Api di Bukit Menoreh [ series 26-30]

410

Karya : SH Mintardja

 

Series26

DALAM kediaman mereka, para prajurit itu bertanya-tanya di dalam hati, kenapa tiba-tiba saja sikap anak Jati Anom itu berubah. Anak muda itu tidak lagi menepuk dada sambil menyebut namanya, dan tidak lagi berkata tentang Untara. Sama sekali tidak ada lagi bekas kesombongannya pada pengakuannya yang ikhlas itu. Bahkan sikapnya yang menyakitkan hati, bahwa seolah-olah Untara, senapati mereka yang mereka hormati, harus juga dianggapnya terlampau remeh, dan seolah-olah dalam keadaan serupa itu harus datang kepadanya dan menyatakan terima kasih serta mohon maaf atas segala kesalahannya. Hal yang bagi para prajurit itu tidak akan mungkin sekali terjadi. Untara adalah seorang senapati yang menggenggam tanggung jawab atas wilayah di sekitar Gunung Merapi, bahkan di dataran yang membentang sampai ke pesisir kidul. Meskipun Untara juga anak yang dilahirkan dan dibesarkan di Jati Anom, namun kedudukannya terlampau jauh terpaut dari anak muda yang bernama Wuranta itu. Seandainya pada masa-masa kecilnya mereka berkawan dan bermain bersama dalam satu lingkaran permainan, tetapi keadaan telah membentuk mereka di kedudukan mereka masing-masing.

Belum sempat salah seorang dari mereka dapat memecahkan kediaman itu, maka mereka pun dikejutkan oleh bayangan yang mendekati mereka. Tidak hanya seorang, tetapi lima orang. Mereka mendengar langkah mereka semakin lama semakin dekat, dan melihat mereka semakin jelas. Di dalam remang-remang cahaya obor di kejauhan mereka dapat memastikan bahwa sebagian dari mereka adalah prajurit-prajurit Pajang.

“Para perwira,” desah para prajurit hampir bersamaan. Mereka menyangka bahwa kelima orang itu adalah satu atau dua orang perwira bersama dengan para pengawalnya mengadakan peninjauan keliling. Melihat para prajurit yang sedang bertugas dan melihat orang-orang yang terluka atau terbunuh di peperangan. Adalah menjadi kebiasaan para perwira Pajang untuk melihat, bahkan menangani sendiri tugas-tugas yang berat dan sulit.

Ketika orang-orang yang datang itu menjadi semakin dekat, maka para prajurit itu pun berdiri berjajar, memberi mereka jalan, dan bersiap apabila mereka harus menjawab pertanyaan-pertanyaan. Sedang Wuranta pun kemudian bergeser di belakang para prajurit itu. Ternyata kelima orang itu berjalan ke arah para prajurit itu, sehingga para prajurit itu pun terpaksa mempersiapkan diri mereka untuk menerima kunjungan para perwira. Sejenak mereka menebarkan pandangan mata mereka, untuk mengetahui di mana kawan-kawan mereka berada. Mungkin mereka harus membawa para perwira itu ke tempat-tempat perondan, ke tempat para prajurit mengumpulkan orang-orang yang terluka yang belum sempat dibawa ke pendapa banjar, bahkan mungkin melihat mayat-mayat yang sudah dikumpulkan untuk dikuburkan besok pagi.

Ketika terlihat oleh para prajurit itu mayat laki-laki tua beserta isterinya, maka mereka pun berpaling. Hanya sejenak. Ketika mereka melihat Wuranta di belakang mereka, maka mereka menganggap bahwa seharusnya Wuranta-lah yang wajib memberikan keterangannya.

Kelima orang itu menjadi semakin dekat. Hampir tidak percaya para prajurit itu menajamkan matanya, yang satu di antara mereka ternyata adalah Untara sendiri.

“Ki Untara,” salah seorang dari mereka berdesis.

“Oh,” sahut kawannya perlahan-lahan, “ya, Ki Untara sendiri.”

Ketiga prajurit itu kini berdiri tegak berjajar. Untara memang sering berbuat demikian. Meninjau keadaan langsung di tempat-tempat yang dianggapnya penting. Seperti kebiasaannya berdiri di ujung peperangan, maka ia pun selalu berada di dalam kesibukan akibat dari setiap peperangan, di antara para prajuritnya.

Para prajurit itu menganggukkan kepala mereka ketika Untara lewat di hadapan mereka.

Untara dan para pengawalnya pun menganggukkan kepala mereka pula. Namun tiba-tiba Untara itu menghentikan langkahnya. Ia berdiri di hadapan para prajurit itu. Dengan demikian maka para prajurit itu pun menjadi berdebar-debar.

Sejenak Untara hanya berdiri saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ternyata yang dipandangnya bukan wajah-wajah prajurit yang berdiri tegak di hadapannya, tetapi orang yang berdiri di belakang mereka. Wuranta.

Para prajurit itu melihat arah pandangan mata Untara. Mereka pun menjadi semakin berdebar-debar. Apakah yang akan dilakukan oleh senapati itu? Apakah ia telah mendengar laporan bahwa Wuranta pernah merendahkannya? Dan apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh Wuranta setelah ia berhadapan langsung dengan Untara yang namanya sering disebut-sebutnya.

Sejenak suasana dicengkam oleh kesepian. Untara berdiri saja di tempatnya, dan Wuranta seolah-olah menjadi beku.

Namun kemudian mereka melihat Untara itu mengerutkan keningnya sambil berdesis, “Wuranta, bukankah kau itu?”

Wuranta menjadi termangu-mangu. Bagaimana ia harus bersikap terhadap senapati itu di dalam suasana peperangan? Apakah ia harus bersikap seperti para prajurit itu dan menjawabnya seperti jawaban seorang prajurit pula?

Tetapi kata-kata Untara berikutnya telah mengejutkannya dan bahkan mengejutkan para prajurit yang berdiri tegak itu. Katanya, “Aku memang mencarimu Wuranta, sambil melihat-lihat keadaan.”

Wuranta menjadi semakin berdebar-debar. Apakah sebabnya Untara mencarinya? Tiba-tiba ia teringat akan sikapnya selama ini. Karena itu maka ia bertanya di dalam hatinya, seperti pertanyaan yang bergetar di dalam dada para prajurit itu “Apakah Untara telah benar-benar mendengar sikap Wuranta yang kadang-kadang merendahkannya sebagai seorang senapati, dan ia datang sendiri untuk mengambil tindakan terhadapnya?”

Wuranta yang berdiri tegak seperti para prajurit itu masih saja tegak seperti sebatang tonggak. Namun sejenak kemudian ia berhasil menguasai perasaannya yang tidak lagi melonjak-lonjak. Ia mencoba menenangkan dirinya dan berkata di dalam hati, “Mudah-mudahan aku tidak menjadi gila lagi di hadapan Untara sendiri.”

Para prajurit yang berdiri di muka Wuranta pun menjadi berdebar-debar pula. Tiba-tiba mereka merasa iba seandainya Untara marah dan mengambil sesuatu tindakan atas Wuranta. Pengakuan Wuranta yang ikhlas atas kesalahannya pada saat-saat terakhir telah menyingkirkan sama sekali kebencian para prajurit itu atasnya. Tetapi seandainya Untara sendiri yang datang mencarinya, dan kemudian berbuat sesuatu atasnya, maka tidak seorang pun dari mereka yang dapat menolongnya.

Sejenak kemudian terdengar Untara berkata pula “Wuranta, kemarilah.”

Wuranta menarik nafas dalam-dalam. Namun dalam ketenangan kini ia dapat menanggapi persoalannya. Ia telah memutuskan untuk tidak bersikap sebagai seorang prajurit. Ia memang bukan seorang prajurit. Ia adalah anak Jati Anom, dan Untara adalah anak Jati Anom pula.

Perlahan-lahan ia melangkah maju, berjalan di sisi ketiga prajurit yang masih berdiri berjajar dengan tegapnya.

“Apakah kau memerlukan aku Untara?” bertanya Wuranta. Hati para prajurit itu pun menjadi semakin berdebar-debar.

“Ya, aku memerlukanmu,” sahut Untara.

“Apakah ada sesuatu yang penting di antara kita?” bertanya Wuranta sareh.

“Tentu,” sahut Untara, “aku memang sengaja datang kepadamu karena aku dengar kau tidak ingin pergi ke banjar padepokan ini. Apakah memang begitu?”

Sejenak Wuranta menjadi ragu-ragu. Tetapi ia ingin berkata sejujurnya, seperti yang terjadi. Maka katanya, “Ya, aku memang tidak ingin pergi ke banjar padepokan. Dari manakah kau tahu?”

Ketiga prajurit itu masih saja diliputi oleh kecemasan. Apalagi ketika mereka melihat sikap Wuranta. Untara adalah senapati perang. Sedang Wuranta menanggapi seperti terhadap teman sepermainan. Meskipun seandainya dahulu memang demikian, tetapi keadaan kini harus sudah berbeda.

“Kenapa kau tidak mau pergi ke banjar?” bertanya Untara.

“Tidak apa-apa,” jawab Wuranta, “aku menunggui kakek tua yang meninggal bersama isterinya.”

“Ya, aku mendengar dari Ki Tanu Metir. Semuanya dikatakannya kepadaku tentang kau. Dan aku dapat mengerti kenapa kau tidak mau datang ke banjar.”

Wuranta mengerutkan keningnya. Apa sajakah yang telah dikatakan oleh Ki Tanu Metir itu tentang dirinya? Dan Wuranta mendengar Untara meneruskan, “Tetapi Ki Tanu Metir tidak mengatakannya kepada Agung Sedayu. Mungkin waktunya dianggapnya kurang tepat. Karena itu ketahuilah, bahwa Agung Sedayu menjadi bingung menanggapi sikapmu. Tetapi aku tidak bingung Wuranta. Aku mengerti, sebab Ki Tanu Metir mengatakan kepadaku. Juga tentang laki-laki tua itu.” Untara berhenti sejenak, lalu diteruskannya, “Aku datang kepadamu untuk mengucapkan terima kasih atas segala jasa-jasamu Wuranta. Dan aku minta kau datang ke banjar padepokan ini. Aku tahu apa yang kau rasakan. Bukan saja karena laki-laki tua seperti yang kau sebutkan.”

Sejenak Wuranta terbungkam. Tidak terlintas di dalam otaknya, bahwa benar-benar Untara telah datang kepadanya untuk mengucapkan terima kasih.

Apalagi ketiga prajurit yang kini berdiri di belakangnya. Mereka berdiri dengan mulut ternganga. Apa yang tidak mungkin baginya ternyata kini benar-benar telah terjadi. Bahwa senapati yang bernama Untara itu datang kepada Wuranta, anak Jati Anom untuk mengucapkan terima kasih.

Sejenak suasana menjadi sepi, yang terdengar hanyalah nafas Wuranta yang berdesah. Di kejauhan satu dua orang prajurit masih berkeliaran di dalam tugasnya.

“Wuranta,” terdengar Untara berkata “aku minta kepadamu, datanglah ke banjar padepokan ini. Hadapilah persoalanmu dengan jiwa yang besar. Aku adalah anak muda pula seperti kau, dan aku adalah kakak Agung Sedayu itu. Aku pun merasakan sesuatu di dalam diriku, justru karena aku seorang kakak, seorang yang lebih tua, yang sepantasnya telah melakukannya lebih dahulu. Tetapi kesibukanku ternyata tidak memberi aku kesempatan.”

Wuranta tidak segera menjawab. Ia masih diliputi oleh suatu perasaan yang aneh. Ia tiba-tiba saja dihadapkan pada suatu kenyataan yang diharapkannya terjadi di dalam kegelapan hati. Dalam kegelapan ia memang mengucapkan kata-kata itu, bahwa seharusnya Untara-lah yang datang kepadanya dan mengucapkan terima kasih. Tetapi bahwa hal itu terjadi justru setelah hatinya menjadi tenang, malahan membuatnya menjadi termangu-mangu.

Namun ternyata sesuatu telah menyusup di dalam hati anak muda itu. Lamat-lamat tergores di dalam hatinya, suatu jawaban atas pertanyaan yang selama ini mengganggunya. “Apakah aku masih diperlukan oleh para prajurit Pajang? Dan apakah aku berhak ikut menikmati kemenangan ini?”

Kalau Untara, senapati tertinggi di daerah ini datang kepadanya dan mengucapkan terima kasih, maka seharusnya ia dapat berbangga karenanya. Seharusnya ia merasa bahwa dirinya bukan sekedar sampah yang disisihkan, yang tidak lagi dapat dipergunakan.

“Wuranta,” berkata Untara kemudian, “aku pasti akan menyetujui permintaanmu tentang laki-laki tua yang kau maksud beserta isterinya. Aku dapat mengerti bahwa laki-laki itu pun mendapat penghargaan khusus. Tetapi biarlah para prajurit yang berkewajiban mengurusnya. Mereka akan tahu apa yang harus mereka lakukan,” Untara itu berhenti sejenak. “Nah, bagaimana?”

“Apakah yang harus aku lakukan?” bertanya Wuranta.

“Beristirahat di banjar padepokan. Besok pada saatnya kita bersama-sama pergi ke Jati Anom. Aku akan meninggalkan separo dari prajurit Pajang di padepokan ini dengan beberapa orang penghubung berkuda. Sedang aku sendiri akan tetap berada di Jati Anom.”

Wuranta masih saja tegak seperti patung. Ia justru menjadi bingung menghadapi peristiwa yang tiba-tiba dan tidak diduga sama sekali. Untara sendiri datang kepadanya dan minta ia beristirahat di banjar padepokan.

Kalau yang datang dan minta kepadanya itu Untara sudah tentu sangat sulitlah baginya untuk menolak. Tetapi perasaannya tidak cukup kuat untuk menerima permintaan itu dan hatinya pasti tidak akan cukup besar menghadapi Agung Sedayu dan Sekar Mirah yang berada di banjar itu pula.

Tetapi sejenak kemudian Untara berkata, “Wuranta, baiklah aku beritahukan bahwa aku telah menyetujui permintaan Sekar Mirah dan kedua anak-anak muda yang bersamanya, untuk berpindah tempat peristirahatan. Tidak di banjar itu. Tetapi mereka kini berada di rumah di sebelah banjar. Rumah yang tidak dipakai menyimpan orang-orang sakit apalagi mayat-mayat para prajurit yang terbunuh di peperangan. Di banjar padepokan Sekar Mirah selalu berada dalam ketakutan.”

Wuranta tiba-tiba mengangkat wajahnya. Jadi di banjar sudah tidak ada lagi Agung Sedayu, Sekar Mirah, dan Swandaru. Tetapi kenapa Ki Tanu Metir tidak mengatakannya?

Agaknya Untara mengerti pertanyaan di dalam dada Wuranta, sehingga ia berkata, “Mereka meninggalkan banjar ketika Ki Tanu Metir pergi bersamamu. Bukankah kau juga pergi ke banjar tetapi kau tidak singgah di pringgitan?”

Wuranta mengangguk, “Ya, Untara. Aku memang pergi ke banjar untuk memanggil Ki Tanu Metir.”

“Tetapi kedatangan orang tua itu terlambat. Kakek yang kau maksud suami isteri itu telah meninggal. Bukankah begitu?”

“Ya, itulah mayat mereka.”

Untara berpaling. Dilihatnya dalam keremangan cahaya obor, seorang perempuan membeku di dada suaminya yang beku pula. Terasa dada Untara berdesir. Ia sudah melihat mayat di peperangan dalam keadaan yang paling mengerikan. Tetapi baru kali ini ia melihat seorang isteri mati memeluk suaminya yang mati pula. Mengharukan.

“Mereka akan mendapat perawatan yang sewajarnya. Aku mengerti, bahwa laki-laki tua itu turut menentukan saat-saat yang terakhir dari peperangan ini. Seandainya ia tidak berusaha memberi kau jalan maka keadaan akan menjadi berbeda. Jasanya tidak kalah dengan setiap orang prajurit Pajang. Jasanya hampir sebesar jasamu sendiri.”

“Ah,” Wuranta berdesah. Jasa laki-laki tua itu tidak kalah dengan jasa setiap prajurit Pajang. Tetapi jasa itu masih belum sebesar jasanya. Kata-kata itu diucapkan oleh seorang senapati seperti Untara, senapati yang memimpin sendiri peperangan ini.

Wuranta justru menjadi terbungkam. Tetapi perlahan-lahan ia merasakan bahwa di dalam dadanya berkembang sebuah kebanggaan. Ia tidak perlu merasa dirinya terlampau rendah. Sehingga ia tidak perlu mencari cara yang aneh-aneh untuk menggelembungkan dirinya, menyembunyikan kekerdilannya.

Karena Wuranta tidak berkata sepatah kata pun, maka Untara meneruskan “Nah, marilah kita pergi ke banjar padepokan ini.”

Wuranta tidak dapat menolak lagi. Karena itu ia hanya dapat menganggukkan kepalanya dan berdesis, “Baiklah, Untara.”

“Besok atau lusa, apabila keadaan telah menjadi tenteram sebagian pasukanku akan kembali ke Jati Anom. Aku akan tetap berkedudukan di sana. Kita tidak perlu mencemaskan kekuatan orang-orang Jipang lagi di daerah ini. Juga orang-orang dari padepokan Tambak Wedi. Kita telah berhasil menyumbat mulut sarang mereka dan menangkap segenap isinya di dalam sarang ini, Mungkin masih ada satu dua kelompok kecil orang-orang Jipang yang keras kepala di-daerah-daerah lain. Tetapi itu pun pasti akan segera diselesaikan.”

Kemudian kepada para prajurit yang berdiri tegak di belakang Wuranta, Untara berkata, “Nah, kau sudah mendengar tentang laki-laki tua itu. Usahakan besok mayatnya berdua telah berada di banjar. Mayat itu akan dikuburkan bersama dengan orang-orang Pajang yang gugur. Mungkin kalian masih belum dapat merasakan jasa laki-laki tua itu, tetapi pada saatnya kalian akan mengetahuinya.”

Sejenak kemudian Untara dan para pengawalnya telah kembali ke banjar padepokan bersama Wuranta. Di banjar itu benar-benar tidak dijumpainya lagi Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah, yang berada di sana tinggal beberapa orang perwira prajurit Pajang dan Ki Tanu Metir.

Ternyata sikap para perwira yang langsung mengerti tugas-tugas berat Wuranta agak berbeda dengan sikap para prajurit. Namun setelah Wuranta berhasil merenungkan dengan tenang, maka sumber dari sikap yang tidak menyenangkan dari para prajurit itu adalah dirinya sendiri. Usahanya untuk menutupi kekerdilannya, ternyata telah banyak menyinggung perasaan orang lain.

Para prajurit yang ditinggalkan oleh Wuranta di halaman di belakang halaman banjar padepokan, sejenak saling berpandangan. Salah seorang dari mereka kemudian berdesis, “He, ternyata kata-kata anak muda itu benar terjadi. Untaralah yang mencarinya dan mengucapkan terima kasih kepadanya.”

“Memang menurut pendengaranku, apa yang dilakukannya dapat menentukan penyelesaian ini.”

“Aku menyangka ia terlampau sombong. Tetapi aku menjadi heran, bahwa pada saat-saat terakhir ia seakan-akan mengakui kesalahannya, mengakui sikapnya yang tidak sewajarnya.”

“Ah,” desah prajurit yang lain, “kenapa hal itu kita risaukan. Biarlah para perwira mengurusnya. Urusan kita adalah, berkeliling padepokan, terutama di sekitar banjar.”

“Tetapi mayat kedua suami isteri itu?”

“Oh, biarlah mereka yang bertugas untuk itu. Kita beritahukan saja kepada mereka, apa yang harus mereka lakukan.”

Ketika para prajurit itu kemudian melakukan tugas masing-masing, maka tempat itu pun menjadi sepi kembali.

Di dalam lingkungan para perwira yang sebagian besar dari mereka telah mengerti benar-benar akan peranannya, maka Wuranta merasa telah menemukan dirinya kembali. Betapa penyesalan dan kecewa melanda dadanya apabila diingatnya segala tindak tanduknya selama ini. Bahkan ia merasa heran sendiri, kenapa ia seakan-akan menjadi liar dan kehilangan pegangan.

Meskipun demikian setiap kali ia teringat akan Sekar Mirah maka hatinya masih terasa pahit. Gadis itu belum lama dikenalnya. Baru beberapa hari. Tetapi yang beberapa hari itu ternyata telah menjadikannya hampir gila.

Malampun menjadi semakin malam. Di kejauhan terdengar anjing-anjing liar berteriak-teriak berebut makan. Terasa betapa angin membawa bau darah menyentuh hidung mereka yang tajam. Sekali-sekali terdengar suara burung hantu dan burung kedasih seakan-akan sahut-menyahut, meneriakkan kepedihan yang ngelangut.

Sementara para prajurit yang bertugas masih saja sibuk hampir semalam suntuk, maka di sebuah rumah yang tidak begitu jauh dari banjar itu, Sekar Mirah duduk berpegangan tangan kakaknya. Meskipun ia sudah tidak lagi berada di antara mayat dan orang-orang yang terluka, namun ia masih diburu saja oleh takut dan ngeri.

“Kemanakah Ki Tanu Metir kini?” bertanya Swandaru kepada Agung Sedayu.

“Entahlah. Mungkin masih berada di banjar atau kemana. Mungkin guru sedang mencari Wuranta itu lagi. Atau mungkin kini sedang tidur nyenyak.”

Swandaru terdiam. Gurunya kadang-kadang tidak memberitahukan kemana ia pergi. Bahkan kadang-kadang sampai berhari-hari. Tetapi dalam suasana seperti ini, maka mereka seolah-olah selalu ingin berada bersamanya. Bukan karena perasaan takut bahwa tiba-tiba mereka harus bertempur melawan Ki Tambak Wedi, tetapi perasaan sepi seakan-akan menghunjam dalam-dalam di jantung mereka.

Sesaat mereka saling berdiam diri. Namun dengan demikian maka terasa malam menjadi kian sepi. Kesepian itu ternyata tidak menyenangkan sekali, sehingga tanpa sesadarnya Agung Sedayu berbicara sekedar untuk menyentakkan perasaan sepi itu, “Apakah kita tidak akan tidur?”

Swandaru mengangkat wajahnya. Dipandanginya lampu minyak yang menyala berkeredipan. Kemudian Swandaru itu pun berkata kepada Sekar Mirah, “Mirah, tidurlah.”

Sekar Mirah menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku ngeri, Kakang.”

“Di sini tidak ada apa-apa, Mirah,” berkata kakaknya. “Di sini tidak seperti banjar padepokan yang penuh dengan orang-orang terluka. Di sini kita mendapat tempat yang baik. Agaknya pemilik rumah ini pun orang yang baik pula”

“Tetapi ia mendendam seperti orang-orang Tambak Wedi yang lain, Kakang. Siapa tahu,” Sekar Mirah berhenti sejenak sambil memandang berkeliling kalau-kalau ada orang lain di dalam ruangan itu. Ketika tidak dilihatnya seseorang maka ia berkata perlahan-lahan, “Siapa tahu bahwa ia akan mempergunakan setiap kesempatan untuk melepaskan dendamnya.”

“Tetapi tidak seorang pun dari rumah ini terbunuh. Suami perempuan itu ternyata hanya terluka, tidak terlampau parah. Dan sekarang laki-laki itu berada di banjar.”

“Itu sudah cukup membuat hatinya mendendam”.

Agung Sedayu dan Swandaru kemudian berdiam diri. Mereka melihat wajah Sekar Mirah yang dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan.

“Kenapa kita tidak kembali saja ke Sangkal Putung, Kakang?” bertanya Sekar Mirah tiba-tiba.

“Ah, bukankah hari masih malam?” jawab kakaknya.

“Tetapi itu lebih baik daripada aku berada di sini. Aku tidak juga dapat tidur dikejar oleh perasaan takut dan ngeri.”

“Jalan masih cukup berbahaya, Mirah,” sahut Agung Sedayu.

“Bukankah orang-orang Jipang dan Tambak Wedi mutlak dihancurkan di sini.”

“Tetapi justru orang-orang yang terpenting dapat meloloskan diri. Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya.”

“Tetapi mereka pasti lari jauh-jauh. Mereka tidak akan berada di sekitar padepokan ini. Apalagi di jalan ke Sangkal Putung. Mereka pasti tidak akan menyangka bahwa kita akan berjalan malam ini.”

Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. Kini pertimbangan-pertimbangannya datang kembali. Tidak seperti pada saat ia berangkat dari Sangkal Putung. Pada saat ia merasa kehilangan Sekar Mirah. Pada saat itu ia kehilangan sama sekali setiap pertimbangan apapun. Ia hanya ingin pergi dari Sangkal Putung segera untuk berusaha membebaskan Sekar Mirah. Tetapi kini, setelah Sekar Mirah itu bebas dari cengkeraman Sidanti, maka sifat-sifatnya telah datang kembali. Pertimbangan-pertimbangannya bermunculan dari bermacam-macam segi.

“Perjalanan yang demikian akan sangat berbahaya,” berkata Agung Sedayu.

“Bagiku perjalanan itu akan lebih baik. Aku tidak kehilangan waktu semalam ini. Daripada kita duduk tanpa arti di sini, bukankah lebih baik kita berjalan ke Sangkal Putung? Besok kita pasti sudah mencapai kademangan itu. Dan besok kita sudah dapat bersama dengan ayah dan ibu.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia menjadi ragu-ragu. Tetapi Sekar Mirah berkata terus, “Apakah yang kita dapatkan dengan duduk-duduk saja begini? Aku sudah terlampau rindu kepada ayah dan ibu. Ayah dan ibu pun pasti akan terlalu gelisah menunggu.”

Swandaru tidak menjawab dan Agung Sedayu pun berdiam diri. Tetapi pertimbangannya sama sekali tidak sejalan dengan keinginan Sekar Mirah itu.

“Bagaimana, Kakang?” bertanya Sekar Mirah. “Marila kita pulang sekarang.”

Swandaru pun menjadi bimbang. Sebenarnya ia juga ingin segera pulang ke Sangkal Putung. Ia akan segera berkata kepada ibunya, bahwa janjinya telah terpenuhi. Pulang dengan membawa Sekar Mirah. Dan ibunya pun pasti akan bergembira karenanya. Kalau ibunya masih saja menangis, maka ibunya akan menjadi tenang.

Dalam kebimbangan itu ia mendengar Sekar Mirah mendesaknya, “Bagaimana, Kakang? Apakah tidak lebih baik kita pulang saja. Di sini kita sama sekali tidak berarti apa-apa. Mungkin orang-orang Pajang menganggap kita hanya memberati pekerjaan mereka saja.”

Akhirnya Agung Sedayu terpaksa mencegahnya. Katanya, “Jangan, Sekar Mirah. Aku kira kurang baik kiranya apabila kita tergesa-gesa kembali ke Sangkal Putung.”

“Ah,” Sekar Mirah berdesah, “sekehendakmulah kalau kau tidak akan pergi ke Sangkal Putung. Aku kira kau memang tidak akan pergi ke Sangkal Putung lagi. Kau sudah kembali ke kampung halamanmu, bersama kakakmu pula. Apa gunanya lagi kau pergi ke Sangkal Putung? Tetapi aku pasti harus pulang. Ayah dan ibuku menunggu aku. Mungkin ibuku selalu menangis dan ayahku tidak tenang bekerja. Karena itu aku akan segera kembali malam ini.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Selama ini ia tidak berpikir bahwa ia telah berada dekat dengan kampung halamannya. Kalau ia ingin kembali pulang, maka ia seharusnya pulang ke Jati Anom, ke rumah peninggalan ayahnya yang isinya telah hancur karena pokal Sidanti dan orang-orang Jipang. Tetapi selama ini ia seakan-akan merasa dirinya harus kembali ke Sangkal Putung. Ke tempat tugas pamannya, Widura.

Dan tiba-tiba saja Agung Sedayu dihadapkan pada kebimbangannya sendiri. Apakah ia harus pergi ke Sangkal Putung atau ia akan tinggal di Jati Anom.

“Ayolah, Kakang Swandaru,” ajak Sekar Mirah, “kita pergi berdua. Di sini kita tidak mempunyai teman seorang pun kecuali kita berdua. Tetapi di Sangkal Putung setiap hidung adalah teman-teman kita yang baik, yang mengerti kesusahan dan kepedihan hati kita. Tetapi di sini kita seperti orang asing, yang dianggap mengganggu pekerjaan mereka saja.”

“Jangan berprasangka, Mirah,” sahut Agung Sedayu. “Tak seorang pun yang menganggap bahwa kita di sini hanya menambah pekerjaan orang-orang Pajang. Bukankah kita tidak mengganggu mereka. Kita dapat mengurus diri kita sendiri. Tetapi yang penting diperhatikan adalah kemungkinan yang akan kita temui di sepanjang jalan.”

“Kalau kau ingin tinggal di sini tinggallah,” potong Sekar Mirah.

“Aku datang bersama Adi Swandaru. Aku dan Adi Swandaru telah menyanggupkan diri kepada Ki Demang Sangkal Putung untuk mencarimu. Kalau kau diketemukan, maka sepantasnya bahwa kami berdualah yang harus menyerahkan kau kepada Ki Demang berdua.”

“Tidak perlu,” sahut Sekar Mirah, “kau tidak perlu pergi ke Sangkal Putung. Aku akan pulang bersama Kakang Swandaru. Kau hanya akan memperlambat perjalanan saja. Ternyata kau masih ingin tinggal di sini. Bahkan kau pasti masih ingin singgah di Jati Anom sehari atau dua hari.”

“Tidak Mirah. Aku tidak akan singgah di Jati Anom,” jawab Agung Sedayu. Tetapi ia menjadi heran mendengar jawaban itu, jawabannya sendiri. Dan sekali lagi ia menjadi bimbang, apakah ia akan pergi ke Sangkal Putung? Namun selanjutnya berkata, “Aku akan pergi ke Sangkal Putung mengantarkanmu. Tetapi jangan malam ini. Kita harus memperhitungkan setiap keadaan. Apalagi Kakang Untara pasti akan mencari kita. Sebab kita adalah sebagian dari tanggung jawabnya.”

“Bohong,” bantah Sekar Mirah. “Untara sama sekali tidak mempedulikan kita lagi. Apakah kita pergi, apakah kita tinggal di sini. Untara tidak akan mempertimbangkan. Bahkan orang-orangnya sajalah yang akan menggerutu karena mereka harus melihat kehadiran kita di sini.”

Agung Sedayu terdiam. Tetapi hatinya bergolak. Ia ingin membantah pendapat gadis itu, tetapi ia tidak ingin bertengkar. Sedang Swandaru yang kebingungan duduk saja sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kepalanya itu terasa pening.

Mereka terperanjat ketika mereka mendengar suara tertawa lirih. Kemudian terdengar pintu berderit. Perlahan-lahan seorang tua masuk ke dalam ruangan itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Orang itu adalah Ki Tanu Metir.

“Hem,” orang tua itu berdesah, “memang bermacam-macam pikiran dan perasaan bergulat di dalam padepokan ini.”

Ketiga anak muda yang berada di dalam ruangan itu memandanginya sambil bertanya-tanya di dalam hati. Apakah yang dimaksud oleh Ki Tanu Metir itu?

“Baru saja aku melihat Angger Wuranta yang sedang digoncangkan oleh perasaannya. Ia mengalami persoalan jiwa yang ternyata menggoyahkan keseimbangannya.”

Ketika Ki Tanu Metir terdiam sejenak maka Agung Sedayu pun bertanya, “Apakah yang telah terjadi dengan Wuranta, Guru?”

“Sekarang tidak apa-apa. Angger Wuranta telah bersedia pergi ke banjar padepokan. Aku kira ia telah berhasil menguasai perasaannya.”

“Apakah yang telah menggoncangkan perasaan itu, Kiai?”

“Ah, entahlah. Mungkin salah mengerti, salah tafsir, tetapi mungkin juga karena ia tidak puas terhadap kenyataan yang dihadapinya. Mula-mula Angger Wuranta merasa dirinya tidak mendapat perhatian dari pimpinan prajurit Pajang. Padahal ia merasa bahwa dialah yang telah membuka jalan masuk ke padepokan ini. Memang sebenarnyalah demikian. Tanpa Angger Wuranta maka semuanya akan menjadi lain. Mungkin sampai saat ini Angger Untara belum berhasil memasuki padepokan ini. Tetapi itu hanya perasaannya saja. Sebenarnya pimpinan prajurit Pajang menaruh perhatian terhadap semua unsur di dalam padepokan ini.”

Ki Tanu Metir berhenti sejenak. Dicobanya untuk menangkap kesan kata-katanya pada wajah anak-anak muda itu. Tetapi yang ditangkapnya adalah berbagai pertanyaan yang memancar dari sorot mata mereka, seolah-olah mereka bertanya, “Apakah yang telah dilakukannya?”

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia meneruskan kata-katanya, “Hampir saja Angger Wuranta terjerumus ke dalam sikap yang tidak terpuji. Bahkan hampir mencelakakan dirinya. Sikapnya terhadap para prajurit Pajang terlampau kasar. Justru karena rasa rendah diri yang menjalari dadanya. Tetapi itu sudah lampau. Angger Wuranta telah menyadari keadaannya, bahwa orang-orang Pajang di sini mempunyai banyak sekali persoalan yang harus diselesaikan. Di antaranya adalah soal yang menyangkut Angger Wuranta itu sendiri.”

Ketiga anak-anak muda itu masih terdiam. Tetapi Sekar Mirah yang menundukkan wajahnya, tiba-tiba berkata, “Apakah Kiai menyindir aku?”

“Oh,” Ki Tanu Metir terperanjat. Tetapi kemudian ia tersenyum, “Jangan salah sangka, Ngger. Aku tidak ingin menyindir seseorang. Aku sudah mengatakan bahwa dalam keadaan serupa ini banyak sekali persoalan yang tumbuh dan bahkan berkembang di padepokan ini. Angger Wuranta adalah gambaran dari seorang anak muda yang kecewa. Aku tidak tahu apakah yang mengecewakannya. Kemudian seolah-olah ia membuat sebuah neraca. Neraca yang menimbang berat jasa dan penghargaan. Hampir ia berteriak “Jasaku tidak dihargai orang”. Untunglah bahwa hal itu belum terjadi. Nah, aku kira persoalan Angger agak berbeda, Angger sama sekali tidak ingin dihargai karena jasa-jasa Angger. Bukankah begitu?”

Sekar Mirah tidak menjawab.

“Mungkin padepokan ini terlampau sepi buat Angger Sekar Mirah. Mungkin tidak seramai Kademangan Sangkal Putung. Di sana Angger pasti akan dikerumuni oleh orang-orang Sangkal Putung, para pemimpin kademangan dan para pemimpin prajurit Pajang. Tetapi keadaan Sangkal Putung berbeda dengan keadaan di sini. Di Sangkal Putung orang-orang sudah tidak disibukkan oleh berbagai macam persoalan. Sedang di sini sangat berlainan.”

“Aku tahu. Aku tahu, Kiai,” potong Sekar Mirah. “Maksud Kiai ingin mengatakan bahwa aku terlampau manja. Bukankah begitu? Nah, buat apa aku bermanja-manja di sini. Itu pun salah satu sebab kenapa aku harus segera pulang ke Sangkal Putung.”

“Bukan begitu, Ngger,” sahut Kiai Gringsing, “meskipun dugaan Angger itu sebagian benar. Tetapi maksudku adalah, bahwa Angger telah cukup dewasa. Karena itu Angger seharusnya menghadapi setiap persoalan dengan sikap dewasa. Bukan sebagai seorang gadis kecil yang patah hati ditinggal kekasih. Lalu lari tanpa mempertimbangkan persoalan yang akan dihadapi di tengah jalan. Tetapi Angger tidak akan berbuat demikian. Angger adalah puteri seorang Demang yang cukup bijaksana. Karena itulah maka kebijaksanaan itu pasti juga Angger miliki. Juga pada Angger Swandaru yang setiap hari mengikuti cara Ki Demang melakukan tugasnya.” sekali lagi Ki Tanu Metir berhenti. Sekali lagi ia menunggu kesan yang terbayang di wajah anak-anak muda itu. Kemudian katanya, “Nah, kalau Angger sependapat, maka aku harap Angger tidak meninggalkan padepokan ini untuk sementara. Aku menyangka bahwa Ki Tambak Wedi, Argajaya, dan Sidanti masih berkeliaran di sekitar tempat ini. Setiap orang yang dijumpainya pasti akan menjadi korban pelepasan dendamnya. Nah, bayangkan apa yang akan dilakukan oleh Sidanti apabila Angger nanti bertemu dengan orang itu di tengah jalan.”

Berdebarlah Sekar Mirah mendengar nama Sidanti. Sehingga tumbuhlah kecemasan yang menggores jantungnya yang berdebaran. Meskipun demikian gadis itu tidak menjawab sepatah kata pun. Namun bagi Ki Tanu Metir kediamannya adalah cukup jelas. Kediamannya itu adalah sebuah jawaban yang cukup tegas.

“Tenangkanlah hati kalian di sini. Hadapilah semuanya dengan sikap yang masak. Pengalaman yang telah terjadi seharusnya membuat kalian dewasa.”

Tak seorang pun yang menyahut. Dan sejenak kemudian, Ki Tanu Metir berkata, “Beristirahatlah, aku akan pergi ke banjar. Mungkin ada sesuatu yang harus aku kerjakan di sana, di antara orang-orang yang terluka. Aku datang hanya sekedar menengok kalian.”

Ketika Ki Tanu Metir meninggalkan mereka, maka untuk sesaat mereka masih tetap berdiam diri. Sekar Mirah menundukkan wajahnya dalam-dalam meskipun ia masih tetap berpegangan tangan kakaknya. Agung Sedayu melepaskan pandangan matanya menembus lubang pintu yang masih sedikit terbuka, sedang Swandaru sekali-sekali mengangguk-anggukkan kepalanya. Terngiang di telinganya kata-kata gurunya, “Pengalaman harus membuat kalian dewasa.”

Malam yang hitam pekat berjalan dengan tenangnya. Semakin lama semakin jauh. Bintang-bintang di langit bergeser sedikit demi sedikit ke Barat. Namun ketiga anak-anak muda itu masih saja duduk membeku.

Ternyata malam itu tidak seorang pun di antara mereka yang tertidur. Mereka sama sekali tidak dapat melepaskan kegelisahan dan kecemasan tentang bermacam-macam persoalan. Tetapi Sekar Mirah sudah tidak lagi mendesak kakaknya untuk meninggalkan padepokan itu mendahului ke Sangkal Putung. Setiap kali keinginan itu tumbuh di hatinya, maka terbayanglah wajah Sidanti yang sangat menakutkan baginya.

Sehari berikutnya mereka hampir tidak keluar dari rumah itu. Hanya Agung Sedayu sajalah yang pergi ke banjar sebentar untuk bertemu dengan kakaknya yang masih sangat sibuk. Sebenarnya anak muda itu ingin juga bertemu dengan Wuranta. Tetapi ia menjadi ragu-ragu. Ia tidak tahu bagaimanakah sikap Wuranta itu kini terhadapnya. Dan ia masih tetap mencari-cari jawab atas pertanyaannya yang mengganggunya selama ini tentang sikap anak muda itu.

Tetapi pada saat Agung Sedayu berada di banjar padepokan itu Wuranta sedang menunggui pemakaman kakek tua suami isteri yang telah menolongnya. Sesaat ia menunggu, namun Wuranta belum juga datang. Akhirnya keragu-raguannya telah mengurungkan niatnya itu, ia tidak menunggu Wuranta lagi, yang ditunggunya adalah kakaknya dan Ki Tanu Metir.

Beberapa saat kemudian Agung Sedayu melihat kakaknya bersama Ki Tanu Metir diiringi oleh beberapa perwira yang lain datang ke banjar itu. Tampak wajah-wajah mereka yang tegang dan bersungguh-sungguh sehingga Agung Sedayu tidak berani menegur kakaknya lebih dahulu. Ia menunggu saja sambil berdiri di bawah tangga pendapa padepokan itu. Terasa dadanya berdebar-debar. Ia memandang kakaknya kini jauh berbeda dengan saat-saat ia masih di Jati Anom. Justru setelah ia melihat pekerjaan dan tugas kakaknya, dan justru karena sikapnya sendiri yang bertambah dewasa. Kini serasa ada jarak yang membatasi antara dirinya dan kakaknya itu.

Ketika Untara sampai di tangga pendapa, ia berhenti sejenak. Dipersilahkannya para prajurit yang datang bersamanya untuk masuk lebih dahulu. Setelah menatap wajah Agung Sedayu agak lama, maka terdengar kakaknya bertanya, “Sudah lama kau menunggu aku?”

“Belum terlalu lama, Kakang,” jawab Agung Sedayu.

“Apa kerja kalian di pondok itu?” bertanya Untara pula. Agung Sedayu terkejut mendengar pertanyaan itu. Dipandanginya wajah kakaknya, kemudian wajah gurunya.

“Kau tidak hadir pada upacara pemakaman prajurit-prajurit yang gugur dalam peperangan ini. Peperangan yang juga telah menyelamatkan gadis Sangkal Putung itu.”

Dada Agung Sedayu berdesir mendengar kata-kata kakaknya. Sejenak ia terdiam membeku. Hanya matanya saja yang berpindah-pindah dari kakaknya kepada gurunya.

“Seharusnya kau datang bersama Adi Swandaru untuk menunjukkan rasa terima kasihmu dan rakyat Sangkal Putung. Bahwa puteri Ki Demang itu sudah dibebaskan.”

Dada Agung Sedayu menjadi sesak mendengar teguran itu. Ia sama sekali tidak mengerti bahwa hari ini akan diselenggarakan pemakaman prajurit-prajurit yang gugur di peperangan ini. Karena itu maka dengan jujur ia berkata, “Aku sama sekali tidak tahu, Kakang, bahwa hari ini telah diselenggarakan pemakaman itu.”

“Kau tidak beranjak dari pondokmu sehari ini. Baru sekarang kau datang, setelah semuanya selesai. Kalau semalam atau pagi-pagi tadi kau datang, kau pasti akan mengetahuinya.”

Sekali lagi Agung Sedayu terdiam. Tetapi terasa dadanya bergetar semakin cepat. Kemudian dengan sungguh-sungguh ia berkata, “Kalau aku tahu, maka aku pasti akan datang. Orang yang mengantarkan makananku pun tidak memberitahukan hal itu kepadaku. Dan….” kata-kata Agung Sedayu terputus. Tetapi matanya terlontar kepada gurunya yang berdiri di samping Untara.

“Bukan kami yang harus memberitahukan itu kepadamu,” jawab kakaknya, “tetapi kau yang harus datang bertanya tentang hal itu kepada kami.”

Wajah Agung Sedayu tiba-tiba menjadi tegang. Ia tidak dapat memahami sikap kakaknya. Perasaannya sama sekali tidak dapat menerima perlakuan itu. Tetapi ia berhadapan dengan kakaknya. Pertimbangannya cukup cermat untuk mencegah berbuat sesuatu yang tidak menguntungkannya.

“Semua orang hadir dalam upacara itu,” kakaknya meneruskan, “hanya kau dan Swandaru sajalah yang tidak.”

“Mungkin para prajurit selalu mendapat keterangan dan pemberitahuan tentang semua hal yang akan terjadi, Kakang, tapi kami tidak,” jawab Agung Sedayu sekenanya.

Tetapi ia terkejut ketika kakaknya menyahut, “Wuranta juga bukan seorang prajurit. Tetapi ia datang jaga dalam upacara itu. Meskipun anak muda itu termasuk salah seorang yang paling berjasa dalam peperangan ini, namun ia tidak bersikap acuh tak acuh. Ia tidak menunggu seorang utusan untuk memberitahukan kepadanya apa yang akan terjadi di padepokan ini. Ia datang sendiri dengan rendah hati dan bersikap wajar.”

Wajah Agung Sedayu menjadi merah. Ia benar-benar tidak mengerti akan sikap kakaknya. Sejak peperangan ini selesai, kakaknya telah marah-marah saja kepadanya. Ia dianggap bersalah karena ia tidak berada di dekat kakaknya ketika pertempuran berlangsung. Agaknya lepasnya Ki Tambak Wedi dan Sidanti telah membuatnya sangat kecewa. Tetapi bahwa kakaknya itu terus-menerus memarahinya itu benar-benar tidak dapat dimengertinya. Kemarin ia menganggap bahwa kakaknya telah merubah sikapnya. Namun tiba-tiba kini sikap itu diulanginya lagi.

Tetapi kali ini yang menjawab adalah Ki Tanu Metir, “Angger Untara, Angger terlampau letih. Angger diburu oleh tugas-tugas yang berat dan kekecewaan yang bertumpuk-tumpuk. Tetapi yang paling mengecewakan Angger adalah hilangnya Ki Tambak Wedi. Itulah sebabnya Angger mudah merasa tersinggung. Namun Angger Agung Sedayu pun tidak terlampau bersalah. Aku seharusnya memberitahukan kepadanya apa yang akan dilakukan di padepokan ini. Terutama upacara itu. Tetapi aku sengaja tidak berbuat demikian. Bahkan sekarang aku mengharap Angger Agung Sedayu segera kembali ke pondoknya.”

Wajah Untara yang tegang menjadi berkerut-merut, “Kenapa?” ia bertanya.

“Sama sekali bukan persoalan yang menyangkut masalah keprajuritan. Bukan pula masalah peperangan. Masalahnya terlampau kecil untuk disebutkan di sini. Tetapi masalah yang terlampau kecil itu pulalah yang telah mendorong Angger Untara semalam datang memanggil Wuranta.”

Kini dada Untara-lah yang berdebar. Di hadapannya berdiri Ki Tanu Metir, guru Agung Sedayu. Agaknya orang tua itu berusaha untuk menutupi kesalahan adiknya yang telah membuatnya sangat kecewa. Adik Senopati yang langsung menangani peperangan ini, tetapi ia adalah satu-satunya orang yang tidak hadir pada upacara penghormatan para prajurit yang gugur, selain kakak beradik dari Sangkal Putung itu.

Tetapi bagaimanapun juga Untara merasa segan terhadap orang tua ini. Dalam urutan tugasnya sebagai seorang Senapati di daerah ini, maka nama Ki Tanu Metir tidak dapat dilupakannya. Dalam tugas sandinya, di saat-saat Sangkal Putung berada di dalam bahaya, maka orang tua ini pulalah yang menyelamatkannya. Kalau ia tidak mendapat perlindungannya, maka dadanya pasti sudah dibelah oleh Plasa Ireng dan kawan-kawannya yang pada saat itu mencarinya karena petunjuk Alap-alap Jalatunda di dukuh Pakuwon. Dan kini, dalam tugasnya yang terberat, memecah padepokan Tambak Wedi, maka orang tua ini pulalah yang seakan-akan telah merintis jalan, dengan melepaskan Wuranta, mendahului segala tindakan-tindakannya.

Namun meskipun demikian ia tidak dapat melepaskan kedudukannya sebagai seorang senapati yang bertanggung jawab. Apalagi berhadapan dengan adiknya yang dianggapnya telah mengabaikan keharusan-keharusan yang harus dilakukannya di dalam lingkungan keadaan serupa itu.

“Kiai,” berkata Untara itu kemudian, “aku tidak tahu masalah yang Kiai maksudkan. Masalah-masalah kecil yang manakah yang mendorong Kiai untuk menyuruh Agung Sedayu segera kembali ke pondoknya, dan yang telah mendorong aku untuk memanggil Wuranta?”

“Ah,” Ki Tanu Metir berdesis, “bukankah aku sudah mengatakan kepadamu, Ngger? Dan Angger bahkan telah berusaha untuk sekedar menyisihkan waktu yang sangat sempit ini untuk memanggil Wuranta dan membawanya kembali ke banjar ini? Aku rasa Angger melakukannya dengan pengertian bahwa Wuranta adalah seorang yang paling berjasa di dalam tugas Angger kali ini. Tetapi Wuranta itu tidak datang sendiri seperti yang Angger katakan. Apalagi dengan rendah hati.”

Wajah Untara menjadi merah mendengar kata-kata Kiai Gringsing itu. Ternyata Kiai Gringsing kali ini benar-benar sedang berusaha untuk mengurangi kesalahan muridnya. Bahkan mempertentangkan kata-katanya tentang Wuranta.

“Nah,” Ki Tanu Metir meneruskan, “seharusnya Angger Untara dapat mengerti. Jangan salahkan Agung Sedayu. Dan sekarang aku tetap berpendapat bahwa sebaiknya Angger Agung Sedayu kembali ke pondoknya.”

Wajah Untara masih memerah dalam ketegangan. Tetapi keseganannya terhadap Kiai Gringsing telah menahannya untuk berbuat terlampau banyak. Namun perasaannya sama sekali tidak senang melihat sikap orang tua itu, yang dengan berterus terang telah melindungi kesalahan adiknya.

Senapati itu ingin adiknya bersikap sebagai seorang prajurit yang baik. Justru karena ia seorang senapati. Untara itu merasa bahwa setiap orang menganggap bahwa adiknya terlampau berat untuk meninggalkan gadis Sangkal Putung itu, sehingga ia tidak menghadiri upacara yang diadakannya hari ini. Sedang Untara merasa bahwa sikap gadis itu terlampau manja, sehingga ia terpaksa memerintahkan kepada bawahannya untuk mengusahakan tempat yang khusus baginya.

“Kiai,” berkata Untara itu kemudian, “tetapi bagaimanapun juga aku tidak dapat membenarkan sikap Agung Sedayu. Apakah Kiai tidak merasa malu, seandainya setiap orang di sini bertanya-tanya di dalam hatinya. Mereka masih dapat mengerti tentang keadaan Swandaru. Kalau anak itu tidak menghadiri upacara ini, maka sudah pasti adiknya tidak mau dan tidak berani ditinggalkannya. Tetapi bagaimana dengan Agung Sedayu yang menungguinya saja tanpa ada hubungan keluarga dengan gadis itu?”

“Ah,” Agung Sedayu berdesah. Tetapi ia tidak berani menyahut. Yang menjawab adalah Kiai Gringsing, “Itu adalah suatu pengorbanan baginya, Ngger. Justru suatu pengorbanan. Aku sengaja melakukannya.”

“Pengorbanan?” wajah Untara menjadi aneh.

“Ya.” Kemudian kepada Agung Sedayu orang tua itu berkata, “sekarang kembalilah ke pondokmu.”

Agung Sedayu menjadi bingung. Sejenak ia berdiri saja seperti patung, sehingga Ki Tanu Metir itu mengulangi, “Kembalilah ke pondokmu. Biarlah persoalanmu aku selesaikan dengan kakakmu.”

“Nanti dulu,” cegah Untara, “jangan pergi dulu. Kau harus minta maaf kepadaku, bahwa kau tidak hadir dalam upacara ini. Jangan kau sebut-sebut lagi alasan-alasan yang pasti hanya kau buat-buat saja saja bersama dengan kakak beradik itu.”

Kini wajah Ki Tanu Metir-lah yang berkerut. Tetapi sebelum ia berbicara Untara telah mendahului, “Ayo, bersikaplah jantan untuk mengakui kesalahan sendiri. Kalau kau tidak melihat kesalahanmu, maka seterusnya kau akan mengulangi kesalahan yang serupa. Aku adalah senapati di daerah ini.”

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Katanya lembut, “Lakukanlah, Ngger.”

Agung Sedayu menggigit bibirnya. Ia tidak mengerti benar kenapa kakaknya bersikap demikian keras terhadapnya. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain daripada melakukan perintah itu. Katanya, “Baik, Kakang. Aku minta maaf. Mudah-mudahan aku tidak akan mengulangi kesalahanku. Mungkin Kakang tersinggung karena kebodohanku bahwa aku tidak dapat menghadiri upacara yang Kakang anggap sebagai upacara yang penting. Dengan demikian maka aku telah menimbulkan kesan yang kurang baik. Tidak saja atas diriku sendiri, tetapi telah menyentuh kewibawaan Kakang di sini. Sebenarnya aku ingin memberikan banyak keterangan tentang hal itu, tetapi Kakang menganggap bahwa setiap alasan yang hanya dibuat-buat saja. Karena itu maka lebih baik bagiku untuk tidak mengucapkannya.”

Tiba-tiba wajah Untara yang tegang tampak mengendor. Ia melihat sikap adiknya dengan memelas. Adiknya yang sejak kecil pantas dikasihani karena sifat-sifatnya. Kini, ketika adiknya mulai tumbuh dan berkembang telah dipaksanya untuk berbuat demikian. Berbuat memelas seperti pada masa kanak-anaknya.

Untara menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berusaha untuk tetap dalam sikapnya, sikap seorang senapati perang.

Karena itu maka Untara tidak menyatakan perasaannya. Disimpannya perasaan ibanya di dalam dadanya, bahkan ia mencoba untuk bersikap keras terhadap Agung Sedayu yang memang dianggapnya bersalah, mengabaikan keharusan-keharusan yang berlaku di dalam pasukannya, meskipun ia bukan seorang prajurit.

Dengan nada datar Untara itu berkata, “Nah, kau sudah minta maaf atas kesalahan itu. Karena itu maka kau jangan mengulangi kesalahan itu sekali lagi. Kau adalah orang yang berada di dalam lingkungan pasukanku, meskipun kau bukan seorang prajurit. Tetapi dalam keadaan serupa ini, maka peraturan keprajuritan berlaku atas semua orang, baik ia seorang prajurit maupun bagi mereka yang dengan suka rela menggabungkan diri dalam perjuangan ini untuk kepentingan Pajang.”

Agung Sedayu menganggukkan kepalanya, jawabnya, “Ya, Kakang, aku mengerti.”

“Nah, sekarang kau boleh kembali.”

Agung Sedayu memandang wajah kakaknya sejenak. Hampir saja ia bertanya, “Kembali kemana? Ke Jati Anom atau ke Sangkal Putung?”

Tetapi tiba-tiba Ki Tanu Metir menyahut, “Nah, Angger telah mendapat ijin untuk kembali. Kembalilah ke pondokmu. Tunggulah pesanku untuk selanjutnya.”

“Kenapa ia harus menunggu Kiai?” potong Untara. “Setiap kali ia harus datang ke banjar untuk melihat perkembangan keadaan.”

“Begitu maksudmu, Ngger?” bertanya Ki Tanu Metir.

Pertanyaan itu telah membuat Untara bertanya-tanya di dalam hatinya. Karena itu maka tiba-tiba ia terdiam sejenak. Tetapi sekali lagi ia berusaha untuk tetap bersikap sebagai seorang senapati. Maka jawabnya, “Ya. Aku menghendaki demikian.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baik, baik. Begitulah. Tetapi sekarang Angger silahkan kembali ke pondok.”

Agung Sedayu merasa aneh atas permintaan Ki Tanu Metir itu. Bukan saja Agung Sedayu, tetapi Untara pun bertanya-tanya di dalam hatinya. Kenapa Ki Tanu Metir seakan-akan tergesa-gesa ingin menyingkirkan Agung Sedayu?

Sejenak kemudian Agung Sedayu minta diri kepada kakaknya dan gurunya untuk kembali ke pondoknya. Di sepanjang jalan berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam dadanya. Kadang-kadang ia merasa, bahwa sebaiknya ia pergi meninggalkan padepokan ini, ke Jati Anom atau ke Sangkal Putung saja sama sekali. Ia dapat membuta dan menuli atas semua anggapan orang-orang Pajang padepokan ini atasnya. Tetapi ia dapat memberi penjelasan kepada pamannya, Widura di Sangkal Putung.

“Apakah Kakang Untara tidak setuju melihat hubunganku dengan gadis Sangkal Putung itu?” Agung Sedayu bertanya-tanya di dalam hatinya.

“Mudah-mudahan paman Widura dapat memberinya penjelasan. Tidak sebagai seorang perwira bawahan Kakang Untara, tetapi sebagai seorang paman yang melihat dan mengerti keadaanku sejak aku berada di Sangkal Putung untuk pertama kalinya.”

Di pondoknya Agung Sedayu masih melihat Sekar Mirah tidak mau berpisah dari kakaknya karena kecemasan dan ketakukan yang selalu mengejarnya. Kadang-kadang keinginannya untuk segera kembali ke Sangkal Putung seakan-akan tidak dapat dicegahnya. Tetapi setiap kali ketakutannya kepada Sidanti dan Ki Tambak Wedi sengaja dibesar-besarkannya sendiri untuk membantu mencegah keinginannya itu. Seandainya yang berulang kali menyebut nama Ki Tambak Wedi dan Sidanti itu hanya Agung Sedayu dan kakaknya Swandaru, maka ia pasti masih saja memaksa untuk kembali ke Sangkal Putung. Tetapi ternyata Ki Tanu Metir pun memperingatkannya pula. Dan ia mencoba untuk menganggap bahwa Ki Tanu Metir adalah orang yang paling dapat dipercaya.

Tiba-tiba saja pikiran Agung Sedayu meloncat kepada anak muda putera Ki Gede Pemanahan. Apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh anak muda itu seandainya ia mengalami perlakuan seperti dirinya pada saat ini.

“Tetapi ia putera seorang panglima tertinggi Wira Tamtama,” desisnya, “bagaimanapun juga ia akan mendapatkan beberapa kelainan dari anak-anak muda yang lain.”

Tanpa disadarinya maka keinginannya untuk bertemu dengan Sutawijaya telah mengganggu perasaannya. Kekagumannya atas anak muda itu serasa kian menjadi-jadi.

“Apakah kau bertemu dengan Kakang Untara?” bertanya Swandaru Geni, seakan-akan telah membangunkannya.

“Ya, aku telah menemuinya di banjar padepokan.”

“Apa katanya tentang kita?” Sejenak Agung Sedayu menjadi ragu-ragu, tetapi kemudian ia menjawab, “Tidak apa-apa. Ia hanya bertanya kenapa aku tidak hadir dalam upacara pemakaman pagi tadi.”

“O, apakah upacara itu telah dilakukan?”

“Sudah pagi tadi, meskipun belum seluruhnya. Tetapi upacara pelepasan para jenazah telah dilakukan.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku masih melihat kesibukan di jalan-jalan di padepokan ini. Aku sangka bahwa upacara ini belum dilakukan hari ini. Jadi kita berdua tidak hadir dalam upacara itu?”

“Ya, karena kita tidak tahu.”

“Sayang,” desis Swandaru. “Hal ini dapat menimbulkan kesan yang kurang baik atas kita bertiga.”

Agung Sedayu terdiam. Tetapi lalu ia menjawab, “Mudah-mudahan tidak.”

“Kau yakin?” desak Swandaru.

“Seandainya ada kesan itu, maka Ki Tanu Metir pasti akan memberikan penjelasan. Guru ada di banjar saat ini. Dan agaknya guru tidak menyalahkan aku. Bahkan ia mendesak supaya aku segera kembali ke pondok ini. Aku tidak tahu apakah maksudnya.”

Swandaru dan Sekar Mirah terdiam. Mereka tidak bertanya-tanya lagi. Tetapi terasa ada yang tersangkut di perasaan. Ada sesuatu yang tidak dimengertinya, tetapi membuat mereka gelisah. Sedang Agung Sedayu pun kemudian tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Bahkan kemudian ia berkata, “Beristirahatlah dengan baik. Mudah-mudahan pekerjaan Kakang Untara segera selesai. Kakang Untara tidak akan tinggal lama di padepokan ini.”

“Ya, menurut pendengaranku, Kakang Untara untuk sementara akan berkedudukan di Jati Anom.”

Mereka pun kemudian terdiam. Mereka duduk sambil menikmati pikiran masing-masing. Tetapi wajah-wajah mereka tampak menjadi tegang.

Sepeninggal Agung Sedayu, Untara dan Ki Tanu Metir masih berdiri di tangga banjar padepokan.

Tiba-tiba Ki Tanu Metir berdesis, “Kasihan anak itu.”

Untara mengerutkan keningnya. “Kenapa? Ia sudah menjadi semakin dewasa. Ia harus tahu kewajibannya. Anak itu terlampau manja di masa kanak-anaknya. Sekarang ia harus menyadari bahwa kemanjaannya itu sama sekali tidak menguntungkannya.”

Untara mengerutkan keningnya ketika Ki Tanu Metir menggeleng. “Tidak. Angger Agung Sedayu tidak terlampau manja. Tetapi ia adalah seorang penakut di masa kecilnya. Bahkan lebih dari itu. Ia adalah seorang pengecut. Kau ingat?”

Untara tidak menjawab Tetapi dadanya tersentuh mendengar sebutan itu bagi adiknya. Adik kandungnya.

“Kalau Angger Agung Sedayu itu seorang pengecut, maka ia memang perlu dikasihani.”

“Tetapi ia sekarang sudah tumbuh dan berkembang.”

“Itu hanya terjadi sesaat. Ia akan menjadi seorang pengecut untuk seterusnya. Ia tidak akan berani melihat bahaya yang cukup besar.”

“Kenapa, Kiai? Bukankah ia sekarang telah berani menghadapi lawan yang dahulu sangat ditakutinya? Sidanti.”

“Tetapi jiwanya tetap kerdil. Kalau jiwa itu sudah mulai mekar, maka Angger Untara sendiri telah menekannya. Dan ia akan tetap berjiwa kecil dan pengecut.”

Dada Untara berdesir mendengar kata Ki Tanu Metir yang langsung menyentuhnya. Sesaat ia terdiam. Dipandanginya wajah orang tua itu. Wajahnya itu tampaknya agak berbeda dengan wajah yang selalu dilihatnya. Wajah itu selalu tampak jernih dan seolah-olah selalu membayangkan senyum. Namun kini Untara melihat wajah itu terlampau bersungguh-sungguh.

“Ki Tanu Metir benar-benar tersinggung karena aku marah kepada muridnya, meskipun muridnya itu adalah adikku,” katanya di dalam hati.

Tetapi Ki Tanu Metir itu kemudian berkata, “Bukan saja Angger yang telah menekan jiwanya untuk tetap kerdil, tetapi aku pun telah mengorbankannya. Aku tidak dapat berbuat lain untuk kepuasan prajurit Pajang di Tambak Wedi dan untuk kepentingan anak-anak Jati Anom.”

Untara menjadi semakin tidak mengerti. Wajahnya menjadi semakin berkerut-merut. Tiba-tiba ia berkata berterus-terang, “Aku tidak mengerti Kiai.”

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia berkata dengan wajah yang semakin tampak bersungguh-sungguh, “Aku sebenarnya sangat kasihan kepada adikmu, Angger. Sebagian dari kesalahannya sehingga Angger marah kepadanya, adalah kesalahanku. Aku sengaja menyimpannya di dalam gubug itu. Aku pula yang mendorong mereka untuk minta kepadamu tempat yang lain, tidak di banjar ini. Alasannya agaknya cukup kuat, karena Sekar Mirah selalu ketakutan di sini. Tetapi apakah Angger ingat alasan yang telah mendesak Angger meluangkan waktu Angger yang terlampau sempit ini untuk memanggil Wuranta?”

“Oh,” Untara mengangguk-anggukkan kepalanya, “Wuranta mempunyai kedudukan yang lain dengan Agung Sedayu, Kiai. Wuranta menurut Kiai sendiri adalah orang yang berhasil menembus rapatnya dinding padepokan ini. Bukankah karena Wuranta ada di dalam padepokan ini maka semuanya dapat berlangsung dengan lancar? Bukankah menurut keterangan dan pengakuan Kiai sendiri, bahwa Kiai dapat masuk ke dalam padepokan ini juga karena petunjuk-petunjuk Wuranta. Itulah sebabnya maka Wuranta harus mendapat penghargaan yang sewajarnya. Para prajurit Pajang harus mendapat penjelasan sehingga mereka tidak memperlakukan Wuranta sekenanya. Meskipun sebagai seorang anak muda Wuranta tidak mampu melawan seorang prajurit pun dalam olah kanuragan, namun keprigelannya dalam bidang sandi perlu mendapat penghargaan.”

“Dan aku telah membantu Angger untuk menyatakan terima kasih itu kepada Angger Wuranta. Aku merasa kasihan, karena kejutan jiwanya Angger Wuranta menjadi rendah diri dan berbuat di luar kewajaran. Kini ia telah menemukan kepercayaan kepada diri sendiri karena Angger Untara sendiri telah menaruh perhatian atasnya, sehingga dengan demikian tidak seorang pun akan mengumpati para prajurit Pajang, bahwa seolah-olah setelah tidak diperlukan lagi, Wuranta langsung dilemparkan tanpa perhatian. Hal itu pasti akan menyakitkan hati anak-anak Jati Anom.”

“Ya, ya aku sudah mengerti. Karena itu betapa aku sibuk, aku perlukan datang mengambilnya.”

“Dan kelak membuat suatu upacara untuk mengucapkan terima kasih kepadanya bersama orang-orang Jati Anom.”

“Ya. Kita harus menjaga supaya ia tetap tenang dan cukup percaya pada diri sendiri. Bukankah seperti yang Kiai katakan, gadis Sangkal Putung itulah yang telah membuatnya hampir berputus asa. Dan itu adalah karena Agung Sedayu pula?”

“Ya. Itulah sebabnya Angger Agung Sedayu harus dikorbankan.”

“Bagaimana?” Untara menjadi semakin bingung.

“Bahwa ia pergi dari banjar, dan kemudian tidak selalu menampakkan dirinya itu berarti memberi kesempatan Angger Untara untuk menempatkan Angger Wuranta di tempat sewajarnya. Adapun kata orang terhadap Agung Sedayu yang tidak berperan apa pun di sini, itu tidak penting.”

Dada Untara menjadi berdebar-debar mendengar kata-kata Ki Tanu Metir itu. Ia menjadi semakin jelas arah percakapan yang diucapkan oleh Ki Tanu Metir dengan nada yang berat dan bersungguh-sungguh itu. Sejenak kemudian ia masih mendengar Ki Tanu Metir berkata, “Dan aku sudah berusaha untuk melakukannya Aku sudah menyingkirkan Agung Sedayu dari banjar ini, supaya Wuranta tidak lagi berkeberatan datang kemari. Dan aku sengaja tidak memberitahukan upacara yang diadakan hari ini supaya Agung Sedayu tidak datang kemari, apalagi bersama Sekar Mirah. Apabila demikian maka ada kemungkinan bahwa Wuranta akan menyingkir dari banjar ini dan untuk seterusnya ia tidak akan datang kembali. Bahkan mungkin ia akan terus kembali ke Jati Anom sebelum Angger Untara sendiri kembali bersama sebagian dari pasukan Pajang di sini. Nah, Wuranta akan dapat mengatakan kekecewaannya kepada anak-anak muda Jati Anom. Ia dapat mengatakan hal-hal yang tidak benar atau setidak-tidaknya kurang tepat karena arus perasaannya yang kadang-kadang kurang dapat dikendalikan. Dengan demikian bukankah ada baiknya bagi Angger bahwa Angger Agung Sedayu tidak datang dalam upacara ini?”

“Oh,” dahi Untara menjadi berkerut-merut, “itu tidak jujur Kiai,” katanya dengan serta-merta.

“Kenapa?”

“Kiai tidak bersikap adil terhadap keduanya,” ternyata kata-kata Kiai Gringsing telah menyentuh hati Untara sebagai seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya sejak masa kanak-kanaknya. “Seharusnya Kiai memberitahukan dahulu kepadaku akan rencana itu. Aku telah bersikap terlampau kasar terhadap Agung Sedayu. Seharusnya Wuranta pun harus dapat menyadari dirinya. Persoalan-persoalan pribadi harus dapat disingkirkan di dalam masalah-masalah yang jauh lebih besar dan penting.”

“Ya,” sahut Kiai Gringsing. “Aku memang bersalah. Aku tidak memberitahukan dahulu kepada Angger Untara. Tetapi aku tidak sempat. Terlalu sulit untuk mendapat kesempatan berbicara dengan Angger karena pekerjaan Angger yang tidak ada hentinya. Namun Angger jangan mempersoalkannya dengan Angger Wuranta. Ternyata perasaan anak muda itu terlampau mudah tersinggung. Aku kira baru untuk pertama kalinya ia merasa tertarik kepada seorang gadis. Dan gadis itu adalah Sekar Mirah. Justru Sekar Mirah yang sudah terlanjur terikat oleh Angger Agung Sedayu. Tetapi Angger Untara jangan mengatakan kepada adik Angger itu, bahwa ia harus mementingkan persoalan-persoalan yang lebih besar dari persoalan-persoalan pribadinya. Misalnya hubungannya dengan Sekar Mirah dan hubungannya dengan kewajiban-kewajiban yang akan Angger berikan kepadanya. Hubungan yang demikian adalah wajar bagi anak-anak muda. Bahkan mungkin akan membuatnya agak aneh dan berbeda dari kebiasaan hidup sebelumnya. Mungkin ia menjadi berani menentang orang lain dan bersikap kurang menyenangkan. Apalagi di hadapan gadis itu sendiri. Hanya satu dua orang sajalah yang dapat berbuat seperti Angger Untara, mengesampingkan semua persoalan pribadi dan menenggelamkan diri dalam kewajiban Angger sebagai seorang prajurit. Tetapi aku kira Angger Agung Sedayu tidak akan dapat berbuat demikian. Meskipun mungkin ia dapat menyingkirkan segala macam pamrih kebendaan yang lain, namun hal yang satu itu pun harus hidup di dalam hatinya. Dengan demikian maka pribadinya akan dapat mekar. Hidup Agung Sedayu di masa kanak-anaknya selalu berada di samping seorang perempuan. Ibunya. Itulah sebabnya Agung Sedayu memerlukan seorang perempuan untuk mengembangkannya. Berbeda dengan Angger Untara. Angger Untara sejak lahir seolah-olah telah menggenggam pedang. Dan pedang itu kini masih tetap di dalam genggaman. Pedang merupakan kawan hidup yang paling setia bagi Angger Untara.”

Wajah Untara yang tegang menjadi semakin tegang. Terasa ia benar-benar berbicara dengan seorang yang rambutnya telah memutih, yang memandang segi-segi kehidupan dari sudut-sudut yang tidak pernah dipikirkannya. Dengan demikian maka Untara tidak menjawab. Ia mencoba mencernakan kata-kata Ki Tanu Metir itu. Namun bagaimanapun juga ia merasakan bahwa hal ini tetap merupakan persoalan-persoalan yang harus ditanganinya dalam keadaan serupa ini. Persoalan-persoalan yang tumbuh di dalam masa-masa perjuangan yang berat. Di Sangkal Putung, Untara dan Widura harus menangani persoalan Sidanti yang terlampau tamak dan terlampau ingin cepat menginjakkan kakinya ke tingkat yang lebih tinggi. Di sini ia berhadapan dengan persoalan yang lain.

Ki Tanu Metir agaknya melihat perasaan yang berkecamuk di dalam dada Untara sehingga ia berkata, “Bukankah persoalan-persoalan yang demikian itu dapat tumbuh di mana-mana? Dan bukankah di setiap saat Angger dapat menemui seribu satu macam persoalan? Apalagi dalam saat-saat serupa ini. Di saat-saat anak-anak muda kehilangan sasaran untuk melepaskan ketegangan yang masih mencengkam dada masing-masing, setelah lawan terkalahkan. Kadang-kadang ketegangan-ketegangan itu tidak tersalur sewajarnya. Karena itulah maka Angger Untara harus berusaha untuk menyalurkannya, jangan membendung. Carilah keseimbangan dari keduanya. Mungkin hal ini akan sangat mengganggu Angger. Tetapi ini pun merupakan sebagian dari tanggung jawab Angger sebagai seorang pemimpin. Persoalan ini justru persoalan yang belum pernah Angger alami sendiri.”

Untara mengerutkan dahinya. Tetapi kali ini ia melihat Ki Tanu Metir tersenyum, “Karena itu, Ngger, lengkapilah pengalaman Angger dalam segala segi, supaya Angger tidak canggung menghadapi persoalan-persoalan yang demikian.”

“Ah,” Untara berdesah.

“Hal itu akan sangat berguna bagi Angger, pekerjaan Angger kini sudah jauh berkurang. Pajang telah hampir menemukan kemantapannya. Mudah-mudahan tidak ada persoalan lagi yang akan mengganggu. Mudah-mudahan Pajang berbuat bijaksana sehingga tidak menumbuhkan persoalan-persoalan baru lagi.”

Untara mengerutkan keningnya. Dan ia mendengar Ki Tanu Metir bergumam, “Sebaiknya tidak saja daerah Pati, tetapi Mentaok pun harus segera diselesaikan, di samping Sidanti yang pasti akan kembali ke Tanah Perdikan Menoreh, justru berhadapan dengan Mentaok.”

Untara tidak segera menjawab. Dicernakannya kata-kata itu baik-baik di dalam hatinya. Meskipun seakan-akan Ki Tanu Metir begitu saja mengatakannya, namun agaknya kalimat-kalimatnya mengandung suatu tuntutan terhadap pimpinan pemerintahan Pajang.

Ia tahu benar janji Adiwijaya kepada Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi. Apabila mereka dapat mengalahkan Arya Penangsang maka mereka akan mendapat tanah Pati dan bumi Mentaok. Meskipun yang memegang peranan penting dalam pertempuran yang terjadi antara kedua induk pasukan Pajang dan Jipang, yang langsung dipimpin oleh Arya Penangsang adalah Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar, dengan mempergunakan tombak Kiai Pleret, namun Adiwijaya tidak akan mengingkari janjinya. Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi akan mendapat tanah yang telah dijanjikan kepada mereka, tapi saat ini yang baru diberikan adalah tanah Pati. Baru Ki Penjawi yang telah menerima tanah yang telah dijanjikan oleh Adiwijaya.

Kedua daerah yang dijanjikan untuk hadiah itu pun ternyata sangat berbeda keadaannya. Pati telah tumbuh menjadi sebuah kota yang semakin hari semakin ramai, tetapi bumi Mentaok masih berupa sebuah hutan yang ganas dan liar. Hutan yang isinya telah dilihat sendiri oleh Sutawijaya dan beberapa kali oleh Ki Gede Pemanahan sebagai seorang prajurit Wira Tamtama. Namun sampai saat terakhir, tanah yang masih berupa hutan itu pun belum juga diberikannya.

Tetapi persoalan itu adalah persoalan para pemimpin pemerintahan. Bukan persoalannya dan bukan persoalan Ki Tanu Metir.

“Apakah maksud Ki Tanu Metir mengungkapkan persoalan itu?” bertanya Untara di dalam hatinya.

Dalam kediamannya itu Untara mendengar Ki Tanu Metir berkata, “Sudahlah, Ngger, silahkan. Para perwira mungkin telah menunggu Angger. Mungkin Angger perlu beristirahat atau ada persoalan-persoalan yang masih perlu Angger bicarakan.”

Untara menganggukkan kepalanya, “Baik, Kiai. Lalu Kiai sendiri akan pergi ke mana?”

“Ah, jangan hiraukan aku,” sahut Ki Tanu Metir sambil tersenyum. “Mungkin aku akan pergi kepada Angger Agung Sedayu atau berjalan-jalan ke mana saja.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba ia tidak dapat menahan diri lagi dan bertanya, “Tetapi apakah maksud Kiai mengatakan tentang tanah Pati dan bumi Mentaok?”

“Oh,” Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya, “tidak apa-apa, Ngger. Aku tidak bermaksud apa-apa. Tetapi sebaiknya hal-hal semacam itu mendapat perhatian. Tidak seorang pun tahu maksud pimpinan pemerintahan Pajang sekarang. Kenapa Pati yang justru telah berupa menjadi tanah yang ramai telah diserahkan, tetapi bumi Mentaok yang masih harus banyak mendapat pembinaan masih belum. Setelah persoalan orang-orang Jipang ini selesai, maka kejanggalan ini akan sangat terasa. Ki Gede Pemanahan, yang selama ini masih sibuk dengan tugasnya, maka kini ia akan segera mendapat peluang untuk memikirkannya.”

“Ah,” desah Untara, “Ki Gede Pemanahan tidak akan memperhitungkan hal-hal serupa itu. Ia adalah seorang besar yang tidak menimbang betapa besar pengorbanannya. Ia tidak akan berpikir tentang masalah-masalah yang tidak penting seperti tanah Pari dan bumi Mentaok.”

Untara mengerutkan keningnya ketika ia melihat Ki Tanu Metir tersenyum. Orang tua itu menjawab, “Bagaimanakah persoalannya sehingga janji itu lahir? Janji tentang kedua daerah itu?”

Untara tidak menjawab. Ditatapnya saja wajah Ki Tanu Metir yang selama ini dikenalnya sebagai seorang dukun yang baik dan seorang yang pilih tanding dalam olah kanuragan. Seorang yang juga mempergunakan nama Kiai Gringsing. Tetapi apakah Kiai Gringsing itu sudah cukup menyatakan dirinya dengan melepas kedoknya yang dipakainya untuk mengelabui Agung Sedayu, kemudian menyatakan dirinya bahwa Kiai Gringsing itu adalah Ki Tanu Metir? Tetapi siapakah Ki Tanu Metir itu sebenarnya? Ternyata orang itu terlampau banyak menaruh perhatian dan bahkan terlalu banyak mengerti tentang keadaan pemerintahan.

“Angger Untara,” berkata Ki Tanu Metir kemudian, “Aku kira Ki Gede Pemanahan tidak akan mengusik hal-hal yang telah dijanjikan itu seandainya tanah Pati pun tidak diserahkan. Dan kenapa Adiwijaya mempergunakan janji itu di dalam tindakannya? Bukankah sudah sewajarnya bahwa Ki Gede Pemanahan, Ki Penjawi, dan para senapati seperti Angger Untara melakukan perintahnya walaupun tanpa janji apa pun?”

“Ya, ya Kiai,” potong Untara, “aku tahu.”

“Nah,” berkata Ki Tanu Metir “bukankah Adipati Pajang yang pasti akan menyebut dirinya kemudian Sultan Pajang itu juga mengharapkan janji atas kesanggupannya melenyapkan Arya Jipang.”

“Ah,” desah Untara, “apakah maksud Kiai sebenarnya?”

“Sudah aku katakan,” jawab Ki Tanu Metir, “tidak bermaksud apa-apa. Aku bukan orang penting. Aku bukan orang yang berwenang membicarakan. Tetapi aku ingin Pajang dapat tegak dengan mantap tanpa persoalan-persoalan apa pun yang dapat mengganggunya. Kalau Angger Untara dapat menolong memperingatkan Adipati Adiwijaya lewat siapa pun atas keterlambatannya, maka aku kira Pajang akan bersih dari segala gangguan dan Pajang akan sempat membangun dirinya.”

“Mudah-mudahan hal yang serupa itu tidak terjadi, Kiai. Jangan terlampau mencemaskannya. Orang-orang Pajang cukup besar jiwanya untuk mengatasi kesulitan-kesulitan kecil semacam itu.”

Ki Tanu Metir tersenyum. “Tetapi bukankah Adipati Adiwijaya juga menuntut janji yang diberikan oleh Ratu Kalinyamat kepadanya?”

“Sudahlah Ngger. Aku terlampau banyak berbicara. Lihat Angger Wuranta datang. Apabila Angger telah memutuskan untuk kembali ke Jati Anom, harap Angger memberitahukan kepadaku.”

Untara mengangkat wajahnya, memandangi jalan yang membujur di hadapan banjar itu. Dilihatnya Wuranta berjalan bersama beberapa orang prajurit Pajang. Kini tampaklah mereka menjadi semakin akrab. Wuranta sudah tidak lagi kehilangan keseimbangan, meskipun setiap kali dadanya masih juga berdebar-debar dan gairahnya menghadapi masa depan seolah-olah akan patah. Namun ia sudah mampu menempatkan dirinya. Ia sudah dapat membeda-bedakan persoalan yang dihadapinya.

“Ia tidak akan datang apabila Angger Agung Sedayu masih di sini. Ia pasti akan meninggalkan halaman ini,” desis Ki Tanu Metir.

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Anak itu terlampau perasa. Ia harus menyadari keadaannya dan tidak mudah dihempaskan ke dalam suatu perbuatan putus asa.”

“Perlahan-lahan, Ngger. Perlahan-lahan. Lambat-laun pengalamannya akan menuntunnya. Seperti Angger Agung Sedayu yang kini telah berhasil melepaskan diri dari kungkungan sifat-sifatnya di masa kanak-kanaknya.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba ia berkata, “Kiai sebenarnya aku masih ingin tahu, kenapa Kiai menaruh perhatian yang besar sekali terhadap Adipati Pajang.”

“Ah, sudahlah anggaplah itu hanya sekedar sendau gurau saja.”

“Tidak, Kiai,” sahut Untara, “ternyata Kiai tidak sekedar bergurau saja.”

“Lihat, Angger Wuranta telah memasuki halaman. Persilahkan ia masuk ke dalam pringgitan.”

Untara tidak mendapat kesempatan lagi untuk bertanya. Wuranta telah berdiri di hadapannya bersama beberapa orang prajurit.

“Masuklah,” Untara mempersilahkan.

Wuranta menganggukkan kepalanya. Kemudian ia melangkah masuk, sedang para prajurit segera pergi ke gandok kiri.

Ketika Wuranta telah hilang di balik pintu, Kiai Gringsing berkata, “Sudahlah, Ngger. Aku akan pergi. Angger sebenarnya tidak perlu merisaukan kata-kataku itu.”

“Aku perlu mengetahui, Kiai.”

Kiai Gringsing menggeleng, kemudian melangkah pergi sambil berkata, “Nanti malam aku akan datang kemari. Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah, biarlah tetap di dalam pondoknya. Besok atau lusa mereka akan ikut serta bersama-sama dengan Angger pergi ke Jati Anom. Kemudian mereka pasti akan segera kembali ke Sangkal Putung. Di Sangkal Putung orang tua mereka telah menunggu dengan cemas. Mudah-mudahan persoalan Sekar Mirah itu dapat diselesaikan dengan baik. Mudah-mudahan Wuranta tidak terluka karenanya, dan Agung Sedayu pun dapat mengerti pula keadaannya.”

“Hem,” Untara menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sebelum ia berkata sesuatu, Kiai Gringsing telah mendahului, “Jangan kau salahkan anak-anak muda itu. Perasaan yang demikian itu wajar bagi anak-anak muda.”

Untara hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sudahlah, Ngger,” sekali lagi Kiai Gringsing minta diri.

“Silahkan, Kiai.”

Kiai Gringsing pun kemudian meninggalkan halaman padepokan itu. Namun sejenak Untara masih berdiri saja di tangga pendapa. Dicobanya untuk mengingat apa yang baru saja dilakukan. Tiba-tiba anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti kenapa Ki Tanu Metir seolah-olah menahan Agung Sedayu di pondoknya. Ternyata Ki Tanu Metir berusaha memberi kesempatan kepada Wuranta untuk menemukan dirinya kembali. Sebab menurut penilaiannya, Wuranta mempunyai jasa yang cukup besar bagi Pajang.

“Tetapi tanpa Ki Tanu Metir, Wuranta tidak akan dapat berbuat apa-apa,” desis Untara itu. “Anak muda itu hanya sekedar melakukan petunjuk-petunjuk orang tua itu, meskipun dalam saat-saat yang penting kecakapan berpikir Wuranta juga dapat menentukan. Tetapi keduanya memiliki jasanya yang seimbang. Sayang aku tidak dapat berbuat banyak terhadap orang tua itu. Aku tidak akan dapat mengucapkan terima kasih kepadanya. Setiap kali ia hanya tertawa saja, seolah-olah pernyataan terima kasih yang demikian itu hanya merupakan keharusan adat tata cara”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya di dalam hati, “Tetapi terhadap Wuranta aku akan dapat melakukannya. Aku harus menunjukkan kepada anak-anak muda Jati Anom, bahwa pasukan Pajang menyatakan terima kasihnya tidak terhingga kepada mereka, khususnya Wuranta. Mudah-mudahan Ki Tanu Metir pun kali ini mau menerima pernyataan resmi dari pada prajurit Pajang.”

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Untara melangkah naik ke pendapa. Namun tiba-tiba tersirat di dalam hatinya kata-kata Ki Tanu Metir, “Bukankah Adipati Adiwijaya juga menuntut janji yang diberikan oleh Ratu Kalinyamat kepadanya?”

“Hem,” Untara masih mengangguk-anggukkan kepalanya, “dari mana orang tua itu tahu bahwa Ratu Kalinyamat menjanjikan dua orang gadis cantik bagi Adipati Pajang yang kini telah menyebut dirinya Sultan Pajang?”

Sejenak angan-angan Untara meloncat kepada peristiwa itu, pada saat Adipati Adiwijaya menghadap kakanda Ratu Kalinyamat yang sedang bertapa dengan bertelanjang tanpa mengenakan pakaian sama sekali selain rambutnya sendiri yang hitam lebat dan panjang.

Janji Ratu Kalinyamat telah membuat Adipati Adiwijaya menjadi bingung. Wajar kedua gadis itu selalu mengganggunya, sehingga dengan tergesa-gesa pula ia berkeinginan untuk menyelesaikan persoalan Arya Penangsang yang telah membunuh Sunan Prawata, Pangeran Hadiri, dan orang-orang yang tidak sependapat dengan pendiriannya. Dan ketergesa-gesaannya itulah yang menyebabkannya, maka ia pun segera menyatakan janjinya, meskipun tanpa janji apapun Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi, apalagi Sutawijaya yang telah diangkat menjadi puteranya itu, pasti akan melakukannya. Ternyata ketergesa-gesaannya itu kini dapat menumbuhkan akibat, menurut panggraita Ki Tanu Metir.

Langkah Untara itu tiba-tiba tertegun. Seolah-olah ia belum puas mengenang semua yang pernah terjadi menjelang pecah perang antara Pajang dan Jipang. Dua kadipaten yang termasuk dalam lingkungan Kerajaan Demak. Tetapi setelah Demak kosong, maka kedua kadipaten ini terlibat dalam suatu pertentangan yang tidak dapat diselesaikan, selain dengan peperangan.

Untara masih berdiri di muka pintu yang memisahkan pringgitan dan pendapa banjar padepokan itu. Tangannya sudah melekat pada gawang pintu, tetapi ia masih belum mendorong pintu itu. Di halaman ia melihat satu dua orang prajurit berjalan hilir-mudik. Sedang di pendapa itu sendiri ia masih melihat beberapa orang yang terluka duduk-duduk di antara mereka. Orang yang lukanya tidak terlampau parah.

“Itu adalah salah satu kelemahan dari Adipati Pajang,” Untara masih saja berbicara sendiri di dalam hatinya. Ia tidak menyadari bahwa beberapa pasang mata para prajurit yang berada di pendapa itu memandanginya dengan heran. Tetapi Untara masih berbicara di dalam dirinya, “Adipati Adiwijaya tidak dapat menahan diri apabila ia melihat wanita-wanita cantik. Tetapi aku kira tindakannya tentang kedua tanah yang dijanjikan itu tidak terlampau salah. Pati memang harus segera diserahkan. Tetapi aku rasa Mentaok tidak akan terlampau tergesa-gesa. Seandainya tanah itu jatuh ketangan Ki Gede Pemanahan sebagai tanah perdikan yang kini masih berupa hutan yang lebat dan liar, namun akhirnya daerah itu akan jatuh ketangan puteranya Mas Ngabei Loring Pasar. Sedangkan apabila tanah itu dibuka lebih dahulu, maka Ki Gede Pemanahan tidak perlu mencemaskannya, bahwa akhirnya tanah itu pasti akan jatuh ketangan Sutawijaya pula. Bahkan mungkin bukan sekedar daerah Mentaok sebagai tanah perdikan. Mungkin Sutawijaya akan menerima daerah yang jauh lebih luas, untuk mendirikan sebuah kadipaten baru.”

Untara terkejut-ketika tiba-tiba pintu itu terdorong ke samping. Ternyata seseorang telah membukanya dari dalam.

“Oh,” orang itu pun terkejut, tetapi keduanya kemudian tersenyum, “aku tidak tahu kalau Kakang Untara berdiri di situ.”

“Aku baru akan masuk,” sahut Untara.

“Silahkanlah,” orang itu mempersilahkan.

Untara kemudian masuk pula ke dalam pringgitan yang lembab. Disuruhnya beberapa orang untuk membuka genting supaya panas matahari dapat masuk dan memanaskan udara di dalam banjar itu.

“Ki Tambak Wedi tidak sempat membersihkan pringgitan ini,” gumam Untara. “Ia lebih senang berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain, membuat kisruh dan menuntun muridnya untuk berbuat seperti dirinya sendiri.”

Ketika kemudian kepada mereka dihidangkan makan dan minuman, maka mereka pun segera menikmatinya. Badan mereka yang lelah telah membuat mereka lapar dan haus, sehingga makanan yang dihidangkan itu menjadi sangat lezat terasa di lidah-lidah mereka.

Sambil makan ada-ada saja yang mereka percakapkan, dari yang paling menyeramkan sampai yang paling menggelikan dalam peperangan yang baru saja terjadi. Wuranta kini telah dapat ikut dalam percakapan itu dengan wajar. Ia sudah tidak terlalu mudah tersinggung, meskipun ada satu dua orang perwira di antara mereka yang sengaja menyebut-nyebut namanya. Bahkan anak muda Jati Anom yang telah berhasil menemukan dirinya sendiri itu hanya tersenyum saja. Ia kini merasa, bahwa kedudukanya sama sekali tidak berada di bawah para perwira itu di dalam perjuangan.

Tetapi selama itu Untara sendiri tidak terlampau banyak ikut berbicara. Angan-angannya kadang-kadang masih saja diganggu oleh keadaan yang bakal datang. Kadang-kadang ia ikut serta menyesalkan tindakan Adipati Pajang. Tetapi kadang-kadang ia menganggap bahwa tindakan itu cukup bijaksana.

“Kedua sudut pandangan itu mempunyai alasannya masing-masing,” katanya di dalam hati. “Tetapi apapun alasannya, maka tidak akan dapat dijadikan sebab untuk berbuat hal-hal yang tidak semestinya.”

Untara itu tersadar ketika ia mendengar Wuranta bertanya, “Untara, kapan aku mendapat kesempatan untuk kembali ke Jati Anom?”

“Aku juga sedang memikirkan,” jawab Untara. “Aku kira segera setelah semua persoalan aku selesaikan di sini. Aku sudah memutuskan bahwa aku akan membuat kedudukan untuk sementara di Jati Anom bersama separo dari seluruh pasukan. Sedang yang separo lagi mempunyai tugas di sini. Mengawasi dan menyelesaikan masalah-masalah harian yang akan timbul. Orang-orang yang menyerah memerlukan bimbingan, juga perempuan dan kanak-anak yang kehilangan suami dan ayah-ayah mereka. Sedangkan yang berbahaya akan aku kirimkan ke Pajang.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku sebenarnya tidak perlu menunggu kau, Untara. Aku dapat kembali sendiri.”

“Jangan,” potong Untara. “Aku akan membuat sekedar pernyataan terima kasih. Hari ini aku akan memerintahkan beberapa orang prajurit untuk turun menemui Ki Demang Jati Anom. Setelah aku menentukan hari-hari yang pasti, maka aku akan memberitahukan hal itu lagi kepada Ki Demang.”

“Untuk apa?” bertanya Wuranta.

“Prajurit-prajuritku dan orang-orang Jati Anom yang sudah cukup lama mengalami ketegangan jiwa, perlu mendapat sedikit pelepasan. Aku yakin bahwa Jati Anom masih memiliki kemungkinan-kemungkinan untuk itu.”

Wuranta tersenyum. Katanya, “Maksudmu, Jati Anom masih mampu menyelenggarakan keramaian?”

“Begitulah.”

“Mungkin masih. Tetapi selama ini hati kita terampas oleh kecemasan. Aku tidak tahu, apakah Ki Demang masih sanggup menyelenggarakannya.”

“Aku akan menanyakannya. Mungkin besok aku sudah dapat menemukan keputusan, kapan kita akan kembali.” Dan diluar sadarnya Untara meneruskan, “Anak-anak Sangkal Putung itu pun sudah tergesa-gesa pula ingin pulang ke kampung-halamannya.”

Mendengar kata-kata Untara itu Wuranta mengerutkan keningnya. Wajahnya tiba-tiba menunduk. Dan ia tidak menyahut sama-sekali.

Untara melihat perubahan wajah itu, dan disadarinya keterlanjurannya. Dengan demikian maka ia ingin memperbaikinya katanya, “Mudah-mudahan Ki Demang Jati Anom masih menemukan kemungkinan itu.”

Tetapi Wuranta masih tetap menundukkan kepalanya. Namun terdengar ia bergumam, “Kalau anak-anak Sangkal Putung itu ingin segera kembali, apakah keberatannya? Biarlah mereka kembali ke kampung halaman mereka. Barangkali mereka memang sudah tidak mempunyai urusan apa pun di sini.”

“Ya,” sahut Untara, “mereka sudah tidak mempunyai urusan di sini. Karena itu biarlah mereka segera kembali. Tetapi aku belum tahu, kapan mereka ingin pergi ke Sangkal Putung.”

Sekali lagi Wuranta terdiam. Percakapan mereka kini sudah tidak selancar semula. Dan Untara menyesali keterlanjurannya, namun ia juga menyesali sikap Wuranta yang terlampau mudah tersinggung itu pula.

Bahkan di dalam hati Untara berkata, “Biarlah anak-anak Sangkal Putung itu segera saja kembali. Suasana di sini dan di Jati Anom harus tetap baik. Wuranta mempunyai pengaruh yang cukup di Kademangan Jati Anom. Apalagi setelah mereka mendengar apa yang sebenarnya telah dilakukannya. Maka apabila anak itu kecewa, anak-anak muda Jati Anom pun akan menjadi kecewa pula. Terhadapku, dan terhadap prajurit-prajurit Pajang pada umumnya, yang sementara masih memerlukan Jati Anom sebagai tempat kedudukan mereka.”

Sejenak ruangan itu menjadi sepi. Masing-masing terdiam kaku. Di dalam kediaman itu Untara tiba-tiba berpikir tentang adiknya. Apakah anak itu akan tinggal bersamanya di Jati Anom, ataukah ia akan pergi ke Sangkal Putung?

“Tak ada yang akan dilakukannya di Sangkal Putung. Ia harus tetap berada di Jati Anom bersamaku. Aku akan dapat mendidiknya untuk menjadi seorang laki-laki,” berkata Untara di dalam hatinya. “Baru saja ia berhasil melepaskan diri dari kungkungan dunianya yang sempit dan penuh ketakutan, kini ia telah jatuh ke dalam dunia lain yang sama-sama mengikatnya seperti dunianya yang dulu. Tetapi ia kini terikat oleh perasaan-perasaan yang tidak ubahnya seperti seorang yang sakit ingatan. Seseorang yang terkungkung dalam dunia yang demikian, maka ia akan kehilangan pribadinya. Mungkin Ki Tanu Metir benar, bahwa orang-orang muda akan mengalaminya sesuai dengan kewajaran sifat manusia. Tetapi Agung Sedayu masih terlampau muda. Ia masih harus banyak berbuat dan bekerja untuk membentuk dirinya, sebelum ia terjerumus kedalam dunia lain, yang sebenarnya belum masanya dialaminya”

Terngiang di telinga Untara kata-kata Ki Tanu Metir, “Jangan kau salahkan anak-anak muda itu, Ngger. Perasaan yang demikian itu wajar bagi anak-anak muda.”

“Memang,” Untara membantah di dalam hatinya, “hal itu adalah hal yang wajar. Tetapi bagi mereka yang sudah cukup dewasa. Akan tetapi belum waktunya buat Agung Sedayu. Ia segera akan kehilangan kepribadiannya dan terjerumus dalam suatu keadaan yang berbahaya. Ia akan menjadi alat saja bagi gadis Sangkal Putung itu. Ia tidak akan dapat membedakan lagi apa yang sebaiknya dilakukau dan apa yang tidak. Aku harus menjaganya supaya ia tetap teguh akan kediriannya. Aku harus membantu membentuknya menjadi seorang anak yang memiliki kelebihan dari sesamanya. Hal itu sudah tampak padanya. Benih-benih dari ayah ternyata hidup subur di dalam dirinya. Ia adalah seorang pembidik yang baik. Seorang yang cukup lincah dan tangguh. Kematangannya akan membuatnya pilih landing. Tetapi apabila sebelum waktu itu datang ia sudah jatuh ke dalam pengaruh seorang gadis, maka semuanya itu tidak akan dapat terwujud.”

Untara tersadar ketika ia mendengar beberapa orang minta ijin kepadanya untuk keluar dari pringgitan itu. Udara ternyata terlampau panas.

“O, silahkanlah,” sahut Untara.

Beberapa orang kemudian berdiri dan berjalan meninggalkannya. Wuranta pun kemudian minta ijin pula untuk keluar. Ia ingin melepaskan diri dari ketegangan yang tiba-tiba mencengkamnya setelah sekian lama dapat dihindarinya. Namun ia kini tidak lagi menjadi seolah-olah kehilangan akal. Ia berjalan di antara para perwira yang pergi keluar pringgitan dan bercakap-cakap di antara mereka. Dengan demikian maka hatinya menjadi agak tenang.

Akhirnya Untara sendiri merasa bahwa udara di dalam pringgitan itu terlampau panas. Ia kini sudah tidak begitu terikat oleh tugas-tugas yang terlampau banyak. Karena itu maka tiba-tiba ia ingin mengunjungi adiknya dan kedua anak-anak muda Sangkal Putung kakak beradik. Ia ingin tahu, apakah keinginan mereka, dan kapankah mereka akan kembali ke Sangkal Putung.

Dengan dua orang perwira bawahannya Untara pergi ke pondok tempat tinggal Agung Sedayu. Ditemuinya ketiga anak-anak muda di pondok itu sedang duduk di bawah sebatang pohon sawo di halaman.

“Hem,” Untara berdesah di dalam hatinya, “itulah kerja mereka di pondok ini. Duduk-duduk dengan malasnya. Ini mempunyai pengaruh yang jelek terhadap Agung Sedayu. Wajarlah apabila ia semakin dalam tenggelam di bawah pengaruh Sekar Mirah. Setiap hari mereka berkumpul tanpa mempunyai perhatian atas masalah-masalah yang penting selain masalah-masalah di dalam diri mereka sendiri.”

Ketika anak-anak muda itu melihat kedatangan Untara, bagaimanapun juga anggapannya terhadap senapati itu, namun dengan tergopoh-gopoh mereka menyambut kedatangannya. Dengan ramahnya Untara dipersilahkan untuk masuk ke dalam dan duduk di sebuah amben yang besar.

Tetapi dada Untara itu menjadi berdebar-debar ketika ia melihat sesosok tubuh terbaring dengan nyamannya diamben itu. Ternyata Ki Tanu Metir sedang tidur dengan nyenyaknya. Tetapi langkah mereka telah membangunkannya. Sambil menggeliat ia berkata, “Ah marilah, Ngger. Aku sedang tidur.”

Untara tidak menyahut. Dianggukkan kepalanya, kemudian bersama kedua kawannya ia duduk di amben yang besar itu, sementara Ki Tanu Metir telah bangun dan duduk pula di antara mereka. Kain yang dipakainya kali ini adalah kain gringsingnya, diselimutkan pada sebagian dari tubuhnya yang tidak berbaju.

Untara menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Swandaru dan Sekar Mirah berganti-ganti, kemudian adiknya, Agung Sedayu.

“Bagaimanakah dengan kalian?” bertanya Untara tiba-tiba.

“Kami baik-baik saja di sini, Kakang,” Swandaru-lah yang menyahut.

Senapati muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu tiba-tiba ia bertanya pula, “Apakah kalian kerasan di sini?”

Pertanyaan itu mengejutkan mereka, sudah tentu mereka tidak kerasan di tempat yang asing ini. Mereka lebih senang segera kembali ke Sangkal Putung.

Ternyata Ki Tanu Metir sempat menangkap maksud dari pertanyaan itu. Pertanyaan yang mengejutkannya pula. Seharusnya Untara tidak langsung bertanya kepada kedua anak-anak muda itu.

“Apakah yang terjadi dengan Angger Wuranta?” bertanya Ki Tanu Metir di dalam hatinya. “Angger Untara adalah seorang senapati yang berpengalaman. Ia dapat memperhitungkan hampir tepat setiap gerakan lawan. Ia dapat melawan gelar yang bagaimanapun sulitnya. Tetapi ia bukan seorang yang mengerti perasaan anak-anak muda. Ia kurang bijaksana menanggapi persoalan ini. Angger Untara memandang segala persoalan dari kepentingan keprajuritan. Seperti tanggapannya terhadap Angger Agung Sedayu dan Wuranta. Persoalan yang langsung menyangkut pasukannyalah yang paling banyak mendapat perhatian.”

Karena itu selagi Swandaru dan Sekar Mirah masih bingung menanggapi pertanyaan Untara, maka Ki Tanu Metir-lah yang menyahut, “Sudah tentu tidak, Ngger. Kedua anak-anak muda ini, bahkan ketiganya sama sekali tidak kerasan berada di tempat ini. Bagi mereka lebih baik untuk segera kembali ke Sangkal Putung daripada berada di sini. Sudah tentu ayah bundanya menunggu mereka dengan cemasnya. Bahkan mereka telah menyatakan keinginan mereka untuk mendahuluinya.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia beringsut maju dan hampir memotong kata-kata Kiai Gringsing, Kiai Gringsing itu cepat-cepat melanjutkannya, “Tetapi hal itu tidak dapat dilakukannya, akulah yang melarangnya. Mereka harus mengerti bagaimana sikap yang sebaik-baiknya dilakukan. Mereka harus mengucapkan terima kasih kepada pasukan yang telah membebaskannya. Aku minta mereka menunggu, Ngger. Mereka akan pergi bersamamu ke Jati Anom, kemudian secara resmi mereka akan mohon diri untuk kembali ke Sangkal Putung.”

Wajah Untara tampak berkerut. Ia kehilangan kalimat untuk menjawab. Sebenarnya ia ingin berkata, bahwa tidak ada keberatannya seandainya kedua anak-anak muda itu ingin segera kembali ke Sangkal Putung, bahkan itulah yang diinginkannya. Tetapi Ki Tanu Metir telah melarang mereka. Bagi Untara semakin cepat Sekar Mirah pergi, akan semakin baik. Senapati itu mencemaskan kehadirannya sebagai seorang gadis yang cantik. Kecantikannya akan dapat mempengaruhi keadaan. Terutama adiknya. Bukan mustahil apabila kelak akan dapat menumbuhkan persoalan-persoalan baru. Sudah tentu Wuranta tidak akan segera dapat melupakannya. Bahkan seandainya diminta, ia bersedia menyediakan pengawal yang cukup kuat, yang akan dapat melindungi mereka berdua seandainya mereka bertemu dengan Ki Tambak Wedi di perjalanan.

Tetapi Ki Tanu Metir telah mendahului sikapnya. Karena itu maka Untara untuk sejenak tidak berkata sesuatu.

Yang berkata kemudian adalah Ki Tanu Metir, yang melihat wajah Untara berkerut-merut. Seolah-olah ia dapat menebak isi hati anak muda itu. Katanya, “Sebenarnya aku pun tidak kerasan pula berada di sini, Ngger. Aku pun ingin segera kembali ke Dukuh Pakuwon. Tetapi aku pun ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian, bahwa kalian telah membebaskan Sekar Mirah. Adik muridku yang muda ini.”

Dada Untara berdesir. Ternyata kini ia dapat merasakan sesuatu di dalam hatinya, tentang orang tua itu. Ada yang tidak diakui oleh Ki Tanu Metir. Mungkin sikapnya atas Agung Sedayu dan kini sikapnya atas Swandaru, yang keduanya adalah murid Ki Tanu Metir.

Untara masih tetap berdiam diri. Ki Tanu Metir baginya adalah seorang yang banyak sekali memberikan jasanya. Jauh lebih banyak dari apa yang dapat diberikan oleh Wuranta.

Karena itu maka Untara menjadi gelisah. Ia ingin mengatakan berterus terang kepada Ki Tanu Metir, bahwa perasaannya menangkap sesuatu yang tidak wajar pada orang tua itu. Tetapi itu tidak akan dapat diucapkannya di hadapan Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah. Karena itu, maka ia ingin segera mendapat penjelasan dari persoalannya. Kalau ia secepatnya pergi ke Jati Anom membawa mereka itu, maka persoalannya akan menjadi semakin jelas. Ia pun akan segera dapat melihat perkembangan keadaan adiknya. Ia sudah memutuskan, bahwa Agung Sedayu tidak boleh pergi ke Sangkal Putung. Ia tidak berkeberatan hubungan apa pun yang akan dilakukan dengan Sekar Mirah, tapi yang menurut penilaian Untara, Agung Sedayu masih harus membentuk dirinya. Ia akan dapat menjadi seorang yang pilih tanding. Kelak apabila dikehendaki, ia akan dapat menjadi seorang prajurit yang dapat melampaui kebanyakan prajurit. Adipati Adiwijaya pasti akan menghargainya. Dan adiknya itu pasti akan segera mendapat tempat yang baik di kalangan Wira Tamtama.

Terdesak oleh perasaannya yang bergolak itu, maka tiba-tiba Untara berkata, “Besok lusa kita akan pergi ke Jati Anom. Besok aku akan memberitahukannya kepada Ki Demang Jati Anom. Aku mengharap Jati Anom akan menyambut kita dengan resmi. Dalam kesempatan itu kita akan mengucapkan terima kepada orang-orang yang banyak berjasa kepada perjuangan ini.”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Ia pun merasakan apa yang bergetar di hati senapati muda itu, tetapi orang tua itu sama sekali tidak menunjukkan kesan apapun. Ia masih saja tersenyum-senyum dan berkata, “Semakin cepat semakin baik, Ngger.”

Untara mengangguk. “Ya, Kiai,” jawabnya pendek. Ternyata Untara kemudian tidak dapat menyampaikan maksudnya, bertanya tentang keinginan Swandaru dan Sekar Mirah. Bahkan kemudian ia mendapat kesan yang aneh pada orang yang bernama Ki Tanu Metir dan yang sering menyebut diri Kiai Gringsing. Bahkan kesannya terhadap Kiai Gringsing itu menjadi semakin menggetarkan dadanya, sehingga tumbuhlah pertanyaan di dalam kepalanya, “Siapakah sebenarnya orang ini? Apakah benar bahwa Ki Tanu Metir itu hanya sekedar seorang dukun tua di Dukuh Pakuwon, tidak lebih dan tidak kurang? Hubungan apakah yang pernah dijalin antara Kiai Gringsing ini dengan ayah dahulu?”

Pembicaraan itu pun kemudian menjadi terlampau canggung. Sejenak mereka saling berdiam diri. Masing-masing menundukkan kepalanya. Kedua perwira kawan Untara menjadi heran melihat sikap Untara yang seolah-olah dicengkam oleh keragu-raguan dan kebimbangan. Untuk hal-hal yang tampaknya tidak penting itu sebenarnya ia akan dapat mengambil keputusan tanpa menghiraukan terlampau banyak persoalan. Tetapi pembicaraan yang pendek itu agaknya telah membuat Untara ragu-ragu dan membuat kedua kawannya berdebar-debar.

Dalam kecanggungan itulah maka Ki Tanu Metir telah mencoba membuka pembicaraan-pembicaraan yang tidak berarti. Ia bertanya tentang beberapa hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan Untara mendatangi adiknya dan kedua anak-anak muda kakak beradik dari Sangkal Putung itu.

Tetapi Untara tidak dapat terlampau lama duduk di amben bambu yang besar itu. Sejenak kemudian, ia pun minta diri.

“O, begitu tergesa-gesa, Ngger?” bertanya Ki Tanu Metir.

“Ya, Kiai, aku agak lelah. Aku ingin beristirahat sebentar.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. “Silahkan, Ngger.”

Untara pun kemudian turun dari amben itu dan melangkah keluar. Tetapi di muka pintu ia berhenti sejenak dan berkata, “Sedayu, aku memerlukanmu.”

Dahi Agung Sedayu berkerut. Tetapi ia menjawab, “Ya, Kakang, aku akan datang.”

“Datanglah ke banjar.”

Sebelum Agung Sedayu menjawab, Ki Tanu Metir telah mendahuluinya, “Tetapi apakah tidak lebih baik Angger Agung Sedayu tidak usah datang ke banjar hari ini?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Apakah artinya kata-kata gurunya itu, dan apakah keberatannya?

Untara pun terdiam sejenak. Ia segera menangkap maksud Ki Tanu Metir. Namun tiba-tiba Untara mempunyai pendirian lain. Segalanya harus cepat menjadi jelas. Ia tidak ingin bermain sembunyi-sembunyian. Itu akan menyulitkan pekerjaannya saja. Ia harus segera berterus terang. Ia harus segera mendapatkan pemecahan.

Ternyata Ki Tanu Metir dapat mengerti apa yang tersirat di balik tatapan mata Untara yang tajam. Orang tua itu dapat mengerti bahwa Untara sebagai seorang senapati pasti mempunyai cara tersendiri. Apalagi seorang senapati muda.

Orang tua itu pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Kalau cara itu yang akan ditempuh oleh Untara, maka ia pun tidak akan dapat menghalangi. Karena itu maka kemudian ia berkata, “Kalau Angger menghendaki, maka Agung Sedayu pun pasti akan pergi ke sana.”

“Ya,” sahut Untara. “Ia harus pergi ke banjar. Nanti malam.”

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

Untara kemudian pergi meninggalkan mereka. Swandaru memandangi ketiga perwira itu dengan wajah yang keheran-heranan. Tetapi yang bertanya adalah Sekar Mirah, “Apakah sebenarnya keperluan mereka kemari?”

Ki Tanu Metir berpaling. Ditatapnya wajah gadis itu. Ternyata perasaan gadis itu cukup tajam. Tetapi Ki Tanu Metir menjawab, “Ia hanya ingin melihat-lihat semua lingkungan tanggung jawabnya.”

Sekar Mirah terdiam, tetapi hatinya menangkap sesuatu yang lain seperti juga Swandaru Geni. Apalagi Agung Sedayu. Beberapa saat sebelumnya sikap kakaknya telah membuatnya berdebar-debar. Dan kini kakaknya langsung memanggilnya. Apakah kepergiannya atas pendapat Ki Tanu Metir dari banjar tidak menyenangkan hati kakaknya, sehingga kakaknya memerlukan datang memanggilnya? Kalau hanya itu, bukankah kakaknya dapat memerintahkan bawahannya untuk datang ke pondoknya ini.

Tetapi teka-teki itu sudah tentu tidak akan dapat dijawabnya, kecuali langsung bertanya kepada Untara. Dan tiba-tiba saja Agung Sedayu menemukan suatu sikap di dalam dirinya. Sikap yang selama ini belum pernah dimilikinya. Dengan tetap ia berkata di dalam hatinya, “Apapun yang akan terjadi, aku harus menghadapinya. Aku tidak punya pilihan lain. Mungkin aku sudah berbuat kesalahan di luar sadarku. Tetapi aku harus mendengar apakah salahku yang sebenarnya. Kalau sekedar ketidak-hadiranku dalam upacara itu saja, maka aku kira persoalannya sudah selesai. Aku sudah memenuhi perintah Kakang Untara untuk minta maaf kepadanya.”

Dengan demikian maka hati Agung Sedayu justru menjadi tenang. Anak muda yang seakan-akan sepanjang hidupnya hanya tergantung saja kepada kakaknya, kini tanpa dikehendakinya sendiri dan tanpa disangka-sangka sebelumnya justru menemukan sikap di dalam dirinya, pada saat-saat ia digelisahkan oleh sikap kakaknya, tempat ia bergantung selama ini.

Maka tanpa disadarinya, perlahan-lahan ia bergumam lirih, “Aku akan datang, dan aku akan bertanggung jawab, apa pun kesalahan yang telah aku lakukan.”

Agung Sedayu itu terkejut ketika ia mendengar kata-kata lembut di belakangnya, “Bagus. Kau memang harus datang, Ngger.”

Ketika Agung Sedayu berpaling, dadanya menjadi berdebar-debar. Ternyata gurunya berada di belakangnya dan mendengar gumamnya, sehingga gurunya itu menyahut kata-katanya.

Namun sejenak Agung Sedayu tidak dapat mengerti maksud gurunya yang sebenarnya. Dan kebimbangannya itu memancar lewat sorot matanya.

Ki Tanu Metir kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan diulanginya kata-katanya, “Kau memang harus berbuat demikian, Ngger.”

“Apakah maksud guru sebenarnya?” bertanya Agung Sedayu kemudian.

“Kau sudah menjadi semakin dewasa. Kau harus menemukan bentuk dari kepribadianmu sendiri. Kau tidak boleh selalu dibebani oleh perasaan ragu-ragu dan terlalu bergantung kepada orang lain. Misalnya kepada kakakmu. Suatu ketika kau harus menemukan sikap sendiri. Kau pada suatu saat harus meyakini suatu pendirian. Pendirian itu adalah pendirianmu. Pendirianmu sendiri.”

Agung Sedayu menundukkan wajahnya. Ia kini mengerti maksud gurunya. Memang selama ini ia terlampau bergantung kepada kakaknya. Dalam segala hal ia seolah-olah terikat kepada keputusan Untara. Ia merasakan bahwa ia tidak sebebas Swandaru apalagi Sutawijaya. Keduanya dapat menentukan sikapnya tanpa terlampau banyak mempertimbangkan pendapat orang lain.

Namun demikian ia mendengar gurunya meneruskan, “Tetapi Ngger, ini tidak berarti bahwa kau harus memutuskan semua seakan seperti seekor kuda yang lepas dari kendali. Kau masih tetap seorang saudara muda Angger Untara. Kau masih tetap harus mendengarkan nasehatnya. Tetapi kau sendiri harus mempunyai landasan sikap. Sikap seorang yang dewasa. Tetapi juga tidak berarti bahwa kau harus menentang setiap pendapat kakakmu.”

Kini perlahan-lahan Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Ki Tanu Metir berkata selanjutnya, “Dalam keadaan yang memaksa kau sebenarnya sudah dapat bersikap. Pada saat Angger Sekar Mirah hilang dari Sangkal Putung, kau sudah bersikap. Tanpa menunggu persetujuan Angger Untara. Tetapi dalam saat-saat yang wajar, kau hanya dapat berbuat sesuatu apabila Angger Untara menentukan.”

Agung Sedayu masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa disadarinya ia memandangi Sekar Mirah dan Swandaru yang telah masuk kembali ke dalam pondoknya.

“Nah, dengan bekal itu, pergilah menghadap Angger Untara. Namun jangan lepas dari keseimbangan. Kau tetap adiknya dan kau tetap di bawah pengaruhnya, apalagi Angger Untara adalah seorang senapati perang yang bertanggung jawab di daerah ini. Daerah medan perang yang masih kemelut, yang masih belum dingin benar. Dalam daerah yang demikian, maka dada setiap prajurit itu pun masih juga berasap. Sentuhan minyak setetes masih dapat mengobarkan api yang masih membara di dalam dada.”

Perlahan-lahan terdengar Agung Sedayu menyahut, “Ya, Guru, aku mengerti.”

Kini Ki Tanu Metir-lah yang mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bagus. Tetapi hati-hatilah akan sikapmu itu.”

“Ya, Guru,” jawab Agung Sedayu.

“Nah, sekarang beristirahatlah. Kau dapat mengatur perasaanmu, supaya kau tidak terkejut menghadapi sesuatu yang baru di dalam dirimu. Setiap perubahan harus kau sadari. Dan kau mengerti, supaya kau tetap berada di dalam keseimbangan.”

Ki Tanu Metir itu pun kemudian melangkah pergi. Beberapa langkah ia tertegun, sambil berpaling ia berkata, “Aku akan pergi ke sungai. Kalau aku tidak segera kembali, maka pergilah pada saatnya ke banjar.”

Agung Sedayu mengangguk, “Ya, Guru.”

Ketika Ki Tanu Metir meneruskan langkah, terdengar Swandaru melangkah ke luar dan bertanya, “Kemanakah guru itu?”

“Ke sungai.”

“Kenapa?”

Agung Sedayu memandangi wajah adik seperguruannya ini. Tetapi kemudian ia tersenyum. “Mungkin ia akan mandi. Mungkin mencuci kain gringsingnya yang sudah mulai masem.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kelak, kalau aku sudah sampai di Sangkal Putung, aku akan minta kepada ayah, supaya ayah membeli sehelai kain gringsing yang baru. Kiai Gringsing itu pasti akan senang memakainya.”

Agung Sedayu tersenyum, “Mungkin. Tetapi mungkin tidak. Ia mempunyai cirri-ciri yang khusus pada kain gringsingnya itu.”

Swandaru menggeleng, “Tidak. Kain itu adalah kain gringsing biasa saja.”

“Aku akan membatik buatnya,” tiba-tiba Sekar Mirah menyela. “Kalau ada ciri-ciri kekhususannya, ia dapat memberitahukan. Dan aku dapat membuat ciri-ciri itu pada kain yang aku batik dengan tanganku sendiri.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia melangkah masuk ke dalam pondok.

“Aku akan beristirahat,” katanya, “apakah kalian tidak tidur?”

Keduanya menggeleng. Agung Sedayu pun tidak biasa tidur pada saat-saat seperti ini. Berbeda dengan Ki Tanu Metir. Ia tidur kapan saja ia inginkan, tetapi kadang-kadang semalam suntuk ia sama sekali tidak tidur.

Sebenarnya Agung Sedayu pun tidak ingin tidur. Ia ingin mengatur perasaannya seperti yang dikatakan oleh gurunya.

Ketika kemudian malam tiba, dan padepokan Tambak Wedi disaput oleh warna yang kelam, maka perlahan-lahan Agung Sedayu meninggalkan pondoknya.

“Kau akan pergi ke banjar?” bertanya Swandaru.

“Ya, Kakang Untara memanggil aku. Mungkin ada sesuatu yang dianggapnya penting.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Tampaknya ia ingin mengucapkan sesuatu, tetapi ternyata ia berdiam diri saja.

Namun di luar dugaan Swandaru dan Agung Sedayu, tiba-tiba Sekar Mirah bertanya lirih, “Tetapi, bukankah kau akan kembali ke pondok ini, Kakang?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dengan serta-merta ia menjawab, “Tentu Mirah. Aku tentu kembali ke mari.”

“Lalu, apakah Kakang Agung Sedayu akan kembali ke Jati Anom segera?”

“Ah, aku kira kita akan pergi bersama-sama.”

“Mungkin ada perintah lain dari Kakang Untara.”

Agung Sedayu terdiam. Hal yang demikian itu memang mungkin sekali. Tetapi apakah ia harus selalu tunduk saja kepada perintah kakaknya yang bertentangan dengan kehendaknya? Bukankah ia bukan seorang prajurit Pajang?

Karena Agung Sedayu tidak menjawab maka Sekar Mirah mendesaknya, “Bagaimana, Kakang? Dan apakah kau akan pergi juga ke Sangkal Putung seperti katamu?”

Agung Sedayu masih berdiam diri. Pertanyaan itu telah membuat hatinya berdebar-debar. Sebelum itu, Sekar Mirah seolah-olah membiarkannya, seandainya ia ingin meninggalkan kedua anak-anak Sangkal Putung itu, bahkan tampaknya Sekar Mirah acuh tak acuh saja seandainya ia tidak lagi akan pergi ke Sangkal Putung. Namun dalam keadaan yang mendebarkan ini, Sekar Mirah bertanya kepadanya, apakah ia akan pergi ke Sangkal Putung.

“Bukankah kau mengatakan,” sambung Sekar Mirah, “bahwa kau bersama-sama dengan Kakang Swandaru sedang mencari aku, dan kau akan menyerahkan aku kepada ayah bundaku bersama dengan Kakang Swandaru?”

Debar di dada Agung Sedayu terasa menjadi semakin cepat. Kini ia tidak dapat berdiam diri saja. Maka dengan ragu-ragu ia menjawab, “Ya, Mirah. Aku akan pergi ke Sangkal Putung.”

Sekar Mirah menatap mata Agung Sedayu dengan tajamnya. Tiba-tiba dari mata itu memancar suatu perasaan yang aneh, bahkan mata itu seolah-olah menjadi basah.

Dan perlahan-lahan sekali Agung Sedayu mendengar suara Sekar Mirah disela-sela bibirnya yang bergerak-gerak lamban, “Aku dan Kakang Swandaru menunggumu, Kakang.”

Agung Sedayu menganggukkan kepalanya. Dipandanginya kedua kakak beradik itu berganti-ganti. Terasa darahnya seakan-akan menjadi semakin cepat mengalir. Maka jawabnya kemudian tersendat-sendat, “Ya, ya. Aku pasti akan kembali ke pondok ini dan aku akan mengantarkan kalian ke Sangkal Putung.”

Agung Sedayu itu pun kemudian pergi meninggalkan mereka dengan perasaan yang aneh. Sekar Mirah masih berdiri saja sejenak di halaman sehingga Agung Sedayu itu hilang ditelan gelapnya malam.

Sekar Mirah itu tersadar ketika ia mendengar kakaknya berdesis di belakangnya, “Marilah kita masuk, Mirah. Malam terlampau dingin.”

Sekar Mirah mengangguk. Tetapi tiba-tiba gelap malam membuatnya ketakutan lagi. Dengan gemetar dipeganginya tangan kakaknya. Di dalam kegelapan itu terbayang kembali mayat yang bergelimpangan, membujur lintang di halaman, di jalan-jalan bahkan bersandar pagar-pagar batu.

“Kakang,” kata-katanya bergetar, dan pegangannya pada tangan kakaknya menjadi semakin erat, “aku takut Kakang, takut.”

“Apa yang kau takutkan?”

Sekar Mirah tidak menjawab, tetapi wajahnya disembunyikannya di dada kakaknya.

“Marilah masuk, Mirah.”

Swandaru itu pun kemudian membimbing Sekar Mirah masuk ke dalam pondoknya, dan Sekar Mirah itu berjalan saja sambil memejamkan matanya.

Demikian mereka masuk kedalam pondok itu, maka Sekar Mirah pun segera berkata, “Tutuplah pintunya, Kakang.”

Swandaru pun segera menutup pintu. Sekar Mirah kini kembali menjadi ketakutan dan selalu berpegangan tangan kakaknya. Meskipun kemudian mereka telah duduk di atas amben besar di dalam pondok itu, dan ruangan itu diterangi oleh sebuah lampu minyak yang tersangkut di tiang, namun Sekar Mirah masih saja ngeri karena bayangan yang mengganggunya.

Perasaan ngeri itu ternyata mempengaruhi pula perasaan Swandaru Geni. Tetapi ia tidak menjadi ngeri dihantui oleh bayangan mayat yang bergelimpangan. Yang mendebarkan jantungnya adalah suasana yang dirasanya terlampau sepi. Tanpa disengajanya maka matanya hinggap pada pedangnya yang besar, bertangkai gading yang tergantung di dinding. Pedang itu tidak terlampau jauh dari padanya. Sekali loncat ia akan sudah dapat meraih senjata itu. Tetapi perasaannya telah memaksanya untuk berdiri sejenak.

“Kau akan kemana, Kakang?” bertanya Sekar Mirah yang masih berpegangan tangannya.

Swandaru Geni tidak menjawab. Tetapi ia bergeser sedikit dan meraih pedang itu.

“Apakah kau akan pergi?” bertanya adiknya.

Swandaru menggeleng, “Tidak.”

“Tetapi kenapa kau kenakan pedang itu di lambungmu?”

“Hanya sekedar untuk menenteramkan hati.”

“Kenapa, Kakang?” Sekar Mirah menjadi semakin cemas, “apakah ada sesuatu?”

“Tidak, tidak Mirah. Tidak ada apa-apa. Duduklah. Aku ingin membuat hatimu dan hatiku sendiri tenteram. Di samping senjata ini aku tidak akan mengenal takut lagi. Aku harap kau juga tidak lagi menjadi berdebar-debar dan ketakutan.”

Sekar Mirah terdiam. Keduanya kemudian duduk lagi. Tanpa dikehendaki, Sekar Mirah bermain-main dengan juntai pedang Swandaru yang berwarna kekuning-kuningan. Juntai yang diterimanya dari pemberian Sutawijaya.

Di luar malam menjadi semakin kelam. Derik cengkerik dan pekik bilalang bersahutan dengan lengking angkup nangka. Ngelangut. Di kejauhan sekali-sekali terdengar anjing liar menyalak dan menggonggong seakan-akan menangisi keluarganya yang hilang di peperangan.

Sekar Mirah duduk semakin merapat kakaknya. Kesepian malam membuatnya menjadi semakin ngeri. Tetapi dengan pedang di lambungnya Swandaru sudah tidak diganggu lagi oleh kecemasan.

Meskipun demikian setiap desir yang lemah sekalipun seakan-akan telah membuat telinga Swandaru bergerak.

Di dalam kegelapan malam itulah Agung Sedayu melangkah dengan hati yang berdebar-debar. Dilewatinya jalan padepokan Tambak Wedi yang sepi. Jalan yang belum begitu dikenalnya. Tetapi ia tahu benar arah yang harus diambilnya untuk sampai ke banjar padepokan.

Namun Agung Sedayu sama sekali tidak kehilangan kewaspadaan. Ia berjalan di daerah yang belum begitu dipahami. Dan daerah itu adalah daerah yang baru saja dilanda oleh pertempuran. Di ujung jalan ini kemarin berserakan mayat dan orang-orang yang terluka. Di halaman-halaman dan di kebun-kebun di sekitar banjar.

Tidak pula mustahil apabila di balik rimbunnya pepohonan itu masih ada satu dua orang yang bersembunyi, mengintai perjalanannya. Sisa-sisa orang Tambak Wedi atau orang Jipang yang berhasil bersembunyi di balik gerumbul-gerumbul dan rerungkutan, atau di dalam kebun-kebun salak yang terbentang di sela-sela kebun-kebun bambu yang padat.

Gemerisik angin malam menggoyangkan dedaunan dan ranting kecil. Dingin malam di lereng pegunungan mulai terasa membelai kulit. Tetapi Agung Sedayu tidak menghiraukannya. Ia berjalan terus. Selangkah demi selangkah menembus gelapnya malam. Pedangnya tergantung di lambung kirinya. Bergerak-gerak seirama dengan langkah kakinya.

Meskipun jarak yang akan dilalui Agung Sedayu dari pondoknya ke banjar padepokan itu tidak jauh, tetapi di dalam jarak yang dekat itu menunggu berbagai kemungkinan yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya.

Dalam gelap malam Agung Sedayu melangkah terus, seperti hatinya yang sedang gelap pula. Kadang-kadang timbul niatnya untuk berbuat sekehendak hatinya tanpa menghiraukan apa pun yang akan dikatakan kakaknya nanti. Bahkan ia akan bersedia melakukan akibat yang bagaimana pun juga. Tetapi kemudian tumbuhlah sifat-sifatnya yang tidak dapat ditinggalkannya. Ragu-ragu.

Tiba-tiba langkah Agung Sedayu tertegun. Ia sudah melihai lamat-lamat nyala obor di halaman. Tetapi dekat, hanya beberapa langkah daripadanya, ia melihat bayangan hitam yang bergerak-gerak. Menilik sikapnya, bayangan itu pasti bukan prajurit Pajang.

Hati Agung Sedayu menjadi berdebar-debar dan curiga. Selangkah ia maju mendekati bayangan itu, tetapi bayangan itu pun kemudian menjauhinya selangkah pula.

Debar di dada Agung Sedayu menjadi semakin keras. Perlahan-lahan ia bertanya, “Siapa kau?”

Tetapi ia tidak mendengar jawaban. Sekilas angan-angannya meloncat kepada Wuranta. Apakah orang itu Wuranta? Lalu apakah maksudnya ia menungguku di kegelapan.

Agung Sedayu menggeleng lemah, “pasti bukan Wuranta.” Namun di dalam hatinya itu terdengar, “Mungkin. Ia sedang menungguku. Bukankah sikapnya pada saat-saat terakhir sangat membingungkan?”

Selangkah Agung Sedayu maju, dan selangkah orang itu menjauh. Segera Agung Sedayu mengerti, bahwa orang itu sedang memancingnya. Karena itu, maka ia menjadi semakin berhati-hati. Mungkin orang itu cukup berbahaya baginya.

Tetapi hati Agung Sedayu saat itu sedang disaput oleh kegelapan. Betapapun ia mencoba untuk berbuat sebaik-baiknya dan dengan penuh kewaspadaan, namun tiba-tiba kemarahan, kejemuan, dan segala macam perasaan yang tidak menyenangkannya, serasa terungkat. Sekali terdengar anak muda itu menggeram. Lalu sekali lagi ia bertanya, “Siapa kau, he?”

Masih belum ada jawaban. Karena itu maka kemarahan di dada Agung Sedayu menjadi semakin membara, Ia merasa dipermainkan oleh bayangan yang tidak dikenalnya.

Agung Sedayu yang sedang pepat itu, sama sekali tidak sempat untuk membuat pertimbangan-pertimbangan yang jernih. Memang sekali terkilas di dalam hatinya sebuah pertanyaan “Apakah orang ini Ki Tambak Wedi yang berhasil kembali ke dalam padepokan ini?”

Tetapi pertanyaan yang demikian dijawabnya sendiri, “Tidak. Kalau orang ini yang bernama Ki Tambak Wedi, ia tidak memancing aku. Dengan sekali loncat ia sudah berhasil menerkam aku dan membuatku pingsan atau membunuhku sama sekali. Orang ini pasti bukan Ki Tambak Wedi.”

“Sidanti, Argajaya?”

Agung Sedayu menjadi ragu-ragu. Tetapi ketika ia melihat bentuk bayangan dalam keremangan malam, maka ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, “Bukan keduanya,” desisnya.

“Aku tidak peduli apakah orang itu Sidanti, Argajaya, atau Tambak Wedi sekalipun,” geramnya kemudian.

Agung Sedayu kemudian benar-benar menjadi bermata gelap. Hatinya yang bingung karena persoalan-persoalan yang bertubi-tubi menggoda perasaannya telah membuatnya kehilangan pertimbangan. Sikap Wuranta yang tidak dimengertinya, sikap kakaknya, dan persoalan yang membuat hatinya menjadi kisruh.

Kini ia ingin menumpahkan segala macam perasaannya itu. Segala macam kejemuan, kejengkelan, kebingungan, dan apa saja.

Tiba-tiba Agung Sedayu menggeretakkan giginya. “Aku sudah cukup dewasa untuk menentukan sikap. Juga terhadap ini, aku tidak perlu berlari-lari melaporkannya kepada Kakang Untara. Aku hanya akan dimarahinya. Diejeknya dan barangkali dimaki-makinya. Apalagi kalau orang ini ternyata orang-orang yang berbahaya, yang kemudian berhasil melepaskan diri. Aku pasti dikiranya seorang pengecut yang hanya berani berbuat di antara orang-orang dapat melindungiku.”

Dengan serta-merta Agung Sedayu pun segera meloncat mengejar bayangan itu. Demikian tiba-tiba sehingga bayangan itu pun terkejut. Namun orang yang berada di dalam kegelapan itu masih mampu menghindarkan dirinya dan berlari membelok ke dalan lorong yang sempit.

Agung Sedayu sudah tidak dapat berpikir jernih lagi. Dikejarnya orang yang berlari itu. Ia sudah tidak lagi menghiraukan apa pun, meskipun mereka kemudian memasuki lorong-lorong yang makin sempit dan rimbun. Lorong-lorong yang jarang sekali dilalui oleh peronda-peronda prajurit Pajang.

Namun betapapun juga, naluri Agung Sedayu masih mencegahnya ketika bayangan itu meloncat masuk ke dalam sebuah kebun yang kosong. Kebun yang gelap pepat ditumbuhi oleh gerumbul-gerumbul liar, dan rumpun-rumpun bambu. Di sana-sini tumbuh pohon yang besar dan rimbun.

“Ia memancing aku masuk,” geram Agung Sedayu. Tapi ia kini dicengkam oleh keragu-raguan. Perlahan-lahan ia menenangkan diri, menjernihkan pikirannya. Kini ia mencoba untuk menduga, siapakah orang itu.

“Ada beberapa kemungkinan,” katanya di dalam hati, “tetapi kemungkinan bahwa orang itu satu di antara tiga, Sidanti, Argajaya, atau Ki Tambak Wedi sendiri adalah sangat tipis. Menurut pengamatanku, bentuk tubuh mereka agak berbeda. Sikap dan cara untuk melarikan diri pun berbeda pula. Agaknya Wuranta pun bukan pula. Yang paling mungkin adalah sisa-sisa orang Jipang atau orang-orang Tambak Wedi sendiri yang lolos dari tangan prajurit Pajang dan berhasil bersembunyi di dalam liarnya gerumbul-gerumbul dan rumpun-rumpun bambu itu.”

Agung Sedayu masih saja berhenti di tempatnya. Kini ia sudah tidak melihat bayangan itu lagi. Bayangan itu telah hilang ke dalam rimbunnya dedaunan. Tetapi Agung Sedayu kini telah melihat bahaya yang dapat tumbuh apabila ia masuk ke dalam halaman yang liar itu. Ia akan dengan mudahnya disergap dari segala penjuru. Ia tidak tahu, apakah orang itu hanya seorang diri, atau mempunyai kawan-kawan yang cukup banyak. Karena itu, maka ia masih tetap berdiri tegak di tempatnya.

Ketika ia masih saja tidak bergerak, ia melihat bayangan yang hitam itu muncul lagi di dalam kegelapan. Agung Sedayu melihat bayangan itu berdiri tegak dengan kaki renggang, seolah-olah siap untuk menyerangnya.

Selangkah Agung Sedayu surut. Kesadarannya telah memperingatkannya untuk berbuat lebih hati-hati. Dan tiba-tiba saja, maka di tangan Agung Sedayu itu telah tergenggam pedangnya.

Tetapi bayangan yang hitam itu masih berdiri diam. Agaknya ia sengaja menunggu Agung Sedayu menyerangnya. Tetapi Agung Sedayu pun masih tetap berdiri saja di tempatnya.

Ternyata bayangan itu tidak dapat bersabar lebih lama lagi. Sejenak kemudian terdengar suaranya berdesis, “He, prajurit Pajang. Kau memang terlampau berani datang seorang diri ke tempat ini.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dan ia mendengar bayangan itu berkata lagi, “Menurut pengamatan kami, kau adalah seorang dari dua anak-anak muda yang menunggui gadis itu di pondoknya.”

“Nah, sekarang aku ingin minta tolong kepadamu, supaya kau memanggil seorang kawanmu itu dan gadis yang kau tunggui itu pula, supaya kau selamat.”

Terdengar gigi Agung Sedayu gemeretak.

“Kalau kau bersedia, marilah. Kami, beberapa orang, akan mengantarmu kepondok itu. Tetapi ingat, jangan berbuat hal-hal yang dapat membahayakan jiwamu,” Orang itu berhenti sejenak, lalu, “Kami sebenarnya tidak berkepentingan sama sekali dengan kalian. Tetapi bersama-sama dengan kalian, kami akan dapat keluar dari neraka ini. Dengan kalian, maka para penjaga pintu regol tidak akan dapat banyak berbuat atas kami.”

Agung Sedayu menggeram. Kini ia sadar, siapakah yang dihadapinya. Mereka adalah orang-orang yang berhasil bersembunyi di dalam padepokan ini, di antara gerumbul-gerumbul liar dan rumpun-rumpun bambu. Mungkin mereka adalah orang-orang yang pada saat pertempuran terjadi antara orang-orang Tambak Wedi dan orang-orang Jipang, sedang bertugas meronda atau tugas apa pun, sehingga mereka tidak sempat menggabungkan dirinya ketika pasukan Pajang memasuki daerah ini.

“Bagalmana? Apakah kau setuju? Aku tidak akan berbuat apa-apa. Kami hanya ingin keluar dari neraka ini. Hanya itu, tidak lebih.”

Sekali lagi Agung Sedayu menggeram. Orang itu ingin mempergunakannya bersama Swandaru dan Sekar Mirah sebagai tanggungan, supaya mereka dapat keluar dari padepokan ini dengan selamat.

“Mereka benar-benar bodoh,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya, “mereka sama sekali tidak melihat kesempatan untuk lari lewat urung-urung itu. Atau barangkali urung-urung itu pun sudah dijaga oleh prajurit Pajang?”

Karena Agung Sedayu tidak segera menjawab, maka orang itu pun berkata pula, “Nah, apakah kau setuju? Sebenarnya bagimu sudah tidak ada pilihan lain. Salahmulah bahwa kau terjebak di tempat ini. Kau terlampau sombong, berjalan seorang diri di dalam gelapnya malam, di daerah yang masih kemelut diasapi oleh sisa-sisa peperangan. Ayo, lekas, letakkan pedangmu dan ikutlah kami menjemput gadis itu.”

Yang terdengar kemudian suara Agung Sedayu gemetar, “Darimana kau tahu, bahwa gadis itu berada di pondok bersamaku.”

Terdengar suara tertawa lirih. Katanya, “Perempuan-perempuan di padepokan ini selalu berbaik hati kepada kami, memberitahukan apa saja yang ingin kami ketahui. Ternyata mereka mendendam sampai ke ujung rambutnya kepada orang-orang Pajang yang bengis itu.”

“Tutup mulutmu!” Agung Sedayu tiba-tiba membentak. Kemarahannya telah menyala dengan dahsyatnya. Perasaan-perasaan yang telah diendapkannya tiba-tiba teraduk kembali. Dan sekali lagi ia berkata di dalam hatinya, “Aku bukan kanak-kanak lagi. Aku harus dapat berbuat menurut pertimbanganku sendiri. Aku tidak perlu menggantungkan diriku kepada siapapun.”

Perasaan itu telah mendorong Agung Sedayu untuk menyelesaikan masalah yang kini sedang dihadapi. Dengan sepenuh kekuatan ia menindas segala macam keragu-raguan yang ada di dalam dirinya. Ia tidak mau mendengar lagi pertimbangan-pertimbangan apa pun yang tumbuh di dalam hatinya.

Tetapi ia masih tetap berdiri di tempatnya. Ia tidak mau maju lagi masuk ke dalam perangkap.

Karena Agung Sedayu tidak beranjak dari tempatnya, maka bayangan itu maju setapak. “Letakkan pedangmu,” suaranya berdesis, “bagimu sudah tidak ada pilihan lain kecuali mati.”

“Aku memilih mati,” suara itu bergetar seperti gelora di dalam dadanya.

“Gila kau,” bayangan itu pun menggeram, “jangan bodoh.”

“Kalau aku mati, maka kau pun akan mati karena kau tidak akan dapat keluar dari padepokan ini.”

“Kau memang terlampau bodoh, aku dapat mendatangi pondok itu tanpa kau. Mungkin kami perlu membawa kepalamu saja untuk menakut-nakuti mereka agar mereka bersedia menuruti perintah kami.”

“Lakukanlah,” sahut Agung Sedayu dalam nada yang berat penuh tekanan kemarahan.

Bayangan itu terdiam sejenak. Tetapi Agung Sedayu melihat orang itu melambaikan tangannya.

“Ia memberikan tanda kepada kawan-kawannya,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Dugaan Agung Sedayu itu ternyata tepat. Sejenak kemudian Agung Sedayu melihat empat orang yang lain berloncatan dari tempat persembunyian mereka.

Agung Sedayu meloncat selangkah surut. Ketika ia mencoba menghitung orang-orang yang berdiri di sekitarnya, maka dilihatnya semuanya berjumlah lima orang.

Sekali lagi Agung Sedayu bergeser. Ia mencoba untuk mendapat tempat yang baik. Ia harus melawan kelima orang itu sekaligus. Perkelahian yang demikian adalah suatu pengalaman baru baginya. Tetapi pengalaman itu mengandung bahaya yang cukup besar.

“Tetapi aku bukan kanak-kanak yang hanya dapat merengek lagi kepada kakang Untara. Kakang Untara selalu berbuat tanpa ragu-ragu. Aku bukan pengecut. Aku sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan masalah ini,” kata-kata itu selalu terngiang di dalam rongga telinganya. Ia sama sekali tidak mau diganggu lagi oleh keragu-raguan dan kebimbangan. Dan tiba-tiba saja, kelima orang itu terkejut ketika mereka mendengar Agung Sedayu berteriak, “Aku bunuh kalian! Aku berhak juga membunuh musuh-musuhku.”

Terdengar kemudian salah seorang dari kelima orang itu berdesis, “Jangan membunuh diri. Kau sudah terkepung, Betapapun dahsyat ilmu prajurit Pajang, tetapi melawan kami berlima adalah mustahil”

“Ayo, kalian membunuh aku atau aku membunuh kalian.”

Kelima orang itu tertegun. Ternyata mereka berhadapan dengan seorang yang agaknya tidak berperasaan.

Dan sebenarnyalah bahwa Agung Sedayu tidak mau lagi dipengaruhi oleh segala macam perasaan ragu-ragu, bimbang, pertimbangan-pertimbangan atau ijin dari kakaknya atau kecemasan bahwa kakaknya akan marah, atau perasaan apapun. Apalagi perasaan takut. Karena itu maka sikapnya pun menjadi terlampau garang dan kasar.

“Apakah kau mencoba menakut-nakuti kami?” bertanya yang lain.

“Persetan! Apakah kau takut atau tidak bukan soalku. Ayo kita bertempur,” jawab Agung Sedayu.

Sekali lagi kelima orang itu menjadi heran. Namun mereka tidak mendapat kesempatan untuk bertanya-tanya lagi. Tiba-tiba-saja mereka melihat Agung Sedayu menggerakkan pedangnya sambil berkata, “Hanya ada dua kemungkinan, “membunuh atau dibunuh.” Aku memilih kemungkinan yang pertama, “membunuh.” Aku tidak peduli lagi atas kalian. Apakah kalian akan merengek minta maaf atau minta dikasihani. Tidak ada maaf dan belas kasihan di peperangan. Kita bersama-sama telah menjadi buas melampaui serigala.”

Kelima orang itu pun sebenarnya adalah orang-orang yang hampir berputus asa. Mereka sebenarnya telah hampir kehilangan pertimbangan-pertimbangan mereka. Mereka pun sebenarnya berada dalam daerah kedua pilihan itu pula “membunuh atau dibunuh”, tetapi ternyata sikap Agung Sedayu itu telah membuat dada mereka menjadi semakin berdebar-debar.

Mereka terkejut, bahwa dalam sekejap kemudian Agung Sedayu telah meloncat sambil memutar pedangnya. Dengan penuh nafsu ia menyerang lawan-lawannya yang telah mengepungnya itu.

Hampir bersamaan kelima orang yang berdiri melingkari Agung Sedayu itu meloncat surut. Tetapi mereka tidak dapat berbuat lain daripada segera melakukan perlawanan, sebab serangan Agung Sedayu selanjutnya melanda mereka seperti banjir. Selama ini Agung Sedayu selalu dibayangi oleh keragu-raguan dan kebimbangan. Bahkan ia menjadi bingung melihat sikap kakaknya. Seolah-olah apa yang dilakukannya selalu saja salah. Tiba-tiba kini ia dengan sekuat tenaganya telah melepaskan diri dari setiap ikatan yang membelenggu perasaannya.

“Aku harus melepaskan diri dari semua ikatan,” Agung Sedayu itu berteriak di dalam hatinya. “Aku akan berbuat apa saja yang aku inginkan. Sekarang aku ingin membunuh, persetan dengan pendapat orang lain.”

Dengan demikian maka tandang Agung Sedayu menjadi semakin garang. Pedangnya berputaran seperti baling-baling. Kilatan pantulan cahaya samar-samar yang memancar dari langit tampak berkali-kali meloncat dari batang pedangnya.

Tetapi kali ini ia harus bertempur melawan lima orang yang memiliki ilmu tata bela diri pula. Ternyata mereka berlima merupakan lawan yang cukup berat bagi Agung Sedayu. Meskipun Agung Sedayu cukup lincah dan tangguh, namun berkelahi melawan lima orang di dalam gelapnya malam, merupakan pekerjaan yang cukup berat baginya.

Demikianlah maka perkelahian itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Ketika tubuh Agung Sedayu telah basah diusap oleh keringatnya sendiri, maka tandangnya pun menjadi semakin garang. Dengan lincahnya ia berloncatan menghindar dan menyerang, seperti kijang di padang perburuan. Pedangnya terayun-ayun seperti angin pusaran yang melindungi tubuhnya, sehingga sama sekali tidak tertembus oleh satu pun dari kelima ujung pedang lawan-lawannya.

“Anak ini dapat berkelahi seperti hantu,” berkata salah seorang lawan Agung Sedayu di dalam hatinya. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa Agung Sedayu seorang diri mampu melawan mereka berlima. Ternyata mereka yang belum banyak mengenal anak muda, adik Senapati Pajang ini, telah membuat salah hitung. Mereka menyangka bahwa mereka berlima, yang masing-masing merasa mempunyai beberapa kelebihan dari kawan-kawannya, dapat dengan mudah menangkap Agung Sedayu dan memperalatnya.

“Ah, bagaimana kalau kami berhadapan dengan Untara sendiri,” desis yang lain di dalam dadanya. Ternyata mereka tidak saja berhasrat menangkap Agung Sedayu, Swandaru, atau Sekar Mirah, tetapi di dalam setiap kesempatan siapa pun mereka kehendaki, asal orang itu cukup bernilai untuk dapat dijadikannya tanggungan untuk melepaskan diri. Namun ternyata kini mereka terbentur kepada seorang anak muda yang luar biasa. Agung Sedayu.

Meskipun mengalami beberapa kesulitan, tetapi Agung Sedayu yang sedang dicengkam oleh pergolakan persoalan di dalam dirinya itu sama sekali tidak berhasrat berkisar dari tempatnya. Ia sudah bertekad untuk bertempur. Ia sudah bertekad untuk meninggalkan segala macam perasaan yang ada di dalam dadanya. Setiap perasaan yang tumbuh, maka segera ditindasnya. “Ini adalah kungkungan keragu-raguan dan kebimbangan yang selama ini membuat aku kehilangan kesempatan untuk berbuat apa pun menurut kehendakku dan keinginanku sendiri.”

Namun dengan demikian, Agung Sedayu telah benar-benar dicengkam oleh kegelapan hati. Ia tidak mau lagi melihat pertimbangan-pertimbangan apa pun di dalam dirinya. Yang diteriakkan di dalam hatinya adalah, “Aku adalah laki-laki dewasa. Aku dapat berbuat apa saja menurut pertimbanganku sendiri.”

Dengan demikian maka serangannya pun menjadi semakin dahsyat. Pedangnya semakin cepat berputar dan ayunannya pun menimbulkan desing yang mendebarkan hati.

Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Kedua belah pihak seolah-olah sedang dicengkam oleh perasaan yang tidak wajar. Kelima orang itu adalah orang-orang yang sedang berputus asa. Bagi mereka tidak ada pilihan lain daripada berkelahi mati-matian. Kalau mereka kalah, maka mereka pun akan mati pula. Kalau mereka melarikan diri pun mereka tidak akan mendapat kesempatan untuk keluar dari padepokan ini. Karena itu maka apabila mereka masih ingin hidup, maka mereka harus memenangkan pertempuran ini. Pilihan mereka adalah, mati atau berhasil memperalat Agung Sedayu untuk melepaskan diri.

Demikianlah, maka di lorong sempit itu telah terjadi perkelahian antara hidup dan mati. Mereka bergeser dari satu titik ke titik yang lain. Sekali-sekali Agung Sedayu memerlukan tempat yang cukup luas untuk menghadapi serangan-serangan yang datang beruntun seperti banjir, sehingga perkelahian itu pun bergeser masuk ke dalan halaman yang kosong. Tetapi di saat-saat yang lain Agung Sedayu berusaha untuk mempersempit arena. Dengan demikian maka ia berdiri hampir melekat dinding batu di muka halaman yang kosong itu, menghadapi kelima lawannya pada satu arah.

Gelap malam semakin lama menjadi semakin pekat, tetapi langit menjadi semakin bersih. Bintang-bintang yang gemerlapan di langit menjedi semakin jernih, berkilat-kilat dan berkeredipan.

Agung Sedayu sudah tidak mau berpikir lain kecuali membunuh lawan-lawannya. Pikiran yang demikian, membunuh lawan-lawannya tanpa ampun, sebelumnya tidak pernah terkilas di kepalanya. Bahkan dalam peperangan yang hiruk-pikuk, dalam perang brubuh atau di dalam gelar-gelar perang yang lebih baik, membunuh lawannya selalu menimbulkan persoalan di dalam dirinya.

Tetapi kali ini ia benar-benar ingin membunuh lawan-lawannya itu. Semakin lama perkelahian itu berlangsung, maka semakin tampak kegarangan Agung Sedayu. Kelincahan dan ketangkasanya telah menempatkannya ke dalam keadaan yang lebih baik dari lawan-lawannya, meskipun kelima orang itu masih tetap merupakan bahaya yang setiap saat dapat merenggut jiwanya.

Apalagi ketika kelima orang lawan-lawannya itu menjadi semakin berputus asa. Mereka seolah-olah benar-benar ingin membunuh dirinya dengan mempergunakan tangan Agung Sedayu. Agaknya mereka sudah tidak melihat jalan lain untuk keluar dari padepokan ini. Kesempatan yang dianggapnya kesempatan terakhir ini agaknya terlampau sulit untuk dapat dipergunakannya.

“Kalau kali ini kami gagal,” berkata salah seorang dari mereka di dalam hatinya, “nasib kami akan menjadi lebih jelek. Kami akan diburu seperti memburu bajing. Beramai-ramai. Setelah kami tertangkap, maka kami akan menjadi pangewan-ewan. Karena itu, maka lebih baik mati pada saat ini dari pada tertangkap hidup-hidup.”

Dengan demikian maka tandang mereka pun menjadi semakin dahsyat. Berlima mereka berputar-putar mengelilingi Agung Sedayu. Sekali-sekali mereka berloncatan menyerang. Berganti-ganti dan kadang-kadang hampir bersamaan.

Agung Sedayu menggeram. Memang kadang-kadang ia menjadi bingung menghadapi cara kelima lawannya itu bertempur. Namun setiap kali ia selalu berusaha menembus lingkaran mereka dan berdiri di luar. Setiap kali ia melontarkan dirinya jauh-jauh, namun tiba-tiba ujung pedangnya telah mematuk dengan garangnya.

Angin malam di pegunungan yang dingin berhembus semakin kencang. Suaranya berdesir di antara dedaunan yang rimbun. Ketika di kejauhan terdengar anjing hutan berteriak berebut makan, terdengar dari kancah perkelahian itu sebuah keluhan tertahan. Seorang dari kelima orang yang berkelahi melawan Agung Sedayu itu meloncat surut. Tangan kirinya menggenggam pergelangan tangan kanannya. Sepercik darah merah meleleh dari luka yang menganga. Meskipun demikian pedangnya masih tidak terlepas dari tangannya yang terluka itu.

Kawan-kawannya sama sekali tidak sempat untuk menolongnya karena serangan Agung Sedayu masih saja membadai. Bertubi-tubi tiada putus-putusnya. Apalagi kini lawannya tinggal empat orang. Kesempatan baginya menjadi semakin luas. Pedangnya menjadi semakin lincah bermain-main di antara keempat senjata lawan-lawannya.

Tetapi ternyata orang yang terluka itu tidak segera menyerahkan diri kepada nasibnya. Ia masih ingin berbuat sesuatu seandainya ia harus mati. Lebih baik baginya untuk mati dengan dada terbelah, daripada mati perlahan-lahan karena kehabisan darah atau tertangkap oleh orang-orang Pajang.

Kini pedangnya berada di tangan kirinya. Dengan garangnya ia meloncat sambil menggeretakkan giginya. Meskipun pedangnya berada di tangan kiri, namun karena luapan kemarahan dan putus asa, maka tandangnya pun menjadi semakin kasar.

Tetapi baru saja orang itu menginjakkan kakinya di dalam arena perkelahian, sekali lagi terdengar salah seorang kawannya memekik kecil. Seorang lagi terlempar dari lingkaran. Pundaknya tersayat oleh pedang Agung Sedayu. Darah yang merah telah membasahi bajunya.

Namun seperti kawannya, ia tidak menyerah. Bahkan dengan wajah yang membara ia menyerang sejadi-jadinya.

Tetapi keadaan Agung Sedayu menjadi semakin baik. Hatinya pun menjadi semakin terbakar pula melihat sikap lawan-lawannya. Orang-orang yang sudah terluka itu sama sekali tidak menunjukkan kecemasan dan gentar. Bahkan mereka menyerangnya seperti angin ribut yang berputaran.

Dengan demikian, maka Agung Sedayu pun menjadi semakin bernafsu. Pedangnya bergerak semakin cepat, dan tandangnya pun menjadi semakin garang. Bahkan akhirnya ia sudah sampai ke puncak ilmunya. Tanpa kendali. Dilepaskan segenap kemampuannya untuk membinasakan kelima orang lawannya yang sudah menjadi semakin lemah.

Ternyata lawannya benar-benar menjadi semakin bingung. Sesaat kemudian seorang lagi terluka di keningnya. Darah yang segar mengalir di wajahnya. Ketika tangan kirinya mengusapnya, maka tangan itu pun menjadi merah seolah-olah menyala.

“Setan!” orang itu menggeram. Giginya gemeretak dan dengan kutukan yang paling kotor ia meloncat menyerang kembali.

Semakin lama mereka bertempur, maka semakin dekatlah Agung Sedayu pada batas kemenangannya. Tetapi kemarahan yang meluap-luap telah benar-benar menggelapkan hatinya. Tidak ada pikiran lain daripada membunuh lawan-lawannya.

Ia menggeram ketika ia melihat seorang lawannya kini tidak saja terluka di tangan, pundak, atau kening. Tetapi ujung pedangnya berhasil menggores dada. Terdengar orang itu mengaduh, dan sejenak kemudian tubuhnya terguling di atas tanah. Dari mulutnya meluncur desis kesakitan.

Melihat kawannya terbanting jatuh dan tidak segera dapat bangkit lagi, maka keempat kawannya menjadi semakin kalap. Mereka berloncatan dan menyerang membabi-buta. Seperti Agung Sedayu yang semakin lama menjadi semakin kasar dan garang juga.

Apalagi ketika lawan-lawannya sudah menjadi semakin lelah. Beberapa orang telah benar-benar tidak mampu lagi menghentakkan pedangnya karena darah yang semakin banyak mengalir. Sehingga akhirnya mereka tidak lebih dari seonggok tubuh-tubuh yang hampir tidak berdaya sama sekali.

Saat yang ditunggu-tunggu oleh Agung Sedayu itu kini telah datang. Ia tidak akan dapat dihalang-halangi lagi. Ia tinggal menghunjamkan saja ujung pedangnya ke dada setiap orang yang sudah dengan lemahnya mengayun-ayunkan senjatanya. Tetapi ayunan itu sudah tidak berarti sama sekali.

Terdengar gigi anak muda itu gemeretak. Selangkah ia surut untuk mengambil ancang-ancang. Ia akan segera meloncat maju dengan pedang terjulur. Satu demi satu lawan-lawannya itu akan roboh. Mati. Ia akan dapat berkata kepada kakaknya, bahwa ia telah membunuh lima orang sekaligus yang dengan licik memancingnya. Ia akan berkata kepada kakaknya, bahwa ia adalah laki-laki seperti prajurit yang lain.

Lawan-lawannyapun seolah-olah telah pasrah diri. Mereka sudah merasa tidak mampu untuk berbuat apa-apa. Mereka telah sampai pada puncak keputus-asaan, meskipun ujung pedang mereka masih juga terangkat setinggi lambung. Tetapi kekuatan tenaga mereka sama sekali sudah tidak memadai.

“Tariklah nafas yang terakhir sepuas-puas hati kalian,” desis Agung Sedayu, “sekejap lagi kalian akan terguling di tanah tanpa dapat bernafas lagi.”

Kelima lawannya sama sekali sudah tidak menjawab, apalagi yang masih belum dapat tegak karena terluka di dadanya. Ia masih duduk di tanah, walaupun tangannya masih juga menggenggam pedangnya.

Tetapi yang terjadi adalah di luar dugaan mereka. Di luar dugaan kelima orang yang sudah tidak berdaya itu, dan di luar dugaan Agung Sedayu sendiri.

Ketika Agung Sedayu menggerakkan kakinya, siap untuk meloncat dengan pedang terjulur, tiba-tiba terasa sentuhan di bahunya. Ketika ia berpaling, terjadi hal yang hampir tidak masuk di dalam akalnya, pedangnya dengan serta-merta lepas dari tangannya seperti ditarik oleh kekuatan yang sangat dahsyat.

Selangkah Agung Sedayu meloncat ke samping. Baru sekejap kemudian ia dapat melihat, bayangan berdiri tegak di hadapannya. Pedangnya telah berpindah ke tangan orang itu.

Tetapi Agung Sedayu tidak perlu bertanya. Namun dadanya berdesir tajam ketika ia melihat orang itu menyerahkan pedangnya kembali sambil berkata, “Sudah cukup, Ngger. Kau tidak perlu menyelesaiannya sendiri. Persoalan selanjutnya adalah persoalan para prajurit Pajang.”

Sejenak Agung Sedayu terbungkam. Tanpa berkedip di tatapnya wajah yang kehitam-hitaman di dalam gelapnya malam. Tetapi Agung Sedayu segera mengenalnya, bahwa orang itu adalah gurunya, Ki Tanu Metir.

Tidak sepatah kata pun dapat diucapkan, tiba-tiba kepala Agung Sedayu terkulai tunduk dalam-dalam. Sesuatu telah menusuk langsung ke pusat jantungnya. Bukan ujung pedang lawan, tetapi peringatan yang langsung diberikan oleh gurunya, meskipun tidak dengan kalimat-kalimat. Ia segera menyadari keadaannya. Tidak sepantasnya ia membunuh tanpa mengenal batas-batas perlakuan yahg wajar. Hampir saja ia terperosok ke dalam kegelapan karena hatinya sendiri yang sedang gelap.

Namun yang terjadi itu telah benar-benar merupakan suatu peringatan yang dirasakannya terlampau keras. Tetapi ketika hatinya telah mengendap, maka di sela-sela bibirnya yang bergerak-gerak ia mengucap syukur. Perlahan-lahan sekali. Tidak seorang pun yang mendengarnya selain dirinya sendiri.

Ki Tanu Metir itu pun kemudian melangkah maju, mendekati kelima orang yang sedang menantikan ajal itu. Terdengar ia berkata, “Kalian lebih baik menghentikan perlawanan. Marilah ikut kami, kami tidak akan berbuat terlampau jauh seperti yang kalian duga. Kami akan menyerahkan kalian kepada para peronda.”

Sejenak suasana menjadi hening. Tidak segera terdengar jawaban dari kelima orang itu.

“Menyerahlah. Aku menjamin bahwa kalian akan diperlakukan dengan wajar,” berkata Ki Tanu Metir pula.

Orang tua itu mengerutkan keningnya ketika ia mendengar jawaban, “Kami sudah siap untuk mati.”

“Jangan kehilangan akal. Kalian masih akan mendapat kesempatan seperti kawan-kawanmu yang lain, yang telah menyerah lebih dahulu.”

Sekali lagi kelima orang itu terdiam. Dan yang terdengar adalah suara Ki Tanu Metir kepada Agung Sedayu, “Angger Agung Sedayu. Pergilah ke banjar, bukankah kakakmu Untara menunggumu di sana. Kau sudah kehilangan waktu beberapa saat untuk bermain-main di sini. Beritahukan kepada beberapa orang peronda yang kau jumpai, bahwa di sini ada beberapa orang yang akan menyerah.”

Agung Sedayu mengangguk. Jawabnya, “Baik, Guru. Aku akan pergi ke banjar. Mungkin Kakang Untara sudah terlalu lama nenunggu aku.”

“Ya, pergilah.”

Ketika kaki Agung Sedayu terayun, ia tertegun. Ia mendengar salah seorang dari kelima orang itu berkata, “Aku-tidak akan menyerah. Aku ingin mati oleh tusukan pedang.”

“Jangan membunuh diri dengan cara yang demikian.”

“Tetapi pertempuran ini belum selesai. He, anak muda. Kalau kau tinggalkan orang tua ini seorang diri di sini, aku akan membunuhnya.”

Agung Sedayu memandangi orang yang berbicara itu, yang keningnya masih menitikkan darah dari lukanya.

“Lakukanlah kalau mampu,” sahut Agung Sedayu. Tetapi dadanya kini sudah tidak dibakar lagi oleh nafsunya untuk membunuh. “Mungkin Ki Tanu Metir bahkan akan memberimu obat yang dapat memampatkan darah dari lukamu.”

Orang itu menjadi heran. Tiba-tiba ia teringat, bagaimana mungkin orang tua itu dapat merebut pedang Agung Sedayu dengan mudahnya, sehingga orang ini pasti seorang yang jauh lebih dahsyat dari anak muda itu. Tetapi sikapnya dan kata-katanya telah mencairkan hati kelima orang yang telah membatu karena putus asa itu.

Sepeninggal Agung Sedayu, kelima orang itu tidak menolak ketika Ki Tanu Metir memberi obat pada luka-luka mereka sekedar untuk menahan arus darah yang mengalir. “Kalian tidak boleh kehabisan darah,” berkata orang tua itu.

Sementara itu Agung Sedayu berjalan dengan kepala tunduk. Peristiwa yang baru saja terjadi telah mengguncang dadanya. Ia merasa menyesal, bahwa ia telah hanyut ke dalam arus kegelapan hati. Namun kadang-kadang masih juga timbul desah di dalam hati, “Kenapa aku tidak dapat berbuat sebebas orang-orang lain? Kenapa aku masih saja terikat sama sekali kepada Kakang Untara?”

Ketika Agung Sedayu sampai di gardu peronda, segera diberitahukannya tentang kelima orang yang baru saja berkelahi melawannya.

“Selesaikanlah mereka menurut ketentuan yang berlaku,” berkata Agung Sedayu.

“Apakah mereka tidak melarikan diri sepeninggalmu?” bertanya prajurit yang sedang bertugas itu.

“Mereka kini bersama Ki Tanu Metir,” jawab Agung Sedayu.

“Baiklah,” sahut prajurit itu kemudian, “aku akan persiapkan orang-orangku. Bukankah mereka berlima?”

“Ya.”

Agung Sedayu tidak menunggui prajurit itu menyiapkan teman-temannya. Segera ditinggalkannya gardu perondan itu untuk pergi ke banjar padepokan menemui kakaknya.

Langkahnya semakin lama menjadi semakin cepat. Dicobanya untuk melupakan apa yang baru saja terjadi. Ia tidak mau lagi membayangkannya, apalagi betapa yang akan terjadi seandainya gurunya tidak mencegahnya melakukan pembunuhan yang tidak terkendali itu.

“Hem,” Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam, “aku harus memetik pelajaran dari padanya.” Tetapi ia tidak ingin bahwa peristiwanya itu sendiri selalu membayangi perasaannya.

Sehingga dalam keragu-raguan ia bertanya kepada diri sendiri, “Apakah aku perlu mengatakannya kepada Kakang Untara?”

Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. “Tidak. Tidak perlu. Laporan itu akan datang dari para prajurit yang akan menangkap mereka. Aku tidak perlu berkata apa pun tentang peristiwa itu.” Tetapi kemudian ia berkata pula di dalam hatinya, “Tetapi jangan-jangan Kakang Untara menganggap aku bersalah. Aku telah berbuat sendiri di daerah ini justru di luar wewenangku. Ah, biarlah aku mengatakannya. Salah atau benar, aku akan mengatakannya.”

Agung Sedayu itu pun kemudian melangkah terus. Kini ia mencoba memusatkan perhatiannya kepada kakaknya. Kepada kepentingan yang akan disampaikan kepadanya.

Ketika beberapa puluh langkah daripadanya terpancar seberkas sinar obor, hati Agung Sedayu menjadi semakin berdebar-debar. Sinar obor itu pastilah sinar obor yang dipasang di halaman banjar. Dan kakaknya telah menunggunya di banjar itu pula.

“Apakah yang akan dikatakannya?” gumamnya lambat. Agung Sedayu itu menggelengkan kepalanya. “Tak seorang pun yang tahu selain Kakang Untara sendiri. Mungkin guru, tetapi mungkin pula tidak.”

Semakin dekat Agung Sedayu dengan banjar padepokan itu hatinya menjadi semakin berdebar-debar.

Ketika kemudian ia berdiri di muka regol banjar padepokan itu, dua orang prajurit mendatanginya dan bertanya, “Siapa?”

“Aku, Agung Sedayu,” sahut Agung Sedayu.

Sinar obor yang kemerah-merahan jatuh di atas wajahnya, membuat kesan tersendiri pada kedua prajurit yang memandangi dengan tajam.

Tetapi sebelum keduanya bertanya lebih lanjut, Agung Sedayu telah mendahuluinya membuat penjelasan, “Aku dipanggil oleh Kakang Untara.”

“Sekarang?”

“Ya,” sahut Agung Sedayu.

Kedua prajurit itu saling berpandangan. Dan salah seorang dari mereka berkata, “Silahkanlah.”

Agung Sedayu segera melangkah masuk ke halaman. Halaman banjar padepokan itu kini sudah tampak lebih bersih dan terang. Beberapa buah obor dipasang di sudut-sudut halaman dan sebuah lampu minyak yang cukup terang tergantung di tengah-tengah pendapa. Beberapa orang masih tampak duduk bercakap-cakap di pendapa itu. Sedang beberapa orang yang lain, yang terluka berbaring-baring sambil bercakap-cakap satu sama lain.

Mereka memandangi Agung Sedayu ketika anak muda itu naik tangga dan berjalan di antara mereka, di tengah-tengah pendapa itu. Salah seorang yang telah mengenalnya dengan baik bertanya, “Apakah kau akan menemui kakakmu?”

“Ya,” sahut Agung Sedayu.

“Ia berada di pringgitan.”

Agung Sedayu sebenarnya sudah tidak memerlukan keterangan itu lagi. Ia tahu pasti bahwa kakaknya berada di pringgitan. Mungkin dengan beberapa orang perwira pembantu-pembantunya. Mungkin bahkan sendiri sambil menunggunya. Tetapi ia menjawab, “Terima kasih.”

Dengan dada yang semakin berdebar-debar ia melangkah menuju ke pintu pringgitan. Pintu leregan itu masih terbuka sedikit. Sepercik sinar dian di dalam pringgitan itu sempat meloncat keluar.

Hati-hati Agung Sedayu mendekati pintu. Kini ia sudah berada tepat di muka pintu. Tetapi keragu-raguannya ternyata membuat ia tertegun. Tanpa disengajanya ia berpaling, memandangi orang-orang yang berada di pendapa banjar itu.

Agung Sedayu itu terkejut ketika tanpa disangka-sangkanya orang yang sudah mengenalnya dan memberitahukan kepadanya bahwa Untara berada di pringgitan itu berbicara lagi, cukup keras, “Buka saja. Pintu itu tidak pernah dislarak.”

“Terima kasih,” sekali lagi Agung Sedayu menjawab. Kini tangannya telah memegang wengku pintu yang dibuat dari anyaman bambu wulung. Perlahan-lahan ia mendorong ke samping. Dan pintu itu pun terbuka.

Dada Agung Sedayu berdesir. Di dalam pringgitan itu duduk hanya dua orang saja. Kakaknya, Untara dan seorang lagi, Wuranta.

“Masuklah,” terdengar suara kakaknya berat tetapi dingin. Sedingin angin pegunungan yang bertiup semakin kencang.

“Terima kasih, Kakang,” sahut Agung Sedayu. Suaranya pun tiba-tiba bernada berat. Tetapi terasa sebuah getaran di dadanya terpercik di antara kata-katanya.

Tetapi begitu ia melangkahkan kakinya, Agung Sedayu itu tertegun. Ia melihat Wuranta tiba-tiba berdiri dan berkata, “Untara, aku akan keluar sebentar. Udara terlampau panas di pringgitan ini.”

Terasa jantung Agung Sedayu menjadi semakin cepat berdentang. Ia sadar bahwa kehadirannyalah yang seolah-olah telah mengusir Wuranta dari pringgitan itu. Agaknya Wuranta benar-benar tidak dapat menemuinya.

Dengan demikian maka teka-teki di dalam dada Agung Sedayu menjadi semakin kisruh. Panggilan kakaknya telah membingungkannya, dan kini ia menemukan suatu pertanyaan baru yang semakin membelit hati.

“Apakah sebenarnya yang telah aku lakukan, sehingga aku terperosok dalam keadaan yang membingungkan ini?” desis Agung Sedayu di dalam hatinya.

Tetapi yang terdengar adalah suara Untara, “Duduklah Wuranta.”

“Aku akan keluar sebentar,” sahut Wuranta sambil melangkah.

Tetapi sekali lagi terdengar Untara berkata, “Duduklah.”

Wuranta menggeleng. “Aku tidak betah duduk di dalam pringgitan yang panas ini.”

“Di luar udara akan lebih panas lagi. Duduklah,” ulang Untara.

Tetapi Wuranta masih juga melangkah. Namun langkahnya pun tertegun. Agung Sedayu masih berdiri tegak di muka pintu.

“Wuranta,” Untara mengulanginya lagi, “kemarilah dan duduklah. Dengar kata-kataku. Kemarilah kalian berdua. Duduk di sini. Aku perlu dengan kau berdua.”

Nada kata-kata Untara serasa semakin berat, memberati hati kedua anak-anak muda itu. Ketika sekali lagi Untara memanggil, maka Wuranta tidak dapat lagi menolaknya, “Wuranta. Kemari. Duduklah di sini.”

Dengan wajah yang tegang Wuranta itu pun melangkah kembali. Dengan dada yang berdebaran ia duduk di tempatnya. Sekali matanya menyambar Agung Sedayu yang masih berdiri tegak di muka pintu. Tetapi sesaat kemudian dilemparkannya pandangan matanya ke sudut ruangan.

Agung Sedayu masih tegak di tempatnya. Di lambungnya tergantung sehelai pedang. Di wajahnya terpancar berbagai macam pertanyaan yang telah membingungkannya.

“Jangan seperti hendak berkelahi Sedayu,” tiba-tiba suara kakaknya mengejutkan, “duduklah.”

“Oh,” terdengar Agung Sedayu berdesah, “terima kasih, Kakang.”

“Apakah kau akan pergi berperang?”

Pertanyaan Untara terdengar begitu tajamnya menyentuh telinganya. Dan tiba-tiba saja Agung Sedayu itu menjawab tegas, “Tidak.”

Untara bergeser. Ditatapnya wajah adiknya. Tetapi Agung Sedayu menundukkan kepalanya. Meskipun demikian jawaban Agung Sedayu itu terasa telah menggerakkan hati kakaknya. Dalam keadaan yang wajar, adiknya tidak akan menjawab. Apalagi jawaban sesingkat dan tegas itu.

Tetapi Untara itu terdiam. Dipandanginya langkah Agung Sedayu mendekatinya dan kemudian duduk di sampingnya. Dijulurkannya pedangnya ke belakang.

Sejenak mereka saling berdiam diri, dan pringgitan itu dijalari oleh suasana yang sepi tegang. Di kejauhan terdengar lamat-lamat suara burung hantu yang menggetarkan udara malam yang dingin.

Sesaat kemudian Untara menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya adiknya dengan penuh pertanyaan. Tetapi sebelum Untara bertanya, Agung Sedayu berkata, “Aku bertemu dengan lima orang yang bersembunyi di balik rerungkudan. Mereka sengaja menjebak aku.”

Untara masih terdiam, dan Agung Sedayu mengatakan dengan singkat apa yang dijumpainya di perjalanan ke banjar padepokan ini.

Terasa jantung Untara menjadi semakin cepat bergetar. Ia merasakan suatu kebanggaan di dalam dirinya, bahwa Agung Sedayu telah berhasil menguasai diri dalam keadaan yang tiba-tiba itu dan dapat berbuat sesuatu. Tetapi ia tidak ingin menunjukkan pengaruh perasaannya itu. Bahkan wajahnya seolah-olah tidak menunjukkan perubahan apa pun. Meskipun demikian, Agung Sedayu menjadi agak berlega hati bahwa kakaknya tidak menyalahkannya lagi.

Sekali lagi ruangan itu menjadi sepi. Baru sejenak kemudian Untara berkata kepada Wuranta tanpa mempersoalkan cerita Agung Sedayu, “Aku memang menunggu kesempatan semacam ini Wuranta.”

Wuranta tidak menyahut, tetapi wajahnya pun tunduk memandangi anyaman tikar yang didudukinya.

“Aku ingin setiap persoalan segera selesai. Aku tidak ingin kalian bersikap seperti anak-anak.”

Tiba-tiba Wuranta mengangkat kepalanya. Sorot matanya menjadi tajam bercahaya. Dari sela-sela bibirnya terdengar suaranya bergetar, “Apakah maksudmu, Untara?”

Untara mengerutkan keningnya. Ia berhadapan dengan seorang anak muda perasa. Anak muda yang mudah tersinggung perasaannya. Apalagi dalam keadaan seperti ini. Tetapi Untara tetap dalam pendiriannya, ia ingin menyelesaikan persoalan ini.

“Wuranta,” berkata Untara, “tidak baik kau selalu dikejar oleh perasaanmu itu. Setiap kali kau selalu menghindari pertemuan dengan Agung Sedayu sejak kau meninggalkannya, ketika Agung Sedayu sedang berkelahi dan mengejar Sidanti. Sejak ini, maka anggaplah bahwa di antara kalian sudah tidak ada persoalan lagi, sehingga hubungan kalian menjadi wajar seperti sediakala. Agung Sedayu adalah anak Jati Anom seperti kau, seperti aku juga. Ia untuk seterusnya akan menetap pula di Jati Anom, kalian akan selalu bertemu di jalan-jalan, di perapatan atau di gardu-gardu perondan. Kalau hubungan kalian tidak dapat pulih kembali maka akibatnya pun akan mempengaruhi seluruh anak-anak muda Jati Anom.”

Wajah Wuranta sesaat menjadi pucat. Keringat dinginnya mengalir membasahi pakaiannya. Namun justru karena itu maka ia pun terbungkam.

Agung Sedayu pun menjadi berdebar-debar. Ia tidak tahu persoalan apakah yang sedang dihadapinya. Tetapi yang telah menyengat hatinya adalah kepastian kakaknya bahwa ia akan tinggal untuk seterusnya di Jati Anom. Dengan demikian maka segera ia menemukan kesimpulan, bahwa hal inilah yang akan dikatakan kakaknya kepadanya, di samping persoalan yang masih tidak jelas baginya, hubungannya dengan Wuranta yang menjadi serasa tegang

“Aku dapat merasakan perasaan kalian,” berkata Untara seterusnya, “tetapi aku tidak sependapat bahwa perasaan itu akan terlampau berkuasa di hati kalian. Kalian harus mengimbanginya dengan nalar dan pikiran, bahwa kalian adalah anak-anak muda Jati Anom. Bahkan kalian adalah harapan bagi kampung halaman. Kalian harus dapat menyingkirkan semua persoalan pribadi untuk kepentingan-kepentingan yang lebih besar. Apakah kalian dapat mengerti maksudku?”

Wuranta masih terdiam. Keringatnya semakin banyak mengalir di seluruh wajah kulitnya.

Series27

SEJENAK ketiga anak-anak muda itu saling berdiam diri, sehingga pringgitan itu sekali lagi menjadi sepi. Dan sekali lagi terdengar burung hantu seolah-olah merintih menggetarkan udara malam. Di halaman daun-daun yang kuning berguguran oleh sentuhan angin lereng bukit yang semakin keras. Gemerasak seperti gemerasaknya nafas Agung Sedayu dan Wuranta.

Yang memecahkan keheningan itu adalah suara Untara memberat, “Pikirkanlah. Kalian bukan lagi anak kecil yang manja.”

Ketika Untara terdiam, tiba-tiba udara pringgitan itu digetarkan oleh suara Wuranta setajam getar jantungnya, “Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, Untara.”

Untara mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Aku kira cukup jelas.”

“Kau agaknya menganggap, bahwa selama ini aku selalu menghindari pertemuan dengan Agung Sedayu. Kau salah sangka. Aku tidak pernah berpikir demikian. Adalah kebetulan sekali bahwa aku tidak bertemu dengan Adi Agung Sedayu untuk beberapa lama.”

Untara menarik nafas dalam-dalam, “Kau aneh Wuranta. Kita sudah cukup dewasa. Aku tahu benar perasaanmu. Jangan ingkar.”

Baju Wuranta telah menjadi basah oleh keringat. Namun ia masih berkata, “Jangan mencari-cari, Untara. Katakan saja apa maksudmu sebenarnya.”

Untara terperanjat mendengar kata-kata itu. Ia adalah seorang senapati perang di daerah ini. Ia adalah orang tertinggi dalam tata keprajuritan Pajang di daerah lereng Merapi. Tetapi kemudian disadarinya, bahwa di hadapannya duduk seorang anak muda Jati Anom. Bukan seorang prajurit Wira Tamtama. Seorang anak muda kawannya bermain semasa kanak-kanak, sehingga bekas-bekas pergaulan di masa kecilnya itu tidak dapat dihapuskannya. Sikap itulah yang masih dibawa oleh Wuranta kali ini.

Sekali lagi Untara menghela nafas dalam-dalam untuk menahan hatinya. Persoalan yang akan dibicarakannya memang bukan masalah-masalah keprajuritan, meskipun akibatnya akan menyentuh pula.

Wuranta merasa bahwa ruangan itu menjadi semakin lama semakin panas, seperti tungku yang dipanasi dengan bara api kayu mlandingan.

Yang terdengar kemudian adalah suara Untara, “Wuranta, tidak baik apabila aku terpaksa mengatakan dengan berterus terang. Tetapi seharusnya kau dapat menangkap maksudku dan kau tidak perlu menghindarinya lagi. Marilah persoalan ini kita selesaikan. Kemudian, kalian akan dapat hidup seperti sedia kala. Tanpa perasaan canggung dan segan.”

Gigi Wuranta menjadi semakin terkatup rapat untuk menahan gelora perasaannya. Dentang jantung di dadanya serasa menjadi semakin cepat dan keras. Seperti kentong titir yang memekik-mekik hampir-hampir mematahkan seluruh tulang iganya.

Tetapi Agung Sedayu pun tidak pula kalah gelisahnya. Ia belum tahu, apakah yang akan dikatakan kakaknya itu kepadanya. Tetapi menilik pembicaraannya dengan Wuranta, maka ia sudah dapat meraba ujung dan bahkan pangkalnya.

Dengan dada yang semakin berdebar-debar ia mendengar Untara melanjutkannya, “Apakah kau dapat mengerti? Dan kau dapat mernpertimbangkan dengan pikiran yang jernih. Tidak sekedar dengan perasaan saja.”

Kini tubuh Wuranta menjadi gemetar. Dipandanginya Untara dan Agung Sedayu berganti-ganti. Kemudian terdengar Wuranta itu menggeram, ”Lalu apakah yang harus aku lakukan menurut pertimbanganmu, Untara? Apakah aku harus minta maaf dan berjanji untuk melupakan persoalan ini.”

“Tidak perlu,” sahut Untara, “tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. Tetapi apabila kalian melupakan persoalan di antara kalian, maka dengan demikian sudah terlepas dari persoalan itu.”

Wuranta tidak menjawab. Sekali lagi tatapan matanya jatuh di atas anyaman tikar yang silang-menyilang.

Tetapi Wuranta itu kemudian bergumam seperti kepada diri sendiri, “Apakah yang harus aku lakukan? Aku tidak mengerti. Apakah aku setiap hari harus pergi ke mana pun bersama Adi Sedayu atau aku harus menunggunya di banjar ini atau di kademangan Jati Anom? Dan aku juga tidak mengerti, apakah yang harus dilakukan oleh Adi Agung Sedayu dalam hal ini.”

Tampaklah sebersit warna merah di wajah Agung Sedayu. Sesaat ia mengangkat wajahnya. Sorot matanya menghunjam langsung ke wajah Wuranta, seolah-olah ingin melihat apakah yang sedang bergulat di dalam kepala anak muda itu.

Betapa dahsyatnya jantungnya bergetar, sehingga ia tidak mampu untuk duduk mematung, mendengarkan pembicaraan yang tidak begitu jelas baginya, yang hanya dapat diraba-rabanya saja. Karena itu, maka terloncat katanya dengan suara gemetar, “Aku tidak tahu, apakah yang sedang kita bicarakan.”

Kedua anak-anak muda yang lain, Untara dan Wuranta, serentak berpaling kepadanya. Namun Wuranta kemudian segera melontarkan pandangan matanya ke sudut pringgitan, sedang Untara menarik nafasnya dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata, “Seharusnya kau pun sudah tahu. Setidak-tidaknya kau dapat merabanya.”

Agung Sedayu sendiri tidak mengerti, kekuatan apakah yang tiba-tiba mendorongnya, sehingga ia berkata, “Kakang ingin menyelesaikan masalah yang agaknya menyangkut diriku. Menurut tangkapanku adalah masalah antara aku dan Kakang Wuranta. Aku tidak ingkar, bahwa aku merasakan hubungan antara aku dan Kakang Wuranta menjadi aneh. Aku tidak tahu, siapakah yang menyebabkannya. Tetapi itu adalah kenyataan, Kakang menghendaki persoalan ini harus segera mendapat pemecahan dalam sikap yang cukup dewasa. Tetapi menghadapi persoalan yang harus aku hayati dengan sikap dewasa itu aku hanya dapat meraba-raba.”

Untara terperanjat mendengar jawaban adiknya. Jawaban yang sama sekali tidak diduga-duganya. Dengan tajam ditatapnya wajah Agung Sedayu yang kemudian tertunduk. Seolah-olah anak muda itu baru pertama kali ini dilihatnya.

Di dalam hati Untara bergetar beberapa macam pertanyaan tentang adiknya itu. Namun kemudian ia berkata di dalam hatinya itu, “Anak ini telah benar-benar meningkat menjadi dewasa. Ia agaknya telah menemukan sesuatu pada dirinya. Sikap dan kepercayaan diri. Mudah-mudahan ia tidak kehilangan arah.”

Wuranta pun menjadi gelisah mendengar jawaban Agung Sedayu itu. Terasa dadanya bergetar dan wajahnya menjadi semakin tegang.

Yang berkata kemudian adalah Untara, “Ya, Sedayu. Kau benar. Kau harus mendengar dengan pasti apakah persoalannya.”

Tiba-tiba Wuranta memotong, “Kau dapat memperbesar persoalan itu, Untara. Seolah-olah persoalan yang cukup penting dibicarakan oleh seorang senapati seperti kau. Kalau kau tidak mempersusah dirimu dengan soal yang sama sekali tidak bersangkut-paut dengan jabatanmu itu, maka aku kira persoalan ini pun akan dapat selesai dengan sendirinya.”

Untara menggelengkan kepalanya, “Tidak, Wuranta. Meskipun kemungkinan yang demikian itu ada, tetapi kemungkinan yang lain pun dapat terjadi. Persoalan itu akan menjadi semakin parah.”

Wajah Wuranta menjadi kemerah-merahan.

“Sebaliknya aku berterus terang. Kalian harus melupakan persoalan kalian,” berkata Untara kemudian, “persoalan yang dapat mengganggu hubungan kalian, hubungan antara anak-anak muda Jati Anom pada umumnya.”

“Ya, aku tahu,” sahut Agung Sedayu, “aku akan melupakan persoalan itu. Tetapi persoalan yang mana? Persoalan, bahwa aku siang tadi tidak datang menghadiri upacara pelepasan jenazah atau persoalan lain.”

“Ah,” Untara mengerutkan keningnya, “kau tidak memperlancar pembicaraan ini. Baiklah, aku akan mengatakannya. Aku ingin kalian melupakan Sekar Mirah. Biarlah gadis itu kembali ke Sangkal Putung. Kalian adalah anak-anak muda Jati Anom. Kalian berdua termasuk orang-orang penting, terutama di lingkungan anak-anak muda.”

Wajah-wajah Agung Sedayu dan Wuranta berubah sesaat. Wajah-wajah itu dijalari oleh warna kemerah-merahan. Keduanya menundukkan kepalanya. Dan untuk sejenak keduanya tidak menyahut.

“Nah, aku sudah berterus-terang. Kalian agaknya menghendaki aku berkata begitu. Dan aku sudah mengatakannya,” Untara berkata selanjutnya. Alisnya tampak berkerut, dan ia berkata-pula, “Sudah cukup persoalan yang disebabkan oleh gadis itu. Salah satu sebab dari kepergian Sidanti dari Sangkal Putung adalah gadis itu pula. Kalau tidak ada Sekar Mirah di sana, yang agak-nya akan mengecewakannya, maka ia masih harus mempertimbangkan sepuluh kali lagi untuk meninggalkan Sangkal Putung.”

Agung Sedayu dan Wuranta masih berdiam diri. Namun dengan demikian Agung Sedayu kini telah mendapat kepastian, bahwa dugaannya selama ini ternyata benar. Tetapi dengan demikian pula, maka wajahnya menjadi semakin memerah. Ia menjadi malu atas persoalan yang melibatnya. Apalagi apabila diingatnya, bahwa Wuranta adalah kawan sepermainan, meskipun umurnya agak lebih tua sedikit daripadanya.

“Kalian tidak usah ingkar. Kalian sama-sama mencintai gadis itu. Itulah sebabnya, maka kalian seolah-olah menjadi bersaing. Mungkin karena Agung Sedayu telah mengenal gadis itu lebih dahulu, maka hubungannya menjadi agak lebih rapat dari Wuranta. Hal itulah yang telah timbul pada kalian. Hal itu pulalah yang telah merenggangkan hubungan kalian.”

Keduanya masih berdiam diri. Dan Untara meneruskan, “Kemudian kalian harus bercermin pada padepokan Tambak Wedi. Langsung atau tidak langsung, kehancuran padepokan ini sebagian dipengaruhi pula oleh kehadiran gadis itu di sini. Perkelahian antara Sidanti dan Alap-alap Jalatunda adalah karena Sekar Mirah. Kemudian perkelahian itu menjalar menjadi pertempuran yang menyala antara orang-orang Tambak Wedi dan orang-orang Jipang di bawah pimpinan Sanakeling. Nah, apakah persoalan yang dapat ditumbuhkan oleh Sekar Mirah itu tidak juga belum berakhir? Dan kini kalian berdua terlibat pula dalam masalah itu seperti Sidanti dan Alap-alap Jalatunda.”

Keduanya tidak segera menjawab. Dengan demikian ketika Untara berhenti sejenak, maka pringgitan itu sekali lagi menjadi sepi. Sekali lagi di kejauhan terdengar suara burung hantu. Lalu terdengar pula anjing-anjing liar menggonggong bersahut-sahutan.

Tetapi kesepian malam itu terasa menekan dada Agung Sedayu seperti hendak menghimpit patah tulang-tulang iganya. Ketika ia mencoba mengangkat wajahnya dan memandangi Wuranta, maka anak muda itu masih menundukkan kepalanya.

Terdengar kemudian suara Untara memecah kesepian, “Bagaimana? Apakah kalian dapat mengerti? Aku mempunyai perhitungan atas kalian berdua. Kau, Wuranta. Kau akan menjadi seorang tetindih anak-anak muda Jati Anom. Kau akan dapat memperdalam pengetahuanmu tentang olah kanuragan. Dan kau akan dapat menjadi tempat untuk meletakkan dasar kekuatan Jati Anom.” Untara berhenti sejenak, lalu kepada Agung Sedayu berkata, “Dan kau, Sedayu. Kau masih terlalu muda. Masa depanmu masih sangat panjang. Karena itu, maka sebaiknya kau membentuk dirimu lebih dahulu sebelum kau tertarik akan hal-hal lain. Semula aku tidak menaruh keberatan apapun atas hubunganmu dengan Sekar Mirah. Tetapi ternyata aku melihat sendiri, bahwa hubungan itu akan dapat mengganggumu, yang kini tampak di mataku adalah hubunganmu dengan Wuranta sudah terganggu. Ternyata kau lebih mementingkan gadis itu daripadanya. Sedang kau tahu, bahwa Wuranta adalah seorang yang cukup penting dalam pertempuran yang baru saja terjadi. Bahkan seakan-akan turut menentukan permulaan yang menjadi pembuka jalan masuk ke padepokan ini.”

Meskipun Agung Sedayu sudah menyangka, bahwa kakaknya akhirnya akan sampai juga pada persoalan dan pendirian itu, namun kata-kata itu masih juga membuatnya terperanjat sekali. Terasa seakan-akan dadanya sejenak menjadi pepat, dan nafasnya seolah-olah terhenti.

Untara melihat wajah adiknya yang tiba-tiba menjadi pucat itu. Tetapi sejenak kemudian wajah yang pucat itu menjadi merah membara. Mata Agung Sedayu seakan-akan menyala karena desakan-desakan di dalam dadanya. Sesaat dipandangnya wajah kakaknya, sesaat kemudian matanya hinggap pada wajah Wuranta. Tetapi anak Jati Anom itu menundukkan wajahnya meskipun hatinya juga bergolak seperti hati Agung Sedayu. Namun betapa hati Wuranta bergolak, tetapi ada perbedaan tingkat di antara keduanya. Wuranta kini merasa bahwa apa yang dikatakan oleh Untara itu adalah wajar. Sebagai seorang pemimpin, ia berusaha untuk menyelesaikan persoalan yang tumbuh di antara orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Ketika ternyata Untara tidak menjadi berat sebelah, tidak memihak kepada Agung Sedayu dan menyalahkannya, maka sejak itu hati Wuranta mempunyai tangkapan lain terhadap usaha penyelesaian yang dilakukan oleh Untara. Tiba-tiba hatinya menjadi sangat terpengaruh oleh cara senapati muda itu. Bahkan kemudan ia menghargainya. Ternyata Untara mempanyai sikap yang tidak disangka-sangkanya. Semula ia menyangka, bahwa Untara pasti akan membela adiknya. Menyalahkannya dan berusaha untuk membela kebenaran Agung Sedayu. Tetapi ternyata tidak. Untara tidak berbuat demikian menurut penilaian Wuranta.

Bahkan Untara itu berkata, bahwa mereka berdua, Agung Sedayu dan Wuranta bersama-sama harus melupakan gadis itu. Gadis yang telah membuat Agung Sedayu dan Wuranta seolah-olah saling menjauhi. Betapapun berat perasaannya, namun ia merasa bahwa hal itu sebaiknya dilakukan. Melupakan Sekar Mirah. Dengan demikian, maka antara dirinya dan Agung Sedayu tidak akan ada lagi batas yang menghalang-halangi seperti yang mereka alami pada saat-saat terakhir.

Tetapi untuk melupakan Sekar Mirah pasti akan terampau sulit. Itulah sebabnya, maka Wuranta masih tetap membisu sambil menundukkan kepalanya. Dadanya yang bergolak terasa menjadi semakin pepat. Namun ia dapat mengerti pendirian Untara. Bagi Untara tidak ada jalan yang lebih baik dari jalan yang ditempuhnya kali ini.

Berbeda dengan Wuranta, maka pendirian Untara itu serasa telah membelah jantung Agung Sedayu. Ia tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja ia merasa bahwa ia dihadapkan pada suatu tantangan yang harus dijawabnya berdasarkan atas keyakinan sendiri. Apabila selama ini pendiriannya sebagian besar tergantung kepada kakaknya, maka kali ini tiba-tiba ia merasa kakaknya sebagai orang asing baginya. Orang yang tidak dapat mengerti tentang dirinya dan yang tidak dapat dimengertinya.

Tetapi karena kepepatan hatinya, karena gelora yang dahsyat melanda dadanya seperti kawah gunung Merapi, maka untuk sejenak Agung Sedayu justru terbungkam. Hanya matanya sajalah yang bergetar memancarkan perasaannya yang membara.

Untara dapat menangkap perasaan adiknya. Terasa hatinya pun menjadi berdebar-debar. Adiknya kini ternyata bukan adiknya beberapa waktu yang lalu, yang menangis sambil berpegangan ikat pinggangnya, di perjalanan ke Sangkal Putung ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya dengan Alap-alap Jalatunda dan Pandai Besi dari Sendang Gabus. Tetapi nyala pandangan mata Agung Sedayu kini adalah pancaran perasaan seseorang yang mempunyai keyakinan pada dirinya sendiri.

Dengan demikian maka Untara merasa, bahwa ia harus berhati-hati menghadapi adiknya ini. Adiknya yang bagi Untara masih terlampau muda untuk menentukan sikap dan jalan hidupnya. Adiknya yang menurut pandangan Untara masih terlampau hijau dalam pengalaman dan pengamatan hidup. Mungkin ia sudah merasa dewasa karena keadaan yang memaksanya bersikap dewasa. Tetapi kedewasaan yang demikian bukanlah kedewasaan yang matang. Bahkan mungkin keyakinan diri dalam keadaan yang demikian akan dapat menjerumuskan Agung Sedayu ke dalam tindakan yang salah dan berbahaya.

Namun untuk sesaat, mereka seolah-olah terbungkam. Mereka tidak segera menemukan kata-kata untuk memecahkan kesenyapan yang tegang. Hanya nafas mereka sajalah yang berdesahan memenuhi ruangan pringgitan banjar padepokan Tambak Wedi.

Tetapi akhirnya Untara memecahkan kesepian itu. Katanya, “Aku kira kalian dapat mengerti, bahwa tidak ada jalan lain yang dapat kalian tempuh. Mungkin untuk sesaat, perasaan kalian akan menjadi sakit. Kalian akan merasa kehilangan sesuatu. Tetapi sesuatu itu memang belum pernah menjadi milik kalian. Karena itu, biarlah segera Sekar Mirah kembali ke Sangkal Putung. Aku akan menyediakan pengawalan yang kuat sehingga meyakinkan bahwa mereka akan selamat sampai ke kademangan itu, meskipun seandainya mereka bertemu dengan Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya di perjalanan. Kalian berdua akan tetap tinggal di sini. Sebentar lagi kalian akan berhasil melupakannya dan kalian akan segera tenggelam dalam kesibukan yang lain. Kalian adalah anak-anak muda yang memiliki kemampuan yang cukup. Agung Sedayu akan dapat menjadi seorang Wira Tamtama yang pilih tanding. Sedang Wuranta akan dapat menjadi landasan kekuatan Jati Anom. Apabila semuanya itu telah kalian capai, maka jalan hidup kalian akan kalian tentukan sendiri. Aku adalah saudara tua Agung Sedayu. Karena itu, maka aku wajib menuntunmu.”

Dada Agung Sedayu benar-benar akan pecah mendengar kata-kata kakaknya. Betapa ia berusaha untuk menahan gelora di dalam dadanya, namun kegelisahannya memancar juga lewat matanya. Bahkan segenap pergolakan di dalam dirinya.

Tetapi justru karena itu, maka ia tidak segera dapat mengucapkan sesuatu. Agung Sedayu itu duduk saja seperti patung mati, membeku. Namun dalam kebekuannya itu, Untara dapat membaca pada sorot matanya, betapa hati adiknya itu sedang menyala.

Meskipun demikian, Untara merasa wajib untuk mempertahankan pendiriannya itu. Senapati itu mengharap, bahwa dengan demikian adiknya yang masih terlampau muda itu akan terbebas dari pengaruh yang dapat membuatnya tetap kerdil. Menurut jalan pikiran Untara, Agung Sedayu harus mendapatkan dahulu kesempatan yang sebak-baiknya di dalam lapangan yang sesuai bagi seorang laki-laki. Ternyata kini Agung Sedayu telah dapat menyingkirkan perasaan takutnya yang berlebih-lebihan, dan telah memiliki kecakapan dan ilmu yang pantas untuk menjadi seorang prajurit. Bukan saja seorang prajurit kebanyakan, tetapi ia mempunyai bekal yang cukup untuk dalam waktu yang singkat menjadi seorang lurah Wira Tamtama.

Melihat wajah dan sorot mata adiknya, Untara dapat mengetahui bahwa agaknya Agung Sedayu berpendirian lain.

Karena Agung Sedayu tidak segera menyahut, maka Untara itu pun bertanya, “Bagaimana? Apakah kalian dapat mengerti.”

Wuranta masih menundukkan kepalanya. Tetapi dari sikap dan pandangan matanya, Untara pun dapat mengerti, bahwa agaknya Wuranta dapat menerima penjelasannya. Berbeda dengan adiknya, Agung Sedayu.

Sejenak mereka bertiga terdiam. Pringgitan itu dikuasai oleh kesenyapan. Tetapi setiap hati ketiga anak-anak muda yang berada di dalamnya, berdentangan bagaikan seribu genta yang berbunyi bersama-sama di dalam dada mereka.

Namun Agung Sedayu masih berdiam diri. Wajahnya yang tegang telah menjadi basah oleh keringatnya. Terasa keningnya berdenyut dan kepalanya menjadi pening.

Seperti ketakutan baru di kepalanya, ia mendengar kakaknya langsung bertanya kepadanya, “Bagaimana pendirianmu, Agung Sedayu?”

Agung Sedayu menggigit bibirnya. Dengan sepenuh tenaga ia mencoba memenangkan hatinya. Tetapi ia tidak segera dapat menjawab. Terlampau banyak masalah yang berdesakan di dalam dadanya. Namun seolah-olah masalah yang terlampau banyak itu desak-mendesak berebut dahulu, sehingga justru karena itu, maka meskipun mulutnya bergerak-gerak, tetapi belum sepatah kata pun yang terloncat dari sela-sela bibirnya.

Karena Agung Sedayu masih diam, maka sekali lagi Untara bertanya, “Bagaimana Agung Sedayu. Kenapa kau diam saja?”

Agung Sedayu menggeser diri setapak surut. Titik-titik keringat di keningnnya jatuh satu-satu di pundaknya.

Terbata-bata terdengar ia berkata, “Kakang, aku tidak dapat melakukannya.”

Hanya itulah yang dapat diucapkan. Beribu macam kata-kata masih tetap tersimpan di dalam hatinya. Beribu persoalan yanq tidak terucapkan karena justru berdesakan di dalam dadanya.

Tetapi jawabannya yang singkat itu telah melontarkan pokok persoalan yang bergelora di dalam dadanya. Jawaban yang singkat itu telah menyebabkan dada Untara dan Wuranta berdesir. Meskipun Untara telah dapat meraba lewat sorot matanya, tetapi bahwa dengan tegas Agung Sedayu menyatakan pendapatnya itu, telah mengejutkannya.

Karena itu, maka Untara itu pun kemudian menyahut, “Agung Sedayu. Aku sudah menyangka, bahwa kau akan menjawab demikian. Aku sudah menyangka bahwa kau pasti akan berkeberatan. Tetapi aku yakin, bahwa kau akan mampu mengendalikan perasaanmu. Kau sudah bukan anak-anak lagi. Kau harus sudah dapat membedakan, mana yang baik dan mana yang buruk.”

“Kakang,” suara Agung Sedayu masih bergetar, “aku tidak dapat.”

“Kenapa, Sedayu?” bertanya Untara.

Dada Agung Sedayu masih berdentangan. Dengan susah payah ia berkata, “Aku bersama Adi Swandaru pergi dari Sangkal Putung. Aku akan kembali ke Sangkal Putung bersama-sama.” Kata-kata Agung Sedayu masih belum dapat tersusun baik. Ia mengatakan apa saja yang dapat dikatakannya. Tetapi Untara dapat mengerti maksudnya. Maka jawabnya, “Itu tidak penting, Sedayu. Kau dan Swandaru telah menemukan Sekar Mirah. Biarlah Swandaru membawa adiknya kepada orang tuanya. Swandaru akan dapat mengatakan bahwa kau akan tetap tinggal di Jati Anom.”

“Tidak,” kata-kata Agung Sedayu terlampau singkat.

Untara mengerutkan keningnya. Ia masih berkata dengan tenang, “Aku kakakmu, Agung Sedayu. Selama ini kau tidak pernah bersikap demikian terhadapku. Apalagi bersitegang tentang sesuatu pendirian. Aku merasa bahwa aku masih bertanggung jawab terhadapmu sebagai seorang kakak. Aku adalah pengganti ayah dan ibu.”

Mendengar kata-kata Untara yang terakhir itu terasa dada Agung Sedayu seperti terhimpit pecahan Gunung Merapi. Ia ingin menjerit sekeras-kerasnya. Ia ingin menyebut nama ayah dan ibunya sambil berteriak sepuas-puasnya untuk mengurangi kepepatan dadanya. Tetapi ia tidak dapat melakukannya.

Yang didengarnya kemudian adalah suara kakaknya itu lagi, “Agung Sedayu, sebagai saudara tua aku ingin melihat kau maju di dalam perkembangan yang wajar. Seperti Sidanti, ia mencoba mulai di bidang keprajuritan. Tetapi sayang, ia ternyata sesat jalan sehingga kemungkinan yang baik tertutup seluruhnya baginya. Kau akan dapat mulai dengan itu pula. Menjadi seorang prajurit. Maka harapan akan terbuka di hadapanmu untuk segera memanjat pada tingkat-tingkat yang tebih tinggi, karena kau mempunyai cukup kemampuan untuk itu.”

Tetapi sekali lagi Untara terkejut mendengar jawaban Agung Sedayu, “Tidak, Kakang. Aku tidak ingin menjadi seorang prajurit.”

Jawaban Agung Sedayu itu benar-benar mendebarkan hati Untara. Ia belum pernah melihat sikap Agung Sedayu yang demikian kerasnya. Namun dengan demikian, maka ia menarik kesimpulan, bahwa pengaruh seorang gadislah yang telah membuat adiknya menjadi berkeras kepala.

Meskipun demikian Untara masih berusaha menahan kata-katanya. Ia masih berusaha untuk berkata dengan tenang, “Agung Sedayu. Kenapa kau tidak ingin menjadi seorang prajurit? Setiap laki-laki ingin dapat menjadi seorang prajurit yang baik, yang berguna bagi negara dan tanah kelahirannya.”

Gejolak di dada Agung Sedayu menjadi semakin bergelora. Tetapi ia tidak segera dapat menjawab.

“Prajurit adalah suatu lapangan kebaktian yang paling baik bagi seorang laki-laki muda yang mempunyai bekal yang kuat seperti kau. Ayah juga mengharap aku menjadi seorang prajurit. Dan aku telah mencoba untuk memenuhi harapan ayah itu.”

Tetapi tanpa diduga-duga Agung Sedayu menjawab, “Kakang, apakah ayah dan ibu juga mengharap aku menjadi seorang prajurit?”

Sebersit warna merah merayap di wajah Untara. Namun kemudian ia masih mencoba tersenyum. Jawabnya, “Agung Sedayu, kalau ayah mengharap aku menjadi seorang prarjurit, maka ayah pun akan bergembira sekali seandainya sempat melihat kau sudah berubah sifat sama sekali, alangkah senangnya. Kau sekarang sudah tidak takut lagi terhadap Gendruwo Bermata Satu di tikungan Randu Alas. Kau sudah tidak takut lagi terhadap Sidanti. Alangkah senangnya.”

“Tetapi, Kakang,” suara Agung Sedayu sendat, “ibu akan menjadi sedih kalau aku menjadi seorang prajurit. Seandainya ibu masih ada, maka ibu pasti akan berpendirian lain.”

“Ah,” kesabaran Untara sedikit demi sedikit menjadi larut, seperti sebongkah garam yang benamkan ke dalam air, “itu adalah, karena kau pada waktu itu seorang penakut. Tetapi kau harus berbangga, bahwa kau sekarang bukan lagi seorang penakut. Kau kini seorang laki-laki penuh. Dan kau pantas untuk menjadi seorang prajurit.”

“Aku tidak ingin menjadi seorang prajurit, Kakang.”

“He,” wajah Untara menjadi tegang. Sedang Wuranta yang dudut membeku itu pun menjadi tegang juga. Ia kini tinggal mendengarkan saja pembicaraan kakak beradik yang lebih condong pada persoalan keluarga itu. “Kau harus mendengarkan nasehatku, Agung Sedayu. Aku dapat memilih lapangan yang pantas buatmu.”

Terasa getar di dada Agung Sedayu seolah-olah telah merontokkan iga-iganya. Ia merasakan kata-kata kakaknya yang tajam. Perlahan-lahan tumbuhlah keseganannya kepada saudara tuanya itu, meskipun ia tidak dapat mengerti dan menerima petunjuknya.

“Agung Sedayu. Tak ada orang lain yang mencoba menempatkan kau di tempat yang sebaik-baiknya selain aku. Kalau kau tidak ingin menjadi seorang prajurit, lalu kau ingin menjadi apa?”

Agung Sedayu tidak segera dapat menjawab. Selama ini ia memang belum pernah berpikir, lapangan apakah yang paling sesuai dengan dirinya, sifat-sifatnya, dan kemampuannya. Karena itu, ketika kakaknya mengajukan pertanyaan itu, ia menjadi bingung.

“Coba katakan, apakah kau sudah mempunyai pilihan?”

Perlahan-lahan Agung Sedayu menggeleng, “Belum, Kakang.”

“Nah, kau masih belum tahu apa yang akan kau lakukan. Kau masih belum menemukan tempat berpijak, tetapi kau sudah menambatkan hatimu kepada seorang gadis. Coba, apa yang akan kau lakukan dengan gadis itu. Dan apa pula yang akan terjadi dengan dirimu sendiri.”

Dada Agung Sedayu terasa terhantam guntur yang meledak di depan hidungnya. Terasa dadanya menjadi pepat dan nafasnya menjadi sesak. Justru karena itu, maka pikirannya menjadi gelap. Dan ia tidak tahu, apa yang harus dikatakannya.

“Sadari, Sedayu. Sadari. Aku adalah kakakmu. Tidak akan aku menjerumuskan kau ke dalam keadaan yang pahit. Aku berusaha untuk membantumu, menemukan hari depan yang baik. Kau harus mengerti.”

Ketika Untara terdiam sejenak, maka keadaan pringgitan itu menjadi terlampau sepi. Di halaman sudah tidak terdengar lagi suara para prajurit. Sepi. Sepi sekali.

Sejenak mereka tenggelam di dalam angan-angan masing-masing. Betapa dinginnya malam, tetapi dada Agung Sedayu terasa hangus terbakar. Ia sama sekali tidak dapat menerima pendirian kakaknya. Tiba-tiba keinginannya untuk mengantarkan Sekar Mirah ke Sangkal Putung justru menjadi semakin besar. Terbayang di ruang matanya, wajah gadis itu menangis. Dengan suaranya yang pedih memanggil-manggilnya sambil melambaikan tangannya.

Tiba-tiba hatinya berteriak, “Aku akan pergi ke Sangkal Putung.”

Tetapi mulutnya tetap terbungkam.

“Pikirkan, Agung Sedayu. Dengarlah nasehatku. Kau seharusnya menemukan tempat untuk berpijak lebih dahulu. Baru kemudian kau berpikir tentang seorang gadis. Apakah kau dapat mengerti? Apalagi gadis itu telah beberapa kali membuat bencana. Langsung atau tidak langsung, terhadap orang-orang yang menaruh perhatian atasnya. Bukankah itu kau rasakan juga.”

Agung Sedayu tidak menjawab, tetapi hatinya memekik tinggi, “Tidak. Tidak benar.”

“Nah. Sebaiknya kau mendengarkan kata-kataku. Kau tetap di sini. Besok lusa kita kembali ke Jati Anom. Mungkin kita dapat mengadakan sekedar keramaian atas kemenangan kita. Tetapi tidak berlebih-lebihan dan tidak meninggalkan kewaspadaan. Sesudah itu, Swandaru dan Sekar Mirah akan diantarkan ke Sangkal Putung. Kau dan Wuranta tetap berada di Jati Anom. Kalau kelak kau sudah cukup dewasa, dan cukup mempunyai alas yang kuat, terserahlah, apa yang akan kau lakukan.”

Kata-kata kakaknya serasa menyayat dada Agung Sedayu. Kini pendirian itu sudah tegas. Ia tidak boleh pergi ke Sangkal Putung mengantarkan Sekar Mirah. Bahkan ia tidak boleh lagi berhubungan dengan gadis itu.

Tetapi Agung Sedayu sama sekali tidak dapat mendengar alasan kakaknya yang berkepanjangan itu. Tentang umurnya yang masih terlampau muda, tentang kemungkinan-kemungkinan yang masih panjang baginya, kesempatan untuk menjadi seorang prajurit dan lainnya lagi. Yang berputar di kepalanya adalah pendirian kakaknya itu pasti sudah dipengaruhi oleh Wuranta. Kehadiran Wuranta di antara mereka ternyata telah membuat hatinya menjadi pedih.

Namun semuanya itu hanya bergolak saja di dalam dadanya. Ia tidak dapat mengatakannya kepada kakaknya. Sampai saat ini kakaknya ternyata masib terlampau disegani, sehingga bagaimanapun juga hatinya bergolak, tetapi ditahannya saja di dalam dadanya, sehingga dada itu seolah-olah akan meledak.

“Bagaimana, Agung Sedayu?” pertanyaan itu telah menyengat telinganya, sehingga Agung Sedayu bergeser ke samping. Ia menjadi sangat gelisah. Melampaui Wuranta pada saat melihat kedatangannya.

Sejenak Agung Sedayu masih juga membeku. Tetapi hatinya seakan-akan meronta-ronta ingin melepaskan diri dari pendirian kakaknya yang sama sekali tidak dapat diterimanya itu. Betapa ia ingin berbuat atas kehendak sendiri dan tanggung jawab sendiri seperti apa yang dapat dilakukan oleh Swandaru dan Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar, meskipun kemudian mereka harus dimarahi justru oleh ayah-ayah mereka.

Karena Agung Sedayu tidak segera menjawab, maka Untara mendesaknya lagi, “Bagaimana, Sedayu, apakah kau sependapat? Aku ingin mendengar jawabanmu. Kau tidak usah pergi ke Sangkal Putung. Dan untuk sementara kau masih belum perlu mengadakan hubungan dengan Sekar Mirah dan gadis mana pun juga. Umurmu masih terlampau muda.”

Alangkah sakitnya dada Agung Sedayu. Semuanya itu bertentangan dengan kehendaknya. Tetapi ia tidak dapat menyatakannya. Dan akhirnya ia menyadari, bahwa ia takut untuk menyatakan perasaannya yang bergolak itu. Ia takut mengatakan apa yang sebenarnya dikehendaki.

Ketika sekali lagi Untara bertanya kepadanya, “Bagaimana, Sedayu?” Maka tanpa disadarinya sendiri, dengan gemetar kepalanya mengangguk lemah.

“Kau dapat mengerti?”

Sekali lagi kepalanya mengangguk perlahan sekali.

“Kau tetap tinggal di Jati Anom bersama aku dan Wurata. Kau harus mendapat kesempatan untuk menjadi seorang laki-laki. Lapangan yang paling baik adalah lapangan keprajuritan. Aku akan dapat mencarikan kesempatan untukmu. Dan aku akan dapat menuntunmu.”

Dan sekali lagi kepala itu mengangguk.

“Bagus, kau mengerti Agung Sedayu. Dan ternyata kau masih Agung Sedayu yang dahulu. Kau masih tetap seorang adik yang mengerti bahwa aku adalah pengganti ayah dan ibu.”

Kini kepala Agung Sedayu tertunduk lemah. Jalur-jalur pandan pada anyaman tikar yang didudukinya menjadi semakin lama semakin kabur, seperti hatinya yang tidak dapat lagi melihat dirinya dan kehendak sendiri.

Meskipun demikian, ia masih mendengar kakaknya berkata, “Untuk seterusnya kau pasti akan menjadi seorang prajurit yang pilih tanding. Nah, bagaimanakah kau malam ini? Apakah kau akan tetap tinggal di sini atau kau ingin kembali ke pondokmu? Sebaiknya untuk seterusnya kau tetap tinggal di sini supaya kau tidak terpengaruh lagi oleh gadis itu. Tetapi kalau malam ini kau akan kembali ke pondok itu, maka besok pagi kau harus sudah berada di banjar ini. Seterusnya kau tidak boleh terlampau banyak berhubungan dengan kedua kakak beradik itu. Bukan karena soal-soal lain, bukan karena masalah keprajuritan, tetapi sekedar masalahmu. Itulah sebabnya, supaya tidak menimbulkan salah paham, kau malam ini masih aku perbolehkan kembali lagi ke pondok itu.”

Dada Agung Sedayu seakan-akan terbakar menjadi abu. Hangus tanpa dapat berbuat apa-apa.

“Bagaimana, Sedayu?” bertanya kakaknya.

Bukan saja mata Agung Sedayu, telinganya pun seolah-olah menjadi kabur. Ia benar-benar telah kehilangan akal dan nalar.

“Malam ini sebaiknya kau kembali ke pondok itu. Kau harus dapat membuat alasan yang tidak menimbulkan salah paham tentang keputusanmu untuk tidak pergi ke Sangkal Putung. Kau mengerti?”

Agung Sedayu seolah-olah hanya dapat menganggukkan kepalanya. Dan kali ini pun ia mengangguk.

“Kalau begitu pergilah,” berkata kakaknya kemudian. “Hati-hati, jangan menimbulkan salah paham.”

Sekali lagi Agung Sedayu mengangguk, tetapi ia masih duduk saja di tempatnya, sehingga kakaknya bertanya, “Bagaimana? Kenapa kau masih duduk saja?”

“Oh,” baru Agung Sedayu serasa sadar dari mimpinya yang dahsyat. Baru ia merasa bahwa bajunya basah oleh keringat dinginnya.

Perlahan-lahan ia bangkit dan berkata, “Aku akan kembali ke pondok, Kakang.”

“Hati-hati Sedayu. Kau bukan anak-anak lagi. Jangan menumbuhkan sakit hati, supaya hubungan Sangkal Putung dan prajurit Pajang yang masih berada di sana tidak terpengaruh oleh kesalahanmu.”

Sedayu mengerutkan keningnya. Kalau terjadi demikian, maka ia lagilah yang bersalah. Dan kakaknya pasti akan mengatakan bahwa sumber kesalahan itu juga adalah hubungannya dengan Sekar Mirah.

Karena itu, maka dada Agung Sedayu rasa-rasanya benar-benar akan meledak. Kepalanya bertambah pening dan nalarnya menjadi pepat, sehigga ia berdiri saja tegak seperti patung.

“He, kenapa kau tegak saja di situ?” terdengar suara kakaknya. “Apakah masih ada yang akan kau tanyakan?”

“Oh,” Agung Sedayu tergagap. “Tidak, Kakang. Aku minta diri.”

“Hati-hatilah,” pesan kakaknya sekali lagi.

Agung Sedayu segera melangkah meninggalkan pringgitan itu. Tetapi ia sama sekali tidak ingat untuk minta diri kepada Wuranta. Baru ketika ia sudah berada di pendapa luar pintu pringgitan, ia teringat kepadanya. Tetapi Agung Sedayu tidak melangkah kembali. Ia berjalan terus dengan kaki gemetar di antara beberapa orang yang sudah tertidur di pendapa. Satu dua masih terjaga dan Agung Sedayu mendengar mereka terbatuk-batuk.

Wuranta, yang masih duduk bersama-sama dengan Untara, ternyata merasa tersinggung juga akan sikap Agung Sedayu, sehingga ia berkata, “Kalau hubunganku dengan adikmu itu kemudian tidak juga dapat menjadi baik, sama sekali bukan salahku. Kau lihat sendiri bagaimana sikapnya kepadaku. Ketika ia meninggalkan pringgitan ini ia sama sekali tidak menyapaku. Apalagi minta diri.”

“Ia masih terlampau muda. Perasaannya masih lebih banyak berbicara daripada pikirannya. Kau sendiri pernah juga mengalami masa-masa di mana kau kehilangan pegangan. Sekarang kau sudah menemukan keseimbangan. Kau harus dapat mengerti keadaan Agung Sedayu. Karena itu kau akan dapat memaafkannya.”

Wuranta tidak menjawab. Bagaimanapun juga, Untara adalah kakak Agung Sedayu, sehingga untuk menyalahkannya ia agak segan-segan juga. Namun sikap Agung Sedayu itu benar-benar menyinggung perasaannya. Justru karena di antara mereka ada persoalan yang seakan-akan menjadi kabut yang membatasi mereka itu.

Ketika Agung Sedayu keluar dari regol halaman bandar padepokan Tambak Wedi, maka ia seakan-akan tidak dapat lagi menahan hatinya. Ingin ia berteriak sekeras-kerasnya. Ingin ia menjerit dan melontarkan suaranya sampai kepuncak Gunung. Tetapi yang dirasakannya hanyalah pepat di dadanya.

Hanya tiba-tiba saja meledaklah geramnya seperti gelegak perut Gunung Merapi, “Tidak. Aku tidak dapat melakukannya. Aku akan pergi ke Sangkal Putung, malam ini juga.”

Ternyata Agung Sedayu tidak kuasa menahan dirinya. Tekanan-tekanan yang diberikan oleh Untara hanya dapat menahan anak itu di hadapannya. Tetapi setelah ia meninggalkan pringgitan, maka ia sama sekali telah melupakan kesanggupannya yang dinyatakannya karena perasaan segan dan takut, tetapi yang sebenarnya sama sekali tidak dapat diterima oleh perasaannya.

Tiba-tiba Agung Sedayu itu seolah-olah didorong oleh desakan-desakan di dalam dadanya, langkahnya pun menjadi semakin cepat. Bahkan ia berlari-lari kecil seperti takut kamanungsan karena kokok ayam jantan di kejauhan.

Ia terkejut, ketika tiba-tiba saja di perapatan ia bertemu dengan dua orang peronda yang menyapanya, “He, siapa kau?”

Agung Sedayu berhenti sejenak, tetapi ia tidak segera menjawab, sehingga kedua peronda itu mengulanginya, “Siapa kau?”

Agung Sedayu menjawab dengan malasnya, “Agung Sedayu.”

“O,” orang itu menyahut, “Apakah kau baru dari banjar?”

“Ya,” jawab Sedayu.

Meskipun demikian, salah seorang dari kedua peronda itu mendekati dan mengamat-amatinya dengan seksama. “Kemana kau malam-malam begini?” bertanya peronda itu.

“Kembali ke pondokku.”

“O,” peronda itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “silahkan.”

Agung Sedayu meneruskan langkahnya. Tergesa-gesa. Dadanya serasa selalu mendesaknya untuk segera sampai ke pondoknya, untuk kemudian mengatakan kepada Swandaru dan Sekar Mirah, bahwa mereka harus segera bersiap. Malam ini juga pergi ke Sangkal Putung.

Ketika nyala lampu di regol halaman pondoknya sudah dilihatnya, maka Agung Sedayu semakin mempercepat langkahnya. Jarak yang sudah menjadi semakin pendek itu, terasa terlampau lama dilampauinya. Ia ingin sekali loncat dan langsung sampai ke dalam pondoknya.

Karena itu, maka Agung Sedayu itu kemudian berlari sekuat-kuatnya seolah-olah takut di kejar hantu.

Swandaru dan Sekar Mirah yang belum juga dapat tidur terkejut mendengar langkah berlari-lari di halaman. Swandaru segera meloncat berdiri. Tangannya tanpa disadarinya telah melekat di hulu pedangnya.

“Siapa, Kakang?” bertanya Sekar Mirah yang menjadi cemas.

“Duduklah, Mirah.”

Sekar Mirah yang telah berdiri di belakang Swandaru mendesaknya, “ Siapa, Kakang?”

“Aku tidak tahu. Tenanglah.”

Tetapi kecemasan Sekar Mirah menjadi semakin dalam mengusik jantungnya, sehingga dadanya menjadi berdentangan.

Langkah di luar itu kini terputus. Sejenak kemudian terdengar pintu rumah itu diketuk orang.

Swandaru melangkah mendekati pintu. Ketika Sekar Mirah ingin mengikutinya, maka didorongnya gadis itu surut perlahan-lahan sambil berbisik, “Jangan dekat-dekat. Mungkin aku harus menarik pedangku.”

Wajah Sekar Mirah menjadi berkeringat. Dan ia mendengar Swandaru menyapa, “Siapa di luar?”

Terdengar sebuah jawaban dengan suara bergetar, “Aku, Agung Sedayu.”

“He,” Swandaru terkejut. Ia tidak dapat mengerti, kenapa Agung Sedayu terpaksa berlari-lari. Karena itu, maka dadanya menjadi berdebar-debar. Hanya oleh hal-hal yang luar biasa sajalah, maka Agung Sedayu terpaksa berlari. Karena itu maka cepat ia meloncat meraih palang pintu. Sekali renggut, maka pintu itu pun telah terbuka.

Maka dilihatnya Agung Sedayu berdiri di muka pintu dengan wajah yang pucat dan tubuh gemetar. Karena itu maka Swandaru pun menjadi semakin cemas. Dengan terbata-bata ia bertanya, “Apa yang telah terjadi, Kakang?”

Agung Sedayu yang sedang kebingungan itu menjadi semakin bingung mendengar pertanyaan itu. Tiba-tiba saja ketika ia telah berdiri di muka Swandaru dan Sekar Mirah, ia menjadi ragu-ragu untuk mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi atas dirinya.

“Apa yang telah terjadi, Kakang? Apakah Kakang sedang dalam bahaya?”

Swandaru melihat Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. Dan terdengar kata-katanya perlahan, “Tidak, Adi Swandaru. Aku tidak apa-apa.”

“Tetapi,” Swandaru berhenti sejenak. Diamat-amatinya Agung Sedayu yang gemetar. Nafasnya masih terdengar berkejaran lewat lubang hidungnya.

“Tetapi,” Swandaru mengulang, “kau baru saja berlari.”

Agung Sedayu mengangguk lemah, “Ya,” jawabnya.

“Kenapa Kakang berlari-lari?”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba menenangkan hatinya yang sedang terlampau gelisah dan bingung.

”Aku akan masuk dahulu,” desisnya tiba-tiba.

“Oh,” Swandaru tergagap, “Marilah. Masuklah.”

Agung Sedayu itu pun kemudian masuk ke dalam pondoknya. Swandaru-lah yang kemudian menutup pintu dan menyelaraknya dengan sepotong kayu.

Agung Sedayu kemudian duduk di amben besar yang ada di dalam ruangan itu. Ia mencoba menenteramkan hatinya dan mencoba berpikir apakah yang sebaiknya dilakukan.

Kini ia menjadi ragu-ragu untuk berkata sesungguhnya. Hal itu pasti akan menyinggung perasaan anak-anak muda Sangkal Putung kakak beradik itu. Dan Agung Sedayu masih sempat mengingat kata-kata kakaknya, bahwa apabila terjadi demikian, maka hal itu akan dapat menyulitkan kedudukan prajurit-prajurit Pajang di Sangkal Putung di bawah pimpinan pamannya, Widura. Dan nalarnya tidak menghendaki hal itu terjadi.

Tetapi untuk tetap berdiam diri, dan kemudian menuruti perintah kakaknya untuk tinggal di Jati Anom dan menjadi seorang prajurit, sama sekali tidak terlintas di dalam angan-angannya. Ia tidak ingin tinggal di Jati Anom. Ia tidak ingin lagi selalu berada bersama-sama dengan kakaknya seperti pada masa kanak-kanaknya. Kini ia telah berani menghadapi kehidupan ini seorang diri. Ia telah berani tampil sebagai seorang laki-laki yang berpribadi.

Swandaru dan Sekar Mirah yang kemudian duduk di amben itu pula menjadi heran melihat keadaan Agung Sedayu. Mereka melihat anak muda itu pucat dan gelisah. Bahkan sekali-sekali menarik nafas dan berdesah. Tetapi Swandaru tidak ingin mendesaknya sekali lagi. Ia tahu, bahwa Agung Sedayu sedang kebingungan dan ia tidak ingin menambah anak muda itu menjadi semakin bingung.

Sejenak mereka bertiga saling berdiam diri. Meskipun Swandaru dan Sekar Mirah selalu memandangi Agung Sedayu yang gelisah, tetapi mereka tidak bertanya sepatah katapun. Mereka hanya menyimpan keheranan dan kecemasannya di dalam dadanya.

Di luar gemersik dedaunan menjadi semakin keras ditiup angin lereng pegunungan yang mengalir dari Selatan. Dinginnya menembus dinding pondok yang tidak terlampau rapat, menyusup menyentuh kulit.

Sementara itu, dada Agung Sedayu masih saja bergolak. Dicarinya cara yang sebaik-baiknya untuk mengatakan keadaannya tanpa menyinggung perasaan kedua kakak beradik itu, seolah-olah mereka sama sekali sudah tidak diperlukan lagi di sini dan diusir untuk segera pergi kembali ke Sangkal Putung.

Sekali lagi Agung Sedayu berdesah. Kediamannya telah membuat ruangan itu semakin lama semakin tegang. Dan untuk melepaskan ketegangan itu tiba-tiba saja terloncat dari bibirnya pertanyaan, “Apakah kalian belum tidur?”

Kini Swandaru-lah yang menarik nafas dalam. Pertanyaan itu memang dapat mengurangi ketegangan perasaan masing-masing. Dengan menggelengkan kepalanya, Swandaru menjawab, “Belum, Kakang. Kami tidak segera dapat tidur.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia kehilangan pertanyaan yang akan diucapkannya. Karena itu, sejenak mereka terdorong di dalam kesenyapan kembali, dan kali ini menegangkan lagi.

Baru sejenak kemudian, Agung Sedayu dapat mengucapkan kata-kata, “Malam telah larut. Beristirahatlah.”

Swandaru mengangguk, “Kami sebenarnya juga ingin beristirahat, tetapi kegelisahan dan malam yang terlampau sepi ini membuat kami tidak dapat memejamkan mata.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk pula. Ia melihat pedang Swandaru tergantung di lambungnya. Hal itu telah mengatakan kepadanya, bahwa anak muda Sangkal Putung itu pun pasti benar-benar sedang digelisahkan oleh sepi malam yang telah membakar perasaannya.

Setelah sekian lama Agung Sedayu berusaha, maka ditemukannya kalimat-kalimat yang dapat diucapkannya. Maka katanya, “Aku sudah dapat ijin dari Kakang Untara untuk meninggalkan padepokan ini.”

“He,” ternyata kalimatnya itu telah mengejutkan Swandaru dan Sekar Mirah, sehingga mereka pun bergeser mendekati. “Jadi, bagaimanakah maksudmu, Kakang? Apakah itu berarti kita tidak ada keberatan apa pun lagi untuk segera meninggalkan padepokan ini dan kembali ke Sangkal Putung?” bertanya Sekar Mirah.

Agung Sedayu menjadi ragu-ragu sejenak. Dengan susah payah ia kemudian menjawab, “Ya, begitulah.”

“Oh,” wajah Sekar Mirah segera berseri. “Jadi kita dapat segera pulang kepada ayah dan ibu? Kalau begitu, kita akan segera pulang ke Sangkal Putung. Bagaimana kalau sekarang?” Tetapi kata-katanya terputus ketika tiba-tiba diingatnya, bahwa menurut kedua anak-anak muda itu dan bahkan menurut Kiai Gringsing, Sidanti mungkin berkeliaran di sekitar tempat itu.

Swandaru dan Agung Sedayu pun tidak segera menyahut kata-kata Sekar Mirah itu. Bahkan sejenak mereka saling berpandangan di dalam kediaman mereka.

Sekar Mirah yang menjadi ngeri membayangkan kemungkinan yang dapat terjadi apabila Sidanti mencegat perjalanan mereka, menggigit bibirnja. Sekali dipandanginya wajah kakaknya Swandaru dan sekali wajah Agung Sedayu. Seandainya Kiai Gringsing tidak pernah mengatakannya, maka Sekar Mirah tidak akan menjadi demikian ngeri.

Tetapi tiba-tiba, baik Sekar Mirah maupun Swandaru terkejut, ketika mereka mendengar Agung Sedayu berkata, “Kita memang dapat segera meninggalkan tempat ini. Bahkan sekarang pun dapat.”

Kini Swandaru dan Sekar Mirah-lah yang saling berpandangan. Tiba-tiba terasa suasana menjadi demikian tegangnya. Dengan gemetar Sekar Mirah bertanya, “Jadi kita benar-benar dapat kembali ke Sangkal Putung sekarang?”

“Ya,” sahut Agung Sedayu pendek.

Dalam kegelapan, maka jalan inilah yang akan ditempuh oleh Agung Sedayu. Pergi meninggalkan padepokan ini dan meninggalkan kakaknya. Ia tidak ingin tinggal di Jati Anom, apalagi menjadi seorang prajurit. Karena itu, ia harus segera lari. Lari dari padepokan ini dan menjauhinya.

Tetapi sikap Agung Sedayu itu ternyata menimbulkan berbagai macam pertanyaan di dalam dada Swandaru. Semula Agung Sedayu menyatakan keberatannya untuk segera meninggalkan padepokan ini dengan berbagai alasan. Ketika Sekar Mirah mencoba memaksa untuk minta diantar segera ke Sangkal Putung, maka Agung Sedayu telah mencoba menahannya. Kemudian Kiai Gringsing pun menahan mereka itu pula. Kini tiba-tiba Agung Sedayu sendirilah yang seakan-akan ingin segera meninggalkan padepokan ini.

Swandaru yang hampir-hampir tidak pernah berpikir mengenai persoalan yang dapat membuatnya pening, kini mencoba menghubungkan sikap Agung Sedayu dan apa saja yang baru terjadi atasnya. Baru saja Agung Sedayu berlari-lari seperti orang yang sedang ketakutan dengan wajah yang pucat. Lalu tiba-tiba kini Agung Sedayu berkeinginan untuk segera mengantarkan Sekar Mirah ke Sangkal Putung.

Begitu tajamnya pertanyaan-pertanyaan itu mengganggu perasaannya, sehingga ia tidak dapat lagi menahannya. Dengan nada datar ia bertanya, “Kakang, apakah hal itu tidak akan menimbulkan prasangka yang kurang baik?”

“Siapakah yang akan berprasangka?” bertanya Agung Sedayu. “Bukankah ayah dan ibumu, sudah sekian lamanya menunggu? Bagi mereka, kedatangan kalian semakin cepat akan menjadi semakin baik.”

“Ya,” sahut Sekar Mirah, “semakin cepat semakin baik.”

“Nah, bukankah kau juga sudah rindu kepada ayah ibumu?” bertanya Agung Sedayu pula.

“Tentu,” sahut Sekar Mirah, “apabila sekarang kita memang dapat berangkat kembali ke Sangkal Putung, aku akan senang sekali.” Sekar Mirah itu terdiam sejenak, lalu tiba-tiba suaranya menjadi sangat perlahan-lahan, “Tetapi, bagaimana dengan Sidanti?”

“Ah,” desah Agung Sedayu, “aku tidak takut dengan Sidanti. Aku dan kakakmu, Adi Swandaru akan menjagamu.”

“Bagaimana dengan Ki Tambak Wedi?”

Agung Sedayu terdiam mendengar pertanyaan itu. Ditatapnya wajah Swandaru yang bulat. Tetapi sepasang mata pada wajah itu memancarkan beribu macam pertanyaan yang bergelora di dalam dada anak muda yang gemuk itu.

“Kakang,” berkata Swandaru, “aku pun sebenarnya ingin segera pulang ke Sangkal Putung. Tetapi betapa tumpul otakku, namun aku merasakan sesuatu yang tidak wajar. Aku tidak tahu, apakah perasaanku yang tidak wajar, apakah memang sebenarnya sedang terjadi sesuatu atasmu. Aku masih belum tahu, apakah sebabnya kau berlari-lari di halaman. Dan sekarang aku pun masih belum tahu, apakah yang menyebabkan kau tergesa-gesa meninggalkan padepokan ini?”

Dada Agung Sedayu berdesir mendengar pertanyaan itu. Tetapi kemudian ia menyadari, bahwa pertanyaan yang demikian itu justru adalah pertanyaan yang wajar. Dicobanya untuk menahan gelora di dadanya. Dan dicobanya untuk memperhitungkan keadaan yang dihadapinya dengan tenang. Tetapi hatinya benar-benar menjadi pepat. Karena itu, sejenak ia berdiam diri saja. Direnunginya kini sudut ruangan itu dengan pandangan mata yang kosong.

Sekali lagi Swandaru melihat kebingungan yang mencengkam hati Agung Sedayu. Dan sekali lagi ia tidak ingin menambah hati anak muda itu menjadi semakin bingung. Karena itu, maka ia pun tidak mendesak lagi. Kini Swandaru pun duduk merenung. Tanpa sesadarnya tangannya telah membelai hulu pedangnya yang dibuatnya dari gading.

Sedang Sekar Mirah pun menjadi bingung sendiri. Ia tidak tahu persoalan apakah yang sebenarnya sedang dihadapi. Tetapi seperti juga Swandaru, ia pun merasakan pula sebuah sentuhan yang tidak sewajarnya pada perasaannya. Tetapi ia pun tidak bertanya sesuatu.

Namun sekali lagi Swandaru dan Sekar Mirah terkejut, ketika mereka mendengar Agung Sedayu bergumam lirih, “Tetapi aku harus segera meninggalkan padepokan ini.”

Ketika Swandaru dan Sekar Mirah berpaling kepadanya, Sedayu masih saja merenungi sudut ruangan itu.

Sejenak Swandaru masih tetap berdiam diri. Tetapi kini gejolak di dalam dadanya menjadi semakin tajam. Bahkan tiba-tiba tumbuhlah berbagai masalah di dalam dadanya. Dan seperti juga Agung Sedayu yang bergumam perlahan-lahan, maka Swandaru pun kemudian bertanya perlahan-lahan, seperti seseorang yang sedang bergumam, “Kakang, apakah sebenarnya yang telah terjadi? Apakah kehadiran kami, aku dan Sekar Mirah di sini tidak dikehendaki? Dan apakah Kakang sedang mencoba menyingkirkan kami dengan cara yang tidak kami ketahui, supaya kami tidak tersinggung karenanya?”

Meskipun kata-kata Swandaru itu diucapkan perlahan-lahan, bahkan hampir tidak terdengar, tetapi Agung Sedayu terperanjat karenanya. Diangkatnya kepalanya, dipandanginya wajah anak muda yang gemuk itu. Setapak ia bergeser, dan hampir ia berteriak, “Darimana kau mengetahuinya?”

Untunglah, bahwa mulutnya segera dapat dikuasainya. Dan Agung Sedayu tidak mengucapkan kata-kata itu.

Sejenak Agung Sedayu berjuang untuk menenangkan hatinya. Ketika ia mendengar suara burung hantu di kejauhan, maka ia menarik nafas dalam-dalam.

“Kau salah tafsir, Adi Swandaru,” desis Agung Sedayu. Namun suaranya bernada datar dan diwarnai oleh keragu-raguan hatinya.

Swandaru tidak segera menyahut.

“Tidak ada seorang pun yang berpendirian demikian di padepokan ini. Kalian di sini sama sekali tidak mengganggu siapa pun, sehingga karena itu, maka tidak seorang pun yang merasa berkeberatan atas kehadiranmu di sini.” Tetapi hati Agung Sedayu berkata lain. Ia tahu benar, bahwa kakaknya menghendaki agar Sekar Mirah segera meninggalkan padepokan ini. Lebih cepat lebih baik.

Besok atau lusa kakaknya akan menyelenggarakan sebuah pertemuan untuk menyatakan kebesaran hati para prajurit Pajang dan orang-orang Jati Anom, karena mereka telah berhasil menyelesaikan tugas-tugas mereka yang berat. Kemudian setelah itu, segera Sekar Mirah akan diantar ke Sangkal Putung oleh sepasukan prajurit, supaya gadis itu terpisah daripadanya, dan tidak lagi menimbulkan persoalan-persoalan di antara anak-anak muda.

Tetapi keringat dingin mulai mengalir di punggungnya ketika Swandaru bertanya, “Tetapi apakah sebabnya Kakang menjadi terlampau gelisah? Kakang berbuat sesuatu yang sama sekali tidak dapat aku mengerti, dan Kakang bersikap tidak wajar dalam tangkapanku. Mudah-mudahan aku keliru.”

Agung Sedayu memang tidak dapat menyembunyikan perasaannya. Cemas, gelisah dan bingung. Ia tidak mau menuruti perintah kakaknya. Ia ingin lari malam ini meninggalkan padepokan Tambak Wedi.

“Tetapi tidak ada tujuan lain, selain Sangkal Putung,” katanya di dalam hati. “Untuk itu aku harus pergi bersama-sama dengan Swandaru dan Sekar Mirah. Tetapi bagaimana aku menjelaskan persoalan ini.”

Pengalaman Agung Sedayu yang sedikit, tidak dapat membuka banyak kemungkinan baginya. Ia tidak dapat perpikir untuk lari tidak ke Sangkal Putung. Lari entah ke mana. Mungkin ke daerah Pesisir Utara. Mungkin ke pantai Selatan, menyusur Pegunungan Kidul ke Barat atau ke Timur. Agung Sedayu tidak tahu betapa luasnya bumi. Karena itu, maka tidak ada angan-angannya untuk pergi ke Blambangan di ujung Timur atau ke Banten di ujung Barat. Yang ada di kepalanya Jati Amon dan Sangkal Putung. Kademangan Sangkal Putung, tempat tinggal Sekar Mirah dan Kakaknya Swandaru Geni. Kadang-kadang tumbuh juga angan-angannya untuk pergi sejauh-jauhnya. Ke Mentaok atau ke daerah-daerah yang pernah disebut-sebut oleh Sutawijaja dan Kiai Gringsing. Mangir misalnya.

Tetapi di sana Agung Sedayu tidak akan dapat bertemu dengan Sekar Mirah. Dan selama ia pergi, maka akan banyak sekali peristiwa yang dapat terjadi. Mungkin suatu ketika Wuranta akan pergi ke Sangkal Putung dan membuat hubungan pula dengan Sekar Mirah. Mungkin juga suatu ketika Sidanti akan dapat menculiknya lagi.

Karena itu, maka tidak ada pikiran lain yang ada padanya kemudian, selain pergi mengantarkan Sekar Mirah ke Sangkal Putung. Ia akan mengatakan persoalannya kepada pamannya Widura. Tidak sebagai seorang prajurit di bawah perintah kakaknya Untara, tetapi sebagai seorang paman. Ia mengharap, bahwa pengaruh pamannya akan dapat membantunya.

“Kalau perlu aku harus membuat tekanan terhadap Kakang Untara. Swandaru adalah pemimpin anak-anak muda Sangkal Putung. Sikapnya pasti akan berpengaruh terhadap kekuatan Pajang. Aku tidak peduli, apakah dengan demikian aku akan dianggap bersalah oleh Kakang Untara,” desisnya di dalam hatinya.

Tetapi Agung Sedayu itu terperanjat ketika Swandaru berkata, “Aku dan Sekar Mirah ingin penjelasan Kakang. Seandainya memang kehadiran kami di sini tidak dikehendaki, maka kami bersedia untuk meninggalkan tempat ini. Tidak usah menunggu besok. Tetapi malam ini. Aku dan Sekar Mirah tidak perlu takut terhadap Sidanti, bahkan Ki Tambak Wedi. Untuk pergi ke Sangkal Putung ada seribu jalan. Dan Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya tidak berada di seribu tempat. Kalau memang seharusnya kami berdua mati di tangan mereka, maka itu adalah akibat yang wajar yang tidak perlu disesali dalam keadaan serupa ini. Adalah kesalahan ayah dan ibu pula, bahwa mereka tidak mengirimkan sepasukan anak-anak muda untuk menjemput kami. Karena kami yakin, bahwa Sangkal Putung dapat membangun kekuatan pengawal-pengawal kademangan segelar sepapan. Dan sudah tentu kami berharap, bahwa kademangan kami akan dapat mempertahankan dirinya tanpa seorang prajurit Pajang pun di daerah kami kelak.”

“Kau salah paham, Adi,” sahut Agung Sedayu dengan serta-merta. Tetapi ia tidak segera menemukan kalimat-kalimat yang dapat meyakinkan Swandaru dan Sekar Mirah.

“Kalau demikian, maka apakah yang sebenarnya terjadi?”

Agung Sedayu menjadi semakin bingung. Akhirnya ia tidak dapat menemukan jawaban yang dianggapnya cukup baik dan beralasan, selain daripada dirinya sendiri. Maka katanja, “Ada perselisihan antara aku dan Kakang Untara.”

Swandaru mengerutkan alisnya, sedang Sekar Mirah menjadi semakin bertanya-tanya di dalam hatinya.

“Apakah soalnya?” bertanya Swandaru.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Terasa hatinya menjadi semakin tegang.

Swandaru dan Sekar Mirah pun menjadi tidak kalah tegangnya. Mereka menunggu apakah yang akan dikatakan oleh Agung Sedayu. Kenapa kakak beradik itu tiba-tiba saja berselisih.

Karena Agung Sedayu tidak segera menjawab, dan karena desakan perasaan ingin tahu yang tidak dapat ditahankannya, maka Swandaru mendesaknya, “Apakah yang menyebabkan kalian berselisih?”

Agung Sedayu tidak dapat untuk terus menerus berdiam diri tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Karena itu, maka ketika ia tidak dapat mengelak lagi, maka dijawabnya saja sekenanya, “Kakang Untara ingin aku menjadi seorang prajurit seperti dirinya.”

“He,” Swandaru mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba ia menarik nafas dalam-dalam. “Suatu kesempatan yang sangat baik bagimu, Kakang.”

Kini Agung Sedayu-lah yang terkejut. Ia tidak menyangka, bahwa demikian tanggapan Swandaru tentang tawaran kakaknya padanya untuk menjadi seorang prajurit.

“Tetapi kenapa Kakang menjadi tampak cemas dan gelisah? Bahkan sampai berlari-lari?”

Pertanyaan itu memang terlampau sulit untuk dijawab. Tetapi Agung Sedayu tidak dapat berdiam diri lagi. Ia harus memberi penjelasan supaya tidak terjadi salah paham. Dan penjelasan itu harus disusunnya, dikarangkannya lebih dahulu.

Sorot mata Swandaru memancarkan ketidak-sabaran hatinya. Seolah-olah mata itu telah mendesaknya untuk mengatakan sesuatu.

Terdengar Agung Sedayu berdesah. Perlahan-lahan dan penuh kebimbangan ia menjawab, “Adi Swandaru. Ternyata aku berbeda pendirian dengan Kakang Untara. Aku tidak ingin menjadi seorang prajurit.”

“Ah,” dengan serta merta Swandaru menyahut, “mustahil. Mustahil seorang laki-laki yang mempunyai bekal yang cukup menolak kesempatan untuk menjadi Wira Tamtama. Kakang, kelak aku pun ingin menjadi seorang Wira Tamtama.”

Agung Sedayu mencoba menganggukkan kepalanya. Katanya, “Mungkin. Mungkin pada suatu ketika aku pun ingin untuk menjadi seorang prajurit Wira Tamtama. Tetapi tidak sekarang.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Dari sela-sela bibirnya meluncur pertanyaanya, “Sekarang?”

“Ya. Kakang Untara ingin memaksaku untuk pergi ke Pajang dan langsung menghadap Ki Gede Pemanahan. Aku harus menunggu perintahnya untuk berbuat sesuatu, supaya aku mendapat kepercayaan dan langsung menjadi seorang prajurit Wira Tamtama yang terpandang.”

“Oh, kesempatan yang luar biasa,” tiba-tiba mata Swandaru menjadi berseri-seri. Kalau saja kesempatan itu ada juga buatnya maka ia akan menjadi sangat bergembira. Maka katanya , ”Kakang, tolong katakan kepada Kakang Untara, bahwa aku pun ingin mendapat kesempatan yang serupa. Aku tidak harus mulai dari tataran yang paling rendah. Untuk itu, aku tidak terlampau berkeberatan, seandainya aku harus menjadi seorang prajurit yang paling bawah dalam keadaan yang wajar. Tetapi biasanya kesempatan untuk dapat merambat ketingkat yang lebih tinggi terlampau sulit. Tetapi justru syarat-syarat itu tidak pernah diperhatikan, yang diperhatikan adalah masalah-masalah lain. Hanya orang-orang yang terdekat dengan lurah-lurah Wira Tamtama sajalah yang mendapat perhatian mengenai kemampuan dan keprigelannya.”

Agung Sedayu menjadi semakin bingung mendengar jawaban Swandaru itu. Ternyata Swandaru justru tertarik kepada ceritanya yang dengan susah payah disusunnya untuk melepaskan diri dari kebingungan. Tetapi ia kini terperosok ke dalam kebingungan yang baru.

“Nah, bagaimana Kakang?”

Tiba-tiba Agung Sedayu menengadahkan dadanya. Ia menemukan jawaban yang untuk sementara dapat membebaskannya dari ketegangan ini. Katanya, “Justru itulah yang aku tidak mau, Adi Swandaru.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Wajahnya yang bulat menjadi berkerut merut.

“Kenapa?” dengan ragu-ragu ia bertanya.

“Aku menyadari bahwa kesempatan yang diberikan oleh Kakang Untara itu adalah kesempatan seperti yang kau katakan. Aku diterima menjadi seorang Wira Tamtama, bahkan mungkin seorang yang langsung mendapat kedudukan yang baik, bukan karena jasa-jasaku sebagai seorang prajurit. Hal itu dapat terjadi karena aku adalah adik Kakang Untara. Aku tidak mau. Aku tidak mau. Itulah sebabnya aku harus menghindarkan diri dari padepokan ini sebelum Kakang Untara memaksaku. Bagiku Adi Swandaru, lebih baik menjadi seorang prajurit yang memanjat tataran demi tataran, tetapi karena hasil keringatku sendiri daripada aku langsung mendapat kedudukan yang baik, tetapi hanya karena aku seorang adik dari Kakang Untara. Dari seorang senapati yang telah berjasa dapat menyelesaikan sisa-sisa orang-orang Jipang di bagian Selatan ini. Tetapi yang berjasa adalah Kakang Untara. Bukan aku. Seandainya mendapat wisuda seharusnya juga Kakang Untara, bukan aku.”

“Oh,” Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Dari mulutnya terdengar ia berdesis, “itukah sebabnya kau ingin meninggalkan padepokan ini?”

“Ya,” jawab Agung Sedayu, “aku tidak mau. Aku akan pergi ke Sangkal Putung. Mungkin kelak aku ingin menjadi seorang prajurit di sana. Pada pasukan Paman Widura.”

“Tetapi Paman Widura adalah pamanmu pula Kakang. Kalau ternyata kau mendapat kesempatan, maka kau akan menyangka, bahwa kesempatan itu kau terima justru kau kemanakannya.”

Agung Sedayu terdiam. Pertanyaan ini tidak segera dapat dijawabnya. Sekali lagi ia mencoba memutar nalarnya untuk membebaskan diri dari pertanyaan-pertanyaan yang membuat kepalanya menjadi pening.

Sekali lagi ruangan itu terdampar ke dalam kesenyapan yang tegang. Tubuh Agung Sedayu telah menjadi basah oleh keringat dingin yang seolah-olah diperas dari tubuhnya. Sekali-sekali ia menarik nafas dalam-dalam untuk mencoba menenteramkan hatinya.

Baru sejenak kemudian Agung Sedayu menjawab, “Mungkin aku mempunyai perasaan yang demikian pula, Adi Swandaru, tetapi pasti tidak akan terlampau tajam seperti saat ini. Apabila aku harus memenuhi perintah Kakang Untara dan menghadap Ki Gede Pemanahan, maka segera aku akan terlempar ke atas. Itu pasti tidak akan dapat memberi ketenteraman di hatiku. Apalagi aku tahu, bahwa prajurit-prajurit yang kemudian berada di bawahku adalah orang-orang yang telah berjuang cukup lama dan mempunyai jasa yang cukup besar buat Pajang. Kemampuan dan pengalaman ada pula yang melampaui aku. Nah, aku tidak akan dapat melakukan tugas yang demikian.”

Agung Sedayu memandangi Swandaru Geni untuk mencoba menangkap kesan kata-katanya di hati adik seperguruannya itu. Dan ia melihat Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Karena itu, maka hati Agung Sedayu menjadi agak tenteram. Ia mengharap Swandaru dapat mempercayainya.

Dan dengan tiba-tiba saja Swandaru bertanya, “Jadi bagaimanakah maksudmu, Kakang? Apakah kau akan segera berangkat?”

Dada Agung Sedayu kini dihentak oleh kebimbangannya. Justru karena pertimbangan-pertimbangan yang kemudian tumbuh di dalam hatinya. Justru karena pertanyaan Sekar Mirah tentang Ki Tambak Wedi yang mungkin mereka temui di jalan.

“Kalau aku ingin lari dari persoalan ini, maka akulah yang seharusnya menjumpai akibat yang betapapun beratnya. Tidak sewajarnya aku menyeret kedua kakak beradik itu ke dalam bencana,” desis Agung Sedayu di dalam hatinya. Tetapi hati itu seakan-akan diliputi oleh kegelapan. Itulah sebabnya maka pertimbangan-pertimbangannya menjadi kabur dan ragu-ragu.

“Kakang,” terdengar Swandaru meneruskan kata-katanya, “apabila kakang menghendaki kami ikut dengan Kakang berangkat saat ini juga, maka kami pasti tidak akan keberatan. Kami tahu bahwa kau sedang diamuk oleh kebimbangan dan keragu-raguan. Mungkin aku dan Sekar Mirah kurang dapat memahami caramu berpikir dan mempertimbangkan persoalanmu, tetapi aku tidak peduli. Aku tidak ingin membingungkan diriku sendiri dan menambah kau menjadi bingung. Sekarang bagaimana pertimbanganmu? Berangkat sekarang atau tidak? Kami akan mengikuti kau. Sebab tanpa kau di sini, maka kami akan menjadi orang asing. Ternyata prajurit-prajurit Pajang yang di sini, sebagian terbesar bukan prajurit-prajurit Pajang yang berada di Sangkal Putung. Hanya satu dua orang sajalah yang mengenal aku dan Sekar Mirah. Selainnya adalah orang asing bagiku, seperti aku juga orang asing bagi mereka. Karena itu, katakanlah keputusanmu. Aku dan Sekar Mirah tidak akan menolak. Kau bagi kami adalah orang terdekat di sini, selain Guru.”

Tetapi ternyata kata-kata Swandaru itu membuat Agung Sedayu semakin bingung. Ia kini benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dikatakan. Keringatnya menjadi semakin deras mengalir di punggung dan tengkuknya. Ia sudah terperosok semakin jauh ke dalam persoalan dan cerita yang disusunnya, namun yang semakin membingungkannya sendiri.

Karena itu, maka ia pun sekali lagi terbungkam. Sekali-sekali tangannya meraba keningnya mengusap titik keringat yang menetes.

Swandaru melihat wajah Agung Sedayu yang pucat itu. Ia pun tiba-tiba menjadi bingung sendiri. Tetapi untuk mengurangi dan meredakan ketegangan perasaan Agung Sedayu, maka Swandaru tidak bertanya lagi.

Sekar Mirah yang duduk di dekat Swandaru pun menjadi tidak kalah bingungnya. Ia tidak mengerti pendirian Agung Sedayu, tetapi ia merasakan bahwa ada sesuatu yang telah disembunyikan oleh anak muda itu. Dan yang disembunyikan itu menurut dugaan Sekar Mirah, pasti menyangkut dirinya dan kakaknya Swandaru. Namun Sekar Mirah pun tidak bertanya sesuatu. Seperti Swandaru, ia tidak ingin membuat Agung Sedayu bertambah bingung.

Tetapi keheningan dalam ruangan itu terasa semakin lama semakin tegang. Keringat di punggung, tengkuk, dan kening Agung Sedayu menjadi semakin deras mengalir.

Dalam ketegangan itu tiba-tiba mereka serentak mengangkat wajah-wajah mereka. Terdengar langkah-langkah kaki dekat sekali di luar dinding ruangan itu. Kemudian terdengar suara gemerisik mendekati pintu di sepanjang dinding rumah.

Agung Sedayu dan Swandaru tanpa berjanji segera meloncat berdiri. Tangan-tangan mereka melekat di hulu pedang, sedang Sekar Mirah pun telah berdiri pula di belakang Swandaru.

“Ah,” tiba-tiba mereka mendengar suara berdesah, “daerah ini kini adalah daerah yang aman. Kenapa kalian menjadi gelisah dan mudah sekali menjadi terkejut?”

Ketiga anak-anak rnuda itu menarik nafas dalam-dalam. Suara itu sudah amat mereka kenal. Suara Ki Tanu Metir.

Tergopoh-gopoh Swandaru melangkah ke pintu dan menarik selaraknya. Ketika pintu itu terbuka, mereka melihat Ki Tanu Metir berdiri sambil tersenyum, katanya, “Hanya kegelisahan di hati kalianlah yang telah membuat kalian menjadi cemas menanggapi setiap persoalan. Kalian menjadi terlampau mudah terkejut dan kadang-kadang bingung.”

Agung Sedayu dan Swandaru menundukkan kepalanya. Kata-kata gurunya terasa tepat menyentuh jantung mereka yang berdentangan.

“Duduklah. Sebaiknya kita bersikap wajar. Kenapa kalian menjadi gelisah, cemas dan bahkan pucat seperti melihat hantu?”

Agung Sedayu dan Swandaru menjadi semakin tunduk. Perlahan-lahan mereka melangkah dan duduk kembali di atas amben bambu, sementara Ki Tanu Metir sendirilah yang menutup pintu.

Ketika pintu sudah tertutup rapat, maka Ki Tanu Metir itu pun kemudian melangkah ke amben itu pula dan duduk di antara mereka. Di antara ketiga anak-anak muda yang sedang dicengkam oleh persoalan yang tidak begitu jelas.

Demikian Ki Tanu Metir duduk, ia bergumam, “Pintu itu tidak usah diselarak. Tidak akan ada orang yang masuk untuk kepentingan apa pun di malam begini. Di sini, dalam keadaan ini, pasti tidak ada pencuri, dan tidak akan ada orang-orang Jipang atau orang-orang Tambak Wedi yang akan datang.”

Ketiga anak-anak muda itu tidak menjawab. Sedang Swandaru dan Agung Sedayu menjadi semakin tunduk. Ia tahu benar maksud kata-kata gurunya.

“Di luar dinginnya bukan main,” desah gurunya itu. Tetapi tiba-tiba nada suaranya meninggi. “Tetapi kenapa kalian? Aku lihat baju kalian menjadi basah oleh keringat. Apakah udara di dalam rumah ini sangat panas?”

Masih belum ada yang menjawab.

“Aku kira di dalam ini pun cukup sejuk, meskipun tidak sedingin di luar,” Ki Tanu Metir berhenti sebentar. “He, apakah rumah ini beratap ijuk atau daun lalang? Memang kedua-duanya dapat menahan dingin. Apabila udara dingin, maka ruangan di sini tidak akan terlampau dingin. Tetapi apabila udara panas, ruangan ini akan menjadi cukup sejuk, tidak seperti dipanggang di atas bara.”

Belum ada jawaban.

“Aku tidak begitu memperhatikan. Apakah kalian melihatnya siang tadi?”

Swandaru dan Agung Sedayu mengangkat wajah-wajah mereka sejenak, tetapi wajah-wajah itu tertunduk kembali.

“Hem,” Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. “Kalau begitu kalian seolah-olah mandi keringat bukan karena panasnya udara. Mungkin kalian sedang ketakutan. Begitu?”

Kini seperti berjanji keduanya menjawab, “Tidak, Guru.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, ya, mungkin kalian tidak sedang ketakutan. Tidak pula sedang kepanasan. Tetapi kenapa kalian gelisah? Ketika kalian mendengar suara kakiku berdesir di samping dinding rumah ini, kalian terkejut. Aku mendengar gerak kalian. Kalian segera berloncatan seperti ada seorang musuh yang mengintip. Aku pun kemudian mengintip. Dan aku melihat tangan kalian telah melekat di hulu pedang sebelum pintu itu terbuka. Nah, apakah yang sudah terjadi atas kalian sehingga kalian menjadi gelisah, dan bahkan seolah-olah ketakutan? Apakah ada persoalan yang membuat kalian cemas? Ancaman dari seseorang misalnya, atau tantangan dari orang yang kalian anggap jauh lebih tinggi ilmu tata beladirinya daripada kalian?”

Sejenak Agung Sedayu dan Swandaru berdiam diri. Namun kemudian hampir bersamaan mereka menggelengkan kepala mereka, “Tidak, Guru.”

“Kalau begitu, apakah yang telah merisaukan hati kalian?”

Sekali lagi anak-anak muda itu terbungkam.

“Nah, aku tahu sekarang,” berkata Ki Tanu Metir sambil tersenyum, “yang merisaukan itu pasti kalian sendiri.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam, sedang Swandaru mengerutkan keningnya. Mereka masih saja berdiam diri. Tetapi yang menjawab justru Sekar Mirah, “Ya, Kiai. Yang merisaukan kami adalah hati kami sendiri.”

Ki Tanu Metir tertawa perlahan, “Begitulah. Karena itu jangan kau turuti perasaan hati. Setiap persoalan pertimbangkan masak-masak dengan nalar, jangan semata-mata dengan perasaan. Dengan demikian kalian tidak akan dicemaskan oleh hal-hal yang sama sekali tidak perlu.”

Terdengar nafas Agung Sedayu semakin cepat mengalir lewat lubang-lubang hidungnya. Terengah-engah, seolah-olah baru saja bergulat dengan hantu. Apalagi ketika gurunya berpaling kepadanya dan langsung bertanya, “Apakah yang membuat kau menjadi cemas?”

Agung Sedayu tidak segera menjawab.

“Bukankah kau baru datang dari banjar padepokan menghadap kakakmu?”

“Ya, Guru. Aku memang baru saja menghadap Kakang Untara di banjar.”

“Hem,” Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya, “kalau begitu, pasti ada pembicaraan yang membuat kau bingung atau risau. Membuat kau kehilangan ketenangan dan pertimbangan. Begitu?”

Sejenak Agung Sedayu tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Meskipun bibirnya bergerak-gerak tetapi tidak terdengar jawaban dari mulutnya.

“Baiklah, mungkin pertanyaanku membuat kau semakin bingung,” berkata Ki Tanu Metir kemudian, “karena itu, sekarang tenangkanlah hatimu. Sebaiknya kau pergi tidur. Angger Swandaru dan Angger Sekar Mirah pun sebaiknya pergi tidur pula.”

Tetapi justru hal itu telah membuat hati Agung Sedayu semakin kisruh. Apabila ia harus pergi tidur, dan besok pagi-pagi ia masih berada di padepokan itu, maka ia akan mengatami kesulitan yang lebih besar. Ia harus meninggalkan pondokan itu. Ia harus bersama dengan kakaknya. Apakah yang akan dikatakannya kepada Swandaru dan Sekar Mirah? Tetapi yang lebih menggelisahkan lagi adalah, bahwa ia tidak boleh berhubungan dengan gadis itu. Ia tidak boleh pergi ke Sangkal Putung dan seterusnya ia harus menjadi seorang prajurit.

Sebenarnya menjadi seorang prajurit itu sendiri sama sekali tidak menakut-nakuti hati Agung Sedayu. Yang paling menggelisahkannya adalah kemungkinan, bahwa ia harus berpisah dengan Sekar Mirah. Agung Sedayu yang masih muda itu tidak tahu pasti, ikatan apakah yang ada di dalam hatinya. Ia tidak menyadari, apakah yang telah membuatnya seperti kehilangan akal karena kemungkinan perpisahan itu.

Dengan demikian, maka Agung Sedayu tidak segera dapat menjawab kata-kata gurunya, tetapi ia juga tidak beranjak dari tempatnya untuk pergi tidur di sudut amben itu juga. Bukan saja Agung Sedayu, tetapi Swandaru dan Sekar Mirah pun sama sekali tidak berkisar.

Ki Tanu Metir itu pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tahu, bahwa perasaan Agung Sedayu benar-benar sedang kacau. Ia tidak dapat lagi berpikir bening, dan ia tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan. Usianya memang masih cukup muda dan pengalamannya pun masih belum cukup banyak.

Karena itu, maka Ki Tanu Metir tidak lagi sampai hati untuk membiarkan muridnya kehilangan akal. Meskipun agak sulit juga, namun ia berusaha untuk menolong melepaskannya dari kebingungan. Maka katanya, “Swandaru, tungguilah adikmu itu beristirahat. Biarlah aku bawa kakakmu Agung Sedayu berjalan-jalan sebentar. Mungkin dengan demikian, ia akan menjadi agak tenang.”

Swandaru yang telah dibingungkan oleh keadaan itu pula, begitu saja menganggukkan kepalanya dan menjawab, “Silahkan, Guru.”

“Baiklah. Kalau dapat, tidurlah kalian berdua. Tidak akan ada apa-apa lagi di sini. Percayalah.”

“Ya, Guru,” jawab Swandaru. Meskipun demikian, ia tetap tidak mengerti akan persoalan yang dihadapinya.

Ki Tanu Metir pun kemudian membawa Agung Sedayu keluar lagi dari rumah itu. Oleh Swandaru, pintunya pun segera ditutup kembali. Ia menyuruh Sekar Mirah untuk mencoba berbaring dan apabila mungkin untuk tidur, supaya badannya menjadi agak segar.

“Apakah kau juga akan tidur, Kakang?”

“Tentu, aku juga akan tidur.”

Tetapi Swandaru tidak melepas pedangnya. Dicobanya juga berbaring di amben yang besar itu pula. Tetapi ternyata keduanya sama sekali tidak memejamkan matanya.

Sementara itu, Ki Tanu Metir dan Agung Sedayu telah keluar dari halaman rumah itu. Mereka terhenti ketika mereka berpapasan dengan dua orang prajurit peronda.

“Siapa?” salah seorang dari prajurit itu menyapa.

Ki Tanu Metir terbatuk-batuk sedikit, kemudian jawabnya, “Aku Ngger, Tanu Metir.”

“O,” prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “malam-malam, Kiai?”

“Berjalan-jalan, Ngger. Aku tidak dapat tidur.”

“Silahkan, Kiai,” sahut salah seorang prajurit itu, yang kemudian meninggalkan Ki Tanu Metir dan Agung Sedayu.

Maka keduanya pun segera melangkahkan kaki mereka. Mereka berjalan menyusur jalan padepokan, kemudian berbelok ke jalan-jalan sempit yang sepi.

Tetapi Ki Tanu Metir dan Agung Sedayu masih saja berdiam diri. Ki Tanu Metir belum bertanya sesuatu, dan Agung Sedayu tidak dapat mulai dengan sebuah percakapan apa pun.

Yang terdengar kemudian hanyalah desir kaki-kaki mereka di atas tanah yang keras. Sekali-sekali angin lereng yang dingin bertiup menggugurkan daun-daun kering dan menebarkannya di sepanjang jalan. Di kejauhan terdengar lamat-lamat suara burung kedasih yang sedih.

Baru sejenak kemudian terdengar Ki Tanu Metir berkata, “Aku mendengar percakapan kalian seluruhnya di pondok, Ngger.”

Dada Agung Sedayu berdesir mendengar kata-kata gurunya. Tetapi ia tidak segera dapat menyahut.

“Aku dapat mengerti, bahwa kau sedang dalam kebingungan. Tetapi aku menyangka, bahwa kau tidak berkata sebenarnya terhadap Angger Swandaru dan Sekar Mirah. Ada sesuatu yang kau sembunyikan atau bahkan apa yang kau katakan seluruhnya tidak benar.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Setelah sekian lama ia menahan kegelisahan di dalam dadanya, tiba-tiba ia merasa mendapat tempat untuk menumpahkannya. Ia hampir lupa, bahwa ia mempunyai seorang guru yang akan dapat memberinya nasehat, dan sekaligus tempat untuk meringankan beban yang menyesak di dadanya.

Karena itu, sebelum Ki Tanu Metir mengulangi pertanyaannya, Agung Sedayu segera menjawab, “Ya, Kiai. Aku telah berdusta. Aku tidak dapat mengatakan yang sebenarnya.”

“Ya, kau tidak dapat berkata sebenarnya. Apakah soalnya?”

Agung Sedayu pun segera menceritakan pertemuannya dengan kakaknya dan Wuranta. Dikatakannya semua dari awal sampai akhir, sehingga ia menjadi terlampau bingung dan ingin meninggalkan padepokan malam ini juga.

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Di dalam hatinya ia bergumam, “Aku sudah menyangka, bahwa suatu ketika Angger Untara akan sampai kepada keputusan itu. Beberapa kali telah disinggungnya, seakan-akan hubungan antara Angger Agung Sedayu dan Angger Sekar Mirah hanya akan menghambat kemajuan Angger Sedayu dan hanya akan menumbuhkan perselisihan saja. Tetapi Angger Untara ternyata kurang bijaksana menanggapi persoalan-persoalan yang demikian.”

Dan malam ternyata telah menjadi terlampau jauh, sehingga tiba-tiba saja mereka telah mendengar ayam jantan berkokok bersahutan. Seperti hantu yang takut kamanungsan, tiba-tiba Agung Sedayu menjadi semakin gelisah dan tanpa sesadarnya ia berkata, “Kiai, aku harus pergi sebelum pagi. Aku tidak dapat melakukan semua perintah Kakang Untara.”

“Yang mana yang tidak dapat kau lakukan, Ngger?“

Agung Sedayu tiba-tiba terdiam. Pertanyaan itu telah memaksanya untuk bertanya pula kepada diri sendiri, “Yang manakah yang tidak dapat dilakukannya?”

“Apakah kau memang tidak ingin menjadi seorang prajurit, atau ada persoalan lain yang lebih mengikat dari pada itu?”

Agung Sedayu tidak menjawab, tetapi kepalanya kini tertunduk dalam-dalam. Ia tidak dapat ingkar ketika di dalam dadanya bergolak pengakuan, bahwa yang paling memberati dadanya adalah perpisahan dengan Sekar Mirah itu. Tetapi ia tidak dapat mengatakan kepada Ki Tanu Metir dengan terbuka.

Sejenak keduanya terdiam. Angin yang berhembus terasa seolah-olah menjadi semakin dingin membelai tubuh mereka. Kokok ayam jantan pun menjadi semakin riuh pula. Ketika tanpa mereka sadari, mereka menengadahkan wajah mereka, maka tampaklah warna kemerah merahan di langit.

Karena Agung Sedayu tidak segera menjawab, maka Ki Tanu Metir-lah yang kemudian berkata, “Angger Sedayu, aku kira Angger Agung Sedayu kini telah benar-benar menjadi seorang laki-laki. Itulah sebabnya aku menduga, bahwa Angger tidak akan takut untuk menjadi seorang prajurit. Sebelum Angger menjadi prajurit, Angger telah berani terjun di medan-medan perang yang paling dahsyat. Angger telah ikut serta dalam peperangan di Sangkal Putung dan di padepokan ini. Tetapi, agaknya yang paling berat bagi Angger adalah keinginan Angger Untara, bahwa Angger harus memutuskan hubungan dengan Angger Sekar Mirah. Adakah begitu?”

Betapa dinginnya malam, namun baju Agung Sedayu telah dijalari oleh keringat yang mengalir dari punggungnya. Terbata-bata ia menjawab, “Ya, Kiai.”

“Hem,” Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam, “apakah Angger tidak dapat melakukannya untuk sementara? Bukankah di saat-saat mendatang kesempatan masih luas bagi Angger untuk dapat bertemu dan berhubungan dengan Angger Sekar Mirah?”

Pertanyaan itu tidak dapat segera dijawab oleh Agung Sedayu, perpisahan dengan Sekar Mirah terasa terlampau berat baginya. Apalagi kalau hal itu dilakukan oleh Untara hanya karena sekedar menyenangkan hati Wuranta. Maka hati Agung Sedayu menjadi semakin tidak rela. Meskipun ia tahu peranan apa yang telah dilakukan oleh Wuranta, seolah-olah kunci kemenangan peperangan di padepokan ini adalah di tangan anak muda Jati Anom itu, namun ia tidak akan dapat melepaskan segala macam unsur kemenangan yang lain. Itulah sebabnya, maka apabila kakaknya terlampau memberatkan keputusannya kepada Wuranta, adalah tidak adil baginya.

Karena Agung Sedayu tidak segera menjawab, maka Ki Tanu Metir itu pun melanjutkan, “Nah, aku kira kau berkeberatan bukan?”

Tanpa sesadarnya Agung Sedayu pun mengangguk.

Ki Tanu Metir yang tua itu dapat menangkap perasaan yang bergolak di dalam dada muridnya. Betapa sakit dan pedih. Justru dalam umurnya yang masih terlampau muda.

Tiba-tiba Agung Sedayu mendengar gurunya bergumam, “Angger Sedayu, biarlah aku mencoba menolongmu. Aku akan berusaha supaya kau dapat pergi ke Sangkal Putung bersama dengan Angger Swandaru dan Angger Sekar Mirah.”

“Kiai,” hanya itulah yang terloncat dari mulutnya.

“Ya, aku akan mencoba. Tetapi aku tidak tahu apakah usahaku akan berhasil. Meskipun dengan demikian, Angger Untara pasti akan membuat penilaian atas diriku dan dirimu, tetapi baiklah aku mencobanya. Tetapi untuk seterusnya, kau harus dapat membawa dirimu. Sebagian dari keinginan kakakmu harus dapat kau penuhi. Kau sebaiknya memang menjadi seorang prajurit.”

“Ya, Guru. Aku sama sekali tidak berkeberatan menjadi seorang prajurit. Tetapi tidak segera. Aku masih ingin mengantar Sekar Mirah kembali kepada ayah dan ibunya seperti yang pernah aku janjikan.”

“Baiklah. Sekarang Angger kembali saja ke pondok Angger. Aku akan pergi ke banjar untuk berbicara dengan Angger Untara. Aku akan berbicara dengan caraku. Mudah-mudahan Angger Untara dapat mengerti. Jangan cemas, bahwa kau akan terpaksa membunuh, karena dicegat oleh orang-orang yang keras kepala itu.”

“Terima kasih, Guru,” sahut Agung Sedayu.

“Nah, kalau begitu, kita berpisah sampai di sini. Aku akan pergi ke banjar. Kalau Angger Untara dapat mengerti, maka setidak-tidaknya perasaanmu menjadi agak tenang karenanya.”

Maka keduanya pun segera berpisah. Ki Tanu Metir pergi ke banjar dan Agung Sedayu kembali ke pondoknya.

Ketika ia sampai ke pintu rumah, maka ia masih mendengar Swandaru dan Sekar Mirah bercakap-cakap. Agaknya semalam suntuk mereka sama sekali tidak dapat tidur.

Pada saat yang hampir bersamaan, Ki Tanu Metir pun telah sampai pula di banjar padepokan. Tetapi banjar itu masih terlampau sepi. Hanya para penjaganya sajalah yang masih tegak mondar-mandir di halaman, sedang sebagian yang lain duduk mengelilingi sebuah pelita di atas ajug-ajug yang tinggi di gardu peronda.

Ketika Ki Tanu Metir sampai di halaman, maka langit di ujung Timur telah menjadi semakin merah. Bayangan orang-orang yang sedang bertugas itu pun telah menjadi semakin jelas.

“Ah, Kiai,” desah salah seorang dari mereka, “masih terlampau pagi, Kiai sudah datang kemari.”

Ki Tanu Metir tersenyum. Jawabnya, “Aku takut kesiangan. Apakah Angger Untara ada?”

“Ada, Kiai, tetapi agaknya Ki Untara masih tidur. Semalam adiknya berada di sini sampai jauh malam, sehingga baru saja Ki Untara sempat beristirahat.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku akan menunggunya. Kalau begitu lebih baik aku duduk di gardu ini. Agaknya kalian baru saja mendapat minuman hangat.”

Para peronda itu tertawa, “Marilah, Kiai. Air sere dan jahe. Untuk mengusir dingin.”

Ki Tanu Metir pun kemudian duduk di antara mereka. Berbicara dengan para peronda itu. Bersenda-gurau dan berkelakar. Namun setiap kali teringat oleh orang tua itu, muridnya yang sedang bingung karena sikap kakaknya yang keras. Sikap seorang prajurit. Tetapi agaknya Untara sendiri belum pernah merasakan, betapa sulitnya untuk mengurai ikatan yang telah terlanjur membelit hati dari pertautan kasih antara dua orang remaja. Adalah berbahaya sekali untuk mengurainya dengan paksa dan kekerasan. Itulah sebabnya, ia harus menemui senapati muda yang hidupnya dicengkam oleh kepatuhan yang keras akan tugas-tugasnya.

Dengan tidak terasa, maka langit pun menjadi semakin lama semakin terang. Bintang gemintang satu-satu lenyap dari wajah yang biru membentang dari ujung ke ujung cakrawala.

Ki Tanu Metir yang tubuhnya telah dihangatkan oleh semangkuk air jahe, menggeliat. Dibenahinya kain gringsingnya. Kemudian perlahan-lahan turun dari gardu.

“Ke mana, Kiai?” bertanya salah seorang penjaga.

“Mungkin Angger Untara telah bangun,” jawab Ki Tanu Metir.

“Aku belum melihatnya. Biasanya, Ki Untara apabila bangun terus pergi ke sumur untuk membersihkan diri.”

“Tetapi hari telah pagi.”

“Agaknya ia terlambat bangun. Tidak seorang pun yang membangunkannya, karena setiap orang tahu, bahwa semalam ia hampir tidak tertidur.”

Sekali lagi Ki Tanu Metir menggeliat. Katanya, “Biarlah, aku akan menunggunya di pringgitan.”

“Kalau begitu, silahkanlah, Kiai.”

Ki Tanu Metir itu pun kemudian berjalan melintasi halaman. Naik ke pendapa, kemudian masuk ke pringgitan.

Untara yang baru saja terbangun dari tidurnya terkejut melihai kehadiran Ki Tanu Metir begitu pagi.

“O, apakah Kiai semalam tidur di banjar ini?” bertanya Untara.

“Tidak, Ngger, semalam aku berjalan saja mengelilingi padepokan ini,”

“Dan sesudah itu Kiai langsung datang kemari?”

Ki Tanu Metir menggeleng, “Tidak, Ngger, aku sudah bertemu dengan Angger Agung Sedayu.”

Kening Untara segera berkerut. Anak muda yang berotak tajam itu segera dapat mengerti, bahwa kedatangan Ki Tanu Metir ini pasti berhubungan dengan adiknya, Agung Sedayu. Karena itu, maka hatinya pun menjadi berdebar-debar. Ternyata Agung Sedayu masih saja menjadi persoalan baginya. Agaknya anak itu telah menyampaikan persoalannya kepada gurunya, dan gurunya kini datang kepadanya untuk berusaha merubah sikapnya.

“Tidak,” katanya di dalam hati, “keputusanku tentang Agung Sedayu telah tetap. Ia harus menjadi seseorang yang cukup mempunyai pegangan. Ia harus mempunyai kedudukan yang baik sebelum ia tenggelam dalam hubungan dengan perempuan. Sekar Mirah tidak akan dapat menjadikannya seorang laki-laki yang baik. Hubungan itu hanya akan menghambat kemajuan-kemajuan yang seharusnya dapat dicapainya. Ia memiliki bekal yang cukup untuk memanjat ke tempat yang setinggi-tingginya. Ia kawan baik pula dari Adi Sutawijaya, yang pasti akan berpengaruh bagi kedudukannya.”

Untara itu tersadar ketika ia mendengar Ki Tanu Metir bertanya, “Apakah Angger akan membersihkan diri dahulu?”

“Oh,” Untara segera bangkit, “agaknya aku agak kesiangan.”

“Belum,” sahut Ki Tanu Metir.

Untara pun kemudian segera bangkit dan berjalan keluar untuk sesuci diri, bersama Ki Tanu Metir dan Wuranta.

Sejenak kemudian maka mereka pun telah duduk berhadapan di atas bentangan tikar pandan. Wuranta yang telah selesai pula segera duduk di antara mereka.

“Kiai datang terlampau pagi,” bertanya Untara, “dan aku menjadi berdebar-debar karenanya. Mungkin ada sesuatu hal yang cukup penting yang akan Kiai katakan.”

“Ya,” jawab Ki Tanu Metir pendek.

Jawaban itu telah mengejutkan Untara dan bahkan Wuranta. Mereka tidak menyangka, bahwa jawaban Ki Tanu Metir akan terlampau pendek dan langsung. Apalagi ketika Ki Tanu Metir kemudian berkata, “Aku telah mendengar semuanya dari Angger Agung Sedayu tentang keputusan Angger Untara mengenai dirinya.”

Untara mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi hatinya masih juga berdebar-debar. Sudah dapat diduga sebelumnya, bahwa guru Agung Sedayu pasti akan selalu mencampuri urusannya dengan adiknya itu, seperti juga Ki Tanu Metir mencampuri urusan keprajuritan. Tetapi Untara tidak dapat menolak. Ki Tanu Metir telah terlampau banyak memberikan jasa-jasanya kepadanya, sejak peperangan-peperangan yang terjadi di Sangkal Putung. Bahkan sebelum itu. Ketika ia hampir mati di jalan ke Sangkal Putung dari Jati Anom, di dekat Macanan ia telah bertemu dengan Pande-besi Sendang Gabus, Alap-alap Jalatunda dan kawan-kawannya.

Seandainya Ki Tanu Metir tidak melindunginya saat itu, ia pasti sudah mati dicincang oleh Plasa Ireng, dan adiknya telah lumat oleh Alap-alap Jalatunda.

“Tetapi sebaiknya Ki Tanu Metir tidak mencampuri terlampau banyak persoalan keluargaku,” desisnya di dalam hati.

Karena Untara tidak segera menjawab, maka Ki Tanu Metir itu berkata pula, “Dan adikmu, Angger Agung Sedayu, kini menjadi sangat bingung.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Sejenak kemudian ia bertanya, “Apakah yang dibingungkannya?”

“Perintahmu, Ngger.”

“Seharusnya Agung Sedayu tidak usah menjadi bingung. Semuanya telah jelas. Dan ketika aku bertanya kepadanya, ia mengiakannya. Semuanya telah dimengertinya.”

“Seharusnya Angger dapat mengerti, bahwa hal itu dilakukannya, karena ia begitu takut dan hormat kepada Angger sebagai seorang saudara tua pengganti ibu bapa. Tetapi perintah Angger telah menyudutkannya dalam suatu pertentangan perasaan yang hampir-hampir tidak dapat dipecahkanya.”

Dahi Untara menjadi berkerut-merut, karena debar di dadanya seolah-olah mengguncang jantungnya. Dan demikian derasnya getar di dadanya itu, sehingga ia bertanya, “Apakah Kiai tidak sependapat dengan perintahku kepada adikku itu.”

Ki Tanu Metir yang juga menyebut dirinya Kiai Gringsing itu tidak segera menjawab. Tetapi ditatapnya wajah Untara tajam-tajam. Seolah-olah ingin membaca apa yang tersirat di wajah anak muda Senapati Wira Tamtama, yang mendapat kekuasaan untuk menyelesaikan masalah orang-orang Jipang di daerah Selatan di sekitar Gunung Merapi.

Betapa besarnya nama Untara, dan betapa tangguhnya ia di medan-medan perang menghadapi lawannya, tetapi tatapan mata Ki Tanu Metir itu terasa terlampau tajam baginya, sehingga sesaat kemudian Senapati muda itu menggeser sudut pandangnya.

Tetapi jawaban Ki Tanu Metir telah mengejutkannya. Perlahan ia mendengar Ki Tanu Metir itu menjawab, “Aku sependapat dengan kau, Ngger.”

Sejenak Untara justru terbungkam. Ia tidak segera dapat mengucapkan kata-kata. Dan didengarnya Ki Tanu Metir itu berkata selanjutnya, “Tetapi, cara yang Angger tempuh, bagiku terlampau tajam, sehingga Angger sama sekali tidak memberi kesempatan kepada Angger Agung Sedayu mencari jalan yang agak lapang bagi perasaannya.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Ketika debar jantungnya telah menjadi agak tenang, maka ia pun bertanya, “Jadi, bagaimanakah yang sebaiknya aku lakukan?”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditatapnya wajah Untara berganti-ganti dengan wajah Wuranta yang tegang pula. Sesaat kemudian ia berkata, “Angger adalah seorang prajurit di medan perang. Angger terlampau biasa menjatuhkan perintah yang langsung tanpa aling-aling. Tetapi masalah Angger Agung Sedayu, agak berbeda dengan keadaan yang sering Angger hadapi. Seandainya Angger Agung Sedayu melakukan juga perintah Angger Untara, namun hatinya pasti akan terluka. Dan luka yang demikian itu akan sangat berbahaya, justru usianya yang masih terlampau muda.”

Untara mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah yang Kiai maksud? Apakah aku harus memutar balikkan kata-kataku sehingga malahan Agung Sedayu tidak tahu maksudnya.”

“Bukan begitu, Ngger,” jawab Ki Tanu Metir, “tetapi Angger memerlukan kebijaksanaan. Maksud Angger tercapai, tetapi hati adik Angger itu tidak terluka karenanya. Luka yang akan dapat menjadi cacat sepanjang hidupnya.”

“Ah, itu terlampau cengeng, Kiai,” sahut Untara, “apabila Agung Sedayu benar-benar seorang jantan, maka hal itu pasti tidak akan terjadi atasnya. Seorang yang berpikir cukup jauh, mempertimbangkan kepentingan-kepentingan yang jauh lebih besar dari yang terlampau kecil. Bukankah Kiai mencemaskan Agung Sedayu akan menjadi patah hati? Mungkin itu akan terjadi. Tetapi itu tidak akan lama. Ia seharusnya dapat mengatasinya. Ia harus bangkit dan melupakan hubungan itu. Dan ia harus menyadari bahwa hubungan itu hanya akan menghambat kemajuannya. Lahir dan batin. Dan ia akan berhenti sampai keadaannya yang sekarang. Kemudian, ia akan kehilangan masa depannya. Ia akan terhenti dan segera akan kawin. Menjadi seorang ayah, dan waktu-waktunya akan hilang di sawah dan ladang. Maka, apakah artinya masa mudanya itu baginya nanti? Mungkin ia akan dapat menjadi seorang Jagabaya. Setinggi-tingginya seorang Demang apabila beruntung. Tetapi tidak lebih dari itu.”

Kata-kata Untara terputus ketika tiba-tiba dilihatnya wajah Ki Tanu Metir berubah. Wajah yang telah dilukisi oleh kerut-merut ketuaannya itu tiba-tiba menjadi tegang. Tetapi hanya sesaat. Orang tua itu berusaha sekuat-kuatnya untuk menahan perasaannya. Dan sejenak kemudian orang tua itu tersenyum.

“Ternyata Angger memandang dunia ini hanya dari satu sudut,” berkata orang tua itu kemudian.

Untara mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab. Dibiarkannya orang tua itu meneruskannya, “Angger memandangnya dari sudut Angger sendiri.” Sekali lagi orang tua itu terhenti, lalu dilanjutkannya. “Aku pun hanya seorang dukun tua yang tidak berarti apa-apa, Ngger. Bahkan mungkin jauh di bawah arti seorang Jagabaya apalagi seorang Demang.”

“Ah,” Untara berdesah, “bukan maksudku, Kiai. Tetapi Kiai adalah seorang yang mumpuni di dalam bidang yang telah Kiai pilih. Kiai agaknya tidak menyia-nyiakan hari-hari Kiai di masa mudayang sangat berharga itu, sehingga Kiai mendapatkan kemampuan Kiai seperti sekarang. Tidak hanya di bidang pengobatan, tetapi ternyata Kiai adalah seorang yang berilmu hampir sempurna.”

“Hem,” Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Seleret dikenangnya masa-masa mudanya. Tetapi sekali lagi ia menvoba mengekang perasaannya. Masa muda itu tidak begitu cerah baginya. Masa yang ingin sekali dapat dilupakannya. Tetapi kadang-kadang kenangan atas masa-masa itu membersit di hatinya.

“Masa-masa yang kelam,” desisnya. “Mudah-mudahan orang lain tidak akan mengalaminya.”

Tetapi ternyata kenangannya di masa muda yang seolah-olah selalu disembunyikannya itu, telah mendorongnya untuk lebih banyak berbuat untuk menyelamatkan perasaan muridnya, sehingga ia kemudian berkata, “Sudahlah, Ngger. Mungkin pendirian Angger itu pun dapat dibenarkan. Dengan demikian maka kesempatan Angger Agung Sedayu akan lebih luas terbuka. Tetapi apabila ia mampu mengatasi hambatan yang tumbuh di dalam dirinya sendiri. Karena itu, Ngger, aku ingin maksud Angger itu tercapai dengan tidak usah menyakiti hatinya.”

“Maksud Kiai?”

“Angger tidak usah dengan tergesa-gesa melarangnya berhubungan dengan Angger Sekar Mirah.”

“Ah,” Untara berdesah, “itu adalah hambatan yang paling besar baginya.”

“Seandainya Angger mengingininya, tetapi jangan dilakukan dengan paksa. Angger harus mencari jalan sebaik-baiknya untuk melakukannya. Aku mengerti maksud Angger, tetapi aku tidak dapat sependapat dengan cara yang Angger tempuh.”

Dahi Untara menjadi berkerut-merut mendengar kata-kata Ki Tanu Metir itu. Seandainya yang berkata itu bukan Kiai Gringsing, yang telah banyak berjasa, tidak saja kepadanya; tetapi juga kepada pasukan Pajang di Sangkal Putung.

Dengan demikian maka dada Untara itu serasa menjadi pepat. Ia tidak segera dapat memilih jalan yang sebaik-baiknya untuk menentukan sikap.

Sejenak pringgitan banjar padepokan Tambak Wedi itu menjadi sepi. Yang terdengar hanyalah desah nafas mereka yang sedang ditegangkan oleh persoalan yang mereka bicarakan.

Baru sejenak kemudian terdengar Untara bertanya, “Lalu cara yang manakah yang Kiai anggap sebaik-baiknya.”

“Aku mengharap agar Angger melakukannya dengan perlahan,” jawab Ki Tanu Metir.

“Mustahil dapat terjadi,” bantah Untara, “bahkan hubungan mereka akan menjadi semakin erat dan mendalam. Sesudah itu tidak ada jalan lagi untuk memisahkannya. Agung Sedayu tidak lagi dapat berpikir wajar. Seluruh hidupnya akan diikat oleh wanita itu. Badannya dan nyawanya. Kebanggaan baginya adalah mempertahankan perempuan itu. Dan anak itu tidak akan ingat lagi bahwa perjuangan masih jauh untuk mewujudkan Pajang yang besar dan kuat.”

“Aku akan melakukannya,” jawab Ki Tanu Metir tenang, namun cukup mengejutkan hati Untara, “aku akan mencoba membuat Angger Agung Sedayu menjadi seorang yang baik, yang berguna bagi negara dan tanah kelahiran. Aku tidak mempedulikannya, apakah ia masih akan tetap berhubungan dengan Sekar Mirah atau tidak. Seandainya ia terpisah dari padanya pun, maka adalah menjadi kodrat seorang laki-laki untuk memilih seorang perempuan menjadi kawan hidupnya. Tetapi apabila keinginan Angger Untara untuk membuat Angger Agung Sedayu seorang yang kuat dalam kedudukan dan kanuragan, maka serahkanlah kepadaku. Maksudku, Sekar Mirah tidak akan merintanginya atau menjadi penghalangnya, meskipun mereka masih tetap berhubungan. Seharusnya Angger dapat membaca tabiat dan sifat Angger Sekar Mirah. Kalau yang Angger Untara bicarakan adalah mengenai kedudukan, pangkat, jabatan dan apa lagi, maka Angger Sekar Mirah akan dapat menjadi pendorong yang baik. Tetapi kalau soalnya lain, maka harus diutarakan agar hal itu dapat terjadi perlahan-lahan tanpa melukai hatinya seperti yang telah aku katakan.”

Wajah Untara menjadi semakin tegang mendengar kata-kata Kiai Gringsing itu, dan Kiai Gringsing ternyata masih melanjutkan. “Seandainya Angger ingin melihat Angger Agung Sedayu tidak lagi berhubungan dengan Angger Sekar Mirah pun, aku akan mencoba mengusahakannya pula, tetapi tidak dengan tiba-tiba.”

Ketegangan di dada Untara telah memuncak. Sehingga sejenak ia kehilangan penguasaan diri. Dengan gemetar ia berkata, “Kiai, biarlah aku mengatur jalan hidup Agung Sedayu. Aku adalah kakaknya, pengganti ibu bapa.”

Seleret membersitlah dari sepasang mata orang tua yang bening itu, sorot yang tajam, yang seolah-olah langsung menghunjam ke jantung Untara. Tetapi sesaat kemudian sepasang mata itu telah menjadi lunak kembali. Bahkan orang tua itu tersenyum sambil menjawab, “Maaf, Ngger. Kau adalah kakak Angger Agung Sedayu, kau adalah satu-satunya keluarganya yang tinggal. Tetapi sebaiknya Angger ingat bahwa aku adalah gurunya.”

Dada Untara berdesir mendengar jawaban Ki Tanu Metir itu. “Ya, orang tua itu adalah gurunya.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba untuk menguasainya dirinya yang seolah-olah telah terbakar oleh perasaan kecewanya terhadap sikap Ki Tanu Metir yang terlampau banyak mencampuri urusannya. Tetapi orang tua itu adalah gurunya. Wewenang seorang guru kadang-kadang melampaui wewenang orang tua sendiri terhadap seseorang. Seseorang kadang-kadang lebih taat mematuhi perintah gurunya dari pada orang tuanya. Dan Ki Tanu Metir itu adalah guru Agung Sedayu.

“Tetapi,” suatu pergolakan telah terjadi di dalam dada Untara, “aku mempunyai seribu pertimbangan untuk memisahkan Sekar Mirah dari Agung Sedayu. Kecuali untuk kepentingan Agung Sedayu sendiri, maka persoalannya dengan Wuranta pasti tidak akan dapat selesai dengan baik. Padahal keduanya adalah anak-anak Jati Anom. Perselisihan itu mau tidak mau pasti akan menyentuh namaku pula, apalagi apabila keduanya menjadi lupa diri. Sedang keduanya sama sekali tidak seimbang dalam olah kanuragan. Kalau Agung Sedayu kehilangan pengendalian diri, maka akibatnya akan memalukan sekali. Aku pun pasti akan terpercik pula karenanya.”

Tetapi Untara tidak dapat segera mengatakannya. Betapa hatinya bergolak, tetapi ia masih tetap menyadari, bahwa yang duduk itu adalah Ki Tanu Metir. Orang yang telah menyelamatkan jiwanya, dan jiwa adiknya, Agung Sedayu.

Itulah sebabnya, maka dada Untara itu seolah-olah akan meledak. Ia dihadapkan pada suatu persoalan yang baginya jauh lebih rumit dari persoalan Tohpati di Sangkal Putung. Bahkan ia mengeluh di dalam hatinya, “Seandainya tidak ada Sekar Mirah. Seandainya gadis itu tidak terlibat dalam persoalan antara Pajang dan sisa-sisa orang Jipang.”

Sekali lagi pringgitan itu dicengkam oleh kesepian. Tetapi betapa dada mereka dibakar oleh debar jantung masing-masing yang bergolak seperti kawah gunung Merapi.

Titik-titik keringat telah membasahi dahi mereka. Dan punggung mereka pun telah menjadi basah, seakan-akan mereka baru saja menyelesaikan pekerjaan yang terlampau berat.

Tetapi ternyata dari kening Wuranta titik-titik keringat itu telah menetes satu-satu di atas tikar pandan yang telah menjadi kekuning-kuningan. Bibirnya tampak bergetar, secepat getar di dalam dadanya. Ada sesuatu yang ingin dikatakannya, tetapi serasa tersangkut di kerongkongan, sehingga dengan demikian, maka wajahnya pun menjadi semakin tegang.

Kiai Gringsing yang telah cukup banyak menyimpan pengalaman di dalam dadanya, dapat membaca betapa dada anak muda itu hampir retak karena tekanan perasaan yang tidak dapat dilimpahkannya keluar. Karena itu, maka sambil tersenyum ia berkata, “Angger Wuranta, agaknya Angger ingin mengatakan sesuatu. Tetapi Angger merasa terlampau berat untuk melepaskannya. Katakanlah, Ngger, supaya dadamu tidak menjadi pepat, dan kepalamu menjadi pening. Apakah yang kau katakan itu dapat kami mengerti atau tidak, itu adalah soal yang lain. Namun dengan demikian, dadamu pasti akan menjadi agak lapang karenanya.

Wuranta menelan ludahnya yang seolah-olah menyumbat kerongkongannya. Sekali dipandanginya dukun tua itu, dan sekali senapati muda yang bernama Untara itu. Namun tatapan mata mereka terlampau tajam baginya, sehingga anak muda Jati Anom itu menundukkan kepalanya. Tetapi terdengar suara lirih terputus-putus, “Ya, Kiai. Aku memang ingin mengatakan sesuatu.”

“Nah, katakanlah. Mungkin Angger dapat membantu melepaskan keruwetan ini,” sahut Ki Tanu Metir.

Tetapi dahi Untara menjadi semakin berkerut-merut. Apabila Wuranta menuntut supaya ia melaksanakan keputusannya, maka perasaannya pasti akan menjadi semakin kisruh. Ternyata Ki Tanu Metir mempunyai rencananya sendiri atas muridnya yang tidak sesuai dengan rencananya.

Persoalan itu adalah persoalan yang paling rumit yang membebani pikirannya. Persoalan Agung Sedayu dan Wuranta, yang berkisar di seputar gadis Sangkal Putung yang bernama Sekar Mirah, yang langsung atau tidak langsung telah menghancurkan Tambak Wedi karena pertentangan yang tumbuh di dalam tubuh padepokan ini karena gadis itu pula. Sehingga Sidanti dan Alap-alap Jalatunda lelah berkelahi, dan yang masing-masing telah menyeret orang-orangnya ke dalam perkelahian yang dahsyat itu.

“Pertentangan yang demikian itu masih akan terulang?” desisnya di dalam hati, “Apakah Agung Sedayu dan Wuranta akan menyeret pihak masing-masing pula untuk saling bertentangan?”

Untara menahan nafasnya ketika ia mendengar Ki Tanu Metir berkata, “Silahkan Ngger, silahkan. Katakanlah.”

Wuranta menggigit bibirnya. Keringatnya semakin deras mengalir di keningnya. Dan bajunya pun menjadi semakin kuyup pula.

“Kiai,” terdengar suaranya lambat sekali, “aku minta maaf.”

Kiai Gringsing dan Untara menarik kening mereka. Kata-kata itu telah membuat mereka keheranan. Dan terdengarlah Kiai Gringsing bertanya, “Kenapa Angger minta maaf? Bukankah sudah seharusnya dalam suatu pembicaraan masing-masing pihak mengemukakan pendiriannya?”

Tetapi nafas Wuranta menjadi semakin deras mengalir. Sekali lagi ia berkata, “Aku minta maaf. Aku sama sekali tidak bermaksud membuat kekisruhan ini.”

Ki Tanu Metir dan Untara menjadi semakin heran. Sejenak mereka justru terdiam memandangi wajah Wuranta yang telah dibasahi oleh keringatnya. Tetapi sejenak kemudian, Ki Tanu Metir menarik nafas panjang. Perlahan-lahan ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Sareh ia berkata, “Tenanglah, Ngger. Coba katakanlah, apakah yang sebenarnya tersimpan di hati Angger sejelas-jelasnya. Jangan ragu-ragu, dan jangan mencemaskan apa pun akibat dari kata-katamu.”

Wuranta masih menundukkan kepalanya. Bahkan tubuhnya menjadi gemetar oleh getaran di dalam dadanya.

“Untara,” katanya perlahan-lahan, “aku merasa bersalah, bahwa aku telah mengganggu ketenanganmu. Selama aku mendengar pembicaraanmu dengan Ki Tanu Metir, aku merasa bahwa aku telah berbuat kesalahan yang besar terhadap Agung Sedayu. Karena itu, maka jangan kau hiraukan aku lagi. Aku menyadari, bahwa tidak seharusnya aku melibatkan diri dalam hidupnya. Aku memang terlampau jauh tenggelam ke dalam suatu dunia mimpi yang memabukkan, sehingga aku telah melupakan tata pergaulan di antara kawan sendiri. Untara, seharusnya aku menjadi malu sekali bahwa hal ini telah terjadi. Karena itu, hanya kepadamu dan kepada Ki Tanu Metir aku mengaku. Pembicaraanmu yang terakhir ternyata telah membuka hatiku. Aku tidak berhak untuk mengganggu hubungan Agung Sedayu dengan Sekar Mirah. Aku telah merasakan betapa pahitnya kehilangan tanpa memilikinya. Apalagi Agung Sedayu. Agaknya hati mereka memang telah terpaut. Karena itu, lupakan saja aku. Jangan kau hiraukan aku lagi.”

“Wuranta,” terdengar suara Untara pun tiba-tiba menjadi bergetar. Tetapi Untara tidak meneruskan kata-katanya.

Sekali lagi pringgitan itu menjadi sepi. Sekali lagi nafas-nafas mereka terdengar memenuhi ruangan itu. Ki Tanu Metir yang tua mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali-sekali tangannya meraba-raba keningnya yang basah.

Dan sejenak kemudian, orang tua itu berkata perlahan, “Kau memang berjiwa besar, Ngger.”

“Ah,” Wuranta berdesah. Tetapi ia tidak berkata sesuatu.

“Hatimu yang telah terbuka itu pasti akan banyak sekali menolong kegelapan hati kita masing-masing,” berkata orang tua itu pula.

Tetapi Untara kemudian berkata, “Apakah aku akan membiarkan persoalan ini berlarut-larut?”

Ki Tanu Metir berpaling memandangi wajah Untara dengan kening yang berkerut, sedang Wuranta pun mengangkat kepalanya pula dan berkata, “Persoalan ini telah selesai Untara. Aku telah mengakui segala kesalahan yang telah aku lakukan. Aku tidak akan mengganggu gugat lagi, apa pun yang akan kau lakukan atas Agung Sedayu. Tetapi janganlah Agung Sedayu kau korbankan hanya karena ketamakanku. Kalau terpaksa harus memutuskan hubungan, maka akulah yang sudah sewajarnya menarik diri, sebab aku belum pernah merasakan getaran apa pun yang menghubungkan hati kami. Hatikulah yang terlampau lemah. Mudah-mudahan, aku belum terlambat untuk mengakui kesalahanku ini.”

Sikap Wuranta itu sama sekali tidak diduga-duga sebelumnya oleh Untara dan Ki Tanu Metir. Karena itu, maka tanggapan mereka atas sikap Wuranta itu pun terasa aneh. Namun terbersit di hati mereka kebesaran jiwa anak muda Jati Anom itu, meskipun terlampau dicengkam oleh gelora perasaannya.

Ki Tanu Metir yang tua itu sekali lagi mengangguk-anggukkan kepalanya. Di samping perasaan ibanya terhadap Wuranta, orang tua itu menjadi agak lapang pula dadanya. Dengan demikian ia mengharap, bahwa persoalan muridnya dengan demikian akan segera selesai. Untara tidak akan lagi diganggu oleh kemungkinan yang mencemaskannya. Kemungkinan-kemungkinan yang dapat meretakkan hubungan antara anak-anak muda Jati Anom sendiri.

Untara yang dapat merasakan, betapa pahitnya perasaan Wuranta sejenak menjadi terdiam. Ia melihat betapa sakitnya hati Wuranta, tetapi ia merasakan juga, bahwa sikap Wuranta itu dilambari dengan keikhlasan yang dalam. Wuranta benar-benar telah menyatakan isi hatinya, bukan sekedar untuk memulas diri, basa-basi, atau semacam pameran keluhuran budi. Tetapi Wuranta benar-benar ikhlas menelan kepahitan yang dihadapinya. Setelah nalarnya mampu bekerja dengan bening, maka anak muda itu melihat betapa ia telah dikuasai oleh ketamakan dan kesombongan tiada taranya. Baru berapa hari ia mengenal Sekar Mirah. Ia tidak tahu perasaan apakah yang tersimpan di dalam dada gadis itu terhadap dirinya, maka ia telah merasa berhak untuk beriri-hati terhadap Agung Sedayu yang telah berkenalan jauh lebih lama dengan gadis Sangkal Putung itu, bahkan di antara keduanya telah terjalin hubungan yang betapapun lembutnya.

Namun meskipun demikian, Untara, Senapati Perang dari prajurit Wira Tamtama itu, tiba-tiba merasa terikat oleh keputusannya sendiri. Tiba-tiba ia merasa bahwa pendiriannya itu adalah pendirian yang sebaik-baiknya bagi adiknya.

Karena itu, maka tiba-tiba Untara itu pun berkata, “Aku dapat mengerti Wuranta. Aku berterima kasih kepadamu. Kau telah membantu kami untuk menentukan sikap kami terhadap Agung Sedayu.” Untara itu berhenti sejenak. Namun Ki Tanu Metir terkejut ketika Untara itu meneruskan, “Tetapi aku merasa, bahwa keputusanku adalah jalan yang sebaik-baiknya bagi Agung Sedayu. Bukan saja karena aku ingin melerai pertentangan yang ada di antara kalian, kau dan Agung Sedayu. Meskipun tidak tampak di dalam sikap dan tindak-tanduk, tetapi hanya tersimpan di dalam hati. Namun aku memang menganggap, bahwa sebaiknya Agung Sedayu menghindari rintangan-rintangan yang akan dipasangnya sendiri sepanjang perjalanan hidupnya.”

Ketika Untara berhenti berbicara, terdengar Ki Tanu Metir berdesah. Orang tua itu bergeser setapak maju sambil mengernyitkan alisnya.

“Hem,” orang tua itu menarik nafasnya dalam-dalam sehingga dadanya terangkat.

Untara melihat sikap Ki Tanu Metir dengan dada yang berdebar. Tetapi ia masih saja ingin meyakinkan orang tua itu, bahwa Agung Sedayu masih harus membentuk dan menyusun hari depannya sebaik-baiknya. Kalau pagi-pagi ia sudah tidak dapat melepaskan ikatan pinjung gadis Sangkal Putung itu, maka hari depannya pasti tidak akan dapat diharapkan. Ia tidak akan menjadi orang yang dibicarakan di istana Pajang. Mungkin ia akan dapat menjadi seorang gegedug, seorang yang dipandang pilih tanding suatu daerah, di suatu kademangan atau di suatu daerah tanah perdikan. Tetapi namanya tidak akan sempat disebut-sebut di dalam sidang-sidang agung di istana Pajang, karena tidak seorang pun yang dapat mengenalnya dengan pasti.

“Angger Untara,” berkata Ki Tanu Metir itu kemudian, “aku dapat mengerti perasaan Angger. Aku dapat mengerti kehendak yang sebaik-baiknya yang tersimpan di dalam hati Angger sebagai seorang kakak terhadap adik satu-satunya. Adalah sudah sewajarnya, apabila Angger Untara sebagai seorang saudara tua, seorang pengganti ibu bapa ingin melihat Angger Agung Sedayu menjadi seorang besar, seorang yang terpandang. Bahkan apabila mungkin menjadi seorang yang penting di dalam pemerintahan.

“Angger Untara, aku kagum akan sikapmu itu. Seorang saudara tua yang benar-benar memikirkan nasib saudara satu-satunya, adiknya. Meskipun sikap ini sebenarnya tumbuh dari persoalan yang telah bergeser dari titik tumpuannya.”

Untara mengerutkan keningnya. Ia tahu benar arah pembicaraan Ki Tanu Metir. Ki Tanu Metir ternyata dapat mengerti maksudnya, tetapi orang tua itu tetap pada pendiriannya pula. Bahkan orang tua itu menganggap, bahwa keputusannya itu beralaskan persoalan yang mula-mula tidak seperti yang dinyatakannya sekarang.

“Tetapi,” Ki Tanu Metir meneruskan, “Angger tidak melihat hati Angger Agung Sedayu. Angger memandang dari satu segi, dan Angger tidak mencoba melihat dari celah-celah perasaan Angger Agung Sedayu itu. Meskipun maksud Angger itu baik dan Angger nyatakan dengan jujur, tetapi Angger kurang memberikan kesempatan kepada Angger Agung Sedayu untuk turut serta menentukan dirinya sendiri. Angger Untara dapat memberikan arah kepada Angger Agung Sedayu, tetapi jangan membunuh perkembangannya dengan cara yang keras. Sudah aku katakan, Ngger, akan mencoba membantu Angger Untara. Dan aku pun merasa bertanggung jawab pula atas Angger Agung Sedayu, karena aku adalah gurunya. Baik-buruk, hitam-putih anak muda itu, pertama-tama pasti diukur dengan kemampuan gurunya. Kalau ia gagal, akulah yang paling parah menanggungnya. Aku pasti akan menjadi tempat untuk melemparkan hinaan dan celaan. Akulah yang menanggung malu karenanya. Seorang guru yang tidak mampu membentuk muridnya menjadi seorang yang baik.

“Karena itu, Ngger, percayakan ia kepadaku. Aku akan mengikutinya ke Sangkal Putung. Kemudian membawanya bersama Angger Swandaru untuk meninggalkan kademangan itu. Aku ingin memberi mereka sedikit pengalaman dalam perantauan.”

Jantung Untara serasa menjadi semakin cepat berdentang. Tetapi apa yang dikatakan oleh Ki Tanu Metir itu tidak dapat disangkalnya. Tanggung jawab atas Agung Sedayu memang lebih banyak akan dibebankan kepada gurunya daripada kepada kakaknya.

Karena itu maka Untara itu pun terdiam untuk beberapa saat. Tampaklah ketegangan di wajahnya menjadi semakin memuncak.

“Angger Untara,” terdengar Ki Tanu Metir meneruskan, “mudah-mudahan aku dapat membantu Angger, membuat Angger Agung Sedayu menjadi seorang yang Angger harapkan. Aku akan membentuknya sesuai dengan keadaannya dan mempersiapkannya menjadi seorang yang cukup memiliki bekal untuk menjadi seorang yang namanya akan disebut-sebut di istana Pajang.

“Tentang Angger Sekar Mirah jangan kau hiraukan lagi. Aku mengharap, bahwa Angger Sekar Mirah tidak akan menjadi penghalang, tetapi justru akan menjadi seorang yang dapat mendorong Angger Agung Sedayu untuk meletakkan cita-citanya setinggi bintang di langit.”

Untara masih tetap berdiam diri. Kini di dalam dadanya terjadi pergolakan yang sengit. Ia merasa berat sekali untuk mencabut dan merubah sikapnya, namun ia dapat mengerti dan memahami pendirian Ki Tanu Metir.

Kini sejenak mereka yang berada di pringgitan itu saling berdiam diri. Untara mencoba mencari kemungkinan yang sebaik-baiknya yang dapat dilakukannya.

Akhirnya Senapati muda itu berkata, “Kiai, aku dapat mengerti pendirian Kiai. Tetapi aku juga tidak dapat melepaskan keinginanku, bahwa adikku akan menjadi orang yang mapan di hari depannya. Karena itu Kiai, apabila Kiai merasa, bahwa Kiai dapat membantu aku, menyelamatkan masa depan anak itu, maka aku dapat menyerahkannya kepada Kiai. Tetapi dengan jaminan bahwa Agung Sedayu tidak akan segera terikat dalam suatu ikatan yang dapat menutup kemungkinan-kemungkinan di masa datang.”

“Maksud Angger Untara, agar Angger Agung Sedayu tidak segera kawin sebelum memiliki cukup bekal untuk hidupnya. Begitu?” potong Ki Tanu Metir.

Untara menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia mengangguk, “Ya, begitulah Kiai, dan tidak lagi mengalami kesulitan justru karena hubungannya dengan gadis itu.”

“Sebenarnya, perkawinan bukan suatu batas bagi perkembangan seseorang. Mungkin justru di dalam masa perkawinan itulah, seseorang mendapat dorongan untuk berbuat sesuatu,” sahut Ki Tanu Metir, “tetapi seandainya Angger menghendaki demikian, maka aku akan mengusahakannya. Aku akan membuatnya bersiap menghadapi masa depannya. Seandainya ia kelak menjadi seorang prajurit, biarlah ia menjadi seorang prajurit yang telah masak. Angger Agung Sedayu saat ini memang masih terlampau hijau. Ia masih banyak memerlukan pengalaman untuk mengikuti Angger Untara merayap ke tangga istana Pajang. Khususnya sebagai seorang prajurit Wira Tamtama.”

Sekali lagi Untara terbungkam. Ia tidak menemukan alasan untuk menyangkal pikiran Ki Tanu Metir itu. Karena itu, maka Untara itu pun kemudian berkata, “Baiklah, Kiai. Aku serahkan Agung Sedayu kepada Kiai. Tetapi ingat, aku sebagai kakaknya, pengganti ibu-bapa, ingin agar Agung Sedayu mendapat tempat di dalam lingkungan keprajuritan, di mana ia akan mendapat kesempatan untuk langsung mengabdikan diri kepada negerinya. Aku akan menyesal apabila kelak Agung Sedayu tidak lebih daripada seorang yang hanya dapat menakut-nakuti pencuri-pencuri ayam di padesan yang jauh dari pimpinan pemerintahan.”

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar, bahwa cita-cita Untara melambung tinggi ke awang-awang. Seperti cita-citanya sendiri dalam pengabdiannya terhadap negara dan tanah kelahirannya, ia pun mengharap adiknya akan turut serta di dalam pengabdian itu. Tetapi sebagai manusia, maka Untara tidak luput pula dari pamrih. Ia ingin adiknya menjadi seorang yang namanya disebut-sebut di dalam sidang-sidang di istana, seperti juga namanya sendiri selalu disebut-sebutnya.

“Baiklah, Ngger,” berkata Ki Tanu Metir, “aku akan mencoba membantu perkembangan pribadinya, meskipun sebagian terbesar tergantung pada Angger Agung Sedayu sendiri. Aku akan mencoba menempuh jalan yang paling mudah bagi Angger Agung Sedayu. Kelak apabila datang saatnya, maka aku akan datang kembali membawa Angger Agung Sedayu. Aku akan menyerahkannya kepada Angger Untara. Seterusnya jalan akan lebih lapang bagi Angger Agung Sedayu, apabila ia bersama dengan Angger Untara.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mudah-mudahan, Kiai. Semuanya terserah kepada Kiai.” Kemudian Untara itu berpaling kepada Wuranta, “Terima kasih akan kerelaanmu mengorbankan kepentinganmu sendiri, Wuranta. Kau telah membantu memecahkan persoalan ini.”

Wuranta mengangkat wajahnya. Kemudian ia berkata, “Aku seharusnya minta maaf langsung kepada Agung Sedayu, kepadamu, dan kepada Ki Tanu Metir. Tetapi aku tidak cukup berani untuk berhadapan dengan Agung Sedayu.”

“Kau cukup berjiwa besar, Ngger. Kau telah mengatakannya kepadaku dan Angger Untara. Itu sudah cukup. Aku akan menyampaikannya kepada Agung Sedayu,” sahut Ki Tanu Metir.

Wuranta tidak menjawab. Tetapi kepalanya ditundukkannya.

Dan terdengar Ki Tanu Metir berkata, “Kalau demikian, maka biarlah aku membawa anak-anak Sangkal Putung itu pulang ke rumahnya. Seterusnya aku akan membawa Angger Agung Sedayu dan Angger Swandaru untuk menambah pengalamannya yang masih terlampau sempit. Mungkin ada tempat-tempat yang perlu dikunjungi. Mungkin aku akan dapat memperkenalkannya dengan orang-orang yang namanya pernah tersebar di seluruh daerah Demak lama, dan yang kini seakan-akan mengasingkan dirinya.”

Untara tidak segera menjawab. Tetapi hatinya terasa berdesir juga. Terbayang di pelupuk matanya, adiknya yang masih muda itu akan memulai dengan sesuatu kehidupan yang baru baginya. Kehidupan yang asing sama sekali dari kehidupannya di masa kanak-kanaknya.

Dibayangkannya, di masa kanak-anak Agung Sedayu, hampir tidak pernah terpisah dari ujung selendang ibunya. Ke mana ibunya pergi, Agung Sedayu hampir pasti ikut bersamanya. Kalau sekali-sekali Agung Sedayu pergi juga dengan ayahnya, maka ibunya selalu berpesan bersungguh-sungguh, supaya anak itu nanti kembali dengan selamat kepadanya.

Kini Agung Sedayu yang hampir tidak pernah menjenguk keluar pagar itu, akan pergi dengan gurunya ke tempat yang tidak menentu. Merantau untuk menambah pengalaman dan menggembleng diri.

Untara tersadar ketika ia mendengar Ki Tanu Metir berkata, “Angger Untara, aku kira tidak ada lagi kepentingan kami di sini. Karena itu, maka biarlah kami minta diri. Kami akan pergi ke Sangkal Putung untuk mengembalikan Sekar Mirah, kemudian mencoba membentuk Angger Agung Sedayu dan Angger Swandaru untuk menjadi seorang laki-laki dewasa.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak akan mencegah lagi, Kiai. Aku kali ini mempercayakannya kepada Kiai. Mudah-mudahan Kiai tidak gagal. Umur Agung Sedayu akan selalu merayap, dan tidak akan dapat diulang. Tetapi aku minta, Kiai tidak pergi meninggalkan padepokan ini, sekarang atau besok pagi. Aku ingin, kita bersama-sama yang telah berbuat sesuatu untuk menyelesailan pekerjaan ini, berkumpul bersama-sama untuk mengatakan kegembiraan hati kita dan untuk menyatakan terima-kasih kita kepada Tuhan yang telah memberikan jalan yang lapang kepada kita. Aku ingin kita semuanya sempat melepaskan ketegangan yang selama ini telah menghimpit hati kita, meskipun itu tidak berarti bahwa kita akan kehilangan kewaspadaan.”

“Ah,” sahut Ki Tanu Metir, “aku kira kami tidak perlu turut serta dalam kegembiraan itu. Bagi anak-anak Sangkal Putung itu, kegembiraan yang paling besar kini adalah kembali kepada ayah dan ibunya.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi ia berkata, “Aku tahu, Kiai, tetapi biarlah kegembiraan kita menjadi lengkap. Hari itu tidak akan terlampau lama. Dua tiga hari kita akan menyelenggarakannya di Jati Anom, seperti yang telah aku katakan. Aku sudah mengirimkan beberapa orang untuk menemui Ki Demang di Jati Anom. Sayang, bahwa hari-hari yang kita rencanakan itu tidak dapat dilakukan besok atau lusa. Ki Demang memerlukan persiapan untuk itu, apalagi setelah Jati Anom dikacaukan oleh kehadiran orang-orang dari padepokan ini.

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah Angger Untara benar-benar ingin menahan kami.”

“Tentu, Kiai. Terutama Agung Sedayu. Aku harus melepaskannya dengan beberapa pesan yang mudah-mudahan berguna baginya. Sebab aku telah memberikan perintah lain kepadanya. Akulah yang akan memberitahukan perubahan itu, meskipun sebelumnya Kiai dapat mengatakan kepadanya. Tetapi ia harus mendengar dari mulutku, bahwa perubahan itu hanyalah sekedar perubahan cara yang harus ditempuhnya. Bukan masalahnya ia harus tetap menyadari betapa pentingnya membina hari depannya.”

Sekali lagi Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Untara masih harus tetap menjaga kewibawaan dirinya di hadapan adiknya itu. Dan Ki Tanu Metir tidak akan dapat menyalahkannya. Maka jawabnya, “Kalau demikian, baiklah, Ngger. Aku akan memberikan beberapa penjelasan pendahuluan. Biarlah Angger Agung Sedayu datang sendiri kepada Angger Untara.”

“Baiklah, Kiai.”

“Kalau begitu, aku segera minta diri, Ngger. Aku akan kembali ke pondok, supaya aku tidak terlambat memberikan penerangan kepada adik Angger itu.”

Untara mengerutkan keningnya, “Kenapakah Agung Sedayu itu, Kiai?”

“Syarafnya menjadi tegang, hampir tidak dapat dikuasainya. Semalam ia tidak tidur sama sekali, dan hampir-hampir saja aku tidak dapat melihatnya lagi di padepokan ini.”

“Apa yang akan dilakukan?” tiba-tiba wajah Untara-lah yang menjadi tegang.

“Kalau aku tidak segera datang dan mendengar apa yang mereka bicarakan serta mencegahnya, maka semalam Angger Agung Sedayu telah membawa Angger Swandaru dan Angger Sekar Mirah ke Sangkal Putung.”

“Kenapa begitu?”

“Hal-hal serupa itulah yang harus Angger ketahui. Perasaannya tidak dapat menerima tekanan dari luar, tetapi ia tidak berani untuk berterus terang melawannya. Ia tidak berani menolak perintah Angger Untara, tetapi ia tidak dapat melakukan perintah itu. Maka diambilnya jalan ketiga yang mungkin akan dapat menjerumuskannya ke dalam bencana. Kalau mereka bertiga benar-benar meninggalkan padepokan ini, dan di ujung lereng tikungan di luar padepokan ini mereka bertemu dengan Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya, seandainya mereka masih berkeliaran di sini, maka mereka pasti akan menjadi endeg amun-amun.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Dadanya menjadi berdebar-debar. Soal semacam ini baginya adalah soal yang baru. Hal yang demikian tidak pernah terjadi di kalangan keprajuritan. Tetapi Agung Sedayu hampir melakukannya.

“Jadikanlah hal ini suatu pengalaman,” berkata Ki Tanu Metir.

Betapa beratnya, namun akhirnya Untara menganggukkan kepalanya, “Ya, Kiai. Untunglah bahwa hal itu belum terjadi.”

Dalam pada itu, dengan nada yang dalam Wuranta berdesis, “Seandainya hal itu terjadi, dan seandainya mereka menemui bahaya di perjalanan, maka aku adalah salah satu penyebabnya. Dan aku pun pasti akan menyesal sepanjang hidupku.”

“Tetapi semuanya itu belum terjadi, Ngger. Semuanya masih belum terlambat.”

Wuranta tidak menyahut. Tetapi bintik-bintik keringat di keningnya masih menitik satu-satu. Sekali ia mengusap wajah yang basah dengan telapak tangannya. Namun wajah itu tidak juga menjadi kering.

“Sekarang,” berkata Ki Tanu Metir, “kabut yang menyelimuti Angger sekalian telah tersingkap. Mudah-mudahan hari-hari berikutnya menjadi cerah.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan-lahan, “Mudah-mudahan. Mudah-mudahan semuanya dapat terjadi seperti yang kita inginkan.”

“Tetapi kita tidak boleh menentukan, bahwa keinginan kita pasti akan terjadi, Ngger. Kita hanya dapat berusaha sejauh-jauh mungkin. Namun akhirnya semuanya terserah kepada Yang Maha Besar. Meskipun demikian, kita tidak dapat menunggu saja, dan keinginan kita itu akan terpenuhi dengan sendirinya. Kita harus memohon. Dan kesungguhan dari permohonan kita itu harus tercermin dari kesungguhan usaha kita. Kalau kita tidak bersungguh-sungguh berusaha, maka permohonan kita itu pun tidak bersungguh-sungguh pula, sehingga wajarlah bahwa hal itu tidak terjadi.”

“Aku mengerti, Kiai,” desis Untara.

“Tetapi kita harus percaya, bahwa usaha yang baik pasti akan dilindungi. Kepercayaan itulah yang terungkap sebagai kepercayaan kepada diri sendiri. Percaya kepada kesungguhan diri sendiri dan percaya bahwa kesungguhan itu adalah kesungguhan dari permohonan kita, yang pasti akan didengar oleh Yang Maha Kuasa.”

Untara mengangguk-angguk dan Wuranta pun mengangguk-anggukkan kepalanya pula.

Ketika Ki Tanu Metir berhenti berbicara, maka sekali lagi pringgitan itu menjadi sepi. Seolah-olah mereka sedang merenungkan kata-kata Ki Tanu-Metir itu.

Mereka terkejut ketika mereka melihat pintu pringgitan itu bergerak. Sebuah kepala tersembul dari luar dan dengan hati-hati orang itu bertanya, “Apakah aku boleh masuk masuk?”

“Untuk apa?” bertanya Untara.

“Makan telah tersedia.”

“Oh,” Untara menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Seolah-olah segenap ketegangan yang menyumbat dadanya selama ini telah dilepaskannya.

“Bawalah masuk,” katanya kemudian, “kita bertiga di sini.”

“Baik,” sahut orang itu.

Sejenak kemudian, orang itu pun hilang di balik pintu. Tetapi segera muncul kembali sambil menjinjing tiga bungkus nasi.

“Letakkanlah di situ,” berkata Untara.

Orang itu pun segera meletakkan ketiga bungkus nasi itu di atas gledeg bambu. Kemudian ia pun segera meninggalkan ruangan itu.

“Marilah, Kiai. Makan telah tersedia. Makanan medan perang nasi tanpa lauk pauk.”

Ki Tanu Metir tertawa. Katanya, “Di medan perang kita masih dapat mengharap rangsum makanan, Ngger. Tetapi di perantauan, kita harus mencarinya sendiri. Bukankah begitu?”

Untara pun tersenyum pula. “Ya, Kiai,” jawabnya. Kemudian kepada Wuranta ia berkata, “Marilah, Wuranta.”

Sejenak kemudian, maka ketiganya pun telah membuka bungkusan masing-masing. Nasi putih dengan sejumput serundeng yang terlalu kering. Sepotong kecil daging lembu dan sambal lombok merah.

“Alangkah nikmatnya,” desis Ki Tanu Metir, “semalam aku sama sekali tidak tidur. Karena itu, maka aku kini merasa sangat penat dan lapar. Nasi hangat ini benar-benar telah menghangatkan tubuhku.”

Untara tidak menyahut. Tetapi ia tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Ketika mereka telah selesai makan dan minum, maka Ki Tanu Metir pun segera minta diri. Katanya, “Ah, aku terlampau lama di sini. Aku telah minta diri untuk yang kesekian kalinya. Untunglah, bahwa aku tidak segera pergi. Jika demikian, maka aku tidak akan mendapat bagian nasi serundeng. Apalagi apabila nanti sampai di pondokan Angger Agung Sedayu, rangsum telah habis, dihabiskan oleh Angger Swandaru. Maka aku pun akan menjadi kelaparan. Sekarang, setelah aku kenyang, aku akan benar-benar minta diri, Ngger.”

“Silahkan, Kiai,” jawab Untara, “tetapi harapanku kali ini tergantung pada kebijaksanaan Kiai.”

“Ya, ya aku mengerti,” desis orang tua itu, “aku harus segera sampai kepada Angger Agung Sedayu. Aku takut kalau jantungnya menjadi terlampau tegang dan justru akan berhenti berdetak, atau karena hatinya terlampau gelap, ia telah melakukan rencananya semalam, pergi dari padepokan ini.”

“Silahkan, Kiai,” sahut Untara sambil mengerutkan keningnya.

Setelah minta diri pula kepada Wuranta, maka kali ini Ki Tanu Metir itu pun berdiri dan melangkah perlahan-lahan meninggalkan pringgitan, diantar oleh Untara dan Wuranta sampai ke muka pintu.

Ketika orang tua itu telah turun dari pendapa, maka terdengar Wuranta berdesis, “Aku menjadi malu sekali, Untara.”

“Tak seorang pun yang tahu. Kami yang mengetahui persoalanmu, aku dan Ki Tanu Metir, dapat memahami perasaanmu. Dan kami mengagumi kebesaran jiwamu.”

“Itu terlampau berlebih-lebihan.”

“Jangan kau pikirkan lagi. Semuanya telah selesai.”

“Kalau kau tetap pada pendirianmu untuk melarang Agung Sedayu mengantar Sekar Mirah ke Sangkal Putung, maka hatiku akan menjadi terlampau parah. Aku adalah sebab dari persoalan ini, meskipun kau menyebut alasan-alasan yang lain, tetapi sikapku yang gila selama ini adalah sebab yang terbesar dari keputusanmu.”

“Lupakan. Semuanya sudah selesai.”

“Aku akan mencoba melupakannya, Untara.”

Sesaat Untara tidak menyahut. Dipandangnya langkah Ki Tanu Metir yang ringan di halaman banjar padepokan. Sejenak orang tua itu berhenti di gardu peronda.

Untara tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Ki Tanu Metir dengan para penjaga di gardu itu, tetapi ia melihat Ki Tanu Metir itu tertawa.

“Sebenarnya orang tua itu adalah seorang periang,” berkata Untara di dalam hatinya.

Tanpa sesadarnya, ingatannya merayap kembali kepada masa yang telah dilampauinya. Pada saat-saat ia terluka dan bersembunyi di rumah dukun dari Pakuwon itu. Melihat sepintas, seseorang tidak akan menyangka, bahwa dukun dari Dukuh Pakuwon itu adalah seorang yang mampu mengimbangi kedahsyatan nama Ki Tambak Wedi, dan bahkan tidak akan berada di bawah tingkatan Ki Gede Pemanahan, seorang Panglima Wira Tamtama.

“Aneh,” pikir Untara, “orang ini seolah-olah sama sekali tidak mempunyai pamrih apapun dengan keadaan di sekitarnya. Ia berbuat seperti yang dikehendakinya. Kalau ia bersedia menghubungkan dirinya dengan kepentingan-kepentingan duniawi, maka ia tidak akan jauh dari kemungkinan-kemungkinan yang dapat dibanggakan. Baik di dalam kedudukan maupun di dalam olah kanuragan.”

Dan keheranan itu semakin lama semakin dalam tergores di dinding hatinya. Untara itu mengenal nama-nama seperti Adiwijaya, Ki Gede Pemanahan, Ki Penjawi, Ki Juru Mertani, Ki Mancanegara, Ki Wuragil, Arya Penangsang, Mantahun, Sumangkar, Ki Tambak Wedi dan yang lain-lain. Semuanya ada di dalam dunianya masing-masing. Semuanya memiliki pamrihnya sendiri-sendiri. Meskipun Ki Tambak Wedi tidak berada di dalam lingkungan istana mana pun, Demak, Pajang, atau Jipang. Juga tidak Cerbon dan Banten, namun ia justru terlampau dikuasai oleh pamrihnya sendiri.

“Mas Karebet itu pun didorong oleh pamrih-pamrih duniawi tertentu,” berkata Untara pula di dalam hatinya, “terutama setelah Demak menjadi kosong. Ditambah lagi dengan dua gadis yang dijanjikan oleh Kangjeng Ratu Kalinyamat.”

Tetapi orang ini benar-benar aneh. Ia tinggal di padukuhan yang kecil sebagai seorang dukun. Tidak lebih daripada itu.

Untara menarik nafas dalam-dalam.

Ia tersadar, ketika ia sudah tidak melihat lagi Ki Tanu Metir di halaman itu. Ternyata orang tua itu telah meninggalkan gardu.

Ketika Untara itu berpaling, ia masih melihat Wuranta berdiri di sampingnya.

“Oh,” Untara berdesis, “Marilah, duduklah.”

Wuranta tidak menjawab, tetapi diikutinya Untara melangkah kembali ke bentangan tikar pandan di pringgitan itu.

Sementara itu, Ki Tanu Metir berjalan tergesa-gesa ke pondok Agung Sedayu. Ia mencemaskan anak muda itu. Seandainya Agung Sedayu benar-benar tidak dapat menguasai perasaannya, maka ia akan dapat berbuat hal-hal yang tidak terduga-duga. Mungkin ia akan benar-benar membawa Swandaru dan Sekar Mirah segera pergi ke Sangkal Putung.

Tetapi orang tua itu menarik nafas dalam-dalam ketika ternyata Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah masih ditemuinya di pondoknya, meskipun agaknya Agung Sedayu sudah hampir tidak sabar lagi menantinya.

Belum lagi Ki Tanu Metir masuk ke dalam rumah, maka Agung Sedayu sudah menyongsongnya sambil bertanya, “Bagaimana, Guru. Apakah aku harus menjalani keputusan Kakang Untara itu?”

“Apakah aku tidak kau persilahkan masuk?” bertanya Ki Tanu Metir.

“Oh,” Agung Sedayu menarik nafas. Tetapi ia benar-benar sudah tidak dapat menunggu lagi keterangan dari gurunya itu tertunda-tunda. Dengan tergesa-gesa ia berkata, “Marilah, Kiai. Silahkan duduk. Tetapi bagaimana dengan Kakang Untara?”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya wajah Agung Sedayu yang pucat, wajah-wajah Swandaru dan Sekar Mirah yang gelisah dan bingung.

Tiba-tiba orang tua itu berkata sareh, “Bukankah kalian telah dirisaukan oleh hati kalian sendiri?”

Hampir bersamaan ketiganya menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi Sekar Marah menyahut pertanyaan itu, “Ya, Kiai, kami memang sedang dirisaukan oleh hati kami sendiri.”

“Nah, kalau demikian, tenangkanlah hati kalian. Tidak ada alasan apa pun bagi kalian untuk menjadi risau.”

Sejenak Swandaru dan Agung Sedayu saling berpandangan. Mereka sama sekali tidak menemukan kesan yang mencemaskan di wajah orang tua itu. Bahkan sejenak kemudian orang tua itu bertanya. “Apakah kalian telah mendapat rangsum?”

Agung Sedayu menggigit bibirnya. Pertanyaan itu sama sekali tidak diharapkannya. Tetapi ia menyahut, “Sudah, Kiai. Baru saja. Kami masih belum sempat memakannya.”

“Makanlah.”

“Kami belum lapar, Kiai,” jawab Agung Sedayu.

“Tetapi mungkin Angger Swandaru dan Sekar Mirah menjadi lapar.”

Keduanya bersama-sama menggelengkan kepala mereka, “Belum, Kiai.”

“Kalau begitu akulah yang lapar. Di banjar aku sudah mendapat makan, tetapi hanya satu bungkus. Berapa bungkus kalian mendapat rangsum?”

Sekali lagi Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mulutnya terpaksa juga menjawab, “Empat, Kiai. Kami minta satu untuk Kiai.”

“Bagus. Marilah kita makan. Kita merayakan akhir dari keadaan yang selama ini telah membuat kalian menjadi bingung. Kita akan sampai pada suatu keadaan yang baru. Suatu kehidupan yang lain dari yang pernah kalian tempuh selama ini.”

BAB III. MELINTAS HUTAN MENTAOK

AWAN YANG PUTIH kemerah-merahan mengapung di langit. Matahari yang telah perlahan-lahan turun ke punggung Gunung Merapi. Sinarnya semakin lama menjadi semakin pudar. Burung-burung seriti terbang bergumpal-gumpal mengitari sebatang pohon beringin. Ratusan, bahkan ribuan, sehingga seolah-olah mendung yang gelap mengambang di langit.

Lamat-lamat terdengar kentongan di gardu, di pintu gerbang padepokan Tambak Wedi, memecah keheningan senja. Suaranya mengumandang memenuhi lereng Gunung Merapi. Bertalu-talu seperti dibunyikan berulang kali.

Seorang prajurit muda yang berdiri di depan gardu di samping regol padepokan itu berbisik kepada kawannya, “Besok kita turun ke Jati Anom.”

“Ya,” sahut kawannya yang masih muda pula, “suasana yang tegang selama ini akan berakhir. Kita akan terlepas dari cara hidup yang keras dan kasar ini.”

“Di Jati Anom akan diselenggarakan sekedar keramaian untuk menyatakan kegembiraan hati atas kemenangan kita. Dengan hancurnya Tambak Wedi, maka seolah-olah di bagian Selatan ini telah tidak ada lagi gangguan apa pun bagi Pajang.”

Tiba-tiba kawannya mengerutkan keningnya. Katanya, “Tetapi kita akan segera ditarik dan dikirim ke pesisir Utara. Kita harus berkelahi lagi melawan orang-orang pesisir.”

Kawannya menggelengkan kepalanya, “Tidak. Peperangan di pesisir pun sudah semakin tipis. Tidak banyak lagi perlawanan yang harus dihadapi oleh Pajang. Setidak-tidaknya kita akan mendapatkan beberapa hari libur, pulang ke rumah dan berada di lingkungan keluarga. Anak dan isteri, meskipun kita kelak harus bertempur lagi.”

“Pekerjaan kita memang berkelahi,” sahut prajurit muda yang pertama. “Kita adalah orang-orang yang dibentuk untuk berkelahi.”

“Ya, kita memang telah menyatakan diri kita sebagai seorang prajurit. Pekerjaan prajurit adalah bertempur. Meskipun demikian kita adalah manusia, yang suatu ketika ingin hidup seperti kebiasaan hidup manusia. Berkeluarga, bercakap-cakap dengan isteri dan bermain-main dengan anak-anak.”

Tiba-tiba keduanya terperanjat ketika di belakang mereka terdengar suara, “Siapa yang berkata bahwa prajurit itu pekerjaannya berkelahi dan bertempur?”

“Oh, Ki Lurah,” desis kedua prajurit itu hampir bersamaan. Ternyata di belakang mereka berdiri seorang lurah Wira Tamtama.

“Habis, apakah yang harus kita lakukan, Ki Lurah?” bertanya salah seorang dari kedua prajurit itu.

Lurah Wira Tamtama itu tersenyum. Namun ia bertanya pula, “Apabila peperangan ini telah selesai, sisa-sisa orang-orang yang berkeras kepala, bekas pengikut Arya Penangsang telah habis dan tidak ada lagi pertentangan di seluruh wilayah Pajang, lalu kita para prajurit harus mencari persoalan baru supaya kita tidak menjadi seorang penganggur?”

“Ah,” desah salah seorang prajurit muda itu.

“Coba katakan,” bertanya lurah Wira Tamtama itu, “apa yang harus kita kerjakan?”

Kedua prajurit itu saling berpandangan. Kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Bukankah jumlah prajurit akan berangsur-angsur dikurangi, dan kita akan kehilangan pekerjaan kita?”

Lurah Wira Tamtama itu tersenyum, “Dan kau akan menjadi sakit hati karenanya?”

Kedua prajurit muda itu terdiam. Sekali lagi mereka saling berpandangan.

“Coba katakan, apakah niatmu ketika kau pertama kali memasuki lapangan ini.”

Keduanya tidak segera menjawab.

“Apakah kalian hanya sekedar ingin mendapat lapangan pekerjaan supaya kalian tidak menjadi penganggur? Hanya itu?”

Kini keduanya menggeleng, “Tidak, Ki Lurah. Aku memasuki lapangan ini oleh suatu dorongan yang kuat.”

“Katakanlah sifat dorongan itu. Supaya kau tidak mati kelaparan? Atau supaya kau menjadi seorang yang ditakuti oleh tetangga-tetanggamu karena kau membawa senjata di lambung? Atau supaya kau mudah untuk mendapatkan yang kau ingini? Karena kau prajurit, maka kau melamar gadis tetanggamu. Apabila gadis itu menolak segera kau mengancamnya, bahwa sekelompok kawan-kawanmu akan datang dan menangkap orang tua gadis itu. Begitu? Atau kepentingan lain, supaya kau dapat mengambil kambing, kerbau atau apa saja kepunyaan tetanggamu yang kau ingini karena kau prajurit?”

“Tentu tidak, Ki Lurah. Tentu tidak. Aku bukan seorang yang gila seperti itu. Seandainya ada seorang prajurit yang hanya didorong oleh nafsunya yang demikian, maka ia telah menodai Wira Tamtama.”

“Bagus,” potong lurah Wira Tamtama. “Lalu dorongan apa yang telah memaksamu masuk ke dalam lingkungan keprajuritan.”

Kedua prajurit itu mengerutkan keningnya, “Aku tidak tahu Ki. Tetapi keinginanku menjadi seorang prajurit demikian besarnya. Aku ingin karena aku melihat prajurit-prajurit yang lebih dahulu daripadaku. Mereka telah banyak sekali berbuat sesuatu untuk kepentingan orang banyak.”

Lurah Wira Tamtama itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “Bagus. Bagus. Kau hanya tidak pandai mengatakan. Dorongan yang demikian itu lahir karena sifat-sifat ksatria yang ada di dalam dirimu. Kau ingin mengabdikan diri untuk kepentingan lingkunganmu, untuk kepentingan negara dan tanah tumpah darah. Ingat, menjadi seorang prajurit adalah menyerahkan diri dalam pengabdian. Ini adalah landasan pertama yang harus ada di dalam dada setiap prajurit.”

Kedua prajurit yang mendengarkan kata-kata lurah Wira Tamtama itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang mereka pun merasakan arti dari kata-kata itu, tetapi mereka tidak pandai untuk mengatakannya.

“Nah,” lurah Wira Tamtama itu meneruskan, “bukankah dengan demikian tugas seorang prajurit tidak hanya berkelahi, bertempur dan berperang? Tidak setiap kali mencari persoalan supaya ada kerja yang dilakukannya?”

Kedua prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Banyak sekali yang harus dilakukan,” sambung lurah itu pula, “Apabila terjadi kerusuhan, kejahatan dan sebagainya, maka prajurit pun harus berbuat untuk melindungi rakyat yang lemah. Tetapi itu pun masih dapat disebut berkelahi atau bertempur. Yang lain misalnya, apabila ada bencana. Bencana alam atau bencana apa pun, maka pengabdian prajurit harus ditunjukkannya juga. Masa-masa yang sulit. Kekeringan air atau malahan banjir.”

“Ya,” kedua prajurit itu masih mengangguk-anggukkan kepalanya.”

“Itu adalah kewajiban-kewajiban lahiriah yang tampak oleh mata kita,” berkata lurah Wira Tamtama itu pula. “Yang lebih penting dari itu adalah menanamkan keyakinan, bahwa prajurit adalah pengabdian. Maka semua tindak-tanduk bahkan angan-angannya pun akan selalu berlandaskan pada keyakinan itu. Pengabdian. Bukan sebaliknya dari itu.”

“Ya, ya, Ki Lurah,” berkata salah seorang prajurit itu, “sekarang aku tahu bagaimana mengatakannya. Tetapi demikian itulah yang membersit di dalam dadaku sebelum aku memasuki prajurit.”

“Sebelum memasuki dunia keprajuritan? Lalu, sesudah itu, maka keyakinanmu justru berubah?”

“Tidak, tidak. Bukan maksudku. Aku pun masih tetap memegang keyakinan itu.”

“Bagus,” lurah Wira Tamtama itu berdesis. “Aku percaya kepada kalian. Nah, sebenarnya, bahwa besok kalian akan turun ke Jati Anom. Tetapi tidak seluruhnya. Sebagian dari kalian masih harus tetap berjaga-jaga di padepokan ini. Meskipun kemenangan kalian dapat disebut mutlak, tetapi otak dari padepokan ini ternyata dapat melepaskan diri.”

Kedua prajurit itu menarik nafas dalam-dalam, “Siapakah yang akan tinggal di sini?”

“Sepertiga dari seluruh pasukan akan tinggal di sini.”

Kedua prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kalian akan menerima perintah nanti malam. Siapakah yang besok akan turun ke Jati Anom dan siapa yang tinggal. Tidak banyak bedanya. Yang tinggal di sini pun pasti akan mendapat bagian dari keramaian yang akan diselenggarakan di Jati Anom. Kalau tidak salah, maka ada lima ekor lembu yang tersedia buat kalian di sini.”

Kedua prajurit itu tidak menjawab. Tetapi kepala mereka terangguk-angguk kecil.

Dan lurah prajurit itu berkata pula, “Sepertiga dari kalian akan tinggal di sini, sepertiga di Jati Anom dan sepertiga dari kalian diperkenankan untuk pulang ke rumah masing-masing untuk waktu-waktu tertentu. Demikian bergiliran, sehingga kalian pasti akan segera mendapat giliran pula. Perintah yang serupa akan diberikan juga kepada pasukan di Sangkal Putung. Sepertiga dari mereka akan bergiliran, kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat.”

Kedua prajurit itu masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, lakukanlah tugasmu baik-baik,” berkata lurah Wira Tamtama itu kemudian, “meskipun seolah-olah kalian sudah tidak berhadapan dengan bahaya, tetapi jangan lengah. Kalau datang waktunya kalian bertugas di regol padepokan ini, maka tugas itu harus kalian lakukan dengan baik. Suatu saat, kalian masih akan mendapat tugas yang cukup berat. Membawa para tawanan ke Pajang.”

“Ya, Ki Lurah,” jawab kedua prajurit itu hampir bersamaan.

Lurah Wira Tamtama itu pun segera meninggalkan gardu itu. Perlahan-lahan ia berjalan menyusur jalan padepokan untuk melihat gardu-gardu yang lain.

Perlahan-lahan pula, maka malam pun turun menyelubungi lereng gunung Merapi. Cahaya kemerah-merahan di puncak gunung itu pun semakin lama menjadi semakin pudar. Asapnya yang putih kemerahan mengepul seolah-olah ingin menggapai bintang yang mulai bermunculan satu demi satu.

Beberapa buah obor mulai dipasang di gardu-gardu, di perapatan dan di jalan-jalan padepokan yang masih dianggap belum aman sama sekali.

Dan malam pun menjadi semakin malam. Sehelai-sehelai kabut yang tipis mengalir menyentuh padepokan yang seakan-akan sedang lelap dalam tidur yang nyenyak.

Padepokan itu terbangun, ketika ayam jantan mulai berkokok bersahut-sahutan. Dari ujung ke ujung terdengar betapa riuhnya, menyongsong warna fajar yang membayang di ujung Timur.

Ketika fajar kemudian menjadi semakin terang, dan semua prajurit telah menunaikan kewajiban masing-masing, maka mereka pun segera bersiap-siap untuk turun ke Jati Anom. Sepertiga dari mereka masih harus tinggal di padepokan itu, menjaga orang-orang Jipang dan Tambak Wedi yang terpaksa diperlakukan sebagai tawanan. Beberapa orang perwira akan tinggal pula di padepokan itu, untuk menjaga setiap kemungkinan, seandainya Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya datang kembali.

“Perintah segera akan disebarkan,” berkata Untara kepada para perwira itu. “Beberapa orang prajurit akan segara pergi ke Sangkal Putung, sebagian akan pergi ke Prambanan dan Pangrantunan. Para prajurit di Prambanan harus mengawasi setiap gerakan yang mencurigakan. Apalagi apabila mereka melihat gerakan yang datang dari seberang hutan Mentaok. Dari Mentaok misalnya, apabila dendam Sidanti benar-benar tidak terkendali.”

Para perwira itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka menyadari bahaya yang dapat timbul apabila Sidanti benar-benar datang membawa pasukan dari seberang Hutan Mentaok. Tetapi kekuatan itu pasti sudah tidak akan sedahsyat apabila mereka bergabung dengan kekuatan sisa-sisa orang Jipang dan orang-orang Tambak Wedi.

“Untunglah, bahwa kekuatan-kekuatan yang dapat membantunya di sini sudah tidak ada lagi,” desis salah seorang perwira.

“Ya,” sahut Untara, “aku mempunyai perhitungan, bahwa Sidanti tidak akan berani datang membawa pasukannya apabila perhitungannya masih jernih. Tetapi apabila Sidanti dan Ki Tambak Wedi itu sudah menjadi mata gelap, serta mereka berhasil menghasut Argapati, maka kemungkinan itu akan dapat terjadi.”

“Ya,” para perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tetapi apakah dengan demikian tidak berarti suatu pemberontakan yang terang-terangan melawan Pajang, yang akibatnya akan dapat membuat Tanah Perdikan Menoreh itu menjadi parah?”

“Pemberontakan itu memang sudah dimulai dari Tambak Wedi ini,” sahut Untara. “Tetapi meskipun demikian, aku tidak yakin, bahwa Argapati memiliki sifat-sifat seperti Tambak Wedi. Aku kira Argapati telah salah memilih guru buat puteranya, yang sebenarnya memiliki bekal yang kuat di dalam dirinya.”

“Mungkin,” sahut salah seorang perwira, “tetapi menilik sikap Argajaya, maka Argapati pasti setidak-tidaknya memiliki sifat serupa.”

“Mudah-mudahan tidak. Argapati bukan keturunan seorang pemberontak. Ia seorang yang baik, yang berjasa bagi Demak.”

Para perwira itu terdiam. Dan Untara meneruskan, “Tetapi semua kemungkinan dapat terjadi. Kewajiban kita adalah siaga menghadapi setiap kemungkinan, tanpa melepaskan kewaspadaan sama sekali.”

Sekali lagi para perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sejenak kemudian, maka sampailah saatnya pasukan Pajang yang berada di padepokan itu sebagian turun ke Jati Anom. Untara sendiri memimpin langsung pasukannya. Di antara pasukan yang turun ke Jati Anom itu, terdapat beberapa orang yang bukan prajurit-prajurit Wira Tamtama. Di bagian depan, di sisi Untara sendiri berjalan Wuranta. Langkahnya yang lemah, serta kepalanya yang menunduk, membayangkan perasaannya yang belum tenang benar. Sekali-sekali ia menengadahkan wajahnya dan melihat batu-batu yang berserakan di sebelah-menyebelah jalan yang dilaluinya, namun kepala itu kemudian tunduk lagi.

“Kita pulang ke kampung halaman,” desis Untara ya berjalan di sampingnya.

Wuranta berpaling, Jawabnya, “Sesudah mengalami masa yang menggoncangkan hati.”

Untara tersenyum. Katanya, “Pengalaman yang tidak akan dapat dilupakan. Tetapi pengalaman adalah pelajaran yang baik buat seseorang. Ia akan dapat menggurui kita di saat-saat mendatang, supaya kita menjadi lebih berhati-hati dan lebih cermat memperhitungkan keadaan dengan nalar.”

Wuranta tidak menjawab. Dianggukkannya kepalanya perlahan. Tetapi kemudian ia bertanya, “Kau tidak berkuda?”

Untara menggeleng, “Tidak.”

“Apakah sebagian dari kuda-kuda yang dibawa oleh para prajurit itu akan ditinggalkan di padepokan Tambak Wedi.”

“Ya, hanya sebagian saja yang aku bawa kembali ke Jati Anom. Di sini kuda-kuda itu diperlukan. Apabila terjadi sesuatu, maka beberapa orang harus dengan cepat menyampaikan kabar itu ke Jati Anom.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia sudah tidak bertanya lagi. Ketika ia memandang ke kejauhan, maka dilihatnya sebuah dataran yang lepas menghijau jauh di bawah kakinya. Hutan yang tidak terlampau lebat, kemudian tanah yang coklat kehijauan. Jati Anom.

Pasukan itu pun menjalar menurut jalan kecil yang berkelok-kelok di sepanjang lereng Gunung Merapi, seperti seekor ular raksasa yang turun dari puncak gunung yang sedang terbakar.

Dan ujung Gunung Merapi itu pun sebenarnya sedang memerah seperti bara. Sinar matahari pagi telah mewarnai puncak Merapi itu dengan warna darah.

Di belakang pasukan yang meluncur lambat, berjalan Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah. Beberapa langkah di belakang mereka adalah Ki Tanu Metir. Mereka seolah-olah terpisah dari pasukan Wira Tamtama yang berjalan dalam barisan di hadapan mereka. Meskipun di lambung kedua anak-anak muda itu tergantung juga pedang, tetapi keduanya langsung dapat dibedakan dari para prajurit Wira Tamtama itu.

“Aku sebenarnya segera ingin pulang ke Sangkal Putung, Kakang,” berkata Sekar Mirah kepada Swandaru.

“Aku juga, Mirah. Sebenarnya aku gembira mendengar Kakang Agung Sedayu mengajak kita segera meninggalkan padepokan ini apa pun alasannya. Tetapi ternyata kita masih harus merayap di belakang barisan ini.”

“Dan kita masih harus menunggu keramaian di Jati Anom berakhir. Apakah sebenarnya yang akan diadakan di dalam keramaian itu? Makan bersama atau wayang beber atau tayub?”

Agung Sedayu menggelengkan kepalanya, “Aku pun tidak tahu. Tetapi maksudnya adalah, sekedar melepaskan ketegangan yang selama ini telah mencengkam hati kita masing-masing.”

“Tetapi aku belum terlepas dari ketegangan itu sebelum aku bertemu dengan ibu dan ayahku,” bantah Sekar Mirah.

“Ya, aku tahu, Mirah. Tetapi ini adalah sekedar sopan-santun untuk menunjukkan terima kasih kita. Maksud Kakang Untara adalah baik. Supaya kita ikut bergembira di dalam keramaian itu. Kegembiraan yang pasti akan berkesan di hati kita, terutama kau, Mirah, setelah kau terlepas dari tangan iblis-iblis itu.”

Sekar Mirah tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah kakaknya yang gemuk. Tetapi Swandaru itu sedang memandangi gerumbul-gerumbul liar di sebelah jalan yang sedang mereka lalui. Bahkan seolah-olah tidak mendengar kata-kata Agung Sedayu.

Tetapi baik Sekar Mirah maupun Swandaru, bertanya di dalam hatinya, “Kenapa Kakang Agung Sedayu kemarin dulu malam menjadi seperti orang bingung dan hampir-hampir membawa kami ke Sangkal Putung?”

Tetapi keduanya tidak mengucapkan pertanyaan itu. Keduanya menyimpannya di dalam hatinya.

Pasukan Pajang itu berjalan semakin lama semakin menurun. Jalan menjadi semakin berkelok-kelok, menyusup di antara batu-batu besar yang menjorok, seolah-olah menghadang di jalan yang akan mereka lalui.

Perjalanan itu berlangsung dengan lancar. Tidak ada sesuatu yang menghalangi mereka, sehingga mereka pada saatnya sampai ke Jati Anom dengan selamat.

Ki Demang Jati Anom menjadi sibuk menerima pasukan Pajang itu. Beberapa anak-anak muda menyambut pasukan itu dengan wajah berseri-seri. Apalagi ketika mereka melihat Untara dan Wuranta. Maka tanpa menghiraukan tata barisan lagi langsung mereka mendapatkan mereka.

“Kalian adalah anak-anak muda Jati Anom yang luar biasa,” berkata mereka sambil mengguncang-guncang lengan Untara dan Wuranta.

Untara sama sekali tidak ingin mengecewakan mereka, sehingga diserahkannya barisan Wira Tamtama Pajang itu kepada perwira bawahannya untuk mengaturnya. Sementara itu, ia melayani kawan-kawannya semasa kanak-anak yang mengerumuninya bersama Wuranta.

Kepada Wuranta, anak-anak muda itu berkata, “Maafkan kami Wuranta. Kami tidak tahu apa yang sedang kau lakukan saat itu. Aku sangka kau terbujuk oleh orang-orang Tambak Wedi. Ternyata kau adalah seorang pahlawan bagi Jati Anom.”

“Ah,” Wuranta berdesah, tetapi ia tidak menjawab.

Salah seorang dari anak muda Jati Anom itu berkata, “Kademangan ini telah dipersiapkan untuk menyambut kalian berdua. Untara dan Wuranta. Kalian berdua adalah anak-anak dari kademangan ini, dan kalian berdualah yang telah berhasil memusnahkan musuh kita itu.”

“Terima kasih,” Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebagai seorang senapati, maka yang dilakukan itu adalah sebagian dari kewajibannya. Tetapi sekali lagi Untara tidak mau mengecewakan kawan-kawannya semasa kecil.

“Marilah, marilah,” ajak anak-anak muda itu, “kami sudah menyediakan jamuan khusus buat kalian berdua di kademangan.”

“Terima kasih,” sahut Untara, “aku akan berada di antara anak buahku.”

“Mereka pun telah mendapat sambutan secukupnya. Tetapi kami, kawan-kawan bermain semasa kanak-kanak ingin menyambutmu secara khusus, sebelum sambutan resmi besok malam diadakan di pendapa kademangan.”

“Terima kasih,” jawab Untara dan Wuranta hampir bersamaan.

“Jangan kecewakan kami.”

Untara akhirnya tidak dapat menolak lagi. Dilingkari oleh anak-anak muda Jati Anom, mereka berdua dibawa langsung ke gandok sebelah Timur kademangan.

Ketika mereka masuk ke dalamnya, maka mereka pun segera tertegun. Ternyata di gandok itu telah tersedia makanan yang berlimpah-limpah. Nasi putih, beberapa buah ingkung ayam, dan lauk pauk beraneka rupa.

“Kami-lah yang memasaknya,” berkata salah seorang anak muda Jati Anom.

“Kau?” bertanya Untara.

“Maksudku, anak-anak muda dan gadis-gadis. Kami masak khusus untuk kalian berdua, sedang perempuan-perempuan yang lain masak untuk para prajurit.”

Dada Untara menjadi berdebar-debar. Sambutan itu tidak disangka-sangkanya. Apalagi Wuranta. Terasa kerongkongannya justru menjadi kering.

“Mungkin masakan ini tidak seenak masakan yang disuguhkan bagi para prajurit. Tetapi aku kira inilah yang paling kami banggakan. Ini adalah ungkapan dari kegembiraan dan terima kasih kami, karena kalian berdua telah membebaskan kami dari ketakutan.”

“Bukan kami berdua. Bukan aku dan Wuranta,” sahut Untara, “tetapi seluruh pasukan yang ada di sini, bahkan seluruh rakyat di Jati Anom.”

“Apa yang telah kami lakukan selain mengungsi?” bertanya salah seorang anak muda itu.

“Kalian telah mengungsi. Kalian tidak bersedia membantu orang-orang Sidanti dan orang-orang Sanakeling, itu adalah bantuan yang besar sekali bagi kami.”

“Ah,” desis salah seorang dari mereka, “pujian itu berlebih-lebihan. Tetapi baiklah, kami senang mendengarnya, Sekarang, marilah. Makanlah. Kalian pasti sedang lapar dan haus.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Wuranta. Katanya, “Kita tidak dapat menolak, Wuranta.”

Sentuhan-sentuhan di dada Wuranta masih terasa mendebarkan jantungnya. Perlahan-lahan ia menganggukkan kepalanya, “Kita tidak dapat menolak.”

Mereka pun kemudian duduk di antara anak-anak muda itu. Terdengar di sana-sini suara mereka tertawa. Sementara itu para prajurit pun telah di tempatkan di tempat yang telah disediakan. Pendapa, gandok yang sebelah, dan beberapa rumah di sekitar kademangan itu.

Tetapi karena kesibukan masing-masing, maka baik Untara maupun perwira yang diserahinya, tidak ingat lagi bahwa di antara mereka terdapat Ki Tanu Metir, Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah.

Sehingga dengan demikian, ketika para prajurit Pajang telah mendapat tempatnya masing-masing, maka Ki Tanu Metir, kedua muridnya, dan Sekar Mirah itu masih berada di halaman kademangan.

Sejenak mereka berdiri termangu-manggu. Prajurit-prajurit Pajang yang berada di halaman itu semakin lama menjadi semakin tipis, karena masing-masing segera pergi ke pondok yang telah disediakan untuk beristirahat.

“Kemanakah kita pergi?” bertanya Sekar Mirah kepada kakaknya.

Swandaru tidak menjawab, tetapi ia berpaling memandangi Agung Sedayu.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam, namun ia pun tidak segera dapat menjawab pertanyaan itu.

Karena Swandaru dan Agung Sedayu tidak menjawab, maka Sekar Mirah berkata pula, “Apakah kita memang tidak masuk hitungan, Kakang?”

“Ah,” Ki Tanu Metir-lah yang menyahut, “jangan berpikir begitu, Ngger. Suasana di kademangan ini masih berada dalam keadaan perang. Sehingga semua perhatian bercurah kepada para prajurit dan kelengkapannya. Tetapi aku yakin, bahwa mereka sama sekali tidak bermaksud apa-apa terhadap kita. Ini adalah suatu kekhilafan yang tidak disengaja saja.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia berdesis, “Dan kita harus berdiri saja di sini menunggu seseorang mempersilahkan kita?”

Ki Tanu Metir tidak segera menjawab. Ditebarkannya pandangan matanya berkeliling. Ia melihat beberapa orang perwira sibuk mengurus para prajurit itu serta beberapa pimpinan kademangan mengatur tempat dan perlengkapannya.

“Marilah kita duduk di gardu itu sebentar. Di sini semakin lama menjadi semakin panas.”

Sekar Mirah menggelengkan kepalanya, “Aku akan tetap berdiri di sini sampai seseorang mempersilahkan aku.”

Series28

AGUNG SEDAYU menarik nafas dalam-dalam. “Jangan Mirah. Kau akan kepanasan. Sebaiknya kita duduk sebentar di gardu itu. Aku dapat mengurus apa yang harus kita lakukan. Aku akan mencari Kakang Untara.”

“Tidak perlu, Kakang. Kita tamu di sini. Kita tidak perlu mencari orang untuk mempersilahkan kita. Kalau kita tetap di sini dan tetap tidak seorang pun yang mempersilahkan kita, maka lebih baik kita kembali hari ini ke Sangkal Putung. Ayahku pun seorang demang seperti pemimpin tertinggi kademangan ini.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya perlahan-lahan dan hati-hati, “Angger Sekar Mirah. Jangan merajuk. Suasana peperangan adalah seperti ini. Kedatangan Angger Agung Sedayu di Sangkal Putung juga disambut denggan perang tanding. Hal-hal serupa ini memang sering terjadi. Dan kitalah yang harus menyesuaikan diri. ”

“Tetapi sama sekali bukan permintaan kita untuk datang minta perlindungan ke Jati Anom. Kehadiran kita di sini sama sekali bukan atas kehendak kita sendiri.”

“Ya, Ngger, Angger benar. Tetapi sebaiknya kita juga dapat Mengerti,” Ki Tanu Metir itu berhenti sejenak. ”Dan bukankah Angger Agung Sedayu di sini sama sekali bukan tamu? Ia adalah salah seorang dari tuan rumah. Angger Agung Sedayu dapat mempersilahkan kita, setidak-tidaknya singgah sebentar di rumahnya.”

“Oh,” Agung Sedayu seolah-olah tersadar dari angan-angannya, “baiklah. Marilah, aku persilahkan Kiai dan adi Swandaru serta Sekar Mirah untuk singgah di rumah.”

Swandaru berdiri saja seperti patung. Hatinya memang dibingungkan oleh keadaan di sekitarnya. Ia dapat mengerti keterangan Ki Tanu Metir, tetapi ia merasa seperti yang dirasakan oleh adiknya.

Sesaat mereka menjadi termangu-mangu. Sekar Mirah sama sekali tidak beringsut dari tempatnya, di samping pagar halaman kademangan, di bawah sebatang pohon nyiur.

“Marilah,” Agung Sedayu mempersilahkan sekali lagi, “rumahku tidak begitu jauh.”

Tak ada jawaban. Sekar Mirah sama sekali tidak berkisar. Bahkan berpaling pun tidak. Sedang Swandaru masih juga berdiri termangu-mangu.

Agung Sedayu kemudian menjadi gelisah. Setiap kali dipandanginya wajah gurunya yang berkerut-merut. Tetapi agaknya Ki Tanu Metir pun belum menemukan sikap yang sebaik-baiknya menghadapi keadaan.

Dalam ketegangan itu tiba-tiba terdengar seseorang menyapa, “He, Agung Sedayu. Kenapa kau berdiri saja di situ?”

Agung Sedayu berpaling. Dilihatnya seorang anak muda berjalan menemuinya.

“Untara berada di gandok Wetan,” berkata anak muda itu.

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku datang bersama tamu-tamu ini.”

Anak muda itu memandangi mereka satu demi satu. Swandaru dan Ki Tanu Metir serasa pernah dilihatnya. Tetapi gadis ini sama sekali belum.

“Kenapa tidak kau persilahkan mereka masuk?” berkata anak muda itu.

“Kalianlah yang harus mempersilahkannya.”

Pemuda itu menjadi ragu-ragu sejenak. Lalu katanya, “Marilah ke gandok Wetan. Di sana akan kalian temui Untara dan anak-anak muda yang lain.”

“Apakah mereka sedang berunding, atau membicarakan hal yang penting?”

“Tidak, kami, anak-anak muda Jati Anom sedang menjamunya sebagai pernyataan terima kasih kami. Marilah.”

Agung Sedayu menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya wajah Sekar Mirah yang menjadi kemerah-merahan karena panas matahari yang serasa membakar halaman itu.

Tetapi Agung Sedayu tidak segera mengajaknya memenuhi pemintaan anak muda Jati Anom yang mempersilahkan mereka. Ia masih ragu-ragu melihat wajah Sekar Mirah yang seakan-akan acuh tidak acuh.

Ki Tanu Metir melihat keragu-raguan itu. Orang tua itu mengangguk-angguk kecil. Di sini ia melihat berbagai perangai anak-anak muda yang berbeda-beda. Yang di antaranya tanpa sengaja telah menyinggung perasaan masing-masing.

Orang tua itu melihat watak Untara sebagai seorang senapati muda. Seakan-akan anak itu memang dilahirkan untuk menjadi seorang senapati yang keras dan mengikat diri dalam kewajibannya. Setiap soal dikaitkannya dengan pendiriannya sebagai seorang senapati.

Adiknya, meskipun perkembangan sifatnya telah membentuk menjadi seorang Agung Sedayu yang sekarang, tetapi ia masih selalu dibayangi oleh keragu-raguan. Anak itu belum dapat meyakini dirinya dalam suatu pendirian. Ia masih selalu memerlukan orang lain untuk memperkuat pendapatnya. Ia masih memerlukan orang lain untuk memperbincangkan setiap pikirannya. Pengaruh kakaknya sebagai seorang anak laki-laki yang jantan.

Sedang muridnya yang lain, Swandaru adalah seorang yang hampir tidak mengacuhkan apa pun kecuali kesenangannya sendiri. Meskipun demikian, anak muda itu kadang-kadang berhasil juga melihat suasana dalam menentukan langkahnya. Namun setiap kali sifat-sifatnya itu lepas juga dalam peledakan-peledakan yang sering terlampau aneh, terlampau berpusar pada kepentingan dan selera sendiri.

Sedang Sekar Mirah adalah seorang gadis yang tinggi hati. Kehidupannya sebagai seorang putri demang yang kaya di daerah yang kaya telah membuatnya terlampau manja. Meskipun gadis itu bukan gadis yang hanya duduk menghias diri, bahkan gadis itu tidak segan-segan pula melakukan pekerjaan-pekerjaan yang cukup berat di rumahnya, tetapi semuanya itu didorong oleh kehendak untuk memimpin gadis-gadis dan perempuan-perempuan di dalam kademangan itu. Ia ingin memberikan contoh yang baik bagi mereka, apakah yang harus mereka lakukan. Namun setiap sentuhan perasaan telah membuatnya merajuk dan murung.

“Hem,” Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Setiap kali ia harus menilai keseimbangan sifat-sifat itu. Setiap kali ia harus melihat dan melengkapi pengamatannya atas anak-anak muda itu. Lebih-lebih Agung Sedayu dan Swandaru. Keduanya adalah murid-muridnya. Atas keduanya ia harus melihat dengan jelas. Sifat, watak, kebiasaan dan kesenangan masing-masing.

“Sekian lama aku berada di antara mereka,” berkata orang tua itu di dalam hatinya, “tetapi aku belum menemukan pribadi-pribadi mereka selengkapnya.”

Dalam pada itu, sekali lagi mereka mendengar anak muda Jati Anom mempersilahkan. “He, Agung Sedayu, kenapa kau justru termenung. Marilah. Ajak tamu-tamumu masuk ke gandok Wetan. Untara dan Wuranta berada di sana pula.”

Sekali lagi Agung Sedayu berpaling memandangi wajah Sekar Mirah. Ia ragu-ragu untuk mengucapkan kata-kata, karena Sekar Mirah masih juga bersikap acuh tak acuh.

Ketika Agung Sedayu memandangi wajah Swandaru, dilihatnya keragu-raguan memancar pula pada sorot matanya. Tetapi anak yang gemuk itu tidak terlampau membingungkannya seperti Sekar Mirah.

“Untara dan Wuranta menunggumu,” berkata anak muda Jati Anom itu pula.

Nama Wuranta telah menggetarkan dada Agung Sedayu. Tetapi ia lebih terpengaruh oleh keadaan Sekar Mirah kini.

Ki Tanu Metir melihat kegelisahan di dalam dada Agung Sedayu kemudian mencoba untuk menolongnya. Katanya, “Marilah Ngger. Kita sudah dipersilahkan. Adalah lebih baik bagi kita untuk menerimanya. Kita adalah tamu-tamu yang baik.”

“Anak muda itu tidak mempersilahkan kita Kiai,” bisik Sekar Mirah, yang berdiri tepat di samping Ki Tanu Metir.

“Kenapa?”

“Ia hanya mengatakan bahwa Untara mencari adiknya. Itu saja. Adalah kebetulan sekali kalau kita berdiri di sini bersama-sama dengan Kakang Agung Sedayu. Adalah sekedar sopan-santun saja ia mempersilahkan kita pula.”

“Tidak, Ngger. Tentu tidak. Angger Untara tahu pasti bahwa kita berada di antara mereka. Kita bersama-sama dengan Angger Agung Sedayu. Mungkin anak muda itu belum mengenal kita. Yang dikenalnya baru nama Agung Sedayu.”

Anak muda Jati Anom itu berdiri saja dengan mulut ternganga. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang dipercakapkan oleh gadis dan orang tua tamu-tamu Agung Sedayu itu. Satu-dua ia mendengar desis gadis itu, tetapi ia tidak jelas mendengar seluruh kalimatnya.

Tanpa prasangka apa pun anak muda itu bertanya, “Bagaimana, Kiai?”

“Oh,” Ki Tanu Metir mengangkat wajahnya yang berkerut–merut, “Tidak apa-apa, Anakmas. Kita akan berterima kasih. Kita akan segera pergi ke gandok Wetan.”

“Terima kasih. Mereka akan bergembira melihat kalian.”

“Marilah, marilah kita ke gandok Wetan,” berkata Ki Tanu Metir itu kemudian sambil melangkahkan kakinya.

“Silahkan, silahkan,” berkata anak muda Jati Anom itu. Tetapi agaknya ia akan pergi ke arah yang lain. Cepat Ki Tanu Metir melangkah ke sampingnya sambil menggandengnya. Katanya, ”Bukankah Angger akan menunjukkan kepada kami, di manakah letak gandok Wetan itu.”

Anak muda Jati Anom itu tidak dapat berbuat lain daripada mengayunkan kakinya ke gandok Wetan. Sementara itu Agung Sedayu yang ragu-ragu, memandangi Sekar Mirah dan Swandaru berganti-ganti. Perlahan-lahan ia berkata, “Marilah Adi Swandaru, marilah Mirah.”

Ternyata Swandaru dapat merasakan kegelisahan dan kebingungan Agung Sedayu. Meskipun sebersit perasaan sesal meloncat pula di dalam hatinya atas perlakuan terhadap mereka, namun ia berkata pula kepada adiknya, “Marilah Mirah. Kita harus menjadi tamu yang baik di kademangan ini. Supaya hubungan antara kademangan ini dan kademangan kita kelak akan bertambah baik.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Dan Swandaru mendesaknya lagi, ”Penilaian orang-orang Jati Anom atas kita adalah penilaian mereka terhadap Sangkal Putung.”

“Karena itu kita harus mempunyai harga diri.”

“Tetapi kita harus mencerminkan keramahan kademangan kita.”

Sekar Mirah tidak dapat menolak lagi. Dengan langkah yang berat ia berjalan di belakang Agung Sedayu, bersama-sama dengan kakaknya. Beberapa langkah di hadapan mereka adalah Ki Tanu Metir yang berjalan bersama anak muda Jati Anom yang mempersilahkan mereka kemudian masuk ke gandok.

Anak-anak muda, Untara dan Wuranta yang berada di gandok itu, ternyata sedang menikmati makanan yang dihidangkan kepada mereka. Sekali-sekali terdengar gelak tertawa mereka. Agaknya mereka sedang benar-benar bergembira. Mereka berkelakar dan bertanya tentang banyak masalah kepada Untara dan Wuranta.

Dalam keadaan yang demikian, Wuranta dapat sejenak melupakan perasaannya sendiri. Ia kini tengah berada di antara kawan-kawannya bermain dan bekerja. Itulah sebabnya, maka ia dapat bercerita dengan lancar. Bahkan kadang-kadang menggelikan, sehingga kawan-kawannya menjadi tertawa tergelak-gelak.

Tetapi suara tertawa itu terputus ketika mereka mendengar langkah ke pintu. Sejenak kemudian mereka melihat seorang anak muda masuk sambil mempersilahkan tamu-tamu mereka.

“Siapa?” bertanya salah seorang yang sudah duduk di dalam.

“Agung Sedayu,” jawab anak muda yang baru masuk itu.

“He,” yang bertanya itu terkejut “Agung Sedayu? Marilah. Marilah. Kita hampir lupa kepadamu. Sedayu, di sini kami sedang mendengarkan cerita Wuranta tentang padepokan Tambak Wedi.”

Agung Sedayu yang kemudian menjulurkan kepalanya mengerutkan keningnya. Diedarkannya pandangan matanya berkeliling, dilihatnya kawan-kkawannya tengah berkumpul di gandok itu bersama kakaknya dan Wuranta.

Namun, tiba-tiba dadanya berdesir. Kini ia melihat Wuranta dengan sudut pandangan yang berbeda. Persoalan antara mereka berdua telah menjauhkan mereka. Seolah-olah masing-masing menjadi segan dan malas untuk saling bertemu. Meskipun ia telah mendengar dari Kiai Gringsing, betapa Wuranta telah menyadari dirinya, tetapi masih juga terasa sesuatu yang berdesir di dalam dadanya.

Agung Sedayu itu terperanjat ketika tiba-tiba seseorang menariknya masuk ke dalam sambil berkata, “Ha, inilah anak itu. Kau telah menggemparkan Jati Anom, Sedayu. Kita mengenal kau sejak anak-anak. Tiba-tiba kita melihat kau kini menjadi seorang raksasa yang perkasa. Bukankah begitu?”

“Ah.”

“Cerita tentang kau telah tersebar. Aku tidak tahu, siapakah sumber cerita itu. Kau kini benar-benar seorang laki-laki melampaui kami.”

Sebelum Agung Sedayu menyahut, terdengar orang berkata, “Ya, kami telah mendengar tentang kau, Sedayu. Kalau begitu maka sambutan kali ini kami tujukan kepadamu juga. Marilah, kenapa baru sekarang kau datang kemari? Untunglah kami masih mempunyai ingkung ayam yang masih utuh. Marilah.”

Tetapi, Agung Sedayu tidak sendiri. Ketika Untara melihatnya, maka dahinya pun berkerut. Baru saat itu ia ingat kepada adiknya.

“Kemana selama ini kau Sedayu?” bertanya Untara.

“Di halaman, Kakang,” jawab Agung Sedayu seadanya.

Untara mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak memperhatikan jawaban itu lagi. Tak ada tempat di dalam hatinya untuk mengerti bahwa seseorang sedang merajuk.

“Masuklah,” katanya kemudian, “di mana yang lain?”

“Inilah, Kakang.”

Untara kemudian terpaksa berdiri dan melangkah ke pintu. Di luar pintu dilihatnya Ki Tanu Metir, Swandaru, dan Sekar Mirah.

“Marilah, Kiai,” katanya mempersilahkan, “marilah, Adi Swandaru dan Sekar Mirah.”

Ketiganya menganggukkan kepala mereka.

“Aku takut kehilangan kau, Ngger,” berkata Ki Tanu Metir sambil tersenyum.

Sekali lagi Untara mengerutkan keningnya. Kini ia menjawab dengan jujur. “Maaf. Aku lupa kepada kalian. Begitu aku masuk ke halaman ini, maka aku telah diseret oleh anak-anak muda ini ke gandok Wetan. Sekarang marilah. Kami masih menyediakan makan untuk kalian.”

Mereka pun kemudian masuk ke gandok itu. Mereka ikut duduk di antara anak-anak muda Jati Anom, Untara, dan Wuranta.

Sejenak kemudian, maka kembali anak-anak muda Jati Anom itu ribut dengan berbagai pertanyaan. Kini pusat perhatian mereka adalah Agung Sedayu. Mereka telah mendengar sedikit tentang anak muda yang mereka kenal sebagai penakut itu, kini tiba-tiba telah menggenggam keberanian yang menakjubkan.

Namun terasa bahwa suasana di gandok itu menjadi semakin kaku. Wuranta sudah tidak banyak lagi berbicara, dan Agung Sedayu pun hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan itu seperlunya. Sekali-sekali ia tersenyum, namun kemudian ia pun terdiam pula. Untunglah bahwa Ki Tanu Metir telah berhasil menengahi keadaan. Ia mencoba untuk mengisi kekosongan itu dengan berbagai macam cerita, yang justru lucu-lucu sehingga gelak tertawa mulai menggetarkan gandok itu pula.

Namun dalam suasana yang demikian itu, keringat dingin mengalir di punggung Wuranta. Terasa ruangan itu terlampau menyiksanya. Wajah Sekar Mirah itu serasa sebagai duri yang menusuk-nusuk hatinya. Sejenak dikenangnya masa-masa ia pertama sekali bertemu dengan gadis itu. Gadis itu tersenyum kepadanya dan Alap-alap Jalatunda, serta berkata-kata dengan ramahnya. Kemudian pada saat ia menerima pesan Alap-alap Jalatunda untuk disampaikan kepada gadis itu, maka senyum gadis itu seakan-akan telah meremas jantungnya. Hampir tidak masuk di akalnya, bahwa pada saat itu Sekar Mirah berkata kepadanya tentang Alap-alap Jalatunda “Aku menunggunya.”

“Ternyata gadis itu pun mampu berpura-pura,” desisnya di dalam hati. “Agaknya ia telah menyusun rencana sebaik-baiknya, menjebak Alap-alap Jalatunda unluk melarikannya dari padepokan itu, dan menjerumuskannya ke dalam Kademangan Sangkal Putung. Tetapi betapapun juga gadis itu telah membuat aku hampir kehilangan akal dan keseimbangan.”

Tetapi ternyata wajah itu kini sama sekali tidak membayangkan senyum. Bahkan wajah Sekar Mirah tampak berkerut-merut. Agaknya ada sesuatu yang tidak menyenangkan hatinya.

“Apakah ia tidak senang melihat kehadiranku di sini,” pertanyaan itu sekilas menyambar hati Wuranta. Tetapi ia tidak mendapat jawabnya.

Gandok itu sejenak kemudian menjadi sunyi. Anak-anak muda Jati Anom, Untara, dan yang lain-lain lagi sedang melanjutkan menyuapi mulut-mulut mereka. Sedang Agung Sedayu, Swandaru, Sekar Mirah, dan Kiai Gringsing dipersilahkan pula oleh mereka untuk makan. Namun dengan kehadiran beberapa orang tamu itu, mereka kini tidak lagi makan sambil berkelakar.

Hari itu terasa oleh Sekar Mirah menjadi terlampau panjang. Ketika kemudian malam datang perlahan-lahan seolah-olah turun dari ujung Gunung Merapi, maka Agung Sedayu mendapat ijin dari kakaknya untuk membawa tamu-tamunya bermalam di rumahnya.

“Kita masih menunggu sehari dan semalam besok,” gumam Sekar Mirah “aku tidak sabar lagi. Hari-hari terakhir ini terasa sangat menyiksa. Aku ingin segera pulang.”

“Beberapa hari kita menunggu untuk malam besok, Ngger,” sahut Ki Tanu Metir, “dan kini tinggal sehari dan semalam. Kita sebaiknya menunggunya.”

Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi tampaklah wajahnya menjadi semakin suram. Namun Ki Tanu Metir pun dapat mengerti pula. Betapa perasaan rindu mengamuk di dalam dada gadis itu kepada ibu dan ayahnya.

Betapa lambatnya, tetapi akhirnya malam itu terlampaui juga.

Malam yang mendatang, Jati Anom disegarkan dengan berbagai macam kata-kata sanjungan terhadap mereka yang dianggap telah berhasil menumpas lawan-lawan mereka yang bersarang di Padepokan Tambak Wedi.

Ternyata malam itu benar-benar telah melepaskan segenap ketegangan bagi para prajurit Pajang. Mereka tertawa gembira dalam kelakar mereka dengan kawan-kawan mereka. Mereka menjadi terpesona melihat gerak tari anak-anak gadis Jati Anom meskipun tidak sebaik-baik penari-penari Pajang. Mereka bersorak-sorak dan berteriak-teriak seperti anak-anak kecil. Sejenak mereka melupakan keadaan diri mereka masing-masing.

Tetapi, malam yang riuh itu sama sekali tidak memikat hati Sekar Mirah. Namun, ditahannya perasaannya itu di dalam hati. Kali ini ia duduk menonton tidak bersama-sama kakaknya, Agung Sedayu, dan Ki Tanu Metir, tetapi ia duduk bersama-sama dengan perempuan-perempuan kademangan. Isteri pemimpin-pemimpin kademangan.

Lebih menjemukan lagi bagi Sekar Mirah, bahwa setiap kali ia harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh perempuan-perempuan itu. Beraneka macam. Dari yang paling mudah hingga yang paling sulit untuk dijawab.

Ketika pertunjukan itu hampir selesai di tengah malam, serta mereka telah menyelesaikan pula acara makan bersama, maka malam yang menyenangkan itu mendekati pada akhirnya.

Sementara itu, para penjaga di gardu-gardu masih tetap pada tugas masing-masing meskipun mereka mengumpat-umpat. Suara gamelan yang menggelitik telinga mereka, membuat mereka ingin meloncat meninggalkan gardunya dan berlari ke kademangan. Tetapi mereka diikat oleh kewajiban.

Namun kejengkelan mereka terhibur ketika beberapa orang gadis datang ke gardu-gardu itu sambil membawa ancak berisi makanan. Dengan ramah gadis itu memberikan ancak-ancak itu kepada para penjaga.

“He, Nduk, apakah kalian pergi tanpa pengantar?”

“Apakah yang kami takutkan?” jawab gadis-gadis itu.

“Bagaimana kalau hantu-hantu lereng Merapi itu menyusup ke dalam kademangan ini dan menyergap kalian di dalam gelap.”

“Kami akan berteriak.”

“Kalau mulut kalian disumbat?”

“Salah seorang dari kami pasti sempat berteriak. Dengan demikian kalian akan berlari-lari menolong kami.”

“Tidak mau, aku dan kawan-kawanku tidak akan menolong kalian.”

“Kenapa?”

“Apa upahnya?” bertanya seorang prajurit muda.

“Apa saja yang kau ingini,” jawab gadis yang gemuk.

“Oh,” prajurit muda itu menarik nafas dalam-dalam, “aku tidak ingin apa-apa, supaya aku tidak menjadi pingsan memikirkannya.”

Kawan-kawannya tertawa. Meskipun ditahankannya, tetapi gadis-gadis itu tertawa pula.

Akhirnya malam yang gembira itu berakhir pula. Namun malam itu sama sekali tidak berkesan apa-apa bagi Sekar Mirah, sebab ia selalu dicengkam oleh kerinduannya kepada ayah dan ibu di Sangkal Putung.

Bahkan malam itu terasa jauh lebih panjang dari malam-malam yang dirasanya sudah terlampau panjang.

Ketika semuanya sudah selesai, maka Sekar Mirah dengan tergesa-gesa kembali ke rumah Agung Sedayu bersama dengan Ki Tanu Metir, Swandaru, dan Agung Sedayu. Seolah-olah ia ingin mempercepat agar malam ini pun lekas berakhir. Besok jika fajar menyingsing, maka akan berangkat dari Kademangan Jati Anom kembali pulang kepada ayah bunda di Sangkal Putung.

Demikianlah, ketika fajar telah mengembang, maka cepat-cepat Sekar Mirah pergi ke perigi. Tetapi Swandaru berkata kepadanya, “Mirah, semalam suntuk kau tidak dapat memejamkan mata. Bahkan malam-malam sebelum ini pun kau selalu kurang tidur. Karena itu kau jangan mandi.”

Sekar Mirah mengangguk. Tetapi ia pergi juga ke perigi untuk mandi.

Sementara itu Agung Sedayu telah pergi ke kademangan. Ia ingin menyampaikan kepada kakaknya, bahwa nanti Ki Tanu Metir, Swandaru, dan Sekar Mirah akan datang untuk minta diri.

“Mereka akan pergi ke Sangkal Putung hari ini,” berkata Agung Sedayu.

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba saja terasa sesuatu tergetar di dadanya. Terasa bahwa pada saat-saat terakhir Ki Tanu Metir banyak tidak menyetujui sikapnya tentang berbagai hal. Sebenarnya Untara sama sekali tidak ingin untuk menyakiti hati orang tua itu, atau setidak-tidaknya membuatnya kurang senang.

Tetapi Untara pun tidak ingin melepaskan beberapa pendiriannya. Bahkan masalah Agung Sedayu itu pun sebenarnya tidak diterimanya sepenuh hati.

“Baiklah,” berkata Untara itu kemudian “aku akan menerimanya. Aku akan menyiapkan pengawalan bagi Sekar Mirah.”

“Kami akan mengantarkan Sekar Mirah bertiga, Kakang.”

“Aku tahu,” sahut Untara, “aku tahu bahwa kau pun akan pergi juga ke Sangkal Putung seperti katamu dan Ki Tanu Metir. Tetapi aku tidak mau menanggung akibat yang pahit bagi kalian dan Sekar Mirah. Aku tidak yakin bahwa Ki Tambak Wedi telah meninggalkan daerah ini, dan aku tidak yakin bahwa tidak ada satu dua orang yang masih mengikutinya. Karena itu, maka aku akan menyediakan sejumlah prajurit untuk mengikuti kalian sampai ke Sangkal Putung.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Tetapi, sebelum ia menjawab kakaknya sudah berkata pula, “Jangan terlampau sombong. Aku tahu, bahwa prajurit-prajurit itu akan memperkecil arti perjuanganmu membebaskan Sekar Mirah. Dengan demikian kau tidak datang menyerahkan Sekar Mirah dengan tanganmu sediri, tetapi seolah-olah kau telah mendapat bantuan dari prajurit-prajurit itu, sehingga bukan kau seorang sajalah pahlawan yang mengagumkan di mata Ki Demang Sangkal Putung.”

Terasa dada Aguag Sedayu berdentangan. Ia menyadari bahwa kakaknya kini benar-benar tidak dapat menerima hubungan yang terjadi antara dirinya dengan Sekar Mirah. Alasan-alasan yang semula hanya sekedar dikemukakan untuk melerai keadaan yang kurang baik antara dirinya dan Wuranta, ternyata kemudian telah diyakini kebenarannya oleh kakaknya. Agaknya ia dapat menerima pendapat Ki Tanu Metir tidak sebulat hatinya. Tetapi ia tidak dapat membantah.

Perlahan-lahan ia menjawab, “Baiklah, Kakang. Akan aku minta pertimbangan Ki Tanu Metir.”

“Kau beritahukan saja keputusan ini kepada Ki Tanu Metir.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Baik, Kakang.”

Agung Sedayu pun kemudian kembali ke rumahnya untuk menjemput Swandaru, Sekar Mirah dan Ki Tanu Metir. Ternyata gadis itu hampir-hampir tidak sabar menunggunya.

“Kenapa kita masih harus singgah di kademangan?” bertanya Sekar Mirah.

“Kita minta diri kepada Kakang Untara,” jawab Agung Sedayu.

Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi alisnya menjadi berkerut. Hal itu bagi Sekar Mirah hanya akan membuang waktu saja.

“Kakang Untara akan menyediakan pengawalan,” berkata Agung Sedayu pula.

Ki Tanu Metir berpaling kepadanya, “Apakah pengawalan itu perlu sekali?” desisnya.

“Menurut Kakang Untara hal itu perlu dilakukan, karena Kakang Untara masih mempertimbangkan kemungkinan, bahwa ada orang-orang Jipang dan Tambak Wedi yang masih berkeliaran dan bergabung dengan Ki Tambak Wedi.

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah, kita akan berterima kasih.”

Mereka berempat pun kemudian pergi ke kademangan. Mereka menemui Untara, Ki Demang Jati Anom, dan para pemimpin prajurit Pajang dan kademangan itu yang lain.

Ki Tanu Metir pun kemudian minta diri kepada mereka, dan dengan berat orang-orang di kademangan itu terpaksa melepasnya. Mereka menyadari bahwa orang tua yang selalu tersenyum-senyum itu adalah satu-satunya orang di antara mereka yang hanya seorang diri dapat mengimbangi Ki Tambak Wedi. Tetapi kesan kepergian Swandaru, Sekar Mirah, dan Agung Sedayu hampir tidak menyentuh perasaan mereka. Hal yang demikian adalah hal yang wajar dan tidak menumbuhkan banyak persoalan di antara mereka.

Namun ada di antara mereka, orang-orang yang berada di kademangan itu merasa hatinya seolah-olah terpecah belah. Meskipun ia tidak mengucapkan sepatah katapun, namun tampak pada binti-bintik keringat di keningnya, bahwa ia sedang menahan hati. Bahkan sebelum pertemuan itu selesai, sebelum Ki Tanu Metir yang minta diri itu meninggalkan ruangan, maka anak muda itu, Wuranta, telah berdiri dan melangkah ke luar lewat tangga samping.

Melihat kepergian Wuranta, Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Terasa sesuatu bergerak di dalam dadanya. Debar jantungnya menjadi bertambah cepat.

Tetapi ia tidak berbuat sesuatu. Dicobanya untuk menenteramkan hatinya. Meskipun demikian terasa keringatnya menjadi semakin deras membasahi bajunya.

Ki Tanu Metir ternyata tertarik juga melihat sikap Wuranta. Tetapi seperti Agung Sedayu, ia pun sama sekali tidak bertanya tentang anak muda itu.

Ketika Ki Tanu Metir, Swandaru, dan Sekar Mirah sudah selesai dengan kata-katanya, minta diri kepada setiap orang di ruangan itu, dan kemudian Agung Sedayu dengan kata-kata yang lambat tertahan dan bernada datar, maka mereka pun meninggalkan ruangan itu, diantar oleh Untara sampai ke halaman. Ternyata di halaman itu itu telah bersiap beberapa orang prajurit untuk mengantar mereka yang akan kembali ke Sangkal Putung.

Sejenak kemudian maka rombongan itu pun berangkat dengan ucapan selamat jalan dari Untara dan para pemimpin yang lain. Meskipun Sekar Mirah tidak biasa berkuda, namun kali ini ia memberanikan diri, naik seekor kuda yang paling jinak. Di sampingnya kakaknya Swandaru menjaganya agar ia tidak menjadi cemas apabila kudanya berjalan terlampau cepat.

“Dalam waktu yang dekat, aku pun akan pergi ke Sangkal Putang,” berkata Untara.

“Kami menunggu kalian, Ngger,” sahut Ki Tanu Metir.

“Aku ingin bertemu dengan Paman Widura. Tetapi sebelum itu, sampaikan salamku dalam jabatanku kepada Paman Widura. Paman harus tetap berhati-hati menghadapi keadaan yang tampaknya sudah menjadi bertambah baik. Dan sampaikan baktiku sebagai kemanakannya kepada paman,” berkata Untara kepada Agung Sedayu.

“Baik, Kakang,” jawab Agung Sedayu.

“Jaga dirimu baik-baik,” berkata Untara, “hari depanmu masih sangat panjang. Kalau kau sia-siakan hari-harimu kini, maka kau pasti akan menyesal di hari tuamu.”

“Baik, Kakang,” sahut Agung Sedayu pula.

“Aku akan selalu mengawasimu.”

Agung Sedayu menganggukkan kepalanya.

Kepada Ki Tanu Metir Untara kemudian berkata, “Aku titipkan adikku yang keras kepala itu, Kiai. Mudah-mudahan Kiai akan dapat berhasil, membawanya ke jalan yang lurus menjelang hari depannya.”

“Mudah-mudahan, Ngger. Aku akan berusaha sebaik-baiknya.”

Dan kepada Swandaru Untara berkata, “Sampaikan salamku kepada Ki Demang Sangkal Putung. Pajang sangat berterima kasih kepadanya. Sangkal Putung ternyata telah berjasa sekali bagi keutuhan wilayah Pajang di daerah Selatan ini.”

“Ya, Kakang. Akan aku sampaikan kepada ayah,” jawab Swandaru.

Ketika pesan-pesan Untara sudah selesai, maka rombongan itu pun bergerak meninggalkan halaman Kademangan Jati Anom.

Demikian mereka keluar dari halaman kademangan itu, mereka merasakan betapa cerahnya sinar matahari. Apalagi Sekar Mirah. Ia merasa bahwa ia benar-benar telah terlepas dari suatu lingkungan yang mengerikan. Kini ia berada dalam perjalanan kembali kepada ayah dan ibunya.

Ketika iring-iringan itu hampir sampai ke mulut lorong kademangan, maka tiba-tiba Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Di ujung lorong itu dilihatnya Wuranta berdiri tegak seperti sebatang tonggak.

Tanpa disengaja Agung Sedayu berpaling memandangi Ki Tanu Metir yang justru dalam saat yang bersamaan, Ki Tanu Metir pun sedang berpaling kepadanya.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sorot matanya seolah-olah minta pertimbangan kepada gurunya, apa yang harus dilakukannya. Tetapi ia tidak menangkap kesan apa pun pada wajah orang tua.

Ketika iring-iringan itu sampai beberapa langkah di hadapan Wuranta, maka Ki Tanu Metir yang berkuda di paling depan, memperlambat langkah kudanya. Dengan sebuah senyum ia menganggukkan kepalanya, “Kau di sini Angger Wuranta?” bertanya orang tua itu.

“Ya, Kiai,” sahut Wuranta dengan nada yang dalam, “aku ingin bertemu dengan Adi Agung Sedayu.”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Ketika ia memandangi wajah Agung Sedayu, anak muda itu sedang memandangnya pula.

Agung Sedayu melihat gurunya itu mengangguk kecil. Karena itu maka didorongnya kudanya beberapa langkah maju mendekati Wuranta.

“Maaf, Kiai,” berkata Wuranta, “aku hanya ingin bertemu dengan Agung Sedayu.”

Sekali lagi Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Tetapi sekali lagi ia mengangguk kecil. Tetapi tampak jelas di wajahnya pertanyaan yang membersit dari dadanya. Agung Sedayu menangkap percikan isyarat, supaya ia berhati-hati.

“Baiklah,” berkata orang tua itu kemudian, “kami akan berjalan mendahului.”

Swandaru menjadi agak ragu-ragu karenanya. Maka katanya, “Apakah aku akan menemani Kakang Agung Sedayu di sini, Kiai.”

Kiai Gringsing menggeleng, “Tinggalkan ia sendiri.”

Dengan bimbang akhirnya Swandaru pun berlalu. Namun ia masih sempat mengucapkan selamat tinggal kepada Wuranta dan pernyataan terima kasih. Hampir-hampir Wuranta tidak dapat menjawab ketika Sekar Mirah pun kemudian mengucapkan pernyataan terima kasihnya pula kepadanya.

“Aku mengharap suatu ketika kau akan dapat berkunjung ke Sangkal Putung, Kakang Wuranta,” berkata Sekar Mirah yang sudah menemukan kegembiraannya kembali setelah ia mulai dengan perjalanan pulang itu.

“Ya, ya,” Wuranta menjadi tergagap, “aku akan datang.”

“Tetapi tidak dengan Alap-alap Jalatunda,” sambung Sekar Mirah tanpa prasangka apa pun.

Wajah Wuranta tiba-tiba menjadi merah. Tetapi hanya sejenak. Dengan sekuat tenaganya ia mencoba menguasai perasaannya yang mudah sekali tersentuh.

Dipaksakannya bibirnya bergerak dan menjawab, “Mudah-mudahan aku tidak akan bertemu lagi dengan anak itu.”

“Bagaimana kalau hantu jadi-jadiannya mendatangimu?” Sekar Mirah mencoba bergurau.

Namun Wuranta tidak segera dapat menanggapinya. Bahkan terasa dadanya menjadi semakin pedih. Betapa sulitnya, ia menjawab, “Mudah-mudahan tidak.”

“Nah,” berkata Sekar Marah kemudian, “aku minta diri. Aku berterima kasih sekali kepadamu, Kakang Wuranta. Maaf, bahwa aku pernah menyangka kau benar-benar seorang sahabat yang baik dari Alap-alap Jalatunda. Datanglah ke Kademangan Sangkal Putung. Aku akan memperkenalkan kau kepada ayah.”

Wuranta mengangguk kaku. Tetapi kening Agung Sedayu menjadi berkerut.

“Terima kasih. Mudah-mudahan aku dapat memenuhinya,” sahut Wuranta sendat.

Dalam pada itu, Kiai Gringsing seorang yang telah berusia cukup untuk melihat gelagat wajah seseorang, segera berkata, “Marilah. Mumpung masih pagi.”

Iring-iringan itu kemudian bergerak pula, hanya Agung Sedayu sajalah yang kemudian tinggal bersama Wuranta.

Ketika iring-iringan itu menjadi semakin jauh, maka Agung Sedayu pun segera meloncat turun. Meskipun ia tampaknya bersikap wajar, namun ia berada dalam kesiagaan penuh. Ia tidak akan dapat ditipu dengan gerak jasmaniah seandainya Wuranta ingin berbuat sesuatu karena jarak ilmu mereka terlampau jauh. Tetapi Agung Sedayu harus tetap berwaspada seandainya Wuranta mempunyai cara-cara yang lain.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Namun tampak betapa wajah-wajah mereka menjadi tegang.

Baru sesaat kemudian, setelah menelan ludahnya beberapa kali Wuranta baru berhasil berkata, “Agung Sedayu. Aku menemuimu hanya untuk minta maaf. Mudah-mudahan kau melupakannya.”

Masih banyak sekali kata-kata yang tersimpan di dalam hatinya. Masih bertumpuk-tumpuk kalimat-kalimat yang ingin diucapkannya. Tetapi tiba-tiba mulut Wuranta seolah-olah tersumbat terlampau rapat. Meskipun bibirnya bergerak-gerak namun tidak sepatah kata pun yang dapat dilontarkannya.

Dada Agung Sedayu berdesir. Kalimat itu terlampau pendek. Tetapi langsung menyentuh perasaan anak muda itu. Meskipun ia tidak mendengar kata-kata lebih banyak lagi yang diucapkan oleh Wuranta, namun dari sorot matanya ia dapat membaca apa saja yang tersirat di dalam hatinya.

Sejenak Agung Sedayupun menjadi terdiam. Ia tidak segera menemukan kata-kata untuk menjawabnya. Sehingga seperti juga Wuranta, maka Agung Sedayu pun sulit untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang seakan-akan berdesakan di dalam dadanya.

Akhirnya, terpatah-patah ia menjawab, “Marilah kita lupakan, Kakang.”

Hanya itulah yang dapat diucapkan oleh Agung Sedayu. Namun meskipun demikian, meskipun tidak banyak kalimat-kalimat yang mereka ucapkan, tetapi di dalam tekanan kata-kata mereka seakan-akan telah tercurah seluruh perasaan mereka.

Kini sekali lagi mereka berdiri berhadapan sambil berdiam diri. Terasa dada mereka menjadi tegang dan bahkan serasa penuh dengan desakan-desakan yang ingin meloncat ke luar. Tetapi tidak sepatah kata pun yang mereka ucapkan. Hanya lewat sorot mata mereka sajalah mereka dapat merasakan perasaan masing-masing.

Baru sejenak kemudian terloncat kata-kata dari mulut Wuranta untuk melepaskan ketegangan di dadanya, “Selamat jalan, Agung Sedayu. Mudah-mudahan kita masing-masing mendapat perlindungan dari Tuhan.”

“Terima kasih, Kakang,” suara Agung Sedayu terlampau dalam.

Perlahan-lahan Agung Sedayu melangkah ke kudanya. Perlahan-lahan pula ia meloncat ke punggungnya.

Sekali lagi ia berkata, “Terima kasih, Kakang. Aku akan meneruskan perjalanan.”

Wuranta tidak menjawab, tetapi kepalanya terangguk perlahan-lahan.

Sejenak kemudian kuda Agung Sedayu itu pun bergerak perlahan-lahan. Tetapi semakin lama semakin cepat. Kemudian dengan sebuah sentuhan pada perut kuda itu, maka kuda itu pun meloncat dengan cepatnya menyusul iring-iringan yang sudah agak jauh di hadapan mereka. Tetapi bagi Agung Sedayu, bukan iring-iringan itulah yang telah memaksanya untuk berpacu. Ia ingin secepatnya menjauhi Jati Anom. Tempat ia dilahirkan, tetapi yang memberinya persoalan yang cukup berat dalam usianya yang masih terlampau muda.

Wuranta memandangi kuda itu berlari semakin kencang. Matanya hampir tidak berkedip meskipun terasa pedih karena debu yang putih yang dilemparkan dari kaki-kaki kuda Agung Sedayu. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terdengar ia bergumam lirih, “Anak itu luar biasa. Meskipun ia seorang penakut di masa kanak-anak, tetapi ia kini menjadi seorang laki-laki yang perkasa. Hampir aku merusak harapan bagi masa depannya karena kebodohanku.”

Wuranta mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi terasa dadanya berdesir. Ia belum dapat melupakan wajah Sekar Mirah yang segar. Apalagi senyumnya yang seolah-olah langsung menyentuh hati. Tetapi kini ia sudah dapat mengimbangi perasaannya itu dengan nalarnya.

Sementara itu iring-iringan itu berjalan dengan kecepatan sedang meluncur mendekati Sangka Putung. Sekali-sekali Ki Tanu Metir, Swandaru, dan Sekar Mirah berpaling, untuk melihat apakah Agung Sedayu sudah menyusul mereka.

Ternyata ada kekhawatiran juga di hati mereka tentang Agung Sedayu. Terutama Ki Tanu Metir. Orang tua itu tidak mencemaskan nasib Agung Sedayu sendiri, tetapi justru apabila Agung Sedayu terdorong oleh perasaannya, berbuat hal-hal yang tidak menguntungkannya.

Tetapi sejenak kemudian mereka melihat debu yang putih mengepul ke atas di belakang mereka. Seekor kuda berlari kencang menyusul iring-iringan itu. Di atas punggung kuda itu adalah Agung Sedayu.

Ketika Agung Sedayu menjadi semakin dekat, dan kemudian telah berada di antara mereka, maka dengan serta-merta Swandaru bertanya, “Apakah yang dikatakannya, Kakang?”

Agung Sedayu menjadi bingung. Sesaat ia tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Bahkan seperti seorang anak-anak yang ingin mendapat pertolongan dipandanginya gurunya.

“Apakah Angger Wuranta mengucapkan selamat jalan kepada Anakmas?” bertanya Ki Tanu Metir itu kemudian.

“Ya, Kiai,” sahut Agung Sedayu asal saja menjawab.

“Ya, aku sudah menyangka,” berkata Ki Tanu Metir, “ia pasti merasa kehilangan seorang kawan yang dapat mengerti tentang dirinya. Kita dianggapnya sebagai kawan-kawan yang berbuat sejak permulaan bersamanya.”

“Tetapi sikapnya mengherankan. Aku melihat sesuatu yang tidak wajar padanya,” berkata Sekar Mirah.

“Anak itu seorang pemalu,” jawab Ki Tanu Metir.

“Tidak. Ia bukan seorang pemalu,” jawab Sekar Mirah.

Mendengar jawaban itu Agung Sedayu mengerutkan keningnya. “Darimana kau tahu Mirah?” Agung Sedayu bertanya.

Dan Sekar Mirah menjawab, “Di Padepokan Tambak Wedi ia bersikap bukan sebagai seorang pemalu. Wuranta-lah yang pertama-tama menegurku sebelum Alap-alap Jalalunda, meskipun ia orang baru di padepokan itu. Ia menjadi penghubung yang baik antara aku dan Alap-alap Jalatunda yang hampir saja menerkam aku apabila Sidanti tidak segera datang.”

Mereka yang mendengar kata-kata Sekar Mirah itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka telah mendengar pula dari Wuranta. Dan soal itu pulalah yang telah membakar padepokan Tambak Wedi menjadi karang abang. Bentrokan antara orang-orang Jipang dan Tambak Wedi yang tidak dapat dihindarkan lagi.

Sejenak kemudian mereka menjadi saling berdiam diri. Mereka terbenam di dalam angan-angan masing-masing. Sekali-sekali Sekar Mirah mengerutkan lehernya apabila diingatnya apa yang telah terjadi di padepokan Tambak Wedi.

Seandainya, ya seandainya Alap-alap Jalatunda tidak dapat dicegah lagi, maka ia kini tidak lagi dapat berkuda bersama-sama dengan Swandaru dan Agung Sedayu. Mungkin ia telah membunuh dirinya dan tubuhnya telah hancur menjadi debu.

Tiba-tiba Sekar Mirah itu menundukkan kepalanya. Kebesaran Yang Maha Kasih telah menyelamatkannya dengan cara yang hampir tidak dapat dimengertinya.

Tetapi dalam pada itu terbersit pula pikiran di kepalanya, “Seandainya aku tidak selemah ini.”

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Ia bertanya pula di dalam hatinya, “Apakah aku hanya dapat menjadi tanggungan orang lain sepanjang hidupku?”

Gadis itu kemudian membayangkan tentang dirinya sendiri. Seandainya ia mampu berbuat sesuatu. Seandainya ia tidak hanya seorang gadis yang lemah dan tidak dapat berbuat apa pun.

Terbayanglah di dalam ingatannya cerita-cerita tentang masa-masa lampau. Dongeng-dongeng yang pernah didengarnya tentang beberapa orang puteri. Di dalam cerita wayang yang terkenal, pernah juga didengarnya tentang seorang Srikandi dan Larasati. Keduanya adalah puteri-puteri prajurit yang pilih tanding. Bahkan di dalam perang besar Baratayuda, Srikandi pernah menjadi senapati perang dan dalam masa jabatannya itulah Senapati Besar Astina yang dikagumi terbunuh. Bisma. Meskipun kematiannya itu ditangisi oleh kedua pihak yang berperang. Kurawa dan Pendawa.

“Apakah pada jaman ini tidak mungkin seorang wanita memegang busur dan anak panah seperti Srikandi?” pertanyaan itu menggetarkan hatinya.

“Tentu mungkin,” pertanyaan itu dijawabnya sendiri, “dan aku akan berusaha untuk dapat menjadi seorang wanita yang demikian. Aku harus dapat menjaga diriku sendiri. Kalau suatu ketika Sidanti kembali ke Sangkal Putung, aku tidak akan menjadi barang rebutan antara Sidanti dan orang-orang Sangkal Putung, Kakang Swandaru dan mungkin Kakang Agung Sedayu.”

Sekar Mirah itu menengadahkan kepalanya, seolah-olah ia sudah mendapat keputusan untuk memulai dengan langkahnya. Menjadi seorang gadis yang mampu menjaga diri sendiri.

“Tetapi kepada siapa aku harus berguru supaya aku mendapat tuntunan olah kanuragan?” pertanyaan itu mengusik hatinya.

Tanpa disengaja ia memandangi Ki Tanu Metir yang berkuda beberapa langkah di mukanya. Dipandanginya punggung orang tua itu yang berselimutkan kain gringsing. Kain ciri yang selalu dipakainya meskipun sudah mulai tampak keputih-putihanan.

Tiba-tiba Sekar Mirah menggelengkan kepalanya. “Orang tua itu sedang sibuk dengan Kakang Swandaru dan Kakang Agung Sedayu. Aku tidak yakin kalau ia mau menerimaku pula di dalam lingkungannya. Aku sama sekali belum mengenal ilmu apa pun dalam olah kanuragan. Aku harus mulai dari permulaan. Lalu ditambahkannya keterangan di dalam hatinya itu ‘tetapi seandainya ayah dan ibu mengijinkannya’.”

Dan dicobanya untuk meyakinkan Dirinya, “Ayah dan ibu pasti tidak akan berkebetatan. Setiap saat aku terancam bahaya, karena aku kira Sidanti tidak akan berhenti sekian. Mungkin ia akan kembali di saat-saat orang Sangkal Putung sudah hampir melupakannya. Seandainya aku tidak mampu menjaga diriku, maka akan terulanglah peristiwa itu. Dan Sidanti tentu tidak akan sesabar beberapa saat yang lampau.”

Sementara itu matahari di langit merayap semakin lama semakin tinggi. Sinarnya yang cerah telah mulai menggatalkan kulit. Angin yang berhembus dari Selatan menghalau debu-debu yang dihamburkan oleh kaki-kaki kuda yang berjalan dalam iring-iringan itu. Beberapa prajurit yang ikut serta di dalamnya hampir tidak mengucapkan kata-kata sama sekali. Satu dua di antara mereka bercakap-cakap, tetapi kemudian terdiam. Memang tidak banyak yang mereka perbincangkan.

Ketika mereka melampaui sebuah tikungan yang tajam di antara gerumbul-gerumbul yang liar terdengar Agung Sedayu berdesis, “Bukankah menerobos jalan kecil ini kita akan sampai ke Dukuh Pakuwon Kiai?”

Ki Tanu Metir tersenyum. Dipandanginya jalan simpang yang sempit itu. Katanya, “Sebenarnya aku telah merindukan rumahku yang hampir roboh itu. Tetapi aku agaknya masih belum sempat. Lain kali, aku akan menengok, apakah pohon kates yang aku tanam sudah mulai berbuah.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kenangannya mulai menjelajahi kembali masa-masa yang pernah dilampauinya. Ia hampir pingsan ketakutan ketika ia bertemu dengan Alap-alap Jalatunda di daerah ini. Apalagi ketika kemudian kakaknya menyuruhnya berangkat sendiri ke Sangkal Putung untuk menemui pamannya. Seandainya kakaknya tidak mengancam untuk membunuhnya, maka ia pun pasti tidak akan berani berangkat.

Agung Sedayu itu tersadar ketika ia mendengar Ki Tanu Metir bertanya, “Kita akan menempuh jalan yang mana, Ngger? Apakah kita akan lewat Kali Asat dan melalui tikungan Randu Alas? Barangkali Angger masih ingin bertemu dengan sahabat Angger di sana, Gendruwo bermata Satu?”

“Ah,” Agung Sedayu berdesah.

Swandaru yang tidak tahu maksud Kiai Gringsing tiba-tiba menyahut, “Terlampau jauh, Kiai. Kita tidak akan melalui Kali Asat.”

Perjalanan itu pun semakin lama menjadi semakin dekat dengan Sangkal Putung. Jarak, antara kedua kademangan itu memang tidak terlampau jauh. Tetapi kekalutan yang timbul di daerah itu, orang-orang Jipang yang berkeliaran, apalagi kimudian setelah Tohpati mengambil tempat di hutan-hutan yang tidak terlampau lebat di sebelah Barat Sangkal Putung, maka kedua kademangan itu seakan-akan telah dipisahkan oleh lautan. Perjalanan dari kademangan yang satu ke kademangan yang lain terasa terlampau menakutkan. Padukuhan-padukuhan kecil yang berada di antara kedua kademangan itu pun menjadi semakin kecil. Bahkan penduduknya kadang-kadang merasa tidak mendapat perlindungan sama sekali, sehingga pada saat-saat itu mereka tidak akan dapat menolak apabila orang-orang Jipang, seperti Alap-alap Jalatunda, Pande Besi Sendang Gabus yang terbunuh oleh Untara, Plasa Ireng yang kemudian dibunuh oleh Sidanti, dan Sanakeling yang sudah terbunuh pula beserta anak buah mereka, datang untuk mengambil persediaan makanan mereka yang memang sudah terlampau tipis. Orang-orang Jipang itu mengambil apa saja yang dapat mereka ambil, sebelum mereka berhasil merebut pusat lumbung makanan dan kekayaan di daerah Selatan, Sangkal Putung.

Tetapi, dalam keadaan kini maka jarak antara kedua kademangan itu terasa terlampau dekat. Belum lagi matahari melampaui puncak langit, maka mereka sudah menjadi semakin dekat dengan Sangkal Putung.

Sekar Mirah hampir-hampir tidak sabar lagi menunggu jarak yang sudah kian pendek itu. Seandainya ia mampu ia pasti akan meloncat langsung ke halaman rumahnya berlari mendapatkan ayahnya dan memeluk ibunya.

Tetapi ia masih harus tetap berada di punggung kudanya.

Beberapa saat kemudian mereka telah masuk ke daerah Kademangan Sangkal Putung. Mereka telah berada di tengah-tengah bulak persawahan. Bulak yang beberapa saat yang lampau jarang-jarang sekali disentuh tangan karena keadaan, tetapi kini sawah-sawah itu telah mulai tampak dibasahi oleh air. Sebentar lagi sawah-sawah itu pasti akan menjadi hijau kembali, apabila orang-orang Sangkal Putung telah yakin, bahwa tidak akan ada gangguan lagi yang bakal datang ke kademangan mereka. Agaknya beberapa orang telah mulai memperbaiki parit-parit dan mengalirkan air ke sawah-sawah yang selama ini tidak sempat ditanaminya.

Semakin dekat dengan induk kademangan, maka sawah-sawah telah menjadi hijau. Sawah-sawah itu masih tetap selalu digarap meskipun dalam keadaan yang kalut, karena sawah-sawah itu terletak tidak terlampau jauh dari induk kademangan.

Melihat induk kademangan yang terbentang di hadapannya, dada Sekar Mirah menjadi berdebar-debar. Beberapa lama ia tidak melihat wajah kampung halamannya, terasa seakan-akan sudah bertahun-tahun. Apalagi apabila diingatnya, bahwa hampir saja ia terjerumus ke dalam jurang yang terlampau dalam. Dan ia yakin bahwa ia pasti tidak akan bangkit kembali.”

Kademangan Sangkal Putung yang terbentang itu, seolah-olah seperti seorang raksasa yang baru berbaring diam. Warnanya yang hijau segar langsung terasa menyentuh hati.

Ketika Sekar Mirah melihat ujung daun nyiur yang bargerak-gerak disentuh angin, seolah-olah melambai menyambut kedatangannya, terasa kerongkongannya menjadi pepat. Ada sesuatu ingin meledak di dadanya. Mata gadis itu pun kemudian menjadi pedih. Bukan oleh debu yang menyentuhnya, tetapi kenangan yang ngeri dan harapan bagi masa mendatang, bercampur baur di dalam hatinya

Ki Tanu Metir yang berkuda di depan bersama Agung Sedayu pun merasakan, seolah-olah kademangan itu benar-benar telah siap menyambut kedatangan mereka

Tetapi dahi orang tua itu pun kemudian berkerut ketika dilihatnya debu mengepul di kejauhan.

Ternyata tidak hanya Ki Tanu Metir sajalah yang tertarik melihat debu yang keputih-putihan itu. Agung Sedayu, Swandaru, dan prajurit pun memperhatikannya dengan penuh perhatian.

“Orang-orang berkuda, Kiai,” desis Agung Sedayu. Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku kira mereka adalah para peronda dari Sangkal Putung.”

“Tetapi agaknya tidak hanya dua tiga orang. Mereka kira-kira terdiri dari lima enam orang, Kiai?”

Ki Tanu Metir tidak segera menjawab. Beberapa saat kemudian orang-orang berkuda itu menjadi semakin jelas. Ketika mereka muncul dari balik tanaman yang rimbun, tampaklah bahwa mereka berjumlah lima orang.

“Mereka memang peronda dari Sangkal Putung,” berkata Ki Tanu Metir kemudian.

“Mungkin,” sahut Agung Sedayu. Tetapi matanya hampir tidak berkedip melekat pada bintik-bintik yang berpacu menyongsong mereka.

Sejenak kemudian mereka melihat kelima orang itu berhenti sejenak. Kemudian tiga di antara mereka meneruskan perjalanan kearah Ki Tanu Metir dan iring-iringanya.

“Kenapa sebagian dari mereka berhenti Kiai?” bertanya Agung Sedayu.

“Suatu sikap hati-hati. Ketiga orang itu harus melihat siapa yang datang. Kalau yang datang ini berbahaya bagi mereka, maka kedua orang yang berhenti itu sempat memberikan laporan atau tanda-tanda sandi kepada induk pasukannya, sementara yang lain sedang menghadapi bahaya itu”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia bertanya, “Apakah mereka mencurigai kita? Maksudku, mereka mencurigai iring-iringan yang belum mereka ketahui ini?”

“Mungkin.”

“Kalau demikian maka ada sesuatu yang penting terjadi di sini,” berkata Agung Sedayu.

“Sangkal Putung belum mendengar secara pasti bahwa Tambak Wedi sudah jatuh.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi karena Jati Anom dan Sangkal Putung sebenarnya tidak terlampau jauh, maka adalah suatu kemungkinan bahwa Widura telah mendengar berita tentang Tambak Wedi.

“Apakah Kakang Untara tidak segera mengirimkan utusan ke Sangkal Putung untuk memberitahukan keadaan Tambak Wedi?” bertanya Agung Sedayu.

“Aku kira belum. Kita adalah utusan-utusan itu. Dan kitalah yang akan memberitahukan kepada pamanmu Widura, bahwa Tambak Wedi telah jatuh. Seandainya Angger Untara mengirimkan utusan, maka angger Untara pasti tidak yakin bahwa utusannya akan segera sampai. Apabila mereka bertemu dengan Ki Tambak Wedi, maka utusan itu pasti akan menjadi korban. Mungkin Angger Untara mempunyai perhitungan lain pula, supaya Sangkal Putung tetap berada dalam kewaspadaan dan tidak menjadi lengah. Sebab masih banyak sekali kemungkinan yang dapat terjadi. Mungkin masih ada satu dua orang Sanakeling yang terlepas dari kehancuran justru karena mereka berkeliaran di daerah ini pada saat Tambak Wedi jatuh. Atau mungkin hal-hal lain menurut pertimbangan Angger Untara.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia memandang lurus-lurus ke depan kepada tiga orang prajurit yang sudah menjadi semakin dekat.

Demikian para prajurit itu mengenali Ki Tanu Metir, Agung Sedayu, Swandaru, dan Sekar Mirah, serta prajurit-prajurit Pajang yang mengantarkan mereka, maka terdengar salah seorang dari mereka berteriak gembira, “He, kaukah itu, Kiai?”

“Ya, iniah aku,” sahut Ki Tanu Metir.

“Dengan Adi Sekar Mirah?”

“Ya,” jawab Ki Tanu Metir pula.

“Syukurlah. Ibunya selalu menangis.”

Mendengar kata-kata prajurit itu, Sekar Mirah yang berkuda di samping kakaknya tiba-tiba memotong, “Apakah ibuku selalu menangis saja?”

Prajurit itu menjadi ragu-ragu sejenak. Kemudian jawabnya, “Ya, tetapi setiap orang di Sangkal Putung yakin, bahwa kau akan dapat dibebaskan.”

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Ia semakin ingin cepat-cepat sampai. Tetapi ia tidak cukup pandai untuk berpacu. Karena itu maka ia menjadi gelisah. Serasa ingin ia meloncati jarak yang sudah menjadi semakin pendek.

Yang bertanya kemudian adalah Ki Tanu Metir, “Kalian agaknya terlampau hati-hati menghadapi keadaan. Kalian tinggalkan kedua kawan kalian. Bukankah dengan demikian kalian memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang berbahaya.”

Salah seorang dari ketiga prajurit itu mengangguk, “Ya. Kami memang sedang gelisah.”

“Kenapa?”

Prajurit itu tidak segera menjawab. Mereka bertiga menganggukkan kepala mereka kepada prajurit-prajurit Pajang yang datang dari Jati Anom.

Perwira yang memimpin rombongan kecil itu pun maju mendekati prajurit Sangkal Putung itu sambil bertanya, “Apakah yang telah menggelisahkan kalian di SangKal Putung?”

Prajurit-prajurit itu menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian berkata, “Marilah. Kami antar kalian untuk menemui Ki Widura.”

“Kami akan menemuinya,” sahut perwira itu, “tetapi apa yang menggelisahkan itu?”

Prajurit itu berpaling kepada kawan-kawannya. Tetapi kawan-kawannya tidak dapat memberikan kesan apa pun kepadanya.

“Berkatalah,” perintah perwira itu.

“Baiklah,” sahut prajurit yang datang dari Sangkal Putung. “Kami telah kehilangan beberapa orang peronda.”

“He,” perwira itu terkejut. Ki Tanu Metir pun mengerutkan keningnya, sedang wajah Agung Sedayu dan Swandaru menjadi tegang karenanya.

Para prajurit yang datang dari Jati Anom pun pegera mengerumuni ketiga orang prajurit itu sambil bertanya-tanya di dalam hati, apakah yang sudah terjadi di Sangkal Putung.

Dalam pada itu salah seorang prajurit yang datang dari Sangkal Putung itu berkata, “Marilah, aku ceritakan sambil berjalan ke Sangkal Putung. Kedua kawan-kawanku yang menunggu itu supaya tidak menjadi salah paham, dan dengan serta-merta meluncurkan panah sendaren.”

Perwira Pajang itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Baiklah, marilah kita teruskan perjalanan ini.” Kepada Ki Tanu Metir ia berkata pula, “Marilah, Kiai.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya pula sambil menyahut, “Marilah.”

Iring-iringan itu kemudian meneruskan perjalanan mereka ke Sangkal Putung bersama ketiga prajurit Pajang yang sedang meronda itu.

Perwira yang datang dari Jati Anom itu kemudian bertanya, “Kesiap-siagaan kalian ternyata cukup tinggi, sehingga kedua kawan-kawanmu itu perlu mempergunakan panah sendaren.”

“Ya, bahaya yang mengancam kami pun cukup berat.”

“Katakan, apa yang telah terjadi.”

Prajurit-prajurit itu menjadi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Sejak empat lima hari ini kami menjadi gelisah. Beberapa orang peronda kami hilang di luar induk kademangan.”

“Bagaimana mereka dapat hilang?”

“Itu yang tidak dapat kami ketahui. Beberapa dari mereka dapat kami ketemukan mayatnya. Tetapi ada juga yang belum.”

Perwira itu mengerutkan keningnya. Sekali ia berpaling memandangi wajah Ki Tanu Metir yang kini berkuda di belakangnya.

“Bagaimana pendapat, Kiai?” bertanya perwira itu. “Apakah ini ada hubungannya dengan jatuhnya Tambak Wedi dan lenyapnya para pemimpinnya?”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak dapat disangsikan lagi, Ngger.”

“Memang Kakang Widura masih belum tahu tentang peristiwa di Tambak Wedi,” gumam perwira itu. Lalu kepada Ki Tanu Metir ia berkata pula, “Kiai, selain mengantarkan Kiai dan anak-anak muda ini, aku pun mendapat tugas khusus dari Kakang Untara.”

“Tugas apa itu, Ngger?”

“Menyampaikan pesan Kakang Untara tentang Tambak Wedi.”

“Aku memang sudah menyangka, tetapi aku tidak bertanya kepadamu. Apabila nanti Angger Widura telah mendengar laporanmu, maka ia pasti akan mampu memperhitungkan keadaan. Kita pun telah dapat menduga, siapa yang melakukan hal itu.”

Tiba-tiba Swandaru memotong, “Tambak Wedi. Pasti Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya.”

Hampir semua orang berpaling kepadanya. Dan hampir semua orang menganggukkan kepalanya. Hanya para prajurit dari Sangkal Putung sajalah yang saling berpandangan. Mereka tidak tahu alasan dari dugaan Swandaru yang tampaknya disetujui oleh semua orang dalam iring-iringan itu.

“Kenapa Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya?” bertanya salah seorang prajurit itu.

“Tak ada orang lain. Hal ini pula yang harus aku sampaikan kepada Ki Widura nanti,” sahut perwira itu. Lalu ia bertanya pula, “Berapa orang yang telah hilang dan terbunuh?”

“Delapan orang,” sahut salah seorang dari mereka.

“Delapan orang?” perwira itu mengulangi hampir bersamaan dengan Swandaru dan Agung Sedayu. Berkata perwira itu lebih lanjut, “Sudah terlampau banyak. Jumlah itu harus dihentikan.”

“Itulah sebabnya kami kini meronda dengan cara ini supaya korban tidak bertambah-tambah.”

”Lima orang prajurit tidak akan dapat melawan Ki Tambak Wedi bertiga,” berkata perwira yang datang dari Jati Anom itu.

“Itulah sebabnya kami harus memberitahukan kepada pasukan peronda induk di mulut kademangan itu, dengan panah sendaren. Peronda berkuda pasti akan segera datang.”

“Berapa orang?” bertanya perwira itu.

“Sepuluh orang. Kalau perlu dapat ditambah lagi.”

“Sepuluh orang itu pun hanya akan menambah jumlah kematian. Duapuluh lima orang, barulah memadai buat ketiga iblis yang sedang putus asa itu,” geram perwira itu pula.

Prajurit-prajurit dari Sangkal Putung itu tidak menyahut. Mereka masih belum tahu pasti apa yang sudah terjadi.

Sementara itu kedua kawannya yang menunggu di kejauhan menjadi termangu-mangu. Ketika mereka melihat ketiga kawannya dikerumuni oleh orang-orang yang ditemui, maka hati mereka menjadi bedebar-debar. Mereka telah menyiapkan busur-busur mereka untuk setiap saat dapat melepaskan panah-panah sendaren sebelum mereka datang membantu ketiga kawan-kawannya itu.

Tetapi kemudian mereka melihat iring-iringan itu meneruskan perjalanan dan tidak ada sesuatu yang terjadi. Meskipun demikian mereka masih tetap ragu-ragu. Busur mereka masih tetap berada di tangan, bahkan kemudian anak panah sendaren mereka telah mereka pasang pula, siap untuk meluncur di udara.

Baru ketika mereka dapat melihat dengan jelas, siapa yang datang bersama dengan ketiga kawan-kawannya itulah, maka mereka menjadi berlega hati. Hampir bersamaan mereka menarik nafas dalam-dalam untuk melepaskan ketegangan yang baru saja mencengkam mereka.

“Ki Tanu Metir,” desis yang seorang.

“Ya,” sahut yang lain. “Bukankah gadis itu Sekar Mirah?”

Prajurit yang lain mengerutkan dahinya, “Ya, itulah Sekar Mirah yang hilang itu. Tetapi justru ia menjadi bertambah cantik.”

Kawannya mengerutkan dahinya, tetapi ia tidak segera menyahut. Diamatinya iring-iringan yang semakin dekat itu. Dan dilihatnya iring-iringan yang semakin dekat itu. Dan dilihatnya pula kemudian Agung Sedayu, Swandaru, dan beberapa orang prajurit Pajang di bawah pimpinan seorang perwiranya.

“Hem, mereka cukup hati-hati,” desis salah seorang dari kedua prajurit itu. “Agaknya mereka mengetahui keadaan di sini sehingga iring-iringan itu cukup kuat apabila mereka menghadapi bahaya di sepanjang perjalanan.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi yang dikatakannya, “Memang gadis itu agak kurus meskipun hanya beberapa hari saja ia meninggalkan rumahnya.”

“Hus,” desis yang lain, “apakah kau sudah bersedia berperang tanding dengan Sidanti? Bukankah gadis itu hilang diambil Sidanti?”

“Kenapa aku harus perang tanding?”

”Bukankah Sidanti menginginkan Sekar Mirah itu pula.”

“Biar sajalah Sidanti menginginkannya. Tetapi aku tidak.”

“Kenapa kau selalu memujinya?”

“Aku hanya memuji. Aku senang melihat sesuatu yang baik, yang cantik, yang tampan. Apakah kau tidak?”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ya, aku juga tertarik kepada semua yang baik.”

“Nah, bukankah kalau kau melihat sesuatu yang indah kau akan memujinya? Melihat Gunung Merapi yang biru kemerah-merahan di ujungnya itu, atau melihat air terjun yang tinggi, atau melihat padi yang menguning menggelombang dibuai angin yang silir, atau taman bunga yang sedang berkembang, atau ……..”

“Cukup. Contoh yang kau ucapkan sudah terlampau panjang.”

“Belum. Masih kurang satu, seorang gadis yang secantik Sekar Mirah?”

“Ya.”

“Apakah kau lebih senang melihat titah yang gemuk bulat dan selalu memberengut itu?”

“Tentu tidak.”

“Nah, itulah sebabnya aku memujinya. Gadis itu memang cantik.”

“Kau memang cukup cakap.”

“Untuk menjadi seorang pemimpin yang baik.”

Prajurit yang seorang mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia pun tersenyum. Ia sebenarnya masih ingin berbicara banyak, tetapi iring-iringan itu sudah terlampau dekat. Karena itu mereka pun menepi untuk memberi kesempatan mereka lewat.

Ketika iring-iringan itu berjalan di depan kedua prajurit itu, mereka pun menganggukkan kepala mereka, memberi hormat kepada mereka yang lewat, terutama kepada perwira prajurit Pajang yang ada di dalam iring-iringan itu pula.

Ketika iring-iringan in. sudah melampaui mereka, maka mereka pun menempatkan diri mereka di ujung belakang. Sejenak mereka terdiam diri, tetapi yang seorang segera mulai berbicara lagi. Katanya, “Nah, apakah kau masih juga tidak percaya bahwa gadis itu memang cantik. Lihatlah punggungnya, lehernya, rambutnya yang meskipun agak kusut.”

Kawannya berpaling. Alisnya tampak berkerut. Katanya sambil mengangkat panah sendarennya, “Lihat, mulutmu ternyata tidak berbeda dengan sendaren ini. Kalau sudah mulai mengiang, maka ia tidak akan berhenti sebelum jatuh di tanah.”

Sekali lagi prajurit yang satu itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tersenyum pula.

“Ah,” katanya, “sebaiknya panah dan busur-busur ini disingkirkan saja. Bukankah sudah pasti tidak akan terpakai lagi.”

“Apakah akan kau buang saja.”

Yang lain menggelengkan kepalanya. Tetapi ia tidak menyahut.

Meskipun demikian, mulut lorong Kademangan Sangkal Putung sudah menjadi semakin jelas, seperti mulut goa yang selalu menganga. Namun dengan demikian hati Sekar Mirah menjadi semakin berdebar-debar. Terasa seolah-olah kudanya berjalan semakin lambat. Tetapi ia tidak berani mempercepat, karena ia belum terlampau biasa berkuda.

Kini iring-iringan itu pun akhimya memasuki mulut lorong itu pula. Satu-satu berurutan seperti ditelan oleh mulut seekor ular raksasa. Sejenak kemudian maka mereka itu pun telah hilang ke dalam induk Kademangan Sangkal Putung.

Sekar Mirah yang gelisah menjadi hampir tidak sabar menunggu kudanya memasuki halaman rumahnya. Setiap kali ia lihat orang-orang berlari-larian ke luar dari rumahnya sambil menyebut namanya. Gadis-gadis kawannya bermain berteriak-teriak memanggil namanya, sedang anak-anak muda saling berbisik di antara mereka, “Itu Sekar Mirah. Ternyata adik Untara telah berhasil membebaskannya.”

Sekar Mirah sendiri hampir tidak dapat menahan perasaan harunya. Tetapi ia tidak mau berhenti di antara kawan-kawan gadisnya. Ia ingin segera pulang. Ia ingin segera menyatakan diri kepada ibunya, bahwa ia masih Sekar Mirah yang dulu. Sekar Mirah seperti saat meninggalkan Sangkal Putung.

Kabar tentang Sekar Miiah itu segera sampai ke kademangan mendahului Sekar Mirah sendiri. Beberapa orang berlari-larian meloncat pagar-pagar batu menyampaikan kabar kedatangan Sekar itu kepada ayah ibunya.

Sesaat kademangan itu dicengkam oleh perasaan haru dan tegang. Widura yang berada di kademangan itu menjadi berdebar-debar pula.

Namun tiba-tiba mereka terpaksa menyusul ibu Sekar Mirah yang tidak dapat menahan hati, berlari-larian turun tangga pendapa menyongsong anak gadisnya yang kembali pulang.

Meskipun Ki Demang memanggilnya untuk menunggu saja di halaman, namun Nyai Demang sama sekali sudah tidak menghiraukannya. Dengan mata yang basah dan rambut terurai Nyai Demang berlari melintasi halaman. Beberapa orang prajurit yang melihatnya berdiri saja termangu-mangu, tanpa dapat berbuat apa pun, meskipun mereka tahu, bahwa Ki Demang sedang memanggil-manggil isterinya itu.

Tetapi ternyata Nyai Demang tidak perlu berlari-larian terlampau jauh. Tiba-tiba, ia melihat iring-iringan muncul di regol halaman.

Ketika dilihatnya Sekar Mirah yang kemudian berada di paling depan bersama kakaknya Swandaru, maka tiba-tiba perempuan itu pun menjerit tinggi menyebut nama anaknya yang pernah hilang itu

Sekar Mirah pun segera melihat ibunya berlari-larian menyongsongnya. Ia kini tidak lagi dapat menahan hatinya. Dengan serta-merta ia meloncat turun dari kudanya. Tetapi karena terlampau tergesa-gesa dan kurang dapat membawakan diri, maka gadis itu terjatuh di tanah.

“Mirah,” Swandaru mencoba mencegahnya. Tetapi terlambat. Gadis itu telah jatuh menelungkup.

Hampir bersamaan Swandaru dan Agung Sedayu meloncat dari punggung kudanya pula, disusul oleh Ki Tanu Metir dan para prajurit. Dengan cekatan Swandaru menolong adiknya, mengangkat dan memapahnya berdiri.

“Mirah,” sekali lagi terdengar pekik ibunya.

Ternyata Sekar Mirah tidak dapat merasakan sakit pada tubuhnya sendiri. Tiba-tiba ia pun meronta dan melepaskan diri dari tangan kakaknya, langsung berlari kepada ibunya.

Keduanya pun kemudian berpelukan. Keduanya melepaskan tekanan-tekanan perasaan yang berdesakan di dalam dada masing-masing, sehingga meledaklah tangis yang mengharukan.

Swandaru, Agung Sedayu, Ki Tanu Metir, Widura, dan Ki Demang sendiri dan orang-orang lain yang menyaksikan, berdiri saja termangu-mangu. Dibiarkannya kedua perempuan ibu dan anak itu melepaskan perasaannya.

Sejenak halaman kademangan itu seolah-olah dicengkam oleh suasana yang tegang. Yang terdengar hanyalah suara tangis Nyai Demang Sangkal Putung dan anaknya Sekar Mirah.

Sesaat kemudian, ketika tangis mereka sudah menurun, maka berkatalah Ki Demang Sangkal Putung dengan nada yang dalam, “Nyai, bawalah anakmu itu masuk.”

Keduanya tidak menyahut. Keduanya tidak mengucapkan kata-kata sepatah kata pun, kecuali tangis mereka. Tetapi titik-titik air mata mereka telah menyatakan perasaan mereka sampai tuntas. Melampaui kata-kata yang beribu-ribu jumlahnya.

“Nyai,” sekali lagi terdengar suara Ki Demang Sangkal Putung, “bawalah anakmu masuk. Mungkin ia lelah, dan mungkin ia lapar.”

Nyai Demang menganggukkan kepalanya. Kemudian dibimbingnya Sekar Mirah masuk ke dalam rumah, melintasi pendapa, kemudian pringgitan dan langsung dibawanya ke ruang dalam.

Ketika Sekar Mirah telah dibimbing masuk, maka barulah orang-orang yang berada di halaman itu mulai bergerak. Mereka mulai berbisik-bisik dan bercakap-cakap di antara mereka. Beberapa orang prajurit sedang mempercakapkan kawan-kawan mereka yang datang dari Jati Anom bersama dengan Ki Tanu Metir, Agung Sedayu, dan Swandaru dipimpin oleh seorang perwira.

Ki Tanu Metir, Agung Sedayu, dan Swandaru mulai mengangkat kepala mereka, memandang berkeliling. Dipandanginya wajah-wajah yang sudah lama ditinggalkannya. Beberapa orang yang akrab dengan mereka segera mendekatinya dan bercakap-cakap dengan asyiknya. Hudaya, Sonya, dan beberapa orang lain. Jagabaya Sangkal Putung dan anak-anak muda yang lain.

Tetapi Ki Tanu Metir, Agung. Sedayu, dan Swandaru itu pun terkejut ketika kemudian seorang laki-laki berdiri di hadapan mereka sambil tersenyum. Rambutnya yang telah mulai memutih serta kerut-merut di dahinya menyatakan bahwa sudah melampaui setengah abad ia menghuni dunia ini.

“Kau, Adi,” desis Ki Tanu Metir itu.

“Ya, Kakang Tanu Metir. Aku sekarang berada di kademangan ini.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan sejenak kemudian ia berkata, “Syukurlah. Apakah kau sudah dibebaskan dari setiap persoalan?”

“Aku tidak tahu, Kakang. Tetapi aku mendapat kesempatan dan kepercayaan membantu Angger Widura di sini.”

Ki Tanu Metir masih mengangguk-anggukan kepalanya, Ketika ia berpaling dan memandangi wajah Widura, maka Widura itu pun menganggukkan kepalanya pula.

“Sudah berapa lama kau berada di tempat ini?” bertanya Ki Tanu Metir.

Tetapi sebelum ia menjawab, maka berkatalah Widura, “Marilah. Aku persilahkan Kiai masuk.”

“Marilah,” sambung Ki Demang. “Ah, maafkan. Aku hampir kehilangan akal ketika aku melihat anak gadisku kembali.”

Mereka pun segera masuk ke pringgitan. Ki Tanu Metir dengan kawannya berbicara, Agung Sedayu, Swandaru. Ki Demang Sangkal Putung, Widura, dan perwira yang datang dari Jati Anom, beserta beberapa orang lain.

Ketika mereka duduk di dalam pringgitan itu, mereka masih mendengar isak Nyai Demaug dan Sekar Mirah. Mereka mendengar pula beberapa perempuan bertanya-tanya tidak henti-hentinya, seperti berpuluh-puluh burung sedang berkicau bersama-sama.

Setelah saling menanyakan keselamatan masing-masing, maka Ki Demang pun kemudian berkata, “Tidak ada kesenangan melampaui kesenanganku hari ini, Ngger. Ternyata anakku itu dapat aku ketemukan kembali.”

Tak ada yang menyahut, tetapi hampir semuanya menganggukkan kepala mereka.

“Aku harus mengadakan keramaian untuk menyambut anakku itu,” berkata Ki Demang kemudian. Tetapi Widura yang duduk di sampingnya agaknya mempunyai pendapat lain.

Sebagai seorang perwira yang memimpin prajurit-prajurit Pajang di Sangkal Putung ia mempunyai pertimbangan-pertimbangan tentang keamanan dan keselamatan daerahnya. Keramaian dalam keadaan ini agaknya masih belum dapat disetujui oleh Widura.

Meskipun demikian Widura tidak segera memotong kata-kata Ki Demang yang dilanjutkannya, “Aku akan memotong kerbau dan sapi berapa saja diperlukan untuk menjamu seluruh penduduk Kademangan Sangkal Putung dan para prajurit yang berada di sini. Kegembiraan ini bukan saja kegembiraan buat keluargaku, tetapi juga kegembiraan seluruh rakyat Sangkal Putung. Meskipun kita tidak dapat menangani pembebasan Sekar Mirah itu sendiri, tetapi dengan demikian Sangkal Putung telah terlepas dari aib yang akan dapat menodai sepanjang umur kita, bahkan akan selalu dikenang oleh anak cucu kita bahwa kita pernah kehilangan seorang gadis tanpa berbuat sesuatu. Tetapi sekarang, atas bantuan beberapa pihak, Sekar Mirah telah terbebaskan. Aku harus menyatakan kegembiraan itu. Sebagai pernyataan terima kasihku, terutama kepada Yang Maha Kuasa, yang telah memperkenankan semuanya itu tenjadi.”

Dibiarkannya Ki Demang melimpahkan segala perasaannya. Widura mengerti, bahwa perasaan yang demikian itu tidak akan dapat ditahan-tahankannya. Apabila pelepasan perasaannya itu terdapat dikendalikan.

Tetapi agaknya Ki Demang telah merasa puas melepaskan kata-kata yang menyesak di dadanya. Orang tua itu pun kemudian terdiam.

Sejenak ruangan itu menjadi sepi, seperti sedang dijamah hantu. Masing-masing duduk sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedang di ruang dalam masih terdengar isak tangis Nyai Demang dan Sekar Mirah. Bahkan beberapa perempuan yang lain dan pelayan Sekar Mirah yang gemuk itu pun menangis pula. Lebih keras dari Sekar Mirah sendiri.

“Untung, bukan aku yang diambilnya,” tangis pelayan yang gemuk itu. “Seandainya aku maka aku pasti telah mati membeku.”

“Siapa yang mengambilmu itu?” bertanya suara yang lain.

“Seandainya, ya, seandainya saja yang diambil Sidanti itu aku, maka aku pasti akan mati di tengah jalan, selama aku dibawa ke sarang hantu itu.”

“Buat apa Sidanti mengambilmu?” terdengar suara lain pula.

Tiba-tiba perempuan yang gemuk itu. Menyadari dirinya. Sekar Mirah diambil karena kecantikannya. Karena itu maka jawabnya, “Tidak. Sidanti tidak akan mengambil aku. Tetapi seandainya orang lain pun yang mengambil, aku akan mati pula.”

“Tidak ada orang yang berpikir begitu gila untuk mengambilmu,” teriak Swandaru jengkel dari pringgitan. “Orang itu harus membawa gerobak untuk mengangkutmu.”

Pelayan yang gemuk itu terkejut. Ia tidak menyangka bahwa suaranya itu didengar oleh orang-orang yang duduk di pringgitan. Dengan demikian maka mulutnya pun segera terkatup. Bukan saja ia tidak berani berbicara lagi, tetapi tangisnya pun tiba-tiba terdiam pula.

Dan sejenak kemudian barulah Widura berkata, “Ki Demang. Aku akan senang sekali ikut menyelenggarakan keramaian itu. Para prajurit pun pasti akan senang sekali menerima rangsum yang jauh lebih baik dari rangsumnya sehari-hari. Apalagi apabila Ki Demang menyelenggarakan wayang beber semalam suntuk. Alangkah senangnya. Tetapi Ki Demang, aku kira kita harus mempertimbangkan waktu. Kapan saja keramaian itu dapat diadakan, sesudah kita pasti bahwa keramaian itu tidak akan terganggu.”

Wajah Ki Demang tiba-tiba menjadi berkerut-merut, Perlahan-lahan ia bergumam, “Ya, ya. Benar. Aku melupakan keadaan terakhir di kademangan ini. Setelah beberapa saat kami bebas dari ketakutan dan kegelisahan, tiba-tiba suasana yang demikian itu kini dimulai lagi.

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Ya. Itu harus dipertimbangkan. Tamu-tamu kita ini pun harus tahu keadaan kita di sini.”

“Aku sudah mendengar,” sahut perwira yang datang dari Jati Anom.

“Dari siapa kau mendengarnya?”

“Dari para peronda yang aku temui di luar induk kademangan.”

“Begitulah keadaan kami di sini,” berkata Widura. “Aku sudah berusaha untuk mencari sebab dari kematian dan hilangnya beberapa orang peronda. Tetapi aku belum menemukannya.”

“Kau akan segera mengerti,” sahut perwira itu. “Aku ingin mendapat kesempatan untuk menyampaikan pesan Ki Untara kepadamu, Kakang Widura.”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Tidak ada orang lain di sini. Katakanlah.”

Perwira itu menebarkan pandangan matanya berkeliling. Seolah-olah ingin mengenal setiap orang yang ada di dalam pringgitan itu. Kemudian dipandanginya pintu yang terbuka, yang menghubungkan ruangan itu dengan ruangan dalam.

“Apakah perempuan-perempuan itu tidak boleh mendengarnya?” bertanya Ki Demang Sangkal Putung.

Perwira itu mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Sebenarnya tidak ada keberatannya, tetapi apakah berita ini dapat membuat mereka gelisah dan orang-orang di seluruh kademangan ini menjadi gelisah, itulah soalnya.”

“Tutuplah pintu itu, Swandaru,” berkata Ki Demang. “Kalau Angger berbicara tidak terlampau keras mereka tidak akan mendengar.”

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sama sekali bukan rahasia,” katanya. Tetapi ia terdiam lagi. Memandanginya seorang yang rambutnya sudah memutih yang duduk di samping Ki Tanu Metir.

Rasa-rasanya ia pernah melihat orang itu, tetapi perwira itu tidak dapat lagi mengingatnya, kapan dan di mana. Sejak ia datang ke Sangkal Putung untuk menggabungkan diri pada Untara, maka ia tidak melihat orang itu.

“Apakah ia orang kademangan ini yang pada saat aku singgah di sini sebelum aku berangkat ke Jati Anom kebetulan tidak ikut menemui prajurit-prajurit Pajang di sini?” pertanyaan itu timbul di dalam hatinya. Tetapi kemudian dibantahnya sendiri, “Bukan, pasti bukan. Ia bukan sekedar orang kademangan. ini. Sorot matanya adalah sorot mata yang terlampau tajam dan dalam.”

Agaknya Widura melihat keragu-raguan perwira itu, sehingga dengan demikian maka ia perlu bertanya kepada perwira itu, “Apakah kau belum pernah melihatnya?”

Perwira itu mengerutkan keningnya. Dan dijawabnya dengan jujur, “Aku merasa pernah mengenalnya, tetapi di mana dan kapan aku tidak ingat lagi.”

“Aku kira kau memang pernah melihatnya. Di Jipang barangkali?”

Perwira itu mencoba mengingat-ingat. Sebelum pecah perang yang sama-sama tidak dikehendaki itu, antara Pajang dan Jipang, ia memang pernah pergi ke Kadipaten Jipang, menjadi salah seorang pengawal Ki Gede Pemanahan.

“Apakah orang ini orang Jipang, dan kenapa ia berada di sini?” pertanyaan itu tumbuh pula di dalam hatinya. “Sayang aku tidak sempat melihat orang-orang Jipang yang menyerah sebelum aku bertugas di sini itu. Mungkin orang ini salah seorang daripadanya.”

Orang tua yang sedang dipercakapkan itu sendiri hanya tersenyum-senyum saja. Sekali ia menengadahkan wajahnya dan sekali-sekali kepalanya ditundukkannya.

“Kau masih. belum ingat?” bertanya Widura.

Perwira itu menggelengkan kepalanya, “Belum.”

“Nah, Kiai. Cobalah memperkenalkan dirimu kepada utusan Untara ini. Sebab kelak Untara-lah yang akan menerima Kiai di sini secara resmi.”

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya dalam nada yang datar, “Ya, Ngger. Aku memang termasuk salah seorang dari Kadipaten Jipang. Mungkin Angger memang pernah melihat aku.”

Perwira ilu mengangguk-angguk pula.

“Seperti barangkali Angger pernah juga melihat Ki Tambak Wedi di Kepatihan Jipang, karena Ki Tambak Wedi pun termasuk salah seorang kawan dari Ki Patih Mantahun.”

Perwira itu mengerutkan keningnya. Dari keterangan itu ia dapat mengambil kesimpulan bahwa orang tua ini pun adalah salah seorang kawan Ki Patih Mantahun. Patih yang hampir-hampir tidak ada lawannya itu. Untunglah bahwa Pajang juga memiliki orang-orang yang mampu mengimbangi kekuatan dan kesaktian ki Patih Mantahun.

Dengan demikian maka orang ini pun pasti seorang yang memiliki kekuatan ilmu seperti Ki Patih Mantahun dan Ki Tambak Wedi.

“Tetapi apa kerjanya di sini?” ia bertanya pula kepada dirinya sendiri.

Orang tua itu melihat berbagai pertanyaan bergelut di dalam pandangan mata perwira yang selalu memandanginya dengan saksama. Maka katanya kemudian, “Angger pasti tidak akan terkejut mendengar namaku. Bahkan mungkin belum pernah mendengarnya sama sekali, karena aku hanya seorang abdi saja di Kepatihan Jipang. Namaku adalah Sumangkar.”

“He,” perwira itu terperanjat. Nama itu telah pernah didengarnya dan bahkan cukup menggetarkan jantungnya.

“Sumangkar,” ia mengulanginya.

“Ya, Ngger, aku adalah Sumangkar. Seorang abdi Kepatihan Jipang, yang hanya karena kebetulan saja aku menjadi saudara seperguruan Ki Patih Mantahun.”

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ditatapnya wajah Widura, seolah-olah ia ingin mendapat keterangan, kenapa Sumangkar itu berada di Sangkal Putung.

Pertanyaan itu sebenarnya tidak saja bergolak di dalam dada perwira itu saja, tetapi di dalam dada Swandaru, Agung Sedayu, dan bahkan Ki Tanu Metir.

Widura dapat menangkap siratan sorot mata perwira itu dan mereka yang baru saja datang dari Jati Anom. Karena itu maka ia pun berkata, “Mungkin kehadiran Paman Sumangkar di sini dapat menumbuhkan berbagai macam pertanyaan. Pertanyaan yang sebenarnya tumbuh pula di dalam dadaku. Tetapi aku kira Paman Sumangkar dapat pula menjelaskannya.”

Orang tua yang rambutnya telah menjadi keputih-putihan itu berkata, “Ya. Jangankan pada diri Angger sekalian, dan pada Kakang Tanu Metir yang sering menyebut dirinya Kiai Gringsing ini. Aku sendiri pun semula terkejut menerima keputusan Ki Gede Pemanahan, bahwa aku harus pergi ke Sangkal Putung.”

“Apa katanya?” potong Ki Tanu Metir.

“Aku diperbantukan kepada Angger Untara dan Angger Widura. Menurut perhitungan Ki Gede Pemanahan, Ki Tambak Wedi pasti akan menumbuhkan bahaya yang akan dapat lebih besar dari bahaya yang pernah ditimbulkan oleh Tohpati di daerah ini. Ki Gede Pemanahan menilai Tohpati masih lebih baik dari Ki Tambak Wedi. Tohpati, meskipun masih cukup muda, tetapi ia memiliki kematangan sikap. Ia bukan seorang yang membiarkan dirinya diombang-ambingkan oleh nafsu saja. Tohpati telah memilih sasaran yang dianggapnya perlu, dan ia tidak akan berbuat lain daripada menuju kepada sasaran yang telah ditentukannya, meskipun ada juga satu dua orang bawahannya yang sering berbuat lain. Tetapi, Tambak Wedi adalah seorang yang licik. Seorang yang jauh lebih berbahaya dari Tohpati. Justru karena ilmunya yang tinggi dan kelicikannya itulah.”

Ki Tanu Metir dan orang-orang lain yang mendengar keterangan Sumangkar itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka dapat mengerti alasan Ki Gede Pemanahan untuk mengirimkan seseorang yang cukup kuat menghadapi Ki Tambak Wedi. Tetapi kenapa yang dikirim justru Sumangkar?

Meskipun pertanyaan itu tidak terucapkan, namun agaknya orang tua itu dapat menangkap dari sorot mata, beberapa orang yang duduk di pendapa itu. Maka katanya, “Aku tidak tahu kenapa pilihan itu jatuh kepadaku. Aku tidak tahu kenapa Ki Gede Pemanahan tidak menunjuk orang lain. Tetapi dengan demikian aku mengucapkan banyak terima kasih atas kesempatan ini. Mungkin aku dianggap tidak berbahaya lagi bagi Pajang, atau barangkali dosaku tidak dianggap terlampau besar sehingga cukup alasan untuk menggantung aku di alun-alun. Aku tidak tahu.”

Ki Tanu Metir masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Dosamu memang tidak terlampau besar. Di saat-saat terakhir kau menunjukkan sikap yang dapat menolong dirimu sendiri.”

“Penyerahan itu?” bertanya Sumangkar.

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya. Penyerahan itu. Kita dapat membedakan sikap yang didasari oleh alasan yang berbeda untuk menyerah. Dan kau ternyata menyerah karena di dalam dirimu telah tumbuh kesadaran, bahwa perlawananmu tidak akan berguna. Bukan karena keringkihan pasukanmu, tetapi secara lahir maupun batin, perbuatan maupun tujuan, kau menganggap bahwa perlawanan itu tidak akan ada gunanya buat kepentingan apa pun.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Mungkin alasan itu pulalah yang dipakai oleh Ki Gede Pemanahan atas persetujuan Adiwijaya.

“Satu-satunya yang dapat dimengerti adalah alasan itu.”

“Ternyata bukan aku saja yang mendapat pengampunan. Setelah dipertimbangkan, maka sebagian kecil dari para prajurit Jipang telah dipekerjakan pula oleh Ki Gede Pemanahan untuk membantu pasukan-pasukan Pajang yang sedang bertugas. Selebihnya masih dalam pengawasan.”

“Ya, perlakuan atasmu dan orang-orangmu yang menyerah akan berbeda sekali dengan orang-orang Jipang yang menyerah di Tambbak Wedi,” sahut Ki Tanu Metir.

“Bagaimana dengan mereka?” bertanya Sumangkar. Ki Tanu Metir tidak menjawab. Dipandanginya perwira yang memimpin serombongan kecil prajurit yang datang bersamanya. Agaknya prajurit itu mengerti maksud Kiai Gringsing, bahwa kewajibannyalah untuk menyampaikan persoalan prajurit-prajurit Pajang yang telah menduduki Tambak Wedi.

Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Inilah yang akan aku sampaikan kepada Kakang Widura. Dengan demikian Kakang Widura akan mendapat gambaran yang lengkap tentang keadaan di Jati Anom dan di padepokan Tambak Wedi.”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya, aku memerlukan keterangan itu selengkap-lengkapnya supaya aku dapat memperhitungkan keadaanku di sini.”

Sekali lagi perwira itu memandangi Sumangkar yang duduk di samping Kiai Gringsing. Orang itu adalah orang yang penting bagi Jipang. Namanya telah dikenalnya dengan baik tetapi orangnya baru sekali dua kali dilihatnya, sehingga ketika ia melihat kali ini untuk pertama kali, ia sama sekali tidak menyangka bahwa orang itulah yang bernama Sumangkar.

Tetapi Ki Gede Pemanahan telah mengirimkannya kepada Widura pasti dengan bukti-bukti yang dapat meyakinkan Widura, sehingga Widura dapat menerimanya dengan tanpa ragu-ragu.

Widura yang segera ingin mendengar keterangan perwira itu tentang Tambak Wedi, melihat bahwa perwira itu masih disaput oleh keragu-raguan betapapun tipisnya. Karena itu, maka ia berkata, “Kedatangan Ki Sumangkar kemari disertai oleh dua prajurit yang membawa penjelasan dari Ki Gede Pemanahaan di atas rontal.”

Perwira itu mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia pun tersenyum, seperti juga Sumangkar yang tersenyum pula mendengar penjelasan Widura itu.

“Baiklah,” berkata perwira itu, “aku akan bercerita tentang Tambak Wedi kecuali pesan-pesan yang khusus hanya dapat aku sampaikan kepada Kakang Widura di sini.”

“Ya,” sahut Widura.

Maka perwira itu pun kemudian menceritakan apa yang telah terjadi di Padepokan Tambak Wedi. Semuanya. Tidak ada yang dilampauinya. Sejak Ki Tanu Metir sampai di Jati Anom dan berhubungan dengan anak muda yang bernama Wuranta. Kemudian permainan Wuranta yang berbahaya. Hubungan Wuranta dengan Alap-alap Jalatunda dan kemudian keretakan hubungan antara Alap-alap Jalatunda dan Sidanti.

Orang-orang yang berada di ruangan itu mendengarkan keterangan perwira itu dengan saksama. Swandaru, Agung Sedayu, dan Ki Tanu Metir yang mengalami peristiwa-peristiwa itu sendiri pun, mendengarkannya dengan penuh minat. Kadang-kadang terasa betapa berbahaya permainan yang telah mereka lakukan dan dilakukan oleh Wuranta. Tetapi pada saat-saat mereka melakukannya, maka bahaya itu seolah-olah tidak mereka lihat.

Urung-urung di Padepokan Tambak Wedi itu pun telah direnanginya. Swandaru masih teringat, bahwa kepalanya telah membentur langit-langit urung-urung itu. Seandainya benturan itu terjadi cukup keras, dan ia pingsan selagi masih berada di bawah urung-urung itu, maka ia pasti tidak akan, dapat menyelesaikan tugasnya dan bertemu kembali dengan adiknya. Tetapi betapapun berbahayanya, namun usaha harus dilakukan.

Widura seolah-olah terpaku mendengar cerita itu. Terbayang peristiwa-peristiwa itu terjadi di depan matanya. Ternyata menghadapi Tambak Wedi tidak lebih ringan dari menghadapi Tohpati.

Hanya karena keadaan yang khusus sajalah, maka Untara dapat menyelesaikan tugasnya dengan cepat. Keadaan yang memberinya kesempatan. Ternyata Sekar Mirah yang diambil oleh Sidanti dari Sangkal Putung hanya mempercepat keruntuhan Tambak Wedi itu saja.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Widura itu berkata, “Jadi kini Padepokan Tambak Wedi itu telah pecah?”

“Ya,” jawab perwira yang ditugaskan oleh Untara itu.

“Dan Ki Tambak Wedi sendiri beserta Sidanti dan Argajaya mampu melepaskan diri?”

“Ya.”

“Dengan demikian kita dapat menilai keadaan,” gumam Widura seolah-olah kepada diri sendiri. “Kehilangan yang kami alami di sini pasti ada sangkut pautnya yang erat dengan ketiga orang yang berhasil lolos itu.”

“Itu sudah pasti.”

Widura menarik nafas panjang. Tanpa dikehendakinya maka ia berpaling kepada Ki Sumangkar. Katanya, “Agaknya perhitungan Ki Gede Pemanahan cukup tajam. Meskipun tidak tepat benar, tetapi kelicikan Ki Tambak Wedi benar-benar telah dibuktikannya tanpa malu-malu. Aku di sini telah kehilangan beberapa orang peronda. Agaknya orang-orang itu ingin melepaskan dendamnya.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Jawabnya, “Ya, orang tua itu benar-benar tidak tahu diri.”

“Kemudian adalah kewajibanmu, Adi,” sahut Ki Tanu Metir. “Kau, harus menyelesaikan Tambak Wedi bersama kedua orang yang mengikutinya itu.”

Sumangkar tersenyum. Ditatapnya wajah Ki Tanu Metir. Kemudian katanya, “Perhitungan Ki Gede Pemanahan yang lain juga cukup mengenai sasaran. Menurut Ki Gede Pemanahan, meskipun di Sangkal Putung ada seorang yang bernama Kiai Gringsing, tetapi orang itu tidak dapat diikat oleh suatu kewajiban, karena ia bukan seorang prajurit. Begitu?”

“Ah,” Ki Tanu Metir berdesah.

“Ki Gede Pemanahan belum dapat mengerti dengan tepat, siapakah Ki Tanu Metir itu. Ia hanya menduga dari keterangan yang didengarnya. Dari puteranda Mas Ngabehi Loring Pasar, dan dari orang-orang yang pernah bergaul rapat dengan Kakang. Akhirnya Ki Gede Pemanahan berkata “Orang itu adalah orang yang mempunyai perhitungan-perhitungan tersendiri. Karena itu, maka harus ada orang lain yang pasti dapat dihadapkan kepada Ki Tambak Wedi yang dapat saja berbuat aneh.” Dan orang itu adalah aku.”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Kemudian bertanya, “Apa kata Ki Gede tentang aku?”

Sumangkar Tersenyum. “Tidak apa-apa. Hanya begitulah. Ki Gede hanya dapat menduga-duga, siapakah Ki Tanu Metir itu.”

“Kenapa harus menduga-duga. Bukankah setiap orang di sini tahu, bahwa orang inilah, dukun inilah yang bernama Ki Tanu Metir.”

“Salahmu sendiri,” sahut Sumangkar.

“Kenapa pula salahku?”

“Kakang Tanu Metir tidak pernah berdiri berhadapan langsung dengan Ki Gede Pemanahan agaknya. Kalau Kiai Gringsing tidak selalu menghindar ketika Ki Gede datang kemari, maka Ki Gede akan dapat berkata dengan tegas. O, Ki Tanu Metir itu adalah orang ini, dukun yang aneh dari Dukuh Pakuwon.”

“Ki Gede Pemanahan memang belum pernah mengenal aku.”

“Ya, memang belum pernah mengenal Ki Tanu Metir atau Kiai Gringsing. Tetapi dalam bentuk-bentuknya yang lain?”

“Ah, sudahlah. Kau dan Ki Gede Pemanahan bersama-sama sedang memimpikan hal-hal yang tidak pernah ada,” potong Kiai Gringsing. Kemudian kepada Widura ia berkata, “Maaf Angger, agaknya percakapan ini agak berkisar kepada persoalan yang tidak bemanfaat bagi Angger di sini.”

Tetapi Kiai Gringsing justru melihat Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku menemukan Kiai Gringsing dalam keadaan yang khusus. Kemudian aku menyangka bahwa aku adalah orang yang akhirnya dapat mengenalnya setelah Kiai tidak lagi bermain-main dengan topeng. Ternyata topeng Kiai berangkap tujuh.”

“Ah, ada-ada saja. Kalian sudah dijalari penyakit mimpi. Sudahlah. Sekarang bagaimana dengan Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya? Kalian hanya membuat anak-anakku menjadi semakin bingung. Untunglah Angger Agung Sedayu pernah mendatangi aku di rumahku, sehingga baginya tidak ada lagi persoalan tentang Ki Tanu Metir.”

Agung Sedayu tidak menyahut. Tetapi sebenarnya pertanyaan yang demikian itu sudah lama pula bersarang di dalam dirinya. Pertama sekali ia melihat orang tua itu sebagai seorang dukun. Hanya seorang dukun yang selalu mencoba mengobati orang-orang yang sakit dengan berbagai macam dedaunan. Hanya itu, tidak lebih. Namun adalah mengejutkan sekali bahwa Ki Tanu Metir itu mampu melindungi kakaknya. Bahkan kemudian mengambil peranan yang pasti di dalam penyelesaian maWidura mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Tidak ada orang lain di sini. Katakanlah.”salah orang-orang Jipang dan kemudian di Padepokan Tambak Wedi.

Tetapi beberapa orang lain di dalam ruangan itu benar-benar duduk terpaku tanpa dapat mengerti arah pembicaraan itu. Meskipun demikian mereka membiarkan saja persoalan itu berlangsung. Tetapi ternyata Ki Tanu Metir sendirilah yang mengakhirinya, dan menggeser pembicaraan itu kembali kepada persoalan Ki Tambak Wedi.

“Ternyata Ki Gede Pemanahan telah berbuat tepat, bahkan seandainya Tambak Wedi belum pecah,” berkata Ki Tanu Metir kemudian. “Kedatangan adi pasti akan sangat berarti.”

“Mudah-mudahan,” sahut Sumangkar.

“Lalu bagaimana menurut pertimbanganmu, Angger Widura,” bertanya Ki Tanu Metir itu kemudian.

Widura tidak segera menjawab. Perlahan-lahan ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mempertimbangkan segala pembicaraan itu di dalam hatinya. Ia kini mendapat gambaran yang semakin jelas tentang peronda-perondanya yang hilang. Tidak ada orang lain yang melakukan pembunuhan terhadap prajurit-prajurit itu selain Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya untuk sekedar memuaskan hatinya. Mereka sudah pasti tidak akan dapat lagi mengharap untuk merebut Sangkal Putung hanya bertiga saja atau mungkin satu dua orang yang dapat mereka temui di perjalanan mereka karena kebetulan mereka tidak berada di Padepokan Tambak Wedi pada saat padepokan itu pecah. Betapapun saktinya hantu lereng Merapi itu, tetapi mereka tidak akan dapat menghadapi pasukan Widura dan anak-anak muda Sangkal Putung segelar-sepapan.

Karena itu, maka yang dapat mereka lakukan adalah membuat kegelisahan dan kecemasan dengan cara yang sangat licik dan kejam.

Tetapi, persoalan itu kini sudah jelas bagi Widura. Ia sudah dapat membayangkan apa yang terjadi, sehingga dengan demikian ia akan dapat menghadapinya. Tidak cukup dengan menambah jumlah para peronda menjadi lima orang. Tetapi harus dilipatkan.

Sejenak kemudian barulah ia menjawab penanyaan Ki Tanu Metir. “Kita harus lebih hati-hati Kiai. Iblis itu seolah-olah dapat berada di segala tempat pada setiap saat dan kemudian dapat melenyapkan diri dengan tiba-tiba.”

Tetapi Ki Tanu Metir menggeleng, “Tidak terlampau sulit, Ngger. Setiap kali mereka bertemu dengan para peronda, maka peronda-peronda itu lalu mereka bunuh. Mereka tidak perlu dengan tergesa-gesa pergi. Bukankah sebelum peristiwa-persitiwa ini terjadi, setiap peronda tidak lebih dari dua orang bersama-sama.”

Widura menganggukkan kepalanya. “Ya Kiai.”

“Nah, sekarang Angger harus berbuat lain.”

“Ya.”

“Tetapi di Sangkal Putung kini telah tinggal seorang yang dapat dihadapkan langsung kepada Ki Tambak Wedi, Adi Sumangkar ini,” berkata Ki Tanu Metir kemudian.

“Dan Kiai Gringsing,” sambung Sumangkar.

Keduanya tersenyum. Namun tampaklah bahwa masih ada persoalan yang membayang pada Ki Tanu Metir. Meskipun ia masih juga tersenyum, namun tampaklah ia mengangguk-angguk perlahan.

“Adi,” berkata Ki Tanu Metir itu kemudian, keningnya tampak berkerut. “Ada daerah lain yang dapat mengalami nasib seperti daerah ini. Bahkan lebih parah, karena di sana tidak ada kekuatan seperti di Sangkal Putung.”

Sumangkar mengerutkan keningnya dan bahkan Widura segera bertanya, “Jati Anom?”

Ki Tanu Metir menggelengkan kepalanya. “Di Jati Anom ada Angger Untara dan pasukannya yang cukup kuat. Apalagi hanya menghadapi tiga orang itu.”

Widura mengerutkan keningnya. Dan Sumangkar bertanya, “Lalu manakah yang Kiai cemaskan?”

“Argajaya pernah mempunyai persoalan dengan prajurit-prajurit Pajang di Prambanan. Ia pernah dikalahkan dalam perang tanding oleh Angger Sutawijaya di ujung Gunung Baka. Mungkin dendamnya yang semakin bertimbun-timbun itu akan dapat menumbuhkan keinginan yang tidak terkekang seperti apa yang pernah dilakukan di daerah ini.”

Tanpa berjanji maka mereka yang mendengarkan penjelasan Ki Tanu Metir itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka pernah mendengar serba sedikit apa yang pernah terjadi di Prambanan.

Dalam pada itu, terdengar Swandaru berkata, “Kiai pada saat itu bukankah orang-orang Prambanan, terutama beberapa orang prajurit berpihak kepadanya?”

“Tetapi ia tahu dengan pasti, siapakah yang tidak menyenanginya. Apalagi apabila ia sengaja singgah ditempat itu, dan ditemuinya tanggapan yang berbeda dengan tanggapan yang pernah didapatinya sebelum ia pergi ke Tambak Wedi. Kekecewaan yang bertimbun-timbun ditambah dengan sifat-sifatnya yang keras dan sifat-sifat Sidanti akan sangat berbahaya bagi Kademangan itu.”

“Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti apa yang terjadi dan kira-kira dapat terjadi di waktu yang akan datang.

“Ya, kademangan itu memerlukan perlindungan,” desisnya.

“Apakah tidak ada perlindungan dari prajurit-prajurit Pajang yang berada di sana seperti terhadap Sangkal Putung dan Jati Anom,” bertanya Ki Demang Sangkal Putung.

“Daerah itu dianggap oleh pimpinan prajurit Pajang, sebagai daerah yang tidak berbahaya karena sisa-sisa prajurit Jipang hampir tidak tertarik sama sekali kepada daerah itu, karena mereka terikat kepada keinginan mereka untuk menduduki lumbung di daerah ini. Tetapi pimpinan Wira Tamtama tidak akan segera melihat kepentingan yang lain dari Argajaya, seorang tamu dari seberang hutan Mentaok, dan keadaan di Prambanan sendiri, karena sikap para prajurit yang berada di sana. Kehadiran Angger Sutawijaya agaknya mempunyai akibat yang baik, tetapi juga mencemaskan apabila Argajaya datang kembali ke daerah itu, apalagi bersama dengan Ki Tambak Wedi dan Sidanti.” Ki Tanu Metir berhenti sejenak, lalu, “Hanya ada beberapa saja prajurit yang ditempatkan di Prambanan. Semuanya itu akan tidak berarti sama sekali bagi Ki Tambak Wedi, seandainya mereka yang sakit hati, akan dengan mudahnya jatuh dalam pengaruh Argajaya yang keras kepala itu.”

Yang mendengarkan kata-kata Kiai Gringsing itu dapat membayangkan bahwa Prambanan memang berada dalam keadaan yang mencemaskan apabila ketiga orang itu benar-benar akan singgah di sana.

Apalagi mereka yang telah berada di Prambanan dan melihat dari dekat apa yang telah terjadi sebelumnya. Agung Sedayu dan Swandaru pun kemudian menjadi sangat cemas pula. Anak-anak muda Prambanan yang berdiri berseberangan, akan dapat menjadi kambuh kembali. Keadaan yang demikian akan sangat mudah dimanfaatkan oleh Argajaya, Sidanti, dan Ki Tambak Wedi untuk membuat kekisruhan, meskipun sudah pasti bahwa Ki Tambak Wedi tidak akan dapat membuat Prambanan menjadi pancadan untuk melakukan perlawanan terhadap Pajang, karena Prambanan tidak memiliki syarat-syarat yang cukup untuk itu.

Dengan demikian yang dapat mereka lakukan hanyalah perbuatan-perbuatan yang dapat menimbulkan kesan bahwa sejak Pajang berdiri telah tumbuh keributan di mana-mana. Masalah pesisir Utara masih belum selesai seluruhnya, Sangkal Putung masih belum aman benar, kemudian Tambak Wedi di lereng Merapi. Sebelum daerah itu bersih sama sekali maka kembali Sangkal Putung dan kemudian ditimbulkan pula di Prambanan. Belum terhitung keributan-keributan kecil, perampokan oleh orang-orang yang putus asa, kejadian-kejadian yang lain di seluruh wilayah Pajang.

Tetapi, yang mencemaskan Ki Tanu Metir sebenarnya, bukanlah Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya di dalam perjalanan mereka pulang ke Menoreh, tetapi bagaimana sesudah itu. Bagaimanakah sikap Ki Argapati setelah ia melihat dan mendengar, Sidanti pulang dengan luka di hati.

Meskipun demikian, bukan berarti bahwa Prambanan harus dibiarkan saja. Bukan berarti bahwa Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya akan mendapat kesempatan untuk melakukan apa saja sekehendak hati mereka.

Tetapi Prambanan dalam keadaannya seperti pada saat mereka tinggalkan, pasti tidak akan dapat berbuat apa-apa, selain membiarkan ketiga orang itu berbuat apa saja yang mereka kehendaki.

Dalam pada itu terdengar Widura bergumam, “Lalu apa yang sebaiknya dilakukan untuk Prambanan?”

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam, jawabnya, “Angger dapat menyampaikan laporan ini kepada Angger Untara. Mungkin Angger Untara dapat berbuat sesuatu. Bukankah Prambanan masih termasuk di dalam lingkungan kekuasaannya?”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya,” desisnya di dalam hati, “atasanku adalah Untara.”

Hadirnya seorang perwira dari Jati Anom merupakan kesempatan yang baik bagi Widura. Pesan itu langsung diserahkannya kepada perwira yang besok pagi akan segera kembali ke Jati Anom.

“Daerah itu perlu segera mendapat perhatian.” berkata Widura. “Kedudukan prajurit-prajurit Pajang di sana sangat lemah, sedangkan mereka tidak dapat berbuat banyak atas anak-anak mudanya karena kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan sendiri.”

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sendiri dapat mengerti, bahwa seharusnya Untara tidak berdiam diri atas persoalan itu. Meskipun tidak dikatakannya, tetapi perwira itu dapat menghubungkan dengan rencana Untara untuk mengirim beberapa orang langsung ke daerah-daerah terpencil, yang setiap saat harus menyampaikan laporan kepadanya. Untara memang akan segera mengirimkan pengawasan ke daerah Prambanan, dan beberapa daerah yang mungkin dilalui oleh Sidanti apabila karena hatinya yang panas benar-benar akan datang dengan membawa pasukan dari Menoreh. Meskipun daerah Menoreh itu agak terpisah, tetapi keadaan alamnya ternyata telah membuat orang-orangnya menjadi kuat dan keras hati, seperti Sidanti dan Argajaya.

Tetapi, baik Untara, Ki Tanu Metir, maupun Widura sebenarnya masih mempunyai harapan, bahwa Argapati tidak segera terbakar mendengar laporan anak dan adiknya. Argapati meskipun seorang yang keras hati pula, tetapi ia mampu membuat pertimbangan-pertimbangan yang masak menghadapi setiap persoalan. Namun Argapati bagi orang-orang Pajang, bukanlah nama yang seharusnya sangat dicurigai. Tetapi bagaimana dan sampai seberapa jauh pengaruh Ki Tambak Wedi atasnya, itulah yang tidak dimengerti.

Pertemuan itu pun kemudian diakhiri setelah beberapa orang pelayan menghidangkan makan bagi mereka. Betapa sederhananya, namun terasa bahwa makanan yang mereka suapkan ke dalam mulut mereka adalah makanan yang selezat-lezatnya.

Setelah mereka selesai, maka Ki Demang pun segera meninggalkan ruangan itu. Ia ingin bertemu dengan puterinya yang telah sekian lama terpisah. Swandaru dan Agung Sedayu beserta beberapa orang yang lain meninggalkan ruangan itu pula.

“Silahkan kau beristirahat, Adi,” berkata Widura kepada perwira yang datang dari Jati Anom.

“Baik, Kakang, tetapi aku memerlukan kesempatan untuk berbicara. Aku ingin menyampaikan pesan Ki Untara, yang harus langsung aku sampaikan kepadamu.”

Widura mengerutkan keningnya. “Baiklah,” katanya, “apakah soalnya?”

“Pesan pribadi,” sahut perwira itu.

Kening Widura masih berkerut. Tetapi kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah. Kau akan mendapat cukup kesempatan. Sekarang, silahkanlah beristirahat.”

Perwira itu pun kemudian meninggalkan ruangan itu pula. Di pendapa ia melihat orang-orangnya sedang makan pula. Sambil tersenyum ia berkata, “Makanlah, aku sudah cukup kenyang.”

Kemudian ditemuinya beberapa orang kawan-kawannya yang berada di Sangkal Putung bersama dengan Widura. Mereka saling bercerita tentang diri masing-masing.”

Dalam pada itu, Ki Tanu Metir dan Sumangkar masih tinggal bersama-sama dengan Widura. Ketika di dalam ruangan itu sudah tidak ada orang lain, maka Ki Tanu Metir pun berkata “Aku pun membawa pesan pribadi untukmu, Ngger.”

Widura mengerutkan keningnya. Dipandanginya Ki Tanu Metir dan Sumangkar berganti-ganti, seolah-olah ia ingin bertanya, apakah pesan itu dapat didengar oleh Sumangkar.

Tetapi sebelum ia bertanya, Ki Tanu Metir berkata, “Pesan pribadi Angger Untara agaknya berhubungan dengan pesan yang dibawa oleh perwira bawahannya itu pula.”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian bertanya, “Apakah Untara berpesan kepadanya dan kepada Kiai bersama-sama?”

“Tidak,” sahut Ki Tanu Metir. “Pesan yang aku bawa agak berbeda segi pandangannya dengan pesan yang dibawa oleh perwira itu.”

Kening Widura menjadi semakin berkerut-merut. “Bagaimana dapat terjadi demikian?”

Ki Tanu Metir tersenyum. Ketika ia melihat Widura sekali lagi memandang Sumangkar, maka berkatalah Ki Tanu Metir, “Tidak apa-apa. Biarlah Adi Sumangkar mendengarnya.”

Widura menarik nafas dalam-dalam.

“Pesan itu menyangkut kemanakan Angger, Agung Sedayu,” berkata Ki Tanu Metir kemudian. “Pendapat Angger Untara ternyata agak berbeda dengan pendapatku. Agaknya Angger Untara tidak begitu senang dengan keinginanku untuk membawa Angger Agung Sedayu menempuh jalan yang diingininya.” Kemudian dengan agak berbisik Ki Tanu Metir berkata, “Ada sangkut pautnya dengan Angger Sekar Mirah. Agaknya Angger Untara ingin melihat adiknya tumbuh tanpa terganggu, apalagi oleh seorang wanita.”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia bergumam, “Aku mempercayainya, Kiai. Demikianlah agaknya sifat Untara, seorang anak muda yang berada dalam jabatannya sekarang. Semua segi pandangan hidupnya terlampau dipengaruhi oleh tugasnya itu.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Lalu diceritakan sikap sebenarnya dari Untara terhadap adiknya. Dikatakannya pula bagaimana ia mencari penyelesaian yang sebaik-baiknya dengan tidak terlampau menyinggung perasaan keduanya, apalagi membenturkan sikap kakak beradik itu.

“Aku sependapat dengan Kiai,” berkata Widura kemudian. “Memang Untara bersikap terlampau keras apabila demikian. Ia seorang senapati yang menganggap semua persoalan dapat diatasinya dengan sikap seorang senapati perang. Aku akan mencobanya sebagai seorang paman, bukan sebagai seorang perwira bawahannya.”

“Mudah-mudahan,” desis Ki Tanu Metir. “Tetapi untuk sementara aku telah mendapat jalan. Membawa Angger Agung Sedayu pergi. Kemana saja untuk mendapatkan pengalaman yang akan berguna bagi masa depannya.”

“Kemana?” bertanya Widura.

Ki Tanu Metir mengerutkan dahinya yang telah dilukisi oleh garis-garis usianya yang semakin tua.

“Angger Widura,” Berkata orang tua itu, “seperti yang telah aku katakan, jalan ke Menoreh kini berada dalam bahaya. Apabila Ki Tambak Wedi membiarkan Sidanti dan Argajaya melepaskan dendamnya di sepanjang jalan, maka Keadaan daerah-daerah yang dilaluinya cukup mencemaskan, apalagi Prambanan.”

“Lalu?” wajah Widura menjadi menegang.

“Kami, maksudku aku, Agung Sedayu, dan Swandaru akan menyusur jalan itu pula.”

“Oh,” Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bergumam, “Apakah Kiai beranggapan bahwa Sidanti telah mulai dengan perjalanan itu sekarang?”

“Belum,” sahut Ki Tanu Metir, “tetapi apabila Ki Tambak Wedi mengetahui bahwa aku dan Adi Sumangkar berada di sini, ia pasti segera akan pergi.”

“Baru kemarin dulu aku masih kehilangan dua orang peronda dekat sekali dari induk kademangan.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Ketika ia berpaling ke arah Ki Sumangkar, maka orang itu segera berkata, “Aku belum dapat berbuat apa-apa. Aku belum mulai, dan wilayah Sangkal Putung terlampau luas. Ki Tambak Wedi dapat berada di segala arah. Itulah yang masih harus aku usahakan, agar aku dapat menjumpainya.”

“Ya, ya aku tahu,” sahut Ki Tanu Metir. Kemudian kepada Widura ia berkata, “Kita harus mencoba bertemu dengan orang-orang itu. Sebelum aku pergi, aku akan berusaha bersama Adi Sumangkar. Tetapi apabila usaha itu tidak membawa hasil apa pun, aku akan segera pergi ke Prambanan. Ada dua keuntungan. Bagi Prambanan dan bagi murid-muridku. Agaknya kami tidak akan berhenti di Prambanan untuk seterusnya, tetapi kami akan langsung menuju ke barat, melintasi Hutan Mentaok, dan memasuki daerah Menoreh.”

Wajah Widura menjadi semakin menegang.

“Kami ingin tahu langsung, apakah yang akan dilakukan oleh Sidanti di daerahnya sendiri. Apakah ia akan menyusun kekuatan dan dibawanya ke Sangkal Putung atau Tambak Wedi, atau bahkan langsung menusuk jantung Pajang, atau rencana-rencana yang lain yang mungkin akan lebih berbahaya.”

“Kiai,” berkata Widura kemudian, “apakah hal itu tidak akan sangat berbahaya bagi Kiai dan kedua anak-anak itu?”

“Mereka memerlukan pengalaman, Ngger. Sebelum aku berangkat, aku masih akan membuat kedua anak-anak itu semakin banyak mempunyai bekal di dalam diri masing-masing. Setiap malam kami berada di Gunung Gowok. Apakah Angger akan ikut serta? Menyenangkan sekali apabila tiba-tiba Ki Tambak Wedi muncul pula untuk ikut berlatih. Dengan demikian aku tidak perlu lagi menempuh jalan yang terlampau panjang. Tidak perlu lagi melintas Hutan Mentaok mendaki Pegunungan Menoreh.”

Widura menarik nafas dalam-dalam. Perjalanan itu adalah perjalanan yang cukup berbahaya. Memang Agung Sedayu dan Swandaru memerlukan pengalaman buat hari depannya, tetapi untuk langsung masuk ke daerah Menoreh akan mengandung kemungkinan yang sangat pahit.

Meskipun demikian, maka ia harus mempercayai Ki Tanu Metir yang memiliki ilmu dan pengalaman jauh lebih banyak daripada Widura itu sendiri.

“Angger Widura,” berkata Ki Tanu Metir, “sekarang perkenankan aku beristirahat pula. Nanti Angger akan mendengar pesan Angger Untara lewat perwira utusannya itu, yang aku kira juga berkisar pada Angger Agung Sedayu. Mungkin Angger Widura harus mengawasinya atau bahkan Angger Untara akan menitipkannya kepada Angger di sini.”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Mudah-mudahan aku dapat memenuhi keinginan Untara tanpa menyinggung perasaan Agung Sedayu. Bukankah Untara telah memperkendor keinginan-keinginannya tentang Agung Sedayu?”

“Ya. Beberapa hal telah dilepaskannya. Tetapi akulah yang harus mempertanggung-jawabkannya.”

Widura masih mengangguk-angguk. Sahutnya, “Aku mengharap semuanya dapat teratasi.”

“Baiklah,” berkata Ki Tanu Metir sambil mengangkat dadanya dan menarik nafas dalam-dalam, “aku minta diri.” Kemudian kepada Sumangkar ia berkata, “Kita masih mempunyai banyak kesempatan untuk bercerita. Marilah sekarang kita beristirahat. Aku ingin tidur.”

”Silahkan, Kakang. Aku agaknya terlampau banyak tidur semalam, sehingga aku tidak juga berhasil menemukan Ki Tambak Wedi.”

Kiai Gringsing tersenyum. Kemudian ditinggalkannya ruangan itu. Untuknya telah disediakan tempat di gandok kulon di kademangan, sehingga orang tua itu tidak usah pergi ke banjar kademangan.

Ternyata pada malam harinya Widura benar-benar mendapat pesan yang berkisar pada Agung Sedayu dari perwira utusan Untara. Sebenarnya bahwa Untara minta tolong kepada Widura untuk mengawasi adiknya yang dianggapnya kurang dapat menyesuaikan diri pada masa perkembangannya.

Sementara itu, Swandaru, Agung Sedayu, dan Ki Tanu Metir telah berada di Gunung Gowok. Orang tua itu berusaha mempergunakan setiap waktu yang terluang untuk menambah ilmu kedua murid-muridnya.

“Sebentar lagi kita akan mulai dengan sebuah perjalanan yang barangkali kurang menyenangkan. Karena itu, berbuatlah sejauh mungkin dapat kita lakukan di sini. Berlatihlah sebaik-baiknya. Aku akan memberikan beberapa petunjuk-petunjuk baru.”

Kedua anak-anak muda itu pun dengan patuh melakukannya. Kiai Gringsing ingin memberikan ciri perguruannya lebih banyak lagi kepada kedua muridnya. Itulah sebabnya untuk seterusnya, maka keduanya di samping memperdalam ilmu pedang, mereka juga mulai memperdalam ilmu senjata lemas dan lentur. Kadang-kadang mereka mempergunakan cambuk, namun di lain kesempatan mereka mempergunakan cemeti yang lentur. Bahkan kadang-kadang mereka belajar mempergunakan pasangan daripadanya. Pedang dan cambuk di tangan kiri, atau sebaliknya.

Sepeninggal rombongan kecil prajurit dari Jati Anom di hari berikutnya, maka Sangkal Putung semakin memperketat setiap pengawasan. Ketika Widura melepaskan para prajurit dari Jati Anom untuk kembali ke induk pasukannya, terasa juga kecemasan merambati hatinya. Bagaimanakah seandainya pasukan yang kecil itu bertemu dengan Ki Tambak Wedi di perjalanan.

“Kami sudah siap untuk menghadapinya, Kakang,” berkata perwira itu. “Yang mengawani aku kali ini adalah prajurit-prajurit pilihan. Aku kira kita bersama-sama akan berhasil, setidak-tidaknya menyelamatkan diri kami dari tangan iblis-iblis itu.”

“Mudah-mudahan,” sahut Widura. Tetapi tawarannya untuk memberikan beberapa orang prajurit pilihan telah pula ditolak oleh perwira itu.

“Kalau aku terpaksa diantar kembali ke Jati Anom, maka besok Ki Untara memerintahkan untuk mengantar prajurit-prajurit dari Sangkal Putung dan demikian pula sebaliknya, maka jalan antara Sangkal Putung dan Jati Anom akan menjadi sangat licin.”

Keduanya tersenyum. Ki Tanu Metir, Sumangkar, dan beberapa orang lain yang mendengar jawaban itu pun tersenyum pula.

Ternyata di hari-hari berikutnya, tidak terjadi persoalan-persoalan yang dapat menambah kegelisahan orang-orang Sangkal Putung. Para peronda yang diperkuat, selalu kembali ke gardu masing-masing dengan selamat.

“Mungkin orang-orang itu telah pergi,” gumam salah seorang prajurit.

“Belum pasti,” tiba-tiba terdengar jawaban di belakangnya. Ternyata Sumangkar-lah yang berdiri di situ sambil tersenyum. Katanya seterusnya, “Jangan lengah. Setiap saat bahaya dapat menerkam kalian.”

Prajurit-prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka menyadari betapa liciknya Ki Tambak Wedi dan Sidanti.

Ketika malam turun perlahan-lahan di atas Kademangan Sangkal Putung, maka tiga buah bayangan telah mulai berloncat-loncatan di pinggir Gunung Gowok. Tak ada waktu terluang bagi Agung Sedayu dan Swandaru. Kali ini bukan saja mereka bertiga yang berada di gumuk kecil itu, tetapi seseorang yang lain duduk dengan tenangnya melihat anak-anak muda yang sedang berlatih itu. Orang itu adalah Sumangkar.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia menyaksikan kemajuan yang pesat dari murid-murid Kiai Gringsing. Mau tidak mau maka orang tua itu harus mengaguminya. Kelincahan Agung Sedayu, kecepatannya bergerak dan betapa tenaga Swandaru yang luar biasa kuatnya.

Namun tiba-tiba orang tua yang duduk di atas sebuah puntuk itu memiringkan kepalanya. Lalu diangkatnya wajahnya. Perlahan-lahan ia berdesis, “Aku mendengar suara panah sendaren.”

Dan belum lagi ia sempat mengulangi kata-katanya, maka terdengarlah desing panah sendaren untuk yang kedua kalinya.

“Aku harus pergi,” orang tua itu berkata lantang. Sebelum Kiai Gringsing menjawab, maka Sumangkar telah meloncat ke atas punggung kudanya dan hilang ditelan gelapnya malam.

Latihan yang berat itu pun terpaksa terhenti. Kiai Gringsing yang juga telah mendengar suara panah sendaren itu bergumam, “Agaknya para peronda bertemu dengan iblis dari lereng Merapi itu.”

Swandaru dan Agung Sedayu pun kemudian sempat mendengar suara panah sendaren itu pula. Bahkan kemudian sekali lagi lamat-lamat terdengar suara desing panah sendaren yang ketiga.

“Guru,” berkata Swandaru, “apakah kita akan pergi juga ke sana?”

Kiai Gringsing mengerutkan teningnya. “Kami tidak membawa kuda.”

“Kita dapat berlari.”

Sejenak Kiai Gringsing berpikir. Tetapi tentu ia tidak dapat berdiam diri seandainya yang datang itu benar-benar Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya,

“Marilah, Kita melihat apa yang terjadi. Mudah-mudahan kita tidak terlambat.”

Mereka bertiga pun segera pergi meninggalkan gunung Gowok. Tetapi mereka tidak berada dalam kesiagaan sepenuh Ki Sumangkar yang merasa mempunyai tanggung jawab sepenuhnya atas Ki Tambak Wedi, sehingga setiap saat ia seakan-akan tidak pernah terpisah dari kudanya.

Dengan tergesa-gesa mereka menuju langsung ke induk kademangan untuk mencari arah suara panah sendaren itu. Menurut pengamatan Ki Tanu Metir, maka suara itu bersumber dari sebelah Utara, tidak terlampau jauh dari induk kademangan.

“Mereka memang berani,” gumamnya di dalam hati. “Mereka berani melakukan perbuatannya itu dekat sekali dengan induk kademangan. Mungkin mereka sengaja memancing beberapa orang peronda dan kemudian membunuhnya. Tetapi mereka tidak tahu bahwa di sini telah hadir Adi Sumangkar yang akan dapat mengimbangi ketangguhan Ki Tambak Wedi.”

Ketika mereka kemudian memasuki induk kademangan, maka mereka melihat prajurit-prajurit Pajang dan anak-anak muda Sangkal Putung telah berada di gardu masing-masing, serta yang lain telah menuntun, kuda-kuda mereka. Setiap saat mereka akan dapat melakukan apa saja, untuk kepentingan kademangan itu.

“Di manakah Angger Widura?” bertanya Ki Tanu Metir kepada salah seorang prajurit pengawal kademangan.

“Ki Widura sudah berangkat, Kiai. Berkuda bersama beberapa orang prajurit. Kami telah mendapat perintah untuk bersiap. Setiap saat para prajurit berkuda itu harus berangkat membantunya apabila diperlukan.”

“Kita mengambil kuda-kuda kita,” berkata Swandaru kemudian sambil berlari ke belakang rumahnya, ke kandang kuda.

Agung Sedayu dan Ki Tanu Metir pun kemudian menyusulnya. Secepat-cepatnya mereka mempersiapkan kuda-kuda yang masih berada di kandang. Kuda Ki Demang Sangkal Putung. Tetapi kuda itu hanya dua ekor, sehingga Swandaru sendiri akhirnya mencari seekor kuda yang lain. Ketika di halaman kademangan ia melihat segerombol anak-anak muda Sangkal Putung, dan ada satu dua di antaranya yang menuntun kuda-kuda mereka, maka segera kuda itu dipinjamnya.

“Aku sangat memerlukan segera,” katanya.

Swandaru itu terkejut ketika ia mendengar seseorang bertanya, “Kau akan pergi ke mana Swandaru?”

Suara itu adalah suara ayahnya, Ki Demang Sangkal Putung.

“Aku harus pergi juga ayah. Mungkin aku dapat bertemu dengan Sidanti.”

“Sendiri?”

“Tidak, bersama Kakang Agung Sedayu dan Kiai Grinsing.”

Ki Demang Sangkal Putung memandang ke arah yang ditunjuk oleh Swandaru di sisi regol kademangan. Remang-remang dilihatnya dua orang yang memegangi kendali dua ekor kuda telah siap menanti.

“Kuda-kuda itu kuda kita?” bertanya ayahnya.

“Ya, tetapi hanya ada dua ekor. Aku sendiri terpaksa meminjam kuda ini.”

“Hati-hatilah,” berkata ayahnya, “kau belum mengenal tabiat kuda ini. Tetapi yang lebih berbahaya lagi adalah Ki Tambak Wedi dan kedua orang kawannya itu.”

“Aku bersama guru,” sahut Swandaru. Ki Demang Sangkal Putung mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia melangkah di belakang Swandaru ketika Swandaru pergi mendapatkan gurunya.

“Ki Sumangkar belum ada di sini,” berkata Ki Demang itu. “Angger Widura berangkat tanpa orang tua itu. Hanya beberapa orang prajurit pilihan yang memang telah disiapkannya saja yang pergi bersamanya.

“Adi Sumangkar telah pergi langsung mendapatkan tamunya,” sahut Kiai Gringsing.

“Oh, syukurlah,” gumam Ki Demang itu seakan-akan kepada diri sendiri.

“Baiklah, kami segera minta diri,” berkata Kiai Gringsing kemudian.

Maka mereka bertiga itu pun segera meninggalkan halaman kademangan. Ketika mereka telah berada di jalan yang membelah induk Kademangan Sangkal Putung, maka segera mereka memacu kuda-kuda mereka. Semakin lama semakin cepat.

“Kita kemana guru?” bertanya Swandaru. “Apakah kita menyusur jalan ini lalu berbelok ke Utara?”

“Ya. Kita telusuri jalan ini. Sebelum kita sampai ke ujung kademangan, kita berbelok ke utara. Mungkin Angger Widura mengambil jalan lain. Tetapi itu tidak penting. Setelah kita berada di bulak, maka kita akan segera mengetahui, di mana terjadi perkelahian itu.”

Swandaru tidak menjawab. Dan kuda-kuda mereka pun berpacu semakin cepat.

Angin malam yang sejuk mengusap wajah-wajah yang tegang itu. Semakin cepat kuda-kuda mereka berpacu, maka dingin malam semakin tajam, maka dingin malam semakin menyengat kulit. Tetapi karena ketegangan hati yang semakin tajam, maka dingin itu pun tidak begitu terasa lagi.

Dalam berpacu kuda terdengar Kiai Gringsing berkata, “Aku tidak mendengar tanda-tanda berikutnya.”

“Ya,” sahut Agung Sedayu, “mungkin Paman Widura atau Ki Sumangkar telah berada di antara mereka. Atau bahkan keduanya.”

“Mudah-mudahan tidak demikian,” berkata Kiai Gringsing. “Sumangkar cukup cepat bertindak. Agaknya Angger Widura pun tidak akan terlambat pula.”

Kedua anak-anak muda itu pun kemudian terdiam. Mereka berusaha memacu kuda mereka semakin cepat.

Sementara itu Sumangkar pun sedang memacu kudanya, lewat jalan sempit di antara tanaman-tanaman pategalan yang sedang menghijau. Ia tahu tepat dari manakah arah suara panah sendaren itu. Karena itu, maka ia langsung dapat menuju ke tempat itu. Di bulak yang tidak terlampau luas, di samping sebuah tegalan yang agak rimbun.

“Setan-setan itu pandai memilih tempat untuk mencegat para peronda,” desis Sumangkar di dalam hatinya. “Mereka pasti bersembunyi di pategalan itu, lalu dengan tiba-tiba menyergap para peronda. Untunglah bahwa salah seorang di antara mereka masih sempat memberikan tanda sampai tiga kali berturut-turut.”

Orang tua itu sama sekali tidak menghiraukan lagi titik-titik embun di dedaunan yang tersentuh bajunya. Betapa dingin malam itu, namun baju Sumangkar menjadi basah. Basah oleh keringat dan basah oleh embun.

Ternyata perhitungan Sumangkar sama sekali tidak salah. Di ujung pategalan yang rimbun di seberang bulak, lima orang peronda telah bertemu dengan Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya yang masih saja berkeliaran membawa dendam yang membara di hatinya, seperti hantu yang setiap kali bangkit dari kuburnya untuk menghisap darah orang-orang yang masih hidup.

Pertemuan itu begitu tiba-tiba, sehingga hampir-hampir para peronda tidak sempat memberikan tanda-tanda itu. Untunglah bahwa salah seorang dari padanya dengan cepat mampu menjauhkan dirinya di atas punggung kudanya. Dengan kemungkinan yang ada ia sempat melepaskan tiga buah anak panah sendaren. Selebihnya, ia harus berkelahi dengan pedangnya.

Tetapi lawan mereka sama sekali tidak seimbang. Sidanti dan Argajaya. Meskipun demikian, kuda-kuda mereka sekedar dapat membantu mereka. Kecepatan kaki-kaki kuda mereka sajalah yang mampu menyelamatkan mereka dari tangan Sidanti dan Argajaya. Agaknya Ki Tambak Wedi masih terlampau malas untuk berbuat sesuatu.

Bahkan sambil berdiri bersandar sebatang pohon nangka ia berkata lantang, “Sidanti, jangan segera kau bunuh kelinci-kelinci itu. Biarlah kita pergunakan mereka sebagai umpan. Aku ingin kawan-kawan mereka segera datang membunuh dirinya di sini. Aku mengharap Widura sendirilah yang datang. Aku ingin melihat bagaimana Untara menangisi mayat pamannya itu. Ia pasti akan diberitahu seandainya pamannya itu benar-benar terbunuh.”

Sidanti dan Argajaya tidak menjawab. Tetapi mereka senang mendengar rencana Ki Tambak Wedi. Bahkan orang yang melepaskan panah sendaren itu pun seolah-olah diberinya kesempatan sebelum ia melibatkan diri dalam perkelahian itu pula.

Ki Tambak Wedi melihat Sidanti berkelahi melawan tiga orang lawannya, sedang Argajaya melawan dua orang. Betapa kelima prajurit itu mengerahkan segenap kecakapan dan kemampuan yang ada padanya, namun mereka sama sekali tidak mampu berbuat sesuatu. Meskipun kuda-kuda mereka menyambar berganti-ganti, tetapi mereka masih mendengar Sidanti tertawa dan berkata, “He, hati-hati. Kudamu dapat terperosok ke dalam parit.”

Prajurit-prajurit itu menggeram, tetapi mereka menyadari, dengan siapa mereka sedang berkelahi, dan mereka masih juga mendengar Sidanti berteriak, “Jangan mati dulu karena pokalmu sendiri. Kami ingin menjadikan kalian umpan untuk mengundang kawan-kawanmu yang kami ingini.”

Sama sekali tidak terdengar jawaban. Prajurit-prajurit itu berkelahi semakin sengit. Tetapi lawan mereka terlampau lincah. Bahkan apa yang dikatakan Sidanti benar-benar terjadi, Salah seekor dari kuda-kuda itu terperosok ke dalam parit, sehingga penunggangnya pun terpelanting jatuh.

“He, apakah kau sudah berputus asa dan mencoba membunuh dirimu?” bertanya Sidanti.

Prajurit itu tidak menjawab. Tetapi ia menyeringai menahan sakit di punggungnya.

Ki Tambak Wedi masih berdiri saja bersandar pohon nangka. Ia mengharap Widura datang sendiri ke arena perkelahian itu, sehingga ia akam dapat membunuhnya.

“Aku sudah jemu membunuh kelinci-kelinci yang tidak berarti itu,” gumamnya. “Aku ingin membunuh orang-orang yang dianggap penting di Sangkal Putung, Widura dan Demang itu pula.”

Ki Tambak Wedi berhenti sejenak. Diangkatnya kepalanya. Katanya kemudian, “Nah, aku mendengar derap beberapa ekor kuda, Mudah-mudahan Widura ada di antara mereka.”

Dalam keremangan malam, akhirnya Ki Tambak Wedi lihat iring-iringan kuda mendekatinya. “Hem,” desisnya, “mereka terlampau sombong. Mereka datang dalam jumlah yang terlampau kecil. Tidak sampai sepuluh orang.”

Sidanti dan Argajaya pun sempat melihat kuda-kuda yang menjadi semakin dekat. Memang yang datang itu tidak sampai berjumlah sepuluh orang.

“Mereka memang terlampau sombong,” sahut Sidanti.

“Ada kemungkinan bahwa mereka tidak tahu, bahwa kitalah yang berada di sini,” berkata Argajaya.

“Mungkin. Mungkin mereka menyangka bahwa yang di sekitar Sangkal Putung hanyalah beberapa orang perampok atau pencuri ayam,” sahut Ki Tambak Wedi kemudian.

Orang tua itu pun kemudian melangkah maju. Dilihatnya Sidanti dan Argajaya yang masih saja berkelahi melawan prajurit peronda itu.

“Guru,” bertanya Sidanti, “apakah aku harus mengakhiri perkelahian. Bukankah mereka telah melihat dan mengetahui bahwa kawan-kawannya berada di sini?”

Ki Tambak Wedi merenung sejenak. Kuda-kuda yang mendatangi itu menjadi semakin dekat.

Ki Tambak Wedi berpaling ketika ia mendengar seekor lagi jatuh terperosok. Dan seorang prajurit lagi terpelanting jatuh di seberang parit dan terlempar ke dalam pategalan yang ditumbuhi oleh bermacam-macam tanaman itu. Tetapi belum lagi orang itu sempat berdiri, maka kuda yang ketiga telah jatuh pula. Kali ini tidak tergelincir ke dalam parit, tetapi kaki depannya ternyata telah disentuh oleh tombak Argajaya.

Tiba-tiba terdengar suara Ki Tambak Wedi lantang, “Selesaikan mereka.”

Sementara itu kuda-kuda yang lain telah menjadi terlampau dekat. Ki Tambak Wedi membiarkan kuda-kuda itu memencar. Sebagian meloncati parit dan berada di tengah-tengah sawah yang becek. Yang lain berputar dari arah seberang menyeberang.

Ki Tambak Wedi berdiri tegak, di tengah-tengah jalan di ujung pategalan yang rimbun. Dalam keremangan malam, ia melihat seseorang yang memimpin prajurit-prajurit Pajang itu. Orang itu adalah Widura.

“Kau, Widura,” desis Ki Tambak Wedi.

Widura mengerutkan keningnya. Katanya lantang, “Menyerahlah Tambak Wedi. Lepaskan perkelahian antara muridmu dengan prajurit-prajuritku itu.”

“Jangan mimpi. Sidanti harus membunuhnya segera.”

“Tidak terlampau mudah. Mereka adalah prajurit pilihan.”

“Oh, itukah prajurit-prajurit Pajang pilihan? Tiga ekor kuda mereka telah tidak dapat dipergunakan lagi. Yang dua jatuh di parit, agaknya kaki-kakinya terkilir. Meskipun kuda-kuda itu sempat bangun, tetapi kuda-kuda itu tidak akan dapat dipergunakan lagi. Yang seekor sebentar lagi akan mati di tengah jalan itu.”

Widura tidak segera menjawab. Tetapi ia mencoba melihat keadaan. Namun malam yang gelap tidak memberinya kesempatan untuk memperhatikan perkelahian itu dengan seksama. Apalagi ia harus selalu waspada, bahwa setiap saat Ki Tambak Wedi dapat saja melepaskan gelang-gelangnya. Mungkin ke arahnya, tetapi mungkin juga ke arah prajurit-prajuritnya.

Widura mengangkat dahinya ketika ia mendengar Ki Tambak Wedi berkata, “Mungkin kau tidak dapat melihat perkelahian itu dengan jelas Widura, sebab kami berada di tempat yang agak gelap. Tetapi kami dapat melihat kau dan orang-orangmu lebih jelas karena kau berada di tempat yang terbuka.”

Widura menggeram, dan sekali lagi ia berkata lantang, “Hentikan perkelahian dan menyerahlah.”

“Jangan sombong,” sahut Ki Tambak Wedi. Sebentar lagi orang-orangmu akan mati, kau pun akan mati pula. Aku ingin melihat Untara yang perkasa itu menangisi mayatmu. Dan aku ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Kiai Gringsing apabila ia datang pula kemari bersama Untara dari Jati Anom.”

Widura terdiam sejenak. Ternyata berita kedatangan Kiai Gringsing masih belum didengar oleh Ki Tambak Wedi yang berada di dalam persembunyiannya.

“Ayo Widura,” berkata Ki Tambak Wedi itu kemudian. “Kenapa kau masih diam saja. Sudah aku katakan, aku tidak akan menyerah. Aku ingin membunuhmu dan menggantungmu di ujung Kademangan Sangkal Putung. Aku ingin memperlihatkan bahwa inilah seorang yang diserahi pimpinan tertinggi prajurit Pajang di Sangkal Putung.”

Widura masih berdiam diri. Tetapi ia menjadi heran. Panah sendaren yang berdesing tiga kali berturut-turut dirasanya cukup dapat didengar dari seluruh induk kademangan. Tetapi ia masih belum melihat Ki Sumangkar hadir di tempat itu. Menurut perhitungannya, dimana pun Sumangkar berada, maka ia pasti sudah sampai di tempat itu dan berbuat sesuatu. Karena itu ia hanya membawa sepuluh orang prajurit pilihan.

Sejenak timbul kecurigaannya kepada orang tua, adik perguruan Patih Mantahun dari Jipang itu. Apakah sebenarnya ia dapat dipercaya? Apakah sengaja ia memperlambat kedatangannya dengan perhitungan-perhitungan tertentu? Kalau ia telah hadir, maka pasti sudah melibatkan dirinya melawan Ki Tambak Wedi, tetapi ternyata Ki Tambak Wedi masih berdiri hebas.

Namun bagaimanapun juga ia harus bertindak. Ia tidak boleh membiarkan orang-orang itu berbuat sekehendak hatinya. Apalagi ia masih melihat orang-orangnya yang terdahulu melakukan perlawanan yang gigih. Bahkan terlampau gigih meskipun Widura tidak dapat melihat dengan jelas. Dua di antara mereka masih berada di atas punggung kuda, sedang yang lain berkelahi di atas tanah.

“Aku tidak boleh menunggu mereka binasa,” pikir Widura, karena itu maka hadir atau tidak hadirnya Sumangkar, ia harus bertindak. Namun ia harus memberi isyarat kepada prajurit penghubungnya untuk melepaskan tanda setiap saat, apabila Sumangkar benar-benar tidak hadir. Bahkan Widura itu mengharap, Kiai Gringsing, Swandaru, dan Agung Sedayu dapat menangkap isyarat panah sendaren itu pula, sehingga apabila demikian, maka kemungkinan terbesar iblis-iblis itu tidak akan dapat lolos lagi.

Tetapi ia memerlukan waktu untuk itu. Sekarang, pada saat-saat yang genting itu, ia harus sudah dapat mengambil sikap untuk menghadapi Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya.

Sesaat Widura memandang ke arah prajurit-prajuritnya yang bertebaran di segala arah. Ia harus segera memberikan aba-aba, dan prajurit-prajuritnya segera akan berbuat sesuatu, sementara itu salah seorang dari mereka harus melepaskan panah-panah sendaren.

Ketika Widura hampir meneriakkan aba-aba, tiba-tiba ia mendengar Ki Tambak Wedi berkata “He, Sidanti. Kenapa kau tidak segera menyelesaikan yang lima orang itu bersama Angger Argajaya. Di sini telah hadir permainan-permainan yang baru, yang akan lebih mengasyikkan dari yang lima itu.”

Tetapi Sidanti tidak segera menjawab. Bahkan nafasnyalah yang mengalir semakin cepat dari lubang-lubang hidungnya.

“Sidanti,” teriak Ki Tambak Wedi kemudian “bunuh saja mereka itu.”

Masih belum terdengar jawaban. Dalam kegelapan mereka masih saja bertempur berputaran. Bahkan sekali-sekali mereka menyusup ke dalam pategalan yang rimbun, kemudian terjadi perkelahian di antara tanaman-tanaman yang berjajar sebagai pagar pategalan itu.

Sejenak kemudian mereka muncul lagi. Dua orang prajurit yang masih berada di punggung kudanya bahkan merasa canggung. Kuda-kuda mereka selalu terhalang oleh pepohonan.

“Setan benar kedua orang itu,” berkata mereka di dalam hati. “Mereka berusaha menyeret perkelahian ke dalam pategalan, sehingga kuda-kuda ini tidak bisa bergerak lagi.”

Karena itu, maka tanpa berjanji mereka pun segera berloncatan dari kuda-kuda mereka, dan langsung melibatkan diri dalam perkelahian yang berputar-putar itu.

“Sidanti,” terdengar Ki Tambak Wedi berkata, “apa kau sudah menjadi gila, he?”

Tetapi Sidanti tidak menjawab. Bahkan kemudian Ki Tambak Wedi melihat Sidanti itu terdesak beberapa langkah surut. Namun sesaat kemudian Argajaya-lah yang terpaksa meloncat-loncat.

“Kenapa kau, he?” berteriak Ki Tambak Wedi pula.

“Guru,” sahut Sidanti, “ada yang tidak wajar di sini.

Ki Tambak Wedi tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia meloncat mendekati Sidanti yang hampir-hampir saja kehilangan kesempatan untuk melawan serangan lawannya. Dan inilah yang tidak masuk ke dalam akalnya. Lawannya tiba-tiba menjadi sangat garang. Salah seorang dari mereka mampu berloncatan seperti burung sikatan. Sekali-kali menyerangnya, dan tiba-tiba saja orang itu telah menyelamatkan prajurit-prajurit yang hampir mati karena tombak Argajaya. Bahkan seandainya orang itu berkelahi seorang diri, mungkin Sidanti dan Argajaya justru tidak dapat melawannya lagi. Karena orang itu masih berhasrat ingin menyelamatkan kawan-kawannya, maka Sidanti dan Argajaya masih sempat memberikan perlawanan serba sedikit. Namun mereka benar-benar berada di dalam kesulitan. Dan kesulitan itu kemudian dapat dilihat oleh Ki Tambak Wedi.

Tambak Wedi yang mempunyai pengamatan yang jauh lebih tajam dari murid-muridnya dan Argajaya segera melihat ketidak wajaran itu. Meskipun di dalam gelap karena bayangan rimbunnya dedaunan, namun ia segera dapat melihat, siapakah yang berdiri di hadapannya dengan ikat kepala yang menutup sampai di kening. Karena itu maka segera ia berteriak lantang, “Minggir Sidanti, apakah kau sudah buta. Untung kau belum mati. Biar aku selesaikan orang ini. Bunuh saja yang lain secepat kau mampu melakukan.”

Namun pada saat itu, Widura ternyata mencoba mengambil kesempatan. Ia tidak mau terlambat. Karena itu maka segera kudanya melangkah maju. Tetapi sulitlah baginya untuk berkelahi di antara pagar pategalan itu dengan kudanya. Karena itu maka segera ia pun meloncat turun diikuti oleh beberapa prajuritnya.

“Sidanti,” panggil Widura, “kau masih ingin melakukan perang tanding?”

Sidanti menggeram. Tetapi ia terdiam ketika ia mendengar gurunya berkata, “Apa kerjamu he bunglon busuk?”

Yang terdengar adalah suara tertawa yang bernada tinggi.

“Tutup mulutmu!” teriak Ki Tambak Wedi. Tetapi suara tertawa itu masih terdengar, dan di antara suara itu terdengar kata-kata, “Aku di sini, Angger Widura.”

“Oh,” Widura menarik nafas dalam-dalam. Suara itu adalah suara Sumangkar.

“Aku juga baru saja tiba di tempat ini,” terdengar suara itu pula. Aku mencoba mengambil kesempatan ketika aku melihat salah seorang prajurit Pajang terbaring di pategalan ini. Agaknya ia pingsan ketika ia terlempar dari kudanya.”

“Apakah Kiai tidak berkuda?” Widura sempat bertanya. Dalam pada itu, ia melihat Ki Tambak Wedi telah menyerang Sumangkar dengan garangnya. Di dalam kegelapan ia melihat bayangan orang-orang tua itu berloncatan dengan cepatnya.

Dan Sumangkar masih memerlukan menjawab, “Aku tinggalkan kudaku di sebelah pategalan ini. Aku ingin mengintai lebih dahulu. Tetapi ternyata aku hampir terlambat.”

Widura tidak bertanya lagi. Bukan waktunya untuk bercakap-cakap. Kini ia melihat Sidanti berdiri tegak dan telah bersiap untuk melawannya. Sedang Argajaya masih terlampau sibuk berkelahi. Tetapi, kini lawannya justru bertambah ringan, meskipun jumlahnya bertambah banyak. Karena seorang di antaranya, yang telah menumbuhkan keheranannya, kini sudah mendapat lawan sendiri. Sumangkar yang sudah harus bertempur melawan Ki Tambak Wedi. Karena itulah, maka kini ia mampu menghadapi lawan-lawannya sendiri dan lawan-lawan Sidanti sekaligus. Empat orang. Sedang Sidanti harus berhadapan dengan Widura. Tetapi ternyata Widura itu tidak sendiri. Ia datang bersama beberapa orang prajurit, justru prajurit-prajurit pilihan.

Namun, Widura masih saja berdiri dengan tegangnya di tepi jalan di ujung pategalan itu. Dalam keremangan malam dilihatnya Sidanti sudah siap untuk menghadapinya. Meskipun demikian Widura berusaha apabila mungkin untuk menangkap mereka tanpa perkelahian dan korban meskipun harapan itu sangat tipis baginya.

Karena itu, maka sekali lagi ia berkata lantang, “Kau tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. Gurumu sudah terikat oleh sebuah perkelahian yang seimbang dengan Ki Sumangkar. Kawanmu yang seorang itu, yang menurut pendengaranku adalah pamanmu, Argajaya, harus berkelahi mati-matian pula melawan keempat orang prajurit itu. Sekarang kau harus berhadapan dengan aku. Tetapi aku datang bersama sepuluh orang prajurit pilihan. Apakah kau tidak lebih baik menyerah saja sebelum kami mendapat kesan yang lebih buruk lagi tentang kau dan guru serta pamanmu? Dengan demikian tanggung jawabmu atas segala perbuatanmu itu akan menjadi lebih ringan.”

Yang terdengar kemudian adalah anak muda itu menggeram. Dengan darah yang mendidih sampai ke ubun-ubunnya ia menjawab kasar, “Jangan banyak berbicara saja. Ayo Widura, berbuatlah sesuatu. Kalau kau ingin menangkap Sidanti dengan cara yang licik itu, segera lakukanlah. Aku sudah menyangka bahwa kau tidak akan berani berbuat secara jantan. Kau tidak dapat mengalahkan aku dalam perang tanding. Sekarang kau datang beramai-ramai dengan pengawalmu itu. Tetapi aku tidak akan dapat kau takut-takuti seperti perempuan cengeng.”

“Kau terlalu diburu oleh nafsu yang tidak terkendali Sidanti.”

“Jangan banyak bicara. Ayo, aku sudah siap.”

Widura mengerutkan keningnya. Ia sudah mengira bahwa anak itu benar-benar keras kepala seperti gurunya.

“Kau keras kepala.”

“Majulah bersama. Jangan hanya sepuluh orang. Seluruh kekuatan yang ada di Sangkal Putung, prajurit-prajurit Pajang dan anak-anak mudanya yang bengal. Aku tidak akan gentar.”

“Apakah itu sudah menjadi keputusanmu?”

“Ya. Aku bukan Widura yang licik dan pengecut. Aku ingin berbuat jantan. Kalau kau hanya berani berkelahi dengan cara itu, ayo lekas lakukanlah.”

Widura mengerutkan keningnya. Wajahnya menjadi kian tegang. Ia merasa kata-kata Sidanti sengaja diucapkan untuk memanaskan hatinya sehingga ia mendapat kesempatan untuk melawannya seorang lawan seorang. Tetapi kali ini Widura tidak ingin terbakar oleh kata-kata lawannya. Maka jawabnya, “Aku adalah seorang pemimpin prajurit dalam suatu kesatuan yang bulat. Tugasku adalah tugas anak buahku dan sebaliknya. Maka tugas kami bersama-sama pulalah untuk menyelesaikan pengkhianatanmu. Masalah ini bukan masalah pribadi yang harus diselesaikan secara pribadi.”

“Setan!” geram Sidanti. “Kenapa kau hanya berbicara saja? Aku menjadi muak mendengarnya. Apakah perwira Wira Tamtama Pajang hanya mampu berbicara dan berkelahi beramai-ramai?”

“Baiklah Sidanti,” jawab Widura dalam nada yang berat. Dugaannya sama sekali tidak salah, bahwa Sidanti tidak akan dapat dijinakkannya.

Dengan demikian, maka Widura itu pun melangkah maju semakin dekat. Dengan tangannya maka diberinya prajurit-prajuritnya isyarat. Sebagai prajurit-prajurit pilihan, di bawah pimpinan Widura langsung, maka mereka hanya memerlukan waktu yang sangat pendek untuk segera menebar dan menutup kemungkinan perlawanan yang berarti bagi Sidanti.

Sidanti yang melihat kilatan ujung senjata dari segala pihak segera menempatkan dirinya dalam kewaspadaan tertinggi. Ia mengharap bahwa pepohonan dan pagar pategalan itu dapat membantunya. Ketika ia memandang dengan sudut matanya, maka dilihatnya Argajaya telah berhasil mendesak keempat lawannya sehingga keempatnya harus berjuang sekuat tenaga mereka untuk bertahan dan menghindari sambaran ujung tombak pendek orang kedua dari Menoreh itu. Sedang di tempat lain, gurunya bertempur mati-matian melawan Sumangkar. Namun, dalam sekilas, Sidanti tidak dapat melihat, siapakah yang berada dalam keadaan lebih baik dari mereka berdua itu.

“Kau tidak akan mendapat bantuan dari siapa pun,” geram Widura.

“Persetan!” teriak Sidanti.

“Aku memberi kesempatan terakhir.”

Sidanti tidak menjawab. Tetapi matanya seolah-olah menyala karena kemarahannya.

Widura yang melihat keempat prajuritnya terdesak melawan ketangkasan Argajaya, maka segera dilepaskannya dua orangnya untuk membantu keempat kawannya. Sedang sisanya segera bergerak mendekati Sidanti dari arah yang berbeda-beda.

Tetapi, bagi Sidanti tidak ada seleret pikiran pun untuk menyerahkan diri. Kalau Widura berhasil menangkapnya, maka ia hanya akan menangkap mayatnya. Dengan demikian, maka Sidanti itu pun menjadi seolah-olah wuru. Tidak ada pertimbangan lain soal itu kecuali mati.

Tetapi, agaknya gurunya, Ki Tambak Wedi mempunyai perhitungan tersendiri. Sambil bertempur ia melihat apa yang telah dihadapi oleh Argajaya dan Sidanti. Ia melihat bahwa keadaan Argajaya tidak begitu membahayakan. Meskipun demikian dua orang baru yang ditempatkan Widura untuk melawan orang itu, agaknya akan segera mengganggu keseimbangan. Tetapi yang membuat ia cemas adalah Sidanti. Orang tua itu menyadari, bahwa untuk melawan Widura seorang diri, Sidanti belum pasti akan dapat memenangkannya meskipun ilmu Sidanti bertambah maju. Apalagi kini ia harus menghadapi Widura itu bersama delapan orang prajurit pilihan. Suatu kekuatan jauh di luar kemampuan Sidanti untuk mengimbanginya.

Sedang Ki Tambak Wedi sendiri telah terikat dalam pertempuran melawan Sumangkar, yang sama sekali tidak diduga-duganya akan berada di Sangkal Putung.

Itulah sebabnya, maka Ki Tambak Wedi berusaha untuk memecahkan persoalan yang dihadapinya dengan secepat-cepatnya. Sambil berkelahi ia masih sempat melihat apa yang dilakukan. oleh Argajaya dan Sidanti. Ia melihat Widura telah siap untuk berbuat sesuatu atas Sidanti. Meskipun tampaknya Sidanti tidak ingin mundur karena kekerasan hatinya, tetapi bagi Ki Tambak Wedi perbuatan itu sama sekali tidak akan berarti apa-apa. Seandainya Sidanti terbunuh, maka kematiannya benar-banr kematian yang sia-sia.

Karena itu, sebelum Sidanti terlibat dalam perkelahian yang sangat berbahaya baginya, Ki Tambak Wedi harus mengambil suatu sikap.

Dan sikap itu ternyata kemudian, ketika di pategalan itu terdengar suitan nyaring. Itu adalah aba-aba yang diberikan oleh Ki Tambak Wedi.

Sidanti sendiri terkejut mendengar aba-aba itu. Terasa untuk sejenak jantungnya meronta. Sebagai seorang laki-laki yang keras hati, tanda-tanda itu telah memperkecil arti kejantanannya. Namun sejenak kemudian terasa suatu sikap baru di dalam dirinya. Sikap yang hampir-hampir tidak dipikirkan sebelumnya. Yaitu menghindar untuk sementara.

“Menghindar bukan berarti mengaku kalah,” kata Sidanti di dalam hatinya.

Ketika sekali lagi ia mendengar suara gurunya bersuit nyaring, maka ia telah memutuskan untuk menerima keadaan itu, betapa pedih terasa di dadanya. Tetapi anak muda itu bertekad untuk suatu saat dapat berbuat sesuatu. Ia ingin menebus segala kegagalan yang pernah dialaminya dalam petualangannya di sekitar Gunung Merapi ini.

Tetapi Widura ternyata dapat menangkap isyarat yang diberikan oleh Ki Tambak Wedi. Widura mengerti bahwa Ki Tambak Wedi ingin melepaskan dirinya. Karena itulah maka ketika terdengar suitan Ki Tambak Wedi untuk kedua kalinya, maka suitan itu seolah-olah aba-aba yang diberikannya kepada Widura untuk mulai menyerang Sidanti.

Sidanti yang sudah siap untuk menyingkir, masih sempat melihat para prajurit Pajang berloncatan dari beberapa arah. Tetapi untunglah bahwa Sidanti telah memperhitungkan keadaan pategalan itu sejak lama, Karena itu, maka segera ia menyelinap di antara pepohonan dan rimbunnya daun-daun perdu di dalam pategalan itu. Anak muda itu menyelinap di antara gerumbul-gerumbul salak yang tumbuh liar, di samping batang-batang melandingan dan pohon buah-buahan.

Melihat sikap itu, Widura mengumpat di dalam hatinya. Tetapi dengan prajurit-prajuritnya ia berusaha untuk mengejarnya. Bukan saja Sidanti, tetapi juga Argajaya dan Ki Tambak Wedi sendiri. Namun mengejar orang-orang yang cukup berilmu itu di dalam pategalan yang rimbun dan cukup pepat oleh tumbuh-tumbuhan perdu dan pohon buah-buahan, di malam yang gelap adalah pekerjaan yang cukup sulit. Itulah sebabnya, maka baik Widura sendiri, Sumangkar, maupun para prajurit Pajang terpaksa mengumpat di dalam hati masing-masing. Setelah sekian lama mereka berkejaran, namun mereka tidak berhasil menangkap ketiga orang ini.

Sesaat kemudian, mereka masih mendengar suara suitan Ki Tambak Wedi di kejauhan. Widura, Sumangkar, dan para prajurit dapat mengerti, bahwa suitan itu adalah tanda-tanda yang diberikan oleh Ki Tambak Wedi. Namun demikian tanda-tanda itu tidak segera dapat dipecahkan oleh Widura maupun oleh Sumangkar. Mereka hanya dapat mengerti maksudnya, tetapi mereka tidak dapat mengerti arti yang sebenarnya.

Akhirnya, Widura terpaksa menghentikan pengejarannya. Widura menyadari bahaya yang dapat timbul, apabila pengejaran itu dilakukan terus. Widura mencemaskan para prajuritnya, apabila tiba-tiba saja satu demi satu mereka akan ditemui oleh Ki Tambak Wedi. Dalam kejar-mengejar hal yang demikian itu akan mungkin terjadi. Apalagi Ki Tambak Wedi mampu membunuh orang dari kejauhan dengan gelang-gelang besinya. Seandainya kali ini pun Ki Tambak Wedi membawa banyak gelang-gelang besi itu, maka akibatnya akan sangat berbahaya. Seandainya ia kehabisan gelang-gelang besinya, maka kecakapannya membidik itu akan dapat juga dipergunakan dengan benda yang ditemuinya di sembarang tempat. Batu-batu misalnya atau apa saja.

Sejenak kemudian Sumangkar, Widura, dan para prajuritnya telah berkumpul kembali. Meskipun tidak ada yang terbunuh, namun peronda yang pingsan karena terlempar dari punggung kudanya, ternyata mengalami luka yang cukup parah. Punggungnya terantuk segumpal padas yang tajam. Seorang lainnya yang bertempur melawan Argajaya terluka di pelipis dan yang seorang lagi di lengannya. Untunglah bahwa luka-luka itu bukan luka yang parah. Meskipun demikian, mereka harus segera mendapat perawatan. Sumangkar segera memberi mereka obat yang dapat menawarkan mereka dari gigitan warangan yang mungkin diberikan pada ujung tombak Argajaya.

“Tubuhku terasa panas sekali,” prajurit-prajurit yang terluka itu mengeluh.

Sumangkar mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Nah, aku memang menyangka, bahwa ada racun warangan betapapun lemahnya di ujung tombak Argajaya. Untunglah bahwa racun itu belum mencengkaram jantungmu, sehingga berhenti berdenyut.”

Prajurit-prajurit yang terluka itu tidak menyahut. Dengan susah payah mereka diangkat oleh kawan-kawan mereka untuk dibawa ke kademangan.

“Selama ini kita tidak melihat Kiai Gringsing,” gumam Widura di sepanjang jalan menuju ke halaman Kademangan Sangkal Putung.

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya ia pun mengharap Ki Tanu Metir untuk segera datang sebelum mereka kehilangan ketiga orang buruan itu. Tetapi agaknya Ki Tanu Metir memerlukan waktu untuk menyusulnya.

“Aku sebenarnya mengharapkannya,” berkata Widura kemudian.

“Aku juga,” sahut Sumangkar. “Apabila Kiai Gringsing hadir dalam pertempuran ini, maka aku kira Ki Tambak Wedi akan dapat ditangkap, mati atau hidup.”

“Ya, itulah sebabnya aku mengharapkannya. Tetapi ternyata ia tidak datang. Kehadirannya bersama Swandaru dan Agung Sedayu akan sangat berarti dalam pertempuran ini.”

“Ya,” Sumangkar menyahut, “aku kira ketiganya akan datang juga. Tetapi mereka memerlukan waktu.”

“Waktu telah cukup panjang.”

“Belum cukup bagi mereka,” Sumangkar berhenti sejenak, lalu katanya kemudian, “Aku bersama mereka di Gunung Gowok ketika para peronda melemparkan panah sendaren.”

”Oh.”

“Aku segera meninggalkan mereka dengan kudaku. Tetapi mereka tidak membawa seekor kuda pun.”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya, “Apakah kalau mereka berjalan cepat-cepat, masih juga belum sampai di tempat perkelahian itu?”

“Belum Ngger. Mereka masih harus melintasi bulak dan pategalan. Jarak antara Gunung Gowok sampai ke ujung pategalan tempat perkelahian itu cukup panjang.”

“Mungkin mereka dapat singgah di kademangan untuk mengambil beberapa ekor kuda.”

“Itu pun memerlukan waktu. Mereka harus menyiapkan kuda-kuda mereka, kemudian menyusul kita kemari.”

“Apabila demikian kita harus bertemu mereka di jalan kembali ini.”

“Juga belum pasti. Kiai Gringsing dapat mengambil jalan yang lain karena mereka tidak tahu, jalan manakah yang kita lalui.”

Widura terdiam. Memang hal-hal yang serupa itu dapat terjadi. Ia menyesali bahwa ia tidak berhasil menahan ketiga orang itu agak lama untuk memberi kesempatan Kiai Gringsing hadir di tempat itu. Dengan demikian maka kemungkinan yang terbesar adalah Ki Tambak Wedi akan dapat ditangkap, hidup atau mati. Tetapi, kini mereka telah berhasil melepaskan dirinya. Dan semua perbuatan-perbuatannya masih akan dapat diulangi. Dengan merucutnya Ki Tambak Wedi, maka bahaya masih saja setiap saat menerkam kademangan ini dan seperti yang dikatakan oleh Ki Tambak Wedi, kademangan-kademangan lainnya akan dapat menjadi pelepasan kesal dan dendam orang-orang yang licik itu. Terutama yang telah membuat hubungan kurang baik dengan salah seorang dari mereka adalah Prambanan.

Dalam pada itu, Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya berdiri di pategalan itu di ujung yang lain. Dengan wajah yang seolah-olah menyalakan kemarahannya, setiap kali terdengar Ki Tambak Wedi menggeram.

“Kenapa kita tidak tahu bahwa Sumangkar, bunglon gila itu berada di sini?” desis Ki Tambak Wedi.

Sidanti dan Argajaya tidak menjawab. Seharusnya merekalah yang melontarkan pertanyaan itu kepada Ki Tambak Wedi. Namun bagi keduanya, hal itu sudah bukan merupakan pertanyaan lagi. Setiap hari mereka hanya berusaha menyembunyikan diri saja. Mereka tidak ingin dikenal sebagai Ki Tambak Wedi, Sidanti dan Argajaya. Sebab apabila demikian, maka Sangkal Putung akan meningkatkan kewaspadaan mereka semakin tinggi. Para peronda akan memperlengkapi diri dengan syarat-syarat perlawanan yang cukup bagi mereka. Itulah sebabnya, maka hubungan mereka hampir terputus sama sekali dengan orang-orang di sekitar tempat mereka bersembunyi. Hanya sekali-sekali mereka mendatangi satu dua rumah dengan menutup muka mereka agar tidak seorang pun yang dapat mengenal. Mereka hanya memerlukan makan dan sekedar bekal untuk segera menghilang lagi ke dalam hutan-hutan yang tidak terlampau lebat di sekitar Kademangan Sangkal Putung, untuk setiap saat muncul dan mencegat para peronda. Dengan tidak segan-segan mereka membunuh prajurit-prajurit yang tentu tidak akan mampu melawan mereka bertiga, meskipun seandainya jumlah prajurit itu berlipat tiga dari jumlah mereka. Apalagi hanya dua sampai lima orang.

“Sekali lagi tercoreng arang di wajah kita,” gumam Ki Tambak Wedi dengan nada yang terlampau dalam. “Sumangkar telah turut serta menghalang-halangi kesenangan kita.”

“Ya,” sahut Sidanti. “Apakah kita akan tinggal diam untuk seterusnya.”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya.

“Kita harus menebus semua kekalahan ini,” geram Sidanti.

“Sidanti,” berkata Argajaya kemudian, “kau masih memiliki kemungkinan itu. Bukankah kau putera Kakang Argapati. Kepala Tanah Perdikan Menoreh?”

“Ya, aku adalah putera dari Menoreh,” sahut Sidanti. “Bukankah begitu guru?”

Ki Tambak Wedi menganggukkan kepalanya. Tetapi tampaklah ia agak ragu.

“Bukankah guru sendiri sering mengatakan demikian?”

“Ya,” sahut Ki Tambak Wedi.

“Kita harus menebus segala kekalahan,” sekali lagi Sidanti menggeram.

Tetapi Ki Tambak Wedi tidak segera menanggapi angan-angan Sidanti tentang tanah perdikannya. Tampaklah orang tua itu kini dicengkeram kebimbangan.

“Apakah kita akan membiarkan diri kita dihinakan begini jauh guru?”

Ki Tambak Wedi masih berdiam diri. Matanya memandang jauh menembus gelapnya malam, seolah-olah ia ingin melihat apakah yang tersimpan di balik layar yang hitam pekat.

“Bagaimana guru?” bertanya Sidanti. “Bagaimanakah pertimbangan guru tentang hal ini?”

Ki Tanbak Wedi menarik nafas da!am-dalam. Dihirupnya udara malam yang dingin sebanyak-banyaknya, seakan-akan orang tua itu ingin mendinginkan dadanya yang sedang membara.

“Ya, Kiai,” terdengar Argajaya menyambung. “Sidanti adalah putera Kakang Argapati. Aku pun tidak rela melihat putera Kakang Argapati itu dihinakan orang di lereng Merapi ini.”

Perlahan-lahan Sidanti dan Argajaya melihat Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ternyata jawabannya masih melontarkan keragu-raguannya, “Mungkin demikian, Ngger.”

“Kenapa Kiai ragu-ragu,” bertanya Argajaya. “Apakah Kiai ingin berbuat lain, atau mempunyai perhitungan lain?”

Ki Tambak Wedi belum menjawab.

“Kiai,” berkata Argajaya, “Sidanti adalah putera seorang yang bukan saja mempunyai wewenang tertinggi di daerahnya, tetapi ayah Sidanti adalah seorang yang pilih tanding. Aku tidak tahu, siapakah yang lebih tua di dalam umur dan ilmu dengan Ki Tambak Wedi sendiri, tetapi setidak-tidaknya Kakang Argapati akan menjadi seorang yang dapat dihadapkan baik melawan Sumangkar maupun Ki Tanu Metir seandainya mereka bersama-sama berada di daerah ini. Jati Anom atau Sangkal Putung. Kakang Argapati akan dapat bersama-sama dengan Kiai, berhadapan dengan siapa pun di sekitar lereng Merapi ini.”

Ki Tambak Wedi sekali lagi mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Bukankah begitu?” bertanya Argajaya.

“Ya, Ngger,” jawab Ki Tambak Wedi pendek.

“Tetapi kenapa Kiai menjadi ragu-ragu?”

“Sebenarnyalah bahwa aku ragu-ragu,” desis Ki Tambak Wedi.

“Kenapa?”

“Apakah Argapati dapat mengerti, apa yang sebenarnya terjadi atas puteranya?”

“Kenapa tidak?” sahut Argajaya. “Aku akan menjadi saksi. Aku melihat sendiri, betapa perlakuan orang-orang Pajang sangat menyakitkan hati.”

Series29

KI TAMBAK WEDI perlahan-lahan memalingkan wajahnya. Dipandanginya muridnya yang berdiri tegang di sampingnya. “Benarkah begitu Sidanti?” tiba-tiba Ki Tambak Wedi bertanya.

Sidanti menjadi heran mendengar pertanyaan itu, maka ia pun bertanya pula, “Apakah maksud Kiai?”

“Apakah benar bahwa perlakuan prajurit-prajurit Pajang sangat menyakitkan hati?”

“Apakah Guru tidak merasakan betapa kita harus mengalami penghinaan ini?” jawab Sidanti. “Kita harus bersembunyi dan selalu menghindarkan diri? Kita selalu dikejar-kejar seperti orang-orang buruan?”

“Apakah kita bukan orang-orang buruan Sidanti?”

Sama sekali tidak diduganya bahwa Ki Tambak Wedi akan bertanya demikian sehingga sejenak justru Sidanti terbungkam. Ditatapnya saja wajah gurunya tanpa berkedip untuk beberapa lama. Terasa sesuatu berdesakan di tenggorokannya, tetapi tidak sepatah kata pun yang dapat meloncat ke luar.

“Marilah bersama-sama kita kenang,” berkata Ki Tambak Wedi. “Apakah yang telah pernah terjadi dengan dirimu Sidanti. Semula kau telah mendapat kesempatan yang baik di dalam lingkungan keprajuritan Pajang seperti yang diinginkan oleh ayahmu.”

“Lalu aku terlempar keluar,” potong Sidanti.

“Ya.”

“Aku menyadari kesalahan itu, tetapi bukankah Guru saat itu tidak mencegah aku, bahkan seolah-olah membenarkan sikapku.”

“Ya. Karena itulah aku menjadi ragu-ragu untuk datang kepada ayahmu. Kau dan aku bersama-sama telah berbuat kesalahan-kesalahan. Kau tidak menjadi seorang anak yang baik menurut kudangan ayahmu. Sedang aku adalah seorang yang diserahi dan dipercaya untuk membawamu sesuai dengan jalan yang diingini oleh ayahmu, Argapati. Tetapi yang terjadi adalah seperti sekarang ini.”

Sidanti menjadi terdiam pula. Meskipun demikian gelora di dalam dadanya tidak juga mereda. Apalagi yang dapat dilakukannya, kalau tidak menghadap ayahnya dan mengatakan segala kesulitannya.

“Aku yakin ayah akan mengerti,” berkata Sidanti kemudian.

“Ya, aku juga yakin,” sahut Argajaya. “Aku adalah saksi yang dapat memperkuat keterangan-keterangan Sidanti dan keterangan-keterangan Kiai. Aku akan dapat berkata tentang apa yang aku dengar dan aku lihat di sini.”

“Tentang Ki Tambak Wedi yang memberontak terhadap kekuasaan Pajang?” potong Ki Tambak Wedi.

Argajaya mengerutkan keningnya. Tiba-tiba suaranya menurun rendah, “Apakah Kiai menyesal?”

Ki Tambak Wedi terperanjat pula mendengar pertanyaan itu. Tiba-tiba ia menengadahkan dadanya sambil berkata, “Tidak. Aku sama sekali tidak menyesal. Apa yang terjadi atas diriku dan padepokanku adalah akibat dari usahaku untuk menangkap keinginan dan cita-cita. Cita-cita tentang masa depan muridku, pewaris ilmuku, dan masa depan perguruanku. Aku tidak akan menyesal.”

“Jadi kenapa Kiai menjadi ragu-ragu,” desak Argajaya.

Ki Tambak Wedi tidak segera menyahut. Sekali lagi sorot matanya terlontar ke dalam kegelapan malam. Sejenak ia berdiam diri. Yang terdengar hanyalah desah nafasnya yang panjang.

Argajaya dan Sidanti pun sejenak terdiam. Mereka menunggu sikap Ki Tambak Wedi. Ketika mereka melontarkan pandangan mata mereka ke kejauhan pula, maka mereka melihat keredipan beribu-ribu kunang-kunang yang hinggap di dedaunan padi yang hijau.

Sejenak mereka dicengkam oleh kediaman yang tegang. Meskipun udara malam terlampau dingin, tetapi dada mereka serasa mendidih. Berturut-turut mereka mengalami kekalahan-kekalahan yang sangat menyakitkan hati. Perhitungan-perhitungan yang kurang cermat, dan persoalan-persoalan pribadi yang sangat mengganggu. Kadang-kadang terbersit pula penyesalan di dalam diri Sidanti, bahwa ia telah membawa Sekar Mirah ke dalam padepokan gurunya, sehingga akibatnya sama sekali tidak pernah dibayangkannya.

“Alap-alap itulah yang gila. Sayang aku tidak mendapat kesempatan untuk mencincangnya sampai lumat,” katanya di dalam hatinya yang pepat.

Dalam pada itu terdengar Argajaya berkata, “Sebaiknya Kiai tidak usah ragu-ragu. Aku tahu benar sifat Kakang Argapati. Ia seorang yang keras hati. Seorang yang mempunyai harga diri, dan seorang yang disuyuti oleh reh-rehannya.”

Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia bergumam, “Aku merasa bahwa aku belum dapat menempatkan Sidanti sewajarnya, apalagi sesuai dengan keinginan ayahnya.”

“Tetapi itu tidak dapat ditentukan oleh Kiai dan Sidanti sendiri. Keadaan lingkungan Sidanti ternyata tidak memungkinkan. Dan ini bukan kesalahan Sidanti.”

Sekali lagi Ki Tambak Wedi terdiam, ia pun merasakan bahwa kegagalan rencananya sebagian terletak pada kesalahan muridnya. Ternyata gadis Sangkal Putung itu telah memecahkan hubungan yang memang kurang baik antara orang-orangnya dengan orang-orang Jipang. Tetapi ia tidak menumpahkan kesalahan itu kepada muridnya meskipun pernah juga disinggungnya.

Sekali lagi keheningan telah merayapi suasana. Yang terdengar hanya derik bilalang di kejauhan. Sekali-sekali terdengar angin semiut menggerakkan dedaunan.

Tiba-tiba Ki Tambak Wedi itu mengangkat wajahnya. Telinganya yang tajam telah menangkap sesuatu.

“Derap beberapa ekor kuda,” desisnya.

Sidanti dan Argajaya pun segera mendengar derap kaki-kaki kuda. Semakin lama semakin dekat.

“Apakah orang-orang itu telah menemukan jejak kita dan mengejarnya kemari?” gumam Argajaya.

“Tidak mungkin,” sahut Ki Tambak Wedi.

“Apakah ada orang lain?”

“Mungkin sekali,” berkata Ki Tambak Wedi pula. “Mungkin mereka adalah peronda-peronda yang lain, yang terlambat datang menyusul kawan-kawannya.”

“Mari kita lihat,” geram Sidanti.

“Menjemukan,” sahut Ki Tambak Wedi.

Tetapi Sidanti tidak menghiraukannya. Beberapa langkah ia maju dan melihat lepas ke bulak yang terbentang di hadapan pategalan itu.

“Tiga ekor kuda,” desisnya.

Ki Tambak Wedi yang semula tak acuh, kemudian melangkah pula dan berdiri di belakang Sidanti bersama Argajaya.

“Ya, tiga ekor kuda. Mereka adalah peronda-peronda yang lain yang menyusul Widura, tetapi mereka berselisih jalan. Widura mengambil jalan di sebelah Barat, orang-orang itu mengambil jalan di sebelah Timur.”

“Kita apakan orang-orang itu, Guru?” bertanya Sidanti.

“Biarkan saja,” sahut Ki Tambak Wedi.

“Tidak. Aku ingin berbuat sesuatu untuk mengurangi kepepatan dada ini supaya tidak meledak.”

“Akan kau apakan mereka itu?”

“Bunuh.”

Ki Tambak Wedi tidak menyahut. Dipandanginya saja bayangan yang samar-samar semakin lama semakin dekat.

“Di simpang tiga itu, mereka akan berbelok ke Barat seandainya mereka mempunyai perhitungan yang tepat atas panah-panah sendaren yang tadi dilepaskan oleh orang-orang Pajang.”

“Mereka harus dihentikan.”

“Terlambat. Mereka sudah mendekati simpang tiga itu.”

“Tetapi guru dapat berbuat sesuatu atas mereka. Guru dapat melepaskan gelang-gelang itu. Satu saja untuk orang terdepan. Kalau guru segan membunuh kelinci baiklah guru menjatuhkan kudanya saja. Biarlah mereka itu menjadi urusanku.”

Ki Tambak Wedi menggeram.

“Cepat, Guru, mereka sudah menjadi semakin dekat. Apabila mereka telah berbelok ke Barat, maka mereka akan terlepas.”

“Kau terlampau cengeng Sidanti. Kau hanya sekedar ingin membunuh.”

“Cepat, guru.”

Ki Tambak Wedi tidak dapat menolak permintaan muridnya. Memang terasa sekali betapa ia memanjakan Sidanti. Jauh melampaui sikap seorang guru terhadap muridnya. Hampir setiap keinginan dan permintaan muridnya dipenuhinya, meskipun kadang-kadang bertentangan dengan keinginannya sendiri.

Karena itu maka Ki Tambak Wedi itu pun segera mengambil sebuah gelang-gelangnya. Ketika orang-orang berkuda itu hampir sampai di simpang tiga di pinggir pategalan itu, maka terdengarlah angin berdesis. Sebuah gelang-gelang telah meluncur dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti dengan mata.

Tetapi alangkah terkejut mereka bertiga ketika mereka melihat bayangan terdepan itu dengan sigapnya memiringkan tubuhnya. Kemudian memutar kudanya sehingga kuda itu hampir-hampir jatuh terguling. Terdengar suaranya meringkik keras dan kuda itu sejenak berdiri dengan kedua kaki belakangnya.

Kedua penunggang yang lain hampir-hampir saja tidak berhasil menguasai kuda-kuda mereka dan hampir saja membentur kuda yang paling depan. Untunglah mereka pun cukup sigap, meskipun kuda-kuda itu terdorong beberapa langkah melampaui kuda yang pertama.

Ki Tambak Wedi justru terdiam tegak seperti patung melihat korbannya yang gagal. Gelang-gelangnya yang terlepas dari tangannya hampir tidak pernah lepas dari sasaran. Apalagi sekedar prajurit-prajurit peronda. Sedang Widura sendiri pasti tidak akan mampu menghindarkan diri dari senjatanya itu.

Tetapi kali ini ia telah gagal mengenai sasarannya.

“Siapa setan itu?” desisnya.

Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya kemudian melihat ketiga penunggang kuda itu meloncat turun.

“Aku harus mengenal siapakah mereka itu,” desis Ki Tambak Wedi.

“Ya,” sahut Sidanti pendek.

Ternyata jarak mereka masih cukup jauh untuk mengenali wajah seseorang di dalam malam yang gelap. Meskipun bayangan ketiga orang yang berdiri di tempat terbuka itu menjadi semakin jelas, tetapi bentuk sesungguhnya masih belum dapat dikenalnya.

“Aku akan melepaskan satu kali lagi,” berkata Ki Tambak Wedi. “Mudah-mudahan aku segera dapat mengenalnya.”

Sesaat kemudian Ki Tambak Wedi pun telah bersiap dengan sebuah gelang-gelang besinya. Kini ia sengaja berdiri di ujung pategalan untuk dapat dilihat oleh ketiga orang yang berdiri mematung di simpang tiga.

Tetapi Ki Tambak Wedi tidak menunggu mereka mendekat atau melarikan diri. Sekali lagi terdengar udara malam seolah-olah menyibak. Sebuah gelang-gelang telah meluncur dengan cepatnya. Kini tidak mengarah kepada orang yang pertama, tetapi kepada sasaran yang lain.

Namun usaha Ki Tambak Wedi untuk mengetahui orang-orang yang datang itu ternyata berhasil. Orang yang pertama, yang mampu menghindari lontaran gelang-gelang itu, ternyata tidak membiarkan gelang-gelang Ki Tambak Wedi menyambar orang lain. Ketika gelang-gelang itu meluncur beberapa cengkang daripadanya, mengarah kepada orang yang berdiri di sampingnya, terdengar ledakan yang keras memecah sepinya malam. Ledakan sebuah cambuk bertangkai pendek tetapi berjuntai panjang. Cambuk itu seakan-akan telah mengait gelang-gelang itu, sehingga tiba-tiba saja gelang yang meluncur itu melenting keatas, dan jatuh beberapa langkah dari mereka.

“Setan itu hadir pula,” terdengar Ki Tambak Wedi menggeram.

“Kiai Gringsing,” desis Sidanti.

“Siapakah orang itu?” bertanya Argajaya.

“Kiai Gringsing yang bersama-sama dengan kedua muridnya telah melindungi Sekar Mirah di padepokan Tambak Wedi. Bukankah Paman telah mengenai pula kedua muridnya itu. Yang seorang gemuk bernama Swandaru dan yang seorang Agung Sedayu.”

“Oh, anak-anak gila itu datang pula kemari,” Argajaya pun menggeram pula.

“Kebetulan sekali,” desis Sidanti. Kemudian kepada gurunya ia berkata, “Kita selesaikan saja mereka, Guru.”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Dilihatnya kedua murid Kiai Gringsing sudah mulai menambatkan kuda-kuda mereka pada batang perdu di tepi jalan, sedang Kiai Gringsing berdiri tegak melindungi mereka dengan cambuknya di tangan.

“Lihat,” gumam Ki Tambak Wedi, “mereka telah menambatkan kuda-kuda mereka. Sebentar lagi mereka datang ke mari. Gelang-gelangku tidak kuasa menahan mereka, selama Kiai Gringsing itu masih saja menggenggam senjatanya yang gila itu.”

“Kita tunggu mereka di sini,” sahut Sidanti. “Kita sama-sama bertiga.”

“Apakah kau yakin bahwa kau akan dapat membunuh mereka?” bertanya Ki Tambak Wedi.

“Guru justru memperkecil hati kami.”

“Bukan maksudku. Tetapi cobalah berpikir dengan otakmu. Jangan diburu-buru oleh nafsu dan perasaanmu saja. Kau pasti sudah tahu keseimbangan yang bakal terjadi seandainya kita harus berkelahi. Setidak-tidaknya perkelahian ini tidak akan berakhir sampai fajar. Sampai orang-orang Sangkal Putung sempat melihat kita dan mereka pasti akan mengejar kita seperti mengejar tupai. Di siang hari, di antara Sumangkar dan Kiai Gringsing, Widura, Swandaru, dan Agung Sedayu beserta pasukannya, kita tidak akan banyak mendapat kesempatan. Baik untuk melakukan perlawanan maupun kemudian untuk menyingkir.”

Sidanti tidak menjawab, tetapi terdengar ia menggeram.

“Apakah kau dapat mengerti?” bertanya gurunya.

Betapa beratnya, namun Sidanti itu menjawab, “Ya, Guru.”

“Nah, kalau begitu kita tidak boleh berbuat sebodoh itu. Kita mempunyai nalar dan perhitungan. Apakah kau mengerti?”

Sekali lagi Sidanti menjawab, “Ya, Guru.”

Meskipun Ki Tambak Wedi tidak mengatakan, tetapi jelas bagi Sidanti dan Argajaya, bahwa Ki Tambak Wedi ingin menghindari perkelahian dengan ketiga orang itu. Perkelahian yang sama sekali tidak menguntungkan dipandang dari segala segi.

“Nah, marilah. Sebelum mereka semakin dekat. Kita menghilang ke dalam pategalan.”

Betapa sakit hati Sidanti, seolah-olah keadaan yang ditemuinya di saat-saat terakhir sengaja menghinanya, merendahkannya dan membuat dadanya pedih. Berturut-turut ia mengalami kegagalan. Bahkan kegagalan yang mutlak. Di saat terakhir, ketika ia ingin melepaskan himpitan perasaannya yang menyesak, malahan dijumpainya Kiai Gringsing, Agung Sedayu, dan Swandaru, yang justru membuat luka di hatinya semakin parah.

Tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Diikutinya saja gurunya yang menyusup ke dalam rimbunnya tanaman pategalan. Meskipun kadang-kadang kulitnya tergores dari duri pelepah salak dan kadang-kadang duri daun nanas, tetapi sama sekali tidak dihiraukannya.

Dengan nada yang berat ia bertanya, “Ke mana lagi kita akan pergi, Guru?”

Ki Tambak Wedi tidak segera menjawab. Ia berjalan saja dengan tergesa-gesa menyusup di antara rimbunnya dedaunan tanpa menghiraukan pertanyaan muridnya.

Sikap Ki Tambak Wedi itu mengherankan Sidanti dan Argajaya. Seorang yang selama ini tidak mengenal gentar dan takut, tiba-tiba meninggalkan lawan yang telah berdiri di hadapan hidungnya dalam keadaan yang seimbang. Bahkan seolah-olah seperti seseorang yang sedang ketakutan dikejar hantu.

Meskipun Ki Tambak Wedi sudah mengatakan alasan-alasannya, namun masih juga terasa, betapa pahitnya keadaan yang disuapkan ke mulut mereka tanpa dapat memuntahkannya. Lari dengan tergesa-gesa meninggalkan lawan.

Tetapi baik Sidanti maupun Argajaya sudah tidak bernafsu lagi untuk bertanya. Diikutinya saja kemana Ki Tambak Wedi itu pergi. Semakin lama semakin dalam tenggelam masuk ke jantung pategalan yang gelap dan rimbun itu.

Sementara itu Ki Tanu Metir dan kedua muridnya masih saja berdiri di hadapan ujung pategalan. Orang tua itu cukup berhati-hati. Ia tahu benar bahwa yang melepaskan gelang-gelang besi itu pasti Ki Tambak Wedi. Tidak ada orang lain yang mampu melontarkan senjata serupa itu dengan kekuatan yang luar biasa.

“Kenapa kita tidak segera mendekat?” bertanya Swandaru.

“Jangan, Ngger,” berkata Ki Tanu Metir, “kita harus berhati-hati.”

“Apakah kita akan menunggu mereka mendatangi kita?”

“Apabila mungkin.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Hampir tidak sabar ia menunggu terlampau lama. Ingin ia segera meloncat dan menerkam Sidanti atau pamannya, Argajaya. Tetapi gurunya masih juga berdiri mematung dengan cambuk di tangannya.

Ketika sejenak kemudian gurunya masih juga belum beranjak maka terdengar Agung Sedayu bertanya pula, “Apakah yang harus kita tunggu, Guru? Mereka agaknya tidak akan maju lagi. Miereka juga menunggu kita.”

“Aku bercuriga,” desis Ki Tanu Metir, “Ki Tambak Wedi yang semula telah berdiri di tempat yang agak terbuka, tiba-tiba lenyap di dalam gelapnya bayang-bayang pategalan. Aku sangka, bahwa mereka sengaja memancing kita. Tetapi ingat, setiap saat gelang-gelangnya itu dapat menyambar. Mungkin aku, mungkin Angger Agung Sdayu dan mungkin Angger Swandaru. Kalau ia ingin bertempur dengan jantan, maka Ki Tambak Wedi tidak akan menghilang. Tetapi ia justru akan maju bersama murid-muridnya.”

Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Gurunya akan mampu menghindar atau menangkis serangan Ki Tambak Wedi itu. Tetapi bagaimana dengan kedua mereka itu? Sekali dua kali Ki Tanu Metir dapat membantu mereka, tetapi seandainya serangan itu datang beruntun dengan sasaran yang berbeda, maka keadaannya akan menjadi sulit. Mungkin pada suatu saat, gurunya akan menjadi terlampau sibuk dan tidak berhasil menyelamatkan salah satu dari ketiga sasaran itu.

Karena itu maka baik Agung Sedayu maupun Swandaru tidak bertanya lagi. Mereka dapat mengerti sepenuhnya, kenapa gurunya menjadi terlampau hati-hati, bukan untuk kepentingan Ki Tanu Metir sendiri, tetapi justru untuk kepentingan kedua muridnya itu.

Tetapi setelah beberapa lama mereka berdiri mematung, mereka masih belum melihat seorang pun yang mendekati mereka. Bahkan di antara gelapnya bayangan rumpun salak dai pohon-pohon buah-buahan di pategalan itu, mereka sama sekali tidak melihat gerak apa pun. Mati.

Dalam keheningan malam terdengar suara Ki Tanu Metir perlahan-lahan, “Aku tidak melihat gerak sama sekali.”

“Ya,” sahut Agung Sedayu.

“Aku kira mereka bersembunyi di balik dedaunan,” desis Ki Tanu Metir.

“Atau melarikan diri,” sambung Swandaru.

Ki Tanu Metir tidak menjawab, tetapi kemungkinan itu memang dapat terjadi. Mungkin Ki Tambak Wedi melihat, bahwa mereka tidak akan dapat berbuat banyak terhadap mereka bertiga, sehingga tidak ada gunanya lagi untuk melawan.

“Tetapi mereka sengaja mencegat kita,” berkata Agung Sedayu kemudian.

“Mungkin mereka belum mengetahui, siapakah kita. Mungkin mereka menyangka bahwa kita adalah prajurit-prajurit peronda saja, sehingga mereka mencoba membunuh. Tetapi setelah mereka mengetahui siapakah kita bertiga, maka niat itu diurungkannya,” jawab Ki Tanu Metir.

“Bukan sekedar diurungkannya,” sahut Swandaru, “tetapi mereka merasa bahwa niat itu tidak akan dapat dilakukan. Daripada mereka justru tertangkap atau mati di pategalan ini, maka lebih baik bagi mereka untuk melarikan diri.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnyalah demikian. Tetapi orang tua itu tidak mengatakannya.

“Lalu, sekarang bagaimana?” desis Agung Sedayu.

“Kita kejar,” sahut Swandaru.

“Sangat berbahaya bagi kalian. Ki Tambak Wedi sangat licik dan curang. Ia menyerang dari jarak jauh dengan tiba-tiba. Mungkin dari balik gerumbul, mungkin dari atas dahan pohon buah-buahan yang cukup besar,” potong Ki Tanu Metir.

“Lalu apakah yang akan kita kerjakan?” bertanya Swandaru kepada gurunya.

“Tunggu sebentar. Mungkin ada perkembangan baru.”

“’Kalau tidak?” desak anak yang gemuk itu.

“Kita terpaksa harus sangat berhati-hati. Kita tidak dapat berbuat dengan tergesa-gesa.”

“Jadi kita biarkan mereka melarikan diri?”

Ki Tanu Metir tidak segera menjawab. Ditatapnya pategalan yang berwama kelam itu, seolah-olah ingin dilihatnya segenap isi yang ada di dalamnya. Ingin dilihatnya tiga orang yang sedang mengendap-endap menyembunyikan dirinya, tetapi siap untuk menyerang dengan licik dan curang.

“Bagaimana, Guru?” bertanya Swandaru.

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat merasakan betapa dendam membara di dada muridnya itu. Sidanti telah pernah membuat keluarganya pening karena hilangnya Sekar Mirah. Hampir-hampir ibunya menjadi putus asa dan ayahnya kehilangan akal. Tetapi orang tua itu tidak dapat membiarkan muridnya diseret oleh arus perasaannya sehingga menghilangkan sendi-sendi perhitungan yang wajar.

Tiba-tiba Ki Tanu Metir itu bergumam, “Kalau saja pamanmu Sumangkar hadir di sini.”

“Kenapa?”

“Kami akan dapat menangkap iblis itu. Bahaya yang kami hadapi tidak akan begitu mengkhawatirkan.”

“Tetapi paman Sumangkar tidak hadir di sini.”

“Aku heran, kenapa mereka tidak berada di sini. Juga angger Widura tidak ada di sini.” Orang tua itu berhenti sejenak, lalu diteruskannya, “Mungkin mereka berada di ujung pategalan yang lain. Suara panah sendaren yang kita dengar tidak berasal dari sini, tetapi berasal dari ujung pategalan yang lain.”

“Apakah mereka berada di sana?” bertanya Agung Sedayu.

“Mungkin.”

“Licik,” desis Swandaru. “Agaknya ketiga orang itu telah menghindar pula dari tempatnya semula.”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia berkata, “Sangat berbahaya untuk mendekati pategalan itu. Justru karena Ki Tambak Wedi yang licik dan memiliki kecakapan membidik. Kelak, kalau Angger Agung Sedayu dapat memanfaatkan kecakapannya, maka aku kira kau tidak akan kalah dari Ki Tambak Wedi.

Swandaru berpaling ke arah saudara seperguruannya. Sekilas diingatnya saat-saat Agung Sedayu menunjukkan kecakapan memanah di muka banjar kademangan. Namun tiba-tiba terdengar anak yang gemuk itu berdesis, “Tetapi Ki Tambak Wedi tidak mempergunakan anak panah dan busur.”

“Angger Agung Sedayu pun mampu berbuat seperti itu,” sahut Ki Tanu Metir, “tetapi angger Agung Sedayu masih harus melatih mempergunakan segenap tenaga cadangan yang ada di dalam dirinya, supaya kekuatan lemparannya menjadi semakin besar. Apabila latihan itu sudah mendekati kesempurnaannya kelak, maka ia tidak akan kalah dari Ki Tambak Wedi. Angger Agung Sedayu dapat melempar dan mengenai batu yang sedang dilontarkan di udara. Apalagi mengenai tubuh sebesar tubuh-tubuh kita ini.”

Swandaru mengangguk-angguk-anggukkan kepalanya. Ia percaya pada keterangan itu. Memang, Agung Sedayu mempunyai kecakapan membidik yang luar biasa.

Namun tiba-tiba tersentak Swandaru itu bertanya, “Bagaimana dengan Ki Tambak Wedi?”

Sekali lagi Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya lambat, “Terpaksa, Ngger.”

“Terpaksa kita lepaskan?”

Ki Tanu Metir menganggukkan kepalanya.

“Bagaimana mungkin Kiai,” sahut Swandaru. “Kita sudah berdiri berhadapan. Kita akan mendapat kesempatan yang baik. Di saat-saat yang lain kita belum pasti akan menemukan kesempatan yang serupa ini, atau bahkan karena kelicikannya kita akan dapat ditelannya.”

“Berbahaya, Ngger, berbahaya bagimu dan bagi Angger Agung Sedayu. Kalau aku yakin mampu melindungi kalian dari gelang-gelang besi itu, maka aku tidak akan berkeberatan. Tetapi bagaimana kalau aku gagal? Apakah aku harus mengorbankan murid-muridku? Di dalam pategalan itu akan terasa lebih gelap lagi daripada di tempat yang terbuka. Mata Ki Tambak Wedi adalah mata yang sangat tajam, setajam hidung serigala.”

Swandaru tidak menjawab, tetapi terdengar ia menggeram. Bukan saja Swandaru Geni, tetapi juga Agung Sedayu menjadi sangat kecewa. Tetapi mereka dapat mengerti alasan gurunya. Alasan keselamatan, justru keselamatan mereka sendiri.

Sejenak mereka berdiri diam sambil memandangi pategalan yang kelam itu. Sejenak mereka membiarkan diri mereka disapu oleh angin malam yang dingin. Lamat-lamat terdengar cengkerik dan bilalang berderik bersahut-sahutanan.

“Kita tidak dapat berdiri saja di sini semalam suntuk,” berkata Ki Tanu Metir kemudian.

Swandaru dan Agung Sedayu serentak berpaling ke arah gurunya. Mereka seakan-akan baru saja terbangun dari tidur mereka yang dibayangi oleh mimpi yang mengecewakan.

“Kita teruskan perjalanan. Mungkin kita bertemu dengan pamanmu Sumangkar dan Angger Widura.”

Ki Tanu Metir tidak menunggu jawaban kedua muridnya. Perlahan-lahan ia melangkah mendekati kudanya, diikuti oleh murid-muridnya.

“Marilah,” berkata orang tua itu sambil meloncat keatas punggung kudanya.

“Kalian berada di depan. Kita akan berbelok ke barat. Kalau Tambak Wedi itu masih ada di sudut pategalan itu, ia akan melempar punggung kita. Biarlah aku yang berada di paling belakang.”

Kedua muridnya itu pun segera meloncat ke punggung kuda masing-masing. Sejenak kemudian mereka telah menghadap ke Barat. Mereka akan segera memacu kuda mereka menyusur jalan yang membujur tidak jauh dari pategalan itu. Tetapi jarak antara pategalan dan jalan itu menjadi semakin lama semakin jauh. Sehingga lemparan Ki Tambak Wedi sudah tidak akan terlampau berbahaya lagi, seandainya ia masih juga ingin menyerang sambil bersembunyi di pategalan itu.

Sejenak kemudian suara kaki-kaki kuda itu telah membelah sepi malam. Berderap melepaskan debu yang putih. Angin yang silir terasa menyusup kulit. Dingin. Namun panas di dalam dada mereka telah menghangatkan seluruh tubuh.

Mereka tidak memerlukan waktu yang lama untuk sampai ke ujung pategalan yang lain. Tetapi mereka sama sekali tidak menemukan seorang pun di sana. Meskipun demikian orang tua itu bergumam, “Di sini aku melihat bekas pertempuran.”

Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka melihat batang-batang padi yang terinjak kaki-kaki kuda. Mereka melihat rerumputan yang bosah-baseh.

“Agaknya terjadi perkelahian kecil di sini,” desis Ki Tanu Metir, “tetapi tidak terlalu lama. Entahlah, mungkin terjadi juga perkelahian di dalam pagar pategalan itu.”

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Lalu bagaimana dengan kita?” bertanya Agung Sedayu.

“Menurut perhitunganku, Angger Widura dan Adi Sumangkar telah sampai ke tempat ini, dan Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya melarikan diri, justru ke arah Timur.”

“Ya, arah yang terlindung,” sahut Swandaru.

“Tak ada pekerjaan lain,” gumam Ki Tanu Metir, “kita akan kembali ke kademangan.”

Kedua muridnya tidak segera menyahut.

“Mungkin kita akan dapat mendengar beberapa persoalan yang terjadi di sini,” berkata Ki Tanu Metir pula.

Kedua muridnya pun mengangguk-anggukkan kepala mereka. Terdengar Agung Sedayu berdesis, “Marilah, Guru.”

Mereka bertiga segera meninggalkan tempat itu. Mereka mencoba untuk mengikuti jejak kaki-kaki kuda yang terdahulu. Mereka menyangka, bahwa jejak itu adalah jejak kaki-kaki kuda Widura dan beberapa orang prajurit pilihan, mungkin bersama Sumangkar pula.

Tetapi malam masih gelap, sehingga mereka akhirnya tidak telaten lagi memperhatikan jejak-jejak kuda itu.

“Kita cari jalan memintas. Kita akan sampai juga ke kademangan.” gumam Ki Tanu Metir.

“Jalan inilah yang terdekat Kiai,” sahut Swandaru.

“Oh.”

Dan kuda itu berderap terus. Tetapi kini menjadi semakin cepat. Mereka tidak menghiraukan lagi, apakah jejak-jejak kaki kuda-kuda yang terdahulu itu menempuh jalan lain.

Di sela-sela derap kaki-kaki kuda itu terdengar suara Ki Tanu Metir, “Sayang kita terlambat. Seandainya kita datang sebelum perkelahian itu berakhir, maka kita akan dapat membantu mereka. Bahkan mungkin kita akan sempat menangkap Ki Tambak Wedi.”

Kedua muridnya tidak menyahut, tetapi penyesalan yang serupa merayapi dada mereka pula. Namun semuanya telah terjanjur terjadi. Ki Tambak Wedi ternyata masih sempat melarikan dirinya. Dan petualangannya ternyata masih akan berkepanjangan.

Sementara itu Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya telah semakin dalam terbenam ke dalam pategalan yang rimbun itu. Beberapa saat kemudian, ketika mereka yakin bahwa Ki Tanu Metir dan murid-muridnya sudah tidak mengejarnya lagi, mereka pun segera berhenti. Meskipun mereka sama sekali tidak menjadi lelah karena perjalanan yang tidak menyenangkan itu, namun nafas mereka pun menjadi terengah-engah. Berbagai perasaan yang bergolak dalam dada merekalah yang menyebabkan nafas mereka terasa menjadi sesak.

Ki Tambak Wedi berdiri tegak dengan wajah yang berkerut-merut. Di dalam dadanya bergolaklah berbagai macam persoalan. Persoalan yang sedang dihadapinya kini, melepaskan diri dari orang-orang yang sangat dibencinya, Ki Tanu Metir dan Sumangkar, dan persoalan Sidanti dan Argajaya. Mereka tidak dapat membiarkan diri mereka hanyut dalam arus ketidak-tentuan dan kembara seperti dirinya sendiri. Kedua orang itu merasa mempunyai daerah yang cukup mapan Menoreh.

Tetapi setiap kali Ki Tambak Wedi mengenangkan daerah itu, hatinya menjadi berdebar-debar. Apakah ia akan bersedia mengikuti keinginan Sidanti dan Argajaya untuk kembali ke Menoreh dalam keadaannya itu?

Ki Tambak Wedi itu terkejut ketika ia mendengar Sidanti bertanya, “Bagaimana, Guru? Kita sudah terlampau lama bergelandangan tidak menentu. Keadaan kita sudah tidak lebih baik dari seorang pengemis atau seorang pencuri ayam. Pakaianku sudah tidak mapan lagi dan noda-noda darah ini masih belum bersih benar. Sobek-sobek oleh goresan pedang dan duri. Apakah kita masih akan memperpanjang masa-masa penyiksaan ini? Sedang aku masih mempunyai teman yang cukup baik untuk berlindung, bahkan untuk pancadan lebih lanjut?”

Ki Tambak Wedi dapat mengerti perasaan muridnya. Ia adalah anak yang manja, yang telah terbiasa hidup dalam keadaan yang baik. Meskipun ada juga darah petualangan yang mengalir di dalam dirinya, namun selama ia masih merasa ada daerah yang lebih baik bagi dirinya, maka tidak dapat disalahkannya apabila ia ingin untuk kembali. Tetapi bukan saja karena itu, bukan saja karena Sidanti tidak tahan lagi mengalami keadaannya kini. Namun lebih daripada itu ia merasa bahwa ia akan mampu menyusun kekuatan untuk menebus segala kekalahan yang pernah dideritanya. Kekalahan yang paling pahit dalam umurnya yang masih cukup muda itu. Ia telah kehilangan segalanya yang dicita-citakannya. Kedudukan dan seorang gadis, Sekar Mirah.

“Bagaimana, Guru,” desak Sidanti.

Ki Tambak Wedi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ternyata ia tidak dapat berbuat lain, betapapun beratnya. Berat sekali, dan tidak seorang pun yang dapat ikut merasakan, betapa hatinya tersiksa karenanya.

Namun Ki Tambak Wedi masih belum segera menjawab. Dicobanya untuk menenangkan hatinya yang sedang bergelora. Gelora yang seolah-olah menghantam dinding-dinding jantungnya dari segala arah. Kekalahan yang dideritanya, dan Bukit Menoreh yang mendebarkan.

“Apakah ada pilihan lain yang lebih baik, Guru?” bertanya Sidanti hampir tidak sabar.

Ki Tambak Wedi menggelengkan kepalanya. Desisnya, “Tidak Sidanti. Aku tidak mempunyai pilihan lain. Padepokanku sendiri telah hancur menjadi debu. Aku sudah tidak mempunyai landasan lain yang dapat aku pergunakan untuk memulai setiap usaha yang akan dapat bermanfaat bagimu.”

“Kalau demikian, maka tidak akan ada jalan lain kecuali kembali ke Menoreh,” potong Argajaya.

Dengan ragu-ragu Ki Tambak Wedi menganggukkan kepalanya. “Tidak ada jalan lain.”

“Tetapi, Guru masih ragu-ragu,” berkata Sidanti.

“Memang tidak ada jalan lain,” gumam Ki Tambak Wedi seolah-olah kepada diri sendiri. “Betapa sulitnya jalan itu, tetapi harus aku tempuh. Mudah-mudahan semuanya dapat berjalan dengan baik tanpa ada hambatan.”

Sidanti dan Argajaya menjadi heran. Mereka merasakan sesuatu yang tidak wajar pada Ki Tambak Wedi. Tetapi mereka akhirnya mengambil kesimpulan bahwa Ki Tambak Wedi sedang menyesali kegagalannya. Ia merasa bersalah terhadap Ki Argapati, Kepala Tanah Perdikan Menoreh, bahwa ia tidak berhasil dengan Sidanti sesuai dengan keinginannya.

“Guru tidak usah merisaukan aku,” berkata Sidanti kemudian. “Ayah harus tahu apa yang terjadi. Ayah tidak akan dapat berbuat lain. Aku adalah satu-satunya putera laki-laki. Dan aku adalah seorang yang kelak akan mengganti kedudukannya.”

Tiba-tiba Ki Tambak Wedi berpaling, seakan-akan disembunyikannya wajahnya di dalam kegelapan. Terdengar sebuah keluhan yang panjang meluncur dari hidung orang tua itu.

“Aku menjadi saksi,” berkata Argajaya. “Aku dapat menjelaskan apa yang terjadi.”

Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kini ia tidak lagi berdiri menghadap kepada Sidanti dan Argajaya. Pandangan matanya seakan-akan dilemparkannya jauh-jauh ke dalam kelamnya malam.

“Kegagalan ini tidak akan dapat aku lupakan,” keluh orang tua itu. Dan tiba-tiba seperti orang yang menyesal sekali ia bergumam, “Perempuan keparat itu adalah sumber dari kehancuran kita Sidanti. Apakah kata ayahmu tentang kelakuanmu itu nanti. Tentang usahamu melarikan seorang gadis?”

Sebuah dentangan yang keras menghantam jantung Sidanti. Ia tidak menyangka bahwa suatu ketika keluhan itu akan keluar dari mulut gurunya, meskipun gurunya membenarkannya ketika Sidanti menyatakannya. Bahkan gurunya mengijinkannya ketika ia mengambil sikap itu. Ketika ia mengambil Sekar Mirah dari Sangkal Putung.

“Kiai,” terdengar suara Argajaya dalam anda yang berat, “Kakang Argapati tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di Tambak Wedi. Ia tidak tahu bahwa kekalahan Sidanti di Tambak Wedi bersumber pada perempuan celaka itu.”

Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak yakin akan hal itu. Katanya perlahan, “Mudah-mudahan. Mudah-mudahan Argapati tidak tahu. Mudah-mudahan ia tidak mendengar berita apa yang sebenarnya telah terjadi. Tetapi Argapati bukan anak-anak. Ia adalah seorang yang dapat disejajarkan dengan Ki Gede Pemanahah, Kiai Gringsing, Sumangkar, Ki Patih Mantahun, dan beberapa pemimpin Pajang yang lain.”

“Tetapi Guru tidak menyebut Ki Tambak Wedi.”

Ki Tambak Wedi tidak segera menyahut. Pandangan matanya masih tersangkut pada kegelapan malam. Sekali ia melangkah maju, tidak dirasakannya ketika kakinya menginjak duri daun nanas di bawah telapak kakinya.

Namun akhirnya ia berkata, “Baiklah, Sidanti. Tidak ada jalan lain. Marilah kita pergi ke Menoreh. Kita melintas Hutan Mentaok dan kau akan masuk ke tanah perdikanmu sebagai seorang anak yang pulang kepada ayahnya. Seorang anak yang polah, dan aku mengharap bahwa Argapati akan menjadi seorang ayah yang pradah.”

Sikap Ki Tambak Wedi benar-benar mengherankan Sidanti dan Argajaya. Tanpa menunggu jawaban apapun, Ki Tambak Wedi segera melangkahkan kakinya, menembus semak-semak dan tetumbuhan yang rimbun di pategalan itu.

Sidanti dan Argajaya pun segera mengikutinya. Sejenak mereka berjalan terloncat-loncat. Keduanya sama sekali tidak segera dapat bertanya sesuatu oleh kekaburan sikap Ki Tambak Wedi itu.

Tersuruk-suruk mereka menerobos pohon-pohon buah-buahan yang rendah dan kemudian meloncati batang-batang tales dan ubi panjang. Disasaknya batang-batang nyidra dan garul sehingga berserakan terinjak oleh kaki-kaki mereka. Mereka sama sekali tidak berusaha untuk menyembunyikan jejak-jejak mereka.

Sekali terbersit pula ingatan di kepala Sidanti untuk menghindari kemungkinan, orang-orang Pajang akan mengikuti jejaknya. Tetapi segera teringat olehnya, bahwa kali ini akan menempuh sebuah perjalanan yang jauh. Melintasi beberapa kademangan, kemudian Alas Tambak Baya, Mentaok dan beberapa pedukuhan kecil.

“Menoreh,” Sidanti berdesis di dalam hatinya, “tanah yang telah cukup lama aku tinggalkan untuk merantau. Ketika aku tinggalkan tanah itu aku telah dibekali oleh ayah dengan cita-cita. Tetapi di rantau aku telah menemui kegagalan. Apakah ayah akan berdiam diri dan berpangku tangan melihat kegagalan ini? Bukan sekedar kegagalan, tetapi harga diriku telah terinjak-injak pula di Sangkal Putung dan di Tambak Wedi.”

Terdengar anak muda itu menggeram. Dikepalkannya tinjunya seolah-olah hendak diremasnya leher lawan-lawannya. Namun yang tergenggam olehnya hanyalah sehelai daun yang kuning yang direnggutkannya dari sebatang pohon perdu.

Yang terdengar kemudian adalah langkah-langkah mereka gemerisik menyentuh dedaunan. Kemudian di kejauhan terdengar suara kokok ayam jantan bersahut-sahutan.

Ketika mereka bertiga, Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya menengadahkan kepala mereka, maka tampaklah seolah-olah langit di ujung Timur sedang terbakar.

“Fajar,” desis Ki Tambak Wedi.

“Ya,” hampir berbareng Sidanti dan Argajaya menyahut.

“Apabila pagi menjadi semakin terang, maka kita harus sudah menjauhi induk kademangan. Mungkin kita harus bersembunyi, atau berjalan di pategalan supaya tidak menumbuhkan kecurigaan orang,” berkata Ki Tambak Wedi kemudian.

Sidanti dan Argajaya menganggukkan kepala mereka. Tiba-tiba saja kini mereka merasa sebagai orang-orang buruan yang harus meninggalkan tempatnya dengan penuh ketakutan dan kecemasan. Dengan demikiam maka Sidanti merasa dirinya semakin parah. Hatinya menjadi semakin sakit.

Langkah mereka bertiga semakin lama menjadi semakin cepat. Sejenak kemudian mereka telah menyusur pematang memotong jalan. Ketika fajar menjadi semakin terang, maka mereka telah memasuki sebuah pedesaan kecil.

“Aku memerlukan ganti pakaian,” desis Sidanti tiba-tiba. “Noda-noda darah yang kehitam-hitaman pada pakaianku akan menimbulkan kecurigaan.”

Gurunya menganggukkan kepalanya. Pakaian mereka benar-benar telah menjadi lusuh dan kotor. Mereka tak ubahnya sebagai perantau miskin yang tidak sempat berganti dan mencuci pakaian yang hanya melekat ditubuh mereka itu saja. Kotor dan buram.

“Hanya bajumu yang perlu diganti,” sahut gurunya.

“Aku tidak tahan. Pakaianku telah berbau seluruhnya,” jawab Sidanti.

“Suatu penyamaran yang baik. Tidak seorang pun akan memperhatikan kita.”

“Ya,” tiba-tiba Argajaya menyambung, “kita tidak akan segera diperhatikan orang. Orang-orang yang berjumpa dengan kita pasti akan menyangka bahwa kita adalah perantau-perantau yang sedang mencari sesuap nasi pada daerah baru yang masih harus dicari.”

Sidanti mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Baiklah, aku akan mencari ganti baju.”

Ternyata Sidanti tidak terlampau susah untuk mendapatkan baju. Dimasukinya saja sebuah rumah yang dilewatinya. Langsung dimitanya sepotong baju untuknya. Ketika orang yang mempunyai rumah itu menyatakan keberatannya, maka dalam waktu sekejap tangannya telah terpilin dan lehernya menjadi terlampau sakit karena terkaman jari-jari Sidanti.

Perjalanan mereka selanjutnya adalah perjalanan tiga orang perantau miskin yang berpakaian kusut dan kumal. Mereka berjalan menyusur jalan-jalan yang sepi, sejauh mungkin bertemu dengan seseorang. Meskipun orang-orang itu tidak akan dapat mengenal mereka, tetapi setiap tatapan mata seolah-olah melontarkan ejekan yang sangat menyakitkan hati. Sehingga setiap kali, setiap mereka bertemu dengan seseorang yang memandangi wajah-wajah mereka dengan heran, Sidanti selalu saja menjadi marah. Kadang-kadang orang itu dipukulnya tanpa sebab.

“Jangau menuruti kemarahan hati, Sidanti,” gurunya sering memperingatkannya. “Kau akan membuat perjalanan ini menjadi gagal pula.”

“Kenapa?” bertanya Sidanti.

“Orang-orang yang kau sakiti akan menaruh banyak sekali perhatian atas kita. Bukankah dengan demikian kau telah meninggalkan petunjuk-petunjuk bagi orang-orang yang ingin mengikuti jejak kita.”

“Apa keberatannya? Kita akan pergi ke Menoreh. Sebentar lagi kita akan berada di antara orang-orang kita sendiri. Di antara pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang tidak kalah tangkasnya dari prajurit-prajurit Pajang. Bahkan hampir setiap laki-laki di Menoreh mampu mempergunakan senjata.”

“Tetapi sekarang kita belum sampai ke Menoreh. Kita masih di perjalanan. Kita belum berada di antara para pengawal dan anak-anak muda Menoreh yang perkasa.”

“Apa yang Guru cemaskan?”

“Setan-setan dari Sangkal Putung dapat saja memburu kita. Sumangkar, Kiai Gringsing, Swandaru, Agung Sedayu, bahkan mungkin Widura dan prajurit-prajuritnya.”

Sidanti tidak menyahut. Tetapi terasa hatinya melonjak. Benar-benar menyakitkan hati.

“Aku harus menebus segala kekalahan ini. Segala sakit hati dan segala penghinaan,” katanya di dalam hati “Ternyata guru cukup bijaksana. Tidak ada gunanya aku mati karena terlampau keras kepala, tidak melihat kenyataan bahwa perlawananku tidak berguna. Adalah lebih baik menyingkir untuk datang kembali dengan membawa kemenangan.”

Langkah-langkah mereka pun semakin lama menjadi semakin cepat. Mereka memilih jalan-jalan pematang dan sidatan-sidatan kecil. Yang terpateri di dalam kepala Sidanti adalah, secepat-cepatnya sampai ke Menoreh, dan secepat-cepatnya menghimpun kekuatan untuk kembali membalas sakit hatinya atas Untara, Agung Sedayu, dan Swandaru. Kemudian akan digilasnya Sangkal Putung. Apabila mungkin untuk merebut tanah perbekalan dan sekaligus Sekar Mirah.

Sidanti mengangkat wajahnya ketika ia mendengar Argajaya berkata, “Tetapi kita tidak akan dapat memasuki daerah Menoreh dengan keadaan seperti ini. Aku adalah adik Kepala Tanah Perdikan dan Sidanti adalah puteranya.”

Ki Tambak Wedi tidak menanggapi kata-kata Argajaya. Meskipun demikian ia dapat mengerti sepenuhnya. Argajaya ingin perjalanannya tidak terganggu, supaya mereka segera sampai ke Menoreh. Karena itu maka pakaiannya yang kumal itu akan menolong mereka, melepaskan dari segenap perhatian orang yang mungkin akan menghambat perjalanan. Tetapi Argajaya tidak mau memasuki Tanah Perdikannya dengan keadaannya. Ia harus masuk ke daereh itu dengan sikap seorang besar. Orang kedua di Tanah Perdikan Menoreh.

“Ia tidak akan menemu kesulitan apa-apa untuk berbuat demikian,” berkata Ki Tambak Wedi di dalam hatinya. “Di perjalanan mereka akan mendapatkan apa yang diingininya. Kalau Argajaya dan Sidanti ingin berganti pakaian yang, bagaimanapun juga, maka disepanjang jalan pasti telah disediakan untuk mereka.”

Karena Ki Tambak Wedi tidak menyahut, maka Argajaya pun terdiam pula. Sejenak mereka berjalan sambil berdiam diri. Meskipun di dalam dada mereka bergolak berbagai macam perasaan yang kadang-kadang sangat menggefisahkan dan menyakitkan hati.

Namun tiba-tiba kediaman itu dipecahkan oleh pertanyaan Sidanti kepada Argajaya, “Paman, apakah Paman akan singgah di Prambanan? Di sana paman akan mendapatkan apa saja yang Paman kehendaki.”

Argajaya mengerutkan keningnya. Di Prambanan ia memang akan mendapat apa saja yang dikehendaki. Di Prambanan ada orang-orang yang akan menyambutnya dengan senang hati. Bahkan para piajurit Pajang pernah berada di pihaknya ketika ia berkelahi melawan anak-anak muda yang membuatnya marah. Tetapi seorang dari anak-anak muda yang membuatnya marah itu, yang menyebut dirinya bernama Sutajia, adalah Sutawijaya. Ia tidak mampu mengalahkannya, bahkan ia mendapat malu karenanya.

“Para prajurit itu akan berpendirian lain seandainya mereka mengetahui bahwa anak itu adalah putera Ki Gede Pemanahan,” desisnya. “Gila, aku tidak mengetahuinya sebelumnya, seandainya aku tidak mendengar tentang anak itu di padepokan Tambak Wedi.”

“Bagaimana, Paman?” bertanya Sidanti.

Argajaya menggelengkan kepalanya. “Tidak. Dalam keadaanku ini, aku tidak akan singgah di Prambanan.”

“Kenapa?” bertanya Sidanti pnla.

Argajaya tidak segera menjawab. Dan Sidanti-lah yang menyambung kata-katanya, “Paman akan banyak mendapat kesempatan. Aku kira anak-anak gila itu sudah tidak berada di Prambanan lagi. Bukankah mereka berada di Sangkal Putung bersama gurunya?”

“Aku tidak memerlukan Prambanan lagi.”

“Paman akan mendapatkan apa saja. Kalau Paman ingin pakaian maka di Prambanan ada pakaian yang paling baik yang kita kehendaki. Kalau Paman ingin melepaskan kejengkelan hati, di Prambanan Paman akan mendapat sasaran. Bahkan aku pun ingin memutar batang-batang leher sebagian dari anak-anak muda Prambanan yang sombong seperti yang Paman katakan.”

Argajaya tidak menjawab. Tetapi yang terdengar adalah suara Ki Tambak Wedi, “Kau masih juga ingin membuat persoalan dengan orang-orang yang sama sekali tidak bersangkut paut dengan kegagalanmu Sidanti. Dengan demikian kau akan mempersempit kemungkinan bagi dirimu sendiri. Kalau kesan terhadapmu baik, maka kau akan banyak mendapat bantuan dari orang-orang Prambanan apabila kau perlukan. Tetapi kalau kesan terhadap dirimu jelek, maka Prambanan akan menjadi musuh yang kuat bagimu. Prambanan akan segera berdiri berhadapan dengan Menoreh. Meskipun kekuatan Menoreh berlipat dibandingkan dengan Kademangan Prambanan, tetapi apabila Prambanan kelak berdiri berseberangan dengan Menoreh, maka kademangan itu akan merupakan gangguan yang besar. Tetapi kalau secara perlahan-lahan kademangan itu dapat kau pengaruhi, maka kedudukan Untara segera akan goyah.”

Sidanti ttdak menjawab. Ia dapat mengerti keterangan gurunya. Meskipun demikian masih juga tumbuh di dalam dirinya, keinginan untuk melepaskan sakit hatinya. Kepada siapa pun dan kepada apa pun. Namun dengan sekuat tenaga ditahankannya. Disimpannya sakit hatinya itu untuk kelak ditumpahkannya kepada Untara, Agung Sedayu, Swandaru, Widura, dan Demang Sangkal Putung.

Sekali lagi mereka tenggelam dalam kebisuan. Langkah-langkah mereka sajalah yang terdengar gemerisik menyentuh daun-daun kering yang bertebaran di jalan sempit yang mereka lalui. Sekali dua kali mereka bertemu juga dengan orang-orang yang memanggul cangkul di bahunya. Tetapi orang-orang itu sama sekali tidak memperhatikannya.

Perjalanan yang akan mereka tempuh bukanlah perjalanan untuk sehari itu saja. Tetapi mungkin empat hari atau sepekan. Mereka harus menembus berbagai macam hutan. Hutan-hutan yang tidak begitu lebat sampai hutan bebondotan. Hutan yang paling liar. Besok mereka akan mulai menyeberangi Alas Tambak Baya, kemudian yang lebih lebat lagi adalah pusat Alas Mentaok.

Sememara itu di Kademangan Sangkal Putung, beberapa orang sedang berbincang di Kademangan. Widura, Ki Demang Sangkal Putung, Sumangkar, Kiai Gringsing, Agung Sedayu, dan Swandaru dan beberapa orang pemimpin yang lain. Berbagai kemungkinan telah mereka bicarakan. Mereka telah mendengar pengalaman masing-masing semalam. Dengan bahan itulah maka mereka mencoba mengurai keadaan.

“Apakah mereka kira-kira masih akan berkeliaran di sekitar Sangkal Putung ini?” bertanya Ki Demang.

Widura mengerutkan keningnya. Dengan nada dalam ia berkata, “Bukankah Ki Tambak Wedi telah bertemu dengan Ki Sumangkar dan Kiai Gringsing semalam meskipun tidak dalam waktu yang bersamaan?”

“Ya,” jawab Sumangkar dan Kiai Gringsing hampir berbareng.

“Dengan demikian, maka pandangan Ki Tambak Wedi atas Sangkal Putung akan segera berubah. Sangkal Putung bukan lagi sasaran yang terlampau lunak bagi mereka. Tidak lagi sebagai kandang domba bagi tiga ekor serigala yang paling buas.”

Sumangkar dan Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepala mereka. Bahkan Swanderu, Agung Sedayu, Ki Demang Sangkal Putung, dan orang-orang yang lain pun mengangguk-anggukkan kepala mereka pula. Mereka dapat mengerti jalan pikiran Widura. Bahkan mereka pun dapat menduga, bahwa Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya pasti harus mempertimbangkan sekali lagi manfaat mereka untuk berada di sekitar Sangkal Putung.

“Mereka akan segera pergi,” Swandaru berkata langsung seperti apa yang dipikirkannya. “Mereka tidak akan berani lagi berbuat sesuatu di Sangkal Putung.”

“Kita akan berlega hati,” desis Ki Demang, “kademangan ini akan kembali menjadi tenteram. Bahkan seperti saat-saat sebelum ada kerusuhan yang terjadi antara Pajang dan Jipang. Kini tidak ada lagi orang-orang yang akan dapat mengganggu kita.”

“Aku merasa sayang,” sahut puteranya yang gemuk, Swandaru, “sebenarnya aku masih mengharap mereka berotak tumpul, dan masih saja berkeliaran di sini, sehingga suatu ketika kita akan dapat menangkap mereka.”

“Mereka bukan keledai-keledai yang terlampau bodoh,” berkata ajahnya. “Mereka adalah orang-orang yang cukup mempergunakan otaknya, bahkan terlampau cakap, sehingga menjadi licik karenanya.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang kemungkinan terbesar yang terjadi adalah, Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya akan meninggalkan Sangkal Putung.

“Tetapi apakah kira-kira mereka akan berbuat selicik itu pula di Jati Anom? Karena mereka menganggap bahwa baik Ki Sumangkar maupun Kiai Gringsing berada di Sangkal Putung maka mereka akan segera melakukan pengacauan untuk menakut-nakuti prajurit Pajang di Jati Anom.”

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. “Aku kira tidak, Ngger. Hal itu tidak akan hanyak bermanfaat bagi mereka. Kemungkinan yang terbesar, mereka akan segera pergi ke Menoreh. Sebab Sidanti adalah putera Menoreh.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia berdiam diri, dan yang lain pun tidak segera menyahut pula. Kini perhatian mereka melontar ke Perbukitan Menoreh, melintasi Hutan Mentaok. Tanah Perdikan yang terbentang di sepanjang pegunungan Menoreh dan dataran di sekitarnya. Membujur dari Utara ke Selatan. Daerahnya meliputi pegunungan yang berbatu-batu, tetapi juga melingkupi daerah sawah yang hijau subur, hutan yang rindang dan yang lebat, bahkan alas pingitan. Hutan buah-buahan yang dipelihara dengan baik, dilindungi segala isinya, sampai pada binatang-binatang yang menghuni di dalamnya.

Sidanti adalah putera Kepala Tanah Perdikan yang besar itu. Putera Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh.

Sejenak mereka yang berada di dalam ruangan itu saling berdiam diri. Mereka disibukkan oleh angan-angan masing-masing tentang segala macam kemungkinan tentang Ki Tambak Wedi, Sidanti, Argajaya, dan bahkan tentang Ki Gede Menoreh. Apakah kira-kira yang akan mereka lakukan seterusnya? Seandainya tidak pernah terjadi sesuatu dengan Sidanti dan Ki Tambak Wedi, maka mereka tidak akan berprasangka apa pun terhadap Argapati. Tetapi apakah ia akan tetap berdiam diri seandainya Sidanti mengatakan apa yang pernah dialaminya, dan bahkan mungkin kuntul dikatakan dandang, dandang dikatakan kuntul? Yang putih dikatakan hitan yang hitam dikatakan putih?

Dalam kediaman itu terdengar suara Widura, perlahan-lahan, “Sementara memang kita akan dapat mengambil kesimpulan, bahwa Sidanti, guru dan pamannya itu akan kembali ke Menoreh. Tetapi kita tidak akan kehilangan kewaspadaan. Setiap peronda masih akan dilengkapi dengan panah sendaren dan kuda.”

“Tepat, Ngger,” sahut Kiai Gringsing “akupun berpendapat seperti itu. Meskipun kemungkinan terbesar, mereka akan pergi ke Menoreh, tetapi kita tidak boleh terjebak karena angan-angan sendiri.”

Pertemuan itupun kemudian berpendapat serupa. Peronda masih harus tetap berada dalam kewaspadaan tertinggi.

Dalam pada itu, maka Kiai Gringsing sendiri berpendapat, bahwa sudah sampai saatnya ia harus mulai dengan sebuah perjalanan. Namun ia masih harus menunggu perkembangan keadaan. Ia masih harus tinggal di Sangkal Putung untuk beberapa hari, untuk meyakinkan dirinya bahwa Ki Tambak Wedi benar-benar telah meninggalkan kademangan itu dan tidak pergi ke Jati Anom.

Demikianlah setelah pertemuan itu Sangkal Putung sama sekali tidak mengurangi kesiagaannya. Setiap hari masih saja dapat dilihat peronda-peronda berkuda dalam jumlah yang cukup untuk menanggapi keadaan seandainya mereka bertemu dengan Ki Tambak Wedi. Mereka masih juga selalu berada di atas punggung kuda dengan bekal panah-panah sendaren. Setiap saat mereka akan mengirimkan isyarat apabila diperlukan.

Tetapi di hari-hari berikutnya mereka tidak pernah menjumpai lagi orang yang selama ini selalu menghantui Kademangan Sangkal Putung. Sehingga lambat laun, mereka semakin meyakini, bahwa Ki Tambak Wedi telah pergi meninggalkan kademangan itu.

Meskipun demikian, betapapun Swandaru dan Agung Sedayu kadang-kadang diganggu oleh kegelisahan tentang padesan di sepanjang jalan yang akan dilalui oleh Ki Tambak Wedi, terutanra Prambanan, namun Ki Tanu Metir masih merasa perlu untuk beberapa lama menunggu.

Ternyata Ki Tanu Metir tidak saja sekedar meyakinkan dirinya bahwa Ki Tambak Wedi telah tidak ada di Sangkal Putung, tetapi yang lebih panting baginya adalah membentuk Agung Sedayu dan Swandaru, sehingga kedua anak-anak muda itu benar-benar mencerminkan perguruannya. Perlahan-lahan Kiai Gringsing mencoba untuk membiasakan kedua anak-anak muda itu mempergunakan senjata sejenis senjatanya. Tetapi Ki Tanu Metir tidak ingin melepas pedang-pedang itu dari lambung murid-muridnya. Bahkan Kiai Gringsing ingin murid-muridnya dapat mempergunakan senjata-senjata itu berpasangan.

Itulah sebabnya maka setiap malam Swandaru dan Agung Sedayu pasti berada di sekitar Gunung Gowok bersama gurunya, Ki Tanu Metir. Bahkan sekali-sekali bersama Sumangkar dan Widura. Mereka ingin juga menyaksikan kemajuan kedua anak-anak muda itu. Ingin melihat keduanya tidak saja memutar pedangnya, tetapi sekali-sekali meletingkan cambuk yang berpangkal pendek tetapi berjuntai cukup panjang, dan sekali-sekali mereka bersenjatakan sebuah cemeti yang lentur.

Sebagai seorang paman Widura berbangga melihat kemajuan Agung Sedayu. Kadang-kadang ia menahan tertawanya seorang diri ketika ia tanpa sesadarnya mengenangkan masa-masa Agung Sedayu untuk pertama kalinya datang ke kademangan ini. Kedatangannya benar-benar telah mengejutkannya. Bagaimana mungkin Agung Sedayu seorang diri berani menempuh perjalanan di malam hari dari Jati Anom sampai ke Sangkal Putung.

Namun di hari-hari kemudian, dikenalnya Agung Sedayu itu seperti pada kanak-kanaknya. Penakut yang tidak tanggung-tanggung. Ia takut terhadap apa saja. Terhadap seseorang, terhadap peristiwa-peristiwa yang dianggapnya terlampau keras dan terhadap gelap malam. Semuanya itu membuatnya menjadi seorang anak muda yang lain dari anak-anak muda sebayanya.

“Anak itu hampir membeku dibentak-bentak oleh Sidanti,” desis Widura di dalam hatinya.

Tetapi Widura tidak pula dapat menyembunyikan kekagumannya atas kemanakaanya itu. Meskipun ia tidak berani berbuat sesuatu, meskipun ia tidak mampu untuk berbuat banyak, namun ia dapat juga mempelajari ilmu tata bela diri. Ternyata otaknya cukup cerdas, dan cukup- memiliki kemampuan untuk menerimanya. Bahkan yang tidak disangka-sangkanya, Agung Sedayu mampu menyusun unsur-unsur tata bela diri di atas rontal.

Akhirnya dinding yang mengungkungnya itu mampu dipecahkannya. Seperti telur yang sedang menetas, maka meledaklah dinding yang selama ini mengurungnya di dalam suasana ketakutan. Seperti anak ayam yang merangkak ke luar dari pecahan telurnya, Agung Sedayu melihat keadaan di sekitarnya dalam penilaian yang wajar. Sehingga akhirnya Agung Sedayu itu seakan-akan dilahirkan kembali. Lahirlah seorang Agung Sedayu yang sekarang ini.

Widura menarik nafas panjang. Ia terkejut ketika ia mendengar cambuk yang meledak berturut-turut beberapa kali. Ketika ia mengangkat wajahnya, dilihatnya Agung Sedayu bersama Swandaru sedang berlatih melawan gurunya. Widura mengangguk-anggukkan kepalanya melihat kemanakannya mampu meloncat secepat burung sikatan, tetapi ia kagum juga melihat tenaga Swandaru sekuat tenaga seekor gajah.

Kedua anak-anak muda itu kini tidak saja bersenjata pedang, tetapi mereka menggenggam cambuk pula, justru di tangan kanan dan pedang-pedang mereka di tangan kiri. Pasangan kedua senjata itu ternyata cukup menggetarkan. Sekali-sekali terdengar cambuk itu meledak, namun sesaat kemudian maka pedang-pedang mereka telah terjulur lurus langsung mengarah kedada lawan.

“Hem,” Widura menarik nafas dalam-dalam. Katanya di dalam hatinya, “Aku sudah tidak akan dapat menyamai anak-anak itu, Agung Sedayu dan Swandaru memiliki kekhususannya masing-masing, Agung Sedayu menempatkan kekuatan geraknya pada kelincahan dan ketangkasannya, sedang Swandaru mempercayakan kepada tenaganya yang bukan main besarnya. Namun demikian Swandaru yang gemuk itu mampu juga bergerak cepat, meskipun memiliki beberapa perbedaan yang khusus dengan kecepatan gerak Agung Sedayu.”

Namun dalam pengamatan Widura, meskipun mereka berguru kepada seorang guru, tetapi terpengaruh oleh bekal, darah yang mengalir di dalam tubuh mereka, ternyata Agung Sedayu masih mempunyai beberapa kelebihan dari saudara muda seperguruannya. Meskipun agaknya Kiai Gringsing tidak membedakan keduanya, tetapi perkembangan mereka sendiri serta bekal yang mereka bawa sejak mereka berguru kepada orang tua itulah yang telah menentukan.

Demikianlah yang terjadi beberapa hari kemudian. Ketekunan Swandaru dan Agung Sedayu ternyata telah banyak bermanfaat bagi mereka. Hari-hari yang pendek itu telah mereka pergunakan sebaik-baiknya. Baik oleh Swandaru dan Agung Sedayu sendiri, maupun oleh gurunya. Beberapa unsur baru dan bahkan yang masih dalam penyusunan telah dicobakannya pula.

Karena di hari-hari itu tidak ada kerja yang lain daripada memperdalam ilmunya, maka di saat-saat yang pendek itu, mereka telah mendapatkan beberapa kemajuan yang dapat memberi kebanggaan kepada mereka. Menambah ketabahan hati seandainya mereka bertemu dengan bahaya di sepanjang jalan. Ki Tanu Metir pun merasa, bahwa kini sudah sampai saatnya kedua muridnya itu dibawanya untuk mengenal perjalanan. Tidak seperti anak-anak nakal yang berjalan sekehendak hati dan berbuat tanpa kendali, tetapi perjalanan itu akan diawasinya sendiri.

“Kita sudah cukup lama meyakinkan diri kita, bahwa agaknya Ki Tambak Wedi telah benar-benar tidak berada di sekitar daerah ini, Ngger,” berkata Ki Tanu Metir kepada kedua muridnya. “Karena itu, maka aku kira, kita sudah sampai waktunya untuk mencoba sebuah perjalanan. Perjalanan yang akan banyak memberikan pengalaman bagi kalian.”

Hati kedua muridnya itu tiba-tiba melonjak. Saat-saat itulah yang mereka tunggu. Sebuah perjalanan. Bukan sekedar sebuah perjalanan, tetapi mereka ingin juga mengikuti jejak perjalanan Ki Tambak Wedi. Mereka ingin tahu apakah yang sudah dilakukannya di sepanjang jalan dari Sangkal Putung sampai kebukit Menoreh.

“Kita akan berjalan ke Barat,” berkata Ki Tanu Metir, “melintasi Hutan Tambak Baja dan Mentaok yang lebat dan berbahaya. Tetapi yang lebih berbahaya lagi adalah justru apabila kita telah lepas dari hutan-hutan itu dan menginjakkan kaki kita di Tanah Perdikan Menoreh.”

Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka menyadari sepenuhnya apa yang dikatakan gurunya. Betapa besar bahaya yang akan mereka hadapi di hutan Mentaok, namun menurut penilaian mereka maka bahaya itu akan dapat mereka atasi. Seandainya di hutan itu masih juga ada penyamun-penyamun karena Daruka tidak menepati janjinya, maka penyamun-penyamun itu pun menurut perhitungan lahiriah, pasti akan dapat dilawannya. Seandainya mereka bertemu dengan binatang-binatang buas pun, maka mereka tidak perlu menjadi gentar.

Tetapi apabila mereka kemudian keluar dari hutan yang lebat itu dan kemudian menginjakkan kaki-kaki mereka di telatah Menoreh, maka yang dihadapinya adalah Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya. Bahkan kemungkinan mereka akan berhadapan juga dengan Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh. Lalu bagaimanakah dengan pasukan-pasukan mereka, Pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang perkasa?

Bagaimanapun juga, tetapi dada anak-anak muda itu menjadi berdebar-debar juga.

“Tetapi Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya bertiga berani juga berada di sekitar Sangkal Putung,” desis Agung Sedayu di dalam hatinya. “Di Menoreh kita akan berbuat serupa dengan mereka di sini. Sudah tentu tidak dengan kelicikan-kelicikannya yang tidak berperikemanusiaan.”

Kedua anak muda itu kemudian mendengar gurunya berkata, “Kita tetapkan, kapankah kita berangkat?”

“Terserahlah kepada Kiai,” jawab Agung Sedayu.

“Kalian perlu menyiapkan diri.”

“Apakah yang harus kami persiapkan?” bertanya Swandaru.

“Diri kalian sendiri. Kalian harus mengatur perasaan dan nalar. Mempersiapkan segala perhitungan yang mapan. Kalian harus dapat membayangkan apa saja yang kira-kira terjadi di perjalanan supaya kalian tidak kehilangan akal apabila tiba-tiba saja kalian menghadapi bahaya yang cukup besar.”

“Aku sudah siap sejak lama, Guru,” sahut Swandaru.

“Perjalanan ini bukan perjalanan tamasya,” berkata gurunya, “tetapi sebuah perjalanan yang berbahaya. Kau menangkap rencana perjalanan ini dengan sudut pandangan yang menyebelah. Kau dilanda oleh kegirangan hati seorang anak muda. Kau mungkin terlalu berafsu ingin melihat daerah-daerah yang selama ini belum kalian lihat. Kau mungkin terlalu bernafsu untuk membuat perhitungan dengan Ki Tambak Wedi. Tetapi kau tidak memperhitungkan bahaya seperti yang telah aku katakan. Karena itu, siapkan dirimu dalam kesungguhan.”

Kedua anak-anak muda itu sekali lagi mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Yang terpenting dari semuanya dalam mempersiapkan hati dan nalar adalah, bahwa perjalanan ini jangan dikotori oleh perasaan-perasaan yang melonjak-lonjak. Jangan diburu oleh dendam. Tetapi bekalilah dengan maksud yang baik. Kalau kalian ingin menambah pengalaman, maka pengalaman itu akan kalian terapkan dalam landasan kebesaran jiwa. Nah, sekarang bertanyalah kepada diri kalian sendiri, apakah sebenarnya keinginan yang mendorong kalian untuk melakukan sebuah perjalanan, dan justru kalian merasa senang apabila perjalanan itu dilakukan ke Barat? Ke Menoreh?”

Agung Sedayu dan Swandaru tidak menjawab. Tetapi mereka merasakan sentuhan langsung di dalam hati. Bahkan pertanyaan itu serasa bergulung-gulung bergema di dalam diri mereka, “Ya, kenapa ke Menoreh?”

Tetapi mereka tidak dapat berbohong kepada diri sendiri. Sebenarnyalah bahwa mereka telah didorong oleh rasa dendam mereka terhadap Sidanti. Dendam yang bertimbun-timbun. Sejak Sidanti berada di Sangkal Putung. Baik Agung Swandaru maupun Swandaru mempunyai persoalannya sendiri-sendiri. Beberapa kali Swandaru terpaksa menahan sakit dan malu karena Sidanti telah beberapa kali menampar pipinya yang gembung itu. Sedangkan Agung Sedayu mempunyai beberapa masalah yang tidak juga dapat dilupakan. Bahkan Sidanti telah hampir berhasil membunuh Untara, kakaknya satu-satunya. yang kemudian mencapai puncaknya dengan hilangnya Sekar Mirah. Kedua anak muda itu bersama-sama merasa kehilangan.

“Angger berdua,” berkata Ki Tanu Metir kemudian “meskipun kalian tidak menjawab, tetapi aku dapat ikut merasakannya, betapa kalian menyimpan persoalan dengan Angger Sidanti.”

Agung Sedayu dan Swandaru masih saja berdiam diri.

“Tetapi bukan itulah sebenarnya yang memaksa aku membawa kalian untuk pergi ke Menoreh. Seandainya demikian, maka aku akan membawa kalian menunggu saja di Sangkal Putung atau di Jati Anom. Suatu ketika Sidanti pasti akan datang lagi.” Orang tua itu terdiam sejenak, kemudian, “Tetapi, Ngger. Justru aku mengira bahwa Angger Sidanti itu akan kembali, maka aku berhasrat untuk pergi ke Menoreh. Kecuali dengan demikian Angger berdua mendapat suatu pengalaman yang baik di sepanjang jalan, pengalaman untuk berbuat baik apabila diperlukan di sepanjang perjalanan, pengalaman untuk menahan diri dan menahan nafsu yang mempunyai berbagai macam bentuk, juga untuk mendapat pengalaman menahan diri dalam perhitungan-perhitungan yang cermat. Menilai persoalan sesuai dengan kepentingannya. Apakah Angger mengetahui maksudku?”

Agung Sedayu dan Swandaru masih saja berdiam diri. Seolah-olah mereka telah membeku meskipun mata mereka memandangi wajah gurunya.

“Angger,” berkata orang tua itu, “kalian harus dapat menimbang. Kita harus melihat persoalan kita, dan yang lebih besar daripada itu adalah persoalan Pajang dan Menoreh itu sendiri. Kita harus dapat mengetahui sikap Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh. Kita harus dapat menilai dengan cermat. Seandainya ayah Sidanti itu bersikap lain, maka kita pun harus bersikap lain. Maksudku, seandainya Argapati tidak sependapat dengan Sidanti. Tetapi apabila Menoreh bulat-bulat melawan Pajang, maka kita pun akan menentukan sikap kita. Ingat, jangan diburu hanya oleh kepentingan sendiri.”

Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia tahu benar maksud gurunya. Gurunya ingin mengatakan, bahwa yang mendorong mereka ke Menoreh, bukanlah kepentingan pribadi mereka, tetapi terutama adalah kepentingan Pajang dan Menoreh itu sendiri.

Meskipun tidak dikatakan oleh orang tua itu, namun tampak pada nada kata-katanya, bahwa Ki Tanu Metir benar-benar mencemaskan kemungkinan yang paling jelek yang dapat terjadi antara Pajang dan Menoreh.

“Kita sudah cukup parah,” desis orang tua itu kemudian “apalagi di daerah Selatan ini. Pertentangan antara Jipang dan Pajang yang berkepanjangan, orang-orang di antara mereka yang keras kepala tanpa mau melihat kenyataan, kemudian munculnya orang-orang yang memiliki nafsu pribadi yang berlebih-lebihan seperti Sidanti dan gurunya Ki Tambak Wedi, telah banyak merampas tenaga, pikiran, dan bahkan nyawa. Apakah sekarang kita masih belum sampai saatnya untuk berbuat lain daripada berkelahi di antara kita? Seandainya Ki Gede Menoreh nanti benar-benar keblinger, menuruti nafsu puteranya itu, maka kita harus berprihatin. Karena itu, Ngger, seandainya kita menjumpai Ki Argapati dalam kebimbangan, jangan mendorongnya untuk memilih jalan yang menyedihkan itu. Seandainya di dalam kebimbangannya, kalian bertindak menurut nafsu pribadi, untuk kepuasan sendiri, maka berarti kalian telah menjerumuskan Ki Argapati ke dalam bencana. Bahkan seluruh Pajang mungkin akan terkena sentuhannya.”

Agung Sedayu dan Swandaru mengangkat wajahnya. Tampaklah wajah itu menjadi berkerut-merut. Agaknya mereka tidak begitu jelas akan maksud kata-kata gurunya.

“Angger,” sambung Ki Tanu Metir, “jelasnya adalah, apabila Ki Argapati sedang mempertimbangkan tindakan-tindakan yang diambilnya, maka kalian jangan melepaskan dendam kalian. Baik terhadap Sidanti maupun terhadap Argajaya. Seandainya kebimbangan Argapati itu semisal neraca yang seimbang, di antara sikapnya yang jujur menghadapi kenyataan dan harga dirinya sebagai seorang ayah, maka sentuhan sedikit saja akan menyebabkan neraca itu berguncang. Sudah tentu guncangan yang terbesar kemungkinannya adalah, Argapati akan bersikap sebagai seorang ayah, karena kita sudah melanggar harga dirinya pula, hadir di Menoreh tanpa seijinnya. Tetapi kalau kila biarkan saja ia berada dalam pertimbangannya, mungkin ia akan bersikap lain. Mungkin pikirannya yang jernih akan menang. Apabila demikian, maka kita tidak akan berbuat apa-apa. Kita serahkan persoalannya kepada Argapati. Mungkin dengan demikian kita tidak mendapat kepuasan pribadi karena kita tidak dapat bertindak langsung terhadap orang-orang yang kita ingini. Tetapi itu adalah tindakan yang paling baik bagi Pajang dan juga bagi Menoreh.”

Terasa desir yang lembut menyentuh jantung kedua anak muda itu. Tetapi mereka tahu maksud gurunya. Meskipun demikian darah muda yang mengalir di dalam tubuh mereka serasa bergolak. Apabila gurunya menghendaki demikian, maka seolah-olah perjalanan mereka ke Menoreh tidak lebih dari perjalanan yang sia-sia bagi diri mereka sendiri. Mereka tidak boleh apa-apa. Mereka akan menjadi seorang perantau yang sekedar ingin melihat sebuah pegunungan yang membujur ke Selatan di sebelah Alas Mentaok. Tidak lebih dari itu. Mungkin mereka akan melihat dan mendengar cerita tentang sikap Ki Argapati.

Ki Tanu Metir melihat kekecewaan di dalam sorot mata kedua muridnya. Karena itu maka ia pun berkata, “Tetapi jangan menganggap bahwa perjalanan ini tidak ada artinya. Seandainya, ya seandainya Ki Argapati mendengarkan cerita Sidanti, kemudian menyiapkan pasukan segelar sepapan, nah, kalian akan berjasa terhadap Pajang.”

“Apakah kita akan melawan pasukan segelar sepapan yang dipimpin oleh Ki Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh dan Ki Tambak Wedi itu?” bertanya Swandaru dalam kekecewaannya.

Ki Tanu Metir yang telah mendalami jiwa murid-muridnya itu tersenyum. Jawabnya, “Sudah tentu tidak, Ngger. Tetapi bukankah dengan demikian kita akan dapat melaporkannya kepada pimpinan Prajurit Pajang?”

“Dan kita tidak dapat berbuat apa-apa pula? Kita hanya sekedar melaporkannya. Kemudian datang pasukan Pajang yang lengkap di bawah pimpinan senapati-senapati tertingginya, mungkin Gede Pemanahan sendiri, mungkin Ki Penjawi atau bahkan Ki Patih Mancanegara, atau setidak-tidaknya Kakang Untara didampingi oleh Paman Sumangkar,” sahut Swandaru.

Sekali lagi Ki Tanu Metir tersenyum. Katanya, “Kita dapat berbuat banyak. Tetapi ingat, bukan untuk kepuasan pribadi. Kita dapat berbuat seperti apa yang kita lakukan di Tambak Wedi. Memberikan jasa-jasa baik terhadap pasukan Pajang.”

Kedua murid Kiai Gringsing itu terdiam. Sadarlah mereka kini, bahwa perjalanan ini sama sekali bukan perjalanan seperti yang mereka inginkan selama ini. Mereka ingin pergi ke Menoreh, menemui Sidanti dan Argajaya untuk membuat perhitungan. Mencari cara untuk dapat melepaskan kemarahan yang membakar hati. Perang tanding. Tetapi yang terjadi akan jauh berbeda.

Meskipun demikian, mereka dapat mengerti maksud gurunya. Nalar mereka dapat menerima. Bahkan mereka tidak dapat berpikir lain daripada untuk kepentingan Pajang itu. Tetapi perasaan merekalah yang kadang-kadang masih terasa bergolak di dalam dada mereka. Perasaan yang mereka tekan sedapat-dapat menurut pertimbangan nalar.

Namun, Ki Tanu Metir pun menyadari, apakah pada suatu saat perasaan itu tidak terdorong keluar tanpa mereka sadari? Apakah mereka pada suatu saat tidak diledakkan oleh perasaan yang justru kini sedang mereka tekan kuat-kuat?

“Mudah-mudahan aku dapat mengendalikan anak-anak ini,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya. Tetapi yang dikatakan adalah, “Baiklah kita tentukan, besok lusa kita berangkat.”

Tiba-tiba kedua anak-anak muda murid Kiai Gringsing itu marasa perjalanan yang akan mereka lakukan terlampau hambar. Tidak ada lagi dorongan yang melonjak-lonjak di dalam dada mereka. Perjalanan yang akan mereka tempuh bagi mereka kini hanyalah sebuah perjalanan biasa. Perjalanan seperti yang pernah mereka lakukan semasa kanak-kanak mereka. Pergi ke kademangan lain bersama kakek untuk melihat sanak keluarga yang sudah lama tidak berjumpa. Bukan lagi perjalanan dalam gairah darah remaja mereka.

Meskipun demikian mereka ingin juga mempergunakan kesempatan itu. Mungkin mereka dapat melihat Alas Mentaok lebih banyak dari yang pernah mereka lakukan. Mungkin mereka akan mendapat pengalaman-pengalaman lain di sepanjang perjalanan, dalam perburuan binatang di dalam hutan.

Kiai Gringsing yang tua itu dapat melihat gejolak di dalam dada murid-muridnya. Tetapi ia tidak memberikan tanggapan apa pun. Dibiarkannya muridnya untuk melihat sendiri dan mengalaminya, apa yang akan mereka jumpai di sepanjang jalan. Mereka akan segera meyakini bahwa perjalanan ini bukanlah sebuah tamasya yang sejuk. Daerah-daerah yang akan mereka lewati akan memberitahukan kepada mereka, bahwa mereka tidak boleh tidur di sepanjang langkah mereka.

“Nah,” berkata Kiai Gringsing itu kemudian, “sejak kini kalian harus mempersiapkan diri. Kalian tidak perlu membuat cerita tentang perjalanan ini kepada kawan-kawan kalian. Besok, sehari kalian masih berada di kademangan ini. Tetapi fajar berikutnya, kalian harus sudah berada di perjalanan. Supaya perjalananmu tidak terganggu, maka senjata-senjata yang harus kalian bawa pun harus kalian sesuaikan dengan keadaan. Kalian tidak perlu membawa pedang-pedang kalian yang panjang itu. Kalian dapat membawa keris-keris sipat kandel yang dapat kalian sembunyikan di bawah baju, dan senjata yang memberikan kepercayaan kepada diri, cambuk yang dapat dililitkan seperti sehelai ikat pinggang.”

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Agung Sedayu memang mempunyai sebilah keris peninggalan yang dibawanya dari Jati Anom dan Swandaru pun memilikinya pula dari ayahnya.

“Sekarang, kalian dapat mulai dengan persiapan-persiapan kalian,” berkata gurunya pula.

“Kami sudah siap, Guru,” jawab Swandaru. “Seandainya besok pun kami sudah siap pula untuk berangkat.”

“Kalian masih harus mencuci pakaian. Selembar dua lembar kalian harus membawa ganti pakaian.”

“Apakah itu perlu bagi seorang perantau?” bertanya Swandaru.

“Perlu, Ngger. Seandainya kau kedinginan di jalan, maka kau akan mempunyai selimut. Seandainya tempatmu bermalam penuh dengan nyamuk, maka kau dapat menutup seluruh tubuhmu. Apalagi apabila pakaian yang kau pakai itu sobek, kau akan mempunyai ganti.”

“Kita akan berhati-hati, Kiai. Aku kira aku tidak akan berjalan menerobos semak-semak duri.”

“Memang, kita dapat berhati-hati. Tetapi bagaimanakah kalau baju kita itu sobek bukan karena duri, bukan karena ranting-ranting yang patah dan bukan pula karena umurnya yang tua?”

“Lalu kenapa guru?” bertanya Agung Sedayu.

“Memang mungkin baju-baju kita sobek karena duri, ranting-ranting dan karena ketuaannya. Tetapi yang perlu kau sadari bahwa bajumu itu akan dapat sobek karena ujung pedang. Bahkan bukan saja bajumu, tetapi mungkin kulitmu.”

Kedua muridnya mengerutkan keningnya. Hampir bersamaan mereka bertanya, “Pedang siapa? Bukankah kita hanya sekedar berjalan-jalan di telatah Menoreh dan tidak berbuat apa-apa.”

“Memang kita tidak berbuat apa-apa. Tetapi orang lain dapat berbuat apa-apa atas kita. Dan apakah kita hanya membiarkan saja apa yang terjadi itu?”

“Oh,” kedua muridnya menarik nafas dalam-dalam. “Ya, demikianlah,” gumam mereka di dalam hati, “memang hal-hal yang serupa itu akan dapat terjadi.”

Demikianlah maka mereka pun kemudian mempersiapkan diri mereka. Menyiapkan sepengadeg pakaian yang akan mereka bawa dalam perjalanan. Mereka menyiapkan senjata-senjata khusus mereka menurut nasehat gurunya. Sebuah cambuk bertangkai pendek dan berjuntai panjang yang mereka buat dari janget berangkap tiga ganda. Sebagai senjata di dalam perkelahian yang sebenarnya, maka senjata itu dilengkapi dengan karah-karah baja. Tidak hanya ditangkainya, tetapi hampir di setiap cengkang, janget-janget itu terikat oleh kepingan baja yang tipis. Dalam keadaan yang memaksa, maka tangkai yang pendek bersalutkan kepingan baja itu akan mampu membentur senjata-senjata tajam. Dan dalam keadaan yang khusus pula, maka mereka akan dapat mempergunakan cambuk-cambuk itu tidak seperti yang lazim. Mereka dapat memegang senjata mereka pada ujung jangetnya, dan tangkai yang pendek itu akan menjadi sebuah penggada yang bertangkai panjang dan lemas.

Kiai Gringsing telah mengajari murid-muridnya untuk mempergunakan senjata-senjata itu dalam segala keadaan dan kemungkinan. Bahkan mereka mampu mempergunakan dalam rangkapannya. Cambuk di tangan kanan dan keris-keris mereka di tangan kiri. Dengan senjata itu, maka semua macam senjata akan dapat mereka hadapi. Bahkan mereka yang berpedang di tangan kanan dan berperisai baja di tangan kiri. Meskipun senjata mereka hanya sekedar sehelai cambuk, tetapi saluran kekuatan yang memancar dari senjata itu, akan mampu merenggut senjata-senjata lawan dan bahkan mematahkan tulang-tulang leher. Apalagi apabila senjata itu berada di tangan Kiai Gringsing sendiri.

Meskipun demikian Kiai Gringsing itu berkata, “Aku mengharap bahwa kalian tidak akan pernah mempergunakan senjata-senjata itu. Mudah-mudahan yang terjadi adalah perlakuan yang baik di antara sesama. Juga apa yang akan kita alami dan kita perbuat. Betapa dahsyatnya senjata macam apa pun, tetapi kedahsyatanya hanyalah terbatas. Ingat, hanya terbatas. Terbatas sekali.”

Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun nasehat gurunya itu terdengar janggal di telinga mereka. Mereka mempersiapkan diri dengan segala perlengkapan. Tetapi gurunya mengatakan kepada mereka, bahwa mudah-mudahan mereka tidak perlu mempergunakan senjata itu.

Tetapi kedua anak-anak muda yang sudah cukup lama bergaul dengan Kiai Gringsing itu segera menangkap maksudnya. Kiai Gringsing lebih senang apabila tidak perlu mempergunakan kekerasan apa pun apabila benar-benar tidak dipaksa oleh keadaan. Sedikit banyak, sifat itu telah mempengaruhi kedua muridnya, meskipun kadang-kadang darah muda mereka masih juga melanda dinding jantung dengan dahsyatnya, sehingga nasehat-nasehat serupa itu sering mereka lupakan.

Dan kini gurunya berkata pula kepada mereka tentang hal itu, bahkan gurunya menambahkannya, bahwa betapapun dahsyatnya sepucuk senjata, tetapi kedahsyatan itu hanyalah terbatas. Terbatas sekali.

Ingatan kedua anak-anak muda itu langsung membubung tinggi kepada Kekuatan yang Maha Besar. Kekuatan yang memancari dan menyumberi segala kekuatan, kekuatan yang berjalan di sepanjang jalan yang dikehendaki-Nya. Meskipun setiap manusia selalu disertai oleh segala kekurangan dan kepicikannya, sehingga setiap langkahnya tidak akan ada yang sempuma di hadapan yang Maha Besar, tetapi adalah menjadi kewajiban manusia untuk berusaha mendekatkan diri kepada kebenaran. Kebenaran yang mutlak. Sedang penilaian tentang kebenaran yang mutlak itu tidak akan dapat diberikan oleh manusia. Kebenaran yang mutlak hanyalah berada pada Tuhan yang Maha Benar. Sehingga jalan manusia untuk mendekat kepada kebenaran adalah mendekat kepada Tuhannya. Mencoba sejauh-jauhnya melakukan segala petunjuk-Nya yang didasari semata-mata atas kasih-Nya, menjauhkan manusia dari kesesatan.

Apabila ingatan mereka telah menyentuh kepada Sumbernya, maka baik Agung Sedayu dan Swandaru segera menjadi tenang. Meskipun sifat manusia adalah khilaf, tetapi lambaran kepercayaan yang kuat akan mengurangi sejauh-jauhnya kekhilafan itu. Dengan demikian maka sikap dan pandangan mereka terhadap keadaan menjadi tenang pula. Mereka tidak diburu lagi oleh berbagai macam kebencian dan dendam.

Demikianlah, maka Agung Sedayu dan Swandaru pun kemudian menyiapkan diri mereka. Namun kini bukan senjata merekalah yang utama, bukan lagi kebencian dan dendam yang mendorong mereka untuk pergi, tetapi terpercik hasrat yang cerah di dalam dada mereka. Bahwa mereka harus dapat berbuat sesuatu untuk kepentingan sesama. Inilah yang harus mereka lakukan. Meskipun demikian mereka pun tetap menyadari, bahwa untuk itu, mungkin mereka harus menghentikan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan tujuan mereka. Bahkan mungkin akan perlu dilakukan dengan kekerasan apabila terpaksa sekali. Tetapi kekerasan itu bukan tujuan. Kekerasan itu hanya sebagai alat. Karena itu, maka alat itu, kekerasan, tidak boleh bertentangan dengan tujuannya.

Adalah tidak wajar, seandainya untuk kepentingan kemanusiaan, maka dilakukan tindakan-tindakan di luar perikemanusiaan. Untuk menghentikan tindak yang melanggar hukum kemanusiaan telah dilakukan tindak kekerasan yang serupa.

Ketika malam menjadi semakin dalam, di hari berikutnya, Swandaru duduk di ruang dalam rumahnya bersama ayah dan ibunya, yang sibuk melipat pakaiannya sepengadeg. Besok pada saat fajar menyingsing, Swandaru akan pergi mengikuti gurunya, mencari pengalaman-pengalaman baru di dalam hidupnya.

“Apakah kau akan memerlukan waktu yang lama Swandaru?” bertanya ayahnya.

Swandaru menggelengkan kepalanya, jawabnya, “Aku belum tahu ayah. Mudan-mudahan tidak terlampau lama.”

“Kau harus cepat kembali Swandaru,” berkata ibunya. Tampaklah matanya menjadi basah. Untuk pertama kalinya ia melepaskan anak laki-lakinya itu pergi meninggalkan kademangan, merantau untuk waktu yang tidak tertentu. Ketika Swandaru pergi mencari Sekar Mirah, sama sekali tidak terasa kekhawatiran seperti saat ini. Bukan karena mereka tidak tahu, betapa berbahayanya perjalanan ke Tambak Wedi, tetapi lerdorong oleh kecemasan, kemarahan dan perasaan-perasaan lain yang menyesak, maka justru mereka berbangga melihat Swandaru meninggalkan rumah mereka mencari adiknya. Tetapi perasaan kedua orang tua itu kini berbeda. Seolah-olah mereka melepas Swandaru ke dalam kegelapan yang tidak mereka ketahui, apakah yang telah menunggunya di balik kelam itu. Kini tdak ada lagi dorongan apa pun di dalam diri kedua orang tua itu, untuk melepaskan Swandaru pergi. Karena itu, maka terasa betapa berat hati mereka.

“Segalanya akan sangat tergantung kepada guru,” sahut Swandaru.

Kedua orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, semuanya sangat tergantung kepada gurumu. Aku pun telah mengatakan kepada gurumu, perjalananmu yang pertama ini seharusnya tidak akan menjadi terlampau berat bagimu dan angger Agung Sedayu.”

“Mudah-mudahan ayah.”

“Kau harus hati-hati di sepanjang jalan Swandaru. Meskipun aku tidak tahu benar, tetapi aku membayangkan bahaya yang akan kau hadapi di sepanjang jalan,” berkata ibunya.

“Ya, Ibu.”

“Kau harus dapat membawa diri. Harus kau pilih jalan yang jauh dari bahaya. Jangan banyak membuat persoalan dan jangan terburu oleh nafsu.”

“Ya, Ibu. Tetapi sebagian terbesar akan sangat tergantung pula kepada guru.”

Kedua orang tua-tua itu menganggukkan kepala mereka. Terdengar suara Ki Demang lirih, “Aku percaya kepada gurumu, Swandaru. Gurumu bukan orang yang dikuasai oleh nafsu. Bukan orang yang cepat kehilangan nalar dan akal. Ia seorang yang rendah hati dan tepa slira.”

Swandaru tidak menjawab. Namun terasa olehnya betapa hatinya menjadi berdebar-debar. Perpisahan yang dipersiapkan memang kadang-kadang terasa terlampau berat. Agaknya lebih baik apabila tiba-tiba saja ia berangkat karena desakan suatu persoalan yang penting seperti pada saat hilangnya Sekar Mirah. Meskipun ada kemungkinan pada saat itu, bahwa ia tidak akan kembali bersama wadagnya, tetapi hanya namanya saja, tetapi saat itu perasaannya tidak seberat perasaannya di saat ini.

Meskipun demikian, hasratnya untuk pergi telah bulat. Ia pasti akan berangkat besok menjelang fajar bersama gurunya dan saudara seperguruannya, Agung Sedayu.

Dalam pada itu Agung Sedayu sedang duduk di halaman bersama pamannya, Widura. Pamannya, seperti juga ayah Swandaru, memberinya berbagai nasehat. Meskipun Widura tidak memiliki pengalaman dan ilmu seluas Kiai Gringsing, tetapi ia dapat juga memberikan beberapa nasehat yang baik kepada Agung Sedayu.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Agung Sedayu berkata, “Aku akan selalu mengingat segala pesan Paman.”

“Baik, Sedayu. Aku mengharap bahwa kau tidak saja menjunjung tinggi namamu, nama perguruan dan gurumu, tetapi juga nama keluargamu. Kau adalah putera Kakang Sadewa. Nama Sadewa ternyata lebih banyak dikenal orang dari nama ayahmu itu sendiri. Daripada nama ayahmu yang sebenarnya. Sejak ayahmu mengenal dunia ini dengan sadar, ia telah membenci kejahatan. Banyak hal yang telah dilakukan oleh ayahmu di masa mudanya. Mudah-mudahan kau pun akan mewarisi sifat-sifatnya itu. Dalam beberapa bentuk aku telah melihat sifat-sifat ayahmu ada di dalam diri kakakmu. Sedang kau membawa beberapa macam sifat dari ibumu. Tetapi bagaimanapun juga akhirnya kau adalah seorang perkasa seperti Kakang Sadewa. Bahkan suatu perpaduan yang akan sangat manis apabila di dalam dirimu terdapat sifat ayahmu, seorang yang tegak berdiri di atas kebenaran sejauh-jauh dapat dijangkau oleh nalar dan perasaan manusia yang tidak sempurna ini, tetapi juga dibumbui oleh kasih yang tulus dan jujur seperti yang terpancar dari keibuan ibumu.” Widura berhenti sejenak. Ditatapnya kepala Agung Sedayu yang tunduk, lalu sejenak kemudian dilanjutkannya, “Meskipun sifat-sifat yang demikian seolah-olah hanya terdapat di dalam dongeng-dongeng dapat disebutkan beberapa macam watak matusia yang berlawanan sama sekali, yang benar seolah-olah tidak pernah terkena salah, dan yang salah seakan-akan tidak memiliki kebenaran sama sekali, namun kau harus mampu menempatkan dirimu menurut pilihan yang tepat. Adalah pasti bahwa seseorang pernah berbuat kesalahan, tetapi kesadaran untuk berbuat baik harus kau miliki.” Sekali lagi Widura berhenti sejenak, dan kemudian, “Yang lebih penting Sedayu, kau harus selalu merasa dekat dengan Tuhanmu. Dengan demikian kau akan tabah menghadapi setiap persoalan, tetapi dengan demikian kau juga akan selalu takut berbuat kesalahan.”

Agung Sedayu masih menundukkan kepalanya. Seperti pada saat-saat ia makan nasi, terasa bahwa tubuhnya, wadagnya, menjadi semakin segar dan kuat. Maka kata-kata pamannya merupakan makanan bagi kesadaran rokhaniahnya. Makanan yang memberinya kesegaran batin.

“Begitulah, Sedayu,” berkata pamannya kemudian. “Sebenarnya aku tidak perlu berbicara terlampau panjang. Aku percaya bahwa gurumu akan berbuat seperti yang aku harapkan. Kiai Gringsing adalah orang yang tepat bagimu. Sayang aku tidak dapat mengenalnya dengan pasti, siapakah sebenarnya Ki Tanu Metir. Tetapi bahwa ia telah mengenal ayahmu dengan baik, telah memberikan harapan, bahwa ia adalah orang yang tepat untuk menuntunmu. Adalah suatu teka-teki bagiku, bahwa Ki Tanu Metir telah mengenal hampir setiap orang yang mempunyai beberapa kelebihan dari orang lain. Ia mengenal Ki Tambak Wedi, Ki Sumangkar, Ki Gede Pemanahan, dan agaknya Ki Gede Menoreh pula. Tetapi orang-orang itu tidak pernah dapat mengetahui dengan pasti, siapakah Kiai Gringsing yang juga disebut Ki Tanu Metir. Orang itu telah mengenal aku pula, sebelum aku mengerti dengan siapa aku berhadapan. Mungkin ayahmulah satu-satunya orang yang dapat menyebut dengan pasti, siapakah sebenarnya Kiai Gringsing yang aneh itu.”

Agung Sedayu kini mengangguk-anggukkan kepalanya. Setiap hari ia berada bersama-sama dengan gurunya. Tetapi seolah-olah orang tua itu masih saja diselaputi oleh segumpal kabut yang tebal. Namun telah tertanam keyakinan di dalam dada mereka yang mengenal Kiai Gringsing, bahwa orang ini sama sekali bukan orang yang berada di jalan yang sesat.

Dalam pada itu terdengar Widura berkata, “Sedayu, apakah semua persiapan telah kau atur dengan baik?”

“Sudah, Paman.”

“Apakah kau akan membawa senjata pula?”

“Ya, Paman. Senjata khusus menurut petunjuk Kiai Gringsing. Selain sesuai dengan ajaran tata gerak yang diberikan, maka senjata itu tidak akan terlampau jelas seperti sehelai pedang.”

“Ya, senjata itu dapat kau lingkarkan seperti ikat pinggang.”

“Ya, Paman. Dan sebilah keris. Kerisku akan aku bawa pula besok.”

Pamannya mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Mudah-mudahan kerismu selalu memberimu peringatan. Kau tidak boleh melupakan dirimu dan keadaanmu. Kau pernah merasakan, betapa sakitnya orang disiksa oleh ketakutan. Karena itu jangan menakut-nakuti orang lain. Sebab orang lain pun akan merasakan seperti apa yang pernah kau rasakan.”

Sekali lagi Agung Sedayu mengangguk sambil menjawab “Ya, Paman.”

“Sekarang beristirahatlah. Besok kau akan berangkat pagi-pagi sekali. Di manakah gurumu sekarang?”

“Mungkin guru baru berjalan-jalan, Paman. Kami mendapat kesempatan malam ini untuk minta diri dan mempersiapkan bekal yang akan kami bawa.”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia menyuruh Agung Sedayu untuk segera beristirahat, karena malam telah menjadi semakin malam.

Sejenak kemudian Widura itu pun telah meninggalkan kemanakannya, dan masuk ke pringgitan. Ia masih melihat di ruang dalam, dari celah-celah pintu yang terbuka sedikit, Swandaru duduk di hadapan ayah dan ibunya. Tetapi ia tidak melihat Sekar Mirah di antara mereka.

Sementara itu Agung Sedayu masih saja duduk di halaman. Dari tempatnya ia melihat beberapa orang prajurit yang berjaga-jaga di regol halaman, di bawah sinar pelita yang redup. Tetapi tempat duduk Agung Sedayu sendiri terlindung oleh baying-bayang yang agak gelap.

Sejenak ia merenungi regol halaman kademangan itu. Pertama kali ia datang ke Sangkal Putung, regol halaman itu selalu tertutup. Beberapa orang pengawal membawanya dan memberikan tanda-tanda dengan ketokan pintu regol. Kemudian Ki Demang Sangkal Putung sendirilah yang membawanya dari regol halaman menyeberangi pelataran, naik ke pendapa dan kemudian menghadap pamannya.

Agung Sedayu meuarik nafas. Besok justru ia akan meninggalkan halaman ini.

Ketika angin malam yang sejuk menyentuh keningnya, terasa udara yang dingin seakan-akan merasuk sampai ke tulang sungsum.

Ketika ia bergeser dari tempat duduknya untuk berdiri dan meninggalkan tempat yang dingin, dan menghindari gigitan nyamuk yang buas, maka tiba-tiba ia terkejut menydengar desir lembut di belakangnya. Agung Sedayu mengurungkan niatnya. Diperhatikannya suatu itu yang semakin lama menjadi semakin dekat. Tetapi Agung Sedayu tidak perlu cemas, sebab ia berada di dalam lingkungan dinding halaman kademangan yang tinggi. Meskipun demikian ia tidak boleh lengah.

Hatinya menjadi kian berdebar-debar ketika terdengar desir itu menjadi semakin dekat. Namun pendengarannya yang terlatih segera dapat mengetahui, bahwa langkah itu sama sekali tidak berbahaya baginya.

Karena itu maka segera ia berpaling. Tetapi sekali lagi ia terperanjat. Di dalam keremangan ia melihat sesosok tubuh berdiri tegak beberapa langkah dari padanya. Seorang perempuan. Tergagap Agung Sedayu menyapa lirih, “Kau, Mirah?”

Yang berdiri itu adalah Sekar Mirah. Tetapi ketika ia mendengar suara Agung Sedayu, tiba-tiba saja terasa darahnya membeku. Gadis itu menjadi kebingungan dan tidak mengerti apa yang harus dilakukannya.

Agung Sedayu yang melihat Sekar Mirah membeku di tempatnya, menjadi bingung pula. Perlahan-lahan ia berdiri, tetapi ia tidak melangkah maju.

Sejenak mereka berdiri tegak berhadapan dalam jarak beberapa langkah. Tetapi masing-masing saling terbungkam dalam ketegangan.

Baru beberapa saat kemudian Agung Sedayu berhasil menguasai dirinya. Dicobanya untuk menenangkan detak jantungnya, dan perlahan-lahan ia bertanya, “Mirah. Kenapa kau berada di situ?”

Sekar Mirah masih membeku. Pertanyaan Agung Sedayu itu telah membuatnya semakin bingung. Seolah-olah pertanyaan itu bergulung-gulung di kepalanya, “Ya, kenapa aku berada disini?”

Tiba-tiba Sekar Mirah menyadari dirinya, bahwa ia adalah seorang gadis, seorang gadis yang sedang menginjak dewasa. Karena itu maka terasa wajahnya menjadi panas.

Sebelum ia dapat berbuat sesuatu, terdengar suara Agung Sedayu mengulangi, “Kenapa kau berada di sini di malam begini?”

Sekar Mirah masih terdiam.

“Apakah kau disuruh oleh ayah atau ibumu?”

Sekar Mirah tidak menjawab.

“Atau,” Agung Sedayu tidak dapat mencari pertanyaan yang lain.

Sekali lagi keduanya terdiam. Namun Agung Sedayu kini sudah tidak lagi dikuasai oleh kejutan yang membingungkan. Ia telah berhasil menguasai perasaannya.

Karena Sekar Mirah masih juga berdiam diri, maka selangkah Agung Sedayu maju mendekatinya sambil bertanya pula, “Mungkin kau mempunyai sesuatu keperluan Mirah? Mungkin dengan seseorang? Pelayanmu barangkali, atau keperluan-keperluan lain yang harus segera kau selesaikan.”

Sekar Mirah masih berdiam diri. Tetapi perlahan-lahan digelengkannya kepalanya.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia kini menjadi gelisah. Bukan karena kehadiran Sekar Mirah, tetapi bagaimana ia mendapatkan jawaban dari padanya atas pertanyaan-pertanyaannya.

“Hari sudah jauh malam, Mirah. Apakah kau tidak pergi tidur, atau beristirahat?”

Sekar Mirah mengangkat wajahnya. Dalam keremangan malam Agung Sedayu tidak dapat melihat wajah itu dengan jelas. Namun kemudian perlahan-lahan terdengar gadis itu berkata, “Aku sudah lama menunggu di sudut rumah.”

“O, kenapa baru sekarang kau datang kemari?”

“Kau baru berbicara dengan Paman Widura. Aku tidak berani mengganggu.”

“Dan kau menunggu saja di sudut rumah itu.”

“Ya, hampir aku tidak sabar. Pamanmu terlampau lama.”

“Aku mendengarkan nasehat-nasehatnya. Lalu, apakah kau juga ingin berbicara sesuatu dengan aku?”

Sekali lagi Sekar Mirah terdiam.

“Bagaimana?” desak Agung Sedayu.

“Kau aneh, Kakang,” tiba-tiba terdengar suara itu menjadi sendat.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dan ia mendengar suara Sekar Mirah lambat, “Bukankah besok kau akan pergi meninggalkan Sangkal Putung?”

Agung Sedayu tidak segera menjawab. Tetapi terasa debar jantungnya menjadi semakin cepat. Baru kini ia menyadari kesalahannya, ia tidak memerlukan untuk minta diri kepada Sekar Mirah, meskipun secara tidak langsung ia sudah mengatakannya, bahwa ia akan pergi bersama guru dan saudara seperguruannya, Swandaru.

Sejenak keduanya terdiam. Di kejauhan terdengar tengara menggema memenuhi kademangan. Ternyata tanpa mereka sadari, malam telah hampir sampai di pusatnya.

Sekar Mirah mengangkat wajahnya mendengar tengara kentongan itu. Ia harus segera masuk ke dalam biliknya. Apabila ibunya mengetahui bahwa diam-diam ia merayap ke luar rumah di tengah malam begini, maka ibunya pasti akan marah kepadanya.

“Kakang,” desis Sekar Mirah kemudian, “sudah tengah malam. Aku harus segera tidur.”

Agung Sedayu menganggukkan kepalanya. Jawabnya “Tidurlah, Mirah. Aku besok minta diri kepadamu, kepada seluruh keluarga di kademangan ini.”

Sekar Mirah menundukkan kepalanya. Desisnya, “Aku hanya dapat mengucapkan selamat jalan, Kakang.”

“Terima kasih, Mirah,” sahut Agung Sedayu, “mudah-mudahan aku selamat diperjalanan dan keluarga di sini pun selamat seluruhnya.”

“Mudah-mudahan kau segera kembali. Aku mengharap bahwa kau akan kembali ke Sangkal Putung, Kakang, tidak ke Jati Anom.”

“Jarak antara Sangkal Putung dan Jati Anom tidak terlampau jauh di masa damai Mirah.”

Sekar Mirah terdiam. Ia mengharap Agung Sedayu mengatakan banyak hal tentang dirinya. Tetapi Agung Sedayu pun terdiam pula. Bahkan dadanya yang sudah mulai tenang menjadi berdebar-debar kembali.

Alangkah jauh perbedaan sifat antara Agung Sedayu dan Sidanti. Sekar Mirah pernah berkawan agak rapat dengan Sidanti, karena gadis itu mengagumi Sidanti sebagai seorang pahlawan yang tiada bandingnya di Sangkal Putung selain Widura sendiri pada saat itu. Tetapi ternyata bahwa ia hanya sekedar mengaguminya. Tidak lebih daripada itu. Meskipun Sidanti agak lebih banyak memberikan waktunya untuk bersama-sama dengan Sekar Mirah berjalan-jalan, berbicara dan bahkan kadang-kadang seperti anak-anak mereka bermain-main, namun ternyata Sidanti tidak dapat mengikat hati Sekar Mirah seerat tali yang dilepaskan oleh Agung Sedayu dengan kediriannya. Dengan segenap sifat-sifatnya. Meskipun Sekar Mirah lebih senang melihat seorang laki-laki yang agak banyak membanggakan dirinya seperti Sidanti, namun ada unsur lain yang tidak dapat dimengerti oleh Sekar Mirah, kenapa Agung Sedayu pun dikaguminya pula. Apalagi setelah, ia menyadari bahwa hampir di dalam segala hal Agung Sedayu tidak dapat dikalahkan oleh Sidanti, sejak mereka beradu dalam kecakapan memanah.

“Tetapi Agung Sedayu tidak pernah berkata dengan bangga ‘Mirah, tinggallah kau disini. Besok aku akan bertemu dengan Tohpati, biarlah aku penggal lehernya, aku bawa pulang kepalanya ke kademangan ini untuk menjadi alas kakimu dan Agung Sedayu juga tidak pernah berkata kepadanya ‘Apapun yang kau minta Mirah. Aku akan sanggup mengadakan. Tak ada orang yang dapat menghalangi aku. Tak ada jarak yang dapat membatasi gerakku. Lautan akan aku keringkan dan gunung-gunung akan aku runtuh dan ratakan’.”

Tidak. Agung Sedayu tidak pernah berkata demikian. Pada saat anak muda itu datang ke Sangkal Putung untuk pertama kalinya, memang ia bercerita tentang perkelahiannya dengan beberapa orang di sepanjang perjalanannya. Tetapi Agung Sedayu untuk seterusnya tidak pernah berbangga atas dirinya. Bahkan di saat-saat itu, di saat-saat ia baru saja berada di kademangan ini tampaknya selalu dicengkam oleh keragu-raguan dan kecemasan.

“Ia terlampau takut terhadap pamannya,” pikir Sekar Mirah saat itu.

Setiap kali Agung Sedayu hanya berkata kepadanya, “Mudah-mudahan aku berhasil mengatasi lawan-lawanku, Mirah.” Hanya itu. Hanya itu saja yang dikatakan, seolah-olah ia tidak meyakini kekuatan sendiri. Sebenarnya Sekar Mirah agak kecewa terhadap sikap itu. Sikap yang menurut Sekar Mirah kurang jantan. Kurang tatag dan ragu-ragu. Namun meskipun demikian anak muda itu telah mengikat hatinya, dalam keadaannya itu.

Dan kali ini pun Agung Sedayu berkata kepadanya, “Mudah-mudahan aku selamat di perjalanan dan keluarga di sini pun selamat seluruhnya.”

Kenapa Agung Sedayu itu tidak berkata, “Mirah, aku akan pergi ke Menoreh. Kelak aku akan kembali dengan membawa kepala Sidanti untuk alas kakimu. Kau akan dapat melepaskan dendammu kepadanya. Dan kepala itu adalah tanda katresnanku kepadamu.”

Tidak, Agung Sedayu tidak berkata demikian. Bahkan kemudian ia mendengar Agung Sedayu yang berdiri mematung di hadapannya itu berkata, “Pergilah tidur, Mirah. Mudah-mudahan kau besok pagi tidak terlambat bangun, sehingga kau dapat melihat keberangkatanku bersama Kiai Gringsing dan Adi Swandaru.”

Terasa leher gadis itu tersumbat, sehingga ia tidak dapat menyahut. Ia menjadi kecewa. Perpisahan itu sama sekali tidak berkesan kejantanan seorang prajurit yang pergi berperang. Tetapi anak muda yang bemama Agung Sedayu itu minta diri kepadanya seperti seorang perantau yang akan mencari sesuap nasi bagi keluarganya yang ditinggalkannya. Kata-kata yang diucapkan tidak lebih dari “Mudah-mudahan aku selamat.”

Tetapi Sekar Mirah tidak dapat berdiri di tempatnya terlampau lama. Ia harus masuk ke dalam biliknya. Karena itu maka katanya, “Selamat malam, Kakang. Besok aku akan bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan makan pagi kalian sebelum berangkat.”

Terasa desir yang lembut menggores jantung Agung Sedayu. Ia sendiri tidak tahu, pengaruh apa yang telah menyentuh isi dadanya. Hampir setiap hari Sekar Mirah dan pembantu-pembantunya menyiapkan makan untuk mereka. Untuk pamannya, untuk dirinya dan untuk para prajurit Pajang di Sangkal Putung. Tetapi ketika Sekar Mirah mengatakan itu langsung kepadanya, terasa debar dadanya menjadi semakin cepat.

“Terima kasih, Mirah,” hanya itulah, yang diucapkannya, lalu dilanjutkannya, “Selamat malam.”

Tetapi Sekar Mirah masih belum juga beranjak dari tempatnya. Gadis itu masih berdiri saja seolah-olah mematung. Ia masih mengharap Agung Sedayu mengatakan sesuatu kepadanya, sebagaimana seorang laki-laki yang perkasa siap untuk berangkat ke medan perang, meninggalkan seorang kekasih yang dicintainya.

Tetapi Agung Sedayu tidak berkata apa-apa. Agung Sedayu pun menjadi seakan-akan beku ketika ia melihat Sekar Mirah masih saja berdiri mematung.

“Oh,” desah Sekar Mirah di dalam hatinya. Hatinya yang menjadi kisruh.

Agung Sedayu malahan menjadi beku. Diam dan tidak berkata-kata lagi.

Tiba-tiba gadis itu memutar tubuhnya membelakangi. Hampir meledak tangis yang ditahan di dadanya. Ia menjadi kecewa melihat sikap itu. Sikap yang bagi Sekar Mirah kurang jantan. Kurang berani. Bukan kurang berani menghadapi lawan, tetapi ia sama sekali tidak berkata-kata apa-apa kepadanya. Dan sikapnya menunjukkan keragu-raguan yang menjemukan.

Agung Sedayu menjadi bingung melihat Sekar Mirah yang tiba-tiba menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sekuat tenaga gadis itu bertahan untuk tidak menangis. Untuk sesaat ia berhasil. Meskipun demikian dadanya serasa akan meledak.

Karena Agung Sedayu tidak berbuat sesuatu, maka Sekar Mirah pun tidak akan dapat mengharap apa-apa lagi daripadanya saat itu. Ia tidak akan dapat mendengar kata-kata yang dapat membuat jantungnya bergetar. Baik Agung Sedayu sebagai seorang laki-laki yang mempunyai banyak kelebihan dari laki-laki yang lain, yang sudah ternyata bahwa ia mampu melawan Sidanti, bahkan dalam, beberapa hal ia telah melampauinya, maupun sebagai seorang laki-laki yang telah menjerat hatinya. Laki-laki yang meskipun tidak memberikan kebanggaan kepadanya, namun dalam keseluruhannya Agung Sedayu telah mengikatnya terlampau erat.

Agung Sedayu terlalu sopan. Bukan, bukan terlalu sopan, tetapi hatinya selalu dicengkam oleh keragu-raguan. Meskipun ia telah berhasil memecahkan dinding yang mengurungnya dalam ketakutan, namun ia masih belum berhasil melepaskan diri dari kebimbangan dan keragu-raguan untuk bersikap. Apalagi apabila terkenang olehnya sikap kakaknya, Untara.

Agung Sedayu yang ragu-ragu itu terperanjat ketika tiba-tiba saja, ia melihat Sekar Mirah itu meloncat berlari meninggalkannya. Sehingga tanpa sesadarnya ia memanggil, “Mirah. Mirah.”

Tetapi Sekar Mirah seakan-akan tidak mendengarnya. Ia berlari terus meninggalkan Agung Sedayu berdiri seorang diri sambil termangu-mangu. Ia menjadi semakin bingung menghadapi Sekar Mirah. Ia tidak mengerti apa yang harus dilakukan.

Sekar Mirah yang yakin benar, bahwa Agung Sedayu tildak akan mengejarnya, kemudian berhenti di belakang rumahnya. Dicobanya untuk menekan hatinya yang seolah-olah sedang mendidih oleh kekecewaan. Ia masih sadar, bahwa ia tidak boleh mengejutkan ayah dan ibunya. Mungkin Swandaru yang masih juga belum tidur. Perlahan-lahan didorongnya lawang leregan di butulan belakang. Kemudian dengan hati-hati pintu itu ditutup kembali setelah ia melangkah masuk. Dengan hati-hati pula diangkatnya slarak kaju dan disilangkannya pada daun pintu. Berjingkat ia melangkah menuju ke biliknya.

Rumahnya sudah terlampau sepi. Ia tidak mendengar suara apa pun lagi. Ketika ia lewat melalui bilik ibunya, hatinya menjadi berdebar-debar. Tetapi bilik itu telah tertutup.

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Namun kekecewaan di dalam dadanya hampir tidak tertahankan lagi, seakan ingin meledak.

Dengan hati-hati ia melangkah ke pintu biliknya. Bilik itu tertutup rapat. Ia sendirilah yang menutupnya ketika ia diam-diam pergi ke luar. Perlahan-lahan sekali ditariknya pintu leregan bilik itu. Perlahan-lahan sekali supaya tidak menimbulkan bunyi. Bunyi derit yang lembut sekalipun.

Sedikit demi sedikit pintu itu terbuka. Semakin lebar. Dan ketika ia menjenguk ke dalam, hampir-hampir ia menjadi pingsan. Jantungnya serasa berhenti berdetak karena kejutan yang luar biasa. Untunglah ia tidak menjerit keras-keras. Dilihatnya seorang duduk di atas pembaringannya. Sinar pelita yang redup agak kemerah-merahan memancar jatuh di atas wajah yang bulat gemuk. Swandaru.

Swandaru menahan suara tertawanya melihat adiknya terkejut bahkan hampir menjadi pingsan. Perlahan-lahan ia berdiri dam berkata lambat, “Masuklah. Apakah kau terkejut?”

Sekar Mirah masih terbungkam. Detak jantungnya masih belum berjalan wajar. Kedua telapak tangannya masih menutupi mulutnya yang hampir berteriak.

“Masuklah. Aku tidak ingin mengejutkan kau.”

Sekar Mirah masih berdiri membeku.

“Masuklah, Mirah. Darimanakah kau.”

Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi ia tidak berbuat apa pun ketika kakaknya mendekatinya membimbingnya masuk ke dalam biliknya dan mendorongnya duduk di atas pembaringannya.

“Maafkan aku, Mirah. Aku tidak ingin mengejutkan kau. Aku sengaja menunggumu, karena aku akan minta diri pula kepadamu.”

Sekar Mirah masih terdiam. Dan Swandaru berkata terus sambil berdiri di mukanya. “Apakah kau tadi menemui Kakang Agung Sedayu di luar?”

Sekar Mirah tidak menyahut. Kejutan yang menghentak dadanya masih belum mereda.

Swandaru pun kemudian berdiam diri untuk sesaat, Dibiarkannya adiknya menjadi tenang. Perlahan-lahan ia berjalan mondar-mandir di dalam ruangan yang sempit itu.

Angin malam yang dingin menyusup lubang-lubang dinding menyentuh tubuh-tubuh mereka. Di kejauhan terdengar suara angkup nangka mencicit seperti sedang menjerit-jerit. Sekali lagi terdengar suara tengara kentongan di kejauhan, sahut-menyahut. Kini malam benar-benar telah sampai ke pusatnya. Tengah malam. Bukan saja suara kentongan dalam nada dara muluk yang terdengar sahut-menyahut, tetapi kemudian disusul oleh kokok ayam jantan untuk yang pertama kalinya, menjalar dari kandang ke kandang, merambat ke seluruh kademangan.

Swandaru menarik nafasnya. Ketika disangkanya adiknya telah agak tenang, maka ia pun berkata, “Aku ingin minta diri kepadamu, Mirah.”

Tetapi ternyata Sekar Mirah masih belum menjawab. Meskipun kejutan yang menghentak dadanya telah mereda, tetapi kekecewaan atas Agung Sedayu masih belum terhapus. Bahkan kemudian ia menjadi sangat jengkel terhadap kakaknya yang telah mengejutkannya.

“Kau marah, Mirah?” bertanya Swandaru. “Aku sama sekali tidak sengaja mengejutkan kau.” Tetapi Swandaru tersenyum di dalam hatinya. Ia sengaja menutup pintu bilik Sekar Mirah, supaya gadis itu terkejut. Tetapi biasanya Sekar Mirah tidak terlampau lama marah kepadanya. Sejenak saja kemarahannya telah menjadi cair. Tetapi kali ini, justru besok ia akan pergi. Sekar Mirah agaknya benar-benar marah kepadanya.

“Aku minta maaf Mirah. Aku datang untuk minta diri. Besok aku akan pergi,” Swandaru berhenti sejenak. Dilihatnya Sekar Mirah menundukkan kepalanya. “Besok aku dan Kakang Agung Sedayu akan pergi melintasi hutan Mentaok, pergi ke Menoreh. Bukankah kau sudah mendengarnya pula? Kami akan pergi bersama guru, Kiai Gringsing.” Sekali lagi Swandaru berhenti berbicara. Dipandanginya kepala Sekar Mirah yang tunduk. Lalu diteruskannya, “Apakah kau mempunyai pesan sesuatu? Katakanlah. Mungkin kau mempunyai kepentingan. Apakah kau ingin aku memenggal kepala Sidanti dan membawanya pulang supaya kau menjadi bersenang hati, atau bahkan kedua-duanya dengan kepala Argajaya?”

Tiba-tiba Sekar Mirah tersentak. Dengan serta-merta ia menengadahkan kepalanya. Kata-kata itulah yang ingin didengarnya. Tetapi tidak dari mulut kakaknya. Ia ingin mendengar dari mulut Agung Sedayu. Betapa hatinya menjadi terlampau kecewa. Tiba-tiba saja gadis itu meloncat berdiri, berlari kepada kakaknya. Dengan tangisnya ia berkata sambil mencubiti kakaknya bertubi-tubi. “Kau terlampau nakal, Kakang. Kau terlampau nakal. Kau mengejutkan aku sehingga aku hampir menjadi pingsan.”

“Oh, oh,” Swandaru terkejut. Terasa jari-jari Sekar Mirah menyengat tanpa hentinya. “Mirah. Mirah.”

“Kau terlampau nakal,” desis Sekar Mirah. Tangannya masih saja mencubiti kakaknya. Ia ingin melepaskan segala macam perasaan yang menghentak-hentak di dadanya. Ia ingin melepaskan kekecewaan yang ditahannya. Ia ingin menumpahkan tangisnya yang disimpannya, sehingga dadanya serasa akan pecah.

“Mirah, Mirah,” Swandaru hampir berteriak, “aku minta maaf.”

Tiba-tiba Sekar Mirah menghentikan cubitannya. Dan yang tidak disangka-sangka oleh Swandaru Sekar Mirah itu meremas leher bajunya sambil menangis sejadi-jadinya. “Kakang,” gadis itu berdesah.

“He,” Swandaru yang selama ini menyangka bahwa Sekar Mirah marah kepadanya, menjadi bingung. “Kau benar-benar marah kepadaku, Mirah.”

Tangis Sekar Mirah tidak mereda.

Swandaru menjadi semakin bingung. Ia tidak menyangka bahwa permainannya akan membuat Sekar Mirah benar-benar marah. Tetapi Swandaru tidak mengerti apa yang sedang bergolak di dada adiknya.

“Aku minta maaf, Mirah. Aku tidak ingin membuatmu marah.”

Swandaru melihat Sekar Mirah perlahan-lahan menggelengkan kepalanya. “Tidak, Kakang. Aku tidak marah kepadamu.”

“Oh,” Swandaru semakin tidak mengerti. “Lalu, kenapa kau menangis?”

Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi tangisnya masih saja menyesakkan dadanya.

“Duduklah Mirah. Kau dapat berkata dengan tenang.”

Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi ia menurut saja ketika sekali lagi Swandaru mendorongnya duduk di atas pembaringannya.

“Apakah kau baru saja bertemu dengan Kakang Agung Sedayu?”

“Ya,” Sekar Mirah mengangguk.

“Apakah kau bertengkar?”

Sekar Mirah menggeleng. “Tidak, Kakang.”

“Lalu, kenapa kau menjadi marah, dan akulah yang menjadi kambing hitam, sehingga tubuhku menjadi merah biru kau cubiti. Bahkan kau menggigit lenganku.”

Sekar Mirah tidak segera menyahut.

“Agaknya kau bertengkar dengan Kakang Agung Sedayu.”

Sekali lagi Sekar Mirah menggeleng. “Tidak. Aku tidak bertengkar. Bahkan Kakang Agung Sedayu hampir berdiam diri saja. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya minta diri dan berkata ‘Mudah-mudahan aku selamat, Mirah.’ Hanya itu.”

Swandaru mengerutkan keningnya. “Lalu apakah yang harus dikatakan?”

“Ternyata ia adalah seorang yang dicengkam oleh keragu-raguan. Ia seorang laki-laki yang perkasa, yang memiliki beberapa kelebihan dari orang lain. Dari Sidanti dan Argajaya. Tetapi ia tidak berani berkata seperti yang kau katakan, Kakang. Ia tidak berani berkata jantan seperti Kakang Sidanti dahulu.”

“Hus,” Swandaru memotong, “kau masih juga menyebut-nyebut nama Sidanti?”

Sekar Mirah menundukkan kepalanya. Ia telah terdorong mengucapkan nama itu. Terdorong oleh kekecewaannya atas sikap Agung Sedayu yang menurut penilaiannya tidak sejantan Sidanti.

“Mirah,” berkata Swandaru “aku tidak senang mendengar nama itu masih kau sebut-sebut. Kalau kau masih juga ingin menyebut nama itu, maka kau harus berkata ‘Bawalah kepala Sidanti itu kepadaku.’ Jangan kau ucapkan kalimat yang lain tentang anak setan itu.”

Sekar Mirah membersihkan air yang meleleh di pipinya dengan lengan bajunya. Katanya, “Kakang, aku merasakan perbedaan sikap antara keduanya, Sidanti dan Kakang Agung Sedayu. Kakang Agung Sedayu adalah seorang pendiam yang menjemukan sekali. Seorang yang ragu-ragu dan tidak mengerti kekuatan yang tersimpan di dalam dirinya. Ia tidak menyadari kelebihannya dari orang lain, atau memang ia seorang yang sama sekali tidak mempunyai kepercayaan pada diri sendiri.”

“Hem,” Swandaru bergumam.

“Tetapi Sidanti tidak. Sidanti yakin akan dirinya. Ia mempunyai ketetapan hati untuk melakukan suatu pekerjaan. Ia mempunyai kepercayaani kepada diri sendiri.”

“Jangan, Mirah. Jangan kau ulangi lagi,” potong Swandaru. Meskipun kata-kata itu diucapkan perlahan-lahan, namun tekanan nadanya benar-benar menunjukkan bahwa ia tidak senang mendengarnya.

Tetapi Sekar Mirah masih berkata, “Aku mengagumi anak-anak muda yang perkasa, yang percaya kepada diri sendiri dan mempunyai cita-cita yang mantap.”

“Seperti Sidanti?”

Sekar Mirah terdiam.

“Seharusnya Sidanti sudah mati bagimu, Mirah. Atau kau benar-benar ingin melihat anak setan itu mati?”

Sekar Mirah masih berdiam diri.

“Mirah,” berkata Swandaru, “betapa perkasa anak muda yang bernama Sidanti itu, tetapi ia tak akan mampu melampaui Kakang Agung Sedayu. Bahkan sekarang, aku pun sanggup dipasang dihadapannya dengan senjata di tangan. Anak itu pernah menampar wajahku beberapa kali. Tetapi untuk seterusnya tidak akan dapat terjadi lagi selagi aku masih mampu bernafas.”

Sekar Mirah seakan-akan menjadi beku di tempatnya. Kepalanya menunduk, sedang tangannya bermain-main dengan ujung bajunya. Tetapi tampak pipinya masih basah.

“Sidanti sekarang sudah bukan tandingan Agung Sedayu lagi.”

Sekar Mirah menangkat wajahnya, katanya, “Tetapi sifat-sifatnya yang selalu dibayangi oleh keragu-raguan itu membuat aku benci kepadanya.”

Swandaru menarik nafas. Kemudian katanya, “Apakah kau membenci Kakang Agung Sedayu.”

“Ya, aku benci kepadanya. Tidak ada seorang pun yang paling aku benci selain Kakang Agung Sedayu.”

“Betul begitu?”

“Ya.”

“Baiklah,” berkata Swandaru sambil melangkah mundur. “Sekarang aku akan menemuinya.”

“Kenapa?” bertanya Sekar Mirah dengan serta-merta.

“Mirah,” berkata Swandaru bersungguh-sungguh, “aku adalah kakakmu. Aku sudah bekerja dengan susah payah untuk melepaskan kau dari sarang Tambak Wedi. Karena itu adalah kewajibanku untuk membelamu. Kalau kau benci kepada Kakang Agung Sedayu, maka akupun harus berlaku demikian juga. Aku akan pergi mendapatkannya. Dimana ia sekarang?”

“Untuk apa kau menemuinya?” bertanya Sekar Mirah.

“Aku harus menyampaikannya ‘Sekar Mirah benci kepadamu’. Begitulah. Aku harus berkata kepadanya supaya ia mengerti akan dirinya. Selama ini ia merasa mendapat hati. Apalagi sepeninggal Sidanti.”

“Apa yang akan kau perbuat itu, Kakang?” Sekar Mirah menjadi cemas.

“Sudah aku katakan. Ia harus menyadari dirinya, bahwa kau benci kepadanya. Ia harus mengerti. Seandainya ia menjadi kecewa, biarlah ia pergi dan memisahkan diri dari aku dan guru besok. Apalagi seandainya ia marah, biarlah aku akan menghadapinya. Aku tidak akan gentar. Seandainya aku kalah, maka aku dapat mengerahkan segenap anak-anak muda Sangkal Putung untuk menangkapnya dan memukulinya sampai mati sekalipun.”

“Kakang.”

“Aku pergi sebentar. Tidak terlampau lama. Aku akan segera kembali memberitahukan kepadamu, bahwa aku telah memukuli anak yang kau benci itu.”

“Kakang.”

“Jangan tidur dulu, Mirah. Aku segera kembali.”

Swandaru segera memutar tubuhnya. Tetapi ketika ia baru melangkah setapak tiba-tiba Sekar Mirah memegangi bajunya.

“Kenapa, Mirah.”

“Jangan, Kakang. Jangan.”

“Kenapa jangan? Lepaskan aku. Anak itu harus mendapat pelajaran.”

“Jangan, Kakang. Jangan.”

“Biar, biar saja. Lepaskan aku. Kenapa kau menahan. Bajuku akan sobek karenanya.”

“Kau tidak usah berbuat apa-apa, Kakang.”

“Tidak, Mirah. Kakang Agung Sedayu harus segera mendengar, bahwa kau membencinya. Ia harus segera menyadari dirinya dan tidak melanjutkan mimpinya yang mengasyikkan itu. Ia harus segera bangun dan melihat kenyataan, bahwa Sekar Mirah bukanlah gadis yang pantas diharapkannya. Aku harus menemuinya sekarang, dan langsung memberitahukannya. Jangan takut seandainya ia marah. Sangkal Putung penuh dengan anak-anak muda yang sanggup berbuat apa saja untukku.”

Tetapi Sekar Mirah masih saja memegangi bajunya. Bahkan semakin keras, sehingga Swandaru yang telah melangkah maju itu terpaksa surut, supaya bajunya tidak sobek karenanya.

“Kenapa kau mencegah, Mirah? Aku tidak senang menyimpan perasaan itu di dalam hati. Aku ingin persoalanmu dengan Kakang Agung Sedayu menjadi jelas.”

“Jangan, Kakang, jangan kau katakan kepadanya.”

“Biar, biar saja. Apakah kau mencemaskan aku?”

“Tidak. Tetapi jangan kau katakan.”

“Kenapa? Coba katakan, kenapa? Bukankah kau membencinya? Bahkan Agung Sedayu adalah orang yang paling kau benci di dunia ini, melampaui kebencianmu kepada Sidanti.”

Tiba-tiba tanpa disadarinya Sekar Mirah menggeleng. “Tidak. Tidak begitu.”

“He?” Swandaru mengerutkan keningnya. “Jadi bagaimana?”

Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi ia menundukkan kepalanya.

Melihat Sekar Mirah mencoba menghindari pandangan matanya, Swandaru tidak dapat lagi menahan tertawanya. Tiba-tiba saja suara tertawa itu berderai, meskipun anak yang gemuk itu berusaha sekuat-kuatnya untuk tidak mengejutkan ayah dan ibunya yang belum lama masuk ke dalam bilik mereka.

Sekar Mirah terkejut mendengar Swandaru tertawa. Ketika gadis itu mengangkat wajahnya, dilihatnya Swandaru menutup mulutnya dengan sebelah telapak tangannya, sedang tangannya yang lain memegangi perutnya yang bulat.

“Kenapa kau tertawa?” Sekar Mirah bertanya.

Swandaru tidak segera menjawab, ia masih tenggelam dalam derai tertawanya.

“Kakang, kenapa kau tertawa? Kenapa he?” Sekar Mirah menjadi semakin bernafsu.

“Mirah,” Swandaru menahan diri sehingga nafasnya menjadi terengah-engah, “lain kali hati-hatilah berbicara. Kau berkata bahwa kau benci kepada Kakang Agung Sedayu, tetapi kau memegangi bajuku sehingga hampir sobek ketika kau dengar aku akan menyampaikannya kepada Kakang Agung Sedayu.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia menyadari bahwa agaknya Swandaru tidak benar-benar ingin menyampaikannya kepada Agung Sedayu. Ternyata Swandaru itu telah mengganggunya lagi setelah kakaknya itu mengejutkannya, ketika ia memasuki bilik ini. Karena itu maka sekali lagi Sekar Mirah itu meloncat. Kakaknya itu seolah-olah diterkamnya dan dicubutinya habis-habisan

“Mirah, Mirah.”

Sekar Mirah tidak mendengarkannya. Bahkan kemudian Sekar Mirah menggigit lengan Swandaru sekali lagi. Lebih keras.

“Mirah. He, aku kapok, Mirah. Aku tidak akan mengganggumu lagi.”

“Terlalu kau, Kakang, terlalu,” Sekar Mirah menjadi semakin bernafsu, sehingga Swandaru terpaksa melonjak-lonjak kesakitan. Tetapi ia tidak berhasil mencegah Sekar Mirah menyakitinya.

Sekar Mirah itu baru berhenti ketika ia mendengar suara dari dalam bilik ayahnya, “Mirah, kau kenapa?”

Sekar Mirah segera melangkah surut, sedang Swandaru berdiri tegak di tempatnya. Mereka kemudian mendengar langkah ayahnya tergesa-gesa.

Ketika pintu bergerit dan kemudian perlahan-lahan terbuka, maka mereka melihat ayahnya berdiri di ambang pintu dengan wajah yang tegang.

“Oh, kau Swandaru,” desah ayahnya setelah dilihatnya Swandaru di dalam bilik itu juga. “Apa yang kau kerjakan? Apakah kalian bertengkar?”

Swandaru menggeleng. “Tidak, Ayah.”

“Apakah kau baru menangis, Mirah?”

“Tidak, Ayah,” jawab Sekar Mirah.

Ayahnya terdiam. Tetapi ia tidak percaya mendengar jawaban Sekar Mirah. Ia melihat mata gadis itu masih merah.

Sejenak kemudian ia berkata, “Swandaru, apakah kau masih saja suka mengganggu adikmu?”

Swandaru menundukkan kepalanya “Tidak, Ayah. Aku tidak menganggu.”

Hampir saja Sekar Mirah berteriak membantah. Tetapi ia berhasil menahan dirinya. Ia malu apabila kakaknya nanti mengatakan persoalannya dengan Agung Sedayu.

“Lalu kenapa Sekar Mirah menangis?”

Swandaru menjadi bingung sejenak. Lalu tiba-tiba saja ia menjawab, “Ia ingin ikut bersama aku besok ayah.”

“He,” ayahnya terkejut, dan bahkan Sekar Mirah pun terkejut pula. Tetapi ia tidak membantah.

“Benarkah begitu, Mirah?” bertanya ayahnya.

Sekar Mirah tidak segera menjawab. Dipandangnya wajah kakaknya sejenak. Ketika dilihatnya wajah itu membayangkan kecemasan hatinya apabila ia mengingkarinya, maka timbullah iba di hati gadis itu. Ia sudah puas mencubiti kakaknya sehingga merah biru, bahkan menggigitnya.

“Ya, Mirah, kau akan ikut serta besok?”

Tiba-tiba Sekar Mirah mengangguk berat dan jawabannya seolah-olah tersangkut di kerongkongan, “Ya, Ayah. Aku ingin ikut.”

“Oh,” ayahnya menarik nafas dalam. Dan Swandaru pun menarik nafas panjang pula. Bahkan kemudian ia berkata, “Aku melarangnya, dan anak itu memang menangis. Tetapi tidak lama ia agaknya menyadari kekeliruannya.”

Ki Demang Sangkal Putung mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Syukurlah. Kau jangan terlampau menuruti perasaanmu saja, Mirah. Perjalanan ini bukan perjalanan tamasya. Kau harus dapat membayangkan bahaya yang mengancam di sepanjang perjalanan, apalagi Alas Mentaok yang garang itu.”

Sekar Mirah tidak segera menjawab, tetapi ia mengumpat di dalam hatinya. Ayahnya justru marah kepadanya, meskipun cerita itu hanya sekedar cerita yang dibuat-buat oleh kakaknya Swandaru. Meskipun demikian adalah lebih baik daripada kakaknya mengatakan persoalannya yang sebenarnya.

Karena kedua anak-anaknya diam, maka Ki Demang itu berkata kepada Swandaru, “Nah, Swandaru. Beristirahatlah. Besok kau akan mulai dengan perjalanan itu.”

“Baik, Ayah,” jawab Swandaru. Dan ayahnya meneruskan kali ini kepada Sekar Mirah, “Kau pun harus segera tidur, Mirah. Besok kau harus bangun pagi-pagi benar untuk mempersiapkan makan pagi buat kakakmu dan Kiai Gringsing beserta Angger Agung Sedayu.”

“Ya, Ayah,” jawab Sekar Mirah sambil menundukkan kepalanya.

Ayahnya itu pun kemudian pergi meninggalkan bilik itu bersama Swandaru. Setelah menutup pintu lereg biliknya, Sekar Mirah segera merebahkan dirinya di pembaringannya. Sejenak ia masih mengumpat-umpat karena kenakalan kakaknya. Tetapi kemudian angan-angannya segera bergeser kepada Agung Sedayu. Anak muda itu memang aneh baginya. Aneh. Ia tidak mengerti kenapa anak muda yang perkasa seperti Agung Sedayu, seolah-olah tidak mempunyai keberanian untuk menentukan sikap dan berbuat sesuatu yang menggetarkan hati.

Sekar Mirah itu terkejut ketika tiba-tiba pintunya bergerit dan sekali lagi terbuka. Berjingkat Swandaru masuk ke dalam sambil meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya.

Perlahan-lahan Sekar Mirah bangkit. Ketika ia akan berdiri, kakaknya berkata, “Tak usah berdiri, aku hanya sebentar. Aku masih merasa belum selesai dengan persoalanmu.”

“Apa lagi?” bertanya Sekar Mirah sambil bersungut.

“Tentang Kakang Agung Sedayu,” jawab Swandaru. Kemudian perlahan-lahan ia berkata lancer, “Dengar. Kau salah sangka tentang Kakang Agung Sedayu. Aku ternyata lebih banyak mengenal sifatnya daripada kau. Kakang Agung Sedayu adalah seorang yang rendah hati. Seorang yang bagiku terlampau baik. Ia tidak pernah menyombongkan dirinya tanpa maksud. Mungkin ia pernah mengucapkan kata-kata yang berlebih-lebihan pada saat ia datang. Tetapi maksudnya untuk menenteramkan hati kita di sini, bahwa kedatangannya akan dapat membantu melindungi kademangan ini. Tetapi sebenarnyalah ia seorang yang rendah hati. Kau ingat, bahwa ia tidak turut dalam perlombaan memanah dahulu meskipun kecakapannya memanah tiga kali lipat dari Sidanti? Kau harus mengerti, memang Kakang Agung Sedayu berbeda dengan Sidanti dan berbeda dengan aku sendiri dan dengan kau. Tetapi yang rendah hati bukanlah seorang penakut atau pengecut. Itu adalah caranya. Ia tidak akan berkata bahwa lautan akan diloncatinya, dan gunung akan disamparnya sampai rata. Tidak. Ia hanya akan berkata ‘Mudah-mudahan aku selamat’. Kau mengerti, Mirah?”

Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi kepalanya ditundukkannya dalam-dalam.

“Nah, sekarang tidurlah. Aku sudah puas. Terserahlah kepadamu, kepada caramu menilai Kakang Agung Sedayu.”

Swandaru tidak menunggu jawaban Sekar Mirah. Sambil berjingkat ia melangkah keluar pintu dan berjalan hati-hati ke pringgitan. Malam ini ia tidur di bentangan tikar di pringgitan bersama Agung Sedayu. Agaknya Agung Sedayu telah merebahkan dirinya pula meskipun masih belum tertidur. Namun sejenak kemudian mereka pun telah memejamkan mata dan perlahan-lahan mereka jatuh tertidur.

Sebelum fajar pecah di Timur, Agung Sedayu dan Swandaru telah bersiap. Kiai Gringsing sudah berada di antara mereka pula di pringgitan. Seteguk-seteguk mereka minum air hangat dan setelah mereka makan pagi, maka mereka pun segera berkemas.

Beberapa orang mengantarkan mereka sampai ke regol halaman ketika mereka kemudian berangkat. Widura, Ki Demang dan Nyi Demang, Sekar Mirah, dan satu dua orang yang lain. Tidak banyak yang mengerti bahwa hari itu Kiai Gringsing dan kedua muridnya akan meninggalkan Sangkal Putung.

Sumangkar yang tua pun berdiri sambil mengangguk-anggukkan kepalanya di sisi regol halaman. Terasa sesuatu bergetar di dalam dadanya. Bahkan ia berbisik lirih kepada Kiai Gringsing, “Kiai, aku iri hati kepadamu. Kau mempunyai dua orang murid yang dapat kau banggakan. Tidak hanya sikap dan tindak-tanduk, tidak hanya ketangkasannya menggenggam senjatamu yang aneh itu, tetapi mereka adalah anak-anak yang baik.”

Kiai Gringsing tersenyum, jawabnya, “Mudah-mudahan aku berhasil untuk seterusnya.”

“Aku menjadi sangat prihatin Kiai,” sumbung Sumangkar. “Perguruanku akan segera putus sampai ujung umurku. Dahulu aku mengharapkan Angger Tohpati akan menjadi penyambung cabang perguruanku lewat Ki Patih Mantahun. Tetapi ia telah tidak ada lagi. Dan aku sampai saat ini tidak mempunyai seorang murid pun.”

“Kau dapat menemukannya, Adi,” sahut Kiai Gringsing yang ikut merasakan betapa sepinya hati orang tua itu.

“Aku belum melihat.”

“Mudah-mudahan Adi segera menemukannya.”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi.

Sejenak kemudian maka ketiga orang itu pun berangkat meninggalkan Kademangan Sangkal Putung. Sekali lagi orang-orang tua di Sangkal Putung itu memberikan doa selamat kepada mereka, dan sekali lagi Sekar Mirah mendengar Agung Sedayu berdesis kepadanya, “Mudah-mudahan aku selamat dan segera kembali ke kademangan ini.”

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat menyembunyikan pelupuk matanya yang bendul karena tangisnya semalam. Bahkan saat ini pun matanya telah menjadi basah pula. Dua anak-anak muda yang paling dekat dengan dirinya bersama-sama pergi. Agung Sedayu dan kakaknya Swandaru.

Meskipun hampir setiap hari kakaknya selalu mengganggunya tetapi setiap kali kakaknya tidak di rumah, terasa rumahnya menjadi sepi. Swandaru adalah satu-satunya saudaranya. Dan kali ini Swandaru pergi untuk waktu yang tidak tertentu. Sedangkan anak muda yang lain, Agung Sedayu, meskipun ia tidak sesuai dengan sifat-sifatnya yang kurang jantan menurut penilaian Sekar Mirah, namun anak muda itu benar-benar telah menambat hatinya dengan segala sifat-sifatnya yang tidak disukainya itu. Kepergian Agung Sedayu pasti akan membuatnya semakin sepi.

Memang terasa, kata-kata anak muda itu seolah-olah memberi kedamaian di hatinya. Tidak terbayang kekerasan dan perkelahian. Tidak tersirat dendam dan kebencian terhadap siapa pun juga. Tetapi apabila darahnya sedang mendidih mengingat perlakuan Sidanti atasnya, maka bagi Sekar Mirah sikap yang penuh kedamaian dan kesejukan itu adalah sikap yang terlampau lemah. Ia sendiri menyimpan dendam tiada taranya kepada Sidanti dan orang-orangnya. Juga kepada Ki Tambak Wedi. Ia ingin Agung Sedayu mendendamnya seperti dirinya. Mengancam dan menggenggam keinginan untuk membalas dendam dan sakit hatinya.

Tetapi Agung Sedayu hanya sekedar berkata kepadanya “Mudah-mudahan aku selamat, Mirah. Dan segera kembali ke kademangan ini.”

Meskipun demikian ketika ketiga orang ini mulai melangkahkan kakinya meninggalkan regol halaman, terasa dadanya menjadi sesak. Ia melihat Swandaru melambaikan tangannya kepadanya dan berkata, “Baik-baiklah menjaga dirimu, Mirah.”

Sekar Mirah itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia ingin menjawab dan mengucapkan selamat jalan, tetapi tenggorokannya serasa tersumbat. Itulah sebabnya ia hanya berdiri saja mematung. Dicobanya untuk menggerakkan tangannya, membalas lambaian tangan kakaknya. Tetapi tangan itu serasa menjadi terlampau kaku.

Meskipun demikian Sekar Mirah itu berhasil menahan air matanya untuk tidak membanjir dari pelupuknya yang basah. Tiba-tiba timbul di dalam hatinya, bahwa sikap yang sebaik-baiknya adalah melepaskan keduanya dengan tabah, dengan dada tengadah. Ia tidak ingin menangis lagi seperti kanak-kanak dan perempuan cengeng. Ia bukan kanak-kanak lagi, dan ia bukan perempuan yang cengeng.

Sekar Mirah menggeretakkan giginya. Dan sesaat kemudian ia berhasil mengangkat tangannya dan melambaikan tangan itu. Dipaksanya bibirnya untuk tersenyum.

Tiba-tiba Sekar Mirah itu berkata lantang, “Selamat jalan Kakang Swandaru, selamat jalan Kakang Agung Sedayu. Mudah-mudahan kalian kembali dengan selamat setelah kalian berhasil melepaskan sakit yang menyekat hati. Perjalanan kalian adalah perjalanan jantan, bukan perjalanan perawan-perawan yang pergi ngunggah-unggahi.”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Sekar Mirah. Tetapi ia tersenyum saja. Dibiarkannya Swandaru menjawab, “Doakan, Mirah.”

Tetapi Sekar Mirah tidak mendengar Agung Sedayu menjawab sepatah kata pun. Bahkan ia melihat wajah itu membayangkan keragu-raguannya. Sesaat dipandanginya wajah gurunya. Tetapi ia tidak mendapatkan kesan sesuatu, meskipun ia melihat gurunya itu tersenyum.

Sekar Mirah berdesah di dalam hatinya. “Sekali lagi aku melihat wajah yang menjemukan itu. Ragu-ragu, ragu-ragu, selalu dalam keragu-raguan,” ia mengumpat di dalam hatinya. Tetapi ia tidak dapat melepaskan bayangan wajah yang selalu ragu-ragu itu.

Ketiganya, Ki Tanu Metir, Agung Sedayu, dan Swandaru pun semakin lama menjadi semakin jauh. Sementara itu langit menjadi semakin cerah. Orang-orang yang berdiri di luar regol kademangan masih melihat ketiganya berjalan perlahan-lahan semakin lama semakin sayup. Sejenak kemudian maka ketiga orang yang tampaknya menjadi semakin kecil itu mengghilang di tikungan.

Betapa gelora di dada Sekar Mirah serasa mengguncang-guncang jantungnya, namun ia bertahan untuk tidak menangis. Diangkatnya kepalanya dan ditengadahkannya wajahnya. Ia kemudian berjalan di samping ayahnya masuk ke dalam halaman dan berjalan naik ke pendapa beriringan dengan ibunya, Sumangkar, Widura dan beberapa orang lain. Meskipun demikian, tidak banyak dari mereka yang berbicara. Satu dua saja berdesis perlahan-lahan dan hanya beberapa kata-kata. Kemudian hening lagi.

Ketika Widura, Sumangkar, dan Ki Demang meletakkan dirinya, duduk di pringgitan kademangan, maka Sekar Mirah berjalan di belakang ibunya langsung masuk ke ruang dalam. Nyai Demang itu pun agaknya menahan dirinya untuk tidak menangis ketika melepaskan Swandaru. Ditabahkannya hatinya, dan ditahankannya perasaannya. Ternyata sikapnya mempengaruhi sikap Sekar Mirah pula. Sekar Mirah yang bertahan mati-matian itu seolah-olah mendapat kekuatan baru melihat sikap ibunya yang tenang dan seolah-olah meyakinkan, bahwa perjalanan kakaknya tidak akan menemukan kesulitan.

Meskipun demikian, Sekar Mirah yang kemudian masuk ke dalam biliknya masih harus mencari kekuatan untuk tidak terbenam ke dalam sikap seorang gadis yang ditinggalkan oleh orang-orang yang dikasihinya. Ia kemudian terpaksa menyibukkan dirinya dengan segala macam kerja. Membenahi biliknya, pakaiannya dan kemudian gadis itu berlari-lari ke luar, pergi ke perigi. Diraihnya senggot timba, dan dengan menggeretakkan giginya, ia mulai menimba air, mengisi gentong dan jembangan.

Tetapi dengan menimba air dari sumur itu, hatinya masih saja berguncang. Karena itu dilepaskan senggot timba itu sehingga suaranya berderak-derak. Gadis itu kemudian berlari ke tumpukan kayu di sudut kandang. Diraihnya sebuah parang, dan dengan sekuat-kuat tenaganya dihantamkannya parang itu pada seonggok kayu di samping kandang itu.

Gadis yang sedang bertahan diri terhadap deraan perasaannya itu terkejut ketika ia mendengar sapa lembut di belakangnya, “Kenapa kau menjadi terlampau gelisah, Mirah.”

Sekar Mirah itu mengangkat wajahnya dan kemudian berpaling ke arah suara itu. Ia menarik nafas lega ketika dilihatnya yang berdiri di samping kandang itu adalah Ki Sumangkar.

“O,” desah gadis itu, “Kiai mengejutkan aku.”

Sumangkar tersenyum, katanya, “Kau terlampau sibuk. Itulah sebabnya maka kau terkejut.”

“Ya, aku terlampau sibuk,” sahut Sekar Mirah, “tetapi bukankah Kiai duduk-duduk di pringgitan bersama ayah dan Paman Widura?”

“Mereka pun telah sibuk dengan kewajiban masing-masing.”

Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya, dan Sumangkar itu bertanya lagi, “Kenapa kau sendiri akan memotong kayu itu? Tidakkah ada orang lain? Pembantu-pembantu kademangan ini? Tentu lebih baik laki-lakilah yang memotong dan membelah kayu itu. Kalau tidak ada seorang pun yang hari ini sempat, maka kau dapat minta tolong kepada prajurit-prajurit yang sedang beristirahat.”

“Tidak, Kiai,” sahut Sekar Mirah, “aku pun dapat memotong dan membelah kayu. Apakah bedanya seorang laki-laki dengan seorang perempuan? Aku dapat juga mengambil air di sumur itu setiap pagi, aku juga dapat bekerja keras seperti laki-laki. Dan aku kira tenagaku pun cukup kuat meskipun tidak memadai laki-laki yang kuat. Tetapi aku berani beradu tenaga dengan laki-laki yang sedang.”

Sumangkar tersenyum, katanya, “Aku percaya, Ngger, memang kau adalah seorang gadis yang rajin. Dengan demikian maka tenagamu pun akan berkembang dengan baik. Kau dapat membawa padi setenggok penuh di dalam dukungan, seperti yang dibawa oleh laki-laki di atas kepalanya. Kau memang seorang gadis yang memiliki tenaga yang cukup.”

“Nah, kalau demikian, kenapa aku harus minta bantuan laki-laki hanya sekedar ingin memotong dan membelah kayu?”

“Ya, ya. Aku keliru.”

Mendengar jawaban itu, Sekar Mirah justru terdiam. Ditatapnya mata orang tua yang tersenyum di hadapannya. Di wajah itu dilihatnya goresan-goresan umur yang semakin dalam.

“Nah, teruskanlah, Ngger,” berkata Sumangkar kemudian. Sekar Mirah masih berdiam diri. Tetapi ia menjadi segan untuk meninggalkan pekerjaan itu, karena ia sudah terlanjur membanggakan dirinya.

“Silahkan, Ngger. Aku tidak mengganggu, bukan?”

“O, tidak,” jawab Sekar Mirah ragu. Namun tanpa disadarinya gadis itu kini menatap seonggok kayu di hadapannya. Kayu yang masih belum terpotong pendek dan terbelah. Kayu yang baru saja ditebang dan dipotong-potong panjang, ditimbun di samping kandang.

Kini Sekar Mirah akan memotong-motong kayu itu menjadi pendek dan kemudian membelahnya dengan kapak, supaya kayu itu lekas menjadi kering dan siap untuk dibakar di dapur.

Sekali gadis itu menarik nafas dalam-dalam. Ia memang tidak pernah melakukannya. Tetapi ia tidak boleh mundur. Ia sudah terlanjur mengatakan, bahwa ia pun mampu melakukannya. Tidak hanya laki-laki.

Karena itu, maka segera diayunkannya parangnya, sekuat tenaga dihantamkannya kepada sepotong kayu yang tertimbun di hadapannya. Terdengar gadis itu berdesis kecil. Begitu kuatnya ia mengayunkan parangnya, sehingga terasa tangannya menjadi sakit. Tetapi ia tidak mau berhenti, sekali lagi parang itu diayunkan, dan sekali lagi ia berdesis. Tetapi parang itu terayun sekali lagi, sekali lagi dan sekali lagi.

Sumangkar yang melihat gadis itu berusaha dengan sekuat-kuat tenaganya memotong kayu itu tersenyum di dalam hatinya. “Gadis ini memang agak keras kepala. Mirip dengan sifat-sifat kakaknya, Angger Swandaru. Tetapi orang-orang yang demikianlah kadang-kadang yang akan dapat mencapai cita-citanya. Ia tidak gentar menghadapi rintangan dan hambatan. Tenaganya pun ternyata cukup kuat. Sayang ia tidak menggenggam tangkai parang itu dengan baik, sehingga tangannya akan segera terasa sakit, dan bahkan mungkin akan dapat terkilir karenanya.”

Karena itu maka Sumangkar itu pun segera melangkah maju, perlahan-lahan ia berdesis, “Luar biasa, Ngger. Luar biasa.”

Sekar Mirah berhenti sejenak. Ketika ia menegakkan punggungnya, terasa punggungnya pun menjadi sakit. Karena itu, maka dengan sebelah tangannya ia menekan lambungnya.

“Sakit?” bertanya Sumangkar.

“Tidak, Kiai, aku tidak merasa apa-apa.”

“Bagus,” sahut Sumangkar, “kau memang luar biasa, Ngger. Kayu itu akan segera terpotong.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Ia merasa orang tua itu menyindirnya, karena luka pada kayu itu masih belum senyari.

Sumangkar agaknya dapat menangkap perasaan Sekar Mirah itu, sehingga dengan tergesa-gesa ia menyambung, “Maksudku, kalau Angger Sekar Mirah meneruskannya, maka kayu itu pun pasti akan terpotong.”

Sekar Mirah mengangguk perlahan-lahan.

“Tetapi, Mirah,” berkata Sumangkar kemudian, “agaknya kau kurang baik menggenggam parangmu. Coba, berikanlah parangmu itu.”

Tanpa sesadarnya, maka parang itu diserahkannya kepada Sumangkar.

“Begini,” berkata Sumangkar, “lihat beginilah seharusnya kau menggenggam parang itu. Ayunkan perlahan-lahan, lurus ke depan supaya parang ini tidak menggeliat. Kau dapat mengayunkan dan membuat luka-luka di kayu ini agak miring, tetapi jangan terlampau banyak. Kemudian dari arah miring yang berlawanan. Kalau kau sudah dapat tepat menjatuhkan parangmu pada luka yang pertama, maka barulah kau ayunkan parang ini semakin keras. Dengan demikian, kau tidak membuat luka di beberapa tempat seperti ini. Ini terjadi karena kau tidak ajeg menggerakkan parangmu dalam ayunan yang ajeg pula. Nah, cobalah.”

Sekar Mirah tanpa sesadarnya memperhatikan dan mendengarkan keterangan Ki Sumangkar itu baik-baik. Diamatinya dengan saksama bagaimana Ki Sumangkar menggenggam tangkai parangnya, kemudian bagaimana ia mengayunkan parang itu.

“Aku juga dapat melakukannya,” tiba-tiba Sekar Mirah berkata.

Sumangkar tersenyum. Diserahkannya parang itu kepada Sekar Mirah sambil berkata, “Cobalah.”

Perlahan-lahan Sekar Mirah mengayunkan parangnya. Satu kali, dua kali, tiga kali. Kini ia sudah, dapat menjatuhkan mata parangnya pada luka yang telah dibuatnya. Tidak bergeser lagi setiap kali. Semakin lama semakin keras, semakin keras.

“Bagus,” desis Ki Sumangkar.

Sekar Mirah tidak menyahut. Tetapi seakan-akan ia tenggelam dalam keasyikan memotong kayu itu.

Sumangkar melihat keringat yang bercucuran di kening gadis itu, maka katanya, “Sudahlah, Mirah. Kau letih. Biarlah saja dilanjutkan oleh orang lain.”

Tetapi Sekar Mirah seakan-akan tidak mendengar kata-kata itu. Bahkan ia bekerja semakin keras. Ayunannya menjadi semakin cepat dan cepat. Luka pada batang kayu itu dengan cepat bertambah dalam. Percikan tatalnya melontar-lontar ke segenap arah. Bahkan satu dua memercik ke wajah Sekar Mirah sendiri. Tetapi Sekar Mirah sama sekali tidak menghiraukannya.

“Sudahlah, Ngger,” Sumangkar mengulangi, tetapi Sekar Mirah seakan-akan masih belum mendengarnya.

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya di dalam hati, “Gadis ini memang keras kepala. Ia sama sekali tidak mau mundur apabila ia ingin berbuat sesuatu.”

Baju Sekar Mirah sudah menjadi basah kuyup oleh keringatnya yang seperti diperas dari dalam tubuhnya. Namun ia sama sekali tidak ingin berhenti bekerja. Semakin lama semakin keras dan cepat.

Sekali lagi Sumangkar menarik nafas dalam? Kini ia melihat Sekar Mirah itu melepaskan parangnya, menekan lambungnya dengan kedua tangannya. Kemudian diusapnya keringat yang menetes dari keningnya dengan lengan bajunya.

“Heh,” Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya, “putus juga akhirnya.”

“Luar biasa, Ngger,” desis Ki Sumangkar.

Sekar Mirah berpaling, “Apakah yang luar biasa? Bukankah pekerjaan ini pekerjaan yang biasa saja? Tidak ada apa-apa yang lain dari kerja biasa, memotong kayu?”

“Ya, ya,” sahut Sumangkar, “tetapi bahwa Angger Sekar Mirah yang melakukan itulah yang luar biasa. Bahkan seorang laki-laki pun mungkin tidak akan dapat selesai secepat itu.”

Sekar Mirah tidak menjawab. Sekali lagi ia mengusap peluhnya dengan lengan bajunya. Perlahan-lahan ia berdesah, ”Ah, lelah juga akhirnya, Kiai.”

Orang tua itu tertawa. Katanya, “Lelah, tentu lelah. Angger sudah bekerja terlampau keras. Kayu itu sudah terpotong.”

Tertatih-tatih Sekar Mirah itu melangkah dan menjatuhkan dirinya di bebatur kandang. Sekali ia menarik nafas panjang.

“Lenganku menjadi sakit, Kiai, dan telapak tanganku terasa nyeri.” Tetapi segera disambungnya, “Tidak, Kiai, tidak hanya nyeri, tetapi lihat tanganku menjadi melempung sebesar biji jagung di dua tempat.”

“Angger belum biasa,” jawab Sumangkar, “tetapi apabila Angger telah biasa, maka tangan itu tidak, akan melempung lagi.”

Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, beristirahatlah. Kau pasti lelah sekali.” Sumangkar itu berhenti sejenak. Tanpa dikehendakinya sendiri, diamatinya gadis yang keras hati itu dengan saksama. Tubuhnya yang bulat padat seperti kebanyakan gadis padesan yang bekerja keras setiap hari. Di sawah dan di rumah. Wajahnya yang memancarkan kekerasan hatinya itu dan matanya yang memandang hari depannya dengan penuh keyakinan.

“Sayang ia seorang gadis,” desah orang tua itu di dalam hatinya, “seandainya ia seorang laki-laki muda, mungkin ia tidak akan kalah dari kakaknya Swandaru.”

Sumangkar itu mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa disadarinya. Dan ia berkata pula di dalam hatinya, “Apakah salahnya, meskipun ia seorang gadis. Mungkin ia akan lebih baik dari seorang anak laki-laki. Sekarang gadis tidak akan kalah dari seorang anak muda apabila cukup terlatih. Seorang gadis mempunyai kelebihannya sendiri disesuaikan dengan kodratnya. Perasaan seorang gadis biasanya lebih tajam dari seorang laki-laki apalagi firasatnya. Mungkin seorang gadis akan lebih cepat dapat menanggapi keadaan dari seorang laki-laki. Tetapi seorang gadis harus dituntun untuk mempergunakan nalar. Tidak hanya sekedar perasaan saja.”

“Angger Sekar Mirah agaknya dapat berlaku demikian. Tenaganya cukup kuat, perasaannya cukup tajam dan nalarnya akan dapat juga berkembang dengan baik.”

Sumangkar tidak dapat lagi mengelakkan diri dari cengkaman perasaannya. Ia merasakan sesuatu yang menarik perhatiannya pada gadis itu. Kekerasan hati, kekuatan jasmaniah dan ketabahannya.

“Aku belum pernah merasa tertarik kepada seseorang seperti kepada gadis ini,” katanya di dalam hati, “bahkan anak-anak muda yang pernah aku jumpai pun tidak menarik perhatianku. Aku pernah melihat kelebihan Angger Alap-alap Jalatunda dari anak-anak muda yang lain kecuali Angger Tohpati. Bahkan apabila mendapat kesempatan dan tuntunan, Alap-alap Jalatunda tidak akan kalah dari Angger Sanakeling dan bahkan Angger Sidanti. Tetapi watak anak itu sangat menjemukan dan bahkan memuakkan. Ilmuku akan jatuh ke tanah yang subur tetapi sangar. Aku tidak mau.” Sumangkar itu tiba-tiba mengangguk-anggukkan kepalanya, “Apakah salahnya apabila muridku seorang gadis?”

Tetapi Sumangkar menyimpan perasaan itu di dalam hatinya. Ia ingin mengenal gadis itu lebih banyak. Sifat-sifatnya, tabiatnya dan yang terpenting baginya adalah wataknya. Apakah gadis itu akan dapat menjadi penyambung perguruannya yang baik. Tidak saja dalam olah kanuragan tetapi juga dalam solah tingkah dan tindak tanduk. Sebelum Tohpati mati, maka ia adalah satu-satunya harapan bagi perguruannya. Tetapi ia terseret ke dalam arus yang telah menjerumuskannya ke dalam langkah yang sesat. Sebenarnya sikap Tohpati itu sendiri dapat memberinya kebanggaan. Namun landasan untuk berpijak bagi Macan Kepatihan itu kemudian, yang tidak dapat dibenarkannya.

Sumangkar itu tersadar dari angan-angannya ketika ia melihat Sekar Mirah berdiri. Ia mengusap telapak tangannya sambil berdesis, “Aku harus membuat obat untuk menyembuhkan tanganku yang melempung ini, Kiai.”

“Apakah yang akan kau pergunakan untuk mengobatinya?”

“Kencur.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kelak, kalau Angger telah menjadi biasa, maka tangan Angger itu tidak akan melempung lagi.”

“Aku akan membiasakannya. Setiap hari.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah. Tetapi hati-hati. Jangan sampai mengenai tangan atau bagian-bagian tubuhmu sendiri.”

“Aku dapat berhati-hati,” sahut Sekar Mirah.

Sumangkar tersenyum. Dibiarkannya gadis itu pergi meninggalkannya. Tetapi kesan yang didapatinya dari gadis itu tidak juga disingkirkannya. Bahkan tumbuhlah keinginan yang mendesak untuk berbuat sesuatu sebelum umurnya menjadi semakin tua, dan ia akan segera menurun dari puncak kemampuannya, sebelum ia berkesempatan menurunkan ilmunya.

Sementara itu Sekar Mirah langsung pergi ke dapur untuk mencari beberapa potong kencur untuk mengobati tangannya. Tetapi ia benar-benar bertekad untuk membuat tangannya tidak lagi secengeng itu.

“Tanganku harus menjadi tangan yang kuat,” desisnya di dalam hatinya. Dan ia benar-benar ingin berbuat untuk itu.

Sumangkar terkejut ketika di hari berikutnya, ia melihat Sekar Mirah telah sibuk di samping kandang. Meskipun tangannya masih terasa sakit, tetapi rasa sakit itu sama sekali tidak dihiraukannya. Dengan sepenuh minat ia mengayunkan parang memotong sebatang kayu yang teronggok di samping kandang.

“Apakah lengan Angger sudah tidak sakit lagi?” bertanya Sumangkar.

“Tanganku terlampau cengeng, Kiai,” jawabnya, “aku harus mengajarnya untuk menjadi sedikit kuat.”

Sumangkar tersenyum. Ia menjadi semakin tertarik kepada gadis yang mempunyai tekad sebesar itu. Menurut perhitungan Sumangkar, untuk kepentingan yang lebih besar, maka ia akan tidak segan-segan untuk berbuat jauh lebih banyak lagi.

“Mirah,” berkata orang tua itu, “sebaiknya Angger jangan memaksakan diri. Aku senang melihat Angger bekerja keras tetapi Angger harus mengingat kekuatan tubuh Angger.”

“Kalau aku memanjakan diri Kiai,” jawab Sekar Mirah, “maka aku akan menjadi seorang yang akan selalu bergantung kepada orang lain. Tidak Kiai, aku harus berbuat sesuatu supaya aku mampu berdiri tegak seperti orang-orang lain. Seperti Kiai, seperti ayah dan seperti Kakang Swandaru. Aku tidak mau selalu menjadi beban orang lain, seperti apa yang baru saja terjadi. Aku tidak dapat berbuat apa-apa ketika Sidanti mengambil aku dari padepokan ini.”

“Oh,” Sumangkar mengerutkan keningnya.

“Dengan melatih diri mengayunkan parang ini, setidak-tidaknya aku akan dapat berbuat sesuatu, melawan sedapat-dapat, sementara mulutku dapat berteriak memanggil orang lain.”

Sumangkar tertawa, “Kau memang luar biasa. Seharusnya kau tidak usah menilai diri seperti ayahmu dan kakakmu Swandaru, sebab mereka adalah laki-laki.”

“Apa bedanya?” Sekar Mirah tiba-tiba mengangkat wajahnya dan menengadahkan dadanya, “apakah perempuan selamanya harus bergantung kepada laki-laki. Tidak Kiai. Ada juga hak bagi seorang perempuan untuk membela diri. Bukankah di dalam cerita-cerita dan dongeng-dongeng banyak juga disebutkan bahwa seorang perempuan mampu juga menjadi prajurit?”

“Ya, ya Ngger. Apalagi cerita pewayangan.”

“Nah, kalau demikian apakah salahnya aku menjadi seorang yang mampu menyelamatkan diriku sendiri seperti laki-laki.”

“Ya. ya Ngger,” sahut Sumangkar, “tetapi itu tidak terlampau mudah. Tenaga seorang laki-laki menurut kodratnya berbeda dengan seorang perempuan. Seorang pemuda akan berbeda dengan seorang gadis.”

“Aku tahu, Kiai, tetapi seorang perempuan yang lemah dan sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa, akan jauh lebih lemah dari seorang perempuan yang lemah tetapi berusaha untuk menemukan kekuatan di dalam kelemahanya.”

“Oh,” Sumangkar mengerutkan keningnya, “pendapat Angger mengagumkan.”

“Tidak mengagumkan, Kiai. Pendapat itu lahir karena pengalaman yang pahit yang pernah aku alami. Aku tidak mau pengalaman semacam itu terulang. Aku senang seandainya aku dapat sedikit memiliki kekuatan untuk menjaga diri. Aku tidak mau menjadi seorang yang menyerah kepada kelemahannya. Aku harus menemukan kekuatan.”

Sumangkar tidak segera menjawab. Tetapi ia melihat tekad yang menyala di wajah gadis itu.

“Kiai, sejak kecil aku mengagumi sifat-sifat jantan. Aku kagum melihat laki-laki memancarkan kelaki-lakiannya. Tidak seperti laki-laki yang cengeng, yang ragu-ragu dan kehilangan kepercayaan diri.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi semakin mengenal watak dan sifat-sifat dari gadis puteri Ki Demang Sangkal Putung itu. Keras hati seperti kakaknya, Swandaru.

Dengan demikian, maka ia menjadi semakin tertarik kepadanya. Seolah-olah orang tua itu menemukan tanah yang subur terbentang di hadapannya setelah bertahun-tahun ia kehilangan sawah garapannya.

“Angger,” orang tua itu kemudian berkata, “Angger benar-benar membuat aku heran. Meskipun Angger selama ini seolah-olah tidak lepas dari sisi ayah dan ibu, tetapi wawasan Angger Sekar Mirah ternyata cukup jauh. Pengalaman Angger yang baru saja terjadi itu masih belum cukup untuk membuat Angger Sekar Mirah menjadi berwawasan sedemikian jauhnya, seandainya di dalam diri Angger sendiri tidak tersimpan benih-benih yang baik seperti yang tersimpan di dalam diri Angger Swandaru. Pengalaman yang terjadi atas Angger Sekar Mirah dapat menumbuhkan bermacam-macam akibat. Bagi orang lain, maka akibatnya akan sangat berbeda. Seseorang dapat menjadi semakin berkecil hati. Semakin ketakutan dan kehilangan kepercayaan. Bahkan pada orang lain lagi dapat menumbuhkan keputus-asaan dan rendah diri. Tetapi sebaliknya kau menjadi semakin teguh seperti karang yang setiap hari dihantam oleh ombak.”

“Oh, sejak kemarin Kiai selalu memuji. Mudah-mudahanlah demikian hendaknya.”

“Aku tidak memuji, Mirah. Aku mengatakan sebenarnya,” sahut Ki Sumangkar, “tetapi sadarilah. Bahwa sekedar menggenggam tangkai parang itu masih jauh daripada cukup untuk menjaga diri. Menjadikan telapak tanganmu bertambah kebal itu pun bukan jalan dan cara yang cukup.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Ya, aku tahu, Kai. Aku tahu bahwa hanya dengan demikian, maka pasti tidak akan berarti apa-apa bagi keselamatan diri. Tetapi setidak-tidaknya aku sudah mulai untuk suatu tujuan yang lebih jauh.”

“Apakah tujuan itu?”

Sekar Mirah terdiam. Dipandanginya wajah Sumangkar yang telah digoresi oleh garis-garis tahun. Orang ini tampaknya menjadi semakin tua.

Dan tiba-tiba saja terungkat di dalam hati gadis itu, bahwa orang tua ini adalah seorang yang memiliki kemampuan seperti Kiai Gringsing, seperti Ki Tambak Wedi, seperti Ki Patih Mantahun menurut pendengarannya, seperti Ki Gede Pemanahan.

Dada Sekar Mirah menjadi berdebar-debar. Ia melihat ujud yang sederhana. Seperti Ki Tanu Metir. Tetapi pada kesederhanaan itu memancar kelebihan-kelebihan yang dahsyat seperti Ki Tanu Metir pula. Katanya di dalam hati. “Apakah aku dapat memperoleh sesuatu dari orang tua itu?”

Dalam keragu-raguannya ia mendengar Sumangkar itu berkata, “Mirah, coba, biarlah aku yang memotong kayu itu.”

Sekar Mirah seakan-akan tersadar dari sebuah mimpi yang dapat menumbuhkan harapan di dadanya. Dengan terbata-bata ia menjawab, “Tidak, Kiai. Tidak usah. Biarlah aku saja yang menyelesaikannya. Seandainya tanganku tidak mampu karena sakit, maka biarlah orang-orangku yang menyelesaikannya.”

Sumangkar tersenyum. “Berikanlah parang itu.”

Sekar Mirah menjadi seakan-akan kehilangan kesadarannya ketika Sumangkar maju beberapa langkah. Mengajukan tangannya dan mengambil parang di tangan Sekar Mirah.

“Lihatlah, Ngger, beginilah seharusnya Angger memotong kayu,” berkata orang tua itu sambil melangkah mendekati sebatang kayu yang lain terbujur di sisi kandang. Kayu itu bukan sekedar sepotong dahan atau cabang yang sedang. Tetapi kayu itu adalah sepotong kayu yang cukup besar.

“Apakah Kiai akan memotong kayu itu?” bertanya Sekar Mirah.

“Ya,” jawab Sumangkar.

“Hanya dengan parang?”

“Ya.”

“Seharusnya dipergunakan kapak. Dan seharusnya bukan Kiai-lah yang melakukannya.”

Sumangkar tersenyum. Kini ia telah berdiri di samping batang kayu yang menelentang itu. Dipandangnya batang kayu itu sejenak. Kemudian perlahan-lahan ia berjongkok. Ia harus membuat gadis Sangkal Putung itu menjadi kagum. Karena itu kali ini ia tidak sekedar memberikan contoh, bagaimanakah caranya menggenggam tangkai parang seperti kemarin. Tidak cuma memberi contoh bagaimanakah parang itu harus diayunkan. Tetapi kali ini ia akan memberikan contoh yang lain, contoh yang bukan sekedar tenaga lahiriahnya. Seperti Kiai Gringsing mampu melecutkan cambuknya dan menimbulkan ledakan yang dahsyat, maka orang tua ini pun mampu menyalurkan kekuatan-kekuatan yang tidak tampak pada gerak dan tingkah laku sehari-hari.

Perlahan-lahan Sumangkar mengangkat parangnya. Di pusatkannya segenap kekuatannya. Ketika perlahan-lahan pula parang itu terangkat kemudian terayun dengan derasnya, maka Sekar Mirah seolah-olah tidak dapat bernafas lagi. Dadanya seakan-akan berhenti bekerja dan segenap perhatiannya tertumpah kepada mata parang Ki Sumangkar. Bahkan jantungnya pun terasa berhenti berdetak.

Sejenak kemudian, Sekar Mirah berdesis menyaksikan parang itu membenam ke dalam batang kayu itu. Membenam dalam-dalam. Seperti membenamkannya ke dalam sebatang pokok pisang.

Terdengar mulut gadis itu sekali lagi berdesis. Tetapi kedua tangannya kemudian menutup mulutnya yang ternganga. Ia tidak percaya kepada penglihatannya. Benarkah parang itu membenam hampir separo ke dalam batang sebesar itu?

Sejenak ia melihat Sumangkar mencoba menarik parangnya yang membenam itu. Tetapi ternyata parang itu tidak cukup kuat. Parang itu adalah parang pemotong kayu. Karena itu maka parang itu tidak dapat mengimbangi kekuatan Sumangkar yang tercurah.

Series30

KETIKA SUMANGKAR menghentakkan tangkai parang  itu, maka yang  kemudian berada didalam genggamannya hanyalah tinggal tangkainya saja. Ternyata parang itu patah. Kekuatan Sumangkar dan jepitan batang kayu yang ditebasnya ternyata melampaui kekuatan parang pembelah kayu itu.

“Ah,” sekali terdengar Sekar Mirah berdesah.

“Patah ngger ,” Sumangkar berkata lirih, “aku tidak sengaja mematahkannya.”

Sekar Mirah masih saja berdiri tegak mematung. Ia sedang terpukau oleh penglihatannya yang dianggapnya tidak masuk akal.

“Kekuatan apakah yang tersimpan di dalam tubuh orang tua ini?”  katanya didalam hati.

Dan ia mendengar Sumangkar berkata, “Kalau parang ini tidak patah ngger, aku akan memotong kayu itu. Tetapi parang ini telah patah.”

Sekar Mirah tidak menjawab. Ia masih berdiri membeku.

“Apakah kau heran?” bertanya Sumangkar.

Tanpa sesadarnya Sekar Mirah menganggukkan kepalanya.

“Tidak mengherankan sama sekali,” berkata Sumangkar kemudian, “kaupun akan dapat melakukannya Mirah.”

“He,” alis Sekar Mirah terangkat, sekali lagi ia tidak percaya kepada inderanya. Apakah benar ia mendengar Sumangkar berkata, “Kau pun akan dapat melakukannya Miirah.”

Dan Sumangkar itu berkata seterusnya, “Aku tidak berbohong. Kalau kau ingin dapat berbuat demikian, maka kaupun akan dapat melakukannya.”

“Apakah Kiai bergurau?” desis Sekar Mirah kemudian.

Sumangkar tersenyum. Jawabnya, “Tidak ngger, aku tidak bergurau. Apakah kau sangka bahwa- sejak lahir aku dapat melakukan hal yang demikian itu? Apakah kau sangka bahwa sejak kanak-kanak Kiai Gringsing mampu melecutkan cambuknya seperli ledakan guntur di langit? Apakah kau sangka bahwa Ki Tambak Wedi mampu memecahkan dada lawannya hanya dengan lemparan gelang-gelang besi atau Ki Gede Pemanahan mampu memecah regol Kadipaten Jipang dengan sehelai keris yang kecil saja, kerisnya yang bernama Kiai Naga Kumala sejak mereka lahir?”

Sekali lagi Sekar Mirah berdiri mematung. Terasa sesuatu bergetar didalam dadanya.

“Nah, bagaimanakah perasaanmu? Heran atau curiga bahwa aku dan orang-orang tua seperti aku ini telah kerasukan setan? Tidak Mirah. Kami tidak mencari kekuatan tenaga jasmaniah dan tenaga tersimpan didalam diri kami masing-masing ini dengan bantuan setan-setan. Tidak. Dengan demikian kita telah menentang sumber kekuatan itu sendiri. Meskipun ada juga orang yang mencarinya dalam dunia yang hitam, tetapi betapa besar tenaga yang dapat dilahirkan oleh kekuatan hitam, namun Yang Maha Kuat, Yang Maha Kuasa, adalah sumber dari semua yang ada. Juga sumber dari kekuatan yang kasat mata dan yang tidak kasat mata. Karena itu jangan menyangka bahwa kami harus mencari kekuatan semacam ini kemana-mana. Sebab pada dasarnya kekuatan itu telah ada di dalam diri kami masing-masing. Soalnya, apakah kita mampu mengungkapkannya atau tidak.

Sekar Mirah masih berdiri ditempatnya. Bahkan tanpa berkedip ditatapnya wajah Ki Sumangkar. Dan ia mendengar orang tua itu meneruskannya, “Sekar Mirah. Kita tinggal memohon kepada Sumber Kekuatan di dalam diri, kepada Yang Maha Tinggi, apakah kita diperkenankan mempelajari kekuatan di dalam diri kita, kemudian mengenalnya dan mengungkapkannya.” Sekali lagi Ki Sumangkar itu berhenti berbicara. Dilihatnya Sekar Mirah dengan penuh minat mendengarkannya.

“Karena itu,“ berkata Sumangkar pula, “kita tidak perlu mencari apapun di luar Sumbernya. Kita tidak perlu mencari kekuatan di lereng-lereng  gunung, di gua-gua yang singup, disamping batu-batu yang besar atau di bawah pohon-pohon yang rimbun dan angker. Tidak. Sebab Sumber dari segala Hidup dan Kekuatan itu seolah-olah mata air yang mengalir ke segenap penjuru. Ke segenap saluran. Dan kita adalah salah satu dari saluran yang diciptakannya pula. Dengan demikian apabila kita membuka bendungan, segera aliran itu akan membasahi diri kita. Soalnya, apakah kita mampu membuka bendungan itu cukup lebar. Dan untuk melakukannya, untuk mendapatkan aliran yang cukup, kita harus berusaha dan memohon. Berusaha dan memohon. Berusaha sebagai kenyataan kesungguhan dari permohonan itu. Dan itu tidak perlu dilakukan di tempat-tempat yang angker. Kita dapat melakukannya di sembarang tempat. Bahkan di tengah-tengah pasar sekalipun asal kita mampu memusatkan kehendak dan setiap getaran di dalam diri, untuk melakukannya.”

Sekali lagi Sumangkar berhenti. Seakan-akan ia ingin mengetahui, apakah Sekar Mirah dapat menangkap dan mengendapkan kata-katanya. Sejenak kemudian Sumangkar itu berkata pula. “Tetapi ngger, kadang-kadang kita memang memerlukan tempat yang sepi dan tersendiri. Bukan karena kita memerlukan bantuan kekuatan-kekuatan yang ada dalam kesepian dan kesendirian, bukan karena kita tidak percaya bahwa Sumber kita cukup kuat, sehingga kita mencari sumber yang lain meskipun sumber itu dialiri oleh kekuatan hitam, tidak. Kalau kita menyepi dan menyendiri itu adalah sekedar usaha supaya pemusatan pikiran dan seluruh kehendak dapat menjadi bulat dan bersungguh-sungguh menghadap kepada Sumber Hidup kita untuk memohon agar kita diperkenankan mengungkapkan kekuatan-kekuatan yang ada di dalam diri kita atas kurnia-Nya. Sudah tentu, dengan janji di dalam diri, bahwa tujuan daripadanyapun tidak menyimpang dari jalan yang ditunjukkannya.”

Perlahan-lahan Sumangkar melihat Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya meskipun ia tidak seluruhnya dapat mengerti keterangan Sumangkar itu, namun ia dapat merasakan dan menghayatinya. Meskipun dari sorot matanya, Sumangkar masih melihat keragu-raguan.

“Apakah kau ragu-ragu ngger ?” orang tua itu bertanya. “Mungkin kau bertanya di dalam hati, seandainya demikian, kenapa kekuatan-kekuatan itu sering berbenturan?”

Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi sebagian terbesar dari dugaan Ki Sumangkar itu benar. Ia memang menyimpan pertanyaan itu di dalam hatinya.

“Sekar Mirah,” berkata Sumangkar itu pula, “seandainya kita bersama-sama memiliki pengertian yang sama dan penilaian yang sama tentang kebenaran, maka kita pasti tidak akan bertengkar satu sama lain kecuali dengan orang-orang yang sengaja mengambil kekuatan dari dunia yang hitam. Tetapi kenyataan yang terjadi, kita yang merasa diri kita bersama-sama mencari kekuatan dari Sumber hidup kita, masih juga berbenturan. Itulah kekurangan manusia. Betapapun manusia merasa dirinya mumpuni, tetapi manusia tidak akan dapat mengenal kebenaran yang mutlak. Rahasia kebenaran ini tidak akan dapat dikuasal oleh manusia yang manapun, selagi ia masih terikat dengan hidup duniawinya. Adalah picik sekali, apabila seseorang menganggap dirinya benar mutlak dan oran lain salah mutlak Tetapi sekali lagi kita dihadapkan pada kekurangan manusia, kebodohan, kekerdilan dan kesombongannya. Meskipun disadarinya juga bahwa tidak dapat digayuhnya kebenaran yang mutlak, namun selalu saja kita saling menyalahkan orang lain dan menggenggam kebenaran menurut penilaian diri.”

Wajah Sekar Mirah menjadi semakin tegang. Ia mencoba mengerti arti kata-kata Sumangkar. Namun tidak seluruhnya dapat dicernakannya. Meskipun demikian, ia dapat menjajagi maksud Ki Sumangkar.

“Nah Mirah,” berkata Sumangkar itu kemudian, “aku terlampau banyak berbicara. Aku bukan orang yang bersih dalam hidupku. Aku adalah seseorang yang baru saja mendapat pengampunan karena aku ikut melawan kekuasaan Pajang karena kebodohan dan kesombonganku.” Orang tua itu berhenti sejenak, tetapi dari sorot matanya terpancar perasaan yang aneh. Namun tidak terucapkan. Sebenarnya bahwa di dalam dada Sumangkar tersimpan pula perasaan yang tidak dapat lepas daripadanya, bahwa orang-orang Pajangpun seperti juga dengan dirinya, bodoh dan sombong. Sehingga benturan diantara saudara, Pajang dan Jipang dapat terjadi.

Tetapi Sumangkar itu menggelengkan kepalanya. Katanya di dalam hati, “Mudah-mudahan kata Ki Gede Pemanahan itu benar, bahwa ia bertempur tidak karena perasaan benci. Ia bertempur karena cintanya kepada sesama, kepada orang-orang Pajang dan Jipang, kepada rakyat Demak seluruhnya. Agar mereka terlepas dari kekuasaan yang tidak sewajamya. Tetapi bagaimanapun juga Ki Gede Pemanahan itu masih juga tidak dapat melepaskan diri dari hidup duniawinya.”

Sumangkar itu terkejut ketika tiba-tiba saja ia mendengar suara Sekar Mirah bertanya kepadanya, “Kiai, apakah Kiai berkata sebenarnya bahwa akupun dapat melakukan seperti yang Kiai lakukan itu?”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya, “Ya, ya ngger. Kau akan dapat berbuat seperti itu apabila kau berkeinginan dengan sungguh-sungguh.”

“Tentu Kiai, aku berkeinginan sungguh-sungguh. Apakah aku dapat belajar untuk itu?”

Sumangkar tersenyum, jawabnya, “Apakah kau ingin belajar?”

“Ya Kiai. Aku ingin. Aku tidak mau menjadi seseorang yang hanya dapat menggantungkan diriku sendiri kepada orang lain. Kepada ayah dan kepada kakang Swandaru. Kalau aku dapat berdiri sendiri, setidak-tidaknya menjaga diriku sendiri, maka aku akan senang sekali.”

“Ya ngger. Tetapi sebelumnya kau harus mengetahuinya, bahwa sebelum sampai ketingkatan itu, kau harus bekerja keras. Belajar dan berlatih. Kau akan masuk ke dalam cara hidup yang berbeda dengan yang selama ini kau jalani. Kau tidak akan lagi tenggelam dalam kesibukan di dapur, meskipun itu tidak akan dapat kau tinggalkan sebagai seorang gadis. Betapapun juga, kau tetap seorang gadis yang harus melakukan pekerjaan dari seorang gadis dan kelak seorang ibu. Tetapi sebagian waktumu akan kau pergunakan untuk belajar dan berlatih. Kau akan menjadi lelah dan bermandikan keringat. Kau akan kehilangan banyak waktu untuk bermain-main dengan gadis-gadis sebayamu. Kau akan kehilangan waktu untuk membuat permainan Nini Towong, untuk melihat siwur yang melonjak-lonjak, karena kau sendirilah yang harus melonjak-lonjak.”

“Ya Kiai. Tentu aku sanggup melakukannya. Aku sudah semakin besar, dan aku sudah tidak pantas lagi ikut bermain Nini Towong. Bahkan permainan apapun lainnya.”

Sumangkar terdiam sejenak. Dipandanginya wajah gadis itu. Lalu katanya, “Tetapi kau adalah seorang gadis ngger. Kau tidak dapat  mengambil keputusan sendiri seperti kakakmu Swandaru. Kau harus minta ijin kepada ayah dan ibumu.”

“Ah, itu tidak perlu Kiai. Aku sudah cukup dewasa untuk menentukan jalanku sendiri.”

Sekar Mirah menjadi kecewa ketika ia melihat Sumangkar menggelengkan kepalanya. “Ini bukan sekedar bermain-main ngger. Kau harus menjalani cara hidup yang jauh berbeda. Dan untuk itu ayah dan ibumu harus tahu dan mengijinkannya.”

“Tidak perlu Kiai. Tidak perlu. Bagaimana seandainya ayah dan ibu tidak mengijinkannya.”

“Kalau ayah dan ibumu tidak mengijinkannya, kaupun harus mundur.”

“Tidak. Tidak. Aku tidak mau mundur. Aku harus berjalan terus seperti yang aku inginkan.”

“Ini adalah ujianmu yang pertama Sekar Mirah. Untuk menjadi seorang murid yang baik, kau harus menunjukkan sikap yang baik. Akupun akan mencoba memilih murid yang baik, yang patuh kepada guru dan orang tuanya. Apabila terhadap guru dan orang tuanya sudah tidak ada kepatuhan, maka apakah ia kelak akan dapat mematuhi segala macam nasehat dan petunjuk dari guru dan orangtua itu, apabila kita telah berpisah? Katakan misalnya, apabila aku yang tua ini dan ayah bundamu telah tiada ?”

“Oh,” Sekar Mirah berdesah perlahan sekali. Sumangkar tidak segera melanjutkan kata-katanya. Dilihatnya Sekar Mirah menundukkan kepalanya. Kata-kata Sumangkar itu ternyata tepat menyentuh dinding-dinding hatinya. Karena itu, maka untuk sesaat mulutnya seakan-akan terbungkam.

“Nah, Sekar Mirah,” kemudian Ki Sumangkar berkata perlahan-lahan, “cobalah berbicara dengan ayah dan ibu. Kalau kau mampu menjelaskan keinginanmu dan perasaanmu, maka aku kira mereka tidak akan berkeberatan. Tetapi ingat, sebagai seorang anak kau harus patuh terhadap orang tua. Itu adalah pernyataan terima kasihmu kepada mereka yang telah melahirkan, mengasuh dan membesarkan kau. Kau mengerti?”

“Ya Kiai,” sahut Sekar Mirah lambat sekali, suaranya seakan-akan bergetar di dalam kerongkongannya saja. “Aku akan minta ijin kepada ayah dan ibu.”

“Kalau kau dapatkan ijin itu Mirah, maka kita akan segera mulai, sebelum aku menjadi semakin keriput dan tidak mampu lagi berbuat apa-apa. Kakakmu Swandaru selalu memilih tempat di samping Gunung Gowok untuk berlatih. Tempat itu cukup luas dan sepi. Hampir tidak menarik perhatian dan terlindung pula.”

“Ya Kiai. Sekarang juga aku akan menemui ayah dan ibu.”

“Hati-hati. Jangan memaksa dan menyakiti hatinya. Bagi Sangkal Putung masih belum lazim seorang gadis mempelajari ilmu bela diri. Karena itulah maka kau pasti akan menghadapi banyak kesulitan. Tetapi apabila ayah dan ibumu mengijinkannya, maka kesulitan itu satu-satu akan kau langkahi.”

“Ya Kiai.”

“Sekarang cobalah minta ijin ayah dan ibumu. Mudah-mudahan mereka mengerti, bahwa kau selalu terancam bahaya. Kalau kau sedikit banyak mampu menjaga dirimu sendiri, maka ayah dan ibumu tidak selalu gelisah apabila kau tidak berada disisi mereka.”

“Baiklah Kiai,” sahut Sekar Mirah, “aku akan berkata kepada ayah dan ibu. Mudah-mudahan aku diijinkan.”

Gadis itupun segera meninggalkan Ki Sumangkar mencari ayah dan ibunya. Kedua orang tuanya itu terkejut melihat sikapnya yang tampak gelisah dan tergesa-gesa.

“Apakah yang terjadi ?”

“Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting kepada ayah dan ibu bersama-sama,” Sekar Mirah berkata dengan serta merta tanpa kata-kata pendahuluan.

“Apakah yang penting itu?”

“Tentang diriku. Bukankah aku sudah besar.”

Kedua orang tuanya mengerutkan alisnya. Mereka menduga-duga maksud perkataan anaknya. Yang mula-mula tergetar didada mereka adalah, Sekar Mirah merasa dirinya seorang gadis dewasa dalam hubungannya dengan Agung Sedayu.

“Bukankah begitu ayah. Bukankah aku sudah cukup dewasa.”

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kalau kau sudah dewasa, lalu apakah maksudmu Mirah, kau adalah seorang gadis. Meskipun kau sudah dewasa, kau tetap seorang gadis.”

Dada Sekar Mirah berdesir mendengar jawaban ayahnya. Terbata-bata ia berkata, “Justru aku seorang gadis ayah.”

“Oh,” ayahnya menjadi heran mendengar jawabnya, “kenapa justru seorang gadis. Seorang gadis harus bersikap sopan dan halus. Kau tidak boleh berbuat  sekehendak hatimu Mirah, betapapun perasaanmu dicengkam oleh suatu keinginan.”

“Apakah sebenarnya perbedaan seorang gadis dan seorang anak laki-laki? Ayah, aku memerlukannya. Hidupku selama ini selalu diancam oleh bahaya.”

“Maksudmu Sidanti?”

“Ya, ayah. Aku harus mendapat ketenteraman, Karena itulah aku akan melakukannya.”

“Apapun yang terjadi atas dirimu Mirah. Tetapi itu tidak pantas. Kau tidak dapat berbuat sehendak hatimu, menuruti perasaanmu. Kau seorang gadis. Ingat, kau seorang gadis. Aku sudah selalu memperingatkan kau, bahwa ada perbedaan menurut tata kesopanan antara seorang gadis dan seorang anak laki-laki. Tata kesopanan itu sampai saat ini masih kita junjung tinggi. Kalau kau kemudian kehilangan sifat-sifatmu sebagai seorang gadis, maka alangkah cemarnya namamu dan nama keluargamu. Kau menjadi gadis yang tidak berharga lagi.”

“Ayah,” potong Sekar Mirah, “kenapa dengan demikian aku menjadi tidak berharga, bahkan mencemarkan nama ayah dan ibu, bahkan seluruh keluarga? Tidak ayah, bahkan sebaliknya, Aku akan mengangkat nama keluarga. Lebih daripada itu, aku tidak akan selalu menggantungkan nasibku kepada ayah, ibu dan kakang Swandaru Geni.”

“Tetapi caramu, Mirah. Caramu, yang tidak aku setujui. Kau adalah seorang gadis. Sekali lagi, kau adalah seorang gadis. Kau mempunyai sifat kodrati yang berbeda dengan seorang anak laki-laki. Kau mempunyai kedudukan yang telah diatur dalam adat dan kebiasaan. Kau harus tunduk Mirah.”

“Oh, terlalu. Itu terlalu sekali ayah.” tiba-tiba Sekar Mirah tidak dapat mengendalikan perasaannya. Air matanya mulai meleleh di pipinya.

“Mirah,” terdengar suara ibu Sekar Mirah sareh, “ingatlah Mirah, meskipun kau hanya anak seorang Demang, tetapi kau harus tetap menjaga namamu Aku tidak menolak pilihanmu itu Mirah, tetapi lebih baik kau diam. Lebih baik kau tidak berbuat sesuatu lebih dahulu.”

“Bagaimana hal itu dapat terjadi ibu, kalau aku hanya berdiam diri. Tidak. Aku harus berbuat sesuatu. Aku harus berbuat supaya itu dapat terjadi.”

“Tidak Mirah,” Ki Demang Sangkal Putung pun kemudian menjadi semakin keras. “Kau tidak boleh berbuat apa-apa. Kau harus menunggu. Kalau benar  Agung Sedayu dan kau telah bersepakat untuk hidup bersama, biarlah ia datang kepadaku, bersama dengan kakaknya atau pamannya. Ia harus menyatakan kenginannya lebih dahulu. Baru kau berbuat sesuatu. Sebelum itu, aku melarang kau berbuat apapun untuk kepentingan itu.”

Hampir-hampir  Sekar Mirah memekik mendengar kata-kata ayahnya. Sejenak ia berusaha menahan gelora di dadanya. Kedua tangannya menutup wajahnya yang menjadi kemerah-merahan.

Ibunya terkejut melihat tanggapan yang tiba-tiba terjadi pada anaknya. Seolah-olah kata-kata ayahnya telah langsung memukul perasaannya, sehingga anak itu merasa terguncang karenanya. Karena itu, maka runtuhlah ibanya. Sebagai seorang ibu, maka perasaannya menjadi lebih cepat cair daripada ayahnya. Perlahan-lahan Nyi Demang bergeser mendekatinya dan membelai rambutnya. Katanya sareh, “Tenangkan hatimu Mirah.”

Tetapi Sekar Mirah tidak mengucapkan sepatah katapun. Gadis itu masih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Kami bermaksud baik Mirah,” berkata ibunya pula, “bukan maksud kami melarangmu.”

Sekar Mirah masih berdiam diri.

Yang terdengar adalah suara ayahnya berat, “Aku terpaksa, Mirah. Aku terpaksa berbuat demikian untuk kepentinganmu dan kepentingan keluargaku. Siapapun angger Agung Sedayu, seandainya ia putera Sultan sekalipun, ia harus tahu menempatkan dirinya sebagai seorang laki-laki.”

Kedua suami isteri itu terkejut bukan buatan ketika mereka melihat Sekar Mirah itu tiba-tiba meloncat. Dengan sekuat-kuat tenaganya dicubitnya lengan ayahnya. Tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali. Hampir berteriak gadis itu berkata, “Ayah berbicara sekehendak ayah saja. Aku tidak tahu apa yang ayah katakan.”

“Mirah, Mirah,” ayahnya mengaduh, “jangan Mirah. Tetapi kenapa kau sebenarnya ?”

Ibunya yang duduk dengan mulut ternganga tidak dapat berbuat apa-apa, seolah-olah ia menjadi beku ditempatnya.

“Mirah, kenapa kau?” Ayahnyapun kemudian hampir berteriak pula kesakitan. “Dengarlah aku. Tenanglah. Jangan mengamuk begitu.”

“Ayah berbicara sekehendak sendiri, menurut kesenangan ayah saja. Aku sama sekali tidak berbicara tentang Agung Sedayu. Apa peduliku atas anak muda itu. Aku berbicara tentang diriku sendiri. Tentang Sekar Mirah. Tidak tentang orang lain.”

Ki Demang Sangkal Putung suami isteri menjadi bingung. Mereka saling berpandangan sejenak. Ketika Sekar Mirah kemudian menjadi tenang dan duduk sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam Ki Demang bertanya, “Aku tidak mengerti Mirah. Aku tidak mengerti sikapmu kali ini.

“Aku juga tidak mengerti apa yang ayah katakan.”

“Mirah,” ayahnya mengerutkan keningnya, “bukankah kau mengatakan bahwa kau kini sudah dewasa ?”

“Ya, dan apakah hubungannya antara kedewasaanku dengan Agung Sedayu?”

Sekali lagi Ki Demang Sangkal Putung menjadi terdiam. Sekali lagi kedua suami isteri itu saling memandang dengan sorot mata yang memancarkan seribu macam pertanyaan yang bergetar di dalam dada mereka.

“Ayah,“  tiba-tiba suara Sekar Mirah menjadi renyah dan tiba-tiba saja gadis itu tidak menangis lagi. “Aku tidak berbicara tentang orang lain. Aku berbicara tentang diriku sendiri.”

Ayahnya masih belum menjawab.

“Aku ingin dapat melindungi diriku sendiri ayah. Setiap waktu aku terancam bahaya, aku ingin dapat menyelamatkan diriku sendiri. Setidak-tidaknya aku dapat memperpanjang waktu sebelum aku mendapatkan pertolongan.”

Ayahnya masih tetap berdiam diri.

“Aku sudah menemui Ki Sumangkar.”

Ayah dan ibunya mengerutkan keningnya.

“Ayah dan ibu jangan cemas, aku tidak akan ngunggah-unggahi untuk melamar Ki Sumangkar.”

“Ah,” ayahnya berdesah.

“Ki Sumangkar telah menyatakan kesanggupannya untuk menuntun aku dalam tata bela diri. Asal ayah dan ibu mengijinkan.”

Ki Demang suami isteri menarik nafas dalam-dalam.

“Ki Sumangkar pun telah berjanji untuk melakukannya di tempat yang terasing. Seperti yang sering dilakukan oleh kakang Swandaru, di dekat Gunung Gowok.”

“Oh,” sekali lagi ayahnya berdesah, “kau membuat kepalaku hampir terlepas Mirah. Kau membuat aku dan ibumu menjadi sangat bingung.”

“Salah ayah dan ibu sendiri. Aku belum selesai berbicara, ayah dan ibu seolah-olah telah tahu persoalannya. Akupun ternyata keliru menangkap kata-kata ayah dan ibu.”

“Kau tidak mengatakannya tentang itu, tentang ilmu tata bela diri.”

“Aku kira ayah telah mengerti maksudku, atau mendengar ketika aku berbicara dengan Ki Sumangkar, sehingga dengan tergesa-gesa ayah melarang.”

Ki Demang menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau memang selalu membuat kepalaku menjadi pening, sejak Sidanti ada di halaman ini. Kemudian kehadiran angger Agung Sedayu. Lalu kau hilang, dan sekarang kau membuat aku hampir kehilangan akal.”

“Nah, bukankah sekarang ayah tahu persoalannya? Mudahnya, aku akan berguru kepada Ki Sumangkar. Meskipun aku seorang gadis. Tetapi hal ini akan dapat dirahasiakan. Tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Setidaknya, orang yang mengetahuinya sangat  terbatas.” Sekar Mirah berhenti sebentar, lalu, “Boleh ayah. Boleh bukan?”

“Hem,” ayahnya menggigit bibirnya, “kau aneh Mirah. Sebenarnya hal yang kau sebut itupun tidak biasa dilakukan oleh gadis-gadis.”

Wajah Sekar Mirah yang sudah mulai cerah, kini menjadi suram kembali. Dipandanginya wajah ayahnya yang tampaknya masih disaput oleh kebingungan dan keragu-raguan. Seperti anak-anak  yang dihadapkan pada teka-teki yang sangat sulit, kedua suami isteri itu duduk tanpa berkisar sejengkalpun. Kadang-kadang mereka saling berpandangan dan kadang-kadang ibu Sekar Mirah itu memandangi wajah puterinya dengan mulut ternganga. Sedang Ki Demangpun selalu bertanya-tanya di dalam dirinya “Apakah sebenarnya kemauan anak ini ?”

Sejenak kemudian mereka mendengar suara Sekar Mirah, “Jadi bagaimana ayah, boleh bukan? Aku akan dapat banyak berbuat untuk diriku sendiri, untuk keluarga, bahkan untuk Sangkal Putung. Bukankah dengan demikian aku tidak akan merendahkan namaku dan nama keluargaku. Meskipun hal ini masih belum biasa terjadi, tetapi bukankah tidak menjadi pantangan seperti orang gadis yang melamar laki-laki bakal suaminya?”

“Ah,” sekali lagi Ki Demang berdesah.

“Boleh bukan ayah ?”

Ki Demang Sangkal Pulung yang masih saja ragu-ragu dan bingung itu akhirnya tidak dapat lagi mengelakkan desakan Sekar Mirah yang mengalir seperti bendungan pecah. Sehingga akhir ia berkata, “Baiklah Mirah. Aku tidak berkeberatan. Tetapi jaga dirimu baik-baik. Sekali lagi aku peringatkan, kau seorang gadis. Kau harus tetap dapat menjaga dirimu sebagai seorang gadis. Meskipun seandainya kemudian kau berhasil memperoleh ilmu tata bela diri yang baik, tetapi kau tidak boleh melupakan dirimu sendiri. Kau harus tetap memegang adat kesopanan dalam tindak tanduk, tingkah laku dan tutur kata. Aku tidak akan berbangga melihat kau, sebagai seorang gadis, meskipun kau memiliki kecakapan seperti laki-laki dalam tata bela diri, tetapi lalu bersikap seperti laki. Apalagi apabila kau menjadi sombong dan setiap saat ingin mencari saluran untuk menunjukkan kelebihanmu.”

“Itulah ayah, aku telah mengatakan, bahwa aku telah dewasa, telah cukup mengerti untuk membuat pertimbangan-pertimbangan tentang baik dan buruk. Dewasa tidak saja dalam pengertian bentuk jasmaniah, tetapi juga dewasa dalam berpikir dan berbuat.”

“Kata-katamu seperti kata-kata orang dewasa yang sebenarnya. Baiklah Mirah. Tetapi ingat selalu pesan ayah dan ibu. Kau tetap seorang gadis, meskipun kau mampu menangkap angin.”

“Tentu ayah, aku tidak akan berubah menjadi laki-laki. Aku tetap seorang gadis.”

“Maksudku dengan tingkah laku seorang gadis. Dengan sikap dan sifat seorang gadis. Kau mengerti ?”

“Tentu ayah. Aku mengerti,” sahut Sekar Mirah dengan serta merta. Lalu, “Sekarang aku akan menemui Ki Sumangkar, Ayah. Aku akan berkata kepadanya bahwa ayah tidak berkeberatan.”

“Tunggu Mirah. Aku masih belum selesai.”

“Apa lagi ayah? Aku sudah cukup. Aku akan menyampaikannya kepada Ki Sumangkar.”

“Tunggu Mirah,” potong ayahnya. Tetapi Sekar Mirah telah meloncat. berdiri. Ketika beberapa langkah ia berlari, ia mendengar ayahnya berkata, “Itu pertanda bahwa kau masih belum dewasa Mirah.”

Sekar Mirah tertegun dimuka pintu. Perlahan-lahan ia memutar diri menghadap kepada ayahnya. Dan ia mendengar ayahnya berkata, “Kau sebenarnya masih terlampau kanak-kanak. Kau masih belum dapat mengendapkan perasaanmu dan berbuat dengan tenang. Kau masih selalu dikuasai oleh perasaanmu yang melonjak-lonjak itu Mirah.”

Dada Sekar Mirah menjadi berdebar-debar.

“Tetapi baiklah. Kau ingat-ingat saja pesan ayah dan ibu dan bahkan kata-katamu sendiri, bahwa kau telah mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.”

“Ya ayah,” sahut Sekar Mirah.

“Pergilah. Hati-hati.”

“Terimakasih ayah.” Sekar Mirah itupun kemudian melangkah keluar. Tetapi ia tidak berlari-lari lagi. Langkahnya dibuatnya menjadi perlahan-lahan namun mantap. Ia ingin menjadi seseorang yang benar-benar  telah dewasa, tindak  tanduk dan cara berpikir.

Sumangkar bergembira pula mendengar keputusan ayah dan ibu Sekar Mirah. Sambil tersenyum ia berkata, “Akupun akan menemui ayah dan ibumu ngger. Aku harus berbicara dengan mereka supaya kelak tidak ada persoalan yang dapat mengejutkannya.”

“Silahkan Kiai,”  jawab Sekar Mirah,” tetapi cepatlah. Aku tidak sabar lagi. Aku merasa bahwa diriku seakan-akan telah mampu berbuat apa saja.”

“Jangan tergesa-gesa. Kau memerlukan waktu. Tidak hanya sehari dua hari. Tetapi setahun dua tahun.”

“Berapapun waktu yang diperlukan, tetapi bukankah lebih cepat lebih baik ?”

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Sumangkar tertawa, “Baiklah.  Tetapi aku harus bertemu dengan ayah dan ibumu dahulu.” Ternyata Sumangkar melakukan apa yang dikatakannya. Ia memerlukan secara khusus menemui Ki Demang Sangkal Putung suami isteri. Bahkan Widura diberitahukannya pula.

“Kami tidak berkeberatan,” berkata ayah dan ibu Sekar Mirah. Tetapi kami menuntut agar Sekar Mirah tidak kehilangan sifat-sifat kegadisannya dan kelak sifat-sifat keibuannya.”

“Aku akan mencobanya,” sahut Sumangkar.

“Mudah-mudahan paman berhasil,” sela Widura, “sebab Sekar Mirah kelak akan berhubungan dengan seorang laki-laki sebagai suami isteri. Kadang-kadang didalam hubungan keluarga sering terjadi persoalan-persoalan kecil yang harus dipecahkan. Kalau Sekar Mirah kehilangan sifat keibuannya, maka tidak mustahil akan terjadi pertempuran kecil-kecilan didalam lingkungan keluarga itu. Kalau keduanya kemudian lupa diri, akibatnya akan berbahaya.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti sikap Widura, karena mau tidak mau pemimpin pasukan Pajang di Sangkal Putung itu kelak akan berkepentingan. Sumangkar bukannya tidak tahu hubungan yang ada antara Agung Sedayu dan Sekar Mirah. Sebagai paman Agung Sedayu, Widura ingin mendapat gambaran yang baik bagi kemenakannya kelak. Karena itu, Sekar Mirah yang apabila tidak ada perubahan sikap dari kedua anak muda itu, akan menjadi menantu kemenakannya, diharapkannya akan menjadi seorang isteri yang baik, seorang ibu yang dapat mengerti tentang kedudukannya sebagai seorang ibu. Widura tahu benar sifat-sifat Agung Sedayu. Sifat yang lebih banyak dipengaruhi oleh sifat-sifat kanak-kanak yang dekat dengan ibunya.

“Angger Widura,” berkata Sumangkar kemudian, “aku akan berusaha sejauh mungkin, bahwa ilmu tata bela diri yang akan dipelajarinya tidak menghilangkan sifat-sifat keibuannya. Angger benar, bahwa apabila seorang gadis telah kehilangan sifat-sifatnya, maka ia tidak akan dapat menjadi ibu yang baik kelak. Padahal hari depan dari Kademangan ini dan dari seluruh Pajang, terletak ditangan angkatan yang bakal datang. Dan angkatan yang bakal datang itu akan lahir dari ibu-ibu.”

“Tepat,” sahut Widura, “kalau ibu-ibu tidak lagi dapat berbuat seperti seorang ibu, maka apakah yang akan terjadi pada masa-masa mendatang? Bagaimanakah dengan anak-anak yang bakal dilahirkan? Meskipun tidak seluruhnya akan dibebankan pada pertanggungan jawab seorang ibu, tetapi orang yang terdekat dari kanak-kanak dimasa kecilnya adalah ibu. Ibulah yang pertama-tama meletakkan dasar kejiwaan pada kanak-kanak itu.”

Ki Demang Sangkal Putung mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi agak berlega hali karena ternyata Sumangkar dapat mengerti maksudnya, bahkan Widura pun telah menambah penjelasan sesuai dengan keinginannya.

“Mudah-mudahan Sekar Mirah tidak melepaskan diri dari tanggung-jawab itu. Kelak, kalau ia menjadi seorang ibu, ia tidak hanya sekedar menjadi seorang ibu tanpa menghiraukan keibuannya. Apapun yang dapat dilakukan di luar dinding halaman rumahnya, tetapi yang terpenting adalah rumah itu bagi seorang ibu. Kita tidak akan dapat berbicara tentang angkatan mendatang tanpa berbicara tentang orang tua-tua yang mengisi angkatan kini. Kita tidak dapat berbicara tentang Sidanti tanpa berbicara tentang angkatan sebelumnya, Argapati, isterinya dan Ki Tambak Wedi. Dan kita tidak akan dapat berbicara tentang angkatan mendatang tanpa berbicara tenang anak-anak muda kini. Semakin tipis perhatian kita terhadap angkatan mendatang karena kesibukan kita dengan persoalan kita sendiri, maka semakin suramlah masa-masa mendatang itu,” gumam Widura seolah-olah ditujukan kepada diri sendiri. Dan tiba-tiba saja mendesak didadanya kerinduannya kepada keluarganya. Apakah ia termasuk orang-orang yang tidak bertanggungjawab kepada masa datang karena tidak sempat mendidik anak-anaknya? Dalam melakukan kewajibannya sebagai seorang prajurit, maka ia Iebih banyak berada diluar rumahnya.

“Tetapi aku percaya kepada isteriku,” desis Widura di dalam hatinya. “Isteriku mengerti akan tugasku. Ia telah menempatkan dirinya benar-benar sebagai seorang isteri prajurit. Ia telah menyisihkan segala macam kesenangan diri, meskipun isteriku masih terhitung belum terlampau jauh dari masa-masa mudanya.”

Widura menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tidak semua isteri dari mereka yang tidak sempat berada di lingkungan keluarganya berbuat baik. Isteri-isteri yang terlampau sering ditinggalkan oleh suaminya, karena tugas-tugasnya, dan kemudian isteri-istri itu tenggelam dalam kesibukan sendiri, maka anak-anak yang lahir dari keadaan yang demikian itu kadang-kadang kehilangan pengamatan. Dan anak-anak itu akan melakukan apa saja yang disenanginya. Baik atau buruk.

Demikianlah, maka Ki Demang Sangkal Putung telah mempercayakan Sekar Mirah kepada Sumangkar. Ki Demang Sangkal Putung suami isteri mengharap, bahwa Sumangkar akan benar-benar berhasil membuat anaknya menjadi seorang gadis yang mempunyai kecakapan yang baik untuk membela dirinya, tetapi tanpa melepaskan diri dari suasana kegadisannya.

Ternyata kepercayaan ini menjadi terlampau berat bagi Sumangkar. Apalagi pada dasarnya Sekar Mirah adalah seorang gadis yang terlampau manja, terlampau menghargai dirinya sendiri melampaui orang lain. Namun dengan sabar dan tekun Sumangkar menuntunnya.

Seperti yang dilakukan oleh Kiai Gringsing, Sumangkar setiap kali membawa Sekar Mirah ke Gunung Gowok yang kecil. Disamping puntuk itulah Sekar Mirah mulai menekuni ilmu yang diberikan oleh Sumangkar. Karena Sekar Mirah sama sekali belum mengenal ilmu semacam itu, maka Ki Sumangkar terpaksa menuntunnya dari permulaan sekali.

Tetapi Sekar Mirah benar-benar seorang gadis yang mentakjubkan. Tekadnya yang bulat telah banyak membantunya. Apapun yang harus dilakukan, dilakukannya dengan baik tanpa menghiraukan keadaan dirinya. Gadis itu seolah-olah tidak mengenal lelah. Tenaganya ternyata cukup kuat. Yang terpenting dari segalanya adalah kemauannya yang menyala-nyala.

Ia tidak mau untuk seterusnya selalu dihantui saja oleh Sidanti. Ia tidak mau bahwa pada suatu ketika ia akan diculik dan disembunyikan. Bahkan mungkin Sidanti yang telah kehilangan akal akan menjadi buas. Tidak saja menculik dan menyembunyikan, tetapi ia tidak mau membiarkan Sekar Mirah hilang lagi dari tangannya.

Itulah yang mendorong Sekar Mirah keras tanpa mengenal lelah. Kapan saja gurunya menyuruhnya. Dan apa saja yang harus dilakukannya. Hasratnya yang sangat besar telah membuatnya menjadi seorang murid yang sangat patuh. Seorang murid yang dengan tekun dan sebaik-baiknya melakukan perintah gurunya. Tetapi yang paling menarik bagi Sekar Mirah adalah latihan-latihan jasmaniah. Ia tidak begitu tertarik kepada nasehat-nasehat gurunya, meskipun tampaknya gadis itu mendengarkan dengan baik segala petuah Sumangkar.

Tetapi Sumangkar yang tua itupuh cukup tajam menangkap sikap muridnya. Karena itu ia tidak pernah mempergunakan waktu-waktu yang khusus untuk memberikan petunjuk kepada Sekar Mirah tentang jalan hidup yang harus ditempuhnya. Sebab jika demikian, maka Sekar Mirah menjadi gelisah. Ia ingin gurunya segera selesai dengan petunjuk-petunjuknya. Ia tergesa-gesa untuk segera mulai dengan latihan-latihan jasmaniah dan petunjuk-petunjuk tentang latihannya.

Sumangkar menyelipkan nasehat-nasehatnya justru pada saat Sekar Mirah sedang dibakar oleh gairah latihannya. Setiap kali, tidak jemu-jemunya. Setiap kali Sumangkar mempergunakan waktu-waktu yang sebaik-baiknya untuk kepentingan hari depan Sekar Mirah itu sendiri. Sumangkar tahu, bahwa kemauan yang keras dari gadis itu, selain karena sifatnya yang memang keras, juga karena dendam yang membakar dadanya. Dendam dan kecemasan, bahwa Sidanti akan datang lagi untuk mengambilnya. Tetapi bukan saja itu, bukan saja dendam dan kecemasan. Sekar Mirah juga diamuk oleh perasaan kecewanya terhadap Agung Sedayu. Agung Sedayu, orang yang telah berhasil menangkap hatinya, tetapi tidak bersikap seperti yang dikehendakinya. Ia ingin kelak menunjukkan kepada Agung Sedayu, bahwa meskipun ia bukan seorang laki-laki, tetapi ia akan dapat lebih bersikap jantan daripada Agung Sedayu yang seolah-olah selalu dibayangi oleh keragu-raguan dan kebimbangan.

Agung Sedayu yang diharapkannya itu ternyata tidak memberi kepuasan sikap kepadanya. Kepergiannya sama sekali tidak membayangkan tekadnya yang membaja untuk menangkap Sidanti, hidup atau mati. Bahkan yang diucapkannya adalah, “Mudah-mudahan aku selamat Mirah.”

“O,” Sekar Mirah setiap kali berdesis, “kalau kau hanya ingin selamat Sedayu, baiklah kau tinggal di dapur, menanak atau mengupas kulit melinjo. Tetapi tidak bagi laki-laki jantan. Ia tidak hanya sekedar berbuat supaya selamat. Tetapi seorang laki-laki harus berteriak lantang sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. “Gunung akan aku runtuhkan, dan laut akan aku keringkan.” Tetapi Agung Sedayu tidak berkata demikian. Tidak.” Sekar Mirah kian kecewa karena angan-angannya sendiri, lalu, “Biarlah aku lah kelak yang akan berkata kepadanya: Akulah yang akan membawa kepala Sidanti kepadamu, kakang.”

Semula, Sumangkar yang tua itu memang dirambati oleh kecemasan melihat dendam yang membara dihati Sekar Mirah. Ternyata latihan-latihan dan hasratnya telah didorong oleh perasaannya itu. Tetapi Sumangkar akhirnya menemukan juga cara, setidak-tidaknya untuk mengurangi api dendam yang telah mendidihkan darah gadis Sangkal Putung itu. Betapapun lambatnya.

Sementara itu, tiga sosok tubuh yang berjalan tertatih-tatih berada di dalam padatnya hutan Mentaok. Semakin lama semakin jauh. Wajah-wajah mereka yang tegang membayangkan dendam yang menyala di dalam dada mereka.

Mereka adalah Ki Tambak Wedi, Argajaya, dan Sidanti. Langkah mereka terasa terlampau berat, dan sekali-sekali Sidanti bergumam di dalam mulutnya, “Kenapa kita tidak bertemu dengan orang-orang gila yang sering menyamun di hutan ini ?”

“Untuk apa kau mencari mereka?” bertanya gurunya.

“Aku ingin melepaskan perasaan yang menekan dan hampir memecahkan dadaku.”

“Kau ingin membunuh, asal membunuh saja?”

“Supaya aku tidak mati karena dadaku sendiri yang seolah-olah mencekik jalan pernafasanku.”

Gurunya tidak menjawab. Mereka masih berjalan maju perlahan-lahan karena jalan yang mereka Ialui adalah hutan yang padat, yang dipenuhi oleh bermacam-macam tumbuh-tumbuhanan yang paling besar hingga yang paling kecil. Yang merambat dan berduri yang roboh malang melintang.

“Perjalanan ini telah benar-benar menyiksaku guru,” desis Sidanti itu kemudian.

“Aku sudah berkata kepadamu, bahwa perjalanan yang kita lakukan sama sekali bukan perjalanan yang akan memberi harapan bagi kita. Bukankah aku pernah mengatakan, apakah tidak lebih baik berbuat sesuatu, tanpa mengganggu ayahmu Argapati.”

“Bukan, bukan itu maksudku guru,” cepat-cepat Sidanti membantah. “Aku justru menjadi tersiksa karena perjalanan yang sepi. Aku tidak mendapat kesempatan untuk melepaskan perasaanku yang menyesak ini.”

Gurunya tidak menyahut. Dipandanginya kemladean yang menyangkut di cabang-cabang pepohonan. Kemladean yang menjadi semakin rimbun, tetapi batang-batang yang ditempelinya menjadi semakin keras.

Tiba-tiba Ki Tambak Wedi berdesis, “Bagaimana luka dipundakmu?”

“Sudah sembuh sama sekali guru. Bekasnya sudah hampir hilang sama sekali.”

Kemudian mereka terdiam. Argajaya sama sekali tidak bernafsu untuk ikut berbicara. Ia berjalan saja sambil menundukkan kepalanya. Tetapi meskipun demikian, hatinya tidak juga dapat melupakan dendam yang menyala. Kekalahannya yang terjadi berturut-turut benar-benar telah membuatnya mendendam sampai keujung ubun-ubun.

Tetapi mereka adalah laki-laki yang luar biasa. Laki-laki yang memiliki banyak kelebihan dari laki-laki lain. Karena itu, maka betapapun lebatnya hutan Mentaok, namun mereka sama sekali tidak gentar. Bahkan Sidanti menjadi terlampau kecewa karena perjalanan itu dirasanya terlampau sepi dan menjemukan. Ia akan menjadi senang sekali seandainya mereka bertemu dengan sekelompok penyamun. Namun mereka tidak menjumpainya.

Meskipun Ki Tambak Wedi dan Argajaya tidak berkata sesuatu, tetapi mereka menjadi heran pula, bahwa hutan ini serasa terlampau sepi. Biasanya, meskipun hanya sekali dua kali, mereka pasti bertemu dengan gerombolan-gerombolan penyamun yang selalu mengganggu diperjalanan.

Tetapi kali ini, sejak mereka memasuki hutan Tambak Baya serasa hutan-hutan ini menjadi sesepi tanah pekuburan.

“Kemanakah orang-orang yang biasanya berkeliaran di hutan-hutan ini? Daruka misalnya? Apakah mereka telah mati semuanya saling berkelahi diantara mereka?” desis Ki Tambak Wedi di dalam hatinya. Tetapi pertanyaan itu tidak dapat dicari jawabnya. Penyamun-penyamun yang paling kecilpun sama sekali tidak mereka jumpai pula diperjalanan itu.

Namun sejenak kemudian angan-angan Ki Tambak Wedi sudah tidak lagi terikat kepada hutan yang sedang dilaluinya. Berbeda dengan Sidanti, yang menyimpan harapan didalam dirinya. Semakin dekat dengan kampung halamannya, ia menjadi semakin segar. Tetapi kening Ki Tambak Wedi tampak semakin berkerut-merut. Banyak sekali persoalan yang bergulat didalam dirinya. Keragu-raguan, cemas, gelisah dan ketidaktentuan. Setiap kali teringat olehnya nama Argapati, maka setiap kali dadanya berdesir.

“Kita akan segera keluar dari hutan ini guru,” gumam Sidanti kemudian.

Seperti orang yang tersedar dari mimpi yang mencemaskan, Ki Tambak Wedi menyahut, “Ya, ya. Kita akan segera keluar dari hutan ini.”

“Kita akan segera dapat melepaskan diri dari siksaan dendam yang mencengkam dada kita,” Argajaya yang tidak banyak berbicara disepanjang perjalanan itu menyambung.

Ki Tambak Wedi tidak menjawab. Tetapi wajahnya dilukisi oleh kebimbangan hatinya yang semakin dalam.

“Bukan demikian Kiai ?” bertanya Argajaya.

“Ya, ya, demikianlah hendaknya.”

“Apakah Kiai masih juga ragu-ragu”

Ki Tambak Wedi tidak segera menjawab.

“Aku mengenal kakang Argapati luar dan dalamnya. Aku adalah adiknya. Kakang Argapati adalah seorang yang percaya kepada diri sendiri. Orang yang memiliki pengamatan yang tajam terhadap persoalan yang dihadapinya. Kalau Sidanti kelak mengatakan apa yang telah terjadi, dan Kiai membenarkannya, maka aku tidak akan ragu-ragu. Sidanti adalah putera satu-satunya bagi kakang Argapati. Ada seorang saudaranya, tetapi ia adalah seorang gadis. Dan kebanggaan kakang Argapati pasti tertumpah kepada Sidanti. Itulah sebabnya maka Sidanti diserahkannya kepada Kiai, karena kakang Argapati merasa bahwa Kiai lebih banyak menyimpan kemungkinan bagi Sidanti dihari depannya.”

Ki Tambak Wedi menarik nafas dalam-dalam. Matanya yang tajam setajam mata burung hantu itu tiba-tiba meredup. Orang tua itu tidak berpaling kearah Argajaya dan muridnya. Tetapi matanya menatap kekejauhan, menembus sela-sela dedaunan yang rimbun. Dan hatinyalah yang menyahut tanpa diucapkannya. “Tidak. Kau tidak tahu Argapati seluruhnya, meskipun kau adiknya.”

Argajaya heran melihat sikap Ki Tambak Wedi. Kalau Argapati telah menyerahkan Sidanti ke dalam tangannya, berarti Argapati mempunyai kepercayaan yang besar kepadanya. Dari hal itu terjadi karena Argapati pasti sudah mengenal Ki Tambak Wedi dengan baik dan sebaliknya. Tetapi agaknya Ki Tambak Wedi kini sedang dicengkam oleh kebimbangan.

“Mungkin Ki Tambak Wedi merasa bahwa ia telah gagal membentuk Sidanti menjadi seorang yang berpangkat didalam tata keprajuritan Pajang,” berkata Argajaya di dalam hatinya, “tetapi hal itu sangat tergantung kepada banyak hal. Tidak dapat disalahkan kepada Ki Tambak Wedi sepenuhnya.”

Sejenak mereka kemudian saling berdiam diri. Kadang-kadang mreka diganggu oleh suara binatang-binatang hutan yang maraung dikejauhan. Tetapi sebagian besar dari mereka, binatang-binatang buas itu, keluar dari sarang mereka dimalam hari.

Dalam keheningan itu terdengar Sidanti bergumam. “Kalau kita sudah keluar dari hutan ini, maka kita akan berjalan lebih cepat. Tetapi sebelum kita masuk ke Menoreh, kita harus menjadi orang-orang yang pantas berjalan di tanah perdikan ayahku itu.”

“Kau akan mencari pakaian disepanjang jalan?” bertanya Argajaya.

“Ya, tidak hanya untuk aku sendiri, tetapi untuk guru dan paman juga.”

Argajaya tidak menyahut lagi sedang gurunyapun masih berdiam diri. Dengan pakaian mereka yang kumal itu ternyata mereka tidak terlampau banyak menarik perhatian orang. Hanya karena mereka membawa senjata yang agak tidak lazim dibawa oleh orang-orang padesan sajalah yang kadang-kadang membuat beberapa orang mengawasi mereka sampai beberapa langkah. Orang-orang padesan, hampir setiap orang, memang selalu membawa golok. Bukan saja senjata untuk menghadapi binatang-binatang buas yang memang sering datang ke sawah dan ladang mereka, tetapi juga untuk memotong dan menebas kayu. Golok atau parang itu selalu terselip di pinggang mereka di dalam wrangka yang sederhana.

Tetapi ketiga orang ini membawa senjata-senjata yang lain. Pedang, tombak pendek dan senjata yang disembunyikan di dalam selongsong kain putih.

Beberapa orang dapat mencoba menjawab pertanyaan yang bergelut di dalam dada mereka tentang ketiga orang itu. Mereka adalah pemburu-pemburu binatang hutan. Tetapi yang lain mencurigai mereka sebagai orang-orang jahat yang berkeliaran mencari sasaran yang baik.

Tetapi apabila mereka telah sampai dikampung halaman sendiri, maka pakaian yang kumal dan bernoda darah itu akan justru menjadi pembicaraan. Mungkin mereka membuat tanggapan-tanggapan kehendak mereka sendiri. Mungkin mereka mengagumi, tetapi mungkin mencurigai.

Perjalanan seterusnya di dalam hutan itu hampir tidak menjumpai persoalan-persoalan yang berarti. Mereka hanya menjumpai rintangan-rintangan alam yang ketat dan padat. Tetapi mereka tidak bertemu dengan penyamun atau perampok-perampok kecil. Tetapi justru membuat mereka menjadi heran.

Akhirnya mereka itupun keluar dari hutan itu. Harapan Sidanti untuk bertemu dengan seseorang atau segerombolan penyamun tidak terpenuhi sampai pohon yang terakhir mereka lampaui. Sidanti tidak mendapat tempat untuk menumpahkan kemarah yang terendam di dalam dada bersama dendam dan kebencian.

“Sidanti,” berkata gurunya ketika mereka telah berada sebuah lapangan perdu. “Aku tidak ingin mengecewakan kau. Tetapi aku juga tidak ingin perjalanan ini terganggu. Kau jangan mencari-cari persoalan saja disepanjang jalan. Kau dapat berbuat sesuka hatimu di hutan Mentaok terhadap gerombolan penyamun dan perampok. Tetapi kau tidak dapat berbuat demikian dengan orang-orang lain yang akan kau jumpai diperjalanan ini. Kita akan segera menginjak padesan dan pedukuhan. Beberapa Kademangan dan sudah ada yang mengenal kau, atau angger Argajaya sebagai putera dan adik Kepala Tanah Perdikan Menoreh. Kala kau berbuat sesuka hatimu yang akan dapat menyakitkan hati mereka, maka berita itu akan segera tersebar sampai kepada orang Menoreh, mungkin akan sampai pula kepada keluargamu. Kepada ayahmu, Argapati.”

Sidanti mengerutkan keningnya. Tetapi ia menjawab, “Aku masih memerlukan pakaian tiga pengadeg guru. Buat aku, paman Argajaya, dan guru.”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Pendapat ini memang ada benarnya. Ia tidak akan dapat masuk ke tlatah Menoreh dengan keadaannya. Karena itu maka ia tidak segera dapat menjawab.

“Bagaimana guru?”

Ki Tambak Wedi menarik nafas dalam-dalam, Tetapi persoalan itu telah memukul dadanya seperti tangan-tangan yang keras dan kuat. Seorang yang mempunyai nama yang menakutkan dilereng Gunung Merapi terpaksa melakukan perampasan yang tidak berarti sekedar untuk berganti pakaian. Perbuatan itu tidak ubahnya dengan perbuaian pencuri-pencuri ayam yang takut kelaparan Tetapi keadaannya memang memerlukannya.

“Apakah tidak ada jalan lain Sidanti?”

“Membeli ? Atau menukarkan senjata kita?” sahut Sidanti yang hampir-hampir tenggelam dalam arus perasaannya.

“Hem,” Ki Tambak Wedi menarik nafas dalam-dalam. Hampir-hampir ia membentak anak muda yang kasar itu. Tetapi ia sadar, bahwa Sidanti sedang dicengkam oleh kekecewaan yang bertubi-tubi. Karena itu maka anak itu akan dapat menjadi semakin berputus asa apabila ia ikut pula menyakitkan hatinya.

Sesaat kemudian orang tua itu bertanya, “Lalu cara apakah yang akan kau lakukan Sidanti, seperti caramu yang pernah kau perbuat untuk mendapatkan bajumu itu?”

“Aku akan berbuat baik guru, tetapi kalau orang itu menentang maksudku, maka aku akan berbuat dengan kekerasan.”

“Hem,” sekali lagi Ki Tambak Wedi menarik nafas dalam-dalam.

“Aku tidak melihat cara lain,” gumam Sidanti.

Ki Tambak Wedi tidak menyahut lagi. Akhirnya ia tidak lagi mau memikirkannya. Kepalanya sendiri sudah cukup pening memikirkan apa yang akan terjadi nanti sesudah ia bertemu dengan Argapati. Pertemuan yang menggetarkan jantungnya. Banyak persoalan-persolan yang terpendam didalam dadanya. Tetapi apakah dengan kegagalan Sidanti ini, ia tidak akan menjadi semakin terdesak kedalam keadaan yang paling menyakitkan hati?

Mereka kemudian berjalan sambil berdiam diri. Masing-masing menyelusuri angan-angan sendiri. Tetapi ada kesamaan diantara mereka, kecewa, dendam, benci, dan kecemasan menghadapi masa datang.

Disepanjang jalan, Sidanti mencoba untuk menemukan rumah yang mungkin dapat dimasuknya. Rumah yang di dalamnya tersimpan pakaian yang diperlukan. Tetapi agaknya rumah yang bertebaran di padukuhan-padukuhan dan padesan-padesan kecil yang dilampauinya, tidak lebih dari rumah-rumah petani yang kekurangan.

“Gila,” gumamnya, lalu, “apakah tidak ada seorangpun yang cukup mampu untuk menyimpan tiga pengadeg pakaian?“

Gurunya dan pamannya tidak menyahut. Betapapun juga perasaan mereka masih terlampau berat untuk melakukan perampasan yang hina itu.

“Aku sudah tidak peduli lagi,” geram Sidanti, “tetapi aku harus masuk ke tanah ayahku sebagai putera Kepala Daerah Tanah Perdikan Menoreh.”

Tetapi disepanjang perjalanan mereka, mereka benar-benar tidak menjumpainya. Padesan demi padesan, sehingga mereka telah menjadi semakin dekat dengan tlatah Menoreh.

“Gila,” Sidanti menjadi semakin jengkel. “Di depan kita terbentang hutan rindang. Hutan perburuan dari keluarga kita. Kalau aku belum mendapatkan pakaian, bagaimanakah kalau aku bertemu dengan keluarga Menoreh diperburuan itu.”

“Kalau demikian, tidak apa-apa,” sahut Argajaya, “adalah kebetulan sekali. Mereka akan dapat mengerti keadaan kita yang sebenarnya. Merekalah yang harus mencari pakaian untuk kita sebelum orang-orang Menoreh melihat kita. Kita masuk ke Tanah Perdikan kita sebagai seorang anggota keluarga kakang Argapati.”

“Tetapi apa kata ayah tentang kita?”

“Tidak apa-apa. Justru kakang Argapati akan mengerti yang sebenarnya telah terjadi dan mempercepat tindakan yang akan diambilnya.”

Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih juga heran melihat gurunya berwajah semakin muram. Gurunya sama sekali tidak membayangkan harapan bahwa setelah mereka sampai di Menoreh maka mereka akan menemukan suatu kekuatan untuk melepaskan dendam yang membara di pusar jantung mereka. Bahkan semakin dekat dengan Pegunungan Menoreh, maka ia me jadi semakin diam dan penuh dengan kebimbangan.

Ternyata teka-teki itu telah menggelisahkan hati Sidanti pula. Namun Sidanti tidak akan dapat memaksa gurunya untuk mengatakan. la masih tetap menyangka bahwa gurunya merasa cemas tentang nasibnya, karena ternyata ia tidak dapat maju dalam keprajuritan Pajang, bahkan kini ia tersingkir sebagai buruan.

Satu-satu padesan telah mereka lampaui. Akhirnya mereka sampai ke hutan yang tidak begitu lebat. Hutan yang sengaja dipelihara untuk menjadi tempat berburu keluarga Kepala Tanah Perdikan Menoreh.

Sidanti mengenal daerah ini sebaik-baiknya. Ia sendiri sering melakukan perburuan di hutan ini dahulu, ketika ia masih terlampau muda, sebelum ia mengikuti gurunya ke padepokan Tambak Wedi. Meskipun itu telah bertahun-tahun lampau tetapi seolah-olah baru kemaren terjadi. Derap kaki-kaki kudanya dan beberapa orang pengiringnya memecah kesunyian butan ini. Beberapa ujung panah berterbangan mengejar binatang-binatang buruan yang berlari ketakutan.

“Hem,” Sidanti menarik nafas dalam-dalam. “Itu telah terjadi beberapa tahun yang lampau. Paman masih muda dan cekatan. Aku masih terlampau muda,” katanya didalam batin.

Sidanti menggigit bibirnya seperti kenangan yang menggigit jantungnya. “Menyenangkan sekali,” desisnya.

Namun kemudian Sidanti meninggalkan tanah perdikan ini. Meninggalkan ayahnya, tanah kelahiran dan kawan-kawan bermain lebih dari sepuluh tahun yang lampau.

Seolah-olah terngiang kembali pesan ayahnya ketika ia telah siap berangkat bersama gurunya ke padepokan Tambak Wedi, “Sidanti, kau adalah harapan masa depan dari Tanah Perdikan ini. Kau harus mampu membawa dirimu. Kau harus menurut segala petunjuk dan perintah gurumu, supaya kau tidak tersesat jalan.”

“Ah,“ Sidanti mengeluh. Apa yang sudah terjadi atas dirinya? Siapakah yang bersalah? Sidanti sendiri, atau gurunya, atau kedua-duanya?

Sidanti tidak berani mencari jawab. Digeleng-gelengkannya kepalanya untuk mengusir kenangan yang mengejar-ngejarnya. Ia ingin berdiri diatas kenyataannya. Dan ia akan melangkah ke depan dari keadaan yang ada kini. Ia tidak dapat berangan-angan dan tidak dapat melangkah surut kebeberapa tahun yang lampau. Tidak. Ia harus maju, seperti majunya waktu.

Sidanti tersadar ketika ia mendengar Argajaya berkata, “Kita harus bermalam di jalan semalam lagi, Kiai.”

Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Mungkin ngger. Tetapi kalau kita ingin berjalan tanpa diketahui orang, justru dimalam hari.”

Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya Kiai, dimalam hari kita dapat berjalan dengan aman, tanpa diketahui oleh siapapun juga. Sebelum fajar kita akan sudah sampai di rumah kakang Argapati.”

Tetapi tiba-tiba Sidanti itu memotong, “Tetapi aku tidak ingin masuk ke halaman rumah ayahku dengan keadaan serupa ini. Aku harus pantas menjadi seorang anak yang tidak memalukan orang tua. Mungkin para peronda melihat kita, dan mereka akan berbicara kepada orang-orang lain. Tidak sampai sehari semalam seluruh tanah perdikan akan berkata, “Sidanti datang ke rumahnya kembali sebagai seorang pengemis yang paling malang.” Tidak, aku tidak mau.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan? Merampas pakaian di tanah sendiri?”

“Aku dapat menyamar. Menutup mukaku dengan ikat kepala supaya aku tidak dikenal orang.”

“Mungkin karena kau sudah lama tidak berada di tanah ini. Tetapi bagaimana dengan aku?”

“Paman tidak perlu ikut. Biarlah aku lakukan sendiri.“

“Kau memang keras kepala Sidanti.” desis gurunya. Sidanti tidak menyahut. Tetapi gurunya menangkap sorot matanya. la tidak akan mengurungkan niatnya yang seolah-olah telah bulat, mencari pakaian yang baik untuk mereka bertiga.

“Bukan main anak ini,” desah Argajaya di dalam hatinya. Mereka telah berada di tlatah tanah sendiri. Bagaimana mungkin mereka dapat melakukannya. Apabila kemudian diketahui, bahwa yang melakukan itu adalah Sidanti, putera Argapati Kepala Tanah Perdikan Menoreh, lalu dimana Argapati harus menyembunyikan wajahnya.

Tetapi Sidanti benar-benar tidak mau mundur.

Ketika matahari menjadi semakin dalam terbenam di balik cakrawala, mereka telah sampai di ujung hutan itu. Sejenak lagi mereka akan keluar dan sampai ke padesan tlatah Menoreh. Padesan yang subur, yang diantara penghuninya ada beberapa orang yang cukup memberi kesempatan kepada Sidanti melakukan niatnya.

“Anak ini tidak dapat dicegah lagi,” desis Argajaya, “mudah-mudahan anak ini tidak melakukannya di rumah Kiai Sentol. Orang itu mengenal baik-baik siapakah aku. Aku sering singgah di rumahnya jika aku pergi berburu. Bahkan kakang Argapatipun tinggal di rumah itu pula untuk beristirahat setiap kali ia pergi berburu.”

“Kita berjalan terus guru,” desis Sidanti. Ia sudah tidak lagi banyak membuat pertimbangan-pertimbangan. Apalagi gurunya tidak sampai hati untuk menyakiti perasaan murid satu-satunya itu, sehingga dibiarkannya saja muridnya itu untuk menentukan sikapnya. “Semakin malam semakin baik. Aku akan mendapatkan pakaian itu. Siapa yang mencoba menentang, harus aku selesaikan.”

“Pakaian itu akan dikenal orang Sidanti. Bahwa pakaian itu milik seseorang. Apalagi kalau orang itu mencarinya dan orang lain mengatakan bahwa pakaian itu dipakai oleh Sidanti, pamannya, dan gurunya,” desis Ki Tambak Wedi.

“Kita berjalan di malam hari. Sebelum pagi kita harus sudah sampai di rumah. Dan kita akan segera mengganti pakaian yang kita rampas itu, untuk dibakar.”

Ki Tambak Wedi hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala mendengar jawaban muridnya. Sidanti memang keras kepala. la benar-benar tidak mau masuk ke halaman rumahnya dengan pakaian yang tidak pantas. Harga dirinya telah memaksanya untuk berkeras kepala, meskipun cara yang akan ditempuhnya dapat justru berakibat sebaliknya. Tetapi gurunya tidak akan dapat mencegahnya. Karena itu, maka sekali lagi Tambak Wedi membiarkannya saja berbuat sesuka hatinya, seperti yang dikehendakinya. Sikap Ki Tambak Wedi yang demikian, yang berulang kali telah dilakukan, untuk menanggapi persoalan-persoalan yang kecil maupun yang besar yang dilakukan oleh Sidanti, ternyata menjadi pendorong bagi anak itu untuk menjadi semakin keras kepala.

Sejenak kemudian mereka terdiam. Hanya langkah-langkah mereka sajalah yang terdengar gemerisik di atas tanah berbatu-batu. Sekali-sekali angin malam yang dingln berhembus mengusap tubuh-tubuh mereka yang berkeringat.

“Daerah ini masih belum banyak berubah sejak saat terakhir aku menjenguk keluargaku beberapa tahun yang lalu,” desis Sidanti kemudian untuk menghilangkan ketegangan yang mencemkam jantungnya.

“Ya,” sahut pamannya, “belum banyak perubahan. Jalan ini masih juga berdebu. Padesan yang kita lalui adalah padesan seperti lima tahun yang lalu.”

Sidanti mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia bergumam , “He, bukankah di ujung padesan ini ada sebuah rumah joglo yang besar dan baik?”

Dada Argajaya berdesir. Rumah joglo di ujung padesan ini adalah rumah Ki Sentol.

“Bukankah begitu pamam? Rumah itu cukup besar dan cukup bersih, sehingga isinyapun aku kira cukup banyak. He, bukankah kita pernah singgah dirumah itu pada saat-saat kita berburu dahulu?”

“Selalu Sidanti. Ayahmu selalu singgah di rumah itu apabila pergi berburu. Bahkan sekali-sekali bermalam pula disitu. Aku selalu singgah pula dirumah itu.”

Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba pula ia berdesis, “Aku akan mencari pakaian di rumah itu.”

“Sidanti,” dengan serta merta pamannya memotong, “jangan.”

“Kenapa?”

“Rumah itu selalu didatangi oleh keluarga ayahmu. Rumah itu seolah-olah telah menjadi pesanggrahan bagi keluarga kita apabila kita pergi berburu di hutan perburuan itu. Kau jangan menyakiti hatinya. Ia akan dapat menyampaikannya kepada kakang Argapati. Dan kau pasti tahu, bahwa kakang Argapati tidak senang kepada perbuatan-perbuatan yang demikian.”

“Tetapi orang itu tidak akan tahu siapa aku.”

“Jangan. Meskipun orang itu tidak tahu siapa kau karena kau dapat menutup wajahmu dengan ikat kepalamu misalnya atau dengan apapun, tetapi seandainya perbuatanmu itu tidak dapat diketahui orang meskipun lambat laun, maka kau pasti akan menyesal.”

“Bagaimana akan dapat diketahui paman? Sudahlah, jangan menjadi cemas. Aku tidak akan merampok apapun kecuali tiga pengadeg pakaian. Sesudah itu, kita akan berjalan dimalam hari. Kita masuk ke halaman rumah untuk menemui ayah sebagai orang-orang yang pantas menyebut dirinya keluarganya. Keluarga Kepala Tanah Perdikan Menoreh.”

“Terserah kepadamu Sidanti. Tetapi jangan di rumah itu.”

“Aku tidak ingin kehilangan kesempatan kali ini, paman. Kalau aku melepaskannya, mungkin untuk waktu yang lama aku tidak akan menemukan rumah sebaik itu. Semakin dekat dengan rumahku, maka aku akan menjadi kian sulit. Orang-orang disitu akan menjadi semakin besar kemungkinannya untuk mengenal aku.”

Argajaya menarik nafas dalam? Anak ini memang keras kepala.

“Sidanti, kalau kau hanya ingin tiga pengadeg pakaian saja maka aku kira kau tidak perlu masuk ke rumah joglo di ujung padesan itu. Rumah-rumah di desa ini cukup baik dan kemungkinan kau menemukan pakaian itu cukup besar.”

“Tetapi pakaian-pakaian kumal seperti yang kita pakai ini. Tidak. Aku harus mendapat pakaian yang pantas dipakai oleh seorang putera Kepala Tanah Perdikan, pamannya, dan gurunya.”

“Terserahlah kepadamu. Aku tidak akan ikut serta.”

“Akan aku lakukan sendiri. Paman dan guru sebaiknya menunggu saja di tempat yang terlindung. Aku yakin orang itu tidak akan mengenal aku.”

Argajaya menggeleng-gelengkan kepalanya. Anak ini memang anak bengal. Sejak kanak-kanak.

Rupanya Sidanti benar-benar akan melakukan maksudnya. Ketika mereka telah sampai di dekat rumah ujung jalan, yang terpancang di tengah-tengah halaman yang luas, ia berhenti. Kemudian dilepaskannya ikat kepalanya untuk menutupi wajahnya. Perlahan-lahan ia berdesis, “Tunggulah aku di luar desa ini paman. Aku akan membawa pakaian untuk paman dan guru. Aku akan masuk ke rumah ini untuk mencarinya.”

“Sidanti,” nada suara gurunya terlampau datar dan dalam. Sesuatu agaknya telah terlampau memberati hatinya. “Aku kira kau tidak hanya sekedar ingin masuk ke rumahmu sebagai seorang putera Argapati yang besar itu. Tetapi hatimu juga telah dikoyak oleh dendam yang tidak dapat kau tahankan lagi. Tetapi Sidanti. Aku pesan kepadamu, jangan berbuat-terlampau kasar. Tanah ini, adalah tanah ayahmu. Tanahmu sendiri. Dan kau telah sampai hati untuk menodainya. Kau telah terlampau mementingkan dirimu sendiri. Sidanti, jangan sampai kau terdorong oleh dendam di dalam dadamu sehingga kau kehilangan pengamatan diri dan berbuat sesuatu yang semakin menambah parah luka di dalam hati kita, supaya aku tidak kehilangan kesabaran dan bertindak sendiri atasmu yang keras kepala itu.”

Dada Sidanti berdentang mendengar ancamah gurunya itu. Sejenak wajahnya memerah seperti soga. Tetapi wajah itu kemudian menjadi pucat dan berkeringat. Ia sadar, bahwa gurunya telah hampir kehabisan kesabaran. Karena itu maka ia tidak berani membantahnya. Ia kenal benar sifat gurunya. Apabila ia kehilangan pengamatan diri, maka ia pasti benar-benar akan bertindak.

Karena Sidanti tidak segera menjawab, Ki Tambak Wedi menggeram, “Kau mengerti Sidanti?”

“Ya guru,” sahut anak muda itu.

Ki Tambak Wedi kemudian tidak berbicara lagi. Langkahnya menjadi semakin cepat, diikuti oleh Argajaya. Mereka seolah-olah tidak menghiraukan lagi, apa yang akan dilakukan oleh Sidanti.

Sidanti masih berdebar-debar mengingat kata-kata gurunya. Tetapi ia merasa, bahwa gurunya masih memberinya kesempatan. Karena itu, maka ia tidak mengikuti gurunya keluar dari desa. Ia tetap pada niatnya untuk mendapatkan pakaian, supaya ia pantas masuk ke dalam rumah ayahnya, Kepala Tanah Perdikan Menoreh yang besar dan kaya.

Sidanti kemudian berdiri termangu-mangu di muka regol halaman yang luas itu. Sejenak ia masih melihat bayangan gurunya dan pamannya berjalan menjauh. Tetapi bayangan itu kemudian seolah-olah lenyap ditelan gelap.

“Mereka akan menunggu aku di luar desa ini,” gumam Sidanti.

Ketika kedua bayangan itu telah hilang, maka terasa dada Sidanti menjadi lapang. Seolah-olah ia sudah tidak terikat lagi kepada kedua orang itu. Kini ia merasa bebas untuk berbuat sesuai dengan kehendaknya.

Sejenak ia berdiri tegak memandangi pintu regol halaman yang tertutup. Terasa dadanya diganggu oleh debar jantungnya yang menjadi semakin cepat. Tetapi sejenak kemudian ia sudah berhasil menguasai perasaannya.

Perlanan-lahan ia melangkah maju. Kini tubuhnya menjadi kemerah-merahan oleh sinar oncor yang terpasang di regol halaman. Namun terasa halaman itu terlampau sepi. la tidak melihat seorangpun yang berjalan di halaman. Sepi.

Dengan tangannya Sidanti menyentuh pintu regol. Ternyata pintu regol itu tidak dipalang dari dalam. Dengan hati-hati pintu itu didorongnya. Dan dengan hati-hati pula ia melangkah masuk.

Halaman rumah itu benar-benar sepi. Yang terdengar hanyalah gemerisik angin yang membelai dedaunan.

Sidanti merasa aneh. la adalah seorang yang hampir tidak pernah diganggu oleh perasaan takut. Tetapi kali ini merasakan sesuatu yang lain di dalam dirinya. Ia merasa seolah-olah diintai oleh sepasang mata yang selalu mengikutinya di dalam gelapnya malam.

“Aku diganggu oleh perasaanku,” katanya di dalam hati, “ini adalah akibat dari pesan guru dan keragu-raguan paman. Rumah ini adalah rumah Ki Sentol. Rumah seseorang yang telah mengenal keluargaku dengan baik. Tetapi kalau aku lampaui rumah ini, maka belum tentu aku akan menjumpai rumah seperti ini. Rumah yang menyimpan pakaian yang pantas untuk kami bertiga.”

Sidanti masih berdiri tegak ditempatnya. Kini ia menjadi ragu-ragu. Justru karena itu, maka perasaannya menjadi semakin mengganggunya. Seolah-olah di balik kegelapan itu benar-benar memancar sepasang mata yang tajam sedang mengawasinya.

“Gila,” geram Sidanti, “aku tidak takut. Biar seisi desa ini keluar dari rumahnya, mengeroyok aku bersama-sama, aku tidak akan takut.” Terdengar anak muda itu menggeretakkan giginya. Tetapi ia mendengar suara di dalam dirinya. “Ya, kau akan mampu membunuh semua laki-laki seisi desa ini. Tetapi kalau masih ada yang hidup seorang saja di antara mereka. Dan mengenal bahwa kau adalah Sidanti, putera Kepala Tanah Perdikan ini, maka apakah kira-kira kata orang tentang dirimu, tentang Sidanti putera Ki Gede Menoreh yang perkasa, yang disegani oleh rakyatnya?”

Sidanti menggelengkan kepalanya. Ia mencoba mengusir perasaan yang membelit jantungnya. Ia ingin membebaskan dirinya dari kegelisahan dan kebimbangan.

“Aku harus dapat melakukannya. Aku bukan laki-laki cengeng. Aku hanya memerlukan pakaian itu. Tidak yang lain-lain.”

Sekali lagi Sidanti menggeretakkan giginya. Tiba-tiba ia melangkah. Tetapi tidak mendekati pendapa yang remang-remang oleh cahaya pelita yang redup. Dengan tergesa-gesa ia meloncat ke tempat yang gelap terlindung oleh dedaunan.

“Setan,” ia menggeram, ”kenapa aku bersembunyi. Aku harus naik ke pendapa. Mengetuk pintu dan berkata terus terang. Aku membutuhkan tiga pengadeg pakaian yang baik. Itu saja. Sidanti mencoba mengatur detak jantungnya. Disapunya halaman itu dengan sorot matanya. Ia tidak melihat sesuatu. Ya, matanya tidak melihat sesuatu. Tetapi perasaannya selalu memperingatkan kepadanya, bahwa sepasang mata sedang mengintainya.

“Siapa? Siapa?” giginya sekali Iagi bergemeretak.

Darahnya tersirap ketika tiba-tiba ia dikejutkan oleh ringkik kuda dikejauhan. Di dalam kandang, di belakang rumah.

“Gila,” ia menggeram pula, “suara kuda itu mengejutkan aku. Kalau sekali lagi ia meringkik, aku patahkan lehernya.” Tiba-tiba debar di dadanya semakin keras memukul dinding jantungnya. “Apakah Ki Sentol atau seseorang anggota keluarganya sedang berada di kandang kuda itu?”

“Tidak. Aku harus datang sebagai laki-laki. Aku harus mengetuk pintu dan berkata berterus terang.”

Sidanti kemudian membulatkan tekadnya. la tidak akan gentar menghadapi apapun. Dengan langkah yang berat ia berjalan ke pendapa. Tetapi meskipun demikian, ia seolah-olah merasa bahwa seseorang sedang memandangnya. Firasat itu biasanya tidak terlampau jauh menyimpang.

Dan sebenarnyalah bahwa sepasang mata yang tajam sedang memandanginya dari ujung gandok rumah itu, dari tempat yang gelap.

Sepasang mata itu melihat bayangan yang mencurigakan masuk, ke dalam halaman. Meskipun tidak begitu jelas, tetapi mata itu melihat bahwa bayangan yang masuk regol itu menutup wajahnya dengan ikat kepalanya. Cahaya lampu yang redup di regol itu dan sinar yang lemah yang meloncat dari pendapa, sedikit dapat membantunya.

Adalah kebetulan sekali bahwa karena udara yang sesak ia berada di luar gandok rumah itu untuk mengisap sejuknya nafas malam di antara dedaunan yang bergoyang disentuh angin yang silir. Ketika ia melihat sesosok tubuh muncul dari balik pintu regol halaman, maka segera ia meloncat dengan lincahnya ke tempat yang terlindung. Apalagi ketika ia melihat orang yang masuk ke halaman itu terlampau mencurigakan.

Dengan tajamnya ia mengikuti segala gerak Sidanti. Ia melihat Sidanti berdiri termangu-mangu. Ia melihat Sidanti meloncat ke tempat yang gelap. Kemudian ia melihat Sidanti berjalan lambat ke pendapa.

“Siapakah yang ingin berbuat gila itu?” pertanyaan itu tumbuh di dalam hatinya.

Sejenak ia masih berdiri mematung. Tetapi ia sama sekali tidak melepaskan Sidanti dengan pandangan matanya yang bulat tajam.

Tanpa disengajanya tangannya meraba lambungnya. Kiri dan kanan. Sepasang pedang yang tipis tergantung di kedua belah sisi. Sepasang pedang yang hampir tidak pernah terlepas daripadanya, meskipun ia sedang tidur sekali pun jika tidak di rumahnya sendiri.

Dan malam ini ia tidak berada di rumahnya sendiri, ia adalah tamu Ki Sentol, pemilik rumah itu. Ia mendapat tempat di gandok bersama tiga orang temannya. Tetapi ia sendiri, berada di biliknya. Ketiga kawannya berada di bilik yang lain, sehingga saat itu ia sendiri pulalah yang perada di luar gandok.

Kini ia melihat Sidanti itu berdiri di depan tangga pendapa. Ia melihat di lambung Sidanti itu pun tergantung sebilah pedang. Tetapi ia tidak dapat melihat wajah yang tersembunyi di balik ikat kepalanya.

“Apakah aku harus menunggu orang itu naik ke pendapa dan masuk ke dalam pringgitan, atau berbuat apa saja?” katanya di dalam hati.

Sejenak ia menjadi ragu-ragu. Tetapi akhirnya ia berdesis lambat, “Aku harus mencegah sebelum ia naik. Lebih baik aku selesaikan saja orang itu sendiri. Mudah-mudahan aku tidak memerlukan kawan untuk menangkapnya dan menyerahkannya Kepada Ki Sentol nanti untuk diselesaikan.”

Tetapi ternyata orang yang bermata bulat tajam itu masih ragu-ragu. Apakah orang ini orang Ki Sentol sendiri?

“Mustahil,” gumamnya, “sikapnya dan tutup di wajahnya itu meyakinkan, bahwa orang itu bermaksud jahat.”

Akhirnya orang itu membulatkan hatinya. Ia harus menahan orang yang memakai tutup di wajahnya itu. Karena itu, maka segera ia membenahi pakaiannya. Disingsingkannya lengan bajunya, kain panjangnya dan dikuatkannya ikat pinggangnya.

“Aku harus mendapat gambaran tentang kemampuan orang itu,” katanya di dalam hati.

Maka diambilnya sebutir batu kerikil sebesar biji rambutan. Dengan kerikil itu ia ingin mengetahui, siapakah yang akan dilawannya.

Ketika ia sudah mendapatkan kerikil itu, maka segera ia meloncat dari kegelapan. Dengan teguhnya ia berdiri di alas kedua kakinya yang merenggang. Ia mengharap bahwa orang yang bertutup di wajahnya itu mendengar langkahnya.

Ternyata harapannya tidak sia-sia. Sidanti yang mendengar langkah halus itu segera meloncat, memutar tubuhnya dan menghadap ke arah suara itu. Darahnya tersirap ketika ia melihat sesosok bayangan berada di kegelapan.

Sebelum ia sempat berbuat sesuatu, matanya yang tajam telah menangkap sebutir benda yang terbang dengan kecepatan yang luar biasa menyambar dadanya.

Tetapi Sidanti adalah murid satu-satunya dari perguruan Tambak Wedi. Sehingga kali ini pun ia sama sekali tidak mengecewakan.

Betapa pun cepat terbang sebutir batu kerikil itu, namun ternyata Sidanti mampu bergerak lebih cepat. Ia menarik sebelah kakinya, dan dengan gerak yang tidak terlampau banyak, ia memiringkan tubuhnya. Kerikil itu terbang senyari dari dadanya.

“Betapa tangkasnya,” berkata orang yang melemparnya di dalam hatinya. Namun dengan demikian ia menyadari, dengan siapa ia berhadapan. Orang yang menutup wajahnya dengan ikat kepala itu ternyata seorang yang tangkas, setangkas kijang.

Tetapi orang itu tidak gentar. Ketangkasan Sidanti merupakan peringatan baginya, bahwa ia harus berhati-hati.

Sidanti, yang berhasil membebaskan dirinya dari sambaran batu kerikil, sejenak menjadi bingung. Bukan karena ia menjadi cemas atau takut. Tetapi ia merasa bahwa seseorang melihatnya dan langsung menyerangnya. Orang itu tidak memberinya banyak kesempatan. Dengan hadirnya orang itu, maka rencananya menjadi bubrah. Gambaran di dalam otaknya adalah dengan sekali bentak Ki Sentol akan menjadi ketakutan dan tidak banyak persoalan lagi yang dikemukakan, langsung akan diberikannya tiga pengadeg pakaian. Tetapi ternyata orang itu, yang berdiri di dalam keremangan malam telah menyerangnya?

Sidanti menjadi ragu-ragu. Ia mencemaskan dirinya bukan karena takut menghadapi sepasang pedang. Tetapi, bagaimanakah kalau dirinya kemudian dikenal.

Dadanya menjadi semakin berdebar-debar ketika ia melihat bayangan yang membawa sepasang pedang di kedua lambungnya itu berjalan perlahan-lahan mendekatinya.

Sidanti, seorang yang memiliki pengalaman yang cukup, segera dapat mengetahui, bahwa orang yang berjalan itu memiliki kepercayaan yang kuat kepada dirinya sendiri. Langkahnya yang tetap dan pandangannya yang lurus ke depan. Tetapi jarak mereka masih belum terlampau dekat. Karena itu, Sidanti masih belum dapat melihat bayangan itu dengan jelas.

Tetapi Sidanti tidak dapat berpikir terlampau lama. Ia semakin di desak oleh kecemasan di dalam dirinya. Ia sama sekali tidak takut menghadapi orang itu betapa tinggi ilmunya, yang paling dicemaskannya adalah apabila kemudian dirinya dapat dikenali sebagai Sidanti, putera Kepala Tanah Perdikan Menoreh.

Karena itu, maka ia harus segera mengambil keputusan. Ia harus segera berbuat sesuatu.

Ternyata sikap bayangan dalam kegelapan yang masih melangkah satu-satu mendekatinya itu benar-benar telah membakar dadanya. Kegelisahan yang bercampur-baur dengan darah mudanya, melihat seseorang yang terlampau yakin kepada kekuatan sendiri, ternyata segera menyala memanasi jantungnya. Meskipun demikian ia masih ingat pesan gurunya yang tajam dengan ancaman. Karena itu, maka ia masih berusaha mengekang dirinya. Namun kegelisahan yang paling tajam menghunjam di dadanya adalah kegelisahan tentang dirinya. Bahwa ia adalah Putera Kepala Tanah Perdikan Menoreh.

“Hem,” desisnya kemudian, “aku harus menutup mulutnya. Orang itu harus diam dan tidak usah turut campur dalam persoalan ini. Orang-orang di rumah ini harus tidak tahu siapa aku. Kalau orang ini mendapat kesempatan terlampau banyak ia akan dapat mengganggu rencanaku.”

Sidanti yang kebingungan itu kemudian mengambil keputusan yang dirasanya paling aman. Meskipun ia masih mengingat pesan gurunya namun ia perlu membuat orang ini diam, meskipun tidak membunuhnya.

“Aku harus membuatnya pingsan untuk waktu yang cukup lama.”

Dengan keputusan itu, maka Sidanti tidak lagi menunggunya di halaman rumah itu. Selagi orang itu belum masuk ke dalam cahaya lampu yang lemah di halaman, Sidanti segera meloncat menyongsongnya.

“Mumpung masih berada di kegelapan. Aku mengharap, ia tidak dapat mengenali sama sekali siapa aku.”

Ternyata orang itu terkejut melihat sikap orang yang bertutup wajahnya itu. Ia tidak menyangka bahwa orang akan menyerangnya. Karena itu, maka langkahnya terhenti.

Tetapi serangan Sidanti datang terlampau cepat, sehingga kesempatan bayangan yang berpedang sepasang itu sangat kecil. Serangan yang tidak terduga-duga dan gerak yang terlampau cepat, membuatnya agak bingung. Karena itu, maka satu-satunya yang dapat dilakukannya adalah menghindari jauh-jauh supaya ia mendapat waktu untuk mengatur perlawanannya.

Dengan demikian maka orang itu menjadi semakin masuk kembali ke dalam kegelapan. Loncatannya yang lincah dan cepat, telah melemparkannya ke dalam bayangan yang kelam.

Tetapi Sidanti ternyata tidak ingin memberinya kesempatan. Tanpa berkata sepatah kata pun serangannya datang beruntun. Ia ingin menjatuhkan orang itu, membuatnya pingsan dan meninggalkannya di dalam gelap. Ia ingin mendapat kesempatan untuk masuk ke dalam rumah Ki Sentol dan segera meninggalkannya.

Serangan Sidanti yang datang membadai itu telah mendorong lawannya semakin dalam. Orang itu berloncatan kian kemari untuk menghindari serangan-serangan Sidanti. Tetapi ternyata geraknya cukup cepat dan cekatan sehingga beberapa saat kemudian, ia telah menemukan keseimbangan perlawanannya.

“Setan,” geram Sidanti. Ia sama sekali tidak menduga bahwa ia akan bertemu dengan seseorang yang dapat menghindari serangan-angannya yang datang beruntun. Ternyata orang ini memiliki ilmu yang cukup untuk melawannya.

Dengan demikian Sidanti menjadi semakin gelisah. Kalau ia tidak segera dapat menguasai lawannya, maka akibatnya akan sangat menyulitkannya. Apabila datang orang-orang lain, menyaksikan perkelahian itu, apalagi kemudian mengenalnya, maka ia akan kehilangan namanya. Bahkan mungkin ayahnya pun akan terlampau marah kepadanya. Juga gurunya sendiri, Ki Tambak Wedi.

“Aku harus segera berhasil,” desisnya.

Tetapi perkelahian itu menjadi semakin seru. Orang itu benar-benar dapat mengimbangi ketangkasan dan kecepatan bergerak Sidanti.

Dalam kegelapan malam, dan dalam kegelapan pikiran, Sidanti tidak sempat memperhatikan wajah orang itu. Ia merasakan sesuatu yang agak aneh pada lawannya. Tenaganya tidak terlampau kuat, tetapi kecepatannya melampaui kecepatan sambaran burung sikatan. Dalam perkelahian yang segera menjadi semakin sengit, Sidanti belum dapat mengenali ilmu yang dipakai oleh lawannya. Tetapi segera ia mendapat kesimpulan, bahwa orang ini sama sekali bukan murid Ki Tanu Metir. Bukan Agung Sedayu, apalagi Swandaru, yang mempunyai ciri tubuh yang khusus dan akan langsung dapat dikenalinya.

Sekali-kali Sidanti ingin juga melihat wajah lawannya. Tetapi dalam gerakan-akan yang cepat, apalagi di dalam kelamnya malam dan terlindung oleh dedaunan, maka wajah itu tidak segera jelas baginya.

Semakin lama perkelahian itu berlangsung, dada Sidanti menjadi semakin dicengkam oleh kegelisahannya. Bahkan kadang-kadang tumbuh samar-samar sifat-sifatnya yang keras. Sekali-kali berdenyut di nadinya keinginan untuk membunuh saja lawannya itu. Dengan demikian ia akan segera dapat menyelesaikan pekerjaannya. Tetapi setiap kali ia selalu teringat kepada pesan gurunya. Pesan yang disertai dengan ancaman yang tajam.

Karena itu, maka di samping bertahan terhadap serangan-angan lawannya yang cepat, Sidanti harus juga bertahan terhadap perasaan sendiri. Ia harus berusaha untuk tetap sadar, bahwa gurunya tidak ingin persoalan ini melibatkan dirinya ke dalam keadaan yang semakin parah. Itulah sebabnya, maka ia harus berhati-hati. Berbuat tanpa kehilangan keseimbangan.”

Namua ternyata lawannya bukan lawan yang dapat dianggapnya ringan. Sidanti sama sekali tidak menyangka, bahwa di daerah ini dijumpainya seseorang yang memiliki kecakapan tata bela diri setinggi itu. Kegelisahan yang membakar dada Sidanti semakin lama menjadi semakin panas. Kadang-kadang terasa di dalam hatinya, penyesalan atas keterlanjuran. Kini ia terlibat dalam keadaan yang sulit. Kalau ia kehilangan pengamatan diri, maka mungkin ia akan melakukan perbuatan yang membuat gurunya sangat marah kepadanya.

Sementara itu perkelahian mereka menjadi semakin seru. Ternyata orang yang berpedang rangkap itu benar-benar lincah. Langkahnya ringan dan cekatan. Serangan-serangannya berbahaya, langsung menuju ke bagian tubuh Sidanti yang berbahaya.

“Bukan main,” Sidanti berdesah di dalam dadanya, “seandainya guru tidak berpesan wanti-wanti.”

Namun seandainya demikian, maka Sidanti pasti tidak akan dapat juga menyelesaikan perkelahian itu dengan segera. Meskipun seandainya Sidanti mengerahkan segenap tenaganya, tanpa mencemaskan nasib lawannya sekali pun, maka Sidanti pasti akan memerlukan waktu yang lama.

Sekali-sekali timbul juga niatnya untuk bertanya, siapakah orang yang telah mengganggu rencananya itu. Tetapi ia takut, bahwa suaranya akan dapat dikenal, sehingga lawannya itu dapat mengetahuinya, bahwa ia adalah putera Kepala Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi tanpa bertanya kepada lawannya itu, ia selalu diganggu saja oleh pertanyaan di dalam dadanya. “Siapakah orang ini, siapakah orang ini?”

“Tetapi,” gumam Sidanti kemudian di dalam hati, “seandainya aku bertanya, orang itu pun pasti tidak akan menyebut dirinya.”

Dengan demikian, Sidanti sudah tidak ingin lagi bertanya atau mengucapkan sepatah kata pun. Ia takut kalau justru dengan demikian orang itu dapat mengenalnya.

Yang dilakukan kemudian adalah mendesak lawannya sekuat kemampuannya. Ia harus dapat menguasainya, menjatuhkannya dan membuatnya pingsan.

Tetapi lawannya ternyata tidak menyerahkan dirinya begitu saja. Semakin sengit datangnya serangan-angan Sidanti, maka perlawanan orang itu pun menjadi semakin gigih.

Ternyata, bukan Sidanti sajalah yang diganggu oleh pertanyaan tentang lawannya. Orang yang berpedang rangkap itu pun ternyata bertanya-tanya juga di dalam hatinya, siapakah orang yang wajahnya ditutup dengan ikat kepala itu? Orang itu pun sama sekali tidak menyangka, bahwa rumah ini akan didatangi oleh seseorang yang memiliki ilmu berkelahi yang demikian tinggi. Bahkan setelah mereka berkelahi beberapa lama, orang itu mengakui di dalam hatinya, bahwa apabila perkelahian itu berlangsung lama, ia merasa, bahwa ia tidak akan dapat mengalahkan lawannya yang wajahnya tertutup oleh ikat kepalanya.

“Tetapi aku belum tahu, apakah ia juga seorang ahli bermain pedang,” desisnya di dalam hati.

Namun sampai sekian lama, mereka berdua masih belum menarik pedang mereka dari wrangkanya.

Sidanti merasa bahwa pedang di tangannya akan sangat berbahaya. Kalau ia kehilangan pengamatan diri atau akan terulang lagilah nasib Plasa Ireng dan Alap-alap Jalatunda. Tetapi apabila demikian, kali ini gurunya pasti tidak akan memaafkannya lagi.

Tetapi akhirnya Sidanti tidak dapat mengelak lagi. Ia terkejut ketika ia melihat lawannya tiba-tiba saja telah menggenggam sepasang pedangnya di kedua tangannya. Geraknya terlampau cepat, hampir tidak dapat dilihat oleh mata.

Dada Sidanti berdesir. Ia sadar bahwa lawannya adalah seorang yang cakap mempergunakan senjatanya.

Ketika sejenak mereka terhenti, Sidanti mencoba untuk mengamati wajah lawannya. Tetapi sekali lagi ia terperanjat. Sebelum ia sempat memandang wajah itu, matanya telah melekat di ujung pedang lawannya. Ujung pedang yang bergerak seperti tatit di udara menyambar pundaknya.

Dengan dada yang berdebar-debar Sidanti meloncat menghindari sambaran senjata itu. Tetapi ternyata serangan itu tidak terhenti sampai sekian. Ujung pedang lawannya itu pun segera mengejarnya. Hampir berbareng kedua mata pedang itu mematuk kedua pundaknya.

Berkali-kali Sidanti harus berloncatan menghindar sebelum akhirnya ia memutuskan, bahwa ia pun harus mempergunakan pedangnya.

Demikianlah sesaat kemudian keduanya telah menggenggam senjata di tangan masing-masing. Sidanti dengan pedang tunggal, sedang lawannya mempergunakan sepasang pedangnya yang tipis.

Dengan demikian maka perkelahian itu pun menjadi semakin lama semakin seru. Keduanya mampu bergerak secepat kilat yang menyambar-nyambar. Keduanya lincah dan cekatan.

Dalam pada itu, perhatian Sidanti terhadap lawannya semakin lama menjadi semakin besar. Ia melihat beberapa kelainan pada lawannya itu. Lawannya hampir tidak pernah membentur serangan. Sidanti menyadari bahwa kekuatan lawannya tidak sebesar kekuatannya. Tetapi lebih dari pada itu. Betapa pun mereka terlibat dalam perkelahian yang sengit, namun gerak lawannya yang cepat cekatan itu mengandung suatu unsur yang tidak dimengertinya. Membingungkan, tetapi ia melihat seolah-olah lawannya itu berubah rnenjadi seorang penari yang mampu menggerakkan berpasang-pasang pedang bersama-sama.

Sidanti adalah seorang anak muda yang berpengalaman, ia pernah berkelahi melawan orang-orang dengan bermacam-macam watak dan kebiasaan. Ia pernah berkelahi melawan Plasa Ireng yang tangguh tanggon seperti seekor badak. Ia pernah berkelahi melawan Alap-alap yang kasar tetapi trengginas, dengan senjatanya yang menyambar-nyambar seperti angin pusaran melilit tubuhnya. Ia pernah berkelahi melawan Agung Sedayu yang lincah cekatan. Geraknya cepat dan membingungkan. Dan ia pernah pula berkelahi dengan orang lain, bahkan dengan Tohpati dan Untara.

Tetapi ia belum pernah melawan seseorang seperti yang dilawannya kini. Orang-orang yang pernah berkelahi dengannya, menang atau kalah, dengan sifat pembawaan dan ilmunya masing-masing, namun di antara mereka ada beberapa persamaan. Mereka adalah orang-orang kuat dan tangguh. Mereka mempergunakan kecepatan dan kekuatan. Mereka dengan tegas melawan serangan-serangan yang dilancarkannya, bahkan kadang-kadang sengaja membenturkan senjata-senjata mereka.

Namun orang ini mempunyai sifat dan watak yang jauh berbeda. Geraknya hampir tidak menunjukkan sifat-sifat kekerasan meskipun cepatnya seperti tatit menyambar di langit. Gerak tangannya tampaknya lembut selembut tangan penari. Kakinya yang lincah melontar-lontarkan tubuhnya seringan kapas, dalam gerak yang luwes. Tiba-tiba Sidanti menggeram di dalam dadanya, “Ia seorang perempuan dalam pakaian laki-laki.”

Tetapi Sidanti tidak bertanya sepatah kata pun. Namun tanggapannya terhadap lawannya telah membuatnya bertambah gelisah. Semakin ia yakin bahwa lawannya adalah seorang perempuan, maka dadanya menjadi semakin berdebar.

“Aku tidak segera dapat mengalahkan perempuan ini,” ia menggeram di dalam dadanya. “Ada juga perempuan yang garang seperti orang ini. Tetapi meskipun ia dapat memutar gunung, namun ia tidak akan dapat melepaskan diri dari tangan Sidanti. Aku harus menguasainya, membuatnya kehilangan kesadaran, kemudian melakukan rencanaku sebaik-baiknya.”

Dengan demikian Sidanti menjadi semakin bernafsu. Geraknya menjadi semakin cepat. Ia masih tetap sadar, bahwa ia tidak akan membuat dirinya menjadi semakin parah dengan membunuh orang di halaman rumah Ki Sentol, di halaman Tanah Perdikannya sendiri, atas orang yang belum dikenalnya.

Tetapi ternyata ilmu pedang perempuan itu sangat baik. Kedua senjata itu seakan-akan digerakkan oleh satu kekuatan dalam keserasian yang sempurna. Hampir-hampir Sidanti tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk melawannya. Tetapi Sidanti memiliki beberapa kelebihan. Sidanti merasa bahwa kekuatannya lebih besar dari kekuatan lawannya, sehingga justru setiap kali ia tidak berusaha menghindar atau memukul senjata lawannya ke samping untuk menghapuskan kekuatan ayunannya, tetapi Sidanti sengaja melawan dalam benturan yang mantap.

Setiap kali ia merasakan bahwa tenaga lawannya tidak dapat mengimbangi tenaganya. Setiap kali senjata lawannya terdorong beberapa jengkal. Tetapi ternyata lawannya menyadari pula keadaannya, sehingga karena itu, setiap kali terjadi benturan, maka lawannya tidak bertahan pada kekuatannya. Tetapi ia selalu berusaha memunahkan tenaga lawannya dengan perlawanan tenaganya yang liat, kemudian melepaskannya ke samping.

Dengan cara itulah, maka beberapa kali Sidanti gagal untuk melontarkan senjata lawannya. Betapa pun besar tenaganya, tetapi ia tidak dapat melepaskan sepasang senjata lawannya itu dari sepasang tangannya.

“Perempuan ini benar keras kepala,” desah Sidanti di dalam hatinya.

Namun setiap kali ia masih harus berjuang melawan perasaan sendiri. Setiap kali hatinya menyala memanaskan darahnya, setiap kali ia teringat kepada pesan gurunya.

“Tetapi siapakah sebenarnya perempuan ini?” desah Sidanti di dalam hatinya. “Adalah sangat mengherankan bahwa seorang perempuan di daerah ini mampu melawan aku sampai sekian lama. Meskipun aku yakin bahwa ilmunya masih berada selapis di bawah ilmuku, tetapi tidaklah mudah untuk mengalahkannya tanpa melukainya. Kalau aku tidak mengingat pesan guru, maka aku kira aku akan dapat lebih cepat melakukannya, meskipun dengan susah payah. Tetapi apakah ia hanya seorang diri?”

Sidanti semakin lama menjadi semakin cemas tentang dirinya. Bukan tentang hidup dan matinya, tetapi justru ia cemas apabila dirinya kemudian akan dapat dikenal sebagai Sidanti, Putera Argapati.

“Ah,” sekali lagi ia berdesah, “kalau ia masih tetap berkeras kepala, apa boleh buat. Aku kira guru sudah tidak melihat lagi apa yang aku kerjakan. Aku tidak dapat selamanya hanya berusaha mempertahankan diri dan menyerang tempat-tempat yang sama sekali tidak berbahaya. Suatu saat aku harus mengarahkan ujung pedangku ke arah jantungnya.”

Perkelahian itu kemudian berlangsung semakin sengit. Ternyata Sidanti harus mengagumi kelincahan perempuan itu. Lincah dan cekatan seperti anak rusa yang bermain-main di rerumputan.

Sidanti yang telah bekerja memeras segala macam kemampuannya pun masih belum dapat menguasai lawan itu sepenuhnya. Apalagi apabila tiba-tiba datang satu dua orang seperti perempuan itu.

Namun bagaimana pun juga Sidanti tidak akan meninggalkan arena.

Sementara itu Ki Tambak Wedi dan Argajaya berdiri termangu-mangu di ujung desa menunggu Sidanti. Tetapi untuk sekian lamanya anak itu tidak muncul-muncul dari mulut lorong padesan.

“Apa saja yang dilakukan oleh anak gila itu,” desis Ki Tambak Wedi.

“Ia keras kepala sejak kanak-anak,” sahut Argajaya.

“Anak itu sudah terlampau lama. Apakah yang telah terjadi?”

Argajaya tidak segera menjawab. Tetapi ia pun diganggu pula oleh kegelisahan. Seperti Ki Tambak Wedi, ia pun menganggap bahwa Sidanti sudah cukup lama mereka tinggalkan. Kalau ia segera mengetuk pintu, masuk, dan dengan lancar menerima tiga pengadeg pakaian, maka waktu yang dipergunakannya telah cukup lama.

Tiba-tiba Ki Tambak Wedi itu pun bergumam, “Aku tidak dapat melepaskan anak itu tanpa pengawasan. Aku akan melihatnya apa saja yang sudah dikerjakan. Mudah-mudahan ia tidak berbuat sesuatu yang dapat mencemarkan namanya dan nama ayahnya, Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh.”

“Aku juga mencemaskannya. Anak itu memang anak bengal sejak kanak-anak.”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Kemudian ia berkata, “Aku akan kembali ke rumah Ki Sentol.”

“Aku ikut bersama Kiai.”

“Terserahlah kepadamu, Ngger.”

“Aku juga ingin melihat apa yang terjadi.”

“Marilah.”

Keduanya segera melangkah kembali. Tetapi mereka tidak ingin dilihat orang. Mereka segera menyusup ke dalam gelapnya bayangan dedaunan yang rimbun di dalam kelamnya malam.

Perlahan-lahan mereka merayap semakin dekat dengan halaman rumah di ujung lorong padesan itu. Dari kejauhan mereka tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Mereka tidak melihat kesibukan apa pun. Mereka tidak melihat orang-orang di dalam rumah itu terbangun, membuat kegaduhan sehingga Sidanti harus bertindak kasar.

“Halaman itu tampaknya sepi saja, Kiai,” gumam Argajaya.

Ki Tambak Wedi tidak segera menjawab. Ternyata telinganya jauh lebih tajam dari telinga Argajaya. Meskipun ia masih belum melihat sesuatu tetapi ia mendengar gemerincingnya senjata beradu.

“Kita harus mendekat, Ngger,” desis Ki Tambak Wedi, “ada sesuatu yang tidak wajar.”

“Apakah Kiai melihat sesuatu?”

Keduanya pun kemudian melangkah semakin dekat. Kini halaman rumah itu tampak semakin jelas Tetapi halaman itu masih juga tampak sepi. Tidak ada keributan dan tidak ada kegaduhan.

Namun tiba-tiba Argajaya mengangkat wajahnya. Katanya, “Aku mendengar sesuatu, Kiai.”

“Apakah baru sekarang Angger mendengarnya?”

“Tidak. Tetapi aku kurang memperhatikannya. Aku sangka bunyi itu bukan seperti yang aku dengar sekarang.”

“Apakah yang Angger dengar sekarang?”

“Perkelahian. Senjata beradu. Tetapi tidak terlampau sering. Aku menduga bahwa salah seorang dari mereka merasa bahwa kekuatan mereka tidak seimbang. Tetapi orang yang merasa lebih lemah itu pasti memiliki kelebihan lain.”

“Pendengaran Angger cukup baik. Aku sependapat. Dan salah seorang dari kedua orang yang berkelahi itu pasti Sidanti.”

Argajaya menggangguk-anggukkan kepalanya. “Aku pun berpendapat demikian,” desisnya.

“Hem,” Ki Tambak Wedi menarik nafas dalam-dalam “Sidanti memang terlampau sulit untuk dikendalikan. Kalau ia membuat sedikit saja kesalahan di sini, maka akibatnya akan menjadi terlampau berat baginya. Ayahnya pasti akan menjadi sangat marah.”

“Mudah-mudahan ia belum dikenal sebagai Sidanti.”

“Marilah kita mendekat, Ngger. Aturlah langkah dan nalarmu supaya tidak mengganggu perkelahian itu. Aku ingin melihat siapakah yang sedang berkelahi melawan Angger Sidanti itu.”

Argajaya mengerti maksud Ki Tambak Wedi. Ia harus berhati-hati supaya tidak mengejutkan orang-orang yang sedang berkelahi. Sebab dengan demikian, maka akibatnya akan sangat mengganggu dan mungkin sama sekali tidak mereka kehendaki. Apalagi Argajaya adalah orang yang banyak dikenal di padesan itu, apalagi oleh Ki Sentol sendiri.

“Aku tidak menyangka bahwa di daerah ini ada seseorang yang mampu bertahan terhadap Sidanti sedemikian lama,” bisik Ki Tambak Wedi. “Namun justru karena itu, kita harus segera mendekat, supaya seandainya Sidanti kehilangan pengamatan diri, kita sempat mencegahnya.”

“Aku, seorang dari Tanah Perdikan ini pun heran, bahwa di padesan ini ada seseorang yang mampu berkelahi melawan Sidanti.”

Keduanya terdiam. Mereka menjadi semakin dekat, dengan halaman rumah Ki Sentol. Dentang senjata beradu itu pun menjadi semakin keras. Semakin sering. Tetapi telinga-telinga yang cukup terlatih akan segera mengerti, bahwa salah seorang dari kedua orang yang bertempur itu pasti selalu menghindari benturan-benturan kekuatan. Dengan demikian maka benturan-benturan itu tidak beradu terlampau keras dan terlampau sering. Bunyi benturan itu pun menjadi tidak terlampau keras.

Telinga Ki Tambak Wedi yang tajam setajam pandangan matanya, segera menuntunnya kemana ia harus pergi. Mereka tidak memasuki halaman itu lewat regol yang telah terbuka. Tetapi mereka mencari tempat yang gelap di bawah rimbunnya dedaunan, untuk meloncati pagar batu yang tidak terlampau tinggi, masuk ke dalam halaman. Ketika mereka sudah berada di halaman, maka langkah mereka pun menjadi semakin berhati-hati. Mereka merayap setapak demi setapak maju, sehingga akhirnya mereka dapat melihat di dalam kegelapan dua bayangan yang sedang berkelahi.

Sekilas, mereka berdua segera mengetahui, bahwa yang seorang dari mereka adalah Sidanti. Keadaannya ternyata lebih baik dari keadaan lawannya. Namun adalah mengherankan, bahwa lawannya mampu bertahan sekian lamanya.

Sejenak kedua orang itu terpaku di tempatnya. Dengan tajamnya mereka memandangi perkelahian yang tengah berlangsung di dalam gelapnya malam. Kilatan cahaya langit di kejauhan yang sudah tidak berdaya, tampak menari-nari pada mata-mata pedang yang sedang bergerak-gerak dengan cepatnya. Namun mereka yang sedang berkelahi itu sendiri, hampir tidak dapat dilihat bentuknya.

Ternyata perkelahian itu semakin menarik perhatian Ki Tambak Wedi dan Argajaya. Perlahan-lahan tetapi pasti mereka dapat mengenali orang yang sedang berkelahi melawan Sidanti.

Meskipun mereka masih bertempur, di tempat yang kelam, namun kedua orang yang mengintai mereka, dapat mengenal mereka masing-masing dari tata geraknya. Apalagi Ki Tambak Wedi yang mempunyai beberapa kelebihan dari orang lain. Kecuali ia segera dapat mengenal Sidanti yang mempergunakan ilmu dari Tambak Wedi dengan baiknya, maka ia pun segera mengenal ilmu lawan Sidanti itu.

“Angger,” perlahan Ki Tambak Wedi berdesis. “perkelahian yang menarik. Meskipun mereka telah hampir sampai pada penggunaan puncak ilmu yang mereka miliki, namun perkelahian itu sama sekali tidak terjadi dengan banyak keributan. Orang-orang yang tidur di dalam rumah itu pun tidak terbangun karenanya.”

“Ya, Kiai,” jawab Argajaya.

“Tetapi ada yang lebih menarik daripada itu,” berkata Ki Tambak Wedi selanjutnya.

Argajaya berpaling. Di dalam gelap malam ia mencoba menangkap maksud kata-kata yang tersirat di wajah orang tua itu. Tetapi ia tidak berhasil.

“Apakah yang lebih menarik itu, Kiai.”

“Lawan Sidanti.”

“Ya. Aku pun tertarik pula kepadanya. Bukankah ia seorang gadis?”

Ki Tambak Wedi menggangguk, “Ya, ia memang seorang gadis. Tetapi itu pun kurang menarik bagiku. Yang paling menarik adalah bagaimana caranya melawan Sidanti.”

Argajaya mengerutkan keningnya. “ Bagaimana menurut pertimbangan Kiai?”

“Seharusnya kau tidak bertanya demikian, Ngger. Kau pasti sudah mengenalinya. Tata gerak itu adalah tata gerak yang sudah seharusnya kau kenal. Cabang perguruan itu pun pasti akan menunjukkan, setidak-tidaknya membatasi persoalannya.”

Argajaya menahan nafasnya. Ia memang sudah menduga siapakah gadis yang sedang berkelahi itu. Ia mengenalnya menilik tata geraknya. Tetapi bukan itu saja. Ia mengenal gadis itu dengan baik. Tetapi ia tidak menyangka bahwa gadis itu mempunyai kecakapan yang hampir sejajar dengan Sidanti.

“Bukankah ilmu itu ilmu cabang perguruan Menoreh? Aku kira kau mengenal, bahwa ilmu itu adalah ilmu Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh. Bukankah Angger sendiri sebagian terpercik oleh ilmu dari cabang perguruan itu meskipun Angger tidak bersaudara seperguruan dengan kakak Angger, Argapati?”

“Kami seperguruan Kiai, tetapi jarak yang membatasi kami cukup jauh.”

Ki Tambak Wedi menggeleng, “Tidak. Kalian bukan seperguruan. Angger memang pernah mendapat ilmu itu, tetapi yang terbesar tersimpan pada diri Angger bukan perguruan yang sama dengan perguruan Argapati.”

Argajaya mengganggukkan kepalanya.

“Tetapi gadis itu adalah seorang gadis yang menyimpan ilmu dari cabang perguruan Menoreh. Kau lihat bukan?”

“Ya, Kiai. Aku mengenalnya seperti aku mengenal Sidanti. Tatapi dalam pakaian laki-laki aku semula agak kabur karenanya. Tetapi kini aku sudah yakin, bahwa aku tidak akan salah lagi.”

Ki Tambak Wedi menggangguk-anggukkan kepalanya, “Luar biasa. Ilmu yang dimilikinya belum matang benar. Seharusnya ia bukan lawan yang terlampau berat bagi Sidanti. Mungkin Sidanti sudah mengenal bahwa lawannya seorang gadis.”

“Sidanti harus mengenalnya. Tetapi pakaian laki-lakinya apalagi mereka berkelahi di dalam gelap itulah yang menyebabkan Sidanti tidak segera mengetahui dengan siapa ia sedang berkelahi. Tetapi ternyata Kakang Argapati telah membuat suatu teka-teki. Aku tidak pernah melihat anak itu berlatih sama sekali. Tetapi tiba-tiba aku melihatnya ia sudah berada dalam tataran yang demikian tinggi. Aku melihatnya sehari-hari sebagai seorang gadis pendiam dan pemalu. Tetapi dalam pakaian laki-laki ternyata ia cukup garang.”

“Kau mengenal gadis itu, Ngger, bukan hanya sekedar mengenal tata geraknya?”

“Tentu,” kata-kata Argajaya terputus karena mereka mendengar suara yang lain dari suara perkelahian itu. Karena itu maka segera mereka terdiam. Mereka menjadi semakin berhati-hati dan mencoba untuk menangkap apa saja yang terjadi.

Tiba-tiba dada mereka bergetar. Mereka melihat tiga orang berloncatan dari belakang gandok. Mereka segera berlari ke depan dan berhenti sejenak sambil menebarkan pandangan mata mereka.

“Di sana, aku sudah mendengar gemerincing senjata,” salah seorang dari mereka berkata lantang.

Ketiganya segera menghadap ke arah suara yang mereka dengar. Suara gemerincing senjata. Gemerincingnya pedang Sidani yang beradu dengan sepasang senjata lawannya.

Ternyata Sidanti juga mendengar suara itu. Terasa betapa dadanya bergelora. Sesaat ia menjadi bingung. Apakah yang akan dilakukannya? Melawan mereka dan membunuh mereka satu per satu? Kalau ia tidak ragu-ragu, dan tidak tertahan oleh pesan gurunya, lawannya itu pun telah binasa. Ia ingin mengalahkannya dan sekedar membuatnya pingsan tanpa menggores kulitnya dengan ujung pedangnya. Tetapi justru dengan demikian keadaannya menjadi semakin sulit.

Kehadiran ketiga orang itu telah mencemaskan hati Ki Tambak Wedi pula. Kalau Sidanti menjadi bingung, maka ia pasti akan berbuat di luar perhitungan. Mungkin ia menjadi mata gelap. Ia akan berusaha untuk membinasakan lawan-lawannya tanpa pertimbangan lain, asal mereka tidak dapat mengenalnya. Tidak dapat mengetahui bahwa yang menutupi wajahnya dengan ikat kepala itu adalah Sidanti, putera Argapati.

Ternyata Argajaya pun berpikir demikian pula. Tetapi ia menjadi lebih cemas lagi, karena ia yakin bahwa ia mengerti benar, siapakah gadis lawan Sidanti itu.

“Kiai,” Argajaya itu kemudian berdesis, “perkelahian itu harus dicegah.”

“Ya,” sahut Ki Tambak Wedi, “aku akan membuat mereka kehilangan lawannya. Aku akan mengambil dan menyingkirkan Sidanti.”

“Mereka akan mengejar.”

“Aku terpaksa menghilangkan kesadaran mereka untuk sementara. Hanya sekedar memberi kesempatan Sidanti melarikan diri.”

“Tetapi gadis itu?”

“Oh, siapakah gadis itu. Angger belum mengatakannya.”

“Pandan Wangi.”

“Pandan Wangi,” ulang Ki Tambak Wedi sambil mengerutkan keningnya, “Pandan Wangi kau bilang?”

“Ya.”

Dada Ki Tambak Wedi berdesir. Sejenak ia termangu-mangu. Nama itu telah mengejutkannya. Meskipun ia tidak begitu mengenal anak itu seperti ia mengenal Sidanti, tetapi Pandan Wangi adalah gadis yang dikenalnya dengan baik di masa kanak-anaknya. Tetapi karena sudah bertahun-tahun ia tidak bertemu, apalagi kini ia mengenakan pakaian laki-laki, maka ia menjadi lupa kepadanya.

“Bukankah Kiai pernah mengenalnya dahulu.”

“Ya, ya. Aku pernah mengenalnya. Tetapi sudah bertahun-tahun yang lalu. Aku sudah lama sekali tidak mengunjungi Argapati itulah sebabnya aku melihat ilmu Argapati ada padanya.”

“Lalu, apakah yang akan kita lakukan sekarang.”

Ki Tambak Wedi terdiam sejenak. Ia melihat ketiga orang yang berlari-lari itu sudah berada di samping tempat perkelahian antara Sidanti dan gadis yang bernama Pandan Wangi itu.

“Aku menjadi agak bingung. Tetapi sebaiknya perkelahian yang lebih seru harus dicegah.” Ki Tambak Wedi berhenti sejenak, lalu, “Tetapi apakah Sidanti mengenal gadis itu?”

“Melihat perkelahian itu, aku kira Sidanti belum mengenalnya. Apalagi kini,” Argajaya menjadi tegang, “lihat Kiai, Sidanti hampir menjadi mata gelap.”

Ketika Ki Tambak Wedi memandang perkelahian itu, ternyata ia melihat tekanan Sidanti menjadi semakin dahsyat. Ia tampaknya telah kehilangan segala pengamatan diri karena ia kehilangan akal. Ia tidak menemukan cara yang sebaik-baiknya untuk menghindar dan karena kecemasannya bahwa dirinya akan dikenal. Dengan demikian, maka ia tidak dapat mengekang dirinya lagi. Ia harus melawan dan berusaha menutup mulut orang-orang itu bagaimana pun caranya. Memang ada juga terbersit pikiran di kepalanya untuk melarikan diri. Tetapi setiap kali kakinya akan melontarkan dirinya menghindari perkelahian itu, perasaan harga dirinya telah mengekangnya, sehingga setiap kali ia menjadi ragu-ragu. Akhirnya ia tidak mendapat kesempatan lagi, ketika ketiga orang yang baru datang itu mengepungnya.

“Jangan diberi kesempatan untuk melarikan diri,” berkata salah seorang dari mereka, “kita harus tahu, siapakah orang ini.”

Sidanti hanya dapat menggeretakkan giginya. Ia selalu saja dibayangi oleh kecemasan tentang dirinya sendiri. Ia tidak berani mengucapkan kata-kata supaya suaranya tidak dikenal.

Ketika ketiga orang itu sudah menarik senjata masing-masing, maka Sidanti tidak akan dapat berbuat lain. Melawan, kalau terpaksa, ya kalau terpaksa apa boleh buat. Pedangnya akan membuat penyelesaian.

Tetapi ketika ketiga orang itu sudah mulai menggerakkan pedangnya, tiba-tiba mereka mendengar suara tertawa di belakang gerumbul yang rimbun. Tanpa berjanji mereka berloncatan menjauhi lawan-lawannya untuk mendapat kesempatan berpaling. Meskipun pedang-pedang mereka siap untuk bergetar, tetapi mereka memerlukan juga menunggu, siapakah yang akan ke luar dari dalam rimbunnya gerumbul itu?

Yang kemudian muncul di dalam kegelapan itu adalah dua bayangan sosok tubuh yang hitam. Mereka tidak segera dapat mengenal. Namun sejenak kemudian salah seorang dari kedua orang itu berkata sambil tertawa, “Cukup Sidanti. Permainan yang menyenangkan.”

Sidanti terkejut bukan buatan. Ia mengenal suara itu, suara pamannya, Argajaya. Tetapi pamannya telah menyebut namanya, sedang ia sendiri mati-matian menyembunyikan dirinya dari pengenalan orang-orang itu.

Tetapi bukan saja Sidanti yang terkejut bukan kepalang, ternyata lawannya yang bernama Pandan Wangi itu pun terperanjat bukan main, sehingga seolah-olah darahnya berhenti mengalir.

“Paman, Pamankah ini?” bertanya suara wanita itu.

“Ya, aku pamanmu, Pandan Wangi.”

“Pandan Wangi,” hampir-hampir Sidanti berteriak, tetapi suaranya tertahan di dadanya. Tetapi dengan demikian ia menjadi seolah-olah membeku di tempatnya. Nama itu benar-benar telah mengejutkannya. Tetapi ketika ia mendapat kesempatan untuk memandangi wajah lawannya, maka ia merasakan sesuatu bergetar di dalam dirinya. Wajah itu masih belum jelas baginya. Tetapi karena gadis lawannya itu berdiri diam, maka kesempatan untuk mengenalinya menjadi semakin luas.

Kedua bayangan yang ternyata Argajaya dan Ki Tambak Wedi itu sudah menjadi semakin dekat. Dan terdengar lagi Argajaya berkata, “Aku telah melihat dengan senang hati kalian bermain-main. Jangan marah Pandan Wangi. Sidanti sengaja ingin melihat, apakah kau sudah cukup baik menguasai ilmu pedang rangkap dari Perguruan Menoreh itu.”

Kedua orang yang baru saja bertempur itu terpukau diam-diam mereka tidak segera mengerti, apakah yang sebenarnya mereka hadapi. Mereka hanya berdiri saja memandangi langkah Argajaya dan Ki Tambak Wedi mendekati mereka.

“Pandan Wangi,” berkata Argajaya kemudian, “Sidanti telah terlampau lama, bahkan bertahun-tahun tidak bertemu dengan kau karena kakakmu itu sedang menuntut ilmu di padepokan Tambak Wedi. Ketika kakakmu menjejakkan kakinya di Tanah Perdikan ini, untuk pertama kali setelah bertahun-tahun tidak melihatnya, maka yang pertama-tama ditemuinya adalah kau dalam pakaianmu yang aneh itu. Sehingga timbulah niatnya untuk mengganggumu.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling memandangi wajah orang yang baru saja berkelahi melawannya, ia masih melihat wajah itu bertutup ikat kepala.

“Bukalah penyamaranmu, Sidanti,” berkata Argajaya, “bukankah kau tidak perlu lagi memakainya? Kau sudah cukup mengganggu adikmu dengan cara itu. Sekarang bukalah. Kau sudah terlampau lama membuat adikmu berdebar-debar.”

Sidanti masih belum tahu benar, apakah yang sebenarnya dimaksud oleh paman dan gurunya. Tetapi ia tidak dapat membantah lagi. Dengan ragu-ragu dibukanya tutup wajahnya.

“Nah, bukankah ia seorang anak muda yang bernama Sidanti, putera Kakang Argapati?” desis Argajaya sambil tertawa. “Apakah kau sudah tidak dapat mengenal wajah kakakmu lagi, Pandan Wangi? Aneh. Sidanti tidak banyak mengalami perubahan. Sedang kau, yang sedang tumbuh dalam masa-masa yang paling cepat, tidak dapat mengelabui kakakmu, walau pun kau memakai pakaian yang aneh itu pula.”

“Tetapi,” tergagap Pandan Wangi berkata, “tetapi dari mana paman tahu kalau aku berada di sini?”

“Bukankah kau sering berada di tempat ini?”

Pandan Wangi menjadi ragu-ragu. Tetapi Argajaya pun menjadi berdebar-debar. Pertanyaan yang aneh-aneh dapat membuatnya bingung untuk mencari jawab.

“Tetapi,” Pandan Wangi masih ingin bertanya lagi, tetapi Argajaya mendahului, “Lihatlah baik-baik. Itu adalah kakakmu Sidanti.”

Pandan Wangi berpaling sekali lagi memandangi wajah Sidanti yang kini sudah tidak tertutup lagi. Meskipun sudah lama mereka tidak bertemu, tetapi garis wajah itu sama-sama dapat dikenalinya.

“Marilah kita pergi ke halaman. Cahaya lampu itu akan segera memperkenalkan kalian.”

Argajaya segera membimbing Pandan Wangi berjalan mendahului yang lain pergi ke halaman. Kepada kedua orang pengawal Pandan Wangi yang juga sudah dikenalnya, Argajaya berkata, “Marilah ikut aku.”

Mereka tidak membantah lagi. Mereka segera berjalan ke halaman depan rumah Ki Sentol yang cukup luas.

Yang tinggal di dalam kegelapan adalah Sidanti dan Ki Tambak Wedi. Ketika jarak mereka menjadi semakin jauh dengan Argajaya dan orang-orang Menoreh yang lain, maka Ki Tambak Wedi berbisik, “Tidak ada cara lain. Lebih baik kau berpura-pura mencoba adikmu untuk melihat ilmunya, atau sengaja mengganggunya.”

Sidanti menarik nafas dalam-dalam. Kini ia menjadi jelas maksud paman dan gurunya. Namun meskipun demikian ia berkata, “Tetapi pertanyaan-pertanyaan Pandan Wangi akan membingungkan aku, Guru, seperti yang ditanyakannya kepada Paman Argajaya, kenapa kita mengetahui bahwa Pandan Wangi ada di sini.”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya, “Di mana kau temui anak itu?”

“Ia menghampiri aku di halaman ini ketika aku akan naik ke pendapa. Tetapi karena aku takut dikenal di dalam cahaya lampu minyak di pendapa, akulah yang menyerangnya di dalam gelap.”

“Di mana ia berada, atau dari mana ia datang.”

“Dari arah gandok.”

“Tiga orang pengawalnya datang dari belakang gandok itu pula. Kalau begitu mereka pasti di tempatkan di gandok itu sebagai tamu. Nah, katakan bahwa kau telah mengintainya dari luar gandok.”

“Tetapi kenapa aku masuk ke halaman ini dan sampai ke gandok itu.”

“Bukankah tempat ini seakan-akan menjadi pesanggrahan keluargamu. Katakan, kau memang sedang melihat-lihat apakah ada salah seorang anggauta keluargamu yang sedang berada di sini.”

Sidanti menggangguk-anggukkan kepalanya, meskipun hatinya masih berdebar-debar. Ternyata gadis itu adalah adiknya. Adiknya sendiri. Tetapi sudah sekian lama ia tidak bertemu, sejak yang terakhir ia mengunjungi kampung halamannya. Apalagi dalam pakaian laki-laki di dalam kegelapan pula.

“Aneh,” desisnya tiba-tiba, “ia mampu berkelahi.”

“Kau tidak mengenal ilmu itu?”

“Tidak.”

“Ilmu ayahmu. Ilmu Argapati. Memang ayahmu tidak mau membimbingmu, dan menyerahkannya kepadaku.”

“Kenapa, Guru?” bertanya Sidanti.

Pertanyaan itu telah memukul jantung Ki Tambak Wedi. Ia menyesal bahwa ia telah terlanjur mengatakan sesuatu yang tersimpan di dalam hatinya. “Seharusnya aku tidak mengatakannya,” desisnya di dalam hati.

“Kenapa, Guru, kenapa ayah tidak mau mengajari aku, tetapi ayah justru mengajari Pandan Wangi, seorang gadis?”

Dada Ki Tambak Wedi menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia harus menjawab. Katanya, “Itu adalah cara ayahmu untuk memperkaya ilmu Perguruan Menoreh. Ayahmu merasa bahwa aku mempunyai kemampuan yang seimbang. Maka dititipkannya kau kepadaku, dan diturunkannya ilmunya kepada Pandan Wangi. Bukankah dengan demikian kau dan Pandan Wangi akan mampu bersama-sama menyusun ilmu yang lengkap dan mengagumkan kelak?”

Sidanti mengerutkan keningnya. Memang hal yang demikian itu mungkin saja terjadi, tetapi masih juga kurang dapat dipahami. Kenapa ayahnya menempuh cara itu untuk memperkaya ilmu Perguruan Menoreh? Kenapa ayahnya, Argapati tidak saja bersama-sama dengan Ki Tambak Wedi menyusun suatu ilmu yang mencakup berbagai macam unsur dari kedua cabang perguruan yang memiliki nama yang cukup besar itu? Apabila demikian, dan mereka dapat menemukan unsur-unsur yang dapat dipadukan dalam suatu bentuk yang baru, maka ilmu itu akan menggemparkan seluruh Demak.

Tetapi kenapa yang ditempuh oleh ayahnya adalah jalan yang terlampau jauh? Menyerahkannya kepada Ki Tambak Wedi dan menurunkan ilmunya kepada Pandan Wangi, adik perempuannya, kemudian baru dicari kemungkinan untuk memadukan kedua ilmu itu?

Pertanyaan-pertanyaan itu meronta-ronta di dalam dadanya. Tetapi ketika ia ingin menyatakannya, didengarnya Ki Tambak Wedi berkata, “Marilah kita pergi ke halaman itu. Lihat, mereka telah menunggu kita.”

Sidanti berpaling. Di dalam keremangan cahaya lampu di halaman ia melihat pamannya, Pandan Wangi dan pengawal-pengawalnya berdiri tegak. Mereka agaknya memang sedang menunggunya.

Sidanti mengikuti saja di belakangnya ketika gurunya melangkah ke halaman. Namun ia berdesis, “Aku pasti akan dibingungkan oleh pertanyaan-pertanyaan Pandan Wangi. Bahkan mungkin apabila orang-orang lain di dalam rumah ini terbangun.”

“Kau harus cepar berpikir. Carilah jawaban yang paling mungkin. Kadang-kadang kau harus berusaha memotong pertanyaan mereka. Dan kita seharusnya tidak terlampau lama tinggal di rumah ini. Malam ini juga kita akan meneruskan perjalanan.”

“Tetapi bagaimana dengan pakaian kita, Kiai. Pakaian kita terlampau lusuh dan kotor.”

“Jangan hiraukan. Kau dapat membuat cerita-cerita lucu tentang hutan Mentaok. Demikian pula tentang luka di pundakmu yang sudah hampir sembuh sama sekali itu.”

Dada Sidanti menjadi semakin berdebar-debar ketika ia menjadi semakin dekat dengan orang-orang Menoreh yang telah agak lama ditinggalkannya.

Namun kemudian cahaya lampu telah menolongnya untuk mengenali wajah gadis yang telah mampu melawannya itu. Meskipun anak itu telah tumbuh dengan suburnya, serta berpakaian laki-laki namun Sidanti telah mulai dapat mengenalnya. Anak itu memang Pandan Wangi.

Tetapi ternyata Pandan Wangi-lah yang lebih dahulu menegurnya. Hampir berteriak ia memanggil, “Kakang Sidanti, bukankah kau benar-benar Kakang Sidanti?”

Sidanti mengganggukkan kepalanya. Tetapi suaranya tersendat di kerongkongan, sehingga jawabnya terlampau pendek, “Ya.”

Pandan Wangi tertegun sejenak. Tetapi semakin, dekat semakin jelas baginya, bahwa orang yang semula menutup wajahnya dengan ikat kepalanya itu adalah Sidanti.

Sidanti yang telah menyarungkan pedangnya itu mendekatinya dengan penuh kebimbangan.

Pandan Wangi yang kemudian yakin bahwa orang itu adalah kakaknya berkata pula, “Kau mengganggu aku, Kakang. Aku hampir berteriak-teriak memanggil Paman Kerti untuk menangkapmu.”

Sidanti mendekati adiknya dengan dada yang berdebar-debar, tetapi ia memaksa bibirnya untuk tersenyum, “Aku senang melihat kau marah,” katanya. Namun sikapnya masih juga canggung.

“Tetapi kau telah menyakiti tanganku.”

“Kenapa dengan tanganmu?”

“Tidak apa-apa, tetapi untuk mempertahankan pedangku, tanganku terasa terlampau nyeri. Kau bersungguh-sungguh berusaha melepaskan genggaman pedangku.”

Terdengar Argajaya tertawa. Katanya, “Kakakmu hampir tidak percaya bahwa kau benar-benar mampu berkelahi. Aku yang hampir setiap hari melihat kau bermain-main dakon dan jirak, tidak tahu sama sekali, bahwa kau mampu bermain-main dengan pedang. Ayahmu benar-benar aneh, Wangi. Aku menjadi pening memikirkannya. Kapan saja kau menyisihkan waktumu untuk berlatih?”

Pandan Wangi menundukkan kepalanya. Ia adalah seorang gadis yang baru mekar. Pujian pamannya telah membuat wajahnya menjadi kemerah-merahan.

“Tetapi sarungkanlah sepasang pedangmu itu,” berkata Argajaya kemudian.

“Oh,” Pandan Wangi baru sadar, bahwa ia masih menggenggam sepasang pedangnya.

“Orang yang wajahnya bertutup ikat kepala itu kini sudah tidak akan berani lagi menyerangmu, karena di sini ada Kerti dan kedua kawannya.”

Wajah Pandan Wangi menjadi semakin kemerah-merahan. Tanpa sesadarnya ia berpaling kepada pengawalnya, seorang yang sudah setengah tua, yang bernama Kerti.

“Aku tidak menyangka,” Kerti itu berkata, “bahwa aku akan berjumpa dengan Angger Sidanti di sini, dan aku juga tidak bermimpi menyaksikan Angger Pandan Wangi mampu bertempur setangkas itu. Aku, pamomongnya dihadapkan pada suatu kenyataan yang mengejutkan.”

“Ah, kau juga mengganggu aku, Paman.”

“Benar Angger Sidanti. Adikmu, Angger Pandan Wangi memang luar biasa. Aku memang pernah melihat Angger Pandan Wangi berlatih, tetapi tidak berlatih bermain pedang. Angger Pandan Wangi selalu berlatih memanah. Dan malam ini aku mengantarkannya untuk berburu nanti lewat lengah malam. Tetapi tanpa aku duga, bahwa aku akan bertemu dengan Angger Sidanti dan sekaligus melihat kedua bersaudara ini memamerkan ilmunya masing-masing.”

“Aku tidak ingin memamerkan kecakapan itu, Paman,” potong Pandan Wangi.

“Ya, ya. Maksudku, aku melihat Anggger berdua adalah anak-anak muda yang luar biasa. Lebih-lebih Angger Sidanti. Bukan main. Meskipun agaknya Angger tidak bersungguh-sungguh, tetapi aku menjadi ngeri karenanya.”

Sidanti tersenyum, meskipun senyumnya masih juga hambar, ia memang sudah mengenal Kerti sebagai seorang yang meskipun sudah setengah umur, tetapi masih juga senang bergurau dan jenaka. Dan orang itu masih berkata lagi, “Ketika aku melihat Angger bertempur melawan Angger Pandan Wangi, aku menjadi ragu-ragu untuk berbuat sesuatu. Aku dan kedua kawanku ini sebenarnya harus mengawal Angger Pandan Wangi, tetapi ternyata kamilah yang dikawal olehnya, karena kami tidak berani ikut campur melawan Angger Sidanti.”

“Ah,” hampir bersamaan Sidanti dan Pandan Wangi berdesah.

“Sekarang,” Kerti itu berkata, “kita akan membangunkan Ki Sentol. Aku ingin memperkenalkannya dengan Angger Sidanti.”

“Aku sudah mengenalnya.”

“O, tetapi Angger Sidanti yang dahulu. Bukan Angger Sidanti yang sekarang.”

“Terima kasih, Paman Kerti, tetapi aku segera ingin menghadap ayah.”

“He,” Kerti itu mengerutkan keningnya, “jadi Angger mampir di halaman ini hanya sekedar ingin mengganggu Angger Pandan Wangi?”

Sidanti menjadi ragu-ragu sejenak. Ketika ia berpaling kepada gurunya kemudian kepada pamannya, ia tidak segera mendapat kesan apa pun dari kedua orang itu, sementara Kerti telah menyambung kata-katanya, “Kau memang senang bergurau sejak kanak-anak, Ngger. Marilah singgah ke rumah ini. Ki Sentol akan sangat bergembira melihat Angger.”

Sidanti masih belum dapat menyahut.

“Ki Sentol akan menjadi kagum mendengar cerita tentang Angger Sidanti, dan Angger Pandan Wangi.”

Sidanti masih juga diam. Tetapi Argajaya-lah yang menyahut. “Terima kasih Kerti. Kami sekarang tidak sedang bertamasya mengantarkan Sidanti berburu. Tetapi kami membawa seorang tamu yang akan bertemu dengan Kakang Argapati.”

“Siapa?”

“Ki Tambak Wedi, guru Sidanti.”

“Oh, yang mana?”

“Kenapa, kau bertanya?” sahut Argajaya, “Kami hanya bertiga. Kau mengenal aku dan Sidanti.”

“Oh,” tiba-tiba Kerti mengganggukkan kepalanya dalam-dalam kepada Ki Tambak Wedi. Sekilas dilihatnya wajah orang tua dari lereng Gunung Merapi itu. Terasa sebuah desir yang lembut menggores dadanya. Mata yang tajam setajam mata burung hantu di dalam kegelapan, hidung yang mancung, kumis yang hitam dan garis-garis wajah yang tegas tergores di sisi matanya yang seolah-olah menyala.

Namun segera ia berkata, “Kalau demikian, aku memang harus membangunkan Ki Sentol. Seharusnya aku sudah tahu, bahwa yang datang sekarang adalah Angger Sidanti bersama gurunya. Aku yang sudah terlampau lama berada di Menoreh, seharusnya sudah mengetahui bahwa guru Angger Sidanti berada di sini.” Kerti berhenti sejenak, lalu kepada Ki Tambak Wedi ia berkata, “Maafkan aku, Kiai. Aku adalah seorang yang tidak tahu diri. Tetapi agaknya aku memang belum pernah melihat Kiai di Menoreh, meskipun agaknya Kiai sering berkunjung kepada Ki Gede Menoreh.”

Tiba-tiba wajah Ki Tambak Wedi menjadi tegang. Tetapi hanya sesaat. Sesaat kemudian ia telah berhasil menguasai dirinya. Bahkan ia telah dapat memaksa bibirnya untuk tersenyum, “Ya. Aku memang jarang sekali datang ke Menoreh. Argapati-lah yang sering berkunjung kepadaku, atau Angger Argajaya.”

Kerti menggangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak melihat dada Ki Tambak Wedi yang bergetar justru karena pertanyaannya. Ki Tambak Wedi seolah-olah dihadapkan kepada suatu pertanyaan yang menggores dinding jantungnya, menumbuhkan luka yang tidak akan dapat sembuh seumurnya. “Ya, kenapa aku seolah-olah tidak berani lagi datang ke Menoreh? Bukan hanya sekarang, tetapi bertahun-tahun yang lalu. Sejak Sidanti masih seorang kanak-anak.”

Tetapi kini Ki Tambak Wedi ingin menyembunyikan deburan perasaannya itu. Sekali lagi ia memaksa bibirnya tersenyum dan berkata, “Nah, karena itulah maka aku segera ingin bertemu dengan Ki Gede Menoreh. Sebaiknya kalian tidak usah bersusah payah membangunkan pemilik rumah ini.”

“Itu aneh. Aneh sekali, Kiai,” sahut Kerti, “marilah, Ki Sentol sudah seperti keluarga sendiri. Apalagi hari sudah jauh malam.”

“Kami sengaja berjalan malam hari,” desis Argajaya.

“Kenapa?”

“Kami baru saja menempuh perjalanan yang jauh. Sidanti perlu memperluas pengalaman dengan sebuah perjalanan hampir mengelilingi seluruh daerah Demak lama. Dalam pakaian yang kusut ini, perjalanan kami menjadi lancar. Kini, akhir dari perjalanan itu adalah menghadap Kakang Argapati.”

“Apakah Paman ikut dalam perjalanan itu?” bertanya Pandan Wangi tiba-tiba.

“Tentu. Aku pun ingin memperluas pengalaman.”

“Begitu cepat.”

“Kenapa?” Argajaya mengerutkan keningnya.

“Berapa lamakah Paman meninggalkan Menoreh?”

Argajaya terdiam sejenak. Pertanyaan itu memaksanya untuk berpikir. Tetapi segera ia menjawab, “Bukankah aku sudah cukup lama pergi? Aku mempergunakan waktuku sebaik-baiknya. Begitu aku sampai di Tambak Wedi, Sidanti sudah siap untuk memulai dengan perjalanannya.”

Pandan Wangi menggangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Di manakah kedua orang yang pergi bersama Paman dari Menoreh itu?”

Dada Argajaya berdesir mendengar pertanyaan itu. Dan sekali lagi ia harus berbohong. “Orang-orang itu masih berada di Tambak Wedi. Mereka tidak ikut dalam perjalanan kami.”

Ternyata Pandan Wangi hanya menggangguk-anggukkan kepalanya saja. Ia sama sekali tidak berprasangka apa-apa. Ia sama sekali tidak membayangkan bahwa di padepokan Tambak Wedi telah terjadi pertempuran yang sengit. Pandan Wangi sama sekali tidak membayangkan bahwa kedua orang itu telah menjadi korban kelicikan Ki Tambak Wedi, yang mengorbankan orang-orang lain untuk keselamatannya. Kedua orang itu ternyata terbunuh dalam peperangan yang kisruh di Tambak Wedi melawan prajurit-prajurit Pajang.

Argajaya, yang memang tidak ingin mendengar berbagai pertanyaan yang mungkin tidak dapat dijawabnya, segera berkata, “Nah, aku kira keperluan kami sudah cukup. Kami akan meneruskan perjalanan. Bukankah begitu, Kiai?”

“Ya, ya Ngger. Kita akan meneruskan perjalanan.”

“Tetapi itu aneh sekali. Kalian telah berada di halaman rumah ini. Tetapi kenapa kalian tidak singgah, meskipun hanya sepenginang.”

“Terima kasih, Kerti,” jawab Argajaya, “sampaikan salamku kepada Ki Sentol. Lain kali aku akan datang dalam keadaan yang lebih baik. Ki Sentol pasti akan heran melihat pakaianku yang jelek dan kotor ini.”

Sebelum Kerti menjawab, tanpa disangka Pandan Wangi bertanya, “Apakah Paman dan Kakang Sidanti sama sekali tidak membawa ganti pakaian?”

Argajaya mengerutkan keningnya. Pertanyaan yang tidak berarti itu justru membingungkannya. Namun dalam kebingungannya ia mendengar Ki Tambak Wedi menjawab sambil tertawa itu, “Tidak lazim, Ngger. Tidak lazim kita membawa pakaian dalam perantauan. Kalau kita sedang pergi bertamasya atau berburu seperti Angger ini, maka kita wajib membawa ganti pakaian. Tetapi perjalanan kami mempunyai bentuk yang lain.”

Sekali lagi Pandan Wangi menggangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia tidak mempunyai prasangka apa pun terhadap jawaban itu.

“Sekarang, kami minta diri,” berkata Argajaya. Tetapi belum lagi mereka beranjak dari tempatnya, tiba-tiba pintu rumah Ki Sentol terbuka. Ternyata mereka yang berada di rumah itu telah terbangun karena percakapan di halaman. Apalagi suara Kerti yang agak lebih keras dari suara orang-orang lain.

Ketika sepercik sinar meloncat ke luar dari sela-sela pintu yang terbuka, terdengar Argajaya berdesah. Untuk seterusnya apakah ia dapat meninggalkan halaman rumah itu tanpa singgah lebih dahulu meskipun hanya sebentar? Tetapi yang sebentar itu mungkin akan dapat membuat kepalanya pening. Jawaban-jawaban yang salah akan dapat membuat orang-orang itu semakin banyak bertanya.

“Siapa di halaman?” terdengar suara orang tua itu dalam nada yang tinggi.

Sebelum orang lain menjawab, yang pertama-tama terdengar adalah suara Kerti melengking, “He, Ki Sentol. Di sini hadir seorang tamu yang akan menyenangkan hatimu.”

“Siapa?”

Terdengar Argajaya mengeluh pendek. Dan ia mendengar Kerti menjawab, “Kemarilah, dan kau akan melihatnya.”

Mereka kemudian melihat seorang laki-laki tua berjalan perlahan-lahan mendekat melintasi pendapa. Perlahan-lahan pula ia turun sambil memandang dengan tajamnya. Dilihatnya beberapa orang berdiri di halaman rumahnya, di muka pendapa. Ia segera dapat mengenal salah seorang yang berteriak memanggilnya, Kerti. Tetapi yang lain masih, belum jelas baginya.”

Semakin dekat dengan orang-orang yang berdiri di halaman itu, maka Ki Sentol menjadi semakin jelas melihat mereka. Yang kemudian dikenalinya adalah Pandan Wangi yang berpakaian laki-laki. Anak itu memang selalu mengenakan pakaian itu apabila ia pergi berburu. Yang dua orang lagi adalah pengawal Pandan Wangi di samping Kerti. Tetapi siapakah yang lain?

“Ki Sentol,” berkata Kerti kemudian, “Ki Argajaya datang berkunjung.”

“He” orang tua itu terkejut, “benarkah?”

“Kemarilah.”

Kini langkah Ki Sentol menjadi tergesa-gesa. Ketika ia menjadi semakin dekat, maka segera dikenalnya wajah itu, Argajaya.

Namun Ki Sentol merasa heran dengan penglihatannya sendiri. Ia melihat perbedaan pada adik Kepala Tanah Perdikan itu. Tetapi ia tidak tahu, apakah yang lain itu.

Agaknya Kerti melihat sorot mata keheranan dari Ki Sentol. Segera ia tanggap, dan berkata, “Kau heran melihat pakaian Ki Argajaya?”

Ki Sentol sejenak tidak bergerak dan tidak mengucapkan kata-kata. Dipandanginya saja Argajaya tajam-tajam. Lalu sejenak kemudian baru ia berkata, “Ya. Di situlah perbedaannya. Aku melihat sesuatu yang aneh padamu, Ngger. Ternyata pakaianmu. Pakaianmu sama sekali bukan pakaian seorang adik dari Ki Gede Menoreh. Kusut, kumal dan bahkan ada beberapa bagian yang telah sobek.”

Argajaya memaksa dirinya untuk tertawa. Katanya, “Itu tidak penting. Yang penting bagiku adalah segera menghadap Kakang Argapati.”

“He? Kau bergurau. Marilah, maaf, aku lupa mempersilahkan. Tetapi siapakah yang lain?”

“Apakah Ki Sentol telah benar-benar lupa dengan anak muda ini?”

“Siapa?”

“Sidanti.”

“He,” orang tua itu terperanjat. Selangkah ia maju. Dicengkamnya kedua pundak anak muda itu, lalu diguncang-guncangnya. “Bukan main. Kau Angger Sidanti yang dahulu sering berkunjung ke tempat ini juga?”

“Ya, Kiai,” sahut Sidanti, “meskipun ada beberapa macam perubahan kecil, tetapi aku masih mengenal rumah ini.”

“Bagus, bagus. Marilah singgah dahulu. Aku menjamu kalian.” Tetapi orang tua itu terperanjat ketika ia melihat tamu-tamunya menggeleng, “Terima kasih. Kami harus meneruskan perjalanan.”

Sejenak Ki Sentol berdiri saja dengan mulut ternganga. Ia tidak mengerti, kenapa Argajaya tidak bersedia singgah ke rumahnya, sehingga kemudian terloncat pertanyaannya, “Lalu apakah maksud Angger datang kemari di malam-malam begini kalau Angger tidak bersedia singgah ke rumah?”

“Kami hanya kebetulan saja lewat, Kiai.”

“Tetapi Angger sudah masuk ke halaman rumah ini.”

“Maaf, Kiai. Sidanti-lah yang mula-mula masuk ke halaman. Ia hanya ingin sekedar melihat apakah ada keluarganya yang sedang bermalam di sini dalam perburuannya. Ternyata ia melihat adiknya dan tiba-tiba saja timbul keinginan padanya untuk mengganggu Pandan Wangi.”

Ki Sentol menjadi semakin bingung. Dan ia mendengar Argajaya itu berkata seterusnya, “Kami sebenarnya sedang dalam sebuah perjalanan. Kami merantau mengelilingi daerah yang luas untuk menambah pengalaman. Karena itu, kami tidak dapat singgah di sini. Kecuali pakaian kami yang tidak pantas karena perantauan itu, kami juga membawa seorang tamu yang ingin segera bertemu dengan Kakang Argapati.”

“Siapa?”

“Ki Tambak Wedi, guru Sidanti.”

“Oh,” Ki Sentol mengerutkan keningnya, “kalau begitu kalian harus singgah. Harus!” Lalu orang tua itu membungkuk hormat kepada Ki Tambak Wedi, “Maafkan Kiai, aku tidak tahu sebelumnya. Marilah, singgahlah sebentar saja ke rumah ini.”

“Terima kasih,” jawab Ki Tambak Wedi, “pakaian kami tidak pantas sama sekali untuk singgah ke rumah Ki Sentol. Lain kali kami akan datang lagi. Kalau kami singgah malam ini, maka besok pagi kami tidak akan berani meneruskan perjalanan di daerah kelahiran Sidanti ini. Berbeda dengan tempat-tempat lain, tempat di mana orang-orang tidak mengenal kami, maka pakaian kami memperlancar perjalanan kami.”

“Oh,” Ki Sentol menggangguk-anggukkan kepalanya, “kalau itu yang Kiai pikirkan, mungkin juga Angger Argajaya dan Angger Sidanti jangan cemas. Besok kalian akan meninggalkan rumah ini dengan pakaian yang pantas. Bukankah kalian keluarga terdekat dari Ki Gede Menoreh.”

Sejenak Ki Tambak Wedi terdiam. Tawaran itu sudah pasti akan sangat menggembirakan Sidanti. Tetapi ia mendengar Argajaya menjawab, “Terima kasih, Kiai. Itu sama sekali tidak perlu. Kami akan berjalan di malam hari.”

“Tidak. Tidak. Tidak boleh jadi. Kalian harus singgah dan besok kalian akan pergi dengan pakaian yang pantas.”

Argajaya menarik nafas dalam. Ketika dipandangnya wajah Sidanti, maka dilihatnya anak muda itu mengganggukkan kepalanya.

“Hem,” desis Argajaya di dalam hatinya, “anak ini telah kehilangan harga dirinya. Bukankah tidak pantas sama sekali kalau aku dan Sidanti terang-terangan menerima pemberian dari Ki Sentol.”

Namun dalam pada itu, Sidanti berkata di dalam hatinya, “Ah, kenapa Paman telah tidak menghiraukan lagi harga dirinya, sehingga Paman tidak memerlukan pakaian yang lebih baik untuk memasuki halaman rumah ayah?”

Tetapi mereka tidak sempat lagi menolak ketika kemudian Ki Sentol langsung memegangi tangan Sidanti dan ditariknya anak muda itu sambil berkata, “Aku harus memaksa kalian. Kalau perlu dengan kekerasan. Kalian harus singgah di rumahku malam ini. Besok kalian boleh pergi. Jangan takut berjalan di siang hari karena aku akan menyediakan pakaian yang paling baik untuk kalian.” Lalu kepada Ki Tambak Wedi ia berkata, “Marilah Kiai, marilah singgah di rumah yang jelek ini.” Dan kepada yang lain Ki Sentol berkata, “Marilah, marilah Angger Argajaya dan kau Pandan Wangi, marilah menemui kakakmu yang aneh ini.

Argajaya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berjalan pula naik ke pendapa dan kemudian hilang di dalam rumah Ki Sentol bersama yang lain.

Betapapun juga, pertemuan itu merupakan saat yang penuh ketegangan bagi Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya. Setiap kali mereka harus menciptakan jawaban-jawaban atas pertanyaan yang kadang-kadang membuat mereka pening. Mereka harus sangat berhati-hati. Apalagi terhadap Pandan Wangi. Pertanyaan-pertanyaannya yang sederhana sering membuat Ki Tambak Wedi, Argajaya, dan Sidanti menjadi bingung. Untunglah bahwa Ki Tambak Wedi dan Argajaya ternyata memiliki kecakapan untuk menyusun cerita khayal yang cukup baik dan menarik.

Ketegangan itu akhirnya diakhiri dengan permintaan Argajaya untuk pergi ke perigi. “Aku akan mandi dahulu, Kiai. Supaya tubuhku yang kotor ini, tidak mengotori lantai rumah ini.”

“Ah,” Ki Sentol berdesah, “baiklah, Ngger.” Lalu orang itu tiba-tiba berteriak memanggil isterinya. Katanya, “Sediakan tiga pengadeg pakaian yang paling baik untuk tamu-tamuku.”

Sekali lagi dada Argajaya berdesir. Katanya, “Terima kasih, Kiai. Kalau aku tidak dapat menolak, maka lain kali aku akan menukarnya dengan pakaian yang serupa.”

“Jangan pikirkan itu, Ngger. Jangan kau pikirkan.”

Dan ternyata bahwa malam itu mereka telah mendapat pakaian yang baik dan pantas kecuali makan dan minum. Sidanti menjadi agak berlega hati. Besok ia akan dapat masuk ke halaman rumahnya dengan wajah tengadah.

Malam itu Pandan Wangi tidak jadi pergi berburu setelah lewat tengah malam. Bahkan ia pun kemudian pergi tidur, supaya besok ia dapat bangun pagi-pagi dan ikut mengantar kakaknya pulang ke rumahnya.

Malam itu, meskipun mendapat tempat yang baik, Ki Tambak Wedi tidak dapat memejamkan matanya. Kenangannya terbang ke masa silamnya yang jauh. Masa silam yang tidak dapat terhapus dari kenangannya. Apalagi apabila teraba olehnya bekas luka di bahu dan sebuah goresan di dadanya. Maka seakan-akan terbayang kembali perkelahian antara hidup dan mati, yang pernah terjadi antara dirinya dan Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh.

Ki Tambak Wedi terloncat berdiri. Dihentakkannya kakinya untuk mengusir kenangan yang seolah-olah mengungkat kembali kepahitan hidup yang pernah dialaminya dan yang membekas di hatinya untuk sepanjang umurnya. Tetapi orang tua itu pun kemudian dengan lesu menjatuhkan dirinya duduk di atas pembaringanmya. Ditundukkannya kepalanya dalam-dalam. Kemudian ia berdesis, “Kenapa aku tidak berhasil melupakannya?”

Semakin keras ia berusaha bahkan tampak semakin jelas di dalam angan-angannya, apa yang pernah terjadi.

“Hem,” Ki Tambak Wedi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dibaringkannya tubuhnya. Tetapi tidak lama kemudian ia mendengar ayam jantan berkokok bersahutan untuk yang ketiga kalinya.

“Hampir pagi,” desisnya. Orang tua itu seakan-akan tidak sabar lagi menunggu matahari melonjak dari cakrawala. Terasa betapa malam bertambah panjang.

Namun akhirnya sinar pagi yang cerah memancar di langit. Burung-burung liar berkicau bersahutan, seolah-olah berlomba memujikan kidung yang manis, bahwa mereka masih sempat menikmati hari baru dalam kurnia kasih yang mulus. Ki Tambak Wedi menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah ia ingin menghirup udara pagi sebanyak-banyaknya setelah semalam-malaman nafasnya disesakkan oleh kenangan yang pahit. Dengan wajah tengadah kini ia berdiri di belakang rumah Ki Sentol dalam panasnya matatahari pagi. Dipandanginya berkas-berkas sinar yang menyusup di sela-sela dedaunan, keputih-putihan seperti awan yang berwarna cerah.

Pagi itu Ki Tambak Wedi, Argajaya dan Sidanti sudah tidak dapat ditahan lagi. Ketika Ki Tambak Wedi, Argajaya, dan Sidanti selesai berkemas, maka segera mereka minta diri untuk meneruskan perjalanan. Bagaimanapun juga Ki Sentol mencoba menahan mereka, namun mereka terpaksa meninggalkan rumah itu. Sidanti segera ingin sampai ke rumahnya, melihat semuanya yang telah cukup lama ditinggalkannya. Bahkan Pandan Wangi pun memutuskan untuk ikut pulang bersama dengan kakaknya. Ia tidak meneruskan rencananya, berburu di hutan peliharaan.

Ketika matahari memanjat langit semakin tinggi, serombongan orang-orang yang baru saja meninggalkan rumah Ki Sentol itu telah ke luar dari padukuhan. Mereka kini berjalan di jalan persawahan yang sempit, berurutan. Sekali-sekali mereka berpaling memandangi sekumpulan kuntul yang berterbangan, dalam warnanya yang putih, seperti kapas yang bergumpal-gumpal terbang dihanyutkan angin yang kencang.

Tidak banyak yang mereka percakapkan dalam perjalanan itu. Sidanti dan Argajaya masih selalu menghindari pertanyaan-pertanyaan Pandan Wangi yang kadang-kadang sukar untuk menemukan jawabnya, sehingga Pandan Wangi itu menjadi heran. Kakaknya, Sidanti beberapa tahun lampau bukanlah seorang pendiam. Bahkan pamannya itu pun seakan-akan bukan pamannya beberapa waktu yang lalu, yang pergi membawa dua orang pengawal ke sebelah Timur Gunung Merapi. Pamannya sekarang tiba-tiba saja berubah menjadi seorang pendiam dan kadang-kadang menjadi gugup.

Tetapi Pandan Wangi tidak berprasangka apa-apa. Ia hanya menganggap bahwa perjalanan yang lama telah membuat mereka menjadi terlampau lelah. Karena itu ia berusaha untuk menyesuaikan dirinya. Ia pun tidak terlampau banyak bertanya, meskipun di dalam dadanya tertahan keinginan tahu yang besar, apa sajakah yang telah mereka lihat dan mereka dengar, apalagi yang mereka dapatkan di sepanjang perjalanan mereka.

Tetapi yang paling diam di antara mereka adalah Ki Tambak Wedi. Ia berjalan di paling depan dengan kepala tunduk. Hanya kadang-kadang saja ia mengangkat wajahnya dan memandang berkeliling, memandang daun padi yang hijau, air yang mengalir di parit yang menggenangi sawah sejauh mata memandang. Burung kuntul yang putih berterbangan berkelompok, berputar-putar untuk kemudian pecah seolah-olah rontok jatuh ke dalam air. Satu-satu hinggap pada kaki-kakinya yang panjang untuk mencari makanan mereka di dalam air.

Semakin dekat dengan rumah Sidanti, wajah Ki Tambak Wedi tampak menjadi semakin tegang. Perjalanan itu pun menjadi semakin senyap. Hanya langkah kaki-kaki mereka sajalah yang terdengar gemerisik pada daun-daun rumput liar yang kering.

Dalam ketegangan itu mereka sama sekali tidak menyadari, telah berapa lama mereka berjalan. Mereka tidak menyadari bahwa matahari telah condong ke barat. Panas yang menyengat tubuh mereka, sama sekali tidak terasa. Bahkan keringat yang membasahi tubuh mereka pun hampir-hampir tidak pernah mereka usap. Debu yang kotor yang berterbangan oleh kaki-kaki mereka, telah hinggap di tubuh dan pakaian mereka.

Mereka menjadi semakin berdebar-debar ketika di kejauhan, di seberang bulak yang panjang di kaki Pegunungan Menoreh tampak rumah Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu. Di muka rumah itu terbentang sebuah halaman yang luas. Kemudian, di luar sepasang regol halaman, masih didapatinya sebuah lapangan yang cukup luas. Alun-alun Menoreh. Meskipun tidak seluas alun-alun Pajang, bahkan belum mencapai separonya, tetapi rumah Sidanti itu tampak benar-benar sebuah rumah seorang Kepala Tanah Perdikan yang besar.

Tanpa disengaja, Ki Tambak Wedi berpaling. Ketika Sidanti melihat wajah orang tua itu, hatinya ikut berdebar-debar pula. Wajah itu memancarkan kesan yang mendebarkan hatinya. Tetapi sekali lagi ia menekankan anggapannya, bahwa Ki Tambak Wedi menjadi jemu karena dirinya, karena kegagalan yang pernah dialami.

“Seharusnya kecemasan guru tidak boleh berlebih-lebihan,” berkata Sidanti di dalam hatinya. Tetapi ia tidak dapat mengatakannya kepada gurunya, Ki Tambak Wedi.

Dengan demikian maka mereka masih saja terbenam dalam kediaman. Masing-masing sibuk dengan angan-angan sendiri. Namun semakin dekat mereka dengan rumah Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh, maka hati mereka pun menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi karena langkah-langkah mereka, maka rumah itu pun menjadi semakin dekat, sejalan dengan matahari yang menggantung di langit semakin mendekati punggung-punggung bukit di sebelah Barat.

Tiba-tiba dalam kediaman itu Kerti bergumam, “Kita sudah hampir sampai.”

Argajaya berpaling. Dilihatnya wajah Kerti yang cerah, seolah-olah tidak pernah ada persoalan apa pun di dalam benaknya.

“He,” berkata Kerti lebih lanjut kepada seorang kawannya, “Pergilah mendahului. Beritahukan kepada Ki Gede, bahwa akan datang tamu dari Padepokan Tambak Wedi.”

“Ah,” desis Ki Tambak Wedi tanpa berpaling, “tidak perlu. Nanti Argapati akan melihatnya sendiri.”

“Biarlah, Kiai. Biarlah orang-orang di rumah itu tidak terkejut. Dan biarlah mereka siap untuk menyambut kedatangan Kiai di daerah bukit Menoreh ini.”

Ki Tambak Wedi tidak menahut. Ketika ia melihat seseorang berlari-lari kecil mendahului perjalannya, ia seolah-olah menjadi acuh tidak acuh saja.

Pandan Wangi sendiri kemudian berjalan saja di dalam kediamannya. Ia tidak mengerti apa yang harus dilakukannya. Ia menyadi bingung dan canggung menghadapi kakak dan pamannya yang seakan-akan selalu mengelakkan pembicaraan.

“Apakah sikapku menjemukan mereka?” ia selalu bertanya-tanya di dalam hati. Dengan demikian maka Pandan Wangi yang ragu-ragu menghadapi kakak dan pamannya itu pun menjadi selalu terdiam pula.

Namun kini mereka telah berada beberapa puluh langkah saja dari alun-alun Menoreh. Sejenak lagi mereka akan memasuki lapangan rumput itu dan beberapa puluh langkah pula mereka akan sampai ke regol halaman rumah Sidanti yang besar dan berhalaman luas.

Ki Tambak Wedi menjadi semakin berdebar-debar ketika tiba-tiba ia melihat beberapa orang ke luar dari regol halaman rumah yang berdiri tegak di hadapannya, di seberang alun-alun. Dan debar di dadanya semakin keras ketika di antara orang-orang itu berdiri seorang laki-laki yang hampir sebaya dengan umurnya. Bertubuh tinggi tegap berdada bidang. Wajahnya yang keras memancarkan kekerasan hatinya pula. Sedang sorot matanya yang tajam melukiskan ketajaman pikirannya.

Orang yang bertubuh tinggi tegap itu berdiri sambil mengerutkan keningnya. Rambutnya yang sudah berseling putih beberapa helai, tampak selembar-selembar dibelai angin. Ikat kepalanya yang dikenakan dengan tergesa-gesa tidak menutup ke seluruhan rambutnya yang panjang, yang disanggulkannya dengan tergesa-gesa pula. Adalah menjadi kebiasaannya untuk membiarkan rambutnya terurai apabila ia sedang beristirahat di rumahnya. Dibiarkannya dadanya yang bidang itu bertelanjang. Bulu-bulu dadanya yang lebat tumbuh dengan suburnya. Sehelai kain panjang disangkutkannya di pundaknya. Dan dikenakannya sebuah celana hitam sepanjang betisnya. Sebuah sisir yang lengkung tersangkut pada rambutnya yang tebal dan lebat.

Ketika ia mendengar bahwa ada tamu yang akan datang, maka segera ia berkemas. Dikenakannya dengan tergesa-gesa bajunya dan disanggulkannya rambutnya. Ikat kepalanya yang selalu disangkutkan di lehernya, segera dikenakannya pula. Dan dengan sigapnya ia melangkah ke luar rumahnya dan terus ke halaman.

Sekali-kali tangannya diangkatnya untuk memilin kumisnya yang lebat.

Orang itu adalah Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh.

Argapati memandangi serombongan orang-orang yang berjalan di alun-alun dengan tajamnya. Segera ia dapat mengenalinya satu-satu. Namun wajahnya segera berubah ketika ia melihat orang tua yang berjalan di samping Sidanti, Ki Tambak Wedi.

Tetapi perubahan wajahnya itu sama sekali tidak membekas ketika kemudian orang yang bertubuh tinggi tegap itu tersenyum. Dengan tenangnya ia melangkah maju, menyongsong tamunya. Meskipun tamunya masih belum dekat benar, terdengar Argapati menyapanya dengan suara yang berat, “Ha, agaknya burung perenjak yang manis telah menuntunmu kemari, Paguhan, eh, maksudku Ki Tambak Wedi.”

Tampak kening Ki Tambak Wedi berkerut. Namun kemudian ia tersenyum pula sambil menjawab, “Aku ternyata salah jalan, Argapati. Aku sama sekali tidak ingin datang mengunjungimu.”

Keduanya tertawa. Ketika jarak mereka menjadi semakin dekat, segera keduanya mengulurkan kedua tangan mereka masing-masing, menggenggam lengan dan mengguncang-guncangnya.

“Kau memang awet muda, Argapati,” desis Ki Tambak Wedi.

Argapati tersenyum sambil menggangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Aku selalu jejamu, Tambak Wedi. Tetapi meskipun demikian rambutku sudah diwarnai oleh rambut putih.”

Pertemuan itu nampaknya begitu akrab dan menyenangkan. Sidanti yang masih berdiri di samping gurunya menjadi heran. Kenapa selama di perjalanan gurunya tampak terlampau muram dan cemas. Semakin dekat dengan rumah ayahnya, gurunya menjadi semakin pendiam. Ternyata sambutan ayahnya pun sama sekali tidak membayangkan peristiwa apa pun yang dapat mengeruhkan pertemuan itu.

“Apakah mungkin ayah akan marah kepada guru nanti apabila ia mendengar tentang keadaanku?” pertanyaan itu bergelut di dalam dada Sidanti. Namun ia tidak, dapat menemukan jawabnya.

Dalam pada itu, ayahnya segera menegurnya pula dengan ramah, menegur pamannya Argajaya dan adiknya Pandan Wangi. Dan sejenak kemudian maka Argapati telah mempersilahkan tamu-tamunya memasuki halaman rumahnya dan naik ke pendapa yang luas.

Ternyata kesan yang didapat oleh Sidanti dalam pertemuan itu, sama sekali bertentangan dengan kegelisahan dan kediaman gurunya di sepanjang jalan. Namun meskipun demikian gurunya sama sekali masih belum menyinggung tentang sebab-sebab Sidanti terpaksa pulang kembali ke Menoreh. Selama ini gurunya masih mengatakannya bahwa kedatangan ini adalah sekedar kerinduan yang tidak tertahankan untuk melihat kampung halaman, justru ketika Argajaya mengunjungi Tambak Wedi.

Namun tiba-tiba Pandan Wangi memotong, “Tetapi bukankah Paman mengatakan bahwa Paman, Kakang Sidanti, dan Ki Tambak Wedi baru saja mengadakan perjalanan yang panjang, dan kali ini sekedar singgah saja?”

Argajaya mengerutkan keningnya. Tetapi ia kemudian tertawa, “Kau salah Pandan Wangi. Kami memang baru saja mengadakan perjalanan. Tiba-tiba kami dihinggapi oleh keinginan yang tak tertahankan untuk melihat kampung halaman. Begitulah.”

Pandan Wangi menggangguk-anggukkan kepalanya. Ia sama sekali memang tidak berprasangka. Ia percaya bahwa mereka sedang dalam perjalanan dan dibakar oleh kerinduan kepada kampung halaman, sehingga mereka memerlukan singgah meskipun hanya sebentar langsung sebelum mereka kembali ke Tambak Wedi. Ternyata dari pakaian yang mereka pergunakan pada saat mereka berada di rumah Ki Sentol.

“Tetapi mereka datang dari arah Hutan Mentaok. Bukankah Tambak Wedi terletak jauh di seberang Hutan Mentaok?” sebuah pertanyaan tiba-tiba saja menyentuh hatinya. Namun pertanyaan itu dijawabnya sendiri, “Itu tidak penting. Dari mana pun mereka datang mereka dapat mengambil arah itu.”

Argajaya menjadi berlega hati ketika ia melihat Pandan Wangi menggangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia terperanjat ketika ia mendengar Argapati bertanya, “Apakah kalian sedang dalam perjalanan yang jauh?”

Sejenak Argajaya tidak menyahut. Dipandanginya wajah Ki Tambak Wedi dengan sorot mata yang memancarkan kecemasan hati. Seolah-olah ia ingin mendapat pertimbangan, bagaimana harus menjawab pertanyaan itu.

Ki Tambak Wedi melihat kecemasan yang membayang di wajah Argajaya. Karena itu maka ia pun segera memutar otaknya. Ia harus dapat menjawab pertanyaan itu tanpa menimbulkan kecurigaan. Maka katanya, “Ya, Argapati. Kami memang sedang dalam perjalanan. Kami sedang melihat-lihat betapa luasnya tanah ini. Kami daki gunung-gunung yang tinggi dan kami turuni jurang-jurang yang dalam. Sidanti memerlukan pengalaman itu.”

Argapati menggangguk-anggukkan kepalanya. “Bagus,” katanya kemudian. “Bagus. Pengalaman adalah guru yang baik. Kau memang memerlukannya Sidanti. Kau memerlukan pengalaman yang banyak sekali sebelum kau menjadi seorang prajurit yang baik. Tetapi dengan demikian apakah kau tidak meninggalkan tugasmu sebagai seorang prajurit Pajang.”

Sidanti menjadi berdebar-debar. Ternyata pertanyaan ayahnya menjadi berkepanjangan. Dan kali ini ia menjadi benar-benar kebingungan untuk mencari jawab.

Sekali lagi Ki Tambak Wedi harus menjawab pertanyaan itu. “Akulah yang minta ijin untuknya, Argapati. Aku melihat Sidanti masih terlampau hijau. Meskipun ia mempunyai beberapa kelebihan dari kawan-kawannya prajurit, tetapi ternyata bahwa pengalamannya tidak banyak bedanya dengan prajurit-prajurit yang lain, yang harus menunggu perintah untuk berbuat sesuatu. Karena itu Sidanti memerlukan keseimbangan. Kelebihannya dalam tata bela diri harus diimbangi dengan kecepatan berpikir dan bertindak. Dengan demikian maka barulah ia dapat disebut seorang prajurit yang baik. Tidak hanya sekedar mampu menjalankan tugas yang diperintahkan kepadanya oleh atasannya, tetapi ia mampu menentukan sikap menghadapi keadaan yang tiba-tiba.”

“Bagus, bagus,” Argapati menggangguk-angguk lebih cepat lagi. “Kau memang seorang anak yang baik, yang mempunyai hari depan yang baik pula. Di bawah asuhan seorang yang tepat, kau akan menjadi seorang yang tidak ada duanya di seluruh Pajang. Tetapi bagaimana dengan keadaan Sangkal Putung? Apakah daerah itu telah memungkinkan untuk ditinggalkannya?”

“Sangkal Putung telah menjadi baik kembali. Sepeninggal Tohpati, maka tidak ada lagi kekuatan yang dapat mengganggu.”

“Oh, jadi benar Angger Tohpati telah dapat dipatahkan.”

“Ia terbunuh di dalam peperangan.”

“Siapakah yang membunuhnya?”

Ki Tambak Wedi menjadi ragu-ragu sejenak. Namun ia kemudian berkata, “Angger Untara.”

“Ah,” Argapati berdesah, “aku kira kau akan menyebut nama Sidanti, Paguhan.”

“Sidanti telah mengalaminya juga bertempur melawan Tohpati. Tidak hanya sekali, tetapi beberapa kali.”

“Apakah ia masih belum dapat mengalahkannya?”

“Aku tidak dapat mengatakan demikian Argapati, tetapi mereka belum pernah mendapat kesempatan perang tanding yang tidak terganggu oleh hiruk pikuk pertempuran. Juga Angger Widura tidak dapat mengalahkan Tohpati dalam perang yang demikian. Kesempatan untuk itu memang terlampau sempit. Baru ketika Senapati muda yang bernama Untara itu berhadapan langsung dengan Tohpati, kesempatan itu didapatkannya.”

Argapati sekali lagi menggangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Aku tidak menyesal bahwa kau masih belum mengalahkan Tohpati, Sidanti. Apalagi kemudian yang berhasil membunuh Angger Tohpati adalah Angger Untara sendiri. Seandainya Tohpati terbunuh oleh orang lain, maka kau harus malu, bahwa bukan kau yang telah melakukannya.”

Sidanti sendiri hanya dapat menundukkan kepalanya. Debar dadanya menjadi semakin mengguncang jantungnya. Ia merasa seolah-olah sedang bergantung pada sebuah ranting yang kering.

Tetapi seperti Pandan Wangi, Argapati pun sama sekali tidak berprasangka sama sekali, bahwa baik Ki Tambak Wedi, Argajaya, dan Sidanti telah terdorong semakin jauh ke dalam cerita-cerita yang mereka khayalkan bersama.

Untuk menutupi kebohongan yang pernah mereka katakan sebelumnya, maka untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Argapati dan Pandan Wangi, mereka harus membuat kebohongan-kebohongan baru, semakin lama semakin banyak dan semakin banyak.

Hanya karena kecepatan mereka berpikir, maka seolah-olah cerita mereka itu benar-benar hidup. Meskipun mereka tidak berjanji lebih dahulu, dan tidak menyiapkan kerangka cerita yang harus mereka katakan, namun mereka berusaha untuk saling menyesuaikan diri. Meskipun demikian, mereka terpaksa menjadi semakin gelisah. Pertanyaan-pertanyaan Argapati menjadi semakin sulit untuk mereka jawab.

Sidanti sendiri semakin lama menjadi semakin diam. Tidak banyak yang dapat dikatakannya tentang perjalanannya mengelilingi daerah Demak lama. Bahkan ia berdoa, agar ayahnya tidak bertanya tentang daerah-daerah yang belum pernah dilihatnya.

“He, Sidanti,” tegur Argapati, “kenapa kau diam saja. Apakah Ki Tambak Wedi telah merubahmu menjadi seorang pendiam? Ayo, ceritakanlah apa yang pernah kau alami. Aku akan menjadi bangga mendengar ceritamu. Kau pasti pernah bertempur dengan serombongan penjahat, segerombolan perampok atau sekelompok orang-orang yang menyalahgunakan kekuasaannya untuk kepentingan diri, kemudian memeras orang-orang yang menjadi reh-rehannya. Kau pasti telah banyak berbuat selain menghadapi orang-orang Jipang yang agaknya sulit untuk mengerti keadaan yang sebenarnya telah dihadapkan di muka hidung mereka.”

Keringat dingin mengalir di segenap lubang-lubang kulit Sidanti. Wajahnya menjadi tegang, dan kerongkongan menjadi pepat. Untunglah bahwa gurunya membantunya. Berkata Ki Tambak Wedi, “Anak itu terlampau lelah. Pengalaman yang pertama ini agaknya terlampau berat baginya. Argapati, suruhlah anak itu tidur atau beristirahat atau apa pun. Besok pagi ia akan dapat bercerita seperti seekor burung yang segar disinari matahari pagi.”

Argapati tertawa. Dipandanginya wajah Sidanti yang tunduk. Katanya, “Ya, barangkali kau terlampau payah, Sidanti. Meskipun kau jauh lebih muda dari gurumu, tetapi jalan pernafasanmu dan otot bebayumu masih belum mendapatkan latihan yang mantap, sehingga kau terlampau cepat menjadi lelah.”

Mendengar kata-kata Argapati itu, Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Ia merasa seolah-olah Argapati menyindirnya, bahwa ia kurang berhasil menuntun anak muda itu. Tetapi ia mendengar Argapati itu meneruskan, “Betapapun baiknya latihan-latihan yang telah kau jalani, tetapi perjalanan yang pertama apalagi dalam jarak yang demikian jauh, memang merupakan latihan yang terlampau berat buat kau. Seharusnya kau mengalami perjalanan-perjalanan yang lebih ringan. Tetapi agaknya memang sudah menjadi adat gurumu.” Argapati berhenti sejenak, lalu kepada Ki Tambak Wedi ia berkata, “Bukankah begitu Paguhan? Kau tidak pernah telaten mengurusi persoalan-persoalan kecil. Kau ingin cepat langsung pada persoalan yang kau ingini. Tanpa banyak pendahuluan dan pengantar.”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Namun ia tersenyum, “Mungkin begitu, Argapati. Aku sendiri sulit untuk menilai diri. Tetapi aku memang tidak telaten berjalan dengan langkah kecil-kecil. Aku ingin meloncat sejauh jangkauanku.”

Argapati tertawa pula, “Kau masih belum berubah.” Lalu kepada Sidanti ia berkata, “Beristirahatlah. Besok kau akan dijamu oleh anak-anak muda yang paling terkemuka di Tanah Perdikan ini. Para pemimpin Pengawal Tanah ini. Kau pasti akan mendapat seribu macam pertanyaan. Mungkin ada yang menyenangkan hatimu, tetapi pasti ada pula pertanyaan-pertanyaan yang menjemukan bagimu. Setiap orang tertarik pada persoalan yang berbeda-beda. Ada yang ingin supaya kau bercerita tentang perkelahian-perkelahian yang pernah kau alami, ada yang ingin mendengar apakah kau bertemu dengan gadis-gadis cantik di perjalananmu, atau kau pernah melihat apa saja yang tidak ada di Menoreh, atau kau menjumpai jenis makanan yang paling enak yang pernah dibuat orang. Nah, malam ini persiapkan saja semua jawabannya.”

Sidanti yang tunduk itu mengganggukkan kepalanya, “Ya, Ayah. Aku akan mencoba.”

“Bagus,” kemudian kepada Pandan Wangi ia berkata, “bawalah kakakmu untuk beristirahat. Sediakan gandok Kulon untuknya dan gurunya.”

“Ya, Ayah,” sahut Pandan Wangi sambil berdiri. Kemudian ia melangkah pergi memanggil pelayannya untuk membersihkan, gandok Kulon.

Ketika kemudian Sidanti meninggalkan pertemuan itu, maka serasa ia terlepas dari sebuah kungkungan yang menyekat nafasnya. Begitu ia menginjakkan kakinya di halaman, begitu ia menarik nafas dalam-dalam. Terasa betapa sejuknya udara tanah kelahiran. Terasa betapa nyamannya silir angin di kampung halaman.

Sidanti berhenti sejenak ketika ia sampai ke depan pintu gandok. Dipalingkannya wajahnya. Ditebarkannya pandangan matanya ke sekelilingnya, hingga pada hijaunya pepohonan.

Tetapi tiba-tiba dadanya berdesir. Rumah ini, rumah ayahnya, terasa begitu asing baginya. Meskipun sudah lama ia tidak pulang kembali ke rumah ini, tetapi rumah ini adalah rumah ayahnya. Rumahnya sendiri.

Persoalan yang mereka bicarakan di pendapa itu telah melemparkannya pada suatu keadaan yang tidak disangka-sangkanya. Bayangan dan angan-angannya tentang rumah ini sama sekali berbeda dengan apa yang dijumpainya. Di sepanjang jalan ia berharap, bahwa begitu ayahnya mendengar tentang keadaannya, maka segera berbunyi tengara untuk menyiapkan pasukan di seluruh Tanah Perdikan yang besar ini.

Tetapi ketika ia sudah sampai di Menoreh, sudah berhadapan dengan ayahnya Argapati yang bergelar Ki Gede Menoreh, maka ia telah terlempar ke dalam suatu keadaan yang tidak menyenangkannya sama sekali. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa pembicaraan mereka berkisar ke dalam suatu khayalan yang menjemukan.

“Benar-benar gila,” gumamnya di dalam hatinya, “peristiwa di rumah Ki Sentol telah menyeret aku ke dalam keadaan yang sangat jelek. Apakah guru dan paman akan terus menerus bertahan pada keterangannya. Apakah kami akan terus menerus berbohong tanpa ujung dan pangkal? Semakin jauh kami terlibat dalam kebohongan yang gila itu, keadaan kami pasti akan semakin sulit. Mungkin ayah pun akan tersinggung pula apabila ia kelak terdampar pada suatu kenyataan tentang keadaanku, guru dan paman Argajaya yang sebenarnya.” Sidanti menggeretakkan giginya. “Kami harus berterus terang. Kami harus berterus terang supaya aku tidak disiksa oleh kebohongan itu.”

Sidanti masih saja berdiri di depan pintu gandok Kulon. Ia masih saja dicengkam oleh kegelisahan yang sangat. Peristiwa yang terjadi di rumah Ki Sentol benar-benar telah membuatnya sangat sulit. Pertanyaan-pertanyaan Pandan Wangi telah mulai mendorong pamannya untuk membuat cerita khayal. Lalu gurunya dan dirinya sendiri.

“Gila, gila,” ia menggeram.

Tetapi Sidanti itu terkejut ketika ia mendengar suara halus di belakangnya, “Marilah, Kakang. Bilikmu telah kami siapkan. Kau dan gurumu akan tidur di gandok malam ini. Mungkin juga Paman Argajaya. Tetapi agaknya paman akan segera pulang setelah sekian lama meninggalkan bibi dan adik-adik di rumah dalam kecemasan.”

Sidanti menarik nafas dalam-dalam. Ketika terpandang wajah adiknya, tiba-tiba saja ia teringat kepada Sekar Mirah. Gadis Sangkal Putung yang telah merusak segala rencananya, segala cita-citanya dan segala-galanya.

Tetapi ia melihat perbedaan pada kedua gadis itu. Sekar Mirah adalah gadis yang dibakar oleh gairah hidup yang menyala-nyala di dalam dadanya. Meskipun Sekar Mirah tidak mampu menggenggam pedang seperti adiknya, Pandan Wangi. Tetapi Sekar Mirah mempunyai beberapa kelebihan dari adiknya ini. Adalah kebetulan bahwa Pandan Wangi adalah puteri Argapati. Mungkin tanpa dikehendaki oleh gadis itu sendiri, ayahnya telah mengajarinya dalam ilmu tata beladiri. Menurunkan ilmu dari cabang perguruan Menoreh.

“Tidak. Aku melihat bahwa darah ayah mengalir pada tubuh Pandan Wangi. Ia cukup lincah, cukup cekatan dan cerdas untuk menghadapi keadaan yang tiba-tiba,” katanya di dalam hati.

Pandan Wangi yang masih saja berdiri di dalam gandok menjadi termangu-mangu. Ia menjadi heran kenapa kakaknya memandanginya seperti belum pernah melihatnya, sehingga wajahnya pun kemudian ditundukkannya.

“Pandan Wangi masih saja seorang gadis pemalu,” berkata Sidanti pula di dalam hatinya.

 

~ Article view : [201]