Api di Bukit Menoreh [ series 41-45]

331

Karya : SH Mintardja

 

Series 41

SEMENTARA itu, Ki Tambak Wedi masih saja sibuk mencari orang yang telah mengganggunya. Tetapi seperti hantu, orang itu menghilang tanpa meninggalkan bekas apa pun.

“Pasti bukan orang kebanyakan,” desisnya. Dan tiba-tiba saja diingatnya orang yang telah mengintainya, ketika ia menunggu orang-orang berkuda itu.

“Kalau orang ini yang mengintai itu, maka apakah yang dapat dilakukan oleh kedua orang-orangku yang akan mencoba menangkapnya?” gumam Tambak Wedi itu pula.

“Aku akan melihatnya,” orang itu tiba-tiba menggeram. Tanpa berkata apa pun juga kepada orang-orangnya, maka ia pun segera meloncat kembali ke tempatnya menunggu orang-orang berkuda itu. Beberapa pengikutnya yang melihatnya, segera berlari-lari mengikutinya, dengan berbagai macam pertanyaan di dalam hati.

Ki Tambak Wedi itu hampir saja menginjak salah seorang yang sedang terbaring diam. Dengan serta-merta iblis tua itu berjongkok dan meraba dada orang yang terbaring itu.

“Ia masih hidup,” desisnya.

“Siapakah itu Kiai?” bertanya salah seorang pengikutnya.

“Buka matamu, siapa orang ini.”

Orang yang bertanya itu mengerutkan keningnya. Kemudian digeretakkannya giginya ketika ia mengetahui bahwa yang terbaring itu adalah kawannya.

“Yang seorang ada di sini!” tiba-tiba seorang yang lain berteriak.

Ki Tambak Wedi-lah yang kemudian menggeretakkan giginya pula. “Bawa kemari,” katanya.

Kemudian keduanya pun dibaringkan berjajar di atas rerumputan yang kering. Dengan teliti Ki Tambak Wedi mencoba melihat, kenapa keduanya menjadi pingsan.

Dengan pengetahuan yang ada padanya, Ki Tambak Wedi memijit-mijit di bagian-bagian yang dianggapnya penting. Di punggung, kemudian ditelusurnya sampai ke bagian lehernya. Ketika Ki Tambak Wedi menyentuh di bawah ketiak salah seorang dari keduanya, maka orang itu menggeliat.

Perlahan-lahan orang itu membuka matanya. Sejenak ia masih belum dapat bangkit karena dunia ini rasanya seperti berputar.

“He, bangkitlah. Katakan apa yang telah terjadi dengan kau dan kawanmu itu.”

“Kepalaku seperti berputar,” desisnya perlahan-lahan.

Ki Tambak Wedi menggeram. Sekali lagi ditelusurinya punggung orang itu. Ketika tersentuh simpul keseimbangannya, maka orang itu pun terlonjak.

“Bagaimana?” bertanya Ki Tambak Wedi.

“Ya, sudah jauh berkurang. Tetapi perutku menjadi mual.”

“Persetan dengan perutmu!” bentak Ki Tambak Wedi. “Katakan, siapa yang telah membuatmu pingsan.”

“Aku tidak tahu. Aku hanya melihat dua sosok bayangan hitam.”

“Dua?”

“Ya. Yang seorang telah membuat kawanku itu pingsan tanpa aku ketahui sebabnya. Bayangan itu langsung menerkam dan membantingnya jatuh. Keduanya berguling sejenak. Tetapi yang bangkit kemudian hanyalah bayangan yang kehitam-hitaman itu.”

“Gila kau. Dalam gelap semuanya tampak hitam. Tetapi bagaimana dengan kau.”

“Bayangan yang satu lagi, telah membuat aku pingsan pula. Ia menyusup di bawah ayunan pedangku. Kemudian terasa tanganku seperti terlepas dan tengkukku serasa tebal. Aku kemudian tidak tahu apa-apa lagi.”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Cerita orang itu sangat menarik perhatiannya. Ternyata selain orang yang mencegat pasukan berkuda itu, masih juga ada orang lain yang bukan orang kebanyakan.

Namun tiba-tiba Ki Tambak Wedi itu bertanya, “Dua orang kau bilang?”

“Ya Kiai, dua orang.”

“Katakan, bagaimana bentuk kedua orang itu.”

Orang itu mencoba mengingat-ingat. Tetapi kemudian ia berkata, “Aku tidak dapat mengatakannya Kiai. Terlampau gelap untuk mengenal wajah-wajah mereka.”

“Aku tidak bertanya tentang wajahnya. Katakan, apakah mereka masih muda, tinggi atau pendek, atau kurus, gemuk dan apa lagi yang dapat kau sebutkan.”

Sekali lagi orang itu merenung. Kemudian menggeleng, “Aku tidak dapat menyebutkan Kiai. Aku tidak melihatnya dengan jelas.”

“Gila. Kau sudah menjadi gila. Apakah kau juga tidak dapat menyebutkan jenis senjata yang mereka pakai.”

“Mereka sama sekali tidak bersenjata.”

“O, kau memang sudah gila. Kau memang sudah gila.” Ki Tambak Wedi menjadi semakin marah. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Sambil menggeretakkan giginya ia menghentakkan kakinya.

Orang-orangnya sama sekali tidak ada yang berani mengucapkan sepatah kata pun. Semuanya menundukkan kepalanya. Tidak seorang pun yang bergerak, meskipun sekedar ujung jari kakinya.

“Kita menggabungkan diri dengan pasukan Sidanti,” geram Ki Tambak Wedi. “Aku akan berbicara dengan anak itu.”

Ki Tambak Wedi tidak menunggu jawaban apa pun. Diayunkannya langkahnya ke luar dari rimbunnya dedaunan. Sambil berjalan ia berkata, “Bawa orang yang pingsan itu kedua-duanya kembali. Mereka hanya akan mengganggu saja.”

“Baik Kiai,” jawab salah seorang dari mereka.

Maka beberapa orang kemudian mendapat tugas mengantar kedua orang itu kembali ke induk kademangan yang telah diduduki Sidanti. Meskipun yang seorang telah dapat berjalan sendiri, tetapi ia masih memerlukan bantuan dua orang kawan-kawannya.

Sementara itu, malam pun menjadi kian gelap pula. Ki Tambak Wedi menarik nafas ketika ia melihat beberapa buah obor telah berada di depan mulut regol desa, tempat pemusatan pasukan Argapati, meskipun tidak terlampau dekat. Seperti biasanya, pasukan Ki Tambak Wedi itu memperlihatkan dirinya. Ternyata usaha itu sedikit demi sedikit berpengaruh pula. Beberapa orang yang berada di dalam lingkungan pering ori itu sudah mulai bertanya-tanya, “Apakah sampai akhir hidupku, aku tidak akan sempat keluar dari tempat ini? Siang malam kami selalu diburu oleh kecemasan. Mungkin pada suatu saat pasukan itu tidak hanya akan sekedar mengepung kami. Suatu ketika pasukan itu akan menerkam pertahanan ini dengan dahsyatnya. Mungkin pada suatu saat pasukan itu tidak hanya akan sekedar mengepung kami. Suatu ketika pasukan itu akan menerkam pertahanan ini dengan dahsyatnya. Mungkin mereka akan berusaha membakar pering-pering ori ini dan menghanguskan segala isinya.”

Dan yang lain bergumam dalam hati, “Apakah sebenarnya yang harus kami pertahankan ini? Ternyata sama sekali bukan Menoreh, tetapi Ki Argapati. Dan karena itu, maka setiap malam kita harus berhadapan dengan kecemasan dan ketakutan. Sedangkan kita tidak tahu pasti, apakah perbedaan yang akan kita lihat, apabila kita berada di bawah kekuasaan Ki Argapati dan kekuasaan Sidanti. Bahkan mungkin anak muda itu dapat memberikan suasana yang baru bagi tanah ini.”

Agaknya pikiran-pikiran itu tidak hanya menghinggapi satu dua orang. Tetapi mereka masih tetap menyimpan di dalam hatinya, meskipun dari hari ke hari, mereka mengalami suasana yang penuh ketegangan, kecemasan, dan kemudian kejemuan.

Tampaknya permusuhan ini tidak akan segera berakhir, meskipun persediaan makan mereka menjadi semakin tipis.

Namun sebagian lagi berpendirian lain, meskipun berpijak pada kejemuan pula. Beberapa pengawal muda berkata satu sama lain, “Apakah untungnya kita menunggu. Lebih baik kita keluar dari penjara ini. Apa pun yang akan terjadi. Kita serang saja pusat pertahanan Sidanti. Kalau kita menang, menanglah kita. Kalau kita hancur segeralah kita binasa daripada menunggu tanpa batas seperti sekarang ini.”

“Kita menunggu Ki Argapati sembuh,” desis yang lain.

“Ya, aku tahu. Tetapi kapan Ki Argapati itu akan sembuh?”

“Tanpa Ki Argapati, siapakah yang akan berhadapan dengan Ki Tambak Wedi?”

“Meskipun ia bersenjata petir dan berperisai gunung sekalipun namun tenaganya pasti terbatas juga. Kita lawan orang tua itu bersama-sama. Maka ia pun pada saatnya akan mati.”

“Demikianlah kalau kita, seluruh pasukan itu, bertempur melawan Ki Tambak Wedi seorang diri. Tetapi ternyata kita berperang melawan sejumlah orang yang seimbang dengan jumlah orang di pasukan kita.”

Lawannya berbicara terdiam sejenak. Namun sepasang mata nya memancarkan kejemuannya yang hampir tidak tertanggungkan.

Malam ini mereka dihadapkan lagi pada sepasukan orang-orang Sidanti yang mengepung padesan tempat pemusatan pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Seperti di saat-saat yang lewat, beberapa obor terpancang beberapa patok dari desa, melengkung, di hadapan mulut gerbang. Satu-satu obor yang lain agaknya melingkar di seputar padesan itu pula.

Yang sibuk dibicarakan saat itu adalah pasukan berkuda yang terpaksa masuk kembali ke dalam regol. Beberapa orang telah menghadap Samekta, Wrahasta, dan beberapa orang pemimpin yang lain.

“Tidak seorang pun tahu, siapakah orang itu,” berkata pemimpin pasukan berkuda itu.

Samekta mengerutkan keningnya.

“Seorang dari kami, telah dikenai oleh Ki Tambak Wedi, kami tidak sempat membawanya kembali. Mungkin besok siang, aku akan mengambilnya.”

Wrahasta menggeram. Katanya, “Kenapa kau percaya kepada orang itu?”

“Kata-katanya meyakinkan. Dan sebenarnya bahwa kami tidak akan dapat berbuat terlampau banyak bila kami benar-benar berhadapan dengan Ki Tambak Wedi. Dalam jarak yang cukup jauh, seorang kawan kami telah gugur, dan seekor kuda kami mati pula terkena lemparan besi itu.”

Wrahasta terdiam. Tetapi ia masih saja menggeram menahan kemarahan.

Tetapi para pemimpin pasukan Pengawal Tanah Perdikan Menoreh, tidak dapat menyalahkan pemimpin pasukan berkuda itu. Ternyata bahwa salah seorang dari mereka memang telah gugur, dan seekor kuda telah mati.

Beberapa orang dari anggauta pasukan berkuda itu pun mengatakan bahwa mereka tidak dapat melihat, betapa cepatnya semua itu terjadi. Yang mereka ketahui kemudian, korban-korban itu telah jatuh.

“Dengan demikian,” berkata Samekta kemudian, “apakah Ki Tambak Wedi masih juga memperhitungkan lagi cerita tentang orang-orang bercambuk di dalam pasukan berkuda itu?”

Wrahasta menundukkan wajahnya. Tetapi ia menggeram, “Kita tidak perlu menggantungkan diri kita kepada siapa pun.”

“Bukan itu maksudku,” jawab Samekta. “Selama ini agaknya Ki Tambak Wedi memperhitungkan gerakan pasukan berkuda itu. Mungkin pengaruh dari gerakan itulah yang menunda kenapa Ki Tambak Wedi masih belum berbuat sesuatu selain mempengaruhi kebulatan tekad kami dengan obor-obor itu hampir di setiap malam. Namun kini agaknya ia telah yakin. Ia memerlukan mengetahui, siapakah sebenarnya yang berada di dalam pasukan berkuda itu.”

Wrahasta mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Ternyata cambuk-cambuk itu telah memanggil Ki Tambak Wedi. Bukan orang-orang bercambuk itu.”

“Tetapi orang bercambuk itu pun telah datang. Kami mengharap besok mereka akan memasuki padesan ini.”

“Apa yang dapat kita harapkan dari mereka?”

“Setidak-tidaknya pengobatan atas Ki Argapati.”

Wrahasta menggelengkan kepalanya, “Tidak banyak gunanya. Orang bercambuk itu tidak dapat membuat Ki Argapati sembuh dalam waktu satu malam. Bagaimana kalau besok atau lusa Ki Tambak Wedi menyarang?”

“Tetapi usaha itu harus dilakukan,” sahut Samekta.

Wrahasta tidak menjawab lagi. Tetapi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kesan yang baik buat orang orang bercambuk itu. Bahkan kemudian ia berkata, “Ki Argapati harus segera tahu. Aku akan menghadap.”

“Baiklah,” jawab Samekta, “sampaikan laporan ini. Atau bawa sajalah pemimpin pasukan berkuda itu.”

Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya. “Akan aku bawa anak itu.”

Wrahasta pun kemudian pergi bersama pemimpin pasukan berkuda menghadap Ki Argapati, sedangkan Samekta pergi ke regol desa, menemui para peronda. Samekta memperingatkan mereka, agar mereka menjadi semakin berhati-hati. Agaknya dalam waktu yang singkat, keadaan akan menjadi semakin panas. Semua senjata harus dipersiapkan. Jebakan-jebakan dan senjata-senjata jarak jauh. Alat-alat pelontar lembing dan busur-busur.

Sementara itu Ki Tambak Wedi duduk di antara para pemimpin pasukannya. Sidanti, Argajaya, dan dua orang dukun-dukun yang selalu beserta dengan mereka, Ki Wasi dan Ki Muni, yang tidak saja pandai mengobati luka-luka, tetapi mereka pun membawa senjata di lambung mereka. Mereka agaknya siap pula untuk bertempur. Ki Wasi membawa sepasang trisula bertangkai pendek, sedang Ki Muni bersenjata sebilah pedang yang lengkung. Pedang yang didapatnya dari seorang perantau asing yang mengembara. Suatu ketika Ki Muni pernah berguru kepadanya tentang ilmu obat-obatan dan bahkan tentang olah kanuragan. Pedang itu diterimanya dari gurunya itu, meskipun ia belum berhasil mempelajari ilmunya dengan sempurna. Itulah sebabnya maka pedang itu dianggapnya sebagai pedang yang keramat.

“Tak ada duanya di seluruh daerah Pajang dan bahkan seluruh kerajaan Demak lama,” katanya dengan bangga. “Pedang ini datang dari suatu negara yang sangat jauh. Negara di seberang lautan. Lautan air dan lautan pasir.”

Ki Tambak Wedi selalu mengumpat di dalam hatinya apabila ia mendengarnya. Sebagai seorang yang jauh menyimpan pengalaman dan pengetahuan, maka sudah tentu ia terlampau muak mendengar kebanggaan yang berlebih-lebihan itu. Di pesisir terutama, ia pernah melihat pedang serupa itu lebih dari segerobag. Orang-orang asing kadang-kadang menukarkan senjata-senjata serupa itu dengan senjata-senjata orang Demak. Sekedar untuk kenang-kenangan.

Tetapi Ki Tambak Wedi tidak pernah ingin mempersoalkannya. Apalagi kini, ia mempunyai masalah yang cukup penting untuk dibicarakan.

“Apakah Guru tidak dapat mengenalnya?” bertanya Sidanti.

“Jarak itu tidak terlampau dekat. Apalagi di malam hari. Aku seolah-olah hanya melihat sesosok bayangan yang kehitam-hitaman.”

“Bukankah Guru mendengar suaranya? Suara itu mungkin pernah guru dengar sebelumnya.”

Ki Tambak Wedi menggelengkan kepalanya, katanya, “Suara itu adalah suara yang parau meskipun bernada tinggi.”

Sidanti mengerutkan keningnya. Namun kemudian Argajaya bertanya, “Lalu bagaimana dengan yang dua orang itu?”

“Tak ada gambaran sama sekali. Orang-orang yang dibuatnya pingsan hanya dapat melihatnya sebagai bayangan yang hitam.”

“Ya, Kiai. Mungkin tidak ada petunjuk-petunjuk yang dapat dipakai sebagai landasan untuk menyebut keduanya. Tetapi jumlah mereka menimbulkan kecurigaanku.”

“Kenapa dengan jumlah itu?” bertanya Sidanti.

“Seorang guru dan dua orang murid.”

Ki Tambak Wedi menarik nafas dalam-dalam. Katanya perlahan-lahan seperti kepada diri sendiri “Aku memang sudah menduga meskipun pada saat orang-orang berkuda itu melarikan diri, aku masih mendengar ledakan-ledakan cambuk di antara mereka.”

“Apakah maksud Guru mengatakan bahwa orang-orang bercambuk itu ada di antara pasukan berkuda, dan yang dua orang itu orang lain lagi?” bertanya Sidanti.

Ki Tambak Wedi menggeleng, “Tidak begitu. Namun aku belum menemukan keyakinan. Tetapi aku condong pada pikiran itu. Bahwa yang menghentikan pasukan berkuda itu adalah gurunya dan yang dua orang itu adalah murid-muridnya yang sama gilanya dengan gurunya.”

Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak segera berkata apa pun. Angan-angannya baru dipenuhi oleh berbagai macam dugaan dan pertimbangan.

Yang tidak segera mengerti pembicaraan itu adalah Ki Wasi dan Ki Muni. Sejenak kemudian mereka mengerutkan keningnya.

Ki Muni, yang tidak dapat menahan hati lagi, segera bertanya, “Siapakah yang kalian bicarakan itu?”

Ki Tambak Wedi menjadi ragu-ragu sejenak. Mula-mula ia ingin berkata terus terang. Tetapi apabila cerita tentang orang-orang bercambuk itu meluas, dan seolah-olah Ki Tambak Wedi sendiri sudah membenarkan, maka hal itu pasti akan mempengaruhi keberanian orang-orangnya. Karena itu, maka kemudian ia menjawab, “Mereka pasti orang-orang yang ingin mengail ikan di air yang sedang keruh.”

“Tetapi menilik cerita Kiai, seolah-olah mereka adalah orang-orang yang harus disegani.”

“Aku tidak dapat mengenal mereka dengan jelas. Dan apa yang terjadi itu pun bukan ukuran yang sebenarnya. Pada suatu ketika aku ingin bertemu langsung dengan mereka, untuk mengetahui apakah aku pantas menundukkan kepala, atau semuanya itu hanya sekedar sebuah permainan yang licik dari Argapati.”

Meskipun jawaban itu tidak memberinya kepuasan, tetapi ia tidak mendesak lagi. Namun ia bergumam seperti kepada diri sendiri, “Apakah kita akan menunggu sampai Argapati sembuh?”

“Apakah Argapati itu tidak jadi mati?” Sidanti memotong.

Ki Muni membelalakkan matanya. Sindiran itu sangat menyakitkan hatinya. Seolah-olah Sidanti mengejeknya, bahwa perhitungannya sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan.

“Siapa yang melihat bahwa Argapati masih hidup?” ia membantah. “Mungkin Argapati memang sudah mati. Tetapi karena orang-orang Menoreh yang berpihak kepadanya cukup licik, sehingga mereka dapat melindungi rahasia itu serapat-rapatnya.”

“Kita tidak boleh mimpi. Kita harus berani menghadapi kenyataan.”

“Siapa yang mengingkari kenyataan?” Ki Muni menjadi tegang, dan bahkan hampir-hampir ia berteriak seandainya Ki Tambak Wedi tidak menengahi, “Kenapa kita ribut? Ada atau tidak ada Argapati, kita tidak boleh cemas. Argapati hanya seorang diri. Sejauh-jauh yang dapat dilakukan tentu sangat terbatas. Orang kedua adalah Pandan Wangi. Sedang yang lainnya, sama sekali tidak banyak berarti.”

“Apakah Ki Tambak Wedi telah melupakan cerita Ki Peda Sura tentang dirinya?”

Ki Tambak Wedi tidak segera menyahut. Terlintas dalam kepalanya, kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi, apabila ia menunda waktu terlampau lama. Tetapi untuk bergerak sekarang, ia tidak dapat membuat perbandingan yang setepat-tepatnya. Tidak seorang pun dari petugas sandinya yang tahu pasti tentang keadaan Ki Argapati. Tidak seorang pun yang dapat mengatakan, siapakah sebenarnya orang-orang bercambuk di dalam lingkungan pasukan berkuda itu dan siapa pula yang telah berkelahi melawan Ki Peda Sura. Tetapi kesimpulan Ki Tambak Wedi, yang paling mungkin adalah permainan Argapati, sedang orang-orang bercambuk yang sebenarnya justru bukan yang berada dalam pasukan berkuda itu.

Tetapi sebelum Ki Tambak Wedi menjawab, Sidanti telah mendahului, “Kenapa kita tidak berbuat sekarang juga, Guru?”

“Nah,” tiba-tiba Ki Muni memotong, “bukankah kau juga membenarkan pendapatku? Apalagi yang kita tunggu?”

“Omong kosong,” wajah Sidanti pun menjadi merah. “Aku selalu berpendirian demikian. Sama sekali bukan membenarkan pendapatmu.”

“Kau terlampau sombong, Anak Muda. Kenapa kau tidak mau mengakui, bahwa sebenarnya akulah yang pertama-tama berpendapat demikian.”

“Tidak,” tiba-tiba Sidanti menggeram.

Namun segera gurunya berkata, “Kejemuan telah membuat kalian menjadi gila. Aku tahu, bahwa bukan hanya kalian berdua saja yang berpendapat demikian, tetapi kita seluruhnya menghendakinya.”

Sidanti menggeretakkan giginya. Sedang Ki Muni kemudian berjalan hilir-mudik sambil bergeramang tidak menentu.

“Kalau memang begitu,” Argajaya-lah yang berkata, “Kenapa kita menunggu lebih lama lagi? Bukankah sekarang kita sudah berdiri di ambang pintu.”

“Itu tidak mungkin,” sahut Ki Tambak Wedi, “Kita tidak bersiap untuk melakukan penyerangan. Kekuatan kita hanya kita siapkan untuk melakukan pengepungan seperti biasa. Beberapa bagian untuk menjebak apabila pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang masih setia kepada Argapati itu berusaha menolong pasukan berkudanya. Tetapi semua rencana itu telah rusak. Dan kita tidak dapat merubah rencana itu dengan tiba-tiba. Sebab yang kita hadapi adalah kekuatan. Kekuatan yang masih menjadi teka-teki. Dalam peperangan kita harus mempunyai perhitungan yang pasti. Bukan sekedar untung-untungan.”

Argajaya mengedarkan pandangan matanya ke sekelilingnya. Kemudian perlahan-lahan ia berkata, “Kita tidak boleh menunggu sampai orang-orang kita diterkam oleh kejemuan yang tidak terkendali.”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Sejenak ia merenung. Dan sejenak kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya sesuatu telah berkembang di kepalanya.

Tiba-tiba orang tua itu berkata, “Baik. Baik. Aku akan melakukannya sekarang.”

“Apa, Guru?” bertanya Sidanti dengan serta-merta.

“Kita akan menyerang.”

“Sekarang?”

“Ya sekarang.”

Kini Sidanti, Argajaya, Ki Wasi, dan Ki Muni-lah yang menjadi heran atas keputusan yang tiba-tiba itu. Bahkan menurut Ki Tambak Wedi sendiri, pasukanmya tidak bersiap untuk melakukannya. Namun tiba-tiba orang tua itu berubah pendirian.

“Apakah hal itu dilakukan sekedar melepaskan kejengkelannya saja,” pertanyaan itu mengganggu pikiran Sidanti. “Jika demikian kita akan terlibat dalam suatu perbuatan yang dapat membahayakan kita sendiri.”

Tetapi Sidanti tidak segera menyatakan pikirannya itu. Dipandanginya saja gurunya yang kemudian menengadahkan kepalanya. Silir angin malam telah menggerakkan juntai rambutnya yang sudah keputih-putihan di bawah ikat kepalanya.

Dengan nada yang berat ia berkata, “Sidanti kita akan menyerang malam ini.”

Wajah Sidanti menjadi tegang.

“Bukankah kau ingin berbuat demikian seperti orang-orang lain menginginkannya pula?”

Dengan dada berdebar-debar Sidanti menjawab, “Tidak, Guru, kalau itu hanya sekedar menuruti perasaan tanpa perhitungan.”

“Bagus,” sahut gurunya. “Tetapi marilah kita membuat perhitungan yang lain.”

Sidanti mengerutkan keningnya.

“Kalau kita menyerang malam ini, mungkin kita akan dapat memancing keterangan tentang kekuatan yang ada didalam lindungan pering ori itu. Yang penting, apakah orang-orang yang aneh, yang aku jumpai pada saat aku mencegat orang-orang berkuda itu, akan hadir juga. Aku kira sampai saat ini mereka berada di luar benteng ori.”

“Tetapi apakah kekuatan kita siap untuk menghadapinya?”

“Kenapa tidak? Kita sumbat mulut desa itu keempatnya. Kita tidak bersungguh-sungguh untuk merebutnya malam ini. Apakah kau mengerti?”

Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tahu maksud gurunya. Gerakan ini adalah sekedar pameran kekuatan dan memancing keterangan tentang orang-orang bercambuk itu.

Argajaya yang dapat menangkap juga maksud Ki Tambak Wedi itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Namun ia masih tetap ragu-ragu, apakah mereka akan dapat berhasil.

“Permainan Kiai mengandung bahaya yang cukup besar,” desis Argajaya.

“Memang. Tetapi seandainya mereka benar-benar keluar dari benteng mereka itu pun, kita akan menghancurkannya. Karena itu kita harus siap menunggui setiap mulut desa itu di empat penjuru. Sebagian terbesar akan datang dari sebelah kiri.”

Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kita akan mundur pada saat kita yakin bahwa keterangan yang kita perlukan sudah kita dapatkan.”

Sekali lagi Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah kita coba. Tetapi setiap pemimpin kelompok harus tahu benar rencana ini supaya mereka tidak membuat kesalahan.”

“Tentu,” sahut Ki Tambak Wedi. “Sekarang kumpulkan mereka.”

“Baiklah,” sahut Argajaya, yang kemudian bersama-sama dengan Sidanti memanggil semua pemimpin kelompok didalam pasukannya.

Mereka mendapat petunjuk-petunjuk dengan singkat, apa saja yang harus mereka lakukan. Mendekati desa itu, dan menyerang dengan senjata-senjata jarak jauh. Menjaga setiap regol, dan apabila para pengawal keluar juga, perintah Ki Tambak Wedi adalah, menghancurkan mereka.

“Tetapi kita tidak akan merebut kedudukan mereka sekarang.”

“Kenapa?” potong Ki Muni, “Apabila mungkin, hal itu baik juga kita lakukan. Kita rebut pemusatan pasukan mereka dan kita akan mengerti, apakah Argapati memang masih hidup atau sudah mati.”

“Tidak mungkin dalam keadaan kita saat ini. Kita tidak cukup banyak membawa senjata untuk kepentingan itu. Kita harus dapat melawan para pengawal yang bersarang di atas ranting pering ori, dengan alat-alat pelempar lembing dan bahkan pelempar batu itu.”

“Kalau kita mendekat, mereka akan menyerang kita dengan cara yang sama.”

Ki Tambak Wedi menjadi jengkel mendengar kata-kata Ki Muni itu, tetapi ia masih mencoba menahannya. Dan dicobanya untuk memberikan penjelasan , “Ki Muni, serangan-serangan yang demikian memang sebagian ditujukan keluar regol. Tetapi ujung-ujung lembing, panah dan batu-batu itu terutama diarahkan ke mulut regol. Begitu kita membuka regol, dan pasukan kita berusaha menerobos masuk, maka terjadilah hujan lembing, panah dan batu di seberang pintu itu.”

Ki Muni mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, sekarang bersiaplah. Kita akan segera mulai. Tetapi ingat, aku akan memberikan tanda, agar kita dapat bersama-sama menarik diri. Sidanti dan Argajaya selain mengawasi pasukan ini, juga berusaha melihat, apakah orang-orang gila itu mendekati medan. Apabila mereka benar-benar datang, kedua anak-anak gila itu adalah lawan kalian. Serahkan yang tua kepadaku. Kita harus menyelesaikan mereka saat ini juga. Kita akan mendapat bantuan dari beberapa orang di dalam pasukan kita. Antara lain Ki Wasi dan Ki Muni. Sudah tentu kita akan membinasakannya. Sesudah itu, maka kita tidak akan berteka-teki lagi.”

Sidanti dan Argajaya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Sedang Ki Wasi yang tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Ki Tambak Wedi itu bertanya, “Siapakah yang Kiai maksudkan dengan mereka itu?”

“Kita sedang ingin melihat, apakah mereka benar-benar orang-orang yang disebut orang-orang bercambuk itu.”

Ki Wasi mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia bergumam, “Aku dapat mengerti cara yang Kiai tempuh. Mudah-mudahan kita berhasil. Kita akan segera sampai pada babak seterusnya dari peperangan ini. Semakin cepat kita selesai pasti akan semakin baik.”

“Kenapa?” bertanya Ki Muni. “Lalu kau akan diangkat menjadi senapati? Atau dukun pribadi Sidanti?”

“Ah,” Ki Wasi berdesah, “bukan itu. Semakin cepat, maka korban akan menjadi semakin sedikit. Kekejaman-kekejaman yang terjadi akan segera berakhir, dan ketakutan pun tidak akan berkepanjangan.”

“He?” Ki Muni menarik keningnya, kemudian terdengar ia tertawa, “Kau benar-benar seorang pengabdi kemanusiaan yang paling baik Ki Wasi, tetapi tanpa kekejaman dan kekerasan kita tidak akan berarti apa-apa lagi. Tidak ada lagi orang yang sakit parah yang memerlukan pertolonganmu dan pertolonganku.”

“Pikiranmu telah benar-benar terbalik,” sahut Ki Wasi, yang terpotong oleh kata-kata Ki Tambak Wedi, “Sudahlah, apa pun titik pandangan kalian. Sekarang kita siapkan diri kita masing-masing. Untuk membuat kegaduhan di pihak mereka, lontarkan obor-obor itu kepada mereka. Kalau mungkin ke sarang-sarang pasukan yang berada di ranting-ranting pering ori itu, bahkan apabila mungkin kita bakar saja regol desa itu.”

Ki Wasi mengerutkan keningnya. Sejenak dipandanginya Ki Tambak Wedi, dan sejenak kemudian Ki Muni. Tetapi ia tidak lagi mengucapkan sepatah kata pun.

Sementara itu, Sidanti dan Argajaya yang menjadi muak mendengar setiap kata-kata Ki Muni telah mempersiapkan diri. Pesan-pesan terakhir telah diberikannya dan para pemimpin kelompok pun telah memahami apa yang harus mereka lakukan.

“Kita menghangatkan suasana. Kita tidak boleh terlampau lama tertidur. Serangan kali ini akan mematangkan sikap kita dan akan segera membawa kita ke pertempuran yang sebenarnya,” berkata Sidanti kepada para pemimpin kelompok itu. Kemudian, “Sekarang kembalilah kepada orang-orang kalian masing-masing. Kita akan segera mulai.”

Para pemimpin kelompok itu pun segera, menyampaikan perintah itu kepada kelompok masing-masing. Berbagai tanggapan terbayang di wajah mereka. Apalagi mereka yang datang ke Tanah ini dengan berbagai macam pamrih pribadi.

“Ki Tambak Wedi ternyata bukan seorang yang cukup cakap memimpin peperangan,” salah seorang berdesis. “Kenapa kita harus menunda lagi seandainya hari ini kita dapat memasuki padesan itu?”

“Korban terlampau banyak,” jawab yang lain, “Kita tidak bersiap sepenuhnya untuk melakukan itu.”

“Kalau kita tidak bersiap kenapa hal ini kita lakukan?”

“Sudah dikatakan, Ki Tambak Wedi ingin mengetahui perbandingan kekuatan yang sebenarnya di antara kedua pasukan yang berhadapan ini.”

“Orang tua itu terlampau banyak pertimbangan. Apa salahnya kita memasuki sarang lawan itu meskipun terlampau banyak korban? Semakin banyak korban akan menjadi semakin baik bagi kita. Kekayaan yang tersimpan di dalamnya akan kita bagi, menjadi bagian-bagian yang lebih sedikit.”

“Ah,“ yang lain berdesah, sedang orang yang pertama tersenyum aneh. Senyum yang mempunyai berbagai macam arti.

Sejenak kemudian Ki Tambak Wedi telah bersiap. Dengan dada tengadah ia berdiri memandangi pintu regol di kejauhan. Lampu minyak yang redup tergantung pada teritis regol yang tertutup itu, meskipun ada satu dua orang yang berjaga-jaga di luar.

“Kita lakukan sekarang,“ geram Ki Tambak Wedi. Kepada Sidanti dan Argajaya ia berkata, “Jangan lengah. Awasi seluruh medan, kalau kelinci-kelinci itu tampak hadir. Hanya kalianlah yang tahu, apakah mereka ikut campur atau tidak.”

Sejenak kemudian Ki Tambak Wedi itu pun melontarkan tanda, bahwa pasukannya harus bergerak. Tiga orang telah melontarkan panah berapi bersama-sama.

Penjaga di muka regol desa melihat api itu pula. Dengan dada berdebar-debar mereka memandang api yang seolah-olah terbang ke kebiruan langit. Ketika api itu meluncur dan jatuh di atas tanah persawahan yang kering, maka sadarlah mereka, bahwa sesuatu akan terjadi.

“Kita harus memberikan laporan.”

Kawannya tidak segera menjawab. Tetapi tiba-tiba matanya terbelalak ketika ia melihat obor-obor telah mulai bergerak. “Lihat, mereka mulai maju mendekat.”

Yang lain pun menjadi tegang pula. Katanya, “Cepat. laporkan gerakan itu. Aku akan mengawasinya.”

Kawannya tidak menjawab lagi. Segera ia menyelinap masuk kedalam regol dan lari menghambur menemui pimpinannya.

“Apakah kau tidak sedang bermimpi?“ bertanya pemimpinnya.

“Aku berkata sebenarnya.”

Pemimpinnya pun segera meloncat dan berlari keluar regol. Yang dilihatnya kemudian seakan-akan menghentikan jantungnya. Barisan obor yang bergerak semakin lama semakin dekat. Jauh lebih banyak dari yang biasa dilihatnya. Karena sebenarnyalah bahwa Ki Tambak Wedi telah memerintahkan semua obor, obor-obor cadangan yang disediakan untuk menyambung obor-obor yang telah kehabisan minyak, dan semuanya, harus dinyalakan.

“Cepat, sampaikan kepada Ki Samekta dan Wrahasta.”

Seorang penghubung segera berlari menemui Samekta, sedang pemimpin pengawal yang sedang bertugas itu berdiri dengan tangan gemetar di luar regol. Tanpa sesadarnya tangannya telah meraba hulu pedangnya.

Sejenak kemudian Samekta sendiri telah berdiri dimuka pintu regol bersama Wrahasta dan beberapa pemimpin pengawal yang lain. Dengan wajah yang tegang ia mengawasi gerakan sepasukan obor yang merayap mendekati pertahanannya.

“Siapkan semua pasukan,“ perintahnya. “Semua laki-laki yang masih mungkin memegang senjata harus bersiap pula. Agaknya mereka memusatkan serangan mereka ke regol ini. Karena itu, berikan beberapa kelompok kecil sebagai pengawas saja di regol-regol yang lain. Tetapi mereka harus berhati-hati. Jangan sampai mereka terjebak. Regol-regol harus tetap tertutup rapat. Tidak seorang pun dari pasukan pengawal yang dibenarkan keluar dari lingkungan ini. Lawan agaknya cukup banyak. Kalau kita terpancing keluar, maka kita akan dihancurkan seluruhnya tanpa dapat berbuat apa pun.“ Samekta berhenti sejenak, kemudian, ”Semua pengawal yang melayani alat-alat pelontar senjata jarak jauh harus bersiap di tempatnya. Kalau mereka mencoba memecah pintu regol, maka semua kekuatan yang ada harus dikerahkan. Mereka harus dihancurkan sebanyak-banyaknya begitu mereka berdesak-desakan masuk. Para pengawal harus menjaga sisa dari mereka yang dapat lolos dari patukan senjata-senjata jarak jauh itu.”

Semua orang yang mendengar perintah itu menganggukkan kepala mereka. Meskipun tidak sepatah kata yang keluar dari mulut, namun mereka telah menyatakan kesediaan mereka di dalam hati. Justru mereka yang ragu-ragu selama ini menjadi mantap kembali. Apalagi anak-anak muda yang hampir saja diterkam oleh kejemuan, maka kedatangan lawan mereka itu seolah-olah telah memberikan udara baru bagi mereka.

Sejenak kemudian maka para pemimpin kelompok telah siap untuk menjalankan tugas masing-masing. Sebelum mereka meninggalkan regol, mereka masih mendengar Samekta berpesan, “Belum perlu membunyikan tanda apa pun. Masih ada waktu untuk mencapai segala sudut desa ini. Khusus untuk Ki Kerti, kita akan mengirim kabar dengan panah sendaren.”

Wrahasta yang berdiri di samping Samekta mengerutkan dahinya. Setelah para pemimpin kelompok itu pergi ke kelompoknya masing-masing, serta menyiapkan diri untuk melakukan perintah Samekta, maka kini masih ada satu soal yang menyangkut di hati pemimpin pasukan pengawal itu.

Dengan ragu-ragu Wrahasta berdesis, “Apakah yang akan kita katakan kepada Ki Argapati yang sedang terluka itu?”

Samekta tidak segera menjawab. Tetapi tampak kebimbangan yang dalam membayang di wajahnya. Kalau hal ini diberitahukan kepada Ki Argapati, maka Samekta yang sudah mengenal watak Kepala Daerah Perdikannya itu, pasti tidak akan dapat mencegahnya lagi, apabila Ki Argapati itu sendiri akan turun ke medan perang. Tetapi apabila Ki Argapati itu tidak diberitahukannya, maka apabila ia gagal mempertahankan desa ini, segala kesalahan pasti akan ditimpakannya kepadanya. Ki Argapati pasti tidak akan dapat memaafkannya, kenapa ia tidak menyampaikan persoalan yang penting sekali ini kepada Kepala Tanah Perdikan.

Dengan demikian, maka pemimpin pengawal itu telah diamuk oleh keragu-raguan yang tidak segera dapat dipecahkannya.

“Bagaimana pendapatmu, Wrahasta?”

Wrahasta menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu, apakah yang sebaiknya kita lakukan. Aku merasa bahwa apa pun yang kita lakukan adalah salah.”

“Masalah ini tidak kita persoalkan sebelumnya. Kini kita langsung menghadapi persoalan yang tidak dapat dipertimbangkan terlampau lama.”

Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia memandang obor-obor yang masih saja bergerak maju, seperti sejuta kunang yang sedang merayap di atas padang ilalang, ia menarik nafas panjang-panjang. Katanya, “Mereka menjadi semakin dekat.”

Tanpa sesadarnya Samekta berpaling. Ditatapnya pering ori yang kehitam-hitaman di dalam gelapnya malam. Tetapi ia tahu, bahwa di belakang carangnya yang rimbun itu, tersembunyi para pengawal dengan alat-alat pelontar lembing, busur-busur yang besar dan bahkan pelontar batu-batu.

“Kita tidak dapat berdiam di sini untuk seterusnya,” desis Wrahasta. “Kita harus berada di dalam regol, dan pintu regol itu akan kita tutup dan kita selarak kuat-kuat.”

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, kita akan segera masuk. Tetapi bagaimana dengan Ki Argapati.”

Wrahasta termenung sejenak. Tetapi ia kemudian menggelengkan kepalanya, “Kesalahan kita adalah, kita menunggu sampai serangan itu benar-benar datang. Selama ini kita seakan-akan dibius oleh dugaan, bahwa Ki Tambak Wedi tidak akan melakukan serangan itu segera dalam gelar yang serupa itu.”

Samekta mengerutkan keningnya. Katanya, “Gelar yang dipakainya kini pun agaknya masih kurang menguntungkan. Kalau aku, maka gelar yang lebih baik akan aku pergunakan.”

Wrahasta tidak menjawab. Dipandanginya saja obor-obor yang semakin lama menjadi semakin dekat itu.

“Kita berbicara dengan Angger Pandan Wangi,“ tiba-tiba Samekta bergumam. “Kita akan mendapat bahan tentang Ki Gede Menoreh. Kita akan dapat mempertimbangkannya, apakah kita akan melaporkannya atau tidak.”

“Ya, kita menemui gadis itu. Tetapi waktu kita tidak terlalu banyak.”

Samekta dan Wrahasta pun segera masuk ke dalam sambil berkata kepada para penjaga, “Pintu regol ini pun harus segera ditutup. Kalian pun harus masuk pula. Tidak seorang pun boleh di luar regol.”

“Baik,“ jawab pemimpin pengawal yang sedang bertugas, “pada saatnya kami pun akan segera masuk.”

Samekta dan Wrahasta dengan tergesa-gesa segera berusaha menemui Pandan Wangi. Mereka tidak dapat menunda lagi karena obor-obor di luar lingkungan pering ori telah menjadi semakin dekat.

“Bagaimana dengan Ki Argapati?“ bertanya Samekta.

“Ayah telah menjadi semakin baik. Setelah obatnya diperbaharui maka Ayah menjadi semakin ringan. Beberapa kali ia bangun dan bahkan berjalan-jalan beberapa langkah di seputar biliknya.”

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia tidak dapat memperpanjang waktu lagi. Apa pun yang akan mereka lakukan terhadap Ki Argapati, namun Pandan Wangi sendiri harus mengetahuinya apa yang telah terjadi di luar regol padesan ini. Karena itu, maka Samekta itu pun kemudian bercerita tentang obor-obor yang telah mulai bergerak mendekati regol.

Wajah Pandan Wangi segera menjadi tegang dan kemerahan. Sejenak ia terdiam. Kemudian terdengar ia menggeram, “Kakang Sidanti telah benar-benar lupa diri. Lalu, “Baiklah, aku akan pergi ke regol desa.”

”Bukan itu yang penting Pandan Wangi. Tetapi bagaimana dengan Ki Argapati.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Wajahnya yang tegang menjadi semakin tegang. Sejenak kemudian ia berkata, “Biarlah ayah beristirahat. Kalau keadaan menjadi terlampau parah, kita akan memberitahutkannya. Kalau tidak, kita tidak perlu membuatnya gelisah.”

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya. Pertimbangan Pandan Wangi itu cukup bijaksana. Karena itu, maka katanya, “Beritahukan para pengawal itu Pandan Wangi, agar mereka tidak membuat kesalahan.”

“Baiklah, aku akan melarang mereka untuk menyampaikan semua berita tentang lawan kepada Ayah,“ sahut Pandan Wangi.

Setelah semua pengawal rumah itu dipesannya, maka Pandan Wangi pun kemudian minta diri kepada ayahnya.

“Apakah kau harus pergi, Wangi.”

“Sebentar, Ayah. Aku ingin melihat keadaan sejenak.”

“Apakah kau mendapat firasat bahwa sesuatu telah terjadi?”

Dada Pandan Wangi berdesir. Tetapi ia menjawab, ”Tidak, Ayah. Tidak ada apa-apa, selain suatu keinginan yang wajar untuk keluar sejenak dan melihat keadaan para pengawal.”

Ki Argapati mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menjawab, “Pergilah, tetapi jangan terlampau lama.”

”Terima kasih, Ayah. Aku ingin menemui para pemimpin pengawal di tempat mereka.”

Sejenak kemudian Pandan Wangi itu pun telah menghambur ke halaman menemui Samekta dan Wrahasta. Mereka kemudian bersama-sama pergi ke regol desa yang kini telah tertutup rapat-rapat.

Pemimpin penjaga yang berada di depan pintu regol di bagian dalam segera melaporkan kepada Samekta bahwa lawan telah berada beberapa langkah saja di depan regol itu.

“Aku akan melihatnya,” desis Samekta.

Maka pemimpin pengawal Tanah Perdikan itu pun segera pergi ke samping regol diikuti oleh Wrahasta dan Pandan Wangi. Dengan sebuah tangga pendek mereka memanjat ke atas, dan di atas sebuah anjang-anjang bambu mereka dapat melihat gerakan pasukan Sidanti yang menjadi semakin dekat.

“Semua bersiap,“ Samekta memberikan aba-aba.

Maka semua orang pun bersiap di tempat masing-masing. Semua alat pelontar, baik yang ditempatkan di atas carang-carang ori, maupun yang berada di balik-balik dinding halaman, semua telah tertuju ke mulut regol yang kini masih tertutup rapat. Sedang sebagian yang ada di sisi regol, mengarah ke mulut bagian luar dari regol itu.

Di belakang alat-alat pelontar itu, pasukan pengawal tanah perdikan sudah siap dengan senjata masing-masing. Sebagian berada di balik dinding-dinding batu, namun ada di antara mereka yang duduk di atas cabang-cabang pohon dengan busur di tangan mereka.

Pandan Wangi dan Wrahasta pun telah berada di atas anjang-anjang bambu itu pula. Sekali-sekali terdengar mereka menggeram. Wajah Pandan Wangi menjadi merah seperti terbakar. Kedua tangannya telah hinggap di hulu sepasang pedangnya.

Sejenak kemudian maka pasukan Sidanti pun telah berada di depan mulut regol menebar dalam gelar yang tidak terlampau luas. Beberapa orang yang berdiri di paling depan tampak seolah-olah seekor harimau yang sedang merunduk mangsanya, perlahan-lahan mereka maju, namun pasti.

Dada Samekta menjadi berdebar-debar. Ia masih belum dapat melihat, siapakah yang berdiri di pusat paruh pasukan lawannya.

Beberapa langkah dari pintu regol pasukan lawan itu berhenti. Kemudian seseorang yang berwajah keras seperti batu-batu padas, berkumis dan berjanggut, berhidung lengkung seperti paruh burung betet, maju ke depan. Itulah Ki Tambak Wedi, pemimpin dari seluruh pasukan lawan yang kini berada di mulut regol.

Sejenak kemudian orang tua itu terhenti. Dipandanginya pintu regol yang tertutup rapat-rapat. Kemudian lampu yang masih menyala di luar. Lalu dilayangkannya pandangan matanya ke kegelapan di samping regol.

Seandainya bukan Ki Tambak Wedi, dan seandainya matanya tidak setajam mata burung hantu, ia tidak akan melihat apa pun di balik carang ori dalam kegelapan itu. Tetapi agaknya Ki Tambak Wedi tidak dapat dikelabuhi lagi. Sambil menunjuk ke arah para pemimpin pengawal Tanah Perdikan Menoreh ia berkata, “He, siapakah yang memegang pimpinan kali ini?”

Dada Samekta berdesir. Namun ia tidak yakin bahwa Ki Tambak Wedi dapat melihatnya dengan jelas.

“He, siapa yang memegang pimpinan?”

Debar di dada Samekta masih belum mereda. Ia bukan seorang yang merasa dirinya kurang bernilai untuk memimpin pasukan pengawal tanah perdikan. Sebagai seorang yang telah memiliki pengalaman yang berpuluh tahun, ia yakin, bahwa ia mampu memegang pimpinan dalam keadaan yang bagaimanapun juga.

Tetapi ketika ia berhadapan dengan Ki Tambak Wedi, terasa sesuatu bergetar di dalam dadanya.

Namun agaknya bukan hanya Samekta sendiri yang dihinggapi oleh perasaan yang aneh. Setiap pengawal yang berada di atas cabang-cabang pering ori, yang melihat orang tua itu berdiri dengan kaki merenggang di luar regol yang tertutup rapat itu, hati mereka pun berdesir. Serasa mereka melihat hantu yang datang dari lereng Gunung Merapi, siap untuk menyebarkan maut. Apalagi ketika mereka melihat di tangan hantu tua itu tergenggam sebuah nenggala yang mengerikan.

“He, apakah kalian tuli?“ teriak Ki Tambak Wedi, “atau bisu, atau mati ketakutan?”

Samekta menggeram. Ia tidak dapat berdiam diri untuk seterusnya. Karena itu, ia melangkah setapak maju sambil menggeretakkan giginya, seakan-akan mencari sandaran kekuatan untuk menjawab pertanyaan Ki Tambak Wedi itu.

Tetapi terasa darahnya tiba-tiba saja berhenti mengalir. Bukan saja Samekta, namun juga Wrahasta, Pandan Wangi, dan bahkan semua orang yang kemudian mendengar suara tertawa perlahan-lahan. Dalam kegelapan mereka kemudian melihat sebuah bayangan yang meloncat dari belakang rimbunnya carang ori di sisi regol yang lain ke atas bubungan atap. Kemudian bayangan itu berhenti tepat di tengah-tengah bubungan regol itu.

Hampir tidak percaya setiap pengawal tanah perdikan menyaksikan bayangan yang berdiri dengan teguhnya sambil menggenggam sebuah tombak pendek.

Di sela-sela detak jantumg para pemimpin dan para pengawal, mereka mendengar bayangan itu berkata, “Sudah tentu, akulah yang memimpin pasukanku, Ki Tambak Wedi.”

Sejenak suasana dicengkam oleh kesenyapan yang menegangkan. Semua mata kini hinggap pada bayangan yang berdiri di bubungan atap dengan tombak pendek di tangannya.

Seperti orang yang mengigau terdengar suara Pandan Wangi lambat, “Ayah. Kenapa ayah berada di situ?”

Samekta yang masih belum dapat menenangkan dirinya berpaling. Dengan telapak tangannya ia menekan dadanya sambil berdesis, “Agaknya Ki Argapati mengetahui apa yang telah terjadi.”

“Tetapi,“ gumam Wrahasta, “bagaimana dengan lukanya itu?”

Tidak seorang pun yang dapat menjawab semua pertanyaan itu, yang terdengar kemudian adalah suara Ki Tambak Wedi, ”He, kau Argapati. Apakah luka-lukamu sudah sembuh? Ternyata kau benar-benar seorang yang mempunyai nyawa rangkap, atau kau menyimpan seorang dukun yang tidak ada duanya di muka bumi?”

Terdengar Ki Argapati tertawa perlahan-lahan. Jawabnya, ”Tidak ada yang mustahil terjadi di muka bumi ini apabila Tuhan berkenan, Tambak Wedi. Aku masih mendapat kurnia umur beberapa waktu lagi. Apa pun caranya, namun aku telah mendapat kesembuhan daripada-Nya.”

Ki Tambak Wedi menggeram. Tetapi kehadiran Ki Argapati itu ternyata telah mempengaruhinya. Bukan saja dirinya sendiri, tetapi Sidanti, Argajaya, Ki Wasi dan apalagi Ki Muni, menjadi membatu di tempatnya. Seolah-olah mereka melihat sesosok hantu yang berdiri di atas bubungan atap regol.

Para pengawal Tanah Perdikan Menoreh pun sangat terpengaruh pula oleh kehadiran Kepala Tanah Perdikannya itu. Apabila semula mereka menjadi kecut melihat Ki Tambak Wedi yang berdiri tegak dengan nenggala di tangannya di muka regol desa itu sambil memanggil-manggil pimpinan pasukan pengawal, maka dada mereka kini serasa tersiram embun. Sehingga kecemasan, keragu-raguan apalagi ketakutan telah terusir. Di samping Ki Argapati, semua anggauta pasukan pengawal, bahkan setiap laki-laki yang dengan suka rela telah menyatakan diri ikut berperang, tidak lagi akan mengenal takut, meskipun ujung senjata lawan akan membelah dada mereka.

“Ki Argapati,“ terdengar suara Ki Tambak Wedi, ”apabila benar kau telah berhasil mengatasi lukamu, maka sebaiknya kau membuat pertimbangan-pertimbangan yang wajar untuk selanjutnya. Apakah kau tidak dapat berbuat lain daripada tindakan bodoh seperti yang kau lakukan kali ini? Apa artinya beberapa buah desa kecil yang kau duduki sekarang? Kalau kita mengepungmu siang dan malam, maka kalian akan mati kelaparan. Tetapi kami masih dapat berpikir bening, bahwa orang-orang yang terperosok ke dalam kedunguan karena kesetiaannya yang mati kepadamu itulah, maka kami masih tetap memberi kesempatan kepada kalian untuk merampas bahan makanan dari desa-desa di sekitar sarangmu ini. Karena itu, apakah kau tidak pernah berpikir untuk mengakhiri tindakan yang bodoh ini? Aku menjamin bahwa kau akan tetap diperlakukan dengan baik dan dihormati. Kami tidak akan melakukan tindakan apa pun terhadap orang-orang yang kini tetap setia kepadamu. Sehingga dengan demikian, penyelesaian akan segera dapat dicapai.“

Ki Argapati tidak segera menjawab. Tetapi ia tertawa.

“Kenapa kau tertawa?”

“Kalau bukan kau yang mengatakannya, Ki Tambak Wedi, mungkin aku akan percaya. Tetapi karena kau yang mengucapkannya, maka ceritamu itu tidak lebih dari kata-kata banyolan dalam pertunjukan tari topeng.”

Jawaban itu telah membakar dada Ki Tambak Wedi. Tetapi ia masih berusaha menguasai perasaannya. “Kalau begitu, Ki Argapati, apakah aku harus mempergunakan kekerasan?”

“Kenapa kau bertanya kepadaku?”

Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah,“ geramnya. Orang tua itu pun kemudian mengangkat tangannya. Digerakkannya tangan itu melingkar sekali, kemudian diayunkannya tangannya maju ke depan.

Sesaat kemudian maka obor-obor pun mulai bergerak pula perlahan-lahan. Yang memimpin pasukan itu adalah Ki Wasi dan Ki Muni. Sidanti dan Argajaya, meskipun ikut di dalam pasukan itu, tetapi mereka tidak berdiri di ujung barisan. Kecuali mereka tidak merasa perlu untuk menampakkan diri, mereka masih mempunyai tugas untuk mengawasi seandainya orang-orang yang sedang mereka cari itu benar-benar hadir di dalam peperangan.

Ki Argapati yang melihat obor-obor itu telah mulai bergerak, menarik nafas dalam. Sesaat kemudian ia berpaling, seakan-akan ingin melihat apakah orang-orangnya telah siap pula menyambut kedatangan lawan.

“Kita tidak akan menunggu lagi bukan, Ki Argapati?” bertanya Ki Tambak Wedi. Lalu, “Kecuali apabila kau merubah pendirianmu.”

“Memang,” jawab Ki Argapati, “kita tidak perlu menunggu siapa pun. Kita akan segera mulai.”

Ki Tambak Wedi tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian melangkah surut menyongsong pasukannya yang bergerak semakin maju.

Ki Argapati pun kemudian meninggalkan tempatnya pula. Tetapi ia tidak kembali ke tempat darimana ia meloncat ke bubungan atap regol itu. Tetapi ia kemudian pergi mendapatkan Samekta, Wrahasta, Pandan Wangi, dan para pemimpin yang lain.

“Apakah kalian telah siap?” bertanya Ki Argapati.

“Maaf Ki Gede. Bukan maksud kami meninggalkan Ki Gede. Tetapi kami tidak sampai hati mengganggu Ki Gede yang masih belum sehat benar.”

“Aku tahu maksudmu. Karena itu, kita tidak perlu mempersoalkannya lagi.”

“Tetapi dari mana Ayah mengetahui hal ini?“ bertanya Pandan Wangi.

“Aku menaruh curiga atas kepergianmu yang tiba-tiba. Kemudian aku keluar halaman dan bertanya kepada orang-orang yang sibuk hilir-mudik di sepanjang jalan.”

Pandan Wangi menarik nafas. Yang dipesannya hanyalah para pengawal yang menjaga rumah itu, tetapi sudah tentu ia tidak akan dapat berpesan kepada setiap orang.

“Sekarang,“ berkata Ki Argapati, “kita akan mulai. Kita tidak boleh kehilangan kesempatan untuk melawan kali ini, dan mempertahankan tempat ini. Kalau kita terusir dari tempat ini, maka kehancuran sudah berada di ambang pintu.”

Samekta menganggukkan kepalanya. Kemudian diberikannya isyarat kepada setiap kelompok. Beberapa penghubung telah tersebar, membawa perintah pemimpin pasukan pengawal itu.

Namun sementara itu, Pandan Wangi terkejut ketika ia melihat ayahnya menyeringai sambil memegangi dadanya. Dengan cemas ia mendekat dan bertanya terbata-bata, “Kenapa dengan luka itu, Ayah?”

“Tidak apa-apa.”

“Seharusnya Ayah masih beristirahat. Dan kami memang ingin mempersilahkan Ayah beristirahat.”

“Aku harus ada di sini Pandan Wangi,“ jawab ayahnya, “meskipun aku belum sehat benar.“ Orang tua itu berhenti sejenak. Diedarkannya pandangan matanya ke sekitarnya. Ketika tidak dilihatnya orang lain kecuali Samekta dan Wrahasta, yang berada di dekatnya, maka ia berkata lirih, “Aku harus ada di peperangan ini meskipun aku belum cukup kuat untuk bertempur. Aku tidak dapat membiarkan para pengawal menjadi ketakutan melihat Ki Tambak Wedi. Kehadiranku akan memperbesar hati mereka dan memperkuat perlawanan mereka.“ Ki Argapati berhenti sejenak. Sekali lagi ia menyeringai menahan sakit yang mulai menyentuh lukanya kembali.

Pandan Wangi, Samekta, dan Wrahasta menjadi cemas melihat keadaan Ki Argapati. Namun di dalam hati mereka menjadi semakin menundukkan kepala mereka. Ki Gede Menoreh sama sekali tidak menghiraukan keadaannya sendiri. Tetapi ia lebih memelihara ketahanan hati para pengawal. Sebab ia yakin, bahwa kehadirannya akan sangat berpengaruh pada perasaan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

Meskipun demikian, tetapi Ki Argapati tidak akan dapat dibiarkan menjadi korban, selama hal itu masih dapat dihindarinya.

“Pandan Wangi,“ berkata Ki Argapati, “sebentar lagi kedua pasukan yang berhadapan ini akan berbenturan. Aku akan turun. Aku akan menunggu di bawah, di dalam regol. Kalau Ki Tambak Wedi berkeras akan memecahkan regol itu, dan memasuki padesan ini, apa boleh buat. Tetapi sudah tentu aku tidak dapat bertempur sendiri. Aku memerlukan beberapa orang kawan untuk menghadapi Ki Tambak Wedi.”

“Aku akan berkelahi di samping Ayah,“ jawab Pandan Wangi.

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baik, Wangi. Tetapi sekedar dengan kau, kita masih belum akan dapat mengatasinya.”

“Kita buat sekelompok kecil pengawal pilihan buat melawannya, Ayah.”

“Kita harus segera mempersiapkan. Aku melihat Ki Wasi dan Ki Muni di barisan lawan. Adalah tugasmu Samekta dan Wrahasta, meskipun aku perlu memperingatkan, bahwa kalian masing-masing tidak akan dapat melawan seorang lawan seorang.”

“Ya, Ki Gede,” sahut keduanya hampir bersamaan.

“Mudah-mudahan mereka tidak akan memasuki desa ini. Aku melihat gelar mereka kurang lengkap untuk melawan alat-alat pelontar yang telah siap di depan regol itu.”

“Mudah-mudahan, Ki Gede.”

“Baiklah, aku akan turun bersama Pandan Wangi. Awasi keadaan dan kaulah yang akan memberikan perintah-perintah berikutnya. Aku telah cukup berusaha. Ki Tambak Wedi harus membuat pertimbangan-pertimbangan baru setelah ia melihat aku. Demikian juga orang-orangnya. Aku berusaha sejauh-jauh dapat aku lakukan, membuat kesan bahwa lukaku sudah tidak berbahaya lagi.”

“Silahkan, Ki Gede,“ sahut Wrahasta, “kami akan berusaha sejauh mungkin.”

Ki Argapati dan Pandan Wangipun segera turun dari tempatnya. Mereka mengambil tempat di pinggir jalan beberapa puluh langkah dari regol, di belakang para pengawal yang telah siap dengan alat-alat pelontar dan busur-busur.

Sejenak kemudian pasukan Ki Tambak Wedi pun menjadi semakin dekat. Obor-obor mereka menjadi semakin jelas menerangi wajah-wajah yang tegang. Ketika kemudian Ki Tambak Wedi memberikan isyarat dengan tangannya dan disambut oleh setiap pemimpin di dalam pasukannya, maka kemudian terdengar mereka bersorak gegap gempita. Langkah mereka menjadi semakin cepat dan obor mereka pun terangkat tinggi-tinggi sambil mengacung-acungkan senjata pula.

Mereka yang berperisai segera mengambil tempat di depan untuk melindungi lontaran-lontaran senjata jarak jauh. Kemudian diikuti oleh mereka yang bersenjatakan pedang dan tombak.

Samekta menjadi berdebar-debar melihat arus pasukan Ki Tambak Wedi. Pasukan itu memusatkan serangannya pada regol desa, dan sedikit menebar sebelah-menyebelah sebagai sayap pasukannya. Agaknya mereka merasa bahwa mereka tidak akan dapat menerobos masuk lewat pagar pering ori. Satu-satunya jalan bagi mereka adalah regol-regol desa.

Ketika pasukan itu telah berada dalam jarak jangkau alat-alat pelontar lembing, maka Samekta segera melepaskan perintah. Sejenak kemudian, maka dari sela-sela carang-carang ori itu meluncurlah berpuluh-puluh lembing menghujani pasukan Ki Tambak Wedi.

Ki Tambak Wedi memang sudah menduga, bahwa mereka pada saatnya harus melawan senjata-senjata itu. Karena itu, maka mereka yang membawa perisai segera mengambil tempat dan berusaha menangkis serangan-serangan itu. Tetapi lembing itu meluncur terlampau keras, sehingga kadang-kadang beberapa orang yang kurang kuat, tergetar dan terdorong surut beberapa langkah ketika perisai-perisai mereka membentur lembing yang meluncur dengan derasnya.

Tetapi arus pasukan itu ternyata cukup deras. Meskipun satu-satu korban berjatuhan, namun mereka sama sekali tidak dapat ditahan lagi. Apalagi ketika pasukan panah Ki Tambak Wedi telah mengambil tempatnya dan membalas serangan-serangan itu dengan anak-anak panah mereka. Meskipun para pengawal berperisai carang ori yang rimbun, namun satu dua di antara anak-anak panah itu berhasil menembus dan melukai para pengawal.

“Pecah pintu itu,“ teriak Ki Tambak Wedi yang memimpin langsung pasukannya.

Beberapa orang kemudian berlari-lari semakin dekat ke arah pintu regol. Bersama-sama mereka berusaha memecah pintu itu. Mereka mendorong sekuat-kuat tenaga mereka bersama-sama. Sementara kawan-kawan mereka melindungi mereka dengan serangan anak-anak panah kepada para pengawal.

Tetapi pintu regol itu adalah pintu yang sangat kuat, sehinga usaha itu pun tidak segera dapat berhasil.

“Cepat, pecahkan pintu,“ perintah Ki Tambak Wedi.

Ki Wasi dan Ki Muni yang telah berdiri di muka pintu, itu menggelengkan kepalanya, “Terlampau sulit,“ katanya, “pintu ini terlampau kuat.”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Sementara itu anak-anak panah meluncur terus dari kedua belah pihak. Bahkan kemudian beberapa orang telah mulai melontarkan obor mereka ke dalam pagar rumpun bambu ori.

”Bakar regol itu,” teriak Ki Tambak Wedi kemudian.

Ki Wasi mengerutkan keningnya. Namun perintah itu telah menjalar dari setiap mulut, “Bakar, bakar.”

Beberapa orang yang berusaha memecahkan pintu itu pun segera meloncat surut. Yang kemudian melangkah maju adalah mereka yang membawa obor di tangan mereka. Sambil berteriak-teriak mereka melemparkan obor-obor mereka ke pintu regol. Minyak yang ada di dalam obor-obor itu pun kemudian tumpah dan mengalir membasahi tlundak pintu. Sedang obor-obor itu pun saling membakar satu sama lain.

Dengan cepatnya maka api pun segera berkobar. Yang mula-mula terbakar adalah bumbung-bumbung bambu tangkai obor yang telah basah oleh minyak. Namun kemudian tlundak pintu yang sudah diperciki oleh minyak itu pun mulai terbakar pula. Sedikit demi sedikit, api merambat tanpa dicegah sama sekali.

Para pengawal yang melihat api mulai menjilat regol mereka segera bergerak. Tetapi Ki Gede Menoreh mencegah mereka sambil berkata, “Jangan mendekat. Kalian akan terpancing. Kalau kalian berusaha memadamkan api itu, maka kalian tidak akan dapat melihat api itu padam, karena leher kalian akan terpenggal.”

Para pengawal pun segera mengurungkan niatnya. Sekali-sekali mereka memandang Samekta dan Wrahasta di tempatnya. Tetapi agaknya mereka pun sependapat dengan Ki Gede Menoreh meskipun mereka belum membicarakannya. Ternyata bahwa Samekta pun sama sekali tidak memberikan perintah apa pun.

Sejenak kemudian maka api pun segera berkobar semakin tinggi. Pintu regol itu sedikit demi sedikit termakan oleh api yang melonjak sampai ke bubungan. Dan sejenak kemudian maka regol desa itu telah menjadi seonggok api yang berkobar-kobar seolah-olah akan menjilat langit.

Cahaya merah yang seram telah memancar ke sekitar. Onggokan api itu menyentuh wajah-wajah yang tegang di dalam dan di luar regol. Pasukan kedua belah pihak seolah-olah membatu di tempat masing-masing.

Namun Samekta dan Wrahasta beserta beberapa orang pengawal yang bertengger di atas anjang-anjang dengan alat-alat pelontar mereka, sebelah-menyebelah regol itu, tidak dapat menahan panas api itu lagi. Mereka terpaksa beringsut dan menjauh.

“Panggil Samekta,” perintah Ki Gede.

Seorang pengawal pun kemudian menemui Samekta yang basah oleh keringatnya yang seakan-akan terperas dari dalam tubuhnya.

Dengan tergesa-gesa ia pergi menghadap Ki Argapati.

“Pimpinan pasukanmu dari tempat ini. Aku akan mendampingimu,“ berkata Ki Argapati.

“Tetapi apakah Ki Gede tidak beristirahat saja dahulu.”

Ki Argapati menggeleng. Justru nyala api itu seakan-akan telah menyingkirkan segala perasaan sakitnya. Bagaimanapun juga, maka ia harus menyiapkan diri, dalam keadaannya itu, untuk mempertahankan pemusatan pasukannya.

Samekta dan Wrahasta pun kemudian berdiri sebelah menyebelah Ki Argapati dan Pandan Wangi. Di tangan mereka telah tergenggam senjata masing-masing yang telanjang.

Sekilas Samekta melihat para pengawal yang kepanasan berdiri berlindung di balik pagar-pagar batu. Namun mereka tetap berada di tempat. Mereka tidak mau meninggalkan alat-alat pelontar lembing dan busur besar mereka. Apabila api itu nanti mereda, dan pasukan lawan akan menerobos masuk, maka adalah menjadi kewajiban mereka untuk menahan arus itu. Apabila mereka gagal mengurangi derasnya arus lawan, maka para pengawal yang telah siap menunggu, setengah lingkaran di dalam regol itu pun pasti akan pecah, seperti pecahnya bendungan oleh banjir bandang. Karena itu, maka mereka merasa bertanggung jawab untuk menahan mereka sekuat-kuat tenaga.

Selama api itu masih berkobar, maka tidak akan ada seorang pun yang dapat melampauinya. Baik memasuki maupun keluar dari desa ini. Karena itu, selama api masih berkobar, mereka di kedua pihak hanya dapat menunggu. Sekali-sekali masih juga ada lontaran-lontaran lembing dari para pengawal di sebelah-menyebelah regol, namun jarak mereka menjadi terlampau jauh karena mereka tidak tahan lagi terhadap panasnya api.

“Jangan terpancing keluar,“ desis Ki Argapati.

“Aku sudah mengeluarkan perintah itu,” sahut Samekta.

“Bagus. Apabila kita terpancing keluar dan menghalangi setiap alat pelontar itu, maka kita akan dibinasakan.”

“Ya,“ Samekta mengangguk. Tetapi tatapan matanya tidak berkisar dari api yang seolah-olah menari-nari dalam buaian angin yang silir.

Sejenak kemudian, api pun mulai mereda. Karena itu, maka setiap orang di dalam regol segera mempersiapkan diri. Mereka harus mempergunakan setiap kekuatan untuk menahan arus pasukan Tambak Wedi. Mereka harus mengurangi jumlah mereka sebanyak-banyaknya.

Namun baik Ki Argapati, maupun Samekta dan para pemimpin yang lain tidak mengerti, bahwa Ki Tambak Wedi pun telah mengeluarkan perintah agar pasukannya pun jangan melampaui regol yang sedang terbakar itu.

“Terlampau berbahaya. Kita akan terlampau banyak memberikan korban, karena kita tidak mempersiapkan peralatan untuk itu.”

Ki Muni mengerutkan dahinya. Tetapi ia tidak membantah. Dalam keadaan serupa itu, Ki Tambak Wedi pasti tidak akan dapat diajaknya untuk bergurau. Orang tua itu pasti akan segera menjadi muak mendengar ia membual.

Tetapi meskipun demikian, ia bertanya, “Lalu apakah yang akan kita lakukan sesudah api itu padam?”

“Kita mengharap Argapati membawa pasukannya keluar.”

Ki Muni mengerutkan keningnya. Tetapi ia terdiam sambil mengawasi api yang semakin susut.

Ketika mereka telah dapat memandang melangkahi nyala api yang sudah menjadi semakin kecil, maka dalam keremangan cahaya kemerah-merahan, dalam jarak beberapa puluh langkah di luar dan di dalam regol, kedua pasukan itu saling dapat melihat, siapakah yang berdiri memegang pimpinan.

Ki Tambak Wedi menggeram ketika ia melihat samar-samar Ki Argapati berdiri tegak di samping puterinya yang telah menggenggam sepasang pedangnya. Kemudian pemimpin pasukan pengawal, Samekta dan Wrahasta.

“Tidak seorang pun yang dapat dibanggakan di dalam pasukan Argapati itu selain ia sendiri,“ tanpa sesadarnya Ki Tambak Wedi menggeram.

“Nah, kenapa kita tidak akan memasuki regol?”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Kemudian dengan agak keras ia menyahut, “Kita bukan orang-orang yang paling bodoh di medan peperangan. Sudah aku katakan, korban akan terlampau banyak. Aku yakin bahwa aku akan dapat hidup, tetapi belum tentu dengan kau.”

Wajah Ki Muni yang kemerah-merahan karena sentuhan sinar api, menjadi semakin merah membara. Seandainya yang berkata demikian itu bukan Ki Tambak Wedi, maka ia pasti tidak akan membiarkan dirinya terhina. Tetapi terhadap Ki Tambak Wedi ia harus berpikir untuk kesekian kalinya sebelum ia berbuat sesuatu.

Karena itu, maka yang terdengar adalah gemeretak giginya. Namun ia tidak menjawab lagi. Kini matanya yang tajam memandang api yang semakin lama semakin surut, dan lamat-lamat dilihatnya pula Argapati berdiri tegak dengan tombok pendeknya di samping puterinya yang cantik Pandan Wangi. Namun Pandan Wangi itu seakan-akan sama sekali bukan seorang gadis lagi. Dengan sepasang pedang di tangannya, Pandan Wangi itu bagaikan bunga pandan yang dikitari oleh seonggok duri-duri yang tajam.

Di samping ayah beranak itu, berdirilah para pemimpin pasukan pengawal Tanah Perdikan. Hampir semuanya sudah dikenal oleh Ki Muni, Samekta, Wrahasta, dan yang lain lagi. Mereka bukannya orang-orang yang berhati seringkih batang ilalang. Tetapi mereka adalah orang-orang yang berpendirian teguh.

Ki Argapati yang berdiri di dalam regol pun melihat, siapa yang berada di pasukan lawan. Ia melihat pula betapa Ki Tambak Wedi dengan tegang memandang api yang semakin surut. Di sebelah-menyebelah berdiri kedua orang yang dikenalnya dengan baik pula, Ki Wasi dan Ki Muni.

Sebagai seorang yang memiliki pengamatan yang tajam, maka Ki Argapati melihat, bahwa agaknya Ki Tambak Wedi sama sekali tidak berhasrat untuk memasuki pedesan itu setelah api mereda. Karena itu, maka ia menjadi ragu-ragu di dalam hati, apakah sebenarnya yang akan dilakukan oleh iblis dari lereng Gunung Merapi itu.

Meskipun demikian Ki Argapati tidak dapat lengah. Ia harus tetap berada dalam kesiagaan yang tertinggi. Mungkin Ki Tambak Wedi sengaja membuat gelar yang meragukan lawannya, tetapi kemudian dengan tiba-tiba memukul tanpa ampun.

Bahwa Sidanti dan Argajaya tidak tampak di dalam pasukan itu pun membuatnya agak bercuriga. Sehingga perlahan-lahan ia bertanya kepada Samekta, “Bagaimana dengan regol-regol samping yang lain.”

“Aku telah menempatkan pengawasan yang cukup Ki Gede. Kalau terjadi sesuatu di sana, mereka pasti akan memberikan isyarat.”

Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya, “Aku tidak melihat Sidanti dan Argajaya di ujung barisan mereka.”

“Mungkin mereka masing-masing memimpin sayap pasukan itu.”

Ki Argapati mengangguk-angukkan kepalanya. Tetapi terasa hatinya menjadi terlampau pedih. Jauh lebih pedih dari luka badaniah di dadanya. Adiknya sendiri ternyata telah melawannya pula. Bahkan anak yang sejak kecil dipeliharanya, betapapun ia menghadapi kenyataan yang paling pahit. Kini, seperti memelihara anak-anak harimau, ia harus berhadapan sebagai lawan, setelah harimau itu menjadi besar dan kuat.

Sementara itu, agak jauh dari nyala api regol yang telah susut, tiga orang berdiri termangu-mangu di tempatnya. Seakan-akan tanpa berkedip mereka memandangi keadaan yang sedang berkembang di sebelah menyebelah regol yang sedang dimakan api itu.

Dengan tiba-tiba saja salah seorang dari mereka berkata, ”Apalagi yang kita tunggu?”

Seorang tua yang ada di antara mereka berpaling. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apa yang akan kau lakukan?”

“Guru,“ sahut orang yang pertama, seorang anak muda yang gemuk, “buat apa Guru memanggil aku dan berlari-lari kemari? Aku kira lebih baik berbaring di gubug itu daripada berdiri di sini tanpa berbuat sesuatu.”

Gurunya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya, ”Kita melihat keadaan. Kalau kita tergesa-gesa berbuat sesuatu, mungkin kita akan melakukan kesalahan. Karena itu, kita harus memperhitungkan setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Apakah tindakan kita itu menguntungkan atau justru sebaliknya.”

“Tetapi sebentar lagi api itu akan padam. Pasukan Tambak Wedi akan segera menghambur masuk ke dalam desa itu dan memecahkan pertahanan Argapati. Betapapun juga Ki Argapati masih dalam keadaan luka. Sudah tentu ia tidak akan dapat berhadapan dengan Ki Tambak Wedi.”

“Tambak Wedi bukan iblis Gupala,“ jawab orang tua itu, “ia adalah manusia biasa seperti kita. Ujung lembing yang dilontarkan dari alat-alat pelontar itu, apabila mengenainya, akan menyobek kulitnya pula. Meskipun ia mempunyai beberapa kelebihan dari orang kebanyakan karena ia mesu diri, namun pada suatu batas tertentu, ia pun akan dapat dilumpuhkan.”

“Meskipun demikian, Guru,“ sahut Gupala, “ia mempunyai pasukan pula. Pasukannyalah yang akan dijadikannya perisai dari serangan-serangan lembing dan anak panah.”

“Kau benar. Tetapi aku kira Tambak Wedi bukan seorang yang terlampau bodoh untuk mengorbankan terlampau banyak orang-orangnya. Aku tidak melihat persiapan yang cukup untuk memasuki regol itu.” Orang tua itu berhenti sejenak, lalu ”Seandainya demikian, Tambak Wedi masih memerlukan waktu. Seandainya api itu padam, maka Tambak Wedi masih harus menunggu lagi. Orang-orangnya tidak akan dapat berjalan di atas bara sementara alat-alat pelontar dari dalam regol menyerang mereka seperti hujan. Kalau memang itu yang dikehendakinya aku tidak tahu.”

Gupala menarik keningnya. Ia tidak berani membantah lagi. Betapapun hatinya bergolak, namun ia berdiri saja dengan gelisahnya. Sekali-sekali dirabanya cambuknya yang melingkar di lambung. Namun kemudian ditimang-timangnya sehelai pedang yang didapatkannya dari lawannya.

“Seandainya Ki Tambak Wedi memang merencanakan untuk masuk ke dalam lingkungan bambu ori itu, maka pasukannya pasti dilengkapi dengan perisai jauh lebih banyak dari yang ada sekarang.”

Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedang anak muda yang seorang lagi berdiri saja seolah-olah membeku. Namun hatinya dicengkam oleh kecemasan dan kegelisahan. Meskipun ia tidak berkata sepatah kata pun, namun sebenarnya perasaannya tidak jauh berbeda dengan adik seperguruannya. Tetapi ia masih dapat menahan diri tanpa menyatakan perasaannya itu.

Sejenak mereka bertiga terdiam sambil menahan nafas. Api yang menelan regol desa itu sudah menjadi semakin surut. Namun belum ada tanda-tanda, bahwa Ki Tambak Wedi akan menyerang memasuki pusat pertahanan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu.

“Aku hampir pasti bahwa Ki Tambak Wedi tidak akan memasuki regol,“ berkata orang tua itu tiba-tiba.

Kedua anak-anak muda yang berdiri di sisinya menganggukkan kepala mereka. Mereka pun tidak melihat tanda-tanda itu. Namun mereka tidak menyahut.

Dalam pada itu, baik orang-orang di dalam pasukan Ki Tambak Wedi maupun Ki Argapati, dengan susah payah menahan diri masing-masing untuk tidak terdorong oleh perasaan mereka. Tangan-tangan mereka telah gemetar dan dada mereka pun telah bergelora. Tetapi masing-masing tidak akan dapat melanggar perintah dari pemimpin tertinggi mereka, bahwa masing-masing tidak boleh melangkahi regol yang kini telah menjadi bara.

Kedua belah pihak berdiri termangu-mangu menunggu perkembangan keadaan. Ki Tambak Wedi mengharap para pengawal itu terpancing keluar. Apabila demikian, maka mereka akan dapat dibinasakan, karena kekuatan Ki Tambak Wedi tidak akan berkurang karena serangan-serangan alat-alat pelontar yang cukup berbahaya itu.

Sedangkan Ki Argapati mengharap pasukan Ki Tambak Wedi itu memasuki pertahanannya. Selama mereka meloncat-loncat menghindari bara yang akan menyengat kaki mereka, maka alat-alat pelontar lembing, busur-busur dan bahkan bandil-bandil besar akan dapat mengurangi kekuatan lawan.

Tetapi hingga api menjadi semakin surut, dan bahkan hampir padam kedua belah pihak sama sekali tidak bergerak. Mereka berdiri di tempat masing-masing dalam kesiagaan penuh.

Sekali-kali terdengar beberapa dari mereka menggeram. Tangan-tangan mereka menjadi gemetar dan kaki-kaki mereka seakan-akan tidak dapat mereka tahankan lagi untuk meloncat menyergap lawan yang telah berada di depan hidung mereka.

“Argapati,” tiba-tiba terdengar suara Ki Tambak Wedi melengking. “Kenapa kau tidak berbuat sesuatu pada saat kami membakar regol pertahananmu? Apakah regol itu memang sudah tidak kau perlukan lagi atau kau sama sekali tidak mempunyai kemampuan untuk mencegahnya?”

Yang terdengar adalah geram Wrahasta dan para pengawal yang lain. Namun Ki Argapati sendiri tersenyum sambil menjawab keras-keras, “Masuklah Ki Tambak Wedi. Pintu kami telah terbuka. Apa yang kau tunggu lagi? Bukankah kau ingin merebut kedudukan kami yang terakhir ini? Ayolah, jangan segan-segan kalau kau memang merasa cukup mampu.”

“Persetan!” jawab Ki Tambak Wedi. “Kau sangka aku tidak dapat merebutnya dalam sekejap?”

“Kenapa tidak kau lakukan? Apakah kau belum mempersiapkan perisai yang cukup untuk menerobos pasukan pelontar lembing kami? Atau kau merasa bahwa sampai orangmu yang terakhir pasti akan terhenti di regol yang telah menjadi abu itu?”

Ki Tambak Wedi menggeram. Kemudian terdengar ia berteriak, “He. Apakah lukamu masih belum sembuh benar?”

“Kenapa kau bertanya tentang lukaku? Ki Tambak Wedi, aku sudah siap menyambutmu. Marilah, aku persilahkan kalian masuk.”

Ki Tambak Wedi tidak segera menyahut. Namun dicobanya untuk melihat wajah-wajah di sekitar Ki Argapati pada sisa-sisa cahaya api yang telah memusnahkan regol desa itu. Tetapi ia tidak menemukan orang yang dicarinya.

Karena itu, setelah ia yakin, bahwa yang dicarinya tidak ada, maka ia tidak merasa perlu untuk berada di tempat itu terlampau lama. Ia telah memberikan kejutan yang pasti akan berpengaruh pada para pengawal. Karena itu, maka orang tua itu pun kemudian berkata lantang, “Tidak Argapati. Kali ini aku tidak akan singgah di desa yang sunyi dan mati ini. Aku hanya ingin menunjukkan kepadamu bahwa kami adalah orang-orang yang mempunyai rasa perikemanusiaan yang tebal. Kami datang sekedar memberi kau peringatan. Tetapi kalau kau masih juga berlaku bodoh, maka aku tidak akan memaafkanmu lagi. Karena itu, dengarlah Argapati. Malam ini aku merasa perlu untuk mengasihani kau dan orang-orangmu yang tidak tahu-menahu alasan apakah yang kau pegang sampai saat ini, sehingga kau masih tetap berkepala batu. Tetapi aku tidak akan berbuat demikian untuk seterusnya. Aku akan mengepung tempat ini rapat-rapat dalam dua hari dua malam. Kalau kau tidak berubah pendirianmu, maka pada hari yang ketiga, bukan saja regolmu yang kami bakar, tetapi kami akan membakar seluruh rumpun pering ori ini. Memang sulit untuk membakar rumpun bambu yang masih berdiri. Tetapi kami yakin bahwa kami mampu melakukannya. Seterusnya, desa yang sunyi dan mati ini akan menjadi kuburan yang luas bagi kalian yang dungu.”

Wrahasta, yang darahnya masih terlampau cepat mendidih, tidak dapat bersikap terlampau tenang seperti Ki Argapati. Tetapi ketika ia bergerak maju, tangan Ki Argapati menggamitnya. Dengan wajah yang tegang Wrahasta memandang Ki Argapati yang masih saja tersenyum. Ia tidak mengerti kenapa hinaan itu ditanggapinya acuh tak acuh saja.

“Tenanglah,” desis Ki Argapati. Kemudian kepada Ki Tambak Wedi ia berkata, “Apa pun yang kau katakan, Ki Tambak Wedi. Tetapi kami tahu apakah yang sebenarnya telah menahanmu. Meskipun demikian, terserahlah kepadamu. Kalau kau ingin kembali dahulu, mempersiapkan dirimu, silahkanlah. Aku akan menunggu. Sehari, dua hari, atau hari yang ketiga seperti yang kau katakan.”

Ki Tambak Wedi menggeram. Tetapi ia mempunyai cukup pengalaman, sehingga ia tidak mudah lagi dibakar oleh perasaannya, seperti juga Ki Argapati. Karena itu, maka jawabnya, “Baiklah. Aku akan kembali. Di hari ketiga, aku akan datang. Mudah-mudahan kau sudah sembuh. Sehingga kau tidak akan mengecewakan aku.”

Ki Argapati tidak menjawab. Dengan tajamnya diawasinya segala macam gerak gerik iblis dari lereng Gunung Merapi itu. Namun agaknya Ki Tambak Wedi benar-benar menarik pasukannya. Selangkah demi selangkah mereka mundur. Semakin lama semakin jauh dari mulut lorong yang sudah tidak beregol lagi.

Sementara itu Ki Muni mendekatinya sambil berkata, “Kenapa kita harus menunggu tiga hari lagi? Itu sikap yang sangat bodoh.”

Ki Tambak Wedi tidak segera menjawab. Justru kepalanya tertunduk seolah-olah sedang menghitung langkah kakinya. Namun agaknya ia sedang berpikir tentang pasukannya dan pasukan Argapati. Dengan cermat ia mencoba menilai keseimbangan kedua pasukan itu.

“Ki Tambak Wedi,” Ki Muni yang masih mengikutinya bertanya lagi, “kenapa kita menunggu tiga hari lagi? Telah di dayung jaring dilepaskan. Belum tentu kalau kelak akan menetas.”

Ki Tambak Wedi berpaling, tetapi ia tidak segera menjawab.

“Bukankah semudah meremas ranti?” berkata Ki Muni pula. “Sekarang kita melepaskannya dan memberitahukan untuk datang lagi pada hari yang ketiga. O, alangkah bodohnya. Kita sendirilah yang meminta kepada mereka untuk menggali lubang kubur kita.”

“Cukup!” tiba-tiba Ki Tambak Wedi menggeram. “Aku kira kau mampu berpikir Ki Muni, ternyata kau lebih bodoh dari orang-orang Menoreh itu. Apa kau sangka aku sudah gila, dengan melakukan kebodohan itu? Aku tidak akan menunggu sampai tiga hari seperti yang aku katakan. Hanya kerbaulah yang menyerahkan hidungnya untuk dicocok,”

“Jadi?”

“Aku akan segera mempersiapkan pasukan. Begitu aku siap, aku akan kembali. Besok atau selambat-lambatnya lusa. Tetapi sebelum hari ketiga. Aku harap Argapati benar-benar bodoh sehingga menunggu sampai hari yang aku katakan.”

Ki Muni mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil bergumam, “O, akulah yang bodoh.”

“Tetapi,” tiba-tiba Ki Wasi memotong, “itu bukan kebodohan. Ki Argapati adalah seorang laki-laki yang jujur. Ia tidak pernah bertindak licik. Karena itu, maka orang seperti Ki Argapati terlampau mudah ditipu dan dijebak.”

Ki Tambak Wedi tertegun sejenak, sementara Ki Wasi melanjutkan, “Seperti saat-saat yang telah ditentukan di bawah Pucang Kembar.”

“Itu bukan suatu kelicikan,” bantah Ki Tambak Wedi, “dalam peperangan kita dapat bersiasat. Kita tidak harus bertempur seorang lawan seorang sampai orang yang terakhir. Itu terlampau bodoh. Dalam peperangan kita dapat saja membunuh siapa saja dalam barisan lawan. Mungkin aku akan membunuh seorang pengawal yang tidak berarti, atau Pandan Wangi harus berkelahi perpasangan melawan Ki Peda Sura. Apakah itu licik? Pengecut dan tidak jantan? Soal pribadi adalah lain dengan soal peperangan. Di peperangan tidak ada pantangan untuk membuat siasat dengan cara apa pun.”

Ki Wasi tidak menyahut. Ia takut kalau kemudian dapat menimbulkan salah paham. Karena itu, maka ia pun berdiam diri sambil melangkah menjauhi regol yang kini telah menjadi abu.

Beberapa langkah kemudian, Sidanti dan Argajaya telah menunggu. Tanpa ditanya lagi Sidanti segera berkata, “Aku tidak melihat seorang pun mendekati medan.”

Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku kira semua itu adalah sekedar permainan Ki Argapati saja dengan membuat beberapa orang bercambuk untuk mengecilkan hati kami. Kini aku yakin, tidak ada orang bercambuk di tlatah Menoreh. Orang yang menghentikan pasukan berkuda dan yang berhasil menghindari gelang-gelang besiku pasti Ki Argapati yang menyamar menjadi orang yang tidak dikenal.”

Sidanti tidak menyahut. Tanpa sesadarnya ia berpaling ke arah Ki Argajaya. Tetapi Ki Argajaya pun tidak mengucapkan sepatah kata pun.

“Nah, kalau begitu,” berkata Ki Tambak Wedi, “kita sudah pasti. Kita akan menghancurkan mereka di dalam sarangnya. Begitu kita sampai di induk kademangan, kita harus segera menyiapkan diri. Kita akan segera kembali dengan kelengkapan yang matang untuk memasuki pertahanan mereka, menembus jaring-jaring alat-alat pelontar yang mereka pasang di sebelah-menyebelah pintu masuk.”

Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menyahut.

“Sekarang kita kembali. Tidak ada waktu untuk beristirahat lagi. Sejak malam ini kita harus mempersiapkan semua alat-alat yang pasti akan kita perlukan. Kalau mungkin besok malam kita pergi, atau selambat-lambatnya lusa. Kita akan memilih saat yang sebaik-baiknya.”

Tidak ada seorang pun lagi yang menjawab. Semua berjalan dengan kepala tunduk sambil menahan kecewa di hati masing-masing. Apalagi beberapa yang sudah membayangkan, kemungkinan memecah pertahanan itu, dan menemukan harta benda yang tidak ternilai harganya, yang dikumpulkan oleh orang-orang Menoreh yang sedang mengungsi.

Sementara itu, Gupala, Gupita, dan gurunya masih berdiri saja di tempatnya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya gurunya berkata, “Bukankah dugaan kita tepat. Ki Tambak Wedi tidak akan memasuki regol itu malam ini. Tetapi dengan demikian ia sudah mendapat gambaran tentang kekuatan kedua belah pihak. Menurut perhitungan Ki Tambak Wedi. Ki Argapati sudah mengerahkan semua kekuatannya di hadapan regol yang terbakar itu. Agaknya usahanya itu berhasil, dan dengan demikian, Ki Tambak Wedi tinggal menghitung orang-orangnya, apakah ia merasa mampu untuk memecah pertahanan lawannya itu.”

Gupala dan Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi kita tidak tahu, kapan Tambak Wedi akan kembali,” gumam Gupita kemudian.

“Pasti secepatnya,” jawab gurunya. “Tetapi kita memang tidak tahu, kapankah secepatnya itu.”

Gupala yang sejak tadi berdiam diri saja sambil mengawasi bara yang sudah hampir padam, tiba-tiba menguap. Katanya, “Aku benar-benar sudah mengantuk. Perang gagal itu membuat aku serasa sakit dada. Untunglah aku tidak ada di antara mereka. Kalau aku ada di antara mereka mungkin aku sudah pingsan.”

“Nah, bukankah kau sudah mengaku sendiri?” sahut gurunya. “Itulah sebabnya, aku kurang memberimu kesempatan. Kau mudah sekali menjadi pingsan. Apalagi kalau kau melihat bukan sekedar perang gagal.”

“Apa itu guru?” bertanya Gupala.

“Yang lain. Tentu yang bukan sejenis peperangan. Puteri Kepala Tanah Perdikan itu barangkali.”

Sekali lagi Gupala menguap. Diusap-usapnya keningnya sambil berkata, “Gadis itu pasti dipingit.”

Gurunya tidak menyahut, tetapi ia tersenyum. Dipandanginya wajah muridnya yang gemuk itu. Namun agaknya Gupala tidak banyak menaruh perhatian.

“Gadis itu membawa sepasang pedang,” desis Gupita.

Gupala berpaling. “Kenapa dengan sepasang pedang?”

“Kalau gadis itu dipingit di dalam bilik buat apa kira-kira sepasang pedang itu?”

Gupala mengerinyitkan alisnya. Namun kemudian ia tersenyum sambil menjawab, “Ya. Gadis itu tentu tidak dipingit.”

Gupita pun tertawa pula. Sekilas terbayang wajah gadis itu.

“Lalu, apakah yang akan kita kerjakan sekarang?” tiba-tiba saja Gupala bertanya.

“Kembali,” jawab gurunya.

Gupala menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya, “Lebih baik tidur di rumah daripada digigit nyamuk di sini.”

“Tetapi di rumah kita tidak dapat melihat regol desa itu terbakar,” sahut Gupita.

“Aku juga dapat membakar regol,” jawab Gupala.

Gupita tidak menjawab lagi. Gurunya ternyata telah melangkah meninggalkan tempat itu, kembali ke gubug mereka. Kedua muridnya itu pun kemudian mengikutinya pula.

Sementara itu, yang berada di dalam lingkaran pering ori, ternyata dicengkam oleh kekecewaan pula. Mereka mengharap Ki Tambak Wedi memasuki desanya, kemudian pasukannya akan dihujani dengan alat-alat pelontar lembing dan busur-busur besar yang telah mereka persiapkan. Tetapi ternyata pasukan Ki Tambak Wedi itu ditarik mundur.

Tetapi dalam pada itu, ketika Ki Tambak Wedi dan pasukannya telah hilang di dalam kegelapan, terasa dada Ki Argapati seakan-akan retak. Terasa pedih dan nyeri menyayat sampai ke pusat jantung, sehingga sejenak ia memejamkan matanya sambil berdesis. Kedua tangannya memegang dadanya yang sakit itu setelah menyerahkan tombaknya kepada puterinya.

“Ayah, kenapa Ayah?”

“Dadaku,” sahut Ayahnya perlahan-lahan sekali. Dengan sekuat tenaga Ki Argapati bertahan supaya tidak menimbulkan kesan yang kurang baik pada orang-orangnya.

“Bagaimana dengan luka Ayah.”

Ki Argapati menggeleng. Katanya, “Aku akan beristirahat supaya pada saatnya aku dapat menghadapi Tambak Wedi.”

Dengan gelisah Pandan Wangi kemudian mengikuti ayahnya yang berjalan lambat sekali kembali ke rumah tempat ia menumpang. Tetapi Ki Argapati tidak mau menimbulkan kesan, bahwa ia tidak mampu untuk berjalan sendiri sampai ke rumah itu. Apabila demikian, maka anak buahnya pasti akan bertanya, “Lalu, apakah ia dapat bertempur melawan Ki Tambak Wedi?”

Betapapun dadanya dihentak oleh pedih dan nyeri, namun ia berusaha berjalan sendiri, meskipun perlahan-lahan. Tetapi Ki Argapati itu terkejut ketika tangannya terasa menjadi hangat. Ketika ia memandangi telapak tangannya, maka jantungnya berdesir. Ia melihat sepercik warna merah di telapak tangannya itu.

“Hem,” ia menarik nafas dalam-dalam, “agaknya luka ini berdarah lagi.”

Namun meskipun demikian, Ki Argapati tidak mengatakannya kepada siapa pun juga. Dengan sekuat tenaganya ia bertahan untuk tetap berjalan sendiri sampai ke dalam biliknya.

Wrahasta dan Samekta yang mengikutinya, masuk pula ke dalam bilik itu. Tetapi belum lagi mereka duduk, Ki Argapati telah berkata, “Awasilah orang-orangmu. Jangan kau tinggalkan mereka sekejap pun. Salah seorang dari kalian harus ada di antara mereka.” Ki Argapati itu diam sejenak. Kemudian tiba-tiba saja ia bertanya, “Dimana Kerti sekarang?”

“Ia berada bersama pasukan yang melindungi para pengungsi.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berkata apapun lagi.

“Ki Gede,” berkata Samekta, “aku minta diri. Kalau Ki Gede memerlukan sesuatu, aku harap Ki Gede memanggil.”

“Baik,” jawab Ki Gede singkat.

Maka sejenak kemudian Samekta dan Wrahasta pun minta diri, kembali ke tempat para pemimpin pasukannya berkumpul.

Sepeninggal Samekta, Wrahasta dan para pemimpin yang mengikutinya, Ki Argapati segera merebahkan dirinya di pembaringannya. Sambil menyeringai ia berkata, “Pandan Wangi. Tolonglah, ambilkan semangkuk air panas. Aku akan melihat lukaku. Mungkin luka ini akan kambuh lagi. Karena itu, sebelumnya aku akan membersihkannya dan memberinya obat yang baru.

Pandan Wangi pun segera berlari ke belakang. Meskipun ia membawa sepasang pedang, namun ia sama sekali tidak canggung melakukan perintah ayahnya. Sejenak kemudian, maka gadis itu pun telah membantu ayahnya membuka baju dan kemudian membersihkan luka-lukanya yang ternyata memang mulai berdarah lagi meskipun tidak terlampau banyak.

Dengan hati-hati Ki Argapati membersihkan luka itu, kemudian menaburinya dengan obat yang baru.

Sejenak, luka itu justru terasa seolah-olah terbakar. Namun kemudian perasaan itu pun semakin susut. Akhirnya, ia merasa bahwa luka-lukanya akan menjadi segera baik kembali. Meskipun demikian Ki Argapati tidak mau bangkit lagi dari pembaringannya.

Pandan Wangi lah yang kemudian menjadi penghubung antara ayahnya dan Samekta apabila diperlukan. Tetapi sebagian terbesar waktunya, dipergunakannya untuk menunggui ayahnya. Melayaninya dan membantunya apabila diperlukan.

Demikianlah setiap pihak mempunyai persoalannya sendiri-sendiri. Ki Tambak Wedi dengan persiapannya untuk merebut pemusatan pasukan Argapati. Gembala tua dengan dua orang muridnya yang menghitung-hitung waktu, kapan mereka harus mulai turun di medan terbuka. Sedang Ki Argapati masih sibuk dengan luka-lukanya, meskipun ia sama sekali tidak mengabaikan pertahanannya.

Namun di samping pihak-pihak itu, tanpa diketahui oleh mereka, seorang anak muda bersama dua orang yang lain telah memasuki tlatah Menoreh dengan diam-diam.

Dengan ragu-ragu mereka berjalan melalui desa-desa kecil dan pedukuhan yang agak besar di daerah Tanah Perdikan Menoreh.

Namun suasananya telah membuat mereka menjadi ragu-ragu. Desa demi desa yang telah mereka lalui, membayangkan suasana yang suram. Kecemasan dan ketakutan mewarnai kehidupan penghuni-penghuninya, sehingga sangat sulit bagi mereka untuk mendapatkan keterangan tentang Tanah Perdikan yang besar ini.

“Paman,” berkata anak muda itu, “aku tidak mengerti, kenapa suasana daerah ini menjadi sangat asing?”

Kedua pengikutnya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, Ngger,” jawab salah seorang dari mereka. “Aku bercuriga.”

“Agaknya kedatangan Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya ke tanah ini telah membuat suasana menjadi tegang,”

“Apakah Tanah Perdikan ini sedang mengadakan persiapan untuk suatu tindakan balasan terhadap Pajang?”

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Kita akan terjerumus ke dalam suatu pusaran yang tidak menentu. Apabila benar Argapati akan membela anaknya dan berhadapan dengan Pajang, maka kita akan berdiri di atas persimpangan jalan yang sulit. Kita tidak akan dapat berpihak kepada Pajang, tetapi juga tidak kepada Menoreh,”

Kedua pengikutnya itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi aku ingin bertemu lebih dahulu dengan Kiai Gringsing dan kedua muridnya.”

“Apakah Angger pasti bahwa mereka ada di sini?”

“Hampir pasti.”

Kedua pengikutnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu salah seorang dari mereka berkata, “Tetapi, kemana kita harus mencari mereka di Tanah seluas ini?”

“Aku ingin tahu, apakah yang sudah terjadi di atas Tanah ini.”

“Ya, seharusnya kita tahu, di mana kita berada dan dalam keadaan bagaimana.”

Anak muda itu tidak menjawab. Namun kemudian mereka pun meneruskan perjalanan mereka, dan berusaha mendengar apa yang telah terjadi.

Betapapun sulitnya, namun akhirnya mereka mengetahui, apakah yang sebenarnya terjadi di atas Tanah Perdikan ini, bahwa anak laki-laki Ki Argapati telah melawan ayahnya sendiri.

“Hampir tidak masuk akal,” desis anak muda itu, “agaknya Argapati begitu setianya terhadap Pajang, sehingga ia bersedia mengorbankan anak laki-lakinya sendiri.”

Kedua pengikutnya tidak menjawab, tetapi mereka mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku tidak mengerti, apakah yang telah mendorong Argapati untuk mengambil sikap itu.”

“Mungkin Argapati tidak ingin melihat Tanahnya berbenturan dengan Pajang. Menurut perhitungannya, maka Menoreh pasti akan hancur betapapun besarnya tanah perdikan ini. Argapati tidak akan berani melihat mayat yang akan berhamburan di segala sudut tanah perdikannya yang kaya ini.”

Anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi kemudian ia bergumam, “Atau karena Argapati tidak berani melihat, ia sendiri akan tergeser dari kedudukannya. Kalau ia melawan Pajang, maka atas wewenang yang ada sekarang, Pajang dapat mencabut hak yang telah diterima oleh Argapati dari raja-raja sebelumnya, atau hak yang diberikan oleh Pajang sendiri.”

Kedua pengikutnya tidak menjawab.

“Aku harus mendapat lebih banyak keterangan mengenai tanah ini. Tetapi aku harus bertemu dengan Kiai Gringsing, Agung Sedayu, dan Swandaru.”

“Kita harus mencari mereka. Kita harus menjelajahi Tanah ini dari ujung sampai ke ujung.”

Anak muda itu tersenyum. Katanya, “Kau agaknya sama sekali tidak berminat.”

“Bukan, bukan begitu maksudku, Ngger. Tetapi aku sekedar memperingatkan, bahwa pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang ringan.”

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku akan menghindarkan diri dari kemungkinan terlibat dalam persoalan di tanah perdikan ini untuk sementara, sampai aku dapat meyakinkan diri bahwa ada perlunya aku mencampurinya. Karena itu, maka kita harus mempersiapkan diri untuk tinggal di Tanah ini sebagai apa pun juga. Kita akan mencari tempat yang tersendiri, membuat tempat tinggal yang sederhana dan sambil menunggu keadaan di tanah ini menjadi tenang, aku akan mencari Kiai Gringsing.”

Kedua pengikutnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka sudah mengenal betul anak muda itu, sehingga mereka tidak dapat berbuat lain daripada mengiakannya.

Dengan demikian, maka ketiganya pun segera mencari tempat yang baik untuk membuat gubug, sekedar melindungkan diri dari panas dan embun. Namun mereka juga tidak mau tinggal di tempat yang terlalu dekat dengan padesan, yang dapat menumbuhkan banyak persoalan pada diri mereka. Mereka lebih senang tinggal di pinggir hutan yang tidak terlampau lebat. Mereka sadar, bahwa setiap saat seekor binatang yang buas akan lewat di dekat gubug mereka. Tetapi mereka, apalagi bersama-sama, seorang demi seorang pun sama sekali tidak akan gentar. Mereka dengan senjata masing-masing akan dapat melawan harimau atau jenis binatang yang lain. Sedang seandainya ada sekawanan anjing hutan yang berjumlah ratusan sehingga mereka tidak akan mampu mengusirnya, maka mereka akan dapat memanjat batang-batang pohon dengan tangkasnya.

Dari tempat itulah, mereka akan mencari seseorang yang mereka sebut bernama Kiai Gringsing, Agung Sedayu, dan Swandaru Geni, yang menurut pendengaran mereka berada di tlatah Menoreh.

Sementara itu di sebuah gubug yang lain, seorang gembala tua duduk melingkari perapian berdama dua orang murid-muridnya. Mereka hampir tidak sabar menunggu ujung malam yang terasa terlampau panjang.

“Tidurlah kalian,” berkata orang tua itu. Tetapi kedua muridnya menggeleng. Anak yang gemuk sambil mengusap matanya berkata, “Sebentar lagi, Guru.”

Karena itu, maka mereka bertiga tidak beranjak dari tempatnya. Mereka duduk sambil memeluk lututnya. Sekali-sekali anak muda yang gemuk itu masih saja menguap sambil mengusap-usap matanya. Tetapi ia masih juga duduk di tempatnya.

“Tidurlah, Gupala,” berkata gurunya sekali lagi.

Gupala menggelengkan kepalanya. Tetapi ia bangkit berdiri. Dengan malasnya ia berjalan ke kebun di samping gubugnya. Di cabutnya beberapa batang pohon ketela. Meskipun masih belum cukup besar, namun ubinya dibawa juga dan dimasukkannya ke dalam bara api perapiannya.

“Tiba-tiba saja aku menjadi lapar,” desisnya.

Anak muda yang seorang lagi, menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata, “Kau masih juga sempat merasakan lapar.”

Gupala tidak menyahut, namun tangannya sibuk dengan menimbuni ubinya dengan abu yang panas.

Dengan demikian maka mereka pun terlempar dalam kesenyapan, Gupita duduk diam sambil memandangi api yang masih menyala di beberapa bagian. Kemudian dipandanginya abu yang teronggok di atas bara, tempat timbunan ubi Gupala.

Namun kedua anak-anak muda itu terkejut ketika mereka melihat guru mereka memiringkan kepalanya. Kemudaan menundukkan wajahnya. Tetapi dengan demikian kedua muridnya mengerti, bahwa gurunya sedang memperhatikan sesuatu.

Kedua anak-anak muda itu pun kemudian memusatkan pendengaran mereka seperti yang dilakukan oleh gurunya. Dan sebenarnyalah mereka mendengar desir langkah kaki semakin lama semakin mendekat.

Dengan isyarat gurunya memberitahukan kepada kedua muridnya supaya bersiaga. Mungkin mereka akan menghadapi kemungkinan yang tidak terduga-duga sebelumnya.

Ternyata langkah kaki itu pun semakin lama menjadi semakin dekat. Namun, gembala tua itu seakan-akan sama sekali tidak mengacuhkannya. Kedua muridnya pun masih duduk di tempatnya. Tetapi di bawah kain panjang, tangan-tangan mereka meraba-raba senjata yang melingkar di bawah baju mereka, meskipun mereka menancapkan golok di samping tempat duduk masing-masing. Golok yang mereka dapatkan dari lawan-lawan mereka yang menjadi pingsan ketika mereka berkelahi.

Langkah kaki itu menjadi semakin dekat. Dekat sekali. Ternyata bahwa langkah kaki itu sudah cukup memberitahukan, bahwa yang datang itu pun bukan orang kebanyakan.

Seperti yang telah mereka perhitungkan, maka tiba-tiba sesosok bayangan muncul dari dalam gerumbul-gerumbul liar di halaman itu. Dengan sebuah tombak pendek tertunduk seorang anak muda berjalan mendekati mereka sambil berkata, “Jangan berbuat sesuatu. Aku tidak bermaksud jahat.”

Dalam keremangan api yang kemerah-merahan ketiganya serentak berpaling. Mereka melihat seorang anak muda yang berdiri di paling depan, kemudian dua orang lain di belakangnya.

Laki-laki tua di samping perapian itu mengerutkan keningnya. Meskipun hanya lamat-lamat, namun ia dapat melihat wajah anak muda itu, sehingga dengan serta-merta ia terloncat berdiri sambil berdesis, “Angger Mas Ngabehi Loring Pasar. Benarkah?”

Anak muda itu tertegun. Cahaya api yang suram itu telah menjadi semakin suram, sehingga untuk sejenak ia berdiri saja termangu-mangu. Namun sejenak kemudian anak muda itu berkata, “Kiai, kaukah itu, Kiai?”

Orang tua itu tidak segera menjawab. Kedua muridnya pun kini telah berdiri pula dengan tegangnya. Bahkan anak muda yang gemuk, yang sedang menunggui ubinya, telah menyambar tangkai golok di sampingnya. Namun mereka pun kemudian berdiri dengan tegangnya memandangi anak muda yang bersenjatakan sebuah tombak pendek. Pada tangkai tombak itu berjuntai seutas tali yang berwarna kuning keemasan.

“He,” tiba-tiba Gupala berteriak, “jadi Tuan telah mendapatkan tali semacam itu lagi?”

Gurunya berpaling sambil mengerutkan alisnya. Ternyata perhatian Gupala pertama justru kepada tali yang berwarna keemasan itu.

“Terlalu kau,” gumam Gupita,

Tapi Gupala tidak memperhatikannya. Beberapa langkah ia maju. Dengan wajah berseri-seri ia berkata, “Tuan agaknya sengaja menyusul kami. Taliku yang berwarna emas itu ketinggalan pada tangkai pedangku yang terbuat dari gading. Sekarang Tuan akan memberikannya lagi kepadaku bukan?”

Wajah anak muda yang bersenjata tombak itu pun menjadi berseri-seri pula. Dengan nada yang tinggi ia berkata, “He, ternyata aku menemukan kalian di sini.”

“Marilah,” berkata gembala tua itu, “kami persilahkan kalian duduk di sini saja. Gubug kami tidak akan dapat memuat kita bersama-sama.”

“Terima kasih. Aku lebih senang duduk menghangatkan badan di samping perapian itu.”

“Marilah,” sahut orang tua itu.

Anak muda itu memberi isyarat kepada kedua kawannya untuk mendekat. Mereka pun kemudian bersama-sama duduk, melingkar di tepi perapian yang justru telah hampir padam. Namun Gupita kemudian menaburkan seonggok ranting-ranting kecil ke atasnya, sehingga api pun segera berkobar kembali.

“He,” teriak Gupala, “ubiku akan menjadi abu.”

Gupita tidak menyahut. Tetapi ia pun duduk di dekat perapian itu juga, sementara Gupala sibuk menyingkirkan ubi bakarnya.

“Kenapa Angger berada di tempat ini?” bertanya gembala tua itu kemudian kepada Mas Ngabehi Loring Pasar.

“Aku sengaja mencari kalian.”

“Dari manakah Angger tahu, bahwa kami berada di sini?”

“Aku telah singgah ke Sangkal Putung.”

“Maksudku, dari mana angger tahu, bahwa aku tinggal di halaman ini bersama kedua anak-anak yang bengal ini,”

“O, itu hanya suatu kebetulan, Kiai. Hampir semalam suntuk aku berjalan mengitari Tanah Perdikan ini setelah aku melihat kedua pasukan ayah dan anak itu saling berhadapan di muka regol pertahanan Argapati. Karena pertempuran itu urung, maka aku telah berjalan kemana saja tanpa tujuan, sampai aku melihat perapian ini.”

Gembala tua itu mengerutkan keningnya. Sesaat dipandanginya wajah kawan-kawan Mas Ngabehi Loring Pasar. Dua orang yang agaknya cukup dapat dipercaya untuk mengawasi anak muda itu melawat ke daerah yang sedang kemelut dibakar oleh api pertentangan di antara lingkungan sendiri.

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya ketika Mas Ngabehi Loring Pasar dan yang juga bernama Sutawijaya itu memperkenalkan, “Kiai, yang tinggi berkumis tipis itu adalah Paman Hanggapati, sedang yang agak pendek itu Paman Dipasanga.”

“Kami memperkenalkan diri kami, Ngger,” berkata gembala tua itu kemudian, “kedua anak-anak ini adalah anak-anak angkatku, Gupala dan Gupita.”

“He?” Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar itu mengerutkan keningnya. “Permainan apa lagi yang sedang Kiai lakukan?”

“Kenapa?” bertanya orang tua itu.

“Bagaimana dengan nama-nama itu?”

“Demikianlah nama-nama yang kami pergunakan di atas Tanah Menoreh ini.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil tersenyum ia berkata, “Jadi Kiai mengajari murid Kiai berdua ini untuk bermain sembunyi-sembunyian seperti yang sering Kiai lakukan sendiri?”

“Ah,” gembala tua itu berdesah, namun kemudian ia tersenyum sambil menunjuk ke arah kandang di samping gubugnya. “Kami adalah peternak yang miskin. Atau lebih tepat kami adalah gembala-gembala kambing itu.”

“Ya, ya. Aku percaya. Suatu ketika Kiai adalah seorang gembala, lain kali seorang dukun dan kemudian seorang senapati di peperangan. Lalu apa lagi di hari-hari mendatang, Kiai?”

Gembala tua itu tertawa. Bahkan kedua muridnya pun tertawa pula. Apalagi ketika mereka mendengar Sutawijaya berkata, “Agaknya kedua murid-murid Kiai itu pun berbakat.”

“Tuan juga,” tiba-tiba Gupala menyahut, “siapakah yang pernah mempergunakan nama Sutajia di Prambanan?”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tertawa sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalian masih ingat?” bertanya Sutawijaya.

“Argajaya ada di sini,” sahut Gupita, “dan ia berpihak kepada Sidanti.”

“Aku sudah mendengar,” jawab Sutawijaya. “Peristiwa di Tanah ini telah membuat aku menjadi agak bingung. Karena itu aku mencari Kiai yang menurut pendengaranku berada di Menoreh pula. Agaknya Kiai telah berada di sini lebih lama daripadaku, sehingga Kiai akan dapat memberikan lebih banyak petunjuk kepadaku.”

“Tidak terlampau banyak, Ngger. Aku hanya tahu, Argapati tidak dapat memenuhi keinginan anaknya untuk melawan Pajang. Agaknya Argajaya yang sudah terlibat dalam persoalan Sidanti, merasa terjepit. Namun akhirnya ia memutuskan untuk berpihak kepada Sidanti yang bersama-sama telah langsung menentang kekuasaan Pajang di Tambak Wedi. Mereka sudah tidak dapat ingkar lagi karena mereka dengan sengaja telah melawan Angger Untara, sebagai seorang Senapati dari Pajang.”

“Ya, ya. Aku sudah mendengar.”

“Nah, begitulah menurut pendengaran kami, apa yang terjadi di atas tanah perdikan ini.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Lalu, apakah yang telah Kiai lakukan di sini?”

Yang menjawab adalah Gupala, “Menggembala kambing. Berlari-lari untuk bersembunyi dan mengintip perselisihan ini dari kejauhan.”

“Ah,” gurunya berdesah. Tetapi kemudian mereka tersenyum bersama-sama.

“Ya, itulah yang telah kami kerjakan di sini, Ngger.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak kemudian tampaklah keningnya berkerut-merut. Kemudian ia bertanya, “Apakah Kiai akan berpihak?”

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Ditatapnya wajah Sutawijaya yang menjadi bersungguh-sungguh. Karena itu, orang tua itu pun menyadari bahwa Sutawijaya benar-benar ingin tahu pendiriannya. Sehingga dengan demikian maka gembala tua itu pun menjawab, “Ya, Ngger. Kami sudah memutuskan untuk berpihak.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku sudah menduga, kepada siapa Kiai akan berpihak.”

“Memang tidak sukar untuk menebak. Kami juga tidak dapat melihat kekasaran dan ketamakan menguasai Tanah ini. Lebih daripada itu aku dapat mengerti pendirian Argapati. Itulah soalnya.”

“Agaknya Argapati lebih sayang kepada jabatannya dari pada anak laki-laki tunggalnya.”

Gembala tua itu mengerutkan keningnya. “Maksud Angger?”

“Menurut perhitungan wajar, apa pun yang akan terjadi, Argapati pasti akan melindungi anak laki-lakinya dan adiknya. Tetapi Argapati berbuat sebaliknya. Justru ia bertempur melawan keduanya.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, begitulah keadaannya. Tetapi aku kira keadaan ini tidak dimulai dari persoalan Sidanti dan Argajaya.” Orang tua itu berhenti sejenak. Lalu, “Apakah pada saat ada perang tanding di bawah Pucang Kembar, Angger sudah berada di Tanah ini?”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. “Perang tanding yang mana yang Kiai maksud?”

“Antara Argapati dan Ki Tambak Wedi?”

Sutawijaya menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku tidak tahu. Memang mungkin aku belum ada di Tanah ini.”

“Perang tanding itu telah menimbulkan persoalan bagi kami. Sudah tentu sebabnya bukan sekedar apakah Argapati akan berpihak kepada Sidanti atau bukan, karena agaknya soal itu adalah soal lama bagi keduanya.”

Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Hampir di luar sadarnya ia berdesis, “Kesetiaan Argapati yang berlebih-lebihan kepada Pajang akan menyulitkan kedudukanku.”

“He?” hampir bersamaan gembala tua dan murid-muridnya bergeser maju.

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Ia menyadari bahwa ia telah terdorong untuk mengucapkannya. Tetapi ia tidak menyesal. Keadaannya sendiri memang telah semakin meningkat pula, meskipun tidak menimbulkan benturan-benturan seperti yang terjadi di Menoreh kini.

“Angger Sutawijaya,” berkata gembala tua itu, “kenapa Argapati itu akan dapat menyulitkan kedudukan Angger? Seharusnya Angger berterima kasih kepadanya, bahwa ia telah meletakkan tugas di atas segala-galanya, bahkan di atas kepentingan anaknya sendiri.”

Sutawijaya tidak segera menjawab. Sekilas dipandanginya kedua kawan-kawannya yang duduk tepekur memandangi api di perapian yang sudah menjadi semakin pudar pula.

Dan tiba-tiba saja Sutawijaya berdesis, “Aku memang mempunyai persoalan dengan Pajang,” anak muda itu berhenti sebentar karena hampir bersamaan Hanggapati dan Dipasanga mengangkat wajahnya.

“Mereka adalah kawan-kawan baikku, Paman,” berkata Sutawijaya kepada kedua kawannya itu. “Aku tidak perlu bercuriga kepada mereka, meskipun seandainya pendirian mereka tidak sejalan dengan pendirianku. Mereka adalah orang-orang jantan dan tidak dengan mudah dapat berkhianat.”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam, sedang kedua muridnya pun saling berpandangan sejenak.

“Maaf,” berkata Sutawijaya kemudian kepada ketiga guru dan murid itu, “demikianlah pendirianku. Dan aku lebih senang berkata terus terang daripada menyimpannya di dalam dada.”

“Itu suatu sikap yang terpuji,” sahut gembala tua itu.

“Terima kasih. Suatu kehormatan bagiku. Kiai ingin mendengar persoalanku?”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba ia merasa canggung menghadapi Sutawijaya kali ini, tidak seperti beberapa waktu yang lampau. Namun ia menjawab, “Apabila Angger tidak berkeberatan.”

“Baiklah,” Sutawijaya berhenti sejenak mengamati kedua murid gembala tua itu. Lalu, “Ayahanda telah meninggalkan istana Pajang.”

“He?” ketiganya terperanjat.

“Siapa yang Angger maksud?” bertanya gembala tua itu.

“Bukan Ayahanda Hadiwijaya yang sekarang telah bergelar Sultan. Tetapi Ayahanda Ki Gede Pemanahan.”

Tiba-tiba wajah gembala tua itu menjadi tegang. Hampir tidak percaya ia kepada pendengarannya sendiri. Tanpa sesadarnya ditatapnya wajah kedua kawan Sutawijaya itu berganti-ganti.

“Benarkah begitu?” ia berdesis.

Berbareng keduanya mengangguk.

“Dimana sekarang Ayahanda Ki Gede Pemanahan?” bertanya gembala tua itu.

“Ayahanda telah kembali ke Sela, setelah meletakkan semua jabatan Istana.”

“Aneh, Ngger. Itu aneh sekali. Bagaimana mungkin hal itu dapat terjadi? Aku rasa-rasanya seperti orang bermimpi. Atau aku berhadapan dengan orang lain?”

“Tidak, Kiai. Kiai tidak bermimpi dan Kiai benar-benar berhadapan dengan Sutawijaya. Namun aku tidak tahu lagi, apakah gelarku sudah dicabut oleh Ayahanda Sultan Pajang, karena aku mengikuti ayah kembali ke Sela.”

Gembala tua itu tidak segera menyahut. Tetapi wajahnya yang tegang menjadi semakin tegang. Sekali dipandanginya wajah-wajah muridnya. Dan murid-muridnya itu pun terheran-heran pula mendengar keterangan Sutawijaya.

Ternyata, keadaan memang berkembang terlampau cepat di mana-mana. Tidak saja di Tanah Perdikan Menoreh, tetapi juga di Pajang. Berita tentang lolosnya Ki Gede Pemanahan dari Pajang, belum terdengar dari atas Tanah perbukitan ini. Tetapi sebentar lagi Ki Tambak Wedi pasti akan mendengarnya pula. Orang-orangnya sebagian adalah orang-orang liar yang berkeliaran di mana saja. Mungkin di antara mereka ada yang mempunyai kawan-kawannya di Pajang atau di daerah-daerah lain yang berdekatan dengan Pajang. Betapa Pajang berusaha menyimpan rahasia ini, seandainya kepergian Ki Gede Pemanahan dianggap sebagai suatu rahasia, namun seluruh negeri pada saatnya pasti akan mendengarnya juga.

Dan sejenak kemudian dengan nada datar gembala tua itu bertanya, “Kenapa Ayahanda Ki Gede Pemanahan meninggalkan istana, Ngger? Apakah Ki Gede Pemanahan merasa bahwa segala tugasnya sudah selesai untuk kemudian menarik diri dan menyepi di Sela, ataukah ada sebab-sebab lain?”

“Kira-kira begitulah Kiai. Ayah merasa menjadi semakin tua. Tetapi ada juga sebab-sebab lain yang mendorongnya untuk semakin cepat meninggalkan Ayahanda Sultan Hadiwijaya.”

Gembala tua itu tidak menjawab. Ditatapnya mata Sutawijaya tajam-tajam. Namun sorot matanya itulah yang memancarkan seribu pertanyaan di dalam dadanya.

“Kiai,” berkata Sutawijaya, “kenapa Kiai tidak bertanya, apakah sebab-sebab yang mendorong Ayahanda Ki Gede Pemanahan untuk meletakkan jabatannya sebagai Panglima Wira Tamtama?”

“Angger sudah tahu, bahwa pertanyaan itu ada di dalam dadaku.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, aku sudah tahu. Sebab-sebab itu mungkin akan mentertawakan sekali.” Ia berhenti sebentar, lalu, “Begini Kiai. Mungkin Kiai sudah mendengar bahwa mereka yang berhasil membunuh Arya Penangsang adalah Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi.”

“Bukankah Angger Sutawijaya yang melakukannya?”

“Aku hanya sekedar alat. Tetapi boleh juga dikatakan demikian. Namun secara resmi dilaporkan, bahwa yang telah membunuh Arya Penangsang adalah Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi.”

“Juga suatu cara untuk mendapatkan kedua bagian Tanah yang disanggupkan. Pati dan Alas Mentaok.”

“Dugaan Kiai tepat. Sebab kalau aku yang membunuh Arya Penangsang, semua hadiah akan dibatalkan. Karena aku adalah putera angkat Sultan Hadiwijaya sendiri.”

“Ya.”

“Nah, ternyata bumi Pati sudah lama diserahkan. Begitu Arya Penangsang gugur, begitu bumi Pati diserahkan.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali-sekali dengan sudut matanya ia mencoba melihat wajah kedua muridnya. Dan gembala tua itu melihat wajah-wajah itu menjadi tegang.

“Tetapi,” Sutawijaya meneruskan, “tidak demikian halnya dengan Alas Mentaok. Pati yang sudah terbuka dan sudah menjadi semakin ramai segera dapat mulai digarap, tetapi Mentaok yang masih berupa hutan belukar, masih harus menunggu. Menunggu tanpa batas. Dengan demikian maka Mentaok pasti akan menjadi semakin jauh ketinggalan dari Pati.”

Sejenak Gupala dan Gupita saling berpandangan. Sedang gurunya yang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ketiganya tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun Sutawijaya seakan-akan tanggap atas perasaan ketiganya, sehingga ia meneruskannya, “Memang, tampaknya tidak lebih dari perasaan iri hati. Bukankah begitu, Kiai?”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan hati-hati ia berkata, “Angger Sutawijaya. Memang tanggapan yang demikian itu mungkin sekali. Tetapi apakah masih ada alasan lain yang mendorong Ki Gede Pemanahan meninggalkan Pajang? Sebab menurut hematku, kalau hanya sekedar Tanah Mentaok maka Ki Gede Pemanahan pasti tidak akan mengambil keputusan itu.”

“Kiai,” berkata Sutawijaya, “ayahanda memandang soal itu bukan sekedar dari persoalan Tanah Mentaok itu sendiri. Tetapi dengan demikian Sultan Hadiwijaya telah ingkar. Ingkar janji. Sebagai seorang Raja, maka ingkar janji adalah pantangan yang harus dijauhi.“

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih bertanya, “Angger. Apakah tidak mungkin, bahwa Sultan Hadiwijaya menganggap bahwa bukan saja Tanah Mentaok yang kelak akan jatuh ke tangan Angger, meskipun lewat Ki Gede Pemanahan, karena tidak ada orang lain yang pasti akan menerimanya. Tetapi bahkan seluruh Pajang akan jatuh ke tangan Angger Sutawijaya.”

“Apakah aku harus menutup mata dari suatu kenyataan bahwa di istana ada Adimas Pangeran Benawa?”

“Apakah ada tanda-tanda bahwa tahta kelak akan diwarisi oleh Pangeran itu?”

“Pertanyaan Kiai agak aneh.”

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia berdiam diri. Sehingga dengan demikian keadaan menjadi hening. Hanya desah nafas mereka sajalah yang terdengar di sela-sela desir angin malam.

Gupala dan Gupita menundukkan kepala mereka memandangi api yang hampir padam. Sekali-sekali Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya ia tidak dapat mengerti, kenapa Ki Gede Pemanahan meninggalkan Pajang, apabila masalahnya hanya sekedar masalah Tanah Mentaok. Meskipun ia mencoba meyakinkan kata-kata Sutawijaya, bahwa masalahnya bukan Tanah Mentaok itu sendiri, tetapi bahwa sultan telah ingkar itulah yang telah membuat Ki Gede Pemanahan menjadi kecewa.

Dalam keheningan itu terdengar Sutawijaya bertanya, “Bagaimanakah tanggapan Kiai mengenai masalah ini?”

Gembala tua itu mengangguk-angguk. “Aku memerlukan waktu, Ngger. Aku kira Angger Sutawijaya juga tidak tergesa-gesa. Mungkin aku akan terpaksa menyelesaikan masalah tanah perdikan ini dahulu, baru aku dapat mencoba memberikan pertimbanganku.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya. Agaknya Kiai sudah terlanjur terlibat di dalam persoalan ini. Tetapi persoalan Tanah ini mau tidak mau harus menjadi perhitunganku juga. Alas Mentaok akan berada di tengah-tengah, di antara Pajang dengan Untara di Jati Anom di sebelah Timur, dan kesetiaan Argapati di sebelah Barat.”

“Ah,” gembala tua itu berdesah, “Angger terlampau cepat mengambil kesimpulan itu. Aku kira Ki Gede Pemanahan sendiri pun tidak akan dengan tergesa-gesa mengambil kesimpulan yang demikian.”

“Tetapi bukankah sudah jelas.”

“Lalu, apakah maksud Angger, Tanah ini harus jatuh ke tangan orang-orang yang menentang kekuasaan Pajang? Sidanti dan Argajaya misalnya?”

Sutawijaya tidak segera menjawab.

“Kalau demikian, maka Angger sudah terdorong ke dalam suatu sikap yang mementingkan diri sendiri. Angger tidak melihat apa yang telah terjadi di atas Tanah ini.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Katanya, “Bukan maksudku demikian, Kiai. Aku tahu sifat-sifat Sidanti, Argajaya, dan gurunya Ki Tambak Wedi. Mereka sama sekali tidak dapat dibawa berbincang dan bertindak untuk kepentingan bersama karena justru mereka mementingkan diri mereka sendiri. Namun sudah tentu bahwa aku juga tidak dapat berdiam diri, apabila Tanah ini terlampau setia berpihak kepada Pajang dan menghalang-halangi perkembangan Tanah Mentaok kelak apabila sudah diserahkan kepada Ayahanda Ki Gede Pemanahan?”

Tiba-tiba gembala tua itu tersenyum. Katanya, “Ternyata kau masih terlampau muda, Ngger. Apakah demikian juga pendirian Ayahanda Ki Gede Pemanahan?”

Sutawijaya menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu benar, Kiai. Tetapi kepergian ayah ke Sela bukan berarti bahwa ayah telah melepaskan tuntutannya atas Tanah Mentaok. Kepergian ayah adalah suatu usaha untuk mempercepat penyerahan itu.”

“Ya. Kemudian Ayahanda Ki Gede Pemanahan akan membuka Mentaok untuk menjadi suatu pedukuhan. Tentu saja dengan harapan bahwa kelak akan menjadi sebuah kota yang ramai. Melampaui Tanah Perdikan Menoreh dan melampaui Mangir. Bukankah begitu?”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baiklah, Ngger. Aku akan mencoba memberikan pendapatku lain kali. Tetapi bagiku adalah merupakan suatu keharusan untuk membantu Argapati melepaskan diri dari kesulitan ini. Sidanti bukanlah seorang yang pantas untuk menjadi besar. Ia dalam sikapnya tidak sekedar menentang Sultan Hadiwijaya. Tetapi ia menentang kekuasaan yang lebih tinggi dari kekuasaannya, justru karena ia sendiri ingin berkuasa.”

“Terserahlah, Kiai. Tetapi setidak-tidaknya Menoreh tidak mempersulit kedudukanku kelak.”

“Aku akan mencoba menyampaikannya kepada Argapati. Tetapi, apakah terbayang di dalam angan-angan Angger Sutawijaya bahwa suatu ketika akan timbul masalah antara Mentaok dan Pajang?”

Sutawijaya tidak segera dapat menjawab. Pertanyaan itu membuatnya berdebar-debar. Sehingga dengan demikian untuk sejenak ia berdiam diri.

Kembali kesepian mencengkam suasana. Angin yang sejuk mengusap dahi-dahi yang dibasahi oleh keringat, betapapun dinginnya malam. Api perapian di hadapan mereka telah menjadi semakin pudar. Bayangan merah yang samar-samar memulas wajah-wajah yang tegang.

Dengan sebuah tongkat kecil Gupala mengais abu yang masih membara. Tetapi ia tidak bergeser dari tempatnya. Sekilas dipandanginya wajah Gupita yang menahan senyum. Ternyata ubi yang dibenamkannya di dalam abu itu telah menjadi arang.

“Kiai,” kemudian terdengar suara Sutawijaya, “aku tidak mengharapkan pertentangan antara Mentaok dan Pajang kelak. Sama sekali tidak. Ayahanda Ki Gede Pemanahan maupun Ayahanda Sultan Hadiwijaya pun pasti tidak.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Syukurlah.”

“Pertentangan itu tidak ada gunanya. Kecuali …………”

“Kecuali, kecuali apa, Kiai?”

“Ah,” gembala tua itu berdesah. “Tidak. Tidak ada kecualinya. Pertentangan dalam bentuk apa pun tidak menguntungkan.”

Sutawijaya menggigit bibirnya. Tetapi ia tidak dapat memaksa gembala tua itu untuk berbicara. Karena itu, maka anak muda itu hanya sekedar mengangguk-anggukkan kepalanya saja.

Yang mula-mula berbicara adalah gembala tua itu, “Demikianlah, Ngger. Angger telah mengetahui apa yang kira-kira akan aku kerjakan. Sesudah Menoreh ini selesai, maka aku akan mencoba bertemu dengan Ayahanda Ki Gede Pemanahan.”

“Tentu ayah akan menjadi senang sekali. Beberapa kali ayah bertanya tentang Kiai. Setiap kali ayah bertanya tentang bentuk dan gambaran tubuh Kiai. Dan setiap kali ayah selalu mengangguk-anggukkan kepalanya.”

“Apakah Ayahanda tidak berkata apa pun tentang aku?”

Sutawijaya menggeleng. “Tidak terucapkan. Tetapi aku melihat ayah berbicara di dalam hatinya tentang seorang dukun tua, seorang senapati, seorang pengembara dan seorang gembala.”

Gembala tua itu tersenyum. Di angguk-anggukkannya kepalanya. Tetapi ia tidak segera menyahut.

Sementara itu, di langit telah membayang warna-warna merah. Satu-satu bintang yang bergayutan tenggelam dalam kebiruan wajahnya.

Gupita dan Gupala yang telah merasa terlampau lelah, selama mereka duduk saja mendengarkan pembicaraan gurunya, melihat fajar yang sebentar lagi akan pecah.

“Kiai,” berkata Sutawijaya kemudian, “baiklah aku kembali sebelum terang. Aku harus mencari jalan yang sepi, supaya kehadiranku di sini tidak diketahui orang, atau justru menambah persoalan.”

“Kemana Angger akan kembali?”

“Aku membuat sebuah gubug di pinggir hutan di ujung Tanah Perdikan ini.”

“Tinggallah di sini, Ngger. Kita bersama-sama adalah orang-orang yang tidak mempunyai tempat tinggal di tanah perdikan ini.”

Sutawijaya tidak segera menyahut. Dipandanginya wajah kedua kawan-kawannya. Tetapi kedua kawannya itu pun tidak memberikan tanggapan apapun.

“Apakah Angger meninggalkan sesuatu di gubug Angger itu?”

Sutawijaya menggelengkan kepalanya. “Tidak Kiai.”

“Kalau begitu tinggallah di sini. Di sini ada beberapa ekor kambing yang dapat mengawani Angger. Apabila nanti matahari naik, maka kami bertiga akan segera meninggalkan tempat ini. Yang paling memberati hati kami adalah kambing-kambing itu. Nah, apabila Angger bersedia memeliharanya, tinggallah di sini untuk beberapa hari.”

“Akan kemanakah Kiai bertiga?”

“Kami akan menemui Ki Argapati. Kami sudah tidak dapat menunda-nunda waktu lagi. Menurut perhitunganku, Ki Tambak Wedi pasti akan segera kembali setelah ia menjajagi kekuatan lawannya.”

“Ya. Dan Kiai akan ikut serta secara langsung?”

“Ya.”

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Meskipun tidak terucapkan, namun terbaca di wajahnya, bahwa ia kurang sependapat dengan sikap itu.

“Anak muda ini sedang dibakar oleh suatu cita-cita,” berkata gembala tua itu di dalam hatinya. “Ia ingin melihat Alas Mentaok menjadi suatu kota yang besar. Tetapi ia tidak mengerti apa yang telah terjadi sebenarnya di atas tanah perdikan ini. Agaknya Angger Sutawijaya lebih senang melihat keduanya menjadi lemah agar seterusnya tidak mengganggu perkembangan Mentaok di masa-masa mendatang. Tetapi aku mengharap pendirian itu akan segera berubah. Keinginannya melihat sebuah kota yang baru yang dapat menyamai Pajang dan melampaui Pati, terlampau membakar darah mudanya. Mudah-mudahan keinginan itu akan segera mengendap sehingga ia dapat melihat masa depannya dengan wajar. Meskipun Sultan Hadiwijaya bukanlah seseorang yang pantas dianggap mampu mengendalikan suatu pemerintahan negara yang besar.”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Namun tanpa sesadarnya telah melintas di dalam angan-angannya kenangan tentang dirinya sendiri. Dirinya sendiri bukan sebagai seorang dukun miskin di dukuh Pakuwon, bukan sebagai seorang pengembara yang menyusuri jalan-jalan sempit, bukan sebagai seorang guru yang berusaha keras menurunkan ilmunya sebagai suatu peninggalan dari perguruannya terhadap kedua muridnya, bukan pula sebagai seorang gembala di atas tanah perdikan yang sedang dibakar oleh kemelutnya api perselisihan di antara mereka sendiri. Tetapi dirinya di masa mudanya.

“Hem,” orang tua itu berdesah. Lamat-lamat ia mendengar suara jauh di dasar hatinya, “Memang Sultan Hadiwijaya tidak akan dapat dipertahankan untuk seterusnya. Tetapi tidak pantas apabila aku tampil lagi di gelanggang pemerintahan dalam keadaan seperti ini. Aku sudah memutuskan semua jalur-jalur yang menuju ke arah itu, dan aku telah menempatkan diriku pada tempat yang sekarang ini.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba saja ia menengadahkan wajahnya sambil berkata, “Hampir pagi.”

Tanpa sesadarnya kedua orang muridnya pun mengangkat kepalanya memandangi cahaya yang memerah di Timur. Kemudian dipandanginya wajah gurunya yang suram. Namun mereka berdua sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun.

“Angger Sutawijaya,” berkata gembala tua itu, “silahkan tinggal di sini. Daerah ini cukup sepi dan hampir tidak pernah diinjak orang. Dekat tempat ini mengalir sebuah sungai yang meskipun kecil, tetapi airnya bening dan mencukupi kebutuhan.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah, Kiai, aku akan tinggal di sini. Aku akan memelihara kambing-kambing itu, karena aku pun dapat menggembala dan menyabit rumput. Tetapi sebaiknya Kiai tidak usah menghitung, berapa ekor kambing yang Kiai tinggalkan, sebab apabila Kiai kembali kelak, jumlah itu pasti sudah berkurang.”

“Kenapa?”

“Kadang-kadang kami disentuh pula oleh keinginan untuk memanggangnya,” jawab Sutawijaya sambil tersenyum.

“Silahkan, Ngger. Aku tidak berkeberatan.”

“Kebetulan sekali,” gumam Sutawijaya, yang kemudian berkata kepada kedua kawan-kawannya, “kita tinggal di sini.”

Sementara itu, gembala tua itu pun segera minta diri untuk pergi ke sungai lebih dahulu. Sebelum berangkat ia harus mempersiapkan dirinya. Gembala tua itu bersama dua orang muridnya, tidak akan dapat mengirakan berapa lama ia akan tinggal bersama pasukan Argapati.

Di sepanjang jalan ke sungai, gembala tua itu selalu digelisahkan oleh perasaan sendiri. Apakah yang sebaiknya dikatakan kepada Argapati tentang dirinya. Apakah ia harus berterus-terang ataukah ia masih harus berselimut sejauh-jauh mungkin.

“Kedua murid-muridnya itu tidak mengenal aku,” desisnya, “tetapi mungkin Argapati dapat menebak, siapakah aku ini. Argapati pasti sudah mengenal guru, seorang yang bersenjata cambuk. Dan Argapati mungkin akan dapat mengingat hari-hari itu, semasa aku masih muda. Namun ia pasti belum mengerti, siapakah aku sebenarnya.”

Keragu-raguan itu selalu membayanginya selama ia berendam diri di dalam sungai, kemudian setelah ia berpakaian, menyelesaikan kewajibannya dan kemudian melangkah kembali ke gubugnya.

Di jalan setapak dari sungai itu ia bertemu dengan Gupala yang dengan bersungut-sungut berkata kepadanya, “Ubiku menjadi arang.”

Gembala itu tersenyum. Jawabnya, “Masih ada ubi yang lain.”

“Semuanya telah aku masukkan ke dalam api.”

“Masih melekat, pada batangnya. Bukankah kau dapat mencabut lagi?”

Gupala tertawa. Kemudian ia berlari menghambur ke sungai.

Beberapa langkah lagi orang tua itu bertemu dengan Gupita. Agaknya perhatiannya lain dari adik seperguruannya. Dengan sungguh-sungguh ia bertanya, “Sikap Sutawijaya agak aneh, Guru. Apakah ia ingin melihat Pajang runtuh?”

“Tidak. Tidak begitu, Gupita. Yang menjadi tujuan Angger Sutawijaya bukan itu. Yang penting baginya adalah, Mentaok menjadi besar. Kalau Mentaok justru akan menjadi besar karena Pajang, maka pasti tidak akan ada pertentangan antara Pajang dan Mentaok.”

Gupita menundukkan wajahnya. Tampak sesuatu bergolak di dalam hatinya, sehingga seakan-akan di luar sadamya ia bergumam, “Akhirnya kita sampai pada sifat manusia itu sendiri, Guru.”

“Bagaimana?” bertanya gurunya.

“Mereka selalu memburu kepentingan diri sendiri. Mereka menempatkan kepentingan sendiri di atas kepentingan yang lain. Seperti apa yang dilakukan oleh Sultan Hadiwijaya dengan menyingkirkan Arya Penangsang. Arya Penangsang sendiri dan sekarang Sutawijaya. Sebelum kemelut api yang membakar tanah ini padam, kita sudah melihat sepercik api di hutan Mentaok. Di sini telah terjadi geseran kepentingan, dan kelak di Mentaok akan terjadi pula.”

“Kita belum pantas untuk mencemaskannya sekarang. Mudah-mudahan hal itu tidak terjadi.”

“Mudah-mudahan, Guru,” jawab Gupita. “Tetapi seperti yang pernah Guru ceritakan, bahwa api yang membakar seluruh Pajang dan Jipang sebenarnya adalah percikan api yang menyala di dalam dada orang-orang yang mementingkan diri sendiri. Kenapa Sultan Hadiwijaya dengan tergesa-gesa mengambil keputusan untuk menghancurkan Jipang?”

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, pamrih pribadi.”

“Bukankah Guru pernah bercerita tentang dua orang gadis di Gunung Danaraja, yang melayani Kangjeng Ratu Kalinyamat yang bertapa telanjang dan bertirai rambutnya sendiri saja.”

“Kau dapat melihat Gupita, bahwa pergulatan pamrih pribadi dari orang-orang yang kebetulan memegang kekuasaan, akan berakibat jauh sekali. Yang terlibat bukan sekedar orang-orang itu sendiri, tetapi mereka akan menyeret setiap orang di dalam lingkungan kekuasaannya.”

“Seperti yang kita lihat di Menoreh kini, Guru, bukankah begitu?”

“Ya.”

“Dan kita akan terseret pula di dalamnya.”

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya. Kita akan terjun ke dalamnya. Sudah tentu dengan kepentingan kita juga. Gupala mempunyai kepentingan atas Tanahnya sendiri, supaya tidak selalu terancam oleh bahaya yang dapat datang dari Barat, apabila Tanah ini dikuasai Sidanti dan berhasrat untuk maju ke Timur, melawan Pajang. Dan kau?”

“Aku tidak mempunyai kepentingan apa-apa.”

Gurunya mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum. “Gadis itu? Bukankah kau menjadi hampir gila ketika gadis itu dibawa Sidanti ke Tambak Wedi? Bukankah kau ingin hidup tenteram tanpa dibayangi lagi oleh hantu yang setiap saat dapat mengganggu ketenteraman hidup itu kelak sesudah kalian berkeluarga?”

Gupita menundukkan kepalanya.

“Aku pun mempunyai pamrih. Meskipun tidak sejelas Angger Sutawijaya, Sultan Hadiwijaya, dan yang lain lagi. Aku berkepentingan agar Argapati tidak melepaskan haknya.”

Gupita masih menundukkan kepalanya.

“Sudahlah. Pergilah ke sungai dan bersiaplah. Kita akan pergi ke pusat pertahanan Argapati. Kita akan langsung melibatkan diri kita masing-masing.”

Gupita tidak menjawab, tetapi ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Ketika gurunya kemudian meneruskan langkahnya kembali ke gubugnya, maka Gupita pun berjalan pula ke sungai. Namun kepalanya masih juga tertunduk dalam-dalam.

Kedua anak-anak muda itu, setelah selesai bersiap dan berkemas, segera kembali duduk bersama-sama dengan gurunya, Sutawijaya dan kawan-kawannya. Agaknya gurunya telah minta diri kepada Sutawijaya untuk segera pergi menemui Argapati seperti yang telah dijanjikan.

“Aku mengharap bahwa api di atas bukit ini segera padam, Ngger,” berkata orang tua itu. “Apabila mungkin tanpa korban yang berarti. Tetapi menilik sikap-sikap yang mutlak di kedua belah pihak, agaknya salah satu memang harus menjadi korban.”

“Sudah tentu, Kiai tidak ingin bahwa tempat Kiai berpihaklah yang akan menjadi korban itu,” berkata Sutawijaya.

“Sudah tentu, Ngger. Kalau aku melepaskannya untuk dikorbankan aku tidak akan berpihak kepadanya. Setidak-tidaknya aku tidak akan mencampurinya. Tetapi aku sudah berkeputusan. Tanah perdikan ini akan lebih berarti apabila Argapati sendirilah yang memegangnya. Tentu saja tidak sempurna. Namun adalah jauh lebih baik daripada apabila Sidanti yang menguasainya. Lebih baik bagi rakyat tanah perdikan ini sendiri. Lebih baik bagi daerah-daerah tetangganya dan sudah tentu akan lebih baik bagi Mentaok yang haru akan berkembang.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya.

“Sudah tentu Mentaok kelak tidak akan sekedar menjadi tanah perdikan. Aku tidak tahu apakah rencana Sultan Hadiwijaya tentang tahta, karena memang ada Pangeran Benawa di istana Pajang sekarang. Tetapi seandainya Pajang akan temurun kepada Pangeran yang lemah hati itu, Angger akan melihat Mentaok menjadi sebuah kadipaten yang besar.”

Sutawijaya tidak menyahut. Tetapi ia merenungkan kata-kata orang tua itu. Agaknya ia dapat mengerti jalan pikirannya, sehingga tanpa sesadarnya ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sementara itu matahari telah meloncat ke punggung bukit. Sinarnya yang masih kemerah-merahan terserak-serak di atas pepohonan di hutan-hutan rindang.

“Aku masih mempunyai beberapa ontong jagung, Ngger,” berkata gembala tua itu. “Aku sendiri dan kedua anak-anak ini tidak biasa makan terlampau pagi. Apabila nanti Angger memerlukannya, kami persilahkan untuk mempergunakannya. Di belakang dan di samping rumah ini Angger dapat menemukan batang-batang ubi kayu yang telah cukup besar meskipun belum masanya. Tetapi satu dua, Angger akan dapat memetik ubinya.”

“Baiklah, Kiai. Aku akan tinggal di rumah ini. Selebihnya aku akan mencoba menilai semua keterangan Kiai. Mudah-mudahan dapat menumbuhkan harapan bagiku dan bagi Mentaok. Dan mudah-mudahan pula Mentaok benar-benar akan diserahkan.”

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Kami akan minta diri, Ngger. Baik-baiklah di tempat ini. Aku menitipkan semua yang ada di halaman ini.”

“Yang ada hanya beberapa ekor kambing itu,” Gupala memotong.

“Ya, beberapa ekor kambing itu,” sambung gembala tua itu.

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah. Aku usahakan menjaga dan menggembalakannya seperti kalian menggembala. Tetapi sekali lagi aku minta, jangan kalian hitung jumlah kambing-kambing itu.”

Orang tua itu tersenyum. “Aku tidak pernah mengerti dengan pasti jumlah kambing-kambingku.”

“Syukurlah,” desis Sutawijaya.

Sejenak kemudian, maka gembala tua itu pun segera meninggalkan gubugnya diikuti oleh kedua muridnya. Namun sebelum mereka berangkat, Gupala sempat mendekati Sutawijaya sambil berkata, “Juntai kuning itu sama sekali tidak berarti bagi tuan. Sebaiknya tuan berikan saja kepadaku.”

“He,” jawab Sutawijaya, “bukankah kau pernah menerimanya dari padaku?”

“Tertinggal di hulu pedangku.”

“Kalian tidak membawa senjata?”

“Bukan pedang.”

“Lalu buat apa tali ini bagimu?”

“Kalung.”

Sutawijaya tersenyum. Tetapi dilepasnya juga tali kekuning-kuningan yang berjuntai di tangkai tombak pendeknya. Sambil menyerahkannya ia berkata, “Kalau kelak aku membawanya lagi, aku sudah tidak akan memberikannya kepadamu.”

Gupala tersenyum. Katanya, “Terima kasih.” Dan di lingkarkannya tali yang berwarna kuning keemasan itu di lehernya, berjuntai sampai ke lambungnya. Kemudian ujungnya dikaitkannya pada ikat pinggangnya.

“Kalau aku Bima, aku akan memakai kalung seekor ulat welang sebesar betis.”

“Kau selalu mengada-ngada,” desis Gupita.

Gupala tersenyum, kemudian ia minta diri sambil berkata, “Tinggallah Tuan di sini. Kalau suatu hari Tuan menyembelih kambing, jangan yang berwarna putih mulus.”

Ketika matahari merambat semakin tinggi, ketiganya telah berada di perjalanan menyusuri pinggir hutan yang tipis. Mereka harus mencari jalan, agar mereka tidak menjumpai rintangan apa pun di perjalanan. Mereka harus menghindari pula kemungkinan, petugas-petugas sandi yang disebar oleh Sidanti dapat menemuinya, sehingga keadaan akan berkembang ke arah yang lain dari yang telah mereka perhitungkan.

Namun yang masih menjadi masalah bagi gembala tua itu adalah dirinya sendiri. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata di dalam hatinya, “Aku akan berusaha sejauh-jauhnya untuk menyatakan diriku seperti sekarang ini. Entahlah, apa saja tanggapan Argapati terhadapku nanti. Tetapi Tanah ini harus diselamatkan. Mudah-mudahan kehadiran kami akan dapat membantu Ki Argapati.”

Dengan hati-hati mereka melangkah terus. Menyusup dari antara pepohonan yang satu ke yang lain, menyusur pinggir hutan, dan kemudian lewat di tengah-tengah pategalan yang tidak digarap.

Semakin dekat ketiganya ke pusat pertahanan Argapati, hati mereka menjadi semakin berdebar-debar. Apalagi Gupita. Ia merasa, bahwa persoalan yang timbul antara dirinya dan Wrahasta tanpa diketahui sebab-sebabnya, agaknya akan berkepanjangan.

“Anak muda yang bertubuh raksasa itu telah mengancam aku,” katanya di dalam hati, “aku tidak boleh kembali ke padukuhan itu.” Gupita menarik nafas. Namun kemudian ia berkata seterusnya di dalam hatinya itu. “Tetapi aku tidak dapat tinggal di luar. Aku harus ikut masuk bersama guru dan Adi Gupala.”

Akhirnya Gupita itu pun membulatkan tekadnya. Apa pun yang akan terjadi atas dirinya. “Aku sama sekali tidak mempunyai maksud-maksud yang tidak baik,” katanya pula di dalam hatinya. “Meskipun mungkin benar kata guru, bahwa apa yang kita lakukan ini terdorong oleh pamrih-pamrih pribadi, namun aku tidak akan membuat orang lain mengalami kesulitan. Justru dalam kepentingan yang bersamaan pula kita bekerja bersama-sama.”

Yang sama sekali seakan-akan tidak mempunyai persoalan adalah justru Gupala. Ia melangkah dengan mantap dan ketetapan di dalam hati. Sidanti harus dihancurkan. Selama Sidanti masih ada, ia pasti akan selalu mengancam ketenteraman kademangannya. Dan bahkan mungkin akan mengancam ketenteraman hidup keluarganya.

Sekilas-kilas diingatnya kata-katanya kepada adiknya pada saat ia akan berangkat, “Aku akan membunuhnya.” Dan diingatnya pula kata-katanya selagi ia menenteramkan hati adiknya, “Laki-laki itu terlampau rendah hati. Ia tidak akan berkata, ‘Aku akan kembali dengan membawa kepala Sidanti.’ Tidak. Tetapi ia hanya sekedar berkata, ‘Mudah-mudahan aku akan kembali dengan selamat.’”

Gupala tersenyum sendiri. Sekarang mereka telah berada dekat sekali dengan medan pertempuran itu. Apabila Ki Argapati tidak berkeberatan, maka ia akan segera ikut terjun di dalam peperangan.

Anak yang gemuk itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Rasa-rasanya telah rindu melihat dan mengalami benturan senjata.

“Hem, aku tidak membawa pedang berhulu gading itu,” desahnya di dalam hati, “aku harus berkelahi dengan cambuk. Tetapi cambuk ini tidak dapat langsung menyobek dada lawan dan menumpahkan darahnya. Cambuk ini hanya dapat menumbuhkan luka-luka kecil dan membuat lawan-lawanku menyeringai menahan sakit. Sejauh-jauh yang dapat aku lakukan adalah mematahkan tulang lawan, tetapi bagiku sebenarnya lebih mantap mengayunkan pedang daripada sekedar cambuk kuda.” Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam, “Itulah ciri guru. Ia tidak senang membunuh lawannya sekaligus apabila tidak terlampau mendesak. Dan demikian pulalah watak jenis senjatanya.”

Ketika matahari telah merambat semakin tinggi, sampai ke ujung pepohonan, maka gembala tua bersama kedua muridnya sudah menjadi semakin dekat. Kini mereka berada beberapa puluh langkah saja dari bekas regol yang telah terbakar. Mereka berjalan membungkuk-bungkuk di antara batang-batang ilalang. Semakin lama semakin dekat.

Dari kejauhan mereka melihat beberapa orang sedang sibuk membuat regol darurat. Mereka menanam lurus melandingan sebesar betis setinggi regol yang telah terbakar. Ujungnya diruncingkan dan diikat berjajar tiga lapis. Kemudian di tengah-tengah diberinya sebuah pintu lereg yang besar dan kuat, sekuat pintu regol mereka yang telah terbakar.

“Regol darurat itu tidak akan mudah terbakar semudah regol yang lama,” desis Gupala.

“Ya, kayu-kayunya kayu basah dan regol itu tidak memakai atap dan dinding papan yang kering,” sahut Gupita.

Sementara itu gurunya masih saja merenung memandangi orang-orang yang sedang bekerja dengan sepenuh hati.

“Apakah kita akan memasuki padesan itu sekarang?” bertanya Gupala.

Gurunya berpaling ke arah Gupita, seolah-olah ia minta pertimbangan dari anak muda itu.

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berdesis, “Aku tidak menyebut waktu. Pagi atau siang atau sore.”

“Marilah kita masuk,” berkata gurunya, “aku ingin segera melihat luka Ki Argapati yang sebenarnya.”

Gupita mengangguk pula. “Marilah. Aku kira tidak akan ada kesulitan lagi bagi Guru dan Adi Gupala.”

Gupala mengerutkan keningnya. “Lalu bagaimana dengan kau sendiri?”

“Mudah-mudahan anak muda yang bertubuh raksasa itu tidak membuat persoalan lagi.”

Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi ia tidak berbicara lagi.

Mereka bertiga pun kemudian berjalan perlahan-lahan namun dengan penuh kewaspadaan mendekati regol darurat yang sedang dibuat itu. Semakin lama semakin dekat.

“Mereka telah melihat kita,” desis gembala tua itu.

“Ya,” sahut Gupita, “mudah-mudahan bukan Wrahasta yang memimpin pekerjaan itu.”

Sejenak kemudian mereka melihat lima orang keluar dari regol yang sedang mereka buat, berjalan menyongsong ketiga orang gembala itu.

“Siapakah kalian?” bertanya salah seorang dari kelima orang itu ketika mereka menjadi semakin dekat.

Gupita-lah yang melangkah maju sambil menjawab, “Aku Gupita. Aku yang kemarin telah datang ke padukuhan ini.”

“Oh,” sahut orang itu, “kaukah yang berusaha mengobati Ki Argapati?”

“Ya, ayahku inilah.”

Pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Diamat-amatinya ketiga orang gembala itu berganti-ganti. Kemudian kepada salah seorang dari mereka ia berkata, “Sampaikan kepada Ki Samekta, bahwa dukun itu telah datang.”

Ketika orang itu melangkah ke regol yang sedang mereka buat itu, orang yang pertama berkata, “Kita menunggu disini.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti, kenapa para pengawal menjadi sangat berhati-hati. Bagi para pengawal Tanah Perdikan Menoreh, keadaan memang terasa terlampau gawat, sehingga setiap persoalan harus ditanggapinya dengan sangat berhati-hati.

Sejenak kemudian, mereka melihat seseorang keluar dari padukuhan itu diantar oleh pengawal yang tadi memberitahukan kehadiran gembala tua itu beserta kedua anak-anak muridnya. Orang itu ternyata adalah Samekta.

“Itulah, Ki Samekta telah datang.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun masih saja digelisahkan tentang dirinya sendiri apabila nanti ia harus bertemu dengan Argapati.

“Kalau tidak hari ini, juga besok atau lusa aku akan bertemu. Sudah tentu aku tidak akan menunggunya sampai Argapati mati, baik oleh lukanya maupun di dalam peperangan,” berkata gembala tua itu di dalam hatinya.

Samekta yang menjadi semakin dekat itu pun menganggukkan kepalanya. Sementara itu gembala tua itu pun mengangguk hormat.

“Ternyata Kiai benar-benar datang hari ini,” berkata Samekta. “Kami memang mengharap sekali kedatanganmu. Sebelum kau melihat lukanya, kau telah mampu mengobatinya, apalagi apabila kau melihat sendiri luka itu.”

“Mudah-mudahan,” jawab gembala tua itu sambil membungkukkan punggungnya, “aku akan sekedar berusaha. Mudah-mudahan usaha itu dapat berhasil.”

“Marilah, Kiai. Aku kira Ki Argapati pun telah menunggu pula.”

“Terima kasih.”

“Anakmu yang seorang itu telah aku kenal. Karena itu, kedatanganmu tidak perlu melampaui pemeriksaan yang sulit.”

“Terima kasih. Adalah menjadi pekerjaanku untuk mengobati setiap luka. Luka siapa pun juga oleh apa pun juga.”

Samekta mengerutkan keningnya. Namun kemudian dianggukkannya kepalanya sambil berkata, “Ya. Ya. Adalah menjadi kewajiban seorang dukun untuk mengobati orang-orang yang terluka. Marilah.”

Gembala tua itu pun kemudian melangkah mengikuti Samekta. Di belakang, kedua anaknya berjalan dengan kepala menunduk. Di belakang keduanya, para pengawal melangkah dengan tegapnya, mengikuti iring-iringan kecil itu.

Ketika mereka menjadi semakin dekat dengan regol yang sedang dikerjakan itu, hati Gupita menjadi berdebar-debar. Seorang anak muda yang bertubuh raksasa berdiri di tengah jalan sambil bertolak pinggang.

“Orang itukah dukun yang dikatakan akan mencoba mengobati luka Ki Argapati?” bertanya anak muda yang bertubuh raksasa itu.

Samekta menganggukkan kepalanya, “Ya. Inilah orangnya.”

Wrahasta mengerutkan keningnya. Tetapi sorot matanya serasa membakar jantung Gupita. Ia merasa bahwa anak muda yang bertubuh raksasa itu selalu mengawasinya.

“Kami akan membawanya langsung menghadap Ki Gede Menoreh.”

“Apakah kau sudah yakin Paman Samekta?”

Samekta heran mendengar pertanyaan itu, justru di hadapan orang yang berkepentingan. Namun demikian ia menjawab, “Ya, aku sudah yakin.”

“Baiklah. Mudah-mudahan ia berhasil,” gumam Wrahasta.

Samekta berhenti sejenak. Dipandanginya wajah Wrahasta yang agaknya menjadi acuh tidak acuh. Namun sejenak kemudian, Samekta pun meneruskan langkahnya diikuti oleh gembala tua itu, dan kemudian di belakangnya adalah kedua murid-muridnya.

Ketika Gupita melangkah tepat di depan Wrahasta, terdengar anak yang bertubuh raksasa itu menggeram, “Kau akan menyesal bahwa kau telah mengabaikan pesanku. Kehadiranmu di sini sama sekali tidak kami kehendaki.”

Gupita mengerutkan dahinya. Namun ia tidak menjawab sepatah kata pun. Diayunkannya kakinya melangkah mengikuti gurunya dan adik seperguruannya. Meskipun demikian, kata-kata Wrahasta itu terasa sebagai sebuah ancaman baginya.

Gembala tua itu diantar oleh Samekta langsung menuju ke tempat Ki Argapati. Semakin dekat dengan rumah yang di tempatinya, hati gembala tua itu menjadi semakin berdebar-debar.

Sejenak kemudian mereka telah memasuki halaman. Sebelum mereka masuk ke rumah, maka Samekta-lah yang mendahuluinya, menyampaikan berita itu kepada Ki Gede, bahwa dukun tua beserta anak-anaknya itu telah datang.

Namun ketika Samekta itu keluar dari rumah itu, ia berkata, “Sayang, Ki Argapati sedang tidur. Apakah aku harus membangunkannya?”

“O jangan. Biarlah Ki Argapati tidur sebanyak-banyaknya. Itu akan sangat bermanfaat bagi luka-lukanya yang parah.”

“Kalau begitu, silahkan kalian menunggu di pendapa.”

Ketiga orang itu pun kemudian dibawa naik ke pendapa. Bersama Samekta mereka duduk di atas sehelai tikar pandan yang putih. Sambil menunggu Ki Argapati, maka gembala tua itu bercakap-cakap tentang luka itu dengan Ki Samekta.

Sementara itu pintu yang memisahkan pendapa dan pringgitan berderit. Kemudian muncullah seorang gadis dengan sepasang pedang di lambungnya. Tetapi kali ini ia tidak menggenggam hulu pedangnya, atau kendali seekor kuda yang tegar, atau sebuah busur dan anak panah. Yang kali ini dipegangnya adalah beberapa buah mangkuk di dalam nampan kayu.

Ternyata gadis itu tidak hanya sigap mempemainkan sepasang pedangnya, namun ia pandai juga melayani tamu dengan menghidangkan minum dan makanan.

Gupala yang berpaling ketika ia mendengar pintu bergerit, memandang gadis itu dengan tanpa berkedip. Bahkan dengan mulut ternganga ia mengikuti segala gerak-geriknya. Langkahnya, kemudian dengan hati-hati berjongkok untuk meletakkan mangkuk itu satu demi satu. Kemudian surut selangkah, berdiri perlahan-lahan dan akhirnya hilang kembali di balik pintu.

Demikian gadis itu hilang ditelan pintu, maka Gupala pun menarik nafas dalam-dalam. Gadis itu sangat berkesan di hatinya. Langkahnya lembut sebagai seorang gadis dengan nampan kayu di tangan. Tetapi agaknya cukup meyakinkan di medan peperangan.

Tanpa sesadarnya Gupala berpaling memandang wajah Gupita. Anak muda yang gemuk itu mengumpat-umpat di dalam hatinya ketika ia melihat Gupita tersenyum kepadanya.

Ketika kemudian Samekta sedang asyik bercakap-cakap dengan gurunya, Gupala bergeser mendekati Gupita. Dengan berbisik-bisik ia bertanya, “He, itukah gadis yang kau katakan bertempur melawan Ki Peda Sura?”

Gupita menggeleng. “Bukan.”

Gupala mengerutkan keningnya. Kemudian katanya perlahan-lahan hampir berdesis, “Bukankah gadis itu puteri Kepala Tanah Perdikan Menoreh yang bernama Pandan Wangi?”

Sekali lagi Gupita menggelengkan kepalanya. “Bukan.”

Gupala menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba ia berkata, “Gadis itu membawa sepasang pedang.”

“Ada beberapa puluh gadis di Tanah Perdikan ini yang membawa sepasang pedang, karena Pandan Wangi memang membuat sepasukan pengawal yang terdiri dari gadis-gadis dan perempuan-perempuan muda. Semuanya membawa pedang rangkap.”

Gupala menggigit bibirnya. Tetapi ia tidak berbicara lagi. Meskipun demikian, berbagai pertanyaan bergelut di hatinya. Namun ketika terlihat olehnya Gupita tersenyum-senyum, maka ia berbisik, “Apakah kau berkata sebenarnya?”

“Tentu, aku berkata sebenarnya. Kalau kau ingin melihat, nanti aku bawa kau kepada pasukan berpedang rangkap itu.”

Sekali lagi Gupala terdiam. Dengan dada yang berdebar-debar ia berharap agar gadis yang berpedang rangkap itu keluar lagi dari pringgitan. Tetapi daun pintu itu sama sekali tidak bergerak.

Akhirnya Gupala menjadi jemu menunggu. Perhatiannya kini ditujukan kepada percakapan antara gurunya dan Ki Samekta yang agaknya sangat menarik.

“Semalam agaknya luka itu kambuh kembali,” berkata Samekta.

“Seharusnya Ki Gede banyak beristirahat,”

“Ya, Ki Gede menyadarinya. Tetapi keadaan sangat mendesak. Seandainya Ki Gede tidak muncul malam itu, aku tidak tahu, apa saja yang akan dilakukan oleh Ki Tambak Wedi.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, kalau kau mampu menolongnya, tolonglah. Kalau Ki Gede dapat segera sembuh, maka kami akan tetap berpengharapan untuk dapat merebut tanah ini. Tanpa Ki Gede, kami di sini tidak akan berarti apa-apa bagi Ki Tambak Wedi, Sidanti, Argajaya, dan Ki Peda Sura yang pasti akan segera sembuh pula.” Ki Samekta tiba-tiba berhenti sejenak, lalu tiba-tiba, “He, bukankah anakmu itu mampu bertempur melawan Ki Peda Sura bersama Angger Pandan Wangi?”

Gembala tua itu mengangguk. “Ya, ia hanya sekedar membantu. Agaknya Angger Pandan Wangi memang seorang gadis pilih tanding.”

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Angger Pandan Wangi sudah menceritakan semuanya. Kita memang tidak dapat menyangsikannya. Dalam bentrokan karena salah paham antara anakmu yang bernama Gupita itu melawan Angger Wrahasta, ternyata anakmu cukup berjiwa besar dan menunjukkan kemampuan yang luar biasa.”

Gembala tua itu tidak segera menyahut. Dipandanginya wajah Gupita sejenak, kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Hanya suatu kebetulan,”

“Tidak. Bukan suatu kebetulan. Karena anakmu sudah mulai, maka aku akan minta ijin kepadamu, agar anakmu kau perbolehkan ikut serta di dalam peperangan yang tengah membakar Tanah Perdikan ini. Hanya satu orang yang dapat kami banggakan di dalam lingkungan kami. Hanya Angger Pandan Wangi. Lalu siapakah yang harus bertempur melawan Angger Sidanti, Argajaya dan Ki Peda Sura?”

“Jangan dinilai terlampau tinggi. Mereka hanya sekedar gembala-gembala yang tidak berarti. Namun bukan berarti bahwa kami tidak bersedia untuk ikut melibatkan diri kami, meskipun kami tidak berkepentingan secara langsung.”

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya, kalian sama sekali memang tidak berkepentingan, karena aku yakin bahwa kalian memang bukan orang-orang Menoreh.”

Gembala tua itu mengerutkan keningnya. Dan ia mendengar Samekta berkata seterusnya, “Kalau kalian memang orang-orang Menoreh, maka kalian pasti merasa bahwa kalian akan berkepentingan langsung untuk ikut serta menyelesaikan masalah ini.”

Sambil menganggukkan kepalanya orang tua itu berkata, “Demikianlah. Namun kami memang sudah terlanjur terlibat di dalamnya.”

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Tetapi ia tidak segera berkata sesuatu. Dilemparkannya tatapan matanya jauh ke seberang halaman, menyentuh panasnya matahari yang menari-nari di dedaunan.

Sejenak kemudian, maka Samekta itu pun berkata, “Cobalah aku akan melihat, apakah Ki Gede sudah bangun.”

Sepeninggal Samekta, gembala tua itu menarik nafas. Kini sudah pasti baginya, bahwa ia dan kedua muridnya harus terjun di arena. Namun bagaimanakah bentuknya? Apakah memang sudah sampai saatnya Ki Tambak Wedi mengetahui kehadirannya?

Ketiganya berpaling ketika mereka mendengar pintu berderit. Sesaat kemudian Samekta telah berdiri di muka pintu itu sambil berkata, “Ki Gede telah bangun. Kalian ditunggu di dalam bilik.”

Gembala tua itu menganggukkan kepalanya. “Baiklah, kami akan segera datang.”

Ketiganya kemudian berdiri dan melangkahkan kakinya meskipun ragu-ragu. Mereka berjalan di belakang Samekta, memasuki pringgitan, kemudian langsung ke dalam. “Marilah, masuklah,” ajak Samekta.

Maka mereka pun kemudian masuk ke dalam sebuah bilik. Di dalam bilik itu Ki Argapati berbaring di atas pembaringannya ditunggui oleh anak gadisnya, Pandan Wangi.

Begitu mereka masuk, maka tiba-tiba tangan Gupala mencengkam lengan Gupita. Meskipun tidak menimbulkan kesan apa pun, tetapi Gupita berdesis, “He, sakit.”

“Ayo, tunjukkanlah kepadaku, di manakah pasukan gadis-gadis berpedang rangkap itu.”

Tetapi Gupita tidak menjawab. Ia hanya berdesis saja sambil mengibaskan lengannya yang dicengkam oleh Gupala. Namun Gupala tidak melepaskannya.

“Bukankah kau bilang bahwa gadis itu bukan Pandan Wangi? Bukankah kau berjanji untuk melihat pasukan gadis-gadis berpedang rangkap?”

“Ssst,” Gupita berbisik, “jangan ribut.”

“Tetapi kau belum menjawab.”

“Baiklah, aku mengatakan yang sebenarnya. Gadis itulah yang bernama Pandan Wangi.”

Gupala menarik nafas. Kemudian dilepaskannya tangan Gupita sambil berkata perlahan-lahan, “Sejak aku melihat aku sudah pasti, bahwa gadis itulah yang bernama Pandan Wangi.”

“He, jangan ribut. Lihat, gadis itu selalu memandangmu. Dan lihat, agaknya Ki Argapati akan berusaha bangkit.”

Gupala mengerutkan keningnya. Ia melihat Ki Argapati berusaha untuk bangkit dan bertahan dengan kedua belah tangannya.

“Jangan, Ki Gede,” gembala tua itu mencoba mencegah. “Silahkan Ki Gede berbaring saja.”

“Oh,” Ki Gede berdesah. “Maaf. Aku menerima kalian dengan cara yang barangkali kurang sopan.”

“Tetapi Ki Gede memang memerlukan berbaring.”

“Ya, sejak tadi malam lukaku terasa kambuh kembali.”

“Karena itu, Ki Gede harus banyak beristirahat.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia mencoba memiringkan tubuhnya. Dengan tajamnya diamatinya gembala tua yang masih saja berdiri di samping Samekta.

“Kaukah ayah kedua anak-anak muda ini?”

“Ya, Ki Gede. Akulah.”

“Jadi, Kiai pulalah yang telah memberi aku obat sampai beberapa kali?”

“Dua kali,”

“Terima kasih, Kiai. Kedatangan Kiai memang aku harapkan sekali. Mudah-mudahan Kiai bersedia menolong aku.”

“Aku akan berusaha. Adalah kewajibanku untuk menolong siapa saja.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia terdiam, namun tampak di wajahnya bahwa ada sesuatu yang menyangkut di hatinya. Dipandanginya berganti-ganti gembala tua itu dan kedua murid-muridnya. Katanya kemudian, “Aku pernah melihat yang seorang itu di padukuhan ini, sedang yang lain di bawah Pucang Kembar. Bukankah mereka itu yang kau suruh memberikan obat kepadaku?”

“Ya, Ki Gede.”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia memang menahan sesuatu di dalam dadanya. Namun akhirnya ia berkata, “Samekta, bawalah kedua anak-anak muda itu ke pendapa. Aku ingin berbicara dengan orang tua ini,”

Samekta mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak dapat membantah, sehingga karena itu ia menjawab, “Baiklah, Ki Gede.” Kemudian kepada Gupala dan Gupita ia berkata, “Marilah Anak-Anak Muda, kita kembali ke pendapa.”

Gupita menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Baik, Tuan.” Kepada Gupala ia berkata, “Marilah.”

Gupala menjadi kecewa. Ia lebih senang berada di dalam ruang itu meskipun ia harus berdiri saja sehari penuh. Tetapi ia pun harus melakukannya, mengikuti Samekta keluar dari ruangan itu.

Sepeninggal Samekta dan kedua anak-anak muda itu, maka Ki Argapati pun kemudian mempersilahkan gembala tua itu untuk duduk pada sebuah dingklik kayu.

Series 42

“SILAHKAN. Semua serba darurat.”

“Demikianlah agaknya, Ki Gede. Di peperangan semuanya harus menyesuaikan diri.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Ini adalah anakku. Karena itu, aku tidak menyuruhnya pergi. Dalam keadaan serupa ini, lebih banyak yang diketahuinya, akan lebih baik baginya dan bagi Tanah ini.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku kira, ia perlu mengetahui pula tentang Kiai yang yang sampai saat ini masih menjadi teka-teki bagi segala pihak.”

Gembala tua itu mengerutkan keningnya. “Kenapa menjadi teka-teki, Ki Gede? Aku adalah seperti ini. Apalagi yang harus ditebak?”

“Kiai,” berkata Ki Argapati, “aku memang sudah tidak dapat mengenali lagi, apakah Kiai adalah orang yang pernah aku lihat di masa muda. Benar-benar terasa asing bagiku. Terhadap Paguhan, aku tidak akan dapat lupa meskipun seandainya beberapa puluh tahun aku tidak bertemu. Tetapi terhadap Kiai, aku benar-benar tidak dapat mengatakan, apakah aku pernah bertemu atau tidak.”

Gembala tua itu mengerutkan keningnya. Terkilas sesuatu di dalam tatapan matanya. Namun kemudian ia tersenyum, “Aku kira kita memang belum pernah bertemu, Ki Gede.”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba mengenali ciri-ciri yang dapat mengingatkannya kepada seorang anak muda yang pernah dikenalnya dahulu, meskipun tidak begitu rapat. Namun Ki Gede itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak ada ciri yang khusus, dan perkenalan itu pun hanya sepintas lalu saja. Yang dihadapinya kini bahkan seolah-olah seorang tua yang sejak pada masa mudanya juga sudah setua itu. Tetapi mustahil.

“Kiai,” berkata Ki Argapati, “tetapi betapapun juga, aku masih mempunyai jembatan yang mungkin akan dapat mencapai suatu seberang yang jauh telah kita tinggalkan. Aku mengenal seseorang yang luar biasa. Seorang yang bersenjata cambuk, dan yang senang sekali berteka-teki tentang dirinya. Tetapi sudah tentu bukan kau, karena pada saat itu pun umurnya sudah setua kita sekarang.”

Gembala tua itu tidak segera menjawab.

“Apakah kau kenal seseorang yang bernama Empu Windujati, seorang sakti yang selalu membawa sehelai cambuk ke mana pun ia pergi? Atau mungkin kau mengenal namanya yang lain, Pangeran Windukusuma?” Ki Argapati berhenti sejenak, kemudian, “Dan mungkin kau lebih mengenal muridnya, seorang anak muda, yang bernama Jaka Warih?”

Gembala tua itu sejenak terdiam. Keningnya yang telah berkerut menjadi semakin berkerut-merut. Ditatapnya wajah Ki Argapati sejenak. Namun sejenak kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Sayang. Aku tidak mengenal mereka semuanya. Bahkan baru pertama kali aku mendengar nama Pangeran Windukusuma. Aku banyak mengenal nama pangeran-pangeran dari kawan-kawanku yang sering pergi ke Demak dan Pajang. Bahkan sisa-sisa terakhir dari keturunan raja Majapahit. Namun aku tidak pernah menjumpai nama itu. Apalagi muridnya yang bernama Jaka Warih.”

Argapati menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak berhasil menangkap kesan pada wajah gembala tua itu.

“Baiklah, kalau Kiai tidak mengenal mereka,” suara Ki Argapati menurun. “Apalagi Kiai, sedangkan seandainya aku bertemu dengan Empu Windujati saat ini, pasti ia juga mengatakan, bahwa ia tidak mengenal seseorang yang bernama Empu Windujati, atau yang pernah bergelar Pangeran Windukusuma.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan sekali lagi Argapati tidak berhasil menangkap kesan apa pun pada wajah itu.

“Tetapi,” berkata Argapati kemudian, “semuanya itu tidak penting bagiku. Yang penting, bahwa Kiai bersedia menolongku.”

“Tentu, Ki Gede, dan bukankah obat yang aku kirimkan kemarin masih dapat dipergunakan?”

“Obat Kiai-lah yang membuat aku masih dapat bertahan sampai saat ini. Namun setelah orangnya hadir di sini, maka aku kira, aku akan mendapat pengobatan yang lebih baik, sehingga apabila Ki Tambak Wedi datang di setiap saat, malam nanti barangkali, aku sudah dapat menyambutnya.”

“Ah, tidak mungkin, Ki Gede. Apabila benar Ki Tambak Wedi datang malam nanti, maka Ki Gede pasti belum akan dapat turun ke medan.”

“Apakah aku harus membiarkan Ki Tambak Wedi membuat padukuhan tempat pertahanan kami terakhir ini menjadi karang abang?”

Gembala tua itu tidak dapat segera menjawab, sehingga karena itu, ia berdiam diri sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, Kiai,” berkata Ki Argapati, “kalau Kiai sudah beristirahat, aku ingin mempersilahkan Kiai berbuat sesuatu atas lukaku ini. Mungkin setelah Kiai melihat, maka Kiai akan menemukan obat yang jauh lebih baik dari obat yang telah aku terima itu.”

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya gembala itu berdesis, “Baiklah. Aku akan mencoba mengobatinya dengan baik, sejauh-jauh kemampuanku. Namun segalanya terserah atas kemurahan Tuhan Yang Maha Asih.” Kemudian kepada Pandan Wangi, ia berkata, “Aku memerlukan air hangat, Ngger.”

“O,” Pandan Wangi seakan-akan terbangun dari tidurnya. Dengan serta-merta ia pun segera melangkah meninggalkan ruangan itu untuk mengambil air hangat di belakang.

Sejenak kemudian, gembala tua itu mengamat-amati luka Ki Argapati. Kemudian desisnya, “Obatku ternyata tepat untuk mengobati luka ini. Tetapi barangkali aku dapat mempercepat usaha penyembuhannya. Tetapi maaf, Ki Gede, bahwa untuk sesaat luka itu akan terasa sangat sakit.”

“Apa pun,” jawab Ki Argapati, “aku ingin segera sembuh, bukankah obat yang Kiai berikan kemarin pun mula-mula terasa sakit sekali, baru kemudian obat itu mulai bekerja?”

“Tetapi yang baru ini terlebih-lebih lagi.”

“Biarlah,” jawab Ki Argapati.

Sebentar kemudian, gembala tua itu telah mulai membersihkan luka itu sebelum dicuci dengan air hangat, perlahan-lahan sekali, dengan kain pembalutnya.

Sementara itu Ki Argapati sama sekali tidak memperhatikan lukanya lagi. Yang menarik perhatiannya adalah tangan gembala tua itu. Dan tiba-tiba saja gembala itu terkejut, ketika tangannya serasa dicengkam oleh Ki Argapati.

“Kiai,” bertanya Ki Argapati, “apakah artinya gambar yang Kiai pahatkan di pergelangan tangan ini?”

Sesaat wajah orang tua itu menjadi tegang. Namun kemudian ia tersenyum sambil menjawab, “Apakah Ki Gede tertarik pada gambar itu?”

“Ya.”

“Aku menusuknya dengan duri ikan. Kemudian menggosoknya dengan langes dan minyak, selagi lukanya masih berdarah. Dicampur dengan sedikit reramuan, supaya bekasnya tidak segera hilang.” Orang tua itu berhenti sejenak. “Tetapi,” katanya kemudian, “itu adalah kesenangan anak-anak muda. Aku sekarang menyesal. Tetapi untuk menghapusnya, aku harus melukainya lagi. Dan aku sekarang sama sekali tidak berani melihat tanganku sendiri berdarah.”

“Bukan itu, Kiai,” jawab Ki Argapati, “bukan cara membuatnya. Tetapi arti daripada gambar itu. Bukankah Kiai melukiskan sehelai cambuk di pergelangan tangan itu, dan di ujung cambuk itu terdapat sebuah cakra kecil yang bergerigi sembilan?”

Sekali lagi wajah orang tua itu menegang. Namun kemudian sekali lagi ia tersenyum. “Ya. Sebuah cambuk dan sebuah cakra bergerigi sembilan. Ki Gede terlampau teliti, sehingga dapat menghitung gerigi pada gambar yang sedemikian kecilnya.”

“Aku tidak menghitung gerigi pada gambar di tanganmu, Kiai.”

“Lalu darimana Ki Gede tahu, bahwa cakra itu bergerigi sembilan?”

“Ya, cakra itu bergerigi sembilan. Sepuluh dengan tangkai yang terikat pada ujung cambuk. Bukankah begitu? Meskipun di ujung cambuk kalian sama sekali tidak pernah terikat sebuah cakra serupa itu.”

Orang tua itu tidak segera menjawab.

“Kiai,” berkata Ki Argapati kemudian sambil melepaskan tangan orang tua itu, “gambar itu adalah ciri dari perguruan Empu Windujati. Aku pernah melihat gambar serupa itu, tetapi agak lebih besar, pada secarik panji-panji yang aku ketemukan di dalam lingkungan perguruan Empu Windujati. Aku mengenal dua orang muridnya, meskipun hanya sekilas. Hanya muridnya yang terpercaya sajalah yang diperkenankan membuat gambar itu di pergelangan tangannya. Dan gambar itu mempergunakan pola tertentu, bukan sekedar dicocok dengan duri ikan.”

Gembala tua itu tidak segera menjawab. Sejenak ia menatap Ki Argapati dengan tajamnya. Namun sejenak kemudian ia menggelengkan kepalanya.

Dan sekali lagi orang tua itu tersenyum. “Aku tidak mengerti, Ki Gede. Aku sama sekali tidak mengerti tentang panji-panji itu dan tentang perguruan Empu Windujati.”

“Mungkin,” berkata Ki Argapati, “tetapi apakah bekas di tangan Kiai itu benar-benar bekas duri ikan?” Ki Argapati menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Bukan, Kiai. Itu sama sekali bukan bekas cocokan duri ikan, tetapi gambar itu adalah bekas luka bakar. Bukankah demikian?”

Namun gembala itu masih tetap menggeleng sambil tersenyum, “Ki Gede ternyata salah menilai.”

“Baiklah, baiklah,” desis Ki Gede kemudian. “Sekarang, bagaimana dengan lukaku?”

“Aku akan membersihkannya, aku menunggu air hangat.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. tetapi ia sudah tidak bertanya lagi tentang diri gembala tua itu.

Sesaat kemudian, Pandan Wangi memasuki ruangan itu dengan membawa air hangat dalam sebuah mangkuk yang besar.

“Terima kasih, Ngger,” berkata gembala tua itu, lalu. “Seterusnya apakah Angger akan menunggui ayah atau tidak? Kalau sekira Angger tahan melihat luka yang akan aku obati ini, maka tidak ada keberatannya Angger menungguinya. Tetapi aku kira lebih baik Angger berada di luar.”

Sejenak Pandan Wangi terdiam. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya, “Aku akan menunggui ayah, Kiai.”

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Baiklah. Apabila Angger memang berkeinginan demikian.”

Gembala tua itu pun segera membersihkan luka Ki Argapati yang menjadi kambuh kembali, setelah semalam ia memaksa dirinya menemui Ki Tambak Wedi.

Dengan kemampuan yang ada padanya, gembala tua itu kemudian mencoba mengobati luka itu dengan obat yang lebih tajam lagi. Ia berani mempergunakan obat itu, karena ia sendirilah yang menungguinya, sehingga akibat yang tidak dikehendaki akan segera dapat diatasinya dengan ramuan-ramuan penawar yang lain.

“Ki Gede,” berkata gembala itu, “untuk mengurangi rasa sakit, maka aku persilahkan Ki Gede minum butiran reramuan ini. Dengan demikian Ki Gede akan kehilangan sebagian dari kesadaran Ki Gede.”

“Aku percaya kepadamu, Kiai. Apa pun yang kau lakukan, aku akan menurut.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian diserahkannya sebutir reramuan obat yang terbungkus dengan asam untuk ditelannya.

Setelah menelan obat itu, maka terasa seakan-akan ia diserang oleh perasaan kantuk yang luar biasa. Bahkan kesadarannya pun semakin lama seakan-akan menjadi semakin kabur, meskipun ia masih tetap melihat gembala tua itu kini berdiri di samping pembaringannya, dan Pandan Wangi yang memperhatikannya dengan cemas.

Luka di dada Ki Gede Menoreh adalah luka yang sangat berbahaya, karena luka itu ditimbulkan oleh ujung senjata Ki Tambak Wedi. Itulah sebabnya, maka gembala tua itu harus bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mengobatinya.

Meskipun Ki Argapati telah kehilangan sebagian dari kesadarannya, namun ketika lukanya itu tersentuh, ia masih menggeliat sambil menyeringai. Apalagi setelah luka itu menjadi bersih dan sentuhan pertama obatnya yang baru.

Perasaan sakit yang luar biasa telah menyengat dada itu. Seterusnya dada Ki Argapati itu serasa dibakar oleh api yang kemudian menjilat seluruh tubuhnya.

Pandan Wangi yang melihat ayahnya berjuang melawan rasa sakit itu pun ternyata tidak dapat bertahan lebih lama. Tiba-tiba ia berlari ke sudut ruangan, menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang basah oleh air matanya.

Tetapi gadis yang membawa pedang rangkap itu berusaha untuk tidak terisak.

Sementara itu, Ki Tambak Wedi sedang berbincang dengan para pemimpin pasukannya. Ki Peda Sura, yang telah menjadi semakin baik, karena rawatan yang tekun oleh Ki Wasi dan Ki Muni, telah ikut pula di dalam pertemuan itu.

“Apakah kita akan menunggu, sehingga pasukan Argapati siap menyambut kita?” bertanya Peda Sura.

“Tentu tidak,” jawab Ki Tambak Wedi, “tetapi kita juga tidak dapat bergerak hari ini. Pasukan Argapati pasti masih dalam kesiagaan penuh.”

“Besok,” potong Sidanti. “Mereka pasti menyangka, bahwa kita akan datang di hari yang sudah kita tentukan, setelah di hari pertama kita lewatkan tanpa berbuat sesuatu.”

“Ya. Begitulah,” sahut Argajaya.

“Besok kita bakar padukuhan itu seluruhnya,” geram Ki Muni.

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya, tetapi ia tidak menyahut. Yang kemudian bertanya adalah Sidanti, “Kita akan bergerak di siang hari atau di malam hari, Guru?”

“Di siang hari, orang-orang yang bertengger di belakang pring ori itu akan mendapat kesempatan terlampau banyak untuk membidik kita dengan pelempar lembing. Tetapi di malam hari, semua akan menjadi kabur, sehingga mereka akan melemparkan lembing-lembing mereka tanpa arah yang diperhitungkan. Kita akan berlindung di balik perisai-perisai yang berwarna gelap.”

Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Baginya, malam hari pasti akan lebih baik, sehingga ia tidak akan dapat melihat wajah-wajah yang sebagian terbesar pasti sudah dikenalnya, apalagi wajah adiknya, Pandan Wangi. Bagaimanapun juga, Pandan Wangi adalah seseorang yang paling dekat dengannya di masa kanak-kanak, dan gadis itu telah dilahirkan pula oleh ibu yang sama dengan dirinya sendiri.

Maka keputusan pun kemudian jatuh. Pasukan seluruhnya harus siap untuk merebut kedudukan terakhir dari Ki Argapati. Kalau kedudukan itu dapat mereka rebut, meskipun orang-orang terpenting Menoreh masih dapat melepaskan diri, namun perlawanan mereka sudah tidak akan berarti apa-apa lagi.

Dengan keputusan itu, maka seluruh pasukan Ki Tambak Wedi menjadi sibuk mempersiapkan diri. Mereka benar-benar berhasrat untuk memasuki pertahanan terakhir itu. Karena itu, mereka pun harus menyesuaikan perlengkapan mereka dengan rencana itu. Mereka akan menerobos masuk regol yang dibuat dengan tergesa-gesa oleh orang-orang Menoreh dalam hujan panah dan lembing. Bahkan batu-batu.

“Sesudah perang ini selesai, Menoreh akan mengalami babak baru,” desis salah seorang anak muda yang berpihak kepada Sidanti. “Kita akan lebih banyak mendapat perhatian, sesuai dengan kepentingan kita. Sidanti sudah tentu tidak akan berbuat sekaku ayahnya, yang melarang apa saja yang kami senangi.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Menoreh harus menjadi jauh lebih baik. Orang-orang yang selama ini hanya dapat berbicara tanpa berbuat sesuatu harus disingkirkan.”

“Dan kita akan segera melakukannya.”

Demikianlah, maka setiap orang di dalam pasukan itu menjadi sibuk. Mereka mempersiapkan senjata-senjata mereka, dan terlebih-lebih lagi mempersiapkan hati mereka.

Dalam pada itu, Ki Gede Menoreh masih berjuang mengatasi perasaan sakit yang membakar dadanya. Meskipun kesadarannya sudah disusut, namun perasaan sakit itu hampir tidak tertahankan. Meskipun demikian, Ki Argapati tidak mengeluh. Yang terdengar hanyalah desis dan desah-desah yang pendek. Sambil mengatupkan giginya rapat-rapat, Ki Argapati memejamkan matanya. Tetapi ia percaya, bahwa orang tua itu benar-benar akan berhasil menyembuhkan luka-lukanya, meskipun tidak seketika.

Ketika rasa sakit itu telah sampai ke puncaknya, maka terasa seakan-akan seluruh tubuh Ki Argapati menjadi hangus. Dari ujung jari kaki sampai ke-ubun-ubunnya. Namun setelah itu, maka perasaan sakit itu dengan cepatnya menurun. Serasa arus yang sejuk mengalir di sepanjang pembuluh darahnya. Semakin lama semakin sejuk, meskipun pada suatu saat ia masih harus tetap menahankan rasa sakit, tetapi sama sekali sudah jauh berkurang.

Gembala tua itu pun mengamati perkembangan keadaan Ki Argapati dengan teliti. Setiap perubahan diikutinya dengan seksama, sehingga akhirnya, ia menarik nafas dalam-dalam. Sambil menganggukkan kepalanya, ia menaburkan sejenis bubuk obat-obatan yang lain ke atas luka itu. Tetapi sama sekali sudah tidak berpengaruh lagi atas rasa sakit pada luka itu.

Namun yang terasa kemudian adalah perasaan lelah yang bukan buatan. Bahkan kemudian seakan-akan kesadarannya menjadi semakin kabur, sehingga pada suatu saat, Ki Argapati itu memejamkan matanya. Nafasnya berjalan semakin teratur, sedang peluhnya seolah-olah terperas dari seluruh tubuhnya.

“Angger Pandan Wangi,” berkata orang tua itu, “Ki Gede kini telah teratur, setelah ia berjuang sekuat-kuat tenaganya menahankan rasa sakit. Tetapi keadaannya kian menjadi baik. Aku harap, ia akan segera dapat bangkit dari pembaringannya, tanpa membuat lukanya kambuh kembali. Nanti pada saatnya, Ki Argapati akan muntah-muntah. Tetapi itu tidak berbahaya. Justru dengan demikian, racun yang ada di dalam dirinya hanyut keluar. Baik racun yang ditimbulkan oleh luka-lukanya yang tersentuh ujung senjata Ki Tambak Wedi, maupun racun yang timbul karena obat-obatku.”

Pandan Wangi yang masih berdiri di sudut kamar memandang orang tua itu dengan cemasnya. Katanya, “Tetapi bukankah Kiai tidak akan meninggalkan kami?”

“O, tidak. Tidak Ngger. Aku akan tinggal di padukuhan ini. Aku telah menyatakan diri untuk membantu Ki Argapati menurut bidangku.”

“Baiklah, Kiai. Aku akan menunggui ayah di sini.”

“Silahkan, Ngger. Aku akan berada di pendapa.”

Setelah membersihkan tangannya, maka orang tua itu pun keluar dari bilik Ki Argapati, pergi ke pendapa, dan duduk bersama kedua muridnya dan Ki Samekta.

Ki Argapati membuka matanya ketika matahari telah menjadi sangat rendah. Seperti kata gembala tua, Ki Argapati itu pun kemudian muntah-muntah seakan-akan isi perutnya terkuras keluar. Namun Pandan Wangi yang selalu menungguinya memberitahukan kepadanya, bahwa demikianlah yang seharusnya terjadi menurut pesan orang tua yang mengobatinya.

“Di manakah mereka sekarang?” bertanya Ki Argapati.

“Mereka berada di luar, Ayah. Di pendapa. Tetapi mungkin kini mereka sedang mandi, atau berjalan-jalan bersama Paman Samekta, atau apa pun. Karena mereka agaknya sudah menjadi jemu duduk saja tanpa berbuat sesuatu.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Panggil Samekta. Aku akan berbicara dengannya.”

Sejenak kemudian, Pandan Wangi pun segera pergi keluar. Kepada seorang pengawal diperintahkannya untuk mencari Ki Samekta, karena Ki Argapati memerlukannya.

Sejenak kemudian, Samekta telah menghadap. Bahkan kali ini bersama Wrahasta.

“Bagaimana keadaan Ki Gede?” bertanya Samekta.

“Sudah menjadi lebih baik,” jawab Ki Argapati, “tetapi bagaimana dengan pertahananmu?”

“Tidak mengecewakan, Ki Gede. Kami sudah mempersiapkan semua peralatan. Seandainya Ki Tambak Wedi akan datang malam nanti, maka kami sudah siap menyambutnya.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tidak ada yang perlu dicemaskan, Ki Gede,” sambung Wrahasta pula.

“Bagaimana dengan ketiga orang-orang itu?” tiba-tiba Ki Argapati bertanya.

“Mereka berada di dalam pondok yang telah aku sediakan, Ki Gede. Setiap saat mereka dapat dipanggil, apabila Ki Gede memerlukannya.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia berdesis, “Perlakukan mereka dengan baik. Seandainya mereka benar-benar seorang gembala tua dengan kedua anaknya, maka mereka bukan gembala kebanyakan.”

Ki Samekta dan Wrahasta saling berpandangan sejenak. Kemudian dengan terbata-bata Samekta bertanya, “Siapakah sebenarnya mereka, Ki Gede? Agaknya mereka memang menyimpan suatu teka-teki tentang diri mereka sendiri.”

Ki Argapati menggelengkan kepalanya. Ia sendiri ingin memecahkan teka-teki itu. Tetapi ia belum menemukan suatu keyakinan. Ketika ia melihat gambar di pergelangan tangan orang tua itu, ia mengharap, bahwa ia tidak akan dapat mengelak lagi. Tetapi ternyata orang tua itu masih tetap menggelengkan kepalanya. Namun meskipun demikian, ia condong pada anggapan sebenarnyalah laki-laki tua itu adalah salah seorang murid Empu Windujati, yang pernah ditemuinya di masa mudanya. Tetapi sudah terlampau lama, dan pertemuan itu benar-benar hanya sekilas saja. Ia hanya berkunjung ke perguruan Windujati, tidak lebih dari panjangnya senja untuk menyampaikan pesan gurunya kepada Empu Windujati, yang sebenarnya bernama Pangeran Windukusuma.

“Apakah Ki Gede dapat mengatakannya kepada kami?” bertanya Samekta itu kemudian, sehingga Ki Gede seolah-olah terbangun karenanya.

“Sayang, Samekta,” jawab Ki Argapati, “aku sudah mencoba. Aku menyingkirkan orang-orang di dalam bilikku, termasuk anak-anak gembala tua itu sendiri untuk mendengar pengakuannya, bahkan pada saat Pandan Wangi keluar dari bilik itu pula, namun orang tua itu tidak mengatakan apa-apa tentang dirinya.”

“Lalu apakah kesimpulan Ki Gede tentang mereka?”

“Diakui atau tidak diakui, mereka adalah orang-orang yang mempunyai ilmu yang cukup matang, terutama gembala tua itu menurut pengamatanku. Aku mengharap, ia tidak sekedar mengobati lukaku, tetapi ia bersedia untuk bertempur di pihak kita.”

Wrahasta mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

“Apakah Ki Gede sudah mengatakannya?”

Ki Gede menggelengkan kepalanya, “Belum. Aku belum mengatakannya dengan tegas. Tetapi aku kira mereka telah menangkap maksudku.”

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia mendengar Ki Gede berkata, “Panggil mereka sebelum senja menjadi gelap. Kita tidak dapat memastikan, apa yang akan terjadi malam ini. Aku kira Ki Tambak Wedi tidak akan terlampau bodoh untuk menunggu sampai waktu yang dikatakannya. Tetapi aku kira juga belum malam ini. Meskipun demikian, semua persiapan harus dimatangkan. Supaya kita tidak terjebak oleh perhitungan kita sendiri yang salah.”

“Baik, Ki Gede.”

“Aku sendiri telah merasa jauh lebih baik. Dalam keadaan yang memaksa, aku sudah dapat menghadapi Ki Tambak Wedi setelah aku mendapat pengobatan khusus.”

“Tetapi jangan, Ki Gede. Masih terlampau berbahaya.”

“Ya, mungkin begitu. Dan sekarang, panggil orang-orang itu kemari.”

Samekta dan Wrahasta pun kemudian meninggalkan bilik itu dan memanggil gembala tua itu bersama kedua anak-anaknya.

Kepada mereka bertiga, Ki Argapati berkata terus terang, bahwa ia menginginkan bantuan mereka di peperangan.

“Aku tahu, kalian tidak berkepentingan langsung dengan peperangan ini, tetapi aku tahu juga, bahwa kalian telah menempatkan diri kalian dalam suatu pendirian,” berkata Ki Argapati.

Gembala tua itu tidak segera menjawab.

“Persoalan kalian mungkin adalah persoalan pribadi dengan Ki Tambak Wedi, atau mungkin persoalan dengan Sidanti, yang apabila tidak tumbuh api yang membakar tanah ini, dan membuat aku sendiri berdiri berhadapan dengan Sidanti dan Argajaya, mungkin kalian pun akan menghadapi aku,” Ki Argapati berhenti sejenak. “Tetapi ternyata keadaan itu telah menjadi seperti ini.”

Laki-laki tua itu menarik nafas. Sejenak dipandanginya wajah kedua muridnya. Kemudian jawabnya, “Kami tidak berkeberatan, Ki Gede, tetapi apakah kemampuan yang dapat kami berikan?”

“Jangan memperkecil nilai diri sendiri. Anakmu, yang bernama Gupita, mampu melukai Ki Peda Sura.”

“Yang melukai adalah Angger Pandan Wangi.”

“Tetapi betapa pun bodohnya Pandan Wangi, namun ia dapat menilai betapa kemampuan Gupita itu.”

Gembala itu tidak dapat membantah lagi.

“Nah, apabila nanti Ki Tambak Wedi akan datang, sebelum aku mampu melawannya, aku akan menyerahkan tombakku kepadamu, Kiai. Tombak lambang kekuasaan Tanah Perdikan Menoreh.”

“Ki Gede.”

“Nanti dulu. Aku tidak akan menyerahkan pimpinan peperangan ini kepada Kiai. Tidak. Maksudku, aku mengharap bantuan Kiai untuk menahan Ki Tambak Wedi untuk kepentingan Tanah ini. Untuk kepentinganku. Karena sebenarnya itu adalah tanggung jawabku, betapa pun keadaanku sekarang.”

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya, “Kalau hari ini Ki Tambak Wedi datang, apa boleh buat. Hantu itu tidak boleh menyebarkan maut tanpa dapat dikekang. Kami bertiga akan mencoba mencegahnya, apabila kami mampu. Tetapi kalau hantu itu datang lain kali, maka aku harap Ki Gede tampil di peperangan. Tetapi ingat, Ki Gede tidak boleh bertempur seorang melawan seorang. Ki Gede harus bersikap sebagai seorang pemimpin pasukan yang berada di dalam lingkungan pasukannya, sehingga peperangan akan melibat semua pihak. Ki Gede dapat mengumpulkan semua orang yang cukup kuat bersama Ki Gede. Di pihak lain, serahkanlah kepada kami.”

Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. Memang seandainya Ki Tambak Wedi tidak datang malam ini, maka malam berikutnya lukanya pasti sudah menjadi lebih baik, apabila laki-laki tua itu mengobatinya dengan cara yang telah dilakukannya. Selain obat-obat penyembuh luka, orang tua itu memberikan pula obat-obat yang dapat memulihkan tenaganya.

“Baiklah,” berkata Ki Argapati, “hanya selama aku belum mampu sama sekali turun ke peperangan.”

“Aku bersedia, Ki Gede,” orang tua itu berhenti sejenak, “bahkan, apabila Ki Gede tidak berkeberatan, apakah kami dapat ikut dalam pasukan berkuda itu, seandainya Tambak Wedi tidak menyerang malam ini?”

Ki Argapati mengerutkan keningnya, “Apakah maksud Kiai?”

“Seperti biasanya bukankah Ki Gede melepaskan sepasukan berkuda itu?”

Ki Argapati tidak menjawab. Tetapi diamatinya saja gembala tua itu untuk sejenak. Ki Argapati tidak segera dapat mengerti arah pembicaraan orang tua itu.

Ki Argapati mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya, “Apakah Kiai sudah akan mulai malam ini?”

“Kita harus memberikan kejutan-kejutan yang akan dapat mempengaruhi perhitungan Ki Tambak Wedi. Bukankah demikian juga tujuan pasukan berkuda itu?”

“Ya, tetapi sejak Ki Tambak Wedi sendiri berusaha menjumpai pasukan itu, usaha itu telah dihentikan.”

“Marilah kita mulai lagi permainan itu. Permainan kejar-kejaran yang menyenangkan.”

“Tetapi, bagaimana kalau selama kalian pergi, Ki Tambak Wedi menyerang pertahanan ini?”

“Berilah kami tanda dengan panah berapi, kami akan segera kembali.”

“Apakah Kiai tidak akan pergi terlampau jauh?”

“Apabila kami belum yakin, bahwa pasukan Ki Tambak Wedi tidak bersiap untuk menyerang, kami tidak akan pergi terlampau jauh.”

“Baiklah.”

“Malam ini, kita akan mulai.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dipanggilnya Samekta dan Wrahasta. Keduanya harus segera menyiapkan pasukan berkuda itu untuk mulai lagi dengan tugasnya bersama ketiga orang-orang itu.

Wrahasta mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Bagaimana kalau pasukan itu bertemu lagi dengan Ki Tambak Wedi?”

“Serahkan kepada orang tua itu,” jawab Ki Argapati.

Wrahasta termenung sejenak. Demikian juga Samekta.

Apakah Ki Gede sedang bermain-main, atau menyindir orang tua itu, atau apa pun maksudnya, namun kata-kata itu telah membuat mereka menjadi keheranan.

“Sebelum malam menjadi semakin dalam. Siapkanlah pasukan itu.”

Samekta dan Wrahasta segera meninggalkan bilik itu dengan teka-teki di dalam kepala masing-masing. Ia percaya, bahwa ketiga orang itu bukan gembala kebanyakan, tetapi apakah mereka dapat bertanggung jawab, apabila mereka bertemu dengan Ki Tambak Wedi? Tetapi hal itu pun tidak mustahil. Semua dapat terjadi pada orang yang penuh dengan rahasia itu. Bahkan penilaian Wrahasta atas kedua anak-anak muda itu pun harus dipertimbangkannya lagi. Namun dengan demikian, perasaan cemburunya semakin lama justru semakin tajam menusuk jantungnya. Apalagi agaknya tanggapan Ki Argapati atas ketiga orang itu terlampau baik.

Meskipun demikian, Wrahasta masih menahan semua perasaannya di dalam dadanya. Ia masih harus berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan, apalagi pada saat ketegangan menjadi semakin memuncak. Perkembangan keadaan akan dapat naik dengan cepatnya.

Sejenak kemudian maka bergemeretakanlah telapak kaki-kaki kuda yang berlari keluar dari regol padukuhan yang telah selesai meskipun tidak sebaik regol yang lama.

“Ke manakah kita akan pergi, Kiai?” bertanya pemimpin pasukan berkuda, yang menurut pesan Samekta harus selalu berhubungan dengan gembala tua itu.

“Kita melintasi penjagaan Sidanti. Kita masuki beberapa padesan, dan kita berbuat sesuatu, untuk membuktikan bahwa kita cukup kuat.”

“Kemana kita mula-mula akan singgah?”

“Ke induk padukuhan tanah perdikan ini.”

“He?” pemimpin pasukan itu terkejut, bahkan semua yang mendengar penjelasan itu pun terkejut pula.

“Kenapa kalian terkejut?”

Pemimpin pasukan itu tidak segera dapat menjawab. Dan orang tua itu berkata seterusnya, “Kita melakukan dua pekerjaan sekaligus. Yang pertama, kita melihat, apakah Ki Tambak Wedi akan menyerang kedudukan kita. Kalau tidak, kita akan mengejutkan mereka.”

“Tetapi itu pasti sangat berbahaya, Kiai.”

“Bukankah kita berkuda? Kita hanya lewat. Mungkin ada sedikit pekerjaan, namun kemudian kita berpacu lagi meninggalkan mereka, untuk mengganggu tempat-tempat yang lain.”

“Tetapi,” pemimpin pasukan itu ragu-ragu, “tetapi, kalau kita gagal meninggalkan padukuhan induk tanah perdikan ini, atau apabila korban terlampau banyak jatuh, akulah yang harus bertanggung jawab. Bukan Kiai. Karena akulah pemimpin pasukan ini.”

“Kau benar, Ngger. Tetapi bagaimana kalau kita coba? Aku dapat mengambil alih tanggung jawab itu.”

Sejenak pemimpin pasukan itu menyahut. Namun tumbuh sepercik kecurigaan di dalam dirinya. Apakah orang tua ini benar-benar dapat dipercaya? Ataukah seperti dugaan Wrahasta semula, bahwa gembala yang bernama Gupita, dan tentu saja ketiganya, adalah orang-orang Sidanti dalam tugas sandinya? Kini mereka akan membawa pasukannya ke dalam suatu jebakan yang berbahaya.

“Tetapi seandainya demikian,” katanya di dalam hati, “kenapa ia tidak membunuh Ki Argapati? Dan kenapa Ki Argapati sangat mempercayainya?”

“Bagaimana, Ngger?” desak orang tua itu. “Kita harus segera menentukan arah sebelum kita sampai ke tikungan itu.”

Pemimpin pasukan itu tidak segera dapat mengambil keputusan.

“Apakah Angger berprasangka?” tiba-tiba orang tua itu bertanya.

Pemimpin pasukan itu tergagap. Namun jawabnya, “Bukan berprasangka, Kiai, tetapi aku harus menimbang pertanggungan jawabku atas pasukanku.”

“Angger benar,” sahut orang tua itu, “tetapi sudah aku katakan, aku mau mengambil alih tanggung jawab kali ini.”

“Hanya Ki Argapati atau yang diserahi pimpinan atas seluruh pasukan pengawal yang dapat menyerahkan tanggung jawab atau memindahkannya.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kata-kata pemimpin pasukan itu memang benar. Bagaimanapun juga, ialah yang harus bertanggung jawab atas semua peristiwa yang terjadi atas pasukan ini.

Karena itu, maka sejenak kemudian ia berkata, “Kau benar, Ngger. Kau tidak dapat menyerahkan tanggung jawab itu kepada orang lain. Namun demikian, aku ingin menyarankan, agar perjalanan kita ini dapat menimbulkan pengaruh pada pasukan Ki Tambak Wedi. Bukan pengaruh jasmaniah, karena kita memang tidak akan membantai para peronda yang kita temui. Tetapi seperti apa yang dilakukan oleh Tambak Wedi hampir setiap hari. Dengan mengepung pusat pertahanan kita, Ki Tambak Wedi tidak akan mendapat keuntungan apa pun yang langsung kasat mata. Tetapi ia dapat mempengaruhi ketahanan hati kita. Ia dapat membuat para pengawal menjadi gelisah dan berdebar-debar setiap malam, seolah-olah mereka tidak akan mempunyai kesempatan untuk keluar dari pedukuhan itu.”

Pemimpin pasukan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Setiap kali ia menjadi bimbang. Namun setiap kali timbul pertanyaan di dalam kepalanya “Kenapa Ki Gede begitu mempercayainya? Pasti bukan tidak beralasan, bahwa orang-orang itu diperkenankan ikut dalam pasukan ini.”

“Sebentar lagi kita akan sampai di tikungan,” desis gembala tua itu.

Setelah menahan nafas sejenak, pemimpin pasukan berkuda itu berkata, “Baiklah, Kiai, kita akan lewat induk tanah perdikan yang telah direbut Sidanti. Tetapi kita akan melalui jantung padukuhan induk itu.”

“Baiklah, Ngger,” jawab orang tua itu, “nanti kita akan melihat perkembangan dari perjalanan kita ini.”

Pemimpin pasukan berkuda itu terdiam sejenak. Teringat olehnya seseorang, yang tiba-tiba saja menghentikan perjalanan pasukannya ketika Ki Tambak Wedi mencegatnya. Dan tiba-tiba saja ia telah menghubungkan orang yang menghentikannya itu dengan orang tua yang kini berada di dalam pasukannya.

“Ya, orang itu pasti orang tua ini. Meskipun saat itu aku tidak dapat melihatnya dengan jelas, apalagi dalam keadaan yang sangat gawat, namun menurut tanggapan perasaanku, orang itu pasti orang tua ini. Karena itu, agaknya ia sama sekali tidak takut terhadap orang yang bernama Ki Tambak Wedi itu,” katanya di dalam hatinya. Dengan demikian, maka hatinya pun menjadi semakin tebal. Keragu-raguannya menjadi sangat berkurang, meskipun tidak dapat lenyap sama sekali.

Pasukan berkuda itu pun kemudian berpacu semakin cepat. Di simpang jalan, maka pasukan itu segera memilih jalan yang menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh yang telah diduduki oleh Sidanti.

Sebelum mereka sampai ke padukuhan induk, maka mereka berusaha menghindari setiap penjagaan, agar para peronda dan para penjaga itu tidak sempat mengirimkan tanda-tanda atau isyarat sandi. Mereka menempuh jalan di tengah-tengah bulak. Kalau sekali dua kali mereka harus melewati perondan, maka mereka harus membuat orang-orang yang sedang bertugas itu tidak berdaya sama sekali. Dengan tiba-tiba saja mereka menyergap, mengikat mereka, kemudian menyumbat mulut mereka dengan ikat kepala masing-masing.

Kepercayaan anggauta-anggauta pasukan berkuda kepada orang tua itu dan kedua anak-anaknya semakin lama menjadi semakin tebal. Tidak seorang pun yang mampu melawan mereka. Setiap kali mereka bertemu dengan beberapa petugas di gardu-gardu, maka dalam sekejap para petugas itu sudah tidak berdaya lagi. Mereka terpaksa membiarkan diri mereka diikat pada batang-batang pohon di pinggir jalan dan membiarkan mulut-mulut mereka itu pun disumbat.

“Mereka tidak akan dapat mengirimkan berita sandi,” desis orang tua itu.

Sejenak kemudaan, mereka pun telah menghadap sebuah padukuhan yang besar. Itulah padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Sebuah desa kecil berada di depan padukuhan induk itu, seolah-olah pintu gerbang yang harus mereka bukakan lebih dahulu.

“Ada sepasukan yang kuat di desa itu, Kiai,” berkata pemimpin pasukan.

“Kita perlambat perjalanan kita,” desis orang tua itu. Kemudian katanya, “Tetapi yang pasti, kita tidak bertemu dengan pasukan Ki Tambak Wedi. Aku kira malam ini mereka akan beristirahat, menyusun kekuatan untuk pada saatnya menyerang pertahanan kita dan berusaha merebutnya.”

Pemimpin pasukan berkuda itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kita tidak dapat mencari jalan lain. Kita harus menerobos desa itu. Mungkin kita harus bertempur, tetapi ingat, kita tidak akan melayani mereka. Kita hanya akan lewat. Selanjutnya kita terus menuju ke padukuhan induk. Kalau kita nanti kembali ke pusat pertahanan kita, kita tidak akan lewat desa ini lagi.”

“Orang-orang di desa itu akan dapat mengirimkan tanda-tanda ke padukuhan induk.”

“Karena itu, jangan layani mereka. Kita lewat dan berusaha melindungi diri kita. Jarak antara desa itu dan padukuhan induk sudah dekat. Tanda-tanda sandi itu pasti, belum sempat dicernakan, apalagi bersiap menyambut kedatangan kita.”

Pemimpin pasukan berkuda itu mengerutkan keningnya. Kemudian diteriakkannya pringatan bagi segenap pasukannya untuk bersiap.

“Kita tidak akan melayani mereka. Kita hanya sekedar lewat,” katanya. “Tetapi sudah tentu kita harus melindungi diri kita, apabila mereka menyerang dan mencegat perjalanan ini.”

Maka semua orang di dalam pasukan itu pun segera mencabut senjata-senjata mereka. Beberapa orang masih juga membawa cambuk seperti yang biasa mereka lakukan. Namun mereka kini menjadi tercengang-cengang, ketika mereka melihat kedua anak-anak muda yang menyebut dirinya anak gembala itu membawa cambuk pula.

“Wrahasta tidak dapat mengalahkan anak muda yang bernama Gupita itu,” desis salah seorang dari mereka.

“Wrahasta tidak biasa bersenjatakan cambuk. Seperti kita, maka kita pun merasa amat canggung dengan cambuk-cambuk itu di tangan,” jawab yang lain.

Kawannya tidak menyahut. Tetapi ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Sementara kuda-kuda mereka menjadi semakin mendekati desa kecil di hadapan mereka.

Setiap orang di dalam pasukan itu pun menjadi semakin tegang. Senjata-senjata mereka telah tergenggam erat-erat di dalam tangan mereka. Sedang mereka yang bersenjatakan cambuk, telah memindahkan cambuk-cambuk mereka dari tangannya, dan diselipkannya pada ikat pinggang. Untuk menghadapi bahaya yang sebenarnya, mereka lebih mantap bersenjatakan pedang.

Yang memegang cambuk kemudian tinggallah Gupala dan Gupita. Cambuk bagi mereka adalah senjata-senjata yang paling terpercaya. Sedang akibat bagi lawannya pun tidak selalu berarti maut.

“Hati-hatilah dengan cambukmu,” berkata gembala tua itu kepada dua orang muridnya. “Ingat, yang bercambuk di dalam pasukan ini adalah para pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Karena itu, caramu mempergunakan cambuk pun harus kau sesuaikan, kecuali apabila kau dalam keadaan terpaksa.”

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kita harus berada di depan, supaya kita dapat menilai keadaan sebaik-baiknya,” berkata orang tua itu pula.

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Kepada pemimpin pasukan, gembala tua itu minta ijinnya untuk berada beberapa langkah di depan pasukan, supaya mereka dapat merintis jalan yang akan mereka lalui. Sebab, apabila penjagaan di desa itu benar-benar kuat, dan di antaranya terdapat orang-orang yang penting, maka jalan harus dibuka lebih dahulu supaya pasukan berkuda itu dapat lewat tanpa banyak gangguan.

Demikianlah, maka gembala tua itu memacu kudanya cepat-cepat. Kemudian di kedua sisinya masing-masing Gupala dan Gupita. Mereka harus melindungi pasukan yang akan lewat di sebelah menyebelah jalan, sedang guru mereka akan berpacu terus menuntun seluruh pasukan.

Ternyata para penjaga di dalam padesan kecil itu menjadi heran. Dalam keremangan malam mereka melihat sepasukan kecil orang-orang berkuda menuju ke desa mereka.

“Siapakah mereka?” bertanya salah seorang dari para penjaga itu.

Kawannya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Entahlah. Mungkin pasukan inilah pasukan berkuda yang dibuat oleh Argapati.”

“Tetapi kenapa mereka langsung menuju kemari?” Sekali lagi kawannya menggelengkan kepalanya.

Namun mereka kemudian tidak sempat untuk berbicara lagi. Sejenak kemudian, mereka mendengar pimpinan mereka memberikan aba-aba, agar seluruh pasukan yang berada di dalam desa itu bersiap.

Sejenak kemudian. perintah itu telah menjalar ke segenap sudut. Namun di antara mereka ada yang dengan acuh tidak acuh berkata, “Berapa orang yang ada di dalam pasukan itu? Biarlah orang-orang yang ada di dalam gardu peronda itu menyelesaikannya. Untuk menghadapi beberapa orang berkuda saja, seluruh pasukan harus bersiap.”

Kawannya yang mendengar kata-katanya mengerutkan keningnya. Bahkan ia menyahut, “Mereka menjadi sakit hati melihat kita sempat tidur malam ini.”

Keduanya tertawa. Dengan malasnya mereka duduk bersandar sebatang pohon di pinggir jalan. Sekali-sekali mereka mengumpat, bahwa tidur mereka terpaksa terganggu.

Pasukan berkuda itu telah berada di depan hidung para penjaga di regol desa. Beberapa orang di antara mereka, berdiri di tengah jalan sambil mengacungkan tombak, telempak, pedang, dan bermacam-macam senjata yang lain.

Gembala tua yang berkuda di paling depan memperlambat lari kudanya. Kini ia pun telah membawa cambuk di tangannya. Ketika ia menjadi semakin dekat, maka ia pun berteriak, “He, menepilah supaya kalian tidak terinjak kaki-kaki kuda kami.”

“Siapakah kalian?”

“Pengawal Tanah Perdikan Menoreh seperti kalian. He, apakah kalian tidak mengenal kami lagi?”

Pemimpin pasukan yang ada di desa itu mengerutkan keningnya.

“Kami sedang meronda daerah kami, tanah perdikan ini. Bukankah kalian sedang bertugas di desa itu? Baik-baiklah dalam tugas kalian. Jangan sampai ada orang-orang yang tidak dikenal menjamah tanah yang selama ini kita pertahankan mati-matian.”

Sejenak pemimpin pasukan di desa itu menjadi termangu-mangu. Namun sejenak kemudian ia berteriak, “He, di pihak manakah kalian berdiri sekarang?”

Pasukan berkuda itu berhenti beberapa puluh langkah dari mulut lorong. Dan gembala tua itu menjawab lagi, “Kenapa kau bertanya di pihak mana kita berdiri? Ada berapa kekuasaan sekarang ini di atas tanah kita yang selama ini kita bina? Tidak ada orang lain yang kita akui sebagai Kepala Tanah Perdikan, selain Ki Gede Menoreh. Bukankah begitu? Berapa puluh tahun ia mengabdikan seluruh hidupnya untuk tanah ini, bahkan nyawanya sekalipun apabila perlu? Berapa puluh tahun ia berjuang untuk membuat tanah ini seperti, yang kita lihat sekarang? Kenapa kalian masih bertanya, di pihak mana kita berdiri?”

Kata-kata itu ternyata telah menyentuh setiap dada dari orang-orang Menoreh yang ada di desa itu. Beberapa orang dari mereka telah terlempar dalam satu kenangan tentang tanah ini sebelum terjadi kekisruhan.

“Apakah kalian tidak ingat lagi, bagaimana keadaan tanah ini sebelum hadirnya Ki Tambak Wedi?” berkata orang tua itu. “Kemudian kalian melihat sendiri, apakah yang terjadi sesudahnya? Ternyata tanah ini telah terbakar oleh api ketamakannya. Bahkan Sidanti telah tenggelam di dalam pengaruhnya.”

Pemimpin pasukan di desa itu tidak segera menjawab. Sementara itu, gembala tua itu berbisik kepada pemimpin pasukan berkuda yang ada di belakangnya “Sekarang. Selagi mereka merenung. Ikuti aku. Biarlah Gupala dan Gupita mencegah mereka.”

Pemimpin pasukan itu mengangguk. Dengan tangannya ia memberikan isyarat supaya orang-orangnya bersiap.

Sejenak kemudian, selagi orang-orang yang berdiri di mulut desa di depan regol itu masih termangu-mangu, para pengawal itu telah melecutkan kuda-kuda mereka.

Serentak kuda-kuda itu seakan-akan meloncat menerkam mereka yang masih berdiri di tengah jalan. Kejutan itu telah menggerakkan mereka secara naluriah untuk berloncatan menepi.

Ketika mereka menyadari keadaan, maka kuda-kuda itu telah benar-benar berada di hadapan mereka.

“Tahan mereka,” teriak pemimpin pasukan yang berada di desa itu.

Para pengawal desa itu seakan-akan terbangun dari tidur mereka. Serentak pula mereka menggerakkan senjata mereka untuk menahan orang-orang berkuda itu. Tetapi tiba-tiba mereka dikejutkan oleh ledakan cambuk di tangan Gupala dan Gupita.

Beberapa orang yang berdiri di paling depan terkejut. Ketika mereka menyadari diri mereka, senjata-senjata mereka telah terlepas dari tangan.

Namun para penjaga yang ada di belakang mereka, segera mendesak maju dengan pedang yang teracu. Tetapi para pengawal berkuda itu pun telah siap menyambut mereka. Mereka pun telah menggenggam senjata-senjata di tangan. Tetapi seperti pesan yang mereka terima, mereka tidak akan bertempur. Mereka hanya akan sekedar lewat, sambil melindungi diri mereka.

Tetapi mereka sudah pasti tidak akan dapat menghindarkan korban betapa kecilnya. Gupala dan Gupita yang telah mendapat pesan gurunya mawanti-wanti, tidak juga dapat menghindarinya. Ujung cambuknya ternyata tidak dapat menahan diri.

Ketika para penjaga itu semakin banyak menghalangi jalan mereka, maka Gupala dan Gupita yang harus merambas jalan, terpaksa menyingkirkan mereka. Cambuknya meledak semakin cepat dan keras.

Bagaimanapun juga, pertempuran tidak dapat dihindari. Namun para pengawal ternyata berada dalam kedudukan yang lebih baik. Mereka berada di atas punggung kuda, dan kuda-kuda mereka tidak mereka tahan lagi. Kuda-kuda itu berlari terus. Para penjaga yang tidak juga mau menepi kadang-kadang terlanggar dan terpelanting jatuh sebelum mereka dapat mempergunakan senjata-senjata mereka.

“Jangan biarkan mereka lolos!” teriak pemimpin pasukan di desa itu.

Tetapi untuk menahan mereka bukan pekerjaan yang mudah. Apalagi mereka berada di jalan yang tidak terlampau lebar, sehingga mereka itu pun menjadi berdesak-desakan.

Tidak banyak gunanya, apabila mereka menghadang di depan pasukan berkuda itu, karena di ujung pasukan itu berada seorang gembala tua dengan cambuk di tangan. Setiap kali cambuk itu berhasil melilit senjata lawannya dan kemudian melontarkannya ke udara.

Meskipun agak lambat, namun kuda-kuda itu maju. Gupala dan Gupita berada di sisi pasukan yang lewat itu sambil membantu para pengawal menahan serangan yang datang bertubi-tubi. Kadang-kadang ada di antara mereka yang melontarkan tombak mereka. Tetapi setiap kali tombak-tombak itu terpelanting oleh sentuhan cambuk.

Sejenak kemudian, kuda-kuda itu pun telah berhasil melampaui penjagaan di ujung lorong menyusup masuk ke dalam regol. Mereka kemudian tanpa menghiraukan para penjaga itu lagi, memacu kuda-kuda mereka secepat-cepatnya.

“Jangan biarkan mereka lolos, jangan biarkan mereka lolos!” teriak pemimpin pasukan di desa itu. Tetapi arus dari pasukan itu sudah tidak tertahankan lagi. Mereka memang tidak bernafsu untuk melayani dalam suatu lingkaran pertempuran. Karena mereka hanya akan sekedar lewat.

“Tutup regol di ujung lain!” teriak pemimpin penjaga.

Tetapi tidak seorang pun yang sempat berlari mendahului kuda itu. Setiap usaha dari para pengawal di desa itu untuk menahan kuda-kuda itu, mereka terpaksa harus berloncatan minggir. Para pengawal yang berlari-lari keluar dari halaman, tidak banyak dapat berbuat apa-apa. Mereka hanya dapat melontarkan senjata-senjata mereka, tetapi para pengawal berkuda itu pun berusaha menangkisnya. Apalagi orang-orang yang bersenjatakan cambuk.

Akhirnya, setelah mereka melampaui sedikit rintangan di ujung lorong yang lain, mereka telah berhasil keluar dari desa kecil itu, dengan meninggalkan kesan yang menggetarkan jantung. Para penjaga di desa itu memang pernah mendengar, bahwa kadang-kadang Argapati melepaskan sepasukan berkuda dengan orang-orang bercambuk. Tetapi mereka tidak menyangka, bahwa tiba-tiba saja mereka telah berhadapan dengan pasukan itu. Mereka tidak menyangka, bahwa orang-orang yang bersenjatakan cambuk itu seakan-akan dapat mempergunakan senjatanya dalam segala kemungkinan. Membelit senjata lawan, memungutnya, dan melemparkan ke udara. Kemudian menyentuh tubuh-tubuh lawan-lawan mereka dengan meninggalkan bekas jalur-jalur merah yang pedih. Bahkan kadang-kadang ujung cambuk itu mampu menyobek tubuh-tubuh lawannya, dan mengucurkan darah.

“Bukan main,” desis salah seorang yang tersobek pundaknya, “aku tidak tahu, bagaimana mungkin hal ini dapat terjadi. Aku hanya mengejapkan mataku. Ternyata yang sekejap itu berakibat begitu mengerikan. Aku tidak tahu, apakah akibatnya apabila aku harus melayaninya bertempur seorang lawan seorang. Mungkin tubuhku telah menjadi hancur tidak berbekas.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Di bawah lampu minyak ia menyaksikan luka di pundak kawannya itu.

Mereka itu tiba-tiba terkejut, ketika pemimpin mereka berteriak, “Kirimkan tanda ke induk pasukan!”

“Apakah kuda-kuda itu akan pergi ke padukuhan induk?” bertanya salah seorang.

“Tentu, mereka menuju ke sana. Tidak ada jalan lain kecuali sampai ke padukuhan induk itu.”

“Mereka akan membunuh diri.”

“Karena itu berikan tanda itu.”

Beberapa orang kemudian segera memukul kentongan di gardu, dan yang lain melemparkan panah berapi.

Sementara itu, pasukan berkuda itu pun berpacu semakin mendekati padukuhan induk. Mereka semakin mempercepat kuda-kuda mereka, agar mereka segera sampai sebelum orang-orang di padukuhan induk itu sempat mencernakan tanda-tanda sandi yang telah dikirim oleh orang-orang di desa kecil yang baru saja mereka tinggalkan.

Namun sementara itu, sambil berpacu, pemimpin pasukan berkuda itu sempat menghitung orang-orangnya yang ternyata ada yang terluka. Tiga orang terluka agak parah, meskipun mereka masih mampu berpegangan kendali kudanya, dan dua orang yang lain tergores ujung-ujung pedang di kakinya.

“Pakailah obat ini,” berkata gembala tua itu sambil memperlambat derap kudanya. Diserahkannya beberapa butir obat kepada pemimpin pasukan, “Remaslah butiran-butiran reramuan itu, dan gosokkanlah pada luka-luka itu. Mudah-mudahan dapat menolong untuk sementara.”

Sambil berpacu, pemimpin pasukan itu membagikan obat-obat itu, meskipun dengan demikian, iring-iringan itu menjadi agak lambat. Mereka yang terluka itu pun segera mcncoba menggosok luka-luka mereka dengan obat yang diberikan oleh gembala tua itu.

Ternyata obat itu dapat menolong untuk sementara. Darah mereka tidak lagi terlampau banyak mengalir. Bahkan seakan-akan telah menjadi pepat.

“Biarlah yang terluka mendapat perlindungan dari kawan-kawannya,” berkata orang tua itu. Lalu, “Padukuhan induk telah berada di depan kita. Kita akan menyusuri jalan di dalam padukuhan itu. Cepat tanpa berhenti. Yang kita perlukan adalah kesan, bahwa kita bukan pengecut yang hanya berani mengeram di balik dinding-dinding ori itu.”

Pemimpin pasukan itu menganggukkan kepalanya, kepercayaannya kepada ketiga orang yang bersenjata cambuk itu menjadi semakin tebal.

Ketika mereka telah mendekati mulut lorong, mereka pun telah menyiapkan diri mereka. Meskipun lorong ini bukan lorong yang membelah alun-alun kecil di depan rumah Kepala Tanah Perdikan, namun lorong ini termasuk lorong yang penting. Karena itu, maka di depan regol yang memasuki lorong itu pun pasti dijaga cukup kuat.

Dalam pada itu, tanda-tanda yang dikirim oleh orang-orang yang bertugas di desa kecil yang telah dilewati oleh pasukan berkuda itu pun menggema semakin keras. Suara kentongan, dan panah-panah api yang melontar ke udara telah menimbulkan berbagai pertanyaan di hati para penjaga. Namun mereka menyadari, bahwa desa kecil itu sedang dilanda oleh bahaya.

“Kalian pun harus bersiap,” perintah pemimpin peronda di regol padukuhan.

“He, pasukan berkuda,” teriak yang lain.

Pemimpin pasukan peronda itu tidak menyahut. Ia berdiri termangu-mangu. Betapa keheranan mencekam dadanya. Ia tidak akan menyangka, bahwa orang-orang Argapati telah menjadi gila, dan berani mendekati padukuhan induk.

Namun dengan demikian, ia menjadi ragu-ragu. Bahkan terdengar ia berdesis, “Apakah mereka akan berpihak kepada kita, dan mereka akan menyerahkan diri?”

Tetapi tiba-tiba disadarinya, bunyi kentongan dan panah-panah api itu.

“Gila,” ia menggeram, “apakah yang dapat dilakukan oleh pasukan itu?”

Namun para peronda itu tidak mendapat terlampau banyak kesempatan untuk menduga-duga. Pasukan berkuda itu tiba-tiba saja telah berada beberapa langkah saja di hadapan mereka, tanpa mengurangi kecepatan lajunya.

Tetapi pemimpin peronda itu sempat berteriak, “Hancurkan mereka!”

Maka terulanglah perkelahian seperti yang terjadi pada saat mereka memasuki desa kecil di depan padukuhan induk ini. Sekali lagi gembala tua itu menuntun seluruh pasukan untuk maju terus, dan sekali lagi, Gupala dan Gupita berusaha melindungi pasukan itu masing-masing di sebelah sisi, bersama-sama dengan setiap orang di dalam pasukan itu yang berusaha melindungi diri mereka sendiri.

“Kita berjalan terus,” teriak gembala tua yang berada di ujung pasukan dengan cambuk di tangan.

Setiap kali ujung cambuknya berhasil melemparkan senjata-senjata lawan, dan bahkan kadang-kadang ujung-ujung cambuk itu telah melemparkan beberapa orang sekaligus. Sengatan yang pedih membuat lawan-lawan mereka menjadi sangat berhati-hati.

Pertempuran itu pun tidak berlangsung lama. Kuda-kuda itu kemudian berderap memasuki padukuhan induk. Berderap di atas jalan berbatu-batu sambil melontarkan debu di belakang kaki-kaki kuda itu.

“Pada suatu ketika, padukuhan ini harus kita rebut kembali,” desis gembala tua itu. Dan tanpa disangka-sangkanya, pemimpin pasukan itu berteriak tanpa kendali, “Kita akan merebut tanah ini.”

“Ya, kita akan segera kembali,” sahut yang lain. Maka sejenak kemudian pasukan berkuda yang berderap di lorong-lorong di dalam padukuhan induk itu pun berteriak-teriak nyaring, “Kita akan kembali. Kita akan kembali.”

“Ya, Ki Argapati akan segera kembali. He, siapa yang mendengar suaraku,” teriak pemimpin pasukan, “Ki Argapati akan segera kembali.”

Suara teriakan-teriakan itu telah mengejutkan beberapa orang yang masih tinggal di rumah masing-masing. Teriakan-teriakan itu telah menggetarkan dada mereka. Apalagi mereka yang merasa, bahwa selama ini berpihak kepada Sidanti dan Argajaya.

“Apakah pasukan Argapati telah memasuki padukuhan ini?” pertanyaan itu melonjak di dalam dada mereka, “Mustahil, mustahil.”

Dan suara teriakan-teriakan itu sudah menjauh.

Kehadiran pasukan berkuda di padukuhan induk itu benar-benar telah menggemparkan. Semua orang terpukau untuk sesaat mendengar suara tengara di gardu-gardu. Mereka tidak percaya, bahwa padukuhan ini telah dilanda oleh bahaya. Tetapi mereka harus melihat suatu kenyataan. Sepasukan pengawal berkuda telah memasuki padukuhan induk, berpacu di lorong-lorongnya. Setiap kali mereka bertemu dengan sepasukan peronda, maka para peronda itu sama sekali tidak berdaya.

Tengara itu pun kemudian terdengar oleh para pemimpin pasukan di pihak Sidanti. Ki Tambak Wedi sendiri, Sidanti, Argajaya, dan yang lain, menjadi heran mendengar kentongan di gardu-gardu. Sementara mereka menunggu laporan.

Akhirnya datanglah seorang peronda, menyampaikan apa yang mereka lihat, dan apa yang mereka alami.

Ki Tambak Wedi, Sidanti, Argajaya, Ki Wasi, Ki Muni, dan Ki Peda Sura beserta beberapa orang yang lain mendengarkan laporan itu dengan darah yang bergolak. Mereka seakan-akan mendengarkan sebuah dongeng ngayawara yang tidak masuk di akal.

“Apakah semua penjaga tertidur?” bentak Sidanti yang tidak dapat menahan hati.

“Kami sudah berusaha untuk menahan mereka.”

“Bohong! Kalian pasti sedang lengah. Kalau tidak, hanya orang-orang gila sajalah yang percaya, bahwa sepasukan kecil orang-orang berkuda itu mampu memasuki regol.”

“Sebenarnyalah demikian. Beberapa kawan-kawan kami terluka.”

“Bohong, bohong!” Sidanti berteriak. “Kalian pasti tertidur di gardu-gardu, sehingga kalian terlambat memberikan isyarat. Kalau kalian tidak terlambat, maka kalian pasti sempat memanggil pasukan pengawal yang bertugas di sana.”

“Kami sudah memanggil mereka. Mereka pun telah mencoba mencegah pasukan berkuda itu. Tetapi mereka pun gagal pula.”

“Gila, gila! Kau mau main gila ya?” kemarahan Sidanti sama sekali tidak dapat ditahankannya lagi. Hampir saja ia meloncat menerkam peronda yang malang itu. Untunglah, bahwa Ki Tambak Wedi sempat mencegahnya.

“Katakan sekali lagi, apakah yang sebenarnya terjadi.”

Peronda itu menjadi gemetar. Kemudian diulanginya, menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi.

“Di antara mereka terdapat beberapa orang bersenjata cambuk,” suara peronda itu pun menjadi terputus-putus.

“Sejak pasukan itu keluar untuk pertama kalinya, di dalamnya sudah terdapat beberapa orang yang bersenjata cambuk. Tetapi di tempat-tempat yang lain, tidak ada peronda sebodoh kalian. Benar-benar tidak masuk akal, bahwa pasukan kecil itu dapat memasuki padukuhan induk ini.”

Peronda itu tidak menyahut lagi. Tetapi kepalanya menjadi semakin tunduk dalam-dalam.

“Guru,” berkata Sidanti kemudian, “aku akan mencari mereka.”

Ki Tambak Wedi menggelengkan kepalanya. “Tidak ada gunanya. Mereka sudah menjadi semakin jauh. Kalau hal itu benar-benar terjadi, maka mereka pasti hanya akan sekedar lewat, membuat keributan dan mencoba membesarkan hati mereka sendiri. Sesudah itu mereka akan segera keluar lagi dari padukuhan induk.”

“Lalu, apakah kita akan membiarkan mereka berbuat sesuka hati?”

“Tentu tidak. Tetapi mereka pun tidak akan sempat berbuat sesuka hati. Mereka hanya sekedar memanfaatkan saat yang sekejap, selagi para penjaga terkejut dan termangu-mangu.”

“Hanya orang-orang gila saja yang berani berbuat demikian. Bahayanya terlampau besar, dan hasilnya sama sekali tidak banyak berarti.”

“Ternyata mereka adalah orang-orang gila itu.”

Sidanti menggeram. Kemarahannya benar-benar telah membakar ubun-ubunnya. Namun ia tidak sempat berbuat sesuatu. Pasukan berkuda itu pasti sudah menjauh. Yang dapat dilakukannya hanyalah menggeretakkan gigi sambil menghentakkan tinjunya.

Wajah yang lain pun menjadi tegang pula mendengar laporan itu. Mereka tidak dapat membayangkan, keberanian dari manakah yang telah mendorong mereka melakukan pekerjaan yang terlampau berbahaya itu?

Namun ternyata, ada di antara mereka yang terpengaruh oleh peristiwa yang terjadi itu. Seperti beberapa orang pengawal yang melihat sendiri pasukan itu lewat, dan mendengar teriakan-teriakan mereka, maka beberapa orang pemimpin mulai dipengaruhi oleh perasaan cemas. Dengan kehadiran pasukan itu, maka ternyata bahwa kekuatan Argapati tidak menjadi lumpuh sama sekali seperti yang mereka sangka. Pasukan Argapati tidak menjadi berkecil hati, dan selalu saja berlindung di belakang pagar pring ori. Namun ternyata mereka tetap memiliki keberanian. Bahkan keberanian yang luar biasa.

Ki Wasi dan Ki Muni ternyata tidak dapat menghindari pula sentuhan di dalam dada mereka. Seolah-olah mereka melihat Argapati sendiri sedang nganglang mengitari tanah perdikannya bersama sepasukan pengawal berkuda, seperti yang sering dilakukannya sebelum tanah perdikan ini dibakar oleh api ketamakan dan kedengkian.

Ki Tambak Wedi yang mempunyai penglihatan cukup tajam itu segera menyadari, bahwa pengaruh kedatangan pasukan berkuda itu amat dalam pada pasukannya dan bahkan beberapa orang pemimpinnya.

Karena itu, maka tiba-tiba ia berteriak, “Siapkan seluruh pasukan besok pagi-pagi. Kita mengadakan persiapan. Besok sore kita hancurkan benteng pring ori itu, dan kita bakar seluruh padukuhan itu. Sekarang, seluruh pasukan tidak boleh kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri. Kita harus berbagi, untuk mendatangi setiap pasukan, dan membesarkan hati mereka. Kita harus memberitahukan kepada mereka, bahwa pasukan berkuda itu hanya suatu perbuatan gila-gilaan yang tidak akan mempunyai akibat apa pun juga.”

Setiap orang di dalam pertemuan itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Namun ada juga di antara mereka yang menjadi ragu-ragu di dalam hati, meskipun keragu-raguan itu sama sekali tidak mereka ucapkan.

Sejenak kemudian, maka pertemuan itu pun segera berakhir. Mereka membagi diri dan menyebar ke segenap sudut, menemui pasukan-pasukan mereka yang tersebar di berbagai tempat.

Meskipun para pemimpin itu mencoba untuk mempertahankan gairah dan keberanian anak buahnya, namun ketika sebagian dari mereka mendengar langsung dari kelompok-kelompok pasukan yang mengalami sendiri, justru merekalah yang menjadi ragu-ragu.

Tetapi betapa kebimbangan bergetar di dalam dada mereka, namun mulut-mulut mereka pun berkata, “Jangan hiraukan apa yang baru saja terjadi. Mereka sama sekali bukan pengawal-pengawal yang berani. Justru dengan demikian, kita dapat menilai, betapa liciknya pasukan Argapati itu. Mereka sekedar memanfaatkan saat-saat kita terkejut dan keheranan. Namun apabila kita sudah menyadari keadaan, mereka pun segera lari.”

Para pengawal mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun di dalam hatinya mereka bercerita tentang apa yang telah mereka lihat. Orang-orang yang bersenjata cambuk di dalam pasukan berkuda itu, benar-benar orang-orang yang luar biasa.

Sementara itu, pasukan berkuda yang menjelajahi padukuhan induk itu pun telah sampai ke ujung lorong yang akan membawa mereka keluar. Pengalaman mereka kali ini benar-benar telah menyalakan kembali tekad mereka yang selama ini telah menjadi buram. Bahkan dada mereka serasa tidak lagi dapat menampung kebanggaan mereka, bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang hampir-hampir tidak dapat dipercaya. Dengan pasukan yang kecil, menyusup di tengah-tengah sarang lawan yang telah bersiap untuk bertempur.

Bahkan ketika mereka telah hampir sampai ke regol yang akan mereka lalui, salah seorang dari mereka berkata, “Kita berbelok. Kita masih belum mengitari seluruh padukuhan induk.”

Pemimpin pasukan itu mengerutkan keningnya. Keinginan itu sama seperti keinginan yang menyala di dalam hatinya. Tetapi ia menyadari, bahwa mereka kini berada di sarang serigala yang sedang tidur. Apabila serigala itu terbangun, maka keadaan mereka akan sangat menjadi gawat. Bahkan tengara dan tanda-tanda sandi telah bergema memenuhi seluruh padukuhan induk itu. Para peronda di depan mereka itu pun telah bersiap pula menyambut kedatangan mereka.

“Bagaimana, Kiai?” meskipun demikian ia masih juga bertanya.

“Jangan menuruti perasaan saja. Kita harus memperhitungkan setiap kemungkinan. Kita sudah tidak mendapat kesempatan lagi. Kini setiap kelompok pasukan pasti sudah siap menunggu kita lewat di depan barak-barak mereka masing-masing.”

“Ya,” sahut pemimpin pasukan.

“Juga di gardu di depan kita.”

Dan tiba-tiba Gupita yang berada di paling depan berdesis, “Pintu regol telah ditutup.”

“He,” gurunya mengerutkan keningnya, “ya, pekerjaan kita menjadi agak berat.” Kemudian kepada pemimpin pasukan ia berkata, “Lindungilah diri masing-masing dan kawan-kawan kalian yang terluka. Mungkin kita akan berhenti sejenak di depan regol itu. Biarlah anak-anakku yang membukanya, Mudah-mudahan tidak ada pasukan yang lebih kuat yang menyusul di belakang kita.”

Pemimpin pasukan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka kini akan menghadapi pertempuran, karena itu mereka harus berhenti sejenak, sementara Gupita dan Gupala harus membuka pintu gerbang itu, menerobos para penjaganya.

Tetapi para pengawal berkuda dan gembala tua beserta kedua anak-anaknya itu terkejut, ketika tiba-tiba mereka mendengar kuda berderap di halaman sebelah, kemudian menjauh menyusur halaman, menyusup dari regol yang satu ke regol yang lain.

“Apakah itu?” bertanya pemimpin pasukan.

“Seorang penghubung. Ia pasti akan memberikan laporan bahwa kita berada di sini. Karena itu, cepat buka pintu itu,” sahut gembala tua.

Gupita dan Gupala yang mengerti akan tugasnya, segera meloncat turun dari kudanya, sementara yang lain pun segera mendesak maju. Agaknya para peronda di gardu itu pun telah siap menyambut kedatangan mereka.

“Tolong, pegang kendali kuda-kuda kami,” desis Gupita kepada salah seorang pengawal yang segera menangkap kendali kuda Gupita, dan seorang yang lain memegangi kendali kuda Gupala.

“Hati-hatilah,” pesan gembala tua itu, “aku akan melindungi kalian.”

Gupita dan Gupala mengangguk-anggukkan kepada mereka. Dan sejenak kemudian, dengan cambuk di tangan masing-masing, mereka pun melangkah maju setapak demi setapak. Sementara itu, para penjaga regol itu pun telah menebar dan mengepung mereka. Ternyata yang telah siap menyambut mereka bukan sekedar para peronda, tetapi sekelompok pengawal yang memang ditempatkan dekat dengan gardu-gardu.

Sejenak kemudian, terdengar sebuah teriakan nyaring. Agaknya pemimpin pasukan yang bertugas di gardu itu telah meneriakkan aba-aba untuk segera menyerbu. Sejenak kemudian, maka mereka pun segera mendesak maju. Tetapi lawan mereka adalah pasukan pengawal yang terlatih baik. Mereka telah mempelajari khusus cara-cara bertempur di atas punggung kuda. Dengan demikian, maka mereka pun segera menyambut lawan-lawan mereka.

Sejenak kemudian, kuda-kuda itu pun telah berderap hilir mudik menyambar-nyambar di sepanjang jalan, sehingga para penjaga menjadi agak kebingungan. Kuda-kuda itu seakan-akan berubah menjadi semakin banyak berkeliaran tanpa putus-putusnya, sedang penunggang-penunggangnya memutar pedang-pedang mereka tak henti-hentinya.

Sementara itu, Gupala dan Gupita melangkah maju mendekati regol yang tertutup. Mereka tidak akan dapat dengan mudahnya mendekati, karena beberapa orang sudah siap menunggu kedatangannya.

“Apakah kita tidak boleh melukai mereka?” desis Gupala.

Gupita tidak menyahut. Ia tahu benar arti pertanyaan Gupala. Gupala sama sekali tidak ingin mendengar jawabannya. Tetapi sebenarnya ia ingin mengatakan, “Aku terpaksa melakukannya.”

Gupita menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak akan dapat mencegah Gupala. Bahkan mungkin ia sendiri akan melakukan hal yang serupa, apabila keadaan benar-benar memaksa. Dan agaknya keadaan akan benar-benar memaksanya.

Sejenak kemudian, maka Gupita dan Gupala itu pun harus mempersiapkan diri. Beberapa orang maju bersama-sama, dan kemudian berpencaran.

Sekali Gupita berpaling. Ia masih melihat gurunya bertempur melindungi beberapa orang yang agak terdesak oleh lawan yang lebih banyak.

Tetapi agaknya Gupala sudah tidak sempat memperhatikan apa pun lagi. Sudah terlampau lama ia menahan ketegangan hati. Karena itu, maka tiba-tiba ia pun segera meloncat menyerang orang-orang yang bertebaran di sekitarnya.

Sekali lagi Gupita menarik nafas dalam-dalam. Kini ia harus menyesuaikan diri, karena perkelahian sudah dimulai.

Mereka berdua pun kemudian segera menempatkan diri. Mereka harus berkelahi sambil bergeser mendekati regol, sehingga pada suatu ketika mereka harus membuka pintu regol itu.

Maka sesaat kemudian, kedua cambuk di tangan anak-anak muda itu pun segera meledak-ledak. Mereka menyadari, bahwa mereka harus melakukannya secepat-cepatnya, sebelum penghubung yang pergi berkuda itu kembali dengan pasukan yang lebih besar.

Apalagi apabila bersama-sama pasukan itu akan datang juga para pemimpin pasukan itu, termasuk Ki Tambak Wedi sendiri, Sidanti, Argajaya, dan siapa lagi.

Dengan demikian, kedua anak-anak muda itu terpaksa berkelahi bersungguh-sungguh. Apalagi Gupala. Setiap ledakan cambuknya selalu menumbuhkan desah dan keluhan pada salah seorang lawannya. Sehingga dengan demikian, maka para pengawal regol itu menjadi semakin hati-hati. Mereka pun kemudian bersama-sama menyerang dengan senjata masing-masing, dan bahkan ada di antara mereka yang melontarkan tombak-tombak mereka. Namun ternyata anak-anak muda yang memegang cambuk itu terlampau tangkas.

Apalagi sesaat kemudian, seekor kuda datang menyambar-nyambar seperti seekor burung elang. Penunggangnya pun membawa cambuk seperti kedua anak-anak muda itu. Dan cambuk itu pun setiap kali melecut-lecut menyambar-nyambar.

Bagaimanapun juga para pengawal itu bertempur mati-matian, namun mereka tidak dapat menahan kedua anak muda itu yang semakin lama semakin maju mendekati regol yang tertutup itu.

“Jangan biarkan mereka membuka regol itu,” teriak pemimpin peronda.

Tidak seorang pun yang menjawab. Tetapi mereka tetap terdesak oleh ledakan cambuk-cambuk yang ujungnya seolah-olah bermata itu. Meskipun hanya ada tiga buah cambuk di dalam perkelahian itu, namun rasa-rasanya cambuk itu telah menyentuh setiap orang yang mencoba menahan kedua anak-anak muda itu. Ujung-ujung cambuk itu seakan-akan telah berubah menjadi segumpal kumpulan lebah yang terbang mengitari para pengawal regol itu, dan menyengat mereka di segala tempat. Punggung, leher, bahkan kening. Apalagi setiap sengatan pasti meninggalkan bekas yang pedih. Jalur-jalur merah, atau luka-luka yang menitikkan darah.

Terlebih-lebih lagi adalah ujung cambuk Gupala. Kadang-kadang ia menghentakkan cambuknya sekuat-kuat tenaganya. Apabila ujung cambuk itu menyentuh tubuh lawannya, maka kepingan-kepingan baja yang melingkar pada juntai cambuk itu seakan-akan telah menyobek kulit.

Dengan demikian, meskipun hanya setapak demi setapak Gupala dan Gupita berhasil maju menyibak lawan-lawannya. Dengan sekuat tenaga mereka berusaha secepat-cepatnya mencapai regol itu. Namun dengan demikian, mereka terlampau sulit untuk mengendalikan diri. Tetapi apa boleh buat. Dan Gupala pun selalu bergumam, “Apa boleh buat. Apa boleh buat.”

Pertempuran di sudut jalan yang lain pun menjadi semakin ribut. Para pengawal berkuda agaknya berhasil mendesak lawan-lawannya, sehingga beberapa orang di antara mereka terpaksa berloncatan ke atas dinding halaman. Dan apabila kuda-kuda itu masih juga menyambar mereka, maka mereka terpaksa pula meloncat masuk ke dalam halaman.

Namun sementara, itu penghubung berkuda yang meninggalkan regol jalan menuju ke induk pasukannya, telah memasuki regol halaman. Dengan nafas terengah-engah ia segera meloncat turun ketika ia melihat pemimpin pasukan induknya berdiri di halaman.

Pemimpin pasukan itu mengerutkan keningnya. Ia telah mendengar tanda-tanda yang bergema di seluruh padukuhan induk. Karena itu, maka kedatangan penghubung itu telah membuat hatinya berdebar-debar.

“Apa yang telah terjadi di tempat tugasmu?” bertanya pemimpin pasukan itu.

“Sepasukan berkuda,” jawab penghubung itu.

“Kenapa dengan pasukan berkuda itu?”

“Mereka akan keluar lewat regol tempat kami bertugas. Tetapi kami telah berhasil menutup regol itu, sehingga mereka terpaksa berhenti. Kini telah terjadi pertempuran di antara kami dan mereka.”

“Bagus. Kami sudah siap.”

“Kami memerlukan bantuan, supaya mereka tidak dapat lolos.”

“Kami akan mengirimkan sekelompok dari pasukan kami.” Pemimpin pengawal di induk pasukan itu pun segera mempersiapkan sekelompok pengawal untuk segera pergi ke tempat pertempuran. Sedang seorang penghubung yang lain telah di perintahkannya menyampaikan laporan itu ke rumah Kepala Tanah Perdikan. Ke tempat Ki Tambak Wedi dan para pemimpin yang lain sedang berbincang.

Kedatangan penghubung itu ternyata telah membuat darah Sidanti semakin bergolak. Dengan lantang ia berkata, “Nah, apa kataku. Kalau sejak tadi aku diijinkan untuk mencari mereka, maka keadaan pasti tidak akan berlarut-larut.”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Katanya, “Aneh, bahwa mereka masih ada di padukuhan induk ini.”

“Mereka sebenarnya sudah akan meninggalkan padukuhan ini, Kiai,” jawab penghubung itu. “Tetapi seluruh pintu regol telah tertutup, sehingga mereka telah tertahan.”

“Bagus,” sahut Ki Tambak Wedi. Kemudian kepada Sidanti ia berkata, “Pergilah. Lihatlah, siapa yang ada di antara mereka. Kalau mungkin tangkaplah pemimpinnya dan orang-orang yang dikabarkan bercambuk itu hidup-hidup.”

Sidanti tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia berlari keluar dan meloncat ke atas punggung kudanya yang selalu siap di halaman.

“He. Apakah kau akan pergi seorang diri?” bertanya Argajaya.

“Sepasukan pengawal telah dikirim lebih dahulu,” jawab Sidanti sambil melarikan kudanya.

Argajaya yang masih berdiri di tangga pendapa menjadi berdebar-debar. Ia tidak sampai hati melepaskan Sidanti sendiri. Karena itu, maka ia pun segera meloncat ke punggung kudanya pula, dan lari menyusul anak muda itu.

Sementara itu, perkelahian di mulut jalan itu pun menjadi semakin seru. Gupala dan Gupita semakin mendesak maju mendekati pintu regol. Beberapa langkah lagi ia akan mencapai selarak daun pintu yang melintang. Betapa pun juga, para penjaga itu mencoba mencegahnya, namun mereka sama sekali tidak berhasil. Mereka selalu harus menyibak, apabila serangan kedua anak-anak muda itu menjadi semakin cepat dan garang.

Akhirnya Gupala menghentakkan cambuknya sekuat-kuat tenaganya. Beberapa orang yang tersentuh ujung cambuk itu terpelanting jatuh. Dengan demikian, maka kini terbuka kesempatan untuk meloncat mencapai pintu regol itu.

Pemimpin penjaga yang melihat hal itu menjadi sangat marah. Dilepaskannya lawannya, seorang pengawal berkuda, dan dengan serta-merta ia meloncat untuk mencegah pintu itu dibuka.

Demikian Gupala mencapai selarak pintu itu, maka ujung pedang pemimpin penjaga itu meluncur ke punggungnya.

Tetapi ujung pedang itu tidak pernah dapat menyentuh tubuh Gupala. Gupita yang terperanjat melihat serangan yang tiba-tiba itu, hampir di luar sadarnya, dengan gerak naluriah, telah melecutkan cambuknya. Ketika ujung cambuk itu melilit leher pemimpin penjaga itu, Gupita menghentakkannya kuat-kuat, sehingga tubuh itu terputar seperti gasing. Kemudian pemimpin penjaga itu terpelanting jatuh di tanah.

Yang terdengar kemudian adalah erang kesakitan. Sementara Gupala telah berhasil membuka selarak pintu. Gupita yang kemudian berdiri di belakangnya, melindunginya dari setiap serangan yang mencoba menggagalkan usaha itu.

Namun sejenak kemudian dari kejauhan terdengar teriakan-teriakan lantang. Sekelompok pengawal berlari-lari mendekati regol yang kini telah terbuka itu.

“Jangan lepaskan, jangan lepaskan!” teriak mereka.

Gupala dan Gupita menjadi berdebar-debar. Sementara itu gembala tua itu pun mengerutkan keningnya. Ternyata sekelompok pengawal dari pasukan induk itu telah datang.

“Cepat. Semua keluar regol,” desis gembala tua itu. “Kalau kita terlambat, kita akan menemui kesulitan.”

Maka pemimpin pengawal berkuda itu pun segera memerintahkan para pengawal untuk segera keluar regol. Betapa para penjaga menghalangi namun kuda-kuda itu pun berhasil mendesak mereka menyibak. Sebab di punggung kuda itu terayun-ayun senjata-senjata para pengawal, apalagi lecutan-lecutan cambuk yang memekakkan telinga.

“Bawa kuda kami keluar!” teriak Gupala yang masih berdiri di pintu regol sambil mencegah para penjaga yang ingin menghalangi pasukan berkuda itu keluar.

Satu-satu kuda-kuda itu pun kemudian menyusup keluar regol. Beberapa orang pengawal yang lain telah dengan sengaja menyimpan pedang mereka, dan mempergunakan cambuk-cambuk mereka menirukan gembala tua itu beserta kedua anak-anaknya.

Sehingga dengan demikian, maka seolah-olah di dalam pasukan pengawal berkuda itu terdapat beberapa orang yang bersenjatakan cambuk. Dalam perkelahian yang ribut, para penjaga sulit untuk menemukan perbedaan kemampuan mereka mempergunakan senjata-senjata itu.

Sementara itu sekelompok pengawal dari pasukan induk berlari-lari semakin kencang. Di antara mereka masih saja berteriak, “Tahankan sebentar! Jangan biarkan mereka lepas!”

Tetapi kuda-kuda itu sudah semakin banyak berada di luar regol. Meskipun demikian, pasukan itu datang sebelum ekor dari pasukan berkuda itu berhasil keluar dari regol.

Beberapa orang yang berada di paling belakang, terpaksa memutar kuda-kuda mereka menghadapi sekelompok pasukan itu. Ternyata pengawal yang baru datang itu cukup banyak, sehingga penunggang-penunggang kuda itu agak mengalami kesulitan. Apalagi sebagian besar dari kawan-kawan mereka telah berada di luar regol.

Tetapi dalam keadaan yang demikian, maka seekor kuda telah menyusup di dalam perkelahian itu dengan membawa gembala tua itu di punggungnya. Sambil memutar cambuknya ia berkata, “Keluarlah. Kita harus segera keluar.”

Beberapa orang penunggang kuda itu menjadi ragu-ragu. Namun sekali lagi orang itu berkata, “Cepat. Keluarlah.”

Kuda-kuda itu pun menjadi semakin surut. Sedang di sisi pintu, Gupala dan Gupita masih juga berkelahi untuk menahan para penjaga yang ingin menutup pintu itu kembali.

Sejenak kemudian, maka kuda yang terakhir selain gembala tua itu, telah keluar dari regol. Sementara itu, Gupala dan Gupita pun telah meloncat keluar pula, sementara kuda gembala itu mundur perlahan-lahan. Namun akhirnya kuda itu pun berhasil keluar dari pintu. Beberapa orang yang akan mengejarnya, terpaksa terhenti di depan pintu, karena selangkah di luar mulut regol itu, sepasang cambuk meledak-ledak tidak henti-hentinya.

“Cepat. Ambil kuda kalian,” desis gembala tua itu, “seorang demi seorang. Yang seorang lagi membantu aku menutup regol itu, supaya mereka tidak dapat keluar.”

“Cepatlah, Gupala,” berkata Gupita, “kemudian kau membantu guru, sementara aku mengambil kudaku.”

Gupala pun kemudian segera meloncat berlari. Pengawal yang memegang kudanya masih menunggunya. Dengan serta-merta ia pun segera meloncat ke punggung kuda itu, dan membawa kudanya kembali ke mulut regol untuk melindungi Gupita yang masih akan mengambil kudanya.

Begitu Gupita meloncat ke punggung kudanya, maka ternyata mereka sudah tidak dapat membendung arus pengawal yang berdesakan di muka pintu itu. Bahkan ada di antara mereka yang memanjat dinding-dinding batu sebelah-menyebelah regol dan berloncatan keluar. Dengan senjata teracu-acu mereka pun segera menyerang para pengawal berkuda yang masih berkumpul di depan regol.

“Tinggalkan tempat ini,” gumam gembala tua itu, sementara pemimpin pasukan segera meneriakkan aba-aba.

Kuda-kuda itu berderap tepat pada saat pasukan pengawal itu menyerang mereka. Namun yang tertinggal hanya sekedar debu yang menghambur dari kaki-kaki kuda itu.

Tetapi tepat pada saat itu, seekor kuda berlari seperti angin. Dengan lantangnya Sidanti, penunggang kuda itu, berteriak, “Minggir, aku akan mengejar mereka.”

Beberapa orang berloncatan menepi. Ketika kuda itu lewat, setiap orang hanya dapat mengangakan mulut-mulut mereka tanpa dapat berbuat sesuatu.

Belum lagi mereka sempat menarik nafas, sekali lagi seekor kuda yang membawa Argajaya menyusulnya.

Tetapi sementara itu, pasukan berkuda itu sudah menjadi semakin jauh. Sidanti sudah tidak dapat melihat orang yang terakhir dari pasukan berkuda itu dengan jelas. Bahkan semakin lama menjadi semakin kabur oleh debu yang terhambur.

Tetapi Sidanti tidak menghentikan kudanya. Ia berpacu terus mengikuti pasukan pengawal berkuda itu. Sementara Argajaya dengan cemas mencoba mengejarnya. Bagaimana pun juga kelebihan yang ada pada anak muda itu, namun akan sangat berbahaya sekali apabila ia harus bertempur melawan sekian banyak orang di dalam pasukan yang sedang di kejarnya.

Karena Argajaya tidak segera dapat mencapai Sidanti, karena kuda-kuda mereka berpacu hampir sama kencangnya, maka terpaksa Argajaya itu pun berteriak memanggil.

“Sidanti. Sidanti.”

Tetapi Sidanti sama sekali tidak menghiraukannya. Ia masih saja berpacu dengan kencangnya.

“Sidanti!” teriak Argajaya kemudian, “Aku membawa pesan.”

Sidanti mengerutkan keningnya. Sekali ia berpaling, dan ketika sekali lagi ia mendengar Argajaya berteriak, ia mengurangi kecepatan kudanya sedikit.

Dengan demikian, maka jarak mereka menjadi semakin pendek. Dan sejenak kemudian Argajaya telah berpacu di samping kuda Sidanti.

“Pesan dari siapa, Paman?”

“Aku hanya ingin memperingatkan kau Sidanti. Apakah kau akan mengejar pasukan itu? Kau seorang diri, bagaimanapun juga kau akan mengalami kesulitan, meskipun berdua dengan aku pun. Kita belum tahu, siapakah yeng ada di dalam pasukan itu. Bagaimana kalau justru Kakang Argapati sendiri, meskipun ia belum sembuh benar? Bukankah ia sudah nampak cukup kuat untuk berpacu di atas punggung kuda, karena ia kemarin telah turun pula ke medan?”

“Jadi apakah Paman menyangka aku gila?”

“Kenapa?”

“Bagaimana pun juga aku mempunyai perhitungan, Paman,” desis Sidanti. “Sudah tentu aku tidak akan bertempur seorang diri melawan mereka. Aku akan mengikuti mereka sampai padesan di depan kita. Mereka pasti akan tertahan oleh para pengawal di desa kecil itu. Nah, baru aku akan ikut serta.”

Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata anak muda itu benar-benar cerdik. Karena itu maka katanya, “Kalau begitu, aku ikut bersamamu.” Argajaya berhenti sejenak, lalu tiba-tiba ia bertanya, “Tetapi bagaimana kalau ia tidak mengikuti jalan ini?”

“Hanya ada satu sidatan. Itu pun jalan kecil di tengah sawah. Aku kira mereka memilih jalan besar ini. Jalan yang cukup baik bagi kuda-kuda mereka.”

Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba Sidanti mengumpat habis-habisan. Ternyata pasukan berkuda yang dikejarnya itu, tidak memilih jalur jalan yang lapang ini. Ternyata mereka berbelok di jalan sidatan, meskipun jalan itu jauh lebih kecil dari jalan yang sedang dilaluinya.

“Kenapa kita mengambil jalan ini, Kiai?” bertanya pemimpin pasukan pengawal berkuda itu kepada gembala tua itu, yang menasehatkan kepadanya untuk mengambil jalan ini.

“Tanda-tanda bahaya itu pasti sudah di dengar oleh pengawal di desa di depan kita itu. Mereka pasti sudah bersiap. Dan kita pasti akan mengalami hambatan seperti pada saat kita melalui desa kecil di sebelah lain pada saat kita memasuki padukuhan induk ini. Kalau kita terpaksa berkelahi dan tertahan, maka kita tidak dapat membayangkan kemungkinan yang bakal terjadi atas pasukan ini. Beberapa orang kita telah terluka, bahkan ada yang agak parah. Dan kita tidak tahu pasti, siapakah yang berkuda mengejar kita itu. Kalau mereka berdua itu Ki Tambak Wedi dan Sidanti, maka pekerjaan kita akan menjadi terlampau berat.”

Pemimpin pasukan pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ketika mereka berdua berpaling, orang tua itu berkata, “Nah, agaknya kedua orang yang mengejar kita itu sudah berhenti di tikungan.”

Sebenarnya bahwa Sidanti dan Argajaya itu pun berhenti di jalan sidatan. Sambil mengumpat-umpat tidak habis-habisnya, Sidanti menghentak-hentakkan tangannya di pahanya.

“Kalau guru tidak melarang, aku pasti dapat menangkap mereka, meskipun hanya satu dua orang. Kita akan mendapat keterangan lebih banyak tentang pasukan yang bersembunyi di balik benteng pring ori itu.”

Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata, “Pasukan itu benar-benar luar biasa. Keberaniannya hampir tidak masuk akal. Kita memang tidak akan menyangka, bahwa mereka akan langsung masuk ke padukuhan induk. Sehingga menurut dugaanku, pasukan itu dipimpin oleh Kakang Argapati sendiri. Bukan sekedar anak-anak ingusan seperti yang biasa mereka lakukan. Menakut-nakuti para peronda di gardu-gardu dengan cambuk-cambuk kuda yang sama sekali tidak berarti.”

Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia berkata, “Marilah kita lihat di bekas-bekas pertempuran itu, Paman.”

Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan mereka berdua pun kemudian berpacu kembali ke padukuhan induk.

Mereka berdua berhenti ketika mereka memasuki regol. Sidanti dan Argajaya pun segera turun dari kuda mereka dan menemui pemimpin penjaga regol itu. Namun ternyata pemimpin penjaga itu terluka parah di lehernya.

“Kenapa?” bertanya Sidanti.

“Cambuk,” jawabnya terengah-engah, “cambuk itu melilit leherku.”

Sidanti membelalakkan matanya. Luka itu bukan sekedar selingkar jalur merah. Tetapi leher itu seakan-akan tersobek.

“Panggil Ki Wasi atau Ki Muni. Tugasnya cukup banyak di sini,” perintah Sidanti.

Ketika seorang penghubung pergi memanggil dukun itu, maka Sidanti dan Argajaya dengan hati yang bertanya-tanya menyaksikan bekas pertempuran yang agaknya cukup seru. Beberapa orang telah terluka, dan bahkan ada yang cukup parah.

Hampir tidak masuk akal, bahwa sepasukan kecil orang-orang berkuda itu mampu membuat keributan sedemikian dahsyatnya di gardu-gardu dan di regol-regol di ujung jalan.

Ketika Sidanti melihat pemimpin kelompok yang baru datang untuk memberikan bantuan ia bertanya, “Apakah kalian selama ini tidur saja dan membiarkan orang-orang berkuda itu membantai kalian?”

“Mereka tidak terlampau dahsyat seperti yang kita duga,” berkata pemimpin pengawal. “Benar juga, bahwa mereka hanya sekedar mempergunakan kesempatan selagi kita terkejut dan terheran-heran. Dan itulah kesalahan kita yang terbesar, yaitu menjadi heran dan ternganga-ganga melihat kegilaan orang-orang berkuda itu. Tetapi sebenarnyalah bahwa kami dari pasukan induk sama sekali belum mendapat kesempatan untuk bertempur. Kami belum tahu, apakah mereka benar-benar orang yang dapat dibanggakan di medan-medan peperangan yang sebenarnya.”

“Jadi kalian datang terlambat?” bertanya Argajaya.

“Ya. Agak terlambat.”

“Apakah kalian belum siap waktu penghubung dari regol penjagaan ini memberitahukan kedatangan orang-rang berkuda itu. Bukankah sebelumnya tanda-tanda dan tengara sudah bergema di seluruh padukuhan induk ini?”

“Kami sudah siap. Demikian kami mendengar berita kedatangan pasukan berkuda itu, kami segera berangkat.”

“Menurut laporan yang kami dengar, pintu regol ini telah berhasil di tutup.”

“Ya, mereka berhasil membuka pintu.”

Sidanti dan Argajaya saling berpandangan. Pasukan kecil ini ternyata adalah pasukan yang kuat dan terpercaya. Dalam waktu yang singkat, mereka berhasil menguasai selarak pintu dan membukakannya. Pada saat datang bantuan dari pasukan induk, mereka segera berhasil melarikan diri.

Dan tiba-tiba saja Sidanti dan Argajaya menjadi curiga. Di dalam pasukan yang kecil itu pasti ada kekuatan-kekuatan yang luar biasa, yang membuat pasukan kecil itu seakan-akan menjadi terlampau kuat.

Tanpa sesadarnya, maka tiba-tiba Sidanti bertanya, “Apakah benar-benar ada orang-orang bercambuk di antara mereka?”

“Sebagian terbesar yang menumbuhkan luka-luka pada kami adalah ujung-ujung cambuk itu,” jawab pemimpin penjaga yang masih terengah-engah.

“Ada berapa orang bercambuk di antara mereka?”

“Lima atau enam orang.”

Sidanti dan Argajaya mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba Sidanti mengumpat, “Persetan! Benar juga kata guru. Mereka adalah orang-orang licik yang ingin mempergunakan cara-cara yang kasar untuk mempengaruhi keberanian kita. Mereka sengaja agar kita menyangka, bahwa orang-orang bercambuk itu berada di antara mereka. Tetapi yang paling mungkin, di antara mereka itu terdapat Argapati sendiri. Sehingga pasukan yang kecil itu dapat menimbulkan kesan yang mengerikan.” Sidanti barhenti sejenak. Lalu, “Tetapi kita di sini bukan anak-anak yang dapat dikelabuhinya. Kita dapat membuat perhitungan-perhitungan. Sehingga kita tidak dapat diperbodohnya seperti kerbau yang paling dungu.”

Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sependapat dengan Sidanti. Karena itu maka katanya kemudian, “Tidak ada alasan untuk berkecil hati. Kita sampaikan semuanya ini kepada Ki Tambak Wedi, apakah Ki Tambak Wedi itu sependapat dengan kita.”

Sidanti pun mengangguk-anggukkan kepalanya pula. “Baiklah,” katanya.

Mereka berdua pun segera meninggalkan tempat itu, kembali menemui Ki Tambak Wedi untuk melaporkan apa yang telah mereka saksikan. Dan ternyata Ki Tambak Wedi pun sependapat pula dengan mereka.

“Kita memang tidak boleh menunda terlampau lama. Kita harus segera menghancurkan mereka. Meskipun Ki Argapati telah kuat untuk berpacu di atas punggung kuda, namun ia pasti masih belum akan mampu bertempur terlampau lama. Aku akan mencoba memancingnya dalam perkelahian yang lama, sehingga lukanya itu terasa mengganggunya,” berkata Ki Tambak Wedi. “Karena itu semua persiapan harus segera diselesaikan. Kita harus siap melawan lontaran-lontaran lembing dan anak panah. Karena itu, kita harus menyiapkan perisai-perisai itu sebaik-baiknya. Setiap kelengahan akan sangat merugikan kita. Kalau kita benar-benar menyiapkan diri, maka kita akan dapat memastikan, benteng pring ori itu akan menjadi karang abang. Kita akan memasukinya dan kita akan menghancurkan semuanya. Kita jangan memberi kesempatan mereka mundur dan menemukan tempat-tempat baru untuk bertahan.”

Para pemimpin pasukan Ki Tambak Wedi itu pun mengangguk-anggukkan kepala mereka. Dan sejenak kemudian mereka telah menyebar lagi ke pasukan masing-masing.

“Beristirahatlah, Sidanti,” berkata Ki Tambak Wedi, “tugasmu masih banyak.” Lalu kepada Argajaya, “Dan apakah kau akan tinggal di sini atau kembali ke pasukan yang berada di rumahmu itu?”

“Ya aku akan kembali. Pasukan itu diperlukan besok, karena itu aku akan membawa pasukan yang ada di padukuhan itu kemari.”

“Bagus,” sahut Ki Tambak Wedi, “aku pun akan minta demikian. Kita dapat memanggil beberapa perjagaan di daerah-daerah yang tersebar. Supaya kita mempunyai kekuatan yang cukup untuk menghancurkan pertahanan Argapati itu.”

“Aku akan meninggalkan beberapa orang secukupnya saja di padukuhan itu. Kalau kita besok menyerang, maka Argapati pun pasti akan memusatkan segenap kekuatannya. Pasukannya pasti tidak akan ada yang berkeliaran keluar.”

“Baiklah. Ambillah pasukan yang ada di padukuhanmu. Pasukan di padukuhan-padukuhan kecil yang lain pun harus ditarik besok siang. Kita himpun semua kekuatan yang ada, supaya kita tidak perlu mengulangi serangan itu. Kita harus menyelesaikan persoalan kita sendiri di atas Tanah ini lebih dahulu, sebelum pada suatu saat Pajang mendengarnya dan ikut mencampuri persoalan di dalam lingkungan kita ini.”

“Nah, aku minta diri,” berkata Argajaya, “aku harus menyiapkan segala sesuatunya.”

Argajaya pun kemudian meninggalkan padukuhan induk itu bersama sepuluh orang pengawalnya, kembali ke padukuhannya. Besok ia harus membawa seluruh pasukan yang ada di padukuhan itu, untuk bersama-sama dengan seluruh kekuatan yang ada berusaha menghancurkan pertahanan Ki Argapati.

Dalam pada itu pasukan berkuda yang baru saja memasuki padukuhan induk itu semakin lama menjadi semakin jauh. Ketika mereka yakin bahwa tidak ada lagi seorang pun, apalagi sepasukan lawan yang mengejar, maka mereka pun mulai memperlambat kuda-kuda mereka. Pemimpin pasukan itu mulai memperhatikan setiap orang yang terluka di dalam pasukannya, dan bagi mereka yang memerlukan, gembala tua itu memberikan obat yang dapat menolong untuk sementara.

“Tiga orang yang terluka parah, Kiai,” berkata pemimpin pasukan, “sehingga mereka tidak lagi dapat berkuda sendiri. Meskipun ada juga yang lain yang cukup parah, namun mereka masih sanggup untuk bertahan. Apalagi yang hanya sekedar luka-luka karena goresan senjata di bagian anggota badan.”

“Lalu bagaimana yang tiga orang itu?”

“Aku sudah memerintahkan orang lain untuk melayaninya.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya, “Nanti aku akan mencoba mengobatinya. Mudah-mudahan mereka masih dapat bertahan sampai di padukuhan kita,”

“Mudah-mudahan.”

Maka mereka pun kemudian berusaha mempercepat kuda-kuda mereka. Kini bukan karena mereka harus menghindari lawan yang jauh lebih kuat, tetapi mereka ingin segera sampai ke pusat pertahanan mereka, agar yang terluka dapat segera diobati.

Namun ketika mereka sampai di sebuah bulak yang panjang, tiba-tiba gembala tua itu berkata kepada pemimpin pasukan, “Dahululah bersama seluruh pasukan. Aku dan kedua anak-anakku akan singgah sebentar ke rumah untuk mengambil sesuatu.”

Pemimpin pasukan itu menjadi ragu-ragu sejenak. Namun gembala tua itu tersenyum sambil berkata, “Jangan cemas. Jalan di depan kita cukup rata. Dan aku pun akan segera menyusul.”

Pemimpin pasukan itu menganggukkan kepalanya, “Tetapi jangan terlampau lama, Kiai. Bukan karena kami ketakutan apabila kami bertemu dengan lawan, tetapi kawan-kawan kami yang luka itu segera memerlukan pengobatan.”

“Ya. Aku akan segera menyusul.”

Gembala tua itu pun kemudian membawa kedua anaknya berbelok di satu tikungan. Mereka ingin kembali sebentar menjenguk rumah mereka.

“Apa yang akan kita ambil?” bertanya Gupala.

“Aku ingin bertemu dengan Angger Sutawijaya,” desis orang tua itu. “Aku mendapat suatu pikiran baru. Aku mengharap, menurut perhitunganku, Argapati akan tetap memegang pimpinan atas tanah perdikan ini. Karena itu, sebaiknya Angger Sutawijaya sejak sekarang telah menunjukkan atau memberikan jasanya, sehingga dengan demikian maka Argapati akan merasa dirinya lebih dekat dengan Angger Sutawijaya daripada dengan Sultan Pajang.”

Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya, sedang Gupita bertanya, “Tetapi apakah mungkin akan ada pertentangan antara Pajang dengan Raden Ngabehi Loring Pasar itu?”

Gurunya menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan kepalanya di geleng-gelengkannya. Namun agaknya ia tidak yakin atas apa yang akan terjadi. “Banyak sekali kemungkinan-kemungkinan itu,” desisnya. “Mudah-mudahan tidak terjadi benturan-benturan lahir yang hanya akan menambah korban.”

Gupala dan Gupita kemudian tidak bertanya-tanya lagi. Mereka berpacu ke gubug mereka untuk menemui Sutawijaya dengan kedua pengiringnya.

Sutawijaya yang sedang berbaring di dalam gubug gembala tua itu terkejut ketika didengarnya derap kuda mendekat. Segera ia meloncat bangkit sambil menyambar tombak yang disandarkannya pada dinding. Ketika ia berdiri di depan pintu, dilihatnya kedua pembantunya pun telah bersiap pula menunggu perkembangan keadaan.

Mereka menjadi semakin berdebar-debar ketika ternyata derap kaki-kaki kuda itu menjadi semakin dekat. Namun mereka kemudian menjadi tenang ketika mereka mendengar ledakan cambuk yang memecah sepinya malam.

Sejenak kemudian, maka gembala tua beserta kedua anak-anaknya itu pun telah turun dari kuda-kuda mereka. Sambil mengikatkan kuda-kuda itu pada sebatang pepohonan, gembala itu berkata, “Aku sengaja memberikan tanda, agar Angger tidak terkejut atas kedatangan kami, karena kami kali ini berkuda.”

“Dada kami telah menjadi berdebar-debar,” berkata Sutawijaya. “Aku sangka Ki Tambak Wedi telah mencium jejak kami dan bersama-sama dengan Argajaya dan Sidanti berusaha menangkap kami.”

Orang tua itu tersenyum. “Ternyata dugaan itu meleset.” Katanya, “Tetapi, apabila Angger tidak berkeberatan, aku ingin menyampaikan suatu pendapat yang barangkali baik bagi Angger.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya.

“Aku hanya sebentar, Ngger. Mungkin Angger dapat segera memutuskan persoalan ini.”

Sorot mata Sutawijaya memancarkan berbagai macam pertanyaan.

Maka dengan singkat disampaikannya maksud gembala tua itu. Diberikannya beberapa macam pertimbangan yang cukup meyakinkan, setidak-tidaknya agar Argapati kelak tidak merintangi perkembangan Alas Mentaok.

Sutawijaya mendengarkannya dengan penuh minat. Namun tampaklah bahwa ia masih saja dicengkam oleh ke ragu-raguan.

“Argapati adalah seorang yang keras hati menurut pendengaranku, Kiai,” berkata Sutawijaya.

“Ya, ia memang keras hati. Tetapi bukan berarti bahwa ia tidak berjantung. Kalau ia merasa, bahwa Angger telah ikut menolongnya, maka ia pasti mempunyai pertimbangan-pertimbangan lain.”

“Apakah Argapati dapat diharapkan menjual kesetiaannya dengan cara itu?”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya, “Memang mungkin Argapati berpendirian demikian, Ngger. Tetapi apakah sampai saat ini kita mengetahui sikap dan tanggapan Kepala Tanah Perdikan yang besar itu terhadap Sultan Pajang? Memang, ia tidak mau menentang Pajang dan melindungi anak serta adiknya, karena tingkah laku keduanya. Argapati pasti mempertimbangkan juga, peranan Ki Tambak Wedi yang lebih banyak dikuasai oleh nafsu daripada cita-cita.”

Sutawijaya tidak segera menyahut. Tampaklah kepalanya terangguk-angguk kecil. Meskipun demikian ia masih merenungi kata-kata gembala tua itu.

“Angger Sutawijaya,” berkata orang tua itu seterusnya, “pertimbangan selanjutnya terserah kepada Angger. Tetapi menurut pertimbanganku, apakah salahnya Angger memperkenalkan diri kepada Ki Argapati?”

Sutawijaya masih belum menjawab. Meskipun tidak terucapkan ia mempunyai pertimbangan tersendiri. Apabila kini ia bersusah payah menyerahkan tenaganya, membantu dengan harapan agar Argapati kelak tidak mengganggu pertumbuhan Mentaok untuk menjadi sebuah kota, tetapi ternyata harapannya itu meleset, maka ia akan merasa tersinggung sekali.

Tetapi untuk sama sekali tidak berbuat sesuatu dalam keadaan serupa itu, akan dapat menimbulkan jarak pula antara dirinya dengan Ki Argapati meskipun mereka belum saling bertemu. Kalau Ki Argapati kelak mengetahui, bahwa pada saat tanahnya sedang kemelut dibakar oleh api perpecahan, dan ia pada saat itu berada di Menoreh dan sama sekali tidak berbuat apa-apa, maka Argapati pun pasti akan mengambil sikap pula.

“Apakah Ayahanda Sultan Pajang akan berbuat sesuatu apabila Ayahanda mengetahui bahwa di atas tanah ini terjadi benturan di antara mereka?” ia bertanya di dalam hatinya. “Apabila tiba-tiba saja Sultan Pajang mengirimkan bantuan kepada Argapati, maka kedudukanku pasti akan terdesak. Terdesak dari dua arah. Dari Timur dan dari seberang Kali Progo.”

Dalam kebimbangan itu terdengar gembala tua itu berkata, “Waktuku hanya sebentar. Sedang pertentangan ini berkembang terlampau cepat. Mungkin bahkan malam ini Ki Tambak Wedi akan menyusul kami menyerang pemusatan pasukan Argapati. Tetapi mungkin juga besok pagi. Apakah Angger Sutawijaya sudah dapat mengambil keputusan?”

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Ia masih saja dicengkam oleh kebimbangan. Sejenak ditatapnya wajah gembala tua itu, kedua anak-anaknya dan kemudian kedua pengawalnya.

“Aku memerlukan kedua anak-anak muda itu kelak,” desisnya di dalam hati. “Kalau mereka bersedia membantu aku, maka aku langsung akan menguasai daerah Sangkal Putung dan pasti juga Jati Anom. Jalur antara Mentaok, Alas Tambak Baya, Prambanan, Benda, Sangkal Putung, Macanan langsung ke Jati Anom akan aku kuasai.”

Akhirnya Sutawijaya itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kiai, baiklah. Aku akan membantu Argapati. Tetapi bukan berarti bahwa aku sendirilah yang harus melakukannya. Biarlah kedua kawan-kawanku itu pergi bersama Kiai.”

Gembala tua itu mengerutkan keningnya. Sejenak dipandanginya kedua pengawal Sutawijaya itu. Sepercik keragu-raguan memencar di dalam sorot matanya.

“Kiai,” berkata Sutawijaya sambil tersenyum, “keduanya adalah orang-orang kepercayaan Ayah Ki Gede Pemanahan. Mereka berdua adalah kawan-kawanku bermain-main. Jika ada perbedaan antara keduanya dan aku sendiri jarak itu tidak akan terlampau jauh. Meskipun keduanya masih juga belum dapat menyamai kedua gembala-gembala muda itu. Tetapi aku percaya kepada keduanya.”

“Ah,” salah seorang dari kedua pengawal itu berdesah, “terima kasih atas pujian itu. Tetapi aku harap bahwa Kiai tidak akan kecewa apabila ternyata aku hanya dapat meloncat-loncat.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mencoba mengerti alasan Sutawijaya. Kenapa ia tidak mau langsung terjun ke medan pertentangan itu sendiri.

Namun orang tua itu kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Terima kasih. Hal ini pasti sudah akan membuat hubungan antara Mentaok kelak dengan Menoreh menjadi lebih baik. Meskipun kali ini Angger Sutawijaya sendiri belum langsung menanganinya, namun bantuan Angger ini pasti akan sangat berarti.”

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. “Maaf, Kiai,” jawabnya, “aku sendiri masih ingin beristirahat. Entahlah apabila nanti aku berubah pendirian. Tetapi kedua orang kawan-kawanku itu pasti akan sama artinya dengan aku sendiri.”

“Ya, demikianlah.”

“Nah,” berkata Sutawijaya kemudian kepada kedua kawannya, “pergilah kalian mewakili aku.” Lalu kepada orang tua itu, “Paman Hanggapati dan paman Dipasanga akan menempatkan dirinya di bawah perintah, Kiai. Tetapi ingat, Kiai, keduanya aku serahkan kepada Kiai, tidak kepada orang lain, sehingga tanggung jawab atas keduanya ada pada Kiai.”

Gembala tua itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Baiklah, Ngger. Tetapi kehadiran keduanya akan menjadi suatu kenyataan, bahwa Angger telah berusaha mendekatkan diri. Bahkan Angger telah mulai menjalin hubungan yang baik antara Mentaok yang akan lahir dan Menoreh.”

“Mudah-mudahan, Kiai. Selanjutnya aku akan tetap berada di sini. Aku akan menunggui gubug ini, ketela pohon yang sudah mulai dapat diambil hasilnya, kambing-kambing, dan api.”

“Kenapa api?”

“Kambing-kambing itu memerlukan api.”

“Ah,” gembala tua itu tersenyum. “Baiklah. Sekarang aku minta diri. Mudah-mudahan hubungan yang telah dirintis ini kelak akan berguna. Berguna bagi Angger Sutawijaya dan berguna bagi Argapati.”

“Mudah-mudahan, Kiai. Mudah-mudahan.”

“Baiklah. Kini aku minta diri. Waktuku terlampau sempit. Orang-orang yang terluka itu memerlukan bantuanku.”

“Silahkanlah, Kiai. Agaknya Kiai baru saja membawa sepasukan pengawal berkeliling daerah ini.”

“Ya, di antara mereka ada yang terluka parah.”

Gembala tua itu pun kemudian meninggalkan Sutawijaya seorang diri karena kedua kawannya ikut bersamanya. Mereka terpaksa mempergunakan setiap ekor kuda untuk dua orang. Hanggapati bersama Gupala dan Dipasanga bersama Gupita.

Dengan demikian maka laju kuda-kuda mereka tidak dapat terlampau cepat. Namun meskipun demikian akhirya mereka sampai juga ke mulut regol padukuhan yang dilingkari pring ori itu.

Ternyata kedatangan mereka telah mengejutkan para penjaga. Bahkan Samekta yang ada di depan regol pun terkejut pula melihat gembala tua itu datang bersama orang baru lagi. “Siapakah mereka?” bertanya Samekta.

“Kalian akan berterima kasih atas kedatangannya. Tetapi marilah kita bersama-sama menghadap Ki Argapati. Aku mempunyai sebuah cerita tentang kedua kawan baruku ini.”

Samekta mengerutkan keningnya. Sebagai seorang yang bertanggung jawab atas pusat pertahanan ini, Samekta tidak segera menerima ajakan itu.

“Apakah Ki Samekta berkeberatan?” bertanya gembala tua itu.

“Bukan begitu, Kiai. Tetapi aku masih belum mengerti, apakah kepentingan Ki Sanak berdua ini untuk bertemu dengan Ki Argapati.”

“Itulah yang akan dikatakannya nanti. Aku kira Ki Argapati pun belum mengenal keduanya. Tetapi aku akan menjadi tanggungan, bahwa keduanya tidak akan berbuat sesuatu yang merugikan kita bersama.”

Samekta masih ragu-ragu. Bahkan sepercik pertanyaan membersit di dadanya, “Apakah orang-orang ini tidak mungkin sengaja diselundupkan oleh Sidanti?”

Karena Ki Samekta masih ragu-ragu, maka gembala tua itu mencoba menjelaskannya, “Kami akan memberikan beberapa keterangan. Kalau Ki Argapati tidak menghendaki, biarlah kedua kawan-kawanku ini meninggalkan padukuhan ini.”

Ki Samekta menarik nafas dalam-dalam. Sekali ia berpaling. Tetapi ia tidak melihat Wrahasta untuk dimintai pertimbangannya. Agaknya Wrahasta sedang beristirahat, atau bahkan mungkin sedang tidur karena ialah yang sedang bertugas malam ini.

Baru setelah ia berpikir sejenak, maka berkatalah Samekta, “Baiklah, marilah aku antarkan kalian menghadap Ki Argapati.”

Mereka pun kemudian pergi ke pemondokan Ki Argapati. Meskipun malam semakin mendekati akhirnya, namun Samekta mencoba juga untuk masuk ke rumah dan menengok bilik Ki Argapati.

Derit pintu bilik itu, agaknya telah membangunkan Ki Argapati. Perlahan-lahan ia menyapa, “Siapa di luar?”

“Aku, Ki Gede. Samekta.”

“O, masuklah.”

Samekta pun kemudian melangkah masuk ke dalam bilik Ki Argapati. Dikatakannya semuanya tentang gembala tua itu beserta kedua kawan-kawannya yang baru.

Sejenak Ki Argapati berpikir. Namun kemudian ia berkata, “Aku percaya kepada gembala tua itu. Biarlah ia datang kemari.”

Kemudian gembala tua itu pun segera dipersilahkannya masuk bersama kedua pengawal Sutawijaya. Sedang Gupala dan Gupita menunggu mereka di serambi depan.

“Marilah, Kiai,” berkata Ki Airgapati, “aku sudah mendengar laporan tentang pasukan berkuda itu. Aku sangat berterima kasih kepadamu. Sebab perjalanan ini ternyata telah memberikan dorongan yang luar biasa atas tekad dan gairah perjuangan anak-anak Menoreh. Bukan saja mereka yang ikut di dalam pasukan berkuda itu, tetapi cerita mereka tentang perjalanan mereka ternyata mempunyai akibat yang sangat baik.”

“Terima kasih, Ki Gede. Tetapi sayang, bahwa di antara mereka ada yang terluka parah.”

“Ya, memang terlampau sulit untuk menghindarinya. Dalam permainan senjata kadang-kadang kita memang akan terdorong karenanya. Itu adalah akibat yang sangat wajar.”

“Dan aku pun akan segera mengobati mereka.” berkata gembala tua itu. Kemudian, “Namun sebelumnya aku ingin memperkenalkan kedua kawan-kawanku ini.”

Ki Argapati mengerutkan keningnya. “Siapakah mereka itu?”

Gembala itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Apakah Ki Argapati pernah mengenal anak muda yang bernama Sutawijaya bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar?”

Ki Argapati menganggukkan kepalanya. “Ya. Aku pernah mendengar meskipun aku belum pernah mengenalnya dari dekat. Bukankah anak muda itu Putera angkat Sultan Hadiwijaya?”

“Tepat. Dan kedua orang ini adalah orang-orang kepercayaannya. Yang seorang bernama Hanggapati dan yang lain Dipasanga.”

“O,” Ki Argapati yang kemudian duduk di pinggir pembaringannya menganggukkan kepalanya. “Maaf. Aku belum tahu sebelumnya.”

Kedua orang itu pun mengangguk pula. Hanggapati menjawab, “Kami pun minta maaf, bahwa kami telah mengganggu Ki Gede.”

“Tidak,” gembala tua itulah yang memotongnya, “kalian berdua sama sekali tidak menggangu.” Lalu kepada Ki Gede ia menceritakan maksud kedatangan kedua orang itu. Meskipun ia sama sekali tidak mengatakan bahwa saat itu, Sutawijaya pun sedang berada di Menoreh.

“Keduanya diutus untuk melihat keadaan di Tanah Perdikan ini,” berkata gembala tua itu. “Namun dalam keadaan yang kalut serupa ini, keduanya diberi wewenang untuk mengambil sikap. Sidanti dan Argajaya adalah orang-orang yang pernah secara langsung dan pribadi mempunyai persoalan dengan Angger Sutawijaya.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian jawabnya, “Aku akan sangat berterima kasih sekali atas perhatian itu. Lalu, apakah yang akan kalian lakukan selanjutnya?”

Hanggapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Aku akan menyerahkan tenagaku yang tidak berarti ini. Apakah yang akan dapat aku lakukan, dan sudah tentu demikian juga Adi Dipasanga, pasti akan kami lakukan.”

“Terima kasih. Aku akan sangat berterima kasih.” Kemudian Ki Gede berpaling kepada Samekta, “Inilah pimpinan yang aku serahi tanggung jawab atas pasukan Menoreh. Nah, bantuan kalian berdua akan diterimanya dengan kedua belah tangan.”

Samekta pun kemudian menganggukkan kepalanya. Katanya, “Di dalam pergolakan seperti ini, maka setiap kekuatan akan sangat berarti bagi kami. Dan kami akan mengucapkan terima kasih.”

Kedua orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun demikian, mereka mencoba untuk mengerti dan menyesuaikan dirinya. Sebenarnya keduanya tidak terlampau banyak mengerti, persoalan-persoalan apa yang telah terjadi di Tanah Perdikan Menoreh, dan persoalan-persoalan apa yang pernah timbul antara mereka, para penghuni Tanah Perdikan ini dengan Sutawijaya. Tetapi karena perintah anak muda itulah, maka ia berada di tengah-tengah pergolakan yang sedang membakar Tanah Perdikan ini.

“Untuk seterusnya,” berkata Hanggapati kemudian, “kami memerlukan petunjuk-petunjuk dan perintah-perintah, apakah yang harus kami lakukan, karena kami belum banyak mengerti tentang persoalan yang sedang di hadapi oleh Ki Gede Menoreh.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Tentu kami akan berusaha untuk menunjukkan arah perjuangan kami untuk menegakkan kesatuan kembali setelah beberapa saat Tanah ini dipecah oleh nafsu yang tidak terkendalikan dari seorang yang menyebut dirinya Ki Tambak Wedi. Tetapi, bukan maksud kami untuk memberikan perintah kepada Ki Sanak berdua, namun kami ingin menempatkan Ki Sanak berdua bersama dengan Kiai Dukun atau gembala tua itu, atau apa pun namanya, dalam satu pertukaran pikiran menghadapi keadaan yang semakin memuncak.”

Gembala tua itu tersenyum. Katanya, “Kenapa Ki Gede kebingungan menyebut jabatanku?”

Ki Gede pun tersenyum pula. Katanya kemudian, “Nah, sekarang kalian kami persilahkan untuk beristirahat sejenak. Pasukan berkuda itu pasti membuat Ki Tambak Wedi menjadi marah. Sehingga dengan demikian perkembangan keadaan akan dapat dipercepat.”

“Ya, kemungkinan itu memang ada,” jawab gembala tua itu.

“Karena itu, aku akan minta kalian nanti, apabila kalian telah beristirahat meskipun sejenak, untuk membicarakan masalah yang menjadi semakin memuncak ini.”

“Baiklah,” jawab gembala tua itu, “sekarang aku minta diri. Orang-orang yang terluka memerlukan segera mendapat pertolongan. Pertolongan darurat itu hanya dapat menolong dalam waktu yang sangat terbatas.”

“Silahkan, Kiai.”

Sejenak kemudian gembala tua beserta kedua orang kepercayaan Sutawijaya itu pun meninggalkan ruangan itu. Bersama dengan Gupala dan Gupita mereka diantar ke tempat yang telah disediakan untuk mereka. Tetapi gembala tua itu kemudian meninggalkan kedua orang kepercayaan Sutawijaya itu beserta Gupala dan Gupita. Ia sendiri pergi untuk mengobati orang-orang yang terluka pada saat mereka memasuki padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Sedang Samekta, setelah berbicara beberapa lama dengan Ki Argapati, kemudian pergi ke regol padukuhan untuk memimpin langsung pengawasan terhadap setiap kemungkinan.

Wrahasta yang kemudian mendengar dari Samekta, bahwa telah datang dua orang kepercayaan Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar, menjadi ragu-ragu pula. Katanya, “Apakah kau yakin tentang kedua orang itu?”

“Meskipun mereka berpakaian sederhana seperti kita, tetapi menilik sikapnya, mereka adalah prajurit-prajurit dari istana Pajang. Atau setidak-tidaknya mereka adalah orang-orang istana,” jawab Samekta.

Wrahasta mengerutkan keningnya. Gumamnya, “Mudah-mudahan.”

Dalam pada itu, Samekta pun telah meningkatkan kewaspadaannya pula. Mereka menyadari bahwa akibat pasukan berkuda yang menyusup ke padukuhan induk itu, pasti akan mempercepat tindakan Ki Tambak Wedi. Karena itu, maka setiap jengkal tanah kini tidak terlepas dari pengawasan dan pertahanan.

Ketika matahari kemudian mendaki langit di ujung Timur, maka Ki Argapati pun telah memanggil beberapa orang yang pantas untuk dibawa membicarakan masalah yang dihadapi oleh Tanah Perdikan Menoreh. Di antara mereka adalah Samekta, Wrahasta, gembala tua yang cakap mengobati itu, dan kedua orang kepercayaan Sutawijaya, Hanggapati dan Dipasanga. Sedang Gupala dan Gupita harus tinggal saja di luar sambil menunggu perkembangan pembicaraan itu.

Sementara itu, ketika keduanya sedang duduk di halaman sambil berbicara tentang apa saja, tentang juntai yang berwarna kekuning-kuningan yang kini dililitkan di leher baju Gupala, sampai kepada kambing-kambing yang mereka tinggalkan, dari balik daun pintu samping sepasang mata sedang mengawasi mereka. Sepasang mata seorang gadis yang membawa pedang rangkap di kedua belah lambungnya.

Gadis itu, Pandan Wangi melihat kedua anak-anak muda itu dengan kesan yang aneh. Gupita adalah seorang anak muda yang mengagumkan. Tenang dan memiliki kemampuan yang tinggi. Tingkah lakunya kadang-kadang menimbulkan berbagai macam pertanyaan. Ada beberapa pertentangan sifat yang dilihatnya pada anak muda itu. Anak muda itu kadang-kadang bersikap acuh tak acuh dan bahkan kekanak-kanakan. Namun kadang-kadang menjadi bersungguh-sungguh dan seakan-akan seorang perasa.

Sedang yang seorang lagi yang diakuinya sebagai saudaranya adalah seorang anak muda yang gemuk, yang memiliki kekhususan pula. Wajahnya terlampau cerah, dan bibirnya selalu dihiasi dengan senyum dan tawa. Anak muda yang gemuk itu seakan-akan tidak pernah menyimpan persoalan yang bersungguh-sungguh di dalam hatinya. Wajahnya yang bersih dan bulat itu menimbulkan kesan tersendiri di hati Pandan Wangi.

Pandan Wangi terkejut ketika ia mendengar suara perempuan tua penghuni rumah itu memanggilnya. Dengan tergesa-gesa ia pergi mendapatkannya, “Ada apa, Bibi?”

“Air panas itu telah tersedia bersama beberapa potong makanan.”

“Oh,” Pandan Wangi yang meskipun membawa sepasang pedang rangkap itu pun segera mengetahui tugasnya. Dicarinya sebuah nampan kayu untuk membawa minuman dan makanan itu ke dalam bilik Ayahnya, tempat orang-orang terpenting sedang berbicara tentang nasib Tanah Perdikan ini.

Ketika Pandan Wangi masuk ke dalam bilik ayahnya, agaknya pembicaraan telah menjadi terlampau jauh, sehingga apa yang didengarnya tidak dapat dimengertinya. Ia hanya mendengar kata-kata ayahnya, bahwa lukanya telah jauh berkurang. “Aku telah mampu turun ke medan apabila setiap saat Ki Tambak Wedi menghendaki.”

Pandan Wangi tertegun sejenak. Ia menjadi berdebar-debar. Apakah ayahnya benar-benar akan langsung memimpin peperangan dalam keadaannya itu. Ketika ia berpaling memandangi wajah ayahnya, ia melihat ayahnya itu tersenyum kepadanya. “Aku benar-benar sudah menjadi baik, Pandan Wangi. Mungkin aku belum pulih kembali seperti sediakala. Tetapi tenagaku agaknya sudah cukup memadai.”

“Tetapi,” Pandan Wangi menjadi ragu.

“Kau meragukan?”

“Ya, Ayah.”

“Itu adalah wajar sekali, Wangi. Tetapi ternyata obat yang diberikannya kepadaku akhir-akhir ini adalah obat yang tiada taranya. Lukaku telah hampir menjadi sembuh sama sekali.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Disambarnya sekilas dengan sudut matanya, Samekta, Wrahasta, kemudian dua orang yang baru saja hadir di padukuhan itu. Namun Pandan Wangi tidak berkata apa-apa lagi. Perlahan-lahan ia melangkah keluar sambil menjinjing nampan kayu.

Sepeninggal Pandan Wangi, maka mereka pun melanjutkan pembicaraan mereka sehingga akhirnya mereka menemukan suatu kesimpulan.

“Nah, begitulah,” berkata Ki Argapati, “aku tidak dapat berbuat lain daripada menerima saran itu.”

“Tetapi itu berbahaya sekali, Ki Gede,” berkata Wrahasta.

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. “Memang cara ini dapat menimbukan akibat yang besar bagi pertahanan kita. Tetapi apabila berhasil, maka jalan selanjutnya pasti sudah terbuka.”

Wrahasta mengerutkan keningnya. Bahkan kemudian ia menggeram, “Sejak semula aku ingin menyandarkan segala persoalan atas kekuatan dan perhitungan imbangan kekuataan di antara kita sendiri. Kita akan meyakini segala persoalan tanpa ragu-ragu.”

“Aku sependapat dengan kau, Wrahasta,” berkata Ki Argapati, “tetapi kita tidak dapat mengingkari kenyataan yang kita hadapi. Dan apakah keberatan kita atas segala kebaikan hati dari mereka yang memang mempunyai persoalan dengan Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya?”

Wrahasta tidak segera menyahut.

“Aku dapat meyakinkan kau, Wrahasta, bahwa tidak ada pamrih apa pun pada mereka. Apalagi kedua orang kepercayaan putera Sultan Pajang. Adalah hak mereka untuk berbuat sesuatu terhadap orang-orang yang mempunyai persoalan dengan mereka. Dan adalah kebetulan sekali bahwa kita bersama-sama mempunyai persoalan yang dapat di ambil arah sejalan. Tetapi jangan takut, bahwa aku telah mengorbankan kepentingan tanah perdikan ini. Bahwa aku telah menjual beberapa kepentingan karena aku ingin mempertahankan kedudukanku sebagai kepala tanah perdikan.”

Ki Argapati terdiam sejenak. Lalu, “Bukankah kau mendengarkan pembicaraan ini dari mula sampai akhir, sehingga kau tidak menemukan bentuk-bentuk perjanjian atau imbalan apa pun atas mereka itu? Kita secara kebetulan mempunyai kepentingan yang sama, yang dapat saling membantu. Itulah masalah yang sedang kita hadapi sekarang. Jadi, bentuk kerja sama ini agak berbeda dari Ki Peda Sura dan orang-orangnya, bahkan orang-orang lain lagi yang datang atas permintaan Ki Tambak Wedi, Argajaya, dan Sidanti. Kepada setiap bantuan yang aku terima sama sekali bukan karena aku menawarkan apa pun juga sebagai imbalannya.”

Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan-lahan.

“Nah, apakah kau dapat mengerti?”

“Aku mengerti, Ki Gede,” jawabnya. “Tetapi tidak semua orang tidak berpamrih seperti mereka yang ada di dalam ruangan ini. Meskipun mereka tidak menginginkan imbalan yang berupa harta benda atau kedudukan, tetapi masih mungkin ada pamrih-pamrih lain yang mendorong mereka untuk berkorban apa saja.”

Ki Argapati mengerutkan keningnya. “Apakah kau dapat menyebutkan, Wrahasta?”

Wrahasta menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak mengucapkannya, meskipun serasa menyesak di dalam dadanya.

“Katakanlah, Wrahasta,” desak Ki Argapati. “Jangan ragu-ragu. Semua ini untuk kebaikan kita bersama?”

Tetapi Wrahasta menggelengkan kepalanya. “Tidak, Ki Gede. Aku hanya sekedar berprasangka.”

Ki Argapati memandang wajah Wrahasta dengan tajamnya. Tetapi wajah anak muda yang bertubuh raksasa itu menunduk.

Namun Ki Argapati itu kemudian berkata, “Baiklah. Kita akan melihat perkembangan keadaan. Memang kita masing-masing pasti mempunyai pamrih. Tetapi tidak sekedar pamrih pribadi.”

Hampir saja Wrahasta menyahut. Justru pamrih pribadilah yang mendorong anak gembala itu menyediakan dirinya, bahkan dengan seluruh keluarganya untuk membantu Ki Argapati. Tetapi untunglah bahwa ia masih mampu menahan perasaannya itu. Sehingga apa yang telah hampir terucapkan itu seolah-olah ditelannya kembali.

Dengan demikian, maka ruangan itu di sambut oleh kesepian sejenak. Kemudian terdengar Ki Argapati berkata, “Apakah masih ada persoalan yang akan kita bicarakan?”

Tidak seorang pun yang menjawab.

“Baiklah. Kalau tidak, aku akan mengambil keputusan. Semua dilaksanakan seperti rencana tersebut. Apabila terdapat kesulitan, kita akan melihat perkembangan suasana.” Kemudian kepada Samekta ia berkata, “Aturlah semua persiapan, Samekta. Sampaikan semua keputusan ini kepada pemimpin-pemimpin yang terpercaya. Kerti dapat kau panggil dan kau tempatkan di pedukuhan ini pula.”

“Ya, Ki Gede.”

“Jagalah baik-baik, bahwa masalah-masalah terpenting hanya boleh kita ketahui bersama.”

“Ya, Ki Gede,” jawab Samekta sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sekarang, mulailah dengan segala macam persiapan. Aku akan mencoba memantapkan diriku sendiri, sehingga apabila setiap saat aku harus turun ke medan perang, seperti yang direncanakan, aku tidak akan mengecewakan.”

“Silahkan, Ki Gede. Kami minta diri.”

“Aku sangat berterima kasih kepada kesediaan kalian, baik dari keluarga Tanah ini maupun yang menaruh perhatian terhadap keadaannya. Mudah-mudahan kita berhasil.”

Orang-orang yang berada di dalam bilik Ki Gede itu pun kemudian bersama-sama meninggalkannya. Masing-masing pergi ke tempatnya. Gembala tua dan kedua orang kepercayaan Sutawijaya itu kemudian kembali ke tempat yang sudah disediakan untuk mereka bersama-sama dengan Gupala dan Gupita. Seperti orang-orang Menoreh, mereka pun harus mempersiapkan diri mereka apabila setiap saat mereka harus turun ke medan.

Gupala dan Gupita pun kemudian mendapat petunjuk-petunjuk dari gurunya. Apa yang harus mereka kerjakan apabila waktunya telah datang.

“Apakah Ki Argapati tahu dengan pasti, kapan Ki Tambak Wedi akan menyerang?” bertanya Gupita.

Gurunya menggelengkan kepalanya, “Belum. Namun kita harus memperhitungkan bahwa setiap saat hal itu dapat terjadi, sehingga kita harus dapat melakukannya setiap saat pula.

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian Gupala bertanya, “Tetapi apakah Pandan Wangi dapat dipercaya untuk melakukan tugasnya itu?”

“Menurut Ki Argapati, ia percaya bahwa Pandan Wangi akan dapat melakukannya.”

“Pekerjaan itu memang terlalu berat untuknya. Tetapi mudah-mudahan ia berhasil,” gumam Gupita.

Gurunya tidak menyahut. Tetapi tatapan matanya jauh menembus cahaya matahari yang bermain di halaman, hinggap pada bayangan dedaunan yang bergerak-gerak dihembus angin yang lemah.

Ruangan itu pun kemudian sejenak disambar oleh kesenyapan. Namun kemudian Gupala dan Gupita minta diri untuk berada di halaman, karena udara yang terlampau panas.

Dengan dada yang berdebar-debar mereka menyaksikan kesibukan para pengawal. Persiapan-persiapan yang semakin memuncak karena perkembangan keadaan yang memuncak pula.

Apalagi setelah beberapa orang petugas sandi sempat melaporkan, bahwa mereka pun melihat persiapan yang matang pada pasukan Ki Tambak Wedi.

“Tidak akan lebih dari malam nanti,” desis Gupita.

“Ya. Aku kira malam nanti Ki Tambak Wedi akan datang,” jawab Gupala. “Namun cara yang akan kita pergunakan cukup menarik.”

“Tetapi juga sangat berbahaya bagi Ki Argapati dan Pandan Wangi itu sendiri,” gumam Gupita. “Tetapi kita tidak dapat berbuat banyak.”

“Kalau aku diperkenankan, aku akan bertempur bersamanya,” desis Gupala.

Gupita mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling ke arah anak muda yang gemuk itu, tiba-tiba Gupala tertawa sambil berdiri.

Namun ia masih juga berkata, “Mudah-mudahan aku mendapat kesempatan.”

“Dalam hiruk-pikuk serupa ini, kau masih sempat juga mimpi.”

“Mimpi yang paling mengasyikkan justru apabila kita tidak sedang tidur nyenyak. Bukankah begitu? Dalam hiruk-pikuk yang beginilah kadang-kadang kita menemukan suatu perkembangan jalan hidup kita tanpa kita duga-duga. Bukankah dalam hiruk-pikuk juga kau bertemu dengan seorang gadis, justru pada suatu saat yang menentukan buat Sangkal Putung?”

“Ah,” Gupita berdesah. Dan Gupala masih juga tertawa berkepanjangan sambil meninggalkan Gupita yang masih duduk di tempatnya seorang diri.

Sejenak bayangan seorang gadis yang manja dan keras hati melintas di dalam kepalanya. Kemudian disusul oleh sebuah bayangan yang lain. Seorang gadis yang dalam keadaan terakhir selalu membawa sepasang pedang rangkap di lambungnya.

Gupita kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berdesis, “Ah, lebih baik aku membuat pertimbangan-pertimbangan tentang setiap kemungkinan yang dapat terjadi di padukuhan ini.”

Namun tiba-tiba ia berpaling ketika ia melihat seseorang mendatanginya. Seorang anak muda yang bertubuh raksasa.

Dada Gupita menjadi berdebar-debar melihat wajah Wrahasta yang tampak bersungguh-sungguh. Beberapa langkah daripadanya Wrahasta berhenti. Diedarkannya pandangan matanya ke seluruh halaman, tetapi ketika tidak ada seorang pun yang dilihatnya, maka ia pun segera melangkah beberapa langkah lagi.

“Gupita,” suaranya bernada berat, “aku masih tetap pada pendirianku. Aku tidak menghendaki kau hadir di sini. Tetapi agaknya ayahmu mendapat tempat di hati Ki Argapati. Karena itu, aku perlu memperingatkan kau sekali lagi, bahwa kau tidak disukai di padukuhan ini.”

Gupita menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak senang selalu mendapat pringatan semacam itu. Meskipun demikian ia masih harus tetap menjaga dirinya. Namun meskipun demikian ia menjawab, “Wrahasta. Aku tidak akan bersitegang untuk tinggal di padukuhanmu. Pada suatu ketika apabila pekerjaanku sudah selesai, maka aku pun akan segera pergi. Disukai atau tidak disukai, namun aku harus melakukan tugas yang dibebankan kepadaku. Baik oleh ayah maupun oleh Ki Argapati.”

“Aku mengharap kau memegang janjimu. Kalau tidak, maka setelah semua persoalan di atas tanah perdikan ini selesai, kau akan menyesal. Kalau kau tidak menepatinya, maka kita harus membuat perhitungan tersendiri.”

Dada Gupita berdesir. Tetapi ia tidak menjawab. Dibiarkannya Wrahasta berbalik dan melangkah meninggalkannya. Hampir tanpa berkedip Gupita memandang langkah itu. Langkah yang tegap penuh keyakinan pada diri sendiri. Tetapi kemudian Gupita menjadi kecewa, bahkan menaruh belas kasihan kepada raksasa itu.

Meskipun demikian. Gupita masih selalu berusaha untuk menguasai diri. Apalagi keadaan sudah menjadi sedemikian panasnya. Keadaan yang tidak dikehendaki akan segera dapat meletus setiap saat. Mungkin sebentar lagi. Mungkin di saat senja mulai turun, atau mungkin pada saat matahari tepat meluncur ke balik perbukitan. Tetapi mungkin juga setelah malam menjadi kelam atau mungkin juga tidak sama sekali di hari-hari yang dekat ini. Meskipun demikian, Gupita menyadari bahwa kekuatan seutuhnya sedang diperlukan untuk menanggapi keadaan yang telah memuncak ini.

Matahari pun semakin lama menjadi semakin tergeser ke Barat. Di saat-saat cahayanya menjadi kemerah-merahan, maka para pengawal menjadi kian sibuk. Hari itu ternyata telah mereka lampaui tanpa ada sesuatu peristiwa apa pun. Namun dengan demikian, maka mereka menjadi semakin berhati-hati. Mereka mempunyai dugaan kuat, bahwa Ki Tambak Wedi akan mengambil kesempatan di malam hari.

Karena itu, maka segala macam persiapan pun dilakukan. Alat-alat pelontar dan berbagai macam senjata jarak jauh. Senjata yang paling sederhana, pelontar batu, sampai pada panah-panah yang hampir tidak terhitung jumlahnya.

Pada saat yang demikian, Gupala, Gupita, dan gurunya telah siap pula untuk melakukan rencana yang telah disetujui bersama. Bersama sepasukan pengawal mereka harus meninggalkan padukuhan itu. Mereka harus bersiap dan berada di luar, seandainya padukuhan itu akan dikepung rapat-rapat. Mereka harus memperhitungkan pula suatu kemungkinan, bahwa Ki Tambak Wedi akan mengambil suatu cara, untuk menutup padukuhan itu sama sekali dalam waktu yang tidak terbatas, sehingga mereka akan kehilangan kemungkinan berhubungan dengan daerah-daerah dan perdukuhan-perdukuhan lain. Terutama dalam soal persediaan makan.

Sejenak kemudian, sebelum regol pedukuhan itu tertutup oleh ujung senjata pasukan Ki Tambak Wedi, gembala tua bersama kedua anak-anaknya telah meninggalkan padukuhan itu untuk bersembunyi di pategalan yang tidak terlampau jauh. Mereka mendapat tugas yang khusus, tugas yang tidak dapat dilakukan oleh pasukan yang berada di dalam padukuhan. Mereka harus dapat bergerak cepat ke segenap penjuru. Juga apabila ada kemungkinan Ki Tambak Wedi tidak menyerang lewat gerbang induk.

Argapati yang sudah menjadi semakin baik, melepas mereka sampai ke pintu gerbang. Kemudian sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia bergumam, “Aku percaya kepada mereka.”

Pandan Wangi yang berdiri di sampingnya berpaling. Tanpa sesadarnya ia bertanya, “Apa, Ayah?”

Ki Argapati terkejut. Namun kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Aku percaya kepada mereka. Dan aku percaya bahwa aku pernah mengenal orang tua itu sebelum ini. Bepapa pun ia mengingkari dirinya sendiri. Aku tidak tahu, apakah alasannya, sehingga ia lebih senang bermain-main dengan segala macam nama dan keadaan.”

“Siapakah sebarsarnya orang-orang itu, Ayah?” bertanya Pandan Wangi dengan serta-merta.

Tetapi ayahnya masih saja tersenyum dan menjawab, “Entahlah.”

“Tetapi Ayah sudah menyebutnya?”

Ki Argapati menggelengkan kepalanya. “Aku hanya menduga-duga. Tetapi lebih baik aku tidak mengatakan apa pun tentang mereka daripada aku akan keliru.”

Pandan Wangi tidak bertanya lagi. Ia pun kini memandangi pasukan yang menjadi semakin jauh. Bahkan kadang-kadang seolah-olah hilang ditelan oleh rumput-rumput liar dan batang-batang ilalang yang menjadi semakin tinggi.

Namun masih juga terbayang di angan-angan gadis itu, dua orang anak-anak muda yang seakan-akan dibayangi oleh kabut rahasia yang tidak tertembus oleh penglihatannya.

Pandan Wangi itu tersedar ketika ia mendengar ayahnya berkata, “Marilah kita beristirahat sambil menunggu, apa yang akan terjadi malam ini.”

“O,” Pandan Wangi tergagap, “mari, Ayah.”

“Kita tidak akan kembali ke pondok kita. Kita akan tinggal di pusat pimpinan pasukan Menoreh bersama dengan Wrahasta, Samekta, dan Kerti. Setiap saat kita pasti akan diperlukan.”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya.

Kemudian diiringi oleh para pemimpin pasukan pengawal, Ki Argapati pun pergi ke rumah yang dipergunakan sebagai pusat pimpinan pasukan. Di situlah Samekta, Wrahasta dan kadang-kadang Kerti selalu membicarakan dan merencanakan segala sesuatu. Kini jumlah mereka pun bertambah lagi dengan dua orang dari Pajang. Hanggapati dan Dipasanga.

Meskipun mereka duduk dalam satu tingkatan, di atas sehelai tikar pandan, namun hampir tidak seorang pun dari mereka yang berbicara. Mereka sedang sibuk dengan angan-angan masing-masing. Bayangan-bayangan dan gambaran tentang apa saja yang akan terjadi di atas tanah perdikan ini.

Sementara itu, Ki Tambak Wedi pun sedang sibuk mengatur barisannya. Ia tidak ingin menunda lagi sampai besok dan apalagi lusa. Ia sudah berketetapan hati, seperti tekad yang menyala di dalam dada Sidanti, Argajaya, dan para pemimpin yang lain. Malam ini pertahanan Argapati harus dipecah. Benteng pring ori itu harus menjadi karang abang. Dan pasukan pengawal Menoreh harus di hancur-lumatkan supaya mereka tidak membuat persoalan-persoalan baru di hari-hari mendatang.

“Tidak seorang pun akan mendapat perlakuan khusus!” teriak Ki Tambak Wedi.

Sidanti dan Argajaya mengangkat senjata masing-masing sambil menyambut ucapan-ucapan itu. “Semua harus dimusnahkan.”

Namun ketika setiap mulut meneriakkan semangat yang serupa, Sidanti menundukkan wajahnya. Terbayang di dalam angan-angannya, seorang gadis kecil yang berlari-lari sambil menangis. Kemudian memeluknya dan membasahi dadanya dengan air mata.

“Kakang, Kakang, anak itu nakal, Kakang,” tangis gadis kecil itu.

Setiap kaii ia menjadi marah. Dan setiap kali ia berkata, “Ayo, jangan hanya berani dengan anak perempuan. Lawan aku.”

Dada Sidanti menjadi berdebar-debar. Ia tidak pernah berhasil melupakan masa kecil yang baginya kini tinggal gambaran-gambaran dari sebuah mimpi yang menyenangkan. Sama sekali tidak pernah terbayang, bahwa kini, ia dan Pandan Wangi, akan berdiri berseberangan sebagai lawan. Dan ia sendiri telah meneriakkan, “Semua harus dimusnahkan!”

“Apakah yang akan terjadi atas Pandan Wangi nanti?” pertanyaan itu tidak pernah dapat terhapus dari hatinya. Hati seorang kakak, meskipun suatu kenyataan telah dihadapkan kepadanya, bahwa mereka ternyata tidak seayah.

Tetapi apakah yang dapat dilakukan selagi kedua belah pihak sudah berhadapan dengan menggenggam senjata-senjata telanjang di tangan? Apakah Pandan Wangi juga selalu dibimbangkan oleh hubungan keluarga di antara mereka.

“Persetan!” Sidanti mencoba untuk memperteguh hatinya apabila ia nanti berangkat ke peperangan. “Kalau aku dapat menghindar, aku akan menghindar. Aku akan mencari korban-korban lain. Terserahlah kepada keadaan, apakah Pandan Wangi dapat menyelamatkan dirinya atau tidak. Tetapi kalau aku harus berhadapan?” Sidanti menarik nafas dalam-dalam.

Sidanti terkejut ketika ia mendengar Argajaya bertanya dengan ragu-ragu, “Apakah yang kau renungkan?”

Sidanti menggelengkan kepalanya, “Tidak. Aku tidak sedang merenungkan apa-apa.”

Namun temyata Ki Tambak Wedi pun melihat keragu-raguan yang mewarnai wajah Sidanti. Sehingga orang tua itu langsung menebaknya, “Kau mengenangkan adikmu perempuan itu?”

Sidanti tidak menyahut.

“Sudah aku katakan. Semuanya harus dimusnahkan. Juga Pandan Wangi. Kalau ia dibiarkan hidup, ia akan menjadi benih yang baik untuk tumbuh kelak menjadi sebuah pohon berduri.”

Sidanti tidak mengucapkan sepatah kata pun.

“Bagimu, Sidanti, adik perempuanmu itu akan menjadi tawur, menjadi rabuk yang akan membuat Tanahmu ini menjadi tanah yang subur seperti yang kau harapkan.”

Sidanti masih tetap berdiam diri. Bahkan terbayang di rongga matanya perlakuan orang-orang liar yang ada di dalam pasukannya. Hampir saja Pandan Wangi menjadi korban mereka, seandainya Pandan Wangi bukan seorang yang memang cukup mampu membela dirinya.

Namun kenangan itu tiba-tiba telah mendorong Sidanti untuk berteriak, “Ya, Pandan Wangi juga harus dimusnahkan.”

Ki Tambak Wedi dan Argajaya tertegun sejenak melihat Sidanti tiba-tiba saja meneriakkan kata-kata itu. Terasa bahwa anak muda itu telah berjuang sekuat tenaga, sehingga ia terpaksa meledakkan dadanya yang serasa pepat.

Tetapi sebenarnya Sidanti telah benar-benar berkeputusan demikian. Agaknya hal itu akan menjadi lebih baik bagi adiknya. Kalau ia tertangkap hidup-hidup, maka kemungkinan yang paling pahit akan dapat terjadi. Apabila Pandan Wangi jatuh ke tangan-tangan serigala yang kelaparan itu, maka sudah terbayang di dalam kepalanya, bahwa ia harus bertindak. Mungkin ia terpaksa melakukan kekerasan, sehingga perkelahian tidak akan dapat dihindarinya lagi.

Sejenak kemudian pasukan Tambak Wedi itu pun telah siap untuk melakukan tugasnya. Untuk melawan lontaran-lontaran senjata jarak jauh, sebagian dari pasukan Ki Tambak Wedi itu diperlengkapi dengan perisai. Karena perisai-perisai yang terbuat dari kepingan baja tidak mencukupi, maka sebagian telah membuat perisai-perisai dari kayu. Tetapi perisai-perisai yang demikian, tidak kalah manfaatnya dari perisai-perisai besi. Bukan baja untuk melawan senjata-senjata jarak jauh, tetapi dalam perang beradu dada, perisai yang demikian pun dapat sangat berguna. Ujung senjata lawan yang tertancap pada perisai-perisai kayu, apabila perisai itu disentakkan, maka senjata lawan tersebut akan dapat terenggut.

Demikinlah, pada saatnya, ketika matahari telah tenggelam di balik perbukitan, serta malam telah mulai turun menyelubungi Tanah Perdikan Menoreh, maka mulailah pasukan Ki Tambak Wedi itu merayap ke luar dari padukuhan induk untuk menuju ke padukuhan Karang Sari, tempat pertahanan yang di susun dengan tergesa-gesa oleh pasukan pengawal Menoreh pada saat mereka meninggalkan padukuhan induk. Namun adalah suatu keuntungan, bahwa padukuhan itu dilingkari oleh rumpun-rumpun pring ori yang rapat, sehingga merupakan benteng yang sangat bermanfaat bagi pertahanan mereka.

Ki Tambak Wedi yang memegang langsung pimpinan pasukan itu, berjalan di paling depan bersama Sidanti dan Argajaya. Kemudian di belakang mereka berjalan Ki Peda Sura yang telah sembuh dari luka-lukanya, bersama Ki Wasi dan Ki Muni.

Setiap dada dari mereka yang berada dalam barisan itu serasa bergejolak semakin keras. Namun hampir setiap orang memastikan, bahwa mereka akan dapat memecah pertahanan Ki Argapati. Menurut perhitungan mereka, kekuatan Ki Argapati sangat terbatas. Meskipun mungkin mereka mempunyai jumlah orang yang seimbang, namun tidak ada orang lain yang dapat di percaya oleh Ki Argapati selain Pandan Wangi seorang diri. Apalagi Ki Argapati pasti belum sembuh benar dari luka-lukanya.

Meskipun perhitungan Ki Muni meleset, dan ternyata Ki Argapati tidak mati, tetapi dalam keadaannya, maka Ki Argapati tidak akan dapat lagi berada dalam puncak kemampuannya. Sehingga bagaimana pun juga, maka untuk melawan Ki Tambak Wedi, agaknya tidak mungkin lagi dapat dilakukan. Kalau ia dapat bertahan untuk beberapa lama, namun pada saatnya ia pasti akan kehabisan tenaga. Dan saat terakhir dari Kepala Tanah Perdikan itu pun akan segera datang.

Di perjalanan Ki Tambak Wedi masih sempat memberikan beberapa petunjuk kepada Sidanti dan Argajaya. Bahkan juga kepada Ki Peda Sura, Ki Wasi dan Ki Muni. Menurut penilaian Ki Tambak Wedi, maka para pengawal tanah perdikan akan mengambil cara seperti yang pernah dilakukannya. Mereka akan membentuk kelompok-kelompok kecil dari mereka yang terpilih untuk melawan para pemimpin pasukan lawan. Kalau mereka tidak mempunyai orang-orang yang mampu dihadapkan seorang lawan seorang, maka kelompok-kelompok itulah yang akan mereka pasang, untuk melawan pimpinan lawan. Untuk menghadapi kelompok-kelompok itulah maka setiap pemimpin pasukannya pun harus membuat kelompok-kelompok yang serupa. Sehingga pada saatnya orang-orang yang diperlukan dapat berdiri bebas dan dapat melakukan apa saja yang penting bagi mereka. Dalam hal ini, mencari korban sebanyak-banyaknya, karena mereka telah bertekad untuk menghancurkan dan memusnahkan lawan mereka tanpa seorang pun yang akan mendapat perlakuan khusus.

Mereka yang mendapat petunjuk itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Terbayang di kepala mereka, apa yang dapat mereka lakukan. Sebentar lagi senjata-senjata mereka akan menari-nari dalam bujana yang menggairahkan. Dan mereka telah mulai menghitung-hitung korban yang akan dapat mereka binasakan.

Semakin dekat iring-iringan itu menjadi semakin bernafsu. Bahkan ada di antara mereka yang seolah-olah tidak dapat menahan diri lagi. Sambil meraba-raba hulu senjatanya seseorang berdesis, “Kenapa kita berjalan terlampau lamban.”

Kawan yang berjalan di sampingnya berpaling. Tetapi ia tidak menjawab.

“Kenapa?” orang yang pertama mendesak. Tetapi orang yang kedua masih tetap berdiam diri.

“Aku sudah tidak sabar lagi untuk menumpas orang-orang bodoh yang tidak tahu diri itu,” geram orang yang pertama.

Orang yang kedua menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan nada yang dalam ia berkata, “Apakah kau mau menolongku?”

“Kenapa? Apakah kau dalam kesulitan?”

“Tidak. Tetapi aku ingin minta kau diam. Hanya itu.”

Orang yang pertama mengerutkan keningnya. Wajahnya menjadi merah sesaat. Namun kemudian ia bergeramang tidak menentu.

Keduanya kemudian diam. Tetapi sebenarnyalah bahwa orang yang kedua sedang dirisaukan oleh keadaan yang bakal dihadapinya. Seperti Sidanti, ia mempunyai seorang saudara, bahkan seayah dan seibu yang berada di dalam lingkungan pasukan pengawal tanah perdikan yang setia kepada Argapati.

“Kakang memang orang bodoh,” ia berdesis di dalam hatinya, “ia tidak mau mendengar nasehatku. Sekarang ia menghadapi kehancuran. Hem,” orang itu menggigit bibirnya. “Sepeninggal ayah, aku seolah-olah telah menjadi bebannya. Ia mengurus aku lebih dari ayah semasa hidupnya. Sekarang aku akan berdiri berhadapan.”

Orang itu menundukkan kepalanya. Tetapi bukan hanya orang itu saja. Bukan hanya Sidanti, Argajaya yang akan berhadapan dengan kakak kandungnya sendiri, tetapi banyak di antara mereka yang akan mengalami keadaan serupa. Namun sebanyak-banyak jumlah orang, ada di antara yang justru menjadi bangga. Dengan menepuk dada ia berkata, “Aku akan menghunjamkan pedangku ini di dada ayahku sendiri karena ayah telah mengkhianati cita-cita rakyat Tanah Perdikan Menoreh. Sidanti sendiri telah berperang melawan ayahnya. Kenapa aku tidak sanggup?” Kemudian ia tertawa sambil memilin janggutnya. Kalau sekilas hati nuraninya tersentuh oleh bayangan ibunya, keluarganya, saudara-saudaranya, maka ia berusaha untuk menindasnya dengan kejam. Ternyata dirinya sendirilah yang pertama-pertama mengalami perlakuan yang paling kejam daripadanya. Ditumpasnya setiap percikan perasaan yang kembang dari hati nurani itu. Tanpa belas kasian.

Semakin lama maka iring-iringan itu menjadi semakin dekat dan semakin dekat. Iring-iringan yang dinafasi oleh kebencian. Kalau setiap orang menunduk dengan haru di dalam iring-iringan pengantar mayat ke kubur, maka setiap orang di dalam iring-iringan ini justru menengadahkan wajah-wajah mereka sambil menggeretakkan gigi, mencari mayat-mayat yang akan mereka bawa ke kubur.

Berbeda dengan hari-hari yang lewat, pasukan Ki Tambak Wedi kali ini justru tidak membawa sebuah obor pun. Mereka berjalan di dalam gelapnya malam, menyusur jalan yang berdebu menuju ke pertahanan pasukan Argapati.

Sementara itu para pengawal di pusat pertahanan pasukan Argapati pun telah siap menyambut kedatangan lawan mereka. Apalagi ketika mereka melihat di kejauhan beberapa pucuk panah api melontar ke udara. Ternyata para petugas sandi yang telah di tempatkan dan bersembunyi di beberapa tempat telah melihat kedatangan pasukan Ki Tambak Wedi.

Pertahanan Argapati pun menjadi sibuk. Samekta telah mengatur setiap kelompok pasukan di tempat yang sebaik-baiknya. Mereka harus dapat menanggapi keadaan yang bagaimana pun juga.

Argapati sendiri masih duduk bersama puterinya. Ia masih memberi beberapa petunjuk kepada gadis itu. Dalam tingkat ilmunya, sebenarnya Pandan Wangi sudah berada pada tataran tertinggi. Namun ia masih memerlukan pengalaman dan penghayatan yang cukup, agar ilmunya dapat dicernakannya di dalam dirinya, kemudian mengalir seperti air dari sumbernya.

“Seperti yang telah kita setujui bersama, Pandan Wangi,” berkata Ayahnya, “kali ini kau harus membantu aku menghadapi Ki Tambak Wedi. Sebenarnya aku sendiri sudah bersiap untuk melawannya meskipun lukaku belum sembuh benar. Tetapi keadaanku telah cukup baik. Obat yang diberikannya kepadaku itu benar-benar bekerja di luar dugaan. Namun keadaanku masih meragukan. Beberapa orang menasehatkan agar aku tidak menghadapinya sendiri. Maka kaulah yang aku pilih untuk bertempur bersamaku.”

Pandan Wangi tidak menyahut. Tetapi kepalanya tertunduk dalam-dalam.

“Ilmumu adalah ilmu yang kau terima daripadaku. Kau akan melihat pancaran ilmu itu dan mudah-mudahan kau segera dapat menyesuaikan dirimu. Namun hati-hatilah. Yang kita lawan bersama-sama adalah Ki Tambak Wedi. Iblis yang tiada taranya di dunia ini.”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya.

“Baiklah. Persiapkan dirimu lahir dan batin. Agaknya kita akan segera mulai.”

Dalam pada itu, Samekta pun telah melaporkan, bahwa para petugas telah melihat kedatangan pasukan, Ki Tambak Wedi. Tanda-tanda telah mereka berikan.

“Apakah kau yakin bahwa mereka akan benar-benar menyerang, atau hanya sekedar menakut-nakuti seperti biasanya?” bertanya Ki Argapati.

Samekta menggelengkan kepalanya, “Kami di sini belum tahu, Ki Gede. Tetapi kami sudah siap menghadapi segala kemungkinan.”

“Baiklah. Kau harus memberikan laporan setiap ada perkembangan baru.”

“Ya, Ki Gede. Wrahasta selalu berada di atas pelaggrangan di samping regol.”

“Kerti?”

“Ia berada di antara para pengawal regol itu. Sepasukan kecil di tempat pengungsian kali ini dipimpin oleh orang lain.”

“Tempatkan diri masing-masing dalam keadaan yang baik, di tempat-tempat seperti yang telah kita bicarakan.”

“Baik, Ki Gede.”

Sepeninggal Samekta, Ki Gede pun segera membenahi pakaiannya. Sebuah bayangan yang kelam melintas di kepalanya. Hari depan Tanah ini.

Tanpa sesadarnya Ki Gede berdesah. “Kenapa tanah perdikan yang dibinanya ini harus mengalami benturan di antara kadang sendiri, sehingga mengguncang seluruh tata kehidupan yang ada di dalamnya?”

“Aku tidak dapat selalu menyalahkan orang lain,” berkata Ki Gede itu di dalam hatinya, “kalau aku mampu mengikat setiap hati dari rakyat Menoreh, betapa pun mereka dibujuk dan dihasut, mereka tidak akan berpihak kepada orang lain. Tetapi ternyata bahwa sebagian dari rakyat Menoreh tidak dapat bertahan di tempatnya. Mereka telah berpaling kepada janji-janji yang diberikan oleh orang lain. Dan itu pertanda, bahwa perbawa dan pengaruhku sebagai pengikat Tanah ini masih jauh daripada sempurna.”

Sekilas Pandan Wangi menatap wajah ayahnya yang suram, ia tahu bahwa ayahnya sedang diliputi oleh kabut penyesalan. Karena itu, Pandan Wangi tidak mengganggunya. Bahkan ia sendiri dengan bersusah payah, sedang berusaha mengatasi gejolak di dalam dadanya. “Apakah pada suatu saat aku akan berhadapan dengan Kakang Sidanti? Atau dengan Paman Argajaya?”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi menurut ketentuan, yang telah disetujui bersama, ia tidak akan berhadapan dengan keduanya. Ia harus mendampingi ayahnya melawan Ki Tambak Wedi.

Dada Pandan Wangi menjadi berdebar-debar. Ia mengerti benar, siapakah Ki Tambak Wedi. Dan sebentar lagi ia harus bertempur melawannya, meskipun di samping ayahnya.

Sekali-kali dipandanginya kedua orang yang duduk diam sambil menimang cambuk. Yang seorang kadang-kadang tersenyum-senyum sendiri, sedang yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya mereka sedang merenungi jenis senjata yang berada di tangan mereka.

“Apakah Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga dapat memenuhi harapan kita bersama?” pertanyaan itu selalu mengganggu perasaan Pandan Wangi. “Tetapi keduanya adalah prajurit-prajurit Pajang. Mudah-mudahan mereka dapat menempatkan dirinya. Tetapi lawan yang dihadapinya kali ini adalah orang-orang yang tangguh.”

Dalam pada itu, di pategalan tidak terlampau jauh dari padukuhan itu, sepasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang lain sedang menunggu pula perkembangan keadaan. Mereka pun telah melihat tanda yang melontar di udara. Dan mereka pun hampir menjadi yakin, bahwa malam ini mereka harus bertempur mati-matian.

Di antara mereka, gembala tua dan kedua anak-anaknya duduk sambil berbicara tentang berbagai kemungkinan bersama para pemimpin kelompok pasukan Menoreh. Namun mereka menjadi tercengang-cengang ketika gembala tua itu mengambil sesuatu dari kantongnya kemudian melekatkannya di bawah hidungnya.

“He. Apakah itu, Kiai?” bertanya seseorang. “Apakah kumis Kiai sendiri tidak dapat tumbuh?”

Gembala itu tersenyum. Jawabnya, “Aku mengharap dengan kumis setebal ini, aku menjadi lebih garang, sehingga apabila aku bertemu dengan lawanku nanti, sebelum aku mulai bertempur mereka telah lari terbirit-birit.

Betapa dada mereka dicengkam oleh ketegangan, namun beberapa di antara mereka sempat juga tertawa berkepanjangan. Salah seorang dari mereka berkata, “Begitu mudahnya, Kiai? Bagaimana kalau kita semua memakai kumis palsu sebesar itu? Apakah musuh kita nanti akan segera menarik diri sebelum bertempur?”

Kawan-kawannya serentak tertawa pula. Gembala tua itu pun tertawa.

“Apakah akan kita coba?” bertanya gembala itu. Mereka pun tertawa semakin keras, sementara orang tua itu telah melekatkan kumisnya dengan perekat yang dibawanya di dalam kantong ikat pinggangnya.

“Apakah kumis itu nanti tidak akan rontok?” bertanya yang lain. “Kalau terjadi demikian, maka musuh yang telah lari itu akan segera datang kembali.”

Gembala tua itu masih saja tertawa. Jawabnya, “Perekatku adalah sebangsa getah yang sangat baik. Kalau tidak dihapus dengan minyak aku kira sampai tiga hari masih akan melekat juga.” Orang tua itu berhenti sejenak. Lalu, “Siapakah yang akan mencoba?”

“Ah, lebih baik tidak,” jawab yang lain lagi. “Kalau kawan-kawanku tidak mengenal aku lagi, maka jangan-angan leherku akan dicekiknya sendiri.”

Gembala tua itu tertawa. Kemudian diberikannya sepasang jambang kepada Gupala, “Kau pakai jambang ini. Wajahmu terlampau kekanak-kanakan. Dengan jambang ini, kau bertambah dewasa dan mempunyai kesan seorang pengawal.”

Gupala tidak menyahut. Diterimanya saja sepasang jambang itu. Kemudian dilekatkannya di kedua pipinya.

“Kau mirip seorang pemimpin perompak,” desis Gupita.

Gupala mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia pun tertawa. Katanya, “Apakah yang harus dipakai oleh Kakang Gupita, supaya wajahnya tidak sesayu itu.”

“Janggut. Kau pakai janggut bercabang ini. Kesannya akan sangat menakutkan?”

Gupita mengangguk-angguk. Meskipun ia tidak begitu senang, tetapi dipakainya juga janggut itu. Ia mengerti benar maksud gurunya. Kenapa mereka harus memakai bermacam-macam samaran itu. Dalam hiruk-pikuk pertempuran, maka samaran yang sepintas sudah akan mengaburkan bentuknya yang sebenarnya.

Orang-orang yang melihat mereka bertiga itu pun tidak dapat menahan tertawa mereka. Bahkan salah seorang berkata, “Apakah kalian tidak yakin kepada kemampuan kalian sendiri, sehingga kalian memerlukan segala macam permainan itu? Kenapa kalian tidak memakai topeng raksasa atau topeng jin sama sekali?”

Ketiganya tersenyum. Tetapi mereka tidak menyahut. Mereka asyik membetulkan letak samaran di wajah-wajah mereka.

“Nah,” berkata gembala tua itu, “sekarang aku adalah seorang yang pasti akan menggetarkan lawan-lawanku.” Lalu kepada kedua anak-anaknya ia berkata, “Kalian pun kini menjadi semakin meyakinkan untuk turun di medan peperangan.”

Gupala dan Gupita tersenyum, betapa kecut senyumnya.

Mereka harus menyesuaikan dari dengan sifat gurunya, sehingga karena itu, maka mereka pun tidak dapat berbuat lain daripada mengotori wajah-wajah mereka dengan sebangsa ijuk yang lembut itu, dan membiarkan orang yang melihatnya tertawa berkepanjangan.

Namun suara tertawa mereka itu pun segera terputus ketika pengawas yang ada di luar pategalan berkata lantang, “He. Lihat. Panah api tiga kali berturut-turut. Pengawas terakhir di depan pertahanan kita telah melihat pasukan lawan. Agaknya pasukan Ki Tambak Wedi sudah dekat.”

Gembala tua itu segera berdiri dan berjalan ke luar pategalan. Tetapi ia sudah tidak melihat panah api tiga kali berturut-turut itu.

“Kali ini agaknya Ki Tambak Wedi mempergunakan gelar yang lain dari yang dipakainya sehari-hari,” gumam gembala tua itu. “Kali ini mereka sama sekali tidak membawa obor.”

Gupita dan Gupala yang berdiri di sampingnya mengangguk-anggukkan kepala mereka. “Ya,” hampir bersamaan keduanya menyahut.

“Kalau begitu kita harus segera bersiap. Mungkin kita harus segera berbuat sesuatu.”

Pemimpin pasukan kecil itu pun segera mempersiapkan diri mereka. Agaknya pasukan Ki Tambak Wedi telah menjadi semakin dekat. Setiap saat akan dilihatnya tanda-tanda dari padukuhan itu, bahwa mereka harus mulai bergerak.

Gupala dan Gupita pun telah mempersiapkan diri mereka. Tetapi kali ini mereka tidak bersenjata cambuk, meskipun cambuknya tidak lepas dari lambungnya. Namun di peperangan nanti mereka harus bersenjata pedang.

“Sudah agak lama aku tidak berpedang lagi,” desis Gupala sambil menimang-nimang pedangnya. “Apalagi pedang ini terlampau kecil.”

“Tidak, bukan pedang itu yang terlampau kecil. Tetapi pedangmu yang bertangkai gading itulah yang bukan pedang biasa.”

Gupala mengerutkan keningnya. Ia lalu menarik pedangnya, dan mempermainkan sejenak. Diputar-putarnya pedang di tangannya sambil berdesis, “Mudah-mudahan aku masih mampu menggerakkan pedang.” Tetapi kemudian ia pun tersenyum ketika ia melihat gurunya mengawasinya.

“Tanganku menjadi kaku,” desisnya.

“Hanya sebentar. Nanti akan segera biasa kembali setelah kau menggerakkannya beberapa lama,” jawab gurunya.

“Asal saat yang sebentar itu bukan berarti kesempatan bagi lawan untuk membelah dada ini,” desis Gupala.

Gurunya mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Tanpa senjata pun kau harus siap maju ke medan perang.”

Gupala menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menyahut lagi. Dilontarkannya pandangan matanya ke dalam gelapnya malam. Sambil menyarungkan pedangnya ia berdesis, “Di sana nanti akan meloncat panah-panah api yang akan memberikan tanda-tanda kepada kita.”

Gurunya pun kemudian memandang ke dalam kegelapan itu pula. Namun sejenak kemudian ia melangkah masuk lagi ke dalam pategalan. “Aku akan menunggu sambil duduk. Waktu yang kita nantikan tidak terbatas. Mungkin sampai tengah malam Ki Tambak Wedi baru mulai bergerak, bahkan mungkin tidak sama sekali.”

Gupita dan Gupala pun mengikutinya pula. Sejenak Gupita masih menggerakkan pedangnya, namun sejenak kemudian pedang itu disarungkannya pula.

Tanda yang terakhir itu ternyata telah dilihat pula oleh Wrahasta di atas pelanggerangan di samping regol darurat. Karena itu, maka setiap orang di dalam lingkungan pertahanannya harus segera mempersiapkan dirinya. Semua peralatan telah diperiksa, dan semua dada telah menjadi berdebar-debar.

Ki Argapati yang telah mendengar laporan tentang tanda itu pun menjadi berdebar-debar pula. Sekali-sekali dipandanginya wajah puterinya yang menunduk, kemudian wajah-wajah pemimpin-pemimpin pasukannya. Akhirnya, ditatapnya kedua wajah orang-orang baru yang tenang dan meyakinkan. Hanggapati dan Dipasanga. Meskipun kemampuan orang-orang itu masih belum dapat dipercaya sepenuhnya, namun kehadirannya telah memperingan tugasnya. Dan ia berterima kasih kepada Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar, yang telah mengirimnya kemari.

Samekta pun kemudian telah berada di depan regol pula. Dipandanginya kegelapan malam yang terhampar di hadapannya. Tetapi ia tidak melihat sesuatu. Ternyata Ki Tambak Wedi benar-benar ingin merayap mendekati pertahanan itu tanpa diketahui oleh lawan-lawannya. Karena itu, maka Samekta pun segera memerintahkan untuk memadamkan semua obor dan lampu di sekitar regol. Dengan demikian, maka keadaan akan menjadi seimbang. Ki Tambak Wedi juga tidak akan segera dapat melihat pertahanannya dengan jelas, bahkan mereka pun harus memperhatikan arah dengan baik untuk dapat mencapai pintu regol dengan tepat.

Namun betapa pun gelapnya, mata yang tajam masih juga dapat melihat bayangan-bayangan yang bergerak di tempat terbuka. Tetapi jarak jangkaunya menjadi sangat terbatas. Demikian juga Samekta, Wrahasta dan juga Ki Tambak Wedi sendiri. Tetapi sebagai seorang yang memiliki banyak kelebihan dari orang lain, meskipun lampu-lampu di regol padukuhan itu dipadamkan, namun Ki Tambak Wedi tidak kehilangan arah.

“Kita langsung pergi ke depan regol itu,” perintahnya. Pasukannya pun merayap semakin dekat. Meskipun mereka tidak kehilangan arah, namun Ki Tambak Wedi mengumpat pula, “Licik. Mereka sama sekali tidak memasang lampu sehingga kami tidak mempunyai ancar-ancar sama sekali.”

Argajaya yang dekat di sampingnya, tidak menjawab. Tetapi ia berkata di dalam hatinya, “Mereka pun mengharap kita membawa obor sebanyak-banyaknya, supaya mereka dapat membidik setiap dahi dengan tepat.”

Pasukan Ki Tambak Wedi itu semakin lama menjadi semakin dekat. Namun betapa pun juga mereka merayap dengan hati-hati, tetapi akhirnya batang ilalang yang bergerak-gerak itu dapat juga dilihat oleh Wrahasta dan Samekta.

Samekta terkejut, ketika tiba-tiba saja pasukan Tambak Wedi itu telah berada beberapa puluh langkah daripadanya. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa ia segera masuk ke dalam regol dan menutupnya kuat-kuat.

Sejenak kemudian telah tersebar kepada setiap pemimpin kelompok Pasukan Pengawal Tanah Perdikan Menoreh bahwa musuh telah berada di depan hidung mereka. Karena itu, maka semua orang telah bersiap di tempatnya masing-masing dengan kelengkapan masing-masing pula.

“Awasi mereka Wrahasta,” berkata Samekta kepada Wrahasta yang masih berada di tempatnya. “Aku akan menemui Ki Gede.”

“Baik,” jawab Wrahasta, “aku akan memberitahukan apabila ada perkembangan yang cepat.”

Samekta kemudian pergi sendiri menemui Ki Gede Menoreh, dan melaporkan apa yang dilihatnya. Meskipun tidak begitu jelas, tetapi agaknya Ki Tambak Wedi telah benar-benar mengerahkan segala kekuatan yang ada padanya. Pasukan segelar sepapan kini telah berada di hadapan regol induk.

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini benar akan terjadi benturan di antara mereka. Siapa pun yang akan menang, maka artinya tidak akan jauh berbeda. Kekuatan Menoreh akan jauh menjadi susut. Meskipun demikian Ki Argapati tidak dapat melepaskan kekuasaannya begitu saja, justru untuk kepentingan hari depan Tanah Perdikan ini.

“Apakah akan jadinya apabila Tanah ini dikemudikan oleh orang-orang seperti Ki Tambak Wedi itu?” katanya di dalam hati. Dan justru karena itulah maka ia bertahan mati-matian. Bukan untuk kepentingan pribadinya, tetapi untuk tanah perdikan ini sendiri.

Ki Argapati pun kemudian mempersiapkan dirinya. Diperiksanya sekali lagi kain pembalut lukanya yang dipasang oleh gembala tua itu. Kemudian obat yang diberikannya, untuk mengatasi keadaan yang parah meskipun hanya berlaku untuk sementara.

“Rasa-rasanya aku sudah sembuh benar-benar,” desisnya.

“Tetapi Ayah masih belum sembuh dan belum pulih seperti sediakala,” Pandan Wangi memperingatkan.

“Karena itulah aku masih mempergunakan pembalut ini, dan aku masih selalu membawa obat yang diberikan orang tua itu. Tetapi aku merasa bahwa aku sudah siap mengatasi segala keadaan.” Kemudian kepada Samekta ia berkata, “Marilah, aku akan melihat pasukan Tambak Wedi.”

Ki Argapati pun kemudian mempersilahkan Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga, bersama mereka ke regol padukuhan itu untuk menyongsong lawan yang sebentar lagi akan datang.

Hanggapati dan Dipasanga pun kemudian mengikutinya. Namun di halaman Hanggapati berbisik, “Aneh-aneh saja orang tua yang menyebut dirinya gembala itu. Kenapa aku harus bertempur dengan senjata semacam ini? Aku tidak biasa mempergunakan senjata lentur, meskipun aku diwajibkan dapat mempergunakan segala macam senjata.”

Dipasanga tersenyum. Sambil menimang cambuknya ia berkata, “Apabila terpaksa, apa boleh buat. Cambuk ini akan aku letakkan, dan aku akan bertempur dengan pedangku ini.”

Hanggapati pun tersenyum pula. “Ya, itu adalah cara yang paling baik. Bukankah maksud gembala tua itu hanya sekedar menarik perhatian, bahwa ternyata yang memegang cambuk kali ini orang lain? Karena gembala tua itu sendiri justru bersenjata bentuk lain.”

Dipasanga mengangguk-anggukkan kepalanya. “Orang tua itu memang orang yang aneh. Seperti kata Angger Sutawijaya, ia senang mempergunakan seribu nama dan seribu keadaan.”

Hanggapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berbicara lagi. Mereka kini telah berada beberapa langkah dari regol induk. Ternyata pasukan pengawal Menoreh telah benar-benar siap menghadapi setiap kemungkinan.

Mereka bukan saja menyediakan segala macam senjata, tetapi mereka juga menyediakan air dan pasir. Tidak mustahil bahwa orang-orang Ki Tambak Wedi akan mempergunakan panah-panah api untuk berusaha membakar pertahanan pasukan pengawal.

Namun Pasukan Pengawal Menoreh itu pun telah menyediakan panah-panah api pula yang akan mereka sebarkan ke barisan lawan, apabila mereka telah sampai pada batas yang telah ditentukan. Ternyata di hadapan regol, pasukan Menoreh telah menebarkan jerami-jerami kering dan bumbung-bumbung minyak yang akan segera tumpah apabila disentuh kaki.

Series 43

KI ARGAPATI yang kemudian berdiri di depan regol itu memandangi bayangan barisan lawan di dalam gelap malam. Ia tidak dapat menduga, berapa besar pasukan lawan itu.

Tetapi agaknya pasukan Ki Tambak Wedi itu pun berhenti beberapa puluh langkah di depan regol. Beberapa lama mereka mengatur gelar yang akan dipergunakan dan menempatkan orang-orang terpenting pada tempat yang telah ditentukan.

“Kita tidak akan dapat menahan mereka di luar regol,” desis Ki Argapati kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Samekta, Wrahasta, Kerti, Hanggapati, Dipasanga, Pandan Wangi, dan beberapa pemimpin kelompok terdekat. “Mereka akan merupakan banjir bandang yang tidak tertahankan. Karena itu jangan berbuat bodoh dengan usaha yang sia-sia itu. Tetapi kalian harus berusaha, mengurangi jumlah lawan sebanyak-banyak dapat kalian lakukan pada saat mereka mendesak masuk. Kita akan bertempur di dalam regol apabila mereka sudah memecahkan pertahanan kita. Karena itu, kita harus mempersiapkan arena itu. Sehingga kita mendapat keuntungan karenanya. Dalam perang campuh, kita harus masih mendapat kesempatan, mempergunakan senjata-senjata lontar. Itulah sebabnya, maka kita harus memanfaatkan pagar-pagar batu. Mereka tidak akan memperhitungkan sampai sejauh itu.”

Samekta dan para pemimpin yang lain mengangguk-anggukkan kepala mereka. Persiapan itu memang telah dilakukannya. Peringatan Ki Gede ini telah memantapkan cara itu untuk melawan serangan yang kurang diketahui, betapa besarnya.

“Begitu mereka mulai bergerak,” sambung Ki Argapati, “berikan tanda-tanda kepada pasukan yang berada di luar regol. Mereka akan menyerang pasukan lawan dari belakang. Mudah-mudahan pengaruhnya cukup baik bagi kita.” Ki Argapati berhenti sejenak, lalu, “Kalian tidak boleh salah menempatkan diri. Kalian telah mcmpunyai lawan masing-masing, sehingga kalian harus menemukannya. Kalau tidak rencana kita tidak akan berjalan dengan baik. Orang-orang terpenting di pihak lawan akan menimbulkan terlampau banyak korban.”

Para pemimpin pengawal itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Hanggapati dan Dipasanga sejenak saling berpandangan. Mereka belum mengenal seorang demi seorang, apalagi lawan, sedang kawan sendiri pun masih belum dikenalnya dengan baik.

“Beri kami petunjuk,” berkata Hanggapati, “supaya kami tidak keliru memilih lawan.”

“Ya,” jawab Ki Argapati, “Wrahasta akan bersama Ki Hanggpati dan Kerti akan berada bersama Ki Dipasanga. Mereka akan membawa kalian berdua kepada lawan-lawan kalian untuk bertempur bersama-sama. Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga masih belum dapat menimbang betapa jauh kemampuan lawan, karena sebelumnya belum pernah mengenalnya.”

Hanggapati dan Dipasanga mengangguk-anggukkan kepalanya. Berkata Dipasanga, “Yang penting bagi kami bukanlah untuk mengenal kemampuan. Hampir setiap prajurit di peperangan tidak mengenal kemampuan lawan-lawannya sebelumnya. Yang penting bagi kami, karena lawan-lawan kami telah ditentukan sebelumnya adalah orang-orangnya. Siapakah dan yang manakah yang bernama Ki Tambak Wedi, Sidanti, Argajaya, Peda Sura, dan yang lain lagi.”

”Ya, ya,” Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “aku dapat mengerti. Mudah-mudahan dalam hiruk-pikuk pertempuran, rencana yang telah kita susun itu dapat kita lakukan dengan baik.”

Hanggapati dan Dipasanga mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka menyadari, bahwa lawan-lawan mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan tidak kalah dari para perwira Pajang. Karena itu, maka pertempuran kali ini tidak akan dapat dianggapnya sebuah perkelahian antara mereka yang sedang berebut air sawah, meskipun hakekatnya tidak jauh berbeda.

Tetapi keduanya adalah pengawal yang telah dipercaya oleh Ki Gede Pemanahan, untuk mengawani putera satu-satunya, menyelami pedalaman Alas Mentaok. Keduanya adalah perwira-perwira yang dapat dibanggakan. Keduanya tidak jauh berbeda dari kemampuan Sutawijaya sendiri.

Dan kini mereka berdua mendapat tugas untuk mendekatkan hubungan antara Mentaok, yang masih harus membangun hari depannya dengan Menoreh, yang kini sedang dibakar oleh api perpecahan.

“Aku harus dapat menunaikan tugas ini dengan baik,” berkata Hanggapati di dalam hatinya. “Kalau aku gagal, maka pendekatan hubungan antara Angger Sutawijaya dan Ki Argapati ini pun akan gagal pula. Tetapi kalau aku berhasil bersama Ki Dipasanga, maka setidak-tidaknya, Ki Argapati akan mengingat-ingatnya di dalam hatinya. Apabila Angger Sutawijaya kelak berhasil membuka Mentaok, Menoreh pasti tidak akan mengganggunya.”

Sedang Dipasanga pun berpendirian serupa itu pula, sehingga meskipun kini mereka sedang berada di antara lingkungan yang baru saja dikenalnya, namun mereka merasa, bahwa tugas mereka harus mereka lakukan sebaik-baiknya untuk kepentingan Sutawijaya.

Demikianlah, maka para pemimpin Menoreh itu pun telah siap untuk menyambut lawan mereka. Wajah-wajah mereka segera menjadi tegang, ketika bayangan di atas sawah yang kering di hadapan regol itu mulai bergerak-gerak, seperti seleret pagar yang hitam yang maju perlahan-lahan di antara batang-batang ilalang yang tumbuh liar.

“Mereka telah mulai bergerak,” desis Samekta.

“Ya. Mereka telah mulai.”

Setiap orang mulai menahan nafasnya, seperti Ki Tambak Wedi juga menahan nafas. Sidanti, Argajaya, Ki Peda Sura, Ki Muni, Ki Wasi, dan pemimpin yang lain telah ditempatkan di tempat masing-masing. Dan pasukannya kini telah mulai merayap mendekati regol padukuhan di hadapan mereka. Ki Tambak Wedi menyadari, bahwa di sekitar regol itu telah siap segala macam ujung senjata yang akan menyambutnya. Namun tidak ada pilihan lain daripada bertempur. Tidak ada pilihan lain daripada menumpas mereka, yang akan dapat menjadi benih persoalan di masa depan. Ki Tambak Wedi sama sekali tidak menghiraukan lagi, apakah dengan demikian ia telah menyisihkan rasa perikemanusiaan.

Sejenak kemudian, setiap tangan telah menggenggam senjata yang telanjang. Beberapa orang di setiap kelompok diperlengkapi dengan senjata-senjata jarak jauh. Panah, bandil dan bahkan tulup-tulup berduri. Di samping mereka yang berperisai, pelontar senjata-senjata jarak jauh itu harus berusaha mengurangi tekanan senjata-senjata yang dilontarkan oleh lawan.

Maka setelah Ki Tambak Wedi merasa saatnya telah tiba, pasukannya itu pun dibawanya maju semakin dekat. Jarak yang semakin dekat itu telah membuat kedua belah pihak menjadi semakin berdebar-debar. Setiap orang mulai menilai diri. Dan setiap orang mulai bertanya-tanya, siapakah lawan yang akan dibinasakannya?

Jarak yang memisahkan kedua pasukan itu menjadi semakin dekat. Sebentar lagi mereka pasti akan segera berbenturan. Dalam benturan yang dahsyat itu, mereka sudah tidak akan ingat lagi, bahwa mereka pernah hidup dalam satu lingkungan keluarga besar yang bersama-sama membina tanah perdikan ini. Yang pernah bersama-sama membuat sawah-sawah dan pategalan menjadi hijau. Menebas hutan untuk membuka tanah-tanah baru. Menggali parit, dan membuat jalan-jalan.

Kini mereka telah terbelah dengan senjata di tangan masing-masing. Sedang dada mereka telah terbakar oleh kebencian dan nafsu-nafsu yang lain, yang tidak terkendali lagi.

Dan kini mereka telah siap untuk saling membunuh. Ya, saling membunuh. Tanpa belas kasihan, tanpa berperikemanusiaan. Apalagi perintah Ki Tambak Wedi. Semua harus dimusnahkan. Mereka akan menjadi rabuk bagi kesuburan dan kemakmuran tanah ini di hari kemudian.

Ki Argapati menunggu pasukan lawan menjadi semakin dekat. Ia tidak akan menerima lawannya dekat di depan regol. Tetapi ia akan mundur beberapa puluh langkah. Ia memerlukan suatu arena yang luas untuk melawan pasukan Ki Tambak Wedi yang tidak akan dapat tertahan di mulut regol, karena Ki Argapati telah dapat membayangkan, betapa dahsyatnya banjir bandang yang akan melanda padukuhan dan pertahanannya kali ini. Namun menurut perhitungannya, korban mereka pun tidak akan terhitung lagi.

Demikianlah, maka pasukan Ki Tambak Wedi itu pun telah menjadi semakin dekat. Samekta yang telah berjanji untuk memberitahukan kepada gembala tua dan sebagian pasukannya yang berada di pategalan di sebelah padukuhan, itu pun segera memerintahkan untuk melepaskan tiga buah anak panah api ke udara, seperti yang telah dijanjikan. Tetapi panah api itu bukan sekedar pemberitahuan kepada pasukan Menoreh yang ada di luar padukuhan, tetapi juga merupakan perintah bagi setiap orang dari pasukan pengawal tanah perdikan ini untuk berada di tempatnya, dan bagi mereka yang berkewajiban untuk menyerang pasukan Tambak Wedi dengan senjata-senjata pelontar, untuk segera mulai memasang anak-anak panah, dan lembing-lembing yang akan segera mereka lepaskan apabila perintah berikutnya telah diberikannya.

Sejenak kemudian, maka meluncurlah tiga buah panah api berturut-turut ke udara.

Ki Tambak Wedi dan orang-orangnya yang melihat panah api itu mengerutkan kening mereka. Mereka sadar, bahwa tanda itu pasti merupakan suatu perintah. Tetapi mereka tidak tahu, arti dari perintah itu.

Meskipun demikian, Ki Tambak Wedi pun kemudian meneriakkan aba-aba yang segera disahut oleh para pemimpin kelompok, untuk berwaspada.

“Panah berapi itu pasti mengandung suatu maksud. Hati-hatilah. Kita sudah sampai ke hidung lawan. Sebentar lagi senjata-senjata mereka akan menghujani kita. Berlindunglah pada perisai-perisai kalian.”

Belum lagi gema perintah itu hilang, maka ternyatalah, bahwa Samekta telah memberikan perintah berikutnya atas persetujuan Ki Argapati.

Kali ini bukan panah api yang naik ke udara, tetapi sebuah panah api yang langsung dilepaskan oleh Samekta sendiri ke arah pasukan Ki Tambak Wedi.

Beberapa orang pengawal yang melihat panah api itu pun segera menyadari, bahwa pertempuran sudah dimulai.

Sekejap kemudian, maka beberapa panah api telah meluncur pula dari dalam lingkungan pring ori. Beberapa obor terpaksa dinyalakan untuk membakar ujung panah berapi itu.

Ki Tambak Wedi pun kemudian menggeram. Dengan suara bergetar ia segera meneriakkan perintah, “Balas setiap panah dengan panah. Setiap nyawa dengan nyawa.”

Anak buahnya pun segera menyiapkan perisai-perisai mereka dan di belakang orang-orang yang berperisai itu, beberapa orang telah menyiapkan busur dan anak-anak panah pula.

Sejenak kemudian, maka udara di antara kedua pasukan itu pun segera dipenuhi oleh anak-anak panah yang hilir-mudik ke arah yang berlawanan. Anak-anak panah para pengawal yang bersenjata di balik pring ori dan anak-anak panah orang-orang Ki Tambak Wedi yang mencoba melindungi diri mereka dengan perisai-perisai.

Bukan saja anak-anak panah bedor berujung runcing yang berterbangan kian kemari, tetapi juga panah-panah api, seolah-olah menari-nari di udara.

Pasukan Ki Tambak Wedi yang merayap maju itu sama sekali tidak menghiraukan bumbung-bumbung kecil di bawah kaki-kaki mereka.

Dengan demikian, maka mereka telah menggulingkan beberapa di antara bumbung-bumbung yang berisi minyak, semakin lama semakin banyak. Dan minyak itu agaknya telah menangkap api yang terlontar dari panah-panah api dari balik pring ori. Dengan demikian, maka api pun segera berkobar pada jerami yang sengaja ditebarkan oleh para pengawal Menoreh.

“Licik,” Ki Tambak Wedi menggeram. Mau tidak mau, maka api itu pun telah mengganggu pasukannya. Bahkan beberapa orang yang lengah telah terjilat api jerami di bawah kaki-kaki mereka.

Api itu pun sejenak kemudian telah menjalar. Api yang terlontar pada ujung-ujung panah api telah membakar jerami itu di beberapa tempat, sehingga jerami yang terbakar itu pun kemudian seolah-olah merupakan pagar yang menjilat-jilat ke udara.

Api itu benar-benar telah berhasil menahan arus pasukan Ki Tambak Wedi. Mereka harus berhati-hati, supaya kaki mereka tidak terbakar karenanya.

Dalam kesempatan yang demikian itulah, pasukan pelontar lembing dan busur-busur di dalam pagar pring ori itu melepaskan lembing dan anak-anak panah. Seperti hujan senjata-senjata itu menyambar pasukan Ki Tambak Wedi yang sedang terhambat maju.

Sekali lagi Ki Tambak Wedi mengumpat. Sidanti yang menjadi kian marah berteriak nyaring, “Jangan takut. Mereka menjadi licik karena mereka ketakutan melihat arus pasukan kita yang datang seperti banjir bandang. Pecahlah regol itu, kita jadikan padukuhan itu menjadi karang abang.”

Pasukan Ki Tambak Wedi pun kemudian bersorak gemuruh. Tetapi mereka masih belum dapat maju, karena api yang membakar jerami di depan regol itu masih menyala-nyala, sementara anak-anak panah menyambar-nyambar di atas kepala mereka.

Satu dua dari mereka ternyata menjadi lengah. Selagi mereka meloncat-loncat menghindari api di bawah kaki mereka, maka sementara itu dada mereka telah disambar oleh sebuah anak panah.

Korban telah mulai berjatuhan.

Justru karena itulah, maka kemarahan Ki Tambak Wedi, Sidanti, Argajaya, dan para pemimpin yang lain menjadi semakin memuncak.

Namun api jerami itu pun tidak dapat bertahan terlampau lama. Sejenak kemudian, api itu telah mulai surut. Meskipun demikian, api itu telah berhasil menahan mereka dalam garis lontaran anak-anak panah dan lembing, sehingga senjata-senjata itu telah berhasil merenggut beberapa nyawa dari lawan mereka.

“Kita maju terus,” teriak Ki Tambak Wedi.

Orang yang telah berada di depan api jerami itu tidak segera maju. Mereka masih menunggu pasukan yang lain, yang terpisah oleh api yang sudah hampir padam.

“Cepat, maju terus!” teriak Ki Tambak Wedi pula.

Namun mereka masih belum dapat maju. Sisa-sisa api dan abu jerami itu masih terlampau panas, sementara anak-anak panah dan lembing masih terus menghujani mereka, sehingga satu demi satu korban pun kian bertambah-tambah.

Baru sejenak kemudian, pasukan itu dapat melampaui bekas api jerami yang di sana-sini masih menyimpan bara.

Dan ternyata kemudian, untuk melampaui garis yang dibuat oleh para pengawal Menoreh dengan jerami dan minyak itu, pasukan Ki Tambak Wedi sudah harus menyerahkan beberapa orang korban. Namun korban-korban itu seperti api yang menyentuh minyak di dalam dada para pemimpinnya. Dengan kemarahan yang menyala-nyala, mereka merayap semakin dekat.

Panah dan lembing berloncatan di udara. Semakin lama semakin banyak. Bahkan ada di antara senjata-senjata itu yang berbenturan di udara dan jatuh di tanah tanpa menyentuh korbannya sama sekali.

Ki Gede melihat pasukan lawan yang semakin maju itu dengan dada yang berdebar-debar. Ternyata pasukan itu cukup kuat. Dan Ki Gede Menoreh itu tahu benar, bahwa sebagian dari mereka, bukanlah orang-orang Menoreh. Orang yang datang untuk pamrih-pamrih pribadi, itulah yang membuat Ki Gede terlampau prihatin. Orang-orang itu sama sekali tidak memikirkan kepentingan apa pun, selain kepentingan diri mereka sendiri. Sehingga dengan demikian, Menoreh sama sekali tidak akan berarti lagi bagi mereka, apabila maksud mereka telah dapat tercapai. Namun ada juga di antara mereka, di antaranya Ki Peda Sura, yang menginginkan Menoreh yang lain dari Menoreh yang sekarang. Selain dapat memberikan keuntungan pribadi secara langsung, juga di waktu-waktu mendatang. Menoreh akan tetap merupakan sumber yang tidak akan kering-keringnya bagi dirinya dan orang-orangnya.

Tetapi Ki Gede juga berbangga, melihat kebulatan tekad para pengawal tanah perdikannya. Wajah-wajah mereka yang mantap dan sorot mata mereka yang membara, telah menyatakan, bahwa mereka bersedia melakukan apa saja untuk kepentingan tanah ini. Apalagi setelah mereka mendengar cerita tentang pasukan berkuda Menoreh, yang telah berhasil menerobos masuk ke padukuhan induk. Ternyata, bahwa Ki Tambak Wedi bukan iblis yang melihat segala keadaan dan segala peristiwa di atas tanah ini. Suatu ketika orang yang mengerikan itu dapat juga lengah.

Semakin dekat pasukan Ki Tambak Wedi, maka hujan senjata dari balik pring ori itu pun menjadi semakin lebat. Meskipun orang-orang Ki Tambak Wedi membalas juga, namun kedudukan orang-orang di balik pring ori itu ternyata jauh lebih baik dari mereka yang berlindung di balik perisai, karena arah lontaran anak panah lawan tidak dapat diperhitungkan.

Namun betapapun lambatnya, pasukan lawan itu maju terus. Bahkan ketika regol padukuhan itu sudah menjadi semakin dekat, tiba-tiba terdengar Ki Tambak Wedi yang memimpin langsung serangan itu berteriak nyaring. Dan sejenak kemudian, seperti banjir bandang, pasukan itu mengalir melanda regol.

Sesaat Samekta tertegun, melihat arus manusia yang hampir-hampir seperti kehilangan perasaannya. Namun sejenak kemudian ia menyadari keadaannya, sehingga segera turun pula perintahnya agar pasukan pelontar yang menebar di belakang pring ori, segera menarik diri menghadap regol padukuhan. Menempatkan dirinya di balik pagar-pagar batu di sepanjang jalan. Mereka harus menyongsong pasukan Ki Tambak Wedi, yang pasti akan memecahkan regol.

Hanya beberapa orang sajalah yang tertinggal di belakang pring ori untuk mengawasi apabila ada usaha lain yang dilakukan oleh pasukan lawan.

Demikianlah, maka sebagian besar dari alat-alat pelontar yang dapat dipindah dari tempatnya segera dibawa ke balik pagar-pagar batu menghadap ke regol, yang sebentar lagi akan dipecahkan oleh pasukan Ki Tambak Wedi.

“Kurangi jumlah lawan sebanyak-banyaknya dapat kalian lakukan,” perintah Samekta. “Sebagian langsung menyerang pasukan yang baru masuk itu dari depan, sedang yang lain harus memukulnya dari samping, apabila sebagian dari mereka justru telah masuk.”

Setiap pemimpin kelompok pasukan pelontar senjata jarak jauh itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka tahu benar, apa yang harus mereka lakukan.

“Dalam keadaan yang tidak teratasi, kalian harus mundur dan bergabung dengan pasukan yang lain.”

Sekali lagi mereka mengangguk. Tanpa sadar, mereka telah meraba hulu pedang di lambung mereka.

“Nah, lakukanlah.”

Orang-orang itu pun kemudian berlari-lari kembali ke kelompok masing-masing. Dengan dada berdebar-debar, mereka menunggu orang-orang Ki Tambak Wedi yang sedang berusaha untuk membuka pintu regol di dalam hujan anak-anak panah, yang dilontarkan oleh para pengawal di sebelah-menyebelah regol.

“Pecahkan regol itu!” teriak Ki Tambak Wedi.

Beberapa orang yang dipimpin langsung oleh Sidanti, berusaha memecah regol itu dengan kekerasan. Karena regol itu terlampau kuat dengan selarak kayu sebesar paha, maka Sidianti berusaha mencari cara lain. Bukan pintunyalah yang akan dipecahkannya. Tetapi dinding sebelah menyebelah pintu darurat itu.

Beberapa orang berusaha memecah dinding itu dengan kapak dan berbagai macam senjata yang mereka bawa. Agaknya usaha itu berhasil. Sedikit demi sedikit papan-papan kayu itu pecah dan memberi kesempatan ujung senjata mengungkit sisa-sisanya.

Sejenak kemudian, Sidanti telah berhasil memecahkan dinding itu. Dengan lantang ia berteriak, “Masuk, buka selarak pintu.”

Seseorang dengan tergesa-gesa menyusup masuk lubang yang telah berhasil mereka buat. Tetapi begitu ia masuk, jatuhlah ia tertelungkup. Sebuah anak panah telah terhunjam di dadanya.

Sidanti menggeram. Ia sadar, meskipun di depan regol itu tidak ada pasukan yang menghadang mereka, tetapi begitu pintu itu pecah, maka ujung-ujung anak panah akan berterbangan menyongsong mereka.

Dalam keragu-raguan itu, terdengar Ki Tambak Wedi berteriak, “Pecahkan dinding itu lebih lebar lagi!”

Dan Sidanti pun melakukannya. Dinding itu menjadi semakin menganga. Dan Sidanti pun semakin keras berteriak, “Masuk dengan perlindungan perisai!”

Seseorang segera menyusup masuk dengan sebuah perisai yang menutup dada dan kepalanya. Tetapi ketika tangannya baru menyentuh selarak ia pun jatuh terguling. Mati oleh anak panah dari lambung.

Kini Sidanti menjadi semakin marah. Tetapi ia pun menjadi semakin banyak mengetahui, tentang kesiagaan lawannya. Karena itu, ia harus mengambil cara yang lain. Dan sekali lagi ia berteriak kepada orang-orangnya, “Jangan hanya satu orang. Masuklah beberapa orang bersama-sama.”

Dinding yang pecah di sisi pintu itu pun menjadi semakin lebar. Kini beberapa orang menyusup bersama-sama. Tidak hanya dari satu sisi, tetapi dari kedua belah pihak.

Beberapa orang yang telah berada di dalam pintu gerbang itu pun segera membuat lingkaran untuk melindungi diri mereka dengan perisai yang satu dengan yang lain saling bersentuhan rapat, seolah-olah mereka telah berada di dalam suatu lingkaran baja yang rapat, dan tidak tembus oleh panah.

Tetapi orang-orang Menoreh tidak kehabisan akal. Mereka tidak lagi memakai panah-panah berujung runcing. Tetapi mereka kemudian melemparkan panah-panah api lewat di atas perisai-perisai itu.

Orang-orang yang melidungi dirinya dengan perisai itu mengumpat-umpat sambil meloncat-loncat karena api yang menyentuh kaki-kaki mereka, meskipun mereka telah menutup diri dengan perisai-perisai ganda. Seorang berjongkok yang lain berdiri, dalam satu lingkaran di depan pintu regol itu.

Tetapi api yang dilontarkan begitu saja telah jatuh bertaburan di sekitar mereka, bahkan ada yang jatuh tepat di atas kepala.

Sesaat kemudian, lingkaran perisai itu pun segera terurai. Tetapi pada saat yang bersamaan, seseorang telah berhasil mengangkat selarak pintu regol yang besar itu pada satu sisinya.

“Setan,” geram Samekta yang berdiri di atas dinding batu. Tangannya segera terentang. Dan sejenak kemudian sebuah anak panah meluncur menyusup pagar perisai yang telah pecah, langsung menghunjam ke punggung orang yang sedang berusaha mengangkat selarak pintu itu.

Terdengar ia terpekik. Kemudian terhuyung-huyung jatuh terlentang. Sekali lagi ia mengeluh tertahan, ketika palang pintu yang besar itu jatuh menimpa kepalanya. Kemudian untuk seterusnya ia terdiam. Mati.

Namun dengan demikian pintu regol itu sudah menganga. Seperti prahara yang tidak tertahankan lagi, dan pintu itu bagaikan bendungan yang akan pecah. Perlahan-lahan kekuatan yang tidak terkira di luar pintu itu mendesak terus, sehingga akhirnya pintu itu pun terbuka.

Seperti banjir bandang, orang-orang Ki Tambak Wedi kemudian berjejalan memasuki regol itu.

Kesempatan itu tidak dilewatkan oleh para pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Sekejap kemudian, maka muntahlah dari setiap busur, anak-anak panah menghujani regol. Sejenak kemudian segera terdengar teriakan dan pekik tertahan. Beberapa orang segera jatuh terbanting di tanah karena dada mereka ditembus oleh panah dan lembing.

“Pergunakan perisai kalian!” teriak Sidanti.

Barulah orang-orang itu sadar. Tetapi korban telah berjatuhan. Kini mereka dengan hati-hati maju sambil melindungi diri masing-masing dengan perisai.

Tetapi demikian, mereka berada di dalam regol, maka mereka pun segera berlari berpencaran di sepanjang jalan. Bahkan mereka pun segera berusaha meloncat masuk ke dalam halaman sebelah-menyebelah jalan.

Namun ternyata, para pengawal tanah perdikan telah siap menyambut mereka. Sebelum mereka berhadapan dalam arena perang, maka para pengawal tanah perdikan masih sempat menyerang mereka dengan anak-anak panah dan lembing. Namun kesempatan untuk itu menjadi semakin sempit, karena jumlah lawan yang menjadi semakin banyak dan dekat.

Ki Argapati melihat semuanya itu dengan dada yang berdebaran. Kemudian ia pun memberikan isyarat kepada orang-orangnya untuk menemukan lawan yang telah ditentukan. Ia sendiri masih berdiri tegak di tempatnya, di antara pengawal-pengawalnya yang paling terpercaya. Di sampingnya berdiri puteri satu-satunya, Pandan Wangi, yang telah menggenggam sepasang pedangnya.

“Mereka akan segera datang Wangi,” desis ayahnya.

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya. Ketika ia berpaling, dilihatnya tombak pendek ayahnya telah merunduk.

Pasukan lawan itu pun semakin lama semakin maju perlahan-lahan. Mereka kini telah menebar, memencar ke segala arah. Namun untuk sampai di garis itu, mereka sudah harus menyerahkan terlampau banyak korban, seperti yang telah diduga oleh Ki Argapati.

Ternyata dalam keadaan yang demikian, Ki Tambak Wedi masih tetap berhasil menguasai pasukannya. Masih tampak jelas, bahkan pasukannya itu maju dalam gelar. Gelar Gajah Meta, meskipun harus disesuaikan dengan keadaan. Arena agaknya terlampau sempit untuk merubah gelar itu ke dalam bentuk yang lain.

Ki Argapati memang sudah menduga. Satu-satunya gelar yang paling menguntungkan bagi Ki Tambak Wedi. Mereka masih berada di dalam lingkungan yang sempit, karena mereka belum berhasil menebarkan pasukan mereka. Apalagi karena mereka berhadapan dengan gelar yang ternyata telah dipasang oleh Samekta, Sapit Urang.

Sementara itu, Wrahasta telah berdiri di samping Hanggapati. Mereka berdua harus menemukan Sidanti di dalam hiruk-pikuknya peperangan itu, sedang Kerti harus mengantar Dipasanga mencari Argajaya, atau apabila keadaan memaksa, dapat terjadi sebaliknya. Yang penting, bahwa Sidanti dan Argajaya dapat terikat dalam suatu perkelahian yang seimbang, sehingga mereka tidak terlampau banyak menghisap korban.

Samekta yang mendapat kepercayaan memimpin perlawanan itu kini telah mendekatkan dirinya kepada Ki Argapati. Keadaan menjadi terlampau sulit baginya. Karena itu, maka ia harus selalu berada disamping Ki Gede, agar segala perintahnya tidak menyesatkan.

Ki Gede Menoreh tidak beranjak dari tempatnya. Ia yakin, bahwa Ki Tambak Wedi akan berada di ujung pasukannya, sehingga apabila ia tetap berada di tempat itu, maka mereka akan dapat segera bertemu.

Demikianlah, maka pertempuran itu pun segera menjalar semakin merata. Orang-orang Ki Tambak Wedi yang mengembang semakin luas, segera harus berhadapan dengan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang semakin menyempit.

Sidanti dan Argajaya telah menempatkan diri mereka masing-masing, di sebelah-menyebelah ujung belalai gelar Gajah Meta, seakan-akan menjadi ujung taring yang maha runcing. Sedang seperti telah diperhitungkan, Ki Tambak Wedi sendiri berada di tengah-tengah ujung pasukannya.

Ki Argapati melihat gelar di kedua belah pihak dengan dada yang berdentangan. Kedua pasukan itu telah benar-benar bertempur, dan darah pun telah membasahi Tanah Perdikan Menoreh. Darah putera-puteranya sendiri.

Namun dalam pada itu, selagi pasukan Ki Tambak Wedi bergerak maju untuk mencapai seluruh arena pertempuran, terdengarlah hiruk-pikuk di ekor pasukan itu. Sejenak Ki Tambak Wedi tertegun, namun kemudian dibiarkannya orang-orang yang memang sudah ditempatkan di ekor barisan untuk mengatasi persoalannya. Ki Tambak Wedi memang sudah menduga, bahwa apabila pertempuran terjadi di dalam regol, maka kemungkinan yang terberat, orang-orang Argapati akan menyerang dari segala arah. Karena itu, maka Ki Peda Sura, Ki Muni, dan Ki Wasi di tempatkannya di ekor barisannya.

Ternyata yang datang menyerang ekor pasukan Ki Tambak Wedi itu adalah para pengawal yang berada di luar padukuhan. Dengan tangkasnya mereka menyerang sisa-sisa pasukan lawan yang masih belum sempat masuk ke dalam regol. Dengan demikian, maka pasukan itu pun segera tertahan.

Namun Ki Peda Sura yang telah sembuh dari lukanya, segera menempatkan diri di dalam pasukannya. Sejenak kemudian, ia berhasil membawa seluruh pasukannya masuk ke dalam regol sambil bertempur menghadap keluar. Ki Peda Sura, Ki Muni, dan Ki Wasi berusaha menyumbat pintu regol dengan ujung senjata bersama pasukannya, untuk mencegah para pengawal itu masuk.

Tetapi ternyata usaha Ki Peda Sura itu tidak berhasil. Pasukan yang berada di luar padukuhan itu pun mendesak terus, sehingga akhirnya, Ki Peda Sura harus menghadapinya di dalam padukuhan, di jalan-jalan sempit dan di halaman. Sementara ujung pasukannya telah maju lebih jauh lagi.

Ki Argapati pun kemudian melihat pula, bahwa pasukannya yang berada di luar lingkungan pring ori ini telah ikut serta pula bertempur. Ternyata cara yang dipergunakannya itu telah berhasil menahun arus maju pasukan Ki Tambak Wedi, karena sebagian dari mereka harus melawan serangan yang datang dengan tiba-tiba dari arah belakang. Meskipun hal serupa itu telah diperhitungkan oleh Ki Tambak Wedi, namun ia tidak menyangka, bahwa kekuatan yang menyerang dari ekor gelar Gajah Metanya itu adalah pasukan yang cukup kuat.

Tetapi Ki Tambak Wedi percaya sepenuhnya kepada kemampuan Ki Peda Sura. Tidak ada orang Menoreh yang dapat mengalahkannya selain Ki Argapati sendiri. Kemampuan Ki Peda Sura tidak terpaut terlampau banyak daripadanya sendiri dan Ki Argapati. Karena itu, ia bersama-sama Ki Muni dan Ki Wasi, orang-orang terkuat di atas tanah perdikan ini, akan segera dapat menyapu lawan-lawannya, betapapun kuatnya.

Dalam hiruk-pikuk pertempuran itu, sekali-sekali terdengar teriakan-teriakan nyaring, di sela-sela keluhan kesakitan. Dentang senjata dan perisai, kadang-kadang melontarkan bunga-bunga api di udara. Namun dalam pada itu, orang-orang yang sedang bertempur itu pun telah dikejutkan oleh ledakan cambuk yang memekakkan telinga.

“Setan!” geram Sidanti. “Apakah mereka berada ditempat ini juga?”

Namun sejenak kemudian, anak muda yang perkasa itu mengumpat-umpat tidak habis-habisnya. Akhirnya ia melihat seseorang yang bersenjatakan cambuk. Tetapi orang itu sama sekali belum dikenalnya. Seorang dalam pakaian yang serupa dengan pakaian para pengawal dan orang-orang Menoreh yang lain. Di sampingnya, seorang anak muda yang bertubuh raksasa, bertempur bagaikan gajah yang sedang mengamuk.

“Wrahasta,” desis Sidanti, “anak itu terlampau sombong. Tubuhnya yang besar itu, disangkanya mampu membuatnya seorang yang tidak terkalahkan.”

Karena itu, maka Sidanti pun segera meloncat, menyusup di antara peperangan itu, menyongsong Wrahasta yang sedang mengayun-ayunkan pedangnya.

Sidanti sama sekali tidak menghiraukan orang bercambuk itu. Ia tidak melihat Wrahasta berbisik kepada orang yang memegang cambuk itu. Dan ia tidak melihat, bahwa orang yang memegang cambuk itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berdesis, “Jadi anak muda itulah yang bernama Sidanti. Pantas, ia tangkas seperti sikatan.”

“Akulah yang akan menyelesaikannya,” desis Wrahasta.

“Aku mendapat tugas untuk itu.”

“Aku adalah anak Menoreh. Aku ingin mencobanya.”

Hanggapati sama sekali belum dapat memperbandingkan kekuatan Wrahasta dengan kekuatan Sidanti, bahkan dengan kemampuannya sendiri. Tetapi agaknya Wrahasta sudah tidak dapat dicegah lagi. Ketika Sidanti datang semakin dekat, langsung ia menyongsongnya dengan sambaran pedang. Dengan penuh kebanggaan, Wrahasta terlampau percaya kepada tenaga raksasanya. Sidanti yang lebih kecil dan lebih pendek daripadanya, pasti tidak akan memiliki kekuatan seperti kekuatannya.

Namun betapa terkejut Wrahasta, pada saat senjatanya membentur pedang Sidanti. Terasa seolah-olah tangannya menjadi retak. Perasaan sakit yang amat sangat telah menyengat telapak tangannya, kemudian menjalar sampai ke seluruh tubuhnya. Wrahasta sama sekali tidak berdaya untuk mempertahankan genggamannya, sehingga pedangnya itu pun bergetar dan jatuh di tanah.

“Kau terlampau sombong,” geram Sidanti. “Ternyata kau telah mengantarkan nyawamu, he raksasa yang bodoh.”

Sejenak Wrahasta seakan-akan terpaku di tempatnya. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa Sidanti mempunyai kekuatan yang tidak terkirakan. Tangannya yang jauh lebih besar dari tangan Sidanti itu seolah-olah sama sekali tidak berdaya, dan pedangnya yang besar itu seakan-akan telah membentur batu karang.

Tanpa dapat berbuat sesuatu, ia melihat Sidanti justru melangkah surut. Kemudian menggeram, “Ternyata kaulah pemimpin pengawal Menoreh yang pertama-tama mati oleh ujung pedangku.”

Namun sebelum Sidanti meloncat maju sambil menghunjamkan ujung pedangnya, maka Hanggapati telah mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu. Dengan sepenuh tenaganya ia meledakkan cambuknya mengarah ke pergelangan tangan Sidanti.

Sidanti terkejut bukan buatan. Disangkanya orang yang memegang cambuk itu adalah orang-orang Menoreh yang mencoba-coba jenis senjata itu, atau salah seorang dari orang-orang berkuda yang berusaha mengelabui orang-orangnya. Namun ternyata orang itu mampu bergerak begitu tangkas dan kuat. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa Sidanti sekali lagi meloncat surut. Namun orang itu ternyata tidak melepaskannya. Sekali lagi cambuk itu menggeletar di udara dan menyambar lehernya.

“Setan,” Sidanti mengumpat sambil merunduk rendah-rendah. Ia tidak mau menjadi sasaran tanpa berbuat sesuatu. Karena itu, maka tiba-tiba pedangnya terjulur lurus-lurus mengarah ke lambung lawannya.

Hanggapati terpaksa bergeser surut. Namun ia tidak lengah, dan cambuknya masih tetap berputar.

“He, menyenangkan juga jenis senjata ini,” katanya di dalam hati. “Ternyata jenis senjata lentur dapat juga digerakkan dengan cepat dan lincah seperti sulur pepohonan.”

Dada Sidanti serasa terbakar menghadapi kenyataan itu. Karena itu, maka darahnya serasa mendidih sampai ke ubun-ubunnya. Apalagi ketika ia melihat raksasa yang kehilangan pedang itu telah berhasil memungut pedangnya kembali.

“Siapakah orang ini?” pertanyaan itu selalu mengganggu jantung Sidanti. “Apakah di Menoreh ada orang baru yang demikian tangkasnya bermain dengan cambuk, ataukah orang-orang ini termasuk seperguruan atau termasuk dalam salah satu cabang perguruan Kiai Gringsing?”

Namun justru karena itu, maka Sidanti pun kemudian mendesak maju. Ia harus segera menyelesaikan lawannya, dan kemudian membinasakan orang-orang Menoreh seperti menebas batang ilalang.

Tetapi ternyata orang ini memang mempunyai kelebihan dari orang lain. Bahkan kemudian, ternyata bahwa orang itu mampu melawannya dengan senjata cambuknya itu.

“He,” tiba-tiba Sidanti menggeram, “siapa kau? Apakah kau orang baru di sini?”

Hanggapati tidak menjawab. Tetapi cambuknya sajalah yang bergeletar menyambar-nyambar, sehingga setiap kali Sidanti harus menghindarinya dan bahkan melangkah surut.

“Aku yakin, kau bukan orang Menoreh,” geram Sidanti kemudian. “Sikapmu terlampau tenang dan pandangan matamu lurus-lurus ke pusat mata lawanmu. Kau pasti bukan orang Menoreh atau pengawal tanah perdikan ini. Coba katakan, siapakah kau?”

Hanggapati masih tetap berdiam diri. Tetapi serangannya menjadi semakin deras melanda lawannya. Ujung cambuknya berdesing-desing seperti lebah yang mengitari tubuh Sidanti. Bahkan sentuhan yang sekali-sekali menyengat tubuhnya, serasa seperti tusukan duri-duri yang paling tajam.

Sekali lagi Sidanti menggeram. Tetapi ia pun terkejut, ketika di bagian lain dari pertempuran itu terdengar sekali lagi ledakan cambuk. Bahkan kemudian berturut-turut.

“Siapakah yang telah siap melawan Paman Argajaya itu?” Sidanti bertanya kepada diri sendiri. Dengan demikian, maka kemarahannya pun menjadi semakin meluap-luap.

Sementara itu, Dipasanga pun telah melecutkan cambuknya berulang kali. Meskipun belum terlampau biasa, tetapi sebagai seorang prajurit ia segera dapat menyesuaikan diri dengan senjata yang ada di tangannya. Dan kali ini senjata itu adalah sebuah cambuk.

Argajaya pun mengumpat tidak habis-habisnya. Ia tidak menyangka, bahwa pada suatu ketika ia akan bertemu dengan lawan yang demikian tangguhnya. Apalagi lawannya itu ternyata bersenjata cambuk.

“Pantaslah, bahwa orang-orang berkuda itu berani memasuki padukuhan induk. Di antaranya terdapat orang-orang bercambuk seperti ini.”

Namun seperti Sidanti, kemarahan Argajaya pun segera memuncak. Seperti Sidanti, ia pun bertanya dalam nada yang datar, “Siapa kau, he?”

Namun berbeda dengan Hanggapati, ternyata Dipasanga menjawab, “Namaku Dipa.”

“Darimana kau?”

“Aku orang Menoreh.”

“Bohong!” teriak Argajaya. “Aku belum pernah melihat kau.”

“Apakah kau pernah datang ke Menoreh sebelum ini?”

Betapa hiruk-pikuknya peperangan, Kerti yang mendengar pertanyaan itu terpaksa tersenyum. Argajaya adalah adik kepala tanah perdikan ini.

Dengan demikian, maka pertanyaan Dipasanga itu telah membuktikan, bahwa justru Dipasanga-lah yang belum mengenal Menoreh. Karena itu, terdengar Argajaya menggeram, “Kau terlampau bodoh untuk berpura-pura. Kenapa kau bertanya begitu kepadaku?”

Dipasanga surut selangkah. Namun kemudian, serangannya melibat lawannya seperti angin pusaran. “Siapa kau?” ia ganti bertanya.

“Aku adalah Argajaya. Adik kepala tanah perdikan ini.”

Dipasanga mengerutkan keningnya. Ia mendapat tugas untuk menghadapi salah satu di antara dua, Sidanti, atau Argajaya. Kini ia telah bertemu dengan Argajaya. Tetapi ia masih belum yakin, karena tidak seorang pun yang memberitahukaunya dengan pasti, bahwa Argajaya adalah adik Ki Argapati.

Meskipun demikian, seakan-akan di luar sadarnya ia bertanya, “Kenapa kau melawan kakakmu sendiri?”

Pertanyaan itu telah menusuk jantung Argajaya, seperti tajamnya ujung pedang. Sejenak ia terbungkam, meskipun senjatanya tidak berhenti terayun-ayun.

”Kenapa?” desak Dipasanga.

“Persetan!” jawab Argajaya. “Apakah artinya seorang Kakak yang hanya mementingkan dirinya sendiri, tanpa mengerti persoalan orang lain, meskipun orang lain itu adalah anak dan adiknya sendiri?”

Dipasanga tersenyum. Katanya, “Itulah yang tidak dapat diukur dengan ukuran-ukuran yang umum. Kepentingan seseorang tergantung sekali dari sudut memandangnya. Karena itulah, maka kau dapat mengatakan, bahwa Ki Argapati hanya sekedar mementingkan diri sendiri tanpa mengingat kepentinganmu dan anak laki-lakinya. Tetapi apakah kau yakin, setiap orang akan mengakui, bahwa kepentinganmu itu lebih bermanfaat bagi tanah ini dari sikap yang kau anggap kepentingan pribadi pada Ki Argapati itu? Apakah bukan karena kepentingan pribadimu yang tidak dipikirkannya justru untuk kepentingan yang lebih besar, kau merasa, bahwa Ki Argapati telah mementingkan dirinya sendiri.”

“Persetan, kau tahu apa? He, siapakah kau sebenarnya? Berapa kau diupah oleh Kakang Argapati untuk ikut di dalam pertempuran ini?”

“O,” jawab Dipasanga, “ada beberapa perbedaan antara aku dan orang-orangmu, termasuk orang yang disebut-sebut bernama Peda Sura. Aku mempunyai kepentingan yang khusus, kenapa aku bersedia bertempur di pihak Ki Argapati. Mungkin dapat juga disebut pamrih-pamrih pribadi, meskipun tidak sejelas Ki Peda Sura. Tetapi aku ternyata telah melibatkan diri dalam pertempuran ini.”

Argajaya menggeram. Senjatanya berputar semakin cepat. Dan dengan demikian, maka cambuk Dipasanga pun menjadi semakin sering meledak-ledak.

Meskipun Dipasanga tidak biasa bertempur dengan senjata semacam itu, namun ia mampu mempergunakannya dengan baik. Sekali-sekali ujung cambuknya berhasil melontarkan beberapa orang yang lengah di sekitar tempat perkelahiannya melawan Argajaya. Bahkan sekali-sekali ujung cambuk itu dapat membuat Argajaya menjadi agak bingung.

Tetapi Argajaya pun bukan orang Menoreh kebanyakan. Ia adalah adik Ki Argapati, Kepala Tanah Perdikan Menoreh. Dengan demikian maka ia pun segera berhasil menempatkan dirinya menghadapi orang bercambuk itu.

Dengan demikian, maka perkelahian di antara mereka menjadi semakin seru. Masing-masing memiliki kelebihannya, dan masing-masing adalah orang-orang yang sudah cukup banyak menyimpan pengalaman di dalam dirinya.

Dalam pada itu, pasukan Ki Tambak Wedi itu pun semakin lama menjadi semakin meluas, sedang pasukan Ki Argapati menjadi semakin menyempit. Kini di semua pihak, kedua pasukan itu telah bertemu dan bertempur mati-matian. Di jalan-jalan sempit, di halaman, dan di kebun-kebun. Mereka sama sekali tidak menghiraukan lagi di mana mereka sedang berada, yang mereka perhatikan adalah garis lingkaran dari gelar mereka masing-masing.

Dalam keadaan yang demikian itulah, maka ujung gelar Gajah Meta itu pun kini telah sampai di muka puncak pimpinan gelar lawan. Sehingga dengan demikian, maka kedua pimpinan tertinggi itu pun akan segera saling berhadapan.

Mereka masing-masing sudah menyangka, bahwa mereka akan bertemu lagi di dalam perang ini. Ki Argapati dan Ki Tambak Wedi.

“He,” geram Ki Tambak Wedi, “apakah kau sudah sembuh benar?”

Ki Argapati mengerutkan keningnya. Tombaknya telah merunduk semakin rendah. Beberapa, langkah ia menyongsong maju dibarengi oleh Pandan Wangi dan Samekta. Sebelah menyebelahnya adalah para pengawal yang paling terpercaya untuk melindunginya dari pasukan Ki Tambak Wedi yang lain.

“Aku sudah lama menunggumu, Ki Tambak Wedi,” sahut Argapati.

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Dilihatnya seorang gadis yang membawa sepasang pedang yang sudah bersilang di muka dadanya.

“Kau bawa gadismu bertempur?” bertanya Ki Tambak Wedi.

“Apa bedanya seorang gadis dan seorang anak lelaki?”

“Kau memang luar biasa. Kau dapat membuat gadismu melebihi setiap lelaki di atas Bukit Menoreh ini.”

Ki Argapati tidak menjawab. Tetapi matanya tidak berkisar dari senjata Ki Tambak Wedi yang mengerikan. Sebuah nenggala bermata rangkap.

“Tetapi, sayang Ki Argapati,” berkata Ki Tambak Wedi selanjutnya, “usahamu selama ini akan sia-sia. Karena aku sudah memutuskan, bahwa setiap orang di dalam padukuhan ini harus dimusnahkan. Semua harus dibunuh. Meskipun ia seorang gadis.”

“Keputusanmu lain dengan keputusanku, Ki Tambak Wedi. Dan aku mengharap, bahwa keputusankulah yang akan berlaku di sini.”

Ki Tambak Wedi menggeretakkan giginya. Segera ia meloncat menyerang sambil berteriak nyaring, “Mampuslah kau ayah-beranak.”

Tetapi Ki Argapati telah siap menerima serangan itu. Karena itu maka ia pun segera meloncat ke samping untuk mengelakkan serangan itu. Berbareng dengan itu, tombaknya pun segera terjulur lurus mematuk dada lawannya.

Ki Tambak Wedi berdesis. Ia terpaksa mengeliat dan memutar tubuhnya. Dengan cepatnya ia merendah dan menyusup di bawah senjata lawannya sambil menyerang lambung.

Ki Argapati tidak menjadi bingung. Ia pun bergeser surut. Dengan cepatnya pula ia memutar tombaknya, dan berusaha untuk mengetok pundak lawannya dengan pangkal landean tombak itu.

“Kau gila,” geram Ki Tambak Wedi sambil meloncat surut. Namun sejenak kemudian serangannya telah membadai pula.

Pada gerak yang pertama-tama, telah terasa pada Ki Argapati, bahwa kelesuan geraknya memang agak terganggu oleh luka dan pembalut di dadanya. Namun meskipun demikian, ia masih merasa cukup mampu untuk menghadapi Ki Tambak Wedi dalam keadaan itu. Apalagi ia mengharap Pandan Wangi dapat mengganggu keseimbangan pertempuran itu.

“Suruh anakmu ikut serta,” tiba-tiba Ki Tambak Wedi berteriak. “Jangan hiraukan lagi sikap jantan di peperangan.”

Seleret warna merah membayang di wajah Ki Argapati yang tegang. Betapa tajamnya sindiran Ki Tambak Wedi itu bagi seorang laki-laki seperti Ki Argapati. Namun sejenak kemudian, ia telah berhasil menguasai perasaannya. Bahkan kemudian ia menjawab, “Kita tidak sedang berada dalam arena perang tanding, Ki Tambak Wedi. Di dalam peperangan, yang bertempur adalah pihak yang satu melawan pihak yang lain. Bukan Ki Tambak Wedi melawan Ki Argapati.”

“Persetan!” Ki Tambak Wedi menggeram, dan serangannya pun menjadi semakin cepat.

Dalam perkelahian yang semakin seru, maka semakin terasa dada Ki Argapati terganggu sekali oleh pembalut dan bahkan lukanya yang masih belum sembuh benar. Karena itu, maka perlawanan Ki Argapati pun tidak pada puncak kemampuannya.

Untunglah, bahwa Pandan Wangi yang memiliki ilmu dari ayahnya itu mampu mengisi kekurangan Ki Argapati. Setiap kali Pandan Wangi dengan sepasang pedangnya dapat mengganggu perhatian Ki Tambak Wedi, sehingga setiap kali usaha Ki Tambak Wedi untuk mendesak Ki Argapati terpaksa diurungkannya, karena sambaran-sambaran pedang Pandan Wangi.

“Setan betina!” ia menggeram. “Apakah kau dahulu yang harus mati, he?”

Pandan Wangi sama sekali tidak menyahut. Tetapi pedangnya menjadi semakin lincah berputaran.

Ki Tambak Wedi semakin lama menjadi semakin marah mengalami perlawanan kedua ayah-beranak itu. Karena itu, maka dikerahkannya segenap kemampuannya untuk segera mendesak lawannya. Supaya Pandan Wangi tidak selalu mengganggunya, maka akhirnya ia memutuskan untuk membunuh saja anak itu lebih dahulu.

“Semua harus dibinasakan. Semua. Juga Pandan Wangi,” ia menggeram di dalam hatinya untuk memantapkan rencananya.

Maka sejenak kemudian, Ki Tambak Wedi mencoba memusatkan perhatiannya kepada Pandan Wangi. Ia ingin mengurangi gangguan-gangguan kecil pada saat ia akan memusnahkan Ki Argapati kelak.

Tetapi kesempatannya pun terlampau terbatas. Kalau ia berkelahi melawan lima Pandan Wangi, maka ia pasti akan dapat menyelesaikan pekerjaannya satu demi satu. Tetapi kini ia berhadapan pula dengan Argapati, sehingga setiap saat ia harus berwaspada. Ujung tombak pendek itu setiap kali dengan tiba-tiba saja telah mengarah ke dadanya.

Namun Ki Tambak Wedi adalah iblis yang paling mengerikan. Sehingga dengan segala macam cara ia telah berhasil melibat Pandan Wangi yang agak terpisah dari ayahnya.

Namun, ketika ia siap melontarkan gelang-gelang besinya untuk segera menyelesaikan Pandan Wangi yang berdiri beberapa langkah daripadanya, tiba-tiba ia disambar oleh sebuah kenangan tentang seorang perempuan yang pernah hinggap di dalam hatinya. Ternyata wajah gadis yang bernama Pandan Wangi itu mirip benar dengan ibunya, Rara Wulan, Wajah yang pernah membuatnya kehilangan keseimbangan, sehingga lahirlah Sidanti. Dan apabila Rara Wulan itu kemudian bersuami, maka menjadi jauhlah ia lari dari setiap perempuan, dan menyepi di lereng Gunung Merapi.

Sekejap Ki Tambak Wedi dicengkam oleh keragu-raguan. Namun sekejap kemudian, ia menggeretakkan giginya sambil menggeram, “Tidak seorang pun yang akan dapat lolos. Semua harus dimusnakan, termasuk Pandan Wangi. Siapa pun Pandan Wangi itu.”

Dengan demikian, maka segera digenggamnya selingkar gelang-gelang besinya. Dan dengan sekuat tenaganya, gelang itu dilontarkannya ke arah Pandan Wangi.

Tetapi waktu yang sekejap itu ternyata terlampau besar artinya bagi Pandan Wangi. Ki Argapati yang mempunyai cukup pengalaman melihat sikap Ki Tambak Wedi di dalam pertempuran itu, segera dapat menangkap maksud dari iblis lereng Gunung Merapi itu. Karena itu, maka dengan segera ia meloncat mendekati Pandan Wangi tepat pada saatnya. Pada saat gelang besi itu meluncur ke arah dada anak gadisnya.

Sambil menggeram Ki Argapati masih sempat memukul gelang besi itu ke udara, sehingga sepercik bunga api meloncat bersama gelang yang membubung itu.

“Gila,” Ki Tambak Wedi dan Ki Argapati mengumpat hampir bersamaan. Jantung di dalam dada mereka pun berdentang semakin cepat pula, sementara dada Pandan Wangi menjadi berdebar-debar. Hampir saja ia disambar oleh senjata Ki Tambak Wedi yang pasti tidak akan dapat dielakkannya.

Dengan demikian, maka Ki Argapati menjadi lebih berhati-hati. Ia harus melupakan sakit di dadanya. Ia harus berusaha sejauh-jauh dapat dilakukan untuk melawan iblis yang paling ganas itu. Meskipun kadang-kadang Samekta dapat membantunya, tetapi tenaganya tidak terlalu banyak berarti bagi pertempuran antara orang-orang yang berilmu jauh di atas jangkauannya.

Maka, betapa lambatnya, namun pasti, Ki Tambak Wedi akan dapat menguasai lawannya. Karena menurut pertimbangan Ki Tambak Wedi sendiri, pada suatu saat Argapati yang masih diganggu oleh lukanya itu, akan kehabisan tenaga sebelum waktu yang dapat dicapai oleh ketahanan tubuhnya seperti biasanya dalam keadaan yang wajar.

Di sudut lain, Sidanti dan Argajaya ternyata tidak kalah tangkas dari lawan-lawan mereka. Wrahasta dan Kerti tidak terlampau banyak berarti lagi bagi keduanya, karena mereka harus melawan orang-orang yang memang sudah dipersiapkan oleh Sidanti dan Argajaya pula. Sehingga baik Argajaya maupun Sidanti, masih mempunyai keyakinan, bahwa mereka akan dapat mengalahkan lawan-lawan mereka.

Tetapi saat itu, agaknya Hanggapati dan Dipasanga masih dipengaruhi oleh jenis senjata yang tidak biasa mereka pakai. Karena itu, mereka berdua pun tidak berkeras hati, meskipun mereka merasa tidak dapat menguasai lawannya.

“Pada saatnya akan aku letakkan senjata-senjata ini. Dan aku akan memakai pedangku,” keduanya berpendirian serupa di dalam keadaan yang menjadi semakin gawat.

Namun, mau tidak mau, ledakan-ledakan cambuk itu telah menumbuhkan persoalan pula di dalam hati Ki Tambak Wedi, yang justru tidak melihat sendiri siapa yang mempergunakannya.

Demikian mendesaknya persoalan suara-suara cambuk itu, sehingga akhirnya Ki Tambak Wedi tidak dapat menahan hatinya lagi untuk mengetahuinya. Diperintahkannya seorang penghubungnya untuk melihat, siapakah orang-orang yang telah mempergunakan cambuk di dalam peperangan ini.

“Kenapa kau digelisahkan oleh suara cambuk itu Ki Tambak Wedi? Apakah kau tidak senang mendengarnya?” bertanya Argapati sambil menyerang terus.

Ki Tambak Wedi menggeram. Tetapi ia tidak menjawab. Dengan sekuat-kuat tenaganya ia berusaha untuk segera mengalahkan lawannya apabila mungkin. Dengan demikian, maka ia akan mendapat kesempatan untuk menjelajahi peperangan ini. Tetapi apabila tidak, maka ia harus menunggu Argapati kehabisan tenaga, dan sama sekali tidak berdaya lagi.

Sejenak kemudian, penghubungnya telah kembali lagi kepadanya. Dengan cekatan ia meloncat surut, menghindari serangan Ki Argapati dan Pandan Wangi sambil bertanya, “Siapa mereka?”

”Orang-orang yang tidak kita kenal,” jawab penghubung.

“Siapa nama mereka?”

Penghubung itu terpaksa meloncat jauh-jauh ketika serangan Ki Argapati melanda Ki Tambak Wedi dengan dahsyatnya. Tetapi Ki Tambak Wedi pun cukup lincah untuk menghindarinya, bahkan dengan sigapnya ia meloncat menyerang Pandan Wangi.

Tetapi sekali lagi ia harus membentur kekuatan Ki Argapati yang menghalanginya. Kemudian disusul oleh serangan sepasang pedang dari arah lambung.

Ki Tambak Wedi terpaksa meloncat surut. Tetapi justru ia mendapat kesempatan untuk mendengar, “Sidanti belum mengenalnya.”

Ki Tambak Wedi menarik nafas dalam-dalam. Kalau Sidanti belum mengenalnya, mereka atau salah seorang daripadanya pasti bukan anak-anak dari seberang Mentaok yang menggelisahkan itu.

Dengan demikian, maka Ki Tambak Wedi bertempur semakin mantap. Ia percaya, bahwa kekuatan pasukannya tidak terlampau jauh berada di bawah kekuatan lawannya, sebelah korban berjatuhan pada saat mereka masuk. Bahkan mungkin masih dapat mengimbangi atau bahkan melampauinya. Tetapi yang membuatnya yakin adalah kemampuan para pemimpinnya. Tidak ada seorang pun yang dapat dipercaya di antara orang-orang yang masih setia kepada Argapati. Tidak akan ada orang yang dapat berhadapan langsung dengan Sidanti, Argajaya, dan apalagi Ki Peda Sura. Bahkan orang-orang Menoreh sendiri, Ki Muni dan Ki Wasi. Meskipun keduanya tidak akan banyak terpaut dari para pemimpin pengawal Tanah Perdikan Menoreh, namun dengan demikian, maka kekuatan pasukannya telah meyakinkannya.

Karena itu, maka kini tenaganya dipusatkannya untuk menghancurkan Ki Argapati dan dengan sepenuh tenaga ia telah memaksa dirinya untuk memantapkan rencananya, membunuh Pandan Wangi juga. Meskipun setiap kali di wajah gadis itu seolah-olah selalu membayang wajah Rara Wulan yang kecemasan, yang seolah-olah memandangnya dengan tajam dan dengan perasaan yang meluap-luap.

“Kau gila, he, Tambak Wedi,” seolah-olah ia mendengar suara Rara Wulan. “Gadis itu adalah anakku, anakku.”

“Persetan!” ia menggeram. “Biarlah ia anak iblis, gendruwo, tetekan, aku tidak peduli. Semua orang, apalagi pemimpinnya, harus dibunuh. Pertahanan ini harus jadi neraka yang paling jahanam bagi mereka.”

Dengan demikian, maka sambil menggeretakkan giginya, Ki Tambak Wedi berkelahi terus, semakin lama semakin garang.

Sementara itu, di bagian lain dari peperangan itu pun menjadi semakin seru. Sekali-sekali terdengar mereka berteriak di sela-sela dentang senjata. Teriakan mereka yang mencoba menghentakkan kemampuannya, namun juga teriakan mereka yang tersentuh oleh senjata.

Desak-mendesak telah terjadi di setiap langkah di garis peperangan. Mereka adalah orang-orang yang berasal dari satu wadah, sehingga kekuatan, kemampuan dan cara-cara mereka bertempur hampir bersamaan. Hanya di beberapa bagian saja terjadi kegelisahan yang agak mengganggu ketabahan hati para pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang setia kepada Ki Argapati. Orang-orang yang tidak dikenal bertempur dengan kasar dan buasnya. Mereka sama sekali tidak menghiraukan perasaan apa pun. Apalagi mereka telah mendapat perintah untuk membinasakan semua orang yang melawan. Dengan demikian, maka mereka pun bertempur tanpa batas lagi. Apalagi dengan sengaja mereka menunjukkan kekejaman-kekejaman yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, untuk menurunkan keberanian dan tekad lawan-lawan mereka.

Tetapi ternyata semuanya itu hanyalah mengungkat kemarahan para pengawal tanah perdikan, sehingga mereka justru berkelahi semakin gigih untuk mempertahankan diri dan garis perlawanan di dalam gelar yang telah mantap. Kalau salah satu garis pertahanan itu dapat dipecahkan, maka gelar keseluruhan akan dapat terpengaruh karenanya. Dengan demikian, maka apa pun yang terjadi, mereka bertahan sampai kemampuan mereka yang terakhir.

Namun di sela-sela pertempuran yang semakin seru itu, terdapat tiga orang yang masih sedang mencari-cari lawan masing-masing. Mereka menyusup di antara hiruk-pikuknya ujung senjata. Di tangan mereka tergenggam pedang. Mereka tertegun sejenak, ketika mereka melihat kesulitan yang berbahaya pada garis pertempuran di bagian belakang gelar lawan. Agaknya Ki Peda Sura sedang menari dengan sepasang senjatanya yang mengerikan. Tanpa ampun, siapa yang mendekat, pasti akan terlempar jatuh. Sedang beberapa langkah dari padanya, Ki Wasi sedang mengamuk sebagai harimau terluka, dan di bagian lain lagi sambil berteriak-teriak Ki Muni mendesak lawannya tanpa dapat ditahan lagi.

Betapa para pengawal berusaha, namun kekuatan mereka memang jauh melampaui kemampuan setiap orang di antara para pengawal.

Sejenak gembala tua dan kedua anak-anaknya itu tertegun. Namun sejenak kemudian orang tua itu berkata, “Hadapilah mereka berdua. Aku akan menyelesaikan Peda Sura. Hati-hatilah, jangan merasa dirimu lebih baik dari lawanmu. Perasaan yang demikian adalah ujung dari kekalahan, betapapun lemahnya lawan-lawanmu.”

Kedua muridnya mengangukkan kepalanya. Sambil menghindarkan diri dari setiap serangan, akhirnya mereka pun berpisah untuk menemui lawan-lawan yang telah ditentukan bagi mereka masing-masing.

Beberapa langkah setelah meninggalkan gurunya, Gupala melonjak kegirangan, seperti anak kambing dilepaskan di padang rumput yang hijau segar. Beberapa kali ia tertegun melihat perang campuh yang seru. Ujung senjata berputaran dan terayun-ayun, kemudian gemerincing benturan yang melontarkan bunga-bunga api.

Sejenak kemudian Gupala telah berada di baris pertempuran yang terdepan. Kini ia harus mulai menyadari arti dari ujung-ujung senjata lawan, yang setiap saat dapat menghunjam di dadanya.

Gupala mengerutkan keningnya. Sejenak ia melihat seorang pengawal yang bertempur mati-matian melawan seorang yang agak asing. Menurut dugaan Gupala orang itu pasti bukan orang Menoreh.

“Mungkin orang ini termasuk salah seorang anak buah Ki Peda Sura,” katanya di dalam hati. Dan tiba-tiba saja tangannya menjadi gatal. Apalagi ketika ia melihat orang itu tertawa sambil berkata, “He, sebut ayah dan ibumu. Lalu tundukkan kepalamu. Aku akan memenggalnya.”

Lawannya, seorang pengawal tanah perdikan, menggeram. Tetapi ia memang sedang terdesak. Bahkan sejenak kemudian senjatanya telah terlepas dari genggamannya.

Sekali lagi Gupala melihat orang itu tertawa sambil berkata, “Ayo cepat, berlutut.”

Pengawal itu surut beberapa langkah. Tetapi dalam perang yang hiruk-pikuk ia tidak banyak mendapat kesempatan. Sekali ia justru terdorong oleh seseorang yang sedang menghindarkan diri dari tusukan ujung tombak.

“Mau lari kemana kau anak yang malang,” suara tertawa itu menjadi semakin keras.

Dan tiba-tiba saja Gupala tidak dapat menahan tertawanya pula melihat orang yang sedang mabuk kemenangan itu. Bahkan kemudian ia berkata, “He, kau cepat sekali mendapat kegembiraan. Itulah agaknya yang membuat kumismu menjadi tebal.”

Orang itu terdiam. Dipandanginya Gupala sejenak. Hanya sejenak. Hiruk-pikuk peperangan telah mendorongnya untuk segera melakukan sesuatu. Dan tiba-tiba saja ia meloncat menikam pengawal yang sudah tidak bersenjata itu, supaya ia segera dapat menghadapi musuhnya yang lain.

Tetapi ujung senjata tidak pernah dapat menyentuh korbannya. Tiba-tiba saja ia terpekik selagi ia masih menjulurkan tangannya yang menggenggam senjata itu. Sejenak kemudian ia menjadi terhuyung-huyung. Demikian Gupala menarik pedangnya yang terhunjam di lambung orang itu, maka orang itu pun segera jatuh tertelungkup. Mati.

Pengawal yang terselamatkan itu sejenak berdiri mematung. Ia mengenal anak yang gemuk itu sebagai seorang gembala. Tetapi bagaimana mungkin ia dapat melakukan hal itu. Begitu cepatnya, sehingga matanya tidak dapat menangkap gerak itu.

Kini yang terdengar adalah suara tertawa Gupala. Sambil meloncat meninggalkan pengawal itu ia berdesis, “Ambil senjata itu. Kau tidak dapat tidur di dalam peperangan kalau kau tidak mau benar-benar di bantai oleh lawan-lawanmu.”

Orang itu seperti tersadar dari tidurnya. Segera ia memungut senjata lawannya yang terbunuh itu, karena senjatanya sendiri telah tenggelam dalam hiruk-pikuknya peperangan.

Gupala pun kemudian menyusup di antara kedua pasukan yang sedang bertempur itu. Sekali tangannya yang gatal tidak dapat ditahannya lagi.

“Bukankah aku berada di peperangan?” ia bergumam di dalam hatinya. Dengan demikian, maka setiap kali ia harus berhenti, seperti terhisap oleh suatu keinginan yang tidak tertahankan, maka setiap kali senjata telah terhunjam di tubuh lawan-lawannya. Meskipun demikian, Gupala masih mencoba membedakan, apakah lawannya itu orang-orang Menoreh, ataukah orang-orang asing yang datang ke Menoreh dalam keadaan yang kemelut itu.

Meskipun kadang-kadang Gupala keliru, namun dari jenis pakaiannya, Gupala dapat mengira-irakan, siapakah yang sedang dihadapinya.

Tiba-tiba Gupala itu tertegun. Dilihatnya seseorang bertempur sambil berteriak-teriak. Kadang-kadang tertawa dan kadang membentak-bentak. Sekilas Gupala dapat melihat, bahwa orang itu mempunyai kelebihan dari para pengawal tanah perdikan.

“Oh, inilah orang yang bernama Ki Muni itu agaknya,” berkata Gupala di dalam hatinya. Melihat ciri-ciri, tingkah laku dan pakaiannya, kalung yang dibebani dengan berbagai macam benda, maka Gupala pun dapat memastikan, bahwa orang yang dicarinya itu sudah diketemukannya.

Perlahan-lahan Gupala yang gemuk itu pun segera mendekatinya. Namun tiba-tiba ia mempunyai cara yang menyenangkan baginya untuk menarik perhatian orang yang garang itu.

“Senjatanya sangat menarik,” desis Gupala di dalam hatinya, “sebuah pedang yang lengkung.”

Gupala memang tidak segera menyongsongnya. Dibiarkannya Ki Muni sesumbar dan bertempur seperti seekor elang yang menyambar. Beberapa orang terpaksa bergabung untuk melawannya.

Gupala mengerutkan keningnya. Bukan saja tangannya yang menjadi gatal, tetapi hatinya tergelitik melihat sikap dan tandang Ki Muni, seolah-olah di seluruh jagad tidak ada orang laki-laki selain dirinya.

Itulah sebabnya, maka Gupala pun tiba-tiba telah berbuat serupa. Sambil tertawa berkepanjangan ia menyerang beberapa orang sekaligus. Ia membuat lingkaran perkelahian sendiri di samping arena yang berpusar pada Ki Muni.

Beberapa orang lawan-lawannya terkejut melihat anak muda yang gemuk itu meloncat-loncat dengan lincahnya. Pedangnya terayun-ayun menyambar-nyambar seperti burung sikatan. Setiap kali ujung pedang itu menyentuh tubuh lawannya, dan setiap kali terdengar pekik kesakitan.

Tetapi Gupala memang aneh. Ia masih sempat bergurau di peperangan. Kalau beberapa saat lawan-lawannya tidak ada yang terpekik kesakitan karena ujung pedangnya tidak berhasil melukai lawannya, maka ia sendirilah yang berteriak. Namun kemudian suara tertawanya menggema berkepanjangan.

Cara bertempur Gupala itu benar-benar telah menarik perhatian. Baik lawan maupun kawan. Beberapa orang pengawal terheran-heran melihat gembala itu mampu bertempur demikian tangkasnya, apalagi seolah-olah ia hanya sedang bermain-main di saat terang bulan.

Lawan-lawannya pun menjadi cemas melihat tandangnya. Ujung pedangnya seolah-olah mempunyai mata yang dapat melihat kemana lawannya menghindar. Seseorang yang sekali diburu oleh pedangnya, betapapun juga ia berusaha, maka akhirnya ujung pedang itu pasti akan bersarang di dadanya.

Demikianlah, maka Gupala telah menimbulkan kegemparan di medan itu. Arena pertempuran di seputarnya menjadi gelisah seperti di landa angin pusaran.

Ternyata cara itu berhasil menarik perhatian Ki Muni. Orang yang merasa dirinya tidak terlawan itu mengerutkan keningnya melinat arena yang kisruh beberapa langkah daripadanya.

“He, siapa yang berkelahi di situ?” ia berteriak.

“He, akulah yang berkelahi di sini,” terdengar jawaban dari tempat yang gelisah itu.

“Siapa kau?” teriak Ki Muni pula.

“Aku, gegedug Tanah Perdikan Menoreh. Seorang pengawal yang paling setia pada tugasku, karena cita-cita yang menjiwai setiap perbuatanku.”

“Persetan, siapakah namamu?”

“Setiap orang mengenal aku. Karena aku selalu berada di sisi Ki Gede Menoreh, membina tanah ini. Sekarang selagi tanah ini menjadi semakin baik, kau datang untuk menghancurkannya.”

“Gila, gila kau,” Ki Muni berteriak sambil mengamuk. Senjatanya yang lengkung menyambar-nyambar seperti elang. Beberapa orang yang berada di sekitarnya segera terdesak menjauh, dan beberapa orang yang bersama-sama melawannya pun meloncat surut.

Beberapa langkah Ki Muni maju diikuti oleh pasukannya yang mendesak maju pula.

“Aku adalah seorang yang hampir sepanjang umurku berada di tanah ini,” berkata Ki Muni dengan lantangnya. “Aku belum pernah mengenal tampangmu.”

Gupala tidak segera menjawab. Ia melihat Ki Muni menjadi semakin dekat ke lingkaran perkelahiannya.

“Ayo, sebut namamu.”

“Jawabanmu sungguh mentertawakan,” berkata Gupala. “Kalau kau orang Menoreh, apalagi sejak kanak-kanak, kenapa kau ikut bersama-sama cucurut-cucurut itu untuk justru menghancurkan Menoreh?”

“Setan,” Ki Muni bergumam, “siapa namamu?”

“Kalau kau benar orang Menoreh, maka kau adalah seorang pengkhianat,” berkata Gupala selanjutnya tanpa menjawab pertanyaan Ki Muni.

“Diam, diam!” Ki Muni berteriak. “Aku sobek mulutmu dengan pedang yang aku dapat dari ujung bumi, yang tajamnya tujuh kali tajam pedang yang lain.”

Gupala mengerutkan keningnya. Kini Ki Muni telah berada hanya beberapa langkah saja daripadanya. Sekilas ia melihat pedang yang lain dari pedang orang-orang Menoreh. Dalam redup sinar api yang sudah hampir padam, pedang itu tampak berkilat-kilat.

“Pedang itu memang tajam,” berkata Gupala di dalam hatinya. “Setiap sentuhan pada tubuh, akibatnya sangat berbahaya. Tetapi agaknya pedang itu tidak sekukuh pedangku. Ternyata orang itu selalu berusaha menghindari benturan yang langsung. Apalagi dengan kekuatan yang besar.”

Gupala pun kemudian menggeram. Dan tiba-tiba saja ia berteriak, “He. Kau ingin tahu namaku. Namaku adalah Ki Muni, seorang dukun yang tidak ada duanya. Yang setia kepada tanah kelahiran.”

“Persetan,” Ki Muni menjadi semakin marah. Terasa darahnya seakan-akan telah mendidih. Dengan serta-merta ia meloncat menyerang Gupala sejadi-jadinya.

Gupala surut selangkah untuk memantapkan diri. Namun kemudian ia pun melangkah maju kembali sambil memutar pedangnya. Meskipun pedangnya tidak setajam pedang lawannya, namun pedang itu memiliki kelebihan juga. Ki Muni tidak akan berani beradu tenaga lewat tajam pedangnya.

Dada Gupala menjadi berdebar, ketika ia melihat api yang tiba-tiba saja telah melonjak ke udara. Sekilas ia berpaling. Dilihatnya sebuah rumah yang terletak beberapa langkah dari arena perkelahian itu terbakar.

“Mereka menjadi liar,” desisnya di dalam hati. “Api yang terhambur-hambur dari panah api, jerami-jerami yang bertimbun-timbun di sisi ujung jalan dan bahkan yang sengaja ditebarkan di luar regol, gardu darurat di regol yang telah terbakar pula, telah hampir padam. Tetapi kini sebuah rumah telah menyala.”

Tetapi Gupala tidak sempat untuk merenung dan mengumpat-umpat saja. Serangan Ki Muni segera melandanya seperti banjir. Namun ia pun telah cukup siap untuk melawannya.

Perkelahian di antara keduanya segera menjadi semakin seru. Baik para pengawal tanah perdikan, maupun orang-orang Ki Tambak Wedi, lambat laun bergeser semakin jauh. Mereka menganggap perkelahian itu adalah perkelahian yang tidak perlu dicampurinya.

Gupala tidak memerlukan waktu terlampau lama untuk menjajagi kemampuan lawannya. Dan tiba-tiba saja ia tersenyum. Ki Muni hanyalah seorang yang mampu berteriak-teriak saja. Meskipun ia memiliki kemampuan di atas orang kebanyakan, namun orang itu hampir tidak banyak berarti bagi Gupala. Karena itu, mulailah Gupala dengan tabiatnya. Selagi ia masih bertempur menghadapi Ki Muni, maka sekali-sekali ia berlari berputar-putar. Namun setiap kali pedangnya menyambar korban-korban yang berjatuhan di pihak lawan.

“He, apakah kau memang gila?” teriak Ki Muni.

“Ki Muni,” berkata Gupala, “ayahku berpesan kepadaku, agar aku selalu tidak menganggap lawanku terlampau ringan. Aku pun tidak menganggap demikian terhadapmu. Tetapi, aku tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa sebenarnya Ki Muni itu tidak lebih dari namanya. Hanya suaranya saja seakan-akan bunyi ledakan petir di langit. Tetapi kau tidak memiliki kemampuan apa pun di peperangan.”

Betapa dada Ki Muni serasa akan meledak mendengar ejekan Gupala itu. Apalagi lawannya itu tidak lebih dari seorang anak muda gemuk yang tidak dikenal. Meskipun anak itu berjambang, namun wajahnya sama sekali tidak meyakinkannya, bahwa ia mampu bertempur di peperangan.

Karena itu, maka Ki Muni pun segera mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Dibacanya segala macam ilmu, doa dan jampi-jampi. Disebutnya segala macam nenek-moyang, bahureksa segala macam sudut, kali, dan hutan-hutan. Bahu reksa jalan dan perapatan. Kemudian sambil menghentakkan senjatanya ia berteriak nyaring.

Orang-orang yang telah mengenal Ki Muni agak lama, mengetahuinya, bahwa Ki Mumi sudah sampai pada puncak kemarahannya, dan dengan demikian orang-orang itu mengharap, bahwa korban di pihak lawan akan semakin banyak berjatuhan.

Tetapi ternyata dugaan itu sama sekali tidak benar. Betapapun Ki Muni mengerahkan segala macam kemampuan yang tersimpan di dalam dirinya, beserta pedang pusakanya yang didapatkannya dari ujung bumi, namun lawannya yang masih muda dan gemuk itu masih saja tertawa berkepanjangan.

“Ayo, kerahkan segenap kemampuanmu, Ki Muni,” berkata Gupala sambil tertawa. “Atau barangkali kau memang sudah sampai pada puncak kemampuanmu?”

“Persetan!” sahut Ki Muni sambil berteriak-teriak, maka serangannya pun menjadi semakin deras. Tetapi lawannya masih saja tertawa dan kadang-kadang menari-nari berloncat-loncatan dari seorang ke orang yang lain.

Di bagian lain dari pertempuran itu, Gupita dengan tenangnya bertempur melawan dukun yang lain, Ki Wasi. Namun ternyata Ki Wasi pun tidak seliar Ki Muni. Dengan sungguh-sungguh Ki Wasi berusaha untuk mengatasi keadaan. Namun pada kemampuan tertentu, ia terpaksa melihat kenyataan, bahwa lawannya meskipun masih cukup muda, namun memiliki kemampuan yang tidak dapat diabaikannya. Bahkan semakin lama, ternyata, bahwa lawannya adalah seorang yang luar biasa.

“Aku belum pernah melihat wajahmu anak muda,” desis Ki Wasi.

Gupita mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Mungkin, Ki Wasi.”

”Siapa namamu?”

“Gupita. Seorang gembala.”

“Kau berbohong.”

“Tidak. Aku memang seorang gembala.”

Ki Wasi terdiam. Senjatanya, sepasang trisula bertangkai pendek hampir tidak berarti sama sekali bagi lawannya. Namun ia berusaha sekuat-kuat tenaganya. Kalau semula ia berhasil mendesak setiap orang yang melawannya dan membawa kelompoknya setapak demi setapak maju, maka kini ia terbentur pada suatu perlawanan yang tidak mudah ditembusnya.

Dan tanpa disangka-sangka, Ki Wasi mendengar lawannya yang masih muda itu bertanya, “Ki Wasi, kenapa kau melakukan perlawanan atas Ki Argapati?”

Sejenak Ki Wasi tidak dapat menyahut. Pertanyaan itu benar-benar telah menyentuh perasaannya.

Gupita merasakan sentuhan itu pula, karena perlawanan Ki Wasi yang seakan-akan tertegun. Bahkan kemudian orang itu meloncat selangkah mundur. Meskipun Ki Wasi menyilangkan trisulanya di muka dadanya, namun getaran di dalam dadanya telah mempengaruhinya.

Tetapi Gupita tidak mempergunakan kesempatan itu. Bahkan membiarkan Ki Wasi menyadari keadaannya. Meskipun pedangnya teracu ke depan dada lawannya, tetapi Gupita tidak meloncat dan menembus dada itu dengan ujung pedangnya.

“Jangan kau tanyakan, mengapa aku melawannya,” geram Ki Wasi.

“Itu hakku,” jawab Gupita. “Hakmu adalah menjawab atau tidak. Kalau kau memang berkeberatan, kau tidak perlu menjawabnya.”

“Aku tidak akan menjawab.”

“Terserahlah. Tetapi dengan demikian aku dapat membuat jawaban sendiri. Dan aku menganggap perlawananmu itu sebagai suatu pemberontakan dan ketidak-setiaan terhadap pimpinanmu.”

“Kau salah,” jawab Ki Wasi. Namun agaknya ia telah mendapatkan kemantapannya kembali, sehingga justru ia-lah yang menyerang Gupita dengan sekuat-kuat tenaganya.

Namun Gupita sebenarnya bukanlah lawannya. Karena itu, Gupita dengan, mudahnya dapat menghindarkan diri dari setiap serangannya.

“Aku mempunyai pertimbangan sendiri,” desis Ki Wasi. “Aku melawan Ki Argapati, karena Ki Argapati ternyata mengecewakan sekali. Berapa tahun aku bekerja dengan patuh. Namun agaknya Ki Argapati bukan seorang yang dapat menjadi contoh bagi setiap orang di atas tanah perdikan ini. Ia lebih mementingkan dirinya sendiri daripada membela anak dan adiknya. Ia begitu taat bersujud kepada kekuasaan Pajang daripada memberikan perlindungan kepada Angger Sidanti dan Argajaya. Apakah itu sikap seorang ayah yang baik. Adalah menjadi tanggung jawab seorang ayah, apa pun yang dilakukan oleh anaknya.”

“Juga apabila anak itu melakukan kesalahan?”

“Tentu tidak. Tetapi Angger Sidanti tidak bersalah. Ia didorong ke dalam suatu keadaan yang tidak dapat dielakkannya lagi. Ia mempunyai harga diri sebagai seorang putera kepala tanah perdikan yang besar dan kuat. Tetapi Ki Gede telah melepaskan tangung jawab itu.”

Gupita mengerutkan keningnya. Api yang berkobar semakin besar menelan sebuah rumah. Cahayanya yang kemerah-merahan telah membuat wajah-wajah semakin menjadi tegang dan mengerikan. Keringat yang meleleh dari kening dan darah yang menitik dari luka, membuat medan perang itu menjadi semakin panas.

Gupita masih bertempur melawan Ki Wasi. Tetapi ternyata Gupita tidak memanfaatkan setiap keadaan yang memberinya kesempatan untuk menyudahi perkelahian.

Ki Wasi pun ternyata merasakan keganjilan yang terjadi dalam perkelahian itu. Ia merasa bahwa betapapun ia berusaha, namun ia tidak akan dapat mengimbangi lawannya.

Tetapi meskipun demikian, ia masih tetap dapat melakukan perlawanan, betapapun disadarinya, bahwa perlawanannya itu hampir tidak ada artinya.

“Apakah maksud orang ini?” pertanyaan itu tumbuh di dalam hatinya. “Kenapa ia tidak membunuh aku saja di dalam peperangan ini, meskipun agaknya ia dapat melakukannya dengan mudah?”

Dan Gupita memang tidak ingin membunuhnya. Agaknya Ki Wasi adalah salah seorang yang lemah hati, yang mudah percaya kepada hasutan dan keterangan-keterangan palsu. Ki Wasi yang melihat dan bahkan sering bermain-main dengan Sidanti ketika anak itu masih terlampau muda, tidak sampai hati melihat ia tersudut dalam kesulitan yang pahit, yang menurut pengertiannya, karena Argapati tidak mau melindunginya.

“Kalau Ki Wasi dapat mengerti keadaan yang sebenarnya, apa saja yang pernah dilakukan Sidanti, maka ia akan berpendirian lain. Ia baru mendengar keterangan dari sebelah sisi. Dan keterangan itu langsung dipercayainya,” berkata Gupita di dalam batinya. Dan karena itu pulalah ia ingin Ki Wasi tetap hidup, dan dapat mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi.

Karena itu, meskipun dengan alasan yang berbeda-beda, namun kemudian Gupita pun telah bertempur tidak saja melawan Ki Wasi. Beberapa orang yang melihat pemimpin kelompoknya terdesak, segera berusaha membantunya. Tetapi Gupita sama sekali tidak mengalami kesulitan. Ternyata pedangnya mampu melindungi dirinya, dan bahkan mampu melukai beberapa orang lawan-lawannya. Seorang demi seorang, Gupita telah kehilangan lawan. Para pengawal tanah perdikan yang bersamanya selalu mempergunakan setiap kesempatan untuk mendesak terus, sehingga semakin lama semakin ternyata, bahwa garis medan di tempat itu tidak lagi dapat dipertahankan oleh orang-orang Ki Tambak Wedi yang dipimpin oleh Ki Wasi.

Di bagian tengah, Ki Peda Sura pemimpin pasukan yang menghadapi para pengawal yang datang dari arah belakang, sempat melihat pasukannya di kedua sisinya bergeser mundur, sehingga lingkaran gelar Gajah Meta itu pun menjadi semakin sempit, karenanya. Sambil menghentakkan senjatanya ia menggeram. Seharusnya kekuatan kedua sisi itu dapat dipercaya, karena masing-masing dipimpin oleh dua orang kuat dari Tanah Perdikan Menoreh ini sendiri. Tetapi ternyata, bahwa pertahanan itu semakin lama semakin surut.

“Apakah keduanya telah berkhianat dan justru membiarkan pasukannya mundur?” pertanyaan itu telah mengganggunya.

Namun karena itulah, maka ia pun segera mengamuk tanpa terkendalikan lagi. Setiap orang yang berusaha mendekatinya, pasti akan terpelanting tersentuh senjatanya. Meskipun senjatanya tidak mempunyai tajam seperti pedang, namun justru senjata itu mampu meremukkan tulang. Sentuhan di kepala tidak akan perlu diulanginya lagi.

Namun agaknya kekalutan di kedua sisi pasukannya sangat mengganggunya, sehingga ia bermaksud untuk melihat sendiri, apakah yang sebenarnya telah terjadi.

Karena itu, maka diserahkannya pimpinan kepada salah seorang kepercayaannya, dan ia sendiri kemudian meninggalkan tempatnya untuk melihat apa yang terjadi di kedua sisinya. Yang mula-mula ingin dilihatnya adalah pasukan yang dipimpm oleh Ki Muni. Orang itu adalah orang yang cukup kasar, sehingga seharusnya ia mampu melakukan apa saja untuk menghancurkan lawannya. Apalagi di dalam pasukan Ki Muni itu, terdapat banyak orang-orangnya sendiri, yang pasti akan mampu membuat lawan-lawan mereka kehilangan keberanian. Orang-orangnya telah terlampau biasa melakukan pembunuhan dengan berbagai macam cara. Bahkan cara-cara yang tidak dapat dibayangkan sebelumnya.

Tetapi tiba-tiba Ki Peda Sura tertegun, ketika ia melihat sesuatu yang aneh di peperangan itu. Ia melihat seorang tua dengan kumis yang lebat sedang bertempur melawan beberapa orang sekaligus.

“Bukan main,” geram Ki Peda Sura, “ternyata orang ini perlu mendapat perhatian.”

Dengan demikian, maka Ki Peda Sura mengurungkan niatnya. Dengan garangnya ia meloncat mendekati orang tua itu sambil menggeram. “He, siapakah kau?”

Orang tua itu berpaling sejenak. Ketika dilihatnya Ki Peda Sura maka katanya, “Kaukah yang bernama Ki Peda Sura?”

“Ya. Akulah Ki Peda Sura. Nah, dengan mengenali namaku, kau sudah dapat membayangkan, apa yang akan terjadi atasmu. Sekarang sebut namamu.”

“Sudah lama aku mencarimu. Di mana kau bertempur selama ini? Hampir-hampir aku menganggap, bahwa kau sudah mati terbunuh di peperangan ini,” jawab orang itu.

“Persetan!” Ki Peda Sura berteriak. Kemarahannya yang telah membakar dadanya, kini menjadi semakin memuncak. “Sebut namamu!”

“Apakah arti nama seseorang?”

”Cepat, sebelum kau mati!”

“Aku dapat menyebut seribu macam nama. Panji Jayengraga, Rangga Semantana, Raden Badersewu.”

“Cukup. Cukup. Sebut namamu yang sebenarnya.”

“Pilihlah salah satu. Atau kalau kau anggap kurang sesuai, nah siapa sebaiknya namaku?”

Kemarahan Ki Peda Sura sudah tidak dapat ditahannya lagi. Karena itu, maka tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia menerkam orang tua berkumis itu dengan suatu serangan maut. Kedua senjatanya bersama-sama terayun, menghantam lawannya dengan kecepatan yang tidak tersangka-sangka.

Lawannya menahan nafas. Ternyata Ki Peda Sura benar-benar seorang yang memiliki kemampuan yang cukup tinggi. Namun, kali ini ia berhadapan dengan lawan yang tidak disangka-sangka akan dijumpainya di medan peperangan ini. Menurut perhitungannya, selain Ki Tambak Wedi dan Ki Argapati, tidak akan ada orang yang mampu menyamainya. Tetapi ternyata kali ini, orang berkumis itu mampu menghindari serangannya. Dengan loncatan yang melampaui kecepatannya, ia berhasil menghindar, sehingga ayunan senjata Ki Peda Sura telah menyeret tubuhnya sendiri. Karena ia tidak memperhitungkan sama sekali hal itu, maka tubuhnya terhuyung-huyung beberapa langkah, sebelum ia berhasil menguasai keseimbangannya kembali.

Sambil mengumpat-umpat Ki Peda Sura mempersiapkan dirinya untuk menghadapi lawannya yang mendebarkan jantungnya. Orang tua berkumis itu ternyata memiliki bekal yang cukup untuk menghadapinya.

Dengan demikian, maka Ki Peda Sura harus berhati-hati. Kali ini ia harus bertempur bersungguh-sungguh, tidak sekedar membunuh lawan hampir tanpa perlawanan.

“Ki Peda Sura,” terdengar orang tua itu berbicara dengan suara yang agak sengau, “aku terpaksa melibatkan diri dalam pertentangan ini, karena aku tidak ingin melihat tanah perdikan ini runtuh. Dengan kehadiranmu dan orang-orangmu, maka kekacauan di atas tanah ini akan semakin menjadi-jadi.”

“Kau juga orang asing di sini.”

“Memang, memang aku bukan orang Menoreh. Tetapi aku datang seorang diri. Katakanlah aku hanyalah datang bersama dua orang anak-anakku. Dan aku tidak akan melibatkan diri, seandainya tidak ada orang-orang seperti Ki Tambak Wedi, dan kau beserta anak buahmu. Kalau aku biarkan persoalan ini berlarut-larut, maka tanah ini akan jatuh ke tangan Ki Tambak Wedi dan Sidanti. Namun untuk seterusnya kau akan selalu memerasnya. Bayangkan, apa yang akan terjadi atas tanah ini.”

“Persetan!” Ki Peda Sura menghentakan giginya. Kemudian serangannya pun datang beruntun. Sepasang senjatanya terayun-ayun mengerikan.

Orang tua berkumis itu telah benar-benar bersedia untuk melawannya, sehingga karena itu, maka dengan sigapnya ia menghindari setiap serangan dan bahkan kemudian menyerang kembali.

Sejenak orang tua itu menjadi ragu-ragu. Ia bukan seorang pembunuh yang selalu haus darah. Bahkan setiap ia melakukan pekerjaan yang menurut keyakinannya sudah pada tempatnya, ia masih saja memperhitungkan segala macam kemungkinan.

Namun yang dihadapinya kini adalah seseorang yang telah berbentuk. Seseorang yang tidak akan mungkin dapat dirubahnya lagi. Ki Peda Sura adalah seseorang yang sangat berbahaya, bukan saja bagi Tanah Perdikan Menoreh, tetapi juga bagi kemanusiaan pada umumnya. Seandainya ia gagal memeras tanah perdikan ini, maka ia akan dapat melakukannya di tempat yang lain.

Sambil bertempur orang tua itu masih sempat membuat pertimbangan-pertimbangan. Bahkan ia masih sempat bertanya, “Ki Peda Sura. Apakah pamrihmu, sehingga kau bersama anak buahmu dengan bersusah payah ikut dalam pertentangan antara ayah dan anak ini?”

Ki Peda Sura tidak menyahut. Namun serangannya menjadi semakin garang, seperti badai mangsa kesanga.

“Ada dua kemungkinan Peda Sura,” berkata orang tua itu. “Setelah peperangan ini selesai, kaupun akan diselesaikan pula oleh Ki Tambak Wedi, karena bagaimanapun juga, kau tidak akan menang melawannya. Sedang kemungkinan yang lain. Tambak Wedi-lah yang akan kau peras habis-habisan. Seandainya Tambak Wedi berkeberatan, maka tanah perdikan inilah yang akan menjadi korban. Kau akan memasuki setiap pintu dan menghisap segala macam isinya. Dan sudah tentu kau akan menghindari benturan-benturan langsung dengan Tambak Wedi. Dan menurut perhitunganmu, Ki Tambak Wedi tidak akan sekuat Argapati dalam mengendalikan pemerintahan di Menoreh.”

“Persetan,” Ki Peda Sura menggeram. Dengan sekuat tenaga ia menyerang lawannya. Namun serangan-serangannya itu sama sekali tidak pernah menegangkan urat orang tua yang berkumis itu.

“Tetapi Ki Peda Sura,” orang itu masih berbicara saja sambil memutar pedangnya, “yang paling jelek adalah justru kemungkinan yang lain lagi. Kemungkinan ketiga. Yaitu apabila kau bersama-sama Ki Tambak Wedi memeras tanah perdikan ini.”

“Diam, diam!” teriak Ki Peda Sura. Sepasang senjatanya menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Namun sepasang senjata itu sama sekali tidak berhasil menyentuh lawannya. Bahkan setiap kali senjatanya itu membentur pedang orang tua berkumis itu, terasa tangannya seakan-akan bergetar.

“Setan manakah yang tiba-tiba ada di dalam peperangan ini?” geram Ki Peda Sura.

“Nah Ki Peda Sura,” berkata orang itu pula, “masih ada kesempatan sebelum orang-orangmu tumpas di peperangan ini. Tinggalkan medan dan pergi ke asalmu. Kalau kau tidak mengganggu tanah ini untuk seterusnya, kau pun tidak akan kami ganggu.”

“Tutup mulutmu!” terak Ki Peda Sura.

“Maaf. Aku akan berbicara terus. Kalau kau mau mendengarkan aku akan bergembira sekali. Sebab tidak akan ada kemungkinan bagimu untuk menyelamatkan anak buahmu. Kedua anakku, adalah gembala-gembala yang salah seorang daripadanya telah membantu Pandan Wangi melukai kau beberapa saat yang lampau. Keduanya kini ada di medan ini, sekarang dua orang lain yang akan dapat membinasakan Sidanti dan Argajaya. Nah, sekarang kau tahu, bahwa Ki Tambak Wedi telah salah menilai kekuatan lawannya. Termasuk kau yang terlampau tamak.”

“Bohong. Kau sangka aku percaya?”

“Satu contoh adalah di hadapanmu sekarang. Kalau kau tidak mau mendengarkan kata-kataku, apa boleh buat.”

Terasa dada Ki Peda Sura berdesir. Ia sadar, bahwa lawannya kali ini bukan sekedar seorang yang berbicara terlampau keras, tetapi ia adalah seorang yang tangguh tanggon.

Meskipun demikian, sama sekali tidak terlintas di kepalanya untuk meninggalkan medan. Ia masih mempunyai cara untuk mencoba mengalahkan orang ini.

Demikianlah mereka bertempur semakin lama semakin seru. Beberapa kali Ki Peda Sura terdesak, dan setiap kali ia telah bergeser surut. Beberapa orang yang bertempur di sekitar kedua orang itu terpaksa berusaha menyingkir, karena mereka masih harus melayani lawan masing-masing. Tetapi mereka lebih senang berada agak jauh dari keduanya, daripada tanpa setahu mereka, kepala mereka pecah oleh sentuhan senjata kedua orang yang luar biasa itu.

Namun semakin lama semakin terasa, bahwa Ki Peda Sura tidak akan mampu lagi melakukan perlawanan lebih lama lagi. Apalagi ketika orang tua yang berkumis itu mengambil suatu keputusan, bahwa Ki Peda Sura memang harus dilenyapkan.

Ki Peda Sura pun menyadari keadaaanya. Ia tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi melawan orang tua berkumis itu. Karena itu ia harus segera berbuat sesuatu, agar ia tidak terdesak terus, dan apalagi dibinasakan. Sejenak kemudian terdengar sebuah tanda yang meluncur dari mulutnya. Sebuah suitan nyaring.

Orang tua berkumis itu menjadi berdebar-debar. Ia tahu benar, bahwa yang diperdengarkan oleh Ki Peda Sura itu pasti suatu pertanda, tetapi orang tua itu tidak tahu, apakah maksudnya.

“Aku harus segera menyelesaikannya,” pikir orang tua itu. Tetapi ia terkejut ketika beberapa orang berloncatan dari antara hiruk-pikuk peperangan, dan kemudian seolah-olah mengepungnya. Tiga orang yang bertubuh kekar dengan wajah yang mengerikan.

“Nah, kau tidak akan dapat lolos lagi,” desis Ki Peda Sura.

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Kemudian ia menarik nafas dalam-dalam sambil berdesis di dalam hatinya, “Memang tidak ada pilihan lain. Melawan Peda Sura sama berbahayanya dengan melawan iblis.”

“Menyerahlah, supaya kau dapat mati dengan tenang,” geram Ki Peda Sura.

Tetapi orang berkumis itu masih tetap tenang. Sekali ia bergeser untuk mempersiapkan dirinya. Dipandanginya wajah-wajah itu satu demi satu.

“Sudah sekian lama aku tidak pernah bertempur bersungguh-sungguh. Berkelahi antara hidup dan mati. Tetapi berhadapan dengan empat orang ini agaknya memang tidak ada pilihan lain. Aku tidak hanya sekedar bermain-main lagi, seperti beberapa kali aku lakukan melawan Sumangkar dan Ki Tambak Wedi, karena saat itu aku belum berada di dalam suatu keadaan seperti sekarang. Tetapi kini aku harus menentukan,” berkata orang tua itu di dalam hatinya. “Juga apabila pada suatu saat aku berhadapan dengan Tambak Wedi sendiri.”

“Kenapa kau membungkam?” bentak Ki Peda Sura. “Jangan menyesal. Tidak ada pilihan lain bagimu.”

Orang berkumis itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Marilah Ki Peda Sura. Aku sudah siap.”

“Sebut namamu, supaya aku dapat bercerita, bahwa seorang yang bernama dadap, atau waru, atau tikus, atau kelinci, telah aku bunuh di peperangan,” desis Ki Peda Sura.

“Nama-nama itukah yang pantas bagiku? Bukan Panji Jayengraga, atau Rangga Parang Jumena, atau Rangga Surenggana.”

“Cukup, cukup!” bentak Ki Peda Sura. “Baiklah kalau kau ingin mati tanpa nama.” Kemudian kepada kawan-kawannya ia berkata, “Kita terpaksa membunuhnya tanpa ampun, terserahlah cara yang mana yang akan kalian pilih.”

“Orang ini harus dicincang,” geram salah seorang dari mereka, “tetapi ia harus mati perlahan-lahan.”

“Bagus, aku ingin menangkapnya hidup-hidup.”

Terdengar salah seorang dari mereka tertawa. Kemudian hampir bersamaan mereka maju mendekat.

Orang tua itu harus benar-benar mempersiapkan dirinya. Orang-orang itu bukanlah orang kebanyakan yang dapat diabaikan.

Sejenak kemudian, Ki Peda Sura itu pun berkata, “Nah, selesaikan. Pekerjaan kita masih banyak.”

Serentak ketiga orang itu menyerang dari tiga jurusan. Dengan senjata masing-masing yang berbeda-beda mereka berusaha sekaligus menghancurkan lawannya. Salah seorang dari mereka mempergunakan sebuah tombak pendek berduri pandan. Sentuhan senjata itu dapat menyobek kulit dedel duwel. Seorang yang lain bersenjata sebuah golok yang besar, sedang yang seorang lagi bersenjata pedang.

Tetapi orang tua berkumis itu cukup sadar. Dengan sigapnya ia menghindari serangan-serangan itu, dan bahkan salah seorang daripada mereka telah membenturkan dengan senjata orang tua itu. Betapa ia terkejut merasakan tangannya seakan-akan disengat oleh bara api. Hampir saja senjatanya terlepas dari tangannya. Karena itu, maka terdengar ia menggeram untuk melontarkan kemarahan yang menyesak dada.

Namun sebelum orang tua itu berhasil berdiri tegak, serangan Ki Peda Sura sendiri datang membadai. Sepasang senjatanya menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Hampir saja kepala orang tua itu tersentuh oleh senjata Peda Sura yang dahsyat itu. Hanya dengan kecepatan yang tidak dapat diperhitungkan oleh lawannya, orang tua itu berhasil menyelamatkan dirinya.

“Bukan main,” desisnya di dalam hati, “mereka berempat merupakan lawan yang berat juga.”

Karena itu, maka orang tua itu tidak lagi dapat berlengah-lengah barang sekejap pun. Menghadapi mereka berempat, maka tugasnya agak lebih berat daripada berhadapan langsung dengan seorang Tambak Wedi, karena ia harus memperhatikan beberapa arah sekaligus. Untunglah, bahwa orang-orang Ki Tambak Wedi mempunyai kegemaran membakar rumah, lumbung dan bahkan kandang-kandang kerbau, sehingga nyala api telah membantunya untuk melihat lawan-lawannya yang datang dari berbagai arah.

Sementara itu, Gupala telah menjadi jemu untuk bermain-main. Kini perhatiannya dipusatkannya kepada lawan utamanya, Ki Muni. Dukun itu telah mengerahkan segenap kemampuannya. Segenap mantra dan guna-guna telah dibacanya. Namun ternyata, bahwa ia menjadi cemas. Ternyata kemampuannya bertempur di peperangan tidak seperti yang diduganya sendiri. Ia mengharap lawannya menjadi gemetar dengan mantra dan guna-gunanya. Bahkan kemudian bersujud sambil memeluk lututnya sementara ia dapat menggoreskan pedang di leher lawan itu. Tetapi lawannya yang gemuk ini sama sekali tidak terpengaruh oleh mantra-mantranya. Danyang prapatan, kedung-kedung, dan pereng-pereng Bukit Menoreh, ternyata kali ini tidak merestuinya. Bahkan jimat-jimat yang tergantung di lehernya, taring celeng jantan, keyong buntet, dan segala macam bebatuan dan kayu-kayuan, sama sekali tidak menolongnya.

Gupala pun agaknya adalah seorang yang terlampau sulit untuk mengendalikan dirinya. Ketika ia melihat Ki Muni mengamuk dalam keputus-asaannya, maka Gupala pun menjadi marah. Apalagi ketika pedang lengkung Ki Muni berhasil menyentuh talinya yang berwarna kekuning-kuningan sehingga terputus beberapa jari di ujungnya. Dan selagi ia sibuk dengan tali itu, pedang lengkung yang tajam bukan kepalang itu, telah menyentuh tubuhnya sehingga menitikkan darah.

Kemarahan Gupala meluap sampai ke ujung rambutnya. Pedang yang tajam bukan buatan, itu benar-benar telah melukainya. Sentuhan yang tidak disangka-sangka itu ternyata telah membakar jantungnya. Untunglah, bahwa luka itu tidak berbahaya dan tidak terlampau dalam.

Namun demikian, luka itu telah cukup membuatnya kehilangan pertimbangan.

Sejenak kemudian, sambil menggeram, Gupala meloncat maju. Kini serangannya membadai tanpa dapat ditahan lagi oleh lawannya. Beberapa orang yang mencoba membantu Ki Muni, setelah ternyata, bahwa Ki Muni tidak dapat melawannya sendiri telah terpelanting jatuh dengan dada terbelah, atau kening yang berlumuran darah.

Ki Muni menjadi semakin berdebar-debar melihat lawannya seolah-olah menjadi semakin garang. Dengan demikian ia menjadi semakin berputus asa. Tidak ada seorang pun lagi yang akan mampu menolongnya. Mantra-mantra dan jampi-jampinya pun tidak.

Tetapi Ki Muni masih juga mencoba melawan. Pedangnya masih berputar, terayun-ayun dengan cepatnya. Namun ia sendiri sudah tidak berhasil melakukan pengamatan atas gerak-geraknya sendiri.

Gupala yang marah pun menyerangnya semakin cepat. Sehingga akhirnya, Ki Muni tidak dapat menghindar lagi. Ketika Gupala menjulurkan pedangnya, Ki Muni masih mencoba menghindarkan diri sambil memukul pedang itu. Tetapi pedang itu sama sekali tidak berkisar, bahkan kemudian terayun mengarah ke lambungnya. Dengan gugup Ki Muni masih berusaha untuk menyilangkan pedangnya, namun ternyata kekuatan lawannya terlalu besar, sehingga ia justru terdorong beberapa langkah surut. Belum lagi ia sempat memperbaiki keseimbangannya, ternyata Gupala telah meloncat sambil berteriak untuk mengakhiri perkelahian itu.

Dada Ki Muni berdesir. Tetapi hanya sejenak. Kemudian serasa tubuhnya terdorong beberapa langkah, dan selanjutnya ia tidak tahu apalagi yang terjadi atas dirinya.

Gupala menarik pedangnya. Dilihatnya Ki Muni kemudian roboh dengan darah menyembur dari luka di dadanya.

Kematian Ki Muni benar-benar telah berpengaruh pada anak buah yang dipimpinnya. Tiba-tiba mereka merasa ngeri melihat anak muda yang gemuk berjambang lebat itu. Tanpa mereka kehendaki, mereka pun berusaha bergeser menjauhinya. Namun mereka tidak dapat menghindar dari pertempuran itu. Di mana-mana mereka bertemu dengan lawan, karena para pengawal Tanah Perdikan Menoreh pun telah menyebar di segala medan. Bukan saja para pengawal yang masih muda, tetapi hampir setiap laki-laki yang setia kepada Ki Argapati mengangkat senjata. Mereka yang telah menyimpan senjata-senjata mereka, karena umur mereka telah merambat semakin tua pun, ternyata telah menarik senjata-senjata itu dari wrangkanya. Bahkan mereka yang hampir tidak pernah memegang senjata pun telah bangkit dan ikut di dalam peperangan yang hiruk-pikuk itu.

Di ujung lain dari peperangan itu, Gupita masih bertempur melawan Ki Wasi. Tetapi ternyata Gupita lebih banyak sesorah daripada mempergunakan ujung pedangnya. Sedang lawannya pun semakin dipengaruhi oleh perasaan heran, kenapa anak muda itu masih belum berusaha dengan sungguh-sungguh menyelesaikan pertempuran itu.

Apalagi ketika tiba-tiba saja Gupita itu berkata, “Masih ada waktu, Ki Wasi. Apakah kau dapat mempergunakan?”

Ki Wasi tidak menjawab. Tetapi sikap anak muda itu telah mengendorkan nafsu perlawanannya. Dan tiba-tiba ia melihat, bahwa peperangan ini telah menjadi semakin buas. Setiap kali ia mendengar teriakan kemarahan dan pekik kesakitan.

“Apakah memang hal serupa ini yang aku kehendaki?” pertanyaan itu telah mengganggunya.

Sebagai seorang dukun yang baik, Ki Wasi menjadi berdebat setiap ia melihat orang-orang yang terluka, merintih dan mengaduh.

“Inilah permulaan dari tingkah laku Sidanti,” terdengar Gupita berkata. “Lalu apa yang kira-kira akan dilakukan apabila ia nanti berkuasa?”

Ki Wasi tidak menjawab. Sepasang trisulanya masih berputaran, meskipun ia sadar, bahwa hal itu tidak akan banyak gunanya.

“Ki Wasi,” desis Gupita, “apakah kau tahu benar, kenapa Ki Argapati tidak mau melindungi anak laki-lakinya?”

Ki Wasi tidak menjawab.

“Bukankah kau hanya mendengar dari Ki Tambak Wedi atau Sidanti sendiri? Bukankah kau belum mendengarnya dari Ki Argapati?”

Ki Wasi masih tetap berdiam diri. Namun perlawanannya semakin lama menjadi semakin lemah. Apalagi karena ia menyadari, bahwa lawannya sama sekali tidak ingin membunuhnya. Meskipun Gupita melukai juga satu dua orang yang berusaha membantu Ki Wasi, tetapi ternyata Ki Wasi sama sekali tidak disentuh oleh ujung senjatanya.

Meskipun demikian, tetapi setiap kata Gupita serasa lebih tajam dari ujung senjata yang di genggamnya. Kini ia melihat akibat dari pembangkangan Sidanti.

“Pasti ada suatu alasan, kenapa Argapati tidak mau melindungi Sidanti saat itu,” pikiran itu seakan-akan baru saja tumbuh di kepala Ki Wasi. “Atau mungkin Sidanti dan Ki Tambak Wedi memang ingin mempercepat penyerahan kekuasaan tanah perdikan ini, supaya mereka dapat berbuat sekehendak hati?”

Karena itu, maka Ki Wasi pun menjadi ragu-ragu. Perlawanannya menjadi semakin tidak berarti, sehingga Gupita ternyata lebih banyak melayani lawan-lawannya yang lain daripada Ki Wasi sendiri.

Meskipun demikian, peperangan di sekitar Gupita masih saja berlangsung dengan serunya. Di antara pasukan Ki Tambak Wedi, maka orang-orang yang bukan berasal dari Menoreh sendiri, mempunyai cara yang mengerikan untuk menekan keberanian lawan. Seperti di sudut-sudut peperangan yang lain, mereka berbuat di luar batas. Dan merekalah yang lebih menarik perhatian Gupita daripada Ki Wasi yang seakan-akan telah kehilangan tenaganya sama sekali.

Namun adalah di luar dugaan sama sekali, ketika tiba-tiba saja terdengar orang itu mengaduh. Gupita yang sedang menyelesaikan seseorang yang berkelahi dengan ganasnya terkejut. Ketika ia berpaling, dilihatnya Ki Wasi terhuyung-huyung.

Hampir di luar sadarnya ketika tiba-tiba saja Gupita meloncat mendekati Ki Wasi. Dengan serta-merta tangannya menyambar orang tua itu sehingga ia tidak jatuh terjerembab.

Namun tiba-tiba dadanya berdesir. Tangannya itu merasakan sesuatu yang hangat meleleh dari punggung Ki Wasi. Luka.

“Bunuh pengkhianat itu,” terdengar seseorang berteriak.

Kini menjadi jelas bagi Gupita, bahwa agaknya seseorang di antara anak buah Ki Wasi sendiri telah berusaha membunuhnya, karena ia dianggap berkhianat.

Dan belum lagi Gupita menyadari keadaan sepenuhnya, maka seseorang telah meloncat dan berusaha menusuk punggung Ki Wasi sekali lagi. Tetapi usaha orang itu kini tidak berhasil, karena pedangnya membentur pedang Gupita. Dan bahkan pedang orang itulah yang terlempar jatuh dari genggamannya.

“Jangan hiraukan aku anak muda,” desis Ki Wasi, “biarlah aku menerima hukuman apa saja. Aku ternyata telah berkhianat dua kali lipat. Aku telah mengkhianati Ki Argapati dan kini aku sedang berpikir untuk mengkhianati Sidanti karena sikapmu.”

“Masih ada kesempatan,” jawab Gupita, “kali ini Ki Wasi tidak sedang berkhianat. Tetapi Ki Wasi sedang berusaha memperbaiki kesalahan Ki Wasi itu.”

Ki Wasi menggeleng lemah, “Tidak ada gunanya. Lukaku parah.”

“Bukankah Ki Wasi seorang dukun? Apakah Ki Wasi tidak membawa obat apapun?”

Ki Wasi ragu-ragu sejenak, kemudian katanya, “Aku memang membawa. Tetapi tidak untuk luka separah ini.”

Hiruk-pikuk peperangan menjadi semakin seru. Sementara tubuh Ki Wasi pun menjadi semakin lemah. Gupita masih mencoba menahan tubuh yang lemah itu. Tetapi seperti yang dikatakannya sendiri, Ki Wasi sudah tidak mempunyai harapan.

Gupita menarik nafas dalam sambil memegangi tubuh itu dengan tangan kirinya. Sedang tangan kanannya masih menggenggam pedangnya erat-erat.

“Serahkan pengkhianat itu kepada kami,” teriak salah seorang lawannya, “biarlah kami menyelesaikannya.”

“Kenapa kau anggap dia berkhianat?”

“Ia tidak melawan kau dengan sungguh-sungguh. Jangan kau sangka, bahwa tidak ada seorang pun di antara kami yang mendengar percakapan kalian, meskipun sepotong-sepotong. Kau mencoba mempengaruhinya, dan dukun gila itu agaknya sedang dirambati oleh racun perkataan-perkataanmu itu. Nah, jangan kau kira, bahwa kau pun akan dapat hidup. Justru setelah pengkhianat itu mati, kau pun akan segera diselesaikan.”

Betapa mengendapnya hati Gupita, namun darah mudanya dapat juga menjadi panas. Tetapi ia masih belum melepaskan Ki Wasi yang menjadi semakin lemah.

“Biarkan aku,” desis Ki Wasi, “aku pasti akan mati. Tidak ada kesempatan untuk mengobati aku. Tetapi biarlah, aku merasa bahwa di saat-saat terakhir aku sudah menyadari kesalahanku. Aku masih sempat untuk berpesan kepadamu. Sampaikan permohonan maafku kepada Ki Argapati.”

Gupita tidak segera dapat menjawab. Ia melihat penyesalan yang dalam di mata Ki Wasi, sehingga ia menjadi semakin iba karenanya. Tetapi agaknya Ki Wasi memang sudah tidak akan dapat tertolong lagi. Sejenak kemudian orang tua itu menjadi semakin parah. Nafasnya seakan-akan saling berkejaran, dan sejenak kemudian terdengar ia berdesis, “Tinggalkan aku.”

Gupita tidak sempat menjawab lagi. Orang itu menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Gupita pun menarik nafas. Diletakkannya orang itu perlahan-lahan di atas tanah. Lidah api yang menjilat ke langit, menerangi wajah yang menjadi seputih kapas itu dengan cahayanya yang kemerah-merahan.

Pada saat Gupita sedang merenungi Ki Wasi itu, hampir saja ia menjadi lengah, ketika salah seorang lawannya berhasil melepaskan diri dari para pengawal tanah perdikan, sehingga dengan sebuah loncatan yang panjang, ia berusaha menusuk lambung Gupita. Untunglah, Gupita menyadari keadaannya, tepat pada saatnya, ketika ia mendengar salah seorang pengawal berteriak, “He, Gupita. Awas orang itu.”

Gupita masih sempat berguling sekali, kemudian melenting berdiri beberapa langkah dari lawannya.

Lawannya yang merasa kehilangan sasaran menggeram. Sekali lagi ia meloncat menyerang Gupita dengan garangnya. Namun kali ini Gupita telah siap menerimanya. Malang bagi orang itu. Gupita yang pikirannya masih dipengaruhi kematian Ki Wasi di ujung jalannya kembali itu, tidak dapat mengatur perasaannya. Ketika ujung senjata lawannya terjulur ke dadanya, ia bergeser ke samping. Kemudian digerakkannya ujung pedangnya, menyambar orang yang terseret oleh kekuatannya sendiri, meluncur di hadapannya.

Terdengar keluh tertahan. Kemudian orang itu terbanting jatuh di tanah. Sejenak ia menggeliat, namun kemudian ia tidak akan bergerak-gerak lagi.

Gupita menarik nafas. Kini tidak ada lagi orang yang disegani di daerah itu. Apalagi ketika ia melihat pasukannya berhasil menguasai keadaan. Sepeninggal Ki Wasi, maka orang-orang Ki Tambak Wedi itu seakan-akan telah kehilangan pimpinan. Seorang yang membunuh Ki Wasi, mencoba untuk memegang pimpinan di kelompok itu. Namun agaknya orang itu pun tidak berumur lebih panjang lagi, ketika pundaknya seakan-akan terbelah oleh senjata seorang pengawal tanah perdikan.

Gupita yang melihat keadaan orang-orangnya telah mantap, tiba-tiba saja ingin menemui gurunya. Ada sesuatu yang mendesak. Kematian Ki Wasi yang tidak wajar itu serasa mengganggu perasaannya saja. Ia ingin melepaskannya dengan menceritakannya kepada gurunya. Hanya sebentar, dan ia akan segera kembali ke tempatnya.

Karena itu, maka setelah memberitahukan maksudnya kepada seorang pengawal, Gupita pun meninggalkan tempat itu untuk menemui gurunya sebentar.

Sejenak Gupita berputar-putar. Namun kemudian ia tertarik pada suatu lingkaran pertempuran yang seru. Dengan hati yang berdebar-debar ia mendekatinya, mungkin gurunya sedang bertempur melawan Ki Peda Sura.

Ternyata dugaannya tidak salah. Ia melihat gurunya bertempur. Tetapi tidak hanya melawan Ki Peda Sura, tetapi melawan empat orang yang tangguh dan beberapa orang lain. Ternyata Ki Peda Sura tidak hanya memberi isyarat kepada tiga orang kawannya. Beberapa orang yang lain pun datang susul-menyusul dari sela-sela peperangan.

“Hem,” Gupita menarik nafas dalam-dalam, gurunya memang orang yang luar biasa. Meskipun ia harus melawan sekian banyak orang, namun sama sekali tidak tampak gugup atau bingung. Dengan mantap ia menggerakkan senjatanya, menyambar-nyambar.

Ki Peda Sura-lah yang justru menjadi bingung. Sudah sekian lama ia bertempur bersama beberapa orang tetapi mereka belum berhasil mengalahkan gembala tua itu. Bahkan satu demi satu orang-orangnya terlempar dari arena.

“Ayo, cepat, kita selesaikan saja kakek ini,” teriak Ki Peda Sura. “Jangan beri ia kesempatan!”

Kawan-kawannya menjadi semakin bernafsu. Tetapi terlampau sulit bagi mereka untuk dapat menembus putaran pedang kakek tua berkumis lebat itu.

Gupita yang melihat gurunya bertempur melawan sekian banyak orang segera mendekatinya. Beberapa langkah dari arena itu, ia berhenti sejenak. Sekali-sekali ia harus menghindar apabila ujung-ujung senjata meluncur di seputarnya.

Agaknya gurunya melihat kehadirannya. Karena itu maka terdengar orang tua itu bertanya, “He, Gupita. Kenapa kau berada di situ?”

“Aku ingin menemui Guru sebentar. Tetapi agaknya Guru baru sibuk.”

“Apakah ada kesulitan?”

“Tidak, Guru,” Gupita berhenti sejenak. Namun tiba-tiba timbullah keinginannya untuk mempengaruhi lawan-lawannya dengan berita kematian Ki Wasi. Karena itu maka katanya, “Aku hanya akan memberitahukan, bahwa Ki Wasi telah terbunuh.”

“He?”

“Ki Wasi telah terbunuh.”

Berita itu agaknya telah mengejutkan Ki Peda Sura, sehingga dengan serta-merta ia berteriak, “Bohong! Siapakah yang mampu membunuh Ki Wasi?”

“Aku,” jawab Gupita tanpa disangka-sangka.

“Bohong! Bohong! Anak kelinci macam kau.”

“Terserahlah kepadamu. Tetapi aku memberitahukan kepada Guru, bahwa Ki Wasi telah mati.”

“Kau bunuh dia?” bertanya gurunya sambil melayani lawan-lawannya. Sedang pertempuran pun masih berlangsung dengan hiruk-pikuk. Beberapa orang pengawal mencoba untuk membantu orang tua yang harus melawan sekian banyak orang. Tetapi orang-orang Ki Peda Sura pun semakin banyak pula yang datang membantunya, sehingga seperti juga orang-orang Menoreh mempersiapkan diri mereka melawan pemimpin-pemimpin pasukan Ki Tambak Wedi, dengan sekelompok kecil, agaknya demikian pulalah yang dilakukan oleh Ki Peda Sura.

Dalam pada itu terdengar Gupita menjawab pertanyaan gurunya, “Tidak, Guru. Aku tidak membunuhnya.”

“Nah,” teriak Ki Peda Sura, “bukankah kau sudah membual. Ki Wasi tidak mungkin mati.”

“Benarkah begitu?” bertanya gurunya.

“Tidak. Ki Wasi memang sudah mati. Tetapi memang bukan aku yang membunuhnya. Ia telah dibunuh oleh anak buahnya sendiri.”

“Gila!” teriak Ki Peda Sura.

“Ya. Sebenarnyalah begitu.”

Ki Peda Sura terdiam sejenak. Sepasang senjatanya dengan dahsyatnya berputaran melanda lawannya. Tetapi lawannya benar-benar seorang yang tangguh. Meskipun demikian, betapa tangguhnya seseorang, namun untuk melawan sejumlah orang yang berilmu pula, agaknya memerlukan terlampau banyak tenaga dan pemusatan pikiran.

“Guru,” tiba-tiba Gupita berkata, “apakah aku boleh ikut di dalam permainan ini?”

“Bagaimanakah dengan tugasmu?”

“Tidak ada hal yang menarik sepeninggal Ki Wasi.”

“Bohong, bohong!” Ki Peda Sura berteriak-teriak. Namun Gupita sama sekali tidak menghiraukannya.

“Baiklah,” jawab gurunya, “tetapi berhati-hatilah. Lawan kita adalah orang-orang yang buas dan liar.”

“Persetan!” geram Ki Peda Sura. “Kau berdua adalah orang-orang yang paling licik. Kalian mencoba mempengaruhi perasaan kami dengan cerita yang mentertawakan itu.”

Gupita masih belum menanggapinya. Kini ia maju semakin dekat. Kemudian ia meloncat masuk ke dalam arena. Yang mula-mula ditanganinya adalah mereka yang sedang bertempur melawan para pengawal yang mencoba membantu orang tua yang berkumis itu. Namun kemudian, ia merambat semakin dekat, sehingga akhirnya, ia sudah berada di ujung lingkaran pertempuran yang seakan-akan terpisah ini.

“Setan alas, kau ingin mati lebih dahulu,” geram salah seorang pembantu kepercayaan Ki Peda Sura.

Tetapi Gupita tidak memperhatikannya sama sekali. Bahkan kemudian perhatiannya tertarik kepada dua orang yang sekaligus terluka, ketika gurunya mengayunkan pedangnya.

“Guru memang bukan seorang pembunuh,” desisnya. Dan ternyata meskipun tidak mati, namun kedua orang itu sama sekali sudah tidak mampu lagi untuk melawan karena luka-lukanya.

Bersama Gupita, gurunya bertempur melawan orang-orang Ki Peda Sura. Namun orang-orang itu sama sekali tidak menarik perhatiannya, yang penting baginya, adalah memotong induknya, Ki Peda Sura sendiri.

Dengan hadirnya Gupita di dalam pertempuran itu, maka gurunya kini lebih banyak mendapat kesempatan untuk memusatkan perhatiannya kepada Ki Peda Sura. Ia sudah tidak lagi terlalu banyak diganggu oleh senjata-senjata yang berkeliaran di sekitarnya, karena sebagian dari mereka harus melayani Gupita yang bertempur seperti burung sikatan.

Tekanan yang semakin lama semakin berat, ternyata tidak dapat lagi dielakkan oleh Ki Peda Sura, sehingga karena itu, maka ia harus lebih banyak mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Diperasnya segenap tenaganya untuk dapat bertahan terus di antara beberapa orang-orangnya yang terpenting.

Namun gembala tua itu dapat bergerak secepat tatit. Kemana ia pergi, ujung senjatanya selalu saja mengikutinya, seolah-olah ujung senjata itu mempunyai mata yang dapat melihatnya.

“Persetan,” ia menggeram. Dan tiba-tiba saja ia bersuit beberapa kali dalam nada yang khusus.

“Apa lagi yang akan dilakukan iblis ini?” pikir gembala tua itu.

Dan ternyata ia tidak perlu menunggu lebih lama. Tiba-tiba seperti laron mengerumuni nyala api, beberapa orang anak buah Ki Peda Sura menyerang gembala tua itu sejadi-jadinya dari segala pihak. Orang tua itu adalah orang yang cukup berpengalaman. Ia pernah bertempur melawan berbagai macam kelompok dan gerombolan. Ia pernah bertempur melawan laskar yang teratur, melawan prajurit, melawan penjahat dan melawan gerombolan-gerombolan liar. Dan ia pun mengenal watak dari para pemimpin gerombolan-gerombolan liar seperti Ki Peda Sura itu. Juga sikapnya kali ini. Dengan demikian, maka gembala tua itu segera dapat mengambil kesimpulan, bahwa Ki Peda Sura telah berusaha mempergunakan orang-orangnya menjadi perisai, sementara ia akan melarikan dirinya.

Namun ternyata orang-orang Ki Peda Sura berbuat terlalu cepat. Sebelum orang tua itu menyadari keadaannya, ia sudah terkepung rapat sekali. Tidak hanya satu sap, tetapi dua sap.

“Bukan main,” ia bergumam, “begitu taatnya mereka terhadap pemimpinnya.”

Namun dengan demikian, orang tua itu menyadari, bahwa ia memerlukan waktu untuk memecah kepungan itu. Dan waktu itu agaknya akan dipergunakan oleh Ki Peda Sura untuk melepaskan dirinya dari tangannya. Orang itu sama sekali tidak akan merasa bertanggung jawab atas akibat dari perbuatannya itu. Ia tidak akan mempedulikan lagi, apakah yang akan terjadi dengan peperangan ini. Apabila Ki Peda Sura sendiri telah berhasil melepaskan dirinya, maka orang-orangnya pun pasti akan segera berusaha lari sejauh-jauh mungkin dapat mereka lakukan.

Karena itu, maka gembala tua itu pun hanya dapat menggeram. Kini ia harus berusaha secepat-cepatnya memecahkan kepungan itu. Namun harapan untuk tetap menguasai Ki Peda Sura menjadi semakin kecil.

Yang didengarnya hanyalah suara tertawa Ki Peda Sura. Berkepanjangan di antara dentang senjata beradu. Tetapi tiba-tiba suara tertawa itu terputus. Sambil meloncat menghindar Ki Peda Sura mengumpat. Ketika diperhatikannya, maka seorang anak muda yang tiba-tiba menyerangnya, adalah seorang anak muda yang gemuk.

“He, siapa kau? Apakah kau sudah jemu hidup he?”

“Mau lari kemana kau, Kiai?” bertanya anak yang gemuk itu.

Sebelum Ki Peda Sura menjawab, terdengar gembala tua di tengah-tengah kepungan orang-orang Ki Peda Sura bertanya, “He, kenapa kau berada di situ?”

Anak yang gemuk itu belum sempat menjawab. Serangan Ki Peda Sura tiba-tiba datang membadai.

“Bukan main,” desahnya di dalam hati. “Serangan ini berbau maut,” berkata anak yang gemuk itu di dalam hatinya.

Namun ia segera menarik nafas dalam-dalam, ketika seorang anak muda yang lain datang membantunya, “Hati-hatilah menghadapi iblis berbindi rangkap ini.”

“Persetan iblis-iblis kecil,” geram Ki Peda Sura.

Kini Ki Peda Sura harus bertempur melawan Gupala dan Gupita sekaligus. Sementara itu guru mereka yang masih sedang berusaha memecahkan kepungan yang rapat itu mengulangi pertanyaannya, “Gupala, kenapa kau berada di situ?”

“Aku kehilangan lawanku,” teriak Gupala.

“Kemana?”

“Ke neraka.”

“He,” orang tua itu mengerutkan keningnya. Namun pedangnya masih saja berputar melindungi dirinya, “apakah Ki Muni sudah terbunuh?”

“Ya.”

“Siapa yang membunuhnya?”

“Aku. Aku telah membunuhnya dengan pedang ini setelah ia melukai aku.”

“He, kau terluka.”

“Ya, meskipun hanya sedikit.”

Dan tiba-tiba terdengar Ki Peda Sura memotong, “Bohong! Kalian agaknya sedang berusaha mengecilkan hati kami dengan cerita-cerita semacam itu.”

“Aku sudah menduga bahwa kau tidak akan percaya,” jawab Gupala sambil bertempur. “Sebenarnya aku ingin membawa kepalanya, agar kau dapat melihatnya sendiri. Tetapi niat itu aku batalkan, karena aku masih berperikemanusiaan.”

“Persetan!” Ki Peda Sura menjadi semakin garang, dan kedua anak-anak muda itu pun bertempur semakin dahsyat pula.

“Kita bertukar lawan,” mereka terperanjat, ketika mereka mendengar suara itu selangkah di belakangnya. Ternyata gurunya telah berhasil memecah kepungan lawan-lawannya, dan kini telah siap menghadapi Ki Peda Sura. Katanya kemudian, “Tahanlah orang-orang itu supaya aku mendapat kesempatan melanjutkan permainanku dengan Ki Peda Sura.” Lalu katanya kepada Ki Peda Sura, “Ayo, Kiai. Jangan bubar. Aku masih belum jemu dengan permainan yang mengasyikkan ini.”

Wajah Ki Peda Sura menjadi merah membara. Ia tahu arti dari kata-kata gembala tua itu. Agaknya orang itu sama sekali tidak ingin melepaskannya, sehingga bagaimanapun juga, ia akan selalu mengejarnya.

Kemarahan Ki Peda Sura sudah sampai di puncak kepalanya. Tetapi ia bukannya orang yang tidak melihat kenyataan, bahwa lawannya sama sekali tidak akan dapat dilawannya. Tetapi ia belum menemukan jalan apa pun untuk menghindarinya.

Sejenak kemudian, maka Ki Peda Sura harus bertempur lagi melawan gembala tua itu. Beberapa orang kepercayaannya segera membantunya pula, sedang beberapa orang lagi di antara mereka masih harus melawan Gupala dan Gupita, sementara para pengawal Menoreh pun telah mencoba mengurangi jumlah lawan mereka.

Tetapi betapa liciknya Ki Peda Sura. Dengan cara yang sama, mengorbankan orang-orangnya, ia masih berusaha untuk melarikan dirinya. Beberapa orang kepercayaannya dengan membabi buta telah menyerang gembala tua dan yang lain kedua murid-muridnya. Sementara itu Ki Peda Sura mempergunakan kesempatan untuk melenyapkan dirinya di dalam hiruk-pikuk peperangan. Namun kali ini ia tidak berani mengangkat dadanya sambil melepaskan suara tertawanya.

“Licik,” geram gembala tua itu. Ki Peda Sura adalah seorang yang memiliki ilmu cukup tinggi. Tidak jauh di bawahi gembala tua itu. Tidak jauh pada dari Ki Tambak Wedi sendiri. Karena itu, ketika ia berusaha melarikan diri, menyusup di dalam hiruk-pikuknya peperangan, ia tidak terlampau banyak mengalami kesulitan.

Betapapun gembala tua itu menahan hatinya, tetapi pada suatu saat kemarahannya pun terungkat pula. Ia sudah berada di peperangan setelah terlalu lama ia tidak mengalaminya. Dan di dalam peperangan yang bersungguh-sungguh ini, ia telah kehilangan lawannya. Karena itu, maka dengan terpaksa sekali, ia berusaha menyingkirkan orang-orang yang telah mengurung dengan rapatnya.

Ketika satu dua orang dari mereka terlempar sambil mengaduh, bahkan ada yang tidak sempat mengeluh, karena pedang orang tua itu langsung menembus jantung, terdengar orang tua itu bergumam, “Bukan maksudku. Bukan maksudku membunuh orang-orang yang tidak ikut menentukan sikap itu.”

Namun orang tua itu tidak dapat menghindarinya, karena mereka berkelahi seperti orang kesurupan iblis. Sedang di bagian yang lain, Gupita dan Gupala pun mengalami persoalan yang serupa.

Ketika orang tua itu sudah berada di luar kepungan, karena tidak ada seorang pun lagi yang dapat melakukannya, maka Ki Peda Sura seakan-akan telah hilang ditelan oleh api pertempuran yang semakin seru itu.

“Aku kehilangan lawan,” desis orang tua itu. “Adalah terlampau sukar untuk mencari seseorang yang sengaja bersembunyi di antara ributnya peperangan itu. Pada permulaan peperangan ini, mencari Ki Peda Sura tidak akan terlalu sulit. Ia pasti berada di salah satu ujung bagian dari seluruh gelar. Selain daripada itu, ia pasti menjadi pusat dari sekelompok lawan, karena ia mempunyai banyak kelebihan. Tetapi untuk mencari Ki Peda Sura yang berlindung pada sekian keributan memang tidak akan mudah.”

Meskipun demikian, gembala tua itu tidak berputus asa. Sekilas ia melihat dua orang muridnya bertempur. Tetapi ia tidak mencemaskan nasib keduanya. Karena itu maka katanya, “Tinggallah di sini, aku akan mencari iblis yang licik itu.”

“Tetapi aku berjanji untuk kembali ke tempatku semula,” jawab Gupita.

“Kembalilah. Di sini dan di tempatmu itu tidak akan banyak bedanya sekarang. Lawanmu telah menjadi patah kemauan. Mereka tinggal mendorongnya pergi dari tempat ini.”

“Bohong!” teriak salah seorang dari mereka. “Aku akan membunuh kalian.”

Tetapi kata-katanya terputus ketika Gupala meloncat sambil berkata lantang, “Tutup mulutmu. Jangan membual.”

Orang itu terkejut bukan buatan. Tetapi terlambat. Ia tidak mampu menghindari pedang Gupala yang menjulur lurus ke dadanya. Sehingga yang terdengar kemudian adalah keluhan tertahan. Namun orang yang hampir sampai di batas ajalnya itu tiba-tiba berteriak, “Aku bunuh kalian. Aku bunuh kalian.”

Begitu suaranya hilang di dalam hiruk-pikuknya dentang senjata, tubuhnya pun jatuh terbanting di tanah.

Gembala tua itu melihat sambil menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling ke arah Gupita, dilihatnya muridnya yang tua itu menggigit bibirnya.

“Anak itu harus diajar untuk sedikit menahan diri,” berkata gembala tua itu di dalam hatinya. “Adalah wajar membunuh di peperangan. Tetapi nafsunyalah yang terlampau membakar dadanya. Membunuh, meskipun di peperangan, bukanlah permainan yang dapat dilakukan sekehendak hati.”

Namun ketika tiba-tiba teringat olehnya Ki Peda Sura, maka gembala tua itu pun sekali lagi berkata, “Berhati-hatilah. Aku akan pergi.”

“Silahkan, Guru,” jawab Gupita. “Aku pun akan bergeser ke tempatku pula.”

Sejenak kemudian gembala tua itu pun segera meloncat di antara hiruk-pikuknya ujung senjata. Sekali-sekali langkahnya tertahan, namun kemudian dengan tergesa-gesa ia pun melanjutkannya.

Sementara itu, Gupita pun sedang berusaha menghindarkan diri dari kekisruhan di tempatnya. Beberapa orang pengawal Tanah Perdikan Menoreh telah berada di sekitarnya pula. Betapa kekaguman mereka melihat bagaimana gembala itu menyelesaikan lawan-lawannya. Bagaimana ia menggerakkan pedangnya, dan bagaimana ia berloncatan seperti burung sikatan. Bahkan gembala yang gemuk itu pun mampu bergerak dengan lincahnya tanpa dibebani oleh dagingnya yang seolah-olah berlebihan.

“Gupala,” berkata Gupita, “aku akan kembali ke tempatku. Apakah kau akan tinggal di sini?”

“Aku sudah tidak mempunyai lawan.”

“Aku pun tidak. Tetapi aku sudah berjanji.”

Gupala tidak segera menjawab. Tetapi senjatanyalah yang sedang berbicara. Dan Gupita hanya dapat mengangkat bahunya ketika ia melihat darah menyembur dari luka di lambung lawan Gupala itu.

Sejenak ia masih melihat Gupala bertempur. Kemudian ditinggalkannya anak muda yang gemuk itu, yang kini berada di antara para Pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Bagi para pengawal, Gupala terasa lebih menarik dan mengagumkan dari anak muda yang seorang lagi, karena Gupala terasa lebih banyak berjasa di dalam peperangan ini.

Gupita pun kemudian kembali ke tempatnya semula. Ke tempat Ki Wasi terbunuh oleh kawan-kawannya sendiri.

Ternyata, bahwa para pengawal tanah perdikan masih belum dapat menguasai keadaan sepenuhnya. Meskipun Ki Wasi sudah tidak ada lagi, namun mereka masih harus bekerja keras untuk menahan arus lawan. Seorang yang berbadan pendek, berdada lebar, agaknya telah berusaha memimpin kelompok itu. Orang itu agaknya memiliki kemampuan yang lebih baik dari kawannya. Namun ia tidak terpaut terlampau banyak, sehingga orang yang pendek itu pun tidak dapat banyak berbuat.

Kedatangan Gupita segera dapat merubah keseimbangan. Meskipun ia tidak segarang Gupala, namun orang yang pendek itu pun segera dapat dilumpuhkannya.

Dengan demikian, maka orang-orang Ki Tambak Wedi itu pun kemudian berperang tanpa ikatan. Sebagian mereka, yang justru terdiri dari orang-orang yang berasal dari luar Menoreh, yang dibawa oleh Ki Peda Sura dan oleh beberapa orang yang sekedar ingin mengail di air yang keruh, ternyata telah biasa bertempur tanpa pimpinan. Mereka justru menjadi bertambah liar dan buas.

Di ujung peperangan, Ki Tambak Wedi masih harus memeras tenaganya melawan Ki Argapati dan puterinya Pandan Wangi. Ki Argapati yang masih belum sembuh benar itu, agaknya telah terpaksa memeras tenaganya. Bahkan ia telah berbuat melampaui batas-batas yang dapat mengganggu dadanya yang terluka.

Tetapi melawan Ki Tambak Wedi, ia tidak dapat membatasi diri, kalau ia tidak ingin luka di dadanya itu bertambah lagi dengan sebuah tusukan nenggala. Karena itu, maka ia telah memeras segenap kemampuannya untuk melawan iblis yang mengerikan itu.

Namun betapapun juga luka di dadanya itu telah membatasi kemampuannya. Ia tidak dapat sampai ke puncak ilmunya. Untunglah, bahwa di sampingnya ada puterinya, Pandan Wangi, yang dapat mengisi setiap kekurangan, sehingga Ki Tambak Wedi pun tidak segera berhasil membinasakan lawannya.

Tetapi sebenarnya kehadiran Pandan Wangi itu telah membuat Ki Argapati selalu berdebar-debar pula. Ia sama sekali tidak mencemaskan nasibnya sendiri. Adalah wajar baginya sebagai seorang kepala tanah perdikan, seandainya ia harus mengorbankan apa pun yang dimilikinya. Bahkan nyawanya. Tetapi ia sama sekali tidak rela, apabila Pandan Wangi pun akan mati terbunuh pula. Pandan Wangi adalah satu-satunya anaknya yang akan dapat menyambung keturunan. Trah Argapati. Kalau Pandan Wangi terbunuh pula, maka Sidanti-lah yang akan menyebut dirinya trah Argapati, dan berhak mewarisi pimpinan tanah perdikan ini, tanpa ada orang yang mengganggu gugat.

Karena itulah, maka betapa lukanya menganggunya, tetapi Argapati telah memeras segenap tenaga dan kemampuannya. Ia harus bertahan. Apa pun yang akan terjadi.

Meskipun demikian, namun tenaganya memang menjadi terbatas. Apalagi ketika tangannya meraba pembalut luka itu. Terasa sesuatu menghangati tangannya. Darah. Darah yang telah merembes dari lukanya yang belum sembuh benar.

Dalam pemusatan tenaga, agaknya luka itu telah menitikkan darah. Gerak yang terlampau banyak dan geseran-geseran pembalutnya, telah memperderas tetesan darah itu.

Dengan demikian, maka Ki Gede Menoreh itu pun menjadi semakin berdebar-debar. Telah berapa puluh kali ia harus berhadapan dengan lawan. Seorang lawan seorang, atau di peperangan. Tetapi ia belum pernah mengalami kegelisahan seperti kali ini. Kegelisahan yang terbesar justru karena ia memikirkan nasib puterinya.

Namun karena itulah, maka Argapati sama sekali tidak menghiraukan dirinya sendiri. Dengan kemampuan yang ada padanya, ia bertempur mati-matian. Tombak pendeknya menyambar-nyambar dengan dahsyatnya, seakan-akan ia tidak sedang diganggu oleh luka di dadanya.

Tetapi Ki Tambak Wedi yang pernah bertempur melawan Ki Argapati merasakan, bahwa tenaga Ki Argapati tidak sepenuh kemampuannya, apabila ia tidak diganggu oleh luka itu. Itulah sebabnya maka ia berpengharapan, pada saatnya Ki Argapati akan kehabisan tenaga dan dengan mudah menyelesaikanya. Tanpa Ki Argapati, Pandan Wangi sama sekali bukan apa-apa lagi baginya.

Ki Tambak Wedi yang licik itu tersenyum di dalam hati. Hampir pasti, bahwa kali ini Ki Argapati tidak akan dapat menghindari ujung senjatanya. Dua kali ia berkelahi melawan Ki Argapati dalam perang tanding. Seorang lawan seorang, ia telah gagal mengalahkanya. Kemudian dengan akal yang licik dan curang pun ia tidak berhasil. Kini agaknya kesempatan telah terbuka baginya.

“Tanpa Ki Argapati, pasukan pengawal Menoreh ini akan segera dapat disapu seperti asap dihembus angin,” katanya di dalam hati. “Apalagi tidak seorang pun yang akan mampu memimpin pasukan pengawal ini. Yang paling bernilai dari setiap orang di tanah perdikan ini adalah Pandan Wangi. Dan betapa mudahnya menyelesaikan anak ini. Kalau aku tidak sampai hati untuk melakukannya, karena wajahnya yang mirip dengan wajah ibunya itu, biarlah Peda Sura menangkapnya, hidup atau mati. Terserah, apakah yang akan dilakukannya. Kalau Sidanti dan Argajaya berkeberatan, maka lebih baik anak itu dibunuh saja, seperti yang sudah diputuskan.”

Dengan demikian, maka tandang Ki Tambak Wedi pun menjadi semakin garang. Ia melihat setiap kali Argapati terpaksa melontar surut, menahan dadanya dan barulah ia mengerahkan kemampuannya untuk menyerang kembali.

Bahkan Ki Tambak Wedi itu tidak dapat lagi menahan perasaannya, sehingga terdengar ia berdesis, “Apakah lukamu kambuh lagi, Argapati?”

Dada Ki Argapati berdesir mendengar pertanyaan itu. Agaknya Ki Tambak Wedi telah melihat kelemahannya, sehingga dengan demikian, Ki Tambak Wedi akan dapat memperhitungkan dengan tepat apa yang bakal terjadi dalam peperangan ini.

Namun meskipun demikian, Ki Argapati masih juga tersenyum, “Nah, bukankah kau hanya sekedar menunggu? Kau tidak dapat mengambil peranan apa-apa dalam perkelahian ini Ki Tambak Wedi, sehingga dengan demikian, kau hanya dapat mengharap mudah-mudahan aku terganggu oleh bekas lukaku.”

“Persetan,” Ki Tambak Wedi menggeram. Kemarahannya telah benar-benar membakar seluruh isi dadanya. “Kau harus segera selesai Argapati. Kemudian memusnahkan seluruh anak buahmu termasuk anak gadismu itu.”

Ki Argapati tidak menjawab. Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa kekuatannya pasti terbatas. Darah yang mengalir semakin deras itu, pasti akan segera mempengaruhi daya tahannya.

Di bagian-bagian yang lain, tidak ada kekhususan yang menarik dari peperangan itu. Ternyata Sidanti dan Argajaya mendapat lawan yang tangguh. Mereka tidak menyangka, bahwa tiba-tiba saja di atas Bukit Menoreh itu hadir orang-orang yang dapat mengimbangi kemampuannya, meskipun masih harus mendapat bantuan dari orang-orang di sekitarnya.

Tetapi akhirnya, kedua orang pengawal Sutawijaya itu tidak dapat bertahan terlampau lama dengan senjata cambuknya. Senjata yang tidak biasa dipergunakannya. Karena itu, maka akhirnya mereka telah memindahkan cambuk-cambuk itu ke tangan kiri. Dan mereka pun segera bertempur dengan pedangnya. Dengan demikian keadaan mereka menjadi semakin mantap.

Yang paling mencemaskan di seluruh medan adalah justru Ki Argapati sendiri. Tekanan Ki Tambak Wedi semakin lama menjadi semakin berat, sehingga Ki Argapati telah mulai terdesak beberapa kali. Sekali-sekali tangan kirinya ditelekankan ke dadanya yang terasa mulai pedih.

“Ha,” Ki Tambak Wedi tertawa, “nyawamu telah berada di mulut lukamu itu. Sebentar lagi kau akan menjadi lemas, dan tanpa kau kehendaki kau akan terbaring di tanah. Betapa mudahnya membunuhmu saat itu.”

“Tutup mulutmu,” Pandan Wangi membentak sambil menyerang sejadi-jadi, sehingga terdengar ayahnya menahannya, “Wangi.”

Tetapi Pandan Wangi tidak menghiraukannya. Tiba-tiba gadis itu telah dibakar oleh kemarahan yang meluap-luap, sehingga ia tidak lagi dapat mengendalikan dirinya. Ia tidak memperhitungkan lagi, dengan siapa ia berhadapan.

“He, apakah kau gila anak manis,” teriak Ki Tambak Wedi.

Pandan Wangi tidak menjawab. Penglihatannya tentang keadaan ayahnya hampir membuatnya berputus asa. Karena itu, sebelum ia melihat ayahnya dikalahkan oleh Ki Tambak Wedi, maka lebih baik ia menentukan akhir dari perkelahiannya. Kalau ia berhasil bersama ayahnya mengalahkan Ki Tambak Wedi, biarlah itu segera terjadi, sebelum ayahnya kehabisan darah. Tetapi kalau ia harus mati, biarlah ia mendahului ayahnya.

“Pandan Wangi,” sekali lagi ia mendengar suara ayahnya.

Tetapi Pandan Wangi tidak menghiraukannya. Sepasang pedangnya berputaran seperti sepasang angin pusaran yang libat-melibat. Namun demikian, untuk dapat mengalahkan Ki Tambak Wedi dalam keadaan serupa itu, meskipun ia bersama ayahnya, adalah sama dengan menunggu tumbuhnya jamur di musim kemarau. Ayahnya telah menjadi semakin lemah, dan dirinya sendiri pasti tidak cukup kekuatan untuk melawan iblis yang telah menodai nama ibunya.

“Pandan Wangi,” teriak Ki Tambak Wedi, “jangan gila.”

Tetapi Pandan Wangi sudah tidak menghiraukan lagi. Kelembutan di wajahnya telah lenyap disaput gelapnya hati. Rambutnya tiba-tiba telah terurai dan matanya pun telah menyorotkan sinar keputus asaan.

“Wangi, Wangi,” ayahnya masih mencoba mencegahnya.

Tetapi ia seakan-akan sudah tidak mendengar apa pun lagi.

Namun ternyata, betapa hitamnya hati Ki Tambak Wedi, ia masih juga dapat dipengaruhi oleh perasaannya. Pandan Wangi yang berurai rambut, sorot mata keputus-asaan, dan gemeretak gigi itu, sekali lagi telah membayangkan kenangan yang ingin dilupakan oleh Ki Tambak Wedi. Kini seolah-olah ia melihat Rara Wulan yang menyusulnya ke Pucang Kembar pada saat ia sedang berkelahi dengan Arya Teja. Pandan Wangi yang putus asa itu seolah-olah berteriak kepadanya, “Inilah dadaku. Di sinilah kau menghunjamkan senjatamu itu.”

Ki Argapati menjadi heran melihat Ki Tambak Wedi beberapa kali meloncat surut. Namun dengan tiba-tiba telah menyerangnya dengan garangnya. Tetapi seolah-olah orang itu selalu menghindari benturan dengan senjata Pandan Wangi.

Ki Argapati tidak mengerti apa yang tersirat di dalam hati lawannya. Karena itu ia masih selalu dicemaskan oleh sikap puterinya itu. Meskipun kadang-kadang ia masih mampu melindunginya, namun gerak Pandan Wangi yang tidak terkendali itu kadang-kadang telah menempatkannya pada jarak yang terlampau jauh dari padanya.

“Pandan Wangi,” desis Ki Tambak Wedi, “kau jangan berbuat gila. Lebih baik kau pergi dari arena ini.”

“Itu akan lebih gila lagi,” sahut Pandan Wangi. “Aku akan membunuhmu atau kau membunuhku.”

“Anak setan,” geram Ki Tambak Wedi, “aku ingin membunuh ayahmu.”

“Dan setiap orang di sini,” sambung Pandan Wangi. “Nah, kalau begitu bunuh aku lebih dahulu.”

“Wangi,” potong ayahnya, “jangan kehilangan akal. Pakai otakmu di dalam setiap peperangan.”

Tetapi Pandan Wangi seakan-akan tidak mendengar lagi kata-kata ayahnya. Dengan demikian, maka ia masih saja berkelahi tanpa terkendali. Dengan sepasang pedang yang terayun-ayun dengan cepatnya ia berloncatan menyerang Ki Tambak Wedi.

Ki Argapati yang merasa semakin lemah, terpaksa menyesuaikan dirinya dengan tata gerak anaknya, supaya Pandan Wangi tidak terlepas sama sekali dari perlindungannya apabila keadaan sangat mendesak. Karena itu, maka ia sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk menghemat tenaganya. Namun dengan demikian, Ki Tambak Wedi pun menjadi sibuk untuk melayani ayah beranak itu.

“Anak setan,” ia menggeram di dalam hatinya. Dicobanya untuk menemukan kekuatan, agar ia tidak selalu dibayangi oleh perasaannya.

Dan ketika ia terdesak beberapa langkah, maka ia menggeretakkan giginya sambil berkata, “Aku tidak peduli. Aku tidak peduli siapa dia.”

Maka terdengar orang tua itu menggeram. Dan tiba-tiba saja ia berteriak nyaring, “Persetan kalian berdua. Kalian harus segera mati. Dan padukuhan ini harus menjadi abu sebelum fajar.”

Ketika Ki Tambak Wedi kemudian melepaskan segala macam keragu-raguannya, maka tenaga Ki Argapati pun menjadi semakin terperas karenanya. Dan ia sendiri menyadari, bahwa ia tidak akan dapat bertahan sampai fajar.

Para pengawal yang mampu melihat keseimbangan yang sedang condong dengan perlahan-lahan itu pun mencoba untuk mendapatkan kesempatan membantu kepala tanah perdikannya, agar Ki Argapati mendapat kesempatan untuk menahan diri. Samekta pun kemudian melihat kelemahan kepala tanah perdikannya, sehingga hatinya menjadi berdebar-debar. Ia tahu benar, bahwa luka di dada Ki Argapati pasti telah mengganggunya.

Tetapi apa yang dapat dilakukan adalah tidak terlampau banyak berarti. Namun bersama dengan setiap orang yang ada di sekitar pertarungan itu, Samekta berusaha untuk memperpanjang daya perlawanan Ki Argapati dan Pandan Wangi.

Namun setiap kali Samekta selalu digelisahkan oleh kemungkinan yang dapat terjadi di tempat-tempat lain. Ia masih belum mendapat gambaran dari seluruh peperangan. Pada saat terakhir ia memang sedang menunggu beberapa orang yang dikirimkannya ke beberapa bagian dari gelarnya untuk melihat keadaan.

Dengan tergesa-gesa ia berusaha menemui penghubungnya yang pertama-tama datang mendekatinya, “Bagaimana?” ia bertanya.

“Ki Muni telah terbunuh,” desis penghubung itu.

“He.”

“Ki Muni.”

“Benar begitu?”

“Ya.”

“Lalu bagaimana keadaan medan di tempat itu.”

“Anak yang gemuk itu telah meninggalkan arena, masuk ke daerah peperangan yang lebih dalam.”

“Apakah yang dilakukannya?”

“Aku mencoba mencari hubungan. Ternyata Ki Peda Sura sudah melarikan diri. Tetapi gembala tua itu pun tidak ada di tempatnya. Yang ada justru anak yang gemuk itu. Ketika aku berhasil mendekatinya, ia mengatakan bahwa ayahnya sedang mencari Peda Sura.”

Samekta menarik nafas dalam-dalam. Harapannya yang menjadi pudar ketika ia melihat Ki Argapati selalu terdesak, kini menjadi cerah kembali. Dengan demikian, maka keadaan pasukan di kedua belah pihak pun pasti akan terpengaruh oleh keadaan itu. Apalagi ketika kemudian ia mendengar dari penghubungnya yang lain, bahwa Ki Wasi telah mati, dibunuh oleh anak buahnya sendiri.

“Kenapa?” bertanya Samekta.

Penghubung itu menggelengkan kepalanya, “Entahlah.”

Memang hal itu agak kurang penting bagi keadaan seluruh peperangan ini.

“Dimana anak gembala yang bernama Gupita itu?”

“Ia masih berada di tempatnya. Kehadirannya di tempat itu ternyata mempunyai pengaruh yang sangat besar, apalagi sepeninggal Ki Wasi.”

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat membuat perhitungan dalam sekilas, bahwa pengaruh dari keadaan itu, pasti akan terasa sampai ke induk pasukan ini. Beberapa orang anggauta pasukan di induk ini pasti akan terpaksa mengalir, membantu ke tempat-tempat yang akan menjadi semakin lemah.

“Beberapa orang akan mendapat kesempatan membantu Ki Argapati,” desisnya, namun kemudian. “Tetapi untuk melawan Ki Tambak Wedi, apakah akan banyak dapat membantu?”

Pertanyaan serupa itulah yang selalu mengganggunya. Dan kini ia melihat Ki Argapati menjadi semakin lemah. Bahkan Pandan Wangi pun menjadi semakin mencemaskannya. Kadang-kadang ujung senjata Ki Tambak Wedi hampir saja berhasil menyentuh tubuhnya. Dalam keadaan yang demikian, Ki Argapati telah memaksa dirinya untuk meloncat melindunginya, betapa ia memeras tenaganya yang terasa menghentak-hentak lukanya.

Samekta memang tidak dapat menunggu dan membiarkan terlampau lama. Kemudian beberapa orang yang dianggapnya mempunyai beberapa kelebihan dari kawan-kawannya, telah ditariknya untuk mencoba mengganggu Ki Tambak Wedi.

Cara itu telah membuat darah Ki Tambak Wedi semakin mendidih, sehingga ia sudah tidak menghiraukan apapun lagi. Senjatanya segera berputaran, dan setiap kali ia melemparkan seorang lawannya dari arena.

Iblis dari lereng Merapi itu benar-benar telah bertempur dengan dahsyatnya. Senjatanya menjadi semakin mengerikan, dan patrapnya pun telah membuat setiap tengkuk meremang.

Ki Argapati yang melihat lawannya menjadi semakin buas menjadi gemetar menahan marahnya. Tetapi ia tidak dapat ingkar dari kenyataan, bahwa lukanya sangat mengganggunya.

Namun Ki Argapati kini berdiri di dalam keadaan tanpa pilihan. Satu-satunya yang harus dilakukan adalah bertempur tanpa memikirkan bagaimana akhir dari pertempuran itu bagi diri sendiri, meskipun hal itu telah dapat diperhitungkannya.

Tetapi usaha Samekta dengan beberapa orang anggauta pengawal pilihan ternyata berpengaruh juga. Setiap kali Ki Tambak Wedi harus mengumpat-umpat sambil menghindarkan diri dari patukan senjata-senjata yang seolah-olah mengerumuninya.

Di bagian belakang dari gelar Gajah Meta yang sudah menjadi semakin lebar itu, ternyata telah terjadi perubahan keseimbangan. Tempat-tempat yang ditinggalkan oleh Ki Wasi dan Ki Muni, telah berubah sama sekali. Para pengawal Tanah Perdikan Menoreh telah hampir-hampir dapat menguasai seluruh keadaan. Apalagi setelah Ki Peda Sura meninggalkan arena tanpa memberikan pesan dan petunjuk apa pun kepada anak buahnya.

Kemunduran pasukan Ki Tambak Wedi di tempat-tempat itu ternyata sangat mempengaruhi keadaan di sekitarnya. Beberapa orang di dalam kelompok-kelompok yang lain, terpaksa harus bergeser membantu tempat-tempat yang menjadi semakin lemah. Beberapa orang yang berada di dalam pimpinan Sidanti dan di bagian lain dipimpin oleh Argapati, tidak dapat membiarkan gelar yang bulat itu akan terpecah.

Sehingga sejenak kemudian, di belahan belakang dari gelar Gajah Meta yang harus menghadapi kepungan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang semakin mendesak itu, menjadi semakin berbahaya. Apalagi karena Gupala hampir-hampir tidak mau mengekang dirinya, sehingga lingkaran arena di seputarnya menjadi semakin ribut. Lawan-lawannya harus menghadapi dalam kelompok-kelompok kecil, meskipun mereka tidak dapat menahan putaran pedangnya yang seakan-akan melanda pasukan Ki Tambak Wedi yang sudah menjadi semakin kisruh. Apalagi para pengawal yang ada di sekitarnnya, memanfaatkan pula keadaan itu dan bertempur sejauh-jauh kemampuan mereka.

Sidanti dan Argajaya yang kemudian mendengar dari seorang penghubung tentang keadaan itu menggeram seperti seekor harimau lapar. Tetapi mereka tidak dapat berbuat terlampau banyak, karena mereka ternyata menemukan lawan yang pilih tanding. Wrahasta dan Kerti di tempat masing-masing cukup memberikan pengaruh pula pada pertempuran di sekitar lingkaran perkelahian yang dahsyat antara Sidanti, Argajaya dan lawan-lawannya.

Setelah lawan-lawan Sidanti dan Argajaya bertempur dengan senjata mereka sendiri, maka segera tampak, bahwa Dipasanga dan Hanggapati adalah seorang prajurit. Meskipun pada dasarnya mereka memiliki ilmu masing-masing, namun pengaruh lingkungan keprajuritan segera tampak. Apalagi prajurit-prajurit yang telah mengalami berbagai macam persoalan seperti keduanya.

Karena itulah, maka Sidanti dan Argajaya menjadi berdebar-debar. Apakah persoalan Tanah Perdikan Menoreh telah menjadi persoalan di dalam istana, sekaligus untuk mencari jejaknya dan gurunya.

Dengan demikian, maka Sidanti dan Argajaya menjadi semakin lama semakin gelisah. Namun mereka tidak dapat segera mengambil sikap. Mereka hanya dapat menunggu, apa yang akan diperintahkan oleh Ki Tambak Wedi.

Di arena pertempuran yang lain, Ki Tambak Wedi masih belum terlampau merasakan tekanan-tekanan di bagian-bagian gelarnya. Ia masih memusatkan segenap perhatiannya untuk menyelesaikan Argapati yang semakin lama menjadi semakin lemah. Pandan Wangi yang berusaha bertempur sekuat tenaganya dan justru hampir-hampir menjadi putus asa itu, menjadi semakin cemas melihat keadaan ayahnya.

Namun agaknya beberapa orang yang berusaha membantu Ki Argapati dan Pandan Wangi, dapat memperingan tekanan-tekanan yang diberikan oleh Ki Tambak Wedi.

Betapa Ki Tambak Wedi mengumpat-umpat di dalam hati, setiap kali ia harus menghindari ujung tombak yang dilontarkan ke arahnya, kemudian ayunan pedang yang menyambar dari belakang. Sebuah pisau yang menyambar dari arah yang tidak terduga-duga dari antara sekian banyak lawan-lawannya.

“Setan,” ia mengumpat, dan iblis tua itu menjadi semakin marah. Bukan saja kepada lawan-lawannya, tetapi juga kepada orang-orangnya sendiri. Mereka sama sekali tidak berhasil menghalau para pengawal yang seakan-akan mengepungnya dalam suatu lingkaran yang terpisah dari seluruh peperangan.

“Kemana orang-orang gila ini?” ia menggeram. Setiap kali ia berusaha melihat pasukannya. Dan setiap kali ia melihat kesibukan yang luar biasa. Agaknya pertempuran di sekitarnya pun menjadi semakin dahsyat pula.

“Meskipun demikian,” ia berkata didalam hatinya, “adalah terlampau bodoh untuk membiarkan tikus-tikus ini mengerumuni aku, sehingga usahaku menjadi selalu terganggu.”

Akhirnya Ki Tambak Wedi menjadi tidak sabar lagi. Terdengar ia bersuit nyaring, dua kali ganda.

Setiap orang di dalam pasukannya mengetahuinya, bahwa dengan demikian, Ki Tambak Wedi memerlukan beberapa orang untuk membantunya. Melihat keadaan medan di sekitamya, maka Ki Tambak Wedi pasti memerlukan orang-orang untuk menghalau para pengawal yang mengitarinya.

Tetapi betapa sulitnya untuk menghindarkan diri dari lawan masing-masing yang terasa semakin lama menjadi semakin banyak. Bahkan seolah-olah setiap orang harus melawan bukan saja seorang lawan saja, tetapi di dalam hiruk-pikuk peperangan, lawan-lawan mereka serasa selalu bergeser, dari yang seorang ke orang yang lain. Mereka menjadi terkejut, ketika tiba-tiba di hadapan mereka telah berdiri seorang tua yang berkumis lebat, menyambar senjata mereka sehingga senjata itu terpelanting, kemudian meloncat dan hilang di dalam peperangan itu, untuk muncul di tempat lain, dan berbuat serupa pula. Dalam keadaan yang demikian, maka orang-orang di dalam pasukan Ki Tambak Wedi menjadi bingung dan kadang-kadang ada di antara mereka yang kehilangan akal, karena tiba-tiba senjatanya telah terlepas.

Tanpa senjata di peperangan yang seru terasa benar-benar mengerikan.

Tetapi orang tua berkumis itu sendiri. Seakan-akan tidak mempedulikan lagi lawan-lawannya yang telah kehilangan senjata. Ia pergi tanpa berbuat sesuatu. Namun meskipun demikian, para pengawal Tanah Perdikan Menoreh-lah yang selalu mempergunakan kesempatan, selagi orang-orang yang kehilangan senjata itu masih belum berhasil memungut senjatanya itu kembali.

Dengan demikian, maka keadaan hampir di seluruh medan segera berubah. Meskipun tidak seganas Gupala, namun Gupita telah mulai dijauhi pula oleh lawan-lawannya. Sidanti dan Argajaya seakan-akan terikat oleh lawan masing-masing, meskipun lawan-lawan mereka tidak lebih unggul dari mereka masing-masing. Namun kesempatan yang ada pada Wrahasta dan Kerti telah dipergunakan sebaik-baiknya.

Ki Tambak Wedi pun kemudian menyadari keganjilan yang ada di dalam pasukannya dan pasukan lawan. Ternyata perhitungannya telah meleset dari kenyataan yang di hadapinya. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa selain Argapati dan Pandan Wangi, di dalam lingkungan dinding pring ori itu terdapat orang-orang yang dapat mengimbangi pemimpin di dalam pasukannya, entah darimana mereka datang.

Betapa kemarahan telah membakar dadanya, tetapi ia harus menghadapi kenyataan yang ada di medan yang seru itu. Iblis itu pun menyadari, bahwa pasti ada suatu sebab, bahwa orang-orangnya tidak dapat memenuhi panggilannya, atau hanya sebagian saja dari mereka yang dapat mendekatinya dan membantunya mengusir para pengawal yang mengerumuninya. Meskipun demikian, ia masih belum leluasa untuk melakukan tekanan atas Argapati dan Pandan Wangi.

Betapa lemahnya Argapati, namun ia masih jauh berada di atas kemampuan orang-orangnya dan bahkan masih mampu membuatnya berdebar-debar dengan ujung tombak pendeknya.

Ki Tambak Wedi yang marah itu menggeram. Terasa dadanya seakan-akan meledak. Harapannya untuk membuat padukuhan ini menjadi karang abang sebelum fajar, agaknya sama sekali tidak akan dapat dilakukan.

Dengan susah payah, seorang penghubungnya telah berhasil mendekatinya, dan memberitahukan apa yang telah terjadi di medan. Dengan demikian, maka serasa jantung Ki Tambak Wedi itu terbakar di dalam dadanya.

Tetapi Ki Tambak Wedi masih cukup sadar, bahwa ia tidak dapat membiarkan dirinya hanyut dalam arus perasaannya. Ia harus mampu mencari kemungkinan yang paling baik di saat-saat mendatang.

Dengan demikian, maka tekanan ia terhadap Ki Argapati yang semakin lemah dan atas Pandan Wangi pun mengendor pula. Senjata-senjata yang berterbangan menyambarnya serasa semakin banyak. Pisau-pisau belati dan bahkan tombak-tombak pendek. Ia sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk melihat, siapakah yang telah melontar-lontarkan senjata-senjata itu, sehingga setiap kali ia harus berloncatan menghindarinya.

Yang dapat dilihatnya adalah orang-orang Menoreh yang memandanginya dengan sorot mata yang menyala. Sekilas dilihatnya seorang berkumis yang kemudian seakan-akan lenyap ditelan oleh para pengawal yang lain. Tetapi orang-orang itu satu-persatu tidak menarik perhatiannya sama sekali.

Yang menjadi pusat perhatiannya adalah keadaan keseluruhan dari peperangan ini.

Sejenak kemudian, Ki Tambak Wedi berada di dalam kebimbangan. Apakah ia dapat meneruskan pertempuran? Ketika terkilas di matanya Argapati yang semakin lemah. Pandan Wangi yang kini sudah hampir kehilangan akal, maka tumbuhlah keinginannya untuk menyelesaikan saja sama sekali keduanya. Tetapi bagaimana dengan orang-orangnya yang lain? Apakah mereka tidak menjadi semakin berkecil hati dan kehilangan keberanian untuk bertindak di saat lain?

Apalagi apabila disadarinya, bahwa para pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang mengerumuninya menjadi semakin lama semakin banyak. Agaknya mereka telah mendapat kesempatan untuk meninggalkan medan mereka masing-masing untuk membantu Kepala Tanah Perdikannya. Lemparan-lemparan senjata ke arahnya menjadi semakin deras, dan bahkan kadang-kadang terasa berbahaya.

Karena itu, Ki Tambak Wedi yang gelisah itu harus segera mengambil suatu keputusan. Melangkah maju untuk membinasakan Argapati dan Pandan Wangi, tetapi membiarkan anak buahnya menjadi semakin kalang kabut, atau menarik diri, dan mencoba menghimpun kekuatan untuk melakukan serangan yang lebih baik di saat lain.

Tetapi agaknya Ki Tambak Wedi tidak banyak mendapat kesempatan. Setiap kali ia mendengar sorak sorai yang seakan-akan membelah langit yang justru telah menjadi semburat merah.

“Hem,” iblis itu menggeram, “aku tidak dapat membiarkan keadaan ini sampai pagi. Kalau kemudian matahari terbit dan medan ini menjadi terang, maka pasukanku pasti akan menjadi semakin parah.”

Karena itu, betapapun beratnya, akhirnya Ki Tambak Wedi mengambil keputusan, selagi kekuatannya masih cukup besar, ia harus menarik diri. Betapa pahitnya. Tetapi tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan kekuatannya.

“Lain kali aku masih akan dapat menghubungi orang-orang di luar tanah perdikan ini. Aku mengharap Ki Peda Sura masih ada di dalam barisan, meskipun ia bersembunyi. Ia akan dapat menjadi penghubung yang baik dengan kekuatan-kekuatan di luar tanah ini,” Ki Tambak Wedi berkata di dalam hatinya, namun kemudian ia menggeram, “Setan Argapati itu masih juga mampu bertahan sampai menjelang fajar. Meskipun tampaknya nafasnya telah hampir putus, dan darahnya telah membasahi lagi di dadanya, ia masih juga dapat menggerakkan pedangnya dengan sempurna.”

Akhirnya, memang tidak ada jalan lain bagi Ki Tambak Wedi. Dengan hati yang tersayat, ia memberikan isyarat, agar pasukannya mulai menyusun diri dalam garis surut.

Sidanti dan Argajaya terkejut mendengar isyarat itu. Meskipun ia tidak dapat segera menguasai kedua lawannya, namun mereka tidak berada di bawah kedua prajurit Pajang itu. Nafsu mereka yang meluap-luap di dada mereka, telah membatasi pengamatan mereka atas seluruh medan.

Karena itu, isyarat Ki Tambak Wedi itu sama sekali tidak mereka sangka-sangka.

Namun di bagian-bagian lain, isyarat itu merupakan harapan bagi orang-orang Ki Tambak Wedi untuk tetap hidup. Karena itu, ketika isyarat yang dibawa oleh arus angin dan kemudian mengalir dari seorang pemimpin kelompok ke pemimpin kelompok yang lain, segera menumbuhkan gejolak di setiap dada. Memang bagi mereka mundur saat itu adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa-sisa pasukan yang ada. Mereka yang mengalami tekanan-tekanan yang luar biasa segera mengerti, bahwa Ki Tambak Wedi ingin menyelamatkan sisa pasukan ini. Dan mereka pun mengerti, bahwa di saat-saat mendatang, mereka masih harus menyusun diri lebih baik lagi untuk merebut padukuhan ini dari tangan Argapati dan membinasakannya sama sekali.

Beberapa orang dari mereka pun masih juga bertanya-tanya di dalam hati, bagaimana akhir dari peperangan antara Ki Tambak Wedi dan Argapati yang sedang terluka itu.

“Tetapi di dalam pasukan Argapati terdapat kekuatan-kekuatan yang sama sekali tidak terduga-duga,” desis mereka.

Dengan demikian, maka para pemimpin kelompok-kelompok kecil di dalam pasukan Tambak Wedi itu segera menyusun diri untuk melakukan gerakan surut. Ternyata untuk menarik diri dari peperangan yang seru ini pun sama sekali bukan pekerjaan yang mudah.

Selangkah demi selangkah Ki Tambak Wedi membawa orang-orangnya mundur. Sambil bertempur ia memberikan isyarat-isyarat terus-menerus kepada penghubung-penghubung yang harus menyampaikan isyarat-isyarat ke seluruh pasukan dengan tanda-tanda bunyi, dan gerak.

Ki Argapati yang sudah menjadi semakin lemah, melihat gerakan yang dilakukan oleh Ki Tambak Wedi. Sejenak ia merenungi keadaan itu, keadaannya sendiri, dan seluruh pasukannya.

Betapa besar nafsunya untuk tetap mengejar Ki Tambak Wedi dan tidak membiarkannya terlepas dari tangannya. Tetapi luka di dadanya terasa semakin lama menjadi semakin pedih. Ketika ia memaksa diri, maju mengejar Ki Tambak Wedi yang mencoba melindungi orang-orangnya, terasa dadanya seakan-akan menjadi pecah, sehingga langkahnya pun tertegun karenanya.

Kini ia tidak dapat ingkar lagi. Tenaganya benar-benar telah habis terperas. Dan ia mengucapkan sukur di dalam hatinya kepada Tuhan, yang masih menyelamatkannya tepat pada saatnya. Tepat pada saat ia kehilangan segala kemampuannya.

Tiba-tiba pertempuran itu serasa berputar. Pandangan matanya semakin lama menjadi semakin gelap. Api yang masih menyala di beberapa tempat pun tampaknya menjadi semakin suram.

Ki Argapati masih melihat Ki Tambak Wedi yang menjadi semakin jauh. Ketika Pandan Wangi meloncat ingin mengejarnya, terdengar Ki Argapati menghentakkan kekuatannya yang terakhir, memanggil puterinya, “Pandan Wangi ………”

Pandan Wangi terkejut. Ketika ia berpaling dilihatnya ayahnya terhuyung-huyung bertelekan pada landaian tombaknya.

“Ayah,” dengan tangkasnya Pandan Wangi meloncat mendekati ayahnya. Hampir saja ayahnya terjatuh kalau ia tidak segera ditolong oleh Pandan Wangi. Demikian tergesa-gesa, sehingga ia tidak sempat menyarungkan pedangnya dan begitu saja dilelakkannya di tanah. Pedang yang seolah-olah tidak pernah terpisah dari dirinya itu, seakan-akan dilupakannya ketika ia melihat keadaan ayahnya yang parah.

Sejenak kemudian, Samekta pun telah berdiri di sampingnya. Dengan tangan gemetar, ia pun mencoba menahan tubuh Ki Argapati. Tetapi ternyata tubuh itu telah menjadi sedemikian lemahnya, sehingga Samekta terpaksa membaringkannya di tanah.

“Ayah, Ayah,” pekik Pandan Wangi. Meskipun ia mampu bertempur di peperangan, namun ketika ia melihat keadaan ayahnya, maka sifat-sifat kegadisannya tidak lagi dapat disimpannya.

“Tenanglah, Pandan Wangi,” desis Samekta. “Ki Argapati telah pingsan.”

“Ayah, Ayah,” Pandan Wangi tidak dapat menahan titik-titik air matanya yang membasahi pipinya. Apalagi ketika ia melihat darah yang memerahi pembalut luka Ki Argapati.

Ki Tambak Wedi yang menjadi semakin jauh melihat bagaimana Argapati kehilangan kesadaran dirinya. Karena itu ia mengumpat di dalam hatinya, “Kalau aku bertahan beberapa kejap lagi.”

Meskipun demikian, masih tumbuhlah keragu-raguannya, apakah ia akan berlari beberapa langkah maju dan membunuh Argapati itu sama sekali, atau ia harus tetap melindungi orang-orangnya yang sedang bergerak mundur.

Sejenak Ki Tambak Wedi memeras pikirannya. Tetapi pengawal Tanah Perdikan Menoreh menyerang orang-orangnya yang sedang mundur itu seperti air bah. Dengan demikian, maka Ki Tambak Wedi tidak dapat membiarkan orang-orangnya itu binasa dan korban akan berjatuhan terlampau banyak.

“Sayang,” desis Ki Tambak Wedi, “aku kehilangan waktu yang sekejap ini. Tetapi biarlah. Besok atau lusa apabila aku kembali, maka tidak seorang pun yang dapat memimpin pasukan Argapati, karena Argapati sendiri pasti memerlukan waktu beberapa hari untuk dapat sembuh, atau bahkan mungkin ia akan mati karena luka-luka itu. Seandainya ia tidak mati, maka untuk maju ke medan perang, ia harus membuat banyak sekali pertimbangan-pertimbangan.”

Dengan demikian, maka Ki Tambak Wedi terus berusaha menarik diri dengan hati-hati. Para pemimpin pengawal tanah perdikan, sebagian telah terpaku di samping Ki Argapati. Demikian juga seorang gembala tua yang kemudian telah melepaskan kumisnya.

“Tolonglah Kiai, tolonglah,” tangis Pandan Wangi.

Gembala tua itu mengerutkan keningnya. Dirabanya pergelangan tangan Ki Argapati. Ternyata pemimpin tertinggi Tanah Perdikan Menoreh itu telah terlampau banyak mengeluarkan tenaga selagi lukanya masih sangat mengganggunya. Akhirnya ia benar-benar kehilangan kekuatannya sama sekali.

“Untunglah ia mampu bertahan tepat sampai Tambak Wedi menarik diri,” desis Samekta.

“Ia telah memeras segenap kekuatan yang tersisa, agar ia tetap berdiri tegak, selagi Ki Tambak Wedi masih berada di hadapannya,” jawab gembala tua itu.

Semua orang yang mengitarinya menundukkan kepalanya. Samekta, Pandan Wangi, dan gembala itu kini berlutut di sampingnya. Dengan cemas mereka melihat Ki Argapati yang pucat seperti kapas.

Ternyata keadaan itu telah menarik banyak perhatian para pemimpin Menoreh yang lain. Mereka tidak dapat melepaskan diri tanpa menghiraukan kepala tanah perdikan mereka, sehingga keadaan itu telah sangat mempengaruhi seluruh medan.

Peluang itulah yang agaknya memberi banyak kesempatan kepada Ki Tambak Wedi untuk menarik pasukannya.

“Ki Samekta,” desis gembala itu, “awasilah pasukanmu. Serahkan Ki Argapati kepadaku. Mungkin di dalam gerakan yang terakhir Ki Tambak Wedi membuat perangkap-perangkap yang berbahaya.”

Samekta seperti terbangun dari tidurnya yang diganggu oleh mimpi yang buruk. Tiba-tiba ia menyadari, bahwa keadaan pasukannya masih belum terlepas sama sekali dari bahaya yang dapat dengan mendadak menjeratnya. Karena itu, maka ia pun segera berdiri sambil berkata, “Baiklah. Biarlah aku pergi ke pasukan yang sedang mencoba mendesak pasukan lawan.”

“Tahanlah mereka, agar mereka tidak dikendalikan oleh perasaan. Ki Tambak Wedi bukan sekedar seorang pemimpin yang mumpuni. Tetapi ia dapat mempergunakan segala cara untuk melakukan rencananya. Sebaiknya pasukanmu tidak keluar dari lingkungan ini. Kita masih belum tahu tepat, apa yang berada di padang rerumputan di luar, meskipun kita mempunyai kesempatan yang baik kali ini.”

“Aku sependapat Kiai. Terserahlah, aku percayakan Ki Argapati kepadamu.”

Samekta pun kemudian berlari-lari bersama dua orang pengawal yang lain mendekati garis surut pasukan Ki Tambak Wedi. Setelah berhasil menghubungi beberapa orang penghubung, Samekta segera memerintahkan, supaya pasukannya tidak mengejar lawan sampai ke luar lingkungan pring ori.

“Kenapa?” bertanya penghubung itu.

“Beberapa orang di antara kita yang mampu mengendalikan orang-orang terpenting di pasukan lawan sedang sibuk dengan Ki Argapati. Perhitungkan hal itu. Ki Tambak Wedi bukan sahabat yang dapat diajak bergurau.”

Penghubung-penghubung itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian menghilang di dalam hiruk-pikuknya kedua pasukan yang sedang bergeser itu.

Namun memang ternyata, betapa Ki Tambak Wedi mencoba melindungi pasukannya. Ia benar-benar seperti iblis yang menyebar maut di antara mereka yang berani mendekatinya. Dengan demikian, maka usaha pasukannya menarik diri, semakin lama menjadi semakin lancar.

Gupala dan Gupita masih selalu mengingat-ingat pesan gurunya, bahwa mereka masih belum saatnya memperlihatkan diri kepada Sidanti, Argajaya, atau Ki Tambak Wedi sendiri. Sehingga dengan demikian, maka gerak mereka pun menjadi sangat terbatas.

Ketika ia mendengar pesan Samekta, bahwa mereka tidak sebaiknya mengejar sampai ke luar regol, mereka pun segera dapat mengerti. Apalagi ketika penghubung itu mengatakan tentang keadaan Ki Argapati.

“Guru pasti sedang menolong Ki Argapati,” berkata mereka di dalam hati, “sehingga Ki tambak Wedi yang kehilangan lawan itu akan menjadi burung elang di kandang ayam.”

Ternyata betapa gejolak membakar dada setiap pengawal Tanah Petdikan Menoreh yang sedang mendapat kesempatan baik itu, namun mereka dengan penuh pengertian, mematuhi perintah pemimpin mereka. Karena sebenarnya mereka pun ngeri melihat tandang Ki Tambak Wedi. Setiap sentuhan senjatanya akan berarti maut.

Demikianlah, maka ketika orang-orang di dalam pasukan Ki Tambak Wedi itu telah berhasil keluar dari regol padesan itu, maka dengan susah payah para pengawal telah menahan dirinya untuk tidak terseret oleh arus perasaannya. Mereka memang tidak dapat melihat, apa saja yang ada di balik setiap helai daun ilalang di dalam gelap. Meskipun langit telah menjadi semburat merah, namun padang ilalang liar di hadapan padesan itu masih tetap dibayangi oleh gelapnya malam.

Di luar regol, Ki Tambak Wedi masih saja sibuk mengatur pasukannya. Namun ia melihat, bahwa orang-orang Menoreh tidak mengejarnya terus. Karena itu, maka ia dapat menarik nafas sejenak, melepaskan kepepatan di dalam dadanya.

Belum lagi Ki Tambak Wedi mengusap keringatnya yang membasahi keningnya, dengan tergopoh-gopoh Sidanti datang kepadanya sambil bergumam, “Kenapa kita harus menarik diri?”

Ki Tambak Wedi berpaling. Dipandanginya Sidanti sejenak. Kemudian ditengadahkannya wajahnya, memandangi langit yang sudah menjadi semakin merah.

“Sebentar lagi fajar akan menyingsing.”

“Dan kita akan melihat orang-orang itu binasa.”

“Kau salah hitung, Sidanti. Di belakang pring ori itu ternyata terdapat banyak orang-orang yang tidak pernah kita perhitungkan, entah mereka datang dari mana. Tetapi adalah suatu kenyataan, bahwa kau dan Argajaya mendapat lawan-lawan yang tidak kau duga-duga sebelumnya. Ki Muni dan Ki Wasi telah terbunuh, Ki Peda Sura terdesak dan terpaksa menyembunyikan diri di dalam medan.”

“Dan Guru tidak berhasil membunuh Argapati?”

Ki Tambak Wedi menggeleng, “Kali ini tidak. Karena itu, kita harus menyusun diri. Lebih baik dari yang sudah. Kita sudah tahu kekuatan yang sebenarnya ada di belakang pring ori itu.”

Sidanti menggeretakkan giginya, sementara mereka menjadi semakin lama semakin jauh dari regol yang mereka tinggalkan.

“Tetapi aku masih berhasil melihat Argapati roboh,” berkata Ki Tambak Wedi seterusnya.

“Mati?”

“Aku tidak tahu. Tetapi lukanya menjadi bertambah parah. Ia terpaksa memeras seluruh tenaganya dalam peperangan ini. Argapati bertempur berpasangan dengan Pandan Wangi. Dan aku masih saja dipengaruhi oleh perasaan itu.”

”Perasaan apa Guru?”

Ki Tambak Wedi tergagap mendengar pertanyaan Sidanti. Sejenak ia terdiam, namun sejenak kemudian ia menjawab, “Tidak. Tidak apa-apa. Tetapi aku tidak berhasil membunuhnya. Beberapa orang pengawal kepercayaan Argapati selalu mengganggu aku. Sedang orang-orangku sendiri tidak membantu aku, mengusir orang-orang itu.”

“Kenapa?”

“Aku tidak tahu, tetapi agaknya tekanan pasukan pengawal Menoreh memang terlampau ketat, sehingga mereka kehilangan waktu dan kesempatan. Hal inilah yang harus aku ketahui nanti. Pengalaman ini harus diperhitungkan di saat-saat mendatang.” Ki Tambak Wedi berhenti sejenak, lalu, “Lemparan-lemparan senjata para pengawal itu benar-benar terasa mengganggu setiap usahaku untuk membunuh ayah beranak itu. Setiap kali aku tertegun dan menghindar.” Tetapi Ki Tambak Wedi tidak tahu, bahwa di antara para pengawal kepercayaan Argapati itu terdapat seorang tua yang mengenakan kumis palsu. Meskipun sepintas Ki Tambak Wedi melihatnya juga, tetapi ia sama sekali tidak sempat memperhatikannya, karena ia sama sekali tidak menyangka, bahwa seseorang telah memasang kumis palsu itu orang yang ikut menentukan jalannya peperangan.

Dalam pada itu, gembala tua yang telah melepas kumisnya itu berjongkok di samping Ki Argapati, dengan wajah yang tegang. Ia adalah seorang dukun yang berpengalaman, yang setiap saat selalu bersedia mengobati siapa pun juga.

Namun kali ini dadanya berdebar-debar melihat keadaan Ki Argapati. Agaknya luka yang dideritanya itu benar-benar berbahaya bagi keselamatannya.

“Bagaimana Kiai? Bagaimana?” bertanya Pandan Wangi dengan cemasnya.

“Aku akan berusaha, Ngger,” jawab gembala tua itu. “Sebaiknya, biarlah Ki Argapati ini dibawa ke pondok dahulu.”

“Tetapi kenapa Kiai belum berbuat sesuatu? Jarak itu terlampau jauh, Kiai.”

“Aku telah memperhitungkan. Kini aku akan menaburkan obat yang dapat mengurangi arus darahnya lebih dahulu.”

Orang-orang di sekitar Ki Argapati berbaring itu terdiam sambil menahan nafasnya, ketika mereka melihat dukun tua itu melepas pembalut Ki Argapati. Jantung mereka serasa tergores pula, ketika mereka melihat luka yang berdarah itu. Di peperangan mereka sudah terlampau biasa melihat luka. Tetapi luka itu luka yang sudah agak lama dan kambuh kembali, sehingga pengaruhnya pun agak berbeda.

Apalagi ketika mereka melihat darah yang sudah menjadi kehitam-hitaman.

Perlahan-lahan gembala itu menaburkan reramuan obat di atas luka itu. Kemudian sejenak ia menungguinya sambil menghembus-hembusnya.

Series 44

“CARILAH ALAT untuk mengangkat Ki Argapati,” desis orang tua itu. “Ia harus segera berada di dalam rumah. Aku harus mencuci lukanya dan memberikan obat baru lagi.”

Seorang dari antara mereka yang melingkarinya segera pergi mencari sebuah ekrak bambu. Dilambari dengan jerami kering, maka Ki Argapati pun kemudian dibaringkannya di atas ekrak itu dan diangkat oleh empat orang untuk segera dibawa ke pondoknya.

Ternyata obat yang sekedar untuk menolong sementara itu pun bermanfaat. Darah yang mengalir dari luka itu pun semakin lama menjadi semakin mampat.

Dengan tergesa-gesa Ki Argapati itu pun dibawa ke pondoknya. Disampingnya, Pandan Wangi berjalan sambil menjinjing pedangnya, sehingga seseorang terpaksa memperingatkannya, “Sarungkan pedangmu, Pandan Wangi.”

“Oh,” pedang itu pun kemudian disarungkannya, tanpa sempat membersihkan dahulu debu yang melekat ketika pedang itu begitu saja diletakkan di tanah.

Ki Argapati masih belum sadarkan diri ketika perlahan-lahan ia dibaringkan di pembaringan. Dengan wajah yang tegang gembala tua itu menitikkan air ke bibirnya.

Ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat bibir yang pucat itu bergerak-gerak.

“Pandan Wangi,” berkata orang tua itu, “berilah aku air hangat. Air yang sudah mendidih, jangan didinginkan dengan campuran air tawar.”

Pandan Wangi pun mengangguk. Kemudian dengan tergesa-gesa ia pergi ke dapur. Adalah kebetulan sekali di dalam periuk masih terdapat sisa air masak. Tetapi karena air itu sudah dingin, maka Pandan Wangi dengan tergesa-gesa membuat api untuk menghangatkannya.

Dengan hati-hati gembala tua itu kemudian membersihkan luka Ki Argapati dengan air hangat itu. Kemudian diambilnya reramuan obat-obatan dari sebuah bumbung kecil yang selalu dibawanya. Beberapa macam reramuan dicampurnya menjadi satu. Kemudian dengan hati-hati reramuan itu ditaburkannya di atas luka.

Sejenak orang-orang di dalam ruangan itu memperhatikan wajah Ki Gede yang putih seperti kapas. Mereka melihat wajah itu menegang. Namun kemudian kesan itu pun lenyap pula. Kembali wajah itu menjadi beku.

Yang menegang adalah wajah gembala tua itu. Sejenak ia menahan nafasnya. Namun kemudian diraba-rabanya dada Ki Argapati, di sekitar luka-lukanya. Perlahan-lahan tangannya bergerak-gerak menyelusur otot-otot di sekitar leher, kemudian ke tengkuk.

“Aku minta yang kurang berkepentingan meninggalkan ruangan ini,” berkata gembala tua itu. “Udara menjadi terlampau panas, sehingga pengaruhnya tidak menguntungkan bagi Ki Argapati.”

Orang-orang itu pun segera meninggalkan ruangan itu. Yang tinggal kemudian adalah Pandan Wangi.

Dengan hati berdebar-debar ia melihat, bagaimana orang tua itu mencoba mengobati luka yang kambuh kembali itu. Setiap kali ia melihat gembala itu mengusap keringat di keningnya. Kemudian menekuni luka itu kembali.

Setelah air pembersih luka itu menjadi kering, maka luka itu pun kemudian diobatinya dengan obat yang lain lagi. Ditaburkannya obat itu dengan hati-hati.

Tetapi Ki Argapati masih berbaring sambil memejamkan matanya. Agaknya ia masih belum sadar dari pingsannya.

Setelah menaburkan obat di atas luka itu, maka orang tua itu pun kemudian meramu obat yang lain di dalam mangkuk. Obat yang kemudian dengan hati-hati dan susah payah, diteteskan masuk ke dalam mulut Ki Argapati. Setetes demi setetes.

Pandan Wangi masih tegak berdiri di tempat dengan wajah yang semakin tegang. Dan tiba-tiba saja ia melangkah maju ketika ia melihat ayahnya bergerak.

“Jangan mengejutkannya,” desis gembala tua itu.

Pandan Wangi tertegun. Namun dahinya semakin berkerut-merut.

Sejenak kemudian kedua orang yang berada di dalam bilik itu berpaling ketika mereka mendengar langkah memasuki ruangan itu. Ternyata Samekta-lah yang datang dengan nafas terengah-engah.

“Bagaimana Kiai?” dengan serta-merta ia bertanya.

“Mudah-mudahan,” jawab orang tua itu perlahan-lahan.

Samekta pun kemudian berdiri termangu-mangu. Tetapi ia tidak bertanya apa pun lagi. Kini ia melihat Ki Argapati telah menjadi tidak terlampau pucat. Perlahan-lahan Ki Argapati telah mulai bergerak-gerak.

Dengan hati-hati pula gembala tua itu mengangkat tangan Ki Argapati. Seandainya ia tidak luka di dadanya, maka tangan itu harus digerak-gerakkannya supaya pernafasannya menjadi segera lancar. Tetapi kali ini orang tua itu tidak dapat berbuat demikian, justru dada Ki Argapati sedang terluka.

Namun titik-titik obat yang diteteskan ke dalam mulut itu agaknya berpengaruh juga. Karena dengan demikian Ki Argapati telah mulai menyadari keadaanya.

Ketika Ki Argapati mulai membuka matanya, Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Hampir saja ia berlari memeluk ayahnya, seandainya ia tidak digamit oleh gembala tua itu.

“Jangan kau kejutkan dia,” desis gembala tua itu.

Pandan Wangi tertegun. Tetapi ia tidak dapat menahan perasaannya yang bergolak, sehingga terasa sesuatu menyekat tenggorokannya. Titik-titik air mata telah mengembun pula di matanya yang buram.

“Jangan menangis,” berkata Samekta perlahan-lahan, “kita berada di medan peperangan. Kau adalah seorang prajurit dengan sepasang pedang di lambungmu.”

Dengan susah payah Pandan Wangi menahan dirinya. Tetapi bagaimanapun juga ia adalah seorang gadis yang sedang menyaksikan ayahnya dalam keadaan yang gawat. Karena itu, maka ia tidak berhasil mencegah air matanya meleleh di pipinya. Namun demikian Pandan Wangi tidak terisak.

“Masa yang paling gawat telah lewat,” desis gembala tua itu ketika ia melihat Ki Argapati mencoba menarik nafas. Tetapi terasa betapa, sakit dadanya, sehingga wajahnya tampak menegang sejenak.

Tetapi Ki Argapati kini telah menyadari dirinya. Perlahan-lahan sekali kepalanya bergerak-gerak. Dan perlahan-lahan sekali ia berdesis, “Di mana aku sekarang?”

“Ki Gede berada di pondok.”

Ki Gede mengerutkan alisnya, “Di mana Pandan Wangi?”

“Ayah,” desis Pandan Wangi, “aku di sini.”

“Kemarilah, Ngger,” panggil gembala tua itu. Pandan Wangi pun segera mendekat dan berjongkok di samping pembaringan.

Dengan susah payah Ki Argapati mencoba menggerakkan tangannya membelai kepala puterinya. Perlahan-lahan terdengar Ki Gede bertanya, “Bagaimana dengan pertempuran itu?”

“Pasukan Ki Tambak Wedi telah menarik diri, Ayah,” jawab Pandan Wangi.

Ki Argapati mengerutkan keningnya. Dicobanya untuk mengingat-ingat apa yang terakhir dilihatnya.

Perlahan-lahan kepalanya terangguk-angguk. Katanya, “Ya. Mereka telah menarik diri. Apakah yang kita lakukan kemudian?”

“Membiarkan mereka meninggalkan pedukuhan ini,”

Ki Argapati masih mengangguk-angguk, dan sekali lagi ia bergumam, “Ya. Aku memang tidak dapat membawa kalian mengejar mereka, karena lukaku kambuh kembali.”

“Mereka meninggalkan pedukuhan ini dalam keadaan yang parah,” sambung Samekta.

Ki Argapati berdesis-desis perlahan-lahan, “Ya, ya.”

“Untuk sementara kita dapat menenangkan diri Ki Gede,” berkata gembala tua itu kemudian. “Aku kira Ki Tambak Wedi memerlukan waktu untuk menyembuhkan luka-luka pasukannya.”

“Ya, ya.”

“Nah, sekarang tenangkan hati Ki Gede. Beristirahatlah.”

Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian seisi ruangan itu berpaling ketika mereka mendengar langkah-langkah masuk.

Sejenak kemudian Kerti, Wrahasta, Dipasanga, dan Hanggapati telah memasuki ruangan itu.

“Kemarilah,” desis Ki Argapati.

Mereka pun segera mendekat.

“Bagaimana dengan kalian?”

“Baik, Ki Gede,” Wrahasta-lah yang menjawab. “Mereka telah terusir.”

“Apakah pekerjaan kalian telah selesai?”

“Sudah, Ki Gede. Medan telah sepi Beberapa petugas sedang mencoba menolong orang-orang yang terluka dari kedua belah pihak.”

Namun kening Wrahasta berkerut ketika Ki Gede bertanya, “Di mana Gupita dan Gupala?”

Wrahasta tidak segera menjawab. Dipandanginya setiap wajah yang ada di dalam ruangan itu. Kemudian ditatapnya pula kerut-merut di kening gembala tua itu.

“Apakah kau tidak melihatnya?” bertanya Ki Argapati kemudian.

Wrahasta menggelengkan kepalanya, “Tidak. Aku tidak melihatnya. Tetapi kenapa Ki Gede mencari kedua gembala itu?”

“Aku akan mengucapkan terima kasih kepada mereka dan kepada Ki Dipasanga dan Ki Hanggapati yang telah lebih dahulu ada di sini.”

Dada Wrahasta menjadi berdebar-debar. Dan jawabnya, “Ki Gede memang harus berterima kasih kepada Ki Dipasanga dan Ki Hanggapati. Mereka berdua telah berhasil menahan Sidanti dan Ki Argajaya. Tetapi apakah yang telah dilakukan oleh kedua gembala itu?”

“Keduanya telah bertempur,” jawab Argapati.

“Tidak hanya mereka berdua yang bertempur. Setiap orang ikut bertempur,” Wrahasta berhenti sejenak. Kemudian, “Sebaiknya dalam kesempatan yang lain Ki Gede mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang berdiri di pihak kita tanpa membeda-bedakan.”

Ki Argapati mengerutkan keningnya. Kemudian ia menyeringai menahan pedih di dadanya.

“Wrahasta,” berkata Ki Argapati, “kau benar. Tetapi keduanya adalah orang lain. Bukan keluarga kita sendiri. Karena itu, seperti kepada Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga, aku akan mengucapkan terima kasih yang khusus.”

“Itu terlampau berlebih-lebihan Ki Gede.”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Namun ketika ia akan berbicara lagi terdengar gembala tua itu menahannya, “Sebaiknya Ki Gede beristirahat. Ki Gede memang dapat menyimpan ucapan terima kasih itu untuk lain kali. Sekarang sebaiknya Ki Gede memperhatikan keadaan Ki Gede ini lebih dahulu.”

Perlahan-lahan Ki Argapati berdesah.

“Kalau mungkin, sebaiknya Ki Gede tidur meskipun hanya sejenak. Ki Gede akan dapat beristirahat mutlak untuk sesaat.”

“Ya, ya,” jawab Ki Gede, “aku akan mencoba untuk tidur.” Ki Gede berhenti sejenak. Namun kemudian, “Tetapi sebaiknya setiap orang yang turun ke medan diteliti seorang demi seorang. Siapakah yang terluka, hilang atau gugur. Juga kedua gembala-gembala itu.”

Wajah Wrahasta menjadi tegang. Tetapi ia tidak segera menjawab.

“Kalau kau ketemu dengan anak-anak itu, panggillah mereka kemari,” berkata Ki Argapati seterusnya.

Bagaimanapun juga Wrahasta terpaksa menganggukkan kepalanya, “Ya, Ki Gede.”

“Sekarang aku akan mencoba beristirahat. Mudah-mudahan aku dapat meletakkan semua persoalan, sehingga aku dapat tidur meskipun hanya sekejap.”

Orang-orang di dalam bilik itu pun kemudian minta diri, dan mereka tinggalkan Ki Argapati terbaring ditunggui oleh puterinya, Pandan Wangi. Namun Pandan Wangi pun tidak terlampau lama tinggal di dalam bilik itu. Sejenak kemudian ia pun minta diri, meninggalkan ayahnya, agar ayahnya mendapat kesempatan untuk tidur barang sejenak.

Dari bilik ayahnya, Pandan Wangi langsung pergi ke belakang. Sebagaimana biasanya, ia selalu membantu mengerjakan pekerjaan dapur. Bahkan kadang-kadang mengambil air, memasak, serta menanak nasi.

Namun langkahnya tertegun ketika ia berjalan menuju ke pintu dapur. Dari celah-celah lubang pintu ia melihat dua orang anak-anak muda sedang duduk di bawah pohon jambu. Keduanya ternyata Gupita dan Gupala.

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Tanpa sesadarnya ia melangkah ke samping dan berdiri di bibir pintu. Karena tidak seorang pun berada di dalam ruangan yang menghadap langsung ke pintu dapur yang tembus ke halaman belakang itu, maka, ia merasa tidak terganggu.

Gupita dan Gupala yang tidak merasa bahwa sepasang mata sedang memandanginya, duduk saja seenaknya. Bahkan tiba-tiba Gupala meloncat berdiri. Dipandanginya sedompol jambu yang merah seperti soga.

“Hee, kau lihat itu?” desisnya.

“Ya.”

“Aku memerlukannya.”

“Seperti anak-anak. Kau pasti akan dimarahi oleh pemilik rumah ini.”

“Huh, dijaman peperangan ini tidak ada orang yang memikirkan hak milik atas sedompol jambu.”

Gupala tidak menunggu Gupita menyahut. Tiba-tiba diraihnya sebutir batu.

“Tetapi terlampau tinggi,” desisnya.

Gupita masih saja duduk di tempatnya, seolah-olah acuh tidak acuh saja atas kelakuan adik seperguruannya. Ia hanya berpaling ketika ia mendengar gemeresak batu yang dilontarkan oleh Gupala.

“Meleset,” desisnya.

“Huh,” sahut Gupita, “jambu itu tidak dapat berkisar dari tempat. Dan kau tidak dapat mengenainya. Bagaimana kalau yang kau lempar itu dapat menghindar.”

“Kalau jambu itu dapat menghindar, aku tidak akan melemparnya sekali lagi. Tetapi aku tantang ia supaya turun.”

Gupita tersenyum. Tetapi ia tidak beranjak dari tempatnya.

“Tolong, Kakang,“ desis Gupala, “bukankah kau juara memanah di Sangkal Putung. Kau adalah pembidik yang paling baik di seluruh Pajang.”

“Ah, Bagaimana dengan bidikan gelang-gelang besi Ki Tambak Wedi?”

Gupala menggeleng, “Entahlah. Tetapi tolong, aku kepingin jambu itu.”

Akhirnya Gupita berdiri juga. Diambilnya sebutir batu, dan perlahan-lahan ditengadahkan wajahnya. Sementara Pandan Wangi memandanginya dengan berdebar-debar.

Sedompol jambu yang telah semerah soga itu itu tergantung pada sebuah cabang yang agak tinggi. Gupala sendiri telah gagal melemparnya dengan sebutir batu. Dan kini Gupita-lah yang akan mencobanya.

Pandan Wangi terpaku di tempatnya ketika ia melihat Gupita bergeser mencari arah, supaya batu yang dilemparkannya tidak jatuh di sembarangan tempat.

Ketika Gupita mulai menggerakkan tangannya, Pandan Wangi ikut menahan nafasnya. Bahkan tanpa sadarnya ia pun telah bergeser ke tengah pintu.

Batu yang meluncur dari tangan Gupita itu seolah-olah mempunyai mata. Dengan tepat batu itu mengenai tangkai sedompol jambu yang merah segar itu, sehingga sesaat kemudian telah menghambur berjatuhan.

Dengan tangkasnya Gupita dan Gupala menangkap masing-masing dua buah di kedua tangan.

“Bukan main,” tanpa dikehendakinya Pandan Wangi berdesis.

Namun ternyata suaranya itu dapat didengar oleh Gupita dan Gupala sehingga keduanya terkejut dan berpaling.

“Maaf,” berkata Gupita, “aku mengambil jambu tanpa minta ijin lebih dahulu.”

Pandan Wangi menjadi tersipu-sipu karenanya. Tetapi ia tidak dapat masuk kembali tanpa menjawab kata-kata itu.

“Tidak apa-apa. Aku mengagumi kecakapanmu membidik. Sekali lempar kau dapat mengenai sedompol jambu itu.”

“Itu belum apa-apa,” tiba-tiba saja Gupala menyahut, “Kakang Gupita dapat mengenai batu yang dilemparkan orang lain ke udara. Nah, apakah kau tidak percaya. Marilah kita coba.”

“Ah,” desis Gupita, “kau mengada-ada saja Gupala.”

“Jangan bertingkah. Ayo, kita bermain-main.”

Gupita mengerutkan keningmya. Gupala berbuat sekehendak sendiri dimana pun dan kapan pun, sehingga Pandan Wangi menjadi semakin terdiam karenanya.

Karena Pandan Wangi tidak segera menyahut, maka Gupala mendekatinya sambil mengulanginya, “Mari. Kau melemparkan batu ke udara dan Kakang Gupita akan dapat menyentuhnya dengan batu yang lain.”

“Tidak sekarang, Gupala,” berkata Gupita.

“Oh,” Gupala mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba ia menyadari keadaannya sehingga perlahan-lahan ia bergumam, “Maaf.” Namun kemudian dilanjutkannya, “Bagaimana dengan Ki Argapati?”

Pandan Wangi menarik nafas, jawabnya, “Ayah sudah berangsur baik. Obat ayahmu benar-benar membantunya.”

“Tentu,” sahut Gupala, “ayahku adalah seorang dukun yang tidak ada duanya. Ia dapat mengobati segala penyakit kecuali satu.”

“Sakit apa itu?” bertanya Pandan Wangi.

“Lapar,” jawab Gupala sambil tertawa.

“Hus,” desis Gupita.

“O, apakah kalian belum makan pagi?”

Gupala tertawa, ketika ia mendengar Gupita berkata, “Anak itu terlampau dikuasai oleh perutnya. Tetapi ia tidak akan mau kelaparan.”

“Tetapi seandainya kalian belum makan pagi, marilah.”

“Semua juga belum,” jawab Gupita. “Terima kasih. Nanti kami akan berada bersama-sama dengan pengawal yang lain.”

Gupala masih saja tertawa. Bahkan di sela-sela suara tertawanya ia berkata, “Bukan saja belum makan pagi, sejak kemarin aku belum makan malam.”

“Benar begitu?” desak Pandan Wangi.

“Jangan hiraukan. Terima kasih.”

“Marilah. Aku akan menjamu kalian berdua.”

“Terima kasih,” jawab Gupita. “Kami bukan orang-orang yang harus mendapat perlakukan khusus.”

“Jangan berpura-pura,” potong Gupala, “yang penting bagiku sama sekali bukan makan pagi atau sore atau malam. Tetapi aku berbangga bahwa aku akan menjadi tamu kehormatan puteri Kepala Tanah Perdikan Menoreh.”

“Ah,” Gupita berdesah dan Pandan Wangi menundukkan kepalanya. Tetapi tanpa dapat ditahannya lagi ia tersenyum.

Ia mendapat kesan tersendiri atas anak muda yang gemuk itu. Kesan yang berbeda dengan kakaknya, Gupita. Kakaknya nampak lebih bersunguh-sungguh menanggapi persoalan, meskipun kadang-kadang ia mau bergurau juga. Namun apabila gembala itu telah bermain dengan serulingnya, terasa bahwa hidup baginya bukan sekedar sebuah permainan. Terasa bahwa jangkauannya dan tanggapannya tentang masalah-masalah yang dihadapinya agak lebih dalam dan bersungguh-sungguh.

Tiba-tiba saja ia mendapat kegembiraan bersama kedua anak-anak muda itu. Selama ini ia merasa hidup di dalam kungkungan kemuraman. Ia tidak pernah melihat wajah-wajah yang gembira dan cerah seperti wajah anak muda yang gemuk itu. Wajah yang kekanak-kanakan.

“Sebenarnya Ayah pun menungu kalian,” berkata Pandan Wangi tanpa disadarinya, “tetapi kalian tidak datang ke biliknya bersama pemimpin-pemimpin pengawal yang lain.”

“Kami bukan pemimpin pengawal,” sahut Gupala, “kami tidak pantas untuk berada di dalam bilik itu bersama-sama dengan para pemimpin yang lain.”

“Ah, kau,” desis Pandan Wangi. “Tetapi kalian adalah tamu-tamu kami. Marilah. Ayah sekarang sedang tidur. Nanti kalau Ayah sudah bangun, kalian harus segera menghadap. Sekarang, marilah aku jamu kalian dengan makan.”

“Sekaligus makan malamku kemarin,” potong Gupala.

Pandan Wangi tersenyum pula. Senyumnya menjadi semakin cerah. Sudah agak lama ia tidak pernah tersenyum dan apalagi tertawa, karena keadaan di sekitarnya. Dan kini ia merasakan dorongan di dalam hatinya untuk tersenyum.

“Baik,” jawabnya, “makan pagi, malam, dan siang sama sekali.”

Gupala tertawa. Suara tertawanya lepas tidak tertahan-tahan meskipun tidak terlampau keras, sedang Gupita ikut tersenyum pula karenanya.

Agaknya Gupala memang tidak dapat meninggalkan kebiasaannya. Setiap kali ia selalu masuk ke dapur. Memungut apa saja yang dapat dimasukkan ke dalam mulutnya. Daging lembu, kambing, paha ayam dan bahkan apa saja. Secukil kelapa pun boleh juga.

“Marilah,” ajak Pandan Wangi pula.

“Jangan menolak rejeki,” katanya kepada Gupita, “sudah aku katakan, bahwa yang penting bukan makanan yang akan kami terima, tetapi kesempatan untuk menjadi seorang tamu.”

“Ah,” desah Pandan Wangi.

Gupita menarik nafas dalam-dalam, Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak dapat tinggal sendiri di halaman belakang. Karena itu ia pun melangkah masuk ke dalam dapur bersama Gupala mengikuti Pandan Wangi.

“Duduklah. Tetapi tempat ini agak kotor.”

“Akulah yang lebih kotor lagi.”

“Aku buatkan minum untuk kalian, kemudian makan pagi. Tetapi aku hanya dapat menghidangkan apa yang ada saja, karena bibi di rumah ini agaknya belum masak. Mungkin Bibi sedang mencuci pakaian atau keluar sebentar untuk sesuatu keperluan.”

“Terima kasih. Jangan merepotkan. Kami pun masih belum mandi. Kami akan minum saja. Nanti sesudah mandi, barulah kami akan makan,” jawab Gupita.

“Tetapi adikmu sudah sangat lapar.”

“Biarlah ia membiasakan diri menahan lapar dan haus. Tetapi ia pun harus mandi dulu. Membersihkan darah yang masih belum pampat benar.”

“Darah?” bertanya Pandan Wangi.

“Lihat, pundakku terluka meskipun tidak begitu dalam,” jawab Gupala sambil memperlihatkan noda-noda darah di bajunya yang kotor dan sobek.

“Tidakkah luka itu diobati?”

“Ayahku seorang dukun. Aku sudah dibekali dengan obat-obat yang dapat menolong luka-luka yang ringan seperti lukaku ini.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil menyiapkan minuman kedua anak-anak muda itu ia berkata, “Sudah agak dingin. Tetapi cukuplah untuk menghangatkan perut.”

“Terima kasih.”

Pandan Wangi pun kemudian meletakkan mangkuk-mangkuk minuman itu di amben bambu. Air sere dengan gula kelapa. Bahkan disertai beberapa potong makanan.

“Terima kasih, terima kasih,” Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku ambilkan kalian makan kalau masih ada, meskipun sisa makan kemarin sore.”

“Kami akan mandi dahulu,” jawab Gupita, “biarlah kami makan bersama para pengawal yang lain. Minum dan makanan ini sudah lebih dari cukup.”

“Ya, jangan terlampau sibuk. Duduklah. Itulah yang penting,” sahut Gupala.

“Ah,” sekali lagi Pandan Wangi berdesah. Wajahnya menjadi ke merah-merahan seperti jambu yang menjelang tua.

Betapa inginnya Pandan Wangi duduk bersama mereka, berbicara dan bergurau, namun ia tidak dapat melakukannya. Sebagai seorang gadis, ia masih selalu dibayangi oleh perasaan malu. Karena itu, ditemuinya keduanya sambil mengerjakan pekerjaan apa saja. Membuat api, merebus air dan pekerjaan-pekerjaan dapur yang lain.

“Duduklah,” berkata Gupala, sehingga Gupita terpaksa menggamitnya.

“Kenapa?“ Gupala malah bertanya. “Bukankah tidak apa-apa aku mempersilahkannya duduk?”

“Sst,” desis Gupita.

“Kenapa?”

Gupita menggeleng-gelengkan kepalanya, sedang wajah Pandan Wangi menjadi semakin merah, sehingga tangannya menjadi gemetar.

Namun dalam pada itu, terkilas di dalam kenangannya, masa-masa kecilnya. Terasa sepercik kesegaran menyusup ke dalam dadanya. Seperti pada masa kanak-kanak, kakaknya Sidanti, setiap kali berada di rumah, selalu membawanya bermain-main. Tertawa, bergurau, dan bahkan berkejar-kejaran.

“Betapa segarnya masa kanak-kanak itu,” katanya di dalam hati. Namun justru karena kenangan itu, maka wajahnya pun menjadi suram. Apalagi kini ia dihadapkan pada suatu kenyataan, bahwa kakaknya, Sidanti telah memusuhi ayahnya, dan bahkan telah membakar seluruh Tanah Perdikan ini menjadi abu.

Tetapi Pandan Wangi berusaha menyembunyikan perasaannya terhadap kedua anak-anak muda itu. Ia tidak mau menyeret mereka ke dalam kemuramannya. Keduanya adalah anak-anak muda yang gembira, apalagi yang gemuk itu, seakan-akan sama sekali tidak pernah mengalami kesulitan di dalam hidupnya, seperti di masa kanak-kanak.

Untuk mengurangi ketegangan di hatinya, Pandan Wangi yang sedang membersihkan pagar bambu itu berkata, “Nanti kalau Ayah bangun, kalian harus segera menghadap. Ayah memerlukan kalian.”

Gupala menarik nafas, “Kau aneh. Kau belum mempersilahkan aku makan makananmu, kau sudah akan mengusir aku.”

Mau tidak mau Pandan Wangi harus tersenyum. Tetapi ia senang bahwa ia dapat tersenyum, bukan sekedar senyum yang dibuat-buat. “Maaf. Aku lupa mempersilahkan. Minumlah dan makanlah. Di dalam geledeg itu masih ada persediaan makanan. Kalau makanan itu habis, nanti biarlah aku tambah lagi.”

Gupala tertawa mendengarnya. “Terima kasih.”

“Terlalu kau,” gumam Gupita.

Tetapi Gupala tidak mempedulikannya. Ia mengambil tidak hanya sepotong makanan, tetapi dua sekaligus. Dengan sepenuh gairah, disuapkannya makanan itu ke dalam mulutnya.

Sikap itu justru terasa menyenangkan sekali. Kalau Gupala itu mempunyai pintu di dadanya, seakan-akan pintu terbuka, sehingga apa yang tersimpan di dalam dadanya, dapat dilihat tanpa selubung apa pun.

“Silahkan,” tanpa sesadarnya ia berkata, sehingga Gupala berpaling karenanya. Sambil tersenyum ia menyahut “Ketahuan juga agaknya.”

Pandan Wangi pun tertawa. Tetapi suara tertawanya segera terputus, ketika ia melihat seseorang yang bertubuh raksasa berdiri di muka pintu.

Sejenak Pandan Wangi seakan-akan membeku di tempatnya. Sorot mata Wrahasta membayangkan hatinya yang kurang senang melihat keadaan di dalam dapur itu. Sekali-sekali Wrahasta memandangi kedua anak-anak muda itu berganti-ganti, kemudian memandangi Pandan Wangi dengan tajamnya.

Gupita yang melihat kehadirannya pun menjadi berdebar-debar. Anak yang bertubuh raksasa itu tidak begitu senang kepadanya. Karena itu untuk tidak menimbulkan hal-hal yang tidak dikehendaki, maka ia selalu menghindari benturan pandangan.

Tetapi Gupala mempunyai tanggapan lain. Ia belum begitu mengenal Wrahasta, meskipun ia sudah mendengar serba sedikit tentang raksasa itu, namun Gupala sama sekali tidak mempedulikannya. Karena itu maka tanpa mengacuhkan gelagat di wajah Wrahasta, Gupala berkata, “Ha, kau datang juga. Kemarilah. Makanan sudah tersedia.”

Wrahasta mengerutkan keningnya. Wajahnya tiba-tiba menegang. Ia sama sekali tidak senang melihat sikap dan tingkah laku Gupala, namun dengan demikian justru ia terdiam sesaat.

“Kemarilah, jangan malu-malu. Tidak ada orang lain. Adalah kebetulan bahwa di geledeg ada sisa makanan,” berkata Gupala selanjutnya.

“Gupala,” bisik Gupita, “jagalah dirimu sedikit.”

Gupala mengerutkan keningnya. Hampir saja ia menjawab peringatan Gupita kalau Gupita tidak mendahuluinya, “Jangan berteriak. Orang ini mempunyai beberapa kelainan.”

Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia mulai memperhatikan wajah itu. Wajah raksasa yang kaku.

“Agaknya ia tidak pernah tertawa.”

“Sst.”

Wrahasta kemudian melangkah masuk ke dalam dapur. Dipandanginya Pandan Wangi dengan tajamnya. Sejenak kemudian terdengar suaranya, “Apa kerja anak-anak ini di sini?”

Pandan Wangi masih selalu mencoba menahan dirinya. Karena itu maka jawabnya, “Mereka belum makan sejak kemarin. Aku kasihan kepada mereka, dan aku memberikan makanan untuk sekedar mengisi perut.”

“Hampir semua orang belum makan sejak kemarin malam. Baru sebagian kecil saja dari mereka yang sempat makan lebih dahulu. Pagi ini mereka masih juga belum makan. Aku baru melihat nasi diantar ke gardu-gardu dan ke tempat-tempat peristirahatan para pengawal. Dan di sini orang-orang asing ini mendapat perlakuan khusus yang berlebih-lebihan. Itu tidak adil. Biar saja mereka pergi ke tempat para pengawal untuk menerima makan mereka. Kenapa harus di sini?”

Dada Pandan Wangi menjadi berdebar-debar. Ia menyadari betapa penting kedudukan Wrahasta di kalangan para pengawal. Tetapi kata-kata itu sangat menyakitkan hatinya. Ia sudah terlanjur menerima keduanya sebagai tamunya. Tiba-tiba Wrahasta datang memaki-maki.

“Nah, biarkan mereka keluar,” sambung naksasa itu.

“Wrahasta,” berkata Pandan Wangi, “aku sengaja membawa mereka kemari, supaya aku tidak kehilangan mereka lagi. Bukankah kau mendengar juga, bahwa Ayah memanggil keduanya untuk menghadap?”

“Itu hanya sekedar sopan santun. Dan aku pun akan membawa mereka menghadap. Tetapi tidak di dapur seperti ini. Kalau Ki Gede sudah bangun, biarlah keduanya datang ke dalam biliknya.”

“Kalau aku ikat mereka di sini, mereka tidak akan pergi lagi, dan kita tidak usah mencarinya.”

“Nah, itulah kepandaian puteri Kepala Tanah Perdikan ini,” sahut Gupala. “Kalau kepada kami berdua ini disediakan makanan, minuman, apalagi ingkung ayam, maka sehari penuh kami tidak akan beranjak dari amben ini.”

Gupita menyarik nafas dalam-dalam, sedang Pandan Wangi menggigit bibirnya, sementara Gupala berkata terus, “Marilah Ki Sanak. Minuman hangat dan makanan yang agak wayu sedikit, justru membuat tubuh menjadi segar-bugar, meskipun belum mandi.”

Wajah Wrahasta justru menjadi semakin tegang. Dengan suara yang datar ia berkata, “Tetapi tidak sepantasnya kalian mendapat perlakuan yang khusus. Para pengawal Tanah ini pun tidak mendapat perlakuan seperti kalian, bahkan para pemimpinnya, Paman Samekta, Paman Kerti, dan aku sendiri.”

“Itulah bedanya,” jawab Gupala, “aku adalah seorang tamu di Tanah ini. Tamu memang harus mendapat perlakuan yang lain.”

“Hanya tamu yang tidak sopanlah yang tidak menurut ketentuan dari tuan rumahnya. Ayo, jangan banyak bicara. Aku adalah tuan rumah di atas Tanah Perdikan ini.”

“Wrahasta,” potong Pandan Wangi, “tidak seorang pun yang akan menyangkal. Tetapi siapakah aku ini? Siapakah Ki Argapati? Apakah mereka bukan tuan rumah? Aku telah mempersilahkan tamu-tamuku masuk sekedar ke dalam dapur. Aku minta kau mengerti. Bukankah karena Ayah dari keduanya itu, luka-luka Ayah tidak merenggut nyawanya?”

Sesaat Wrahasta terdiam. Ia memang tidak dapat menyangkal, bahwa demikianlah yang telah terjadi. Tetapi ia pun tidak dapat mengelak lagi dari api kecemburuannya yang semakin berkobar di dadanya. Perasaan yang demikian bagi anak-anak muda dapat menjadikan pendorong untuk berbuat sesuatu, namun dapat juga menjadi racun yang berbahaya.

Dan Wrahasta justru menjadi semakin bermata gelap. Dengan suara yang gemetar ia berkata, “Pandan Wangi. Persilahkan tamumu meninggalkan ruangan ini. Biarlah berada di ruang sebagai tamu yang terhormat, yang telah menyelamatkan nyawa Ki Gede. Biarlah Paman Samekta, Paman Kerti dan para pemimpin yang lain menemuinya. Bukan kau. Kau adalah seorang gadis. Apakah kau telah berlaku sepantasnya bagi seorang gadis?”

Dada Pandan Wangi berdesir mendengar kata-kata Wrahasta. Agaknya Wrahasta sudah tidak dapat menahan hati lagi, sehingga Pandan Wangi itu menjadi semakin meyakini latar belakang dari sikap anak muda yang bertubuh raksasa itu.

Namun justru dengan demikian, runtuhlah perasaan iba di hati gadis itu. Kemarahan yang telah merayapi jantungnya, tiba-tiba menjadi lilih. Pandan Wangi mengenal kemampuan Gupita dan menurut penilaiannya, tentu juga Gupala tidak akan jauh berbeda daripadanya.

Karena itu, maka perselisihan di antara mereka harus dihindari. Menilik sifat kedua anak-anak muda itu, maka Gupala mempunyai cara yang lain dalam menanggapi raksasa itu. Kalau Gupita masih selalu berusaha menahan dirinya, namun agaknya Gupala akan berbuat lain. Karena itu maka Pandan Wangi harus menjaga, agar di antara mereka tidak timbul salah paham.

Apabila demikian, maka Gupala pasti akan bertindak dengan sungguh-sungguh. Sudah barang tentu bahwa Wrahasta pasti tidak akan dapat melawannya. Dan kekalahan Wrahasta akan berakibat kurang baik bagi tanah perdikan ini.

Karena pertimbangan-pertimbangan itulah maka Pandan Wangi kemudi-an mengambil suatu sikap yang kurang dimengerti oleh Gupala, tetapi sama sekali tidak mengherankan Gupita.

“Baiklah,” berkata Pandan Wangi kemudian, “aku memang ingin mempersilahkan kalian duduk di ruang depan bersama ayah kalian, Paman Samekta, Paman Kerti dan yang lain-lain. Tentu saja setelah kalian makan makanan itu.”

Gupala tercenung sejenak. Dipandanginya wajah Pandan Wangi dan Wrahasta berganti-ganti.

“Oh,” Pandan Wangi berkata pula, “atau barangkali kalian akan mandi dahulu?”

Namun Gupala menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku tidak perlu mandi. Aku dapat makan tanpa mandi sepuluh hari sepuluh malam. Apalagi di peperangan.”

Dada Pandan Wangi berdesir. Ia merasa bahwa tamunya yang gemuk itu merasa tersinggung. Itulah yang dicemaskannya. Tetapi kalau anak itu tetap berada di dapur, maka perselisihan yang lebih tajam mungkin akan terjadi. Justru dengan Wrahasta.

“Maaf,” jawab Pandan Wangi kemudian, “di ruang depan telah tersedia makan dan minum. Sama sekali makan malam kemarin dan mungkin masih ada yang lain lagi.”

Gupala menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tanpa disangka-sangka ia menjawab, “Yang penting bukan makanannya. Aku berbangga bahwa aku suatu ketika menjadi tamu puteri Kepala Tanah Perdikan Menoreh.”

Dada Pandan Wangi berdesir. Ternyata anak muda yang gemuk itu sama sekali tidak mengacuhkan celerat di wajah Wrahasta. Dan ketika Pandan Wangi menyambar sorot mata raksasa itu, hatinya menjadi kian berdebar-debar.

Namun tiba-tiba Gupita turun dari amben sambil berkata, “Terima kasih. Itulah yang kami harapkan. Di sini kami telah menerima makanan dan minuman, di ruang depan kami akan menerimanya untuk yang kedua kalinya. Baiklah kami akan pergi ke ruang depan supaya kami tidak kehabisan.”

Gupala mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia berkata sesuatu, sekali lagi Gupita mendahului, “Kalau kau mau, makanan itu dapat kita bawa. Bukankah begitu?”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun terasa menjadi kaku. “Apakah kalian memerlukannya?”

Namun Gupita menggeleng, “Terima kasih. Kami memang ingin mandi lebih dahulu.” Lalu kepada Gupala ia berkata, “Marilah.”

Sekali lagi Gupala menarik nafas dalam-dalam. Tetapi dengan malasnya ia pun berdri dan berkata, “Aku sebenarnya lebih senang duduk di sini. Kalau bukan yang mempersilahkan aku masuk itulah yang mempersilahkan aku keluar, aku akan tetap tinggal di dalam dapur.”

“Bukan maksudku mempersilahkan kau keluar,” sahut Pandan Wangi, “namun memang sepantasnya seorang tamu berada di ruang depan. Aku justru minta maaf bahwa aku telah mempersilahkan kalian duduk di dapur.”

“Kau tidak perlu memakai terlampau banyak alasan Pandan Wangi,” sahut Wrahasta tiba-tiba. “Sebaiknya kau memang berterus terang mengusir mereka. Apakah salahnya? Kau adalah puteri Ki Gede Menoreh. Jangankan menyuruh mereka keluar dari dapur ini. Bahkan kau dapat mengusirnya dari tlatah Menoreh.”

Sebersit warna merah membayang di wajah Gupala. Berbeda dengan Gupita, maka tiba-tiba ia bertolak pinggang.

Pandan Wangi menjadi bingung. Maksudnya adalah untuk mencegah perselisihan. Namun justru mereka seakan-akan mendapat jalan untuk berbantah.

“Sudahlah,” Pandan Wangi hampir berteriak, “kalian bukan anak-anak lagi. Di ruang dalam ayah sedang terbaring karena lukanya dan berusaha untuk beristirahat. Di sini kalian bertengkar tanpa ujung dan pangkal.”

Gupala masih akan menjawab karena ia melihat Wrahasta memandanginya dengan sorot mata kebencian. Tetapi ia tidak dapat membantah lagi ketika tangannya ditarik oleh Gupita.

“Kau mempunyai kebiasaan yang kurang baik, Gupala,” desis Gupita. “Kalau kau sedang lapar, maka nalarmu menjadi terlampau pendek.”

“Tidak. Ini bukan soal lapar.”

“Hus,“ Gupita berdesis sambil menarik lengan adiknya, “marilah. Jangan membuat kesulitan. Kau di sini menjadi seorang tamu. Kau harus tunduk kepada tuan rumah. Dan kita memang dipersilahkan keluar dari dapur. Aku yakin bahwa Pandan Wangi tidak akan ingin menyakitkan hati kita.”

“Memang bukan Pandan Wangi. Anak yang kasar itulah yang memang harus mendapat pelajaran sekali-kali.” Gupala menggeram, tetapi ia sudah menjadi semakin jauh dari pintu dapur, “Kenapa anak itu tidak kau putar saja batang lehernya ketika kau mendapat kesempatan untuk berkelahi.”

“Ah, kau terlalu terburu nafsu, itulah yang selalu dicemaskan oleh Guru.”

Gupala mengumpat. Ketika ia berpaling dilihatnya Pandan Wangi juga meninggalkan dapur, justru keluar dari pintu belakang dan cepat melingkari sudut rumah, masuk ke pintu butulan samping.

Sebenarnya bahwa Pandan Wangi pun menghindari pertemuan seorang dengan seorang. Ia tidak mau tersudut dalam kesulitan. Karena itu ketika Gupala ditarik oleh Gupita keluar dari dapur, maka ia pun segera menyusulnya pula.

“Pandan Wangi,” panggil Wrahasta, “aku perlu dengan kau sebentar.”

Pandan Wangi tertegun sejenak. Sepercik keragu-raguan melonjak di hatinya. Apakah ia akan tetap tinggal di dapur bersama Wrahasta, atau tidak. Kalau ia tetap berada di dapur, maka ia pasti harus menjawab berbagai macam pertanyaan yang dapat membuatnya pening.

“Aku ingin berbicara dengan kau, Wangi,” berkata Wrahasta kemudian.

Terasa tengkuk Pandan Wangi meremang. Ia tidak dapat mengerti sendiri, kenapa ia tidak berani menyatakan perasaannya berterus terang. Bukan karena pertimbangan-pertimbangan tentang pertahanan Tanah Perdikan Menoreh saja, tetapi karena ia memang tidak akan sampai hati untuk mengatakannya. Ia tidak akan sampai hati melihat Wrahasta menjadi kecewa dan mungkin menjadi patah hati dan bermata gelap. Seandainya kedua anak-anak muda gembala kambing itulah yang menjadi sasaran, maka hal itu pasti akan menjadi bencana bagi dirinya sendiri karena Pandan Wangi telah dapat menjajagi imbangan kekuatan mereka.

Ketikta Wrahasta melangkah mendekatinya, tiba-tiba Pandan Wangi menengadahkan wajahnya, “Wrahasta, apa kau dengar ayah memanggil?”

Wrahasta tertegun.

“Dengarlah baik-baik.” Pandan Wangi memiringkan kepalanya, “o, aku harus segera menghadap.”

Wrahasta menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Pandan Wangi menghambur keluar. Tetapi terasa hatinya berdesir. Ia sama sekali tidak mendengar suara Ki Argapati. Dan seandainya benar, bukan jalan itu yang akan dilalui Pandan Wangi. Gadis itu pasti akan masuk ke dalam lewat pintu masuk, bukan pintu keluar.

Tiba-tiba Wrahasta menyusul sampai ke pintu. Ia masih melihat Pandan Wangi berputar, kemudian hilang di balik sudut. Namun ia mengangguk-anggukkan kepalanya ketika ia melihat Gupala dan Gupita menjadi semakin jauh di halaman belakang. Agaknya mereka akan melalui butulan, pergi ke sungai kecil yang mengalir di pinggir padukuhan ini.

Namun hatinya menjadi semakin tidak tenteram. Anak muda itu seakan-akan menjadi semakin rapat bergaul dengan Pandan Wangi, dan agaknya Pandan Wangi pun menerima kehadiran mereka dengan hati terbuka. Apalagi agaknya anak yang gemuk itu mempunyai tanggapan yang lain kepadanya. Tidak seperti kakaknya agak lebih tenang.

“Sayang, Ki Argapati sedang membutuhkan ayah mereka. Kalau tidak, keduanya pasti sudah aku usir dengan paksa. Aku tidak senang melihat kehadiran mereka dipadukuhan ini,” desis Wrahasta. “Tetapi untuk sementara aku tidak dapat berbuat apa-apa.”

Pandan Wangi yang kemudian masuk kembali ke dalam rumah itu lewat butulan samping, langsung pergi ke bilik ayahnya. Dengan hati-hati ia memasukinya dan kemudian duduk di atas sebuah dingklik kayu di sudut ruangan.

Perlahan-lahan ia menarik nafas dalam-dalam. Terasa debar jantungnya menjadi semakin cepat.

“Bagaimana aku harus menghindarinya?” pertanyaan itu selalu mengganggunya. Namun Pandan Wangi memasa, bahwa pada suatu saat ia harus mengambil suatu sikap. Ia tidak akan dapat untuk seterusnya menghindar dan menghindar. Karena ia menyadarinya, bahwa bukanlah suatu penyelesaian. Pada saatnya ia harus menjawab “Ya” atau “Tidak.”

Selama ini, meskipun hanya setitik, agaknya Wrahasta selalu berpengharapan. Sehingga apabila kelak pada saatnya ia mendengar jawaban yang lain, maka hatinya pasti akan patah. Akibatnya akan dapat terungkap dalam berbagai-bagai bentuk.

Karena itu Pandan Wangi menjadi semakin bingung. Sekali-sekali dipandanginya wajah ayahnya yang pucat, kemudian dilemparkannya tatapan matanya ke sudut bilik, ke atas sebuah ajuk-ajuk lampu minyak. Warna yang kehitam-hitaman membayang di dinding di sebelah ajuk-ajuk itu. Di malam hari, apabila lampu menyala, maka asapnya selalu menyentuh dinding itu.

Pandan Wangi tidak menyadari, berapa lama ia duduk di tempat itu. Ia seakan-akan tersadar ketika ia mendengar desah napas ayahnya.

Dengan serta-merta Pandan Wangi berdiri. Dihampirinya pembaringan ayahnya perlahan-lahan.

“Wangi,” desis ayahnya.

“Ya, Ayah.”

“Apakah sejak tadi kau berada di sini?”

“Tidak Ayah. Aku sudah pergi ke dapur dan ke luar.”

“O,” Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan-lahan, “di manakah orang-orang yang lain?”

“Di luar, Ayah. Mereka pun sedang beristirahat di serambi depan. Bahkan mungkin paman-paman sedang tidur pula.”

“Kedua prajurit itu?”

“Juga di luar.”

“Dan kedua gembala muda itu?”

“Mereka berada di belakang, Ayah. Apakah Ayah akan memanggilnya?”

Tetapi Ki Argapati menggelengkan kepalanya, “Tidak sekarang, Wangi. Aku masih ingin beristirahat. Tetapi badanku sudah terasa jauh lebih baik.” Ki Argaparti berhenti sejenak, “Beritahukan kepada pamanmu Samekta. Aku memerlukannya dan para pemimpin yang lain. Aku ingin berbicara nanti sesudah senja.”

“Baik, Ayah.” Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Ia ingin menanyakan apakah ayahnya ingin makan. Tetapi ia cemas, kalau-kalau Wrahasta masih berada di dapur.

Namun demikian, ia terpaksa mengesampingkan kecemasannya itu dan bertanya kepada ayahnya, “Apakah Ayah ingin makan?”

Ki Argapati menggelengkan kepalanya, “Tidak, Wangi. Tetapi berilah aku minum.”

Pandan Wangi pun kemudian mendekatkan mangkuk minuman ke mulut ayahnya yang berusaha mengangkat kepalanya.

“Terima kasih,” desis ayahnya kemudian. “Sekarang temuilah pamanmu Samekta. Kita harus membicarakan kelanjutan dari peperangan ini supaya kita tidak terlambat. Aku kira saat ini Tambak Wedi dan Sidanti pun sedang memikirkan suatu cara untuk menebus kekalahannya hari ini.”

Sebenarnyalah bahwa Tambak Wedi yang sedang dilanda oleh kemarahan, kekecewaan, keragu-raguan, dan segala macam perasaan yang bercampur baur, lagi duduk bersama Sidanti, Argajaya, Ki Peda Sura, dan beberapa orang pemimpin pasukannya yang lain. Setiap kali orang tua itu menggeram, menghentak-hentakkan tangannya dan kadang-kadang berteriak tanpa sebab.

Sidanti adalah salah seorang yang paling kecewa karena pasukannya harus ditarik mundur. Tetapi di hadapan gurunya yang sedang marah itu, Sidanti sama sekali tidak berkata apa pun. Ia mengenal tabiat guru dan sekaligus ayahnya itu dengan baik, selama ia berada di padepokan Tambak Wedi. Dalam keadaan yang demikian, tidak seorang pun yang berani membantahnya.

“Kita telah salah menilai,” geramnya. “Ternyata di dalam lingkungan setan itu terdapat orang-orang yang tidak pernah kita perhitungkan.”

Sidanti menundukkan kepalanya, sedang Argajaya mengangguk-angguk.

“Ki Peda Sura,” tiba-tiba Tambak Wedi bertanya, “kenapa kau menghindari lawanmu?”

“Aku tidak mau mati,” jawab Ki Peda Sura.

“Gila. Apakah kau sudah mcnjadi seorang pengecut. Di peperangan, mati adalah akibat yang wajar. Tetapi aku memang tidak ingin kau mati. Aku ingin kau membunuh musuhmu.”

“Aku telah membunuh dan melukai lebih dari sepuluh orang. Kalau aku tidak menghindari orang berkumis lebat itu, akulah yang mati dan dengan demikian aku tidak dapat membunuh lagi. Orang berkumis itu pun sebenarnya tidak begitu mengecutkan hati. Tetapi ia bekerja bersama beberapa orang. Kerja sama yang sangat baik, sehingga aku menghindarinya.”

Ki Tambak Wedi sama sekali tidak menghiraukannya. Ia tidak pernah menaruh perhatian terhadap seseorang yang berkumis. Ada seribu orang berkumis di dalam pasukan Ki Argapati.

“Kita tidak boleh menunggu Argapati sembuh dan dapat maju ke peperangan lagi,” berkata Ki Tambak Wedi. “Kita harus cepat-cepat menyusun kekuatan. Tanpa Ki Muni dan Ki Wasi. Ternyata mereka hanya mampu berbicara saja, berteriak-teriak. Tetapi mereka sama sekali tidak berarti apa-apa di peperangan.”

“Ki Wasi terbunuh oleh orangnya sendiri,” desis Argajaya.

“Itu lebih baik daripada ia berkhianat,” jawab Ki Tambak Wedi. “Nah, kalian harus segera mempersiapkan diri. Seluruh pasukan harus segera dapat digerakkan kembali dalam waktu yang sangat dekat.”

Argajaya menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya ragu-ragu, “Tidak mungkin terlampau cepat Ki Tambak Wedi. Pasukan kita telah terpukul cukup parah. Aku kira kita memerlukan waktu dua tiga hari untuk menyusun pasukan itu kembali. Kalau benar Kakang Argapati tidak dapat bertahan, dan terjatuh di peperangan, itu berarti bahwa lukanya memang terlampau parah. Kalau tidak, ia pasti mampu tetap berdiri sampai tidak seorang lawan pun yang melihatnya. Karena itu, maka aku kira, dalam waktu dua tiga hari ini, Kakang Argapati pasti masih belum akan dapat bangun.”

“Tiga hari adalah batas terakhir,” jawab Ki Tambak Wedi. Lalu kepada Ki Peda Sura, “Bagaimana dengan orang-orangmu?”

“Kenapa dengan mereka?”

“Aku memerlukan beberapa orang terkuat lagi dari orang-orangmu untuk melawan setan-setan yang sekarang ada di Menoreh ini. Kau harus menyusun kelompok-kelompok kecil dari orang-orangmu yang terkuat.”

“Kenapa hanya orang-orangku? Di sini ada orang-orang lain yang cukup kuat pula.”

“Tetapi kau adalah gerombolan yang terbesar dan terpercaya. Aku lebih percaya kepadamu daripada orang-orang lain.”

Ki Peda Sura menggeleng-gelengkan kepalanya, “Berat. Terlampau berat menghadapi orang-orang Argapati.”

“Lalu bagaimana maksudmu?”

“Aku lebih baik menarik diri.“

“Gila. Kau gila. Dalam keadaan serupa ini kau menarik diri? Itu juga suatu pengkhianatan.”

“Lawan-lawanmu ternyata terlampau sulit untuk dikalahkan.”

“Tetapi Argapati sendiri sudah hampir mati.”

“Seperti saat-saat lampau, ia akan tiba-tiba muncul lagi di peperangan.”

“Mungkin, tetapi ia tidak akan dapat bertempur sepenuh tenaganya.”

“Tetapi aku lebih baik membawa orang-orangku merampok daripada harus berperang melawan Ki Argapati.”

“Gila. Itu tidak mungkin.”

“Kenapa tidak? Aku bukan orangmu yang harus tunduk kepadamu.”

“Tetapi kita sudah membuat perjanjian.”

“Aku ingin membatalkan perjanjian.”

“Gila, kau gila Peda Sura. Kau tidak dapat membatalkan perjanjian itu. Itu adalah suatu pengkhianatan. Dan kau harus menyadari, hukuman dari seorang pengkhianat.”

“Apa?” tiba-tiba Ki Peda Sura tersenyum, “Kau akan menghukum aku? Kau sangka aku semacam katak yang begitu saja dapat kau injak-injak?”

“Tapi aku mampu membunuhmu.”

“Mungkin aku akan mati, tetapi separo dari anak buahmu pasti akan mati juga. Orang-orangku yang tersisa akan dapat memanggil beberapa orang yang dapat membakar tanahmu menjadi abu. Kami meskipun tanpa aku, dapat menjelajahi ujung tanahmu ini sampai ke ujung yang lain, membunuh setiap orang dan merampas semua milik mereka, selagi kau berkelahi melawan Argapati.”

“Baik,” tiba-tiba Sidanti tidak dapat menahan hati, “marilah kita bertempur sampai sampyuh. Biarlah kita binasa semuanya. Apakah kau kira kau dapat menakut-nakuti kami?”

“Apakah begitu yang kau kehendaki, Sidanti?” jawab Ki Peda Sura.

Hampir saja Sidanti meloncat menerkam orang itu. Tetapi Ki Tambak Wedi berhasil menahannya. “Duduklah yang baik, Sidanti.”

Sadanti menggeram, tetapi ia duduk kembali di tempatnya. Ternyata betapa kemarahan membakar dada gurunya, orang tua itu masih dapat lebih menahan hati daripadanya sendiri.

Peda Sura masih duduk tenang-tenang saja di tempatnya. Bahkan ketika Sidanti telah duduk kembali ia berkata, “Kenapa tidak kau biarkan saja anak itu mati?”

“Jangan membakar hatinya lagi,” bentak Ki Tambak Wedi. “Kita ternyata adalah orang-orang yang paling bodoh di dunia. Kita bercita-cita setinggi langit, tetapi kita tidak pernah setia kepada cita-cita itu sendiri. Masalah-masalah yang tidak berarti kadang-kadang selalu kita anggap lebih penting dan lebih berharga untuk dipersoalkan.”

Sidanti hanya dapat menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan sorot matanya yang membara.

Dalam pada itu Argajaya masih mematung di tempatnya. Kadang-kadang ia mengerutkan keningnya, kadang-kadang mengangguk-anggukkan kepalanya, namun kadang-kadang ia mengeretakkan giginya.

Ki Peda Sura seolah-olah sama sekali tidak memperhatikan orang-orang yang berada di sekitarnya. Namun ternyata orang-orangnyalah yang telah mempersiapkan diri mereka diam-diam.

“Ki Peda Sura,” berkata Ki Tambak Wedi kemudian, “marilah kita persoalkan masalah yang sedang kita garap sekarang. Kita sudah tidak dapat berhenti di tengah-tengah jalan. Kita harus berjalan terus. Memang kau dapat memeras kami dalam saat-saat seperti ini. Tetapi seperti kau, kami pun dapat berbuat dengan sikap putus asa. Kalau kita membenturkan diri kita satu sama lain, maka akulah yang pasti akan tetap hidup. Harapan terbesar Sidanti dan Argajaya pun akan tetap hidup pula. Kematian orang lain dapat kami kesampingkan, apabila kami telah kehilangan arah perjuangan kami. Tetapi tidak demikian dengan kami. Aku, Sidanti, Argajaya, dan anak-anak muda, bahkan setiap laki-laki di atas Bukit Menoreh ini akan tetap berjuang untuk mencapai suatu cita-cita yang telah kita pahatkan di dalam hati.”

“Cita-cita itu adalah cita-cita kalian. Bukan cita-cita kami.”

“Benar, tetapi bukankah di dalam perjanjian itu telah tersebutkan bahwa kau akan mendapat banyak manfaat dari kemenangan ini? Dan bukankah manfaat itu juga suatu cita-cita bagimu?”

“Terlampau berat. Sama sekali tidak seimbang dengan korban yang harus aku berikan.”

“Tetapi itu lebih baik daripada kau tumpas di sini bersama-sama dengan kami. Katakanlah seperti yang kau ramalkan, separo dari kami. Kemudian kami menyerah, dan Sidanti akan diterima kembali oleh ayahnya. Sementara itu, kami akan menumpas sisa-sisa orang-orangmu di sarangmu.”

“Gila. Kalian jangan mencoba menakut-nakuti dan memperbodoh kami.”

“Dan kau jangan mencoba berkhianat.”

“Aku akan bekerja terus buat kau, tetapi selain yang tersebut dalam perjanjian, aku memerlukan tanahmu di bagian selatan membujur ke timur sampai ke kali Praga.”

“Gila,” sekali lagi Sidanti meloncat berdiri, bahkan kali ini bersama-sama dengan Argajaya. Dengan suara yang bergetar Argajaya berkata, “Kau akan memeras kami dengan cara yang licik itu, Peda Sura?”

Peda Sura mengerutkan keningnya. Ia tidak dapat duduk tenang-tenang saja, karena agaknya Sidanti dan Argajaya menjadi benar-benar marah mendengar tuntutannya itu.

“Ya, aku memang memerlukan tanah itu.”

Mata Sidanti telah menjadi semerah darah. Namun Ki Tambak Wedi berkata, “Duduklah. Duduklah. Kita tidak boleh menjadi gila oleh kekalahan kecil yang baru saja terjadi.”

Sidanti dan Argajaya masih saja berdiri di tempatnya.

“Dudukkah,” sekali lagi terdengar suara Ki Tambak Wedi.

Sidanti dan Argajaya menggeram, tetapi mereka duduk kembali di tempatnya.

“Permintaanmu telah membuat kami merasa tersinggung Ki Peda Sura,” berkata Ki Tambak Wedi.

“Terserahlah menurut penilaianmu. Tetapi kami tidak akan dapat membiarkan orang-orang kami mati terbunuh di sini tanpa imbalan yang cukup.”

“Apakah kau telah merencanakan untuk memperluas daerah perampasanmu sampai ke Mangir, Pliridan dan bahkan langsung ke seberang Hutan Mentaok?”

Ki Peda Sura tidak segera menjawab. Tetapi kepalanya terangguk-angguk kecil.

“Begitu?” desak Ki Tambak Wedi.

“Ya,” akhirnya Ki Peda Sura menjawab.

“Kau gila. Kau sangka Ki Ageng Mangir itu anak kecil yang dapat kau takut-takuti.”

“Persetan.”

“Dan kau sangka kau dapat melawan Daruka dan orang-orangnya dari Alas Mentaok?”

“Persetan pula dengan kelinci-kelinci kecil di Alas Mentaok itu.”

“Bagus. Kalau sudah kau pertimbangkan masak-masak, kau tentu akan tetap pada pendirianmu.”

“Tentu. Dan itu akan lebih baik buat kau. Kau akan mendapat seluruh Tanah Perdikan ini, selain seleret tanah di pasisir sampai ke Kali Praga itu.”

Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah. Aku sependapat.”

“Guru,” Sidanti tiba-tiba memotong.

“Jangan gelisah Sidanti. Kita tidak mempunyai pilihan lain dalam keadaan serupa ini. Kita harus memenangkan peperangan ini.“

“Tetapi ……….” sambung Argajaya.

“Itu adalah keputusanku.”

Sidanti dan Argajaya terdiam. Namun serasa mereka menyimpan segumpal bara di dalam dada mereka.

“Jadi, kau terima syaratku, Tambak Wedi,” berkata Ki Peda Sura sambil menyipitkan matanya.

“Ya, aku terima syarat itu.”

Ki Peda Sura mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum sambil memandang wajah Sidanti dan Argajaya berganti-ganti. Wajah-wajah yang seolah-olah telah terbakar.

“Aku percaya kepadamu, Ki Tambak Wedi,” berkata Ki Peda Sura. “Kita adalah orang laki-laki yang meletakkan nilai diri pada kata-kata dan perbuatan. Dan kau adalah salah seorang yang mempunyai nama yang menggemparkan, tidak saja di sebelah Selatan bumi Pajang, tetapi kau telah benar-benar mampu mengguncang pimpinan pemerintahan. Karena itu, kau tidak akan menelan ludah yang telah titik di atas tanah.”

“Ya. Aku pertaruhkan namaku atas janjiku.”

“Terimu kasih,” sahut Ki Peda Sura, “biarlah aku menyiapkan orang-orangku untuk peperangan yang lebih besar dan waktu yang tidak terbatas.”

“Ya, lakukanlah. Aku memerlukan setiap orang di dalam pasukanku. Secepat mungkin. Aku tidak dapat menunggu sampai terlambat. Apalagi sampai orang-orang Pajang semakin banyak berdatangan.”

Ki Peda Sura tertawa. Kemudian ia pun berdiri meninggalkan ruangan itu, diikuti oleh beberapa orang yang lain.

Begitu Ki Peda Sura keluar dari pintu, Sidanti dan Argajaya tidak dapat bersabar lagi. Hampir bersamaan mereka bertanya, “Kenapa Guru memenuhi permintaan itu?”

Tetapi Ki Tambak Wedi tersenyum. Jawabnya, “Apakah kau kira aku akan memenuhinya kelak.”

“Tetapi Kiai telah mempertaruhkan nama Kiai.”

“O, kau sangka namaku adalah nama yang bersih seputih kapas? Biarlah. Namaku adalah nama yang memang aku korbankan untuk kepentingan kalian, untuk kepentingan Tanah Perdikan ini.” Ki Tambak Wedi berhenti sejenak, lalu, “Setelah kita selesai dengan Argapati, maka kita akan segera menyelesaikan tikus-tikus yang hanya akan meringkihkan kita saja.”

Sidanti tidak menyahut. Tetapi kepalanya tertunduk. Ia tidak begitu senang mempergunakan cara itu. Cara seorang pengecut.

“Jangan terlampau terikat oleh kejantanan dalam hubungan dengan orang-orang seperti Ki Peda Sura,” berkata Ki Tambak Wedi kemudian. “Orang itu terlampau licik. Dan kita pun harus licik pula menghadapinya.”

Sidanti menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menyahut lagi. Juga Argajaya tidak berkata sepatah kata pun lagi.

“Beristirahatlah kalian. Sebentar lagi kalian harus bekerja keras. Menghimpun semua kekuatan yang ada. Kalian harus segera mendapat tenaga baru dari ujung sampai ke ujung Tanah Perdikan ini yang kira-kira dapat kita pergunakan. Kita harus mendapatkan kekuatan sedikit-dikitnya sebanyak yang telah kita pergunakan.”

“Hampir setiap orang telah berada di dalam barisan,” jawab Argajaya.

“Kita masih menyimpan banyak tenaga. Kalian belum memanggil orang-orang yang berada di lereng-lereng Bukit Menoreh dan di pesisir Selatan.”

“Aku sangsi, apakah mereka sependirian dengan kita. Samekta pasti telah sampai ke sana pula. Dan sebagian dari mereka pasti telah terpengaruh olehnya.”

“Kita jelajahi Tanah Perdikan ini.”

“Baiklah,” jawab Argajaya, “aku akan mencobanya. Aku memerlukan waktu sehari. Kemudian sehari lagi untuk menghimpun setiap kekuatan yang telah terkumpul.”

“Di hari ketiga kita telah siap untuk menggempur pedukuhan yang dibentengi dengan pring ori itu,” geram Ki Tambak Wedi, lalu, “semakin cepat selesai, pasti akan semakin baik. Di pihak Argapati pun jumlah pasukannya pasti sudah berkurang. Dan mereka tidak akan berkesempatan untuk mendapatkannya lagi dari luar pagar itu.”

“Mudah-mudahan,” desis Argajaya.

“Kita harus yakin,” sahut Ki Tambak Wedi. “Nah, aku pun akan beristirahat pula. Kalian harus melakukan tugas kalian sebaik-baiknya tanpa menunggu perintah lagi. Ingat, jagalah perasaan kalian, sehingga tidak menimbulkan persoalan yang dapat mengganggu kekuatan kita.”

Sidanti dan Argajaya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Dan sejenak kemudian mereka pun segera pergi meninggalkan ruangan itu.

Ketika Ki Tambak Wedi tinggal duduk seorang diri, maka tampaklah ia merenung. Ia menjadi sangat kecewa atas kekalahan yang baru saja dialaminya. Orang-orang yang tidak diperhitungkan ternyata tiba-tiba saja telah muncul di peperangan. Dan justru orang-orang itu adalah orang-orang yang ikut menentukan.

“Secepatnya Argapati harus terbunuh. Secepatnya.”

Iblis lereng Merapi itu menggeretakkan giginya. Ia pun kemudian berdiri dan meninggalkan ruangan itu. Seperti orang yang kurang yakin, maka ia pun melihat orang-orangnya yang masih mampu untuk bertempur di waktu-waktu yang dekat.

“Jangan berkecil hati. Kesalahan yang terjadi adalah kesalahan kecil dalam penempatan pimpinan. Kesalahan itu adalah kesalahan yang memang sulit untuk dihindari. Tetapi kita sekarang telah mengetahui kekuatan lawan dengan pasti. Mereka mempergunakan orang-orang yang datang dari luar Tanah ini. Karena itu, kita harus menghancurkan mereka, merebut tanah ini dari kekuasaan orang gila pangkat dan derajat, sehingga melupakan kepentingan seluruh rakyat Tanah Perdikan Menoreh.”

Orang-orang di dalam pasukan Ki Tambak Wedi itu pun mengangguk-anggukkan kepala mereka. Meskipun sebagian dari mereka menjadi ragu-ragu, namun setiap kali mereka memantapkan pendirian mereka, “Sidanti adalah anak Argapati, dan Argajaya adalah adiknya. Mereka bersama-sama telah melawannya. Apalagi aku. Bukan sanak bukan kadangnya. Kalau Argapati tidak mempunyai kesalahan yang besar, maka keduanya pasti tidak akan sampai pada perlawanan antara hidup dan mati seperti ini.”

Dengan demikian, maka mereka pun telah menentapkan diri mereka sendiri dalam pilihannya, tanpa mengerti arti yang sesungguhnya. Apakah sebenarnya yang sedang mereka lakukan itu.

Pada saat Sidanti, Argajaya dan pembantu-pembantunya sedang sibuk mempersiapkan orang-orang mereka, memberikan pengharapan dan beberapa macam janji-janji, dan Ki Peda Sura yang sedang tertawa-tawa di antara anak buahnya, maka pada saat itu pula Ki Argapati sedang berbaring di pembaringannya, dikerumuni oleh para pemimpin pasukannya.

Mereka berpaling ketika mereka melihat seorang gadis yang memasang lampu di ajuk-ajuk di sudut ruangan.

“Duduklah pula di sini, Pandan Wangi,” desis ayahnya.

Pandan Wangi pun kemudian melangkah mendekat dan duduk di pembaringan ayahnya pula.

“Kita akan berbicara tentang peperangan,” berkata ayahnya. Dan Pandan Wangi pun mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kemarilah, mendekatlah semua,” berkata Ki Argapati kepada para pemimpin itu.

Mereka pun kemudian menarik dingklik-dingklik kayu mereka mendekati pembaringan Ki Argapati. Mereka adalah gembala tua yang telah mengobati Ki Argapati, kedua orang pengawal Sutawijaya, Hanggapati dan Dipasanga, kemudian Samekta, Kerti, dan Wrahasta.

Tetapi Ki Argapati masih mencari-cari di antara mereka. Sehingga kemudian ia bertanya, “Dimana kedua anak-anak itu?”

Wrahasta mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab. Dipandanginya wajah Pandan Wangi yang menjadi gelisah karenanya. Hampir saja ia mengatakan tentang keduanya, namun ketika dilihatnya alis Wrahasta yang berkerut, maka ia pun mengurungkan niatnya. “Biar orang lain sajalah yang menjawabnya,” katanya di dalam hati.

“Dimana?” ulang Ki Argapati.

“Mereka berada di halaman, Ki Gede,” jawab gurunya.

“Suruhlah mereka masuk.”

“Sudahlah, Ki Gede, biarlah mereka berada di halaman. Mereka hanya akan memenuhi ruangan ini saja. Biarlah aku nanti menyampaikan kepada mereka setiap keputusan.”

“Tetapi aku belum bertemu dengan mereka sejak pertempuran berakhir.”

“Mereka baik-baik saja, Ki Gede. Hanya Gupala tersentuh senjata Ki Muni yang tajamnya memang bukan main. Itulah yang telah membakar perasaannya, sehingga ia kehilangan kendali.”

“Tidak, bukan karena kehilangan kendali,” jawab Ki Argapati. “Adalah wajar sekali, di setiap peperangan, pada suatu saat terpaksa membasahi senjata dengan darah lawan. Justru aku akan mengucapkan terima kasih kepada mereka.”

“Akan aku sampaikan kepada mereka, Ki Gede,” berkata gembala tua itu.

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sama sekali tidak menaruh suatu kecurigaan apa pun tentang kedua anak-anak muda itu. Ki Argapati yang masih harus tetap berbaring itu sama sekali tidak mengerti, perasaan apa yang sebenarnya sedang bergolak di dada puterinya, di dada Wrahasta, dan pengamatan gembala tua itu atas kedua anak-anaknya. Gembala itu sudah mendengar cerita tentang kedua anak-anaknya, sikap Wrahasta dan hubungan-hubungan lain yang memungkinkan persoalan-persoalan yang tidak menyenangkan. Karena itu, sebagai orang tua yang mencoba untuk menghindari persoalan-persoalan yang tidak perlu, maka ia sudah berusaha, membatasi kedua anak-anaknya.

“Baiklah,” berkata Ki Argapati kemudian, “kalau mereka lebih senang menunggu di luar. Aku kira yang ada di dalam ruangan ini sudah cukup lengkap untuk mewakili setiap orang di dalam pasukan kita.”

“Begitulah,” jawab gembala tua itu.

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia merenung, dan sejenak kemudian ia berkata, “Sayang, lukaku menjadi kambuh. Padahal kita sudah tersudut dalam suatu keadaan yang harus cepat kita tanggapi.”

Mereka yang mendengar, mengangguk-anggukkkan kepala tanpa mereka sadari. Karena apa yang dikatakan oleh Ki Argapati itu adalah yang mereka katakan di dalam hati masing-masing.

“Kalau kita terlambat, maka Tambak Wedi akan datang lagi bersama pasukannya yang lebih kuat.”

“Ya, Ki Gede,” jawab Samekta, “mungkin Ki Tambak Wedi menjadi mata gelap dan berbuat semakin jauh menyesatkan orang-orang dari Tanah Perdikan ini. Hubungan dengan orang-orang semacam Ki Peda Sura, sebenarnya sama sekali tidak menguntungkan bagi Tanah ini.”

“Tentu. Dan tidak mustahil apabila Ki Tambak Wedi akan terdorong semakin jauh lagi dalam hubungan itu.”

“Dengan demikian kita harus menanggapinya secepat-cepatnya.”

“Jadi bagaimana pendapatmu, Samekta?”

Samekta tidak segera menjawab. Tanpa disadarinya ia berpaling, memandangi wajah gembala tua yang sedang berkerut-merut.

“Ki Gede,” berkata Samekta kemudian, “meskipun bukan orang Menoreh, tetapi mereka yang sudah membantu kita, agaknya akan dapat memberikan pertimbangan-pertimbangan yang baik meskipun tidak mengikat.”

“Tentu, tentu,” sahut Ki Argapati. “Nah, bagaimana pertimbangan kalian?”

Hanggapati, Dipasanga, dan gembala tua itu merenung sejenak. Yang mula-mula berbicara adalah gembala tua itu, “Kalau aku diperkenankan memberikan pertimbangan, Ki Gede, maka sebaiknya kita tidak menunggu saja di dalam lingkungan pring ori ini. Sebelum mereka menyadari apa yang terjadi setelah peperangan ini, sebaiknya kita menyusul mereka, masuk kembali ke induk Tanah Perdikan ini.”

Ki argapati mengerutkan keningnya. Namun ia melihat setiap orang mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan Wrahasta menyambung, “Ya Ki, Gede. Itu adalah jalan yang paling dekat untuk mengambil kembali Tanah ini dari tangan mereka. Saat-saat ini mereka pasti sedang menyusun kekuatan mereka kembali. Aku kira apabila kita menyusul mereka, mereka pasti akan terperanjat. Sedang induk Tanah Perdikan itu justru tidak mempunyai pagar pring ori serapat ini.”

Ki Argapati masih belum menjawab. Tampaklah wajahnya yang suram itu menegang. Kemudian perlahan-lahan terdengar ia berdesis, “Tetapi aku masih belum dapat bangkit dari pembaringan ini.”

Setiap orang di dalam ruangan itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka mengerti, betapa Ki Argapati sedang dikungkung oleh luka yang parah di dadanya itu. Selain daripada itu, mereka pun mengerti pula, bahwa Ki Gede telah memperingatkan, siapakah di antara mereka yang sanggup untuk melawan Ki Tambak Wedi?

Karena itu, maka ruangan itu menjadi hening sejenak.

“Tetapi,” Ki Argapati pun kemudian berbicara pula perlahan-lahan, “kita memang tidak dapat menunggu lagi. Soalnya sekarang, bagaimana kita harus melawan iblis yang paling licik itu.”

Gembala tua yang ada di dalam bilik itu pun menarik nafas dalam-dalam. Kini ia telah sampai pada suatu batas tertentu, di mana ia tidak akan dapat bergurau lagi. Kalau ia kali ini harus menyatakan cirinya, maka ia pun harus menyelesaikannya sekaligus. Karena itu, maka ia pun tidak segera menemukan suatu sikap yang mantap untuk segera menyanggupi untuk melawan Ki Tambak Wedi.

Hanggapati dan Dipasanga pun hanya dapat mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka berdua tidak akan dapat menyatakan diri mereka untuk bersama-sama melawan Ki Tambak Wedi, karena mereka berdua pun tidak yakin, bahwa Ki Tambak Wedi dapat mereka tundukkan.

Dengan demikian maka sekali lagi mereka yang ada di dalam ruangan itu terdiam sejenak.

“Ki Gede,” Samekta-lah kemudian yang memecahkan kediaman mereka, “kalau Ki Tambak Wedi sempat menyiapkan pasukannya dan bahkan mungkin menghimpun orang-orang yang masih bertebaran di desa-desa kecil di atas Tanah Perdikan ini, entah dengan cara apa pun yang akan ditempuhnya, maka kita akan menghadapi kesulitan.”

“Ya, aku mengerti Samekta,” jawab Ki Argapati, “pendapat itu adalah pendapat yang paling baik saat ini. Tetapi yang membuat kita bertanya-tanya, siapakah lawan Ki Tambak Wedi. Hanya itu.”

Samekta menarik nafas dalam-dalam. Tanpa sesadarnya ia memandangi wajah gembala tua yang duduk sambil mengangguk-angguk kecil.

“Apakah ia mampu,” desis Samekta di dalam hatinya, “di dalam peperangan ini ternyata ia dapat mengusir Ki Peda Sura yang tingkat ilmunya tidak terlampau jauh dibawah Ki Tambak Wedi. Tetapi apakah ia bersedia dan mampu untuk berhadapan dengan Ki Tambak Wedi sendiri, meskipun seandainya diperlukan satu atau dua orang untuk membantunya.”

Dalam keragu-raguan itu Wrahasta berkata, “Ki Gede. Kita memang tidak mempunyai pilihan lain. Karena itu, bagaimanakah seandainya kita menyusun suatu kelompok kecil dari orang-orang pilihan untuk menghadapi Ki Tambak Wedi?”

Ki Argapati mengangguk-angguk, “Memang mungkin dilakukan, Wrahasta. Nah, bagaimana menurut pertimbanganmu.”

“Mungkin dua tiga orang yang akan memimpin kelompok kecil itu. Ki Hanggapati, Ki Dipasanga, dan salah seorang dari kami, maksudku, Paman Samekta, Paman Kerti, atau aku.”

Ki Argapati masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Lalu bagaimana pertimbanganmu mengenai Sidanti dan Argajaya?”

“Kita dapat membuat kelompok-kelompok serupa. Pandan Wangi didampingi oleh salah seorang dari kami, dan yang lain bersama-sama melawan yang seorang dari mereka.”

Gembala tua yang duduk terangguk-angguk itu pun masih juga terangguk-angguk. Ia merasakan keanehan sikap Wrahasta ini. Di dalam susunannya sama sekali tidak disinggung-singgung Gupala dan Gupita, juga dirinya sendiri. Tetapi gembala tua itu masih juga berdiam diri.

“Wrahasta,” berkata Ki Argapati itu, “pada dasarnya, pikiran itu adalah pikiran yang sebaik-baiknya. Kita harus mengambil jalan itu untuk melawan para pemimpin di dalam pasukan Ki Tambak Wedi. Hanya mungkin kau masih melupakan beberapa orang yang ada diantara kita. Dukun tua ini, dan kedua anak-anaknya.”

Wrahasta mengerutkan keningnya. Dipandanginya gembala tua itu. Kemudian katanya, “Kita akan berterima kasih kalau ia bersedia membantu kita Ki Gede. Kita masih mempunyai seorang lawan. Ki Peda Sura. Biarlah mereka bersama-sama melawan Ki Peda Sura.”

Argapati mengerutkan keningnya. Katanya, “Wrahasta, bukankah kau tahu, bahwa gembala tua itu seorang diri dapat mengalahkan Ki Peda Sura, dan salah seorang anaknya bersama-sama dengan Pandan Wangi mampu melukainya? Kau dapat mengambil kesimpulan, kemungkinan yang dapat mereka lakukan untuk peperangan ini.”

“Itu adalah pertimbangan yang bijaksana,” sahut Kerti, “Ki Sanak ini memiliki kemampuan di atas kita. Setidak-tidaknya ia mampu melawan Ki Peda Sura. Nah, bagaimana kalau pikiran Wrahasta itu mendapat perubahan sedikit. Maksudku, biarlah dukun tua ini menempatkan diri bersama satu dua orang untuk melawan Ki Tambak Wedi.”

Dada Wrahasta menjadi berdebar-debar. Sebenarnya ia mengakui, bahwa memang kemungkinan itulah yang paling baik. Tetapi dengan demikian, kedudukan gembala itu akan menjadi semakin kuat, sehingga kedua anak-anaknya pun menjadi semakin mantap pula berada di lingkungan Tanah Perdikan ini. Padahal bagi Wrahasta, kedua anak-anak gembala itu merupakan duri yang serasa selalu menyengat dagingnya.

Hampir saja Wrahasta berteriak menolak pendapat Kerti itu. Namun ternyata ia tidak dapat mencari alasan yang lebih baik lagi. Karena itu, maka tanpa mengucapkan jawaban ia menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan kesan di wajahnya.

Yang terdengar adalah suara Ki Argapati lambat, “Pendapatmu tepat Kerti. Tetapi biarlah aku bertanya kepadanya, karena ia seorang tamu bagi kita di sini, apakah ia bersedia melakukannya. Seandainya ia bersedia, maka aku percaya, bahwa ia tidak memerlukan orang lain untuk melawan Ki Tambak Wedi.”

Kerti mengerutkan keningnya. Kemudian mengangguk perlahan. Dipandanginya wajah gembala tua yang masih menunduk itu. Kemudian wajah Ki Argapati yang pucat. Ketika terpandang olehnya wajah Wrahasta, maka orang tua itu melihat sepercik kekecewaan membayang di sorot matanya.

Tetapi Wrahasta tidak dapat mencegah pertimbangan Ki Argapati itu. Karena ia tidak akan dapat membuat kemungkinan yang lebih baik daripada itu.

Ruangan itu menjadi hening sejenak. Mereka seakan-akan menunggu sikap gembala tua yang masih tetap berdiam diri itu.

“Bagaimana pendapat Ki Sanak?” bertanya Ki Argapati. “Kau sudah mendengar apa yang seharusnya aku katakan kepadamu.”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam.

“Tidak ada kemungkinan lain yang lebih baik daripada itu. Kami sudah tidak dapat melihat kekuatan di atas bukit ini yang mampu untuk melakukannya.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Berbagai pertimbangan telah memenuhi dadanya. Namun akhirnya ia sampai pada kepentingan yang lebih dekat pada diri sendiri.

“Aku seharusnya tidak melibatkan diri terlampau jauh di dalam persoalan ini,” katanya di dalam hati. “Tetapi apabila aku melepaskan kemungkinan kali ini, maka akibatnya akan menjadi sangat jauh. Memang tidak ada orang yang dapat ditempatkan di ujung pasukan untuk melawan Ki Tambak Wedi. Kalau aku tidak bersedia melakukannya kali ini, maka sudah pasti, bahwa perjuangan Ki Argapati tidak akan segera berhasil. Bahkan mungkin pada suatu ketika Ki Tambak Wedi akan berhasil menguasai seluruh daerah perbekalan pasukan pengawal ini, sehingga lambat atau cepat, Menoreh akan jatuh ke tangannya pula. Akibatnya tidak hanya akan berpengaruh di atas tanah ini, tetapi pasti akan sampai ke seberang Kali Praga. Apalagi Alas Mentaok yang akan tumbuh. Mangir, Pliridan, dan akan sampai pula ke sebelah Alas Mentaok dan Alas Tambak Baya.”

Gembala tua itu menarik nafas. Bahkan terbayang di kepalanya, Ki Tambak Wedi akan terus melawat ke Timur, ke Pajang dan daerah di sekitarnya. Apalagi agaknya Pajang baru disaput oleh awan yang suram, sepeninggal Ki Gede Pemanahan.

“Bagaimana Kiai?” bertanya Ki Argapati kemudian karena gembala tua itu masih belum menjawab.

Perlahan-lahan orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun bertanya, “Tetapi apakah kalian percaya kepadaku bahwa aku akan dapat melawan Ki Tambak Wedi.”

Ki Argapati yang sedang terluka itu tersenyum. Katanya, “Betapa kami dapat menduga akhir dari pertempuran itu? Namun menurut perhitunganku, maka kau akan dapat melakukannya. Bagaimanapun kau mencoba merendahkan dirimu, tetapi kami tidak akan salah memandang kemampuan yang ada padamu, Kiai.”

“Hem,” gembala tua itu menarik nafas. Sekilas disambarnya wajah Wrahasta yang tegang.

“Kami sangat mengharap bantuanmu, Ki Sanak,” berkata Ki Argapati. “Mungkin kau mentertawakan aku, bahwa dalam penyelesaian Tanah ini aku harus mencari bantuan kepada orang lain.” Ki Argapati berhenti sejenak, kemudian, “Tetapi Tanah ini berada dalam keadaan darurat. Kami harus melawan kekuatan yang membahayakan. Dan kami tahu, bahwa kau dan anak-anakmu pun mempunyai tujuan serupa.”

Gembala tua itu tidak segera menjawab. Ia masih dicengkam oleh kebimbangan.

“Kami, seluruh tanah perdikan ini menunggu keputusanmu,“ desis Ki Argapati.

Wrahasta mengerutkan keningnya. Ia tidak sependapat dengan Ki Argapati, yang seolah-olah menggantungkan nasib tanah perdikan ini kepada orang tua itu.

“Apakah yang dapat dilakukannya tanpa kami? Tanpa seluruh pengawal Tanah Perdikan Menoreh dan para pemimpinnya?”

Namun dadanya berdesir ketika ia mendengar justru orang tua itu yang mengucapkannya. Katanya, “apakah artinya aku seorang diri, Ki Gede? Kekuatan Menoreh terletak pada para pengawalnya. Kalau aku kemudian ikut serta di dalamnya, aku hanyalah setitik air di dalam lautan.”

Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Wrahasta yang tegang itu menundukkan kepalanya, seolah-olah orang tua itu melihat isi dadanya dan telah menyebutkannya.

Namun dengan demikian, Wrahasta melihat suatu kelebihan pada orang tua itu. Orang tua yang oleh orang-orang Menoreh sendiri telah dianggap sebagai satu-satunya penolong yang dapat melepaskan tanah ini dari bencana, ternyata orang itu sendiri tidak melepaskan pengakuan, bahwa sebenarnya kekuatan terbesar adalah terletak pada orang-orang Menoreh sendiri.

“Kiai,” berkata Ki Gede, “kau memang seorang yang aneh. Tetapi baiklah aku bertanya sekali lagi, apakah kau bersedia bekerja bersama kami mengalahkan kekelaman maksud Ki Tambak Wedi untuk menguasai Tanah ini?”

Gembala tua itu termenung. Namun kemudian perlahan-lahan kepalanya bergerak-gerak. Sambil mengangguk-angguk kecil ia berkata, “Baiklah, Ki Gede. Lepas dari masalah Tanah Perdikan Menoreh, aku memang mempunyai persoalan dengan orang itu.”

Ki Gede mengerutkan keningnya. Tanpa sesadarnya ia bertanya, “Persoalan apakah yang telah melibat kalian?”

Gembala itu menggelengkan kepalanya, “Persoalan yang langsung dan bahkan terlampau pribadi.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, persoalan yang terlampau pribadi.” Ia berhenti sejenak, kemudian, “Adalah kebetulan sekali. Kebetulan bagi tanah perdikan ini, bahwa kau berada di sini dengan persoalanmu itu, sehingga kau akan terlibat dalam pertentangan di antara keluarga Menoreh.”

Gembala itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah,” berkata Ki Argapati, “masalah yang lain tidak akan terlampau sulit. Gembala tua ini akan langsung berhadapan dengan iblis dari lereng Gunung Merapi itu. Aku percaya kepadanya dan aku sama sekali tidak meragukan kemenangan yang bakal datang.”

Beberapa orang di dalam ruangan itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Pandan Wangi menunggu keputusan ayahnya dengan hati yang berdebar-debar. Dan ia melihat, bahwa pembicaraan itu agaknya sudah akan segera selesai.

Namun sekilas Pandan Wangi melihat juga wajah Wrahasta yang menegang. Dan Pandan Wangi menjadi berdebar-debar karenanya. Apabila pada suatu ketika Wrahasta tidak dapat mengekang dirinya lagi, maka akibatnya tidak akan menyenangkannya, dan bahkan tidak akan menyenangkan bagi tanah perdikan ini.

“Setiap unsur di dalam pasukan ini memang menentukan,” desis Pandan Wangi di dalam hatinya. “Apabila salah satu dari unsur-unsur ini tanggal, maka akibatnya akan membuat kita menyesak untuk waktu yang lama. Agaknya kekuatan yang ada di dalam pasukan ini terlampau terbatas, sehingga kita memerlukan seluruhanya. Tidak boleh ada satu pun yang tinggal.”

Dalam pada itu Pandan Wangi mendengar gembala tua itu berkata, “Aku berterima kasih atas kepercayaan ini, Ki Gede. Selanjutnya marilah kita bersama-sama berdoa, mudah-mudahan kita berhasil kali ini.”

“Ya, kita akan bersama-sama berdoa,” sahut Ki Argapati. “Kita merasa bahwa kita berada dipihak yang benar.” Ki Argapati itu berhenti sejenak, kemudian, “Kita harus segera menentukan, kapan kita akan berangkat. Aku akan ikut dalam pasukan itu.”

“Ki Gede,” setiap orang terperanjat mendengar keinginan itu. “Ki Gede masih belum sehat sama sekali.”

“Tetapi aku adalah Kepala Tanah Perdikan ini. Dalam peperangan yang menentukan, aku tidak boleh duduk bertopang dagu.”

“Ki Gede tidak sedang bertopang dagu,” desis gembala tua itu. “Sedang duduk saja Ki Gede masih terlampau sulit. Bagaimana Ki Gede dapat bertopang dagu sambil berbaring?”

“Hem,” Ki Gede menarik nafas. Katanya kemudian, “Tetapi aku ingin memimpin penyerangan itu. Aku ingin ikut memasuki induk tanah perdikan itu bersama pasukanku.”

“Bagaimana hal itu dapat dilakukan, Ki Gede?” bertanya Samekta.

“Samekta,” berkata Ki Gede, “kau harus menyiapkan sekelompok kecil pengawal yang dapat kau percaya. Aku akan pergi bersama mereka dengan sebuah tandu. Aku harus memimpin sendiri peperangan ini. Sementara aku mempercayakan perlawanan langsung atas Ki Tambak Wedi kepada dukun tua ini.”

“Ayah,” desis Pandan Wangi, “sebaiknya Ayah tinggal di sini. Kami yang berangkat ke medan, akan selalu mencoba berbuat sebaik-baiknya. Kami mengharap bahwa salah seorang dari kami akan dapat menghadap Ayah untuk melaporkan bahwa kami telah merebut kembali padukuhan induk itu.”

Tetapi Ki Argapati menggeleng, “Tidak. Aku adalah seorang prajurit bagi tanah perdikan, sehingga aku harus berada di medan.”

Gembala tua itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Ki Gede akan mengganggu tugas yang telah dipercayakan kepadaku. Aku harus memperhatikan nenggala Ki Tambak Wedi di satu pihak, di lain pihak aku harus memperhatikan obat yang harus aku sediakan buat Ki Gede.”

Ki Argapati mengusap keringat di keningnya. Katanya, “Tidak. Di peperangan aku tidak memerlukan apa pun juga. Entahlah setelah peperangan itu selesai.”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Agaknya niat Ki Argapati sudah tidak dapat dihalanginya lagi. Sehingga, karena itu maka katanya, “Ki Gede, memang suatu kebahagiaan bagi seorang prajurit dalam keadaan perang seperti ini, apabila ia berkesempatan untuk memimpin pasukannya langsung di medan perang. Karena itu, apabila Ki Gede memang ingin berada di medan, dan itu sudah menjadi suatu keputusan, kami tidak akan dapat mencegahnya. Namun kita tidak boleh meninggalkan kewaspadaan. Karena itu, aku ingin mengusulkan, apabila Ki Gede benar-benar akan berada di peperangan, maka pengawalan terhadap Ki Gede harus sempurna. Menurut pendapatku tidak ada orang yang paling tepat untuk memimpin pengawalan itu selain Angger Pandan Wangi.”

Pandan Wangi mengangkat wajahnya. Dipandanginya wajah gembala tua itu sejenak, kemudian kepalanya itu pun tertunduk lagi. Ia dapat mengerti pikiran gembala tua itu, dan ia sendiri sama sekali tidak berkeberatan untuk selalu berada, di samping ayahnya. Memang tidak ada orang yang dapat dipercayanya lebih dari dirinya sendiri.

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, aku mengerti dan aku sama sekali tidak berkeberatan. Aku minta kecuali Pandan Wangi, Samekta harus juga selalu berada di dekatku. Kau akan menjadi saluran pimpinanku atas pasukanku.”

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah, Ki Gede.”

“Nah, selanjutnya terserahlah kepadamu, siapakah yang akan kau bawa di dalam kelompok kecil di sekitarku.”

“Baik, Ki Gede,” jawab Samekta.

“Selanjutnya, kita harus segera bersiap sejak sekarang. Kita akan datang ke induk tanah perdikan itu di malam hari, supaya perasaanku tidak terpengaruh oleh keadaan di sekitar rumah itu, setidaknya masih ada satu dua orang di sekitar padukuhan itu yang aku kenal baik sebelumnya.” Ki Gede berhenti sejenak, lalu, “Siapkan susunan barisanmu Samekta. Besok malam kita akan menyusul orang-orang Ki Tambak Wedi. Tempatkan kedua anak-anak muda yang bernama Gupala dan Gupita itu sebagai lawan Ki Peda Sura. Kalau mereka segera berhasil, maka mereka akan segera dapat membantu Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga yang masih harus berhadapan dengan lawan-lawannya yang lama.”

Dengan serta-merta gembala tua itu mengangkat dadanya. Tetapi ia hanya menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia mengharap biarlah kedua muridnya itulah yang berhadapan dengan Sidanti dan Argajaya. Tetapi apabila demikian yang dikehendaki oleh Ki Gede, ia tidak akan dapat merubahnya. Perintah itu sudah terucapkan, sehingga apabila ia berusaha untuk merubahnya, maka mungkin sekali perasaan kedua pengawal Sutawijaya itu akan tersinggung karenanya.

Maka gembala tua itu pun kemudian menundukkan kepalanya kembali sambil mengangguk-angguk kecil. Tetapi ia tidak berkata apa pun lagi. Agaknya pembicaraan itu memang sudah selesai. Mereka hanya tinggal melaksanakannya. Dan mudah-mudahan pelaksanaannya dapat sesuai dengan rencana itu.

Dalam pada itu terdengar Ki Gede Menoreh berkata kepada Samekta, “Kau harus menjaga rapat-rapat, agar rencana ini tidak terdengar oleh lawan. Setiap pengawal harus ikut bertanggung jawab, bahwa kita akan berhasil masuk ke induk tanah perdikan. Tetapi kau tidak perlu memberitahukan sekarang, kapan kita akan berangkat. Kau wajib mempersiapkan mereka, tanpa mereka ketahui waktu yang telah kita pilih. Sebab siapa tahu, di antara mereka ada orang-orang yang akan berkhianat.”

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Baik, Ki Gede.”

“Nah, aku kira pembicaraan sudah selesai. Kalian akan melakukan tugas kalian masing-masing. Ingat, rahasia ini harus dipegang teguh apabila kita ingin berhasil.” Ki Argapati berhenti sejenak, kemudian, “Dan sebaiknya kau mengirimkan beberapa orang petugas sandi. Kita harus tahu, bahwa mereka tidak akan mendahului kita. Seandainya rencana waktu yang kita tentukan bersamaan, kita harus segera mengambil keputusan.”

“Baik, Ki Gede. Beberapa orang akan berusaha menghubungi orang-orang yang masih setia kepada Tanah ini, yang mungkin dapat memberikan keterangan.”

“Setidak-tidaknya para petugas dapat mengawasi gerakan mereka, apalagi apabila mereka akan menyerang padukuhan ini.”

“Ya, Ki Gede.”

“Baklah. Aku kira pembicaraan ini memang telah selesai.”

Samekta, Kerti, dan Wrahasta segera keluar dari ruangan itu. Kemudian disusul oleh Hanggapati dan Dipasanga. Yang terakhir adalah gembala tua itu setelah melihat luka-luka Ki Argapati.

“Mudah-mudahan obatku menolong,“ katanya.

“Aku menjadi semakin baik,” sahut Ki Argapati.

“Beristirahatlah sebanyak-banyaknya. Waktu kita hanya tinggal malam ini dan sehari besok. Di malam berikutnya kita sudah berada di peperangan.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, Kiai. Aku akan tidur semalam suntuk dan apabila mungkin ditambah dengan sehari besok.”

Gembala itu tersenyum. Katanya, “Tetapi apabila Ki Gede tidak bangun pada saat kami berangkat, Ki Gede akan kami tinggalkan di padukuhan ini.”

Ki Gede Menoreh tertawa, “Aku akan bangun pada saatnya.”

Gembala itu pun kemudian meninggalkan ruangan itu pula. Sehingga di dalam bilik itu tinggallah Ki Argapati ditunggui oleh puterinya, Pandan Wangi.

“Kalau kau ingin beristirahat, tinggalkan aku sendiri, Wangi,” berkata ayahnya.

Pandan Wangi memandang wajah ayahnya yang pucat, meskipun sudah tidak mencemaskannya seperti pada saat ayahnya keluar dari peperangan dalam keadaan pingsan.

“Ayah memang terlalu keras hati,” desis Pandan Wangi. “Dalam keadaan demikian, masih juga ia ingin berada di medan.”

“Kalau kau ingin tidur, tidurlah Wangi,” ulang ayahnya.

“Apakah Ayah tidak memerlukan sesuatu?”

“Sediakan minumku saja.”

“Baik, Ayah.”

Pandan Wangi pun kemudian meletakkan minum ayahnya di atas dingklik kayu dekat di pembaringannya. Kemudian ia pun keluar dan bilik ayahnya.

Tetapi ternyata Pandan Wangi tidak segera pergi tidur ke biliknya. Tanpa disengajanya, ia telah berjalan ke ruang depan. Ia tertegun ketika ia melihat beberapa orang masih duduk sambil berbincang. Mereka adalah Hanggapati, Dipasanga, dan gembala tua itu.

“Apakah Ki Argapati memerlukan kami, Ngger?” bertanya gembala tua itu.

“Tidak, Kiai, Ayah akan beristirahat.”

“O, sebaiknya kau pun beristirahat pula,” sahut Ki Hanggapati.

“Ya, aku pun ingin tidur,” Pandan Wangi menjawab. “Aku hanya sekedar menengok, apakah Paman-paman tidak juga ingin beristirahat?”

“Sebentar lagi kami pun akan tidur,” jawab Dipasanga.

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Silahkan, Paman. Aku akan beristirahat dulu.”

Pandan Wangi pun kemudian masuk ke ruang dalam. Tetapi serasa ada yang memaksanya untuk tidak segera masuk ke dalam biliknya. Kakinya seakan-akan telah membawanya ke belakang dan tanpa sesadarnya, gadis itu telah membuka pintu butulan. Tetapi ia tidak melihat sesuatu. Sepi. Sepi sekali.

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam.

Terasa angin yang silir telah menyentuh tubuhnya, membelai rambutnya yang kusut. Tiba-tiba terasa tubuhnya menjadi segar. Sekali lagi ia menarik nafas dalam-dalam.

“Alangkah segarnya udara diatas Tanah ini,” desisnya, “tanah yang harus dipertahankan sampai kemungkinan yang terakhir.”

Pandan Wangi pun kemudian melangkah surut. Kemudian menutup pintu kembali sambil berdesah. Dan tiba-tiba saja ia pun menguap.

Dengan langkah satu-satu dan kepala tunduk, Pandan Wangi pergi ke biliknya. Kini terbayang di dunia angan-angan, pertempuran yang dahsyat di induk tanah perdikan ini. Padukuhan besar yang beberapa saat yang lampau terpaksa dilepaskan karena tekanan pasukan Ki Tambak Wedi yang tidak tertahankan pada saat ayahnya sedang berperang tanding, di bawah Pucamg Kembar.

“Kami harus merebut Tanah itu kembali, dan seluruh tanah perdikan ini.”

Pandan Wangi pun kemudian masuk ke dalam biliknya. Perlahan ia meletakkan dirinya di pembaringan tanpa melepaskan sepasang pedang di lambungnya.

Demikian lelah gadis itu, sehingga sejenak kemudian ia pun telah tertidur nyenyak. Jarang sekali ia dapat tidur senyenyak itu sejak kemelutnya api pertengkaran di antara keluarga di atas Bukit Menoreh ini. Setiap kali ia selalu diganggu oleh berbagai macam kepedihan perasaan dan kecemasan tentang masa depan Tanah ini. Namun kini Pandan Wangi serasa mendapatkan suatu kepastian, bahwa ayahnya pada suatu saat akan dapat mengembalikan keutuhan Tanah ini meskipun harus melalui banyak sekali rintangan dan kesulitan.

Dalam pada itu dua orang anak-anak muda sedang duduk bersandar sebatang pohon rambutan di halaman belakang. Meskipun mereka sudah terkantuk-kantuk, namun mereka masih juga berbicara dengan suara yang parau. “Kenapa ia hanya sekedar membuka pintu kemudian masuk lagi?” bertanya Gupala.

“Bertanyalah kepadanya,” jawab Gupita.

Gupala tersenyum. Katanya, “Mungkin gadis itu mencari aku. Tetapi karena ia tidak melihat seseorang karena kita terlindung oleh kehitaman bayang-bayang, maka ia segera masuk kembali.”

“Ya.”

“He? Begitukah kira-kira?”

“Ya.”

“Persetan, kau tidur?”

Gupita mengusap matanya. Sebenarnya ia lebih suka tidur dari pada berbincang tanpa ujung dan pangkal.

“Pembicaraan pasti sudah selesai. Mari kita mencari Guru. Mungkin kita akan mendapat tugas baru.”

“Sebentar. Aku masih menunggu kalau-kalau gadis itu membuka pintu itu kembali.”

“Kau sudah menjadi gila. Terserahlah kau. Aku tidak tahan gigitan nyamuk yang tidak terhitung jumlahnya,” desis Gupita.

“Huh, apa katamu seandainya kau menjadi seorang prajurit? Mungkin pada suatu saat kau harus mengendap mengintai musuh tanah yang berawa-rawa? Mungkin tidak hanya sehari dua hari, tetapi berpekan-pekan, bahkan berbulan-bulan?”

“Tetapi sekarang kita tidak sedang mengintai musuh. Kau mengintai menurut seleramu sendiri.”

Gupala tertawa. Jawabnya, “Baiklah. Kau menjadi pemarah sekarang. Marilah kita mendapatkan Guru di ruang depan. Mungkin Guru sudah menanti kita pula.”

Gupita tidak menjawab. Tertatih-tatih ia berdiri sambil mengibaskan pakaiannya yang kotor oleh debu. Kemudian mereka pun berjalan di antara pepohonan di kebun menuju ke ruang depan.

Tetapi langkah mereka tertegun, ketika mereka melihat Guru mereka sedang turun dari tangga pendapa, seorang diri.

“Guru,” desis Gupala.

Gurunnya berpaling. Kemudian katanya, “Marilah kita beristirahat. Kita akan segera mendapat pekerjaan yang penting besok malam.”

“Dimana kita akan tidur?”

“Di gardu.”

“Di regol desa? Apakah kira-kira kita dapat tidur di sana?”

“Kita tidak akan pergi ke regol desa. Di sana terlampau, banyak orang. Kita akan berbicara saja sepanjang malam,” jawab orang tua itu. “Kita akan pergi ke regol di perapatan sebelah. Kita akan menumpang tidur. Di situ hanya ada dua orang penjaga, karena tempat itu bukan tempat yang dianggap penting.”

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Sementara itu kaki mereka pun melangkah menyusur jalan desa, menuju ke gardu di perapatan.

Kedua peronda digardu itu dengan senang hati menerima mereka bertiga. Dengan demikian maka mereka mendapat kawan di malam yang terlampau sepi itu, meskipun, ketiganya hanya sekedar datang untuk tidur.

“Tidurlah,” berkata peronda itu, “aku akan menjaga kalian. Kalau ada nyamuk yang akan menggigit kalian, biarlah aku bunuh sekali.”

Yang mendengar kata-kata itu pun tertawa. Tetapi Gupala tidak mempedulikannya. Langsung saja ia membaringkan dirinya di atas jajaran bambu apus tanpa galar. Meskipun demikian, terasa tubuhnya menjadi nyaman di sejuknya angin yang silir.

“Apakah aku harus berdendang pula,” bertanya salah seorang peronda.

“Jangan,” jawab Gupala antara sadar dan tidak, “suaramu seperti gerobag di jalan yang berbatu-batu.”

Peronda itu pun tertawa, dan Gupala berdesis, “Jangan ribut. Aku akan tidur. Besok aku harus bangun pagi-pagi, sebelum matahari terbit, supaya aku tidak kamanungsan.”

Peronda-peronda itu masih saja tertawa, tetapi mereka tidak menjawab lagi. Dibiarkannya mereka bertiga berbaring bersama-sama. Kemudian mereka tidak mengusiknya lagi ketika ketiga orang itu mendekur. Tidur.

Sementara itu Samekta, Kerti, dan Wrahasta masih sibuk menghubungi para pemimpin kelompok pasukan Pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Mereka mengatur segala sesuatu yang perlu. Mempersiapkan mereka dengan segala perlengkapan dan senjata.

“Kalian harus dapat mengatur anak buah kalian,” berkata Samekta. “Sebagian dari mereka harus mendapat kesempatan beristirahat. Berganti-ganti sehingga mereka akan mendapat tenaga baru apabila setiap saat diperlukan.”

Para pemimpin kelompok itu pun mengangguk-anggukkan kepala mereka.

“Nah, kalian pun harus beristirahat pula,” berkata Kerti. “Sebentar lagi kami juga akan beristirahat. Namun setiap saat kita harus siap untuk bertempur.“

Para pemimpin tertinggi pasukan pengawal itu pun kemudian berpencar. Mereka mendapat bagian tersendiri agar tugas mereka segera selesai, karena mereka pun memerlukan waktu untuk sekedar beristirahat.

Padukuhan itu pun kemudian semakin lama menjadi semakin sepi. Hanya para peronda dan para petugas sajalah yang masih tetap di tempatnya. Sekali-sekali mereka berdua atau bertiga, berjalan mengelilingi padukuhan mereka, singgah dari gardu ke gardu dan dari perondan ke perondan yang lain.

Ketika fajar memerah di ujung Timur, para pemimpin pengawal Tanah Perdikan Menoreh telah terbangun dan langsung membenahi diri mereka. Kemudian seperti biasanya mereka memencar mengelilingi padukuhan yang diputari oleh pring ori itu.

Para prajurit dan para pemimpin kelompok pun telah terbangun pula. Demikian juga gembala tua yang tidur di gardu perondan di perapatan.

“Aku akan pergi ke parit,” desis gembala tua itu.

“Aku juga, Guru,” berkata Gupita.

“Marilah. Bagaimana dengan Gupala?“

Gupala menggeliat. Namun ia berkata, “Aku juga. Tetapi pergilah dahulu. Aku akan segera menyusul.”

Ketika guru dan kakak seperguruannya pergi meninggalkan mereka, maka Gupala melingkar lagi di gardu perondan itu dan tanpa disadarinya, ia telah tertidur lagi.

Gupala tidak melihat ketika Wrahasta datang ke gardu itu bersama dua orang pengawal.

“He, siapa yang masih tidur itu?” ia bertanya kepada kedua peronda yang berdiri di muka gardu.

“Gupala,” jawab salah seorang dari mereka.

Wrahasta mengerutkan keningnya. Ia tidak begitu suka kepada anak yang gemuk itu seperti juga kepada kakaknya. Bahkan anak yang gemuk ini agak lebih banyak bicara. Karena itu untuk melepaskan perasaannya, tiba-tiba ia memukul lantai gardu, itu sambil berteriak, “He, siapa yang masih tidur di tengah hari ini?”

Gupala benar-benar terkejut. Meskipun lamat-lamat ia telah mendengar pembicaraan Wrahasta dan kedua peronda di gardu itu, dan dengan sengaja ia tetap berselimut kain panjangnya, namun ia tidak mengira bahwa Wrahasta akan membentaknya begitu keras sambil memukul gardu itu sehingga berderak-derak.

Meskipun demikian, Gupala tidak cepat-cepat bangkit dan meloncat turun. Bahkan sekali lagi ia menggeliat sambil bertanya, “Siapa yang berteriak-teriak di pagi buta ini, he?”

“Bangun anak malas. Cepat! Semua orang telah sibuk dengan berbagai macam pekerjaan, dan kau masih saja tidur mendekur. Kau kira gardu ini disediakan untuk pemalas seperti kau.”

Perlahan-lahan Gupala bangkit. Ditatapnya wajah Wrahasta yang tegang. Namun kemudian anak yang gemuk itu menguap. Katanya, “Semalam aku bangun sampai lewat tengah malam. Sekarang aku masih terlampau kantuk.”

“Setiap orang di sini bangun sampai lewat tengah malam. Bahkan aku hampir tidak tidur semalam suntuk. Kau orang asing di sini, dan kau tidak dapat bermalas-malasan saja. Kau harus mengikuti arus kesibukan yang ada di padukuhan ini.”

“Eh, bukankah aku seorang tamu?” bertanya Gupala.

“Kau bukan seorang tamu yang kami harapkan di sini.”

“Bohong! Ki Argapati memerlukan ayahku dan kami berdua bersama Kakang Gupita. Kami berdua telah membantu kalian di dalam peperangan. Apakah dengan demikian, kau menganggap kami sebagai pemalas yang hanya dapat mengurangi rangsum nasi para pengawal tanah perdikan ini?”

Dada Wrahasta berdesir mendengar jawaban itu. Memang telah ternyata bahwa anak yang gemuk inilah yang telah membunuh Ki Muni, dan bahkan anak yang gemuk ini telah terlukai pula. Karena itu, sejenak Wrahasta terbungkam. Namun ketika terkilas di dadanya, perhubungan yang semakin baik antara kedua anak-anak muda itu dengan Pandan Wangi, maka hatinya telah mulai memanas lagi.

“Aku yang telah berbuat apa saja untuk Tanah ini,” katanya di dalam hati. “Apakah aku akan didesak oleh pendatang yang baru saja hadir di tanah perdikan ini?“

Karena itu, maka kemarahannya pun tumbuh kembali. Katanya, “Apa pun yang telah kau lakukan, aku adalah salah seorang pemimpin pengawal yang mempunyai wewenang untuk memerintah setiap orang di dalam lingkungan pedukuhan ini. Di dalam keadaan perang ini setiap orang harus tunduk kepada perintahku sebagai salah seorang pemimpin.”

Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah. Aku akan bangun. Bukankah perintahmu kali ini agar aku bangun?”

Kemarahan Wrahasta hampir tidak tertahankan lagi. Apalagi ketika ia melihat Gupala beringsut setapak demi setapak menepi dari gardu perondan. Anak yang gemuk itu serasa acuh tak acuh saja terhadapnya, betapa ia membentak-bentak dan berteriak-teriak.

Para pengawal yang menyaksikan percakapan itu menjadi berdebar-debar. Wrahasta agaknya benar-benar menjadi marah, dan anak yang gemuk itu pun berbuat sekehendak hatinya. Namun para pengawal itu pun menyadari, bahwa sebenarnya Gupala telah dengan sengaja berbuat demikian. Ia pasti merasa tersinggung dan bahkan marah karena bentakan-bentakan Wrahasta. Para pengawal itu pun menjadi heran, bahwa Wrahasta seakan-akan telah menjadi marah tanpa sebab. Mereka tidak mengetahui, bahwa sebab yang sebenamya telah lama tersembunyi di dalam dada anak muda yang bertubuh raksasa itu.

Wrahasta yang dadanya seakan-akan membara itu berteriak, “Kalau kau tidak senang di sini, pergilah. Ki Argapati hanya memerlukan gembala tua itu. Bukan kau dan bukan kakakmu yang cengeng itu.”

“Tidak,” Gupala menggeleng. “Aku dan Kakang Gupita juga diperlukan. Setiap orang diperlukan.“

“Tetapi tanpa kau kami masih akan tetap dapat berbuat apa saja,” Wrahasta menjadi semakin marah.

Gupala menarik nafas dalam-dalam. Ada perbedaan di antara kedua anak-anak muda yang mengaku diri mereka gembala itu. Seandainya yang dibentak-bentak itu Gupita, mungkin ia akan segera menghindar dan pergi menyusul gurunya ke parit di pinggir padukuhan. Tetapi Gupala tidak berbuat demikian. Ia mempunyai sifat yang agak berbeda, betapapun gurunya berusaha melunakkannya.

Gupala yang telah mencoba menahan diri itu akhirnya tidak dapat melawan hentakan perasaannya. Wajahnya pun telah mulai semburat merah.

Dengan nada yang tinggi ia bertanya, “Apakah sebenarnya maksudmu, Wrahasta?”

Wrahasta yang sedang marah itu pun menjadi semakin marah melihat sikap Gupala yang seakan-akan sengaja menentangnya. Apalagi di hadapan beberapa orang pengawal tanah perdikan. Menurut penilaiannya, ketika ia memaksa Gupita berkelahi melawannya, gembala itu tidak dapat mengalahkannya. Apalagi yang ada kini adalah adiknya yang gemuk itu.

Karena itu, maka dengan suara mengguntur ia menjawab, “Aku ingin sekali-sekali memukul kepalamu, agar kau tidak terlalu sombong di atas Tanah ini. Apa kau sangka Tanah ini memberi tempat kepada orang-orang yang merasa dirinya terlampau diperlukan seperti kau?”

“Aku tidak mengerti,” sahut Gupala. “Aku kira aku tidak pernah menyombongkan diriku. Aku berbuat wajar seperti apa yang sebaiknya aku lakukan. Kalau aku menurut anggapanmu terlambat bangun kemudian kau nilai sebagai suatu kesombongan, alangkah dangkalnya penilaianmu atas seseorang. Dengan demikian maka kaulah yang dapat disebut anak muda yang sombong.”

Wrahasta menggeram. Ia tidak dapat mengekang diri lagi. Karena itu maka selangkah ia maju sambil menunjuk wajah Gupala, “Kau harus minta maaf kepadaku. Kemudian berjanji tidak akan mendekati setiap pimpinan Tanah ini, agar aku tidak menjadi muak. Kalau kau ingin tinggal di sini bersama ayahmu yang memang diperlukan oleh Ki Gede, kau harus berada di regol depan bersama para pengawal yang lain. Kau tidak lebih dari mereka. Kau tidak dapat memanjakan dirimu. Makanmu harus sama seperti mereka, pelayanan terhadapmu harus sama pula.”

“E,” Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya, “kau benar-benar seorang pemimpin yang sangat teliti. Apakah kau tidak mempunyai urusan lain kecuali mengurusi orang tidur dan makan?”

“Persetan!” Wrahasta kian menjadi panas. Serasa segumpal bara tersimpan di dalam dadanya. “Gupala,“ katanya kemudian, “aku benar-benar ingin memukul mulutmu.”

“Mulutku masih cukup berharga buatku. Karena itu, jangan kau lakukan supaya aku tidak berusaha membalas.“

Wrahasta sudah tidak dapat menahan diri lagi. Tiba-tiba ia meloncat sambil menampar mulut Gupala. Tetapi Gupala benar-benar tidak mau tersentuh tangan Wrahasta. Karena itu, maka ia pun menghindarinya dengan memiringkan mukanya tanpa bergeser dari tempatnya.

Sikap Gupala membuat Wrahasta semakin kehilangan kendali. Dengan serta-merta ia menyerang anak muda yang gemuk itu. Tetapi Gupala kini telah siap untuk menghadapi kemungkinan.

Berbeda dengan Gupita, Gupala sama sekali tidak bermaksud untuk mengalah. Bahkan ia berkata di dalam hatinya, “Anak ini sekali-sekali harus diberi pelajaran menghargai orang lain.”

Karena itu, maka Gupala pun kemudian tidak mengekang dirinya lagi. Ketika Wrahasta menyerangnya dengan sebuah pukulan yang keras, maka Gupala pun memiringkan kepalanya. Dengan suatu sentakan ia menarik tangan Wrahasta lewat di atas pundaknya. Berbareng dengan lontaran kekuatannya sendiri, maka Wrahasta pun terseret dan terpelanting jatuh.

Para pengawal terkejut melihat hal itu. Semuanya itu terjadi begitu cepatnya dan tiba-tiba. Karena itu maka sejenak mereka hanya saling memandang. Namun kemudian salah seorang dari mereka segera menyadari keadaan. Karena itu maka ia pun berdesis, “Aku akan memberitahukannya kepada Ki Samekta. Kalau kau mampu lerailah. Kalau tidak, carilah gembala tua, ayah anak muda yang gemuk itu, agar ia berusaha menahan anaknya.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya, “Aku tidak akan dapat melerainya. Mungkin kepalaku sendiri akan terkilir.“

Yang lain tidak menjawab. Tetapi ia pun segera meloncat berlari-lari mencari Samekta, sedang yang seorang lagi pergi mencari gembala tua yang oleh salah seorang peronda di gardu itu diberitahu bahwa gembala tua itu sedang pergi ke parit.

Sementara itu, sambil menyeringai Wrahasta meloncat berdiri. Ia tidak menyangka, bahwa anak yang gemuk itu demikian tangkas dan cepat.

Namun hal itu telah membuat Wrahasta seakan-akan menjadi gila. Ia sama sekali tidak dapat lagi membuat pertimbangan-pertimbangan apa pun, sehingga ia telah bertekad untuk benar-benar berkelahi.

Terdengar anak muda yang bertubuh raksasa itu menggeram. Kemudian meloncat menerkam lawannya. Gupala yang melihat serangan yang semakin garang itu pun terpaksa harus mengimbanginya. Dengan tangkasnya ia menghindar, dan bahkan kemudian ia pun telah menyerang pula. Meskipun tubuh Wrahasta jauh lebih besar dari Gupala, namun Gupala adalah seorang yang memiliki kekuatan yang cukup besar. Sehingga dalam benturan tenaga yang terjadi, Wrahasta telah terdorong beberapa langkah surut.

Sejenak Wrahasta menjadi heran. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa anak yang gemuk itu mampu menyamai kekuatannya, bahkan melebihinya.

“Ini hanyalah suatu kebetulan,” katanya di dalam hati. “Ia berada dalam keadaan yang lebih baik. Tetapi kalau aku sempat membenturkan seluruh kekuatanku, ia pasti akan menjadi lumat.”

Dengan demikian, maka Wrahasta pun telah menyiapkan dirinya. Kemudian dengan segenap kekuatannya ia menyerang kembali. Sebuah ayuman yang dahsyat telah mengarah ke kening Gupala.

Namun betapa anehnya sifat Gupala, tetapi ia masih juga sempat membuat pertimbangan-pertimbangan. Apalagi setelah ia melihat Wrahasta benar telah kehilangan akal dalam tingkat permulaan dari perkelahian itu. Dengan demikian, maka Gupala justru menjadi agak tenang, karena Wrahasta memanglah bukan lawannya. Kalau ia mau maka ia akan segera dapat mengalahkannya dan bahkan apa pun yang akan dilakukannya.

Tetapi kali ini ia tidak akan berbuat lebih jauh dari memberi sedikit pelajaran kepada Wrahasta. Karena itu, maka ia pun kemudian telah menyerang Wrahasta semakin cepat, tetapi tidak cukup berbahaya.

Serangan Gupala seakan-akan datang dari segenap penjuru. Dengan lincahnya anak yang gemuk itu berloncatan. Tangannya menyambar-nyambar seakan-akan berpuluh-puluh pasang tangan bergerak bersama-sama.

Ternyata bahwa Wrahasta menjadi bingung karenanya. Ia sama sekali tidak berdaya untuk menangkis atau menghindari sentuhan-sentuhan tangan Gupala. Meskipun Gupala tidak bermaksud melumpuhkan lawannya, namun terasa pukulan-pukulan itu semakin lama menjadi semakin sakit. Sekali-sekali Gupala memukul pundak Wrahasta, kemudian tanpa dapat mengelak, Wrahasta terdorong oleh kaki Gupala yang mengenai lambungnya. Demikian Wrahasta berusaha tegak kembali, Gupala telah berhasil menangkap tangan Wrahasta dan menariknya dengan hentakan yang keras berbareng dengan tangannya menampar dagu.

Betapapun juga Wrahasta mencoba mengerahkan segenap kemampuannya, namun ia sama sekali tidak berdaya menghadapi lawannya yang gemuk namun cukup lincah itu. Beradu tenaga pun ternyata Wrahasta yang bertubuh raksasa itu tidak dapat mengatasi lawannya.

Dalam kebingungan dan kegugupannya, Wrahasta tidak dapat berpikir lain kecuali mencabut pedangnya. Namun demikian tangannya meraba hulu senjatanya itu, seperti tatit Gupala meloncat menangkap pergelangan tangannya, kemudian diputarnya ke belakang sambil berdesis, “Jangan bodoh. Kalau kau mengambil pedangmu, berarti kau akan membunuh diri. Kau lihat, bahwa aku pun berpedang? Dan kau harus menyadari bahwa aku dapat bergerak lebih cepat daripadamu. Karena itu, kalau kita berkelahi dengan pedang, maka kau tidak akan dapat ikut dalam peperangan yang akan datang.”

Tetapi Wrahasta yang keras kepala itu menyeringai sambil menggeram, “Persetan! Kau tidak akan mampu melawan pedangku. Kaulah yang harus aku bunuh.”

Tangkapan tangan Gupala itu menjadi semakin keras, dan Wrahasta merasa semakin sakit karenanya. Karena itu betapapun ia menahan diri, tetapi raksasa itu terpaksa berdesis menahan sakit.

“Kau sudah gila,” Gupala pun menggeram. “Jangan main-main dengan pedang kalau kau tidak yakin bahwa kau akan menang.”

“Aku tidak takut mati seandainya kau mampu membunuh aku.”

Seperti dugaan gurunya, Gupala memang bukan seorang yang cukup sabar. Karena itu, maka didorongnya tangan Wrahasta yang terpilin itu, sehingga raksasa itu terhuyung-huyung. Hampir saja ia jatuh terjerembab. Namun ia berhasil menguasai keseimbangan dan berdiri tegak di atas sepasang kakinya yang renggang.

Dikibas-kibaskannya tangannya sambil menggeram, “Kita bertempur sampai mati.”

“Bukan salahku,” sahut Gupala. Kemudian kepada peronda yang melihat dengan kaki gemetar ia berkata, “Kalian menjadi saksi. Aku telah dipaksa untuk melawannya.”

Tetapi para peronda itu sama sekali tidak menjawab. Bahkan mereka menjadi semakin pucat dan gemetar.

Wrahasta yang sudah bermata gelap itu pun tiba-tiba mencabut pedangnya yang besar dan panjang Kemudian berkata dalam nada yang dalam dan datar, “Ayo, cabut senjatamu.”

Tiba-tiba saja Gupala menjadi ragu-ragu. Sekilas dipandanginya peronda yang gemetar. Kemudian ditatapnya wajah Wrahasta yang membara. Namun sementara ia masih ragu-ragu, ia mendengar langkah beberapa orang berlari-lari mendekat. Ketika ia berpaling, dilihatnya beberapa orang pengawal datang beramai-ramai. Mereka agaknya mendengar dari pengawal yang berusaha memberitahukan peristiwa itu kepada Samekta.

Dengan demikian Gupala menjadi semakin ragu-ragu. Terngiang ditelinganya kata-kata gurunya, bahwa orang tua itu tidak dapat melepaskannya sendiri. Karena itu pula maka setiap kali Gupita-lah yang mendapat kesempatan.

“Seandainya Gupita yang mengalami hal ini, apakah yang akan dilakukan?” pertanyaan itu timbul di dalam hatinya.

Beberapa orang pengawal segera memutari kedua orang yang sedang berhadapan itu. Dan mereka pun segera menjadi berdebar-debar karenanya. Wrahasta telah menggenggam senjata di tangannya, namun Gupala masih nampak berdiri termangu-mangu.

“Cepat!” teriak Wrahasta. “Cepat cabut senjatamu!”

Gupala menarik nafas dalam-dalam. Diedarkannya pandangan matanya berkeliling, ke arah wajah-wajah yang tegang di sekitarnya.

“Cepat!” sekali lagi ia mendengar Wrahasta berteriak. “Aku akan mulai. Terserah kepadamu, apakah kau akan melawan dengan pedangmu atau tidak. Aku benar-benar akan membunuhmu.”

Gupala menjadi semakin berdebar-debar ketika ia melihat Wrahasta melangkah maju. Sudah tentu ia tidak akan dengan begitu saja menyerahkan lehernya. Apalagi kepada raksasa yang dianggapnya terlampau bodoh itu.

Gupala melangkah surut ketika Wrahasta sudah mulai memutar pedangnya. Dengan nada yang dalam ia bertanya, “Apakah kau sudah benar-benar gila, Wrahasta?”

“Persetan!” mata Wrahasta menjadi semakin membara.

Dalam ketegangan yang memuncak itulah, Samekta datang tergesa-gesa bersama Kerti. Langsung disibakkannya orang-orang yang berada di sekitar Wrahasta dan Gupala yang sedang berhadapan itu. Dengan lantang Samekta berteriak, “He, apakah kalian sudah menjadi gila semua?”

Keduanya serentak berpaling. Mereka melihat wajah Samekta yang merah menahan gelora di dalam perasaannya. Dengan tangan gemetar ia menunjuk kedua orang itu berganti-ganti, “Beginilah jalan yang paling baik bagi kalian?”

“Ia menghina aku,” sahut Wrahasta. “Anak gila itu sama sekali tidak menghiraukan lagi ketetapan yang ada di atas tanah perdikan ini. Bagaimanapun juga aku adalah salah seorang pemimpin di sini. Dan ia adalah seorang pendatang.”

“Apa yang telah dilakukannya?”

“Ia tidak menghiraukan perintahku.”

Samekta mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Apakah perintahmu itu?”

“Aku tidak boleh makan di dapur,” sahut Gupala dengan serta-merta.

“Aku tidak bertanya kepadamu,” bentak Samekta yang sedang marah itu.

Terasa sesuatu melonjak di dada Gupala. Orang ini pun telah menyakitkan hatinya pula. Namun ia masih mencoba menahan diri.

Agaknya Samekta pun telah benar-benar menjadi marah. Sebagai pimpinan tertua ia merasa tersinggung sekali atas peristiwa itu. Selagi seluruh kekuatan dihimpun untuk menghadapi puncak pertentangan di Tanah Perdikan Menoreh, maka telah terjadi perselisihan di dalam kandang sendiri.

“Wrahasta,” berkata Samekta, “aku minta, setiap diri kita masing-masing harus mencoba menyingkirkan persoalan-persoalan yang tidak menguntungkan bagi Tanah ini. Kalau kita masing-masing masih saja membiarkan perasaan kita berbicara, maka kita tidak akan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang jauh lebih besar dari persoalan-persoalan sehari-hari, persoalan tetek-bengek yang sama sekali tidak berarti.”

Wrahasta yang masih dibakar oleh perasaannya, dan apalagi ketidak-mampuannya melawan Gupala, masih belum dapat menahan dirinya sehingga ia menjawab, “Jadi, kau menyalahkan aku?”

Samekta mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Aku menyalahkan kalian berdua. Apa pun alasannya tetapi kalian telah berkelahi, sedang kalian tahu, bahwa kita sedang berada di ambang pintu perang yang akan menentukan keadaan kita.”

“Tetapi apakah dengan demikian aku harus membiarkan orang asing menginjak-injak semua ketetapan dan ketentuan yang berlaku di atas tanah perdikan ini?” teriak Wrahasta.

Samekta yang marah menjadi semakin marah. Namun sebelum ia berteriak pula, terdengar suara Kerti, “Sebaiknya kita yang mencoba memadamkan pertentangan ini jangan terlibat dalam pertentangan baru.” Lalu kepada Wrahasta ia bertanya, “Wrahasta, cobalah kau menuai persoalan yang baru saja terjadi. Apakah sudah sepatutnya kalian bertempur apalagi dengan pedang di tangan? Apakah sebenarnya sumber persoalannya?”

“Aku tidak dapat dihina.” jawab Wrahasta.

“Kalau kalian telah terlibat di dalam pertengkaran, maka sudah tentu masing-masing merasa terhina. Tetapi apabila kalian sempat, cobalah melihat, apakah yang menyebabkan pertentangan dan pertengkaran itu? Dengan demikian maka persoalannya akan dapat diletakkan pada tempat yang sewajarnya dan pada saat yang lebih tepat.”

Wrahasta tidak segera menjawab. Dahinya menjadi berkerut-merut.

“Sudah tentu bahwa kalian tidak sedang mempertengkarkan Ki Tambak Wedi atau Sidanti. Sudah tentu kalian tidak sedang mempertahankan kebenaran Argajaya, bahwa ia telah memihak orang lain dan memusuhi kakaknya sendiri. Nah, sekarang lihat kepada diri sendiri apakah yang kalian pertentangkan? Tentang makan pagi, atau tentang bangun yang terlampau siang atau tentang pelayanan yang berbeda dan yang dapat dianggap pelayanan yang khusus? Begitu? Dan masalah-masalah serupa itu telah membuat kalian mempertaruhkan nyawa kalian yang akan menjadí jauh lebih berharga apabila nyawa-nyawa itu kalian pertaruhkan di medan peperangan?”

Wrahasta masih tetap diam. Namun kata-kata Kerti itu berhasil menyentuh hatinya. Tanpa sesadarnya ia mencoba menelusur, sebab-sebab kemarahannya. Namun tiba-tiba ia menggeretakkan giginya, meskipun kepalanya masih tertunduk. Ternyata Wrahasta tidak berani melihat sebab yang sebenarnya dari semua peristiwa itu. Meskipun sekilas melintas pula di kepalanya, perkelahiannya dengan Gupita dan kini dengan Gupala.

Dalam pada itu, ketika semua wajah menjadi tegang, dengan tergesa-gesa Gupita dan gurunya menerobos ke dalam lingkaran yang mengelilingi Wrahasta dan Gupala. Dengan sorot mata yang tajam gembala tua itu memandangi wajah Gupala yang kemudian menunduk dalam-dalam.

“Gupala,” terdengar ia berdesis, “apakah yang telah kau lakukan?”

Gupala tidak menyahut. Tetapi yang terdengar adalah suara Kerti, “Tidak ada apa-apa, Kiai. Semuanya sudah selesai.” Lalu kepada kedua anak-anak muda yang berada di dalam lingkaran, “Bukankah begitu?”

Keduanya tidak menjawab. Dan Kerti berkata lagi untuk mengendorkan suasana yang tegang, “Nah, bukankan mereka diam? Seperti gadis yang ditawari lamaran jejaka, kalau ia diam, berarti ya.”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Sukurlah kalau semuanya sudah selesai. Aku mendengar bahwa Gupala telah berkelahi dengan Angger Wrahasta selagi aku berada di parit. Terpaksa aku dengan tergesa-gesa kemari.”

“Nah, masalah ini tidak usah kita perbincangkan lagi,” lalu Kerti berkata kepada para pengawal yang berkerumun, “Semua kembali ke tempat kalian.”

Maka kerumunan orang-orang Menoreh itu pun kemudian menipis, semakin lama semakin habis. Wrahasta pun kemudian meninggalkan tempat itu pergi ke regol induk sambil bersungut-sungut.

Samekta dan Kerti masih berdiri di tempatnya. Sejenak mereka memandangi gembala tua beserta kedua anaknya yang kemudian duduk di gardu itu kembali.

“Wrahasta tidak dapat mengendalikan perasaannya,” desis Samekta.

“Dan kau pun juga. Hampir saja,” sahut Kerti.

Samekta menarik nafas. “Ya. Aku menjadi sangat kecewa atas peristiwa ini. Sudah tentu Wrahasta telah dibakar oleh perasaan cemburu itu. Dan agaknya anak muda yang gemuk ini tabiatnya agak berbeda dari kakaknya. Mungkin ia masih terlampau muda untuk menanggulangi keadaan sebaik-baiknya.”

Kerti mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Gembala tua itu pun agaknya sedang menasehati anaknya.”

Keduanya pun kemudian mendekat ke gardu. Beberapa langkah dari gardu itu Samekta berhenti sambil berkata, “Maaf, Kiai. Mudah-mudahan hal yang serupa tidak terjadi lagi.”

“Ya, aku pun minta maaf. Anakku yang seorang ini memang agak bengal.”

Samekta dan Kerti pun kemudian meninggalkan gembala tua itu bersama kedua anaknya untuk menemui Wrahasta. Mereka mengharap bahwa Wrahasta tidak menjadi semakin gila karenanya.

Kedua orang itu menemukan Wrahasta sedang berdiri di muka regol memandang jauh ke dalam rimbunnya batang lalang yang tumbuh semakin liar di luar padukuhan itu.

Kerti menarik nafas dalam-dalam. Ia menyadari bahwa hati Wrahasta pasti lagi sakit. Ia merasa semakin jauh dari harapan yang sudah lama diletakkannya kepada gadis puteri Kepala Tanah Perdikannya. Kehadiran kedua gembala muda itu telah merusak segenap impiannya, sehingga karena itu, maka pertimbangannya telah menjadi sumbang.

Samekta dan Kerti tidak segera menyapanya. Tetapi keduanya berhenti beberapa langkah di belakang anak muda yang bertubuh raksasa itu.

Keduanya mengerutkan keningnya ketika mereka melihat Wrahasta berpaling. Dengan tajamnya anak muda itu memandang kedua pemimpin Menoreh itu.

“Apa yang kita tunggu lagi?” tiba-tiba anak muda itu berkata lantang. “Apakah yang kita tunggu? Sekarang dan nanti petang tidak ada bedanya lagi bagi kita. Justru sekarang kita akan mendapat waktu untuk mengejutkan mereka, selagi mereka belum bersiaga.”

“Sabarlah, Anak Muda,” jawab Kerti. “Nanti petang pun mereka pasti belum mengetahui, bahwa kitalah yang akan datang menjenguk mereka.”

“Tetapi kemungkinan itu pasti ada.”

“Kalau kita tidak mengatakannya kepada siapa pun, maka kemungkinan itu akan sangat dibatasi,” jawab Kerti.

Wrahasta mengerutkan keningnya, kemudian menarik nafas dalam-dalam.

“Aku sudah tidak sabar lagi. Aku tidak betah lagi tinggal di dalam lingkaran pring ori yang sempit ini.”

“Semuanya bersikap serupa. Kami pun sudah tidak tahan lagi tinggal berjejal-jejal di padukuhan yang miskin ini. Makan tidak teratur dan bahkan kadang-kadang tidak memenuhi keinginan dan selera kita masing-masing. Tetapi bagaimanapun juga kita harus mematangkan perhitungan di setiap gerakan, supaya kita tidak akan menyesal lagi kelak.”

Wrahasta tidak menjawab. Tetapi kembali ia memandang ke kejauhan. Seakan-akan ia ingin melihat langsung ke padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh yang sedang dibakar oleh api pertengkaran di antara keluarga sendiri.

Tiba-tiba raksasa itu menggeram, “Hidup matiku untuk Tanah ini.”

Samekta dan Kerti saling berpandangan sejenak. Kemudian mereka seperti berjanji menarik nafas dalam-dalam.

“Beristirahatlah, Ngger,” desis Kerti.

“Tidak ada waktu untuk bermalas-malasan di atas tanah ini. Aku akan menghubungi setiap pemimpin kelompok, agar mereka menyiapkan diri mereka sebaik-baiknya.”

“Tetapi perintah penyerangan petang nanti belum dapat dijatuhkan.”

“Aku tahu, aku tahu.”

Wrahasta tidak menunggu jawaban lagi. Ia pun segera melangkah pergi meninggalkan Samekta dan Kerti termangu-mangu ditempatnya.

Beberapa orang yang berada di gardu di samping regol itu pun melihat, betapa Wrahasta bersikap kaku dengan wajah yang berkerut-merut. Mereka pun mengerti apa yang baru saja terjadi atas anak muda yang bertubuh raksasa itu, meskipun mereka tidak mendengar dengan jelas percakapan raksasa yang sedang kecewa itu dengan Samekta dan Kerti.

“Sayang bahwa pertengkaran itu telah terjadi,” desis salah seorang dari para peronda itu.

“Wrahasta kurang dapat mengendalikan diri,” jawab yang lain.

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kalau mereka tidak tahu benar apa yang terjadi di gardu itu, maka mereka pun akan dibakar pula oleh kekecewaan terhadap anak gembala yang gemuk itu. Tetapi mereka telah mendengar pula, bahwa dengan tiba-tiba seakan-akan tanpa sebab Wrahasta menjadi marah, sehingga keduanya bertengkar. Apalagi anak gembala yang gemuk itu telah menunjukkan kemampuannya di dalam peperangan. Banyak orang yang melihat, bagaimana ia membunuh Ki Muni setelah Ki Muni itu melukainya. Kemudian bagaimana ia bertempur di antara hiruk-pikuk peperangan dan menjatuhkan banyak korban pada lawan.

Sementara itu Samekta dan Kerti pun kemudian pergi ke rumah yang mereka pergunakan sebagai pusat pimpinan pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Ketika mereka memasuki halaman rumah itu terdengar Samekta berdesis, “Mudah-mudahan Wrahasta dapat melihat kepentingan yang lebih besar dari kepentingannya sendiri.”

“Aku masih tetap percaya kepadanya,” sahut Kerti.

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

Bagi para pemimpin Menoreh, hari terasa terlampau lamban bergerak. Matahari mengambang dengan malasnya, seakan-akan tidak bergerak dari tempatnya. Setiap kali Samekta dan Kerti dengan gelisah melangkah ke luar, memandang ke langit dan berjalan hilir-mudik.

“Aku akan tidur,” berkata Samekta. “Aku akan melupakan waktu yang menjemukan ini.”

“Tidurlah. Kemudian bergantian.”

“Tetapi aku kurang biasa tidur di siang hari.”

“Berbaringlah.”

Samekta pun mencoba untuk tidur. Ia merasa telah disiksa oleh waktu. Sementara Kerti pun kemudian pergi ke gardu di sebelah regol di jalan induk padukuhan itu.

Ketika gembala tua itu pergi ke pondok yang dipakai oleh Ki Argapati untuk melihat perkembangan kesehatannya, maka mawanti-wanti ia berpesan kepada Gupala, “Kau jangan berbuat bodoh lagi. Jagalah dirimu. Kita masih diperlukan.“

Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Pergilah ke gardu induk. Ingat, jangan berbuat sesuatu yang dapat menyulitkan keadaan. Kehancuran Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya menjadi kepentingan kita pula. Sadarilah.”

Gupala masih mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun ia berkata di dalam hatinya, “Asal anak itu tidak menginjak kepalaku. Kalau hal itu dilakukannya, apa boleh buat.” Tetapi bagaimanapun juga. Gupala menyadari, bahwa ia pun berkepentingan juga atas orang-orang yang telah disebut oleh gurunya itu.

Berdua bersama Gupita, Gupala pun pergi ke gardu induk di regol padukuhan. Sambil menundukkan kepalanya, Gupala mencoba menilai keadaan yang sedang dihadapinya.

Anak muda yang gemuk itu tiba-tiba saja menarik nafas sambil berdesah. Adalah kebetulan sekali bahwa Ki Argapati pun sedang berusaha membinasakan Ki Tambak Wedi. Kalau ia bersama kakak seperguruannya dan gurunya bertiga saja, mustahil mereka dapat menghancurkan iblis itu.

“Kita saling memanfaatkan,” desisnya. “Ki Argapati memerlukan kami, dan kami memerlukan pasukan. Betapa dahsyatnya ilmu Guru, tetapi sudah tentu ia tidak akan dapat melawan seluruh pasukan Ki Tambak Wedi. Dan ternyata Ki Argapati sudah menyediakan pasukan itu buat kami.”

Tanpa sesadarnya Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini terasa olehnya, memang sama sekali tidak menguntungkan bertengkar dengan orang-orang Menoreh dalam keadaan serupa ini. Tetapi ia tidak tahu, kenapa Wrahasta tiba-tiba saja telah membentak-bentaknya. “Orang itu agaknya memang seorang pemarah,“ desisnya, “atau seseorang yang menaruh prasangka terlampau tajam di dalam hatinya. Mungkin ia menyangka bahwa kami adalah orang-orang serupa dengan Ki Peda Sura, yang mendapat janji-janji dari Ki Argapati.”

Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya, “Mungkin ia berpendapat demikian. Mungkin.”

Tetapi Gupala tidak bertanya kepada Gupita. Sekilas anak muda yang gemuk itu memandang wajah kakak seperguruannya, tetapi Gupita berjalan sambil menundukkan kepalanya.

“Kakang Gupita pernah mengalami perlakuan serupa,” desisnya di dalam hati.

Ketika keduanya sampai di gardu di dekat regol, mereka melihat beberapa orang sedang berkerumun. Tiba-tiba terasa sesuatu bergetar di dalam dada anak-anak muda itu. Apalagi Gupala. Katanya di dalam hati, “Apakah Wrahasta berada di situ pula?”

Tetapi ternyata Wrahasta tidak ada. Mereka menyambut kedatangan keduanya dengan ramah. Bahkan salah seorang dari mereka, yang pernah mengenal bahwa anak yang gemuk itu senang berkelakar, bertanya, “He, lain kali kalau kau ingin tidur sampai tengah hari, tidurlah di sini. Di belakang gardu, sehingga tidak ada orang yang melihatmu.”

Gupita dan Gupala mengerutkan keningnya. Namun kemudian mereka tersenyum. Sapa itu telah memberikan kesan kepada mereka, bahwa anak-anak muda dari tanah perdikan ini tidak mudah diseret oleh perasaan tanpa pertimbangan. Mereka tidak dengan serta-merta berpihak kepada Wrahasta, apa pun yang sebenarnya telah terjadi.

“Terima kasih,” sahut Gupala, “lain kali. Tetapi apabila tiba-tiba saja kepalaku dipenggal oleh Ki Tambak Wedi, maka aku tidak akan dapat tidur lagi di padukuhan ini.”

Anak-anak di dalam gardu itu tertawa. Salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah kau ingin begitu?”

Gupala menggeleng, “Tentu tidak. Apalagi aku masih ingin makan jenang jagung.”

Anak-anak muda di dalam gardu itu tertawa semakin keras. Salah seorang dari mereka tiba-tiba saja meloncat mendekati Gupala, dan langsung membimbingnya.

“Mari, aku tunjukkan di mana kau harus tidur.”

Gupala tidak menolak. Ia mengikuti saja kemana ia dibawa.

“He, menepi,” berkata anak muda yang menarik tangan Gupala itu. “Tidurlah melekat dinding itu. Kami akan duduk berjajar melindungimu.”

Gupala tertawa. Beberapa orang telah menyibak. Salah seorang berkata, “Nah, tidurlah di situ.”

Tetapi tiba-tiba Gupala mengerutkan keningnya, “He, daun bekas bungkus apa saja itu?”

“Makan pagi kami.”

“Kalian sudah makan pagi?”

“Baru saja.”

“Celakalah kita,” berkata Gupala kepada Gupita, “di gardu di simpang empat itu makanan belum datang. Ketika kami sampai kemari makan sudah lampau.”

“Hus,” desis Gupita. Tetapi anak-anak muda yang mendengarnya tertawa semakin riuh. Salah seorang dari mereka tiba-tiba saja berlari ke belakang gardu itu. Sejenak kemudian ia kembali sambil membawa dua bungkus nasi, “Ini kami masih menyediakan buat kalian.”

Gupita tersenyum kecut, tetapi Gupala menjawab, “Nah, terima kasih. Tetapi mana buat Kakang Gupita?”

“Bukankah itu dua bungkus?”

“O, aku kira ini buat aku sendiri.”

“Macammu,” desis Gupita. Tetapi ia menerima juga sambil tertawa ketika Gupala memberinya sebungkus, “Marilah kita makan, Kakang. Kita tidak perlu malu. Kalau perut kita ingin berisi juga.”

Gupita masih saja tersenyum-senyum. Tetapi ia tidak dapat berbuat seperti Gupala, yang langsung membuka bungkusannya dan makan sendiri di antara anak-anak muda yang terbawa berkepanjangan. Gupita terpaksa menepi dan duduk di sisi gardu itu sambil membuka bungkusannya.

Demikianlah anak-anak muda itu mengisi waktunya sambil berkelakar Tetapi mereka sama sekali tidak melepaskan kewaspadaan. Di muka regol dua orang penjaga tetap di tempatnya mengawasi keadaan. Setiap kali petugas-petugas sandi datang dan pergi dengan keterangannya msasing-masing yang langsung disampaikannya kepada Kerti.

Lewat tengah hari Wrahasta datang ke gardu itu pula. Ketika ia melihat kedua anak-anak muda itu berada di sana juga, ia mengerutkan keningnya. Namun kemudian acuh tidak acuh ia meninggalkan gardu itu. Sejenak ia singgah ke regol. Dipadanginya batang-batang ilalang yang terbentang di hadapannya. Tanpa sesadarnya ia berdesis, “Kalau peperangan ini selesai, maka ilalang itu pun harus dibabat.”

Para penjaga regol, yang mendengar desis itu berpaling. Namun mereka tidak menyahut. Mereka melihat Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian menekan dadanya dengan sebelah telapak tangannya. Tetapi raksasa itu tidak berkata sepatah kata pun lagi. Bahkan dengan tergesa-gesa ia pergi meninggalkan regol itu menuju ke tempat pimpinan pasukan pengawal.

Semakin condong matahari ke Barat, maka padukuhan itu menjadi semakin sibuk. Samekta yang tidurnya ternyata tidak juga dapat dirubah di siang hari, telah memanggil setiap pemimpin kelompok. Meskipun ia belum mengatakan sesuatu, namun para pemimpin kelompok itu telah merasa, bahwa pasti akan ada sesuatu yang penting.

Beberapa orang pemimpin kelompok duduk sambil berbincang di halaman, yang lain di tangga pendapa sambil membelai senjata masing-masing. Sedang yang lain lagi berada bersama para pengawal yang sedang bertugas di regol halaman.

Samekta, Kerti, dan Wrahasta masih berada di pringgitan. Mereka sedang memperbincangkan kemungkinan untuk memberitahukan rencana penyerangan itu kepada para pemimpin kelompok.

“Sebaiknya kedua prajurit dan gembala tua itu hadir di antara kita,” desis Samekta.

Kerti mengangguk-anggukkan kepalanya, “Aku sependapat. Bagaimana kau, Wrahasta.”

Wrahasta terperanjat. Ternyata ia tidak mendengar pertanyaan itu dengan baik, sehingga ia bertanya, “Bagaimana Paman?”

Kerti mengerutkan keningnya. Namun ia mengulangi, “Sebaiknya kedua prajurit dan gembala tua itu ada di antara kita sekarang, selagi kita menyampaikan persoalan rencana penyerangan ini kepada para pengawal.”

“O,” Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya, “baik. Aku sependapat.“ Namun Wrahasta itu pun kemudian menundukkan kepalanya kembali. Sesuatu agaknya telah mengganggu angan-angannya. Dan orang-orang tua itu pun segera memahami.

“Aku akan menyuruh seorang penghubung memanggilnya,” desis Samekta.

“Tetapi,” Wrahasta memotong, “pimpinan Tanah Perdikan ini masih belum lengkap. Masih ada seorang lagi yang justru terpenting di antara kita.”

“Siapa? Ki Argapati?”

“Tidak. Sudah jelas bagi kita, Ki Argapati sedang sakit. Kalau ia memaksa diri untuk ikut ke medan perang sebenarnya malahan akan menambah pekerjaan kita saja.”

“Lalu siapakah yang kau maksud?”

“Yang mewakilinya. Satu-satunya keluarganya yang masih setia kepada tanah perdikan ini.”

“Pandan Wangi maksudmu?” bertanya Kerti.

“Ya.”

Kedua orang tua-tua itu menarik nafas dalam-dalam, “Kalau Ki Argapati tidak berkeberatan, baik juga kiranya ia hadir,” gumam Samekta kemudian.

“Baiklah aku sendiri akan memanggil mereka,” berkata Wrahasta kemudian.

“Jangan,” Kerti memotong, “biarlah anak-anak saja yang pergi. Kau tetap di sini. Banyak masalah yang harus kita percakapkan sebelumnya.”

Wrahasta mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian mengangguk sambil berkata. “Terserahlah kepada Paman kalau aku memang diperlukan di sini.”

“Baiklah kau tinggal di sini,” berkata Samekta pula, “aku akan menyuruh para pengawal yang ada di halaman.”

“Siapakah yang akan Paman suruh?”

Samekta tertegun sejenak. Namun kemudian ia menarik nafas sambil menjawab, “Salah seorang dari para pengawal di halaman.”

Wrahasta tidak menjawab. Tetapi ia pun berdiri juga dan berjalan di belakang Samekta keluar pringgitan.

Ketika ternyata Samekta menyuruh seorang pengawal tanah perdikan untuk menemui Ki Hanggapati dan Dipasanga serta gembala tua itu, maka Wrahasta pun kemudian masuk pula ke dalam pringgitan. Ia telah mendengar juga, penghubung itu harus mencoba menemui Pandan Wangi, apakah ia dapat hadir dalam pembicaraan ini.”

Ternyata mereka tidak perlu menunggu terlampau lama. Setiap orang menyadari, bahwa waktu pada saat-saat yang demikian itu, menjadi sangat berharga. Dan ternyata bahwa Ki Argapati pun telah melepaskan Pandan Wangi untuk ikut mendengar pembicaraan para pemimpin itu.

“Waktunya telah hampir tiba,” desis Samekta di hadapan mereka, “sebentar lagi matahari akan turun dengan cepat.”

Belum seorang pun yang menyahut.

“Petugas sandi yang terakhir datang melaporkan, bahwa tidak ada tanda-tanda yang khusus dapat dilihatnya di padukuhan induk, meskipun orang itu tidak berhasil mendekat. Tetapi kesibukan yang dilihatnya tidak meningkat. Peronda yang nganglang pun tidak bertambah, dan pemusatan itu pun tidak dapat mengatakan, bahwa mereka telah menyiapkan diri seperti kita, dengan diam-diam.”

“Ada perbedaan,” potong Kerti. “mereka tidak dapat melihat kita begitu jelas seperti kita melihat mereka, karena padukuhan ini dikelilingi oleh pring ori.”

“Ya, tetapi padukuhan ini jauh lebih sempit dari padukuhan induk,” sahut Samekta.

“Tetapi kita akan datang dengan gelar. Kita akan datang dari depan beradu dada,” geram Wrahasta.

“Ya,” sahut Samektla, “justru karena itu kita harus benar-benar siap lahir dan batin.”

Para pemimpin itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apakah kita sudah siap memberitahukan rencana ini?” bertanya Samekta.

Sejenak mereka saling berpandangan.

“Bagaimanakah pendapat kalian?”

Hanggapati beringsut sejengkal. Katanya, “Kita sudah dikejar waktu. Aku kira saatnya sudah tepat. Kita tidak akan terlambat dengan persiapan kita, dan kesempatan bagi petugas sandi lawan pun sudah dapat dibatasi.”

Yang mendengar kata-kata Hanggapati itu pun mengangguk-anggukkan kepala mereka. Memang sudah datang waktunya. Dan waktu itu kini serasa mudah berkejaran setelah sekian lama mereka menunggu dengan gelisah.

“Baiklah,” berkata Samekta. “Apakah ada pikiran lain?”

Tidak ada seorang pun yang berbicara. “Jika demikian, aku akan segera menemui para pemimpin kelompok untuk mempersiapkan diri mereka dengan segera. Sebentar lagi, apabila matahari telah terbenam, kita akan segera berangkat.”

Orang-orang yang ada di ruangan itu mengangguk-anggukkan kepala mereka.

“Aku akan menemui para pemimpin di pendapa rumah sebelah,” berkata Samekta.

Maka sebentar kemudian, Samekta telah duduk di hadapan para pemimpin kelompok yang sebentar lagi harus menyusun barisan yang akan pergi ke induk padukuhan. Induk dari Tanah Perdikan Menoreh yang beberapa saat yang lampau telah diambil oleh Sidanti beserta gurunya.

Pada saat Samekta sedang sibuk berbicara tentang rencananya, maka Pandan Wangi yang ikut mendengarkan dengan sepenuh minat, terkejut ketika seseorang menggamitnya.

Ketika gadis itu berpaling, dilihatnya dekat di belakangnya duduk Wrahasta yang justru beringsut maju.

“Maaf, Pandan Wangi,” bisiknya, “aku sudah tidak mempunyai waktu lagi.”

“Ah,” desah Pandan Wangi, “besok atau lusa kita masih akan bertemu.”

Wrahasta menggelengkan kepalanya, “Belum tentu, Pandan Wangi. Siapa tahu aku akan mati malam nanti.”

“Jangan berkata begitu.”

“Kalau hal itu harus terjadi, pasti akan terjadi.”

“Tetapi kita tidak mengharapkan. Aku dan kau mengharap bahwa kita akan bertemu besok, lusa, dan seterusnya.”

“Hanya sekedar bertemu?”

Pandan Wangi tidak menjawab. Tetapi kepalanya tertunduk dalam-dalam. Sesaat-sesaat ia mendengar keterangan Samekta kepada para pemimpin kelompok, namun suaranya kadang-kadang hilang di dalam gemerisik gejolak di hatinya.

“Kau tinggal menjawab sepatah kata,” desak Wrahasta. “Atau kau dapat mempergunakan isyarat. Kau dapat mengangguk atau menggelengkan kepalamu.”

Pandan Wangi masih menunduk.

“Wangi.”

Pandan Wangi sama sekali tidak menjawab dan tidak menggerakkan kepalanya.

Wrahasta menarik nafas dalam-dalam. Desisnya, “Perang malam nanti adalah perang yang dahsyat. Kita akan berjuang mati-matian untuk merebut padukuhan induk itu. Kita tidak akan meninggalkan medan selagi kita masih hidup. Namun agaknya Sidanti dan Ki Tambak Wedi pun akan bertekad serupa. Mereka tidak akan meninggalkan padukuhan yang telah mereka rebut. Karena itu perang yang akan terjadi adalah perang antara hidup dan mati.”

Pandan Wangi masih tetap berdiam diri.

“Dengan demikian, Pandan Wangi, aku tidak tahu, apakah aku masih akan dapat melihat kau lagi.”

Wajah Pandan Wangi yang tunduk menjadi semakin menunduk. Hatinya serasa tergores oleh perasaan iba. Ia sama sekali tidak bermimpi untuk menganggapi perasaan Wrahasta terhadapnya. Tetapi ia tidak sampai hati untuk menggelengkan kepalanya mendengar kata-kata anak muda yang mendekati keputus-asaan itu.

“Bagaimana, Wangi?”

Dada Pandan Wangi menjadi pepat. Tenggorokannya serasa tersumbat dan pelupuk matanya menjadi panas. Hampir saja ia lupa bahwa ia sedang duduk di hadapan para pemimpin kelompok pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Hampir saja ia lupa kini membawa sepasang pedang di lambungnya.

Betapa ia bersusah payah menahan perasaannya sebagai seorang gadis di antara hiruk-pikuk pembicaraan mengenai perang.

Pandan Wangi tersentak ketika ia mendengar suara gemuruh, “Kami bersedia untuk mati demi Tanah ini. Demi Tanah ini.”

Pandan Wangi mengangkat wajahnya. Ia melihat beberapa orang mengepalkan tinjunya.

Namun kembali dadanya serasa retak ketika ia mendengar desis, “Aku pun bersedia mati demi Tanah ini.” Kemudian, “Dan demi kau, Wangi.”

“Oh,” Pandan Wangi mengeluh. Ditekannya telapak tangannya di dadanya.

“Jawablah Wangi, sebelum aku mati.”

Pandan Wangi tidak dapat menahan iba hatinya. Ia tidak dapat bertahan untuk tetap membatu. Karena itu, hatinya yang luluh telah menggerakkan kepalanya. Hampir saja sebuah anggukan kecil. Namun tiba-tiba anggukan kepala itu urung ketika ia mendengar Samekta berkata lantang, “Nah, kembalilah ke pasukanmu. Cepat. Siapkan mereka. Malam ini kita akan merebut kembali padukuhan induk lambang pusat pemerintahan Menoreh, Tanah Perdikan Menoreh.”

Terdengar sejenak hiruk-pikuk di antara para pemimpin kelompok itu. Semuanya ingin menyatakan kesediaan mereka untuk merebut padukuhan induk itu. Namun dengan demikian suara mereka tidak terdengar satu demi satu.

Meskipun demikian Samekta menanggapinya, “Terima kasih. Terima kasih atas kesediaan kalian. Sekarang, pertemuan ini aku bubarkan.”

Hampir serentak orang-orang yang berada di pendapa itu berdiri. Pandan Wangi pun berdiri pula bersama para pemimpin yang lain. Dalam pada itu, para pemimpin kelompok itu pun segera menghambur turun dari pendapa untuk dengan tergesa-gesa kembali ke kelompok masing-masing. Namun dalam pada itu Samekta pun telah mengeluarkan perintah, tidak boleh seorang pun keluar dari padukuhan ini, supaya rencana ini tidak sampai terdengar oleh orang-orang yang tidak berkepentingan, dan bahkan oleh petugas sandi Ki Tambak Wedi. Bahkan Ki Samekta telah memerintahkan untuk mencegah kemungkinan segala macam tanda dan isyarat yang dapat dilontarkan.

Dalam hiruk-pikuk itu Wrahasta telah kehilangan kesempatannya pula untuk dapat berbicara dengan Pandan Wangi. Kerti, Hanggapati, Dipasanga pun kemudian berbicara di antara mereka. Dan Pandan Wangi ikut pula di dalam pembicaraan itu. Sedang Wrahasta yang sedang berdiri dalam kekecewaan itu berpaling ketika Samekta berkata kepadanya, “Kita pun harus berbagi.”

Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kita harus bekerja bersama dalam pimpinan seluruh pasukan. Aku akan berada di tengah. Kerti di sayap kiri dan kau berada di sayap kanan.”

“Bagaimana dengan orang-orang yang datang dari luar lingkungan kita itu?”

“Kita tidak dapat menyerahkan pimpinan kepada mereka, biarlah mereka berada di dalam barisan, tetapi supaya pimpinan gelar dapat berlangsung dengan baik, kitalah yang akan memegangnya. Kita akan dapat bekerja bersama dengan cara dan kebiasaan kita seperti yang diajarkan oleh Ki Argapati. Orang lain itu mungkin mempunyai cara dan kebiasaan yang berbeda.”

Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Siapakah yang akan pergi bersamaku?” bertanya Wrahasta.

“Salah satu dari Ki Hanggapati atau Ki Dipasanga.”

“Lalu bagaimana dengan gembala tua itu.”

“Tugasnya menemui Ki Tambak Wedi. Dimana pun Ki Tambak Wedi berada.“

“Lalu kedua anak-anak gila itu?”

“Mereka pun harus mencari Ki Peda Sura.”

Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas ia melihat Pandan Wangi yang berbicara dengan Kerti. Wrahasta tahu benar, bahwa Kerti adalah orang terdekat dari Pandan Wangi sesudah ayahnya. Pada saat-saat Tanah Perdikan Menoreh tidak sedang dilanda api pertentangan, Kerti selalu pergi mengantar gadis itu berburu di hutan perburuan. Untunglah bahwa umur Kerti sudah berada di seputar setengah abad, sehingga tidak menumbuhkan perasaan apa pun di hati raksasa itu. Tetapi tiba-tiba saja datang anak-anak muda yang telah menggelisahkannya.

Wrahasta menarik nafas dalam-dalam. Ia telah kehilangan kesempatan untuk mendengar jawaban Pandan Wangi. Kalau pasukan ini telah mulai tersusun, dan kemudian bergerak, maka ia tidak akan dapat berbicara dan mendengar apa pun lagi dari Pandan Wangi.

Tetapi Wrahasta sama sekali tidak ingkar dari kewajibannya. Betapa hatinya dicengkam oleh kekecewaan tentang dirinya sendiri, namun sebagai seorang pemimpin pengawal ia tetap menengadahkan dadanya. Ia sadar, bahwa terutama anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh selalu memperhatikannya. Kalau ia kehilangan gairah perjuangannya, maka anak-anak muda itu pun akan kehilangan kemantapannya pula. Dan Wrahasta tidak mau menjadi penyebab, apalagi menjadi penentu, dari kekalahan pasukan Pengawal Tanah Perdikan Menoreh, hanya sekedar karena ia tenggelam di dalam kepahitan perasaan secara pribadi.

Dan Samekta pun kemudian berkata, “Nah, marilah, kita mulai menyusun barisan. Pada saat matahari terbenam, kita keluar dari regol padukuhan ini, langsung menuju ke padukuhan induk dari tanah perdikan ini.”

Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Samekta pun kemudian memberitahukannya kepada Kerti dan Pandan Wangi.

“Angger akan berada bersama Ki Gede,” berkata Kerti.

“Baik, Paman, dan aku akan segera menyampaikannya kepada ayah.”

Sepercik harapan tumbuh di dada Wrahasta, apabila ia dapat pergi bersama Pandan Wangi. Tetapi sekali lagi ia menjadi kecewa ketika gembala tua itu berkata, “Aku pun akan pergi menghadap Ki Gede. Sebelum kita berangkat. Ki Gede harus mendapat pengobatan yang baik. Dan bahwa harus disediakan persedaan obat di perjalanan, apabila tiba-tiba saja Ki Gede memerlukan.” Orang itu berhenti sejenak, lalu katanya kepada Pandan Wangi, “Tetapi Angger harus selalu ingat, dan setiap kali memperingatkan, bahwa Ki Gede harus tetap di atas tandunya. Ki Gede tidak boleh dibakar oleh perasaannya sehingga melupakan luka-lukanya yang masih belum sembuh benar.”

“Baik, Kiai,” jawab Pandan Wangi.

“Nah, marilah kita pergi bersama-sama.”

Ketika Pandan Wangi minta diri kepada para pemimpin yang hadir di pendapa itu, ia melihat mata Wrahasta yang redup. Terasa dada gadis itu berdesir, dan kepalanya pun tertunduk karenanya.

Pandan Wangi mengangkat wajahnya ketika Samekta berkata, “Kami sudah mulai menyusun barisan kami. Pada saatnya kami akan menghadap dan memberitahukan bahwa kami akan segera berangkat.”

“Baik, Paman. Aku akan menyampaikannya kepada ayah.”

Maka Pandan Wangi pun kemudian meninggalkan pertemuan itu bersama gembala tua, yang sedang merawat Ki Argapati.

Dengan cermat gembala tua itu kemudian memeriksa luka-luka di dada Argapati kemudian membubuhinya obat yang baru sebelum mereka berangkat ke medan perang. Sementara Pandan Wangi menceritakan tentang para pengawal yang dengan setia akan ikut di dalam barisan merebut kembali kekuasaan atas padukuhan induk sebagai lambang kekuasaan atas Tanah Perdikan Menoreh.

Setelah selesai dengan perawatannya atas luka Ki Argapati, maka gembala tua itu pun minta diri, untuk menemui kedua anak-anaknya yang harus diberitahu pula, apakah tugas mereka di dalam peperangan yang akan datang.

“Mudah-mudahan mereka berhasil, Kiai,” berkata Ki Argapati. “Anak-anakmu masih sangat muda. Yang gemuk itu agaknya lebih bebas menggerakkan senjatanya daripada kakaknya.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ki Argapati pasti sudah mendengar laporan tentang kedua gembala itu. Memang Gupala lebih memberi kesempatan perasaan berbicara. Juga di medan perang, sehingga ia pasti menelan korban jauh lebih banyak dari Gupita. Orang yang tidak menyaksikan cara mereka bertempur akan menganggap bahwa Gupala mempunyai beberapa kelebihan dari Gupita. Kelebihan itu adalah, Gupala hampir tidak pernah ragu-ragu membelah dada lawan.

Tetapi Gupita mempunyai pembawaan yang lain. Ragu-ragu dan bimbang. Bahkan kadang-kadang ia membayangkan hal-hal yang dapat mengurungkan niatnya untuk membinasakan lawannya.

“Di medan yang hiruk-pikuk, keragu-raguannya itu dapat membahayakan jiwanya,” berkata orang tua itu di dalam hati, “tetapi bukan seharusnya ia membunuh lawannya seperti menebas batang-batang ilalang.”

Gembala tua itu menemukan Gupala dan Gupita duduk di atas setumpuk jerami di dekat gardu bersama beberapa orang anak-anak muda. Agaknya mereka pun sedang menunggu penjelasan untuk diri mereka masing-masing.

“Itu ayah datang,” desis Gupita. “Aku harus menemuinya. Mungkin aku harus mengikutinya.”

“Ya, mungkin kau harus mengikuti ayahmu mengambil seekor atau dua ekor kambing. Setelah kita merebut kembali padukuhan induk itu, kita akan bersembunyi,” berkata salah seorang dari mereka.

“Kenapa?”

“Daging panggang.”

“Uh,” Gupala bersungut-sungut, “kau sangka di padukuhan induk itu kekurangan kambing, bahkan sapi atau kerbau? Aku justru akan mengambil lima atau sepuluh ekor kambing. Aku akan menjadi seorang gembala yang kaya.”

“Aku tangkap kau. Bukankah aku pengawal tanah perdikan ini.”

“Tetapi kau tidak akan dapat melihat.”

Anak muda itu tidak sempat menjawab, karena Gupala segera menutup kedua telinganya sambil berlari-lari mendapatkan gurunya. Gupita yang tersenyum melihatnya masih mendengar anak-anak muda itu tertawa dan salah seorang berteriak, “Pengecut. Jangan lari.”

Meskipun Gupala mendengarnya, tetapi ia tidak berpaling. Tangannya masih menyumbat kedua telinganya meskipun tidak terlampau rapat.

“Apa saja yang kalian bicarakan?” bertanya gembala tua itu sambil mengerutkan keningnya.

Gupala menggeleng, “Tidak apa-apa. Sekedar berkelakar.“

Gurunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara, itu Gupita pun telah berdiri di samping anak muda yang gemuk itu.

“Sebentar lagi kita akan berangkat,” desis gurunya.

“Ya, aku sudah mendengar,“ sahut Gupita. “Anak-anak muda itu telah mendapat penjelasan dari para pemimpin kelompok masing-masing. Kini mereka telah bersiap. Sebentar lagi mereka harus berkumpul di kelompok masing-masing.”

“Ya, begitulah. Kalian pun harus segera menyiapkan diri pula. Tidak ada waktu lagi untuk bermalas-malas.”

Kedua anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kita tidak akan berada di dalam barisan. Kita mendapat keleluasaan untuk menemukan lawan-lawan kita. Seperti juga Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga.”

Kedua anak-anak muda itu mengangguk-angguk.

“Kau berdua harus mencari Ki Peda Sura,“ berkata gembala tua itu kemudian, “sedang Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga harus berhadapan sekali lagi dengan Sidanti dan Argajaya. Karena keduanya mempunyai kemampuan yang hampir seimbang, maka keduanya dapat bertukar tempat, siapa saja yang dapat mereka temui.”

Gupita dan Gupala menundukkan kepalanya. Terbayang di wajah mereka kekecewaan bahwa mereka tidak mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Sidanti atau Argajaya.

“Kau tidak dapat memilih,” berkata orang tua itu, “kau tinggal menerima perintah. Di sini kekuasaan tertinggi berada di tangan Ki Argapati. Dari siapa pun pendapat itu, namun apabila Ki Argapati telah mengiakan, maka keputusan itu sudah menjadi keputusannya.”

Gupita menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia menjawab, “Baiklah. Aku akan melakukannya.” Gupita berhenti sejenak, kemudian, “Lalu bagaimana dengan Guru?”

“Aku harus menghadapi Ki Tambak Wedi,” jawab gurunya. “Sebenarnyalah aku memang berkepentingan. Selama Ki Tambak Wedi itu masih berkesempatan untuk mengganggu, ia akan tetap mengganggu kalian. Seandainya Sidanti sudah tidak ada lagi, ia pasti akan mencari orang lain yang dapat diprgunakannya untuk memuaskan hatinya. Kini tanpa kita duga-duga sebelumnya, kita mendapatkan sepasukan pengawal yang dapat membantu kita, yang menurut sudut pandangan Ki Argapati beruntunglah ia mendapat bantuan kita. Dengan demikian, kita sudah saling membantu.”

Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Namun ia berdesah, “Tetapi kami semua sama sekali tidak mempunyai kepentingan apa pun dengan Ki Peda Sura.”

“Kepentingan itu akan saling berkait. Apabila kita sudah berada dalam satu kesatuan, kita harus memandang seutuhnya. Jangan sepotong-sepotong seperti itu.”

Gupala menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya wajah kakak seperguruannya. Namun Gupita masih saja mengangguk-angguk kecil.

“Nah, bersiaplah. Kita tidak akan selalu bersama-sama di peperangan. Tetapi ingat, kalian harus berhati-hati melawan Ki Peda Sura. Orang itu tidak kalah licik dari orang-orang mereka yang lain. Mungkin kau berdua harus menghadapinya bersama-sama sekelompok anak buahnya. Apabila demikian, kau harus masuk ke dalam garis pertahanan pasukan Menoreh, supaya kau mendapat perlindungan dari orang-orang yang tidak dapat kau lawan satu demi satu. Mereka pasti akan dihadang oleh para pengawal, sedang kau dapat menempatkan dirimu kembali melawan Ki Peda Sura.”

Gupita yang masih mengangguk-anggukkan kepalanya bertanya, “Apakah kami masih harus bersenjata pedang?”

Gurunya menggeleng. “Tidak. Kita sudah menyatakan diri kita di dalam peperangan ini. Meskipun bagi kalian jenis senjata apa pun tidak akan terlampau berpengaruh, namun yang mana yang dapat memberi kemantapan kepada kalian, pergunakanlah.”

Gupala mengangkat alisnya, “Aku akan mempergunakan keduanya.”

Gupita mengerutkan keningnya. Sekilas dipandanginya wajah adik seperguruannya itu, kemudian ditatapnya wajah gurunya yang tersenyum. Orang tua itu berkata, “Tidak selalu senjata rangkap itu menguntungkan. Pandan Wangi memang memiliki kemampuan khusus mempergunakan sepasang pedangnya. Ki Peda Sura pun mempergunakan sepasang bindi, meskipun kadang-kadang ia mempergunakan jenis-jenis senjata yang lain.”

“Aku akan memegang cambuk di tangan kanan dan pedang di tangan kiri,” berkata Gupala.

“Asal salah satu di antaranya justru tidak akan mengganggu.”

Gupala menggeleng, “Aku sudah berlatih mempergunakan keduanya.”

Gurunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia percaya bahwa Gupala selalu mencoba-coba mempergunakan apa saja.

“Terserahlah kepadamu. Tetapi kalian harus tetap berhati-hati melawan orang itu. Ia dapat berbuat apa saja.”

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kami akan selalu mengingat-ingat hal itu,” desis Gupita kemudian, lalu, “tetapi di mana kami harus berada di dalam lingkungan seluruh pasukan.”

“Kau berada di induk pasukan bersama aku. Tetapi di peperangan, kau harus mencari lawanmu,” jawab gurunya. “Ingat, Ki Peda Sura tidak segan-segan melarikan diri dan bersembunyi di dalam hiruk-pikuk peperangan. Memang sulit untuk mencari seseorang yang dengan sengaja bersembunyi di dalam keributan yang demikian.”

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalau kalian berhasil menguasainya, usahakan jangan sampai orang itu berhasil melarikan dirinya.”

“Baik, Guru,” jawab kedua anak-anak muda itu hampir bersamaan.

“Ki Peda Sura akan menjadi hantu yang mengerikan bagi tanah ini apabila ia berhasil melepaskan dirinya. Apalagi apabila Ki Argapati masih belum sembuh benar dan belum dapat langsung memimpin pemerintahan di Tanah Perdikan ini.”

Kedua anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepala mereka.

“Nah, sekarang bersiaplah sambil menunggu perintah lebih lanjut.”

“Baik, Guru,“ jawab mereka bersamaan.

Keduanya pun kemudian kembali ketempat mereka semula. Sambil bersungut-sungut Gupala berkata, “Nah, kalian dengar. Ayahku marah-marah ketika ia mendengar teriakan kalian. Disangkanya aku benar-benar sudah menjadi pengecut dan lari.”

Kawan-kawannya tertawa. Salah seorang dari mereka berkata, “Tampangmu memang tampang seorang pengecut.”

Gupala memberengut, namun kemudian ia tertawa.

Sejenak kemudian maka beberapa orang petugas telah membagikan makan bagi setiap orang yang akan ikut pergi ke medan perang. Bagaimanapun juga, mereka harus membekali diri masing-masing dengan kemungkinan yang sejauh-jauhnya.

“He,” berkata salah seorang yang bertubuh kurus, “nikmatilah makan ini sebaik-baiknya. Siapa tahu, bahwa nasi yang kita makan ini adalah butiran-butiran nasi yang terakhir kita kenyam.”

“Hus,” desis kawannya, “mimpi apakah kau tadi malam?”

“Tidak. Aku tidak bermimpi,” jawabnya.

Demikianlah maka para pengawal itu pun kemudian sibuk dengan makan masing-masing. Gupala dan Gupita pun makan pula bersama dengan mereka.

Beberapa saat setelah mereka makan, maka terdengarlah kemudian aba-aba dari beberapa orang pemimpin kelompok. Mereka sengaja tidak mempergunakan tanda-tanda yang biasa diperdengarkan untuk kepentingan serupa, supaya tanda-tanda itu tidak ditangkap oleh orang-orang yang tidak berkepentingan, apalagi petugas-petugas sandi lawan.”

Aba-aba itu pun segera merambat dan setiap orang menyebar ke seluruh padukuhan. Meskipun tanpa tanda apa pun juga, namun tidak seorang pun yang kelampauan.

Demikianlah maka Menoreh telah menyiapkan barisannya. Sementara matahari menjadi semakin dalam bersembunyi di balik bukit.

Para pemimpin Menoreh pun kemudian sibuk menyiapkan pasukan mereka. Pasukan yang telah dibekali oleh pengertian yang mantap, untuk apa mereka pergi berperang.

Series 45

DENGAN darah yang bergelora mereka telah bertekad untuk merebut padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Mereka harus merebut kembali pusat pemerintahan yang selama ini telah diduduki oleh Ki Tambak Wedi. Bagaimanapun juga, agaknya tempat itu berpengaruh pula bagi rakyat Menoreh yang berada agak jauh dari padukuhan induk itu.

Ki Argapati ternyata benar-benar ingin ikut pula di dalam barisan, meskipun ia harus berada di atas punggung kuda. Pada saat terakhir ia menolak untuk duduk di atas sebuah tandu.

“Aku sudah menjadi semakin baik,” katanya. “Adalah lebih baik bagiku berada di atas punggung kuda daripada di atas tandu seperti seorang perempuan.”

“Tetapi bagi luka Ayah, aku kira lebih baik Ayah berada di dalam tandu,” berkata Pandan Wangi.

Ki Argapati menggeleng, “Aku akan duduk di atas punggung kuda. Tetapi aku minta satu dua orang memegang kendali kudaku, supaya aku tidak bernafsu untuk memacunya.”

Gembala tua yang mengobati luka-lukanya pun tidak dapat merubah pendiriannya, sehingga karena itu, maka ia berpesan, “Tetapi hati-hatilah, Ki Gede. Luka itu pernah kambuh dan bahkan agak parah. Jangan sampai luka itu kambuh kembali. Ki Gede harus selalu ingat akan hal itu.”

“Ya, ya. Aku akan selalu ingat.”

Demikanlah ketika gelap malam mulai meraba Tanah Perdikan Menoreh, maka mulailah ujung dari pasukan Menoreh keluar dari regol induk, didahului oleh beberapa orang petugas sandi yang harus mengamat-amati jalan.

Maka merayaplah sebuah pasukan seperti seekor ular raksasa yang keluar dari lubang persembunyiannya, menjalar di sepanjang jalan menuju ke padukuhan induk.

Setiap hati dari setiap orang yang berada di dalam pasukan itu telah bertekad untuk memilih satu di antara dua. Merebut kembali padukuhan induk itu atau mati di peperangan. Bagi mereka sudah tidak akan ada pilihan lain. Kalau mereka gagal merebut padukuhan induk, maka kekalahan itu akan mencerminkan kehancuran yang bakal mereka alami di saat-saat mendatang. Seandainya mereka terpaksa mundur dan bertahan di belakang pring ori itu pula, maka pada saatnya Ki Tambak Wedi pun akan menjadikan padukuhan itu perapian raksasa yang akan membakar mereka.

Karena itu, maka pertempuran kali ini adalah pertempuran yang menentukan. Kekalahan yang terjadi pasti akan semakin menghapus kepercayaan rakyat Menoreh terhadap kemampuan para pengawalnya. Dengan demikian maka hari-hari yang mendatang sama sekali tidak akan berarti apa-apa lagi.

Namun demikian, masih juga ada di antara mereka yang sempat berkelakar meskipun sambil berbisik. Tetapi ada juga di antara mereka yang memandang setiap bayangan di sekitarnya dengan wajah yang tegang.

“Paman,” berkata Wrahasta kepada Kerti, “supaya pasukan ini tidak segera diketahui lawan, maka sebaiknya beberapa orang harus mendahului di samping petugas-petugas sandi. Mereka harus membungkam setiap gardu perondan di sepanjang jalan menuju ke padukuhan induk itu.”

“Ya, pasukan itu memang sudah tersedia. Samekta juga telah memerintahkan beberapa orang mempersiapkan diri.”

“Kapan mereka akan kita lepaskan?”

“Kalau kita telah melampaui bulak di depan kita itu.”

“Aku sendiri akan memimpin mereka.”

“Kenapa kau?”

“Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang berat. Aku kurang percaya kepada anak-anak itu. Kalau tugas ini gagal, maka pasukan lawan akan mendapat kesempatan untuk mempersiapkan diri mereka. Dengan demikian maka korban akan menjadi semakin banyak berjatuhan.”

“Sebaiknya bukan kau, Wrahasta.”

“Perang kali ini harus menentukan. Kita pun harus berbuat dengan sesungguh hati. Apakah artinya segala usaha yang pernah kita lakukan kalau pada saat terakhir kita akan gagal?”

Kerti mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyadari pentingnya tugas itu. Tetapi kenapa Wrahasta sendiri yang harus pergi mendahului?

“Bagaimana, Paman?” desak Wrahasta.

“Kau sudah cukup banyak berbuat.”

“Belum, Paman. Aku harus menunjukkan bahwa kehadiranku di atas Tanah ini ada gunanya. Bukan sekedar hanya memperbanyak jumlah jiwa saja.”

“Tugas kita masih banyak.”

“Aku sangsi, apakah aku akan dapat ikut seterusnya.”

“He?” Kerti terbelalak. “Jangan berkata begitu.”

Tetapi Wrahasta justru tersenyum. Katanya, “Ah, sebaiknya kita tidak berbicara tentang hal-hal yang kita ketahui. Yang pasti, para peronda itu jangan mendapat kesempatan memberikan tanda apa pun juga. Aku akan membawa kelompok yang sudah tersusun itu.”

Kerti menggelengkan kepalanya. Tetapi ia berkata, “Berkatalah kepada Samekta. Samekta yang dapat mengambil keputusan.”

“Ya,” sahut Wrahasta sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku akan menemuinya. Aku ingin menunjukkan sesuatu kepada Tanah ini. Aku adalah putera Tanah Perdikan Menoreh.”

Wrahasta pun kemudian meninggalkan Kerti. Beberapa langkah ia mendahului sekelompok pengawal, kemudian ditemuinya Samekta sedang berjalan bersama gembala tua itu.

“Aku akan mendahului pasukan,” berkata Wrahasta.

“He?” Samekta mengerutkan keningnya.

“Aku akan memimpin langsung kelompok yang sudah tersusun untuk membungkam setiap gardu perondan yang akan kita lalui.”

“Ah,” desah Samekta, “bukan kau. Kau masih nnempunyai tugas-tugas lain yang lebih penting.”

“Aku tahu, tetapi sebelum sampai saatnya pasukan ini menebar dalam gelar, aku akan sudah berada kembali di tempatku.”

“Tetapi itu terlampau berbahaya bagimu.”

“Aku tidak mau gagal. Aku minta ijin.”

Samekta mengerutkan keningnya. Agaknya Wrahasta berkeras untuk melakukan tugas itu. Sehingga karena itu, Samekta tidak dapat mencegahnya lagi.

“Tetapi kau harus berhati-hati.”

“Tentu, tetapi apabila maut memang sudah merabaku, apa boleh buat.”

“Hus,” desis Samekta. “Jangan mengigau.”

Wrahasta tertawa. Adalah sesuatu yang jarang dilakukannya. Tetapi kali ini memang benar-benar tertawa.

“Aku akan pergi. Berapa orang yang sudah siap di dalam kelompok itu?”

“Sepuluh,” jawab Samekta.

“Bagus, berapa orang petugas sandi yang menyertai kami?”

“Tiga.”

“Terima kasih. Di ujung bulak itu kita akan berpisah. Aku akan mendahului, menengok setiap gardu yang mungkin ada di sepanjang jalan ini.”

Wrahasta tidak menunggu jawaban Samekta. Langsung ia meninggalkannya, menemui sekelompok pengawal pilihan yang akan mendahului pasukan ini, bersama beberapa orang petugas sandi.

“Kemana raksasa itu?” bertanya Gupala sambil berbisik kepada Gupita.

Gupita mengerutkan keningnya. Ia mendengar serba sedikit pembicaraan Wrahasta dengan Samekta yang berjalan beberapa langkah di depannya bersama gurunya.

“Ke gardu-gardu. Supaya pasukan ini sama sekali tidak diketahui oleh induk pasukan Ki Tambak Wedi.”

“Sulit. Aku yakin bahwa salah seorang dari mereka akan sempat menyentuh tanda bahaya. Apa pun caranya. Dengan demikian kita malah memberitahukan kehadiran kita sebelumnya.”

Gupita tidak segera menyahut. Sekilas dilihatnya Wrahasta yang seakan-akan terbenam ke dalam gelapnya. Hilang.

Gupita tiba-tiba saja menjadi berdebar-debar. Wrahasta termasuk salah seorang pemimpin dari pasukan pengawal Menoreh. Sebaiknya ia tidak usah pergi melakukan tugas yang berbahaya itu. Ia dapat menugaskan seseorang yang mempunyai kelebihan dan orang lain, namun tidak perlu seorang pemimpin.

“Gupala,” berkata Gupita, “Wrahasta seharusnya tetap berada di dekat Samekta dan Kerti sebelum gelar ini menebar di muka padukuhan induk itu. Karena itu, biarlah orang lain saja yang melakukan tugasnya sekarang, mendahului menyergap gardu-gardu peronda.

Gupala mengerutkan keningnya, “Biarlah mereka mengurusinya.”

“Hus,” desis Gupita, “kita ikut bertanggung jawab atas keselamatan seluruh pasukan.”

“Lalu, apakah kita akan melarangnya?”

“Bukan begitu maksudku. Sebaiknya kita berdua sajalah yang pergi.”

“Malas.”

“He?” Gupita membelalakkan matanya. “Kenapa malas? Kalau kau malas berbuat sesuatu, tidur saja di gardu itu.”

Gupala menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya gelap malam yang membayang di hadapannya. Wrahasta telah tidak tampak lagi, hilang ditelan malam, di antara bayangan-bayangan hitam yang bergerak-gerak di sepanjang jalan.

“Bagaimana dengan guru?” berkata Gupala.

“Kita akan minta ijin.”

“Baiklah,” jawab Gupala kemudian. “Biarlah kita orang-orang buangan ini sajalah yang diumpankan kepada para peronda itu.”

“Jangan mengingau.”

Gupala tidak menjawab. Keduanya pun kemudian mendekati gurunya. Dengan berbisik Gupita kemudian menyatakan maksudnya, menyusul Wrahasta. Mereka berdualah yang akan menggantikan pekerjaannya mendahului pasukan ini bersama beberapa orang untuk menyergap gardu-gardu peronda.

Gurunya menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia menjawab, “Kalau pimpinan pasukan pengawal tidak berkeberatan dan mempercayai kalian, aku pun tidak berkeberatan. Tetapi hati-hatilah. Tidak saja dalam tugas itu, tetapi juga caramu menyampaikan maksud itu kepada Wrahasta.”

“Guru sajalah yang mengatakannya kepada Ki Samekta.”

Gurunya mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Baiklah.”

Gembala tua itu pun kemudian bergeser beberapa langkah mendekati Samekta dan menyampaikan maksud kedua anak-anaknya.

“Aku berterima kasih,” berkata Samekta, “tetapi kalian kurang mengenal daerah ini. Tugas yang dilakukan oleh kelompok ini adalah tugas yang berat, yang harus didasari atas pengenalan yang sempurna atas daerah yang akan dilaluinya. Mereka akan menyusup lewat jalan-jalan yang bukan seharusnya.”

“Tetapi bukankah anak-anak itu tidak sendiri?”

“Dalam keadaan yang memaksa, mungkin mereka harus menebar.”

“Tetapi anak-anakku adalah gembala yang sudah terlampau sering menyusur tempat-tempat yang tersembunyi. Apalagi kedua anak-anakku tidak terikat di dalam pasukan dan apalagi pimpinan.”

Samekta mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Baiklah. Tetapi hati-hatilah.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi mungkin sekali Wrahasta tidak mau menarik dirinya. Jika demikian biarlah ia pergi. Agaknya hatinya sedang dirisaukan oleh sesuatu. Karena itu sebaiknya ia tidak diganggu. Namun kedua anak-anakmu harus berusaha memperingatkannya, bahwa apabila gelar telah dibuka, ia harus sudah berada di dalam barisan.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun di dalam hati ia bertanya, “Bagaimana kalau Wrahasta tidak berhasil?” Tetapi gembala itu tidak mengucapkannya.

“Nah, suruhlah anak-anakmu itu pergi bersama Wrahasta. Tetapi jangan berselisih di depan medan. Aku titip anak muda itu. Aku tahu, bahwa anak-anakmu jauh lebih baik dari raksasa yang sedang kecewa itu.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia bertanya, “Kenapa Angger Wrahasta kecewa?”

“Tidak. Tidak apa-apa,” jawab Samekta dengan serta-merta.

Orang tua itu pun tidak bertanya lagi. Gupala yang mendekatinya sudah mendengar sebagian terbesar dari pembicaraan itu, sehingga ketika gurunya mendekatinya ia berkata, “Jadi, kami diperkenankan menyusul pasukan itu?”

“Pergilah. Tetapi hati-hatilah. Jangan membuat keributan yang dapat menghancurkan seluruh pasukan ini. Kesalahan yang kecil dari kalian mungkin akan dapat membunuh puluhan jiwa manusia. Dan kau harus mempertimbangkannya. Bukan hanya jiwamu sendiri.”

Gupala mengerutkan keningnya. Ia mengerti apa yang dimaksud oleh gurunya. Ketika kemudian ia berpaling kepada Gupita, maka anak muda itu pun sedang menatapnya.

“Huh, Kakang Gupita menyalahkan aku pula agaknya,” desisnya di dalam hati.

“Pergilah dan ingat, hati-hatilah dalam menghadapi setiap persoalan,” pesan gurunya.

“Baik, Guru,” jawab keduanya hampir bersamaan.

Maka keduanya pun kemudian melangkah di sisi barisan yang masih juga berjalan maju itu untuk menyusul Wrahasta. Mereka sadar, bahwa tugas itu termasuk tugas yang sulit. Kalau mereka tidak dapat melakukannya dengan baik, sehingga satu atau dua orang dari para peronda itu sempat lolos, atau menyentuh alat-alat yang dapat memberikan tanda apa pun, maka justru yang terjadi akan sebaliknya. Kehadiran mereka akan segera diketahui oleh lawan.

Beberapa saat kemudian mereka telah berhasil menemukan Wrahasta di antara kelompok yang memang sudah tersusun. Sepuluh orang dengan tiga orang petugas sandi.

“Wrahasta,” berkata Gupita ketika mereka telah berhadapan, “aku mendapat pesan dari Ki Samekta, bahwa aku berdua ditugaskan untuk membantu kelompok ini.”

Wrahasta mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab.

Ditatapnya wajah kedua anak-anak muda itu berganti-ganti, seakan-akan ingin melihat langsung ke dalam pusat jantung mereka. Gupala dan Gupita pun menjadi berdebar-debar pula. Mereka menduga-duga bagaimakah tanggapan anak muda yang bertubuh raksasa itu.

Dan sejenak kemudian mereka mendengar Wrahasta bertanya, “Kenapa Paman Samekta mengirimkan kalian kemari?”

Gupita menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya, “Perintah yang sebenarnya adalah menggantikan kau di dalam tugas kelompok ini, karena menurut pertimbangannya, kau sangat diperlukan di dalam saat-saat terakhir. Kau harus memegang pimpinan langsung. Sedang tugas ini dapat dilakukan oleh orang lain yang tidak begitu diperlukan.”

“O,” tiba-tiba Wrahasta tertawa, “jadi kau sangka bahwa orang yang berada di dalam kelompok ini harus mati? Dan kau menganggap bahwa aku pun pasti akan mati pula?”

Gupita menjadi ragu-ragu sejenak. Kemudian jawabnya, “Bukan begitu. Tetapi kemungkinan untuk itu memang ada. Kemungkinan untuk hidup dan kemungkinan untuk mati sama besarnya.”

“Aku sudah tahu. Dan aku pun tidak akan ingkar meskipun aku akan mati sekalipun. Mati untuk Tanah ini.”

“Memang mati di dalam perjuangan dapat memberikan kebanggaan. Tetapi kau diperlukan.”

“Kembalilah kepada Ki Samekta. Katakan bahwa aku akan tetap berada di dalam kelompok ini. Sebentar lagi kita akan melampaui bulak ini, dan aku akan segera memisahkan diri, mendahului perjalanan kalian.”

Gupita terdiam sejenak. Ia memang tidak melihat kemungkinan bahwa Wrahasta akan bersedia meninggalkan kelompok itu dan kembali kepada Samekta. Karena itu maka akan sia-sialah apabila ia berusaha memaksanya. Maka Gupita itu pun kemudian berkata, “Kami hanya dapat menyampaikan pesan itu. Selebihnya kami tidak mempunyai wewenang apa pun. Meskipun demikian, Ki Samekta telah menugaskan kami untuk berada di dalam kelompok ini.”

“Aku tahu, aku tahu. Ki Samekta memang lebih percaya kepada kalian dari pada kepadaku. Soalnya bukan karena aku diperlukan di dalam gelar yang akan kita pergunakan, tetapi karena Ki Samekta menganggap bahwa kalian akan lebih berhasil di dalam tugas ini.”

Gupala yang selama itu berusaha membatasi dirinya, untuk tidak berkata sepatah pun juga supaya ia tidak salah ucap, menarik nafas dalam-dalam. Sekilas ia memandang wajah anak muda yang bertubuh raksasa itu, namun kemudian dilontarkannya pandangan matanya ke dalam gelapnya malam.

Gupita tidak segera dapat menjawab. Ia memang harus berhati-hati. Ternyata anak muda yang bertubuh raksasa ini sangat perasa.

Dan karena kedua anak-anak muda itu tidak menjawab, Wrahasta berkata selanjutnya, “Kemudian terserahlah kepada kalian. Aku tetap memimpin kelompok ini. Kalau kalian ingin ikut serta, maka kalian akan berada di bawah perintahku. Kalau tidak, kembalilah kepada Ki Samekta. Katakan bahwa aku tetap berada di sini.”

Gupala mengerutkan keningnya. Baginya sikap Wrahasta itu sudah merupakan pembangkangan. Seandainya ia menjadi pemimpin yang lebih tinggi, maka ia pasti akan mengambil tindakan.

“Apakah dengan demikian aku akan disebut kurang bijaksana?” bertanya Gupala di dalam hatinya.

Gupala mengerutkan keningnya ketika ia mendengar Gupita berkata, “Kami berdua akan tetap berada di dalam kelompok ini. Kami memang ditugaskan demikian sambil menyampaikan pesan. Apakah pesan itu akan kau lakukan atau tidak, terserahlah kepadamu.”

Wrahasta mengerutkan keningnya. Namun kernudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baik. Kau berada di dalam pasukan kecil ini. Aku tahu, bahwa kalian mempunyai ilmu yang cukup baik. Dan itu akan sangat berguna bagi tugas ini. Kami harus melakukan penyergapan dengan tiba-tiba dan membinasakan para peronda.”

“Ya. Kami akan tetap berada di dalam pasukan ini. Tetapi kami kira, kami tidak perlu berbuat terlampau kasar. Yang penting adalah melumpuhkan dan membungkam mereka. Bukan membinasakan.”

“Persetan istilah yang kau pergunakan.”

“Bukan sekedar istilah. Maksudku, mereka tidak perlu dibunuh.”

“He?” Wrahasta mengerutkan keningnya, “Jadi bagaimana?”

Gupita menarik nafas dalam-dalam. Tanpa dikehendakinya ia sudah terlibat dalam suatu pembicaraan tentang pelaksanaan tugas kelompok kecil itu.

“Maksudku, mereka dapat diikat tanpa membunuhnya.”

Wrahasta tertawa berkepanjangan, sehingga tubuhnya berguncang-guncang. “O, kau adalah manusia yang paling baik di dunia. Kau telah menjunjung tinggi perikemanusiaan di atas kepalamu. Berbahagialah kau dan adikmu yang gemuk itu.”

Gupita dan Gupala saling berpandangan sejenak. Bahkan orang-orang lain di dalam kelompok itu pun menjadi heran melihat tingkah laku Wrahasta. Meskipun mereka juga berkeberatan mendengar pendapat Gupita, namun mereka juga merasa aneh terhadap Wrahasta. Mereka belum pernah melihat raksasa itu berbuat demikian.

“He, Gupita,” bertanya Wrahasta, “apakah kau belum pernah perang sebelum kau berada di atas Tanah Perdikan ini?”

Gupita heran mendengar pertanyaan itu. Tanpa sesadarnya ia menjawab, “Sudah.”

“O, apakah kau tidak pernah melihat, bahwa di dalam peperangan kadang-kadang kita harus membunuh lawan?”

Gupita tidak menjawab. Sekilas dipandanginya wajah Gupala. Wajah itu terasa aneh baginya. Dan bahkan Gupala itu berbisik, “Kaulah yang aneh Kakang.”

Gupita menarik nafas. Tetapi ia tidak menjawab.

“Akulah pimpinan kelompok ini. Setiap orang harus tunduk kepada perintahku. Kalian harus menyergap setiap gardu perondan dan membinasakan semua isinya. Begitu tiba-tiba sehingga mereka tidak mendapat kesempatan.” Wrahasta berhenti sejenak, lalu, “Nah, kita sudah sampai di ujung bulak. Bersiaplah. Kita akan segera memisahkan diri, mendahului pasukan ini dan melihat gardu di depan kita yang terdekat, sambil mengamati kemungkinan petugas-petugas sandi lawan di sepanjang jalan.”

Gupala dan Gupita saling berpandangan sejenak. Namun mereka tidak dapat berbuat lain. Kalau mereka tetap akan berada di dalam pasukan itu, mereka memang harus tunduk kepada perintah Wrahasta.

Sementara itu orang-orang lain dalam kelompok kecil itu pun telah bersiap pula. Mereka telah sampai di ujung sebuah bulak. Sebentar lagi mereka akan memasuki sebuah pategalan. Di seberang pategalan yang tidak begitu luas itu terdapat sebuah padesan kecil.

“Di pategalan itu terdapat gardu pengawasan,” berkata Wrahasta, “karena itu pasukan ini harus berhenti sejenak. Kita akan melihat apakah yang ada di dalamnya.”

Wrahasta kemudian memerintahkan pasukan itu berhenti sambil mengirimkan seorang penghubung kepada Samekta, memberitahukan bahwa ia telah melepaskan diri mendahului seluruh pasukan.

Gupala dan Gupita akhirnya turut juga bersama pasukan kecil itu. Mereka mengharap bahwa mereka berdua dapat membantu anak muda yang bertubuh raksasa itu apabila diperlukan.

Kelompok itu kemudian berjalan dengan hati-hati menuju ke ujung pategalan. Menurut pengenalan mereka, di pategalan itu terdapat sebuah gardu kecil. Tetapi biasanya orang-orang Ki Tambak Wedi tidak mempergunakannya. Mereka berada di dalam gardu yang lebih besar, di seberang pategalan itu. Diantarai oleh beberapa kotak sawah yang sempit, di mulut sebuah padesan kecil.

Meskipun demikian, mereka memerlukan melihat gardu kecil itu, apabila secara kebetulan ditunggui oleh dua atau tiga orang setelah pasukan Ki Tambak Wedi menderita kekalahan.

Pasukan kecil itu berhenti beberapa langkah dari gardu itu, di balik gerumbul-gerumbul dan semak-semak pategalan. Seorang petugas sandi dengan sangat hati-hati merayap maju.

Namun ternyata gardu kecil itu memang kosong. Agaknya Ki Tambak Wedi atau orang-orangnya, memang tidak memperhitungkan bahwa pasukan Menoreh akan menyusul mereka. Sebab menurut Ki Tambak Wedi, luka Ki Argapati menjadi agak parah. Tanpa Ki Argapati, pasukan Menoreh tidak akan mampu berbuat banyak.

“Tetapi di gardu di depan pasti ada beberapa orang petugas,” desis Wrahasta.

“Pasti,” jawab salah seorang petugas sandi.

“Mari kita lihat.” Kemudian katanya kepada salah seorang petugas sandi itu pula., “Suruh pasukan Ki Samekta maju perlahan-lahan. Tetapi mereka tidak boleh keluar dari pategalan ini, supaya tidak dapat dilihat oleh seseorang yang seandainya kebetulan berada di sawah di depan pategalan ini.”

Petugas itu pun kemudian meninggalkan Wrahasta kembali ke induk pasukan, sementara kelompok kecil itu merayap semakin maju. Mereka tidak berjalan di atas jalan yang membelah beberapa kotak sawah di antara pategalan dan padesan di depan. Tetapi mereka turun ke dalam parit dan sambil membungkuk-bungkuk menyusur maju mendekati padesan. Di belakang tanggul mereka kemudian berhenti, untuk mengawasi keadaan. Mereka sudah melihat lamat-lamat beberapa berkas sinar lampu yang menerobos dari dinding-dinding rumah menyentuh dedaunan.

Dan tiba-tiba saja Wrahasta menggeram, “Persetan dengan penduduk padesan itu. Mereka pun merupakan bahaya bagi pasukan ini. Dan mereka pun memang termasuk orang-orang yang sama sekali tidak kita perlukan lagi.”

“Kenapa?” tanpa sesadarnya Gupita bertanya.

“Mereka sama sekali tidak mempedulikan perjuangan kami. Selagi kami berprihatin di dalam sarang-sarang tikus, mereka tetap saja tinggal dengan nyamannya di rumah masing-masing dikawal oleh pasukan Sidanti. Sungguh menyakitkan hati.” Wrahasta berhenti sejenak, kemudian, “Apakah tidak sepatasnya kalau mereka dibinasakan pula?”

“Berlebih-lebihan,” sahut Gupita. “Sebenarnya mereka pun telah membantu kita. Bukankah di antara mereka telah menyerahkan bahan-bahan makanan dan barang-barang lain yang kita perlukan?”

“Hanya satu dua orang saja. Tetapi sebagian besar dari mereka adalah pengkhianat-pengkhianat.”

“Jangan dinilai begitu. Kehadiran mereka telah memberikan perlindungan kepada orang-orang yang bersedia membantu kita. Mereka merupakan tabir yang dapat dipergunakan oleh mereka yang membantu kita sebagai tempat persembunyian. Dengan mereka, maka orang-orang yang membantu kita tidak akan segera dikenal. Tetapi tanpa mereka, maka tidak ada seorang pun yang berani memberikan apa saja yang kita perlukan.”

Wrahasta mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab. Namun kemudian diperintahkannya seseorang untuk mengintai gardu di ujung lorong.

Seorang petugas sandi pun kemudian merangkak dengan hati-hati mendekati padesan itu. Kemudian menyusur dinding batu yang ditumbuhi lumut, mendekati gardu di mulut desa, langsung merupakan regol masuk.

Ternyata mereka pun kurang berwaspada karena mereka sama sekali tidak akan menduga, bahwa pasukan lawan telah merayap semakin dekat. Meskipun mereka masih juga bangun, namun mereka tidak banyak menaruh perhatian terhadap keadaan di sekeliling mereka. Mereka saling berbicara dan berkelakar. Tetapi, petugas sandi itu masih melihat, seorang dari mereka berjalan hilir-mudik di muka regol.

Sejenak ia mencoba melihat keadaan. Dari mana kelompok kecil itu harus mendekat. Dari mana mereka akan menyergap dan bagaimana mereka dapat segera membungkam para petugas itu. Meskipun petugas sandi itu tidak dapat melihat orang-orang yang berada di dalam gardu, namun ia dapat menduga, bahwa orang-orang itu tidak lebih dari enam atau tujuh orang.

Setelah ia menemukan kesimpulan, maka segera ia pun kembali ke kelompok kecil itu dan dengan beberapa petunjuk, dibawanya kelompoknya maju mendekat dengan hati-hati sekali.

Kelompok itu akhirnya berhasil berada beberapa langkah saja di samping regol yang sekaligus merupakan gardu penjaga. Pintunya masih terbuka lebar, dan seorang dari mereka masih juga berjalan hilir-mudik dengan senjata telanjang di tangan.

Wrahasta mengerutkan keningnya. Ia tampak sedang memikirkan cara yang paling baik berdasarkan pengamatan petugas sandi itu.

Lamat-lamat mereka masih mendengar orang-orang di dalam regol itu bergurau. Seseorang di antara mereka telah mengumpat-umpat di sela-sela suara tertawanya.

“Mereka harus dibungkam untuk selama-lamanya,” geram Wrahasta yang berjongkok melekat dinding batu.

“He, kemarilah,” desis Wrahasta memanggil Gupala.

Gupala memandang wajah Gupita sejenak. Ketika ia melihat Gupita menganggukkan kepalanya, maka ia pun merayap mendekat.

“Tugasmu adalah menyergap orang yang berjalan hilir-mudik itu. Kami akan segera menyerbu ke dalam regol. Sebagian akan masuk meloncat dinding batu ini dan menyerang dari dalam, supaya tidak seorang pun sempat melarikan diri.”

Sekali lagi Gupala memandangi wajah Gupita, dan sekali lagi Gupita menganggukkan kepalanya.

“Baiklah,” jawab Gupala kemudian.

“Nah kau,” berkata Wrahasta kepada Gupita, “bersama lima orang, kalian meloncat dinding ini, dan menyergap dari dalam.”

“Ya,” jawab Gupita.

“Aku akan berada di luar bersama Gupala. Aku akan memberikan tanda. Kalau kalian mendengar suara cengkerik berderik dua kali berturut-turut, kalian harus siap. Kemudian kalian akan mendengar aba-abaku untuk menyergap serentak.”

Gupita menganggukkan kepalanya.

“Cepatlah, bersama lima orang.”

Gupita tidak menjawab lagi. Tetapi ia berdesis, “Ayo, siapakah di antara kalian yang akan mengikuti aku meloncati dinding batu ini?”

Beberapa orang kemudian bergerak serentak, bergeser mendekatinya. Tetapi justru hampir semuanya.

“Yang lain tinggal di sini,” perintah Wrahasta.

Akhirnya Gupita mendapatkan kawan-kawannya. Dengan hati-hati mereka satu demi satu meloncati pagar batu yang cukup tinggi. Tetapi ternyata mereka adalah anak-anak muda yang berkemauan dan bertekad baja. Meskipun mereka mengalami sedikit kesulitan, bahkan ada di antaranya yang bagian dadanya terluka dan berdarah, namun mereka berhasil memasuki padukuhan itu.

“Sakit?” bertanya Gupita kepada kawannya yang terluka di dadanya.

“Ah tidak apa-apa. Hanya lecet sedikit ketika kakiku terlepas dari injakan.”

Gupita mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Kita harus mendekat, supaya kita tidak terlambat.”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Dan mereka pun kemudian mengikuti Gupita yang merangkak maju mendekati regol.

Semakin dekat, suara mereka menjadi semakin jelas. Agaknya mereka mencoba mengusir kantuk mereka dengan berbicara, berbantah dan bergurau. Bahkan di bagian dalam regol itu, tampak sebuah perapian dan sebuah belanga di atasnya. Agaknya mereka merebus makanan atau menanak nasi untuk makan mereka di malam nanti, supaya mereka tidak kehabisan tenaga dan tertidur.

Gupita yang merangkak semakin dekat, menjadi semakin berhati-hati karenanya. Kini ia tidak dapat memberi aba-aba lagi, sehingga karena itu ia hanya dapat memberikan tanda-tanda dengan tangannya.

Di luar dinding batu, Wrahasta pun berbuat serupa. Ia merangkak semakin dekat diikuti oleh para pengawal. Sedang Gupala merayap mendahului mereka. Dengan hati-hati ia berusaha untuk mencapai jarak sedekat-dekatnya, supaya apabila Wrahasta memberikan perintah, ia langsung dapat menyergap orang itu tanpa memerlukan waktu terlampau panjang.

Sejenak kemudian terdengar suara cengkerik berderik dua kali berturut-turut.

Tetapi ternyata suara cengkerik itu agak terlampau keras sehingga menumbuhkan kecurigaan pada penjaga yang sedang berjalan hilir-mudik di muka regol sehingga langkahnya terhenti. Dengan dahi yang berkerut-merut dipandanginya arah suara cengkerik yang aneh terdengar di telinganya itu.

Wrahasta pun melihat sikap pengawal yang mendebarkan jantung itu. Apalagi ketika pengawal itu justru beberapa langkah mendekat. Gupala benar-benar berusaha menahan nafasnya. Penjaga itu hanya beberapa langkah saja berdiri di depannya dengan termangu-mangu. Sedang kawan-kawannya yang berada di dalam regol masih saja berkelakar dan berbantah tanpa ujung dan pangkal.

Dalam ketegangan itulah tiba-tiba Wrahasta berdesis, “Sekarang, Gupala.”

Orang yang berdiri termangu-mangu itu mendengar juga desis Wrahasta. Tetapi ia tidak sempat berpikir tentang suara itu. Ia tidak menyangka, bahwa justru dari muka hidungnya, seseorang meloncat menerkam lehernya.

Penjaga itu memang tidak sempat berteriak. Tetapi sebuah dengus perlahan telah terdengar dari dalam regol, disusul oleh hentakan-hentakan kaki. Hanya sebentar, kemudian terdiam.

Wrahasta menjadi tegang melihat sergapan yang hanya beberapa kejapan mata itu. Betapa pun juga ia terpaksa mengakui, bahwa Gupala memang seorang yang mempunyai kekuatan luar biasa.

Namun sejenak kemudian ia menyadari keadaannya. Ternyata beberapa orang di dalam regol itu telah mendengar sesuatu. Suara mereka yang riuh tiba-tiba terputus dan dengan tergesa-gesa beberapa orang berloncatan sambil menggenggam senjata masing-masing.

“Hampir terlambat,” desis Gupala di dalam hatinya. Tetapi ia masih menunggu perintah Wrahasta.

Dan perintah itu pun menyusul beberapa saat kemudian. Wrahasta pun kemudian memberikan aba-aba untuk menyergap orang-orang yang sedang keluar dari dalam regol itu.

Orang-orang itu pun terkejut bukan kepalang. Mereka tidak mendapat kesempatan untuk mempersiapkan diri mereka. Tiba-tiba saja mereka telah diserang dari dalam dan dari luar regol bersama-sama. Apalagi di antara para penyerang itu terdapat Gupala dan Gupita.

Wrahasta memang tidak memerlukan waktu terlampau banyak. Orang-orangnya segera menguasai keadaan. Orang-orang yang sesaat yang lalu masih berkelakar, kini terbaring diam tanpa bergerak sama sekali.

Gupita melihat mayat-mayat yang terbujur lintang di tanah itu dengan hati yang berdebar-debar. Semua orang yang berada di dalam regol itu memang telah terbunuh mati. Agaknya Wrahasta dan orang-orangnya sama sekali tidak bermaksud untuk membiarkan mereka hidup.

Ketika Gupita memandang adik seperguruannya, tampaklah anak yang gemuk itu tersenyum lucu kepadanya.

Gupita menarik nafas dalam-dalam. Orang-orang yang dipukulnya sehingga pingsan itu pun ternyata telah mati pula. Ia tidak tahu siapakah yang telah menusuk dadanya dengan sebilah pedang.

Gupita mengangkat kepalanya ketika ia mendengar suara Wrahasta datar, “Terima kasih. Kalian telah melakukan tugas kalian sebaik-baiknya. Kini kita akan maju lagi. Di ujung lorong ini, di mulut padukuhan, pasti ada juga beberapa orang penjaga. Mereka pun harus kita binasakan pula.”

Sekali lagi Gupita menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak kuasa untuk mencegahnya. Meskipun hal itu tidak sesuai dengan keinginannya, namun ia harus membiarkannya terjadi. Bahkan adik seperguruannya itu pun telah melakukannya dengan senang hati.

Sementara itu seorang penghubung telah dikirimnya pula untuk memberitahukan apa yang telah terjadi. Kemudian bersama yang seorang lagi, yang telah dikirimnya lebih dahulu, harus menggabungkan dirinya di gardu di mulut lorong yang lain.

Demikianlah mereka pun kemudian merayap maju. Di dalam gelapnya bayangan pepohonan yang rapat di jalan padukuhan, mereka mendekati gardu penjagaan di ujung lorong itu.

Seorang petugas sandi yang berjalan di paling depan tiba-tiba terhenti. Beberapa langkah ia mundur mendekati Wrahasta. Kemudian dengan isyarat diberitahukannya bahwa di hadapan mereka ada seseorang yang berjalan ke arah mereka.

Wrahasta pun kemudian memberikan isyarat kepada orang-orangnya untuk berhenti dan melekat dinding batu di sebelah-menyebelah jalan. Meskipun ada kemungkinan bahwa orang yang berjalan itu dapat melihat mereka, namun orang itu tidak boleh mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu.

Agaknya orang itu memang tidak bercuriga apa pun. Ia berjalan saja sambil berlenggang.

Namun tiba-tiba ia membelalakkan matanya ketika seseorang tanpa diketahui dari mana datangnya meloncat dan menerkamnya. Ia menyadari keadaannya ketika sudah terlambat. Sepasang tangan bagaikan jari-jari besi telah mencekik lehernya. Sejenak kemudian gelap malam pun menjadi semakin kelam, dan nafasnya pun putus karenanya.

Wrahasta menarik nafas dalam-dalam sambil mengibaskan tangannya. Demikian tangannya terlepas, orang itu pun kemudian terjatuh seperti sebatang kayu.

“Lemparkan ke balik pagar batu,” perintah Wrahasta kepada salah seorang anak buahnya.

Gupita yang melihat mayat itu menahan gejolak di dalam dadanya. Orang itu adalah seorang tua yang sudah tidak bertenaga dan sama sekali tidak bersenjata.

Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata di dalam hatinya, “Ini adalah salah satu wajah peperangan. Orang ini sama sekali tidak mengerti apa yang telah terjadi atas dirinya. Dan kematiannya pun sama sekali tidak berarti apa-apa.”

Namun yang lebih pahit lagi baginya adalah, bahwa Wrahasta sama sekali tidak menunjukkan penyesalan atas peristiwa itu.

Dengan jantung yang berdenyut semakin cepat, Gupita menyaksikan mayat itu diangkat dan dilemparkan begitu saja ke balik pagar batu di pinggir jalan.

“Kita melanjutkan perjalanan ini. Hati-hati. Mungkin kita akan bertemu dengan seseorang lagi,” berkata Wrahasta kemudian.

Tanpa dapat menahan diri lagi Gupita menyahut, “Tetapi orang-orang semacam ini sama sekali tidak berbahaya.”

Wrahasta memandang wajah Gupita dengan tajamnya.

Kemudian jawabnya, “Kau sangka orang-orang semacam ini tidak mempunyai mulut?”

“Aku menyadari. Tetapi orang setua itu tidak akan banyak dapat berbuat. Apakah tidak ada jalan lain daripada membunuhnya?”

“Ah, kau.” geram Wrahasta. “Aku tidak sempat berpikir di dalam keadaan serupa ini. Kalau setiap prajurit dan pengawal berbuat seperti kau, maka peperangan yang mana pun tidak akan dapat diselesaikan.”

Gupita tidak menjawab lagi. Sementara itu Gupala mendekatinya sambil berbisik, “Memang kau benar-benar aneh, Kakang.”

Gupita menggigit bibirnya. Namun ia tidak dapat ingkar dari dera perasaannya. Meskipun demikian ia tidak menjawab lagi.

“Cepat, kita maju ke gardu di depan. Tanpa keragu-raguan dan pertimbangan-pertimbangan yang cengeng,” perintah Wrahasta selanjutnya.

Maka pasukan kecil itu pun kemudian maju lagi. Lebih cepat dari semula. Semakin lama menjadi semakin dekat dengan gardu di mulut lorong.

“Lihat, apakah yang ada di dalam gardu itu,” perintah Wrahasta kepada salah seorang anak buahnya.

Orang itu pun kemudian mendekati gardu dengan sangat hati-hati. Di dalam gardu itu ada beberapa orang, tetapi berbeda dengan gardu yang pertama. Orang-orang di dalam gardu itu lebih tidak berhati-hati. Mereka menganggap bahwa penjagaan di gardu pertama cukup kuat, dan mereka sama sekali tidak bermimpi bahwa beberapa orang telah berhasil mendekat, meskipun sebagian dari mereka benar-benar telah tertidur.

“Tidak lebih dari lima orang,” berkata orang itu kepada Wrahasta. “Apalagi sebagian dari mereka telah tertidur.”

Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya. “Cepat. Mereka harus kita selesaikan pula.”

Kelompok kecil itu pun semakin mendekat. Dan tiba-tiba saja Wrahasta membawa anak-anak muda di dalam kelompok itu dengan serta-merta menyergap. Tidak seorang pun yang sempat turun dari gardunya. Bahkan yang sedang tertidur pun tidak sempat bangun untuk selama-lamanya.

Wrahasta menarik nafas panjang. Pedangnya yang basah oleh darah disarungkannya. Kemudian dengan nada rendah ia berkata, “Kita menunggu mereka yang sedang menghubungi induk pasukan. Kemudian kita akan semakin dekat dengan padukuhan induk.”

Kelompok kecil itu pun sejenak mendapat kesempatan untuk beristirahat. Mereka sama sekali tidak menaruh perhatian atas mayat-mayat yang masih terbaring di dalam gardu.

Sesaat kemudian maka para petugas yang menghubungi induk pasukan telah menggabungkan diri kembali. Dengan demikian maka kelompok kecil itu segera meneruskan tugas mereka mendahului untuk merambas jalan.

“Pasukan induk telah maju,” lapor petugas itu.

Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bagus,” katanya, “semakin cepat kita mulai akan menjadi semakin baik. Tetapi setiap kali pasukan induk itu harus menunggu isyarat kita.”

“Ya.”

Wrahasta kemudian terdiam sejenak. Mereka akan segera melalui sebuah padesan lagi. Wrahasta tahu benar, bahwa di padesan itu pasti terdapat tidak hanya dua buah gardu perondan, karena desa itu agak lebih besar.

“Ada tiga jalan memasuki desa itu,” berkata salah seorang petugas sandi.

“Ketiganya pasti diisi oleh pengawal-pengawal yang lebih baik dari pengawal di gardu kedua. Setidak-tidaknya mereka adalah pengawal-pengawal setingkat dengan pengawal-pengawal di gardu pertama, sehingga kita tidak akan dapat mengharapkan mereka tertidur nyenyak.”

“Sebenarnya mereka tidak berbeda. Tetapi para peronda di gardu kedua agak kurang berhati-hati. Itulah kesalahannya. Bukan karena kemampuan mereka lebih rendah dari gardu pertama. Demikian juga agaknya orang-orang di gardu depan nanti.” Petugas itu berhenti sejenak. “Tetapi kita dapat mengharap bahwa mereka pun lengah.”

Kelompok kecil itu merayap semakin dekat. Seperti yang sudah mereka lakukan, maka petugas sandilah yang lebih dahulu mendekati mulut lorong. Orang itu sudah cukup banyak mengenal daerah ini dan bahkan di sekitarnya. Sebagai anak Menoreh, ia sudah terlalu sering bermain-main di tempat ini.

“Memang mereka tidak sedang tidur,” bisik petugas sandi itu kepada Wrahasta, “tetapi mereka tidak lebih dari lima orang.”

Wrahasta menganggukkan kepalanya. Dengan isyarat dibawanya pasukannya mendekat. Kemudian seperti seekor kucing menerkam tikus mereka menyergap orang-orang di dalam gardu itu.

Ternyata perhitungan Wrahasta tepat. Orang-orang ini lebih sigap dari orang-orang yang berada di gardu-gardu yang terdahulu. Tetapi karena jumlah mereka tidak lebih dari lima orang, maka mereka tidak berhasil menghindarkan diri dari terkaman maut. Apalagi sergapan itu datang begitu tiba-tiba tanpa mereka duga-duga lebih dahulu.

Tanpa melepaskan korban, kelompok itu telah berhasil membinasakan tiga kelompok peronda. Dan kini mereka merayap maju lagi. Seperti seekor harimau yang sedang mengintai sarang kelinci. Berapa kali saja harimau itu menangkap kelinci, namun harimau itu tidak akan menjadi kenyang sama sekali.

Ternyata di desa itu terdapat tiga gardu peronda. Dan isi dari ketiga gardu itu pun mengalami nasib serupa, meskipun di gardu ketiga, salah seorang anggota kelompok yang dipimpin oleh Wrahasta itu terluka di pundaknya.

“Jalan telah terbuka,” geram Wrahasta. “Kita tinggal melintasi bulak panjang dan sebuah desa. Kemudian sebuah bulak pendek yang tidak berarti. Di bulak pendek itulah kita akan menyusun gelar.”

“Terlampau dekat,” tiba-tiba salah seorang pengawal menyahut.

Wrahasta menggeleng, “Tidak. Tidak terlampau dekat.”

“Selama kita menyusun gelar di bulak pendek itu, ada kemungkinan, bahwa kedatangan kita diketahui oleh pengawas.”

“Tetapi kita akan segera siap untuk menyerang mereka.”

“Bukankah lebih baik, apabila dengan tiba-tiba saja kita menyergap seperti gardu-gardu perondan ini?”

Wrahasta menggelengkan kepalanya. Sambil menengadahkan dadanya ia berkata, “Kita mempunyai banyak kelebihan dari lawan.”

Dada Gupita berdesir mendengar jawaban itu. Agaknya kemenangan-kemenangan kecil di sepanjang jalan ini membuat Wrahasta terlampau berbangga. Karena itu, ia menjadi cemas pula.

Gupala yang tidak pernah membuat terlampau banyak pertimbangan itu pun merasakan, bahwa Wrahasta merasa dirinya terlampau cakap untuk memimpin pasukan. Namun Gupala tidak mencoba berbuat apa pun. Kalau terjadi perselisihan di antara mereka, maka keadaan pasti akan menjadi kalut. Dan gurunya hanya dapat menyalahkannya.

“Marilah kita lintasi bulak ini dengan mengangkat kepala. Kita telah membinasakan lima kelompok peronda, dalam waktu yang singkat,” berkata Wrahasta kemudian.

Raksasa itu tidak menunggu jawaban siapa pun. Segera ia melangkah menyusur jalan yang terbentang di tengah-tengah tanah persawahan yang luas.

Gupita yang melihat tingkah laku Wrahasta merasa wajib untuk mempringatkannya demi keselamatan seluruh pasukan, tidak hanya sekedar kelompok kecil ini. Maka dengan hati-hati ia berkata, “Kita harus tetap memperhitungkan kemungkinan pengawasan di tengah-tengah bulak ini.”

Wrahasta berpaling. Jawabnya, “Aku sudah tahu. Aku mempunyai pengalaman yang cukup. Aku kira jauh lebih banyak dari seorang gembala, karena aku adalah pemimpin pengawal Tanah Perdikan.”

Jawaban itu sama sekali tidak disangka-sangka. Karena itu, terasa sesuatu bergetar di dalam dada Gupita dan apalagi Gupala. Namun keduanya tidak menyahut. Mereka berjalan saja di belakang Wrahasta. Gupita menjadi berprihatin karenanya. Namun Gupala menjadi acuh tidak acuh. Suara Wrahasta dianggapnya seperti desau angin malam yang lewat menyentuh telinganya.

“Kalau aku mendengarkannya, maka aku berniat untuk menjawabnya,” berkata Gupala di dalam hatinya. “Dan mulut ini rasa-rasanya sudah terlampau gatal. Karena itu, lebih baik aku tidak mengerti apa yang dikatakannya.”

Dan kelompok itu pun merayap maju terus di antara tanah persawahan. Semakin lama semakin jauh ke tengah bulak yang panjang. Mereka dengan penuh tekad menyerahkan segenap hidup mereka kepada kewajiban yang sedang mereka lakukan. Namun dengan demikian, bukan berarti bahwa mereka sedang membunuh diri.

Namun agaknya Ki Tambak Wedi dan Sidanti memang tidak memperhitungkan kemungkinan itu. Meskipun mereka tidak menjadi lengah, dan menempatkan para peronda di tempatnya, tetapi agaknya orang-orang yang bertugas itu tidak mendapat peringatan keras, bahwa kemungkinan itu akan dapat terjadi.

Menurut perhitungan Ki Tambak Wedi, Ki Argapati pasti masih belum dapat bangkit dari pembaringannya. Meskipun Ki Tambak Wedi sudah mengambil keputusan untuk secepatnya menggempur benteng pring ori itu dan menjadikannya karang abang, namun ternyata para pemimpin pengawal Tanah Perdikan Menoreh berbuat lebih cepat lagi. Mendahului hari yang telah ditentukan oleh Ki Tambak Wedi.

Samekta, pemimpin tertinggi yang kali ini diserahi pasukan di samping Ki Argapati sendiri yang sedang terluka itu, tidak dapat membayangkan, apalagi memperhitungkan dengan tepat, berapakah kekuatan lawan. Sebagai gambaran dipergunakannya kekuatan Ki Tambak Wedi yang dibawa langsung menyerang pemusatan pasukannya yang terakhir.

“Mudah-mudahan Ki Tambak Wedi belum dapat menghimpun orang Menoreh yang masih bertebaran di padukuhan-padukuhan kecil. Dengan janji-janji yang membubung setinggi awan, mereka yang ragu-ragu akan menjadi mudah terpikat. Apalagi ternyata selama ini Ki Gede Menoreh hanya bersembunyi saja di balik pagar pring ori itu,” berkata Samekta di dalam haitinya. “Jika demikian, maka jumlah pasukan Ki Tambak Wedi akan segera bertambah. Meskipun mereka bukan orang-orang yang terlatih baik, namun pada umumnya setiap laki-laki di Menoreh, mampu menggenggam senjata.”

Samekta mengerutkan keningnya. Apa yang dilihatnya di sepanjang jalan adalah permulaan yang baik bagi pasukannya. Kelompok yang dikirimkannya mendahului induk pasukan ternyata telah melakukan tugasnya dengan sebaik-baiknya.

“Meskipun jumlah pasukan Ki Tambak Wedi menjadi berlipat, namun sergapan yang tiba-tiba akan membuat mereka bingung,” desis Samekta. “Mudah-mudahan kita akan segera berhasil.”

Sekilas dipandanginya gembala tua yang berjalan beberapa langkah di sampingnya. Sekali-kali tumbuh keragu-raguan di dalam hatinya. “Apakah orang ini benar-benar dapat dipercaya untuk, melawan Ki Tambak Wedi?”

Sementara itu induk pasukan Menoreh itu pun maju terus melintasi jalan berdebu. Langit yang kehitam-hitaman ditaburi oleh bintang-bintang yang gemerlapan.

Namun tiba-tiba terasa betapa Tanah Perdikan ini telah benar-benar terbakar dalam suatu pertentangan di antara keluarga sendiri.

Samekta menarik nafas dalam-dalam.

Namun dalam pada itu, Wrahasta tersenyum sambil menengadahkan kepalanya. Dengan garangnya ia berkata, “Para peronda di desa itu pun akan segera binasa.”

“Hati-hatilah,” desis Gupita dengan serta-merta.

“Aku sudah cukup mengerti,” bentak Wrahasta, “kau tidak perlu setiap kali menggurui aku.”

“Tetapi kita sudah terlampau dekat dengan padesan di depan kita. Para peronda di dalam gardu itu akan melihat bayangan kita di hadapan layar kebiruan langit yang terang,” sahut Gupita.

“Persetan,” jawab Wrahasta, “kalau kau menjadi ketakutan, kembalilah.”

Gupita adalah seseorang yang selama ini selalu berusaha menahan dirinya. Demikian juga pada saat itu. Betapa dadanya menjadi bergetar, namun ia tidak menanggapinya dengan perasaan.

“Kita akan langsung menyergap gardu di mulut lorong itu,” geram Wrahasta.

Gupita menahan geletar jantungnya. Namun agaknya sikap Wrahasta itu telah menumbuhkan keheranan, tidak saja pada Gupita dan Gupala, namun akhirnya para pengawal Menoreh sendiri pun menjadi heran. Seorang petugas sandi yang berada di dalam kelompok kecil itu segera berkata, “Tetapi dengan demikian kita telah kehilangan kewaspadaan. Sebaiknya kita melakukannya dengan hati-hati seperti yang baru saja terjadi. Bukankah kita berhasil dengan baik? Cara itu ternyata adalah cara yang sebaik-baiknya.”

“Kita bukan pengecut,” jawab Wrahasta, “pengecut yang hanya berani menyergap lawan tanpa beradu dada.”

“Bukan. Bukan sikap pengecut,” jawab petugas sandi itu. “Tetapi kita memang seharusnya berhati-hati di peperangan.”

“Aku akan maju terus lewat jalan ini. Kemudian kita akan bertempur dengan orang-orang yang ada di dalam gardu itu. Kita baru akan dapat dikatakan berhasil dengan baik apabila dengan beradu dada kita dapat membinasakan mereka.”

Gupita mengerutkan keningnya. Dan ia melihat Wrahasta menengadahkan kepalanya sambil berdesis, “Lihatlah bintang-bintang yang gemerlapan di langit. Mereka akan menjadi saksi, bahwa malam ini seorang pemimpin pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang bernama Wrahasta telah berhasil menunaikan tugasnya dengan sempurna. Tugas seorang lelaki jantan. Bukan seorang pegecut. Dengan demikian apabila kita berhasil maka kita baru dapat disebut sebenarnya pahlawan.” Wrahasta berhenti sejenak. Namun tiba-tiba semua orang menahan nafasnya ketika Wrahasta itu seolah-olah berbicara kepada bintang-bintang di langit, “He, bintang gemintang. Apabila kita tidak bertemu lagi besok malam, maka kalian akan mengenangkan jasaku atas tanah perdikan ini. Kalian akan melihat bahwa aku bukan pengecut. Bukan orang yang sama sekali tidak berharga seperti yang kalian sangka selama ini.”

Orang-orang yang berada di dalam kelompok itu saling berpandangan sejenak. Tetapi tidak seorang pun yang berbicara. Sementara itu Wrahasta sambil tertawa kecil berkata kepada mereka, “Nah, kita akan menyergap dari depan. Ingat. Kita adalah laki-laki.”

Gupala yang terheran-heran pula mendekati Gupita sambil berbisik, “He, apakah Wrahasta menjadi gila?”

“Hus,” desis Gupita. “Tetapi cara ini memang sangat berbahaya.”

“Tetapi menyenangkan,” desis Gupala. “Aku sependapat.”

“Ah, kau pun telah menjadi gila pula.”

Gupita menjadi jengkel melihat Gupala malahan tersenyum. Dipandanginya wajah Gupita yang berkerut merut. Namun Gupala tidak berkata sesuatu.

Tetapi Gupita pun menyadari, bahwa ada perbedaan tanggapan atas sikap Wrahasta dan Gupala, meskipun keduanya ingin mempergunakan cara yang sama. Wrahasta yang dimabukkan oleh kemenangan-kemenangan kecil itu merasa dirinya menjadi terlampau cakap untuk melakukan tugasnya. Sedang Gupala hanya sekedar terdorong oleh jiwanya yang kadang-kadang menggeletak tanpa dapat dikendalikan. Ia memang selalu ingin mengalami sesuatu yang dahsyat. Gupala sama sekali tidak puas melakukan penyergapan atas orang-orang yang sedang tidur atau setengah tidur. Mengejutkan mereka, dan sebelum mereka berbuat sesuatu, orang-orang di dalam pasukannya telah berebutan menghunjamkan pedangnya.

“Apakah menariknya perkelahian serupa itu?” katanya di dalam hati.

Gupita menarik nafas. Tetapi ia tidak dapat mencegah kelompok ini berjalan terus semakin mendekati mulut padesan di depan mereka.

“Wrahasta,” berkata Gupita kemudian, “bukan berarti bahwa kita takut menghadapi mereka beradu dada, tetapi apabila tiba-tiba mereka membunyikan tanda bahaya, maka seluruh tugas kita akan gagal.”

Wrahasta mengerutkan keningnya.

“Yang pengecut sama sekali bukan kita. Tetapi kalau orang-orang di dalam gardu itulah yang pengecut, akibatnya kitalah yang akan mengalaminya. Pimpinan tertinggi pasukan menoreh akan menganggap bahwa kita tidak mampu melakukan tugas kita.”

Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba ia menggeram, “Itulah susahnya kalau kita tidak yakin bahwa kita akan berhadapan dengan laki-laki jantan.”

“Dan pengecut yang demikian akan lari sebelum kita bertemu pandang. Sebagian dari mereka akan segera memukul tanda-tanda bahaya sebelum melihat jumlah lawan yang mereka hadapi.”

“Bagus,” jawab Wrahasta yang dengan demikan dapat mendengar keterangan Gupita, “sebagian dari kalian harus berlindung. Kalian akan berjalan di sepanjang parit, dan yang sebagian akan menyusup di antara batang-batang jagung. Aku akan berjalan di atas jalan ini seorang diri.”

“Kenapa?” bertanya Gupita.

“Aku akan datang dari depan. Dan aku kira mereka tidak akan segera memukul tanda-tanda apabila mereka hanya melihat aku seorang diri.”

Gupita menarik nafas dalam-dalam. Tetapi itu akan jauh lebih baik dari rencana Wrahasta semula.

Demikianlah ketika mereka telah menjadi semakin dekat maka Wrahasta segera memerintahkan pasukannya untuk memecah. Katanya kemudian, “Aku akan mulai dengan perkelahian. Kalian harus segera menyergap dari arah masing-masing. Jangan diberi kesempatan sama sekali untuk memberikan tanda apa pun. Kentongan atau panah api atau panah sendaren.”

Para pengawal di dalam kelompok kecil itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun para petugas sandi saling berpandangan sejenak. Tetapi mereka kemudian mengangguk-anggukkan kepala mereka pula.

Meskipun demikian salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah tidak sebaiknya aku melihat lebih dahulu, apa saja yang terdapat di dalam gardu?”

“Tidak perlu. Seandainya ada sepuluh atau lima belas orang, apakah kalian takut?”

“Bukan takut.”

“Nah, kalau begitu, kita akan melakukannya dengan caraku. Seandainya di dalam gardu itu ada sepuluh orang, kita masih mempunyai beberapa kelebihan. Bukanah kita semuanya lebih dari sepuluh orang. Seandainya jumlah mereka lebih banyak, bukankah kalian juga tidak akan takut seandainya satu-dua di antara kalian harus melawan lebih dari seorang?”

Jawaban Wrahasta itu sama sekali bukan yang dimaksud oleh petugas sandi itu. Karena itu ia mencoba menjelaskan, “Bukan soal takut atau berani. Tetapi setiap kali kita akan kembali kepada persoalan tanda-tanda seperti yang dikatakan Gupita tadi. Kalau satu saja di antara mereka sempat membunyikan tanda-tanda itu, maka gagallah seluruh tugas kita.”

“Itu akan tergantung kepada kemampuan kita,” sahut Wrahasta. “Seandainya ada di antara mereka yang sempat membunyikan atau memberikan tanda apa pun juga, itu berarti kalau kita memang tidak mampu. Dan jika demikian jangan mengharap, bahwa kalian akan disebut pahlawan.”

Petugas itu sama sekali tidak puas dengan jawaban Wrahasta, seperti juga Gupita. Tetapi Wrahasta tiba-tiba sudah menjadi seorang yang keras kepala. Agaknya ia ingin benar-benar menjadi seorang pahlawan. Ia ingin menutup kekurangan-kekurangan yang pernah terjadi pada dirinya. Ia harus dapat merebut perhatian Pandan Wangi, bahwa ia adalah seorang pahlawan. Bukan seorang yang sama sekali tidak berdaya melawan anak muda yang gemuk itu.

Karena itu, maka tidak ada yang lebih baik dilakukan oleh para pengawal itu selain mematuhi perintah Wrahasta. Sebagian segera turun ke parit di sebelah jalan itu, parit yang mengairi tanah persawahan. Sambil terbungkuk-bungkuk mereka berjalan maju, di balik batang-batang ilalang dan pagar jarak yang tumbuh di pinggir parit. Sedang yang lain segera menyusup di antara batang-batang jagung di seberang jalan. Sedang Wrahasta, seperti yang direncanakannya sendiri, berjalan dengan dada tengadah di sepanjang jalan menuju ke mulut desa di depan.

Anak muda yang bertubuh raksasa itu berjalan dengan tegapnya. Sekali-kali ditatapnya langit yang digayuti oleh bintang-bintang yang gemerlapan. Dipandanginya bauran bintang di langit itu dengan seksama, seolah-olah tidak akan pernah berjumpa lagi untuk selama-lamanya.

Wrahasta menarik nafas dalam-dalam. Sekali-kali ia mendengar gemerisik di sebelah-menyebelah jalan. Ia sadar, bahwa ia sedang berjalan menuju ke tempat yang berbahaya. Tetapi ia sudah siap, dan dengan dada terbuka akan menghadapinya.

Sementara itu, di gardu di regol desa, beberapa orang penjaga sedang bercakap-cakap. Untuk mengisi waktu, mereka bercakap-cakap hilir-mudik tidak berketentuan. Dua orang di antara mereka berada di dalam regol sambil duduk di muka perapian memanasi tubuh mereka. Dingin malam menjadi semakin terasa menggigit tulang.

Namun di antara mereka itu terdapat seorang yang selalu siap di depan regol, menyandang pedangnya yang telah telanjang. Ia berjalan setapak-setapak menghilangkan kejemuan dan udara dingin yang menyusup ke dalam tubuhnya. Meskipun demikian setiap kali ia menyapu keremangan malam di depannya dengan tatapan matanya yang tajam.

Tiba-tiba dadanya berdesir. Beberapa langkah di hadapannya sesosok bayangan berjalan mendekatinya. Seakan-akan begitu saja muncul dari dalam gelap.

Orang itu menggosok matanya, seolah-olah ia belum percaya kepada penglihatannya. Namun bayangan itu semakin lama menjadi semakin jelas berjalan mendekatinya.

Ketika bayangan itu tinggal beberapa langkah saja dari padanya, penjaga itu merundukkan pedangnya sambil bertanya, “Siapa kau, he?”

Tidak segera terdengar jawaban.

“Berhenti di situ!” penjaga itu mulai curiga. “Siapa kau?”

Masih belum terdengar jawaban, sedang bayangan itu masih melangkah maju.

Orang-orang yang berada di dalam gardu mendengar sapa itu, sehingga beberapa orang meloncat turun sambil bertanya, “Kau berbicara dengan siapa?”

Penjaga itu tidak menjawab, namun orang-orang yang turun dari gardu itu pun segera melihat, bahwa seseorang melangkah mendekati gardu mereka. Karena itu, maka serentak mereka maju. Tangan-tangan mereka telah meraba hulu pedang di lambung masing-masing.

“Siapa kau?” pertanyaan itu terdengar kembali membelah sepinya malam.

Kini bayangan itu berhenti. Bayangan seorang anak muda yang bertubuh raksasa.

“Berapa orang kalian?” bertanya Wrahasta yang kini berdiri sambil bersilang tangan di dada.

“Siapa kau? Jawab pertanyaanku!” bentak penjaga itu. Kini orang itulah yang melangkah setapak maju.

Ketika jarak kedua orang itu menjadi semakin dekat, tiba-tiba penjaga itu berdesis, “Kau Wrahasta?”

Mendengar desis itu, maka kawan-kawannya pun segera maju pula. Mereka mengenal Wrahasta, sebagai seorang pemimpin pengawal tanah perdikan yang tetap setia kepada Ki Argapati. Karena itu, maka serentak para penjaga itu menarik senjata masing-masing, berdiri berjajar dengan wajah-wajah yang tegang. Namun Wrahasta masih tetap berdiri sambil bersilang tangan.

“Hem,” Wrahasta menggeram, “Tanda, Nala, Dipa, dan siapa lagi yang lain? Kemarilah kalian. Kau, kau dan kau? Aku mengenal kalian meskipun nama-nama kalian agaknya aku telah lupa, karena kalian adalah kelinci-kelinci yang tidak patut diingat sama sekali.”

Beberapa orang segera mendesak maju. Sejenak mereka terpukau oleh sikap Wrahasta yang begitu tenang dan yakin akan dirinya sendiri.

“Apa kerjamu di sini Wrahasta?” bertanya orang yang disebut Nala.

“Kau masih bertanya juga?” jawab Wrahasta. “Seharusnya kau sudah tahu, bahwa aku pasti sedang mengemban tugas Kepala Tanah Perdikan Menoreh melihat-lihat pengawalnya yang telah berkhianat.”

Nala mengerutkan keningnya. Namun terasa darahnya mengalir semakin cepat. Katanya, “Kau jangan asal membuka mulutmu saja Wrahasta. Kau harus menyadari, dengan siapa kau sekarang berhadapan. Meskipun kau pernah menjadi pemimpinku ketika aku masih ada di dalam pasukanmu, tetapi sekarang kau adalah orang lain. Kau tidak berhak memerintah aku lagi dengan cara apa pun juga.”

“Aku memang tidak akan memerintahkan kau untuk berbuat apa pun karena kau seorang pengkhianat,” sahut Wrahasta.

“Diam!” bentak Nala, “Aku telah mengenal kau. Kau bukan raksasa yang perlu ditakuti. Apakah yang telah mendorongmu untuk datang seorang diri kemari? Apakah kau sekarang telah mendapat seorang guru baru yang dapat membuat kulitmu kebal?”

“Jangan banyak bicara, Nala. Kumpulkan kawan-kawanmu. Aku terpaksa membunuh kalian meskipun kita sudah lama saling mengenal. Ini bukan persoalan kawan atau bukan kawan. Ini adalah persoalan pokok bagi tegaknya Tanah Perdikan Menoreh.”

“Wrahasta, ada dua kemungkinan yang terjadi atasmu sekarang. Kau sudah menjadi kebal melampaui Ki Argapati, atau kau sudah menjadi gila. Kalau kau masih waras, kau tidak akan berbuat demikian. Kau melihat kami di sini. Beberapa orang pengawal yang barangkali memang pernah kau kenal, ditambah oleh beberapa orang yang melihat kebenaran perjuangan kami yang berdiri di pihak Sidanti.”

Wrahasta tertawa pendek. “Berapa orang seluruhnya.”

“Tiga belas orang,” jawab Nala, “kau dengar? Tiga belas orang.”

Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia kini terpaksa berpikir. Tiga belas orang. Cukup banyak.

“Tetapi orang-orangku berjumlah lebih dari tiga belas orang termasuk Gupala dan Gupita,” berkata Wrahasta di dalam hatinya.

“Nah, kau dengar jumlah itu,” berkata Nala kemudian. “Apakah kau mempunyai aji-aji Bala Srewu atau Pancasona atau Narantaka?”

Tetapi Wrahasta justru tertawa. Jawabnya, “Jangan berbangga karena jumlah kalian yang banyak itu. Sebentar lagi kalian akan segera kami bunuh. Benar-benar menurut arti kata itu, kami bunuh.”

“Persetan. Menyerahlah.”

Wrahasta mengerutkan keningnya. Nala telah melangkah maju dengan senjata di tangan. “Kepung raksasa yang sedang bingung ini.”

Beberapa orang segera bergerak. Mereka bermaksud mengepung Wrahasta. Tetapi Wrahasta tidak berdiri saja di tempatnya. Ia pun kemudian melangkah beberapa langkah surut.

Dengan demikian maka orang-orang yang akan mengepungnya meloncat-loncat semakin cepat dan menebar semakin jauh, sehingga akhirnya mereka menjadi seleret garis lengkung yang sedang memburu Wrahasta yang melangkah surut.

Gupita menarik nafas dalam-dalam menyaksikan hal itu. Semakin jauh mereka dari gardu, maka tugas para pengawal itu pun menjadi semakin sulit, karena sebagian dari para penjaga itu masih tetap berada di depan regol.

“Hati-hati,” teriak Nala kemudian, “aku belum mengatakan kemungkinan ketiga. Justru kemungkinan yang paling dekat. Wrahasta tidak saja menjadi kebal atau gila, tetapi ia dapat membawa sepasukan pengawal yang dungu bersamanya.”

Mendengar kata-kata Nala itu Wrahasta menjadi berdebar-debar. Sedang para penjaga itu kini telah benar-benar melingkarinya. Karena itu, seperti pesannya kepada para pengawal, begitu ia memberikan isyarat, mereka harus segera menyergap. Dan Wrahasta yang sudah hampir terkepung rapat itu merasa, bahwa waktunya telah tiba.

Dengan demikian maka tiba-tiba saja terdengar suaranya menggeletar, “Sekarang. Hancurkan seisi regol ini.”

Suara itu segera disambut oleh Nala, “Benar kataku. Hati-hati. Mereka akan segera muncul dari persembunyian.”

Para pengawal yang memang sudah siap itu pun segera berloncatan dari balik pohon-pohon jarak dan batang-batang jagung, langsung menyerang para peronda itu, yang telah siap menyongsong mereka.

Kali ini para pegawal benar-benar harus bertempur. Mereka tidak hanya sekedar menghunjamkan senjata-senjata mereka ke dada orang-orang yang sedang tidur.

“Gila kau, Wrahasta,” geram Nala.

Terdengar suara tertawa Wrahasta. Kemudian jawabnya, “Sudah aku katakan, aku akan membunuh kalian satu demi satu.”

Pertempuran pun segera berkobar. Setiap orang mendapat lawan masing-masing. Namun ternyata bahwa jumlah orang-orang yang dibawa oleh Wrahasta, termasuk para petugas sandi, masih lebih banyak dari tiga belas orang yang berada di regol itu. Apalagi yang datang bersama Wrahasta terdapat Gupita dan Gupala.

Meskipun Gupita masih tetap berusaha mengekang dirinya, namun Gupalalah yang seakan-akan mendapat sejumlah permainan yang menyenangkan. Karena itu, maka seperti orang yang sedang menari ia berloncatan mempermainkan pedangnya. Dan adegan-adegan maut dari tarian anak muda yang gemuk itu benar-benar telah mencemaskan lawan-lawannya.

Para penjaga regol itu segera merasa, bahwa mereka tidak akan dapat melawan kekuatan Wrahasta bersama kawan-kawannya. Karena itu salah seorang dari mereka, segera merayap di dalam kegelapan, mendekati tanda bahaya yang tergantung di emper regolnya. Dengan tangan gemetar diraihnya pemukul kentongan yang berada di sudut regol.

Wrahasta yang melihat orang itu menjadi berdebar-debar karenanya. Dengan serta-merta ia berteriak, “ He, orang itu. Orang itu.”

Tetapi jarak mereka tidak cukup dekat dengan kentongan itu. Dalam keremangan api perapian yang masih menyala di dalam regol, tampaklah orang itu telah berhasil menggenggam pemukul kentongan dan dengan serta-merta meloncat siap untuk membunyikan tanda.

“Tahan orang itu!” terak Wrahasta.

Tidak akan ada seorang pun yang mampu meloncat sejauh itu. Sehingga dengan demikian tidak akan ada seorang pun yang dapat menghalanginya mengangkat tangannya untuk mengayunkan pemukul itu.

Namun tiba-tiba orang itu menyeringai kesakitan. Pemukul itu terlepas dari tangannya ketika terasa sesuatu menyengat lengan dan sekejap kemudian pergelangan tangannya. Belum lagi ia mengerti apa yang terjadi, maka terasa tengkuknya telah dikenai oleh sebongkah batu, sehingga ia terhuyung-huyung beberapa langkah dan jatuh tertelungkup.

Sejenak kemudian matanya menjadi semakin gelap, sehingga akhirnya ia pun jatuh pingsan.

Ternyata Gupita yang menjadi cemas pula melihat orang yang hampir berhasil membunyikan tanda bahaya itu bertindak cepat. Diraihnya beberapa butir batu. Dengan kecakapannya membidik yang luar biasa ia berhasil menggagalkan usaha orang itu untuk menyentuh kentongannya.

Melihat kawannya jatuh terjerembab, Nala menggeram. Tiba-tiba saja pedangnya telah terayun ke arah lambung Wrahasta. Namun raksasa itu cukup cepat menghindar, sehingga ujung senjata itu tidak menyentuhnya.

Dalam pada itu perkelahian pun berkobar terus semakin lama semakin dahsyat. Para penjaga yang kemudian seakan-akan menjadi berputus asa, telah berkelahi membabi buta.

Namun satu-satu mereka jatuh di tanah untuk tidak bangkit lagi, sehingga pada suatu saat orang yang terakhir, Nala, tidak dapat lagi menghindarkan diri dari ujung senjata Wrahasta, disaksikan oleh para pengawal. Nala masih sempat mendengar salah seorang pengawal yang pernah dikenalnya berkata kepadanya, “Hukuman yang pantas bagi seorang pengkhianat.”

Nala menggeliat. Dengan nanar ia mencoba menatap para pengawal, bekas kawan-kawannya itu mengerumuninya. Namun kemudian serasa tulang-tulangnya terlepas dari tubuhnya. Matanya pun menjadi gelap, dan sebuah tarikan nafas yang patah telah menandai kematiannya.

Wrahasta berdiri dekat di samping tubuh Nala yang terbujur di tanah. Ia masih sempat tertawa sambil menimang-nimang pedangnya. Namun suara tertawanya itu terputus ketika seorang pengawal mengangkat sesosok tubuh dan meletakkannya di muka Wrahasta.

“He, kenapa dia?”

“Ia terbunuh dalam pertempuran ini.”

Wrahasta mengerutkan keningnya, “Jadi, ada juga yang mati di antara kita?”

Pengawal itu mengangguk.

“Gila, siapa yang membunuh?”

“Salah satu dari mayat-mayat yang bergelimpangan ini.”

“Gila. Sungguh-sungguh gila. Beberapa gardu sudah kita lampaui tanpa korban seorang pun. Tetapi di sini kami kehilangan seorang kawan.”

“Dan tiga orang telah terluka.”

Wrahasta seakan-akan membeku di tempatnya. Tangannya menggenggam pedangnya erat-erat. Terdengar giginya gemeretak dan wajahnya menjadi semerah soga.

“Kita berjumlah lebih banyak. Sepuluh orang, ditambah dengan para petugas sandi, aku sendiri dan dua gembala itu. Kenapa kita harus menyerahkan korban di dalam tugas ini?” geram Wrahasta.

Tidak seorang pun merasa wajib untuk menjawab. Karena itu maka para pengawal itu pun terdiam.

“Kita harus menukar nyawa ini dengan sepuluh nyawa lawan.”

Para pengawal itu masih belum juga menjawab. Namun di dalam kesepian yang mencekam terdengar suara Gupala, “Lebih dari sepuluh.”

Wrahasta berpaling ke arah suara itu, dan ia melihat anak yang gemuk itu berdiri sambil meraba-aba perutnya, “Berapa orang yang telah kita bunuh bersama-sama? Lebih dari sepuluh, dan kita masih harus membunuh pula. Kita akan merayap ke gardu-gardu yang lain di dalam desa ini yang tentu akan di jaga oleh orang-orang Ki Tambak Wedi seperti gardu ini. Dan kita harus membinasakan mereka pula, apabila kita tidak ingin diketahui oleh lawan sebelum kita memasuki padukuhan induk itu.”

Wrahasta mengerutkan keningnya. Kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, lebih dari sepuluh.”

“Tetapi akan lebih baik kalau kita tidak kehilangan seorang pun.” Kemudian terdengar suara Gupita, “Setidak-tidaknya kita jangan menambah korban lagi, setelah kami kehilangan seorang kawan dan beberapa orang yang lain terluka. Kecuali korban itu menjadi terasa terlampau mahal, kita juga kehilangan sejumlah tenaga dalam pertempuran-pertempuran yang mendatang apabila kita menyelesaikan para penjaga di gardu-gardu.”

“Tentu. Kita tidak akan menjadi gila dengan menyerahkan korban-korban dengan sengaja. Apa yang terjadi adalah di luar kemampuan kita. Tidak seorang pun dapat disalahkan,” jawab Wrahasta.

“Benar. Namun kita harus berusaha. Kita harus mengurangi hal-hal yang sama sekali tidak perlu. Kita harus menghemat tenaga.”

“Aku tidak mengerti maksudmu.”

“Kita tidak perlu bersikap sebagai seorang pahlawan. Kita akan kehilangan waktu. Lebih baik kita mempergunakan cara yang terdahulu. Terbukti dengan demikian kita tidak kehilangan apa pun. Meskipun keadaan kita sekarang sudah berbeda. Kita menjadi semakin sedikit, sedang lawan yang kita hadapi akan menjadi semakin banyak. Aku yakin bahwa gardu-gardu di padesan ini, padesan yang menghadap ke padukuhan induk, akan mendapat penjagaan yang semakin kuat. Gardu yang berada di ujung lain dari lorong ini pasti berisi lebih dari tiga belas orang.”

Wrahasta mengerutkan keningnya. Ia menyadari kesalahannya, bahwa ia telah terdorong oleh suatu kebanggaan yang tidak dapat dikendalikannya. Tetapi semuanya sudah terlanjur, sehingga karena itu ia bertanya, “Lalu, bagaimana sebaiknya?”

“Kita berjalan terus. Tetapi kita harus menjadi lebih berhati-hati. Kita akan mempergunakan cara-cara yang paling aman, dengan mengendapkan perasaan yang meledak-ledak.”

Wrahasta tidak segera menjawab.

“Kita akan mendekati setiap gardu dengan diam-diam.”

“Kemudian berkelahi melawan orang-orang yang sedang tidur,” sahut Gupala.

Gupita mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Memang kita tidak perlu membunuhnya. Kita dapat membuat mereka pingsan. Mereka tidak akan banyak berarti lagi. Sebentar lagi kita sudah akan berada di dalam gelar, dan bertempur beradu dada. Seandainya mereka kemudian sadar, mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi.”

“Bodoh. Terlalu bodoh,” bantah Wrahasta. “Aku sependapat dengan kau tentang cara yang akan kita pakai untuk membungkam setiap gardu di depan kita. Tetapi tidak begitu cengeng seperti yang kau maksudkan.”

Gupita tidak menjawab. Tetapi sekali lagi ia mendengar Gupala berbisik di telinganya, “Kau memang aneh, Kakang.”

Gupita menarik nafas dalam-dalam. Tidak hanya satu-dua kali adik seperguruannya itu membisikkan kalimat-kalimat itu.

“Baiklah, kita akan maju lagi. Semua orang ikut bersama kami. Setelah tugas kami di dalam padesan ini selesai, barulah kita akan memberi laporan terakhir kepada pasukan induk.”

Setelah meletakkan mayat seorang kawannya di dalam gardu, maka pasukan kecil itu berjalan lagi. Tiga orang yang terluka telah mendapat pertolongan sementara. Tetapi ternyata bahwa luka itu tidak terlampau berat, sehingga mereka masih mungkin untuk bertempur.

Demikianlah ketika mereka mendekati gardu kedua di dalam padesan itu, mereka tidak lagi membiarkan Wrahasta tenggelam di dalam arus kebanggaannya yang berlebih-lebihan. Kelompok itu pun kemudian merayap dengan hati-hati mendekat. Seorang petugas sandi harus berusaha mengetahui dan mencoba untuk menilai kekuatan lawan.

“Paling sedikit mereka berjumlah lima belas orang,” seorang petugas sandi menyampaikan hasil pengamatannya kepada Wrahasta.

Wrahasta mengerutkan keningnya. Jumlah mereka kini sudah berkurang pula karena sudah ada beberapa orang yang terluka.

“Tetapi tugas ini harus kita laksanakan,” geramnya.

“Kita harus menyergap dengan tiba-tiba,” desis Gupala, “Kali ini kita tidak boleh bermain-main.”

Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya, “Marilah, kita mendekat.”

Dengan sangat hati-hati kelompok itu pun maju mendekat. Sebagian dari para penjaga itu justru berada di luar regol. Mereka duduk-duduk di atas batu yang berserakan di tikungan jalan.

“Jangan beri kesempatan mereka mencabut senjata mereka,” desis Wrahasta.

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini keningnya pun telah mulai berkerut-merut. Ia tidak akan dapat terlampau banyak berpikir lagi untuk menghindari kemungkinan, bahwa senjatanya pun akan terhunjam di dada lawan. Apalagi kini ternyata bahwa jumlah lawan agak lebih banyak, meskipun tidak berselisih terlalu jauh.

Sejenak kemudian Wrahasta diam dalam ketegangan. Seakan-akan memberi kesempatan kepada orang-orangnya untuk membuat ancang-ancang. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam, kemudian ia mengangkat tangannya perlahan-lahan.

Setiap orang di dalam kelompok kecil itu memperhatikan tangan itu dengan seksama. Apabila tangan itu kemudian tegak, maka setiap orang segera mempersiapkan dirinya.

Wrahasta tidak menunggu lebih lama lagi. Sebelum salah seorang penjaga di gardu itu melihat tangannya, maka tangannya tiba-tiba telah diayunkannya.

Demikian tangan itu bergerak, maka seperti digerakkan oleh satu tenaga gaib, orang-orang di dalam kelompok kecil itu meloncat dari persembunyian mereka. Satu-dua orang yang tidak dapat menahan ketegangan di dalam dadanya, tanpa disadari telah menggeram sambil menghentakkan dirinya.

Orang-orang yang sedang duduk di tikungan, yang sedang berada di dalam gardu dan yang sedang berjalan hilir-mudik di muka regol, terkejut bukan kepalang. Namun mereka adalah orang-orang yang terlatih seperti para pengawal itu. Bahkan ada di antara mereka yang dahulu memang seorang pengawal, ditambah dengan orang-orang yang cukup berpengalaman dalam petualangan bersenjata.

Karena itu, maka dengan gerak naluriah, mereka pun berloncatan sambil mencabut senjata-senjata mereka.

Hanya Gupala dan Gupita sajalah yang sempat mencapai lawannya sebelum lawannya menarik senjata mereka. Gupala dengan serta-merta telah membelah dada lawannya, sedang pedang Gupita melukai pundak kanan. Orang itu terdorong surut, namun kemudian sebuah pukulan mengenai punggungnya. Meskipun ia menyadari bahwa lawannya hanya bersenjata pedang, namun ia tidak merasa punggungnya menganga karenanya.

Ternyata Gupita telah memukul punggung orang yang terluka itu dengan punggung pedangnya. Ia melihat lawannya itu terhuyung-huyung, kemudian jatuh terjerembab. Sejenak orang itu mencoba merangkak, namun kemudian perasaan sakit yang tidak tertahankan lagi telah menjalari tulang-tulangnya. Bintang di langit yang bertaburan itu serasa menjadi berputaran. Dan sesaat kemudian maka ia pun terjatuh kembali. Pingsan.

Barulah sekejap kemudian kawan-kawannya menyusul. Mereka menyerbu seperti badai melanda tebing. Tetapi lawan-lawan mereka pun bukan sebuah patung kayu. Untuk mendapat kesempatan mencabut senjata, mereka berloncatan mundur beberapa langkah. Kemudian dengan senjata di tangan, mereka menyongsong lawan-lawan mereka.

Sejenak kemudian terjadilah pertempuran yang seru. Gupala dan Gupita segera menempatkan diri mereka di sekitar gardu, agar tidak seorang pun dari lawan yang sempat memukul tanda bahaya.

Pemimpin penjaga itu marah bukan buatan. Serangan yang tiba-tiba itu benar-benar telah mengejutkan mereka. Dua orang di antara mereka telah jatuh tanpa perlawanan sama sekali. Karena itu, maka yang masih hidup merasa wajib untuk menuntut balas.

Dengan demikian, maka tandang mereka pun menjadi garang. Bahkan ada beberapa orang di antara mereka menjadi buas dan liar.

Ternyata pekerjaan kelompok kecil itu kini terasa terlampau berat. Mereka tidak sekedar menusuk perut dan lambung orang yang sedang tidur dan setengah tidur. Kini mereka harus bertempur, melawan orang-orang yang cukup kuat dan tangguh. Bahkan dalam pertempuran yang singkat, segera tampak, bahwa ada beberapa orang pengawal yang mengalami kesulitan melawan orang-orang yang menjadi buas dan kasar.

Gupita dan Gupala segera melihat kesulitan yang dialami oleh pasukan kecil itu. Di dalam hati Gupala bersyukur, bahwa pasukan ini tidak lagi datang dengan cara yang baru saja mereka pergunakan. Jika demikan, maka perlawanan ini akan menjadi terlampau berat bagi Wrahasta dan pasukannya.

Kini tidak ada pilihan lain bagi keduanya untuk bertempur dengan sepenuh tenaga. Mereka harus mengurangi lawan secepat-cepat dapat mereka lakukan. Jika mereka terlambat, maka korban akan berjatuhan di pihaknya.

Dengan demikian, maka mereka tidak dapat lagi menempatkan diri mereka seperti para pengawal yang lain. Mereka harus berbuat sejauh-jauh dapat mereka lakukan, meskipun dalam ungkapan terdapat beberapa perbedaan antara keduanya.

Gupala dengan garangnya kemudian memutar pedangnya. Setiap sentuhan dengan pedangnya itu, berarti bahwa lawannya telah kehilangan senjatanya. Akibat berikutnya tidak akan dapat mereka hindari lagi. Pedang Gupala segera menembus dada.

Di bagian lain dari pertempuran itu, Gupita telah melumpuhkan lawan-lawannya. Tidak dapat lagi ia menghindari kemungkinan yang paling parah bagi lawannya apabila pedangnya terpaksa menyentuh leher dan dada.

Pertempuran kali ini telah benar-benar menitikkan keringat dan darah. Dengan nafas terengah-engah Wrahasta berhasil menyelesaikan lawannya. Kemudian ia melihat orang terakhir yang mencoba melarikan dirinya telah terbunuh oleh Gupala.

Namun ia tidak dapat menahan kemarahan yang meluap-luap sehingga terdengar giginya gemeretak. Setelah pertempuran itu selesai, maka segera Wrahasta mengetahui, bahwa tiga orang kawannya telah terbunuh.

“Gila. Benar-benar gila. Tiga orang lagi telah terbunuh, sehingga korban dari tugas ini menjadi terlampau banyak. Empat orang mati dan sejumlah yang lain luka-luka.”

“Dan kita masih belum selesai,” desis Gupala.

Wrahasta menarik nafas dalam-dalam. Kini ia tidak dapat mengingkari kenyataan. Kedua anak-anak muda itulah yang sebenarnya telah mengambil peranan. Bukan dirinya. Tanpa kedua anak-anak muda yang mengaku diri mereka gembala itu, Wrahasta tidak dapat menyebutkan, apa yang telah terjadi dengan pasukan kecilnya ini.

“Jadi,” kini Wrahastalah yang bertanya, “apakah kita akan melanjutkan tugas ini?”

Gupita terdiam sejenak. Dipandanginya setiap orang di dalam kelompok itu. Tiga orang lagi kini terbujur diam, sedang beberapa orang yang lain telah terluka. Bahkan ada yang tidak akan mampu lagi bertempur sewajarnya.

“Tinggal tujuh orang yang masih utuh,” desis Gupita di dalam hatinya.

Gupala yang berdiri beberapa langkah daripadanya pun menjadi ragu-ragu pula. Meskipun anak muda itu jarang sekali membuat pertimbangan-pertimbangan, tetapi kali ini ia melihat suatu kenyataan bahwa pasukan kecil ini sudah tidak memiliki kemampuan seperti yang diharapkan.

“Tetapi tanpa perambas jalan, maka korban di induk pasukan akan berlipat-lipat,” desis Gupala di dalam hatinya.

Sejenak kemudian Gupita menarik nafas. Katanya, “Terserah pertimbanganmu Wrahasta. Kekuatan kita tinggal tujuh orang. Beberapa orang yang terluka masih mungkin untuk sekedar membantu. Tetapi bagi mereka yang hampir tidak lagi mampu menggerakkan tangannya, sudah tentu, sebaiknya mereka tidak ikut bertempur, supaya mereka tidak menjadi korban di gardu berikutnya.”

Wrahasta memandang anak buahnya dengan tajamnya. Kemudian dengan nada berat ia bertanya, “Nah, bagaimana pendapat kalian. Kalau kita meneruskan tugas ini, kalian harus menyadari bahwa sebagian dari kita tidak akan keluar lagi dari pertempuran itu. Kita tidak tahu siapakah yang akan menjadi korban berikutnya. Namun setiap kalian masing-masing mendapat kemungkinan yang sama.”

Tidak seorang pun yang menjawab.

“Kita sebaiknya melanjutkan tugas ini,” desis Gupala.

Wrahasta mengangguk. “Ya, itu adalah tindakan yang paling tepat. Siapa yang menyadari kemungkinan akan dirinya, ikut aku. Aku akan berjalan terus. Siapa yang berkeberatan, lebih baik kembali bersama induk pasukan.”

Orang-orang itu masih mematung.

“Nah, siapakah yang berkeberatan?”

Tidak seorang pun yang menjawab.

“Terima kasih,” geram Wrahasta, “semua akan pergi bersamaku. Meskipun demikian, mereka yang terluka aku persilahkan menghubungi pasukan induk. Sampaikan kepada Ki Samekta semua kemungkinan. Kalau kami gagal di gardu terakhir, mereka harus segera maju secepat-cepatnya. Kalau kami tidak berhasil membinasakan orang-orang di dalam gardu itu, maka tanda bahaya akan segera berbunyi. Dengan demikian berarti, bahwa pasukan Ki Tambak Wedi masih mempunyai kesempatan untuk mempersiapkan diri, meskipun kesempatan itu teramat pendek, karena pasukan induk kini pasti sudah menjadi semakin dekat pula. Tetapi agaknya akan lebih baik, apabila mereka sama sekali tidak menyadari bahwa pasukan Menoreh telah berada di dalam lingkungan mereka.”

Meskipun demikian di antara yang terluka itu ada yang menjawab, “Aku akan ikut bertempur.”

Wrahasta menarik nafas. Jawabnya, “Terima kasih. Tetapi yang cukup parah, aku terpaksa melarang. Kalian harus kembali ke induk pasukan. Kalian harus memberitahukan bahwa mereka harus maju lebih cepat untuk menjaga segala kemungkinan.”

Mereka yang memang sudah tidak mungkin lagi untuk maju, menganggukkan kepala mereka. Meskipun mereka telah terluka, tetapi mereka memang tidak seharusnya membunuh diri. Karena itu, maka setelah mendapat perawatan sementara, mereka pun segera mundur ke induk pasukan.

Kini tujuh orang yang masih utuh dan dua orang yang telah terluka ringan, meneruskan perjalanan mereka. Masih ada sebuah gardu lagi sebelum mereka sampai ke bulak pendek di seberang padesan itu. Di bulak pendek itulah nanti, pasukan Menoreh akan memasang gelar untuk memasuki padukuhan induk. Dan gelar itu pun akan segera berubah bentuknya, apabila pasukan Ki Tambak Wedi tidak menyongsong mereka di luar padukuhan.

Dengan sangat hati-hati, mereka merayap mendekati gardu terakhir. Mereka sudah menduga bahwa gardu ini pun pasti dijaga dengan baik oleh orang-orang Ki Tambak Wedi.

Dugaan mereka ternyata tidak meleset. Seorang petugas di antara mereka yang berhasil mendekat melaporkan kepada Wrahasta. “Mereka kira-kira berjumlah dua belas atau tiga belas orang.”

Wrahasta menarik nafas dalam-dalam. Orangnya kini tinggal berjumlah sembilan orang, termasuk dirinya sendiri.

Dengan penuh kebimbangan Wrahasta memandang Gupita dan Gupala berganti-ganti. Sejenak kemudian ia bertanya, “Bagaimanakah pertimbangan kalian?”

Yang menjawab adalah Gupala, “Kita sudah berada di muka hidung mereka. Kenapa kau masih ragu-ragu.”

Wrahasta mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah Gupala sejenak. Kemudian beralih kepada Gupita.

“Baiklah kita selesaikan tugas kita,” desis Gupita pula. “Kita harus berjuang mati-matian. Mungkin di dalam gardu itu masih ada satu dua orang yang lepas dari pengamatan. Itu pun harus kita perhitungkan, sehingga sedikitnya setiap orang dari kita harus menghadapi dua orang sekaligus. Karena itu kita harus lebih berhati-hati. Kita akan merayap sedekat mungkin sehingga kita akan dapat menerkam mereka dengan tiba-tiba tanpa memberi kesempatan sama sekali.”

Wrahasta menganggukkan kepalanya.

Demikianlah maka kesembilan orang itu segera merayap. Kini mereka memencar menjadi tiga kelompok. Sekelompok dipimpin langsung oleh Wrahasta, sekelompok Gupita, dan sekelompok yang lain dipimpin oleh Gupala.

Kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari masing-masing tiga orang itu merayap semakin dekat. Mereka memilih arah yang berbeda untuk membangkitkan kebingungan di pihak lawan yang jumlahnya agak lebih banyak. Wrahasta dan Gupala harus mendahului menyerang, sedang dalam kegugupan, Gupita akan memanfaatkan keadaan masing-masing bersama kedua kawan-kawan mereka di setiap kelompok kecil itu.

Semakin dekat kelompok-kelompok kecil itu ke depan para penjaga, dada mereka menjadi semakin berdebar-debar. Tugas ini adalah tugas yang sangat berat bagi mereka.

Beberapa langkah di hadapan gardu itu, Wrahasta dan kelompok-kelompok yang lain pun berhenti. Mereka bersembunyi di balik gerumbu1-gerumbul liar dan tanaman-tanaman di sawah. Gupita yang menyusur dinding batu segera membawa kedua kawannya meloncat masuk.

Kini para pengawal itu dapat melihat para penjaga yang duduk dengan tenangnya di dalam dan di sisi gardu. Mereka tidak terkantuk-kantuk, tidak bergurau dan berbantah. Tetapi terasa bahwa orang-orang di dalam gardu itu sedang merenungi masing-masing dengan penuh tanggung jawab.

Setiap orang yang berada di dalam kelompok-kelompok kecil itu menjadi berdebar-debar. Tugas mereka benar-benar berat. Mereka harus berhadapan dengan sepasukan penjaga yang tangguh. Bahkan jumlahnya pun agak lebih banyak dari sembilan orang, sedang yang dua di antaranya telah terluka meskipun tidak terlampau parah.

Wrahasta mencoba mengatur pernafasannya. Dipandanginya arah Gupala bersembunyi bersama kedua kawannya, kemudian ditatapnya mulut lorong itu tajam-tajam.

Sejenak kemudian Wrahasta itu menyiapkan dirinya. Diberinya kedua kawan-kawannya itu isyarat, agar mereka siap untuk meloncat. Dan sejenak kemudian terdengar suara raksasa itu membelah langit. “Sekarang. Binasakan mereka.”

Setiap orang di dalam gardu itu terkejut. Dengan gerak naluriah mereka berloncatan menghadapi ketiga orang yang tiba-tiba saja telah menyerang mereka.

Tetapi Wrahasta kini sama sekali tidak berkesempatan untuk menusukkan senjatanya begitu saja. Seorang penjaga yang sedang bertugas benar-benar telah siap menghadapi segala kemungkinan. Karena itu ketika dilihatnya ketiga orang yang berloncatan itu, tombaknya segera merunduk dan menyongsongnya.

Wrahasta segera menyerang orang yang bersenjata tombak itu dengan garangnya, sedang kedua orang kawannya yang lain dengan serta-merta menyerbu orang itu pula. Kesempatan yang hanya sekedjap itu ternyata dapat mereka pergunakan sebaik-baiknya. Sebelum para penjaga yang lain sempat mencapai penjaga yang sedang bertugas itu, Wrahasta dengan kedua kawan-kawannya telah berhasil menembus lambungnya dengan pedang.

Para penjaga yang lain pun berteriak marah sekali. Dengan penuh kemarahan mereka berlari menyerang Wrahasta dengan kedua kawannya.

Tetapi tanpa mereka duga-duga, Gupala meloncat seperti tatit menyerang salah seorang dari mereka. Begitu tiba-tiba, sehingga kedua kawannya yang meloncat bersamanya tertinggal beberapa langkah.

Beberapa orang tertegun melihat kedatangan ketiga orang dari arah yang lain ini. Tetapi mereka tidak mendapat kesempatan. Agaknya dalam keadaan yang gawat, Gupala tidak lagi menggenggam pedang di tangan kanannya. Seperti yang dikatakannya, pedang itu dipegangnya dengan tangan kiri, dan tangan kanannya memegang senjata ciri perguruannya. Sebuah cambuk panjang.

“Orang-orang di seberang bulak itu tidak akan mendengar suara cambuk ini asal aku tidak meledakkannya dengan sepenuh kekuatan tanpa sasaran,” berkata Gupala di dalam hatinya. “Apabila ujung-ujung cambuk ini menyentuh seseorang, maka suaranya tidak akan mengganggu.”

Dan ternyata serangan cambuk Gupala itu telah mengejutkan lawannya. Dengan gerakan sendal pancing, maka pada serangan pertama Gupala telah berhasil melemparkan seorang lawan. Namun kali ini anak yang gemuk itu tidak sempat memperhatikannya, apakah lawannya itu dengan demikian telah terbunuh.

Dengan segera Gupala telah menyerang orang kedua yang dengan susah payah mencoba menghindarinya. Namun bagaimanapun juga punggungnya serasa disengat oleh puluhan lebah. Terdengar ia berdesis menahan sakit. Namun dengan demikian, matanya segera menjadi merah karena kemarahan yang tidak ada taranya.

Dalam kekisruhan itulah Gupita hadir bersama kedua kawan-kawannya justru dari dalam regol, sehingga untuk sejenak, para penjaga regol itu menjadi bingung. Namun karena pengalaman mereka, maka mereka pun segera berhasil memperbaiki keadaan mereka dan mengatur diri dalam perlawanan yang teratur.

Meskipun di saat-saat permulaan itu, beberapa orang telah terbunuh, namun ternyata jumlah mereka masih lebih banyak dari jumlah pasukan kecil yang tinggal sembilan orang itu.

Namun ternyata bahwa senjata Gupala yang lentur dan agak panjang itu, sangat membantunya untuk menghadapi dua tiga orang sekaligus, meskipun setiap sentuhan senjata itu akibatnya agak berbeda dengan akibat sentuhan ujung pedang. Tetapi dengan demikian, maka senjata itu segera dapat mengurangi kemampuan lawan.

Gupita agaknya sependapat pula dengan adik seperguruannya. Maka setelah mengambil ancang-ancang sejenak, ia pun segera mengurai senjatanya yang dibelitkannya di lambung, di bawah bajunya.

Dengan demikian, maka sepasang cambuk panjang itu telah sangat membingungkan lawan-lawannya. Tanpa mereka sangka-sangka, tiba-tiba saja leher mereka telah disengat oleh ujung cambuk yang mampu menyayat kulit.

Sejenak kemudian, maka perkelahian itu menjadi semakin seru dan kasar. Dengan pedangnya Wrahasta mengamuk seperti harimau luka. Kawan-kawannya pun berusaha sekuat-kuat tenaga untuk melawan jumlah yang lebih banyak itu.

Namun agaknya Gupita dan Gupala-lah yang sangat menarik perhatian lawan-lawan mereka, sehingga dengan demikan maka sebagian dari mereka telah berkerumun di sekitar kedua anak-anak muda itu untuk menahan agar keduanya tidak menimbulkan korban yang semakin banyak.

Untuk menghadapi mereka, Gupita dan Gupala tidak lagi sempat bermain-main. Kini mereka bertempur, sebenarnya bertempur.

Namun keduanya memang memiliki banyak kelebihan dari anak-anak muda kebanyakan. Meskipun tiga orang melawannya sekaligus, namun kedua anak-anak muda itu tidak terlampau banyak mengalami kesulitan. Dengan mengerahkan kemampuan mereka, maka mereka segera berhasil mengatasi lawan-lawannya. Yang harus mereka lakukan adalah segera membinasakan lawan. Secepat-cepatnya supaya mereka masih mempunyai waktu untuk menolong kawan-kawannya.

Demikianlah maka pertempuran kecil itu segera mencapai puncaknya. Adalah menguntungkan sekali bahwa para penjaga itu telah memusatkan perhatian mereka kepada Gupita dan Gupala. Dengan demikian maka kawan-kawannya yang lain mendapat kesempatan untuk menghadapi lawan seorang dengan seorang.

Meskipun demikian ternyata bahwa penjaga itu bukan orang-orang yang dapat dengan mudah mereka kuasai. Bahkan ada di antara mereka yang segera dapat mendesak para pengawal.

Lawan Wrahasta pun ternyata bukan seorang yang dapat diremehkan. Raksasa itu terpaksa memeras segenap kemampuannya untuk melawan. Meskipun mereka telah bertempur beberapa lama, namun belum ada tanda-tanda bahwa Wrahasta segera dapat menguasainya.

Yang selalu mendapat perhatian dari para pengawal, bagaimanapun juga mereka dalam kesibukan mempertahankan diri, adalah kemungkinan para penjaga itu membunyikan tanda-tanda. Karena itu maka para pengawal termasuk Gupita dan Gupala selalu berusaha, agar tidak seorang pun yang berkesempatan menyentuh kentongan atau tanda-tanda yang lain.

Ternyata Gupita dan Gupala memang anak-anak muda yang pilih tanding. Sejenak kemudian lawan-lawan mereka sama sekali sudah tidak berdaya. Ketika ujung cambuk Gupala menyambar leher seorang lawan, maka dengan sekuat tenaga cambuk itu dihentakkannya, sehingga orang itu terdorong ke depan. Belum lagi ia dapat menguasai keseimbangannya, maka pedang di tangan kiri Gupala telah membenam di perutnya. Ketika Gupala menarik pedangnya, maka orang itu pun segera terjerambab. Mati.

Kawan-kawan orang yang mati itu tertegun sejenak. Mereka benar-benar menjadi ngeri melihat ujung cambuk Gupala yang seolah-olah mempunyai mata. Meskipun di antara mereka terdapat orang-orang liar, namun mereka belum pernah melihat seseorang yang mampu berkelahi dengan cara itu.

Di bagian lain, Gupita pun segera menguasai lawan-lawannya. Setiap kali salah seorang lawannya terlempar dari gelanggang sambil menyeringai kesakitan. Dan setiap mereka berusaha untuk bangkit dan mendekat, maka ujung cambuk itu pun telah menyengatnya pula.

Ternyata ujung-ujung cambuk itu mempunyai kemampuan yang luar biasa. Ketika Gupita menghentakkan cambuknya, terasa cambuk itu seperti remasan besi pada lengan seorang lawannya. Tanpa dapat bertahan lagi, maka tangan itu menjadi lumpuh dan senjata di dalam genggamannya pun kemudian terjatuh di tanah. Ketika cambuk itu disentakkan, maka seakan-akan tangan itu telah ditarik oleh kekuatan yang tidak terlawan, sehingga orang itu terpelanting dan jatuh terbanting di tanah. Sebuah batu yang menyentuh bagian belakang kepalanya telah membuatnya terpejam untuk waktu yang tidak dapat diperhitungkan.

Demikianlah kedua anak-anak muda itu telah berhasil menjatuhkan lawannya seorang demi seorang. Dengan demikian, ketika lawan-lawan mereka telah habis, mereka pun segera berusaha membantu kawan-kawannya yang masih bertempur dengan gigihnya.

Meskipun tugas kelompok kecil itu menjadi semakin berat di dalam pertempuran di gardu terakhir ini, namun karena Gupita dan Gupala telah mempergunakan hampir segenap kekuatannya, maka tugas mereka terasa agak lebih cepat selesai.

Para penjaga itu seorang demi seorang berjatuhan di tanah. Dan tidak seorang pun di antara mereka yang berhasil untuk bangkit kembali. Meskipun demikian Wrahasta terpaksa menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dari sembilan orang yang terakhir itu telah pula jatuh tiga orang gugur, dan hampir semuanya, selain Gupita dan Gupala, terluka. Bahkan Wrahasta sendiri juga terluka di pahanya, ketika tombak lawannya yang mengarah ke dada berhasil disentuh dengan pedangnya. Namun ternyata ujung tombak itu masih juga mengenainya.

“Ternyata kita telah menyelesaikan tugas kita dengan korban yang terlampau banyak,” desis Wrahasta.

Gupita dan Gupala menarik nafas dalam-dalam. Sejenak mereka merenungi ketiga orang yang telah jatuh sebagai banten.

“Tetapi pengorbanan mereka tidak akan sia-sia,” Wrahasta meneruskan. “Adalah wajar setiap orang yang memasuki pertempuran mendapat kemungkinan serupa itu. Aku pun juga.”

Gupita dan Gupala masih tetap berdiam dri.

“Nah, siapakah di antara kalian yang masih sanggup untuk menghubungi pasukan induk?” bertanya Wrahasta. Ia tidak sampai hati untuk memberikan perintah begitu saja kepada orang-orangnya yang telah terluka itu.

Dan tiba-tiba saja Gupita menyahut, “Biarlah aku pergi ke induk pasukan.”

“Bukan, bukan kau,” jawab Wrahasta dengan serta-merta. “Aku tidak berwenang memerintah kau. Kau adalah orang-orang yang dengan sukarela telah membantu kami.”

“Aku akan pergi dengan suka rela pula”

Wrahasta menarik nafas dalam-dalam. Dipandangnya Gupita dengan seksama. Pandangannya terhadap anak muda itu kini berubah sama sekali. Namun dengan demikan, maka seakan-akan ia telah kehilangan harapan untuk bersaing dengan salah seorang dari kedua gembala yang penuh dengan teka-teki itu. Bersaing untuk mendapatkan Pandan Wangi.

“Apakah keberatanmu kalau aku melakukannya?” bertanya Gupita.

“Aku tidak mempunyai keberatan apa pun. Tetapi kau sudah cukup banyak memberikan jasa kepada kami.”

Gupita menarik nafas dalam-dalam. Kemudian kepada Gupala ia berkata, “Kau tetap di sini. Aku akan menghubungi pasukan induk agar mereka mempercepat perjalanan. Pintu sudah terbuka, dan kita akan segera memasang gelar di hadapan hidung Ki Tambak Wedi.”

Gupala mengangguk. Jawabnya, “Baiklah. Aku akan menunggu di sini.”

Gupita pun kemudian meninggalkan kelompok yang sudah menjadi semakin kecil itu menghubungi induk pasukan untuk melaporkan apa yang telah terjadi.

Dengan tergesa-gesa ia berjalan melalui jalan yang baru saja dilewatinya, dengan arah yang berlawanan. Ia ingin segera sampai, dengan demikian pasukan induk itu akan maju semakin cepat. Agaknya malam telah menjadi semakin dalam, dan kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat timbul dengan tiba-tiba.

Namun setiap kali Gupita menjadi berdebar-debar. Apalagi apabila ia sedang melalui gardu yang pernah dihancurkannya. Ia masih melihat beberapa sosok mayat yang berserakan.

“Korban masih akan berjatuhan,” desisnya, “dan mayat pun akan bertambah-tambah. Besok tanah perdikan ini akan meratap, karena anak-anaknya yang terbaik telah saling membunuh di peperangan.”

Tetapi Gupita tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa selama manusia masih dikendalikan oleh nafsunya, maka benturan kepentingan di antara mereka pasti masih akan terjadi. Betapa pendeknya nalar manusia. Apabila mereka menemui kesulitan untuk mencari jalan penyelesaian, maka keunggulan jasmaniah akan menjadi ukuran untuk menentukan kebenaran.

Yang menang akan menjadi kebanggaan, dan yang kalah menjadi pangewan-ewan. Hal itu dapat terjadi timbal-balik tanpa menghiraukan tuntutan nurani kemanusiaan.

Gupita menarik nafas dalam-dalam. Terbayang di wajahnya dua orang yang kini sedang beradu kepentingan. Kalau Argapati menang, maka ia adalah pahlawan yang telah menyelamatkan tanah perdikan ini, namun apabila Ki Tambak Wedi menang, maka pengikutnya akan meneriakkan kidung kemenangannya itu sebagai seorang yang telah membebaskan tamah perdikan ini dan membawa udara pembaharuan.

“Tetapi betapa dalamnya, namun di dasar hati mereka pasti terpercik kebenaran yang diakui oleh peradaban manusia masa kini,” berkata Gupita di dalam hatinya. “Mereka akan berbicara tentang hak dan tentang keadilan.”

Gupita mengerutkan lehernya ketika terasa angin malam yang dingin menyapu kulitnya. Kemudian langkahnya pun menjadi semakin cepat.

Sementara itu, Gupala, Wrahasta, dan kawan-kawannya yang masih hidup meskipun terluka, duduk di bibir gardu sekedar melepaskan ketegangan hati. Namun dalam pada itu, Gupala pun kemudian merebahkan dirinya sambil bergumam, “Kalau aku tertidur, jangan tinggalkan aku di sini.”

Wrahasta menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Bukan main orang ini,” berkata Wrahasta di dalam hatinya. “Perang yang telah membayang di pelupuk, bagi anak yang gemuk itu, seolah-olah hanya sekedar permainan kejar-kejaran saja.”

Tetapi Wrahasta tidak mengatakannya. Dibiarkan saja Gupala terbaring diam. Sejenak kemudian nafasnya pun menjadi teratur. Dan matanya pun segera terpejam.

Tetapi telinga Gupala memang telinga yang luar biasa. Meskipun ia tertidur tetapi ia pun segera terbangun ketika ia mendengar derap suara kaki-kaki kuda yang semakin lama menjadi semakin dekat. Dua ekor kuda.

Dengan sigapnya Gupala meloncat turun justru mendahului mereka yang tidak tertidur. Dengan berdiri tegang ia memandang ke dalam kelamnya malam. Sambil menunjuk ia berdesis, “Kuda itu datang dari sana. Dari padukuhan induk.”

Wrahasta dan kawan-kawannya yang kemudian menyusul turun dari gardu menjadi tegang pula. “Ya. Suara itu datang dari sana.”

Sementara itu dua orang sedang berpacu di atas punggung kuda. Namun dinginnya malam agaknya telah membuat mereka tidak begitu bernafsu untuk berpacu lebih cepat lagi.

“Barangkali Sidanti sedang diganggu oleh mimpi buruk,” desis yang seorang.

Yang lain tertawa. Katanya, “Apa salahnya kita berhati-hati. Ada dua kemungkinan, Sidanti bermimpi buruk karena ketegangan yang mencengkam kepalanya, atau telinga kita memang sudah terganggu.”

“Kalau terjadi sesuatu, mereka pasti akan memberikan tanda apa pun.”

“Kecuali kalau mereka sudah berhasil menyelesaikan masalah itu sendiri.”

“Sebenarnya kita tidak perlu pergi. Malam dinginnya bukan main. Lebih baik tidur melingkar di gardu.”

“Tetapi telinga Sidanti yang sedang nganglang di pinggir padukuhan induk itu agaknya memang mendengar ledakan cambuk.”

Kawannya tertawa dan berkata, “Sekali lagi aku menganggapnya, Sidanti diganggu oleh mimpi buruk.”

Keduanya kemudian terdiam. Kuda-kuda mereka masih berlari terus menuju ke desa yang semakin dekat, seolah-olah muncul dari dalam kabut yang hitam.

“Sepi,” desis yang seorang.

“Tetapi di gardu itu terdapat orang-orang yang cukup matang. Mereka tidak akan tertidur.”

Kawannya tidak menjawab. Tetapi kepalanya terangguk-angguk.

Ketika mereka telah menjadi semakin dekat, timbullah kecurigaan di hati kedua orang itu. Mulut lorong itu terasa terlampau sepi. Bahkan ketika mereka menjadi semakin dekat lagi, mereka sama sekali tidak mendengar suara apa pun dari dalam gardu itu.

“Aneh,” bisik yang seorang.

“Marilah kita lihat.”

Keduanya menjadi semakin dekat. Dan tiba-tiba saja yang seorang telah menarik pedangnya dengan serta-merta sambil bergumam, “Hati-hati.”

Yang lain pun segera bersiap. Dengan sigapnya pula dalam sekejap pedangnya telah berada di tangan.

Tenyata mereka telah melihat mayat yang terbujur di tanah.

“Mereka telah mati,” desis salah seorang dari mereka. “Nah, kau lihat bahwa Sidanti tidak sedang bermimpi buruk? Ternyata memang telinga kitalah yang tuli.”

“Sekarang bagaimana?”

“Kita bunyikan tanda bahaya.”

Kawannya menganggukkan kepalanya. Keduanya pun segera mendekati gardu dengan hati-hati. Pedang-pedang mereka telah siap di tangan.

Tetapi mereka tertegun karena di gardu itu sama sekali tidak terdapat sebuah kentongan pun.

Sejenak kedua orang itu saling berpandangan. Kemudian tanpa berjanji mereka berusaha mencari, di manakah kentongan yang biasanya tergantung di sudut gardu. Namun mereka sama sekah tidak menemukannya.

“Gila,” desis salah seorang dari mereka. “Agaknya orang-orang yang dengan licik menyerang gardu ini telah pergi sambil melenyapkan semua alat dan kemungkinan untuk memberikan tanda-tanda.”

“Tetapi induk pasukan harus segera mengetahui. Ternyata pendengaran Sidanti sangat mengagumkan. Jika demikian maka di antara para penyerang terdapat orang-orang yang bersenjata cambuk itu.”

“Kita harus menemukan jejaknya.”

“Terlampau berbahaya. Mereka pasti datang dengan kekuatan yang cukup. Lihat, seluruh isi gardu ini terbunuh. Tidak seorang pun yang dapat melepaskan diri, dan mereka sama sekali tidak sempat membunyikan tanda bahaya.”

“Kalau begitu?”

“Kita kembali. Kita laporkan semuanya kepada Sidanti.”

“Ya. Begitulah.”

Tetapi sebelum kuda-kuda mereka bergerak, mereka telah di kejutkan oleh suatu suara, “He, bukankah kalian bernama Kirti dan Juki?”

Kedua orang berkuda itu terkejut. Suara itu telah menyebut nama mereka dengan tepat. Tetapi mereka sama sekali belum melihat dari manakah arah suara itu.

Dalam kebingungan mereka mendengar suara dari suatu arah, “Kirti dan Juki, kenapa kau menjadi bingung?”

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Kirti menggeretakkan giginya sambil berteriak, “He, setan alas! Ayo, keluar dari persembunyianmu.”

Tetapi terdengar suara yang lain lagi, “Jangan marah Kirti. Kau akan menjadi terlampau cepat tua.”

Keduanya menjadi semakin bingung. Suara itu seperti berputar-putar dari segala arah. Tetapi keduanya bukan penakut yang segera kehilangan akal. Karena suara yang mereka dengar juga selalu berubah, maka keduanya segera mengambil kesimpulan bahwa yang ada di sekitarnya pasti bukan hanya satu dua orang.

Sejenak mereka saling berpandangan. Namun sejenak kemudian Kirti berdesis, “Tidak ada gunanya untuk melawan. Kita harus melaporkannya.”

Juki menganggukkan kepalanya. Karena itu, maka mereka segera menggerakkan kendali kuda mereka sehingga kuda-kuda itu pun segera meloncat meninggalkan tempat itu.

Namun kuda-kuda itu segera terkejut. Keduanya meringkik dan berdiri pada kedua kaki belakang, ketika tiba-tiba saja sebuah cambuk telah melibat kaki-kaki mereka.

Hampir saja penunggangnya terpelanting. Hanya karena keprigelan mereka sajalah maka mereka tidak terlempar. Namun tanpa mereka sangka-sangka, sebuah kekuatan yang besar telah menghentakkan tangan mereka, dan menyeretnya jatuh ke tanah hampir berbareng.

Dengan sigapnya mereka berloncatan. Segera mereka berhasil berdiri di atas kedua kaki masing-masing. Sedang pedang mereka masih tetap di dalam genggaman.

“Siapa kalian setan?” bertanya Juki.

Yang berdiri di hadapan keduanya adalah seorang anak muda yang gemuk. Sambil tertawa ia berkata, “Kalian harus tetap berada di sini.”

“Siapa kau?”

“Kami telah terpaksa membunuh orang-orang yang sedang berada di dalam gardu. Terpaksa. Tetapi tidak terhadap kalian, karena kami mempunyai banyak kesempatan untuk berbuat lain. Apalagi kalau kakakku tahu, bahwa aku telah membunuh kelinci, maka aku pasti akan dimarahi. Nah, karena itu, tinggallah kalian di dalam gardu ini. Sebagai bukti ketaatan kami kepada kakakku, maka kalian akan kami ikat dan kami tunjukkan kepadanya, bahwa kami hanya membunuh apabila terpaksa. Terpaksa sekali. Dan bahkan ia, maksudku kakakku itu, pasti telah melakukan pembunuhan pula selama pertempuran berlangsung. Sengaja atau tidak sengaja.”

Kedua orang itu menggeretakkan giginya. Ketika sekilas mereka memandangi kuda-kuda mereka, maka kuda-kuda itu telah lari dan hilang di dalam kelamnya malam.

“Jangan melawan.”

“Persetan dengan kau!” teriak Kirti. “Kaulah yang harus menyerah kepada kami dan mempertanggungjawabkan segala kesalahanmu.”

“Ah, jangan berpura-pura. Aku tahu, bahwa kalian menjadi gemetar. Lebih baik kalian berterus terang. Kami tidak akan membunuh kalian. Tetapi kami hanya ingin mengikat kalian di dalam gardu itu.”

“Lihat, aku bersenjata. Laki-laki yang bersenjata pantang menyerah. Kecuali kepada maut.”

Gupala tiba-tiba saja tertawa, “Ah, jangan berbicara seperti dalang wayang beber.”

“Persetan!” kedua orang itu merasa benar-benar terhina.

“Berlakulah jujur. Kalian ngeri melihat mayat yang berserakan ini bukan? Tentu. Aku juga menjadi ngeri. Karena itu jangan kita tambah lagi jumlahnya. Seandainya kita bertempur, maka baik aku mau pun kau yang terbunuh, jumlah mayat-mayat ini pasti akan bertambah.”

Kedua orang itu tidak menjawab lagi. Serentak mereka melangkah maju.

Namun langkah itu tertegun mendengar anak yang gemuk itu berkata, “Kalian telah terkepung. Kami mampu membunuh seluruh isi gardu tanpa perlawanan yang berarti. Meskipun ada juga korban yang jatuh di pihak kami. Meskipun demikian kalau kau menyerah, kami akan menghidupi kalian.”

Kedua orang itu tertegun. Mereka percaya, bahwa mereka benar-benar telah terkepung. Tetapi untuk menyerah, terasa betapa rendah martabat mereka. Karena itu, maka dengan serta-merta mereka menyerang Gupala. Kedua senjata itu langsung menusuk ke pusat jantung. Tetapi Gupala tidak sedang tidur nyenyak. Dengan sigapnya ia menghindar sambil berkata, “Jangan membunuh diri. Sebaiknya kalian melihat kenyataan yang kalian hadapi.”

Tetapi kedua orang itu sama sekali tidak menghiraukaunya. Keduanya segera mempersiapkan serangan berikutnya. Senjata mereka bergetar secepat getar jantungnya.

Gupala menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak mendapat kesempatan untuk terlalu banyak berbicara. Kedua lawannya itu menyerang dengan dahsyatnya.

“He, jangan gila.” Gupala masih mencoba berteriak. Namun suaranya hilang seperti teriakan seorang nelayan yang sendiri di lautan lepas.

Kedua lawannya masih tetap menyerangnya. Dan Gupala terpaksa selalu menghindar.

Tetapi ternyata Gupala bukan seorang yang cukup sabar dan ragu-ragu menghadapi lawan-lawannya yang demikian. Ia merasa bahwa ia sudah tidak dapat dianggap sewenang-wenang lagi, karena ia sudah mencoba memberi pringatan kepada lawan-lawannya. Tetapi karena mereka tidak menghiraukannya, maka apa boleh buat.

Dan Gupala memang tidak begitu berhasrat menahan dirinya lagi. Kedua orang yang baginya terlampau sombong itu, sama sekali tidak diberinya kesempatan lagi.

Kali ini Gupala bertempur dengan pedang. Dengan tenaganya yang dahsyat, ia memukul senjata lawannya. Sentuhan pertama membuat tangan lawannya menjadi pedih. Sedang sentuhan berikutnya telah melemparkan senjata lawannya beberapa langkah dari padanya.

Gupala segera menyerang lawannya yang sudah tidak bersenjata lagi itu. Dengan susah payah mereka berloncatan dan mencoba memencar.

Namun nasib mereka memang terlampau malang. Tanpa mereka duga, tiba-tiba saja muncul beberapa orang di belakang mereka, sehingga mereka telah terkepung rapat.

Dan ternyata bukan sekedar sebuah kepungan yang rapat. Sejenak kemudian kepungan itu telah menyempit, dan tanpa dapat berbuat apa-apa lagi, beberapa ujung senjata telah hampir melukai tubuhnya.

“Nah, apakah kau masih akan melawan?” terdengar suara yang bernada dalam.

Kedua orang itu berpaling. Dilihatnya wajah Wrahasta yang tegang. Tetapi kedua orang itu tidak menjawab.

“Sudah terlampau banyak korban di pihak kita,” berkata salah seorang yang lain, “sedang kita masih belum cukup mendapat ganti. Karena itu bunuh saja kedua tikus ini.”

“Sudah sekian banyak kita membunuh dan sekian banyak korban yang jatuh. Kenapa kita masih sempat membuat pertimbangan-pertimbangan?”

Namun tiba-tiba mereka terkejut ketika mereka mendengar suara di belakang mereka, “Adalah kurang bijaksana untuk membunuh orang yang sudah tidak berdaya.”

Ketika mereka berpaling, mereka melihat seseorang yang berdiri bertolak pinggang.

Gupala dan beberapa orang yang lain mengerutkan keningnya. Namun segera mereka dapat mengenal orang itu, “Ki Peda Sura.”

Karena itu, maka dada mereka pun menjadi berdebar-debar. Ditatapnya orang yang bertolak pinggang itu dengan tajamnya. Sejenak kemudian terdengar orang itu berkata, “Memang luar biasa. Kalian telah berhasil membinasakan seluruh isi gardu. Kemudian kedua orang yang ditugaskan oleh Angger Sidanti ini pun berhasil kalian jebak pula.

Tetapi sayang, bahwa kau telah membunuh beberapa orang-orangku pula sehingga aku pun memerlukan kalian sebagai gantinya. Setuju?”

Darah Gupala segera menjadi panas. Selangkah ia maju. Meskipun ia sadar, bahwa Ki Peda Sura adalah seorang yang pilih tanding. Namun untuk melawan orang itu bersama-sama dengan beberapa orang kawan-kawannya, agaknya akan dapat memberinya kesempatan bertahan beberapa lama.

“He, kau anak yang gemuk,” desis Ki Peda Sura. “Kau memang anak yang berani. Berani, cerdik dan tangguh. Tetapi kau kurang cermat. Kedua ekor kuda yang kembali tanpa penunggangnya itu aku jumpai di pinggir padukuhan induk. Dan salah satu di antaranya telah aku pergunakan kemari, karena aku menjadi curiga karenanya.”

Gupala mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba ia berteriak, “Bohong. Kupingku tidak tuli. Kalau kau datang berkuda, aku akan mendengar derap kakinya.”

Ki Peda Sura tertawa. Katanya, “Hanya orang-orang yang bodoh sajalah yang berpacu dengan derap yang memekakkan telinga. Kuda-kuda itu dengan senang hati akan berjalan lebih lambat tanpa melemparkan suara gemeretak sampai berpuluh-puluh langkah di depan, sebelum kuda itu mendekat.”

Gupala tidak menyahut.

Dan Ki Peda Sura berkata, “Aku berhenti beberapa puluh langkah. Kemudian aku berjalan kaki mendekati gardu ini, tempat kalian menjebak orang-orang Sidanti.”

Gupala menjadi semakin marah. Tetapi ia menyadari. bahwa melawan orang itu bukan pekerjaan yang mudah. Karena itu maka katanya, “Wrahasta. Biarlah orang-orang lain mengurus kelinci-kelinci itu. Kita akan menangkap musang.”

Suara tertawa Ki Peda Sura menjadi berkepanjangan. Katanya, “Kau memang terlampau sombong. Aku tidak peduli dengan kedua orang itu. Kalau kau ingin menjadi pembunuh-pembunuh licik, maka bunuhlah orang-orang yang sudah tdak berdaya itu apa pun alasannya. Keduanya bukan orang-orangku. Tetapi yang akan aku lakukan adalah menuntut kematian orang-orangku. Di gardu ini hampir separo dari mereka yang terbunuh adalah orang-orangku.”

“Dan sebentar lagi kau sendiri.”

Ki Peda Sura mengerutkan keningnya. Namun suara tertawanya menjadi semakin keras. “Kau memang sedang mengigau. Baik. Mengigaulah sepuas-puasmu.”

Namun tiba-tiba suara tertawa itu terputus, ketika ia mendengar gemerisik langkah kaki di balik rimbunnya dedaunan.

“Siapa yang bersembunyi?” teriak Ki Peda Sura, “Apakah masih belum semuanya hadir di sini? Marilah, aku persilahkan kalian keluar dari persembunyiannya.”

Sejenak suasana menjadi sepi. Tidak seorang pun yang berbicara dan beranjak dari tempatnya. Semua berdiri tegang dan bersiaga, sedang dua orang yang datang berkuda masih saja membeku di antara beberapa orang yang mengacungkan senjatanya.

Suara gemerisik di balik rimbunnya dedaunan kini tidak terdengar lagi. Betapa pun mereka mencoba mendengarkan setiap suara, namun suara desir itu sama sekali tidak mereka dengar.

“Kita tidak tahu,” berkata Gupala, “apakah suara itu suara kawanku atau justru kawanmu. Kalau yang datang itu kawanmu, baiklah ia segera keluar. Kalau kawanku biarlah ia tetap bersembunyi agar aku sempat membunuh kau lebih dahulu.”

Ki Peda Sura mengerutkan keningnya. Tanpa disadarinya ia memandang setiap orang yang sedang berdiri tegang. Kedua orang-orang Sidanti itu sama sekali tidak dapat diharapkannya lagi. Dengan satu gerakan serentak, dua tiga pedang akan membinasakan mereka. Lalu orang-orang itu akan beramai-ramai menyerangnya. Ditambah seorang yang cukup berkemampuan yang masih belum menampakkan dirinya.

Orang tua itu menimbang sejenak. Tetapi ia sudah mendapatkan suatu keuntungan. Dengan demikian ia mengetahui, bahwa bahaya telah berada di ambang pintu, sedang Ki Tambak Wedi dan para pemimpin yang lain sama sekali belum mengerti, bahwa para peronda di gardu-gardu telah musnah, tanpa sempat membunyikan tanda bahaya.

“Berita ini sangat penting. Kalau aku melayani anak-anak ini, mungkin aku akan kehilangan banyak waktu,” katanya di dalam hati.

Tiba-tiba saja maka Ki Peda Sura itu menggerakkan sepasang senjatanya sambil melangkah maju.

Gupala terkejut, segera pedangnya bersilang di muka dadanya. Sedang Wrahasta pun melangkah ke samping menjauhi Gupala.

Namun yang terjadi benar-benar di luar dugaan. Ki Peda Sura meloncat dengan tangkasnya justru menjauhi lawannya. Orang tua itu ternyata berlari kencang-kencang ke luar padesan.

“He, kemana kau akan lari?” bertanya Gupala.

Tetapi Gupala tidak dapat berlari secepat Ki Peda Sura. Juga ketika sebuah bayangan dari balik dedaunan mencoba mengejarnya.

Ternyata Ki Peda Sura menambatkan kudanya agak jauh dari gardu, di balik pohon-pohon jarak di jalan sidatan. Dengan lincahnya orang tua itu meloncat ke punggung kuda sambil menarik kendali yang disangkutkannya pada sebatang ranting yang kecil.

Sebelum orang-orang yang mengejarnya mampu menyentuhnya, Ki Peda Sura telah melarikan kudanya seperti disentuh hantu.

Dalam saat yang sekejap itu, ternyata kedua orang yang telah tidak bersenjata itu pun sempat melarikan dirinya. Tetapi mereka tidak mengambil arah seperti Ki Peda Sura. Dengan serta-merta mereka meloncat pagar batu dan menghilang di dalam rimbunnya dedaunan.

Gupala, Gupita yang mencoba mengintai Ki Peda Sura dari balik gerumbul dan Wrahasta, menumpahkan segala perhatian mereka kepada Ki Peda Sura, sehingga mereka sama sekali kehilangan pengamatan atas kedua orang yang datang berkuda itu.

Beberapa orang yang sedang mengacungkan senjata mereka, agaknya telah terpengaruh pula oleh keributan yang terjadi dengan tiba-tiba itu, sehingga mereka telah kehilangan waktu setelah hampir saja mereka binasakan itu untuk melarikan dirinya.

Sejenak mereka berkejaran, namun kedua orang itu kemudian lenyap seperti iblis di dalam gelapnya malam, dalam rimbunnya gerumbul-gerumbul liar dan rumpun-rumpun bambu yang lebat.

Dengan wajah yang merah padam Wrahasta menggeretakkan giginya. Ketika mereka telah berkumpul, Wrahasta itu menggeram, “Sia-sialah semua pengorbanan ini. Ternyata akhirnya kedatangan kita akan diketahui oleh Ki Tambak Wedi.”

Tetapi Gupita menggelengkan kepalanya. “Tidak. Tidak sia-sia. Ternyata pasukan induk itu telah terlampau dekat. Aku telah melaporkan semuanya, dan aku mendahului mereka, karena pertimbangan-pertimbangan yang khusus. Ternyata bahwa kecemasanku ada juga sebabnya. Sayang Ki Peda Sura dapat melarikan diri.” Gupita terdiam sejenak. Namun sambil mengangkat wajahnya ia berkata, “Aku sudah mendengar derap pasukan induk itu.”

“Mereka harus segera mendengar apa yang telah terjadi,” desis Wrahasta.

“Ya, dan mereka harus segera memasang gelar dan langsung menusuk jantung padukuhan induk.”

Wrahasta tidak menjawab. Ujung pasukan induk itu sudah menjadi semakin dekat. Akhirnya, pasukan itu muncul dari ujung lorong. Sejenak mereka berhenti. Samekta dengan seksama mendengarkan laporan Wrahasta tentang tugasnya.

“Tetapi disaat terakhir mereka mengetahui juga bahwa pasukan kita akan datang,” berkata Wrahasta kemudian.

“Belum dapat disebut demikian. Yang diketahui oleh Ki Peda Sura adalah serangan pada gardu ini dan membinasakan seluruh isinya,” jawab Samekta.

“Namun ia akan dapat menarik kesimpulan.”

“Kita sudah cukup dekat. Kita akan segera menyusun gelar dan masuk ke padukuhan induk, sebelum mereka berhasil menyusun kekuatan.”

Wrahasta mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara Samekta berbicara sebentar dengan gembala tua, Hanggapati, dan Dipasanga. Kemudian dengan tergesa-gesa Samekta menyampaikan semuanya itu kepada Ki Argapati.

“Kau sudah bertindak tepat. Lakukanlah.” Samekta pun kemudian kembali ke tempatnya. Dengan isyarat yang kemudian disalurkan ke setiap pemimpin kelompok, Samekta memerintahkan untuk memasang gelar di depan padukuhan itu.

Sejenak kemudian pasukannya menebar. Mereka tidak lagi mengingat tanaman-tanaman yang sedang menghijau di sawah dan pategalan. Mereka juga tidak menghiraukan pula tanah berlumpur dan pematang-pematang.

Demikianlah, sejenak kemudian Samekta telah berhasil menyusun gelar. Samekta, gembala tua, dan kedua anak-anaknya berada di induk pasukan, sedang Wrahasta dan Kerti masing-masing berada di sayap.

Seperti yang pernah direncanakan, maka Hanggapati dan Dipasanga masing-masing harus berada di sayap sebelah-menyebelah. Menurut perhitungan, Sidanti dan Argajaya pun akan berada dan memimpin masing-masing sebelah sayap.

Sedang Gupita dan Gupala di pertempuran nanti harus mencari Ki Peda Sura yang menurut dugaan orang-orang Menoreh, akan berdiri di bagian dalam pasukan Ki Tambak Wedi.

“Kalau mereka tidak sempat menyusun gelar, atau menyusun barisan,” berkata Samekta, “maka Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga terpaksa harus keluar dari sayap dan mencari Sidanti dan Argajaya.”

Keduanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka menyadari bahwa mereka kini tidak berada dalam susunan gelar prajurit. Di dalam lingkungan keprajuritan, maka pada umumnya pangkat mereka telah menggambarkan, meskipun tidak selalu dan mutlak, tingkat tanggung jawab dan kewajiban. Mereka tidak perlu membagi-bagi dan menempatkan orang demi orang yang harus saling berhadapan, selain senapati-senapatinya.

Sejenak kemudian maka Samekta pun segera memberi isyarat, agar pasukan itu segera berderap maju. Dalam gelar, mereka menembus tanah persawahan yang sedang ditanami.

Para pengawal Tanah Perdikan, yang sebagian terbesar terdiri dari keluarga petani yang telah agak lama tidak mendapat kesempatan bersentuhan dengan daun padi muda, merasa sangat sayang menginjak-injak tanaman itu. Tetapi apa boleh buat. Mereka harus maju dalam gelar yang siap melawan pasukan lawan.

Baru beberapa langkah mereka maju, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara kentongan menggema di padukuhan induk. Agaknya Ki Peda Sura telah sampai di sana dan melaporkan apa yang telah mereka lihat.

“Setan alas!” teriak Ki Tambak Wedi. “Tidak seorang pun yang dapat hidup di gardu itu?”

“Ya.”

“Berapa orang yang telah menyerang mereka?”

“Aku tidak tahu. Tetapi sergapan itu aku kira begitu tiba-tiba. Yang aku lihat masih ada di sana sekitar lima atau enam orang. Tetapi pasti di antara mereka telah jatuh korban pula.”

“Terlalu,” Ki Tambak Wedi menggeram. “Tetapi, apakah menurut dugaanmu mereka akan datang menyerang malam ini bersama seluruh kekuatan?”

“Aku tidak tahu. Tetapi hal itu mungkin mereka lakukan.”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. “Apakah Argapati telah dapat memimpin pasukannya, atau bahkan Argapati telah mati, sehingga dengan putus asa mereka menyergap ke induk padukuhan ini?”

“Salah satu dari dua kemungkinan. Tetapi bagaimanapun juga kita harus bersiap. Menghadapi orang yang sedang membunuh diri agaknya pekerjaan kita akan menjadi jauh lebih berat.”

Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya, sementara suara kentongan telah memenuhi bukan saja padukuhan induk tetapi desa-desa kecil di sekitarnya.

Para penjaga menjadi semakin bersiaga. Namun sebuah pertanyaan telah mengganggu mereka, “Kenapa suara tanda-tanda bahaya itu justru mulai dari padukuhan induk?”

Dengan tergesa-gesa Ki Tambak Wedi menyusun barisannya. Seperti yang telah diperhitungkan oleh para pemimpin Menoreh maka Sidanti dan Argajayalah yang mendapat tugas untuk memimpin sayap pasukan mereka.

“Aku mendengar suara cambuk sebelum paman Peda Sura melihat keadaan di padesan itu. Aku menyangka salah seorang dari mereka adalah orang-orang yang sering mempergunakan cambuk seperti yang selama ini kita lihat.”

“Maksudmu orang-orang yang mempunyai pengetahuan keprajuritan dan bertempur seperti prajurit-prajurit Pajang itu?”

“Ya, meskipun pada keadaan tertentu mereka lebih cakap mempergunakan pedang.”

“Berhati-hatilah. Kita tidak boleh terjebak oleh kebanggaan kita sendiri. Karena itu, kita harus mengerahkan segenap kemampuan. Kalau mereka benar-benar akan datang, mereka pun pasti akan membawa semua kekuatan yang ada. Apakah mereka berkeinginan untuk merebut kembali padukuhan induk ini ataukah karena mereka sedang berputus asa.”

Sidanti, Argajaya dan Ki Peda Sura dapat mengerti sepenuhnya pesan Ki Tambak Wedi itu, sehingga karena itu, maka mereka tidak meninggalkan segala perhitungan. Semua kekuatan yang ada telah dikerahkan. Bahkan mereka yang sedang berada di gardu-gardu pun telah mereka tarik sebanyak-banyaknya dapat mereka lakukan.

“Kita dapat mengirimkan dua orang pengawas, untuk melihat apakah ada sepasukan lawan yang mendekat,” berkata Ki Tambak Wedi.

Ketika kedua orang itu meninggalkan padukuhan induk, pasukan Ki Tambak Wedi dan Ki Peda Sura telah hampir seluruhnya berkumpul. Kemudian mereka mendapatkan beberapa petunjuk untuk menghadapi lawan.

“Kita melawan di depan padukuhan ini, agar tidak menimbulkan banyak akibat dan kerusakan. Kita akan menyapu mereka sampai orang yang terakhir. Ingat, seandainya mereka mengundurkan diri, jangan diberi kesempatan seorang pun untuk lolos. Tetapi kemungkinan yang lain, mereka akan berkelahi membabi buta. Hati-hatilah melawan orang-orang yang sedang gila. Kalian tidak boleh kehilangan akal.”

Pasukan yang belum lengkap benar itu pun kemudian bergerak meninggalkan halaman rumah Kepala Tanah Perdikan dan lapangan kecil di muka banjar. Mereka akan segera bergabung sambil menunggu kelompok-kelompok yang akan segera menyusul.

“Cepat, kita tidak boleh tersumbat di mulut jalan,” teriak Sidanti.

Pasukan itu pun maju semakin cepat. Sejenak kemudian ujung pasukan itu telah keluar dari regol. Namun bersamaan dengan itu datanglah kedua pengawas itu berlari-lari.

Setiap orang menjadi berdebar-debar melihat keduanya. Tetapi kedua orang itu tidak mau menjawab setiap pertanyaan. Dan itu adalah kewajibannya. Semua persoalan harus dilaporkannya kepada pemimpinnya lebih dahulu.

Karena itu maka kedua orang itu langsung mencari Ki Tambak Wedi atau Sidanti.

Mereka menemukan Ki Tambak Wedi dan Sidanti justru sedang berbicara dengan Argajaya dan Ki Peda Sura.

“He, apa yang kau lihat?” bertanya Sidanti.

Dengan nafas terengah-engah salah seorang dari mereka berkata, “Aku melihat sebuah barisan mendatang.”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Dan kedua pengawas itu hampir bersamaan berkata, “Sebuah barisan yang kuat.”

“Ya,” Ki Tambak Wedi menganggukkan kepalanya. “Apa kau dapat mengetahui, siapakah yang memimpin pasukan itu?”

Keduanya menggelengkan kepalanya.

“Baik,” berkata Ki Tambak Wedi, “kita songsong mereka. Mereka pasti sedang membunuh diri. Aku jakin bahwa Argapati tidak akan mampu memimpin pasukan itu hari ini. Bahkan mungkin orang itu sudah mati.”

Dengan tergesa-gesa Ki Tambak Wedi pun kemudian pergi ke ujung barisannya. Dengan isyarat ia mengembangkan tangannya. Dengan demikian maka pasukannya pun segera menebar. Kali ini Sidanti dan Argajaya langsung pergi ke sayap sebelah-menyebelah. Sedang Ki Peda Sura berada di induk pasukan bersama Ki Tambak Wedi.

Meskipun pasukan Ki Tambak Wedi masih belum utuh, namun sebagian besar dari kekuatannya sudah berkumpul, sementara kelompok-kelompok kecil masih mengalir dan menggabungkan dirinya.

Demikianlah maka dua pasukan yang telah berada dalam gelar telah saling mendekat.

Ternyata usaha Wrahasta untuk membungkam semua gardu-gardu yang ada di sepanjang jalan, dengan korban yang tidak sedikit, tidak begitu bermanfaat, meskipun bukan berarti tidak berguna sama sekali. Karena ternyata Ki Tambak Wedi terpaksa menyiapkan pasukannya dengan tergesa-gesa sehingga semua persoalan dipecahkannya dengan kurang cermat. Apalagi persiapan tekad bagi pasukannya sama sekali kurang mendapat perhatian. Para pemimpinnya tidak sempat memberikan petunjuk-petunjuk dan bimbingan kepada mereka.

Sementara itu Samekta pun telah mendapat laporan pula bahwa ternyata Ki Tambak Wedi sempat menyiapkan pasukannya. Dan kini pasukan itu telah menyongsong kedatangan pasukan Menoreh.

“Kita memang harus bertempur sepenuh tenaga,” berkata Samekta kepada gembala tua yang berada di ujung pasukan.

“Ya, tetapi bagaimanapun juga, persiapan Ki Tambak Wedi tidak akan sebaik apabila mereka mendapat cukup kesempatan.”

“Mereka tidak akan sempat membawa bermacam-macam alat seperti apabila pasukannya telah bersiap menyongsong kita. Mereka tidak akan dapat menyiapkan alat-alat pelontar seperti yang dapat kita persiapkan selagi kita menyongsong kedatangan pasukan mereka.”

“Ya, dan mereka sengaja menyongsong kita. Mereka tidak menunggu kedatangan kita di pinggir padukuhan,” desis gembala tua itu. Lalu, “Kita harus mulai dengan mengejutkan mereka.”

Samekta mengerutkan keningnya.

“Kita berhenti apabila kita sudah berhadapan. Kemudian kita mulai dengan senjata jarak jauh. Kita akan menyerang mereka dengan panah. Menurut perhitunganku, mereka tidak siap untuk menghadapi serangan pertama yang demikian. Aku kira mereka tidak mempersiapkan perisai secukupnya,” berkata gembala itu.

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kepada seorang penghubung ia berkata, “Siapkan mereka yang bersenjata jarak jauh. Mereka harus segera menempatkan diri. Apabila keadaan tidak mengijinkannya lagi, mereka harus segera masuk kembali ke tempatnya dan mempergunakan senjata pendek.”

Perintah itu sejenak kemudian telah tersebar. Mereka yang membawa busur dan panah, segera maju di depan pasukan yang sedang berjalan. Meskipun jumlah mereka tidak begitu banyak, namun mereka akan dapat mengejutkan lawan dan membuat mereka sejenak kebingungan. Kesan dari serangan pertama itu tentu akan sangat berpengaruh untuk peperangan berikutnya.

Mereka yang membawa busur dan anak panah itu kemudian menebar dari ujung sampai ke ujung pasukan. Dengan dada yang berdebar-debar mereka mempersiapkan anak panah mereka yang pertama pada busurnya.

Wrahasta yang berada dan memimpin sayap tiba-tiba melangkah mendahului pasukannya. Kepada salah seorang yang memegang busur ia berkata, “Berikan busur dan panah itu.”

Orang itu termangu-mangu sejenak.

“Aku akan mempergunakannya.”

“Tetapi?”

“Aku akan tetap memimpin sayap ini. Tetapi sebelumnya aku akan mempergunakan busur dan anak panahmu.”

Orang itu tidak dapat menolak. Diberikannya busurnya dan endong anak panahnya.

Hanggapati yang kebetulan berada di sayap itu juga melangkah maju sambil berkata, “Apakah kau memerlukannya?”

“Ya. Aku harus mendapat korban yang sebesar-besarnya. Kami telah kehilangan banyak sekali pahlawan di saat kita belum mulai.”

“Tetapi kalian telah berhasil membinasakan jauh lebih banyak.”

“Belum cukup. Setiap orang sama harganya dengan sepuluh orang lawan. Pahaku sama nilainya dengan sepuluh orang pula. Apalagi nyawaku. Aku akan membunuh seratus orang sekaligus.”

“Ah,” desah Hanggapati, “kau akan membunuh seratus orang tanpa menukarkan dengan nyawamu sendiri.”

Tetapi Wrahasta tertawa. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Ki Hanggapati, apakah kau sudah berkeluarga?”

Hanggapati mengerutkan keningnya, “Kenapa?”

Wrahasta menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa. Aku dilahirkan oleh keluarga yang miskin. Ibuku adalah seorang perempuan yang baik. Ibuku tidak pernah menuntut yang tidak mungkin dapat diusahakan oleh ayahku.”

Hanggapati tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah raksasa yang buram itu sejenak. Sambil menimang-nimang busurnya Wrahasta berjalan lurus ke depan. Sama sekali tidak dihiraukannya, apa yang terinjak oleh kaki-kakinya.

Dan tiba-tiba Wrahasta meneruskan, “Tetapi ibu tidak panjang umurnya.”

“O,” Hanggapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ayah juga tidak panjang umur.”

“O,” Hanggapati masih mengangguk, “jadi mereka sudah tidak ada lagi?”

“Ya. Ibu sudah tidak ada sejak sepuluh tahun yang lalu, dan ayah sejak lima tahun.”

“Kau satu-satunya anak?”

Wrahasta menggelengkan kepalanya, “Tidak. Aku adalah anak yang kedua. Saudaraku ada lima orang.”

“Di mana mereka sekarang?”

“Satu adikku ada di dalam barisan ini juga. Kakakku adalah seorang petani yang tekun. Aku tidak tahu apakah ia terlibat atau melibatkan diri dalam kekisruhan ini atau tidak. Tetapi aku tidak melihat ia berada bersama kita. Sedang dua adikku yang lain berada di padukuhan sebelah pertahanan terakhir kita.”

Hanggapati menganggukkan kepalanya.

“Kakakku sudah beranak empat orang,” berkata Wrahasta, kemudian, “sehingga dengan demikian aku tidak akan mencemaskan bahwa garis keturunan ayah dan ibu akan terputus.”

Hanggapati mengerutkan keningnya pula. Dipandanginya wajah itu sejenak. Wajah Wrahasta yang suram.

Dan tiba-tiba saja ia berdesis, “Kedua anak gembala itu memang luar biasa. Ternyata aku bukan apa-apanya.”

“Apakah maksudmu?” bertanya Hanggapati.

“Tidak. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku sekedar memuji dan mengagumi. Aku begitu bodoh sebelumnya tanpa melihat kelebihan yang ada pada mereka.”

Hanggapati menjadi semakin heran. Raksasa ini berbicara tanpa ujung dan pangkal, seolah-olah begitu saja berloncatan dari mulutnya.

Dan tiba-tiba saja Wrahasta tertawa pendek. “Di depan kita pasukan Ki Tambak Wedi sudah menghadang kita. Apakah kau sudah siap, Ki Hanggapati?”

“Ya. Aku sudah siap.”

“Apakah kau akan bersenjata cambuk atau pedang atau keduanya?”

“Aku biasa mempergunakan pedang.”

Wrahasta tertawa. Tetapi tatapan matanya masih lurus ke depan. Padukuhan induk itu pun telah menjadi semakin dekat. Bahkan karena begitu tergesa-gesa orang-orang Ki Tambak Wedi tidak sempat memadamkan obor di gardu-gardu. Dan sinar obor yang menusuk gelapnya malam itu telah tampak jelas di kejauhan, lebih dahulu dari bayangan setiap orang di dalam pasukan Ki Tambak Wedi yang bergerak maju pula.

Ternyata kedua belah pihak selalu mengirimkan pengawas-pengawas, sehingga mereka mengetahui dengan pasti jarak antara kedua pasukan itu.

Karena itu, ketika pengawas yang dikirimkan oleh Samekta datang kepadanya dan melaporkan bahwa pasukan Ki Tambak Wedi telah melintasi parit, dan dalam waktu yang hampir bersamaan seorang pengawas di pihak lain melaporkan kepada Ki Tambak Wedi bahwa pasukan Menoreh telah melampaui simpang empat, dan menyeberang jalan silang, sadarlah mereka, bahwa pertempuran akan segera berkobar.

“Apakah pasukan Ki Tambak Wedi telah siap sepenuhnya?” bertanya Samekta kepada pengawas itu.

“Aku kurang tahu. Tetapi mereka telah berada di dalam gelar.”

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baik. Kita akan segera mulai.”

Sejenak kemudian Samekta memerlukan melaporkannya kepada Ki Argapati, yang dengan seksama mengikuti perkembangan keadaan.

“Kita hampir mulai, Ki Gede,” desis Samekta.

“Apakah semua sudah berada di tempatnya?”

“Sudah, Ki Gede.”

“Bagus. Kembalilah ke tempatmu.”

Samekta menganggukkan kepalanya. Dipandanginya Ki Argapati sejenak. Tampaknya Ki Argapati seakan-akan telah benar-benar sembuh dari lukanya. Medan perang yang akan dihadapinya telah membuatnya kehilangan perhatian atas dirinya sendiri. Sedang di tangannya masih tetap tergenggam tombak pendek, pusaka Tanah Perdikan Menoreh, meskipun sebenarnya telah tertukar dengan milik Argajaya.

Sebelum meninggalkan Ki Argapati, Samekta masih sempat berbisik di telinga Pandan Wangi, “Hati-hatilah, Ngger. Orang-orang Ki Tambak Wedi sebagian adalah orang-orang yang buas dan liar.”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya, “Kami telah siap, Paman.”

Samekta menyapu wajah para pengawal dengan tatapan matanya. Kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajah-wajah yang tegang tetapi meyakinkan itu memberinya kepercayaan, bahwa mereka akan berhasil melindungi Ki Argapati. Apalagi apabila para senapati lawan telah terikat di dalam pertempuran dengan orang-orang yang memiliki kemampuan yang seimbang.

Sejenak kemudian Samekta pun kembali ke tempatnya. Di ujung induk pasukan bersama gembala tua. Di belakangnya kedua anak-anak gembala itu berjalan sambil menundukkan kepalanya.

Sejenak kemudian Samekta memerintahkan pasukannya berhenti. Jarak mereka dengan lawan sudah menjadi semakin dekat. Yang diperintahkannya untuk maju adalah mereka yang bersenjatakan panah.

“Kalian menunggu mereka mendekat. Kemudian serang mereka dengan panah, sebanyak-banyak kalian dapat melepaskan anak-anak panah.”

Para pengawal yang telah menyiapkan busur mereka pun berhenti sambil menyiapkan diri.

Di hadapan mereka, pasukan Ki Tambak Wedi semakin mendekat pula. Mereka berharap dapat melawan pasukan Menoreh sejauh-jauh dari padukuhan induk. Ternyata mereka tidak mempergunakan cara yang sama seperti yang dilakukan oleh Ki Argapati. Menunggu di belakang pagar-pagar batu dengan senjata-senjata jarak jauh.

Kecuali pedukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh tidak mempunyai pagar pring ori dan pagar-pagar batu yang tinggi, apalagi padukuhan induk itu adalah sebuah padukuhan yang luas, maka pasukan Ki Tambak Wedi tetap menyangka bahwa kekuatan mereka masih melampaui kekuatan lawan. Apalagi menurut perhitungan mereka, Ki Argapati pasti belum dapat ikut serta sepenuhnya di dalam peperangan ini.

Orang-orang itu, bahkan termasuk Ki Tambak Wedi sendiri, kurang memperhitungkan ketergesa-gesaan mereka, sehingga belum seluruh pasukan dan seluruh kekuatan yang kini dihadapkan kepada pasukan Menoreh, yang justru sedang menumpahkan segenap kemampuan dan bahkan jumlah orang-orang mereka.

Meskipun demikian, ketika Ki Tambak Wedi mendapat laporan bahwa lawan telah berada di depan hidung mereka, diperintahkannya pasukannya untuk berhati-hati.

Tetapi gelapnya malam masih tetap menyaput pemandangan.

Namun demikian, mata Ki Tambak Wedi yang setajam mata burung hantu itu segera melihat seleret bayangan, di kaki langit, seperti wayang yang berjajar di wajah layar yang biru kehitam-hitaman. Tetapi bayangan yang dilihatnya adalah hitam. Hitam.

Ki Tambak Wedi yang berada di induk pasukan bersama Ki Peda Sura segera memerintahkan penghubung-penghubungnya untuk menyampaikan pesannya kepada Sidanti dan Argajaya di sayap masing-masing, bahwa lawan telah berada dekat di hadapan mereka. Karena itu mereka pun harus berhati-hati.

“Orang-orang Ki Argapati adalah orang-orang yang sangat licik,” pesannya. “Mungkin mereka akan melakukan sesuatu yang akan dapat mengejutkan kalian. Karena itu, kalian harus berhati-hati. Sepenuhnya berhati-hati. Semua senjata akan dipergunakan. Juga senjata-senjata jarak jauh.”

Dan pesan itu segera ternyata kebenarannya menurut penilaian Sidanti. Sidanti yang semula tidak begitu menghiraukan pesan itu, yang dianggapnya seperti pesan-pesannya yang lain, hati-hati, waspada dan sebagainya, ternyata harus memperhatikannya.

“Semua yang berperisai berada di depan,” teriak Sidanti dan Argajaya di tempat masing-masing. Meskipun mereka tidak berjanji, tetapi ketika anak panah yang pertama terbang di atas pasukannya, maka mereka segera meneriakkan perintah serupa.

Beberapa orang yang bersenjata perisai segera mendesak ke depan. Mereka berjalan maju sambil melindungi bukan saja diri mereka sendiri, tetapi seluruh pasukan dengan perisai-perisai.

Tetapi anak panah terlampau kecil untuk dapat dibendung oleh perisai-perisai yang tidak memenuhi jumlahnya. Kadang-kadang satu dua ada saja anak-panah yang menyusup di sela-sela perisai-perisai itu dan langsung mematuk dada.

“Setan!” Sidanti mengumpat. Belum lagi mereka bertemu, telah jatuh beberapa korban di antara mereka.

Sementara itu, para pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang bersenjata panah, telah melepaskan anak panah mereka sebanyak-banyaknya. Mereka tidak perlu membidik. Mereka hanya sekedar mengarahkan anak panah itu ke dalam deretan bayangan yang kehitam-hitaman.

Ternyata bahwa serangan pertama itu cukup berpengaruh. Bukan karena jumlah korban yang terlampau banyak berjatuhan. Tetapi justru serangan itu telah mengejutkan mereka. Satu dua korban yang jatuh, suara rintihan, dan kadang-kadang sebuah teriakan terkejut, telah membuat mereka yang kurang tatag hatinya menjadi kecut. Sementara anak-anak panah terus mengalir seperti hujan.

Ki Tambak Wedd menggeram melihat serangan yang hampir menahan pasukannya. Karena itu maka tiba-tiba ia berterak, “Jangan bodoh. Kita harus menyergap mereka secepat-cepatnya untuk menghentikan perbuatan licik ini.”

Kemudian Ki Tambak Wedi pun mengangkat tangannya. Ketika ia mengayunkan tangannya itu ke depan, disusul oleh beberapa orang pemimpin kelompok dan beberapa orang yang menjadi penghubung antara induk pasukan dan sayap-sayapnya, maka pasukan itu pun kemudian segera berderap dengan cepatnya maju menyerang lawannya. Yang maju paling depan adalah induk pasukan, kemudian kedua sayapnya pun segera menyusul. Bahkan beberapa orang dari mereka, terlebih-lebih adalah orang-orang Ki Peda Sura segera berteriak sekeras-kerasnya untuk meledakkan gairah mereka menggetarkan senjata masing-masing.

Samekta pun kemudian menyadari bahwa ia harus dapat mengimbangi arus pasukan lawan. Karena itu, maka ia pun segera mempersiapkan pasukannya. Sekali lagi ia memberikan beberapa peringatan, kemudian menunggu anak panah yang tersisa. Setelah sebagian terbesar dari mereka telah melepaskan hampir seluruh anak panah, maka seperti Ki Tambak Wedi yang langsung memimpin pasukannya, Samekta pun segera memacu barisannya menyongsong lawan.

Mereka yang semula berada di depan dengan busur dan anak panah, telah menyilangkan busur-busur mereka di punggung dan memutar endong mereka. Kini di tangan mereka telah tergenggam pedang dan dengan segera mereka pun menempatkan diri di kelompok masing-masing.

Kedua pasukan yang maju itu bagaikan arus yang berlawanan. Sebentar kemudian, kedua arus yang deras itu pun berbenturan di antara sorak-sorai dan teriakan-teriakan yang kasar dibarengi oleh umpatan-umpatan yang sangat liar.

Dalam waktu yang sekejap, maka ujung-ujung senjata telah mulai berbicara. Yang bernasib malang, pada benturan pertama sama sekali tidak berhasil mengelakkan dirinya dari dorongan senjata lawan. Demikian ia terjatuh, maka kaki-kaki yang bersimpang-siur, tanpa menghiraukannya lagi, telah menginjak-injak tubuh yang tergolek di tanah, betapa pun ia berteriak-teriak. Bukan saja kaki lawan, tetapi kadang-kadang kaki-kaki kawannya. Tetapi kawan-kawannya itu pun tidak akan sempat menolongnya, karena mereka harus pula memperhatikan setiap ujung senjata lawan yang mengarah ke dadanya.

Dalam hiruk-pikuk perang itu, beberapa orang berusaha untuk menemukan lawan-lawannya yang seimbang, agar mereka tidak menimbulkan korban terlampau banyak di antara orang-orangnya.

Sambil melindungi dirinya dari sergapan-sergapan yang tiba-tiba, Hanggapati dan Dipasanga yang sudah terlanjur ikut terlibat di dalam perang yang membakar Tanah Perdikan Menoreh itu, segera berusaha menemukan lawan-lawan yang telah ditentukan bagi mereka.

Ternyata bahwa pekerjaan itu tidak terlampau sulit, karena Sidanti dan Argajaya pun segera mencari lawan-lawan mereka, sebelum mereka membuat terlalu banyak korban.

Dalam pertempuran itu, Hanggapati akhirnya bertemu dengan Sidanti dan Dipasanga harus bertempur melawan Argajaya. Sedang Wrahasta dan Kerti masing-masing tetap memegang pimpinan sayap-sayap pasukan mereka.

Tetapi seperti yang pernah terjadi sebelumnya, baik Sidanti mau pun Argajaya tidak segera dapat mengatasi lawan-lawan mereka. Apalagi di dalam hiruk-pikuk peperangan. Kadang-kadang seorang pengawal tanpa disangka-sangka langsung menyerang salah seorang dari mereka. Sehingga perhatian mereka itu pun terganggu karenanya.

Di pusat gelar, Ki Tambak Wedi telah mulai memutar senjatanya. Setiap sentuhan akan berarti maut. Bahkan bukan saja senjatanya yang seakan-akan menyebar nafas kematian, tetapi tangan kirinya, kakinya bahkan hampir seluruh tubuhnya. Lutut dan sikunya pun ikut pula membunuh atau setidak-tidaknya melumpuhkan pengawal-pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang berani mendekatinya.

Di ujung gelar lawan, gembala tua itu melihat seseorang mendesak maju diikuti oleh pasukannya. Dengan segera ia mengenal bahwa orang itu adalah Ki Tambak Wedi.

“Apa boleh buat,” berkata gembala itu di dalam hatinya. “Tidak ada pilihan lain. Apalagi pokal Ki Tambak Wedi kini telah sampai ke puncaknya, sehingga benar-benar harus dihentikan.”

Dengan demikian, maka tanpa ragu-ragu lagi gembala tua itu pun segera berusaha menyongsong Ki Tambak Wedi yang sedang mengamuk bagaikan harimau kelaparan.

“Mana Argapati, he, mana Argapati?” iblis tua itu berteriak-teriak. Tetapi tidak seorang pun yang menjawab.

Dalam keremangan cahaya bintang-bintang di langit, matanya yang tajam menangkap bayangan seseorang yang berada di atas punggung kuda dikawal oleh beberapa orang bersenjata lengkap. Tiba-tiba saja ia berteriak, “He, siapa yang berada di belakang barisan ini? He? Siapa?” Ki Tambak Wedi berhenti sebentar. Kemudian, “Kau pasti Argapati. Kau pasti Argapati yang sudah hampir mati. Dengan putus asa kau bawa pasukanmu membunuh diri bersama-sama. Bagus, bagus, mari aku tolong kau.”

Suaranya menggelepar di dalam hiruk-pikuknya pertempuran, seperti suara iblis yang menggema di sela-sela deru angin pusaran.

Setiap hati mereka yang mendengar suara itu, menggelepar di dalam dada. Suara itu bagaikan duri yang langsung menusuk sampai ke pusat jantung. Mengerikan.

Ki Argapati yang tidak terlampau dekat dengan garis pertempuran tidak dapat menangkap kata-kata Ki Tambak Wedi dengan jelas. Tetapi ia merasakan, bahwa kata-kata itu pasti berisi lontaran penghinaan. Karena itu, tanpa disadarinya tombaknya tergerak dan ujungnya merunduk ke depan.

“Ayah tetap di sini bersamaku,” desis Pandan Wangi yang melihat gelagat getar di dada ayahnya.

Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam.

Sementara itu Ki Tambak Wedi berteriak lagi, “He, kenapa kau tidak membuat gelar Gedung Menep saja, supaya kau dapat bersembunyi di dalam gelar? Kenapa kau datang dengan gelar terbuka tetapi kau berada jauh-jauh di belakang?”

Ki Argapati masih belum mendengar suara itu dengan jelas, tetapi terdengar giginya gemeretak.

“Baik, baik,” berkata Ki Tambak Wedi kemudian. “Kalau kau tidak mau maju, akulah yang akan datang kepadamu.”

Ternyata Ki Tambak Wedi tidak hanya sekedar berteriak-teriak. Agaknya ia ingin benar-benar mendekati Ki Argapati, sehingga karena itu, maka segera ia mencoba menyibakkan lawan dengan memutar senjatanya.

Para pengawal Menoreh benar-benar menjadi ngeri melihat tandang iblis dari lereng Merapi itu, sehingga tanpa mereka sadari, mereka telah membuka sebuah jalur jalan yang akan dapat dilalui oleh Ki Tambak Wedi, meskipun para pengawal itu tidak berarti membiarkannya lewat tanpa menyerangnya dari segala arah. Namun agaknya beberapa pengawal khusus Ki Tambak Wedi pun tahu benar akan tugasnya, sehingga langkah Ki Tambak Wedi itu menjadi semakin lancar.

Namun tiba-tiba, langkah iblis itu pun terhenti. Tiba-tiba saja di hadapannya, di jalur jalan yang telah tersibak, berdiri seseorang dengan tenangnya memandangnya. Sejenak Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Namun betapa pun suramnya malam, ia segera dapat mengenal orang yang berdiri di hadapannya itu. Hanya beberapa langkah.

Tiba-tiba pula Ki Tambak Wedi menggeram sambil mengumpat, “Setan alas, kau ada di sini pula?”

Orang itu maju selangkah. Sekali-kali ia menyapu hiruk-pikuk peperangan di seputarnya.

“Kelakuanmu telah sampai ke ujung yang paling memuakkan aku,” jawabnya. “Karena itu, sebaiknya kau mengakhirinya, Ki Tambak Wedi. Jika demikian maka tidak saja di atas tanah perdikan ini, tetapi kita akan menemukan kedamaian di sebagian besar dari seluruh Tanah ini.”

“Jangan menggurui aku Setan Tua. Sebaiknya kau tidak ikut mencampuri persoalan keluarga ini.”

“Kau telah memaksa Sidanti mengkhianati ayahnya.”

“Argapati bukan ayahnya.”

Sepercik keheranan merambat di hati orang tua itu. Namun ia tidak sempat memikirkannya. Perang menjadi semakin lama semakin ganas, dan korban telah berjatuhan di sekitarnya. Karena itu maka gembala tua itu pun segera mengurai senjatanya yang dibelitkannya di lambungnya.

“Aku tidak akan bermain-main lagi. Aku akan mempergunakan senjataku.”

Ki Tambak Wedi menatap ujung cambuk itu sejenak. Ia sadar bahwa cambuk ini bukan sekedar cambuk seorang gembala. Sekali-kali ia menangkap kilatan pantulan cahaya bintang dari bintik-bintik di juntai cambuk yang panjang itu. Dan bintik-bintik yang berkilat-kilat itu telah membuat dadanya berdebar-debar.

Kini Ki Tambak Wedi merasa, bahwa agaknya peperangan ini memang merupakan puncak dari segala-galanya. Kehadiran orang tua bercambuk itu berada di luar perhitungannya selama ini. Selama ini memang mencemaskannya. Setiap kali pasukannya selalu digemparkan oleh orang-orang bercambuk. Tetapi selama ini orang-orang bercambuk itu tidak memberinya keyakinan bahwa orang bercambuk yang inilah yang hadir di peperangan. Bahkan di dalam pertempuran yang terakhir, pada saat pasukannya memecah regol pertahanan terakhir Argapati, sama sekali tidak ada kesan bahwa orang ini ada di antara pasukan Argapati.

Sepercik ingatan tentang Ki Peda Sura telah membayang di kepalanya, pada saat orang tua itu terluka. Ia melawan Pandan Wangi yang kemudian dibantu oleh seorang anak muda. Orang ini bersenjata cambuk.

Namun senjata cambuk itu kemudian menjadi kabur oleh peristiwa-peristiwa berikutnya. Hampir setiap orang dari pengawal berkuda yang berkeliaran di malam hari bersenjatakan cambuk. Kemudian dua orang prajurit yang ada di dalam pasukan Argapati, yang bertempur melawan Sidanti dan Argajaya pun bersenjata cambuk.

Tetapi kini ia bertemu dengan orang yang sebenanya. Orang yang sebenarnya disebutnya orang bercambuk.

Karena itu Ki Tambak Wedi tidak lagi dapat mengangkat wajahnya sambil berkata, “Kalian sedang membunuh diri.” Tidak. Orang bercambuk ini tidak sedang membunuh dirinya bersama Ki Argapati.

Sejenak mereka masih saling berdiam diri dalam hiruk pikuknya peperangan. Namun sejenak kemudian Ki Tambak Wedi berkata, “Apa boleh buat. Aku tidak menganggapmu musuh sampai ujung kemampuan dalam peperangan yang dahsyat ini. Kau tidak mempunyai kepentingan langsung dengan aku. Tetapi sejak aku berada di Tambak Wedi, bahkan sejak Sidanti berada di Sangkal Putung, kau selalu mengganggu aku dan muridku. Aku kira kini sudah saatnya pula aku menghindarkan diriku dari gangguanmu.”

“Kita berpendapat sama. Aku dan kau menganggap bahwa saatnya memang sudah tiba. Kau menganggap bahwa aku harus lenyap agar kau tidak selalu dikejar-kejar oleh gangguanku seperti yang terjadi selama ini, sedang aku menganggap bahwa kelakuanmu benar-benar telah berlebih-lebihan. Dengan demikian kita sudah berkeputusan bahwa kita akan mempertaruhkan nyawa kali ini.”

“Aku tidak akan ingkar.”

“Kau jangan lari lagi seperti di Tambak Wedi. Kau mempunyai pintu sandi yang dapat kau pakai untuk menghindarkan diri. Tetapi sebaiknya sekarang tidak.”

Ki Tambak Wedi tidak menjawab. Tetapi tatapan matanya seakan-akan telah membara. Setapak ia maju. Senjatanya di tangannya telah mulai bergetar.

Gembala tua itu pun menyadari, bahwa Ki Tambak Wedi kali ini pasti akan berusaha membunuhnya, sehingga karena itu, ia pun harus sangat berhati-hati.

Pertempuran di sekitar keduanya menjadi semakin lama semakin sengit. Satu-dua di antara mereka ada juga yang berusaha menyerang kedua orang tua-tua itu. Tetapi serangan-serangan yang demikian tidak akan banyak berarti, apalagi di sekeliling mereka, berdiri kedua belah pihak.

Kedua orang itu berkisar selangkah, kemudian masing-masing mempersiapkan diri untuk mulai dengan sebuah tarian maut.

Sejenak kemudian maka perkelahian yang dahsyat itu pun mulailah. Keduanya adalah orang-orang yang mempunyai tingkat ilmu yang tinggi, yang hampir mencapai kesempurnaan. Senjata mereka pun merupakan senjata-senjata yang khusus, yang memiliki kelebihan tiada taranya di tangan pemiliknya masing-masing.

Begitu perkelahian itu dimulai, maka meledaklah suara cambuk gembala tua itu. Dan ledakan ini benar-benar telah mengejutkan seisi medan.

Selama ini mereka telah sering mendengar ledakan-ledakan cambuk di peperangan atau dalam perjalanan sebagian dari mereka yang ikut dalam pasukan berkuda. Tetapi mereka belum pernah mendengar cambuk yang meledak demikian dahsyatnya.

Dan seterusnya cambuk itu meledak dan meledak lagi. Setiap kali menyambar lawannya yang dengan sigapnya berloncatan menghindarinya. Namun kemudian seperti tatit menyusup di sela-sela ujung cambuk itu langsung menyerang dada.

Demkianlah keduanya segera terbenam dalam pertempuran yang dahsyat. Keduanya berloncatan saling menyerang dan menghindar. Semakin lama semakin cepat.

Kedahsyatan pekelahian di antara keduanya tedah menyibakkan peperangan di sekitarnya. Para pengawal dan orang-orang Ki Tambak Wedi yang lagi sibuk mempertahankan hidup masing-masing masih juga sempat mengagumi apa yang telah terjadi. Perkelahian yang hampir-hampir tidak dapat mereka mengerti.

Ternyata gembala tua itu tidak kalah dahsyat dari Ki Argapati. Perlawanannya terhadap Ki Tambak Wedi benar-benar telah mendebarkan jantung. Bahkan jantung Ki Tambak Wedi sendiri. Gembala tua yang kadang-kadang senang berkelakar itu, kini mengerutkan keningnya. Dengan tajam ia mengikuti setiap gerak lawan. Kedua ujung senjata Ki Tambak Wedi yang mengerikan dan serangan-serangan yang cepat seperti tatit harus dilayaninya dengan sepenuh kemampuannya. Sehingga setiap kali cambuknya harus meledak-ledak tidak henti-hentinya.

Pada saat gembala tua itu bertempur melawan Ki Tambak Wedi, maka kedua anak-anaknya mengikutinya dengan seksama. Tetapi mereka percaya bahwa gurunya akan dapat menyelesaikan tugasnya. Setidak-tidaknya ia dapat menjaga dirinya dan bertempur sepanjang kemampuan lawannya.

Karena itu, segera mereka pun menyadari akan tugasnya. Mereka berdua harus menemukan Ki Peda Sura, dan berusaha melawannya.

Dengan demikan maka keduanya meninggalkan arena yang dahsyat itu. Menyusup di dalam arena peperangan yang luas untuk menemukan lawan yang telah ditentukan untuk mereka.

Sementara itu Ki Peda Sura berkelahi dengan kasarnya. Seakan-akan ia menyadari sepenuhnya, bahwa tidak akan ada seorang lawan pun yang dapat mengimbanginya.

Seperti Ki Tambak Wedi, ia menyangka bahwa Ki Argapati masih belum dapat turun ke medan. Dan seperti Ki Tambak Wedi pula ia menyangka, bahwa para pengawal itu sedang membunuh diri karena putus asa.

Tetapi terasa dadanya berdebar-debar pula ketika ia mendengar suara ledakan cambuk beruntun tanpa ada henti-hentinya. Suara cambuk itu seakan-akan menggelegar di dalam dadanya, rnengguncang jantung.

“Siapakah orang itu?” desisnya di dalam hati. “Apakah Ki Tambak Wedi sedang tidur, dan tidak sempat membungkam suara cambuk yang memekakkan telinga itu?”

 

~ Article view : [158]