Api di Bukit Menoreh [ series 15-20]

411

Karya : SH Mintardja

 

Series 15

DEMIKIANLAH, maka sejenak kemudian mereka berdua telah terlibat dalam sebuah pekelahian yang semakin sengit. Pedang Sidanti berputar dengan cepatnya sedang senjata khususnya di tangan kiri dipergunakannya sebagai perisai, namun kadang-kadang senjata itulah yang mematuk dengan sangat berbahaya. Sebuah sentuhan dan goresan pada kulit lawan, maka akibatnya akan dapat berarti maut.

Tetapi lawan Sidanti itu dapat mempergunakan senjatanya dengan sangat cekatan pula. Sepasang kakinya ternyata terlampau lincah. Loncatan-loncatan yang panjang telah membingungkan lawannya. Ujung tombaknya yang bernama Kiai Pasir Sewukir ternyata dapat menusuk lawannya dari segala arah. Ujung yang satu itu seolah-olah kini berubah menjadi berpuluh-puluh mata tombak yang mematuk dari segenap penjuru.

Sementara itu pertempuran semakin lama menjadi semakin seru. Orang-orang Jipang yang berjumlah lebih dari dua kali lipat itu terpaksa menahan nafsu mereka untuk segera dapat membinasakan lawan mereka. Para prajurit Pajang ternyata mampu menguasai medan dengan derap kuda mereka. Bahkan kini orang-orang Jipang sama sekali sudah tidak mampu untuk mengepung para prajurit Pajang yang dapat bergerak lebih cepat dari mereka.

Tetapi orang-orang Jipang yang seakan-akan mendapat kesempatan untuk meluapkan dendam mereka itu, bertempur dengan nafsu yang menyala-nyala. Ki Gede Pemanahan dan Sutawijaya adalah penyebab langsung dari kematian Adipati Jipang. Karena itu, maka apabila orang-orang Jipang itu dapat membinasakan keduanya, maka seolah-olah sebagian dari dendam mereka sudah dapat mereka lepaskan. Apalagi jumlah mereka yang jauh lebih banyak dari pada lawan-lawan mereka.

Dalam kekalutan peperangan, maka satu demi satu para prajurit Pajang terpaksa berloncatan turun dari kuda-kuda mereka. Orang-orang Jipang yang menemui beberapa kesulitan atas kuda-kuda lawan mereka, ternyata telah berusaha untuk pertama-tama melumpuhkan kuda-kuda itu. Dengan demikian, maka para penunggangnya akan terpaksa turun dan bertempur di atas tanah.

Para prajurit Pajang pun menyadari pula cara itu. Sebagian dari mereka yang masih berada di punggung-punggung kuda mereka, kini menyerang orang-orang Jipang dengan cara yang lain. Mereka menyambar-nyambar seperti elang. Menukik, kemudian membubung tinggi. Pedang-pedang mereka yang tajam berkilat-kilat seakan-akan memancarkan sinar yang melontar dari daerah maut.

Namun bagaimanapun juga, jumlah yang jauh lebih banyak itupun banyak mempengaruhi keadaan. Apalagi yang berjumlah dua kali lipat itupun terdiri dari prajurit-prajurit yang cukup terlatih dan berpengalaman pula dalam berbagai bentuk pertempuran.

Ki Gede Pemanahan melihat keadaan itu dengan hati yang berdebar-debar, tetapi ia tidak dapat melepaskan Ki Tambak Wedi. Bahkan ia harus tetap berusaha mengikat orang tua itu dalam pertempuran melawannya. Meskipun demikian Ki Gede Pemanahan berusaha supaya ia tetap berada di atas punggung kudanya.

Meskipun demikian, keadaan yang menguntungkan itu masih belum memuaskan Ki Tambak Wedi. Ia ingin pekerjaan itu cepat selesai. Orang-orang Pajang itu segera dapat dibinasakan, untuk kemudian mereka akan segera menghilang. Setelah mereka berhasil meninggalkan bencana yang akan membakar tidak saja para prajurit Pajang di sangkal Putung, tetapi segenap prajurit Pajang yang tersebar di pasisir Kidul sampai ke pasisir Lor. Meskipun Ki Tambak Wedi menyadari akibatnya kemudian, namun ia telah menyiapkan dirinya untuk menghadapi kemungkinan itu. Ia akan dapat menghimpun kekuatan dengan segera di lereng Merapi ini. Kemudian memanfaatkan kekuatan yang tersimpan di seberang hutan Mentaok, di sepanjang pegunungan Menoreh, daerah yang dikuasai oleh ayah Sidanti. Seorang kepala daerah perdikan yang perkasa. Seorang sahabat yang mempercayakan anaknya kepada Ki Tambak Wedi bukan karena ia sendiri tidak mampu untuk menempa anaknya, tetapi karena pekerjaannya yang hampir merampas seluruh waktunya, maka dipercayakannya anaknya, harapan bagi masa depannya itu kepada seorang sahabatnya, Ki Tambak Wedi.

Karena itu, maka dalam pertempuran itu Ki Tambak Wedi sendiri telah memeras segenap kemampuannya. Namun yang dihadapi adalah Panglima Wira Tamtama, Ki Gede Pemanahan. Orang yang kadang-kadang disebut-sebut telah mewarisi kesaktian leluhurnya, mampu menguasai petir. Tetapi yang tampak pada Ki Gede Pemanahan adalah kedahsyatan tangannya. Telapak tangannya benar-benar seperti menyimpan tenaga petir. Apabila tubuh lawannya tersentuh oleh tangan itu, maka akibatnya akan melampaui sebuah pukulan senjata yang betapapun kerasnya. Melampaui hantaman bindi atau bahkan tidak kalah dengan tongkat baja putih Macan Kepatihan.

Sedang anaknya, Sutawijaya, yang bertempur melawan Sidanti itupun ternyata memiliki kelincahan yang mengagumkan. Selincah petir yang menari-nari di langit.

Sidanti, murid Ki Tambak Wedi yang perkasa itu, terpaksa memeras keringatnya menghadapi ujung tombak Sutawijaya. Berkali-kali Sidanti terpaksa meloncat surut. Berkali-kali Sidanti terpaksa mengumpat tak habis-habisnya. Untung tombak Sutawijaya seakan-akan memiliki biji-biji mata. Kemana ia menghindar, ujung tombak itu selalu mengejarnya.

Kini Sidanti terpaksa mengakui di dalam hatinya, bahwa Sutawijaya tidak hanya dapat bercerita tentang kematian Arya Penangsang yang perkasa. Kini Sidanti terpaksa mengalami kegelisahan karena anak muda itu. Sepasang kakinya seolah-olah tidak lagi terjejak di atas tanah. Berloncatan dari satu sisi ke sisi lawannya yang lain.

Meskipun sebenarnya kemampuan Sutawijaya belum mengimbangi kesaktian Arya Penangsang yang sewajarnya, namun Sidanti tidak akan dapat bertahan untuk menghadapinya. Keringatnya mengalir dari segenap lubang-lubang kulitnya, dan bahkan dari telapak tangannya, sehingga gagang pedangnya serasa menjadi licin.

“Gila,” Sidanti menggeram di dalam hati. la tidak menyangka bahwa suatu ketika ia akan berhadapan dengan anak muda selincah itu. Ia pernah berkelahi melawan Agung Sedayu. Pernah pula berkelahi melawan Untara dan Macan Kepatihan. Namun terasa bahwa mereka belum dapat menyamai anak muda yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar ini.

Ki Tambak Wedi yang bertempur melawan Ki Gede Pemanahan melihat kesulitan muridnya. Ia melihat Sidanti terus-menerus terdesak mundur. Sidanti kini seakan-akan hanya tinggal mampu mencoba menyelamatkan dirinya.

Orang tua itupun mengumpat pula di dalam hatinya. la tidak rela apabila muridnya yang selalu dimanjakannya itu mendapat bencana. Karena itu, maka ia mencoba mencari jalan lain untuk menolong Sidanti. la sendiri tidak dapat meninggalkan Ki Gede Pemanahan yang pasti akan sangat berbahaya bagi orang-orangnya yang lain.

Di sudut lain Ki Tambak Wedi melihat Sanakeling bertempur dengan seorang perwira Wira Tamtama. Keduanya memiliki kemampuan yang seimbang, sehingga keduanya tidak segera dapat menguasai lawannya. Tetapi di sisi yang lain lagi Ki Tambak Wedi melihat Alap-alap Jalatunda bertempur dalam kerumuman yang ribut. Beberapa orang bertempur melawan dua orang perwira Wira Tamtama yang lain. Kedua Wira Tamtama itu ternyata mengalami banyak kesulitan, namun kawan-kawan mereka yang masih berada di atas punggung kuda selalu membantu mereka. Kuda-kuda mereka menyambar-nyambar dengan garangnya, menyerang orang-orang Jipang yang sedang bertempur itu.

Ki tambak Wedi menggeram keras. Dengan serta-merta, tanpa malu-malu ia berteriak, “Alap-alap Jalatunda. Supaya lekas selesai pakerjaan Sidanti, cepat, bantulah ia mengikat kaki dan tangan anak Pemanahan itu. Anak muda itu akan kita bawa ke lereng Merapi, supaya menjadi tontonan, betapa anak muda, yang diceritakan mampu membunuh Arya Penangsang itu, tidak dapat melepaskan diri dari tangan kalian.”

Alap-alap Jalatunda mendengar perintah itu. Segera ia meloncat mundur, melepaskan lawannya kepada kawan-kawannya yang lain. Ketika ia melihat berkeliling, ia melihat Sidanti dalam kesulitan. Karena itu dengan serta-merta ia meloncat, menerobos perkelahian yang hiruk-pikuk itu, mendekati lingkaran perkelahian Sidanti.

Sutawijaya yang melihat kehadiran lawannya yang lain mengerutkan keningnya. Lawannya yang baru inipun masih muda pula. Matanya memancar seperti mata burung alap-alap yang berputaran di udara mencari mangsa. Dengan demikian putera Ki Gede Pemanahan itu menyadari, bahwa pekerjaannya akan menjadi semakin berat. Demikian Alap-alap Jalatunda menerjunkan dirinya dalam perkelahian itu, segera terasa, bahwa ketrampilannya sangat mambantu ketangkasan Sidanti. Gabungan dari kecakapan mereka masing-masing terasa benar oleh Sutawijaya. Karena itu, terdengar anak muda itu menggeretakkan giginya. Ujung tombaknyapun menjadi semakin cepat berputar dan mematuk-matuk semakin dahsyat.

Sementara itu, di jalan yang menuju langsung ke Banjar Desa Sangkal Putung, Sonya masih berpacu di atas punggung kudanya. Darah yang merah segar mengalir tak henti-hentinya dari luka di kakinya, sedang bahunya serasa akan patah. Nafasnya yang sesak, satu-satu berdesakan di lubang hidungnya.

Tetapi Sonya masih tetap sadar akan kewajibannya. la dapat membayangkan apa yang kira-kira terjadi atas sepasukan kecil prajurit Wira Tamtama yang justru di antaranya adalah panglimanya sendiri.

Dengan menahan segala macam perasaan sakit, Sonya manghentak-hentakkan kendali kudanya, supaya berjalan lebih cepat.

Ketika ia memasuki desa kecil yang pertama, di hadapan gardu peronda ia memperlambat kudanya. Ketika ia melihat beberapa orang turun dari gardu dan berdiri di sisi-sisi jalan seberang-menyeberang, Sonya segera berhenti.

“Kakang Sonya,” sapa salah seorang dari mereka dengan sangat terkejut. “Kenapa lukamu itu?”

“Berapa orang di sini,” bertanya Sonya tanpa menghiraukan pertanyaan orang itu.

“Yang bertugas lima orang, tetapi di sini ada sepuluh orang.”

“Kenapa sepuluh?”

“Lima orang baru saja datang untuk menggantikan kami yang bertugas malam.”

“Bagus,” desis Sonya. “Yang delapan pergi cepat ke bulak sebelah. Di sebelah Timur simpang empat telah terjadi pertempuran. Orang-orang Jipang mencegat perjalanan para prajurit yang datang dari Pajang. Di antaranya Ki Gede Pemanahan.”

“He?” serentak kesepuluh orang itu menjadi kian terkejut. Hampir bersamaan pula mereka mengulang, “Ki Gede Pemanahan?”

“Ya,” sahut Sonya, “Jumlah orang Jipang itu jauh lebih banyak. Dipimpin oleh Ki Tambak Wedi. Kalian, delapan orang akan dapat membantu untuk sementara. Aku akan melaporkannya kepada Kakang Widura.”

“Baik,” sahut para prajurit Pajang itu.

Kembali Sonya memacu kudanya. Kembali ia bergulat dengan waktu dan perasaan sakitnya. Tetapi ia harus menyelesaikan perjalanannya itu. Ia harus sampai ke Banjar Desa Sangkal Putung.

Sepeninggal Sonya, maka delapan orang dari kesepuluh orang di gardu itu segera membenahi diriya. Mereka tidak mengenakan sepenuhnya kelengkapan untuk bertempur. Tetapi sebagai seorang prajurit, maka mereka harus dapat berbuat secepatnya. Dengan tergesa-gesa, bahkan berlari-lari kecil mereka menuju ke tempat yang ditunjuk oleh Sonya. Sebelah Timur simpang empat di tengah-tengah bulak di hadapan mereka.

Dari kejauhan mereka segera melihat debu yang mengepul tinggi. Karena itu, maka segera mereka mempercepat perjalanan mereka, mendekati pertempuran itu.

Kedatangan kedelapan orang itu segera diketahui oleh kedua belah pihak. Ki Gede Pemanahan pun melihat kedatangan mereka. Karena itu maka segera ia bertanya lantang, “Siapakah yang datang?”

Pertanyaan itu sebenarnya tidak penting baginya. la tahu bahwa orang-orang itu adalah prajurit Pajang. Namun jawabnya dapat mempengaruhi lawan-lawannya. Meskipun orang-orang Jipang itupun sudah tahu pula bahwa orang-orang itu adalah prajurit Pajang di Sangkal Putung, namun hati mereka berdesir juga ketika mereka mendengar jawaban, “Kami prajurit Pajang di Sangkal Putung, Ki Gede.”

“Kenapa hanya beberapa orang saja?” bertanya Ki Gede Pemanahan sambil menghindari serangan Ki Tambak Wedi.

“Kami adalah peronda di gardu dari desa sebelah. Kakang Sonya sedang meyampaikan berita ini langsung ke pusat kademangan Ki Gede.”

“Bagus. Ayo, mulailah. Aku ingin melihat, apakah selama kalian berada di Sangkal Putung kalian masih dapat berkelahi dengan baik.”

Ki Tambak Wedi menggeram keras sekali. la tahu benar, betapa Ki Gede Pemanahan mempergunakan percakapan itu untuk mempengaruhi perasaan orang-orang Jipang. Karena itu maka segera ia berteriak, “He orang-orang Pajang yang malang. Mari, marilah kalian datang agak terlambat. Setelah lebih dari separo kawan-kawanmu yang datang dari Pajang binasa, baru kalian datang membantu. Akibatnya, kalianpun akan tenggelam dalam arus ke-marahan orang-orang Jipang. Alangkah bodohnya pimpinan-pimpinanmu di Sangkal Putung yang percaya kepada cara kami membuat Sangkal Putung hancur lebur. Kalian menyangka bahwa kami akan benar-benar menyerah. Tak ada seorang prajurit Jipang pun yang bersedia menyerah. Sebentar lagi dari arah yang lain akan datang induk pasukan di bawah pimpinan Sumangkar sendiri.

Tetapi Ki Gede Pemanahan pun segera meyahut, “Kalau benar demikian, alangkah marahya kami. Karena itu, ayo binasakan orang-orang Jipang yang curang.”

Ki Tambak Wedi tidak sempat untuk menyahut. Kedelapan orang Pajang itu kini telah terjun ke medan pertempuran yang kalut itu. Meskipun demikian, tenaga mereka yang segar itu ternyata berpengaruh juga. Orang-orang Pajang kini mendapat kesempatan untuk sedikit bernafas, meskipun jumlah mereka sama sekali masih belum seimbang, tetapi kedelapan orang itu sudah tentu akan dapat menambah daya perlawann mereka, setidak-tidaknya memperpanjang waktu.

Dalam pada itu kedatangan Sonya telah menggemparkan halaman Banjar Desa Sangkal Putung. Dengan wajah yang tegang Untara dan Widura meyambut kedatangan Sonya yang hampir kehabisan tenaga. Demikian Sonya berhenti di muka pendapa Banjar Desa demikian ia disambut oleh Widura, dan dibantunya turun dari kudanya, tetapi Sonya telah begitu lemah karena terlampau banyak darah yang mengalir dari lukanya. Ki Tanu Metir yang melihatnya dengan tergopoh-gopoh segera mengambil reramuan obat-obatan untuk menghentikan arus darah yang masih saja mengalir dari luka yang menganga di kaki Sonya itu, setelah Sonya dibawanya naik ke pendapa.

Tetapi Sonya merasa perlu untuk segera menyampaikan berita tentang peristiwa yang dilihatnya.

Karena itu, betapa perasaan sakit serasa menghunjam sampai ke pusat jantungnya, namun dengan penuh kesadaran atas kewajibannya ia berkata terbata-bata di sela nafasnya yang terengah-engah. “Aku telah bertemu dengan Ki Gede Pemanahan.”

“Ya,” sahut Untara, “tetapi kenapa kau terluka?”

“Aku membawa rombongan prajurit yang datang itu memasuki Kademangan Sangkal Putung.”

“Ya.”

“Semua berjumlah duapuluh orang.”

Untara terkejut. “Jumlah itu terlampau sedikit. Apalagi di antaranya terdapat Panglima Wira Tamtama sendiri.”

“Dengan jumlah yang sedikit itu Ki Gede Pemanahan ingin membuat kesan bahwa Sangkal Putung telah benar-benar menjadi aman seperti laporan yang diterimanya,” berkata Sonya seterusnya.

Dada Untara berdesir. la sendiri yang membuat laporan itu. Menurut tanggapannya, Sangkal Putung pasti akan segera menjadi aman. Apabila kelak terjadi benturan-benturan berikutnya, maka pusat kegiatan orang-orang Jipang dan Sidanti pasti akan berpindah ke lereng Merapi. Sebab menurut Kiai Gringsing, Sanakeling dan orang-orangnya telah pergi mengikuti Ki Tambak Wedi ke padepokannya.

Tetapi menilik keadaan, pasti terjadi sesuatu dengan Ki Gede Pemanahan dengan rombongannya.

Dalam pada itu Sonya berkata dengan terputus-putus. Badannya menjadi bertambah lemah. Namun kata-katanya masih terdengar jelas, “Rombongan kami ternyata dicegat oleh orang-orang Jipang. Kali ini dipimpin oleh Ki Tambak Wedi, Sanakeling, Sidanti dan aku tidak tahu siapa lagi. Aku hanya melihat mereka sepintas lalu memotong jalanku. Untunglah aku dapat melepaskan diri dari mereka meskipun aku terluka. Luka pedang ini tidak begitu sakit selain darah yang terlampau banyak mengalir, tetapi bahuku serasa remuk oleh gelang-gelang besi ki Tambak Wedi.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Kalau demikian, maka ia harus segera merawat luka dalam yang dialami oleh Sonya di bahunya. Tetapi dibiarkannya Sonya berkata terus. “Seterusnya aku barpacu kemari. Jumlah orang Jipang itu agaknya terlampau banyak.”

Dada Untara serasa akan pecah. Dengan wajah tegang ia memandang Kiai Gringsing yang keningnya semakin berkerut-kerut. Seolah-olah Untara ingin menuntut suatu pertanggungan jawab dari orang tua itu. Kenapa orang-orang Jipang itu tiba-tiba saja berada di perjalanan Ki Gede Pemanahan, sedang menurut keterangan Kiai Gringsing dan kemudian diperkuat oleh Sumangkar, orang-orang Jipang itu telah berada di padepokan Ki Tambak Wedi.

Pancaran mata Untara itu benar-benar terasa menusuk dada Kiai Gringsing. la segera merasa, bahwa pertanggungan jawab atas peristiwa ini seolah-olah ada padanya, meskipun Untara telah dipertemukannya sendiri dengan Sumangkar.

Tetapi perasaan Kiai Gringsing telah cukup mengendap karena perbendaharaan pengalamannya, sehingga dengan segera ia dapat mengurai keadaan. Ketajaman pandangan dan kecepatan menemukan hubungan antara persoalan-persoalan yang diamatinya, telah membawa Kiai Gringsing ke dalam persoalan yang sewajarnya.

Orang tua itupun kemudian mengangguk-anggukan kepalanya. Dengan tenang ia berkata, “Ini adalah pokal Ki Tambak Wedi. Aku tidak tahu, apakah ia dengan sengaja dan sadar mencegat perjalanan Ki Gede Pemanahan, atau suatu kebetulan. Tetapi adalah maksud Ki Tampak Wedi datang ke Sangkal Putung tepat pada hari yang dijanjikan oleh Sumangkar, untuk mengacau keadaan. Kegagalan yang terjadi akan memberinya peluang untuk bertindak. la mengharap, baik orang-orang Jipang yang tidak sependirian dengan mereka, maupun orang Pajang akan terlibat dalam pertentangan perasaan yang akan dapat meledak. Ki tambak Wedi kini sedang meletakkan api pada minyak yang sedang tergenang. Kalau kita kurang berhati-hati, maka kita akan dapat terbakar karenanya.”

Untara menggeretakkan giginya. Sebagian besar dari keterangan itu dapat dimengerti, tetapi kemarahannya telah membakar ubun-ubunnya.

Apalagi ketika kemudian Sonya berkata, “Ki Gede Pemanahan dan para pengawalnya kini pasti telah terlibat dalam pertempuran.”

Wajah Untara segera menjadi merah membara. Dengan serta-merta ia berteriak nyaring kepada seorang penghubung yang berdiri di ujung pendapa, “Cepat siapkan kudaku!”

Orang itu terkejut. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Segera ia berlari untuk mempersiapkan kudanya.

“Apakah kau akan pergi seorang diri Untara?” bertanya pamannya.

Untara menggigit bibirnya. Kemudian ia bertanya, “Berapakah jumlah orang-orang Jipang?”

Sonya yang sedang meyeringai menahan sakit berdesah, “Aku tidak tahu pasti, tetapi mereka tidak akan lebih dari tujuh puluh orang.”

Darah Untara tersirap mendengar jumlah itu. Ki Gede Pemanahan hanya membawa duapuluh orang ditambah dengan penghubungnya yang hanya tinggal empat orang. Karena itu, maka deagan degup jantung yang semakin cepat ia berkata kepada Widura, sebagai seorang senapati kepada bawahannya, “Paman Widura, siapkan dua puluh lima orang prajurit berkuda.” Meskipun demikian pertanggungan jawabnya sebagai seorang pemimpin masih memberinya kesadaran untuk berkata, “Biarlah Hudaya pergi bersama aku. Paman tinggal di sini supaya orang-orang Jipang yang terluka di dalam banjar ini tidak menjadi korban kemarahan para prajurit yang kemudian pasti mendengar apa yang telah terjiadi atas Sonya dan Panglima Wira Tamtama. Tetapi apabila kemudian benar-benar orang-orang Jipang itu berbuat curang, maka aku sendiri yang akan memenggal leher mereka di alun-alun di depan banjar ini.”

Widura tidak menjawab. Diserahkannya Sonya yang luka itu kepada Kiai Gringsing dan beberapa orang yang sedang bertugas di halaman itu, yang berdatangan kemudian setelah mereka melihat Sonya terluka. Namun Untara sempat berkata, “Sonya, cobalah merahasiakan apa yang telah terjadi atasmu untuk menjaga ketenangan keadaan.”

Sonya mengangguk lemah. Tetapi ia tidak dapat mengerti kenapa hal itu mesti harus dirahasiakan.

Beberapa orang yang berada di alun-alun melihat Sonya berpacu seperti dikejar hantu. Tetapi karena jarak yang tidak terlampau dekat, serta banyak peristiwa-peristiwa yang tak dapat mereka mengerti yang terjadi pagi itu maka orang-orang di alun-alunpun tidak bayak memperhatikanya lagi.

Sementara itu, orang-orang yang bertugas di halaman dan mengerumuni Sonya, telah memapah Sonya ke Gandok Wetan. Dibaringkannya Sonya di sudut gandok itu untuk segera mendapat pengobatan dari Kiai Gringsing. Namun segera setelah Kiai Gringsing memberikan pertolongan pertama, ditinggalkannya Sonya dan dengan tergesa-gesa orang tua itu kembali mendekat Untara yang dengan gelisah menunggu kudanya.

Tetapi sudah tentu Widura tidak segera dapat mengumpulkan dua puluh lima ekor kuda di banjar desa itu. la harus mengumpulkan segenap kuda prajurit Pajang yang tersebar di seluruh kademangan, pada gardu-gardu peronda yang penting.

Di dalam banjar desa itu, yang segera dapat dikumpulkan adalah baru sepuluh ekor kuda, tetapi segera Untara berkata, “Biarlah kami bersepuluh berangkat dahulu. Yang lain segera menyusul. Dua tiga, empat atau lima. Tidak perlu menunggu sampai limabelas sekaligus sepeninggalku.”

Widura pun segera menjadi sibuk. Beberapa orang yang melihatnya menjadi heran. Apakah yang sebenarnya telah terjadi. Hanya orang-orang di dalam halaman sajalah yang melihat, bahwa sebenarnya Sonya telah terluka dan Widura menjadi sedemikian sibuknya mengumpulkan beberapa ekor kuda.

Para petugas yang harus meyediakan kuda-kuda itupun menjadi sibuk pula. Dengan tergesa-gesa mereka menyiapkan kuda-kuda itu di muka pendapa.

Setelah kuda yang sepuluh itu siap, maka segera Widura memerintahkan memanggil Hudaya dan beberapa orang untuk ikut serta bersama Untara ke tempat pertempuran itu terjadi.

Agung Sedayu yang datang kemudianpun menjadi terheran-heran. la melihat betapa wajah kakaknya menjadi tegang dan sepuluh ekor kuda telah siap di halaman.

Dengan hati-hati ia kemudian bertanya kepada gurunya, “Apakah yang telah terjadi Kiai?”

Dengan singkat Kiai Gringsing mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan apa yang didengarnya itu telah menggetarkan dadanya pula. Karena itu ketika tiba-tiba ia mendengar suara kakaknya memanggil, dengan tergopoh-gopoh ia mendekatinya.

“Kau ikut bersamaku,” perintah kakaknya.

“Baik Kakang,” sahut, Agung Sedayu. Karena Agung Sedayu telah mendengar apa yang terjadi maka segera iapun menyiapkan pedangnya dan membenahi pakaiannya.

Sesaat kemudian berkumpulah sepuluh orang di halaman. Wajah mereka memancarkan berbagai pertanyaan yang tersimpan di dalam hati mereka.

Di antara mereka itu adalah Hudaya yang dipanggil dari alun-alun di muka banjar desa itu.

Dengan singkat dan tergesa-gesa Untara berkata kepada mereka, “Kalian ikut dengan aku. Bawa senjatamu. Mungkin kita akan berhadapan dengan bahaya.”

Hudaya mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia sempat bertanya, Untara berkata pula, “Tak ada kesempatan untuk membicarakan masalah ini. Siap di atas punggung kuda. Kita berangkat. Hanya ada sepuluh ekor kuda. Dua di antaranya untuk aku dan Agung Sedayu.”

Para prajurit Pajang itu benar-benar tidak mendapat kesempatan untuk bertanya. Untara segera meloncat ke atas punggung kudanya diikuti oleh Agung Sedayu. Meskipun berbagai pertanyaan bergelut di dalam hati masing-masing, namun kedelapan ekor kuda yang lainpun segera berpenumpang di punggungnya.

“Aku akan berangkat sekarang Paman. Aku serahkan segala kebijaksanaan di sini kepada Paman dan Kiai Gringsing,” berkata Untara. “Mudah-mudahan Ki Tambak Wedi tak akan dapat melampaui kesaktian Ki Gede. Kalau demikian, mungkin salah seorang dari kami akan datang kembali menjemput Kiai.”

“Baik,” jawab Widura singkat.

Untara tidak berkata apapun lagi. Segera ia menggerakkan kendali kudanya, dan kuda itupun segera meloncat diikuti oleh kuda-kuda yang lain. Meskipun demikian, perkataan Untara yang terakhir itupun menambah pertanyaan yang melingkar-lingkar di dalam hati para prajurit Pajang yang lain.

Kesepuluh ekor kuda itupun kemudian berpacu seperti angin meninggalkan halaman banjar desa, menghambur-hamburkan debu yang putih mengepul tinggi ke udara.

Kembali para prajurit Pajang dan anak-anak muda Sangkal Putung bertambah heran. Bahkan Ki Demang dan Swandaru yang kemudian berada di antara anak-anak muda Sangkal Putung di lapangan di muka banjar desa itupun melihat kuda yang berpacu itu sambil bersungut-sungut. Tetapi mereka tidak ingin menanyakannya kepada Widura. Sebab terasa bahwa ada sesuatu yang memang dirahasiakan. Sehingga apa yang terjadi itupun mereka sangka, adalah rangkaian dari persoalan-persoalan yang memang dirahasiakan dan telah direncanakan.

Tetapi Untara sendiri berpacu dengan hati yang gelisah. Kudanya serasa berlari terlampau lamban. Kalau ia terlambat sampai di tempat pertempuran itu, dan para prajurit Wira Tamtama yang dipimpin sendiri oleh Gede Pemanahan mengalami bencana, maka lehernya akan menjadi taruhan, bukan soal yang menyedihkannya, tetapi seluruh Wira Tamtama akan kehilangan panglimanya karena kesalahannya. Memang dalam laporan yang disampaikan ke Pajang, seakan-akan Sangkal Putung telah menjadi aman. Ternyata yang terjadi adalah benar-benar memalukannya. Karena itu, maka dipacunya kudanya secepat-cepatnya, supaya ia dan kawan-kawannya tidak terlampau lambat sampai.

Hudaya dan kawan-kawannya berpacu sambil saling berpandangan. Namun firasat keprajuritan mereka telah mengatakan, bahwa mereka sedang berhadapan dengan bahaya.

Ternyata Untara tidak membiarkan mereka berteka-teki sepanjang jalan. Ketika kuda-kuda itu telah meninggalkan induk kademangan, maka berkatalah Untara tanpa berpaling, “Kita akan bertempur melawan pecahan orang Jipang yang hari ini tidak ingin melihat kawan-kawannya kami terima dengan baik.”

Hudaya mengerutkan keningnya. Tetapi ia bertanya, “Kenapa kita hanya bersepuluh?”

“Orang-orang Jipang itu tidak terlampau banyak. Mereka telah terlibat dalam pertempuran melawan prajurit-prajurit Pajang yang hari ini datang ke Sangkal Putung untuk mengawal Ki Gede Pemanahan.”

“Ki Gede Pemanahan?” Hudaya mengulangi.

“Ya.”

Hati para prajurit itu berdesir. Ki Gede Pemanahan adalah panglima mereka, meskipun satu dua di antara mereka ada yang belum pernah melihatnya. Namun namanya telah menjadi buah bibir segenap prajurit Wira Tamtama.

Kuda mereka berpacu terus. Sementara itu Hudaya berkata, “Aku sudah menyangka, orang orang Jipang tidak dapat dipercaya. Mereka membiarkan sebagian dari mereka untuk berpura-pura menyerah. Kemudian mereka menyerang pada hari yang sebenarnya ditentukan untuk menerima mereka. Namun orang-orang Jipang yang lain akan berdatangan pula, tidak untuk menyerah, tetapi untuk menjadikan Sangkal Putung ini karang abang.”

“Marilah kita lihat apa yang sebenarnya terjadi,” berkata Untara kemudian. “Tetapi jangan terlampau terburu nafsu.”

Hudaya tidak menjawab. Tetapi kebenciannya kepada orang-orang Jipang semakin melonjak. Karena itulah maka tiba-tiba ia menggeretakkan giginya. Dan tanpa sadarnya tangan kirinya membelai hulu pedangnya.

Kini mereka menyusup ke dalam sebuah desa kecil. Mereka melihat sebuah gardu di pinggir jalan. Beberapa orang penjaganya telah turun dan berdiri di sisi jalan. Namun Untara tidak memperlambat kudanya. Tetapi sekali ia berteriak lantang, “Hati-hati, awasi keadaan baik-baik.”

Para penjaga di gardu itu melihat kuda-kuda itu berpacu dengan mulut ternganga. Belum lama berselang ia melihat Sonya yang luka berpacu ke arah yang berlawanan. Sebelumnya, di pagi pagi buta Sonya menempuh jalan ini pula berlima. Para penjaga itu merasa bahwa ada sesuatu yang tidak wajar telah terjadi.

Ketika mereka memandangi kuda-kuda yang berpacu maka yang tampak kemudian adalah debu yang putih mengepul tinggi ke udara. Kuda-kuda itu masih harus berlari melampaui sebuah desa lagi, barulah kemudian mereka sampai ke bulak yang agak panjang. Di bulak itulah pertempuran antara orang-orang Jipang dan para prajurit Pajang terjadi.

Di ujung desa itupun ada sebuah gardu pula. Tetapi yang berada di dalamnya tinggal dua orang. Yang lain telah mendahului membantu para prajurit Pajang yang bertempur di tengah-tengah bulak itu.

Berkali-kali Untara mencoba mempercepat lari kudanya, yang seakan-akan terlampau malas. Di belakangnya berurutan sembilan orang yang lain. Di antaranya Agung Sedayu. Dengan dahi yang berkerut-kerut Agung Sedayu sekali-sekali mengusap debu yang melekat di wajahnya yang berkeringat, meskipun matahari belum terlampau tinggi.

Di tengah-tengah bulak itu pertempuran, kian lama menjadi kian seru. Kedua belah pihak telah mengerahkan tenaga sejauh-jauh mungkin. Pakaian mereka telah basah oleh keringat, dan wajah-wajah mereka telah menjadi merah hitam. Di antara mereka, para prajurit Pajang dan orang-orang Jipang itu telah menjadi waringuten. Tetapi karena jumlah orang-orang Jipang itu terlampau banyak bagi para prajurit Pajang, maka betapapun juga, ternyata para prajurit Pajang mengalami beberapa kesulitan.

Mas Ngabehi Loring Pasar, yang harus bertempur melawan Sidanti berdua dengan Alap-alap Jalatunda ternyata mampu mengimbanginya. Meskipun anak yang masih sangat muda itu sekali-sekali mengalami kesulitan, tetapi kelincahannya telah melepaskannya dari setiap usaha lawannya untuk membinasakannya. Namun dengan demikian berkali-kali Sutawijaya harus bergeser mundur. Berkali-kali ia harus meloncat menghindar jauh-jauh untuk mendapat jarak yang wajar dari kedua lawannya. Meskipun Alap-alap Jalatunda tidak dapat berbuat selincah Sidanti, tetapi beberapa kali Alap-alap yang muda itu berhasil menjebaknya untuk memberi kesempatan pada Sidanti menyerangnya dengan serangan-serangan maut.

Anak muda yang mengagumkan itupun telah bermandi keringat. Berkali-kali terdengar ia menggeram. Betapa kemarahannya membakar darahnya, tetapi ia masih bertempur dengan segenap perhitungan. Apalagi menghadapi sepasang anak-anak muda yang cukup memiliki bekal untuk melawannya.

Sementara itu Ki Gede Pemanahan pun kini telah bertempur dengan sengitnya melawan Ki Tambak Wedi. Kalau semula Ki Gede Pemanahan masih mencoba bertahan sambil memperhatikan setiap prajuritnya, maka kini ia berpendirian lain. Ia harus segera mengalahkan lawannya. Kemudian ia akan banyak mendapat kesempatan, meskipun ia tidak akan melepaskan sama sekali perhatiannya terhadap pertempuran itu dalam keseluruhannya. Dengan demikian, maka pertempuran antara keduanya, antara ki Gede Pemanahan dan Ki Tambak Wedi menjadi semakin seru. Masing-masing adalah orang-orang sakti pilih tanding.

Namun, bagaimanapun juga Ki Gede Pemanahan tidak dapat melepaskan pengaruh keadaan di sekitarnya. Untunglah bahwa ia masih tetap di atas punggung kudanya, sehingga kesempatan masih lebih banyak baginya daripada lawannya.

Demikianlah peperangan itu menjadi bertambah seru. Namun ternyata bahwa para prajurit Pajang kini telah benar-benar terdesak. Beberapa kali mereka terpaksa berkisar mendekati Sangkal Putung, sedang kawan-kawan mereka yang masih berada di atas punggung kuda mencoba melindungi mereka. Sekali-sekali kuda-kuda yang menyambar-nyambar itupun masih juga mampu untuk membuat orang-orang Jipang menjadi bingung.

Ki Gede Pemanahan dan Ki Tambak Wedi menyadari keadaan itu. Karena itu Ki Tambak Wedi sempat tertawa sambil berkata, “Jangan menyesal Ki Gede Pemanahan, perwira tertinggi Wira Tamtama. Aku sudah kehilangan kesabaran, sehingga kesempatan yang aku berikan telah aku cabut kembali. Yang akan terjadi adalah, Untara akan datang dan akan menemukan mayatmu dan mayat orang-orangmu. Sedang anakmu akan aku bawa ke padepokanku akan aku jadikan tontonan bagi para prajurit Jipang. Inilah orangnya yang langsung menghujamkan tombak ke lambung Arya Penangsang dengan akal yang sangat curang.”

Tetapi alangkah kecewanya Ki Tambak Wedi. Ia mengharap Ki Gede Pamanahan menjadi tegang dan mengumpat-umpat. Tetapi ternyata Ki Gede Pemanahan itu tersenyum sambil menjawab, “Aku akan mengucapkan selamat Ki Tambak Wedi seandainya kau mampu berbuat begitu.”

“Kau masih mencoba mengingkari kenyataan ini?” Ki Tambak Wedi-lah yang membentak-bentak. Sementara itu kuda Ki Gede Pemanahan menyambarnya. Ujung Keris Kiai Naga Kemala hampir-hampir saja menyentuh tengkuknya.

“Setan!” teriaknya.

Ki Gede Pemanahan tertawa. Katanya, “Kenapa kau mengumpat Ki Tambak Wedi. Apakah anak buahmu hampir binasa?”

Ki Tambak Wedi meloncat maju menyerang Ki Gede Pemanahan. Tetapi Ki Gede Pemanahan benar-benar tangkas, sehingga usahanya sia-sia. Ki Tambak Wedi benar-benar menjadi sangat marah menghadapi panglima Wira Tamtama ini. Ia benar-benar hampir tak berdaya. Apalagi Ki Gede Pemanahan masih saja berada di punggung kudanya, sehingga tiba-tiba hantu lereng Merapi itu berteriak, “Ayo, kalau kau jantan, turun dari kudamu!”

“Ki Tambak Wedi,” sahut Pemanahan, “apakah kau juga akan bersikap jantan?”

“Tentu!” teriak Ki Tambak Wedi.

“Apakah kau bersedia menjadi penentu dari pertempuran ini bersama aku. Ayo, aku akan turun dari kuda, dan aku akan tetap mempergunakan kerisku ini untuk melawanmu. Tetapi akibat dari perkelahian itu akan menentukan keadaan kita semuanya. Meskipun kemudian Untara datang, tetapi keadaan tidak akan berubah, kau dan aku, pertempuran itu akan barlangsung sampai tuntas. Salah seorang dari kita akan mati, atau menyerah. Kau setuju?”

“Kau benar-benar licik seperti anak demit. Ketika kau melihat anak buahmu akan binasa, kau mengajukan syarat itu,” sahut Ki Tambak Wedi, “Kita bertemu dalam keadaan ini. Aku dengan orang-orangku dan kau dengan orang-orangmu. Biarlah kita semuanya yang menentukan keadaan ini.”

“Bagus. Kita bertemu dalam keadaan ini. Kau di atas kedua kakimu, aku di atas punggung kuda. Biarlah keadaan ini menentukan akhir dari pertempuran.”

Ki Tambak Wedi menggeram sambil mengumpat habis-habisan. Namun betapa ia mengerahkan tenaganya, tetapi Ki Gede Pemanahan, Panglima Wira Tamtama itu, bukanlah Widura, Untara, atau Agung Sedayu yang dapat dipijitnya semudah memijit ranti. Bahkan terasa bahwa semakin lama tandang Ki Gede Pemanahan itupun menjadi semakin garang.

Namun keseluruhan dari pertempuran itu benar-benar tidak menguntungkannya. Berkali-kali anak panglima itu, Sutawijaja, terpaksa berloncatan surut. Orang-orang Jipang yang datang seakan-akan sengaja mengurungnya dan menahan setiap prajurit Pajang yang datang di atas punggung kuda. Tetapi Mas Ngabehi Loring Pasar, betapa kemarahan mencengkam dirinya, ia masih tetap mempergunakan perhitungan yang baik dalam melawan sepasang musuhnya itu.

Namun keadaan para prajurit yang lain ternyata agak lebih sulit. Mereka bertempur dalam kelompok-kelompok untuk menghindarkan diri dari sergapan dari arah yang tak dikehendaki. Namun lawan mereka telah mencoba menekan mereka sekuat-kuatnya. Kedua pihak adalah prajurit-prajurit pilihan dari dua kadipaten yang saling bermusuhan, sehingga dendam dan kebencian ikut pula berbicara dalam pertempuran itu.

Matahari di langit merayap semakin tinggi. Sinarnya yang cerah memancar berserakan di atas wajah bumi. Di atas dedaunan dan batang-batang jagung muda. Namun di sekitar pertempuran itu batang jagung telah rusak ditebas oleh kaki-kaki kuda dan kaki-kaki para prajurit yang sedang bertempur. Semakin lama semakin luas, berkisar dari satu titik ke titik yang lain. Sedang kuda-kuda para prajurit Pajang kadang-kadang berlari-lari melingkari daerah yang lebih luas lagi untuk mengambil ancang-ancang. Kuda-kuda itu seolah-olah burung rajawali yang melayang di udara, yang kemudian menukik dengan garangnya menyambar mangsanya. Tetapi orang-orang Jipang menyongsongnya dengan pedang di tangan.

Dalam pertempuran yang hiruk-pikuk itu, Ki Tambak Wedi telah mencoba untuk mempercepat penyelesaian. Berkali-kali ia berteriak memberikan aba-aba kepada Sanakeling dan orang-orang lain supaya mempercepat pekerjaan mereka. Tetapi pekerjaan itu bukan pekerjaan yang dapat ditentukan oleh sepihak, sehingga Ki Tambak Wedi itu seolah-olah tidak lagi dapat bersabar menunggu. Namun demikian pekerjaannya sendiri tidak dapat juga segera dapat diselesaikan.

Demikianlah, pertempuran itu berjalan terus. Bagaimanapun juga Ki Gede Pamanahan tidak dapat mengingkari kenyataan. Keadaan anak buahnya memang terlampau sulit. Bahkan ada di antaranya yang telah terluka dan jatuh menjadi korban.

Dalam keadaan yang demikian itulah Untara memacu kudanya bersama beberapa orang prajurit Pajang yang berada di Sangkal Putung. Setiap kali Untara selalu melecut kudanya, supaya berlari lebih cepat. Kini ia telah memasuki bulak jagung. Sebentar lagi ia akan sampai di tempat yang ditunjuk oleh Sonya. Tetapi kudanya serasa berlari terlampau lamban, seolah-olah sengaja memperlambat agar ia tidak datang tepat pada waktunya. Karena itu kegelisahan di dada Untara semakin lama menjadi semakin menyala.

Seolah-olah ia ingin meloncat mendahului derap kaki kudanya. Tetapi hal itu sudah tentu tidak dapat dilakukannya. Ia harus bersabar dan tetap di atas punggung kuda yang dirasanya sangat malas itu.

Meskipun demikian, meskipun kudanya dirasanya terlampau lamban, namun akhirnya Untara itu melihat debu yang berhamburan di balik pohon-pohon jagung muda. Ketika jalan yang ditempuhnya sedikit menanjak, maka dadanya seolah-olah berdentangan.

Kini ia melihat, meskipun tidak seluruhnya karena tertutup oleh batang-batang jagung, betapa riuhnya pertempuran yang telah terjadi antara para prajurit Pajang yang dipimpin sendiri oleh Ki Gede Pemanahan dan orang-orang Jipang yang dipimpin oleh ki Tambak Wedi.

Tanpa sesadarnya, Untara mencambuk kudanya sejadi-jadinya. Kuda itupun terkejut dan meloncat sambil meringkik kecil. Larinya menjadi semakin bertambah cepat sehingga Untara meninggalkan kawan-kawannya beberapa langkah di belakang.

Agung Sedayu pun mencambuk kudanya pula. Demikian juga kawan-kawannya. Mereka seolah-olah menjadi tidak bersabar lagi menunggu langkah kaki-kaki kuda itu. Demikian bernafsunya Untara sehingga sebelum mencapai tempat pertempuran itu, tangannya telah menggenggam pedang. Diacung-acungkannya pedangnya seperti sedang menghalau burung di sawah.

Ki Tambak Wadi yang bertempur dengan serunya melawan Ki Gede Pemanahan terkejut melihat kilatan pedang di kejauhan. Kemudian tampak sebuah kepala muncul di atas batang-batang jagung. Disusul oleh yang lain, yang lain lagi seperti berkejar kejaran.

Dada orang tua itu berdesir. Orang yang datang itu tidak terlampau banyak. Tetapi yang tidak terlampau banyak itu pasti segera akan merubah keseimbangan. Karena itu tiba-tiba ia menggeram. Betapa kemarahan membakar dadanya. Orang-orang Jipang benar-benar tidak memberinya kepuasan. Mereka bertempur seperti mengejar-ngejar tupai saja, tidak cekatan dan tidak bertenaga. Ketika musuh-musuh mereka masih terlampau lemah mereka tidak segera dapat mengalahkan dan membinasakan. Apalagi kini datang lagi beberapa orang berkuda. Maka keadaan orang-orang Jipang pasti tidak akan sebaik semula.

Kemarahan Ki Tambak Wedi itu semakin memuncak ketika ia mendengar Ki Gede Pemanahan tertawa sambil berkata, “Kau sedang menghitung pedang yang datang itu, bukan, Ki Tambak Wedi?”

“Persetan!” geram Ki Tambak Wedi. “Kalau aku menjadi Hadiwijaya dari Pajang, aku malu mempunyai Panglima semacam kau ini. Panglima yang hanya dapat mengharap orang lain datang memberi bantuan. Kenapa kau tidak berusaha memenangkan pertempuran dengan kekuatan yang ada padamu? Kenapa kau menggantungkan dirimu dari bantuan yang bakal datang dengan memperpanjang waktu?”

Ki Gede Pemanahan mengerutkan keningnya. Ia benar-benar tersinggung mendengar kata-kata itu, sehingga sekali lagi ia mengulangi tantangannya, “Ki Tambak Wadi, kalau kau tidak mau melihat prajurit-prajurit Pajang yang jumlahnya jauh lebih kecil dari orang-orangmu ini mendapatkan kemenangan, maka marilah, kita berhadapan langsung di dalam arena. Biarlah aku layani seandainya kau ingin melihat Pemanahan lepas dari kedudukannya, yang dapat memanggil tidak saja prajurit-prajurit Pajang di Sangkal Putung, tetapi seluruh Prajurit di segenap sudut Pajang untuk menangkap dan menggantungmu di alun-alun Pajang. Kalau kau ingin melihat Pemanahan sendiri yang terpisah dari prajurit-prajuritnya, marilah, biarlah para prajurit dari kedua belah pihak melihat, siapa di antara kita orang tua-tua ini yang masih cukup mampu bermain loncat-loncatan.”

Sekali lagi Ki Tambak Wedi menggeram, tantangan itu benar-benar menusuk pusat jantungnya. Betapa ia ingin melayaninya seandainya ia tidak sedang dalam keadaan yang sulit. Ia harus cepat melihat keadaan dalam keseluruhannya. Karena itu maka, tiba-tiba ia bersuit panjang. Sebelum Untara sampai ke tempat pertempuran itu, anak buahnya harus sudah mengundurkan diri dan mencoba menghilang di antara tanaman-tanaman jagung muda. Seterusnya mereka akan menyusup ke dalam sebuah tegalan dan segera mereka akan sampai ke rumpun-rumpun bambu liar.

Ki Gede Pemanahan, meskipun tidak tahu arti daripada siutan itu menurut persetujuan orang-orang Jipang, tetapi ia sudah dapat menduga. Ada dua kemungkiman yang bakal terjadi. Ki Tambak Wedi memanggil pasukan cadangannya, atau orang-orangnya yang telah bertempur di arena itu harus mengundurkan diri.

Namun dalam pada itu terdengar Ki Tambak Wedi berkata lantang, “Tunggu sampai matahari mencapai puncaknya, Sangkal Putung akan dilanda arus induk pasukan Jipang yang akan datang dari Barat. Mereka akan dipimpin oleh Adi Sumangkar, saudara muda seperguruan Patih Mantahun. Bukankah kau telah mengenalnya pula Pemanahan? Aku akan datang kembali bersama-sama dengan mereka.”

Belum lagi kata-kata itu habis diucapkannya, maka Ki Gede Pemanahan telah melihat orang-orang Jipang itu berkisar surut begitu cepat, sehingga ia tidak mendapat kesempatan untuk memberikan perintah lain. Orang-orang Jipang itu bertempur sambil mengambil ancang-ancang. Namun dalam pada itu, seperti jengkerik yang lenyap ke dalam liangnya, mereka menyusup satu-satu ke dalam lindungan batang-batang jagung. Orang-orang Pajang yang telah melihat kehadiran sepasukan kecil dari Sangkal Putung menjadi berbesar hati, sehingga dengan demikian mencoba mengejar orang-orang Jipang itu. Namun orang-orang Jipang berlari berpencaran. Kadang-kadang satu dua di antara mereka masih juga menyergap dengan tiba-tiba di dalam rimbunnya daun jagung yang hijau, namun kemudian mereka kembali menghilang. Sehingga dengan demikian amat sulitlah untuk dapat mengejar mereka dengan sebaik-baiknya. Sehingga karena itu, maka akhirnya mereka terpaksa melepaskan orang-orang Jipang itu menghilang.

Untara datang terlambat. Pertempuran di bulak jagung itu telah selesai. Yang dilihatnya tinggallah bekas-bekasnya. Darah dan beberapa sosok mayat dari kedua belah pihak.

Darah Untara serasa membeku ketika ia melihat Ki Gede Pemanahan duduk di atas punggung kudanya. Tangannya masih menggenggam keris Kiai Naga Kemala, sedang peluhnya seperti terperas dari tubuh membasahi segenap pakaiannya. Apalagi ketika kemudian dilihat oleh Untara, seorang anak muda yang menggenggam tombak di tangannya. Tombak yang sama sekali masih belum membekas darah, tetapi pakaian anak muda itu sendiri telah diwarnai oleh darahnya sendiri. Ternyata lengan Sutawijaya telah terluka justru oleh Alap-alap Jalatunda, bukan oleh Sidanti. Pedang Alap-alap muda itu berhasil menyentuh lengan Mas Ngabehi Loring Pasar. Agaknya perhatian Sutawijaya lebih banyak ditujukan kepada Sidanti, sehingga Alap-alap Jalatunda mendapat kesempatan lebih banyak, tetapi anak muda itu tersenyum dan menyapa, “Kau baru datang Kakang Untara, kami baru saja bujana andrawina. Sayang, kau tidak dapat ikut serta.”

Untara tidak menjawab, tetapi segera ia meloncat dari kudanya dan menghadap ki Gede Pemanahan sambil membungkuk dalam-dalam. “Aku mohon maaf Ki Gede.”

Ki Gede Pemanahan tersenyum. Senyum yang kecut sekali. Dilihatnya kawan-kawan Untara yang kemudian berloncatan pula dari punggung kudanya dan yang kemudian menyarungkan pedang masing-masing, tetapi Untara sendiri baru menyarungkan pedang ketika ia dikejutkan oleh suara Ki Gede Pemanahan, “Sarungkan pedangmu Untara. Tak ada lagi yang akan kau ajak bermain pedang.”

Untara menggigit bibirnya. Sambil menundukkan kepalanya ia menyarungkan pedangnya. Tetapi ketika ia sempat memandang tangan Ki Gede Pemanahan dengan sudut matanya, maka dilihatnya Ki Gede pun telah menyarungkan kerisnya Kiai Naga Kemala.

“Sambutan yang cukup hangat Untara,” desis Ki Gede Pemanahan. “Selama aku menjadi Panglima Wira Tamtama ternyata sambutan Sangkal Putung atas kedatangan peninjauanku adalah yang paling hangat yang pernah aku alami.”

Kepala Untara menjadi semakin tunduk. Hudaya, Agung Sedayu dan kawan-kawannyapun menundukkan wajah-wajah mereka pula. Namun di dalam hati, Hudaya mengumpati orang-orang Jipang itu tidak habis-habisnya. Kalau ia mendapat kesempatan, maka ia pasti akan menumpahkan segenap kemarahan, kebencian dan dendam kepada mereka. “Aku sudah menyangka bahwa mereka pasti, akan berbuat curang,” katanya di dalam hati. “Penyerahan itu hanyalah sekedar cara untuk membuat kita menjadi lengah.”

“Aku mohon maaf Ki Gede,” desis Untara kemudian. “Mungkin ada sesuatu yang tidak berkenan di hati Ki Gede Pemanahan.”

Ki Gede Pemanahan tersenyum. Senyumnya masih sebuah senyuman yang kecut. Jawabnya, “Untunglah aku masih hidup sehingga aku masih mendapat kesempatan untuk memberi maaf kepadamu. Kalau aku sudah dipenggal kepalaku oleh Ki Tambak Wedi, mungkin kau akan menyesal. Bukan karena kematianku, tetapi karena aku tidak dapat memberi maaf lagi kepadamu.”

Untara tidak menjawab. Terasa tubuhnya bergetar. la merasa memanggul kesalahan di atas pundaknya. Dan Ki Gede Pemanahan telah langsung menunjuk kesalahan itu.

Ki Gede itu kemudian berkata pula, “Berapa orang yang kau bawa itu?”

“Sepuluh orang Ki Gede, selain yang delapan orang telah mendahului,” jawab Untara.

Ki Gede Pemanahan kemudian memandangi kesepuluh orang itu satu persatu, tetapi ia tidak melihat Widura. Beberapa orang di antaranya sama sekali belum dikenalnya.

Dalam pada itu, kembali mereka mendengar suara kaki kuda berderap. Dari kejauhan mereka melihat bermunculan beberapa buah kepala di atas batang-batang jagung muda. Dan sejenak kemudian tujuh orang yang sedang berpacu sampai pula di antara mereka. Ketujuh orang itupuh dengan serta merta menghentikan kuda-kuda mereka dan segera berloncatan turun.

“Berapa orang yang akan datang lagi?” bertanya Ki Gede Pemanahan.

“Semuanya paling sedikit duapuluh lima orang ki Gede?” jawab Untara.

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukan kepalanya. Jumlah yang disebutkan Untara itu telah mengurangi kekecewaannya. Ternyata perhitungan Untara cukup baik. Ia tidak mempercayakan diri dengan jumlah yang hanya sepuluh orang itu. Dengan duapuluh lima orang Untara dapat menarik suatu kepastian, bukan sekedar untung-untungan. Dalam peperangan maka diperlukan suatu perhitungan yang mantap meskipun kadang-kadang keadaan yang khusus dan tiba-tiba dapat merubah keadaan yang telah diperhitungkan itu, namun itu adalah akibat dari kekhususannya.

***

“Siapakah namamu?”

“Agung Sedayu.”

“Apakah kau bukan seorang prajurit meskipun di lambungmu tergantung sehelai pedang?”

“Ya, Tuan. Aku bukan seorang prajurit Wira Tamtama.”

“Apakah kau termasuk laskar Sangkal Putung?”

“Ya, Tuan, meskipun aku bukan anak Sangkal Putung.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kembali ia bertanya, “Dari manakah kau?”

“Jati Anom.”

“Oh, jadi apakah kau mempunyai hubungan khusus dengau Kakang Untara?”

“Aku adiknya.”

Sutawijaya tertawa. “Pantas,” katanya.

Tetapi ia tidak meneruskannya. Ternyata Agung Sedayu menarik perhatiannya. Kecuali umurnya yang sebaya, juga ketangkasannya. Sutawijaya melihat anak muda itu meloncat dari punggung kudanya, langkahnya dan pedang di lambungnya.

Tetapi anak muda ini tampaknya agak berbeda dengan orang-orang yang berada di halaman itu. Bahkan dengan Untara dan Widura sekali pun. Agung Sedayu bersikap lain dari pada para prajurit. Anak muda itu tidak sekeras kakaknya. Sikapnya agak lebih lunak meskipun dari sepasang matanya memancar pula sifat-sifat yang membayangkan betapa anak muda itu memandang hari depan dengan penuh gairah.

“Apakah kau sudah lama berada di tempat ini?” bertanya Sutawijaya.

“Belum, Tuan.”

“Sejak Paman Widura di sini?”

Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. “Tidak. Belum lama. Aku datang bersama-sama dengan Kakang Untara.”

“Oh,” Sutawijaya mengerutkan keningnya. “Ya!” serunya. Tiba-tiba putera Panglima Wira Tamtama itu teringat sesuatu. Katanya, “Aku pernah mendengar laporan yang disampaikan oleh seorang penghubung tentang dirimu. Tentang Agung Sedayu. Bukankah kau yang menyampaikan berita pertama kali ke Sangkal Putung tentang gerakan Tohpati?”

Wajah Agung Sedayu menjadi tertunduk karenanya.

“Bukankah begitu?”

Agung Sedayu menggigit bibirnya. Yang menjawab kemudian adalah pamannya yang masih berdiri di sampingnya, “Ya, Angger Agung Sedayu-lah yang telah membawa berita itu. Berita yang seolah-olah telah melepaskan kami dari bencana.”

“Luar biasa. Kau benar-benar mengagumkan.”

Tetapi Agung Sedayu menjadi semakin rikuh. Terasa wajahnya menjadi tebal, seakan-akan kulit di mukanya menjadi bengkak. Yang mengucapkan pujian itu adalah anak muda sebayanya yang pernah bertempur melawan Arya Penangsang, apa lagi kalau dikenangnya apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu.

Tetapi pembicaraan itupun segera terhenti. Widura dengan tergesa-gesa harus naik ke pendapa. Para tamu dan para pemimpin prajurit Pajang di Sangkal Putung telah duduk di pendapa bandjar desa. Ki Demang pun segera dipanggil pula duduk di antara mereka.

Alangkah tegang sikap Demang Sangkal Putung itu. Menghadap seorang Panglima Wira Tamtama adalah kesempatan yang baru pertama kali ini didapatnya. Dahulu, seorang tumenggung dari Demak pernah datang pula ke kademangan ini. Pada saat itu, ia dan para pamong kademangan harus duduk beberapa langkah dari para tamu itu sambil menundukkan wajah mereka dalam-dalam. Dengan sikap yang garang tumenggung itu memberikan beberapa perintah dan petuah. Tetapi hampir tak seorangpun yang mendapat kesempatan untuk mengucapkan sepatah pertanyaan pun, dan bahkan hampir tak ada kesempatan untuk menatap wajah tumenggung yang dikawal oleh beberapa orang prajurit dengan segala macam tanda-tanda kebesaran.

Tetapi kini, yang datang adalah orang tertinggi dari kesatuan Wira Tamtama, justru begitu sederhana dan ramah. Semua orang mendapat kesempatan duduk dalam lingkaran bersama-sama, berbicara dengan ramah dan berbincang dengan terbuka. Namun dengan demikian, maka Ki Demang itu menjadi semakin hormat kepada Panglima yang sederhana ini.

Namun dalam pada itu, Untara-lah yang seolah-olah dibakar oleh kegelisahannya. Meskipun Ki Gede Pemanahan selalu mendengarkan pendapat orang lain, namun ia tidak berani mengemukakan persoalan orang-orang Jipang itu terlampau segera. Ki Gede Pemanahan baru saja duduk di pendapa itu. Belum lagi minuman dihidangkan, setelah Ki Gede dan para prajurit yang mengawalnya bertempur dengan orang-orang Jipang yang dipimpin oleh Ki Tambak Wedi. Sekali-kali Untara itu memandangi Ki Demang Sangkal Putung dan Widura berganti-ganti. Seakan-akan terpancarlah pertanyaan dari sorot matanya, “Apakah tidak segera dihidangkan minumam untuk para tamu yang pasti kehausan setelah bertempur ini?”

Tetapi pertanyaan itu dijawabnya sendiri, “Salahmu. Kau tidak memberitahukan bahwa akan datang tamu agung dari Pajang dan tidak kau katakan bahwa mereka habis bertempur di ladang jagung.”

Untara menarik nafas dalam-dalam.

Tetapi ia terkejut ketika kemudian beberapa orang naik ke pendapa untuk menghidangkan minuman yang tidak disangka-sangkanya. Rujak degan.

Untara mengerutkan keningnya. Tetapi ia menarik nafas dalam ketika Widura berkata, “Ki Gede, Putera anda mengatakan bahwa Ki Gede sangat gemar minum rujak degan.”

Ki Gede Pemanahan tersenyum. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia menjawab, “Sutawijaya berkata sebenarnya.”

Maka beredarlah mangkuk-mangkuk berisi rujak degan yang digulai dengan cairan legen mentah. Alangkah segarnya.

Namun Untara sama sekali tidak merasakan kasegaran itu. Sekali-kali ia memandang bayangan matahari yang memanjat semakin tinggi. Apakah jadinya kalau orang-orang Jipang itu datang dengan tiba-tiba menyergap beberapa gardu perondan. Meskipun ia yakin bahwa penjagaan induk kademangan Sangkal Putung ini tidak akan dapat dengan mudah ditembus. Namun kesempatan mereka mendekati induk kademangan adalah kesempatan yang amat merugikan bagi Sangkal Putung. Sifat dan sikap Sanakeling agak berbeda dengan Macan Kepatihan. Apalagi kini di antara mereka ada orang-orang seperti Tambak Wedi dan Sidanti yang tamak.

Dalam pada itu, Sutawijaya masih saja berada di halaman. Sehingga karena itu Agung Sedayu bertanya, “Apakah Tuan tidak duduk di antara para tamu dan pemimpin-pemimpin Sangkal Putung?”

“Terlampau panas. Lebih sejuk di halaman ini,” sahut Sutawijaya. “Kenapa kau juga tidak naik?”

Agung Sedayu tersenyum, katanya, “Aku bukan salah seorang dari para pemimpin.”

Sutawijaya tertawa mendengar jawaban itu. Bahkan segera ia berkata, “Apakah bedanya, pemimpin dan bukan pemimpin?”

Agung Sedayu tidak dapat segera menjawab pertanyaan itu. Tetapi justru karena itu, maka ia pun tertawa pula.

Beberapa orang yang mendengar mereka tertawa, mengernyitkan alisnya. Tetapi mereka kemudian bertanya-tanya di dalam hati kenapa putera Ki Gede Pemanahan itu tidak duduk di antara para tamu yang datang dari Pajang.

Dalam pada itu, agaknya Agung Sedayu telah menemukan jawaban atas pertanyaan Sutawijaya. Katanya, “Tuan apabila pemimpin dan bukan pemimpin tidak dibedakan, maka pendapa itu pasti tidak akan muat.”

“Ya, bedanya apa?” desak Sutawijaya.

“Bedanya, pemimpin boleh memilih. Duduk di atas atau berjalan di halaman. Sedang yang bukan pemimpin hanya ada satu pilihan. Tidak ada pilihan ke dua. Karena itu, aku tetap di sini.”

Sekali lagi Sutawijaya tertawa. Bahkan kali ini lebih keras, sehingga orang-orang yang berada di pendapa pun berpaling kepadanya.

Tetapi suara tertawa itu telah memberikan isyarat tanpa disengaja kepada Ki Gede Pemanahan. Tiba-tiba Panglima Wira Tamtama itu melihat bahwa bayangan matahari telah hampir tegak di bawah kaki. Karena itu, maka Ki Gede Pemanahan itu pun segera berpaling kepada Untara.

Panglima Wira Tamtama itu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata dahi Untara telah dibasahi oleh keringat dinginnya. Dari wajahnya membayang kegelisahan yang amat sangat.

Ki Gede Pemanahan tersenyum. Ia menangkap apa yang bergolak di dalam dada anak muda itu. Katanya, “Apakah kau gelisah karena matahari telah cukup tinggi?”

Untara membungkukkan badannya dalam-dalam. “Ya, Ki Gede.”

Namun pertanyaan itu terasa seperti embun yang menetes di jantungnya yang seakan-akan terbakar.

“Maaf Untara,” berkata Ki Gede Pemanahan itu pula. “Mungkin aku datang terlampau siang. Aku terlambat dari waktu yang telah aku tetapkan sendiri.”

Jantung Untara terasa berdentang keras sekali. Sekali lagi ia merasa betapa ia telah berbuat bodoh sekali. Laporannya ternyata jauh meleset dari apa yang terjadi. Sangkal Putung sama sekali belum menjadi aman seperti yang disampaikannya kepada Panglima Wira Tamtama itu.

Sejenak Untara terbungkam. Ia tidak dapat menjawab sama sekali, selain hanya menundukkan kepalanya saja.

Karena Untara tidak menjawab maka Ki Cede Pemanahan berkata pula, “Untara, kalau kau masih mempunyai kewajiban yang lain lakukanlah. Kalau aku akan kau bawa pula, marilah aku sudah bersedia.”

Untara mengigit bibirnya. Tapi ia tidak dapat menjawab lain dari pada, “Ya Ki Gede. Saat penyerahan hampir tiba.”

“Baik. Siapkan orang-orangmu. Aku akan pergi bersamamu.”

Untara pun kemudian berdiri dan turun dari pendapa. Diberikanya beberapa perintah kepada Widura menyiapkan pasukan yang segera akan pergi ke Benda. Beberapa orang berkuda akan lebih dahulu pergi. Melihat apa yang terjadi di desa kecil itu. Mereka harus membawa alat-alat tanda bahaya apabila keadaan memaksa.

Namun dalam pada itu, Untara menjadi heran sejak ia kembali dari bulak tegalan jagung, ia belum melihat Ki Tanu Metir. Sehingga karena itu maka ia bertanya kepada Widura, “Paman, di manakah Kiai Gringsing ?”

Widura mengerutkan keningnya. Demikian sibuknya ia mengurusi berbagai soal sehingga tidak diingatnya Kiai Gringsing itu lagi. Karena itu maka jawabnya, “Aku tidak melihatnya Untara.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Kiai Gringsing adalah orang yang aneh. Orang yang hanya menuruti kehendak sendiri, meskipun kadang-kadang bahkan sering menguntungkannya. Karena itu Untara tidak lagi mencarinya.

Widura yang kemudian pergi ke lapangan di muka banjar desa itu pun segera mempersiapkan orang-orangnya. Kepada beberapa orang pemimpin kelompok diperintahkannya menyiapkan para prajurit Panjang dan anak-anak muda Sangkal Putung dalam kesiagaan penuh. Mereka akan menerima orang-orang Jipang yang akan menyerah. Namun segala kemungkinan dapat terjadi.

“Kami tidak percaya kepada mereka” Tiba-tiba terdengar Hudaya yang sudah berdiri di belakangnya berkata.

Widura berpaling. Ditatapnya wajah Hudaya yang tegang “Jangan merusak rencana Hudaya. Rencana ini sudah menjadi masak.”

“Apakah yang terjadi di bulak tegalan jagung itu tidak mendapat pertimbangan? Aku mendengar dari para tamu, apa yang dikatakan oleh Ki Tambak Wedi.”

“Kau harus tahu, bahwa Ki Tambak Wedi dan Sumangkar tidak sependapat.”

“Bukankah mereka dapat berpura-pura berbuat begitu?”

“Karena itu marilah kita berada dalam kesiap siagaan yang penuh.”

“Belum cukup. Kalau kita biarkan mereka mendekati barisan kita, sedang kita hanya menunggu saja di Padukuhan Benda, maka kita akan kehilangan kesempatan. Harus kita perhitungkan pula orang-orang Tambak Wedi yang dapat saja datang dari jurusan yang berbeda-beda. Kalau kita sedang terlibat dalam bentrokan yang kacau, kemudian kita dengar tanda bahaya dari sudut lain, maka kita akan kehilangan waktu dan perhitungan.”

“Jangan terlampau berprasangka. Marilah kita lakukan perintah yang telah disetujui oleh Panglima Wira Tamtama dengan tidak meninggalkan kewaspadaan.”

Hudaya tidak dapat membantah lagi. Perintah ini, harus dijalankan, apalagi telah disetujui oleh Panglima Wira Tamtama.

Tetapi tiba-tiba kembali mereka menjadi tegang ketika seorang kepala kelompok yang lain bertanya, “Apakah yang kau katakan itu ada hubungannya dengan luka Kakang Sonya yang baru saja mengigau tentang orang-orang Jipang di bulak jagung?”

Dada Widura berdesir mendengar pertanyaan itu, sehingga iapun bertanya pula, “Apa kata Sonya?”

“Pertempuran di tegal jagung. Menurut Sonya, orang-orang Jipang telah mencegat Ki Gede Pemanahan beserta rombongannya,” sahut orang itu.

Kini dada Widura benar-benar menjadi berdebar-debar. Ia telah minta agar Sonya merahasiakan peristiwa itu untuk menjaga ketenteraman hati para prajurit Pajang dan orang-orang Sangkal Putung. Tetapi agaknya seseorang bahkan lebih telah mendengar peristiwa itu.

“Apakah Sonya telah menceritakan kepadamu apa yang terjadi?” bertanya Widura.

Orang itu menjadi ragu-ragu. Ditatapnya wajah Hudaya seakan-akan ia ingin mendapat penjelasan, apa yang sedang dipercakapkannya dengan Widura. Tetapi karena Hudaya seolah-olah membisu, maka iapun menjawab, “Sonya telah terluka. Mula-mula ia tidak mau mengatakan apa sebabnya ia terluka. Bahkan orang yang memapahnya dari pendapa ke gandok pun tidak diberitakukannya. Tetapi tiba-tiba tubuhnya menjadi sangat panas, sehingga ia mengigau. Dalam igauannya itulah ia mengatakan bahwa ia telah bertemu dengan orang-orang Jipang. Bahkan sekali-sekali ia berteriak-teriak memanggil nama Untara.”

Widura mengerutkan keningnya. la tidak mendapat laporan tentang keadaan Sonya itu. Bahkan oleh beberapa kesibukan yang lain, ia tidak sempat menunggui orang yang terluka itu.

“Apakah Ki Tanu Metir tidak memberinya obat?”

“Ya,” sahut orang itu, “tetapi kemudian orang tua itu pergi sampai sekarang tidak kembali lagi.”

Debar di dada Widura menjadi semakin keras. Sekali-sekali ditatapnya wajah Hudaya yang seolah-olah memancarkan tuntutan kepadanya.

Namun Widura itu kemudian menjawab, “Sonya hanya mengigau. Mungkin telah terjadi sesuatu dengan perjalanannya, tetapi sebaiknya kita mendengarkan laporannya besok apabila ia sudah tidak mengigau lagi, sehingga kata-katanya dapat dipertanggung-jawabkan.”

Pemimpin kelompok itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia menjadi curiga ketika ia melihat Hudaya tersenyum. Senyum yang aneh. Dan senyum itu sama sekali tidak menyenangkan hati Widura. Katanya kemudian, “Sekarang, lakukan perintah yang diberikan oleh Untara dan telah disetujui oleh Ki Gede Pemanahan. Bersiaplah. Sebentar lagi kita akan pergi ke Padukuhan Benda. Mudah-mudahan kita datang lebih dahulu daripada orang-orang Jipang, sehingga kita dapat membangun pertahanan-pertahanan yang perlu apabila keadaan berkembang tidak seperti yang diharapkan.”

Hudaya menggeleng lemah. Desisnya, “Aku tidak dapat mengerti apa yang harus aku lakukan. Tetapi perintah ini akan aku jalankan. Mudah-mudahan kita tidak masuk ke dalam api neraka.”

Widura memandang Hudaya dengan penuh curiga. Tetapi dibiarkannya Hudaya berjalan ke kelompoknya. Di belakangnya berjalan para pemimpin kelompok yang lain.

Tetapi Hudaya itu tertegun dan berpaling ketika ia mendengar Widura memanggilnya, “Hudaya. Aku minta bantuanmu.”

Hudaya mengerti sepenuhnya arti kata-kata itu. Widura minta kepadanya supaya ia tetap merahasiakan apa yang diketahuinya di tegal jagung. Tetapi apabila kemudian berita tentang tegal jagung itu tersebar, adalah bukan salahnya. la patuh pada perintah itu, betapa hatinya sendiri meronta.

Maka jawabnya, “Aku telah mencoba. Tetapi aku tidak dapat mencegah Sonya mengigau terus.”

Widura menarik nafas panjang. Ia pun tau sepenuhnya bahwa bukan Hudaya sumber dari cerita tentang tegal jagung itu seandainya cerita itu menjalar. Karena Sonya telah mengigau, maka peristiwa itu tentu akan menjadi bahan pembicaraan. Sebagian dari prajurit Pajang pasti percaya pada igauan itu. Bahkan mungkin telah membakar hati mereka pula. Apalagi apabila laskar Sangkal Putung sampai mendengarnya.

Tetapi Widura tidak dapat berbuat apa-apa. Satu dua orang telah terlanjur mendengar Sonya mengigau. Agaknya satu dua orang itu telah bercerita kepada orang-orang lain lagi, sehingga dalam saat yang pendek, cerita itu pasti sudah akan tersebar di seluruh Sangkal Putung.

Sudah tentu cerita itu menggelisahkan para pemimpin Sangkal Putung. Ketika Widura melaporkan kesiagaan para prajurit Pajang dan laskar Sangkal Putung, maka kemudian cerita tentang sonya itu dibisikkannya kepada Untara.

“Celaka,” Untara berdesis, “bagaimana dugaan Paman?”

“Mereka dibakar oleh dendam yang meluap-luap. Cerita itu seperti minyak yang disiramkan ke dalam api.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kepalanya benar-benar menjadi pening. Kalau benar orang-orang Jipang itu curang, maka sekali lagi ia akan dibebani oleh sebuah kesalahan yang besar setelah kebodohannya yang hampir-hampir menyiderai Ki Gede Pemanahan. Tetapi apabila laskar Sangkal Putung dan para prajurit Pajang yang mendahului menyergap orang-orang Jipang yang datang untuk menyerah, maka iapun akan membuat kesalahan yang lain. Ternyata prajurit Pajang di Sangkal Putung telah kehilangan ikatan kepemimpinan sehingga mereka dapat berbuat sesuka hatinya.

Tetapi Untara belum mendapat kesempatan untuk memecahkan persoalan yang telah membuat kepalanya seperti berputar-putar. Kini ia terpaksa mendampingi Ki Gede Pemanahan turun dari pendapa dan berjalan ke halaman. Namun ia sempat berbisik kepada pamannya, “Paman, kita harus berusaha sebaik-baiknya.”

Pamannya mengangguk. la terpaksa memisahkan diri untuk mengawasi langsung keadaan para prajurit dan laskar Sangkal Putung.

Sementara itu, Sutawijaya yang masih saja duduk bersama Agung Sedayu berkata, “Aku akan ikut ayah melihat orang-orang Jipang yang menyerah. Apakah kau tidak akan ikut?”

“Ya. Aku akan ikut pula,” sahut Agung Sedayu.

Sutawijaya tersenyum. la senang pergi bersama-sama dengan kawan yang sebaya umurnya. Apalagi kemudian Swandaru datang kepada mereka. Dan menyatakan keinginannya untuk pergi bersama pula.

“Bagaimana dengan anak-anak muda Sangkal Putung?” bertanya Agung Sedayu.

“Ayah akan memimpin mereka,” sahut Swandaru.

“Marilah kita pergi bersama-sama,” ajak Sutawijaya.

Tetapi Agung Sedayu menjadi ragu-ragu. Apakah kakaknya akan mengijinkannya, bahkan seandainya ia harus pergi sekalipun, mungkin telah disediakan tugas khusus kepadanya. Tetapi Sutawijaya itu berkata, “Biarlah aku mintakan ijinmu kepada Kakang Untara.”

Agung Sedayu membiarkannya pergi kepada Untara sambil berkata, “Kakang Untara, apakah adikmu Agung Sedayu akan kau bawa?”

“Tidak, Tuan,” jawab Untara.

“Kenapa?”

“Aku dan Paman Widura harus pergi ke Padukuhan Benda. Agung Sedayu biarlah tinggal di banjar desa ini untuk mengawasi orang-orang yang terluka, terutama orang-orang Jipang supaya tidak terjadi sesuatu pada mereka.”

“Serahkan pekerjaan itu kepada seorang prajurit Pajang, bukankah Agung Sedayu bukan seorang prajurit?”

Untara menjadi ragu-ragu. Ia tidak tahu maksud Sutawijaya. Bahkan Ki Gede Pemanahan bertanya, “Apakah maksudmu Sutawijaya? Meskipun Agung Sedayu bukan seorang prajurit, tetapi kalau Untara telah memberinya kepercayaan?”

“Agung Sedayu dan Swandaru akan aku ajak pergi bersama-sama melihat orang-orang Jipang itu Ayah.”

Ki Gede Pemanahan mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Kau hanya memikirkan kesenanganmu sendiri. Agung Sedayu mempunyai tugas di sini, tidak ada kesempatan bagi setiap orang di Sangkal Putung yang jumlahnya sedikit untuk melihat-lihat seperti kau.”

“Tetapi Agung Sedayu dan Swandaru akan aku bawa serta.”

Ki Gede pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dipandanginya wajah Untara yang dipenuhi oleh kebimbangan. la tidak tahu, apakah sebaiknya adiknya diijinkannya seperti yang dikehendaki oleh Sutawijaya atau justru harus tetap diberinya tugas seperti yang disebut-sebut oleh Ki Gede Pemanahan.

Agung Sedayu sendiri menjadi sangat kecewa mendengar tugas yang akan diserahkan kepadanya. Menunggui orang sakit dan mungkin harus bertengkar dengan orang-orang Pajang atau Sangkal Putung sendiri, karena mereka akan berbuat sesuatu atas orang-orang Jipang itu. Tetapi ia menjadi senang sekali ketika ia mendengar Ki Gede Pemanahan berkata, “Biarlah Agung Sedayu dan kawannya itu pergi pula. Serahkan pekerjaan itu kepada orang lain.”

Untara menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Baik Ki Gede.”

Demikianlah akhirnya Agung Sedayu dan Swandaru ikut pula pergi ke Benda, untuk menerima orang-orang Jipang yang akan menyerah.

“Kita pergi berkuda,” ajak Sutawijaya.

“Tetapi yang lain berjalan kaki,” sahut Agung Sedayu.

“Biar sajalah, kita pergi berkuda.”

Agung Sedayu tidak membantah. Tetapi sekali lagi ia menjadi ragu-ragu, apakah kakaknya akan mengijinkannya? Katanya, “Aku akan minta ijin Kakang Untara.”

“O,” desah Sutawijaya, “kau selalu saja ragu-ragu. Biar sajalah. Kakang Untara tidak akan marah.”

“Ayolah,” desak Swandaru pula. Anak itupun sama sekali tidak membuat pertimbangan lagi. Bahkan ia menjadi sangat bergembira pergi bersama dengan Sutawijaya, apalagi berkuda.

Agung Sedayu masih saja ragu-ragu. Sehingga Sutawijaya itu berkata, “Baiklah, mintalah ijin Kakang Untara.”

Sekali lagi Agung Sedayu menemui Untara untuk minta ijin kepadanya, bahwa ia akan pergi bersama Sutawijaya berkuda.

Untara menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat melarang adiknya. Meskipun demikian ia berpesan, “Agung Sedayu. Seandainya kau pergi dahulu, jangan berbuat sesuatu yang dapat merusak rencana kita. Meskipun Adi Sutawijaya sekalipun yang akan berbuat, tetapi kalau menurut pertimbanganmu akan dapat merusak suasana, maka kaupun wajib memperingatkannya.”

“Baik, Kakang,” sahut Agung Sedayu, yang kemudian menyiapkan kudanya untuk pergi bersama dengan Sutawijaya dan Swandaru Geni.

Sementara itu, pasukan yang berada di alun-alun pun telah siap sepenuhnya. Setelah Ki Gede Pemanahan dan Untara selesai dengan semua persiapan, maka merekapun segera keluar dari halaman dan sekali lagi sambutan yang gemuruh telah menyongsongnya.

Ki Gede Pemanahan melambaikan tangannya kepada para prajurit Pajang, orang-orang Sangkal Putung yang berada dalam barisan dan kepada rakyat yang berada di sekitarnya. Kepada Untara, Ki Gede Pemanahan minta agar para pemimpin kelompok dikumpulkannya. Ki Gede Pemanahan sendiri ingin bercakap-cakap langsung dengan mereka.

“Baik Ki Gede,” sahut Untara. Namun keringat dinginnya masih saja mengalir. Sekali-sekali ia menengadahkan wajahnya memandang matahari yang seolah-olah terlampau cepat menanjak ke puncak langit.

“Hanya sebentar,” desis Ki Gede Pemanahan.

Untara menggigit bibirnya. Ternyata Ki Gede Pemamahan dapat membaca hatinya.

Setelah para pemimpin kelompok dari seluruh pasukan berkumpul maka Ki Gede Pemanahan pun memberi mereka beberapa petuah dan petunjuk. Kepada mereka akhirnya Ki Gede Pemanahan berkata, “Kalian tidak berbuat untuk kepentingan kalian masing-masing sesuai dengan kesenangan kalian. Tetapi kalian berbuat untuk Pajang dalam satu rangkuman dengan segenap perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang lain untuk kepentingan yang serupa.”

Kata-kata Ki Gede Pemanahan itu meresap satu-satu, seakan-akan langsung menghunjam ke pusat jantung. Para pemimpin kelompok itu menyadari, apakah yanq telah dikatakan oleh Panglimanya itu dengan sebaik-baiknya. Hubungan langsung dengan berhadapan wajah dengan wajah telah menumbuhkan kecintaan dan keseganan yang bertambah-tambah atas panglimanya.

“Nah,” berkata Ki Gede Pemanahan, “sekarang kita berangkat. Kita harus merasa bahwa Wira Tamtama seluruhnya seakan-akan memiliki satu otak, sehingga apa yang kita lakukan akan merupakan sebagian dari anggota badan. Seperti juga kaki dan tangan. Meskipun melakukan gerak yang berbeda-beda tetapi keduanya dalam satu pusat kehendak. Bukan sebaliknya apabila kaki kita berlari menjauhi sesuatu tetapi tangan kita berpegang sesuatu yang hendak kita jauhi.”

Sekali lagi para pemimpin kelompok itu menganggukkan kepala mereka. Kesadaran kesatuan di antara mereka meresap semakin dalam.

Sejenak kemudian, maka segala sesuatu telah diserahkan kembali oleh Ki Gede Pemanahan kepada Untara sambil berkata, “Untara, sebelum dadamu meledak karena kegelisahan, maka aku serahkan kembali pimpinan ini. Marilah kita berangkat.”

Untara menganggukkan kepalanya. la masih melihat Ki Gede menahan tersenyum.

Sesaat kemudian, maka seluruh pasukan yang berada di halaman dan di lapangan kecil di muka banjar desa itupun telah bergerak menuju ke Desa Benda. Dengan hati yang berdebar-debar Untara memimpin pasukannya menyongsong laskar Jipang yang akan menyerah. Namun betapa para pemimpin kelompok menyadari, bahwa mereka tidak sewajarnya melakukan perbuatan menurut kehendak sendiri, tetapi mereka akan berhasil mengendalikan kemarahan yang tersimpan di dalam hati para prajuritnya dan laskar Sangkal Putung. Laskar Sangkal Putung-lah yang justru akan lebih sulit dikendalikan.

“Mudah-mudahan kehadiran Ki Gede Pemanahan mempunyai banyak pengaruh atas mereka.”

Namun sekali lagi Widura mendengar percakapan di antara prajurit Pajang, tentang Sonya yang terluka. lgauan Sonya ternyata telah menjalar dari mulut ke mulut, sehingga seluruh pasukan telah mendengarnya. Baik para prajurit Pajang maupun laskar Sangkal Putung.

“Kenapa kita masih juga percaya kepada orang-orang Jipang itu?” desis salah seorang prajurit Pajang.

Pemimpin kelompoknya yang mendengar segera berkata, “Jangan membuat tafsiran sendiri-sendiri tentang peristiwa yang telah dan bakal terjadi. Ki Gede Pemanahan akan menentukan segala macam sikap yang harus dilakukan oleh semua prajurit Wira Tamtama.”

“Tetapi Ki Gede tidak menghadapinya sehari-hari. Mungkin pengetahuannya tentang orang-orang Jipang tidak terlampau banyak. Ternyata orang-orang Jipang berhasil mencegatnya di tegal jagung pagi tadi.”

“Ki Gede Pemanahan bukannya seorang malaikat yang tahu apa yang akan terjadi. Juga kita semua. Karena itu, kita jangan membuat tafsiran sendiri-sendiri. Kita lihat apa yang akan terjadi. Kemudian kita serahkan semuanya pada kebijaksanaan pimpinan kita. Apalagi pimpinan tertinggi kita ada di sini.”

Prajurit itu terdiam. Tetapi pemimpin kelompoknya tahu benar bahwa kediaman itu, bukanlah suatu pernyataan bahwa apa yang dilakukan itu benar-benar diyakininya.

Widura yang mendengar percakapan itu tanpa diketahui oleh prajurit yang berkepentingan, menarik nafas dalam-dalam. Bukan hanya satu dua orang prajurit yang berpendapat seperti itu, seolah-olah apa yang dilakukan kini adalah perbuatan yang sangat bodoh, setelah mereka mendengar cerita tentang Sonya. Luka-luka Sonya yang berat, seakan-akan meyakinkan mereka, betapa orang-orang Jipang benar-benar telah berusaha membunuhnya.

Ketika kemudian Widura membisikkan apa yang didengarnya itu kepada Untara, maka Untara pun mengerutkan keningnya. Di wajahnya telah membayang kecemasan hatinya.

“Kalau mereka melihat orang-orang Jipang datang dengan senjata masih di tangan mereka maka perasaan orang-orang kita pun akan menjadi sangat sulit dikendalikan. Satu langkah saja di antara kita, apakah orang-orang Pajang, apakah orang-orang Jipang, berbuat hal-hal di luar dugaan dan mencurigakan, maka akibatnya akan dapat menyulitkan sekali,” sahut Untara.

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya, “Bagaimana pertimbanganmu Untara.”

“Padahal, menurut pembicaraan kita, orang-orang Jipang itu akan datang dengan senjata masing-masing, kemudian baru setelah mereka sampai di Benda, mereka akan mengumpulkan senjata-senjata mereka untuk diserahkan. Sudah tentu mereka harus merasa diri mereka aman. Mereka setidak-tidaknya harus melihat kita berada diantara pasukan Pajang dan laskar Sangkal Putung dengan penuh pertanggungan jawab.”

Saat yang paling berbahaya adalah saat dimana orang-orang Jipang itu memasuki daerah pedesaan Benda. Pada saat-saat kedua pasukan berhadapan hampir tanpa jarak. Padahal di tangan masing-masing masih tergenggam senjata-senjata mereka. Sedang di dalam dada masing-masing berkobar dendam dan kebencian.

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. la harus benar-benar dapat menguasai keadaan. Karena itu maka katanya, “Kami harus berada di tempat yang terpisah-pisah sehingga kami dapat menguasai seluruh keadaan.”

“Kita hanya berdua,” desah Widura.

Untara menarik nafas. Agung Sedayu dilihatnya duduk di atas punggung kuda, jauh di belakang pasukan yang berjalan seperti ular menyusur jalan ke Benda.

“Hem,” Untara menarik nafas, “biarlah kita coba. Kalau perlu kita akan bersikap keras terhadap orang-orang kita sendiri. Kami akan mengharap pengaruh Ki Gede Pemanahan pula apabila terpaksa.”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih belum yakin bahwa pasukannya akan dapat dikendalikan. Meskipun demikian ia harus berusaha.

Dengan dahi yang berkerut-kerut ia berkata, “Untara. Peristiwa Sidanti, merupakan arang yang tercoreng di wajahku. Ternyata aku tidak dapat menguasai anak itu sebagai anak buahku. Bahkan ia telah mencoba membunuhmu. Aku menyadari, bahwa seandainya senapati Pajang yang ditempatkan di lereng Merapi ini bukan kemenakanku, apakah kira-kira laporan yang telah dikirim kepada Ki Gede Pemanahan tentang aku dan wibawaku di daerah kekuasaanku? Meskipun kau telah mencoba menyembunyikan beberapa hal mengenai Sidanti, namun terasa juga terutama pada diriku sendiri, kekurangan yang telah terjadi pada pimpinan di Sangkal Putung ini. Sekarang aku dihadapkan lagi pada suatu keadaan yang mendebarkan. Kalau kali ini aku gagal menguasai anak buahku, maka adalah tidak wajar aku tetap dalam kedudukanku sakarang.”

“Tetapi rencana dari pada peristiwa ini akulah yang menyusunnya Paman. Setiap kesalahan tidak akan dapat dibebankan pada Paman sendiri.”

“Aku adalah pimpinan langsung bagi pasukan di Sangkal Putung. Adalah kebetulan bahwa kau kemenakanku yang tidak dapat melepaskan hubungan keluarga di antara kita, sehingga banyak hal yang seharusnya tidak kau tangani sendiri terpaksa kau kerjakan. Pekerjaan yang seharusnya tinggal kau ucapkan dan akulah yang harus melakukannya.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak ingin melihat pamannya menjadi cemas. Pamannya yang tetap tenang menghadapi laskar Jipang yang betapapun kuatnya melanda Sangkal Putung, namun dicemaskan oleh goyahnya keteguhan ikatan anak buahnya sendiri karena dendam, benci dan segala macam perasaan yang bercampur baur.

“Paman jangan terlalu cemas. Para pemimpin kelompok telah menyadari apa yang sedang mereka hadapi. Mudah-mudaan mereka tidak mudah menjadi goyah. Dengan demikian kita berdua tidak berdiri sendiri.”

“Mudah-mudahan,” sahut Widura kosong.

Dalam pada itu iring-iringan itu berjalan terus. Semakin lama menjadi semakin jauh dari induk kademangan, dan semakin dekat dengan desa yang seolah-olah agak terpencil di ujung kademangan itu. Pedesaan Benda yang sepi, penduduknya telah diungsikan ke desa yang lain, untuk memberi kesempatan nanti malam kepada orang-orang Jipang untuk bermalam, sebelum mereka dibawa ke Pajang menerima keputusan tentang diri mereka.

Setiap kali Untara selalu menengadahkan wajahnya menatap langit. Setiap kali hatinya menjadi berdebar-debar. Matahari merayap terlampau cepat.

Tetapi ketika pedesaan Benda lamat-lamat tampak di hadapan wajahnya ia bergumam, “Mudah-mudahan kita tidak terlambat. Mudah-mudahan di desa itu tidak bersembunyi orang-orang Jipang yang telah siap menyergap kita apabila kita memasukinya.”

Widura mendengar gumam itu, tetapi tidak jelas, sehingga terpaksa ia bertanya, “Apa yang kau katakan?”

Untara menggeleng, “Tidak apa-apa Paman. Aku hanya menyebut nama desa itu. Bukankah desa seberang bulak itu Desa Benda?”

“Ya,” Widura mengangguk.

Kemudian merekapun terdiam. Namun hati mereka menjadi berdebar-debar. Dihadapan mereka berjalan Ki Gede Pemanahan dengan beberapa orang pengawalnya. Tetapi ketika mereka menjadi semakin dekat, maka Untara dan Widura pun berjalan pula disisi mereka. Tanpa mereka kehendaki. Tangan-tangan mereka telah meraba-raba hulu pedang mereka, apabila setiap saat diperlukan.

“Desa itukah yang kau maksud dengan Desa Benda?” bertanya Ki Gede Pemanahan.

“Ya, Ki Gede,” jawab Untara singkat.

Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia berpaling memandangi barisan yang berjalan di belakangnya. Menjalar sepanjang jalan, seperti seekor ular raksasa yang merayap-rayap.

Terasa oleh Untara dan Widura, bahwa sikap itupun adalah suatu sikap berhati-hati setelah hampir saja Ki Gede Pemanahan dijebak oleh orang-orang Jipang. Namun Ki Gede itu berjalan terus. Wajahnya masih saja tenang, seakan-akan tidak ada suatupun yang mencemaskannya.

Tetapi Untara-lah yang kemudian menjadi cemas. Ia harus yakin, bahwa kedatangan Ki Gede di Benda tidak akan mendapat bencana. Karena itu, sebelum mereka memasuki desa maka dua orang penghubung harus mendahului dan melihat keadaan.

Namun hati Untara itupun kemudian berdesir ketika ia melihat Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru mempercepat derap kudanya mendahului pasukan yang berjalan di sepanjang jalan persawahan.

Demikian kuda-kuda itu sampai di sisinya terdengar Sutawijaya berkata, “Kakang Untara, kami bertiga akan mendahului kalian melihat-lihat desa di hadapan kita.”

Dada Untara sekali lagi berdesir. Segera ia menyahut , “Jangan. Biarlah dua atau tiga orang penghubung melihat pedesaan itu dahulu sebelum kita memasukinya.”

Sutawijaya tertawa, katanya, “Apakah Kakang Untara mencemaskan kami? Percayalah bahwa Tambak Wedi hanya membual. Seandainya benar orang-orang Jipang merencanakan penyerangan, maka kegagalan Tambak Wedi pasti akan membawa perubahan. Mereka tidak akan berani menjebak kami di desa itu.”

“Belum tentu Adi,” sanggah Untara, “segala kemungkinan akan dapat terjadi.”

Tetapi Sutawijaya tertawa terus. Katanya, “Bukankah orang-orang Jipang itu sekedar akan menyerahkan diri?”

Untara tersentak mendengar pertanyaan itu. Sejenak ia terbungkam. Setelah menarik nafas dalam-dalam ia menjawab, “Ya. Mereka hanya sekedar akan menyerah.”

“Karena itu, Kakang Untara tidak perlu mencemaskan aku, Agung sedayu dan Swandaru.”

Sekali lagi Untara tidak dapat mengatasinya. Tetapi batinnya masih tetap dikuasai oleh kegelisahan dan kecemasan. Sehingga tanpa disadarinya Untara itu memandangi Ki Gede Pemanahan, seolah-olah minta kepadanya, supaya ia melarang anaknya pergi mendahului barisan.

Tetapi Ki Gede Pemanahan tidak menangkap maksudnya, bahkan ia sama sekali tidak memperhatikan percakapan itu. Panglima Wira Tamtama itu berjalan dengan tenangnya di antara beberapa orang perwira pengawalnya.

Akhirnya Untara tidak kuasa lagi mencegah Sutawijaya ketika sambil mempercepat jalan kudanya anak muda itu berkata, “Kami akan berhat-hati Kakang.” Kemudian kepada ayahnya ia berkata, “Ayah, aku ingin mendahului untuk melihat-lihat daerah Sangkal Putung yang subur ini.”

Sekali lagi Untara menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Ki Gede Pemanahan menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Hati-hatilah Sutawijaya. Kau tidak sedang bertamasya sekarang ini.”

Sekejap kemudian mereka melihat kuda anak muda itu berpacu disusul oleh kuda Swandaru. Namun Agung Sedayu masih sekali lagi berkata kepada kakaknya, “Aku mendahului Kakang.”

“Hati-hatilah,” sahut Untara. Ia pun tidak dapat mencegah adiknya itu, karena Sutawijaya dan Swandaru telah mendahuluinya.

Agung Sedayu pun kemudian memacu kudanya. Ia membungkukkan badannya dalam-dalam hampir melekat punggung kuda ketika ia mendahului Ki Gede Pemanahan yang berjalan hampir di ujung barisan, di belakang tiga orang prajurit yang membawa panji-panji kebesaran, melekat pada landean tombak larakan yang panjang, beserta pengawalnya.

Yang tampak kemudian hanyalah kepulan-kepulan debu yang putih, yang dilemparkan oleh kaki-kaki kuda yang berpacu seperti angin. Sutawijaya yang membawa sebatang tombak pendek bernama Kiai Pasir Sewukir menjadi gembira sekali. Kudanya berlari dengan tegarnya, berderap di atas tanah berdebu. Di belakang berpacu Swandaru Geni yang gemuk. Ketika tampak olehnya juntai yang kuning berkilauan pada tombak Sutawijaya, maka tanpa disengajanya ia meraba hulu pedangnya. Dalam hati ia berkata, “Besok aku akan mencari tampar yang kuning emas seperti juntai pada tombak itu. Pedangku akan menjadi bertambah bagus. Hulunya terbuat dari gading gajah dengan juntai yang berwarna kuning emas. Alangkah bagusnya.”

Swandaru itupun tersenyum sendiri. Namun ketika sebutir debu masuk ke matanya, ia mengumpat-umpat.

Ketika ia berpaling, dilihatnya kuda Agung Sedayu agak jauh di belakang. Tetapi kuda itu meluncur seperti anak panah. Sehingga jarak di antara mereka menjadi bertambah pendek.

Swandaru itu melambaikan tangannya. Ia menjadi gembira sekali seperti juga Sutawijaya. Seolah-olah mereka mendapat kesempatan untuk berpacu kuda. Sehingga dengan demikian, ketika kuda Agung Sedayu menjadi semakin dekat, Swandaru melecut kudanya. la tidak mau jarak itu menjadi bertambah pendek bahkan kalau mungkin menjadi semakin jauh. Tetapi Swandaru tidak dapat mendahului Sutawijaya. Anak muda itu ternyata tidak mempercepat kudanya bahkan ketika sekali ia berpaling maka agaknya ia menunggu kedua kawan-kawannya itu.

Sesaat kemudian ketiga ekor kuda itu telah berlari berbareng. Tiga orang anak-anak muda yang sebaya. Yang seorang menggenggam tombak di tangan. Sedang di lambung kedua orang yang lain tergantung pedang.

Bulak itu memang merupakan bulak yang agak panjang. Tetapi karena ketika anak-anak muda itu berkuda, maka segera mereka menjadi semakin dekat. Beberapa saat lagi, mereka telah melihat mulut lorong yang dilaluinya itu memasuki Desa Benda.

Ternyata sutawijaya yang jauh lebih berpengalaman dari kedua kawan-kawannya yang lain, melihat mulut lorong itu dengan sikap yang cukup masak. Dengan isyarat ia minta kedua kawan-kawannya memperlambat kuda-kuda mereka.

Demikianlah semakin dekat mereka dengan desa Benda, semakin lambat pula lari kuda-kuda mereka. Bahkan kuda-kuda itu kemudian berjalan tidak lebih cepat dari langkah kaki.

“Mulut lorong itu seperti mulut ular yang menganga menanti kita masuk ke dalamnya,” gurau Sutawijaya.

Agung Sedayu dan Swandaru tersenyum. “Tetapi ular itu, ular mati,” sahut Swandaru.

Sutawijaya pun tertawa. Tetapi kemudian ia bertanya, “Apakah tidak ada penjagaan di desa ini?”

“Ada,” sahut Swandaru, “di ujung lorong yang lain menghadap ke bulak sebelah.”

“Di ujung ini?”

Swandaru menggeleng, “Tidak,” jawabnya.

Sutawijaya mengerutkan keningnya. “Aneh,” katanya, “seharusnya ada gardu peronda di kedua sisi. Apa kalian menyangka bahwa apabila musuh datang tidak dapat mengambil jalan ini? Mereka hanya cukup menambah beberapa langkah dengan melingkar desa ini, kemudian masuk melalui mulut lorong tanpa diketahui oleh para penjaga. Bukankah dengan damikian hampir tak ada gunanya di ujung lain diberi gardu peronda?”

“Desa ini adalah desa yang hampir tak berpenghuni. Desa ini memang sengaja dilepaskan. Justru karena itu maka orang-orang Jipang sering mendatangi desa ini. Mereka kadang-kadang mengambil beberapa macam perbekalan sebelum mereka menghilang. Namun dengan demikian, banyak keterangan yang kita dapatkan dari penghuni-penghuninya. Penghuni-penghuni asli dan penghuni-penghuni yang sengaja kita tanam di sini,” sahut Agung Sedayu.

Sutawijaya tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar keterangan Agung Sedayu mengenai desa itu. Ia senang mendengar sikap Untara dan Widura yang cerdik.

Namun kemudian ia bertanya, “Tetapi dengan demikian, bagaimana dengan para penjaga itu? Apakah mereka tidak sekedar menjadi umpan hidup bagi orang-orang Jipang itu?”

“Penjagaan itu baru diadakan sejak pagi ini menjelang saat-saat penyerahan orang-orang Jipang. Mereka harus mengawasi gerak-gerik orang-orang Jipang itu.”

Kembali Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Mari, kita temui para penjaga itu.”

“Marilah,” sahut Agung Sedayu.

Kini mereka bertiga telah sampai dimulut lorong yang memasuki desa Benda. Desa itu tampak terlampau sepi, seperti sebuah kuburan yang besar. Hampir tidak terasa bahwa desa itu adalah desa yang hidup dan berpenghuni. Sebelah-menyebelah lorong adalah sebuah pagar batu yang agak tinggi. Regol-regol yang sempit dan kurang terpelihara. Halaman-halaman yang tidak terlampau bersih dan di sana-sini masih terdapat tumbuh-tumbuhan yang liar di antara rumpun-rumpun bambu yang lebat.

“Desa ini memang sepi,” gumam Sutawijaya, “apakah dalam kehidupan sehari-hari desa ini juga sesepi ini?”

“Tidak jauh berbeda,” sahut Agung Sedayu, “hanya kadang-kadang kita mendengar suara derit senggot apabila seseorang mengambil air, atau suara pekik anak-anak yang sedang bermain-main. Tetapi suara itu terlampau jarang. Anak-anak lebih senang tinggal di dalam rumah masing-masing.”

“Kehidupan yang tertekan,” gumam Sutawijaya.

“Bukan hanya desa ini. Bukan saja Benda, tetapi banyak desa lain, yang tersebar berserak-serak antara kademangan ini dengan kademangan-kademangan di sekitarnya. Tetapi agaknya Sangkal Putung-lah yang paling menarik perhatian bagi orang-orang Jipang.”

“Kenapa Sangkal Putung?”

“Sangkal Putung adalah kademangan yang kaya raya sejak lama. Bukankah begitu Adi Swandaru? Putera Ki Demang ini tahu benar kekayaan yang tersimpan di dalam kademangannya. Penduduknya yang rajin dan tahu menghargai kerja, maka mereka telah berhasil membangun kademangannya menjadi kademangan yang banyak menyimpan kekayaan di dalamnya. Contohnya, pedang Adi Swandaru itu. Hulunya terbuat dari gading yang mahal.”

Sutawijaya tersenyum tetapi ia berpaling juga melihat hulu pedang Swandaru yang benar-benar terbuat daripada gading.

“Ya,” desis Sutawijaya, “bagus benar hulu pedang itu.”

“Lebih bagus lagi apabila pada hulu ini diberi juntai tampar yang berwarna kuning emas seperti pada tombak Tuan.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia bertanya, “Kau senang pada tali ini?”

“Ya, Tuan.”

Kembali Sutawijaya mengerutkan keningnya. Hati Swandaru berdebar-debar ketika ia melihat Sutawijaya mengurai tali kuningnya, “Kau ingin ini?” ia bertanya.

Mata Swandaru menjadi berkilat-kilat. Sambil tersenyum ia menjawab agak segan-segan, “Ya Tuan.”

“Pakailah. Aku masih mempunyai tali semacam ini banyak sekali di rumah.”

Swandaru menjadi gembira sekali menerima tali yang berwarna kuning emas itu. Tali yang akan menjadikan pedangnya bertambah cantik.

Tetapi wajahnya yang gembira itu tiba-tiba menjadi tegang ketika ia melihat asap yang mengepul. Semakin lama semakin besar. Asap itu menjilat ke udara dari balik rumpun bambu agak jauh dari lorong itu.

Sutawijaya dan Agung Sedayu melihat asap itu pula, sehingga wajah mereka menjadi tegang pula.

“Asap apakah itu?” desis Sutawjaya.

Agung Sedayu menggeleng, “Entahlah.”

“Marilah kita menemui para penjaga. Mungkin mereka tahu asap apakah yang mengepul semakin besar itu?”

“Marilah,” sahut Agung Sedayu dan Swandaru hampir berbareng.

Sesaat kemudian mereka telah mempercepat kuda-kuda mereka menuju ke gardu penjagaan di ujung lorong.

Para penjaga di gardu itu terkejut ketika mereka mendengar derap kuda mendekati. Tetapi mereka menyangka, bahwa yang datang itu adalah para penghubung. Karena itu, maka mereka tidak segera menyongsongnya.

Tetapi ternyata yang datang adalah Agung Sedayu, Swandaru, dan seorang anak muda yang belum mereka kenal.

Pemimpin penjaga di gardu itu tersenyum sambil menyambut kedatangan mereka. “Marilah anak-anak muda. Aku kira beberapa penghubung datang untuk menanyakan keadaan di sini. Ternyata kalian bertiga. Apakah ada persoalan yang kalian bawa?”

“Tidak, Paman,” sahut Agung Sedayu.

Orang itu mengerutkan keningnya. Sekali lagi ia bertanya, “Jadi kenapa Angger kemari mendahului barisan?”

Agung Sedayu tidak segera menjawab. Ia sendiri tidak tahu, bagaimana ia harus menjawab. Yang menjawab kemudian adalah Sutawijaya. “Kami hanya bermain-main Paman.”

Orang itu menjadi heran. Jawaban itu hampir tak masuk di akalnya. Bermain-main di daerah yang demikian gawatnya. Sehingga karena itu maka wajah orang itu menjadi semakin berkerut-kerut. Agaknya jawaban itu tidak menyenangkan hatinya.

Agung Sedayu melihat kesan yang tergores pada kerut-merut wajah pemimpin gardu itu. Karena itu maka segera ia ingin memperbaiki suasana dengan serta-merta ia berkata, “Paman, mungkin Paman belum mengenal anak muda ini. la adalah putera Ki Gede Pemanahan yang bernama Sutawijaya bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar.”

Wajah yang berkerut-kerut itu tiba-tiba menjadi tegang. Pemimpin penjaga itu benar-benar terkejut mendengar nama itu. Nama yang selama ini menjadi kebanggaan prajurit Pajang. Nama yang ternyata telah berhasil mengalahkan Pangeran Arya Penangsang.

Bukan saja pemimpin penjaga itu yang menjadi tegang. Para prajurit yang lainpun tidak kalah terkejutnya. Hampir bersamaan mereka membungkukkan badan mereka dalam-dalam sambil berkata, “Maafkan kami Tuan. Kami ternyata terlampau bodoh sehingga kami tidak mengenal Tuan.”

Sutawijaya tertawa. Tetapi ia berkata, “Jangan membongkok-bongkok. Nanti kau tidak melihat asap yang mengepul itu.”

“Asap?” desis penjaga itu.

“Jadi kalian belum melihat asap itu?” berkata Sutawijaya sambil menunjuk ke arah asap yang kini menjadi semakin besar.

“He?” teriak kepala penjaga itu. la menjadi sangat terkejut. “Asap apakah itu?”

Para penjaga yang lain menjadi terkejut pula. Sejenak mereka saling berpandangan, tetapi tak seorangpun dari mereka yang tahu apa yang telah terjadi.

“Lihat, asap apakah itu,” perintah kepala penjaga. Ketika seseorang telah siap untuk meloncat berlari ke arah asap itu, maka Sutawijaya yang cerdas dalam menanggapi setiap persoalan itu mencegahnya, “Jangan.”

“Kenapa Tuan?”

“Mungkin Bahu Reksa Benda sedang marah, atau ada hantu yang buas berkeliaran di desa ini. Tinggallah di sini biarlah kami yang melihatnya.”

“Kenapa Tuan?” bertanya penjaga itu.

Sutawijaya tidak menjawab. Segera ia meloncat dari punggung kudanya diikuti oleh Swandaru dan Agung Sedayu.

“Apakah kalian menyediakan kuda pula?”

“Ada dua ekor kuda di sini. Apabila keadaan memaksa, dua dari kami harus segera melapor.”

“Kentongan raksasa itu?”

“Kalau perlu kami harus memukul tanda-tanda.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlengkapan gardu itu cukup baik. Sambil menyerahkan kendali kudanya ia berkata, “Biarlah kuda-kuda ini kami tinggalkan di sini. Kami akan melihat apa yang terjadi.”

“Baik Tuan,” sahut para penjaga sambil menerima kuda-kuda itu.

Sesaat kemudian Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru telah melangkah meninggalkan gardu itu. Asap yang mengepul kehitam-hitaman itupun menjadi semakin besar. Bahkan kemudian mereka melihat lidah api menjilat ke udara.

“Api,” desis Sutawijaya. Anak muda itu kini tidak tersenyum lagi. “Kita ambil jalan memintas,” katanya sambil meloncati dinding halaman di hadapannya. Agung Sedayu dan Swandaru pun segera mengikutinya pula meloncati dinding halaman.

Tetapi sebelum mereka berlari melintasi halaman itu menuju ke arah asap yang semakin tinggi, tiba-tiba Sutawijaya teringat sesuatu. Sekali ia menjengukkan kepalanya sambil berkata, “Jangan berbuat apapun lebih dahulu sebelum aku tahu pasti apa yang terjadi.”

Para penjaga masih berada di tempatnya. Pemimpin penjaga itu membungkukkan kepalanya sambil menyahut, “Ya tuan.”

Namun Sutawijaya itupun kemudian tertegun ketika mendengar di kejauhan suara tertawa terbahak-bahak. Bahkan kemudian terdengar sapa di antara derai tertawa itu, “He, siapa yang berada di gardu peronda?”

Para penjaga itu tidak segera menjawab. Merekapun terkejut bukan kepalang. Ketika mereka berpaling ke arah suara itu, mereka melihat tiga orang muncul dari tikungan.

“Siapakah itu?” desis Swandaru.

Sutawijaya kini telah merendahkan dirinya dan menempelkan tubuhnya pada dinding halaman bagian dalam. Sambil meletakkan jari telunjuknya pada bibirnya ia berdesis.

Swandaru dan Agung Sedayupun terdiam. Kini merekapun berbuat seperti Sutawijaya pula. Dengan hati-hati mereka menunggu apa yang akan terjadi, dan mencoba mengetahui suara siapakah yang menggeletar di desa Benda yang kecil ini.

Sekali lagi mereka mendengar sebuah pertanyaan, “Siapakah yang berada di gardu ronda?”

Sesaat tidak terdengar jawaban. Namun wajah para penjaga itupun menjadi tegang ketika mereka mengenal orang-orang yang mendekati mereka dengan senjata telanjang di tangan mereka.

“Bukankah kau Wira Lele?” terdengar kembali suara itu.

Swandaru hampir tidak sabar lagi. Tetapi sekali lagi Sutawijaya memberinya isyarat.

Tetapi mereka bertiga yang berada di dalam halaman itupun terkejut pula ketika mereka mendengar kepala penjaga itu berdesis, “Kau, Sidanti?”

“Ya, aku sudah rindu untuk menemuimu, Wira Lele. Aku rindu melihat kumismu benar-benar seperti kumis seekor lele kurus.”

Wira Lele, kepala penjaga itu menggeram. Tiba-tiba terdengar gemerincing pedang. Ternyata Wira Lele dan kawan-kawannya telah menghunus pedang-pedang mereka pula.

“Ha, kau mau bergurau?” bertanya Sidanti. “Berapa orang semuanya?”

Wira-lele tidak menjawab.

Yang terdengar adalah suara Sidanti semakin dekat. “Satu, dua, tiga, empat, lima. Lima orang. Masih ada yang di dalam gardu? Takaran kami bertiga adalah tiga puluh orang sejenis kalian ini.”

Wira Lele membelalakkan matanya yang memancarkan kemarahan. Tanpa dikehendakinya ia berpaling memandangi kentongannya. Tetapi kembali terdengar suara Sidanti, “Jangan mencoba menyentuh kentongan itu.”

Dada Wira Lele menjadi berdebar-debar. Nafasnya serasa semakin cepat mengalir. Betapa kemarahan membakar jantungnya, tetapi ia menyadari siapakah yang berdiri di hadapannya. Ia menyadari kekuatan Sidanti.

Apalagi ketika kemudian Sidanti itu berkata, “Wira Lele, mungkin kau pernah melihat sahabatku ini. Kalau belum, namanya pasti pernah kau dengar. Yang satu, yang kuning langsat ini adalah Alap-alap Jalatunda, sedang yang lain, yang seperti arang ini adalah Sanakeling.”

Jantung Wira Lele seakan-akan menjadi berhenti berdenyut. Yang datang ternyata benar-benar orang-orang seperti kata Sidanti, mempunyai takaran masing-masing sepuluh.

Namun terdengar Sanakeling menggeram, “Jangan menghina Sidanti. Meskipun kulitku hitam, tetapi lebih dari dua puluh lima gadis tergila-gila kepadaku. Nah, bagaimama dengan kau? Bagaimana dengan gadis anak Ki Demang Sangkal Putung itu?”

Sidanti tertawa, tetapi ia tidak menaruh perhatian akan dua puluh lima gadis yang jatuh cinta kepada Sanakeling. Yang terdengar adalah suaranya yang menggelegar, “He, Wira Lele. Sebenarnya pekerjaanku sudah selesai. Membakar rumah-rumah itu. Kau tahu maksudnya? Kalau tidak, baiklah aku beritahukan. Aku sedang memberi aba-aba kepada induk pasukan Jipang untuk menyergap. Dari jurusan induk Kademangan Sangkal Putung, telah terlihat barisan orang-orang Pajang dan orang-orang Sangkal Putung. Tanda itu adalah sebuah perintah. Nah, apa katamu?”

Sekali lagi terdengar Wira Lele menggeram. Tanpa disengaja maka iapun beringsut mendekati kentongannya. Namun sekali lagi terdengar Sidanti tertawa sambli berkata, “Kentongan itu tak akan berarti. Tangan kami lebih cepat dari langan-lengan kalian yang akan memukul kentongan itu.” Sidanti berhenti sebentar, kemudian katanya lebih lanjut, “Nah, aku ternyata memerlukan singgah di gardumu, untuk memberitahukan kepadamu apakah yang akan terjadi di Benda ini. Kau sangka orang-orang Jipang itu akan menyerah? Tidak, mereka akan menyergap kalian, orang-orang Pajang dan Sangkal Putung. Kalian boleh saja mendengar rencana ini, sebab sebentar lagi kalian akan mati. Begitu?”

Wira Lele tidak menjawab. Mulutnya serasa menjadi bisu. Ia berdiri saja seperti tonggak kayu.

“Kenapa kau berdiam diri?” bertanya Sidanti. “Kau harus marah. Mengambil sikap dan marilah kita bertempur. Waktuku hanya sedikit. Sebentar lagi orang-orang Pajang telah memasuki pedukuhan ini.”

Tetapi Wira-lele tidak bergerak.

“Bunuh saja mereka,” terdengar desis Sanakeling dalam nada yang berat. “Buat apa mereka dibiarkan hidup? Orang-orang Pajang telah membunuh orang-orang Jipang yang dijumpainya. Adalah omong kosong kalau orang-orang Pajang akan bersedia menerima kami manyerah. Dan ternyata kami bukan orang-orang bodoh yang dapat mereka bujuk dengan akal yang licik seperti demit.”

Wira Lele masih membeku. Namun digenggamnya hulu pedangnya erat-erat. Sementara itu Sanakeling berkata lagi, “Aku menyesal lewat di jalan ini. Aku terpaksa mengotori pedangku dengan darah kelinci.”

“Aku tidak sabar menunggu kalian berbicara berkepanjangan. Sementara itu orang-orang Pajang menjadi semakin dekat,” sela Alap-alap Jalatunda.

“Pengecut,” desis Sanakeling.

“Kenapa?”

“Kau takut kalau orang-orang Pajang itu akan melihat hidungmu.”

Alap-alap Jalatunda mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Mungkin. Mungkin demikian, mungkin aku akan menjadi ketakutan. Apakah kalian tidak akan lari terbirit-birit apabila Ki Gede Pemanahan dan anaknya itu datang kemari?”

“Persetan!” desis Sanakeling.

“Nah, karena itu marilah kita selesaikan pekerjaan kita. Pekerjaan ini adalah pekerjaan tambahan yang hanya akan mengotori tangan-tangan kita.”

Alap-alap Jalatunda tidak menunggu Sanakeling atau Sidanti menyahut. Segera ia melangkah maju sambil mengayun-ayunkan pedangnya, “Ayo, siapa yang terdahulu? Kalau masih ada orang di dalam gardu itu, marilah, kita bermain bersama-sama.”

Tetapi di dalam gardu sudah tidak ada orang lagi. Yang mereka hadapi hanyalah lima orang itu. karena itu maka Alap-alap Jalatunda berkata, “Serahkan kelima-limanya ini kepadaku.”

“Jangan sombong,” potong Sanakeling. “Ambilah tiga. Beri kami masing-masing seorang sekedar supaya pedang-pedang kami tidak berkarat.”

Yang terdengar adalah geram Wira Lele. Kini ia sudah siaga menghadapi setiap kemungkinan. Tetapi ia menyesal, bahwa ia tidak dapat memberi tanda kepada para prajurit Pajang. Bukan untuk mendapatkan pertolongan, tetapi supaya mereka menjadi lebih barhati-hati.

Tetapi ketika Alap-alap Jalatanda maju semakin dekat, maka tiba-tiba langkahnya tertegun. Dari balik dinding batu di tepi jalan itu ia mendengar suara. “Siapa lagi yang masih berada di dalam gardu?”

Bukan saja Alap-alap Jalatunda, tetapi Sanakeling dan Sidanti pun terkejut. Mereka mendengar suara itu sedemikian jelasnya. Karena itu, telinga Sidanti yang tajam segera mengetahui bahwa suara itu berasal dari balik dinding batu di samping jalan itu.

“Hem,” Sidanti menggeram. “Ternyata yang lain tidak berada di dalam gardu, tetapi mereka bersembunyi di balik dinding halaman.”

Terdengar suara dari balik dinding itu menyahut, “Ya, kami bersembunyi di sini. Tiga puluh orang semuanya, sebagai takaran yang pantas untuk melawan kalian bertiga. Alap-alap cengeng, perwira Jipang yang hitam kelam, dan anak muda yang gagal dalam bercinta menurut istilah Sanakeling.”

Suara dari balik dinding itu ternyata telah menggetarkan jantung Sidanti dan kedua kawannya. Bahkan para penjaga gardu itupun terkejut pula. Orang yang berada di balik dinding itu menganggap Sidanti, Sanakeling, dan Alap-alap Jalatunda sebagai orang-orang yang sama sekali tidak berarti. Bahkan mereka dengan sengaja telah menghinanya pula.

Sidanti menggeram seperti seekor harimau kelaparan. Wajahnya tiba-tiba menjadi merah membara. Sedang Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda untuk sesaat justru berdiri saja seperti patung. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa ada orang yang berani menghinanya sedemikian menyakitkan hati.

Tiba-tiba terdengar Sidanti membentak, “He, siapa kau?”

“Kami adalah satu di antara kelinci-kelinci penjaga gardu,” jawab suara itu pula.

“Gila!” teriak Sidanti. “Jangan bersembunyi. Ayo keluar kalau kau benar-benar jantan.”

Kini yang terdengar adalah suara tertawa. Di antara derai tertawa itu terdengar kata-kata, “Jangan marah. Siapakah yang marah itu? Apakah kau yang bernama Sanakeling, Sidanti, atau Alap-alap Jalatunda?”

“Persetan!” teriak Sidanti. “Keluar dari persembunyian itu.”

“Tidak sekarang.”

“Kapan?”

“Nanti, kalau para prajurit Pajang sudah datang. Sekarang mereka pasti sudah hampir sampai ujung bulak. Sesaat lagi mereka akan memasuki Sangkal Putung. Bukankah kalian tadi yang mencegat mereka di bulak jagung?”

“He?” pertanyaan itu benar-benar mengejutkan Sidanti. Orang yang bersembunyi di belakang dinding itu mengetahuinya apa yang telah dikerjakannya pagi tadi. Karena itu, Sidanti tidak sabar lagi. Tetapi ketika ia hampir meloncat, terdengar Sanakeling yang lebih tua daripadanya mencegah, “Jangan Sidanti. Mungkin di balik dinding itu, ujung-ujung tombak siap menyobek perutmu, seperti pada saat Pengeran Arya Penangsang menyeberangi sungai. Bukankah saat itu Arya Penangsang dibakar oleh kemarahan dan kehilangan kewaspadaan?”

“Hem,” kembali Sidanti menggeram. “Tetapi mereka tidak mau keluar dari persembunyiannya.”

“Marilah kita tunggu.”

“Sehari, sebulan atau sampai orang-orang Pajang datang?”

Tiba-tiba Sanakeling berkata, “Biarkan mereka. Marilah para penjaga ini kita bunuh satu persatu. Kemudian kita akan mendapat beberapa ekor kuda. Kau setuju?”

Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil tersenyum ia berkata, “Kau cerdik Sanakeling. Mari, kalau orang-orang di balik dinding itu tidak mau keluar juga dari persembunyiannya kita cincang saja para penjaga ini.”

Tiba-tiba terdengar suara dari balik dinding, “Hem, kalian memang cerdik. Agaknya kalian cukup berpengalaman mencari cengkerik. Kalau kau tak berhasil menggalinya, maka cukup kau siram dengan air, maka cengkerik itu akan keluar sendiri dari lubangnya.”

Kemarahan telah menghentak-hentak dada Sidanti dan kawan-kawannya. Dengan tegang mereka menunggu, siapakah yang akan keluar dari persembunyiannya itu. Tetapi setelah sejenak mereka menunggu, orang-orang dari balik dinding itu sama sekali belum menampakkan dirinya.

“Hem,” kini Alap-alap Jalatunda-lah yang menggeram. “Mereka sengaja mempermainkan kita Kakang. Mungkin benar juga kata mereka, supaya para prajurit Pajang itu datang sebelum kita meninggalkan tempat ini karena terikat oleh permainan yang gila ini.”

Sanakeling tidak menjawab. Tetapi matanya benar-benar memancarkan kemarahan yang meluap-luap. Namun ia cukup hati-hati. la tidak mau meloncati pagar itu dan diterima oleh ujung tombak atau pedang pada lambung atau perutnya. Maka cara yang paling baik adalah cara yang telah dikatakannya, sehingga sekali lagi ia berteriak, “Jangan hiraukan orang-orang gila di belakang dinding itu. Bunuh para penjaga ini lebih dahulu.”

Tetapi tanpa disangka-sangka, mereka kini dikejutkan oleh suara lantang, “Aku akan keluar dari persembunyian,” disusul oleh sesosok tubuh yang dengan lincahnya melayang melangkahi dinding halaman itu. Namun demikian tubuh itu tegak di atas tanah, maka tiba-tiba orang itu menggeliat sambil menguap. “Hem. Aku menunggu kalian terlampau lama sehingga aku menjadi terkantuk-kantuk karenanya.”

Mata Sidanti, Sanakeling, dan Alap-alap Jalatunda terbelalak melihat orang itu. Seorang anak muda dengan sebatang tombak di tangannya. Apalagi kemudian mereka melihat seorang anak muda yang lain yang telah mereka kenal pula. Agung Sedayu meloncat dinding itu pula, disusul oleh seorang lagi, seorang anak muda yang gemuk, sedang memanjat dinding. Kemudian tubuhnya yang bulat itupun terjun pula dari atas dinding halaman.

“Agak hati-hati sedikit Swandaru,” berkata Sutawijaya. “Tubuhmu akan dapat menimbulkan gempa.”

Swandaru tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab kata-kata Sutawijaya. Dengan lucu dipandanginya Sidanti yang memandangnya pula dengan sinar kemarahan.

“Jangan kau tampar aku kali ini Sidanti,” desis Swandaru.

Sidanti menggeram. Kalau tidak ada Sutawijaya di hadapannya ia pasti sudah meloncat dan menampar mulut yang gembung itu.

“Kau sudah mengenalnya?” bertanya Sutawijaya kepada Swandaru.

“Aku sudah kenal terlampau rapat Tuan,” jawab Swandaru.

“Kalau demikian, siapakah yang disebut Sanakeling, gadis anak Demang Sangkal Putung? Bukankah kau anak Demang Sangkal Putung itu?”

Wajah Swandaru menjadi kemerah-merahan. Tetapi tidak semerah wajah Sidanti yang benar-benar menjadi semerah darah.

Bukan saja mereka, bahkan Agung Sedayu pun merasa wajahnya menjadi panas. Tetapi ia tidak berkata sepatah kata pun. Ketika kemudian Swandaru berpaling kepadanya sambil tersenyum, maka Agung Sedayu itupun segera menundukkan wajahnya.

Mendengar senda gurau itu darah Sidanti benar-benar telah mendidih. la merasa bahwa seakan-akan anak-anak muda itu sengaja mempermainkannya. Apalagi Sanakeling yang garang. Betapa kemarahannya telah merayap sampai ke ubun-ubun. Dengan kasarnya berteriak, “He kau anak-anak gila. Jangan bertingkah. Apakah kalian tidak menyadari dengan siapa kalian berhadapan?” Tetapi tiba-tiba Sanakeling-lah yang menyadari dirinya sendiri dari kata-katanya. Anak muda itu adalah anak muda yang dilihatnya tadi datang bersama-sama dengan Ki Gede Pemanahan. Anak itu adalah anak Panglima Wira Tamtama Pajang.

Yang menjawab pertanyaan itu adalah Sutawijaya, “Tentu Sanakeling. Aku menyadari sepenuhnya, dengan siapa aku berhadapan. Yang kuning langsat ini adalah Alap-alap Jalatunda, yang hitam seperti arang adalah Sanakeling dan yang jatuh cinta kepada adik atau kakak perempuanmu, he Swandaru,” berkata Sutawijaya sambil berpaling ke arah Swandaru, “adalah anak muda murid Ki Tambak Wedi yang garang itu.”

Karena kemarahan yang telah memuncak, maka mulut Sidanti, seakan-akan justru terkunci. la berdiri saja mematung dengan kaki bergetar. Yang terdengar hanyalah gemeretak giginya beradu.

Sutawijaya masih saja tersenyum. Setelah ia melihat siapakah yang membuat keonaran, membakar rumah-rumah di desa Benda, maka justru hatinya menjadi tenang. Sidanti, Sanakeling, dan Alap-alap Jalatunda pasti tidak puas dengan pertempuran yang terjadi di bulak jagung pagi tadi. Mereka masih selalu berusaha memancing kekeruhan, sehingga karena itu, maka apa yang terjadi kini sama sekali bukanlah suatu perkembangan baru dari peristiwa orang-orang Jipang yang akan menyerah, tetapi. peristiwa ini adalah kelanjutan saja dari peristiwa pagi tadi. Karena.itu, tanpa menghiraukan Sidanti, Sanakeling, dan Alap-alap Jalatunda, Sutawijaya berkata, “Paman Wira Lele, bukankah Sidanti menyebutmu Wira Lele?” bertanya Sutawijaya.

Tanpa sesadarnya Wira Lele mengangguk, “Ya Tuan.”

“Nah, ambilah kudamu. Pergilah menemui barisan yang mendatang. Mereka sekarang pasti hampir memasuki desa ini. Tetapi mereka pasti terhenti di bulak sebelah karena mereka melihat asap dan api.” Sutawijaya berhenti sejenak, kemudian ia meneruskan, “Kau harus menemui Kakang Untara. Beritahukan kepadanya bahwa di desa ini tidak terjadi apa-apa. Katakan bahwa karena Sutawijaya bermain-main api, maka apinya telah menjilat gardu sehingga gardumu dan setumpuk alang-alang terbakar. Mereka harus berjalan terus, supaya orang-orang Jipang yang sungguh-sungguh berhasrat kembali, tidak mendahului mereka dan terjadi persoalan-persoalan di luar kehendak kedua belah pihak karena pokal Sidanti.”

Kata-kata itu bagi Sidanti dan kawan-kawannya terdengar seperti gunung Merapi meledak dan runtuh menimpa dada mereka. Sidanti yang terbungkam, menjadi semakin tegang. Namun gemeretak giginya menjadi semakin keras. Yang terdengar kemudian adalah geram Sanakeling, “Wira Lele, kalau kau bergeser setapak saja dari tempatmu, maka saat itu adalah saat kematianmu.”

Wira Lele tidak beranjak. Namun ia menjadi ragu-ragu. Ia ingin melakukan perintah Sutawijaya, tetapi ancaman Sanakeling telah mencegahnya.

“Jangan takut Wira Lele,” berkata Sutawijaya. “Serahkan ketiganya ini kepadaku.” Kemudian kepada Sanakeling ia berkata, “Sanakeling, jangan terlampau sombong. Hitunglah orang-orang yang berada di sini. Dari pihakmu hanya ada tiga orang, sedang dari pihak paman Wira Lele ada sedikitnya delapan orang. Dan sebentar lagi pasukan Pajang yang lain akan segera datang pula.”

Kata-kata itu, meskipun diucapkan dengan serta-merta, seakan-akan sama sekali tidak dipertimbangkan sebelumnya, namun pengaruhnya sangat dalam menghunjam ke pusat jantung Sidanti dan kawan-kawannya. Meskipun Sutawijaya menyebut jumlah dari kedua belah pihak, seolah-olah ia memerlukan kedelapan orang itu untuk melawan sidanti bertiga, namun kata-kata itu adalah peringatan yang tajam bagi mereka. Lebih tajam dari sebuah tantangan untuk bertempur dalam perang tanding. Sebab Sidanti harus mengakui, bahwa berdua dengan Alap-alap Jalatunda ia tidak segera dapat mengalahkan Sutawijaya. Apalagi kini Sutawijaya itu berkawan tujuh orang, sedang dirinya sendiri hanya berkawan dua orang.

Dalam keragu-raguan itu terdengar Sutawijaya berkata pula, “Cepat paman Wira Lele, sebelum Kakang Untara mengambil sikap yang dapat merusak rencana penerimaan orang-orang Jipang yang menyadari kedudukannya.”

“Baik Tuan,” jawab Wira Lele. Tetapi matanya memandangi Sanakeling yang membelakanginya.

“Jangan mengganggu Sanakeling,” desis Sutawijaya sambil melangkah maju mendekati Wira Lele. Kemudian tanpa berkata apapun dibimbingnya orang itu ke sisi jalan di samping gardu. Di situlah kuda-kuda mereka diikat. Sedang kuda Swandaru masih belum sempat diikat di sisi gardu itu. Seseorang masih tetap memegangi kendalinya.

“Pakai kudaku,” teriak Swandaru dari sisi yang lain.

Sutawijaya berpaling, kemudian katanya, “Ya, pakai kuda itu supaya lebih cepat.”

Wira Lele pun kemudian menerima kendali kuda Swandaru. Ketika ia meloncat naik, kembali terdengar Sanakeling menggeram, “Jangan kau teruskan rencanamu. Kau akan bertemu dengan orang-orang Jipang di ujung lorong ini. Orang-orang Jipang yang telah siap menerkam pasukan Pajang yang mendatang.”

Kembali Wira Lele menjadi ragu-ragu. Ditatapnya wajah Sutawijaya, seolah-olah ia ingin mendapat ketegasan daripada anak muda itu.

Sutawijaya menjadi jengkel melihat kebimbangan yang mencengkam hati Wira Lele. Namun ia masih tersenyum sambil berkata, “Jangan mau diperbodoh oleh Sanakeling itu Paman. Kalau benar orang-orang Jipang akan menjebak prajurit Pajang di desa ini, maka mereka pasti tidak akan sebodoh Sanakeling. Mereka tidak perlu membakar satu atau dua rumah. Sebab dengan demikian para prajurit Pajang pasti segera akan bersiaga. Karena itu, cepat, pergilah. Sampaikan kepada Kakang Untara seperti pesanku.”

Wira Lele yang ragu-ragu itu tidak segera menggerakkan kudanya, sehingga Sutawijaya yang menjadi semakin jengkel tiba-tiba memukul lambung kuda itu. Kuda itupun terkejut dan meloncat berlari. Wira Lele yang berada di punggungnyapun terkejut pula. Hampir saja ia terjatuh. Untunglah bahwa segera ia mendapatkan keseimbangannya.

“Hati-hati Paman,” teriak Sutawijaya. “Berpeganglah kuat-kuat. Kuda itu cukup jinak.”

Kuda itu berlari terus. Derap kakinya menghentak-hentak tanah berbatu-batu seperti derap di dalam dada Wira Lele yang menderu karena kejutan loncatan kudanya. Tetapi ketika kuda itu menjadi semakin jauh, maka iapun menjadi semakin tenang.

“Anak-anak itu bukan main,” desisnya. “Mereka menghadapi keadaan yang demikian gawatnya seperti sedang bermain-main saja. Tetapi untunglah mereka datang. Kalau tidak, maka leherku pasti sudah dipenggal oleh Sidanti yang gila itu.”

Sambil berkumat-kumit mengucap sukur atas keselamatannya, Wira Lele memacu kudanya. la harus segera menyampaikan berita itu kepada Untara, meskipun semula ia ragu-ragu. Berita apakah yang harus dikatakannya? Apakah ia harus berkata sebenarnya, apakah ia harus berkata menurut pesan Sutawijaya?

“Aku harus berkata sebenarnya,” desisnya kemudian. “Supaya Angger Untara dapat mengambil tindakan yang tepat sesuai dengan keadaan.”

Dalam pada itu, Sanakeling yang berdiri terpaku di tempatnya mengumpat-umpat tidak habis-habisnya. lngin ia meloncat menghalang-halangi Wira Lele, tetapi dilihatnya ujung tombak Sutawijaya yang tergetar seolah-olah menunjuk ke jantungnya. Karena itu, maka segenap perhatiannya ditumpahkannya kepada ujung tumbak anak muda itu.

“Nah, apa katamu sekarang?” tiba-tiba terdengar Sutawijaya itu bertanya.

Sanakeling menggeram. Tetapi ia tidak tahu, jawaban apakah yang sebaiknya diucapkan.

Sejenak mereka terpukau dalam kesenyapan. Meskipun demikian masing-masing telah berada dalam puncak kesiagaan. Sidanti, Alap-alap Jalatunda dan Sanakeling benar-benar telah dibakar oleh kemarahan dan kegelisahan, bahwa orang-orang Pajang akan segera datang. Mereka bertiga adalah orang-orang yang cukup berpengalam dalam medan-medan peperangan maupun perang tanding, sehingga betapapun kemarahan membakar dada mereka, namun di dalam kepala mereka telah merayap segala macam kemungkinan yang dapat terjadi atas mereka. Secara naluriah mereka telah membuat perhitungan-perhitungan, bahwa tidak seharusnya mereka membiarkan diri mereka terjebak dan terkurung oleh prajurit-prajurit Pajang. Anak-anak muda yang mereka hadapi, yang seolah-olah baru mengenal bermain kucing-kucingan itu adalah anak-anak muda yang tidak dapat mereka rendahkan, bahkan Sidanti telah mengenal mereka dengan baik. la yakin, bahwa Agung Sedayu kini pasti akan dapat menghadapinya seorang lawan seorang. Tidak seperti pada saat mereka berkelahi di samping kandang kuda di kademangan, di mana ia mendapat kesempatan memungut sepotong kayu. Kini di tangan mereka sama-sama tergenggam senjata. Sedang seorang lagi, lebih-lebih membuat hatinya kecut. Sutawijaya mempunyai takaran mereka berdua, Sidanti dan Alap-alap Jalatunda.

Selagi mereka diam menimbang-nimbang terdengarkah Sutawijaya berkata, “Nah, sekarang apa lagi yang akan kalian lakukan?”

Sidanti tidak segera menjawab. Juga Sanakeling terbungkam. Sedang Alap-alap Jalatunda menjadi semakin gelisah, karena menurut perhitungannya para prajurit Pajang sudah menjadi semakin dekat.

“Sekarang, anggaplah keempat penjaga gardu itu tidak ada,” berkata Sutawijaya sambil tersenyum-senyum. “Kita berhadapan tanpa kita sengaja, dalam jumlah yang sama. Tiga lawan tiga.” Kemudian kepada para penjaga gardu itu Sutawijaya berkata, “Jangan ganggu kami. Kami akan mencoba bermain-main tanpa orang lain turut campur di dalamnya. Bahkan seandainya kepalaku terpenggal, jangan kalian ributkan. Seandainya kemudian orang-orang Jipang dan murid Tambak Wedi ini akan mencincang Agung Sedayu atau Swandaru, jangan kalian mencoba mencegahnya.”

Para penjaga gardu itu terpaku diam. Mereka tidak tahu bagaimana menanggapi perintah itu, sehingga mereka berdiri saja dengan mulut ternganga.

“Ayo, berbuatlah sesuatu,” berkata Sutawijaya. “Jangan kalian biarkan aku berbicara terus sampai mulutku meniren. Ayo, Agung Sedayu dan Swandaru. Kalian boleh memilih, manakah yang paling kalian sukai di antara mereka. Mungkin Swandaru memilih yang kuning langsat, dan Agung Sedayu memilih yang hitam gelap, begitu?”

Yang terdengar adalah gemeretak gigi Sanakeling. Bagaimana ia mampu membiarkan penghinaan itu. Karena itu tiba-tiba ia berteriak, “Ayo, siapkan pedangmu, Kita segera akan mulai.”

Agung Sedayu pun kemudian bergeser mendekatinya, sementara Swandaru menarik pedangnya yang berhulu gading. “lnikah Alap-alap Jalatunda itu?” desisnya sambil menunjuk Alap-alap itu dengan ujung pedangnya. Hati Alap-alap muda itu menjadi sangat panas, sehingga dengan serta-merta ia memukul pedang Swandaru dengan pedangnya.

Ketika kedua pedang itu berdentang, alangkah terkejut mereka masing-masing. Terasa pada tangan-tangan mereka, tenaga yang kuat beradu pada tajam kedua pedang itu.

Dentang kedua pedang itupun seakan-akan merupakan pertanda bahwa perkelahian segera akan mulai.

Sejenak Sutawijaya dan Agung Sedayu sempat menyaksikan Swandaru memutar pedangnya. Dengan langkah yang tangguh ia menggeser tubuhnya semakin dekat. Ayunan pedangnya terasa menyalurkan kekuatan yang dahsyat. Namun Alap-alap Jalatunda adalah anak muda yang cukup lincah. Sekali ia meloncat surut, tetapi kemudian pedangnya terjulur lurus-lurus mematuk dada Swandaru. Dengan tangkasnya, murid Kiai Gringsing itu menggerakkan pedangnya. Sekali lagi kedua pedang itu beradu. Tetapi kini pedang Swandaru-lah yang terayun memukul pedang Alap-alap Jalatunda. Dalam dentang kedua pedang itu, Alap-alap Jalatunda merasakan kedahsyatan kekuatan Swandaru, sehingga Alap-alap yang lincah itu berkata di dalam hatinya, “Hem gajah kerdil ini memang benar-benar memiliki kekuatan luar biasa.”

Kini Alap-alap Jalatunda mengetahui bahwa tangan Swandaru yang bulat pendek itu melampaui kekuatan tangannya. la tidak boleh setiap kali beradu kekuatan. Ia harus memanfaatkan kelincahannya untuk melawan gajah kecil yang gemuk ini.

Demikianlah perkelahian mereka menjadi bertambah seru. Bukan saja Alap-alap Jalatunda yang menyadari kekuatan dan kelemahan diri, namun Swandaru pun mengetahui pula, bahwa anak muda lawannya itu dapat bergerak selincah burung Alap-alap di udara. Sekali menukik menyambar, namun kemudian terbang melesat menjauhinya. Karena itu, maka Swandaru harus menghemat tenaganya. la tidak pernah dengan tergesa-gesa mengejar lawannya apabila Alap-alap itu meloncat beberapa langkah ke samping atau sengaja surut ke belakang. Ia tahu Alap-alap Jalatunda memancingnya dalam perkelahian yang kisruh. Tetapi Swandaru cukup waspada. Dibiarkannya lawannya berloncat-loncatan. Bahkan wajahnya yang lucu masih sempat tersenyum. Kalau Alap-alap itu melontar agak jauh, maka satu tangannya yang menggenggam pedang bersilang di hadapan perutnya yang besar, sedang tangannya yang lain bertolak pinggang.

Alap-alap Jalatunda menggeram melihat sikap Swandaru yang tenang. Ia tahu, bahwa lawannya yang gemuk itupun menyadari dirinya, sehingga mempunyai caranya sendiri untuk menghadapinya.

Sidanti dan Sanakeling masih sempat menilai lawannya. Mereka menganggap bahwa melawan Agung Sedayu masih lebih baik daripada melawan Sutawijaya. Tetapi mereka malu untuk berebut musuh. Bukan memilih yang paling kuat, tetapi memilih yang lebih ringan. Karena itu, betapapun juga, Sidanti masih sempat mencoba menyelubungi kekecilan hatinya, “Ayo, siapakah lawanku? Yang membawa tombak atau kawan lamaku yang bernama Agung Sedayu?”

Tetapi Agung Sedayu telah berdiri hampir berhadapan dengan Sanakeling, sehingga Sutawijaya berkata, “Biarlah ia melawan kawanmu yang hitam-hitam manis itu, dan kau tetap di situ untuk melawan aku. Meskipun yang menggores tanganku tadi pagi adalah pedang Alap-alap yang jinak itu, tetapi kaulah yang sebenarnya telah melukai aku. Sekarang aku ingin menebus kekalahan itu. Sedikit-dikitnya aku harus mampu melukai tanganmu atau kakimu. Aku akan mencoba untuk tidak menyentuh wajahmu yang tampan itu dengan ujung tombakku.”

Kata-kata itu terasa sepanas api yang menyentuh jantung. Sidanti kemudian tidak menunggu lebih lama lagi. Pedang di tangan kanan dan nenggalanya di tangan kiri. Sekali ia meloncat maju sambil mengajunkan pedangnya. Ketika ia melihat lawannya, menghindarinya sambil merendahkan diri, secepat ilu pula ujung nenggalanya menyambar seperti tatit. Dalam satu putaran, kedua ujung senjata itu seperti berguIung-gulung melanda Sutawijaya.

Terdengar Sutawijaya memekik kecil. la benar-benar terkejut melihat cara Sidanti mempergunakan senjatanya. Sidanti yang mengerahkan segenap kemampuannya pada saat-saat permulaan dari perkelahiannya.

Sutawijaya terpaksa meloncat beberapa langkah surut Sambil tersenyum ia berkata, “Dahsyat. Alangkah dahsyatnya murid Ki Tambak Wedi yang menurut cerita mampu menangkap angin. Mari anak muda yang perkasa, marilah kita mulai permainan kita yang menarik ini.”

Sidanti tidak membiarkan lawannya. Begitu ia melihat lawannya meloncat mundur, maka dengan serta merta ia mengejarnya. Namun kini Sidanti-lah yang terkejut, ketika tiba-tiba saja ujung tombak Sutawijaya terjulur hampir menyentuh hidungnya.

“Gila!” teriaknya. Pedangnya dengan tangkas menyambar tombak itu. Tetapi tombak itu telah meluncur surut, sehingga pedang Sidanti tidak sempat menyentuhnya.

Perkelahian antara Sidanti dan Sutawijaya itupun segera menjadi bertambah sengit. Sidanti dengan darah yang mendidih dibakar oleh kemarahannya, telah mencoba bertempur sebaik-baiknya meskipun ia berhadapan dengan Sutawijaya yang telah dianggap mampu melawan Arya Penangsang dengan cara yang khusus. Namun sejenak kemudian ia terpaksa mengakui, bahwa Sutawijaja, meskipun umurnya masih lebih muda daripada dirinya, tetapi kecepatannya bergerak dan kemahirannya mempergunakan senjata telah benar-benar menggetarkan hati murid Ki Tambak Wadi itu.

Sanakeling yang melihat kedua kawannya telah terlibat dalam perkelahian, sudah tentu tidak akan tinggal menonton seperti nonton adu cengkerik. Ketika ia melihat Agung Sedayu telah menggenggam pedang, maka segera iapun meloncat maju sambil berkata, “Kita bertemu kembali dalam kesempatan yang luas. Kita masing-masing tidak akan terganggu lagi oleh hiruk-pikuk perkelahian tikus-tikus di sekitar kita. Kini kita harus menentukan diri sendiri dalam takaran yang wajar.”

Agung Sedayu tersenyum. Ternyata Sanakeling yang dijumpainya dalam peperangan yang terakhir, saat Tohpati terbunuh, kini menghadapinya dengan dendam di hatinya.

Hati Sanakeling itu menjadi membara melihat senyum Agung Sedayu. Seolah-olah anak itu sama sekali tidak menghargai kemampuannya. Karena itu, maka tiba-tiba ia meloncat sambil memekik tinggi.

Agung Sedayu terkejut, bukan karena kecepatan gerak Sanakeling, tetapi justru karena pekiknya yang keras itu.

“Hem,” desisnya. “Suaramu mirip gemuruhnya petir di langit.”

Sanakeling tidak menyahut. Geraknya menjadi semakin garang. Serangannya datang membadai. Tak henti-hentinya. Namun Agung Sedayu telah bersiap sepenuhnya. Karena itu ia sama sekali tidak menjadi bingung. Dengan lincahnya ia menghindari setiap serangan. Bahkan kemudian hampir setiap serangan Sanakeling telah dibalas dengan serangan pula oleh Agung Sedayu.

Demikianlah maka ketiga anak-anak muda itu masing-masing telah menemukan lawannya. Swandaru Geni melawan Alap-alap Jalatunda, Agung Sedayu melawan Sanakeling dan Sutawijaya berhadapan dengan Sidanti.

Betapa murid Tambak Wedi itu berjuang, namun lawannya benar-benar gesit seperti burung sriti. Tombaknya mematuk-matuk dari segenap arah. Sekali-sekali tombak itu menyentuh pedang dan nenggala Sidanti, dan dalam setiap sentuhan itu terasa, betapa tenaga anak muda itu telah menggetarkan tangan murid dari lereng Merapi yang selama ini menghantui anak-anak muda sebayanya.

Hati Sidanti benar-benar menjadi panas, ketika dalam perkelahian yang semakin seru itu masih saja dilihatnya Sutawijaya selalu tersenyum-senyum. Bahkan kemudian terdengar ia berkata, “Sidanti, aku sudah berjanji untuk menagih hutangmu. Kau telah meneteskan darah dari tubuhku, maka akupun harus berbuat serupa. Meskipun sementara ini aku belum mempunyai keinginan untuk membunuhmu. Entah nanti, apabila keringatku telah membasahi landean tombakku dan kau masih saja berkeras kepala mungkin aku mengambil keputusan lain.”

Yang terdengar adalah geram Sidanti. Telinganya seperti disentuh api mendengar kata-kata Sutawijaya yang menganggapnya terlampau remeh. Dengan sepenuh tenaga ia menyerang dengan pedangnya, terayun ke lambung lawan. Namun Sutawijaya selalu mampu menghindarinya. Bahkan Sutawijaya itupun kemudian benar-benar ingin melakukan apa yang dikatakannya, sehingga serangan-serangannyapun semakin lama menjadi semakin cepat dan membingungkan.

Sidanti yang pernah bertempur melawan Tohpati dan tidak dapat mengalahkan Macan yang garang itu, merasa bahwa sebenarnya Sutawijaya masih berada selapis di atas Tohpati. Karena itu, maka terbersit pula di dalam hatinya, pengakuan bahwa tidaklah mungkin baginya untuk mengalahkan Sutawijaya. Sedang kedua kawannya yang lainpun ternyata telah menemukan lawan yang seimbang. Betapa banyak pengalaman Sanakeling dalam petualangannya, namun menghadapi Agung Sedayu yang masih muda itu, ternyata masih harus memeras segenap kemampuannya untuk tetap dapat bertahan menghadapi serangan-serangan anak muda itu.

Sedang di sisi yang lain, Swandaru bertempur dengan serunya pula melawan Alap-alap Jalatunda. Murid Kiai Gringsing itu ternyata telah mendapat kemajuan yang jauh sekali, dibandingkan dengan apa yang pernah dimilikinya pada saat pertama kali ia menerima pelajarannya di pinggir kali. Betapa saat itu ia mengumpat-umpat karena ia merasa bahwa waktunya hanya terbuang sia-sia. Apalagi ketika ia mendengar Kiai Gringsing mengajaknya bermain loncat-loncatan di atas batu.

Kini Swandaru telah cukup lincah memainkan pedangnya. Meskipun tubuhnya gemuk, namun ia mampu menghadapi kelincahan Alap-alap Jalatunda dengan gerakan-gerakan yang mantap. Meskipun Swandaru yang gemuk itu selalu menghemat tenaganya, namun kemana Alap-alap Jalatunda meloncat, maka Swandaru telah menghadapinya dengan pedang terjulur.

Dalam pada itu, di luar desa Benda yang kecil, Ki Tambak Wedi menunggu muridnya dengan hati berdebar-debar. la telah melihat asap mengepul dan kemudian disusul dengan api yang menjilat tinggi seolah-olah akan menggapai awan yang terbang rendah dihanyutkan angin dari Selatan. Tetapi Sidanti sama sekali tidak segera dilihatnya.

Dengan gelisah Ki Tambak Wedi itu duduk di pematang. Matanya seakan-akan tergantung di pagar batu desa Benda yang tidak seberapa jauh.

“Setan kecil itu apa lagi yang dilakukannya,” gumamnya.

“Mungkin anak itu sempat mengambil beberapa macam barang atau barangkali ditemuinya seorang gadis.”

Namun Ki Tambak Wedi tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya dengan berbagai-bagai dugaan.

Sekali ia berdiri, berjalan mondar-mandir dan kemudian berjongkok lagi. Ia menyesal menyuruh muridnya pergi ke desa itu. “Lebih baik aku kerjakan sendiri,” gerutunya. Ia menyuruh muridnya membakar beberapa rumah dengan pertimbangan, bahwa di desa itu pasti tidak akan ditemuinya prajurit yang mampu melawan muridnya itu bersama-sama kedua kawannya, sedang dirinya sendiri cukup mengawasi mereka dari kejauhan sambil mengawasi para prajurit Pajang yang pasti segera akan datang.

Tambak Wadi itupun menggeram. la telah menyuruh orang-orangnya yang lain menyingkir. Juga penghubungnya yang terakhir, yang dari kejauhan mengintai prajurit Pajang yang telah meninggalkan induk kademangan. Berlari-lari penghubung itu memberitahukan kepadanya, sehingga dengan tergesa-gesa disuruhnya Sidanti melakukan pekerjaan itu. Tetapi agaknya Sidanti terlalu lama berada di Desa Benda yang kecil.

“Anak gila,” geram Tambak Wedi. Menurut perhitungannya, maka prajurit Pajang sudah menjadi semakin dekat. Sebentar lagi prajurit-prajurit itu pasti sudah akan tampak di tengah-tengah bulak yang agak panjang itu.

Series 16

DALAM kegelisahannya, Ki Tambak Wedi itu kemudian berjalan mendekati desa Benda. Di sepanjang langkahnya, tak habis-habisnya ia mengumpat-umpat. “Akhirnya aku harus pergi juga ke desa itu. Lebih baik sejak semula aku kerjakan sendiri pekerjaan ini.”

Setelah meloncati beberapa buah parit dan menyibak beberapa macam tanaman di sawah-sawah, akhirnya Ki Tambak Wedi berdiri di luar dinding desa itu. Dari tempatnya berdiri Ki Tambak Wedi dapat melihat jalan yang membujur di tengah-tenga bulak memasuki desa kecil itu. Tetapi Ki Tambak Wedi tidak mau masuk desa lewat jalan yang dilihatnya. Lebih baik baginya untuk meloncati dinding batu desa itu.

Ketika Ki Tambak Wedi menjejakkan kakinya di dalam lingkungan dinding batu, orang tua itu menggeram. Api yang dilihatnya sudah menjadi semakin besar. Dengan hati-hati ia berjalan ke arah api itu. Tetapi, di sekitar api itu tampaknya terlampau sepi. la tidak melihat Sidanti, Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda. “Hem,” geramnya berulang kali. “Anak-anak gila itu pergi ke mana saja. Mereka sama sekali tidak mau memperhitungkan keadaan. Mereka menuruti saja perasaannya.”

Tiba-tiba Ki Tambak Wedi teringat, bahwa di desa itu pasti ada prajurit Pajang yang sedang mengawasi keadaan menjeIang saat penyerahan orang-orang Jipang. Gumamnya, “Hem, mungkin Sidanti sedang melihat-lihat, apakah di desa ini ada orang-orang Pajang. kalau benar diketemukannya beberapa orang prajurit, maka anak itu pasti sedang melepaskan kemarahannya.”

Sejenak Ki Tambak Wedi menjadi berbimbang hati. Tetapi kemudian kembali ia bergumam, “Biarlah aku melihatnya pula. Orang-orang Pajang pasti berada di ujung jalan itu.”

Akhirnya Ki Tambak Wedi pun segera dengan tergesa-gesa menyusup rimbunnya dedaunan, meloncati dinding-dinding halaman, pergi ke ujung jalan.

Dalam pada itu Wira Lele masih berpacu dengan kudanya. Beruntunglah ia bahwa ketika Ki Tambak Wedi berjalan mendekati jalan yang dilaluinya, ia telah lampau. Kalau hantu lereng Merapi itu melihatnya, maka sudah pasti bahwa tubuh Wira Lele akan terbanting dari punggung kudanya, karena Ki Tambak Wedi akan melempar dengan gelang-gelang besinya.

Kuda Swandaru adalah kuda yang cukup baik, sehingga lajunya benar-benar seperti anak panah meluncur dari busurnya. la harus segera menemui Untara, mengabarkan apa yang telah terjadi, sehingga rencana yang telah disusun rapi oleh pimpinannya itu tidak pecah berserakan.

Akhirnya Wira Lele melihat juga sebuah barisan yang berhenti di tengah-tengah bulak. Barisan itu adalah barisan Pajang dan anak-anak muda Sangkal Putung.

Ketika Untara melihat api yang menjilat ke udara, maka hatinya menjadi berdebar-debar. Dengan ragu-ragu ia berkata kepada Ki Gede Pemanahan, “Ki Gede, aku melihat ketidak-wajaran dari desa Benda itu.”

Ki Gede mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling, memandangi wajah Untara, dilihatnya pada wajah itu beberap titik keringat.

Kali ini Ki Gede benar-benar menjadi kecewa. Ternyata persiapan Untara masih belum terlampau masak, sehingga di saat-saat yang ditentukan masih juga terjadi peristiwa-peristiwa yang menegangkan dan bahkan mungkin dapat membahayakan.

Tetapi Ki Gede puas dengan persiapan pasukan Pajang dan anak-anak muda Sangkal Putung yang berbaris di belakangnya. Bahwa seandainya orang-orang Jipang itu berkhianat atas persetujuan yang telah dibuatnya, atau sengaja menjebak para prajurit Pajang, maka pasukan itu sudah benar-benar dalam kesiagaan tempur.

“Bagaimana pertimbanganmu Untara?” bertanya Ki Gede Pemanahan.

“Beberapa orang harus menyaksikan keadaan desa itu dari dekat.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Di desa itu tak akan kau jumpai bahaya yang besar. Kalau orang-orang Jipang ingin menjebakmu di sana, maka tidak akan terjadi pembakaran itu.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi bagaimanapun juga api itu telah mencemaskannya. Maka katanya, “Ya Ki Gede, demikianlah kiranya. Tetapi api itu sendiri dapat menimbulkan berbagai pertanyaan. Mungkin tanpa disengaja para penjaga telah membakar sebuah timbunan jerami atau alang-alang. Tetapi mungkin juga karena sebab-sebab lain.”

“Kita tidak mendengar tanda bahaya,” sela Widura yang berdiri di belakang Untara.

Ki Gede Pemanahan masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak panglima itu berdiam diri dan berpikir. Kemudian katanya, “Baik juga kau mengirimkan beberapa penghubung untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.”

Untara mengangguk. Di belakang barisan itu ada tiga orang penghubung dengan kuda-kuda mereka yang siap untuk melakukan tugas itu.

Tetapi Untara itu kemudian tertegun diam. Dari kejauhan, mereka melihat seekor kuda muncul di tikungan, dari balik tanaman-tanaman jagung dan gerumbul jarak liar yang berserakan di pinggir-pinggir jalan. Kuda itu berpacu semakin dekat. Debu yang dilemparkan oleh kaki-kakinya mengepul tinggi ke udara.

“Siapa?” desis Ki Gede Pemanahan.

Untara tidak segera menyahut. Tetapi kemudian setelah orang berkuda itu menjadi semakin dekat ia menjawab, “Wira Lele, Ki Gede, pemimpin pengawas yang aku tempatkan di Benda.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajahnya sama sekali tidak membayangkan kegelisahan dan kecemasan. Wajah Panglima Wira Tamtama itu selalu membayangkan ketenangan hatinya, sehingga orang-orang lainpun menjadi tenang pula karenanya.

Semakin lama Wira Lele itupun menjadi semakin dekat, sementara itu wajah Untara dan Widura menjadi semakin tegang. Mereka merasa tidak sabar lagi menunggu kuda yang berlari kencang seperti angin itu.

Demikian Wira Lele sampai di hadapan mereka, maka segera Untara dan Widura menyongsongnya sambil bertanya, “Apa yang terjadi?”

Untara dan Widura menjadi semakin berdebar-debar ketika mereka melihat wajah Wira Lele yang pucat dan keringatnya yang membasahi seluruh tubuhnya.

“Apa yang terjadi?” Untara mengulangi pertanyaannya.

Dengan serta-merta Wira Lele itu turun dari kudanya, menganggukkan kepalanya dalam-dalam, kemudian menjawab, “Di Benda telah terjadi kebakaran.”

“Kenapa?” bertanya Widura singkat.

Sejenak Wira Lele menjadi ragu-ragu kembali. Apakah ia harus mengatakan seperti pesan Sutawijaya, atau ia harus mengatakan sebenarnya.

“Kenapa?” desak Widura.

“Oh,” Wira Lele tergagap. Akhirnya ia memutuskan untuk mengatakan keadaan yang sebenarnya. Dengan terbata-bata dan seolah-olah tidak berurutan, kata-katanya berebut dahulu meloncat dari mulutnya. “Beberapa gubug telah dibakar Sidanti.”

Mendengar kalimat yang pendek itu dada Untara dan Widura bergetar. Hampir bersamaan mereka mengulangi nama itu, “Sidanti?”

“Ya.”

Ki Gede Pemanahan pun melangkah maju sambil bertanya, “Apakah Sidanti memasuki desa kecil itu?”

Wira Lele menganggukkan kepalanya dalam-dalam ketika ia melihat Panglima itu bertanya kepadanya, “Ya tuan, Sidanti, Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda.”

“Bertiga?” bertanya Ki Gede Pemanahan.

“Ya Ki Gede, mereka bertiga.”

Sejenak Untara dan Widura saling berpandangan. Sekilas teringat olehnya Agung Sedayu, Swandaru dan Sutawijaya yang mendahului mereka. Apakah mereka tidak terjebak oleh Sidanti dan kedua kawan-kawannya. Bahkan tiada disengaja terloncat pertanyaan dari mulut Untara, “Bagaimana dengan anak-anak muda yang datang berkuda. Apakah kau bertemu dengan mereka?”

“Ya,” sahut Wira Lele. “Kini mereka saling berhadapan. Kuda yang aku pakai adalah kuda Angger Swandaru.”

Untara dan Widura memandangi kuda itu. Kuda itu memang kuda Swandaru.

“Kini mereka pasti sedang bertempur,” sambung Wira Lele.

“Tetapi kau lihat Sidanti hanya bertiga?” sela Widura.

“Ya.”

Widura menarik nafas. Sementara itu Untara berkata, “Mudah-mudahan anak-anak itu tidak mengalami kesulitan.”

“Kalau mereka benar-benar hanya bertiga,” tiba-tiba terdengar Ki Gede Pemanahan berkata. “Maka aku mengharap anak-anak itu akan dapat mengatasinya.” Ki Gede itu diam sesaat. Kemudian ia berpaling kepada Untara. “Apakah adikmu dapat melawan Sanakeling?”

Untara itu mengangguk. “Aku harap demikian Ki Gede. Mereka berdua pernah bertemu di garis perang, pada saat terakhir.”

“Kalau begitu, mereka tidak akan menemui kesulitan.” Ki Gede itu terdiam sesaat. Tetapi sejenak kemudian tampak wajahnya yang tenang itu berkerut. Tiba-tiba kata-katanya mengejutkan Untara, “Wira Lele, bukankah namamu Wira Lele?”

“Ya Ki Gede,” sahut Wira Lele sambil menganggukkan kepalanya.

“Kau benar-benar hanya melihat tiga orang dari mereka?”

“Ya Ki Gede. Hanya tiga orang. Di perjalanan kemaripun aku tidak melihat orang-orang lain.”

“Tetapi di antara mereka bertiga itu ada Sidanti,” gumam Ki Gede Pemanahan. “Kalau begitu,” katanya, “berikan kudamu kepadaku.”

“Ki Gede,” potong Untara, “apakah yang akan Ki Gede lakukan sekarang?”

“Sidanti adalah murid Tambak Wedi. Hantu itu mungkin berada di sana pula.”

“Ki Gede, aku dan paman Widura yang bertanggung jawab atas semua peristiwa ini. Karena itu, biarlah aku pergi mendahului.”

“Apakah kau dapat berbuat sesuatu kalau tiba-tiba muncul di arena perkelahian itu Ki Tambak Wedi?”

Untara terbungkam. Tetapi ia melangkah maju ketika ia melihat Ki Gede Pemanahan merenggut kendali kuda Wira Lele.

“Jangan Ki Gede,” minta Untara. “Ki Gede adalah Panglima Wira Tamtama. Keselamatan Ki Gede jauh lebih berharga dari keselamatan kita semuanya.”

“Ah,” desah Ki Gede yang tiba-tiba telah meloncat ke atas punggung kuda itu. “Aku sedang mencemaskan keselamatan anakku. Aku akan mendahului kalian, cepat susul aku. Kalau terjadi sesuatu bukanlah salahmu, tetapi salah anakku yang nakal itu.”

“Ki Gede,” Untara masih ingin mencegah, tetapi ia tidak tahu kata-kata apakah yang akan diucapkan.

“Aku menyadari maksudmu Untara,” sahut Ki Gede Pemanahan, “tetapi pada masa-masa mudaku, aku senakal anakku itu pula. Karena itu jangan cemaskan aku.”

Untara tidak dapat berbuat sesuatu lagi. Ia hanya dapat melihat Ki Gede memutar kudanya. Yang terdengar kemudian adalah kata-kata salah seorang perwira pengawalnya, “Ki Gede, apakah Ki Gede tidak menunggu kami?”

Ki Gede tersenyum, katanya, “Lindungilah panji-panji itu. Biarlah panji-panji itu tetap berkibar.”

Tak seorangpun sempat mencegahnya. Kuda itu segera meloncat dan berlari sekencang badai. Gemeretak di atas tanah berbatu-batu. Semakin lama semakin jauh.

Untara itupun kemudian tersentak. Tiba-tiba mulutnya berteriak, “He, berikan kuda penghubung itu. Kenapa kalian diam saja sejak tadi?”

Para penghubung yang memegang kendali kuda di bagian belakang dari barisan itu terkejut mendengar teriakan Untara. Karena itu, maka dengan segera mereka meloncat naik ke punggung-pungung kuda dan membawa kuda-kuda mereka maju mendekati Untara.

“Berikan satu kepadaku,” teriak Untara itu pula.

Para penghubung itu sama sekali tidak tahu maksud Untara. Tetapi merekapun segera berloncatan turun dan salah seorang dari pada mereka menyerahkan kendali kudanya kepada Untara.

“Kau akan pergi juga?” bertanya Widura.

“Ya.”

“Sendiri?”

Untara ragu-ragu sejenak. Sehingga Widura berkata pula, “Apakah aku akan menyertaimu?”

Untara menggeleng, “Tidak. Paman memimpin pasukan ini.” Untara berhenti sejenak kemudian dipandanginya beberapa orang perwira dan pengawal Ki Gede Pemanahan yang lain. Rupa-rupanya orang-orang itupun tahu maksudnya, sehingga salah seorang dari mereka berkata, “Aku akan pergi bersamamu Adi Untara.”

“Marilah,” sahut Untara.

“Aku juga, bukankah ada tiga ekor kuda,” berkata seorang yang lain.

Maka sejenak kemudian mereka bertiga telah berada di punggung kuda. Dengan sentuhan pada lambung-lambung kuda itu, maka ketiganya meloncat dan berlari seperti dikejar hantu.

Tiga ekor kuda itu berpacu dengan cepatnya, berderak-derak di atas jalan yang menuju ke desa kecil di hadapan mereka, Benda.

Di desa Benda, pada saat itu sedang berlangsung suatu perkelahian yang semakin lama menjadi semakin seru. Sidanti yang melawan Sutawijaya benar-benar telah berusaha memeras segenap kemampuannya. Namun ia harus melihat kenyataan pula, bahwa Sutawijaya benar-benar memiliki kelincahan dan ketangguhan yang sulit ditandinginya.

Dengan senyum yang selalu membayang di bibirnya, Sutawijaya pun berusaha untuk menebus kekalahannya. Bahkan tiba-tiba lukanya itu seolah-olah menjadi terasa pedih kembali.

“Hem,” geramnya, “sedikitnya sebuah goresan di tubuhmu, Sidanti.”

Sidanti tidak menyahut. Tetapi bekerja lebih keras lagi. la sama sekali tidak dapat mengharapkan bantuan siapapun juga dalam perkelahian ini, sebab kedua kawannya telah terlibat pula dalam perkelahian yang seru. Meskipun Alap-alap Jalatunda tidak mengalami tekanan yang berat, bahkan sekali-sekali ia berhasil mendesak Swandaru yang gemuk, namun belum menunjukkan suatu kepastian bahwa ia akan dapat mengalahkan lawannya. Kekuatan Swandaru ternyata benar-benar merupakan kekuatan raksasa.

Sedang Sanakeling, hampir tidak pernah mendapat kesempatan untuk menarik nafas. Ternyata Agung Sedayu cukup cepat menghadapinya. Keduanya adalah orang-orang pilihan dari pihak yang berlawanan, yang pernah bertemu di garis perang, sehingga dengan demikian, maka kini mereka telah berusaha sekuat-kuat tenaga masing-masing untuk segera menguasai lawannya.

Tiba-tiba Sanakeling, Agung Sedayu, Alap-alap Jalatunda dan Swandaru terkejut ketika mereka mendengar suara Sidanti mengumpat keras-keras, “Setan. Jangan berbangga dengan sentuhan senjatamu itu.”

Yang terdengar kemudian adalah suara tertawa Sutawijaya. Katanya, “Jangan mengumpat-umpat. Aku hanya menagih hutangmu, tidak lebih. Dan aku masih belum menuntut bunganya.”

“Mampus kau!” teriak Sidanti pula sambil menyerang Sutawijaya sejadi-jadinya. Wajahnya menjadi merah padam dan matanya seakan-akan menyala. Dari lengan kirinya menetes darah yang merah segar.

Agung Sedayu pun tersenyum pula melihat luka Sidanti, bahkan Swandaru dengan serta-merta berteriak pula, “He, apakah murid Ki Tambak Wedi itu dapat dilukai?”

“Tunggu, aku akan menjobek mulutmu Swandaru,” sahut Sidanti lantang.

Tetapi Swandaru menjawab pula, “Lenganmu sudah terluka. Apakah kau masih dapat menyombongkn dirimu lagi?”

Kata-kata Swandaru terputus. la masih akan berkata lagi, tetapi ketika ia baru saja membuka mulutnya, ujung pedang Alap-alap Jalatunda hampir saja masuk ke dalam mulutnya itu.

“Gila kau,” anak yang gemuk itu mengumpat. Dengan cepatnya ia meloncat mundur. Tetapi Alap-alap Jalatunda mengejarnya dan dengan pedangnya ia menyerang lambung.

Swandaru memutar tubuhnya setengah lingkaran. la tidak mau menghindar lagi. Dengan sekuat tenaganya, pedang Alap-alap Jalatunda itu ditangkisnya dengan pedangnya pula. Terdengar suara berdentang. Dari sentuhan kedua tajam pedang itu memercik bunga api. Namun sekali lagi terasa oleh Alap-alap Jalatunda, betapa kuatnya tangan Swandaru, meskipun Swandaru terpaksa mengakui pula kecepatan bergerak Alap-alap Jalatunda. Hampir saja lambungnya tersobek oleh pedangnya.

Sementara itu, Ki Tambak Wedi berjalan dengan tergesa-gesa menyusup rimbunnya dedaunan di kebun-kebun dan meloncati pagar-pagar halaman, menuju ke ujung desa itu. Ia menyangka bahwa di sana pasti ada gardu pengawas. “Mungkin Sidanti dan kawan-kawannya sedang berpesta,” gumamnya. “Tetapi itu adalah perbuatan yang bodoh. Meskipun seandainya mereka berhasil membunuh lima atau enam orang, tetapi mereka hampir-hampir tidak lagi dapat berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan lain. Mungkin Sidanti demikian bernafsu dan mencincang korbannya. Mungkin Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda berbuat serupa.Tetapi kalau mareka tertangkap oleh orang-orang Pajang, maka mereka pasti akan mengalami perlakuan yang sama.”

Sambil bersungut-sungut Ki Tambak Wedi itu berjalan semakin cepat mendekati gardu perondan di ujung jalan.

Ketika Ki Tambak Wedi sudah menjadi semakin dekat, maka mulailah ia mendengar gemerincing senjata beradu, namun karena rimbunnya pepohonan dan dinding-dinding halaman, maka orang tua itu masih belum dapat melihat apa yang terjadi di gardu peronda itu.

“Hem,” gumamnya sambil melangkah lebih cepat, “siapakah yang berada di gardu itu sehingga Sidanti, Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda memerlukan waktu yang cukup lama untuk membinasakannya?”

Demikian ketika ia sampai di halaman terakhir, di tepi jalan di muka gardu itu, maka lewat di atas dinding halaman ia melihat beberapa buah kepala tersembul. Kepala yang bergerak-gerak bergeser dan kadang-kadang berputaran.

“ltulah mereka,” desisnya.

Tiba-tiba Ki Tambak Wedi itu menjadi semakin tergesa-gesa. Langkahnya menjadi semakin panjang, dan kemudian dengan serta merta ia menjengukkan kepalanya dari atas dinding itu.

Demikian kepalanya tersembul di atas dinding halaman, demikian darahnya serasa membeku. la melihat muridnya bertempur melawan Sutawijaya. Bukan itu saja, tetapi dari tubuh muridnya telah menetes darah. Di lingkaran yang lain, ia melihat Sanakeling bertempur melawan Agung Sedayu, dan Alap-alap Jalatunda melawan Swandaru Geni. Sedang di muka gardu ia masih melihat beberapa prajurit Pajang berdiri dengan mulut ternganga, seperti sedang menonton adu jago.

Tanpa disengaja Ki Tambak Wedi itupun menggeram. Ketika ia sekali mengayunkan kakinya, maka kini ia telah duduk bertengger di atas dinding batu itu.

Anak-anak muda yang sedang bertempur itu terkejut. Seakan-akan tiba-tiba saja tanpa sangkan-paran mereka melihat seseorang duduk di atas dinding. Apalagi ketika mereka melihat wajah yang keras, hidung yang melengkung seperti paruh burung betet, dan kumis yang tebal, maka terasa dada mereka berdesir. Lebih-lebih Sutawijaya, Agung Sedayu dan Swandaru. Dengan segera mereka mengenal, bahwa orang itu adalah Ki Tambak Wedi.

“Hem,” kembali terdengar Ki Tambak Wedi menggeram, “ternyata kalian sedang bermain-main.”

“Ya, guru,” sahut Sidanti. Hatinya yang sudah mulai berkeriput tiba-tiba kini mekar kembali ketika ia melihat gurunya, “Aku ingin membawa mereka, setidak-tidaknya kepala mereka ke lereng Gunung Merapi.”

Meskipun debar jantung Sutawijaya belum mereda oleh kehadiran Ki Tambak Wedi, namun mendengar bualan Sidanti sempat juga ia tertawa. Katanya, “He, apakah kau ingin memenggal leherku?”

“Tentu,” sahut Sidanti lantang.

“Baik,” jawab Sutawijaya, “mari perkelahian ini kita lanjutkan. Gurumu menjadi saksi. Sutawijaya atau Sidanti yang hanya pandai membual tetapi tidak mampu mempermainkan senjatanya?”

Terdengar gigi Sidanti gemeretak. Tantangan itu benar-benar menyakitkan hatinya, tetapi ia menyadari keadaan yang dihadapi. Dengan demikian Sidanti itu terbungkam. Yang terdengar hanyalah gemeretak giginya.

Bukan saja Sidanti yang menjadi sakit hati mendengar tantangan itu, tetapi Ki Tambak Wedi pun menjadi marah pula. Dengan suara parau ia berkata, “Sutawijaya, bagaimanapun juga kau menyombongkan dirimu, tetapi ketahuilah, bahwa hari ini adalah hari akhir hidupmu.”

Terasa sesuatu berdesir di dalam dada Sutawijaya. Tetapi ia bukan seorang pengecut. Sekilas ia memandang kawan-kawannya yang masih saja bertempur. Namun wajah-wajah itupun sama sekali tidak menunjukkan ketakutan. Agung Sedayu dan Swandaru menyadari keadaan yang di hadapinya pula. Kehadiran Ki Tambak Wedi berarti bahaya yang tak akan dapat mereka hindari. Tetapi mereka tidak akan bersimpuh dan menyembah mohon ampun di bawah kaki hantu lereng Merapi itu. Bahkan hati mereka bergetar ketika mereka mendengar Sutawijaya menjawab sambil tertawa, “Bagus Ki Tambak Wedi. Kau pasti akan mampu membunuh aku. Dan akupun akan melawanmu dengan sikap jantan. Aku dan kawan-kawanku tidak akan lari meninggalkan gelanggang. Tetapi sebelum mati, aku minta kepadamu, untuk sedikit mendorong muridmu supaya iapun dapat bersikap jantan. Nah Ki Tambak Wedi, apabila demikian, maka aku akan menyelesaikan perkelahian ini sebagai perkelahian di antara dua orang laki-laki. Bukan perkelahian anak-anak yang masih harus merengek-rengek minta pertolongan kepada ayah atau gurunya.”

Sekali lagi terdengar gigi Sidanti gemeretak. Ia benar-benar dihadapkan pada suatu keadaan yang sulit. Sebagai seorang laki-laki, maka ia tidak mungkin menghindari tantangan itu. Namun kenyataan mengatakan kepadanya, bahwa ia benar tidak mampu melawan Sutawijaya. Apalagi ketika Swandaru menyahut lantang, “Nah, sekarang baru akan tampak, siapakah yang jantan dan siapakah yang hanya berani menampar mulut orang yang pasti tak akan mampu melawan.”

“Tutup mulutmu!” bentak Sidanti. Kemarahannya seakan-akan hampir meledakkan dadanya.

Tetapi Swandaru tertawa. Meskipun suara tertawanya agak sumbang. Suara tertawa sebagai pelepas perasaannya. Sebab ia tahu benar, bahwa sebentar lagi apabila Ki Tambak Wedi itu meloncat turun dari atas dinding batu itu, maka nyawanya akan melayang.

Ki Tambak Wedi pun merasa dihadapkan pada suatu persoalan yang rumit. Tetapi ia pasti akan lebih menghargai nyawa muridnya dari pada sekedar harga diri. Karena itu, maka segera ia berkata, “Jangan mencoba menipu aku anak cengeng. Kau pasti mencoba menunggu orang-orang Pajang datang kemari. Tetapi aku tidak sebodoh itu. Apapun yang akan kau katakan tentang muridku, tentang perguruanku, aku tidak peduli. Sebab umurmu tidak akan lebih dari sesilir bawang.”

Dada Sutawijaya berdesir mendengar jawaban Tambak Wedi itu. Bukan karena ia takut terbunuh, tetapi ia menghadapi keadaan yang menurut penilaiannya tidak adil. Demikian juga agaknya perasaan Agung Sedayu dan Swandaru Geni.

Tetapi sudah pasti mereka tidak dapat ingkar. Betapapun hatinya memberontak. Mereka ingin diberi kesempatan menyelesaikan perkelahian itu lebih dahulu. Tetapi apa boleh buat, Tambak Wedi bukanlah seorang yang sekedar akan menjadi saksi dari perkelahian itu, tetapi ia adalah salah satu dari musuh-musuhnya.

Ketika kemudian mereka melihat Ki Tambak Wedi itu meloncat turun, maka hampir bersamaan Sutawijaya, Agung Sedayu dan Swandaru Geni menggeram. Pada saat terakhir itu mereka mencoba berbuat sebaik-baiknya, mencoba menekan lawan dengan segenap kekuatan terakhir.

Swandaru dengan sepenuh tenaga menghantam lawannya dengan pedangnya yang berhulu gading. la tidak perduli, apakah musuhnya akan melawan serangannya itu dengan sebuah tangkisan atau akan menghindar. Tetapi ia seolah-olah menjadi bermata gelap. Seperti badai pedangnya melanda Alap-alap Jalatunda.

Alap-alap itu terkejut, justru pada saat yang sama sekali tak disangka-sangkanya. la menyangka Swandaru akan mencoba menyelamatkan dirinya dari Ki Tambak Wedi atau setidak-tidaknya perkelahiannya itu akan menjadi lemah karena putus asa. Namun ternyata bentuk keputus-asaan yang terungkap dalam diri Swandaru adalah berbeda dari yang dibayangkan oleh Alap-alap Jalatunda. Dalam keputus-asaan, Swandaru masih mencoba membinasakan lawannya, sama sekali bukan ingin melarikan diri sementara Ki Tambak Wedi akan membunuh Sutawijaya.

Karena itu, maka Alap-alap Jalatunda terpaksa melayani saat-saat terakhir dari perkelahian itu. Ketika ia mencoba menangkis serangan Swandaru, maka terasa tangannya menjadi nyeri. Hampir-hampir senjatanya itu terlepas. Untunglah bahwa dengan sisa kekuatan tangannya ia mampu mempertahankan senjatanya. Meskipun demikian, sementara nyeri tangannya masih menyengat-nyengat, Alap-alap itu terpaksa berloncatan surut menghindari serangan-serangan Swadaru berikutnya.

Demikian pula agaknya Agung Sedayu. Dengan sepenuh tenaga ia berjuang. Dipergunakannya saat-saat terakhir yang pendek untuk mencoba mendahului tangan Ki Tambak Wedi atas dirinya. Tetapi Sanakeling pun mampu menghindari setiap serangannya meskipun ia harus berloncatan surut dan mengumpat-umpat tak habis-habisnya.

Ki Tambak Wedi melihat kedua anak muda itu sambil menggeram. Tiba-tiba ia berkata dengan nada parau, “Hem, kalian telah mulai sekarat.” Kemudian kepada Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda, hantu lereng Merapi itu berkata, “Tahanlah musuh-musuhmu itu sesaat. Jangan sampai mereka melarikan diri. Yang pertama-tama akan aku bunuh adalah Sutawijaya, kemudian Agung Sedayu dan yang terakhir, anak yang gemuk itu, biarlah Sidanti yang menyelesaikan.” Tetapi kata-kata Ki Tambak Wedi itu terputus. Bahkan yang lainpun terkejut pula ketika tiba-tiba mereka mendengar Sidanti memekik kecil, sehingga semua perhatian telah terpukau karenanya.

Ki Tambak Wedi itupun menjadi terkejut pula. la melihat darah yang merah mengalir dari dada Sidanti.

“Setan!” Sidanti itu mengumpat sambil meloncat jauh-jauh ke belakang. Tetapi Sutawijaya benar-benar seperti orang kesurupan. la tidak mempedulikannya lagi. Dengan cepatnya ia mengejar lawannya. Sekali lagi tombaknya terjulur, kali ini mengarah leher Sidanti yang sudah kehilangan keseimbangan. Saat-saat itu adalah saat yang sangat berbahaya bagi Sidanti. Seolah-olah ia telah kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan dirinya. Meskipun demikian anak muda itu masih juga mampu menghindar dengan jalan satu-satunya. Dengan serta-merta ia menjatuhkan dirinya dan berguling ke samping.

Usaha itu hanya berguna sementara bagi Sidanti. Sebab Sutawijaya pun segera meloncat pula menerkam Sidanti yang masih berguling di tanah dengan tombaknya.

Darah Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda serasa berhenti melihat peristiwa itu. Mereka melihat tombak itu terangkat dan apabila kemudian tombak itu mematuk ke bawah, maka nyawa Sidanti pun pasti akan melayang.

Tetapi beruntunglah bagi Sidanti, bahwa saat itu gurunya berada di tempat itu pula. Sudah tentu Ki Tambak Wedi tidak akan membiarkan muridnya dibunuh di hadapan hidungnya. Karena itu segera ia meloncat seperti tatit menyambar di langit. Dengan sebuah sentuhan yang tergesa-gesa pada lambung Sutawijaya, maka anak muda itulah yang kemudian terlempar beberapa langkah. Yang terdengar kemudian adalah suara tubuh Sutawijaya itu terbanting jatuh.

Kini nafas Agung Sedayu dan Swandaru Geni-lah yang tertahan di kerongkongan. Mereka melihat Sutawijaya itu terbanting dan berguling beberapa kali. Namun alangkah kuatnya tubuh anak muda itu. Demikian ia berguling beberapa kali, maka segera ia meloncat bangkit. Tombaknya, Kiai Pasir Sewukir, masih dalam genggamannya.

Tetapi demikian ia berhasil berdiri, maka anak muda itupun menyeringai menahan sakit pada lambung dan punggungnya.

“Tambak Wedi,” anak muda itu menggeram. Tampaklah kini matanya seakan-akan menyala karena kemarahannya. “Ternyata kau pengecut seperti muridmu. Aku sangka perguruan lereng Merapi adalah perguruan yang menempa kejantanan dan kejujuran. Tetapi ternyata kau telah mengajari muridmu dengan perbuatan yang licik.”

“Tutup mulutmu!” bentak Ki Tambak Wedi lebih, “baik kau mengucapkan pesan-pesanmu. Aku benar-benar akan membunuhmu kini.”

Gigi Sutawijaya gemeretak. Sejenak ia terpaku diam karena kemarahannya yang memuncak. Terasa detak jantungnya menjadi semakin keras memuku-mukul rongga dadanya. Tetapi Sutawijaya itu kemudian mengangkat wajahnya. Yang berderap itu bukanlah suara jantungnya saja, tetapi suara itu adalah derap kaki-kaki kuda, namun kuda itu masih terlampau jauh.

Bukan saja Sutawijaya yang mendengar derap suara kaki-kaki kuda di kejauhan, tetapi Ki Tambak Wedi dan semuanya yang ada di tempat itupun mendengarnya pula.

“Gila,” Ki Tambak Wedi itupun mengumpat. Sejenak ia menjadi bimbang.

Suara kaki-kaki kuda itu sekilas terasa memberi harapan bagi Sutawijaya dan kawan-kawannya, tetapi kening Sutawijaya itupun kemudian berkerut. Katanya di dalam hati, “Hem, kenapa mereka datang berkuda? Derap kaki kuda itu hanya akan mempercepat kematianku. Seandainya mereka datang sambil berjalan kaki dapat mendekati tempat ini sebelum aku dicekiknya, maka aku masih dapat mengharap pertolongannya seperti Sidanti mendapat pertolongan gurunya.”

Tetapi yang terjadi adalah, mereka datang berkuda. Derap kaki-kaki kuda itu telah memberitahukan kehadiran mereka selagi mereka masih jauh. “Bukan saja mempercepat kematianku,” desis Sutawijaya pula di dalam hatinya, “tetapi itupun akan sangat berhahaya bagi mereka sendiri. Seandainya Ki Tambak Wedi tidak sendiri dan orang-orang yang lain inipun tidak sedang terikat oleh lawan masing-masing, maka mereka akan dengan mudahnya disergap dari balik-balik dinding halaman.”

Namun kata-kata di hati Sutawijaya itupun terputus, geram ki Tambak Wedi, “Alangkah bodohnya orang-orang Pajang. Kehadiran mereka hanya mempercepat kematianmu. Sayang aku tidak mendapat kesempatan bermain-main dengan penunggang-penungang kuda yang bodoh itu.”

Sutawijaya tidak menjawab. Pikiran itu dapat dimengertinya. Ketika kemudian ia berpaling ke arah kedua kawannya, mereka pun telah berhenti berkelahi.

“Sidanti,” berkata Ki Tambak Wedi, “sebentar lagi beberapa orang dari Pajang akan datang. Aku kira bukan seluruh pasukan, mereka hanyalah orang-orang yang mendahului pasukan itu.”

“Wira Lele telah lepas dari tangan kami guru. la sempat memberitahukan peristiwa ini kepada orang-orang Pajang itu,” sahut Sidanti.

“Tidak apa,” berkata gurunya, “sekarang tinggalkan tempat ini cepat-cepat. Pilihlah arah yang tepat seperti yang kita rencanakan supaya kau tidak dilihat oleh orang-orang berkuda itu.”

Sidanti tidak segera menyahut. Terasa harga dirinya tersentuh. Tetapi terdengar gurunya membentak, “Cepat! Tinggalkan tempat ini, bersama Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda. Biarlah aku menyelesaikan ketiga-tiganya.”

Ketiganya tidak lagi menunggu Ki Tambak Wedi mengulangi. Derap kaki kuda itu sudah semakin dekat. Namun tiba-tiba derap itu berhenti.

Ki Tambak Wedi mengangkat wajahnya. Tetapi ia tidak lagi mendapat banyak kesempatan. la tidak lagi mempedulikan suara-suara kaki yang hilang itu. Sidanti dan kedua kawan-kawannya pun tidak. Ketiganya segera meloncat berlari meninggalkan tempat itu. Agung Sedayu dan Swandaru masih mencoba untuk mencegah mereka, tetapi ketika mereka melihat Ki Tambak Wedi menimang gelang-gelang besinya maka maksud itupun diurungkannya. Usahanya pasti akan sia-sia dan mereka pasti hanya akan mati tanpa arti. Lebih baik bagi mereka untuk mempersiapkan diri melawan hantu lereng Merapi itu bersama-sama.

Derap kuda itu masih juga belum terdengar Iagi. Mereka sudah tidak begitu jauh. Tetapi mereka pasti berhenti. Kalau tidak, maka mereka pasti sudah tampak di tikungan sebelah.

“Aku tidak peduli lagi, apa yang akan kalian katakan,” geram Tambak Wedi. “Sekarang kalian akan aku bunuh dengan caraku. Kalau kuda-kuda itu tampak di tikungan, maka kalian akan menggelepar di tanah. Kalian tidak akan segera mati, tetapi kalian tidak akan dapat disembuhkan. Aku akan meremas tulang-tulang iga kalian.”

Ki Tambak Wedi itupun maju selangkah mendekati Sutawijaya. Anak itulah yang paling dibencinya. Sesudah itu Agung Sedayu.

“Setidak-tidaknya kau,” desisnya.

Sutawidjaja itupun melangkah surut. Ia melihat Agung Sedayu dan Swandaru justru meloncat mendekatinya. Senjata-senjata mereka telah siap terjulur lurus ke dada Tambak Wadi.

“Jangan terlampau banyak sekarat,” geramnya pula. “Aku menunggu kuda itu muncul di tikungan, supaya penunggangnya melihat bagaimana kalian bertiga mati.”

Tetapi kuda-kuda itu belum juga muncul. Bahkan suara derapnyapun belum terdengar. Agung Sedayu dan Swandaru agaknya tidak dapat bersabar lagi. Merekalah yang tiba-tiba mendahului menyerang Ki Tambak Wedi.

Namun bagi Ki Tambak Wedi, serangan-serangan itu tidak banyak berarti. Meskipun kemudian Sutawijaya ikut pula bertempur.

Dengan loncatan-loncatan pendek serta mempergunakan gelang-gelang besinya, Ki Tambak Wedi selalu berhasil menghindari dan menangkis serangan-serangan anak-anak muda itu.

“Gila, kenapa kuda-kuda itu tidak juga muncul. Kalau mereka meloncat turun, dan mencoba mendatangi tempat ini sambil bersembunyi, maka aku akan sangat kecewa. Sebab aku pasti akan membunuh kalian dengan tergesa-gesa. Tetapi apa boleh buat. Lebih baik aku berbuat cepat dari pada terlambat. Aku tidak akan menunggu kuda-kuda itu.”

Tetapi tiba-tiba kembali terdengar kuda berderap. Ki Tambak Wedi itupun kemudian tersenyum. Katanya, “Ha, aku mempunyai kesempatan yang baik. Tunggu sampai kuda itu muncul di tikungan supaya mereka melihat kalian menggelepar kesakitan seperti ayam disembelih. Aku mengharap ayahmulah yang datang, Sutawijaya.”

Ketiga anak muda itu sama sekali tidak menjawab. Mereka memperketat serangan-serangan mereka. Meskipun mereka tahu, bahwa mereka sama sekali tidak berarti bagi Ki Tambak Wedi, namun mereka ingin mati sebagaimana seorang laki-laki mati di dalam peperangan. Bukan seperti seekor cucurut yang mati ketakutan melihat seekor kucing candramawa.

Tetapi Ki Tambak Wedi menjadi semakin bergembira meIayani anak-anak muda itu, meskipun sebenarnya ia telah hampir sampai pada puncak permainannya. Ia hanya menunggu kuda-kuda itu muncut di tikungan. Kemudian dengan gerakan yang pasti tak akan dapat dihindari oleh ketiga anak-anak muda itu, Ki Tambak Wedi akan menyelesaikan pertempuran. Ia mengharap bahwa orang-orang berkuda itu masih sempat melihat ketiga anak-anak muda itu menjelang saat matinya dengan penuh penderitaan.

“Ha,” teriak Ki Tambak Wedi kemudian, “itulah mereka.”

Dada Sutawijaya, Agung Sedayu dan Swandaru berdesir. Kini mereka tinggal menunggu saat yang sama sekali tidak menyenangkan itu. Ki Tambak Wedi pasti akan melakukan seperti yang dikatakannya. Meremas tulang-tulang iga mereka.

Namun tiba-tiba sekali lagi mereka terkejut. Yang mereka dengar lebih jelas bukanlah langkah kuda-kuda itu, tetapi derap langkah orang berlari.

Sesaat gerak Ki Tambak Wedi terganggu. Tetapi segera ia mengetahui bahwa di antara mereka yang berkuda, pasti ada seseorang yang dengan bersembunyi-sembunyi mendekati perkelahian itu. Karena itu wajahnya menjadi tegang.

Tetapi apa yang akan dilakukan Ki Tambak Wedi, masih belum dapat mendahului langkah itu. Sebelum Ki Tambak Wedi berbuat sesuatu, maka tiba-tiba mereka melihat sebuah bayangan melayang hinggap di atas dinding halaman di sebelah yang lain dari arah kedatangan Ki Tambak Wedi.

Darah hantu lereng Merapi itu terasa seolah-olah berhenti mengalir dengan tiba-tiba. Ia tidak menyangka, bahwa salah seorang dari mereka mampu datang secepat itu. Dan ternyata yang bertengger di atas dinding halaman itu adalah Ki Gede Pemanahan.

Ki Tambak Wedi melihat, bahwa sekali lagi ia mengalami kegagalan. Otaknya yang telah dipenuhi oleh berbagai pengalaman segera mengatakan, bahwa tak akan ada gunanya lagi baginya berbuat sesuatu atas ketiga anak-anak muda itu. Ia menyesal bukan kepalang, bahwa ia menunggu kuda-kuda itu muncul di tikungan, sehingga ia terlambat karenanya. Ia tidak menyangka sama sekali, bahwa seseorang mampu bergerak secepat Ki Gede Pemanahan. Seandainya salah seorang yang berkuda itu tadi meloncat turun pada saat kuda-kuda itu berhenti, maka betapapun tinggi kemampuannya berlari, tetapi orang itu pasti belum sampai di tempat ini. Namun ternyata Ki Gede Pemanahan mampu melakukannya.

Karena itu, maka segera Ki Tambak Wedi merubah rencananya. Setapak la meloncat mundur, dan tiba-tiba ketika tangannya bergerak sebuah gelang telah lepas seperti anak panah meloncat dari busurnya.

Untunglah bahwa yang dibidiknya adalah Ki Gede Pemanahan, secepat gelang-gelang itu pula, Ki Gede Pemanahan menjatuhkan dirinya dari alas dinding itu. Seperti seekor kucing ia meloncat turun, dan secepatnya tegak di atas kedua kakinya yang kokoh kuat bagaikan sepasang tonggak baja. Sedang di tangan Ki Gede itu telah tergenggam pusakanya, Kiai Naga Kemala.

Terdengar Ki Tambak Wedi itu menggeram. Tiba-tiba di tangannya telah tergenggam pula sebuah gelang-gelang yang lain. Tetapi apa yang dilakukannya adalah di luar dugaan mereka yang melihatnya. Cepat seperti kilat, Ki Tambak Wedi meloncat surut, kemudian dengan kecepatan yang sama, ia meloncat lebih jauh lagi, melampaui dinding halaman dari arah ia datang.

Ki Gede Pemanahan segera berlari ke dinding itu pula. Tetapi ketika ia sudah bersiap untuk meloncat, tiba-tiba ia tertegun. Sekali dilayangkan pandangan matanya, tetapi regol halaman ternyata berada agak jauh daripadanya.

“Tidak ada gunanya,” desisnya.

“Ayah tidak mengejarnya?” dengan serta merta Sutawijaya bertanya.

“Sudah terlampau jauh,” sahut Ki Gede Pemanahan.

“Ayah tidak meloncati dinding itu?” berkata anaknya, “kalau ayah meloncat pula, maka setan itu pasti belum terlampau jauh.”

Ki Gede Pemanahan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, “Aku masih sayang akan dahiku. Kalau kepalaku muncul dari batik dinding maka sebuah gelang-gelang pasti akan menyambarnya. Aku tidak tahu, apakah aku dapat menghindarinya, karena arahnya belum aku ketahui dengan pasti.”

“O,” Sutawijaya menarik nafas sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, itu akan dapat terjadi,” gumamnya. Kemudian katanya, “Untunglah bahwa lingkaran yang pertama tidak dilemparkan kepalaku. Kalau ia berbuat demikian, maka aku tidak lagi dapat melihat orang-orang Jipang yang menyerah itu.”

Ki Gede Pemanahan menggeleng, “la tidak akan berbuat demikiam selagi ia masih ingin melepaskan diri. Kalau ia membunuhmu dengan lingkaran itu, maka keris ini akan menancap di dadanya. Ia tidak akan sempat menghindar selagi ia berusaha melihat hasil gelang-gelangnya atasmu. Ki Tambak Wedi pun tahu pasti, bahwa aku dapat juga melemparkan kerisku ini ke arahnya. Karena itu ia mendahului aku sebelum aku sempat mengayunkan tanganku.”

Dalam pada itu, maka ketiga ekor kuda beserta para penunggangnya kini sudah menjadi semakin dekat. Demikian mereka menghentikan kuda-kuda mereka, demikian para penunggang itu berloncatan turun.

“Ternyata Ki Gede telah berada di tempat ini?” bertanya Untara sambil mengangguk dalam-dalam.

“Kenapa?” bertanya Ki Gede, “bukankah memang aku pergi lebih dahulu dari padamu?”

“Aku menjadi cemas ketika aku melihat seekor kuda di halaman di sebelah tikungan, di mulut lorong ini.”

“Itu memang kudaku.”

“Lalu, apakah kuda itu Ki Gede tinggalkan?”

“Ya. Aku mencoba untuk berhati-hati. Sebelum aku mendekati desa ini, kudaku telah aku perlambat dan kemudian aku turun dan menuntun kuda itu memasuki desa ini. Bahkan kuda itu kemudian aku tinggalkan di sana.”

Untara dan kedua perwira pengawal Ki Gede Pemanahan itu saling berpandangan. Mereka ternyata demikian tergesa-gesa sehingga mereka tidak sempat untuk memikirkan bahaya yang dapat bersembunyi di balik setiap helai daun di desa ini. Seandainya Sidanti membawa beberapa kawan yang lain, maka mereka pasti sudah terjebak di atas punggung kuda mereka masing-masing.

Untara yang masih belum menghapus keringat di keningnya itu kemudian berkata, “Kami ternyata terlampau tergesa-gesa. Untunglah bahwa kami tidak mendapat serangan dari tempat-tempat berhenti sesaat, karena ketergesa-gesaan kami itu.” Untara berhenti sesaat, dipandanginya anak muda yang masih tegak di tempatnya masing-masing dengan senjata di tangan-tangan mereka. Kemudian katanya pula, “Untunglah bahwa Ki Gede telah sampai di tempat ini. Sekali lagi aku terlambat beberapa saat. Kami berhenti sejenak di ujung desa karena kami melihat kuda Swandaru yang Ki Gede pakai. Kami bertanya-tanya di dalam hati kami, namun kami tidak menemukan jawabnya. Akhirnya kami meneruskan perjalanan. Sampai di tikungan kami melihat apa jang terjadi di sini.”

“Kalau aku tidak mendahului kalian dan kalian tidak melihat kudaku sehingga kalian tidak berhenti, apakah yang kira-kira akan kalian lakukan?” bertanya Ki Gede Pemanahan.

Pertanyaan itu telah memukul dada Untara sehingga anak muda itu menundukkan kepalanya. “Ya, apakah yang akan aku lakukan seandainya aku justru datang lebih dahulu dari Ki Gede Pemanahan? Apakah aku akan melawan Ki Tambak Wedi?” Karena itulah maka Untara menjawab lirih, “Tak ada yang dapat kami lakukan Ki Gede. Mungkin kami adalah korban yang berikutnya.”

Ki Gede tersenyum. Sambil menyarungkan kerisnya ia berkata, “Sudahlah, jangan kau pikirkan lagi Tambak Wedi itu. Semuanya sudah lalu.” Kemudian ki Gede itu berpaling kepada puteranya, “Sutawijaya, jadikanlah peristiwa ini peringatan bagimu. Jangan terlampau menuruti keinginan. Akupun hampir terlambat. Untung aku mendengar Ki Tambak Wedi mengancam dengan marahnya, sehingga suaranya terdengar dari balik dinding-dinding halaman ini. Mula-mula aku memang tidak segera menemukan tempat ini. Dan aku datang tepat pada waktunya.”

Sutawijaya menundukkan kepalanya. Ia tidak menjawab sepatah katapun. Apalagi ketika kemudian terasa lambungnya menjadi sakit. Lambung yang terkena sentuhan Ki Tambak Wedi, sehingga ia terbanting jatuh pada saat ia hampir berhasil membunuh Sidanti.

Ketika ia menyeringai menahan nyeri sambil meraba-raba lambungnya itu, Ki Gede Pemanahan memandanginya dengan cemas. “Kenapa lambungmu?” bertanya orang tua.

“Sakit,” sahut Sutawijaya.

“Ya kenapa?”

Sutawijaya ragu-ragu. Tetapi kemudian ia berkata, “Tak apa-apa. Mungkin sedikit terkilir.”

Tetapi jawaban itu tidak meyakinkan Ki Gede Pemanahan sehingga sekali lagi ia bertanya, “Kenapa lambung itu?”

Namun Sutawijaya yang nakal itu memandangi wajah Agung Sedayu dan Swandaru berganti-ganti sambil tersenyum kecut.

“Kenapa?” desak ayahnya.

Yang menjawab kemudian adalah Swandaru, “Putera Ki Gede telah terkena sentuhan Ki Tambak Wedi dan terbanting jatuh.”

Ki Gede Pemanahan mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia mendekati anaknya sambil bertanya, “Benarkah begitu?”

Sutawijaya mengangguk.

“Hem,” desis Ki Gede Pemanahan, “untunglah bahwa tulang-tulangmu tidak patah.”

“Ki Tambak Wedi terlampau tergesa-gesa,” sahut Sutawjaya. “Ia berada dalam jarak yang cukup jauh. Hampir tak masuk di akal, bahwa kemudian dengan satu kali loncatan, aku terpelanting.”

“Kenapa ia berbuat demikian. Bukankah ia akan membunuh kalian bertiga? Kenapa tidak langsung saja kau dicekiknya?”

“Ya. Tetapi saat itu ia sedang berusaha menyelamatkan Sidanti yang kehilangan kesempatan untuk mengelak, sedang Ki Tambak Wedi ingin membunuhku dengan cara yang dianggap sangat menyenangkan hatinya.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Terbayang di dalam angan-angannya, bagaimana anaknya dan kedua kawannya bertempur. Namun ia mengucap syukur di dalam hatinya, bahwa ia datang tidak terlambat seperti Untara dan kedua kawan-kawannya, sehingga ia sempat menyelamatkan anaknya. Bukan saja suatu hal yang sangat memggembirakan dirinya sendiri, tetapi juga menghindarkannya dari murka Adipati Pajang. Sebab Sutawijaya itu telah diangkat sebagai putera Adipati Pajang, dan keselamatannya telah dititipkan kepadanya. Seandainya saat itu Sutawijaya mengalami cidera atau bahkan terbunuh oleh Ki Tambak Wedi, maka ia akan mengalami bencana dua kali lipat. la akan kehilangan anak laki-lakinya dan mungkin ia akan kehilangan jabatannya pula karena murka Adipati Pajang yang merasa kehilangan anaknya pula.

Dalam pada itu, maka sekali lagi terasa betapa kecewa hati Panglima Wira Tamtama itu atas hasil kerja Untara. Sangkal Putung yang disangkanya sudah tidak akan diganggu lagi oleh orang-orang Jipang seperti laporan yang disampaikan oleh Untara, ternyata masih menyimpan bahaya yang hampir saja menelan keselamatannya dan keselamatan anaknya.

Namun Ki Gede Pemanahan berusaha untuk menyimpan penyesalan itu di dalam hatinya. Bagaimanapun juga, ia masih mencoba mengerti bahwa Untara di hadapkan pada suatu keadaaan yang tidak dapat diperhitungkannya lebih dahulu. Unsur Ki Tambak Wedi agaknya adalah sumber dari kekacauan persiapan dan perhitungannya. Kalau tidak ada hantu lereng Merapi itu, maka Sangkal Putung benar-benar tidak akan terganggu lagi.

Kini yang mereka tunggu adalah parkembangan keadaan yang tumbuh pada orang-orang Jipang yang akan menyerah itu. Mereka pasti melihat api itu pula dan bagaimanakah tanggapan mereka atas api itu sama sekali tidak diketahui oleh Untara dan para prajurit Pajang yang lain.

Sementara itu Widura membawa pasukannya dengan tergesa-gesa ke desa kecil itu. Kalau terjadi sesuatu, maka iapun ikut bertanggung jawab pula bersama dengan Untara. Karena itu maka ia ingin segera sampai dan melihat apa yang telah terjadi.

Dengan hati-hati pasukan itupun kemudian memasuki desa Benda. Namun desa itu masih saja sepi seperti tidak terjadi apa-apa, kecuali api yang kini semakin lama menjadi semakin surut. Untunglah bahwa jarak dari rumah yang satu ke rumah yang lain cukup jauh sehingga api itu tidak menjalar ke rumah-rumah yang lain.

Widura menjadi berlega hati ketika kemudian dilihatnya di ujung lorong itu ki Gede Pemanahan, Untara, Sutawijaya dan yang lain-lain masih berdiri di muka gardu. Bahkan para penjaga pun masih juga tegak seperti patung.

Hati Widura menjadi semakin tenteram ketika dilihatnya orang-orang yang berdiri di ujung jalan itu memandangi pasukannya sambil tersenyum. Namun ketika ia menjadi semakin dekat, hatinya menjadi sedikit berdebar-debar kembali, karena dilihatnya ujung tombak Sutawijaya menjadi semburat merah oleh warna darah.

Widura itupun kemudian menganggukkan kepalanya dalam-dalam sambil bertanya, “Apakah yang sudah terjadi ki Gede? Bukankah angger Sutawijaya, putera Ki Gede tidak mengalami cidera?”

“Itulah orangnya,” sahut Ki Gede sambil menunjuk puteranya. “Hampir saja ia mati dicekik hantu lereng Merapi.”

“Oh,” Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas ia mampu membayangkan bahwa agaknya kedatangan Ki Gede Pemanahan telah menyelamatkannya.

Kini Widura telah berada di Benda bersama seluruh pasukannya. Prajurit Pajang dan laskar Sangkal Putung. Karena itu, maka kewajibannya adalah menunggu perintah, apa yang harus dilakukannya menjelang kehadiran orang-orang Jipang yang akan menyerah. Kalau mereka mengingkari janji, maka yang akan terjadi adalah pertempuran. Bahkan mungkin mereka harus berlari-lari kembali ke induk kademangan apabila para pengawas melihat orang-orang Jipang mengambil jalan melingkar dan bermaksud langsung menusuk ke jantung kademangan. Tetapi meskipun demikian, maka pasukan cadangan yang ditinggalkan akan mampu menahan orang-orang Jipang itu sampai sebagian dari pasukan ini datang kembali. Tetapi apabila terjadi demikian, maka pasti tak akan ada ampun lagi bagi orang-orang Jipang itu.

Matahari yang merambat semakin tinggi kini telah hampir mencapai puncak langit. Beberapa saat lagi, maka saat yang dijanjikan akan tiba. Karena itu, maka seluruh pasukan itupun berjaga-jaga. Beberapa orang pemimpin kelompok telah mengatur anak buah masing-masing dan menempatkan mereka terpisah-pisah. Di sawah-sawah yang tidak ditanami di hadapan desa Benda itulah nanti orang-orang Jipang berkumpuI. Mereka akan mengumpulkan senjata-senjata mereka dan membiarkan orang-orang Pajang mengambilnya. Itu adalah suatu upacara penyerahan yang telah disepakati.

Ki Gede Pemanahan, Untara dan para pemimpin prajurin Pajang dan Sangkal Putung kini berdiri berjajar di muka gardu di ujung lorong. Pandangan mereka seolah-olah melekat pada gerumbul-gerumbul di hadapan mereka.

Di hadapan mereka kini terbentang sebidang tanah persawahan yang seakan-akan hampir tidak pernah mendapat perawatan. Para petani menjadi agak ketakutan sejak orang-orang Jipang saling berkeliaran di sekitar desa itu. Apalagi tanah yang terbentang agak jauh dari padesan. Gerumbul-gerumbul liar dan ilalang telah tumbuh semakin tinggi. Tanah itu sama sekali telah tidak lagi digarap oleh pemiliknya. Dari balik-balik gerumbul-gerumbul itulah nanti akan datang orang-orang Jipang yang telah menyatakan diri menjerah bersama senjata-senjata mereka. Mereka akan menyeberangi padang rumput yang tidak terlampau luas dan berjalan lewat tanah persawahan yang kini telah menjadi liar itu.

Para pemimpin prajurit Pajang itu sekali-sekali menengadahkan wajah-wajah mereka memandangi matahari yang sudah semakin tegak di atas kepala. Matahari itu kini telah mencapai titik terlinggi tepat di puncak langit.

“Saatnya telah tiba,” gumam Ki Gede Pemanahan.

Hati Untara menjadi berdebar-debar. Mudah-mudahan tidak terjadi malapelaka bagi Sangkal Putung. Mudah-mudahan rencana ini dapat berjalan sesuai dengan rencana. Tiba-tiba ia menyesal atas ketergesa-gesaannya. Ia telah memberanikan diri menyatakan bahwa persoalan orang-orang Jipang segera akan selesai sepeninggal Macan Kepatihan. Bahkan ia telah memberanikan menyatakan bahwa Sangkal Putung kini telah aman tenteram dan mengharap kehadiran Ki Gede Pemanahan untuk menerima penyerahan sisa-sisa terakhir dari orang-orang Jipang itu. Sedang beberapa orang yang tidak sependapat dengan mereka yang menyerah itu, sama sekali tidak akan berarti apa-apa. Bahkan mereka akan dapat diabaikan untuk sementara.

Namun ternyata kehadiran Ki Gede Pemanahan telah disambut oleh Ki Tambak Wadi di tegal jagung. Bahkan kemudian putera ki Gede Pemanahan pun hampir-hampir menjadi korban pula.

Tetapi kini semuanya itu telah terjadi. Kalau sekali lagi terjadi sesuatu, maka kepercayaan Ki Gede Pemanahan kepadanya pasti akan surut terlampau jauh.

Dalam pada itu kembali terdengar Ki Gede Pemanahan berkata, “Bukankah matahari telah berada tepat di atas kepala.”

“Ya, Ki Gede,” sahut Untara ragu-ragu.

“Apakah saat ini yang telah mereka janjikan?”

“Ya, Ki Gede,” kembali terdengar suara Untara datar. Dalam pada itu kembali Untara teringat kepada Kiai Gringsing yang seakan-akan menghilang. Namun ia sama sekali tidak dapat menuntutnya untuk sesuatu kewajiban tertentu. Sebab Kiai Gringsing bukan prajurit Pajang dan bukan anak buahnya.

“Kita tunggu sejenak,” gumam Ki Gede Pemanahan. “Kalau sepemakan sirih mereka tidak nampak, maka aku akan langsung memberikan perintah lain.”

Meskipun Ki Gede Pemanahan bergumam sambil tersenyum, tetapi jelas bagi Untara, bahwa perasaan Ki Gede Pemanahan menjadi tidak begitu senang melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi di Sangkal Putung itu. Peristiwa-peristiwa yang sejak kedatangannya telah menunjukkan bahwa Sangkal Putung tidak sebaik seperti laporan Untara.

Kini mereka berdiri dengan tegangnya, memandangi sawah yang ditumbuhi rumput-rumput liar dan batang-batang jarak yang menjadi lebat. Di belakang gerumbul-gerumbul itu dapat bersembunyi orang-orang Jipang. Bahkan mereka dapat bertebaran jauh dari Selatan ke Utara. Mungkin pula mereka menyusup ke Sangkal Putung lewat di belakang gerumbul-gerumbul itu langsung mendekati induk kademangan dan menyerang dari samping.

Hampir tak seorang pun yang bercakap-cakap. Mereka bersiaga sepenuhnya menghadapi setiap kemungkinan yang akan terjadi. Para prajurit Pajang dan laskar Sangkal Putung yang menebar itu pun memandangi gerumbul di hadapan mereka dengan mata yang hampir tidak berkedip.

Semakin lama dada Untara seakan-akan menjadi semakin bergolak. Dada itu akan dapat meledak apabila laskar Jipang tidak segera tampak. Apalagi Ki Gede Pemanahan segera akan menjatuhkan perintah lain. Perintah yang belum diketahui akan bagaimana bunyinya.

Dalam ketegangan itu, tiba-tiba mereka melihat sesuatu yang bergerak-gerak dari dalam gerumbul di hadapan mereka. Mereka melihat seseorang menyeruak batang-batang perdu dan kemudian muncul di atas rumput-rumput liar yang tumbuh subur di atas tanah persawahan yang tidak ditanami itu.

Untara melihat orang itu dengan dada berdebar-debar. Selangkah ia maju sambil bergumam, “Itukah mereka?”

“Hanya satu orang,” sahut Ki Gede Pemanahan.

Tapi ternyata yang kemudian menyeruak dari dalam gerumbul-gerumbul itu tidak hanya satu orang. Sesaat kemudian kembali mereka melihat seorang yang lain. Disusul orang yang ketiga dan keempat. Namun yang datang dari balik gerumbul itu sama sekali tidak seperti yang diharapkan oleh Untara dan para pemimpin Sangkal Putung. Mereka ternyata tidak lebih dari dua puluh orang.

“Hanya itu?” terdengar Ki Gede Pemanahan bertanya.

Untara tidak segera dapat menjawab. Tetapi keringat dinginnya telah melelehi di segenap permukaan kulitnya.

“Dua puluh atau dua puluh lima orang,” berkata Ki Gede Pemanahan pula. “Dua puluh orang Jipang telah mampu menggerakkan Panglima Wira Tamtama untuk menyambut kedatangannya.”

Dada Untara kini benar-benar dipenuhi oleh kegelisahan yang melonjak-lonjak. Kalau yang datang hanya dua puluh lima orang itu, alangkah malunya. Ki Gede Pemanahan, Panglima Wira Tamtama itu pun pasti akan menjadi sangat marah kepadanya, seolah-olah duapuluh lima orang Jipang itu cukup bernilai untuk memaksa Ki Gede Pemanahan datang ke daerah terpencil ini.

Tetapi ketika kemudian mereka melihat dengan seksama maka mereka melihat sesuatu yang tidak begitu wajar pada orang-orang Jipang itu. Mereka melihat orang-orang Jipang itu memanggul sesuatu yang agaknya cukup berat.

“Apakah yang mereka bawa?” tanya Ki Gede bertanya kembali.

“Aku tidak tahu Ki Gede,” sahut Untara.

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian matanya yang tajam melihat benda yang dipanggul oleh orang-orang Jipang itu. Terdengar ia bergumam, “Senjata. Mereka memanggul senjata di atas pundak-pundak mereka. Kau lihat ujung-ujung dari senjata-senjata itu? Mereka memanggul tidak hanya sepucuk senjata di atas pundak masing-masing, tetapi seikat senjata.

Hati Untara menjadi semakin tegang. Ia tidak tahu kenapa orang-orang Jipang itu memanggul senjata-senjata mereka yang telah mereka ikat menjadi dua puluh ikat dan mereka bawa mendahului orang-orang mereka. Untara tidak tahu, apakah yang seterusnya akan dilakukan oleh orang-orang Jipang itu. Dalam persetujuan mereka, sama sekali mereka tidak pernah menyatakan bahwa mereka bersedia berbuat demikian.

Namun Untara tidak dapat berbuat lain daripada menunggu orang-orang itu menjadi semakin dekat. Untara harus mendapat keterangan dari mereka, apakah yang seterusnya akan dilakukan oleh orang-orang Jipang itu.

Semakin lama orang-orang yang memanggul bongkokan senjata itu pun menjadi semakin dekat. Dengan demikian, maka semakin jelas pula tampak, bahwa senjata yang mereka bawa itu adalah segala macam jenis senjata. Tombak, pedang, bindi dan sebagainya.

Ketika orang-orang itu menjadi semakin dekat, maka Untara pun segera melihat, siapakah yang berdiri di paling depan dari orang-orang Jipang itu. Orang yang justru tidak membawa sesuatu. Tetapi ialah yang menentukan segala sesuatu atas orang-orang Jipang itu. Orang itu adalah Sumangkar.

Dengan kepala tunduk ia berjalan. Langkahnya satu-satu seperti orang kehilangan gairah untuk menghadapi hidupnya di masa-masa mendatang.

Melihat orang itu Ki Gede Pemanahan menarik keningnya tinggi. Tanpa dikehendakinya sendiri ia melangkah maju sambil berdesis, “Kakang Sumangkar.”

Sumangkar yang kemudian mengangkat wajahnya melihat Ki Gede Pemanahan itu berjalan ke arahnya, seolah-olah hendak menyongsongnya. Karena itu maka ia pun segera berhenti sambil membungkukkan badannya dalam-dalam.

“Kakangmu yang tidak berharga telah menghadap Ki Gede Pemanahan.”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Sumangkar adalah lawan yang cukup tangguh sepeninggal Patih Mantahun. Ki Gede Pemanahan tahu benar kemampuan yang tersimpan pada orang tua itu. Tak ubahnya seperti kemampuan Patih Mantahun sendiri.

Dari Untara Ki Gede Pemanahan sudah mendengar bahwa Sumangkar kini berada bersama-sama dengan laskar Jipang yang dipimpin oleh Tohpati. Sumangkar-lah orang yang telah berusaha untuk menghentikan perlawanan sepeninggal Macan Kepatihan. Namun menitik perkembangan keadaan, maka Ki Gede Pemanahan memang harus berhati-hati. Apakah Sumangkar tidak sedang menjebaknya bersama-sama dengan Ki Tambak Wedi.

Ketika Sumangkar melihat Ki Gede Pemanahan, maka orang itu seakan-akan tidak merasa terkejut. Apakah ia menganggap bahwa kehadiran Ki Gede Pemanahan menyambutnya itu adalah sesuatu yang sewajarnya, atau memang ia sudah mendengar dari Ki Tambak Wedi?

Namun dalam keadaan yang bagaimanapun juga. Ki Gede Pemanahan harus menghadapinya dengan penuh kewaspadaan. Ia tidak akan kehilangan kewaspadaan hanya karena beberapa bongkok senjata yang dibawa oleh orang-orang Jipang itu.

Ki Gede Pemanahan itu pun kemudian berhenti beberapa langkah di muka Sumangkar. Untara dan Widura pun kemudian berdiri di kedua sisinya. Di belakang mereka berderet beberapa orang perwira pengawal Ki Gede Pemanahan.

Sejenak Ki Gede Pemanahan memandangi orang tua itu. Wajahnya yang suram dan matanya yang cekung menunjukkan bahwa orang itu telah mengalami keadaan yang tidak menyenangkan hatinya.

“Kau nampak kurus dan lekas bertambah tua Kakang Sumangkar,” sapa Ki Gede Pemanahan.

Sumangkar membungkuk hormat sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia menjawab, “Ya Ki Gede, aku bukan saja cepat menjadi tua, tetapi sebenarnya aku telah tua.”

Ki Gede tersenyum. Katanya pula, “Sebenarnya Kakang belum terlampau tua. Bukankah umur Kakang tidak terpaut banyak dengan umurku. Bahkan mungkin kita sebaya?”

“Ya, ya,” Sumangkar masih mengangguk-anggukkan kepalanya, “mungkin kita memang sebaya. Tetapi Ki Gede adalah Panglima Wira Tamtama. Ki Gede hidup dalam lingkungan yang baik sedang aku hidup di hutan-hutan seperti seekor ayam alas yang terbang dari satu sarang, hinggap ke sarang yang lain menghindari seekor musang yang selalu memburunya”

Ki Gede Pemanahan tertawa. “Apakah Kakang sudah jemu?”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Aku sendiri sebenarnya tidak pernah merasakan itu sebagai suatu keadaan yang menjemukan Ki Gede. Aku telah membiasakan diri hidup dalam kesulitan dan penderitaan sejak aku berguru di Kedung Jati bersama Kakang Mantahun. Juga ketika Kakang Mantahun menjadi Patih Jipang aku tidak menjadi seorang tumenggung atau senapati perang. Aku waktu itu adalah seorang abdi kepatihan.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Lalu apakah yang mendorong Kakang mengambil keputusan seperti ini?”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Sekali ia berpaling. Dilihatnya orang-orang Jipang yang memanggul senjata-senjata mereka, masih berdiri di belakangnya.

“Letakkanlah senjata-senjata itu,” berkata Sumangkar kepada orang-orang Jipang. Namun kemudian kepada Ki Gede Pemanahan ia berkata, “Bukankah demikian Ki Gede? Apakah senjata-senjata ini boleh kami letakkan di sini?”

Ki Gede berpikir sejenak, kemudian jawabnya, “Letakkanlah.”

Orang-orang Jipang itu segera meletakkan senjata-senjata yang terikat dalam ikatan-ikatan yang cukup besar.

“Itulah sebagian besar dari senjata-senjata kami, Ki Gede,” berkata Sumangkar kemudian kepada Untara ia berkata, “Kami telah melakukan sesuatu di luar persetujuan Angger Untara. Tetapi kami yakin, bahwa dengan demikian, kami telah menegaskan kami untuk menghentikan perlawanan kami.”

Untara tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah Ki Gede Pemanahan sejenak. Seolah-olah ia menyerahkan segala persoalan kepada Panglima Wira Tamtama itu.

“Hanya inikah senjata-senjata kalian seluruhnya?” bertanya Ki Gede Pemanahan.

“Ini sebagian terbesar dari seluruh senjata-senjata kami Ki Gede,” sahut Sumangkar.

“Kenapa tidak seluruhnya?”

“Kami masih memerlukan beberapa pucuk senjata di tangan kami,” sahut Sumangkar.

“Kakang tidak percaya kepada kami?”

“Bukan Ki Gede, bukan,” jawab orang tua itu cepat-cepat. “Tetapi kami masih harus melindungi diri kami dari kebuasan serigala-serigala sesarang kami sendiri.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Namun tiba-tiba ia bertanya kembali, “Kakang, Kakang belum menjawab pertanyaanku. Apakah yang mendorong Kakang Sumangkar mengambil keputusan ini? Bukankah Kakang tidak pernah mengalami kejemuan dengan keadaan Kakang selama ini. Hidup di hutan-hutan dan menurut istilah Kakang sendiri, terbang dari satu sa-rang hinggap ke sarang yang lain menghindari musang yang memburunya?”

Sekali lagi Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan hati-hati ia menyahut, “Sebenarnya alasan itu tidak penting bagi Ki Gede. Apapun yang mendorong kami untuk menyerahkan diri adalah persoalan kami. Namun meskipun demikian, secara pribadi aku akan menjawab, sebab Ki Gede sudah bertanya secara pribadi pula.”

“Benar,” potong Ki Gede, “tetapi Sumangkar dalam segala keadaan akan dapat menentukan sikap orang-orang Jipang itu. Bukankah kakang berkata bahwa kakang sendiri, kakang pribadi tidak pernah merasakan kejemuan karena keadaan itu? Apakah dengan demikian berarti bahwa Sumangkar menyerah hanya karena kawan-kawannya menyerah tanpa sesuatu keyakinan apapun? Atau bahkan dengan suatu keyakinan yang lain?”

Sumangkar menggelengkan kepalanya. Namun terasa hatinya berdesir mendengar pertanyaan Ki Gede Pemanahan itu. Dengan hati-hati pula ia menjawab, “Tidak Ki Gede. Aku cukup mempunyai keyakinan tentang sikap yang telah aku ambil ini. Dan sikap itu sama sekali tidak atas landasan kejemuan tentang diriku sendiri. Bukan karena aku sudah jemu hidup di-hutan-hutan dan selalu dikejar-kejar oleh Angger Untara dan Angger Widura, bukan karena aku sudah jemu karena digigit nyamuk sebesar kelingking di paya-paya. Tidak Ki Gede. Kalau demikian maka justru aku menyerah karena putus asa dan tanpa suatu keyakinan apa-apa, selain keputus-asaan itu. Tetapi aku datang bukan karena itu. Aku memang menyerah karena jemu. Tetapi aku jemu melihat peperangan. Jemu melihat pertumpahan darah yang tidak ada henti-hentinya tanpa ujung dan pangkal. Karena kejemuan itulah maka aku membawa beberapa orang Jipang untuk menyerahkan dirinya kepada Angger Untara. Ternyata di sini bukan saja ada Angger Untara, namun ada Ki Gede Pemanahan, Panglima Wira Tamtama.”

“Kalau benar demikian alangkah menyenangkan,” sahut Ki Gede Pemanahan. “Tetapi bagaimana dengan api yang telah membakar beberapa rumah ini? Dan bagaimanakah dengan orang orangmu di bulak jagung?”

“Pertanyaan Ki Gede adalah wajar,” berkata Sumangkar dalam nada yang datar. “Ki Gede pasti akan terpengaruh oleh api yang menyala di desa ini, seperti kami menjadi bertanya-tanya di dalam hati kami pula. Kenapa di desa Benda terjadi kebakaran? Tetapi Angger Untara dan Angger Widura tahu pasti bahwa Sa-nakeling tidak sependapat dengan penyerahan ini. Apalagi Sidanti, murid Ki Tambak Wedi. Karena itu maka mereka telah membuat keributan di desa kecil ini dan bahkan telah berhasil mencegat Ki Gede di bulak jagung. Tetapi Ki Gede harus dapat membedakan, bahwa yang melakukannya sama sekali bukanlah orang-orang Jipang yang telah berjanji untuk menyerah. Mereka adalah orang-orang Jipang yang berpihak kepada Sanakeling dan Ki Tambak Wedi.”

Tampaklah wajah Ki Gede Pemanahan berkerut-kerut. Wajah itu tiba-tiba menjadi tegang. Ketika ia berpaling kepada Untara dan kemudian kepada Widura, maka dilihatnya wajah kedua pemimpin Prajurit Pajang di Sangkal Putung itu pun menjadi tegang pula.

“Kakang Sumangkar,” berkata Ki Gede Pemanahan kemudian, “apakah Kakang Sumangkar atau setidak-tidaknya orang-orang Kakang tidak melakukan perbuatan itu?”

“Tidak Ki Gede, tidak,” jawab Sumangkar.

“Jangan berbohong, Kakang.”

“Kenapa aku berbohong? Sekarang Ki Gede dapat melihat, aku telah menepati janjiku. Datang ke desa kecil ini, bahkan tanpa senjata untuk meyakinkan kesungguhan kami di hadapan Ki Gede Pemanahan dan Angger Untara dan Widura. Sebab sebenarnya kami pun dapat mengerti, setelah terjadi peristiwa itu, maka para pemimpin Pajang akan dapat menjadi ragu-ragu.”

Tiba-tiba serentak mereka berpaling ketika dari belakang para pengawal Ki Gede Pemanahan terdengar seseorang berkata, “Aneh. Bukankah itu aneh sekali ayah?”

Yang berkata itu adalah Sutawijaya. Beberapa langkah ia mendesak maju sehingga kemudian ia berdiri di samping Untara, menghadap ke arah Sumangkar itu pula.

Dada Sumangkar berdesir melihat anak muda itu. Anak muda itulah yang telah berhasil menyobek perut Arya Penangsang sehingga ususnya mencuat keluar. Bulu-bulu Sumangkar tiba-tiba terasa meremang mengenang peperangan itu. Arya Penangsang benar-benar orang yang keras hati. Meskipun ususnya telah keluar itu telah disangkutkan pada keris dilambungnya.

Kini anak muda itu berdiri di mukanya dengan sebatang tombak pendek, bukan tombak berlandasan panjang seperti yang dipakainya bertempur melawan Arya Penangsang.

Sambil membungkukkan badannya Sumangkar berkata, “Kau Angger yang perkasa. Berbahagialah ayahanda mempunyai seorang putera seperti Angger, dan berbahagialah Adipati Pajang mempunyai prajurit setangkas Tuan.”

“Terima kasih Paman Sumangkar,” sahut Sutawijaya. Namun sekali lagi ia bertanya kepada ayahnya, “Apakah ayah merasakan keanehan itu?”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya, aku merasakan kejanggalan jawaban Kakang Sumangkar. Untara dan Widura pasti merasakannya pula.,” Kemudian kepada Sumangkar Ki Gede Pemanahan bertanya, “Nah, Kakang. Anakku pun merasakan suatu kejanggalan pada jawaban-jawaban yang Kakang ucapkan.”

Sumangkar menarik alisnya tinggi-tinggi, sehingga alis yang sudah mulai berwarna putih itu pun bergerak-gerak. Sekali dipandanginya Sutawijaya. Kemudian Untara dan Widura. Sekali-sekali ia berpaling memandangi beberapa bagian dari para prajurit Pajang yang dapat dilihatnya di bawah pohon-pohon yang rindang sepanjang dinding desa. Dan sekali-sekali ia berpaling juga kepada orang-orangnya yang berdiri tegang di samping ikatan-ikatan senjata yang mereka bawa. Matahari yang kini telah melampaui titik pusat itu sama sekali tidak terasa membakar tubuh-tubuh mereka dan memeras keringat mereka.

“Apakah yang terasa janggal itu Ki Gede?” bertanya Sumangkar.

“Kakang Sumangkar, jangan Kakang menganggap bahwa aku terlampau berprasangka,” berkata Ki Gede Pemanahan. “Di dalam peperangan segala macam siasat dan cara dapat terjadi. Mudah-mudahan Kakang Sumangkar tidak mempergunakan cara yang licik itu. Bahkan terbayang pun jangan pada angan-angan Kakang sumangkar.” Ki Gede Pemanahan berhenti sejenak, namun kemu-dian diteruskanya, “Tetapi Kakang, kenapa Kakang tidak terkejut dan heran melihat kehadiranku di sini? Apakah itu bukan hal yang aneh bagi Kakang? Apakah Kakang telah mengetahuinya lebih dulu?”

Sumangkar mengerutkan keningnya. Bahkan matanya kemudian menyorotkan berbagai macam pertanyaan. Bukan saja Ki Gede Pemanahan yang heran melihat sikap Sumangkar menilai kehadirannya, tetapi sumangkar pun heran mendengar pertanyaan Ki Gede Pemanahan itu.

“Ki Gede,” berkata Sumangkar kemudian, “adakah mengherankan, dan apakah seharusnya aku menjadi terkejut dan heran melihat seorang Senapati Agung, seorang Panglima Prajurit Wira Tamtama berada di garis peperangan? Kalau seorang prajurit berada di garis perang merupakan suatu keanehan, maka alangkah piciknya pengetahuanku kini tentang peperangan.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Sumangkar itu. Katanya, “Kau benar Kakang. Tetapi apakah sudah selayaknya, bahwa Panglima Wira Tamtama harus berada di garis perang pada saat-saat seperti ini? Kalau Kakang menganggap itu wajar, baiklah. Tetapi kenapa Kakang tidak terkejut medengar bahwa di desa ini telah terjadi kebakaran? Mungkin Kakang telah melihat asap yang mengepul tinggi dan api yang menjilat ke udara. Tetapi dari mana Kakang tahu bahwa yang melakukan pembakaran itu Sidanti, Sanakeling dan kawan-kawannya? Dari mana pula Kakang tahu, bahwa telah terjadi pencegatan di bulak jagung yang dilakukan oleh Ki Tambak Wedi? Maafkan Kakang, aku menjadi bercuriga mendengar semuanya itu. Aku menjadi berprasangka, bahwa semuanya telah diatur sebaik-baiknya. Suatu pembagian tugas yang rapi antara Ki Tambak Wedi dan Sumangkar.”

Sumangkar mendengarkan kata-kata itu dengan seksama. Baru kini ia justru menjadi terkejut. Tampak orang itu mengerutkan alisnya, kemudian wajahnya menegang sesaat. Tetapi ternyata hatinya telah benar-benar semeleh. Orang tua itu telah benar-benar meletakkan suatu tekad, bahwa ia sampai sedemikian jauh telah berbuat sebaik-baiknya dalam kemauan yang sebaik-baiknya pula. Karena itu maka sejenak kemudian ia menjadi tenang kembali.

“Pertanyaan Ki Gede Pemanahan adalah pertanyaan yang sewajarnya,” berkata Sumangkar itu kemudian. “Kecurigaan dan prasangka Ki Gede pun beralasan. Tetapi perkenankanlah aku mencoba menjelaskan.”

“Ki Gede, ketika aku melihat api yang menyala di desa ini, aku menjadi bercuriga. Bukan saja aku sendiri, tetapi hampir seluruh orang-orang Jipang menjadi bimbang. Apakah sebenarnya yang telah terjadi. Apakah api itu suatu pertanda bahwa Pajang membatalkan perjanjian. Maksudku, Pajang membatalkan niatnya untuk menerima kami kembali? karena itulah maka aku mencoba untuk mengetahui apa yang telah terjadi. Ternyata dari balik gerumbul-gerumbul itu aku melihat Sidanti, Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda berlari-lari meninggalkan desa ini. Bukankah dengan demikian menjadi jelas, bahwa yang melakukan pembakaran ini pasti Sidanti dan orang-orangnya? Seterusnya aku menyangka, bahwa di belakang Sidanti pasti ada Tambak Wedi. Dan apakah dugaan itu meleset?”

“Tentang bulak jagung Ki Gede, memang aku telah mendengarnya lebih dahulu sebelum aku bertemu dengan Ki Gede.”

“Dari siapa Kakang mendengar?” bertanya Ki Gede Pemanahan

“Kiai Gringsing.”

Ki Gede Pemanahan mengerutkan keningnya. Nama itu masih asing baginya. Meskipun ia pernah mendengarnya sekali dua kali disebut-sebut oleh Untara, namun nama itu sama sekali tidak mendapat perhatian yang khusus dari padanya. Tetapi Untara, Widura apalagi Agung Sedayu dan Swandaru terkejut mendengar nama itu disebut oleh Sumangkar. Bahkan dengan serta merta Untara bertanya, “Apakah Kiai Gringsing sekarang berada di sana?”

“Ya,” sahut Sumangkar, “Kiai Gringsing berada di antara orang-orang Jipang yang akan menyerah.”

“Siapakah orang itu?” bertanya Ki Gede Pemanahan.

“Kiai Gringsing Ki Gede. Seorang dukun dari dukuh Pakuwon. Nama yang dipergunakannya sehari-hari adalah Ki Tanu Metir,” sahut Untara.

Wajah Ki Gede Pemanahan masih berkerut-kerut. Nama Tanu Metir itu pun tak dikenalnya. Tetapi adalah menarik perhatian bahwa orang yang bernama Ki Tanu Metir itu dapat berada di kedua belah pihak. Maka kembali ia bertanya, “Untara, apakah dukun yang bernama Ki Tanu Metir itu sering berada di Sangkal Putung dan sering berada di dalam laskar orang-orang Jipang?”

“Tidak Ki Gede,” jawab Untara. “Dukun tua itu selalu berada di Sangkal Putung. Dukun itu pulalah yang telah menyembuhkan lukaku sampai dua kali. Namun dalam persoalan ini, persoalan penyerahan orang-orang Jipang ini. Ki Tanu Metir-lah yang seolah-olah menjadi perantara. Aku minta orang tua itu membuka jalan antara orang-orang Jipang itu dan Sangkal Putung.”

“Apakah orang itu dapat dipercaya?” bertanya Pemanahan pula.

“Sepengetahuanku Ki Gede, dan menurut tanggapanku maka aku mempercayainya,” jawab Untara.

“Tetapi kenapa ia sekarang berada di sana?”

Untara tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Ia memang mencari orang tua itu sejak ia kembali dari bulak jagung, tetapi ia tidak sempat menemukannya. Ternyata Ki Tanu Metir itu telah berada di antara orang-orang Jipang.

“Ki Gede,” Sumangkar-lah yang kemudian menjawab pertanyaan Ki Gede Pemanahan itu, “Kiai Gringsing datang dengan membawa pertanyaan seperti yang tersimpan di dalam hati Ki Gede. Kiai Gringsing bertanya, kenapa kami telah berbuat curang, mencegat Ki Gede di bulak jagung. Namun kecurigaan Kiai Gringsing dapat segera terhapus setelah ia melihat persiapan kami. Apalagi Kiai Gringsing sendiri melihat pertentangan pendapat antara aku dan Sanakeling pada saat kami menentukan sikap ini. Dengan demikian maka Kiai Gringsing segera memaklumi, bahwa pasti Ki Tambak Wedi-lah yang telah berbuat onar itu dengan maksud-maksud tertentu tanpa sepengetahuanku.”

Kembali wajah Ki Gede menjadi berkerut-kerut. Dicobanya untuk dapat mengerti penjelasan Sumangkar itu. Tetapi karena Ki Gede Pemanahan belum tahu benar tentang orang yang bernama Kiai Gringsing, maka kepada Untara ia bertanya, “Untara, bagaimanakah tanggapanmu tentang Kiai Gringsing itu? Apakah keterangan Sumangkar tentang orang yang bernama Kiai Gringsing itu dapat kau benarkan, setidak-tidaknya menurut anggapanmu hal itu dapat terjadi atasnya?”

Untara menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi ia harus mengatakan tanggapannya tentang Kiai Gringsing menurut penilaiannya. Maka jawabnya, “Menurut keadaan yang pernah aku saksikan Ki Gede, maka Kiai Gringsing itu memang mungkin dapat berbuat demikian.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Kalau kau dapat menganggap bahwa Kiai Gringsing memang dapat berbuat demikian, dan apabila kau percaya kepada Kiai Gringsing, maka aku dapat mempercayai sebagian besar dari cerita Kakang Sumangkar.”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah ia kini telah di-bebaskan dari sebuah hukuman yang mengerikan.

Namun dalam pada itu kembali ia mendengar Ki Gede Pemanahan bertanya pula kepadanya, “Tetapi apakah kau benar-benar dapat melihat Sidanti dan Sanakeling berlari-lari dari gerumbul sejauh itu?”

“Tidak Ki Gede,” jawab Sumangkar. “Aku tidak melihat dari jarak itu. Tetapi aku menyelinap ke gerumbul-gerumbul yang lebih dekat di sebelah desa ini,” Sumangkar berhenti sejenak, kemudian dilanjutkannya, “Kiai Gringsing juga ikut serta melihatnya, dan Kiai Gringsing membenarkan penglihatanku bahwa orang yang berlari-lari dari desa ini adalah Sidanti.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kepada Untara dan Widura ia bertanya, “Untara dan Widura yang memegang tanggung jawab sepenuhnya atas Sangkal Putung, bagaimana pertimbanganmu?”

Kembali dada Untara dan Widura dilanda oleh ke ragu-raguan. Tetapi kembali mereka berkata seperti kata hati mereka, “Ki Gede, kami dapat mempercayainya sampai sekian.”

Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya kepada Sumangkar, “Mana orang-orangmu yang lain? Apakah kau hanya akan menyerah dengan duapuluh lima orang ini?”

“Tidak Ki Gede,” sahut sumangkar. “Berdasarkan berbagai pertimbangan, menurut Kiai Gringsing, yang ternyata aku temui, yaitu kecurigaan para pemimpin Pajang atas diri kami, maka aku mengambil sikap seperti yang dikehendaki oleh Kiai Gringsing, untuk meyakinkan para pemimpin Pajang atas kehendak baik kami. Kami datang bersama-sama senjata-senjata kami. Sesudah itu, maka segera akan menyusul orang-orang kami apabila segala kesalah-pahaman sudah diatasi.”

Sekali lagi Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia tertarik benar kepada orang yang menyebut dirinya Kiai Gringsing. Ia ingin bertemu dan berbincang tentang beberapa hal dengan orang itu. Apa yang didengarnya dari Sumangkar dan Untara seolah-olah telah memberikan kepadanya gambaran tentang seorang dukun tua yang memiliki beberapa kelebihan dalam menanggapi berbagai persoalan. Bahkan orang tua itu telah dengan cepat dapat mengambil sikap untuk menyelamatkan rencana penyerahan yang akan dilakukan oleh orang-orang Jipang.

“Kakang Sumangkar,” berkata Ki Gede Pemanahan itu pula. “Telah sampai saatnya Kakang membawa orang-orang Kakang itu kemari. Apakah Kiai Gringsing akan kembali ke Sangkal Putung bersama dengan orang-orang Jipang?.”

Sumangkar mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Aku tidak tahu Ki Gede. Aku tidak tahu apakah Kiai Gringsing akan bersama-sama dengan kami.”

“Baik. Kalau demikian, datanglah bersama laskarmu,” berkata Ki Gede Pemanahan.

“Terima kasih Ki Gede. Aku akan kembali menjemput mereka di belakang gerumbul-gerumbul itu. Mereka menunggu apakah mereka dapat datang tanpa kesulitan.”

“Kami telah berjanji,” berkata Ki Gede “Kalau kalian tidak berbuat sesuatu, maka kami akan menepati janji itu.”

“Terima kasih Ki Gede,” sahut Sumangkar sambil membungkukkan badannya. “Kini perkenankanlah aku menjemput orang-orang kami.”

“Silahkan Kakang.”

Sumangkar itu pun kemudian melangkah beberapa langkah mundur. Ia masih melayangkan pandangan matanya beredar pada dinding-dinding halaman desa Benda yang kecil. Ia melihat ujung-ujung tombak dan pedang di balik dinding-dinding itu. Dan di sana-sini ia melihat prajurit Pajang bertebaran dalam kelompok kecil di luar dinding.”

Kemudian setelah ia memutar tubuhnya ia berkata kepada orang-orang Jipang yang masih berdiri di samping onggokan senjata yang mereka bawa, “Kalian tetap di sini. Aku akan menjemput kawan-kawan kalian.”

Orang-orang itu pun mengangguk sambil menyahut, “Baik, Kiai.”

Sumangkar pun segera berjalan tergesa-gesa meninggalkan orang-orangnya yang berdiri tegang kaku. Seolah-olah mereka jadi membeku. Tak seorang pun yang berani menggerakkan ujung jarinya sekalipun.

Orang-orang Sangkal Putung dan para prajurit Pajang memandangi orang-orang itu dengan sorot mata yang aneh. Bahkan salah seorang anak muda Sangkal Putung bergumam lirih, “Hem. Berapa orang anak-anak muda Sangkal Putung yang pernah dilukai oleh mereka, dan bahkan dibunuhnya.”

Kawannya yang berdiri di sampingnya berpaling. Perlahan-lahan ia mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kenapa kita tidak menghancurkan mereka itu saja di sarang mereka?”

Kawannya yang lain menyahut, “Sungguh menyenangkan. Sesudah tangannya berlumuran darah kami, mereka datang untuk berjabat tangan dengan tangan-tangan kami. Dan kami pun harus menyambut uluran tangan berdarah itu. Huh.”

Anak-anak muda Sangkal Putung itu pun kemudian terdiam ketika mereka melihat seorang prajurit Pajang berjalan di belakang mereka. Kini mereka berdiri mematung di dalam pagar batu yang membatasi desa Benda. Mereka masih melihat Sumangkar itu pun hilang di balik gerumbul-gerumbul yang rimbun.

Ketika salah seorang dari mereka ingin berkata pula, maka ia pun terdiam ketika ia melihat Ki Gede Pemanahan melangkah maju mendekati orang-orang Jipang yang berdiri kaku di samping onggokan-onggokan senjata mereka.

“He,” berkata Ki Gede Pemanahan kepada salah seorang dari mereka, “Siapa namamu?”

Orang itu menjadi berdebar-debar. Tergagap ia menjawab, “Suradapa. Suradapa Ki Gede.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengulangi nama itu. “Suradapa. Nama itu bagus sekali,” orang Jipang itu menundukkan kepalanya.

“Apakah kau sudah beristeri?”

“Sudah Ki Gede.”

“Berapakah anakmu?”

“Waktu aku tinggalkan isteriku, anakku ada delapan Ki Gede,” orang itu berhenti sejenak, lalu meneruskan, “Sekarang mungkin anakku telah menjadi sepuluh”

“He?” Ki Gede terkejut “Berapa lama kau meninggalkan isterimu. Apakah isterimu beranak kembar?”

“Tidak, Ki Gede.”

“Kenapa bertambah dengan dua sekaligus?”

“Isteriku sama-sama sedang mengandung tua pada saat aku pergi”

“Berapa isterimu?”

“Dua, Ki Gede.”

Ki Gede Pemanahan terseyum. Ditepuknya bahu orang Jipang itu sambil berkata, “Hem. Kau terlampau kurus untuk beristeri dua. Tetapi kau memang kaya akan anak. Tetapi kenapa kau menyerah?”

Orang itu menundukkan kepalanya. Ia mendapat kesulitan untuk menjawab pertanyaan itu. Ya, kenapa ia menyerah? Ia mendengar Sumangkar berkata, bahwa pertempuran-pertempuran yang akan terjadi kemudian hampir tak akan berarti apa-apa, selain kerusuhan, pembunuhan dan penaburan benih-benih dendam di mana-mana. Karena itu ia mencoba menirukan kata-kata Sumangkar. “Ki Gede,” tetapi ia tidak ingat kalimat-kalimat yang harus diucapkannya. Maka ia meneruskan “Aku kepingin melihat anak-anakku dan kedua bayi yang belum pernah aku lihat.”

Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Apakah tanpa menyerahkan diri, kau tidak dapat melihat anak-anakmu itu.”

Orang itu menggeleng. “Tidak Ki Gede,” jawabnya, “Desa kami sudah dikuasai oleh prajurit Pajang.”

“Kalau demikian, apakah sesudah kau berhasil melihat anak-anakmu kau akan kembali melarikan diri memihak kenada Sanakeling dan Sidanti?”

“Tidak Ki Gede, tidak,” sahutnya cepat-cepat. “Aku akan tetap menyerah untuk seterusnya, sebab aku tidak ingin lagi berperang. Aku sudah jemu berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu hutan ke hutan yang lain. Aku sudah jemu mengalami masa yang pahit itu. Makan dari hasil rampasan dan pemerasan.”

“Bagaimana kalau kau memenangkan peperangan ini?” tiba-tiba terdengar pertanyaan yang tidak disangka-sangkanya. Pertanyaan yang tidak tahu bagaimana ia harus menjawabnya. Karena itu maka orang Jipang itu menjadi pucat dan gemetar.

“Bagaimana kalau kau menangkan peperangan ini,” desak Ki Gede Pemanahan, “Apakah aku akan kau gantung, kau cincang atau kau angkat menjadi pepatih Jipang?”

Orang itu menjadi semakin pucat. Ia tidak tahu bagaimana ia menjawab. Keringatnya tiba-tiba semakin banyak membasahi tubuhnya, tetapi keringat yang dingin.

Beberapa orang anak muda Sangkal Putung mendengarkan percakapan itu dari sudut desa. Mereka sengaja memerlukan memperhatikan setiap patah kata yang diucapkan oleh Ki Gede Pemanahan dan jawaban yang diucapkan oleh orang-orang Jipang itu. Tetapi orang Jipang itu masih belum menjawab. Kepalanya semakin tunduk dalam-dalam dan dadanya serasa menjadi kian sesak.

“Suradapa,” berkata Ki Gede Pemanahan, “sebelum Adipati Jipang memenangkan perang ini, ia telah melakukan serangkaian pembunuhan-pembunuhan untuk menyingkirkan lawan-lawannya yang mungkin akan menjadi perintangnya menuju ke Singgasana Demak. Meskipun aku tahu, bahwa pengaruh pengikut-pengikutnya banyak mendorongnya melakukan perbuatan yang tidak terpuji itu. Nah, apakah kira-kira yang akan dilakukan kalau ia kemudian benar-benar menguasai Demak? Adipati Pajang pasti akan terbunuh. Aku, Ki Juru Mertani, Ki Penjawi, Ki Wila, Ki Wuragil dan para senapati prajurit. Bandingkan sikap Adipati Jipang itu dengan sikap Adipati Pajang. Mungkin Arya Penangsang sendiri tidak ingin berbuat demikian. Tetapi kekuasaan-kekuasaan yang ada di bawahnya itulah yang telah menjerumuskannya. Sekarang, Adipati Pajang bersikap lain. Ia tidak menaburkan dendam yang tersimpan di hati. Bahkan ia mencoba mencari jalan supaya pertentangan ini berakhir tanpa pertumpahan darah lebih banyak lagi. Apakah ini dapat kau mengerti dan kau rasakan?”

Orang itu masih menundukkan kepalanya. “Ya Ki Gede,” suaranya menjadi sesak parau.

“Yang lain bagaimana? Apakah kalian dapat juga mengerti perbedaan itu?”

“Ya Ki Gede,” hampir serentak mereka menjawab.

“Kalau begitu, tularkan pengertian itu kepada kawan-kawanmu. Kepada keluargamu, kepada siapa saja yang kau temui. Supaya mereka dapat menilai keadaan sebaik-baiknya. Tetapi ingat, bahwa ini bukan berarti melepaskan setiap hukuman bagi yang bersalah, tapi hukuman itu pasti akan berlandaskan pada dasar yang kuat dan adil.”

Orang Jipang itu dapat memahami sepenuhnya kata-kata Ki Gede Pemanahan. Ia pernah mendengar pula ucapan-ucapan seperti itu dari pemimpin-pemimpinnya. Ia tidak akan menyesal akan hukuman yang harus dijalani. Tetapi ia tahu pasti kapan hukumannya itu akan berakhir. Dan ia tahu pasti, bahwa menilik sikap dan perbuatan para pemimpin prajurit Pajang, maka setiap hukuman pasti akan dilakukan di atas dasar-dasar peri-kemanusiaan yang adil dan tidak melanggar pancaran sinar cinta kasih dari Tuhan yang Maha Besar.

“Ya Tuhan Maha Besar dan Maha Murah,” orang Jipang itu terkejut mendengar suara angan-angannya sendiri. Sudah terlampau lama ia tidak sempat mengucapkannya. Tiba-tiba kalimat itu diulang-ulangnya di dalam hati “Tuhan Maha Besar dan Maha Murah” dan hatinya pun menjadi tenteram. Seandainya orang-orang Pajang ingkar janji, memotong kepala mereka seperti menebas ilalang karena mereka sudah tidak bersenjata, maka kini ia telah menemukan ke-damain abadi di dalam dirinya. “Tuhan Maha Besar dan Maha Murah.”

Orang Jipang itu mengangkat kepalanya ketika ia mendengar Ki Gede Pemanahan bertanya, “Kenapa kau tepekur? Apakah kau menyesal mendengar bahwa kau harus bertanggung jawab atas semua perbuatanmu berdasarkan hukum yang berlaku?”

Orang itu menggelengkan kepalanya. Ketika ia mengangkat wajahnya Ki Gede Pemanahan menjadi heran. Wajah itu telah menjadi berbeda benar dengan wajah sebelumnya. Dengan tatag dan teguh ia menjawab, “Tidak Ki Gede. Aku akan melakukan setiap hukuman. Hukuman kerja paksa ataupun kami sekeluarga harus menyingkir dari Demak untuk tinggal di daerah-daerah terpencil. Di hutan-hutan Mentaok atau di hutan-hutan sekitar Pati, Kami tidak akan selak meskipun kami akan dihukum mati.”

“He?,” berkata Ki Gede Pemanahan heran. “Sikapmu tiba-tiba berubah. Apakah yang terjadi di dalam dirimu?”

“Aku menemukan ketenangan di dalam menyebut nama Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Murah.”

Ki Gede Pemanahan menepuk bahu orang Jipang itu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Kau telah menemukan sumber hidupmu kembali. Genggamlah kedamaian itu di dalam hatimu. Jangan terlepas kembali. Kalau kau mampu menuangkan kedamaian hatimu itu kepada kawan-kawanmu, maka kau akan mendapat kebahagiaan berlipat-lipat.”

“Ya Ki Gede, mudah-mudahan aku mampu melakukannya.”

Yang mendengar percakapan itu, Untara, Widura, bahkan orang-orang Jipang yang lain dan para pemimpin Pajang, menjadi terharu. Orang ini ternyata tidak saja memilih jalan yang dikehendaki oleh pimpinan prajurit Pajang untuk segera menyelesaikan persengketaan yang terjadi dan tersebar di mana-mana, tetapi ia telah menemukan dirinya sebagai manusia yang berada di antara manusia yang lain. Manusia yang merasa dirinya berada di dalam lingkungannya sendiri. Lingkungan yang berasal dari sumber yang sama.

Tetapi bukan saja mereka, orang-orang Jipang itu yang seakan menemukan ketetapan hati dalam kedamaian yang abadi apabila mereka dapat mempertahankan nama Tuhan Yang Maha Esa di dalam hatinya, namun tiba-tiba orang-orang Sangkal Putung yang tidak henti-hentinya mengumpat-umpat itu pun terhenti pula. Tiba-tiba pula mereka merasakan sesuatu bergetar di dalam hatinya.

“Apakah arti dari sikap ini,” desis mereka di dalam hati masing-masing. Tiba-tiba mereka menjadi malu sendiri. Seolah-olah merekalah yang kini mempertahankan supaya peperangan tetap berlangsung terus. Supaya pepati masih bertambah-tambah setiap hari. Namun tiba-tiba mereka dihadapkan pada suatu sikap yang jernih dari pemimpin tertinggi Wira Tamtama dan hadirnya sinar terang di dalam diri orang-orang Jipang itu.

Bukan sekedar menyerahkan diri karena tidak lagi mampu untuk melawan kekuatan Pajang yang setiap hari menekan mereka, tetapi kini mereka menemukan sumber yang lebih tinggi dari pada sikap yang mereka ambil. Hakekat dari penghentian perlawanan, bukan saja karena alasan-alasan lahiriah semata-mata.

Ki Gede Pemanahan tidak berbicara lagi. Ketika ia memandang kearah gerumbul-gerumbul liar di hadapannya, maka dilihatnya sebuah barisan yang menyeruak keluar dari balik gerumbul jarak kepyar yang menjadi lebat. Barisan itu adalah barisan orang-orang Jipang.

Panglima Wira Tamtama itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia melihat bahwa mereka sudah tidak bersenjata lagi. Orang-orang Sangkal Putung dan para prajurit Pajang pun melihat pula, bahwa mereka datang dalam barisan yang teratur tanpa senjata di tangan. Dengan demikian, maka ketegangan yang menekan dada masing-masing tiba-tiba terasa mengendor. Terasa bahwa orang-orang Jipang itu sebenarnyalah berkehendak atas kebulatan tekad mereka, untuk menyerahkan diri. Bukan hanya sekedar permainan jebakan yang licik. Bahkan menurut persetujuan yang telah dibuat, mereka akan datang dengan senjata masih di tangan. Mereka baru akan mengumpulkan senjata itu di hadapan para pemimpin prajurit Pajang dan Sangkal Putung. Tetapi kini mereka datang dengan tangan hampa.

Untara berpaling ketika ia mendengar langkah di belakangnya. Ki Demang Sangkal Putung dan beberapa orang pemimpin laskar Sangkal Putung datang kepadanya. Didengarnya Ki Demang berbisik, “Mereka sudah tidak bersenjata.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya perlahan-lahan, “Itu adalah sikap yang terpuji. Ternyata Kiai Gringsing memegang peranan pula atas sikap orang-orang Jipang itu.”

Sambil memandang barisan yang semakin lama menjadi semakin dekat Ki demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia tidak berbicara lagi. Wajah-wajah para pemimpin prajurit Pajang, para pemimpin laskar Sangkal Putung, bahkan semuanya yang berada di tempat itu, menjadi tegang. Mereka melihat derap langkah yang tetap dan tidak ragu-ragu.

Sebenarnya orang-orang Jipang itu pun kini tidak ragu-ragu lagi. Apalagi setelah mereka mendengar, bahwa Panglima Wira Tamtama sendiri telah hadir.

Ki Gede Pemanahan, Panglima Wira Tamtama itu memandangi barisan itu dengan hati yang berdebar-debar. Sekali-sekali ia berpaling memandangi wajah Untara yang tegang. Semula kepercayaan Ki Gede Pemanahan terhadap Untara seolah-olah jauh menjadi susut. Tetapi setelah ia melihat orang-orang Jipang dalam barisan itu, maka kepercayaannya tumbuh kembali. Dalam keadaan itu, maka Ki Gede Pemanahan segera dapat membuat perhitungan, bahwa Ki Tambak Wedi pasti akan menjadi musuh yang lebih berbahaya daripada Tohpati. Musuh yang bertindak terlampau cepat, mendahului semua perhitungan Untara dan Widura.

Pada saat-saat mereka melawan Macan Kepatihan, maka Untara dan Widura hampir tidak pernah salah hitung. Hampir setiap gerakan Macan Kepatihan itu dapat dipotong oleh Widura dan kemudian Untara. Namun Ki Tambak Wedi dapat bergerak menembus semua perhitungan para Senapati Pajang.

Barisan orang-orang Jipang itu pun menjadi semakin lama semakin dekat. Yang berdiri di ujung barisan itu adalah Sumangkar dan beberapa orang pemimpin yang lain. Pemimpin-pemimpin rendahan yang tidak bersedia ikut beserta Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda.

Beberapa puluh langkah dari Ki Gede Pemanahan yang dipayungi oleh bendera kebesarannya, bendera yang memberitahukan bahwa pada saat itu hadir Panglima Wira Tamtama, barisan itu berhenti. Di ujung belakang dari barisan itu masih ada beberapa orang yang membawa senjata di tangan mereka. Tetapi demikian mereka berhenti, maka segera senjata itu mereka kumpulkan bersama-sama.

Ketika Sumangkar kemudian melangkah maju mendekati Ki Gede Pemanahan, maka Panglima Wira Tamtama itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Peristiwa itu memang peristiwa yang penting bagi kedua belah pihak. Bagi orang-orang Jipang dan bagi Kadipaten Pajang. Dengan penyerahan itu, maka Pajang akan mendapat kesempatan untuk berbuat lain dari hanya bermain kejar-kejaran dengan sisa-sisa laskar Jipang itu.

Tetapi bagaimanapun juga, terasa pada para prajurit Pajang dan laskar Sangkal Putung, bahwa mereka masih merasakan sentuhan yang pahit di dalam hati mereka. Lawan yang sudah sejak beberapa lama, selalu bertemu dalam medan-medan peperangan, dengan senjata di tangan masing-masing, maka kini mereka melihat orang-orang itu mendekati mereka tanpa gangguan suatu apa. Namun dada orang-orang Jipang itu pun berdesir ketika mereka melihat kesiapsiagaan para prajurit Pajang dan laskar Sangkal Putung. Mereka melihat ujung-ujung senjata seperti ujung daun ilalang di padang rumput liar. Pada saat-saat lampau mereka pun pernah datang ke desa ini, tetapi juga dengan senjata di tangan. Tetapi kini mereka datang dengan tangan yang hampa. Kalau terjadi sedikit kesalahpahaman, dan para prajurit Pajang dan laskar Sangkal Putung itu menyerangnya, maka mereka seolah-olah akan menebas batang-batang pisang tanpa perlawanan yang berarti sama sekali.

Tetapi menilik sikap Panglima Wira Tamtama maka semuanya akan dapat berlangsung dengan sebaik-baiknya.

Demikian pulalah harapan Untara. Ia telah memberanikan diri mengharap kehadiran Ki Gede Pemanahan dengan pengharapan yang serupa itu. Semula ia ragu-ragu akan ketaatan para prajurit Pajang dan laskar Sangkal Putung terhadap keputusan yang diambilnya. Menerima orang-orang Jipang yang menyerahkan diri dengan beberapa bentuk pengampunan. Karena itu, apabila Ki Gede Pemanahan bersedia hadir, akibatnya pasti akan menguntungkan kedua belah pihak. Para prajurit Pajang, sudah tentu tidak akan berani melanggar keputusannya dan orang-orang Jipang pun akan terpengaruh oleh wibawa panglima itu. Dan kini ternyata semuanya itu telah terjadi.

Maka di pinggir desa kecil itu, telah terjadi saat-saat yang penting. Dengan kesungguhan Sumangkar menyatakan janji dan kata-kata penyerahan. Betapa berat perasaan orang tua itu. Namun kata-kata itu harus diucapkannya. Di hadapan Ki Gede Pemanahan, Untara dan Widura.

Ki Gede Pemanahan, Untara, Widura, Ki Demang Sangkal Putung, dan para pemimpin yang lain mendengarkan kata-kata Sumangkar itu dengan penuh minat. Setiap patah kata telah menunjukkan kesungguhan hati orang tua itu untuk benar-benar mengakhiri perlawanan.

“Ki Gede Pemanahan,” Sumangkar itu pun kemudian mengakhiri kata-katanya, “kami dengan ini menyatakan kesungguhan hati kami untuk menyerahkan diri tanpa syarat apapun ke hadapan Ki Gede Pemanahan, kehadapan senapati untuk daerah ini dan kepada pimpinan prajurit Pajang di sangkal Putung beserta para pemimpin kademangan. Kami tidak akan mengingkari kesalahan-kesalahan yang telah kami lakukan sehingga karenanya kami tidak akan menghindarkan diri dari setiap hukuman yang akan diletakkan di atas pundak kami.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia telah mendengar dengan baik semua ucapan Sumangkar. Karena itu maka kemudian ia pun berkata, “Penyerahanmu kami terima. Semoga saat ini benar-benar dapat mengakhiri kerusuhan-kerusuhan yang terjadi. Tetapi sayang, bahwa penyerahan ini tidak sempurna. Masih ada beberapa orang dari kalian yang tidak bersedia berbuat seperti ini dan bahkan telah bekerja bersama dengan Ki Tambak Wedi. Tetapi itu bukan kesalahan kalian. Ketahuilah, bahwa terhadap mereka tidak ada pilihan lain kecuali dilenyapkan. Untuk seterusnya akan berlaku, semua persetujuan kalian dengan Senapati Pajang untuk daerah ini, Untara. Semoga Tuhan selalu menerangi hati kita semua. Hati kami, dan hatimu semua.”

Yang berbicara kemudian adalah Untara. Ia hanya menguraikan beberapa segi pelaksanaan. Orang-orang Jipang itu harus tinggal di Benda sebelum mereka dibawa ke Pajang bersama-sama dengan Ki Gede Pemanahan. Dalam pada itu tiba-tiba terdengar Sutawijaya bertanya, “He, Paman Sumangkar yang suka mengembara, bukankah jalan ini pula yang menuju ke Alas Mentaok?”

Semua yang mendengar pertanyaan Sutawijaya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan persoalan yang sedang terjadi itu, menjadi heran. Dengan wajah bertanya-tanya mereka hampir serentak berpaling memandangnya.

Ki Gede Pemanahan pun heran pula mendengar pertanyaan itu, sehingga katanya, “Apakah kau sedang bermimpi Jebeng?”

“Tidak, Ayah,” sahut Sutawijaya. “Aku tiba-tiba saja ingin mengetahui, jalan ini akan menuju ke mana.”

“Apakah hubungannya dengan persoalan orang-orang Jipang yang menyerahkan diri dan Pamanmu Sumangkar?”

“Aku hanya ingin bertanya kepada Paman Sumangkar, karena Paman Sumangkar hampir selama ini selalu mengembara berkeliling. Mungkin Paman Sumangkar telah pernah menyelusur jalan ini terus ke Barat.”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas panjang-panjang. Ia tahu pikiran apakah yang bergejolak di dalam dada anak itu, Sutawijaya pasti sedang berpikir tentang Alas Mentaok yang pernah dijanjikan oleh Adipati Pajang kepada dirinya, dan tanah Pati bagi kawan seperjuangannya melawan Adipati Jipang pada saat itu. Dan Sutawijaya pun pasti pernah mendengar janji itu, sehingga tiba-tiba saja ia menyebut tanah Alas Mentaok.

Dalam pada itu terdengar Sumangkar berkata, “Ya, Ngger. Jalan ini akan sampai ke Alas Mentaok, tetapi jalan terlampau sulit. Beberapa bagian hutan di sebelah Barat itu harus dilampaui. Meskipun hutan ini tidak terlampau lebat, tetapi hutan itu pun cukup luas. Sekali-sekali Angger akan sampai di pedukuhan-pedukuhan kecil yang terserak-serak. Tetapi tempat-tempat itu hampir tak berarti. Padukuhan kecil dan miskin. Padukuhan yang hampir tidak pernah bersangkut paut dengan pemerintahan karena letak dan keadaan penduduknya. Tetapi agak yang ke sebelah Barat, Angger akan menjumpai daerah yang subur. Daerah yang cukup mempunyai kedudukan di daerah Selatan, Prambanan. Di daerah itu pasti juga sudah dilindungi oleh sepasukan prajurit dari Pajang. Sayang aku tidak tahu, siapakah yang berada disana. Ki Gede Pemanahan pasti mengetahuinya. Prambanan adalah kademangan yang hampir sekaya Sangkal Putung. Kalau Angger masuk lebih dalam lagi, maka Angger akan sampai ke hutan Tambak Baya, setelah melewati Candi Sari, Cupu Watu, dan beberapa pedukuhan kecil yang lain. Di sebelah Barat hutan Tambak Baya itulah nanti Angger akan menjumpai hutan belukar yang besar, Alas Mentaok.”

“Apakah belum ada pedukuhan sama sekali di sekitar hutan itu Paman?”

“Ada Ngger. Pliridan, Gumawang, Lipura dan hampir di ujung Selatan, dekat pantai lautan terdapat pula daerah yang sudah mulai subur dan ramai, Mangir.”

“Sutawijaya,” potong Ki Gede Pemanahan, “Untuk apa kau ketahui semuanya itu. Aku sendiri pernah menjelajahi hampir setiap sudut yang berada di dalam wilayah Demak. Aku pernah juga sampai ke tempat-tempat yang disebut-sebut oleh Kakang Sumangkar. Tetapi sekarang ini bukanlah saatnya untuk berbicara tentang Alas Mentaok.”

Sutawijaya terdiam mendengar kata-kata ayahnya. Ia menyadari bahwa ayahnya dan para pemimpin prajurit Pajang di Sangkal Putung kini sedang menghadapi tugas yang berat, sehingga pertanyaannya tentang Alas Mentaok pasti hanya akan mengganggu saja.

Setelah Sutawijaya tidak bertanya-tanya lagi, maka segala sesuatu segera mulai dipersiapkan. Untara segera mengatur tempat-tempat penampungan orang-orang Jipang itu, sedang Widura mempersiapkan para prajurit Pajang yang harus menjaga padesan kecil ini. Bukan saja menghadapi setiap orang yang mungkin dapat berubah pendirian selama mereka berada dalam penampungan, tetapi juga terhadap setiap usaha Sanakeling dan Sidanti, untuk mengacaukan keadaan. Adalah mungkin sekali mereka tiba-tiba datang dan membuat keributan. Menghasut orang-orang Jipang yang sudah menyerah atau mengancam mereka, sebab mereka kini sudah tidak bersenjata.

Ketika upacara penyerahan itu telah selesai, serta segala macam persiapan penampungan telah cukup, maka Ki Gede Pemanahan serta para pemimpin prajurit Pajang dan Sangkal Putung pun segera bersiap untuk kembali ke induk kademangan. Ki Gede Pemanahan sendiri telah memberikan beberapa pesan khusus bagi para prajurit Pajang yang bertugas menjaga desa terpencil itu. Bagaimana mereka harus menghadapi orang-orang Jipang yang sudah menyerah itu, dan bagaimana mereka harus menghadapi lawan yang masih tetap memandi senjata-senjata mereka apabila mereka benar-benar datang. Untuk kepentingan itu, maka di sekitar Desa Benda telah diletakkan beberapa pengawas yang harus dapat menilai setiap perkembangan keadaan dengan tepat.

Kepada Sumangkar, Ki Gede Pemanahan berpesan, “Kakang, kalian akan kami tinggalkan. Kakang adalah tetua orang-orang Jipang, Segala sesuatu harus selalu berada dalam pengawasan Kakang. Kakang-lah orang satu-satunya yang dapat langsung berhubungan dengan para prajurit Pajang yang sedang bertugas di tempat ini. Apapun yang kurang serasi menurut penilaian Kakang, maka Kakang akan dapat memberitahukannya kepada para petugas.

“Baik Ki Gede. Kami akan mematuhi perintah itu,” sahut Sumangkar.

Namun ketika Ki Gede Pemanahan akan meninggalkan tempat itu, maka ia masih sempat bertanya kepada Sumangkar, “Di manakah orang yang menamakan diri Kiai Gringsing itu? Apakah ia tidak turut beserta kalian?”

Sumangkar menggeleng lemah, jawabnya, “Tidak Ki Gede. Orang yang menyebut dirinya Kiai Gringsing itu tidak bersama kami.”

“Apakah orang itu tidak ingin bertemu dengan aku?

Sumangkar tertegun sejenak. Namun kemudian ia menjawab, “Tidak Ki Gede. Ternyata Kiai Gringsing belum ingin bertemu dengan Ki Gede Pemanahan.”

Ki Gede Pemanahan mengerutkan keningnya. Ia menjadi semakin tertarik kepada nama itu. Kiai Gringsing yang sehari-hari disebut Ki Tanu Metir. Seorang dukun yang cakap mengobati berbagai macam penyakit.

“Baiklah,” berkata Ki Gede Pemanahan. “Lain kali aku mengharap untuk dapat bertemu dengan orang itu.”

“Pesan itu akan aku sampaikan Ki Gede,” sahut Sumangkar.

Dalam pada itu, semua persiapan pun telah selesai. Ki Gede Pemanahan dan para pemimpin beserta sebagian dari prajurit Pajang dan laskar Sangkal Putung akan kembali ke induk kademangan.

Tetapi Sutawijaya tiba-tiba menggamit Agung Sedayu dan Swandaru Geni. Katanya, “Kita tinggal di sini.”

“Kenapa? “bertanya Agung Sedayu.

“Kita pergi ke Alas Mentaok.”

“Apakah yang menarik di Alas Mentaok itu?” bertanya Swandaru.

“Itulah yang ingin aku ketahui.”

“Apakah Tuan mempunyai kepentingan dengan hutan itu?” bertanya Agung Sedayu pula.

Sutawijaya memandang ayahnya dengan sudut matanya. Kemudian katanya perlahan-lahan, “Tanah itu akan dihadiahkan oleh Adipati Pajang kepada ayah. Aku ingin melihatnya, apakah tanah itu cukup baik untuk dibuka menjadi suatu pedukuhan. Mentaok akan dapat menjadi sebuah tanah perdikan.”

“Agung Sedayu mengangguk-anggukan kepalanya. Tetapi ia pernah mendengar bahwa Mentaok kini masih berupa hutan belantara.

“Aku ikut bersama Tuan,” tiba-tiba Swandaru menyela. Wajahnya yang bulat tampak berseri-seri gembira.

Tetapi wajah Agung Sedayu disaput oleh keragu-raguan hatinya. Sekali-sekali ia memandangi Sutawijaya, namun sesaat kemudian ditatapnya wajah kakaknya yang masih sibuk mengatur barisan bersama pamannya, Widura.

“Aku harus minta ijin Kakang Untara dan Paman Widura lebih dahulu,” berkata Agung Sedayu.

“Uh, kau seperti anak-anak saja,” potong Sutawijaya. “Bukankah kita sudah cukup dewasa? Kalau aku minta ijin pada ayah mungkin ayah akan melarangnya. Kau pun pasti akan dilarang pula. Karena itu maka kita tidak usah minta ijin.

“Mereka pasti akan mencari kita,” berkata Agung Sedayu.

“Biarkan saja mereka mencari kita,” sahut Sutawijaya. “Besok atau lusa, kalau kita kembali, maka mereka akan berhenti mencari.”

“Tetapi apakah Ki Gede akan tinggal beberapa lama di sini?” bertanya Agung Sedayu.

Mas Ngabehi Loring Pasar menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu. Kalau ayah tergesa-gesa kembali ke Pajang, biarlah ia mendahului.”

Agung Sedayu terdiam sejenak. Hatinya dicekam oleh keragu-raguan.

“Kenapa kau selalu ragu-ragu”?” bertanya Sutawijaya “Jangan seperti anak kecil. Kau telah mampu berkelahi melawan Sanakeling yang menurut pengamatanku, apabila perkelahian berlangsung lebih lama lagi, kau akan memenangkan perkelahian itu. Kenapa kau selalu masih harus minta ijin kepada kakakmu?”

Agung Sedayu menggigit bibirnya. Tetapi adalah menjadi kebiasannya untuk berbuat demikian. Bahkan sampai saat ia telah mampu memecah dinding yang mencengkamnya dalam ketakutan, maka kebiasaan itu tidak segera dapat dilupakan.

“Jangan takut,” berkata Swandaru. “Akupun tidak akan minta ijin kepada ayahku. “

Agung Sedayu masih berdiri dalam kebimbangan, sehingga Sutawijaya berkata, “Ayolah. Mau tidak mau kau harus pergi bersama kami.”

Agung Sedayu tidak dapat membantah lagi. Ia harus pergi ke Mentaok bersama Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar dan Swandaru Geni.

“Tetapi kita harus memberi tahukan kepada para penjaga,” gumam Agung Sedayu.

“Ah, bodoh kau,” berkata Sutawijaya. “Kalau mereka tahu dan mereka mengatakannya kepada ayah, maka aku tidak akan diperbolehkannya.”

“Setidak-tidaknya sepeninggalan Ki Gede Pemanahan dari desa ini”

Sutawijaya berpikir sejenak, kemudian katanya, “Baiklah nanti kita memberitahukannya kepada para penjaga.”

Agung Sedayu masih akan mengatakan sesuatu ketika ia mendengar Ki Gede Pemanahan memanggil,” Sutawijaya. Mari, kita kembali ke induk kademangan.”

Sutawijaya berpikir sejenak. Sekali-sekali dipandanginya wajah Agung Sedayu dan Swandaru Geni. Hampir-hampir ia kehilangan akal bagaimana ia akan dapat menyelinap meninggalkan barisan itu. Mendengar ajakan itu, Agung Sedayu menjadi senang. Mudah-mudahan Sutawijaya mengurungkan niatnya. Sama sekali bukan karena takut menghadapi bahaya di sepanjang jalan, tetapi dengan demikian kakaknya akan memarahinya.

Tiba-tiba Agung Sedayu kecewa ketika ia mendengar Sutawijaya menjawab, “Aku akan tinggal di sini sebentar ayah. Aku akan segera menyusul.”

Ki Gede Pemanahan memandanginya dengan penuh pertanyaan, bahkan orang tua itu menjadi curiga. Katanya, “Apalagi yang akan kau lakukan?”

Sutawijaya tertawa, jawabnya, “Aku hanya akan beristirahat sebentar ayah. Bukankah di sini sudah ada sepasukan prajurit Pajang? kalau terjadi sesuatu, maka mereka pasti akan dapat melindungi aku.”

“Tetapi jangan terlampau lama Sutawijaya,” berkata ayahnya. “Meskipun jarak induk Kademangan Sangkal Putung dan desa ini tidak terlampau jauh, namun di tengah-tengah bulak itu dapat bersembunyi segala macam bahaya.”

Sekilas terasa pula oleh Sutawijaya kekhawatiran ayahnya tentang dirinya di daerah yang ternyata masih diliputi oleh bahaya itu. Bahaya yang kini datang tidak saja dari orang-orang Jipang, tetapi lebih-lebih lagi adalah hantu lereng Merapi yang bernama Tambak Wedi. Namun Sutawijaya itu berpikir “Tambak Wedi itu pasti sudah pergi jauh-jauh. Setidak-tidaknya hari ini ia tidak akan datang kembali kemari. Kalau besok ia datang, maka aku sudah berada di Alas Mentaok. Mudah-mudahan nanti apabila aku kembali aku tidak menemuinya dan hantu itu tidak mengetahui bahwa aku pergi ke Alas Mentaok.”

Sutawijaya itu terkejut ketika ia mendengar suara ayahnya kembali, “He, Sutawijaya, bagaimana? Jangan terlalu lama, kau dengar?”

“Ya, ya Ayah,” jawabnya tergagap. “Aku tidak akan lama disini”

“Jangan memberi aku bermacam-macam pekerjaan lagi,” berkata Ki Gede Pemanahan pula. “Aku sudah terlalu letih.”

“Baik ayah,” sahut Sutawijaya.

Ki Gede Pemanahan itu pun kemudian bersama-sama dengan Untara, Widura dan para pemimpin Pajang dan Sangkal Putung yang lain pergi meninggalkan desa kecil itu. Mereka akan kembali ke induk kademangan, dan Ki Gede Pemanahan bermaksud bermalam di Sangkal Putung semalam, sambil menunggu persiapan orang-orang Jipang dan pasukan pengawal yang akan membawa mereka ke Pajang. Tetapi keadaan kini telah berkembang menjadi bertambah sulit. Ketika Untara mengetahui, bahwa Ki Tambak Wedi ternyata bergerak terlampau cepat, maka ia harus memperhitungkan keadaan. Baik yang akan pergi mengawal orang-orang Jipang bersama Ki Gede Pemanahan, maupun yang akan ditinggalkan di Sangkal Putung. Jangan sampai Ki Tambak Wedi dapat memanfaatkan keadaan itu. Keadaan di mana pasukan Pajang sedang terbagi. Ki Tambak Wedi yang cerdik itu akan dapat menghadang rombongan ke Pajang atau menusuk jantung Sangkal Putung yang sedang ditinggalkan oleh sebagian dari para pengawalnya mengantar orang-orang Jipang ke Pajang.

Karena itu semuanya, maka Untara harus berpikir lebih masak lagi.

Sutawijaya dan kedua kawan-kawan barunya itu memandangi pasukan yang berjalan meninggalkan desa Benda. Semakin lama semakin jauh. Sejalan dengan itu, maka hatinya pun menjadi semakin gembira pula. Katanya berbisik kepada Agung Sedayu dan Swandaru. “Nah, kita segera berangkat. Jangan menunggu matahari terlampau rendah. Mungkin kita harus bermalam beberapa malam di perjalanan.”

“Marilah,” terdengar Swandaru yang menyahut.

“Kau masih ragu-ragu,” bertanya Sutawijaya kepada Agung Sedayu.

“Aku tidak meragukan perjalanan yang akan kita lakukan, tetapi bagaimana Kakang Untara setelah mengetahuinya?”

“Aku yang bertanggung jawab,” potong Sutawijaya. “Kalau ia marah, biarlah ia marah kepadaku.”

Agung Sedayu tidak menjawab lagi. Ketika kemudian Sutawijaya berjalan kembali ke gardu di ujung desa, kedua anak muda murid Ki Tanu Metir itu mengikutinya di belakang.

“Apakah kita akan pergi berkuda atau berjalan kaki?” bertanya Swandaru.

“Mana yang lebih baik?,” Sutawijaya minta pertimbangan.

Mereka terdiam sejenak. Menilik jarak yang harus mereka tempuh, maka kuda akan membantu mereka, tetapi mengingat hutan-hutan yang mungkin terlampau sulit ditembus, maka lebih baik bagi mereka apabila mereka berjalan kaki. Sebab kuda-kuda mereka pasti hanya akan mengganggu di sepanjang perjalanan di hutan-hutan belukar itu.

Ketika kedua kawannya tidak menyahut, maka Sutawijaya itu pun akhirnya memutuskan “Kita berjalan kaki. Mungkin kita akan memerlukan waktu seminggu. Tetapi kita pasti akan sampai. Tetapi apabila kita pergi berkuda, maka kita akan terhalang di hutan-hutan belukar atau kita akan melepaskan kuda-kuda kita. Mungkin kuda-kuda kita itu akan diterkam oleh binatang-binatang buas. Karena itu lebih baik kita berjalan kaki.”

“Baik,” sahut Swandaru Geni, “Kita berjalan kaki. Bagaimana kakang Agung Sedayu?”

Meskipun hatinya masih ragu-ragu, namun Agung Sedayu menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Baik. Kita berjalan kaki.”

“Nah, kita berangkat sekarang. Kita akan masuk ke hutan di hadapan desa Benda ini dan menyeberanginya. Kita harus keluar dari hutan itu sebelum senja.”

“Tidak mungkin,” potong Agung Sedayu, “Lihat, matahari telah terguling ke Barat. Meskipun hutan itu tidak begitu lebat, tetapi hutan itu cukup luas.”

“Ah, persetan,” gumam Sutawijaya kemudian, “Apakah kita akan menembus hutan itu senja nanti atau apakah kita akan berjalan di malam hari, kita tidak usah meributkannya. Marilah kita pergi.”

“Ingat, Tuan, kita sebaiknya memberitahukan kepergian ini kepada para penjaga, supaya Ki Gede Pemanahan, Ki Demang Sangkal Putung dan Kakang Untara mendapat gambaran, berapa hari kita akan kembali,” berkata Agung Sedayu kemudian.

Sutawijaya berpikir sejenak, kemudian ia pun mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baik,” katanya, “aku akan berkata kepada pemimpin pengawal.”

Sutawijaya itu pun kemudian pergi ke gardu penjaga. Kepada seorang prajurit Sutawijaya bertanya, “Siapa pemimpin pengawal di sini?”

“Kakang Sendawa, Tuan,” sahut penjaga itu. “Ia berada di rumah sebelah. Rumah itu dipakai sementara untuk memimpin pengawalan desa ini.”

Sutawijaya mengangguk-angguk. Namun, tiba-tiba ia berkata, “Katakan kepadanya, aku akan pergi ke Alas Mentaok.”

“He?” prajurit itu terkejut, sehingga matanya terbeliak.

Tetapi Sutawijaya pun menjadi heran pula melihat prajurit itu memandangnya dengan pandangan yang aneh, sehingga terloncat pertanyaan dari bibirnya, “Kenapa kau memandangku seperti melihat hantu?”

“Tuan,” bertanya prajurit itu, “apakah aku tidak salah dengar? Apakah benar Tuan akan pergi ke Alas Mentaok?”

“Ya, kenapa?” jawab Sutawijaya.

“Alas Mentaok itu terletak di sebelah Barat hutan Tambak Baya, Tuan.”

“Ya, aku sudah tahu. Aku akan berjalan terus ke Barat. Aku akan melewati Prambanan, Candi Sari, Cupu Watu dan hutan Tambak Baya. Kenapa?”

“Perjalanan yang tidak masuk dalam akalku. Tuan hanya bertiga?”

“Kenapa tidak masuk dalam akalmu? Jarak itu dapat kau ketahui, apakah kau pernah pergi ke sana?”

“Belum, Tuan, tetapi sebagai seorang prajurit aku pernah mendapat tugas ke Prambanan. Kakak Adi Sedayu itu pernah pula mendapat tugas di Prambanan.”

“Kau dapat juga sampai ke Prambanan, mengapa kau heran mendengar rencana perjalanan ini? Bukankah sesudah Prambanan jarak ke Alas Mentaok tidak lagi begitu jauh?”

“Justru daerah itu adalah daerah yang berbahaya, Tuan. Mungkin Tuan akan berjumpa dengan penyamun-penyamun yang sakti. Dan aku pergi ke Prambanan bersama dengan rombongan prajurit dalam jumlah yang cukup. Karena itu maka aku tidak kuatir menjumpai bahaya-bahaya yang serupa. Tetapi apakah Tuan hanya akan bertiga saja?”

Sutawijaya tertawa. Ditepuknya bahu prajurit itu sambil berkata, “Katakan kepada Sendawa. Aku pergi ke Alas Mentaok.”

“Apakah Tuan tidak akan menjumpainya sendiri? Mungkin Kakang Sendawa dapat menceritakan serba sedikit tentang hutan itu. Mungkin Kakang Sendawa pernah mendapat tugas mengunjungi daerah-daerah terpencil di seberang hutan Mentaok beberapa waktu yang lampau atas nama kekuasaan Pajang yang menerima limpahan kekuasaan Demak pada waktu itu. Daerah-daerah yang pernah dikunjungi adalah daerah-daerah Mangir dan Lipura.”

Sutawijaya menggelengkan kepalanya, “Tidak. Sendawa pasti hanya akan menakut-nakuti aku. Katakan saja, aku pergi bertiga dengan berjalan kaki. Mungkin kami akan melintasi hutan-hutan bebondotan yang sukar sekali dilalui seekor kuda.”

“Ya, Tuan benar. Kuda-kuda itu hampir tak berarti di hutan-hutan yang lebat.”

“Sudahlah,” berkata Sutawijaya. “Aku akan pergi.”

“Tetapi, Tuan,” bertanya prajurit itu, “Tuan tidak membawa bekal apa pun di perjalanan. Bagaimana Tuan akan mendapatkan makanan? Apakah Tuan mempunyai beberapa orang yang telah Tuan kenal di sepanjang jalan?”

Sutawijaya tertegun sejenak. Dipandanginya wajah-wajah Agung Sedayu dan Swandaru Geni. Tetapi kedua anak muda itu pun agaknya tidak tahu, bagaimana mendapatkan bekal di perjalanan. Sudah tentu mereka tidak dapat mencari bekal di desa Benda yang kosong itu. Yang ada hanyalah orang-orang Jipang dan para prajurit yang sedang bertugas. Mereka sama sekali tidak mempunyai persediaan makanan dari Sangkal Putung.

Tiba-tiba Sutawijaya itu bertanya, “Apakah di antara kalian ada yang membawa busur dan anak panah?”

Prajurit itu terdiam sejenak.

“Ada?” desak Sutawijaya.

Prajurit itu mencoba melihat beberapa orang kawan-kawannya yang mendengarkan percakapan itu dengan mulut ternganga.

Tiba-tiba Sutawijaya melihat beberapa buah busur di sudut gardu. Tanpa bertanya kepada siapa pun ia meloncat dan mengambil tiga daripadanya.

“He, Agung Sedayu dan Swandaru, apakah kalian dapat memanah?”

Yang menjawab adalah Swandaru Geni, “Kakang Agung Sedayu adalah pemanah terbaik dari seluruh penghuni Sangkal Putung, termasuk para prajurit Pajang.”

“Bagus,” Sutawijaya menjadi gembira. Diraihnya beberapa endong anak panah sambil berkata, “Aku pinjam busur-busur ini.”

Para prajurit yang berada di dalam gardu itu seolah-olah terpaku beku di tempatnya. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka hanya melihat Sutawijaya mengambil tiga buah busur dari lima persediaan busur di gardu itu, beserta tiga endong penuh dengan anak panah. Mereka kemudian melihat Sutawijaya meloncat keluar sambil membagikan ketiga busur itu kepada Agung Sedayu dan Swandaru Geni.

“Kalian tidak akan mendapat musuh lagi di sini. Biarlah senjata-senjata ini kami bawa ke Alas Mentaok,” berkata Sutawijaya kepada para prajurit Pajang itu.

Sebelum mendapat jawaban, maka Sutawijaya segera mengajak kedua kawannya itu berjalan meninggalkan desa Benda menuju ke arah Barat. Alas Mentaok.

Perjalanan itu bukanlah perjalanan yang ringan. Jalan yang harus mereka lewati adalah jalan yang sulit dan jauh.

“Dengan anak-anak panah ini kita akan mendapat bekal di sepanjang jalan,” gumam Sutawijaya.

“Apakah kita akan menyamun atau memeras sambil menakut-nakuti orang dengan anak panah,” bertanya Swandaru.

Sutawijaya tertawa terbahak-bahak sehingga tubuhnya berguncang-guncang. Agung Sedayu yang segera menangkap maksud Sutawijaya pun tersenyum.

“Kenapa?” bertanya Swandaru heran.

“Aku belum pernah menyamun orang,” berkata Sutawijaya di antara derai tertawanya. “Lebih baik kita menyamun kijang atau menjangan.”

“O,” Swandaru tersenyum sambil menundukkan kepalanya. Pipinya yang gembul itu pun menjadi kemerah-merahan. Ternyata ia tidak cepat menangkap maksud Sutawijaya dengan busur dan anak panah itu, yang akan menjadi alat berburu yang baik.

Sesaat kemudian ketiga anak-anak muda itu terdiam. Mereka berjalan dengan cepat ke arah Barat. Di belakang mereka pedesaan Benda seolah-olah berjalan mundur sedang gerumbul-gerumbul jarak yang liar di hadapan mereka pun menjadi semakin dekat. Di belakang semak-semak itu akan terbentang sebuah lapangan rumput yang tidak begitu lebar. Dan di seberang lapangan itu mereka akan mendapatkan sebuah hutan yang cukup luas, meskipun tidak terlampau lebat.

Di langit, matahari telah melewati titik puncaknya dan dengan perlahan-lahan turun ke cakrawala. Namun panasnya masih terasa seakan-akan membakar kulit.

Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru berjalan tanpa berpaling lagi. Panas matahari telah memeras keringat mereka sehingga seluruh pakaian mereka menjadi basah. Kulit mereka yang menjadi semerah tembaga, menjadi berkilat-kilat karena keringat dan debu yang melekat.

Para prajurit di Benda pun kemudian menjadi gempar. Cerita tentang Sutawijaya dan kedua anak muda yang telah mereka kenal dengan baik, yaitu Agung Sedayu dan Swandaru benar-benar menimbulkan berbagai pembicaraan. Ada yang menjadi cemas, ada yang menjadi heran dan ada yang menjadi kagum karenanya.

Sendawa yang kemudian diberi tahu pula tentang kepergian ketiga anak-anak muda itu terkejut sekali. Katanya, “Apakah kalian tidak mencoba mencegahnya?”

“Aku telah mencobanya,” jawab prajurit itu, “tetapi mereka tidak mendengarkan.”

“Alas Mentaok adalah hutan belukar yang luar biasa lebatnya. Binatang-binatang buas masih berkeliaran dan bahkan di sekitar hutan yang liar itu masih banyak didiami oleh penjahat-penjahat yang sebuas binatang-binatang di dalam hutan itu.”

“Aku sudah mengatakannya.”

Sendawa menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian ia bergumam, “Mudah-mudahan mereka tidak memasuki hutan itu. Mudah-mudahan mereka berhenti setelah mereka melihat wajah Alas Mentaok.”

“Tetapi,” berkata prajurit itu, “bukankah menyeberangi hutan Tambak Baya itu pun cukup berbahaya?”

“Mungkin mereka akan mendapat beberapa orang kawan. Mudah-mudahan mereka menyeberang bersama-sama dengan rombongan-rombongan yang sering melewati hutan itu pula bersama-sama dengan beberapa orang pengawal. Dengan demikian, mereka akan terhindar dari banyak kesulitan.”

“Mudah-mudahan,” desis prajurit itu.

“Meskipun demikian, kita harus memberitahukannya kepada para pemimpin prajurit Pajang di Sangkal Putung. Bahkan kepada Ki Gede Pemanahan sendiri. Bukankah Raden Sutawijaya itu putera Ki Gede Pemanahan?”

“Ya. Demikian sebaiknya,” sahut prajurit itu.

“Nah, sekarang pergilah. Sampaikan laporan ini.”

Belum lagi prajurit itu pergi, mereka terkejut melihat seseorang memasuki rumah pimpinan itu. Ternyata orang itu adalah dukun tua yang selama ini tidak menampakkan diri. Orang itu adalah Ki Tanu Metir.

Dengan nada tinggi ia bertanya sambil tersenyum, “Aku dengar, ada di antara kalian yang akan pergi ke Alas Mentaok?”

“Tidak, Kiai,” sahut Sendawa. “Yang pergi ke Alas Mentaok adalah putera Ki Gede Pemanahan, Raden Sutawijaya.”

Ki Tenu Metir mengerutkan keningnya. Kemudian kembali ia bertanya, “Sendiri ?”

“Tidak,” jawab Sendawa pula. “Bersama dengan dua kawannya. Agung Sedayu dan Swandaru Geni.”

“He?” Ki Tanu Metir itu pun terkejut. Wajahnya yang tua itu menjadi semakin berkerut-merut. “Apakah kepentingan mereka dengan Alas Mentaok itu?”

“Kami tidak tahu Kiai,” sahut Sendawa. “Seorang prajurit telah mencoba mencegah mereka dengan memberikan gambaran-gambaran tentang perjalanan yang berbahaya itu. Tetapi mereka bertiga sama sekali tidak takut.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Gumamnya, “Tentu tidak. Putera Ki Gede Pemanahan yang telah berhasil membinasakan Arya Penangsang itu tidak akan mengenal takut terhadap apapun.”

“Tetapi perjalanan itu sangat berbahaya.”

“Ya,” kembali dukun tua itu bergumam seolah-olah untuk dirinya sendiri, “perjalanan yang berbahaya.”

“Kami akan memberitahukannya kepada ki Gede Pemanahan Kiai. Bukankah sebaiknya demikian?”

“Bagus,” sahut Ki Tanu Metir. “Beritahukan kepada Ki Gede Pemanahan. Apakah mereka belum lama berangkat? dan apakah mereka berkuda?”

“Belum terlampau lama. Mereka tidak berkuda.”

“Apakah dengan berkuda anak-anak itu akan dapat dicapai sebelum mereka masuk ke dalam hutan?”

Sendawa mengerutkan keningnya. Dicobanya menghitung waktu yang sudah dipergunakan oleh Sutawijaya. Namun kemudian ia mengambil kesimpulan, “Mungkin mereka telah memasuki hutan itu Kiai. Mereka sudah meninggalkan padukuhan ini sesaat setelah pasukan Pajang kembali ke induk Kademangan Sangkal Putung. Tetapi agaknya para prajurit lebih senang memperbincangkannya lebih dahulu, baru memberitahukannya kepadaku.”

Tampaklah sejenak kecemasan membayang di wajah orang tua itu. Namun hanya sejenak. Kemudian kembali ia tersenyum, “Bagus. Secepatnya kalian beritahukan kepada Ki Gede Pemanahan. Anak-anak itu hanya berjalan kaki saja bukan?”

“Baik, Kiai,” sahut Sendawa. Kemudian kepada prajurit yang memberitahukannya, Sendawa berkata, “Laporkan kepada Ki Gede Pemanahan, atau kepada Ki Untara atau Ki Widura.”

“Baik,” jawab prajurit itu sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian menghilang di belakang pintu rumah itu. Dengan tergesa-gesa ia pergi ke belakang gardu untuk mengambil seekor kuda. Para prajurit yang lain, yang melihat seorang kawannya berlari-lari mengambil seekor kuda segera mengetahuinya, bahwa prajurit itu harus melaporkan kepergian Raden Sutawijaya bersama dengan Agung Sedayu dan Swandaru kepada Ki Gede Pemanahan, Untara dan Ki Demang Sangkal Putung. Meskipun demikian, salah seorang dari mereka pun bertanya, “Apakah kau akan menyusul anak-anak muda itu atau akan pergi ke Sangkal Putung?”

“Aku hanya akan melapor,” sahut prajurit itu sambil meloncat ke atas punggung kuda. Sesaat kemudian maka kuda itu pun melontar berlari menyusul pasukan Pajang dan laskar Sangkal Putung yang kembali ke induk kademangan. Suara kakinya berderap di atas tanah berbatu-batu, mengejutkan para pengawal dan bahkan orang-orang Jipang yang sedang beristirahat di dalam rumah-rumah.

Di ujung lorong yang lain beberapa orang pengawal menghentikannya. Salah seorang dari mereka bertanya, “Kemana kau?”

“Menyusul Ki Gede Pemanahan.”

“Ada sesuatu yang penting?”

“Ya. Aku harus memberitahukan bahwa putera Ki Gede Pemanahan bersama Agung Sedayu dan Swandaru Geni tanpa setahu Ki Gede sendiri pergi ke Alas Mentaok.”

“Alas Mentaok?” beberapa mulut bersama-sama mengulanginya.

“Ya.”

“Mengapa?”

“Tak seorang pun di antara kami yang tahu. Apa perlunya maka putera Ki Gede itu pergi ke Mentaok.”

Para pengawal itu tidak bertanya lagi. Prajurit itupun kembali memacu kudanya. Derap kakinya melemparkan kepulan debu yang putih ditimpa sinar matahari yang telah menjadi semakin condong ke Barat.

Dengan tergesa-gesa prajurit itu berusaha untuk dapat menyusul Ki Gede Pemanahan secepatnya. Ketika telah dilewatinya beberapa padukuhan kecil, maka kemudian dilihatnya ujung panji-panji. Tiba-tiba hatinya menjadi berdebar-debar. Apakah jawabnya nanti apabila Ki Gede itu bertanya kepadanya, mengapa puteranya itu tidak dicegahnya?

Akhirnya kuda itu menjadi semakin dekat. Beberapa orang di barisan yang paling belakang yang lebih dahulu mendengar derap kakinya, segera berpaling. Ketika mereka melihat seekor kuda berlari kencang, maka mereka pun menjadi terkejut.

“Apakah yang terjadi?” pertanyaan itu mengetuk setiap dada para prajurit Pajang dan laskar Sangkal Putung.

Untara dan Widura yang kemudian mendengar derap itu pula, menjadi berdebar-debar. Seperti setiap prajurit yang lain timbul pula pertanyaan di dalam dadanya, “Apakah yang telah terjadi?”

Dalam pada itu terdengar Ki Gede Pemanahan bertanya, “Siapakah yang berkuda itu?”

“Seorang prajurit pengawal yang kita tinggalkan di Benda, Ki Gede,” sahut Untara.

Ki Gede Pemanahan mengerutkan keningnya. Ketika orang berkuda itu menjadi semakin dekat, maka Ki Gede itu berkata, “Mungkin ia membawa persoalan yang segera perlu kau ketahui Untara.”

“Ya, Ki Gede,” sahut Untara yang kemudian melambaikan tangannya memanggil prajurit itu.

Kuda itu pun kemudian berlari mendahului barisan yang menjelujur di sepanjang jalan. Beberapa langkah dari Untara prajurit itu segera meloncat turun.

“Apakah ada sesuatu yang penting?” bertanya Untara.

“Penting bagi Ki Gede Pemanahan.” sahut prajurit itu.

Ki Gede yang mendengar jawaban itu segera bertanya, “Penting bagiku? Apakah itu?”

Prajurit itu menjadi ragu-ragu sejenak. Baru ketika Untara menyuruhnya mengatakan, ia berkata, “Ki Gede, Putera Ki Gede bersama Adi Agung Sedayu dan Adi Swandaru telah pergi meninggalkan Benda ke arah Barat. Menurut keterangannya, mereka bertiga akan pergi ke Alas Mentaok.”

“He?” bukan main terkejut Ki Gede Pemanahan, Untara, Widura dan orang-orang lain yang mendengarnya, sehingga sejenak justru mereka terdiam.

Barisan yang panjang itu pun kemudian berhenti dengan sendirinya. Mereka yang tidak mendengar laporan itu bertanya-tanya di dalam hati. Tetapi berita itu pun kemudian menjalar dari mulut ke mulut, dari ujung terdepan merambat sampai ke ujung belakang. Hampir semua orang menggeleng-gelengkan kepala mereka.

“Bukan main,” gumam salah seorang prajurit.

“Mereka adalah anak-anak muda yang berani,” sahut yang lain. “Tetapi apakah kepentingan mereka?”

Untara dan Widura pun berdiri terpaku. Mereka sejenak saling berpandangan, namun tak sepatah kata pun yang mereka katakan. Sesaat kemudian terdengar Ki Gede Pemanahan bertanya, “Apakah mereka sudah lama pergi? Dan apakah mereka berkuda?”

“Tidak, Ki Gede. Mereka berjalan kaki. Mereka berangkat sejenak setelah pasukan ini meninggalkan desa Benda.”

“Kenapa baru sekarang kau memberitahukan?” bertanya Ki Gede.

Prajurit itu terdiam. Ia tidak tahu bagaimana ia akan menjawab. Tetapi semuanya sudah terlanjur. Sejenak mereka saling berdiam diri. Ki Demang Sangkal Putung yang mendengar berita itu pun segera pergi ke ujung barisan. Namun ketika dilihatnya Untara, Widura dan beberapa orang yang lain terpaku diam, maka Ki Demang Sangkal Putung pun tidak bertanya apa-apa lagi.

“Hem,” Ki Gede Pemanahan kemudian menarik napas dalam-dalam. “Anak itu memang nakal.”

Tetapi kata-katanya tidak dilanjutkannya. Ki Gede itu mencoba membayangkan perjalanan yang akan dilalui oleh puteranya beserta Agung Sedayu dan Swandaru. Ki Gede Pemanahan meskipun hanya sekilas telah melihat, bagaimana Agung Sedayu dan Swandaru menggerakkan pedangnya.

Perjalanan ke Alas Mentaok bukanlah perjalanan yang menyenangkan seperti sebuah tamasya. Yang dihadapi di dalam perjalanan itu adalah alam yang keras dan mungkin juga para penjahat.

Tetapi Ki Gede Pemanahan tidak sempat memberi pesan apa pun kepada puteranya yang nakal itu.

Sebagai seorang senapati Perang, Panglima Wiratamtama, maka Ki Gede Pemanahan pun pernah mengunjungi daerah-daerah di seberang hutan Mentaok. Karena itu maka Ki Gede dapat membayangkan apakah yang akan ditemui puteranya di sepanjang jalan.

Ki Gede Pemanahan itu pun kini berdiri dalam kebimbangan. Perasaannya menjadi sangat berat untuk membiarkan puteranya dengan dua anak-anak muda itu tanpa berbuat sesuatu. Tetapi ia tidak melihat seorang pun yang dapat diperintahkannya menyusul mereka. Untara atau Widura bukanlah seorang yang akan dapat melindungi sutawijaya, sebab menurut penilaian Ki Gede Pemanahan, Untara tidak lebih cakap berolah pedang dan tombak daripada Sutawijaya sendiri.

Tetapi Ki Gede Pemanahan sendiri sudah tentu tidak akan dapat meninggalkan Pajang terlampau lama untuk menyusul puteranya. Belum pasti puteranya itu segera dapat diketemukan. Apabila anak-anak muda itu sudah masuk kedalam hutan, maka mencari seseorang di dalam hutan adalah sama sulitnya dengan mencarinya di dalam kota yang ramai. Bahkan mungkin di dalam kota masih sempat bertanya-tanya, siapakah di antara orang-orang kota yang pernah melihat orang yang ciri-cirinya dapat dikenal. Tetapi di dalam hutan, pepohonan justru menjadi tempat-tempat bersembunyi yang baik.

Ki Gede Pemanahan seolah-olah berdiri di persimpangan jalan antara kekhawatirannya tentang anaknya dan kewajibannya sebagai seorang Panglima. Saat ini Pajang masih sedang dalam pergolakan. Pajang masih mendapat penilaian daripada para adipati di sepanjang Pantai dan adipati di wilayah Demak lainnya bagian Timur. Apakah Pajang akan mampu berdiri tegak menggantikan Demak. Karena itu, maka Panglima Wira Tamtama selalu harus berada di tempatnya.

Dalam kebingungan itu Ki Gede Pemanahan berkata, “Marilah kita teruskan perjalanan ini. Biarlah kita pertimbangkan sesudah kita sampai di induk Kademangan Sangkal Putung.”

“Marilah Ki Gede,” sahut Untara, yang kemudian kepada prajurit yang membawa berita tentang kepergian Sutawijaya, Untara berkata, “Kembalilah ke tempatmu.”

Prajurit itu pun menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Baik.”

Ketika Ki Gede Pemanahan kemudian berjalan kembali diikuti oleh seluruh barisan, maka prajurit itu pun kembali ke Benda untuk meneruskan tugasnya.

Di sepanjang jalan Ki Gede Pemanahan hampir tidak berkata sepatah kata pun. Hatinya menjadi risau dan gelisah. Kedatangannya di Sangkal Putung ternyata menjadikannya bingung setelah beberapa kali ia menemui kekecewaan.Tetapi di sepanjang jalan itu pula ia menemukan keputusan. Sebagai seorang panglima, maka ia tidak dapat meninggalkan tugasnya. Ia harus segera kembali ke Pajang sesuai dengan rencana yang telah dibuatnya. Ia akan mengatakan apa yang terjadi sebenarnya dengan puteranya, Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar. Karena Sutawijaya itu telah diambil putera pula oleh Adipati Pajang, maka sudah tentu Adipati Pajang akan menanyakannya. Baru apabila ia mendapat perintah untuk mencari puteranya, ia akan berangkat dengan menanggalkan baju kebesarannya sebagai seorang panglima, sementara ia pergi.

Karena itu, maka ketika mereka telah sampai di Sangkal Putung, Ki Gede segera memberitahukan kepada Untara dan Widura bahwa ia tidak akan merubah rencana.

Dengan demikian, maka segera setelah mereka beristirahat di Banjar Desa Sangkal Putung, Ki Gede Pemanahan memanggil Untara, Widura, dan para perwira yang dibawanya dari Pajang.

“Kita besok harus kembali membawa orang-orang Jipang itu sesuai dengan rencana,” berkata Ki Gede Pemanahan kepada para pengawalnya.

“Ya, Ki Gede,” sahut salah seorang dari mereka.

“Tetapi kita harus mempertimbangkan keadaan. Bagaimana dengan pertimbanganmu, Untara. Apakah kau dapat menganggap cukup dengan membagi prajuritmu menjadi dua. Separo ikut aku mengawal orang-orang Jipang itu ke Pajang, dan yang separo tinggal di Sangkal Putung?”

“Bagi Sangkal Putung, separo dari prajurit-prajurit Pajang itu telah cukup untuk melindungi Kademangan ini. Tetapi yang aku cemaskan justru perjalanan Ki Gede. Apabila perjalanan Ki Gede bertemu dengan laskar Tambak Wedi dan Sanakeling, kita belum tahu pasti apakah orang-orang Jipang yang sudah menyerah ini tidak akan terlibat dalam pertempuran itu. Meskipun mereka tidak bersenjata, tetapi jumiah mereka cukup banyak untuk menentukan keadaan,” jawab Untara.

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sependapat dengan Untara. Karena itu, maka katanya kemudian kepada perwira bawahannya yang dibawanya dari Pajang, “Dua di antara kalian malam ini kembali ke Pajang. Kalian harus melaporkan keadaan kami di sini. Tetapi ingat, jangan kau katakan apapun tentang Sutawijaya. Aku sendiri yang akan menyampaikannya kepada Adipati Pajang. Kemudian mintalah kepada Adi Adipati supaya memberimu ijin membawa limapuluh prajurit berkuda Wira Tamtama untuk membantu pengawalan orang-orang Jipang itu. Dengan demikian kita terpaksa menunda saat kembali ini dengan semalam lagi.”

“Baik, Ki Gede,” sahut perwira itu. “Kedua orang di antara kami akan segera berangkat sebelum gelap.”

Demikianlah maka segera mereka menentukan dua orang di antara para pengawal itu untuk kembali ke Pajang. Sementara itu mereka telah mempergunakan waktu beristirahat sebaik-baiknya. Para prajurit yang lain pun segera bertebaran di tempat masing-masing. Di banjar desa dan yang lain ke kademangan dan rumah-rumah yang ditentukan.

Sementara itu Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru, berjalan secepat-cepatnya menuju ke hutan yang semakin dekat di hadapan mereka. Sutawijaya masih merasa cemas kalau-kalau ayahnya datang menyusul mereka, sehingga apabila mereka telah berada di dalam hutan itu, maka kesempatan untuk menyembunyikan diri menjadi lebih besar.

Matahari yang merangkak di langit kini menjadi semakin rendah. Cahayanya tidak lagi terasa membakar kulit, tetapi karena mereka berjalan kearah Barat, maka mereka pun kini menjadi silau.

“Di hutan itukah Tohpati dahulu menyembunyikan diri?” bertanya Sutawijaya.

“Ya,” jawab Agung Sedayu, “Agak ke tengah.”

“Apakah kau pernah melihatnya?”

“Belum,” sahut Agung Sedayu.

“Marilah kita lihat.”

“Marilah,” tiba-tiba Swandaru menyela, “aku juga ingin melihatnya.”

“Belum ada yang pernah melihat di antara kita,” berkata Agung Sedayu.

“Kita dapat mencarinya,” jawab Swandaru.

“Bukan pekerjaan yang mudah. Kita akan kehilangan waktu untuk suatu kerja yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan maksud kepergian kita.”

“Tidak apa,” potong Sutawijaya. “Kita memberikan waktu sejenak.”

Agung Sedayu tidak menjawab lagi. Kedua kawannya telah sependapat untuk pergi melihat-lihat bekas sarang orang-orang Jipang itu. Karena itu, maka ia harus tunduk dan mengikutinya.

Ketika mereka telah hampir sampai ke tepi hutan itu, maka segera Sutawijaya memperhatikan rerumputan di hadapan langkah kakinya. “Hati-hati,” seakan-akan ada yang dicarinya.

“Adakah yang tuan cari?” bertanya Swandaru.

“Ada,” sahut Sutawijaya.

“Apa?”

Sutawijaya tidak segera menjawab. Tetapi tiba-tiba ia tertawa, “Itulah.”

Agung Sedayu segera mengetahuinya, bahwa Sutawijaya sedang mencari jejak kaki orang-orang Jipang. Orang-orang Jipang yang pagi itu telah meninggalkan sarang mereka untuk menyerahkan diri mereka ke Sangkal Putung.

“Itulah salah satu tanda yang dapat kita ikuti,” berkata Sutawijaya sambil menunjuk ujung-ujung ilalang yang terpatah-patahkan oleh injakan kaki.

“Kita mengikuti arah itu. Berlawanan dengan arah yang mereka tempuh.”

Kedua kawan-kawannya tidak menjawab. Mereka berjalan saja di samping Sutawijaya. Sejenak lagi mereka akan sampai kehutan yang sejuk. Panas matahari tidak lagi menyentuh tubuh mereka karena daun pepohonan yang lebat dan rimbun.

Demikian mereka menginjakkan kaki-kaki mereka di batas hutan itu, maka Sutawijaya segera berkata, “Di sini kita mendapat petunjuk yang lebih jelas lagi. Lihat iring-iringan itu pasti telah melewati jalan ini pula. Ranting-ranting yang patah, dan dedaunan yang terinjak-injak itu akan menjadi penunjuk jalan yang baik. Marilah kita ikuti. Kita harus menemukan perkemahan itu sebelum senja.”

Tetapi ketika Agung Sedayu menengadahkan wajahnya, maka ia menggelengkan kepalanya sambil bergumam, “Matahari telah turun terlampau cepat. Aku tidak yakin bahwa kita akan sampai sebelum senja. Kalau kita dapat menentukan jalan memintas, maka kita akan dapat mencapainya. Tetapi aku kira jalan yang dilalui oleh orang-orang Jipang dalam rombongan yang besar ini adalah jalan yang paling mudah, bukan yang paling dekat.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya, ia pun mempunyai perhitungan yang serupa, tetapi ia menjawab, “Marilah kita coba.”

Kembali mereka bertiga berjalan beriringan. Kali ini mereka berjalan di antara pepohonan yang belum terlampau pepat. Yang banyak mereka lintasi barulah gerumbul-gerumbul yang bertebaran di sana-sini. Satu dua mereka melintasi pohon-pohon yang cukup besar. Namun sejenak kemudian, hutan itu pun menjadi semakin pepat. Pepohonan menjadi semakin padat dan gerumbul-gerumbulnya pun menjadi semakin rapat. Bahkan di sana-sini mereka harus melewati rumpun-rumpun berduri.

Namun Sutawijaya yang berjalan di paling depan tidak kehilangan jejak. Semakin rimbun hutan itu, semakin jelaslah bekas-bekas rombongan orang-orang Jipang. Semakin banyak ranting-ranting yang patah dan mereka patahkan untuk memberi jalan kepada kawan-kawan mereka yang masih di belakang. Daun-daun yang menjorok ke dalam barisan dan duri-duri yang berada di depan rombongan itu telah disingkirkan.

Ketika Sutawijaya melihat sebuah tikungan yang lengkung dari bekas orang-orang Jipang itu, kemudian satu putaran lagi di hadapan mereka. Terdengar ia bergumam, “Ya, orang-orang jipang ini mengambil jalan yang paling mudah, bukan yang paling dekat. Seandainya kita tahu jalan memintas maka kita akan sampai ke tempat itu segera.”

“Ya,” sahut Agung Sedayu. “Tetapi dengan mengikuti jejak ini kita pasti akan sampai. Kalau kita memilih jalan sendiri bahkan mungkin kita sama sekali tidak akan menemukan perkemahan itu.”

“Ya, aku sependapat,” jawab Sutawijaya, “karena itu, mari kita percepat jalan kita.”

Langkah mereka pun menjadi semakin cepat dan panjang. Mereka ingin berlomba dengan waktu. Namun setiap kali terasa bahwa jalan mereka terlampau lambat. Meskipun mereka telah meloncat-loncat, berlari-lari kecil. Namun matahari serasa meluncur amat cepatnya ke atas cakrawala. Sinarnya yang kemudian menjadi kemerah-merahan tampak bergayutan di tepi-tepi awan yang bergerak di langit yang biru.

Tetapi matahari itu pun turun lebih rendah lagi. Hampir hilang ditelan punggung-punggung bukit. Sehingga hutan itu pun kini menjadi semakin kabur.

“Apakah perkemahan itu masih jauh?” bertanya Sutawijaya.

“Aku tidak tahu,” sahut Agung Sedayu, “Aku belum pernah sampai ke perkemahan itu.”

Sutawijaya terdiam. Kini ia menjadi semakin sukar untuk mengenal bekas-bekas yang telah di buat oleh rombongan orang-orang Jipang yang menyerah. Tetapi tiba-tiba Sutawijaya itu berteriak, “Ha, lihat. Ini adalah sebuah gardu peronda yang telah mereka buat.”

Agung Sedayu dan Swandaru segera melihat di belakang sebuah pohon yang cukup besar, tampak sebuah atap ilalang yang cukup untuk berteduh dua orang bersama-sama.

“Kita hampir sampai,” desis Sutawijaya.

Mereka pun terdiam. Dengan penuh perhatian mereka memandangi keadaan di sekeliling mereka. Ketika mereka maju lagi, maka segera mereka mengenal tempat itu. Tempat itu pasti tempat orang-orang Jipang berkemah. Sebuah halaman yang kotor dan di sana-sini mereka melihat batang-batang kayu yang telah tumbang. Karena itu maka tempat itu menjadi agak lebih terang dari tempat-tempat yang lain karena sisa-sisa sinar senja.

“Kita sudah sampai. Tetapi kita harus menemukan gubug-gubug mereka di sekitar tempat ini.”

“Sudah dekat sekali,” desis Swandaru, “Tidak ada seratus langkah kita akan sampai.”

“Belum pasti,” jawab Sutawijaya.

Kembali mereka terdiam. Hutan itu menjadi semakin suram. Sekali-sekali mereka terpaksa menggaruk-garuk tubuh mereka karena gigitan nyamuk yang berterbangan.

Dan kini langkah mereka terhenti. Kembali Sutawijaya berteriak, “Nah, itulah. Kau lihat?”

“Ya,” hampir bersamaan Agung Sedayu dan Swandaru menyahut.

Di dalam kesuraman senja, mereka melihat beberapa buah gubug berdiri berjajar-jajar. Udara terasa sangat lembab dan pengab. Tetapi gubug-gubug itu adalah gubug yang kecil-kecil.

“Kita melihat-lihat keadaannya,” berkata Sutawijaya. “Tetapi hati-hatilah. Siapa tahu, di dalam perkemahan itu masih ada beberapa orang yang berkeras kepala.”

“Marilah,” sahut Agung Sedayu dan Swandaru Geni. Mereka pun kemudian mencabut senjata-senjata mereka dan berjalan hati-hati mendekati gubug-gubug itu.

“Sepi,” bisik Sutawijaya.

“Sudah kosong,” sahut Swandaru.

“Terlampau sedikit,” berkata Sutawijaya kemudian. “Di sekitar tempat ini pasti masih ada perkemahan lagi.”

“Mungkin,” jawab Agung Sedayu.

“Tetapi biarlah. Hari telah gelap. Aku kira akan berbahayalah bagi kita apabila kita merayap-rayap di dalam gelap di tempat yang belum kita kenal. Tetapi menilik tempat-tempat penjagaan telah dikosongkan, maka perkemahan ini pun pasti telah kosong. Seandainya ada tempat-tempat lain di sekitar tempat ini pun pasti benar-benar telah menjadi kosong pula.”

“Ya,” desis Agung Sedayu dan Swandaru bersama-sama.

“Kita bermalam di sini,” berkata Sutawijaya. “Kita akan mendapat tempat untuk tidur.”

“Kita lihat dahulu di dalam gubug-gubug itu, apakah mungkin kita tidur di dalamnya?” berkata Swandaru.

“Marilah,” sahut Sutawijaya.

Maka dengan hati-hati ketiga anak-anak muda itu pun memilih satu di antara kemah-kemah yang kosong itu. Mereka pun kemudian melangkah ke pintunya.

“Siapa di dalam?” desis Sutawijaya, tetapi kemudian anak muda itu tertawa.

“Mengapa Tuan tertawa?” bertanya Swandaru.

“Aku merasa geli sendiri. Kenapa aku bertanya?”

“Kalau Tuan mendengar jawaban maka Tuan pasti akan lari,” berkata Swandaru.

“Kalau ada yang menjawab di dalam, maka ia akan aku sobek perutnya dengan tombak ini.”

“Bukankah gubug itu kosong,” berkata Swandaru

“Ya, kenapa ada jawaban?”

“Itulah. Kalau ada jawaban dari dalam gubug yang kosong dan gelap-kelam itu, maka pasti bukan jawaban yang keluar dari mulut orang-orang Jipang. Bukan pula keluar dari mulut orang manapun.”

Sekali lagi Sutawijaya tertawa. Katanya, “Ha. kau sudah mulai membayangkan, bahwa di dalam gubug itu akan kau temui sebuah kerangka yang akan menyambut kehadiranmu.”

Swandaru dan Agung Sedayu tertawa. Tanpa mereka sadari maka mereka pun memandang berkeliling. Gelap malam telah mulai menyelubungi hutan itu sehingga gubug-gubug di sekitar mereka kini hanya tampak sebagai onggokan bayangan-bayangan hitam. Tiba-tiba bulu kuduk Swandaru meremang.

“Ngeri,” desisnya.

“Kenapa?”

“Aku seolah-olah merasa berada di tengah-tengah kuburan. Bayangan-bayangan hitam itu seperti bayangan-bayangan cungkup yang bertebaran. Aku lebih baik merasa berada di tengah-tengah hutan yang lebat. Aku tidak takut diterkam macan.”

Kini Sutawijaya dan Agung Sedayu tidak dapat menahan tertawanya. Suara tertawa itu telah menggetarkan hutan yang sepi. Berkepanjangan, seolah-olah telah membangunkan dedaunan yang telah mulai tidur lelap.

Tetapi akhirnya Swandaru sendiri turut tertawa pula.

“Marilah kita masuk,” ajak Sutawijaya.

“Gelap,” sahut Swandaru.

“Tidak ada kerangka yang hidup di dalam gubug itu. Kalau ada kerangka itu pasti sudah menyambut kita di muka pintu ini,” sela Agung Sedayu.

Namun kembali bulu-bulu mereka meremang, bukan saja Swandaru. Ketika angin yang lemah berdesir menyentuh leher-leher mereka, maka tanpa mereka sengaja mereka menjadi semakin berhati-hati.

Di kejauhan ketiga anak-anak muda itu mendengar suara burung hantu memekik-mekik. Sedang malam pun menjadi semakin gelap pula. Tiba-tiba terdengar Sutawijaya berkata, “Siapa di antara kita yang membawa titikan? Kita sebaiknya membuat api.”

“Aku,” sahut Swandaru sambil mencari sesuatu di kantong bajunya. “Aku selalu membawa titikan. Setiap kali Sekar Mirah minta aku membuat api untuknya, apabila api di dapur padam dan beberapa orang pembantunya akan merebus air dan menanak nasi di pagi hari.”

“Ha,” seru Sutawijaya, “Buatlah api.”

“Apakah yang akan kita bakar? Kita belum mengumpulkan kayu atau sampah.”

“Sampah telah cukup terkumpul,” potong Agung Sedayu. Tiba-tiba tangannya meraih atap gubug yang terbuat daripada ilalang. Sekali tangan kirinya merenggut, maka segenggam ilalang telah didapatkannya.

“Hanya segenggam?” bertanya Swandaru.

“Kalau kurang, maka dua tiga buah gubug akan kita bakar,” sahut Agung Sedayu.

Ketiga anak-anak muda itu pun tertawa. Swandaru kemudian menyarungkan pedangnya dan dengan hati-hati membuat api dengan batu titikan dan emput lugut aren yang telah dihaluskan. Sekali dua kali akhirnya lugut aren itu pun membara.

“Hembuslah kuat-kuat di atas ilalang ini,” katanya kepada Agung Sedayu.

Maka kemudian mereka bertiga pun bergantian menghembus emput itu. Bara emput itu pun kemudian menjalar dan sejenak kemudian ilalang di dalam genggaman tangan Agung Sedayu itu pun mulai menyala.

“Cari yang lain, sebanyak-banyaknya,” berkata Agung Sedayu.

Sutawijaya dan Swandaru pun kemudian berebutan merenggut ilalang atap gubug dan meletakkannya di atas tanah. Dengan api di tangannnya Agung Sedayu pun kemudian membakar ilalang itu.

Mereka bertiga pun kemudian mencari sampah-sampah yang agak basah ditimbunkannya ke dalam api supaya perapian itu tidak lekas habis.

“Kalau ada kita beri kayu di atasnya,” gumam Sutawijaya, “supaya semalam suntuk api tidak padam.”

“Dari manakah kita mendapatkan kayu ?” bertanya Swandaru.

Agung Sedayu menebarkan pandangannya berkeliling. Karena api yang menyala di perapian itu, maka dilihatnya beberapa buah gubug berdiri bertebaran, seolah-olah betapa lelahnya. Sebagian dari mereka telah menjadi condong dan bahkan sebagian yang lain telah hampir roboh.

“Bukankah tiang-tiang gubug itu sebagian terbuat dari kayu dan sebagian yang lain dari bambu?” gumam Agung Sedayu.

Sutawijaya pun kemudian menyahut, “Bagus, kita robohkan salah satu daripadanya.”

Mereka bertiga pun kemudian meletakkan busur masing-masing dan Agung Sedayu pun menyarungkan pedangnya pula, sedang Sutawijaya menyandarkan tombaknya di dekat perapian itu. Setelah menyingsingkan lengan baju mereka, maka segera mereka pun bekerja. Mereka telah merobohkan sebuah gubug dan mengambil segenap kayu yang ada. Mereka melemparkan kayu-kayu itu ke atas perapian dan membiarkannya terbakar.

“Perapian ini akan tahan semalam suntuk,” gumam Sutawijaya.

“Ya, kita tidak akan kedinginan,” sahut Swandaru.

“Tetapi kita tidak akan dapat tidur bersama-sama,” berkata Sutawijaya kemudian. “Kita lebih baik tidur di samping perapian ini, tidak di dalam gubug meskipun kita tidak takut kepada kerangka-kerangka yang menunggui gubug-gubug itu. Atau mungkin banaspati atau semacam wedon. Tetapi di sini kita lebih aman. Kita dapat melihat keadaan di sekitar kita dalam jarak yang cukup.”

“Tetapi kita akan menjadi tontonan di sini,” sahut Swandaru, “Kalau ada orang yang bersembunyi di dalam gelap itu, maka mereka akan melihat kita dengan leluasa.”

“Tak ada orang di sekitar tempat ini,” jawab Sutawijaya

“Atau kita tidak terlampau dekat dengan api, supaya kita tidak terlampau jelas di lihat dari kegelapan.”

“Mungkin tetekan, peri atau prayangan yang mengintip kita,” berkata Agung Sedayu. “Kalau demikian, maka meskipun kita berada di dalam kegelapan pun mereka akan dapat melihat.”

“Huh. Kita bicarakan yang lain,” potong Swandaru, “Bukan tentang hantu-hantuan saja.”

Kedua kawan-kawannya tertawa. Swandaru pun kemudian tertawa pula.

“Hem,” desis Suiawijaya, “Alangkah nyamannya kalau kita mendapat daging kijang. Kita panggang di atas api.”

“Di sekitar tempat ini pasti ada kijang.”

“Kalian sering berburu?”

Agung Sedayu menggeleng, “Kakang Untara sering berburu, bahkan sejak kecil.”

“Kau tidak ikut?”

“Jarang sekali. Kalau ibu tahu, maka Kakang Untara pasti dimarahi.”

“He?” Sutawijaya menjadi heran, “Ibumu tidak mengijinkan?”

Agung Sedayu menggeleng, “Dahulu tidak.”

“Aku sering berburu juga bersama ayah. Tetapi mencari kijang lebih baik di siang hari. Malam hari kita jarang-jarang menemui binatang selain binatang buas yang sedang mencari makan.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Anak itu tidak pernah pergi berburu selain berburu kambing di kandang rumahnya. Karena itu, ia sama sekali tidak tahu, bagaimanakah caranya harus memburu kijang.

Kini mereka terdiam sejenak. Mereka duduk memeluk lutut mereka. Namun senjata-senjata mereka tetap tergantung di lambung dan busur-busur mereka berada di sisi, sedang Sutawijaya memeluk tombak pendeknya sambil memandangi nyala api yang seakan-akan melonjak-lonjak.

Angin malam semakin lama menjadi semakin sejuk. Tetapi panas perapian telah menghangatkan tubuh mereka. Lidah api yang merah menggapai-gapai seperti sedang menari. Cahayanya yang melekat di dedaunan bergetaran meloncat dari lembar ke lembar yang lain.

Terkantuk-kantuk Swandaru menguap sambil bergumam, “Siapakah yang akan tidur lebih dahulu?”

“Kau sudah kantuk?” bertanya Agung Sedayu.

“Ya. Apakah aku dapat tidur lebih dahulu? Setelah tengah malam maka berganti aku yang jaga?”

“Pikiran yang bagus,” sahut Sutawijaya, “Tetapi bagaimana kalau kau kami tinggalkan di sini seorang diri? Ketika kau kemudian membuka mata di tengah malam, kau dikerumuni oleh kerangka-kerangka yang bangkit dari dalam tanah? Kau pasti tahu bahwa di sekitar perkemahan ini pasti ada kuburan. Kuburan orang-orang Jipang yang terbunuh di peperangan atau yang mati karena luka-lukanya?”

Swandaru mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ditebarkannya pandangannya berkeliling. Dilihatnya dari dalam gelap bayangan api yang kemerah-merahan seperti hantu yang sedang menari-nari, bahkan kemudian seperti serombongan hantu yang siap menerkamnya. Tetapi Swandaru bukan seorang penakut. Bahkan kemudian ia tertawa sambil berkata, “Lihat, itu mereka telah datang.”

Sutawijaya dan Agung Sedayu pun tertawa. Tanpa mereka kehendaki mereka memandang ke arah ujung jari Swandaru yang menunjuk bayangan api yang satu-satu jatuh ke dalam gelap. Tetapi tiba-tiba Sutawijaya mengerutkan keningnya. Ia melihat bayangan di tempat yang terlampau jauh. Bayangan yang terlampau terang dibandingkan dengan jarak antara perapiannya dan tempat itu. Apalagi pepohonan dan dedaunan yang menghalanginya, pasti akan menutup jauh lebih banyak dari apa yang dilihatnya. Karena itu, maka Sutawijaya itu pun tiba-tiba berdiri. Digenggamnya tombak pendeknya erat-erat.

“Apa yang Tuan lihat?” bertanya Swandaru.

“Kau lihat bayangan api di kejauhan itu?” bertanya Sutawijaya.

“Ya,” sahut Swandaru.

“Kau lihat keanehannya?” bertanya Sutawijaya pula.

Swandaru menjadi heran mendengar pertanyaan itu. Semula ia sama sekali tidak menaruh perhatian atas bayangan api itu. Namun ternyata bayangan itu semakin lama menjadi semakin besar. Di kejauhan itu kemudian tampaklah warna merah yang memancar bertebaran seperti pancaran api dari perapian mereka.

“Perapian,” desis Agung Sedayu.

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan iapun mengulanginya, “Perapian.”

“Ya,” sahut Sutawijaya, “Seseorang telah menyalakan perapian.”

“Siapa?” desis Swandaru kemudian.

Sutawijaya menggelengkan kepalanya, “Kita tidak tahu.”

Sejenak kemudian mereka terdiam. Namun hati mereka menjadi berdebar-debar. Ternyata bahwa di sekitar tempat itu, masih juga ada seseorang setidak-tidaknya, yang mungkin telah melihat mereka bertiga.

“Tetapi apa maksudnya membuat perapian itu?”

Pertanyaan itu timbul di dalam dada ketiga anak-anak muda itu.

“Siapkan senjata kalian,” berkata Sutawijaya, “Kita yang akan datang melihatnya. Kita tidak akan menunggu sampai seseorang datang kepada kita dengan maksud apa pun.”

“Marilah,” jawab Agung Sedayu dan Swandaru hampir bersamaan.

Series 17

MEREKA pun kemudian memungut busur-busur mereka, menyilangkannya di punggungnya. Endong, tempat anak panah merekapun segera mereka ikat pada pinggang masing-masing. Di kiri tergantung pedang dan di kanan tergantung endong-endong itu, kecuali Sutawijaya yang bersenjatakan tombak.

Ketiganya kemudian dengan hati-hati berjalan menjauhi perapian mereka. Agung Sedayu dan Swandaru telah menarik pedang-pedang mereka dari sarungnya. Kalau seseorang sengaja menarik perhatian mereka dengan sebuah perapian, maka menghadapi mereka harus cukup waspada.

Dengan penuh kewaspadaan mereka kemudian memasuki rimbunnya pepohonan di sekeliling halaman yang sempit dan kotor itu. Dengan senjata siap di tangan, selangkah-selangkah mereka maju. Segera mereka pun mengetahui, dari manakah sumber cahaya yang memancar, membuat bayangan yang kemerah-merahan pada pepohonan dan dedaunan.

“Dari situlah sumber cahaya itu,” desis Swandaru.

“Ya,” sahut Sutawijaya perlahan-lahan, “marilah kita lihat.”

Ketika mereka maju beberapa langkah lagi, maka segera mereka menjadi semakin jelas arah api yang telah mengganggu itu. Dan beberapa langkah lagi, maka langkah mereka pun terhenti. Ternyata kini mereka berdiri beberapa langkah dari sebuah halaman yang lain, halaman serupa dengan halaman tempat mereka beristirahat. Tetapi halaman ini ternyata lebih luas. Dalam cahaya api yang menyala-nyala itu mereka melihat gubug-gubug yang lebih banyak dan di antaranya ada beberapa gubug yang agak lebih besar dari gubug-gubug yang telah mereka lihat lebih dahulu.

“Hem,” bisik Sutawijaya, “bukankah dugaan kita benar, bahwa di sekitar tempat kita berhenti masih ada perkemahan yang lain. Inilah perkemahan itu.”

“Ternyata masih ada penghuninya,” sahut Agung Sedayu perlahan-lahan.

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia berkata, “Orang yang keras kepala. Kenapa ia tidak saja menyerah bersama-sama dengan Sumangkar?”

“Tetapi kenapa ia tidak pergi bersama dengan Sanakeling dan bergabung dengan Ki Tambak Wedi,” sahut Agung Sedayu pula.

Sutawijaya terdiam. Di dalam hatinya pun timbul pula pertanyaan yang serupa, apabila orang itu adalah orang Jipang yang tidak ingin menyerah, kenapa ia tidak bergabung saja dengan Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda? Apakah ada golongan yang berpendirian lain lagi di kalangan orang-orang Jipang itu?

Anak-anak muda itu sejenak berdiam diri. Dari kegelapan mereka melihat perapian yang sedang menyala, yang membakar seonggok kayu, dedaunan dan ilalang yang kering.

“Tetapi apakah maksud mereka membuat perapian itu?” terdengar Sutawijaya berdesis.

“Seperti kita,” sahut Swandaru, “menahan dingin dan mengusir nyamuk.”

“Apakah mereka tidak melihat perapian kita?” bertanya Agung Sedayu.

“Ada dua kemungkinan. Mereka tidak melihat perapian kita, atau mereka sengaja memanggil kita kemari,” sahut Sutawijaya.

“Hem,” Swandaru tiba-tiba menggeram. Ujung pedangnya telah mulai bergetar. “Siapa yang berani mencoba memanggil kita kemari?”

“Itu baru dugaan,” berkata Sutawijaya kemudian.

“Tetapi dugaan itu adalah kemungkinan yang paling dekat,” sahut Swandaru. “Mustahil mereka tidak melihat perapian kita yang tidak kalah besarnya dari perapian mereka. Kita dapat melihat cahaya perapian ini. Tentu mereka pun melihat cahaya perapian kita dari sela-sela pepohonan.”

Kembali mereka terdiam. Namun mereka menjadi semakin berhati-hati.

“Kita berpencar,” Tiba-tiba terdengar suara Sutawijaya, “tetapi jangan terlampau jauh. Kita harus mencapai satu sama lain dalam beberapa loncatan. Kita belum tahu, siapakah yang berada di hadapan kita. Mungkin juga Tambak Wedi sengaja menjebak kita. Sesaat kita tunggu, apakah yang akan terjadi.”

Kedua kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Segera mereka pun memisahkan diri, namun tidak begitu jauh. Masing-masing bersembunyi di dalam bayangan pepohonan yang gelap.

Dengan berdebar-debar mereka menunggu. Tetapi tak seorang pun yang berada di dekat perapian itu. Mula-mula mereka menyangka, bahwa orang-orang di dalam perkemahan itu, atau sisa-sisanya, sedang masuk ke dalam salah satu dari pada kemah-kemah itu, atau pergi untuk sesuatu keperluan. Tetapi setelah agak lama mereka menunggu, maka tidak seorang pun juga yang datang.

Debar di dalam dada ketiga anak-anak muda itu menjadi semakin cepat. Hampir-hampir mereka menjadi kehilangan kesabaran, menunggu di dalam tempat yang gelap, dikerumuni oleh nyamuk-nyamuk liar yang jumlahnya tidak terhitung lagi. Leher, tangan dan kaki-kaki mereka menjadi gatal-gatal karena gigitan nyamuk-nyamuk itu.

Swandaru menjadi gelisah karenanya. Ia mengumpat di dalam hatinya. Bahkan terasa bahwa seseorang atau beberapa orang dengan sengaja mempermainkan mereka.

Darah di dalam tubuh Swandaru itu serasa menjadi mendidih karenanya. Beberapa kali terdengar ia menggeram. Bahkan ujung pedangnya kemudian dihentak-hentakkannya pada sebatang pohon di sampingnya. Namun akhirnya ia tidak dapat menahan diri lagi. Dengan hati-hati ia merayap kembali mendekati Sutawijaya.

Sutawijaja terkejut mendengar gemerisik di sampingnya. Cepat ia bersiaga. Ketika ia melihat sebuah bayangan mendekatinya segera tombaknya ditundukkannya.

“Eh, apakah Tuan tidak mengenal aku lagi?” desis Swandaru.

“O,” Sutawijaya menarik nafas, “kenapa kau kembali? Apakah ada sesuatu?”

Swandaru menggeleng, “Aku tidak sabar lagi. Darahku hampir habis dihisap nyamuk. Maka menurut pertimbanganku, lebih baik kita dekati saja gubug-gubug itu.”

Sutawijaya tidak segera menyahut. Tetapi ia belum menemukan suatu sikap yang baik untuk mengatasi kebingungan mereka. “Panggil Agung Sedayu,” bisik Sutawijaya.

“Aku memanggilnya?” bertanya Swandaru. “Aku datang ke sana atau aku meneriakkan namanya?”

“Jangan berteriak. Tetapi apakah kau tahu tempatnya bersembunyi meskipun tidak terlampau jauh.”

Swandaru menggelengkan kepalanya.

Mereka berdua menjadi kebingungan. Mereka tidak mempunyai cara yang khusus, atau mereka tidak membicarakan tanda-tanda yang perlu apabila mereka saling memerlukan. Cara satu-satunya adalah berteriak memanggil. Tetapi dengan demikian, maka suaranya pasti akan didengar dari dalam gubug-gubug itu.

Dalam kebingungan Swandaru berkata, “Aku akan berteriak saja.”

“Bagaimana kalau orang-orang di dalam gubug itu mendengarnya?” bertanya Sutawijaya.

“Aku tidak berkeberatan. Apakah Tuan berkeberatan? Lebih baik mereka segera tahu kehadiran kita. Kalau mereka memang sengaja memanggil kita, maka kita telah menyatakan diri kita. Sedangkan kaIau mereka tidak melihat perapian kita dan tidak tahu bahwa kita di sini, biarlah mereka menjadi tahu.”

Agaknya Sutawijaya pun telah menjadi jemu menunggu. Karena itu maka katanya, “Panggillah.”

Swandaru tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia berteriak memanggil nama Agung Sedayu.

Agung Sedayu terkejut menerima panggilan itu. Ia menyangka bahwa terjadi sesuatu dengan saudara seperguruannya, sehingga dengan serta merta ia meloncat berlari ke arah suara Swandaru. Tetapi ia menjadi heran ketika mereka melihat Swandaru dan Sutawijaya masih saja berdiri bersandar sebatang pohon yang besar.

“Kenapa kau berteriak-teriak adi Swandaru?” bertanya Sedayu.

“Aku telah jemu menunggu,” jawab Swandaru.

Kini mereka bertiga telah berkumpul kembali. Tetapi mereka masih belum tahu apa yang akan mereka lakukan. Mereka sengaja berbicara keras-keras, tetapi mereka belum melihat seorang pun yang keluar dari dalam perkemahan di halaman itu.

Tetapi mereka dengan demikian telah menemukan suatu pengalaman, bahwa apabila mereka sengaja memisahkan diri, mereka harus mempunyai tanda yang dapat mereka pakai untuk menyatakan pikiran mereka. Mungkin mereka harus berkumpul kembali, atau mungkin mereka harus tetap di tempatnya sambil bersembunyi. Dalam pertempuran mereka telah biasa mempergunakan tanda-tanda sandi, tetapi ketika mereka berada dalam keadaan seperti saat itu, di mana mereka harus mengatur diri sendiri, maka mereka telah melupakannya. Sebab di dalam barisan, mereka tinggal mempergunakan tanda-tanda yang telah disiapkan oleh pemimpin mereka.

Yang terdengar kemudian adalah Sutawijaya menggeram. Iapun telah kehilangan kesabarannya. Desisnya, “Apakah kita yang datang kepada mereka? Kita lihat setiap perkemahan satu demi satu sehingga kita menemukan beberapa orang atau seorang yang mungkin membuat perapian itu?”

Agung Sedayu dan Swandaru tidak segera menjawab. Namun mereka pun telah kehabisan kesabarannya pula.

“Pasti ada beberapa orang atau setidak-tidaknya seorang di dekat tempat ini,” gumam Sutawijaya. “Tidak mungkin kerangka, setan atau apapun memerlukan membuat perapian.”

“Mereka memang tidak memerlukan, Tuan,” sahut Swandaru, “tetapi mereka hanya ingin mengganggu kita.”

“Apakah kau percaya?”

Sejenak Swandaru berbimbang. Namun kemudian ia pun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, “Tidak.”

“Nah, kalau begitu pasti seseorang telah menyalakan api dan perapian itu.”

“Tetapi siapa?” bertanya Agung Sedayu.

“Kita tidak tahu.”

“Maksudku, siapakah yang telah berani membuat perapian itu? Menurut perhitunganku, orang itu pasti dengan sengaja membuatnya. Mustahil kalau orang ini tidak tahu, bahwa kita telah membuat perapian di sebelah. Dengan demikian maka, kita akan dapat menduga, bahwa orang itu dengan sengaja dan setelah diperhitungkan, ingin melawan kita bertiga.”

“Apakah kita akan menyingkir?” bertanya Swandaru.

“Apakah kita harus berkelahi?” sahut Agung Sedayu.

“Kalian berdua sama-sama benar. Kita tidak harus mencari persoalan, tetapi kita juga tidak boleh lari apabila kita menjumpai persoalan yang melibat kita dalam suatu keharusan mempertahankan diri. Kali ini, kita pun harus mempertahankan diri kita dari tekanan perasaan ini. Kita tidak mau menjadi permainan.” Sutawijaya berhenti sejenak. Dicobanya menembus kepekatan malam di sekitarnya. Tetapi nyala api yang membentur pepohonan tidak mampu mencapai jarak yang terlampau jauh.

Di ujung cahaya api perapian itu, Sutawijaya melihat bayangan nyala api dari perapian yang telah mereka buat bertiga.

Tiba-tiba Sutawijaya itu berkata, “Aku mempunyai pendapat. Kita masuki perkemahan itu. Kalau kita bertemu dengan seseorang, maka orang itu kita tanya, apakah ia ingin berbuat jahat kepada kita atau tidak. Kalau menilik sikap, perbuatan, dan kata-katanya ia orang yang baik, maka kita tidak perlu berkelahi. Tetapi kalau orang itu sengaja mempermainkan kita apalagi berbuat jahat, maka ia harus kita tangkap. Besok orang itu kita bawa ke Sangkal Putung.”

“Kita tidak jadi ke Alas Mentaok?” bertanya Swandaru.

“Kalau kita mendapatkan tawanan, kita harus kembali dahulu ke Benda,” sahut Sutawijaya.

“Akan membuang waktu. Kita ikat saja orang itu di sini. Besok kalau kita kembali, kita bawa ia ke Sangkal Putung.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia tertawa, katanya, “Berapa hari kita akan berada di perjalanan? Orang itu pasti akan sudah mati kelaparan dan kehausan. Bukankah dengan demikian kita telah menyiksanya?”

Swandaru terdiam. Tetapi ia tidak senang apabila mereka harus kembali. Namun kemudian ia tertawa ketika Sutawijaya berkata, “Bagaimana kalau kita yang ditangkap, diikat di sini untuk beberapa hari? Kita belum tahu siapa yang kita hadapi. Kita belum tahu, apakah kita yang akan mengikat atau kita yang akan diikat.”

Swandaru dan Agung Sedayu pun kemudian tertawa.

Namun dalam pada itu Agung Sedayu berkata, “Aku sependapat dengan Tuan. Kita melihat setiap perkemahan. Kalau kita temui seseorang, maka kita mempertimbangkan, siapakah orang itu?”

“Baik,” sahut Swandaru, “aku pun sependapat.”

“Kita harus bersedia menghadapi setiap kemungkinan. Mengikat orang itu, membawanya ke Sangkal Putung, atau kitalah yang akan diikat di sini untuk menjadi mangsa binatang buas.”

“Baik, kita terima kemungkinan-kemungkinan itu. Marilah,” berkata Swadaru sambil melangkahkan kakinya. la telah benar-benar dibakar oleh kejengkelan dan ketidaksabaran.

Sutawijaya dan Agung Sedayu pun segera mengikutinya di belakang. Dengan penuh kewaspadaan mereka berjalan. Senjata-senjata mereka telah siap untuk menghadapi setiap kemungkinan.

“Kemana kita?” bertanya Swandaru.

“Ke perkemahan itu,” jawab Sutawijaya.

“Perkemahan yang mana?”

“Salah satu dari padanya. Pilihlah.”

Swandaru segera memilih gubug yang paling ujung. Pintu gubug itu menganga lebar. Namun di dalamnya seolah-olah dilapisi sehelai tirai yang hitam pekat.

“Tunggu,” berkata Agung Sedayu, “kita harus berhati-hati. Marilah kita bawa obor.”

Langkah Swandaru tertegun. Pendapat Agung Sedayu memang baik. Bukan berarti mereka ketakutan, namun mereka memang harus berhati-hati.

Agung Sedayu pun segera berlari ke samping gubug itu. Diraihnya atap ilalang segenggam, dan kemudian ia pun pergi ke perapian yang menyala-nyala itu, untuk menyalakan obornya.

“Perapian ini pun masih baru,” desisnya kepada diri sendiri, “orang yang membuat perapian pasti masih ada di sekitar tempat ini.”

Kemudian dengan obor di tangan, ia kembali kepada kedua orang kawannya dan berjalan bersama-sama ke gubug yang paling ujung. Dengan sangat hati-hati mereka mendekati pintu, setapak demi setapak. Namun gubug itu agaknya terlampau sepi. Tak ada suara apapun.

“Kosong,” desis Swandaru.

“Marilah kita lihat ke dalam,” berkata Sutawijaya.

“Mari,” sahut kedua kawannya hampir bersamaan.

“Tetapi hati-hatilah, siapa tahu, seseorang menanti kita dengan pedang terhunus, atau ujung tombak di sisi pintu.”

Sejenak mereka bertiga pun berdiri tegang di muka pintu yang menganga lebar itu. Mereka menjadi ragu-ragu. Namun tiba-tiba Sutawijaya itu pun meloncat surut selangkah, kemudian dengan menghentakkan kakinya ia meloncat maju sambil mengayunkan sebelah kakinya menghantam uger-uger lawang yang terbuat dari sebatang bambu. Maka terdengarlah suara berderak. Uger-uger itu pun menjadi berantakan, bahkan dinding di sisi pintu itu pun roboh pula ke dalam.

Sutawijaya dan kedua kawannya menarik nafas panjang ketika dinding bambu gubug itu telah menganga. Kini mereka dapat melihat leluasa ke dalamnya. Tak ada apapun di dalam gubug itu selain sebuah amben bambu yang agak lebar, seonggok jerami kering dan sebuah jagrak bambu pula. Di sudut mereka melihat sebuah sosok gendi dan sebuah tlundak lampu.

“Kosong,” desis Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru hampir bersamaan.

“Apakah gubug-gubug yang lain juga kosong?” gumam Swandaru.

“Aku kira semua gubug kosong, kecuali satu, tempat orang yang menyalakan perapian itu bersembunyi. Mungkin di dalam gubug itu bersembunyi lebih dari satu orang. Mungkin hanya satu orang, tetapi orang itu bernama Tambak Wedi.”

Mereka bertiga tertawa. Namun nadanya terlampau hambar.

“Mari kita lihat satu demi satu,” ajak Sutawijaya, “kalau kita raga-ragu memasukinya, kita rusakkan pintunya seperti gubug ini.”

“Marilah,” jawab kedua kawannya serentak.

Kini kembali mereka melangkah ke gubug berikutnya. Dengan cara yang sama, Sutawijaya merusak pintunya, dan tanpa memasukinya, mereka segera dapat melihat bahwa gubug-gubug itu ternyata tidak berisi.

Berkali-kali hal yang serupa dilakukan oleh Sutawijaya. Ketika ia menjadi lelah, maka kini Swandaru-lah yang harus merusaki pintu. Dengan pedangnya ia menghantam setiap uger-uger pintu, kemudian mendorong dindingnya sehingga roboh. Tetapi mereka belum juga menemukan seseorang.

Akhirnya Swandaru pun menjadi jemu pula. Katanya, “Sekarang giliranmu Kakang Agung Sedayu. Kaulah yang harus merusak dinding gubug-gubug berikutnya, biarlah aku yang membawa obor.”

Agung Sedayu pun melangkah beberapa tindak. Sampai di muka sebuah pintu, maka ia tidak segera meloncat menghantam tiang-tiang pintunya, atau dengan pedangnya memukul uger-uger pintu itu. Tetapi dengan tenangnya ia memutuskan tali-tali yang sudah lapuk dengan ujung pedangnya. Ketika beberapa tali telah diputusnya dengan mudah, maka dengan ujung pedangnya ia mendorong dinding bambu itu. Dan dinding yang ringkih itu pun robohlah ke dalam.

Sutawijaya tertawa terbahak-bahak melihat cara Agung Sedayu itu. “Hebat,” teriaknya. Swandaru pun berteriak pula dengan serta merta, “Alangkah malasnya kau, Kakang.”

“Aku dapat mencapai hasil yang sama seperti yang kalian lakukan. Tetapi aku tidak perlu membuang tenaga seperti kalian. Bukankah yang aku kerjakan tidak lebih jelek dari yang kalian lakukan. Waktunya pun tidak jauh lebih lama?”

“Aku tidak telaten,” gumam Swandaru.

“ltu adalah pertanda, bahwa kau memikirkan apa yang akan kau lakukan dengan baik. Itu adalah kebiasaan yang bagus sekali. Membuang tenaga sekecil-kecilnya untuk mencapai hasil yang sebanyak-banyaknya.”

Kembali mereka bertiga tertawa.

“Ayo, kita teruskan kerja kita. Masih ada beberapa gubug lagi,” ajak Swandaru.

Mereka bertiga pun segera melangkahkan kaki-kaki mereka dengan segannya. Kejemuan dan kejengkelan telah melanda dada mereka seperti angin ribut. Namun mereka belum menemukan seseorang. Berkali-kali mereka memandangi perapian itu, dan per-apian itu pun masih juga menyala. Beberapa potong kayu telah menjadi bara, namun onggokan kayu itu masih cukup banyak, sehingga apinya pun masih juga menjilat ke udara. Namun semakin lama lidah api itu pun menjadi semakin susut pula.

Akhirnya ketiga anak-anak muda itupun menyelesaikan pekerjaannya. Seluruh gubug-gubug yang ada telah dimasukinya. Gubug yang paling besar, yang pernah dipergunakan oleh Tohpati pun telah mereka masuki pula. Namun mereka tidak menemukan sesuatu.

“Gila,” Swandaru mengumpat-umpat tak habis-habisnya, “siapakah yang bermain gila-gilaan ini. Kenapa ia bersembunyi?”

“Jangan mengumpat-umpat,” cegah Sutawijaya, “kalau orang yang menyalakan api itu melihat kau mengumpat-umpat ia akan menjadi bergembira sekali.”

Swandaru terdiam. Namun hanya mulutnya. Hatinya masih saja mengumpat-umpat tak henti-hentinya. la merasa sedang dipermainkan oleh seseorang.

“Kita cari orang itu sampai ketemu. Kita bongkar hutan ini untuk mencarinya,” teriak Swandaru itu tiba-tiba untuk melepaskan kejengkelannya.

“Kau amat bernafsu, Swandaru,” desis Sutawijaya.

“Aku merasa menjadi permainan kali ini. Aku pun harus mampu membalas, mempermainkannya.”

Sutawijaya tertawa. Agung Sedayu pun tertawa pula sambil berkata, “Jangankan mempermainkan, mencari pun kita tidak mampu.”

Swandaru tidak menjawab, tetapi terdengar ia menggeram.

“Kita coba untuk menemukan,” berkata Sutawijaya kemudian.

“Apakah Tuan juga telah dibakar oleh nafsu mempermainkannya?” bertanya Agung Sedayu.

Sutawijaya tertawa. Ragu-ragu ia menjawab, “Aku pun menjadi jengkel juga, tetapi aku tidak akan membongkar hutan ini.”

Tiba-tiba Swandaru menyela, “Marilah kita cari. Dengan berbicara tak habis-habisnya kita tidak akan dapat menemukannya.”

“Kemana lagi kita akan mencari?”

Swandaru tertegun sejenak. Iapun tidak tahu kemana harus mencari orang yang telah membuat perapian itu. Gubug-gubug sudah seluruhnya dilihatnya. Kalau orang itu telah masuk ke dalam hutan, alangkah sukarnya untuk menemukannya di antara batang-batang pohon yang besar dan gerumbul-gerumbul yang lebat.

Swandaru yang sedang dibakar oleh perasaan jengkel dan marah itu kemudian bertolak pinggang sambil berteriak keras-keras, “He, siapa yang bersembunyi itu? Siapa? Pengecut, penakut atau orang yang licik, yang akan menyerang dari tempat yang tersembunyi atau menunggu kami menjadi lengah? He, siapa? Siapa…? Siapa di situ…?”

Suara Swandaru menggetarkan udara malam di dalam hutan itu. Suara itu seakan-akan menyelusur setiap dahan dan ranting, menggema ke segenap penjuru. Anak burung-burung liar yang sedang tidur nyenyak di dalam sarangnya, menjadi terkejut dan mengangkat kepala-kepala mereka. Sedang sayap-sayap induknya menjadi semakin lekat menutupi tubuhnya, seakan-akan di kejauhan telah menggelegar guruh yang memberikan pertanda, bahaya sedang mengancam anak-anak mereka.

Alangkah kecewanya Swandaru. Suaranya menggema berulang-ulang. Tetapi kemudian lenyap ditelan gelapnya malam. Sekali dua kali ia mengulangi, tetapi akhirnya ia menjadi lelah sendiri.

Sutawijaya dan Agung Sedayu tertawa berkepanjangan, sehingga tubuh-tubuh mereka berguncang-guncang. Mereka seolah-olah melihat sebuah pertunjukan yang lucu sekali. Swandaru yang gemuk bulat bertolak pinggang sambil berteriak-terik sampai serak.

“Bagaimana?” bertanya Agung Sedayu.

“Suaraku hampir habis,” jawabnya parau.

Kembali kedua kawannya tertawa keras-keras.

“Kau memang aneh,” berkata Sutawijaya. “Kalau orang itu ingin keluar dari persembunyiannya, maka kau tidak perlu berteriak-teriak memanggilnya.”

“Menjengkelkan sekali,” geram Swandaru. “Apakah setan itu Ki Tambak Wedi sendiri?”

“Tak seorang pun tahu,” sahut Sutawijaya. “Jangan terlampau tenggelam dalam kejemuan, kejengkelan dan kemarahan. Marilah kita kembali ke perapian kita sendiri. Kita memang tidak mencari musuh. Tetapi apabila musuh itu datang, kita sambut dengan senang hati.”

“Apakah kita menunggu mereka menerkam kita selagi kita tidur?”

“Salah kita apabila kita tidur bersama-sama. Adalah haknya untuk berbuat demikian.”

Swandaru menarik nafas panjang-panjang. “Marilah,” geramnya.

Kini mereka bertiga melangkahkan kaki mereka kembali ke perapian mereka sendiri. Meskipun demikian, mereka tidak kehilangan kewaspadaan. Tombak Sutawijaya siap untuk mematuk setiap bahaya yang mendatanginya, sedang pedang Agung Sedayu dan Swandaru pun masih juga dalam genggaman.

Mereka kini sudah tidak memerlukan obor lagi. Sejak gubuk yang terakhir mereka tinggalkan obor mereka telah mereka buang. Apalagi kini mereka menyusup di antara semak-semak dan pepohonan. Mereka justru berusaha untuk menghindarkan diri dari setiap mata yang mencoba mengintainya.

Mereka bertiga menemukan perapian yang mereka tinggalkan masih menyala, meskipun lidah apinya tidak lagi menggapai dedaunan di atas perapian itu. Namun api itu masih cukup terang untuk menerangi keadaan di sekelilingnya.

Namun tiba-tiba kembali Sutawijaya dan kedua kawannya terkejut. la melihat sesuatu yang tidak ada pada saat mereka meninggalkan tempat itu. Di samping perapian itu mereka ketemukan sebuah lincak bambu kecil.

“Hem,” Swandaru menggeram kembali, “siapa yang bermain-main hantu-hantuan ini?”

“Jangan hiraukan,” berkata Sutawijaya, “kita berterima kasih, bahwa kita mendapat tempat duduk yang baik, bahkan tempat untuk berbaring. Sekarang, marilah kita mulai giliran yang pertama. Siapa yang tidur lebih dahulu? Lincak ini hanya cukup untuk seorang dan yang lain harus duduk sambil berjaga-jaga. Kau Swandaru, yang ingin tidur lebih dahulu?”

“Baik,” sahut Swandaru dengan serta merta, “biarlah kepalaku tidak pecah karena permainan ini.”

“Tidurlah,” sahut Sutawijaya, “biarlah aku dan Agung Sedayu berjaga-jaga. Nanti kau akan kami bangunkan dan salah seorang dari kami akan tidur pula sejenak.”

Swandaru tidak menjawab. Setelah menyarungkan pedangnya dan melepas busur yang menyilang di punggungnya ia segera berbaring.

Angin malam berhembus semakin dingin, seolah-olah menghunjam sampai ke tulang. Tetapi api perapian yang masih juga menyala, meskipun semakin susut, telah menolong ketiga anak-anak muda itu. Namun apabila mereka berdiri dan berjalan agak menjauh, terasalah betapa dinginnya udara malam.

Suara burung hantu melengking-lengking di kejauhan, disahut oleh gonggong anjing-anjing liar berebut makan.

Sutawijaya dan Agung Sedayu yang masih duduk di amben bambu itu terkejut ketika sejenak kemudian mereka telah mendengar Swandaru mendengkur.

“Bukan main,” desis Sutawijaya, “anak itu sudah tidur.”

Agung Sedayu tersenyum, “Itulah mungkin sebabnya Adi Swandaru dapat menjadi gemuk bulat seperti itu.”

Sutawijaya tersenyum pula. Tetapi ia tidak menjawab.

Mereka berdua merasa, bahwa ada seseorang berada di sekeliling tempat itu. Tetapi mereka tidak dapat menemukannya. Karena itu maka mereka berdua sama sekali tidak melepaskan kewaspadaan. Setiap gerak yang mencurigakan, setiap suara gemerisik dan setiap apa saja, selalu mendapat perhatian mereka dengan saksama.

Sementara itu, pada saat yang bersamaan di Sangkal Putung, di pendapa banjar desa, Ki Gede Pemanahan duduk dihadap oleh Untara, Widura, Ki Demang Sangkal Putung, dan para pemimpin prajurit Pajang dan pemimpin Sangkal Putung. Banyak yang telah mereka dengar, nasehat-nasehat, pendapat-pendapat, dan sindiran-sindiran yang pantas mendapat perhatian dari para pemimpin itu.

Akhirnya Ki Gede Pemanahan itu berkata, “Aku berbangga atas hasil kerja Untara, tetapi terakhir aku kecewa atas ketergesa-gesaannya, sehingga terjadi beberapa peristiwa yang cukup berbahaya bagiku dan bahkan bagi Sangkal Putung sendiri. Tetapi itu bukan salah Untara seluruhnya. Apabila Ki Tambak Wedi tidak turut campur, maka aku kira keadaannya akan sangat berbeda. Sehingga untuk seterusnya, Ki Tambak Wadi harus mendapat perhatian yang cukup banyak. Karena itu Untara, ada dua hal yang akan aku sampaikan kepadamu sekarang. Yang pertama ada persoalan yang telah aku bawa dari Pajang, sedang soal yang kedua adalah persoalan yang baru aku temukan setelah aku sampai di Sangkal Putung.”

Untara mengangkat wajahnya. Ditatapnya wajah panglimanya itu, namun kemudian ia pun segera menundukkan wajahnya kembali. Tetapi terasa kini hatinya menjadi berdebar-debar. Mungkin ia telah dinggap berbuat suatu kesalahan yang besar dengan peristiwa yang hampir saja membuat bencana bagi Ki Gede Pemanahan beserta para pengawalnya.

Untara itu pun kemudian menunggu Ki Gede Pemanahan melanjutkan kata-katanya dengan hati yang gelisah. Beberapa titik keringat telah membasahi keningnya.

Sejenak pendapa itu menjadi hening. Semua orang menunggu apakah yang akan dikatakan oleh Ki Gede Pemanahan itu.

Ketika angin menyusup ke dalam pendapa banjar desa itu, maka lampu minyak yang melekat pada tiang-tiang pendapa itu pun bergerak-gerak dengan lemahnya.

“Untara,” berkata Ki Gede Pemanaham itu pula, “sejak dari Pajang aku telah membawa sesuatu untukmu. Sesuatu bukan saja atas kehendakku sendiri, tetapi aku membawanya dari Adipati Pajang sendiri.”

Jantung Untara terasa menjadi semakin cepat berdenyut. Dan ia mendengar Ki Gede Pemanahan berkata seterusnya, “Adipati Pajang merasa berterima kasih kepadamu, karena kau telah bekerja sebaik-baiknya untuk kepentingan Pajang. Seperti juga Adipati Pajang berterima kasih kepada mereka yang dianggap dapat mengalahkan Arya Penangsang dan Patih Mantahun, maka kau yang telah berhasil membunuh Macan Kepatihan pun mendapat perhatian Adipati Pajang sebagai seseorang yang telah memberikan jasa yang sebaik-baiknya kepada Pajang. Meskipun Sangkal Putung adalah sebuah kademangan yang kecil dibandingkan dengan Pajang keseluruhan, namun bahaya yang ditimbulkan Macan Kepatihan sebenarnya bukan saja terbatas di sekitar Sangkal Putung. Macan itu akan dapat berkeliaran di seluruh Kadipaten Pajang, bekas Kadipaten Jipang, bahkan di seluruh bekas wilayah Demak. Itulah sebabnya, maka kemenangan yang kau dapatkan di kademangan ini mendapat perhatian khusus dari Adipati Pajang.”

Kembali Ki Gede Pemanahan berhenti sesaat, Dan kepala Untara yang tundukpun menjadi semakin tunduk. la sama sekali tidak menyangka bahwa ia akan mendapat perhatian yang sedemikian besarnya dari Adipati Pajang sendiri.

“Untara,” berkata Ki Gede Pemanahan, “aku belum tahu, apa yang akan kau terima sebagai pernyataan terima kasih itu dari Adipati Pajang. Tetapi adalah wajar apabila kemudian setelah semua tugasmu selesai, kau akan mendapat sebuah pangkat yang lebih baik, tumenggung misalnya.”

Untara terkejut mendengar nama pangkat itu. Ia adalah seorang yang sama sekali tidak pernah mengharapkan mendapat pangkat setinggi itu. Kalau ia merayap menurut tingkat yang wajar, maka pangkat itu masih berjarak beberapa lapis lagi daripadanya. Namun dengan membunuh Tohpati ia langsung meloncati beberapa lapis itu. Tumenggung, tumenggung dalam pangkat keprajuritan adalah pangkat yang cukup tinggi. Dengan pangkat itu ia tidak saja akan menjadi senapati kecil seperti yang dijabatnya kini. Ia akan menjadi seorang senapati dengan pasukan segelar sepapan. Tetapi Ki Gede itu mengatakan bahwa Ki Gede sendiri belum tahu pasti apakah yang akan diterimanya dari Adipati Pajang. Pangkat itu barulah dugaan Ki Gede Pemanahan sendiri. Dan pangkat itu baru akan diterimanya kelak. Tetapi dugaan itu adalah dugaan seorang Panglima Wira Tamtama, bukan sekedar dugaannya sendiri, atau dugaan pamannya, Widura. Bahkan kemudian ki Gede Pemanahan itu berkata pula, “Apa yang kau lakukan Untara, adalah lebih sulit dari apa yang harus dilakukan oleh seorang tumenggung.”

Untara tidak dapat menjawab sama sekali. Mulutnya serasa terbungkam dan darahnya beredar semakin cepat.

Yang berkata kemudian adalah Ki Gede Pemanahan kembali, “Untara, seorang Tumenggung Wira Tamtama, mendapat prajurit segelar sepapan, yang telah siap melakukan perintah. Kau di sini hanya mempergunakan sepasukan Wira Tamtama yang dipimpin oleh pamanmu Widura. Kemudian kau dan pamanmulah yang membentuk pasukan segelar sepapan dengan tenaga yang kalian persiapkan sendiri. Anak-anak muda Sangkal Putung. Namun kau telah berhasil melawan Tohpati yang pada saat terakhir telah mengumpulkan sisa-sisa laskarnya yang tersebar.

Untara masih berdiam diri.

“Adalah sepantasnya bahwa kau berhak menerima anugerah itu.”

Untara menggigit bibirnya. Kemudian perlahan-lahan ia berkata, “Ki Gede. Adalah tidak mungkin aku lakukan semua itu apabila aku berdiri sendiri. Apa yang aku lakukan adalah sebagian saja dari apa yang kami lakukan bersama. Prajurit Wira Tamtama Pajang dan hampir setiap laki-laki di Sangkal Putung. Bahkan perempuan-perempuan kademangan ini pun bekerja pula untuk kepentingan bersama. Makanan yang disediakan untuk kami dan banyak lagi keperluan-keperluan kami yang lain. Karena itu, setiap anugerah untukku adalah sepantasnya apabila diserahkan untuk kepentingan kami bersama. Aku, Paman Widura beserta pasukannya yang lebih dahulu telah berjuang melawan Tohpati di Sangkal Putung ini, Ki Demang, dan setiap orang di Sangkal Putung.”

Ki Gede Pemanahan tersenyum mendengar jawaban Untara itu. Katanya kemudian, “Kau benar Untara. Dan hal itu telah diketahuinya pula oleh Adipati Pajang. Seluruh Sangkal Putung akan mendapat kehormatan pula. Mungkin sangkal Putung akan menerima berbagai macam hadiah yang langsung dapat dimanfaatkan oleh kademangan ini. Mungkin alat-alat pertanian, mungkin ternak dan hewan dan mungkin anugerah-anugerah yang lain. Tetapi kau yang menangani kematian Tohpati telah mendapat perhatian khusus dari Adipati Pajang. Meskipun kau sama sekali tidak menginginkan hadiah itu Untara, tetapi hal yang serupa itulah yang telah menggerakkan Sidanti untuk berbuat hal yang aneh-aneh. Semula ia ingin bahwa kematian Tohpati adalah akibat dari senjatanya. Tetapi ia gagal.”

Untara kini terdiam kembali. la mencoba untuk mengerti setiap kata yang diucapkan oleh Ki Gede Pemanahan. Dan Ki Gede itu berkata terus, “Kemudian Widura pun akan mendapat bagiannya pula. Aku juga belum tahu apa yang akan kau terima, tetapi pesan itu telah aku bawa pula.” Ki Gede Pemanahan itu terdiam sejenak, lalu sambungnya, “Tetapi sebelum semuanya itu berlangsung, sebelum kalian menerima hadiah yang telah dijanjikan, maka aku ingin menyampaikan persoalan yang kedua yang baru aku temukan setelah aku berada di Sangkal Putung ini.”

Debar di dalam dada Untara pun menjadi semakin cepat kembali. Persoalan inipun agaknya tidak kalah pentingnya dengan persoalan yang pertama, namun nadanya agaknya amat jauh berbeda. Persoalan yang dikatakan oleh Ki Gede Pemanahan, baru diketemukan di Sangkal Putung.

“Untara,” berkata Ki Gede Pemanahan seterusnya, “aku sependapat dengan laporanmu, bahwa persoalan di Sangkal Putung telah delapan dari sepuluh bagian selesai. Tetapi kemudian tumbuh persoalan baru yang apabila dijumlahkan maka apa yang telah kau selesaikan dengan terbunuhnya Tohpati barulah lima dari sepuluh bagian. Bahkan mungkin kurang daripada itu. Sebab sepeninggal Tohpati tumbuhlah Sidanti dan bahkan gurunya Ki Tambak Wedi di samping sebagian dari laskar Tohpati sendiri. Tetapi ini bukan salahmu. Keadaan berkembang ke arah yang tidak kita kehendaki bersama. Karena itu Untara, maka pekerjaanmu kali ini terpaksa belum dapat diakhiri. Mungkin Widura yang telah lebih lama berada di Sangkal Putung akan dapat beristirahat bersama pasukannya di kademangan ini, sebab pergolakan kemudian harus kau geser ke tempat lain.”

Untara mengangkat wajahnya. Dadanya berdesir mendengar penjelasan itu. Sekilas ia telah berhasil menangkap maksud Ki Gede Pemanahan, namun kemudian Ki Gede itu menjelaskan, “Untara, tegasnya aku akan menjatuhkan perintah kepadamu dan kepada Widura. Widura sementara masih harus tetap berada di Sangkal Putung bersama pasukannya. Mungkin satu dua orang sisa laskar Jipang masih akan merayap kemari. Tetapi sebaliknya aku akan memberikan perintah kepada Untara untuk meninggalkan Sangkal Putung. Kau jangan menunggu ki Tambak Wedi dan Sidanti datang ke tempat ini atau membuat huru hara di tempat lain, di sekitar lereng Gunung Merapi. Karena itu kau harus mendekat. Bukankah kau berasal dari Jati Anom? Nah, kau harus tinggal di sana bersama sepasukan Wira Tamtama yang akan aku kirimkan dari Pajang. Bukan pasukan yang telah berada di Sangkal Putung. Dengan pasukan itu kau tidak harus bertahan, tetapi kau harus berusaha merebut setiap kedudukan ki Tambak Wedi. Aku mengharap dengan pasukan itu kau mampu melakukannya, meskipun di antaranya aku tidak akan memasang seseorang yang mampu mengimbangi ki Tambak Wedi. Aku mengharap kau berhasil menghubungi Kiai Gringsing yang menurut laporanmu, akan dapat setidak-tidaknya memperkecil arti Ki Tambak Wedi, atau kalau tidak, maka kau harus membuat pasangan-pasangan yang mampu menahan setiap perbuatan Hantu Lereng Merapi itu.”

Untara merasa bahwa dadanya bergelora oleh berbagai perasan yang saling berdesak-desakan. la merasa bahwa ia telah membuat banyak kesalahan dengan laporan yang telah dikirimnya. Karena itu maka di dalam sudut hatinya ia pun merasa bahwa seolah-olah ia harus melakukan suatu hukuman karena kesalahan itu. Tetapi bertentangan dengan perasaan itu, maka di sudut hatinya yang lain ia merasa mendapat kepercayaan yang tidak terhingga. la merasa bahwa karena ia telah berhasil membunuh Tohpati, maka pekerjaan yang berat itu hanya pantas dipercayakan kepadanya.

Karena gelora di dalam dadanya itulah, maka Untara justru terdiam. Keringat yang dingin telah membasahi seluruh punggungnya. Di sampingnya, Widura pun menjadi gelisah pula. Ada juga kebanggaan membersit di hatinya, tetapi seperti juga Untara, ia sama sekali tidak mengharapkan hadiah atau penghargaan apapun atas perjuangannya.

Ketika malam menjadi semakin malam, maka Ki Gede Pemanahan pun segera akan menutup pertemuan itu. Diulanginya sekali lagi perintahnya, “Untara, ingat, kau mempunyai tugas yang mungkin justru lebih berat. Kita belum tahu, apakah kekuatan yang dihimpun oleh Ki Tambak Wedi bersama Sanakeling tidak justru lebih kuat dari kekuatan Tohpati di sini. Kau harus mulai lagi seperti pamanmu di Sangkal Putung. Menghimpun anak muda Jati Anom untuk memperkuat prajurit Pajang yang akan aku kirimkan kemudian. Dengan kekuatan itu kau harus berhadapan dengan Tambak Wedi. Kau pasti sudah mengenal Jati Anom dengan baik karena daerah itu adalah daerah kelahiranmu.”

Untara tidak menjawab. Tetapi Jati Anom bukan daerah seperti Sangkal Putung. Jati Anom adalah daerah yang tidak mengalami tekanan seberat Sangkal Putung, sehingga anak muda Jati Anom belum tergugah hatinya. Mungkin sekali dua kali daerah itu pernah dilintasi oleh orang-orang Tohpati, Sanakeling, atau Plasa Ireng, atau bekas orang-orang Pande Besi Sendang Gabus, atau yang lain lagi. Tetapi orang-orang itu hanya lewat dan mungkin sekali dua kali melakukan perampokan. Menghadapi orang-orang itu, biasanya anak-anak muda Jati Anom bersikap diam. Mereka tidak mau terlibat dalam perkelahian dengan mereka, sebab anak-anak muda itu tahu, bahwa apabila orang-orang Jipang itu mendendam mereka, maka kademangan Jati Anom akan dapat dihancurkan.

Tetapi apabila kelak ada prajurit Pajang di daerah itu, maka keadaannya pasti akan berbeda, seperti juga daerah Sangkal Putung kini. Jati Anom seterusnya akan menjadi garis pertama untuk menghadapi ki Tambak Wedi yang bertempat di padepokannya, di lereng Gunung Merapi. Justru di atas Kademangan Jati Anom.

“Untara,” berkata Ki Gede Pemanahan itu pula, “aku akan mengirimkan prajurit Wira Tamtama di bawah pimpinan Pidaksa. Aku akan mengirimnya langsung ke mari, supaya kau dapat membawanya ke Jati Anom bersama kau sendiri. Sementara pekerjaanmu untuk mengawasi daerah-daerah lain di sekitar Gunung Merapi dapat kau lepaskan. Pusatkan perhatianmu kepada Tambak Wedi. Kalau keadaan Sangkal Putung benar-benar telah aman, maka aku ijinkan kau minta kepada pamanmu sebagian dari prajuritnya apabila kau perlukan, sesudah kau memberitahukannya kepadaku.”

Untara menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Perlahan-lahan ia menjawab, “Terima kasih atas kepercayaan itu Ki Gede. Mudah-mudahan aku dapat melakukannya.”

“Tiga hari setelah aku sampai di Pajang lusa, maka prajurit itu akan berangkat dari Pajang.”

Untara terkejut mendengar perintah itu. Tiga hari setelah Ki Gede Pemanahan sampai di Pajang. Itu berarti lima hari sejak malam ini.

“Hem,” Untara menarik nafas dalam-dalam, “terlampau cepat.”

Agaknya Ki Gede dapat menebak hati Untara. Katanya, “Melawan Tambak Wedi harus dilakukan dengan secepat-cepatnya. Kau harus sudah mulai sebelum Tambak Wedi mampu menghimpun orang-orang yang berada di bawah pengaruhnya. Kau harus lebih dahulu menguasai anak-anak muda di sekitar Jati Anom, Banyu Asri, Sendang Gabus, Tangkil, dan lebih-lebih ke arah Barat. Ingat, pengaruh Ki Tambak Wedi cukup besar di seberang hutan Bode.”

Untara menganggukkan kepalanya kembali. Katanya, “Ya, Ki Gede, padepokan Ki Tambak Wedi menurut pendengaranku berada di sebelah Barat hutan Bode.”

“Ya. Kau pasti telah mengetahuinya pula. Dan kau pasti pernah pula pergi ke hutan itu.”

“Ya, Ki Gede,” sahut Untara. Dan Untara itupun segera mengenang kembali pada masa kanak-kanaknya. Ia sering pergi dengan ayahnya berburu ke hutan Bode. Hutan yang mempunyai sebuah batu yang sangat besar, hampir berbentuk seeker kerbau, sehingga orang menamakannya hutan Kebo Gede. Tetapi saat itu, Ki Tambak Wedi belum mencengkamkan pengaruhnya di daerah itu, meskipun orang itu mungkin telah berkeliaran di sekitar lereng Merapi. Apabila ayahnya masih ada, mungkin ayahnya akan dapat bercerita banyak tentang Ki Tambak Wedi itu.

Kemudian setelah sejenak lagi mereka berbincang berkatalah Ki Gede, “Aku kira persoalanku sudah cukup. Aku akan beristirahat. Besok aku menunggu prajurit berkuda dari Pajang dan lusa aku akan kembali. Ingat tiga hari sejak itu, aku akan mengirimkan Pidaksa kemari beserta pasukannya. Dan Widura masih tetap berada di Sangkal Putung. Mungkin kau dapat beristirahat setelah sekian lama kau berjuang melawan Tohpati, tetapi mungkin pula kau harus bekerja keras, apabila sepeninggal Untara, orang-orang Jipang itu kembali. Dalam keadaan yang demikian kau dapat segera menghubungi Untara di Jati Anom.”

Widura itu pun menganggukkan kepalanya pula sambil menjawab, “Ya Ki Gede. Aku akan melakukan sebaik-baiknya pula.”

Sejenak kemudian maka pertemuan itupun seIesai. Ki Gede segera ditempatkan di ruang dalam banjar desa. Bukan sebuah pembaringan yang bagus, tetapi sebuah pembaringan di depan garis perang. Sebuah amben bambu beralaskan tikar pandan. Tetapi ki Gede Pemanahan adalah prajurit yang namanya dibesarkan di garis-garis perang, bukan di belakang pintu Kadipaten Pajang. Karena itu apa yang ditemuinya kini sama sekali tidak mengejutkannya.

Ketika Ki Gede Pemanahan membaringkan diri, kembali ia terkenang kepada puteranya. Terdengar Ki Gede berdesis perlahan, “Anak bengal. Di mana ia bermalam sekarang.”

Pada saat yang demikian itu Sutawijaya sedang berusaha membangunkan Swandaru yang masih saja tidur dengan nyenyaknya.

Swandaru terkejut dan kemudian meloncat dari pembaringannya. Dengan gugup ia bertanya, “Ada apa?”

Sutawijaya tertawa, katanya, “Ah, seorang anak muda seperti kau pasti seorang anak muda yang tangkas. Kau mampu bangun sekaligus meloncat dari pembaringan dan bersiap untuk berkelahi.”

Swandaru mengusap matanya. Dilihatnya Sutawijaya dan Agung Sedayu duduk di pembaringan itu pula. Perapian mereka kini sudah tidak menyala sebesar semula lagi. Tetapi perapian itu kini nyalanya telah jauh susut.

“Kau tidur terlampau nyenyak Adi,” desis Agung Sedayu.

“Ya,” jawabnya pendek. Tertatih-tatih ia melangkah dan kemudian duduk di pembaringan itu pula.

“Sudah saatnya kau bangun,” berkata Sutawijaya.

“Alangkah nikmatnya tidur di samping perapian,” Gumam Swandaru. “Apakah tidak ada hantu yang mengunjungi kalian?”

“Ada,” sahut Sutawijaya. “Sayang kau tidak melihatnya. Hantu perempuan yang sangat cantik.”

“Sayang,” desah Swandaru sambil menguap. Kemudian katanya, “Sekarang siapakah yang akan tidur?”

“Siapa?” sahut Sutawijaya.

“Silahkan,” jawab Agung Sedayu, “aku tidak kantuk sekarang. Mudah-mudahan nanti.”

“Baik,” berkata Sutawijaya, “akulah yang akan tidur. Tolong bangunkan aku kalau hantu itu nanti datang kembali.”

Agung Sedayu dan Swandaru tersenyum.

Demikianlah maka Sutawijaya kini membaringkan dirinya. Iapun ternyata cepat tertidur pula, meskipun tidak secepat Swandaru. Sedang Agung Sedayu dan Swandaru kini berjaga-jaga sambil memanasi tubuh mereka di samping perapian. Sekali-sekali Agung Sedayu dan Swandaru mencari potongan-potongan kayu dan sampah ditaburkan di atas perapian yang kini menjadi seolah-olah seonggok bara semerah darah.

Tetapi seperti ujung malam yang telah mereka lampaui, maka keduanya sama sekali tidak melihat dan mendengar apapun, selain suara binatang hutan dan bunyi desir angin di dedaunan. Bahkan ketika kemudian Sutawijaya terbangun dengan sendirinya dan pada saat Agung Sedayu beristirahat, mereka sama sekali tidak mengalami sesuatu.

Ketika kemudian matahari mengembang di kaki bukit di sebelah Timur, maka ketiga anak-anak muda itupun menarik nafas lega. Mereka seakan-akan telah terlepas dari sebuah ketegangan hampir semalam suntuk.

Dengan nada yang datar Swandaru berkata, “Hem, siapakah yang telah bermain gila-gilaan semalam? Ternyata tak seorang pun yang kami temui di sini. Apakah siang ini kita akan melanjutkan berusaha untuk menemukannya?”

“Tak ada gunanya,” jawab Sutawijaya, “lebih baik kita mempersiapkan diri untuk meneruskan perjalanan. Kecuali apabila kita menjumpainya.”

“Kita harus mendapatkan air,” tiba-tiba terdengar Agung Sedayu memotong.

“Ya kita mencari air,” Sahut Swandaru.

“Pasti ada air di dekat tempat ini. Kalau tidak Macan Kepatihan pasti tidak memilih tempat ini untuk membuat perkemahan,” berkata Sutawijaya.

Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka sependapat dengan Sutawijaya. Karena itu Swandaru segera menjawab, “Mari kita mencari air. Mencuci muka dan minum sepuas-puasnya, sebagai ganti makan pagi.”

Sutawijaya tersenyum. “Jangan takut. Kita akan mencari makan pagi. Hutan ini pasti berbaik hati kepada kita. Nah, Sekarang biarlah kita pegang busur kita. Kita akan mencari binatang buruan.”

“Bagus,” sahut Agung Sedayu, “sudah lama aku tidak pergi berburu.”

“Aku juga. Sudah hampir dua puluh tahun aku tidak pergi berburu,” berkata Swandaru.

“Berapa tahunkah umurmu?” bertanya Sutawijaya.

“Lewat delapan belas,” sahut Swandaru.

“Kenapa sudah hampir duapuluh tahun kau tidak pernah berburu?”

“Bukankah demikian? Sejak bayi aku belum pernah berburu. Bukankah hampir duapuluh tahun?”

Sutawijaya tertawa, ia senang mendengar kelakar itu.

“Marilah,” ajak Sutawijaya kemudian. “Tetapi bagaimana aku menyangkutkan tombakku? Tali tombak ini telah kau minta Swandaru.”

Swandaru mengamat-amati pedangnya. la melihat juntai benang yang kekuning-kuningan. Benang yang didapatkannya dari Sutawijaya. Tetapi ia merasa sayang untuk melepas benang itu dari hulu pedangnya.

Tetapi ternyata Sutawijaya tidak minta Swandaru untuk melepasnya. Katanya, “Bukankah kau sudah hampir duapuluh tahun tidak berburu Swandaru? Dengan demikian kau pasti sudah menjadi canggung. Mungkin kau sudah tidak ingat lagi, bagaimana kau harus mengikuti jejak binatang buruanmu, kemudian mengintainya dan melepaskan anak panah. Nah, sebaiknya kau melihat cara kami berburu lebih dahulu. Dan, maaf, tolong bawa tombakku.”

“Uh,” sungut Swandaru. Tetapi ia tidak dapat menolak, diterimanya tombak pendek Sutawijaya. Tetapi sesaat Swandaru seolah-olah menjadi tegang. Terasa sesuatu bergetar di tangannya, seperti ada sesuatu mengalir dari tombak itu. “Hem,” katanya dalam hati. “Tombak yang demikian inilah yang disebut tombak yang baik.”

Tetapi yang didengarnya kemudian adalah suara Sutawijaya mengejutkannya, “Ayo. Senjatamu sudah lengkap. Pedang di lambung, tombak di tangan dan busur di punggung. Siapa yang berani melawanmu sekarang?”

Agung Sedayu tertawa mendengar gurau itu. Sekedar untuk melupakan orang yang semalam mengganggu mereka dengan perapiannya. Tetapi Swandaru sendiri mencibir sambil bersungut-sungut, “Huh. Akulah yang menjadi ganti karena kalian tidak membawa pedati. Ayo siapa lagi yang akan memberi aku muatan?”

Sekarang bukan saja Agung Sedayu tetapi juga Sutawijaya tertawa terbahak-bahak. Di antara derai tertawanya ia berkata, “Jangan marah Swandaru. Nanti aku carikan buruan yang sesuai dengan seleramu. Apakah kira-kira yang kau senangi?”

“Daging kambing,” sahut Swandaru.

“Hem,” gumam Sutawijaya, “mudah-mudahan di dalam hutan ini aku dapat menjumpai gerombolan kambing liar. Tetapi kalau tidak ada kambing nanti aku akan menangkap kelinci. Bukankah kau gemar pula daging kelinci?”

“Daripada makan daging kelinci bagiku lebih baik makan daun mlandingan muda.”

Kembali Sutawijaya dan Agung Sedayu tertawa.

“Marilah. Nanti binatang-binatang buruan habis berlarian mendengar kita ribut saja di sini,” ajak Sutawijaya kemudian.

Ketiganya kemudian terdiam. Dengan busur dan anak panah di tangan, mereka kemudian menyusup ke dalam hutan mencari binatang buruan untuk makan pagi mereka.

Ternyata Sutawijaya cukup tangkas dan Agung Sedayu adalah pembidik yang benar-benar mengagumkan. Ketika mereka menjumpai seekor kijang muda, maka keduanya segera dapat menguasainya dan mengenainya.

Demikianlah mereka kemudian kembali duduk mengelilingi perapian yang masih membara. Bahkan Swandaru telah menambahnya dengan potongan-potongan kayu dan akar-akaran. Dengan lahapnya mereka kemudian menikmati daging panggang yang baru saja mereka tangkap.

Setelah mereka membersihkan diri dan minum sepuas-puasnya pada sebuah belik di dekat perkemahan itu maka, segera mereka mempersiapkan diri mereka untuk meneruskan perjalanan.

Sinar matahari yang sudah menanjak semakin tinggi, satu-satu herhasil menembus rimbunnya dedaunan dan jatuh bertebaran di atas tanah yang lembab. Sekali-sekali mereka harus menyeberangi parit-parit yang mengalir di antara akar-akar kayu-kayuan di dalam hutan itu.

Hutan itu meskipun tidak terlampau tebal, namun cukup luas. Mereka menyusur di bawah pepohonan yang besar dan kadang-kadang harus menyusup di bawah rimbunnya belukar. Tetapi perjalanan itu telah menyenangkan hati ketiga anak-anak muda itu. Agung Sedayu kini telah melupakan kecemasnnya apabila kakaknya akan marah kepadanya. Bahkan kemudian mereka menjadi gembira seperti anak-anak domba yang lepas di lapangan rumput yang hijau.

Ketika matahari telah mulai menurun di belahan Barat, maka mereka telah hampir menembus ujung hutan dan sampai ke padang terbuka. Padang yang ditumbuhi oleh ilalang liar dan gerumbul-gerumbul perdu di samping beberapa jenis pohon yang agak besar lainnya.

Ketika mereka keluar dari hutan itu dan menginjakkan kaki mereka di padang ilalang, maka serentak mereka menengadahkan wajah-wajah mereka.

“Hem, matahari telah turun,” gumam Sutawijaya.

“Kita terlampau siang berangkat,” sahut Agung Sedayu.

“Kau terlalu lama menggenggam tulang paha kijang itu,” sambung Swandaru.

Ketiganya tersenyum.

“Menilik daerah ini, kita akan segera sampai ke daerah persawahan atau pategalan,” berkata Sutawijaya.

“Ya. Kita akan segera sampai ke padesan.”

“Apakah kita akan memasuki padesan itu?” bertanya Swandaru.

“Lebih baik tidak. Kita akan mendapat banyak kesulitan. Mungkin kita dicurigai, atau bahkan mungkin kita tidak boleh meneruskan perjalanan. Mungkin mereka menyangka kita adalah sisa-sisa orang-orang Jipang. Menurut pendengaranku ada beberapa orang prajurit Pajang yang ditempatkan di Kademangan Prambanan. Tetapi tidak banyak. Dan aku belum tahu, manakah yang bernama Prambanan itu.”

“Aku tahu,” sahut Swandaru. “Bukankah di Prambanan ada bangunan yang terkenal. Hampir orang di seluruh pelosok Demak tahu, bahwa di Kademangan Prambanan ada Candi yang bernama Candi Jonggrang.”

“Aku juga pernah mendengar,” sahut Sutawijaya, “apalagi kalian yang asal kalian tidak terlampau jauh dari daerah itu. Tetapi di manakah letak candi itu?”

Swandaru menggelengkan kepalanya. “Aku belum tahu,” jawabnya.

“Mungkin kita akan sampai juga ke candi itu tanpa kita kehendaki, tetapi mungkin pula tidak,” berkata Sutawijaya.

“Tetapi Candi itu cukup tinggi. Dari kejauhan kita akan dapat melihatnya. Kecuali apabila kita berada di sebelah desa yang dapat menutup pandangan mata kita.”

“Kita tidak berkepentingan dengan candi itu. Kita akan berjalan terus. Kita akan mencoba menghindari padesan. Tetapi apabila kita kemalaman di jalan, mungkin kita memerlukan desa terdekat untuk bermalam,” berkata Sutawijaya kemudian.

Kedua kawan-kawannya sependapat. Mereka akan menghindari banyak pertanyaan. Dengan senjata di lambung mereka serta busur di punggung, maka setiap orang yang melihat mereka pasti akan bercuriga. Karena itu mereka telah bersepakat untuk berjalan sejauh-jauhnya dari padesan yang akan mereka jumpai.

“Lewat Prambanan kita akan sampai ke Candi Sari, kemudian Cupu Watu, baru kita akan sampai ke daerah hutan yang lebih lebat dari hutan yang telah kita lewati,” berkata Sutawijaya.

“Apakah kita akan bermalam di hutan itu lagi?” bertanya Swandaru.

Mereka bertiga menatap padang yang terbentang di hadapannya. Sebuah padang ilalang yang cukup luas.

“Kita belum akan sampai ke hutan Tambak Baya apabila malam turun,” berkata Sutawijaya. “Lihat di hadapan kita masih terbentang padang yang agak luas, kemudian kita akan sampai ke bulak persawahan. Baru kita akan memasuki desa-desa pertama dari Kademangan Prambanan. Belum lagi kita sampai ke ujung kademangan yang lain, maka kita pasti sudah harus mencari tempat untuk bermalam.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Agung Sedayu memandang bukit-bukit yang membujur di sebelah Selatan, seperti seorang raksasa yang sedang tidur dengan nyenyaknya.

“Menurut cerita,” berkata Sutawijaya, “di bukit itu telah terjadi suatu peristiwa yang dahsyat pada jaman pemerintahan Prabu Baka.”

“Ya,” sahut Agung Sedayu. Teringatlah ia kepada cerita ibunya yang dahulu selalu memanjakannya, yang lebih senang melihat Agung Sedayu bertekun dengan rontal daripada dengan pedang. “Candi Prambanan adalah akhir dari peristiwa itu.”

“Dan patung Rara Jonggrang adalah patung yang cantik sekali,” sambung Swandaru yang pernah mendengar cerita itu pula.

“Sekarang,” berkata Sutawijaya, “kita akan menyusur di sebelah bukit itu untuk menghindarkan diri dari kecurigaan seseorang. Apakah kalian sependapat?”

Kedua kawan-kawannya mengangguk. Hampir bersamaan mereka menjawab, “Ya, kami sependapat.”

Mereka pun kemudian berjalan ke arah bukit yang membentang di sebelah Selatan padang ilalang itu. Padang yang menarik perhatian Sutawijaya. Apalagi ketika kemudian mereka melihat tanah pategalan dan persawahan yang hijau subur di sebelah padang ilalang yang semakin lama menjadi semakin tipis.

“Daerah ini adalah daerah yang sangat subur,” gumam Sutawijaya.

“Ya,” sahut Agung Sedayu, “tidak kalah subur dengan daerah Sangkal Putung.”

“Menurut pendengaranku, tanah ini mendapat air dari sungai di sebelah Candi Prambanan, Sungai Opak,” berkata Sutawijaya itu pula.

Kedua kawan-kawannya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Mereka hanya tertarik pada tanah yang subur, tanaman yang hijau dan rumpun-rumpun yang segar.

Tiba-tiba terdengar Swandaru berdesis, “Kalau tanah ini sesubur Sangkal Putung, kenapa orang-orang Jipang tidak ingin memiliki tanah dan kademangan ini pula?”

“Siapa tahu.” sahut Agung Sedayu. “Mungkin daerah ini pun mendapat tekanan-tekanan yang serupa dengan Sangkal Putung.”

“Tidak,” potong Sutawijaya, “aku kira tidak, sebab Tohpati, Sanakeling, Alap-alap Jalatunda, dan sebelum itu juga Pande Besi Sendang Gabus berada di sekitar Sangkal Putung.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya,” katanya lirih.

Sejenak mereka terdiam. Kaki-kaki mereka melangkah di antara batang-batang ilalang yang sudah semakin tipis. Di hadapan mereka terbentang sebuah padang rumput yang sempit. Di seberang padang rumput itu, maka terbentanglah tanah persawahan dan pategalan yang hijau. Di sana-sini mereka melihat padesan yang segar bermunculan di antara batang-batang padi yang sedang berbunga.

“Ada perbedaan antara Prambanan dan Sangkal Putung,” berkata Sutawijaya kemudian. “Yang mungkin mempengaruhi perhitungan Tohpati adalah letak dari kedua kademangan ini. Yang kedua, Sangkal Putung agak lebih besar dari Prambanan dan lebih padat pula, sehingga yang tersimpan di dalam perut Kademangan Prambanan. Agaknya Prambanan tidak memiliki kekayaan seperti Sangkal Putung. Ternak, iwen, lumbung-lumbung yang padat dan hampir setiap orang di Pajang dan Jipang tahu, bahwa orang-orang Sangkal Putung adalah selain petani yang rajin, juga pedagang yang ulet, sehingga menurut perhitungan Tohpati, di Sangkal Putung, akan banyak dijumpai emas dan permata. Kepentingan Tohpati yang lain, karena Sangkal Putung lebih padat daripada Prambanan, maka Sangkal Putung akan dijadikan panjatan perlawanan atas Pajang. Mungkin Tohpati akan dapat memanfaatkan penduduk Sangkal Putung dengan sebaik-baiknya.”

Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan mereka mendengar Sutawijaya berkata terus, “Tetapi tidak mustahil, bahwa apabila mereka gagal menduduki Sangkal Putung, maka mereka akan memperhatikan tempat-tempat lain. Tempat-tempat yang cukup baik, tetapi yang terlepas dari pengawasan prajurit-prajurit Pajang. Tetapi aku kira Prambanan pun berada di bawah pengawasan langsung dari beberapa orang prajurit.”

Agung Sedayu dan Swandaru masih saja mengangguk-anggukkan kepala mereka. Di dalam hati Swandaru merasa bangga, bahwa kademangannya, kademangan yang dipimpin oleh ayahnya ternyata mempunyai beberapa keistimewaan dari kademangan-kademangan lain. Jati Anom, Prambanan dan beberapa kademangan yang lain, bukanlah kademangan yang dapat dinilai sebesar kademangannya.

Tetapi berbeda dengan angan-angan yang berputar di kepala Sutawijaya. Pandangannya atas kademangan ini ternyata jauh melampaui masa yang dilihatnya kini. Ia adalah putera Ki Gede Pemanahan. Sehingga apabila ayahnya nanti mampu membuka hutan Mentaok, maka adalah menjadi kewajibannya untuk menjadikan daerah itu daerah yang besar. Daerah yang memiliki kedudukan yang kuat dan memiliki sumber kekayaan yang cukup. Prambanan adalah daerah yang cukup subur. Dan daerah ini tidak terlampau jauh dengan alas Mentaok yang dijanjikan olah Adipati Pajang kepada ayahnya.

Namun Sutawijaya menyimpan angan-angan itu di dalam kepalanya. Ia sama sekali tidak menyatakan kepada kedua kawannya. Gambaran-gambaran tentang masa depan itu dibiarkan tumbuh dan berkembang di dalam hatinya sendiri.

Demikianlah mereka berjalan terus ke arah Barat. Dilingkarinya pategalan dan tanah-tanah persawahan. Mereka berjalan di padang alang-alang di sisi-sisi bukit kecil yang menbujur di sebelah Selatan Prambanan.

“Itulah Candi Jonggrang,” berkata Agung Sedayu kemudian.

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Gumamnya, “Hem, itulah candi yang terkenal itu.”

Swandaru mengerutkan wajahnya. Tetapi ia tidak berkata suatu apapun.

Ketika matahari semakin lama menjadi semakin rendah, maka berkatalah Sutawijaya kemudian, “Hampir senja. Apakah kita akan bermalam di padang ilalang, ataukah kita ingin mencari penginapan di desa yang terdekat. Lihat, desa itu adalah desa kecil yang terpencil. Mungkin kita akan dapat mencari sekedar tempat untuk bermalam.”

Agung Sedayu dan Swandaru tidak segera menjawab. Ditatapnya sebuah desa kecil yang terpencil agak di sebelah Barat Candi Prambanan. Desa itu dipisahkan oleh sebuah bulak yang agak panjang, yang ditumbuhi oleh batang-batang padi yang hijau subur. Namun desa kecil itu sendiri dilingkari oleh tanaman yang segar pula. Daun-daun yang hijau menjadi kemerah-merahan karena sinar matahari yang hampir terbenam di ujung Barat.

“Bagaimana?” desak Sutawijaya. “Kalau kita ingin bermalam di desa itu, maka biarlah kita menunggu gelap. Kita memasuki desa itu setelah tidak banyak orang yang akan melihat kita. Kita pilih rumah yang paling ujung. Dan kita minta bermalam apabila pemiliknya tidak keberatan.”

“Dengan segala macam senjata ini?” bertanya Agung Sedayu.

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Tidak. Kita mencari tempat yang agak baik untuk menyembunyikan senjata-senjata ini.”

“Bagaimana kalu senjata-senjata kita dicuri orang?” bertanya Swandaru.

“Tidak kita letakkan di sembarang tempat. Kita sembunyikan di tempat yang kita yakin, bahwa senjata-senjata itu tidak dilihat orang.”

Kedua kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian Agung Sedayu menjawab, “Baiklah. Tanpa senjata di tangan kita tidak akan menakut-nakuti penduduk desa itu. Tetapi apakah jawab kita apabila mereka bertanya siapakah kita dan apakah kepentingan kita di desa mereka?”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya pula, “Ya, apakah keperluan kita?”

Mereka pun kemudian terdiam. Mereka sedang mencari-cari jawab apabila mereka mendapat pertanyaan tentang diri mereka.

“Baiklah kita katakan, bahwa kita adalah orang-orang Mangir. Kita baru saja bepergian ke Sangkal Putung, bagaimana?” berkata Sutawijaya.

“Kita belum pernah melihat daerah itu. Bagaimana kalau orang yang kita temui itu mengenal Mangir dengan baik dan bertanya beberapa hal tentang Mangir?” sahut Agung Sedayu.

Sutawijaya termenung. Matahari di sebelah Barat telah menjadi semakin rendah.

“Kita bermalam di padang ilalang ini saja,” katanya kemudian.

Swandaru mengerutkan keningnya. Katanya, “Dingin. Sudah tentu kita tidak dapat membuat perapian kalau kita tidak ingin menarik perhatian orang-orang Prambanan.”

“Ya, kau benar,” jawab Sutawijaya, “dingin dan banyak sekali nyamuk. Memang lebih senang tidur di dalam rumah.”

“Kita perhitungkan setiap kemungkinan. Manakah yang lebih baik. Kedinginan di ladang ini atau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan mereka berikan,” berkata Agung Sedayu.

“Oh, aku terbalik menjawab,” berkata Sutawijaya. “Kita adalah anak-anak Sangkal Putung yang akan pergi ke Mangir. Kita akan dapat menjawab segala pertanyaan mengenai Sangkal Putung. Tetapi apabila mereka bertanya tentang Mangir, biarlah kita jawab, bahwa kita belum pernah pergi ke Mangir.”

“Apakah keperluan kita ke Mangir?” bertanya Swandaru.

“Apa saja,” jawab Sutawijaya, “mencari paman kita atau kakak kita?”

“Baik, kita adalah anak-anak Sangkal Putung,” sahut Swandaru kemudian.

“Kita saudara-saudara sepupu,” berkata Sutawijaya, “panggil aku kakang. Agung Sedayu menjadi penengah di antara kita dan Swandaru adalah saudara sepupu yang lahir dari saudara termuda di antara orang tua kita.”

Swandaru tertawa. Katanya, “Kenapa aku yang termuda?”

“Demikianlah sepantasnya,” jawab Sutawijaya.

“Muda dalam urutan saudara sepupu tidaklah mesti yang paling muda umurnya,” sahut Swandaru.

“Apakah kita akan berbantahan mengenai umur untuk kepentingan ini?” bertanya Sutawijaya.

Kedua kawannya tertawa, “Baiklah,” desis Swandaru.

“Marilah, kita dekati desa itu. Kau lihat pohon gayam yang besar itu? Kita sembunyikan senjata kita ke atasnya. Aku sangka tak seorang pun yang akan melihatnya.”

“Ya, apabila senja telah menjadi gelap.”

Mereka bertiga pun kemudian berjalan ke Utara. Merka telah melampaui arah Candi Jonggrang. Mereka menuju sebuah desa kecil di sebelah Barat candi itu, desa yang terpisah oleh sebuah bulak yang agak panjang.

Pada saat yang bersamaan, di Sangkal Putung berderap kaki-kaki kuda prajurit-prajurit Wira Tamtama dari Pajang yang akan menjemput Ki Gede Pemanahan dengan membawa orang-orang Jipang. Besok mereka akan kembali bersama sebagian dari pasukan Widura di Sangkal Putung, sedang sebagian yang lain harus tetap tinggal di Sangkal Putung untuk menjaga setiap kemungkinan. Orang-orang Widura itu akan kembali ke Sangkal Putung bersama pasukan yang dipimpin oleh Pidaksa yang akan ditempatkan di bawah kekuasaan Untara untuk menyelesaikan sisa-sisa orang-orang Jipang itu sama sekali.

Ki Gede Pemanahan yang gelisah karena puteranya pergi tanpa sepengetahuannya, terpaksa tidak dapat berbuat apapun juga. Ia harus segera kembali ke Pajang yang sedang mengembangkan dirinya. Pada saat ini Kerajaan Demak sedang kosong sepeninggal Sultan Trenggana. Timbulnya berbagai pertentangan di antara putera-putera dan kemenakannya telah memberi peluang kepada beberapa orang yang tidak senang menyaksikan Demak bangkit kembali. Apalagi melihat kebangkitan keturunannya.

Ki Gede itu hanya dapat berpesan kepada Untara dan Widura untuk kelak menyuruh anaknya segera kembali ke Pajang. Bukan saja dirinya sendiri yang menjadi gelisah, tetapi pasti Adipati Adiwijaya pun menjadi gelisah pula.

“Anak itu menggangu pekerjaanku saja,” gumamnya. Tetapi kemudian diteruskan, “Yah, tetapi ia telah berjasa pula kepada Pajang.”

Malam itu Ki Gede Pemanahan telah mempersiapkan dirinya untuk besok pada saat matahari terbit, berangkat dengan pengawalan yang kuat, membawa orang-orang Jipang yang menyadari kekeliruan yang selama ini mereka lakukan.

Dan pada saat itu, ketika matahari telah tenggelam di balik cakrawala, maka Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru telah berada di bawah pohon gayam yang cukup besar. Mereka ingin menyimpan senjata-senjata mereka di atas pohon itu, supaya kehadiran mereka ke desa di ujung Kademangan Prambanan tidak mencurigakan.

“Siapakah yang memanjat?” bertanya Sutawijaya.

“Siapa?” sahut Agung Sedayu.

“Berikan senjata kalian. Aku akan memanjatnya,” desis Swandaru.

Kedua kawannya tertawa. Ketika mereka melihat Swandaru melipat lengan bajunya serta menyingsingkan kain panjangnya, maka kedua kawannya pun segera melepas senjata mereka.

“Apakah kau dapat membawa sekaligus?” bertanya Agung Sedayu.

“Tentu tidak. Aku akan memanjat untuk kepentingan kalian, tetapi tolong, berikan senjata-senjata itu apabila aku sudah berada di atas pohon gayam ini,” jawabnya.

“Uh, kalau begitu sama saja bagiku. Lebih baik kita memanjat bersama-sama. Ayo, biarlah aku membawa sebagian dari senjata-senjata itu,” berkata Agung Sedayu.

Swandaru-lah yang kemudian tertawa. Tetapi ia tidak menjawab. Dengan sebagian dari senjata-senjata mereka ia memanjat. Dibawanya pedangnya sendiri, busur serta endong panahnya, dan tombak Sutawijaya, sedang Agung Sedayu membawa senjata-senjatanya sendiri dengan busur dan endong panah Sutawijaya.

Dengan hati-hati mereka menyangkutkan senjata-senjata itu pada cabang-cabang yang kuat dan rimbun. Mengikatnya dan kemudian mereka pun turun dengan hati-hati supaya gerakan-gerakan mereka tidak menjatuhkan senjata-senjata mereka yang terikat pada cabang-cabang pohon gayam itu.

Sutawijaya yang berdiri di bawah mengawasi keadaan dengan seksama. Kalau-kalau ada seseorang yang mengintai mereka bertiga. Tatapi sampai kedua anak-anak muda itu turun dari pohon gayam itu, tidak seorang pun yang dilihatnya.

“Aku kira tak seorang pun yang melihat kita di sini,” desis Sutawijaya. “Apalagi setelah hari menjadi gelap. Kini marilah kita pergi ke desa itu.”

“Marilah,” sahut keduanya.

Tetapi segera langkah mereka terhenti. Dalam keremangan malam mereka melihat bayangan semakin lama menjadi semakin dekat. Tidak hanya seorang. Tetapi dua dan bahkan tiga orang.

Ketiga anak muda itu menjadi berdebar-debar. Bukan karena mereka takut, namun apabila ada orang yang melihat perbuatan mereka, maka pasti akan menimbulkan berbagai pertanyaan dan persoalan. Apabila mereka harus mengalami perselisihan, senjata-senjata mereka kini telah tersangkut di atas pohon gayam itu.

Bayangan-bayangan itu semakin lama menjadi semakin dekat. Kemudian terdengarlah suara mereka bercakap-cakap. Tidak begitu jelas, tetapi percakapan mereka berjalan lancar.

“Mereka belum melihat kita,” desis Sutawijaya perlahan-lahan.

“Ya, Tuan, mereka belum melihat kita,” sahut Agung Sedayu.

“Jangan panggil aku tuan. Panggil aku kakang.”

“Ya, Kakang,” ulang Agung Sedayu.

Tiba-tiba tiga orang yang berjalan itu pun tertegun. Mereka kini melihat ketiga anak-anak muda yang berdiri di pinggir jalan di bawah pohon gayam. Karena itu salah seorang dari mereka segera bertanya, “Siapakah kalian di situ?”

Ketiga anak-anak muda itu sejenak menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian Sutawijaya menjawab, “Aku, Paman.”

“Aku siapa?”

Kembali Sutawijaya menjadi bingung. Lebih baik baginya untuk tidak mempergunakan namanya sendiri, supaya tidak mengganggunya. Sebab mungkin seseorang telah mendengar nama itu.

“Siapa?” bertanya orang itu pula.

“Aku, Suta Paman.”

“Suta, Suta siapa?”

“Suta, ya Suta. Sutajia.”

“Sutajia,” ulang orang itu, “aku belum pernah mendengar namamu.”

Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru pun menjadi bingung. Meskipun mereka telah merencanakan, apa yang harus mereka katakan, namun menghadapi pertanyaan itu mereka masih harus berpikir sejenak.

Karena mereka bertiga tidak segera menjawab, maka orang itu mensedak, “He, Sutajia, siapakah kau?”

Sutawijaya menjawab terbata-bata, “Memang mungkin, Paman. Mungkin Paman belum pernah mendengar namaku. Aku bukan orang Prambanan.”

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Pantas. Aku belum pernah mendengar nama itu. Tetapi meskipun kau bukan orang Prambanan, namun namamu itu cukup aneh. Sutajia. Nama yang terasa tidak cukup lengkap.”

Dada Sutawijaya menjadi berdebar-debar. Seakan-akan orang yang berbicara itu mengerti keadaan dirinya sepenuhnya. Namun kemudian ia menjadi berlega hati ketika orang itu bertanya, “Dari manakah kalian datang?”

“Kami datang dari Sangkal Putung, Paman,” sahut Sutawijaya.

“Siapa kedua kawanmu itu?”

“Mereka adalah adik sepupuku. Yang bertubuh sedang bernama Agung Sedayu dan yang gemuk bernama Swandaru Geni.”

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya kembali. Gumamnya, “Nama itu adalah nama-nama yang bagus, Agung Sedayu dan Swandaru Geni. Nama itu adalah nama lengkap dan berwibawa. Tidak seperti namamu sendiri Sutajia.”

“Demikianlah orang tua kami memberi nama kepada kami masing-masing, Paman.”

Dan orang itu pun bertanya pula, “Kalian datang dari Sangkal Putung menurut katamu? Tetapi ke manakah kalian akan pergi?”

“Ya, Paman. Kami datang dari Sangkal Putung. Sedang kami ingin pergi ke Magir.”

“Mangir, he? Mangir di seberang hutan Mentaok?”

“Ya, Paman.”

“Apakah kalian tidak sedang bermimpi?”

“Tidak, Paman.”

Orang itu mengangguk-anggukan kepalanya pula. Seolah-olah lehernya terlampau lentur.

“Apakah kalian sudah mengetahui jalan yang harus kalian tempuh?”

“Sudah, Paman. Kami akan melewati Candi Sari, Cupu Watu, dan kemudian hutan Tambak Baya.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Pandangan wajahnya membayangkan keragu-raguan hatinya. Tetapi ia tidak mempunyai kepentingan atas ketiga anak-anak muda itu. Karena itu maka sambil lalu orang itu bertanya, “Apakah malam ini kau akan bermalam di bawah pohon ini?”

Sutawijaya menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi setelah mereka saling berpandangan, berkatalah Sutawijaya, “Tidak, Paman. Terlampau dingin. Tetapi kami tidak mempunyai keluarga di daerah ini.”

“Lalu?” bertanya orang itu pendek.

“Sebenarnya kami ingin pergi ke desa itu. Mungkin ada seseorang yang menaruh belas kepada kami, dan mengijinkan kami bermalam semalam ini, meskipun kami harus tidur di atas kandang.”

Orang itu tertawa. Ia berpaling kepada kedua kawannya. Kemudian katanya, “Kalian bertiga akan pergi ke Mangir di sebelah hutan Mentaok, tetapi kalian takut kedinginan di udara terbuka. Apakah kalian tahu, bahwa hutan Tambak Baya itu menyimpan bahaya yang jauh lebih besar daripada udara yang dingin? Apalagi alas Mentaok?”

Sutawijaya terdiam. Tetapi pertanyaan itu masuk di dalam akalnya.

“Tetapi aku kasihan melihat kalian bertiga,” berkata orang itu. “Untunglah bahwa keadaan telah menjadi baik, sehingga kami tidak ragu-ragu lagi membawa kalian menginap di rumah kami.”

Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru mengerutkan keningnya. Agaknya Prambanan pun pernah mengalami masa yang kurang baik. Tetapi ternyata masa yang kurang baik itu telah lampau.

“Bawa anak-anak ini ke rumah, Bawa,” berkata orang itu. Kemudian kepada Sutawijaya ia berkata, “Keduanya adalah anak-anakku. Yang tua bernama Bawa dan yang muda bernama Supa.”

“Oh,” Sutawijaya menganggukkan kepalanya. Demikian pula Agung Sedayu dan Swandaru.

“Mari, ikut aku,” ajak Bawa. Tetapi nada suaranya agak berbeda dengan nada suara ayahnya. Tetapi Sutawijaya dan kedua kawan-kawannya mula-mula tidak memperhatikannya.

“Pulanglah dahulu,” berkata orang itu kepada kedua anaknya, “Aku masih akan menyusur parit ini. Apakah kalian masih ada waktu?”

“Tidak Ayah. Aku harus segera pulang. Kawan-kawan pasti sudah menanti di halaman banjar desa.”

“Apakah kerja kalian di sana? Bukankah lebih baik bagi kalian pergi ke pategalan sebentar untuk menengok tanaman kalian. Mungkin ada binatang yang merusak mentimun itu.”

“Aku tidak sempat, Ayah.”

“Hem,” orang tua itu menarik nafas, “ada-ada saja kerjamu sekarang ini. Bagaimana kau, Supa?”

“Aku juga tidak dapat Ayah. Aku juga harus pergi ke halaman banjar desa itu.”

“Terlalu. Jadi aku juga yang harus pergi ke sana? Sesudah menyusur air ini, aku masih harus pergi ke ladang mentimun itu?”

“Terserah kepada Ayah. Bagaimana kalau ladang itu tidak usah ditengok? Aku kira hampir tidak ada gunanya. Demikian kita meninggalkannya setelah kita bersusah payah menengoknya, maka babi hutan itu datang merusaknya.”

“Memang sebaiknya ladang itu kita tunggu apabila buahnya telah menjadi besar seperti sekarang. Kalianlah yang harus membantu untuk menunggui ladang itu.”

Kedua anak muda itu bersungut-sungut. Ternyata mereka sama sekali tidak tertarik akan pekerjaan yang disebut oleh ayahnya, menunggui ladang.

Anak muda yang bernama Bawa, yang tertua kemudian manjawab, “Pekerjaan itu sangat menjemukan, Ayah.”

“Aku tidak dapat melakukannya. Anak-anak muda yang lain bergembira di banjar desa, apakah aku harus kedinginan di ladang mentimun?”

Ayahnya tidak menyahut. Terdengar ia menarik nafas dalam-dalam.

“Ayo,” berkata Bawa kemudian. “Kalau kalian mau ikut kami, marilah ikut.”

Bawa tidak menunggu ketiga anak-anak Sangkal Putung itu menjawab. Langsung ia melangkah pergi, meninggalkan ayahnya berdiri termanggu-maggu. Adiknya, Supa, segera mengikuti pula berjalan di belakang kakaknya.

Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru masih belum bergerak dari tempatnya. Sekali-sekali mereka memandang orang tua yang masih berdiri tegak di tempatnya dan sekali-sekali mereka menatap kedua anak-anaknya yang berjalan dengan langkah yang tetap.

Ketiga anak-anak muda itu terkejut ketika orang tua itu berkata, “Ikutlah. Tidurlah di gandok wetan atau di tempat lain yang akan ditunjukkan oleh anak-anakku. Mereka sendiri akan pergi ke banjar desa.”

“Apakah Paman tidak pulang?” tiba-tiba Sutawijaya bertanya.

“Aku akan pergi menyusur parit ini ke Timur. Seperti kalian dengar, aku masih harus pergi ke ladang untuk melihat tanaman. Binatang-binatang liar kadang-kadang merusak tanaman di ladang, meskipun tidak terlampau sering.”

Kembali Sutawijaya menjadi ragu-ragu. Ketika ia memandangi wajah kedua orang temannya, maka wajah-wajah mereka pun memancarkan keragu-raguan pula. Akhirnya Sutawijaya itu pun berkata, “Paman. Kami akan pergi bersama Paman.”

“Uh,” sahut orang itu, “belum tentu tengah malam aku sampai ke rumah.”

“Biarlah. Biarlah kami tengah malam sampai ke rumah Paman. Tetapi bukankah Paman yang mempunyai rumah itu? Lebih baik bagi kami apabila kami datang ke rumah Paman sesudah Paman berada di rumah.”

“Istriku ada di rumah.”

“Tetapi bibi belum mengenal kami dan putera-putera Paman agaknya terlampau tergesa-gesa.”

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya, “Terserahlah kalian, kalau kalian ingin kedinginan di sepanjang parit ini.”

“Kami juga anak-anak ladang,” tiba-tiba Swandaru menyela. “Kami pun sering menyusur parit. Karena itu, kami tidak akan canggung lagi berjalan di sepanjang pematang.”

Orang tua itu mengangguk-angguk, katanya, “Kalau demikian terserahlah.”

“Marilah,” akhirnya ia berkata sambil melangkahkan kakinya.

Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru pun berjalan mengikutinya pula. Meskipun Swandaru-lah yang berkata bahwa mereka adalah anak ladang, namun ia pulalah yang bersungut-sungut sambil berbisik, “Tuan, kenapa kita mengikutinya? Kenapa kita tidak pergi bersama kedua anaknya. Kita tidak akan kedinginan di tengah-tengah sawah seperti ini. Mungkin oleh bibi, istri orang ini sudah dijamu dengan air sere hangat.”

Sutawijaya tersenyum. Jawabnya, “Kami adalah anak-anak ladang. Kami pun sering menyusur parit. Karena itu, kami tidak akan canggung lagi berjalan di pematang.”

“Ah,” desah Swandaru.

Agung Sedayu yang mendengar pembicaraan itu pun tertawa tertahan. Tetapi sebenarnya ia pun telah merasa cukup lelah. Karena itu, maka dengan malasnya ia menguap sambil berkata, “Aku bukan anak ladang. Karena itu aku kedinginan.”

“Ssst,” desis Sutawijaya. “Kalian tidak tahu maksudku. Aku ingin mendengar cerita tentang daerah ini. Bukankah orang itu tadi mengatakan, bahwa keadaan kini telah menjadi baik? Apakah yang telah terjadi sebelumnya?”

“Oh,” kedua kawannya mengangguk-anggukan kepala mereka. Betapa pun dinginnya, namun mereka kini tidak lagi berdesah di dalam hati.

Ketiga anak-anak muda itu mengikuti orang tua berjalan di sepanjang pematang di tepi parit. Alangkah dinginnya apabila kaki-kaki mereka terkena percikan air yang mengalir di sepanjang parit itu. Sehingga akhirnya mereka sampai ke sebuah bendungan kecil yang membagi parit itu menjadi dua buah saluran yang mengalir ke arah yang berbeda.

“Aku akan menutup salah satu daripadanya,” berkata orang tua itu. “Tanah di sebelah ini seharusnya telah kenyang. Karena itu, maka airnya akan dipergunakan untuk belahan yang lain.”

Sutawijaya dan kedua kawannya sama sekali tidak menyahut, tetapi mereka berdiri dekat di belakang orang tua yang terbungkuk-bungkuk mencangkul tanah berpasir untuk menutup salah sebuah dari kedua saluran itu.

Dari bendungan kecil itu, mereka segera ke ladang di sebelah padesan kecil yang semula akan disinggahi oleh Sutawijaya dengan kawan-kawannya. Pategalan mentimun yang subur yang sudah mulai berbuah.

Ketika mereka kemudian duduk-duduk di rerumputan di sebelah tanaman di ladang itu, maka mulailah Sutawijaya bertanya, “Paman, apakah desa ini termasuk Kademangan Prambanan?”

“Ya, ya,” sahut orang tua itu. “Daerah ini adalah daerah Kademangan Prambanan.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bertanya pula, “Siapa nama, Paman?”

Orang Prambanan itu tersenyum mendengar pertanyaan Sutawijaya. Katanya, “Apakah kalian ingin juga mengetahui namaku?”

“Tentu, Paman, supaya besok aku dapat mengatakan kepada setiap orang di Sangkal Putung, bahwa di Prambanan aku bermalam di rumah Paman.”

Orang itu kini tertawa. Jawabnya, “Namaku Astra.”

“Astra,” ulang Sutawijaya.

“Ya.”

“Hanya itu.”

“Ya, kenapa?”

“Mendengar namaku, Sutajia, Paman menjadi heran. Menurut Paman, nama itu belum lengkap. Tetapi nama Paman bagiku justru terlampau pendek. Bukankah itu lebih pendek dari namaku?”

Orang yang bernama Astra itu tertawa pula. Katanya, “Tetapi namaku meskipun pendek, kedengarannya tidak aneh seperti namamu.”

Sutawijaya tertawa. Yang lain pun ikut tersenyum pula.

Tiba-tiba Sutawijaya bertanya, “Kenapa putera-putera Paman tidak mau membantu Paman ke sawah dan ladang?”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian setelah terdiam sejenak ia menjawab, “Hal ini terjadi belum terlalu lama. Dahulu anak-anakku adalah anak-anak yang rajin. Bahkan aku hampir tidak pernah ke sawah. Merekalah yang menyelesaikan semua pekerjaan. Tetapi sekarang tiba-tiba mereka menjadi malas, setelah di banjar desa sering diadakan permainan tayuban.”

“Tayuban,” Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru mengulang hampir bersamaan.

“Ya, tayuban. Setelah keadaan kademangan ini menjadi baik, maka aneh-anehlah tingkah laku anak-anak muda yang kehilangan kegiatan dan tidak mendapat penyaluran yang sewajarnya.”

“Apa saja yang mereka lakukan?” bertanya Agung Sedayu.

“Macam-macam. Berjalan-jalan berbondong-bondong mengelilingi kademangan di senja hari. Kemudian berteriak-teriak tidak menentu. Kadang-kadang mereka menyembelih kambing, bahkan lembu tanpa sebab. Mereka makan-makan tanpa batas. Gadis-gadis tidak mau ketinggalan. Merekalah yang memasak daging kambing atau lembu atau kerbau. Kemudian sambil berkelakuan aneh-aneh mereka habiskan waktu mereka semalam-malaman.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Sekali mereka bertiga saling berpandangan. Kemudian terdengar Swandaru bertanya, “Apakah orang tua tidak berbuat sesuatu?”

“Kau lihat sendiri, bagaimana sikap anak-anakku terhadapku. Apakah aku harus memukulnya? Kalau aku berbuat demikian, mereka pasti akan melawan, dan aku pasti akan mati mereka cekik bersama-sama.”

Sorot mata Swandaru tiba-tiba menjadi aneh. Ia adalah pemimpin anak-anak muda Sangkal Putung. Karena itu ia menaruh minat yang sangat besar mendengar cerita itu.

“Kenapa terjadi demikian, Paman Astra?” bertanya Swandaru. “Bukankah menurut Paman hal itu baru saja terjadi. Maksudku belum terlampau lama.”

“Ya, memang demikian. Baru saja, sejak keadaan Prambanan menjadi baik kembali.”

“Apakah yang pernah terjadi di Prambanan, Paman?” bertanya Agung Sedayu.

“Aku kira pernah terjadi pula di Sangkal Putung. Apakah tidak demikian? Sisa-sisa laskar Arya Penangsang, beberapa orang dari mereka selalu berkeliaran di sekitar daerah ini. Hal itulah yang menyebabkan beberapa orang prajurit Pajang ditempatkan di kademangan ini.”

Sutawijaya dan kedua kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tiba-tiba mereka lenyap dari daerah ini seperti ditelan hantu. Beberapa waktu yang lalu mereka masih berkeliaran di sekitar kademangan ini.”

“Sejak kapan mereka tidak menampakkan diri lagi, Paman?”

“Dua tiga bulan, kurang lebih.”

Sutawijaya dan kedua kawannya saling berpandangan. Dua bulan. Persiapan Tohpati yang terakhir berlangsung dalam waktu yang lama dan cukup masak. Mungkin orang-orang Jipang di Prambanan harus berkumpul di Sangkal Putung untuk memperkuat serangan yang terakhir itu. Mungkin pula sejak serangan yang gagal sebelumnya, pada saat Tohpati membawa orang-orangnya datang di malam hari.

Tetapi tak seorang pun dari mereka yang mengatakannya kepada Astra. Mereka masih saja berteka-teki di dalam dada masing-masing.

“Lalu apakah hubungannya dengan perbuatan anak-anak muda di Prambanan ini, Paman.”

“Mereka mendapat tuntunan dari para prajurit Pajang untuk menjaga kademangannya. Prajurit Pajang sendiri tidak dapat mencukupi. Namun sebagian besar dari anak-anak muda itu belum pernah mengalami pertempuran yang sebenarnya. Mereka hanya berkeliling kademangan, meronda sambil membawa segala macam senjata. Kalau ada sesuatu terjadi, mereka segera berlindung di belakang para prajurit Pajang dan kawan-kawannya yang lebih berani. Untunglah, jumlah orang-orang Jipang itu pun tidak seberapa banyak, sehingga bagi Prambanan, mereka belum merupakan bahaya yang benar-benar dapat menggoncangkan ketenteraman kademangan ini.”

Ketiga anak-anak muda yang mendengarkan cerita itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ini adalah suatu perbedaan antara anak-anak muda Prambanan dan anak-anak muda Sangkal Putung. Anak-anak muda Sangkal Putung hampir seluruhnya telah mengalami pertempuran berkali-kali dengan orang Jipang. Bahkan korban pun telah berjatuhan.

“Tetapi kenapa mereka sekarang berbuat aneh-aneh?” bertanya Agung Sedayu.

“Kini sebagian besar prajurit Pajang pun telah ditarik. Pengawasan atas anak-anak muda itu menjadi jauh berkurang. Anak-anak muda yang dirinya mendapat kekuasaan itu, tiba-tiba menjadi mabuk. Mabuk atas kekuasaan yang ditinggalkan oleh para prajurit Pajang untuk menjaga keamanan kademangan ini. Dengan pedang di lambung, mereka ditakuti. Karena itu, maka mereka kadang-kadang melakukan perbuatan-perbuatan yang aneh-aneh itu.”

Ketiga anak-anak muda itu merasa aneh mendengar cerita Astra. Hati mereka segera tersentuh, dan perhatian mereka pun menjadi sangat tertarik kepada peristiwa itu.

Dalam pada itu Astra bercerita terus, “Sekarang anak-anak muda itu telah jauh terdorong ke dalam perbuatan-perbuatan yang lebih berbahaya. Di antaranya kedua anakku. Mungkin kalian dapat menyalahkan aku dan orang-orang tua. Tetapi aku yang mengalaminya sendiri merasa, bahwa habislah akalku untuk mengendalikan kedua anak-anakku itu. Apalagi di antara kami orang tua-tua, memang ada yang justru menjadi bangga melihat kelakuan anak-anaknya. Seolah-olah anaknya telah menjadi seorang pahlawan.”

“Aneh,” desis Sutawijaya dengan serta-merta.

“Ya, aneh,” sahut Agung Sedayu dan Swandaru hampir bersamaan. Mereka adalah pemuda-pemuda pula. Tetapi mereka tidak dapat membayangkan apa saja yang telah dilakukan oleh anak-anak sebayanya di Kademangan Prambanan.

“Apakah tidak ada tindakan yang dapat dilakukan?” bertanya Sutawijaya.

Astra menarik nafas dalam-dalam. Sambil menggelengkan kepalanya ia menjawab, “Sulit. Sulit sekali. Mungkin dapat juga dilakukan tindak kekerasan. Tetapi anak-anak muda itu merasa diri mereka pahlawan-pahlawan dan mereka pun pasti akan melawan dengan kekerasan pula. Apakah yang kira-kira akan terjadi di Prambanan? Bencana ini akan jauh lebih dahsyat daripada bencana yang dapat ditimbulkan oleh orang-orang Jipang.”

“Ya, Paman benar,” shut Sutawijaya.

“Kami hampir kehilangan akal untuk mengatasinya,” berkata orang tua itu pula.

“Bagaimana dengan pamong kademangan ini? Bapak Demang misalnya atau Bapak Jagabaya?”

“He,” tiba-tiba orang itu tersentak. Katanya kemudian, “Kenapa kau ributkan kademangan ini? Terserahlah kepada Bapak Demang dan Bapak Jagabaya.”

Sutawijaya dan kedua kawan-kawannya terdiam. Namun timbullah keinginan mereka untuk melihat, apakah yang telah terjadi di Banjar Desa Kademangan Prambanan? Karena itu, tanpa bersetuju lebih dahulu, hampir bersamaan Agung Sedayu dan Sutawijaya berkata, “Apakah kita akan melihat?”

“Apakah yang akan kalian lihat?” bertanya Astra.

“Apa yang terjadi di banjar desa.”

“Apakah kalian akan membawa kebiasaan itu ke Sangkal Putung, supaya para pemudanya mempunyai kebiasaan serupa pula?”

“Tidak,” sahut Swandaru cepat-cepat. “Kami hanya ingin melihatnya.”

Orang tua itu tersenyum. Katanya, “Apalagi kini di kademangan ini sedang kedatangan beberapa orang tamu. Dua atau tiga orang, aku kurang tahu.”

“Tamu?” bertanya ketiga anak-anak muda itu serta merta.

“Ya, tamu dari seberang hutan Mentaok.”

Sutawijaya dan kedua kawannya terkejut mendengar jawaban itu. Dengan terbata-bata Agung Sedayu bertanya, “Seberang hutan Mentaok? Maksud Paman, tamu itu datang dari daerah di seberang hutan Mentaok?”

“Ya, kenapa kau terkejut?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk menenangkan debar jantungnya. Kemudian jawabnya, “Tidak apa-apa? Kami terpengaruh oleh tujuan kami sendiri. Kami ingin pergi ke hutan itu, dan kami mendengar nama Mentaok, Paman sebut-sebut.”

“Oh,” Astra mengangguk-anggukan kepalanya. “Mereka adalah utusan dari daerah perdikan Menoreh.”

“Bukit Menoreh maksud Paman?”

Orang itu mengangguk, “Demikian yang aku dengar. Aku tidak tahu kebenarannya.”

Ketiga anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya pula.

“Mereka telah dua malam berada di tempat ini. Dan mungkin kalian akan terkejut mendengarnya, tamu-tamu itu akan pergi ke Sangkal Putung.”

Swandaru menggigit bibirnya, tetapi ia masih tetap berdiam diri. Namun di dalam dada anak-anak muda itu tersimpan bergabai macam pertanyaan. Kalau mereka utusan Kepala Daerah Perdikan Menoreh, maka mereka pasti mempunyai sangkut paut dengan kepala daerah perdikan itu. Daerah perdikan Menoreh adalah tanah kelahiran Sidanti.

“Sangat menarik perhatian,” gumam Agung Sedayu. “Justru kami datang dari daerah Sangkal Putung.”

“Kapan mereka akan berangkat ke Sangkal Putung?” bertanya Sutawijaya.

“Aku tidak tahu. Tetapi tamu-tamu itu agaknya kerasan di sini. Mereka pun masih muda-muda, semuda kalian bertiga. Kalau terpaut umur, maka tidak akan lebih dari tiga empat tahun.”

Alangkah menarik hati cerita itu bagi ketiga anak-anak muda itu. Keinginan mereka untuk melihat apa yang terjadi di Prambanan semakin mencengkam hati mereka. Namun mereka tidak segera menyatakannya. Bahkan Sutawijaya itu bertanya, “Kalau di kedemangan ini ada tamu, apakah anak-anak mudanya masih juga mengadakan tayub di banjar desa?”

“Tamu-tamu itu pun mempunyai kesukaan serupa.”

“Oh,” Sutawijaya menarik nafasnya dalam-dalam. Lalu tiba-tiba ia bertanya, “Bagaimana dengan para prajurit dari Pajang yang masih tinggal di sini?”

“He,” kembali orang itu tersentak. “Kenapa kalian ributkan kademangan ini? Itu bukan urusan kalian, bukan urusanku dan bukan urusan istriku. Urusanku sebenarnya hanyalah berkisar pada anak-anakku yang menjadi mursal pula.”

“Paman keliru,” sahut Sutawijaya tiba-tiba. “Keadaan kademangan ini adalah tanggung jawab segenap penghuninya. Tanggung jawab Bapak Demang, Bapak Jagabaya, Bapak Kabayan, Bapak Pamong-Pamong yang lain dan tanggung jawab Paman pula.”

Orang itu membelalakkan matanya. Ia sebenarnya sependapat dengan Sutawijaya yang menamakan dirinya Sutajia. Tetapi karena yang mengucapkan itu seorang anak muda yang ingin menumpang tidur kepadanya, dan seorang anak muda yang disangkanya betul-betul anak Sangkal Putung saja, dengan pakaian yang kusut, setelah mereka mengenakannya selama dua hari terakhir siang dan malam, maka Astra menjadi heran.

Dengan penuh selidik ia bertanya, “Darimana kau bisa berbicara seolah-olah kau ini seorang pemimpin pemerintahan?”

“Aku hanya sering mendengarnya, Paman. Bapak Demang Sangkal Putung sering mengatakan demikian.”

“Oh,” Astra mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apakah Bapak Demang Prambanan tidak pernah berkata demikian?”

“Tentu. Tentu. Bapak Demang adalah seorang demang yang baik. Tetapi apakah ia dapat berbuat banyak di antara para pamong yang berbuat tidak baik? Di antara orang-orang tua yang berbangga melihat anak-anaknya berbuat edan-edanan? Bahkan bukan saja Bapak Demang, ada juga beberapa anak-anak muda yang menangis di dalam hatinya melihat perkembangan keadaan. Tetapi tidak mendapat kesempatan apa-apa.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Agung Sedayu dan Swandaru duduk tepekur, tetapi ia mendengar setiap pembicaraan dengan penuh minat.

“Seperti anak-anakku,” berkata Astra pula. “Aku sudah hampir menjadi gila memikirkannya. Seandainya ada kekuatan yang mampu memperingatkannya, meskipun seandainya anakku harus mengalami pelajaran yang agak berat, aku akan berterima kasih.”

Ketiga anak-anak muda yang datang dari Sangkal Putung itu berdiam sejenak. Dan Astra berkata pula, “Tetapi sayang, anak-anak muda yang masih menyadari keadaan, jumlahnya tidak terlampau banyak, dan mereka tidak mempunyai banyak kelebihan dari anak-anakku yang bengal itu.”

“Tetapi itu adalah pekerjaan kami, Bawa,” potong ayahnya.

Sutawijaya-lah yang kemudian bertanya, “Paman, Paman belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana dengan prajurit-prajurit Pajang?”

Orang itu terdiam sejenak. Tiba-tiba ia berkata, “He, aku sudah selesai dengan pekerjaan di sini. Tidak ada binatang-binatang liar yang mengganggu ladangku. Ayo, kita kembali. Bukankah kau bermalam di rumahku?”

Sutawijaya mengangguk-angguk, “Ya Paman,” jawabnya. Tetapi setiap kali ia kecewa. Pertanyaannya belum terjawab. Sebagai seorang putera Panglima yang pernah ikut serta dalam barisan Wira Tamtama justru menghadapi lawan yang terberat, yaitu Arya Penangsang itu sendiri, maka ia terkait akan adanya beberapa orang prajurit di Prambanan.

Tetapi mereka tidak mendapat kesempatan untuk bertanya lagi. Astra segera berdiri, memanggul cangkulnya dan berjalan menyusur pinggiran ladangnya. Katanya, “Kita lewat jurusan ini.”

Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru segera mengikutinya di belakang. Namun agaknya masih belum puas. Di sepanjang jalan ia masih bertanya, “Dan bagaimana dengan tamu-tamu dari Menoreh?”

“Tidak apa-apa. Mereka tidak apa-apa,” jawab Astra pendek.

Sutawijaya menjadi benar-benar kecewa. Tiba-tiba ia berkata, “Paman. Kami ingin pergi ke banjar desa. Di kademangan kami hampir tidak pernah kami lihat keramaian apapun. Apabila di sini kebetulan ada keramaian di banjar desa, maka betapa besar keinginan kami untuk melihatnya.”

“Huh, sebaiknya kalian tidak melihatnya.”

“Kenapa?”

Astra tidak menjawab. Tetapi ia berkata, “Bukankah kalian akan bermalam di rumahku? Jarang aku bertemu dengan anak-anak muda seperti kalian. Aku senang bercakap-cakap dengan anak-anakku sendiri.”

“Tentu Paman. Aku akan mengikuti sampai ke rumah Paman. Kemudian kami akan mohon ijin untuk pergi ke banjar desa. Dengan demikian kami telah mengenal rumah Paman, supaya kami tidak usah mencari-cari apabila kami kembali dari banjar desa.”

Astra mengangguk-anggukan kepalanya, “Baiklah,” gumamnya.

Kemudian mereka saling berdiam diri. Mereka berjalan di sepanjang pategalan. Di sini mereka melihat beberapa orang duduk di ladang semangka, menungguinya pula.

“Dari ladang Kakang?” tegur salah seorang dari mereka.

“Ya,” sahut Astra, “aku tidak dapat menungguinya malam ini. Anak-anak pun tidak. Tolong, apabila kalian melihat binatang atau anak-anak nakal merusak masuk.”

“Baik, Kakang,” jawab orang itu. “Tetapi bukankah Supa dan Bawa telah mau ikut ke sawah bersama Kakang?”

“Mereka hanya mau melewatinya tanpa membasahi kaki-kaki mereka dengan air parit. Mereka tergesa-gesa pergi ke banjar desa. Apakah anak-anak kalian juga pergi ke sana?

“Ah, aku tidak peduli lagi. Mereka telah menjadi gila. Tetapi bukankah Supa dan Bawa yang berjalan bersama Kakang itu.

“Bukan, sama sekali bukan. Anak-anak ini adalah kemenakanku yang baru saja datang dari Sangkal Putung.”

“O,” orang yang duduk-duduk tidak bertanya lagi. Astra dan ketiga anak-anak muda dari Sangkal Putung itu berjalan terus menyusur jalan kecil di tengah-tengah ladang, menyusup di dalam gelapnya malam.

Di pinggir desa kecil di ujung kademangan itulah terletak rumah Astra. Sebuah rumah joglo yang tidak terlampau besar. Tetapi menilik bentuknya dan coraknya, maka Astra bukan termasuk orang yang dapat disebut miskin. Di sisi rumah itu, mereka melihat sebuah pedati lembu di samping sebuah kandang.

“Inilah rumahku,” berkata Astra, “mungkin tidak sebagus rumah-rumah di Sangkal Putung.”

Ketika mereka berempat menginjakkan kaki-kaki mereka di halaman rumah itu, maka Sutawijaya dan kedua kawannya tertegun sejenak. Ketika mereka saling berpandangan, maka tanpa mereka kehendaki mereka mengangguk-anggukan kepala mereka.

“Mari anak-anak,” ajak Astra.

“Paman,” berkata Sutawijaya, “kami sebenarnya ingin untuk melihat banjar desa Prambanan. Kini kami telah mengetahui rumah Paman. Nanti dari banjar desa kami akan datang kemari. Tetapi kami tidak perlu membuat Paman dan Bibi menjadi sibuk. Biarlah kami nanti tidur di pendapa ini saja apabila Paman mengijinkan.”

“He?” Astra mengerutkan keningnya, “pergilah ke banjar desa kalau kalian benar-benar ingin. Tetapi marilah singgah sebentar. Kalian tidak akan terlambat. Keramaian itu baru akan mencapai puncaknya nanti menjelang tengah malam.”

“Terima kasih Paman. Kami ingin melihat sejak keramaian ini baru dimulai.”

Orang tua itu mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian katanya, “Apakah kalian pernah melihat orang berkelahi?”

Ketiga anak-anak muda itu terkejut.

“Kenapa?” bertanya Swandaru.

“Apakah di Sangkal Putung ada juga anak-anak muda sering berkelahi di antara mereka, di antara sesama?”

Swandaru dan kawan-kawannya menjadi ragu-ragu untuk menjawab. Sementara itu Astra berkata, “Kalau kalian belum pernah melihat anak-anak muda berkelahi, sebaiknya kalian tidak usah melihat, daripada kalian menjadi ketakutan.”

“Apakah akan ada pertandingan berkelahi di banjar desa?” bertanya Agung Sedayu.

“Tidak. Tetapi artinya hampir sama. Hampir setiap kali ada keramaian semacam ini, anak-anak muda selalu bikin ribut. Ada-ada saja yang mereka persoalkan. Dan sering terjadi mereka berkelahi di antara mereka karena soal-soal tetek bengek.”

Ketiga anak-anak muda itu justru semakin ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi di banjar desa. Karena itu maka Sutawijaya menjawab, “Kalau kami tidak ikut campur dalam setiap perselisihan, maka aku kira kami tidak akan terlibat, Paman.”

“Mudah-mudahan. Kalau kau ngeri melihat mereka berkelahi, maka sebaiknya kalian segera pergi dan kembali kemari.”

“Baik, Paman,” sahut mereka hampir serentak.

Astra itu pun kemudian memberi mereka ancar-ancar ke mana mereka harus pergi. “Kalau kau melihat lampu obor yang terang benderang seperti siang, maka itulah banjar desa.”

“Terima kasih, Paman,” sahut mereka bersamaan pula.

Sejenak kemudian mereka telah meninggalkan halaman rumah Astra dengan pertanyaan yang memenuhi dada. Cerita Astra sangat menarik perhatian mereka. Mereka pun menyadari mungkin Astra telah membumbui ceritanya terlampau banyak. Namun sedikit banyak cerita itu pasti mengandung kebenaran.

Ada beberapa hal yang sangat menarik perhatian ketiga anak-anak muda itu. Tingkah laku sebagian anak-anak muda Prambanan, yang menurut Astra mereka terpaksa menangis di dalam hati melihat sikap kawan-kawannya. Kemudian apakah yang akan dilakukan oleh para pamong kademangan dan lebih-lebih menarik lagi, bagaimanakah sikap beberapa orang prajurit Pajang yang masih ada di Prambanan? Yang tidak kalah menariknya adalah cerita tentang tamu-tamu dari Menoreh. Tamu-tamu yang mau tidak mau pasti menyangkut nama kepala daerah Perdikan Menoreh. Nama orang tua Sidanti.

Karena itu, maka tiba-tiba mereka tergesa-gesa. Tanpa mereka sengaja langkah mereka pun menjadi semakin cepat. Jarak yang harus mereka tempuh tidak terlampau jauh. Jalan yang harus mereka lalui adalah jalan itu juga, tanpa berbelok. Mereka akan melewati sebuah desa sebelum mereka akan sampai ke bulak yang pendek. Di sebelah bulak yang pendek itulah terletak induk Kademangan Prambanan. Dan di desa itulah terletak banjar desa. Tidak terlampau jauh dari sebuah bangunan yang sangat terkenal, Candi Jonggrang.

Waktu yang mereka perlukan tidak terlalu banyak. Beberapa saat kemudian mereka telah sampai ke ujung lorong memasuki desa yang pertama.

Demikian mereka sampai ke ujung desa, maka Sutawijaya mengamit kedua kawan-kawannya. Agung Sedayu dan Swandaru berpaling. Hampir bersamaan mereka mengangguk ketika mereka mendengar Sutawijaya berbisik, “Kau lihat beberapa orang berdiri di pinggir jalan di bawah lampu gardu itu?”

Melihat sikap mereka, hati ketiga anak-anak muda itu menjadi berdebar-debar. Sikap itu benar-benar bukan sikap yang wajar. Tetapi mereka bertiga tidak mempunyai kepentingan dengan mereka. Karena itu mereka sama sekali tidak memperhatikannya.

Anak-anak muda yang berkerumun di sebelah gardu itu mamandangi mereka bertiga dengan berbagai pertanyaan di dalam hati. Seorang yang duduk di sisi jalan tiba-tiba berdiri dan bertolak pinggang. Tetapi ia tidak bertanya apapun. Kawannya yang berjongkok di atas dinding halaman, meloncat turun sambil bergumam, “He, apakah akan ada tamu lagi?”

“Huh,” sahut yang lain yang berbaring di atas dinding halaman yang sempit di sisi jalan yang lain, “aku kira mereka adalah gembala-gembala dari kademangan lain. Mungkin mereka ingin mendapat sisa-sisa makanan di banjar desa.”

Hampir serentak pemuda-pemuda itu tertawa. Bahkan seorang di antara mereka berjalan ke tengah lorong, sementara Sutawijaya dan kedua kawan-kawannya menjadi semakin dekat.

Dengan tingkah yang dibuat-buat anak muda itu mengawasi Sutawijaya dan kawan-kawannya. Kemudian katanya, “Kalian benar. Bukan anak-anak Prambanan. Mereka adalah anak-anak kelaparan. Wajahnya pucat dan pakaianya kusut kumal.”

“Biarkan mereka lewat. Tak ada kepentingan dengan anak-anak kecingkrangan,” berkata yang lain.

Sutawijaya tidak tahu, bagaimanakah tanggapan anak-anak muda itu sebenarnya atas dirinya dan kedua kawan-kawannya, tetapi terasa untuk memancing perselisihan. Sutawijaya sendiri menyadari bahwa pakaiannya pasti lebih baik dari pakaian seorang anak yang disebut kecingkrangan. Meskipun setelah dipakainya selama ini tanpa dicuci telah dilekati oleh banyak debu dan kotoran serta menjadi kusut. Juga pakaian Agung Sedayu dan Swandaru adalah pakaian yang meskipun sederhana, tetapi cukup baik. Tetapi pakaian itu pun telah menjadi kusut.

Sutawijaya sama sekali tidak menanggapi kata-kata itu. Ia percaya bahwa Agung Sedayu akan bersikap demikian. Tetapi yang agak dicemaskan adalah Swandaru. Agung Sedayu pun mempunyai perasaan yang serupa. Ia mengharap di dalam hatinya agar Swandaru dapat sedikit mengendalikan dirinya.

Namun ternyata Swandaru bersikap acuh tak acuh. Ia berjalan saja tanpa berpaling.

Ketika mereka bertiga melewati anak-anak muda itu, dan beberapa langkah membelakangi mereka, terdengar seolah-olah meledak, suara tertawa mereka tergelak-gelak. Terdengar di antara suara tertawa itu salah seorang berkata, “Apakah mereka anak-anak Temu Agal, atau anak Kepuh?”

“Kami belum pernah melihatnya,” sahut yang lain, “tetapi aku menjadi kasihan melihat sikap mereka, seperti tikus masuk ke dalam sarang kucing.”

Swandaru dan Agung Sedayu masih juga mencemaskan sikap Swandaru. Anak muda itu agak mudah tersinggung. Tetapi ketika mereka berdua berpaling, memandangi wajah Swandaru mereka melihat anak yang gemuk itu tersenyum, katanya perlahan-lahan, “Aku senang melihat sikap anak-anak itu.”

“Apa yang kau senangi?” bertanya Agung Sedayu perlahan-lahan pula.

“Seperti sebuah pertunjukan lelucon. Seperti raksasa-raksasa di dalam hutan melihat Raden Arjuna lewat.”

“He, kau sangka kau seperti Raden Arjuna,” potong Sutawijaya.

“Ya, aku seperti Raden Arjuna bersama-sama dengan punakawannya.”

“Huh,” Agung Sedayu menyahut. “Kaulah yang pantas menjadi Semar.”

Ketiganya tertawa. Tetapi mereka cukup mengerti, bahwa mereka harus menahan suara tertawanya supaya tidak menyinggung perasaan anak-anak muda yang masih belum terlampau jauh.

Namun dengan demikian, mereka mendapat sekedar gambaran tentang anak-anak muda yang dikatakan oleh Astra. Selain kedua putra-putranya sendiri, Supa dan Bawa, maka anak-anak yang berada di tepi jalan itu adalah contoh yang cukup baik.

“Pantaslah apabila sering terjadi perkelahian di sini,” desis Sutawijaya. “Apabila gerombolan itu bertemu dengan gerombolan yang lain, maka kemungkinan timbulnya bentrokan pasti mudah sekali.”

“Tetapi,” potong Swandaru, “apabila kekuatan mereka seimbang, maka mereka pasti ragu-ragu untuk mulai.”

Sutawijaya tersenyum. “Ya,” jawabnya.

Ketika kemudian mereka berpaling, maka anak-anak muda itu telah jauh berada di belakang mereka. Namun satu-satu mereka masih juga bertemu dengan anak-anak muda yang lain, yang agaknya sedang berjalan ke gardu itu berkumpul dengan teman-temannya.

Lepas dari desa itu mereka sampai di sebuah bulak yang pendek. Di seberang bulak itulah terletak induk Kademangan Prambanan.

Ketika mereka sampai di sebuah simpangan di tengah-tengah bulak itu, kembali mereka melihat segerombolan anak-anak muda dari arah yang lain. Anak muda yang bertingkah laku mirip dengan anak-anak yang bergerombol di samping gardu yang telah mereka lampaui.

Tetapi anak-anak muda ini bersikap acuh tak acuh saja terhadap Sutawijaya dan kedua kawan-kawannya, seperti mereka tidak melihatnya.

Beberapa langkah kemudian terdengar Swandaru berbisik, “Sikap mereka terhadap kita agak berbeda.”

“Bukan karena mereka menghormati kita,” sahut Agung Sedayu, “tetapi justru mereka menganggap kita tidak berarti apa-apa bagi mereka.”

Semakin dekat dengan induk Kademangan Prambanan, jalan-jalan menjadi bertambah ramai. Anak-anak muda berjalan bersimpang-siur dalam tingkah laku yang aneh-aneh. Namun ada pula di antara mereka yang bersikap lain. Bersikap wajar, meskipun mereka juga berada dalam gerombolan tersendiri.

“Adalah tidak bijaksana, dalam keadaan seperti ini diadakan keramaian di kademangan ini,” gumam Sutawijaya.

“Ya. Terlalu berat akibat yang dapat terjadi,” sahut Agung Sedayu.

“Mungkin karena mereka menerima beberapa tamu,” desis Swandaru.

Mereka pun kemudian terdiam. Di kejauhan mereka melihat dari celah-celah dedaunan, sinar obor yang terang-benderang seperti siang.

“Itulah banjar desa,” berkata Agung Sedayu. “Ternyata tidak terlalu dalam masuk ke induk kademangan.”

Kedua kawan-kawannya tidak menjawab. Tetapi mereka memperhatikan pula sinar obor yang bertebaran di sebuah halaman yang cukup luas, sebuah lapangan rumput di muka Banjar Desa Prambanan.

Di halaman itu telah banyak berkumpul anak-anak muda dan orang-orang di sekitar banjar desa itu. Bukan saja anak-anak muda, tetapi orang-orang yang setengah baya pun banyak juga yang duduk-duduk di tepi lapangan kecil itu. Bahkan orang berjualan pun banyak bertebaran di sana-sini.

Agung Sedayu dan Swandaru melihat suasana banjar desa itu dengan perasaan yang aneh. Selain di sana-sini dilihatnya beberapa anak-anak muda dengan tingkah laku yang tidak wajar, maka keramaian itu sendiri telah membuat suasana yang berlawanan di dalam dada mereka.

Apa yang selama ini mereka lihat adalah Banjar Desa Sangkal Putung yang selalu ramai pula. Tetapi banjar desa itu diramaikan oleh prajurit-prajurit yang memandi senjata, beserta anak-anak muda Sangkal Putung yang selalu bersiaga menghadapi bahaya. Sedang kali ini, ia melihat suasana sebuah banjar desa yang jauh dengan Banjar Desa Sangkal Putung.

Sutawijaya dan kawan-kawannya kemudian memilih tempat yang agak terlindung oleh bayangan tetumbuhan. Kemudian duduk sambil melihat-lihat berbagai macam sikap dan tingkah laku anak-anak muda di sana-sini.

Di pendapa mereka melihat sederet gamelan dan tikar yang dibentangkan di sisi yang lain, bertentangan dengan letak gamelan. Di situlah nanti para tamu dan orang-orang penting dari Prambanan akan duduk menikmati pertunjukan.

Sutawijaya yang sering melihat keramaian di tempat-tempat yang lebih besar, sama sekali tidak tertarik pada pertunjukan yang akan dihidangkan. Apalagi apabila kemudian akan dilakukan pula tarian tayub yang dapat menjadikan suasana menjadi panas. Tetapi yang menarik perhatiannya adalah keadaan dan suasana pada saat itu. Hampir tidak sabar ia menunggu para tamu, para pemimpin kademangan dan mungkin juga para pemimpin prajurit Pajang yang berada di Prambanan, meskipun hanya satu atau dua orang.

Sejenak kemudian, gamelan telah mulai dibunyikan. Beberapa orang yang berdiri bertebaran mulai merayap maju mendekati pendapa banjar desa.

Sutawijaya dan kedua kawannya belum berkisar dari tempatnya. Mereka masih duduk-duduk sambil melepaskan lelah setelah mereka berjalan hampir sehari penuh melampaui hutan, gerumbul-gerumbul liar dan semak-semak ilalang.

Baru ketika beberapa orang keluar dari pinggiran banjar desa, Sutawijaya mengangkat wajahnya. Katanya berlahan-lahan, “Itulah mereka.”

Tetapi mereka tidak dapat melihat wajah-wajah orang-orang yang keluar dari pringgitan dan duduk di atas tikar pandan yang telah terbentang di pendapa. Tetapi menilik pakaian mereka, segera Sutawijaya dapat mengenal, bahwa di antara mereka ada dua orang prajurit Pajang.

“Itulah mereka,” desisnya. “Dua orang itu pasti prajurit Pajang.”

“Ya,” sahut Agung Sedayu dan Swandaru hampir bersamaan. Pakaian itu mirip dengan pakaian Untara dan Widura apabila mereka mengenakan pakaian resmi mereka. Pakaian kebesaran mereka sebagai Prajurit Wira Tamtama Pajang.

“Mari kita mendekat. Aku ingin melihat wajahnya. Mungkin aku mengenalnya,” ajak Sutawijaya.

Mereka pun kemudian berdiri. Perlahan-lahan mereka maju di antara para penonton yang lain. Mereka selalu berhati-hati supaya tidak menyinggung perasaan anak-anak muda yang bertingkah laku kurang pada tempatnya itu.

Ketika mereka menjadi semakin dekat berdiri di sisi pendapa, maka segera dapat melihat siapa yang duduk di atas tikar di pendapa itu. Selain dua orang prajurit itu, masih ada beberapa orang yang tampaknya mendapat kehormatan di antara mereka. Mereka adalah tiga orang anak-anak muda, meskipun agak lebih tua sedikit dari Sutawijaya dan kedua kawan-kawannya.

Segera mereka dapat menebak, bahwa ketiga anak-anak muda itulah yang dimaksud oleh Astra, tamu dari Bukit Menoreh. Utusan pribadi Kepala Daerah Perdikan Menoreh.

Di belakang para tamu itu duduk beberapa orang pemimpin Kademangan Prambanan, di antaranya beberapa orang anak-anak muda yang berpakaian rapi dan baik.

Sutawijaya ingin mendapat beberapa penjelasan tentang orang-orang itu, tetapi tak ada orang tempat bertanya. Ia tidak dapat bertanya kepada siapa orang yang ada di sekitarnya, sebab dengan demikian akan menimbulkan kecurigaan dan mungkin hal-hal yang tidak dikehendakinya. Karena itu, maka Sutawijaya itu pun untuk sejenak berdiam diri sambil mencoba mengamati wajah-wajah mereka lebih seksama.

Kemudian digamitnya kedua kawannya sambil berbisik, “Aku telah mengenal kedua prajurit itu. Mereka adalah Lurah Wira Tamtama. Tetapi mereka bukan orang yang cukup penting, mungkin karena keadaan Prambanan telah cukup baik, sehingga orang-orang itulah yang ditinggalkannya di sini.”

Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan pula Agung Sedayu berkata, “Keadaan Prambanan saat ini justru sangat berbahaya. Bukan karena sisa-sisa laskar Tohpati, tetapi karena keadaan kademangan ini sendiri.”

“Kau benar, tetapi aku kira, pimpinan pemerintahan di Pajang belum mendengar persoalan ini. Banyak persoalan yang tidak segera diketahui oleh atasan atau bawahan, sesuai dengan salurannya. Coba, apa katamu tentang orang-orang Menoreh itu? Apakah menurut dugaanmu mereka telah mendengar keadaan Sidanti?”

Agung Sedayu menggelengkan kepalanya, “Aku kira belum,” jawabnya. “Apabila sudah, ia tidak akan duduk begitu rapat dan ramah dengan kedua prajurit Pajang itu.”

“Kau benar,” sahut Sutawijaya. “Ternyata para prajurit Pajang itu pun pasti belum mendengar pula. Sebab menilik sikap mereka, maka mereka pun sangat rapat dan ramah pula menanggapi tamu-tamu dari Menoreh itu.”

Mereka bertiga pun kemudian mengangguk-anggukkan kepala mereka. Sesaat kemudian mereka pun berpaling ketika mereka mendengar seseorang menyapa beberapa orang kawannya yang berdiri di belakang Sutawijaya. “Mari Kakang, kawan-kawan ada di sebelah gerbang.”

Kawan-kawannya yang berdiri di belakang Sutawijaya berpaling. Di samping mereka berdiri seorang pemuda bertubuh tinggi kekar. Berkumis melintang dan berjambang panjang.

Sutawijaya dan kawan-kawannya melihat perbedaan sikap di antara mereka. Anak-anak muda yang mengajak anak-anak yang berdiri di belakang mereka yang bertubuh tinggi kekar itu, agaknya adalah anak-anak muda yang sedang dijangkiti penyakit aneh-aneh, sedang mereka yang disapanya tampaknya agak lebih tenang dan dewasa.

Sementara itu Sutawijaya mendengar anak-anak muda yang berdiri di belakangnya menjawab, “Kami di sini saja. Kami akan menonton pertunjukan di pendapa.”

Anak muda yang menyapanya tertawa, “Kami pun akan menonton, Kakang.”

“Baik, silahkan.”

Anak muda yang pertama tertawa terbahak-bahak sehingga beberapa orang berpaling kepadanya, tetapi anak muda itu sama sekali tidak memperdulikannya.

“Kalian adalah anak-anak malaikat,” katanya sambil tertawa.

Anak-anak muda yang sejak semula berdiri di belakang Sutawijaya tidak menjawab. Kini perhatian mereka telah mereka arahkan kembali ke pendapa banjar desa.

“Kami akan mendapat kesempatan bertemu dengan tamu-tamu dari Menoreh, Kakang,” berkata anak muda berkumis melintang dan berjambang panjang itu.

“Silahkan. Silahkan,” sahut yang berdiri yang berdiri di belakang Sutawijaya..

Kembali anak muda itu tertawa. Kemudian katanya, “Kami telah berusaha untuk menyenangkan hati tamu-tamu kita. Aku telah menghubungi beberapa orang gadis yang akan menemani kita nanti menemui tamu-tamu kita. Dan gadis-gadis itu pun menjadi bergembira pula.”

Sutawijaya melihat beberapa orang pemuda itu terkejut. Tetapi sesaat kemudian salah seorang dari mereka menjawab, “Silahkan, Adi.”

“Kakang tidak ikut bergembira bersama kami? Anak-anak muda dari Sembojan kali ini mendapat kesempatan terbaik dibanding dengan anak-anak muda dari pedesaan yang lain, di samping anak-anak induk kademangan ini sendiri.”

“Bagus, tetapi kami tidak ikut dengan kalian.”

Kembali anak muda itu tertawa terbahak-bahak. Kembali beberapa orang berpaling memandangnya. Tetapi anak muda itu sama sekali tidak mempedulikannya. Bahkan ketika ia melangkah pergi pun suara tertawanya masih terdengar mengumandang.

Ketika anak muda itu telah pergi, maka Sutawijaya mendengar anak-anak yang berdiri di belakangnya bergumam, “Anak itu sangat menyedihkan tetua padesaan kami.”

“Memalukan dan pasti akan menimbulkan persoalan dengan anak-anak muda dari padesan yang lain.”

Belum lagi mereka berhenti berbicara, maka mereka telah melihat dua orang pemuda yang lain dengan tingkah laku yang memuakkan menyuruk di antara penonton. Salah seorang dari mereka berkata, “Di mana?”

“Aku mendengar suara tertawanya. Di sini.”

“Siapa?”

“Anak Sembojan.”

“Anak itu pasti benar. Anak yang tinggi berkumis melintang. Hem. Kalau anak itu belum dihajar, ia pasti masih saja merasa pahlawan di antara kawan-kawannya. Anak-anak Sembojan harus menyadari bahwa anak-anak Telaga Kembar mampu mengatasi mereka.”

Sutawijaya dan kawan-kawannya menjadi berdebar-debar. Mereka tahu betul, bahwa di belakangnya masih berdiri anak-anak Sembojan yang menolak diajak oleh anak muda yang tinggi kekar itu. Kalau anak-anak itu menjadi marah mendengar tantangan itu, maka akibatnya memang tidak baik. Tetapi ternyata anak-anak muda di belakang Sutawijaya itu seakan-akan tidak mendengar kata-kata yang diucapkan oleh anak-anak muda Telaga Kembar itu.

Ketika anak-anak muda itu pergi, Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Tidak mereka sengaja mereka bertiga bersama-sama berdesah.

“Lucu,” bisik Sutawijaya. “Apakah Sembojan dan Telaga Kembar itu keduanya termasuk Kademangan Prambanan? Kalau demikian, Prambanan memang sedang mengalami bencana. Lalu apakah kerja prajurit-prajurit Pajang itu di sini ?

Agung Sedayu dan Swandaru tidak menyahut. Pertanyaan itu berputar pula di dalam kepalanya. Alangkah jauh bedanya dengan anak-anak muda Sangkal Putung. Dari ujung Kademangan yang satu sampai ujung kademangan yang lain, semuanya dapat dikendalikannya dalam satu perjuangan menahan arus laskar Tohpati.

“Tetapi,” berkata Swandaru di dalam hatinya, “Apabila bahaya itu telah berlalu, apakah anak-anak muda Sangkal Putung akan mengalami nasib seperti Prambanan?”

“Beruntunglah aku melihat kejadian ini,” gumamnya pula dalam hatinya. “Aku mendapat pelajaran yang sangat berharga sehingga aku akan dapat memperhitungkannya kelak. Mudah-mudahan aku akan dapat mencegahnya keadaan serupa ini.”

Dalam pada tiu terdengar Agung Sedayu berkata perlahan-lahan, “Tetapi di antara mereka masih ada juga yang menyadari keadaan. Anak-anak muda di belakang kita itu agaknya bersikap lain dengan kawan-kawannya.”

Sutawijaya dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Terdengar Sutawijaya berkata, “Kita menunggu kesempatan. Aku ingin bertanya beberapa hal kepada mereka.”

“Tetapi hati-hatilah,” sahut Swandaru.

“Tentu. Jangan-jangan kita disangkanya anak-anak muda dari kademangan lain yang akan mengganggu mereka pula.”

Ketiganya kemudian terdiam. Suara gamelan di pendapa telah mulai memenuhi udara. Di atas tikar pandan, merekam melihat para tamu bergurau dan bergembira.

Sutawijaya dan kedua kawannya masih tetap berdiri di tempatnya. Sekali-kali mereka berpaling dan anak-anak muda Sembojan itu pun masih juga berdiri tenang-tenang.

Sedikit demi sedikit Sutawijaya dan kawan-kawannya kemudian beringsut surut mendekati anak-anak Sembojan itu tanpa menimbulkan perhatian sama sekali. Ketika mereka sudah berdiri di samping anak-anak Sembojan maka kembali mereka berdiam diri. Tetapi meskipun mereka memandangi orang-orang yang berada di atas pendapa, para tamu, prajurit-prajurit Pajang, para pemimpin kademangan, dan para penabuh gamelan, namun perhatian mereka sama sekali tidak tertuju ke sana.

Sejenak kemudian pertunjukan pun dimulai. Sebuah tarian tunggal, petikan dari cerita Panji dan Kirana pada masa kerajaan-kerajaan Jenggala.

Terdengar para penonton bersorak. Tetapi suara mereka tenggelam dalam suara hiruk-pikuk anak-anak muda yang berteriak tidak menentu.

Sutawijaya dan kedua kawannya heran mendengar suara hiruk-pikuk itu. Namun suara itu pun kemudian mereda dan akhirnya lenyap pula. Yang terdengar kemudian adalah suara gamelan yang memenuhi halaman.

“Kenapa mereka berteriak-teriak?” berbisik Sutawijaya tanpa sesadarnya.

“Entahlah,” sahut Agung Sedayu dan Swandaru hampir bersamaan.

Mereka kemudian terdiam ketika mereka meyadari bahwa pemuda-pemuda Sembojan yang berdiri di samping mereka itu memperhatikannya. Bahkan terdengar salah seorang dari mereka berkata, “Apakah kalian heran mendengar hiruk-pikuk itu?”

Ketiga anak muda itu terdiam sesaat. Mereka menjadi ragu untuk menjawab. Namun karena mereka tidak segera menjawab terdengar kembali pertanyaan itu, “Apakah kalian heran?”

Agung Sedayu dan Swandaru tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Mereka mengharap Sutawijaya yang mereka anggap tertua di antara mereka untuk menjawabnya.

Sutawijaya pun sebenarnya masih dicengkam oleh keragu-raguan. Tetapi ia tidak dapat berdiam diri saja. Sehingga akhirnya terpaksa ia menjawab, “Ya, Kisanak. Aku menjadi heran mendengar suara-suara itu.”

Anak Sembojan itu tidak segera menyahut. Bahkan salah seorang dari mereka melangkah mendekat sambil mengamat-amati wajah Sutawijaya. Ia bertanya, “Dari manakah kalian?”

Agaknya anak muda dari Sembojan itu agak disilaukan oleh sinar obor yang memancar dari pendapa, sedang Sutawijaya agak terlindung oleh bayangan orang-orang yang berdiri di mukanya.

Kembali Sutawijaya menjadi ragu-ragu. Tetapi kembali ia terdesak dalam suatu keadaan, bahwa ia harus menjawab pertanyaan itu. Maka katanya, “Kami datang dari Sangkal Putung.”

“Sangkal Putung,” anak muda itu mengulangi, “Aku pernah mendengar nama padesan itu. Apakah Sangkal Putung juga sebuah kademangan?”

“Ya,” jawab Sutawijaya. “Sangkal Putung adalah sebuah kademangan di seberang hutan di sebelah Timur Prambanan.”

“Oh. Kalian datang dari jauh. Di manakah kalian bermalam di sini?”

“Di rumah Paman Astra,” Sahut Sutawijaya.

“Oh,” Anak-anak Sembojan itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Maksudmu Astra yang mempunyai dua orang putra bernama Supa dan Bawa?”

“Ya,” jawab Sutawijaya pula.

Anak-anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Salah seorang dari mereka bertanya kembali, “Kenapa kalian tidak pergi bersama Supa dan Bawa?”

Pertanyaan itu memang sulit untuk dijawab. Karena itu kembali Sutawijaya menjadi ragu-ragu.

“Bukankah Supa dan Bawa hadir juga di halaman ini?”

“Ya,” sahut Sutawijaya. “Tetapi kami tidak dapat datang bersama mereka.”

Anak-anak muda Sembojan itu mengerutkan keningnya. Tetapi mereka tidak bertanya lagi. Kini mereka mencoba mengikuti setiap gerak penari di pendapa banjar desa. Tetapi kemudian Sutawijaya-lah yang bertanya, “Kisanak, apakah pertunjukan semacam ini sering dilakukan di Prambanan?”

Salah seorang dari anak-anak Sembojan itu menjawab, “Tidak terlalu sering. Tetapi sekali-kali diadakan juga. Kali ini kademangan kami mendapat tamu dari Bukit Menoreh, yang seterusnya akan pergi ke Lereng Gunung Merapi, menemui putera Kepala Daerah Perdikan Menoreh yang berguru pada seorang guru yang sakti tiada taranya, yang bernama Sidanti.”

“Apakah keramaian ini diselenggarakan untuk menghormatinya?”

“Ya, sebagian.”

“Orang-orang kami sendiri memang senang sekali mengadakan keramaian.”

Sutawijaya terdiam sejenak. Keinginannya untuk mengetahui beberapa hal mengenai Kademangan ini semakin mendesaknya. Tetapi ia masih mencoba untuk menahan diri menunggu kesempatan yang sebaik-baiknya.

Pertunjukan itu pun berjalan terus. Penari di atas pendapa banjar desa masih menari dengan baiknya. Menarikan tari tunggal.

Dalam pada itu terdengar Sutawijaya bertanya kepada anak muda Sembojan yang berdiri di sampingnya, “Apakah keramaian semacam ini tidak menimbulkan kecemasan pada para pemimpin kademangan ini?”

Anak muda Sembojan itu berpaling. Kini anak muda itulah yang menjadi ragu-ragu untuk menjawab. Tetapi ketika beberapa saat ia masih berdiam diri, terdengar seorang yang agak lebih tua dari padanya berkata, “Apakah kau menjadi cemas? Apakah yang kau cemaskan?”

Sutawijaya heran mendengar pertanyaan itu. Ia yakin bahwa anak-anak muda Sembojan itu tahu benar yang dimaksudkannya. Tetapi mereka masih bertanya, apakah yang dicemaskan. Namun akhirnya terasa oleh Sutawijaya, bahwa pertanyaan itu adalah sekedar pelepasan perasaan yang menekan anak-anak muda Sembojan itu. Maka jawab Sutawijaya, “Banyak yang dapat aku cemaskan Kisanak. Terutama anak-anak muda yang berada di halaman ini.”

Anak-anak muda Sembojan itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Agaknya mereka tertarik benar kepada Sutawijaya dan kedua kawannya sehingga salah seorang dari mereka bertanya, “Siapakah nama-nama kalian?”

“Namaku Sutajia,” jawab Sutawijaya. “Kedua ini adalah adik sepupuku. Yang ini Agung Sedayu dan yang gemuk bernama Swandaru.

Anak-anak Sembojan itu menganguk-anggukkan kepalanya. Mereka tertegun ketika mendengar Sutawijaya bertanya, “Dan siapakah nama-nama kalian?”

Anak muda yang nampaknya tertua di antara mereka menjawab, “Namaku Haspada.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Ia tidak menanyakan nama anak-anak muda yang lain. Satu di antara mereka telah cukup baginya, meskipun mungkin ia masih memerlukan nama yang lain.

“Apakah kakang Haspada berasal dari Sembojan?” bertanya Sutawijaya kemudian.

Anak muda yang bernama Haspada itu memandangnya sejenak, kemudian dijawabnya, “Ya, kenapa?”

“Bukankah anak muda yang mengajak Kakang tadi juga berasal dari Sembojan?”

Haspada mengerutkan keningnya. Katanya, “Ya, ya. Anak muda yang tinggi berkumis?”

“Ya.”

“Ya. Ia anak Sembojan pula. Namanya Bunar. Kenapa?”

“Kenapa Kakang tidak ikut bersama kawan-kawan anak-anak Sembojan yang lain?”

Haspada mengerutkan keningnya pula. Ditatapnya wajah Sutawijaya lebih tajam lagi. Kemudian dijawabnya, “Kau mendengar percakapan kami?”

“Ya, kami mendengar percakapan kalian. Kami juga mendengar percakapan anak-anak Telaga Kembar.”

“Pantas kalian menjadi cemas. Memang kami pun menjadi cemas seperti kalian. Sebenarnyalah setiap kali ada keramaian maka setiap kali kami menjadi cemas.”

“Kenapa keramaian ini diadakan juga?”

“Keramaian adalah kegemaran anak-anak muda dan orang-orang tua di kademangan ini meskipun bagi kami sangat mencemaskan. Tetapi mereka menganggap bahwa keramaian semacam ini akan memberi gairah kerja kepada mereka. Keramaian ini dapat memberikan kegembiraan dan pertanda bahwa kademangan kami adalah kademangan yang hidup.”

“Hidup dalam kecemasan adalah tidak menyenangkan,” sahut Sutawijaya.

“Memang demikian buat sebagian orang. Tetapi sebagian orang yang lain menyenangi cara hidup yang demikian itu.”

“Aku kira Kakang tidak senang dengan cara itu?”

Haspada terkejut. Dengan serta-merta ia bertanya, “Kenapa? Kenapa kau tahu aku tidak menyenanginya?”

“Kakang tidak berada di antara mereka. Di antara anak-anak muda semacam Bunar.”

Haspada mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mulai tertarik pada anak muda Sangkal Putung itu. Meskipun kedua kawan-kawannya yang lain tidak ikut dalam pembicaraan itu, namun wajah-wajah mereka menunjukkan, bahwa hati mereka tersentuh oleh kata-katanya.

Tiba-tiba mereka terkejut ketika mendengar suara riuh di antara para penonton. Kembali terdengar anak-anak muda berteriak-teriak tak menentu. Ketika mereka mengangkat wajah-wajah mereka, maka penari di pendapa banjar desa telah tidak lagi menari. Penari itu sedang mengangguk-anggukkan kepalanya kepada para tamu. Sejenak kemudian penari itu pun meninggalkan pendapa masuk ke dalam.

Suara yang gemuruh terdengar dari segenap sudut halaman. Suara itu sama sekali bukan bernada kekaguman atau kebanggaan atas penari yang baru saja menari. Tetapi suara itu asal saja melontar berebut keras. Bahkan kadang-kadang terdengar ucapan-ucapan yang kurang menyenangkan dari antara mereka.

Demikianlah kemudian berlangsung pertunjukkan demi pertunjukkan. Dan demikian pula suara sorak gemuruh yang menyertainya sahut-menyahut, semakin lama semakin memekakkan telinga, dan bahkan semakin lama semakin menggelitik perasaan. Dan malam pun semakin lama semakin dalam.

“Bukan main,” gumam Sutawijaya. “Aku tidak tahu, apakah yang sebenarnya terjadi di halaman ini.”

“Aku menjadi ngeri,” sahut Agung Sedayu, “seperti berdiri di tengah-tengah sungai yang sebentar lagi akan banjir.”

Swandaru tersenyum. Katanya, “Kenapa kau tidak menepi?”

Kedua kawannya pun tersenyum pula. Sutawijaya-lah yang menjawab, “Di arus air banjir kita akan banyak mendapat ikan. Bukankah begitu?”

Keduanya terdiam ketika Haspada bertanya, “Apakah kalian senang melihat suasana ini?”

“Lucu sekali,” sahut Sutawijaya, “aku tidak pernah menjumpai suasana ini di Sangkal Putung.”

“Aku anak Sembojan sejak lahir pun merasakan keganjilan itu. Apalagi kalian. Mudah-mudahan suasana ini tidak meningkat. Tetapi adalah kesalahan orang-orang tua juga apabila mereka nanti menutup acara dengan tayuban. Suasana segera akan meningkat menjadi panas. Dalam keadaan yang demikian itu akan dapat banyak terjadi hal-hal yang lebih ganjil lagi. Mudah-mudahan orang-orang tua menyadarinya, sehingga mereka tidak menyelenggarakan tayuban. Tetapi harapan itu sangat tipis. Orang-orang tua kita sebagian telah mabuk pula.” Suara anak muda itu terputus ketika tiba-tiba suara gamelan seolah-olah memekik tinggi dan meluncurlah irama yang mulai menjadi hangat.

Tanpa disengaja Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru serentak berpaling ke arah Haspada, yang wajahnya tiba-tiba berkerut-merut.

“Gila,” geramnya, “kalau anak-anak muda di Prambanan ini menjadi liar, sebagian adalah kesalahan orang-orang tua pula.”

“Apakah yang akan datang?” bertanya Agung Sedayu. “Irama terlampau panas.”

“Tayub. Tayub. Kalian akan melihat beberapa orang perempuan penari naik ke atas pendapa itu. Mereka akan menari semakin lama semakin panas. Satu-persatu para tamu akan berdiri dan ikut menari. Tetapi apabila mereka telah dicengkam oleh mabuk tuak, maka mereka tidak akan sabar menunggu giliran mereka. Mereka akan berebut dahulu dan kadang-kadang mereka tidak lagi memperdulikan orang lain. Dengan demikian kalian akan melihat pertunjukan yang gila di atas pendapa itu. Sedang kegilaan yang serupa akan terjadi pula di halaman ini,” berkata Haspada dengan nada yang aneh, terasa getaran dadanya terlontar pada kata-katanya. Betapa muaknya ia melihat peristiwa itu.

“Lebih baik kalian meninggalkan halaman ini,” katanya kepada Sutawijaya dan kedua kawannya.

“Apakah kalian juga akan pergi?” bertanya Sutawijaya.

“Aku tidak sampai hati meninggalkan mereka dalam keadaan yang gila ini. Meskipun hatiku sakit, tetapi aku merasa wajib untuk tetap berada di sini. Mungkin aku dapat melihat sesuatu yang perlu dicegah. Aku tidak peduli seandainya anak-anak muda itu saling mencekik di antara mereka. Bahkan di antara mereka para tamu dan prajurit-prajurit Pajang itu. Tetapi aku ingin mencegah korban yang tidak pada tempatnya.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia mengajukan pertanyaan yang ditanyakan kepada Paman Astra tetapi belum mendapat jawaban, “Apakah prajurit-prajurit Pajang itu tidak akan berbuat sesuatu seandainya timbul hal-hal yang tidak diinginkan?”

“Jumlah mereka terlampau sedikit.”

“Berapa?”

“Tidak lebih dari sepuluh orang.”

“Jumlah itu sudah cukup,” tiba-tiba Sutawijaya memotong kata-kata Haspada sehingga anak Sembojan itu menjadi heran.

“Oh,” Sutawijaya menyadari dirinya, bahwa kini ia adalah anak Sangkal Putung, sehingga cepat-cepat ia memperbaiki kata-katanya .

“Maksudku, apakah sepuluh orang prajurit itu tidak mampu mencegah kerusuhan yang dapat terjadi?”

“Mereka tidak sempat melakukannya.”

“Kenapa?”

“Lihatlah,” berkata Haspada sambil menunjuk ke atas pendapa.

Dada Sutawijaya berdesir ketika ia melihat kedua orang prajurit yang duduk di pendapa mewakili kawan-kawannya itu dengan tertawa-tawa sedang menghirup tuak. Kemudian mengisi mangkuknya kembali dan sekali lagi mangkuk itu dikosongkannya.

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sudah dapat membayangkan, apakah yang sebenarnya terjadi di Kademangan ini. Ternyata beberapa orang prajurit Pajang yang ditinggalkan di daerah ini sama sekali tidak mampu melaksanakan tugasnya. Bahkan mereka telah terseret oleh arus yang melanda anak-anak muda di Kademangan Prambanan. Tuak, mabuk dan kemudian tayub.

Dan mereka tidak perlu menunggu terlampau lama. Sejenak kemudian maka para tamu, para pemimpin Kademangan Prambanan, dan para prajurit itu pun telah menjadi mabuk. Satu demi satu mereka berdiri dan menari-nari tanpa ujung pangkal. Sekali-sekali orang berikutnya tidak sabar lagi menunggu dan dengan serta-merta menarik sampur yang masih dipergunakan oleh orang lain. Sehingga akhirnya, mereka tidak lagi saling menunggu. Berebutan mereka berdiri dan berebutan mereka menari.

Alangkah memuakkan. Ternyata rombongan penari-penari itu pun telah biasa melayani keadaan serupa itu. Ketika para tamu tidak lagi dapat menunggu gilirannya menerima sampur, maka bermunculan beberapa orang penari naik ke pendapa itu pula. Penari-penari perempuan dengan solahnya masing-masing. Dan lagu yang mengiringinya pun menjadi semakin panas, semakin panas. Gendang yang memimpin irama gamelan menjadi semakin keras dan cepat, sehingga pendapa itu kini benar-benar telah menjadi hiruk-pikuk, tanpa dapat dikendalikan.

“Apakah kalian tidak meninggalkan halaman ini saja, Kisanak,” bertanya Haspada kepada Sutawijaya.

“Kenapa?”

“Kalian belum dikenal di sini. Mungkin hal-hal yang tidak menyenangkan dapat terjadi. Kami, meskipun tidak berada di dalam lingkungan anak-anak Sembojan, tetapi setiap anak muda, hampir telah mengenal, sehingga kemungkinan untuk diperlakukan kurang wajar adalah tipis sekali. Mereka tahu, siapakah Haspada selama Prambanan dalam bahaya karena orang-orang Jipang beberapa saat berselang. Dan mereka tidak melupakannya sampai kini.”

“Terima kasih atas peringatan itu,” sahut Sutawijaya. “Tetapi kami ingin melihat apa yang terjadi. Mungkin kami dapat bersembunyi di belakang kalian.”

“Selama aku dapat berbuat sesuatu, akan berbuat. Tetapi dalam keadaan yang ribut, mungkin aku tidak lagi sempat berbuat sesuatu.”

“Terima kasih. Tetapi maaf, kami ingin melihat keadaan ini sampai selesai. Mungkin kami dapat bersembunyi di dalam semak-semak di sebelah.”

“Bersembunyilah.”

Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru kemudian beringsut dari tempatnya. Tetapi mereka sama sekali tidak bersembunyi. Mereka hanya berlindung di tempat yang cukup gelap sambil melihat apa yang akan terjadi. Namun mereka menjadi heran ketika mereka sudah tidak melihat lagi orang-orang yang tadi berjualan memenuhi halaman. Agaknya mereka sudah terlalu biasa melihat keadaan serupa, sehingga mereka telah dapat memperhitungkan keadaan dengan baik.

Dari tempat mereka, Sutawijaya dan kawan-kawannya dapat melihat sebagian besar dari halaman dan pendapa banjar desa. Mereka dapat melihat orang-orang di pendapa menari-nari seperti mereka sudah tidak sadar lagi akan diri mereka, di antara para penari tayub. Dan ledek-ledek itu pun menari lebih hangat lagi meskipun malam menjadi semakin dingin.

“Hem,” gumam Sutawijaya, “inilah puncak dari keramaian yang hebat ini.”

Agung Sedayu dan Swandaru belum pernah melihat keramaian yang berakhir seperti ini. Sehingga sejenak mereka berdiri seolah-olah membeku.

“Apakah kalian menjadi heran?” bertanya Sutawijaya.

“Bukan main,” gumam Agung Sedayu. “Apakah orang-orang yang berada di pendapa itu tidak malu?”

“Kepada siapa mereka harus malu?” bertanya Sutawijaya.

“Kepada para penonton di halaman itu.”

“Para penonton yang mana ?”

Ketika Agung Sedayu dan Swandaru memperhatikan setiap orang di halaman itu, maka dadanya menjadi semakin berdebar-debar. Hampir tak seorang pun lagi memperhatikan orang-orang yang berada di pendapa itu. Irama yang panas dari suara gamelan di pendapa telah membawa para penonton di halaman menjadi panas pula. Mereka pun menari-nari di antara mereka, dan yang mendirikan bulu roma ketiga anak-anak muda dari Sangkal Putung itu adalah, bahwa di antara mereka yang berada di halaman terdapat gadis-gadis.

“Gila,” desis Swandaru. “Kalau gadis-gadis itu adik-adikku, aku cekik lehernya sampai mampus.”

“Aneh,” sahut Agung Sedayu.

Kemudian sejenak mereka terpesona oleh hiruk-pikuk yang aneh itu. Halaman banjar desa itu benar-benar seperti sebuah danau yang dilanda angin pusaran. Bergejolak tidak menentu.

Anak-anak muda di halaman itu pun mengalir ke segenap arah, berpapasan satu sama lain sambil menari-nari. Bergandeng-gandengan tangan dan dorong-mendorong.

Tiba-tiba Sutawijaya dan kedua kawannya terkejut ketika mereka mendengar suara yang kacau di sudut halaman. Kemudian terdengar teriakan tinggi.

“Apa itu?” desis Swandaru.

Ketiganya mengangkat wajah-wajah mereka. Tetapi mereka tidak melihat halaman itu menjadi rebut karena teriakan itu. Mereka yang sedang gila masih juga gila menari-nari. Dan agak di kegelapan Sutawijaya masih juga melihat Haspada berdiri saja di tempatnya bersama empat orang temannya.

Terdengar Sutawijaya berkata, “Mereka sama sekali tidak memperdulikannya,” bisik Sutawijaya.

“Agaknya perkelahian semacam itu sudah terlampau biasa dalam keadaan serupa ini. Sehingga bukan merupakan hal yang menarik perhatian lagi,” sahut Agung Sedayu.

Sutawijaya dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepala mereka. Sejenak kemudian maka perkelahian itu pun mereda dengan sendirinya.

Tetapi sejenak kemudian mereka dikejutkan oleh suara langkah orang berlari-lari. Sejenak kemudian mereka melihat beberapa anak-anak muda berlari lewat di hadapan mereka. Namun karena mereka amat tergesa-gesa sehingga mereka tidak memperhatikan ketiga anak-anak muda yang berlindung di dalam gelap itu. Namun dari mereka yang berlari-lari itu Sutawijaya dengan kawan-kawannya mendengar mereka berkata perlahan-lahan, “Hus, gila. Beberapa orang prajurit Pajang memihak mereka.”

“Ya. Kalau saja anak-anak Sembojan itu dibiarkan, maka mereka akan dapat kami tundukkan malam ini,” sahut yang lain.

Ketika anak-anak itu merasa bahwa tak seorang pun mengejar-ngejar mereka, maka mereka berhenti hanya beberapa langkah daripada ketiga anak-anak muda yang datang dari Sangkal Putung itu. Tetapi yang segera mereka lihat, bukanlah Sutawijaya dan kawan-kawannya namun yang pertama-tama menarik perhatian mereka adalah kelima anak-anak muda yang berdiri tidak jauh dari tempat itu.

“He, apakah mereka anak-anak Sembojan?” terdengar salah seorang dari mereka berdesis.

“Ya.”

“Kenapa tidak berada di dalam lingkungan kawan-kawannya?”

“Entahlah.”

“Mereka terlampau sombong. Marilah kita ambil kelima anak-anak itu.”

“Untuk apa?”

“Kita akan melepaskan kalau anak-anak Sembojan mengakui kemenangan kita.”

Terdengar beberapa orang dari mereka tertawa. Kemudian salah seorang berkata lagi. “Satu orang pergi kepada mereka. Pancing mereka kemari.”

“Sulit,” sahut yang lain. “Kita datang bersama-sama selagi kawan-kawan mereka berada di sisi yang lain dari pendapa ini.”

“Di sebelah itu adalah anak-anak dari induk kademangan.”

“Mereka tidak akan turut campur, kecuali kalau kita berbuat sesuatu atas anak induk kademangan.”

“Kalau mereka melibatkan diri, kita harus lari meninggalkan halaman ini. Di manakah sebagian kawan-kawan kita yang lain.”

“Di belakang banjar desa. Apabila perlu kita akan memberi mereka tanda.”

“Marilah,” terdengar keputusan jatuh. Sutawijaya dan kedua kawan-kawannya menjadi berdebar-debar. Apakah yang akan mereka lakukan atas Haspada dan keempat kawan-kawannya.

Dengan cemas Sutawijaya melihat anak-anak itu perlahan-lahan mendekati Haspada. Beberapa langkah daripadanya beberapa anak-anak muda itu berhenti.

Sutawijaya yang ingin melihat apa yang terjadi, segera beringsut mendekati, diikuti oleh Agung Sedayu dan Swandaru.

Haspada yang berdiri diam di tempatnya, hampir-hampir tidak menyangka sama sekali, bahwa anak-anak Tlaga Kembar sedang mendekatinya. Mereka masih berdiri memperhatikan orang-orang yang berada di pendapa banjar desa, yang kini telah menjadi seperti sebuah pertunjukkan liar. Bahkan satu dua orang telah tidak ada lagi di pendapa itu. Merayap-rayap ke tempat-tempat yang lain.

Haspada dan kawan-kawannya itu terkejut ketika tiba-tiba mereka melihat anak-anak Tlaga Kembar itu mengepungnya. Terdengar salah seorang anak muda Tlaga Kembar itu berkata, “Jangan ribut. Kalian ikut kami ke Tlaga Kembar.”

Kelima anak-anak muda Sembojan itu terdiam sejenak. Namun kemudian terdengar Haspada menjawab, “Apakah kepentinganmu dengan aku, Dadi?”

Anak muda Tlaga Kembar yang bernama Dadi tiba-tiba terkejut. Diamatinya wajah Haspada dengan seksama, lalu katanya, “Kau. Haspada?”

“Ya. Aku. Kenapa? Apakah kau sedang mencari anak-anak Sembojan?”

“Ya. Ya,” sahut Dadi tergagap.

“Aku juga anak Sembojan.”

“Tetapi bukan kau, Haspada.”

“Kenapa?”

“Kenapa kau berada di tempat ini?” bertanya Dadi, anak Tlaga Kembar itu.

“Pertanyaanmu aneh. Bukankah kau juga berada di tempat ini?”

Dadi menjadi bingung. Ketika ia memandang berkeliling, ia pun melihat kawan-kawannya menjadi bingung pula. Haspada-lah yang berkata, “Apa kepentinganmu dengan anak-anak Sembojan?”

Dadi tidak menjawab lain daripada mengatakan sebenarnya, “Kami berkelahi.”

“Bagus. Aku sudah menyangka bahwa kalian akan berkelahi. Apakah kalian dikalahkan? dan kalian akan mencari korban anak-anak Sembojan yang lain meskipun tidak ikut berkelahi?”

“Tidak Haspada, kami tidak akan berbuat apa-apa denganmu.”

“Kebetulan yang berdiri di sini adalah aku. Seandainya keempat kawan-kawanku ini tanpa aku?”

Dadi terdiam. Namun salah seorang yang lain menjawab terputus-putus, “Anak-anak Sembojan yang lain tidak jujur, Haspada.”

“Kenapa?”

“Mereka mencari bantuan pada prajurit-prajurit Pajang.”

“Aku tidak mau tahu. Uruslah perkara itu sendiri. Berkelahilah kalau kalian ingin berkelahi. Aku pun tidak akan memihak anak-anak Sembojan yang gila itu, seperti kalian telah menjadi gila pula. Coba katakan kepada kami, apa yang akan dilakukan oleh Trapsila atas kalian, apabila ia melihat anak-anak muda Tlaga Kembar berbuat serusuh itu. Trapsila pasti akan bersikap seperti aku menghadapi anak-anak Sembojan. Meskipun Trapsila adalah anak Tlaga Kembar, tetapi ia pasti akan muak melihat kalian berbuat seperti ini.”

Anak-anak Tlaga Kembar itu terdiam. Trapsila bagi mereka adalah anak muda yang disegani, seperti Haspada bagi anak-anak Sembojan. Bukan saja bagi anak-anak sedesanya, tetapi bagi anak-anak muda Prambanan pada umumnya. Namun jumlah anak-anak yang demikian itu sangat sedikit. Mereka adalah anak-anak muda yang berani, yang dengan gigih telah berjuang melawan orang-orang yang memihak Arya Penangsang, bersama beberapa orang prajurit Pajang. Tetapi yang kini seolah-olah mereka sama sekali tidak mendapat tempat lagi di Kademangan Prambanan. Prajurit-prajurit kawan-kawan mereka telah sebagian besar ditarik kembali ke Pajang. Yang tinggal adalah prajurit-prajurit yang ternyata dapat dimabukkan oleh tayub dan tuak.

Tiba-tiba anak-anak Tlaga Kembar itu menjadi gelisah ketika mereka mendengar suara rebut di halaman itu. Ketika mereka berpaling, mereka melihat beberapa anak-anak muda berjalan tergesa-gesa ke arah mereka. Anak-anak itu adalah anak-anak Sembojan.

“Mereka mengejar kita,” desis Dadi.

“Marilah kita lari,” ajak kawannya yang lain.

“Tinggallah di sini,” berkata Haspada.

“Kita harus berkelahi lagi. Mereka datang terlampau banyak, dan di antara mereka ada tiga empat orang prajurit Pajang.”

“Tinggallah di sini. Aku tidak senang apabila Trapsila mendapat kesan yang jelek atas anak-anak Sembojan, apalagi aku berada di tempat ini pula. Trapsila adalah sahabatku. Sembojan dan Tlaga Kembar adalah sama-sama wilayah Kademangan Prambanan.”

Anak-anak Tlaga Kembar itu tidak menyahut. Meskipun demikian mereka berkisar berdiri di belakang Haspada dan keempat kawan-kawannya.

Yang datang itu adalah benar-benar anak-anak Sembojan. Paling depan berdiri Bunar, anak muda yang tinggi kekar, berkumis melintang. Namun tiba-tiba ia berhenti ketika ia melihat Haspada berdiri di antara anak-anak Tlaga Kembar.

“Kakang, kau berada di antara mereka?” bertanya Bunar. “Atau mereka berusaha menangkap Kakang.”

“Kedua-duanya tidak benar,” sahut Haspada. “Aku menonton keramaian di halaman ini, mereka menonton pula.”

“Tetapi kami berkepentingan dengan mereka, Kakang,” berkata Bunar pula.

Haspada memandang Bunar dengan wajah yang tegang. Jawabnya, “Tinggalkan mereka Bunar. Jangan ada persoalan-persoalan yang gila di antara anak-anak muda. Kalian telah membuat ribut. Lihat ada beberapa kelompok pemuda di halaman ini. Mereka pun akan berbuat gila pula seperti kalian. Dan halaman ini akan kacau. Mungkin ada satu dua orang yang terluka. Yang luka itu akan menimbulkan dendam di antara kalian.”

“Tetapi mereka mendahului, Kakang.”

“Tinggalkan mereka. Berbuatlah gila sesama kalian, tetapi jangan berkelahi.”

Bunar terdiam. Ia tidak berani membantah lagi. Tetapi dari antara anak-anak Sembojan itu tampil seorang yang bertubuh raksasa dan berpakaian seorang prajurit. Ia adalah prajurit Pajang.

Haspada menjadi semakin tegang. Ia menyesal bahwa prajurit-prajurit itu telah berpihak, meskipun berpihak pada anak-anak muda sepadukuhan dengan dirinya sendiri.

“Haspada,” geram prajurit itu, “jangan banyak mulut. Biarlah kami menyelesaikan urusan kami dengan anak-anak Tlaga Kembar itu.”

“Apakah anak-anak Tlaga Kembar mempunyai urusan dengan kau, Paman?” bertanya Haspada.

Prajurit itu terdiam sejenak. Tetapi selangkah ia terhuyung ke samping.

“Gila,” desis Haspada di dalam hatinya “Prajurit itu telah menjadi mabuk. Matanya telah meredup dan bibirnya bergetaran. Sulitlah berbicara dengan orang mabuk.”

Namun kecuali prajurit yang mabuk itu, tampil seorang lagi yang lebih kecil. Orang itu sama sekali tidak mabuk karena tuak. Dengan tajamnya ia berkata, “Haspada, jangan kau banggakan perjuanganmu yang tidak berarti itu. Kau sama sekali belum seorang pahlawan. Karena itu, kau sebaiknya menyingkir saja sebelum kami kehilangan kesabaran. Bukankah kau berasal dari Sembojan pula? Kenapa justeru kau berpihak kepada anak-anak Tlaga Kembar?”

“Apakah aku berpihak?” Haspada menjawab. “Kalianlah yang berpihak. Apakah bagi Pajang Sembojan dan Tlaga Kembar itu mempunyai kedudukan yang berbeda? Bagiku tidak, Paman. Tidak. Aku berdiri di mana saja. Tlaga Kembar, Sembojan, Prambanan. Bahkan kademangan yang lain pun sama pula bagiku. Semuanya wilayah Pajang.”

Prajurit-prajurit Pajang itu menjadi semakin marah. Mereka tidak dapat mengingkari kata-kata Haspada, tetapi mereka juga tidak mau ditundukkan. Haspada hanyalah anak padukuhan Sembojan. Sedang mereka adalah prajurit-prajurit Pajang. Karena itu, maka prajurit yang kecil itu membentak, “Jangan banyak mulut! Aku tidak peduli siapakah Haspada.”

Wajah Haspada pun menjadi merah membara. Namun dadanya menjadi seolah-olah sesak. Ia mencoba mencegah perkelahian yang timbul di halaman itu, tetapi apakah ia sendiri harus berkelahi?

Dalam keragu-raguan itu terdengar prajurit itu berkata lagi, “Ayo. Pergilah Haspada!”

Belum lagi Haspada menjawab, dari antara para penonton itu telah timbul banyak perhatian, karena di antara mereka terlibat beberapa orang prajurit. Anak-anak muda berlari-larian mengerumuninya. Anak-anak muda induk Kademangan Prambanan pun telah berada di tempat itu pula. Salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah yang kalian persoalkan?”

Tak seorang pun yang menjawab. Anak Sembojan tidak dan anak-anak Tlaga Kembar pun tidak.

“Ya,” tiba-tiba Haspada seperti tersadar dari mimpinya, “apakah yang sebenarnya kalian persoalkan?”

Juga tak ada jawaban. Anak-anak Sembojan dan anak-anak Tlaga Kembar masih saja terbungkam. Bahkan prajurit-prajurit Pajang yang marah itu terdiam pula.

Tiba-tiba sekali lagi mereka digoncangkan oleh kedatangan dua orang yang belum mereka kenal sebaik-baiknya. Namun beberapa orang segera menyibak. Beberapa orang di antara mereka telah mengetahuinya, bahwa kedua orang itu adalah tamu-tamu dari Menoreh.

“Apa yang terjadi?” salah seorang bertanya.

Juga tak seorang pun menjawab.

“Aku tidak berkepentingan dengan keributan ini,” katanya pula “tetapi, manakah janjimu itu?” bertanya tamu itu kepada Bunar.

Wajah Bunar menjadi merah. Sejenak ia tidak menjawab seperti juga anak-anak muda yang lain terbungkam.

“Mana, he?”

“Itulah,” jawab Bunar kemudian, “kami belum dapat mengambilnya dari tangan anak-anak Tlaga Kembar.”

“He,” wajah tamu-tamu itu menjadi tegang. Sekali mereka berpaling ke pendapa. Dilihatnya seorang kawannya berdiri di tangga sambil mengawasi mereka.

“Maksudmu?” berkata salah seorang dari mereka itu pula.

“Anak-anak yang kami janjikan ternyata dibawa oleh anak-anak muda Tlaga Kembar.”

Kini wajah kedua tamu itu menjadi merah. Terdengar gigi mereka gemeretak dan berkata tajam. “Kalian tidak dapat menghormati tamu-tamu kalian. Apakah kalian sengaja membuat kami kecewa? Buat apa kalian membawa kami melihat anak-anak itu di rumahnya sore tadi. Ketika kami sudah menjadi mabuk oleh wajahnya, kalian sengaja menyembunyikannya.”

“Bukan maksud kami,” jawab Bunar. “Kami sedang berusaha untuk mengambilnya. Inilah mereka anak-anak Tlaga Kembar. Beberapa orang prajurit Pajang bersedia membantu kami.”

Mata tamu-tamu dari Bukit Menoreh itu kini seakan-akan menyala memandangi anak-anak Tlaga Kembar. Salah seorang dari mereka terdengar menggeram. “Hem. Ternyata kalian sengaja membuat onar ya.”

“Bukan hanya mereka,” Haspada-lah yang menjawab. “Anak-anak Sembojan itu pun sengaja membuat onar pula.”

Tamu dari Bukit Menoreh itu tertegun sejenak. Mereka menjadi heran melihat Haspada. Anak ini mempunyai perbawa yang agak berbeda dengan kawan-kawannya.

Tetapi Haspada itu pun terkejut ketika dari antara anak-anak muda yang berkerumun terdengar suara, “Biarkanlah, Kakang. Biarkanlah anak-anak Tlaga Kembar. Sekali-sekali mereka memang perlu mendapat sedikit pelajaran.”

Semua kepala berpaling ke arah suara itu. Dan mereka pun segera melihat seorang yang bertubuh agak kecil. Namun dari matanya memancar kebesaran hatinya.

“Adi Trapsila,” desis Haspada.

“Ya. Aku sudah melihat sejak semula apa yang terjadi,” katanya.

Terdengar suara bergeremang di antara anak-anak muda itu. Anak-anak Tlaga Kembar saling berbisik di antara mereka, dan anak-anak Sembojan menjadi cemas. Apabila Trapsila dan Haspada bersama-sama berada di pihak Tlaga Kembar, maka anak-anak induk kademangan pasti akan terpengaruh. Mereka semuanya telah mengenal siap Haspada dan siapa Trapsila.

“Tetapi, Adi, apakah kita akan membiarkan perkelahian ini terjadi?” bertanya Haspada kemudian.

Trapsila melangkah maju. Beberapa orang menyingkir, seakan-akan memberi jalan kepada anak muda Tlaga Kembar yang bernama Trapsila itu.

Trapsila itu pun kemudian berdiri di antara anak-anak muda yang berkerumun. Antara anak-anak muda Sembojan dan anak-anak muda Tlaga Kembar. Berhadap-hadapan dengan Haspada. Ketika ia berpaling dipandanginya prajurit Pajang yang bertubuh raksasa dan kawannya yang lebih kecil. Di belakang prajurit itu masih dilihatnya prajurit Pajang yang lain.

Tiba-tiba hiruk-pikuk si sekeliling tempat itu menjadi terdiam. Seolah-olah semuanya ingin mendengarkan Trapsila itu berkata seterusnya. Hanya hiruk-pikuk di atas pendapa masih juga berlangsung. Mereka sama sekali tidak memperdulikan apa yang terjadi di halaman, seakan-akan halaman itu sama sekali tidak mempunyai hubungan apapun dengan pendapa banjar desa. Persoalan di halaman adalah persoalan anak-anak muda atau orang-orang kecil di sekitar banjar desa. Para pemimpin itu sama sekali tidak mau mengotori tangannya dengan soal-soal yang remeh. Bagi mereka lebih baik meneruskan menikmati tayub yang semakin menggila daripada soal-soal yang bagi mereka sama sekali tidak berarti itu.

Bahkan mereka sudah tidak melihat lagi, bahwa tamu-tamu mereka dari Menoreh sudah tidak ada di antara mereka. Yang tinggal di pendapa itu hanya seorang saja yang sudah berdiri di tangga. Dan yang seorang itu pun hampir-hampir tidak sabar lagi menunggu kedua kawan-kawannya yang sedang mencari anak-anak Sembojan yang sudah terlanjur membuat janji dengan mereka.

Haspada pun berdiam diri. Kemudian anak muda Sembojan itu mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil bergumam, “Kau benar, Adi. Persoalan ini adalah persoalan yang memalukan.”

“Persetan!” desis tamu dari Menoreh. “Kalau kalian tidak akan turut campur menepilah. He, siapa anak-anak yang merasa dirinya seperti panglima bagi anak-anak Sembojan dan anak-anak Tlaga Kembar ini?” bertanya kedua tamu itu kemudian kepada prajurit Pajang yang bertubuh agak kecil.

Dan prajurit itu menjawab, “Namanya Haspada dan Trapsila.”

“Ya, aku sudah mendengar. Tetapi apakah kedudukannya?”

“Tidak ada kedudukan apapun yang dipangkunya.”

“Kenapa ia agaknya disegani?”

Prajurit itu terdiam. Ia tidak ingin mengatakan bahwa keduanya pernah berjuang dengan gigih melawan sisa-sisa laskar Arya Jipang bersama beberapa anak-anak muda Sembojan, Tlaga Kembar, anak-anak muda induk Kademangan Prambanan, dan beberapa lagi dari desa-desa yang lain, namun jumlahnya tidak lebih dari sepuluh orang. Kalau ada yang lain, maka mereka tidak segigih mereka itu.

Ternyata tamu-tamu dari Menoreh itu merasa tersinggung atas anggapan bahwa persoalan yang mereka hadapi adalah persoalan yang memalukan, sehingga dengan kasar mereka berkata, “Sekarang selesaikan persoalan ini. Kalau kedua anak-anak muda ini ingin mengenal kami, biarlah mereka sekali lagi mengatakan bahwa persoalan yang kami hadapi adalah persoalan yang memalukan.”

“Merekalah yang memalukan,” sahut prajurit yang bertubuh raksasa itu sambil berdiri terhuyung-huyung. “Mereka memang harus dihajar lebih dahulu sebelum anak-anak Tlaga Kembar yang lain.”

Haspada dan Trapsila memang tidak ingin terjadinya perselisihan, apalagi dalam soal yang mereka anggap memalukan. Karena itu, maka terdengar Trapsila berkata, “Selesaikanlah urusan kalian. Kami tidak akan turut campur.”

Anak-anak Tlaga Kembar yang mendengar kata-kata itu menjadi berdebar-debar. Mereka tidak akan dapat melawan anak-anak Sembojan yang dibantu oleh beberapa orang prajurit dan kini bertambah lagi dengan tamu-tamu dari Menoreh itu. Karena itu, maka mereka pun bersiap untuk menghilang di antara mereka yang sedang berkerumun. Mereka harus mencoba melarikan diri, supaya tubuh mereka tidak babak-belur, dan muka mereka tidak menjadi bengkak-bengkak.

Namun dalam keadaan yang demikian itu terdengar salah seorang anak muda dari induk kademangan berkata, “Tidak adil. Jangan ada prajurit yang ikut campur.”

“Setan!” desis prajurit yang bertubuh raksasa. “Siapa kau berani mencoba melawan prajurit Pajang.”

Anak muda itu tidak segera menjawab. Tetapi ia berpaling mencari seseorang. Dan dari antara mereka tampak seserang mendesak maju sambil berkata lantang, “Aku. Aku yang berani.”

“Siapa. Siapa, he?” prajurit yang kecil itu pun menjadi marah sekali. Tetapi kemudian matanya terbelalak ketika dari antara anak-anak muda induk kademangan itu muncul seseorang yang masih berteriak lantang, “Akulah orangnya.”

Series 18

PRAJURIT yang agak kecil dan bahkan semua orang terperanjat melihat orang itu. Orang itu pun ternyata prajurit Pajang pula.

“Kenapa kau?” bertanya prajurit yang bertubuh kecil.

“Kenapa kau berada di situ pula,” jawab prajurit yang ditanya.

Dan mereka pun terdiam. Namun kembali mereka terkejut ketika mereka tiba-tiba mendengar suara tertawa dari kegelapan.

Ternyata suara tertawa itu telah memecahkan ketegangan yang semakin memuncak. Ketika anak-anak muda Sembojan, Tlaga Kembar, dan anak-anak muda induk Kademangan Prambanan melihat, bahwa di kedua belah pihak berdiri beberapa orang prajurit Pajang, maka mereka pun menjadi berdebar-debar.

Dan kini seperti disentakkkan oleh sebuah tenaga, maka semua kepala berpaling ke arah suara tertawa itu. Namun suara tertawa itu sendiri segera terputus.

Yang terdengar kemudian adalah suara gamelan di pendapa banjar desa. Suara gamelan dalam irama yang semakin panas dan orang-orang tua pun menjadi semakin gila. Mereka telah melupakan ketuaan mereka. Namun orang-orang di halaman itu, tidak saja laki-laki, tetapi perempuan-perempuan, beranggapan bahwa orang-orang laki-laki yang jantan, harus berani turun ke gelanggang tayub. Bahkan ada di antara isteri-isteri mereka sendiri akan menjadi malu bahwa laki-lakinya, suaminya, tidak berani menggandeng seorang ledek. Dan perempuan-perempuan yang demikian, telah ikut membantu suaminya terjerumus ke dalam daerah yang semakin kelam. Tetapi dengan demikian, semakin gila seorang suami, maka kesempatan bagi perempuan-perempuanpun semakin menjadi semakin luas. Sebab suaminya semakin sering berada di luar rumah, meskipun ada juga di antara mereka, di antara isteri-isteri itu, yang hanya dapat menangis dan menekan dadanya apabila suaminya menjadi kambuh. Tuak dan beraneka perbuatan terkutuk. Tetapi dalam keadaan yang demikian, banyak pula perempuan yang tenggelam dalam daerah yang suram. Dan celakalah anak-anak mereka. Sebab orang-orang tua yang demikian tidak akan sempat memperdulikan anak-anaknya. Seperti anak-anak muda dari Sembojan dan Tlaga Kembar saat itu. Tak seorang pun yang berada di pendapa itu menaruh perhatian.

Suara tertawa di kegelapan itu benar-benar telah membakar hati para prajurit yang sedang marah, dan terutama kedua orang tamu dari Menoreh. Bahkan sejenak kemudian terdengar tamu yang seorang lagi. Agaknya pimpinan rombongan itu berkata dalam nada yang marah, “Mana orang itu, he?”

Anak-anak Sembojan mengerutkan keningnya. Kini mereka tidak dapat tertawa-tawa lagi, sebab ada beberapa orang prajurit pula yang berdiri di pihak Tlaga Kembar.

Tetapi kedua orang tamu dari Menoreh yang lain tidak segera menjawab pertanyaan itu, bahkan mereka berkata, “Aku mendengar seorang yang gila tertawa di kegelapan itu.”

“Ya,” sahut prajurit yang kecil.

Bahkan prajurit yang memihak anak-anak muda Tlaga Kembar pun menyahut, “Anak setan. Siapa dia?”

Prajurit-prajurit itu, baik yang berpihak kepada anak-anak muda Sembojan maupun Tlaga Kembar, tiba-tiba bersama-sama melangkah mendekati arah suara tertawa itu. Di belakang mereka, berjalan kedua tamu dari Menoreh, bahkan kawan-kawannya yang seorang lagi ikut pula di belakangnya. Anak-anak muda Sembojan dan anak-anak muda Tlaga Kembar pun beringsut dari tempat masing-masing. Kini anak-anak muda Tlaga Kembar tidak perlu berusaha melarikan dirinya. Agaknya ada pula beberapa orang prajurit yang memihak kepada mereka. Meskipun anak-anak muda Tlaga Kembar segera mengenal prajurit itu, prajurit yang sering datang kepada mereka dan mendapat bermacam-macam kesenangan dari anak-anak Tlaga Kembar itu. Namun selain daripada itu, agaknya anak-anak induk kademangan pun akan menilai mereka lebih baik dari anak-anak Sembojan. Dengan demikian setidak-tidaknya anak-anak muda induk kademangan akan dapat membesarkan hati mereka.

Haspada dan Trapsila pun melangkah pula ke arah suara tertawa di kegelapan. Terdengar kemudian Haspada berdesis, “Apakah mereka anak-anak muda dari Sangkal Putung itu?”

“Mungkin,” sahut salah seorang dari keempat kawannya.

“Kasihan, anak itu tidak tahu, apakah sebenarnya yang terjadi di halaman ini. Mereka melihat peristiwa yang memalukan ini seolah-olah melihat lelucon yang pantas ditertawakan, meskipun sebenarnya peristiwa ini memang mentertawakan.”

“Siapakah mereka?” bertanya Trapsila.

“Anak-anak Sangkal Putung.”

“Sangkal Putung?” ulang Trapsila.

“Ya. Kademangan lain,” jawab Haspada pendek.

Trapsila mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia menahan nafasnya ketika dilihatnya para prajurit Pajang itu menarik tiga orang anak-anak muda dari kegelapan. Dua orang di antaranya bertubuh sedang, sedang yang satunya bertubuh gemuk agak pendek.

“Merekalah itu,” desis Haspada. “Kasihan.” Namun Haspada tidak dapat berbuat apa-apa, seandainya ia tidak ingin bertengkar dengan para prajurit itu.

Terdengar di antara pekik gamelan yang menggila suara prajurit Pajang yang lantang, “Siapa kalian he?”

Prajurit itu menggenggam baju Sutawijaya sambil mengguncang-guncangnya. Sutawijaya sama sekali tidak melawan. Dijawabnya pertanyaan itu perlahan-lahan, “Namaku Sutajia, Tuan.”

Prajurit itu memandangi kedua kawan Sutawijaya, yang keduanya pun berada di tangan prajurit-prajurit Pajang yang lain.

“Siapakah kedua kawanmu itu, dan dari manakah kalian?”

“Kami datang dari Sangkal Putung, Tuan. Keduanya adalah adik-adik sepupu.”

Mendengar jawaban itu prajurit-prajurit Pajang itu mengerutkan keningnya. Mereka telah mendengar apa yang terjadi di Sangkal Putung. Dan mereka tahu siapakah yang berada di kademangan itu, meskipun perkembangan yang terakhir belum didengarnya.

“Apakah kalian tidak berbohong?” bertanya prajurit yang lain sambil mengguncang lengan Agung Sedayu.

“Tidak, Tuan,” jawab Agung Sedayu. “Sebenarnya kami datang dari Sangkal Putung.”

“Kalau benar kata kawan-kawanmu,” berkata prajurit yang lain lagi, yang menangkap Swandaru, “jawab pertanyaanku. Apakah di Sangkal Putung ada beberapa orang prajurit Pajang?”

“Tidak hanya beberapa, Tuan,” Sahut Swandaru, “tetapi segelar sepapan.”

Prajurit-prajurit itu mengerutkan keningnya. Memang di Sangkal Putung terdapat tidak hanya beberapa orang, tetapi lebih dari seperangkat prajurit, meskipun belum segelar sepapan dalam bentuk yang besar.

“Kalau benar-benar kau dari Sangkal Putung,” bertanya prajurit yang menangkap Sutawijaya sambil mengguncangnya, “katakan, siapa pemimpinnya?”

“Banyak, Tuan,” sahut Sutawijaya. Namun ia menjadi berdebar-debar melihat sikap Swandaru. Anak gemuk itu masih saja tersenyum-senyum.

“Sebutkan salah seorang daripada mereka!” bentak prajurit itu.

Sutawijaya menahan nafas sejenak. Namun kemudian terlontar dari bibirnya, “Sidanti. Salah seorang daripadanya bernama Sidanti.”

Prajurit itu tanpa sesadarnya berpaling kepada ketiga tamu dari Menoreh. Terdengar salah seorang dari para tamu itu berkata, “Kau benar. Salah seorang dari pemimpin prajurit Pajang di Sangkal Putung bernama Sidanti. Tetapi kenapa kalian sampai kemari, dan kenapa kalian mentertawakan kami?”

“Yang pertama, Tuan,” jawab Sutaijaya, “kami datang kemari hanya terdorong oleh keinginan saja. Kami ingin melihat-lihat kademangan-kademangan lain, selain Sangkal Putung. Dan kini kami telah melihat Kademangan Prambanan.”

“Ya. Tetapi kenapa kalian tertawa, he?” bentak prajurit yang bertubuh raksasa. Agaknya pening kepalanya telah berkurang.

“Kami melihat keanehan di sini.”

“Apa yang aneh?”

Sutawijaya ragu-ragu sejenak, tetapi kemudian ia menjawab

“Di Sangkal Putung, aku tidak pernah melihat prajurit bertengkar sesamanya. Aku tidak pernah melihat anak-anak muda saling berkelahi, dan beberapa orang prajurit berada di pihak yang berlawanan.”

Jawaban itu sederhana sekali. Tidak berbelit-belit dan tidak terlalu sukar dimengerti. Kesan yang tersirat dari kata-kata itu adalah anak muda itu menjawab dengan jujur. Tetapi jawaban itu seperti bara yang menyentuh hati prajurit-prajurit Pajang di Prambanan. Karena itu, maka alangkah panasnya wajah dan telinga mereka.

Dengan serta-merta, prajurit yang menggenggam baju Sutawijaya itu mengguncang-guncang lebih keras lagi, dan tanpa disangka-sangka tangannya yang lain terayun ke wajah anak muda itu, sehingga terdengar Sutawijaya mengaduh. Kemudian merengek-rengek. Katanya, “Ampun, Tuan. Ampun. Aku berkata sebenarnya. Aku tidak berbohong, Tuan.”

Kembali Sutawijaya terdiam ketika tangan itu sekali lagi menampar pipinya.

Agung Sedayu dan Swandaru menjadi bingung. Apakah yang harus dilakukan. Tetapi tiba-tiba Swandaru tersenyum di dalam hati melihat Sutawijaya itu beriba-iba sambil merintih. Katanya “Ampun, Tuan. Ampun.”

Tetapi prajurit yang marah itu menjadi semakin marah, geramnya, “Mulutmulah yang mentertawakan kami dan mulutmu ini pulalah yang menghina kami.”

“Ampun, Tuan,” rintih Sutawijaya. “Aku berkata sebenarnya. Prajurit-prajurit di Sangkal Putung bertempur melawan sisa-sisa laskar Arya Penangsang yang menjadi liar. Kalau mereka satu sama lain berkelahi di pihak-pihak anak muda yang saling bertentangan, maka sisa-sisa laskar Arya Penangsang itu pasti akan segera menguasai Sangkal Putung. Di Sangkal putung, justeru para prajurit menjadi pemisah seandainya sekali dua kali ada anak-anak muda yang berselisih. Mereka tidak berpihak pada salah satu daripada mereka. Tetapi mereka bertindak adil.”

Kembali kata-kata Sutawijaya terputus oleh sebuah tamparan di mulutnya. Kini prajurit itu tidak lagi memegangi bajunya, bahkan tangannya yang lain pun menampar mulut itu pula. Sutawijaya terhuyung-huyung beberapa langkah surut, kemudian terjatuh beberapa langkah di muka Swandaru.

Prajurit agaknya tidak puas melihat Sutawijaya terjatuh. Ia ingin melihat anak itu pingsan. Tetapi ketika ia melangkah maju, ia tertegun ketika ia mendengar Haspada berkata, “Paman. Anak itu terlampau jujur. Ia berkata seperti apa yang dipikirkannya. Ia melihat keanehan menurut pikirannya dan hal itu dikatakannya. Ia pernah melihat sikap prajurit Pajang di Sangkal Putung yang lain dari prajurit Pajang di sini, dan itu dikatakannya pula tanpa maksud apa-apa.”

“Tutup mulutmu!” bentak prajurit-prajurit itu.

“Paman harus bersikap adil,” kini Trapsila-lah yang menjawab. “Paman, jangan bertindak karena Paman mampu berbuat demikian. Bukankah apa yang dikatakan itu sebenarnya telah terjadi? Bentrokan di antara anak-anak muda muda di Prambanan semakin menjadi-jadi karena Paman ini menyediakan diri untuk berpihak, sehingga anak-anak muda semakin berani. Berani dalam arti yang sangat mengecewakan. Berani dalam pengertian yang sangat memalukan.”

“Diam! Apakah aku juga harus menampar mulutmu?”

“Jangan membentak-bentak,” sahut Trapsila. Anak muda itu sama sekali tidak menjadi takut. Bahkan tiba-tiba dari antara anak-anak muda di halaman itu tampak beberapa orang bergerak maju. Haspada dan keempat kawan-kawannya, kawan-kawan Trapsila yang lain dan beberapa anak induk kademangan yang berpendirian lain dari kawan-kawa mereka yang seakan-akan telah menjadi gila.

“Sikap itu harus diakhiri,” geram Haspada.

Keadaan menjadi tegang. Semakin lama semakin tegang. Prajurit-prajurit itu menjadi marah bukan buatan melihat sikap Haspada, Trapsila, dan beberapa anak-anak muda yang lain. Sedang anak-anak Sembojan, anak-anak Tlaga Kembar berdiri ternganga-nganga. Mereka bahkan menjadi sangat cemas melihat perkembangan keadaan. Tetapi sekali lagi ketegangan itu dipecahkan oleh suara tertawa. Kali ini Swandaru-lah yang tidak dapat menahan dirinya. Namun tiba-tiba ia terperanjat ketika terasa salah seorang tamu dari Menoreh itu mencengkam tengkuknya.

Tamu dari Menoreh itu pun tidak lagi dapat menahan kemarahannya. Demikian kuatnya ia menarik Swandaru, sehingga anak yang gemuk itu hampir terpelanting jatuh. Kini tamu itulah yang mengguncang-guncangnya sambil menggeram, “Kenapa kau tertawa, he? Kenapa?”

“Jangan terlampau keras,” desis Swandaru. “Kalau terlampau keras kau mengguncang-guncang tubuhku, maka aku akan merasa sakit.”

Desis itu benar-benar mengejutkan, seolah-olah menghentak dada tamu-tamu dari Menoreh itu, bahkan semua orang yang mendengarnya. Sutawijaya dan Agung Sedayu pun menarik nafas dalam-dalam. Swandaru ternyata tidak terlampau sabar untuk bermain-main.

Tetapi tangan tamu dari Menoreh itu masih mencengkam tengkuk Swandaru. Bahkan semakin keras. Terdengar ia berkata kasar, “Aku tidak hanya akan mengguncang-guncangmu. Tetapi aku mampu mematahkan lehermu.”

“Jangan. Jangan,” desis Swandaru pula.

Kembali dada orang dari Menoreh itu terhentak. Ternyata anak muda ini bersikap lain dari yang terdahulu. Anak ini sama sekali tidak merintih dan tidak minta ampun. Namun dengan demikian sikap Swandaru itu menyebabkan tamu-tamu dari Menoreh itu menjadi semakin marah.

“He, anak Sangkal Putung,” orang itu menggeram pula. “Jangan kau sangka bahwa leluconmu itu baik bagimu dan kawan-kawanmu.”

“Jangan terlampau kasar,” berkata Swandaru. “Sidanti tidak pernah berbuat sekasar kalian.”

Terasa dada orang-orang Menoreh itu berdesir. Tetapi kemarahan mereka telah membakar dada sehingga orang yang mencengkeram tengkuk Swandaru itu menjawab, “Aku akan dapat menjelaskan kepadanya, kenapa aku mematahkan tengkukmu.”

Yang segera menyahut kata-kata itu adalah Sutawijaya. “Ampun, Tuan. Ampunkan adik kami yang bodoh itu.”

“Tutup mulutmu!” bentak prajurit yang berdiri di muka Sutawijaya. “Kaupun segera akan mengalami perlakuan yang serupa.”

Tetapi sikap Swandaru ternyata berbeda. Katanya, “Kalau kakak sepupuku minta ampun adalah sudah sepantasnya, sebab ia berhadapan dengan prajurit Pajang. Tetapi apakah kau di sini mempunyai wewenang sesuatu?”

Pertanyaan itu benar-benar telah menghantam dada orang-orang Menoreh itu seperti runtuhnya gunung Merapi yang menimpa jantungnya. Pertanyaan itu adalah penghinaan yang luar biasa bagi mereka, sehingga tanpa sesadarnya, orang itu telah menampar pula pipi Swandaru yang gembung sambil memekik, “Ulangi, coba ulangi lagi!”

Swandaru berdesis pendek. Tamparan tangan itu terasa pedih menyengat pipinya. Tetapi ia tidak mengulangi lagi kata-katanya. Orang Menoreh itu pun memekik-mekik pula. “Ayo, katakan sekali lagi!”

Agung Sedayu pernah mengalami perlakuan yang terlalu kasar dari Sidanti. Bahkan Sidanti itu pernah hampir membinasakan kakaknya, sehingga kebenciannya kepada Sidanti seolah-olah melimpah kepada orang-orang Menoreh yang belum dikenalnya itu. Demikian pula agaknya Swandaru. Tetapi ternyata Agung Sedayu masih lebih mampu mengendalikan perasaannya sehingga ia dapat bersikap lebih menyesuaikan dirinya dengan sikap Sutawijaya daripada membiarkan perasaannya berbicara.

Karena Swandaru tidak mau mengulangi kata-katanya, maka kemarahan orang dari Menoreh itu tidak meningkat lagi. Namun demikian tangannya masih juga gemetar dan dadanya berdentang-dentang tak menentu. Dari sela-sela bibirnya yang bergetar ia berkata, “Kata-katamu tidak akan dapat dibiarkan. Kau harus menyesal karena mulutmu itu.”

Terdengar salah seorang prajurit menyahut. “Ya. Anak yang gemuk itu ternyata harus mendapat peringatan khusus.”

Hiruk-pikuk yang semakin meningkat itu ternyata akhirnya mendapat perhatian pula dari beberapa orang yang berada di pendapa. Seorang yang bertubuh tinggi kurus datang mendekati mereka sambil bertanya. “Apa yang kalian ributkan?”

“Ada tiga anak-anak gila di sini,” sahut tamu-tamu dari Menoreh itu.

“Hem,” tiba-tiba saja salah seorang pemimpin prajurit Pajang yang tadi duduk di pendapa telah berada di halaman itu pula. Dengan suara yang berat ia bertanya, “Apakah yang telah dilakukannya?”

“Anak-anak itu telah menghina kami, menghina para prajurit dan menghina Kademangan Prambanan dalam keseluruhan.”

“Tidak,” yang terdengar adalah suara Haspada. “Tidak, Paman. Aku ingin Paman mengadakan penelitian.”

Prajurit itu pun agaknya telah dimabukkan oleh semangkuk tuak, sehingga otaknya sudah tidak terlampau baik. Meskipun demikian jawaban Haspada telah memberinya pertimbangan pula. Karena itu maka katanya, “Apakah kau melihat persoalan yang terjadi Haspada?”

“Ya, Paman, aku melihat.”

“Bawa mereka bertiga ke pendapa.”

Para prajurit tidak menunggu perintah itu diulangi. Ketiga anak-anak muda dari Sangkal Putung itu segera diseret ke pendapa banjar desa, seperti tiga orang penjahat. Beberapa orang yang berada di pendapa itu terkejut. Sejenak mereka terganggu dari kegembiraan mereka. Tetapi mereka kemudian terpaksa membiarkan tayub itu berhenti sesaat.

Karena Sutawijaya dan kedua kawan-kawannya kini telah dibawa ke pendapa maka hampir semua orang yang berada di halaman itu dapat melihatnya. Ketiga anak-anak muda itu harus duduk bersila di pendapa berhadapan dengan pemimpin prajurit yang memerintahkan membawa mereka itu naik.

Yang wajahnya paling gelap di antara mereka bertiga adalah Swandaru. Ia merasa malu juga didudukkan di pendapa itu seperti seorang tertuduh yang telah berbuat kejahatan. Karena itu, maka ia tidak ingin bermain-main lebih lama lagi. Ketika prajurit itu memandangnya, maka Swandaru sama sekali tidak menunjukkan wajahnya. Bahkan kini ia mengumpat-umpat di dalam hatinya. Permainan itu akhirnya sama sekali tidak menarik baginya.

Apalagi ketika kemudian Swandaru menyadari, bahwa mereka bertiga benar-benar seperti orang-orang yang sedang diadili. Maka wajahnya pun menjadi merah padam. Sutawijaya yang melihat wajah yang gembung itu menjadi merah padam, tersenyum di dalam hatinya. Wajah Swandaru memang tampak menggelikan sekali.

Di sekeliling mereka bertiga segera berkumpul Ki Demang Prambanan, Jagabaya yang tinggi kurus, dua orang pimpinan prajurit Pajang di Prambanan, ketiga tamu-tamu dari Menoreh, beberapa orang pemimpin Kademangan yang lain. Dan prajurit-prajurit Pajang tiba-tiba melingkari mereka itu seolah-olah menjaga jangan sampai ketiga anak-anak itu lari. Namun di dalam kerumunan orang-orang itu tampak pula Haspada dan Trapsila.

Yang mula-mula bertanya adalah pemimpin prajurit yang memerintahkan mereka dibawa naik ke pendapa itu. Katanya, “Apakah benar kalian telah menghina Prambanan, para prajurit Pajang, dan tamu-tamu dari Menoreh?”

Sebelum Sutawijaya menjawab, maka Swandaru telah mendahuluinya. “Kami tidak sengaja berbuat demikian. Tetapi orang-orang dari Menoreh dan para prajurit itulah yang merasa terhina.”

Prajurit itu terkejut mendengar jawaban itu. Orang-orang yang berada di sekitar tempat itu pun terkejut pula. Jawaban itu agaknya terlampau berani.

Tetapi Swandaru ternyata masih belum selesai dengan jawabannya, sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya menjadi semakin terkejut pula. Beberapa orang justru terdiam ternganga-nganga dan beberapa orang yang lain menjadi cemas. Haspada dan Trapsila pun menjadi sangat cemas pula. Bagi mereka sebaiknya bukan anak muda yang gemuk itulah yang menjawab pertanyaan-pertanyaan prajurit itu.

Tetapi Sutawijaya pun kemudian membiarkan Swandaru berbicara. Ia pun akhirnya menjadi jemu pula pada permainan itu. Agung Sedayu ketika berpaling kepada Sutawijaya segera menyadari, bahwa permainan mereka sebagian telah selesai, dan mereka membiarkan Swandaru itu berbicara terus. Katanya, “Kami tadi hanya mengatakan bahwa kami melihat keanehan di Prambanan. Apakah kalian tidak melihat apa yang terjadi? Tentu, tentu kalian tidak melihat sebab kalian sedang menari tayub.”

Jawaban itu benar-benar tidak terduga. Semua orang terpaku di tempatnya seperti patung. Dan suara Swandaru masih terdengar terus, “Kalian memang tidak sempat melihat apa yang terjadi di halaman, di luar pendapa ini. Kalian sudah tentu tidak melihat bahwa anak-anak muda hampir saja berkelahi di antara mereka kalau saja tidak ada anak muda yang bernama Hapsada dan Trapsila itu. Tetapi aneh, bahwa beberapa orang prajurit justru mendorong terjadinya perkelahian di antara mereka. Sebagian memihak anak-anak Sembojan yang lain memihak anak-anak Tlaga Kembar. Bukankah itu aneh? Kami mengatakan, bahwa di Sangkal Putung para prajurit Pajang justru menjadi penengah seandainya ada perselisihan. Tetapi di sini tidak, apalagi perselisihan karena soal yang memalukan. Dan tamu-tamu dari Menoreh itu marah karena kami membenarkan anggapan Kakang Haspada dan Kakang Trapsila, bahwa persoalan yang dipertengkarkan adalah persoalan yang memalukan.”

Kata-kata Swandaru terputus. Orang-orang yang berada di sekitarnya terkejut pula ketika mereka melihat tangan prajurit itu terayun ke mulut Swandaru. Tetapi Swandaru yang melihat tangan itu terayun menegangkan pipinya. Meskipun demikian ketika tangan prajurit itu menyentuhnya, terasa juga pipinya disengat oleh rasa pedih. Tetapi ketika salah seorang tamu dari Menoreh beringsut maju dan berkata, “Biarlah aku yang meremas mulutnya,” maka Swandaru dengan beraninya menjawab, “Kau jangan turut campur. Tangan prajurit itu sudah cukup sakit. Tetapi ia mempunyai tanggung jawab di sini. Apakah tanggung jawabnya itu dipergunakan sewajarnya atau tidak, itu merupakan persoalan tersendiri. Tetapi kau tidak mempunyai wewenang apa-apa di sini.”

Kembali kemarahan orang Menoreh itu memuncak. Dengan serta-merta tangannya pun terayun ke pipi Swandaru. Tetapi Swandaru tidak membiarkan sekali lagi pipinya ditampar. Maka dengan tangkasnya ia menarik kepalanya sedikit ke belakang, sehingga tangan yang terayun itu meluncur di muka wajahnya.

Apa yang terjadi itu benar-benar di luar dugaan. Para prajurit, para tamu dari Menoreh, para pemimpin Kademangan Prambanan, Hapsada, Trapsila, dan anak-anak muda yang melihatnya, sejenak tertegun. Gerak Swandaru bukanlah gerak yang sulit. Gerakan itu sangat sederhana. Menarik kepala ke belakang beberapa cengkang. Tetapi apa yang dilakukan itu telah memberikan kesan yang lain daripada apa yang mereka lihat sebelumnya. Apalagi ketika Swandaru kemudian berkata, “Jangan terlampau kasar. Aku dapat mengatakannya kepada Sidanti. Sidanti pasti akan marah melihat kau berbuat curang. Sidanti akan menghargai sikap jantan.”

Kemarahan tamu itu telah memuncak sampai ke ujung ubun-ubunnya. Karena itu maka terdengar ia berteriak, “Apa maksudmu?”

Haspada dan Trapsila melihat apa yang dilakukan oleh Swandaru. Mereka menjadi kagum akan keberaniannya. Tetapi mereka menjadi cemas, apakah anak yang gemuk itu mampu berbuat sesuatu? Menurut pandangan Haspada, Trapsila, dan bahkan hampir setiap anak-anak muda Prambanan telah mendengarnya pula, bahwa tamu-tamu dari Menoreh itu adalah orang-orang yang pilih tanding. Mereka adalah pengawal-pengawal tanah perdikan yang tangguh. Menurut pendengaran mereka, tamu-tamu itu tidak ubahnya sebagai seorang prajurit. Bahkan sebagai pengawal tanah perdikan, mereka mempunyai kemampuan perseorangan yang dapat dibanggakan. Itulah sebabnya maka mereka menjadi cemas. Tetapi mereka pun menyesal atas sikap Swandaru yang bagi mereka, terlalu kurang berhati-hati. Apabila mereka terlibat dalam persoalan perseorangan, maka tak akan ada pihak-pihak yang dapat mencampurinya.

Dan apa yang dicemaskannya itu ternyata terjadi. Dengan lantang tamu dari Menoreh itu berkata, “Apakah yang kau maksudkan dengan sikap jantan? Apakah kau menghendaki perang tanding?”

Tetapi kembali jawaban Swandaru mengejutkan mereka, katanya. “Kalau itu yang paling baik bagimu, akan baik juga bagiku.”

Darah tamu dari Menoreh itu kini telah benar-benar mendidih. Karena itu dengan serta-merta ia meloncat berdiri sambil berteriak, “Ayo, bersiaplah. Kita masing-masing berbuat secara jantan seperti yang kau kehendaki.”

Sebelum Swandaru menjawab, terdengar suara Haspada, “Tidak pada tempatnya. Anak muda dari Sangkal Putung itu tidak tahu apa yang sedang dihadapinya.”

“Bohong!” teriak orang itu. “Ia sadar akan kata-katanya. Tetapi seandainya tidak, siapakah yang akan mewakili? Rupa-rupanya tamu itu telah tidak lagi dapat mengendalikan perasaannya.

Trapsila itu bergeser setapak. Tetapi Swandaru telah lebih dahulu berdiri. Tidak meloncat dan bersikap garang. Dengan tangannya ia bertelekan lutut, kemudian tubuhnya yang gemuk itupun ditegakkannya.

“Jangan diteruskan,” cegah Trapsila. Apalagi ketika ia melihat Swandaru itu berdiri. Dan di sisinya Haspada menyahut. “Apakah permainan yang demikian dapat dilakukan di hadapan kita sekarang ini? Apakah tak ada seorang pun yang akan mencegahnya? Seandainya terjadi sesuatu atas anak muda dari Sangkal Putung ini, maka Prambanan yang sepanjang sejarahnya tidak pernah mempunyai persoalan apapun, apalagi yang bersifat kurang baik dengan kademangan itu, kini telah membuka lembaran yang hitam di antara kita.”

Tetapi kali ini yang menyahut adalah Swandaru. “Terima kasih atas perhatian kalian. Namun biarlah aku mencoba melayaninya. Seandainya aku terpaksa babak belur dan berwajah biru bengap, biarlah menjadi pelajaran bagiku. Tetapi dengan demikian, apabila Sidanti mendengarnya, ia tidak akan marah lagi. Sebab kami berhadapan dalam kesempatan yang serupa.”

“Jangan banyak bicara!” bentak tamu itu.

Perlahan-lahan Swandaru melangkah ke tengah-tengah pendapa. “Di sini cukup luas,” katanya. Sikapnya benar-benar membakar hati tamu dari Menoreh itu. Tetapi mau tidak mau tamu itu pun melangkah pula ke tengah-tengah pendapa.

Namun kepalanya hampir meledak ketika ia mendengar Swandaru berpaling kepada para penabuh yang masih duduk di belakang gamelannya. “Aku minta gending yang tidak kalah hangatnya dengan gending tayub.”

“Gila,” desis Sutawijaya. Agung Sedayu pun menjadi sangat cemas. Mereka belum tahu, sampai di mana tingkat kemampuan para tamu itu, sehingga apabila Swandaru terlalu banyak bergurau, maka kemungkinan wajahnya biru bengap dan bengkak-bengkak akan menjadi lebih besar.

Tetapi yang terdengar kemudian sama sekali bukan gending yang hangat, sehangat gending tayub, namun lawannya itulah yang berteriak lantang. “Kau benar-benar tidak tahu diri. Kau benar-benar anak yang terlampau dungu. Coba perhatikan, dengan siapa kau berhadapan. Aku adalah salah seorang pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Apakah kau masih akan menghina lagi?”

Swandaru mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah pengawal itu dengan tajamnya. Namun kemudian ia menjawab, “Aku adalah pengawal Kademangan Sangkal Putung.”

Jawaban itu benar-benar seperti api yang menyentuh minyak. Pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu kini sudah tidak mampu lagi menahan kemarahannya, sehingga dengan serta-merta ia meloncat maju sambil berteriak, “Mulutmulah yang harus disobek lebih dahulu.”

Swandaru melihat gerak itu. Cukup cepat. Ia melihat tangan orang itu terjulur ke wajahnya. Karena itu, maka secepatnya pula ia mencoba mengelak.

Serangan itu ternyata menyentuh pun tidak. Tetapi Swandaru pun menyadari, bahwa serangan itu sama sekali bukanlah serangan yang sebenarnya. Serangan itu datang dengan serta-merta tanpa perhitungan karena kemarahan yang tak terkendali. Namun kemenangan pertama yang telah dimiliki oleh Swandaru. Ia dapat membuat lawannya menjadi sedemikian marahnya, sehingga hampir kehilangan ketenangannya. Dan ia harus memanfaatkan kemenangan itu sebaik-baiknya. Ia harus memelihara kemarahan lawannya, supaya ia mendapat kesempatan lebih baik daripadanya.

Ketika serangan itu gagal, maka terdengar ia menggeram. Ia merasa aneh, bahwa anak yang gemuk itu mampu menghindari serangannya, yang meskipun bukan serangan yang didasari dengan segenap kemampuannya, namun serangan itu cukup cepat bagi seorang yang bertubuh gemuk dan bertelekkan kedua lututnya apabila ia akan berdiri dari duduknya.

Bukan saja lawan Swandaru yang terkejut melihat cara Swandaru menghindarkan diri. Ternyata beberapa orang yang duduk di sekitar pendapa mulai tertarik melihat perkelahian yang telah dimulai itu. Haspada dan Trapsila kini terpaksa menimbang-nimbang. Apakah benar-benar anak yang gemuk itu adalah anak yang terlampau dungu?

Yang terjadi seterusnya benar-benar telah mencengangkan, bukan saja anak-anak muda Sembojan, anak-anak muda Tlaga Kembar, anak-anak induk kademangan dan anak-anak padukuhan yang lain, bukan saja Haspada, Trapsila dan para pemimpin Kademangan Prambanan, tetapi para prajurit, para tamu dan setiap orang yang melihat menjadi heran. Ternyata Swandaru sama sekali bukan anak yang terlampau dungu. Bahkan sifat-sifat Swandaru segera tampak pula di dalam perkelahian itu. Sifat yang aneh-aneh. Apalagi Swandaru sengaja membangkitkan kemarahan lawannya. Sehingga tata geraknya pun menjadi sangat menjengkelkan bagi lawannya.

Lawannya yang menjadi semakin marah dan marah, akhirnya tidak lagi mempunyai pertimbangan apa pun. Kini ia telah mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya untuk menghajar lawannya yang gemuk itu. Serangannya segera meningkat menjadi semakin garang, segarang angin pusaran.

Swandaru melihat tata gerak lawannya yang meningkat. Kini ia tidak lagi dapat berkelahi sambil bermain-main. Ia pun harus segera bersiap menghadapi setiap kemungkinan yang bakal ditemuinya dalam perkelahian itu.

Dan apa yang terjadi kemudian seolah-olah telah membangunkan semua orang yang berada di pendapa dan halaman banjar desa itu dari sebuah mimpi. Yang mereka lihat sama sekali bukanlah tamu dari bukit Menoreh itu menghajar Swandaru, tetapi ternyata perkelahian itu adalah suatu perkelahian yang sengit. Betapa orang mengagumi pengawal tanah perdikan Menoreh, namun lawannya kali ini adalah murid Ki Tanu Metir. Dengan demikian, maka tidaklah banyak yang dapat dilakukan oleh pengawal itu. Bahkan semakin lama, menjadi semakin jelas, bahwa Swandaru mampu berkelahi lebih baik dari lawannya.

Haspada dan Trapsila sejenak saling berpandangan. Mulut mereka bahkan seakan-akan terbungkam. Kini disadarinya, bahwa anak-anak Sangkal Putung telah berusaha mengatakan apa yang terjadi di Prambanan itu sebagai suatu kepincangan.

Kedua anak itu merasa, betapa dadanya menjadi berdebar-debar. Dahulu, pada masa kakek-kakek mereka memegang pimpinan di kademangan ini, maka Prambanan termasuk kademangan yang tangguh, yang gigih melawan kejahatan. Tetapi tiba-tiba kini Prambanan hampir-hampir ditelan oleh malapetaka karena tingkah laku anak-anak mudanya sendiri.

Di tengah-tengah pendapa itu Swandaru masih bekelahi dengan serunya. Tetapi tubuhnya hampir tidak dilumasi oleh keringat, karena ternyata ia tidak perlu bekerja terlampau keras. Meskipun demikian, meskipun Swandaru itu termasuk anak yang lebih senang menurut pertimbangan sendiri, namun kali ini ia tidak mau menyakiti hati para tamu itu. Ia tidak berjuang sekuat-kuat tenaganya untuk segara menjatuhkan lawannya. Tetapi ia membiarkan lawannya menjadi lelah sendiri.

Haspada dan Trapsila yang tidak dapat lagi menahan perasaannya tiba-tiba beringsut mendekati Sutawijaya. Orang-orang di sekitarnya sama sekali tidak memperhatikannya. Perhatian mereka terpaku pada perkelahian itu, apalagi para tamu dan para prajurit Pajang yang tercengang-cengang.

“Kisanak,” Haspada manggamit Sutawijaya. “Kisanak sengaja mengelabui kami.”

Sutawijaya berpaling. Pernyataan itu agak membingungkannya. Tetapi ia menjawab juga, “Bukan maksud kami Kisanak. Kami sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa kami akan menjumpai peristiwa serupa ini. Kami sudah menjaga agar kami tidak terlibat dalam persoalan yang sama sekali tidak kami kehendaki.”

“Tetapi Kisanak sengaja mentertawakan prajurit yang memihak anak-anak muda yang saling bertentangan itu. Bukankah dengan demikian kalian telah sengaja ikut campur dalam persoalan itu.”

“Kisanak benar,” sahut Sutawijaya. “Namun yang ingin kami campuri bukan persolan anak-anak muda Prambanan, tetapi adalah persoalan para prajurit Pajang itu.”

“He,” Haspada dan Trapsila mengerutkan kening mereka. Terdengar Trapsila bertanya, “Apakah kepentingan kalian dengan para prajurit itu?”

Sutawijaya tergagap. Ia ternyata agak terlampau jauh menjawab pertanyaan anak-anak muda Prambanan itu. Karena itu maka dengan terbata-bata ia menjawab, “Maksud kami, kami sama sekali tidak sependapat melihat sikap para prajurit itu.”

Kedua anak muda Prambanan itu terdiam. Namun mereka terkejut ketika melihat Agung Sedayu beringsut maju. Sutawijaya pun terkejut pula, tetapi ia menyadari keadaan sehingga dibiarkannya Agung Sedayu bertindak apabila dianggapnya perlu.

Dalam pada itu tamu yang seorang telah bergerak-gerak pula. Ternyata dadanya serasa menyimpan bara ketika ia melihat kawannya tidak segera dapat memenangkan perkelahian itu. Bahkan semakin lama agaknya menjadi semakin sulit. Karena itu, maka tanpa disengajanya ia beringsut pula maju.

“Apakah adikmu yang seorang itu juga mampu membela dirinya seperti adikmu yang gemuk itu?” bertanya Trapsila.

“Mudah-mudahan,” Sahut Sutawijaya. “Ia pun pernah berlatih sehari dua hari,” jawab Sutawijaya.

“Siapakah sebenarnya kalian,” bertanya Haspada tiba-tiba.

Sutawijaya terdiam sesaat. Dipandanginya wajah Haspada, namun kemudian ia menjawab, “Seperti yang dikatakan adikku yang gemuk itu. Kami adalah pengawal-pengawal Kademangan Sangkal Putung.”

“Kami bangga melihat pengawal-pengawal kademangan seperti kalian,” sahut Haspada. “Meskipun demikian timbul pula kecurigaan kami. Ternyata kalian suka merendahkan diri, bahkan terlampau berlebih-lebihan.”

“Sangkal Putung kini ada dalam bahaya,” sahut Sutawijaya. “Kami setiap kali harus bertempur melawan sisa-sisa laskar Arya Penangsang bersama para prajurit Pajang di sana. Mereka pulalah yang telah mendidik kami dan melatih kami dalam olah kanuragan.”

Haspada dan Trapsila terdiam. Jawaban itu dapat diterima oleh akalnya. Kini perhatian mereka tertarik pada tamu yang seorang lagi. Agaknya ia sudah tidak dapat menahan dirinya. Bahkan kemudian dengan serta merta ia berdiri sambil berkata, “Serahkan kelinci gemuk itu kepadaku.”

Tetapi ternyata kawannya pun tidak mau melihat kenyataan. Harga dirinya pasti akan tersinggung seandainya ia tidak dapat memenangkan perkelahian itu. Apalagi ia menyadari, bahwa anak-anak muda Prambanan, terutama anak-anak Sembojan menganggap mereka itu orang-orang yang luar biasa, melampaui ketangkasan dan ketangguhan prajurit-prajurit dari Pajang. Namun ternyata setelah ia memeras tenaganya, ia masih belum mampu mengalahkan lawannya yang gemuk hampir bulat itu.

Meskipun demikian kawannya yang seorang itu benar-benar tidak dapat bersabar lagi. Sekali lagi ia berteriak, “Tinggalkan lawanmu, biarlah aku patahkan lehernya itu.”

“Jangan ganggu aku,” sahut kawannya yang sedang berkelahi itu dengan nafas tersengal-sengal.

Kawannya itu pun terdiam sejenak. Namun nafasnya tidak kalah derasnya dengan nafas kawannya yang sedang berkelahi itu. Terengah-engah. Bahkan kadang-kadang terputus-putus.

Akhirnya, tamu yang satu itu pun tidak dapat mengendalikan dirinya ketika ia melihat kawannya yang berkelahi itu terdorong beberapa langkah surut, bahkan hampir terjatuh ke lantai. Terhuyung-huyung kawannya itu mencoba menguasai keseimbangannya, yang dengan susah payah berhasil. Tetapi hampir setiap orang, betapapun tipisnya ilmunya, dapat melihat, bahwa anak Sangkal Putung yang gemuk itu sengaja membiarkan lawannya berhasil menguasai diri. Ia tidak melakukan serangan selama kawannya itu tertatih-tatih. Bahkan seperti seorang yang berdiri menonton keheran-heranan.

“Minggir!” teriak tamu yang seorang itu “biarlah aku selesaikan urusan ini.”

“Aku masih sanggup,” sahut temannya.

Tiba-tiba Swandaru berkata, “Jangan berebut. Silahkan keduanya bersama-sama.”

Darah tamu-tamu dari Menoreh itu mendidih. Sorot matanya menjadi merah menyala.

“Apakah kau sudah gila?” terdengar suaranya gemetar.

Tetapi Swandaru masih saja tersenyum.

“Aku hanya ingin kalian tidak berkelahi sendiri karena berebut dahulu,” jawab anak yang gemuk itu.

Dada lawannya serasa hampir-hampir pecah. Sikap Swandaru telah membakar segenap perasaannya. Bahkan keduanya hampir-hampir lupa diri dan bersama-sama menyerang Swandaru yang telah menghina mereka.

Agung Sedayu menarik nafas. Betapapun kuatnya Swandaru, tetapi untuk melawan mereka berdua, agaknya akan terlampau berat. Seandainya terjadi demikian, maka Swandaru pasti akan mengerahkan segenap tenaganya dan adalah mungkin bahwa ia akan lupa diri dan melepaskan serangan-serangan yang langsung membahayakan jiwa lawannya. Karena itu, maka tiba-tiba ia pun berdiri. Perlahan-lahan ia melangkah maju sambil berkata, “Aku akan mencoba membantu adikku membuat keseimbangan. Apakah kita akan bermain-main berpasangan ataukah kita akan berhadapan seorang lawan seorang?”

Kembali pendapa itu dicengkam oleh ketegangan. Mereka melihat anak Sangkal Putung yang seorang itu pun bersedia melayani tamu-tamu mereka dari Menoreh. Sikap dan kata-kata anak muda ini agak berbeda dengan sikap dan kata-kata anak muda yang gemuk, yang agaknya senang berkelakar. Anak muda yang kedua ini agaknya lebih pendiam dan banyak di antara mereka segera menyadari, bahwa anak muda pendiam itu agaknya lebih matang dari anak yang gemuk bulat itu.

Kedua tamu dari Menoreh itu pun melihat pula sikap itu. Kini mereka tidak melihat seorang anak muda yang dungu dan bodoh. Tetapi langkah dan kata-kata Agung Sedayu benar-benar telah mempengaruhi hati mereka. Karena itu sejenak mereka saling berpandangan. Dan tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Hem, apakah keinginanmu berdua? Apakah kalian akan memperlihatkan kepandaian kalian seorang-seorang ataukah kalian ingin menunjukan kerapihan kalian dalam pertempuran berpasangan?”

“Kamilah yang bertanya,” sahut Swandaru.

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Mereka tidak segera menjawab. Namun segera mereka menyadari, bahwa setidak-tidaknya orang yang satu ini pun tidak akan kalah dari anak muda yang gemuk itu.

Tiba-tiba mereka terkejut ketika mereka mendengar seseorang berkata, “Aku ingin melihat kalian berkelahi berpasangan.”

Semua orang berpaling ke arah suara itu. Mereka mengerutkan kening mereka, ketika mereka melihat tamu yang seorang lagi duduk bersila sambil membelai kumisnya yang tidak begitu lebat. Dengan tersenyum ia mengulangi kata-katanya, “Berkelahilah berpasangan.”

Agaknya orang itu mempunyai pengaruh yang kuat atas kedua kawannya. Ia adalah pemimpin rombongan kecil yang datang dari seberang Hutan Mentaok itu.

Kembali kedua kawan-kawannya saling berpandangan. Namun tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Baik. Kita bertempur berpasangan.”

Agung Sedayu tidak menyukai istilah yang dipakai oleh kedua tamu itu, tetapi ia tidak dapat menyahut. Perlahan-lahan ia berjalan mendekati Swandaru. Kemudian katanya, “Kita bermain berpasangan.”

Swandaru tersenyum. Dipandanginya kedua lawannya yang kini telah berada di hadapan mereka. Bahkan mereka telah bersiap pula untuk menghadapi kedua saudara seperguruan itu.

Agung Sedayu dan Swandaru sudah tidak berminat lagi untuk menanyakan sesuatu. Karena itu, maka mereka pun berdiam diri sambil menunggu.

“Apakah kalian tidak akan menyesal,” bertanya salah seorang dari mereka, “mungkin wajah kalian akan tidak dapat dikenal besok karena bengkak-bengkak dan babak belur. Beruntunglah kalian seandainya tidak ada bagian dari tubuh kalian yang patah.”

Agung Sedayu menjawab dengan segan, “Mudah-mudahan aku selamat.”

Kedua lawannya mengerutkan keningnya. Jawaban itu terlampau pendek. Namun disadarinya, bahwa mereka akan berkelahi, tidak harus berbicara berkepanjangan. Karena itu, maka berkata salah seorang dari mereka, “Bersiaplah, kita akan mulai.”

“Marilah,” sahut Swandaru pendek.

Keduanya pun kini tidak lagi berbicara. Segera mereka bersiap seperti dua pasang penari yang bersiap untuk mulai dengan pertunjukannya.

Namun kini Agung Sedayu dan Swandaru terkejut pula seperti orang-orang lain yang berada di pendapa dan di halaman banjar desa itu. Bahkan Sutawijaya pun terkejut pula, sehingga ditengadahkannya wajahnya memandangi tamu dari Menoreh yang seorang lagi, yang kini masih duduk bersila sambil membelai kumisnya. Dengan tenangnya orang itu berkata, “He, apakah para penabuh gamelan tidak dapat mengiringi pertunjukan ini dengan gending yang serasi?”

Keempat orang yang telah bersiap untuk berkelahi itu pun justeru tertegun, sementara Sutawijaya berbisik di dalam hatinya, “Orang ini agak berbeda dari kedua teman-temannya.”

Sikap tamu yang seorang ini memang jauh berbeda dengan dengan kedua kawan-kawannya. Sikapnya tenang dan meyakinkan. Orang itu tidak mudah menjadi gelisah dan gugup. Bahkan sambil tersenyum-senyum ia melihat keadaan seperti benar-benar sedang melihat tayub.

Ketika kedua kawannya masih termangu-mangu di tengah-tengah pendapa itu, kembali ia berkata, “He, kenapa kalian berdiri saja di situ seperti patung. Lekas, kalau kalian mau berkelahi, berkelahilah, kalau kalian mau menari, menarilah. Lihatlah halaman di sekeliling pendapa dan di pendapa ini. Para penonton telah menunggu-nunggu apa yang akan terjadi. Biarlah mereka tidak terlalu lama kecewa. Kalau salah satu pihak akan babak belur, biarlah itu segera terjadi. Wajah-wajah yang biru bengap dan bengkak-bengkak pasti akan menarik sekali. Ayo, para penabuh, apakah kalian tidak sanggup mengiringi tarian maut ini dengan gending-gending yang gila. Ayo.”

Kedua orang tamu dari Menoreh itu pun tergagap. Mereka menyadari keadaannya. Karena itu kembali mereka bersiap menghadapi kedua anak-anak muda Sangkal Putung. Tetapi para penabuh gamelan masih saja duduk membeku. mereka sama sekali tidak bergerak untuk mengikuti perkelahian itu dengan iringan gending apapun.

Tetapi kedua pasang lawan itu pun tidak menunggu. para tamu dari Menoreh segera mulai dengan serangan-serangannya. Dan kedua saudara seperguruan itu pun segera mulai melayaninya.

Perkelahian itu kini meningkat menjadi semakin seru. Kedua tamu dari Menoreh yang sedikit banyak telah melihat ketangkasan Swandaru tidak mau bermain-main lagi. Mereka tidak dapat lagi mempunyai anggapan yang lain daripada, bahwa kedua anak-anak muda itu sebenarnya terlampau kuat bagi mereka.

Sejak perkelahian itu mulai, maka mereka yang cukup mengerti akan segera dapat melihat bahwa kedua pasangan itu sama sekali tidak berimbang. Agung Sedayu dan Swandaru memang terlampau kuat untuk kedua lawannya. Meskipun demikian, mereka masih mencoba menyesuaikan diri mereka. Kemenangan mereka tidak terlalu menonjol, meskipun bagi orang yang dapat mengertinya cukup meyakinkan.

Tamu yang seorang, yang sampai saat itu masih duduk di pinggir pendapa di antara para pemimpin Kademangan Prambanan dan para prajurit, melihat perkelahian itu dengan wajah yang kerut-merut. Betapa hatinya sebenarnya menjadi bergolak dan bergelora. Sebenarnya hatinya sama sekali tidaklah setenang wajahnya. Ia yakin bahwa kedua kawan-kawannya sama sekali tidak akan dapat mengimbangi kedua anak-anak muda Sangkal Putung, tetapi disimpannya perasaan itu di dalam dadanya. Yang tampak di wajahnya adalah sebuah senyuman dan bahkan kadang-kadang terdengar ia tertawa kecil.

“Hem, alangkah tangkasnya anak-anak muda Sangkal Putung itu,” desisnya.

Para pemimpin Prambanan dan para prajurit berpaling ke arahnya. Dan ia berkata terus, “Kawan-kawanku itu sama sekali tidak akan mampu mengimbangi mereka. Kalau benar mereka pengawal Sangkal Putung, alangkah kuatnya kademangan itu. Tetapi dengan demikian aku pun menjadi ikut berbangga. Bukankah salah seorang prajurit Pajang di Sangkal Putung itu kemanakanku, Sidanti. Pastilah anak itulah yang telah melatihnya menjadi pengawal yang baik.”

Yang mendengarkan kata-katanya itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa mereka kehendaki. Sedang mata mereka kini kembali melihat perkelahian itu. Semakin lama semakin seru. Kedua orang dari Menoreh itu telah memeras segenap kemampuan yang ada pada mereka, dan Agung Sedayu beserta Swandaru pun berusaha melayani sebaik-baiknya.

Tetapi di mata tamu yang seorang itu, perkelahian itu sama sekali tidak menarik hatinya. Sebab ia tahu kedua anak-anak muda dari Sangkal Putung itu pun tidak berkelahi sepenuh kekuatannya. Para prajurit pun menyadari keadaan itu. Mereka pun mengerti apa yang terjadi di pendapa, sehingga mereka pun menjadi terheran-heran. Anak-anak muda Sangkal Putung ternyata adalah anak-anak muda yang tangguh melampaui dugaan mereka.

Tiba-tiba tamu yang seorang itu pun berteriak, “Menjemukan! Menjemukan! Permainan ini sama sekali tidak menarik.”

Tetapi perkelahian itu masih saja berlangsung. Mereka berempat seakan-akan tidak mendengar teriakan itu. Sehingga orang itu mengulangi sekali lagi, “Berhenti! Berhenti! Perkelahian kalian menjemukan.”

Tiba-tiba perkelahian itu pun mengendor. Akhirnya mereka berloncatan mundur, sehingga perkelahian itu berhenti.

“Kenapa?” Teriak salah seorang tamu itu. “Kami belum menyelesaikan pekerjaan kami. Kami segera akan membuat kedua anak-anak ini menjadi biru bengkak.”

Kawannya yang masih saja duduk itu tertawa. Katanya, “Jangan membual. Apakah kau sangka bahwa kami tidak tahu yang sebenarnya terjadi? Kalian berdua tidak akan dapat memenangkan itu. Kalau ada di antara kalian yang biru bengap, maka yang biru bengap adalah kalian berdua itu sendiri. Bukan anak-anak muda Sangkal Putung itu. Mereka masih belum menggunakan segenap kekuatan mereka, sedang kalian telah hampir mati kelelahan. Dengan demikian kami belum dapat menjajaki sampai di mana puncak kemampuan mereka.”

Kedua kawannya itu tidak menjawab. Mereka tidak akan dapat mengingkari, bahwa sebenarnyalah demikian.

“Aku bangga melihat keterampilan anak-anak Sangkal Putung itu,” desis orang yang masih duduk itu. Namun nadanya agak berbeda dengan nada kawannya yang terdahulu. Wajahnya pun kini tidak lagi secerah semula. Bagaimanapun ia menyembunyikan perasaannya, namun akhirnya tampak pula, betapa ia merendam kemarahan di dalam dadanya.

Orang itu pun tiba-tiba berdiri. Sekali ia mengangguk kepada Ki Demang Prambanan, kemudian kepada kedua pemimpin prajurit Pajang di Sangkal Putung.

Agung Sedayu dan Swandaru masih berdiri di tengah-tengah pendapa itu. Tetapi kini dada mereka pun berdebaran. Mereka melihat perbedaan yang seorang ini dengan kedua kawan-kawannya yang lain.

Tamu yang seorang itu pun segera melangkah mendekaiti Agung Sedayu dan Swandaru. Betapa hatinya bergelora, dan betapa api menyala membakar jantungnya, namun wajahnya masih juga tersenyum dan dari sela-sela bibirnya terdengar ia berkata, “Aku mengagumi kalian. Bukankah kalian bukan saja pengawal Kademangan Sangkal Putung yang mendapat tuntunan dari para prajurit Pajang, tetapi kalian ini juga saudara seperguruan?”

Agung Sedayu dan Swandaru mengerutkan keningnya. Orang itu mampu menebak dengan tepat. Namun kedua anak-anak muda itu pun tahu pula, bahwa orang itu pasti telah membaca unsur-unsur gerak yang dipergunakan, meskipun Agung Sedayu memiliki unsur-unsur gerak jauh lebih kaya dari Swandaru, namun dalam pokok-pokoknya keduanya pasti mempunyai banyak persamaan.

“Apakah aku salah?” bertanya tamu itu.

Agung Sedayu menggeleng sambil menjawab, “Tidak.Tuan benar.”

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya pula, “Kalian masih cukup muda. Sedang ilmu kalian telah melampaui kedua kawan-kawanku itu. Bahkan aku tidak berhasil mengetahui betapa tinggi puncak ilmu kalian dalam perkelahian kalian dengan kedua kawan-kawanku. Kelak apabila kalian menjadi semakin sempurna dalam olah kanuragan jaya kawijayan, maka kalian berdua akan menjadi seperti sepasang elang dari satu sarang.”

Agung Sedayu dan Swandaru tidak menjawab. Namun debar jantung mereka tidak mereda. Orang ini pasti menyimpan ilmu yang jauh berbeda dengan kedua kawan-kawannya itu.

“Nah,” katanya, “apakah kakakmu yang seorang itu juga seperguruan pula?”

Agung Sedayu dan Swandaru bersama-sama menggelengkan kepalanya. Tetapi hanya Agung Sedayu-lah yang menjawab, “Tidak.”

Orang itu berpaling ke arah Sutawijaya. Agung Sedayu dan Swandaru pun memandanginya. Namun Sutawijaya masih saja duduk di tempatnya meskipun sekali-sekali tampak ia mengangkat kepalanya dan mencoba memperhatikan setiap pembicaraan.

Ia tidak pula dapat berdiam diri. Melihat sikap dan langkah orang itu Sutawijaya pun menjadi cemas. Meskipun belum dapat dipastikan namun orang ini pasti menyimpan banyak kelebihan dari kedua kawannya. Tetapi ia tidak segera berbuat sesuatu. Ditunggunya perkembangan keadaan lebih lanjut.

Sejenak kemudian maka tamu dari Menoreh itu pun bertanya lagi, “Apakah kalian berdua puas dengan kemenangan kalian atas kedua kawan-kawanku?”

Yang menjawab adalah Agung Sedayu, “Bukan suatu kemenangan.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Kemudian ia menjawab, “Aku menganggapnya sebagai suatu kemenangan.”

“Kami masih dalam permainan. Belum ada kepastian siapakah di antara kami yang akan menang,” sahut Swandaru.

Orang itu mengerutkan keningnya kembali. Wajahnya kini tidak seterang semula. Senyumnya tidak lagi menghiasi bibirnya. Dalam nada yang dalam ia berkata, “Jangan menghina. Kalian sudah pasti bahwa kalian akan menang apabila perkelahian itu diteruskan. Tetapi dengan kemenangan itu kalian jangan terlampau cepat berbangga.”

Agung Sedayu dan Swandaru terkejut mendengar jawaban itu. Ternyata yang seorang ini mempunyai harga diri yang terlampau tinggi. Meskipun demikian Agung Sedayu berkata, “Jangan menyangka demikian. Tak ada maksud kami menyombongkan diri kami. Bahkan tak ada maksud kami terlibat dalam perkelahian dengan dalih apapun. Tetapi kami malam ini tersudut dalam kemungkinan ini. Kemungkinan yang tidak dapat kami hindari.”

“Omong kosong!” orang itu hampir berteriak. “Kalian sengaja membuat keributan di halaman dengan menghina para prajurit dan kedua kawan-kawanku.”

Agung Sedayu dan Swandaru sejenak saling berpandangan. Kemudian mereka pun memandangi wajah Sutawijaya pula, seakan-akan mereka ingin mendapat pertimbangan. Namun wajah Sutawijaya itu tidak berbicara apapun bagi mereka berdua. Mereka hanya melihat wajah itu berkerut-kerut.

Sejenak kemudian mereka mendengar orang itu berbicara lagi, “Kalian datang dari Sangkal Putung dengan sengaja ingin mempertunjukkan kelebihan-kelebihanmu di sini. Tetapi jangan kau sangka bahwa Sidanti akan berbangga mendengar tingkah lakumu itu. Kalau ia mendengar, maka kau pasti akan dicekiknya sampai mati. Sayang ia tidak melihat kau berbuat seperti ini. Tetapi karena akulah yang melihat bahwa kau telah menghina kedua kawan-kawanku, maka akulah yang akan mewakilinya. Ia pasti akan berterima kasih kepadaku apabila kelak aku mengatakan kepadanya, bahwa tiga orang-orangnya dari Sangkal Putung aku patahkan tangan-tangannya karena kesalahan mereka sendiri.”

Dada kedua anak-anak muda dari Sangkal Putung itu berdesir. Agung Sedayu menggigit bibirnya untuk menahan gelora di dalam dadanya, ia masih mencoba untuk menguasai keseimbangan perasaannya. Karena itu ia masih belum segera menjawab. Tetapi telinga Swandaru ternyata telah terlampau panas. Dengan serta-merta ia menjawab, “Kau sombong seperti Sidanti.”

Jawaban yang pendek itu benar-benar telah menggoncangkan segenap pertimbangan tamu itu. Wajah tamu dari Menoreh itu segera menjadi gelap. Dan orang-orang yang melihatnya pun menjadi semakin tegang. Yang mereka dengar kemudian adalah orang itu berkata, “Hem, aku ingin kalian bertiga maju bersama-sama supaya perkelahian yang terjadi tidak menjemukan seperti perkelahian yang baru saja berlangsung. Ternyata bukan saja tanganmu yang akan aku patahkan, tetapi juga mulutmu. Ayo, bawa saudaramu yang seorang itu ke arena kalau ia mampu.”

Tetapi Sutawijaya ternyata tidak menunggu Agung Sedayu atau Swandaru memanggilnya. Ia kini telah berdiri. Seperti tamu tadi ia mengangguk hormat kepada para tamu yang lain dan dengan perlahan-lahan maju ke tengah-tengah pendapa. Ia tertegun ketika salah seorang pemimpin prajurit berdesis. Tetapi prajurit itu tidak berkata sesuatu.

Prajurit itu adalah prajurit yang seorang lagi, bukan pemimpin prajurit yang memberikan perintah untuk menangkapnya. Karena prajurit itu kemudian sama sekali tidak mengucapkan kata-kata, maka Sutawijaya pun meneruskan langkahnya ke tengah-tengah pendapa.

Tamu dari Menoreh yang menantang mereka berkelahi bersama, memandanginya dengan mata yang menyala. Meskipun demikian orang itu masih mencoba tersenyum sambil berkata, “Hei. Kalian masih sangat muda.”

“Ya,” sahut Sutawijaya, “kami masih cukup muda.”

“Bagus,” desis orang itu. “Tetapi kenapa kalian senang mencari persoalan dengan orang lain. Kenapa kalian senang mencampuri urusan yang bukan urusanmu?”

“Kami tidak sengaja,” sahut Sutawijaya. “kami tidak sengaja membuat persoalan dan mencampuri urusan orang Iain. Tetapi kami juga tidak biasa melihat keanehan-keanehan terjadi?”

“Apa yang aneh menurut pertimbanganmu?” bentak orang itu.

“Banyak sekali.”

“Sebut satu di antaranya.”

“Di antaranya adalah, bahwa kau terlampau merasa dirimu penting dan merasa kau mempunyai wewenang yang berlebih-lebihan. Itu pun akibat dari sesuatu keanehan. Ternyata kau adalah tamu yang terlampau manja di sini.”

“Diam!” tamu itu pun berteriak sehingga hampir setiap orang terkejut karenanya. Dengan luapan kemarahan ia membentak-bentak. “Kau tidak berwenang apapun berbuat demikian. Itu adalah perbuatan yang menyakitkan hati.”

“Aku tidak peduli,” sahut Sutawijaya dengan tatag. Kini ia tidak lagi berusaha menghindari apapun. “Tetapi aku tidak senang melihat sikap dan perbuatan yang demikian.”

“Siapkan diri kalian,” teriak orang itu tiba-tiba. “Kita akan segera mulai. Majulah bertiga bersama-sama.”

“Tidak,” sahut Sutawijaya. “Kami bukan pengecut yang hanya berani berkelahi bersama-sama. Kalau kau berkelahi sendiri, akupun akan berkelahi sendiri.”

Darah orang itu telah benar-benar mendidih sampai ke kepala. Sikap Sutawijaya yang tatag berani itu benar-benar telah sangat mengganggunya. Anak yang masih terlampau muda itu seakan-akan merasa dirinya sangat yakin sehingga orang itu berteriak, “Jangan berbangga karena kawan-kawanmu dapat menang dari kedua kawan-kawanku. Tetapi jangan mimpi bahwa kalian dapat mengalahkan aku. Aku adalah adik Kepala Daerah Perdikan Menoreh. Aku adalah paman Sidanti itu.”

“Pantas,” sahut Sutawijaya tegas.

“Apa?” teriaknya pula.

“Pantas. Benar kata adikku, kau sombong seperti Sidanti.”

Sekali lagi dada orang itu serasa akan meledak. Sekali lagi ia berkata lantang, “Kita akan mulai. Kalau kau akan berkelahi seorang diri, dan kau menjadi korban kesombonganmu adalah bukan salahku. Semua orang akan menjadi saksi.”

“Baik,” sahut Sutawijaya, yang kemudian berkata kepada Agung Sedayu dan Swandaru, “Minggirlah. Biarlah orang ini dapat menakar diri.”

Orang itu hampir tidak dapat mengekang dirinya lagi. Hampir-hampir ia meloncat menerkam Sutawijaya. Tetapi untunglah bahwa orang-orang yang duduk di tepi pendapa itu telah mempengaruhinya pula.

Agung Sedayu dan Swandaru pun menjadi kecewa. Mereka masing-masing ingin pula mendapat kesempatan untuk melawan orang itu, tetapi karena mereka mengetahui siapakah Sutawijaya itu, maka mereka pun tidak membantahnya.

Tetapi di pinggir pendapa itu, pemimpin prajurit yang seorang itu pun tampak menjadi sangat gelisah. Prajurit itu seakan-akan ingin berbuat sesuatu, tetapi ia menjadi ragu-ragu. Kini ia melihat kedua kawan masing-masing pihak telah melangkah menepi dan ia melihat kemarahan telah membara pada wajah keduanya. Apalagi kemudian ia mendengar tamu dari Menoreh itu berteriak, “Kita bukan anak-anak tanggung, yang hanya suka berkelahi. Tetapi kita masing-masing menyadari akibat daripadanya.”

Sutawijaya menyadari kata-kata itu. Para prajurit dan para pemimpin Kademangan Prambanan pun menyadarnya pula. Mereka mendengar Sutawijaya menjawab, “Aku tidak takut menghadapi akibat yang paling parah sekali pun.”

“Bagus,” sahut orang itu. “Kau akan dapat mati di arena ini.”

Perkataan itu telah menegangkan setiap hati yang mendengarnya. Beberapa orang menjadi ngeri dan perempuan-perempuan pun menjadi lebih baik menyingkir jauh-jauh.

Tetapi sebelum mereka mulai, maka tiba-tiba pemimpin prajurit yang gelisah itu pun meloncat berdiri. Dengan tegangnya ia berkata, “Aku tidak ingin melihat pertumpahan darah di kademangan ini. Kau bukan orang Prambanan, kau pun bukan. Apakah sebabnya kalian akan berkelahi di pendapa Banjar Desa Prambanan? Bahkan sampai mati? Tidak. Aku adalah pamimpin Prajurit Pajang di Prambanan. Aku mengemban tugas di sini. Dan aku melarang kalian berkelahi.”

Wajah tamu dari Menoreh itu pun menjadi semakin menyala mendengarnya. Tiba-tiba ia memutar tubuhnya sambil menjawab kasar, “Akulah yang akan berkelahi, bukan kau?”

“Aku mempunyai wewenang di sini. Aku penguasa yang mendapat tugas langsung dari pimpinan prajurit Wira Tamtama, dan bertanggung jawab kepada senapati di daerah lereng Merapi, Untara.”

Orang itu terdiam. Tetapi dada Agung Sedayu berdesir mendengar kata-kata itu. Ternyata daerah ini adalah masih merupakan daerah yang menjadi tanggung jawab kakaknya, Untara. Tetapi prajurit itu sama sekali belum mengenalnya, bahwa ia adalah adik Untara. Apalagi dirinya, bahkan ternyata terhadap Sutawijaya pun orang itu belum mengenalnya.

Tetapi tamu itu berteriak, “Apa peduliku. Bahkan seandainya Untara di sini, aku tidak akan takut. Aku akan tetap dalam pendirianku. Berkelahi sampai mati di sini.”

“Aku tidak berkepentingan apakah kau akan mati atau tidak. Tetapi tidak di sisni. Tidak di Prambanan.”

Terdengar gigi tamu itu gemeretak. Demikian kemarahan menanjak sampai ke ubun-ubun sehingga sejenak justru ia terdiam. Beberapa orang menjadi heran melihat sikap pemimpin prajurit itu, bahkan kawannya, pemimpin prajurit yang lain pun menjadi heran melihat sikap kawannya itu. Dengan tidak sesadarnya ia berteriak, “Biarkan Kakang. Biarkan saja apa yang akan terjadi. Biarkan saja anak-anak Sangkal Putung itu dicekik sampai mampus. Mereka telah menghina kami di sini, menghina tamu-tamu itu dan menghina anak-anak muda Prambanan.”

“Aku tidak mau melihat daerah ini menjadi ajang pertentangan dari orang-orang di luar kademangan. Seolah-olah Prambanan adalah daerah yang paling jelek dari seluruh wilayah Pajang. Siapa yang akan berkelahi bahkan sampai mati, pergi saja ke Prambanan. Di sana perkelahian akan mendapat kehormatan dan dapat dilangsungkan di pendapa banjar desa. Begitu?”

“Tetapi kita tidak bersalah. Para tamu itu pun tidak.”

“Aku tidak tahu siapa yang bersalah. Itu adalah urusan mereka pula. Kalau mereka ingin menyelesaikan dengan pertumpahan darah, itu terserah. Mereka adalah laki-laki jantan. Tetapi tidak di sini. Tidak di pendapa banjar desa ini.”

“Aku tidak berkeberatan,” bantah pemimpin itu.

“Akulah yang memegang seluruh pimpinan di sini,” sahut yang lain. “Akulah yang mendapat tanggung jawab tertinggi di sini. Kecuali kalau Bapak Demang berpendapat lain.”

Di antara para penonton di pendapa itu kemudian berdiri seorang yang masih cukup muda. Ternyata ialah Demang Prambanan. Demang yang menurut ukuran umurnya masih terlampau muda. Dengan wajah yang tegang ia kemudian berkata dari tempanya berdiri, “Aku sependapat dengan kau, Kakang. Aku tidak ingin melihat pendapa ini menjadi ajang perkelahian yang tidak aku mengerti ujung pangkalnya.”

“Nah, kalian dengar,” sahut prajurit itu, kemudian kepada tamu-tamunya dari Menoreh dan kepada Sutawijaya ia berkata, “Hentikan perkelahian!”

“Tidak!” sahut tamu dari Menoreh. “Tidak ada alasan untuk mengurungkan perkelahian. Perkelahian ini hanya dianggap selesai setelah aku mematahkan lehernya.”

“Kau dengar perintahku!” tiba-tiba prajurit itupun berteriak. “Aku mempunyai kekuasaaan di sini, dan aku mempunyai alat-alat kekuasaan itu. Apakah kau akan melawan segenap prajurit yang berada di wilayah ini?”

Wajah tamu itu pun kini menjadi semakin membara. Tetapi ia terdiam sesaat. Agaknya pemimpin prajurit itu benar-benar akan bertindak apabila ia membantah perintahnya. Namun sama sekali ia tidak rela melepaskan lawannya. Karena itu maka ia pun menyahut tidak kalah lantangnya. “Baik. Baik. Kalian merasa diri kalian orang-orang yang luar biasa karena kalian menjadi prajurit Pajang pula, bahkan prajurit yang mempunyai pengaruh yang cukup.”

Jawaban itu agaknya berpengaruh juga di hati pemimpin prajurit itu. Tetapi ia telah terlanjur mengucapkan larangannya, sehingga karena itu ia tidak akan mungkin mencabutnya kembali. Bahkan sekali lagi ia menegaskan, “Di Prambanan akulah yang mendapat kekuasaan. Bukan Sidanti.”

“Tetapi Sidanti kelak akan dapat menggantungmu di alun-alun Pajang.”

“Ia bukan Panglima Wira Tamtama, dan bukan pula senapati di daerah ini.”

“Persetan! Tetapi ia berpengaruh.”

“Aku tidak peduli. Tetapi kalian tidak boleh mengotori daerah ini dengan darah yang tidak ada gunanya tertumpah.”

Terdengar gigi tamu itu gemeretak. Tiba-tiba ia berpaling kepada Sutawijaya dan berkata, “Kita gagal mempergunakan tempat ini. Tetapi kalau kau jantan, perkelahian ini tidak akan urung. Kita akan bertemu besok pagi-pagi di tepi kali Opak di ujung Selatan dari kademangan ini. Kademangan yang dikuasai oleh orang-orang cengeng macam pemimpin prajurit Pajang dan Demang itu. Kau setuju?”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia di hadapkan pada persoalan yang tidak dikehendakinya sama sekali. Tetapi darah mudanya tidak dapat melawan perasaannya sehingga dengan tegas ia menjawab, “Di manapun bukan soal bagiku.”

“Bagus!” teriak tamu itu. “Besok pada saat matahari terbit, aku telah menunggumu di sebelah barat perbukitan Baka. Aku akan membawa senjataku, sebuah pusaka berbentuk tombak pendek. Kalau kau mempunyai senjata bawalah. Kalau tidak carilah pinjaman kemana kau suka. Aku telah bertekad, bahwa salah satu di antara dada kita harus berlubang oleh senjata.”

Sekali lagi dada Sutawijaya berdesir. Agaknya orang itu telah benar-benar kehilangan keseimbangan berpikir. Kemarahannya telah mencapai puncak tertinggi, sehingga baginya tidak akan ada pemecahan lain dari pada maut.

“Hem,” Sutawijaya menggeram. Tetapi ia tidak sempat menjawab. Ia melihat tamu itu berputar dan berjalan tergesa-gesa meninggalkannya. Kedua kawannya pun segera mengikutinya di belakang.

Pemimpin prajurit itu berdiri saja termangu-mangu. Ia mendengar tantangan itu, dan ia pun mendengar jawabannya pula. Karena itu hatinya pun menjadi berdebar-debar. Tetapi ia kini tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Mereka akan berkelahi di luar daerah Kademangan Prambanan. Meskipun demikian, ia akan mampu memberi mereka peringatan, apabila mungkin mengurungkan perkelahian itu.

Tetapi prajurit-prajurit yang lain, termasuk seorang pemimpinnya mempunyai tanggapan yang berbeda. Mereka telah dikecewakan oleh sikap pemimpinnya itu. Mereka ingin melihat anak-anak muda Sangkal Putung itu menjadi biru bengap. Bahkan mungkin tangannya atau kakinya akan patah dan cacat untuk seterusnya. Tetapi peristiwa itu tidak terjadi. Namun kemudian mereka mendengar persetujuan mereka, sehingga tanpa sesadarnya beberapa orang dari mereka berkata, “Baik. Kita menunggu sampai besok. Kita masih mendapat kesempatan untuk menonton perkelahian yang menarik itu.”

Pemimpinnya yang seorang itu berpaling ke arah kawan-kawannya. Tetapi kawan-kawannya itu pun tertawa dengan nada yang aneh. Seakan-akan mereka sengaja mentertawakan sikapnya. Dengan demikian dada pemimpin itu berdesir. Seandainya benar-benar tamu dari Menoreh itu tidak menghormati sikapnya, apakah kawan-kawannya para prajurit itu akan bersedia untuk melakukan perintahnya? Mengusir tamu-tamu dari Menoreh itu meninggalkan Prambanan? Ia sendiri yakin, bahwa seorang diri ia tidak dapat mengalahkan tamu yang seorang itu, adik Kepala Daerah Perdikan Menoreh. Apalagi bertiga. Tetapi ia mengharap beberapa anak-anak muda Prambanan yang masih menyadari kedudukannya akan membantunya, meskipun lebih banyak dari mereka yang lebih senang berbuat seperti orang-orang gila.

Peristiwa itu tiba-tiba telah mendorong pemimpin prajurit Pajang itu menyadari kesalahannya selama ini. Selama ini seolah-olah dibiarkannya Prambanan menjadi sebuah hutan belantara. Tidak ada peraturan yang pasti dapat menjamin ketetapan adat dan tingkah laku di kademangan ini, sehingga seolah-olah sama sekali tidak dirasakannya adanya ketenangan. Terutama di kalangan anak-anak mudanya. Ki Demang Prambanan sendiri seakan-akan sama sekali tidak mempunyai wibawa apapun. Ia hanya bertindak sesuka hatinya sendiri. Bahkan kadang-kadang hanyut di dalam arus kegilaan anak-anak muda. Demang Prambanan sendiri adalah demang yang masih cukup muda, dan itulah sebabnya, maka kadang-kadang ia masih berpikiran kurang dewasa. Beruntunglah kali ini Ki Demang Prambanan itu sependapat dengan pendirian pemimpin prajurit itu, sehingga keputusannya untuk menentang perkelahian itu menjadi lebih kuat.

Pemimping prajurit itu melihat satu-satu para penonton di halaman sekeliling pendapa itu pergi meninggalkan halaman banjar desa. Wajah-wajah mereka seakan-akan memancarkan kekecewaan hati mereka, bahwa pemimpin prajurit itu telah mencegah suatu tontonan yang pasti akan lebih mengasikkan daripada sabung ayam jantan. Yang akan bersabung di pendapa itu bukan sekedar ayam jantan, tetapi adalah dua orang laki-laki jantan. Satu dari Bukit Menoreh, yang lain dari Sangkal Putung. Tetapi tontonan itu menjadi urung. Namun hati mereka terhibur pula, ketika mereka mengetahui tontonan itu sebenarnya hanya tertunda sampai esok pagi di tepi kali Opak di ujung kademangan, sebelah barat pegunungan Baka.

Tamu-tamu, para pemimpin Kademangan Prambanan di pendapa, dan para prajurit meninggalkan pendapa itu pula. Mereka sama sekali tidak menyapa pemimpin prajurit yang masih berdiri tegak di tempatnya dan bahkan Demang Prambanan yang masih tegak pula. Mereka pergi dengan langkah yang tersendat-sendat seakan-akan ada yang mereka tinggalkan di pendapa itu. Sekali-kali mereka berpaling, dan mereka melihat wajah Sutawijaya yang memancarkan ketetapan hatinya, tanpa perasaan was-was sama sekali meskipun esok pagi ia harus berhadapan dengan tamu yang mereka segani.

“Wajah anak muda itu pun seakan-akan mawa cahya,” tiba-tiba salah seorang berdesis. Tetapi tak seorang pun yang menyahut. Orang yang berbicara itu pun terdiam pula.

Sejenak kemudian maka pendapa itu pun menjadi sepi. Bahkan halaman banjar desa itu pun telah menjadi senyap. Satu dua orang masih tampak berjalan mondar-mandir. Tetapi mereka pun segera pergi. Yang masih tinggal di halaman adalah dua orang perabot Kademangan Prambanan, Ki Jagabaya yang kurus tinggi beserta adiknya. Mereka menunggu demangnya dan mereka nanti akan bersama-sama kembali ke rumah masing-masing yang berdekatan.

Di pendapa itu kini berdiri termangu-mangu pemimpin prajurit Pajang yang seorang, Ki Demang, Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru. Tetapi di sudut pendapa itu masih duduk beberapa anak-anak muda, di antaranya adalah Haspada dan Trapsila.

Prajurit itu memandangi anak-anak muda itu dengan sorot mata yang mengandung teka-teki. Seolah-olah pemuda-pemuda itu ingin melihat apa saja yang akan dilakukannya. Tetapi pemimpin prajurit itu telah mengenal dengan baik siapakah mereka itu. Haspasa, Trapsila, dan kawan-kawannya adalah anak-anak muda yang mempunyai tabiat yang berbeda dengan anak-anak muda pada umumnya. Namun justru karena itu, maka mereka hampir-hampir tak pernah mendapat perhatiannya. Tetapi kini anak-anak muda itulah yang tinggal mengawaninya.

Tiba-tiba prajurit itu seakan-akan bergumam kepada diri sendiri, “Apakah yang kau tunggu?”

Anak-anak muda itu pun terkejut mendengar pernyataan itu. Sesaat mereka saling berpandangan seakan-akan saling bertanya, “Ya, apakah yang kami tunggu?”

Karena anak-anak muda itu tidak segera menjawab, maka prajurit itu pun menyambung kata-katanya, kali ini agak mengejutkan Haspada dan kawan-kawannya, “Aku mengucapkan terimakasih atas sikapmu. Kau sudah membantu membuat keseimbangan pada saat-saat yang tidak menyenangkan. Mungkin selama ini kita tidak saling bertemu dalam perbuatan karena kesalahanku. Tetapi dalam keadaan yang penting, kalian dapat membantu aku.”

Haspada dan Trapsila tersenyum. Hampir bersamaan keduanya menjawab, “Mudah-mudahan.”

“Terimakasih,” sahut prajurit itu yang kemudian berpaling kepada Sutawijaya dan kedua kawannya. “Bagaimana dengan kalian?”

“Kami akan kembali ke pondokan kami,” sahut Sutawijaya. “Besok aku akan datang ke tempat yang telah kami setujui.”

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Kalau kau mau mendengar kata-kataku, jangan datang. Lawanmu adalah orang yang luar biasa. Hanya dengan tombak pendeknya itu ia seorang diri mampu berburu harimau. Bahkan banyak perbuatan-perbuatan aneh yang telah dilakukannya di sini hanya dalam waktu yang sangat singkat. Mungkin sengaja ia memperlihatkan kemampuannya untuk mendapat perlakuan yang baik di sini.”

“Ya. Tamu itu terlampau manja. Tetapi aku tidak dapat ingkar janji.”

“Aku mencoba memperingatkan kalian. Ia adalah adik Kepala Daerah Perdikan Menoreh. Namanya Argajaya, sedang kakaknya bernama Argapati.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Prajurit itu pasti tidak hanya sekedar menakut-nakutinya. Meskipun mungkin apa yang dikatakan itu agak berlebih-lebihan, tetapi sebagian besar daripadanya pasti sebenarnya terjadi.

Tetapi Sutawijaya adalah seorang anak muda yang punjuling-apapak. Anak muda itu mempunyai banyak kelebihan dari anak-anak muda sebayanya. Karena itu ia sama sekali tidak gentar mendengar keterangan prajurit itu. Bahkan timbullah hasratnya untuk menilai kekuatan orang kedua dari Bukit Menoreh. Darah muda yang mengalir di dalam tubuhnya ternyata sangat mempengaruhi keputusannya.

Terdengar prajurit itu kemudian berkata pula, “Apakah kalian dapat mengerti keteranganku? Aku bermaksud baik. Meskipun Argajaya bukan Argapati, tetapi setidak-tidaknya ia memiliki kekuatan yang dapat dibanggakan.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Terimakasih. Tetapi sayang, aku sudah berjanji untuk menemuinya besok pagi.”

“Kau dapat membatalkannya. Mungkin kau perlu minta maaf kepadanya, atau kau segera meninggalkan kademangan ini kembali ke Sangkal Putung. Argajaya adalah seorang yang sakti. Mungkin ia mampu menyamai Untara, Senapati Pajang di daerah di sekitar Gunung Merapi.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Untara adalah seorang yang tanggon. Untara pulalah yang telah mampu membunuh Tohpati. Tetapi ia pun pernah maju berperang, bahkan langsung melawan Arya Penangsang. Meskipun ia tidak pasti, bahwa ia akan dapat memenangkan pertempuran besok, namun bukanlah wataknya untuk meminta maaf dan belas kasihan, atau lari dengan diam-diam meninggalkan janji jantan.

“Aku adalah Sutawijaya,” katanya di dalam hati. “Alangkah aib namaku dan nama ayahku kalau aku tinggal gelanggang colong playu. Aku harus memenuhi janji itu.”

Dan prajurit itu bertanya lagi, “Bagaimana? Aku sayang melihat kemudaanmu. Menilik kedua adik-adikmu, maka kalian masih akan jauh berkembang. Mungkin lima atau sepuluh tahun lagi kau akan berjumpa kembali dengan Argajaya. Dan kau akan menebus malumu kali ini.”

“Terimakasih,” Sutawijaya mengulangi. “Aku terpaksa menemuinya besok.”

Prajurit itu menarik nafas. Ketika ia berpaling dilihatnya Haspada dan Trapsila pun menjadi tegang pula. Tetapi mereka berdua tidak berkata sepatah kata pun.

Hanya demang yang masih muda itulah yang kemudian mencoba menasehati pula. “Dengarkan nasehat itu. Tak seorang pun yang mengenal kalian, sehingga nama kalian tidak akan tercemar karenanya. Berbeda akibatnya jika nama kalian adalah nama yang telah mengumandang setidak-tidaknya di sekitar daerah ini. Maka kalian pasti akan mempertahankan harga diri kalian masing-masing. Tetapi kalian akan lebih sayang pada nyawa kalian daripada nama kalian yang belum dikenal itu.”

Dada Sutawijaya berdesir. Hampir ia lupa dan meneriakkan namanya, Sutawijaya putra Panglima Wira Tamtama dan yang telah berhasil membenamkan tombaknya di perut Arya Penangsang. Untunglah ia menyadari keadaannya, sehingga maksudnya itu pun diurungkannya.

Meskipun demikian ia menjawab sekali lagi, “Terimakasih atas segala nasehat itu. Kami bertiga menyadari bahwa nasehat-nasehat itu bermaksud baik untuk kepentingan keselamatan kami. Tetapi biarlah kami mencoba mengadu untung. Kami sebenarnya memang memerlukan banyak pengalaman untuk kepentingan kademangan kami.”

“Tetapi apabila terjadi sesuatu dengan salah seorang dari kalian, jangan mendendam pada Kademangan Prambanan. Kami sama sekali tidak tahu-menahu dan tidak campur tangan dengan persoalan kalian besok. Prambanan dan Sangkal Putung adalah kademangan yang selama ini belum pernah mempunyai persoalan apapun,” berkata demang itu pula.

“Baik Ki Demang,” sahut Sutawijaya. “Kami dapat mengerti sepenuhnya maksud Ki Demang. Dan kami pun tidak akan menyangkutkan orang lain dalam persoalan ini.”

Prajurit itu dan Ki Demang Prambanan pun mengangguk-anggukkan kepala. Sesaat mereka saling berpandangan, kemudian berkatalah Ki Demang Prambanan, “Terserahlah kepada kalian. Tetapi kemana malam ini kalian akan bermalam?”

“Kami akan kembali ke tempat kami menumpang malam ini. Kami berada di rumah Paman Astra.”

Kedua orang itu pun mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian pemimpin prajurit itu pun berkata, “Kembalilah ke rumah Kakang Astra. Pikirkanlah sekali lagi apa yang akan kalian hadapi besok. Kalau kalian merubah pendirian kalian, kami akan ikut bersenang hati. Kalian dapat meninggalkan kademangan ini tanpa gangguan. Aku kira tamu-tamu itu tidak akan mengejarmu.”

“Baik, aku akan mencoba berpikir sekali lagi,” sahut Sutawijaya.

“Selamat malam,” desis prajurit itu.

“Terima kasih,” sahut Sutawijaya.

Prajurit itu, Ki Demang, dan Ki Jagabaya beserta adiknya dan kedua perabot desa yang lain, yang sudah mengunggu di halaman itu pun kemudian pergi meninggalkan banjar desa pula. Haspada, Trapsila, dan kawan-kawannya pun kemudian berdiri dan berkata, “Kisanak. Kami sependapat dengan pemimpin prajurit dan Ki Demang. Meskipun kami telah melihat betapa kalian telah mengejutkan kami, tetapi bermain-main dengan tamu yang seorang itu adalah sangat berbahaya.”

“Terimakasih Kisanak. Aku akan mencoba memikirkan sekali lagi,” jawab Sutawijaya pula. Tetapi hatinya sama sekali tidak bergerak untuk merubah keputusannya. Ia akan menemui orang itu besok di sebelah Bukit Baka.”

Banjar desa itu pun kini menjadi semakin sepi. Para penabuh gamelan pun telah tidak ada yang tinggal lagi. Karena itu maka Sutawijaya dan kawan-kawannya segera meninggalkan tempat itu pula, kembali ke rumah Astra.

Di sepanjang jalan tidak banyak kata-kata yang mereka ucapkan. Dengan langkah yang panjang mereka menyuusuri jalan-jalan di Kademangan Prambanan. Sesudah mereka melintasi sebuah bulak pendek, maka mereka melihat beberapa orang anak-anak muda berkumpul bergerombol di pinggir jalan.

“Itulah mereka,” gumam Sutawijaya. “Apakah mereka masih akan membuat onar lagi? Kali ini kita harus bersikap lain seandainya mereka berbuat sesuatu. Apalagi kalau di antara mereka terdapat tamu-tamu dari Menoreh itu.”

Agung Sedayu dan Swandaru menjawab hampir bersamaan, “Baik.” Dan Swandaru meneruskan, “Aku menjadi muak melihat sikap mereka. Beruntunglah kademangan ini masih juga menyimpan anak-anak muda seperti Haspada dan Trapsila.”

“Mudah-mudahan mereka akan segera mendapatkan tempatnya kembali,” gumam Agung Sedayu. “Aku menjadi heran, kenapa anak-anak muda seperti mereka itu justru menjadi terasing di sini.”

Kini mereka terdiam. Jarak mereka menjadi semakin dekat. Anak-anak muda yang berdiri di pinggir jalan itu pun agaknya memperhatikan mereka pula.

Tetapi Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru menjadi heran ketika mereka kemudian melihat anak-anak muda itu menundukkan kepala. Bahkan satu dua yang masih sempat, menghindar dan berlindung di balik-balik pagar halaman. Agaknya mereka menjadi malu melihat Sutawijaya dan kedua kawannya. Apalagi anak-anak muda yang pada sore harinya telah mencoba menghinanya.

Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru berjalan terus. Berpaling pun tidak. Mereka tidak mau membuat persoalan dengan mereka, atau sengaja membuat mereka malu.

Ketika kemudian mereka menengadahkan wajah mereka, mereka melihat bintang Gubuk Penceng telah jauh condong ke arah barat. Tanpa sesadarnya Agung Sedayu bekata, “Kita sudah hampir sampai ke ujung fajar.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Gumamnya, “Waktuku tinggal sedikit. Pada saat fajar menyingsing aku harus sudah berada di sebelah barat Pegunungan Baka. Aku kira kita tidak akan pergi sendiri. Aku kira banyak anak-anak muda yang ingin melihat perkelahian itu.”

“Ya,” sahut Agung Sedayu

“Terpaksa,” desis Sutawijaya, “aku tidak dapat menghindarinya.”

Kedua kawannya tidak menjawab, dan Sutawijaya berkata terus, “Tetapi aku ingin singgah meskipun hanya sebentar di rumah Paman Astra. Sukurlah kalau Paman Astra telah menyediakan minuman hangat. Aku sangat haus.”

“Aku juga,” sahut Swandaru tiba-tiba. “Aku agaknya terlalu lama menari tayub di pendapa, meskipun tanpa diiringi gamelan.”

Kedua kawannya tersenyum. Tetapi kemudian terdiam. Hanya desir kaki-kaki mereka di atas tanah yang kering terdengar mengusik sepi malam. Di kejauhan suara burung hantu terdengar seperti sedang memanggil-manggil.

Ketika kemudian mereka memasuki halaman rumah Astra maka mereka bertiga itu pun terkejut. Dengan terbungkuk-bungkuk Astra menyambut mereka sambil berkata, “Mari, Ngger. Mari silakan masuk kerumah paman yang jelek ini.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Sikap orang tua itu tiba-tiba berubah. Tetapi sebelum ia bertanya, apakah sebabnya, Astra telah berkata, “Aku sudah mendengar apa yang telah Angger lakukan di pendapa dari kedua anakku. Sungguh luar biasa. Angger telah mengejutkan seluruh anak-anak muda Prambanan. Bahkan anak-anak yang paling disegani pun tidak akan dapat menyamai Angger sekalian. Angger Haspada dari Sembojan, Angger Trapsila dari Tlaga Kembar, menurut anak-anakku, mereka tidak akan dapat menyamai Angger-angger ini. Apalagi aku mendengar bahwa Angger Sutajia akan bertanding pagi nanti di sebelah Bukit Baka.”

Ketiga anak muda itu tersenyum. Tanpa disengaja Sutawijaya bertanya, “Di manakah kedua putera Paman itu?”

“Mereka bersembunyi, Ngger. Mereka merasa malu.”

“Mudah-mudahan masih ada rasa malu pada anak Paman. Dengan demikian Paman masih mempunyai harapan, bahwa putera-putera Paman akan menjadi sadar, bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah sikap mereka yang sewajarnya. Mereka telah terbius oleh suatu keadaan yang tidak dapat mereka mengerti sendiri.”

“Ya, ya, Ngger. Mudah-mudahan,” berkata orang tua itu. “Tetapi, marilah masuk. Marilah bibimu telah menyediakan sekedar minuman hangat.”

“Terimakasih, Paman.”

Tergesa-gesa Astra masuk ke dalam rumahnya diikuti oleh Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru. Wajah Swandaru yang bulat itu tampak tersenyum-senyum sambil berbisik lirih, “Hem. Minuman hangat dan jadah panggang.”

“Sst,” desis Agung Sedayu. Namun mereka bertiga pun tersenyum.

Di sebuah amben besar mereka duduk melingkari mangkuk-mangkuk berisi minuman hangat, dan tepat sekali seperti tebakan Swandaru, jadah panggang dan potongan-potongan jenang dodol.

Dengan lahapnya mereka menikmati suguhan itu. Sekali-kali di selingi oleh suara mereka sahut menyahut. Namun Astra itu pun menjadi semakin heran, bahwa tak ada kesan apapun di wajah anak muda yang menyebut dirinya bernama Sutajia itu. Dari anak-anaknya ia mendengar bahwa anak-anak muda itu besok akan berperang tanding melawan tamu yang memimpin rombongan dari Bukit Menoreh, bahkan adik Kepala Tanah Perdikan Menoreh sendiri. Tetapi orang tua itu tidak berani bertanya tentang pertempuran besok, betapa pun inginnya untuk mengetahui.

Selagi mereka sibuk mengunyah jadah dan jenang dodol serta menghirup hangatnya minuman, tiba-tiba pintu rumah itu diketuk orang. Dari sela-sela pintu yang tidak tertutup rapat, mereka dikejutkan oleh hadirnya pemimpin prajurit Pajang yang telah mencoba mencegah Sutawijaya berkelahi besok.

“Marilah, Tuan, marilah,” Astra menjadi tergopoh-gopoh mempersilakan duduk di amben itu pula.

Sutawijaya dan kedua kawannya segera berdiri pula sambil mengangguk hormat.

Prajurit itu pun kemudian duduk di antara mereka. Astra segera menyuguhkan semangkuk air hangat dan segumpal gula kelapa kepada tamunya yang tidak disangka-sangkanya. Sambil terbungkuk-bungkuk ia bertanya, “Tuan, kedatangan Tuan benar-benar mengejutkan hatiku. Apakah ada sesuatu yang Tuan anggap penting untuk datang berkunjung ke rumah yang jelek ini?”

Pemimpin prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak segera menjawab, tetapi ditatapnya wajah Sutawijaya dan kedua kawannya berganti-ganti.

Namun dalam sekejap itu Sutawijaya dan kedua kawannya pun segera dapat melihat, betapa besar pengaruh para prajurit Pajang di Prambanan. Mereka ditakuti oleh setiap orang dan dengan demikian, maka mempunyai kekuasaan yang cukup besar.

Agung Sedayu dan Swandaru pun melihat sikap Astra dan sikap prajurit itu. Hubungan mereka agak berbeda dengan sikap setiap prajurit di Sangkal Putung. Hubungan antara para prajurit dan penduduk Sangkal Putung tampak jauh lebih akrab. Kekuasaan Widura pun sama sekali hanya terbatas pada segi-segi keprajuritan untuk menghadapi kekuatan Tohpati pada waktu itu. Demang Sangkal Putung sama sekali tidak merasa terganggu oleh kekuasaan yang diemban oleh pimpinan Wira Tamtama itu, bahkan keduanya saling isi-mengisi dengan serasi. Agaknya berbeda dengan kedudukan Demang dan penduduk Prambanan di mata para prajurit yang bertugas di tempat ini.

“Semuanya telah menyimpang dari kewajaran,” desis Sutawijaya di dalam hatinya. Ia tahu benar sikap ayahnya, Panglima Wira Tamtama. Namun kadang-kadang tidak semua prajurit merupakan cermin dari sikap Panglimanya.

“Astra,” kemudian terdengar pemimpin prajurit itu berkata. “Aku datang kemari untuk menemui ketiga tamu-tamumu anak-anak muda dari Sangkal Putung ini.”

“O,” sahut Astra sambil membungkuk-bungkuk. “Silahkan, Tuan, silahkan.”

Pemimpin prajurit itu menarik nafas. Kemudian kepada Sutawijaya ia berkata, “Aku tidak dapat melupakan persetujuanmu dengan tamu-tamu dari Menoreh itu. Begitu aku mencoba berbaring untuk beristirahat, segera aku menjadi cemas. Bahkan semakin lama menjadi semakin cemas. Aku tidak tahu, kenapa aku berperasaan demikian. Aku sudah mencoba berpikir, bahwa kau bukan sanak bukan kadangku. Seandainya kau mengalami bencana pun, aku tidak akan kehilangan. Tetapi aku tidak dapat berbuat demikian, sehingga aku terpaksa menemuimu.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Agung Sedayu dan Swandaru pun menjadi heran pula atas sikap prajurit itu. Apakah yang telah mendorongnya berbuat demikian?

Tetapi prajurut itu kemudian mengaku sendiri, alasan-alasan yang telah mempengaruhi perasaannya selama ini. Katanya, “Mungkin aku terdorong oleh perasaan bersalah. Selama ini aku tidak dapat melakukan tugasku sesuai dengan garis-garis yang telah diberikan oleh senapati daerah lereng Merapi, Untara. Bukankah Untara sekarang berada di sekitar Sangkal Putung? Mungkin aku cemas apabila terjadi sesuatu dengan kalian di Prambanan, dan berita itu sampai ke telinga Ki Untara, seolah-olah aku tidak berbuat apa-apa di sini.”

Kembali Sutawijaya mengerutkan keningnya. Tanpa dikehendakinya, ia berpaling ke arah Agung Sedayu dan Swandaru. Namun kemudian ia menjawab, “Tuan, itu adalah tanggung jawabku sendiri. Kedua kawan-kawanku dan paman Astra menjadi saksi, bahwa Tuan telah berusaha sebaik-baiknya dan sejauh-jauhnya. Tetapi aku ternyata telah mengabaikannya. Salahkulah apabila terjadi sesuatu esok pagi.”

Prajurit itu terdiam. Direnunginya wajah Sutawijaya, seolah-olah ingin dilihatnya isi hatinya. Wajah anak muda itu agaknya terlampau tenang menghadapi perkelahian yang berbahaya.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Lewat pintu yang separo terbuka, berhembus angin yang silir menggerak-gerakan nyala pelita di atas bancik yang tersangkut pada tiang.

Tiba-tiba mereka tersadar, bahwa mereka tidak usah menunggu terlalu lama. Di kejauhan mereka mendengar suara ayam jantan berkokok. Kemudian disahut oleh yang lain, dan suara kokok ayam itu seolah-olah menjalar dari satu kandang ke kandang yang lain. Bahkan ayam-ayam jantan yang bertengger di pepohonan pun menyahut pula dengan suara nyaring.

“Hampir fajar,” desis prajurit itu. “Kesempatan terakhir bagi kalian.”

“Maaf, Tuan,” desis Sutawijaya. “Aku tidak dapat melepaskan janji itu. Betapa rendah martabatku, dan betapa kecil namaku seperti disebut oleh Ki Demang Sangkal Putung, tetapi aku harus menjunjung harga diriku dan harga diri keluargaku.”

Prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Terjadilah di luar lingkungan kekuasaanku. Terjadilah di luar tanggung jawabku. Kalian yang mendengar ini menjadi saksi, bahwa aku telah berusaha untuk membatalkan perkelahian ini.”

“Semuanya akan menjadi saksi,” sahut Sutawijaya. Tetapi darah mudanya telah mendorongnya berkata, “Tetapi Tuan belum mencoba cara lain.”

Prajurit itu mengerutkan dahinya. Katanya, “Cara apakah yang kau maksud?”

“Mungkin Tuan dapat menghubungi Argajaya, dan minta kepadanya untuk membatalkan maksudnya. Minta kepadanya untuk meninggalkan kademangan ini seperti yang Tuan kehendaki atas kami.”

Wajah prajurit itu menjadi tegang. Dipandanginya wajah Sutawijaya dengan tajamnya. Bahkan Agung Sedayu pun terkejut pula mendengar perkataan Sutawijaya. Hanya Swandaru-lah yang tersenyum-senyum di dalam hati. Baginya perkataan Sutawijaya itu masih terlampau berhati-hati. Namun bagi Agung Sedayu, apa yang diucapkannya itu sebenarnya tidak perlu. Apalagi ketika Agung Sedayu melihat wajah prajurit yang menjadi tegang itu.

Tetapi meskipun demikian, meskipun Sutawijaya melihat juga kerut-merut di wajah prajurit itu, ia sama sekali tidak menyesal. Disadarinya benar-benar apa yang diucapkannya, sehingga karena itu ia sama sekali tidak terkejut ketika prajurit itu berkata, “Anak muda, aku hanya mencoba menjaga keselamatanmu. Jangan menjadi sombong dan jangan menyangka bahwa aku akan menjadi ketakutan seandainya kau mengancam akan melaporkan setiap kesalahan yang pernah aku lakukan di sini, meskipun apabila masih ada kesempatan aku akan mencoba untuk memperbaikinya. Mungkin kau mempunyai perhitungan tersendiri, bahwa seandainya terjadi sesuatu atas dirimu, maka kesalahanku bukan saja karena aku membiarkan itu terjadi, tetapi apa yang pernah aku lakukan akan diusutnya pula. Namun itu bukan berarti bahwa aku akan menundukkan kepalaku di bawah pengaruhmu. Aku bermaksud baik, tetapi jangan mencoba memeras dan memperalat aku. Aku akan dapat bersikap sebaliknya.”

Swandaru mengerutkan keningnya mendengar jawaban itu, sedang dada Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Apalagi Astra yang tidak tahu ujung pangkal pembicaraan mereka menjadi sangat ketakutan. Namun wajah Sutawijaya sendiri sama sekali tidak berubah. Dengan tenang ia berkata, “Maafkan, Tuan. Maksudku hanya ingin mengatakan. Bahwa apabila benar-benar Tuan ingin bersikap baik sebagai seorang prajurit, maka aku mengharap Tuan bersikap adil. Kalau Tuan menawarkan kebaikan hati kepada kami, maka apakah salahnya hal yang serupa Tuan berikan pula kepada tamu-tamu dari Menoreh itu.”

“Apakah benar kata kawan-kawanku bahwa kau telah menghina kami, para prajurit Pajang di Prambanan?”

“Tidak, Tuan,” sahut Sutawijaya cepat-cepat. Tetapi ia masih tetap tenang. “Sekali lagi aku minta maaf. Aku menyadari maksud Tuan. Tetapi aku menyadari juga bahwa sikap Tuan tidak adil terhadap kami dan para tamu itu. Mungkin karena mereka datang dengan tanda-tanda kebesaran mereka sebagai seorang adik dari kepala tanah perdikan yang besar, sedang kami datang sebagai anak-anak gembala yang lusuh. Tetapi jangan salah paham Tuan. Kami hanya ingin mengatakan, bahwa kami sudah terlanjur menganggap bahwa kami tidak kurang selapis pun dari tamu-tamu dari Bukit Menoreh itu. Itulah sebabnya kami berusaha untuk menjumpainya nanti di sebelah Bukit Baka.”

“Terserahlah kepadamu. Kau sudah mulai menyombongkan dirimu sebelum kau berbuat sesuatu.”

“Aku hanya mencoba membesarkan hatiku sendiri Tuan. Aku menyadari, bahwa setiap orang menganggap bahwa lebih baik bagiku untuk menghindari perkelahian besok selain mereka yang ingin melihat dadaku berlubang oleh ujung tombak. Tuan memang bermaksud baik, dan karenanya sekali lagi aku mengucapkan terima kasih. Tetapi sikap Tuan itu telah memperkecil hatiku. Maaf, Tuan. Aku harap Tuan mengerti supaya aku tidak menggigil pada saat aku melihat ujung tombaknya. Namun tak ada niatku untuk lari dari janji yang telah aku ucapkan.”

Wajah pemimpin prajurit Wira Tamtama di Prambanan itu masih juga tegang. Tetapi ia merasa aneh mendengar kata-kata anak muda dari Sangkal Putung itu. Ia merasa tersinggung karenanya, tetapi ia merasakan kebenarannya pula. Bahkan ia merasa hormat kepada anak yang melihat kenyataan yang telah berlaku di Prambanan ini. Sehingga dengan demikian ia menjadi ragu-ragu apakah benar ia hanya berhadapan dengan seorang anak gembala yang karena keadaan telah menjadi pengawal kademangannya?

Dalam pada itu maka prajurit itu pun menjadi ragu-ragu. Dengan demikian, maka ruangan itu pun menjadi sunyi kembali. Yang terdengar kemudian adalah kokok ayam jantan yang menjadi semakin ramai di segenap sudut desa.

“Hampir fajar,” tiba-tiba Sutawijaya berdesis.

Dalam keragu-raguannya tiba-tiba prajurit itu berkata, “Kau belum sempat beristirahat menghadapi saat yang berbahaya bagimu.”

“Aku sudah cukup beristirahat di sini. Aku sudah minum minuman hangat dan makan pagi, jadah panggang dan jenang manis.”

Prajurit itu tidak menjawab. Sejenak ia termenung. Kemudian terdengar ia berkata, “Aku akan melihat apa yang terjadi. Aku kira di sebelah Barat Bukit Baka pagi ini akan menjadi sangat ramai dikunjungi orang. Mereka ingin melihat punggungmu dipatahkan, atau dadamu menjadi berlubang. Tetapi aku tidak bertanggung jawab.”

“Mudah-mudahan terjadi sebaliknya. Punggung tamu itulah yang akan aku patahkan dan dadanyalah yang akan berlobang.”

“Kau terlalu sombong.”

“Tidak, Tuan,” sahut Sutawijaya. “Sudah aku katakan, aku hanya ingin membesarkan hatiku sendiri.”

Prajurit itu memandangi wajah Sutawijaya dengan saksama. Tiba-tiba ia sadar, bahwa wajah itu sama sekali bukan wajah seorang gembala atau anak padesan Sangkal Putung. Tetapi ia tidak tahu, bagaimana ia harus mengatakannya.

Tiba-tiba ia berkata, “Apakah kau memerlukan senjata? Lawanmu akan mempergunakan sebuah pusakanya yang berbahaya. Sebatang tombak pendek. Kalau kau perlukan, kau dapat memakai pedangku.”

“Terima kasih,” sahut Sutawijaya. “Aku mempunyai senjataku sendiri.”

Dada prajurit itu berdesir, tetapi ia berdiam diri.

Ketika suara ayam jantan menjadi semakin ramai, maka berkatalah Sutawijaya, “Aku tidak ingin terlambat. Lebih baik aku datang lebih dahulu. Aku akan berangkat segera.”

“Angger,” Astra yang sejak tadi berdiam diri tiba-tiba berkata, “apakah Angger tidak dapat mengurungkan perkelahian itu? Aku telah mendengar pula dari anak-anakku bahwa Angger akan melakukan perang tanding pagi ini.”

Sutawijaya tersenyum. Jawabnya, “Sayang, Paman. Doakan saja aku selamat.”

Sutawijaya pun segera minta diri untuk memenuhi janjinya pergi ke sebelah Barat Bukit Baka di tepi Sungai Opak.

Wajah Astra yang tua itu pun kemudian memancarkan perasaan cemasnya. Sorot matanya menjadi suram dan gelisah. Bahkan pemimpin prajurit itu pun tertegun-tegun dicengkam oleh perasaan tak menentu.

Namun terdengar Sutawijaya berkata tegas, “Aku akan berangkat.” Kepada Agung Sedayu dan Swandaru ia berkata, “Marilah. Aku tidak mempunyai waktu lagi.”

Agung Sedayu dan Swandaru tidak menjawab. Segera mereka turun dari amben bambu yang besar itu dan mengipas-ngipaskan kain mereka.

Prajurit itu pun tiba-tiba berkata, “Aku akan pergi bersama kalian.”

“Terima kasih,” sahut Sutawijaya yang kemudian sekali lagi minta diri kepada Astra. “Kami akan berangkat, Paman.”

Astra melepas mereka dengan hati yang gelisah dan cemas. Ia sendiri tidak mengerti, kenapa ia mencemaskan nasib anak-anak muda yang baik itu. Meskipun anak-anak muda itu baru saja dikenalnya. Namun dalam tutur kata dan sikapnya, serta apa yang didengarnya dari kedua anaknya, maka hatinya telah tertarik kepada mereka.

Tetapi Astra tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya dapat memandangi langkah-langkah yang tetap dari ketiga anak-anak muda itu bersama pemimpin prajurit Pajang di Prambanan, meninggalkan halaman rumahnya.

Ketika Sutawijaya berbelok lewat sebuah pematang, maka prajurit itu pun berkata, “Kita menempuh jalan ini. Jalan ini adalah jalan yang paling dekat.”

Sutawijaya menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya wajah kedua kawannya seolah-olah ingin mendapat pertimbangan dari padanya. Tetapi kedua kawannya itu sama sekali tidak berbuat sesuatu bahkan sorot mata mereka pun sama sekali tidak menunjukkan sesuatu sikap. Karena itu, maka Sutawijaya-lah yang harus bersikap. Katanya, “Aku harus lewat jalan ini, Tuan.”

“Kau harus memutari ladang. Baru kau akan sampai ke jalan yang sempit. Di ujung lain dari pematang itu, kau akan sampai ke jalan kecil, dan jalan kecil itu adalah simpangan dari jalan yang besar ini.”

Kembali Sutawijaya menjadi ragu-ragu. Tetapi ia harus melewati batang gayam tempat mereka menyangkutkan senjata-senjata mereka. Karena itu maka jawabnya, “Jalan inilah yang aku kenal pada saat aku datang, Tuan. Karena itu aku akan menempuh jalan ini pula.”

“Aku mengenal setiap sudut Kademangan Prambanan seperti aku mengenal rumahku sendiri.”

Sutawijaya akhirnya tidak mempunyai alasan lain dari pada alasan yang sebenarnya, sehingga ia tidak lagi dapat menghindar. Maka katanya, “Aku harus lewat di bawah pohon gayam di sebelah ladang ini, Tuan.”

Pemimpin prajurit itu menjadi heran, sehingga dengan serta merta ia bertanya, “Kenapa kau harus lewat di bawah pohon gayam?”

Sutawijaya benar-benar sudah tidak ada kesempatan untuk menyembunyikan keadaannya. Maka jawabnya, “Senjata kami, kami simpan di pohon itu, Tuan.”

“Senjata?” kembali prajurit itu terkejut. Ia telah mendengar Sutawijaya berkata bahwa ia akan mempergunakan senjatanya sendiri, tetapi ketika ia mendengar bahwa senjata itu tersimpan di pohon gayam, maka ia masih juga terperanjat.

“Ya, Tuan. Kami telah menyembunyikan senjata-senjata kami di atas dahan yang rimbun.”

Prajurit itu tidak menyahut, namun raut mukanya menjadi berkerut-kerut. Ditatapnya ketiga anak-anak muda itu berganti-ganti. Sutawijaya dengan wajah yang pasti dan teguh, sedang anak yang kedua berwajah tenang. Namun dalam ketenangan itulah tersembunyi relung yang dalam. Seperti wajah air, semakin tenang semakin dalamlah dasarnya. Anak muda yang ketiga, yang gemuk, adalah anak muda yang berwajah terang, tetapi membayangkan kekerasan tekadnya.

“Hem,” desah prajurit itu di dalam hatinya. “Siapakah sebenarnya anak-anak ini. Kenapa baru sekarang aku dapat mengenali wajah-wajah mereka dengan baik justru di dalam keremang-remangan. Kenapa aku tidak melihatnya tadi di banjar desa yang terang benderang?”

Prajurit itu kini tidak membantah lagi. Diikutinya saja ketiga anak-anak muda itu di belakangnya. Ketika mereka sampai di bawah pohon gayam, maka segera mereka pun berhenti. Sejenak mereka tegak berdiri sambil berpandang-pandangan. Namun yang pertama-tama berkata adalah Swandaru, “Hem, aku lagikah yang harus memanjat?”

Mau tidak mau Sutawijaya dan Agung Sedayu tersenyum. Sebelum keduanya menjawab, maka Swandaru telah menyingsingkan lengan bajunya dan menyangkutkan kain panjangnya. “Tak ada pilihan lain,” gumamnya.

“Jangan menggerutu,” sahut Agung Sedayu. “Aku pun akan memanjat pula.”

“Kalau aku tahu di mana senjata-senjata itu disangkutkan, maka aku pun bersedia untuk memanjat pula. Tetapi aku tidak tahu, apalagi hari masih gelap,” berkata Sutawijaya.

“Huh,” desis Swandaru. “Alasan yang sempurna.”

Sutawijaya tertawa. Dibiarkannya kedua kawan-kawannya memanjat ke atas. Namun terdengar ia berpesan, “Berhati-hatilah. Hari masih terlalu gelap.”

Tetapi Swandaru dan Agung Sedayu kemudian berhasil mengambil seluruh senjata-senjata mereka. Sebatang tombak, dua batang pedang, tiga buah busur beserta endong panahnya.

Pemimpin prajurit itu terkejut melihat kelengkapan mereka. Sehingga dengan serta merta ia berkata, “Bukan main. Kelengkapan kalian telah menambah teka-teki di dalam kepalaku. Siapakah sebenarnya kalian?”

“Sudah aku katakan,” sahut Sutawijaya, “kami adalah pengawal Kademangan Sangkal Putung.”

Prajurit itu pun terdiam. Tetapi teka-teki di dadanya justru menjadi semakin membayang di wajahnya. Sekali-kali nampak mulutnya berkumat-kumit. Tetapi tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

Ketika ketiga anak-anak muda itu sudah siap dengan senjata masing-masing, maka berkatalah Sutawijaya, “Marilah. Kami sudah siap.”

Prajurit itu menjadi semakin bimbang akan penglihatan matanya. Sutawijaya kini tidak lagi kelihatan seperti seorang gembala. Dibenahinya pakaiannya dan dibetulkannya lipatan ikat kepalanya. Tampaklah betapa anak itu memiliki beberapa kelebihan di dalam dirinya. Sedang kedua anak-anak muda yang lain pun berbuat pula serupa. Di lambung mereka kini tergantung sehelai pedang, dan di punggung mereka tersangkut sebuah busur. Sedang pada ikat pinggang mereka, tersangkut pula sebuah endong dengan anak-anak panah di dalamnya.

Nafas prajurit itu tiba-tiba menjadi semakin cepat mengalir. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu.

“Marilah,” sekali lagi Sutawijaya mengajak kedua kawan-kawannya dan prajurit itu. “Tetapi sebaiknya kita tidak melewati jalan. Apakah ada jalan lain yang lebih sepi dari jalan itu?”

Prajurit itu kini telah benar-benar terpesona melihat ketiga anak-anak muda itu, sehingga kata-kata Sutawijaya itu telah memukaunya pula. Tanpa sesadarnya prajurit itu menjawab, “Ada, kita dapat memintas, lewat pematang di sepanjang parit kecil ini.”

“Bagus,” sahut Sutawijaya. “Hari telah menjadi semakin terang. Aku tidak mau lagi berpapasan terlalu banyak orang. Mudah-mudahan aku tidak terlambat. Silahkan tuan berjalan di depan.”

Sekali lagi prajurit itu melakukan permintaan Sutawijaya tanpa disadarinya. Segera ia meloncat dan berjalan di paling depan, memintas pematang di sepanjang parit, menyusur ke sebelah Barat Bukit Baka.

Kini warna semburat merah di langit sebelah Timur sudah menjadi semakin nyata. Satu-satu bintang-bintang yang bergayutan di udara seakan-akan lenyap ditelan cahaya fajar yang segera pecah. Ujung-ujung pepohonan telah mulai nampak berkilat-kilat oleh cahaya pagi yang terpantul dari butir-butir embun yang mengantung di ujung dedaunan.

Sutawijaya dan kawan-kawannya pun segera mempercepat langkah mereka. Prajurit yang berjalan di depan itu pun digamitnya sambil berkata, “Aku agaknya akan terlambat.”

“Tidak,” sahut prajurit itu. “Matahari sedang terbit.”

“Saat inilah yang dijanjikan. Pada saat matahari terbit Argajaya menanti aku di sebelah Barat Gunung Baka.”

“Seandainya kau terlambat, maka saat kelambatanmu tidak ada sepemakan sirih.”

“Aku berharap dapat datang lebih dahulu sebelum Argajaya. Apalagi apabila kemudian ada orang-orang lain yang mencoba menonton sabungan ini.”

“Pasti. Aku dapat menduga bahwa hampir setiap laki-laki di Prambanan akan hadir melihat perkelahianmu nanti.”

Sutawijaya terdiam. Tetapi ia melangkah lebih cepat lagi.

Akhirnya ujung Gunung Baka itu pun menjadi semakin dekat. Di antara semak-semak ilalang tampaklah batu-batu padas yang menjorok seolah-olah ingin menggapai langit. Tetapi Bukit Baka bukan pegunungan yang cukup tinggi. Meskipun demikian, namun bukit itu tampak garang dalam keremangan cahaya fajar.

“Kita harus meloncat ke jalan. Parit ini akan menyilang jalan ke Gunung Baka.”

“Apakah ada jalan ke pegunungan itu? Bukankah pegunungan itu seakan-akan pegunungan yang tidak pernah disentuh kaki?”

“Tidak,” sahut prajurit itu. “Banyak orang yang mencoba mendaki ke puncak itu.”

“Apa yang dicarinya?”

“Bermacam-macam kepercayaan telah dicengkam penduduk di sekitar tempat ini tentang gunung kecil itu.”

Sutawijaya mengerutkan dahinya. Tiba-tiba ia berkata, “Kita turun ke Kali Opak. Adalah lebih baik bagiku menyusur tepian sungai dari pada berjalan lewat jalan itu. Mudah-mudahan tak banyak orang di sana.”

Prajurit itu tidak menyahut. Tetapi ia pun segera membelok ke Barat. Meloncat-loncat di antara puntuk-puntuk padas. Kini mereka sudah meninggalkan tanah persawahan. Mereka telah sampai di padang ilalang yang jarang. Di sana-sini berserak-serakan batu-batu padas yang kelabu.

Sesaat kemudian mereka telah sampai di pinggir tebing Sungai Opak. Tebing yang tidak begitu tinggi, sehingga mereka tidak mengalami kesukaran untuk meloncat turun.

Kini mereka berempat berjalan di sepanjang pasir tepi Sungai Opak. Mereka berjalan dengan langkah yang panjang ke Selatan. Janji itu mengatakan, bahwa mereka akan bertemu di pinggir Kali Opak di sebelah Barat Pegunungan Baka.

Sutawijaya terkejut ketika ia melihat beberapa orang berkerumun di kejauhan. Dengan serta merta ia berkata, “Apakah kira-kira tempat itu yang disebut oleh Argajaya.”

“Tak ada seseorang yang tahu pasti, manakah yang dikehendaki oleh Argajaya. Tetapi pasti di sepanjang tepian ini. Tempat orang berkerumun itu adalah tepat di sebelah Barat ujung Gunung Baka.”

“Mungkin di sana Argajaya menunggu. Ternyata aku datang terlambat.”

Prajurit itu tidak menyahut. Mereka berjalan semakin cepat. Sebelum mereka mendekat, berkatalah Sutawijaya kepada Swandaru, “Sekali lagi aku minta tolong. Bawalah busurku. Aku hanya akan mempergunakan tombakku.”

Swandaru menarik nafas. Katanya “Baiklah. Apakah busurmu tidak sama sekali kau berikan aku Kakang Agung Sedayu.”

Sutawijaya tersenyum. Tetapi wajahnya kini menjadi bersungguh-sungguh. Ia tidak lagi dapat bergurau ketika di hadapannya telah menunggu sekelompok orang yang ingin melihat dirinya berkelahi antara hidup dan mati.”

Swandaru melihat kesungguhan wajah Sutawijaya itu meskipun sambil tersenyum. Karena itu, maka Swandaru tidak mau bersenda lagi. Wajahnya pun menjadi bersungguh-sungguh pula ketika kemudian ia menerima busur dan endong anak panah Sutawijaya.

Mereka berempat kini berjalan semakin cepat. Namun tak sepatah kata pun yang terucap. Masing-masing terbenam dalam angan-angannya sendiri.

Tiba-tiba orang-orang yang berkelompok itu pun mulai bergerak-gerak seperti sarang semut yang tersentuh tangan. Agaknya seseorang telah melihat kedatangan mereka, dan berita itu pun telah menjalar ke segenap telingga, sehingga semua orang di dalam kelompok itu pun berpaling dan memandangi Sutawijaya dan kawan-kawannya.

Sutawijaya menarik nafas. Sekali ia menengadahkan wajahnya. Seleret sinar memancar di langit yang jernih. Dari balik Gunung Baka sinar matahari seolah-olah meluncur menghujam ke segenap penjuru.

“Hem,” guman Sutawijaya, “matahari telah memanjat naik.”

“Belum secengkang,” sahut prajurit itu.

Sutawijaya terdiam. Dengan wajah yang tegang ia berjalan selangkah mendekati kelompok yang tiba-tiba menebar seakan-akan memberikan jalan.

Langkah Sutawijaya pun menjadi tetap. Tanpa ragu-ragu ia berjalan masuk ke dalam kerumunan orang-orang Prambanan. Dengan sorot mata yang tajam ia memandang berkeliling. Setiap pasang mata yang terbentur dengan sorot mata anak muda itu, tiba-tiba terpaksa jatuh menunduk memandangi pasir tepian. Sorot mata anak muda itu ternyata terlampau tajam bagi mereka.

Tetapi Sutawijaya belum melihat orang yang menantangnya. Meskipun hampir seluruh wajah di baris terdepan telah dipandanginya, tetapi wajah Argajaya belum tampak berada di tempat itu. Karena itu maka tanpa disadarinya ia bergumam, “Di manakah tamu yang terhormat itu?”

Sutawijaya berpaling ketika ia mendengar jawaban di belakangnya, “Belum datang, Kisanak.”

Sutawijaya melihat Haspada telah berada di tempat itu pula. Di sampingnya berdiri Trapsila dan beberapa orang kawan-kawannya. Di sisi yang lain dilihatnya anak-anak muda saling bergerombol. Satu dua Sutawijaya masih dapat mengenal. Di sebelah Selatan adalah gerombolan anak-anak Sembojan, sedang di sisi Utara adalah anak-anak Tlaga Kembar. Anak-anak induk kademangan bertebaran hampir di segenap sudut, sedang anak-anak dari padesan-padesan kecil pun berkumpul di antara mereka. Orang-orang tua berdiri agak ke belakang. Tetapi agaknya mereka pun ingin melihat apa yang akan terjadi.

“Apakah Argajaya memilih tempat yang lain?” bertanya Sutawijaya tanpa ditujukan kepada seorang pun.

Tak ada jawaban. Tetapi wajah-wajah orang yang mengitarinya seakan-akan membantah kata-katanya itu. Seakan-akan mereka ingin berkata, “Ini adalah batas Kademangan Prambanan. Ini adalah tepian Kali Opak di sebelah Barat Gunung Baka.”

Tetapi tak seorang pun yang mengatakannya. Mereka seakan-akan terbungkam dan bahkan terpesona melihat anak muda yang berdiri di tengah-tengah mereka. Anak muda itu seakan-akan bukan anak muda yang dilihatnya kemarin. Juga kedua kawan-kawannya itu seakan-akan sama sekali bukan anak muda yang berkelahi di pendapa. Dengan pedang di lambung dan busur menyilang di punggung tampaknya mereka menjadi gagah, segagah prajurit-prajurit Pajang.

“Apakah pemimpin prajurit Pajang yang datang bersama-sama dengan mereka itulah yang meminjami mereka senjata?” Pertanyaan itu tumbuh di setiap dada mereka yang berdiri berkerumun itu.

Namun yang terdengar adalah suara Sutawijaya, “Aku akan menunggu Argajaya.”

Sutawijaya berkata tidak terlampau keras. Namun terdengar menyusup dalam-dalam ke dalam telinga orang-orang yang mengerumuninya. Suara yang terlontar dari bibir anak muda itu terasa mengandung perbawa yang tajam.

Tetapi ternyata Sutawijaya tidak perlu menunggu terlampau lama. Kembali orang-orang di dalam kelompok itu bergerak-gerak. Semua kepala berpaling ke satu arah. Ketika Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru mengikuti pandangan mereka, terasa dada mereka berdesir. Di sepanjang jalan kecil yang menembus padang ilalang, tampak beberapa orang berjalan beriringan. Debu yang tipis tampak berhamburan terlontar dari tanah yang kering oleh sentuhan kaki-kaki mereka.

Di paling depan berjalan seorang yang bertubuh tegap kekar. Dengan kepala tengadah ia melangkah menjinjing sebatang tombak pendek, sependek tombak Sutawijaya. Orang itu adalah Argajaya. Di belakangnya berjalan kedua orang kawannya, kemudian pemimpin prajurit yang satu lagi dan beberapa orang prajurit Pajang. Bahkan tampak di antara mereka Ki Demang Prambanan, Ki Jagabaya yang kurus dan beberapa orang perabot desa yang lain.

Tanpa disengajanya Sutawijaya berpaling ke arah pemimpin prajurit yang seorang yang datang bersamanya. Tampaklah wajahnya menjadi tegang, lebih tegang dari wajah Sutawijaya. Ia melihat para prajurit bawahannya seakan-akan telah berpihak kepada tamu yang sombong itu. Dengan demikian, maka seakan-akan ia telah kehilangan kewibawaan bagi para prajuritnya. Bahkan Ki Demang Prambanan yang semalam membenarkan sikapnya, kini agaknya telah berganti pendirian. Seakan-akan apa yang dikatakan semalam hanyalah suatu mimpi yang kecut. Sekarang ia ingin bersikap lain. Besok adalah soal besok. Sikapnya baru akan dipikirkannya besok juga.

Tetapi pemimpin prajurit itu menjadi agak tenang ketika ia melihat Haspada, Trapsila, dan beberapa kawan-kawannya berada di tempat itu pula. Kalau ia harus memberikan keputusan, sedang para prajuritnya tidak dapat dikendalikannya lagi, maka ia akan memerlukan bantuan anak-anak muda Prambanan itu. Bahkan mungkin ia memerlukan anak-anak Sangkal Putung ini. Ya, anak-anak Sangkal Putung ini mungkin akan bersedia membantunya.

Kini iring-iringan itu sudah semakin dekat. Ketika wajah mereka menjadi kian jelas, maka tampaklah bibir Argajaya dihias oleh senyum yang cerah.

Sejenak orang-orang yang telah menanti di pinggir Kali Opak itu terpesona melihat kehadiran Argajaya bersama orang-orang yang mengiringinya, seakan-akan kehadiran seorang pemimpin bersama dengan anak buahnya, sehingga mereka itu pun kemudian terdiam seperti orang-orang tersentuh kaki.

Yang mula-mula terdengar adalah suara Aryajaya menggelegar, “He, agaknya kau telah datang lebih dahulu anak muda. Ternyata kau benar-benar anak jantan. Aku sangka kau semalam telah melarikan diri meninggalkan Prambanan kembali ke rumahmu, bersembunyi di balik selendang ibumu.”

Alangkah menyakitkan hati. Tetapi Sutawijaya tidak menjawab. Ditungguinya sampai Argajaya semakin dekat.

Sejenak kemudian mereka telah melintasi rumput-rumput kering di tebing, kemudian berloncatan turun ke tepian. Para pengikutnya pun segera berloncatan pula. Dan tanpa mereka sadari, mereka telah membuat suatu kelompok yang seakan-akan terpisah dari kelompok yang lebih dahulu datang. Bahkan di antara mereka tampak satu dua anak-anak muda Sembojan dan anak-anak muda Tlaga Kembar yang semalam saling mengejar dan berkelahi. Ternyata pendapat mereka kini telah terbelah silang menyilang. Anak-anak Sembojan dan anak-anak Tlaga Kembar sebagian telah datang lebih dahulu bersama Haspada dan Trapsila.

Sejenak kemudian kembali terdengar suara Argajaya, “Bagaimanapun juga aku merasa kagum akan kejantananmu. Meskipun kalian menyadari apa yang kalian hadapi, tetapi kalian tidak melarikan diri. Sidanti akan bergembira mendengar berita ini. Aku harap ia akan mendengarnya kelak. Dari salah seorang di antara kalian atau dari aku sendiri.”

Sutawijaya masih berdiam diri. Ia tegak seperti tonggak. Sedang Agung Sedayu dan Swandaru berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Ketika Argajaya menjadi semakin dekat. Dilihatnya kini bahwa di tangan Sutawijaya tergenggam sebatang tombak pendek pula. Ia telah melihat tombak itu sejak ia masih berada di atas tebing. Tetapi baru kini ia melihat ujung dari tombak yang pendek itu. Tanpa disadarinya dipandanginya ujung tombaknya sendiri. Tombaknya adalah tombak pusaka. Tetapi dalam sekilas itu ia dapat melihat, bahwa tombak anak muda itu pun bukan kebanyakan tombak.

Apalagi kemudian ia melihat Agung Sedayu dan Swandaru yang berdiri tidak jauh dari Sutawijaya itu. Di lambungnya tergantung pedang, dan di punggungnya menyilang busur.

Hati Argajaya menjadi berdebar-debar. Busur itu semuanya berjumlah tiga buah. Pasti milik ketiga anak itu.

Meskipun demikian ia bertanya, “He, dari mana kau mendapat pinjaman senjata anak muda?”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Namun ia menjawab, “Senjataku sendiri. Apakah senjatamu itu senjata pinjaman?”

Argajaya terkejut mendengar pertanyaan itu. Tiba-tiba sorot matanya menjadi tajam dan dengan nada yang berat ia menjawab, “Pertanyaanmu terlampau tajam anak muda. Semalam, ketika aku meninggalkan pendapa banjar desa, hatiku telah sedikit mereda. Aku menganggap bahwa kalian adalah anak-anak yang patut dikasihani. Meskipun kali ini aku datang dengan senjata di tangan, tetapi aku telah menjadi lilih. Aku tidak ingin membunuh seperti semalam. Aku hanya ingin memberimu sekedar peringatan, bahwa kau telah berbuat kesalahan. Tetapi itu mungkin karena kau sama sekali belum mengenal kami. Aku mengharap perkenalan pagi ini akan memberimu kesadaran. Kalau kau dan kedua kawan-kawanmu bersedia minta maaf kepadaku, maka kalian aku anggap tidak bersalah.”

“Terima kasih, Argajaya,” sahut Sutawijaya. Namun kata-kata selanjutnya sangat mengejutkan, “Aku sudah menduga bahwa kau bukan seorang yang terlampau jahat. Kau hanya seorang pemarah yang tidak dapat mengendalikan diri. Tetapi ingat, sikap yang demikian adalah berbahaya. Berbahaya bagi orang-orang di sekitarmu dan berbahaya bagi dirimu sendiri. Seperti kau, maka aku pun kini sebenarnya sudah kehilangan gairah untuk berkelahi. Dan aku pun akan bersedia memberimu maaf seandainya kau memerlukannya.”

Darah Argajaya yang cepat mendidih itu pun tiba-tiba bergejolak sampai kepalanya. Tombaknya pun menjadi gemetar dan wajahnya menjadi merah membara. Tiba-tiba ia berpaling kepada Ki Demang sambil berkata, “Kau dengar Ki Demang, apa yang dikatakannya? Apakah salahku apabila aku benar-benar membunuhnya?”

Ki Demang tidak segera menyahut. Dilihatnya setiap wajah menjadi tegang. Wajah para prajurit pun menjadi tegang pula. Bahkan pemimpin prajurit yang datang bersama Sutawijaya pun tidak dapat mengerti, kenapa tiba-tiba sikap anak muda itu menjadi semakin keras dan semakin tajam.

“Apa katamu, he Ki Demang?”

Demang Prambanan terkejut. Tergagap ia menjawab, “Ya, ya, salahnya. Salahnya sendiri. Aku telah mendengar kata-katanya yang tidak sopan itu.”

“Nah,” tiba-tiba pemimpin prajurit yang lain, yang datang bersama Argajaya menyambung, “apa kataku. Ia telah menghina Prambanan dalam keseluruhan.”

Argajaya itu pun kemudian mengangkat wajahnya. Sambil memandang berkeliling ia berkata, “Lihatlah, betapa anak muda dari Sangkal Putung itu telah mencoba membunuh dirinya sendiri. Kalian menjadi saksi, bahwa aku bersedia memaafkannya, apabila ia dengan baik dan penuh penyesalan minta kepadaku. Tetapi kalian telah mendengar jawabnya.”

Terdengar suara bergumam di belakang mereka. Salah seorang yang telah setengah baya berkata lirih, “He, anak yang keras kepala. Kenapa kesempatan itu dilewatkannya.”

Yang terdengar kemudian adalah suara Argajaya pula, “Sekarang adalah terserah kepadaku. Bagaimanapun aku akan menyelesaikan persoalan ini.”

Kembali setiap mulut menjadi terbungkam. Namun setiap jantung berdetak semakin keras. Sebagian dari mereka menyesali anak muda dari sangkal putung itu. Kesempatan yang diberikan oleh Argajaya akan dapat menyelamatkan mereka. Tetapi kesempatan itu tidak dipergunakannya.

Argajaya itu pun kemudian maju beberapa langkah mendekati Sutawijaya yang berdiri tegak seperti patung. Wajahnya yang merah membara itu pun kemudian tersenyum, meskipun terasa betapa senyum itu hambar. Katanya, “Hem, kau memang anak muda yang keras hati. Kau ingin tahu dari mana aku mendapat senjata? Senjata ini adalah pusaka dari Menoreh. Kau ingin tahu namanya? Namanya Kiai Petit. Apalagi? Bertanyalah sebelum kau kehilangan kesempatan.”

“Tidak,” jawab Sutawijaya singkat.

“Nah, sekarang katakan kepadaku, siapakah yang memberimu senjata?” bertanya Argajaya. Tetapi matanya berkisar memandangi pemimpin prajurit yang datang bersama Sutawijaya. Dada prajurit itu berdesir. Ia merasa, bahwa Argajaya berprasangka kepadanya, dengan demikian, apabila pekerjaan Argajaya atas Sutawijaya selesai, maka hubungannya dengan tamu itu pasti tidak akan baik. Bahkan mungkin anak buahnya sendiri pun akan bersikap tidak baik pula kepadanya.

Tetapi ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar jawaban Sutawijaya, “Setiap laki-laki Sangkal Putung pasti bersenjata. Sebab laki-laki Sangkal Putung adalah pengawal-pengawal kademangannya menghadapi sisa-sisa laskar Arya Penangsang.”

Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan sekali lagi ia melihat ujung tombak Sutawijaya. Tombak itu bukan tombak kebanyakan.

“Bagus,” sahut Argajaya. “Mungkin kau pernah mendapat ilmu dari Sidanti. Mungkin dari para prajurit yang lain. Tetapi ternyata kau menjadi terlampau sombong. Sekarang tentukan sikapmu yang terakhir.

“Aku menunggu kau minta maaf kepadaku dan berjanji untuk bertingkah laku baik dan sopan,” jawab Sutawijaya.

Jawaban itu telah menutup setiap kemungkinan untuk mengurungkan perkelahian. Argajaya benar-benar menjadi gemetar. Matanya menyala seperti bara. Terdengar giginya gemeretak. Dan dengan suara gemetar ia berkata, “Bersiaplah. Kau telah membakar kemarahanku kembali setelah aku bersedia memaafkanmu.”

“Kau juga telah membuat aku marah,” sahut Sutawijaya lantang.

Argajaya sudah tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Selangkah ia maju, dan tombaknya pun kini telah terangkat setinggi dada.

Namun Sutawijaya telah bersiap pula. Sekali ia berpaling kepada Agung Sedayu dan Swandaru. Kedua kawannya itu pun berdiri dengan tegangnya. Namun ketika Sutawijaya telah hampir mulai, mereka melangkah menjauhi satu sama lain, sekan-akan mereka ingin melihat perkelahian itu dari arah yang berbeda.

Argajaya dan Sutawijaya kini telah berdiri berhadap-hadapan. Tombak-tombak mereka telah mulai bergetar karena getar jantung mereka yang menjadi semakin cepat. Tetapi agaknya mereka masih saling menanti agar lawan-lawannyalah yang mulai menggerakkan senjatanya.

Matahari kini telah merayap naik semakin tinggi. Warna-warna merah di langit telah menjadi semakin bening. Lamat-lamat terdengar burung-burung liar menyambut pagi. Sama sekali tidak dihiraukannya ujung-ujung tombak yang telah siap berbicara di pinggir Sungai Opak.

Sutawijaya-lah yang kemudian sekali lagi memancing kemarahan lawannya supaya kehilangan pengekangan diri. Ia mengharap bahwa lawannyalah yang akan menyerangnya lebih dahulu. Karena itu maka katanya, “Argajaya. Ternyata kau tidak mendengarkan kata-kataku. Karena itu, maka aku tidak akan dapat memberimu ampun lagi, meskipun kau paman Sidanti. Aku ingin memberitahukan pula kepada Sidanti, bahwa sikap yang demikian seperti yang kau lakukan, adalah sikap yang tercela. Apalagi kau ingin membuat daerah ini menjadi semakin parah dengan segala macam kemaksiatan itu.”

Ternyata Sutawijaya berhasil. Ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Dengan garangnya Argajaya meloncat sambil menggerakkan tombaknya langsung mematuk dada Sutawijaya.

Semua orang yang melihat gerakan itu terkejut. Mereka yang sedang berdebar-debar mendengar kata-kata Sutawijaya yang tajam itu dengan serta-merta telah melihat Argajaya meloncat secepat kilat. Namun Sutawijaya telah benar-benar siap menanggapi setiap serangan. Juga serangan Argajaya ini pun telah diperhitungkannya. Dengan demikian, maka dengan tangkasnya pula ia menarik tubuhnya selangkah ke samping. Dengan merendahkan dirinya sedikit, Sutawijaya-lah yang kini mencoba menusuk lambung lawannya.

Argajaya terkejut melihat sambutan itu. Menilik tata geraknya, maka Argajaya menyadari, bahwa lawannya bukanlah sekedar seorang anak muda yang pernah belajar bermain tombak pada seorang prajurit saja, meskipun prajurit itu bernama Sidanti. Karena itu, maka sikap Sutawijaya itu merupakan peringatan baginya, untuk bersikap lebih hati-hati dan waspada.

Sambil menggeliat, Argajaya menghindarkan dirinya. Dengan tombaknya ia menangkis serangan Sutawijaya. Dengan demikian maka kedua tombak itupun bersentuhan. Namun dari sentuhan itu terasa betapa kekuatan masing-masing seakan-akan telah menjalari tangan-tangan lawannya.

Argajaya terkejut ketika terasa tangannya tergetar. Sentuhan itu bukanlah suatu benturan yang keras. Namun sentuhan itu telah cukup menggetarkan tangannya. Karena itu, maka kemarahannya pun menjadi semakin memuncak. Agaknya di tempat ini ia akan bertemu dengan seorang lawan yang tangguh di luar dugaannya.

Sutawijaya pun merasakan sentuhan itu. Ia pun merasakan betapa kekuatan tangan Argajaya mengguncang tangannya. Tetapi tiba-tiba Sutawijaya tersenyum di dalam hatinya. Ternyata Argajaya bukanlah orang yang perlu ditakuti. Ia merasa bahwa setidak-tidaknya ia mempunyai kesempatan yang sama dengan lawannya.

Demikianlah maka perkelahian itu semakin lama menjadi semakin seru. Argajaya benar-benar tidak hanya menakut-nakuti namanya saja. Tetapi tandangnya benar-benar ngedab-edabi. Seperti rajawali di langit ia menyambar-nyambar lawannya, kemudian tombaknya mematuk-matuk seperti anak panah yang meluncur dari segenap penjuru. Orang-orang Prambanan yang telah mengaguminya menjadi semakin kagum. Mereka tidak menyangka, bahwa sampai sedemikian dahsyatnya tata gerak tamunya yang perkasa itu. Tetapi ketika mereka telah menyaksikannya sendiri, maka kekaguman mereka menjadi kian bertambah-tambah. Para prajurit pun menjadi kagum pula. Mereka telah sering melihat peperangan yang dahsyat. Bahkan merekapun pernah melihat beberapa orang yang luar biasa berkelahi. Namun mereka masih juga menarik nafas dalam-dalam ketika mereka melihat betapa Argajaya menggerakkan tombaknya.

Tetapi lebih daripada itu, di samping kekaguman mereka yang menggetarkan dada mereka, maka lebih-lebih lagi anak muda dari Sangkal Putung itu. Para prajurit itu pun berdiri dengan dada berdebar-debar melihat tandang Sutawijaya. Tanpa mereka sangka-sangka dengan lincahnya anak muda itu dapat mengimbangi tata gerak Argajaya yang garang. Sehingga semakin seru perkelahian itu, maka semakin keraslah degup jantung mereka. Dan semakin keraslah dentang pertanyaan di dalam kepalanya “siapakah sebenarnya anak-anak muda itu?”

Pemimpin prajurit yang seorang, yang datang bersama-sama dengan Sutawijaya pun menjadi heran bukan buatan. Tetapi tanpa disadarinya sendiri seolah-olah ia berdiri di pihak Sutawijaya. Karena itu, tanpa disadarinya pula, merayaplah perasaan bangga membakar hatinya. Tanpa disadarinya ia mengarap agar Sutawijaya mampu mempertahankan dirinya, setidak-tidaknya menyelamatkan diri sendiri. Adalah di luar sadarnya, bahwa ia pun kemudian tidak menyenangi sikap tamunya yang merasa dirinya melampaui segala-galanya itu. Argajaya ternyata bukan orang yang luar biasa. Kini ia dihadapkan pada seorang anak muda dan anak muda itu ternyata mampu mengimbanginya.

Bukan saja prajurit yang seorang itu yang menjadi tegang. Prajurit-prajurit yang lain pun menjadi tegang pula. Ki Demang Prambanan dan anak-anak muda kademangan itu, Hapada dan Trapsila melihat perkelahian itu dengan tanpa berkedip. Dadanya serasa dihinggapi perasaan yang aneh. Sutawijaya telah benar-benar mempesona mereka.

Demikanlah setiap orang yang melihat perkelahian itu telah dicengkam pula oleh suatu perasaan yang tidak mereka mengerti sendiri. Wajah-wajah mereka semakin lama menjadi semakin tegang, ketika tombak-tombak di arena perkelahian itu pun menjadi semakin cepat berputar.

Adalah suatu kebetulan bahwa Argajaya pun seorang yang menguasai senjatanya yang berbentuk tombak itu, seperti yang dipergunakan oleh Sutawijaya pula. Kedua tombak itu seolah-olah menari-nari berloncat-loncatan, bersentuhan dan bahkan berbenturan satu dengan yang lain. Kedua pasang tangan yang menggerakkannya adalah pasangan-pasangan tangan yang benar-benar cekatan dalam olah senjata.

Argajaya sama sekali tidak menyangka, bahwa ia akan bertemu dengan anak muda seperti yang sedang dilawannya itu. Hapir-hampir ia tidak dapat mempercayainya bahwa ujung tombaknya sama-sekali tidak berdaya menyentuh tubuh lawannya. Bahkan sekali-sekali tubuhnya sendiri hampir-hampir tersobek oleh senjata lawannya. Dengan demikian, maka kemarahannya pun setiap saat menjadi kian berkobar di dalam dadanya. Namun betapapun ia berusaha, tetapi kemungkinan dari akhir perkelahian itu tidak ditentukannya sendiri. Akhir dari perkelahian itu adalah tergantung pada kedua belah pihak. Adalah sudah sewajarnya apabila masing-masing pihak ingin segera memenangkannya dalam keadaan serupa itu. Apalagi Argajaya. Tetapi lawannya bukan sekedar menerima nasib yang ditentukan olehnya. Bahkan lawannya pun mempunyai kemungkinan yang sama besarnya dari pada dirinya sendiri.

Pasir tepian itu pun kemudian menjadi seolah-olah diaduk dengan bajak. Bekas-bekas kaki mereka telah membuat sebuah arena yang luas. Keduanya berloncatan menghindar dan menyerang. Berputar dan berguling-guling di pasir. Dengan demikian, maka pakaian-pakaian mereka menjadi kotornya. Pakaian yang basah karena keringat itu, kemudian dilekati oleh pasir yang lembut.

Orang-orang Prambanan benar-benar seperti dicengkam oleh suatu perasaan yang dahsyat. Perkelahian itu adalah perkelahian yang belum pernah mereka saksikan. Perkelahian antara dua orang yang perkasa. Jangankan orang-orang Prambanan bahkan para prajurit-prajurit Pajang pun menjadi kagum melihat tata gerak mereka.

Argajaya yang marah itu pun berjuang semakin dahsyat. Berbagai perasaan telah mendorongnya untuk memenangkan perkelahian itu. Ia adalah seorang tamu yang dihormati, yang telah menunjukkan beberapa kelebihan yang mengherankan orang-orang Prambanan dan prajurit-prajurit Pajang di Prambanan. Dengan tombaknya itu ia mampu membunuh seekor harimau yang besar dan garang. Sedang kini yang dihadapinya hanyalah seorang anak muda Sangkal Putung. Perasaan malu telah menggelitik hatinya. Sudah sekian lama ia berkelahi, tetapi belum tampak suatu tanda bahwa ia mampu menguasai keadaan.

Tetapi ia tidak menyadari siapakah yang berdiri sebagai lawannya. Sutawijaya yang setelah berkelahi beberapa lama, segera dapat mengerti sampai di mana kemampuan Argajaya. Meskipun perkelahian itu masih berlangsung dengan serunya, seakan-akan dua tenaga raksasa yang sedang beradu, namun kembali Sutawijaya tersenyum di dalam hati. Ia kini tahu benar bagaimana ia harus menghadapi Argajaya. Di dalam hatinya Sutawijaya itu bergumam, “Belum melampaui Sidanti.”

Meskipun demikan Sutawijaya tidak berusaha secepatnya memenangkan perkelahian itu. Kekecewaannya atas keadaan yang telah disaksikannya di kademangan ini telah memaksanya berbuat sesuatu. Ia ingin menguasai perhatian orang-orang Prambanan atasnya, supaya mempunyai wibawa yang cukup untuk dapat berbuat sesuatu.

Sebagai sorang putra dari Panglima Wira Tamtama Pajang, maka keadaan di Prambanan telah benar-benar menyinggung perasaan Sutawijaya. Sikap para prajurit dan sikap anak-anak mudanya. Karena itu selagi ia berada di Prambanan maka apa yang dapat dilakukan untuk membantu tugas ayahnya, akan dilakukan. Ia ingin mempergunakan caranya sendiri untuk itu. Cara seorang anak muda pula.

Orang-orang yang berdiri di seputar arena perkelahian itu masih melihat perkelahian itu berlangsung dengan sengitnya. Mereka masih melihat keduanya meloncat-loncat dan berputar-putar. Menyerang dan menghindar. Mereka masih melihat kedua batang tombak itu saling berbenturan dan mematuk-matuk dengan dahsyatnya.

Sekali-kali terdengar Argajaya menggeram. Dengan garangnya ia menerkam dada Sutawijaya dengan ujung tombaknya. Tetapi setiap kali tombaknya selalu berputar dari arahnya. Ternyata tombak Sutawijaya sangat lincah. Lebih lincah dari tombak Argajaya.

Demikianlah ketika perkelahian itu telah berlangsung beberapa lama, maka sampailah Sutawijaya pada rencananya untuk mempengaruhi orang-orang Prambanan. Argajaya telah mendapat kehormatan yang luar biasa karena orang-orang Prambanan telah melihat ketrampilannya bermain dengan senjatanya. Menurut mereka, Argajaya dapat berburu harimau hanya dengan tombak pendek itu. Tetapi kini Sutawijaya tidak ingin berburu harimau, tetapi dengan tombak pendeknya itu ia ingin menjatuhkan Argajaya di hadapan orang-orang Prambanan yang mengaguminya. Ia harus membuat para prajurit itu menilai dirinya, supaya para prajurit itu kemudian mendengarkan kata-katanya seperti mereka mendengarkan kata-kata Argajaya.

Matahari yang melambung di langit kini sudah menjadi semakin tinggi. Sinarnya menjadi semakin cerah dan panas. Angin yang bertiup dari Selatan menggerak-gerakkan daun ilalang dan mengusap wajah-wajah yang tegang di pinggir Kali Opak.

Wajah-wajah yang tegang itu menjadi semakin tegang. Tiba-tiba mereka melihat betapa tata gerak Sutawijaya menjadi semakin lincah. Tombaknya menjadi semakin cepat bergetar, berputar dan mematuk dari segenap arah. Sepasang tangan anak muda itu seakan-akan telah berubah menjadi berpuluh-puluh pasang tangan dengan berpuluh-puluh tombak di dalam genggaman.

Argajaya terkejut pula melihat perubahan itu. Untuk meyakinkan dirinya, Argajaya terpaksa meloncat surut. Tetapi ia tidak berhasil memisahkan dirinya dari lawannya yang masih muda itu. Beberapa kali ia ingin melihat lawannya dan mencoba menilai keadaan. Tetapi beberapa kali pula lawannya selalu membawanya dalam keadaan yang sulit.

Kemarahan Argajaya pun menjadi semakin memuncak pula sejalan dengan meningkatnya tata gerak Sutawijaya. Bahkan kemudian anak muda itu menjadi agak membingungkannya. Sekali-kalli ia terpaksa meloncat jauh-jauh untuk menghindarkan diri dari kebingungan. Namun demikian ia terlepas, demikian lawannya telah siap memaksanya menjadi sibuk dan bingung kembali.

Sejenak Argajaya masih belum berhasil mengerti, apakah yang sebenarnya dihadapi. Namun semakin lama, maka orang itu pun menjadi semakin menyadari keadaannya. Tetapi dengan demikan ia dihadapkan pada pertentangan di dalam dirinya sendiri. Ia tidak mau melihat kenyataan itu. Ia tidak mau mengerti apa yang sudah mulai dilihatnya. Dengan penuh kemarahan ia mendesak setiap perasaan di dalam dadanya yang mengatakan lawannya adalah anak muda yang pilih tanding.

“Anak setan itu harus mampus,” geramnya di dalam hati. Ia mencoba membutakan dirinya dari kenyataan yang dihadapinya. Meskipun setiap kali ia terdesak mundur dan bahkan beberapa kali ia harus jatuh berguling-guling di atas pasir tepian untuk menghindari kejaran ujung tombak lawannya, namun ia masih juga sesumbar di dalam hatinya, “Kubunuh anak setan ini apabila ia tidak mau mohon maaf kepadaku.”

Sutawijaya kini benar-benar sudah sampai pada puncak permainannya. Ia harus meyakinkan kemenangannya kepada orang-orang Prambanan dan para prajurit Pajang yang melihat pertempuran itu. Ia tidak sekedar mendapat kesempatan karena kelengahan Argajaya. Tetapi setiap orang harus yakin bahwa memang anak muda yang menyebut dirinya pengawal Sangkal Putung itu melampaui ketangkasan dan keperwiraan lawannya.

Meskipun demikian Sutawijaya masih sadar, bahwa ia tidak sepatutnya menciderai lawannya. Ia ingin menunjukkan sikap yang baik. Namun ia mempunyai pula maksud yang lain. Karena itu maka ia harus menundukkan Argajaya dalam keadaan hidup.

Dalam kemarahannya Argajaya menjadi semakin garang. Tandangnya menjadi semakin keras dan kasar. Tetapi dengan demikian maka ketenangannya pun menjadi semakin kabur. Bahkan yang tampak kemudian hanyalah nafsunya yang menggelepar di dalam dadanya. Tetapi kemampuannya sama sekali tidak dapat mengimbanginya.

Sutawijaya yang menjadi semakin yakin dalam menilai lawannya, menjadi semakin matap. Dengan suatu gerakan yang tiba-tiba ia berhasil mengejutkan Argajaya, sehingga orang itu meloncat surut. Tetapi dengan tangkasnya anak muda itu memburu, tombaknya berputar membingungkan. Namun tiba-tiba tombak itu mematuk lambung.

Sekali lagi Argajaya terkejut. Namun ia masih mempunyai kesempatan untuk menangkis serangan itu. Dengan tombaknya ia berusaha memukul tombak Sutawijaya. Tetapi tombak Sutawijaya itu tiba-tiba bergetar dan berputar menghindari tombak Argajaya sehingga kedua tombak itu sama sekali tidak bersentuhan.

Dalam keadaan yang demikin, Sutawijaya mempunyai kesempatan yang baik, selagi Argajaya sedang dalam batas keseimbangan. Gerakannya yang tidak dapat diperhitungkan oleh Argajaya telah mendorong orang itu sehingga ia tidak dapat menguasai keseimbangannya lagi. Dengan susah payah, Argajaya meloncat supaya ia tidak jatuh. Tatapi dalam keadaan itu, kembali serangan Sutawijaya melandanya.

Kali ini serangan itu benar-benar telah membingungkan Argajaya. Ia tidak mampu lagi menghindar. Dengan demikian maka kesempatan satu-satunya baginya adalah menangkis serangan itu. Tetapi dalam pada itu keseimbangannya sudah hampir-hampir tidak lagi dapat dikuasainya.

Demikianlah Argajaya yang garang itu kini benar-benar dalam keadaan yang sulit. Tombak Sutawijaya yang menyergapnya seakan-akan telah hampir menghunjam di dadanya.

Tetapi Argajaya tidak mau dadanya dilubangi dengan ujung tombak anak yang menyebut dirinya pengawal Sangkal Putung itu. Dengan kekuatannya yang disalurkannya pada tangannya ia memukul tombak Sutawijaya. Namun dalam pada itu dibiarkannya dirinya terjatuh untuk segera berguling-guling menjauhi lawannya. Tetapi Sutawijaya tidak melepaskan kesempatan ini. Dengan sekuat tenaga pula ia membenturkan tombaknya pada tombak lawannya. Ia tidak lagi berusaha menusuk dada, tetapi ia berusaha melawan pukulan tombak Argajaya.

Maka terjadi benturan yang keras di antara keduanya. Tetapi keadaan Sutawijaya jauh lebih baik dari lawannya, sehingga karena itu, maka Sutawijaya mempunyai kesempatan lebih banyak untuk mengerahkan kekuatannya.

Demikian, maka terjadilah hal yang tidak tersangka-sangka bagi orang-orang yang mengerumuni perkelahian itu. Apalagi bagi mereka yang membabi buta mengagumi Argajaya yang perkasa itu. Dengan dada yang berdebar-debar dan darah yang seakan-akan membeku mereka melihat tombak Argajaya terlontar dari pegangannya dan terjatuh beberapa langkah daripadanya.

Argajaya sendiri terkejut bukan buatan. Tetapi tangannya yang nyeri itu sama sekali sudah tidak mampu untuk menahan senjatanya. Dengan kemarahan yang memuncak sampai ke ubun-ubun ia menggeram keras. Beberapa kali ia berguling menjauhi lawannya, kemudian seperti singgat ia melenting dengan lincahnya. Namun kembali ia terkejut bukan kepalang. Kembali dadanya berguncang seperti tertimpa reruntuhan Candi Jonggrang yang megah itu ketika tiba-tiba, tepat pada saat kakinya berjejak di atas tanah, terasa ujung tombak Sutawijaya menyentuh bajunya, tepat dilambungnya. Dengan suara perlahan-lahan namun penuh tekanan terdengar suara anak muda itu, “Sayang. Tombakmu kau lempar tuan.”

Argajaya berdiri tegak seperti patung. Ujung tombak Sutawijaya kini tidak sekedar menyentuhnya, tetapi ujung tombak itu kini tertekan pada lambungnya. Betapapun kemarahan membakar jantungnya, namun Argajaya terpaksa tidak berbuat sesuatu. Ia berdiri saja dengan mata yang menyala.

Bukan saya Argajaya yang berdiri tegak seperti patung di tengah-tengah arena perkelahian itu. Orang-orang yang menyaksikan perkelahian dengan jantung yang tegang itu pun seakan-akan merasa ujung tombak itu melekat di lambung masing-masing, sehingga tak seorang pun di antara mereka yang berani menggerakkan tubuhnya. Bahkan nafas mereka pun menjadi tersendat-sendat dan dada mereka pun menjadi sesak.

Tombak itu masih melekat di lambung Argajaya. Ujung tombak itu sama sekali tidak bergetar. Tangan yang menggengamnya adalah tangan yang yakin akan kemampuannya.

Arena yang hiruk-pikuk oleh perkelahian itu, kini menjadi sunyi tegang. Wajah-wajah yang membeku, tubuh-tubuh yang kaku dan nafas yang tersengal-sengal tampak di seputar Argajaya dan Sutawijaya yang masih belum berkisar dari tempatnya.

Yang terdengar memecah kesepian itu adalah suara Sutawijaya, “Bagaimana, Tuan?”

“Bunuh aku,” suara itu bergetar di antara bibir Argajaya yang dibakar oleh kemarahannya. Wajahnya yang membara kini bagaikan menyala.

“Hem,” Sutawijaya menarik nafas, “Kau benar-benar berhati jantan. Tetapi aku bukan pengecut yang membunuh lawan tanpa senjata.”

“Bunuh, jangan menghina.”

“Tidak. Aku hanya akan membunuhmu selagi senjatamu masih di tangan.”

Argajaya tidak menjawab. Kemarahannya hampir meledakkan dadanya. Tetapi ujung tombak itu masih melekat di lambungnya.

Tiba-tiba semua semua orang yang berdiri di sekitar keduanya terkejut. Agung Sedayu dan Swandaru pun terkejut ketika mereka mendengar Sutawijaya berkata, “Kalau kau masih berani, ambil senjatamu. Aku akan membunuhmu apabila kau masih berani melawan aku.”

Bukan main panas hati Argajaya, seakan-akan hati itu kini berpijar. Terdengar ia menggeram. Namun sekali lagi telinganya mendengar Sutawijaya berkata, “Ambil tombakmu, supaya aku dapat membunuhmu. Kalu kau tidak berani maka pergilah. Kembali ke ibumu dan sembunyi di belakang selendangnya.”

Argajaya tidak dapat lagi menahan hatinya. Tiba-tiba kakinya terayun memukul tombak Sutawijaya. Namun Sutawijaya sudah bersiaga. Diangkatnya tombaknya, sehingga ujung kaki itu sama sekali tidak menyentuh senjatanya. Sambil tersenyum ia meloncat mundur dan berkata lantang, “Bagus. Kau ternyata bukan seorang pengecut. Aku beri kesempatan kau memungut senjata itu. Kita berhadapan dengan senjata masing-masing di tangan.”

“Kau akan menyesal anak iblis!” geram Argajaya.

Sutawijaya masih tersenyum. Ia berdiri tegak sambil menunjuk tombak Argajaya, “Ambil. Ambilah. Aku tidak akan menusuk punggungmu selagi kau membungkuk memungut tombak itu.”

“Kau benar-benar akan menyesal. Ingat, aku tidak akan memberi kau kesempatan. Aku benar-benar akan membelah dadamu.”

Sutawijaya tertawa. Selangkah ia mundur, sambil berkata, “Ambilah. Ambilah jangan ragu-ragu. Ada dua kesempatan yang aku berikan kepadamu kini. Mengambil senjata itu untuk melawan dan kemudian mati, atau berjongkok minta ampun kepadaku. Pengawal Kademangan Sangkal Putung.”

Kata-kata itu serasa merontokkan jantung Argajaya. Sekali ia meloncat dengan lincahnya dan tombaknya kini telah digenggamnya kembali.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Argajaya pun telah mulai perkelahian itu kembali. Tombaknya kembali berputar dan mematuk-matuk lawannya. Tandangnya yang dilambari kemarahan yang memuncak tanpa terkendali benar-benar mengerikan. Tetapi justru karena itu, maka perhitungannya pun menjadi semakin kabur. Tanggapannya atas lawannya yang masih muda menjadi kabur pula.

Sutawijaya melayaninya dengan tenang. Semakin garang lawannya maka ia pun menjadi semakin tenang. Ia semakin banyak melihat kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh Argajaya, justru karena kemarahan itu.

Orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu benar-benar dicengkam oleh ketegangan yang memuncak pula. Beberapa orang menjadi kabur menilai perkelahian itu. Beberapa orang menjadi bingung dan beberapa orang menjadi gelisah. Terutama para prajurit Pajang di Sangkal Putung.

Kemenangan bagi Sutawijaya berarti penghinaan pula bagi mereka itu. Apalagi kemudian Argajaya terbunuh, maka mungkin sekali mereka pun akan mendapat bencana. Ketika terpandang olehnya pemimpinnya yang datang bersama-sama dengan anak muda yang berkelahi itu, maka dada mereka berdesir. Apakah kira-kira yang akan dilakukannya? Para prajurit itu merasa, bahwa sedikit banyak mereka telah menentang atau mengabaikan pemimpinnya itu.

Tetapi yang mereka cemaskan itu pun mendekati kenyataan. Argajaya kembali terdesak. Orang yang garang itu hampir-hampir tidak mendapat kesempatan untuk berbuat apapun.

Sekali lagi orang-orang yang mengerumuni arena itu menahan nafas ketika mereka melihat Argajaya terdesak jauh ke belakang. Orang itu terpaksa meloncat-loncat dan terus-menerus menghindar mundur. Sedang Sutawijaya pun nampaknya menjadi garang dan berbahaya.

Akhirnya sekali lagi mereka melihat sebuah serangan Sutawijaya membadai. Argajaya yang menjadi semakin lemah kehilangan setiap kesempatan untuk menghindar. Maka terulanglah apa yang pernah terjadi. Tombak Sutawijaya memukul tangkai tombak Argajaya, sehingga tombak pendek itu sekali lagi terlepas dari tangannya.

Dengan gerak naluriah Argajaya meloncat mundur. Tetapi kali ini Sutawijaya tidak mengejarnya. Kali ini Sutawijaya tidak menekankan ujung tombaknya ke dada lawannya. Dibiarkannya lawannya berdiri tegak dengan nafas terengah-engah.

Sutawijaya memandanginya dengah wajah terangkat. Dengan nada suara yang tinggi ia bertanya, “He, kenapa tombakmu kau lepaskan lagi, Tuan?”

Argajaya tidak menjawab.

Sutawijaya yang telah menjadi cukup hangat hatinya itu bertanya, “Apakah kau mencoba menyelamatkan dirimu dengan cara pengecut itu?”

Terdengar gigi Argajaya gemeretak.

“Kau tahu aku tidak akan membunuh orang yang tidak bersenjata. Karena itu ketika aku hampir berhasil membunuhmu kau lepaskan senjatamu,” desis Sutawijaya

Argajaya menggeram karena marah. Terasa seakan-akan di dalam dadanya berpijar segumpal bara. Tetapi ia tidak dapat menumpahkan kemarahannya.

“Ambil senjatamu kalau kau laki-laki,” desis Sutawijaya.

Tetapi harga diri Argajaya menyentak di dalam hatinya.

Katanya kasar, “Ternyata kau pun pengecut. Kau tidak berani melihat darah. Kalau kau jantan, bunuh aku tanpa memejamkan mata.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Darah mudanya tersentuh. Tetapi kemudian ia tertawa sambil berkata, “Kau benar-benar berani. Kalau demikian, apakah kau tidak sengaja melepaskan tombakmu?”

Pertanyaan itu tidak kalah tajamnya menusuk jantungnya. Sekali lagi ia menggeram. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Dengan demikian, maka alangkah sakit hatinya. Lebih baik dadanya segera ditembus senjata dari pada menerima penghinaan itu.

Tetapi Sutawijaya sama sekali tidak ingin membunuhnya. Sekali lagi ia akan meyakinkan sikap lawannya. Katanya, “Aku beri kau kesempatan sekali lagi. Ambil tombakmu.”

“Tidak!” sahut Argajaya tegas. “Aku akan mati bersama harga diriku,” sambungnya.

“Apakah kau akan minta maaf ?” bertanya Sutawijaya.

“Tidak. Aku tidak akan minta maaf. Aku masih menunggu kau minta maaf kepadaku. Dan aku akan memaafkanmu. Kalau tidak maka sikapku tidak akan berubah. Matilah yang merubah pendirianku itu.”

“Bagus. Kau adalah seorang yang berani dan sombong,” sahut Sutawijaya. “Tetapi sayang. Aku tidak akan membunuhmu. Sudah aku katakan, aku tidak dapat membunuh orang yang tidak bersenjata.”

“Pengecut. Kau tidak berani melihat darah musuhmu. Apalagi darahmu sendiri. Setetes darah dari tubuhmu, akan menjadikan kau mati ketakutan.”

“Untunglah, kau tidak berhasil meneteskan darahku,” sahut Sutawijaya pula.

Kembali Argajaya menggeram. Darahnya serasa mendidih dan kepalanya seakan-akan menyala.

“Aku beri kesempatan kau untuk lain kali. Kau dapat mengambil senjatamu dan pergi meninggalkan Prambanan.”

“Sekehendakku. Aku bukan bawahanmu, bukan budakmu. Kalau kau tidak senang melihat aku di sini, bunuhlah aku, aku tidak takut. Tetapi jangan mencoba memerintah.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Orang itu benar-benar keras kepala. Dengan wajah yang bersungguh-sungguh Sutawijaya berkata, “Kau harus pergi meninggalkan Prambanan.”

“Jangan kau ulangi, anak setan! Itu urusanku.”

“Baik. Apabila kau tidak akan pergi terserah kepadamu. Ternyata kau tidak mempunyai rasa harga diri seperti yang kau ucapkan. Kau sama sekali tidak malu melihat berpasang-pasang mata menyaksikan kekalahanmu.”

Kata-kata Sutawijaya itu terasa jauh lebih pedih menusuk jantungnya dari ujung tombak. Karena itu, maka terdengar gemeretak gigi Argajaya mengeras. Namun ia masih juga berdiri tak bergerak.

“Nah, apakah kau akan tetap tinggal di sini?” bertanya Sutawijaya.

“Itu urusanku, tahu!” bentak Argajaya. “Jangan kau tanyakan lagi. Aku akan tetap tinggal di sini atau aku akan pergi adalah sepenuhnya tergantung padaku. Kalau kau tidak senang melihatnya, kau dapat membunuh aku. Ancaman apapun yang kau ucapkan sama sekali tidak bernilai bagiku.”

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba menguasai perasaannya yang mulai bergetar. Aragajaya memang seorang yang keras hati.

Ketegangan perasaan orang-orang yang menyaksikan sikap keduanya pun menjadi bertambah-tambah. Mereka menjadi heran melihat kenapa Sutawijaya masih tetap bersabar tidak membunuh lawannya yang keras kepala itu, tetapi sebagian dari mereka menjadi semakin kagum melihat keberanian Argajaya. Meskipun tangannya tidak lagi menggenggam senjata tapi ia sama sekali tidak takut.

Para prajurit yang datang bersama Argajaya kemudian dijalari pula oleh kekerasan hati seperti orang yang dikaguminya itu. Mereka pun tiba-tiba menjadi semakin benci melihat Sutawijaya yang masih menggenggam tombak. Bahkan ada beberapa orang di antara mereka yang tanpa sesadarnya bergeser beberapa langkah maju. Seperti juga kedua kawan Argajaya yang tidak dapat membiarkan pimpinannya dalam keadaan yang sulit itu.

Namun Agung Sedayu dan Swandaru pun melihat pula gelagat itu. Juga tanpa disadari mereka bergerak selangkah maju. Bahkan kemudian mereka berdua kini berdiri di dalam lingkaran orang-orang Prambanan di sekeliling arena.

Keduanya telah menumbuhkan kebimbangan pula pada orang-orang Argajaya itu. Mereka merasa bahwa mereka berdua tidak akan dapat mengalahkan kedua anak-anak Sangkal Putung itu. Tetapi mereka melihat bahwa para prajurit agaknya ada di pihaknya. Namun pemimpin prajurit yang datang bersama lawan Argajaya itu agaknya berpendirian lain.

Suasana di tepian Kali Opak itu menjadi semakin sepi dan semakin tegang. Setiap dada bergolak karenanya. Anak-anak muda yang melihat peristiwa itu pun mempunyai tanggapan yang berbeda. Haspada dan Trapsila beserta beberapa orang kawan-kawannya melihat sikap Sutawijaya dengan penuh kekaguman dan keheranan. Anak itu pasti bukan sekedar seorang pengawal dari sebuah kademangan.

Tetapi para prajurit yang semakin muak melihat sikap Sutawijaya pun menjadi semakin panas. Terdengar beberapa orang berdesis menahan perasaan mereka. Satu dua di antaranya mereka, tanpa dikehendaki sendiri, telah meraba hulu pedangnya. Tetapi ketika terpandang oleh mereka itu busur-busur di tangan Agung Sedayu dan Swandaru, maka mereka masih harus mencoba mengekang perasaan mereka.

Pemimpin prajurit yang datang bersama Sutawijaya pun melihat keadaan itu. Ia melihat beberapa orang prajurit menjadi marah atas kemenangan Sutawijaya, apalagi kedua kawan Argajaya. Mereka akan dapat menemukan titik persamaan kepentingan untuk bersama-sama menentang Sutawijaya dan kedua kawannya. Sepuluh orang prajurit dan tiga orang tamu itu pasti akan mempu melawan Sutawijaya dan kedua kawannya. Lalu bagaimana denga dirinya? Tiba-tiba pemimpin prajurit itu melihat Haspada dan Trapsila dan beberapa anak-anak muda pun melangkah maju. Mereka melihat wajah-wajah anak-anak muda itu menjadi tegang pula setegang wajah-wajah prajurit Pajang yang berdiri di sisi yang lain.

“Apakah perkelahian ini harus diikuti oleh pertempuran yang akan berakibat terlampau parah?” desis prajurit itu dalam hatinya. “Bagaimanakah aku nanti harus mempertanggung jawabkan peristiwa ini seandainya Ki Untara kelak mendengarnya?”

Pemimpin prajurit itu menjadi bimbang. Namun ia tidak segera menemukan cara untuk mengatasi kesulitan itu.

Dalam pada itu terdengar suara Sutawijaya, “Jadi kau tidak mau memenuhi permintaanku?”

“Tidak!” sahut Argajaya tegas.

“Tetapi sebaiknya kau pergi dari tempat ini dan menemui Sidanti. Aku ingin mengetahui, apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh kemenakanmu yang tidak kalah sombongnya daripadamu itu. mungkin ia akan malu mendengar kekalahan pamannya dari seorang pengawal Sangkal Putung, meskipun kau sendiri tidak mengenal malu. Atau barangkali kau akan dibunuhnya karena kau telah menyuramkan namanya. Tetapi mungkin pula Sidanti akan, menjadi marah melihat kekalahanmu. Kalau demikian, maka ia akan berhadapan dengan aku.”

“Tutup mulutmu!” potong Argajaya. “Jangan menghina anak muda itu pula.”

“Tak ada kata-kata lain untuk memberi gelar kepadamu dan kemanakanmu itu kecuali orang-orang yang sombong, tetapi tidak bernilai.”

“Diam!” teriak Argajaya.

“Kalau kau marah, ambil tombakmu. Mari kita bertempur. Kalau kau tidak berani mengambil tombakmu, diam dan dengarkan kata-kataku. Itu adalah urusanku sendiri, apakah aku akan berbicara terus, apakah aku akan berhenti. Itu adalah tergantung kepadaku. Tetapi kelebihanku darimu adalah, aku masih mengenggam tobakku.”

Kepala Argajaya serasa akan meledak karenanya. Hampir-hampir ia meloncat memungut tombaknya, tetapi harga dirinya telah mencegahnya. Ia telah mendapat kesempatan satu kali untuk memungut tombak itu. Karena itu ia tidak akan mengulanginya. Tetapi ia tidak mau mengakui kemenangan lawannya meskipun akibatnya dadanya akan dibelah dengan ujung tombak. Karena itu, maka yang dapat dilakukan hanyalah menggeram dan menggeretakkan giginya. Sedang Sulawijaya dengan acuh tak acuh masih saja membuatnya marah dan malu.

Sutawijaya mengharap bahwa dengan demikian Argajaya akan pergi meninggalkan Prambanan. Ia tidak memikirkan akibat apa yang dapat terjadi. Bahkan sengaja ia membuat Argajaya kelak membakar kemarahan Sidanti pula.

Tetapi ia masih saja melihat Argajaya berdiri tegak. Ia masih melihat Argajaya tidak bergeser dari tempatnya.

“Kau tidak juga mau pergi?” bertanya Sutawijaya.

“Semauku,” jawab Argajaya pendek.

“Baik. Kalau demikian dengarkan terus kata-kataku. Mungkin kau memang senang mendengarkannya.”

“Cukup!” semua orang terkejut mendengar kata-kata itu. Ketika mereka berpaling dilihatnya pemimpin prajurit yang seorang, yang datang bersama-sama dengan Argajaya dan Ki Demang Prambanan. Dengan garang ia kemudian berkata, “Kau membuat onar di Prambanan. Sepatutnya kau kami tangkap. Kami prajurit Pajang mendapat tugas untuk menjaga keamanan daerah ini, di samping pemuda-pemuda Prambanan sendiri. Meskipun kau menang atas tamu kita, tetapi kau tidak akan dapat menghadapi kami semuanya.”

“Aku tidak kalah!” teriak Argajaya.

“Benar,” sahut pemimpin prajurit itu. “Apalagi Ki Argajaya belum mengakui kemenanganmu. Karena itu menyerahlah.”

Kening Sutawijaya berdesir. Kemarahannya tiba-tiba melonjak membakar jantungnya. Tetapi yang terdengar adalah suara pemimpin prajurit yang datang bersamanya. “Jangan berbuat sesuatu. Kita telah berjanji untuk menjadi saksi dalam perkelahian ini. Biarlah yang berkepentingan menentukan sendiri siapakah yang menang dan kalah secara jantan.”

“Tetapi ia menghina seorang prajurit Pajang dari Sangkal Pulung pula. Sidanti. Dengan demikian ia menghina segenap prajurit Wira Tamtama.”

Prajurit yang datang bersama dengan Sutawijaya terdiam sejenak. Tetapi kemudian ia menjawab, “Ia tidak ingin menghina Wira Tamtama. Itu hanyalah sekedar luapan kemarahannya karena Argajaya berkeras kepala.”

“Bohong! Aku tetap akan menangkapnya.”

“Akulah pemimpin prajurit di sini,” jawab pemimpin prajurit itu tegas-tegas. “Aku memerintahkan kalian tinggal diam.”

“Pengecut!” bantah pemimpin yang lain. “Lihat para prajurit telah bersiap. Kalau kau tak mau turut dengan kami melakuan tugas ini, kami tidak bertanggung jawab. Aku juga dapat menyusun laporan tentang dirimu. Bahwa kau telah mengingkari tugasmu karena kau ketakutan melihat anak setan itu.”

Prajurit itu pun menjadi marah. Tiba-tiba ia meloncat maju sambil berkata lantang, “Dengar perintahku. Kalian tetap di tempat kalian!”

“Tidak! Kami akan menangkap anak muda itu.”

“Kalau kalian berkeras kepala, aku berada di pihaknya. Aku berada di pihak anak muda itu. Kalian memang harus dihukum karena kalian tidak patuh atas perintahku. Atas nama pimpinan Wira Tamtama di Pajang, khususnya senapati untuk daerah ini, aku berkata, jangan berpihak. Tetapi kalau kalian, memaksa, maka aku akan bertindak demi kekuasaan di tanganku dan tanggung jawabku.”

“Jangan mengigau tentang kekuasaan,” bantah pemimpin yang lain. “Kau ternyata menyalah-gunakan kekuasaan itu. Kau tunduk kepada kehendak kami, atau minggir, supaya kau tidak tergilas oleh sikap kami demi keamanan daerah ini.”

Sutawijaya yang mendengar pertengkaran itu menjadi kecewa, marah, dan cemas. Ternyata para prajurit Pajang di Prambanan telah benar-benar kehilangan kepatuhan dan ketaatannya kepada pimpinannya karena keadaan yang selama ini seolah-olah tidak terkekang sama sekali. Kini ia melihat pertentangan itu mencapai puncaknya. Bahkan agaknya bukan saja para prajurit Pajang, namun anak-anak mudanya pun agaknya telah berbeda pendirian dan sikap. Mereka yang selama ini ikut serta dalam perbuatan-perbuatan yang aneh-aneh bersama para prajurit itu, pasti akan berpihak kepada mereka. Tetapi anak-anak muda yang lain sudah barang tentu akan berdiri berseberangan dengan mereka.

Kini Sulawijaya harus berpikir. Kalau ia terseret oleh arus perasaannya, maka ia akan melihat dua pihak bertempur di pinggir Kali Opak ini. Pasti bukan sekedar berkelahi sampai banak belur, dengan wajah merah biru bengap. Tetapi dalam keadaan seperti kini, maka kemungkinannya pasti akan lebih jauh. Bahkan mungkin akan jatuh korban pula karenanya.

Ia terkejut ketika ia mendengar sekali lagi pemimpin prajurit itu mengancamnya. “Menyerahlah. Aku bersama Ki Demang Prambanan mengemban pimpinan di Kademangan ini.”

“Tidak!” prajurit yang satu itulah yang membantah. “Kau telah memberontak atas pimpinanmu.”

Tetapi agaknya kata-kata itu tidak dihiraukannya. Bahkan pemimpin prajurit yang datang bersama dengan Argajaya dan Ki Demang Prambanan itu dengan serta-merta menarik pedangnya. Dada Sutawijaya berdesir ketika ia melihat para prajurit pun menarik pedang masing-masing. Hatinya menjadi semakin cemas ketika tiba-tiba pemimpin prajurit yang datang bersamanya pun menarik pedangnya pula. Apalagi kemudian Sutawijaya melihat Haspada, Trapsila, dan beberapa yang lain berloncatan pula ke arena. Terdengar Haspada menggeram, “Kami, anak-anak Prambanan yang setia pada pengabdian kami telah menjadi muak melihat tingkah laku kalian di sini. Kini ada alasan bagi kami untuk berbuat sesuatu. Kalian lelah menolak perintah pimpinan kalian, sehingga dengan demikian kalian tidak ada bedanya dengan laskar Arya Penangsang yang melawan perintah itu.”

Darah para prajurit itu pun menjadi semakin panas karenanya. Mereka pun segera berloncatan maju dengan senjata di tangan masing-masing. Tetapi mereka tertegun ketika tiba-tiba mereka melihat ujung-ujung panah seakan-akan mengarah ke titik-titik mata mereka. Terdengar Agung Sedayu menggeram, “Aku mampu melepaskan anak panah ini dalam sekejap dan melepaskan anak panah yang kedua dalam sekejap berikutnya. Jumlah anak panahku masih melampaui jumlah kalian. Apalagi bersama anak panah adikku itu.”

Kata-kata Agung Sedayu itu bergetar di dalam setiap dada para, prajurit Pajang yang sudah siap menerkam Sutawijaya. Mereka semua kini berdiri tegak bagaikan patung. Tangan Agung Sedayu yang menggenggam busur dan pangkal anak panah itu tampaknya benar-benar meyakinkan.

Untuk menekankan kata-katanya Agung Sedayu berkata, “Aku adalah seorang pemburu. Aku dapat memanah kijang yang sedang berlari kencang. Apalagi kalian yang berdiri mematung.”

Setiap dada para prajurit itu pun menjadi semakin bergelora. Kemarahan telah bergolak di dalam dada itu, tetapi mereka masih juga harus berpikir akibatnya apabila anak panah itu terlepas dari busurnya. Apalagi kemudian Swandaru pun telah memasang anak panahnya pula pada busurnya, sedang busur yang lain bersilang di punggungnya. Katanya, “Aku bukan pemanah sebaik kakakku itu. Tetapi sambil memejamkan mata aku akan dapat mengenai salah seorang daripada kalian.”

Beberapa orang prajurit menggeram. Namun mereka terdiam sambil mengerutkan leher mereka ketika tiba-tiba Swandaru membentak sambil melangkah maju. “Apakah kalian tidak percaya? Baiklah aku mencoba.”

Ketika Swandaru kemudian menarik busurnya, maka para prajurit itu pun semakin berkerut. Adalah terlampau dekat untuk mencoba menangkis anak panah yang sedang meluncur. Bahkan Sutawijaya pun mengerutkan keningnya melihat sikap Swandaru. Tetapi tiba-tiba Swandaru tertawa sambil berkata, “Tidak, aku tidak akan mendahului. Lebih baik aku menunggu kalian bergerak. Dengan demikian maka bukan salah kami apabila kalian semuanya akan terbunuh di dalam arena ini. Untara pun pasti tidak akan menyalahkan kami, dan Sidanti pasti akan kehilangan kesombongannya apabila pamannya pun terbunuh pula.”

Agung Sedayu menggigit bibirnya. Adik seperguruannya itu masih juga bergurau dalam keadaan serupa itu.

Kini sejenak mereka saling berdiam diri. Para prajurit, Argajaya dan kedua kawannya, Sutawijaya, Agung Sedayu, Swandaru dan anak-anak muda Prambanan, serta Ki Demang, berdiri saja seolah-olah membeku.

Yang kemudian memecah kesepian adalah suara Sutawijaya. “Kami telah terdorong ke dalam suatu keadaan yang tidak kami kehendaki. Tetapi kalianlah yang telah menyeret kami. Karena itu maka kami tidak bertanggung jawab, apapun yang akan terjadi. Juga apabila di sini akan jatuh korban kemudian. Sekarang aku masih tetap ingin melihat Argajaya pergi dari tempat ini. Aku tidak perduli apakah kemudian ia akan kembali membawa anak muda yang bernama Sidanti.”

Mata Argajaya itu pun menjadi semakin menyala. Sekali lagi ia menggeram, “Persetan!”

“Aku tidak akan membunuhmu Argajaya,” berkata Sutawijaya. “Kalau kau tidak mau pergi, baiklah. Kau dapat berbuat sekehendakmu. Tetapi aku pun akan dapat berbuat sekehendakku. Aku dapat membunuhmu, namun itu sama sekali tidak akan aku lakukan karena kau tidak bersenjata. Telapi aku mempunyai cara yang lain untuk menghukummu. Aku akan melukaimu atau membuatmu cacat seumur hidupmu.”

Kini tubuh Argajaya itu pun menggigil karena kemarahan yang tidak dapat disalurkannya. Terdengar gemeretak giginya, dan matanya seakan-akan menyalakan api kemarahannya itu. Tetapi ia tidak beranjak dari tempatnya.

Sutawijaya akhirnya kehilangan kesabarannya. Tiba-tiba ia meloncat maju. Terdengar beberapa orang menahan kejutan jantungnya. Argajaya tidak sempat menghindar ketika tangkai tombak Sutawijaya terjulur ke arah pelipisnya. Gerak itu sama sekali tidak diduganya.

Series 19

“Pergilah. Terima kasih bahwa kau mau mendengarkan pesanku. Pesan seorang pengawal Kademangan Sangkal Putung. Jangan lupa, sebut kami satu persatu di hadapan Sidanti. Aku, adikku yang bertubuh sedang dan berwajah tampan seperti topeng Panji, yang satu gemuk bulat seperti kelapa. Kau telah mengenal nama-nama kami. Karena itu, maka ……..”

“Cukup! Kau menjadi besar kepala karenanya. Tetapi akan datang saatnya, kepalamu itu aku penggal kelak.”

Argajaya tidak menunggu jawaban Sutawijaya. Segera ia memutar tubuhnya dan melangkah meninggalkan arena dengan tergesa-gesa. Tetapi ia tertegun ketika ia mendengar Sutawijaya berkata, “Tunggu. Kau kelupaan tombakmu. Kalau tombakmu itu memang sebuah pusakan sipat kandel dari Tanah Perdikan Menoreh, bawalah. Mungkin akan berguna bagimu.”

Mata Argajaya menjadi merah, semerah darah. Giginya gemeretak dan tubuhnya bergetar. Tetapi ia melangkah cepat-cepat kearah tombaknya yang tergolek di atas pasir tepian.

“Anggaplah tombak itu sebuah kenang-kenangan daripadaku,” barkata Sutawijaya.

Argajaya berpaling pun tidak. Ia berjalan cepat-cepat meninggalkan tempat itu. meskipun demikian, meskipun ia meninggalkan lawannya, namun sebenarnya di dalam hati Sutawijaya mengakui kejantanan lawannya itu. sikapnya yang pantang menyerah dalam keyakinannya, meskipun ujung tombak telah melekat di lambungnya. Tetapi orang yang demikian, pasti benar-benar akan melakukan kata-katanya yang diucapkan sebagai janji untuk melepaskan dendamnya kelak apabila ada kesempatan.

Semua mata memandang langkah Argajaya yang tergesa-gesa itu, yang kemudian disusul oleh kedua pengiringnya dari Mentaok. Kesan keberanian dan keteguhan hatinya masih terasa di dalam hati orang-orang yang berdiri di tepian itu. Bahkan Agung Sedayu bergumam di dalam hatinya, “Seperti Sidanti. Keras hati. Namun nalarnya kadang-kadang terdesak jauh ke belakang, sehingga orang itu kurang memikirkan akibat dari perbuatannya.”

Belum lagi Argajaya itu jauh, terdengar prajurit yang datang bersamanya menggeram, “Perbuatanmu tidak dapat lagi dimaafkan. Kalau kelak Sidanti itu benar-benar datang kemari, maka kami adalah saksi yang akan dapat mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi.”

“Sidanti tidak akan datang kemari,” jawab Sutawijaya.

“Apakah kau pasti?” bertanya prajurit itu.

“Sidanti tidak lagi berada di Sangkal Putung.”

“Bohong! Salah seorang dari kami akan menghadap ke Sangkal Putung. Ki Untara harus mendengar bahwa pimpinan kami di sini telah berbuat kesalahan dengan membiarkan kalian membuat onar di Kademangan Prambanan. kalian bersama pimpinan kami itu harus ditangkap.”

Pemimpin prajurit yang datang bersama Sutawijaya itu pun segera memotong, “Kalianlah yang telah memberontak. Aku masih tetap pimpinan di sini. Aku pun dapat mengatakan apa yang telah terjadi dan orang-orang yang berdiri di sini yang semalam melihat apa yang terjadi di banjar desa akan menjadi saksi.”

“Baik. Kita lihat, siapakah yang akan dipercaya oleh pimpinan kita di Sangkal Putung.”

Tiba-tiba Sutawijaya itu pun tertawa. Katanya, “Kalian terlalu percaya bahwa Sidanti akan dapat memberimu perlindungan. Tetapi sudah aku katakana, kami tidak takut kepada Sidanti. Kami tidak takut pula seandainya Ki Untara mempercayai kata-katamu. Bahkan kami tidak akan takut seandainya Panglima Wira Tamtama sendiri datang kemari.”

Para prajurit itu pun terkejut mendengar kata-kata itu. Prajurit yang berpihak kepadanya pun terkejut. Sejenak ia terbungkam sambil memandangi anak muda yang masih menggenggam tombak di tangannya itu.

Sutawijaya melihat wajah-wajah yang menjadi semakin tegang. Tetapi ia masih saja tertawa dan berkata, “Aku berkata sebenarnya. Tidak ada seorang pun yang akan dapat berbuat sesuatu atas kami. Tetapi sebaliknya, kami akan dapat mengatakan apa yang telah terjadi di sini kepada siapa pun yang akan datang kemari. Ki Untara, Ki Penjawi, Ki Juru Mertani, atau Ki Gede Pemanahan sendiri.”

Yang mendengarkan kata-kata itu menjadi semakin tidak mengerti. Bahkan para prajurit yang berpihak kepada Argajaya menganggap bahwa anak muda itu sebenarnya anak yang tidak tahu adat. Karena itu maka pemimpinnya pun berkata, “Nah, semua orang telah mendengar kata-katamu. Kau benar-benar tekah menghina Wira Tamtama. Sedang pemimpin kami yang bertanggung jawab di sini masih saja diam mematung.”

Pemimpin prajurit yang datang bersama Sutawijaya itu pun menjadi heran mendengar kata-kata Sutawijaya. Kata-kata itu sendiri telah dapat digolongkan pada suatu tindakan yang kurang pada tempatnya. Kata-kata itu sebenarnya memang menyangkut nama Wira Tamtama dan apalagi panglimanya. Karena itu, maka sejenak ia terdiam. Dicobanya untuk mencernakan apa yang telah dilihatnya dan apa yang telah didengarnya.

“Aku sama sekali tidak menghinanya. Aku justru mempercayai mereka, para pemimpin Wira Tamtama. Baik yang berada di Prambanan, baik yang berada di Sangkal Putung maupun yang berada di Pajang. Aku memang tidak takut seandainya mereka datang bersama-sama kemari, sebab mereka pasti dapat membedakan mana yang baik dan mana yang salah,” berkata Sutawijaya.

Pemimpin prajurit yang datang bersamanya tiba-tiba menganggukkan kepalanya. Katanya, “Benar, kau benar anak muda. Orang yang yakin akan kebenarannya tidak perlu takut menghadapi apapun, apalagi mereka yang tegak pada keadilan. Aku pun percaya bahwa para pemimpin itu akan mempertahankan keadilan yang selurus-lurusnya.”

“Persetan!” sahut pemimpin yang lain. “Kalian adalah orang-orang yang memang pandai berbicara. Tetapi marilah kita lihat apakah yang akan terjadi kelak.” Kemudian kepada kawan-kawannya ia berkata, “Marilah kita tinggalkan tempat ini.”

“Tunggu,” cegah Sutawijaya. “Persoalan kalian belum selesai. Dengan demikian, maka di Prambanan kini masih ada dua pimpinan prajurit yang merasa masing-masing berkuasa. Pimpinan yang sebenarnya dan pimpinan bayangan.”

“Akulah yang memegang pimpinan sekarang. Semua prajurit di Prambanan tunduk kepadaku.”

“Tidak!” sahut yang datang bersama Sutawijaya. “Aku tetap pimpinan di sini. Siapa yang tidak tunduk pada perintahku, kepadanya akan dapat dikenakan hukuman.”

“Omong kosong! Jangan hiraukan. Mari kita pergi.”

Tetapi ketika mereka sudah mulai bergerak untuk meninggalkan tempat itu, kembali mereka tertegun karena Sutawijaya berkata, “Aku hanya mengakui pimpinan yang seorang, yang datang bersamaku. Bukan karena ia membenarkan sikapku, tetapi karena ialah yang menerima kekuasaan dalam jabatan itu. setiap pelanggaran atas perintahnya, berarti pemberontakan yang akan ditindak.”

Wajah pemimpin prajurit yang lain menjadi merah menyala. Dengan kasarnya ia berkata, “Apakah hakmu berkata demikian, he anak Sangkal Putung. Prambanan bukan bawahan Sangkal Putung, meskipun kebetulan pemimpin kami berada di sana. Tetapi kami hanya bertanggung jawab kepada Ki Untara. Kalau kau tidak mau mengakui kami, kami tidak berkeberatan. Tetapi sebenarnya bahwa kami ingin menangkap kalian dan mengikat di halaman banjar desa.”

Prajurit itu tidak berpaling ketika Sutawijaya berkata, “Tunggu.”

Beberapa prajurit yang lain pun segera mengikutinya. Tetapi langkah mereka pun tertegun-tegun. Agaknya mereka sedang membicarakan sesuatu. Sekali tampak mereka berpaling ketika anak-anak muda yang datang bersama mereka pun telah bergerak pula. Hanya Ki Demang-lah yang masih saja berdiri mematung.

Tetapi mereka pun terkejut ketika para prajurit itu berhenti dan tiba-tiba saja mereka berlari berpencaran kembali mengelilingi arena dari arah yang berbeda-beda.

Yang terjadi itu berlangsung terlampau cepat. Sutawijaya tegak di tengah-tengah arena itu dengan hati yang berdebar-debar, sedang Agung Sedayu sejenak menjadi seakan-akan membeku. Mereka menyadari apa yang akan dilakukan oleh para prajurit itu, tetapi mereka tidak segera menemukan cara untuk mengatasinya.

“Aku tidak menyangka bahwa mereka segila itu,” desah Sutawijaya di dalam hatinya.

Sejenak kemudian terdengar pemimpin prajurit yang seorang, yang datang bersama Argajaya berteriak, “Demi tegaknya tanggung jawab para prajurit Pajang di Prambanan, marilah kita tangkap anak setan itu. he, para pemuda Prambanan, jangan tidur, kau pun telah mendapat penghinaan dari orang itu.”

Tiba-tiba para pemudanya pun bergerak. Semula mereka berdesak-desakan saja, namun kemudian sebagian dari mereka segera memencar setelah mereka menyadari maksud gerakan para prajurit itu. Dengan demikian mereka menghindarkan diri mereka sejauh-jauh mungkin dari anak panah Agung Sedayu dan Swandaru, karena mereka terpencar-pencar. Para prajurit itu mengharap, bahwa mereka dapat membuat gerakan-gerakan yang dapat membingungkan Agung Sedayu dan Swandaru. Agung Sedayu dan Swandaru pasti tidak akan mungkin lagi memanah mereka dalam sekejap dan melepaskan anak panah yang kedua sekejap kemudian, atau dengan mata terpejam mengarah kepada sekelompok orang.

Sutawijaya, Agung Sedayu, Swandaru, pemimpin prajurit yang lain, dan beberapa orang kini terkepung oleh sebuah lingkaran yang terdiri dari para prajurit Pajang di Prambanan beserta beberapa anak-anak muda. Anak-anak muda itu bergerak saja seperti kena pesona, karena hubungan mereka yang rapat dengan para prajurit itu. Ki Demang pun tiba-tiba bergerak pula bersama dengan mereka.

“Jangan berbuat sesuatu yang tidak akan ada gunanya,” ancam pemimpin prajurit itu. “Kalian telah terkepung. Meskipun kalian bertiga seorang-seorang menang dari orang-orang Menoreh, tetapi jangan mimpi untuk dapat melawan kami semuanya ini.”

“Kalian benar-benar gila!” teriak pemimpin prajurit yang berada di dekat Sutawijaya. “Uraikan kepungan ini!”

“Tidak!”

“Demi kekuasaan Wira Tamtama yang berada di tanganku.”

“Tidak! Menyerahlah!”

Gigi pemimpin prajurit itu pun gemeretak. Kini pedangnya tergenggam erat di tangannya. Sedang para prajurit di luar lingkaran itu pun telah menggenggam senjata masing-masing pula.

Suasana segera meningkat semakin tegang. Orang-orang tua yang berdiri di dalam kepungan menjadi ketakutan dan gemetar. Tetapi pemimpin prajurit yang memimpin pengepungan itu berkata, “Siapa yang tidak turut dan tidak ingin melibatkan dirinya, segera keluar dari kepungan ini, kecuali empat orang yang akan kami tangkap.”

Beberapa orang kemudian tersuruk-suruk berjalan ke luar lingkaran dengan tubuh yang menggigil karena ketakutan. Satu-satu mereka menghilang ke belakang kepungan, sehingga orang-orang yang berada di dalam itu pun susut dengan cepatnya.

Tetapi ternyata tidak semua orang berlari ke luar lingkaran. Ketika tidak seorang pun lagi yang bergerak, maka tampaklah dengan jelas, siapa-siapa yang kini berdiri berseberangan. Yang masih tinggal di dalam lingkaran itu, ternyata bukan saja Sutawijaya, Agung Sedayu, Swandaru, dan pemimpin prajurit yang seorang, tetapi di dalam lingkaran itu berdiri Haspada, Trapsila, dan beberapa pemuda yang lain. Meskipun mereka tidak bersenjata panjang, tetapi mereka dapat menduga, bahwa sesuatu akan terjadi. Ternyata di dalam baju mereka terselip sebilah keris. Ketika keadaan meningkat menjadi semakin tegang, maka hulu-hulu keris itu pun telah tersembul dari dalam baju-baju mereka.

Dada Sutawijaya menjadi semakin berdebar-debar melihat peristiwa itu. Apakah benar-benar akan terjadi pertumpahan darah di tepian Kali Opak itu?

Tiba-tiba udara digetarkan oleh suara tertawa berkepanjangan. Ketika semua berpaling kearah suara itu, mereka melihat Swandaru masih saja tertawa sambil memandang pemimpin prajurit yang berdiri di lingkaran, siap dengan senjata di tangan.

“Hem,” berkata Swandaru, “kalau kalian bersungguh-sungguh, maka sudah barang tentu bahwa kami tidak akan mempergunakan anak panah ini. Sebenarnya kami tidak senang berkelahi dengan anak panah. Kalau aku berhasil membinasakan lawan dengan anak panah, aku sama sekali tidak mendapat kepuasan karenanya. Aku lebih senang membelah dada lawanku dengan pedangku ini.”

Swandaru kemudian dengan tenangnya meletakkan busurnya, melepaskan busur Sutawijaya di punggungnya, dan seolah-olah sedang melepaskan pakaiannya untuk mandi saja, anak yang gemuk bulat itu melepas tali-tali endong anak panahnya.

Para prajurit Pajang, beberapa anak-anak muda yang berdiri mengepungnya dan bahkan anak-anak muda yang berada di dalam kepungan, menjadi heran melihat ketenangan sikapnya. Orang-orang yang berdiri mengancamnya dengan senjata di tangan itu seakan-akan sama sekali tidak mempengaruhinya. Namun ketenangan Swandaru itu telah membuat para prajurit Pajang bertanya-tanya di dalam hati dan membuat anak-anak muda Prambanan menjadi gelisah.

Dengan tenang pula tangan kanannya kemudian menarik hulu pedangnya yang terbuat dari gading dan kini berjuntai seutas tali yang kekuning-kuningan. Ketika pedang itu kemudian menjadi telanjang, maka tampaklah pedang itu adalah sebilah pedang yang panjang.

Dengan nada yang tinggi Swandaru itu pun berkata, “Apakah kita benar-benar akan berkelahi?”

Sutawijaya dan Agung Sedayu melihat sikap itu dengan cemas, apalagi ketika kemudian mereka melihat wajah-wajah para prajurit Pajang itu pun menjadi semakin tegang.

Tanpa berjanji maka Agung Sedayu dan Sutawijaya itu pun saling berpandangan. Seakan-akan mereka saling bertanya, apakah yang sebaiknya mereka lakukan. Ternyata yang merayap di dalam hati mereka serupa. Mereka mencemasakan keadaan di sekitarnya. Bukan karena mereka cemas tentang nasib mereka masing-masing, tetapi mereka mencemaskan nasib anak-anak muda Prambanan. kalau terjadi perkelahian di pinggir Kali Opak ini maka korban yang paling banyak adalah anak-anak muda itu. Sebagian dari mereka sama sekali tidak bersenjata. Tetapi terbakar oleh darah mudanya, maka mereka akan menjadi mabuk keberanian tanpa perhitungan. Dalam perkelahian yang demikian, maka kemungkinan jatuhnya korban adalah besar sekali. Mereka sendiri pasti tidak akan dapat menjamin, bahwa senjata-senjata mereka tidak akan menyentuh tubuh lawan.

Sebelum menemukan sesuatu cara yang sebaik-baiknya mereka mendengar pemimpin prajurit yang melingkari mereka itu berkata, “Ternyata kalian benar-benar melawan perintah kami. Bahkan ada beberapa anak-anak Prambanan sendiri yang mencoba menentang kami pula. Aku memberi kesempatan terakhir kepada anak-anak muda Prambanan. Haspada, Trapsila dan kawan-kawannya. Tinggalkan orang-orang itu, supaya kami dapat segera menagkapnya tanpa membuat korban anak-anak muda Prambanan sendiri.”

Haspada memandang wajah prajurit itu dengan sorot mata yang menyala. Tiba-tiba ia menjawab, “Aku sudah jemu melihat tingkah lakumu. Bagi Prambanan sebenarnya lebih baik apabila kalian pergi saja. Mungkin kami memerlukan perlindungan dari para prajurit Pajang, tetapi bukan prajurit semacam kalian.”

Kemarahan prajurit-prajurit Pajang itu kini telah memuncak. Segera mereka bergerak maju, sehingga lingkaran itu pun menjadi semakin sempit.

Sutawijaya masih belum bergeser dari tempatnya, sedang Agung Sedayu masih menggenggam anak panah pada busurnya. Hati mereka pun menjadi semakin cemas melihat perkembangan keadaan. Tetapi mereka menyadari, bahwa mereka tidak dapat untuk sekedar mencemaskannya saja tanpa berbuat sesuatu.

Ketika lingkaran itu menjadi semakin menyempit, maka anak-anak muda Prambanan di dalam lingkaran itu pun segera bersiap pula. Di tangan mereka kini tergenggam keris masing-masing. Dengan wajah tengadah mereka menghadapi para prajurit yang menggenggam pedang di tangannya. Sedang pemimpin prajurit yang berpihak pada Sutawijaya pun berdiri dengan mata menyala. Sambil mengacung-acungkan pedangnya ia berkata, “Apa pun yang kalian lakukan, maka kalian tidak akan dapat mengingkari pertanggungan jawab.”

“Justru karena aku tidak mengingkari pertanggungan jawabku maka aku berbuat, menangkap kalian, mengikat di halaman banjar desa, minta maaf kepada tamu-tamu kami dan kemudian menyerahkan kalian kepada Ki Sidanti atau Ki Untara.”

Tiba-tiba kembali terdengar suara tertawa menggeletar. Kali ini Sutawijaya-lah yang tertawa. Suara tertawanya itu pun telah menarik perhatian pula, sehingga segenap mata seakan-akan tertumpah padanya.

“Apakah kira-kira yang akan kau katakan kepada Ki Untara?” terdengar Sutawijaya itu bertanya. Ia ingin mencoba untuk mengurungkan perkelahian itu. Tak ada jalan yang dapat ditempuhnya selain yang sedang dicobanya itu. Tetapi kalau gagal, maka ia tidak tahu, apakah akibatnya. Terasa sejak lama, sejak ia bertempur melawan Argajaya, penyesalan merayapi hatinya. Apalagi kini, pertentangan itu seakan-akan semakin menjadi-jadi.

Prajurit yang memimpin pengepungan itu menjawab kasar, “Aku akan melaporkan apa yang pernah kalian lakukan di sini.”

“Apakah Ki Untara dapat mempercayaimu?”

“Ada berpuluh-puluh saksi di sini. Ki Demang Prambanan ini pun akan dapat menjadi saksi pula.”

Kembali Sutawijaya tertawa. Katanya, “Lalu apakah yang akan dilakukan oleh Untara itu kira-kira?”

“Kalian akan diserahkan kepada kami. Dan kami akan mencincang kalian di halaman banjar desa.”

“Kalau kau berani mencincang anak itu,” berkata Sutawijaya sambil menunjuk Agung Sedayu, “maka leher kalianlah taruhannya.”

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia berkata hampir berteriak, “Pengecut, kalian mencoba mencari jalan untuk menyelamatkan diri.”

“Tidak. Kalau kau tidak percaya, pergilah ke Sangkal Putung. Bukan saja Untara berada di sana kini. Tetapi Panglima Wira Tamtama pun berada di sana pula. Kalau kalian ingin memanggilnya, maka aku akan menunggu mereka itu di sini. Untara dan Panglima Wira Tamtama itu.”

Sebelum mereka menjawab, kini tertawa Swandaru-lah yang terdengar memenuhi udara. “He,” katanya, “apakah kau akan mengatakan bahwa Agung Sedayu itu tak akan dihukum oleh Untara.”

Agung Sedayu berpaling ke arah adik seperguruannya. Tetapi ia pun tahu maksud Sutawijaya. Agaknya adik seperguruannya yang tidak begitu senang menggunakan otaknya, karena ia lebih senang mempergunakan perasaannya, kini menyadari keadaan yang gawat itu. Sehingga dengan demikian maka baik Sutawijaya maupun Agung Sedayu tersenyum karenanya.

“Apakah kau tidak ingin berkelahi?” terdengar Sutawijaya bertanya kepadanya.

“Sebenarnya. Tetapi agaknya Tuan akan menutup kesempatan itu dengan cara Tuan.”

“He,” teriak pemimpin prajurit yang mengepungnya, “jangan membuat cara yang aneh-aneh untuk menyelamatkan diri.”

“Kalau Untara datang, maka kami akan selamat. Apakah tadi kau dengar anak muda yang gemuk itu berkata?” bertanya Sutawijaya, “Anak yang berwajah tampan seperti Panji itu adalah adik Untara. Ya, ia adik senapati yang namanya selalu kau sebut-sebut.”

Kata-kata Sutawijaya itu terdengar menggelegar seperti guntur yang meledak di atas kepala mereka. Sejenak mereka terdiam seperti kena pukau yang tajam. Semua mata memandangi Agung Sedayu yang menjadi tersipu-sipu karenanya.

Meskipun demikian pemimpin prajurit yang mengepungnya tidak segera mempercayainya. Dengan ragu-ragu kini ia berkata, “Kau mendapatkan suatu cara yang baik sekali. Memang kami tidak akan berani berbuat sesuatu atas adik Ki Untara, seandainya adiknya benar-benar berada di sini. Tetapi setiap orang dapat menyebut dirinya adik Ki Untara. Bukan saja adik Ki Untara, setiap orang dapat menyebut dirinya adik Panglima Wira Tamtama atau menyebut dirinya putera Ki Gede Pemanahan.”

Suara prajurit itu terputus ketika terdengar meledak suara tertawa Swandaru Geni. Anak itu benar-benar tertawa terkekeh-kekeh sehingga tubuhnya yang bulat terguncang-guncang.

Namun Sutawijaya-lah yang menyahut, “Memang kami tidak akan dapat membuktikannya bahwa anak muda itu adik Ki Untara. Tetapi jangan mencoba memancing pertengkaran. Kalau anak muda itu mengayunkan pedangnya, maka dalam gerakan yang pertama, lima dari kalian pasti sudah terbunuh olehnya. Apalagi anak-anak muda Prambanan yang tidak bersenjata atau yang bersenjata terlampau pendek. Untuk melawan kalian, semua orang yang mencoba mengepung kami, maka Agung Sedayu sendiri akan dapat menyelesaikannya. Apakah kalian tidak percaya?”

Tampaknya wajah-wajah di sekitarnya menjadi bimbang. Beberapa anak muda menjadi pucat dan beberapa yang lain saling berpandangan.

“Persetan!” teriak prajurit itu, “Cara yang sudah lapuk untuk menakut-nakuti lawan. Sekarang kalau kalian ingin perlakuan yang lebih baik, menyerahlah. Aku tidak akan percaya apakah yang akan kalian katakan tentang diri kalian.”

Sutawijaya menarik alisnya. Memang sulitlah untuk membuktikan diri mereka di hadapan orang-orang itu. Tetapi apabila ia tidak berhasil, maka mereka benar-benar akan menyerang dan perkelahian pun akan terjadi. Meskipun beberapa orang prajurit dan anak-anak muda Prambanan itu sama sekali tidak akan menitikkan keringatnya, apalagi dibantu oleh beberapa anak-anak muda Prambanan sendiri justru yang paling kuat di antara mereka, namun setiap korban yang jatuh pasti akan membuatnya menyesal.

Dalam keragu-raguannya itu tiba-tiba terdengar pemimpin prajurit yang mengepungnya berteriak sekali lagi, “Ayo menyerahlah meskipun kau mengaku anak dewa dari langit, atau anak iblis dari dasar bumi.”

“Tidak terlampau jauh,” Sahut Swandaru sambil tertawa, “tebakanmu yang pertama tepat.”

Pemimpin prajurit itu memandanginya sambil menunjuk Sutawijaya, “Apakah ia anak dewa dari langit.”

“Yang pertama.”

Prajurit itu terdiam. Tiba-tiba ia bertanya, “Yang mana?”

“Putra Ki Gede Pemanahan.”

Kembali udara di pinggir kali Opak itu menggeletar oleh jawaban Swandaru itu. Kembali orang-orang yang berdiri di tempat itu diam mematung. Kini pusat perhatian mereka adalah anak muda yang menggenggam tombak di tangannya, yang telah berhasil mengalahkan Argajaya dengan tidak mengalami kesulitan.

Namun kemudian pemimpin prajurit itu berteriak kembali, meskipun terasa bahwa dadanya diamuk oleh kebimbangan, ”Nah. Aku menjadi semakin tidak yakin akan kebenaran kata-kata kalian. Mula-mula salah seorang dari kalian dinamakan adik Ki Untara, kemudian kini yang lain disebut putera Ki Gede Pemanahan. Nah, yang seorang itu, yang gemuk, akan kalian namakan apalagi. Apakah anak yang gemuk itu akan disebut sebagai Putera Sultan Hadiwijaya?”

Swandaru tertawa semakin keras mendengar kata-kata itu. Sehingga beberapa titik air matanya membasahi pipinya yang gembung. Sutawijaya dan Agung Sedayu pun terpaksa tersenyum melihat tingkah lakunya.

Haspada, Trapsila, beberapa anak-anak muda yang berada di dalam lingkaran, beserta pemimpin prajurit yang datang bersamanya, benar-benar membeku melihat tingkah laku ketiga anak-anak muda itu. Sebutan-sebutan yang mereka ucapkan telah mempengaruhi sikap mereka. Tanpa mereka kehendaki, maka tiba-tiba mereka kini semakin memperhatikan wajah-wajah dari ketiga anak-anak muda yang menyebut dirinya Pengawal Kademangan Sangkal Putung.

Wajah Agung Sedayu yang mantap dan tenang. Wajah Sutawijaya yang tajam berwibawa dan wajah gemuk bulat namun memancarkan keteguhan tekad. Ketiganya sudah pasti bukan anak-anak gembala yang kebetulan menjadi seorang pengawal kademangannya.

Tetapi meskipun ragu-ragu, namun pemimpin prajurit yang mengepungnya mencoba untuk tidak terpengaruh kata-kata itu.

Baginya setiap hidung akan dapat mengucapkan sebutan-sebutan itu. Dengan demikian, maka apabila ia terpengaruh olehnya, berarti kegagalan pula baginya.

Namun prajurit itu pun tidak lagi dapat bertindak segarang semula. Di dalam hati kecilnya tersimpan pula pengakuan, bahwa anak-anak muda itu pasti bukan anak kebanyakan. Tetapi apabila mereka benar-benar adik Untara, apalagi putera Ki Gede Pemanahan, apakah pula kerjanya menyelusuri hutan sampai ke Kademangan Prambanan tanpa pengawalan seorang prajurit pun.

Tetapi kini prajurit itulah yang terkejut, ketika Swandaru membentaknya, “He, apakah kau tidak percaya?”

“Tidak,” sahutnya dengan serta merta.

Swandaru menggeleng-gelengkan kepalanya, “Bagaimana Tuan. Apakah kita berkelahi saja.”

“Jangan,” cegah Sutawijaya. Ia kini tinggal mempunyai satu cara untuk mencoba meyakinkan dirinya. Sejenak ia terdiam. Dipandanginya wajah pemimpin prajurit yang datang bersamanya. Tiba-tiba ia berkata, “Kemarilah. Lihat landean tombak pendekku ini. Bukankah kau pandai membaca?”

Prajurit yang dipanggil oleh Sutawijaya itu memandanginya dengan penuh pertanyaan. Ia sama sekali tidak tahu maksud anak muda itu.

“Kemarilah,” panggil Sutawijaya, “mendekatlah.”

Yang terdengar adalah suara pemimpin prajurit yang mengepungnya, “Jangan banyak tingkah. Menyerahlah.”

Tetapi Sutawijaya seakan-akan sama sekali tidak mendengarkannya. Sekali lagi ia berkata, “Kemarilah. Lihat landean tombakku ini.”

Seperti kena pesona pemimpin prajurit yang memihak kepada Sutawijaya itu pun berjalan mendekatinya.

“Kau pandai membaca bukan?” bertanya Sutawijaya.

Prajurit itu menganggukkan kepalanya.

Pada landean itu ternyata tercoreng beberapa huruf yang dipahatkan agak dalam. Sambil menunjuk kepada huruf-huruf itu Sutawijaya berkata, “Baca. Bacalah huruf-huruf ini.”

Prajurit itu masih belum tahu maksud Sutawijaya. Tetapi ia membacanya juga. Diamatinya huruf-huruf yang berjejer-jejer membentuk kata-kata itu. Pa-nglegena, sa-wulu-layar, sa-nglegena, wa-suku dan ka-wulu-layar. “Pasir Sawukir,” gumam prajurit itu.

“Apakah kau pernah mendengar nama itu?” bertanya Sutawijaya.

Prajurit itu menggeleng. Dan pemimpin yang lain berteriak, “He. Apakah kau sedang bermain gila-gilaan?”

“Kau juga belum pernah mendengar nama itu?” bertanya Sutawijaya kepada prajurit di luar lingkaran.

“Nama itu sama sekali tak berarti bagi kami.”

“Baik,” sahut Sutawijaya. Diputarnya landean tombaknya. Di sisi yang lain ternyata tertera beberapa huruf pula. Sambil menunjuk huruf yang tertera itu, maka Sutawijaya berkata, “Sekarang bacalah huruf-huruf ini. Huruf-huruf ini akan menyebut sebuah nama. Nama itu adalah namaku. Kalian dapat percaya atau tidak. Tetapi itu adalah namaku. Seandainya kalian tidak percaya, dan kalian tetap dalam pendirian kalian, maka kalian pagi ini juga pasti akan menjadi bangkai. Burung-burung gagak pasti akan kekucah di pinggir Kali Opak ini. Nama yang akan dibaca oleh pemimpin kalian ini adalah usahaku yang terakhir untuk mencegah perkelahian.”

Kata-kata Sutawijaya itu menyusup ke dalam setiap dada seperti tajamnya tombak yang menyusup ke jantung mereka. Beberapa anak muda menjadi cemas dan ketakutan. Beberapa yang lain setapak demi setapak surut ke belakang.

Tetapi para prajurit yang mengepungnya masih saja tegak di tempatnya. Meskipun ke ragu-raguan semakin besar melanda jantungnya, tetapi mereka masih belum dapat mempercayai sesuatu.

Pemimpin prajurit yang berdiri di samping Sutawijaya itu mengamat-amati huruf demi huruf. Beberapa kali ia mencoba membacanya di dalam hatinya. Nama itu pernah didengarnya. Ya, nama itu telah pernah menggemparkan dada setiap prajurit Pajang. Karena itu, tiba-tiba keringat dingin mengalir melalui segenap lubang-lubang kulitnya. Sejenak ia diam mematung. Diawasinya huruf-huruf itu, dan kemudian diucapkannya nama itu kembali di dalam hatinya.

“Jadi………,” kata-katanya serasa terhenti di kerongkongan.

“Baca,” minta Sutawijaya.

Prajurit itu memandang wajah Sutawijaya. Tiba-tiba prajurit itu melihat seakan-akan wajah itu memancarkan sinar yang menyilaukan. Dengan serta-merta ia menundukkan kepalanya sambil berkata gemetar, “Ampun, Tuan. Ampun. Aku tidak mengenal Tuan sebelumnya. Kalau benar Tuan yang datang di sini, maka sepantasnyalah Tuan yang menghukum kami.”

Orang-orang yang berdiri di sekelilingnya menjadi heran dan terperanjat. Kenapa tiba-tiba pemimpin prajurit itu menjadi pucat pasi seperti mayat.

Pemimpin prajurit yang sedang mengepungnya melihat peristiwa itu dengan dada yang berdebar-debar. Tetapi tanpa disadarinya ia berteriak, “He, kenapa kau menjadi takut seperti melihat hantu. Apakah pada landean tombak itu tertera nama hantu-hantu, atau penjaga hutan dan lereng Merapi? Atau sebuah nama perguruan yang menakutkan, atau sebuah gerombolan penjahat yang mengerikan?”

Tetapi prajurit yang sedang gemetar itu seakan-akan tidak mendengarnya. Ia masih saja berkata, “Tuan. Kami sama sekali tidak mengetahui, dengan siapa kami berhadapan. Kalau kami mengenal Tuan sebelumnya, maka kami tidak akan bersikap seperti ini. Juga kawan-kawan kami dan pasti juga tamu-tamu kami akan bersikap lain. Apalagi anak-anak muda Prambanan ini.”

“He, siapa dia?” teriak beberapa orang prajurit yang tidak sabar menunggu. Sebut namanya, supaya kami segera bersikap.”

Yang terdengar justru suara tertawa Swandaru. Meskipun ia berusaha untuk menahannya, tetapi suara itu meluncur juga dari sela-sela bibirnya.

Agung Sedayu memandanginya dengan kerut-merut di dahinya. Kali ini mereka tidak sedang bergurau. Kalau bukti terakhir ini tidak juga dipercaya, berarti darah akan mengalir di pinggir Kali Opak ini.

Tetapi suara tertawa Swandaru itu segera dapat dihentikannya, seakan-akan ditelannya kembali, meskipun perutnya terasa sakit.

Prajurit-prajurit yang mengepung mereka itu kini sudah menjadi tidak bersabar lagi. Hampir bersamaan mereka berteriak, “Sebut, sebutlah namanya. Apakah kalian sedang bermain-main untuk menakut-nakuti kami. Kalau benar nama itu menggetarkan hatimu. Sebutlah.”

Sutawijaya mengangkat dagunya. Dipandanginya orang-orang di sekelilingnya. Wajah-wajah yang tegang dan penuh pertanyaan. Haspada, Trapsila dan kawan-kawannya seakan-akan membeku di tempatnya. Namun pancaran wajahnya terasa menjadi terlampau tegang.

“Bacalah,” desis Sutawijaya kemudian.

Pemimpin prajurit itu memandanginya dengan ragu-ragu. Tetapi sekali lagi Sutawijaya berkata, “Bacalah.”

Dengan suara bergetar maka prajurit itu pun membaca nama itu, “Sutawijaya yang bergelar Ngabehi Loring Pasar.”

Suara prajurit yang gemetar itu terdengar seperti ledakan Gunung Merapi di telinga orang-orang yang berdiri di sekitarnya. Baik yang berdiri di dalam lingkaran, maupun yang berada di luar kepungan. Sejenak mereka dicengkam oleh suasana yang aneh, sehingga tak seorang pun yang segera dapat menentukan sikapnya. Prajurit yang pemimpin pengepungan itu pun berdiri dengan mulut menganga. Pedang yang di tangannya itu tiba-tiba menjadi bergetar dan hampir-hampir jatuh dari genggamannya.

Sekali lagi dicobanya untuk menatap wajah anak muda yang menggenggam tombak itu. Kemudian beralih kepada anak muda yang disebutnya adik Untara, seterusnya kepada anak muda yang gemuk bulat yang seakan-akan selalu tertawa dalam segala keadaan.

Sutawijaya melihat ketegangan dalam setiap hati. Ia ingin mempergunakan kesempatan itu untuk meyakinkan orang-orang Prambanan tentang dirinya. Bukan karena ia ingin bersombong diri, tetapi dengan demikian ia mengharap para prajurit dan orang-orang Prambanan mengurungkan niatnya untuk menangkapnya. Dengan demikian maka perkelahian pun akan terhindar, dan pertumpahan darah pun dapat disingkiri.

Dengan wajah tengadah anak muda itu pun berkata, “Nah, siapa yang tidak percaya pada tulisan itu? Aku tidak berkeberatan seandainya masih ada yang berkata, bahwa setiap orang dapat saja menulis apa saja pada landean tombaknya. Dapat saja menulis dirinya dengan sebutan aneh-aneh. Mungkin kalian dapat berkata bahwa setiap orang dapat menulis namanya dan menyebutnya sebagai putera Dewa Brahma seperti tersebut di dalam dongeng-dongeng. Atau dapat menyebut dirinya sebagai titisan Wishnu seperti Kresna atau Kekasih Syiwa. Tetapi aku masih mempunyai satu bukti lagi yang akan meyakinkan kalian apabila kalian kehendaki. Aku adalah Sutawijaya putera Ki Gede Pemanahan. Akulah yang pernah membenamkan ujung tombakku ke lambung Arya Penangsang, meskipun tombak itu bukan tombak yang aku pergunakan sekarang. Tombak itu adalah tombak pusaka sipat kandel Kadipaten Pajang, yang bernama Kiai Pleret, dan berlandean panjang, jauh lebih panjang dari tombakku ini. Meskipun demikian, meskipun aku kali ini tidak membawa Kiai Pleret, tetapi apabila kalian tetap dalam pendirian kalian ingin menangkap Sutawijaya, maka sebelum kalian sempat menyentuh pakaianku, maka kalian pasti telah menjadi mayat. Apalagi kalau kedua kawan-kawanku itu ikut serta. Pedangnya tidak kalah dahsyatnya dari sepuluh pasang pedang di dalam genggaman tangan kalian. Aku berkata sebenarnya bahwa yang seorang itu adalah adik Untara. Ya, adik Kakang Untara, senapati yang mendapat kepercayaan di seluruh daerah di seputar Gunung Merapi. Sedang yang seorang lagi, yang gemuk itu adalah putera Ki Demang Sangkal Putung, pemimpin anak-anak muda pengawal Kademangan Sangkal Putung. Apalagi seperti yang kalian lihat di sini berdiri pemimpin prajurit Pajang di Prambanan yang syah dan di sini berdiri pula beberapa anak muda yang masih dapat berpikir jernih. Yang masih sempat melihat keruntuhan yang dengan perlahan-lahan menerkam kademangan kalian. Keruntuhan pribadi satu-satu dari kalian adalah pertanda yang paling jelas bahwa kademangan ini kini telah berada di pinggir jurang kehancuran,” Sutawijaya berhenti sejenak. Dipandanginya setiap wajah yang ada di sekitarnya. Wajah-wajah anak-anak muda yang berada di dalam lingkaran dan wajah-wajah yang sedang mengepungnya rapat-rapat, juga wajah-wajah yang berada di luar kepungan. Pada wajah-wajah itu Sutawijaya dapat membaca bahwa kata-katanya telah bergolak di setiap dada.

Pinggir Kali Opak itu kini dicengkam oleh kesenyapan. Tak seorang pun yang mengucapkan kata-kata. Mulut mereka terbuka, tetapi serasa kerongkongan mereka tersumbat oleh sebuah perasaan yang aneh.

Sejenak kemudian kembali Sutawijaya berkata, “Nah, sekarang apa yang akan kalian lakukan? Apakah kalian percaya kepada kata-kataku ataukah kalian masih saja menganggap bahwa aku hanya sekedar menakut-nakuti?”

Tak ada jawaban.

Dan Sutawijaya pun berkata pula, “Meskipun aku baru semalam melihat wajah Kademangan kalian, tetapi aku sudah mendapat gambaran yang jelas, apa yang sebenarnya terjadi di sini. Kemunduran watak dan tabiat, kehilangan pegangan karena mabuk kemenangan-kemenangan kecil yang sebenarnya tidak berarti apa-apa, dan yang terpenting kemudian, pengingkaran atas nilai-nilai kebaktian kalian kepada sumber hidup kalian. Kemaksiatan bukan saja pelanggaran atas nilai-nilai hidup duniawi, tetapi lebih-lebih daripada itu, kemaksiatan adalah jalan yang menuju kepada Bebendu Abadi. Mungkin bagi mereka yang memegang pedang di tangan, dapat menghindari setiap tanggung jawab duniawi dengan kekuasaan yang terpancar dari tajam pedangnya. Tetapi apakah pedang itu akan bermanfaat untuk melawan pengadilan tertinggi, pengadilan dari Sumber Hidup kalian?”

Orang-orang yang berdiri di tepian Kali Opak itu benar-benar seperti cengkerik terinjak kaki. Diam membeku.

Namun tiba-tiba mereka seperti tersentak bangun ketika Sutawijaya berkata, “Ayo, siapa yang akan menangkap Sutawijaya?”

Prajurit-prajurit yang berdiri memagari Sutawijaya dan kawan-kawannya itu pun tiba-tiba terlempar pada kesadaran mereka tentang diri mereka.

Kata-kata Sutawijaya itu seakan-akan ujung-ujung tombak yang menghujani beribu kali ke pusat jantung mereka. Pedih dan nyeri. Tubuh mereka itu pun kemudian bergetaran. Meskipun ada juga perasaan ingkar atas segala tuduhan yang tidak langsung ditimpakan kepada diri mereka, tetapi ketika terpandang wajah Sutawijaya itu, maka wajah-wajah mereka pun tertunduk lesu. Bahkan kemudian terbayang di rongga mata mereka, Panglima Wira Tamtama yang mereka segani, akan datang sendiri menghakimi mereka. Menunjuk ke wajah-wajah mereka sambil menjatuhkan hukuman yang paling berat.

Demang Prambanan pun berdiri dengan pucatnya. Lututnya beradu seperti orang melihat hantu. Dadanya serasa diguncang-guncang oleh perasaan yang mengerikan. Seakan-akan ia sedang berada di dalam dunia mimpi yang menakutkan.

Orang-orang yang berdiri di pinggir kali Opak itu kini serasa di kejar oleh perasaan bersalah dan ketakutan. Para prajurit yang mengepung Sutawijaya itu pun merasa betapa mereka menyesal atas kelakuan mereka. Kenapa ia harus berhadapan dengan putera Ki Gede Pemanahan tanpa mereka ketahui.

Kini ternyata mereka telah mengancam putera panglimanya. Bukan saja karena anak muda itu putera Panglima Wira Tamtama, tetapi anak muda itu adalah putera angkat yang kinasih dari Adipati Pajang sendiri.

Dengan demikian maka setiap orang dipinggir sungai Opak itu kini justru terbungkam. Yang memecah kesenyapan adalah suara Sutawijaya kembali, “Bagaimana? Apakah kalian masih tetap pada pendirian kalian?”

Tiba-tiba pemimpin prajurit yang mengepungnya itu melangkah selangkah maju. Tubuhnya yang gemetar hampir-hampir tidak dapat lagi berdiri tegak di atas kedua kakinya. Ketika ia kemudian membungkukkan badannya maka pedangnya pun terjatuh dari tangannya, katanya maka, “Aku dan kawan-kawanku memohon seribu ampun”

“Apakah kau masih ragu-ragu?” bertanya Sutawijaya lantang.

“Tidak. Tidak, Tuan,” sahut prajurit itu dengan serta merta.

“Kau melihat aku berkelahi melawan Argajaya?”

“Ya, Tuan.”

“Ketahuilah, bahwa dengan dua tiga unsur gerak aku dapat membunuhnya. Tetapi aku masih menghormatinya dan membiarkan ia melawan sampai beberapa saat. Meskipun demikian aku tidak akan membunuhnya. Bukan karena ia paman Sidanti, sebab Sidanti itu pun sama sekali tidak berarti bagiku.” Sutawijaya itu berhenti sejenak. Dipandanginya para prajurit yang menundukkan kepalanya dengan lutut gemetar, “Ketahuilah,” katanya kemudian, “Sidanti kini memang sudah tidak berada di Sangkal Putung lagi. Sidanti telah melarikan dirinya karena ia melawan kepada pimpinannya. Sidanti telah mencoba membunuh Kakang Untara untuk dapat menggantikannya. Tetapi Untara tidak terbunuh, sehingga dengan demikian Sidanti harus melarikan diri. Anak muda yang bernama Sidanti dan dibangga-banggakan itu sama sekali tidak mampu melawan anak muda yang berdiri di sini itu. Adik Kakang Untara. Karena itu, seandainya datang tiga Sidanti di pinggir Kali Opak saat ini, maka kami bertiga tidak akan menjadi cemas sama sekali, apalagi tiga orang Argajaya yang sombong itu.”

Prajurit-prajurit Pajang itu masih berdiri dengan wajah yang tertunduk. Tak seorang pun kini yang berani mengangkat wajahnya memandangi wajah putera Ki Gede Pemanahan itu.

Dalam pada itu Ki Demang Prambanan yang masih muda itu berkata dengan nada yang datar gemetar, “Tuan, kami benar-benar tidak tahu siapakah Tuan. Bukan kebiasaan kami tidak menghormati tamu-tamu, tetapi hanya karena kami tidak tahu, maka mungkin sikap kami, orang-orang kademangan ini, tidak berkenan di hati Tuan. Terhadap Argajaya itu pun kami bersikap hormat pula, meskipun kami tahu, betapa orang itu sangat memuakkan karena kesombongannya. Apalagi terhadap Tuan apabila kami tahu sebelumnya.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Ki Demang Prambanan itu. Sedang Ki Demang itu berkata pula, “Karena itu, Tuan, aku mengharap Tuan sudi bermalam di Kademangan kami. Kami akan menjamu Tuan dengan kemeriahan dua tiga kali lipat dari jamuan yang pernah kami adakan untuk Argajaya.”

Sutawijaya memandangi wajah Demang itu dengan tajamnya. Tetapi anak muda itu tidak segera menjawab.

Ki Demang itu masih juga berkata, “Kami akan mengadakan pertunjukan menurut kesenangan Tuan tiga hari tiga malam dan akan menjamu Tuan menurut kehendak Tuan. Kami akan menyembelih lembu dan kambing sebagai tanda hormat kami atas kesudian Tuan hadir di Kademangan ini.”

Ketika terpandang oleh Sutawijaya wajah Swandaru, maka Sutawijaya itu pun segera mengetahui, bahwa di dalam dada anak muda itu pun bergejolak perasaan seperti yang bergolak di dalam dadanya sendiri. Tetapi ketika ia memandangi wajah Agung Sedayu, maka sukarlah baginya untuk menjajagi perasaan anak muda itu. Wajahnya hampir tidak berubah. Kesannya tenang dan dalam.

Tetapi dalam ketenangan itu, sebenarnya bergelombanglah perasaan di dalam hatinya. Bahkan tiba-tiba ia menjadi kecewa melihat wajah Ki Demang Prambanan itu. Kecewa akan sikapnya yang miyur, tanpa berpegangan kepada suatu sikap yang terpuji. Baru saja mereka melihat, bagaimanakah sikapnya terhadap Argajaya, kini mereka melihat sikap yang tiba-tiba berubah. Tetapi Agung Sedayu berusaha untuk menekan perasaannya. Ia tidak mau merusak suasana yang sudah hampir mereda.

“Marilah, Tuan,” berkata Ki Demang, yang kemudian kepada para prajurit dan orang-orangnya ia berkata, “Marilah kita sambut tamu-tamu kita ini dengan kegembiraan di hati. Tidak terpaksa karena sopan santun saja seperti kita menyambut Argajaya kemarin. Tetapi kali ini kita akan merayakannya dengan ikhlas. Bahwa kademangan kita telah mendapat kesempatan dikunjungi oleh priyagung dari Pajang.”

Belum lagi Ki Demang itu selesai, terdengar Sutawijaya berkata, “Terima kasih Ki Demang. Kami bukan orang-orang yang dapat dimabukkan oleh sambutan-sambutan dan kemeriahan lahiriah. Kami bukan Argajaya. Mungkin ada beberapa perbedaan di antara kami dan Argajaya itu.” Sutawijaya berhenti sejenak. Dilihatnya wajah Ki Demang yang pucat menjadi semakin pucat. Apalagi ketika sejenak kemudian Sutawijaya berkata, “Jangan mencoba mencuci tanganmu dengan darah lembu dan kambing yang akan kau sembelih. Tak ada gunanya Ki Demang. Yang dapat mencuci namamu yang agaknya selama ini menjadi buram adalah sebuah pengakuan. Pengakuan atas kesalahan-kesalahan yang pernah kau lakukan. Dengan janji di dalam hati bahwa kesalahan itu tidak akan terulang kembali.”

Mulut Ki Demang kini benar-benar terbungkam. Seluruh tubuhnya telah basah karena keringat dingin yang mengalir seperti terperas dari dalam tubuhnya. Dengan lutut yang beradu ia mencoba untuk dapat tegak berdiri.

Ki Demang itu hampir terjatuh ketika ia terkejut mendengar Sutawijaya membentaknya, “Bagaimana Ki Demang. Apakah kau dengar kata-kataku?”

“Ya, ya, Tuan. Aku mendengar.”

“Dan Mengerti pula?”

“Ya, aku mengerti, Tuan.”

“Apa?”

Jantung Ki Demang Prambanan itu serasa dihentak-hentak oleh guruh yang meledak di dalam dadanya. Hampir-hampir ia menjadi pingsan karena ketakutan.

“Apa yang kau ketahui he Ki Demang?”

Ki Demang tidak segera dapat menjawab. Mulutnya benar-benar serasa tersumbat.

“Kenapa kau diam, he? Kau sangka aku bermain-main?” desak Sutawijaya agak keras. “Aku tidak bermain-main Ki Demang. Aku juga tidak menakut-nakuti kalian. Aku akan dapat membuktikannya apa yang aku katakan. Bukan karena aku putera Panglima Wira Tamtama. Tetapi seandainya bukan, maka aku sanggup menghadapi kalian dengan ujung tombakku ini, kau dengar?”

“Ya, ya, Tuan,” suara Ki Demang hampir tidak kedengaran.

“Apakah kau menyesal?”

“Ya, Tuan.”

Sutawijaya menarik nafas. Ia tahu, bahwa Ki Demang itu memang sudah tidak mungkin lagi diajaknya berbicara. Tetapi dengan demikian, maka semua kata-katanya besok atau lusa pasti akan dipertimbangkannya. Karena itu maka katanya, “Aku malam nanti tidak akan bermalam lagi di Kademangan ini. Aku sudah tahu gambaran yang pasti tentang Kademangan ini. Beruntunglah bahwa di sini masih ada seorang prajurit yang menyadari kesalahannya pada saat-saat terakhir. Kepadanya aku percayakan prajurit-prajurit yang lain. Apabila masih juga terjadi, mereka menentang perintah pemimpinnya yang syah, yang diangkat dan bertanggung jawab kepada Kakang Untara, maka mereka akan ditindak seperti orang-orang yang sampai saat ini masih membangkang di bawah pimpinan Sanakeling. Sedang Kademangan Prambanan harus merasa berterima kasih bahwa mereka masih memiliki anak-anak muda seperti Haspada, Trapsila dan beberapa orang yang lain. Merekalah yang seterusnya harus tampil ke depan, membimbing kawan-kawannya. Mungkin satu dua ada juga yang tidak ingin melepaskan cara hidupnya kini. Berkeliaran, berbuat aneh-aneh dan tidak menghiraukan lagi adat dan tata-cara. Adalah menjadi tugas anak-anak muda sendirilah untuk menghentikannya. Bahkan orang-orang tua yang memberi banyak contoh-contoh yang sesat itu pun harus dihentikan. Sekarang juga. Jangan menunggu sampai gunung Merapi meledak dan menimbuni daerah ini dengan pasir dan batu.”

Ketika Sutawijaya terdiam, maka tak ada suara yang berderik, selain gemericik air Kali Opak dan desir angin di dedaunan. Semaunya terdiam beku. Wajah-wajah yang menunduk dan hati yang pepat dan kecut. Ternyata mereka berhadapan dengan seorang anak muda yang luar biasa. Tidak saja menggerakkan tombaknya, tetapi juga menggerakkan lidahnya.

Kesepian itu kemudian terpecahkan ketika Sutawijaya tiba-tiba berkata, “Aku akan pergi.”

Kata-kata itu pun sangat mengejutkan. Semua wajah yang tunduk itu terangkat, dan semua mata memandang kepadanya. Tetapi ia berkata sekali lagi, “Aku akan pergi. Marilah Agung Sedayu dan Swandaru. Kita lanjutkan perjalanan kita.”

“Tuan,” pemimpin prajurit itu berusaha untuk mencegahnya, “Sebaiknya Tuan bermalam di sini. Bukan maksud kami untuk mencoba menyenang-nyenangkan hati tuan karena kesalahan-kesalahan kami, dengan harapan supaya Tuan sudi memaafkannya, tetapi sebenarnyalah kami ingin Tuan bermalam di sini untuk memberikan beberapa petunjuk yang mungkin akan sangat penting bagi kami.”

“Cukup,” sahut Sutawijaya. “Aku sudah cukup banyak berbicara. Mungkin besok atau lusa atau seminggu dua minggu lagi ada orang lain yang berkepentingan datang kemari. Mungkin kawan-kawanmu para prajurit yang berada di sini harus ditarik dan diganti oleh yang lain, mungkin keputusan-keputusan lain yang akan diambil oleh kakang Untara, tetapi mungkin kalian masih akan dibiarkannya saja seperti sekarang, karena kesibukannya yang terlampau banyak. Aku tidak tahu. Itu bukan urusanku. Tetapi aku mempunyai kepentingan sendiri dan aku akan pergi.”

“Tuan,” potong prajurit itu, tetapi Sutawijaya seperti tidak mendengarnya. Bahkan ia berkata kepada Swandaru, “Berikan busurku itu.”

Swandaru pun kemudian memungut busur itu dan memberikannya sambil bertanya, “Apakah kita akan meneruskan perjalanan kita?”

“Ya,” sahut Sutawijaya

Swandaru tidak bertanya lagi. Yang berbicara kemudian adalah Sutawijaya kedapa Haspada dan Trapsila, “Selamat kepada kalian. Mudah-mudahan kalian akan tampil kembali dalam kepemimpinan anak-anak muda. Jangan patah hati. Kalau perlu kalian dapat berlaku agak keras. Bukankah kalian mempunyai bekal yang cukup untuk melakukannya?”

“Mudah-mudahan kami dapat melakukannya, Tuan,” jawab mereka hampir bersamaan.

“Bagus. Sekarang aku akan meninggalkan kademangan ini. Aku mengharap di saat lain aku akan kembali mengunjungi daerah ini. Bukankah menurut cerita yang pernah aku dengar, kademangan ini pernah mendapat seorang demang yang sangat baik? Cobalah ulangi nama yang baik itu. Jauhkan segala macam kericuhan dan kemaksiatan.”

***

Dalam pada itu Sutawijaya masih berdiri keheran-heranan. Orang yang datang itu belum begitu dikenalnya. Serasa ia pernah melihatnya sepintas tetapi di mana? Ataukah memang belum pernah ditemuinya orang ini? Namun menilik sebutan yang diucapkan oleh Agung Sedayu maka Sutawijaya pun segera dapat mengenalinya. Orang itu pasti guru Agung Sedayu dan Swandaru. Karena itu, maka ketika orang tua itu memandangnya Sutawijaya mengangguk hormat sambil berkata, “Maafkan Kiai, mungkin aku belum begitu mengenal Kiai sehingga aku tidak segera mengerti dengan siapa aku berhadapan.”

“Ya, ya. Angger memang belum mengenal aku dengan baik.”

“Bukankah Kiai guru Agung Sedayu dan Swandaru?”

“Ya, begitulah.”

Sekali lagi Sutawijaya menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Kiai Gringsing.”

“Demikianlah orang yang sudi menyebut aku. Ada pula yang memanggilku Ki Tanu Metir.”

Tiba-tiba suara Swandaru memotong pembicaraan mereka diseling suara tertawanya, “Kiai, kalau demikian maka aku tahu sekarang.”

Semua orang berpaling kepadanya. Tampaklah wajah Sutawijaya menjadi berkerut-merut, “Apa yang kau ketahui?”

Swandaru yang gemuk itu masih saja tertawa, sehingga tubuhnya terguncang-guncang.

“Apa yang kau ketahui?” bertanya Kiai Gringsing pula.

“Nah, aku tahu sekarang. Kenapa kita hampir menjadi gila pada waktu kita berada di bekas perkemahan Tohpati. Api perapian dan lincak bambu itu, pasti Kiai yang membuat dan memasangnya.”

Kiai Gringsing, Sutawijaya dan Agung Sedayu pun kemudian tertawa pula.

“Ya,” sahut Agung Sedayu, “pasti Kiai-lah yang telah membingungkan kami.”

Kiai Gringsing tidak menjawab. Tetapi ia masih saja tertawa.

“Kami menjadi ketakutan dan hampir mengurungkan niat kami,” berkata Sutawijaya.

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak. Ternyata kalian tidak menjadi takut, tetapi kalian menjadi marah dan mengamuk.”

Ketiga anak-anak muda itu masih saja tertawa.

“Kalian agaknya memang tidak mengenal takut,” berkata Kiai Gringsing pula, “Aku melihat apa yang terjadi di Kademangan Prambanan semalam, dan pagi tadi di pinggir Kali Opak.”

Ketiga anak-anak muda itu dengan tiba-tiba berhenti tertawa. Mereka menjadi heran, bagaimana mungkin Kiai Gringsing dapat melihat apa yang terjadi pagi tadi. Tentang semalam, kemungkinan itu memang cukup banyak, tetapi pagi tadi, hampir setiap wajah di sekitar arena itu telah dilihatnya. Tetapi mereka sama sekali tidak melihat wajah Kiai Gringsing itu.

Agaknya Kiai Gringsing mengerti gejolak perasaan anak-anak muda itu. Maka katanya, “Aku melihat apa yang terjadi di pinggir Kali Opak itu dari atas tebing. Aku berdiri di belakang semak-semak yang tidak terlampau rimbun. Namun karena agaknya kalian baru sibuk dengan Argajaya, maka kalian tidak melihat aku.”

Ketiga anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Jadi Kiai melihat kami berkelahi?” bertanya Sutawijaya.

“Menurut penglihatanku yang berkelahi hanyalah seorang saja, Anakmas Sutawijaya,” sahut Kiai Gringsing.

Sutawijaya tersenyum, “Ya Kiai. Meskipun kedua murid-murid Kiai itu pun sudah hampir pula berkelahi.”

“Aku kagum melihat sikap dan kesabaran Anakmas. Ternyata Anakmas berhasil menghindari pertumpahan darah. Aku tidak mendengar apa yang kalian percakapkan. Tetapi menilik sikap dan tingkah laku kalian dan orang-orang Prambanan, aku tahu bahwa Anakmas berhasil mencegah perkelahian itu dengan huruf-huruf yang tertera pada landean tombak Anakmas. Apakah pada landean itu tertulis nama Anakmas yang sebenarnya?”

“Ah,” desah Sutawijaya, “begitulah, Kiai.”

“Jarang-jarang anak muda yang dapat mengendalikan perasaannya seperti Anakmas. Aku melihat bagaimana Swandaru dan Agung Sedayu menarik tali busurnya. Aku menjadi berdebar-debar karenanya.”

“Ah, aku hanya menakut-nakuti mereka saja guru,” sahut Swandaru sambil tersenyum.

“Bagus,” jawab Kiai Gringsing. “Kalau demikian kalian telah berbuat sebaik-baiknya. Tetapi ternyata kalian kurang menyadari bahaya yang akan dapat timbul karenanya. Apakah kalian kini masih juga akan pergi ke alas Mentaok?”

Sejenak anak-anak muda itu saling berpandangan. Pertanyaan itu terdengar aneh di telinganya. Namun yang menjawab kemudian adalah Sutawijaya, “Ya, Kiai. Kami akan terus ke hutan Mentaok.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Anakmas. Apakah tidak sebaiknya Anakmas kembali saja ke Sangkal Putung?”

“Kenapa?” bertanya Sutawijaya.

“Jalan ke Mentaok terlampau sulit, Ngger,” jawab Kiai Gringsing.

“Tidak apa Kiai. Kami telah mendengar pula sebelumnya.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk pula. Tetapi wajahnya sama sekali tidak sejalan dengan anggukkan kepalanya. Katanya, “Anakmas. Mungkin Anakmas sudah bersedia untuk menempuh jalan yang bagaimanapun sulitnya. Mungkin Anakmas sudah bertekad akan mengatasi segala macam bahaya yang akan Angger jumpai di perjalanan. Tetapi bahaya sebenarnya bagi kalian bertiga tidak terletak di perjalanan Angger bertiga.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Ia kurang dapat mengerti kata-kata Kiai Gringsing itu, sehingga sejenak ia tidak menyahut. Karena Sutawijaya tidak segera menyahut, maka Kiai Gringsing itu pun meneruskannya, “Mungkin di perjalanan ke Mentaok itu Angger tidak akan menjumpai kesulitan apa-apa. Mungkin satu dua Angger bertemu dengan penyamun atau perampok, tetapi mereka sama sekali tidak berarti bagi kalian bertiga. Tetapi dengan peristiwa yang telah terjadi di Prambanan itu, maka bahaya yang sebenarnya akan dapat terjadi di Sangkal Putung.”

Ketiga anak-anak muda itu pun saling berpandangan. Keterangan Kiai Gringsing itu masih belum begitu jelas bagi mereka, sehingga Sutawijayapun bertanya, “Kenapa Kiai, kenapa Sangkal Putung terancam bahaya?”

“Angger,” jawab Kiai Gringsing, “Argajaya yang telah Angger kalahkan di hadapan orang-orang Prambanan itu sudah tentu mendendam di hatinya. Bukankah Argajaya itu seorang utusan dari Kepala Tanah Perdikan yang bernama Argapati, dan Argapati itu ayah Sidanti? Nah. Argajaya pasti akan bertemu dengan Sidanti. Mereka berdua menyimpan dendam di dalam hati masing-masing kepada Angger dan juga kepada Agung Sedayu dan Swandaru. Nah, apakah kira-kira yang akan terjadi apabila mereka masing-masing bertemu dan berbicara tentang tiga orang anak muda Sangkal Putung seperti kalian?”

Sutawijaya pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Agung Sedayu dan Swandaru pun mulai mengerti, apakah yang dimaksud oleh gurunya.

“Kiai,” berkata Sutawijaya, “meskipun mereka kemudian bertemu apakah kira-kira yang dapat mereka lakukan?”

“Banyak sekali, Ngger,” sahut Kiai Gringsing. “Salah satu kemungkinan yang dapat mereka lakukan adalah berusaha mencegat Angger bertiga, kelak jika Angger kembali dari Mentaok.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Agung Sedayu dan Swandaru sejenak saling berpandangan. Kata-kata Kiai Gringsing itu masuk ke dalam akal mereka. Jarak antara Prambanan dan padukuhan Ki Tambak Wedi tidak melampaui jarak Prambanan dan alas Mentaok. Meskipun jaraknya terpaut, tetapi jalan ke alas Mentaok pasti akan lebih sulit. Apalagi apabila satu dua kali mereka akan bertemu dengan beberapa orang penyamun seperti yang dikatakan oleh Kiai Gringsing.

Tetapi yang menjawab kemudian adalah Sutawijaya, “Benar Kiai, hal itu memang dapat terjadi. Tetapi apabila kami telah memperhitungkannya, maka kami akan mencari jalan lain kelak. Kami akan menempuh jalan yang sama sekali tidak diduga-duga oleh Ki Tambak Wedi.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Memang, Angger akan dapat mencari jalan lain yang mungkin tidak diduga-duga oleh Ki Tambak Wedi. Tetapi jangan dikira, bahwa kemungkinan mencari jalan lain itu tidak diperhitungkan pula oleh Ki Tambak Wedi. Mungkin Ki Tambak Wedi tidak mencegat Angger di Prambanan, di hutan Tambak Baya atau di pedukuhan-pedukuhan lain seperti Cupu Watu atau Candi Sari, tetapi tanpa Angger duga-duga, Ki Tambak Wedi itu justru berada di muka hidung para peronda di Sangkal Putung, di sisi regol masuk ke dalam Kademangan itu.”

Sekali lagi Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia berpaling ke arah kedua kawannya, maka dilihatnya Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya pula.

“Memang,” katanya dalam hati, “kemungkinan itu dapat terjadi. Tetapi aku sudah menempuh separo jalan. Sayang sekali apabila aku terpaksa kembali sebelum aku melihat tanah Mentaok. Tanah yang kelak akan diterima oleh ayah dari Ramanda Adipati Pajang sebagai hadiah.”

Karena itu, maka Sutawijaya itu pun terdiam sejenak diamuk oleh kebimbangan. Ia dapat mengerti kata-kata Kiai Gringsing dan menyadari bahaya yang sedang mengancam. Tetapi ia tidak dapat melepaskan keinginannya untuk melihat hutan Mentaok.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Agung Sedayu dan Swandarupun menjadi berbimbang hati pula. Tetapi kepentingan mereka tentang tanah Mentaok tidak setajam Sutawijaya. Karena itu, maka merekapun tidak sedemikian bernafsu untuk meneruskan perjalanan. Meskipun demikian, karena mereka telah berjanji sejak mereka berangkat untuk pergi bersama, maka Agung Sedayu dan Swandaru menunggu, apa yang akan dikatakan oleh Sutawijaya.

Kiai Gringsing melihat kebimbangan di dalam hati putera Panglima Wira Tamtama itu. Namun demikian, dibiarkannya anak muda itu membuat pertimbangan sendiri.

“Kiai,” berkata Sutawijaya itu kemudian, “aku sudah menempuh jarak ini. Bagaimanakah kalau aku meneruskan beberapa langkah lagi Kiai? Aku hanya ingin melihat sejenak, bagaimanakah ujudnya alas Mentaok itu. Tidak terlampau lama. Sekejap saja.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Begitu besar keinginan Sutawijaya untuk melihat tanah yang kelak akan dimilikinya.

Dengan demikian maka Kiai Gringsingpun menjadi ragu-ragu pula. Ia tidak sampai hati untuk mengecewakan putera Panglima Wira Tamtama itu. Tetapi ia tidak pula dapat membiarkan mereka mengalami bencana.

Namun yang dicemaskan oleh Kiai Gringsing bukan saja Sutawijaya dan kawan-kawannya, tetapi juga Sangkal Putung. Kalau Panglima Wira Tamtama hari ini atau besok kembali ke Pajang dengan membawa orang-orang Jipang, maka sebagian dari prajurit Pajang di Sangkal Putung pasti meninggalkan Kademangan itu untuk mengawal orang-orang Jipang ke Pajang. Ki Tambak Wedi yang licik, apabila dapat memperhitungkan dengan tepat keberangkatan Ki Gede Pemanahan, maka Sangkal Putung benar-benar berada dalam bahaya. Sepeninggal Ki Gede Pemanahan, maka Sangkal Putung hanya ditunggui oleh para prajurit di bawah Untara dan Widura. Tidak ada orang-orang lain yang akan dapat membantunya seandainya Ki Tambak Wedi benar-benar menyergap Kademangan itu. Sedangkan di dalam barisan Ki Tambak Wedi akan muncul orang-orang yang tangguh seperti Sidanti, Sanakeling, Alap-alap Jalatunda dan sudah tentu Argajaya yang menyimpan dendam pula di hatinya. Dalam keadaan demikian maka tenaga Agung Sedayu dan Swandaru pasti akan sangat berarti.

Dengan demikian maka yang dapat terjadi adalah beberapa kemungkinan. Ki Tambak Wedi, Argajaya dan Sidanti berusaha mencegat Sutawijaya, atau mereka mengerahkan laskarnya untuk menghantam Sangkal Putung. Kemungkinan yang lain, tetapi tidak terlampau mencemaskan adalah bahwa Ki Tambak Wedi nanti akan mencegat Ki Gede Pemanahan. Apabila demikian, maka kehadiran Sutawijaya pun pasti diperlukan.

Satu demi satu kemungkinan-kemungkinan itu pun diberitahukannya kepada Sutawijaya dan kedua kawan-kawannya. Ternyata merekapun dapat mengerti arti dari bahaya itu. Meskipun demikian Sutawijaya masih juga berkata, “Baik Kiai, aku akan segera kembali. Aku harap ayah menungguku di Sangkal Putung. Aku hanya memerlukan waktu sedikit untuk mencapai alas Mentaok. Bukankah sebentar lagi kami akan memasuki alas Tambak Baya?”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Waktu yang Anakmas perlukan paling sedikit adalah dua hari dua malam. Sedang Argajaya malam nanti pasti sudah akan sampai ke Padepokan Ki Tambak Wedi. Ceritanya pasti akan membakar kemarahan mereka sehingga seandainya mereka tidak bernafsu untuk berbuat sesuatu, atau rencana mereka masih berjarak beberapa waktu, maka mereka akan segera menentukan sikap. Mereka pasti segera akan mempercepat setiap rencana.”

“Aku akan berjalan siang dan malam, Kiai.”

“Tetapi dua malam itu tak akan dapat Angger percepat.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Belum lagi kalau Angger bertemu dengan beberapa orang penyamun. Meskipun penyamun-penyamun di hutan Tambak Baya itu tidak berbahaya bagi Anakmas, namun setidak-tidaknya mereka akan menghambat rencana Anakmas. Kalau Anakmas bertemu dengan gerombolan Daruka, maka Angger akan memerlukan waktu yang cukup lama untuk menundukkannya. Bukan karena Daruka itu seorang yang sakti tiada taranya, tetapi karena gerombolannya terdiri dari orang-orang yang berpengalaman dan cukup banyak jumlahnya.”

Sutawijaya tidak menjawab. Tetapi kedip matanya menunjukkan kekecewaan hatinya. Ia pernah juga mendengar dari beberapa orang prajurit, nama Daruka. Tetapi semula ia sama sekali tidak memperhatikannya. Ternyata menurut Kiai Gringsing, Daruka itu akan dapat memperlambat perjalanannya.

Namun demikian Kiai Gringsing tidak sampai hati untuk mengecewakannya. Anak itu merasa bahwa alas Mentaok sudah berada di hadapan hidungnya. Karena itu maka katanya, “Baiklah Anakmas. Aku menjadi iba melihat mata Angger berkedip seperti anak-anak yang kecewa karena ibunya tidak membawa oleh-oleh dari pasar. Nah, kalau demikian, maka pergilah terus. Tetapi cepat. Secepat-cepatnya. Seperti yang Angger katakan, berjalan siang dan malam.”

Swandarulah yang kemudian mengerutkan alisnya. Desisnya, “Siang dan malam? Hem, kalian tidak perlu membawa tubuh sebesar tubuhku. Kalau ada salah seorang dari kalian bersedia membantu membawa perutku, aku tidak berkeberatan berjalan siang dan malam. Bahkan tanpa berhenti sekalipun.”

Mau tidak mau, yang mendengar kata-katanya itu terpaksa tersenyum. Yang menjawab adalah Agung Sedayu, ”Kau akan menjadi langsing adi Swandaru. Kalau kau banyak berjalan, maka gembung perutmu akan berkurang.”

“Sebuah latihan yang baik,” berkata Ki Tanu Metir. “Nah, manfaatkan kesempatan ini apabila kalian benar-benar tidak ingin segera kembali ke Sangkal Putung. Mungkin kalian akan mempergunakan waktu lebih dari dua hari dua malam. Tetapi supaya kalian tidak memilih jalan yang salah, yang akan dapat memperpanjang waktu, atau kalian sengaja mencari jalan lain karena kenakalan kalian, maka biarlah aku pergi bersama kalian.”

“He,” wajah Sutawijaya dan kedua kawannya tiba-tiba menjadi cerah, “Kiai akan pergi bersama kami?”

“Hanya supaya kalian cepat kembali ke Sangkal Putung.”

“Kita tidak cemas lagi dicegat oleh Ki Tambak Wedi, sehingga kita tidak perlu mencari jalan lain,” berkata Swandaru.

“Akibatnya kita segera sampai ke Sangkal Putung,” sahut Kiai Gringsing.

“Kalau begitu kita dapat berbicara sambil berjalan,” gumam Agung Sedayu.

“Tak ada lagi yang dibicarakan,” berkata Kiai Gringsing, “ternyata kalian tidak mau kembali ke Sangkal Putung. Nah, marilah kita berangkat, supaya kita tidak terlampau lama diperjalanan.”

Maka segera merekapun melangkahkan kaki-kaki mereka kembali. Kali ini mereka membawa seorang penunjuk jalan yang dapat diandalkan, Kiai Gringsing.

Dengan demikian maka perjalanan itu menjadi lebih cepat. Agaknya Kiai Gringsing telah cukup mengenal daerah yang akan mereka jalani.

Sebelum mereka memasuki hutan Tambak Baya, maka perjalanan mereka sama sekali tidak menemui kesulitan. Candi Sari, kemudian Cupu Watu dan ketika mereka melangkah ke barat lebih jauh lagi, maka terbentang di hadapan mereka sebuah hutan yang lebat. Tambak Baya.

Meskipun hutan ini tidak segarang Mentaok, tetapi Tambak Baya cukup menyeramkan. Pepohonan yang pepat seakan-akan berserakan di setiap jengkal tanah. Pohon-pohon perdu yang rimbun dan pepohonan yang merambat, bahkan yang berduri sekali.

Sejenak mereka berhenti di pinggir hutan itu. Ketika mereka menengadahkan wajah mereka, maka matahari telah tampak condong di arah barat. Cahayanya yang kemerah-merahan memencar menyoroti langit yang terbentang. Sehelai-sehelai mega yang putih mengalir beriringan.

Dibelakang mereka terbentang padang rumput yang diseling oleh tanaman-tanaman perdu. Di ujung padang itu terdapat pategalan dan kemudian tanah persawahan yang cukup subur.

Tetapi mereka sama sekali tidak melihat seorangpun berada di tempat itu. Lengang dan terasa kesunyian mencekam dada mereka. Sehingga tanpa sesadarnya Swandaru berdesis, ”Alangkah lengangnya. Apakah tak pernah ada orang yang menggarap pategalan itu?”

“Tentu ada,” sahut Ki Tanu Metir, “Bagaimana mungkin tanaman-tanaman itu tumbuh teratur?”

“Tetapi tak seorangpun nampak,” berkata Swandaru pula.

“Mereka mengerjakan sawah dan ladang mereka di pagi hari. Mereka memerlukan kawan untuk pergi ke sawah dan ladang mereka. Di sini ada semacam warung sepekan sekali atau dua kali. Bukan saja tempat orang-orang menukarkan barang-barang keperluan sehari-hari, tetapi kadang-kadang ada pula orang-orang yang akan menyeberangi hutan ini memerlukan bekal di perjalanan. Bahkan di sini kadang-kadang ada beberapa orang pengantar yang menemani dan melindungi orang-orang yang ingin pergi ke daerah-daerah di seberang hutan ini. Mungkin ke Nglipura, mungkin ke Mangir.”

Anak-anak muda yang mendengarkan kata-kata itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Yang bertanya adalah Agung Sedayu, “Tetapi kenapa kali ini mereka tidak ada di tempat ini Kiai. Bagaimana seandainya saat ini ada orang yang akan menyeberangi hutan. Apakah tidak ada orang yang bersedia mengantarkannya?”

“Ada saat-saat tertentu bagi mereka yang akan menyeberangi hutan ini. Para pengantar hanya bersedia di hari-hari yang sudah mereka tentukan. Misalnya di hari Manis dan Pahing. Selain hari-hari itu mereka tidak berada di tempat ini. Mungkin mereka sedang di dalam perjalanan kembali setelah mengantarkan beberapa orang bersama-sama, tetapi mungkin pula mereka sedang beristirahat.”

“Bagaimana kalau ada keperluan yang tidak mungkin tertunda?” bertanya Swandaru.

“Tergantung kepada orang itu sendiri. Apakah mereka berani menanggung setiap kemungkinan bertemu dengan gerombolan penyamun di dalam hutan ini. Kalau mereka itu merasa diri mereka cukup kuat, maka merekapun akan menyeberang tanpa pengawalan dan perlindungan orang lain.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya pula, “Dengan demikian maka para pengawal itu pasti orang-orang yang cukup kuat untuk menghadapi setiap kejahatan yang dapat terjadi di hutan ini Kiai.”

“Demikianlah. Tetapi kadang-kadang para penjahat itu saling bantu-membantu. Kadang-kadang mereka bekerja bersama untuk suatu kepentingan. Tetapi kadang-kadang mereka saling bertempur di antara mereka berebut korban.”

Sutawijaya mendengarkan cerita itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bergumam, “Seperti kehidupan binatang-binatang yang menghuni hutan ini. Begitukah kira-kira Kiai?”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Kemudian agak ragu ia menjawab, “Ya. Begitulah kira-kira. Apabila mereka sedang mempunyai kepentingan yang sama, maka kadang-kadang kekuatan mereka benar-benar tak terlawan oleh para pengawal. Dalam keadaan yang demikian, maka kadang-kadang iring-iringan itu benar-benar menjadi korban para penyamun. Namun hal itu jarang terjadi. Kalau para pengawal tidak lagi mampu bertahan, maka orang-orang itu sendiri pasti akan ikut bertempur. Tetapi sekali dua kali, kemalangan memang dapat terjadi atas para pengawal dan orang-orang yang dikawalnya.”

Ketiga anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Ketika sekali lagi mereka menebarkan pandangan mata mereka di sekitar tempat itu, maka pinggiran hutan itu benar-benar sepi dan lengang.

“Apakah kita akan menyeberang sekarang?” terdengar Sutawijaya bertanya.

“Terserah kepada Anakmas,” sahut Kiai Gringsing, “Tetapi apabila kita benar-benar ingin berjalan siang dan malam, maka sebaiknya kita berjalan terus. Kita tidak perlu mencemaskan para penyamun, sebab kita tidak membawa barang-barang yang berharga kecuali leher-leher kita sendiri.”

Sutawijaya tersenyum, tetapi Swandaru mengerutkan dahinya.

“Apakah kalian tidak merasa lelah?”

Swandaru menjadi kecewa ketika Agung Sedayu menjawab, “Tidak. Aku tidak merasa lelah.”

“Ah,” Swandaru bertolak pinggang sambil mendesah. Kemudian anak yang gemuk itu menggeliat, katanya, “Hem, baiklah. Akupun tidak lelah.”

Agung Sedayu, Sutawijaya dan Kiai Gringsing tersenyum.

“Salahmu,” berkata Agung Sedayu.

“Kenapa?” sahut Swandaru.

“Kau terlampau banyak makan.”

Swandaru memberengutkan wajahnya. Tetapi sebelum ia menjawab, terdengar Kiai Gringsing berkata, ”Marilah kita berjalan terus. Mungkin kita terpaksa berhenti nanti sebelum kita terlampau dalam masuk ke hutan ini.”

Sejenak Sutawijaya, Agung Sedayu dan Swandaru saling berpandangan. Matahari telah menjadi semakin rendah. Apabila mereka memasuki hutan itu, maka segera mereka akan terhalang oleh gelap. Namun mereka sudah terlanjur berkata, bahwa mereka akan berjalan siang dan malam. Sehingga karena itu maka Sutawijaya menjawab, ”Marilah Kiai. Kalau Kiai menghendaki kami berjalan terus.”

“Ya. Kita harus berjalan terus. Kalau tidak maka kita akan kehilangan waktu. Kira harus memperhitungkan keadaan Sangkal Putung pula. Bukan sekedar melihat keadaan diri kita sendiri.”

“Baiklah Kiai,” sahut Sutawijaya kemudian.

“Bagus,” gumam Kiai Gringsing, “kita harus mempergunakan waktu sebaik-baiknya.”

Maka merekapun segera melangkah mendekati bibir hutan yang lebat. Sejenak mereka menjadi termangu-mangu, tetapi mereka melangkah terus.

Tiba-tiba langkah mereka tertegun ketika mereka melihat rimbunnya daun bergerak-gerak di hadapan mereka. Dan merekapun terkejut ketika tiba-tiba mereka melihat beberapa orang muncul dari balik dedaunan.

Tetapi dalam pada itu cepat Kiai Gringsing berbisik, “Mereka adalah orang-orang yang sering mengawal para pedagang dan orang-orang lain yang berkepentingan menyeberangi hutan ini.”

Sutawijaya dan kedua kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Orang-orang yang baru muncul itu adalah orang-orang yang rata-rata bertubuh tegap kekar. Di lambung mereka tersangkut pedang dan beberapa di antaranya membawa pula pisau atau kapak.

Kiai Gringsing masih juga berbisik, “Senjata-senjata itu kecuali berguna untuk bertempur, juga berguna untuk merambas jalan yang pepat karena daun-daun perdu dan akar-akar yang merambat dan menutup jalan.”

Kembali ketiga anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepala mereka.

Sementara itu Kiai Gringsing masih berkata, “Mereka masuk hutan tiga hari yang lampau. Mungkin di hari Aditya Manis.”

“Sekarang hari apa?” bertanya Swandaru.

“Hanggara Jene.”

“He, Bintang Kuning.”

“Ya, Selasa Pon.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara itu orang-orang yang muncul dari dalam hutan itu telah berdiri beberapa langkah di hadapan mereka. Namun ketika wajah-wajah mereka menjadi semakin jelas, nampaklah bahwa beberapa orang di antara mereka terluka. Titik-titik darah yang kering masih jelas pada pakaian mereka.

Seorang yang berkumis lebat dan tidak berbaju melangkah mendekati mereka. Dengan nada yang berat ia bertanya, “Apakah Ki Sanak anak menyeberangi hutan?”

Yang menjawab adalah Kiai Gringsing, “Ya Ki Sanak. Kami akan menyeberangi hutan.”

“Kemanakah kalian akan pergi?”

“Mentaok.”

“Mentaok? Ke alas Mentaok? Apakah keperluan kalian ke Mentaok?”

Kiai Gringsing berpaling ke arah Sutawijaya. Tetapi orang tua itu menjawab, “Kami akan pergi ke Nglipura, Ki Sanak. Ada keluargaku di sana.”

Orang yang berkumis lebat, yang agaknya pemimpin dari para pengawal itu berkata, “Kalian hanya berempat?”

“Ya.”

“Menilik persiapan dan senjata kalian, maka kalian merasa bahwa kalian cukup kuat untuk menyeberangi hutan ini tanpa pengawalan. Ternyata pula kalian memilih hari ini, bukan hari-hari yang telah kami tentukan. Kami tidak berkeberatan kalian menyeberang sendiri, tetapi kami wajib memperingatkan kalian. Kali ini gerombolan Daruka berada di hutan ini. Kami terpaksa berkelahi. Untunglah bukan seluruh kekuatan yang kita hadapi, sehingga kami sempat melepaskan diri bersama orang-orang yang kami antar. Tetapi di perjalanan kembali, kami terpaksa mencari jalan lain. Kami takut kalau gerombolan itu memperkuat diri, apalagi Daruka sendiri, akan menghadang kami pula.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mudah-mudahan kalian menemukan jalan yang aman. Jangan kau telusuri jalan yang biasa kami lalui. Mungkin untuk sebulan kami tidak akan membawa orang menyeberang, kecuali kami mendapat tambahan kawan yang dapat kami percaya.”

Kiai Gringsing masih mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Terima kasih Ki Sanak. Kami akan mencari jalan lain. Mudah-mudahan kami selamat.”

“Apakah keperluan kalian tidak dapat ditunda seminggu dua minggu?”

“Kepentingan kami sangat mendesak.”

“Hati-hatilah,” pesan pemimpin pengawal itu.

“Terima kasih.”

Para pengawal itu pun kemudian meninggalkan mereka. Tampak jelas bahwa mereka baru saja menempuh perjalanan yang berat, dan jelas pula luka-luka silang-menyilang di tubuh mereka. Ada yang dalam, tetapi ada pula yang dangkal. Bahkan ada salah seorang dari mereka yang terluka agak parah di lengannya yang telah dibalut dengan sepotong kain.

Ketika orang-orang itu telah menjadi semakin jauh, berkata Kiai Gringsing, “Itulah isi hutan Tambak Baya. Juga hutan Mentaok mempunyai penghuni-penghuninya sendiri. Nah, apakah kita ingin melihat pula?”

Wajah Sutawijaya tiba-tiba menjadi tegang. Sambil menggeram ia berkata, “Itukah isi dari tanah yang akan diterima oleh ayah dari Ramanda Adipati Pajang? Beruntunglah paman Penjawi mendapat tanah Pati yang sudah jauh lebih baik dari tanah Mentaok. Kami masih harus membuka hutan yang lebat, dan mengusir penghuni-penghuninya yang banyak itu. Untunglah bahwa aku sempat menyaksikannya kini.”

Kiai Gringsing dan kedua muridnya terdiam. Mereka merasakan pula, betapa anak muda putera Panglima Wira Tamtama itu menjadi kecewa. Tanah Mentaok seakan-akan telah dimilikinya, sehingga sudah tentu Sutawijaya sama sekali tidak senang melihat penghuni-penghuni yang sama sekali tidak terhormat itu.

Dengan kesal anak muda itu kemudian menggeram, “Kiai, aku mempunyai tanggung jawab atas tanah itu meskipun belum secara resmi diserahkan kepada ayah. Aku harus mengusir setiap orang yang mengotori hutan Mentaok.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia menjawab, “Berapa bulan Angger memerlukan waktu untuk itu?”

Sutawijaya mengerutkan keningnya, “Ya,” desisnya, “aku memerlukan waktu untuk melakukannya.”

“Jangan kau lakukan kini. Apabila datang saatnya, bersama-sama dengan beberapa orang kawan, Angger pasti dapat mengusirnya.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, marilah kita lihat,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “Mungkin kita dapat bertemu sebuah contoh dari isi hutan itu.”

“Marilah,” sahut Sutawijaya.

“Mudah-mudahan kita dapat bertemu,” Swandaru pun bergumam pula.

Kiai Gringsing tersenyum. Ia tahu, bahwa Swandaru hanya ingin berbuat sesuatu.

Demikianlah mereka berjalan kembali. Kini mereka sudah memasuki hutan Tambak Baya. Namun demikian mereka masuk, maka cahaya matahari telah menjadi semakin pudar. Meskipun demikian mereka berjalan terus. Namun akhirnya malam yang semakin kelampun turunlah. Pohon-pohon raksasa yang bertebaran itu pun menjadi semakin kabur.

“Malam terlampau gelap di hutan ini,” desis Swandaru.

“Ya, lebih gelap dari hutan tempat orang-orang Jipang membuat perkemahan,” sahut Agung Sedayu.

“Tentu,” berkata Kiai Gringsing, “Hutan ini jauh lebih lebar. Isinya pun jauh lebih garang. Apalagi hutan Mentaok. Selain yang dikatakan oleh para pengawal, maka isi hutan ini adalah binatang buas.”

Ketiga anak-anak muda itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi mereka tidak takut terhadap binatang buas maupun orang-orang jahat seperti yang dikatakan oleh para pengawal. Tetapi berjalan di dalam kelam serasa berjalan di daerah yang sama sekali tidak dikenalnya. Mereka seolah-olah hampir tak melihat apapun selain hitam pekat. Bahkan kawan-kawan seperjalanan mereka sendiripun hampir tidak dapat dilihatnya.

Tetapi telinga mereka adalah telinga yang cukup baik. Mereka dapat mengenal tempat-tempat kawan seperjalanan hanya karena pendengaran mereka.

Namun meskipun demikian, akhirnya Swandaru berkata, “Nafasku terasa sesak.”

Kiai Gringsing tertawa. “Kenapa?” ia bertanya.

“Gelapnya bukan main.”

“Ya, gelapnya bukan main,” sahut Sutawijaya.

“Jadi bagaimana?” bertanya Kiai Gringsing.

Tak seorang pun yang menjawab.

“Apakah kita akan berhenti dan tidak berjalan siang dan malam?”

Masih tidak terjawab.

“Baiklah. Kita berhenti,” berkata orang tua itu, “tetapi kita harus mendapatkan tempat yang baik. Kita akan membuat perapian.”

“Bagaimana kita mendapat kayu bakar?” bertanya Swandaru.

“Di bawah kaki kita adalah setumpuk daun-daun kering. Kalau kita sudah menyalakannya, maka kita akan melihat, apakah kita akan dapat mencari kayu atau ranting-ranting perdu.”

Akhirnya merekapun mengumpulkan daun-daun kering di bawah kaki mereka. Dengan batu titikan mereka membuat api, dan dengan agak susah, merekapun berhasil menyalakan dedaunan yang sudah cukup kering.

Ketika api sudah menyala, maka segera mereka melihat ranting-ranting perdu yang dapat mereka tebas dan mereka lemparkan ke atas api.

Malam itu mereka beristirahat di sekitar perapian. Tak ada yang menarik. Meskipun Swandaru mengharap, mudah-mudahan orang-orang jahat itu mendekati mereka, tetapi tempat itu masih belum cukup dalam, sehingga semalam itu mereka benar-benar dapat beristirahat, meskipun bergantian mereka tetap bangun.

Pagi-pagi mereka sudah meneruskan perjalanan. Meskipun demikian, Swandaru masih juga berkata, “Aku sudah mulai lapar. Apakah di hutan ini tidak ada makanan?”

“Kau akan mendapatkannya,” berkata Kiai Gringsing, “Kau akan dapat mencari makan buat menambah besar perutmu.”

Ternyata yang dikatakan Kiai Gringsing itu pun benar pula.

Dengan panah-panah mereka, mereka berhasil pula mendapat makan pagi mereka.

Perjalanan mereka hari ini ternyata agak lebih berat dari hari-hari yang telah mereka lalui. Untunglah bahwa Kiai Gringsing berjalan beserta mereka, sehingga mereka tidak takut lagi akan tersesat. Meskipun demikian ketiga anak-anak muda itu kadang-kadang masih juga membuat tanda-tanda pengenal pada pepohonan yang besar, supaya apabila terpaksa mereka harus mencari jalan keluar, mereka tidak akan menemui kesukaran.

Gairah perjalanan hari itu didorong oleh perasaan kecewa pada Sutawijaya, karena tanah yang akan diterimanya itu ternyata telah dikotori oleh orang-orang jahat. Sedang Swandaru segera ingin bertemu dengan orang-orang jahat itu. Agung Sedayu tidak terlampau banyak dipengaruhi oleh gerombolan-gerombolan itu. Meskipun demikian, pengalaman-pengalaman itu pasti akan berguna baginya. Sehingga karena itu perjalanan inipun sangat menarik hati. Ia akan mengenal tempat-tempat yang hampir belum pernah dijamahnya. Hutan yang lebat pepat, binatang-binatang yang buas dan alam yang keras. Agung Sedayu baru mengenalnya lewat cerita-cerita yang pernah didengarnya dari kakaknya, Untara, di masa kanak-kanaknya.

Ternyata Kiai Gringsing adalah seorang penunjuk jalan yang terlampau baik. Tanpa kesulitan yang berarti, mereka berjalan menembus hutan. Tetapi hutan itu sendiri telah merupakan penghalang yang banyak memperlambat dan menelan waktu. Oyot-oyot bebondotan dan tumbuh-tumbuhan merambat lainnya. Batang-batang kayu yang roboh yang malang-melintang dan semak-semak yang pepat padat.

Dalam pada itu terdengar Swandaru bertanya, “Apakah jalan ini pula yang sering dilalui oleh orang-orang yang menyeberangi hutan ini diantar oleh para pengawal?”

“Ya,” jawab Kiai Gringsing.

“Apakah tidak ada jalan lain yang lebih baik?”

“Jalan inilah yang paling tipis ditumbuhi oleh berbagai macam tetumbuhan. Telah beberapa kali aku menyeberangi hutan ini, sekali-sekali bersama-sama dengan para pengawal.”

Swandaru tidak bertanya lagi. Tetapi ia dapat membayangkan bahwa di tempat-tempat lain tetumbuhan pasti jauh lebih lebat dari tempat ini, tempat yang paling banyak dilalui orang.

Ketika mereka masuk semakin dalam ke tengah-tengah hutan Tambak Baya, maka berbisiklah Kiai Gringsing, “Kita hampir sampai.”

“Sampai di mana?” bertanya Agung Sedayu, “Apakah kita sudah sampai di alas Mentaok?”

“Bukan alas Mentaok,” sahut Kiai Gringsing. “Kita hampir sampai di tempat-tempat yang sering dipergunakan oleh para penyamun mencegat korbannya. Di sini ada beberapa gerombolan penyamun yang satu dengan yang lain saling bersaing. Hanya dalam waktu-waktu yang khusus sajalah mereka dapat menyatukan diri.”

“Siapakah yang paling kuat di antara mereka, Kiai?” bertanya Sutawijaya.

“Kekuatan mereka hampir seimbang. Kadang-kadang mereka menunggu lawan-lawan mereka itu lengah, dan menyerang mereka dengan tiba-tiba. Tetapi meskipun demikian, Darukalah yang paling disegani.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi anak muda itu tidak menjawab.

Belum lagi mereka maju terlampau jauh, maka mereka sampai di tempat yang agak lapang. Tidak terlampau banyak pohon-pohon perdu yang tumbuh dan akar-akar yang menyilang-lintang jalan. Tetapi Kiai Gringsing yang sudah penuh menyimpan pengalaman itu pun berkata, ”Tempat ini adalah tempat yang paling baik untuk beristirahat, tetapi juga tempat yang paling berbahaya.”

“Kenapa?” bertanya Swandaru meskipun ia telah menduga apa yang dimaksud oleh gurunya.

“Banyak orang mempergunakan tempat ini untuk beristirahat. Tetapi tiba-tiba saja mereka disergap, sehingga akhirnya para pengawal selalu menjauhi tempat ini, dan membawa orang-orang yang dikawalnya beristirahat di tempat lain. Tetapi hampir tak ada gunanya. Hampir setiap kali para pengawal harus berkelahi. Tetapi apabila pengawalan cukup kuat, maka para penyamunlah yang membiarkannya lewat. Meskipun demikian, kadang-kadang para pengawal itu menyediakan semacam pajak bagi mereka. Ditinggalkannya beberapa macam barang, dan dengan demikian mereka tidak di ganggu.”

Ketiga anak-anak muda yang mendengarkannya itu mengangguk-anggukan kepalanya. Tetapi mereka tidak menjawab. Bahkan tiba-tiba saja mereka mempertajam pendengaran mereka, seakan-akan mereka mendengar desir di dedaunan yang kering.

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Namun sejenak kemudian wajahnya telah menjadi tenang kembali. Bahkan ia masih berkata terus, “Para penyamun itu datang tanpa disangka-sangka. Tiba-tiba saja mereka telah mengepung korban-korbannya.”

Sutawijayalah yang kemudian bertanya, “Bagaimanakah kalau mereka yang tidak membawa sesuatu lewat hutan ini Kiai?”

“Biasanya mereka adalah para pedagang yang akan pergi ke Nglipura atau Mangir atau bahkan ada yang pergi ke Menoreh.”

“Jika demikian, apakah Argajaya itu lewat daerah ini pula?”

“Adalah suatu kemungkinan. Tetapi Argajaya pasti tidak akan memerlukan pengawalan.”

Mereka terdiam sejenak. Dalam kediaman itu mereka mendengar desir yang lembut, namun semakin jelas. Sejenak mereka saling berpandangan. Dengan isyarat, mereka segera mengerti, bahwa mereka kini telah terkepung. Tetapi dengan demikian justru Swandaru tampak bergembira.

Sejenak kemudian berkatalah Kiai Gringsing itu pula, “Tetapi para penyamun itu pasti akan dapat membedakan. Mereka yang lewat dengan barang-barang dagangan, dan mereka yang lewat dengan senjata di lambung.”

Tiba-tiba terdengar suara dari balik pepohonan, “Ya, kami dapat membedakan. Mereka yang lewat dengan senjata di lambung atau mereka yang pantas mendapat penghormatan karena memberi kami sekedar oleh-oleh.”

Sebenarnya mereka sama sekali tidak terkejut mendengar suara itu, tetapi Kiai Gringsing yang tua itu terlonjak kecil sambil berputar menghadap suara itu. “He, siapakah kalian?”

“Kau agaknya mengenal tempat ini terlampau baik kakek tua?” terdengar suara itu menyahut.

“Ya, aku sudah sering melewati tempati ini. Siapakah kau?”

“Aku sedang menunggu para pengawal yang telah melukai beberapa orang-orangku. Aku ingin bertemu dengan mereka. Tetapi mereka tidak kunjung datang?”

“Tiga hari yang lalu?”

“Dua hari yang lalu.”

“Ya, dua hari yang lalu. Aku telah bertemu dengan mereka. Mereka mengatakan bahwa mereka bertempur dengan orang-orangmu. Ternyata mereka mencari jalan lain, sebab mereka sudah menyangka bahwa pemimpin gerombolan yang dikalahkannya itu pasti akan marah.”

“He, mereka sudah melewati tempat ini?”

“Jalan lain. Mereka sudah keluar dari hutan ini.”

“Gila!” teriak suara itu. Dan tiba-tiba meloncatlah sesosok tubuh dari balik sebatang pohon yang cukup besar. “Kau bilang mereka sudah keluar dari hutan ini?”

Yang meloncat dari balik pohon itu adalah seorang yang bertubuh tinggi, kekar, berdada bidang dan berkepala botak. Kumis serta janggutnya yang jarang-jarang tumbuh satu dua disekitar bibirnya yang tebal. Di tangannya tergenggam sebilah pedang yang panjang.

Dengan kasarnya ia membentak kembali, “Kau bilang, para pengawal telah keluar dari hutan ini?”

Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya. “Ya” sahutnya. “Kemarin sore aku bertemu dengan mereka.”

Terdengar orang itu menggeram.

“Dimanakah rumah-rumah mereka itu?” bertanya orang itu.

Kiai Gringsing menggeleng lemah, “Aku tidak tahu.”

“Bohong, kau pasti kawan mereka.”

Kiai Gringsing tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah ketiga anak-anak muda yang berjalan bersamanya itu. Yang kemudian menjawab adalah Agung Sedayu, “Kami sama sekali tidak ada hubungan apapun dengan mereka.”

“Bohong! He, apakan orang tua ini ayahmu? Yang mengajarmu untuk berbohong?”

“Kami bertemu di perjalanan,” sambung Sutawijaya.

“Kau pasti mendapat tugas dari mereka untuk memata-matai kami. Kamu mungkin anak-anak mereka, atau cucu mereka, atau kemanakan mereka.”

“Atau tetangga mereka. Atau orang lain sama sekali,” Swandaru yang gemuk itu memotong.

Orang yang botak itu membelalakkan matanya. Dengan pedangnya ia menuding wajah Swandaru. “Jangan bergurau. Aku sedang kehilangan buruan. Yang datang kini adalah kalian, maka kalian akan menjadi sasaran kemarahan kami.”

“Kami bukan pengawal dan kami bukan pedagang. Kami datang mencari buruan kami pula,” berkata Swandaru.

“Siapakah buruan kalian?”

“Apa saja. Kijang, menjangan, bahkan kancil pun kami mau pula.”

Swandaru terkejut sehingga kata-katanya terputus ketika orang yang botak itu meloncat dan langsung menyerang mulut Swandaru dengan tangan kirinya. Ternyata orang itu mampu bergerak sangat cepat. Beruntunglah bahwa Swandaru tidak terlampau lengah. Ketika ia melihat orang itu mengerinyitkan dahinya, dan melihat jari tangannya bergetar, maka Swandaru pun menyadari kemungkinan yang ternyata benar-benar terjadi. Dengan lincahnya ia meloncat kesamping menghindari sambaran tangan orang yang botak itu sehingga serangan itu sama sekali tidak menyentuh tubuhnya.

Orang yang botak itu semakin membelalakkan matanya. Sama sekali tidak diduganya bahwa anak yang gemuk itu mampu menghindari serangannya, sehingga dengan demikian maka terdengar orang itu menggeram semakin keras.

Swandaru yang meloncat beberapa langkah kesamping, kini berdiri sambil membelai pipinya. Dengan kerut-merut diwajahnya ia berkata, “Ternyata kau pemarah. Tetapi jangan menyerang lawan tanpa memberi kesempatan lawan itu bersiaga.”

“Kau menghina aku.”

“Sama sekali tidak. Aku berkata sebenarnya.”

“Aku tidak peduli, tetapi kalian telah membuat aku marah. Kini aku mempunyai suatu cara untuk memeras keterangan kalian tentang para pengawal. Kalu kalian tidak bersedia memberitahukan kepada kami dimana rumah-rumah mereka, maka kalian akan terpaksa mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan.”

“Kami tidak bersangkut paut dengan para pengawal itu, Ki Sanak,” Kiai Gringsing-lah yang kemudian menjawab. “Kami adalah pemburu yang hanya mengenal binatang-binatang buruan kami.”

“Omong kosong! Tak pernah ada pemburu masuk sampai begini dalam. Mereka biasanya selalu berada jauh di tepi-tepi hutan ini. Kau pasti orang-orang mereka. Meskipun kalian tidak bersedia membuka mulut sampai tubuh kalian lumat, namun kami pasti akan dapat menemukan rumah mereka. Kematian kalian itu pasti hanya akan sia-sia.”

Sutawijaya ahirnya tidak bersabar lagi. Selangkah ia maju dan berkata, “Jangan mengigau, Ki Sanak. Jangan menakut-nakuti kami dan jangan mencoba memeras keterangan kami. Sebutkan siapa namamu.”

Orang itu terkejut bukan buatan. Belum pernah ia melihat anak muda segarang anak yang memegang tombak pendek itu. Namun sejenak kemudian orang itu tertawa. Semakin lama semakin keras. Di sela-sela derai tertawanya itu ia berkata, “Tentu. Tentu kau berani bertolak pinggang dihadapanku, sebab kau belum tahu siapa aku. Nah, sebaiknya aku perkenalkan diriku supaya kalian menyadari, betapa kecil arti kalian bagiku, bagi raja hutan Tambak Baya dan Mentaok in. Namaku Daruka.”

Belum lagi orang itu berhenti tertawa, terdengar suara tertawa yang lain, sehingga dengan tiba-tiba suara orang itupun justru terputus. Suara itu adalah suara tertawa Swandaru.

“Gila!” teriak Daruka. “Apakah kau mendengar namaku?”

“Jangan kau sangka bahwa hanya kau yang dapat tertawa sedemikian kerasnya,” Sahut Swandaru. “Nah, ketahuilah, namaku Swandaru Geni. Gegedug anak-anak muda di seluruh Kademangan Sangkal Putung. Kau pernah mendengar namaku?”

Mata Daruka itu seakan-akan menyala dibakar oleh kemarahannya. Ternyata anak muda yang gemuk itu sama sekali tidak takut mendengar namanya, bahkan seolah-olah ditanggapinya nama yang menakutkan itu sambil bergurau saja. Tetapi bukan saja anak yang gemuk itu. Ketika ia memandang berkeliling, maka anak muda yang memegang tombak itupun sama sekali tidak menunjukkan kesan apapun di wajahnya, sedang anak muda yang lain bahkan seolah-olah acuh tak acuh saja.

Kembali Daruka menggeram. Demikian kemarahannya membakar dadanya, maka terdengarlah ia bersuit nyaring. Sutawijaya, Agung Sedayu, Swandaru, dan Kiai Gringsing pun segera menyadari, bahwa Daruka sedang memanggil teman-temannya keluar dari persembunyiannya.

Dugaan Kiai Gringsing dan ketiga anak-anak muda dari Sangkal Putung itu ternyata benar. Sejenak kemudian mereka melihat beberapa orang berloncatan mendekat dari balik pepohonan. Di tangan mereka tergenggam berbagai macam senjata. Ada yang menggenggam pedang seperti pedang pada lazimnya, ada yang memegang kelewang yang besar, ada yang membawa canggah, bahkan ada yang membawa trisula, tombak bercabang tiga.

Tanpa perintah siapapun, maka anak-anak muda itu dengan sendirinya merenggang dan menghadap kesegala arah. Seakan-akan mereka telah mengatur diri menghadapi serangan dari segala penjuru.

Daruka menggeram melihat sikap anak-anak muda itu. Kini ia yakin bahwa ia berhadapan dengan anak-anak muda yang bukan sekedar pandai berburu kijang atau menjangan atau babi hutan. Tetapi mereka adalah anak-anak muda yang mampu menghadap bahaya seperti yang kini sedang mengepungnya.

“Ternyata kalian cukup menggembirakan kami,” bergumam Daruka. “Kami tidak kecewa lagi kehilangan buruan kami. Kalian pasti telah diminta sraya oleh para pengawal itu. Kalian pasti mendapat upah sengaja untuk menghadapi kami.”

Yang menyahut adalah Swandaru, “Ya. Kami telah mendapat upah dari mereka untuk membinasakan kalian.”

“Hus!” Agung Sedayu memotong.

Tetapi yang terdengar adalah suara Daruka lantang, “Nah apa kataku. Betapa kalian mencoba memutar balik keadaan, tetapi kami yakin, bahwa dengan menangkap kalian dan memeras darah kalian, kami pasti akan mendapat keterangan tentang para pengawal itu.”

Kiai Gringsing dan Sutawijaya hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya. Swandaru ternyata hanya menuruti kesenangannya sendiri. Tetapi perbuatannya itu benar-benar telah membakar kemarahan kepala penyamun itu.

Bahkan Swandaru itu berkata tanpa berpaling, karena kebetulan ia tidak menghadap ke arah Daruka yang berdiri berhadapan dengan Agung Sedayu. “Sekarang menyerahlah, supaya hukuman kalian diperingan.”

“Setan!” Daruka itu menggeram. “Ternyata anak yang gemuk itu merasa seperti jantan sendiri. Daruka hanya menyerah kepada maut. Ayo, kalau mau menangkap kami, tangkaplah.”

Sutawijaya-lah yang kini menjawab dengan tergesa-gesa supaya tidak didahului oleh Swandaru. “Begini Ki Sanak. Sebenarnya kami tidak bersangkut-paut langsung dengan kalian, tetapi kami ingin bahwa tak seorang pun terganggu di dalam perjalanan. Baik di Hutan Tambak Baya, maupun di Hutan Mentaok.”

“O, ternyata kau mengigau pula. Jauh lebih sumbang dari igauan anak yang gemuk itu. Tambak Baya adalah kerajaanku. Aku tidak akan pernah meninggalkannya selagi aku masih hidup.”

“Dengarlah dahulu Ki Sanak,” berkata Sutawijaya. Kini ia berputar setengah menghadap kearah Daruka. “Sebentar lagi Hutan Mentaok dan Tambak Baya akan menjadi sebuah negeri. Sebentar lagi akan berdatangan orang-orang yang akan membuka hutan ini. Nah, apakah katamu?.”

Daruka mengerutkan keningnya. Sejenak ia berpikir, tetapi kemudian ia berkata, “Oh, kau benar-benar seorang pemimpi. Aku tidak ingin mendengarkan igauanmu itu. Aku ingin mendengar kalian menunjukkan rumah beberapa orang pengawal yang telah melukai orang-orangku.”

“Kami adalah wakilnya,” teriak Swandaru.

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mendahului Daruka yang hampir berteriak pula. “Dengar kataku. Aku berkata sebenarnya. Tanah Mentaok dan Tambak Baya akan menjadi milik Ki Gede Pemanahan, Panglima Wira Tamtama di Pajang. Nah, apakah kekuatanmu dapat melampaui setidak-tidaknya menyamai kekuatan Wira Tamtama Pajang.”

Sekali lagi Daruka mengerutkan keningnya. Tetapi sekali lagi ia membentak, “Jawab pertanyaanku. Kalau kalian yang mewakilinya, maka nyawa kalianlah yang akan menjadi tebusannya.”

Kali ini Swandaru belum sempat menjawab, tetapi telah didahului oleh Sutawijaya, “Jangan mengancam. Kami telah siap untuk bertempur. Kami akan menghancurkan kalian sampai orang yang terakhir. Tetapi perkelahian bukanlah tujuan kami. Kalau kau mau mendengar, dengarkanlah. Kalian mempunyai kesempatan yang pertama di hutan Tambak Baya ini. Mulailah dengan membuka hutan ini sebelum banyak orang Iain berdatangan. Kalian akan dapat memilih tempat yang paling baik, yang paling subur dari segala tempat di hutan ini. Kelak, kalian pasti akan mendapat pengampunan akan segala macam kesalahan yang pernah kau lakukan di sini.”

“Setan alas!” potong Daruka “macam apa kata-katamu itu?”

“Jangan membantah dahulu. Aku adalah prajurit Wira Tamtama yang datang merintis jalan. Apakah kau tidak percaya. Berapa orang yang datang bersamamu? Kami seorang-seorang akan bernilai sepuluh kali orang-orangmu bahkan lebih daripada itu. Kami bukan sekedar pengawal upahan untuk mengantar orang-orang yang akan menyeberangi hutan Tambak Baya.”

Ketika Swandaru mendengar Sutawijaya bersungguh-sungguh, maka ia kini tidak mau lagi memotong, meskipun ia menahan kegelian di dalam dirinya.

Tetapi seperti yang telah disangka, Daruka tidak akan mudah percaya. Bahkan kemudian ia pun bersiap dengan pedangnya. Sekali ia memandang berkeliling.

Sutawijaya menarik nafas. Tetapi ia mempunyai rencana yang baik dengan orang ini. Dengan orang terkuat di hutan Tambak Baya ini. Karena itu, maka katanya, “Daruka, aku mendengar, bahwa kau adalah orang yang terkuat di antara para penyamun di hutan ini. Karena itu, maka kau sebenarnya dapat membantu kami, para prajurit Wira Tamtama. Kau dapat menebus dosa ini dengan perbuatan yang menguntungkan dirimu dan menguntungkan kami. Aku akan menanggungmu, bahwa kau kelak akan mendapat kedudukan yang baik. Bahkan mungkin kau akan dapat menjadi seorang bekel.”

Agung Sedayu dan Swandaru mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Sutawijaya. Tetapi lamat-lamat mereka dapat menerka maksud anak muda yang akan memiliki hutan Mentaok dan Tambak Baya itu. Apalagi Kiai Gringsing. Orang tua itu pun tersenyum di dalam hati sambil bergumam lirih, “Alangkah tajamnya otak putera Ki Gede Pemanahan ini,”

Tetapi agaknya Daruka sendiri merasa, bahwa Sutawijaya telah menghinanya. Sehingga karena itu maka sekali lagi ia menggeram sambil berkata, “Persetan ocehanmu. Apakah kau Panglima Wira Tamtama, apakah kau Adipati Pajang, aku tidak peduli. Aku adalah raja di sini. Semua harus tunduk kepada perintah dan kemauanku.”

“Kau mencoba menipuku. Bagaimana dengan gerombolan-gerombolan lain yang merasa dirinya raja pula di sini?

Wajah Daruka menjadi merah padam. Katanya, “Tak ada yang berani melawan Daruka. Semua gerombolan akan dapat aku binasakan satu demi satu kalau aku mau.”

Kenapa hal itu tidak kau lakukan? Ternyata kau tidak mampu berbuat demikian. Bahkan kadang-kadang anak buahmu sendiri dapat disergap dan dikalahkan.”

“Memang, mereka dapat berbuat demikian dengan licik. Tetapi Daruka belum pernah dengan sungguh-sungguh mencoba membinasakan mereka. Asal mereka tidak mengganggu secara langsung kerajaanku, maka aku tidak terlalu bernafsu membinasakan mereka. Orang-orangku masih aku perlukan untuk kepentingan lain.”

“Sekarang aku datang untuk menaklukkan kerajaanmu, atas nama Panglima Wira Tamtama di Pajang,” sahut Sutawijaya.

Kesabaran Daruka kini telah sampai pada batasnya. Terdengar ia bersuit nyaring. Mendengar aba-aba itu beberapa orangnya segera mendesak maju dengan senjata-senjata mereka siap menembus tubuh lawannya.

Tetapi lawannya ternyata benar-benar di luar dugaan mereka. Dengan lincahnya Sutawijaya meloncat mendesak Agung Sedayu sambil berkata, “Serahkan orang ini kepadaku. Tolong, tundukkan orang-orangnya. Jangan kau binasakan mereka. Beri mereka kesempatan untuk hidup dan menyesali perbuatannya.

Segera Agung Sedayu dapat menangkap maksud itu. Swandaru yang gemuk dan hanya berbuat seenaknya sendiri itu pun dapat mengerti pula, sehingga betapa perasaannya sendiri melonjak-lonjak, namun ia mencoba mengekangnya.

Kiai Gringsing yang berada di antara anak-anak muda itu menjadi termangu-mangu. Tetapi terdengar Sutawijaya berkata, “Kiai, apakah Kiai sudi bermain-main dengan kami?”

Kiai Gringsing tersenyum. Sementara itu ia melihat ketiga anak-anak muda dari Sangkal Putung itu sudah melibatkan diri dalam perkelahian melawan Daruka dan orang-orangnya. Sutawijaya sendirilah yang kini berhadapan dengan pemimpin gerombolan yang ditakuti oleh gerombolan-gerombolan Iain seisi hutan Tambak Baya dan Mentaok.

Demikianlah, maka segera terjadilah perkelahian yang riuh antara anak-anak muda dari Sangkal Putung bersama Kiai Gringsing, melawan gerombolan Daruka yang langsung dipimpin oleh kepala gerombolannya sendiri. Daruka, yang namanya menakutkan di segenap sudut Alas Mentaok dan Tambak Baya.

Tetapi kali ini yang dihadapinya bukan sekedar seorang pengawal dari padesan di ujung hutan. Tetapi yang dihadapinya adalah putera Panglima Wira Tamtama itu sendiri. Dengan demikian maka Daruka itu benar-benar terkejut. Hampir tidak kasat mata, maka tombak Sutawijaya telah memukul-mukul senjatanya.

“Gila,” geramnya. Meskipun anak muda itu membawa busur yang bersilang di punggungnya, serta endong panah dilambungnya, namun geraknya sama sekali tidak terganggu olehnya. Kelincahannya dan kecepatannya benar-benar mengagumkan kepala gerombolan yang garang itu.

Di sisi lain, Agung Sedayu telah memutar pedangnya pula, sedangkan di sisi yang lain lagi Swandaru berkelahi sambil tertawa. Kiai Gringsing yang tua itu pun tidak ketinggalan, tetapi karena ia tidak membawa pedang, maka ia berkelahi dengan tangannya.

Salah seorang gerombolan itu berteriak, “He, orang tua bangka. Apakah kau mau mati pula.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Tetapi begitu mulut orang itu terkatup, ia terkejut bukan buatan. Yang terasa olehnya adalah suatu dorongan yang keras. Hampir saja ia terlempar jatuh. Tetapi beruntunglah ia segera mampu berpegangan sebatang perdu. Tetapi matanya tiba-tiba terbelalak ketika ia melihat senjatanya telah berpindah ke tangan orang tua itu.

“Terima kasih,” berkata Kiai Gringsing.

Swandaru tertawa melihat perbuatan gurunya. Katanya “Kiai, tolong, ambilkan pula bagiku.”

“Hus!” kembali terdengar Agung Sedayu berdesis. Tetapi Swandaru itu justru tertawa berkepanjangan.

Orang-orang Daruka itu pun kemudian berdesakan maju bersama-sama, sehingga Agung Sedayu, Swandaru, dan Kiai Gringsing harus bertempur melawan beberapa orang bersama-sama. Hanya Daruka sendirilah yang justru membentak-bentak ketika beberapa orang mencoba membantunya.

“Pergi!” teriaknya. “Aku ingin membunuh anak ini dengan tanganku sendiri, tanpa kau ganggu sama sekali. “Namun Daruka sendiri tidak meyakini kata-katanya Apalagi ketika tiba-tiba tangannya menjadi pedih. Hampir saja senjatanya terlepas dari tangannya. Beruntunglah ia bahwa ia masih mampu mempertahankannya.

Dalam pada itu Sutawijaya pun bergumam di dalam hatinya, “Pantalah kalau orang ini ditakuti oleh gerombolan-gerombolan lain di hutan ini. Tandangnya cukup meyakinkan. Tetapi ia harus segera dapat dijinakkan. Aku harus memberi kesan kepadanya, bahwa apa yang dilakukan sama sekali tidak berarti bagiku.”

Dengan demikian, maka Sutawijaya pun segera memperketat serangannya. Bergulung-gulung seperti ombak menghantam tebing.

Adalah di luar dugaan Daruka, bahkan mimpipun tidak, bahwa akan dijumpainya lawan setangkas anak muda itu. Bahkan belum pernah ia berkelahi dengan orang yang memiliki ketangkasan, kelincahan, dan keperkasaan seperti lawannya kini. Dengan demikian maka ia bergumam di dalam hatinya, “Mungkin benar apa yang dikatakannya, bahwa ia adalah seorang prajurit Pajang.”

Tetapi kini ia sudah tidak mendapat kesempatan untuk menghindar.

Ketika sekali ia sempat melihat orang-orangnya, maka ia pun terkejut bukan buatan. Duabelas orang-orangnya itu sama sekali tidak mampu mendesak ketiga orang lawannya. Orang yang tua itu pun masih juga mampu berkelahi melawan beberapa orang-orangnya sekaligus.

Sejenak kemudian Daruka itu pun menjadi bingung. Ia tidak dapat mundur. Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa ia beserta anak buahnya itu pasti tidak akan mampu melawan ketiga anak-anak muda itu beserta seorang tua bangka.

Maka jalan satu-satunya yang dapat dipilihnya untuk menyelamatkan diri adalah lari. Lari meninggalkan arena pertempuran itu. Bagi Daruka, maka nilai-nilai harga diri sama sekali tidak akan diperhitungkan. Bahkan mengorbankan anak buahnya pun termasuk kebiasaan pula baginya.

Demikian pula kali ini. Ketika tekanan lawannya menjadi semakin ketat, maka Daruka itu pun telah mencoba mencari jalan yang mungkin akan dapat dilaluinya untuk menyelamatkan diri.

Tetapi Sutawijaya melihat gelagat itu, Baginya untuk menjatuhkan kepala gerombolan yang paling ditakuti itu ternyata tidak terlampau sulit. Dengan demikian, ketika Daruka itu telah bersiap-siap untuk lari terdengar Sutawijaya bergumam, “Ayo, akan lari ke manakah kau? Apakah seorang yang namanya menggelegar di seluruh hutan Tambak Baya dan Mentaok ini akan tinggal-glanggang colong-playu. Apakah kau tidak malu terhadap dirimu sendiri, Daruka.”

Terdengar Daruka menggeram. Katanya, “Aku tidak pernah meninggalkan arena sebelum lawanku menjadi mayat atau aku sendiri yang mati.”

Kembali mereka dikejutkan oleh suara Swandaru tertawa terputus-putus. Sambil menggerakkan pedangnya ia berkata, “He Daruka. Apakah kau mengigau? Aku percaya bahwa kau belum pernah meninggalkan gelanggang dalam keadaan hidup. Jadi apa yang selalu kau lakukan adalah melarikan diri setelah kau mati.”

“Setan!” terdengar Daruka menggeram. Bahkan kemudian orang itu pun mengumpat tak habis-habisnya. Namun justru suara tertawa Swandaru menjadi semakin keras. Lawan-lawannya sama sekali tidak mampu berbuat apapun atasnya. Sambil tertawa dan berkelakar Swandaru telah membuat lawan-lawannya menjadi pening. Bahkan seorang dari antara mereka telah terluka.

Agung Sedayu terpaksa berkelahi melawan lima orang. Tetapi kelimanya pun tidak dapat mendesak anak muda itu, meskipun untuk melawannya, Agung Sedayu harus bekerja jauh lebih keras daripada Swandaru. Mungkin anak buah Daruka itu mencoba suatu cara untuk menjatuhkan lebih dahulu lawannya seorang demi seorang, untuk kemudian melenyapkan semuanya berturut-turut. Tetapi ternyata yang seorang itu pun tidak dapat dikalahkannya.

Sedang Kiai Gringsing yang tua itu pun harus berkelahi dengan beberapa orang pula. Dengan sekedar melayani dan mempertahankan dirinya, Kiai Gringsing sama sekali tidak banyak berbuat. Ia menunggu saja Sutawijaya mengalahkan lawannya, dan berbuat menurut rencananya.

Yang ditunggu Kiai Gringsing itu pasti segera akan terjadi. Sebab Daruka kini benar-benar kehilangan segala kesempatan. Apalagi kesempatan menyerang, kesempatan untuk mempertahankan dirinya pun telah hampir tidak dapat dilakukannya.

“Jangan lari,” gumam Sutawijaya ketika ia melihat Daruka selalu mencoba menarik diri.

“Aku bukan pengecut,” teriak Daruka

“Huh,” sahut Sutawijaya. “Jawabanmu lebih memalukan dari perbuatanmu. Apakah kau telah melupakan kata-katamu sendiri bahwa hanya mautlah yang dapat memaksamu untuk menyerah? Kenapa kau kini akan melarikan diri?”

“Setan tetakan!” mulut Daruka menghamburkan sumpah serapah tidak karuan. “Aku akan membunuhmu.”

Tetapi kata-katanya terputus. Tangkai tombak Sutawijaya tiba-tiba mengenai kepalanya yang botak, yang sama sekali tidak ditutupinya dengan ikat kepala.

Sekali lagi Daruka menyumpah-nyumpah semakin kotor. Namun sekali lagi kepalanya yang botak itu terpukul oleh tangkai tombak Sutawijaya.

“Aku baru mempergunakan tangkai tombakku,” berkata Sutawijaya. “Ayo, lebih baik menyerahlah. Aku tidak akan membunuhmu.”

Daruka membelalakkan matanya. Tetapi ia masih berkata, “Daruka hanya menyerah kepada maut.”

Kini bukan sekedar tangkai tombak Sutawijaya mengenai kepalanya, tetapi tiba-tiba pedang Daruka tergetar keras. Tangannya tiba-tiba terasa nyeri bukan buatan. Ketika ia mencoba memperbaiki genggamannya, sekali lagi pedangnya terasa tersentuh senjata lawannya. Kali ini ia sama sekali tidak dapat berbuat sesuatu. Pedangnya terlontar beberapa langkah daripadanya dan jatuh tergolek di tanah yang lembab.

Daruka kini berdiri dengan gemetar. Kemarahannya masih mencengkam dadanya, tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Ujung tombak Sutawijaya melekat di dadanya yang berbulu lebat.

“Apa katamu?” bertanya Sutawijaya.

Daruka menggeram. Tetapi ketika ujung tombak lawannya tertekan semakin keras, Daruka itu pun menyeringai.

“Apakah kau hanya menyerah terhadap maut?”

Daruka tidak menjawab. Sementara itu kawan-kawannya masih juga berkelahi. Namun ketika mereka melihat lurah mereka sudah tidak berdaya, maka hati mereka pun segera berkeriput.

Anak buah gerombolan itu belum pernah melihat lurahnya berdiri kaku tegang tanpa dapat berbuat apa-apa karena ujung senjata lawan yang melekat di tubuhnya. Apalagi ketika sambil tertawa Swandaru berkata, “Ayo, apa yang akan kalian lakukan. Lihat kepalamu telah menyerah.”

Dalam pada itu Sutawijaya pun berkata pula, “Ayo, lekas katakan apakah kau hanya menyerah terhadap maut?”

Daruka tidak juga segera menjawab. Tetapi ia menahan nafasnya ketika ujung tombak Sutawijaya menekan semakin keras.

“Kalau kau menyerah, maka perintahkan orang-orangmu berhenti melakukan perlawanan. Kalau tidak, maka satu persatu kalian akan aku penggal kepala kalian dan akan kutancapkan di ujung hutan ini sebagai pertanda bahwa Daruka kini sudah tidak menakutkan lagi.”

Terasa dada kepala penyamun yang menakutkan itu berdesir. Betapa tabah hatinya, namun ancaman itu mendirikan bulu kuduknya.

“Cepat!” bentak Sutawijaya. “Pilihlah. Menyerah atau mati. Kalau kau malu mengakui kekalahanmu, maka kau dapat memberi perintah saja kepada anak buahmu supaya menyerah.”

Daruka masih juga ragu-ragu. Namanya yang menakutkan selama ini telah menahannya untuk tidak segera melakukan perintah itu.

Namun tiba-tiba mereka terkejut ketika mereka mendengar sebuah pekik kesakitan. Ketika mereka berpaling, mereka melihat salah seorang yang berkelahi melawan Swandaru meloncat surut sambil memegangi lengannya yang berdarah.

“Nah,” berkata Sutawijaya, “lihat, seorang anak buahmu terluka. Apakah kau menunggu mereka terbunuh?”

Daruka itu masih ragu-ragu. Sekali dipandanginya wajah Sutawijaya dan sekali dilontarkannya pandangan matanya berkeliling kepada anak buahnya yang sedang berkelahi itu.

Tetapi sekali lagi terasa ujunng senjata Sutawijaya itu semakin menekan dadanya dan terdengar Sutawijaya membentak tidak sabar. “Cepat, atau kau benar ingin mati.”

“Tidak,” tiba-tiba Daruka itu menjawab terbata-bata.

“Cepat, perintahkan kepada orang-orangmu.”

“Baik. Baik,” berkata kepala gerombolan itu, yang kemudian berteriak dengan penuh kebimbangan, “Hentikan perlawanan!”

Beberapa orang Daruka yang sudah merasa, bahwa mereka tidak akan mampu melawan, tidak menunggu perintah itu terulang. Segera mereka berloncatan mundur menjauhi lawannya.

Agung Sedayu, Swandaru, dan Ki Tanu Metir pun segera menghentikan perkelahian pula. Mereka sama sekali tidak mengejar lawan-lawan mereka, dan membiarkannya berdiri termangu-mangu meskipun senjata mereka masih tetap di dalam genggaman.

“Nah,” berkata Sutawijaya, “sekarang jawablah pertanyaanku. Apakah kau menyerah atau tidak?”

Mulut Daruka kembali terbungkam. Hanya matanya sajalah yang berkeredipan seperti anak burung yang menunggu induknya.

“He, apa katamu?” bertanya Sutawijaya mengejut.

Daruka itu pun terperanjat sehingga terhenyak selangkah surut. Tetapi ujung tombak Sutawijaya masih mengikutinya.

“Jawab!” bentak Sutawijaya.

“Ya,” akhirnya Daruka menjawab penuh keragu-raguan.

“Kau ragu-ragu.”

“Ya.”

“He?”

“Oh, tidak,” Daruka itu tergagap.

“Sekarang katakan. Apakah kau menyerah atau tidak?”

“Ya, aku menyerah.”

“Nah. Ternyata harga dirimu masih kalah bernilai dari nyawamu. Apakah kau benar-benar menyerah?”

“Ya.”

“Aku dapat mempercayaimu?”

“Ya.”

Sutawijaya menarik nafas. Jawaban orang itu sama sekali tidak meyakinkannya. Memang kemungkinan yang paling dekat adalah, Daruka sekedar mencoba menyelamatkan dirinya. Tetapi meskipun demikian Sutawijaya ingin mencobanya. Katanya, “Daruka. Apakah kau benar orang yang paling ditakuti di hutan Tambak Baya dan Mentaok ini?”

Daruka kembali menjadi ragu-ragu. Tetapi ia menjawab, “Ya. Demikianlah kata orang.”

“Ketahuilah Daruka. Kau memang seharusnya dimusnahkan dari hutan ini. Tak ada cara yang lebih baik daripada membunuhmu dan memenggal lehermu untuk ditanjir di mulut hutan ini.”

“Tetapi,” wajah Daruka tiba-tiba menjadi pucat.

“Apakah yang lebih baik menurut pendapatmu?” bertanya Sutawijaya.

Daruka menjadi makin pucat.

“Apakah kau mempunyai cara yang lebih baik daripada ditanjir di mulut hutan untuk mengabarkan bahwa orang-orang yang ingin menyeberangi hutan ini tidak perlu takut lagi kepada Daruka?

“Tetapi, tetapi, bukankah aku udah menyerah?”

“Kau menyerah di hadapanku. Apabila aku pergi, maka tak ada lagi yang kau takuti.”

“Aku tidak akan ingkar. Aku menyerah.”

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Namun kembali ia bergumam seperti kepada diri sendiri, “Mustahil. Mustahil orang semacam Daruka ini dapat dipercaya. Mulutnya baru dapat dipercaya apabila ia sudah tidak dapat berkata sepatah kata pun lagi.”

Tiba-tiba Daruka yang kekar itu menjadi gemetar. “Jangan kau bunuh aku. Aku kira tidak akan banyak gunanya. Bukan hanya aku sendiri perampok dan penyamun di hutan ini.”

“He,” bentak Sutawijaya, “kau ingin hidup karena bukan hanya kau sendiri perampok di dalam hutan ini?”

Adalah menggelikan sekali tampaknya bahwa seorang yang bertubuh segagah Daruka dapat menjadi gemetar dan ketakutan. Wajahnya kini benar-benar menjadi seputih kapas. Sekali lagi ia merengek seperti kanak-kanak yang melihat bapanya menggenggam cemeti.

“Ampun, Tuan. Ampun.”

Sutawijaya memandanginya dengan tajamnya. Kemudian memandang beberapa anak buah Daruka. Aneh. Mereka pun menjadi gemetar dan ketakutan. Wajah-wajah mereka pun menjadi seputih kapas.

“Hem,” desah Sutawijaya, “aku sangka kalian tidak mengenal takut, meskipun berhadapan dengan maut.”

“Tuan,” berkata Daruka, “kami bukan seorang prajurit. Kami berkelahi sekedar untuk mendapat makan. Sedang prajurit bertempur untuk kewajiban. Karena itu, maka mungkin Tuan sebagai seorang prajurit tidak takut mati dalam kewajiban Tuan. Tetapi kami ingin bahwa kami tidak mati hanya karena kami sedang mencari sesuap nasi.”

Betapa tegang hati Sutawijaya, namun ia harus tertawa di dalam hati mendengar kata-kata Daruka.

“Karena itu, Tuan,” Daruka meneruskan, “kami mohon ampun.”

“Daruka,” sahut Sutawijaya, “mungkin kau sekarang menyadari bahwa seakan-akan tidaklah seimbang kesalahanmu dengan hukuman mati itu, karena kau hanya sekedar mencari makan untuk hidupmu. Tetapi bagaimana dengan para pengawal itu? bukankah mereka pun bekerja sekedar untuk mendapatkan upah yang berarti sekedar untuk mendapatkan sesuap nasi juga? Apakah sudah selayaknya bahwa kau berkeras hati untuk mencarinya dan kemudian membunuh mereka karena mereka telah melawan anak buahmu dan mengalahkannya?”

“Aku tidak akan membunuh mereka, Tuan. Tidak.”

“Untuk apa kau cari mereka?”

“Kami hanya akan mencari siapakah yang telah mencelakai orang-orangku.”

“Ya, untuk apa?” bentak Sutawijaya.

Orang yang botak itu menundukkan kepalanya.

“Daruka,” berkata Sutawijaya kemudian.

Daruka mengangkat wajahnya.

“Wajahmu seram. Tubuhmu pun cukup mengerikan. Kau memang pantas bernama Daruka, seorang yang menakutkan di hutan Tambak Baya dan Mentaok. Seorang yang paling ditakuti oleh gerombolan-gerombolan lain di alas ini.”

Daruka tidak menjawab. Ia tidak tahu, apakah maksud Sutawijaya sebenarnya.

“Apakah kau sudah benar-benar menyerah?”

“Ya, Tuan,” sahut Daruka serta-merta.

“Dan menyesal?”

“Ya, Tuan.”

Daruka, dengarlah baik-baik,” berkata Sutawijaya bersungguh-sungguh. “Kau dengar bahwa sebentar lagi hutan ini akan dibuka menjadi sebuah negeri?”

“Ya, Tuan.”

“Nah, dengan demikian maka setiap kotoran yang ada di dalam hutan ini harus dibersihkan lebih dahulu. Panglima Wira Tamtama yang akan memiliki hutan ini tidak mau melihat orang-orang semacam kau ini tinggal di dalam hutan ini.”

“Aku akan pergi, Tuan.”

“He,” Sutawijaya membelalakkan matanya, “begitu mudahnya? Kau menyamun dan merampok. Setelah kau tertangkap begitu saja kau pergi? Tidak. Kaupun pasti akan menyamun dan merampok di tempat lain sebab kau tidak punya pekerjaan tertentu.”

“Tidak, Tuan. Aku akan mencoba mencari tanah pertanian dengan anak buahku. Aku akan hidup bercocok tanam bersama dengan mereka.”

“Sementara ini kau tidak akan dapat melakukannya. Kau adalah seorang yang biasa hidup dengan berkelahi,” jawab Sutawijaya. “Apalagi kau tertangkap saat kau melakukan perlawanan. Lain halnya kalau kau menyerah sebelum aku menarik pedang dari sarungnya.”

“Ampun, Tuan.”

“Kau harus dihukum.”

“Tetapi aku minta diampuni, Tuan. Aku masih belum ingin mati.”

“Orang-orang yang kau rampok dan kau bunuh pun belum ingin mati.”

Daruka terdiam. Beberapa titik keringat dingin menetes pada pundaknya. Tubuh yang gemetar itu menjadi kian menggigil.

“Daruka,” berkata Sutawijaya seterusnya, “kau harus menerima hukuman. Kalau kau benar menyesal atas segala tingkah lakumu, maka kau harus dapat memenuhi beberapa syarat supaya kau tidak dihukum mati.”

Daruka mengangkat wajahnya. Tampaklah sebersit harapan di dalam wajahnya. “Apakah syarat itu, Tuan?”

“Tetapi jangan mencoba melepaskan diri dari tanganku dan tangan Wira Tamtama.”

“Tidak, Tuan.”

“Tidak aka nada gunanya. Aku akan selalu dapat mengawasimu dan menangkap kau setiap saat. Kau tidak dapat mengalahkan aku, apalagi para pemimpin Wira Tamtama lainnya.”

“Ya, Tuan.”

“Nah, dengarlah syarat itu. dalam waktu yang dekat, sebelum hutan ini mulai dibuka, maka kau harus sudah menyelesaikan syarat itu. kau harus mampu menangkap semua orang yang menjadi penyamun dan perampok di dalam hutan ini. Kau dan orang-orangmu harus mampu menumpas semuanya. Tetapi ingat. Aku tidak memerintahkan kepadamu untuk menumpas orang-orangnya, tetapi perbuatannya. Apakah kau dapat mengerti? Hanya apabila perlu kau boleh mempergunakan pedangmu. Kau mengerti?”

Wajah Daruka yang telah memutih kapas itu kini mulai dialiri oleh darahnya kembali. Ditatapnya wajah Sutawijaya seakan-akan ia ingin mendengar ketegasan dari kata-katanya.

“Apakah yang harus kau lakukan?”

“Membinasakan setiap gerombolan yang ada di hutan ini.”

“Tetapi jangan berlaku seperti apa yang pernah kau lakukan. Ingat, alangkah ngerinya menghadapi maut. Kau sendiri telah melupakan kejantanan dan kesombonganmu ketika kau sudah mulai dijamah oleh bahaya maut itu.”

“Kau dengar kata-kataku?” bertanya Sutawijaya.

“Ya, Tuan. Aku mendengar,” jawab Daruka.

“Kau mengerti?”

Daruka termangu-mangu sebentar. Tiba-tiba ia mengangguk. “Ya, Tuan aku mengerti.”

Daruka mengerutkan keningnya.

“Kau merasa tidak seimbang bahwa kau harus mati karena sesuap nasi. Demikian pula orang-orang lain. Gerombolan-gerombolan yang lain. Tundukkan mereka, kalau mungkin tanpa pepati. Bawalah mereka memilih tanah yang paling baik di seluruh hutan Mentaok. Bukalah hutan itu, kalian akan mendapat hak untuk bertempat tinggal di sana kelak apabila tempat ini menjadi ramai. Kau mengerti?”

“Ya, aku mengerti,” sahut Daruka sambil mengangguk lemah. Ia tahu benar apa yang harus dilakukan. Mengalahkan gerombolan-gerombolan yang ada di hutan ini sejauh mungkin tanpa melukai kulit mereka. Apakah ia mampu berbuat seperti anak muda itu? tetapi Daruka tidak lagi bertanya.

“Nah, lakukan perintahku baik-baik. Dengan demikian kau telah menyelamatkan dirimu sendiri. Memberi harapan kepada kedamaian hatimu sendiri di masa-masa mendatang. Apakah apabila otot-ototmu telah menjadi rapuk dimakan umur, kau masih juga merasa orang yang paling ditakuti di hutan ini? Dan apakah kau masih merasa mampu mencari sesuap nasi dengan pedang di genggaman?”

“Ya, Tuan,” Daruka mengangguk-anggukkan kepalanya.

Mulai hari ini kau sudah dapat melakukan pekerjaanmu. Tetapi ingat, jangan mencoba melepaskan diri dari pengawasan Wira Tamtama. Kalau kau lancing kali ini, maka hukumanmu bukan sekedar dipancung di alun-alun, tetapi kau akan dirampog setelah kau diadu melawan harimau di alun-alun. Kalau kau juga tidak mati, maka kau akan dihukum picis. Kau dengar?”

Meskipun Daruka selama ini tidak pernah ngeri mendengar nama harimau, namun diadu dengan harimau di alun-alun untuk mengganti rampogan adalah tidak menyenangkan sama sekali. Apabila ia masih hidup maka hukuman picis telah menunggu. Adalah tidak menyenangkan mati di celah-celah gigi harimau atau mati tersayat-sayat dalam menjalani hukuman picis.

Karena itu maka ia tidak mempunyai pilihan lain dari bertempur melawan setiap gerombolan yang ada di hutan Tambak Baya dan Mentaok. Hampir setiap gerombolan telah dikenalnya dengan baik. Dan tak seorang pun yang perlu dicemaskannya apabila mereka berhadapan beradu dada.

“Nah, apakah kau sanggup melakukan?” bertanya Sutawijaya.

Daruka tersentak mendengar pertanyaan itu. dengan serta-merta ia menjawab, “Ya, Tuan. Aku sanggup.”

“Bagus,” berkata Sutawijaya pula. “Pergilah. Lakukan perintah ini. Tetapi kau jangan berbuat semena-mena dan menyalahgunakan perintahku. Aku tidak memerintahkan kepadamu untuk mengadakan pembantaian dan pembunuhan besar-besaran. Kalau mungkin selesaikan dengan pembicaraan. Kau dapat menceritakan kepada mereka apa yang kau alami. Kau dapat memberitahukan bahwa sebentar lagi sepasukan Wira Tamtama akan menjelajah seluruh isi hutan ini.”

“Ya, ya aku mengerti, Tuan,” sahut Daruka.

“Kalau demikian, pergilah. Bawa orang-orangmu. Apakah orang-orangmu hanya sebanyak dua belas orang ini?”

“Tidak, Tuan. Aku mempunyai lebih dari duapuluh lima kawan. Aku mengharap mereka dapat mengerti apa yang harus aku lakukan. Dan aku harap mereka dapat membantuku.”

“Bagus,” desis Sutawijaya, “sekarang pergilah. Di Cupu watu, Nglipura, Mangir, Menoreh, tersebar prajurit-prajurit Wira Tamtama. Kalau kau ingkar, maka kau pasti akan menyesal.”

“Tidak, Tuan. Aku tidak akan ingkar. Berkelahi melawan gerombolan yang ada di hutan ini bagiku adalah jauh lebih ringan daripada berkelahi melawan Wira Tamtama seperti Tuan.”

Sutawijaya tersenyum di dalam hati. Kemudian sekali lagi ia berkata, “Pergilah. Kumpulkan orang-orangmu, dan mulailah melakukan pekerjaanmu itu.”

“Baik, Tuan. Kami, seluruh orang-orangku mengucapkan beribu terima kasih atas kesempatan yang Tuan berikan kepada kami.”

“Jaga kepercayaan ini baik-baik.”

“Ya, Tuan.”

Sejenak kemudian Daruka beserta orang-orangnya pun segera meninggalkan mereka. Satu-satu mereka menghilang ke dalam semak-semak. Satu dua di antara mereka masih juga berpaling memandangi wajah anak-anak muda itu. tetapi segera mereka membuang pandangan mata ketika mereka melihat Swandaru yang gemuk mencibirkan bibirnya.

“Mudah-mudahan usaha ini berhasil,” gumam Sutawijaya.

“Anakmas cukup cerdik,” sahut Kiai Gringsing. “Aku kira Daruka benar-benar ketakutan. Ia pasti akan melakukan perintah itu. mudah-mudahan ia berhasil. Nanti Anakmas akan membuka hutan ini dengan tenteram. Orang-orang yang berdatangan tidak lagi takut mendapat gangguan dari para penyamun dan perampok. Untuk membasmi mereka dengan cepat, alangkah sulitnya. Sekarang Anakmas mendapat alat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pekerjaan itu. dan pasti hasilnya pun akan lebih baik daripada Anakmas mengerahkan sepasukan Wira Tamtama.”

Sutawijaya tersenyum. “Mudah-mudahan, Kiai,” katanya.

Swandaru yang masih berdiri di tempatnya menyahut, “Aku tidak dapat mempercayai mereka sepenuhnya. Kalau Daruka sendiri mungkin benar-benar telah jera, tetapi aku tidak yakin melihat wajah-wajah dari anak buahnya.”

Sutawijaya masih saja memandangi semak-semak di mana Daruka dan orang-orangnya menghilang. Sejenak ia terdiam. Tetapi yang menjawab perkataan Swandaru adalah Kiai Gringsing, “Tidak, Swandaru. Gerombolan perampok dan penyamun merasa jauh lebih takut kepada pimpinannya daripada prajurit yang manapun juga. Seorang pemimpin perampok atau penyamun dapat saja menghukum mati anggotanya setiap saat dikehendaki. Tanpa banyak pertimbangan dan tanpa banyak pertanggungan jawab. Seorang yang dianggapnya berkhianat atau kurang baik melakukan pekerjaannya, akan dapat mengakibatkan kepalanya terlepas. Kalau kemudian ternyata bahwa tuduhan yang diberikan kepadanya itu keliru, maka pimpinannya cukup bergumam ‘Oh, ternyata keliru,’ tetapi yang mati itu tetap juga mati. Dengan demikian, maka setiap anggota perampok atau penyamun atau sebangsanya akan berusaha untuk mentaati dan menyenangkan hati pemimpinnya.”

Swandaru mengangguk-anggukan kepalanya. Apa yang ditemuinya kali ini benar-benar memberinya banyak pengalaman. Meskipun hanya berpapasan, tetapi ia melihat beberapa orang pengywal yang benar-benar telah mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi orang lain meurut kesanggupannya. Mereka adalah orang-orang yang sebenarnya mempunyai tanggungjawab yang tinggi atas pekerjaan yang mereka pilih. Kemudian Swandaru itu melihat sebuah gerombolan perampok dan penyamun. Dengan demikian, maka ia telah mendapat sedikit gambaran apa yang sebenarnya tersimpan di hutan-hutan yang besar dan lebat seperti hutan Mentaok dan Tambak Baya ini.

Bagi Sutawijaya, apa yang dilihat itu pun telah memberikan petunjuk kepadanya, apakah yang kelak akan dihadapinya. Mungkin Daruka dapat melakukan sebagian dari tugasnya, tetapi mungkin juga ia akan menemui kegagalan. Seandainya Daruka benar-benar ingin melakukan tugasnya, maka yang dihadapinya bukan saja satu atau dua gerombolan, yang tidak begitu banyak mempunyai perbedaan kekuatan. Mungkin gerombolan yang lain dapat bergabung satu sama lain untuk bersama-sama mengadapi gerombolan Daruka atau bahkan memusnahkan gerombolan Daruka ini.

Sejenak mereka saling berdiam diri tenggelam dalam angan-angan masing-masing. Yang mula-mula memecah kesenyapan itu adalah Kiai Gringsing, “Bagaimana, Ngger. Apakah kita akan berjalan terus?”

“Kita sudah sampai di sini Kiai, apakah salahnya kalau kita berjalan terus?“ jawab Sutawijaya.

“Kita tidak akan menemukan apa-apa lagi. Alas Mentaok hampir tak akan ada bedanya dengan hutan ini. Kita hanya dapat melihat pohon-pohon raksasa. Akar-akaran dan batang-batang yang merambat. Daun-daun yang mengandung racun yang sangat gatal, sejenis semut yang disebut semut Salaka, tetapi yang kini sudah hampir punah. Harimau yang garang dan kijang yang bertanduk panjang. Apa lagi?”

“Apakah sama sekali tidak ada daerah yang didiami orang Kiai?”

“Tentu saja tidak di tengah-tengah Alas Mentaok. Kalau Angger berjalan terus menembus sisi yang lain dari Alas Mentaok maka Angger akan sampai di daerah yang berpenduduk. Daerah Nglipura, Pliridan yang masih terlampau dekat dengan hutan ini, sebelum kita sampai di hutan Mentaok yang menjorok ke Selatan di daerah Beringan dan Pacetokan. Tetapi menurut penglihatanku saat-saat terahir daerah ini sudah ditinggalkan oleh penduduknya karena gangguan para penjahat. Kemudian agak jauh ke Selatan Angger akan menemui daerah yang sudah agak ramai, Mangir.”

“Apakah daerah itu juga termasuk daerah Mentaok?”

Kiai Gringsing mengerutkan keninya. Tetapi kemudian ia menggeleng, “Aku tidak tahu, Ngger. Meskipun daerah itu dahulu juga termasuk daerah yang tunduk kepada Sultan Demak. Apakah daerah itu kemudian akan tunduk juga kepada Adipati Pajang untuk seterusnya termasuk tanah yang akan dihadiahkan kepada ayahanda Ki Gede Pemanahan, aku tidak tahu.”

Sutawijaya berpikir sejenak. Tiba-tiba ia berkata, “Aku ingin melihat daerah itu, Kiai.”

Kiai Gringsing menarik nafas. Katanya, “Angger memerlukan waktu yang lama. Apalagi kedatangan angger belum tentu akan mendapat sambutan yang baik. Kita belum tahu, bagaimana tanggapan Mangir atas Pajang dan atas Alas Mentaok.”

“Karena itu aku ingin menemuinya. Siapakan yang memerintah Mangir? Seorang Demang?”

“Mangir adalah sebuah Tanah Perdikan, Ngger. Seperti daerah-daerah di Bukit Menoreh. Perdikan yang dikukuhkan oleh pengakuan Sultan Trenggana.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Tanah itu tanah perdikan. Tiba-tiba dadanya menjadi berdebar-debar. Di samping tanah yang akan diterimanya, terletak sebuah tanah perdikan yang sudah menjadi ramai. Apakah tanah itu mengakui kekuasaan Pajang atas penyerahan kekuasaan daerah itu kepada Ki Gede Pemanahan? Lalu bagaimanahkah sifat dan bentuk Tanah Mentaok kelak?

Kiai Gringsing yang tua itu seakan-akan dapat membaca perasaan Sutawijaya. Maka katanya, “Anakmas. Jangan terlampau pagi merisaukan tanah ini. Apakah Angger kini sedang dijalari oleh kecemasan tentang Mangir itu? Apakah tidak ada bahaya yang dapat datang dari tanah itu selagi Angger membuka Tanah Mentaok ini? Bukankah Angger berpikir tentang itu?”

“Ya Kiai.”

“Lupakanlah. Kita akan melihat perkembangan keadaan. Memang Mangir adalah tanah perdikan yang perlu mendapat perhatian, Tetapi tidak sekarang. Sekarang sebaiknya kita kembali ke Sangkal Putung.”

Sutawijaya menarik nafas. Mangir akan dapat menumbuhkan persoalan kelak. Kemudian dipalingkannya wajahnya kepada kedua kawan-kawannya yang perhatiannya agaknya tertarik kepada pohon-pohon raksasa dan jenis burung-burung liar yang terbang hilir mudik dari dahan ke dahan.

“Bagaimana dengan kita?” bertanya Sutawijaya kepada kedua anak muda itu.

Agung Sedayu dan Swandaru tidak segera menjawab. Bahkan sejenak mereka saling berpandangn. Tetapi keduanya ternyata saling berdiam diri.

Meskipun Swandaru merasa banyak mendapatkan pengalaman dalam perjalanan itu, dan meskipun sebenarnya ia masih ingin menjelajahi tempat-tempat yang selama ini belum pernah dilihatnya, namun ia ingat juga kepada kademangannya. Kademangan yang selama ini dipertahankannya dengan pengorbanan yang tidak kecil. Bahkan nyawa dari beberapa orang telah pula dikorbankan.

Sedang Agung Sedayu pun mempunyai pertimbangan-pertimbangan yang lain pula. Ia menjadi cemas, apakah kakaknya Untara membenarkannya. Kalau terjadi sesuatu atas Sangkal Putung dan para prajurit Pajang, bahkan atas kakaknya Untara dan pamannya Widura, maka ia tidak dapat melihatnya. Ia akan dapat dipersalahkan, bahwa ia telah meninggalkan kewajibannya.

Tetapi mereka berdua tidak inin mendahului pendapat Sutawijaya. Mereka telah terlanjur berjanji ingin pergi bersamanya ke Alas Mentaok. Sehingga karena itu, maka dibiarkannya Sutawijaya itu sendiri menjawab pertanyaannya.

“Bagaimana, Ngger?” bertanya Kiai Gringsing kemudian. “Aku harap Angger mempertimbangkannya. Meskipun Angger sampai juga di Alas Mentaok, maka yang akan Angger lihat adalah serupa ini juga. Pohon-pohon besar dan rimbun, gerumbul-gerumbul perdu yang pepat. Pohon-pohon yang merambat, yang tidak berduri dan yang berduri. Batu-batu padas yang kotor dan jamur-jamur dari segala macam jenis. Kemladean dan beberapa macam anggrek. Angger tidak akan dapat melihat dengan jelas, manakah batas-batas yang memisahkan Alas Mentaok dan Alas Tambak Baya. Mungkin sebuah padang rumput yang sempit yang masuk dalam sebuah lekukan hutan ini dapat dianggap sebagai batas tersebut. Tetapi di dalam hutan, maka batas itu tidak akan nampak.”

Sutawijaya menjadi bimbang. Ia menyadari, betapa hangatnya keadaan Sangkal Putung kini. Apalagi apabila ayahnya telah pergi meniggalkan kademangan itu. Maka Sangkal Putung akan mengalami saat yang paling lemah tanpa adanya Agung Sedayu, Swandaru dan lebih-lebih Kiai Gringsing. Sedang apa yang akan dilihatnya pun tidak akan jauh berbeda dari apa yang dilihatnya sekarang. Beruntunglah bahwa ia telah bertemu dengan gerombolan terkuat dari Alas Mentaok, Daruka, yang dapat memberinya beberapa macam gambaran tentang Alas Mentaok yan liar. Liar wajah dan isinya.

Ketika Agung Sedayu dan Swandaru tidak juga menjawab, maka terdengar Sutawijaya itu berdesis “Baiklah, Kiai. Aku telah puas melihat sebagian saja dari Alas Mentaok. Bagian yang bernama Tambak Baya. Aku mengerti, bahwa Sangkal Putung kini benar-benar dalam keadaan yang sulit apabila Ki Tambak Wedi mengambil kesempatan menyerangnya. Karena itu, baiklah kita kembali.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bagus,” desisnya, “ternyata Angger cukup bijaksana. Sejak saat ini kita akan memerlukan waktu sedikitnya dua malam untuk mencapai Sangkal Putung kembali. Hari ini telah lebih dari separo kita lampaui untuk bermain-main dengan Daruka dan kawan-kawannya. Kita masih memerlukan waktu lagi unuk memberi kesempatan Swandaru memburu makan malamnya nanti.”

Swandaru menggigit bibirnya, sedang kedua kawannya tertawa perlahan-lahan.

“Kalau begitu,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “kita segera kembali ke Sangkal Putung. Jangan kita lalui kembali Kademangan Prambanan. Kita pasti akan terhambat pula sedikitnya satu malam. Kita tidak akan sampai hati menyakiti perasaan mereka apabila kita menolak permintaan mereka untuk bermalam di kademangan itu.”

“Baik, Kiai,” sahut Sutawijaya.

“Kita berusaha mencari jalan lain pula. Mungkin Argajaya membuat persiapan yang baik untuk menyambut kedatangan kita di Sangkal Putung. Karena itu, biarlah kita mencoba menghindarinya.”

“Kenapa tidak kita penggal saja lehernya, Kiai?” potong Swandaru.

“Leher yang melekat ditubuh Argajaya bukanlah leher ayam. Ia pasti akan mempertahankan lehernya. Bahkan tidak seorang diri. Mungkin bersama Sidanti, Sanakeling, Alap-alap Jalatunda dan bahkan mungkin pula Ki Tambak Wedi. Nah, kalau demikian apakah bukan lehermu yang meremang?”

Swandaru tersenyum. Kedua kawannya pun tersenyum pula.

“Nah, marilah. Kita harus mempergunakan waktu sebaik-baiknya. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu dengan Sangkal Putung.”

Tetapi dengan demikian, kata-kata Kiai Gringsing yang terakhir itu telah membuat jantung Swandaru menjadi berdebar-debar. Agung Sedayu pun merasa cemas pula. Apakah sebenarnya yang paling mencemaskan baginya? Agung Sedayu sendiri kadang-kadang menjadi ragu-ragu. Untara barangkali? Untara adalah kakaknya. Untara adalah seorang senapati. Seorang yang memimpin sepasukan prajurit yang kuat. Kenapa ia mesti mencemaskannya? Sangkal Putung barangkali? Kademangan itu? Agung Sedayu tiba-tiba menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau menelusur lebih jauh, apakah sebabnya kecemasannya tentang Sangkal Putung menjadi kian memuncak.

Keempatnya kini telah berjalan kembali kearah yang berlawanan dari jalan yang telah ditumpunya. Tiba-tiba saja mereka merasa bahwa merka telah terlampu lama meninggalkan Sangkal Putung. Sutawijaya pun merasa, bahwa ayahnya pasti tidak terlampau senang kepadanya karena kepergiannya yang tanpa pamit itu.

Demikianlah maka mereka berusaha tanpa berjanji, berjalan secepat-cepatnya untuk mencapai Sangkal Putung. Mereka paling sedikit masih memrlukan dua malam satu hari diperjalanan. Kalau saja tidak ada rintangan apapun, kalau saja mereka tidak berjumpa dengan orang-orang Prambanan yang akan meminta mereka untuk singgah, kalau saja mereka tidak bertemu dengan Argajaya dan Sidanti.

Sebagin dari harapan mereka itu pun terjadi. Mereka setelah bermalam satu malam, dapat melampaui Prambanan tanpa dilihat oleh seorang pun sehingga mereka tidak perlu singgah. Bahkan mereka berusaha untuk sampai ke Sangkal Putung hari itu juga meskipun larut malam atau bahkan sampai fajar. Seolah-olah mereka mendapat suatu firasat, bahwa memang terjadi sesuatu di Sangkal Putung.

Kiai Gringsing agaknya melihat kegelisahan dihati ketiga anak-anak muda itu. Maka untuk menenangkan mereka orang tua itu berkata, “Anakmas bertiga. Kenapa Anakmas menjadi sedemikian tergesa-gesa seperti dikejar hantu?”

Ketiga anak-anak muda itu terkejut mendengar kata-kata Kiai Gringsing. Sejenak mereka saling berdiam diri, tetapi sejenak kemudian mereka tersenyum.

“Bukankah Kiai ingin segera sampai ke kademanan itu? Kita harus berjalan siang dan malam.”

“Tetapi tidak seperti dikejar hantu. Aku melihat kalian berjalan meloncat-loncat. Perjalanan kita cukum jauh. Kalau anak mas berjalan seperti itu, maka kita pasti akan kelelahan sebelum kita sampai ke Sangkal Putung.”

Kembali anak-anak muda itu tersenyum. Yang menjawab kemudian adalah Swandaru, “Jadi apakah lebih baik kita berjalan perlahan-lahan? Mungkin aku akan mendapat banyak waktu untuk mendapatkan binatang buruan. Bahkan mungkin aku akan dapat membawa oleh-oleh buat ayah dan ibu dirumah.”

Kiai Gringsing tertawa. Katanya, “Tidak terlampau cepat, tetapi tidak terlalu lambat. Sedang.”

Ketiga anak-anak muda itu tidak menjawab lagi. Tetapi kini mereka tidak lagi meloncat-loncat seperti orang yang ketakutan.

Ketika malam datang, maka Sangkal Putung sudah tidak terlalu jauh lagi. Meskipun mereka masih berada dihutan yang tidak begitu lebat, namun mereka bertekad untuk berjalan terus.

“Bukankah kita sudah sampai dihutan tempat orang-orang Jipang dahulu berkemah?” gumam Agung Sedayu.

“Ya,” sahut Kiai Gringsing.

“Kalau begitu kita tidak usah bermalam lagi,” berkata Swandaru. “Kita berjalan terus, meskipun perutku terlampau kosong. Justru karena itu aku harus segera sampai dirumah. Mungkin masih ada sisa nasi di dapur.”

“Kalau tidak?” potong Sutawijaya.

“Aku akan berburu.”

“Di mana kau akan berburu?”

“Di kandang ayam,” jawab Swandaru.

Yang mendengar jawaban itu tertawa. Swandaru pun tertawa pula meskipun sekali-sekali ia harus menyeringai karena kakinya terantuk kayu atau batu-batu padas.

Tetapi mereka berempat benar-benar tidak ingin berhenti berjalan.

Kiai Gringsing membiarkan saja anak-anak muda itu mengambil sikap. Namun tampak juga, bahwa anak-anak muda itu telah mulai dirayapi oleh perasaan lelah. Meskipun demikian, tak seorang pun yang ingin berhenti dijalan. Sebelum fajar mereka harus sudah sampai di Sangkal Putung. Yang dapat mereka lakukan hanyalah memperlambat perjalanan untuk mengurangi kelelahan mereka. Tetapi tidak untuk berhenti.

Meskipun demikian, meskipun mereka berjalan malam hari, namun mereka tidak menempuh jalan yang terpendek. Mereka masih juga memperhitungkan Argajaya dan Sidanti. Argajaya itu dua hari yang lalu pasti sudah bertemu dengan Sidanti. Paman Sidanti itu pasti sudah banyak bercerita, dan Sidantipun telah banyak bercerita pula. Karena itu, maka dendam mereka pasti akan berganda. Gurunya Ki Tambak Wedi pasti tidak pula akan tinggal diam. Karena itu, maka mereka harus menghindari kemungkinan itu, kemungkinan bertemu dengan Sidanti, meskipun Swandaru sama sekali tidak ingin melakukannya.

Ternyata sedikit lewat tengah malam mereka telah mendekati Kademangan Sangkal Putung. Mereka telah sampai disebuah padang rumput yang tidak begitu luas. Karena itu mereka harus berjalan agak labih cepat. Sebab di padang rumput, maka bayangan mereka pasti akan lebih mudah dilihat oleh siapapun, meskipun mereka telah bergeser beberapa puluh langkah dari jalan yang terdekat.

Semakin dekat dengan mereka Kademangan Sangkal Putung, maka hati mereka pun menjadi berdebar-debar. Mereka tidak melihat sesuatu yang aneh dan mencurigakan. Mereka tidak melihat kelainan daripada biasanya. Kalau terjadi sesuatu atas Kademangan itu, maka mereka pasti melihat suatu perubahan apapun. Mereka masih melihat lampu-lampu yang sinarnya kadang-kadang meloncat dari celah-celah dinding rumah. Di mulut lorong mereka masih melihat sebuah pelita yang menyala.

Tiba-tiba Swandaru memperlambat jalannya sambil menarik nafas dalam-dalam. “Hem, ternyata Sangkal Putung tidak mengalami sesuatu.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab “Begitulah agaknya.”

“Kalau begitu, sejak kini aku akan berjalan lambat-lambat. Bukankah kita tidak perlu tergesa-gesa.”

“Ah, kau”, sahut Agung Sedayu, “akulah kini yang tergesa-gesa. Bukankah kau masih ingin berburu?”

Swandaru tertawa. Tetapi tiba-tiba ia menguap. “Aku tidak terlalu lelah tetapi aku mengantuk.”

Namun mereka tidak lagi merasa gelisah. Apalagi ketika mereka sudah memasuki padesan. Namun agaknya Swandaru ingin mengejutkan orang-orang di kademangan, karena itu katanya, “Marilah kita tidak melalui jalan. Kita membuat kejutan bagi orang-orang kademangan.”

Kedua kawan-kawannya tidak membantah. Kiai Gringsing pun menuruti saja kemauan muridnya yang aneh itu. Tetapi ketika mereka memasuki halaman kademangan lewat belakang, mereka benar-benar terperanjat. Ternyata kademangan itu benar-benar tidak seperti biasanya. Bahkan lamat-lamat Swandaru mendengar tangis perempuan. Tangis ibunya.

Mereka berempat itu pun tertegun sejenak. Suara tangis yang lamat-lamat itu masih mereka dengar. Sejenak mereka saling berpandangan. Namun tak seorang pun yang tahu, apakah sebenarnya yang telah terjadi.

Menilik tanda-tanda yang mereka jumpai di sepanjang jalan, mereka sama sekali tidak melihat bekas-bekas keributan. Dari tempat mereka menyelinap di antara pepohonan sambil meloncat-loncat di antara dinding-dinding halaman, mereka melihat gardu-gardu peronda masih juga seperti biasanya. Memang mereka melihat kesiap-siagaan yang agak lebih ketat dari kebiasaan. Tetapi mereka menyangka bahwa keadaan sekedar meningkat menjadi lebih genting, tetapi belum terlambat.

Swandaru menjadi bertambah cemas ketika tangis itu tidak juga berkurang. Ibunya tidak pernah menangis karena hal-hal yang tidak terlampau penting. Betapapun ibunya sedang sakit, tetapi ia hanya berbaring diam. Hanya apabila ia sedang sakit gigi, maka ibunya itu menangis. Tetapi tangisnya tidak sekeras kali ini.

“Agaknya memang telah terjadi sesuatu,” bisik Swandaru.

Agung Sedayu mengangguk, “Ya.”

“Tetapi tidak ada tanda-tanda yang kita temui,” sahut Sutawijaya.

Mereka pun kemudian terdiam. Ketika mereka berpaling kepada Kiai Gringsing, orang tua itu pun sedang termenung.

“Bagaimana Kiai?”

Kiai Gringsing menggeleng, “Aku tidak tahu. Marilah kita lihat.”

“Sebenarnya aku ingin bermain-main. Aku ingin mengejutkan orang-orang kademangan. Diam-diam aku ingin tidur, sehingga besok pagi mereka pasti terkejut melihat kami di pendapa, atau di gandok wetan. Tetapi agaknya kita harus berbuat lain.”

“Agaknya kita tidak sedang menghadapi persoalan yang dapat dibawa untuk bergurau,” gumam Kiai Gringsing. “Marilah jangan terlampau lama.”

Ketiga anak-anak muda itu pun kemudian mengikuti langkah Kiai Gringsing. Mereka tidak lagi berkata apa pun. Kiai Gringsing benar-benar sedang berpikir. Kalau saja Kiai Gringsing menjadi gelisah, maka persoalan yang mereka hadapi pasti bukan sekedar persoalan yang ringan.

Memang sekali-kali Swandaru hanya menganggap bahwa ibunya pasti sedang sakit gigi. Sebab baik di setiap sudut penjagaan maupun di halaman itu sendiri mereka tidak melihat kekhususan yang mencolok. Tetapi anggapan itu tidak diyakininya sendiri. Setiap kali dadanya terasa berdesir, semakin lama menjadi semakin tajam.

Mereka berhenti ketika mereka melihat dua orang berjalan di bagian belakang halaman itu. Supaya tidak menimbulkan kegaduhan maka merekapun berhenti dan menyelinap di balik pepohonan. Tetapi mereka tidak dapat berbuat begitu terlalu lama, sebab kedua orang itu ternyata menuju ke tempat yang agak terlindung. Pada saat itulah baru mereka mengetahui, bahwa di sudut yang gelap itu ternyata telah diadakan sebuah penjagaan.

Penjagaan di tempat itu tidak pernah ada sebelumnya. Penjagaan di bagian belakang ini berada di samping regol yang telah ditutup mati hanya malam hari apabila keadaan mengkhawatirkan. Sedang penjagaan yang biasa terdapat di tikungan, di gardu perondan. Sekarang di tempat itu ternyata ada sebuah penjagaan sehingga dengan demikian mereka dapat menduga sesuatu benar-benar telah terjadi. Tiba-tiba Swandaru menjadi tidak bersabar lagi. Dengan terbata-bata ia berbisik, “Kiai, aku akan melihat apakah yang telah terjadi.”

“Tunggu,” cegah Kiai Gringsing. “Jangan mengejutkan para penjaga yang sedang dalam kesiapsiagaan penuh. Kalau mereka melihat kita berempat, maka meka pasti menyangka bahwa mereka menghadapi bahaya. Dengan demikian, maka kegaduhan pasti akan timbul. Karena itu, biarlah aku sendiri menemui mereka dan mengatakan bahwa kalian telah kembali.”

“Baik Kiai,” sahut Swandaru tidak sabar.

Kiai Gringsing pun kemudian melangkah maju. Perlahan-lahan dan hati-hati. Ternyata para penjaga itu pun belum melihatnya.

Untuk menghindari kesalah-pahaman, maka Kiai Grinsing itu pun terbatuk-batuk kecil. Sehingga dari tempat yang terlindung ia mendengar seseorang menyapanya, “He, siapakah itu?”

“Aku, Tanu Metir.”

“Oh,” terdengar seseorang berdesah. “Kenapa Kiai berAda di situ?”

Kiai Grinsing tidak segera menjawab. Bahkan ia masih juga terbatuk-batuk.

Series 20

AKHIRNYA dari tempat yang terlindung itu Kiai Gringsing melihat dua orang mendekatinya.

“Benarkah kau, Kiai?”

“Ya, aku datang bersama dengan Anakmas Swandaru dan Agung Sedayu.”

“Oh, di mana mereka sekarang?”

“Itu, di situ. Kami tidak ingin mengejutkan kalian. Kalau kalian melihat kami berempat, maka kalian akan terkejut dan mungkin berbuat sesuatu diluar perhitungan kami.”

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dalam pada itu Swandaru yang tidak sabar telah keluar dari persembunyiannya diikuti oleh Sutawijaya dan Agung Sedayu.

“Seluruh kademangan menunggu kalian,” kata penjaga itu. “ Kita telah menjadi bingung.”

“Apakah mereka mencemaskan nasib kami?” bertanya Swandaru. “Dan karena itu ibu menangis?”

“Bukan saja karena itu,” jawab penjaga, “kami menghadapi soal yang lain.”

Dada Swanadru berdesir mendengar jawaban penjaga itu. Karena itu dengan serta-merta ia bertanya, “Apakah ada soal lain yang penting?”

“Ya,” sahut penjaga itu.

“Apa?”

Penjaga itu menjadi ragu-ragu sejenak. Pendapa Kademangan itu itu tinggal beberapa puluh langkah lagi. Di sana duduk para pemimpin Kademangan Sangkal Putung dan para pemimpin prajurit Pajang yang akan dapat memberi penjelasan sebaik-baiknya kepada anak itu. Karena itu maka prajurit itu menjawab, “Biarlah Ki Demang sendiri memberi penjelasan. Ki Demang berada di pringgitan.”

Swandaru tidak dapat menahan diri lagi. Tanpa menjawab sepatah katapun ia segera meloncat dan berjalan tergesa-gesa ke pendapa. Di belakangnya berjalan Agung Sedayu dan Sutawijaya bersama Kiai Gringsing.

Di pendapa Swandaru melihat beberapa orang prajurit Pajang masih juga duduk dalam beberapa gerombol. Di sana-sini mereka agaknya sedang memperbincangkan sesuatu yang cukup penting. Tetapi kesan yang didapat oleh Swandaru adalah bahwa tidak ada penyerbuan yang gawat telah terjadi. Kalau demikian, soal apakah yang penting itu.

Dengan langkah yang panjang anak-anak muda itu bersama Kiai Gringsing itu masuk kedalam pringgitan. Beberapa orang yang melihatnya menyapa pendek, dan mereka pun menyapa pendek pula.

Ketika pintu pringgitan terbuka, maka setiap orang yang duduk melingkar di sekeliling sebuah pelita minyak kelapa, berpaling memandang ke arah pintu. Hampir bersamaan mereka melihat Swandaru melangkah masuk dan hampir bersamaan pula mereka berdesis, “Kau, Swandaru?”

Swandaru tertegun. Ia melihat beberapa orang pemimpin kademangan dan prajurit Pajang lengkap. Karena itu dadanya menjadi berdebar-debar.

“Masuklah,” terdengar Untara mempersilakannya.

Swandaru tersadar dari kegelisahannya yang mencekam dadanya. Ia pun kemudian melangkah dan meletakkan busurnya di sisi pintu. Tetapi pedangnya masih juga menggantung di lambungnya. Agung Sedayu dan Sutawijaya pun kemudian meletakkan busur-busur mereka dan berjalan di belakang Swandaru duduk di dalam lingkungan para pemimpin itu.

“Hem,” Ki Demang Sangkal Putung berdesah. Ditatapnya wajah anaknya yang gemuk bulat itu dalam pandangan yang aneh, setelah dipersilahkannya pula Kiai Gringsing duduk di antara mereka.

“Kau pergi ke Mentaok?” bertanya Ki Demang.

“Ya, Ayah, bersama dengan Putranda Panglima Wira Tamtama. Mas Ngabaehi Loring Pasar.”

“Oh,” Ki Demang pun menganggukkan kepalanya. Ia tidak dapat langsung marah kepada anaknya yang gemuk itu karena kehadiran Sutawijaya.

Untara pun harus menahan kejengkelannya pula akan kepergian adiknya tanpa seijinnya.

Tetapi mereka tidak berani menegurnya, menegur Swandaru dan Agung Sedayu, sebab di ruangan itu hadir juga putera Ki Gede Pemanahan. Yang dapat mereka lakukan hanyalah berdesah di dalam dada masing-masing, sambil sekali-sekali memandangi wajah ketiga anak-anak muda itu berganti-ganti. Tetapi kedatangan mereka bersama-sama dengan Kiai Gringsing yang selama ini seakan-akan menghilang menimbulkan teka-teki pula di dalam hati mereka. Apakah Kiai Gringsing pergi juga bersama mereka? Ataukah memang Kiai Gringsing yang telah membawa ketiga anak-anak muda itu untuk bertamasya ke Alas Mentaok?

“Sepeninggalmu Swandaru, kademangan ini menjadi geger,” berkata Ki Demang penuh tekanan.

Swandaru mengangkat wajahnya. Tetapi ia tidak segera bertanya. Ia mengharap ayahnya menceritakan apa yang telah terjadi.

Dan ayahnya itu berkata pula, “Kami, seluruh isi kademangan, termasuk para prajurit dari Pajang menjadi bingung. Bingung dan cemas, sebab kami tidak tahu kemana kalian pergi. Kami hanya mendengar bahwa kalian akan pergi ke Alas Mentaok. Dan kami mengerti bagaimana buasnya alas itu.”

Swandaru menundukkan kepalanya. Di dalam hati ia berkata, “Kalau hanya aku sajalah yang dicemaskannya, maka sebenarnya kademangan ini tak perlu menjadi gelisah.” Tetapi kata-kata itu tidak terlontar lewat bibirnya.

Sutawijaya yang merasa telah membawa kedua anak-anak muda itu pun menundukkan kepalanya. Kini baru terasa olehnya akibat dari keterlanjurannya. Dengan demikian ia dapat membayangkan, bahwa ayahnya Ki Gede Pemanahan pun pasti akan marah pula kepadanya. Tetapi semuanya telah terlanjur. Semuanya telah terjadi. Mekipun di dalam hati kecilnya ia berkata, “Bukankah kami telah cukup dewasa. Adalah tidak sepantasnya kami harus selalu berada di dalam pengawasan seperti kanak-kanak supaya kamu tidak terperosok ke dalam kubangan.”

Tetapi pula pada mereka yang baru datang, bahwa sebenarnya yang telah terjadi bukanlah sekedar kecemasan mengenai kepergian mereka. Tetapi pasti telah terjadi pula sesuatu di kademangan ini sepeninggal mereka. Kecemasan atas kepergian anak-anak muda itu pasti tidak akan menimbulkan penjagaan yang semakin ketat seperti kini.

Karena itu maka Swandaru kemudian bertanya kepada ayahnya, “Ayah, apakah hanya karena kepergianku itu ayah telah memperkuat penjagaan di halaman ini dan di sudut-sudut padesan?”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Tentu tidak. Apakah kau dengar tangis ibumu?”

Swandaru mengangguk. “Ya, Ayah.”

“Kau sangka ibumu menangisimu?”

Swandaru tidak menjawab. Tetapi hantinya bergumam, “Tidak.”

“Dengarlah Swandaru. Sudah dua malam ini ibumu menangis tanpa berhenti di malam hari. Hanya di siang hari agaknya ia dapat sekedar menahan diri.”

Debar di dada Swandaru menjadi semakin cepat berderak, seakan-akan ia tidak sabar lagi menunggu ayahnya berkata. Dengan tatapan mata yang tegang ia memandangi wajah ayahnya itu.

Tiba-tiba orang tua itu berpaling kepada Kiai Gringsing yang duduk terpekur ambil menggerak-gerakkan jari-jarinya. Seakan-akan Ki Demang itu pun berkata pula kepadanya, kenapa ia selama ini tidak pula berada di kademangan?

“Kiai,” berkata Ki Demang itu kemudian, “isteriku telah kehilangan miliknya yang paling disayanginya.”

Ki Tanu Metir mengangkat wajahnya. Tetapi ia tidak dapat segera mengucapkan sesuatu.

“Ya, tetapi apa yang hilang itu, Ayah?” desak Swandaru yang kehabisan kesabaran. Apakah perhiasan ibu, emas, intan berlian, atau apa?”

Ki Demang menggeleng. “Yang hilang itu adalah adikmu, Swandaru.”

“He,” Swandaru berjingkat dari duduknya sehingga bergeser selangkah maju. Tetapi bukan saja Swandaru, Agung Sedayu pun tidak kalah terkejut. Bahkan Sutawijaya dan Kiai Gringsing pula.

Dengan terbata-bata Swandaru berkata, “Mirah, jadi Sekar Mirah yang ayah maksud?”

Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, Sekar Mirah telah hilang sejak kemarin.”

“Bagaimana maka Sekar Mirah itu dapat hilang Ki Demang?” bertanya Agung Sedayu terpatah-patah.

“Ya bagaimana?” sahut Ki Demang. “Ia hilang begitu saja. Hilang dari kademangan ini. Aku pun bertanya seperti itu, kenapa Sekar Mirah dapat hilang?”

Kiai Gringsing masih juga berdiam diri. Ia tahu benar betapa perasaan Ki Demang menjadi gelap, sehingga dengan demikian maka orang itu akan mudah menjadi marah.

“Nah, sekarang aku bertanya kepadamu, Swandaru,” berkata Ki Demang itu, “apa yang kau dapat dengan perjalananmu itu? Kalau kau ada di rumah, mungkin keadaan akan berbeda.”

Yang terdengar adalah Swandaru menggeretakkan giginya. Dengan gemetar ia kemudian bertanya, “Apakah tak seorang pun yang tahu, dengan siapa Sekar Mirah pergi? Apakah ia sengaja pergi dengan suka-rela, apakah seseorang telah menculiknya?”

“Pertanyaanmu itu gila sekali. Apakah kau sangka adikmu itu sebinal kau ini? Kenapa kau dapat berpikir bahwa adikmu itu dengan suka-rela meninggalkan kademangan? Kau sangka adikmu sudah tergila-gila pada Sidanti dan pergi mencarinya?”

Tetapi dada Swandaru pun sudah sesak pula, sehingga ia menjawab, “Habis, bagaimana aku harus menanggapi persoalan ini? Beri aku jalan untuk berbuat sesuatu ayah. Malam ini juga aku akan berbuat.”

Wajah Ki Demang pun menjadi kian tegang. Hampir berteriak ia berkata, “Terlambat. Terlambat. Apa artinya kepergianmu selama ini?”

Swandaru tidak menjawab. Tetapi ia mengepalkan tinjunya.

“Tak ada yang kau dapatkan. Tetapi kalau kau mati juga di perjalanan maka ibumu akan mati membeku, tahu? Sekarang adikmu telah hilang. Hilang masuk ke dalam lingkungan yang tidak mudah dapat disusupi.”

“Ya, kemana. Kemana ia pergi.”

“Seseorang melihat, bahwa pada pagi-pagi hari ketika adikmu pergi ke warung, tiba-tiba ia diterkam oleh seorang laki-laki. Bukan seorang laki-laki kademangan ini. Tetapi orang yang melihat itu telah mengenalnya. Namanya Sidanti.”

“Sidanti. Sidanti. Jadi, adikku dibawa oleh Sidanti?” teriak Swandaru.

“Ya. Orang yang melihatnya itu pun hampir saja mati ketakutan. Tetapi Sidanti tidak berbuat sesuatu atasnya. Bahkan anak itu berkata, “Katakan kepada ayahnya, bahwa akulah yang telah membawa Sekar Mirah.”

Terdengar gigi Swandaru berderak. Justru dengan demikian maka sejenak ia terbungkam. yang terdengar hanyalah dengus nafasnya yang berkejaran lewat lubang-lubang hidungnya.

Untara, Widura, dan Kiai Gringsing sejenak hanya dapat mendengarkannya. Persoalan itu hampir merupakan persoalan keluarga, sehingga mereka tidak segera dapat turut campur. Sedang Sutawijaya pun menjadi seakan-akan terbungkam. Ia menyadari kesalahannya, bahwa ia telah membawa Swandaru pergi. Tetapi apakah apabila Swandaru ada di rumah, hal itu dapat dihindari? Tiba-tiba Sutawijaya teringat kepada Argajaya. Apakah ada hubungannya dengan dendam yang telah ditanamnya di dalam dada orang itu? Dada Sutawijaya pun menjadi berdebar-debar pula.

Tetapi Agung Sedayu mempunyai sikap yang lain, Meskipun ia bukan salah seorang keluarga Ki Demang Sangkal Putung, tetapi ia pun merasa kehilangan pula. Sehingga tiba-tiba ia pun berkata lancing, “Tak ada lingkungan yang tidak dapat disusupi. Tak ada dinding yang tidak dapat dipecahkan.” Agung Sedayu itu pun kemudian berpaling kepada kakaknya. “Kakang Untara. Aku akan kembali ke Jati Anom. Dari sana aku akan memanjat lereng Merapi untuk menemukan Sekar Mirah kembali.”

Kini barulah Untara dapat turut berbicara. “Seharusnya memang demikian, Agung Sedayu. Tetapi di lereng Merapi itu tidak hanya terdapat Sidanti seorang diri.”

“Di Sangkal Putung tidak hanya terdapat Sekar Mirah sendiri. Tidak hanya terdapat Ki Demang sendiri. Tetapi Sidanti dapat mengambil Sekar Mirah. Apakah aku tidak dapat melakukan hal yang sebaliknya?” sahut Agung Sedayu tidak kalah lantangnya dengan suara Swandaru.

Tetapi Sutawijaya yang merasa, bahwa ia telah terlibat pula dalam persoalan itu karena ia telah membawa kedua anak-anak muda itu, berkata pula, “Aku ikut serta. Kita pergi bertiga. Kita masuki padepokan Tambak Wedi. Kita bakar segenap isinya setelah kita membebaskan puteri Ki Demang itu.”

Semua orang yang mendengar suara Sutawijaya itu berpaling kepadanya. Mereka segera melihat wajah anak muda itu berwarna kemerah-merahan menahan perasaannya. Bahkan tangannya pun telah dikepalkannya dan diketuk-ketuknya pahanya dengan tinjunya itu.

Tetapi terdengar kemudian Untara menjawab, “Sayang Adi Sutawijaya. Ayahanda berpesan kepadaku, bahwa adi Sutawijaya harus segera kembali ke Pajang. Demikian Adi datang ke Sangkal Putung ini, maka secepat mungkin Adi harus menyusul ayahanda supaya ayahanda tidak terlampau cemas dan Gusti Adiwijaya pun tidak terlampau lama menanti-nanti kedatangan Adimas.”

Wajah Sutawijaya yang tegang itu menjadi berkerut-merut. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Jadi ayah sudah kembali ke Pajang?”

“Ya. Sebagaimana Adimas lihat. Di sini ayahanda sudah tidak ada lagi. Hanya beberapa orang prajurit pilihan berkuda telah ditinggalkannya untuk membawa Adi kembali.”

Sutawijaya terhenyak dalam kekecewaan. Namun tiba-tiba ia berkata, “Baik. Baik, aku akan kembali bersama prajurit pengawal itu. Tetapi biarlah aku turut menyelesaikan masalah ini dahulu. Hilangnya Sekar Mirah merupakan tantangan yang harus dijawab. Bukan sekedar direnungkan dan ditangisi.”

Untara menganggukkan kepalanya. Bahkan dada Ki Demang Sangkal Putung pun menjadi berdebar-debar pula karenanya.

“Adi Sutawijaya benar. Tetapi kita tidak boleh kehilangan keadaran dalam berbuat. Kita tahu benar siapakah Sidanti, siapakah Ki Tambak Wedi. Dan siapakah yang berada bersama-sama dengan mereka di dalam sarangnya. Bagi Adimas, gambaran padepokan itu masih terlampau kabur. Kita belum tahu pasti kekuatan mereka. Bahkan bagi kita masih jauh lebih jelas melihat kekuatan Tohpati daripada kekuatan Tambak Wedi.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Naluri keprajuritannya kini membenarkan pendapat Untara itu mengatasi nafsu mudanya. Kembali ia mengangguk-angguk. Tetapi kemudian ia pun terdiam.

Tetapi dalam pada itu terdengar Agung Sedayu berkata, “Kakang Untara, kita tidak dapat membiarkan Sekar Mirah terlampau lama di sarang Sidanti. Itu terlampau berbahaya baginya. Bagi seorang gadis.”

“Kita berangkat sekarang,” potong Swandarau. “Sidanti mampu mengambil Sekar Mirah di Sangkal Putung. Kenapa kita tidak mampu mengambilnya?”

“Ada bedanya Adi Swandaru. Di sini Sekar Mirah bebas tanpa pengawasan. Sehingga karena itulah maka di pagi-pagi itu Sidanti berhasil menunggunya di pinggir jalan di tempat yang terlindung. Tetapi sudah tentu tidak demikian bagi Sekar Mirah di padepokan Tambak Wedi. Di sana ia pasti terkurung di tempat yang selalu mendapat pengawasan.

“Kalau begitu kita serbu padepokan itu dengan kekuatan segelar sepapan. Semua anak-anak Sangkal Putung siap melakukannya demi kehormatan kami, nama kademangan ini. Sekar Mirah bukan saja adik kandungku, tetapi Sekar Mirah merupakan kembang dari kesucian kami, kesucian nama keluarga kami. Setiap noda yang melekat padanya, adalah noda yang tercoreng di wajah kami. Di wajah Kademangan Sangkal Putung.”

Mendengar kata-kata itu tiba-tiba Ki Demang pun menjadi bertambah tegang. Ia pun sadar apa yang dapat terjadi atas gadisnya itu. Karena itu maka tiba-tiba orang tua itu pun berkata, “Kita akan menyusulnya ke lereng Merapi. Setiap laki-laki akan turut serta merebut anak itu kembali.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia adalah seorang senopati. Ia tidak dapat berbuat menurut nafsu yang menyala-nyala. Ia tidak dapat berbuat hanya berdasarkan perasaan, tidak berdasarkan perhitungan. Karena itu ia berkata, “Benar Ki Demang. Kita akan segera menyusul Sekar Mirah ke padepokan Ki tambak Wedi. Tetapi kita tidak boleh terjerumus dalam kesalahan karena penglihatan kita tertutup oleh kemarahan yang meluap-luap. Dan itulah yang dikehendaki oleh Sidanti dan Ki Tambak Wedi, sehingga kita akan kehilangan kejernihan pikiran.”

“Kita sudah cukup lama berpikir. Bagi Sangkal Putung tidak akan ada jalan lain daripada menerobos masuk ke dalam sarang orang gila itu,” sahut Swandaru, yang disambung oleh Agung Sedayu, “Hilangnya Sekar Mirah, adalah tantangan dan penghinaan bagi kami yang berada di kademangan ini pula. Bukankah dengan demikian Sidanti ingin mengatakan bahwa tak ada laki-laki di kademangan ini? Tak ada seorang pun yang mampu melindungi gadis itu?”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tahu bahwa perasaan adiknya itu pun sedang terbakar. Ia tahu perasaan yang tersimpan di dada anak muda itu terhadap Sekar Mirah, sehingga dengan demikian maka hatinya pun menjadi gelap. Anak yang biasanya selalu mempergunakan berbagai macam pertimbangan dalam setiap tindakan, bahkan lebih mirip dengan sifat yang selalu ragu-ragu, kini tiba-tiba tidak lagi dapat membuat pertimbangan-pertimbangan sama sekali.

Tetapi menghadapi wajah-wajah yang tegang, hati-hati yang tegang dan pikiran-pikiran yang gelap, Untara menjadi cemas.

Apalagi ketika Ki Demang sendiri berkata, “Swandaru, kita siapkan orang-orang kita besok. Kita segera menyusul adikmu.”

Untara benar-benar kehilangan cara untuk mencegahnya. Tetapi ia tahu benar bahaya yang dapat terjadi. Bahaya bagi pasukan Sangkal Putung. Sudah tentu bahwa pasukannya sendiri tidak akan dapat membiarkan orang-orang Sangkal Putung itu bertindak. Tetapi dengan cara yang demikian itu, maka ia akan berbuat suatu kesalahan bagi seorang senopati. Bertindak dengan tergesa-gesa sebelum tahu benar imbangan kekuatan yang ada. Sebab bukan mustahil bahwa di padepokan Ki Tambak Wedi telah tersusun kekuatan yang sangat rapi. Bukan pula mustahil bahwa Ki Tambak Wedi telah membuat rencana tertentu. Masuk ke dalam kademangan ini selagi kademangan ini menjadi kosong. Itulah sebabnya ia harus membuat perhitungan-perhitungan yang lebih masak menghadapi hantu lereng Merapi itu.

Untara menjadi semakin bingung menghadapi orang-orang yang telah dibakar oleh perasaannya itu. Swandaru yang mendapat perintah ayahnya itu segera menyahut, “Baik, Ayah. Malam ini juga aku akan mempersiapkan anak-anak muda Sangkal Putung.”

Untara menjadi bertambah gelisah. Tiba-tiba tanpa disadarinya ditatapnya wajah pamannya, Widura, kemudian Kiai Gringsing yang masih saja berdiam diri seakan-akan minta pertimbangan, bagaimana mengatasi persoalan yang sedang dihadapinya.

Kiai Gringsing yang selama itu hanya berdiam diri sambil mendengarkan persoalan yang terjadi di Sangkal Putung itu pun mengangkat wajahnya. Perlahan-lahan tetapi jelas ia berkata, “Memang, kita harus segera menemukan kembali Angger Sekar Mirah.”

Untara menarik alisnya tinggi-tinggi. Tetapi dibiarkannya Kiai Gringsing berkata seterusnya, “Kita tidak akan sampai hati membiarkannya terlampau lama di tangan Angger Sidanti.”

Swandaru pun dengan serta-merta menyambung, “Nah. Bukankah begitu, Kiai. Kita harus segera menemukan Sekar Mirah.”

“Secepatnya,” sahut Kiai Gringsing.

“Ya, secepatnya,” Agung Sedayu memotong. “Sekarang kita harus segera mempersiapkan diri.”

“Tetapi ingat. Kita harus menyelamatkannya. Karena itu secepatnya, namun tidak boleh kehilangan maksudnya, menyelamatkannya.”

Swandaru dan Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun yang bertanya adalah Ki Demang Sangkal Putung, “Maksud Kiai?”

“Kita harus menyadari bahwa Sekar Mirah kini berada di tangan Sidanti.”

Ki Demang menjadi semakin tidak mengerti. Karena itu ia berkata, “Ya, kita menjadi bingung karena Sekar Mirah berada di tangan anak gila itu.”

“Nah, karena itu kita harus memperhitungkan gadis itu. Gadis yang harus kita selamatkan. Kita tidak boleh terbakar oleh nafsu dan kemarahan tanpa menghiraukan titik bidik yang sebenarnya. Kita hanya memperhitungkan kekuatan pasukan yang mungkin akan mampu memecahkan pertahanan padepokan Ki Tambak Wedi dan kemudian menjadikannya karang abang. Tetapi kita lupa bahwa Sekar Mirah berada di sana, di dalam kekuasaan orang-orang itu, di dalam pertahanan yang ingin kita pecahkan.” Kiai Gringsing berhenti sejenak. Dilihatnya sorot pandangan mata yang keheran-heranan di sekitarnya. Ki Demang, Swandaru, Agung Sedayu, dan beberapa orang Sangkal Putung yang lain.

“Ki Demang,” berkata Kiai Gringsing seterusnya, “Sidanti dan Ki Tambak Wedi adalah orang-orang yang dapat berbuat hal-hal yang tidak dapat kita duga sebelumnya. Kalau kita dengan serta-merta memecahkan pertahanan mereka, maka dengan demikian kita hanya menuruti nafsu sendiri. Kita telah kehilangan tujuan kita, menyelamatkan Sekar Mirah. Sebab apabila pertahanan mereka tidak dapat melindungi padepokan mereka, maka nyawa Sekar Mirah menjadi terancam. Mereka akan melepaskan kemarahan mereka pada Sekar Mirah. Mungkin dengan sengaja mereka membuat kita menjadi ngeri. Dengan alat gadis itu mereka membalas kekalahan mereka. Membalas sakit hati mereka. Nah, bayangkanlah, apa yang akan dapat terjadi dengan Sekar Mirah?”

Ki Demang yang hampir-hampir tidak dapat mengekang dirinya itu tiba-tiba menyadari keadaannya dan keadaan puterinya itu. Dengan demikian maka terasa dadanya menjadi kian pepat, bahkan hampir-hampir meledak.

Sedang Swandaru dan Agung Sedayu dapat mendengar keterangang Kiai Gringsing itu dengan baik. Kata demi kata. Dengan demikian berbenturanlah perasaan mereka dengan pengertian mereka yang mereka dengar dari Kiai Gringsing itu.

Sejenak suasana di pringgitan itu dicengkam oleh kesepian. Kesepian yang seakan-akan membakar jantung.

Tiba-tiba terdengar suara Ki Demang menyobek, “Lalu, apakah yang harus kita lakukan, Kiai? Apakah kita akan membiarkan saja semuanya itu terjadi tanpa berbuat sesuatu? Pendapat Kiai memang benar. Memang dapat diterima oleh nalar. Tetapi apabila kita hanya berpangku tangan, apakah Sekar Mirah itu akan dilepaskan atau akan dapat melepaskan dirinya sendiri? Atau kita harus menunggu sampai Sidanti dan orang-orang liar di padepokan itu sudah puas dengan segala macam perbuatannya atas gadis itu dan melemparkannya ke luar sarang mereka, atau membunuhnya?”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi orang tua itu tidak kehilangan ketenangannya. Dengan sareh ia berkata, “Tentu tidak, Ki Demang. Kita pasti harus berusaha. Tetapi usaha kita itulah yang harus kita pertimbangkan masak-masak. Kita dapat menangkap ikannya tanpa mengeruhkan airnya, bahkan membinasakan ikan itu sendiri.”

Ki Demang terdiam sejenak. Tetapi hatinya masih juga bergolak. Seakan-akan ia akan segera meloncat saat itu juga ke padepokan Tambak Wedi di lereng Merapi. Dalam pada itu terdengar Untara berkata, “Kita harus mempunyai persiapan yang baik untuk merebut kembali Sekar Mirah. Bukan saja merebut Sekar Mirah, tetapi sekaligus membinasakan orang-orang Jipang yang tidak mau mempergunakan kesempatan yang baik, yang telah aku berikan kepada mereka.”

“Ah,” desah Ki Demang, “aku akan membantu membinasakan Sanakeling dengan segenap kekuatannya. Tetapi rencana itu jangan menghambat usahaku membebaskan anak itu. Kalian jangan berpihak pada kepentingan kalian sendiri. Jangan berpihak pada pandangan searah. Mungkin bagi kalian tidak ada bedanya, apakah kita akan menyerang Sanakeling, Sidanti, dan Tambak Wedi itu sekarang, atau besok, atau lusa, asal kalian yakin kekuatan kita sudah cukup, kita menyerang. Kita hancurkan mereka. Tetapi aku tidak dapat berbuat demikian. Aku harus segera membebaskan anakku sebelum terjadi sesuatu atasnya.”

Untara hanya dapat menarik nafas dalam-dalam mendengar jawaban Ki Demang Sangkal Putung yang lebih banyak dipengaruhi oleh perasaan seorang ayah daripada seorang demang yang menghadapi lawan di peperangan. Demikian juga agaknya Swandaru dan Agung Sedayu. Bahkan segenap orang-orang Sangkal Putung. Bukan saja orang-orang Sangkal Putung, sebagian prajurit-prajurit Pajang sendiri merasa apa yang dilakukan oleh Sidanti itu merupakan penghinaan dan tantangan yang harus segera mendapat pelayanan sewajarnya.

Yang menjawab kemudian adalah Kiai Gringsing. “Ki Demang benar. Kita tidak dapat membuat pertimbangan dari segi yang timpang. Kita tidak boleh memberatkan kepentingan Angger Untara sebagai seorang Senopati Pajang. Tetapi kita pun tidak boleh hanya menuruti perasaan sendiri. Harga diri yang berlebih-lebihan sebagai laki-laki pilihan. Harga diri yang terbakar karena penghinaan itu. Dengan demikian, maka kalian sudah kehilangan sasaran yang sebenarnya. Angger Untara terlalu memberatkan tugasnya sebagai seorang senopati, sedang Ki Demang terlalu dibebani oleh nilai-nilai kejantanan yang sedang terhina. Namun kedua-duanya tidak akan menguntungkan Sekar Mirah. Terlalu cepat maupun terlalu lambat.”

“Ki Tanu Metir,” sahut Ki Demang, “Mirah adalah seorang gadis yang berada di antara laki-laki yang buas. Apakah yang dapat terjadi padanya?”

“Bermacam-macam,” sahut Kiai Gringsing.

“Nah, bukankah Kiai menyadari kemungkinan yang bermacam-macam itu?” bertanya Ki Demang.

“Ya, bermacam-macam. Di antaranya mencincang Sekar Mirah dan mengikat mayatnya di pintu gerbang yang akan kita lalui dengan pasukan segelar sepapan.”

“He,” mata Ki Demang terbeliak. Namun kemudian wajah yang menyala itu tertunduk lesu. Jawaban Kiai Gringsing tepat mengenai sasarannya. Kemungkinan itu pun memang dapat terjadi seperti kemungkinan-kemungkinan yang lain.

“Tetapi, lalu bagaimana?” terdengar suara Ki Demang menurun.

Kini kembali pringgitan itu terdampar pada kesenyapan yang tegang. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri-sendiri. Apakah kira-kira yang dapat mereka lakukan untuk membebaskan kembali Sekar Mirah dari tangan Sidanti?

Swandaru dan Agung Sedayu menjadi kian gelisah, seakan-akan mereka itu duduk di atas bara. Terdengar gigi mereka gemeretak dan nafas mereka saling memburu. Di sisi mereka, Sutawijaya duduk tepekur. Kepalanya menjadi pening. Sebenarnya banyak hal yang ingin dikatakannya, tetapi ia harus kembali ke Pajang. Tidak mungkin baginya untuk menolak perintah ayahnya lagi. Karena itu betapa kecewanya, betapa ia menyesal telah mengajak kedua anak-anak muda itu. dan kini ia dikecewakan pula karena ia tidak mendapat kesempatan untuk ikut serta merebut kembali Sekar Mirah. Bukan karena Sekar Mirah adalah seorang gadis yang cantik, tetapi Sutawijaya pun merasa tersinggung pula atas perbuatan Sidanti itu.

Dalam pada itu terdengar suara Ki Demang bernada rendah, “Apakah aku akan membiarkan secercah noda melekat pada kademangan ini karena keluargaku? Apakah aku harus membiarkan Sekar Mirah menjadi korban karena persoalan yang seharusnya dipikul oleh kekuatan jantan di kademangan ini? Oh, persoalan itu akan menjadi saling mengait. Seperti senjata Sidanti yang mengerikan itu. nenggala berujung rangkap. Dengan ujung dan pangkalnya, ia mampu membuat kita luka rangkap sekali gerak.”

“Itulah yang sebenarnya kita hadapi, Ki Demang,” sahut Ki Tanu Metir. “Dengan demikian kita harus berhati-hati menghadapinya. Kita tidak boleh tergesa-gesa tanpa memperhitungkan setiap kemungkinan. Namun yang pertama-tama harus kita perhatikan adalah keselamatan Sekar Mirah. Kalau kita berhasil membebaskan Sekar Mirah dengan selamat, maka kedua-duanya telah dapat kami jawab sekaligus, seperti kita juga menggerakkan senjata yang tajam di kedua ujungnya.”

“Ya, demikianlah,” gumam Ki Demang. “Tetapi, bagaimana? Pertimbangan dan pertimbangan saja tidak akan banyak bermanfaat.”

“Memang tidak bermanfaat. Tetapi perbuatan tanpa pertimbangan pun akan sama saja jeleknya.”

“Baiklah, Kiai,” berkata Ki Demang, “sekarang bagaimana pertimbangan Kiai?”

Kiai Gringsing menegakkan punggungnya. Seakan-akan punggung itu menjadi sangat pegal. Kemudian orang itu pun menarik nafasnya dalam-dalam.

Kepada Untara Kiai Gringsing itu pun bertanya, “Angger Untara, apakah ada kekuatan yang cukup kini di Sangkal Putung?”

Untara memandang wajah orang tua itu dengan penuh pertanyaan. Senopati di tempat itu adalah dirinya. Tetapi agaknya Kiai Gringsing mampu pula membuat perhitungan-perhitungan menurut tata keprajuritan.

Namun Untara tahu benar, bahwa Kiai Gringsing memang bukan orang kebanyakan, sehingga dengan demikian ia merasa tidak berkeberatan untuk menjawab. “Tidak terlampau cukup Kiai. Sebagian dari prajurit Pajang sedang mengawal orang-orang Jipang yang telah menyerah bersama Ki Gede Pemanahan. Mereka sampai saat ini belum kembali. Bahkan menurut Ki Gede Pemanahan, akan datang pula sepasukan prajurit yang lain, yang harus pergi bersama aku ke Jati Anom untuk menyelesaikan persoalan Sanakeling dan Sidanti.”

“Bagus,” berkata Kiai Gringsing. “Jadi akan datang pasukan baru yang segar, sedang yang lain tetap berada di Sangkal Putung ini bersama Angger Widura?”

“Demikianlah seharusnya menurut perhitungan Ki Gede Pemanahan. Sebab Ki Tambak Wedi dapat dengan tiba-tiba saja berada di sekitar tempat ini selagi kita berada di Jati Anom.”

Kini Kiai Gringsing itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditatapnya satu demi satu anak-anak muda yang sedang dilanda oleh arus kemarahan yang hampir tak tertahankan. Tetapi Kiai Gringsing sendiri tidak segera menemukan jalan, bagaimanakah sebaiknya yang harus dilakukan.

Dalam keheningan yang kemudian mencengkam pringgitan itu terdengar beberapa kali Swandaru berdesah. Sekali-sekali ia menggeser duduknya dengan gelisah.

Tetapi yang lebih dulu bertanya adalah Agung Sedayu, “Lalu bagaimana Kiai? Apakah yang harus kita kerjakan?”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Kita harus berpikir dengan kepala yang dingin. Kita harus mampu mempertimbangkan tanpa diburu oleh nafsu supaya perimbangan kita menjadi jernih.”

“Ya, lalu bagaimana perimbangan yang jernih itu?” sahut Swandaru. “Apakah kita harus pergi segelar sepapan ke Jati Anom ataukah kita harus menunggu saja?”

Adalah sangat sulit untuk menenangkan hati anak-anak muda itu. karenanya maka Kiai Gringsing pun harus segera berbuat sesuatu untuk memecahkan ketegangan hati mereka. Kalau ketegangan yang telah memuncak itu tidak dapat tersalur secara wajar, maka mereka pasti akan berbuat sesuatu yang justru menguntungkan Sidanti. Bukan mustahil kalau Ki Tambak Wedi telah menyusun rencana sebaik-baiknya untuk menjebak mereka. Rencana penculikan itu pun mungkin adalah hasil dari perasan otak hantu tua itu. karena itu maka yang harus dilakukannya adalah terlampau rumit.

Meskipun demikian, Kiai Gringsing itu harus menemukan suatu pemecahan. Pemecahan yang tidak membahayakan Sekar Mirah, tidak merugikan Untara sebagai senopati yang mempunyai tanggung jawab yang besar. Bukan hanya sekedar soal Sekar Mirah saja, tetapi persoalan yang jauh lebih luas lagi, namun tidak pula menahan arus kemarahan anak-anak muda itu, Swandaru dan Agung Sedayu. Karena itu maka orang tua itu pun berkata, “Swandaru, marilah kita lihat persoalan ini dari beberapa kemungkinan. Di antaranya adalah, bahwa Ki Tambak Wedi telah mempergunakan Sekar Mirah sebagai perisai.”

“Tidak, Kiai,” sahut Swandaru, “Sidanti benar-benar memerlukan Sekar Mirah sebagai kelanjutan hubungan mereka di kademangan ini dahulu. Dengan demikian maka sangat besar kemungkinannya bahwa Sekar Mirah akan tetap hidup. Tetapi akibat-akibat lain daripada itulah yang harus kami cegah.”

“Mungkin juga, tetapi ada juga kemungkinan yang lain. Kalau Sidanti harus lari meninggalkan padepokannya karena serbuan pasukan Sangkal Putung dan Pajang, maka Sidanti tidak akan sempat membawa gadis itu. Nah, daripada ia kehilangan Sekar Mirah, maka lebih baik baginya apabila Sekar Mirah itu dibinasakannya sama sekali. Itulah yang harus kita hindari.”

“Oh,” Swandaru memegang kepalanya dengan kedua tangannya, “soal itu akan selalu kembali dan melingkar-lingkar. Tetapi kita tidak dapat membiarkannya dengan berbantah tanpa berbuat sesuatu di sini.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Muridnya itu agak terlampau berani menjawab setiap kata-katanya. Tetapi Kiai Gringsing yang sudah lanjut itu dapat mengerti, apakah sebabnya maka Swandaru dan Agung Sedayu itu seakan-akan menjadi kehilangan pengamatan diri.

Maka jawab orang tua itu kemudian, “Karena itu Swandaru. Coba dengarlah, aku akan memberikan beberapa cara yang mungkin dapat ditempuh.” Kiai Gringsing berhenti sejenak. Kepada Untara ia berkata, “Angger. Senapati di daerah ini adalah Angger Untara. Meskipun demikian perkenankanlah saya mengusulkan beberapa cara yang mungkin dapat ditempuh.”

“Silahkanlah, Kiai,” sahut Untara.

“Apakah pasukan yang sekarang mengawal orang-orang Jipang ke Pajang itu akan segera kembali dan bahkan bersama-sama dengan pasukan yang baru untuk Angger Untara?”

“Demikianlah menurut Ki Gede Pemanahan.”

“Bagus. Kalau yang berkata demikian adalah Ki Gede Pemanahan maka pasti akan terjadi,” sejenak Kiai Gringsing itu berhenti, kemudian diteruskannya, “Kalau demikian, maka sebaiknya Angger Untara menunggu kedatangan pasukan itu di sini.”

“Kenapa harus menunggu Kiai,” potong Agung Sedayu, “bagaimana kalau pasukan itu tidak segera datang?”

“Kita tinggal akan menemukan Sekar Mirah yang telah menjadi klaras. Menjadi daun yang telah kering tanpa arti,” sambung Swandaru.

“Tunggu dulu,” sahut Kiai Gringsing, “bukan maksudku bahwa kita hanya menunggu saja sampai pasukan itu datang. Kita harus memperhitungkan, bahwa di belakang Sidanti dan Sanakeling itu berdiri Ki Tambak Wedi,” Kiai Gringsing itu terdiam sejenak. Tampaklah kerut-merut menjadi semakin dalam di dahinya. Kemudian ia berkata pula, “Kita harus bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Agal ataupun halus. Karena itu pasukan Angger Untara itu sangat kami perlukan. Namun sementara itu kita tidak akan tinggal diam. Kita harus berusaha mendekati padepokan Ki Tambak Wedi dengan diam-diam. Nah, tugas itu dapat diserahkan kepadaku.”

“Bersama aku,” hampir bersamaan Agung Sedayu dan Swandaru berteriak.

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baik, baik,” katanya, “kami bertiga pergi mendahului pasukan Pajang. Tetapi pesanku Sangkal Putung jangan dikosongkan. Sangkal Putung harus tetap dijaga dengan kekuatan yang cukup. Ini adalah tugas Angger Widura. Mudah-mudahan kita dapat memecah perhatian Ki Tambak Wedi, seperti Ki Tambak Wedi berhasil membuat kepala kita menjadi pening. Mudah-mudahan perhatian KI Tambak Wedi tertarik pada pasukan Untara yang segera akan mendekati padepokan mereka. Sementara itu kami bertiga mendapat kesempatan untuk mendekat. Mudah-mudahan kita akan dapat melihat setidak-tidaknya mendengar nasib Sekar Mirah.”

Pringgitan itu kini terdiam, seakan-akan ingin mencernakan kata-kata Kiai Gringsing itu. Beberapa otang saling berpandangan untuk mendapatkan pertimbangan, meskipun hanya lewat sorot mata masing-masing.

Ki Demang Sangkal Putung mengagguk-anggukkan kepalanya sambil berdesah. Tetapi ia tidak berkata sesuatu.

Yang mula-mula berbicara adalah Widura, yang selama ini lebih mendengarkan daripada menyatakan pendapatnya, katanya, “Apakah menurut pertimbangan Kiai, Ki Tambak Wedi masih akan kembali lagi ke kademangan ini? Apakah Ki Tambak Wedi mempunyai kepentingan yang sama seperti Tohpati terhadap Sangkal Putung?”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya, jawabnya, “Aku kira demikian. Ki Tambak Wedi tidak akan dapat menyediakan makan yang cukup untuk waktu yang panjang kepada Sanakeling dan anak buahnya. Mereka pada suatu saat pasti memerlukan lumbung yang dapat disadap untuk kepentingan makan mereka.”

“Apakah tidak ada daerah yang lebih dekat dari Sangkal Putung, Kiai. Misalnya Jati Anom.”

“Tentu mungkin. Tetapi kenapa Tohpati memilih kademangan ini daripada kademangan-kademangan lain? Pasti Tohpati itu pun mempunyai alasan yang telah memaksanya berbuat demikian. Bukan mustahil bahwa Ki Tambak Wedi pun mempunya pilihan yang sama. Sebab menurut penilaian oang-orang di luar kademangan ini, di Sangkal Putung tersimpan kekayaan yang berlipat ganda dibandingkan dengan kademangan-kademangan yang lain, sehingga pengorbanan yang diberikan untuk merebut kademangan ini tidak akan sia-sia.”

Ki Demang Sangkal Putung mengangguk-angguk. Di dalam hati kecilnya terbersit pula secercah kebanggaan atas pujian itu, tetapi kebanggaan itu benar-benar harus ditebus dengan sangat mahal. Bahkan kini anak gadisnya harus direbutnya dari tangan orang-orang yang memuakkan itu.

Widura pun mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Seperti Ki Demang ia merasa, bahwa Sangkal Putung menelan tebusan yang mahal. Tetapi Widura adalah seorang prajurit. Seorang prajurit yang bukan saja harus mempertahankan lumbung-lumbung yang akan dapat memberi makan kepada lawan, tetapi prajurit memang harus melindingi hak dan milik rakyat. Bukan sebaliknya. Karena itu, seandainya Sangkal Putung itu tak ada apa-apa pun, adalah kewajiban setiap prajurit Pajang untuk menjaga dan melindunginya dari pihak-pihak yang dapat menelan daerah itu, memperkosa hak dan kemanusiaan.

Yang bertanya kemudian adalah Swandaru, “Nah, apakah kita akan berangkat sekarang?”

“Jangan tergesa-gesa dan kehilangan perhitungan,” jawab gurunya. “Beristirahatlah. Besok kita berangkat setelah kita membuat persiapan-persiapan secukupnya.”

“Kenapa besok, guru?” sahut Agung Sedayu. “Waktu yang sekejap sangat berguna bagi kita. Yang sekejap itu akan dapat meluluhkan segenap masa depan bagi Sekar Mirah. Yang sekejap itu akan bernilai seumur hidupnya.”

“Itu kalau kita dapat memanfaatkan waktu yang sekejap itu,” sahut Kiai Gringsing. “Tetapi kalau kita gagal sama sekali karena kita ditelan oleh nafsu, maka bagi kita bukan saja kehilangan waktu yang sekejap, tetapi kita akan kehilangan semuanya. Sekarang sebaiknya kita beristirahat. Kita dapat menilai pembicaraan ini. Mungkin kita akan menemukan pikiran-pikiran yang ternyata lebih bernilai dari pikiran-pikiran yang kita temukan dengan tergesa-gesa dalam pertemuan ini. Pertemuan yang lebih banyak dipengaruhi oleh nafsu kemarahan, kecemasan dan ketergesa-gesaan daripada perhitungan yang cermat. Apalagi perhitungan yang bersasaran luas. Hubungan yang bersangkut-paut dengan sikap Pajang terhadap Sanakeling dan Sidanti dan sikap Sangkal Putung atas hilangnya Sekar Mirah. Kita masing-masing tidak dapat memandang dari satu segi. Sebab kedua-duanya memiliki nilainya sendiri-sendiri yang tak dapat saling dipisahkan.”

Ki Demang Sangkal Putung menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba untuk dapat mengerti keterangan itu. Keterangan Ki Tanu Metir. Ketika ia memandang Untara, maka anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata Ki Tanu Metir benar-benar berpandangan cukup luas, mencakup segenap kepentingan yang dihadapi. Untuk mendapatkan Sekar Mirah bukan berarti dapat merusak segenap rencana sikap yang harus ditempuh oleh para prajurit Pajang. Sekar Mirah bagi Pajang hanya merupakan salah satu soal dari seribu macam soal yang harus diatasi. Meskipun demikian Untara tidak akan dapat mengabaikannya. Apalagi Untara menyadari, bahwa adiknya, Agung Sedayu dan Swandaru benar-benar terbakar oleh peristiwa hilangnya Sekar Mirah.

Demikianlah maka akhirnya pertemuan itu pun dibubarkan. Swandaru segera pergi ke bilik ibunya. Ditemuinya ibunya masih juga menangis ditunggui oleh beberapa orang perempuan. Ketika dilihatnya Swandaru masuk ke dalam biliknya maka tiba-tiba tangisnya mengeras. Seakan-akan diteriakkan kepedihan hatinya sepuas-puasnya.

“Oh, anakku Ngger, kemana kau pergi selama ini? Sepeninggalmu ternyata adikmu hilang dicuri orang. Apakah kau akan membiarkannya saja? Apakah kau tidak akan berusaha untuk mengambilnya kembali? Swandaru, kalau adikmu tidak dapat diketemukan, o, lebih baik aku mati saja sama sekali.”

Dada Swandaru seakan-akan terbelah mendengar tangis ibunya. Dengan dada yang sesak ia berjongkok di samping pembaringan ibunya. Perlahan-lahan ia berkata, “Ibu, aku berjanji bahwa aku akan mengambil Sekar Mirah kembali bersama kakang Agung Sedayu dan guru Kiai Gringsing. Aku tidak akan kembali sebelum aku membawa anak itu menghadap ibu.”

Mendengar janji anaknya, tangis ibunya bahkan seakan-akan meledak. Namun di antara suara tangisnya terdengar ia berkata, “Tidak sia-sia aku melahirkanmu Swandaru. Kau adalah anak laki-laki yang harus dapat aku banggakan. Ayahmu menjadi semakin tua. Kaulah tempat kami bergantung. Juga kali ini.”

Terasa dada Swandaru itu seolah-olah menggelegak. Hampir-hampir ia kembali kehilangan pengamatan diri. Hampir-hampir ia meloncat dan berteriak, bahwa malam mini juga ia akan berangkat ke lereng Merapi. Tetapi kemudian kesadarannya berhasil mengekangnya. Ia tidak dapat memaksa gurunya berangkat sekarang. Ia pun tidak akan dapat berangkat sendiri masuk ke dalam sarang hantu Merapi itu. Karena itu, maka betapa dadanya menjadi sesak, namun ia harus bersabar sampai gurunya bersedia membawanya pergi.

Bilik itu pun kemudian sepi. Yang terdengar hanyalah isak tangis Nyai Demang yang sedang kehilangan anak gadisnya. Hilang diseret masuk ke dalam sarang yang penuh dengan serigala yang sedang kelaparan.

Ternyata sisa malam itu sama sekali tidak bermanfaat apapun bagi pemimpin-pemimpin Sangkal Putung dan prajurit-prajurit Pajang di Sangkal Putung. Mereka tidak berhasil menemukan pikiran-pikiran baru, meskipun mereka sama sekali tidak dapat memejamkan mata mereka. Dengan demikian mereka tidak juga dapat beristirahat.

Malam itu, di padepokan Ki Tambak Wedi, Sidanti duduk menunggui Sekar Mirah. Sekali-sekali terdengar isak gadis itu memecah kesenyapan. Namun kemudian yang terdengar adalah gemeretak giginya beradu. Tetapi betapa kemarahan memuncak di dalam dada Sekar Mirah, namun ia sama sekali tidak dapat berbuat sesuatu.

Tiba-tiba Sekar Mirah terkejut ketika ia mendengar suara Sidanti. Meskipun suara itu hanya perlahan-lahan, namun sudah cukup untuk menghentak dadanya. “Mirah.”

Sekar Mirah berpaling. Dilihatnya mata Sidanti yang memerah liar seperti mata binatang buas yang ingin menerkam mangsanya.

“Kau sekarang berada di padepokanku. Di padepokan guruku. Kenapa agaknya kau tidak merasa senang di sini?”

Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi sorot matanya mamancarkan kebencian yang tiada taranya.

“Kau tidak usah mengingkari, bahwa perasaan kita pernah bertaut. Betapapun orang lain menyebut aku sebagai seorang yang paling kotor di muka bumi ini, tetapi aku memiliki kesetiaan. Apakah kau jua memilikinya? Kau yang dikatakan orang sebagai sekar lati kademangan Sangkal Putung itu?”

Sekar Mirah masih berdiam diri.

“Aku tidak akan dapat melupakannya Mirah. Aku sadar bahwa kedatangan setan kecil yang bernama Agung Sedayu itu telah mengganggu hubungan kita. Aku sadar pula, bukan saja hubungan kita telah diganggunya, tetapi namaku di mata orang-orang Sangkal Putung telah direbutnya. Anak itu berhasil memenangkan perlombaan memanah di alun-alun di muka Banjar Desa Sangkal Putung. Bahkan sebalumnya, kedatangannya untuk menyelamatkan Sangkal Putung telah mendesak kebanggaanku sebagai anak muda yang paling jantan di kademangan itu.” Sidanti berhenti sejenak. Ditatapnya wajah Sekar Mirah. Tetapi wajah itu seakan-akan menyala karena kemarahan yang membara di dalam dadanya.

“Mirah,” Sidanti meneruskan, “itulah sebabnya maka dendamku kepadanya bertimbun-timbun sampai ke langit. Apalagi pada saat terakhir ini datang pamanku dari Menoreh. Adalah kebetulan sekali bahwa paman yang bernama Argajaya itu bertemu dengan tiga anak-anak muda si perjalanan. Aku tahu pasti bahwa kedua dari anak-anak muda itu pasti Agung Sedayu dan Swandaru. Mereka telah menghinakan Paman Argajaya itu pula. Sehingga kemarahanku tidak dapat lagi aku tahankan. Itulah sebab-sebab yang telah mendorongku mengambil kau dari Sangkal Putung.”

“Pengecut!” tiba-tiba Sekar Mirah itu berteriak sehingga Sidanti terkejut karenanya. “Kau tidak berani berhadapan dengan sikap jantan dengan Kakang Agung Sedayu dan Kakang Swandaru yang pernah kau tampar pipinya beberapa kali itu, karena mereka kini telah menemukan guru yang dapat menyaingi gurumu. Sekarang kau hanya berani mengambil aku, seorang gadis yang lemah.”

Sidanti mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tertawa. “Mirah, dengan mengambil kau dari Sangkal Putung aku akan mendapatkan beberapa kemenangan sekaligus. Bukankah dengan demikian adalah pertanda bahwa Sidanti mempunyai banyak kelebihan dari orang-orang Sangkal Putung. Kalau tidak, bagaimana mungkin aku dapat masuk ke dalam kademangan itu dan mengambilmu? Alangkah ringkihnya pertahanan kademangan itu sekarang sepeninggalku. Seorang gadis, puteri Demang Sangkal Putung masih juga sempat dilarikan orang.”

“Tutup mulutmu!” potong Sekar Mirah beras-keras.

Kembali Sidanti terkejut, tetapi kembali ia tertawa. Bahkan ia berkata, “Bukankah cara ini merupakan cara yang paling baik untuk menantang salah seorang daripada kedua anak muda itu. Agung Sedayu atau Swandaru. Apabila mereka benar-benar jantan, maka mereka pasti akan mengambilmu kemari. Tetapi ternyata mereka tidak lebih dari betina-betina pengecut. Sudah lebih dari sehari semalam kau berada d padepokan ini, tak seorang pun datang menyusulmu. Apa yang disebut pasukan Sangkal Putung dan prajurit-prajurit Pajang itu pun sama sekali tidak berbuat sesuatu untuk membelamu.”

“Kau mengigau,” jawab Sekar Mirah. “Kau mengambil kesempatan pada saat Kakang Agung Sedayu dan Kakang Swandaru tidak ada di kademangan. Kau hanya berani berbuat demikian selagi mereka tidak ada. Apakah dengan demikian kau merasa bahwa kau telah berbuat secara jantan. Bukankah kau sendir betina pengecut tiada taranya?”

“Oh,” Sidanti mengernyitkan keningnya, “jadi apakah saat ini Agung Sedayu dan Swandaru tidak ada di rumah? Aku sama sekali tidak mengetahuinya. Bahkan aku mengharap, bahwa aku akan dapat bertemu dengan mereka. Bertempur melawan keduanya di sarang mereka sendiri.”

“Bohong!” potong Sekar Mirah. “Kau sendiri mengatakan, bahwa pamanmu secara kebetulan bertemu dengan kedua anak-anak muda dari Sangkal Putung itu. Di mana mereka bertemu? Mereka sama sekali tidak bertemu di Sangkal Putung.”

Sidanti terkejut mendengar jawaban Sekar Mirah. Ia tidak menduga sama sekali bahwa gadis itu ternyata cukup cerdas menanggapi persoalan-persoalan yang dihadapinya. Tak diduganya bahwa ia mampu mempertentangkan kata-katanya yang dianggapnya berlawanan.

Tetapi sejenak kemudian Sidanti itu pun berhasil menguasai perasaannya kembali. Dengan demikian maka ia menjadi tenang, dan bahkan kembali tertawa. Katanya, “Mirah, aku tidak menyangka bahwa kau memiliki otak yang cerdas. Aku sangka kau hanya mampu mengingat macam-macam bumbu di dapur untuk bermacam-macam jenis masakan. Namun agaknya kau mampu juga menangkap tentangan-tentangan yang ada di sepanjang ceritaku. Bagus. Baiklah aku berkata sebenarnya, bahwa memang Paman Argajaya bertemu dengan Agung Sedayu dan Swandaru di Prambanan. tetapi kemudian paman itu sudah berjalan sampai di padepokan Ki Tambak Wedi ini. Menurut perhitungan, maka jarak antara Prambanan kemari dan Prambanan ke Sangkal Putung tidak terlampau banyak terpaut. Sehingga dengan demikian maka Agung Sedayu dan Swandaru pasti sudah ada di kademangan pada saat aku mengambilmu.”

“Bohong! Kau bohong! Kalau kau katakan, bahwa kau ingin bertemu dengan mereka, maka kau pasti sudah berdusta. Bukankah aku mempunyai ayah? Kalau kau jantan dan berkesopanan kau akan datang kepada ayah. Minta aku untuk kau bawa kemari. Kalau ayah tidak boleh, maka kau tantang ia berkelahi dalam perang tanding. Kalau ayah tidak bersedia melakukan sendiri, ayah dapat menunjuk orang lain. Kakang Untara misalnya atau Paman Widura yang pada saat itu berada di kademangan.”

Sidanti itu mengerutkan keningnya, namun kemudian ia menjawab, “Perbuatanku ini pun aku tujukan pula kepada mereka berdua. Apakah gunanya prajurit-prajurit Pajang itu berada di Sangkal Putung? Mereka hanya mampu menghabiskan beras rakyat Sangkal Putung tanpa dapat berbuat sesuatu. Kau, anak Demang Sangkal Putung, yang memberi para prajurit itu makan pagi, siang, dan malam, hilang tanpa seorang pun yang mencarinya?”

Terdengar gigi Sekar Mirah gemeretak. Kemarahannya benar-benar telah mendidihkan segenap urat darahnya. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Hanya wajahnyalah yang menjadi merah menyala dan matanya bagaikan berlapis darah.

“Mirah,” tiba-tiba suara Sidanti menjadi lunak, “kau tidak usah marah. Marilah kita kenang kembali masa-masa di mana kita selalu bersama-sama. Bukankah kau sering memijit pundakku apabila tanganku kelelahan dalam peperangan? Bukankah kau juga yang membalut lenganku yang terluka ketika aku berkelahi melawan Tohpati? Mirah. Aku tahu bahwa kau tidak dapat melupakan aku seperti aku tidak dapat melupakan kau.”

“Diam!” teriak Sekar Mirah. Tetapi Sidanti tertawa. Bahkan kemudian ia pun berdiri sambil menggeliat.

“Padepokan ini adalah padepokan guruku. Guruku tidak berputra dan berputri. Akulah muridnya dan aku pulalah anaknya. Aku mempunyai kekuasaan di sini seperti kekuasaan Ki Tambak Wedi sendiri. Nah, renungkan kata-kataku. Aku sengaja membawamu untuk banyak kepentingan. Memancing orang-orang Sangkal Putung untuk masuk ke dalam perangkapku, termasuk orang-orang Pajang. Dan apabila kau tetap berkeras kepala, maka aku akan mendapatkan kau dengan tidak ada rasa hormat sama sekali. Aku dapat berbuat apa saja.”

Dada Sekar Mirah hampir meledak karenanya. Tetapi sebelum ia menjawab, maka Sidanti itu pun telah melangkah pergi meninggalkannya seorang diri.

“Tinggallah di situ sampai ada perubahan keadaan yang akan membawamu ke luar,” kata-kata itu terlontar dari sisi pintu yang sesaat kemudian telah didorong dan terbanting keras. Kembali Sekar Mirah tersekat dalam bilik tertutup. Kembali ia melihat dinding-dinding yang membatasi ruangan itu, seperti memisahkannya dari dunia yang membatasi ruangan itu. Tiba-tiba ia merasa terdampar ke dalam sebuah dunia yang asing. Dunia yang sempit yang dipenuhi oleh perasaan benci, dendam, muak, dan bahkan putus asa.

Dada Sekar Mirah itu pun semakin lama menjadi semakin sesak. Nafasnya seakan-akan tersumbat di kerongkongannya. Sejenak kemudian ia terhenyak dalam perasaan yang tidak menentu. Namun tiba-tiba ia pun berteriak sedemikian kerasnya sambil menjatuhkan dirinya telungkup ke atas sebuah amben bambu.

Sekar Mirah itu kini sama sekali tidak dapat menahan tangisnya yang meledak-ledak tanpa dapat dikendalikan.

Tetapi betapa kerasnya ia menangis, ia masih mendengar tiba-tiba pintu bilik itu pun terbuka kembali. Ia melihat Sidanti dengan tergesa-gesa meloncat masuk sambil berteriak pula, “Kenapa kau, Sekar Mirah?”

Oleh pertanyaan itu justru tangis Sekar Mirah terhenti. Diangkatnya kepalanya dan dipandanginya anak muda itu dengan sorot mata semerah nyala api. “Pergi! Pergi kau pengecut! Kau hanya berani berbuat atas seorang gadis. Kalau kau jantan, ayo, tantang Agung Sedayu untuk berperang tanding!”

Sidanti menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia menjadi berlega hati ketika ia melihat Sekar Mirah masih sanggup mengangkat wajahnya dan mengumpatnya.

“Kau mengejutkan aku Mirah, bahkan guruku pun terkejut, sehingga disuruhnya aku menengokmu.”

“Aku tidak memerlukan kau.”

“Baik-baik. Kini kau tidak memerlukan aku. Tetapi suatu ketika kau akan merasa sepi. Dan kau akan menganggap aku adalah satu-satunya temanmu yang paling baik di sini.”

“Enyah, enyah kau dari sini!”

“Alangkah kerasnya hatimu Mirah. Tetapi hati yang keras itu pun pasti akan lekas dapat aku patahkan.”

“Hanya mautlah yang dapat mematahkan hatiku,” bentak Sekar Mirah.

Mendengar jawaban itu hati Sidanti Berdesir. Disadarinya bahwa gadis yang berdiri di hadapannya itu adalah puteri Demang Sangkal Putung dan adik seorang anak muda yang bernama Swandaru Geni. Betapa keras hati ayah dan kakaknya, maka hati gadis inipun pasti tidak jauh terpaut daripada mereka.

Namun justru karena itulah, maka hasrat di dalam hati Sidanti untuk menaklukkannya pun menjadi semakin besar. Semakin keras sikap Sekar Mirah, maka semakin besar nyala api di dalam dada Sidanti. Sebagai seorang laki-laki yang kuat dan kasar, maka Sidanti merasa bahwa kesanggupan yang ada di dalam dirinya pasti mratani. Juga untuk menundukkan gadis ini.

Sejenak kemudian maka kembali Sidanti tersenyum. Sambil melangkah ke pintu ia berkata, “Baiklah Mirah. Aku menyadari bahwa yang aku hadapi kali ini adalah seorang gadis yang garang. Karena itu aku harus berhati-hati. Bukan saja berhati-hati, tetapi aku harus bersabar hati.”

Sekar Mirah kini tidak mau menjerit lagi. Ia tahu bahwa jeritnya pasti akan mengundang Sidanti itu masuk kembali ke dalam biliknya, apabila anak muda itu belum terlampau jauh.

“Lebih baik aku mati daripada di jamah oleh iblis itu,” desis Sekar Mirah di dalam hatinya. Tiba-tiba tangannya meraba ikat pinggangnya. Ia menjadi berlega hati ketika tangannya menyentuh sebuah benda yang kecil. Patremnya masih terselip diikat pinggangnya.Ternyata kemarin Sidanti tidak mengetahuinya, pada saat membawanya ke lereng ini dalam keadaan pingsan.

“Kalau ia mendekat, maka patrem ini akan membunuhnya atau membunuh diriku sendiri.”

Tetapi terasa bilik itu menjadi semakin sempit. Ketika kembali malam mencekam lereng Gunung Merapi, maka kembali bilik kecil itu menjadi gelap. Tetapi hati Sekar Mirah jauh melampaui gelapnya malam yang paling pekat sekalipun.

Ketika Sekar Mirah mendengar pintu bergerit cepat-cepat ia bergeser menjauh. Tangannya segera melekat pada tangkai patremnya yang kecil. Tetapi patrem itu akan dapat mencapai jantungnya apabila ditusukkannya tepat di dada.

Tetapi yang masuk adalah seorang yang bertubuh kecil. Dengan nanar ia memandangi seisi bilik itu. Ketika terlihat olehnya Sekar Mirah berdiri di sudut bersandar dinding, maka tampaklah seleret giginya yang kemerah-merahan oleh sinar pelita yang dibawanya.

“Heh, heh, heh,” terdengar orang kecil itu tertawa, “ aku mendapat tugas untuk memasang lampu ini Sekar Mirah. Jangan takut.”

Sekar Mirah tidak menyahut. Ia menjadi ngeri melihat wajah itu. Kecil tapi liar.

Ketika orang yang bertubuh kecil itu telah meninggalkan biliknya, maka kepedihan di dalam dada Sekar Mirah menjadi semakin menyekat dadanya. Kini biliknya tidak lagi menjadi gelap. Sebuah pelita yang kecil telah terpancang di dinding. Tetapi justru sinar yang samar-samar itu telah menjadikan Sekar Mirah bertambah ngeri.

“Oh,” desahnya, “kenapa aku terlempar ke dalam sarang hantu-hantu semacam ini.” Namun ketika terasa dadanya mendesak air matanya menetes, ditahannya hatinya. Ia harus tetap dapat menguasai dirinya. Ia harus tetap melihat dan mendengar keadaan di sekitarnya.

“Aku tidak boleh tenggelam,” desahnya.

Pada saat yang bersamaan, Kiai Gringsing dan Agung Sedayu menunggu di depan pendapa Kademangan Sangkal Putung dengan gelisah. Keberangkatan mereka tertunda karena perkembangan keadaan di Sangkal Putung. Hari itu datang seorang pesuruh dari Pajang yang mengabarkan bahwa pasukan Pajang sedang di perjalanan. Pasukan yang akan diberikan kepada Untara untuk menghadapi hantu di lereng Merapi bersama Sanakeling dan pasukannya. Tetapi ternyata sampai lewat senja pasukan itu belum juga datang.

“Kenapa kita harus menunggu Kiai?” bertanya Agung Sedayu.

“Maksudku, aku akan dapat melihat pasukan itu lebih dahulu. Kemudian apabila kita dapat melihat kekuatan Tambak Wedi, maka segera kita akan dapat membuat perbandingan.”

“Ah. Apakah kita perlu menunggu lebih lama lagi?” bertanya Swandaru pula. Biarlah kita berangkat. Hari telah menjadi gelap. Kita telah kehilangan waktu lagi satu hari.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah kita segera berangkat. Lebih baik kita berangkat lebih dahulu.”

Kiai Gringsing itu pun segera menemui Untara dan Widura. Diberitahukannya kepada Senapati itu bahwa ia tidak dapat menunggu lebih lama lagi.

“Kalau keberangkatan kami tertunda, Ngger, maka akibatnya pasti kurang baik bagi adikmu, Ki Demang dan Swandaru. Apalagi kalau kedatangan kami di lereng Merapi ternyata terlambat, maka kesalahan pasti akan ditimpakan kepadaku dan Angger.”

Untara dan Widura saling berpandangan sejenak. Tetapi Untara masih mencoba menahannya, “Aku kira pasukan itu pasti datang hari ini Kiai. Kiai akan segera dapat melihat kekuatan itu dan langsung dapat menilainya. Perjalanan Kiai kemudian akan mendapat dua nilai sekaligus. Melihat keadaan Sekar Mirah dan memperbandingkan kekuatan kita dan kekuatan Tambak Wedi.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Sudut pandangan itu akan bermanfaat bagi Untara sebagai seorang Senapati. Tetapi ia tidak sampai hati untuk membiarkan kedua murid-muridnya menjadi tegang, Ketegangan itu akan berbahaya bagi anak-anak muda. Mereka akan dapat kehilangan pertimbangan dan bertindak di luar perhitungan oleh desakan perasaan mudanya.

Karena itu sejenak Kiai Gringsing menjadi bimbang. Menurut pendapatnya, selisih waktu yang beberapa saat pasti tidak akan banyak pengaruhnya. Kalau Agung Sedayu dan Swandaru dapat menunggunya lagi, maka prajurit Pajang itu pasti akan datang, Namun perasaan kedua anak muda itu agaknya telah mencengkam mereka, sehingga nalar mereka tidak lagi dapat bekerja dengan baik.

“Angger Untara,” berkata Kiai Gringsing itu kemudian, “sebenarnya aku dapat mengerti perhitungan Angger. Tetapi adik Angger itu benar-benar telah menjadi waringuten. Demikian pula Swandaru. Kalau kami tidak segera berangkat, aku menjadi cemas bahwa mereka akan pergi lebih dahulu tanpa aku. Nah, apabila demikian keselamatan mereka pasti terancam.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Demikian juga Widura. Tetapi agaknya Widura yang telah lebih tua dari Untara itu lebih dapat merasakan perasaan kedua anak-anak muda itu. Karena itu maka katanya, “Untara, biarlah mereka berangkat. Tetapi Kiai Gringsing pasti akan dapat mengatur perjalanan mereka, sehingga mereka akan dapat melihat kekuatanmu nanti di Jati Anom. Yang penting bagi mereka adalah segera berangkat meninggalkan Sangkal Putung. Mereka hanya ingin segera berbuat sesuatu.”

Akhirnya Untara tidak dapat menahan Kiai Gringsing lebih lama lagi, kalau dengan demikian akan berbahaya bagi adiknya dan Swandaru. Meskipun demikian mereka sempat juga membicarakan cara-cara yang terbaik untuk menyelesaikan tugas mereka.

“Kalau malam ini pasukan itu telah datang, Kiai,” berkata Untara, “dalam waktu yang singkat aku pasti sudah berada di Jati Anom. Kiai dapat melihat kekuatan itu di sana. Aku akan memasang rontek dan umbul-umbul untuk sedikit memberi sentuhan pada perasaan orang-orang Jipang. Mudah-mudahan mereka segera akan terpengaruh, sehingga mereka pun akan menjadi berkecil hati.”

“Bagus, Ngger,” sahut Kiai Gringsing, “berilah tanda-tanda. Kebesaran pasukanmu akan memperkecil daya tahan orang-orang Jipang. Dengan demikian, maka pekerjaanku mencari Sekar Mirah pun akan menjadi lebih mudah. Mudah-mudahan perhatian mereka terpecah. Mudah-mudahan mereka tidak menjadi gila dan berbuat liar di luar batas-batas perikemanusiaan atas Sekar Mirah.”

“Baiklah, Kiai,” berkata Untara kemudian, “mudah-mudahan Kiai besok sempat menghubungi aku di Jati Anom untuk segala keperluan.”

Kiai Gringsing pun segera mengabarkan kepada Agung Sedayu dan Swandaru, bahwa mereka dapat berangkat segera. Agung Sedayu dan Swandaru pun dengan tergesa-gesa minta diri kepada Untara, Widura dan Ki Demang berdua. Sekali lagi Swandaru berjanji kepada ibunya bahwa ia akan membawa Sekar Mirah kembali bersama guru dan saudara seperguruannya. Sedang ibunya melepas anak itu seperti melepasnya masuk ke dalam api peperangan. Orang tua mereka sadar, bahwa apa yang mereka lakukan adalah lebih berbahaya daripada menghadapi lawan di dalam garis perang.

Sesaat kemudian maka mereka bertiga, Kiai Gringsing, Agung Sedayu, dan Swandaru pun segera berangkat meninggalkan induk Kademangan. Langkah mereka tampaknya tergesa-gesa seakan-akan sesuatu telah menunggu mereka di luar sana. Namun mereka hampir-hampir tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Yang terdengar hanyalah gemerisik langkah mereka. Kadang-kadang angin yang agak kencang bertiup menggerakkan dedaunan. Dan malam pun menjadi semakin lama semakin pekat, meskiupn di langit bintang bertabur seperti biji padi di sawah.

Tetapi tiba-tiba langkah mereka itu pun tertegun. Di kejauhan mereka melihat dua tiga buah obor berjalan kea rah Kademangan Sangkal Putung.

Sejenak mereka bertanya-tanya di dalam hati. Namun kemudian terdengar Kiai Gringsing bergumam, “Aku kira mereka itulah pasukan yang datang dari Pajang.”

“Mungkin,” sahut Agung Sedayu.

“Apakah kita akan menunggu?” bertanya Kiai Gringsing pula.

“Tidak,” jawab Swandaru, “apakah gunanya?”

“Dengan pasukan itu kita akan lebih banyak dapat berbuat.”

“Menyerang padepokan Ki Tambak Wedi?” bertanya Swandaru, “ Bukankah itu akan sangat berbahaya bagi Sekar Mirah? Seperti tadi Kiai mengatakannya.”

“Tidak, Swandaru. Tetapi pasukan itu dapat menarik perhatian setiap orang di dalam padepokan itu, sehingga perhatian mereka terbagi. Mereka tidak saja terikat untuk mengawasi Sekar Mirah di dalam ruang yang menahannya.”

“Pasukan itu dapat datang kemudian,” berkata Agung Sedayu, “Lebih baik kita berusaha memasuki padepokan itu. Apabila kemudian pasukan kakang Untara datang maka keadaan kita akan menjadi lebih baik. Kalau terjadi sesuatu dengan Sekar Mirah karena pasukan kakang Untara, kita dapat mengawasinya, dan mudah-mudahan dapat membebaskannya.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Perasaan anak-anak muda yang sedang terbakar memang kadang-kadang kurang mempunyai nilai pemikiran. Tetapi Kiai Gringsing tidak membantah. Seperti seorang yang memancing ikan. Sekali-kali talinya diulurnya, Namun sekali-sekali ditariknya pula.

“Baiklah, Ngger. Kita tidak menunggu. Tetapi aku ingin melihat jumlah pasukan itu.”

“Apakah gunanya?”

“Kita akan membuat perbandingan.”

“Itu adalah pekerjaan Kakang Untara,” sahut Swandaru. “Itu adalah pekerjaan petugas sandi dari Pajang. Tugas kita adalah melepaskan Sekar Mirah.”

Sekali lagi Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam, “Baiklah,” katanya dalam nada yang rendah. Meskipun demikian Kiai Gringsing itu sudah dapat menduga dengan pasti bahwa segera Untara sudah berada di Jati Anom.

Tetapi tiba-tiba Kiai Gringsing itu pun tertegun. Dengan nada yang datar ia berkata, “Apakah mereka itu benar-benar pasukan dari Pajang yang akan diperbantukan kepada Angger Untara?”

Agung Sedayu dan Swandaru pun mengerutkan keningnya, Dengan serta merta mereka bertanya, “Lalu siapakah mereka itu, Kiai?”

Kembali terdengar suara Kiai Gringsing, “Bagaimana kalau mereka itu orang-orang Sanakeling atau orang-orang Sidanti atau bahkan bersama-sama?”

Kedua anak muda itu tertegun. Terasa denyut jantung mereka menjadi lebih cepat.

“Apakah mungkin demikian?” desis Agung Sedayu.

“Kenapa tidak?” sahut Kiai Gringsing. “Mereka tahu bahwa sebagian dari prajurit Pajang sedang pergi mengantarkan orang-orang Jipang bersama Ki Gede Pemanahan. Bukankah saat ini adalah waktu yang tepat untuk menyerang Sangkal Putung?”

“Kalau demikian, maka para penjaga dan para peronda pasti akan mengetahuinya dan akan segera memberi tanda kepada Kakang Untara. Mungkin dengan panah sendaren, panah api atau kentongan.”

“Benar. Namun dengan demikian mereka akan menjadi terlampau tergesa-gesa. Persiapan, mereka pasti kurang matang.”

“Lalu, maksud Guru?” bertanya Swandaru.

“Kita tunggu sejenak. Kita tidak akan menjumpai mereka, siapa pun mereka itu. Kalau mereka pasukan yang datang dari Pajang, maka kita tinggal saja mereka pergi tanpa menyapanya supaya langkah kita tidak tertunda lagi. Tetapi kalau mereka orang-orang Sanakeling, maka kita wajib mengabari Untara supaya korban kita tidak bertambah-tambah.”

“Bagaimana kita akan mengabarinya? Kita tidak membawa tanda apapun.”

“Serahkan kepadaku,” sahut Kiai Gringsing. “Meskipun aku sudah bertambah tua, tetapi aku masih juga seorang pelari yang cukup baik.”

Agung Sedayu dan Swandaru terdiam. Bahkan mereka menjadi canggung akan pertanyaan mereka sendiri. Yang berdiri di hadapan mereka itu adalah Kiai Gringsing. Guru mereka. Kenapa mereka masih juga bertanya berbagai macam hal seperti sedang mengujinya. Namun yang mendorong mereka sebenarnya adalah kegelisahan mereka atas keselamatan Sekar Mirah. Karena itu mereka segera ingin dapat berbuat sesuatu. Apa saja yang segera dapat dilakukan.

Tetapi kini mereka tidak berkata apapun lagi. Mereka mengikuti saja ketika guru mereka yang tua itu bersembunyi di balik rimbunnya dedaunan di sudut pategalan.

“Jangan membuat suara apapun. Kalau mereka orang-orang Pajang, dan melihat kehadiran kita maka mau tidak mau kita harus menyambutnya. Bahkan mungkin kita terpaksa kembali ke kademangan. Sedang apabila mereka orang-orang Sanakeling, tinggallah di sini. Jangan sampai kalian terpaksa lari karena mereka beramai-ramai menyerang kalian. Biarlah aku saja yang memberitahukan kehadiran mereka itu kepada Angger Untara.”

Agung Sedayu dan Swandaru tidak menjawab. Namun mereka pun segera herlindung di balik dedaunan. Obor-obor itu kini sudah menjadi semakin dekat.

Namun tiba-tiba dada mereka berdesir. Mereka melihat remang-remang sebuah pasukan yang kuat, hampir sekuat pasukan Widura di Sangkal Putung. Ternyata barisan itu adalah prajurit-prajurit dari Pajang. Sebagian adalah prajurit-prajurit Widura yang kembali ke induk pasukannya setelah mengantarkan orang-orang Jipang, sedang sebagian lagi adalah prajurit-prajurit yang baru yang akan diserahkan kepada Untara untuk langsung dipimpinnya, memecahkan pertahanan padepokan Ki Tambak Wedi.

Tetapi Agung Sedayu dan Swandaru hanya dapat menahan nafasnya. Mereka tidak mau terlihat oleh orang-orang di dalam pasukan itu, supaya mereka tidak usah menampakkan dirinya dan terpaksa kembali lagi ke kademangan untuk ikut serta dalam upacara penyambutan. Bagi mereka adalah lebih baik meneruskan perjalanan ke Jati Anom daripada kembali ke Sangkal Putung.

Ketika pasukan itu telah lewat, maka barulah mereka meloncat ke luar dari persembunyian mereka.

“Sebuah pasukan yang kuat dan meyakinkan,” gumam Kiai Gringsing.

“Tetapi pasukan itu adalah suatu gabungan dengan pasukan Paman Widura,” sahut Agung Sedayu.

“Ya. Tetapi menilik derap langkah mereka, maka aku benar-benar yakin bahwa mereka akan dapat mengatasi keadaan.”

Ketiganya kemudian mengangguk-anggukkan kepala mereka. Tanpa sesadar mereka, mereka berdiri saja di tengah jalan mengagumi iring-iringan yang sudah menjadi semakin jauh.

Perlahan-lahan terdengar Kiai Gringsing bergumam, “Mudah-mudahan semuanya akan segera selesai. Mudah-mudahan besok mereka sudah berada di Jati Anom. Nah, pekerjaan kita akan menjadi lebih mantap.”

Seperti orang terbangun dari tidurnya, maka Agung Sedayu dan Swandaru itu pun berkata hampir bersamaan, “Marilah Kiai, kita berjalan terus.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Marilah.”

Kembali mereka meneruskan langkah mereka. Namun tiba-tiba Agung Sedayu berkata, “Kita memilih jalan yang mana, Kiai?”

“Kita jalan Timur. Bukankah jalan itu lebih pendek dari jalan yang Angger pilih dahulu? Bukankah Angger memilih jalan Kali Asat. Sekarang kita memilih jalan yang lain. Aku tidak berani lewat ujung Bulak Dawa. Di pohon randu alas itu ada Gendruwo Bermata Satu. Bukankah begitu?”

Betapa kisruhnya perasaan Agung Sedayu tentang hilangnya Sekar Mirah, namun sempat juga ia bergumam, “Ah. Itu sudah lama terjadi, Kiai. Dan di bulak itu pula aku bertemu dengan seorang penari topeng yang kehilangan niaganya.”

Kiai Gringsing tertawa kecil, namun Swandaru hanya dapat bersungut-sungut saja. Ia tidak tahu ujung pangkal dari pembicaraan itu.

Demikianlah, maka mereka pun segera berjalan semakn cepat menembus gelapnya malam. Ditelusurinya pematang-pematang sawah dan tegalan. Mereka menempuh jalan yang sedekat-dekatnya yang dapat mereka lalui.

Ternyata Kiai Gringsing telah mengenal segala lekuk dan sudut daerah itu. Bahkan pematang-pematang sawah pun dikenalnya dengan baik. Mereka berjalan dari satu desa ke desa yang lain. Sehingga kemudian mereka pun sampai ke sebuah hutan yang tidak terlampau lebat. Hampir tengah malam maka mereka sampai ke suatu pedukuhan kecil. Mereka datang dari arah Timur lewat sebuah simpang tiga.

“Nah,” berkata Kiai Gringsing, “apakah kalian berdua mengenal tempat ini?”

Agung Sedayu dan Swandaru bersama-sama menggelengkan kepalanya. Dan hampir bersamaan pula mereka menjawab, “Tidak, Kiai.”

“Aneh. Apalagi Angger Agung Sedayu. Sebelum pecah peperangan antara Pajang dan Jipang apakah Angger berdua belum juga pernah kemari?”

“Belum, Kiai,” jawab mereka hampir bersamaan pula.

“Aku tidak percaya,” sahut Kiai Gringsing, “terutama Angger Agung Sedayu.”

Agung Sedayu menjadi heran. Kenapa Kiai Gringsing itu tidak mempercayainya. Ia sejak kecil memang jarang sekali pergi menjelajahi daerah-daerah kecil dan pedukuhan-pedukuhan kecil. Meskipun agaknya padukuhan ini tidak terlampau jauh dari Jati Anom.

“Entahlah, Kiai,” berkata Agung Sedayu kemudian. “Mungkin aku memang pernah datang ke padukuhan ini pada masa kecilku. Tetapi di malam hari begini aku tidak dapat mengenalnya lagi.”

“Angger ingat simpang tiga itu?”

Agung Sedayu mencoba mengingat-ingat.

“Lihatlah jalan ini, Ngger.”

Tiba-tiba Agung Sedayu mengangkat alisnya.

“Jalan ini adalah jalan ke Macanan. Apakah Angger ingat sekarang? Simpang tiga itu adalah simpangan yang membawa kita ke Sagkal Putung lewat dua jalan. Ke Barat kita akan melewati Kali Asat, sedang ke Timur adalah jalan yang kita lewati tadi.”

Agung Sedayu pun kemudian seakan-akan bertemu dengan seorang kenalan lamanya. Kini ia ingat dengan jelas pedukuhan itu. Ya, ia pernah mengenalnya. Tidak hanya satu kali.

“Jalan ini jalan ke Macanan, Kiai?”

“Bukankah begitu, dan jalan ini akan sampai ke Tangkil.”

“Simpang tiga itu adalah simpang tiga yang menuju ke Kali Asat?”

“Nah, kenalilah.”

“Oh,” Agung Sedayu mencoba memandangi jalan yang membujur di hadapannya. Sebuah kelokan kecil yang memasuki padukuhan kecil itu. Tiba-tiba ia berkata, “Bukankah jalan ini menuju ke rumah dukun tua di dukuh Pakuwon?”

Kiai Gringsing tertawa, “Ya, begitulah.”

“Siapakah dukun tua itu,” bertanya Swandaru yang mendengarkan pembicaraan itu dengan wajah berkerut-merut.

“Kau kenal juga orang itu, Adi Swandaru.”

“He,” wajah Swandaru yang gemuk itu menjadi aneh.

“Namanya Ki Tanu Mtetir.”

“Oh,” Swandaru menarik nafas, “jadi di Dukuh Pakuwon inikah rumah Kiai?”

“Ya. Di sinilah rumahku.”

“Lalu bagaimana dengan rumah itu saat Kiai tinggalkan selama ini?”

“Aku pernah mengunjunginya sebelum aku menetap di Sangkal Putung. Aku titipkan rumah itu kepada seorang tetangga yang baik, yang mau memelihara rumah tua dan halaman yang kotor itu.”

Kedua muridnya itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Semula rumah dan halaman itu tidak menimbulkan persoalan di hati Agung Sedayu. Tetapi tiba-tiba kini tumbuhlah pertanyaan di dalam dadanya. Apakah benar Ki Tanu Metir itu memang seorang dukun yang sejak masa kanak-kanaknya berasal dari padukuhan yang kecil itu?

Pertanyaan itu demikian mendesaknya sehingga Agung Sedayu tidak dapat menahannya lagi dan meloncatlah pertanyaannya, “Kiai, apakah Kiai memang sejak kecil berdiam di padukuhan ini?”

Kiai Gringsing memandangi wajah Agung Sedayu. Tetapi sesaat kemudian dilemparkannya pandangan matanya menyelusur jalan yang membujur di hadapannya. Dengan nada rendah ia berkata, “Ya, Ngger. Sejak kecil aku berada di padukuhan ini.”

Tetapi jawaban itu sama sekali tidak meyakinkan Agung Sedayu. Jawaban itu terlampau datar menyentuh hatinya, sehingga tanpa sesadarnya ia berkata, “Ah, aku berpendapat lain, Kiai.”

Sekali lagi Kiai Gringsing memandangi wajah muridnya itu. Tetapi tiba-tiba ia berkata “Marilah kita berjalan lebih cepat lagi. Kita masih belum sampai ke Tangkil.”

Yang segera menyahut adalah Swandaru, “Marilah Kiai.” Agung Sedayu tidak berkata-kata lagi. Ia tahu bahwa Swandaru menjadi kesal mendengar pembicaraan yang tidak diketahuinya. Karena itu, maka ketika langkah-langkah mereka menjadi semakin panjang dan cepat, mereka tidak lagi bercakap-cakap. Mereka melangkah di dalam malam yang gelap, berjalan diatas jalan berbatu-batu. Tetapi jalan itu kini kering. Tidak digenangi air yang seolah-olah ditumpahkan dari langit, seperti pada saat Agung Sedayu datang berkuda ke padukuhan ini bersama kakaknya Untara, yang pada saat itu sedang terluka.

Bukan saja jalan ini yang kini menjadi jauh berbeda dengan saat-saat ia melewatinya dahulu, tetapi hatinya pun kini sama sekali tidak lagi dicengkam oleh ketakutan dan kecemasan. Ia tidak lagi hampir pingsan melihat tonggak yang tegak di pinggir jalan disambar oleh sinar tatit. Dan ia tidak lagi menjadi lemas melihat sebuah bambu yang menyilang di tengah jalan. Seandainya ia kini bertemu dengan apa yang ditemuinya saat ia berjalan dengan kakaknya, maka hatinya justru akan menjadi gembira. Apalagi kalau yang ditemuinya di jalan ini adalah Sidanti.

Tetapi jalan yang ditempuhnya itu amatlah lengang. Tak seorang pun yang mereka jumpai di perjalanan. Bahkan rumah-rumah dipadukuhan kecil itu pun tampaknya gelap dan tidak berpenghuni. Hanya kadang-kadang saja terdengar lamat-lamat rengek anak-anak yang kepanasan oleh udara yang kering. Namun sejenak kemudian suara itu pun terputus. Buru-buru ibunya menyumbatkan air susu ke dalam mulut anaknya.

Mereka yang berjalan di malam yang kelam itu pun merasakan betapa daerah ini tertekan oleh suatu keadaan yang tidak menyenangkan. Dan Agung Sedayu pun menyadari, apalagi setelah Tohpati meninggal, maka laskar Jipang pasti akan menjadi semakin garang berkeliaran di daerah ini.

Dalam kekelaman malam itu Kiai Gringsing dan kedua muridnya berjalan semakin cepat. Ternyata jalan yang mereka tempuh bukanlah jalan yang dahulu dilewati Agung Sedayu bersama Untara. Jalan ini adalah jalan nyidat, langsung dari Dukuh Pakuwon ke Jati Anom. Bahkan kadang-kadang mereka harus meloncati parit-parit dan menyeberangi sungai. Menerobos pategalan dan sawah-sawah menyusup lewat padesan-padesan kecil. Padesan kecil yang sepi.

Akhirnya mereka pun menjadi semakin dekat. Tetapi mereka baru semakin dekat dengan Jati Anom. Mereka masih balum mendaki lereng Merapi mencari padepokan orang yang bernama Ki Tambak Wedi. Padepokan itu masih jauh di arah Barat.

Ketika mereka sampai di jalan yang cukup lebar, maka segera Agung Sedayu mengetahui bahwa mereka telah berada di Sendang Gabus. Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia adalah anak Jati Anom sejak kecil, tetapi ternyata Kiai Gringsing lebih banyak mengenal lekuk-lekuk padesan di sekitar tempat kelahirannya.

Tetapi Agung Sedayu kemudian tergagap ketika ia mendengar Kiai Gringsing bertanya, “Nah, kita sudah sampai di Sendang Gabus. Apakah kita akan pergi ke Jati Anom, ataukah kita mempunyai tujuan lain?” Agung Sedayu tidak dapat segera menjawab. Seharusnya ialah yang mengajukan pertanyaan itu. Bukan gurunya.

Ternyata Kiai Gringsing pun berkata seterusnya, “Angger berdua. Sudah tentu kita tidak akan dapat langsung masuk ke padepokan Tambak Wedi malam ini. Kita masih belum mengenal jalan-jalan di daerah itu dengan baik. Kita masih harus mendengar apakah yang ada di padepokan itu. Sudah tentu bahwa Ki Tambak Wedi menyadari keadaan mereka setelah mereka dengan dada terbuka menentang kekuasaan Pajang. Kalau Di Tambak Wedi tidak mempunyai kekuatan yang cukup, maka ia tidak akan berani berbuat demikian. Sehingga dengan demikian, maka sudah pasti bahwa padepokan itu akan dibentengi oleh kekuatan yang dapat mereka percayai. Karena itu, maka kita harus mencari tempat peristirahatan. Tempat yang baik sebagai pancadan menuju ke padepokan Tambak Wedi itu.”

Agung Sedaya dan Swandaru tidak segera menjawab. Baru sekarang mereka menyadari, bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah suatu pekerjaan yang berbahaya. Meskipun mereka sama sekali tidak takut menghadapi bahaya, namun sudah tentu bahwa mereka menginginkan pekerjaan mereka berhasil. Sedang apa yang mereka hadapi kini adalah suatu daerah yang masih gelap bagi mereka. Suatu daerah yang seolah-olah berada dibelakang tabir yang tak tertembus oleh penglihatan.

Dalam pada itu terdengar Kiai Gringsing berkata pula, “Bagaimanakah pendapat kalian?”

Agung Sedayu dan Swandaru tidak tahu, bagaimana mereka harus menjawab pertanyaan itu. Tetapi terasa oleh mereka, bahwa sebenarnya mereka telah dibakar oleh kemarahan yang hampir tak terkendali.

“Jadi,” berkata orang tua itu “apa yang akan kita lakukan sekarang? Bukankah aku hanya menuruti kehendak kalian?” Agung Sedayu dan Swandaru masih juga terbungkam. “Nah,” berkata orang tua itu kemudian, “Jadikanlah kali ini pelajaran buat kalian. Kalian ternyata masih terlampau mudah dibakar oleh perasaan tanpa mempertimbangkan nalar. Aku telah membawa kalian ke kaki Gunung Merapi seperti yang kalian kehendaki. Agaknya sampai ditempat ini kalian masih belum tahu apa yang akan kalian lakukan. Seandainya kalian berdua pergi tanpa aku, apakah kalian akan langsung mendaki kaki Gunung Merapi dan masuk ke dalam padepokan Tambak Wedi?”

Agung Sedayu dan Swandaru masih belum dapat menjawab. Namun kini mereka menjadi semakin menyadari keadaan. Ketika sekali lagi Kiai Gringsing menasehati mereka, maka perasaan merekapun segera tersentuh. Berkatalah orang tua itu, “Tetapi apa yang terjadi ini merupakan suatu pelajaran yang berharga bagi kalian.”

Kini sejenak mereka terdiam. Langkah mereka terdengar berdesah diantara daun-daun kering yang menyentuh tubuh-tubuh mereka yang basah oleh keringat.

Jati Anom kini sudah berada di hadapan hidung mereka. “Kita berhenti di Jati Anom” berkata Kiai Gringsing. “Bukankah ada rumahmu di Jati Anom” katanya kemudian kepada Agung Sedayu.

“Ya Kiai,” sahut Agung Sedayu, “tetapi rumah itu agaknya telah kosong. Hanya seorang perempuan tua dan anaknya yang masih kecil sajalah yang menungguinya, pada saat kami tinggalkan.”

“Kita hanya menumpang tidur,” berkata Kiai Gringsing pula. Segera mereka pun menuju ke rumah Agung Sedayu. Dalam malam yang semakin dalam maka jalan-jalan di padukuhan itu pun telah benar-benar sepi. Namun kesepian padukuhan itu agaknya terasa berlebih-lebihan. Hampir tak terlihat nyala pelita dari rumah-rumah di tepi-tepi jalan. Bahkan regol-regol halaman pun tertutup rapat-rapat. Tak ada peronda di gardu-gardu ronda seperti di padesan-padesan kecil yang telah dilaluinya.

Tetapi mereka pun segera memaklumi. Daerah ini adalah daerah yang tidak terlampau jauh dari padepokan di Lereng Merapi itu. Adalah mungkin sekali bahwa orang-orang Jipang dilereng Merapi itu berkeliaran sampai ke padukuhan ini pula. Bahkan mungkin Alap-alap Jalatunda telah mempergunakan daerahnya yang lama untuk mencari apa saja yang diinginkannya. Dengan cara-cara yang lama pula. Merampok dan menyamun.

Meskipun malam menjadi semakin pekat, tetapi Agung Sedayu mengenal daerah itu dengan baik. Setiap lorong dan tikungan dikenalnya seperti mengenali halaman rumah sendiri.

Akhirnya mereka pun sampai ke depan sebuah regol pada halaman yang luas. Tetapi halaman yang luas itu tampaknya gelap bukan main. Tidak ada pelita tersangkut di halaman, bahkan tak ada sorot yang menerobos dari sela-sela dinding rumah itu.

Mereka bertiga, Kiai Gringsing, Agung Sedayu dan Swandaru berhenti sejenak. Perlahan-lahan terdengar Agung Sedayu berkata, “Inilah rumahku, Kiai.”

Kiai Gringsing tersenyum. Jawabnya, “Aku sudah mengentahuinya, Ngger.”

“He?” Agung Sedayu terkejut. “Jadi Kiai sudah mengetahui bahwa ini adalah rumahku?”

“Tentu.”

“Darimana Kiai mengetahuinya?”

“Seperti ayanmu pernah mengenal pondokku yang jelek di Dukuh Pakuwon, maka aku pun pernah juga datang kerumah ini.”

“Oh,” Agung Sedayu menarik nafas dalam. Tetapi lebih-lebih ia terkejut ketika Kiai Gringsing berkata, “Aku pernah pula mengunjungi rumah ini bersama Angger Untara.”

“Kakang Untara?”

“Ya, Angger Untara yang terluka itu harus bersembunyi. Tetapi untuk keselamatannya sebagai seorang senapati, maka ia harus benar-benar tidak diketahui tempatnya. Sekali-sekali kami harus berpindah tempat. Dalam kesempatan itu kami pernah bersembunyi pula di rumah ini.”

“Oh,” Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun yang terdengar adalah pertanyaan Swandaru, “Tetapi apakah halamanmu ini sengaja kau jadikan rumah hantu?”

“Kenapa?” sahut Agung Sedayu.

“Tercium olehku bau bunga kantil. Terbayang juga pohonnya yang besar rimbun. Tetapi gelapnya bukan main.”

Agung Sedayu tersenyum. Tiba-tiba terkenanglah masa kanak-kanaknya. Ia sama sekali tidak berani bermain-main di bawah pohon kantil itu, meskipun di sudut halaman rumahnya sendiri. Tetapi kini ia mendapat kesan yang lain.

Ketika kemudian angin malam berhembus agak kencang, terdengarlah benda berjatuhan. Tidak hanya satu dua, tetapi lima, enam, sepuluh.

“Apakah itu?” bertanya Swandaru.

“Apakah kira-kira?”

Swandaru menggeleng. “Aku tidak tahu.”

Agung Sedayu tersenyum. “Di halaman itu terdapat pula sebatang pohon kemiri. Agaknya pohon kemiri itu sedang berbuah. Buahnya yang sudah tua akan berjatuhan ditiup angin.

“Hem,” desah Swandaru, “rumahmu memang rumah hantu.”

“Apakah kau takut hantu?” bertanya Kiai Gringsing.

“Aku hanya takut kepada hantu di bekas perkemahan orang-orang Jipang itu” sahut Swandaru.

Kiai Gringsing tertawa kecil. Sedang Agung Sedayupun kemudian mempersilahkan mereka masuk.

Terdengar sebuah gerit pintu regol itu terbuka, dan ketiganyapun kemudian hilang ditelan oleh gelap malam di balik regol halaman itu.

Halaman itu memang gelap bukan main. Pohon-pohon yang besar tumbuh disebelah menyebelah. Meskipun demikian Agung Sedayu masih mengenal halamannya dengan baik. Dengan langkah yang tetap ia berjalan lewat sisi rumahnya langsung kebelakang, ketempat penunggu rumahnya itu berdiam.

“Mudah-mudahan ia masih berada di sana,” desisnya.

“Ketika aku datang bersama Angger Untara, perempuan itu masih disana,” berkata Kiai Gringsing.

Dan ternyata di sebuah bilik kecil di belakang rumah itu masih mereka lihat sebuah pelita yang menyala. Agung Sedayu pun menarik nafas bergumam, “Ha itulah ia. Ternyata perempuan itu masih di sana.”

Perlahan-lahan Agung Sedayu mengetuk pintu bilik itu. Dan dari dalam rumah itu pun terdengar suara menyapa, “Siapa?”

“Aku. Sedayu.”

“Oh, Angger Sedayu? Apakah Angger datang bersama Angger Untara?”

“Tidak, Bibi. Aku bersama dua orang kawanku.”

Yang terdengar kemudian adalah langkah kaki perempuan itu perlahan-lahan. Terdengar sebuah gerit kecil dan pintu itu pun terbuka.

“Angger Agung Sedayu,” desis perempuan itu.

“Ya, Bibi.”

“Marilah. Marilah masuk dahulu,” berkata perempuan itu terbata-bata. Tetapi hal itu mula-mula sama sekali tidak menarik perhatian Agung Sedayu. Disangkanya perempuan yang sudah lama tidak melihatnya itu hanya sekedar terkejut melihat kehadiran yang tiba-tiba jauh di tengah malam.

Tetapi ketika mereka bertiga melangkah masuk, dengan tergesa-gesa pintu itu pun ditutupnya sambil bergumam, “Setiap sorot lampu yang meloncat ke luar, akan dapat memanggil orang-orang itu untuk datang.”

“Siapa?” bertanya Agung Sedayu yang mulai menjadi curiga.

Sejak perempuan itu memandangi ketiga orang yang kini duduk di atas sebuah amben bambu. Di amben itu pula, anaknya, seorang anak laki-laki, tidur mendekur.

Bilik itu pun kemudian menjadi sepi. Yang terdengar hanyalah tarikan nafas-nafas mereka, dan dekur anak yang sedang tidur dengan nyenyaknya itu.

Wajah perempuan itu tiba-tiba menjadi tegang. Ia telah mengenal Agung Sedayu sejak masa kana-kanak. Ia mengenal Agung Sedayu sebagai seorang anak laki-laki yang manja, yang tidak berani beranjak dari sisi ibunya. Karena itu maka sejenak perempuan itu menjadi ragu-ragu. Bahkan kemudian ia bertanya, “Angger, apakah Angger datang hanya bertiga di malam begini?”

“Ya, Bibi. Aku datang bertiga dari Sangkal Putung. Tetapi siapa yang sering datang kemari?”

“Angger,” bisik orang itu seakan-akan takut didengar oleh dedaunan di luar dinding biliknya, “sebaiknya Angger Agung Sedayu menjauhi tempat ini.”

“Ya, kenapa?” Agung Sedayu menjadi tidak sabar. Kembali perempuan tua itu menjadi ragu-ragu. Ditatapnya Agung Sedayu dan kedua temannya berganti-ganti.

Akhirnya Agung Sedayu dapat memaklumi perasaan perampuan itu. Dengan sungguh-sungguh ia berkata untuk meyakinkan pepempuan itu, “Bibi. Katakanlah. Sekarang barangkali aku tidak akan pingsan mendengar nama siapa pun yang akan Bibi sebutkan. Mungkin Bibi masih menganggapku seperti Agung Sedayu yang dahulu, yang sambil menangis mengikuti Kakang Untara meninggalkan Jati Anom di malam yang gelap di bawah hujan yang lebat. Tetapi sekarang tidak, Bibi. Bukan karena aku menjadi seorang yang sakti, tetapi aku sekarang mempunyai seorang teman yang tidak akan dapat dilukai oleh tajamnya senjata.” Sambil menunjuk kepada Swandaru ia berkata, “Lihatlah temanku yang gemuk ini. Ia akan mampu melindungi rumah ini.”

Perempuan tua itu memandangi Swandaru dengan sorot mata yang diwarnai oleh kebimbangan hatinya. Namun sekali lagi Agung Sedayu meyakinkannya, “Bibi, namanya adalah Swandaru. Swandaru Geni. Tangannya dapat menjadi sepanas bara dan sorot matanya apabila ia sedang marah dapat menyala seperti semburan api.”

“Uh,” Swandaru berdesah. Tetapi ia tidak memotong kata-kata Agung Sedayu.

Perempuan itu akhirnya dapat meyakini kata-kata Agung Sedayu. Wajah Swandaru yang bulat itu dapat melenyapkan keragu-raguannya, sehingga perlahan sekali ia berkata, “Angger Agung Sedayu. Daerah ini sekarang terlalu sering didatangi oleh orang-orang dari lereng Merapi. Bahkan rumah ini pernah dimasukinya dan diaduk-aduk seluruh isinya. Sambil memaki-maki mereka bertanya dengan kasar, apakah ini rumah Untara dan Agung Sedayu. Angger Agung Sedayu, aku ternyata tidak dapat ingkar. Mereka tahu benar bahwa rumah ini adalah rumah Angger berdua. Kalau nanti Angger masuk ke ruang dalam, maka Angger akan melihat, bahwa perabot rumah ini telah menjadi rusak.”

Dada Agung Sedayu menggelegak mendengar kata-kata perempuan tua itu. Hatinya baru saja dibakar oleh peristiwa hilangnya Sekar Mirah, sehingga di malam yang gelap ini ia merayapi jalan-jalan kecil, pematang-pematang, dan kadang-kadang lumpur sawah untuk mendekati lereng Merapi, tempat Ki Tambak Wedi membuat sarangnya. Dan kini ia mendengar rumahnya diobrak-abrik orang.

Dengan gemetar Agung Sedayu kemudian bertanya, “Bibi siapakah yang berani masuk ke rumah ini dengan kasar?”

“Orang-orang dari lereng Merapi, Ngger. Mereka sengaja meninggalkan pesan untuk membuat Angger dan Angger Untara marah.”

“Apa kata mereka?”

“Mereka menyebut nama-nama mereka dengan Sidanti, Sanakeling, Argajaya, Alap-alap Jalatunda, dan beberapa orang lain.”

Nama-nama itu telah menyengat hati Agung Sedayu demikian dahsyatnya sehingga anak muda itu terlonjak berdiri. Dengan suara yang bergetar Agung Sedayu bertanya, “Kapan, kapan Bibi? Kapan mereka itu datang kemari?”

“Kemarin, Ngger. Baru kemarin. Dan hampir setiap hari ada saja orang-orang mereka yang berkeliaran. Siang dan malam.”

Kemarahan Agung Sedayu kini memuncak. Bukan saja Agung Sedayu, tetapi Swandaru pun tiba-tiba telah terbakar pula. Dengan lantang ia berkata, “Mari kita cari orang-orang itu.”

“Mari,” sahut Agung Sedayu, “mudah-mudahan kita dapat bertemu.”

Namun dalam pada itu terdengar Kiai Gringsing bertanya, “Kemana kita harus mencari mereka itu, Ngger? Mengelilingi padukuhan ini, atau mendaki lereng Merapi?”

Agung Sedayu dan Swandaru terdiam.

“Kalau kita mengelilingi padukuhan ini, semalam suntuk, bahkan ditambah lima hari lima malam, kalau kebetulan mereka tidak datang kemari, maka kita pasti tidak akan dapat bertemu. Sedang apabila kita naik ke lereng Merapi, maka pertanyaan yang serupa seperti tadi, tentang benteng yang mengelilingi padepokan itu, akan berulang kembali.”

Swandaru dan Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepala mereka, Kembali mereka terpaksa menyadari ketergesa-gesaan mereka. Namun meskipun demikian Agung Sedayu masih juga menemukan sebab, supaya mereka dapat bertemu dengan orang-orang lareng Merapi itu. Dengan serta-merta ia berkata, “Bibi, bukalah pintunya.”

Perempuan tua itu memandang Agung Sedayu dengan ragu-ragu. Tetapi Agung Sedayu berkata sekali lagi, “Bukalah pintu. Biarlah sorot lampumu meloncat ke luar. Biarlah orang-orang itu melihatnya apabila ia berada di padukuhan ini. Biarlah mereka datang kemari. Kami ingin bertemu dengan mereka.”

“Tetapi, Ngger……….,” sahut perempuan itu cemas.

“Jangan cemas, Bibi. Kami bertiga membawa senjata di lambung kami. Aku bukan Agung Sedayu beberapa bulan yang lampau.”

Tetapi perempuan tua itu masih juga ragu-ragu sehingga sekali lagi Agung Sedayu berkata, “Bukalah bibi. Bukalah.” Bahkan kemudian Agung Sedayu berkata, “Apakah di rumah ini ada lampu yang lain? Kalau ada pasanglah di luar rumah, aku ingin melihat sekali lagi mereka masuk ke halaman rumahku.”

Kiai Gringsing menggelengkan kepala melihat anak-anak muda yang sedang marah itu. Tetapi ia dapat mengerti, betapa darah muda yang sedang bergolak itu melampaui bergolaknya ombak lautan yang paling dahsyat.

Meskipun demikian Kiai Gringsing merasa perlu untuk memperingatkannya. “Angger Agung Sedayu. Apakah perlunya kalian memanggil orang-orang Merapi itu sekarang.”

Agung Sedayu menjadi heran mendengar pertanyaan gurunya. Dengan pandangan mata yang aneh ia menjawab, “Guru, apakah masih belum jelas, bahwa mereka telah menghina aku beberapa kali? Hilangnya Sekar Mirah dan kini rumahku diobrak-abriknya.

“Benar, Ngger. Angger pasti merasa terhina. Tetapi apakah dengan perbuatan itu Angger akan mendapat keuntungan, justru dalam usaha Angger menebus kekalahan yang pernah terjadi.”

“Aku belum pernah dikalahkannya, Kiai,” sahut Agung Sedayu, sedang Swandaru menyelanya, “Kapan kami mengalami kekalahan sejak ia meninggalkan Sangkal Putung?”

“Kekalahan itu telah membawa Angger berdua kemari. Hilangnya Sekar Mirah.”

“Itu bukan kekalahan, Kiai. Itu adalah kecurangan,” sahut Swandaru.

“Ya, ya. Demikianlah,” berkata Kiai Gringsing memperbaiki istilahnya.

“Kenapa usaha itu akan dapat mengganggu, Kiai?”

“Dengan demikian mereka akan mengetahui bahwa Angger telah berada di sini. Selebihnya mereka akan dapat membawa orang-orangnya kemari, mengepung tempat ini dan menangkap kita bertiga. Kalau kita berhasil lolos misalnya, maka penjagaan atas diri Sekar Mirah akan menjadi semakin ketat.”

“Ah,” terdengar kedua anak muda itu mengeluh, “lalu apa yang dapat kami lakukan, Kiai. Segala perbuatan tidak dapat dibenarkan. Apakah keperluan kita ini kemari?” bertanya Swandaru.

“Kita mencari Sekar Mirah,” sahut Kiai Gringsing. “karena itu, tahanlah perasaan kalian. Jangan menimbulkan sesuatu yang dapat mengganggu usaha itu.”

Swandaru menggeretakkan giginya, sedang Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

Sekarang tidurlah. Beristirahatlah dengan baik. Kecuali kalau malam ini mereka datang dan kita tidak mempunyai waktu untuk menyingkir, maka kita harus berkelahi. Tetapi kalau tidak, kita harus mempergunakan saat ini sebaik-baiknya untuk beristirahat. Waktu kita hanya sedikit, sedang pekerjaan yang kita hadapi adalah pekerjaan yang cukup berat.”

Kembali terdengar gemeretak gigi Swandaru. Tetapi anak-anak muda itu tidak membantah.

“Nyai,” berkata Kiai Gringsing, “di manakah kami dapat beristirahat sejenak untuk menghabiskan malam ini?”

Perempuan penunggu rumah Agung Sedayu itu menjadi agak bingung mendengar pertanyaan itu. Sejenak dipandanginya wajah Agung Sedayu, seakan-akan ingin bertanya kepadanya. Di mana mereka akan beristirahat.

Agung Sedayu pun kemudian menangkap maksud perempuan tua itu, sehingga dengan ragu-ragu ia bertanya, “Bagaimana ruang dalam?”

“Ruang dalam itu telah menjadi morat-marit, Ngger. Tetapi kalau saja kalian bersedia membentangkan tikar di lantai.”

“O, itu sudah cukup,” sahut Kiai Gringsing. “Sehelai tikar sudah cukup baik untuk kami.”

Agung Sedayu dan Swandaru, tidak menyahut lagi. Mereka pun kemudian mengikuti perempuan itu masuk ke ruang dalam dengan sehelai tikar dan sebuah pelita kecil.

Demikian mereka melangkah masuk, demikian dada mereka menjadi seolah-olah berguncang. Mereka melihat perabot rumah mereka menjadi rusak. Bahkan beberapa bagian dari dinding sentong tengah pun, menjadi rusak. Pembaringan, gelodok-gelodok dan paga-paga, menjadi potongan-potongan kayu yang berserakan.

“Hem,” Agung Sedayu menggeretakkan giginya.

“Aku belum mengumpulkannya,” desis perempuan tua itu. “Aku ingin salah seorang dari kalian berdua, kau atau Angger Untara, melihatnya bahwa rumah ini telah menjadi berantakan.”

“Ya,” sahut Agung Sedayu singkat. Dan tiba-tiba ia ingat akan bibinya yang tinggal di Banyu Asri. Mungkin sekali bibinya pun akan dapat menjadi sasaran kekasaran orang-orang Sanakeling. Maka dengan serta-merta ia bertanya, “Bibi, bagaimana dengan bibi di Banyu Asri?”

“Bibimu tiba-tiba telah hilang, Ngger.”

“He? Apakah bibi diambil pula oleh orang-orang dari lereng Gunung Merapi itu?”

“Tidak, Ngger. Mungkin bibimu mengetahui pula kemungkinan itu. Beruntunglah bahwa bibimu sempat mengungsi. Tak seorang pun diberitahukannya, kemana ia pergi. Tetapi rumahnya pun menjadi sasaran kemarahan orang-orang itu seperti rumah ini.”

“Hem,” Agung Sedayu menggeram. “Untunglah bibi mempunyai ketajaman firasat. Sebagai isteri seorang prajurit ia harus sigap bertindak sendiri.”

Dalam pada itu, maka mereka pun kemudian membentangkan tikar di tengah-tengah ruangan. Sejenak kemudian mereka pun telah membaringkan diri, sementara perempuan penunggu rumah itu merebus air. Tidak didapur, tetapi di dalam biliknya. Meskipun di dalam rumah itu kini ada Agung Sedayu dan kedua orang teman-temannya, namun perempuan tua itu masih juga berusaha supaya apinya tidak menarik perhatian orang di luar halaman rumah. Bahkan ia menjadi cemas, kalau orang-orang itu akan menangkap Agung Sedayu dan teman-temannya.

Belum lagi ketiga orang itu sempat memejamkan mata mereka, maka lamat-lamat telah terdengar kokok ayam jantan bersahut-sahutan. Semakin lama semakin riuh. Sedang di ujung Timur warna-warna merah telah tersembul dari balik cakrawala.

Tetapi ketiga orang yang berada di ruang dalam itu telah hampir dua malam sama sekali tidak memejamkan mata mereka. Karena itu, meskipun kemudian fajar memerah, namun karena lelah dan kantuk, maka ketiganya pun kemudian tertidur juga.

Meskipun demikian, meskipun di dalam tidur mereka tidak dapat melenyapkan perasaan mereka. Perasaan marah, cemas, dan ragu-ragu, sehingga tidur mereka pun sama sekali tidak dapat nyenyak.

Maka ketika matahari kemudian menjenguk di atas dedaunan di Timur, maka mereka pun telah terbangun.

Agung Sedayu dan Swandaru sendiri tidak tahu, apakah sebabnya mereka tergesa-gesa mandi dan kemudian duduk dengan gelisah menghadapi air hangat.

“Kiai belum mandi?” bertanya Swandaru kepada Kiai Gringsing yang masih duduk berkerudung kain gringsingnya yang sudah semakin lungset.

“Kenapa tergesa-gesa?” bertanya Kiai Gringsing. Swandaru terdiam. Tetapi Agung Sedayu-lah yang menjawab, “Kita akan dapat segera berbuat sesuatu Kiai.”

Kiai Gringsing tersenyum. Perlahan-lahan ia berdiri sambil menggeliat. Kemudian melangkah ke luar, ke perigi.

Sementara itu matahari telah merayap semakin tinggi di kaki langit. Di kejauhan terdengar burung-burung liar bernyanyi bersahut-sahutan. Sekali-sekali gerit senggot timba yang ditarik oleh Kiai Gringsing seolah-olah menjerit-jerit di antara kicau burung yang melengking-lengking.

Tetapi tiba-tiba tangan Kiai Gringsing yang sedang menarik senggot timba itu pun tertegun. Ia mendengar langkah kaki tergesa-gesa di balik dinding belakang halaman rumah Agung Sedayu. Telinganya yang tajam segera dapat menduga bahwa langkah itu adalah langkah yang kurang wajar.

Ketika ia sedang memperhatikan langkah itu dengan saksama, maka didengarnya perempuan tua penunggu rumah Agung Sedayu mendekatinya untuk mengambil air ke sumur itu.

Tetapi langkah yang tergesa-gesa itu disusul oleh langkah yang lain. Bahkan tidak hanya seorang, tetapi dua, tiga orang. Sebelum Kiai Gringsing bertanya maka perempuan tua itu telah berkata, “Kiai, ada beberapa orang di antara anak-anak muda yang tidak betah tinggal di rumahnya. Mereka lebih senang dengan tergesa-gesa pergi ke sawah atau ke ladang. Tidur sehari penuh di antara tanaman-tanamannya. Mereka takut, apabila orang-orang dari lereng Merapi itu turun dan memaksa mereka untuk berbuat sesuatu. Kadang-kadang mengambil milik orang lain untuk kepentingan orang-orang dari lereng Merapi itu. Bukan saja bahan makanan, tetapi juga perhiasan.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian orang tua itu pun bertanya, “Bagaimana kalau mereka tidak mau Nyai?”

“Ah,” sahut perempuan tua itu, “tak seorang pun yang dapat menolak. Itulah sebabnya mereka lebih baik menghindar. Baru nanti malam mereka kembali kerumah masing-masing. Bahkan ada juga yang memilih tidur di gubug-gubug ladang mereka.”

Kembali Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedang di luar halaman masih juga terdengar beberapa orang melangkah menjauh.

Tetapi tiba-tiba Kiai Gringsing dan perempuan tua itu terkejut. Ternyata anak-anak muda itu tidak saja pergi dengan tergesa-gesa meninggalkan desa mereka, tetapi kini mereka yang terlambat pergi harus bersembunyi dengan segera. Seseorang dengan wajah yang tegang, tersembul dari balik dinding halaman yang agak lebih tinggi dari tubuhnya sendiri, dan dengan nafas terengah-engah memanjat masuk ke dalam halaman.

“Nyai,” desis pemuda itu, “aku terpaksa masuk ke halaman ini. Aku mengharap Nyai tidak berkeberatan.”

Perempuan tua itu tiba-tiba menjadi pucat. Dengan terbata-bata ia bertanya, “Kenapa Angger masuk kemari? Apakah Angger tidak berusaha melarikan diri saja seperti kawan-kawan Angger yang lain?”

“Aku tidak sempat, Nyai. Aku baru saja memberitahukan kepada kawan-kawan untuk segera pergi. Tetapi agaknya aku sendiri tidak mendapat waktu. Beberapa orang dari lereng Merapi telah memasuki desa ini.”

“Oh,” perempuan tua itu menjadi semakin kecut, “bagaimanakah kalau mereka menemukan Angger di sini?”

“Aku akan bersembunyi, Nyai. Aku akan bersembunyi di atas kandang, atau di bawah timbunan kayu.”

“Kenapa Angger mesti bersembunyi?” bertanya Kiai Gringsing. “Apakah mereka berbahaya bagi Angger?”

“Tidak, Kiai,” sahut anak muda itu yang tiba-tiba menjadi heran melihat kehadiran orang yang belum pernah dikenalnya. “Siapakah kau?”

“Aku adalah saudara laki-laki dari perempuan ini,” sahut Kiai Gringsing. Namun ia menjadi ragu-ragu sendiri. Ia belum tahu siapakah perempuan itu sesungguhnya, tetapi ia berkata terus, “Tetapi jangan hiraukan siapa aku. Sekarang bagaimana dengan orang-orang dari lereng Merapi itu? Apakah mereka akan menangkap Angger?”

“Kalau mereka tahu ada seorang anak muda di sini, pasti mereka akan memasuki halaman ini. Mereka akan membujuk supaya kami ikut serta dengan mereka, kalau kita berkeberatan kadang-kadang mereka menakut-nakuti dan mengancam. Bahkan mungkin kita akan dibawanya untuk berbuat sesuatu yang tidak kita kehendaki. Kita harus menunjukkan di mana mereka dapat menemukan berbagai macam barang-barang berharga dan bahan-bahan makanan.”

“Bagaimana kalau Angger tidak mau?”

“Nah apabila demikian, maka barulah mereka berbahaya bagi kami,” sahut anak muda itu. “Tetapi waktuku tinggal sedikit. Aku telah melihat mereka memasuki desa ini. Biarlah aku bersembunyi, Nyai.”

“Berapa orangkah mereka itu?” bertanya Kiai Gringsing.

“Enam atau tujuh orang. Mungkin ada yang lain lewat jalan lain.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya di dalam hati, “Mudah-mudahan bukan Ki Tambak Wedi sendiri bersama Sidanti dan Argajaya.” Namun kepada anak muda itu ia berkata, “jangan tergesa-gesa bersembunyi. Dua orang menunggumu di ruang dalam rumah ini.”

Anak muda itu terkejut mendengar kata-kata Kiai Gringsing. Bahkan wajahnya yang tegang menjadi bertambah tegang. Dengan tergagap ia bertanya, “Siapakah Kiai ini sebenarnya?”

“Sudah aku katakan,” sahut Kiai Gringsing, “jangan hiraukan aku. Marilah, masuklah ke dalam rumah ini. Ada dua orang yang sedang menunggumu.”

“Tetapi…….,” katanya terputus, dan keragu-raguan mulai melanda perasaannya.

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Apakah kau sangka aku salah seorang dari mereka itu? Bukan, Ngger. Aku bukan salah seorang dari mereka.”

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia menjawab, “Kalau demikian, aku tidak ada waktu lagi. Aku harus bersembunyi. Saat ini mereka pasti sudah berjalan-jalan di jalan-jalan padesan kami. Suatu ketika ia akan melihat halaman demi halaman. Dan aku harus tidak mereka lihat di sini. Bahkan Kiai pun sebaiknya masuk ke dalam rumah. Tetapi siapakah kedua orang yang menunggu aku di dalam rumah? Kalau mereka itu anak-anak muda, sebaiknya mereka bersembunyi juga supaya mereka tidak terpaksa melakukan hal-hal yang tidak mereka kehendaki sendiri.”

“Jangan tergesa-gesa, Ngger. Nanti baiklah kau bersembunyi. Tetapi marilah masuk dahulu. Orang-orang dari lereng Merapi itu pasti memerlukan waktu yang lama untuk melihat setiap halaman sebelum ia sampai ke halaman ini. Bahkan mungkin sekali mereka tidak akan masuk kerumah ini.”

“Memang,” sahut anak muda itu, “kemungkinan itu memang dapat terjadi, tetapi kemungkinan yang lain pun dapat pula terjadi. Satu dari dua. Kalau yang satu itu terjadi, maka celakalah aku.”

“Rumah ini sudah dihancurkan, Ngger. Perabot-perabotnya sudah porak-poranda tidak keruan. Apakah mereka masih mungkin datang kemari?”

“Kemungkinan itu selalu ada.”

“Tetapi masuklah sejenak. Di dalam rumah ini ada dua orang anak muda. Yang seorang mungkin Angger telah mengenalnya. Namanya Agung Sedayu.”

“Agung Sedayu?” anak muda itu mengulangi. “Agung Sedayu yang mempunyai rumah ini?”

“Ya,” sahut Kiai Gringsing.

“O, kasihan anak itu. Ia harus segera tahu bahaya yang dapat mengancamnya. Tetapi ia akan dapat membeku mendengar kemungkinan yang dapat terjadi atasnya.”

“Tidak, Ngger. Ia tidak akan menjadi gentar mendengar apapun yang dapat terjadi atasnya, Karena itu marilah, beritahukan kepadanya apa yang dapat terjadi.”

Anak muda itu menjadi bimbang sejenak. Tiba-tiba ia berkata, “Marilah Kiai, cepat-cepat. Waktu kita tidak terlampau banyak.” Kepada perempuan tua penunggu rumah itu anak muda itu berkata, “Nyai, aku minta ijin untuk bertemu dengan Agung Sedayu sejenak supaya aku dapat memberitahukannya, bahwa ia pun harus bersembunyi pula.”

“Silahkan, Ngger.”

Kiai Gringsing yang belum jadi mandi itu pun kembali masuk ke dalam rumah bersama anak muda itu. Demikan ia memasuki pintu belakang masuk ke ruang dalam, maka dadanya pun menjadi berdebar-debar. Ia melihat bahwa Agung Sedayu benar-benar duduk di dalam rumah itu menghadapi semangkuk air hangat bersama seorang kawannya.

“Adi Sedayu,” sapa anak muda itu.

Agung Sedayu berpaling. Ia terperanjat ketika dilihatnya Kiai Gringsing masuk ke rumah itu bersama seorang anak muda. Tetapi kemudian terdengar ia menyapa sambil berdiri tergopoh-gopoh, “Kakang Wuranta.”

Pertemuan itu adalah pertemuan yang tidak terduga-duga. Keduanya pun kemudian duduk di samping Swandaru yang kemudian di perkenalkannya kepada anak muda yang bernama Wuranta itu.

“Aku tidak tahu bahwa kau berada di sini, Sedayu,” berkata Wuranta. “Adalah nasibmu memang kurang baik. Sejak kau meninggalkan rumah ini, agaknya baru kali ini kau kembali.”

“Ya,” sahut Agung Sedayu.

“Kalau saja kakakmu Untara ada.”

“Kenapa?” bertanya Agung Sedayu.

“Aku masuk ke halaman ini untuk bersembunyi. Kau dan tamumu itu pun sebaiknya bersembunyi pula. Hari ini orang-orang dari lereng Merapi kembali memasuki padesan ini. Hampir dua hari sekali, bahkan kadang-kadang setiap hari, mereka datang kembali ke padesan ini. Kemarin dulu mereka telah merusak rumah dan perabot rumahmu ini.”

Tetapi tanggapan Agung Sedayu telah mengejutkan temannya itu. Ia menyangka Agung Sedayu akan gemetar dan ketakutan. Kemudian lari terbirit-birit ke atas kandang atau ke bawah kolong lumbung rumahnya. Namun kali ini ia melihat Agung Sedayu tersenyum dan berkata, “Aku akan menunggu mereka, Kakang Wuranta. Siapa sajakah yang kali ini datang ke padesanku ini?”

Sejenak Wuranta terbungkam. Hampir-hampir ia tidak percaya melihat sikap itu.

“Siapa sajakah yang datang kali ini Wuranta?” kembali Agung Sedayu bertanya. “Sidanti, Argajaya, Sanakeling, atau Alap-alap Jalatunda.”

“Kau telah mengenal nama-nama mereka, Adi Sedayu. Memang demikianlah nama-nama mereka. Kadang-kadang mereka datang bersama-sama, tetapi kadang-kadang salah seorang dari mereka datang bersama beberapa orang laskarnya.”

“Kali ini berapa orangkah yang datang?”

“Aku hanya melihatnya dari kejauhan. Enam atau tujuh orang. Tetapi aku tidak melihat para pemimpin itu datang bersama-sama. Mungkin hanya satu dua orang saja yang datang, yang tidak dapat aku lihat dengan jelas. Mungkin datang pula rombongan yang lain.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia tersenyum sambil bergumam, “Kita berempat. Nah, kalau demikian, marilah kita songsong kedatangan mereka.”

Kembali Wuranta terheran-heran melihat sikap Agung Sedayu. Ia mengenal Untara dan Agung Sedayu dengan baik, sebagai anak-anak muda sepedukuhan. Wuranta mengenal dan mengagumi Untara, yang segera dapat mendapat tempat yang baik di dalam lingkungan Wira Tamtama Pajang. Tetapi ia mengenal juga Agung Sedayu yang hanya berani mondar-mandir dari Jati Anom ke Banyu Asri. Bahkan anak itu kadang-kadang menggigil ketakutan apabila ia agak kemalaman di jalan. Anak-anak muda sepadukuhan menyebut kedua bersaudara itu seperti anak siang dan anak malam. Mereka menganggap, tanpa mengetahui kebenarannya, bahwa Agung Sedayu lahir di tengah hari dan Untara lahir di tengah malam. Sehingga Agung Sedayu tidak berani melihat gelap, sedang Untara dapat hidup di segala keadaan. Tetapi tiba-tiba ia kini melihat Agung Sedayu tersenyum mendengar enam atau tujuh orang bersenjata datang memasuki padesan ini.

“Bagaimana, Kakang Wuranta?” bertanya Agung Sedayu. “Apakah kau tidak membawa senjata?”

Tanpa sesadarnya Wuranta menggeleng sambil menjawab, “Tidak, Sedayu,”

“Dahulu ayah menyimpan bermacam-macam senjata. Kalau kita mencarinya, maka aku kira masih ada satu dua yang tertinggal di rumah ini meskipun baru saja rumah ini diobrak-abrik oleh demit-demit itu.”

“Tetapi,” potong Wuranta bimbang, “mereka adalah prajurit-prajurit Wira Tamtama dari Jipang.”

“Apa salahnya?” sahut Agung Sedayu.

Melihat sikap Agung Sedayu itu, Wuranta justru menjadi bercuriga. Seharusnya Agung Sedayu menjadi pucat dan menggigil kecemesan, Seharusnya anak muda itu bertanya kepadanya sambil gemetar, “Wuranta kemana aku harus bersembunyi.” Tetapi Agung Sedayu tidak berbuat demikian. Meskipun demikian Wuranta tidak akan dapat menyangka, bahwa Agung Sedayu termasuk di dalam lingkungan orang-orang yang kini berada di lereng Merapi itu, sebab kakaknya, Untara adalah Senapati Wira Tamtama Pajang. Karena itu maka Wuranta sejenak tidak segera dapat menjawab.

Swandaru-lah yang agaknya tidak bersabar lagi. Tiba-tiba ia berdiri. Sambil mengingsar pedangnya ia menggeliat. Katanya, “Hem, untunglah, aku sudah minum air hangat pagi ini. Mungkin aku harus segera minum darah Sidanti.”

Wuranta terkejut mendengar kata-kata anak yang gemuk dan bernama Swandaru Geni itu. Dengan wajah yang tegang dipandanginya wajah yang bulat, yang kini sedang menguap. Sidanti menurut pendengarannya adalah seorang anak muda yang ditakuti di lereng Merapi, sebab ia adalah murid Ki Tambak Wedi. Tetapi anak yang gemuk itu dengan seenaknya menyebut namanya. Bahkan sambil menggeliat dan menguap.

“Marilah, Kakang Wuranta,” ajak Agung Sedayu. “Bukankah kau masih Wuranta yang dahulu? Wuranta jago binten yang ditakuti?”

Wuranta menarik keningnya. Sejenak ia terhenyak dalam keragu-raguan. Kalau Agung Sedayu itu kini telah berani menyongsong kedatangan orang-orang dari lereng Merapi itu dengan pedang di lambungnya, kenapa ia tidak?

Dalam kebimbangan itu tiba-tiba terdengar Kiai Gringsing berkata, “Angger Wuranta. Tunggulah sebentar. Aku mempunyai pendapat yang barangkali baik buat kita sekalian. Duduklah Swandaru.”

“Aku tidak mau kehilangan mereka Kiai. Kalau mereka masuk ke halaman ini beruntunglah kami. Tetapi kalau tidak, maka aku akan kecewa sepanjang umurku.”

“Ah,” desah Kiai Gringsing, “duduklah.”

Swandaru menjadi kecewa. Tetapi ia tidak berani membantah perintah gurunya.

“Angger,” berkata Kiai Gringsing kepada Wuranta, “menilik sikap Angger, yang ternyata bahwa Angger telah berbuat banyak untuk kawan-kawan Angger, anak-anak muda Jati Anom, maka menurut penilaianku maka Angger adalah salah seorang dari tetua anak-anak muda di padukuhan ini. Benarkah demikian?”

“Tak ada yang mengangkat aku demikian, Kiai,” sahut Wuranta pendek. “Namun aku berbuat sekedar untuk kepentingan padukuhan serta anak-anak mudanya.”

“Ya, ya,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “agaknya Angger Agung Sedayu pun telah mengenal Angger sebagai seorang anak muda yang pantas berdiri di depan.”

“Ah, agaknya anggapan Adi Sedayu salah.”

“Tidak, Ngger,” potong Kiai Gringsing. “Tetapi aku mempunyai usul yang barangkali bermanfaat bagi kalian, bagi Jati Anom khususnya dan bagi Pajang umumnya, asal Angger bersedia melakukannya. Tetapi apa yang harus Angger lakukan adalah sesuatu yang cukup berbahaya.”

Wuranta mengerutkan keningnya. Jawabnya ragu-ragu, “Apakah itu Kiai? Meskipun demikian, meskipun aku harus berbuat sesuatu yang berbahaya, namun asalkan dapat menguntungkan padesan ini dan apalagi Pajang, maka mudah-mudahan aku dapat melakukannya.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun sekarang orang tua itulah yang ragu-ragu. Katanya, “Tetapi taruhannya bukanlah taruhan yang dapat diperhitungkan dengan cacah. Taruhannya adalah nyawa. Namum kalau Angger berhasil, maka seluruh Pajang akan berhutang budi kepada Angger.”

Wuranta terdiam sejenak. Ditatapnya wajah kedua anak muda yang duduk di hadapannya, seakan-akan ia ingin bertanya, “Kenapa bukan anak-anak muda itu yang harus menjalani?”

“Angger Wuranta,” berkata Kiai Gringsing yang seakan-akan dapat menjajagi perasaan anak muda itu. “Agung Sedayu dan Swandaru tidak akan dapat melakukan pekerjaan itu, sebab mereka berdua telah dikenal dengan baik. Oleh Sidanti maupun oleh Sanakeling.”

Wuranta mengerutkan keningnya mendengar kata-kata orang tua itu. Ternyata Agung Sedayu dan kawannya yang bulat itu telah mengenal dan bahkan dikenal oleh pemimpin laskar yang berada di lereng Gunung Merapi itu.

Tetapi apa yang harus dilakukan menurut orang tua itu pun telah mendebarkan hatinya. Dengan nada yang datar Wuranta bertanya, “Apakah sebenarnya pekerjaan yang harus aku lakukan itu Kiai?”

“Angger Wuranta,” berkata Kiai Gringsing, “apakah Angger satu dua kali pernah ditangkap oleh orang-orang Merapi itu?”

“Aku sendiri belum, Kiai,” jawab Wuranta, “tetapi beberapa di antara kami pernah mengalami.”

“Bagaimanakah perlakuan mereka atas kalian?”

“Mereka tidak begitu menakutkan Kiai. Tetapi kadang-kadang mereka bersikap kasar. Apalagi kalau kami tidak mau menuruti perintah-perintah mereka. Meskipun demikian, kami tidak ingin bekerja bersama dengan mereka, justru karena kami tahu, bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak memihak Pajang.”

“Adakah kadang-kadang mereka membujuk kalian untuk ikut dengan mereka?”

“Sekali dua kali hal itu pernah dilakukan, Kiai.”

“Bagus,” sahut Kiai Gringsing, “itulah yang aku harapkan. Angger Wuranta, Angger adalah anak muda yang akan dapat membantu kami. Tetapi kami tidak akan menekankan maksud ini. Terserahlah kepada Angger. Kami hanya menawarkan kesempatan kepada Angger untuk mencoba memberikan sesuatu kepada Pajang dan sudah tentu kepada padukuhan ini, kepada kademangan ini. Namun sekali lagi aku beritahukan, taruhannya adalah nyawa.”

Wuranta tertegun sejenak. Bahkan Agung Sedayu dan Swandaru pun sama sekali tidak mengerti maksud gurunya.

Anak-anak muda itu pun sejenak terdiam. Wajah mereka memancarkan keragu-raguan hati mereka.

“Angger Wuranta,” berkata Kiai Gringsing lebih lanjut, “bagaimana kalau Angger bersedia menerima tawaran mereka apabila kesempatan itu terbuka bagi Angger?”

“Kiai,” hampir bersamaan. Agung Sedayu dan Swandaru memotong kata-kata gurunya. Sedang Wuranta memandangi wajah orang tua itu dengan tegangnya.

“Tunggu dulu,” sambung Kiai Gringsing, “aku belum selesai. Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang jauh lebih berat dari pekerjaan prajurit yang bertempur di medan-medan perang.” Orang tua itu berhenti sejenak, kemudian dilanjutkannya, “Bukankah dengan demikian Angger ada di antara mereka? Nah, kami percaya bahwa meskipun Angger dalam ujud jasmaniah berada di antara mereka, namun Angger akan tetap berjuang untuk kepentingan Pajang dan Jati Anom.”

Kening Agung Sedayu. Swandaru, dan Wuranta itu menjadi berkerut-merut. Kini mereka dapat membayangkan apa yang harus dilakukan oleh anak muda itu.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Wajah Wuranta yang tegang menjadi bertambah tegang. Dipandanginya wajah Agung Sedayu dan Swandaru berganti-ganti.

“Pekerjaan itu memang sangat berat, Ngger,” berkata Kiai Gringsing kemudian. “Tetapi apabila Angger berhasil, maka Angger telah ikut serta membebaskan daerah ini dari ketakutan dan kecemasan.

Sejenak Wuranta mencoba mencernakan kata-kata orang tua itu. Dicobanya membayangkan apakah yang dapat dilakukan di antara orang-orang yang menakutkan itu. Apakah yang dapat diperbuatnya seorang diri di dalam sangkar bekas-bekas prajurit Jipang dan orang-orang dari padepokan Ki Tambak Wedi.

“Kalau Angger dapat berhasil berada di antara mereka,” berkata Kiai Gringsing seterusnya, “maka pekerjaan Angger seterusnya adalah, memberi kami beberapa penjelasan mengenai keadaan di dalam lingkungan mereka.”

Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Ia telah dapat menggambarkan pekerjaan apa yang harus dilakukannya. Tetapi anak muda itu tidak segera dapat memberikan jawaban.

“Angger,” berkata Kiai Gringsing lebih lanjut, “ketahuilah, bahwa hari ini, selambat-lambatnya besok, Angger Untara akan datang bersama sepasukan prajurit yang cukup kuat. Tetapi mereka tidak akan dengan begitu saja memasuki padepokan Ki Tambak Wedi tanpa mengetahui seluk belum di dalamnya. Nah, kalau Angger berada di antara mereka, maka kami bertiga, Agung Sedayu, Swandaru, dan aku sendiri, akan berusaha selalu berada di dekat Angger di sekitar padepokan itu. Kami akan memasuki padepokan mereka menurut petunjuk-petunjuk Angger. Sedang dari luar, Angger Untara akan datang bersama pasukannya yang kuat, yang pasti akan dapat mengimbangi kekuatan Sidanti dan Sanakeling.”

Setitik keringat meleleh di kening Wuranta. Di dalam dadanya terjadilah suatu pergolakan yang dahsyat. Ia tahu, bahwa dengan demikian ia telah memberikan sumbangan bagi perjuangan prajurit Pajang dalam menghadapi sisa-sisa laskar Sanakeling dan orang-orang Sidanti dari padepokan Ki Tambak Wedi. Namun pekerjaan itu memerlukan ketabahan, kecerdikan, dan keberanian.

“Tetapi segala sesuatu terserah kepada Angger Wuranta,” akhirnya Kiai Gringsing berkata. “Kami menanti pilihan Angger. Kalau Angger bersedia, maka sekarang kami harus berbuat sesuatu. Mencoba mengelabuhi orang-orang lereng Merapi yang sedang turun itu, sehingga Angger mendapat kepercayaan dari padanya. Tetapi kalau Angger tidak bersedia karena sesuatu hal, maka kami harus mengambil sikap lain, misalnya dengan membinasakan ketujuh orang itu.”

Wuranta masih belum menjawab. Terasa darahnya bergelora di dalam dadanya.

Agung Sedayu dan Swandaru pun seolah-olah menjadi terbungkam karenanya. Ia tahu betapa beratnya pekerjaan itu. Namun mereka pun menyadari, bahwa mereka masing-masing tidak akan dapat melakukannya seperti kata gurunya, bahwa mereka telah dikenal oleh orang-orang yang kini berada di padepokan Ki Tambak Wedi itu.

Sejenak ruangan itu dicengkam oleh kesepian. Masing-masing terdiam, namun dadanya bergelora oleh berbagai macam perasaan. Wuranta masih juga membungkam. Keringatnya menjadi semakin banyak mengalir dari lubang-lubang kulitnya.

“Bagaimana, Ngger?” pertanyaan Kiai Gringsing itu diucapkannya perlahan-lahan, namun meskipun demikian ketiga anak-anak muda yang sedang dilanda oleh arus perasaan mereka itu terkejut. Suara Kiai Gringsing yang perlahan-lahan itu terdengar seperti pecahnya jambangan yang jatuh di atas batu.

Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Katanya ragu-ragu, “Tugas itu menarik perhatianku Kiai. Tetapi apakah aku akan dapat melakukannya dengan baik?”

“Semuanya tergantung kepada keadaan dan Angger sendiri,” jawab Kiai Gringsing, “tetapi apabila Angger benar-benar bertekad untuk melakukannya, maka mudah-mudahan Angger dapat berhasil.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Anak muda itu memang bukan seorang penakut, tetapi disadarinya bahwa tugas itu adalah bukan sebuah permainan yang mengasyikkan. Ia sependapat dengan Kiai Gringsing, bahwa taruhannya adalah nyawanya.

“Kiai,” bertanya Wuranta, “sebelumnya aku menjawab pertanyaan itu, apakah Kiai tidak berkeberatan kalau aku bertanya, siapakah Kiai ini sebenarnya?”

Kiai Gringsing tersenyum. Jawabnya, “Namaku Ki Tanu Metir, Ngger.”

“He,” Wuranta terkejut, “maksud Kiai, Kiai itulah dukun dari Dukuh Pakuwon?”

“Ya, akulah Ki Tanu Metir itu. Mungkin Angger pernah mendengar namaku. Aku memang sering berusaha menyembuhkan orang yang sedang sakit.”

Kening Wuranta kini menjadi berkerut-kerut. Nama itu sama sekali tidak memberinya jaminan apapun. Apakah hubungannya dengan Pajang? Yang dapat langsung berhubungan dengan pasukan Pajang di antara mereka hanyalah Agung Sedayu, karena kebetulan Agung Sedayu adalah adik Untara. Tetapi apabila ia sudah berada di antara orang-orang Jipang, apakah Agung Sedayu dapat menjaminnya, bahwa tidak aka nada salah paham kelak antara orang-orang Pajang dengan dirinya seandainya ia masih hidup.

Keragu-raguan itu memancar pada sorot mata Wuranta. Sekali-sekali dipandanginya dukun tua itu, dan sekali-sekali wajah Agung Sedayu dan Swandaru berganti-ganti.

Kiai Gringsing adalah seorang yang memiliki simpanan pengalaman yang cukup. Itulah sebabnya ia merasakan getar kebimbangan di dalam hati Wuranta. Karena itu maka orang tua itu berkata, “Terhadap prajurit Pajang, Angger jangan bimbang. Aku akan menjadi jaminan. Sampai saat ini Angger Untara percaya kepadaku sebagai seorang penasehat yang tidak diangkat.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepanya. Tetapi ia masih bimbang. Sehingga Agung Sedayu yang sedikit banyak dapat ikut merasakannya berkata, “Wuranta, Ki Tanu Metir adalah orang yang selama ini telah membimbing aku dan Adi Swandaru. Ia adalah orang yang mendapat banyak kepercayaan dari Kakang Untara pula. Itulah sebabnya, kadang-kadang Ki Tanu Metir dapat berbuat sesuatu sebelum Kakang Untara sendiri melakukannya.”

Kembali Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun di dalam dadanya masih juga bergetar keraguan dan kecemasan, tetapi ia sudah mulai dapat menjajagi, bahwa Ki Tanu Metir di dalam tata keprajuritan Pajang, setidak-tidaknya dalam perjuangan ini, adalah orang yang dapat dipercaya.

“Nah, sekarang terserah kepadamu, Ngger.”

Dada Wuranta masih bergolak. Ia berdiri di sudut jalan simpang. Kedua-duanya dapat dilaluinya. Ia melihat bahaya bertebaran di simpang yang seaman-amannya baginya. Tetapi kesempatannya untuk mengabdi kepada Pajang dan kademangannya telah sangat menarik perhatiannya. Itulah sebabnya, maka tiba-tiba wajahnya menjadi kian tegang. Ia sudah sampai pada puncak pergolakan di dalam dirinya. Anak muda itu kemudian menghentakkan giginya untuk menemukan kekuatan buat menentukan pilihannya. Akhirnya dengan suara bergetar ia berkata, “Kiai, aku bersedia. Tetapi tunjukkanlah aku jalan itu.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Yang pertama-tama mengucapkan terima kasih adalah aku dan kedua anak-anak muda ini, Ngger. Tetapi hati-hatilah. Kalau Angger sudah berada di antara mereka, maka usahakanlah agar Angger tetap mendapat banyak kesempatan untuk datang ke kademangan ini. Kalau tidak maka Angger harus mendapat suatu tempat untuk meletakkan tanda-tanda dan keterangan yang akan kami ambil di saat-saat tertentu. Misalnya di sudut Tegal Mlanding. Angger dapat meninggalkan rontal dengan beberapa tulisan dan tanda-tanda.”

“Baik, Kiai. Tetapi dari mana aku mendapat rontal?”

“Angger dapat mempergunakan apa saja. Secarik kain dengan cocokan daun sirih atau apa saja yang dapat Angger pergunakan. Batang-batang pohon dan mungkin orang-orang yang Angger percayai.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Kembali setitik keringat meleleh di keningnya.

“Akan aku usahakan menghubungi Kiai dan Adi Agung Sedayu atau Adi Swandaru. Sudut Tegal Mlanding memang tempat yang baik. Di sudut Utara ada sebatang pohon beringin. Pohon itulah tempat yang ditentukan apabila aku meletakkan sesuatu.”

“Baik. Baik, Ngger,” berkata Ki Tanu Metir. “Sekarang bagaimana Angger dapat mengelabuhi orang-orang itu sehingga Angger akan mendapat kepercayaan?”

“Terserahlah kepada Kiai.”

“Baiklah. Angger akan mengambil sesuatu dari rumah ini. Agung Sedayu akan mengejar sampai orang-orang lereng Merapi itu melihat Anger. Angger Wuranta akan mengatakan bahwa Angger telah mengambil benda-benda itu dari rumah ini, tetapi ternyata Agung Sedayu berada di dalam rumahnya. Tetapi ingat bahwa Agung Sedayu seorang diri.”

Wuranta mendengarkan kata-kata Kiai Gringsing itu dengan seksama. Lamat-lamat ia segera dapat menangkap maksudnya. Meskipun demikian ia bertanya, “Kenapa Agung Sedayu hanya seorang diri?”

Dengan demikian, maka mereka tidak akan terlampau bersiaga. Pengaruhnya pun tidak akan terlampau banyak bagi orang-orang di lereng Merapi itu. Mereka dapat menyangka bahwa Agung Sedayu hanya sekedar melihat rumahnya.

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sebelum ia berkata selanjutnya, Ki Tanu Metir telah mendahuluinya, “Tetapi Ngger, ada soal lain yang harus kau mengerti. Orang-orang lereng Merapi itu mendendam Agung Sedayu sampai ke ubun-ubun.”

Ki Tanu Metir berhenti sejenak. Kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Kalau mereka mendengar nama Agung Sedayu, maka jantung mereka akan segera menyala. Tetapi kalau Agung Sedayu itu seorang diri, maka tanggapan merekapun akan berbeda daripada apabila Agung Sedayu datang bersama Swandaru atau seorang tua yang bernama Ki Tanu Metir. Bahkan mereka pasti ingin menjebak Agung Sedayu ke dalam perangkapnya, sebab di lereng Merapi itu memang telah tersedia umpannya.”

Wuranta tidak segera menangkap maksud Kiai Gringsing, sementara itu wajah Agung Sedayu pun menjadi kemerah-merahan.

“Angger Wuranta,” berkata Ki Tanu Metir itu selanjutnya, “ketahuilah, bahwa adik Swandaru yang bernama Sekar Mirah, sejak beberapa hari yang lalu telah hilang. Ternyata Sekar Mirah itu telah dilarikan oleh Sidanti. Hal ini adalah salah satu sebab yang mendorong kami mendahului pasukan Untara. Dan hal ini pula termasuk salah satu yang harus Angger perhitungkan apabila Angger berhasil masuk ke dalam lingkungan Sidanti itu. Angger harus secepatnya berusaha memberi kami kabar, dari mana kami akan mendapat kesempatan yang paling aman untuk memasuki padepokan Ki Tambak Wedi dan mendekati tempat Sekar Mirah itu disimpan. Kami harus dapat mencegah supaya Sekar Mirah tidak akan dapat dijadikan barang taruhan untuk memeras kekuatan pasukan Angger Untara kelak. Sebab mau tidak mau, Angger Untara pasti akan terpengaruh seandainya Sekar Mirah itu masih tetap berada di padepokan. Nah, barangkali Angger Wuranta kini telah dapat membayangkan, apakah kira-kira yang harus Angger lakukan apabila Angger bersedia mengorbankan diri untuk tugas itu.”

Sekali lagi Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Gambaran tentang tugas yang disanggupinya itu menjadi kian jelas. Anak muda itu tahu benar hubungan apakah yang ada antara kedua anak muda itu dengan Sekar Mirah. Sekar Mirah itu adalah adik Swandaru dan adik Swandaru itu adalah umpan yang baik untuk memancing Agung Sedayu.

Tiba-tiba Wuranta itu tersenyum, meskipun hatinya masih juga berdebar-debar. Sambil memandangi Agung Sedayu ia berkata, “Baiklah Ki Tanu Metir. Aku akan mencoba melihat, darimana sebaiknya Adi Swandaru harus menangkap umpannya, tetapi tidak tersangkut kailnya, atau mungkin Adi Agung Sedayu?”

“Ah,” Agung Sedayu berdesah. Tetapi Swandaru tertawa hampir tak terkendali, sehingga Ki Tanu Metir mencegahnya. “He, Swandaru, jangan menunggu Ki Tambak Wedi menutup mulutmu.”

Suara tertawa Swandaru itu pun terhenti. Tetapi mulutnya masih juga tersenyum. Katanya, “Nah, ternyata kita mendapat suatu cara yang baik untuk membebaskan Sekar Mirah karena pertolongan Kakang Wuranta.” Kemudian kepada Wuranta ia berkata, “Kakang Wuranta, mudah-mudahan usaha ini akan bermanfaat bagi kita semua. Bagi kami yang datang dari Sangkal Putung ini dan bagi Jati Anom.

“Mudah-mudahan, Adi,” jawab Wuranta pendek.

“Sekarang,” berkata Ki Tanu Metir, “Angger Wuranta harus meninggalkan rumah ini. Usahakan supaya orang-orang lereng Merapi mencari Angger Agung Sedayu lewat halaman depan. Kau dapat berbuat seakan-akan kau menentangnya dengan dengan mencegah orang-orang itu dengan tergesa-gesa memasuki halaman ini. Dengan demikian kau memberi kesempatan kepada kami untuk meninggalkan rumah ini lewat pintu belakang. Apakah kau dapat mengerti?”

“Baik, Kiai.”

“Nah, sekarang pergilah. Kau merasa dikejar oleh Agung Sedayu. Kau harus dilihat oleh orang-orang yang memasuki desa ini. Lalu kau kembali bersama mereka untuk menunjukkan bahwa di rumah itu ada seorang anak muda yang bernama Agung Sedayu yang mengejarmu karena kau mengambil sesuatu dari rumah ini. Berangkatlah supaya orang-orang lereng Merapi itu sempat melihatmu sebelum mereka pergi meninggalkan padukuhan ini.

“Baik, Kiai.”

“Yang lain-lain akan menyusul. Mudah-mudahan kita akan segera bertemu lagi. Atau tinggalkan pesan di sudut Tegal Mlanding.”

“Baik, Kiai. Sekarang, baiklah aku pergi.” Wuranta berhenti sesaat, lalu katanya, “Tetapi kemana aku harus berlari. Apakah aku harus mengelilingi padukuhan ini sampai aku bertemu dengan orang-orang itu?”

“Kau dapat bertanya kepada seorang dua orang yang melihatnya. Bukankah perempuan dan anak-anak tidak perlu melarikan dirinya apabila orang-orang itu datang?”

“Sampai sekarang anak-anak dan perempuan tidak pernah mereka ganggu Kiai. Mungkin orang-orang itu sedang mengambil hati orang-orang Jati Anom.”

“Demikianlah. Dan kau pasti cukup bijaksana.”

Kemudian Wuranta itu pun minta diri kepada Kiai Gringsing dan kedua anak muda, murid orang tua itu. Dengan tergesa-gesa meninggalkan rumah itu. Sampai di luar regol halaman ia menjadi ragu-ragu sejenak, namun kemudian ia pun berlari kearah Barat.

Tiba-tiba ia berhenti ketika terdengar seorang perempuan memanggilnya dari balik pintu regol. Ketika Wuranta mendekat, perempuan itu berbisik, “Sst, Wuranta, larilah. Orang-orang itu berada beberapa puluh langkah darimu. Dua halaman di sebelah barat itu.”

Dada Wuranta berdesir mendengar bisik orang itu. Sejenak ia menjadi ragu-ragu kembali. Apakah ia dapat melakukan tugas yang diberikan kepadanya itu? Ia tahu pasti bahwa Ki Tanu Metir dan Agung Sedayu bukanlah prajurit-prajurit Padang yang berwenang untuk memberinya tugas-tugas demikian. Apakah ia akan sampai hati untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang kemudian diberikan kepadanya oleh orang-orang lereng Merapi, yang mungkin akan sangat bertentangan dengan hatinya. Apakah kata orang-orang Jati Anom sendiri tentang dirinya dan apakah orang-orang itu kelak akan dapat mengerti, bahwa apa yang dilakukan itu justru untuk kepentingan mereka.

Dalam keragu-raguan itu, kembali Wuranta mendengar perempuan di belakang regol itu berkata, “Cepat, masuklah kemari Wuranta. Cepat. Mereka berada di halaman sebelah barat itu.”

Tetapi Wuranta kini benar-benar tidak dapat berbuat lain. Pada saat itu ia melihat beberapa orang laki-laki dengan senjata dilambungnya keluar dari halaman di sebelah Barat itu berantara satu pomahan.

Ketika tampak oleh mereka itu seorang anak muda berdiri di depan regol, maka tiba-tiba salah seorang dari mereka melambaikan tangan mereka memanggil Wuranta mendekat.

“Masuklah,” desis perempuan di belakang regol.

“Mereka telah melihat aku,” desis Wuranta perlahan.

“Oh, kau terlambat, Nak,” kata perempuan itu sambil bergegas-gegas meninggalkan regol halamannya naik ke rumah. Dengan tergesa-gesa pula didorongnya pintu leregnya dan kemudian diselaraknya rapat-rapat.

Wuranta berjalan dengan hati yang berdebar-debar mendekati orang-orang itu. Ketika ia menjadi semakin dekat, maka tahulah ia bahwa orang-orang itu hanyalah berjumlah enam orang. Ketika dilihatnya seorang anak muda di antara mereka yang berwajah tampan namun keras, segera dikenalnya anak muda itu. Anak muda itu adalah Sidanti, seperti yang dikatakan oleh beberapa orang kawan-kawannya yang pernah ditangkap pula. Di dalam rombongan kecil itu pula dilihatnya seorang yang bersenjatakan tombak pendek. Maka iapun menduga, bahwa orang itulah yang sering disebut oleh kawan-kawannya bernama Argajaya.

Ketika Wuranta menjadi semakin dekat, maka kini ia menjadi semakin jelas. Di samping kedua orang yang berada di depan itu, maka yang lain hanyalah beberapa orang prajurit pengawalnya saja.

“Kemarilah,” berkata anak muda yang disangkanya bernama Sidanti.

Wuranta melangkah perlahan-lahan. Dadanya diamuk oleh kecemasan dan keragu-raguan. Namun akhirnya ia membulatkan tekadnya bahwa ia akan berbuat sebaik-baiknya seperti yang dipesankan oleh Ki Tanu Metir.

“Siapakah kau anak muda?” bertanya orang yang disangkanya Sidanti itu.

Keringat dingin telah mengalir membasahi punggung Wuranta. Perlahan-lahan ia menjawab, “Namaku Wuranta, Tuan.”

“Nama yang baik,” desis orang yang bertanya itu. “Sebaiknya kau mengenal aku pula. Namaku Sidanti.”

“O,” Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya, “aku telah pernah mendengar nama Tuan. Apakah Tuan yang membawa tombak pendek itu bernama Argajaya?”

Sidanti tertawa, “Darimana kau mengenal kami?”

“Kawan-kawanku mengatakan kepadaku, Tuan.”

“O,” desis Sidanti, “aku memang pernah bertemu dengan beberapa anak-anak muda dari Jati Anom. Sayang di antara kita belum ada sentuhan perasaan yang dapat mempererat hubungan kita. Sebagian dari anak-anak muda Jati Anom sengaja menghindari apabila kami datang ke kademangan ini untuk memperkenalkan diri.”

“Ya, Tuan. Kami, anak-anak Jati Anom kadang-kadang menjadi takut kepada Tuan-tuan.”

“Kenapa takut?” bertanya Sidanti.

“Justru karena kami belum mengenal Tuan.”

Sidanti tertawa. “Alasanmu bagus sekali. Kita terperosok ke dalam suatu lingkaran yang tak berpangkal dan berujung. Kalian takut berkenalan dengan kami, karena itu kalian selalu menghindari kami. Adapun sebabnya kalian takut karena kalian belum mengenal kami. Begitu?”

Wuranta tersenyum pula. Senyum yang dipaksakannya. Tetapi kini ia telah mencoba melakukan pekerjaannya. Berkali-kali ia berpaling ke belakang dengan gelisahnya. Ia mengharap Sidanti akan bertanya tentang sikapnya itu.

Ternyata harapannya itu berlaku. Dengan dahi yang berkerut-kerut, Sidanti bertanya, “Apakah kau sedang menunggu seseorang?”

“Tidak, Tuan,” sahut Wuranta. “Tetapi seseorang tadi mengejarku. Hampir aku bersembunyi di halaman sebelah seandainya Tuan tidak memanggilku.”

“Siapa yang mengejarmu?” bertanya Sidanti dengan serta merta. “Dan kenapa kau dikejar orang?”

“Ah, soalnya agak memalukan, Tuan.”

“Kenapa?”

“Hanya sebilah keris”

“Bagaimana dengan sebilah keris?” Argajaya tidak dapat bersabar.

“Aku mendapatkan sebilah keris di sebuah rumah yang aku sangka kosong, Tuan. Tiba-tiba dari belakang datang seorang anak muda penghuni rumah itu. Penghuni yang sebenarnya telah lama sekali menghilang.”

“Siapa?”

“Agung Sedayu, Tuan.”

“He,” terasa darah Sidanti tersirap, “kau berkata bahwa Agung Sedayu berada di rumahnya?”

“Ya, Tuan. Agung Sedayu adalah lawan berkelahi sejak kami masih kanak-kanak.”

Wajah Sidanti tiba-tiba menjadi merah. Dengan mata yangmenyala ia bertanya, “Wuranta, mari tunjukkan di mana Agung Sedayu sekarang?”

“Di rumahnya, Tuan. Baru saja aku dikejarnya.”

“Apakah kau tidak berani melawan Agung Sedayu?”

“Aku tidak bersenjata, Tuan.”

“Kalau kau bersenjata?”

Wuranta terdiam sejenak. Dipandanginya Sidanti dengan wajah bertanya-tanya.

Tiba-tiba Sidanti tertawa. Katanya, “Mungkin kau memang tidak akan dapat melawannya. Agung Sedayu tumbuh terlampau cepat. Tetapi serahkan ia kepadaku.”

“Siapakah anak muda itu?” bertanya Argajaya. “Agung Sedayu?”

“Ya.”

“Yang aku jumpai di Prambanan?”

“Nah, itulah, Paman. Agung Sedayu.”

Dada Argajaya pun berdesir. Ia mengenal tiga anak-anak muda di Prambanan. Tetapi Agung Sedayu itu bukanlah anak muda yang berkelahi melawannya.

“Apakah mereka juga bertiga?” bertanya Argajaya.

Wuranta mengerutkan keningnya. Kenapa Argajaya itu dapat menebak bahwa Agung Sedayu datang bertiga? Tetapi maksud Argajaya adalah tiga anak-anak muda, Agung Sedayu, Swandaru, dan seorang lagi yang mengaku bernama Sutajia.

Untunglah bahwa Wuranta segera ingat pesan Ki Tanu Metir, bahwa Agung Sedayu datang seorang diri ke rumahnya. Maka jawabnya, “Sendiri Tuan. Agung Sedayu hanya seorang diri menurut penglihatanku, Tetapi entahlah aku tidak tahu apakah ia datang bersama kawan-kawannya.”

“Beruntunglah kalau aku dapat bertemu dengan setan itu,” desis Argajaya. “Sidanti,” katanya kepada kemenakannya, “serahkan anak itu kepadaku.”

Sidanti tersenyum. Jawabnya, “Jangan seperti berebut durian runtuh, Paman. Aku ingin menangkapnya hidup-hidup. Membawanya kembali ke padepokan dan mempertemukannya dengan Sekar Mirah. Tetapi tidak dalam keadaan yang wajar. Aku ingin supaya Sekar Mirah melihat, Agung Sedayu akan aku ikat seperti anjing. Aku pukuli sampai Sekar Mirah mau menerima aku sebagai suaminya.”

“Kau terlampau mementingkan dirimu sendiri Sidanti. Kau tidak mengingat bahwa kita berada dalam keadaan perang melawan Pajang. Persoalan-persoalan pribadi akan dapat mengganggu bagi persoalan-persoalan yang lebih penting.”

Sidanti masih saja tersenyum. Tetapi kini ia tidak dapat menjawab kata-kata pamannya. Kepada Wuranta ia berkata, “Ayo bawa aku kepadanya. Kalau kau berhasil menunjukkan di mana Agung Sedayu berada, maka kau akan mendapat keris yang kau kehendaki dan bukan itu saja. Mungkin kau mempunyai beberapa permintaan.”

“Baik, Tuan,” sahut Wuranta. “Marilah, sebelum anak itu lari.”

Mereka pun kemudian berjalan beriringan dengan tergesa-gesa. Wuranta berjalan di paling depan dengan tegapnya. Sekali-kali ia meloncat berlari-lari seakan-akan ia benar-benar segera ingin melihat Agung Sedayu itu tertangkap.

Di belakangnya, Sidanti dan Argajaya berjalan sambil memperhatikan Wuranta. Sambil tersenyum Sidanti berkata lirih, “Lagaknya anak itu. Seakan-akan ia sendirilah yang akan menangkap Agung Sedayu. Ternyata ia lari pontang-panting ketika dikejarnya.”

Argajaya tidak menjawab. Tetapi dendamnya kepada Sutajia masih belum dapat dilupakannya, kalau nanti ia benar-benar bertemu dengan Agung Sedayu maka sekali lagi ia ingin minta kepada Sidanti agar menyerahkan anak muda itu kepadanya, sebagai pelepas dendamnya. Namun tiba-tiba di kepalanya melontar sebuah pertanyaan, “Bagaimanakah kalau Sutajia itu kini bersama Agung Sedayu itu pula?”

Tanpa disengajanya ia berpaling. Di belakang berjalan empat orang prajurit dengan senjata di lambungnya. Tetapi bagi Argajaya, empat orang prajurit itu sama sekali tidak banyak berarti apabila mereka benar-benar bertemu dengan ketiga anak-anak muda yang ditemuinya di Prambanan.

Semakin dekat mereka dengan regol halaman rumah Agung Sedayu, maka hati mereka pun menjadi semakin berdebar-debar. Wuranta menjadi cemas, apakah Agung Sedayu benar-benar akan berhasil melepaskan dirinya, sedang Sidanti dan Argajaya menjai cemas kalau anak itu telah meninggalkan rumahnya.

Sampai di muka regol halaman, Wuranta berhenti. Ia menjadi ragu-ragu. Dalam keragu-raguan itu terdengar Sidanti bertanya, “Kenapa berhenti?”

“Aku akan memanggilnya, Tuan.”

“Tak usah. Kita masuki saja rumahnya.”

“Bagaimana kalau Agung Sedayu membawa beberapa orang kawan?”

Sidanti tersenyum, katanya, “Aku pun membawa beberapa orang kawan pula.”

Tetapi Argajaya-lah yang menyahut, “Panggil anak itu keluar. Kita lebih baik tidak menampakkan diri. Kita akan lebih mudah menangkapnya apabila kita telah melihat orangnya.”

Sidanti tidak membantah. Pendapat itu baik juga agaknya. Karena itu maka katanya kepada Wuranta, “Bagaimana caramu untuk memanggilnya. Apakah ia akan keluar juga?”

“Tunggulah, Tuan. Aku akan membuat ia marah.”

Sidanti tersenyum. Katanya, “Lakukanlah.”

Wuranta itu pun kemudian berdiri di tengah-tengah regol halaman rumah Agung Sedayu. Tetapi sebelum berteriak, sekali lagi ia berpaling kepada Sidanti sambil berkata, “Tetapi, Tuan jangan melepaskan aku sendiri. Aku akan dibunuhnya nanti.”

“Penakut,” geram Sidanti. “Aku disini. Jangan takut.” Beberapa orang di belakang Sidanti hampir tidak dapat menahan tertawa mereka melihat sikap Wuranta. Sedang Argajaya dengan garangnya berkata, “Lekas, jangan membuang waktu.”

Wuranta memandangi rumah itu lagi. Dilihatnya pintu depan rumah Agung Sedayu tertutup. Tetapi ia mengharap bahwa Agung Sedayu dan kawan-kawannya telah melihatnya dari bilik dinding.

Sekali lagi ia berpaling kepada Sidanti, dan dilihatnya mata anak muda itu hampir saja meloncat dari pelupuknya.

Wuranta itu pun kemudian menengadahkan wajahnya. Dengan lantang ia berteriak, “He, Agung Sedayu. Kenapa kau bersembunyi? Hampir mati kepayahan aku menunggumu di prapatan. Ayo , kalau kau benar-benar jantan!”

Masih belum terdengar jawaban, dan Wuranta berteriak lagi “He, kalau kau tidak berani keluar, jangan sebut dirimu Agung Sedayu! Jangan sebut dirimu putera Ki Sadewa dan jangan sebut dirimu adik Untara! Ayo, keluarlah!”

Dada Sidanti tiba-tiba berdesir, sedang jantung Argajaya terasa berderak ketika mendengar suara dari dalam halaman, “Wuranta, jangan terlampau sombong. Halaman ini cukup luas untuk mengadu liatnya kulit, kerasnya tulang. Jangan lari. Marilah kita jajagi, siapakah yang jantan di antara kita.”

Tiba-tiba Wuranta tertawa menyakitkan hati. Dengan nada yang tinggi ia berkata, “O, kau agaknya ingin menjebak aku, he? Ayo keluarlah dari regol halaman rumahmu. Kalau kita berkelahi di dalam halaman, maka mungkin kau menyimpan kawan di dalam rumahmu yang jelek itu. Ayo, keluarlah!”

“Kaukah yang menjebak aku? Apakah kau sudah mendapat kawan baru sehingga kau kembali lagi ke halaman ini? Ha, jangan ingkar. Aku melihat kau sekali-sekali berpaling. Siapakah kawanmu he?”

“Tunggulah, Tuan. Aku akan membuat ia marah.”

Sidanti tersenyum, katanya, “Lakukanlah.”

Wuranta itu pun kemudian berdiri di tengah-tengah regol halaman rumah Agung Sedayu. Tetapi sebelum berteriak, sekali lagi berpaling kepada Sidanti sambil berkata, “Tetapi Tuan jangan melepaskan aku sendiri. Aku akan dibunuhnya nanti.”

“Penakut,” geram Sidanti. “Aku di sini. Jangan takut.”

Beberapa orang dibelakang Sidanti hampir tak dapat menahan tertawa mereka melihat sikap Wuranta. Sedang Argajaya dengan garangnya berkata, “Lekas, jangan membuang waktu.”

Wuranta memandangi rumah itu lagi. Dilihatnya pintu depan rumah Agung Sedayu tertutup. Tetapi ia mengharap bahwa Agung Sedaya dan kawan-kawannya telah melihatnya dari balik dinding. Sekali lagi ia berpaling kepada Sidanti, dan dilihatnya mata anak muda itu hampir saja meloncat dari pelupuknya.

Wuranta itu pun kemudian menengadahkan wajahnya. Dengan lantang ia berteriak, “He, Agung Sedayu. Kenapa kau bersembunyi? Hampir mati kepayahan aku menunggumu di prapatan. Ayo kalau kau benar-benar jantan.”

Tidak segera terdengar jawaban dari dalam rumah itu. Sidanti dan Argajaya menjadi gelisah. Mereka masih berdiri di balik dinding halaman, sehingga mereka tidak melihat ke dalam halaman.

“Agung Sedayu!” teriak Wuranta kemudian. “He, Agung Sedayu! Kenapa kau tidak mengejarku terus? Aku menunggumu di prapatan.”

Masih belum terdengar jawaban, dan Wuranta berteriak lagi, “He, kalau kau tidak berani keluar, jangan sebut dirimu Agung Sedayu. Jangan sebut dirimu putera Ki Sedewa dan jangan sebut dirimu adik Untara. Ayo, keluarlah!”

Dada Sidanti tiba-tiba berdesir, sedang jantung Argajaya terasa berderak ketika mereka mendengar suara dari dalam halaman. “Wuranta, jangan terlampau sombong. Halaman ini cukup luas untuk mengadu liatnya kulit, kerasnya tulang. Jangan lari. Marilah kita jajagi, siapakah yang jantan di antara kita.”

Tiba-tiba Wuranta tertawa menyakitkan hati. Dengan nada yang tinggi ia berkata, “O, kau agaknya ingin menjebak aku he? Ayo, keluarlah dari regol halaman rumahmu. Kalau kita berkelahi di dalam halaman, maka mungkin kau menyimpan kawan di dalam rumahmu yang jelek itu. Ayo, keluarlah!”

“Kaukah yang akan menjebak aku? Apakah kau sudah mendapat kawan baru sehingga kau kembali lagi ke halaman ini? Ha, jangan ingkar. Aku melihat kau sekali-sekali berpaling. Siapakah kawanmu, he?”

“Persetan! Aku bukan pengecut. Ayo, kemarilah!” sahut Wuranta.

Namun dada Sidanti-lah yang tidak tahan lagi. Seakan-akan dada itu akan bengkah. Ia bukan pengecut yang hanya berani bersembunyi, kemudian menyerang lawanya dalam kelengahan. Karena itu, maka terdengar giginya gemeretak menahan diri.

Ternyata Argajaya pun hampir-hampir tidak dapat menguasai perasaannya lagi. Dengan parau ia menggeram, “Jangan bermain sembunyi-sembunyian. Ayolah Sidanti, kita selesaikan tikus itu.”

Sidanti tidak menunggu ajakan berikutnya. Cepat ia meloncat dari balik diding regol hampir bersamaan dengan Argajaya. “Agung Sedayu!” teriak Sidanti. “Kita bertemu kembali. Apakah kau memang mencari aku.”

“O,” sahut Agung Sedayu, “kaukah itu Sidanti? Dan yang satu itu bukankah pamanmu yang bernama Argajaya? Apakah kau datang bersama gurumu Ki Tambak Wedi?”

Kata-kata itu terasa seperti bara api menyentuh telinga Sidanti. Dengan gigi gemeretak ia menjawab, “Agung Sedayu. Jangan merasa dirimu jantan sendiri. Aku bersedia untuk sekali lagi melakukan perang tanding dengan jujur. Ayo, turunlah. Kita berhadapan sebagai laki-laki.”

Terdengar Agung Sedayu tertawa. Nadanya menyakitkan hati. Katanya, “Wuranta, itukah minta-srayamu?”

“Jangan hanya berbicara!” sahut Wuranta. “Sekarang kau sudah berhadapan dengan lawanmu.”

“Pengecut! Agaknya kau hanya berani bersembunyi di balik punggungnya.”

“Jangan menghina Wuranta! Aku terpengaruh oleh keadaan, karena aku berada di dalam rumahmu tanpa ijinmu,” Jawab Wuranta.

Sidanti hampir tidak sabar lagi mendengar percakapan yang tidak ada ujung pangkalnya, sekali lagi ia membentak, “Sedayu, ayo, kita mulai!”

Agung Sedayu terdiam. Tampaklah wajahnya menjadi tegang. Keringat dingin mengalir dari keningnya. Ia mendapat pesan dari gurunya, untuk kepentingan yang lebih besar, ia harus menghindari perkelahian kali ini. Ia harus masuk kedalam rumahnya dan lari bersama-sama lewat pintu belakang dan meloncati dinding halaman belakan. Tetapi ketika ia melihat Sidanti telah berdiri di hadapannya. Tiba-tiba darahnya menggelegak. Hampir-hampir ia tidak dapat mengingat lagi, apa yang harus dilakukan seandainya gurunya tidak berbisik dari balik dinding “Tinggalkan mereka. Cepat, kita lari sebelum rencana ini bubrah.”

Agung Sedayu masih diam mematung. Bahkan tangan Swandarupun menjadi gemetar. Dengan penuh kekecewaan ia berkata, “Guru, kenapa mereka tidak kita bantai sekarang? Bukankah guru dan kami berdua mampu melakukannya? Wuranta itu tidak lagi perlu mencari jalan untuk masuk kedalam padepokan Tambak Wedi.”

“Kau tidak ingin adikmu kembali? Dan apakah kau ingin melihat Jati Anom menjadi karang abang?”

Swandaru terdiam. Yang terdengar kemudian adalah suara Sidanti, “Turunlah atau aku akan naik ke rumahmu?”

“Cepat Agung Sedayu!” perintah gurunya dari balik dinding. “Katakan kepadanya, suatu ketika kau akan menerimanya menjadi tamumu.”

Mulut Agung Sedayu serasa terbungkam. Namun ketika Kiai Gringsing berkata, “Agung Sedayu, taati perintah gurumu,” maka Agung Sedayu itu pun tidak dapat menolak lagi. Ketika ia melihat Sidanti maju setapak maka iapun berteriak “Sidanti kali ini aku berkeberatan menerimamu. Tetapi lain kali aku harap kau sudi berkunjung ke rumahku lagi.”

Agung Sedayu tidak menunggu jawaban Sidanti. Hatinya sendiri berguncang dahsyat sekali karena ia harus meninggalkan lawan bebuyutan itu.

Melihat Agung Sedayu meloncat dan hilang di balik pintu, Sidanti terkejut bukan kepalang. Sama sekali tidak disangkanya bahwa begitu cepat Agung Sedayu meniggalkannya dengan tergesa-gesa. Ia mengharap bahwa Agung Sedayu menerima tantangannya dan berkelahi dihalaman. Namun tiba-tiba Agung Sedayu berlari seperti tikus melihat kucing.

Justru karena itu maka sejenak ia berdiri diam seperti patung. Argajaya terkejut pula. Sifat anak itu sama sekali berubah dari sifat Agung Sedayu yang ditemuinya di Prambanan, yang melihat ujung senjata dengan tengadah. Apalagi anak muda yang bernama Sutajia. Tetapi adalah mengherankan kalau kali ini tanpa malu-malu Agung Sedayu itu meloncat berlari sipat kuping.

Sejenak kemudian Sidanti menyadari keadaanya. Menyentak ia berkata, “Setan itu harus aku tangkap.”

Tetapi ketika Sidanti meloncat terdengar Wuranta berkata, “Tuan. Tunggulah.”

Sidanti tertegun. Diawasinya wajah anak muda Jati Anom itu dengan heran.

“Tuan, siapa tahu di dalam rumah itu ada beberapa orang yang telah siap menjebak Tuan.”

Sidanti ragu-ragu sesaat. Tetapi kemudian ia bertanya, “Bukankah kau berkata bahwa Agung Sedayu hanya seorang diri saja.”

“Itu menurut penglihatanku, Tuan. Tetapi siapa tahu, bahwa sepuluh atau dua puluh orang telah siap menanti Tuan.”

Argajaya ternyata tidak sabar menunggu mereka berbincang. Ia tanpa berkata sepatah kata pun segera meloncat mendahului. Sidanti berlari melintasi halaman rumah Agung Sedayu. Sidanti pun segera menyusul sambil berkata, “Kalau kau takut, tinggallah di luar. Kalau ia tidak sendiri, maka mereka pasti sudah beramai-ramai mengejarmu tadi.”

Wuranta tidak menjawab lagi. Ia mengharap bahwa waktu yang diusahakannya telah cukup panjang bagi Agung Sedayu dan kedua kawannya.

Dalam pada itu Argajaya telah naik ke pendapa disusul oleh Sidanti. Dengan kasarnya ia mendorong pintu sambil berteriak, “He pengecut! Di manakah kejantananmu? Pilihlah di antara kami, siapakah yang akan kau jadikan lawanmu.”

Suara Argajaya itu berderak memukul dinding-dinding rumah yang kosong. Sama sekali ia tidak mendengar jawaban. Meskipun demikian ia tidak dapat masuk dengan tanpa bersiaga menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Peringatan Wuranta ternyata mempengaruhinya juga.

“Ayo, keluarlah. Siapa yang berada dirumah ini?”

Masih tak ada jawaban. Sidanti pun kini telah berada didalam rumah itu. Tangannya telah melekat dihulu pedangnya. Bahkan orang-orangnya yang berada di belakangnya telah menggenggam senjata masing-masing. Sedang tombak pendek Argajaya pun telah siap bergerak apabila terjadi sesuatu dengan tiba-tiba.

“Agung Sedayu,” terdengar Sidanti memanggil-manggil.

Masih tidak ada jawaban.

Dengan marahnya Sidanti pun segera menendang pintu-pintu dan perabot rumah yang memang telah porak-poranda. Suaranya berderak-derak tak keruan. Orang-orangnya pun menirukan saja apa yang diperbuat oleh Sidanti itu.

Tiba-tiba terdengar Sidanti berkata, “Kita cari ke belakang.”

Mereka pun kemudian berlari kehalaman belakang. Wuranta pun ikut pula deng mereka, bahkan seperti mereka juga Wuranta ikut menendang-nendang beberapa macam barang.

“Sedayu!” teriak Sidanti.

Sepi. Tak seorang pun yang menyahut.

“Agung Sedayu, pengecut!”

Suara itu saja yang melontar menyentuh dedaunan. Seolah-olah memenuhi seluruh pedukukan Jati Anom.

“Gila,” geram Sidanti, “apakah aku akan kehilangan dia?”

Tiba-tiba Sidanti itu melihat sesuatu yang bergerak-gerak di dalam bilik belakang. Cepat ia meloncat mendekati. Dengan gerak seperti kilat pedangnya telah tergenggam di dalam tangannya. Kali ini ia tidak membawa pusakanya, neggala.

“Keluar!” teriaknya. “Ayo keluar! Apakah kau Agung Sedayu?”

Yang terdengar kemudian adalah suara tangis kanak-kanak yang meledak. Dengan penuh ketakutan seorang perempuan dengan anak laki-laki yang masih kecil terbongkok-bongkok keluar dari bilik kecil itu.

“O, gila kau,” bentak Sidanti. “Di mana Agung Sedayu, he?”

“Agung Sedayu lari, Tuan,” sahut perempuan itu.

“Suruh anak itu diam!” teriak Argajaya sambil menunjuk kepala anak itu dengan ujung tombaknya.

“Cup, Ngger,” desis perempuan itu sambil menggigil. Didekapnya anak itu di dadanya.

“Suruh anak itu diam!” bentak Argajaya pula.

Perempuan itu menjadi semakin ketakutan. Dengan gemetar ia mencoba manahan tangis anaknya, “Cup diam ya Ngger.” Tetapi anak itu masih juga menangis.

“Di mana Sedayu?” sekali lagi Sidanti membentak.

“Lari, Tuan. Ia lari meloncat pagar dinding itu.”

“Kau berkata sebenarnya? Apakah anak itu tidak kau sembunyikan?”

“Tidak, Tuan. Tuan dapat mencari di seluruh halaman ini.”

“Kalau aku ketemukan dia, aku penggal kepalamu.”

Perempuan itu tidak menjawab, tetapi ia menggigil ketakutan.

“Ayo, tunjukkan di mana ia bersembunyi!” perintah Argajaya.

Tiba-tiba Wuranta maju selangkah sambil berkata, “Maaf Tuan-tuan, perempuan ini adalah bibiku. Memang ia menjadi pembantu dan penunggu rumah Agung Sedayu sejak ayahnya masih hidup. Karena petunjuknya pula aku ingin mengambil keris hari ini, tetapi tiba-tiba saja Agung Sedayu itu datang.”

Argajaya dan Sidanti serentak berpaling memandangi Wuranta. Dan Wuranta mencoba meyakinkan, “Ia berada di pihakku, Tuan. Ia tidak akan menyembunyikan Agung Sedayu.”

Sidanti dan Argajaya menjadi ragu-ragu sejenak. Ditatapnya wajah Wuranta dan perempuan itu berganti-ganti. Kemudian berkata Sidanti, “Apakah kau berkata sebenarnya?”

“Buat apa aku membohong, Tuan. Bibi inilah yang mengatakan bahwa Untara telah menyimpan sebuah pusaka berbentuk keris di dalam rumah ini. Tetapi ketika aku mencoba mencarinya, aku masih belum menemukannya. Malahan hari ini Agung Sedayu yang datang tanpa disangka-sangka telah mengejarku.”

Sidanti dan Argajaya mengerutkan keningnya. Tetapi mereka tidak segera berbuat sesuatu.

Ketika mereka masih saja berdiri diam, maka tiba-tiba bertanyalah Wuranta kepada perempuan tua itu, “Bibi, kemana Agung Sedayu melarikan dirinya? Ke samping atau ke belakang?”

“Ke belakang, Ngger,” sahut perempuan itu ragu-ragu.

“Apakah Tuan masih akan mengejarnya?” bertanya Wuranta.

Sidanti dan Argajaya tiba-tiba tersadar. Tanpa berkata sepatah katapun segera mereka berlari dan dengan tangkasnya mereka meloncat dinding di bagian belakang. Wurantapun tidak ketinggalan pula. Ternyata ia pun cukup tangkas untuk meloncat dinding itu tanpa kesulitan.

Tetapi mereka sudah tidak menemukan seseorang di belakang dinding itu. Meskipun demikian mereka masih mencoba mencarinya ke sekitar halaman rumah Agung Sedayu, bahkan sampai ke halaman rumah tetangga-tetangganya. Namun mereka sudah tidak menemukan Agung Sedayu.

“Sayang,” desis Wuranta.

“Apa yang sayang?” bertanya Sidanti.

“Monyet itu.”

“Huh,” Argajaya mencibirkan bibirnya. “Apa yang dapat kau lakukan seandainya kami menemukannya? Kau hanya mampu lari terbirit-birit seperti anjing kena cambuk.”

Terasa dada Wuranta berdesir. Sesaat darahnya bergolak, namun sesaat kemudian ia tersenyum kecut. Tetapi ia tidak menjawab sepatah katapun. Meskipun demikian, terasa alangkah menyakitkan kata-kata Argajaya itu. Ia tahu, bahwa orang-orang dari lereng Merapi adalah orang-orang yang pilih tanding. Bahkan anak muda yang bernama Sidanti itu memiliki kemampuan bertempur yang hampir di luar kemampuan prajurit biasa. Argajaya itu adalah pemimpin yang agaknya disegani juga. Tetapi untuk mendengarkan hinaan dari mereka terasa telinganya menjadi sakit juga.

Meskipun demikian Wuranta harus menahan diri. Ia sedang melakukan tugas yang sangat berat. Karena itu ia harus dapat mengorbankan perasaannya dan bahkan harga dirinya. “Pekerjaan yang tidak menyenangkan,” ia berdesah di dalam hantinya.

Namun sedikit banyak terasa olehnya, bahwa orang-orang lereng Merapi sampai saat itu tidak mencurigainya. Pekerjaannya kini tinggallah mencari kepercayaan yang lebih besar dan berusaha untuk turut serta ke sarang mereka.

Setelah mereka tidak dapat menemukan jejak Agung Sedayu, maka Sidanti kemudian berkata, “Apakah yang harus kita lakukan kini, Paman?”

Argajaya tidak segera menjawab. Diawasinya wajah Wuranta yang kemudian berpaling. Ia tidak mau berpandangan mata dengan paman Sidanti yang kasar itu supaya ia tetap dapat menahan diri dalam tugasnya.

“Bertanyalah kepada pengecut itu,” jawab Argajaya, “apa saja yang ingin dilakukan di kampung halamannya ini.”

Sidanti mengerutkan keningnya. Baginya pamannya memang terlampau kasar menghadapi orang-orang yang sedang dipancing untuk berpihak kepada mereka.

“Baiklah,” akhirnya Sidanti itu menjawab, dan kepada Wuranta ia bertanya, “ Wuranta, apakah yang sebaiknya kita lakukan. Apakah ada yang menarik di kademangan ini untuk dikunjungi?”

Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu arti pertanyaan itu. Sidanti dan Argajaya ingin menemukan sesuatu yang mungkin berharga bagi mereka.

Tetapi Wuranta pura-pura tidak mengerti maksud Sidanti. Karena itu ia bertanya, “Apakah maksud Tuan?”

Sidanti tersenyum. Kemudian katanya, “Apakah kau tahu, di mana kami mendapat sesuatu yang dapat disumbangkan untuk perjuangan kami melawan ketamakan orang-orang Pajang? Pusaka misalnya atau perhiasan untuk menambah bekal?”

“Di rumah Agung Sedayu ada pusaka, Tuan, tetapi beberapa hari aku sudah mencarinya, namun belum juga ketemu.”

“Bodoh kau!” bentak Argajaya. “Apakah kau tahu, di mana ada orang-orang kaya di kademangan ini?”

“O,” desis Wuranta. Sekali lagi telinganya menjadi pedih. “Tetapi Tuan, rumah-rumah itu telah pernah Tuan kunjungi.”

Mata Argajaya terbelalak karenanya. Hampir ia mengumpat sejadi-jadinya. Tetapi Sidanti-lah yang mendahului sambil tertawa, “Baik. Memang barangkali kau benar. Hampir setiap rumah yang cukup menarik telah kami kunjungi. Lalu barangkali kau mempunyai pertimbangan lain?”

Wuranta menggelengkan kepalanya.

“Selain harta benda apakah yang dapat kau sumbangkan?” bertanya Sidanti.

“Apakah maksud Tuan?”

Sidanti tidak meneruskan kata-katanya. Tetapi sambil tersenyum ia berkata, “Ah, hari telah siang. Apakah kita sudah cukup, Paman?”

“Lalu anak ini?” berkata Argajaya sambil menunjuk kepada Wuranta.

Sebelum Sidanti menjawab Wuranta telah mendahului, “Apakah Tuan akan segera kembali naik ke lereng Merapi? Aku menjadi takut Tuan apabila nanti Agung Sedayu datang kembali.”

Sidanti tersenyum melihat Wuranta yang kecemasan itu, katanya, “Lalu? Apa yang kau kehendaki?”

Wuranta tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah kedua pemimpin dari lereng Merapi itu berganti-ganti. Namun agaknya Argajaya tidak begitu senang melihat sikapnya. Maka katanya, “Kenapa kau bertanya kepadanya? Biarkan saja, apa yang akan dilakukannya.”

~ Article view : [263]