula, suara itu segera menjalar kesegala arah. Dengan suara yang melengking-lengking terdengar orang-orang Jipang itu berteriak-teriak, “Kami berada di pihak Ki Sumangkar.”

Setiap darah akan tersirap ketika mereka kemudian melihat senjata berkilauan. Kini bukan saja orang-orang yang berdiri di pihak Sanakeling menarik senjata-senjata mereka. Namun orang-orang yang berdiri di pihak Sumangkar pun telah menggenggam senjata-senjata mereka yang telanjang.

Yang paling nyaring dari antara mereka adalah suara Tundun, yang pada siang harinya hampir berusaha membunuh Sumangkar. Kini dengan sepenuh hati ia berteriak meskipun tangannya masih agak sakit. “Ki Sumangkar telah menyelamatkan kami siang tadi dari keganasan Ki Tambak Wedi. Aku telah dihidupinya meskipun aku berusaha untuk membunuhnya. Ternyata Ki Sumangkar adalah orang yang sebaik-baiknya dan sesakti-saktinya dalam perkemahan ini.”

“Tutup mulutmu!” bentak seorang yang lain, yang berdiri di pihak Sanakeling. “Kalau kau ingin mati bersamanya, ayo, matilah kau lebih dahulu.”

“Bagus,” teriak Tundun. “Siapa kau?”

Tundun melihat seseorang meloncat dari antara orang-orang Jipang yang memihak Sanakeling. Tetapi Tundunpun segera meloncat menyongsongnya. Bahkan bukan saja Tundun. Tetapi seorang yang bertubuh kecil dan bernama Bajang datang pula mendekatinya. Meskipun lukanya belum sembuh benar.

“Hem,” Bajang itu menggeram, “serahkan orang ini kepadaku. Aku setiap hari hanya mendapat pekerjaan memotong leher binatang-binatang. Kini aku akan mencoba memotong leher orang.”

Namun kawan-kawan orang itupun segera berloncatan pula. Mereka tidak akan melepaskan orang itu bertempur seorang diri. Dengan demikian maka kedua belah pihak telah berhadapan dalam kelompok dan pihak masing-masing.

Melihat peristiwa itu, alangkah sakitnya hati Sumangkar. Alangkah pedihnya. Karena itu ketika kedua belah pihak telah siap untuk bertempur, terdengarlah Sumangkar itu berteriak, “Berhenti! Berhenti! Apakah kalian, sudah menjadi gila? Bukankah kalian sedang berhadapan dengan kawan sendiri, yang selama ini telah bersama-sama menanggung segala macam derita dan kesulitan? Bukankah kalian selama ini telah terumbang-ambing dalam biduk yang sama. Tenggelam bersama dan mengambang bersama. Bila badai menempuh biduk itu, kalian bersama-sama dibuai dengan dahsyatnya, namun bila angin silir, kalian bersama-sama dibelai oleh kesegaran. Kini kalian telah siap berhadapan dengan senjata telanjang. Apakah kalian benar-benar telah menjadi gila?”

Orang-orang Jipang itupun tertegun diam. Masing-masing seakan-akan telah dipukau oleh suatu pesona mendengar kata-kata itu. Bahkan Sanakeling pun hanya berdiri saja mematung untuk sesaat. Tetapi ketika kemudian Sanakeling menyadari, bahwa sebagian dari orang-orang Jipang itu tidak mematuhi perintahnya, maka kembali darahnya bergelora dibakar oleh kemarahan yang meluap-luap.

Sanakeling merasa bahwa sebagian dari laskar Jipang itu telah terpengaruh oleh Sumangkar untuk berkhianat kepadanya. Ya. Kepadanya. Kepada Sanakeling. Sehingga dengan nyaringnya ia berkata, “He. Siapa yang berpihak kepada Sumangkar adalah pengkhianat. Orang-orang itu harus dibinasakan pula bersama Sumangkar.”

Tetapi Sumangkar menyahut, “Dengarlah olehmu sekalian. Apapun yang kau dengar, baik dari mulutku, maupun dari mulut Angger Sanakeling adalah demi keselamatan kalian. Pesan Angger Tohpati berisi petunjuk supaya kalian dapat menemukan kedamaian hati dan kemungkinan yang terang di hari depan. Sedang perintah Angger Sanakeling mengandung makna, supaya kalian tetap dalam kejantanan jiwa seorang prajurit. Kalau kalian kemudian bertempur satu sama lain, maka kedua pesan itu sama sekali tak berarti. Kalian akan musnah, bukan sebagai prajurit-prajurit yang sedang mempertahankan harga diri seperti yang dimaksud oleh Angger Sanakeling. Bukan dalam kebesaran jiwa Jipang yang berjuang sampai tetes darah terakhir. Tetapi sebagai prajurit yang saling bunuh-membunuh berebut kebenaran, yang tidak berpangkal dan berujung. Juga kalian tidak akan dapat memenuhi pesan Angger Tohpati yang kalian segani, sebab kalian tidak akan sempat menemukan kedamaian hati dan hari depan yang baik. Kalian akan mati karena pedang kawan sendiri, dan kalian akan mati tertimbun bangkai sesama.”

Kembali orang-orang Jipang itu mematung. Sanakeling yang sudah meluap itupun kembali mematung pula.

Namun sayang, bahwa di antara mereka, berdiri seorang Tambak Wedi yang selalu meniup-niupkan bisa dari mulutnya. Ketika ia melihat keragu-raguan di antara mereka, kembali ia tertawa dan berkata, “Alangkah liciknya cara Sumangkar yang perkasa itu menyelamatkan diri. Bagi seorang prajurit, kebenaran adalah mutlak. Tidak pandang siapakah yang berdiri di hadapannya. Jangankan kawan seperjuangan. Bahkan sanak kadang, ayah kandung sendiri, kalau ia berkhianat, maka pedang kita akan menusuk ulu hatinya. Lebih baik berkawan sepuluh duapuluh orang yang setia daripada seratus dua ratus pengkhianat. Itulah pilihan Angger Sanakeling.”

“Tepat,” teriak Sanakeling, “tepat seperti kata-kata Ki Tambak Wedi. Ayo jangan ragu-ragu. Pedang kalian telah tertarik dari sarungnya.”

“Yang kalian anggap pengkhianat adalah Sumangkar,” teriak Sumangkar. “Kalau ada yang berpihak kepadaku adalah karena mereka terpengaruh kata-kataku. Nah, ayo. Kalau kalian ingin bertindak, bertindaklah terhadap Sumangkar. Kepada para prajurit Jipang yang mendengarkan pesan-pesan Tohpati lewat mulutku, aku minta kalian tidak perlu membela Sumangkar. Biarlah Sumangkar mati memeluk kewajiban yang dibebankan oleh pemimpinnya pada saat-saat terakhir, menyampaikan pesan itu kepada kalian. Lepaskan Sumangkar dan kalian dapat meninggalkan tempat ini menempuh jalan yang kalian kehendaki itu. Sekarang ayo, siapa yang akan membunuh Sumangkar?”

Sanakeling menggeram. Namun ia masih belum beranjak dari tempatnya. Ia tahu benar siapakah Sumangkar itu. Ia mengharap semua prajurit Jipang bersama-sama menangkapnya. Betapapun saktinya Sumangkar, namun ia pasti tidak akan dapat melawan semua orang yang berada di tempat itu. Tetapi tiba-tiba orang-orang Jipang itu terbelah. Hampir terbelah dua, yang masing-masing akan dapat bertempur dengan pemimpin saja mampu menangkap Sumangkar. Ketika ia berpaling dilihatnya Alap-alap Jalatunda. Anak muda itu berdiri dengan tegangnya. Namun wajahnya tidak meyakinkan Sanakeling, kepada siapa ia akan berpihak. Sedang beberapa orang yang lainpun sangat meragukannya.

Demikianlah maka setiap wajah kini dicengkam oleh keragu-raguan. Meskipun pedang Sanakeling telah bergetar namun kakinya sama sekali belum bergerak.

Dalam keragu-raguan itu terdengar kembali suara Ki Tambak Wedi, “Kenapa kau ragu-ragu Angger Sanakeling? Setidak-tidaknya yang sependapat dengan pendirianmu adalah separo. Serahkan mereka menyelesaikan pendirian masing-masing. Jangan hiraukan alasan-alasan cengeng yang keluar dan mulut Sumangkar. Sekarang Angger Sanakeling dapat menangkap dan sekaligus menghukum mati Sumangkar itu. Kalau Angger tidak sanggup karena kesaktian Sumangkar, biarlah Tambak Wedi membantumu.”

Mata Sanakeling yang liar menjadi bertambah liar. Tawaran itu menggembirakannya, sehingga ia menjawab, “Terima kasih Ki Tambak Wedi. Orang ini memang perlu mendapat sedikit peringatan. Peringatan atas kelicikannya membawa sebagian dari kita untuk berkhianat.”

“Tambak Wedi,” potong Sumangkar. “Kau bukanlah seorang dari antara kita. Tetapi mulutmu yang berbisa itu seakan-akan menentukan apa yang harus kita lakukan. Kau telah berhasil menghancurkan pasukan Jipang tanpa membawa seorang prajuritpun. Sehingga dengan demikian kau berhak mengenakan tanda jasa yang setingi-tingginya dari Pajang.”

Sekali lagi Tambak Wedi menggeram. Sumangkar masih mampu menangkis usahanya yang terakhir. Sesaat ia kehilangan kesempatan untuk mendorong Sanakeling bertindak lebih jauh. Apalagi ketika kemudian ia melihat Sanakeling menjadi ragu-ragu. Karena itu maka ia langsung sampai pada tujuannnya, katanya, “Hem. Sekali lagi kau menunjukkan kelicikanmu Sumangkar. Baiklah aku berterus terang. Muridku telah disisihkan oleh Untara setelah ia gagal berusaha membunuh senapati Pajang yang sombong itu. Ia hanya berhasil melukainya dengan parah. Tetapi Untara itu dapat sembuh dari sakitnya. Kini muridku datang untuk menawarkan diri kepada Angger Sanakeling. Bekerja bersama. Mungkin kita belum menemukan titik persamaan pendirian. Namun hal itu dapat dibicarakan kemudian.”

Darah Sanakeling tersirap mendengar tawaran itu. Alangkah baiknya. Selagi ia kehilangan seorang pemimpin yang kuat, tiba-tiba ia akan mendapat kawan dalam meneruskan perjuangan, meskipun perjuangan itu tidak lebih dari menyebarkan dendam di mana-mana.

***

Maka dalam kegelapan pikiran, tawaran Ki Tambak Wedi itu bagi Sanakeling bagaikan sepercik sinar yang langsung menyorot hatinya. Apalagi pada saat itu Sanakeling tidak sempat untuk banyak membuat pertimbangan. Yang menyumbat otaknya adalah pengkhianatan Sumangkar dan beberapa orang prajurit kepadanya. Karena itu maka teriaknya, “Bagus! Tawaran itu bagus sekali Kiai. Mungkin kita dapat menemukan titik-titik persamaan yang dapat kita pakai sebagai dasar perjuangan bersama untuk membinasakan Untara. Nah, sekarang orang tua inilah yang harus kita binasakan lebih dahulu.”

Ki Tambak Wedi tertawa. Katanya, “Namun dalam beberapa hal aku sependapat dengan Adi Sumangkar. Para prajurit Jipang ini tidak perlu saling membunuh. Mereka kini hanya diwajibkan untuk menonton pertunjukan yang pasti akan mengasyikkan kalian.”

Para prajurit Jipang itu masih tegak dengan senjata di tangan masing-masing. Wajah-wajah mereka masih dicengkam oleh ketegangan dan ujung senjata-senjata mereka masih bergetaran.

“Nah, Adi Sumangkar. Apakah kau sudah bersedia untuk mati?”

Sumangkar mengerutkan keningnya. Betapa umurnya yang telah melampaui pertengahan abad itu, telah membantunya untuk melihat jauh ke dalam hati orang-orang yang berada di sekitarnya. Sanakeling, Tambak Wedi, dan para prajurit yang kebingungan itu. Juga kata-kata Tambak Wedi itu baginya sama sekali tidak diucapkan dengan jujur. Karena itu maka jawabnya, “Kakang Tambak Wedi, Sumangkar sudah siap sejak semula. Namun sekali lagi aku ingin berpesan. Bagi mereka yang ingin memenuhi pesan Angger Tohpati lewat mulutku. Janganlah nonton seperti nonton adu ayam. Kalian berada dalam bahaya. Selama aku masih hidup, mungkin Ki Tambak Wedi dan beberapa orang terpenting dari pasukan ini masih memerlukan menangkap dan membunuhku. Tetapi sepeninggalku, maka akan datang giliran buat kalian. Apa yang akan dapat kalian lakukan apabila Sanakeling dan Tambak Wedi ikut serta dalam barisan yang ingin membinasakan kalian? Nah, karena itu, sebelum aku binasa, aku masih akan dapat mengikat perhatian Tambak Wedi dan Sanakeling. Karena itu, berusahalah meninggalkan tempat ini. Pergilah langsung ke Sangkal Putung. Katakan apa yang kalian lihat di sini. Katakan bahwa kalian mendengar pesan Tohpati dari mulut Sumangkar, yang barangkali pada saat-saat itu telah terbunuh di sini. Jangan ragu-ragu. Pesan itu telah didengar pula oleh Untara dan Untara telah mengucapkan jaminan untuk kalian. Sebagai seorang senapati yang berhati jantan, pasti ia tidak akan ingkar. Aku mengharap orang yang bernama Kiai Gringsing akan membantu kalian apabila Angger Untara melupakan janjinya. Aku percaya kepada orang itu. Aku percaya kepada muridnya yang bernama Agung Sedayu, adik Untara. Mereka adalah manusia-manusia yang baik bagi kemanusiaan. Jangan mencoba bertempur di sini. Tak akan ada gunanya. Nah, apakah kalian dengar?”

“Sebuah jebakan yang manis,” teriak Ki Tambak Wedi. “Kalian benar-benar akan menjadi seperti ikan masuk ke dalam wuwu. Kalian, akan masuk Sangkal Putung dengan mudahnya. Tetapi demikian senjata-senjata kalian dikumpulkan, maka tangan kalian akan segera terikat. Kalian, akan menjadi bandan seumur hidup kalian atau bahkan akan diseret sepanjang jalan dalam hukuman picis. Betapa nyamannya kulit kalian akan disobek segoresdemi segores, dan dipercikan air asam pada luka-luka itu.”

Namun Sumangkar sempat menyahut, “Adalah suatu khayalan yang mengerikan. Kalau aku hanya sekedar ingin membunuh kalian, para prajurit Jipang, aku tidak akan bersusah payah mempertahankan pendirian ini dengan berperisai nyawa. Aku akan dapat berbuat dengan mudahnya, meneteskan beberapa tetes getah racun ke dalam masakanku, maka kalian akan binasa bersama-sama. Tetapi aku tidak berbuat demikian. Kalian bukan anak-anak yang bodoh. Kalian kini sudah cukup dewasa untuk berpikir dan berbuat. Nah, silahkanlah. Jangan terlalu lama.”

Kemudian kepada Ki Tambak Wedi, Sumangkar berkata, “Ayo. Kau sudah mulai menjemukan bagiku. Berbuatlah sesuatu. Jangan selalu berbicara saja dengan mulutmu yang berbisa. Memang mungkin mulutmu itu lebih tajam dari senjatamu. Tetapi tongkat baja putih, ciri perguruan Kedung Jati ini akan dapat menutup mulutmu itu untuk selama-lamanya.”

Tambak Wedi menggeram, Kemarahannya telah benar-benar membakar dadanya. Tiba-tiba di atas kepala orang-orang Jipang itu terdengar suara berdesing. Seperti desing anak panah raksasa yang meluncur dengan cepatnya. Orang-orang Jipang itu terkejut. Serentak mereka menengadahkan wajah-wajah mereka. Tetapi mereka tidak melihat sesuatu.

Namun Sumangkar adalah lain dari mereka. Sumangkar mempunyai beberapa kelebihan dari para prajurit itu.

Betapa lemahnya cahaya obor di sekitarnya, namun matanya yang tajam masih dapat menangkap seleret benda yang berlari kencang, sekencang tatit, menyambarnya. Tetapi Sumangkar adalah murid kedua dari perguruan Kedung Jati. Itulah sebabnya, maka ia mampu bergerak menyamai kecepatan benda yang meluncur itu. Dengan lincahnya ia bergeser surut setapak, dan dalam pada itu tongkatnya menyambar sebuah benda yang meluncur kearah kepalanya. Sesaat kemudian terdengarlah sebuah benturan yang dahsyat. Kedua benda itu beradu. Demikian dahsyatnya sehingga suaranya berdentang memekakkan telinga, sedang dari benturan itu memercik bunga-bunga api yang gemerlapan.

Tetapi Sumangkar tidak sekedar memukul benda itu. Demikian tangkas gerak tongkatnya, sehingga benda itu terpukul ke samping. Untunglah Sanakeling bukan sekedar patung batu. Orang itu mampu menangkap keadaan. Ketika ia melihat Sumangkar memukul benda itu ke arahnya, ia telah menyiapkan pedangnya. Tetapi demikian pedangnya berhasil menangkis benda yang terpantul ke arahnya itu, maka tergetarlah tangannya dan pedangnyapun terlontar jatuh.

Sanakeling itu sesaat terpaku diam di tempatnya. Terasa tangannya menjadi pedih, tetapi terasa dadanya seakan-akan menyala dibakar oleh kemarahannya yang meluap-luap.

Ketegangan dan kesenyapan memuncak di sekitar gubug itu. Semua orang seperti terbungkam mulutnya oleh tangan-tangan iblis yang mengerikan. Darah mereka bahkan terasa seolah-olah berhenti mengalir.

Namun, selain Sanakeling yang dadanya seolah-olah menyala maka Ki Tambak Wedi yang ternyata kini telah berdiri di atas sebongkah batu padas itupun mengumpat sejadi-jadinya. Sumangkar, juru masak yang malas itu telah berhasil menghindarkan serangan pertamanya. Dengan serangan yang dilontarkannya dari dalam gelap, ia ingin sekaligus membunuh Sumangkar dengan gelang-gelang besinya. Tetapi ternyata murid kedua dari perguruan Kedung Jati itu benar-benar tangkas. Dan ternyata pula tongkat baja putih itu-pun bukan sekedar senjata biasa. Tongkat itu mampu menahan arus yang dahsyat dan kekuatan Ki Tambak Wedi lewat gelang-gelang besinya. Bahkan serangan itu hampir saja mengenai Sanakeling pula. Meskipun kemudian Sanakeling berhasil pula menangkis pantulan besi itu, namun senjatanya terlepas dari tangannya. Dengan demikian dapat diduga, betapa dahsyatnya kekuatan Ki Tambak Wedi, dan betapa dahsyatnya kekuatan Sumangkar serta tongkat baja putihnya.

Semua yang terjadi itu hampir tak masuk di akal para prajurit Jipang yang melihat peristiwa itu dengan mata yang terbelalak. Mereka selama ini sepeninggal Adipati Jipang dan Patih Mantahun, tidak mengenal orang sakti selain Macan Kepatihan. Bahkan mereka menyangka bahwa tak ada seorangpun yang akan mengalahkan pemimpinnya itu. Tetapi ternyata Raden Tohpati itu terbunuh. Selama ini mereka menyangka, bahwa apabila tidak dikirim Ki Gede Pemanahan, atau Mas Ngabehi Loring Pasar, maka Tohpati tidak akan dapat dibinasakan. Tetapi mereka terpaksa melihat kenyataan, bahwa Untara telah berhasil membunuhnya. Dan kini di antara mereka sendiri, mereka dapat melihat kemampuan dan kesaktian yang melampaui kemampuan dan kesaktian Macan Kepatihan. Juru masak yang malas itu ternyata adalah seorang yang telah memukau jantung mereka.

Peristiwa ini sekaligus telah mengetok hati para prajurit Jipang itu, bahwa kesaktian itu tersimpan di mana-mana. Kadang-kadang di tempat-tempat yang sama sekali tak terduga-duga. Yang dikagumi masih ada yang melampauinya, dan yang melampaui itupun bukanlah seorang yang tak terkalahkan.

Beberapa orang yang berotak cair segera dapat mengambil pelajaran dari peristiwa ini. Tak seorangpun yang dapat menyebut dirinya tak terkalahkan. Tak seorangpun yang akan dapat dianggap sebagai seorang yang mahasakti. Seperti apa yang telah terjadi atas Jipang yang merasa diri mereka tak terkalahkan, setidak-tidaknya mereka menganggap bahwa pemimpin-pemimpin mereka adalah orang-orang yang tak terkalahkan, maka akhirnya Jipang terpaksa jatuh tersungkur, terbenam dalam kehancuran yang dahsyat, sehingga sulitlah untuk dapat bangkit kembali. Arya Jipang yang disangka tak akan dapat terbunuh kalau tidak oleh senjata pusakanya sendiri itupun akhirnya terbunuh juga, hanya oleh seorang anak muda yang sama sekali tak pernah disebut namanya. Apalagi dalam deretan nama para sakti.

Anak muda yang bernama Mas Ngabehi Loring Pasar yang juga disebut Sutawijaya itu ternyata mendapat cara untuk menggoreskan keris Arya Penangsang sendiri, yang disebutnya Setan Kober, pada ususnya yang telah mencuat keluar dari luka di lambungnya. Luka karena tusukan tombak Kiai Plered di dalam genggaman anak muda yang bernama Sutawijaya itu.

Bagi mereka yang berotak cair, melihat semua peristiwa itu dengan debar di dalam dadanya. Mereka seolah-olah melihat semuanya itu terjadi kembali. Juga tidak masuk di akalnya. Namun semua peristiwa itu telah menuntun mereka untuk mengenangkan, bahwa ada kekuasaan di luar kekuasaan manusia. Kalau kekuasaan itu akan berlaku, berlakulah. Di mana dan kapan saja. Semua yang tidak mungkin, akan terjadi pula. Bahkan yang tak masuk akal sekalipun. Kekuasaan itu adalah kekuasaan yang akan menggilas semua ketamakan, kesombongan, dan kebanggaan manusia atas dirinya sendiri.

Tetapi tidak semua orang melihat sinar yang betapapun terangnya. Seseorang yang berdiri di dalam gelap sekalipun. Kadang-kadang mereka lebih senang tenggelam dalam dunianya yang gelap, yang akan dapat melindunginyauntuk berbuat apa saja sekehendak hatinya.

Prajurit-prajurit Jipang itupun tetap terbagi dalam pendirian yang barbeda. Mereka masih tetap berpijak pada sikap masing-masing. Sebagian dari mereka berkata di dalam hatinya, “Alangkah dahsyatnya Ki Sumangkar. Ia mampu melawan serangan yang datang dengan tiba-tiba, serangan yang licik itu.” Namun orang-orang yang lain berkata di dalam hatinya, “Alangkah dahsyatnya lontaran tangan Ki Tambak Wedi. Dengan bermain-main gelang itu, hampir-hampir Sumangkar dapat dibunuhnya. Apalagi kalau ia nanti bersungguh-sungguh menyerang Sumangkar untuk membunuhnya.”

Di antara mereka, yang tak beringsut dari pendiriannya, dan bahkan menjadi semakin berkobar di dalam dadanya adalah Sanakeling. Bahwa pedangnya lepas dari tangannya, adalah suatu peristiwa yang sangat memalukan. Sumangkar dapat menahan gelang-gelang yang langsung meluncur dari tangan Ki Tambak Wedi, sedang pedangnya terloncat dari genggamannya hanya karena pantulan benda itu.

Sejenak kemudian kesenyapan itu dipecahkan oleh suara Ki Tambak Wedi, “Gila kau Sumangkar. Tetapi jangan kau sangka bahwa kau akan dapat melepaskan diri dari tangan Ki Tambak Wedi.” Kemudian kepada Sanakeling ia berkata, “Biarkan para prajurit Jipang membuat keputusan sendiri di antara mereka. Namun marilah, sumber dari pengkhianatan itu kita lenyapkan.”

Sumangkar sama sekali tidak menyahut. Perlahan-lahan tangannya membelai senjatanya, seolah-olah ia berkata, “Marilah kita berbuat sesuatu untuk yang terakhir kalinya.”

Tetapi ternyata Sumangkar tidak berdiri sendiri. Ketika Para prajurit yang berpihak kepadanya melihat, bahwa Sumangkar telah bersiap untuk menyongsong segala kemungkinan, maka orang-orang Jipang yang berpihak kepadanya pun bersiap pula.

Ki Tambak Wedi yang seakan-akan dadanya meledak karena goncangan kemarahannya, kemudian berteriak nyaring untuk menekan keberanian orang-orang Jipang yang berpihak kepada Sumangkar. “He Sumangkar, di tanganmu tergenggam ciri perguruan Kedung Jati. Sebuah tongkat baja putih yang terkenal. Tetapi perguruan dikaki Gunung Merapi mempunyai cirinya sendiri. Bukan sekedar gelang-gelang permainan kanak-kanak, tetapi kau sudah cukup mengenal ciri itu. Marilah kita lihat, manakah yang lebih sempurna, ciri Kedung Jati dan ciri Lereng Merapi.”

Semua orang berpaling ke arah Ki Tambak Wedi berdiri. Dan semua orang melihat orang tua itu berdiri di atas segumpal batu padas dengan sebuah senjata yang dahsyat di tangan. Sebuah Nenggala yang runcing pada ujung dan pangkalnya. Sebuah Nenggala yang berbentuk dua ekor ular yang saling membelit berlawanan arah. Lidah-lidah ular itu terjulur dalam bentuk tempaan ujung tombak. Mengerikan. Itu adalah tanda dan senjata yang terpercaya dari perguruan Tambak Wedi. Dan senjata itu kini telah ditarik dari selubung dan wrangkanya.

Sumangkar pun melihat senjata itu pula dalam keremangan cahaya obor yang kemerah-merahan. Terasa debar jantungnya bertambah cepat. Tambak Wedi memang terkenal sebagai seorang yang sangat sakti seakan-akan mampu menangkap angin. Namun perguruan Kedung Jati pernah pula terkenal, seolah-olah mampu menyimpan nyawa rangkap di dalam tubuhnya. Kini mereka berhadapan dengan ciri kebesaran perguruan masing-masing. Ciri yang tersimpan rapat-rapat dan jarang-jarang dipergunakan apabila keadaan tidak sangat gawat bagi mereka masing-masing.

Namun Sumangkar benar-benar sudah pasrah diri. Ia tidak melihat kemungkinan lain daripada mati. Melawan KiTambak Wedi seorang diri, ia pasti tidak akan dapat mengalahkannya. Apalagi Ki Tambak Wedi masih juga bergabung dengan orang-orang seperti Sanakeling dan mungkin para pemimpin Jipang yang lain. Meskipun mereka agaknya ragu-ragu, namun apabila Sanakeling telah bertindak bersama-sama Tambak Wedi, maka sebagian dari merekapun akan berbuat pula serupa.

Sumangkar menggeram perlahan-lahan. Ia pernah bertempur melawan Tambak Wedi. Tetapi waktu itu ia tidak mempergunakan senjatanya, dan Tambak Wedi pun hanya sekedar mempergunakan gelang-gelang untuk melindungi tangannya. Tetapi kini, keduanya telah bersiap dengan senjata masing-masing.

Sanakeling yang masih berdiri di hadapan Sumangkar hampir-hampir tak dapat lagi menahan dirinya. Kemarahannya telah membakar darahnya sampai ke ubun-ubun. Tetapi ia tidak segera berbuat sesuatu. Ia tidak dapat melangkah mengambil senjatanya sebab dengan demikian Sumangkar dapat menyerangnya dengan tiba-tiba dan memukul tengkuknya dengan tongkat baja itu. Karena itu maka satu-satunya kemungkinan baginya adalah menunggu Tambak Wedi bertindak lebih dabulu.

Sumangkar pun tidak mau memulai perkelahian itu. Apabila setapak ia maju mendekati Sanakeling dan mengabaikan Tambak Wedi, maka pasti akan terbang lagi gelang-gelang serupa menyambarnya. Karena itu maka perhatiannya justru sebagian besar tertuju ke arah Ki Tambak Wedi daripada Sanakeling yang berdiri beberapa langkah saja daripadanya.

Beberapa orang lain, menurut pertimbangan Sumangkar tidak akan memulai pula. Mereka masih berdiri dalam keragu-raguan. Sebagian dari mereka pasti hanya akan menunggu perkembangan keadaan. Siapa yang menang itulah yang akan menentukan, kepada siapa ia akan berpihak.

Tetapi agaknya Tambak Wedi-lah yang akan memulai memecahkan sikap-sikap itu. Ternyata dengan tangannya ia meloncat turun dan berjalan menyibak orang-orang Jipang ke arah Sumangkar berdiri. Ternyata Tambak Wedi itupun memperhitungkan semua kemungkinan yang dihadapinya. Ia menjinjing senjatanya di tangan kiri, dan menggenggam gelang-gelang di tangan kanan siap dilontarkan apabila pada saat ia berjalan mendekat itu Sumangkar mulai menyerang Sanakeling yang tidak bersenjata.

Setiap langkah Ki Tambak Wedi terasa seakan-akan derap seorang raksasa yang berjalan di dalam dada setiap orang yang menyaksikannya. Setiap langkah telah meningkatkan ketegangan menjadi semakin memuncak, seakan-akan sebuah tanggul yang telah penuh dengan air. Setiap saat akan pecah. Setiap saat banjir akan dapat melanda dengan dahsyatnya.

Sumangkar memandang langkah Tambak Wedi itu tanpa berkedip. Semakin dekat hantu Lereng Gunung Merapi itu, semakin erat ia menggenggam tongkat baja putihnya. Sekali-sekali dipandanginya beberapa orang Jipang yang berdiri saling berhadapan seperti dua gelar perang yang siap berbenturan. Sesaat hatinya menjadi sedih. Ia dapat membayangkan bahwa apabila perkelahian itu terjadi, maka akan tumpaslah segenap pasukan itu. Sumangkar dapat menduga bahwa para prajurit itu seakan-akan benar-benar terbelah di tengah. Masing-masing pihak yang semula tercampur-baur itu, kini benar-benar telah bersibak menurut pilihan masing-masing. Dan Tambak Wedi, yang garang itu berjalan di tengah-tengah, di garis pemisah antara kedua pihak yang berselisih pendapat itu.

Namun dada setiap orang yang berdiri di tempat itu benar-benar akan pecah oleh peristiwa yang menyongsong kemudian. Peristiwa yang benar-benar telah meledak tanpa dapat mereka mengerti. Ketika semua orang sedang dipukau oleh ketegangan langkah Ki Tambak Wedi, tiba-tiba mereka mendengar suara tertawa pula. Tidak sekeras suara Ki Tambak Wedi. Namun suara itu telah menarik segenap perhatian dari semua orang yang berada ditempat itu. Termasuk Ki Tambak Wedi sendiri. Dan yang lebih menggemparkan dada mereka adalah pada saat semua orang melihat sebuah bayangan berdiri di atas sebongkah batu padas, tempat Ki Tambak Wedi tadi berdiri, dengan sebuah Nenggala di tangannya. Nenggala ciri kebesaran perguruan Tambak Wedi yang telah ditarik dari selubung dan wrangkanya.

Betapa terkejut orang-orang yang melihat bayangan itu, tidak seorangpun yang menyamai Ki Tambak Wedi sendiri. Dalam kegelapan ia melihat seolah-olah seseorang dari perguruan Tambak Wedi berdiri di atas sebongkah batu padas dengan gagahnya. Bahkan seperti ia melihat sendiri berdiri di situ, seperti pada saat ia melemparkan gelang-gelang besinya ke arah Sumangkar.

Selain Tambak Wedi, Sumangkar pun terkejut bukan buatan. Ia tidak dapat melihat dengan jelas siapakah yang berdiri agak jauh di belakang orang-orang Jipang yang sudah siap saling membunuh sesama mereka. Ia tidak dapat mengatakan, bahwa Ki Tambak Wedi yang baru saja melontarkan gelang besinya meloncat kembali ke atas batu padas itu, sebab Ki Tambak Wedi kini masih tegak berdiri di antara kedua belah pihak orang-orang Jipang yang berbeda pendapat. Namun menilik senjata yang dibawanya, berujung runcing di pangkal dan ujungnya, ternyata pula dari cara orang itu memegang tangkainya, tepat di tengah-tengah, maka orang itu mirip benar dengan Ki Tambak Wedi sendiri.

Terdengar kemudian Ki Tambak Wedi menggeram. Dengan lantang ia berkata, “He, setan manakah kau ini? Dari mana mendapat senjata yang mirip dengan senjata Tambak Wedi?”

Ketika orang itu menjawab, maka dada Sumangkar dan Ki Tambak Wedi berdesir seperti tersentuh ujung senjata itu sendiri. Berkata orang itu, “Kenapa kau heran Ki Tambak Wedi. Apakah hanya Tambak Wedi yang memiliki jenis senjata macam ini?”

Dalam keremangan cahaya obor yang lemah, tampaklah wajah Sumangkar sekan-akan menjadi terang. Perlahan-lahan ketegangan di wajahnya terurai, dan perlahan-lahan pula tampak bibirnya tersenyum. Katanya, “Selamat malam Kiai Gringsing. Aku tidak menyangka bahwa Kiai akan datang secepat ini. Tetapi senjata di tanganmu benar-benar mengejutkan kami. Dalam gelap kami tidak segera mengenal Kiai, tetapi suara Kiai tidak dapat mengelabui kami lagi.”

Kiai Gringsing tertawa. Orang itu sebenarnya adalah Kiai Gringsing. Namun Ki Tambak Wedi-lah yang mengumpat, “Setan tua. Kenapa kau coba menandingi jenis senjata Tambak Wedi. Betapa saktinya Kiai Gringsing, namun senjata ciri perguruan Tambak Wedi jauh lebih berpengalaman mempergunakannya dan jenis senjatanyapun akan jauh lebih bernilai dari senjata-senjata serupa di seluruh kulit bumi.”

Kiai Gringsing masih tertawa, dijawabnya, “Apakah kau sudah tidak dapat mengenali jenis-jenis senjata perguruanmu sendiri Kiai? Senjata inipun adalah senjata ciri kebesaran perguruan Tambak Wedi. Bukan sekedar senjata buatan pandai besi, apalagi buatan almarhum pande besi Sendang Gabus. Sama sekali bukan. Apakah kau tidak segera mengenal pamor ujung senjata ini? Sungguh dahsyat menurut penilaianku sebab senjata Lereng Merapi memang dahsyat, sedahsyat orangnya.”

“Gila!” seru Ki Tambak Wedi sekeras petir. “Jangan membual. Ayo katakan, kenapa kau di sini?”

“Jangan marah Kiai” sahut Kiai Gringsing. “Apakah kau tidak ingin tahu dari mana aku mendapatkan senjata ini?”

“Tidak,” jawab Ki Tambak Wedi. “Aku sudah tahu, itu pasti senjata Sidanti yang tertinggal di Sangkal Putung.”

Kiai Gringsing tertawa semakin keras. Kemudian katanya, “Nah tepat. Kau belum melupakan senjata ini. Tetapi adalah aneh sekali bahwa senjata ciri kebesaran suatu perguruan sampai tertinggal di suatu tempat, kenapa Kiai?”

“Jangan banyak bicara, ayo katakan, apa maumu?”

“Kenapa yang bertanya kepadaku bukan Adi Sumangkar, atau Angger Sanakeling? Kenapa yang bertanya justru Ki Tambak Wedi dari perguruan Lereng Merapi? Menurut hematku, tempat ini adalah perkemahan prajurit Jipang, bukan perkemahan laskar Tambak Wedi dan Sidanti yang telah memberontak terhadap pimpinannya itu?”

“Tutup mulutmu!”

“Sulit Kiai. Aku memang senang berkicau seperti burung yang bebas di dahan-dahan. Tak seorangpun mampu melarang. Kau juga tidak.”

Tambak Wedi yang sedang marah itupun menjadi bertambah marah. Wajahnya yang membara itupun bertambah merah.

Tetapi Kiai Gringsing berkata terus, “Ki Tambak Wedi, bukankah kau sedang sibuk mencari kawan untuk melawan Untara? Di sini kau menemukan beberapa orang yang dapat kau peralat untuk keperluan itu. Itulah sebabnya aku datang. Aku adalah utusan Angger Untara, langsung untuk menyaksikan sendiri siapakah di antara orang-orang Jipang yang menyadari keadaannya, menyadari masa depannya dan masa depan Demak. Aku adalah utusan senopati yang mendapat kekuasaan langsung dari Panglima Wira Tamtama di Pajang. Karena itu maka kata-kata yang aku ucapkan adalah kata-kata Panglima Wira Tamtama itu sendiri dan Ki Gede Pemanahan, bahwa Pajang yang akan membuat penilaian yang seadil-adilnya bagi mereka yang menyadari keadaannya sesuai dengan pesan terakhir Angger Macan Kepatihan, senopati besar yang selama ini kau banggakan.”

Ki Tambak Wedi tidak dapat menahan dirinya lagi. Tiba-tiba tangan kanannya bergetar, dan dari tangan itu meluncurlah sebuah benda langsung mengarah ke dada Kiai Gringsing. Sepotong besi yang dibentuk seperti sebuah gelang yang besar.

Tetapi Kiai Gringsing itupun tidak sedang berbicara sambil bermimpi. Ia sudah menduga bahwa Ki Tambak Wedi akan langsung menyerangnya dengan jenis senjatanya itu. Karena itu, dengan lincahnya ia merendahkan dirinya menghindari sambaran gelang-gelang besi itu.

Betapa bulu-bulu kuduk orang-orang Jipang itu kemudian menjadi tegak ketika mereka mendengar bunyi gemerasak dari gelang-gelang besi yang tidak mengenai sasarannya, tetapi langsung memukul dahan-dahan dan ranting-ranting kayu. Suaranya seperti arus prahara yang mematahkan cabang-cabang pepohonan hutan.

Tetapi suara gemeresak yang dahsyat sedahsyat suara prahara itu bagi Ki Tambak Wedi, seolah-olah mengamuk di dalam dadanya sendiri. Kemarahannya yang meluap-luap serasa telah menghanguskan jantungnya. Namun ia tidak segera dapat berbuat apa-apa. Bahkan dilihatnya Kiai Gringsing tertawa sambil berkata, “Huh, hampi-hampir dadaku pecah karenanya. Kalau aku memegang senjata ciri perguruan Kiai Gringsing, maka aku akan menggenggam senjata perguruan Ki Tambak Wedi sendiri. Aku tidak yakin apakah senjata ini cukup kuat untuk menangkis. Adi Sumangkar berani melakukannya karena ia yakin akan kekuatan senjatanya. Sebab senjata itu adalah senjatanya sendiri.”

“Jangan banyak cakap,” potong Ki Tambak Wedi. “Aku kira kita sudah sampai waktunya untuk menyelesaikan persoalan kita yang selama ini terperam di dalam hati.”

“Aku tidak berkeberatan,” sahut Kiai Gringsing dengan tenang. “Adalah menjadi kewajibanku untuk melayanimu. Memang sebaiknya kau mengurus persoalanmu sendiri, persoalanmu dengan Kiai Gringsing misalnya, daripada kamu mengurus soal orang lain. Biarkan Adi Sumangkar dan Angger Sanakeling menyelesaikan persoalan mereka, sementara itu, marilah kita tinggalkan tempat ini, kita selesaikan persoalan kita sendiri.”

Keringat dingin telah mengalir membasahi seluruh tubuh Ki Tambak Wedi yang garang itu. Betapa ia mengumpat di dalam hatinya. Ternyata sekali lagi Kiai Gringsing telah menghalang-halanginya. Dengan suara parau penuh kemarahan ia berkata, “Kiai Gringsing. Kalau kau ingin membuat perhitungan dengan Ki Tambak Wedi, tunggulah aku di sisi hutan ini. Setelah aku menyelesaikan urusanku di sini, maka aku akan segera datang.”

“Apakah kepentinganmu di sini itu? Kau adalah orang asing di sini, seperti aku. Kalau kau berhak turut campur di sini, maka aku akan turut campur pula.”

“Setan!” geram Ki Tambak Wedi, “Kau selalu menggangguku.”

“Kau juga selalu mengganggu orang lain.”

“Sekarang menjadi jelas bagiku,” berkata Tambak Wedi itu keras-keras, “Ternyata Sumangkar dan Kiai Gringsing telah sependapat untuk bersama-sama menjerumuskan Jipang ke dalam bencana.”

“Jangan mengigau. Kalau kami, Pajang, benar-benar ingin menghancurkan laskar Jipang, sekarang adalah saatnya. Aku bisa membawa seluruh kekuatan Pajang itu kemari. Mengepung kalian dan menumpas kalian habis-habisan.”

Darah Sanakeling tersirap mendengar kata-kata itu. Benar-benar suatu penghinaan bagi pasukan Jipang. Bukan saja Sanakeling, tetapi terasa sesuatu berdesir pula di dalam dada Sumangkar. Namun Kiai Gringsing itu berkata terus, “Tetapi penjelasan yang demikian adalah penjelasan yang kurang bijaksana. Korban dari pihak Pajang pun pasti tidak akan terhitung lagi, bahkan mungkin separo dari kami tidak akan pernah dapat meninggalkan hutan ini. Dalam penjelasan yang demikian itu, maka dendam akan tertanam dalam-dalam di hati kita masing-masing, sehingga setiap saat akan terungkapkan kembali. Tetapi Ki Gede Pemanahan akan mencoba mencari jalan yang lebih baik. Kecuali bagi mereka yang membangkang. Mereka akan benar-benar dihancurkan, hancur dalam arti lahir dan batinnya.”

Tiba-tiba kata-kata terpotong oleh ledakan hati Sanakeling yang sudah tak tertahankan lagi. Katanya berteriak, “Jangan berkicau seperti orang gila. Jangan kau sangka, kami orang-orang Jipang adalah kelinci-kelinci yang tidak berdaya. Ayo, kerahkan seluruh prajurit Wira Tamtama Pajang. Datangkan orang yang bernama Ki Gede Pemanahan, Ki Penjawi, Juru Martani, Ngabehi Loring Pasar, bahkan Karebet itu sendiri.”

“Tidak Ngger,” sahut Kiai Gringsing. Nada suaranya masih setenang semula. “Itu hanyalah sekedar gambaran yang dahsyat dan mengerikan. Sebaiknya semuanya itu tidak usah terjadi. Aku hormati pendirian Angger Raden Tohpati dan Adi Sumangkar.”

Yang terdengar kemudian adalah gemeretak gigi Sanakeling dan geram Ki Tambak Wedi. Namun mereka berdua masih tegak di tempatnya. Dalam keadaan yang demikian itulah maka ketegangan menjadi semakin memuncak.

Perdebatan itu seolah-olah justru memperkuat pendirian setiap orang di dalam pasukan yang terbagi itu. Karena itu maka mereka menjadi semakin kukuh atas pilihan masing-masing.

Dalam pada itu Sumangkar sempat membuat penilaian atas keadaan itu. Seandainya saat ini ia mulai, maka keadaan Sanakeling sudah sedemikian lemahnya. Ki Tambak Wedi pasti sudah tidak akan membantu Sanakeling lagi, karena kehadiran Kiai Gringsing. Namun ketika orang tua itu berpaling, melihat orang-orang Jipang di halaman gubug itu berdiri dengan tegangnya, maka hatinya berdesir. Ia tidak akan sampai hati melihat mereka saling berkelahi, saling membunuh setelah mereka sehari penuh berperang bersama-sama di bawah kibaran satu panji-panji. Karena itu Sumangkar kini masih saja berdiri dalam keragu-raguan.

Tak seorangpun yang segera dapat mengambil keputusan, apakah yang sebaiknya dilakukan. Sanakeling pun tidak. Ia adalah seorang prajurit yang biasa membuat penilaian atas kawan dan lawan. Kali inipun demikian pula. Ia menyadari bahwa dengan kehadiran Kiai Gringsing, maka ia tidak akan segera berhasil menangkap apalagi membinasakan Sumangkar.

***

Dalam pada itu, Sumangkar ternyata jauh lebih mengendap dari Sanakeling. Mencoba membuat pemecahan sementara atas persoalan yang dihadapinya. Karena ia tidak sampai hati melihat benturan di antara mereka yang selama ini telah bersama-sama hidup dalam satu lingkungan, maka katanya, “Angger Sanakeling. Kalau pendirian kita sudah tidak dapat bertemu, maka baiklah kita memilih jalan kita masing-masing. Dengan demikian, kita akan menghindari pertumpahan darah di antara kita. Seterusnya, biarlah kita serahkan pada perkembangan keadaan.

Sanakeling menggeram mendengar kata-kata Sumangkar itu. Ia mengerti benar maksudnya. Meskipun dengan demikian ia tidak harus bertempur melawan orang tua itu; namun hatinya sakit bukan kepalang. Sebenarnya ia ingin menangkap Sumangkar, menyumbat mulutnya dengan tangkai pedang; dan memukul kepalanya dengan tongkatnya itu sendiri. Tetapi ia menyadarinya; bahwa hal itu tak akan dapat dilakukannya. Apalagi setelah setan tua yang menamakan dirinya Kiai Gringsing yang menurut pengamatan Sanakeling, sikap dan tanggapan Ki Tambak Wedi dan Sumangkar telah meyakinkannya tentang orang itu, hadir pula di tempat itu.

Karena itu, sesaat Sanakeling menjadi ragu-ragu. Ki Tambak Wedi pun tidak berkata sesuatu. Hantu Lereng Merapi itupun sedang sibuk mempertimbangkan keadaan. Namun kehadiran Kiai Gringsing benar-benar telah merusak rencananya.

Maka satu-satunya kemungkinan yang saat itu paling baik adalah menerima tawaran Sumangkar. Meskipun hal itu berarti kekuatan orang-orang Jipang itu kira-kira tinggal separo, namun yang separo itu masih tetap utuh. Kalau mereka bertempur pada saat itu, maka yang separo itupun telah jauh berkurang lagi.

Sanakeling yang saat itu merasa memegang pimpinan atas orang-orang Jipang itu segera berkata lantang memecah kesenyapan. “He orang-orang Jipang yang setia. Kali ini aku terpaksa tidak dapat menangkap dan mernbunuh pengkhianat ini. Aku akan memberinya waktu beberapa minggu. Kalau ia beserta beberapa pengikutnya tidak segera menyadari keadaannya, maka dosanya akan kami persamakan dengan orang-orang Pajang. Setiap kali kita bertemu, di mana dan kapan saja, maka mereka pasti akan kami penggal kepala mereka itu.”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Ia menyadari bahwa di samping dendam yang telah ada, maka Sanakeling pasti akan menyebarkan bibit-bibit dendam yang baru. Dan bibit-bibit yang demikian itu pasti akan cepat tumbuh dan berkembang. Jauh lebih cepat dari setiap bibit kebaikan dan kebajikan. Seperta bibit alang-alang, maka bibit dendam itu segera menjadi rimbun, sedang bibit kebajikan akan tumbuh dan berkembang sangat lambat seperti pohon anggrek. Namun apabila keduanya kelak berbunga, maka alangkah indahnya bunga anggrek itu dan alangkah tidak berharga bunga rumput alang-alang. Setiap orang akan menghindarinya dan apabila tak ada jalan lain, maka bunga rumput alang-alang akan terinjak-injak kaki.

Tetapi ia tidak mencegah saat itu. Kalau ia mempergunakan kekerasan maka korbannya akan terlampau banyak. Ia mengharap bahwa orang-orang yang berpihak kepada Sanakeling pun kelak akan menyadari dirinya, dan datang kepadanya dengan penyesalan dan kesadaran.

Demikianlah Sumangkar kemudian melihat Sanakeling melangkah dan membungkuk mengambil pedangnya. Sesaat kemudian dipandanginya para pemimpin Jipang yang lain. Sesaat mereka menjadi ragu-ragu, namun kemudian terdengar Sanakeling berkata kepada mereka, “Akulah kini pemimpinmu. Siapa yang setia pada sumpahnya sebagai seorang prajurit, ikutlah aku. Aku perintahkan kepadamu sekalian, ikuti aku dan para prajurit yang sadar akan harga dirinya.”

Sumangkar sama sekali tidak memotong kata-kata Sanakeling. Dibiarkannya para pemimpin itu memilih pihak. Namun sesaat mereka masih tetap berdiri di tempat mereka masing-masing.

Sanakeling menggeretakkan giginya melihat keragu-raguan itu. Dengan kerasnya ia berteriak, “Ikuti aku!”

Tiba-tiba dari antara para pemimpin itu terdengar Alap-alap Jalatunda bertanya, “Ke mana?”

Sanakeling terdiam sesaat. Ia menjadi bingung ke mana? Ya, kemana ia akan pergi? Tetapi menurut perhitungannya, memang seharusnya mereka meninggalkan tempat itu. Tempat itu telah diketahui oleh Kiai Gringsing yang nyata-nyata memihak kepada Pajang bahkan utusan senapati muda yang bernama Untara. Tampat itu telah dikenal baik-baik segala sudut-sudutnya oleh Sumangkar yang menurut penilaian Sanakeling telah berkhianat. Tetapi ke mana?

Dalam kebimbangan itu terdengar Ki Tambak Wedi berkata dengan suara parau penuh kebencian. “Mari Ngger. Kita pergi bersama-sama. Padepokan Tambak Wedi akan cukup luas menampung kalian. Jangan cemas, bahwa kekuatan kalian berkurang. Kekuatan kalian segera akan pulih kembali setelah Tambak Wedi dan Sidanti berbuat sesuatu.”

Kata-kata Tambak Wedi yang diucapkan pada saat Sanakeling sedang diliputi oleh kebimbangan itu, merupakan satu-satunya kemungkinan baginya. Karena itu tanpa berpikir panjang segera ia menyahut, “Baik. Aku akan pergi bersama Kiai.” kemudian kepada para pemimpin Jipang ia berkata, “Tinggallah bersama pengkhianat ini siapa yang akan berkhianat.”

Sanakeling itu kemudian tidak berkata sepatah katapun lagi. Segera ia melampui tlundak pintu dan berjalan kearah Ki Tambak Wedi di antara kedua laskarnya yang terbelah. Dengan langkah yang tetap ia berjalan seperti seorang senapati yang berangkat ke medan perang.

Ki Tambak Wedi pun kemudian berjalan pula di samping Sanakeling itu. Sekali-sekali ia berpaling melihat orang-orang yang akan pergi mengikutinya.

Sesaat para prajurit itu tidak ada yang bergerak dari tempatnya. Masing-masing dicengkam oleh perasaan yang sangat aneh. Tiba-tiba terasa betapa beratnya berpisah di antara mereka setelah bertahun-tahun mereka berada dalam satu lingkungan, dan setelah sekian lama mereka mengalami nasib yang bersama pula. Ketika mereka meninggalkan Jipang, masuk ke dalam hutan belukar dan berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain, bertempur, merampok, dan bahkan berbuat seribu macam kejahatan, mereka seolah-olah merasa bahwa tak akan ada kekuatan satupun yang memisahkan mereka kecuali maut. Namun perpisahan itu kini terjadi. Pendirian mereka ternyata pecah di jalan.

Yang pertama-tama bergerak adalah Alap-alap Jalatunda. Betapa keragu-raguan mencengkam dadanya, namun ia tidak dapat datang ke Sangkal Putung dan menyerahkan dirinya kepada Agung Sedayu.

Meskipun secara pribadi ia belum pernah mengenal anak muda itu, tetapi pertemuannya yang pertama di Macanan di sekitar tikungan Randu Alas dan kemudian dalam pertempuran di sebelah barat Sangkal Putung, telah membentuk dendam yang dalam di dalam hati Alap-alap yang masih muda, semuda Agung Sedayu itu sendiri. Kekeliruannya menilai Agung Sedayu telah membakar dadanya, sehingga seakan-akan ia berjanji kepada dirinya sendiri, bahwa pada suatu ketika ia harus menemukan kekuatan yang akan dapat melampaui kekuatan Agung Sedayu.

Tetapi kepada sidanti, Alap-alap Jalatunda pun sama sekali tidak menaruh hormat. Bahkan betapa kebencian menyala di dalam dadanya, sejak ia mendengar cara Sidanti membunuh Plasa Ireng. Bagaimanapun juga, terasa kebuasan Sidanti atas Plasa Ireng saat itu seolah-olah telah menggores kulitnya sendiri. Kini ia harus datang kepada anak muda yang telah dengan kejamnya membunuh salah seorang kepercayaan prajurit Jipang.

Tetapi ia tidak punya pilihan lain. Kedua-duanya tidak menyenangkan. Kedua-duanya bagi Alap-alap Jalatunda mempunyai keberatannya masing-masing. Tetapi Sidanti masih lebih asing lagi baginya. Karena itu, maka dipilihnya berpihak kepada Sanakeling yang akan membawanya ke padepokan Tambak Wedi. Menurut tangkapan perasaannya, di sana para prajurit Jipang ini akan bergabung dengan orang-orang Ki Tambak Wedi, atau semacam laskar yang akan dibentuknya. Tetapi apabila kedua pasukan itu kemudian digabungkan, siapakah pemimpin tertinggi dari pasukan itu? Sanakeling atau Sidanti?

Menurut penilaian Alap-alap Jalatunda, Sidanti dan Sanakeling memiliki kekuatan yang seimbang. Keduanya setingkat di bawah Macan Kepatihan dan hanya sedikit sekali di atas Plasa Ireng. Namun di dalam lingkungan yang baru itu kemudian ada Ki Tambak Wedi yang langsung turut campur ke dalam lingkungan kelaskaran. Bukan sekedar seorang juru masak seperti Sumangkar.

Demikianlah, dalam keragu-raguan itu Alap-alap Jalatunda berjalan terus. Namun langkahnya tidak setetap Sanakeling. Sekali-sekali Alap-alap Jalatunda itu menundukkan wajahnya, dan sekali-sekali terbayang masa-masa yang pernah dialaminya, selama ia menjadi prajurit Jipang. Belum lama ia diterima sebagai wira tamtama khusus dari Jipang. Tiba-tiba Jipang pecah, dan ia harus ikut serta bersama pasukannya menghilang dari kota, masuk-keluar hutan dan desa-desa, turun-naik jurang dan lereng-lereng pegunungan. Kini ia akan terdampar ke lereng Gunung Merapi, ke padepokan Ki Tambak Wedi yang masih asing baginya. Bekerja bersama dengan seorang anakmuda yang bernama Sidanti.

”Hem,” Alap-alap Jalatunda menarik nafas.

Namun ketika orang-orang yang masih berdiri termangu-mangu melihat Alap-alap itu berjalan mengikuti Sanakeling maka mereka yang sejak semula berketetapan hati untuk tetap dalam petualangan sambil berbangga diri sekedar karena mereka mempertahankan harga diri menurut penilaian yang sempit, segera mengikutinya. Beberapa orang pemimpin segera berloncatan sambil berpaling, memandang dengan penuh kebencian kepada kawan-kawan mereka yang masih tegak di tempatnya. Para prajurit pun segera melangkah pula di belakang pemimpin-pemimpin mereka. Beberapa orang prajurit yang mempunyai simpanan-simpanan berharga di dalam kemah-kemah mereka, segera berloncatan singgah kedalam kemah, mengambil yang mereka rasa perlu untuk dibawa. Tetapi sebagian dari mereka sama sekali tidak lagi menghiraukan beberapa lembar kain yang tertinggal di dalam kemah-kemah mereka, asal senjata-senjata mereka telah di tangan.

Lembaran-lembaran kain dan baju akan mereka dapatkan di sepanjang jalan yang akan mereka Ialui. Setiap rumah pasti akan membuka pintu lebar-lebar bagi mereka. Setiap rumah akan menyediakan apa yang mereka perlukan. Makan, minum bahkan pakaian.

Tetapi apa yang mereka sediakan itu sama sekali bukan karena mereka pendukung-pendukung yang setia dari orang-orang Jipang itu, bukan mereka serahkan dengan ikhlas. namun karena di hadapan hidung mereka berkilat-kilat ujung-ujung pedang dan tombak.

Tetapi bagi orang-orang yang sedang berpetualang itu, sama sekali tak ada bedanya. Apakah semunya itu diserahkan dengan ikhlas, atau tidak, namun apa yang mereka terima akan dapat mereka pergunakan sebaik-baiknya.

Maka sesaat kemudian, orang-orang Jipang itu seolah-olah mengalir meninggalkan halaman yang kotor dari gubug pimpinan perkemahan itu. Semakin lama semakin panjang. Di ujung barisan berjalan Sanakeling dan Ki Tambak Wedi seperti sepasang pahlawan yang sedang diarak menuju ke medan perang. Kemudian di belakangnya berjalan Alap-alap Jalatunda yang dikejar-kejar oleh kebimbangan. Kemudian beberapa pemimpin yang lain dan para prajurit yang merasa dirinya seolah-olah pejuang-pejuang yang segan berkhianat atas perjuangannya. Tetapi mereka sama sekali tidak berpijak pada dunia kenyataan yang sedang mereka hadapi serta perkembangan keadaan di sekitar tempat mereka bersembunyi.

Akhirnya orang-orang Jipang itu semakin lama menjadi semakin sedikit. Separo dari mereka telah meninggalkan mereka di tengah-tengah hutan yang gelap pekat. Yang tampak kemudian hanyalah sinar-sinar obor di kejauhan di antara kepadatan pohon-pohon raksasa dan gerumbul-gerumbul perdu.

Ketika obor-obor itu telah hilang di balik dedaunan, serta debar jantung setiap orang yang tinggal di tempat itu telah merada, maka berkatalah Sumangkar kepada orang-orang Jipang yang masih tinggal, “Tenangkan hati kalian. Aku dapat merasakan, peristiwa merupakan suatu goncangan yang dahsyat di dalam setiap dada kalian masing-masing. Baik yang pergi maupun yang ditinggalkan. Tetapi penilaian kita jelas telah bersimpangan. Karena itu adalah baik kita berpisah jalan daripada kemudian kita akan menemui kesulitan-kesulitan yang terus-menerus.”

Sumangkar terdiam sesaat. Ketika diawasinya setiap wajah para pemimpin yang masih tinggal, Sumangkar masih melihat keragu-raguan membayang di wajah-wajah mereka.

Tetapi keragu-raguan di dalam setiap dada para pemimpin Jipang itu adalah wajar. Baru saja mereka terlibat dalam perang gelar yang dahsyat, dengan korban yang cukup banyak di kedua belah pihak. Apakah mereka akan segera dapat menghilangkan segala kesan dari permusuhan mereka itu? Apakah benar orang-orang Pajang tidak mendedamnya dan kemudian mengikat mereka di belakang kereta yang dipacu secepat angin? Benarkah mereka akan dihadapkan pada suatu penilaian yang tidak dipengaruhi oleh demdam dan benci?

Dalam pada itu terdengar Sumangkar berkata, “Marilah kita mencoba menenteramkan hati kita. Marilah kita tidak berprasangka. Aku mendengar berita pengampunan itu dari Angger Untara sendiri pada saat Angger Macan Kepatihan menghembuskan nafas terakhir. Aku harap Kiai Gringsing menjadi saksi atas kata-kata yang keluar dari mulut senapati Pajang yang dipercaya oleh Ki Gede Pemanahan, yang justru pesan itu datang dari ki Gede Pemanahan sendiri.”

Namun Sumangkar masih melihat wajah-wajah yang penuh kebimbangan. Bagaimanapun juga mereka adalah prajurit-prajurit yang senjata-senjata mereka telah pernah dibasahi oleh darah orang-orang Pajang. Bagaimanapun juga hati mereka sendiri selalu berkata kepada mereka, bahwa permusuhan itu pernah terjadi dengan dahsyatnya.

Sumangkar yang merasa tidak segera dapat memberi keyakinan yang pasti kepada para pemimpin Jipang itu kemudian berkata, “Malam ini aku akan pergi ke Sangkal Putung bersama Kiai Gringsing untuk mendapatkan jaminan, bahwa segala sesuatu akan berlangsung dengan baik.”

Para pemimpin Jipang dan pada prajurit itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka sependapat dengan Sumangkar bahwa salah seorang dari mereka harus menemukan jalan yang datar sebelum semuanya berlangsung, supaya mereka tidak menyesal kelak apabila ada persoalan-persoalan yang tumbuh tanpa mereka kehendaki.

“Apakah kalian sependapat?” bertanya Sumangkar.

“Baik Kiai,” sahut salah seorang dari mereka. “Kami sependapat, bahwa Kiai akan mencari jalan yang sebaik-baiknya bagi kami semuanya. Kami percaya kepada Kiai.”

“Terima kasih,” berkata Sumangkar dengan dada berdebar-debar. la terharu bahwa dalam saat yang pendek ia berhasil mendapatkan kepercayaan dari orang-orang Jipang itu. Selama ini sebagian besar dari mereka mengenal Sumangkar tidak lebih dari seorang juru masak yang tua yang hampir-hampir tidak mampu lagi melakukan tugasnya, bahkan ada yang menyangkanya sebagai seorang juru masak yang malas.

Namun sebelum Sumangkar itu berangkat meninggalkan perkemahan itu, maka ia berpesan, “Tetapi meskipun kalian mengharap bahwa kalian akan meninggalkan petualangan yang dipenuhi dengan noda-noda darah dan air mata di antara rakyat yang tidak berdosa, namun kalian masih berhak untuk mempertahankan diri kalian dalam saat-saat yang pendek ini. Kalian masih akan menghadapi kemungkinan yang tidak kalian duga-duga. Sepeninggalku jangan lengah. Isilah setiap gardu-gardu peronda. Kalian harus mampu menyelamatkan diri menghadapi setiap bahaya. Apabila bahaya itu sangat besar dan jauh dari kemampuan daya tahan kalian, maka kalian dapat menyelamatkan diri kalian di antara gelapnya malam. Aku pasti sudah kembali sebelum fajar.”

Para pemimpin Jipang yang tinggal itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka merasa bahwa malam ini justru bahaya dapat datang dari setiap penjuru. Apabila Untara ingkar janji, apalagi bahwa pernyataannya itu hanya sekedar pancingan saja, maka malam itu juga, selambat-lambatnya besok pagi-pagi, mereka pasti akan dilanda oleh arus yang dahsyat dari laskar Pajang. Untara pasti tidak akan menunggu mereka datang menyerahkan diri, supaya ia mendapat alasan untuk berbuat menurut seleranya. Tak ada seorangpun yang akan mencoba mencari jawab, atas sebab-sebab dari kematian seseorang yang sedang berperang. Orang-orang Pajang dapat membunuh lawannya seperti menebas hutan alang-alang. Tetapi apabila orang-orang Jipang itu datang menyerah, maka persoalannya akan berbeda. Tanpa janji pengampunanpun, maka perlakuan atas orang-orang yang sudah menyerah akan berbeda dari mereka yang ditemukan dalam medan, selagi pedang masih terhunus dan tali busur masih merentang.

Sedang dari sisi lain, mereka masih harus memperhatikan kemarahan Sanakeling atas mereka. Sanakeling adalah seorang prajurit yang seakan-akan tidak bekerja dengan otaknya. Ia kurang mampu berpikir dan memperhitungkan masalah-masalah di luar masalah-masalah keprajuritan. Itulah sebabnya ia tidak dapat diajak untuk berbicara dalam masalah-masalah yang lain. Kemungkinan-kemungkinan yang dapat ditempuh. Penyelesaian yang tidak usah mempergunakan tajam senjata. Persoalan manusia dan kemanusiaan. Ia tidak dapat mendengar tangis seorang isteri yang kehilangan suaminya di medan peperangan. Baginya adalah hina bagi seorang prajurit yang tertegun hanya karena tangis seorang bayi yang terlepas dari pelukan ibunya yang ketakutan mendengar dentang senjata beradu.

Tetapi para prajurit Jipang yang tinggal itu percaya kepada Sumangkar. Percaya kepada harapan yang dijanjikan. Karena itu, maka mereka akan melakukan segala perintahnya.

Sebelum Sumangkar itu meninggalkan mereka, maka ia masih memerlukan berpesan kepada orang-orang Jipang itu, “Peliharalah jenazah Angger Tohpati sebaik-baiknya. Besok apabila aku telah kembali di antara kalian, maka akan kita selenggarakan pemakamannya.”

“Baik Kiai,” jawab salah seorang dari mereka.

“Terima kasih,” sekali lagi Sumangkar menjadi terharu.

Apabila kemudian malam bertambah malam, maka Sumangkar dan Kiai Gringsing berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan perkemahan itu menuju ke Sangkal Putung. Mereka mengharap bahwa mereka akan segera menemukan cara yang sebaik-baiknya untuk menyelesaikan masalah orang-orang Jipang yang ingin meninggalkan cara hidup yang selama ini ditempuhnya.

Pada saat-saat orang-orang Jipang disibukkan oleh pertentangan pendirian, maka pada saat itu orang-orang Pajang disibukkan oleh mereka yang terluka di medan pertempuran. Orang yang terluka itu baik kawan maupun lawan, telah diangkut ke Banjar Desa Sangkal Putung. Pengawasan atas orang-orang yang luka itu dilakukan oleh Untara dan Widura sendiri. Mereka melihat wajah-wajah yang dendam pada anak buah mereka sendiri. Mereka yang kehilangan saudaranya, yang berada bersama-sama dalam lingkungan keprajuritan Pajang, dan mereka yang merasa, betapa korban berjatuhan dikalangan sendiri.

Orang-orang yang demikian kadang-kadang serimg kehilangan kesabaran dan pengamatan diri, sehingga terhadap lawan yang terluka, maka mereka akan dapat melakukan hal-hal di luar dugaan para pemimpin laskar Pajang.

Bahkan Hudaya, orang yang sudah cukup mengendap itupun seakan-akan telah kehilangan kesadaran diri, menghadapi orang-orang Jipang. Karena itu, dengan bijaksana Untara telah membawa orang-orang yang demikin itu dahulu ke Sangkal Putung untuk beristirahat. Tewasnya Citra Gati telah membuat suatu goncangan yang dahsyat di dalam hati sahabatnya itu, sehingga dendam di dalam hatinya seakan-akan menyala membakar seluruh nadinya. Bagi Hudaya yang terluka dan kehilangan sahabat yang paling dekat itu, tidak ada angan-angan lain di dalam benaknya kecuali membinasakan semua orang Jipang.

karena itulah maka kali ini Untara dan Widura menjadi sangat prihatin melihat suasana di dalam pasukannya. Pada pertempuran-pertempuran yang lalu, korban di pihaknya tidak terlampau berat seperti apa yang baru saja terjadi, sehingga hati anak buahnya tidak sepanas pada saat itu. Pertempuran gelar yang sempurna dan tata peperangan yang masing-masing dikendalikan oleh senapati-senapati yang matang, telah menjadikan pertempuran kali ini menjadi suatu pertempuran yang tak akan pernah mereka lupakan. Baik oleh orang-orang Jipang, maupun orang-orang Pajang.

Untara dan Widura sendirilah yang kemudian menunggui orang-orang yang terluka di banjar desa. Di satu gandok tampak orang-orang Pajang terbaring dengan darah yang memerahi tubuh dan pakaian mereka, sedang digandok yang lain terbaring orang-orang Jipang yang masin mungkin ditolong hidupnya, merintih menahan pedih yang membakar dirinya.

Namun terhadap para juru penolong, Untara dan Widura tidak dapat berbuat banyak. Betapa mereka bekerja demi perikemanusiaan. Namun menghadapi pihak-pihak yang terluka itu, mereka lebih dahulu memerlukan menolong kawan mereka sendiri, orang-orang Pajang. Baru kemudian mereka menjamah tubuh-tubuh yang terbaring sambil menahan pedih dari pihak lawan. Orang-orang Jipang.

Beberapa prajurit yang bertugas berjaga-jaga di halaman pendapa memandangi orang-orang Jipang itu dengan benci. Bahkan ada di antara mereka yang tidak dapat mengerti, buat apa mereka mencoba mengobati luka-luka orang-orang Jipang itu? Mungkin salah seorang dari mereka, atau bahkan mungkin semuanya dari mereka itu, telah membunuh atau melukai orang-orang Pajang. Mungkin mereka itu pulalah yang telah menembus tubuh-tubuh orang Pajang yang kini terbaring di sisi yang lain itu, dengan senjata-senjata mereka.

Tetapi pemimpin mereka, beserta beberapa orang yang masih dapat menguasai perasaan mereka, di antara orang-orang Pajang dan orang-orang Sangkal Putung, masih mencoba berbuat dalam batas-batas perikemanusiaan. Perang itu sendiri, sebagai suatu cara terakhir untuk menyelesaikan perbedaan pendirian, tidak boleh terperosok dalam perbuatan-perbuatan yang menodai perikemanusiaan dalam kemungkinan yang sejauh-jauhnya dapat dilakukan. Bahkan apabila mungkin perang itu sendiri harus dihindarkan. Sebab betapa orang yang berhati bening mencoba berbuat sebaik-baiknya di dalam perang, namun perang sendiri hampir sama artinya dengan maut, kekerasan dan kebencian serta menaburkan benih dendam di mana-mana.

Ketika mereka, orang-orang Pajang itu sedang sibuk di pendapa banjar desa, maka para penjaga dikejutkan oleh sebuah bayangan yang berjalan tertatih-tatih mendekati halaman. Para penjaga diregol halaman yang melihat bayangan itu segera menyapanya, “He, siapa?”

***

“Aku,” terdengar sebuah jawaban.

Bayangan itu semakin lama semakin dekat menyusur pinggiran alun-alun di muka banjar desa. Dan semakin dekat, semakin jelas pulalah bagi para penjaga itu, bahwa bayangan itu bukanlah bayangan seorang saja, tetapi bayangan itu adalah bayangan seorang yang sedang memapah orang lain di sisinya.

Sekali lagi terdengar sapa dari para penjaga, “Siapa?”

“Agung Sedayu,” jawab bayangan itu.

“O,” guman penjaga itu. Namun tiba-tiba ia bertanya pula, “Siapa yang terluka?”

Agung Sedayu, yang datang dengan seorang yang ditemuinya di dalam hutan, tidak dapat menjawab. Orang yang dipapahnya itu setelah mendapat seteguk air, meskipun air dari sebuah parit, menjadi agak segar dan mampu berjalan sambil bergantung pundak Agung Sedayu. Dan orang itu belum dikenal siapa namanya. Karena itu maka Agung Sedayu menjawab, “Aku belum mengenal namanya.”

“He?” penjaga itu terkejut, “Kenapa belum kau kenal namanya?”

Agung Sedayu tidak segera menjawab. Perlahan-lahan ia berjalan terus sambil membantu orang yang terluka itu.

“Panggil aku Supa,” desis orang itu, perlahan-lahan.

“O,” gumam Agung Sedayu.

Namun kemudian ia berkata, “Nama apapun yang akan aku sebutkan, kesannya bagi mereka akan sama saja. Mereka pasti belum mengenal nama itu.”

Orang yang terluka menjadi berdebar-debar. Apakah orang-orang Pajang akan menerima kehadirannya di antara mereka?

Tetapi orang Jipang itu tidak menyatakan kecemasannnya. Bahkan kemudian ia menjadi pasrah. Kalau ia mati, maka kematian itu adalah wajar. Seandainya salah seorang prajurit Pajang kemudian menyambutnya dengan tusukan tombak di lambungnya, maka ia tidak akan merasa kehilangan lagi. Nyawanya yang sekarang seakan-akan bukan miliknya, tetapi milik Agung Sedayu. Seandainya Agung Sedayu tidak membawanya, maka iapun akan mati oleh anjing-anjing liar sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Bulu kuduk orang Jipang itu terasa berdiri. Alangkah mengerikan. Selagi ia masih hidup, beberapa ekor anjing hutan berpesta dengan dagingnya. Tetapi kalau ia mati dengan tombak menghujam di dadanya, maka ia akan mati sebagai seorang prajurit.

Agung Sedayu yang kini berdiri beberapa langkah saja dari para penjaga itu berhenti. Salah seorang dari penjaga itu bertanya, “Benarkah kau Adi Sedayu?”

“Lihatlah dengan seksama,” sahut Agung Sedayu.

“Yang terluka itu?”

Agung Sedayu tidak mau menjawab dengan berbelit-belit. Maka katanya, “Namanya Supa, orang Jipang.”

Orang di regol halaman itu serentak mengulangi kata-kata Agung Sedayu, “Orang Jipang?”

“Ya, aku temukan orang ini terluka di dalam hutan. Untunglah aku masih sempat menolongnya dan memberinya air, sehingga kemungkinan untuk hidup baginya menjadi semakin besar.”

Para prajurit Pajang dan beberapa anak muda Sangkal Putung justru terdiam. Mereka dicekam oleh perasaan heran tiada taranya. Mereka melihat, betapa Agung Sedayu masih sempat memapah orang Jipang dari hutan sampai ke halaman ini. Bukankah itu suatu pekerjaan sulit?

Tiba-tiba dari antara beberapa orang yang berjaga-jaga di regol halaman itu terdengar salah seorang berkata, “Hem, Kakang Sedayu, buat apa kau bawa monyet itu ke mari?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Suara itu dikenalnya benar. Apalagi ketika ia melihat seorang yang bertubuh gemuk bulat melangkah maju dari antara orang-orang yang kemudian berkerumun di depan regol. Namun betapa kecewa hati Agung Sedayu mendengar pertanyaannya. Ia tidak akan menyesal, bahkan sama sekali tidak mempengaruhi perasaannya apanbila pertanyaan itu meluncur dari orang lain. Bukan anak muda yang gemuk bulat dan bernama Swandaru Geni itu.

“Kakang,” berkata Swandaru seterusnya, “buat apa kau bawa orang sakit-sakitan itu. Lihat, di sini telah terkapar berpuluh-puluh orang semacam itu. Seandainya bukan Paman Widura dan Kakang Untara yang menunggui mereka langsung, maka mereka itu sama sekali tak akan berguna bagi kami. Apalagi bagi rakyat Sangkal Putung. Coba, siapakah yang memberi mereka makan? Beras siapakah? Sedang mereka telah mencoba menghancurkan Sangkal Putung ini?”

Agung Sedayu menarik napas. Swandaru adalah pemimpin dari segenap anak-anak muda Sangkal Putung. Kalau ia tetap pada pendiriannya, bahwa tidak pantas untuk membawa orang Jipang yang terluka itu, maka akan sulitlah baginya untuk menghadapinya. Semua anak-anak muda pasti akan sependirian dengan Swandaru, dan menolak orang Jipang itu. Bahkan mungkin mereka akan melakukan perbuatan-perbuatan di luar kehendak mereka sendiri.

Karena itu, Agung Sedayu harus segera menemukan jalan, sehingga Swandaru dapat diatasinya. Maka dengan serta merta Agung Sedayu menjawab, “Adi Swandaru, apa yang aku lakukan ini adalah atas perintah guru kita, Kiai Gringsing.”

Kini Swandaru-lah yang mengerutkan keningnya. Tampaklah wajahnya menjadi tegang. Cahaya obor di kejauhan membuat wajah itu menjadi merah, semerah bara.

Tapi Swandaru tidak dapat berbuat lain kecuali menghempaskan nafasnya. Betapa hatinya menggelegak, namun jawaban Agung Sedayu telah menutup setiap kemungkinan baginya untuk berbuat sesuatu. Sebab apa yang dilakukan oleh Agung Sedayu adalah karena perintah gurunya.

“Hem,” desah anak muda yang gemuk bulat itu. Tetapi ia tidak berkata sepatah katapun. Bahkan kemudian ia segera menyelinap kembali ke dalam kerumunan orang-orang di regol, seakan-akan ingin membenamkan kemarahannya ke dalam linkungan orang banyak.

Tetapi demikian Swandaru menghilang, maka tampaklah seseorang dengan tergesa-gesa menyibak orang-orang yang berdiri di regol itu sambil berkata, “Mana orang Jipang itu?”

Agung Sedayu terkejut mendengar kata-kata itu. Dari antara orang yang berdiri itu sekali lagi ia melihat seseorang melangkah maju.

“Hem,” katanya, “rupa-rupanya kau membawa oleh-oleh buat kami.”

Agung Sedayu sekali lagi mengerutkan keningnya. Sebelum ia sempat menjawab orang itu berkata pula, “Di dalam banjar desa banyak juga orang-orang Jipang yang bergelimpangan menunggu maut mencekik mereka. Tetapi orang-orang itu ditunggui langsung oleh Untara dan Widura. Nah, sekarang ada orang lain yang kau bawa kemari. Jangan kau bawa masuk ke pendapa. Serahkan orang itu kepadaku. Aku ingin mendapat ganti Kakang Citra Gati yang gugur di pertempuran.”

“Akan kau apakan orang ini Paman Hudaya?” bertanya Agung Sedayu.

“Aku ingin mencincangnya,” sahut Hudaya.

Agung Sedayu merasa orang yang menggantung di pundaknya itu menggeliat perlahan-lahan, tetapi ia segera menggamitnya.

“Paman,” berkata Agung Sedayu, “aku membawa orang ini atas perintah Kiai Gringsing.”

“Persetan dengan Kiai Gringsing! Aku tidak berkepentingan dengan Kiai Gringsing,” berkata Hudaya tegas. “Aku inginkan orang itu.”

Agung Sedayu tidak segera dapat menjawab kata-kata Hudaya itu. Terasa bahwa keadaan Hudaya yang terluka itu tidak wajar. Ia sedang diliputi oleh suasana tegang, hilangnya sahabatnya Citra Gati serta dirinya sendiri yang terluka. Karena itu maka hati Hudaya itupun sedang dibalut oleh dendam yang pekat.

Tetapi sama sekali tidak terlintas di dalam otak Sgung Sedayu untuk menyerahkan orang yang dibawanya itu. Ia membawanya dengan harapan untuk menolong jiwanya, apalagi kemudian telah diperkuat oleh perintah gurunya. Sedangkan apabila orang itu sampai ke tangan kakaknya atau pamannya, maka masih mungkin orang itu diselamatkan dari kemarahan para prajurit Pajang.

Ketika Agung Sedayu sedang berpikir terdengar kembali suara Hudaya, “Ayo, serahkan kepada kami.”

“Paman,” berkata Agung Sedayu hati-hati. “Aku memang akan menyerahkan orang ini, tetapi setelah Paman Widura mengetahuinya. Bukankah pimpinan pasukan Pajang di sini adalah paman Widura.”

Hudaya menggeram. Namun kemudian ia menjawab, “Kakang Widura adalah pimpinan prajurit Pajang dalam hubungan resmi. Tetapi aku kehendaki orang itu justru sebelum diketahui oleh Kakang Widura, sehingga orang itu belum menjadi seorang tawanan.”

Agung Sedayu menjadi ragu-ragu. Apakah yang harus dilakukannya supaya orang itu dapat dilihat oleh pamannya? Apakah ia akan memaksa berjalan terus memasuki halaman banjar desa? Apakah ia harus berteriak-teriak memanggil?

Belum lagi ia menemukan jawabnya, Hudaya telah melangkah maju. Terdengar suara tertawanya yang mengerikan. Suara itu seolah-olah bukan suara Hudaya yang selama ini dikenalnya. Ya, tiba-tiba Agung Sedayu ingat, apa yang telah pernah dilakukan oleh Sidanti. Ia mendengar dari beberapa orang yang menyaksikan, bahkan Hudaya pun pernah berkata kepadanya, bagaimana Sidanti membunuh Plasa Ireng. Menikamnya bertubi-tubi, membelah punggungnya dengan goresan-goresan yang dalam, berdiri di atas mayat itu sambil menepuk dada.

Bulu-bulu Agung Sedayu serentak berdiri. Mengerikan. Kini ia melihat seolah-olah Sidanti itu datang kembali sambil tertawa.

“Serahkan kepadaku supaya aku tidak mendendammu pula,” berkata Hudaya. Tetapi nada suaranya benar-benar mengerikan seperti suara hantu dari dalam kubur.

Namun tiba-tiba bersama dengan itu, merayap pulalah perasaan benci Agung Sedayu kepada Sidanti, kepada sikapnya, kepada perbuatannya. Kini ia melihat Hudaya itu bersikap dan berbuat seperti apa yang pernah dilakukan oleh Sidanti. Karena itu tiba-tiba Agung Sedayu melangkah surut selangkah. Terdengar ia berkata tegas, “Paman Hudaya, Aku tidak akan menyerahkan orang ini kepada siapapun juga. Tidak kepada paman Hudaya dan tidak kepada orang lain. Aku hanya akan menyerahkan kepada Paman Widura. Kalau Paman Widura akan membunuhnya itu adalah haknya, apabila ternyata menurut Paman Widura, tindakan itu adalah tindakan yang seadil-adilnya. Tetapi pasti tidak dalam keadaan yang serupa ini. Tidak dalam keadaan tidak berdaya.”

Hudaya pun kemudian tertawa pula. Jawabnya, “Kau bukan seorang prajurit. Kau tidak tahu apakah yang sebaik-baiknya dilakukan oleh seorang prajurit. Sebelum orang ini sampai pada orang yang berwenang menentukan hukuman atasnya, maka yang berlaku asalah hukuman perang. Setiap prajurit berhak melakukannya. Akupun berhak. Orang ini dapat aku perlakukan menurut kehendakku. Tempat ini dapat dianggap sebagai medan. Prajurit yang terbunuh di medan perang, nasibnya tidak dipersoalkan lagi.”

“Tidak paman,” sahut Agung Sedayu. “Kita tidak berada di dalam medan lagi. Kita sudah di belakang garis perang.”

“Jangan membantah,” bentak Hudaya yang sudah bermata gelap. Selangkah ia maju lagi sambil berkata, “Kau tahu tentang peperangan. Aku adalah orang tertua sepeninggal Citra Gati. Kalau tidak ada Widura, maka akulah yang berhak memegang atas prajurit Pajang di sini.”

“Tetapi Paman Widura sekarang ada di sini.”

“Ia berada di dalam halaman, sedang kita berada di luar halaman banjar desa. Jangan menjawab lagi, supaya kau tidak aku cincang pula seperti orang Jipang itu.”

“Terdengar Agung Sedayu menggeram. Namun hatinya menjadi semakin keras ketika ia mendengar orang Jipang itu berbisik, “Serahkan saja. Biarlah aku dibunuhnya, supaya kau selamat.”

“Tidak,” geram Agung Sedayu. Kemudian kepada Hudaya ia berkata, “Paman Hudaya, ternyata Paman Hudaya sekarang tidak seperti Paman Hudaya yang aku kenal pertama-tama aku datang. Bahkan tidak seperti Paman Hudaya lusa. Paman Hudaya sekarang ini adalah seorang yang sama sekali berbeda.”

“Tutut mulutmu,” potong Hudaya. “Lepaskan orang itu. Biarkan ia terbaring di tanah. Aku ingin mencincangnya. Kau dengar?”

“Aku dengar,” sahut Agung Sedayu, “Tetapi aku tidak akan melakukannya.”

“He,” mata Hudaya terbelalak. Sinar obor yang lemah seakan-akan telah membakar mata, sehingga memancar kemerah-merahan. “Kau berani membantah perintahku?”

“Kau tidak berhak memberikan perintah itu.”

“Kalau tidak ada Widura, Hudaya adalah orang tertua kau dengar.”

“Aku bukan prajurit Pajang. Aku tidak terkena keharusan untuk mematuhi perintah siapapun di sini. Kalau aku patuh terhadap Paman Widura, ia adalah pamanku. Dan kalau aku menurut perintah Kakang Untara, karena ia adalah kakakku. Kau bukan pamanku dan bukan ayahku. Kau tidak berhak memberikan perintah itu. Sedangkan orang lain yang berhak memberikan perintah kepadaku adalah Kiai Gringsing, guruku. Dan perintah itu berbunyi, “Selamatkan orang ini.”

Mata Hudaya menyala mendengar jawaban Agung Sedayu. Apalagi ketika Agung Sedayu menegaskan, “Bukankah begitu Paman. Bukankah Paman sendiri tadi mengatakan bahwa aku bukan seorang prajurit.”

Terdengar gigi Hudaya gemeretak. Tiba-tiba Hudaya yang telah menjadi sangat marah itu berkata pula, “Di medan perang kekuasaan berada di tangan prajurit. Setiap orang harus tunduk pada perintah. Kaupun harus tunduk meskipun kau bukan seorang prajurit.”

Agung Sedayu benar-benar menjadi gelisah. Ia tidak akan menyerahkan orang ini, tetapi ia juga tidak ingin berbenturan di antara kawan sendiri. Karena itu Agung Sedayu mencoba untuk mencari cara yang sebaik-baiknya untuk ia yakin, bahwa apabila terpaksa ia harus menarik pedangnya, ia akan dapat membiarkan Hudaya terjatuh sendiri karena kepayahan. Ia dapat membiarkan dirinya diserang tanpa membalas dengan serangan. Kemampuannya akan memungkinkan berbuat demikian sampai Hudaya berhenti sendiri karena kehabisan nafas. Apalagi orang ini telah terluka. Namun dengan demikian akan tertanam bibit kebencian dan dendam di antara sesama mereka. Tetapi terasa juga betapa hatinya meronta. Perbuatan itu adalah perbuatan anak-anak. Tetapi ia harus menemukan cara.

Ketika sekali lagi ia memandangi wajah Hudaya, terasa hatinya berdesir. Wajahnya memang wajah yang gelap dan keras sejak ia melihatnya yang pertama. Tetapi wajah itu tidak pernah tampak seliar kali ini.

Tiba-tiba kembali Agung Sedayu teringat kepada Sindati. Kekerasan dan keliaran yang menyala di wajahnya, bahkan setiap saat. Anak muda itu benar-benar anak muda yang kasar dan liar. Hudaya bukanlah orang yang demikian. Kali ini ia menjadi kasar dan liar karena sebuah kejutan perasaan yang telah menggoncangkan hatinya.

Namun dengan kenangannya atas Sidanti, Agung Sedayu menemukan suatu cara untuk menahan arus kemarahan Hudaya. Ketika ia melihat Hudaya maju selangkah, Agung Sedayu kemudian berkata, “Paman Hudaya, apakah Paman benar-benar tidak dapat mencegah diri?”

“Diam!” bentaknya. “Serahkan orang itu!”

“Apakah Paman akan mencincangnya?”

“Ya, aku akan mencincangnya.”

“Baiklah,” sahut Sedayu.

Terasa orang yang menggantung di pundaknya berdesis, perlahan-lahan ia berbisik ke telinga Agung Sedayu. “Tolong, bunuh aku dahulu. Kau dapat menusuk lambungku dengan pedangmu, supaya aku segera terbunuh sebelum aku merasakan siksaan yang mengerikan.”

“Mudah-mudahan itu tidak terjadi,” sahut Agung Sedayu.

“Apa yang kau katakan?” bertanya Hudaya.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba ia menyahut, “Orang yang bernama Supa ini bertanya, apakah orang inikah yang bernama Sidanti?”

“Setan. Apakah aku akan kau samakan dengan iblis kecil itu? Aku bernama Hudaya. Sama sekali bukan Sidanti. Apakah persamaannya antara Hudaya dan Sidanti, he? Jangan membuat aku bertambah marah.”

“Maaf Paman, ia hanya bertanya.”

“Kenapa kau yang memintakan maaf untuk orang Jipang itu?”

“Maaf Paman, maksudku, pertanyaan itu tidak terlampau salah.”

Sekali lagi mata Hudaya terbelalak. Sekali lagi ia membentak, “Kenapa? Aku bukan Sidanti, tahu!”

“Maksudku,” sahut Agung Sedayu, “Pertanyaan orang ini masuk akal. Sidanti pernah mencincang Plasa Ireng di medan perang setelah ia berhasil membunuh dengan pedangnya. Sekarang orang ini mendengar keinginan yang sama dengan apa yang pernah dilakukan oleh Sidanti itu. Mencincang lawannya. Namun Sidanti mencincang lawan yang telah dibunuhnya sendiri dengan pedangnya di medan perang dan orang itu pada saat hidupnya adalah senopati pengapit di sayap kiri lawan, sedang orang ini adalah seorang prajurit kecil yang tak berarti. Juga tidak terbunuh di medan perang oleh tangan Paman Hudaya sendiri.”

“Cukup!” terdengar suara Hudaya melengking memecah sepi malam, menggeletar memenuhi lapangan dan halaman banjar desa. Betapa suara itu telah mengejutkan hampir setiap orang yang berdiri di regol halaman, maupun di dalam halaman.

Namun Agung Sedayu tidak terkejut. Ia memang mengharap Hudaya marah dan berteriak. Ia mengharap orang-orang yang berada di dalam banjar akan mendengar teriakan itu. Kecuali itu Agung Sedayu masih mempunyai harapan lain. Mudah-mudahan Hudaya menyadari keadaannya.

Ternyata harapan Agung Sedayu kedua-duanya berhasil. Teriakan Hudaya itu telah didengar oleh Untara dan Widura, sehingga dengan tergesa-gesa keduanya turun ke halaman. Tetapi yang lebih penting bagi Agung Sedayu adalah ketika kemudian ia melihat Hudaya itu menundukkan wajahnya. Setelah ia melepaskan tekanan yang menghimpit dadanya dengan sebuah teriakan yang menggelegar, tiba-tiba seakan-akan dadanya menjadi jernih. Tiba-tiba ia teringat pula apa yang pernah dilakukan oleh Sidanti. Alangkah mengerikan. Ia pernah mengutuk habis-habisan di dalam hatinya ketika ia melihat Sidanti membelah punggung Plasa Ireng, kemudian berdiri di atas mayatnya sambil sesumbar. Ia merasa ngeri sendiri. Alangkah buasnya anak itu. Seakan-akan ia telah kehilangan segenap kemanusiaannya. Tiba-tiba dalam kegelapan pikiran hampir-hampir saja ia melakukannya pula. Hampir-hampir saja ia mencincang orang seperti apa yang dilakukan oleh Sidanti itu.

Terasa suatu desir yang tajam menggores jantung Hudaya. Hatinyapun menjadi pedih karenanya, melampaui pedihnya lukanya yang ditimbulkan oleh senjata Sanakeling.

Supa, orang Jipang yang menggantung di pundak Agung Sedayu melihat pula perubahan sikap Hudaya. Bahkan ia melihat Hudaya itu kemudian melangkah mundur. Tetapi Supa itu sama sekali tidak tahu apakah yang bergolak di dalam hati Hudaya.

Ketika Untara dan Widura hadir di tempat itu, Hudaya telah mundur beberapa langkah lagi. Bahkan ia kini telah berdiri di antara para penjaga yang merubungnya.

“Siapakah yang berteriak?”

Agung Sedayu menjadi ragu-ragu untuk menjawab. Apabila ia menyebut nama Hudaya, apakah hati orang itu tidak tersinggung karenanya? Namun ternyata Hudaya tidak mengingkari keadaannya. Maka katanya, “Aku yang berteriak.”

“Kenapa?” bertanya Widura.

Hudaya menarik nafas. Kemudian jawabnya, “Hampir aku khilaf. Aku akan membunuh orang Jipang yang datang bersama Angger Agung Sedayu. Untunglah Angger Agung Sedayu tidak memberikannya.”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Peristiwa itu sendiri ternyata segera dapat diatasi. Tetapi bagaimana dengan janji Untara yang pernah diucapkan pada saat Tohpati meninggal. Untara, atas nama Panglima Wira Tamtama menjanjikan pengampunan bagi mereka yang menyerah. Tanggapan itu sama sekali kurang menyenangkan bagi prajurit. Seperti sikap Hudaya itu adalah suatu gambaran perasaan para prajurit Pajang. Amatlah sulit untukmelenyapkan permusuhan dalam waktu yang pendek. Apalagi pada saat-saat terakhir, korban telah berjatuhan dari kedua belah pihak, sehingga peristiwa itu seakan-akan telah membakar dendam di hati mereka.

Ternyata bukan saja Widura yang menjadi berdebar-debar karenanya. Jawaban Hudaya langsung menyentuh hati Untara pula. Hudaya adalah seorang yang telah cukup mengendap. Seorang yang memiliki pandangan yang cukup luas dan jauh. Tetapi menghadapi orang-orang Jipang dadanya seakan-akan meluap. Apalagi orang-orang lain.

Meskipun demikian Untara masih tetap dalam pendiriannya. Pendirian itu adalah pendirian Panglima Wira Tamtama. Karena itu ia mengharap bahwa ia akan dapat memenuhinya. Namun haruslah diketemukan cara yang sebaik-baiknya, sehingga tidak terjadi peristiwa yang tidak dikehendaki. Orang-orang yang sesat itu datang kembali, namun kawan-kawan sendiri menjadi sakit hati karenanya. Apalagi ada di antara mereka yang hatinya menjadi patah dan kehilangan gairah perjuangan.

Selagi Widura dan Untara masih berdiam diri karena angan-angan mereka, terdengar Hudaya berkata, “Maafkan aku Kakang Widura. Mudah-mudahan aku untuk seterusnya dapat mengekang diri sendiri.”

Widura mengangguk. Jawabnya, “Kau ternyata sedang mengalami goncangan perasaan Hudaya. Beristirahatlah. Mudah-mudahan kau akan mendapat ketentraman hati. Juga agar lukamu tidak menjadi semakin parah karenanya.”

Hudaya mengangguk dalam-dalam. Kemudian sambil melangkah surut ia menjawab, “Baiklah. Mudah-mudahan lukaku segera dapat sembuh. Tetapi sejak tadi aku belum melihat Ki Tanu Metir yang biasanya dapat mengobati luka-luka dengan baik.”

“Ia akan segera kembali, Paman.” sahut Untara.

Hudaya tidak menjawab. Sejenak kemudian ia telah menghilang di antara beberapa penjaga yang berdiri berjejalan dengan beberapa orang prajurit dan anak-anak Sangkal Putung yang ingin melihat peristiwa itu.

Hudaya yang kemudian masuk ke dalam halaman banjar desa langsung pergi ke gandok kanan. Di antara beberapa orang yang terluka ia membaringkan dirinya. Namun angan-angannya terbang jauh menelusuri awan di langit yang tinggi. Beberapa perasaan hilir mudik di kepalanya. Sekali ia bersyukur bahwa ia telah dibebaskan dari suatu perbuatan yang buas dan liar. Namun sekali-sekali timbulah sesalnya. Kenapa orang Jipang tadi tidak saja ditikamnya sampai mati tanpa minta ijin lebih dahulu dari Agung Sedayu. Kenapa ia tidak berusaha melepaskan dendamnya atas kematian orang-orang Pajang, bahkan sahabatnya terdekat Citra Gati? Apakah orang-orang Jipang itu juga mengenal cara yang serupa atas orang-orang Pajang yang terluka? Tidak. Orang-orang Pajang yang terluka tidak pernah mengalami perawatan apapun. Apalagi perawatan, bahkan mereka sama sekali tidak dipedulikannya. Apalagi ada kesempatan, orang Jipang pasti akan berebut tidak untuk menolongnya, tetapi untukmencincangnya.

Namun setiap kali, ia sadar atas kekhilafannya. Setiap kali ia teringat kepada Sidanti, setiap kali ia berterima kasih kepada Agung Sedayu.

Sepeninggal Hudaya, sejenak di luar regol halaman banjar desa itu menjadi senyap. Masing-masing mencobamelihat keadaan menurut pengamatan masing-masing. Beberapa orang prajurit benar-benar menyesal, kenapa mereka tidak mendapat kesempatan untuk ikut serta mencincang orang Jipang itu. Namun beberapa orang lain menyadari keadaan mereka yang sesaat tumbuh di dalam dada Hudaya.

Sejenak kemudian terdengarlah Untara bertanya, “Siapa orang yang kau bawa itu Sedayu?”

“Supa, orang Jipang,” sahut Agung Sedayu.

“Kenapa orang itu kau bawa kemari?” bertanya Untara pula.

Agung Sedayu heran mendengar pertanyaan kakaknya. Tetapi ia menjawab pula, “Aku menemukannya terluka di dalam hutan ketika aku sedang mencoba mencari jejak Paman Sumangkar.”

Untara mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia berkata, “Kau tidak menjalankan perintahku. Kau harus mengikuti jejak Paman Sumangkar sampai kau menemukan tempat orang-orang Jipang berkemah. Sekarang kau kembali membawa orang yang terluka itu. Bukankah dengan demikian berarti kau melanggar perintahku?”

Series 14

DADA Agung Sedayu berdesir mendengar pertanyaan itu. Baru kini disadari bahwa ia telah melanggar perintah kakaknya. Tetapi menurut pendapatnya, pertanggungan jawab atas peristiwa itu ada pada gurunya. Karena itu maka jawabnya, “Aku telah mencoba melakukan perintah itu Kakang. Tetapi guruku, Kiai Gringsing menyuruh aku kembali membawa orang ini. Kiai Gringsing sendirilah yang akan mengambil alih tugas yang harus aku lakukan itu.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia tersenyum di dalam hati. Perhitungannya ternyata tepat seperti yang dikehendaki. Kiai Gringsing tidak akan melepaskan Agung Sedayu sendiri melakukan tugas yang sangat berbahaya itu. Namun meskipun demikian kini terasa betapa bulu tengkuknya berdiri. Seandainya. Ya seandainya Kiai Gringsing membiarkan Agung Sedayu itu berjalan menyusur hutan yang belum dikenalnya pada waktu itu? Alangkah berbahayanya. Kalau adiknya waktu itu mengalami bencana, maka ialah yang telah membunuh adiknya itu.

Tetapi adiknya kini telah kembali dengan selamat. Bahkan membawa seorang Jipang yang terluka. Agaknya Tuhan benar-benar telah melindungi anak itu.

Meskipun demikian wajahnya sama sekali tidak mengesankan kegembiraan hatinya itu. Dengan kerut-kerut pada keningnya, Untara berkata, “Apakah kau yakin bahwa Kiai Gringsing dapat melakukan tugas itu?”

Pertanyaan inipun mengherankannya. Untara telah lebih lama bergaul dengan Kiai Gringsing daripada dirinya. Menurut pendapatnya, Untara pasti lebih banyak mengenal orang itu, orang yang bernama Ki Tanu Metir, yang telah melindunginya di dukuh Pakuwon.

Dengan demikian, maka Agung Sedayu tidak menjawab pertanyaan kakaknya, bahkan ia bertanya pula, “Bukankah Kakang Untara telah mengenal Kiai Gringsing dengan baik?”

“Aku bertanya kepadamu,” potong Untara, “kaulah yang seharusnya melakukan tugas itu. Kalau kau menyerahkan tanggung jawab itu kepada orang lain, maka kau harus yakin bahwa orang itu akan dapat melakukan tugas yang seharusnya kau lakukan.”

Agung Sedayu masih belum tahu maksud pertanyaan kakaknya. Seharusnya pertanyaan yang demikian tidak perlu diucapkan. Namun ia tidak berani berdebat dengan kakaknya, sehingga kemudian dijawabnya pertanyaan itu perlahan-lahan, “Ya. Aku yakin.”

“Bagus, kalau demikian maka kita akan menunggu hasilnya,” berkata Untara itu pula, “tetapi siapakah yang kau bawa itu? Orang Jipang?”

“Ya.”

“Terluka?”

“Ya.”

“Parah?”

“Agak parah.”

Untara terdiam sejenak. Diedarkannya pandangan matanya berkeliling, seakan-akan ingin mengetahui gejolak perasaan para prajurit yang berdiri mengitarinya. Bukan saja atas orang Jipang yang terluka ini, tetapi orang-orang Jipang yang mungkin bakal datang, apabila seruannya dapat dimengerti oleh orang-orang Jipang itu. Namun Untara tidak berkata apa-apa tentang perasaannya yang dipenuhi oleh berbagai macam persoalan, kecemasan dan keragu-raguan. Sebagai seorang pemimpin ia harus bersikap, tidak terombang-ambing oleh keadaan yang setiap saat dapat berubah, meskipun sikap seorang pemimpin bukanlah sikap yang mati, yang tidak dapat disesuaikan lagi dengan perkembangan keadaan.

Malam semakin lama menjadi semakin dalam. Bintang-bintang bertebaran dari satu sisi ke sisi yang lain, melingkupi seluruh langit yang luas, bergayutan berangkai-rangkai.

Dalam keheningan malam yang dingin itu, terdengar suara Untara bergetar, “Agung Sedayu. Bawa orang itu masuk ke banjar desa. Satukan dengan orang-orang Jipang yang sudah lebih dahulu terbaring di sana.”

“Baik Kakang,” sahut Agung Sedayu.

Ketika Agung Sedayu kemudian melangkah maju, beberapa orang yang berdiri di regol segera menyibak. Namun wajah-wajah mereka tampak tegang. Sebagian dari mereka memandang orang Jipang itu dengan sorot mata penuh kebencian. Namun yang lain, melihat Agung Sedayu dan orang Jipang itu lewat dengan pandangan mata yang kosong.

Sejenak kemudian regol halaman banjar desa itu menjadi sepi. Sepeninggal Agung Sedayu, para prajurit dan anak-anak muda Sangkal Putung satu demi satu berjalan meninggalkan regol, selain mereka yang bertugas. Hampir semua di antara mereka, sama sekali tidak menyatakan pendapatnya tentang orang Jipang yang baru itu. Orang Jipang yang kehadirannya agak berbeda dari orang-orang Jipang yang mereka temukan di medan peperangan.

Para petugas yang merawat orang-orang yang terlukapun kini sudah tidak terlampau sibuk lagi. Beberapa di antara mereka tinggal melayani orang-orang yang terluka parah. Bahkan ada di antara mereka yang menjadi panas dan mengigau tentang berbagai macam persoalan. Ada yang merintih perlahan-lahan, namun ada pula yang berteriak sepuas-puasnya.

Suasana di banjar desa itu benar-benar menjadi suram. Beberapa orang yang lukanya tidak terlampau parah segera minta ijin untuk pergi saja ke kademangan, berkumpul dengan para prajurit yang berada di sana. Suasana di kademangan jauh lebih baik dari suasana di banjar desa. Bahkan di antara mereka yang masih merasa lapar, dapat merayap ke dapur mencari makanan yang masih banyak tersedia.

Ternyata Swandaru pun telah pergi ke kademangan. Langsung dibongkarnya tenong lauk pauk di dapur untuk mencari daging lembu goreng, sisa lauk pauk makan malam mereka.

Namun dalam pada itu, kembali para penjaga di banjar desa dikejutkan oleh kehadiran seorang yang membawa tongkat baja putih bersama-sama dengan dukun tua yang bernama Ki Tanu Metir.

Beberapa orang penjaga segera mengenal, bahwa orang yang membawa tongkat baja putih itu adalah orang yang telah membawa mayat Macan Kepatihan. Karena itu segera mereka mengetahui, bahwa orang itu adalah orang Jipang. Dengan demikian maka segera para penjaga itu menghentikannya dan bertanya, “Akan pergi ke mana kau?”

Sumangkar terkejut mendengar sapa yang keras itu. Segera, ia berpaling kepada Ki Tanu Metir, seakan-akan minta supaya Ki Tanu Metir-lah yang menjawab pertanyaan itu.

Ki Tanu Metir yang juga disebut Kiai Gringsing segera menjawab, “Akulah yang membawanya.”

“Bukankah orang ini orang Jipang?” bertanya penjaga itu.

“Ya. Orang ini orang Jipang.”

Sejenak para penjaga menjadi ragu-ragu. Mereka saling berpandangan. Namun tampaklah bahwa mereka tidak segera dapat menentukan sikap.

Dalam pada itu berkatalah Ki Tanu Metir, “Jangan cemas atas kehadirannya, aku yang akan bertanggung jawab.”

Namun wajah para penjaga itu masih saja diliputi oleh kebimbangan, sehingga Ki Tanu Metir terpaksa berkata kepada mereka, “Kalau kalian ragu-ragu, sampaikanlah kepada Angger Untara atau Angger Widura, bahwa Ki Sumangkar ingin bertemu dengan mereka.”

Itu adalah pendapat yang paling baik bagi para penjaga yang sedang bimbang. Salah seorang dari mereka segera pergi menemui Untara dan Widura, untuk menyampaikan pesan Ki Tanu Metir tentang orang Jipang itu.

“Bawa mereka kemari,” berkata Untara kepada penjaga itu.

Sejenak kemudian, Ki Tanu Metir dan Ki Sumangkar pun segera dibawa kepada Untara dan Widura, di ruang dalam Banjar Desa Sangkal Putung.

Di ruang itulah kemudian terjadi pembicaraan yang mendalam tentang segala kemungkinan yang dapat terjadi atas janji pengampunan yang disampaikan oleh Untara kepada orang-orang Jipang. Sumangkar telah mencoba menanyakan kepada Untara, sampai berapa jauh kemungkinan pengampunan itu dapat diberikan.

“Menurut Panglima Wira Tamtama,” berkata Untara, “pengampunan itu bersifat umum. Namun sudah tentu, bahwa kalian akan tetap berada dalam pengawasan. Tetapi apa yang akan kalian alami, adalah perlakuan dari para pemimpin Pajang yang menjunjung tinggi peradaban.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian orang tua itupun bertanya, “Apakah jaminan yang dapat diberikan oleh Angger Untara untuk memperkuat kepercayaan kami?”

Untara berpikir sejenak. Namun kemudian ia menggeleng. “Tidak ada jaminan yang dapat aku berikan. Tetapi aku berjanji, bahwa semua itu akan dilakukan sesuai dengan ucapan Ki Ageng Pemanahan.”

Sumangkar mengerutkan keningnya. la tidak mendapatkan jaminan apa-apa dari Untara. Memang sebenarnyalah bahwa tidak akan ada jaminan yang dapat diberikan. Tetapi begitu saja mempercayainya, rasa-rasanya berat juga bagi Sumangkar.

Sejenak ruangan itu menjadi sepi. Nyala lampu jlupak yang melekat di dinding seakan-akan menggapai-gapai kepanasan. Sekali-kali terdengar di kejauhan suara burung hantu mengetuk-ngetuk hati.

Dalam keheningan itu terasa betapa jauh jarak yang harus mereka pertautkan dari kedua belah pihak. Permusuhan yang setiap hari semakin meningkat. Kebencian, dendam dan berbagai macam perasaan yang telah mendorong kedua belah pihak menjadi semakin jauh.

Tetapi Sumangkar tidak dapat menolak kenyataan yang dihadapinya. Pajang semakin lama menjadi semakin kokoh, sedang sisa-sisa prajurit Jipang semakin lama menjadi semakin terpecah belah. Kekuatan mereka kini telah, berbanding berlipat ganda. Dalam keadaan yang demikian, apakah yang dapat dilakukan olehnya? Apa yang dijanjikan oleh Untara itu adalah selapis lebih baik daripada mereka datang menyerahkan diri, meskipun akibatnya hampir tidak ada bedanya. Namun dengan janji itu, mereka pasti akan mendapat perlakuan yang lebih baik dalam batas-batas yang memungkinkan.

Karena itu, tidak ada kemungkinan lain bagi Sumangkar untuk menerima tawaran Untara itu sebagai satu-satunya kemungkinan yang paling baik. Sumangkar yakin, bahwa apabila kesempatan itu tidak dipergunakan, akan datanglah saatnya Untara mengambil sikap tegas seperti yang dikatakannya. Apabila prajurit Jipang di daerah Utara dan di pedalaman telah ditarik menjadi satu, pada saat-saat terakhir perjuangan Macan Kepatihan, maka daerah-daerah lain itupun akan menjadi aman. Prajurit Pajang akan dapat memusatkan diri pula di daerah Selatan ini. Untara akan mendapat prajurit lebih banyak dari yang sekarang berada di Sangkal Putung. Dengan demikian maka tingkat terakhir dari usaha Untara melenyapkan sisa-sisa prajurit Jipang akan segera berhasil.

Sumangkar menyadari pula, bahwa ia tidak akan dapat mengajukan bermacam-macam syarat. Sebab keseimbangan mereka benar-benar telah goyah. Sehingga baginya, tinggal ada satu pilihan di antara dua. “Menerima, yang berarti menyerah dalam kesempatan yang terbuka” atau “menolak, yang berakibat hancur menjadi debu.” Kehancuran itu bukan saja akan dialami oleh orang Jipang, namun korban di pihak Pajang pun bertambah pula. Sedang akibatnya sama sekali tidak menguntungkan kedua belah pihak. Yang terjadi adalah pembunuhan, kekerasan dan kekejaman. Dan apa yang akan terjadi itu sama sekali tidak dapat dilupakan oleh orang-orang Pajang.

Demikianlah maka Sumangkar tidak dapat berkata lain dari pada menerima tawaran Untara. Dengan demikian maka segera mereka mulai membicarakan pelaksanaan dari penyerahan itu. Dalam hal ini Sumangkar pun tidak dapat terlampau banyak mengajukan pendapatnya. Sebagian dari pembicaraan itu datang dari pihak Untara, sebagai sesuatu yang harus diterima oleh Sumangkar. Namun di dalam hati Untara, masih saja selalu dirayapi oleh kecemasan tentang anak buahnya sendiri. Apakah mereka dapat menerima sikapnya itu dengan ikhlas?

Dalam pada itu maka Untara menyadari sepenuhnya betapa beratnya tugas yang akan dilakukannya. la telah pula mendengar sikap Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda beserta sebagian orang-orang Jipang yang menyingkir ke Lereng Merapi. Mengikuti hantu yang bernama Ki Tambak Wedi. Di sana mereka akan bertemu dalam kepentingan yang bersamaan, melawan Untara dan menolak kekuasaannya. Sikap itu berarti melawan terhadap kekuasaan Pajang. Maka Ki Tambak Wedi dan segala pengikutnya kemudian dapat dianggap sebagai suatu pemberontakan, di samping Sanakeling dan pengikutnya yang masih ada.

Semuanya itu harus masuk di dalam hitungannya. Karena itu apa bila persoalan Sumangkar dan sebagian dari orang-orang Jipang, yang memenuhi panggilannya ini sudah selesai, maka Untara akan segera menghadapi tugas baru: Ki Tambak Wedi.

Malam itu tak ada persoalan yang menghambat pembicaraan di antara mereka. Untara tidak berbuat sewenang-wenang karena kemenangannya, sedang Sumangkar tidak banyak menuntut hal-hal yang tidak mungkin bagi orang-orangnya. Masing-masing rnencoba menempatkan dirinya pada sikap yang sebaik-baiknya tanpa meninggalkan tugas yang harus diselesaikan. Sehingga dengan demikian, maka pembicaraan itupun segera berakhir.

“Apabila tidak ada syarat-syarat yang harus aku lakukan lagi Ngger,” berkata Sumangkar kemudian, “maka ijinkanlah aku meninggalkan banjar desa ini. Kami bersama-sama akan memasuki tempat yang telah Angger tentukan tanpa bersenjata. Senjata-senjata kami akan sudah kami kumpulkan di tempat yang Angger kehendaki. Kami percaya kepada Angger Untara, bahwa nasib kami berada di dalam lindungan Angger. Angger pasti tidak akan khilaf seandainya ada anak buah Angger yang tidak dapat melihat kenyataan seperti yang Angger kehendaki, sehingga akan timbul kemungkinan-kemungkinan yang tidak kami inginkan.”

“Aku berjanji Paman,” sahut Untara. “Aku akan mencoba sejauh-jauhnya, bahwa tidak akan ada perlakuan di luar kehendakku.”

“Namun ada satu hal yang tidak dapat aku lakukan di saat-saat yang Angger kehendaki itu. Tongkat baja putih ini tidak akan dapat aku kumpulkan bersama dengan senjata-senjata orang-orang Jipang itu. Aku tidak akan sampai hati melihatnya. Senjata ini adalah senjata ciri kebesaran perguruanku.”

Untara mengerutkan keningnya. Sesaat ia berdiam diri, namun kemudian ia berkata, “Jadi apakah Paman menghendaki suatu perkecualian?”

Sumangkar mengangguk, “Ya, Ngger.”

“Paman akan tetap menggenggam senjata itu?” bertanya Untara. “Apakah masih ada keragu-raguan di dalam hati Paman terhadap maksud baik itu?”

Sumangkar menggeleng, “Tidak Ngger. Aku tidak berprasangka. Dan aku tidak ingin tetap memegang senjata itu.” Sumangkar berhenti sejenak, kemudian dengan nada yang dalam ia berkata, “Aku ingin menyerahkannya lebih dahulu Ngger, supaya senjataku itu tidak teronggok dalam satu kumpulan dengan senjata-senjata yang lain. Senjata para prajurit Jipang itu.”

“Maksud Paman?” Untara menegaskan.

“Senjata ini akan aku tinggalkan di sini sekarang Ngger. Kalau Angger atau salah seorang dari anak buah Angger sempat memungut senjata Tohpati, maka alangkah baiknya kalau kedua senjata itu disimpan bersama. Atau kalau Angger tidak ingin melihatnya setiap saat, maka sebaiknya senjata itu dilarung saja ke laut.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Terasa juga sesuatu berdesir di dalam dadanya. Terasa betapa beratnya orang tua itu akan melepaskan senjatanya. Sudah tentu ia tidak akan dapat melihat senjata ciri kebesaran perguruannya itu tergolek di antara puluhan senjata yang berserakan. Karena itu, maka dengan penuh pengertian Untara berkata, “Paman, biarlah aku mencoba menyimpan senjata itu. Aku akan menyimpannya sebagai suatu senjata pusaka yang berharga. Ketahuilah bahwa senjata Kakang Tohpati itu sekarang ada di dalam simpananku pula.”

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian tampak betapa muram sinar matanya ketika ia mengamat-amati senjatanya. Senjata yang diterima dari gurunya dahulu bersama Patih Mantahun. Kini senjata itu harus terpisah darinya. Tetapi ia tidak dapat mengingkarinya. Ia yakin bahwa apa yang dilakukan sekarang ini mempunyai nilai-nilai kemanusiaan yang berharga bagi orang-orang Jipang, sehingga pengorbanannya itu pasti akan bermanfaat bagi mereka.

Kemudian dengan parau. Sumangkar berkata, “Aku akan menyerahkannya sekarang.”

Untara mengangguk sambil menjawab, “Baik paman.”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Apabila darahnya masih sepanas darah di waktu mudanya, maka mati bersama dengan hilangnya senjata itu pasti akan dilakukan. Tetapi kini ia telah menjadi tua. Bukan ketuaannya itulah yang telah menyeretnya ke dalam keputus-asaan. Tetapi dengan umurnya yang sudah semakin banyak, Sumangkar makin menyadari nilai-nilai nyawa seseorang dibandingkan dengan nilai benda-benda yang dikeramatkannya. Di belakangnya berpuluh-puluh jiwa akan dapat dibebaskannya dari ketakutan, kecemasan dan hidup tanpa arti. Mereka akan terlepas pula dari kesempatan-kesempatan yang akan menjerumuskan mereka semakin dalam ke lingkungan yang sebenarnya harus disirik. Kebiadaban, kekasaran, kekejaman dan tindakan-tindakan sejenis.

Malam itu Sumangkar meninggalkan Sangkal Putung seorang diri tanpa tongkat baja putihnya. Betapa berat hatinya, namun semuanya itu telah bulat dikehendakinya. Ia ingin melihat kehidupan yang damai dan tenteram di seluruh daerah Demak lama.

Untara dan Widura yang masih tinggal bersama Kiai Gringsing di pendapa setelah orang tua itu mengantar Sumangkar sampai di luar regol masih juga berbincang sebentar. Widura yang mengetahui serba sedikit tentang Sidanti, telah menyampaikan pendapatnya pula. Sidanti adalah seorang anak kepala daerah perdikan yang cukup luas di lereng perbukitan Menoreh. Di sebelah Barat hutan Mentaok.

Untara segera menyadari keterangan itu. Senapati muda itu dapat menangkap maksud Widura. Dengan keterangan itu Widura ingin memperingatkan Untara, bahwa mungkin ia akan berhadapan dengan tugas baru yang cukup berat. Bahkan mungkin tidak kalah beratnya dengan tugas yang sedang diembannya kini.

Sejenak ruangan itu menjadi sunyi. Masing-masing sibuk dengan angan-angan sendiri. Kiai Gringsing duduk sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah-olah ia sedang menikmati suatu cerita yang mengasyikkan. Untara sibuk meraba-raba janggutnya yang belum sempat dipotongnya. Janggut yang terlampau jarang untuk dipelihara, sehingga lebih baik baginya untuk dipotongnya licin-licin. Sedang Widura duduk sambil terpekur, seolah-olah lagi menghitung jari-jari di tangannya.

Di luar ruangan itu, di pendapa banjar desa, masih terdengar rintih kesakitan. Beberapa orang di antara mereka terdengar mengeluh tak habis-habisnya karena pedih-pedih lukanya.

Tiba-tiba Kiai Gringsing tersadar. Naluri dukunnya tiba-tiba menjalari dadanya. Dengan serta-merta ia beringsut sambil berkata, “Ah. Aku mohon diri sejenak Ngger. Barangkali lebih baik bagiku mengobati orang-orang yang terluka itu daripada duduk di sini.”

Untara mengangguk sambil menjawab, “Baik Kiai. Tetapi nanti aku mengharap Kiai apabila sempat secepatnya datang kembali ke ruang ini.”

“Ya. Ya,” sahut Kiai Gringsing sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Segera aku datang kembali.”

Sepeninggal Kiai Gringsing Untara dan Widura berbincang kembali tentang pelaksanaan penerimaan orang-orang Jipang. Untara tahu benar, bahwa orang-orang mereka, yang langsung berhadapan dan bertempur melawan orang-orang Jipang itu, sangat sulit untuk melepaskan perasaan permusuham yang sudah tertanam dalam-dalam di hati mereka.

Karena itu tiba-tiba Untara berkata, “Paman Widura, aku akan mengirim utusan ke Pajang. Aku akan minta beberapa orang prajurit langsung di bawah pimpinan perwira-perwira tertinggi wira tamtama untuk menerima langsung orang Jipang itu. Dengan demikian maka aku mengharap, tidak akan terjadi sesuatu yang tidak kita kehendaki bersama. Mungkin Ki Gede Pemanahan sendiri berkenan menerima orang-orang yang sadar itu kembali. Mungkin Ki Penjawi atau Mas Ngabehi Loring Pasar. Meskipun anak itu masih terlampau muda, namun ternyata ia telah mengejutkan hampir seluruh prajurit Pajang dan Jipang. Setelah ia berhasil melawan Arya Penangsang.”

Widura mengerutkan keningnya. Ia adalah senapati yang bertanggung jawab di Sangkal Putung. Apakah tugas untuk menerima orang-orang Jipang itu harus dilepaskannya? Karena itu sejenak ia berdiam diri.

Untara melihat sikap Widura dengan penuh pengertian. Karena itu ia berkata, “Paman, hal ini sama sekali bukan karena aku tidak percaya kepada para prajurit yang ada di Sangkal Putung, tetapi sekedar mencegah perasaan-perasaan yang kurang terkendali menghadapi peristiwa yang sulit ini.”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Betapapun, maka ia tidak dapat membantah, seandainya Untara menjatuhkan perintah sebagai seorang senapati atasannya. Karena itu maka katanya, “Terserah kepadamu Untara. Kita bersama-sama menghendaki segalanya menjadi baik.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih juga berkata, “Aku mengharap Paman dapat mengerti.”

“Ya. Aku dapat mengerti.”

Kembali mereka terdiam sejenak. Di kejauhan terdengar ayam jantan berkokok bersahutan. Lamat-lamat menggema di malam yang gelap suara kentongan dara muluk di gardu peronda, yang kemudian sahut-menyahut dari ujung ke ujung kademangan.

Sejenak kemudian Untara itupun berkata, “Aku kira semuanya sudah dapat direncanakan dengan tertib Paman. Besok pagi-pagi utusanku akan berangkat ke Pajang.”

Widura mengangguk, katanya, “Baik. Aku harap tak akan ada kesulitan lagi.”

Untara dan Widura itupun kemudian meninggalkan ruangan itu. Kembali mereka berjalan berkeliling di antara orang yang terluka. Sebagian dari mereka telah dapat memejamkan mata mereka, namun sebagian yang lain masih terbaring dengan geli-sahnya. Ki Tanu Metir pun ternyata telah sibuk pula, mencoba meringankan penderitaan mereka yang terluka parah. Dengan segenap pengetahuan dan kemampuannya ia bekerja.

Ketika malam menjadi semakin dalam, maka Untara dan Widura yang tidak kalah lelahnya, bahkan mungkin melampaui setiap orang yang berada di banjar desa itupun mencoba beristirahat pula. Juga Agung Sedayu telah berbaring di antara para prajurit Pajang yang melepaskan lelah mereka. Ada yang tidak sempat membersihkan dirinya. Begitu mereka selesai makan dan minum, begitu mereka merebahkan diri mereka, masih dalam pakaian tempur mereka. Namun ada juga yang sempat membersihkan diri, berganti pakaian, menyisir rambut kemudian duduk sambil bercakap-cakap dengan beberapa kawan-kawan yang lain.

Namun malam berjalan menurut iramanya sendiri. Ajeg seperti malam-malam yang lampau.

Ketika fajar pecah, maka cerahlah padukuhan Sangkal Putung. Para pengungsi telah merayap kembali ke rumah masing-masing. Beberapa anak-anak muda Sangkal Putung dengan bangga mengatakan bahwa Sangkal Putung untuk seterusnya telah menjadi jauh lebih aman. Tohpati telah terbunuh.

Riuhlah berita itu mengumandang di segenap sudut kademangan Sangkal Putung. Riuh pulalah orang menyebut-nyebut nama Untara. Ternyata pula kemudian bahwa yang dapat membunuh Tohpati adalah Untara. Bukan orang lain.

Tetapi tak seorangpun yang memperhatikan, ketika dua ekor kuda meluncur seperti anak panah meninggalkan kademangan itu. Mereka adalah utusan Untara untuk menyampaikan pesannya kepada Ki Ageng Pemanahan mengenai kebijaksanaan terakhir yang ditempuhnya, namun juga mengenai seorang prajurit yang bernama Sidanti dan gurunya Ki Tambak Wedi.

Di samping kematian Tohpati yang menjadi pembicaraan segenap penduduk Sangkal Putung, bagi para prajurit Pajang dan anak-anak muda Sangkal Putung, ada pula bahan pembicaraan yang tidak kalah hangatnya. Yaitu tentang orang-orang Jipang. Baik orang-orang Jipang yang terluka, maupun orang-orang lain yang akan menyerah. Para prajurit itu sibuk berbincang tentang janji pengampunan yang diberikan oleh Untara.

Beberapa orang prajurit menanggapi janji pengampunan itu dengan wajah yang tegang. Salah seorang dari mereka berkata, “Aku tidak mengerti, kenapa Ki Untara melontarkan janji itu. Ki Untara sendiri ikut dalam peperangan yang terakhir bahkan ia telah membunuh Macan kepatihan. Apakah hal ini tidak merendahkan harga dirinya?”

“Aku juga tidak mengerti,” sahut yang lain. “Kalau janji itu keluar dari orang yang tidak pernah melihat sendiri ajang peperangan maka hal itu mungkin sekali karena ia tidak tahu betapa banyaknya korban dan betapa panasnya hati. Tetapi Untara adalah seorang perwira Wira Tamtama yang langsung menangani peperangan. la sendiri pernah hangus dibakar oleh api peperangan. Bahkan nyawanya hampir tak dapat diselamatkan meskipun akibat tusukan senjata Sidanti.”

“Untara benar-benar seperti seorang senapati yang mendem cubung,” desis yang lain. “Aku tak dapat menerima sikapnya. Apabila kelak orang-orang Jipang itu benar-benar datang, maka aku akan membunuh mereka.”

Percakapan itu berhenti ketika mereka melihat Agung Sedayu datang kepada mereka. Meskipun tidak sengaja, namun ternyata Agung Sedayu telah memutuskan pembicaraan tentang orang-orang Jipang.

“Apakah kalian telah melihat Adi Swandaru?” bertanya Agung Sedayu.

Para prajurit itu menggeleng, “Belum, kami belum melihatnya,” sahut salah seorang dari mereka.

“Mungkin ia belum datang ke mari,” berkata yang lain. “Semalam putera Ki Demang itu pulang ke kademangan.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Biarlah aku mencarinya ke kademangan.”

Agung Sedayu pun segera pergi ke kademangan. Ia ingin bertemu dengan Swandaru untuk menyampaikan pesan Untara. Untara ingin memperbincangkan masalah orang-orang Jipang dengan para pemimpin Sangkal Putung. Supaya tidak terjadi salah paham, maka yang pertama-pertama dikehendaki oleh Untara dan Widura adalah Ki Demang Sangkal Putung dan Swandaru Geni. Apabila keduanya dapat mengerti pendirian itu, maka diharap bahwa seluruh penduduk Sangkal Putung pun akan menerima kehadiran orang-orang Jipang itu sebagai suatu kewajaran. Sebab orang-orang Jipang itu tidak akan terlalu lama berada di Sangkal Putung. Mereka segera akan di bawa ke Pajang. Untuk seterusnya diserahkan kepada kebijaksanaan para pemimpin Pajang.

Namun tidak mudah untuk menjelaskan pendirian itu kepada Ki Demang Sangkal Putung dan Swandaru Geni. Ketika Agung Sedayu itu datang dengan orang Jipang yang terluka, maka dengan serta-merta Swandaru telah mengemukakan pendiriannya. Menolak kehadiran orang itu, apabila Agung Sedayu tidak mengatakannya bahwa apa yang dilakukan itu atas perintah Kiai Gringsing. Tetapi terhadap keputusan untuk mengampuni orang-orang Jipang yang jumlahnya tidak hanya satu atau dua, bahkan tidak hanya sepuluh atau dua puluh, maka untuk meyakinkannya, sehingga anak muda itu dapat menerima pendirian Untara, bukanlah pekerjaan yang mudah.

Meskipun demikian, maka Untara dan Widura harus mencobanya. Kalau mereka gagal, maka harus ditempuh cara yang lain. Cara yang tidak bertentangan dengan keputusan bersama dengan Sumangkar, namun tidak melukai hati rakyat Sangkal Putung yang selama ini telah membantu prajurit Pajang dengan gigihnya.

Ketika Agung Sedayu sampai di Sangkal Putung, maka yang pertama-pertama menemuinya di muka regol adalah Sekar Mirah. Gadis yang berwajah riang itu menyambutnya sambil tersenyum. Baru sehari kemarin mereka tidak bertemu, tetapi rasa-rasanya telah berhari-hari bahkan berminggu-minggu.

“Kau tidak segera datang ke kademangan, Kakang,” berkata Sekar Mirah.

“Aku masih terlalu sibuk, Mirah”

“Semalam Kakang Swandaru telah dapat tidur mendengkur di rumah. Apakah kau tidak dapat datang bersama Kakang Swandaru?”

“Adi Swandaru pergi tanpa mengajakku. Aku kira adi Swandaru pun masih berada di banjar bersama anak-anak muda yang lain.”

“Ah,” desah Sekar Mirah, “kau mengada-ada.”

Agung Sedayu tersenyum. Ia tidak menjawab lagi. Langsung ia berjalan ke pendapa, menemui Ki Demang Sangkal Putung.

“Apakah Ki Demang ada di rumah?” bertanya Agung Sedayu.

“Kenapa kau cari ayah?”

“Aku memerlukannya atas pesan Kakang Untara.”

“Kenapa kau tidak mencari aku?”

“Ah,” Agung sedayu menarik nafas, “aku juga mencarimu, Mirah. Tetapi aku juga ingin menyampaikan pesan Kakang Untara.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Tiba-tiba berkata, “Kenapa kakakmu itu tidak saja datang sendiri kemari? Kalau kakakmu semalam datang kemari selagi kademangan ini masih dipenuhi oleh para pengungsi, maka aku kira kademangan ini akan runtuh karena pujian yang akan diterimanya. Betapa rakyat Sangkal Putung berterima kasih kepadanya, karena Kakang Untara telah berhasil membunuh Macan Kepatihan.”

Agung sedayu tidak segera menjawab. Tetapi dahinya tampak berkerut.

“Kakang Sedayu,” berkata Sekar Mirah, “biarlah kakakmu itu datang sendiri kemari. Biarlah ia menerima kehormatan yang layak karena jasanya.”

“Penghormatan apa yang kau maksud? Apakah orang-orang Sangkal Putung akan berbaris sambil meneriakkan terima kasih mereka di hadapan Kakang Untara?”

Sekar Mirah tersenyum mendengar pertanyaan itu. Tetapi ia menjawab, “Kalau Kakang Untara datang tadi malam maka hal yang demikian itu pasti akan terjadi. Semua orang pasti akan memberikan salam sebagai pernyataan terima kasih mereka. Satu demi satu. Bahkan mereka yang tidak sempat mendapat sambutan tangan, pasti akan puas dengan menyentuh bagian-bagian tubuh Untara. Bahkan ujung kainnya sekalipun.”

“Ah, terlampau berlebih-lebihan,” sahut Agung Sedayu.

“Rakyat Sangkal putung adalah rakyat yang mengenal rasa terima kasih. Apakah Kakang Agung Sedayu tidak ingat lagi, ketika Kakang Agung Sedayu baru saja datang di kademangan ini? Ketika Kakang Sedayu pergi ke warung di ujung desa? Bukankah hampir setiap orang laki-laki datang memberi Kakang salam sebagai pernyataan terima kasih mereka?”

Agung sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya,” namun nada suaranya terlampau dalam. Terkenang olehnya, betapa ia menjadi cemas dan ketakutan ketika Sidanti datang mengancamnya. Betapa ia menjadi hampir pingsan karenanya.

“Nah,” berkata Sekar Mirah, “sekarang Kakang Agung Sedayu sebaiknya memanggil Kakang Untara. Kami harus mengadakan upacara kemenangan.”

“Tetapi tidak dalam waktu yang singkat ini. Kini Kakang Untara masih menghadapi tugas yang cukup berat.”

“Bukankah Macan Kepatihan telah mati?”

“Macan Kepatihan memang telah mati. Tetapi masih banyak persoalan yang harus dihadapi. Yang mati adalah seorang saja dari sekian banyak pemimpin prajurit Jipang.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Katanya, “Jadi, maksud Kakang, bahwa suatu ketika di Sangkal Putung masih mungkin ada pertempuran lagi?”

Agung sedayu menganggukkan kepadanya.

“Oh,” wajah Sekar Mirah menjadi buram. “Aku kira kita semua telah bebas dari segala bentuk peperangan.”

“Tetapi bahaya yang sebenarnya telah menjadi jauh lebih kecil dari masa-masa yang lalu. Namun Kakang Untara kini menghadapi persoalan yang lain, yang apabila kurang hati-hati, akan dapat berkembang pula menjadi semakin besar.”

“Soal apakah itu?”

“Sidanti.”

Terasa bulu-bulu tengkuk Sekar Mirah menjadi tegak. Nama itu benar-benar mencemaskannya. Jauh lebih menakutkan dari Macan Kepatihan. Sebab disadarinya, bahwa Sidanti berkepentingan langsung dengan dirinya. Karena itu, maka wajah gadis itupun menjadi bertambah buram. “Apakah Sidanti cukup berbahaya? Bukankah ia hanya seorang diri?”

Sedayu menyesal, bahwa ia telah menyebut nama itu. Dengan demikian ia telah membuat hati Sekar Mirah menjadi cemas. Karena itu maka dijawabnya untuk menenteramkan hati gadis itu, “Jangan cemas. Sidanti hanya seorang diri. Di Sangkal Putung, ada beberapa orang yang sanggup melawannya. Kakang Untara, paman Widura dan kini kakakmu Swandaru pun tidak lagi dapat ditamparnya tanpa perlawanan.”

Dahi Sekar Mirah masih berkerut, katanya, “Tetapi aku dengar guru Sidanti adalah seorang hantu yang sakti.”

“Jangan kau cemaskan pula” sahut Sedayu “guru kakakmu pun melampaui kesaktian hantu.”

Sekar Mirah terdiam. Tetapi wajahnya masih juga memancarkan kecemasan hatinya.

“Sekarang, di mana ayahmu?” bertanya Agung Sedayu.

“Di dalam. Apakah Kakang Sedayu akan menemuinya?”

“Ya,” sahut Sedayu

“Aku tidak mau memanggilkan untukmu.”

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Tetapi carilah sendiri.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Sekali ini Kakang Untara mempunyai keperluan yang penting. Aku agak tergesa-gesa.”

“Urusanku adalah menyediakan makanan buat kalian. Kalau kau tergesa-gesa mau makan, makanlah. Aku sudah sedia.”

“Tolong, panggil ayahmu.”

“Kakang Sedayu setiap kali pasti hanya akan memberikan beberapa perintah. Sesudah itu pergi lagi. Kau tidak pernah menyediakan waktu untuk beristirahat untuk berjalan-jalan menikmati senja di kademangan ini atau melihat-lihat sawah yang hijau.”

“Masa ini adalah masa berprihatin, Mirah. Kalau semuanya telah lampau, maka aku pasti akan berjalan-jalan melihat isi kademangan ini atau pergi ke sawah, tidak saja untuk melihat-lihat, tetapi aku pandai pula membajak dan menyebar bibit.”

“Omong kosong,” sahut Sekar Mirah. “Dalam keadaan yang serupa, Sidanti dapat menyisihkan waktunya untuk itu.”

Terasa dada Agung Sedayu berdesir. Wajahnyapun tiba-tiba berubah. Dan tiba-tiba pula ia menjawab, “Itulah bedanya. Beda antara Agung Sedayu dan Sidanti. Mungkin Sidanti dapat menemanimu berjalan-jalan di sepanjang pematang dalam keadaan yang bagaimanapun juga. Tetapi Agung Sedayu tidak.”

Sekar Mirah terkejut mendengar jawaban itu. Terasa bahwa kata-katanya telah terdorong terlampau jauh. Karena itu maka katanya, “Maksudku, bahwa apabila diperlukan waktu itu dapat diluangkan. Kalau aku menyebut Sidanti, karena Sidanti ternyata dapat juga menyediakan waktu untuk itu.”

“Mudah-mudahan lain kali aku juga bisa,” sahut Sedayu. “Tetapi di mana ayahmu? Aku tergesa-gesa. Mungkin Sidanti tidak pernah berbuat seperti aku, sebab ia acuh tak acuh saja mengenai perkembangan dan kemajuan keadaan di Sangkal Putung.”

Wajah Sekar Mirah menjadi merah. Ia tidak menjawab pertanyaan Agung Sedayu. Tetapi dengan tergesa-gesa ia melangkah pergi. Tidak masuk ke dalam rumahnya, tetapi justru keluar regol halaman.

Agung Sedayu sedianya tidak dapat berkata sesuatu. Namun kemudian ia mencoba memanggil, “Mirah. Mirah.”

Sekar Mirah berpaling. Tetapi ia tidak berhenti. Agung Sedayu hanya mendengar gadis itu berkata, “Aku akan pergi ke warung di ujung desa.”

“Bagaimana dengan Ki Demang ?”

“Masuklah,” jawabnya. “Katakanlah sendiri kepadanya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Gadis itu memang terlampau manja. Sambil menggelengkan kepalanya Agung Sedayu berdesis, “Terlalu anak itu.”

Namun tiba-tiba Agung Sedayu terkejut ketika ia mendengar suara tertawa berderai. Ketika ia berpaling, dilihatnya Swandaru berdiri bertolak pinggang di samping pendapa.

Sekali lagi Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

“Kenapa dengan anak itu?” bertanya Swandaru.

“Tidak apa-apa,” sahut Agung Sedayu.

Tetapi suara tertawa Swandaru menjadi semakin keras. Katanya, “Kau marah kepadanya?”

“Terlalu adikmu itu,” desah Agung Sedayu.

“Begitulah tabiatnya. Jangan kaget,” sahut Swandaru.

Agung Sedayu tidak menyahut kata-kata itu, tetapi ia bertanya, “Dimana Ki Demang?”

“Di dalam, bukankah Sekar Mirah juga menjawab begitu?”

“Ya,” sahut Agung Sedayu, “aku ingin bertemu.”

“Marilah.”

Keduanya kemudian menaiki pendapa dan masuk ke pringgitan. Pringgitan itu sama sekali masih seperti malam kemarin ketika ia tidur di situ bersama paman dan kakaknya. Sejenak kemudian Ki Demang pun segera keluar dari ruang dalam. Sambil tersenyum orang tua itu duduk di samping Agung Sedayu.

“Apakah Angger Untara belum sempat kembali ke kademangan?” bertanya Ki Demang.

“Belum hari ini, Ki Demang,” jawab Sedayu. “Mungkin besok atau lusa.”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bertanya pula, “Apakah masih ada hal yang penting di banjar desa?”

“Orang-orang Jipang yang terluka itu Ki Demang.”

“Hem,” Demang Sangkal Putung itu menarik nafas dalam-dalam. “Angger Untara memang mencari kesulitan dengan orang-orang Jipang itu. Seperti bujang mencari momongan. Kenapa tidak dibiarkannya saja orang-orang Jipang itu? Biarlah kawan-kawannya sendiri yang memelihara mereka. Dengan demikian pekerjaan Angger Untara tidak menjadi bertambah-tambah. Kini Angger Untara harus mengawasi sendiri orang-orang Jipang itu supaya mereka tidak mengkhianati kita. Tetapi juga supaya mereka tidak dibunuh oleh prajurit Pajang sendiri.”

Sebelum Agung Sedayu menjawab, Swandaru berkata, “Kalau bukan orang Pajang, orang Sangkal Putung-lah yang akan membunuh mereka.”

Sedayu terkejut mendengar jawaban Ki Demang Sangkal Putung, apalagi Swandaru. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa ia akan mendengar jawaban serupa itu. Dahulu pada saat ia pertama-tama menginjakkan kakinya di kademangan ini, maka yang mula-mula ditemuinya adalah Ki Demang itu. Dari mulut Ki Demang ia mendengar, betapa orang tua itu mengutuk perang dan segala macam akibatnya. Kini tiba-tiba sikapnya menjadi terlampau keras menghadapi lawan.

Tetapi Agung Sedayu mencoba untuk mengerti dan memahami jawaban itu. Selama ini Sangkal Putung benar-benar mengalami tekanan yang luar biasa kerasnya dari orang Jipang. Hampir setiap hari orang-orang Sangkal Putung selalu diburu oleh kecemasan, ketakutan dan kegelisahan. Setiap hari orang-orang Sangkal Putung selalu dibakar oleh kemarahan yang menyala-nyala di dalam dada mereka. Setiap anak muda Sangkal Putung setiap hari selalu bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan, bahkan kemungkinan yang paling pahit sekalipun.

Ki Demang Sangkal Putung adalah seorang Demang yang dekat sekali dengan hati rakyatnya. Setiap hari ia mendengar apa yang mereka percakapkan. Setiap hari Ki Demang ikut merasakan apakah yang mereka cemaskan. Itulah sebabnya, maka semuanya itu telah merubah sedikit demi sedikit tanggapan Ki Demang Sangkal Putung atas kekerasan yang dihadapinya. Setiap hari ia selalu didorong untuk menyadari bahwa untuk menyelamatkan Sangkal Putung dari kekerasan orang-orang Jipang, maka Sangkal Putung perlu mempergunakan kekuatan dan kekerasan.

Sehingga akhirnya, Ki Demang itu terdorong semakin jauh ke dalam sikapnya yang sekarang. Betapa ia setiap hari menjadi semakin membenci orang-orang Jipang, sumber dari segala macam kegelisahan, kecemasan dan ketakutan.

Tetapi Agung Sedayu tidak boleh hanyut pula ke dalam sikap yang demikian. Ia sejak semula sependapat dengan sikap kakaknya. Sudah tentu mereka tidak akan dapat membiarkan orang-orang Jipang yang terluka terbaring di padang-padang rumput atau di pategalan yang kering sampai mereka mati dengan sendirinya. Perbuatan yang demikian adalah perbuatan yang melanggar perikemanusiaan. Sejak ia berada di Sangkal Putung, para prajurit Pajang selalu bersikap jantan terhadap lawan-lawan mereka yang terluka. Namun kali ini agaknya telah menjadi jauh berbeda. Korban yang cukup banyak di pihak Pajang sendiri, telah mendorong orang-orang Pajang untuk menjadi bertambah membenci dan mendendam.

Apalagi anak-anak muda dan orang-orang Sangkal Putung. Mereka setiap saat merasa terancam nyawa dan miliknya.

Meskipun demikian Agung Sedayu tidak berani menyampaikan persoalan itu kepada Ki Demang. “Biarlah Kakang Untara sendiri yang mengatakannya,” katanya dalam hati. Sehingga yang terloncat dari bibirnya adalah, “Ki Demang, Kakang Untara kini tidak dapat meninggalkan banjar desa. Mungkin sampai besok atau lusa. Tetapi Kakang Untara sangat ingin bertemu dengan Ki Demang. Apakah Ki Demang dapat pergi ke banjar desa?”

Ki Demang Sangkal Putung mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan itu. Namun ia menyadari, bahwa meskipun bagi Sangkal Putung ia adalah seorang pemimpin tertinggi, tetapi Untara adalah seorang senapati dari Pajang, yang bahkan mempunyai kedudukan lebih tinggi dari Widura, penguasa Pajang di daerah Sangkal Putung. Dalam keadaan seperti saat itu, di mana Sangkal Putung diliputi oleh suasana perang, maka kedudukan penguasa prajurit adalah melampui kekuasaan demang itu sendiri.

Karena itu, maka permintaan Untara itu sebenarnya adalah perintah baginya, bahwa ia harus datang ke banjar desa.

Ki Demang itupun kemudian menjawab, “Baiklah Ngger. Aku akan segera datang ke banjar desa, setelah aku menyelesaikan pekerjaanku di sini. Tetapi apakah kira-kira keperluan Angger Untara memanggil aku?”

Agung sedayu ragu-ragu sesaat. Tetapi ia tidak berani mendahului kakaknya. Maka jawabnya, “Aku kurang tahu, Paman. Tetapi menurut pesan Kakang Untara, Ki Demang dan Adi Swandaru diharap menemuinya di banjar desa.

“Baiklah,” sahut Ki Demang kemudian, “aku akan segera pergi, setelah aku menyelesaikan beberapa pekerjaan di sini.”

Agung Sedayu pun kemudian mohon diri mendahului bersama Swandaru Geni. Mereka bersama ingin juga bertemu dengan guru mereka. Mungkin ada rencana yang harus mereka lakukan hari itu.

Di halaman mereka bertemu dengan Sekar Mirah. Gadis itu sama sekali tidak pergi ke warung. Sehingga karena itu maka Agung sedayu berkata, “Mirah, ternyata kau tidak pergi ke warung.”

Sekar Mirah mencibirkan bibirnya. Jawabnya, “Tidak. Aku memang tidak ke warung.”

“Tetapi kau bilang, bahwa kau akan pergi ke warung.”

“Tak ada kawan yang mengantarkan aku,” jawabnya.

Swandaru tertawa sampai tubuhnya terguncang-guncang. Katanya, “Sebaiknya kau berterus terang Mirah. Bukankah kau ingin Kakang Agung Sedayu mengantarkanmu.”

“Siapa bilang? Siapa bilang?” sahut Sekar Mirah cepat-cepat.

Swandaru masih tertawa, katanya seterusnya, “Itupun kau belum berterus terang. Seharusnya kau berkata kepada Kakang Agung Sedayu untuk mengantarkanmu berjalan-jalan. Tidak ke warung atau ke mana saja.”

“Bohong! Bohong!” teriak Sekar Mirah.

Swandaru tertawa puas. Tetapi Agung Sedayu berdesis, “Kau selalu mengada-ada Adi Swandaru.”

Tapi Swandaru itupun kemudian terpekik kecil ketika Sekar Mirah mencubit lengannya.

“Awas kau Kakang Swandaru. Aku tidak mau menyisihkan brutu ayam untukmu lagi.”

“Oh,” Swandaru itupun tiba-tiba seperti teringat sesuatu. Ditariknya lengan Agung Sedayu dengan tergesa-gesa. “Mari ikut aku.”

“Kemana?” bertanya Agung Sedayu.

Swandaru tidak menjawab, tetapi ditariknya saja tangan Agung Sedayu.

“Mau kemana kalian?” bertanya Sekar Mirah.

Swandaru tidak juga menjawab. Bahkan ditariknya Agung Sedayu semakin cepat.

“Kemana?” sekali lagi Agung Sedayu bertanya.

Namun Swandaru masih saja berdiam diri. Tetapi Agung Sedayu kemudian mengerti dengan sendirinya maksud Swandaru itu. Mereka berdua ternyata hilang di balik pintu dapur.

“Kau pasti belum makan. Nah, daripada kau menunggu rangsum dikirim ke banjar desa, ayo, akupun belum makan.”

Agung Sedayu menjadi tersipu-sipu ketika ia melihat ibu Swandaru, Nyai Demang Sangkal Putung. “Marilah Ngger, makanlah,” ia mempersilahkan.

“Jangan malu-malu,” desis Swandaru yang segera membuka tenong. “Di mana brutu ayamku?”

Yang datang kemudian sambil berlari-lari adalah Sekar Mirah. Masih di pintu ia berteriak, “Jangan ditunjukkan.”

Tetapi Sekar Mirah menjadi kecewa, sebab Swandaru telah menggenggam sepotong brutu goreng.

“Setan,” desah Sekar Mirah. “Kau tahu juga tempatnya.”

Swandaru tidak menjawab. Tetapi tangannya telah memegang semangkuk nasi. Dituangkannya seirus sayur ke dalamnya dan dengan lahapnya ia mulai mengunyah sesuap demi sesuap.

Tetapi Agung Sedayu tidak dapat berbuat seperti Swandaru yang berada di rumah sendiri. Ia masih saja duduk sambil mengawasi saudara seperguruannya itu makan. Alangkah enaknya. Karena itulah maka tubuh Swandaru dapat menjadi gemuk bulat seperti telur raksasa.

“Silahkan Ngger,” ibu Swandaru mempersilahkan. “Mirah,” katanya kepada anak gadisnya, “kenapa kau tidak segera mempersilahkan Kakangmu Agung Sedayu makan. Ambillah mangkok dan layanilah.”

Sambil bersungut-sungut Sekar Mirah melakukan perintah ibunya. Namun dengan sengaja dituangkannya sayur lombok banyak-banyak ke dalam mangkuk Agung Sedayu. Sehingga ketika Agung Sedayu mulai mengunyah peluhnya segera mengalir dari segenap Iubang-lubang kulitnya. “Terlalu benar Sekar Mirah,” katanya di dalam hati. Tetapi ia tidak mengucapkan sepatah katapun.

Ketika Swandaru melihat Agung Sedayu kepedasan, maka kembali suara tertawanya berderai memenuhi dapur. “Minumlah. Di tlundak itu ada kendi,” katanya.

Agung Sedayu mengangguk. Tetapi ia tidak segera berdiri.

Demikianlah setelah mereka selesai makan, segera berdiri pergi ke banjar desa. Ternyata Swandaru tidak terlalu lama menunggu ayahnya. Sejenak kemudian Ki Demang pun segera datang pula.

Dipersilahkannya mereka berdua memasuki ruangan dalam. Di dalam ruangan itu telah duduk menunggu Untara, Widura, Ki Tanu Metir dan kemudian duduk pula bersama mereka, Agung Sedayu.

Sesaat Untara menjadi ragu-ragu untuk mengatakan maksudnya. Apakah waktunya sudah tepat, apabila Ki Demang itu diajaknya berbincang-bincang mengenai orang-orang Jipang? Tetapi Untara tidak mempunyai waktu terlampau lama. Lima hari sejak pembicaraannya dengan Sumangkar, segalanya harus sudah terlaksana. Semakin cepat bagi Untara sebenamya semakin baik. Juga bagi Sumangkar, semakin cepat semakin baik. Apabila Sumangkar harus menunggu terlampau lama, maka segala kemungkinan dapat terjadi. Mungkin beberapa bagian dari orang-orangnya berubah pendirian, mungkin mereka akan mengalami kekurangan makan dan mungkin Sanakeling dengan orang-orang Ki Tambak Wedi yang mendendam akan datang menghancurkan mereka.

Karena itu, maka dengan sangat hati-hati akhirnya Untara menyampaikan maksudnya pula.

Ki Demang Sangkal Putung mendengarkan setiap kata-kata Untara dengan penuh perhatian. Sekali-sekali ia mengangguk-anggukkan kepalanya, namum di saat lain wajahnya tampak berkerut-kerut. Swandaru yang duduk di samping ayahnya tiba-tiba menjadi gelisah.

“Jalan itu, bagiku adalah jalan yang sebaik-baiknya, Ki Demang,” berkata Untara itu kemudian, “kecuali sejalan dengan pesan Ki Ageng Pemanahan, maka cara itu adalah cara yang paling hemat bagi kami. Korban akan dapat dibatasi, dan tugas kitapun akan segera selesai.”

Yang pertama-tama menjawab adalah Swandaru. “Kakang Untara, bukankah laskar Jipang itu telah terpecah-belah? Apalagi sepeninggal Macan Kepatihan, tidak ada orang yang dapat mengantikan kedudukannya. Bukankah dengan demikian kita akan lebih mudah menghancurkannya dengan kekerasan? Mula-mula kita hancurkan laskar Jipang yang bersembunyi di dalam hutan, kemudian kita datangi padepokan Ki Tambak Wedi.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan sareh ia menjawab, “Swandaru, kenapa mesti dengan kekerasan?”

“Kita berada di pihak yang kuat Kakang,” sahut Swandaru, “kenapa kita mesti menerima persetujuan itu? Dengan mengorbankan beberapa kemungkinan yang akan dapat mengangkat nama Kakang Untara sendiri sebagai seorang senapati? Dengan menerima persetujuan itu, seolah-olah kita tidak cukup mampu untuk menghancurkan sisa-sisa laskar Jipang itu dengan kekerasan.”

“Ya,” Untara mengulangi, “kenapa mesti dengan kekerasan? Adi Swandaru, yang penting bagi Pajang adalah penyelesaian atas peristiwa antara Jipang dan Pajang. Apabila peristiwa ini dapat diselesaikan dengan tanpa pertumpahan darah maka kenapa kita mesti mempergunakan kekerasan?”

“Jadi apakah kita harus menyerah saja terhadap orang-orang Jipang itu?” bertanya Swandaru. “Dengan demikian kita akan menghindarkan pertumpahan darah.”

Untara menggigit bibirnya. Dengan cepat Ki Demang Sangkal Putung berkata, “Maksudnya Ngger, maksud Swandaru, kalau perlu kita harus berani mempergunakan kekerasan. Bukankah korban telah banyak yang jatuh? Di saat-saat terakhir, ketika kita seakan-akan tinggal menginjak kekuatan mereka di bawah telapak kaki kita, kita menerima mereka dengan kedua belah tangan, seolah-olah kita harus melupakan saja apa yang telah pernah terjadi?”

“Bukan begitu Ki Demang,” sahut Untara. Sekilas ia memandangi wajah pamannya. Namun Widura menundukkan kepalanya, seolah-olah sengaja ia menghindari tatapan mata Untara.

“Kita tidak membebaskan mereka dari segenap tanggung jawab,” kata Untara kemudian, “tetapi kita menerima orang-orang Jipang yang akan menyerah. Kita tidak membuat persetujuan apapun, kecuali menerima penyerahan orang-orang Jipang itu. Kita tidak membuat jaminan apapun kepada mereka, kecuali janji untuk memperlakukan mereka seperti seharusnya bagi prajurit-prajurit lawan yang menyerah.”

“Mereka tidak pernah berpikir sedemikian baik, Ngger,” berkata Ki Demang. “Coba, apakah yang telah mereka lakukan pada saat pertentangan ini meledak? Tanpa disangka-sangka, maka Sunan Prawata terbunuh. Kemudian Pangeran Hadiri. Bahkan Adipati Adiwijaya sendiri hampir-hampir terbunuh pula. Sesudah itu ratusan korban berjatuhan.”

“Itulah bedanya, Ki Demang,” sahut Untara. “Itulah bedanya. Orang-orang itu berbuat tanpa pengekangan diri, seolah-olah mereka dapat melakukan apa saja sekehendak hatinya. Kita adalah orang-orang yang beradab. Kita merasa bahwa perbuatan kita harus kita pertanggung-jawabkan. Tidak saja terhadap sesama manusia, tetapi juga kepada Sumber kekuatan kita. Tuhan Yang Maha Esa.

“Namun demikian Ki Demang. Mereka yang tidak mau menyerahkan dirinya dalam kesempatan ini seperti Sanakeling, Alap-alap Jalatunda dan beberapa bagian dari laskarnya, maka mereka pasti akan kita hancurkan. Hancur dalam pengertian yang sebenar-benarnya.”

Ki Demang Sangkal Putung tidak menjawab. Ketika Untara melihat wajahnya, Ki Demang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Mudah-mudahan Ki Demang dapat mengerti,” berkata Untara di dalam hatinya. Namun yang bertanya kemudian adalah Swandaru. “Lalu bagaimana sikap kita terhadap mereka yang menyerah? Apakah mereka kita biarkan saja kembali ke tempat mereka, atau kita biarkan sekehendak hati mereka, apapun yang akan mereka lakukan?”

“Tentu tidak, Swandaru,” sahut Untara. “Mereka berada dalam pengawasan. Jasmaniah dan rohaniah.”

Sejenak ruangan itu menjadi sepi. Masing-masing mencoba memandang persoalan itu menurut segi dan kepentingan masing-masing. Namun terasa bahwa sebagian besar dari pendirian Untara dapat dimengerti oleh Ki Demang Sangkal Putung.

Meskipun demikian, masih terdengar Swandaru berdesis, “Kita terlampau baik hati. Mereka suatu ketika akan menelan kita kembali.”

“Para perwira Wira Tamtama akan memperhitungkan persoalan itu Swandaru,” sahut Untara. “Mudah-mudahan hal itu tidak akan sempat terjadi.”

Kembali mereka yang duduk di ruangan itu terdiam. Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa berkata sepatah katapun. Sekali-sekali orang tua itu memandang wajah Widura, namun pemimpin prajurit Pajang di Sangkal Putung itu masih menundukkan kepalanya. Berbagai persoalan berkecamuk di dalam kepalanya. Meskipun kemudian ia sependapat dengan Untara, bahwa apa yang dilakukan itu setidak-tidaknya akan mengurangi pekerjaannya, namun telah terbayang di dalam angan-angannya, suatu pekerjaan baru yang tidak kalah pentingnya. Ki Tambak wedi, Sidanti, Sanakeling dan laskarnya.

Kemudian, ketika tidak ada persoalan yang dibicarakan lagi mengenai dasar-dasar penyerahan orang-orang Jipang itu, maka sampailah mereka pada perjalan pelaksanaan dari penyerahan. Meskipun Ki Demang pada dasarnya dapat mengerti pikiran Untara, namun bagaimanapun juga ia masih dihinggapi oleh berbagai keragu-raguan. Karena itu maka ia berkata, “Angger Untara. Aku tidak berkeberatan Sangkal Putung menjadi tempat menerima orang-orang Jipang itu, tetapi tidak di induk Kademangan. Aku tidak dapat membayangkan, apakah rakyatku akan dapat menahan luapan perasaannya melihat orang-orang Jipang yang mereka anggap sumber dari segala macam bencana. Karena itu, aku minta agar Angger menerima orang-orang Jipang itu tidak di induk Kademangan ini. Aku menyediakan sabuah desa kecil. Benda, yang barangkali tepat untuk melakukan penerimaan orang-orang Jipang itu.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali ia menghela nafas dalam-dalam. Namun iapun dapat mengerti keberatan Ki Demang Sangkal Putung. Bagaimanapun juga, Ki Demang masih dibayangi oleh kecemasannya menghadapi orang-orang Jipang. Mungkin Ki Demang masih mencemaskannya, apabila orang-orang Jipang itu tiba-tiba mengamuk di induk Kademangan.

Karena itu maka segera Untara menjawab, “Terima kasih Paman Demang. Di manapun juga, maka pelaksanaan itu dapat dilakukan. Namun aku masih ingin mengajukan earmintaan lain. Aku ingin meminjam satu atau dua buah rumah untuk menampung orang-orang Jipang itu sebelum mereka dibawa ke Pajang.”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Baiklah Ngger. Aku akan menyediakan. Di Benda hanya ada beberapa rumah yang agak besar. Dalam saat-saat penyerahan itu, penduduk Benda akan aku singkirkan ke Kademangan ini lebih dahulu.”

Kembali Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Terima kasih Ki Demang. Kita tinggal menunggu pelaksanaan dari hari penyerahan itu. Mudah-mudahan dapat berjalan dengan lancar dan orang-orang Jipang itu menyadari keadaannya dengan jujur.”

Sejak hari itu maka berita tentang penyerahan orang-orang Jipang itu segera tersebar di seluruh Kademangan. Sebagian besar dari orang-orang Sangkal Putung kecewa mendengar sikap Untara yang menerima orang-orang Jipang itu. Kenapa Untara tidak mengerahkan saja segenap kekuatan di Sangkal Putung untuk menghancur-lumatkan mereka di sarang mereka? Tetapi tidak seorang pun yang berani mempersoalkannya dengan terang-terangan. Mereka hanya memperbincangkannya di gardu-gardu dan di perempatan-perempatan jalan apabila mereka duduk di sore hari menjelang senja. Apalagi ketika mereka mendengar, bahwa Demng mereka, dan pimpinan laskar Sangkal Putung, Swandaru Geni, telah menyetujuinya pula.

Demikianlah dari hari ke hari, rakyat Sangkal Putung menjadi semakin tegang. Mereka masih belum dapat melupakan. bagaimana Sanakeling mendekati induk Kademangan meraka, dan bagaimana orang-orang Jipang itu setiap hari membuat hati mereka menjadi cemas. Sehingga tanpa disengaja, semakin dekat dengan hari penyerahan itu maka setiap anak muda di Sangkal Putung telah mempersiapkan dirinya pula, seperti apabila mereka harus menghadapi sergapan Macan Kepatihan beberapa waktu yang lalu. Hampir setiap anak muda tidak melepaskan pedang dari lambung mereka. Hampir setiap malam gardu-gardu menjadi kian penuh.

Dan lima hari itu adalah hari-hari yang tegang.

Dalam pada itu Kiai Gringsing telah mendatangi Sumangkar di dalam sarangnya sebagai utusan Untara untuk menjelaskan pelaksanaan daripada penyerahan itu. Sementara itu utusan Untara ke Pajang pun telah kembali pula ke Sangkal Putung.

“Bagaimana dengan pesanku?” bertanya Untara.

“Telah diterima langsung oleh Ki Ageng Pemanahan,” sahut utusannya.

“Apa perintahnya?”

“Tak ada perintah. Beliau sependapat dengan pesan Ki Untara.”

“Bagus.”

Di malam menjelang hari penyerahan, Sangkal Putung benar-benar menjadi tegang. Untara juga tidak melengahkan diri. Ia masih juga menyiapkan pasukannya di sisi yang berhadapan dengan desa Benda. Bahkan beberapa gardu di ujung desa kecil itupun telah diisi dengan beberapa prajurit pilihan dan penghubung-penghubung berkuda. Bahkan tanda-tanda bahayapun telah siap pula, apabila terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Namun anak-anak muda Sangkal Putung-lah yang membuat persiapan yang luar hiasa. Mereka berada di sisi prajurit Pajang yang berada pada garis yang berhadapan dengan desa Benda.

Malam itu Untara tampak sibuk pula mengawasi keadaan dibantu oleh Widura, Agung Sedayu, dan beberapa orang lainnya. Hudaya yang masih belum sembuh dari lukanya, tampaknya kurang gairah menghadapi keadaan. Tetapi ia adalah seorang prajurit yang patuh sehingga setelah kejutan perasaannya mereda, maka apapun yang diperintahkan kepadanya, dilakukannya dengan sebaik-baiknya.

“Jadi kau sengaja menunggu sampai besok?” bertanya Widura kepada Untara.

“Ya. Aku tidak memberitahukannya kepada siapapun juga kecuali kepada Paman. Kiai Gringsing pun tidak, apalagi Ki Demang Sangkal Putung dan Agung Sedayu.”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia tersenyum sambil berkata, “Kau akan membuat sebuah lelucon yang baik Untara.”

Malam menjelang hari yang ditentukan semuanya telah dipersiapkan dengan baik. Besok orang-orang Jipang di bawah pimpinan Sumangkar akan memasuki desa Benda tanpa bersenjata. Mereka akan meletakkan senjata mereka di luar desa itu. dan prajurit Pajang-lah kemudian yang akan mengambil senjata-senjata itu.

Besok pada tengah hari, tepat ketika matahari mencapai puncaknya, maka beberapa orang dari prajurit Pajang akan memungut senjata-senjata itu dan Untara beserta Widura diikuti oleh beberapa orang prajurit yang lain akan memasuki Benda pula, menerima orang-orang Jipang itu. Seterusnya, orang-orang Jipang akan ditempatkan di rumah-rumah yang telah disediakn di bawah pengawasan yang kuat dari para prajurit Pajang. Mengawasi supaya orang-orang Jipang itu tidak ingkar, tetapi juga mengawasi agar keamanan mereka tidak terganggu.

Seterusnya maka orang-orang Jipang itu akan dibawa ke Pajang sebagai tawanan yang akan diadili oleh para penjabat di Pajang.

Ternyata malam itu, bukan saja Sangkal Putung yang mengalami ketegangan. Perkemahan Sumangkar pun dicengkam oleh ketegangan yang memuncak. Beberapa orang menjadi ragu-ragu kembali. Apakah besok, setelah mereka menyerahkan senjata mereka, orang-orang Pajang tidak akan mencincang mereka satu demi satu? Apakah besok benar-benar orang Pajang memegang janjinya, membawa mereka ke Pajang dan mengadili mereka dengan baik menurut ketentuan yang seharusnya berlaku? Apakah mereka kemudian tanpa persoalan tidak saja digantung, di sepanjang jalan-jalan kota dan dipertontonkan kepada rakyat Pajang, sebagai orang-orang yang telah berkhianat terhadap Demak, terhadap keturunan Sultan Trenggana.

Dengan sareh dan telaten Sumangkar mencoba memberi mereka beberapa petunjuk hal-hal yang dapat meringankan beban perasaan mereka.

“Kalian harus menyadari, bahwa apa yang telah kalian lakukan selama ini sama sekali tidak akan berarti. Kalian hanyalah merupakan orang-orang yang berputus asa, karena kalian telah kehilangan kemungkinan yang paling lemah sekalipun untuk mendapatkan kemenangan. Kemenangan dalam arti mencapai tujuan. Bukan kemenangan-kemenangan kecil, merampas harta kekayaan di pedesan, mengusir beberapa orang yang mencoba menentang kalian atau perbuatan-perbuatan tak berarti lainnya.

“Namun yang paling penting, kalian harus menyadari, bahwa apa yang telah kalian lakukan sejak semula adalah salah. Kalian mencoba menentang kekuasaan Demak. Ini tidak benar. Dan ini adalah sumber bencana yang menimpa kalian.”

Beberapa orana menjadi semakin yakin akan kebenaran sikap mereka. Namun beberapa orang masih juga ragu-ragu.

“Ingat,” berkata Sumangkar, “kalian tidak boleh menyesal atau menyerah karena kalian telah merasa gagal. Maka itu, seterusnya kalian masih tetap merasa bahwa pendirian kalian itu benar. Tidak! Yang harus kalian sadari adalah apa yang kalian lakukan, apa yang kalian cita-citakan, itulah yang salah. Sehingga apabila kalian mendapatkan kemenangan dalam peperangan ini, maka kalian tidak berada di dalam kebenaran dan kalianpun masih harus tetap menyadari, bahwa kalian bersalah. Apalagi dalam keadaan kalian sekarang ini.

“Apabila kalian menang, maka yang kalian anggap kebenaran adalah kekuasaan kalian. Kekuasaan yang kalian dapatkan dari kemenangan itu. Bukan hakekat dari kebenaran. Sebab kalian telah menumbangkan kekuasaan Demak yang tersalur menurut ketentuan kepada Pajang, sepeninggal saudara-saudaranya.”

Beberapa orang mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka bertambah yakin dan mantap akan keputusan mereka. Setelah sekian lama mereka terjerumus dalam pertentangan yang panjang karena ketamakan mereka akan kekuasaan. Maka seakan-akan kini mereka menemukan jalan kembali, meskipun akibat dari kesalahan itu masih harus dipertanggungjawabkan. Namun mereka akan mendapatkan batas waktu yang tertentu. Mungkin mereka harus melakukan kerja paksa yang keras beberapa tahun lamanya, mungkin mereka akan disisihkan ke tempat-tempat yang masih harus dibuka. Tetapi keluarga mereka tidak lagi merupakan keluarga buruan yang disirik oleh masyrakat karena suaminya melakukan perlawanan terhadap pemerintahan.

Namun masih terasa di dalam perkemahan itu, ketegangan yang seakan-akan hampir meledak. Beberapa orang benar-benar menjadi bimbang. Mereka menyesal, kenapa mereka tidak ikut saja bersama-sama dengan Sanakeling dan Ki Tambak Wedi. Apalagi ketika mereka menyadari bahwa Sumangkar hanyalah seorang juru masak yang malas. Satu dua kali Sumangkar membuat mereka menjadi heran, orang tua itu mampu menangkis serangan gelang-gelang Ki Tambak Wedi. Tetapi apakah itu bukan hanya sekedar kebetulan? Dan apakah cerita tentang Sumangkar yang berhasil mengusir Tambak Wedi tidak hanya sekedar cerita di dalam mimpi Tundun dan Bajang, yang sengaja dibuat-buat untuk meyakinkan mereka.

Dalam keragu-raguan itu, tiba-tiba timbullah keinginan mereka untuk membuktikannya. Apakah benar-benar Sumangkar dapat mempertanggungjawabkan mereka nanti, apakah Sumangkar itu hanya sekedar seorang yang hanya mampu membual, atau bahkan Sumangkar adalah orang yang sengaja dipasang oleh orang Pajang di dalam lingkungan mereka.

Demikianlah tiba-tiba dua orang di antara mereka segera memasuki gubug pimpinan yang kini ditempati oleh Sumangkar. Dengan wajah yang bengis salah seorang dari kedua orang itu membentak, “Sumangkar, sebelum terjadi penyembelihan besar-besaran besok, maka beruntunglah hahwa aku menyadari kesalahan yang kau lakukan. Kau besok akan membawa kami ke dalam neraka yang paling mengerikan. Dan kau pasti akan puas melihat mayat-mayat kami tergantung di pohon-pohon atau bahkan di jalan-jalan dalam kota Pajang. Nah, sekarang kau sebagai sumber dari bencana ini harus bertanggung jawab. Kau harus mengurungkan penyerahan yang akan terjadi besok. Kau harus minta maaf di hadapan kami semua, dan kau pula yang harus mempersatukan kami kembali dengam Kakang Sanakeling, Alap-alap Jalatunda dan bahkan dengan Ki Tambak Wedi.”

Sumangkar memandangi kedua orang itu dengan wajah yang muram. Seperti wajah seorang ayah yang melihat kebengalan anak-anaknya. Dengan sareh ia berkata, “Jangan salah mengerti. Kalau besok terjadi penyembelihan besar-besaran di antara kita, maka akulah orang yang pertama-tama akan disembelih.”

Orang yang lain tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban itu. Katanya, “Sekarang kalimat itu dapat kau ucapkan. Tetapi besok ketika kami telah diikat dan meninggalkan senjata kami, maka kau akan memberi perintah kepada kami satu demi satu untuk maju ke tiang gantungan. Atau untuk menundukkan kepala-kepala kami di atas landasan sepotong kayu atau tunggak pepohonan. Kapak-kapak orang Pajang atau pedang-pedang mereka besok akan menebas leher kami sehingga kepala kami akan terpotong dari tubuh kami.”

“Sebuah gambaran yang mengerikan,” desis Sumangkar.

“Bukankah demikian yang selalu dilakukan oleh orang-orang Pajang? Apakah kau balum pernah mendengar, bagaimana tubuh Plasa Ireng pada saat matinya? Tubuh itu tergores pedang lintang melintang. Hampir tak ada bedanya dengan tubuh yang dicincang-cincang. Dan bukankah kau sendiri yang membawa tubuh Raden Tohpati yang terluka arang kranjang?”

“Kau tahu siapakah yang mencincang Plasa Ireng?”

“Pasti,” sahut salah seorang daripadanya. “Orang Pajang.”

“Namanya?” Bertanya Sumangkar pula.

“Sidanti.”

“Kau tahu, siapakah Sidanti itu?”

Tiba-tiba kedua orang itu terdiam.

“Nah, apakah kalian ingin bersama-sama dengan Sanakeling bergabung dengan Sidanti, supaya kalian menjadi semakin pandai mencincang?”

Kedua orang itu masih terdiam.

“Pertimbangkanlah baik-baik,” berkata Sumangkar, “kalau kau percaya kepadaku. Aku melihat dengan mata kepala sendiri, orang-orang Pajang memelihara baik-baik orang-orang kita yang terluka di peperangan. Apakah kita sendiri sempat berbuat demikian terhadap kawan-kawan sendiri, apalagi lawan kita?”

Kedua orang itu semakin terdiam. Tetapi mereka masih belum melepaskan keragu-raguan mereka. Namun dengan penuh kesabaran Sumangkar mencoba menjelaskan kalimat demi kalimat. Gambaran demi gambaran, sehingga kedua orang itupun kemudian menundukkan kepala-kepala mereka sambil bergumam, “Aku dapat mengerti Kiai, tetapi aku masih tetap dicengkam oleh keraguan itu.”

“Mudah-mudahan aku akan dapat menjadi jaminan. Kalau besok orang-orang Pajang mengingkari janjinya, maka aku akan berbuat apa saja yang dapat aku lakukan.”

Wajah kedua orang itu masih tetap memancarkan keragu-raguannya. Sehingga Sumangkar berkata, “Mungkin kau curiga kepadaku. Mungkin kau menyangka aku adalah orang Pajang yang menyusup ke dalam Laskar Jipang. Kalau demikian, aku tidak perlu ribut-ribut menyelenggarakan penyerahan. Aku dapat membunuh kalian malam tadi, atau malam nanti dengan memberi kesempatan prajunit Pajang menyergap perkemahan ini. Tetapi itu tidak terjadi.”

Kedua orang Jipang itu masih saja terbungkam. Dan Sumangkar pun berkata terus seperti orang ayah menasehati anak-anaknya. “Memang permusuhan selalu menumbuhkan prasangka di kedua belah pihak. Meskipun kedua belah pihak ingin menghentikannya dengan jujur, namun pertimbangan-pertimbangan yang timbul kemudian kadang-kadang amat meragukan. Masing-masing mencurigai pihak yang lain. Malam ini aku kira bukan saja kalian berdua yang menjadi ragu-ragu. Aku kira beberapa orang Pajang pun menjadi ragu-ragu. Pasti ada di antara mereka yang menyangka bahwa apa yang kita lakukan tidak lebih dari suatu cara untuk memasuki Sangkal Putung dengan cara yang licik. Kita besok pasti akan dijemput dengan pasukan segelar sepapan lengkap dengan segala macam bentuk senjata. Apabila demikian, kalian jangan terkejut. Itu bukanlah sikap yang bermusuhan. Namun itu adalah suatu sikap curiga. Permusuhan yang telah tumbuh ini, tidak akan segera hilang tanpa bekas. Setiap persoalan yang kecil yang timbul di antara kalian dan orang Pajang kelak, pasti segera akan mengungkat kembali permusuhan ini. Kalau ada salah seorang saja dari orang-orang Jipang yang berbuat curang, maka segera kebencian orang Pajang yang akan bertambah. Sebaliknya kalau ada seorang Pajang yang berbuat sewenang-wenang atas kalian, maka kalian pasti akan berkata bahwa orang Pajang telah mengingkari janjinya dan berbuat sewenang-wenang. Sehingga dengan demikian, keinginan-keinginan yang jujur akan tenggelam dalam noda-noda yang kelam. Namun yakinlah, yakinlah pada tujuan yang baik. Yakinlah bahwa kalian telah kembali, bukan saja dalam bentuk duniawi, bukan saja dalam bentuk jasmaniah, tetapi yang penting adalah nilai-nilai rohaniah. Apapun yang kalian alami secara badaniah, maka apabila kalian hayati dengan kesadaran atas nilai-nilai rohaniah, maka kalian akan menemukan ketenteraman, kalian akan menemukan hiburan dari nilai-nilai rohaniah itu. Sebenarnyalah bahwa dalam bertaubat, kalian akan mendapat pengampunan. Meskipun tangan kalian telah berlumuran darah tetapi pintu pengampunan tertingi tidak pernah akan ditutup apabila kita bersungguh-sungguh mohon kepada Tuhan untuk mendapatkannya. Bersungguh-sungguh, tekad dan perbuatan.”

Kedua prajurit itu semakin tertunduk. Kata-kata itu menyusup ke dalam hati mereka, sehingga mereka menjadi yakin atas tujuan penyerahan mereka besok. Salah seorang dari kedua prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil bergumam, “Terima kasih Kiai.” Dan di dalam hatinya ia berkata, “Alangkah benarnya kata-kata Kiai Sumangkar. Apa yang akan aku alami secara badaniah pasti tidak akan banyak berarti dibandingkan dengan nilai-nilai rohaniahnya.”

Ketika kedua orang itu kemudian kembali ke gubugnya, gubug yang hanya tinggal semalam itu didiami, mereka segera tidur mendekur. Mereka sudah tidak menjadi gelisah lagi, karena keragu-raguan mereka, sebab mereka telah menemukan hakekat dari penyerahan mereka kepada orang-orang Pajang. Bukan secara badaniah, tetapi secara rohaniah, mereka menyongsong suatu kehidupan baru. Hati mereka yang pepat kelam, kini seakan-akan telah terbuka. Dari celah-celahnya seakan-akan mereka berdua dapat melihat, apa yang telah pernah terjadi dan apa yang akan dilakukannya.

Sumangkar sendiri kemudian mencoba berbaring di pembaringannya. Tetapi tidak seperti kedua orang Jipang yang baru datang kepadanya, yang segera dapat tidur mendekur karena perasaannya telah tidak terganggu lagi oleh berbagai kegelisahan.

Tetapi Sumangkar adalah orang yang bertangguhg jawab akan terselenggaranya penyerahan besok.

Meskipun demikian, apa yang dikatakannya kepada kedua peajurit itu telah sedikit menenteramkan hatinya sendiri pula. Kata-kata dan nasehat itu sebagian telah menjernihkan kesadarannya, sehingga Sumangkar sendiri menjadi semakin yakin akan kebenaran sikapnya.

Ketika angin malam manembus lubang-lubang dinding gubugnya, terdengar di kejauhan jerit anjing-anjing liar berebut mangsa. Tiba-tiba tanpa disengaja, kenangannya meluncur kepada Sanakeling, Alap-alap Jalatunda dan kawan-kawannya. Sumangkar menarik nafas dalam-dalam sambil bergumam lirih, “Kasihan Sanakeling. Seperti anjing-anjing liar itu, mereka bersama-sama berangkat dari satu sarang, bersama-sama mengejar mangsanya, bersama-sama menyerang dan membinasakan. Tetapi kemudian mereka saling membunuh di antara sesama apabila mereka sudah berebut hasil buruannya itu.”

Dan suara anjing-anjing liar itu semakin lama menjadi semakin riuh, sehingga Sumangkar menjadi semakin tidak mungkin lagi dapat memejamkan matanya.

Orang tua itupun kemudian bangkit dari pembaringannya, berjalan ke luar dan mengitari halaman. Ia masih melihat beberapa orang prajurit berjaga-jaga untuk yang terakhir kalinya di sudut-sudut perkemahan.

Sekali-sekali Sumangkar mendekati mereka sambil berkata, “Besok kau akan bebas dari pekerjaan semacam ini.”

Orang itu menganggukkan kepalanya. Perlahan-lahan mereka menjawab, “Kiai, rasa-rasanya kami akan memasuki sebuah goa yang maha gelap.”

“Kenapa?” bertanya Sumangkar.

“Kami tidak tahu, apa yang berada di dalamnya. Apakah kami akan sampai ke dalam istana yang indah ataukah kami akan terjerumus kedalam neraka yang paling laknat.”

Sumangkar mengangguk-angukkan kepalanya. Ia dapat mengerti sepenuhnya kata-kata itu. Bahkan secara jujur hatinya sendiri kadang-kadang berkata demikian juga. Tetapi ia percaya kepada Untara, percaya kepada Kiai Gringsing dan percaya kepada kewibawaan Widura atas anak buahnya, sehingga besok tidak akan terjadi hal-hal yang dapat mengganggu pelaksanaan penyerahan yang menjadi tanggung jawabnya. Sebaliknya ia mengharap bahwa orang-orang Jipang sendiri akan dapat membantu terlaksananya penyerahan itu dengan sebaik-baiknya.

Akhirnya Sumangkar itupun menjawab, “Jangan ragu-ragu Ngger. Mudah-mudahan pilihan kita ini benar. Telah sekian lama kita terjerumus dalam kesalahan.”

“Tetapi ketika kita sedang mulai, bukankah Kiai turut pula beserta kita?”

“Karena itulah, maka marilah kita mengucap sukur Ngger. Mengucap sukur bahwa akal kita dapat berkembang. Seperti anak-anak yang dengan serta merta menggenggam bara, maka kemudian anak-anak itu dapat mengerti bahwa ternyata ia telah berbuat suatu kesalahan. Demikian pula aku Ngger. Mudah-mudahan demikian pula kalian menemukannya seperti aku menemukan kesadaran itu.”

Para penjaga itupun mengangguk-angukkan kepala mereka. Dan Sumangkar pun kemudian berjalan meninggalkan orang itu, berjalan dari satu sudut ke sudut yang lain, sehingga kemudian ia menjadi penat. Akhirnya ia berbaring tidak di dalam gubugnya, tetapi di samping gardu di ujung halaman perkemahannya. Sesaat kemudian angin yang silir telah membelainya, seperti tangan seorang ibu membelai anaknya tersayang. Sumangkar yang tua itu kemudian tertidur dengan nyenyaknya. Besok ia akan melakukan kewajiban yang berat dan berbahaya.

Ketika ayam jantan berkokok di pagi-pagi buta, orang-orang di Sangkal Putung telah menjadi sibuk. Beberapa orang bergegas-gegas pergi ke kademangan. Seakan-akan pergi mengungsi. Mereka cemas mendengar banyak desas-desus yang bersimpang-siur, seolah-olah orang-orang Jipang yang ingin menyerahkan diri itu hanya sekedar suatu cara untuk mengelabuhi kesiap-siagaan orang-orang Sangkal Putung.

Anak-anak muda Sangkal Putung telah siap menyandang senjata masing-masing, sedang para prajurit Pajang pun telah bersiaga sepenuhnya. Hari ini adalah hari yang sangat tegang bagi Sangkal Putung. Seperti hari-hari di mana Tohpati akan datang menyergap kampung halaman mereka.

“Seandainya orang-orang Jipang itu benar-benar menyerah sekalipun, siapa yang harus memberi mereka makan? Kami juga, orang-orang Sangkal Putung,” gerutu salah seorang anak muda Sangkal Putung.

Tetapi ia terkejut ketika didengarnya jawaban sareh. “Memberi makan mereka adalah jauh lebih baik daripada kampung halaman ini dijarah-rayah. Lumbung-lumbung padi dibakar dan rumah-rumah dijadikan karang abang. Bukankah begitu?”

Ketika anak-anak muda itu berpaling dilihatnya Agung Sedayu berdiri di belakang mereka. Dengan serta merta mereka segera mengangguk sambil membetulkan kata-katanya. “Ya. Ya Tuan. Memang lebih baik demikian. Lumbung-lumbung padi kami agaknya masih cukup sampai musim menuai yang akan datang.”

Agung Sedayu tersenyum. Katanya, “Bukankah dengan penyelesaian yang bagaimanapun bentuknya asal tidak mengorbankan hak-hak sendiri, jauh lebih baik daripada harus bertempur dan berjaga-jaga setiap hari? Sawah-sawah yang bera selama ini karena gangguan keamanan segera dapat ditanami. Saluran-saluran air dapat segera diperbaiki. Bukan begitu?”

“Ya, ya tentu Tuan. Tentu,” sahut mereka tergagap.

Sekali lagi Agung Sedayu tersenyum sambil berjalan ke dalam halaman banjar desa. Namun sepeninggal Agung Sedayu anak-anak muda sangkal putung itu memberengut sambil berkata, “Anak itu bukan anak Sangkal Putung.”

“Aku membenarkan kata-katanya.”

Tetapi seorang yang lebih dewasa daripada anak-anak itu berkata, “Aku membenarkan kata-katanya.”

Anak-anak muda itu memandangi kawannya sambil bertanya, “Kenapa kau membenarkannya?”

“Apakah kau tahu yang dikatakan oleh Agung Sedayu?” bertanya kawannya yang yang lebih dewasa berpikir itu.

“Tentu.”

“Coba katakan maksud kata-katanya.”

“Bukankah ia mengatakan bahwa lumbung-lumbung kami masih penuh dengan padi dan sawah-sawah kami masih dapat ditanami? Tetapi apakah kami tidak memerlukannya sendiri? Berapa banyak beras yang sudah kami berikan kepada orang-orang Pajang yang berada di sini, sekarang ditambah lagi dengan orang-orang Jipang yang selama ini membuat bencana di kampung halaman kami.”

Kawannya itu tertawa. Katanya, “Ternyata kau tidak mendengarkannya, tetapi kau sudah tergesa-gesa mengangguk dalam-dalam sambil membenarkan kata-kata Agung Sedayu itu.”

“Kenapa?” bertanya anak muda itu sambil tersipu-sipu.

“Dengarkan, aku akan mencoba mengulangi,” berkata kawannya. “Agung Sedayu itu berkata bahwa lebih baik memberi makan orang-orang Jipang itu daripada tidak sempat menanami sawah dan ladang. Bukankah sawah-sawah dan ladang kita banyak yang bera tidak dapat ditanami karena kita ketakutan? Sawah-sawah kita yang jauh dari induk desa ini dan ladang-ladang kita di ujung-ujung desa terpencil? Saluran-saluran air menjadi kering, karena kita tidak sempat memperbaikinya. Nah, kalau kita sudah tidak berkelahi lagi, maka semua itu akan dapat kita lakukan dengan baik. Hasilnya, dibandingkan dengan beras yang akan kita berikan untuk memberi orang-orang Jipang itu makan, masih cukup banyak. Bukankah begitu?”

Anak muda itu merenung. Sekali-sekali mengangguk-angguk, namun kemudian ia tidak mau kalah. “Tetapi berapa nilai dari kawan-kawan kami yang terbunuh di peperangan?”

“Itu adalah banten. Tawur bagi kesejahteraan kampung halaman.”

Anak muda itu terdiam. Kawan-kawannya yang lainpun terdiam pula. Ada sedikit pengertian di otaknya, namun hatinya tetap meronta. Sehingga sulitlah bagi anak muda itu untuk mendamaikan hati dan otaknya sendiri.

Tetapi mereka tidak bercakap-cakap lagi. Semakin pagi semakin banyak anak-anak muda yang berdatangan di banjar desa. Mereka telah bersiaga sepenuhnya menghadapi setiap kemungkinan.

Prajurit-prajurit Pajang pun telah bersiaga pula. Mereka benar-benar dalam kesiap-siagaan tertinggi. Bahkan Widura telah memerintahkan untuk menyiapkan rontek di Banjar desa. Umbul-umbul dan panji-panji pun dipersiapkannya pula. Pusat pimpinan prajurit Pajang kini dengan serta merta telah berpindah dari kademangan ke banjar desa.

Ki Demang sendiri tidak mengerti kenapa demikian. Kenapa tiba-tiba rontek dan segala macam tanda kebesaran telah dipasang di banjar desa. Bahkan kemudian Widura memberikan perintah kepada prajuritnya untuk bersiap di alun-alun di hadapan banjar desa itu, tidak di halaman banjar desa.

Beberapa orang menjadi heran. Kenapa halaman banjar desa itu sengaja dikosongkan? Juga anak-anak muda Sangkal Putung diminta untuk berkumpul di luar halaman Banjar desa.

“Kenapa kita harus keluar dari banjar desa?” bertanya salah seorang kepada sesama mereka.

Kawannya menggelengkan kepalanya. “Entahlah.”

“Bukankah banjar desa itu kita punya?”

“Ya. Tetapi Ki Demang sendiri tidak berbuat apa-apa. Swandaru pun berdiam diri saja.”

Merekapun terdiam pula. Tetapi pertanyaan itu melingkar-lingkar di kepalanya.

Apalagi ketika kemudian mereka melihat beberapa prajurit Pajang berkuda, berpacu sepanjang jalan kademangan mereka seperti mengejar hantu. Anak-anak muda itu menjadi semakin heran.

Ketika matahari telah menjenguk dari punggung bukit, maka Kademangan Sangkal Putung itupun menjadi cerah. Ujung-ujung rontek, umbul-umbul dan panji-panji seakan-akan menjadi kian cemerlang dipanasi oleh sinar matahari pagi. Dalam belaian angin yang lembut panji-panji dan umbul-umbul itu bergetar perlahan-lahan, seperti anak-anak yang melambaikan tangannya menyambut kedatangan ibunya.

Banjar Desa Sangkal Putung, pagi itu benar-benar memancarkan kesegaran dan kebesaran meskipun terbatas dalam kademangan yang kecil namun subur dan makmur itu.

Bahkan kemudian beberapa orang bertanya-tanya, “Apakah di sini nanti Untara akan menerima orang-orang Jipang di Benda tengah hari nanti?”

“Tidak,” jawab yang lain. “Ki Demang telah menentukan, bahwa Untara akan menerima orang-orang Jipang di Benda, tengah hari nanti.”

“Lalu untuk apa banjar desa di rengga-rengga dengan segala macam rontek dan umbul-umbul?”

Kawannya mengeleng. Perlahan-lahan ia menggeser mendekati seorang prajurit Pajang yang berdiri di alun-alun itu pula. “Untuk apa rontek dan umbul-umbul bahkan panji-panji itu?” Prajurit Pajang itu menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Aku tidak tahu.”

“Apakah itu suatu kehormatan bagi orang-orang Jipang?”

Mata prajurit itu terbelalak, katanya, “Pasti tidak. Kami sendiri tidak pernah mendapat sambutan dengan tanda-tanda kebesaran itu. Apalagi orang-orang Jipang yang sudah sekarat.”

Anak muda itu menganguk-anggukkan kepalanya. Katanya di dalam hati, “Prajurit Pajang sendiri agaknya tidak senang melihat penyerahan orang-orang Jipang itu. Mungkin mereka lebih senang membinasakannya di medan-medan peperangan.”

Tetapi ternyata kemudian Untara sendiri tidak dapat merahasiakan teka-teki itu kepada para pemimpin kelompoknya. Beberapa orang dipanggilnya, dan diberitahukan kepada mereka apa yang harus dilakukan. Beberapa orang di antaranya menarik nafas dalam-dalam. “Oh,” katanya di dalam hati. “Aku sudah berdebar-debar.”

Untara tersenyum melihat sikap beberapa orang pembantu-pembantu Widura itu. Katanya, “Kalian tidak usah berdebar-debar. Aku ingin mengejutkan Ki Demang Sangkal Putung.”

“Bukan saja Ki Demang,” sahut Hudaya. “Aku juga terkejut. Tetapi apakah maksud Angger Untara hanya supaya Ki Demang terkejut?”

“Ya.”

“Tidak ada maksud lain?”

“Maksud lain tidak terkandung dalam persoalan yang kau dengar ini.”

Hudaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bertanya kembali, “Ya. Dalam hal tidak diberitahukan, mungkin Angger Untara hanya akan membuatnya terkejut. Tetapi maksud kedatangannya kemari?”

“Tentu,” jawab Untara, “kau telah dapat merabanya sendiri.”

Hudaya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berkata apa pun lagi.

“Beberapa orang telah aku perintahkan untuk menyongsongnya dan membawanya ke banjar desa ini,” berkata Untara pula. “Menurut ketentuan mereka akan datang pagi-pagi.”

“Mereka berangkat tengah malam,” sela Widura.

“Ya, mereka berangkat tengah malam,” sahut Untara.

Sesaat mereka kemudian terdiam. Beberapa orang masih juga mengangguk-anggukkan kepala mereka. Hari ini akan menjadi hari yang penting bagi Sangkal Putung. Bahkan hari yang tak akan dapat dilupakan oleh anak-anak mudanya. Peristiwa demi peristiwa akan berpuncak di hari ini. Namun apa yang terjadi masih juga menjadi pertanyaan bagi anak-anak muda Sangkal Putung dan bahkan para prajurit Pajang sendiri.

Dalam pada itu, lima orang penghubung telah mendapat perintah khusus dari Untara dan Widura untuk menjemput tamu yang akan datang. Tamu yang akan mendapat penyambutan yang khusus, yang akan mengejutkan hati setiap orang di Sangkal Putung dan prajurit-prajurit Pajang di Sangkal Putung pula.

Tetapi yang tidak mereka perhitungkan, bahwa pada saat ini, hantu lereng Merapi yang mereka takuti, ternyata membuat perhitungan tersendiri. Ternyata Ki Tambak Wedi mendengar pula bahwa hari ini, Untara akan menerima Sumangkar dengan orang-orangnya yang menyerahkan diri.

Sesaat setelah ia mendengar berita itu, beberapa hari yang lalu, orang tua itu tersenyum di dalam hatinya. Dipanggilnya Sidanti dan Sanakeling. Sambil memilin-milin kumisnya ia berkata, “Nah, apa rencana kalian menghadapi hari yang ditentukan itu?”

Dengan serta-merta Sanakeling menjawab, “Kita hancurkan Sumangkar dan orang-orangnya.”

Ki Tambak Wedi tertawa. Katanya, “Jangan terlampau bernafsu hendak memusnahkan kawan-kawan itu sendiri dengan tanganmu. Belum lagi dapat dipastikan kita akan dapat memenangkan pertempuran itu, meskipun sebagian besar dari para pemimpin Jipang berada di sini. Tetapi Sumangkar dan mungkin Kiai Gringsing akan dapat mengganggu rencana ini.”

Sanakeling mengerutkan keningnya. Kemudian dengan tenangnya ia berkata, “Lalu apa yang sebaiknya kita kerjakan Kiai?”

Ki Tambak Wedi tersenyum. Hidungnya yang melengkung tampak bergerak-gerak. Dijawabnya, “Kita hancurkan mereka dengan meminjam tangan orang lain.”

Sanakeling mengerutkan keningnya. Gumamnya, “Bagaimana mungkin?”

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya muridnya yang bernama Sidanti sambil bertanya, “Apa rencanamu?”

Sidanti menggeleng, “Aku belum memikirkannya guru.”

“Alangkah bodohnya kalian,” berkata orang tua itu. “Kita akan mendapat kesempatan yang baik sekali menghadapi saat penyerahan itu. Penyerahan itu akan terjadi di tengah hari. Kita harus mengingat-ingat saat itu.”

“Ya. Tengah hari. Tetapi bagaimana dengan meminjam tangan orang lain itu?” desak Sanakeling.

Tambak Wedi terdiam sesaat. Kemudian katanya, “Percayalah bahwa tidak semua orang Pajang sendiri ikhlas menerima penyerahan itu. Sebagian dari mereka pasti masih mendendamnya dan ingin menghancurkan orang-orang Jipang di medan-medan perang tanpa ada persoalan lagi. Mereka pasti ingin melihat orang-orang Jipang itu musnah. Nah, marilah kita pergunakan keadaan itu.”

Sanakeling dan Sidanti mendengarkan setiap kata Ki Tambak Wedi dengan penuh minat.

”Menjelang saat penyerahan itu, kita pengaruhi perasaan yang tersimpan di dalam dada orang-orang Pajang yang mendendam mereka.”

“Bagaimana?” Sanakeling menjadi tidak bersabar.

“Kita membawa beberapa orang prajurit pilihan,” berkata Ki Tambak Wedi lebih lanjut. “Pada saat orang-orang Pajang dan orang-orang Sangkal Putung menerima orang-orang Jipang yang menyerah, kita menyelusup masuk ke kademangan itu. Kita bakar beberapa rumah penduduk dan beberapa lumbung padi. Kita jarah saja isinya dan kita binasakan setiap orang yang kita jumpai. Nah, bagaimanakah kira-kira sikap orang-orang Pajang dan orang-orang Sangkal Putung terhadap orang-orang Jipang yang menyerah itu yang justru sudah tidak bersenjata?”

Mata Sidanti tiba-tiba menjadi berkilat-kilat. Rencana itu terdengar amat manis di telinganya. Tetapi Sanakeling tidak segera menanggapinya, bahkan tampak kerut-kerut dahinya.

“Bagaimana Sanakeling?” Bertanya Ki Tambak Wedi.

“Dengan demikian,” sahut Sanakeling, “orang-orang Pajang akan menjadi sangat marah. Kemarahan yang memang telah terpendam di dadanya pasti segera akan meluap, seperti minyak tersentuh api. Mereka tidak akan sempat berpikir, kepada orang-orang Jipang yang mana mereka akan melepaskan kemarahan itu. Dan orang-orang Jipang yang menyerah itulah yang akan memikul akibat dari perbuatan kita.”

“Bukankah sudah aku katakan, bahwa kita telah meminjam tangan orang lain untuk membinasakan para pengkhianat itu.”

Sanakeling menarik nafas dalam-dalam. Orang-orang Jipang itu adalah kawan sepenanggungan pada saat-saat yang lampau. Karena itu meskipun ia sendiri bernafsu untuk menghancurkannya, namun keadaan yang dibayangkan oleh Ki Tambak Wedi benar-benar tidak adil. Orang-orang Jipang yang tidak bersenjata itu akan menjadi lembu bantaian tanpa perlawanan.

Karena Sanakeling tidak segera menjawab, maka kembali Ki Tambak Wedi mengulangi, “Bagaimana Sanakeling, bukankah dengan demikian kita dapat memusnahkan orang-orang Jipang itu tanpa mengotori tangan kita dengan darahnya.”

Sanakeling menggeleng lemah. Jawabnya sama sekali tidak disangka-sangka oleh Ki Tambak Wedi. Katanya, “Aku kurang sependapat Kiai.”

Tambak Wedi mengerutkan keningnya, perlahan-lahan ia bertanya, “Kenapa? Apakah kau belum juga bersedia melepaskan mereka yang jelas telah memusuhinya?”

Sanakeling terdiam kembali. Sesaat ia berpikir. Baru kemudian ia menjawab, “Betapa dendam membakar jantungku Kiai, tetapi aku tidak dapat melihat bekas kawan-kawanku itu mati disembelih tanpa dapat berbuat sesuatu.”

Wajah Ki Tambak Wedi menjadi semakin berkerut-kerut. Katanya, “Lalu apa maksudmu sebenarnya?”

“Kiai,” berkata Sanakeling kemudian. Tiba-tiba wajahnya pun menjadi tegang. Ia telah menemukan suatu cara yang baik untuk membuat keributan di Sangkal Putung. Katanya, “Kalau kita berbuat sesuatu sesudah penyerahan itu berlangsung, maka kemungkinan yang lain daripada pembantaian besar-besaran adalah sikap yang tenang dan otak yang dingin dari pimpinan orang-orang Pajang itu. Untara dan Widura pasti mampu membuat perhitungan berdasarkan laporan Kiai Gringsing, bahwa apa yang terjadi adalah benar-benar karena sikap pihak lain dari orang-orang Jipang. Sehingga apabila demikian, maka orang-orang Pajang dan Sangkal Putung tidak akan sempat berbuat sesuatu. Tetapi bagaimana kalau keributan itu kita lakukan sebelum penyerahan itu berlangsung?”

“Untara dan Widura akan dapat menilai seperti itu pula Sanakeling,” sahut Ki Tambak Wedi.

“Tetapi orang-orang Jipang belum berkumpul dalam satu penampungan yang langsung ditunggui oleh Untara dan Widura yang mempunyai pengaruh yang cukup besar pada para prajurit Pajang. Kalau prajurit Jipang itu masih belum berada di Sangkal Putung dan apabila kemudian mereka masih menyandang senjata mereka, maka tanggapan orang-orang Pajang dan Sangkal Putung pasti akan berbeda. Mereka tidak melihat kambing-kambing yang sudah tertutup di dalam kandang, tetapi mereka melihat serigala yang buas di luar rumah mereka. Aku mengharap bahwa orang-orang Pajang dan orang-orang Sangkal Putung akan bersikap lain. Kemarahan yang timbul di dalam dada merekapun akan terungkapkan dalam bentuk yang berbeda. Mudah-mudahan mereka menganggap bahwa apa yang telah dilihat oleh Kiai Gringsing itu hanyalah sebuah tipuan yang licik.

“Lebih daripada itu Kiai, kau lebih senang melihat kedua belah pihak bertempur di dalam arena. Orang-orang Jipang akan terbunuh sebagai prajurit di medan perang, sedang orang-orang Pajang pun pasti akan berkurang. Orang-orang yang merasa diingkari itu akan mengamuk dalam keputus-asaan mereka.”

Ki Tambak Wedi menjadi tegang sesaat, tetapi kemudian meledaklah suara tertawanya. Seperti suara hantu yang melihat mayat baru terbujur di pekuburan.

“Bagus. Bagus,” katanya di antara derai tertawanya.

Demikian keras suara tertawa Ki Tambak Wedi sehingga tubuhnya terguncnag-guncang. Sambil menepuk bahu Sanakeling maka orang tua itu berkata, “Sidanti, kau dapat berguru kepada Sanakeling tentang kelicikan dan akal.”

Sidanti pun tertawa pula. Ia menjadi semakin bergembira mendengar rencana itu. Maka katanya, “Keduanya akan bertempur sehingga keduanya akan hancur. Kita akan datang nanti pada saatnya, mendapatkan Sangkal Putung tanpa kesulitan.”

“Kita pasti akan menjumpai kesulitan baru Sidanti,” berkata Ki Tambak Wedi.

“Kesulitan apa Kiai?”

“Mengubur orang-orang Jipang yang berkhianat itu dan dan orang-orang Pajang.”

Kembali mereka bertiga tertawa. Rencana itu benar-benar dapat menggembirakan hati mereka.

“Nah Sanakeling,” bertanya Ki Tambak Wedi kemudian, “bagaimana rencana selanjutnya?”

“Aku belum berpikir sampai pada pelaksanaannya,” sahut Sanakeling.

Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia berpikir dan kemudian berkata, “Kita harus menemukan saat yang tepat. Kita harus mulai menyerang Sangkal Putung dari arah yang berbeda dengan arah kedatangan para penghianat itu. Selagi mereka dalam perjalanan, kita akan membuat keributan. Kita mengharap para prajurit Pajang dan Sangkal Putung marah dan menyangka bahwa penyerahan itu hanyalah sekedar akal licik. Nah, kedatangan orang-orang Jipang yang berkhianat itu akan disambut hangat oleh orang-orang Pajang. Dalam keadaan yang demikian seandainya Untara dan Widura dapat membuat perhitungan yang tepat terhadap keadaan yang sebenarnya, namun akan sangat sulitlah baginya menguasai luapan perasaan anak buahnya.”

“Demikianlah,” sahut Sanakeling. “Sedang orang-orang Jipang yang akan menyerah itu masih menggenggam senjata mereka masing-masing.”

Kembali mereka tertawa sepuas-puas mereka. Seakan-akan rencana mereka itu telah berlangsung dengan baiknya. Seakan-akan mereka telah melihat mayat orang Jipang dan orang-orang Pajang berserak-serakan tindih menindih di hadapan mereka.

“Kita harus sudah siap sejak pagi-pagi benar di arah yang berlawanan,” berkata Ki Tambak kemudian. ”Tidak usah terlampau banyak. Kita harus dapat menyusup masuk meskipun hanya ke desa-desa kecil, bukan desa induknya. Kalau matahari telah naik seperempat hari, maka kita harus segera mulai.”

“Apakah kita tidak datang dengan seluruh kekuatan guru?” bertanya Sidanti.

“Tidak Sidanti,” sahut Ki Tambak Wedi. “Kita hanya sekedar membuat kesan bahwa ada serangan dari arah lain sehingga kitapun harus segera dapat menghilang. Kalau tidak, maka akan timbul peperangan segi tiga. Dalam keadaan yang demikian maka Pajang dan Sangkal Putung-lah yang terkuat.

Mendengar penjelasan itu, alis Sidanti berkerut. Sejenak ia diam berpikir. Kemudian katanya dalam nada datar, “Masih pula terjadi orang-orang Jipang yang berpendirian lain itu menyadari kekeliruannya, tetapi dapat pula terjadi bahwa orang-orang Jipang itu menggabungkan dirinya dengan orang-orang Pajang.”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya, tetapi kemudian ia tertawa. “Kau benar Sidanti. Memang perhitungan ini dapat meleset. Karena itu, kita mengambil jalan yang sebaik-baiknya. Yang kemungkin-kemungkinannya tidak terlampau jelek bagi kita. Seandainya usaha kita itu tidak dihiraukan sekalipun kita tidak akan mengalami kerugian apapun.”

Sanakeling tiba-tiba memotong, “Mudah-mudahan usaha kita berhasil. Kita mempengaruhi perasaan orang-orang Pajang, kemarahan yang memang masih tersimpan di dalam dada mereka. Kesan yang harus kita buat adalah bahwa Sumangkar ternyata tidak jujur. Ia bersedia menyerahkan diri hanya sebagai suatu usaha untuk membuat orang-orang Pajang lengah.”

“Bagus,” sahut Tambak Wedi. “Ambil orangmu lima puluh saja. Namun yang paling baik dari semuanya. Pagi-pagi benar kita harus sudah berada di sebelah Timur Sangkal Putung. Mungkin kita harus menyusup seorang demi seorang. Sekelompok dari orang-orangmu, mungkin kau pimpin sendiri Sanakeling, harus menguasai salah sebuah gardu peronda. Kemudian kau harus segera membunyikan tanda bahaya seperti orang-orang Pajang membunyikannya. Sementara itu, kita yang lain, membakar satu dua rumah atau lumbung. Apabila orang-orang Pajang kemudian berdatangan. Secepatnya kita harus melarikan diri. Ke Utara, menerobos sawah yang sempit dan masuk ke dalam desa-desa yang terpencar. Di belakang desa-desa itu kita akan menemukan sebuah tegalan. Jangan sampai terkepung di dalamnya. Kita harus mencapai semak-semak bambu liar di sebelah Utara tegalan itu. Kemudian kita akan bebas dari kejaran mereka.”

Ki Tambak Wedi kini sekali lagi tertawa terbahak-bahak. Sanakeling dan Sindati pun mengangguk-anggukkan kepala mereka. Rencana itu adalah rencana yang baik, sedang bahayanya tidak terlampau besar. Sementara orang-orang Pajang mengejar mereka, dari arah Barat, Sumangkar membawa orang-orangnya mendekati Pajang. Mudah-mudahan beberapa penjaga dan pengawal dari orang-orang Pajang melihat mereka, kemudian membuat laporan kepada Untara dan Widura, bahwa induk pasukan Jipang datang dari barat.

Sanakeling dan Sindati itupun kemudian tersenyum. Terbayang di dalam rongga mata mereka, pasukan Pajang dan Sangkal Putung yang marah menyongsong orang-orang Jipang itu dengan pedang terhunus, sedang orang-oran Jipang itu pasti akan terkejut dan menyangka orang-orang Pajang mengingkari janji, menerima penyerahan mereka. Namun yang mereka lihat adalah pedang ligan dan ujung-ujung tombak telanjang.

Demikianlah pada malam menjelang hari yang ditentukan, Sanakeling, Sidanti, dan orang-orang Jipang pilihan sebanyak lima puluh orang telah siap untuk melakukan tugas mereka. Tugas yang cukup berat namun yang menurut penilaian mereka tidak begitu berbahaya meskipun seandainya mereka gagal.

Orang-orang Jipang itu menjadi semakin berbesar hati ketika Ki Tambak Wedi telah menyatakan diri untuk pergi bersama ke lima puluh orang itu.

“Aku ingin melihat apa yang terjadi,” berkata Tambak Wedi. “Dan aku harus mengamat-amati kalian apabila kalian bertemu dengan orang yang bernama Kiai Gringsing.”

Sanakeling yang mendengar nama itu disebut-sebut tiba-tiba berkata, “Kiai, apakah Kiai Gringsing yang melihat perpecahan di antara kita tidak akan menggagalkan rencana ini.”

“Tidak ada waktu baginya untuk membuat penilaian atas peristiwa ini. Meskipun ia mungkin telah menceritakannya kepada Untara dan Widura, namun gambaran mereka pasti tidak akan terlampau jelas menghadapi peristiwa yang tiba-tiba ini.”

Sanakeling tidak bertanya lagi. Namun debar jantungnya terasa menjadi semakin cepat. Waktu yang ditunggu-tunggunya seakan-akan merambat terlampau malas.

Sebelum malam terlampau dalam, mereka telah meninggalkan padepokan Ki Tambak Wedi. Berjalan memintas sekelompok demi sekelompok menuju ke Sangkal Putung. Jarak yang mereka tempuh kini tidak sekedar beberapa bulak, tetapi perjalanan mereka memerlukan waktu lebih dari setengah malam. Mereka menuruni lereng Merapi dan secepatnja menuju Sangkal Putung lalu melingkar dari arah Timur. Mereka mengharap, bahwa mereka akan sampai ke tempat tujuan tidak terlampau jauh lewat tengah malam. Setelah beristirahat sejenak, mereka harus mulai menyiapkan diri. Apabila fajar nanti pecah, mereka harus sudah menyusup ke dalam lingkungan Kademangan Sangkal Putung yang kaya raya. Satu dua rumah yang tidak berarti serta lumbung-lumbung kecil telah cukup untuk meluapkan kemarahan orang-orang Pajang dan Sangkal Putung.

Di sepanjang jalan, mereka hampir tidak mempercakapkan sesuatu. Paling depan berjalan Ki Tambak Wedi dengan menengadahkan kapalanya, seakan-akan sibuk menghitung bintang yang bergayutan di langit. Di belakangnya berjalan Sidanti dengan senjata ciri perguruan Tambak Wedi di tangannya. Senjata yang baru diterimanya dari gurunya, sebagai ganti senjatanya yang tertinggal di Sangkal Putung. Meskipun demikian, karena selama ini ia selalu mempergunakan pedang, maka di lambungnya pun tergantung sebilah pedang panjang. Kini Sidanti telah membiasakan diri bertempur dengan senjata rangkap. Di tangan kanannya sebilah pedang dan tangan kirinya senjata yang mengerikan.

Di samping Sidanti, Sanakeling berjalan sambil menundukkan kepalanya. Ia masih mereka-reka apa yang sebaiknya dilakukan apabila orang-orang Jipang yang dianggapnya berkhianat itu telah musnah. Setelah beberapa lama ia tinggal di padepokan Ki Tambak Wedi, terasa bahwa kekuasaan Ki Tambak Wedi atas dirinya, dan atas anak buahnya justru melampaui kekuasaan Tohpati. Apa yang dikatakan harus terjadi, meskipun kadang-kadang orang tua itu mau juga mempertimbangkan pendapatnya, apabila terasa manfaatnya. Tetapi banyak hal-hal yang harus ditelannya saja tanpa mendengar pertimbangannya tentang bermacam-macam persoalan meskipun sampai kini masih terbatas pada persoalan-persoalan kecil.

Seakan-akan bagi Ki Tambak Wedi, sudah seharusnya dan sudah semestinya memperlakukan Sanakeling seperti Sidanti. Bahkan dalam beberapa hal Sidanti masih dianggapnya lebih penting dari padanya.

Sanakeling menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih ingin bertahan dalam keadaannya kini, sampai ia yakin benar-benar apa yang sebaiknya dilakukan.

Di belakang Sanakeling berjalan Alap-alap Jalatunda. Alap-alap yang masih terlampau muda untuk kehilangan masa depannya. Masa depan yang masih cukup panjang baginya. Namun masa depan itu seakan-akan telah tertutup rapat oleh kabut yang hitam kelam. Sejak ia terperosok dalam kehidupan petualangan itu, ia sendiri seolah-olah sudah tidak mempunyai gairah untuk hidup dalam keadaan yang lebih baik. Seolah-olah ia sudah mantap hidup dalam dunianya yang kotor seperti sekarang. Namun hal itu disebabkan karena ia sendiri tidak pernah mendengar berita, pemberitahuan atau semacam itu tentang dunia yang lebih baik baginya. Tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat ditempuhnya. Ketika sekali ia mendengar beberapa hal yang cukup menarik perhatiannya, ia tidak sempat mencernakannya. Pertentangan kata-kata antara Sanakeling dan Sumangkar, kemudian kehadiran Ki Tambak Wedi dan Kiai Gringsing, sebenarnya menyentuh hatinya. Tetapi kesempatan yang kecil itu telah dikaburkan oleh perasaan harga diri, kejantanan dan keinginan untuk lepas bebas tanpa ikatan seperti burung alap-alap di udara. Namun seandainya, ya seandainya berita tentang keselamatan rohaniah itu didengarnya berulang kali, maka ia akan dapat menemukannya.

Kini, mereka dalam kelompok-kelompok kecil dari lima sampai sepuluh orang berjalan dalam jarak yang tidak begitu jauh. Mereka semua yang berjumlah lima puluh orang itu berjalan seperti hantu yang menyebarkan bala dan bencana. Mereka mengharap untuk segera bersiap di sebelah Timur Sangkal Putung. Setelah beristirahat sejenak, selagi masih cukup waktu, mereka segera akan memasuki padesan-padesan kecil di bagian Timur kademangan itu. Mereka sudah tentu tidak akan melewati jalan-jalan induk, supaya mereka tidak segera diketahui oleh para peronda. Namun Sanakeling sendiri harus dapat menguasai salah sebuah gardu, untuk kemudian setelah mereka memasuki desa itu, membunyikan tanda bahaya justru sebagai tanda bagi orang-orangnya untuk mulai dengan tugas mereka. Membakar dan membinasakan apa saja yang mereka jumpai.

Tugas itu seolah-olah terpateri di dalam setiap kepala orang-orang Jipang itu. Sekali-kali mereka tersenyum sendiri. Mereka sudah membayangkan peristiwa yang mengerikan akan terjadi berikutnya. Tetapi ada pula yang menjadi ragu-ragu. Satu dua di antara mereka, merasa kurang mapan apabila kawan-kawannya yang berbeda pendirian itu akan terbinasakan. Namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa.

Perjalanan itu sendiri berlangsung tanpa gangguan apapun. Lewat sedikit tengah malam mereka benar-benar telah sampai di sebelah Timur Sangkal Putung dan segera mereka bertebaran di tegalan sambil duduk beristirahat, menunggui saat-saat yang sebaik-baiknya untuk melakukan gerakan. Mereka tidak boleh terlambat, tetapi mereka tidak boleh pula terlampau cepat, agar orang-orang Pajang dan Sangkal Putung tidak sempat dan tidak punya waktu untuk mengurai peristiwa itu dan menemukan jawaban yang tepat tentang keadaan sebenarnya.

Di tegalan itu sebagian dari mereka masih juga sempat bertiduran di atas rumput-rumput kering. Mereka sama sekali tidak menghiraukan embun yang membasahi pakaian mereka. Setelah berjalan sekian lama, mereka benar-benar ingin beristirahat.

Sisa-sisa malam itupun merayap perlahan-lahan. Bintang-bintang di langit berkisar dari tempatnya lambat sekali, seperti anak-anak yang malas berjongkok pagi-pagi di halaman. Segan untuk bangkit dan berjalan.

Tetapi betapapun lambatnya, akhirnya mereka mendengar di kejauhan ayam jantan berkokok bersahutan. Di ujung Timur segera membayang semburat warna-warna merah.

Ki Tambak Wedi bangkit dan berdiri tegak, bertolak pinggang. Perlahan-lahan ia berkata kepada Sanakeling, “Hari ini adalah permulaan dari sebuah perjuangan yang berat. Kalau orang-orang Jipang yang berkhianat itu berhasil dihancurkan, maka kita akan langsung berhadapan dengan Pajang untuk seterusnya. Nah, kita harus memperkuat diri. Sidanti sedang menghimpun orang-orang di sekitar padepokan Tambak Wedi. Sebab Tambak Wedi memiliki pengaruh melampaui pengaruh Pajang sendiri di lereng Gunung Merapi.”

Sanakeling tidak menjawab. Tetapi iapun berdiri pula. Ditatapnya wajah langit di sebelah timur. Kemudian ditebarkan pandangan matanya berkeliling, beredar di antara orang-orangnya yang bertebaran. Timbul pertanyaan di dalam hatinya, “Manakah yang lebih penting dalam pekerjaan ini. Ki Tambak Wedi berdua dengan Sidanti atau Sanakeling dengan anak buahnya?”

Tetapi dibiarkannya pertanyaan itu tidak berjawab.

Ketika warna-warna merah di langit menjadi semakin terang, maka berkatalah Ki Tambak Wedi kepada Sanakeling “Saatnya hampir tiba Sanakeling. Siapkan orang-orangmu.”

Sanakeling mengangguk. Kemudian ia berjalan di antara anak buahnya sambil berkata, “Kita segera melakukan pekerjaan kita. Bersiaplah.”

Dengan malasnya orang-orangnya bangkit. Satu dua segera berdiri sambil membenahi pakaiannya. Menguatkan ikat pinggang mereka, tempat pedang-pedang mereka bergayutan. Namun ada juga satu dua yang masih saja duduk sambil menguap.

“Kembali dalam kelompok-kelompok yang sudah ditentukan,” perintah Sanakeling.

Orang-orang Jipang itupun segera berkumpul di antara mereka menurut ketentuan yang telah mereka buat. Kelompok-kelompok kecil yang akan segera menyusup ke Sangkal Putung.

Tetapi tiba-tiba mereka terkejut ketika di kejauhan terdengar derap beberapa ekor kuda laju seperti anak panah. Semakin lama menjadi semakin dekat. Namun karena sisa-sisa gelap malam. mereka tidak segera melihat siapakah yang berkuda di pagi-pagi buta itu.

Ki tambak Wedi, Sanakeling dan Sidanti serentak menengadahkan wajah mereka. Dengan penuh perhatian mereka mendengarkan derap kuda yang semakin lama menjadi semakin dekat.

“Tidak terlampau banyak,” gumam Ki Tambak Wedi.

“Ya,” sahut Sidanti. “Tidak sampai sepuluh ekor.”

“Lima atau enam,” desis Sanakeling.

Ki tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Dugaan Sanakeling mendekati kebenaran. Aku menyangka seperti hitungan Sanakeling itu pula.”

Sesaat mereka terdiam. Suara derap itu semakin dekat.

“Siapakah mereka guru?” Bertanya Sidanti.

“Tentu aku tidak tahu,” Jawab ki Tambak Wedi.

“Tetapi aku kira mereka adalah orang-orang Pajang.”

“Apakah yang akan mereka lakukan?”

“Tidak tahu, apa kau sangka orang-orang Pajang mengatakan kepadaku apa yang akan dilakukan?” Sahut Tambak Wedi jengkel.

Sidanti terdiam. Namun getar di dadanya menjadi kian cepat dan keras seperti suara derap kuda yang semakin cepat dan keras menghentak telinganya.

Karena itu tiba-tiba ia berkata, “Kalau benar orang-orang itu orang Pajang, biarlah aku mencoba mencegatnya. Mereka harus dibinasakan sebelum kami membakar rumah-rumah orang Sangkal Putung.”

“Jangan,” Potong Ki Tambak Wedi. “Hal itu akan dapat mengganggu pekerjaan kita. Kalau mereka peronda-peronda keliling, maka kelambatan mereka akan menimbulkan kecurigaan. Mungkin kawan-kawannya akan mencari dan penjagaan akan menjadi bertambah kuat. Biarlah mereka lewat.”

“Bukankah pembunuhan itu akan berakibat sama seperti apabila kita membakar rumah-rumah mereka?”

“Apakah kalau kita membakar rumah-rumah mereka dan kemudian bertempur melawan mereka, mereka tidak akan mengenal kita?”

“Itulah sebabnya, kalian harus segera melarikan diri sebelum terjadi pertempuran. Supaya mereka tidak sempat mengenal kita. Seandainya terpaksa mereka mengenal, mereka tidak cukup punya waktu untuk memperbincangkan. Kiai Gringsing tidak mempunyai kesempatan untuk sesorah dan mengatakan bahwa Sanakeling dan Sumangkar mempunyai pendirian yang berbeda. Mereka pasti menyangka, bahwa semuanya telah direncanakan oleh orang-orang Jipang. Sebagian pura-pura menyerah, sebagian menye-rang ketika orang-orang Pajang sedang lengah. Yang pura-pura menyerah itupun kemudian pasti akan menyerang pula.”

“Selisih waktu itu tidak seberapa.”

“Yang tidak seberapa itu penting dalam peperangan. Tetapi selisih waktu itu cukup panjang. Ingat, sekarang hari masih gelap. Kita harus mulai dengan gerakan kita masuk ke padesan. Kita masih harus bersembunyi, kemudian Sanakeling merebut salah sebuah gardu, dan kita mendengar tanda bahaya. Pada saat itu, kita membakar rumah-rumah itu. Baru sejenak kemudian datang orang-orang Pajang dan kita lari. Mereka mengejar kita beberapa lama, sampai kita menghilang di rumpun-rumpun bambu liar itu, saat itu harus sudah mendekati tengah hari. Saat itu kita mengharap orang-orang Jipang sudah di perjalanan dan dekat ke desa Benda. Kau tahu akibatnya, Untara tidak sempat berpikir dan mengendalikan anak buahnya. Kalau cukup waktu baginya, maka ia akan datang menjemput orang-orang Jipang itu setelah ia menenangkan anak buahnya atas jaminan Kiai Gringsing.”

Sidanti tidak menjawab. Tetapi ia mematuhi perintah gurunya. seperti juga Sanakeling harus mematuhinya.

“Perintahkan orang-orangmu bersembunyi,” berkata Ki Tambak Wedi kepada Sanakeling.

Sanakeling pun segera melakukan perintah itu. Orang-orangnya pun segera diperintahkan berlindung di balik dedaunan. Bahkan beberapa orang dengan enaknya berbaring-baring di atas rerumputan.

Kata mereka di dalam hati, “Dalam gelap ini, mereka pasti tidak akan melihat kami, asalkan kami tidak bergerak-gerak.”

Sesaat kemudian derap kuda itupun telah dekat benar. Mereka segera melihat samar-samar di jalan di pinggir tegalan itu, berpacu lima ekor kuda. Orang-orang berkuda itu sama sekali tidak menghiraukan apa yang sedang terjadi di tegalan itu. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa lima puluh pasang mata memandangi mereka dengan nyala kebencian di dalam hati mereka.

Ketika kuda itu telah lewat, segera Sidanti berdiri sambil bergumam, “Salah seorang adalah Sonya. Ingin aku mematahkan lehernya dan menyobek mulutnya. Ia adalah salah seorang penghubung yang dekat dengan paman Widura.”

Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia berkata perlahan-lahan seperti kepada diri sendiri, “Mereka tidak sedang meronda.”

Sidanti memandang gurunya dengan tajamnya. Katanya, “Ya, mereka agaknya tidak sedang meronda. Kalau guru tidak mencegah, mereka dapat kami tangkap dan kami paksa untuk mengatakan, untuk apa mereka berpacu di pagi-pagi buta ini.”

Ki Tambak Wedi tidak menjawab. Pendapat itu baik juga, tetapi sudah terlanjur. Kelima orang berkuda itu sudah terlampau jauh.

Karena itu kemudian Ki Tambak Wedi itu berkata, “Sekarang siapkan diri masing-masing, kita mulai bergerak. Kita harus masuk ke desa terdekat sebelum matahari naik. Jaga supaya tidak seorang pun melihat kita masing-masing. Bersembunyilah di dalam rumpun-rumpun bambu atau di tengah-tengah kebun-kebun yang luas, di antara tanaman-tanaman liar yang rimbun, jangan tergesa-gesa berbuat sesuatu sebelum kalian mendengar tanda bahaya, supaya kalian dapat berbuat serentak.”

Orang-orang Jipang itupun segera berkelompok-kelompok. Mereka telah siap melakukan tugas mereka sebaik-baiknya.

Sesaat kemudian maka mereka telah berada di jalan yang dilewati oleh Sonya dan keempat kawannya. Orang-orang itupun memandangi ke segala arah, kalau-kalau ada sesuatu yang akan mengganggu tugas mereka. Tetapi yang mereka lihat adalah sisa-sisa malam yang hitam. Meskipun di langit sudah membayang warna-warna merah, namun warna-warna yang kelam masih mentabiri pandangan mata mereka.

Ki Tambak Wedi yang juga sudah berdiri di tengah jalan berkata, “Kita mendekati Sangkal Putung lewat jalan ini. Tetapi kemudian apabila kita sudah mendekati desa di ujung bulak itu, kita akan berpencaran. Kita akan mencari jalan kita sendiri-sendiri untuk memasuki desa itu. Ingat segala perintah yang sudah kau dengar baserta segala petunjuknya. Siapa yang menyalahi perintah itu akan menerima hukumannya”

Yang mendengar kata-kata Ki tambak Wedi itu mengerutkan keningnya. Tohpati tidak pernah memberi mereka ancaman seperti Ki Tambak Wedi. Namun mereka tidak sempat untuk memikirkannya. Sebab Ki Tambak Wedi kemudian berkata, “Kita akan segera berangkat.”

Ki Tambak Wedi itupun kemudian segera berjalan mendahului orang-orangnya. Di sampingnya berjalan Sidanti. Sanakeling berjalan bersama dengan kelompoknya yang terdiri dari enam orang. Mereka harus langsung menuju ke gardu di ujung jalan yang memasuki desa di hadapan mereka, setelah kawan-kawannya berbasil menyusup ke dalam desa itu. Begitu tiba-tiba supaya orang-orang di gardu itu tidak sempat memukul tanda bahaya. Orang-orangnyalah yang nanti setelah datang saatnya harus membunyikan tanda itu. Sedang para peronda di dalam gardu itu harus dimusnahkan.

Orang-orang yang lain, berjalan dalam kelompoknya masing-masing, lima atau enam orang. Di antaranya adalah kelompok yang dipimpin langsung oleh Alap-alap Jalatunda.

Ki Tambak Wedi dan orang-orang Jipang itupun kemudian berjalan mendekati Sangkal Putung. Sesaat kemudian mereka telah berada di tengah-tengah bulak persawahan. Tetapi karena hari malam cukup gelap, mereka tidak takut seandainya ada orang-orang Sangkal Putung yang melihat mereka. Baru setelah nanti mereka mendekati desa yang terbentang di hadapan mereka, maka mereka akan berpencaran dan sambil merunduk-runduk berjalan di antara batang-batang jagung di sawah mendekati desa itu.

Demikianlah tanpa berbicara sepatah kata pun mereka berjalan. Di ujung depan adalah Ki Tambak Wedi sendiri, sedang di ujung belakang adalah Sanakeling dan kelima kawan-kawannya.

Langit yang merah menjadi semakin merah. Ketika Ki Tambak Wedi menengadahkan wajahnya, ternyata fajar telah hampir pecah. Karena itu maka ia bergumam, “Kita hampir terlambat. Percepat perjalanan yang pendek ini.”

Perintah itu meloncat dari kelompok ke kelompok di belakangnya, sehingga akhirnya sampai juga ke telinga Sanakeling. Sehingga iring-iringan itupun kemudian maju lebih cepat dari sebelumnya.

Tetapi tiba-tiba salah seorang di dalam kelompok Sanakeling dengan serta merta menggamitnya sambil berkata, “Kakang Sanakeling. Lihatlah, di belakang kita ada obor berjalan searah dengan perjalanan kita.”

Sanakeling pun segera berpaling. Dan seperti yang dikatakan oleh orangnya itu, di belakang mereka tampak beberapa buah obor yang berjalan menuju ke Sangkal Putung pula. Karena itu, maka langkahnya tertegun. Sambil bertolak pinggang ia berkata, “Siapakah mereka itu?”

Tak seorangpun yang menyahut.

“Hanya empat buah obor,” desisnya kemudian.

“Ya, empat buah obor,” sahut salah seorang anak buah.

“Tetapi tidak berarti bahwa yang berjalan itu hanya empat orang,” berkata Sanakeling kemudian.

“Ya,” sahut kawan-kawannya hampir serentak.

“Beritahukan Ki Tambak Wedi,” berkata Sanakeling kemudian. la menjadi heran sendiri terhadap dirinya. Tanpa dikehendakinya ia telah menempatkan diri di bawah pimpinan orang tua itu. Kini ia tidak dapat mengambil keputusan sendiri, meskipun ialah sebenarnya pemimpin dari orang-orang Jipang itu.

Orang yang diperintahkan itupun segera berlari-lari mendahului kawan-kawannya. Ketika kawan-kawannya itu bertanya maka dijawabnya, “Ki Tambak Wedi harus tahu, di belakang kami ada obor.”

Serentak orang-orang itupun berpaling. Dan segera merekapun melihat pula obor-obor itu. Hanya empat buah.

Ketika Ki Tambak Wedi mendengar laporan itu, maka segera ia pun berhenti. Bahkan kemudian ia berjalan kembali, menemui Sanakeling yang berada di ujung belakang. Katanya, “Sejak kapan kalian melihat obor-obor itu?”

“Baru saja Kiai.”

Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Gumamnya, “Mereka pasti baru saja muncul dari balik tikungan. Ya, di sebelah itu ada tikungan. Di sebelah timur tegalan tempat kita beristirahat.”

Yang mendengar kata-kata itupun mengangguk-anggukkan kepala mereka. Iring-iringan itupun kini telah berhenti. Bahkan beberapa orang telah berjalan kembali dan berdiri di sekitar Ki Tambak Wedi dan Sanakeling.

Tiba-tiba Ki Tambak Wedi itu berkata, “Obor itu terlampau tinggi dan terlampau cepat bagi orang yang berjalan kaki.”

“Ya,” sahut Sanakeling serta merta. Katanya pula, “Empat orang itu pasti berkuda, tetapi perlahan-lahan, sehingga derapnya belum kita dengar.”

Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan kemudian mereka melihat keempat obor itu berhenti, meskipun masih juga bergerak-gerak tetapi tidak maju lagi ke arah mereka.

Terdengar Ki Tambak Wedi menggeram. Apalagi ternyata kemudian bahwa langit telah menjadi semakin cerah. Obor-obor itu terasa sangat mengganggu perasaan orang tua itu.

Tetapi Ki Tambak Wedi tidak segera dapat mengambil suatu sikap. Orang-orang yang membawa obor itu telah menimbulkan persoalan baru yang tidak disangka-sangka. Apabila mereka bersembunyi di balik-balik pematang, mungkin orang-orang itu tidak akan melihat mereka, tetapi dengan demikian hari akan menjadi semakin terang. Mereka akan menemukan banyak kesulitan untuk menerobos masuk ke dalam padesan tanpa diketahui.

Orang-orang Jipang yang berdiri mengerumuni Ki Tambak Wedi itupun menjadi gelisah pula. Mereka menunggu apa yang harus mereka lakukan menghadapi keadaan yang tiba-tiba itu.

Sekali Ki Tambak Wedi berpaling, melihat bayangan padesan di ujung bulak itu yang semakin lama menjadi semakin jelas, sejalan dengan hatinya yang semakin gelisah.

Tiba-tiba orang tua itu menggeram, katanya, “Kita belum tahu berapa jumlah mereka kecuali yang membawa obor itu.”

Sanakeling mengangguk-anggukkan kepalanya, gumamnya, “Kita dihadapkan pada keadaan yang sulit.”

Dada Sanakeling berdesir mendengar kata-kata itu, sehingga akalnya yang terlampau pendek menjadi bingung menghadapi keadaan. Dengan serta merta ia melanjutkan, “Apakah Kiai segera dapat menemukan cara yang sebaik-baiknya tanpa kebingungan.”

Ki Tambak Wedi menggeram. Tetapi segera ia berusaha menahan perasaaannya. Keadaan yang dihadapi benar-benar sulit.

Kini obor-obor itu mulai bergerak lagi maju mendekati Sangkal Putung. Tetapi sejenak kemudian, maka obor-obor itupun dipadamkan.

Kembali Tambak Wedi menggeram. Kini mereka telah dapat melihat ujung-ujung kaki sendiri di atas tanah yang kehitam-hitaman. Sedang di langit cahaya yang terang menjadi semakin terang.

“Gila,” Ki Tambak Wedi itu mengumpat. Tiba-tiba ia berteriak, “Kita masuk ke Sangkal Putung dengan tiba-tiba. Tidak dengan sembunyi-sembunyi. Kita langsung menyerang gardu peronda. Biarlah mereka membunyikan tanda bahaya. Yang lain membakar rumah. Dengan demikian kita tidak lagi tergesa-gesa meskipun kemudian hari menjadi terang. Sekarang kita bersembunyi. Cepat, aku sudah mendengar derap kuda. Terlampau banyak, tidak hanya lima atau enam ekor. Kalau jumlah mereka tidak melampaui jumlah kita, kita akan menyergapnya. Orang-orang itu pasti orang Pajang yang datang, langsung dari kota untuk menyaksikan penyerahan orang-orang Jipang. Sonya dan kawan-kawannya tadi pasti menyongsong orang itu. Kita akan melihat siapakah yang menjadi wakil penglima Wira Tamtama. Bahkan seandainya Pemanahan sendiri datang, aku akan melawannya. la bagiku sama sekali tidak berarti. Sedang di dalam pasukan kita kini ada senapati-senapati terpilih. Sanakeling, Alap-alap Jalatunda, dan Sidanti di samping pemimpin-pemimpin kelompok dan para prajurit terpilih. Pajang tidak akan membawa senapati sebanyak itu. Nah, sekarang cepat bersembunyi di balik-balik pematang. Kalau tiba saatnya aku akan memberikan tanda. Kalau kalian mendengar tanda, maka berarti kalian harus menyerang orang-orang Pajang itu. Jangan ada yang sempat lolos.”

Orang-orang Jipang itu mendengar perintah Ki Tambak Wedi dengan jelas. Sebagai prajurit, perintah itupun segera dapat mereka mengerti. Dengan demikian, maka segera mereka menghambur terjun ke dalam sawah-sawah dan parit-parit untuk bersembunyi di balik tanam-tanaman jagung dan di balik pematang-pematang.

Tetapi derap kuda yang mendatang ternyata terlampau cepat. Dari dalam gelap yang semakin menipis mereka melihat serombongan orang-orang berkuda, meskipun tidak berpacu, tetapi cukup cepat mendekati Sangkal Putung. Seandainya fajar tidak segera pecah di Timur, maka orang berkuda itu tidak akan dapat melihat beberapa orang yang terakhir dari orang-orang Jipang itu meloncat masuk ke dalam rimbunnya batang-batang jagung muda. Tetapi hari menjadi semakin terang. Meskipun jarak mereka belum terlampau dekat, namun orang-orang berkuda itu sempat melihat apa yang terjadi di tengah-tengah bulak itu.

Seorang yang berada di ujung segera mengangkat tangannya. Serentak mereka yang berada di dalam iring-iringan orang berkuda itu memperlambat jalan kuda mereka. Tetapi sesaat kemudian mereka telah tidak melihat apa-apa lagi. Di tengah-tengah bulak itu telah menjadi sepi. Namun kesan yang mereka peroleh adalah, ada sesuatu yang mencurigakan. Mereka melihat beberapa orang yang terakhir dari kelima puluh orang Jipang itu bersembunyi.

Tetapi seorang yang sudah setengah umur, yang berada di atas punggung kuda yang kehitam-hitaman berkata dengan tenang, “Kita berjalan terus.”

Orang yang di ujung barisan itu mengangguk tanpa menjawab sepatah katapun. Kembali kuda itu berjalan agak cepat.

Orang setengah umur yang berada di belakang orang di ujung barisan itu berkata pula, “Di mana penghubung yang dikirim Untara?”

Sonya dan keempat kawannya segera mendesak maju, mendekati orang setengah umur itu.

“Pergilah lebih dahulu berdua. Sampaikan kepada Untara bahwa sebentar lagi aku akan memasuki Sangkal Putung.”

Sonya mengangguk dalam-dalam. Kemudian bersama seorang kawannya ia berpacu mendahului rombongan itu.

Ki Tambak Wedi yang bersembunyi di dalam rimbunnya batang-batang jagung muda melihat dua ekor kuda mendahului kawan-kawannya. Kembali ia menjadi bimbang. Apakah yang akan dilakukan atas kedua orang berkuda itu? Apakah kedua orang itu telah melihat kehadiran mereka, kemudian melaporkan kepada Untara dan Widura?

Dalam sekejap Ki Tambak Wedi yang mengintip dari balik tanggul parit membuat perhitungan. Ketika ia yakin bahwa orang berkuda yang sudah nampak semakin jelas dari balik tanggul parit itu, tidak lebih dari duapuluh lima orang, tiba-tiba ia berdiri tegak. Kepalanya ternyata masih melampui tinggi batang-batang jagung itu, sehingga dengan demikian Ki Tambak Wedi menjadi yakin, bahwa yang dihadapinya hanya separo dari kekuatannya. Karena itu tiba-tiba ia berteriak, “Hentikan kedua orang Itu.”

Sonya dan seorang temannya terkejut bukan kepalang. Ketika tiba-tiba mereka melihat sebuah kepala muncul dari dalam batang-batang jagung muda. Tetapi jarak mereka telah terlampau dekat sehingga tidak ada kesempatan lagi untuk menghindar.

Belum lagi mereka dapat menguasai keadaan, tiba-tiba beberapa orang lagi berloncatan dari balik batang-batang jagung, dari balik pematang dan tanggul-tanggul parit.

Sesaat Sonya dan kawannya menjadi bingung. Tetapi sesaat kemudian Sonya berbisik, “Kembali dan laporkan, aku akan terus melaporkannya ke Sangkal Putung.”

Sonya tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia menarik kekang kudanya, menyentuh perut kuda itu dengan tumitnya dan kemudian kuda itu meloncat dengan garangnya, berpacu lagi ke Sangkal Putung.

Beberapa orang Jipang telah hampir mencapai jalan tempat kuda itu berlari. Tetapi kuda itu berjalan terlampau cepat, sehingga Ki Tambak Wedi yang berdiri tegak di pinggir parit induk yang agak lebar berteriak, “Cepat! Jangan seperti keong yang malas.”

Orang-orang Jipang itu berloncatan. Sidanti yang menyimpan kebencian di dalam dadanya pun berusaha secepatnya sampai ke jalan. Tetapi Sonya pun berusaha untuk mendahului orang-orang yang mencegatnya.

Tak seorangpun yang menghiraukan kawan Sonya yang memacu kudanya kembali ke iring-iringan yang sudah semakin dekat. Yang penting bagi mereka adalah, Sonya tidak boleh lolos, supaya orang-orang Sangkal Putung tidak segera mengetahui apa yang telah terjadi. Tetapi Sonya pun tidak mau jalannya terhenti. la harus dapat melampaui orang-orang itu, apapun yang terjadi atas dirinya. Karena itu ia sama sekali tidak menghiraukan ketika beberapa ujung pedang seakan-akan menyongsongnya. Tetapi ia mengharap bahwa kudanya mampu meloncat melampaui kecepatan loncatan orang-orang yang kini sudah berada di sisi parit di tepi jalan.

Tetapi Sonya terlambat sekejap. Ketika kudanya melampaui orang-orang Jipang itu, salah seorang dari mereka telah sempat meloncat sampai ke tepi jalan. Dengan garangnya orang itu berteriak sambil mengayunkan pedangnya ke arah lambung Sonya. Sonya melihat ujung pedang yang menyambarnya. la adalah seorang penghubung yang terlatih, sehingga dengan demikian iapun adalah seorang penunggang kuda yang baik. Dengan sigapnya ia menjatuhkan dirinya dan bergayut di punggung kudanya pada sisi yang lain dari arah pedang itu. Usahanya itupun ternyata menolongnya pula, namun tidak seluruhnya. Pedang itu masih juga sempat menyobek pahanya sehingga sebuah luka jang panjang tergores melintang. Sonya mengaduh pendek. Namun kudanya berlari terus.

“Gila!” teriak Ki Tambak Wedi dengan marahnya ketika ia melihat bahwa Sonya itu tidak dapat dihentikannya. Dengan serta merta ia mengambil selingkar gelang besi dari dalam bajunya siap untuk dilemparkannya ke arah kuda Sonya. Tetapi tiba-tiba ia terkejut ketika ia mendengar suara dari dalam iring-iringan itu. Tenang namun penuh wibawa, “Bukankah kau ini yang bernama Ki tambak Wedi, seorang sakti yang namanya ditakuti oleh seluruh rakyat di lereng Gunung Merapi?”

Suara itu sesaat mempengaruhi kepala Ki Tambak Wedi. Tetapi ia tidak mau kehilangan Sonya, karena itu maka segera ia teringat kembali kepada suatu keharusan membinasakan penghubung itu. Dengan gigi gemeretak didorong oleh kemarahan yang meluap-luap, Ki tambak Wedi melemparkan sebuah gelang-gelang besinya mengejar laju kuda Sonya. Namun waktu yang sekejap, pada saat Ki Tambak Wedi dikejutkan oleh sebuah panggilan atas namanya, ternyata telah menolong penghubung itu. Sekali lagi ia berhasil melepaskan diri dari kebinasaan akibat gelang-gelang besi itu. Meskipun gelang-gelang tidak dapat dihindari sepenuhnya, namun sentuhannya sudah tidak terlampau berbahaya baginya. Meskipun demikian, ketika gelang-gelang itu menyinggung bahunya, terasa nafasnya seolah-olah tersumbat. Pedih di pahanya dan sakit yang menyengat di bahunya, hampir-hampir telah membunuhnya. Kalau ia terpelanting dari kudanya yang seakan-akan sedang terbang, maka akan tamatlah cerita tentang dirinya.

Beruntunglah bahwa Sonya masih tetap sadar. Betapa nafasnya sesak dan batapa kakinya serasa disayat-sayat, namun ia tetap berada di punggung kuda yang berpacu seperti dikejar hantu.

Ki Tambak Wedi mengumpat tak habis-habisnya. Sidanti yang terlambatpun menghentakkan kakinya berkali-kali, sedang Sanakeling menggerem seperti kerasukan setan. Namun Sonya telah semakin jauh.

Yang menjadi semakin dekat adalah iring-iringan orang-orang berkuda itu. Kini benar-benar telah terlampau dekat. Tetapi iring-iringan itupun telah berhenti. Mereka tidak dapat terus melampaui orang-orang Jipang yang kini seluruhnya telah berdiri berderat-deret di tengah dan di tepi-tepi jalan.

“Kepung mereka!” perintah Ki Tambak Wedi. Perintah itu tidak perlu diulangi. Orang-orang Jipang itu segera bertebaran mengepung orang-orang yang berada di atas punggung kuda itu.

Sekilas Ki Tambak Wedi dapat melihat, bahwa orang-orang itu benar-benar tidak lebih dari duapuluh lima orang. Namun meskipun demikian hati orang tua itu agak menjadi berdebar-debar juga. Mereka adalah prajurit-prajurit Wira Tamtama dari Pajang.

Ki Tambak Wedi yang benar-benar telah dibakar oleh kemarahannya itu tiba-tiba berkata lantang, “He orang-orang Pajang yang bernasib jelek. Karena seorang daripada kalian telah lolos dari tangan kami, maka kami akan dapat membayangkan akibatnya. Orang itu pasti akan menyampaikan kehadiran kami kepada Untara. Karena itu, maka kami harus berbuat secepat-cepatnya. Serahkan senjata dan kuda kalian, kami tidak akan mengganggu lagi.”

“Maaf Ki Tambak Wedi,” sahut seorang setengah umur di antara yang lain. “Kami masih memerlukan senjata dan kuda-kuda kami.”

Orang yang berbicara itupun kemudian mendesak maju, mendorong kudanya untuk tampil di paling depan.

Sementara itu hari telah benar-benar menjadi terang. Matahari telah memancar dari balik punggung bukit. Meskipun kabut pagi masih agak tebal, namun semua wajah kini telah menjadi semakin jelas.

Wajah orang berkuda yang kini berada di paling depan itupun kemudian menjadi jelas pula oleh Ki Tambak Wedi. Meskipun ia telah menyebut nama orang itu, dan sedikit banyak menduga bahwa orang itu akan datang di Sangkal Putung, namun kebenaran dari dugaannya itu masih juga mengejutkannya. Sehingga tanpa sesadarnya ia berkata, “Kau datang juga?”

“Ya,” sahut orang setengah umur itu. “Peristiwa penyerahan sebagian besar orang-orang Jipang itu adalah peristiwa besar bagi Pajang. Karena itu aku memerlukan menghadirinya. Mudah-mudahan setelah peristiwa ini, Pajang akan menjadi aman tenteram dari segala gangguan.”

Ki Tambak Wedi tertawa pendek. Nadanya benar-benar menyakitkan hati, katanya, “Ternyata kau kini seperti seekor ikan di dalam wuwu. Betapa besar namamu, namun nyawamu tidak juga seliat nyawa demit. Kau sangka bahwa kau tidak dapat mati seperti cerita tentang perguruan Kedung Jati yang mampu menyimpan nyawa rangkap, hai anak Sela.”

“Aku tidak percaya cerita itu,” sahut orang berkuda itu karena itu. “Maka akupun tidak mengatakan demikian tentang diriku.”

“Persetan!” teriak Ki Tambak Wedi. “Sayang aku tidak mengenalmu sejak tadi karena kabut yang tebal dan karena kau tertutup oleh orang-orangmu yang berkuda sebagai perisaimu.”

“Aku mengenalmu sejak aku mendengar suaramu. Kau masih saja berteriak-teriak seperti dahulu dan kau masih juga bermain-main dengan gelang-gelang itu.”

Ki Tambak Wedi menggeram sekali lagi. Kemudian katanya sambil mengancam, “Jangan melawan. Orang-orangmu hanya kurang dari separo orang-orangku. Betapa saktinya kau, namun kau tidak akan dapat berbuat apa-apa. Serahkan senjata dan kudamu. Kau akan selamat.”

Orang itu tersenyum. Jawabnya, “Ki Tambak Wedi, kau belum pernah menjadi seorang prajurit. Mungkin nilai sebatang tombak atau sehelai pedang bagimu, tidaklah begitu besar seperti kami para prajurit menilainya.”

“Betapa besar nilai senjatamu, namun nyawamu pasti lebih bernilai dari padanya.”

Kembali orang itu tertawa. Bahkan semakin keras. Jawabnya, “Jangan berpura-pura tidak tahu bahwa aku dan orang-orangku tidak akan menerima permintaan itu. Bahkan aku ingin tahu, kenapa kau menghalang-halangi penyerahan ini?”

“Itu bukan urusanku. Itu adalah urusan orang-orang Jipang dan orang-orang Pajang. Sekarang yang penting bagiku menyerahlah.”

“Kenapa kau terlalu tergesa-gesa? Marilah kita berbicara. Mungkin ada hal-hal yang dapat kau mengerti atau sebaliknya, yang selama ini terasa bersimpang siur. Misalnya tentang muridmu, Sidanti. Kenapa ia terlampau tergesa-gesa untuk menjadi lurah Wira Tamtama? Kalau ia tekun, pasti ia akan sampai ke jabatan itu.”

“Hem, kau licik. Kau mencoba memperpanjang waktu, supaya kau sempat menunggu Untara dan Widura yang akan datang menolongmu.”

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil tersenyum ia berkata, “Kau memang cerdas Ki tambak Wedi. Tetapi jangan kau sangka bahwa jumlah yang sedikit ini tidak akan mampu melawan orang-orangmu. Meskipun jumlah orang-orangmu lebih dari dua kali lipat dari orang-orangku, tetapi kami berada di atas punggung-punggung kuda. Kaki-kaki kuda kami akan merupakan senjata tersendiri yang akan dapat menginjak orang-orangmu menjadi lumat.”

“Hanya anak-anak kecil yang mempercayai kata-katamu itu,” sahut Ki Tambak Wedi. Tetapi Tambak Wedi menjadi mual mendengarnya.

“Ki Tambak Wedi,” berkata orang itu. “Untuk yang terakhir kalinya aku memperingatkanmu. Aku adalah pengemban tugas negara, Kalau kau menghalang-halangi aku dan prajurit-prajurit Wira Tamtama ini, maka berarti bahwa kau telah memberontak terhadap Pajang.”

“Aku tidak memerlukan peringatan itu. Sekali lagi kau harus tahu, Tambak Wedi bukan anak-anak. Tambak Wedi menyadari apa yang terjadi. Bahkan Tambak Wedi telah bertekad, Pajang harus dimusnahkan.”

Orang yang berada di atas punggung kuda itu mengerutkan keningnya. Perkataan ki Tambak Wedi itu benar-benar menyinggung perasaannya. Meskipun demikian ia masih berkata tenang, “Kalau demikian, kenapa kau memisahkan diri dari Patih Mantahun, dan bahkan menyerahkan Sidanti ke dalam lingkungan keprajuritan Pajang?”

“Persetan! Aku sangka orang-orang Pajang jujur menghadapi kawan sendiri. Tetapi ternyata tidak.”

“Itu hanyalah anggapanmu ki Tambak Wedi. Kau sendiri tidak turut berbuat sesuatu. Bahkan muridmu itupun kemudian berkhianat atas nasehatmu.”

“Bukankah sudah pasti bahwa dengan demikian tidak ada kata-kata lain untuk memberi julukan kepadaku, kepada Ki Tambak Wedi? Aku memang hendak mbalela. Apa katamu? Sekarang menyerahlah.”

Orang di atas punggung kuda itu tidak lagi dapat menahan kemarahannya. Meskipun demikian ia tidak menjadi kehilangan keseimbangan. Sekali dilayangkan pandangan matanya, beredar di sekelilingnya. Diawasinya setiap orang di dalam barisannya dan setiap orang yang berdiri mengepung orang-orangnya.

“Yakinkan dirimu,” berkata Ki Tambak Wedi, “bahwa kau harus menyerah.”

Orang itu tidak menjawab. Tetapi ia berkata kepada salah seorang di dalam barisannya, “Jebeng, kau lihat anak muda itu? Umurnya lebih tua dari padamu. la adalah murid Ki Tambak Wedi. Anak itulah yang bernama Sidanti, yang ingin dengan tangannya membunuh Tohpati dan kemudian mencoba membunuh Untara. Meskipun ia tidak sesakti Arya Penangsang, tetapi kepalanya ternyata lebih dingin daripada Adipati Jipang.”

Seorang anak muda menggerakkan kudanya mendekati orang setengah umur itu. Di tangannya digenggamnya sebatang tombak pendek, berjuntai seutas tali berwarna kuning emas.

Semua mata kini terarah kepada anak muda itu. Dengan sebuah senyum yang menggores di bibirnya ia berkata, “Dari mana ayah tahu kalau anak muda itu yang bernama Sidanti?”

Orang tua setengah umur itu menjawab, “Senjatanya telah mengatakan kepada kita. Nenggala di tangan kirinya itu adalah ciri perguruan lereng Merapi. Bukankah begitu Ki Tambak Wedi?”

Tambak Wedi tidak menjawab. Namun terdengar ia menggeram. Matanya sama sekali tidak lepas dari ujung tombak di tangan anak muda yang kini telah berada di samping orang setengah umur yang ternyata adalah ayahya.

Tiba-tiba Ki Tambak Wedi berpaling ketika ia mendengar ayah anak muda itu berkata, “Ki Tambak Wedi, tombak itu sama sekali bukan Kyai Plered yang terkenal. Kali ini kami sama sekali tidak membawa pusaka keramat itu. Yang dibawa oleh anak ini adalah sebuah tombak lain, meskipun juga sebuah tombak pusaka hadiah Adipati Pajang. Namanya mungkin belum pernah kau dengar, ‘Kiai Pasir Sewukir’.”

Sekali lagi Ki Tambak Wedi menggeram. Bahkan kini ia berkata, “ Aku tidak peduli apakah yang dibawanya Kiai Plered atau bukan. Meskipun seandainya yang dibawanya itu Tombak Kiai Plered pun, bagiku tidak berarti apa-apa. Sekarang menyerahlah. Jangan memperpanjang waktu. Kalau habis sabarku, maka aku tidak akan memberimu kesempatan lagi.”

Orang di atas punggung kuda itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian sekali lagi dipandanginya setiap wajah dari para prajurit Jipang. Beberapa orang telah dikenalnya dengan baik. Karena itu kemudian disapanya orang yang berdiri di sisi Sidanti, “He, Sanakeling. Kau juga berada di sini?”

Betapa besar hati orang itu, dan betapa kebenciannya membakar dadanya terhadap orang-orang Pajang, namun perbawa orang itu telah menundukkan kepalanya.

Sikap itu sama sekali tidak menyenangkan Ki Tambak Wedi, sehingga terdengar ia membentak, “Sanakeling, apakah arti orang itu bagi panglima prajurit Jipang?”

Sanakeling menyadari kedudukannya. Pertanyaan Ki Tambak Wedi telah benar-benar mengungkat kejantanannya, sehingga kemudian ia menjawab lantang, “Bukan Kiai. Orang itu tidak berarti apa-apa bagiku.”

Tiba-tiba terdengar anak muda yang menggenggam tombak berjuntai kuning itu tertawa. Katanya, “Paman Sanakeling. Apakah paman lupa terhadap kami. Aku dan ayah?”

Sanakeling menggeram. Tetapi kembali ia dicengkam oleh wibawa ayah dan anak yang berada di atas punggung kuda itu.

Yang menjawab kemudian adalah Sidanti, “Kita berhadapan sebagai lawan. Jangan mencoba mengungkat perasaan yang dapat melemahkan lawan. Seorang yang berhati jantan tidak akan berbuat selicik itu.”

Anak muda di atas punggung kuda itu mengerutkan keningnya. Sekilas ditatapnya wajah ayahnya. Tetapi wajah orang tua itu sama sekali tidak membuat kesan apapun atas kata-kata Sidanti, bahkan sambil tersenyum ia berkata, “Murid Ki Tambak Wedi ternyata mempunyai kesamaan dengan gurunya. Adatnya agak terlampau keras di samping nafsunya yang melonjak-lonjak sehingga hampir-hampir Untara dikorbankannya.”

“Aku meyesal bahwa Untara itu tidak mati,” Sahut Sidanti.

Sekali lagi anak muda di punggung kuda itu mengerutkan keningnya, namun ayahnya masih setenang itu menjawab, “Bagaimana kalau kau mendapat kesempatan sekali lagi?”

Sidanti heran mendengar pertanyaan itu. la tidak mengerti sama sekali, apakah maksudnya. Namun orang itu menjelaskan, “Maksudku, sebentar lagi Untara pasti akan datang. Bukankah kau akan dapat berhadapan sekali lagj?”

Sidanti menggeram. Terasa dadanya bergelora dan kemarahannya segera membakar ubun-ubunnya. Apalagi ketika ia mendengar anak muda yang membawa tombak itu tertawa.

“Persetan dengan Untara!” teriak Sidanti, “ayo siapa namamu dan siapa anak muda yang sombong itu. Mungkin kau belum mengenal Sidanti.”

Sanakeling tiba-tiba berpaling. Dipandanginya wajah Sidanti, Sanakeling hampir tidak percaya bahwa Sidanti benar-benar belum mengenal orang itu ayah beranak. Sehingga tanpa dikehendakinya ia berdesis, “Adi Sidanti, apakah kau belum pernah melihatnya?”

Sidanti terkejut mendengar pertayaan itu. la adalah bekas prajurit Pajang. Namun selama tugasnya yang pendek ia belum pernah bertemu dengan kedua orang itu, seperti ia belum begitu mengenal Untara sebelumnya.

Namun Sidanti tidak terlampau lama berteka-teki. la mendengar gurunya menjawab pertanyaanya, meskipun ternyata jawaban itu benar-benar mengejutkannya. “Apakah kau belum pernah mengenal mereka selama kau menjadi prajurit, Sidanti? Kalau belum, itu adalah pertanda kelicikan orang-orang yang berada di atasmu. Mereka dengan sengaja menjauhkan kau dari pimpinan-pimpinan yang lebih tinggi supaya mereka tidak melihat kelebihanmu daripada mereka. Bukankah dengan sengaja Widura menyembuyikan kau di padesan dan menugaskan kau selama ini jauh dari pusat pemerintahan Pajang, meskipun kemampuanmu setingkat dengan senapati besar dari Jipang yang bernama Tohpati dan bergelar Macan kepatihan?”

Sekali lagi Sldanti mencoha mengingat-ingat, siapakah kedua orang ayah beranak itu. Mungkin ia merasa pernah melihat perwira Wira Tamtama itu. Tetapi apakah pedulinya sekarang, selagi keadaannya telah menjadi semakin jauh dari kemungkinan-kemungkinan lain daripada menghadapi setiap orang Pajang sebagai lawan.

Orang yang berkuda itu kemudian menyahut, “Bukan salah Widura dan bukan pula salah Sidanti. Tidak selalu setiap prajurit pernah melihat dan mengenal wajah prajurit yang lain. Mungkin namaku perhah didengarnya dan nama anakku ini. Tetapi wajahku dan wajah anakku ini mungkin pula belum.”

Sidanti memandang laki-laki setengah umur di atas punggung kuda itu tanpa berkedip. Dicobanya untuk mengingat-ingat satu demi satu perwira Wira Tamtama yang dikenalnya. Akhirnya, lambat laun, ingatan Sidanti menyentuh sebuah wajah yang pernah dikenalnya. Tetapi wajah itu terlampau besar bagi orang yang berkuda di hadapannya itu. Ketika ia melihatnya beberapa bulan yang lampau, orang itu berada dalam satu barisan yang lengkap disertai dengan segala macam tanda-tanda kebesaran. Orang itu memakai pakaian kebesarannya pula. Sedang kini, laki-laki itu mengenakan pakaian keprajuritan, tanpa tanda-tanda kebesaran selain ciri seorang perwira dari Wira Tamtama.

Dada Sidanti menjadi berdebar-debar karenanya. Namun akhirnya ia dapat menguasai dirinya ketika ia melihat sikap gurunya. Gurunya sama sekali tidak menjadi cemas menghadapi laki-laki berkuda itu, bahkan seandainya kenangannya itu benar, iapun harus bersikap seperti gurunya pula.

Yang terdengar adalah suara Ki Tambak Wedi, “Sidanti, kalau kau belum mengenal sekalipun bukanlah soal bagimu. Justru lebih baik apabila kau belum tahu siapa yang kau hadapi supaya hatimu tidak terpengaruh. Tugasmu sekarang adalah ambil tombak yang bernama Kiai Pasir Sewukir dari tangan anak sombong itu. Jangan hiraukan apa yang pernah dilakukan dahulu. Jangan menjadi silau, sebab ia tidak membunuh Arya Penangsang dengan jujur, tetapi ia mempergunakan kuda betina untuk membuat kuda Arya Penangsang tidak dapat dikendalikan. Dengan demikian, kesempatan bertempur Arya Penangsang sangat terganggu oleh kudanya yang bernama Gagak Rimang, karena kuda itu melihat kuda betina Loring Pasar.”

Kini dada Sidanti benar-benar bergelora. Anak muda itulah yang bergelar Ngabehi Loring Pasar, yang sebelumnya lebih terkenal bernama Sutawijaya. Kalau demikian siapakah laki-laki itu? Ayah Sutawijaya adalah Ki Gede Pemanahan, sedang ayah angkatnya adalah Adipati Pajang sendiri. Kalau demikian benar dugaannya, laki-laki itu adalah Ki Gede Pemanahan yang pernah dilihatnya dalam kelengkapan kebesaran seorang Panglima Wira Tamtama.

Sidanti yang tiba-tiba terpaku itu mendengar gurunya berkata, “Nah Sidanti, jangan cemas. Kau sekarang tidak berada di atas punggung kuda seperti Gagak Rimang. Kau dapat mempercayakan setiap langkah pada kakimu sendiri.”

Anak muda itu, yang sebenarya Sutawijaya, mengerutkan keningnya. Kata-kata Ki tambak Wedi itu benar-benar menyakitkan hatinya, seolah-olah ia telah membunuh Arya Penangsang dengan curang. Tetapi sebelum ia menjawab, terdengar ayahnya, yang tidak lain adalah Ki Gede Pemanahan menjawab, “Jebeng, jangan hiraukan kata-kata orang tua itu. la ingin membesarkan hati muridnya. Apa yang terjadi atas Arya Jipang itu, biarlah ditafsirkan menurut kehendaknya. Sekarang hadapilah murid Ki Tambak Wedi. la tidak dapat bertahan diri terhadap Macan kepatihan. la pernah mencoba bertempur melawannya, seorang lawan seorang, namun Widura terpaksa membantunya sebelum kepalanya dipecahkan oleh tongkat Baja Putih berkepala tengkorak itu. Kemudian ia tidak berani melawan Untara wajah berhadapan dengan wajah. la menusuknya dari belakang. Bahkan melawan adik Untara yang bernama Agung Sedayu pun, Sidanti berbuat curang. Dalam perkelahian tanpa senjata, anak muda yang gagah perkasa itu terpaksa memungut sepotong kayu untuk mempersenjatai diri.”

“Cukup!” Potong Ki Tambak Wedi dengan marahnya. Ternyata semua yang terjadi di Sangkal Putung telah dilaporkan kepada Panglima Wira Tamtama ini. “Apakah dengan demikian kau tidak sedang mencoba membesarkan hati anakmu itu pula? Anak yang kau bangga-banggakan telah membunuh Arya Penangsang.”

Ki Ageng Pemanahan tertawa. Tetapi sebelum ia menjawab terdengar Ki Tambak Wedi itu berteriak, “Kenapa kalian melihat saja seperti menonton tayub?”

Para prajurit Jipang terkejut mendengar teriakan itu. Sejenak mereka belum dapat menanggapi maksudnya. Baru sesaat kemudian mereka menyadari kata-kata Ki Tambak Wedi yang diterus-kanya, “Ayo, kalau kalian mampu membinasakan orang yang bernama Pemanahan yang merupakan otak dari kematian Arya Penangsang, dan anaknya yang hanya dipakainya sebagai alat saja dalam usaha pembunuhan yang keji itu, maka dendam kalian akan terbalaskan. Kedua orang ini beserta Penjawi dan Ki Juru Mertani-lah biang keladi dari pembunuhan yang tidak jantan. Mereka menunggu saat Arya Penangsang menyeberang sungai. Sebelum Adipati Jipang mencapai tebing, maka orang Pajang telah menghujaninya dengan anak panah atas Arya Penangsang beserta kudanya Gagak Rimang. Apalagi Sutawijaya telah membuat Gagak Rimang gila dengan kuda betinanya.”

Sutawijaya tidak dapat menahan diri lagi mendengar kata-kata Ki Tambak Wedi, tetapi ayahya menggamitnya. Sehingga dengan dada sesak ia terpaksa masih saja tetap berdiam diri di atas punggung kudanya. Namun ujung tombaknya yang bernama Kiai Pasir Sewukir telah bergetar.

Ketika Ki Tambak Wedi terdiam, barulah Pemanahan menjawab, “Apakah masih ada yang ingin kau katakan Ki Tambak Wedi, mungkin kesempatan ini adalah kesempatanmu yang terakhir untuk melepaskan dendam dan kebencianmu, karena kegagalan-kegagalan yang dilakukan oleh muridmu. Tetapi sadarilah bahwa bukan hanya Pemanahan, bukan hanya Ki Juru Mertani, bukan hanya Penjawi dan beberapa orang saja yang melihat peperangan yang menentukan, tetapi seluruh prajurit Pajang dan Jipang yang saat itu berada dalam pertempuran, melihat apa yang terjadi. Kalau Tohpati masih hidup, kau akan dapat bertanya kepadanya. Bagaimana dengan Sanakeling dan, he, apakah anak muda yang bermata setajam mata burung alap-alap itu yang bernama Alap-alap Jalatunda?”

“Persetan!” teriak Ki Tambak Wedi. “Kau benar-benar licik. Kau hanya memperpanjang waktu saja. Ayo, para prajurit Jipang, mulailah. Kesempatan yang aku berikan telah disia-siakan oleh Panglima yang merasa dirinya pilih tanding ini.”

Orang-orang Jipang yang mengepung para prajurit Wira Tamtama Pajang, yang langsung dipimpin oleh panglimanya sendiri itu mulai bergerak. Beberapa orang segera meloncati parit-parit dan mengayun-ayunkan senjata mereka. Tetapi bagaimanapun juga gerak orang-orang Jipang itu masih belum mantap. Sanakeling sendiri masih dicengkam oleh keragu-raguan dan debar jantungnya yang tidak menentu. Orang yang berada di punggung kuda ayah beranak itu terlampau besar baginya. Mungkin tidak bagi Ki Tambak Wedi yang sama sekali tidak terikat dalam hubungn keprajuritan. Apabila Macan Kepatihan masih ada, mungkin Tohpati itupun akan menghadapi mereka dengan tatag. Tetapi baginya, bagi Sanakeling, pekerjaan itu benar-benar merupakan pekerjaan yang terlampau berat.

Bukan saja Sanakeling, tetapi Alap Alap Jalatunda dan kawan-kawannya mempunyai sikap serupa. Ki Gede Pemanahan adalah seorang panglima yang namanya menggema tidak saja di seluruh Pajang dan Jipang. Bahkan merata ke seluruh daerah Demak.

Ki Tambak Wedi itupun melihat keragu-raguan dalam setiap gerak orang-orang Jipang. Mereka bergeser, tetapi tidak mendekati para prajurit Pajang, sehingga orang tua itu kemudian berteriak, “He, apa yang kalian tunggu. Dengar perintahku. Bunuh semua orang-orang Pajang secepatnya sebelum Untara datang memancung leher kalian atau menggantung kalian di alun-alun Pajang.

Perintah itu ternyata telah membangunkan orang-orang Jipang. Mereka benar-benar dihadapkan pada suatu keharusan untuk melawan. Kalau tidak, maka mereka akan mengalami akibat yang sangat pahit.

Apalagi ketika Ki Tambak Wedi berteriak, “Rencana kita tidak akan dapat berjalan seperti yang kita harapkan sepenuhnya. Kegagalan itu disebabkan karena orang-orang Pajang ini. Ayo, jadikanlah mereka tebusan dari kegagalan itu. Meskipun kita tetap mengharap orang-rang Pajang di Sangkal Putung menjadi gila dan berbuat seperti yang kita inginkan.”

Kini orang-orang Jipang menjadi semakin mantap. Sementara itu kuda-kuda orang Pajang pun telah bergerak-gerak. Beberapa orang mendorong kudanya maju dan yang lain menghadap ke arah yang berlawanan. Musuh mereka berada di muka dan di belakang. Tempat itu sama sekali tidak menguntungkan bagi pertempuran di atas punggung kuda.

Ki Gede Pemanahan memperhatikan keadaan itu sesaat. Karena itu ia harus mendapat daerah yang cukup luas, supaya mendapat kesempatan yang lebih baik. Orang-orang Jipang yang berdiri di atas tanah akan menjadi lebih lincah karena daerah yang sempit.

Di kiri-kanan jalan itu adalah tanah persawahan yang sedang ditumbuhi oleh batang-batang jagung muda. Tanahnya tidak begitu basah, karena tanaman itu tidak memerlukan air yang tergenang. Karena itu, maka terdengar Panglima Wira Tamtama itu langsung memberi aba, “He para prajurit Pajang. Kita terpaksa minta maaf kepada orang-orang Sangkal Putung. Kita akan meminjam tanah mereka untuk berlatih perang-perangan di atas punggung kuda.”

Ki Tambak Wedi menggeram mendengar aba-aba itu. Cepat ia berteriak, “Cegah mereka. Jangan diberi kesempatan meninggalkan jalan sempit ini, supaya mereka segera tertumpas di dalamnya.”

Tetapi teriakan itu hampir-hampir tidak berarti. Kuda-kuda para prajurit Pajang telah mendesak mereka. Dengan senjata di tangan para penunggang kuda itu mencoba mendapatkan jalan bagi kuda mereka. Beberapa ekor kuda telah berhasil meloncat parit yang sempit. Tetapi karena kejutan-kejutan orang-orang Jipang, ada juga kuda yang gagal, sehingga kuda itu tergelincir masuk ke dalam parit. Namun dengan tangkasnya para penunggangnya meloncat turun dan melawan orang-orang Jipang yang menyerangnya di atas tanah.

Pemanahan mengerutkan keningnya melihat orang-orangnya yang gagal itu. Tetapi mengharap bahwa mereka akan dapat bertahan dan menyelamatkan diri mereka masing-masing. Meskipun demikian, Ki Gede Pemanahan segera berseru, “Jangan lepaskan kuda-kuda itu.”

Memang beberapa orang yang terjatuh itu masih berusaha untuk meloncat kembali ke atas punggung-pungung kuda mereka yang telah berhasil merangkak keluar dari dalam parit. Tetapi orang-orang Jipang selalu mencoba menghalang-halangi.

Peperanganpun segera berkobar. Orang-orang Jipang mulai menyerang dengan sengitnya. Tetapi para prajurit Pajang yang sempat meninggalkan jalan yang sempit itu segera membuat arena menjadi semakin luas. Mereka terpaksa tidak menghiraukan lagi batang-batang jagung muda. Kaki-kaki kuda mereka dengan garangnya telah merambas batang-batang jagung itu, sehingga sesaat kemudian sawah itu telah hampir menjadi gundul.

“Setan!” teriak Ki Tambak Wedi yang menjadi semakin cemas melihat perkembangan keadaan. Ternyata para prajurit berkuda dari Pajang itu cukup tangkas melawan orang-orang Jipang yang jumlahnya dua kali lipat dari jumlah mereka. Bahkan beberapa orang yang terjatuh dari kudanya, telah berhasil meloncat kembali ke atas punggung-punggung kuda. Sedangkan mereka yang tidak berhasil, tidak juga menjadi cemas melihat perkembangan keadaan karena kawan-kawan mereka hampir selalu membantu mereka, dan mengusahakan kesempatan supaya mereka berhasil meloncat ke punggung kuda masing-masing.

Para prajurit Pajang kini bertebaran di sawah-sawah. Mereka bertempur seperti burung rajawali. Sekali mereka memacu kudanya melingkar, namun sejenak kemudian seperti seekor burung yang menukik dari langit, meyambar lawan-lawannya dengan garangnya.

Sidanti menjadi semakin marah melihat perkembangan keadaan. Dengan demikian ia tidak akan berhasil mengikat seorang lawan di arena. la harus dengan penuh kewaspadaan memperhatikan setiap derap kuda yang menyambarnya.

Sanakeling pun mengumpat tak habis-habisnya. Selagi ia sedang mencoba bersama seorang kawannya menekan seorang prajurit Pajang yang kehilangan kudanya, maka setiap kali kuda yang lain datang menyerangnya. Bahkan hampir menginjaknya apabila ia tidak cukup cepat menghindar. Sehingga dengan demikian pertempuran itu menjadi pertempuran yang cukup kalut bagi kedua belah pihak.

Arena pertempuran itupun menjadi semakin lama semakin luas. Kuda-kuda para prajurit Pajang berlari melingkar-lingkar dengan garangnya. Setiap prajurit di atas punggung kuda itu telah me-mutar pedangnya dan menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Tetapi yang dihadapi adalah prajurit-prajurit pula. Dengan tangkasnya orang-orang Jipang melawam para prajurit berkuda itu. Tetapi ternyata ketika orang-orang Pajang berhasil memperluas lingkaran pertempuran maka keadaan mereka menjadi lebih menguntungkan.

Ki Tambak Wedi hanya sesaat sempat mengamati pertempuran itu. Segera ia menggenggam kedua gelang-gelang besi di kedua belah tangannya untuk melawan panglima Wira Tamtama yang perkasa itu.

Ki Gede Pemanahan pun menyadari, bahwa ia kini berhadapan dengan seorang yang memiliki kemampuan luar biasa. Orang yang pernah menjadi sahabat Patih Mantahun dan orang kedua dari perguruan Kedung Jati, yang bernama Sumangkar. Tetapi Ki Tambak Wedi ternyata tidak setia. Ditinggalkannya Jipang menjelang kehancurannya. Bahkan kemudian muridnya muncul menjadi seorang prajurit Wira Tamtama di bawah pimpinan Widura.

Untuk melawan senjata Ki Tambak Wedi yang aneh itu, Ki Gede Pemanahan tidak mempergunakan pedangnya. Ia ingin melawan hantu itu pada jarak yang sependek gelang-gelang besi itu. Karena itu ketika Ki Tambak Wedi mulai meloncat menyerangnya, maka di tangan panglima Wira Tamtama itu tergenggam sebilah keris. Keris yang seolah-olah bercahaya kebiru-biruan, berlekuk sebelas dan berbentuk seekor Naga, Naga Kemala.

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya melihat keris itu. Sesaat ia terhenyak surut. Ditatapnya keris itu tajam-tajam. Ia terkejut ketika ia mendengar Ki Gede Pemanahan tertawa sambil berkata, “Kau memperhatikan kerisku ini Ki Tambak Wedi. Sama sekali bukan Kiai Nagasasra. Meskipun dapurnya mirip, namum kerisku ini adalah Kiai Naga Kemala. Masih selapis lebih rendah dari Kiai Nagasasra, yang kini telah berada di Kadipaten Pajang bersama pusaka-pusaka Demak yang lain.”

Ki Tambak Wedi itu menggeram. Sahutnya, “Persetan dengan Naga Kemala. Meskipun yang kau genggam itu Kiai Nagasasra sekalipun aku tidak akan gentar. Bahkan di kedua belah tanganmu tergenggam pusaka-pusaka Demak yang lain, Kiai Sabuk lnten, Kiai Sengkelat dan apa saja.”

Ki Gede Pemanahan tidak menyahut. Didorongnya kudanya maju dan dengan sigapnya ia menggerakkan senjatanya. Ki Tambak Wedi mundur selangkah, tetapi tiba-tiba ia meloncat secepat kilat menghantam mata kaki Ki Gede Pemanahan. Tetapi Ki Gede Pemanahan telah bersiap menghadapi setiap kemungkinan, sehingga karena itu, maka dengan sigapnya pula ia mampu menghindarkan mata kaki itu. Sebuah sentuhan dari gelang-gelang besi Ki Tambak Wedi pasti akan mampu memecahkan tulang-tulangnya.

Tetapi Ki Tambak Wedi tidak membiarkannya. Sekali lagi ia meloncat menyerang dengan garangnya. Namun sekali lagi Ki Gede Pemanahan mampu menghindarinya pula.

Bahkan kemudian ia tidak membiarkan dirinya selalu menghindar dan menghindar. Sejenak kemudian ditariknya kendali kudanya dan kuda itupun meringkik dan meloncat. Sekali kuda itu berputar, kemudian menerjang Ki Tambak Wedi yang berdiri tegak di atas tanah dengan sepasang kakinya yang kokoh kuat.

Dengan mengumpat-umpat orang tua yang menghantui Lereng Merapi itu meloncat menghindari kaki-kaki kuda Ki Gede Pemanahan. Bahkan semakin lama ialah yang harus semakin sering menghindarkan diri, karena kuda itu dengan lincahnya meloncat berputar kemudian berlari menyambarnya. Keris di tangan panglima Wira Tamtama itu sekali-sekali berada di tangan kanannya, namun kemudian telah berpindah di tangan kiri, seolah-olah berloncatan dari satu tangan ke tangan yang lain. Betapa kakinya menghentak-hentak, apabila kudanya berlari terlampau jauh, namun kemudian tangannyalah yang terayun-ayun apabila kudanya menyambar Ki Tambak Wedi.

Pertempuran antara keduanya semakin lama mejadi semakin sengit. Ternyata serangan-serangan Ki Tambak Wedi pun semakin lama mejadi semakin berbahaya pula. Apabila ia gagal menyerang tubuh lawannya, maka ia berusaha mengenai tubuh kudanya. Apabila kuda itu dapat dirobohkan, maka pekerjaanya tidak akan sedemikian sulitnya.

Di sudut lain, Sidanti bertempur dengan gigi gemeretak. Dilihatnya anak muda yang bernama Mas Ngabehi Loring Pasar, menyambutnya dengan sebuah senyum yang menyakitkan hati. Tombak di tangan anak muda itu memang mendebarkan jantungnya meskipun ia tahu bahwa tombak itu bukanlah tombak yang bernama Kiai Pleret. Menurut pendengaranya Kiai Pleret itu berlandean panjang, sedang yang dibawa oleh anak muda itu berlandean agak pendek.

Hati Sidanti menjadi semakin panas ketika ia mendengar anak muda itu berkata kepada seorang prajurit Pajang, “Lindungi aku dari panyerang-penyerang yang curang. Aku ingin melawan murid Ki Tambak Wedi ini dengan cara yang adil. Aku tidak mau dituduh membuat lawanku gila karena aku memakai kuda yang tegar dan lincah, seperti orang-orang Jipang menganggap aku berbuat curang terhadap Adipati Jipang, meskipun anak muda yang bernama Sidanti ini sama sekali tidak dapat disejajarkan dengan Paman Arya Penangsang yang perkasa itu.”

“Gila!” Teriak Sidanti. “Jangan terlampau sombong. Kaulah yang ternyata menjadi gila karena orang menganggapmu dapat mengalahkan Adipati Jipang yang lengah, sehingga kerisnya sendiri menggores ususnya. Kalau tidak, maka perutmulah yang akan disobeknya dengan pusakanya, Kiai Setan Kober.”

Mas Ngabehi Loring Pasar, yang juga disebut Sutawijaya tertawa. Jawabnya, “Marilah kita lihat, apakah kau akan mati dengan senjatamu sendiri atau karena tombakku Kiai Pasir Sewukir.”

Hati Sidanti menjadi semakin panas ketika tiba-tiba Sutawijaya meloncat dari punggung kudanya. Kini anak yang masih sangat muda itu menghadapinya dengan kakinya di tanah.

Sidanti menggeram seperti seekor harimau lapar melihat seekor kijang. Matanya merah memancarkan kemarahan dan kebencian. Sikap Sutawijaya itu dirasakannya sebagai penghinaan terhadapnya.

Dengan gigi yang gemeretak Sidanti menggeram, “Kau benar-benar anak yang sombong. Meskipun dadamu berlapis baja, tetapi kau akan luluh karena kesombonganmu itu sendiri.”

Sutawijaya yang berdiri di hadapannya menjawab, “Aku hanya ingin berbuat adil supaya kelak tidak lagi ada tafsiran yang aneh-aneh. Kalah atau menang, kita berada dalam keadaan yang seimbang.”

Dengan marahnya Sidanti menyahut, “Setelah aku melihat tampangmu, maka aku semakin yakin, bahwa bukan kau yang sebenarnya membunuh Arya Penangsang. Tetapi adalah karena perbuatan kalian ayah beranak yang curang dan licik itulah yang menyebabkan gugurnya Adipati yang berani itu.”

“ltulah sebabnya aku sekarang berbuat dengan hati-hati supaya kelak tidak ada orang yang berkata bahwa Sidanti dibunuh dengan licik. Sidanti mati karena terinjak kaki-kaki kuda, atau cerita lain yang nadanya serupa dengan itu. Serupa dengan nada lagu dari kidung kematian Arya Penangsang.”

Sekali lagi Sidanti menggeram. Kemarahannya telah sampai ke atas ubun-ubunnya. Dengan gigi gemeretak ia meloncat sambil menggerakkan pedangnya langsung menyambar dada Sutawijaya. Sutawijaya ternyata telah cukup bersiaga. Selangkah ia meloncat surut. Namun dengan tiba-tiba pula tombaknya terjulur lurus mematuk lambung Sidanti.

Sidanti terkejut melihat ujung tombak yang demikian cepatnya menyambarnya. Hampir-hampir perutnya tersobek pada loncatan pertama. Terdengar ia mengumpat sekali, dan dengan cepatnya pula ia menghindar ke samping.

Sutawijaya tersenyum. Katanya, “Jangan mengumpat-umpat. Lebih baik kau memperhatikan ujung tombakku supaya perutmu tidak terbelah.”

“Kau benar-benar anak yang sombong,” teriak Sidanti. Tetapi kata-katanya seolah-olah patah di tengah. Tiba-tiba sekali lagi ia terkejut. Tombak Sutawijaya seolah-olah mengejarnya dan kembali mematuk lambungnya.

“Gila!” teriaknya tanpa sesadarnya. Sekali lagi ia harus meloncat ke samping. la belum mendapat kesempatan untuk mempergunakan pasangan senjatanya. Serangan Sutawijaya benar-benar mengejutkannya. Bahkan kecepatan bergerak anak muda itu sama sekali di luar dugaannya.

Sekali lagi Sutawijaya tersenyum. Dibiarkannya Sidanti memperbaiki kedudukannya. Kini kedua senjatanya bersilang seakan sebuah perisai yang tidak akan dapat ditembus oleh senjata macam apapun.

Sutawijaya melihat sikap itu. Ia menyadari bahwa Sidanti telah benar-benar berada dalam kesiap-siagaan yang tertinggi. Kini ia tidak dapat sekedar menyerangnya dengan kejutan-kejutan. Kini segenap geraknya harus diperhitungkan benar-benar.

 

~ Article view : [226]