Api di Bukit Menoreh [ series 46-50]

401

Karya : SH. Mintardja

 

Series 46

NAMUN SUARA cambuk itu masih juga terdengar. Sekali lagi dan sekali lagi.

“Persetan,” desis Ki Peda Sura. “Mungkin akulah yang nanti akan menghentikannya. Tetapi kini lebih baik menyelesaikan kelinci-kelinci bodoh ini. Begitu menyenangkan, seperti menebas batang ilalang.”

Ki Peda Sura tersenyum. Sepasang senjatanya pun kemudian berputar menyambar-nyambar.

Senjata Ki Peda Sura benar-benar telah menimbulkan kengerian pada para pengawal yang bertempur di sekitarnya. Setiap sepasang senjata itu menyentuh lawan, maka senjata lawan itu hampir dapat dipastikan, terlempar dari tangan. Nasibnya kemudian sudah dapat dibayangkan. Tanpa senjata di medan perang yang riuh.

Meskipun demikian para pengawal Taman Perdikan Menoreh yang telah bertekad untuk merebut tanahnya kembali, sama sekali tidak menghindar. Mereka sadar, bahwa kematian adalah akibat yang mungkin akan terjadi. Tetapi harga tanahnya tidak ada ubahnya dengan harga nyawanya.

Demikianlah, maka mereka telah mencoba untuk mengurung Ki Peda Sura dalam sebuah arena yang sempit. Sedang para pengawal yang lain mencoba menarik batas dengan keributan pertempuran di sekitarnya. Namun usaha itu tidak pernah dapat berhasil, karena anak buah Ki Peda Sura menyadari apa yang akan terjadi atas pemimpinnya itu. Karena itu, setiap kali lingkaran itu selalu dapat dipecahkan. Bahkan semakin lama Ki Peda Sura dan orang-orangnya semakin mendesak maju masuk ke dalam garis benturan antara kedua pasukan itu.

“Orang-orang Menoreh berhasil menahan gerak maju Ki Tambak Wedi,” berkata Ki Peda Sura di dalam hatinya, “tetapi tidak bagi Ki Peda Sura. Tidak ada kekuatan yang dapat melawan Ki Peda Sura.”

Dan Ki Peda Sura pun menjadi semakin ganas bersama beberapa orang anak buahnya yang terpercaya.

Dengan demikian maka arena di seputarnya pun menjadi sangat menarik perhatian, sehingga kedua gembala muda yang bernama Gupita dan Gupala pun akhimya berhasil menemukannya.

“Di situ,” desis Gupala, “lihat, bukankah yang berputaran itu sepasang senjatanya?”

Gupita mengerutkan keningnya. Mereka pun segera berlompatan mendekat ketika mereka melihat seorang pengawal terlempar sambil berlumuran darah.

“Cepat!” geram Gupala. “Kebuasan itu harus segera dihentikan. Beberapa orang korban akan berjatuhan lagi tanpa ampun.”

Gupita tidak menjawab. Tetapi matanyalah yang memancarkan kemarahan yang menyala di dadanya. Ia tidak dapat membiarkan para pengawal itu jatuh tersungkur, kemudian yang lain terlempar untuk tidak pernah bangun kembali. Apalagi tindakan-tindakan anak buah Ki Peda Sura yang melampaui sikap wajar di peperangan.

“Mereka sengaja berbuat demikian untuk menakut-nakuti lawan,” berkata Gupita di dalam hatinya. “Kesan-kesan yang mengerikan itu akan membuat setiap hati menjadi kecut.”

Dengan demikian maka keduanya pun segera bergeser semakin mendekat.

Gupala yang agaknya tidak dapat menahan diri lagi, segera meloncat di hadapan orang tua itu sambil berteriak, “Cukup! Kau jangan berbuat gila. Aku sudah menjadi muak.”

Ki Peda Sura mengerutkan keningnya. Kemudian dengan kasar ia bertanya, “Siapa kau? Apakah kau akan melawan aku atau akan membunuh diri.”

“Aku memang akan membunuh. Tetapi bukan diriku sendiri. Aku akan membunuhmu.”

Ki Peda Sura mengerutkan keningnya. Namun kemudian terdengar suara tertawanya, “Jangan mimpi anak muda. Kau lihat, berapa banyak korban yang telah jatuh di sekitarku,”

“Aku percaya, aku telah melihatnya,” jawab Gupala, “tetapi korban berikutnya adalah kau sendiri.”

“Persetan!” Ki Peda Sura menjadi semakin marah. Ia tidak menjawab lagi. Sepasang senjatanya segera berputar menyerang Gupala dengan sangat tiba-tiba.

Gupala terkejut mengalami serangan yang begitu cepatnya mengarah ke kepalanya. Dengan demikian maka ia pun segera meloncat surut. Tetapi arena tidak begitu luas. Di sekitarnya telah terjadi pertempuran yang seru pula, sehingga ia tidak leluasa mengambil jarak dari lawannya.

Namun dalam kesulitan itu, sebuah ledakan cambuk telah memekakkan telinga. Hampir saja ujung juntai cambuk yang panjang itu melingkar di leher Ki Peda Sura. Namun ketangkasannya telah melepaskannya dari sambaran ujung cambuk itu.

“Setan!” orang tua itu mengumpat. Kini dilihatnya Gupala telah siap menyerangnya pula dengan cambuknya. Sekias Ki Peda Sura melihat kilatan yang melingkar di beberapa bagian dari juntai cambuk itu. Semacam karah yang tajam, yang akan mampu mengelupas kulitnya apabila ujung cambuk itu berhasil menyentuh.

Selain Gupala yang gemuk itu, seorang anak muda yang lain, yang pertama-tama menyerangnya dengan cambuknya, telah pula siap melontarkan serangan-serangan berikutnya.

Dan anak itu ternyata telah pernah dikenalnya.

Ki Peda Sura menggeram. Dipandanginya kedua anak-anak muda itu berganti-ganti. Kemantapan tatapan mata keduanya telah membuat hati Ki Peda Sura menjadi berdebar-debar.

Tetapi ia tidak akan dapat tinggal diam. Keduanya itu harus dilawannya dan dibinasakannya.

Karena itu, maka sejenak kemudian Ki Peda Sura segera melibat keduanya dalam pertempuran. Ki Peda Sura ternyata tidak menunggu kedua anak-anak muda itu menyerangnya lebih dahulu. Tetapi dengan tangkasnya ia meloncat sambil memutar sepasang senjatanya.

Tetapi baik Gupita maupun Gupala telah siap pula menghadapi segala kemungkinan, sehingga karena itu, maka mereka pun segera dapat menanggapi serangan-serangan Ki Peda Sura yang datang sedahsyat angin prahara.

Demikianlah medan pertempuran itu semakin lama menjadi semakin ribut. Masing-masing telah menemukan lawannya. Tidak saja para pemimpin, tetapi setiap orang di dalam masing-masing pasukan yang bertempur itu sedang memeras tenaganya.

Sidanti yang bertempur melawan Hanggapati harus memeras segenap kemampuannya apabila ia ingin menundukkan lawannya. Tetapi lawannya pun telah berusaha sekuat-kuat tenaganya pula untuk mempertahankan dirinya, bahkan Hanggapati pun berusaha untuk dapat mengalahkan Sidanti pula.

Demikian pula Argajaya dengan tombak pendeknya. Agaknya ia sama sekali tidak berpengharapan untuk dapat mengalahkan Dipasanga. Tetapi ia yakin bahwa ia akan dapat bertahan untuk waktu yang lama. Bahkan ia berpengharapan, bahwa ia akan dapat menyimpan tenaga lebih lama dari lawannya.

Tetapi Argajaya adalah seorang yang keras hati. Bagaimana pun juga dihadapinya lawannya dengan dada tengadah. Apabila ia sudah mulai menggerakkan senjatanya, maka ia tidak akan memperhitungkan lagi kemungkinan apa pun yang dapat terjadi atas dirinya. Meskipun demikian ia tidak segera kehilangan akal menghadapi kesulitan.

Dalam hiruk-pikuk pertempuran itu, Wrahasta agaknya masih belum dapat melupakan kawan-kawannya yang telah terbunuh di dalam tugasnya, selagi mereka mendahului pasukan induk membungkam gardu-gardu. Apalagi ketika ternyata korban itu tidak menghasilkan penyelesaian tugas seperti yang diharapkan, karena ternyata bahwa Ki Tambak Wedi masih sempat mengetahui kedatangan pasukan Menoreh, meskipun dengan tergesa-gesa mereka harus menyiapkan diri.

“Setiap orang harus mendapat ganti sepuluh nyawa,” geramnya tidak henti-hentinya. Dan raksasa itu pun kemudian mengamuk sejadi-jadinya.

Tetapi sudah barang tentu bahwa lawannya tidak akan tinggal diam dan membiarkan diri mereka terbunuh. Betapapun juga mereka pasti akan mengadakan perlawanan sekuat-kuat tenaga.

Apalagi Wrahasta tidak terlalu banyak memiliki kelebihan dari lawan-lawannya. Orang-orang Ki Peda Sura yang buas, yang menjadi marah melihat sikapnya, segera berusaha menghancurkannya pula.

Tetapi Wrahasta tidak mempedulikannya. Diayunkannya senjatanya ke segenap penjuru. Ia kehilangan pengamatan yang mantap atas lawan-lawannya karena kemarahan yang meluap-luap di dalam dadanya. Dengan demikian ia tidak dengan pasti melawan seorang demi seorang. Dilawannya siapa pun yang dilihatnya. Dan perlawanan yang demikian justru berbahaya bagi diri Wrahasta sendiri.

Hanggapati sempat melihat sekilas cara bertempur raksasa yang sedang dipenuhi oleh berbagai macam kekecewaan, kemarahan, dan bermacam-macam perasaan bercampur-baur di dalam hatinya. Tetapi ia tidak sempat berbuat apa pun karena tekanan Sidanti yang tidak dapat dielakkannya. Sidanti yang marah itu pun menyerang lawannya tanpa memberinya kesempatan untuk memperhatikan keadaan di sekitarnya.

Namun demikian Hanggapati sempat pula menjadi cemas melihat sikap Wrahasta.

Di sayap lain Kerti bertempur dengan cermatnya. Sambil membimbing pasukannya, ia berusaha setapak demi setapak untuk mendesak maju. Bukan sekedar dirinya sendiri, tetapi seluruh sayap yang dipimpinnya.

Tetapi itu bukan pekerjaan yang mudah dapat dilakukan. Meskipun pasukan Ki Tambak Wedi dipersiapkan dengan tergesa-gesa, namun pada dasarnya pasukan itu cukup kuat. Apalagi karena masih saja ada kelompok-kelompok kecil yang mengalir dan menggabungkan diri ke dalam hiruk-pikuknya peperangan.

Dipasanga masih saja berkelahi dengan gigihnya. Ia mencoba untuk tetap dapat memberikan tekanan-tekanan kepada lawannya, meskipun ada saat-saat terjadi sebaliknya.

Satu demi satu korban berjatuhan di kedua belah pihak. Di antara dentang senjata beradu, terdengarlah pekik kesakitan dan rintih yang memelas. Tetapi tidak banyak di antara mereka yang sempat mendapat pertolongan, karena setiap orang sibuk dengan persoalannya masing-masing. Justru persoalan hidup dan mati. Bukan sekedar hidup dan mati bagi diri sendiri, tetapi hidup dan mati bagi seluruh pasukan.

Namun tusukan pertama yang langsung menghunjam ke jantung pertahanan Ki Tambak Wedi itu ada juga hasilnya. Pada benturan yang pertama, pasukan Menoreh telah mampu mengurangi jumlah lawan di gardu-gardu dan dengan anak-anak panah. Hal itu telah memberikan kejutan yang berpengaruh pada seluruh pasukan Ki Tambak Wedi.

Mereka yang pada dasarnya bukan bekas pengawal yang memalingkan wajahnya, bukan pula orang-orang Ki Peda Sura dan orang-orang yang bertualang lainnya, kejadian itu sangat membekas di dalam diri mereka.

Orang-orang yang selama ini adalah petani-petani yang tekun, pedagang-pedagang dan mungkin juga bekas-bekas pengawal, tetapi yang sudah lama meletakkan senjata-senjata mereka, yang karena keadaan telah dikerahkan oleh Argajaya dan Sidanti, kali ini tidak dapat menunjukkan perlawanan seperti yang diharapkan.

Dengan demikian, maka Ki Tambak Wedi, Sidanti, dan Argajaya kali ini tidak lagi dapat menepuk dada kekuatan mereka. Tanpa mereka duga, ternyata pasukan Ki Argapati memiliki tekad yang memang mendekati sikap putus asa. Karena mereka berjanji di dalam diri, merebut padukuhan induk, atau tidak kembali sama sekali. Itulah agaknya yang telah mendorong mereka untuk berbuat dan mengorbankan apa saja yang ada. Akibat daripada itu, perlawanan mereka pun benar-benar ngedab-edabi.

Para pengawal itu merasa, bahwa mereka telah terlalu lama terusir dari padukuhan induk. Kalau mereka tidak berhasil sekarang, maka masa depan mereka tidak akan dapat mereka bayangkan.

Beberapa lama pertempuran itu sudah berlangsung dengan serunya. Namun nampaknya kedua pasukan itu mempunyai kekuatan yang seimbang. Kemenangan-kemenangan kecil di garis pertempuran itu terjadi silih berganti. Orang-orang Ki Peda Sura dan petualang-petualang yang lain kadang-kadang tidak dapat menahan hati mereka yang liar. Kemenangan-kemenangan kecil telah membuat mereka berteriak-teriak dan bersorak-sorak. Bukan saja mereka, tetapi keliaran itu agaknya merambat ke segenap pasukan, bahkan pasukan lawan.

Dengan demikian maka berganti-ganti kedua belah pihak bersorak-sorak seperti hendak memecahkan langit. Semakin lama menjadi semakin keras. Dan tandang mereka pun menjadi semakin kasar. Mereka sama sekali tidak lagi menghiraukan pekik kesakitan dan rintihan mereka yang terluka. Bahkan sambil tertawa seperti orang yang kehilangan ingatan, orang-orang yang bertualang di atas Tanah Perdikan Menoreh, dan melibatkan diri dalam api peperangan itu, telah berbuat hal-hal yang mendirikan bulu roma. Selagi lawannya mengaduh sambil memegangi lukanya, dengan tanpa ragu-ragu, orang-orang itu menghunjamkan senjata-senjata mereka. Bahkan kadang-kadang dengan perlahan-lahan.

Ki Tambak Wedi yang bertempur sepenuh tenaga, kadang-kadang sempat juga melihat hal itu terjadi. Tetapi ia sama sekali tidak berkeberatan. Orang-orang Menoreh harus ditakut-takuti dengan perlakuan yang kasar dan buas.

Tetapi harapan mereka, bahwa dengan demikian para pengawal akan gentar, ternyata meleset. Para pengawal justru menjadi marah, dan mereka yang berdarah panas, segera ditumbuhi nafsu untuk melakukan pembalasan.

Gupita yang berkelahi berpasangan dengan Gupala melawan Ki Peda Sura, hampir saja terpekik ketika tiba-tiba sebuah kepala berguling di hadapannya. Sejenak ia terpukau diam. Ia tidak dapat segera mengatasi gejolak yang melanda dinding jantungnya.

“Oh, ternyata di dalam peperangan manusia-manusia ini telah kehilangan sifat-sifatnya,” desisnya di dalam hati.

Saat itu hampir saja dapat dimanfaatkan oleh Ki Peda Sura. Hampir saja kepalanya sendiri pun akan pecah karena pukulan senjata lawannya. Untunglah bahwa Gupala tidak begitu terpengaruh oleh kengerian itu, sehingga ia masih sempat dengan tangkasnya meledakkan cambuknya mengarah ke wajah Ki Peda Sura yang tegang.

Orang tua itu mengumpat-umpat tidak habis-habisnya. Ia terpaksa mengurungkan serangannya dan menghindari ujung cambuk Gupala. Namun yang sesaat itu, telah memberi kesempatan kepada Gupita untuk menyadari keadannya.

Anak muda itu menggeram sambil menggeretakkan giginya. Kini ia tidak mempunyai pilihan lain. Pertempuran ini telah berubah menjadi ajang pembantaian. Peluapan nafsu yang paling rendah, nafsu yang buas dan mengerikan.

Sejenak kemudian Gupita telah mempersiapkan dirinya. Sekilas terpandang olehnya hirup-pikuk pertempuran di sekitarnya. Kebuasan orang-orang yang mencari keuntungan dari perselisihan yang terjadi di atas tanah perdikan ini.

Terasa darahnya menjadi semakin panas. Kini ditatapnya lawannya yang kasar itu tajam-tajam. Kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Kini ia telah mendapatkan suatu kepastian di dalam dadanya. Ia telah berhasil mengatasi keragu-raguan. Ia harus membinasakan lawannya.

Sejenak kemudian maka Gupita itu memutar juntai cambuknya di atas kepalanya sambil memusatkan segenap kemampuan dan kegairahan tekadnya. Sesaat kemudian cambuknya itu pun meledak seakan-akan memecahkan selaput telinga.

Ki Peda Sura mengerutkan keningnya. Ia melihat sorot mata Gupita yang telah berubah. Kemudian dipandangnya Gupala yang tertawa-tawa kecil sambil menyerangnya dengan ujung cambuknya.

Orang tua itu melihat perbedaan pada kedua anak-anak muda yang melawannya. Tetapi ia yakin bahwa keduanya bersumber dari perguruan yang sama.

Demikianlah maka pertempuran itu pun segera meningkat semakin seru. Serangan-serangan Gupita menjadi semakin garang, sedang Gupala selalu menempatkan dirinya, dan mengisi setiap kelemahan kakak seperguruannya, meskipun kadang-kadang ia sempat juga tertawa apabila ujung cambuknya mengena.

Ki Peda Sura, yang sekali-sekali tersentuh oleh kedua ujung cambuk itu semakin lama menjadi semakin buas juga. Matanya menjadi semakin merah, dan sekali-sekali terdengar mulutnya mengumpat dengan kata-kata kasar.

Seluruh medan perang menjadi semakin kalut. Semua pihak menjadi semakin kasar, dan dalam keadaan yang demikian nyawa seakan-akan tidak berharga lagi.

Di ujung pertempuran kedua belah pihak saling mendesak, sedang di pusat pertempuran, dua orang tua-tua masih saja berkelahi dengan dahsyatnya.

Ki Tambak Wedi semakin lama menjadi semakin gelisah. Ia yakin bahwa ia tidak akan dapat mengalahkan orang bercambuk itu. Sedangkan ia tidak dapat mengira-irakan apa yang terjadi di seluruh medan. Tetapi ia kini tidak lagi mempunyai perhitungan bahwa kekuatannya jauh melampaui kekuatan lawannya. Apalagi dengan kehadiran orang bercambuk itu. Kemungkinan terbesar orang bercambuk itu pasti telah membawa kedua murid-muridnya pula.

Tiba-tiba di samping Ki Tambak Wedi telah digemparkan oleh sorak yang memekakkan telinga. Sejenak Ki Tambak Wedi berusaha untuk mengetahui apa yang telah terjadi. Tetapi demikian garangnya serangan cambuk lawannya sehingga ia tidak berhasil. Karena itu, sambil bertempur terus ia berteriak kepada seorang penghubungnya, “Lihat, apa yang telah terjadi.”

Orang itu pun segera menyusup di daerah pertempuran untuk melihat apakah yang telah terjadi di samping pusat pertempuran itu.

Sorak yang riuh itu adalah sorak para pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Mereka tidak dapat menahan perasaan mereka yang sedang meluap-luap.

Sementara itu, pertempuran masih tetap berlangsung dengan sengitnya. Sedang sorak-sorai para pengawal semakin lama menjadi semakin riuh.

Dengan jantung yang mengembang, para pengawal Tanah Perdikan Menoreh bersama-sama rakyat yang setia kepada pemimpinnya, bertempur semakin mantap. Dengan sepenuh harapan mereka menyaksikan bagaimana kedua anak-anak gembala itu berhasil menguasai lawannya, meskipun lawan itu bernama Ki Peda Sura.

Sebenarnyalah bahwa Ki Peda Sura berada dalam kesulitan. Setiap kali ia selalu terdesak. Betapa pun ia berusaha untuk bertahan, tetapi kedua lawannya yang masih muda itu terlampau cepat bergerak di arah yang berbeda-beda. Keduanya demikian baik menyusun serangan yang kadang-kadang dapat membingungkan orang tua yang sudah cukup banyak makan garam peperangan.

Ki Peda Sura adalah seorang yang hampir sepanjang hidupnya berada dalam pertempuran, peperangan, dan perkelahian. Kekerasan, kekasaran, dan kelicikan adalah kelengkapannya sehari-hari. Namun ketika ia harus melawan dua kakak-beradik seperguruan itu, terasa bahwa ia mengalami kesulitan.

Gupita dan Gupala yang telah menemukan kemenangan-kemenangan kecil, segera berusaha untuk memperbanyak kemenangan-kemenangannya. Mereka berusaha agar Ki Peda Sura tidak berhasil memperbaiki kedudukannya. Dengan demikian maka kedua ujung cambuk anak-anak muda itu tanpa henti-hentinya menyerang dari segala arah, sehingga kadang-kadang Ki Peda Sura tidak lagi berhasil menghindarinya.

Ketika terdengar keluhan Ki Peda Sura yang tertahan, serta seleret warna merah membekas di pipinya, maka Gupala telah mendesaknya semakin ketat. Sekali cambuknya berputar. Tetapi ia kali ini tidak menyerang dengan ujung cambuk kali itu. Kali ini ia berusaha membelit kaki lawannya, kemudian dengan suatu hentakan ia menariknya.

Serangan itu sama sekali tidak terduga-duga. Selagi Ki Peda Sura menghindari serangan Gupita, maka begitu kakinya menginjak tanah, kaki itu telah terbelit ujung cambuk Gupala. Dengan demikian maka Ki Peda Sura sama sekali tidak dapat menghindarinya lagi ketika sebelah kakinya terseret oleh ujung cambuk itu.

Sambil menggeletakkan giginya Ki Peda Sura berusaha menarik kakinya. Tetapi keseimbangannya sudah tidak begitu mantap lagi. Dengan demikian, maka Ki Peda Sura justru menjatuhkan dirinya, dan berguling beberapa kali. Sebuah tarikan yang mengejutkan hampir saja melepaskan pegangan Gupala pada pangkal cambuknya. Namun segera ia menyadarinya, sehingga dengan sekuat-kuat tenaganya ia menahan genggamannya.

Sejenak kemudian, belitan itu pun terlepas. Dengan sigapnya Ki Peda Sura meloncat berdiri sambil menggeram. Jantungnya serasa telah terbakar oleh kemarahannya yang meluap-luap. Sementara para pengawal yang menyaksikannya masih saja bersorak-sorak dengan riuhnya, karena serangan-serangan berikutnya yang dilancarkan oleh Gupita telah membuat Ki Peda Sura menjadi agak bingung.

Kesempatan yang demikian itu tidak disia-siakan oleh Gupala dan Gupita. Serangan mereka pun menjadi semakin cepat. Ujung cambuk Gupala berputaran menyambar-nyambar, sedang Gupita yang merendahkan diri pada lututnya, menyerang mendatar dengan dahsyatnya.

Ternyata bahwa gabungan kekuatan Gupita dan Gupala masih berada di atas kemampuan Ki Peda Sura yang bersenjata sepasang bindi. Semakin lama ujung cambuk itu semakin sering menyentuh tubuhnya, meskipun tidak berbahaya. Tetapi perasaan pedih telah mulai merayapi kulitnya ketika keringatnya menjadi semakin banyak mengalir.

Orang tua itu menggeretakkan giginya. Kini ia mencoba untuk berbuat lain. Ia melihat kelemahan pada anak muda yang gemuk itu. Ternyata ia tidak selincah Gupita. Karena itu, timbul niatnya untuk mengalahkan lawannya seorang demi seorang.

Dalam perkelahian berikutnya, tiba-tiba saja tanpa menghiraukan serangan-serangan cambuk Gupita, Ki Peda Sura langsung menerkam Gupala. Kedua bindinya berputaran melindungi dirinya.

Gupala terkejut menerima serangan yang tiba-tiba itu. Dengan tangkasnya ia mencoba menghindar ke samping.

Meskipun ia berhasil menghindari serangan yang pertama, namun Ki Peda Sura agaknya telah benar-benar menjadi wuru. Ia melenting pula seperti seekor bilalang, menyerang Gupala dengan segenap kemampuannya.

Tetapi Gupita tidak tinggal diam. Dengan, sigapnya ia melangkah maju, melecutkan cambuknya langsung mengarah kekening lawan. Namun Ki Peda Sura benar-benar tidak menghiraukannya lagi. Bahkan ia sama sekali tidak menghiraukan ketika ujung cambuk itu meledak di keningnya, dan menyobek kulitnya. Ia sama sekali tidak menghiraukan darah yang menetes dari lukanya. Tetapi, serangannya atas Gupala menjadi semakin dahsyat.

Gupala menjadi agak bingung mendapat serangan yang membabi buta itu. Yang dapat dilakukan adalah melindungi dirinya dengan putaran juntai cambuknya. Bahkan dengan ayunan bersilang, ia masih mencoba menyerang lawannya.

Ki Peda Sura menyeringai menahan sakit ketika juntai cambuk Gupala mengenai pundaknya. Tetapi ia sudah mengayunkan bindinya mengarah ke dahi Gupala yang berada dalam kesulitan. Gupala tidak dapat merundukkan kepalanya, kalau ia tidak ingin ubun-ubunnya yang pecah, sementara ia tidak sempat meloncat lagi karena hiruk-pikuknya pertempuran. Yang dapat dilakukannya adalah melawan ayunan bindi itu. Tetapi senjatanya adalah senjata lentur yang tidak akan mampu membentur langsung bindi lawan. Meskipun demikian, Gupala tidak berputus asa. Ia mencoba bergeser dan memiringkan tubuhnya, sementara dengan cambuknya berusaha membelit lengan lawannya untuk mencoba merubah arah ayunan bindinya.

Bersamaan dengan itu, Gupita yang melihat bahaya yang hampir menerkam Gupala itu pun segera bertindak cepat. Ujung cambuknya segera membelit pergelangan tangan Ki Peda Sura hampir bersamaan ujung cambuk Gupala sendiri yang membelit lengan. Hampir bersamaan pula keduanya menghentakkan ujung-ujung cambuk itu.

Tetapi ayunan tangan Ki Peda Sura yang dilambari oleh sepenuh kekuatan itu benar-benar mengerikan.

Kedua ujung cambuk itu tidak berhasil menahan ayunan tangan orang tua yang perkasa itu. Karena itu, bindi Ki Peda Sura dengan derasnya menukik turun.

Namun demikian usaha kedua anak-anak muda itu tidak sia-sia belaka. Hentakan ujung-ujung cambuk itu ternyata telah berhasil mempengaruhi arah ayunan bindi Ki Peda Sura. Karena itu maka bindi itu kemudian tidak lagi membentur dahi Gupala, tetapi bindi itu kemudian menyentuh pundak.

Terdengar anak muda yang gemuk itu berdesis pendek. Setapak ia melangkah surut. Terasa pundak kirinya menjadi sakit bukan buatan, dan bahkan seluruh tangannya hampir-hampir tidak lagi dapat digerakkan. Karena itu, maka sejenak kemudian ia menggeram. Matanya menjadi semerah darah yang memerahi kulitnya yang terkelupas

Dalam pada itu, Gupita sama sekali tidak membiarkan Ki Peda Sura mendapat kesempatan berikutnya. Dengan garangnya cambuknya pun kemudian terayun deras sekali mengarah keleher lawannya.

Ki Peda Sura yang sudah terluka di beberapa tempat itu menyadari bahaya yang dapat mencekiknya. Karena itu, maka ia telah mencoba bergeser, namun di luar dugaannya Gupala yang terluka pundaknya menyerangnya dengan dahsyatnya. Sebuah ayunan mendatar langsung mengenai lambungnya.

Sesaat Ki Peda Sura menyeringai menahan pedih. Pedih di lambungnya, di kenignya, di pundaknya dan di beberapa bagian lagi. Kakinya pun telah terkelupas pula pada saat cambuk Gupala membelitnya.

Namun serangan-serangan berikutnya datang beruntun seperti banjir bandang.

Sekali-sekali Ki Peda Sura berloncatan menghindar. Namun di suatu saat ia masih juga mencoba menyerang. Sepasang bindinya terayun-ayun mengerikan.

Tetapi ia menyadari, bahwa agaknya ia telah memeras tenaganya hampir melampaui kemampuan yang ada padanya. Sehingga karena itu maka nafasnya pun menjadi kian terengah-engah, dan bahkan seakan-akan ujungnya telah tersangkut di lubang hidung. Sedang kedua lawannya yang cukup terlatih itu masih berusaha menahan diri agar pada saatnya mereka dapat melakukan tekanan terakhir atas lawannya.

Ki Peda Sura menyadari kesalahannya. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Ia memang harus memeras tenaganya, karena ia menyadari bahaya yang dapat menyentuhnya. Ia mengharap bahwa dengan mencurahkan segenap kekuatan dan kemampuan ia akan segera mengakhiri perkelahian, setidak-tidaknya ia dapat mengurangi satu dari kedua lawannya. Tetapi rencana itu tidak dapat dilaksanakannya.

Gupita dan Gupala justru menjadi semakin garang. Serangan-serangan mereka menjadi kian cepat. Apalagi Gupala yang terluka pundaknya. Nafsunya serasa telah dibakar oleh titik darahnya yang merah. Tandangnya menjadi kian cepat dan bahkan kadang-kadang menjadi kasar.

Akhirnya, Ki Peda Sura tidak dapat mengelak lagi. Memang timbul niatnya untuk melarikan diri, tetapi kedua anak muda itu mengurungnya dengan ketat. Karena itu, maka tidak ada pilihan lain kecuali bertempur terus. Sedang anak buahnya masih juga sibuk melayani para pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang semakin mendesak.

Namun terasa betapa tenaganya menjadi semakin lama semakin lemah. Kedua bindinya sudah tidak lagi sebuas semula. Ayunannya tidak lagi berdesing-desing seperti prahara.

Gupala yang sedang dibakar oleh kemarahannya itu mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Ketika Ki Peda Sura sedang sibuk melayani serangan Gupita, maka Gupala tidak dapat bersabar lagi. Tiba-tiba saja ia menggenggam cambuknya di tangan kirinya yang lemah karena luka di pundaknya. Selagi Ki Peda Sura kehilangan keseimbangan, maka anak yang wuru itu melompat yang memekik tinggi. Pedangnya terjulur lurus ke depan.

Sejenak kemudian terdengar Ki Peda Sura mengeluh tertahan. Terasa ia terdorong ke samping, kemudian perasaan sakit yang amat sangat telah menyengat lambungnya. Ia sadar, bahwa yang menyentuhnya kini bukanlah sekedar ujung cambuk yang meskipun berkarah rapat. Tetapi yang menghunjam di lambungnya kini adalah ujung pedang. Pedang Gupala.

Dengan mata yang liar Ki Peda Sura memandang wajah Gupala yang geram. Tetapi anak muda itu tidak segera mencabut pedangnya, justru dengan segenap kekuatannya ia menghentakkan tangannya, membenamkan pedang itu semakin dalam.

Ki Peda Sura menggeliat. Tetapi kemudian terhuyung-huyung sejenak.

Sorak-sorai para pengawal meledak seperti hendak meruntuhkan langit. Ujung-ujung senjata terangkat tinggi-tinggi, sementara yang lain masih sibuk berkelahi di garis batas benturan kedua pasukan itu.

Orang tua itu pun kemudian jatuh terjerambab. Ia masih sempat menatap wajah kedua anak-anak muda yang berdiri berdampingan. Tanpa sesadarnya Ki Peda Sura itu berdesis, “Kalian memang luar biasa. Kalian memang anak-anak muda yang tangguh.”

Ki Peda Sura tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Sesaat ia masih memandangi wajah-wajah yang tegang di atasnya. Namun kemudian semuanya menjadi kabur.

Ki Peda Sura menghembuskan nafas yang penghabisan sebelum ia dapat merabai seluruh Tanah Perdikan. Sebelum ia berhasil memasuki rumah demi rumah dengan leluasa. Yang baru dapat dilakukan adalah merampas satu-dua rumah yang tidak mendapat perlindungan, disetiap kerusuhan. Tetapi belum begitu banyak, dan ia mati terjebak oleh nafsunya itu.

Sejenak Gupita dan Gupala saling berpandangan. Kini mereka telah kehilangan lawan. Sementara perang masih berkecamuk.

“Pundakku harus ditukar dengan seratus pundak,” geram Gupala.

“Kau sudah kejangkitan penyakit Wrahasta itu,” sahut Gupita.

Gupala tidak segera menjawab. Dipandanginya mayat Ki Peda Sura yang terbujur diam.

“Lalu apa kerja kita sekarang? Membunuh sebanyak-banyaknya?” bertanya Gupala.

Gupita merenung sejenak Namun kemudian ia menjawab, “Gupala, aku kira sekarang Guru sedang bertempur mati-matian melawan Ki Tambak Wedi. Kalau mereka dibiarkan berkelahi seorang melawan seorang, aku kira, sepuluh hari perkelahian yang demikian itu tidak akan dapat selesai.”

Gupala mengerutkan keningnya. Sejenak ia terdiam di dalam hiruk-pikuknya perkelahian yang masih berkecamuk di sekitarnya. Sejenak ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jadi maksudmu, kita membantu Guru?” desis Gupala.

Gupita menganggukkan kepalanya, “Begitulah.”

Gupala menjadi ragu-ragu sejenak. Dilihat seorang lawan dengan sangat bernafsu menyerang seorang pengawal yang sedang dalam kesulitan. Tiba-tiba saja Gupala meloncat sambil menjulurkan pedangnya.

Ia tidak perlu mengulanginya. Orang yang tersentuh ujung pedangnya itu terpelanting jatuh di tanah. Mati.

Gupita menggeleng-gelengkan kepalanya. Tetapi ia tidak dapat menyalahkan adik seperguruannya. Kalau anak muda yang gemuk itu tidak bertindak cepat, maka seorang pengawal pasti telah terbunuh.

Gupala kemudian mengamat-amati pedangnya yang berlumuran darah. Disarungkannya pedangnya itu sambil berkata, “Mari, kita melihat bagaimana Guru berkelahi.”

Keduanya pun kemudian meninggalkan medan. Mereka tidak begitu cemas lagi akan nasib para pengawal, karena Ki Peda Sura sudah tidak ada lagi.

Namun demikian, Gupala masih juga menyeringai karena pundaknya yang pedih, sehingga tangan kirinya terasa seakan-akan menjadi lumpuh.

Kematian Ki Peda Sura segera sampai ke telinga Ki Tambak Wedi. Wajah orang tua itu sejenak menjadi tegang. Kematian Ki Peda Sura akan dapat berakibat dua kemungkinan. Anak buahnya menjadi ketakutan dan sedikit demi sedikit meninggalkan arena, yang pasti akan diikuti oleh orang-orang yang mereka bawa atau mereka akan menjadi gila dan mengamuk sejadi-jadinya.

Tetapi kemungkinan yang terakhir itu pun tidak akan banyak bermanfaat. Para pengawal Tanah Perdikan Menoreh pasti menjadi berbesar hati sepeninggal Ki Peda Sura, sehingga mereka akan menjadi bertambah berani.

Ki Tambak Wedi tidak dapat lagi menyembunyikan kegelisahannya. Orang-orang yang berhasil membunuh Ki Peda Sura itu sudah kehilangan lawan-lawannya. Lalu apakah yang akan mereka kerjakan?

Dugaan Ki Tambak Wedi sama sekali tidak meleset ketika tiba-tiba saja muncul dua orang anak-anak muda di arenanya. Kedua anak-anak muda yang juga bersenjata cambuk.

Dengan isyarat Ki Tambak Wedi kemudian memanggil orang-orangnya yang terpercaya. Mereka harus membantunya, apabila kedua anak-anak muda bercambuk itu akan berkelahi bersama dengan gurunya.

Sejenak Gupita dan Gupala memperhatikan pertempuran itu. Pertempuran antara dua orang yang berilmu jauh lebih tinggi dari ilmu mereka. Keduanya memiliki kemampuan, dan pengalaman yang seimbang, sehingga karena itu, maka pertempuran semakin lama menjadi kian seru. Tidak ada tanda-tanda bahwa salah seorang dari mereka akan terdesak, apalagi dikalahkan. Meskipun senjata Ki Tambak Wedi jauh lebih pendek dari juntai cambuk lawannya, namun kelincahannya telah banyak menolongnya membebaskannya dari ujung cambuk itu, sementara senjatanya yang berujung rangkap itu berputar mengerikan.

Gupita dan Gupala merasa, bahwa apabila mereka berdua harus melawan Ki Tambak Wedi seperti mereka melawasi Ki Peda Sura, mereka pasti akan mengalami banyak kesulitan. Tetapi di sini ada gurunya. Keseimbangan itu pasti akan segera bergeser, apabila keduanya ikut serta pula di dalam pertempuran itu.

Gupita dan Gupala masih tetap termangu-mangu di tempatnya. Mereka berusaha untuk mengerti, kesan gurunya tentang kehadirannya.

Ternyata gurunya pun tidak berkeberatan. Sesaat, pada waktu pandangan gurunya menyambar mata Gupita, orang tua itu menganggukkan kepalanya.

“Kita sudah mendapat ijin,” desis Gupita.

“Ya, aku juga melihat Guru mengangguk,” sahut Gupala.

Keduanya pun kemudian mendekat. Dengan cambuk di tangan, mereka siap untuk menerjunkan diri di dalam peperangan yang dahsyat itu.

Tetapi belum lagi mereka berhasil masuk ke dalam arena itu, tiba-tiba beberapa orang pengawal kepercayaan Ki Tambak Wedi telah menyergap mereka, setelah mereka menggeser lawan-lawan mereka. Dengan berbagai macam senjata mereka mencoba membatasi keduanya, agar mereka tidak dapat mempengaruhi perkelahian antara dua orang tua-tua itu.

Gupala yang memang sedang meluap karena pundaknya yang terluka, tidak dapat menahan diri lagi. Segera ia berloncatan sambil memutar cambuknya. Sejenak kemudian cambuk itu pun telah meledak-ledak di udara, kemudian menyambar satu dua orang yang berdiri di paling dekat.

Gupita pun tidak dapat tetap tinggal diam. Ia memang harus membuka jalan sebelum bersama adiknya ia akan ikut di dalam pertempuran melawan Ki Tambak Wedi.

Sementara itu di bagian lain dari pertempuran, masih saja berlangsung dengan sengitnya. Ternyata kelompok-kelompok kecil masih saja mengalir dari padukuhan induk. Empat orang, lima orang bahkan kadang-kadang delapan orang sekaligus. Dengan tergesa-gesa mereka segera menggabungkan diri dalam riuhnya peperangan.

Meskipun demikian, ternyata jumlah yang kecil itu semakin lama menjadi jumlah yang semakin besar, sehingga akhirnya terasa juga pengaruhnya. Sidanti dan Argajaya agaknya berhasil memikat orang-orang di berbagai padukuhan di sekitar padukuhan induk, dan bahkan di padukuhan-padukuhan terpencil di lereng-lereng bukit, selain orang-orang yang tidak dikenal di tlatah Menoreh.

Dengan demikian terasa, bahwa kekuatan pasukan Ki Tambak Wedi yang bertambah-tambah itu menjadi semakin kuat, sedang jumlah para pengawal menjadi kian susut karena korban yang berjatuhan di peperangan.

Sidanti yang bertempur melawan Ki Hanggapati, mencoba mengerahkan segenap kemampuannya. Kemarahan dan nafsu yang menyala di dadanya seakan-akan telah menambah kemampuannya, sehingga Ki Hanggapati terpaksa beberapa kali melangkah surut.

Serangan-serangan Sidanti bagaikan badai yang tiada taranya menghantam bibir hutan yang lebat.

Namun Hanggapati bukan pula anak ingusan di peperangan. Itulah sebabnya maka ia masih tetap bertahan meskipun ia kadang-kadang harus menghindar dan menghindar.

Di sayap yang lain, Dipasanga harus mengerahkan segenap kemampuannya pula. Adik Kepala Tanah Perdikan Menoreh yang telah terlanjur memusuhi kakaknya itu, sama sekali tidak lagi dapat melangkah surut. Karena itu, tidak ada jalan lain baginya, kecuali meneruskan peperangan ini.

Sementara itu, Gupita dan Gupala perlahan-lahan berhasil menguasai lawan-lawannya. Satu demi satu mereka terlempar dari lingkaran. Sehingga akhirnya Gupita dan Gupala berhasil mendekati arena pertempuran gurunya.

Sejenak mereka tertegun. Mereka masih harus berusaha menyesuaikau diri. Di mana mereka hadir, dan bagaimana sebaiknya mereka mempengaruhi peperangan itu.

Gupala mengerutkan keningnya sambil mengangguk-anggukkan. Melawan Ki Tambak Wedi baginya lebih baik mempergunakan senjata panjang, meskipun lentur. Adalah sangat berbahaya apabila ia mempergunakan pedangnya.

Perlahan-lahan keduanya menjadi semakin dekat. Kemudian mereka berpencar, mengambil arah masing-masing. Sedang cambuk mereka telah tergenggam erat-erat. Sekali-sekali mereka terpaksa menjauh, dan bahkan sekali-sekali mereka masih juga harus melayani para pengawal Ki Tambak Wedi. Namun kemudian para pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang lain telah berhasil menempatkan diri mereka melawan orang-orang Ki Tambak Wedi untuk memberi kesempatan kepada Gupita dan Gupala membantu ayahnya melawan Ki Tambak Wedi.

Melihat gelagat yang tidak menguntungkan itu, Ki Tambak Wedi menjadi semakin marah. Tetapi sepercik kecemasan memang telah meraba hatinya. Betapa pun tidak berarti, tetapi kedua anak-anak muda itu pasti akan dapat mempengaruhi keseimbangan peperangan.

“Keduanya pula yang telah membunuh Ki Peda Sura,” geram Ki Tambak Wedi di dalam hatinya. Namun yang terlontar dari mulutnya adalah sebuah teriakan nyaring, “Ayo, majulah bersama-sama, supaya pekerjaanku segera selesai.”

Gembala tua itu tidak menjawab. Dipandanginya kedua murid-muridnya sejenak. Setelah mereka mendapat tempatnya masing-masing, maka gembala tua itu pun segera mendesak lawannya.

Ki Tambak Wedi kini harus berpikir sebaik-baiknya. Bagaimana ia harus melawan ketiga orang yang bersenjata cambuk itu. Lawan yang sama sekali tidak diperhitungkannya, namun yang agaknya justru ikut menentukan akhir dari peperangan ini.

Sejenak kemudian maka Ki Tambak Wedi harus mengumpat-umpat di dalam hati. Tiga ujung cambuk meledak-ledak di sekitarnya. Beruntun tanpa kendat. Yang satu disahut yang lain, kemudian yang lain lagi meledak pula di sebelah telinganya.

“Gila, gila!” Ki Tambak Wedi tiba-tiba berteriak. Suara cambuk yang memekakkan telinga itu sungguh-sungguh memuakkan.

Namun demikian Ki Tambak Wedi berusaha untuk mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Tetapi untuk melawan ketiganya, Ki Tambak Wedi akan segera mengalami kesulitan, karena satu dari yang tiga itu, memiliki kemampuan yang seimbang dengan kemampuannya sendiri.

Namun yang paling membakar jantungnya adalah ledakan-ledakan cambuk yang seakan-akan berputaran di telinganya. Ledakan-ledakan yang kadang-kadang membingungkannya.

“Setan alas!” ia mengumpat. Dicobanya untuk menilai kekuatan kedua anak-anak muda itu, “Aku harus menerkam mereka satu demi satu, sehingga kemudian aku tidak akan terganggu lagi oleh suara-suara bising yang memuakkan.”

Ki Tambak Wedi menegangkan keningnya. Kini arah serangannya justru dipusatkan kepada kedua anak-anak muda itu. Tetapi sudah tentu bahwa gurunya tidak akan membiarkannya. Setiap kali Ki Tambak Wedi melakukan tekanan, maka setiap kali gembala tua itu pun telah mendesaknya pula.

Iblis tua dari lereng Gunung Merapi itu mengumpat-umpat tidak habis-habisnya. Bagaimana pun juga, kehadiran kedua anak-anak muda itu telah berpengaruh atas perkelahian antara kedua orang-orang tua yang pilih tanding itu.

Sementara itu, Ki Argapati mengikuti pertempuran itu dari jarak yang tidak terlampau jauh. Dengan tegang ia menyaksikan garis peperangan yang tidak rata, kadang-kadang ia melihat gelombang-gelombang pasang dan surut dari keduanya. Sekali-sekali pasukannya di satu sayap terdesak, tetapi di sayap lain maju beberapa langkah, dan kemudian terjadi sebaliknya. Namun dengan cemas ia menyaksikan pula kelompok-kelompok kecil yang masih saja mengalir, meskipun peperangan sudah berlangsung sekian lamanya, bahkan menurut perhitungannya, sebentar lagi matahari pasti akan segera menyingsing di ujung Timur.

Setiap kali Ki Argapati menghentakkan tangannya. Ia tidak dapat melihat seorang demi seorang. Yang diketahuinya hanyalah sebuah deretan hitam yang bergerak-gerak dan sorak-sorai yang memekakkan telinga.

Namun demikian seorang penghubung telah memberitahukan kepadanya, bahwa Ki Peda Sura telah terbunuh di peperangan oleh kedua gembala-gembala muda yang bernama Gupita dan Gupala.

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia berbangga atas kemenangan kecil itu, seperti juga Pandan Wangi menjadi berdebar-debar mendengarnya. Bukan kematian Ki Peda Sura yang membuat jantungnya semakin cepat berdetak, tetapi kedua pembunuhnya.

Tetapi dalam pada itu, Ki Argapati sama sekali tidak menduga, bahwa timbul suatu niat yang licik di hati Ki Tambak Wedi. Karena ia merasa tidak akan dapat memenangkan pertempuran melawan ketiga guru dan murid itu, maka kini ia mencoba memperhitungkan kemungkinan yang lain.

“Sebaiknya aku menyerang Argapati dengan tiba-tiba, selagi ia tidak berdaya. Aku yakin bahwa yang di belakang garis perang itu adalah Argapati yang terluka parah. Kematiannya akan sangat berpengaruh, meskipun kemudian aku harus berlari-lari menghindari ketiga demit-demit kecil ini,” berkata Ki Tambak Wedi di dalam hatinya.

Demikianlah maka kini perhatian Ki Tambak Wedi sebagian terbesar justru tertuju kepada seseorang yang berada di belakang garis perang dan dikawal oleh beberapa orang termasuk Pandan Wangi. Namun meskipun demikian Ki Tambak Wedi tidak berani melengahkan lawan-lawannya yang bersenjata cambuk itu.

“Aku akan mencari kesempatan itu,” desisnya di dalam dadanya. “Aku harus mencapai kuda itu secepat-cepatnya. Kemudian meloncat dan sekaligus membunuhnya,” Ki Tambak Wedi mulai berangan-angan.

Namun tiba-tiba karena itu ia terlonjak ketika ujung cambuk gembala tua menyentuh punggungnya.

Terdengar giginya gemeretak menahan marah. Sentuhan yang pedih itu telah mendorongnya untuk lebih cepat bertindak. Membunuh Ki Argapati yang pasti tidak akan menyangka, mendapat serangan yang tiba-tiba.

Kini Ki Tambak Wedi hanya sekedar menunggu kesempatan. Ia tidak lagi bernafsu untuk menerkam gembala-gembala muda itu, atau bahkan gurunya sama sekali. Kini ia sedang mencari akal, bagaimana ia dapat melepaskan diri dari pertempuran itu dengan tiba-tiba, dan dalam waktu yang singkat, sebelum orang-orang yang mengejarnya kemudian dapat menyusulnya, ia sudah berhasil membunuh Argapati. Setelah itu, ia harus berusaha melarikan dirinya dan kembali ke tengah-engah medan ini sambil meneriakkan kematian Argapati.

“Kematiannya akan merontokkan setiap jantung di dada orang-orang Menoreh,” katanya di dalam hati, “dan pertempuran ini pun akan segera berakhir. Mereka pasti tidak akan mempunyai nafsu lagi untuk bertempur. Betapa saktinya orang-orang bercambuk itu, namun melawan sekian banyak orang, mereka pasti tidak akan berdaya.”

Maka Ki Tambak Wedi pun kemudian mengambil keputusan untuk segera melakukannya. Ketika ia mendapat kesempatan, maka tiba-tiba serangannya datang membadai. Begitu dahsyatnya dan seakan-akan menghentak dengan tiba-tiba, sehingga gembala tua itu terpaksa mundur beberapa langkah untuk menghindarinya.

Tetapi yang terjadi kemudian sangat mengejutkannya. Ki Tambak Wedi sama sekali tidak memburunya. Bahkan dengan tanpa disangka-sangka ia meloncat berlari meninggalkan arena, menerobos hiruk-pikuknya peperangan.

Gembala tua dan kedua muridnya untuk sejenak justru mematung, seakan-akan terpukau oleh peristiwa yang tidak terduga-duga itu. Namun sekejap kemudian, gembala tua itu menyadari apa yang akan dilakukan oleh Ki Tambak Wedi. Karena itu, maka ia pun segera meloncat pula mengejarnya.

Tetapi Ki Tambak Wedi mendapat kesempatan beberapa saat di muka. Dengan garangnya ia mengayunkan senjatanya untuk merambas jalan. Tidak seorang pun yang dapat menahan langkahnya, sehingga akhirnya ia berhasil muncul di belakang garis perang para pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

Gembala tua beserta kedua anaknya pun mencoba berlari menyusulnya. Mereka kini menyadari sepenuhnya, apa yang akan dilakukan oleh Ki Tambak Wedi.

Tetapi langkah Ki Tambak Wedi yang sedang dilanda oleh nafsunya untuk membinasakan Argapati itu seakan-akan menjadi semakin cepat. Kakinya seolah-olah tidak lagi berjejak di atas tanah.

Ki Argapati melihat juga seseorang berlari dari peperangan menuju ke arahnya. Tetapi ia tidak segera mengenal siapakah orang itu. Karena itu maka ia bertanya kepada Pandan Wangi, “Siapakah orang itu Pandan Wangi?”

Pandan Wangi menggelengkan kepalanya. “Entahlah, Ayah.”

“Apakah ada sesuatu yang penting sekali sehingga ia terpaksa berlari-lari demikian cepatnya?”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja ia mendapat firasat, bahwa orang yang berlari-lari itu bukanlah orang Menoreh.

“Aku mencurigainya, Ayah,” desis Pandan Wangi.

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya. Aku juga tidak dapat mengerti sikapnya.”

Kedua ayah beranak itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba saja pedang Pandan Wangi telah bergetar di tangannya. Perlahan-lahan ia melangkah maju sambil berkata kepada para pengawal yang lain, “Berhati-hatilah.”

Apalagi ketika kemudian mereka melihat orang-orang lain berlari-lari pula di belakang orang itu. Tiga orang.

Tetapi langkah Ki Tambak Wedi terlampau cepat untuk dapat disusul oleh gembala tua bersama kedua anaknya. Meskipun mereka telah mengerahkan semua tenaga, tetapi jarak antara mereka itu tidak menjadi semakin pendek.

Karena itu, maka untuk menghindarkan bencana yang bakal datang, maka gembala tua itu pun berteriak, “Hati-hatilah, hati-hatilah dengan Ki Tambak Wedi yang menjadi gila.”

“Ki Tambak Wedi,” desis Ki Argapati dan Pandan Wangi hampir bersamaan.

Dengan demikian, maka dada gadis itu pun bergetar dengan dahsyat. Dan tiba-tiba saja ia maju semakin jauh dari ayahnya sambil menggeram, “Biarlah aku yang menyongsongnya.”

“Pandan Wangi,” panggil ayahnya, “jangan kau. Kemarilah.”

Tetapi Pandan Wangi seakan-akan tidak mau mendengar panggilan ayahnya. Ia harus menahan orang tua yang mengerikan itu agar tidak berhasil mendekati ayahnya.

Beberapa orang pengawal yang lain mengikutinya sambil menggenggam senjata mereka erat-erat.

Tetapi ternyata Pandan Wangi telah berbuat kesalahan seperti yang diperhitungkan oleh Ki Argapati. Beberapa kali ia masih berusaha memanggil puterinya.

“Pandan Wangi. Pandan Wangi. Jangan kehilangan akal. Kembalilah kemari.”

Tetapi Pandan Wangi yang hanya memikirkan nasib ayahnya itu, tidak menghentikan langkanya, apalagi kembali seperti yang diperintahkan ayahnya itu, meskipun ia masih mendengar ayahnya memanggil-manggilnya, sementara Ki Tambak Wedi semakin lama menjadi semakin dekat.

Semua orang memandang gadis itu dengan mata yang tidak berkedip. Apalagi Ki Argapati sendiri. Bahkan serasa ia telah melepaskan anaknya itu untuk tidak kembali lagi kepadanya.

Argapati yang sangat mencintai anaknya itu pun tiba-tiba telah lupa diri. Lukanya serasa tiba-tiba saja telah sembuh, dan sama sekali tidak mengganggunya. Itulah sebabnya, maka dihentakkannya kudanya, sehingga kuda itu terloncat maju, menyusul Pandan Wangi.

Sebagian para pengawal yang tidak mengikuti Pandan Wangi menjadi terkejut karenanya. Tetapi mereka tidak dapat terbuat apa-apa. Kuda Ki Argapati itu tiba-tiba saja telah berlari maju. Yang dapat mereka lakukan, adalah menyusul kuda itu. Terloncat-loncat mereka berlari sekuat-kuat tenaga mereka.

Tetapi Ki Tambak Wedi sudah begitu dekat dengan Pandan Wangi. Ki Argapati hampir kehilangan akal ketika ia melihat Pandan Wangi meloncat menghalang langkah Ki Tambak Wedi sambil menyilangkan sepasang pedangnya di muka dada.

Bukan saja Ki Argapati, tetapi Ki Tambak Wedi pun sama sekali tidak akan menduga, bahwa gadis itu seakan-akan menjadi kehilangan akal dan berbuat karena putus asa.

“Pergi, pergi kau,” teriak Ki Tambak Wedi.

Tetapi Pandan Wangi sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Bahkan pedangnya itu pun kemudian bergetar siap untuk menyerang Ki Tambak Wedi.

“Kubunuh kau,” teriak Ki Tambak Wedi.

Pandan Wangi sama sekali tidak menghiraukannya

Tetapi Ki Tambak Wedi memang tidak dapat membuat pertimbangan-pertimbangan lain. Ia sadar bahwa di belakangnya guru dan dua orang muridnya yang bersenjata cambuk itu sedang mengejarnya.

Karena itu, maka ketika Pandan Wangi tidak juga mau menepi, Ki Tambak Wedi meloncat sambil menggeram. Senjatanya berputar dengan dahsyatnya.

Sejenak kemudian terjadilah sebuah benturan yang dahsyat. Kedua belah pedang Pandan Wangi telah membentur putaran senjata Ki Tambak Wedi. Begitu kerasnya, sehingga Pandan Wangi sama sekali tidak mampu mempertahankannya. Kedua pedangnya itu terlempar beberapa langkah daripadanya.

Kini terbuka kesempatan bagi Ki Tambak Wedi untuk menusuk dada gadis yang sama sekali sudah tidak berdaya itu. Meskipun tatapan matanya sama sekali tidak tergeser. Dengan tabah Pandan Wangi yang segera dapat menguasai keseimbangannya kembali itu, berdiri tegak di tempatnya sambil menengadahkan dadanya.

Namun dalam saat yang sekejap itu, terbayang di rongga mata iblis tua itu seorang perempuan yang menatapnya dengan tajam sambil menengadahkan dadanya dan berkata, “Disini, disini kau menusukkan senjatamu. Ayo, siapakah di antara kalian yang jantan, Paguhan atau Arya Teja.”

Bayangan itu telah menghambat tangan Ki Tambak Wedi. Wajah Pandan Wangi memang hampir tidak ubahnya wajah ibunya, Rara Wulan.

Tetapi Ki Tambak Wedi tidak dapat menghentikan loncatannnya yang tergesa-gesa. Ia diburu oleh waktu dan oleh ketiga orang bercambuk itu.

Karena itu, maka Ki Tambak Wedi kemudian menjulurkan tangan kirinya dan mendorong Pandan Wangi ke samping sementara ia berlari terus menyongsong kuda Ki Argapati yang sudah menjadi begitu dekatnya.

Dorongan itu telah melemparkan Pandan Wangi beberapa langkah, kemudian jatuh terbanting di tanah. Terasa tulang-tulangnya seakan-akan berpatahan sehingga sejenak matanya serasa menjadi gelap dan berputaran. Hanya karena tekadnya yang luar biasa ia berhasil mengangkat kepalanya untuk menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh Ki Tambak Wedi atas ayahnya.

Adalah di luar dugaan Ki Tambak Wedi, bahwa Ki Argapati yang takut kehilangan anaknya itu telah melupakan semua rasa sakitnya sendiri. Luka-lukanya dan bahkan pembalut-pembalutnya sama sekali tidak dapat menahannya. Apalagi ketika ia melihat Pandan Wangi terlempar kemudian terbanting jatuh. Ia tidak tahu akibat apa yang akan menerkam Pandan Wangi. Mungkin gadis itu akan mati atau cacat atau apa pun. Karena itu maka kemarahannya sama sekali tidak tertahankan lagi.

Sejenak kemudian maka kedua orang yang selama bertahun-tahun telah merendam dendam dan permusuhan di dalam dada masing-masing itu kini telah bertemu lagi.

Ki Tambak Wedi tidak mau membuang waktu terlampau banyak. Dengan garangnya ia langsung menerkam Ki Argapati yang duduk di atas punggung kudanya. Ia sama sekali tidak memperhitungkan kemungkinan bahwa Ki Argapati telah siap dengan tombak pendeknya, menyongsong serangannya yang dahsyat itu.

Menurut perhitungan Ki Tambak Wedi, Argapati sama sekali tidak akan berdaya melawan atau menangkis serangannya. Kalau ia masih mampu berbuat demikian, menilik watak dan tanggung jawabnya, ia tidak akan berada di belakang garis peperangan.

Ternyata perhitungan Ki Tambak Wedi keliru untuk kesekian kalinya, seperti kekeliruannya memperhitungkan kekuatan pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

Tetapi ternyata bahwa Ki Argapati itu kini mampu mengatasi segala perasaan sakit dan gangguan-gangguan yang ada di dalam dirinya, justru karena Pandan Wangi, satu-satunya anaknya yang diharapkannya akan dapat melanjutkan tidak saja jabatannya tetapi juga garis keturunan Menoreh, garis keturunan Argapati.

Dalam pada itu, maka benturan dari kedua orang yang pilih tanding itu tidak dapat dihindarkan lagi. Kedua-duanya memang tidak berusaha untuk menghindari sama sekali. Ki Tambak Wedi yang diburu oleh waktu itu langsung meloncat menerkam orang yang berada di atas punggung kuda yang berlari ke arahnya. Senjatanya yang mengerikan itu sudah terangkat tinggi-tinggi. Terdengar orang tua dari Tambak Wedi itu berteriak nyaring, dan sejenak kemudian terjadilah benturan yang dahsyat itu.

Beruntunglah bahwa senjata Ki Argapati agak lebih panjang dari senjata lawannya, sehingga ia berhasil mengungkit ujung senjata Ki Tambak Wedi yang mengerikan itu, kemudian dengan menumpahkan segenap kemampuan yang ada padanya memutar mata tombaknya langsung menusuk tubuh yang dengan dahsyatnya telah menimpanya.

Ki Tambak Wedi benar-benar tidak menyangka bahwa Ki Argapati masih mampu berbuat demikian. Ketika ujung senjatanya terungkit, dadanya berdesir tajam, Tetapi ia sudah tidak sempat memperbaiki keadaannya, Yang dapat dilakukan kemudian adalah memutar senjata itu. Dengan ujung yang lain ia masih berusaha untuk menyerang Ki Argapati.

Tetapi Ki Tambak Wedi itu menyeringai menahan sengatan di dadanya. Oleh dorongan kekuatannya sendiri, maka ujung tombak Ki Argapati membenam di dadanya. Namun sementara itu, ujung senjatanya berhasil mengenai pundak lawannya.

Sejenak kemudian keduanya terlempar dari punggung kuda oleh dorongan loncatan Ki Tambak Wedi. Demikian kerasnya sehingga mereka terpelanting dan terguling beberapa kali.

Beberapa langkah dari mereka, Pandan Wangi berusaha untuk bangkit. Tertatih-tatih ia berdiri, namun kemudian terdengar ia menjerit nyaring. Ayahnya terbaring darinya tiga empat langkah dari Ki Tambak Wedi yang tergolek pula di tanah.

Ketika Pandan Wangi kemudian tersuruk-suruk berlari ke ayahnya, maka pada saat yang bersamaan gembala tua beserta kedua anaknya telah berdiri pula di sampingnya.

Sejenak mereka menatap kedua orang itu berganti-ganti. Mereka melihat Ki Tambak Wedi menggeliat sambil memegangi tangkai tumbak Ki Argapati yang masih menancap di dadanya.

“Gila!” terdengar suaranya parau. “Gila kau Arya Teja.” Dan ketika ia melihat Pandan Wangi tiba-tiba suaranya meninggi, “Wulan, Wulan, kemarilah Wulan.”

Tidak seorang pun yang menyahut.

“Wulan. Wulan,” Ki Tambak Wedi berusaha untuk bergeser. Dengan tangan yang gemetar seakan-akan ia ingin meraih Pandan Wangi yang berjongkok di samping ayahnya.

“Wulan, apakah kau tidak mendengar?” suara Ki Tambak Wedi menjadi parau dan lambat. “Anakmu, anakmu itu.” Suaranya seolah-olah tertelan, “Anakmu laki-laki itu kini menjadi burung rajawali yang perkasa. Anak itu tidak akan mendapat perlindungan dari Arya Teja. Akulah yang harus berbuat sesuatu untuknya, karena anak itu adalah anakku.”

“O,” Pandan Wangi menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya. Sementara gembala tua beserta kedua muridnya saling berpandangan sesaat.

Bulu-bulu mereka meremang ketika mereka mendengar Ki Tambak Wedi itu tertawa. Dan suara tertawanya seakan-akan bergulung-gulung di dalam perutnya, seperti suara iblis diliang pekuburan, “Wulan, anakku dan anakmu itulah yang akan melepaskan dendamku. Ialah yang akan membunuh Arya Teja.”

Pandan Wangi yang menjadi semakin ngeri membenamkan kepalanya semakin dalam di antara kedua belah tangannya. Hampir saja ia melonjak dan berlari ketika ia melihat dari sela-sela jari-jarinya, Ki Tambak Wedi merangkak mendekatinya.

Tetapi tenaga orang tua itu sama sekali sudah tidak mampu membawanya maju. Sejenak kemudian ia jatuh terjerembab. Sekali lagi ia berusaha mengangkat wajahnya memandang Pandan Wangi. Terdengar suaranya terlampau lemah, “Sidanti.”

Suara itu lepas dari tenggorokannya bersama tarikan nafasnya yang terakhir. Ki Tambak Wedi, iblis yang selama ini menghantui Tanah Perdikan Menoreh, tiba-tiba terkulai di tanah, mati. Darahnya telah menyiram Tanah yang hampir saja ditelannya.

Gembala tua bersama kedua muridnya menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan mereka berjongkok di sampingnya, menarik tombak Ki Argapati dan menyilangkan tangannya di dadanya. Sedang senjatanya masih tetap berada di dalam genggamannya

Ketiganya tersadar ketika mereka mendengar isak Pandan Wangi yang merenungi Ki Argapati yang masih terbaring diam. Agaknya Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu pun mengalami cidera pada tubuhnya.

Dengan hati-hati gembala tua itu pun kemudian mengamatinya dengan seksama. Ternyata selain lukanya yang lama yang telah mengalirkan darah kembali, di pundaknya terdapat sebuah luka yang baru. Sehingga karena itulah, maka Ki Argapati telah terpelanting dan menjadi pingsan setelah memaksa dirinya mengerahkan segenap sisa-sisa kemampuannya.

“Bagaimana Kiai?” terdengar suara Pandan Wangi di sela-sela tangisnya yang ditahankannya sekuat-kuat tenaganya, justru karena ia menyadari bahwa kini ia berada di peperangan.

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak sampai hati untuk mengatakan, bahwa luka Ki Argapati justru menjadi semakin parah. Selain luka-lukanya yang lama, maka luka di pundaknya itu pun cukup dalam dan berbahaya.

“Aku akan mencoba menolongnya untuk sementara,” desis gembala tua itu sambil mengeluarkan sebuah bumbung dari kantong ikat pinggangnya. Dari dalam bumbung itu diambilnya serbuk yang halus, yang kemudian ditaburkannya di atas luka-luka Ki Argapati.

“Aku mencoba memampatkan darahnya. Setelah perang ini nanti berakhir, aku akan mencoba mengobatinya lebih saksama lagi,” desis gembala tua itu.

“Tetapi, tetapi, apakah luka ayah berbahaya?” Pandan Wangi menjadi semakin cemas.

Gembala tua itu menjadi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menjawab, “Kita harus mencoba. Tetapi kita pun harus berdoa kepada Sumber dari semua kehidupan.”

Jawaban itu serasa menghentakkan dada Pandan Wangi. Hampir saja ia tidak dapat menahan dirinya, dan berteriak keras-keras untuk melepaskan pepat di dadanya.

“Tetapi kita tidak boleh berputus asa,” berkata gembala tua itu, “dan demikian pulalah hendaknya dengan Ki Argapati ini. Aku masih berpengharapan, bahwa ia akan tertolong.”

Dengan sekuat tenaga Pandan Wangi berusaha menahan diri agar ia tidak menjerit dan menelungkup memekik ayahnya yang terbaring diam itu. Namun dengan demikian terasa dadanya seakan-akan menjadi retak di dalam.

Sejenak kemudian gembala tua itu berkata, “Marilah. Kita baringkan Ki Argapati di tempat yang mapan, aku mengharap bahwa peperangan akan dapat segera selesai. Pasukan lawan telah kehilangan dua orang senapati mereka yang tertinggi, Ki Peda Sura dan kini Ki Tambak Wedi. Kalau kita segera dapat mengakhiri peperangan, maka kita akan segera membawa Ki Argapati. ke Padukuhan induk dan membawanya memasuki rumahnya yang sudah beberapa lama ditinggalkannya.”

Pandan Wangi tidak menjawab. Hanya kepalanya saja yang terangguk kecil.

Sementara beberapa orang berusaha mengangkat Ki Argapati menepi, maka Gupala dengan hormatnya menganggukkan kepalanya di hadapan Pandan Wangi sambil berkata, “Ini pedangmu.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Ditatapnya anak muda yang gemuk itu sejenak. Namun kemudian diterimanya sepasang pedangnya dengan wajah yang tunduk.

Terasa tangan gadis itu bergetar ketika ia menerima pedang itu. Sedang Gupala sekali lagi menunduk sambil melangkah surut.

“Tungguilah ayahmu Pandan Wangi,” desis gembala tua itu. “Aku dan kedua anak-anakku akan melanjutkan pcrtempuran. Kita bersama-sama mengharap agar pertempuran ini segera dapat diakhiri. Meskipun lawan telah kehilangan, senapati-senapatinya, tetapi agaknya jumlah mereka agak lebih banyak dari pasukan Menoreh, sehingga dengan demikian kita memerlukan pengerahan semua tenaga yang ada.”

Sekali lagi Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jagalah ayahmu baik-baik.”

Pandan Wangi masih tetap diam. Tetapi sekali lagi kepalanya terangguk-angguk.

Gembala tua bersama kedua anak-anaknya itu pun kemudian melangkah meninggalkan Ki Argapati yang masih terbaring diam, ditunggui oleh puterinya dan beberapa orang pengawal yang terpercaya.

Namun langkah mereka segera terhenti ketika mereka melihat seseorang yang dipapah oleh dua orang dan dikawal oleh dua orang lainnya mendekati mereka.

“Siapa yang terluka?” desis gembala tua itu.

Tetapi kedua murid-muridnya tidak menjawab. Mereka menunggu dengan berdebar-debar rombongan kecil itu mendekat.

“Siapa?” bertanya Gupala tidak sabar.

Mereka yang memapah orang yang terluka itu tidak segera menjawab. Tetapi mereka berjalan semakin dekat, sehingga akhirnya mereka dapat mengenal orang yang sedang dipapah oleh kawan-kawannya itu.

“Wrahasta,” desis Gupita.

Dengan tergesa-gesa gembala tua itu mendekatinya.

“Baringkan ia di sini, di atas jerami ini,” desisnya.

Maka Wrahasta yang terluka itu pun kemudian perlahan-lahan dan berhati-hati dibaringkan di atas setumpuk jerami.

Sementara itu gembala tua itu pun segera berjongkok di sampingnya dan memeriksa luka-lukanya.

Tanpa sesadarnya ia menarik nafas dalam-dalam. Namun tidak terucapkan kata-kata di dalam hatinya, “Lukanya terlampau parah.”

Meskipun demikian masih terdengar Wrahasta itu berdesis, “Aku telah menunaikan kewajibanku.”

“Ya, ya, Ngger. Kau sudah menunaikan kewajibanmu dengan baik.”

“Ya,” ia melanjutkan dengan suara patah-patah, “sejak aku masih kanak-kanak aku bercita-cita untuk mengabdikan diriku kepada Tanah ini.”

“Ya, Ngger.”

Nafas Wrahasta semakin berkejaran di rongga dadanya. Dan tiba-tiba saja ia membuka matanya, “Siapa kau?”

“Aku, Ngger, gembala tua.”

“O, kau dukun yang pandai mengobati itu?”

“Begitulah, Ngger, dan aku akan mencoba mengobati luka-lukamu.”

Perlahan-lahan Wrahasta mencoba mengangkat kepalanya. Tetapi kepala itu terkulai lagi dengan lemahnya.

“Jangan bergerak,” berkata gembala itu, “darahmu akan semakin banyak mengalir.”

Wrahasta terdiam. Dibiarkannya gembala tua itu menaburkan serbuk obat di atas luka-lukanya. Tetapi gembala tua itu sendiri menjadi semakin cemas. Darah Wrahasta terlampau banyak mengalir dari luka di dadanya, di lambungnya dan di bahu kanannya, selain luka di pahanya.

Semua orang yang berjongkok mengelilinginya berpaling ketika mereka mendengar desah lembut, “Wrahasta, kaukah itu?”

Wrahasta membuka matanya. Dilihatnya sebuah bayangan yang kabur berjongkok di antara bayangan-bayangan hitam yang tidak dapat dilihatnya lagi dengan jelas. Meskipun demikian telinganya masih dapat menangkap suara itu, suara Pandan Wangi.

“Wangi,” suara Wrahasta kian lambat. Di luar dugaan semua orang yang mengitarinya Wrahasta berkata lambat sekali, “kau belum menjawab pertanyaanku.”

Terasa dada Pandan Wangi bergetar dahsyat sekali. Ia tidak menyangka sama sekali, bahwa dalam keadaan seperti itu, Wrahasta masih berusaha bertanya kepadanya tentang persoalan pribadi mereka.

“Pandan Wangi,” suara Wrahasta terputus, “aku ingin mendengar. Bukankah aku telah mengabdikan diriku hampir sepanjang umurku? Jawablah Wangi.”

Air mata Pandan Wangi yang memang belum kering, kini menitik semakin deras. Pergolakan yang dahsyat telah membentur dinding jantungnya. Namun ketika ia melihat keadaan Wrahasta, ia tidak sampai hati untuk menyakiti hatinya, selagi tubuhnya pasti sedang sakit tiada taranya.

Dan tiba-tiba kepala gadis itu terangguk kecil. Terdengar jawabnya ragu-ragu, “Baiklah, Wrahasta. Aku menerimamu.”

“Wangi,” tiba-tiba saja Wrahasta berusaha bangkit. Tetapi ia sama sekali sudah tidak mampu. Meskipun demikian tampak bibirnya tersenyum. Senyum untuk yang terakhir kalinya. Karena sesaat kemudian anak muda yang bertubuh raksasa itu telah menarik nafasnya yang penghabisan.

Pandan Wangi yang berjongkok di sampingnya menjadi semakin tunduk. Namun sesaat kemudian ia pun berdiri dan berjalan perlahan-lahan meninggalkan anak muda bertubuh raksasa yang sudah terbaring diam itu.

Dengan kepala yang masih menunduk dalam-dalam Pandan Wangi berjalan mendekati ayahnya yang masih juga terbaring diam.

Ketika ia kemudian berjongkok lagi di antara para pengawal ayahnya, maka ia sudah tidak dapat bertahan lagi. Tangisnya seakan-akan meledak dari dalam dadanya yang bengkak. Tangis seorang gadis yang dilanda gejolak perasaan tiada tertahankan lagi.

Sejenak gembala tua dan kedua murid-muridnya saling berpandangan. Namun kemudian orang tua itu berdiri dan berjalan mendekati Pandan Wangi. Setelah duduk bersimpuh di belakangnya, orang tua itu berdesis, “Sudahlah, Ngger. Agaknya demikianlah yang dikehendaki oleh Tuhan Yang Maha Adil. Tetapi pasti hal yang terjadi ini bukan tanpa maksud. Marilah kita belajar untuk mengerti, apakah sebenarnya yang terjadi ini. Kepada-Nya kita mohon ketenteraman hati. Sebenarnyalah bahwa semua isi dan gerak alam ini berada di tangan-Nya. Tetapi tangan itu adalah tangan Yang Maha Pengasih.”

Pandan Wangi masih terisak.

“Tidak ada kekuasaan yang lebih mapan, bahkan yang sekedar mendekati kekuasaan Yang Maha Kuasa itu. Kekuasaan yang tidak pernah sisip. Kekuasaan yang tidak ditrapkan untuk sesuatu pamrih yang tidak adil dan benar. Tetapi apa yang terjadi adalah mutlak ada dan benar,” gembala tua ini berhenti sejenak lalu. “Angger, kita dapat menentang kekuasaan duniawi, kekuasaan seseorang, karena kekuasaan itu kadang-kadang justru menumbuhkan ketidak-adilan, didorong oleh pamrih. Tetapi kepada kekuasaan-Nya, kekuasaan Yang Maha Kuasa kita harus pasrah dengan ikhlas.”

Perlahan-lahan kepala gadis itu terangguk-angguk. Namun tanpa sesadarnya terpandanglah wajah ayahnya yang terbaring diam itu tiba-tiba bergerak. Perlahan-lahan matanya terbuka meskipun yang tampak oleh Ki Argapati yang pertama-tama adalah kehitaman malam.

“Ayah,” Pandan Wangi terpekik.

Gembala tua itu pun kemudian melihat Ki Argapati membuka matanya. Perlahan-lahan ia berdesis, “Aku memang sudah menyangka, bahwa ia akan segera sadar.” Kemudian kepada salah seorang yang ada di sampingnya ia berkata, “Kalau mungkin carilah air yang bersih. Air dari sumur.”

Pengawal itu memandangnya sejenak. Dan gembala tua itu berkata kepada Pandan Wangi, “Berikanlah titik air di bibirnya. Ingat setitik saja. Kalau terlampau banyak meskipun diminta, itu akan berbahaya bagi ayahmu. Mungkin justru pernafasannya akan tersumbat oleh air yang tidak dapat mengalir dengan lancar di tenggorokannya.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya, dan pengawal itu pun kemudian menggamit seorang kawannya untuk pergi mencari air berdua. Di peperangan segala sesuatu memang dapat terjadi meskipun sama sekali bukan karena ketakutan.

Sepeninggal kedua pengawal itu, gembala tua itu pun berkata kepada Pandan Wangi, “Sudahlah, Ngger, yang penting cobalah kau melayani ayahmu yang sudah mulai menyadari keadaannya. Tetapi ingat, jagalah supaya ia tetap terbaring diam. Bagaimana pun juga terasa haus, namun kau hanya dapat memberikan air itu setitik demi setitik. Jangan terlampau banyak.”

Sambil mengangguk-angguk Pandan Wangi menjawab, “Baik, Kiai.”

“Aku tidak dapat menungguinya sekarang. Peperangan yang masih berkecamuk itu harus segera selesai, supaya korban tidak berjatuhan tanpa arti. Aku akan segera kembali dan membawa Ki Argapati memasuki rumah yang sudah ditinggalkannya itu.”

“Baiklah, Kiai.”

Maka setelah meraba-raba tangan Ki Argapati dan mendengarkan detak jantung di dadanya, gembala tua itu pun kemudian berdiri dan dengan tergesa-gesa meninggalkan Ki Argapati yang dengan perlahan-lahan mulai menyadari dirinya ditunggui oleh puterinya beserta beberapa orang pengawal.

Bersama kedua murid-muridnya, gembala tua itu pun kemudian menuju ke medan peperangan yang masih berlangsung dengan serunya. Desak mendesak silih berganti.

Sorak-sorai dari kedua belah pihak telah jauh menurun, karena kini mereka lebih mementingkan memusatkan perhatian atas lawan-lawan mereka karena setelah seluruh tubuh masing-masing dibasahi oleh keringat, nafsu yang menyala di dada pun seakan-akan menjadi semakin panas.

Meskipun kekosongan senapati terasa pula oleh setiap orang di dalam induk pasukan, tetapi karena tidak ada kekuatan yang melampaui kekuatan mereka masing-masing, maka pertempuran berlangsung terus dengan sengitnya.

Namun pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh masih mempunyai seorang yang dapat mengikat mereka dalam suatu tata pertempuran yang lebih teratur. Samekta. Meskipun ia tidak jauh lebih baik dari setiap orang yang sedang bertempur, namun ia telah berhasil mengikat induk pasukannya dalam gelar yang baik dan terarah.

Sejenak kemudian gembala tua bersama kedua anak-anaknya itu pun sudah menjadi semakin dekat dengan hiruk-pikuknya peperangan. Sejenak gembala tua itu berhenti. Kemudian katanya, “Kita membagi pekerjaan agar cepat selesai. Kita harus melumpuhkan senapati-senapatinya lebih dahulu, agar lawan kehilangan pegangan.”

“Bagus,” sahut Gupala serta-merta.

“Kau keliru,” potong gurunya, “aku tahu maksudmu. Kau akan membinasakan setiap senapati termasuk Sidanti dan Argajaya.”

“Bukankah itu yang harus kita lakukan?”

Gembala tua itu menggelengkan kepalanya. “Tidak. Kalian harus menangkap mereka hidup-hidup. Aku akan membantu Angger Hanggapati menangkap Sidanti dan kau berdua harus berusaha menangkap Argajaya hidup-hidup.”

Gupala menarik nafas dalam-dalam. Tampak kekecewaan membersit di wajahnya. Namun sambil mengagguk-anggukkan kepalanya Gupita menjawab, “Baik, Guru. Kami akan berusaha menangkap mereka hidup-hidup.”

“Mustahil,” tiba-tiba Gupala bergumam seakan-akan kepada diri sendiri.

Gupita mengerutkan keningnya mendengar gumam Gupala itu, sedang gurunya sejenak menjadi termangu-mangu. Ditatapnya wajah muridnya yang gemuk itu. Kemudian terlontar pertanyaannya,”Kenapa mustahil?”

“Bukankah Kakang Gupita dan Guru pernah melihat, bagaimana Argajaya berkelahi melawan Raden Sutawijaya di pinggir kali opak itu?”

Gupita mengingat-ingat sejenak. Namun kemudian tanpa sesadarnya ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Terbayang di rongga matanya, betapa keras hati adik Kepada Tanah Perdikan Menoreh itu. Meskipun ujung senjata Sutawijaya telah melekat di dadanya, namun Argajaya sama sekali tidak ingin menundukkan kepalanya. Baginya lebih baik mati daripada harus mengakui kemenangan lawannya yang masih sangat muda itu. Apalagi kini ia berada di atas Tanah Perdikan ini, dan dengan sengaja telah melawan kakaknya sendiri.

“Ia memang keras kepala,” desis gurunya.

“Jadi, bagaimana pertimbangan Guru?” bertanya Gupala.

“Aku tetap berpendapat, bahwa sebaiknya ia tertangkap hidup-hidup. Biarlah Ki Argapati yang mengambil keputusan, hukuman apa yang harus diterimanya.”

“Ia tidak akan menyerah. Ia akan melawan sampai mati.”

“Jangan terlalu bodoh. Kalian dapat berbuat sesuatu, sehingga Argajaya akan kehilangan tenaga untuk melawan,” sahut gurunya, “karena aku yakin, Sidanti pun akan berbuat demikian.”

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya, “Baik, Guru, aku akan mencobanya.”

“Apakah kami harus membuatnya tidak mampu membunuh diri sekalipun?”

Gurunya menganggukkan kepalanya, “Ya. Begitulah.”

“Itulah yang sulit. Batas antara kemungkinan itu dan selangkah lagi, mati, adalah sulit sekali. Dalam perkelahian kita kadang-kadang sulit untuk mengekang diri.”

“Yang sulit itulah yang harus kau coba,” desis gurunya.

Gurunya menarik nafas dalam-dalam.

“Nah, jangan terlampau lama. Kita harus cepat melakukannya.”

Gupala dan Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian mereka pun berpisah dengan gurunya. Gembala tua itu mencari Sidanti sedang kedua murid-muridnya mencari Argajaya. Adalah suatu kesengajaan bahwa bukan kedua murid-muridnyalah yang harus melawan Sidanti. Dendam yang tersimpan di dada kedua belah pihak tidak akan dapat reda untuk sepanjang umur mereka. Karena itu, apabila mereka bertemu di peperangan, maka kedua belah pihak tidak akan dapat mengekang diri masing-masing. Meskipun Argajaya pun merupakan lawan yang tangguh, didahului oleh pertentangan yang telah lama tergores di dalam hati masing-masing tetapi sebenarnya mereka tidak mempunyai persoalan yang langsung seperti persoalan mereka dengan Sidanti.

Maka masing-masing pun kemudian memasuki kembali hiruk-pikuknya peperangan. Gembala tua itu masih sempat menemui Samekta dan mengatakan apa yang telah terjadi. Ki Tambak Wedi telah mati. Dan tiba-tiba saja, tanpa dapat ditahan-tahan lagi, meledaklah sorak yang selama ini sudah mereda. Kematian Ki Tambak Wedi telah menggelorakan kembali dada para pengawal Tanah Perdikan Menoreh, sehingga mereka pun kemudian meneriakkan kematian itu sambil memutar senjata-senjata mereka lebih cepat lagi.

“Ki Tambak Wedi telah mati! Ki Tambak Wedi telah mati!”

Sorak-sorai yang gemuruh, yang seolah-olah hendak memecahkan langit itu, telah menggoncangkan setiap dada anak buah iblis yang sudah terbunuh itu. Kematian Ki Peda Sura telah membuat mereka berdebar-debar. Dan kini orang yang paling mereka bangga-banggakan telah mati pula.

Tetapi sebagian dari mereka sama sekali tidak percaya sehingga mereka pun berteriak-teriak tidak kalah kerasnya, “Bohong! Akal licik! Ki Tambak Wedi tidak akan dapat mati oleh siapa pun.”

Dan yang lain berteriak pula, “Jangan percaya! Jangan percaya!”

Sorak yang membahana itu pun akhimya dapat didengar oleh Sidanti dan Argajaya. Dada mereka serasa dihentakkan oleh suatu tenaga yang kemudian menyelusur ke segenap urat nadi. Hampir saja mereka kehilangan akal, dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Tetapi lamat-lamat mereka pun mendengar teriakan, “Bohong! Akal licik!”

Darah Sidanti dan Argajaya yang rasa-rasanya hampir berhenti mengalir itu pun segera bergejolak kembali. Bahkan api yang menyala di dalam dada serasa tersiram minyak oleh berita yang hampir saja melumpuhkan mereka.

“Akal licik,” Sidanti menggeram. “Aku tidak percaya bahwa Guru terbunuh. Tidak ada orang yang akan dapat membunuhnya.”

Dengan demikian maka Sidanti pun kemudian justru menjadi semakin bernafsu. Senjatanya menggelepar menyambar-nyambar dengan dahsyatnya, sehingga setiap kali Hanggapati masih tetap harus menghindari sambil melangkah surut berputar-putar. Apalagi ketika Sidanti menjadi seakan-akan terbius oleh kemarahan mendengar berita yang dianggapnya licik.

“Orang-orangmu sudah mulai berputus asa,” ia menggeram, “sehingga mereka terpaksa mengarang cerita yang sangat licik dan memalukan itu.”

“Apakah kau yakin bahwa berita itu tidak benar?” berkata Hanggapati sambil melawan sekuat-kuat tenaganya.

“Aku yakin. Ki Tambak Wedi tidak akan dapat terbunuh oleh siapa pun di dalam peperangan serupa ini. Argapati pun tidak akan mampu menyentuhnya.”

Namun sebelum Hanggapati menjawab, terdengarlah suara seseorang yang seakan-akan meledakkan jantung Sidanti. Dalam kisruhnya peperangan, muncullah gembala tua itu sambil berkata, “Sebenarnyalah bahwa Ki Tambak Wedi telah terbunuh. Tombak Ki Argapati-lah yang telah menembus dadanya, sebagai akibat dari ketamakannya. Apa boleh buat. Kematiannya akan mengakhiri semuanya. Api yang membakar Tanah Perdikan ini pun pasti akan segera padam.”

Kehadiran orang tua yang tidak disangka-sangka itu serasa membuat darah Sidanti membeku. Mungkin ia dapat mengelabuhi dirinya sendiri dengan tidak mempercayai teriakan-teriakan yang bergema di peperangan tentang Ki Tambak Wedi. Tetapi keterangan orang tua itu serasa jatuhnya suatu kepastian, bahwa Ki Tambak Wedi memang sudah terbunuh.

Dengan demikian, sejenak Sidanti seakan-akan membeku di tempatnya. Ditatapnya gembala tua itu dan Ki Hanggapati yang tegak di tempatnya, berganti-ganti.

“Sidanti,” berkata orang tua itu, “tidak ada kesempatan untuk menyesal bagi Ki Tambak Wedi. Akhir hidupnya adalah keputusan yang tidak dapat diganggu gugat. Apa yang telah dilakukan semasa hidupnya telah mendapatkan penilaian terakhir. Dengan demikian ia tinggal menjalani akibat perbuatan-perbuatan yang dilakukan semasa hidupnya.”

Sidanti memandang wajah gembala tua itu dengan tajamnya. Sejenak ia mencoba mencernakan kata-kata itu.

“Tetapi kau belum Sidanti,” berkata gembala tua itu selanjutnya, “kau masih tetap hidup. Kau masih mempunyai kesempatan untuk mengakhiri petualangan yang tidak akan bermanfaat bagi siapa pun juga itu. Apalagi bagi dirimu sendiri. Semasa hidupmu dan juga di masa langgeng.”

Sidanti masih berdiri tegak. Pedangnya masih tergenggam erat di tangannya.

Namun tiba-tiba hiruk-pikuk peperangan telah membangunkannya. Dentang senjata telah mencairkan kembali darahnya yang serasa membeku. Ketika ia mendengar pekik kesakitan disusul oleh keluhan yang terputus, anak muda itu berteriak, “Aku bukan pengecut. Ayo, kalau kalian memang mampu, bunuh Sidanti.”

Gembala tua itu memang sudah memperhitungkan, bahwa demikianlah sikap Sidanti. Ia pasti tidak akan menyerah hidup-hidup. Ia pasti akan berusaha melawan sampai mati.

“Tetapi kalau ia sudah terlepas dari peperangan, mungkin ia akan bersikap lain,” berkata gembala tua itu di dalam hatinya. “Di sini ia dikitari oleh kekerasan dan ujung senjata. Maka hatinya pun akan seruncing ujung pedangnya. Tetapi kalau ia tidak lagi melihat kilatan pedang dan mendengar rintih kesakitan, mungkin hatinya akan luluh juga.”

Dengan demikian gembala tua itu masih mencoba berkata, “Sidanti, apakah kau tidak juga mau melihat kenyataan? Mungkin di saat-saat seperti ini kau tidak dapat melihat dengan terang karena peperangan ini. Tetapi apabila kau mempunyai kesempatan, melihat ke dalam dirimu sendiri dan membuat kesimpulan dari apa yang telah terjadi ini dengan hati yang bening, maka aku kira kau akan menarik suatu kesimpulan yang lain.”

“Diam!” tiba-tiba saja Sidanti berteriak. “Jangan kau sangka hatiku miyur seperti daun ilalang. Aku akan tetap tegak kemana pun angin bertiup. Aku adalah batu karang yang tidak goyah oleh prahara yang betapa pun dahsyatnya. Dan kematian guruku pun tidak akan dapat merubah pendirianku. Tanah Perdikan Menoreh harus jatuh ke tanganku. Apa pun yang akan terjadi.”

“Bukankah sudah seharusnya demikian?” bertanya gembala tua yang tiba-tiba saja teringat kepada sikap Ki Tambak Wedi sesaat sebelum ia menghembuskan nafasnya yang penghabisan.

“Omong kosong,” sahut Sidanti.

“Bukankah sudah seharusnya, bahwa jabatan Ki Argapati sebagai Kepala Tanah Perdikan akan temurun kepada anaknya, apalagi anak laki-laki?”

Ternyata dalam keadaan itu, Sidanti sudah tidak sempat lagi membuat pertimbangan yang wajar. Karena itu, seolah-olah tanpa disadarinya ia berteriak, “Aku bukan anak Argapati.”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak segera dapat mengambil kesimpulan, siapakah sebenarnya Sidanti itu. Namun yang lebih dahulu dilakukan adalah menangkapnya, dan apabila Ki Argapati nanti dapat disembuhkannya, anak ini harus dihadapkannya. Kalau Sidanti putera Ki Argapati maka orang tua itu pasti akan dapat mengambil kebijaksanaan, seperti terhadap adiknya juga.

“Nafsu yang menyala-nyala di dalam dadanya telah mendorongnya untuk membenci ayahnya sedemikian jauh,” berkata gembala tua itu di dalam hatinya. “Atau mungkin Ki Tambak Wedi telah meracuninya dengan pengertian yang lain?”

Tetapi gembala tua itu tidak dapat menemukan jawabnya. Kini yang harus dilakukan adalah berbuat sesuatu sehingga ia dapat melumpuhkan Sidanti dan menangkapnya hidup-hidup.

Sementara itu Gupita dan Gupala telah menemukan pula lingkaran pertempuran Argajaya melawan Dipasanga. Ternyata bahwa kemampuan mereka hampir tidak berselisih. Desak mendesak. Kadang-kadang Argajaya terpaksa beringsut surut beberapa langkah, namun kemudian ia berhasil mendesak lawannya beberapa langkah maju. Senjata-senjata mereka menyambar-nyambar tidak henti-hentinya. Tombak pendek Argajaya berputar dan mematuk dari segenap penjuru, mengitari tubuh lawannya. Namun agaknya Dipasanga pun tidak segera bingung menghadapinya, meskipun kadang-kadang ia harus meloncat beberapa langkah untuk mengambil jarak.

Namun agaknya sorak-sorai tentang matinya Ki Tambak Wedi, justru agak lebih berpengaruh pada Argajaya. Tanpa Tambak Wedi perjuangan mereka tidak akan berhasil. Apabila benar Ki Tambak Wedi terbunuh, maka api peperangan yang sudah terlanjur berkobar di atas Tanah Perdikan ini tidak akan ada artinya apa-apa, selain pembunuhan dan kekerasan yang bengis.

Tetapi seperti Sidanti, Argajaya pun berusaha untuk tidak mempercayainya. Setiap kali ia berkata di dalam hati, “Ki Tambak Wedi adalah seorang tua yang pilih tanding. Melawan Kakang Argapati selagi ia saras sekalipun, Ki Tambak Wedi tidak akan dapat dikalahkannya, dan apalagi terbunuh. Justru kini Kakang Argapati sedang terluka parah. Maka yang paling mungkin terjadi adalah sebaliknya. Justru Ki Tambak Wedi-lah yang membunuh Ki Argapati apabila ia terjun ke peperangan.”

Dengan demikian maka Ki Argajaya pun mencoba untuk mengerahkan sisa-sisa tenaganya. Ia ingin dapat menguasai lawannya segera. Apabila Dipasanga dapat dilumpuhkannya, maka sayap ini akan sepera dikuasai. Kerti dan bahkan Samekta tidak akan banyak berarti.

“Mudah-mudahan Sidanti pun dapat membunuh lawannya pula,” katanya di dalam hati.

Namun, belum lagi Argajaya berhasil mendesak Dipasanga, tiba-tiba ia dikejutkan oleh kehadiran dua orang anak-anak muda di arena peperangan.

Sejenak Argajaya terpaku diam di tempatnya memandangi Gupita dan Gupala yang muncul hampir berbareng dengan cambuk di tangan masing-masing.

“Jadi ………,” Argajaya berdesis, “orang bercambuk yang selama ini dibayangkan ternyata adalah kalian. Bukan orang-orang yang kau pergunakan untuk sekedar mengelabui kami.”

“Ya. kami memang berada di peperangan selama ini,” jawab Gupala.

“Persetan! Kenapa kalian selalu bersembunyi, dan baru sekarang menampakkan diri?”

“Kami tidak pernah bersembunyi.”

“Tetapi kalian tidak pernah menyatakan diri kalian dengan jujur. Kalian selalu curang dan licik.”

“Apakah kami tidak jujur? Aku tidak tahu maksudmu. Aku bertempur di peperangan ini. Dan aku bersama kakakku telah berhasil membunuh Ki Peda Sura, sementara Guru telah mengantarkan Ki Tambak Wedi ke ujung tombak Ki Argapati. Kenapa kami tidak jujur? Mungkin karena kami baru sekarang bertemu dengan kau. Dan itu bukan berarti bahwa kami bersembunyi. Di peperangan lawan tersebar dari ujung sampai ke ujung gelar. Kami tidak perlu memilih. Tidak ada keharusan pada kami untuk bertempur melawan Ki Argajaya, bukan yang lain.”

Argajaya menggeram. Ditatapnya wajah kedua anak-anak muda itu berganti-ganti. Kemudian berpindah kepada Dipasanga yang berdiri tegak dengan wajah yang tegang.

Dalam pada itu terdengar Gupala berkata kepada Dipasanga, “Ki Dipasanga, kami mendapat perintah untuk menangkap Ki Argajaya hidup-hidup.”

“Persetan!” teriak Argajaya. “Tidak seorang pun dapat menyentuh kulitku selagi aku masih bernafas.”

Gupala mengerutkan keningnya, sedang Gupita menarik nafas dalam-dalam. Adiknya memang selalu menuruti perasaannya saja. Pernyataannya itu sudah tentu telah membakar hati Argajaya yang memang sudah sekeras batu-batu padas di perbukitan.

Dipasanga pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sesaat ia tidak menjawab.

Karena tidak seorang pun yang menyahut, maka Gupala berkata seterusnya. Kali ini kepada Argajaya, “Nah, bukankah kau bersedia membantu kami? Bukan untuk kepentingan kami, tetapi untuk kepentingan Tanah Perdikan Menoreh. Tanah Perdikan yang kini sedang kisruh oleh pokal Ki Tambak Wedi. Sekarang Ki Tambak Wedi sudah mati.”

Tubuh Argajaya telah menjadi gemetar menahan kemarahan yang menyesak dadanya, sehingga jawabnya kasar, “Bunuh aku, baru aku akan menyerah.”

“Bukan begitu,” sahut Gupita. “Maksud kami, apakah kau tidak mempertimbangkan kemungkinan lain daripada menghancurkan Tanah Perdikan ini. Kalau peperangan ini berlangsung terus, maka korban akan menjadi semakin banyak. Hal itu tidak akan menguntungkan kedua belah pihak. Sedang kedua belah pihak yang kini berhadapan adalah dari pecahan keluarga sendiri selain Ki Tambak Wedi. Dan Ki Tambak Wedi yang menurut dugaanku telah menyalakan api peperangan ini, sekarang telah terbunuh.”

“Tidak. Aku bukan kepompong yang paling bodoh,” Argajaya berteriak. “Apakah kau sangka bahwa aku tidak mempunyai otak untuk berpikir dan bersikap, sehingga kau menganggap aku sekedar sebagai peraga yang digerakkan oleh Ki Tambak Wedi? Tidak. Aku mempunyai kepentingan dengan peperangan ini. Aku mempunyai suatu cita-cita. Tanah ini tidak boleh menjadi Tanah yang banci, yang tidak mempunyai jangka sama sekali. Tanah yang sekedar harus menundukkan kepala kepada Kakang Argapati apa pun yang diinginkannya.”

Gupala tiba-tiba memotong, “He, bukankah kau adik Ki Argapati itu? Kalau ada kekurangan di dalam pemerintahannya, kau dapat menyampaikannya langsung kepadanya. Kenapa kau harus menempuh jalan ini? Apakah kau sendiri sebenarnya ingin menjadi Kepala Tanah Perdikan? Tetapi dengan demikian kau harus berkelahi melawan Sidanti.”

“Diam!” teriak Argajaya yang menjadi semakin marah. Anak muda yang gemuk itu berbicara sekehendaknya sendiri tanpa menghiraukan apa pun juga. “Apa pun yang akan aku lakukan. Aku tidak akan menyerah sebelum aku mati. Nah, bunuhlah aku sekarang. Itu akan lebih baik. Kenapa kau tidak membawa kawanmu yang seorang itu, anak Pemanahan yang sombong.”

“Apakah kau akan bertemu? Ia ada di sini pula sekarang.”

Wajah Argajaya menjadi semakin membara. Sejenak ditatapnya wajah Gupala yang tersenyum-senyum. Bahkan ia melanjutkan, “Kalau kau mau ikut aku, mari, aku bawa kau kepadanya.”

“Persetan!” dada Argajaya serasa akan meledak karenanya.

Dan anak yang gemuk itu masih saja tersenyum. Bahkan kemudian ia berkata kepada Ki Dipasanga, “Ki Dipasanga, marilah aku dan Kakang Gupita mendapat perintah untuk membantu Ki Dipasanga menangkap Ki Argajaya. Hidup-hidup. Sebab ia adalah adik Kepala Tanah Perdikan Menoreh.”

Tetapi sebelum Dipasanga menjawab, Argajaya telah tidak dapat lagi menahan dirinya. Dengan garangnya ia meloncat sambil berteriak, “Kubunuh kau lebih dahulu.”

Tetapi Gupala pun telah menyiapkan dirinya. Segera ia bergeser menghindari serangan Argajaya yang sekedar didorong oleh kemarahan yang meluap-luap sehingga sasarannya tidak dapat dicapainya.

Dengan demikian, maka pertempuranpun segera dimulai kembali. Bukan saja Gupala, tetapi Gupita dan Dipasanga pun harus ikut pula.

Menangkap Argajaya hidup-hidup bukanlah pekerjaan yang mudah meskipun mereka adalah Gupita, Gupala dan Dipasanga yang masing-masing memiliki kemampuan yang seimbang dengan Argajaya, bahkan mungkin melampauinya meskipun hanya selapis.

Argajaya yang merasa dirinya terkepung, sama sekali tidak berpikir lagi untuk mempertahankan hidupnya, karena ia tahu bahwa ia tidak akan dapat mengalahkan ketiga lawannya yang sudah dikenalnya. Argajaya dapat mengerti, betapa ketiganya mempunyai ilmu yang memungkinkan untuk menangkapnya. Namun untuk mati tidaklah terlampau sukar daripada bertahan untuk hidup. Karena itu, dibayangi oleh perasaan putus asa ia mengamuk sejadi-jadinya. Tombaknya menyambar-nyambar tidak henti-hentinya ke segenap arah untuk melindungi dirinya. Bukan karena ia tidak mau mati oleh senjata lawannya, tetapi ia ingin membawa salah seorang dari mereka atau lebih, untuk mati bersama-sama.

Gupala sekali-sekali menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengumpat ia berbisik kepada Gupita, “Kenapa kita harus menangkapnya hidup-hidup. Apakah salahnya kalau ia terbunuh di peperangan?”

“Hus, jangan kehilangan akal. Kita harus berusaha menangkapnya hidup-hidup. Betapa sulitnya.”

Gupala mengecutkan dahinya. Tangannya seakan-akan menjadi gatal. Membunuh Argajaya dalam keadaan itu sebenarnya tidak terlampau sulit. Tetapi membujuknya untuk menyerah adalah pekerjaan yang justru terlampau sulit.

“Kita harus merebut senjatanya,” desis Gupita.

“Aku sudah terluka,” geram Gupala, “kalau kita tidak berhasil maka lukaku akan bertambah, dan barangkali aku akan mati untuk menangkap Argajaya hidup. Aku dan barangkali juga kau dan Ki Dipasanga, sementara Argajaya tidak akan tertangkap.”

“Kita akan mencoba.”

Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya. Betapa pun dadanya serasa akan bengkah. Tetapi ia harus tunduk seperti yang dipesankan oleh gurunya.

Dengan demikian maka sekali lagi mereka mencoba, menangkap Argajaya yang mengamuk seperti serigala lapar. Ia sama sekali sudah kehilangan tujuan perkelahiannya, selain mati bersama lawan sebanyak-banyaknya dapat dilakukan.

Tetapi Gupita sama sekali tidak kehilangan akal. Meskipun Dipasanga kadang-kadang mengalami kesulitan dengan sikap Argajaya itu, namun ternyata ia cukup dewasa menghadapi lawannya. Ki Dipasanga lebih baik meloncat surut menghindari benturan-benturan yang berbahaya daripada kemungkinan senjatanya menembus dada lawannya yang putus asa itu.

Gupalalah yang berkelahi tidak dengan sepenuh kemauan. Kadang-kadang saja ia menyerang, kemudian bertolak pinggang sambil memegangi tangkai cambuknya sementara Gupita dan Dipasanga bertempur terus. Bahkan Gupala masih juga sempat melepaskan ketegangan di dadanya dengan menyerang orang-orang Sidanti yang bertempur di sekitarnya dengan ujung cambuknya.

Gupita yang kadang-kadang melihat tingkah laku Gupala itu hanya dapat menarik nafas. Ia tahu, betapa anak muda yang gemuk itu menahan diri sekuat-kuatnya agar tangannya tidak terlanjur menyerang lawannya di tempat-tempat yang berbahaya.

Sementara itu Gupita sendiri berusaha sekuat-kuat tenaganya untuk melumpuhkan Argajaya. Kalau ia mampu melepaskan senjatanya, maka kemungkinan untuk menangkapnya akan menjadi semakin luas.

“Buat apa membiarkannya hidup-hidup?” Gupala masih saja bertanya.

Gupita mengerutkan keningnya. Jawabnya hampir berbisik, “Kita hanya sekedar melakukan perintah Guru.”

Gupala tidak bertanya lagi. Dipandanginya Argajaya dengan tajamnya. Namun tiba-tiba ia berbalik dan menyerang seorang dari pasukan lawan dengan cambuknya. Ketika cambuk itu menggeletar, terdengarlah pekik kesakitan. Hanya sejenak, kemudian seseorang jatuh tersungkur.

“Jangan gila,” desis Gupita. Tetapi Gupala sama sekali tidak mengacuhkannya.

Dengan susah payah Gupita dan Dipasanga berhasil memeras tenaga Argajaya yang terbatas. Perlahan-lahan namun pasti, tenaga Argajaya menjadi semakin susut. Keringatnya seakan-akan terperas dari segenap permukaan kulitnya, dan bahkan nafasnya pun menjadi semakin dalam di rongga dadanya.

Tetapi Argajaya benar-benar berhati batu. Ia sama sekali tidak berpikir dan tidak mempertimbangkan, untuk merubah pendiriannya. Apa pun yang terjadi, ia akan berkelahi terus sampai mati.

“Lihat,” bisik Gupita, “tenaganya sudah jauh susut.”

“Tidak ada gunanya. Ia akan mati dengan sendirinya. Nafasnya akan terputus oleh kelelahan. Kita hanya akan kehilangan waktu. Kalau sejak sekarang kita bunuh saja orang itu, kita sendiri tidak akan kehabisan nafas.”

“Aku tidak berani melanggar perintah Guru. Bahkan Ki Dipasanga sama sekali tidak berhasrat melanggarnya.”

Gupala menarik dahinya tinggi-tinggi, sehingga kerut-merut yang dalam tergores dari ujung sampai ke ujung.

Ternyata Gupala pun kemudian melihat betapa Argajaya hampir kehilangan seluruh kekuatannya. Kini ia berdiri terhuyung-huyung, meskipun senjatanya masih tetap tergenggam erat-erat. Bahkan oleh dorongan nafsu yang melonjak-lonjak di dalam dadanya, ia masih mampu menyerang dengan dahsyatnya, meskipun kemudian ia hampir-hampir kehilangan keseimbangan.

Kini Gupita sampai pada rencananya yang terakhir. Ia harus merebut tombak pendek itu. Kemudian melumpuhkan lawannya dan menangkapnya. Kalau perlu membuatnya kehilangan tenaga untuk berbuat apa pun.

Dengan isyarat kedipan mata, Gupita mengajak Ki Dipasanga untuk mencoba mengakhiri perkelahian itu. Kemudian ia berbisik kepada Gupala, “Kesempatan sudah terbuka Gupala, bantulah melakukan perintah Guru. Menangkap Argajaya hidup-hidup. Bagaimana pun juga ia adalah adik Ki Argapati. Agaknya Guru tidak mau membuat Ki Argapati merasa kehilangan.”

Gupala mengerutkan keningnya. Sejenak ia memandang Argajaya yang benar-benar sudah kehabisan nafas. Sebenarnya membunuh orang itu sama mudahnya dengan memijat ujung dahi sendiri. Orang yang sudah tidak mampu berdiri tegak itu, berdiri terhuyung-huyung bertelekan tangkai tombaknya. Namun demikian Argajaya masih berkata lantang di sela-sela desah nafasnya yaug memburu, “Ayo, siapakah di antara kalian yang jantan? Apakah kalian pengecut yang tidak berani melihat darah. Ini dadaku. Ayo, bunuh aku dengan segala macam senjata yang ada padamu.”

Gupita menarik nafas dalam-dalam. Terbayang olehnya, Argajaya itu berdiri tegak di atas pasir tepian Kali Opak. Meskipun waktu itu senjatanya sudah terlepas dari tangannya, namun ia masih menengadahkan dadanya sambil berkata, “Ayo, kalau kau jantan bunuh aku.”

Dan kini sikap itu diulanginya. Apalagi senjatanya kini masih tetap di dalam genggaman.

“Jangan menunggu terlampau lama, Gupala,” desis Gupita.

Gupala pun kemudian melangkah maju. Mereka bertiga mengambil arah yang berbeda-beda. Sementara Argajaya masih menggeram. Tatapan matanya menjadi liar, dan wajahnya seakan-akan menyala.

Sementara itu Gupala berdesis, “Tidak mungkin menangkapnya tanpa melukainya. Kalau luka itu kemudian membunuhnya, itu sama sekali bukan salah mereka yang melukainya.”

Namun Gupala terkejut ketika ia mendengar suara cambuk meledak. Agaknya Gupita sudah mulai dengan usahanya melepaskan senjata Argajaya dari tangannya.

Ledakan itu telah mendorong Argajaya beberapa langkah. Terhuyung-huyung ia mencoba menghindar. Meskipun Gupita sama sekali tidak ingin melukainya, tetapi cambuk itu meledak beberapa cengkang saja di depan wajahnya.

“Ayo anak iblis, kaulah yang akan mati pertama-tama,” desis Argajaya di sela-sela desah nafasnya.

Gupita tidak menjawab. Tetapi ia melangkah maju, sehingga Argajaya terpaksa mundur setapak. Tetapi Argajaya itu terlonjak ketika tiba-tiba saja kakinya serasa disengat oleh panasnya bara api, disertai sebuah ledakan yang memekakkan telinga. Ternyata bahwa Gupala telah menyerang mata kaki Argajaya dengan ujung cambuknya.

Gupita menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat mencegah adik seperguruannya, agar anak yang gemuk itu tidak justru menjadi semakin nekat untuk melepaskan sesak di dadanya.

Tetapi Dipasanga pun ternyata mengambil kesempatan itu. Senjatanya segera terjulur mengarah ke dada Argajaya. Dengan susah payah Argajaya menangkis senjata Dipasanga. Namun dengan cepatnya Dipasanga menarik senjatanya dan mengurungkan serangannya.

Argajaya yang semakin lemah itu justru terhuyung-huyung oleh tarikan tenaganya sendiri. Beberapa langkah ia terseret ke samping. Dengan susah payah ia bertahan sehingga ia tidak terjatuh.

Tetapi Gupala benar-benar tidak dapat menahan diri. Dalam keadaan yang demikian sekali lagi cambuknya meledak. Dan sekali lagi Argajaya terloncat karena ujung cambuk Gupala mematuk kakinya.

Tetapi keadaan sama sekali tidak menguntungkan. Keseimbangannya benar-benar tidak dapat dikuasainya lagi, sehingga tanpa dapat ditolong lagi. Argajaya terhuyung-huyung jatuh tertelentang. Ia masih mencoba bertahan pada sebelah tangannya. Tetapi ketika sekali lagi cambuk Gupita menyambar tangan itu, maka Argajaya benar-benar terguling di tanah yang berdebu.

Sejenak Gupita terpaku di tempatnya. Tetapi tiba-tiba ia melihat sebuah kesempatan. Selagi Argajaya mencoba berguling menjauh, maka kali ini ujung cambuk Gupita-lah yang mengejarnya. Sebuah sengatan telah mengenai pergelangan tangan kanannya yang masih menggenggam tombaknya erat-erat. Terdengar sebuah keluhan tertahan, namun tombak itu tidak terlepas dari tangannya.

Gupita mengerutkan keningnya. Orang ini benar-benar bukan saja berhati batu, tetapi berhati baja.

Karena itu, sekali lagi Gupita melecutkan cambuknya. Kali ini ujung cambuknya membelit tangkai tombak Argajaya. Dengan sepenuh tenaga Gupita menghentakkan cambuknya untuk memaksa tombak Argajaya terlepas dari tangannya.

Gupala yang melihat usaha itu segera membantu dengan caranya. Selagi Argajaya bertahan, agar tombaknya tidak, terlepas maka Gupala segera menyambar tangan Argajaya dengan cambuknya. Bertubi-tubi, sehingga karah-karah besi pada juntai cambuknya itu seakan-akan telah mengelupaskan seluruh kulit di pergelangan tangan Argajaya.

Betapa sakitnya tangan Argajaya yang telah melelehkan darah itu. Tetapi ia sama sekali tidak membuka genggaman tangannya. Bahkan kemudian sambil berbaring di tanah kedua tangannya menggenggam senjatanya itu erat-erat.

Gupala hampir saja menjadi waringuten. Hampir saja ia kehilangan kesabaran dengan menyerang Argajaya di bagian yang berbahaya. Untunglah bahwa Dipasanga berbuat lebih cepat. Dilepaskannya senjatanya, kemudian dengan tangkasnya ia meloncat menimpa Argajaya yang sudah kelelahan itu. Dengan sekuat tenaganya ia mencoba mendekap tangan Argajaya dari belakang. Sejenak keduanya berguling-guling. Tetapi kemudian Gupita dan Gupala pun ikut serta membantu. Dengan demikian maka Argajaya telah dipaksa untuk melepaskan tombaknya, karena Gupita dengan sekuat tenaganya merebut tembak itu dari tangannya, sedang Dipasanga memeganginya dari belakang.

Tetapi usaha itu ternyata tidak segera berhasil. Sejenak mereka tarik menarik, seperti kanak-kanak berebut barang mainan.

Sekali lagi Gupala kehilangan kesebaran. Tiba-tiba saja tangannya yang berat itu terayun. Sebuah pukulan sisi telapak tangan telah menyentuh tengkuk Argajaya, sehingga dengan tiba-tiba seluruh kekuatannya seakan-akan lenyap dari tubuhnya. Perlawanannya pun tiba-tiba berhenti, sehingga justru Gupita yang menarik tombaknya terdorong beberapa langkah sehingga hampir saja jatuh tertelentang.

Ketika Gupita kemudian berhasil menguasai keseimbangannya dan berdiri tegak dengan kaki renggang, maka dilihatnya Argajaya telah terkulai dengan lemahnya, menelungkup di tanah. Sejenak Gupita terpaku diam. Ditatapnya wajah Gupala yang tegang dengan tajamnya.

“Aku hanya menyentuhnya,” desis Gupala.

“Mudah-mudahan kau tidak membunuhnya,” suara Gupita tertahan-tahan.

Dipasanga-lah yang kemudian berjongkok di sampingnya. Perlahan-lahan ia mengangkat tubuh Argajaya yang lemah itu. Namun dengan serta-merta ia berkata, “Ia masih tetap hidup.”

Kemudian tubuh itu pun dibaringkannya di tanah. Dengan pengetahuan yang ada, Gupita mencoba memijit-mijit bagian di bawah telinganya. Kemudian menggerakkan tangannya perlahan-lahan.

Nafas Ki Argajaya perlahan-lahan mulai mengalir lewat lubang-lubang hidungnya. Satu-satu, namun kemudian semakin lama menjadi semakin lancar.

“Kelelahan,” berkata Dipasanga. “Sentuhan tangan Gupala tidak menentukan.”

“Nah, bukankah kau hanya mendorongnya? Meskipun seandainya aku tidak memukul tengkuknya betapa pun lambatnya, ia akan pingsan karena nafasnya yang hampir terputus.”

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya. Ia terlampau banyak mencurahkan tenaganya.”

“Tentu. Ia tidak mau tertangkap hidup-hidup. Kalau ia sadar, maka ia akan melakukan perlawanan lagi.”

Kita harus membawanya ke belakang garis peperangan.”

Gupita pun kemudian memanggil beberapa orang pengawal untuk menggantikan tempatnya, maka Dipasanga dan Gupala-lah yang mendapat kesempatan.

“Tetapi kau sedang berhadapan dengan manusia-manusia meskipun ia lawanmu,” berkata Gupita.

“Tentu. Justru aku berhadapan dengan manusia-manusialah aku benar-benar harus mempertahankan hidupku. Karena mereka sedang berusaha untuk membunuhku.”

“Kau dapat mempertahankan hidupmu. Tetapi perlakuanmu terhadap lawan-lawanmu adalah perlakuan seorang prajurit jantan, dengan mengindahkan segala sopan-santun peperangan.”

“Maksud Kakang?”

“Jangan bertindak berlebih-lebihan. Banyak contoh telah kau lihat, bahwa kelakuan yang demikian tidak memberikan apa-apa kepada kita.”

Gupala mengangguk. Tetapi ia mengumpat di dalam hati, “Persetan. Bagaimana aku dapat berbuat sopan terhadap manusia-manusia yang buas dan liar itu?” Meskipun kemudian terdengar suara di dasar hatinya, seolah-olah suara gurunya, “Apakah kau juga harus menjadi buas dan liar?”

Gupala menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat Dipasanga telah mulai melibatkan diri di peperangan, sedang para pengawal telah mengangkat tubuh Argajaya dan membawanya ke belakang garis perang bersama Gupita.

Tetapi untuk sejenak Gupala masih tetap berdiri tegak di tempatnya. Ia memandangi saja bagaimana Dipasanga mengayunkan senjatanya. Meskipun orang itu bertempur di antara orang-orang yang kasar, namun ia tetap dapat menguasai dirinya, meskipun ia tidak kurang tangkas dan cepat.

Sekilas terbayang di rongga matanya, prajurit Pajang yang berada di Sangkal Putung, selagi mereka bertempur melawan pasukan Tohpati dan Ki Tambak Wedi di padukuhan Tambak Wedi.

Tanpa mengurangi nilai-nilai peperangan dan ketahanan mempertahankan diri, Gupala dapat melihat perbedaan cara yang dipergunakan oleh orang-orang Ki Tambak Wedi yang bercampur-baur dengan orang-orang Ki Peda Sura, dengan cara yang dipergunakan oleh Ki Dipasanga.

Gupala menarik nafas dalam-dalam. Namun keningnya menjadi berkerut-merut apabila ia melihat bahwa para pengawal Tanah Perdikan Menoreh pun sebagian terbesar sama sekali tidak mampu menahan diri, sehingga mereka berkelahi tidak ubahnya seperti cara-cara yang dipergunakan oleh lawan-lawan mereka.

Tiba-tiba Gupala menggeleng, “Aku tidak boleh mempergunakan cara itu.” Dan tanpa sesadarnya ia berkata kepada diri sendiri, “Benar juga pesan Kakang Gupita.”

Dan sesaat kemudian Gupala pun telah menerjunkan dirinya di dalam peperangan dengan cambuknya yang panjang. Sekali-sekali terdengar sebuah teriakan nyaring, kemudian pekik kesakitan. Tetapi Gupala selalu mencoba mengekang dirinya untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela di peperangan. Ia menghindari perlakuan yang dapat menumbuhkan kesan kekejaman tanpa batas, meskipun kadang-kadang cambuknya tanpa dikekendakinya sendiri, telah mengelupas kulit-kulit wajah lawannya.

Ternyata bahwa garis peperangan telah bergeser semakin mendekati padukuhan induk. Pasukan Sidanti sudah tidak lagi dapat dibimbing oleh pemimpin-pemimpin kelompoknya. Bahkan pemimpin-pemimpin kelompok yang ada pun sama sekali sudah tidak berpengharapan lagi. Berita tentang Argajaya pun segera merayap dari ujung ke ujung pasukan.

Bahkan orang-orang yang tidak dapat melihat dengan pasti, apakah yang telah terjadi dengan Argajaya segera meneriakkan kematiannya. Sehingga dengan demikian maka gairah perlawanan orang-orang Sidanti itu sama sekali telah lenyap. Bahkan beberapa orang anak buah Ki Peda Sura yang sama sekali sudah tidak dapat mengharapkan apa-apa lagi karena kekalahan yang tidak disangka-sangka itu, telah mulai bimbang.

“Buat apa kita bertempur?” desis seseorang kepada kawannya.

Kawannya menggeleng, “Kami masih mengharap dapat bertahan. Meskipun besok kita harus lari, tetapi kita masih mendapat kesempatan untuk mencari sesuatu di induk Tanah Perdikan ini sendiri. Tetapi agaknya keadaan berkembang lain.”

“Apakah kita menunggu leher kita terputus di atas Tanah yang ternyata sangat gersang ini.”

“Sepeninggal Ki Peda Sura, kita memang sudah tidak berpengharapan lagi.”

Demikianlah sikap itu menjalar dari seorang keorang yang lain. Bahkan orang-orang yang datang ke Tanah Perdikan itu dengan maksud serupa, yang bukan anak buah Ki Peda Sura pun telah dijangkiti oleh pendirian itu. Mereka sama sekali tidak dapat mengharap apa-apa lagi dari peperangan ini.

Bahkan satu dua di antara mereka telah meninggalkan peperangan itu dengan diam-diam.

Dengan demikian maka pasukan yang tampaknya masih tetap berada di dalam gelar itu sama sekali sudah tidak mempunyai kekuatan lagi. Senapati yang tinggal satu-satunya adalah Sidanti.

Namun ternyata bahwa Sidanti tidak mampu berbuat banyak. Ia tidak dapat menguasai seluruh medan, karena ia sendiri sedang sibuk bertempur melawan Hanggapati.

Apalagi disadarinya, bahwa sepasang mata selalu mengawasinya, dari antara para pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

“Anak itu memang luar biasa,” desis orang yang masih memandanginya hampir tanpa berkedip. “Tenaga dan kemampuannya ngedab-edabi. Sayang ia jatuh ketangan yang salah, sehingga ia pun telah tersesat jalan.”

Namun kesesatan itu tidak mengurangi kekaguman gembala tua yang sedang menunggui pertempuran yang masih saja berlangsung dengan sengitnya.

Gembala tua itu mengerutkan keningnya ketika ia melibat warna-warna semburat merah membayang di langit. Tanpa sesadarnya ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil bergumam, “Semalam kami telah bertempur. Mudah-mudahan setelah matahari terbit pagi nanti, semuanya akan dapat diselesaikan. Masalah-masalah yang selama ini seakan-akan mencengkam Tanah Perdikan ini, mudah-mudahan dapat diuraikan. Dan api yang selama ini berkobar akan dapat dipadamkan.”

Dan tiba-tiba orang tua itu menyadari, bahwa kini ia masih menghadapi seorang anak muda yang berhati baja. Kalau anak ini sudah dapat dikuasainya, maka pasukan lawan sama sekali sudah tidak mempunyai seorang pimpinan pun. Pasukan itu pasti akan segera terpecah.

Karena itu, maka gembala tua itu melangkah semakin dekat. Tetapi ia masih tertarik melihat cara Sidaniti mempergunakan senjatanya. Dengan demikian ia masih termenung sejenak memandangi pertempuran itu.

Orang tua menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar beberapa meneriakkan kematian Argajaya. Seakan-akan berita itu sudah sedemikian meyakinkan, bahwa Argajaya telah mati terbunuh.

Sidanti yang mendengar berita itu dari teriakan-teriakan yang seakan menjalar itu mengangkat wajahnya sejenak. Ia ingin meyakinkan pendengarannya. Dan suara yang merambat itu masih saja menggema, “Argajaya mati! Argajaya mati!”

“Persetan!” Sidanti menggeram. “Aku tidak memerlukan siapa pun lagi. Ayo, siapa lagi yang akan maju ke medan ini? Kau orang tua bangka? Kenapa kau diam saja? Apakah kau takut melawan aku, he?”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Ketika dipandangnya Hanggapati sejenak orang itu menarik nafas dalam-dalam. Hanggapati yang kebetulan juga memandanginya, seolah-olah bertanya kepadanya seperti Sidanti, “Kenapa kau diam saja?”

Dan pertanyaan itulah yang telah mendorongnya untuk maju lagi. Tetapi ia masih berkata, “Kenapa kau mengeraskan niatmu serupa itu Sidanti?”

“Jangan banyak bicara. Bunuh aku atau aku membunuhmu.”

“Kau menjadi putus asa, seolah-olah hari-hari mendatang adalah hari-hari yang sangat gelap bagimu. Seharusnya kau percaya bahwa Ki Argapati akan bersikap adil. Kau adalah anaknya. Dan demikianlah seorang bapa. Betapa pun ia bersakit hati, tetapi apabila anak itu telah kembali ke pangkuannya dengan penuh penyesalan, maka ia akan dimaafkan.”

“Bohong. Kau mencoba menjebak aku. Argapati bukan ayahku.”

Sekali lagi gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Bahkan tidak sesadarnya ia mengusap dada dengan sebelah tangannya, “Kau benar-benar keras hati, Ngger.”

“Diam! Diam!”

Dan Sidanti tidak menunggu lagi. Sekali lagi ia menyerang Hanggapati yang untuk sejenak masih sempat memandang gembala tua itu dengan penuh pertanyaan di wajahnya, “Kiai mau apa sebenarnya?”

Orang tua itu menangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya peperangan yang masih berlangsung untuk sejenak. Kemudian dipandanginya arena yang kecil tempat Hanggapati berkelahi melawan Sidanti yang menjadi wuru.

Ternyata bahwa dalam keadaan yang seakan-akan tidak terkuasai lagi. Sidanti menjadi sangat berbahaya. Beberapa kali Hanggapati meloncat surut. Namun dengan demikian, perhatian Sidanti sebagian terbesar tertuju kepada lawannya, hampir tidak terbagi, selama laki-laki tua itu belum berbuat apa-apa.

Namun kemudian hal itu terjadi. Darah Sidanti seakan-akan jadi membeku dengan tiba-tiba ketika ia merasa sebuah tangkapan yang tidak dapat dilawannya, pada tengkuknya. Sebuah tangan yang kuat, telah mencengkamnya, seakan-akan sebuah jepitan besi telah menghimpit lehernya. Perlahan-lahan namun tidak dapat dilawannya, tubuhnya serasa menjadi semakin lemah. Akhirnya Sidanti merasa, bahwa tangannya sama sekali tidak mampu lagi untuk digerakkannya. Pandangan matanya menjadi kabur dan nafasnya menjadi kian sesak.

“Tidurlah anak manis,” terdengar sebuah desis ditelinganya. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Bahkan kemudian matanya pun menjadi semakin kabur.

Hanggapati memandanginya dengan penuh keheranan. Ia berdiri tegak di tempatnya sambil memandang Sidanti yang pingsan terbaring di tanah, sedang laki-laki tua itu telah berjongkok di sisi tubuh Sidanti yang terbaring itu.

“Aku memerlukannnya hidup-hidup,” berkata orang tua itu kepada Hanggapati.

Hanggapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak segera menjawab.

Ditatapnya Sidanti yang sama sekali sudah tidak berdaya lagi. Agaknya orang tua itu telah berhasil menekan simpul syaraf Sidanti yang langsung mempengaruhi pusat syarafnya.

“Aku akan membawanya ke belakang garis peperangan ini,” berkata laki-laki tua itu. “Mudah-mudahan api yang membakar Tanah Perdikan ini segera akan padam.”

“Lalu, bagaimana dengan pasukan lawan?” bertanya Hanggapati.

“Usirlah mereka bersama-sama dengan Kerti, Samekta, dan para pengawal yang lain.”

“Tetapi,” orang tua itu mengerutkan keningnya, “aku harus bertemu dengan Samekta. Ia harus menyediakan sepasukan pengawal yang segera dapat digerakkan menguasai seluruh daerah peperangan, terutama padukuhan induk.”

Hanggapati mengerutkan keningnya.

“Orang-orang yang datang dari luar Tanah Perdikan ini dan yang kemudian akan melarikan diri, pasti akan mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya selagi padukuhan-padukuhan ini kosong.”

Hanggapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sudahlah. Bantulah Kerti menyelesaikan tugasnya di sini.”

“Baik, Kiai.”

Orang tua itu pun kemudian memapah Sidanti di pundaknya dan membawanya mundur kebelakang garis peperangan. Namun ia masih sempat menemui Samekta setelah seorang penghubung memanggilnya.

“Jangan terlambat,” berkata orang tua itu mengakhiri pesannya. “Agaknya satu dua orang telah meninggalkan peperangan ini dengan diam-diam. Jalan lari itulah mereka akan mempergunakan kesempatan.”

“Baik, Kiai,” jawab Samekta kemudian.

Maka sepeninggal gembala tua itu, Samekta menjadi semakin sibuk. Untunglah bahwa gairah perlawanan pasukan Sidanti yang telah kehilangan pemimpin-pemimpinnya itu telah menurun jauh sekali, sehingga pasukan itu terus didorong mundur oleh pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh bersama rakyat yang setia kepada pemimpinnya.

Dengan cepat Samekta menunjuk beberapa orang yang dipercayanya. Mereka harus menebar ke segenap sudut padukuhan induk yang mungkin akan dilalui oleh pendatang yang dibawa Ki Peda Sura atau kawan-kawan mereka. Memang tidak mustahil bahwa sambil melarikan diri mereka akan mencari kesempatan dalam kekosongan untuk merampok dan merampas kekayaan yang tersisa.

Seperti juga para pemimpin pasukan pengawal yang lain, Samekta memperhitungkan, bahwa perlawanan pasukan lawan tidak akan dapat bertahan sampai fajar. Karena itu, maka sepasukan pengawal yang telah dipilihnya segera diperintahkannya untuk mendahului. Mereka mendapat tugas untuk mengamankan padukuhan induk, sebelum pasukan pengawal seluruhnya memasuki daerah itu.

Pertempuran itu kini benar-benar telah menjadi berat sebelah. Pasukan yang semula dipimpin oleh Ki Tambak Wedi, Sidanti, Argajaya, dan Ki Peda Sura itu sudah mulai pecah.

Mereka menyadari bahwa tidak ada lagi yang dapat mengikat mereka di dalam kesatuan karena pemimpin-pemimpin mereka telah habis. Itulah sebabnya, maka pasukan itu sama sekali tidak lagi dapat menyesuaikan diri.

Hanya beberapa orang yang menjadi berputus asa sajalah yang masih bertempur dengan gigih, karena mereka merasa bahwa mereka tidak akan mendapat tempat lagi di hari-hari mendatang di atas Tanah Perdikan ini. Tetapi mereka sudah tidak mendapat kesempatan untuk berpikir lagi. Mereka merasa bahwa tidak akan ada gunanya menyesal, sehingga karena itu, maka lebih baik bagi mereka untuk binasa sama sekali. Sebab apabila Tanah Perdikan ini kembali dikuasai oleh Ki Argapati dan orang-orang yang setia kepadanya, maka mereka yang selama ini berpihak kepada Sidanti dan Argajaya pasti akan dianggap sebagai pengkhianat. Itulah sebabnya, maka kematian adalah jalan yang sebaik-baiknya.

Tetapi ada juga yang memilih jalan lain. Lari. Ke mana pun.

Demikianlah maka seperti awan yang dihembus oleh angin, perlahan-lahan pasukan yang telah kehilangan pimpinan itu terpecah, kemudian berserakan tanpa arah. Yang mati, matilah di peperangan. Sedang yang masih hidup berlari-larian tidak menentu.

Sementara itu, seperti yang diperhitungkan oleh gembala tua, beberapa orang anak buah Ki Peda Sura dan kawan-kawan mereka memang mencoba mempergunakan kesempatan dalam kekisruhan itu. Tetapi pasukan khusus yang dikirim oleh Samekta, telah memasuki padukuhan induk itu lebih dahulu. Mereka segera memencar ke segenap sudut, sehingga mereka dapat langsung mengawasi orang-orang yang melarikan diri dan mencoba memasuki rumah-rumah yang masih berpenghuni.

Perkelahian-perkelahian kecil segera terjadi antara orang-orang liar itu melawan para pengawal. Tetapi hal itu tidak terjadi terlalu lama. Mereka yang telah menjadi gelisah dan bingung itu, segera meninggalkan padukuhan itu, berlari mencari selamat.

Sambil mengumpat-umpat tidak habis-habisnya, mereka berusaha menemukan jalan untuk kembali ke sarang-sarang mereka, meskipun salah seorang pemimpin mereka yang mereka segani, Ki Peda Sura sudah terbunuh.

Namun sebagian dari mereka tidak berhasil keluar dari padukuhan induk itu, karena tindakan yang cepat dari para pengawal. Korban di antara mereka masih juga berjatuhan satu-satu.

Pasukan pengawal yang marah merasa mendapat kesempatan untuk melepaskan dendam yang membara di hati mereka setelah beberapa lama mereka terusir dari padukuhan induk, dari padukuhan-padukuhan lain di sekitarnya. Bahkan ada di antara mereka yang terpaksa meninggalkan halaman dan milik mereka yang mereka kumpulkan, sedikit demi sedikit. Sehingga dengan demikian, maka dengan, nafsu yang menyala-nyala pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh, berusaha mengejar lawan-lawan mereka.

Tetapi sejenak kemudian beberapa penghubung telah menyebarkan perintah Samekta. Para pengawal tidak diperkenankan berlaku kasar dan menuruti perasaan masing-masing. Yang penting mereka harus memasuki padukuhan induk tanpa menghiraukan lawan yang melarikan diri terpecah belah.

“Kita harus segera menyusun diri. Menguasai seisi Tanah Perdikan ini sebaik-baiknya,” perintah Samekta.

Beberapa kelompok pengawal menjadi ragu-ragu atas perintah itu. Sekian lama mereka menahan kemarahan yang seolah-olah akan meledak di dada masing-masing. Kini mereka mendapat kesempatan itu. Apalagi di dalam pertempuran yang baru saja terjadi, apakah mereka harus melepaskan lawan itu begitu saja?

Namun dalam keragu-raguan itu, mereka merasa bahwa mereka tidak dapat berbuat sekehendak hati. Mereka mempunyai pemimpin, perintahnya harus didengar. Sehingga dengan demikian maka mereka harus patuh dan melakukan perintah itu.

Meskipun demikian ada juga beberapa kelompok pengawal yang tidak segera mematuhinya. Mereka masih mempergunakan kesempatan terakhir untuk melepaskan dendamnya terhadap pengikut Tambak Wedi yang menjadi sumber penderitaan seluruh rakyat Menoreh.

“Kita harus melepaskan mereka,” berkata seorang penghubung kepada seorang pemimpin kelompok yang sedang kalap.

“Persetan!” geramnya. “Aku harus membunuh orang itu.”

Tanpa menghiraukan apa pun lagi, ia mengejar seorang yang sudah tidak terlalu jauh di hadapannya. Agaknya orang itu sudah begitu lelah, sehingga langkah kakinya sudah tidak begitu cekatan.

“Tunggu, aku bunuh kau,” teriak pemimpin kelompok itu.

Orang yang sedang berlari itu berusaha untuk mempercepat langkahnya. Tetapi tenaganya tidak memungkinkannya lagi. Bahkan ketika terantuk sebuah batu, maka ia pun terbanting jatuh di tanah.

Betapapun penghubung itu mencoba mencegah, tetapi pemimpin kelompok itu sama sekali sudah tidak menghiraukannya lagi. Ketika orang yang terjatuh itu berusaha untuk bangkit, maka ujung pedang pemimpin kelompok itu segera membenam di punggungnya.

Tidak ada keluhan sama sekali yang terdengar. Orang itu terlempar dan jatuh tertelungkup, sementara langit menjadi semakin cerah.

Beberapa langkah di belakang mereka, beberapa orang pengawal di dalam kelompok itu pun berdatangan. Salah seorang anak muda yang tidak dapat menahan diri segera berteriak, “Cincang saja. Pengkhianat.”

Yang lain menyahut, “Ya, cincang pengkhianat itu.”

Pemimpin kelompok yang tidak dapat menahan hati itu pun kemudian dengan geramnya mendorong orang yang sudah terbunuh itu dengan kakinya, sehingga tubuh itu pun kemudian menelentang.

Tetapi demikian pemimpin kelompok itu melihat wajah orang yang dibunuhnya, tiba-tiba ia membeku. Tangannya. Menjadi gemetar dan bibirnya bergerak-gerak. Terdengar suaranya sendat, “Kakang. Kakang. Kaukah itu.”

Semua orang tiba-tiba saja mematung di tempatnya. Ternyata orang yang terbunuh itu adalah kakak pemimpin kelompok yang dengan tangannya sendiri telah membunuhnya.

“Kakang,” suaranya semakin lirih, “kenapa kau berpihak kepada Sidanti? Aku menjadi gila karena aku menyangka bahwa kau justru telah terbunuh oleh mereka,” suaranya tiba-tiba merendah. “Sejak kita terusir dari padukuhan induk, kita tidak pernah bertemu lagi. Ternyata kau terpikat oleh janji-janji mereka.”

Namun pemimpin pengawal itu tidak dapat menahan diri ketika hatinya serasa seakan-akan terpecah. Perlahan-lahan ia berjongkok di samping tubuh kakaknya yang telah membeku. Katanya perlahan-lahan sambil menyilangkan pedang di dadanya. “Maafkan aku, Kakang. Aku sama sekali tidak menyangka, bahwa kaulah yang telah aku bunuh. Bukan maksudku sama sekali meskipun seandainya aku tahu kau berpihak kepada lawan.”

Dan kepalanya pun menjadi semakin tertunduk ketika terbayang wajah ayah dan ibunya. Ayah dan ibunya yang meninggal beberapa tahun yang lalu. Hampir berturut-turut. Tiga tahun ia kehilangan kedua orang tuanya. Selama itu kakaknya itulah yang mengasuhnya. Memberinya tempat tinggal dan makan. Tetapi, kini ia telah membunuhnya.

Ketika pemimpin kelompok itu berpaling, dilihatnya penghubung yang selama itu mencoba mencegahnya. Dengan penuh sesal ia berkata, “Aku bersalah. Aku tidak mentaati perintah Ki Samekta. Dan aku harus menebus kesalahan itu dengan taruhan yang terlampau mahal.”

Penghubung itu tidak menyahut. Ternyata peperangan memang begitu kejam, sehingga memaksa seorang adik membunuh kakaknya sendiri walaupun tanpa disadarinya.

“Sudahlah,” akhirnya penghubung itu berkata. “Ki Samekta memerlukan kalian di padukuhan induk. Berkumpullah. Kalian akan mendapat petunjuk. Hal-hal serupa ini agaknya memang telah diperhitungkannya. Bukan saja pembunuhan adik atas kakaknya, tetapi juga pelepasan dendam yang berlebih-lebihan di antara kita sendiri.”

Pemimpin kelompok itu berdiri perlahan-lahan. Kepalanya masih tertunduk. Tetapi kepala yang tertunduk itu mengangguk.

“Kita akan menyelesaikan sisa-sisa persoalan ini dengan cara yang lain,” berkata penghubung itu. “Dan Ki Samekta sudah mempertimbangkan cara yang sebaik-baiknya.”

“Ya. Aku telah terjebak oleh nafsuku sendiri,” desis pemimpin kelompok yang kalap itu.

Sejenak kemudian maka dengan kepala tunduk seluruh kelompok itu pun segera meninggalkan tempat itu. Namun pemimpin kelompok itu masih berdesis, “Besok aku akan minta ijin khusus untuk menguburkan mayat Kakang.”

Tidak seorang pun yang menjawab. Sesal yang sangat telah melepaskan segala macam dendam di dalam dada pemimpin kelompok itu.

Sementara itu, di bagian lain dari medan peperangan, masih terjadi beberapa keributan kecil. Tetapi semuanya segera dapat diatasinya. Beberapa kelompok pasukan pengawal telah berada di padukuhan induk. Mereka segera mengambil tempat-tempat yang penting untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Terutama dari orang-orang pendatang yang jelas akan mempergunakan setiap kemungkinan yang terbuka dalam keadaan apa pun.

Dalam pada itu, Ki Argapati yang ditunggui oleh Pandan Wangi telah semakin menyadari keadaannya. Titik air di bibirnya membuatnya sedikit segar.

Dan ketika perang itu berakhir, Ki Argapati telah dapat mengerti, apa yang telah terjadi di sekitarnya. Tetapi ia pun menyadari bahwa keadaannya menjadi semakin lemah, karena luka-lukanya bertambah parah.

Tetapi hatinya seakan-akan rontok ketika usungan yang membawanya memasuki pintu gerbang padukuhan induk yang telah sekian lama ditinggalkannya.

Dengan suara yang lemah ia berdesis, “Wangi, apakah aku tidak bermimpi.”

“Tidak, Ayah,” jawab Pandan Wangi. “Ayah sedang memasuki padukuhan induk.”

Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia menatap langit yang terbentang, maka cahaya fajar telah menjadi semakin terang.

“Ternyata Tuhan masih memperkenankan aku memasuki padukuhan ini kembali.”

“Bukankah kita memohonnya,” sahut anaknya, “dan permohonan kita sama sekali tidak berlebih-lebihan. Permohonan yang ternyata diperkenankan oleh Tuhan.”

“Ya. Kita wajib berterima kasih,” suara Argapati merendah di antara desah nafasnya. “Kau tidak boleh melupakan apa yang telah terjadi hari ini, Wangi.”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya.

“Ternyata kita tidak berjuang sendiri. Tuhan telah mengirimkan kepada kita beberapa orang yang ternyata memegang peranan di dalam perjuangan ini.”

Pandan Wangi menundukkan kepalanya. Sekilas ia melihat pagar-pagar batu di sebelah-menyebelah jalan. Masih seperti pada saat ditinggalkannya.

Kemudian terbayang sekilas di dalam ingatannya, dua orang anak-anak muda yang mengaku bernama Gupala dan Gupita. Anak-anak muda yang serasa dibayangi oleh kabut rahasia yang tak terpecahkan. Sejak permulaan peristiwa yang membakar Tanah Perdikan ini, kedua anak muda itu telah menunjukkan dirinya.

Tengkuk Pandan Wangi meremang kalau terkenang olehnya, beberapa laki-laki yang kasar telah mencegatnya. Kemudian di jalan pulang bersama Samekta, ia bertemu dengan seorang gembala yang bernama Gupita. Gembala yang cakap bermain seruling.

Namun sejalan dengan itu, terbayang juga di dalam kenangannya, betapa Sidanti telah berusaha melindunginya sebagai seorang kakak, ketika ia hampir-hampir menjadi berputus asa. Sidanti telah melepaskannya dari tangan orang-orang liar itu.

Tanpa disadarinya Pandan Wangi menundukkan kepalanya. Kini kakaknya itu menjadi seorang tawanan, yang menurut penilaian orang-orang Menoreh adalah seorang pengkhianat bersama pamannya, Argajaya. Pamannya yang sangat baik kepadanya sejak ia masih kanak-kanak. Yang pernah mendukungnya pula bergantian dengan bibinya. Apalagi apabila ia sedang menangis karena dimarahi oleh ayah dan ibunya, jika ia nakal.

“Cup, cup Wangi,” pamannya selalu mencoba menghiburnya. “Ibu nakal. Ayah nakal. Mari bermain dengan paman saja. Cup.” Dan ia pun kemudian didukung ke kebun di belakang rumah, di bawah pepohonan yang rimbun, sehingga kadang-kadang ia tertidur di dalam dukungan.

Dan sekarang, seperti kakaknya, pamannya adalah seorang tawanan.

Wajah Pandan Wangi menjadi semakin menunduk. Dalam waktu sekian tahun itu ternyata telah terjadi banyak sekali perubahan. Ada yang pergi dari hatinya, tetapi ada yang datang pula.

Yang sebelumnya belum pernah dikenalnya, kini mereka bersama-sama justru berhadapan dengan orang-orang yang ada di sekitarnya di masa kanak-kanak.

Argajaya dan Sidanti telah tersisih dari lingkaran hidupnya, dan kini hadir gembala-gembala itu dengan ayahnya yang tua.

Pandan Wangi terkejut ketika ia mendengar ayahnya yang berada di usungan di sisinya bertanya lirih, “Kita telah sampai di mana sekarang ini, Wangi?”

“Kita hampir sampai ke rumah, Ayah.”

Terdengar sebuah desah pendek. Tetapi Ki Argapati tidak bertanya lebih lanjut.

Sebenarnyalah bahwa mereka telah hampir sampai di rumah Ki Argapati di padukuhan induk. Sebentar kemudian mereka telah berada di sebuah lapangan rumput di muka sebuah rumah yang berhalaman luas.

“Hem,” Argapati menarik nafas dalam-dalam.

Iring-iringan itu pun kemudian menjadi semakin mendekati regol halaman. Sejenak mereka berhenti ketika dua orang pengawal mendahului untuk melihat keadaan.

Ternyata Samekta telah berada di halaman itu bersama Kerti. Dengan tergesa-gesa mereka menyongsong Ki Argapati yang masih berada di dalam usungan.

“Marilah, Ki Gede,” berkata Samekta. “Semuanya sudah dipersiapkan meskipun dengan tergesa-gesa. Halaman ini telah bersih dari kemungkinan-kemungkinan yang kurang menyenangkan. Para pengawal telah menebar di segala sudut. Di halaman depan, samping dan di kebun belakang. Isi rumah ini pun telah kami periksa dengan teliti. Dan Ki Gede kemudian dapat beristirahat dengan tenang.”

Ki Gede mengerutkan keningnya. Terasa luka-lukanya menjadi kian perih. Namun ia berdesis, “Terima kasih, Samekta.”

Ki Gede pun kemudian diusung memasuki regol halaman. Pandan Wangi hampir-hampir tidak dapat menahan harunya, sehingga sepasang matanya pun menjadi basah. Tetapi ia bertahan untuk tidak menitikkan air mata. Dicobanya berjalan dengan tegap di samping usungan ayahnya. Dicobanya menengadahkan wajahnya menatap tangga-tangga pendapa rumahnya.

Namun ketika tampak olehnya tanaman-tanaman bunga yang dipeliharanya dengan hati-hati, pepohonan dan seluruh halaman rumahnya menjadi sangat kotor seperti hutan perdu, maka terasa kerongkongannya seakan-akan tersumbat.

Rumah itu seolah-olah sudah berubah menjadi rumah hantu. Di sana-sini sarang labah-labah bergayutan. Putih kehitam-hitaman.

Agaknya selama rumah ini ditinggalkannya, sama sekali tidak pernah dibersihkan. Ki Tambak Wedi, Sidanti dan orang-orangnya yang tinggal di rumah ini sama sekali tidak sempat memperhatikan sarang labah-labah dan tumbuh-tumbuhan liar di halaman.

Tetapi saat itu Pandan Wangi pun tidak sempat memperhatikannya terlalu lama. Ia selalu berada di samping ayahnya ketika usungan itu dibawa masuk ke ruang dalam.

Sebuah lampu minyak yang buram masih menyala di atas ajuk-ajuk meskipun hari sudah menjadi semakin terang. Tetapi sinarnya sama sekali sudah tidak berarti. Bahkan semakin lama menjadi semakin redup karena minyak di dalamnya sudah habis sama sekali.

“Apakah bilik ayah sudah dibersihkan,” bertanya Pandan Wangi kepada Samekta.

Samekta tergagap sejenak. Ia sama sekali tidak berpikir sampai begitu jauh. Ketika ia melihat bilik itu dan menurut pendapatnya sama sekali sudah tidak ada bahaya yang tersembunyi, maka ia merasa bahwa bilik itu sudah siap dipergunakan. Tetapi tidak terkilas sama sekali di kepalanya, bahwa bilik itu memang harus dibersihkan.

Hanya karena Pandan Wangi adalah seorang gadis meskipun berpedang di lambungnya sajalah, maka selain pengamatan atas bahaya yang tersembunyi, maka kebersihannya pun mendapat perhatiannya.

“Aku kira belum bukan, Paman?”

Samekta menganggukkan kepalanya, “Memang belum. Aku tidak berpikir sampai ke sana.”

“Tungguilah ayah di sini. Aku akan membersihkannya sebentar.”

Samekta menganggukkan kepalanya, sedang Pandan Wangi segera berlari ke belakang mencari sapu serabut.

Dengan tergesa-gesa bilik yang kotor itu pun dibersihkannya. Kemudian dicarinya tikar yang lebih bersih dari tikar yang terbentang di atas pembaringan. Pembaringan yang dahulu juga, tetapi alangkah kotornya.

Setelah semuanya dianggapnya selesai untuk sementara, maka dibaringkannya Ki Argapati di pembaringan. Pembaringan yang sudah sekian lama ditinggalkannya. Sementara Samekta dan Kerti segera mengatur para pengawal dan menyebarkannya di tempat-tempat yang dianggap perlu.

Namun sementara itu, yang sama sekali kurang mendapat perhatian para pengawal adalah justru padukuhan yang baru saja mereka tinggalkan. Lebih daripada itu adalah padukuhan di sebelah, tempat orang-orang Menoreh menampung para pengungsi.

Padukuhan itu hanya sekedar ditunggui oleh beberapa pegawal dan laki-laki yang menurut pertimbangan badaniah sudah tidak mampu lagi bertempur di medan yang berat. Karena itu maka kekuatan di kedua padukuhan itu hampir tidak berarti sama sekali.

Adalah di luar dugaan bahwa beberapa orang liar yang datang membantu Sidanti teringat akan hal itu. Dan bahkan memusatkan perhatian mereka kepada para pengungsi itu.

“Kita singgah sebentar ke padukuhan itu,” desis salah seorang dari mereka.

“Untuk apa?” bertanya yang lain.

“Menoreh pasti telah mengerahkan semua manusia yang ada. Karena itu, maka kedua padukuhan itu pasti kosong.”

“Kenapa kita singgah di sana?”

“Kau memang bodoh. Sebagian besar isi padukuhan induk telah mengungsi ke sana. Yang dapat mereka bawa pasti barang-barang berharga saja. Karena itu, apabila kita dapat memasuki padukuhan pengungsian itu, kita tinggal mengambil saja sesuka hati kita. Apa saja pasti sudah tersedia.”

“Apakah sama sekali tidak ada seorang penjaga pun?”

“Tentu ada, tetapi pasti bukan orang-orang yang terpilih untuk ikut ke peperangan.”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Salah seorang yang lain berkata, “Aku sependapat. Mari, sebelum sebagian dari mereka kembali.”

Segerombolan kecil orang liar itu pun segera mempercepat langkah mereka. Mereka tidak mau didahului oleh sebagian dari para pengawal yang pasti akan segera dikirim oleh pimpinan pasukan Menoreh.

“Apa pun yang kita dapatkan, dapatlah sekedar menawarkan hati yang panas ini.”

Mereka mengangguk-anggukkan kepala sambil melangkah semakin cepat.

Kehadiran mereka di tempat-tempat pengungsian benar-benar membuat suasana yang tenang itu menjadi kisruh. Beberapa orang pengawal yang bertugas segera mempersiapkan diri. Bahkan laki-laki yang sudah berusia lanjut pun segera menyambar senjata-senjata yang ada di dinding. Dan anak-anak tanggung yang berdarah panas pun tidak mau ketinggalan.

“He,” pemimpin dari para pengawal itu berkata lantang di hadapan segerombolan orang yang akan memasuki padukuhan itu, “Siapakah kalian, dan apakah maksud kalian?”

“Kami hanya sekedar akan lewat. Bukankah jalan yang melintas di tengah-tengah padukuhan ini jalan untuk umum.”

Pemimpin pengawal itu menggelengkan kepalanya, “Tidak. Dalam keadaan serupa ini jalan ini tertutup bagi siapa pun.”

“Tetapi kami akan lewat,” teriak yang berkumis panjang.

“Minggir,” teriak yang berkepala botak.

Tetapi pemimpin pengawal itu pun berteriak, “Jangan memaksa. Kalian harus mencari jalan lain.”

Tiba-tiba terdengar suara tertawa berkepanjangan. Seorang yang bertubuh tinggi kekar dan berjambang lebat maju ke depan sambil mengacung-acungkan kelewangnya. “Minggir anak-anak marmot. Jangan berbuat bodoh.”

Pemimpin pengawal itu menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya orang yang tampaknya buas dan liar itu. Namun dengan demikian ia dapat meraba, apakah yang sebenarnya akan mereka lakukan.

“Apa pun yang akan terjadi, tetapi kalian tidak boleh lewat,” jawab pengawal itu.

Hampir serentak orang yang liar itu mendesak maju.

Tetapi para pengawal yang berdiri di mulut lorong pun tidak menepi. Meskipun mereka menyadari, bahwa mereka akan berhadapan dengan orang-orang yang liar dan buas. Bahkan mereka pun menyadari bahwa mereka tidak mampunyai cukup kekuatan untuk mempertahankan diri terhadap segerombolan orang-orang liar itu.

Namun demikian mereka tidak akan dapat pula membiarkan orang-orang itu memasuki padukuhan dan merampok segala isinya. Apa pun yang terjadi, mereka harus bertahan sejauh-jauh dapat mereka lakukan.

“He, orang-orang yang tidak tahu diri,” berteriak seseorang yang berdada bidang dan berbulu lebat, “apakah kalian tidak mengenal kami?”

“Siapa pun kalian, kami tetap dalam pendirian kami.”

Orang-orang liar itu pun kemudian tidak dapat tersabar lagi. Segera mereka pun memencar sambil mengacung-acungkan senjata mereka. Salah seorang dari mereka berteriak, “Kalian tidak akan berdaya apa pun juga menghadapi kami. Jangan keras kepala.”

Para pengawal itu pun segera mempersiapkan diri. Mereka masih juga mempunyai harapan, karena jumah mereka lebih banyak. Tetapi yang banyak itu adalah sekedar orang tua-tua dan anak-anak tanggung. Meskipun demikian di antara yang tua-tua itu terdapat bekas-bekas pengawal yang pernah mengenal bagaimana mempergunakan pedang dan tombak yang ada di tangan mereka.

“Kami harus melindungi perempuan dan anak-anak,” desis seorang tua yang sudah ubanan seluruh kepalanya. Sambil membelai janggutnya yang sudah putih pula ia meneruskan, “Kami masih cukup kuat untuk bertempur melawan berandal yang mana pun juga.”

Tetapi segerombolan orang yang datang itu benar-benar orang-orang yang buas. Mereka sama sekali tidak menghiraukan apa pun juga, selain membayangkan bahwa di dalam padukuhan itu terdapat harta-benda yang dapat sedikit melepaskan tekanan yang menghimpit dada oleh kekalahan demi kekalahan yang pernah mereka alami selama mereka masih berada di atas Tanah Perdikan ini.

Dengan demikian, maka orang-orang itu pun kemudian mendesak semakin maju. Beberapa langkah di hadapan mereka, para pengawal pun segera menebar. Mereka pun telah siap menghadapi segala kemungkinan.

Seperti pesan pemimpin mereka, maka para pengawal itu bersiap menghadapi lawan-lawan mereka dalam pasangan-pasangan yang terdiri dari dua atau tiga orang. Setiap pengawal didampingi oleh orang-orang tua atau anak-anak tanggung. Dalam pasangan-pasangan itulah mereka akan berkelahi melawan orang liar yang menurut perhitungan para pengawal memiliki kemampuan yang lebih tnggi. Karena itu, para pengawal berusaha untuk memanfaatkan jumlah mereka yang lebih banyak itu sebaik-baiknya.

Sesaat kemudian maka kedua pasukan kecil itu pun segera berbenturan. Dengan teriakan-teriakan tinggi berandal-berandal itu menggempur lawan-lawannya tanpa pengekangan diri. Dengan kasar mereka mengayunkan senjata-senjata mereka dibarengi oleh umpatan-umpatan kasar pula yang dapat membakar telinga.

Adalah di luar dugaan berandal-berandal itu bahwa pengawal yang berjumlah kecil bersama orang-orang tua dan anak-anak itu ternyata telah berjuang dengan gigihnya. Mereka sama sekali tidak mengenal takut menghadapi akibat yang bagaimana pun juga beratnya.

Sejenak kemudian, maka mulailah darah menitik dari luka-luka. Seorang yang telah tidak bergigi lagi ternyata tersentuh ujung pedang, tertatih-tatih ia terdorong surut, kemudian jatuh berguling di tanah. Dengan nafas terengah-engah ia mencoba bangkit. Namun lukanya terasa menjadi kian pedih.

“Minggirlah!” teriak seorang pengawal. “Mundurlah dan bersihkan luka itu.”

Belum lagi ia beranjak dari tempatnya, seorang anak muda berumur enam belas tahun terlempar dari pertempuran. Sebuah goresan biru telah menyilang punggungnya. Agaknya sebuah bindi telah mengenainya, meskipun tidak sepenuh kekuatan lawan, sehingga ia masih mampu meloncat berdiri. Tetapi karena senjatanya terlempar dari tangannya, maka ia pun segera meloncat mengambil senjata orang tua yang terluka, “Pinjam senjatamu, Kek.”

Namun bagaimana pun juga, sejenak kemudian segera terasa bahwa pasukan para pengawal itu segera terdesak. Hanya karena jumlah dan tekad mereka sajalah, mereka mampu bertahan. Pemimpin pengawal itu memang masih mengharap sesuatu akan terjadi. Mungkin sepasukan pengawal kembali, atau mungkin pasukan pengawal di padukuhan sebelah mengetahui keadaan ini.

Pasukannya yang lengah, ternyata tidak mempersiapkan alat-alat apa pun yang dapat dipergunakannya untuk memberikan isyarat kepada para pengawal di padukuhan sebelah selain kentongan. Tetapi pengawal itu pun jumlahnya sama sekali tidak memadai.

Namun demikian, pemimpin pengawal itu tidak berputus asa. Ketika pasukannya benar-benar terdesak, maka diperintahkannya memukul titir. Kentongan. Satu-satunya alat yang masih dimilikinya

Sejenak kemudian terdengar suara titir menggema dari padukuhan kecil itu. Beberapa buah kentongan berbunyi bersama-sama, sahut-menyahut. Namun di sela-sela suara kentongan itu terdengar orang yang berbulu lebat di dadanya berkata, “Darimana kau akan mendapatkan bantuan? Dari padukuhan sebelah yang dilingkari oleh pring ori itu? Kasihan. Mereka tidak akan mampu membantu kalian, karena jumlah mereka pun tidak akan berarti apa-apa bagi kami.”

Pemimpin pengawal tidak menghiraukannya. Ia sendiri berkelahi seperti harimau lapar. Sedang beberapa orang pengawal terlatih yang lain pun mengikuti jejaknya pula.

Ternyata bahwa suara kentongan itu tertangkap dari padukuhan di sebelah. Karena itu maka pemimpin pengawal yang tinggal di padukuhan itu pun segera mengumpulkan pasukan kecilnya.

“Apakah yang telah terjadi?” ia bertanya.

Tetapi tidak seorang pun yang mengetahuinya.

“Biarlah beberapa orang pergi ke sana melihat keadaan. Yang lain tetap berada di padukuhan ini,” perintah penimpin pengawal itu.

Beberapa orang pun segera pergi meninggalkan lingkungan pring ori menuju ke padukuhan sebelah. Dengan tergesa-gesa mereka meloncat-loncat sambil menduga-duga. Apakah yamg sebenarnya telah terjadi?

Akhirnya mereka pun melihat, di pinggir desa itu telah terjadi pertempuran. Agaknya para pengawal yang ada di padukuhan itu terdesak, sehingga mereka terpaksa membunyikan tanda.

Para pengawal itu pun berlari semakin cepat. Ketika mereka sampai di arena, mereka pun segera melibatkan diri di dalam pertempuran itu.

Namun jumlah mereka tidak terlampau banyak, sehingga pengaruhnya tidak begitu terasa. Meskipun pada saat-saat permulaan, para pengawal yang mendapat tenaga baru itu berhasil menahan desakan berandal yang kehausan, tetapi sejenak kemudian mereka pun telah terdesak kembali betapa pun lambatnya.

“Menyerahlah,” teriak salah seorang berandal yang berambut panjang.

Tetapi para pengawal sudah bertekad untuk bertahan. Apalagi setelah mereka mendapat bantuan meskipun hanya beberapa orang. Namun ketahanan mereka sudah menjadi bertambah. Jumlah mereka yang lebih banyak pun dapat membantu untuk memperpanjang waktu pertahanan mereka.

Beberapa orang pengawal telah mencoba untuk memecah perhatian orang-orang yang liar itu. Mereka menyerang dari samping. Sedang jumlah yang besar meskipun sebagian dari mereka adalah orang tua-tua dan anak-anak tanggung. tetap menghadapi mereka dari depan.

Tetapi bagaimana pun juga para pengawal tidak akan dapat |menguasai lawan-lawan mereka yang ganas.

Dalam pada itu, sepasang mata yang tajam mengikuti pertempuran yang sedang berlangsung dengan sengitnya. Pengetahuannya yang tajam tentang pertempuran dan perkelahian segera menangkap bahwa keadaan para pengawal semakin lama menjadi semakin sulit. Meskipun hanya setapak demi setapak, namun mereka terdesak terus. Apalagi tenaga orang-orang tua itu pasti akan segera susut. Mereka akan segera menjadi lelah, dan kehilangan kemampuan untuk melakukan perlawanan. Sedang orang-orang liar itu menjadi semakin liar. Apabila mereka merasa terganggu, maka mereka dapat melakukan tindakan-tindakan di luar batas peri kemanusiaan.

Orang yang mengawasi pertempuran itu menarik nafas dalam-dalam. Sejenak kemudian ia berdesis, “Untunglah, bahwa aku tidak langsung pergi ke padukuhan induk. Agaknya pasukan pengawal Tanah Perdikan ini seluruhnya telah dikerahkan untuk menyerang kekuatan Ki Tambak Wedi.”

Orang itu pun mencoba mendekati medan. Di balik dedaunan dan gerumbul-gerumbul ia melindungi dirinya sambil selangkah demi selangkah maju.

“Sebentar lagi pertahanan para pengawal itu pasti akan pecah,” desis orang itu. “Lalu bagaimana dengan pertempuran di padukuhan induk? Kalau mereka tidak dapat menerobos masuk, maka para pengawal akan mengalami kekalahan mutlak di semua medan.”

Orang itu menarik nafas. Kemudian ia berdesis, “Apakah aku akan membiarkan semua ini terjadi, sedang dua orang-orangku sudah mendahului aku berpihak kepada Ki Argapati?”

Sejenak ia termenung. Namun kemudian ia berdesis, “Aku harus menolongnya. Seandainya tidak ada hubungan apa pun dengan pertempuran di medan yang lain, namun kali ini persoalannya adalah persoalan perikemanusiaan. Kalau pertahanan itu pecah, maka berandal-berandal itu pasti akan mengaduk seisi padukuhan, terutama pengungsi-pengungsi. Pengungsi-pengungsi yang selalu dalam kecemasan karena bermacam-macam hal itu, masih harus mengalami bencana lagi di pengungsian.”

Karena itu, maka orang itu pun tidak menunggu lebih lama lagi. Kini ia tidak bersembunyi. Ia pun kemudian melangkah, melangkahi sawah yang kering dan rerumputan liar menuju ke medan pertempuran.

Semula tidak seorang pun yang melihat kehadirannya. Tetapi kemudian satu dua orang melihatnya. Seorang anak muda yang berjalan dengan tegapnya, menjinjing sebatang tombak pendek.

“He, siapakah orang itu?” desis seorang pengawal sambil bertempur terus.

Kawannya yang melihat kehadiran anak muda itu pula menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu.”

“Apakah orang itu salah seorang dari berandal-berandal itu?”

Kawannya menggelengkan kepalanya. Tetapi ia tidak sempat menjawab, karena ia harus menghindari serangan lawannya. Seorang yang berkumis lebat.

Orang yang menjinjing tombak itu berjalan saja seenaknya, semakin lama semakin dekat. Seperti seorang anak muda yang pergi ke perhelatan perkawinan seorang sahabat karibnya. Sama sekali tidak ada kesan ketegangan di wajahnya, meskipun di hadapannya berlangsung pertempuran yang seru.

Akhirnya kedua belah pihak yang bertempur pun melihat kehadirannya. Dengan tenang ia berhenti beberapa langkah dari peperangan itu. Kemudian berteriak nyaring, “He, aku akan ikut di dalam peperangan itu. Aku akan berpihak pada para pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Apakah kalian mendengar suaraku.”

Mereka yang sedang bertempur menjadi heran. Tiba-tiba saja orang itu menyatakan diri berpihak. Sedangkan kedua belah pihak sama sekali masih belum mengenalnya. Hampir berbareng pemimpin pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang bertugas di padukuhan itu, dan seorang dari berandal-berandal yang menyerangnya berteriak, “Siapakah kau?”

“Itu tidak penting. Tetapi aku muak melihat berandal-berandal yang berkeliaran di manapun. Juga di atas Tanah Perdikan ini. Selagi Tanah ini sedang kisruh, berandal-berandal itu mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Aku tidak tahu, apakah kalian memang dikirim oleh Ki Tambak Wedi, atau karena maksud kalian sendiri, namun perbuatan kalian memang harus dicegah.”

“Persetan!” teriak salah seorang dari orang-orang liar itu. “Apakah pengaruhmu seorang diri. Mari, ikutlah mati bersama para pengawal.”

“Tetapi aku tidak seorang diri. Aku akan bertempur bersama para pengawal.”

Tidak seorang pun yang segera menyahut. Tetapi kehadirannya benar-benar menarik perhatian, meskipun ia hanya seorang diri. Meskipun demikian, orang-orang yang telah dicengkam oleh nafsu untuk memiliki harta dan benda itu sama sekali tidak berhasrat untuk mengurungkan niatnya. Sejenak kemudian salah seorang dari mereka berteriak, “He, kedatangan segerombolan pengawal dari padukuhan sebelah sama sekali tidak berarti bagi kami. Apalagi kau hanya seorang diri, meskipun kau akan bertempur bersama-sama para pengawal.”

Orang yang baru datang itu mengerutkan keningnya, kemudian jawabnya, “Memang, kedatangan segerombolan pengawal itu baru membuat keadaan menjadi seimbang. Nah, meskipun kemudian aku datang seorang diri, tetapi aku akan dapat merubah keseimbangan itu.”

“Omong kosong!” teriak seorang yang bertubuh tinggi, berdada bidang dan berbulu lebat. Ia adalah orang yang sama sekali tidak dapat menahan diri. Karena itu, maka katanya kemudian, “Aku akan mencekik kelinci kecil itu. Teruskan pekerjaan kalian sampai tikus-tikus Menoreh ini menyadari kebodohannya. Aku hanya memerlukan waktu sekejap, kemudian aku akan kembali bersama-sama dengan kalian.”

Orang yang tinggi besar itu segera keluar dari pertempuran. Dengan langkah yang berat ia maju mendekati anak muda yang bersenjata tombak itu.

“Siapa kau. Aku ingin tahu namamu sebelum kau mati.”

“Sudah aku katakan, itu tidak penting.”

“Setan alas!” orang itu mengumpat. Kemudian diputarnya senjatanya. Sebuah canggah bertangkai pendek.

Anak muda yang bersenjata tombak itu masih tetap berdiri di tempatnya. Tetapi ia telah menyiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.

Tanpa berjanji maka peperangan yang seru itu pun mengendor. Hampir setiap orang di dalam peperangan itu ingin melihat, apa yang akan terjadi atas anak muda itu. Sehingga dengan demikian maka benturan dari kedua pasukan kecil itu seakan-akan terhenti untuk sesaat, hanya karena seorang anak muda yang datang mendekati arena.

“Lihatlah untuk yang terakhir kalinya,” berkata orang yang tinggi besar itu, “tengadahkan wajahmu ke langit, kemudian tundukkan kebumi. Kau sudah tidak akan melihatnya lagi.”

“Jangan menipu aku. Kau akan menusuk lambungku selagi aku menengadah,” jawab anak muda itu.

“Sombong! Kau kira aku tidak dapat membunuhmu tanpa berbuat licik seperti itu.”

“Yakini kata-katamu sendiri. Kau tidak dapat mengalahkan aku tanpa perbuatan licik.”

“Persetan!” orang itu menjadi sangat marah. Ia merasa benar-benar terhina, sehingga dengan serta-merta ia meloncat menyerang dengan canggahnya. Ujung yang bercabang itu langsung mengarah ke leher anak muda yang bersenjata tombak itu.

Tetapi semua mata yang melihat serangan itu terbelalak karenanya.

Semula mereka menyangka bahwa serangan yang demikian cepatnya itu akan segera mengakhiri perkelahian yang baru dimulai itu. Namun ternyata mereka salah sangka. Meskipun perkelahian itu benar-benar segera berakhir, tetapi bukan canggah orang bertubuh tinggi itulah yang menyobek leher anak muda yang bersenjata tombak.

Yang terjadi adalah justru sebaliknya. Dengan sigapnya anak muda itu mengelak, dan dengan sigapnya pula ia mengangkat ujung tombaknya. Anak itu tidak perlu mempergunakan kekuatan apa pun untuk membenamkan tombaknya di dada lawannya, karena lawannya telah melontarkan dirinya sendiri.

Adalah benar-benar di luar dugaan. Anak muda itu pun kemudian mengkibaskan wiron kainnya. Kemudian disangkutkannya wiron itu diikat pinggangnya di bagian belakang, di bawah punggung.

“Lihat,” katanya, “aku terpaksa mulai.”

Tidak seorang pun yang menyahut. Mereka melihat orang yang bertubuh tinggi gagah itu terhuyung-huyung. Dan ketika anak muda itu menarik ujung tombaknya, maka tubuh itu pun kemudian terbanting jatuh di tanah.

“Aku tidak sengaja membunuhnya,” berkata anak muda itu, “tetapi ia telah membunuh dirinya sendiri.”

Sejenak peperangan itu menjadi sepi. Bahkan berhenti untuk sesaat. Semua mata terbelalak melihat apa yang baru saja terjadi. Orang-orang liar yang sudah terlampau biasa melihat kematian itu pun menjadi heran, apalagi para pengawal.

“Hampir seperti Ki Gede Menoreh sendiri,” desis seseorang kepada diri sendiri.

Sementara itu anak muda itu pun berkata, “Nah. Sekarang aku akan ikut bertempur. Ayo, jangan berdiri termangu-mangu.”

Selangkah demi selangkah ia maju. Tombaknya dijinjingnya dengan sebelah tangannya.

“Itu hanya suatu kebetulan,” beberapa orang berandal berkata di dalam hati masing-masing untuk menenteramkan diri sendiri. “Nafsu yang meluap-luap memang dapat menjerumuskan diri sendiri ke dalam bencana. Karena itu, aku harus berhati-hati menghadapi anak itu.”

Sejenak kemudian maka pertempuran pun segera berkobar kembali. Semakin lama semakin dahsyat. Dentang senjata berkumandang di udara, dan bunga api pun memercik dari benturan senjata yang beradu.

Dalam pada itu, setiap orang di dalam peperangan itu pun segera melihat, apakah yang dapat dilakukan oleh anak muda yang bersenjata tombak pendek itu. Meskipun ia seorang diri, namun pengaruhnya jauh lebih besar dari beberapa orang yang datang dari padukuhan sebelah.

Dengan demikian maka keseimbangan pertempuran itu pun segera berubah. Para pengawal tidak lagi terdesak. Bahkan karena setiap kali anak mada itu dapat mengurangi jumlah lawannya, maka perlahan-lahan para pengawal itu pun dapat menguasai keadaan.

Sehingga sejenak kemudian, meskipun korban jatuh di kedua belah pihak, namun para pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang sedang bertugas di padukuhan kecil itu meyakini bahwa mereka akan berhasil mempertahankan daerah pengungsian itu atas bantuan seorang anak muda yang bersenjata tombak pendek. Tetapi anak muda yang bersenjata tombak pendek itu meskipun hanya seorang diri, mempunyai kemampuan bertempur yang luar biasa. Seolah-olah para pengawal itu sedang bertempur bersama-sama Ki Argapati sendiri.

Orang-orang yang semula mengharapkan dapat merampas kekayaan yang tersembunyi di padukuhan kecil bersama para pengungsi itu pun akhirnya harus mengumpat-umpat. Beberapa orang dari mereka telah terbunuh atau terluka. Sedang sisanya sama sekali sudah tidak mempunyai harapan lagi untuk memenangkan perkelahian itu.

Dengan demikian, maka setelah mereka saling berbisik, terdengarlah salah seorang dari mereka bersuit nyaring.

Sejenak kemudian orang-orang itu pun segera berloncatan, melarikan diri salang-tunjang tanpa tujuan, Mereka berlari ke mana pun untuk menjauhi para pengawal yang masih mengejar mereka beberapa puluh langkah. Namun para pengawal itu pun segera menghentikan pengejaran, karena mereka menyadari, bahwa kekuatan mereka tanpa anak muda itu pun tidak akan lebih dari kekuatan lawannya.

Demikianlah maka pertempuran antara dua pasukan kecil itu pun segera berakhir. Meskipun demikian sekali lagi Menoreh harus menyerahkan korban-korbannya sebagai pupuk tanah kelahiran mereka.

Ketika para pengawal itu sudah mulai menjadi tenang, maka pemimpin pengawal itu pun segera bertanya sekali lagi kepada anak muda itu, “Siapakah kau sebenarnya?”

Anak muda itu tersenyum. Ia tidak menjawab pertanyaan itu, bahkan ia bertanya pula, “Apakah pasukan Menoreh seluruhnya berangkat ke padukuhan induk?”

“Ya,” jawab pemimpin pengawal.

“Kelengahan yang berbahaya. Kalian melihat akibatnya.” Anak muda itu berhenti sejenak, lalu, “Apakah kalian sudah mendengar kabar penyerangan itu?”

“Belum. Kami sedang menunggu.”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Ia menjadi ragu-ragu sejenak. Apakah ia akan pergi juga ke padukuhan induk, atau menunggu saja di tempat itu.

“Apakah di sini ada seekor kuda.”

“Ada,” jawab pemimpin pengawal, “apakah kau akan meminjamnya?”

Sekali lagi anak muda itu termangu-mangu.

Series 47

“AKU akan menunggu sebentar. Kalau tidak segera ada pemberitahuan dari induk pasukanmu yang sedang bertempur itu, aku akan menyusul mereka. Mungkin mereka memerlukan bantuan.”

Pemimpin pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dipersilahkannya anak muda itu singgah sebentar di padukuhan itu sambil menunggu berita dari padukuhan induk tentang pertempuran untuk merebut kembali daerah yang telah dirampas oleh Sidanti.

Tetapi akhirnya anak muda itu tidak telaten. Setelah ia duduk termenung sejenak, maka ia pun kemudian berdiri dan mencari pemimpin pengawal yang sedang sabuk dengan para korban.

“Aku akan pergi ke padukuhan induk,” berkata anak muda itu.

“Baiklah,” pemimpin pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tetapi kehadiran orang yang tidak dikenal di medan pertempuran mudah menumbuhkan salah sangka.”

“Aku sudah memperhitungkannya seperti pada saat aku datang kemari.”

Pemimpin pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Laluu, “Apakah kau memerlukan seekor kuda?”

“Ya, aku memerlukannya. Jangan takut, aku akan mengembalikan kuda itu pada saatnya.”

Pemimpin pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Kalau kau tidak membantu kami, maka kami tidak akan memberikan kuda itu.”

Anak muda itu tersenyum. Kemudian diterimanya seekor kuda dari salah seorang pengawal. Sambil meloncat ke punggung kuda itu ia berkata, “Hatihatilah. Mungkin masih ada orangorang yang berkeliaran di daerah ini.”

“Terima kasih,” jawab pengawal itu.

Anak muda yang bersenjata tombak pendek itu pun segera memacu kudanya meninggalkan padukuhan kecil.

Sejenak para pengawal memandangi debu putih yang terlontar dari kaki-kaki kuda itu, namun kemudian kuda itu pun seakan-akan hilang ditelan ujung rerumputan dan gerumbul-gerumbul perdu.

Kehadiran anak muda di atas punggung kuda itu di daerah peperangan agaknya telah mengejutkan para pengawal yang sedang menjaga daerah yang baru saja mereka kuasai. Karena itu, beberapa orang dari mereka segera berloncatan ke tengah jalan dengan senjata-senjata telanjang di tangan masing-masing.

Salah seorang dari mereka mengangkat senjatanya sambil berteriak, “Berhenti!”

Anak muda di atas punggung kuda itu pun menarik kekang kudanya, sehingga kuda itu berhenti beberapa langkah dari pengawal yang menghentikannya.

“Siapa kau?” bertanya pemimpin pengawal itu.

Anak muda itu tersenyum. Ia tidak menjawab pertanyaan itu, tetapi katanya kemudian, “Aku akan bertemu dengan Ki Argapati, Kepala Tanah Perdikan Menoreh.”

Pengawal itu mengerutkan keningnya, “Apakah keperluanmu?”

“Aku mempunyai keperluan yang tidak boleh diketahui oleh orang lain, selain Ki Argapati, gembala tua beserta kedua anaknya yang bernama Gupita dan Gupala, serta dua orang prajurit yang telah membantu kalian dalam pertempuran ini, Hanggapati dan Dipasanga.”

Pengawal itu termangu-mangu sejenak, sementara anak muda itu menilai bekas-bekas pertempuran yang baru saja berlangsung. Katanya di dalam hati, “Agaknya pasukan Ki Argapati sudah berhasil memasuki padukuhan induk.”

Anak muda di atas punggung kuda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali-sekali ia menatap wajah-wajah para pengawal yang masih termangu-mangu. Sejenak beberapa orang di antara mereka saling memandang, tetapi wajah-wajah itu masih saja memancarkan keragu-raguan,

“Mudah-mudahan mereka adalah para pengawal Tanah Perdikan Menoreh,” desis anak muda itu. “Kalau penilaianku keliru, dan orang-orang ini adalah anak buah Sidanti, maka aku terpaksa lari terbirit-birit.”

Baru sejenak kemudian salah seorang pengawal berkata, “Hanya orang-orang yang sudah kami kenal sajalah yang boleh memasuki daerah ini.”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak terkejut, dan bahkan sudah diduganya lebih dahulu. Namun ia harus dapat meyakinkan pengawal-pengawal itu, bahwa ia tidak bermaksud jahat. Karena itu maka katanya, “Ki Sanak, aku mempunyai keperluan yang khusus. Karena itu, aku minta ijin untuk menemuinya.”

“Ki Argapati masih dalam keadaan sakit,” jawab pengawal itu.

“Kalau begitu, aku akan bertemu dengan ayah Gupita, atau anak itu sendiri.”

“Siapa kau?”

“Bawa aku kepadanya. Aku juga seorang gembala.”

Tetapi pengawal itu mengerutkan keningnya “Pakaianmu bukan pakaian seorang gembala.”

Anak muda itu memandangi pakaiannya sejenak. Pakaian itu sudah lusuh dan kotor. Tetapi memang pakaian itu bukan pakaian seorang gembala, sehingga anak muda itu justru tersenyum sendiri.

“Tolonglah,” katanya “aku ingin bertamu dengan salah seorang dari mereka.”

“Kami mencurigai setiap orang yang tidak kami kenal.”

“Tetapi ada yang sudah mengenal kami,” sahut anak muda itu. “Bawa kami kepadanya.”

“Serahkan senjatamu.”

“Ah,” desahnya, “jangan berlebih-lebihan. Aku hanya seorang diri. Meskipun aku bersenjata apa pun, tetapi aku tidak akan dapat berbuat apa-apa di dalam lingkunganmu yang padat dengan ujung-ujung tombak dan pedang. Aku hanya sekedar ingin bertemu dengan salah seorang dari anak-anak muda atau kedua prajurit itu.”

Dan tiba-tiba salah seorang pengawal bertanya “Apakah kau juga seorang prajurit Pajang?”

Anak muda itu tersenyum, tetapi ia tidak menyahut.

Para pengawal itu pun kemudan berunding sejenak. Sekali-sekali ditatapnya wajah anak muda yang jernih itu. Salah seorang dari mereka berdesis “Wajahnya bersih. Aku tidak mencurigainya.”

“Jangan mudah terkecoh. Marilah, kita antar saja ia menghadap saalah seorang pemimpin kita, atau anak-anak muda yang mereka sebut namanya itu.”

Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya, sehingga mereka pun bersepakat untuk mengantar anak muda itu, langsung kepada orang-orang yang dicarinya.

“Baiklah,” berkata salah seorang pengawal kemudian. “Tetapi kau harus mengikuti ketentuan kami.”

“Apakah ketentuan itu? Menyerahkan senjataku?”

“Yang pertama, turunlah dari kudamu. Kemudian berjalan bersama kami.”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Kemudian ia berdesis, “Maaf. Aku agak tergesa-gesa sehingga aku lupa turun dari punggung kuda.” Ia berhenti sebentar, lalu, “Apakah kalian tidak mengenal kuda ini?”

Para pengawal itu terdiam sejenak. Ketika anak muda itu kemudian meloncat turun, maka mereka pun melihat kuda itu seutuhnya. Tetapi mereka menggelengkan kepala sambil berguman, “Aku belum pernah melihatnya.”

“Baklah,” berkata anak muda itu, “mungkin kalian bukan pasukan berkuda, atau tidak tertarik kepada kuda.”

“Kami memang bukan pasukan berkuda,” jawab salah seorang pengawal.

Kemudian anak muda itu pun harus berjalan mengkuti seorang pengawal yang berjalan di depan. Di belakangnya dua orang pengawal mengikutinya dengan senjata telanjang.

“Mereka cukup berhati-hati,” berkata anak muda itu di dalam hatinya. “Apalagi di sepanjang jalan, para pengawal yang sedang berjaga-jaga selalu siap menghadapi kemungkinan.”

Dua anak muda yang menuntun seekor kuda itu sendiri memang sangat menarik perhatian. Beberapa orang bertanya-tanya di dalam hati, dan bahkan ada yang saling berbisik di antara mereka.

Ketika mereka sampai di regol halaman banjar yang agak luas, maka disuruhnya ia menunggu. Seseorang pergi mendahului untuk memberitahukan, bahwa seseorang sedang mencari Ki Argapati, atau salah seorang dan tamu-tamunya yang telah membantu melepaskan padukuhan induk ini dari tangan Ki Tambak Wedi.

“Siapakah namanya,” bertanya gembala tua yang menerima pemberitahuan tentang kehadiran anak muda itu.

“Anak itu tidak menyebut namanya. Tetapi ia membawa sebatang tombak pendek.”

“O, anak itu. Baiklah, bawalah ia kemari.”

Dengan demikian, maka anak muda bersenjata tombak perdek itu pun kemudian dibawa oleh para pengawal kerumah Kepala Tanah Perdikan yang baru saja direbutnya.

“Aku terlalu lama tersiksa di gubug itu,” desis anak muda itu ketika ia bertemu dengan gembala tua itu.

“Duduklah,” desis gembala itu sambil tersenyum.

“Aku sudah menghabiskan seluruh ketela puhung dan tiga ekor kambingnya.”

“Tiga ekor?” gembala itu terbelalak.

Anak muda itu mengangguk sambil tersenyum.

“Dan perut Anakmas tidak menjadi sakit karenanya?”

Anak muda itu menggelengkan kepalanya. “Aku pilih yang masih muda-muda.”

Orang tua itu menggelengkan kepalanya. Sekali-sekali ia mengangguk-angguk, sehingga anak muda itu tersenyum sambil meraba-raba perutnya.”

“Lalu sekarang di manakah sisa kambing itu?” bertanya gembala itu.

“Aku simpan di dalam kandang.”

“Tanpa rumput?”

“Terpaksa aku menyabit rumput dahulu sebelum aku datang kemari.”

Gembala itu mengangguk-angguk dan mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Terima kasih. Jadi Angger mengetahui bahwa pertahanan Ki Tambak Wedi sudah pecah.”

“Tidak. Aku pagi tadi datang ke pengungsian.”

“O,” desis gembala itu, “dan para pengawal memberitahukan kepada Anakmas?”

“Mereka belum tahu, bahwa pertempuran sudah selesai.”

“Mungkin. Baru saja kami mengirimkan utusan, seorang penghubung.”

“Tetapi ternyata kalian lengah,” berkata anak muda itu kemudian.

“Kenapa?”

Dan anak muda itu pun kemudian menceritakan apa yang dilihatnya di tempat pengungsian itu.

“O,” gembala itu mengerutkan keningnya, “memang. Kami telah membuat kesalahan yang besar. Mereka pasti orang-orang yang lari dari peperangan ini.”

Anak muda itu tidak menjawab. Hanya kepalanya saja yang terangguk-angguk.

Sejenak kemudian mereka saling berdiam diri. Diam-diam anak muda itu mencari-cari. Tetapi yang dicarinya tidak seorang pun yang tampak. Gupita, Gupala, maupun Hanggapati atau Dipasanga. Sehingga akhirnya ia terpaksa bertanya “Kemanakah anak-anak Kiai itu?”

“O,” gembala itu mengangkat wajahnya, “mereka sedang bertugas. Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga pun sedang bertugas pula.”

“Maksud Kiai?”

“Tidak ada orang-orang yang dapat dipercaya untuk mengawasi Sidanti dan Argajaya kecuali keempat orang itu.”

“Maksud Kiai, Sidanti dan Argajaya tertangkap hidup?”

Orang tua itu mengangguk.

“Mengherankan,” desis anak muda itu.

“Kenapa mengherankan?”

“Apakah mereka menyerah?”

“Tidak. Kami harus berjuang mati-matian untuk menangkap mereka hidup-hidup. Dan kami berhasil setelah membuat mereka pingsan.”

Anak muda itu mengangguk-angguk. Kemudian ia bertanya, “Di manakah mereka sekarang disimpan?”

“Di ruang belakang rumah ini. Sidanti ditunggui oleh Ki Hanggapati dan Ki Dpasanga bersama beberapa orang pengawal, sedang Argajaya dijaga oleh Gupita dan Gupala.”

Anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian, “Lalu, bagaimana dengan Ki Argapati?”

“Lukanya agak parah. Ia masih harus banyak beristirahat. Untunglah bahwa ia dapat tidur sekarang, sehingga penderitaannya agak berkurang.”

“Tetapi bukankah Kiai sudah mengobatinya?”

“Ya.”

Anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Sebenarnya aku ingin bertemu dengan Ki Hanggapati dan Dipasanga. Aku sudah terlampau lama pergi. Ayahanda pasti sudah menunggu.”

“Maksud Angger, Ayahanda Pemanahan atau Ayahanda Adiwijaya dari Pajang?”

“Ayah Pemanahan. Kami tidak dapat menunggu lebih lama lagi penyerahan resmi Tanah Mentaok. Aku kira ayah sudah mulai membuka hutan itu.”

Apakah dengan demikian tidak dicemaskan timbulnya perasoalan antara Pajang dan Ki Gede Pemanahan?”

Anak muda itu mengangkat pundaknya, dan gembala itu pun meneruskan, “Persoalan dengan Pajang bukan persoalan anak-anak, Ngger.”

“Ayah sudah memperhitungkan.”

“Jadi, Ki Gede Pemanahan sudah memperhitungkan segala akibatnya?”

“Jangan meninjau persoalan ini terlampau jauh, Kiai.”

Orang tua itu mengangguk-angguk pula. “Tentu sudah sejauh itu, bukan? Sebab, kalau tidak, kenapa Angger datang ke Menoreh?”

“Penglihatan Kiai memang tajam sekali,” anak muda itu tersenyum. “Apa boleh buat.”

“Sama sekali bukan penglihatanku yang tajam. Secara tidak langsung Angger sendiri yang memberitahukannya kepadaku, sejak kita bertemu di Tanah Perdikan.”

“Mungkin. Dan Ayahanda Pemanahan tidak akan dapat melangkah surut. Kami tidak mau ketinggalan terlampau jauh dari Pati.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Karena itu, mungkin aku tidak akan dapat terlalu lama menunggu.”

“Tunggulah sehari dua hari. Mungkin Angger berkesempatan berbicara dengan Ki. Argapati.” Orang tua itu berhenti sejenak, kemudian, “Apakah Angger akan bertemu dengan Sidanti atau Argajaya?”

“Tidak. Tidak ada gunanya. Hal itu akan membangkitkan sakit hati saja pada mereka.”

“Kalau begitu tinggallah di sini. Aku dapat mengatur penjagaan agar Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga dapat menemui Angger sekarang.”

“Tidak perlu sekarang. Tetapi hari ini.”

“Baiklah, Angger tinggal di sini.”

Orang tua itu pun kemudan meninggalkan anak muda bertombak pendek itu seorang diri, setelah diberitahukannya kepada para pengawal di halaman itu, bahwa anak muda itu adalah tamunya.

Sementara orang tua itu pergi, Samekta dan Kerti sempat menemui anak muda itu sejenak. Tetapi seperti kepada para pengawal yang lain, anak muda itu tidak pernah menyebat nama yang sebenamya. Ia hanya mengatakan, bahwa ia adalah kawan Gupita dan Gupala yang datang ke atas Tanah Perdikan ini bersama Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga.

Dalam pada itu Sidanti duduk di dalam ruang yang sempit sambil menghentak-hentakkan kakinya. Berkali-kali ia berjalan hilir-mudik. Kadang-kadang ia mencoba meihat ke luar dari sela-sela dinding. Tetapi ia tidak dapat melihat apa pun, selain bintik-bintik cahaya matahari.

Anak muda itu sadar, bahwa di luar biliknya, beberapa orang sedang berjaga-jaga.

Namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Dirabamya dinding biliknya, justru di sebelah dalam. Ia kenal benar ruangan demi ruangan di rumah itu, sehingga ia pun tahu benar, bahwa di sebelah dinding itu adalah ruang belakang dari rumah yang didiaminya semasa kecil ini. Kemudian sebuah longkangan kecil. Dan di sebelah longkangan kecil yang dibatasi oleh gandok-gandok sebelah-menyebelah itu, adalah bilik ayah dan ibunya, bilik yang paling kanan dari tiga buah bilik yang berjajar. Ia sendiri kadang-kadang tidur di sentong tengah, tetapi kadang-kadang di amben besar yang terhampar di ruang tengah rumahnya. Bahkan kadang-kadang bersama pamannya, Argajaya yang tidak diketahui lagi nasibnya kini.

“Aku tidak akan dapat lari ke luar, ke halaman belakang,” berkata anak muda itu di dalam hatinya. “Tetapi bagaimana kalau aku justru memecah dinding ini.”

Sidanti mencoba menimbang-nimbang. Tetapi karena tidak dilandasi oleh ketenangan pikiran yang wajar, maka ia pun segera dicengkam oleh nafsunya untuk memberontak terhadap keadaan. Ia sama sekali sudah tidak memperhitungkan lagi kemungkinan yang paling jelek yang dapat terjadi atasnya. Mati bukanlah sesuatu yang wajib dipertimbangkan, karena mati adalah jalan yang lebih baik baginya untuk mengakhiri persoalannya.

Sidanti menarik nafas dalam-dalam. Diraba-rabanya dinding itu berulang kali. Dan dicobanya untuk mendengarkan desis orang-orang yang berada di ruang dalam.

“Penjagaan yang kuat pasti, berada di luar,” desisnya. “Aku tidak mendengar gemeramang orang di ruang tengah. Ini suatu kelengahan.”

Sejenak kemudian Sidanti mencoba mengorek sela-sela anyaman dinding bambu yang kasar berlapis kepang. Ternyata dugaannya benar. Ia hanya melihat dua orang yang duduk terkantuk-kantuk sambil memeluk senjatanya.

Tiba-tiba darah Sidanti yang menggelegak sama sekali tidak dapat ditahankannya lagi. Dengan hati-hati ia pergi ke sudut bilik itu. Dengan tangannya yang kuat ia mencoba memutuskan tali-tali pengikat dinding.

Akhirnya satu demi satu tali itu terputus. Perlahan-lahan ia berhasil membuka sudut biliknya, justru ke ruang belakang yang menghadap ke longkangan dalam.

“Mudah-mudahan tidak banyak orang, selain kedua penjaga itu,” desisnya di dalam hati.

Ketika dinding itu sudah terbuka agak lebar, ia dapat melihat batas-batas gandok dan dapur. Ternyata tidak seorang pun berada di longkangan. Dan dapur pun agaknya masih sepi. Sedang kedua pengawal yang duduk memeluk senjata-senjata mereka itu pun masih duduk di tempatnya. Oleh kelelahan yang sangat, mereka menjadi lengah. Semalam suntuk mereka tidak tidur, bahkan telah memeras tenaga, bertempur melawan orang-orang Ki Tambak Wedi.

Sejenak Sidanti menilai keadaan. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya berkata, “Aku tidak dapat menerobos gandok, baik gandok kanan mau pun gandok kiri. Para pengawal yang sedang beristirahat pasti berada di sana selain berada di banjar.”

Kemudan dilayangkannya pandangan matanya ke pintu yang justru masuk ke ruang tengah. Perlahan-lahan ia bergumam, “Aku kira ruangan itu pun kosong. Mudah-mudahan setan tua dengan kedua anak-anaknya itu tidak berada di dalam.”

Akhirnya Sidanti mengambil kesimpulan, justru ia akan lari lewat ruang dalam. kemudaan menerobos pringgitan dan lari melintas pendapa, meloncat dinding justru di depan rumah ini.

Menurut perhitungan Sidanti, karena ia ditempatkan di ruang belakang, maka justru bagian belakanglah yang diperkuat dengan orang-orang yang penting untuk mengawasinya. Adalah sedikit sekali kemungkinan seorang tawanan justru lari lewat ruang dalam dan pendapa.

“Kalau tidak ada iblis-iblis pendatang itu, aku pasti dapat keluar dari halaman ini. Aku kira mereka justru berada di belakang rumah kecuali dukun tua itu. Aku harap ia berada di bilik Argapati yang terluka bersama Pandan Wangi.”

Setelah perhitungannya dianggap masak, meskipun dalam kegelisahan dan kekisruhan, Sidanti tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan sekuat-kuat tenaganya dia menyibakkan dinding bambu biliknya. Kemudian perlahan-lahan ia merangkak ke luar justru masuk ke ruang belakang.

Ketika kedua penjaga itu mendengar suara gemerisik, mereka pun berpaling. Tetapi terlambat. Sisi telapak tangan Sidanti telah menyentuh tengkuk mereka sehingga merekapun terpelanting. Meskipun demikian, salah seorang dari mereka masih sempat berteriak “Sidanti ………” tetapi suaranya terputus karena kaki Sidanti telah memginjak lehemya.

Di halaman belakang, Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga duduk di atas sehelai tikar, menghadapi mangkuk air panas, gula kelapa dan beberapa potong pondoh beras. Ternyata mereka mendengar teriakan penjaga di ruang belakang yang terputus itu. Serentak mereka terloncat berdiri. Dengan serta-merta mereka mendorong pintu bilik itu. Tetapi mereka tidak menjumpai seorang pun. Yang mereka temukan adalah dinding yang terbuka di pojok bilik.

“Sidanti lari,” desis Hanggapati.

“Justru ia masuk ke ruang belakang,” sahut Dipasanga.

Sejenak mereka saling berpandangan. Namun sejenak kemudian mereka menyadari, bahwa Sidanti adalah anak muda yang berbahaya. Karena itu, maka mereka tidak menunggu lagi. Mereka tidak sempat berlari lewat pintu dan melingkari rumah belakang itu untuk masuk ke longkangan. Karena itu, dinding yang memang sudah terbuka itu pun dihentakkannya dengan kaki sehingga dinding itu berderak dan terbuka semakin lebar.

Ketika mereka memasuki ruang belakang, beberapa orang berloncatan pula dari gandok sebelah-menyebelah masuk ke longkangan. Tetapi mereka tidak menjumpai apa pun lagi. Sidanti telah meninggalkan longkangan itu justru masuk ke ruang dalam.

Ruang itu memang kosong. Tidak seorang pun berada di ruang dalam. Sekilas Sidanti melihat pintu bilik kanan terbuka. Ia yakin bahwa Ki Argapati sudah dibawa masuk ke dalam bilik itu. Tetapi menurut dugaannya, gembala tua itu berada di sana pula. Karena itu, maka tidak ada niatnya sama sekali untuk menjenguk bilik itu.

Dengan cepatnya Sidanti berlari ke pringgitan. Pringgitan yang kotor itu pun masih kosong pula. Bahkan di sana-sini masih berhamburan sampah yang dilontarkan oleh orang-orangnya semalam. Agaknya para pengawal masih segan untuk berada di dalam ruangan yang kotor. Agaknya masih belum semua ruangan sempat dibersihkan, sebersih bilik Ki Argapati.

Sidanti menahan dirinya sejenak. Sekilas ia memperhitungkan keadaan. Kalau ia melangkahi pintu pringgitan, ia akan sampai ke pendapa. Jika di pendapa itu ada beberapa orang pengawal itu tidak akan banyak berarti. Tetapi kalau di pendapa ada anak-anak muda yang bersenjata cambuk, maka ia harus bertempur.

“Lebih baik mati daripada menjadi pangewan-ewan,” katanya di dalam hati.

Karena itu, maka ia pun sudah berketetapan untuk berlari ke luar. Dengan tergesa-gesa tangannya mendorong pintu pringgitan, sehingga sekaligus pintu itu terbuka lebar.

Dalam sekilas pula, ia tidak melihat seorang pengawal pun yang berada di pendapa. Beberapa orang pengawal berkeliaran di halaman dan di regol.

“Tetapi aku tidak akan lewat regol itu,” geramnya, “aku akan meloncati dinding dan lari kemana pun sebelum aku sempat kembali untuk melepaskan dendam di hati ini.”

Ketika Sidanti mendengar keributan di ruang dalam, maka ia menyadari bahwa para pengawal mulai mengejarnya. Karena itu, maka ia pun segera meloncat ke luar pintu.

Namun langkahnya tiba-tiba tertegun, ketika seseorang yang duduk seorang diri di pojok pendapa menghadapi hidangan yang masih hangat, memanggilnya, “Sidanti?”

Hanya sekejap Sidanti kehilangan waktu pada saat ia berpaling dan tertegun. Namun anak muda yang memanggilnya itu ternyata cekatan sekali. Dalam sekejap itu ia telah berhasil melompat dan berdiri di hadapannya dengan tombak pendeknya.

“Apakah kau akan melarikan diri, Sidanti?” anak muda itu bertanya.

Sebuah getaran yang dahsyat mengetuk dada Sidanti. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa anak muda itu ada di rumah itu pula. Bahkan ia tidak menyangka, bahwa anak muda itu ada di Tanah Perdikan Menoreh.

Tetapi Sidanti tidak sempat bertanya. Ia sadar, bahwa sebentar lagi para pengawal akan segera mengepungnya kalau ia masih berada di halaman itu. Kalau kemudian datang para pemimpinnya pula, maka ia akan kehilangan setiap kesempatan. Karena itu, maka sebelum ia menjawab, tangannya telah lebih dahulu mengayunkan setjata yang dirampasnya dari penjaga di ruang belakang.

Serangan Sidanti benar-benar tidak diduga. Cepat, dan langsung mengarah ke tempat yang berbahaya.

Terapi lawannya ternyata seorang yang lincah pula. Secepat ayunan senjatanya, anak muda itu berhasil menghindar. Bahkan kemudian tombak pendeknya segera mematuk membalas serangan Sidanti yang sudah kehilangan akal.

Perkelahian pun segera terjadi di atas pendapa. Keduanya adalah anak-anak muda yang tangkas dan cekatan. Keduanya mempunyai beberapa kelebihan. Namun Sidanti kali ini hampir tidak dapat mempergunakan otaknya sama sekali, sedang lawannya adalah seorang anak muda yang mempunyai kecerdasan berpikir yang luar biasa, selain tempaan jasmaniah yang matang.

Dalam kegelapan hati, Sidanti menyerang sejadi-jadinya. Namun dengan demikian, lawannya yang mempunyai perhitungan yang tajam itu segera mengetahui kelemahannya. Apalagi ketika beberapa orang pengawal mulai berdatangan mengelilingi keributan itu.

Ternyata perkelahian itu tidak terjadi terlampau lama. Dengan perhitungan yang masak, anak muda itu berhasil mengungkit senjata Sidanti, sehingga lerlepes dari tangannya. Kemudian sebuah ayunan tangkai tombak pendeknya berhasil mengenai kaki Sidanti, sehingga Sidanti terdorong beberapa langkah kemudian jatuh berguling di lantai.

Ketika Sidanti siap untuk meloncat, ternyata ujung tombak pendek lawannya telah melekat di dadanya. Dengan gerak naluriah Sidanti menahan drinya dan membeku untuk sesaat.

Semua mata kemudian berpaling ketika mereka mendengar seseorang berteriak, “Jangan! Jangan kau bunuh.”

Anak muda yang bersenjata tombak itu pun berpaling. Matanya meredup ketika ia melihat seorang gadis berdiri termangu-mangu dengan sepasang pedang di lambungnya.

Sesaat mereka saling berdiam diri. Namun sesaat kemudian gadis itu melangkah maju sambil berkata kepada Sidanti, “Kenapa kau berada di sini, Kakang?”

Sidanti tidak menjawab.

“Jangan berusaha untuk melakukan itu. Tidak akan terjadi apa-apa atasmu. Aku menjadi jaminan.”

Sidanti yang masih terbaring itu memandangi adiknya yang melangkah semakin mendekat. Ia melihat kepahitan yang membayang di wajah gadis itu.

Pandan Wangi pun kemudian berhenti beberapa langkah dari kakaknya. Ditatapnya wajah anak muda yang memegang tombak pendek itu berganti-ganti dengan wajah Sidanti yang tegang.

“Apakah kau melukainya?” bertanya Pandan Wangi.

“Ia berusaha untuk melarikan diri,” jawab anak muda itu.

“Siapakah kau?” bertanya Pandan Wangi pula. “Apakah kau berhak untuk ikut campur dalam persoalan kami?”

Anak muda itu menjadi heran. Dan tiba-tiba saja ia bertanya kepada gadis itu, “Siapa kau?”

“Aku adalah puteri dari Kepala Tanah Perdikan Menoreh. Kakang Sidanti adalah kakakku.”

Anak muda itu menjadi bingung sejenak. Ia tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Ia merasa bahwa ia mencoba untuk membantu mencegah larinya Sidanti. Tetapi tiba-tiba, gadis puteri kepala Tanah Perdikan ini marah-marah kepadanya.

“Gadis ini adik Sidanti,” katanya di dalam hati. “Keduanya adalah putera dan puteri Ki Argapati.”

“Serahkan persoalan Kakang Silanti kepada kami,” berkata Pandan Wangi selanjutnya.

Awak muda yang masih mengacungkan senjatanya itu mundur setapak. Kemudian katanya, “Baik. Aku tidak akan mencampuri persoalan kalian. Aku minta maaf.”

Jawaban itu pun tidak diduga-duga sama sekali oleh Pandan Wangi. Dengan serta-merta anak muda itu telah minta maaf kepadanya. Karena itu, Pandan Wangi justru termenung sejenak.

Dengan demikian maka ruangan itu seolah-olah jadi membeku. Setiap orang berdiri tegak seperti tiang-tiang di pendapa. Hanya nafas mereka sajalah yang terdengar bersahut-sahutan

Kebekuan itu ternyata telah merangsang hati Sidanti. Ketika ia melihat ujung tambak anak muda itu berkisar dari dadanya, maka tiba-tiba saja ia meloncat berdiri. Dengan satu hentakkan sekuat-kuat tenaganya, ia berhasil merebut tombak pendek itu dari tangan pemiliknya.

Perbuatan Sidanti itu benar-benar telah mengguncang setiap jantung. Dengan demikian maka sejenak setiap orang justru membeku di tempatnya, oleh pesona yang tidak disangka-sangka.

Dengan tangkasnya Sidanti meloncat surut, kemudian mengangkat ujung tombak itu setinggi dada, siap mematuk anak muda yang memilikinya.

Tetapi adalah di luar dugaan pula, bahwa anak muda itu memang tangkas dan berhati dingin. Ia tidak menjadi gugup dan kehilangan akal. Secepat kilat ia meloncat merebut sebilah pedang seorang pengawal yang berdiri beberapa langkah dari padanya.

Ternyata anak muda itu tidak terlambat. Sekejap kemudian Sidanti telah meloncat sambil menjulurkan tombak pendek itu langsung ke arah jantung. Namun anak muda itu sudah menggenggam pedang di tangannya, sehingga dengan tangkasnya ia berhasil memukul ujung tombak itu ke samping, sehingga sama sekali tidak menyentuhnya.

Tetapi anak muda itu tidak sempat membalas serangan Sidanti. Ketika ia sudah siap untuk mengayunkan pedangnya, maka sepasang tangan telah merenggut Sidanti. Suatu hentakkan kecil telah membuat tangan Sidanti tidak berhasil mempertahankan tombak pendek itu. Kemudian disusul oleh sentuhan jari-jari di tengkuknya.

Sidanti merasa bahwa seluruh tulang-tulangnya terlepas dari tubuhnya, seperti pada saat ia berada di peperangan. Pandangannya menjadi kabur. Dan sejenak kemudian Sidanti telah terbaring diam di tengah-tengah pendapa dikelilingi oleh para pengawal.

“Kiai, kau telah membunuhnya?” Pandan Wangi hampir berteriak.

“Tidak, Ngger,” jawab gembala tua yang kini berjongkok di sisi tubuh Sidanti. “Aku membuatnya sekedar beristirahat, agar perasaannya tidak selalu dikejar-kejar oleh nafsu yang tidak juga dapat mengendap.”

Pandan Wangi tidak menyahut. Perlahan-lahan ia maju mendekati kakaknya dan berjongkok pula di sisinya.

“Tidak seorang pun boleh menyakitinya, meskipun ia seorang tawanan,” berkata Pandan Wangi dengan lantang.

Gembala tua itu menggelengkan kepalanya. “Tidak. Tidak seorang pun yang berhak berbuat sesuatu atasnya.”

“Tetapi anak muda itu lelah melakukannya. Kalau aku tidak mencegahnya, ia telah membunuh Kakang Sidanti.”

“Aku sama sekali tidak berhasrat untuk membunuhnya,” sahut anak muda tang kini telah memungut tombaknya kembali.

“Kalau begitu kau hanya sekedar menunjukkan kemampuanmu yang melebihi Kakang Sidanti?”

“Aku tidak ingin berbuat apa pun. Seperti yang aku katakan, aku hanya sekedar ingin mencegah Sdanti melarikan diri.”

“Kau tidak berhak,” Pandan Wangi menyahut. Kemudian, “Kenapa kau berada di sini?”

“Anak muda itu tamuku, Ngger,” sahut gembala tua itu. “Ia mencari aku, anak-anakku, Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Sedang anak muda itu pun terdiam sejenak. Dibiarkannya orang tua itu memberikan penjelasan. Betapapun hatinya bergejolak, tetapi ia tidak ingin membuat persoalan dengan orang-orang Menoreh, apalagi orang-orang penting seperti Pandan Wangi, karena perhitungan kemungkinan di masa mendatang bagi Alas Mentaok.

“Tetapi ia sudah langsung mencampuri persoalan yang berkembang di atas Tanah Perdikan ini.”

“Tentu bukan maksudnya. Ia sebenanya ingin menjemput kami apabila kami memang sudah tidak diperlukan lagi.”

Terasa sesuatu berdesir di dada Pandan Wangi. Dpandanginya orang tua itu sejenak. Namun kepalanya pun kemudian tertunduk dalam-dalam.

“Ia memerlukan kami, Ngger, karena anak muda ini pun sedang mencoba memperjuangkan haknya atas Alas Mentaok.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia mengerutkan wajahnya, namun wajah itu pun segera tertunduk kembali.

Sejenak pendapa itu dicengkam oleh kediaman yang tegang. Masing-masing berdiri kaku di tempatnya. Perlahan-lahan Pandan Wangi berdiri dan melangkah menjauh. Ketika ia melihat Samekta berdiri membeku di tempatnya, dadanya berdesir. Apalagi ketika tatapan matanya menyentuh wajah Kerti yang tegang.

Tiba-tiba Pandan Wangi berlari kepada orang tua itu. Seperti anak-anak, ia menyembunyikan wajahnya di dada pemomongnya. Betapa pun ia bertahan, tetapi ia tidak dapat membendung air matanya yang meleleh ke pipinya.

Di antara isaknya yang tersendat-sendat terdengar suaranya, “Paman, apakah yang sebaiknya aku lakukan?”

Kerti menarik nafas dalam-dalam. Ia mengenal gadis itu sejak bertahun-tahun yang lalu. Sejak gadis itu masih kanak-kanak. Karena itu, Pandan Wangi sudah tidak ubahnya seperti anaknya sendiri. Apalagi tugasnya kemudian adalah menjadi pemomongnya. Setiap gadis itu pergi berburu, pergi melihat-lihat bukit-bukit padas dan goa-goa di lereng-lereng Bukit Menoreh, dan hampir kemana pun perginya, ia selalu menyertainya.

Gembala tua yang masih berjongkok di samping tubuh Sidanti yang terbaring diam itu pun kemudian berdiri. Perlahan-lahan ia berkata, “Maafkan aku, Ngger. Bukan maksudku menyinggung perasaan Angger.”

Pandan Wangi tidak menyahut. Sedang dada gembala tua itu diamuk oleh penyesalan atas keterlanjurannya. Ia sadar, bahwa kata-katanya memang terlampau tajam bagi seorang gadis.

“Maksudku,” ia mencoba unuk menenteramkan hati gadis itu, “maksudku, tamuku ini akan segera menemui Ki Argapati apabila keadaan memungkinkan. Artinya, apabila kesehatannya sudah menjadi baik. Dan anak muda ini memang akan berbicara tentang Alas Mentaok. Hanya itu.”

Pandan Wangi mengangkat wajahnya perlahan-lahan. Tetapi ia masih menahan isaknya yang menyesak dada.

Persoalan yang kini membelit di hatinya bukan sekedar persoalan Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi yang sekarang menjadi tawanan ayahnya itu adalah kakaknya sendiri. Kakaknya yang baik sekali kepadanya sejak kanak-kanak, dan bahkan setelah Sidanti menyatakan drinya berdiri berseberangan dengan ayahnya, Sidanti telah membebaskannya dari bencana yang paling dahsyat dalam hidupnya sebagai seorang gadis.

Kini semua orang merusuhinya. Semua orang memandang Sidanti yang baik baginya itu sebagai seorang pengkhianat. Bahkan orang asing yang tidak dikenal pun telah ikut campur pula.

Dalam kerisauan itu, tiba-tiba ia berpaling. Sambil menunjuk kepada anak muda yang bersenjata tombak pendek itu ia bertanya kepada gembala tua, “Siapakah tamumu ini, Kiai?”

Gembala tua itu menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi sebaiknya ia memang berterus terang supaya persoalannya tidak semakin berlarut-larut. Kalau orang-orang Menoreh tidak mengenal anak muda itu, maka salah paham akan mungkin menjadi semakin meluas.

Karena itu, maka tanpa minta pertimbangan yang berkepentingan, orang tua itu menjawab, “Memang sebaiknya Angger Pandan Wangi mengetahui, sapakah anak muda itu. Ia adalah, kawan Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga. Kalau Angger ingin lebih mengenalnya lagi, anak muda itu adalah putera Ki Gede Pemanahan yang bernama Raden Sutawijaya bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar.”

“Kiai,” anak muda bertombak pendek itu memotong. Tetapi namanya sudah terucapkan, dan bahkan orang tua itu berkata seterusnya, “Ia adalah Putera angkat dari Adipati di Pajang, yang kini bergelar Sultan setelah Demak tidak mungkin bangkit lagi, dan adipati-adipati putera dan menantu yang lain tidak ada yang dapat mewarisi takhta.”

Jawaban itu benar-benar mengejutkan, seperti meledaknya guruh di atas pendapa itu. Sejenak para pengawal Tanah Perdikan Menoreh seakan-akan membeku di tempatnya. Dan bahkan Pandan Wangi merasa seakan-akan darahnya berhenti mengalir.

Namun orang tua itu berkata selanjutnya, “Tetapi jangan hiraukan itu. Meskipun ia adalah Raden Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar, tetapi ia tidak akan berbuat apa-apa. Ia adalah seorang anak muda yang baik. Ia dapat mengerti apa yang telah dan baru saja terjadi.” Orang tua itu berhenti sejenak, kemudian kepada Pandan Wangi ia berkata, “Angger Pandan Wangi. Hal ini jangan menambah kerisauan hatimu. Kami semua tahu, apa yang telah mengguncangkan perasaanmu.

Mungkin sepatah dua patah kataku memang terdorong agak jauh. Tetapi pada dasarnya, kami mengetahui, bahwa kau tidak sekedar menghadapi lawan seperti orang-orang lain. Kau mempunyai persoalan pribadi yang rumit, seperti juga Ki Argapati. Ia menghadapi lawan yang sekaligus anak dan adiknya, seperti kau menghadapi kakak dan pamanmu. Tetapi kami sudah bertekad untuk menyerahkan persoalan ini kepada kalian. Kepada yang berhak di atas Tanah Perdikan ini. Ki Argapati. Karena itulah maka kami berusaha untuk menangkap Angger Sidanti dan Argajaya hidup-hidup.”

Ketika orang tua itu terdiam, maka suasana menjadi hening. Namun di sana-sini masih juga terdengar gemerisik para pengawal saling berbisik. Mereka menatap wajah anak muda yang bersenjata tombak pendek itu dengan tajamnya, seolah-olah ingin mengenal setiap lekuk dan garis-garis.

Pandan Wangi sendiri masih juga berdiri di tempatnya. Kejutan perasaannya serasa masih belum mengendap. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa yang berdiri di hadapannya itu adalah putera Panglima Wira Tamtama di Pajang yang pernah didengar namanya.

Tetapi sejenak kemudian justru Pandan Wangi berhasil menguasai dirinya. Ia berbasil mengatur perasaannya, tidak saja sebagai seorang gadis, tetapi juga sebagai seorang puteri Kepala Tanah Perdikan Menoreh. Sehingga karena itu, dengan nada yang berbeda ia kemudian berkata setelah air matanya kering, “Aku minta maaf, Tuan, karena sambutanku yang mungkin tidak menyenangkan. Tetapi hal itu terjadi karena aku belum mengenal Tuan sama sekali.”

Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar itu menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya wajah gembala tua yang masih termangu-mangu. Namun kemudian ia berkata, “Tidak ada yang bersalah apa pun kali ini. Karena itu jangan minta maaf. Karena hal ini memang sudah aku sengaja. Sebenarnya aku lebih senang tidak disebut namaku.”

Sebelum Pandan Wangi menjawab, maka terdengar suara Samekta dalam, “Jika demikian, sebaiknya kami persilahkan Anakmas masuk ke ruang dalam. Meskipun ruangan itu masih terlalu kotor, namun akan lebih baik daripada Anakmas berada di pendapa.”

“Terima kasih. Aku akan tetap di sini.”

“Anakmas, kami mengharap, bahwa Anakmas tidak menolak.”

Sutawijaya tidak dapat berbuat lain daripada menerimanya. Karena itu, maka ia pun kemudian dibawa oleh Kerti dan Pandan Wangi masuk melewati pringgitan langsung ke ruang dalam.

“Marilah, Kiai,” Samekta mempersilahkan gembala tua itu pula.

“Silahkan lebih dahulu. Aku akan menempatkan Angger Sidanti.”

Samekta mengerutkan keninginya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Baiklah. Marilah, kita usahakan tempat yang sebaik-baiknya.”

“Apakah tidak sebaiknya justru kita tempatkan di salah satu dari ketiga bilik di dalam?” berkata gembala tua itu. “Dengan demikian maka kita telah menempatkannya di tempat yang baik, sesuai dengan keinginan Angger Pandan Wangi, namun kita maih memerlukan persetujuannya.”

Samekta berpikir sejenak. Kemudian, kepalanya pun terangguk-angguk. Perlahan-lahan ia bergumam seperti kepada diri sendiri, “Agaknya pengawasannya pun menjadi lebih baik.”

“Jadi, apakah hal ini dapat disetujui?”

“Aku setuju, tetapi baiklah hal ini aku beritahukan Angger Pandan Wangi lebih dahuilu.”

Samekta pun kemudian masuk sejenak ke ruang tengah, untuk menemui Pandan Wangi yang sedang mempersilahkan Sutawijaya duduk.

“Terserahlah kepada Paman,” jawab Pandan Wangi.

“Tetapi bagaimana pendapat Angger.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah. Aku sependapat.”

“Gembala tua itu dapat langsung mengawasinya sambil duduk di ruang ini.”

Sekali lagi Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sejenak kemudian maka Sidanti yang masih belum sadar sepenuhnya itu langsung dibawa masuk ke ruang dalam. Setelah dibersihkan, maka ia pun ditempatkan di bilik sebelah kiri. Bilik yang tidak begitu luas, tetapi agak lebih baik dari bilik yang telah ditinggalkannya di bagian belakang rumah itu. Namun dengan demikian kesempatan untuk lolos pun menjadi semakin sempit pula.

Dengan tertib Samekta mengatur pengawasan longkangan belakang. Pengalaman yang baru saja terjadi merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi para pengawal, sehingga meteka pasti tidak akan lengah lagi. Betapa pun lelah mencengkam tubuh masing-masing, tetapi mereka tidak mau bernasib seperti kedua kawannya yang sama sekali tidak sempat melawan ketika Sidanti tiba-tiba saja telah menyerang mereka.

Ketika semuamya sudah dianggap cukup, barulah Samekta dan gembala tua itu turut duduk pula di ruang tengah bersama Sutawijaya.

Namun selama ini agaknya Sutawijaya sama sekali tidak membicarakan apa pun tentang Alas Mentaok dengan segala kemungkinannya. Agaknya ia hanya sekedar bercerita, kenapa ia berada di Tanah Perdikan ini. Dan ceritanya itu pun sama sekali tidak lengkap seperti apa yang sebenarnya terjadi.

“Aku hanya sekedar ingin melihat Tanah ini,” katanya, “dan lebih-lebih lagi, aku ingin mencari kawan-kawanku yang menurut pendengaranku sudah lebih dahulu berada di sini.”

Tidak seorang pun yang tidak mempercayainya. Pandan Wangi, Kerti, dan kemudian juga Samekta hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.

“Tetapi bagaimana, dengan Mentaok seperti yang dikatakan oleh gembala tua ini?” bertanya Samekta kemudian.

“Ah, itu bukan persoalan lagi.” Sutawijaya berhenti sejenak. “Aku hanya ingin berbicara sedikit dengan Ki Argapati sendiri apabila kesehatannya sudah memungkinkan.”

Semuauya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Hal itu adalah wajar sekali, karena Kepala Tanah Perdikan ini adalah Ki Argapati.

“Tetapi bagaimana kalau pembicaraan itu tidak memungkinkan karena Ki Argapati tidak segera dapat melayani Anakmas,” bertanya Samekta.

“Aku tidak tergesa-gesa dan pembicaraan itu pun tidak begitu penting.”

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya pula.

Ternyata penibicaraan mengenai Ki Argapati itu, telah memperingatkan Pandan Wangi kepada ayahnya yang sedang sakit. Karena itu maka katanya kemudian, “Tuan kami persilahkan duduk bersama Paman Samekta dan Paman Kerti. Aku akan menunggui ayah yang masih terbaring di biliknya.”

“O, silahkan,” jawab Sutawijaya.

Dan sejenak kemudian Pandan Wangi pun telah memasuki bilik di ujung kanan yang dipergunakan oleh Ki Argapati.

Sepeninggal Pandan Wangi, maka Sutawijaya pun memanggil Hanggapati dan Dipasanga mendekat. Perlahan-lahan ia bertanya,

“Bagaimana dengan kalian?”

“Baik, Kami tidak mengalami kesulitan apa pun.”

Sutawijaya menganggukkan kepalanya, kemudian katanya kepada Samekta dan Kerti, “Kedua prajurit ini adalah orang-orang yang menjadi kepercayaanku.”

Kedua orang tua itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. “Kami sudah menduga bahwa keduanya adalah prajurit-prajurit dari Pajang.”

“Bukan dari Pajang,” Sutawijaya memotong.

Samekta dan Kerti mengerutkan kening mereka. Sejenak mereka saling berpandangan, dan sejenak kemudian mereka memandang wajah Sutawijaya dengan sorot mata yang bertanya-tanya, meskipun tidak terucapkan.

“Memang, mereka bukan prajurit-prajurit Pajang,” Sutawijaya menegaskan, seakan-akan ia dapat membaca isi hati kedua orang-orang tua itu.

“Jadi, prajurit manakah keduanya?”

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia tersenyum. “Baiklah, sebut saja ia memang bekas prajurit Pajang.”

“Dan sekarang tidak lagi?”

Sutawijaya menggeleng. “Keduanya sedang melakukan tugas yang tidak kalah pentingnya dengan tugas keprajuritan Pajang.”

Kedua orang-orang tua itu menjadi semakin bingung. Namun mereka mengangguk-anggukkan kepala mereka tanpa mengerti maksud pembicaraan Sutawijaya.

“Mungkin banyak hal-hal yang tidak jelas bagi kalian,” Sutawijaya itu berkata. “Memang mungkin harus demikan untuk saat ini.”

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab, “Begitulah.”

Samekta masih mengangguk-angguk dan Kerti menggaruk-garuk keningnya.

“Tetapi kenapa kita berbicara tentang hal-hal yang sulit,” potong gembala tua itu, “kenapa kita tidak berbicara tentang hal-hal yang menyenangkan. Katakanlah, bahwa kita telah menyelesaikan sebagian besar dari tugas kita. Bukankah begitu?”

Samekta dan Kerti mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, seharusnya kita mulai membicarakan, kapan kita merayakan kemenangan ini.”

“Ah,” jawab Kerti “kita masih belum tahu, kapan Ki Argapati sembuh.”

“O, ya,” gembala itu mengangguk-angguk. “Nah, kalau begitu, kita berbicara tentang Tanah ini. Apakah kekalahan pasukan Sidanti di padukuhan induk ini sudah berarti kekuatan mereka patah sama sekali?”

“Tidak, Kiai,” Samekta menggeleng, “mungkin masih ada sisa-sisa pengikutnya yang membuat kubu-kubu kecil untuk mempertahankan diri karena mereka masih mempunyai pengharapan atas mimpi mereka yang dibiuskan oleh Sdanti dan Ki Tambak Wedi, atau justru karena putus asa.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia pun banyak bertanya tentang padukuhan-padukuhan kecil yang mungkin dipergunakan oleh sisa-sisa pasukan Sidanti.

Sementara itu, Gupita dan Gupala duduk termenung di ruang ujung belakang gandok kanan. Di dalam ruangan itu tersimpan Ki Argajaya yang duduk merenungi nasibnya.

Sekali-sekali Gupala berdiri dan berjalan mondar-mandir dengan gelisahnya.

Katanya kemudian, “Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang paling menjemukan. Aku kira lebih baik tinggal di dalam ruangan itu daripada berjaga-jaga di sini.”

“Hus,” desis Gupita, “apakah kau lebih baik ditahan daripada menjaga tahanan ini.”

“Tentu,” jawab Gupala, “kalau aku yang ditahan, maka apa pun dapat aku lakukan di dalam ruangan itu. Tetapi kita tidak. Kita tidak dapat tidur betapa kantuknya. Sedang Argajaya dapat saja tidur kapan saja ia kehendaki tanpa menghiraukan kita? Tetapi kita tidak dapat. Kita harus menjaga jangan sampai ia lari. Namun Ki Argajaya tidak peduli apakah kita akan melarikan diri ke mana pun.”

“Tetapi dari segi lain.”

“Apa misalnya.”

“Kita dapat melihat udara di luar bilik itu.”

“Hanya sekedar melihat. Tetapi kita terikat juga pada bilik itu.”

“Ah, jangan mengigau. Apa pun yang kau katakan, tetapi kau tidak akan mau bertukar keadaan dengan Ki Argajaya sekarang.”

Kemudian mereka terdiam untuk sejenak. Mereka juga mendengarkan hiruk-pikuk yang terjadi di pendapa rumah itu. Tetapi mereka tidak berani meninggalkan tugas mereka.

Mereka mengetahui apa yang terjadi dari beberapa orang pengawal yang membantu mereka menjaga Ki Argajaya di luar sudut-sudut bilik itu. Tetapi mereka sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka berdua tidak dapat meninggalkan tanggung jawab mereka. Meskipun ada beberapa orang prajurit yang ikut dalam penjagaan itu, tetapi keduanya tidak dapat mempercayakan penjagaan atas Argajaya itu kepada pengawal yang kemampuannya jauh ketinggalan dari Ki Argajaya. Apalagi setelah mereka mendengar, bahwa Sidanti telah berusaha untuk melarikan diri.

“Anak itu memang keras kepala,” desis Gupita.

“Untunglah bahwa niat itu urung karena di pendapa ada seorang anak muda yang bersenjata tombak pendek.”

“Ia tidak sabar lagi menunggu kita.”

Gupala tertawa. Katanya, “Menunggu, adalah pekerjaan yang paling menjemukan.”

Keduanya pun mengangguk-anggukkan kepala mereka. Seperti tugas yang kini sedang mereka lakukan.. Menunggu. Sampai kapan?

Sementara itu Argajaya sendiri duduk termenung di dalam bilik yang pengap. Tanpa sesadarnya ia telah melihat semua peristiwa yang telah terjadi atas dirinya. Berurutan seperti gambar-gambar yang tersusun rapi. Sejak ia meninggalkan Menoreh menuju ke Padepokan Tambak Wedi.

Bukan, bukan hanya sejak keberangkatannya. Tegapi justru jauh sebelum itu. Sejak ia masih kanak-kanak. Kanak-kanak yang manja, dengan seorang kakaknya yang tekun.

“Kakang Argapati adalah seorang kakak yang baik,” anggapan itu tumbuh sejak ia menyadari, apa yang telah dilakukan oleh Arya Teja atasnya.

Terbayang kemudian saat-saat terakhir ia berada di atas Tanah ini sebelum ia pergi menengok Sidanti. Kakaknya masih tetap bersikap baik kepadanya.

Argajaya menarik nafas dalam. Perlahan-lahan ia dapat melihat apa yang terjadi itu dengan hati yang tenang. Memang kadang-kadang harga dirinya masih melonjak mengatasi kesadarannya yang mulai timbul. Tetapi karena suasana ruangan yang sepi, kesendirian yang mencengkam, maka perasaan segera dapat diendapkannya kembali.

Sekali-sekali Argajaya itu berdesah. Bahkan kemudian ia dapat menemukan bintik-bintik terang di dalam hatinya.

Seperti seseorang yang terbangun dari tidurnya dengan sebuah mimpi yang dahsyat, Argajaya mengusap dadanya. Apa yang telah terjadi atas dirinya ternyata adalah noda-noda yang paling hitam bagi Tanah Perdikan Menoreh.

Baru sekarang ia bertanya, “Kenapa selama ini aku berada di pihak Sidanti?”

Argajaya menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat ingkar kepada dirinya sendiri. Ia tidak dapat menyembunyikan diri dari pengakuan, bahwa ternyata ia telah didorong pamrih-pamrih pribadi yang tidak terkendali.

Argajaya yang tunduk itu menjadi semakin tunduk. Meskipun di dalam ruangan itu tidak ada seorang pun selain dirinya sendiri, namun justru penglihatan dari dalam dirinya itu telah membuatnya menyesal sampai ke dasar hatinya.

Penyesalan itulah yang kemudian telah membuat dirinya pasrah. Ia sama sekali sudah tidak mempunyai niat apa pun lagi. Ia akan menerima nasib apa pun yang akan ditentukan oleh kakaknya atas dirinya.

Perlahan-lahan Argajaya menengadahkan wajahnya. Kini seleret kecerahan membayang di matanya. Ia telah berhasil menyingkirkan kegelisahannya menghadapi masa-masa mendatang. Sehingga dengan demikian, Argajaya yang tidak mengenal menyerah itu kini sama sekali tidak berusaha untuk berbuat apa pun. Kali ini ia telah pasrah. Betapapun keras hatinya, namun penglihatannya yang bening atas semua peristiwa yang dialaminya, telah membuatnya luluh.

Berbeda sekali dengan Sidanti. Ia sama sekali tidak melihat kesalahan yang melekat pada dirinya. Kesadarannya tentang dirinya, bahwa ia bukan anak Argapati, telah membuatnya menjadi tidak terkekang.

Meskipun ia telah gagal untuk melarikan dirinya, namun ia sama sekali tidak mau melihat kenyataan itu.

Ketika perlahan-lahan kekuatannya telah pulih kembali, maka ia pun mulai menilai ruangan yang melingkunginya. Diraba-rabanya dinding yang membatasi ruangan itu. Dari satu sudut ke sudut lain. Dicobanya untuk melihat kelemahan-elemahannya yang mungkin dapat dipergunakannya untuk melepaskan diri.

“Mati dirampok orang dalam perlawanan adalah lebih baik daripada digantung dengan tangan terikat,” katanya di dalam hati. Dengan demikian, maka bagi Sidanti, melarikan diri adalah jalan yang paling baik untuk mati.

Meskipun demikian, ia masih mencoba membuat perhitungan. Ia tidak mau mengalami nasib yang lebih jelek daripada digantung.

Kalau ia melarikan diri dan jatuh di tangan para prajurit kebanyakan, maka ia memang dapat mengalami nasib yang jelek. Mungkin ia tidak akan mati terbunuh, tetapi justru menjadi pengewan-ewan.

Dengan demikian, Sidanti masih juga mempergunakan sedikit perhitungan dengan pikirannya yang sudah kisruh.

Di ruang dalam, Sutawijaya kini duduk dikawani oleh gembala tua itu di samping Dipasanga dan Hanggapati. Samekta dan Kerti telah minta diri untuk melakukan tugas-tugas mereka.

Dengan demikian, maka pembicaraan Sutawijaya kini telah berkisar pada kepentingannya sendiri.

“Kita sudah terlalu lama meninggalkan Ayah Ki Gede Pemanahan di Hutan Mentaok,” berkata Sutawijaya.

Hanggapati dan Dipasanga mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Karena itu kita harus segera kembali.”

“Ya,” jawab Hanggapati. “Mungkin Ki Gede Pemanahan memang memerlukan Anakmas.”

“Meskipun demikian, mumpung aku sudah berada di atas Tanah Perdikan ini, aku ingin berbcara dengan Ki Argapati.” Kemudian kepada gembala tua itu ia bertanya, “Apakah mungkin hari ini aku berbicara dengan Ki Gede Menoreh?”

“Aku belum yakin,” jawab orang tua itu, “tetapi baiklah aku akan mengusahakannya.”

“Terima kasih,” berkata Sutawijaya. “Tetapi sebelum aku mengatakannya kepada Ki Argapati, aku memang akan menemui Kiai sendiri. Aku kira sudah sampai waktunya aku mengutarakannya sekarang.”

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Kini tampaklah kesungguhan membayang di wajahnya.

“Aku memang sudah menduga Anakmas, bahwa pada suatu ketika aku dan kedua anak-anakku itu pasti akan terlibat dalam persoalan Anakmas.”

“Apa boleh buat, Kiai. Aku memerlukannya.”

“Bukankah Angger telah mempunyai beberapa orang senapati yang mumpuni?”

“Ayah Pemanahan?”

“Ya, dan selain itu ada angger sendiri dan Pamanda Mandaraka yang bijaksana itu?”

“Ya, Kiai. Tetapi aku memerlukan orang yang langsung cakap menangani prajurit di peperangan. Paman Mandaraka adalah orang yang mempunyai pandangan yang tajam sekali. Tetapi apabila terjadi sesuatu dengan Pajang, dalam kenyataan tempur, aku kira Paman Mandaraka tidak akan dapat turun langsung ke medan. Aku juga tidak yakin bahwa Ayahanda Pemanahan dapat melakukannya sendiri.”

“Dengan demikian akulah yang harus jadi banten. Aku harus melakukan tugas yang tidak dapat dilakukan oleh Ki Juru Mertani dan Ki Gede Pemanahan itu. Mereka tidak akan sampai hati melawan langsung berhadapan di medan perang dengan para senapati Pajang, tetapi aku harus menyingkirkan perasaan itu?”

Sutawijaya terkejut mendengar jawaban itu. Ia kemudian merasa bahwa ia telah terdorong kata sehingga agaknya telah menyinggung perasaan orang tua itu.

Namun anak muda yang cerdas itu kemudian tersenyum. Katanya, “Maafkan, Kiai. Aku sama sekali tidak bermaksud demikian. Tetapi aku agaknya telah keliru, sehingga menimbulkan kesan seakan-akan aku berhasrat menempatkan Kiai pada tempat yang sulit, yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain.” Sutawijaya berhenti sejenak. Kemudikan dilanjutkannya, “Tetapi baiklah aku tidak mengatakannya dengan kalimat-kalimatku sendiri supaya aku tidak keliru lagi. Sebenarnya ayahlah yang berpesan kepadaku. Kalau aku bertemu dengan seorang tua yang bersenjata cambuk, serta mempunyai kecakapan dalam hal obat-obatan, maka aku harus mengatakannya, bahwa ayah memerlukan.”

“Apakah hanya ada seorang, aku saja, yang menguasai ilmu obat-obatan.”

“Tidak hanya ilmu obat-obatan Kiai, tetapi yang mempunyai ciri senjata cambuk.”

“Itu pun tidak hanya seorang.”

Mungkin kalau aku ketemukan yang lain, aku pun akan mengatakannya demikian kepadanya. Tetapi seluruh Pajang pernah aku jelajahi. Yang aku ketemukan adalah Kiai seorang saja.”

Gembala itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bertanya, “Siapakah nama orang itu? Apakah ayahanda Ki Gede Pemanahan tidak menyebut namanya?”

“Ya, ayah memang menyebut namanya.”

“Nah, apakah nama itu namaku?”

“Siapakah mama Kiai sebenarnya?”

Gembala tua itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun kemudian tersenyum. “Hem,” desahnya, “Anakmas memang seorang yang mapan berbicara.”

Sutawijaya pun tersenyum pula. Katanya kemudian, “Ayah memang menyebut nama itu. Sorotomo, Danumurti, Ragapati, dan masih ada dua nama lagi yang aku terlupa.”

Orang tua itu mengangkat wajahnya. “Nama-nama yang menarik.”

Sutawijaya memperhatikan kesan yang tersirat di wajah orang tua itu dengan seksama. Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Orang tua itu benar-benar seorang yang mampu menguasai perasaannya, sehingga sama sekali tidak ada kesan apa pun yang tersirat di wajah yang telah berkerut-merut itu.

“Nama-nama yang baik,” desisnya. “Tetapi Anakmas mengatakan bahwa laki-laki tua yang bersenjata cambuk itu hanya seorang. Sedang Angger menyebut beberapa nama sekaligus.”

“Itulah yang aneh, Kiai,” jawab Sutawijaya. “Karena itu, apakah artinya sebuah nama bagi seseorang seperti laki-laki bersenjata cambuk itu? Ia dapat menyebut dirinya dengan seribu nama. Sorotomo ataukah Danumurti atau Ragapati atau Kiai Gringsing atau Ki Tamu Metir atau seorang gembala tidak bernama atau ………….”

“Kenapa Angger sampai ke nama-nama itu,” potong gembala tua itu.

“Misalnya, Kiai. Hanya sekedar misal,” sahut anak muda itu. “Aku tidak mengatakan bahwa Sorotomo itu juga bernama Kiai Gringsing atau Ki Tanu Metir atau yang lain.”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam.

Anak muda itu kemudian melanjutkan “Aku belum selesai, Kiai. Ayah berpesan agar aku menyampaikan pula, bahwa ayah minta pertolongan Kiai untuk membantu menegakkan sebuah daerah baru. Alas Mentaok harus menjadi sebuah negeri.”

“Kenapa aku harus ikut?”

“Menurut ayah, Mentaok akan sangat memerlukannya. Eh, maksudku memerlukan Kiai. Apalagi salah seorang muridnya adalah putera Demang Sangkal Putung.”

Orang tua itu tersenyum, Jawabnya, “Itulah yang penting. Letak Sangkal Putung sangat menguntungkan bagi daerah baru itu untuk menghadapi Pajang. Garis yang menjelujur dari Alas Mentaok, Prambanan, kemudian Sangkal Putung adalah lapis-lapis pertahanan yang pasti tidak tertembus.”

“Ah,” anak muda itu mengerutkan keningnya, “adakah seorang gembala di seluruh Pajang yang begitu cepat menanggapi keadaan medan seperti Kiai.”

“Hem,” gembala itu berdesah.

“Itulah agaknya maka ayahanda telah meminta Kiai untuk datang ke Alas Mentaok.”

Gembala itu tidak segera menjawab.

“Ayah sangat mengharap kedatangan Kiai. Apakah ternyata kemudian ayah keliru, atau akulah yang keliru, terserahlah. Atau barangkali Kiai telah keliru atau lupa menyebut nama sendiri,” anak muda itu pun tertawa.

“Ah, kau ini, Ngger.”

Dan anak muda itu berkata seterusnya, “Tetapi ayah juga berpesan, bahwa apa yang dilakukan ayah sekarang ini tidak sekedar terdorong oleh suara yang pernah didengar dari puncak sebatang pohon kelapa yang hanya berbuah sebutir oleh Ki Ageng Giring. Apakah Kiai sudah mendengar dongeng itu?”

“Belum, Ngger,” namun orang tua itu tertawa sehingga Sutawijaya menyahut, “Ah, Kiai mencoba untuk menyembunyikan diri.”

“Kenapa?” gembala itu mengerutkan keningnya.

“Kiai pasti sudah mendengarnya karena Kiai tertawa.” Kemudian dengan bersungguh-sungguh Sutawijaya bertanya, “Apakah Kiai percaya bahwa siapa yang minum air kelapa itu dan menghabiskannya sekaligus akan menurunkan raja?”

“Sebaiknya kita percaya,” jawab gembala itu sambil tersenyum. “Jika kemudian ternyata demikian, maka keturunan Ki Pemanahan itu akan menjadi raja.”

“Ah,” Sutawijaya berdesah, “bukan itu soalnya.”

Tetapi gembala tua itu tertawa. Katanya, “Angger memang seorang pemikir yang cemerlang. Sebelum Alas Mentaok itu benar-benar menjadi sebuah negeri, Angger sudah membentengi dengan ketat. Sangkal Pulung, Jati Anom, dan Menoreh adalah suatu lingkaran yang rapat. Sudah tentu Angger akan menghubungi Mangir dan sekitarnya.”

Sutawijaya tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba matanya menjadi redup. Sejenak ditatapnya Hanggapati dan Dipasanga yang terkantuk-kantuk. Mereka merasa lelah sekali, karena semalaman mereka tidak beristirahat sama sekali, dan bahkan telah memeras tenaga di dalam peperangan.

“Kalian lelah sekali,” desis Sutawijaya.

Keduanya tersenyum. “Ya. Tetapi biarlah kami duduk di sini.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya kepada gembala tua itu hampir berbisik, “Tetapi Kiai, jalan ke Selatan itu tidak begitu menggembirakan. Kepala Tanah Perdikan Mangir agaknya mempunyai sikap sendiri.”

Orang tua itu mengerutkan keningnya. “Apa katanya?”

“Mereka merasa, bahwa mereka lebih tua dari Tanah Mentaok yang sedang dibuka itu. Bagi mereka, Mentaok dapat menjadi perintang atas perkembangan Tanah Perdikan itu.”

“Kalau begitu, mereka akan berusaha merintangi perkembangan Alas Mentaok. Bahkan mungkin bekerja bersama dengan Pajang.”

“Dengan Pajang tentu tidak. Tetapi hasrat untuk besar dan berdiri sendiri itulah yang akan dapat menjadi perintang.”

“Apakah hal itu merupakan persoalan yang dapat dianggap bersungguh-sungguh bagi Mentaok?”

“Tetapi sampai saat ini kami masih berusaha untuk membatasi persoalannya, Kiai. Kami seolah-olah tidak mempedulikannya lagi. Mudah-mudahan untuk selanjutnya Mangir tidak mengganggu kami.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Gambaran masa depan yang suram bagi Pajang. Meskipun ia tidak mendasarkan penglihatannya atas perkembangan pusat pemerintahan itu pada peristiwa-peristiwa ajaib, seperti kelapa, yang dipetik oleh Ki Ageng Giring, yang tanpa disengaja airnya telah terminum oleh Ki Gede Pemanahan karena ia kehausan itulah, namun ia memang melihat, bahwa kekuasaan Pajang tidak akan mampu bertahan terlampau lama. Pimpinan pemerintahan di Pajang, yang menggemparkan di masa mudanya itu kemudian tenggelam di dalam kesenangan pribadi yang berlebih-lebihan. Sejak muda Mas Karebet telah menyimpan cacat pada pribadinya, di samping kecemerlangannya yang tidak ada duanya. Di samping kemampuannya sebagai seorang Wira Tamtama, penjelajahannya yang sulit dilakukan oleh orang lain sampai ke tempat-tempat yang terpencil, dan kemudian mencapai puncak kedahsyatannya dengan mengalahkan Kebo Danu dari Banyu Biru, meskipun hal itu telah diatur lebih dahulu. Karebet memberi harapan bagi Pajang yang diambilnya dari Demak. Tetapi cacat yang dibawanya sejak muda, kegemarannya melibatkan diri dengan perempuan justru menonjol ketika ia menjadi Adipati di Pajang. Ratu Kalinyamat telah berhasil memancingnya ke dalam suatu bentrokan yang tidak terhindar lagi melawan Jipang, dengan menjanjikan dua orang gadis cantik kepadanya.

“Sekali tepuk dua lalat terbunuh,” berkata orang tua itu di dalam hatinya. “Sepeninggal Arya Penangsang, takhta tersedia buat Adipati Pajang, sekaligus ia mendapat hadiah dari Ratu Kalinyamat itu.”

Tetapi yang akan disesali oleh Sultan Pajang itu adalah kelalaiannya memberikan Tanah yang sudah disanggupkannya kepada Ki Gede Pemanahan.

Karena ia dibayangi oleh hadiah dua orang gadis cantik itulah, maka tanpa berpikir panjang ia bersedia menyerahkan tanah Pati dan Mentaok kepada mereka yang berhasil membunuh langsung Arya Penangsang dari Jipang.

Kini semuanya itu sudah terlanjur. Hubungan antara Sultan dan Ki Gede Pemanahan yang selama ini menjadi Panglimanya, bagaikan telur yang retak kulitnya. Tidak akan dapat dipulihkannya kembali. Apalagi Ki Gede Pemanahan sudah mulai membuka Alas Mentaok meskipun mungkin hal itu tidak dikehendaki oleh Sultan Pajang.

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya di dalam hati, “Memang persoalan-persoalan selama kita masih hidup ini tidak akan ada selesainya. Persoalan Menoreh agaknya sudah semakin terang. Yang tinggal adalah masalah Sidanti dan Argajaya, meskipun persoalan itu akan merupakan persoalan yang sangat rumit bagi Ki Argapati. Apalagi menurut pendengaranku yang belum jelas, baik diucapkan oleh Ki Tambak Wedi maupun Sidanti sendiri, anak itu bukan putera Ki Airgapati.” Orang tua itu mengangguk-angguk sendri, kemudian ia masih berkata kepada diri sendiri, “Dan, sekarang, telah terbuka lagi masalah-masalah baru yang harus dihadapi. Alas Mentaok. Meskipun sebenamya aku masih dapat menghindarkan diri. Tetapi persoalan ini akan langsung bersangkutan dengan Kademangan Sangkal Putung, Prambanan, dan Tanah Perdikan ini.”

Namun lebih daripada itu, agaktnya Ki Gede Pemanahan mempunyai perhitungan tersendiri, kenapa ia dengan sengaja berusaha melibatkan gembala tua itu dalam persoalannya.

“Aku harap Kiai memikirkannya sebaik-baiknya,” tiba-tiba gembala tua itu dikejutkan oleh kata-kata Sutawijaya.

“Aku akan berpikir, Anakmas.”

“Memang barangkali Kiai sama sekali sudah tidak mempunyai pamrih apa pun. Tetapi murid-murid Kiai itu adalah anak-anak muda yang masih menginginkan masa depan yang panjang.”

Orang itua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Adalah lebih baik, kalau Kiai dapat pergi bersamaku ke Mentaok.”

“O, tentu tidak, Ngger. Kecuali kalau Angger tidak tergesa-gesa kembali.”

“Aku harus segera berada di Mentaok, Kiai.”

“Kalau begitu Angger dapat pergi lebih dahulu,” berkata gembala tua itu. “Tetapi bukankah Angger akan bertemu dengan Ki Argapati?”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Namun dalam pada itu terkilas suatu persoalan yang pasti akan menjadi sangat rumit baginya, apalagi bagi murid-muridnya. Kalau benar-benar terjadi persoalan antara Pajang dan Alas Mentaok, kemudian ia berpihak kepada Sutawijaya bersama kedua murid-muridnya, maka ada kemungkinan mereka akan berhadapan dengan Senapati Pajang di sisi Selatan, Untara.

Orang tua itu menggelengkan kepalanya. Seolah-olah ia ingin mengusir persoalan yang melintas dengan tiba-tiba dikepalanya itu. Namun yang terbayang justru Untara sendiri berdiri tegak degan pedang di tangan.

“Hem,” orang tua itu berdesah. Namun ia terkejut ketika ia mendengar Sutawijaya bertanya, “Kenapa Kiai?”

Gembala itu tergagap. Namun kemudian ia melihat sesuatu telah melonjak di dada orang tua itu. Tetapi meskipun demikian Sutawijaya itu tidak bertanya lagi.

“Anakmas,” berkata orang tua itu kemudian, “sebaiknya Anakmas memberi kesempatan kepada Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga untuk beristirahat. Bahkan Angger sendiri dapat beristirahat pula di gandok belakang. Atau di ruang yang baru saja ditinggalkan oleh Sidanti. Biarlah aku yang menunggui Anakmas Sidanti di sini.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Dipandanginya Hanggapati dan Dipasanga berganti-ganti.

“Aku dapat beristirahat di mana-mana, Kiai. Kalau memang tidak ada persoalan lagi, barlah aku berada di longkangan di belakang bilik ini. Aku kira di sana ada beberapa helai tikar. Aku dapat beristirahat di antara beberapa orang prajurit yeng bertugas, sekaligus mengawasi bilik Sidanti dari belakang,” sahut Hanggapati.

“Dan Angger Sutawijaya?”

“Aku di sini saja, Kiai.”

“Baiklah. Silahkan Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga ke longkangan. Di sana kalian berdua mungkin masih dapat tidur meskipun hanya sekejap.”

Keduanya pun kemudian meninggalkan ruangan dalam pergi ke longkangan di belakang bilik tempat menyimpan Sidanti. Kedua nya pun kemudian berada di antara para pengawal yang terpilih untuk mengawasi Sidanti.

“Kita dapat beristirahat bergantian,” berkata Ki Hanggapati. “Dengan demikian kita dapat beristirahat dengan tidak digelisahkan oleh apa pun.”

“Baiklah,” jawab Dipasanga, “tetapi siapa yang dahulu? Kita tidak tahu, berapa lama kita dapat beristirahat di sini. Mungkin ada sesuatu yang memaksa kita untuk segera berbuat sesuatu.”

“Kau dulu sajalah. Aku masih ingin minum wedang serbat dahulu.”

Ki Dipasanga tersenyum. Ia masih melihat, seorang pengawal yang tergopoh-gopoh menyorongkan mangkuk kepada Ki Hanggapati sambil berkata, “Silahkan. Silahkan.”

Ki Hanggapati tersenyum, sedang Ki Dipasanga pun kemudian pergi menepi. Kemudian berbaring di sebelah tiang bambu yang dilekati oleh sarang laba-laba yang sudah kehitam-hitaman.

Di ruang tengah Sutawijaya duduk bersama gembala tua. Namun kemudian gembala itu masuk ke dalam bilik Ki Argapati untuk melihat perkembangan kesehatannya.

“Kau sudah terlanjur berada di sini, Ngger,” berkata gembala tua itu. “Aku titip, kalau-kalau Angger Sidanti polah lagi. Jangan biarkan ia pergi, tetapi jangan lukai anak itu.”

“Aku sudah kapok Kai,” jawab Sutawijaya, “nanti aku pula yang disalahkannya.”

“Biar sajalah. Anggap saja itu lagu yang paling merdu seorang gadis dari Bukit Menoreh.”

“Tetapi, Kai sendiri tersinggung karenanya.”

“Aku memang sudah pikun. Aku menyesal sekali.” Orang tua itu berhenti sebentar. “Tetapi aku titip pintu itu.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Tetapi ia hanya tersenyum saja.

Gembala itu pun kemudian masuk ke dalam bilik Ki Argapati.

Pandan Wangi berpaling ketika ia mendengar derit pintu terbuka. “Marilah Kiai,” desis Pandan Wangi. “Ayah sudah agak tenang.

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Syukurlah,” jawabnya “mudah-mudahan segera menjadi baik.”

“Tetapi, bagaimana dengan Raden Sutawijaya itu?”

“Ia masih duduk di ruang tengah.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tanpa disangka-sangkanya, terdengar suara Argapati berat perlahan-lahan, “Kau sebut nama Raden Sutawijaya, Wangi.”

Pandan Wangi menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia menjawab, “Ya, Ayah.”

“Kenapa dengan Raden Sutawijaya?”

“Ia berada di ruang tengah.”

Jawaban itu agaknya telah mengejutkan Ki Argapati sehingga perlahan-lahan matanya yang selalu terpejam itu terbuka. “Ia berada di sini?”

“Ya, Ki Gede,” gembala tua itulah yang menyahut. “Tetapi jangan hiraukan kehadirannya. Anak nakal itu hanya sekedar ingin tahu. Seperti ayah angkatnya Sultan Pajang yang sekarang, Angger Sutawijaya senang menjelajahi sudut-sudut kerajaan ini.”

Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. “Dan Raden Sutawijaya itu sudi singgah di rumah ini?”

“Beristirahatlah, Ki Gede. Anakmas Sutawijaya akan bermalam di rumah ini. Besok atau kapan saja Ki Gede masih sempat menemuinya apabila keadaan Ki Gede sudah menjadi semakin baik.”

“Raden Sutawijaya akan bermalam di sini?” suarauya agak meninggi.

“Ya.”

“O, di mana kami akan mempersilahkannya. Di sini tidak ada perlengkapan apa pun yang dapat kita pergunakan dengan pantas untuk menerimanya.”

“Jangan hiraukan,” berkata gembala tua itu. “Di Sangkal Putung Anakmas Sutawijaya tidur di gubug, di teggah sawah. Ketika ia memasuki Alas Mentaok untuk melihat-lihat, ia tidur di atas cabang sebatang pohon. Bagi seorang perantau, rumah ini sudah cukup memberikan tempat yang baik,” jawab gembala itu pula.

Ki Argapati tidak segera menjawab. Tetapi tampaklah kekecewaan membayang di wajahnya yang pucat. Apalagi ia sendiri masih belum dapat bangkit dan menerima Raden Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar, Putera angkat Sultan Pajang itu.

“Janganlah Ki Gede terlampau memikirkan tamu kecil itu. Serahkan ia kepadaku,” berkata gembala itu.

Ki Argapati mengangguk lemah. “Baiklah, Kiai. Mudah-mudahan Anakmas Sutawijaya tidak kecewa melihat keadaan ini.”

“Tentu tidak. Sekarang Ki Gede sebaiknya beristirahat dan berusaha untuk menenteramkan hati.”

“Ya,” desisnya.

“Tidurlah sebanyak-banyaknya.”

“Ya.”

Orang tua itu pun mengangguk-angguk. Dirabanya pergelangan tangan Ki Argapati yang sudah mulai hangat, kemudaan tengkuknya dan keningnya.

“Mudah-mudahan Ki Gede segera menjadi baik kembali, meskipun agaknya Ki Gede memerlukan waktu untuk memulihkan kekuatan.”

“Ya,” jawabnya, “mudah-mudahan.”

Gembala tua itu pun kemudian duduk di atas dingklik kayu di sudut bilik itu, sedang Pandan Wang duduk di amben pembaringan Ki Argapati di bagian bawah.

Sementara itu, Samekta dan Kerti telah memasuki ruangan dalam kembali. Ketika mereka berdua telah duduk bersama Sutawijaya, maka anak muda yang sudah jemu duduk berdiam diri itu segera berkata, “Aku menjadi lelah duduk di sini saja.”

“Apakah Anakmas akan berbaring? Mungkin memerlukan ruangan tersendiri?”

“Tidak.” Sutawijaya termenung sejenak. Kemudian ia bertanya, “Di mana Gupita dan Gupala?”

“Di belakang. Mereka mengawasi Ki Argajaya.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian karena ia sadar bahwa kedua anak-anak muda itu tidak datang menemuinya karena tugasnya, maka ia pun kemudian berkata, “Aku akan menemui mereka.”

“O, silahkan. Silahkan.”

“Tetapi di sini aku sedang menerima titipan?”

“Apa?” Samekta dan Kerti menjadi heran.

“Pintu itu.”

“Kenapa dengan pitu itu?”

“Bukankah di dalamnya ada Sidanti? Gembala itu menitipkan kepadaku untuk mengawasi kalau-kalau Sidanti kambuh lagi. Nah, sekarang pintu itu aku titipkan kepada kalian berdua. Awasi. Kalau kalian memerlukan sesuatu, Kiai Gringsing berada di ruang itu.”

“Kiai Gringsing?” Samekta bertanya dan Kerti terheran-heran.

“Eh, maksudku gembala tua itu. Ia ada di dalam bilik Ki Argapati untuk melihat luka-lukanya. Kalau ia kembali dan bertanya tentang aku, katakan, aku sedang menemui Gupita dan Gupala.

“Baiklah. Kami berdua akan mengawasi pintu itu.”

Sutawijaya pun kemudian meninggalkan ruangan itu. Seperti petunjuk Samekta, maka ia pun pergi ke bilik tempat Argajaya ditahan untuk menemui Gupita dan Gupala.

Pembicaraan mereka kemudian adalah pembicaraan anak-anak muda. Sutawijaya segera bercerita tentang Alas Mentaok. Usahanya untuk membuatnya menjadi sebuah negeri.

“Tetapi dengan demikian Sultan Pajang akan tersinggung karenanya.”

“Mudah-mudahan tidak. Apa salahnya kalau daerah itu nanti akan berkembang? Kami tidak akan mengganggu Pajang. Kecuali kalau perkembangan keadaan jadi lain, dan hal-hal yang tidak kita harapkan itu harus terjadi.”

Gupita dan Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sudah tentu, bahwa seandainya Ayahanda Sultan Pajang tidak senang melihat perkembangan Alas Mentaok, kami terpaksa tidak dapat mematuhinya. Kami sudah bertekad. Mentaok tidak boleh kalah dari Pati yang sudah lebih dahulu terbuka.

“Jadi bukankah sekarang Ki Gede Pemanahan sudah membuka hutan itu?”

“Tentu sudah.” Kemudian suaranya jadi menurun, “Jangan kau katakan kepada gurumu, Mentaok sudah menjadi suatu desa yang ramai. Banyak orang-orang di padukuhan di sekitarnya kini telah membuka hubungan dengan daerah baru itu.”

Gupita dan Gupala mengerutkan keningnya.

“Kami telah mengumpulkan anak-anak muda yang akan kami persiapkan untuk menjadi pengawal daerah kami yang baru itu. Latihan-latihan yang teratur telah kami adakan hampir di setiap hari.”

“Siapakah yang melatih mereka?”

“Beberapa orang prajurit dari Pajang telah membantu kami membuka hutan itu.”

Gupita dan Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jika demikian, langkah Ki Gede Pemanahan sudah terlalu jauh,” desis Gupita.

Sutawijaya tertawa. Katanya, “Ayah harus mengejar ketinggalannya dari Pati.”

“Kenapa mesti berkejar-kejaran?” bertanya Gupala.

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Pertanyaan itu memang tidak disangka-sangkanya. Namun akhirnya ia menjawab, “Bukan maksudnya. Tetapi usaha membangun daerah itu adalah usaha yang baik. Sebenarnya Pajang justru harus membantu.”

“Apakah Pajang menghalang-halangi sampai sekarang?” bertanya Gupita.

Sekali lagi Sutawijaya dihadapkan pada pertanyaan yang tidak segera dapat dijawab.

Namun hal itu bagi Gupita adalah pertanda bahwa sebenarnya pihak Ki Gede Pemanahan sendiri diam-diam sudah menyusun kekuatan. Mungkin karena prasangka yang berlebih-lebihan, orang-orang Alas Mentaok itu merasa bahwa Pajang akan segera memusuhinya.

Namun tanpa menjawab pertanyaan Gupita, Sutawijaya berkata, “Aku memerlukan beberapa orang senapati yang mumpuni. Nah, kalian pasti bersedia membantu aku seandaimya terjadi sesuatu kelak.”

Gupita dan Gupala saling berpandangan sejenak. Tampak sesuatu memancar di sorot mata masing-masing. Tetapi ternyata tanggapan mereka justru berbeda.

Sejenak kemudian Sutawijaya mendesak, “Bagamana?

Gupala mengerutkan keningnya. Meskipun ragu-ragu namun ia menjawab, “Apa salahnya?”

“Bagus,” desis Sutawijaya “kalian pasti akan membantu kami. Aku memang sudah menyangka.”

Namun Gupita masih tetap berdiam diri.

“Nah,” berkata Sutawijaya “bagaimana dengan kau Gupita. Aku tahu, bahwa kau selalu dibayangi oleh keragu-raguan. Tetapi kau sekarang sudah dewasa sepenuhnya. Kau sudah mampu melakukan banyak tindakan di dalam peperangan. Bukankah kau pada suatu ketika, seperti yang terjadi di peperangan, harus mengambil keputusan dengan cepat? Nah, kau harus mengambil pengalaman. Kau dapat melakukan kalau kau mau.”

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia berkata, “Aku, harus mengatakannya kepada guru.”

“Aku tahu bahwa kau akan bersikap demikian. Tetapi agaknya gurumu pun akan ikut serta bersama kami. Ayah Ki Gede Pemanahan sendiri telah berpesan untuk memintanya datang ke Alas Mentaok.”

“Apakah Ki Gede Pemanahan mengenal guru?”

Sutawijaya tertawa. “Tidak seorang pun yang mengenal gurumu dengan pasti. Ayah pun tidak. Ki Argapati agaknya juga tidak yakin atau bahkan tidak tahu dengan siapa ia berhadapan. Ki Tambak Wedi dan semua orang yang berhubungan dengan gurumu menganggapnya ia orang yang lain dari nama-nama yang pernah didengar sebelumnya. Satu-satunya ciri yang dapat dipakai sebagai pancadan untuk menduga-duga adalah cambuknya itu. Meskipun gurumu sendiri berkata bahwa banyak sekali orang bersenjata cambuk.”

Gupita mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menyahut.

“Sekarang, ciri itu tambah lagi. Bersenjata cambuk dan mempunyai dua orang murid. Yang seorang bulat seperti kelapa, dan yang lain bertubuh sedang.”

Gupita menarik nafas dalam-dalam, sedang Gupala tersenyum sambil meraba-raba perutnya.

“Kalau memang guru sudah setuju, aku pun tidak berkeberatan,” berkata Gupita kemudian. “Tetapi untuk mengambil keputusan serupa itu, sebagai seorang murid yang masih berada langsung di bawah pengawasan gurunya, aku tidak dapat bertindak sendiri.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, begitulah sebaiknya,” desisnya. Tetapi Sutawijaya sendiri adalah anak yang nakal. Kadang-kadang ia melanggar peraturan ayahnya sekaligus gurunya, atau melakukan sesuatu tanpa setahu ayahnya itu.

“Dan selanjutnya keputusan terakhir ada pada guru,” sambung Gupita.

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Gumamnya seolah-olah kepada diri sendiri, “Meskipun sebagian Senapati Pajang ikut dengan ayah, tetapi yang sebagian itu terlampau kecil dibanding dengan kekuatan Pajang seluruhnya. Mudah-mudahan kami akan segera meningkatkan kekuatan para pengawal daerah baru itu.”

Gupita mengerutkan keningnya. Hampir tanpa sesadarnya ia berkata, “Itu sudah merupakan persiapan perang.”

Sutawijaya terkejut mendengar tanggapan Gupita. Dengan serta-merta ia berkata, “Tidak, sama sekali tidak. Bukan maksud kami mengadakan persiapan perang.”

Gupita menggigit bibirnya.

“Kami hanya sekedar mengadakan persiapan untuk menjaga diri apabila sesuatu terjadi atas daerah kami yang baru bangkit itu.”

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara Gupala masih meraba-raba perutnya. Namun tiba-tiba ia berkata, “Memang setiap orang perlu menjaga diri. Juga daerah-daerah baru yang baru lahir seperti Alas Mentaok yang akan menjadi sebuah negeri. Seandainya Pajang tidak berbuat apa-apa, mungkin justru daerah di sekitarnya merasa iri. Mungkin Tanah Perdikan Mangir, mungkin Menoreh, atau daerah-daerah lain.”

“Bagaimana dengan Sangkal Putung?” tiba-tiba Sutawijaya bertanya.

“Sangkal Putung tidak terlampau dekat. Tetapi Sangkal Putung tidak akan berkeberatan apa pun atas perkembangan Alas Mentaok. Kalau Alas Mentaok menjadi ramai, perdagangan antara Pajang dan daerah baru itu berkembang, maka Sangkal Putung akan menjadi jalur yang menentukan. Itu akan bermanfaat bagi Sangkal Putung.”

Sutawijaya memandang Gupala dengan sorot mata yang aneh. Sesaat kemudian ia berkata, “Hem, kau memandang persoalan ini dari sudut yang luas. Meskipun tampaknya kau hanya dapat berkelahi dan tertawa-tawa tanpa arti, ternyata pandanganmu cukup tajam.”

Gupala hanya tertawa saja.

“Tetapi bagaimana kalau terjadi sebaliknya?”

“Apa?” anak yang gemuk itu bertanya.

“Kalau yang lewat itu bukan serombongan pedagang, tetapi sepasukan prajurit dari Pajang menuju ke Alas Mentaok.”

Gupala berpikir sejenak. Dan jawabnya sama sekali tidak disangka-sangka oleh Sutawijaya maupun oleh Gupita. Katanya, “Kalau yang lewat sepasukan prajurit, aku harus bersembunyi atau mengungsi.”

Ketiganya tidak dapat menahan hati. Sutawijaya tertawa meledak, meskipun segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya, sedang Gupita tersenyum kecut.

“Sudahlah,” berkata Sutawijaya kemudian, “aku akan pergi ke ruang tengah. Kalau gurumu sudah selesai dengan Ki Argapati, ia akan mencari aku. Aku masih harus menemui Ki Argapati dalam kesempatan ini.”

“Juga mempersoalkan dibukanya Alas Mentaok?” bertanya Gupala.

“Ya.”

“Mudah-mudahan tidak ada kesulitan dari mana pun,” berkata Gupita perlahan-lahan.

“Tentu. Kami mengharap demikian. Tetapi seandainya ada banjir, kami sudah membuat tanggul.”

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia merasa bahwa soalnya bukan sekedar membuat tanggul. Namun demikian ia tidak berkata sesuatu lagi. Ia menyerahkan persoalannya kepada gurunya. Apa pun yang harus dilakukannya, ia tidak akan menolak.

Ketika kemudian Sutawijaya masuk kembali ke ruang tengah, yang ditemuinya adalah Samekta dan Kerti yang masih duduk di tempatnya, sehingga anak muda itu bertanya, “Apakah gembala itu masih berada di dalam bilik Ki Argapati?”

Samekta menggelengkan kepalanya. “Tidak. Baru saja ia pergi ke luar.”

“Aku berada di luar.”

“Tetapi ia pergi ke luar lewat pintu butulan. Agaknya Anakmas diharap duduk di sini sebentar.”

Sutawijaya mengangguk-angguk pula. “Baiklah, aku akan menunggunya di sini.”

Sementara itu gembala tua itu pergi kepada kedua muridnya. Ditemuinya Gupala sedang berbaring di atas anyaman daun kelapa, sedang Gupita duduk memeluk lututnya. Beberapa langkah dari mereka, seorang penjaga berjalan helir-mudik dengan tombak di tangan.

“Apakah kalian lelah?” bertanya gurunya.

Gupala segera bangkit. Dengan serta-merta ia bertanya, “Apa kami sudah boleh tidur?”

“Kenapa tidak?”

Gupala menjadi bingung. “Lalu bagaimana dengan tawanan yang berada di dalam bilik itu.”

“Biar saja ia di situ. Kalian berdua dapat tidur berganti-ganti. Tetapi aku kira kalian yang masih muda-muda ini akan dapat bertahan tiga hari tiga malam.”

Gupala mengerutkan keningnya.

“Menurut pendengaranku, waktu Mahapatih Gajah Mada menyelamatkan rajanya, tujuh hari tujuh malam ia sama sekali tidak beristirahat. Apalagi tidur,” desis gembala itu. “Baru setelah ia mendapat jalan untuk membawa raja itu kembali ke kota, Gajah Mada mau beristirahat.”

Gupita tersenyum, sedang Gupala bersungut-sungut. Katanya, “Kelak, apabila aku menjadi Maha Patih, aku pun akan berjaga-jaga tujuh hari tujuh malam.”

Gupita tidak dapat menahan tertawanya. Katanya “Apa yang akan kau lakukan selama tujuh hari tujuh malam itu?”

“Makan.”

Ketiganya tertawa. Namun Gupala pun segera merebahkan dirinya lagi di atas anyaman daun kelapa itu sambil berdesis, “Memang suatu cara yang baik. Bergantian tidur. Kenapa baru sekarang kita ingat akan hal itu? Sekarang aku tidur, kau bangun Kakang Gupita. Nanti, pada saatnya kau bangun, aku tidur.”

“Bagus. Tetapi kalau nasi masak, aku tidak mau membangunkan kau.”

Gupala tidak menjawab. Tetapi sambil menggaruk-garuk perutnya ia berkata, “Kalau begitu aku pun tidak akan dapat tidur.”

Gurunya tersenyum. Namun kemudian ia berkata, “Aku harus segera kembali ke ruang tengah menunggui Sidanti. Sebentar lagi, apabila semua persiapan sudah selesai, para pemimpin Menoreh akan melepaskan jenazah mereka yang gugur di peperangan ini. Kalau Angger Sutawijaya bersedia tetap berada di ruang tengah, aku akan dapat ikut bersama Samekta dan Kerti.” Orang tua itu berhenti sejenak, lalu “Apakah kalian sudah bertemu dengan Raden Sutawijaya?”

“Sudah, Guru,” jawab Gupita, “baru saja ia datang kemari.”

“Apa katanya?”

“Tentang Alas mentaok itu lagi,” jawab Gupita.

“Kami diminta untuk membantunya,” sahut Gupala. “Agaknya Raden Suitawijaya memerlukan beberapa orang uutuk itu.”

“Beberapa orang yang bersedia untuk berkelahi,” gumam gurunya. “Tetapi apa katamu berdua?”

“Aku bersedia,” jawab Gupala dengan serta-merta. “Aku tidak dapat berdiri tidak berpihak, sementara kedua pasukan Mentaok dan Pajang akan saling berhadapan.”

Gurunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti pendirian Gupala. Sangkal Putung seolah-olah terletak di garis yang menghubungkan kedua daerah itu. Kalau anak yang gemuk itu sama sekali tidak menentukan sikap, maka mungkin sekali daerahnya akan tergilas oeh kedua belah pihak.

“Apakah kau sudah menjawab?” bertanya gurunya.

“Sudah guru,” jawab Gupala.

“Dan kau?” bertanya gurunya kepada Gupita.

“Aku menyerahkan persoalannya kepada Guru,” jawab Gupita. “Menurut Raden Sutawijaya Guru sudah bersedia.”

Gurunya menarik nafas dalam-dalam. Persoalan yang dihadapi oleh Gupala memang tidak terlampau rumit. Ia harus berpihak. Berpihak kepada yang memberinya harapan. Apalagi Sutawijaya telah dikenalnya baik-baik sejak lama.

Tetapi soalnya akan berbeda bagi Gupita. Sekali lagi terlintas di dalam angan-angannya, Senapati Pajang di bagian Selatan yang bernama Untara itulah nanti yang akan memegang peranan. Ki Gede Pemanahan sendiri sudah tidak ada di Pajang. Ki Penjawi sudah berada di Pati pula. Maka selain Ki Patih dan Sultan Pajang sendiri, maka Senapati Pajang tidak ada lagi yang mumpuni.

“Apakah mungkin bahwa Angger Agung Sedayu akan berhadapan dengan Angger Untara?” pertanyaan itu selalu mengganggunya. Tetapi ia masih tetap menyimpan pertanyaan itu di dalam hati. Agaknya Gupita sama sekali masih belum teringat untuk memperhitungkannya hal itu.

“Apakah guru benar-benar telah menyetujuinya?” tiba-tiba Gupita bertanya.

Gurunya menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Aku memang sedang mempertimbangkan. Apakah yang sebaiknya aku lakukan. Sutawijaya memang sudah menyampaikan pesan Ki Pemanahan kepadaku.”

“Aku kira kita tidak akan keberatan,” sahut Gupala. “Dengan demikian kita telah membantu bangkitnya suatu daerah baru. Sudah tentu, kita mengharap bahwa tidak akan terjadi apa pun di antara semua pihak. Alas Mentaok, Pajang, Mangir, dan Menoreh. Apalagi Prambanan dan Sangkal Putung.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tatapan matanya melontar ke titik-titik yang sangat jauh.

Wajah orang tua itu tampak menjadi murung. Hampir tidak pernah kedua muridnya melihat gurunya begitu dalam merenungi sesuatu. Sehingga dengan demikian kedua murid-muridnya itu pun untuk sejenak berdiam diri.

Sebenarnyalah berbagai persoalan telah berkecamuk di dalam dada orang tua itu. Masalah Tanah Perdikan Menoreh memang sudah hampir selesai, tetapi masalah-masalah lain telah menunggunya. Tanpa sesadarnya orang tua itu mengamati lukisan di pergelangan tangannya. Sebuah cambuk yang di ujungnya tersangkut selingkar cakra bergerigi sembilan.

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Terngiang pertanyaan Ki Argapati tentang lukisan di pergelangan tangannya itu “Kiai, gambar itu adalah ciri dari perguruan Empu Windujati.”

Tiba-tiba gembala tua itu menggelengkan kepalanya. Namun suara Ki Argapati masih terdengar di telinganya “Aku mengenal seorang yang luar biasa. Seorang yang bersenjata cambuk dan yang senang sekali berteka-teki tentang dirinya. Tetapi sudah tentu bukan kau, karena pada saat itu pun umurnya sudah setua kita sekarang.”

Sekali lagi gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam.

Namun tiba-tiba ia tersadar bahwa kedua murid-muridnya sedang memandangnya dengan heran. Sehingga kemudian ia pun berdesis, “Ternyata aku pun lelah sekali. Tempat ini memberikan kesejukan, sehingga aku pun menjadi kantuk karenanya.”

Gupala menarik nafas pula. Sekilas dipandanginya wajah Gupita yang bertanya-tanya.

“Baiklah,” berkata gembala tua itu, “aku akan ke ruang tengah sejenak. Kalau Angger Sutawijaya bersedia, menunggui Sidanti sebentar bersama Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga yang berada di longkangan belakang, aku akan ikut melihat upacara pemakamam.”

“Apakah kami dapat ikut?” bertanya Gupala.

“Tidak usah. Kau punya tugas sendiri.”

Gupala mengerutkan keningnya.

“Tetapi itu pun aku masih belum tahu, kapan persiapan pemakaman itu selesai. Bahkan mungkin malam nanti. Kini baru dipersiapkan lubang-lubang yang cukup banyak.”

“Dari manakah jenazah-jenazah itu diberangkatkan?”

“Sudah jelas tidak dari rumah ini.”

”Dari banjar?”

“Ya, dari Banjar.”

Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi matanya sudah menjadi semakin redup oleh kantuk yang seakan-akan semakin mencengkamnya. Apalagi karema silirnya angin dan bunyi burung tekukur di kejauhan.

“Nah, tinggallah kalian di sini. Hati-hatilah supaya bantuan yang sudah kita berikan selama ini kepada Tanlah ini tetap berkesan baik sampai rampung.”

Kedua muridnya menganggukkan kepala mereka sambil menjawab “Baik, Guru.”

Di sepanjang langkahnya, gembala tua itu menundukkan kepalanya sambil merenung dirinya sendiri. Kalau pada suatu saat ia bertemu dengan Ki Gede Pemanahan, maka pertanyaan Ki Gede Menoreh itu pun pasti akan diulang lagi meskipun dengan nada yang berbeda.

Gembala tua itu tanpa disengaja telah mengangguk-anggukkan kepalanya. Berbagai persoalan hilir-mudik di kepalanya.

“Seharusnya masa-masa itu sudah dilupakan orang,” katanya di dalam hati. “Aku pun ingin melupakannya.”

Orang tua itu tertegun sejenak. Ia melihat beberapa orang pengawal memasuki halaman. Sejenak mereka bercakap-cakap dengan pengawal yang sedang bertugas. Kemudian seorang pengawal dengan tergesa-gesa memasuki pendapa langsung keruang tengah.

Gembala itu pun kemudian pergi ke pendapa. Ia melihat Samekta dan Kerti keluar melintasi pendapa itu turun ke halaman. Ketika mereka melihat orang tua itu, mereka pun berhenti.

“Kiai,” berkata Samekta, “persiapan itu sudah hampir selesai. Kalau Kiai ingin menghadirinya, sebentar lagi Kiai supaya pergi ke Banjar bersama Pandan Wangi. Ia ingin melihat juga upacara itu.”

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah. Aku akan pergi.”

Ketika Samekta dan Kerti kemudian pergi bersama pengawal itu, ia pun segera masuk ke dalam. Ditemuinya Sutawijaya duduk sendiri sambil mengunyah pondoh beras.

“Ha, aku akan minta tolong kau lagi, Anakmas,” berkata gembala tua itu.

“Apa lagi Kiai?”

“Aku akan melihat upacara pemakaman korban peperangan ini. Aku minta Anakmas sementara tetap tinggal di sini menunggui pintu itu. Di belakang sudah ada Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga.”

“Sendiri?” bertanya Sutawijaya.

“Apakah Angger takut?”

“Soalnya bukan takut. Tetapi bagaimana kalau tiba-tiba aku ingin pergi ke sungai?”

Orang tua itu menarik nafas. Tetapi ia kemudian mengangguk-angguk.

“Baiklah,” berkata orang tua itu, “aku akan minta seorang dua orang pengawal untuk menemani Anakmas di sini.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia berbisik, “He, siapakah sebenarnya pimpinan tertinggi yang mewakili Ki Argapati di bidang keprajuritan?”

“Kenapa?”

“Apakah Kiai barangkali?”

Gembala tua itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum. “Aku sudah terlanjur terlibat Anakmas. Memang tidak pantas aku mengatur dan menangani persoalan di Tanah ini terlampau banyak. Tetapi tanpa Ki Argapati mereka masih memerlukan banyak sekali bimbingan.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil tersenyum ia berkata, “Pada suatu saat, Mentaok memerlukan pula, Kiai.”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun tersenyum. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Laris juga tenaga tua ini agaknya.”

Sutawijaya tertawa pendek. Katanya, “Suatu kehormatan bagi Kiai.”

Orang tua itu pun menyahut, “Sebenarnya Mentaok tidak memerlukan siapa pun lagi. Mentaok sudah cukup memiliki senapati-senapati yang mumpuni. Ki Gede Pemanahan sendiri adalah seorang panglima yang tidak ada tandingnya. Kenapa orang tua-tua yang tidak berarti seperti aku ini akan dibawanya pula?”

Sutawijaya masih tertawa. Katanya, “Tentu ada sebabnya. Dan Kiai pun aku kira sudah mengetahui pula.”

“Belum,” berkata orang tua itu.

“Apa saja dapat Kiai katakan kepadaku, karena aku memang baru mengenal Kiai sejak di Sangkal Putung. Tetapi mungkin ayah akan berkata lain.”

Gembala itu mengangkat alisnya.

“Ayah memang selalu bertanya tentang Kiai. Tentang seorang yang bersenjata cambuk.”

“Baik, baik,” sahut gembala tua itu, “sekarang aku akan pergi sejenak bersama Angger Pandan Wangi.”

Sutawijaya masih saja tersenyum. Dipandanginya saja orang tua yang masuk ke dalam bilik Ki Argapati. Kemudian sejenak ia tinggal di dalam sebelum orang tua itu keluar lagi dari bilik itu bersama Pandan Wangi.

Ki Argapati tidak berkeberatan, apabila Pandan Wangi pergi sejenak atas namanya menghadiri pemakaman korban-korban peperangan yang telah berjatuhan.

“Dua orang prajurit akan mengawani Angger di sini,” berkata gembala itu kepada Sutawijaya.

Sebenarnyalah bahwa kemudian dua orang prajurit datang dan duduk bersama anak muda itu, sedang dua orang yang lain langsung masuk ke dalam bilik Ki Argapati.

Di sepanjang jalan menuju ke banjar, baik Pandan Wangi maupun gembala tua itu tidak terlampau banyak berbicara. Dalam angan-angan masing-masing bergejolak masalah-masalah yang berbeda-beda. Pandan Wangi masih merenungi abu Tanah Perdikannya yang telah dibakar oleh api peperangan di antara keluarga sendiri, yang digelitik oleh ketamakan Ki Tambak Wedi. Sedangkan gembala itu sedang merenungkan sikap Sutawijaya. Mungkin ayahnya, Ki Gede Pemanahan memang selalu bertanya tentang seorang yang bersenjatakan cambuk. Tetapi apakah pesan Ki Pemanahan ini benar-benar sampai pada suatu kepastian, ia memerlukannya, atau hanya sekedar karena akal Sutawijaya itu sendiri.

Menilik cerita Sutawijaya sendiri, ayahnya masih meragukannya. Apakah dalam keragu-raguan itu, Ki Gede Pemanahan sudah dapat mengambil suatu sikap.

“Tetapi aku sendiri memang perlu menemuinya,” desis orang tua itu di dalam hatinya.

Dalam pada itu, mereka pun segera sampai ke banjar pula. Sejenak kemudian maka jenazah-jenazah yang berada di banjar itu pun segera diberangkatkan ke pekuburan.

Beberapa orang keluarga mereka yang berhasil dihubungi, telah menitikkan air matanya. Seperti darah yang tertumpah, maka air mata mereka itu pun telah membasahi Tanah Kelahiran mereka.

Sebuah barisan yang panjang telah mengiringi korban-korban peperangan itu. Pandan Wangi, Samekta, Kerti, dan beberapa pemimpin yang lain berjalan di paling depan. Di belakang mereka, gembala tua yang telah ikut menentukan akhir dari peperangan itu pun berjalan sambil menundukkan kepalanya. Ia sadar, bahwa ia telah turut mengambil bagian dari peperangan yang telah membunuh sekian banyak kawan dan lawan.

Namun terbayang pertentangan yang pasti akan lebih dahsyat berkecamuk apabila Mentaok dan Pajang tidak dapat mengendalikan diri masing-masing. Di dalamnya tidak hanya terdapat seorang Sidanti dan seorang Argajaya. Tetapi di dalamnya terdapat berpuluh-puluh Sidanti dan berpuluh-puluh Argajaya.

Senapati-senapati perang yang pilih tanding akan turun ke medan. Prajurit-prajurit yang tangguh dan panglima-panglimanya yang tidak ada taranya.

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Yang terutama menjadi pusat kecemasannya adalah Untara. Senapati muda yang memiliki kemampuan yang besar, yang justru diserahi daerah di sisi Selatan. Apalagi kalau Widura masih juga berada di Sangkal Putung bersama beberapa bagian dari pasukan Pajang.

Orang itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

Kalau pertentangan jasmaniah harus terjadi, maka masalahnya akan sangat rumit bagi murid-muridnya, terutama Gupita.

Oleh angan-angannya itu, maka gembala tua itu hampir tidak memperhatikan lagi, ketika satu demi satu jenazah-jenazah itu diturun kan ke lubang pembaringannya untuk yang terakhir kali.

Namun salah seorang dari mereka memang telah menarik perhatiannya. Pandan Wangi yang menyandang sepasang pedang di lambungnya itu maju mendekati pekuburaa yang bau saja ditimbun dengan tanah yang merah.

Perlahan-lahan ia berdesis, “Jasamu tidak akan terlupakan, Wrahasta.”

Sejenak kemudian tangannya yang halus meraih segenggam bunga tabur. Ketika bunga itu berjatuhan di atas gundukan tanah yang masih basah itu, air matanya pun menitik. Dikenangnya anak muda yang bertubuh raksasa itu. Dikenangnya betapa anak muda itu mencoba meayentuh perasaannya yang kosong pada waktu itu.

Kepala Pandan Wangi pun menunduk dalam-dalam. Beberapa lama ia berdiri di samping makam Wrahasta. Sekilas terbayang pula pada saat-saat terakhir dari hidupnya. Masih juga anak muda itu bertanya kepadanya.

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Ikhlas atau tidak ikhlas ia pernah menganggukkan kepalanya, mengiakan permintaan Wrahasta untuk memperisterikannya. Sekejap sebelum ia melepaskan nafasnya yang terakhir.

Dan kini Wrahasta itu telah dikuburkan di antara para pengawal yang telah gugur dalam menunaikan tugas mereka untuk Tanah Kelahiran.

Satelah semuanya selesai, maka orang-orang yang mengantar jenazah-jenazah itu pun satu-satu meninggalkan pekuburan. Dengan hati yang berat mereka melangkah semakin jauh, meninggalkan orang-orang yang pernah ada di antara mereka. Pernah bergurau dan bertengkar dalam satu lingkungan.

Di jalan kembali Pandan Wangi menjadi semakin diam. Gembala tua yang berjalan di sampingnya sama sekali tidak diacuhkannya. Sekali-sekali ia masih mengusap matanya yang basah.

Ketika Pandan Wangi masuk ke halaman rumahnya, ia tertegun sejenak. Di antara para pengawal yang berjaga-jaga di depan regol dilihatnya seorang anak muda yang gemuk berdiri sambil menyilangkan tangannya.

“Apakah semuanya sudah selesai,” Gupala bertanya sambil melangkah maju.

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya. “Ya, semuanya sudah selesai.”

Gupala kemudian berjalan di samping gadis itu, sebelah-menyebelah dengan gurunya.

“Di mana Gupita” gurunya bertanya, “dan kenapa kau berada di situ?”

“Kakang Gupita masih menunggui Ki Argajaya. Aku tidak tahan untuk duduk saja di bawah pohon keluwih itu.”

“Kau tinggalkan Gupita sendiri?”

“Tidak sendiri. Ada beberapa orang pengawal yang menemaninya.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak bertanya lagi.

Gupala yang mash ingin berbicara menjadi kecewa. Pandan Wangi terlampau murung dan hampir tidak memperhatikan orang-orang lain sama sekali. Tanpa berkata sepatah kata pun lagi gadis itu langsung naik ke pendapa dan masuk ke dalam rumahnya yang kotor.

Gupala berhenti di bawah tangga pendapa. Ditatapnya saja langkah Pandan Wangi sampai hilang di balik pintu pringgitan.

“Kembalilah ke tempatmu,” gurunya berdesis.

“O,” Gupala tergagap, “baiklah. Aku akan kembali ke bawah pohon keluwih. Mudah-mudahan tidak ada sebuah pun yang akan menjatuhi kepalaku yang lagi pening ini.”

Gurunya tidak menjawab. Dengan langkah yang gontai Gupala berjalan ke tempatnya kembali. Namun masih terdengar ia bergumam, “Apakah aku harus menungguinya sampai tua?”

Ternyata hari itu baik Gupita dan Gupala, maupun Ki Hanggapati dan Dipasanga, masih harus tetap berada di tempat masing-masing. Ki Argapati masih belum dapat berbuat sesuatu karena luka-lukanya, sehingga masih belum dapat mengambil suatu sikap bagi Sidanti dan Argajaya. Bahkan Ki Argapati masih juga belum dapat menerima Sutawijaya yang akan menemuinya.

“Kiai,” berkata Sutawjaya, “kalau besok Ki Argapati masih belum dapat menerima seseorang, maka aku kira lebih baik aku kembali ke Mentaok. Ayah pasti sudah terlampau lama menunggu. Bahkan mungkin perkembangan terakhir Mentaok sudah menjadi semakin sibuk, sehingga tenagaku sudah sangat diperlukannya.”

“Lalu, apakah Angger tidak ingin berbicara dengan Ki Argapati?”

“Aku tidak dapat menunggu tanpa batas. Sebaiknya aku berpesan saja kepada Kiai.”

“Tunggulah sampai besok.”

Sutawijaya merenung sejenak. Katanya, “Ya, aku memang akan menunggu sampai besok.”

Malam itu gembala tua itu pun berusaha dengan segenap kepandaian yang ada padanya untuk memperingan penderitaan Ki Argapati. Semalam suntuk gembala tua itu tidak tidur. Juga Pandan Wangi yang menunggui ayahnya hampir tidak dapat memejamkan matanya sama sekali. Hanya kadang-kadang sambil bersandar dinding Pandan Wangi terlena sejenak. Namun kemudian ia segera terbangun kembali.

Di malam hari luka-luka Ki Gede yang parah itu terasa betapa pedihnya, sehingga meskipun ia memiliki daya tahan yang luar biasa kuatnya, namun terdengar sekali-sekali ia berdesis tertahan. Apalagi karena obat-obat yang dipergunakan oleh gembala itu pun menambah nyeri pada luka-luka itu.

Semalaman gembala tua itu duduk dengan tegangnya. Tidak kalah tegang dari pertempuran yang dialaminya semalam. Sekali-sekali ia harus berusaha untuk menahan panas tubuh Ki Argapati yang menanjak, dengan minuman reramuan obat yang dibuatnya.

Ketika ayam jantan berkokok untuk yang terakhir kalinya, barulah gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Ki Argayati dapat tertidur sejenak. Namun tidur yang sejenak itu akan sangat membantunya.

“Tidurlah, Ngger,” berkata gembala tua itu kepada Pandan Wangi, “mumpung Ki Argapati juga lagi tidur.”

Pandan Wangi mengangguk. Tetapi ia tidak mengambil tikar dan berbaring dilantai. Ia masih saja duduk sambi bersandar dinding. “Aku tidur di sini saja Kiai.”

“Nanti kau terjerembab.”

Pandan Wangi menggeleng. “Tidak.”

Gembala tua itu pun kemudian keluar dari bilik Ki Argapati. Dilihatnya Sutawijaya tidak ada di ruang tengah. Yang ada adalah dua orang pengawal yang menunggui pintu bilik Sidanti.

“Di mana Anakmas Sutawijaya?” bertanya gembala tua itu.

“Ia akan tidur bersama Gupita dan Gupala.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas ia memandang pintu bilik Sidanti. Pintu itu masih tertutup rapat. Selaraknya pun masih terpancang kuat-kuat.

“Anak itu akan tetap merupakan masalah bagi Tanah Perdikan ini,” katanya di dalam bati. “Aku tidak dapat membayangkan bagaimana Ki Argapati akan menyelesaikannya.

Sambil mengangguk-angguk di luar sadarnya gembala tua itu pun kemudian duduk di samping kedun pengawal yang sedang bertugas menunggui pintu bilik Sidanti itu.

Sejenak kemudian maka cahaya yang merah telah membayang di halaman. Semakin lama semakin terang. Para pengawal yang berkesempatan tidur di gandok kanan dan kiri, di ruang-ruang belakang, di pendapa dan di banjar, satu demi satu telah terbangun.

Gembala tua yang belum mendapat kesempatan untuk tidur itu pun telah bangkit pula. Perlahan-lahan ia masuk ke dalam bilik Ki Argapati. Ketika dilihatnya Ki Argapati masih tidur, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam.

“Agaknya aku berhasil mengobatinya,” desisnya di dalam hati.

Gembala tua itu tersenyum pula ketika melihat Pandan Wangi pun masih tidur bersandar dinding. Rambutnya yang panjang terurai ke bahunya, sedang kedua tangannya bersilang di dada. Gadis itu sama sekali tidak berkesempatan untuk mengurus dirinya sendiri seperti kebanyakan gadis-gadis di masa usia remaja. Pandan Wangi selama ini hanya bergulat dengan pedang dan dengan ayahnya yang terluka.

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kedatangan kakaknya di atas Tanah Perdikan ini justru membuat hatinya pedih. Gadis yang seharusnya sedang dibuai oleh usianya itu, kini seakan-akan telah meloncati satu lapisan dalam urut-urutan hidupnya.

“Mudah-mudahan selanjutnya Tanah ini menjadi tenang,” berkata gembala tua itu di dalam hatinya.

Demikianlah, maka gembala tua itu berpengharapan, bahwa hari itu Ki Argapati sudah menjadi jauh lebih baik dari keadaan sehari sebelumnya, sehingga ia dapat menerima Sutawijaya.

Sutawijaya sendiri, setelah membersihkan dirinya, segera masuk ke ruang tengah. Ditemuinya gembala itu duduk di antara dua orang pengawal yang ditinggalkannya semalam.

“Bagaimana Kiai, apakah hari ini aku dapat bertemu dengan Ki Argapati?”

“Mungkin, Ngger. Agaknya Ki Argapati sudah menjadi semakin baik. Tetapi sudah tentu tidak sepagi ini. Siang nanti, aku harap Ki Argapati sudah berkesempatan untuk berbicara.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku menunggu hari ini.

Sebenarnyalah bahwa Ki Gede Pemanahan telah menunggu dengan cemas kedatangan puteranya yang sedang pergi ke Tanah Perdikan Menoreh tanpa mengetahui dengan pasti, apa yang telah terjadi di sana.

Dan Sutawijaya masih harus menunggu satu hari lagi.

Ketika Ki Argapati kemudian terbangun dari tidurmya, ia merasakan bahwa keadaan badannya telah menjadi jauh lebih baik. Lukanya sudah tidak terlampau pedih, dan kepalanya sudah tidak lagi memberati. Meskipun ia masih pening dan terlalu lemah, namun kesadarannya telah sepenuhnya dikuasainya.

Saat itulah yang ditunggu-tunggu oleh gembala tua itu. Ketika Ki Argapati telah dibersihkannya, maka katanya, “Angger Sutawijaya ingin bertemu dengan Ki Gede hari ini. Tetapi lebih baik setelah tengah hari. Keadaan Ki Gede akan menjadi semakin baik.”

“Apakah ada keperluan yang penting?”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. “Sebenarnya tidak begitu penting Ki Gede. Tetapi karena ia sudah berada di atas Tanah ini, maka ia memerlukan untuk menemui Ki Gede.”

Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya. Badannya yang terasa semakin segar membuat pikirannya menjadi segar pula.

Ternyata hari itu Ki Gede sudah dapat menelan makanan sedikikit-sedikit, sehingga badannya tidak terasa sangat lesu. Dengan telaten Pandan Wangi membantu ayahnya menyuapkan makanannya.

Agaknya Pandan Wangi pun menjadi sangat bersyukur bahwa ayahnya sudah menjadi semakin baik.

Pada siang harinya, Sutawijaya benar-benar mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Ki Gede, meskipun Ki Gede masih berada di pembaringannya. Tetapi sebelum Sutawijaya memasuki bilik Ki Argapati gembala tua itu sudah berpesan, “Katakan yang paling penting saja Anakmas. Jangan terlampau berkepanjangan, karena Ki Argapati masih belum seharusnya memikirkan masalah-masalah yang berat.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Kemudian desisnya, “Kalau begitu, kenapa aku harus menunggu sampai hari ini? Bukankah aku dapat meninggalkan pesan saja.”

“Kau masih terlampau muda untuk mengerti perasaan orang tua-tua. Meskipun akhirnya kau meninggalkan masalah itu kepada orang lain, tetapi bahwa kau sendiri sudah memerlukan datang menemuinya, bagi orang tua, itu akan banyak memberikan arti. Kau sudah menyatakan kesungguhan hatimu, dengan datang menemuinya sendiri.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baiklah,” katanya.

Kemudian dengan diantar oleh gembala tua itu, Sutawijaya memasuki bilik Ki Argapati.

“Maafkan, Anakmas,” berkata Ki Argapati ketika ia melihat Sutawijaya, “aku tidak dapat menemui Anakmas sebagaimana sebarusnya aku menerima.”

Sutawijaya tersenyum. Sekilas dipandanginya wajah Pandan Wangi yang buram oleh kelelahan yang sangat. Kemudian jawabnya, “Aku tahu apa yang sedang terjadi Ki Gede. Karena itu, silahkan. Ki Gede sedang terluka.”

Sutawijaya dan gembala tua itu pun kemudian duduk di sebuah dingklik kayu di samping pembaringan.

Sementara itu Pandan Wangi duduk di sudut ruangan. Seolah-olah ia selalu ingin menunggui dan mengawasi ayahnya yang baru sakit itu.

Sejenak kemudian maka Sutawijaya pun mulai mengatakan maksudnya dengan hati-hati. Ternyata Sutawjaya adalah anak muda yang memang cerdas. Sebelum ia sampai pada persoalannya, maka katanya, “Ki Argapati, yang pertama-tama, aku ingin menyampaikan salam dari ayah Ki Gede Pemanahan untuk Ki Argapati.”

Ki Argapati tersenyum. Sambil mengangguk-angguk kecil ia berkata, “Terima kasih. Terima kasih, Anakmas. Nanti apabila Anakmas kembali, aku pun menyampaikan salam kepada Ki Gede Pemanahan.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab, “Baiklah Ki Gede. Aku akan menyampaikannya kepada ayah.”

Ki Argapati yang menemui Sutawijaya sambil berbaring di pembaringannya itu pun kemudian berkata, “Sayang, Anakmas, aku tidak dapat menerima Anakmas sewajarnya. Keadaanku dan keadaan rumah ini sama sekali tidak pantas bagi Anakmas.”

“O,” Sutawijaya menyahut, “aku menyadari keadaan ini Ki Gede. Ki Gede tidak usah menganggap kedatanganku ini sebagai suatu kunjungan yang penting.”

“Bagaimana pun juga, Anakmas adalah orang penting bagi Pajang.”

Sutawijaya tersenyum, dan sebelum ia menjawab Ki Argapati berkata, “Selain salam buat ayahanda Ki Gede Pemanahan, aku juga menyampaikan baktiku kepada Ayahandamu Sultan Pajang.”

Sutawijaya kini mengerutkan keningnya. Senyumnya tiba-tiba seperti tersapu dari bibirnya. Namun sejenak kemudian ia memperbaiki kesan di wajahnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, ya Ki Gede, apabila aku menghadap Ayahanda Sultan, maka aku akan menyampaikannya.” Sutawijaya terdiam sejenak. Namun hal itu justru dapat dijadikannya pancadan untuk menyampaikan maksudnya.

Maka anak muda itu pun kemudian berkata, “Tetapi Ki Gede, kesempatanku untuk bertemu dengan Ayahanda Sultan kini terlampau jarang.”

Argapati terperanjat. “Kenapa?” ia bertanya.

“Aku sekarang berada di Mentaok.”

“Alas Mentaok?”

“Ya, Ki Gede. Kami telah membukanya. Desa di pinggir Alas Mentaok sampai ke Pliridan telah kami jadikan modal. Dan kini daerah tersebut menjadi semakin ramai.”

Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam.

Sutawijaya pun berkata selanjutnya, “Kini untuk sementara aku berada bersama Ayahanda Pemanahan.”

Ki Argapati tidak segera menyahut. Tetapi tampaklah sesuatu sedang bergetar di dalam hatinya.

“Ki Gede,” berkata Sutawijaya kemudian, “karena itu pulalah aku datang kemari atas nama ayah Ki Gede Pemanahan.”

Ki Argapati yang mempunyai tangkapan yang tajam itu pun segera mengerti, meskipun Sutawijaya baru mulai menyebut tentang tanah yang baru dibukanya itu. Meskipun demkian Ki Argapati masih tetap berdiam diri dan memberi kesempatan kepada Sutawijaya untuk mengatakannya.

Demikianlah Sutawjaya pun kemudian bercerita tentang Alas Mentaok. Tentang janji Sultan Hadiwijaya atas Tanah Mentaok dan Pati. Tentang Ki Gede Pemanahan yang menganggap bahwa Sultan Pajang telah berkisar dari sifat-sifatnya semula.

Meskipun Sutawjaya selalu mengingat pesan gembala tua untuk tidak mengatakan semua persoalannya, namun ternyata Ki Argapati sendiri langsung dapat menangkap maksud Sutawijaya seluruhnya.

Tetapi Sutawijaya memang seorang anak muda yang bijaksana. Ketika ia hampir mengakhiri keterangannya mengenai Alas Mentaok ia pun berkata, “Tetapi Ki Gede jangan dicengkam oleh masalah yang sebenarnya tidak begitu penting ini. Sebaiknya Ki Gede memusatkan perhatian Ki Gede pada Tanah Perdikan yang kini sedang luka parah seperti Ki Gede sendiri yang terluka.”

Ki Gede mengerutkan keningnya. Sekilas ia melihat Pandan Wangi yang duduk di sudut ruangan itu dengan wajah yang tegang. Agaknya gadis itu pun mengikuti pembicaraan ayahnya dengan saksama.

Dalam pada itu Sutawijaya berkata pula, “Anggaplah bahwa kedatanganku ini hanya sekedar memberitahukan, bahwa aku akan segera menjadi tetangga Tanah Perdikan ini. Ki Gede dan aku nanti akan dapat membuat jembatan yang melangkahi Sungai Praga, sehingga hubungan kami akan menjadi semakin baik.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia masih terlalu lemah, tetapi nalarnya telah mampu mengungkap semua pembicaraan Sutawijaya, sehingga kemudian Ki Argapati itu berkata dalam nada yang datar, “Maaf, Anakmas Sutawijaya. Mungkin aku mendahului Anakmas. Tetapi sebaiknya aku memang mengatakannya supaya tidak menjadi teka-teki yang tidak terjawab nanti, apabila Angger telah meninggalkan Tanah Perdikan ini.”

Ketika Ki Argapati berhenti sejenak, Sutawijaya menjadi berdebar-debar.

“Anakmas, kalau aku tidak salah menanggapi pembicaraan Anakmas, maka di seberang Kali Praga akan segera tumbuh suatu padukuhan baru. Padukuhan yang dipimpin oleh Ki Gede Pemanahan dan puteranya, pasti bukan sekedar padukuhan yang kecil. Tetapi aku yakin bahwa padukuhan itu akan segera berkembang.” Ki Argapati berhenti sejenak, namun kemudian dilanjutkannya setelah menarik nafas panjang-panjang, “Bagiku Anakmas, perkembangan daerah baru itu akan memberikan banyak keuntungan. Setidak-tidaknya kami akan dapat membuka hubungan yang saling menguntungkan. Apa yang tidak kami punyai di sini, sedangkan yang tidak kami punyai itu ada berlebih-lebihan di tempat Anakmas, maka pasti bahwa Anakmas tidak berkeberatan untuk memberikannya kepada kami, dan sebaliknya. Tetapi yang menjadi pertanyaan kami, apakah Ki Gede Pemanahan sudah mendapat ijin, maksudku ijin yang sebenarnya ijin, dari Ayahanda Sultan Hadiwijaya?”

Sutawijaya tidak segera menyahut. Dibiarkannya Ki Argapati untuk berkata selanjutnya, “Menilik cerita Anakmas, agaknya Ki Gede Pemanahan telah menyatakan sikapnya tanpa menghiraukan Sultan Pajang lagi. Apakah dengan demikian masalahnya tidak akan berkepanjangan?”

Namun tiba-tiba Sutawijaya tersenyum. Katanya, “Banyak masalah yang dapat kami persoalkan Ki Gede. Tetapi aku tidak ingin mengganggu Ki Gede saat ini. Biarlah apa yang aku katakan sekedar merupakan bahan pembicaraan Ki Gede beserta para pemimpin Tanah Perdikan ini.”

Argapati menarik nafas dalam-dalam pula. Sambil menganggukkan kepalanya ia berkata, “Baiklah, Anakmas. Kami memang tidak akan mampu berbuat banyak saat ini, selagi masalah kami sendiri masih belum selesai. Aku sudah mendapat laporan, bahwa Sidanti dan Argajaya menunggu penyelesaian. Para pengungsi yang harus kembali ke tempatnya masing-masing, dan masih banyak lagi.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia merasa untuk sementara persoalan yang dikemukakan kepada Ki Argapati yang terluka itu sudah cukup. Meskipun masih ada masalah yang penting biarlah disampaikan oleh gembala tua itu. Karena itu maka ia pun berkata, “Ki Gede, meskipun belum semua masalah dapat aku katakan, namun aku merasa beruntung sekali mendapat kesempatan bertemu dengan Ki Gede. Apa yang sudah aku katakan akan menjadi bahan pertimbangan Ki Gede.”

Ki Gede mengangguk-angguk pula. “Baiklah anakmas.” Ki Gede berhenti sejenak. Namun tiba-tiba dipandanginya gembala tua yang duduk terangguk-angguk sambil berkata, “Anakmas, apakah Ki Gede Pemanahan tidak pernah menyebut perguruan Windu Jati dalam hubungannya dengan usahanya membuka alas Mentaok.”

Pertanyaan itu telah mengejutkan gembala tua itu. Namun kesan itu hanya melintas sekejap di wajahnya.

Sutawijaya sendiri hanya termangu-mangu saja. Ia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Ki Argapati. Ki Argapati yang terluka itu sempat tersenyum, katanya, “Mungkin Anakmas belum pernah mengenal Padepokan Windu Jati. Padepokan yang selalu diliputi oleh teka-teki.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Ya, Ki Gede, aku memang belum mengenal Padepokan Windu Jati.”

“Sudahlah, Anakmas,” berkata Ki Argapati kemudian, “jangan hiraukan padepokan itu. Mungkin Ayahanda Ki Gede Pemanahan sudah memperhitungkannya.”

“Kini,” berkata Sutawijaya kemudian “aku minta diri.”

Meskipun Ki Argapati mencoba menahanmya untuk satu dua hari, namun Sutawijaya berkeras untuk meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh, sehingga akhirnya Ki Argapati harus melepaskannya.

Pada hari itu juga Sutawijaya benar-benar meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh, selelah ia minta diri pula kepada Gupita dan Gupala. Sekali lagi Sutawijaya memperingatkan bahwa sebentar lagi alas Mentaok akan menjadi sebuah negeri yang tidak akan kalah ramainya dari Pati.

Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga pun ikut bersama Sutawijaya kembali ke Alas Mentaok. Dengan demikian pengawasan terhadap Sidanti kini dilakukan oleh sekelompok pengawal pilihan, langsung di bawah pengamatan gembala tua itu.

Sementara itu Gupala yang duduk bersandar tiang di ujung belakang gandok bersungut-sungut, Ki Hanggapati dan Ki Dipasanga telah bebas dari pekerjaan yang menjemukan ini. “Seandainya diperkenankan oleh guru aku akan mengikutinya sekarang. Aku sudah jemu sekali disiksa oleh tugas ini.”

Gupita berpaling. Dipandanginya wajah adik seperguruannya itu. Kemudian katanya, “Apakah kau sudah mencoba mengatakannya kepada guru?”

“Aku yakin, bahwa kita pasti masih harus berada di tempat ini sampai waktu yang tidak terbatas.”

Gupita mengerutkan keningnya sejenak. Kemudian katanya, “Apakah kau sudah benar-benar ingin mennggalkan tempat ini. Kalau kau memang sudah tidak kerasan di sini, biarlah aku yang minta ijin kepada guru. Aku masih mengharap bahwa kita akan diijinkannya mengusul Sutawijaya.”

Gupala tidak segera menyahut.

“Biarlah guru tinggal di sini sementara.”

Gupala masih berdiam diri.

“Bagaimana? Bagiku tidak ada yang mengikat di atas Tanah ini. Kau juga agaknya tidak ada sesuatu yang dapat menarik perhatianmu.”

Gupala yang bersungut-sungut itu menjadi semakin muram. Namun tiba-tiba ia tersenyum, “Ah, kau.”

“Jadi bagaimana?”

“Biarlah aku di sini untuk sementara.”

Gupita pun tertawa pula. Ia tahu apa yang tergetar di dalam hati Gupala meskipun ia tidak tapat menyembunyikan kepada diri sendiri, getaran-getaran yang serupa. Namun Gupita adalah seseorang yang sudah biasa mengendalikan dirinya. Bahkan agak berlebih-lebihan.

Sementara itu, Alas Mentaok memang sudah menjadi semakin ramai. Hubungan dengan padukuhan-padukuhan di sekitarnya menjadi semakin luas. Namun perkembangan Alas Mentaok itu tidak lepas dari pengamatan Pajang. Meskipun daerah itu akhirnya diserahkan dengan resmi kepada Ki Gede Pemanahan, namun persoalan pada tingkat pertama dalam hubungannya dengan tanah itu, sama sekali kurang menguntungkan, sehingga seakan-akan ada sepucuk duri yang tajam membatasi antara Pajang dan Alas Mentaok.

Seperti yang dicemaskan oleh guru Gupita dan Gupala, maka sebenarnyalah pimpinan prajurit di Pajang telah memerintahkan seorang senopati yang bernama Untara untuk mengamati perkembangan daerah baru itu.

Dalam pada itu terbersit pula kecemasan di dada senapati muda itu. Adiknya, Agung Sedayu yang pergi ke daerah Barat melintasi hutan Mentaok dan menyeberangi sungai Praga bersama Swandaru dan gurunya, Kiai Gringsing, masih belum kembali. Apabila dalam perjalanan mereka kembali, mereka menemukan Alas Mentaok sudah menjadi kota yang ramai, mereka pasti akan tertahan di sana. Tetapi Untara tidak berbuat sesuatu. Ia hanya dapat menunggu dalam kecemasan.

Sementara itu, para pengawal di tanah Perdikan Menoreh masih sibuk membersihkan dirinya. Di sana-sini kadang-kadang masih terjadi benturan-benturan kecil. Tapi pada umumnya mereka yang selama ini telah tersesat mempercayai seruan pengampunan Ki Gede Menoreh.

Argajaya yang dikenal berhati sekeras batu-batu padas, ternyata mulai memandang ke dalam dirinya sendiri. Tanah Perdikan Menoreh kini seakan-akan telah menjadi abu, dibakar oleh api pertentangan di antara keluarga sendiri, sehingga untuk membangun Menoreh, diperlukan semua kemampuan, yang ada di atas Tanah Perdikan itu. Harta, benda, tenaga maupun pikiran.

Gembala tua yang masih berada di Tanah Perdikan Menoreh itu pun menjadi heran ketika ia melihat perubahan sikap Argajaya. Pada suatu kesempatan, atas permintaan Ki Argapati, gembala tua itu menemui Ki Argajaya.

Meskipun perasaan tinggi hati masih juga nampak pada sikapnya, namun Argajaya sudah mulai bersikap lain.

“Ki Argapati masih terluka,” berkata gembala tua itu, “sehingga ia masih belum sempat mengunjungimu.”

“Aku tidak mengharap kunjungan siapa pun,” berkata Argajaya.

“Aku tahu,” berkata gembala tua itu, “tetapi adalah wajar sekali, bahwa Ki Argapati selalu memperhatikan kau. Kau adalah saudara muda daripadanya.”

Argajaya tidak menyahut. Kepalanya menjadi tertunduk dalam-dalam.

“Aku memang mendapat pesan dari Ki Argapati untuk menemui dan menyampaikan kepadamu akan hal itu.”

Ki Argajaya masih berdiam diri. Tetapi dari sikapnya, gembala tua itu dapat meraba, bahwa Argajaya yang keras hati itu sudah mulai melihat kesalahan sendiri.

Ketika Ki Argajaya kemudian mengangkat wajahnya, gembala tua itu menunggu, apakah yang akan dikatakannya.

“Kiai,” berkata Ki Argajaya itu kemudian, “apakah yang dikatakan oleh Kakang Argapati?”

“Ki Argapati pernah berkata kepadaku bahwa semua tenaga dan kekuatan oang yang masih ada harus dikerahkan untuk membangun kembali Tanah Perdikan ini.”

Ki Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Mungkin Kakang Argapati benar-benar berkata demikian. Tetapi itu tidak ditujukan kepadaku. Kakang Argapati pasti lebih menghargai Kiai dan murid-murid Kiai itu, meskipun mereka orang asing bagi kami di sini.”

“Tidak. Bukan begitu. Semua tenaga yang masih mungkin dipergunakan harus dipergunakan. Apalagi tenaga putra-putra Menoreh sendiri.”

Ki Argajaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya lebih ditujukan kepada diri sendiri, “Tetapi tidak untuk aku.”

“Kenapa?” bertanya gembala tua itu. “Kalau kau sudah melihat kesalahan sendiri, kemudian bersedia untuk memperbaiki, apakah salahnya?”

“Apakah aku pernah bersalah?”

“Kepada Tanah Perdikan ini dan kepada Ki Airgapati?”

Sekali lagi Argajaya menundukkan kepalanya. Kemudian terdengar ia berdesis, “Ya. Aku ikut membakar Tanah ini. Itu semata-mata karena kebodohanku dan keragu-raguan Kakang Argapati sendiri. Kalau ia tidak membiarkan kami dicengkam oleh kegelisahan karena permusuhan dengan orang-orang Pajang, maka kami tidak akan berbuat begitu bodoh.”

“Tetapi perhitungan siapakah yang benar? Orang-orang Pajang pun tidak akan begitu bodoh menyeberangi sungai Praga tanpa memperhitungkan bahaya yang mengancam di seberang. Apalagi Pajang yang belum sempat tegak benar itu sudah mulai goyah kembali.”

Ki Argajaya tidak segera menjawab.

“Ternyata Ki Argapati adalah seorang yang berpandangan sangat tajam. Dan kau harus berbangga karenanya, bahwa kau mempunyai seorang kakak seperti itu.”

Ki Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Aku tahu, Kakang Argapati adalah seorang yang berpijak pada ketentuan yang sudah digariskannya. Dan itu akan berlaku bagi siapa pun, meskipun bagi adiknya sendiri. Siapa yang bersalah akan menerima hukuman. Aku pun pasti akan dihukumnya.” Argajaya berhenti sejenak, kemudian, “Tetapi aku tidak akan ingkar. Aku akan menjalaninya dengan dada tengadah. Itu sudah menjadi akibat yang aku perhitungkan.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Teringat olehnya sikap Argajaya di ujung Gunung Baka, di tepian Kali Opak. Ia sama sekali tidak gentar menghadapi ujung tombak Sutawijaya, meskipun tombaknya sendiri sudah terlepas dari tangannya. Ia masih berani menantang agar anak muda itu membunuhnya. Baginya memang lebih baik mati daripada mengaku kalah.

Sikap itu kini masih juga terasa, meskipun nadanya sudah lain. Kini ia melihat kesalahan itu ada di dalam dirinya. Tetapi dengan jantan ia bertanggung jawab atas kesalahannya.

“Ki Argajaya,” berkata gembala itu “pada suatu saat Ki Argapati akan memanggilmu. Ia ingin berbicara langsung dengan kau sendiri.”

“Ia akan memberitahukan hukuman apakah yang dipilihnya untukku.” Ki Argajaya berhenti sejenak. Setelah menelan ludahnya ia meneruskan, “Kiai, akulah yang telah melakukan kesalahan ini. Karena itu, aku minta tolong kepadamu apabila Kiai masih sempat untuk menemukan anakku. Ia masih terlampau muda. Mungkin Kakang Argapati mau memaafkannya. Ia hanya sekedar hanyut saja ke dalam arus yang tidak dimengertinya.”

Gembala tua itu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Baik. Baiklah. Aku akan mencarinya. Mungkin orang-orang lain akan berusaha pula. Aku sendiri akan mengatakannya kepada Ki Argapati permintaan itu, agar anak itu tidak dipersalahkannya pula. Aku yakin bahwa Ki Argapati tidak akan berkeberatan. Bahkan secara umum Ki Argapati sudah menyerukan pengampunan bagi mereka yang menyerah. Tetapi bagi mereka yang melanjutkan perlawanan karena sikap putus asa, mereka akan benar-benar dihancurkan.”

Argajaya menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi dengan nada yang dalam ia bertanya, “Kakang Argapati menyerukan pengampunan umum bagi mereka yang melawannya selama ini?”

“Ya.”

Argajaya menarik nafas dalam-dalam.

“Ki Argapati tidak akan dapat membuat beratus-ratus tiang gantungan di alun-alun,” berkata gembala itu. “Tetapi ada nilai yang lebih tinggi dari kesulitan tiang gantungan itu. Ki Argapati memang memiliki jiwa besar. Ia melihat masa depan Tanah ini sebagai suatu kenyataan. Tetapi ia pun dapat bertindak tegas terhadap mereka yang mencoba merintangi usahanya.”

Argajaya masih tetap berdiam diri. Pandangan matanya jauh menyusup pintu yang tidak tertutup rapat. Sudah agak tama ia tersekap di dalam bilik yang sempit. Sepi dan sendiri. Sudah agak lama ia mendapat kesempatan mempertimbangkan keadaannya, apa yang sudah, sedang, dan akan dilakukan.

Dan karena Argajaya tidak segera menjawab, maka gembala itu pun berkata selanjutnya, “Ki Argajaya, sebenarnyalah bahwa Ki Argapati ingin mengetahui sikapmu sekarang, setelah kau merenung beberapa saat lamanya.”

Bagaimana pun juga, ternyata Ki Argajaya tetap seorang yang tinggi hati. Meskipun ia mengakui di dalam hatinya sampai ke segenap relung, namun ia menjawab, “Aku akan mengatakannya kepada Ki Argapati. Baik ia sebagai kakakku mau pun ia sebagai Kepala Tanah Perdikan yang telah mampu mempertahankan diri dari sebuah guncangan yang dahsyat. Aku akan mengatakan sikapku kepadanya. Tidak kepada siapa pun. Tidak kepadamu, Kiai. Karena kau bukan apa-apa di sini. Kau bukan pemimpin dan bukan tetua Tanah ini.”

Gembala tua itu mengerutkan keningnya.

“Jangan kau kira,” berkata Argajaya, “bahwa, tanpa kau, persoalan Tanah ini tidak akan dapat selesai. Kau sama sekali tidak kami perlukan di sini.”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian tersenyum. “Ya. Ya. Kau memang tidak memerlukan aku, kecuali untuk sekedar mencari anakmu yamg hilang. Tetapi aku tidak akan ingkar atas tugas kemanusiaan itu. Kalau aku dapat menemukannya, aku akan berusaha menolongnya. Menariknya dari arus yang telah kau sediakan sendiri untuk menyeret anakmu yang tidak bersalah itu.”

Wajah Argajaya menegang sejenak. Tiba-tiba tubuhnya serasa menjadi lemah. Kepalanya perlahan-lahan menunduk. Tetapi ia tidak mengatakan sepatah kata pun.

“Baiklah, Ki Argajaya,” berkata gembala itu, “aku akan menyampaikan semua pesanmu, semua jawabanmu dan semua yang aku ketahui kepada Ki Argapati.”

Argajaya masih tetap berdiam diri.

“Apakah kau masih mempunyai pesan?”

Argajaya seakan-akan acuh tidak acuh saja, meskipun tampak di wajahnya kekecewaan dan kegelisahan.

“Jadi, bagaimana?” bertanya gembala itu.

Ki Argajaya tetap tidak menjawab.

“Baiklah. Baiklah. Aku minta diri.”

Argajaya sama sekali tidak bergerak. Kepalanya pun tidak. Dibiarkannya saja gembala tua itu berjalan ke pintu yang tidak tertutup rapat.

Namun ketika tangan orang tua itu telah meraih daun pintu lereg, terdengar ia berkata, “Kiai. Aku tidak akan minta apa pun kepadamu, selain pesan tentang anakku.”

Gembala itu berbalik. Sebuah senyum membayang di wajahnya. “Aku akan berusaha.”

“Leherku sudah aku siapkan buat umpan tiang gantungan. Tetapi aku harap anak laki-laki itu tidak.”

“Aku akan berusaha.”

“Hem,” Argajaya menarik nafas dalam-dalam. Terdengar ia menggeram, “Kau terlampau berkuasa di sini Kiai. Sebenarnya kau harus menyingkir. Kau terlampau banyak ikut campur dalam persoalan kami.”

“Bukan maksudku, Ki Argajaya,” jawab orang tua itu, “tetapi aku justru telah mengorbankan diriku untuk menjadi pesuruh lengkap dari Ki Argapati. Dari mengobati lukanya sampai masalah-masalah keluarga seperti ini.”

“Bohong! Apakah yang telah kau tuntut daripadanya? Separo dari Tanah Perdikan ini? Sepertiga atau kau ingin salah seorang muridmu menjadi menantunya yang dengan demikian akan menjadi pewaris Tanah ini?”

“He?” gembala tua itu justru berdiri tegak dengan penuh keheranan. Sama sekali tidak terlintas di kepalanya tuntutan serupa itu. Separo Tanah ini atau menantu? Sambil menggelengkan kepalanya ia menjawab, “Pertanyaanmu aneh. Kau pasti pernah mendengar, apa yang aku dapatkan dari Pajang setelah aku dan murid-muridku membantu memecahkan padepokan Tambak Wedi? Kami mempertaruhkan nyawa kami tanpa pamrih.”

“Bohong!” Argajaya hampir berteriak. “Kau anggap kau berkelahi tanpa pamrih? Jangan kau kira aku tidak tahu Kiai. Kau ingin menyelamatkan Kademangan Sangkal Putung, kademangan ayah dari salah seorang muridmu. Kau ingin menyingkirkan Angger Sidanti dari Sekar Mirah, seorang gadis yang diinginkan oleh muridmu yang lain. Tanah dan Perempuan adalah lambang perjuangan laki-laki jantan. Katakan sekarang bahwa kau tidak mempunyai pamrih apa pun. Juga atas Tanah Perdikan ini? Aku yakin kau mempunyai pamrih serupa.”

Gembala tua itu mengerutkan keningnya. Kepalanya digeleng-gelengkannya, seolah-olah ia ingin meyakinkan dirinya sendiri atas kata-kata Argajaya itu.

“Eh, begitu bodoh aku ini,” katanya. “Sebagian memang benar. Tetapi terlampau murah untuk menilai seluruh perjuangan kami atas dasar itu, tanpa menilai sikap orang-orang yang bersembunyi di balik dinding padepokan Tambak Wedi.” Orang tua itu berhenti sejenak, lalu, “Apakah kau dapat menyebut pembebasan Sangkal Putung dan Sekar Mirah itu suatu pamrih?”

Argajaya terdiam. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan gembala itu. Apakah perjuangan untuk membebaskan Sangkal Putung dari ancaman Tambak Wedi dan pembebasan Sekar Mirah itu pamrih atau memang tujuan perjuangan mereka.

“Aku pun menjadi sangat bodoh,” desisnya di dalam hati.

“Sudahlah, sebaiknya kita tidak berbantah tentang lelucon-lelucon yang tidak kita pahami. Sekarang, aku akan menghadap Ki Argapati untuk melihat lukanya dan menyampaikan laporan.”

“Kiai,” tiba-tiba suara Argajaya merendah, “bagaimana dengan keadaan Sidanti sekarang?”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Dalam keadaannya itu Argajaya masih juga sempat bertanya tentang keadaan Sidanti. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya gembala itu menjawab, “Baik. Keadaannya cukup baik, meskipun ia harus tetap berada di tempatnya.”

Argajaya menundukkan wajahnya. Tetapi ia tidak bertanya apa pun lagi.

“Apakah Ki Argajaya masih mempunyai pesan tentang apa pun?”

Ki Argajaya menggeleng, tetapi tidak sepatah kata pun terlontar dari bibirnya.

“Baiklah. Aku akan minta diri. Kalau Ki Argajaya memerlukan sesuatu, di luar ada beberapa orang yang dapat kau panggil.”

“Aku sudah tahu,” tiba-tiba Argajaya menjawab lantang, “aku sudah tahu kalau seseorang yang ditahan pasti dijaga oleh beberapa orang. Mereka sama sekali tidak berada di situ, menyediakan diri melayani aku apabila aku memerlukan mereka. Tetapi mereka mengawasi kalau-kalau aku akan lari.”

Gembala itu menarik nafas. Katanya “Ya, begitulah kira-kira.”

“Kalau Kiai mau meninggalkan ruangan ini silahkanlah. Jangan mengatakan lelucon-lelucon yang tidak perlu lagi bagiku.”

Gembala itu mengangguk-angguk. “Baik. Baik. Aku memang terlampau banyak berbicara.”

Maka gembala itu pun kemudian meninggalkan ruangan yang suram itu. Ketika pintu kemudian ditutup dan diselarak, sekali lagi gembala itu menarik nafas dalam-dalam. Yang berada di dalam ruangan itu adalah adik Kepala Tanah Perdikan ini sendiri.

“Tetapi apa boleh buat. Semakin tinggi kedudukan seseorang, apabila ia berniat jahat, ia menjadi semakin berbahaya,” berkata gembala itu di dalam hatinya.

Ketika kemudian gembala itu menemui Argapati, selain untuk mengobati luka-lukanya, maka dikatakannya pula apa yang telah dibicarakannya dengan Argajaya. Seperti yang dipesankan Argajaya, gembala tua itu menyinggung pula tentang anak laki-laki yang mohon diampunkan segala kesalahannya.

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia selama ini tidak pernah membeda-bedakan sikap kepada siapa pun yang bersalah, tetapi ketika yang bersalah itu adalah adiknya sendiri, maka dadanya pun serasa diguncang-guncang. Apalagi dada itu masih terasa pedih karena luka yang masih cukup parah.

“Baiklah, Kiai,” berkata Ki Argapati, “betapa pun beratnya, adalah kewajibanku untuk menyelesaikannya.”

“Kemudian juga masalah Sidanti, Ki Gede,” berkata gembala itu.

Ki Argapati terdiam sejenak. Tatapan matanya yang lurus ke atas, serasa akan menembus langit-langit yang terbentang di atas pembaringannya.

“Temuilah anak itu, Kiai,” berkata Ki Argapati tiba-tiba. “Aku minta tolong. Tidak ada orang lain yang dapat aku percaya.”

Belum lagi gembala itu menjawab, terdengar Pandan Wangi menyahut, “Aku dapat melakukannya, Ayah.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kau memang dapat melakukannya, Pandan Wangi. Tetapi kita belum dapat menjajagi perasaan Sidanti sekarang.”

“Biarlah aku menemuinya.”

“Kau dapat menemuinya kemudian.”

“Biarlah aku yang pertama-tama menemuinya, Ayah. Sebelum orang lain. Aku berharap bahwa Kakang Sidanti dapat mengatakan isi hatinya kepadaku. Karena aku adalah adiknya.”

Sesuatu terasa berdesir di dada orang tua itu. Pandan Wangi, satu-satunya anak yang diharapkan mewarisi Tanah Perdikan ini memang adik Sidanti. Tetapi, setelah Sidanti membakar Tanah Perdikan ini menjadi abu, semakin terasa olehnya, jarak yang terbentang di antara mereka.”

“Bagaimana, Ayah? Apakah Ayah lebih percaya kepada orang lain daripada kepadaku?”

Ki Argapati tidak mancegahnya lagi. Meskipun demikian ia berkata, “Baiklah Pandan Wangi. Kau dapat mengunjunginya. Tetapi untuk kebaikanmu sendiri, biarlah gembala itu mengikutimu.”

“Apakah gunanya?”

“Tidak apa-apa. Itu hanya sekedar sikap hati-hati.”

“Kakang Sidanti tidak akan berbuat apa-apa kepadaku. Aku yakin.”

“Tetapi apakah salahnya orang itu menyaksikan pertemuanmu dengan Sidanti.”

Pandan Wangi merenung sejenak. Kemudian ia menganggukkan kepalanya. “Baiklah. Apa boleh buat, apabila ayah menghendaki.”

Pandan Wangi pun kemudian minta diri kepada ayahnya sejenak untuk menemui kakaknya, Sidanti, yang berada di ujung lain dari ruangan tengah itu.

“Tolong, Kiai, amatilah anak-anak itu.”

Gembala itu mengangguk, “Baiklah, Ki Gede. Aku akan mengamati mereka. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu, karena tampaknya mereka sangat baik.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berdesis, “Itulah yang membuat kepalaku selama ini menjadi semakin pening.”

Gembala tua itu pun kemudian meninggalkan bilik Ki Argapati pula mengikuti Pandan Wangi. Ia masih melihat Pandan Wangi berbicara dengan para pengawal yang bertugas menjaga Sidanti.

“Apakah Ki Argapati sudah mengijinkan?” salah seorang dari mereka bertanya.

“Tentu. Aku mendapat perintah dari ayah untuk menemuinya.”

Pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Silahkan.”

“Aku juga,” sela gembala tua yang sudah berdiri di belakang para pengawal itu.

Pandan Wangi pun kemudian membuka selarak pintu bilik itu. Tetapi tanpa disangka-sangka, pintu itu tiba-tiba telah terbuka. Sidanti sudah siap menyerang siapa saja yang berada di muka pintu. Seperti seekor harimau lapar ia meloncat menerkam Pandan Wangi.

Pandan Wangi tidak menyangka, bahwa Sidanti akan berbuat demikian, sehingga karena itu, ia sama sekali tidak bersiap menghadapinya.

Meskipun demikian Pandan Wangi telah terlatih lahir dan batinnya menghadapi setiap persoalan. Meskipun ia tidak bersiap sama sekali, namun gerak naluriahnya telah melemparkannya selangkah ke samping secepat terkaman Sidanti. Namun demikian, tangan Sidanti masih berhasil mengenai pundaknya, sehingga gadis itu terdorong beberapa langkah surut. Dengan susah payah ia berusaha, untuk tetap tegak dan menguasai keseimbangannya.

Para pengawal yang melihat peristiwa itu pun segera berloncatan memencar dengan senjata masing-masing. Mereka sadar bahwa Sidanti adalah seorang yang berilmu tinggi. Apalagi dalam keadaan serupa itu.

Namun ternyata Sidanti tidak dapat berbuat terlampau banyak. Ketika ia akan menyerang para pengawal, maka terasa sebuah telapak tangan melekat di tengkuknya. Dengan tangkasnya ia merendahkan dirinya, berputar pada lututnya sambil memukul tangan yang sudah mencengkam tengkuknya itu. Namun ia tidak berhasil. Tiba-tiba saja terasa seakan-akan seluruh sendi-sendinya terlepas, dan Sidanti itu pun kehilangan tenaganya.

“Jangan terlampau bernafsu, Ngger,” desis gembala tua itu.

Sidanti masih mencoba untuk tetap berdiri di atas kedua kakinya. Dengan suara gemetar ia menjawab, “Apakah kau masih tidak puas dengan segala campur tanganmu di mana pun, he tua bangka?”

Gembala tua itu tidak menjawab. Dibimbingnya Sidanti untuk kembali ke dalam biliknya. Kemudian diletakkannya ia di pembaringannya.

“Pergi, pergi kau!” anak muda itu membentak. Tetapi gembala tua itu masih tetap berdiri di tempatnya.

“Pergi kataku!” Sidanti berteriak.

“Tenanglah, Ngger. Sebaiknya Angger mencoba menenangkan diri sejenak. Adikmu, Angger Pandan Wangi ingin bertemu.”

Sidanti mengerutkan keningnya. Ketika ia memandangi pintu, ia melihat Pandan Wangi berdiri tegak dengan kaki renggang dan sepasang pedang di lambungnya.

“Kau akan membunuh aku?” bertanya Sidanti dengan kasar.

Tampaklah wajah gadis itu menjadi terlampau muram. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa demikianlah sambutan kakaknya atas kedatangannya.

Perlahan-lahan ia menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak, Kakang. Aku sekedar ingin melihat keadaan Kakang di sini.”

“Sambil menengadahkan dada menyorakkan kemenanganmu?”

“Sama sekadi tidak, Kakang. Sama sekali tidak. Tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah di antara kita berdua. Bagaimana pun akhirnya, kita tinggal menemukan Tanah Perdikan ini yang telah menjadi abu.”

“Dan kau akan menyalahkan aku? Kau akan menuduh akulah yang menyebabkan Tanah Perdikan ini kini menjadi hancur? Kau akan menunjuk hidungku sambil berkata, bahwa aku adalah seorang pengkhianat.”

Pandan Wangi menggeleng. Tetapi tampak keragu-raguan membayang di wajahnya, meskipun mulutnya berkata, “Tidak, Kakang.”

“Bohong! Jangan mencoba menipu aku. Meskipun kau menggeleng dan mulutmu berkata ‘tidak,’ tetapi sorot matamu tidak dapat kau pungkiri.

Pandan Wangi menjadi bingung. Bagaimana ia menghadapi kakaknya yang kini seakan-akan menjadi sangat asing, baginya.

“Kakang,” Pandan Wangi mencoba membujuknya, “marilah kita melupakan apa yang sudah terjadi. Aku akan minta agar ayah pun mau melupakannya. Marilah kita menghadapi masa depan dengan tekad baru. Reruntuhan ini seharusnya kita tegakkan kembali.”

“Huh,” Sidanti mencibirkar bibirnya, “aku bukan anak-anak yang dapat kau bujuk dengan sepotong gula kelapa.” Tiba-tiba Sidanti berteriak, “Ayo, katakan kepada Argapati, kepada ayahmu itu. Kalau ia akan membunuh aku, cepatlah dikerjakan. Aku sudah siap.”

“Jangan berpikir begitu, Kakang. Ayah tidak akan melakukannya.”

“Omong kosong! Ayah itu adalah ayahmu. Bukan ayahku. Ia tidak akan memperlakukan kau seperti memperlakukan aku. Lihat, aku sudah dikurungnya seperti kambing di dalam kandang yang kotor pengap ini.”

“Tetapi bukan maksudnya. Ruangan rumah ini tidak ada yang tidak kotor, Kakang. Semua bilik-biliknya seperti bilik hantu.”

“Dan akulah yang mengotorinya, setelah rumah ini aku duduki beberapa lama. Begitu maksudmu?”

Pandan Wangi menarik nafas. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa ia akan berhadapan dengan Sidanti yang lain sama sekali dari Sidanti yang dikenalnya.

“Benar juga kata ayah,” berkata gadis itu di dalam hatinya, “dan benar juga gembala tua itu. Kalau ia tidak mengawani aku, mungkin Kakang Sidanti telah berbuat sesuatu di luar dugaan. Setidak-tidaknya ia akan berusaha melarikan dirinya kembali.”

Pandan Wangi terperaujat ketika tiba-tiba Sidanti berkata lantang, “Tinggalkan aku sendiri.”

“Kakang,” berkata Pandan Wangi. Ia masih berusaha untuk yang terakhir kalinya, “Orang lain pun akan diampuni. Apalagi kau. Tanah ini memerlukan apa saja yang dapat membantu menegakkannya kembali. Apalagi tenagamu, Kakang.”

“Diam! Diam kau perempuan celaka. Kau selalu berbicara tentang ayahmu. Kau sangka aku tidak tahu, bahwa kami, yang kalian anggap tawanan itu akan kalian pekerjakan seperti sapi dan lembu? Aku tidak mau. Lebih baik aku dibunuh daripada aku harus merangkak menarik bajak.”

“Kau keliru, Kakang.”

“Pergi! Pergi kau dari sini! Pergi! Kau juga tua bangka. Aku tidak memerlukan kalian sama sekali.” Tiba-tiba Sidanti berusaha untuk bangkit, sambil mengepalkan tinjunya. Tetapi ia terduduk kembali. Ternyata kekuatannya masih belum pulih sama sekali, sehingga hanya matanya sajalah yang seakan-akan menyala membakar seluruh ruangan.

Pandan Wangi dan gembala tua itu masih berdiri termangu-mangu di tempatnya. Kini mereka benar-benar dihadapkan pada kekerasan hati Sidanti. Ia sama sekali tidak mau melihat kenyataan yang dihadapinya, yang justru semuanya itu telah membuat hatinya menjadi semakin gelap.

Bayangan-bayangan yang hitam selalu merupakan kabut yang menghantuinya. Ia samta sekali tidak dapat melihat, apa yang akan terjadi di hari-hari mendatang. Karena itulah maka Sidanti itu berbuat berlebih-lebihan di dalam kelam.

Pandan Wangi akhirnya merasa, bahwa saatnya masih tidak tepat untuk dapat berbicara dengan baik. Hati Sidanti sama sekali masih belum terbuka. Karena itu, ketika Sidanti sekali lagi berteriak mengusirnya, ia berkata, “Baik, Kakang. Aku akan pergi.”

Bersama gembala tua itu, akhirnya Pandan Wangi meninggalkan bilik Sidanti. Sementara kemudian Sidanti mendengar slarak pintu bergerit di luar.

Suara itu tiba-tiba saja telah membangkitkan kemarahan yang tidak tertahankan lagi. Dengan serta-merta ia meloncat tertatih-tatih ke arah pintu yang tertutup rapat. Dengan sisa-sisa tenaganya ia memukul pintu itu sekuat-kuatnya. Tetapi kekuatannya memang belum pulih kembali. Karena itu luapan perasaan yang tidak terkendali itu telah membuatnya seakan-akan kehilangan kesadaran.

Ketika ia menghentakkan dirinya, menghantam pintu itu sekali lagi, maka seluruh sisa-sisa kekuatannya yang memang belum pulih itu seakan-akan telah terkuras habis, sehingga perlahan-lahan Sidanti terjatuh di muka pintu. Meskipun tangannya mencoba meraih dan berpegangan uger-uger, tetapi akhirnya dengan lemahnya ia terduduk bersandar dinding.

“Dukun gila. Ia telah menyihir aku, sehingga aku kehilangan sebagian dari kekuatanku,” ia menggeram.

Dalam pada itu, gembala tua itu masih berdiri di luar pintu. Dengan dada yang berdebar-debar ia mendengar usaha Sidanti untuk memecah pintu. Bahkan para pengawal pun telah siap dengan senjata masing-masing, sedang Pandan Wangi berdiri dengan penuh kebimbangan beberapa langkah dari pintu yang berderak-derak itu. Namun setiap kali perasaan seorang gadis telah menyentuh-nyentuh jantungnya. Yang berada di dalam bilik yang kotor pengap itu adalah kakaknya. Kakak yang baik baginya sejak kanak-kanak. Tetapi keadaan dan jalan yang bersimpangan telah membuat mereka berhadapan.

Ketika bilik itu seakan-akan sudah menjadi tenang, maka gembala tua itu pun berdesis, “Sudahlah, Ngger, tinggalkan bilik ini. Kembalilah kepada Ki Argapati. Mungkin Ki Argapati memerlukan minum atau pelayanan apa pun.”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya. “Baik, Kiai.”

“Biarlah aku untuk sementara tinggal di sini,” berkata gembala tua itu.

Pandan Wangi pun kemudian meninggalkan pintu bilik itu dengan kepala tunduk. Perlahan-lahan ia berjalan di ruang tengah, menuju ke bilik ayahnya. Kini ia melihat, bahwa ayahnya memang bersikap hati-hati. Bukan sekedar didorong oleh kemarahannya kepada Sidanti sajalah ia membatasi dan mengawasi anak itu dengan sangat ketat. Tetapi Sidanti memang berbahaya.

Demikian ia memasuki bilik ayahnya, terdengar ayahnya bertanya, “Kau tidak apa-apa, Pandan Wangi?”

Pandan Wangi menjadi heran mendengar pertanyaan itu, seolah-olah ayahnya melihat apa yang baru saja terjadi.

Karena Pandan Wangi tidak segera menyahut, maka Ki Argapati melanjutkannya, “Aku mendengar lamat-lamat suara Sidanti berteriak-teriak. Apakah ia marah karena kunjunganmu yang dianggapnya menghina?”

Pandan Wangi menundukkan kepalanya. Kini ia semakin yakin, bahwa ayahnya mengenal Sidanti lebih baik daripadanya.

Perlahan-lahan maka ia pun menjawab, “Ya, Ayah.”

“Aku sudah menduga. Itulah sebabnya, aku semula mencegahmu untuk menemuinya.”

Kepala Pandan Wangi pun menjadi semakin menunduk.

“Anak yang keras dan tinggi hati itu tidak akan dapat mengerti perasaanmu. Kau pasti disangkanya datang untuk mengatakan bahwa kau telah menang, dan Sidanti telah kalah. Atau bahkan lebih daripada itu, kau dianggapnya akan berbuat sewenang-wenang saja atasnya.”

“Ya, Ayah,” desis Pandan Wangi hampir tidak terdengar.

Ayahnya yang sedang sakit itu ternyata dapat membaca perasaan kedua kakak-beradik itu meskipun tidak tepat benar.

“Pandan Wangi,” berkata Ki Argapati kemudian, “kalian berdua memang terlampau dilibat oleh perasaan kalian, sehingga suasana yang terjadi justru sebaliknya dari yang kalian harapkan. Kau selalu dicengkam oleh perasaan seorang adik yang baik, yang merasa berhutang budi dan barangkali kau ingin menunjukkan bahwa kau adalah seorang adik. Sementara itu Sidanti dibayangi oleh kegagalan-kegagalan yang dialaminya. Kematian orang-orang terdekat dan justru perasaan bersalah di dasar hatinya. Tetapi ia ingin meniadakan perasaan-perasaan itu, sehingga ledakan-ledakan yang demikian akan terjadi.”

Pandan Wangi mengangguk-angguk kecil.

“Kalau aku sudah berangsur baik, Wangi,” berkata Ki Argapati, “aku akan memanggil pamanmu Argajaya dan Sidanti berganti-ganti. Aku ingin berbicara langsung dengan mereka satu-persatu. Apakah aku masih dapat mengharapkan mereka, atau tidak sama sekali. Kalau aku masih dapat berharap tentang mereka, biarlah mereka mendapat kesempatan untuk ikut membangun kembali reruntuhan Tanah Perdikan yang parah ini. Tetapi kalau tidak, apa boleh buat. Mereka tidak boleh justru menjadi penghalang yang selalu mengganggu kerja kami saja.”

“Jika demikian, apakah yang akan Ayah lakukan atas mereka? Apakah mereka akan dihukum mati?”

Argapati menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya “Aku belum memikirkannya sampai begitu jauh. Tetapi setidak-tidaknya mereka harus dikurung dalam sangkar yang kuat untuk waktu yang tidak terbatas. Sebab kami yakin, bahwa kami tidak akan dapat mempergunakan tenaga Gupala dan Gupita terus-menerus. Pada suatu saat mereka pasti akan meninggalkan Tanah Perdikan ini.”

Series 48

PANDAN WANGI menundukkan kepalanya. Sudah terbayang di pelupuk matanya, ayahnya membangun sebuah penjara khusus bagi pamannya Argajaya dan kakaknya Sidanti. Bangunan yang kuat, dipagari oleh papan-papan yang tebal dan deriji-deriji kayu yang besar. Sepasukan pengawal pilihan yang akan mengawasinya siang dan malam, siap dengan senjata masing-masing.

“Sampai kapan?” ia berdesis di dalam hatinya. Ketika terkilas wajah ayahnya yang pucat, maka terbayanglah penderitaan batin orang tua itu, di masa mudanya, pada saat Arya Teja yang baru saja memasuki jenjang perkawinn dengan Rara Wulan. Namun kemudian ternyata bahwa semua impiannya telah buyar, karena merasa telah dikhianati oleh perempuan itu. Dan perempuan itu kemudiam melahirkan Sidanti.

Kepala Pandan Wangi menjadi semakin tunduk. “Wajar sekali apabila ayah sangat membenci Ki Tambak Wedi dan mungkin juga Kakang Sidanti,” katanya pula di dalam hatinya.

“Wangi,” Pandan Wangi terkejut ketika ayahnya menyebut namanya, “sudahlah. Jangan tercengkam oleh keadaan Sidanti itu. Kau akan kehilangan waktu, tenaga dan pikiran yang justru kini sangat diperlukan oleh Tanah Perdikan ini.”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya. “Ya, Ayah. Aku mengerti.”

“Nah, karena itu, aku percayakan saja pamanmu dan kakakmu kepada mereka yang mendapat beban untuk itu. Lakukanlah tugas-tugasmu yang lain bersama pamanmu Samekta dan Kerti yang barangkali kini masih nganglang membersihkan seluruh Tanah Perdikan ini dari mereka yang berkeras hati dan berkeras kepala, bahkan mereka yang berputus asa. Kita harus membersihkan diri dahulu, dan barulah kita mulai membangun Tanah.”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya. “Ya, Ayah.”

“Aku pun sudah menjadi semakin baik, Wangi. Kau tidak usah menunggui aku seperti kemarin. Mintalah dua orang pengawal yang dapat dipercaya, dan suruhlah ia berada di sini. Mungkin aku memerlukan minum atau makan atau keperluan-keperluan apa pun.”

“Baik, Ayah.”

“Kau dapat keluar dari ruangan ini, melihat reruntuhan Tanah Perdikanmu. Dengan demikian mungkin dapat tumbuh gagasan-gagasan yang akan sangat bermanfaat bagi Tanah ini. Tetapi di dalam ruangan ini angan-anganmu seakan-akan terkunci oleh dinding-dinding yang mati.”

Pandan Wangi mengangguk pula dan menjawab, “Ya, Ayah.”

“Nah, pergilah ke luar untuk melihat-lihat,” berkata ayahnya pula. “Kalau kau selalu berada di ruangan ini kau tidak ubahnya seperti pamanmu Argajaya dan kakakmu Sidanti. Mungkin kau akan segera jemu, meskipun tanpa kau sadari, sehingga kau pun dapat berangan-angan jauh ke dunia yang asing, Kadang-kadang ada baiknya, tetapi kadang-kadang memang dapat menumbuhkan keinginan yang kurang pada tempatnya.”

“Baik, Ayah.”

“Jangan lupa, suruhlah dua orang pengawal mengawani.”

“Baik, Ayah.”

“Sementara Samekta dan Kerti masih sibuk, dalam masalah yang penting, kau dapat berbicara dengan gembala tua itu.”

Sekali lagi Pandan Wangi menganggukkan kepalanya. “Baik, ayah”.

Pandan Wangi pun kemudian melangkah ke luar. Dua pengawal terpilih yang memang sudah disiapkannya, disuruhnya memasuki bilik ayahnya, untuk menjaga dan melayaninya.

“Kemana Ngger?” bertanya gembala tua yang melihatnya keluar ruang dalam.

“Aku akan sekedar melepaskan ketegangan, Kiai.”

“Bagus. Bagus. Itu perlu sekali bagi Angger, yang selama ini seakan-akan selalu dicengkam oleh suasana yang tidak menentu. Sekali-sekali Angger Pandan Wangi memang harus melihat cerahnya matahari, hijaunya dedaunan dan silir angin di bawah pepohonan.

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Sambil melanjutkan langkahnya ia menjawab, “Ya, Kyai, supaya jantungku tidak meledak karenanya.”

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menyahut lagi. Ia sadar, bahwa Pandan Wangi selalu diganggu oleh kekesalan hati selama ini. Karena itu maka ia pun kemudian kembali duduk di antara para pengawal yang mengawasi pintu bilik Sidanti di bagian dalam.

Di ujung gandok, Gupala berbaring sambil mendendangkan lagu macapat. Lamat-lamat. Suaranya memang tidak begitu baik, tetapi ungkapannya berhasil menyentuh perasaasn pendengarnya. Beberapa orang pengawal yang mendengar suara tembangnya itu pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Bahkan ada di antara mereka yang bergumam, “Ah, anak muda yang gemuk itu membuat aku mengantuk.”

Tetapi Gupala berlagu terus perlahan-lahan. Di sampingnya Gupita duduk sambil menggosok tangkai cambuknya yang melilit di lambung, dengan angkup keluwih.

Langkah Pandan Wangi tertegun ketika telinganya tersentuh suara tembang di kejauhan. Lamat-lamat saja. Tanpa sesadarnya langkahnya seakan-akan dituntun oleh getaran suara Gupala yang menyusuri halaman. Satu-satu langkah Pandan Wangi membawanya berjalan di sepanjang emper gandok menyusup regol samping masuk ke dalam longkangan tengah, kemudian lewat sebuah pintu ia sampai ke ujung belakang gandok.

Pandan Wangi terhenti ketika tiba-tiba ia melihat Gupita yang duduk tepekur sambil menggosok-gosok tangkai cambuknya di samping Gupala yang berbaring sambil berdendang.

“He,” tiba-tiba saja dendang Gupala terputus, “marilah,” sapa Gupala dengan serta-merta. “Apakah kau mendapat tugas untuk melihat tawanan kami?”

Gupita pun kemudian mengangkat wajahnya. Dilihatnya Pandan Wangi berdiri kaku sambil menundukkan kepalanya. Sementara beberapa orang pengawal yang bertebaran di halaman kebun belakang sama sekali tidak menghiraukannya. Mereka duduk terkantuk-kantuk dan bahkan ada yang tidur mendekur bersandar pepohonan.

Gupala pun segera bangkit dan duduk, di samping Gupita. Sejenak dipandanginya saja wajah gadis yang tunduk itu. Sesaat kemudian ia berpaling ke arah Gupita yang masih juga berdiam diri.

Tiba-tiba suasana menjadi kaku, seperti tiang-toang serambi gandok yang tegak tanpa bergerak sama sekali.

Demikian juga ketiga anak-anak muda itu. Gupala, Gupita, dan Pandan Wangi yang masih berdiri.

Namun kekakuan itu kemudian dipecahkan oleh suara teriakan Gupala. Sambil berdiri ia berkata, “He, kenapa tiba-tiba saja kita seperti dicekik hantu.” Kemudian kepada Pandan Wangi ia berkata, “Marilah, barangkali kau membawa perintah atau berita atau kau akan bersama-sama berdendang dengan kami di sini?”

Pandan Wangi tidak menyahut. Tetapi ketika tampak olehnya solah anak yang gemuk itu, maka ia pun tersenyum.

“Ha, kau sudah tarsenyum,” berkata Gupala. Tetapi kata-katanya terputus karena Gupita menggamitnya.

Tetapi tanpa ragu-ragu Gupala malahan bertanya, “Kenapa? Apakah aku salah? Maksudku, aku ingin mempersilahkannya.”

“Hus,” desis Gupita, “kenapa kau? Aku tidak melarangmu.”

“Tetapi kau menggamit aku.”

Gupala mengerutkan keningnya. Dan sekali lagi ia melihat Pandan Wangi tersenyum.

“Kalau begitu,” berkata Gupala selanjutnya, “marilah. Duduklah di sini.”

Pandan Wangi masih berdiri di tempatnya.

“Kita bercakap-cakap,” berkata Gupala. “Tetapi, apakah kau sedang bertugas?”

Pandan Wangi menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku tidak sedang bertugas apa pun.”

“Bagus. Duduklah. Kita berbicara tentang banyak hal. Tentang yang tidak menjemukan seperti kerjaku selama aku di sini. Menunggui sangkar yang meskipun berisi, tetapi tidak pernah berkicau.”

“Hus,” sekali lagi Gupita berdesis. Dan tiba-tiba saja wajah Pandan Wangi berkerut.

Perlahan-lahan Gupita berbisik, “Bukankah orang itu pamannya.”

“O,” Gupala menjadi gelisah, “tidak. Maksudku, bukan orang ini yang berkicau. Aku memang senang sekali burung. Dan aku ingin memelihara seekor burung di dalam sangkar, supaya berkicau setiap saat.”

Mau tidak mau Pandan Wangi terpaksa tersenyum pula. Hampir tanpa disadarinya ia melangkah maju mendekati kedua anak-anak muda itu. Sekilas dilihat wajah keduanya. Gupita yang tenang datar dan Gupala yang riang dan cerah.

“Keduanya pasti bukan saudara seperti yang mereka katakan,” berkata Paadan Wangi di dalam hatinya. “Keduanya pasti bukan anak gembala yang luar biasa itu. Aku kira keduanya adalah murid-muridnya. Saudara seperguruan.”

Tetapi langkah Pandan Wangi tertegun. Ia berdiri beberapa langkah dari kedua anak-anak muda itu ketika tiba-tiba Gupala bertanya, “Ataukah kau akan melihat-lihat seluruh halaman rumah ini? Marilah aku tunjukkan, barangkali kau ingin melihat apa yang ada di seputar rumah yang sudah tidak terpelihara lagi ini.”

Tetapi sekali lagi kata-kata Gupala terputus ketika Gupita berkata, “Rumah ini rumah Ki Argapati, ayah Pandan Wangi. Kalau kau ingin melihat-lihat, Pandan Wangi-lah yang seharusnya yang mengantar kau.”

“O,” Gupala menjadi semakin gelisah, “lalu, apa yang akan aku lakukan?”

Sekali lagi Pandan Wangi harus tersenyum melihat tingkah laku Gupala. Namun dengan demikian ia menjadi semakin mengenal jiwanya. Jiwanya yang selama ini tertekan oleh berbagai masalah, kesungguhan yang berlebih-lebihan. Lingkungan keluarga yang mengecewakannya setelah ia mengetahui keadaannya yang sebenarnya, perang dan ketegangan di bilik ayahnya yang sakit, maka sikap Gupala benar-benar merupakan kelainan yang segar. Itulah sebabnya, perasaan Pandan Wangi seolah-olah terbuka. Apalagi setelah diketahuinya bahwa api di bukit menorah yang lengkap ternyata ada di padepokan adbmcadangan dotwordpress dotcom. Angin yang silir telah menyusup ke pusat jantungnya. Kedua anak-anak muda itu memberikan nafas yang berbeda dari kehidupannya sehari-hari.

“Atau, kalau begitu,” Gupala tergagap, “duduklah di sini. Di dalam bilik ini tersimpan Ki Argajaya. Selama ini kami mendapat tugas untuk menungguinya siang dan malam. Berganti-ganti. Kadang-kadang harus berdua. Dan Tanah Perdikan ini serasa terlampau sepi bagi kami.”

“Kenapa terlampau sepi?” tiba-tiba Pandan Wangi bertanya.

“Di sini tidak ada penari, penabuh gamelan yang cakap dan tidak ada pula tayub yang meriah.”

“Hus,” desis Gupita.

Pandan Wangi kini tertawa. Katanya, “Tentu ada. Kalau keadaan tidak sepanas ini, kau dapat melihat gadis-gadis Menoreh menari diiringi oleh para penabuh yang cakap. Tetapi ayah memang tidak suka pada tayub.”

Gupala mengangguk, “Benar. Aku juga tidak suka, ayah juga tidak suka. Bahkan melarang tayub di wilayahnya.”

“Siapakah ayahmu?” tiba-tiba Pandan Wangi bertanya, “apakah bukan gembala tua itu?”

Sekali lagi Gupala tergagap. Sejenak ia terbungkam. Namun kemudian ia tertawa, “Tentu saja, ayah memang melarang tayub di wilayahnya. Wilayah ayahku memang tidak mungkin menyelenggarakan tayub karena rakyatnya terdiri dari kambing-kambing.”

Ketiganya tidak dapat menahan tertawa lagi. Gupita, Gupala, dan bahkan Pandan Wangi. Sejenak Pandan Wangi dapat melupakan kepahitan yang selama ini tersimpan di dalam hatinya tentang berbagai masalah yang serasa bertimbun-timbun di dalam dadanya.

Tanpa sesadarnya Pandan Wangi pun kemudian duduk di antara mereka. Wajahnya yang selalu suram itu menjadi cerah. Dan wajah Pandan Wangi yang cerah, adalah wajah yang menyentuh perasaan anak muda yang gemuk itu sampai ke pusat jantung.

Meskipun pembicaraan ketiga anak-anak muda itu masih belum terlampau lancar, namun pembicaraan yang berbeda dari pembicaraan yang setiap hari mencengkam perasaan Pandan Wangi itu, telah berhasil membuatnya sedikit gembira. Kadang-kadang ia tersenyum dan bahkan kadang-kadang ia tertawa.

Ternyata selingan yang demikian itu sangat dibutuhkan oleh Pandan Wangi. Terasa kesegaran merayapi dadanya. Seperti pada saat-saat ia pergi berburu bersama Kerti di hutan-hutan yang tidak terlampau lebat, selagi Tanah ini masih belum dibakar oleh api pertentangan di antara keluarga sendiri.

Dengan demikian, maka di hari-hari berikutnya Pandan Wangi kadang-kadang memerlukan menemui kedua gembala-gembala muda itu untuk sekedar berbicara tentang apa saja. Tentang Tanah Pendikan Menoreh, tentang bukit-bukit kapur, Sungai Praga dan tentang hutan perburuan yang menyenangkan.

“Apakah kau mau menunjukkan hutan itu kepadaku?” bertanya Gupala.

“Tentu,” jawab Pandan Wangi, “tetapi tidak sekarang.”

“Apakah salahnya kalau kita sekarang atau besok pergi ke sana?” bertanya Gupala.

“Tentu tidak mungkin.”

“Besok kita berangkat pagi-pagi benar, supaya sebelum tengah hari kita sudah kembali.”

Pandan Wangi menggelengkan kepalanya, “Aku tidak sampai hati meninggalkan Ayah yang terluka itu sekedar untuk melihat-lihat hutan perburuan.”

Gupala mengerutkan keningnya. Tetapi kepalanya kemudian terangguk-angguk. Katanya kemudian, “Aku pun tidak dapat meninggalkan pintu sangkar batu itu.”

“Hus,” desis Gupita.

“Maksudku, pintu yang tentu tidak disukai oleh penghuni ruangan itu.”

Pandan Wangi tidak menyahut.

“Tetapi sampai kapan aku harus berada di sini?”

“Tidak terlampau lama. Ayah akan membangun ruangan-ruangan yang kuat untuk menyimpan Paman dan Kakang Sidanti.”

“Kapan?”

“Ayah ingin berbicara dahulu dengan Paman dan Kakang Sidanti. Kalau mereka bersedia membantu ayah, maka ayah tidak akan merasa perlu membangun sangkar-sangkar itu.”

“Kalau tidak?”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Namun Gupala segera berkata, “Baiklah. Kita berbicara tentang hal lain lagi. Sudah tentu yang tidak menyangkut masalah-masalah yang tidak kau sukai.”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya.

Dan Gupala pun kemudian berusaha untuk berbicara tentang masalah-masalah yang sama sekali tidak penting, namun yang dengan demikian dapat mengurangi ketegangan hati Pandan Wangi.

Namun pertemuan yang sering terjadi itu, telah memahat hati Gupala menjadi semakin dalam. Kadang-kadang anak yang pada umumnya selalu bergembira itu menjadi perenung. Kadang-kadang ia duduk sambil memandang jauh menerawang ke ketiadaan.

Gupita segera dapat menangkap perasaan adik seperguruannya. Kali ini agaknya Gupala tidak bergurau. Ia benar-benar telah terpikat oleh gadis Tanah Perdikan Menoreh.

Kadang-kadang hati Gupita sendiri menjadi berdebar-debar tanpa sebab. Sekilas membayang senyum Pandan Wangi yang tertahan-tahan di dalam kepahitan perasaan, setelah ia mengalami guncangan-guncangan yang tidak terkirakan.

Tetapi Gupita adalah seorang anak muda yang sudah terlampau biasa menahan hati. Ia merasa bahwa ia tidak berhak lagi untuk menilai kecantikan gadis Menoreh itu. Ia tidak mau ingkar pada kesediaannya untuk mengikatkan diri kepada seorang gadis yang ditinggalkannya di Sangkal Putung.

Karena itu, Gupita mencoba untuk bersikap lebih dewasa dari Gupala menghadapi persoalannya. Sehingga ia berusaha untuk menjauhkan segala kesan tentang perasaannya sendiri atas gadis itu. Itulah sebabnya, kini ia menyimpan serulingnya. Ia hampir tidak pernah lagi meniup seruling itu. Setiap nada yang dilontarkan oleh serulingnya akan dapat menimbulkan getaran-getaran hati yang paling tersembunyi sekalipun. Apalagi ia sadar, bahwa Pandan Wangi pun tertarik pula kepada nada-nada serulingnya itu.

“Kakang,” pada suatu kali Gupala berkata dengan wajah yang bersungguh-sungguh kepadanya, “apakah Kakang Gupita mau menolong aku?”

Gupita menjadi heran. Karena itu maka ia bertanya, “Apakah yang harus aku tolong?”

Gupala menelan ludahnya. Kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya seakan-akan hendak mengusir kenangan yang tidak dikehendakinya.

“Tetapi aku tidak tahu, apakah Guru setuju atau tidak.”

“Apa?”

“Kakang,” suara Gupala menjadi semakin lambat.

“He, jangan seperti orang yang kelaparan. Aku tidak mendengar lagi suaramu.”

Gupala menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi sangat gelisah, sehingga keringat dinginnya mengalir membasahi leher dan punggungnya.

“Katakan Gupala. Kalau aku dapat membantumu, aku akan membantu.”

“Ya, ya. Aku percaya.”

“Tetapi aku tidak tahu, apa yang harus aku lakukan untuk membantumu. Apa kesulitanmu dan apakah keinginanmu.”

“Tetapi apakah guru tidak akan marah?”

“Kalau masalahnya masalah yang wajar, guru tentu tidak akan marah. Tetapi apa itu, katakanlah supaya aku dapat memberitahukan pertimbangan.”

“Itulah.”

“Kenapa itulah? Kau belum mengatakan apa-apa.”

Gupala menjadi semakin gugup. Kini keringatnya sudah menitik dari keningnya.

Beberapa kali bibirnya bergerak-gerak seakan-akan hendak mengucapkan sesuatu, tetapi suaranya ditelannya kembali sebelum terucapkan.

Gupita melihat kegelisahan yang mencengkam adik seperguruannya itu. Meskipun ia belum pasti, tetapi ia dapat meraba apakah yang akan dikatakan oleh Gupala. Anak itu pada dasarnya tidak ragu-ragu untuk berbuat sesuatu. Ia berkata apa yang ingin dikatakannya, dan kadang-kadang ia melakukan apa saja yang menarik baginya tanpa pertimbangan. Tetapi tiba-tiba ia menjadi gelisah, bimbang dan seakan-akan tidak menentu lagi.

“Gupala,” berkata Gupita sareh, “tenangkan hatimu. Aku kira masalahmu adalah masalah yang penting, sehingga kau mendapat kesukaran untuk mengatakannya. Tetapi masalah yang penting itu pasti langsung menyangkut pribadimu sendiri.”

Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berdesis, “Ya, memang menyangkut pribadiku langsung.”

“Aku sudah menduga. Tetapi katakanlah. Jangan ragu-ragu.”

Gupala mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya tersendat-sendat, “Kakang, di sini tidak ada ayah tidak ada ibu. Yang ada hanyalah Kakang dan guru. Tetapi untuk mengatakannya kepada guru, aku masih ragu-ragu. Barangkali Kakang dapat menolongku.”

“Apakah aku harus mengatakannya kepada guru.”

“Tidak, bukan itu,” potong Gupala cepat-cepat. “Maksudku, aku ingin meyakinkan dahulu, apakah aku tidak sedang bermimpi. Apabila semuanya sudah pasti, barulah aku minta Kakang menyampaikannya kepada guru.”

“Lalu apakah sekarang yang akan aku lakukan?”

Gupala menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku akan minta tolong kepadamu Kakang. Aku ingin meyakinkan, apakah aku benar-benar tidak sedang bermimpi.”

“Ya, aku yakin, kau sekarang memang tidak sedang bermimpi.”

“Bukan, bukan itu. Aku kira kau sudah tahu maksudku.”

“Mungkin. Aku tahu masalahmu. Tetapi aku tidak tahu, cara yang bagaimana yang harus aku lakukan untuk meyakinkan kau.”

Gupala menelan ludahnya. Dengan suara parau ia berkata lirih, “Tolong Kakang, tanyakan kepada Pandan Wangi, apakah ia dapat mengerti perasaanku.”

Gupita mengerutkan keningnya. Terasa sesuatu bergetar di dadanya. Sesuatu yang sama sekali tidak dikehendaki. Namun dengan sekuat tenaganya perasaan itu ditekannya dalam-dalam. Dengan sadar ia menghadapi keadaannya kini. Sekali lagi ia berkesimpulan, bahwa ia sama sekali sudah tidak berhak menilai Pandan Wangi, apalagi di hadapan Gupala.

Karena itu, maka tiba-tiba Gupita yang sudah terlampau biasa mengendalikan perasaannya itu tersenyum. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Hem, begitulah hendaknya. Kau adalah seorang laki-laki. Kau harus berani menyatakan perasaanmu.”

“Tetapi, tetapi apakah Kakang Gupita tidak mengalami kesukaran pada masa-masa seperti ini?”

Gupita menarik nafas dalam-dalam. Hubungannya dengan gadis Sangkal Putung itu memang agak berbeda dengan hubungan Gupala dengan Pandan Wangi. Ia tidak perlu menyatakan apa pun kepadanya. Gadis itu seakan-akan langsung mengerti perasaannya, dan bahkan gadis itu pun langsung pula membuka hatinya. Tanpa kata-kata, sikapnya memang sudah meyakinkan. Bahkan kadang-kadang berlebih-lebihan menurut perasaan Gupita.

Tetapi Pandan Wangi bersikap lain. Pandan Wangi sama sekali tidak memberikan kesan apa pun terhadap Gupala. Bahkan setiap kali Gupita mengenangkan masa-masa permulaan ia mengenal gadis itu, dadanya berdesir. Ia melihat sesuatu tersirat di mata gadis itu, seperti ia pernah melihat mata gadis Sangkal Putung itu pula. Namun gadis ini kemudian menundukan kepalanya dan berjalan menjauh. Berbeda dengan sikap gadis Sangkal Putung itu. Ia langsung tertawa sambil mendekatinya dan berkata, “Inilah aku.”

Gupita menarik nafas dalam-dalam.

“Kakang,” berkata Gupala kemudian, “aku minta tolong kepadamu, bukankah kau tidak berkeberatan? Kau dapat menemui Pandan Wangi di mana kau kehendaki, membawanya sendiri dan menanyakannya apakah ia dapat mengerti perasaanku.”

Gupita termenung sejenak. Tugas itu pasti akan terasa sangat berat baginya. Ia harus menyatakan perasaan seorang anak muda kepada Pandan Wangi. Tetapi anak muda itu adalah Gupala.

“Apakah kelak aku dapat membedakan, bahwa pertanyaan itu adalah pertanyaan yang aku ucapkan tidak atas namaku sendiri, tetapi atas nama Gupala?” ia bertanya kepada diri sendiri di dalam hatinya. Namun kemudian terasa hatinya itu menghentak, “Aku harus menolongnya. Aku sama sekali tidak berkepentingan.”

Karena Gupita tidak segera menjawab, maka Gupala bertanya dengan cemasnya, “Apakah kau berkeberatan?”

Dengan serta-merta, Gupita menjawab, “Tidak, aku tidak berkeberatan. Tetapi bagaimana dan kapan aku mendapat kesempatan itu.”

“Kapan saja,” jawab Gupala, “kau dapat berpura-pura melihat-lihat hutan perburuan atau melihat apa yang dapat ditunjukkannya kepadamu.”

“Bersama kau?”

“Tentu tidak. Tentu tidak.”

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya, “Tetapi jangan tergesa-gesa. Aku harus mendapatkan waktu yang paling baik.”

“Tentu tidak. Tetapi jangan terlampau lama.”

“Lalu, bagaimana dengan bilik itu?”

“Serahkan kepadaku. Aku mempunyai banyak kawan. Para pengawal akan siap membantuku kalau terjadi sesuatu.”

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Hampir tanpa disadarinya ia berkata, “Baiklah, aku akan menanyakan kepadanya tentang hal itu. Besok atau lusa atau kapan saja aku mendapat kesempatan.”

“Terima kasih,” desis Gupala, “tetapi kau harus pandai menyusun kalimat, agar gadis itu tidak mempunyai kesempatan untuk menolaknya.”

Gupita tidak menjawab. Tetapi ia sudah membayangkan kesulitan yang bakal dihadapinya. Dalam masalah yang wajar saja, ia tidak akan dapat menyatakan sesuatu dengan mudah. Apalagi dalam masalah yang sulit serupa itu, meskipun bukan untuk kepentingannya sendiri.

Namun ia merasa berkewajiban pula untuk menolong adik seperguruannya betapapun beratnya.

Dengan demikian, maka Gupita selalu berusaha mencari kesempatan untuk dapat berbicara kepada Pandan Wangi tanpa terganggu. Tetapi ia pun selalu berusaha untuk tidak menumbuhkan salah paham kepada gadis itu, tentang tingkah lakunya sendiri.

Di halaman rumah itu, Gupita sering menyingkir, apabila Pandan Wangi berkunjung ke ujung gandok. Ia hanya ikut menemuinya sebentar, kemudian dengan alasan apa pun ia berusaha menjauhkan dirinya.

Meskipun demikan Gupala tidak pernah mendapat kesempatan untuk mengatakan sesuatu, sehingga ia benar-benar tergantung kepada kakak seperguruannya.

“Jangan terlampau lama,” berkata Gupala pada suatu saat kepada Gupita. “Setiap kali kau malah meninggalkan kami sehingga aku menjadi seperti orang bisu karenanya.”

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang harus melakukannya. Kalau ia menunda-nunda waktu, maka ia sendiri akan selalu merasa dibebani oleh kewajiban yang seakan-akan tidak akan pernah terselesaikan.

“Besok aku akan minta kepadanya untuk menunjukkan daerah-daerah yang asing bagiku. Aku akan mencari kesempatan.”

“Terima kasih, Kakang. Aku kira memang lebih mudah mengatakan masalah orang lain dari masalah diri sendiri.”

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya.

Demikianlah, maka ketika Pandan Wangi sedang berdiri termangu-mangu di tangga pendapa rumahnya, Gupita-lah yang berjalan mendekatinya, meskipun hatinya berdebar-debar. Ia sudah mereka-reka alasan yang paling tepat untuk membawa Pandan Wangi meninggalkan padukuhan induk. Ia ingin mendapat kesempatan yang benar tidak akan terganggu. Kalau ia tidak berhasil, dan bahkan apalagi menumbuhkan salah paham, maka kesan yang membayang di wajah Pandan Wangi akan segera dapat dilihat orang lain. Kesan itu akan dapat menumbuhkan berbagai pertanyaan pada orang-orang lain yang melihatnya. Tetapi apabila mereka hanya berdua, maka ia akan mendapat kesempatan untuk memperbaiki kesalah pahaman itu.

“Pandan Wangi,” berkata Gupita kemudian, “apakah kau pernah mendengar pesan Ki Argajaya kepada ayah?”

“Apakah pesan itu?” bertanya Pandan Wangi.

“Pamanmu minta agar ayah mencari puteranya yang ikut terlibat dalam persoalan Tanah Perdikan ini. Ia minta agar Ki Argapati sudi memaafkannya.”

“Tentu, ayah tentu akan memaafkannya. Ia masih terlampau muda, sehingga sebenarnya ia masih belum tahu apa yang telah terjadi.”

“Tetapi bukankah anak itu sampai saat ini belum kita ketahui, di mana ia berada?”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku mengharap ia berada di rumahnya.”

“Apakah kau yakin?”

“Tentu tidak. Tetapi Bibi ada di rumah. Seorang penghubung telah menemuinya, dan menyatakan pesan ayah kepadanya, bahwa bibi tidak perlu cemas. Ayah tidak menyangkutkannya dengan kesalahan paman.”

“Sudah lama?”

“Belum. Tetapi penghubung berikutnya, ternyata tidak kembali kepada ayah.”

“Kenapa?”

“Memang masih ada satu dua orang yang berkeliaran di padukuhan-padukuhan kecil. Mereka masih saja menyebarkan dendam dan kekisruhan.”

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berkata, “Pandan Wangi, apakah tidak sebaiknya kita bertanya kepada Bibi Argajaya, apakah puteranya itu ada di rumah.”

“Ayah sudah bertanya lewat penghubung yang pertama. Tetapi bibi menjawab, bahwa anak itu belum juga pulang sejak berkobar peperangan.”

“Tetapi sekarang keadaan sudah agak tenang. Sebenarnya bahwa Ki Argapati pun minta tolong kepada ayah untuk mencarinya, dan ayah sendiri masih belum sempat meninggalkan rumah ini.”

“Kaulah yang harus mencarinya?”

“Tidak harus. Tetapi aku ingin menolong ayah dan pamanmu. Apakah kau berkeberatan?”

“Kenapa berkeberatan?”

“Maksudku, apabila kita bersama-sama pergi ke rumah pamanmu?”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Sekilas ditatapnya wajah anak muda itu. Tersirat suatu kenangan, pada saat ia hampir saja terperosok ke dalam bencana yang tidak terbayangkan, ketika ia berhasil melepaskan diri dari tangan beberapa laki-laki yang liar dan buas karena pertolongan kakak dan pamannya. Saat itulah ia melihat gembala ini.

Tiba-tiba Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Tanpa sesadarnya ia berpaling ke arah ujung gandok. Tetapi ia tidak dapat melihatnya, karena pagar dan sudut pendapa yang menjorok di sebelah regol samping.

Pada saat yang mendebarkan hati itu, Pandan Wangi belum pernah melihat gembala yang seorang lagi. Yang gemuk tetapi pandai berkelakar, meskipun agak kurang hati-hati.

“Bagaimana?” desak Gupita, “mumpung masih pagi.”

“Apakah ayah akan mengijinkan?” desis Pandan Wangi.

“Kita hanya pergi sebentar. Tetapi kalau kita berhasil membawanya menghadap, ayahmu dan pamanmu akan sangat senang sekali.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang hanya sebentar apabila ia pergi berkuda. Tetapi apakah sudah tidak akan ada gangguan apa pun di perjalanan.

Sejenak gadis itu berpikir. Sekali-sekali ia berpaling, seakan-akan ia ingin meyakinkan, bahwa ayahnya tidak akan berkeberatan apabila ia pergi sejenak ke runah pamannya, untuk mencari adik sepupunya.

Dalam keragu-raguan itu, terlintas bayangan-bayangan yang menahannya. Tetapi hasrat di dasar hatinya semakin lama menjadi semakin kuat mendorongnya pergi.

“Sudah lama aku tidak melihat tlatah Menoreh,” katanya di dalarn hati. “Seandainya ada gangguan diperjalanan, aku kira aku bersama Gupita akan mempunyai waktu dan kesempatan untuk melepaskan diri. Peronda-peronda pasti akan hilir-mudik di segala jalan-jalan di Tanah Perdikan Menoreh.”

Karena itu, maka tiba-tiba Pandan Wangi menganggukkan kepalanya. Ada dorongan yang lain, kecuali keinginannya untuk melihat-lihat wilayahnya dan sekedar untuk menemukan adik sepupunya.

“Baiklah,” katanya kemudian, “aku akan berkemas.”

“Aku akan memberitahukan kepada ayah. Apalagi Ki Samekta dan Ki Kerti tidak sedang berada di halaman ini.”

“Mereka tidak meronda. Mereka ada di banjar,” jawab Pandan Wangi.

“Karena itu, aku akan memberitahukannya kepada ayah, supaya ia mengerti, bahwa halaman ini sedang kosong.”

“Terserahlah. Tetapi aku tidak akan minta ijin kepada ayah. Aku kira ayah tidak akan mengijinkan. Aku hanya akan mengatakan kepada ayah, bahwa aku akan keluar sebentar, supaya tidak mencari aku.”

“Baiklah,” sahat Gupita.

Maka keduanya pun segera mempersiapkan diri. Menyiapkan kuda masing-masing, dan bukan hanya sekedar mempersiapkan yang tampak oleh mata tetapi terlebih-lebih lagi, Gupita sedang menyiapkan susunan kalimat-kalimat yang akan dikatakannya kepada Pandan Wangi atas nama Gupala.

Ketika Gupita sudah siap, dan Pandan Wangi sudah menunggunya di halaman. Gupala berbisik di telinga kakak seperguruannya, “Kau harus berhasil.”

Gupita menganggukkan kepalanya. Namun ia masih berpesan juga, “Hati-hatilah dengan Ki Argajaya.”

“Percayakan ia kepadaku.”

Gupita pun kemudian meninggalkan halaman rumah Kepala Tanah Perdikan yang sudah dihuni kembali itu, menyusur jalan padukuhan, menuju ke rumah Ki Argajaya. Sejenak kemudian mereka telah melampaui gardu peronda yang terakhir. Kepada para penjaga Pandan Wangi berpesan, bahwa ia akan melihat-lihat padukuhan-padukuhan kecil di sekitar padukuhan induk itu.

“Apakah masih ada hubungan yang ajeg antara para pengawal di sini dan mereka yang ditempatkan di padukuhan-padukuhan lain setiap saat?” bertanya Gupita.

“Ya. Setiap kali penghubung-penghubung dan peronda-peronda hilir-mudik,” jawab Pandan Wangi.

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sebenarnya ia menjadi cemas. Kalau setiap kali ia bertemu dengan para peronda dan penghubung di sepanjang jalan, apakah ia akan mendapat kesempatan untuk mengatakan maksudnya kepada Pandan Wangi?

Meskipun demikian Gupita masih tetap mengharap, bahwa ia akan dapat melakukan tugasnya dengan baik.

Demikianlah maka mereka berdua berpacu dengan kencangnya menuju ke rumah paman Pandan Wangi. Mereka menyusur jalan yang berbatu-batu, namun kadang-kadang berdebu tebal. Sawah-sawah di sebelah-menyebelah jalan kelihatan sangat kurang terpelihara. Parit-parit menjadi kering, dan rerumputan tumbuh dengan liarnya.

“Keadaan ini harus segera diakhiri,” desis Pandan Wangi, “Parit-parit harus segera mengalir dan sawah-sawah harus ditanami. Kalau keadaan ini berlarut-larut, maka bahaya paceklik yang dahsyat tidak akan dapat dicegah lagi.”

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti kecemasan yang merayap gadis itu. Sebagai anak satu-satunya Kepala Tanah Perdikan Menoreh yang masih dapat diharap, maka Pandan Wangi sudah sewajarnya untuk langsung berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atas tanahnya.

Tetapi hal itu ternyata kurang menarik perhatian Gupita. Angan-angannya selalu dipenuhi oleh kalimat-kalimat yang akan disampaikannya kepada Pandan Wangi, atas nama adik seperguruannya.

“Menoreh memang memerlukan setiap tenaga yang ada,” berkata Pandan Wangi. Dan Gupita pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.

“Kenapa kau diam saja?” bertanya Pandan Wangi. Baginya Gupita bukannya seorang pendiam. Meskipun tidak sebanyak Gupala namun anak muda ini dapat juga berbicara tentang berbagai macam masalah. Tentang sawah, tanaman, ternak dan bahkan sampai ke jalan-jalan yang silang-menyilang di atas Tanah perdikan ini.

“Aku sedang berpikir tentang adik sepupumu,” jawab Gupita.

“Kita akan segera melihat, apakah ia ada di rumahnya.”

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ia masih terlampau muda.”

“Ya,” jawab Pandan Wangi.

“Ia masih agak lebih muda dari Gupala.”

“Ya. Aku kira jaraknya ada beberapa tahun.”

“Ya. Apalagi Gupala sekarang. Ia sudah menjadi semakin dewasa.”

“Kenapa sekarang?” bertanya Pandan Wangi.

“Ada perubahan yang terjadi atas dirinya selama ia berada di atas Tanah Perdikan ini.”

“Apa?”

Gupita menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah mendapat jalan untuk mengatakannya. Tetapi tiba-tiba saja terasa lehernya seakan-akan tersumbat.

“Perubahan apa yang sudah terjadi pada adikmu itu?” Pandan Wangi mendesak.

Tetapi Gupita menggelengkan kepalanya, “Aku hanya menduga-duga saja.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Ia merasakan bahwa tidak seluruh perasaan Gupita dituangkannya. Sesuatu pasti masih tersimpan di dalam hatinya.

Namun Pandan Wangi tidak bertanya lagi. Dibiarkannya Gupita menemukan kesempatan untuk mengatakan yang masih bersisa di dalam hatinya.

Meskipun demikian terasa juga jantung Pandan Wangi menjadi berdebar-debar. Betapa ia ingin mengusir getar yang menyentuh-nyentuh batinnya, namun setiap kali terasa sesuatu telah mengguncang isi dadanya.

Pandan Wangi terperanjat ketika tiba-tiba saja Gupita bertanya, “Apakah rumah pamanmu masih jauh?”

Pandan Wangi tergagap. Dengan serta-merta ia menjawab, “Ya. Masih cukup jauh.”

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya. Dilontarkannya pandangan matanya ke persawahan di sekitarnya. Persawahan yang tidak terpelihara.

Tetapi setiap kali ia ingin menyampaikan pesan Gupala terasa lehernya seakan-akan tersumbat. Bahkan kalimat-kalimat yang sudah disusunnya rapi, menjadi pecah berserakan seperti awan dihembus angin yang kencang.

“Kalau aku memang tidak berkepentingan apa pun, kenapa aku menjadi begitu bodoh dan pengecut,” ia mencoba memaksa dirinya untuk segera sampai pada persoalaanya. Namun mulutnya serasa benar-benar terkunci, sehingga yang dapat dilakukan hanyalah sekedar menelan ludahnya.

“Kita masih akan melampaui dua bulak panjang,” berkata Pandan Wangi.

“O,” Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi dengan kuda, jarak itu tidak akan terlampau lama dilampaui.

Dalam pada itu, ia berkata kepada dirinya sendiri, “Ternyata aku masih belum siap benar-benar. Biarlah, nanti setelah kami kembali dari rumah Ki Argajaya.”

Kuda-kuda itu pun kemudian berpacu semakin cepat. Padukuhan yang berada di depan mereka sudah menjadi semakin dekat, sehingga sejenak kemudian mereka telah sampai ke mulut lorong yang memasuki padukuhan itu.

Seorang peronda yang berada di gardu di regol padukuhan itu pun berdiri, sedang kawannya yang lain yang bertugas di luar regol sudah lebih dahulu merundukkan tombaknya.

Tetapi ketika mereka melihat bahwa yang berkuda itu adalah Pandan Wangi, maka mereka pun kemudian menepi. Meskipun demikian petugas yang berdiri di luar regol itu masih bertanya, “Kemanakah kau akan pergi?”

“Aku hanya sekedar melihat-lihat,” jawab Pandan Wangi.

“Hati-hatilah,” berkata penjaga itu, “keadaan masih belum cukup baik. Satu-dua orang dari mereka, masih saja melakukan pengacauan dalam keputus-asaan.”

Sebelum Pandan Wangi menjawab, orang yang lain telah berkata, “Sebaiknya kalian singgah di sini saja. Kalian akan mendapatkan apa saja yang kalian inginkan. Degan kambil ijo, buah-buahan yang lain, sawo, duku dan salak? Di sini kalian tinggal mengambil langsung dari pohonnya.”

Pandan Wangi tersenyum. Jawabnya, “Terima kasih. Tetapi aku akan meneruskan perjalanan.”

“Memang berbahaya. Kadang-kadang orang-orang yang tidak terduga-duga muncul dari balik gerumbul-gerumbul. Itu akan membahayakan.”

Pandan Wangi tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah Gupita yang menegang. Namun kemudian ia berkata, “Kami akan berhati-hati. Dan kami memang tidak akan pergi terlampau jauh.”

“Kau tahu,” berkata penjaga itu, “padukuhan di seberang bulak itu adalah padukuhan Ki Argajaya. Banyak orang di sekitar rumahnya yang masih tetap setia kepadanya. Dalam keadaan sehari-hari mereka tampaknya sudah benar-benar menyerah, dan tidak akan berbuat apa pun. Namun sudah tiga orang di antara kita yang hilang. Benar-benar hilang tidak berbekas. Bahkan seorang penghubung Ki Argapati pun pernah hilang pula di sekitar padukuhan itu.” Orang itu berhenti sejenak, lalu, “Ki Samekta pernah datang ke padukuhan itu dengan sepasukan pengawal. Tetapi kita tidak menemukan apa-apa selain rumah-rumah yang kotor dan tua, petani-petani miskin yang ketakutan dan anak-anak muda yang kehilangan pegangan.”

Pandan Wangi tidak segera menjawab.

“Nah,” berkata pengawal itu, “kalian pasti tahu, apakah artinya semua itu.”

Hampir bersamaan Gupita dan Pandan Wangi menganggukkan kepalanya. Terdengar suara Pandan Wangi lirih, “Mereka telah meluluhkan diri dengan rakyat yang barangkali memang tidak bersalah. Tetapi untuk menemukan mereka di antara sekian banyak orang memang merupakan pekerjaan yang sulit. Apalagi kalau tetangga-tetangga mereka tidak ada yang berani turun tangan, bahkan tidak berani melaporkannya kepada yang berkewajiban.”

“Ya,” berkata pengawal itu, “namun dalam keadaan yang menguntungkan bagi mereka, tiba-tiba saja mereka menyergap.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Kini ia menyadari benar-benar bahwa memang tidak mudah membangun Tanah Perdikan yang benar-benar sudah menjadi abu ini. Mungkin dalam waktu yang terhitung tidak terlampau lama, rumah-rumah yang rusak, regol-regol padukuhan yang terbakar, parit-parit dan sawah-sawah dapat segera diperbaiki. Tetapi keutuhan dan kebulatan hati rakyatnya, pasti akan memerlukan waktu yang lama untuk memulihkan kembali. Dendam sudah terlanjur ditaburkan karena kematian demi kematian di peperangan. Kematian sanak-kadang, adik, suami dan kekasih tidak akan mudah dilupakan. Sedang mereka mempunyai sasaran yang tepat untuk menjatuhkan tuduhan, siapakah yang sudah membunuh orang-orang yang mereka kasihi itu.

Dengan demikian sejenak Pandan Wangi berdiam diri, seakan-akan membeku di atas punggung kudanya. Tetapi darah Argapati yang mengalir di dalam dirinya, justru selalu mendorongnya untuk berjalan terus.

Sebagai seorang puteri Kepala Tanah Perdikan maka Pandan Wangi justru merasa bertanggung jawab untuk melihat, apakah yang sebenarnya telah terjadi di padukuhan itu. Karena itu maka ia pun bertanya, “Bukankah di padukuhan itu ada juga beberapa orang pengawal?”

“Ya, sepasukan kecil pengawal telah ditempatkan di padukuhan itu,” jawab pengawal itu.

“Nah, apa lagi yang dicemaskan.”

“Di sepanjang bulak dapat saja sesuatu terjadi dengan tiba-tiba. Mungkin di pategalan dan di padukuhan kecil di tengah-tengah bulak itu. Meskipun padukuhan itu hampir tidak pernah diperhitungkan, namun kadang-kadang justru bahaya bersembunyi di sana.”

Dada Pandan Wangi berdesir ketika ia mendengar padukuhan kecil dan pategalan di tengah bulak panjang itu. Terkenang olehnya beberapa orang laki-laki yang mencegatnya dan hampir saja menjerumuskannya ke dalam bencana yang tidak terkirakan.

Tetapi kini ia tidak seorang diri. Apalagi ia yakin, bahwa beberapa orang peronda akan selalu hilir-mudik dari padukuhan yang satu ke padukuhan yang lain.

Dengan demikian maka Pandan Wangi itu pun berkata, “Aku perhatikan peringatanmu. Tetapi kami berdua akan berjalan terus. Kami akan melihat-lihat apa yang kini ada di atas reruntuhan Tanah yang harus kita bangun kembali ini.”

Pengawal itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berhak melarangnya. Ia sudah mencoba memperingatkan bahaya yang dapat terjadi di sepanjang perjalanan. Tetapi keduanya agaknya tetap pada pendirian mereka.

Karena itu, para pengawal hanya dapat menundukkan kepala mereka ketika kuda-kuda itu meneruskan perjalanannya.

“Kami akan berhati-hati,” berkata Pandan Wangi.

Maka keduanya pun kemudian meninggalkan regol itu, masuk ke dalam padukuhan yang sedang besarnya. Tetapi jalan itu tidak membelah padukuhan itu di tengah-tengah. Beberapa jalur jalan kecil menyusup ke setiap penjuru. Tetapi jalan induk itu segera berbelok dan meninggalkan padukuhan itu, membujur di tengah-tengah bulak yang panjang, meskipun ada juga pategalan dan sebuah padukuhan kecil yang seperti sebuah pulau menjorok di tengah-tengah lautan yang luas, beberapa puluh langkah dari jalan itu.

Sejenak keduanya saling berdiam diri. Mereka sedang menilai jalan yang terbentang di hadapan mereka. Panjang sekali.

Memang kemungkinan seperti yang dikatakan oleh para pengawal itu dapat saja terjadi. Dari gerumbul-gerumbul liar yang tumbuh di pematang sawah yang tidak terpelihara, memang mungkin datang serangan-serangan yang tiba-tiba dari orang-orang yang berputus asa, yang hanya sekedar ingin melepaskan dendam tanpa tujuan. Mereka merasa bahwa mereka tidak akan lagi dapat hidup di atas Tanah Perdikan ini. Seolah-olah di atas Tanah ini sudah tidak ada lagi tempat untuk berdiri.

Orang-orang yang demikianlah yang sebenarnya berbahaya. Orang-orang yang berbuat tanpa tujuan dan pertimbangan apa pun.

Karena itu, maka keduanya memang harus berhati-hati. Mereka harus memperhatikan setiap gerumbul di pinggir jalan. Mereka harus memperhatikan setiap gerak di sebelah-menyebelah di antara tanaman-tanaman yang tidak terpelihara.

Tetapi kuda-kuda mereka berlari terus dengan kencangnya. Bagaimanapun juga mereka menyadari bahaya yang dapat menerkam mereka, namun keduanya adalah orang-orang yang mempunyai kelebihan dari orang-orang kebanyakan.

Semakin lama mereka pun menjadi semakin dekat dengan padukuhan yang mereka tuju. Sekali-sekali mereka berpaling memandang debu yang mengepul di belakang kaki-kaki kuda mereka, namun jalan itu memang sepi.

“Tempat yang baik untuk melepaskan dendam,” tiba-tiba terdengar Gupita berkata.

Pandan Wangi berpaling,”Kenapa baik?” ia bertanya.

“Orang-orang yang bermaksud jahat dapat melihat, apakah ada peronda yang lewat atau tidak,” jawab Gupita. “Jalan ini terlampau panjang.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang orang-orang yang bermaksud jahat dapat memperhitungkan, apakah perbuatannya akan diketahui oleh para peronda atau tidak. Apabila mereka melihat di kejauhan kepul debu, maka mereka akan segera berlari dan bersembunyi.

“Kita memang harus berhati-hati,” desis Pandan Wangi. Namun sampai pertengahan bulak yang panjang itu mereka tidak mendapat gangguan apa pun. Sebentar lagi mereka akan melampaui simpang tiga yang berbelok ke padukuhan kecil di tengah-tengah bulak yang disambung oleh sebuah pategalan. Dengan demikian mereka menjadi semakin berwaspada. Dapat saja seseorang meloncat dari dalam parit sambil mengayunkan pedangnya, kemudian berlari menghilang di padukuhan kecil itu. Mungkin orang itu akan terus masuk ke dalam pategalan dan berlari ke seberang ke padepokan adbmcadangan dotwordpress dotcom di mana api dibukit lebih membara. Tetapi mungkin juga, mereka bersembunyi di sudut-sudut yang tidak tersentuh tangan di dalam padukuhan itu, sedang orang-orang di sekitarnya tidak berani menunjukkannya karena ancaman senjata.

Tetapi keduanya kemudian melampaui simpang tiga tanpa ada kesulitan apa pun. Tidak ada seseorang yang menyerang mereka. Bahkan tidak ada tanda yang mencurigakan sama sekali.

Dengan demikian mereka memacu kuda-kuda mereka semakin cepat. Padukuhan yang mereka tuju pun menjadi semakin dekat, sehingga tanpa mereka sadari, bulak yang panjang itu telah hampir selurhhnya berada di belakang mereka.

“Kita telah sampai,” tiba-tiba saja Pandan Wangi berdesis.

Gupita mengerutkan keningnya. Di hadapan mereka adalah sebuah regol padukuhan. Beberapa orang pengawal berdiri di sebelah-menyebelah jalan dengan senjata mereka masing-masing. Namun ketika mereka ketahui, bahwa yang datang itu adalah Pandan Wangi dan Gupita, maka mereka pun menarik nafas panjang-panjang.

Ketika keduanya telah berada beberapa langkah saja di depan para pengawal, maka Pandan Wangi dan Gupita segera menghentikan kuda mereka. Sambil memandang para pengawal seorang demi seorang Pandan Wangi bertanya, “Bagaimanakah keadaan padukuhan ini?”

Seorang yang memimpin para pengawal itu maju selangkah sambil menjawab, “Sampai hari ini tidak ada sesuatu yang mencemaskan.”

“Apakah penduduk padukuhan ini telah dapat ditenangkan, setelah Paman Argajaya tertangkap?”

“Sedikit demi sedikit. Tetapi masih ada saja yang tidak berhasil kami jinakkan. Kadang-kadang masih juga ada seorang pengawal yang tidak kembali ke pangkalan.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya.

Dan pengawal itu bertanya, “Apakah kalian hanya berdua?”

“Ya.”

“Sangat berbahaya. Untung kalian tidak menjumpai apa pun di perjalanan.”

Pandan Wangi dan Gupita mengangguk-angguk.

“Kenapa kalian tidak membawa pengawal?”

Pertanyaan itu memang membingungkan Pandan Wangi. Dan ia pun bertanya kepada diri sendiri, “Kenapa tidak membawa pengawal?”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat mengingkari, bahwa ia memang ingin berada dalam perjalanan tanpa orang lain.

Sedang Gupita pun menjadi berdebar-debar pula. Ia memang sangat berkepentingan bahwa tidak ada seorang pengawal yang mengawani mereka berdua, karena ia memang mencari kesempatan untuk menyampaikan perasaan Gupala.

“Kenapa?” desak pengawal itu.

“Kami tidak sengaja sampai ke padukuhan ini,” jawab Pandan Wangi. Kami hanya sekedar melihat-lihat keadaan Tanah Perdikan setelah perang selesai. Tetapi tanpa sesadar kami, kuda-kuda kami telah membawa kami sampai ke tempat ini.”

Pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih bertanya lagi, “Kemanakah kalian akan pergi kenmdian?”

“Aku akan bertemu dengan bibi,” sahut Pandan Wangi.

Pengawal itu mengerutkan keningnya. Jawabnya kemudian, “Sebaiknya kalian berkunjung saja ke tempat lain.”

“Kenapa?”

“Kami belum dapat membuktikannya. Tetapi sependengaran kami, kadang-kadang tempat itu dipergunakan oleh orang-orang yang kini masih saja liar itu untuk bersembunyi sehari dua hari, sebelum mereka merasa aman.”

“Apakah kalian tidak dapat mencegahnya?”

“Kami sedang mencari bahan. Tetapi kami sudah mempersiapkan perangkap bagi mereka.”

“Aku akan pergi ke rumah itu. Apakah kau tahu, bahwa putera Paman Argajaya ada di rumah?”

Pengawal itu menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu. Tetapi aku belum pernah melihatnya.”

“Mungkin anak itu memang bersembunyi. Biarlah aku melihatnya.”

“Itu sangat berbahaya.”

“Mungkin aku dapat mendekatinya dengan cara lain. Aku adalah saudara sepupunya.”

Pengawal itu mengerutkan keningnya. Tetapi kemudan ia berkata, “Ki Argajaya bukan sekedar saudara sepupu Ki Argapati, tetapi keduanya adalah kakak-beradik seayah-ibu.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun demikian niatnya sama sekali tidak mereda. Karena itu maka katanya kemudian, “Aku akan mencobanya. Mudah-mudahan aku berhasil. Setidak-tidaknya aku dapat memberitahukan kepada bibi, agar ia tidak terus-menerus dicengkam oleh kecemasan dan ketakutan, justru karena pengikut paman yang putus asa itu selalu mengganggunya.”

Pengawal itu menarik nafas panjang-panjang. Katanya kemudian, “Baiklah. Aku sudah mencoba mencegah. Tetapi kalau kalian tetap ingin memasuki rumah itu, aku akan nenyediakan empat atau lima orang pengawal.”

“Jangan,” Pandan Wangi menolak dengan serta-merta. “Kedatangan kami bersama beberapa orang pengawal akan berkesan kurang baik. Kesan permusuhan akan membayangi pertemuan itu. Biarlah kami berdua memasuki halaman rumah paman.” Pandan Wangi berhenti sejenak, namun kemudian, “Tetapi aku tidak berkeberatan apabila kalian mengawasi keadaan di luar halaman. Meski pun demikian jangan terlampau dekat. Dan jangan menampakkan diri dalam kesiagaan, seakan-akan kalian memang mengepung rumah itu.”

Pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah. Tetapi hati-hatilah.”

Pandan Wangi dan Gupita pun segera metanjutkan perjalanan mereka, memasuki padukuhan itu, menuju ke rumah Argajaya. Rumah yang terletak hampir di tengah-tengah padukuhan. Rumah yang besar dan berhalaman luas, meskipun tidak sebesar rumah Ki Argapati.

Sepeninggal Pandan Wangi dan Gupita, maka beberapa orang pengawal pun segera dipersiapkan. Lima orang bersama pemimpin pengawal itu sendiri, diam-diam menyelusur jalan-jalan sempit mendekati halaman rumah Ki Argajaya. Mereka tetap mencemasksn nasib Pandan Wangi dan Gupita, karena rumah itu sampai saat terakhir memang masih merupakan teka-teki yang belum terpecahkan. Meskipun sekali dua kali para pengawal pernah memasuki rumah itu dengan tiba-tiba, namun mereka sama sekali tidak menemukan apa pun, selain caci-maki dan umpatan-umpatan dari seluruh penghuninya. Bahkan Nyai Argajaya pun marah bukun kepalang. Sambil menuding-nuding pemimpin pengawal ia mengumpat tidak habis-habisnya.

Pemimpin pengawal itu mengira bahwa ada tempat-tempat persembunyian rahasia yang tidak dapat mereka ketemukan di halaman rumah itu.

Pandan Wangi dan Gupita menghentikan kudanya ketika mereka sampai di muka regol halaman. Keduanya berpandangan sejenak, kemudian Pandan Wangi berbisik, “Inilah rumah itu.”

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia tidak dapat menghindari lagi. Sebenarnya ia sama sekali tidak ingin memasuki halaman rumah itu. Ia hanya ingin mendapat kesempatan menyampaikan pesan Gupala kepada Pandan Wangi. Tetapi akhirnya ia harus berdiri di hadapan rumah Ki Argajaya.

Kalau putera Ki Argajaya itu ada di dalam halaman itu, kemudian bersedia mereka bawa menghadap Ki Argapati, maka kesempatannya untuk berbicara dengan Pandan Wangi akan lepas lagi, dan Gupala pun pasti akan mengumpat-umpatnya pula.

Dengan demikian Gupita menjadi ragu-ragu. Apakah dengan demikian ia tidak berbuat kekeliruan, sehingga persoalan Gupala masih harus tertunda lagi.

Pandan Wangi yang tidak mengerti, apa yang bergejolak di dalam dada Gupita berkata, “Apakah kau melihat sesuatu yang mencurigakan?”

Gupita menarik nafas dalam-dalam. Ia kini menyadari keadaannya. Mau tidak mau ia harus memasuiki rumah yang ada di hadapannya.

Tetapi ketika ia memandangi halaman yang berada di belakang regol yang terbuka itu, memang terasa, seakan-akan halaman rumah tu menyimpan suatu rahasia yang tidak mudah dipecahkan. Namun kemudian ia berkata, “Mungkin hanya sekedar prasangka. Meskipun demikian kita memang harus berhati-hati.”

“Baklah,” jawab Pandan Wangi, “marilah kita memasuki rumah itu. Mudah-mudahan bibi dapat menerima kedatanganku.”

Gupita menganggukkan kepalanya.

Keduanya pun kemudian meloncat turun. Mereka menuntun kuda masing-masing memasuki regol halaman. Pandan Wangi berjalan di depan, kemudian tiga-empat langkah di belakangnya Gupita berjalan sambil mengawasi keadaan.

Halaman rumah itu memang terasa terlampau sepi. Bahkan dedaunan pun sama sekali tidak ada yang bergetar.

Dalam kebimbangan, Pandan Wangi dan Gupita kemudian mengikat kuda-kuda mereka pada sebatang pohon perdu di halaman. Sejenak mereka saling berpandangan dan sejenak kemudian, mereka mengedarkan tatapan mata mereka ke seluruh sudut. Tetapi mereka tidak melihat sesuatu.

“Marilah kita naik ke pendapa?” ajak Pandan Wangi.

Gupita tidak menjawab, tetapi kepalanya terangguk ragu.

Keduanya pun kemudian naik ke pendapa dengan hati-hati. Mereka memandang daun pintu yang tertutup itu dengan tajamnya, seolah-olah ingin melihat apa yang tersembunyi di dalamnya.

Memang mungkin sekali terjadi, apabila pintu itu dengan tiba-tiba terbuka, ujung senjata terjulur lurus-lurus ke dada mereka. Mungkin hanya sepucuk, tetapi mungkin tiga atau empat atau bahkan sepuluh pucuk senjata.

Tetapi pintu itu tidak juga terbuka, bahkan ketika mereka telah berdiri terlampau dekat.

Pandan Wangi menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia berdesis, “Aku akan mengetuk pintu ini.”

Gupita mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun maju selangkah dan berdiri hampir merapat dinding, di sebelah pintu itu. Pandan Wangi mengangguk-angguk kecil. Ternyata Gupita cukup berhati-hati meskipun sama sekali tidak terdengar sesuatu di balik pintu itu

Perlahan-lahan Pandan Wangi mengetuk pintu pringgitan yang tertutup rapat. Namun terasa bahwa jari-jari tangannya agak gemetar.

Ia sudah mengenal rumah itu seperti ia mengenal rumahnya sendiri. Ia sudah terlampau sering datang sejak ia masih kanak-kanak, bermain-main dengan paman dan bibinya. Pohon jambu di sudut halaman, pohon kanci yang besar dan pohon sawo kecik di muka pendapa itu pun sudah dikenalnya baik-baik. Ia sudah terlampau sering makan buah jambu dan sawo kecik di halaman itu.

Namun kini semuanya terasa sangat asing.

Ternyata ketukan pintu tidak segera terjawab, sehingga Pandan Wangi mengulanginya sekali lagi agak lebih keras.

Dengan dada yang berdebar mereka pun kemudian mendengar langkah seseorang mendekat pintu. Kemudian terdengar pula seseorang bertanya, “Siapa di luar?”

Pandan Wangi segera mengenal, bahwa suara itu adalah suara bibinya. Karena itu maka ia pun menjawab, “Aku, aku, Bibi.”

Sejenak tidak terdengar sesuatu di dalam rumah itu. Namun kemudian langkah itu pun mendekat lagi. Kini mereka mendengar daun pintu itu berderit.

Sejenak kemudian pintu itu pun terbuka. Seorang perempun berdiri tegak di muka pintu. Seorang perempuan dengan pakaian dan rambut yang kusut, muka yang pucat dan mata kemerah-merahan oleh tangis.

Perempuan itu terbelalak ketika ia melihat Pandan Wangi berdiri di luar pintu. Sejenak ia berdiri tegak dengan dada yang berdebar-debar.

“Bibi, aku datang Bibi?”

Tetapi alangkah terperanjat Pandan Wangi ketika tiba-tiba ia melihat perempuan itu menudingnya sambil berkata lantang hampir berteriak, “He, betina tidak tahu diri! Kenapa kau kemari, he? Apakah kau masih belum puas? Ayahmu sudah mencelakakan suamiku, adiknya sendiri, adik kandungnya. Sekarang kau datang membawa pedang dan seorang pengkhianat. Apakah kau ingin membunuh aku, he? Ayo, bunuhlah aku sama sekali. Bunuh aku.”

Perempuan itu kemudian berdiri bertolak pinggang. Matanya seakan-akan memancarkan api yang menyala di dadanya. Bahkan kemudian ia melangkah maju sehingga Pandan Wangi surut selangkah.

“Bibi,” desis Pandan Wangi.

“Kau tdak usah memanggil aku bibi. Kau tidak usah berpura-pura. Sekarang tarik pedangmu dan tusukkan di dada ini.”

Pandan Wangi justru berdiri mematung. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa demikianlah sambutan yang diterimanya dari bibinya, yang dikenalnya sebagai seorang yang ramah dan baik. Seorang yang terlampau dekat dengan dirinya dan seluruh keluarganya.

Karena itu maka Pandan Wangi masih saja berdiri mematung. Ia tidak segera dapat menyesuaikan dirinya dengan keadaan yang sama sekali tidak diduganya lebih dahulu.

Sedang bibinya masih saja menunjuk wajahnya sambil berkata, “Kenapa kau diam saja? Ayo bunuh aku. Rumah ini bagiku tidak lebih dari neraka yang paling jahanam. Suamiku telah difitnah orang, anakku laki-laki hilang sampai saat ini. Setiap kali rumah ini dibongkar oleh berandal-berandal yang tidak tahu diri itu. Dan sekarang kaulah yang datang ke rumah ini. Apakah kau mau membongkar rumahku pula? Dan merampok sisa-sisa milikku yang masih ada?”

Pandan Wangi tidak segera dapat menjawab. Bibinya sudah benar-benar menjadi orang lain.

“Ayo cepat, lakukan yang kau ingini? Bukankah kau disuruh oleh ayahmu membunuh aku?”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk mengatur perasaannya. Sekilas dipandangnya Gupita yang berdiri termangu-mangu.

“Bibi,” berkata Pandan Wangi kemudian, “tidak ada seorang pun yang menyuruh aku kemari.”

“Jadi, kau datang kemari atas kehendakmu sendiri? Kalau demikian kau akan membunuh aku atas keinginanmu?”

“Tidak, Bibi. Aku sama sekali tidak ingin berbuat demikian.”

“Bohong! Ayo cepat lakukan. Aku memang sudah jemu mengalami keadaan yang paling menyakitkan hati. Orang yang sebelumnya setiap hari datang minta sesuap nasi kepadaku untuk dirinya sendiri, untuk anak-anaknya, dan untuk seluruh keluarganya, orang yang setiap kali datang meminjam segala macam kebutuhan hidup, orang yang menggantungkan hidup keluarganya pada pekerjaan yang kuberikan, tiba-tiba saja sudah memfitnah suamiku. Kini suamiku menjadi korban bersama-sama dengan kemanakannya, Sidanti, dan anaknya sendiri. Anakku. Ternyata aku kini hidup dalam sarang serigala yang liar dan buas. Yang tidak lagi mengenal kebaikan hati dan peradaban.”

Pandan Wangi menggelengkan kepalanya. Kini nafasnya sudah menjadi semakin teratur dan perasaannya tidak lagi bergejolak tidak menentu. Ia sudah semakin mapan menanggapi sikap bibinya. Karena itu, maka katanya, “Bibi, kita semua menyesal atas apa yang sudah terjadi. Kini ayah sedang terluka parah. Bahkan bangun pun ayah sama sekali tidak mampu.”

“Itu adalah karena salahnya sendiri.”

“Mungkin, Bibi. Mungkin ayah sudah bersalah. Tetapi yang melukai ayah itu adalah orang yang pernah melukai hatinya beberapa puluh tahun yang lampau.”

“Omong kosong! Seandainya benar demikian, dendamnya, sudah membakar Tanah Perdikan ini. Adiknya, anaknya, kemanakannya dan semua orang di atas Tanah Perdikan ini harus mengalami akibat yang paling pahit.”

“Bibi,” jawab Pandan Wangi, “tidak seorang pun yang menghendaki hal itu terjadi. Ayah, paman, Kakang Sidanti, aku, dan juga Bibi. Tetapi tanpa dapat dicegah lagi, api sudah menjalar di seluruh Tanah Perdikan ini.”

“Ayahmulah sumber dari bencana ini.”

“Mungkin orang lain menganggapnya demikian, Bibi. Tetapi, ayah adalah orang yang paling menyesalkan kejadian ini. Ia adalah Kepala Tanah Perdikan ini. Berapa puluh tahun ayah merintis Tanah ini sehingga menjadi sebuah Tanah Perdikan yang baik. Sudah tentu, bukan maksud ayah untuk menghancurkan Tanah ini seperti apa yeng terjadi sekarang. Kalau ayah dianggap bersalah, kesalahan ayah adalah menyerahkan Kakang Sidanti kepada Ki Tambak Wedi. Apakah Bibi mengetahui siapakah Ki Tambak Wedi itu?”

Nyai Argajaya mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Aku tidak peduli siapakah orang yang bernama Ki TambaK Wedi. Aku tidak peduli siapa pun. Tetapi keluargaku kini sudah hancur. Hancur sama sekali. Karena itu, kalau kau akan membunuh aku, bunuhlah.”

Pandan Wangi menjadi agak bingung kembali menanggapi sikap bibinya. Bibinya seolah-olah sudah tidak mau mendengar apa pun lagi. Ia menjadi demikian berputus asa sehingga hari-hari mendatang adalah hari-hari yang gelap baginya.

Dalan pada itu, tiba-tiba Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Bibi. Aku mengharap bibi dapat mendengarkan kata-kataku. Aku datang kemari karena aku diutus oleh Paman Argajaya.”

“He?” mata bibinya seakan-akan menjadi terbelalak karenanya. Namun kemudian, “Omong kosong! Kau juga sudah pandai berbohong. Aku tidak mau kau bohongi lagi.”

“Tidak, Bibi, aku tidak berbohong,” jawab Pandan Wangi. “Paman kini berada di rumahku, Bibi.”

“Aku sudah tahu, Kakang Argajaya sekarang sudah ditangkap dan sebentar lagi ia harus digantung.” Perempuan itu berhenti sejenak, lalu suaranya tiba-tiba meninggi, “Katakan! Katakan kepada ayahmu, bahwa aku harus digantungnya pula bersama Ki Argajaya. Mengerti?”

Tetapi Pandan Wangi mnggelengkan kepalanya. “Paman tidak akan dihukum apa pun, karena ayah tahu, apa yang terjadi bukan semata-mata kesalahan paman.”

Nyai Argajaya mengerutkan keningnya.

“Paman Argajaya adalah satu-satunya saudara sekandung ayah,” berkata Pandan Wangi kemudian, lalu “dan sekarang aku telah diutus oleh paman melihat-lihat keadaan rumah ini. Terutama putera paman.”

Nyai Argajaya tidak segera menjawab.

“Bibi jangan terlampau berprasangka. Kalau ayah ingin melakukan tindakan kekerasan, bukan akulah yang akan datang kemari. Aku adalah manusia yang mempunyai kenangan dan cita-cita. Apakah aku dapat berbuat sesuatu atas Bibi yang begitu baik terhadapku sebelum terjadi sesuatu? Di rumah ini aku merasa seperti di rumah sendiri. Sepeninggal ibu, Bibi adalah ibuku.”

Nyai Argajaya masih tetap berdiam diri. Ditatapnya wajah Pandan Wangi dengan sorot mata yang aneh. Kadang-kadang dari sepasang mata perempuan itu memancar kebencian yang tidak ada taranya. Namun mata itu kemudian redup seolah-olah padam sama sekali.

“Bibi,” desis Pandan Wangi, “apakah Bibi dapat mengerti? Apakah Bibi masih dapat mengenal aku sebagai Pandan Wangi yang sering benar berada di rumah ini sebelum terjadi kekisruhan di atas Tanah Perdikan ini?”

Nyai Argajaya masih tetap berdiam diri.

“Bibi, ayah sama sekali tidak bermaksud jelek. Terhadap Bibi maupun terhadap paman. Ayah masih memerlukan setiap tenaga yang ada untuk membangun Tanah yang sekarang sudah menjadi abu ini. Anggaplah bahwa yang sudah terjadi itu akibat dari kesalahan kita bersama.”

Tidak sepatah kata pun yang terucapkan. Nyai Argajaya kini berdiri sambil merenung. Kadang-kadang dipandanginya wajah Pandan Wangi, namun kadang-kadang tatapan matanya terlontar jauh menerawang ke dunia angan-angan dan kenangan.

“Bibi,” desis Pandan Wangi kemudian, “percayalah. Aku masih Pandan Wangi yang dahulu. Aku datang mengunjungi Bibi seperti dahulu aku bermain di rumah ini.”

Pandan Wangi kemudian melihat mata Nyai Argajaya menjadi basah. Sekali-sekali perempuan itu berpaling memandang Gupita yang berdiri termangu-mangu. Kemudian dipandanginya sepasang pedang di lambung Pandan Wangi.

Pandan Wangi yang mengikuti tatapan mata bibinya seolah-olah dapat mengerti apa yang tersirat di dalam hati perempuan itu. Karena itu maka katanya, “Adalah karena keadaan yang tidak menentu di sepanjang jalan maka aku membawa senjata ini, Bibi. Aku memang pernah mendapat pengalaman pahit pada saat permulaan Tanah ini mulai kemelut. Pada saat aku ingin berkunjung kemari, aku telah dicegat oleh beberapa orang laki-laki tidak dikenal. Untunglah bahwa saat itu Paman Argajaya menolong aku. Kalau tidak maka aku tidak akan dapat membayangkan aya yang terjadi atasku.”

Tiba-tiba Nyai Argajaya mengangkat wajahnya dan bertanya, “Pamanmu yang telah menolongmu?”

“Ya, Bibi.”

“Siapakah laki-laki itu?”

“Aku tidak tahu, Bibi. Mereka adalah laki-laki yang tidak dikenal di Tanah Perdikan ini.”

Nyai Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ternyata bahwa air matanya menjadi semakin banyak mengambang di matanya. Perlahan-lahan terdengar ia berdesis, “Aku memang sudah mencoba untuk mencegahnya. Tetapi aku tidak berhasil.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Dengan serta-meta ia bertanya, “Apakah yang pernah Bibi cegah?”

“Aku pernah mencegah pamanmu menghubungi orang-orang yang tidak mengenal peradaban itu. Kehadiran Ki Tambak Wedi di rumah ini memang menumbuhkan kecemasan di dalam hatiku.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Agaknya ia telah berhasil mengungkap perasaan bibinya yang sebenarnya. Sehingga karena itu maka katanya, “Ya, Bibi. Aku mengerti, bahwa Bibi adalah Bibi yang aku kenal itu. Bibi yang mengerti banyak masalah yang dapat tumbuh di atas Tanah Perdikan ini. Bukankah Bibi juga yang pernah bercerita kepadaku, tentang lidi dan sapu lidi? Bukankah Bibi juga yang bercerita kepadaku bahwa jari-jari tangan ini satu demi satu tidak banyak berarti, tetapi apabila lima bersama-sama, maka artinya akan besar sekali?”

Nyai Argajaya terdiam sejenak.

“Bibi,” Pandan Wangi kini maju selangkah, “aku itulah yang kini datang kepada Bibi.”

Sejenak Nyai Argajaya berdiri mematung. Ditatapnya mata Pandan Wangi tajam-tajam. Namun sejenak kemudian ia meloncat memeluk gadis itu. Meledaklah perasaannya yang selama ini tertekan di dalam dadanya, sehingga rasa-rasanya dada itu akan pecah. Tidak ada seorang pun yang dapat dibawanya berbincang di dalam rumah ini, apalagi sekali-sekali jiwanya yang risau itu masih juga digoncang-goncang oleh ketakutan dan kecemasan karena para pengawal yang memeriksa seisi rumahnya, mencari orang-orang yang mereka sangka bersembunyi di dalam rumah itu.

“Pandan Wangi,” terdengar suara perempuan itu di sela-sela tangisnya, “kau tidak disuruh oleh ayahmu membunuh aku?”

Mata Pandan Wangi pun menjadi basah pula. Meski pun tenggorokannya terasa tersumbat, namun ia menjawab, “Tentu tidak, Bibi. Aku sengaja menengok Bibi sekaligus aku diutus oleb paman Argajaya melihat apakah putera Bibi itu ada di rumah.”

Tangis Nyai Argajaya menjadi semakin keras.

“Sudahlah, Bibi,” Pandan Wangi mencoba menenteramkan hati bibinya, “tidak ada yang perlu ditangiskan. Semuanya memang harus terjadi demikian. Yang penting kini, bagaimana masa-masa yang mendatang.”

“Masa yang mendatang itu terlampau gelap bagiku, Pandan Wangi. Aku menyadari betapa besar kesalahan pamanmu dan adikmu. Sebenarnya aku tidak dapat ingkar. Sejak kehadiran Ki Tambak Wedi di rumah ini bersama Sidanti, maka aku sudah membayangkan bahwa rumah tangga kecilku ini dan rumah tangga besar Tanah Perdikan Menoreh akan guncang. Itulah sebabnya aku sudah mencoba mencegah pamanmu. Tetapi seperti kau ketahui, Wangi, pamanmu adalah seorang yang keras hati. Ia tidak segera dapat menerima pikiran orang lain, sehingga akhirnya ia sendiri terperosok ke dalam keadaan seperti sekarang.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian, ia berbisik, “Bibi, apakah tidak mempersilahkan aku dan kawanku masuk ke dalam?”

“O, tentu Wangi. Tentu,” jawab Nyai Argajaya sambil melepaskan pelukannya. Namun titik air di matanya masih juga melelah di pipinya. Dengan pandangan ragu, Nyai Argajaya menatap wajah Gupita yang termanu-mangu.

Pandan Wangi menangkap keragu-raguan yang tumbuh di dalam hati bibinya. Agaknya bibinya memang belum pernah melihat anak muda itu. Karena itu maka Pandan Wangi berkata, “Anak muda itu namanya Gupita, Bibi. Ia adalah seorang gembala menurut pengakuannya.”

“Kenapa menurut pengakuannya?” bertanya Nyai Argajaya.

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menjawab, “Ya, ia memang seorang gembala. Tetapi ia mendapat kepercayaan ayah. Karena itu, maka kali ini ia harus mengantarkan aku menghadap Bibi, justru karena keadaan yang masih belum tenang benar.”

Nyai Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian, “Silahkan masuk.”

Keduanya pun kemudian masuk ke dalam pringgitan yang agak luas. Tetapi pringgitan itu hampir tidak terpelihara lagi. Dahulu, apabila Pandan Wangi datang ke rumah itu, ia selalu merasakan tangan-tangan bibinya yang mengatur setiap sudut rumah ini dengan tertib. Tetapi sekarang yang dilihatnya adalah sarang laba-laba yang tersangkut pada dinding dan langit-langit.

“Aku tidak sempat lagi melakukan apa pun juga,” desis bibinya, seolah-olah ia tahu apa yang terpercik di dalam hati Pandan Wangi. “Bukan karena aku tidak mempunyai waktu, tetapi hatiku sudah seolah-olah patah. Semuanya lepas dari rumah ini. Dan aku tidak memerlukan apa-apa lagi.”

“Tidak, Bibi,” jawab Pandan Wangi. “Semuanya masih dapat diharap.”

“Adikmu hilang bersama-sama pasukan pamanmu yang tercerai-berai. Pamanmu tertangkap, sedang orang-orang yang mendukungnya telah lenyap. Sidanti pun tidak lagi dapat berbuat apa-apa, sepeninggal gurunya itu.”

“Kesalahpahaman ini akan segera berakhir.”

“Apakah kau berkata sebenarnya, Wangi.”

“Tentu, Bibi. Aku berkata sebenarnya. Sejak Kakang Sidanti meninggalkan ayah, maka akulah yang selalu dibawanya berbicara. Aku adalah orang yang paling dekat, sehingga aku mengenal benar-benar jalan pikiran ayah. Itulah sebabnya aku mengetahui, bahwa sebenarnya ayah tidak menaruh dendam. Seseorang yang menyesali kesalahannya sampai ke dasar hatinya, dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan itu, memang wajib diberi kesempatan.”

Nyai Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ayahmu memang orang baik, Wangi. Menilik sifat-sifatnya, mungkin ia berkata sebenarnya.”

“Aku yakin, Bibi.”

“Tetapi kadang-kadang aku menjadi putus asa. Pamanmulah, yang terlampau keras hati.” Kepala perempuan itu tiba-tiba menunduk. “Ayahmu juga keras hati.”

“Kadang-kadang, Bibi, tetapi untuk mempertahankan keyakinan dan kepentingan harga dirinya pribadi. Tetapi sebagai Kepala Tanah Perdikan, ayah dapat menimbang-nimbang. Apalagi kini ayah mendapat banyak kesempatan untuk menilai semua masalah yang dihadapi. Karena luka-lukanya, sehingga ayah mempergunakan seluruh waktunya untuk berbaring. Dengan demikian ayah tidak sekedar dikejar oleh kekecewaan semata-mata karena Tanah yang selama ini dibinanya, telah menjadi abu. Tetapi ayah sempat memikirkan, bagaimana masa depan dari Tanah Perdikan Menoreh ini.”

Nyai Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Karena itu, Bibi, maka aku telah datang kemari untuk mengunjungi Bibi dan membawa putera Bibi menghadap ayah. Ayah tidak akan menghukumnya. Dan terlebih-lebih lagi paman memang memerlukannya.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya ketika ia melihat mata bibinya menjadi berkaca-kaca kembali. “Adikmu tidak ada di rumah, Wangi. Sejak pertempuran di malam itu, ia seakan-akan hilang dari padaku. Malam itu ia hanya singgah sejenak, mengambil beberapa potong pakaian. Kemudan ia pergi lagi bersama beberapa orang yang sebagian dari mereka tidak aku kenal.”

“Apakah anak itu tidak mengatakan, kemana ia akan pergi?”

Bibinya menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian ia menggeleng. “Tidak, Wangi.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku benar-benar telah diutus oleh paman, Bibi. Paman tentu akan sangat bersenang hati apabila aku dapat membawanya.”

Nyai Argajaya tidak segera menjawab. Namun dada Gupita-lah yang menjadi berdebar-debar. Ia sependapat dengan Pandan Wangi, seperti gurunya pernah berkata, bahw Ki Argajaya telah minta agar puteranya mendapat pengampunan, dan Ki Argapati sama sekali tidak berkeberatan. Tetapi kalau anak itu dapat dibawanya bersama-sama saat ini, maka ia akan kehilangan waktu.

“Hem,” Gupita berkata di dalam hatinya, “ternyata aku telah dicengkam oleh masalah itu. Aku tidak sempat lagi memikirkan persoalan lain lagi, kecuali persoalan Gupala.”

“Apakah bibi masih ragu-ragu?” desak Pandan Wangi.

Tetapi Nyai Argajaya menggeleng. “Tidak, Wangi. Aku tidak ragu-ragu. Tetapi aku benar-benar tidak tahu kemanakah adikmu itu sekarang.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Kadang-kadang aku, ayah dan apalagi paman, menjadi cemas. Sangat cemas, bahwa anak itu akan terseret arus yang tidak dikenalnya itu semakin lama semakin jauh. Kalau arus itu berbenturan dengan kekuatan Menoreh yang tidak mengerti sama sekali tentang hubungan lain daripada hubungan antara lawan, maka keadaannya akan menjadi semakin sulit.” Pandan Wangi berhenti sejenak, lalu, “Bibi, ayah sudah mengumumkan pengampunan umum. Siapa pun yang menyesali perbuatannya dan menyerah, akan mendapat pengampunan, meskipun mereka masih akan tetap mendapat pengawasan. Apalagi paman, dan orang-orang yang masih ada sangkut pautnya dalam hubungan darah seperti anak itu.”

Tetapi yang dilihat oleh Pandan Wangi adalah titik air mata dari mata bibinya. Suaranya menjadi parau, “Menyesal sekali, Wangi. Anak itu seakan-akan telah hilang dari padaku.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah bibinya tajam-tajam. Agaknya ia masih ragu-ragu, apakah bibinya berkata sebenarnya, atau oleh kecurigaan, anak itu dilindunginya, agar tidak diketahui di mana ia bersembunyi.

Namun oleh air mata bibinya yang semakin deras, serta kepalanya yang semakin menunduk, Pandan Wangi kemudian mempercayainya bahwa bibinya berkata dengan jujur, bahwa ia benar-benar tidak tahu di mana anak laki-lakinya bersembunyi.

Dengan demikian maka sikap Pandan Wangi pun kini berubah. Ia tidak berusaha membujuk bibinya lagi, agar ia menunjukkan di mana anaknya berada, tetapi kini Pandan Wangi mencoba membujuk bibinya agar menjadi tenang.

“Aku memang tidak berpengharapan lagi,” berkata bibinya. “Apalagi setiap kali rumah ini digeledah. Mereka juga mencari adikmu seperti kau. Bahkan mereka menyangka rumah inii menjadi tempat persembunyian orang-orang yang berpihak pada pamanmu dalam peperangan yang baru lalu.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku akan berkata kepada mereka, Bibi, bahwa rumah ini sama sekali tidak dipergunakan oleh orang-orang yang melawan ayah waktu itu.”

“Hidupku sama sekali tidak tenang, Wangi. Setiap kali aku selalu diguncang oleh kegelisahan.”

“Sejak sekarang Bibi dapat menenangkan diri. Aku akan tetap membantu ayah dan paman untuk menemukan anak nakal itu. Mudah-mudahan ia tidak mengalami sesuatu.”

Nyai Argajaya tidak segera menjawab.

“Sudah tentu bahwa aku akan mencarinya sebagai seorang kakaknya, Bibi.”

Perlahan-lahan Nyai Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Terima kasih, Wangi. Sejak peperangan itu, baru sekarang aku dapat mempercayai seseorang. Aku mengenalmu baik-baik. Aku percaya bahwa kau masih Pandan Wangi yang dulu.”

“Tentu, Bibi,” sahut Pandan Wangi yang sejenak kemudian menatap wajah Gupita sambil mengangguk kecil. “Kita kembali.”

Gupita pun mengangguk pula.

Pandan Wangi dan Gupita pun segera minta diri setelah ia berjanj untuk mencegah para pengawal mengguncang-guncang lagi hati perempuan yang malang itu.

Begitu Pandan Wangi dan Gupita keluar dari regol halaman, mereka segera melihat beberapa sosok tubuh di sela-sela gerumbul-gerumbul liar yang tumbuh di sana-sini. Sadarlah mereka bahwa para pengawal yang mencemaskan nasib mereka, telah mengadakan pengawasan sebaik-baiknya. Mereka siap bertindak apabila keadaan menjadi semakin gawat.

Pandan Wangi dan Gupita berpandangan sejenak. Kemudian terdengar Gupita berbisik, “Mereka adalah pengawal-pengawal yang baik.”

“Terlalu baik,” sahut Pandan Wangi. Gupita terdiam. Tetapi kepalanya terangguk-angguk. Keduanya pun kemudian meloncat ke punggung kuda masing-masing dan perlahan-lahan berjalan ke gardu di mulut lorong.

Para pengawal yang mengawasinya pun kemudian mengikuti mereka pula, untuk mendengar apa yang telah mereka lihat di dalam rumah yang penuh dengan teka-teki itu.

Di gardu, Pandan Wangi dan Gupta pun turun sejenak dari kuda-kuda mereka, untuk berbicara dengan para pengawal di gardu itu.

“Aku tidak melihat apa pun yang mencurigakan di rumah itu,” berkata Pandan Wangi.

“Kami juga tidak melihat,” berkata pemimpin pengawal. “Karena itulah kami menganggap bahwa ada tempat-tempat rahasia yang tidak kami ketahui.”

“Kau salah,” jawab Pandan Wangi kemudian. “Tidak ada tempat rahasia dan tidak ada orang-orang yang bersembunyi di dalam rumah itu.”

Pengawal itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Sepintas lalu kita memang tdak melihat apa pun. Agaknya sudah dua kali atau lebih aku memasuki rumah itu. Dan aku memang tidak menemukan apa-apa. Tetapi setiap kali, sisa-sisa pasukan Tambak Wedi masih berkeliaran di sekitar padukuhan itu. Bahkan seperti yang sudah pernah aku katakan, satu-dua orang dari kami telah hilang. Apakah artinya ini?”

“Aku mengerti,” berkata Pandan Wangi, “aku tidak menyangkal bahwa masih ada orang-orang yang berputus asa dan berbuat apa pun tanpa tujuan, termasuk membunuh dan merampok. Tetapi mereka tidak bersembunyi di rumah bibi. Aku sudah bertemu dengan bibi. Dan aku percaya bahwa bibi berkata sebenarnya.”

Para pengawal itu saling berpandangan. Tetapi agaknya mereka tidak segera dapat mempercayai keterangan Pandan Wangi. Sehingga Pandan Wangi menjelaskan, “Putra Paman Argajaya itu pun sudah lama tidak pulang. Bibi hidup dalam ketakutan dan kecemasan. Setiap saat ia selalu diganggu oleh perasaannya sendiri dan oleh peristwa-peristwa yang sangat menyakiti hatinya.” Pandan Wangi terdiam sejenak, kemudian, “Dengarlah. Bukan aku tidak mempercayai kalian. Tetapi renungkan. Perhatian kalian hanya tertuju kepada rumah itu. Setiap kali kalian menyangka bahwa orang-orang itu bersembunyi di tempat yang rahasia di halaman rumah itu. Setiap ada seorang pengawal hilang, mau tidak mau, menurut perhitungan kalian, orang-orang yang menyergapnya bersembunyi di sana. Itu sudah titik tolak yang dapat mengaburkan usaha kalian, karena kalian sama sekali tidak menaruh perhatian pada tempat-tempat yang lain. Pada saat dengan marah kalian menggeledah rumah itu, maka orang-orang yang telah melakukan perbuatan jahat itu dengan enaknya tidur di tempat lain yang sudah pasti sama sekali tidak mendapat perhatian kalian, karena kalian sudah beranggapan mutlak, bahwa rumah itulah satu-satunya tempat mereka bersembunyi.”

“Tetapi,” pemimpin pengawal itu masih tidak puas, “salah seorang dari kami pernah melihat seseorang meloncat masuk ke dalam rumah itu.”

“Itulah kecakapan mereka. Mereka memang membuat kesan seolah-olah rumah itu adalah tempat persembunyian yang paling baik bagi mereka.”

Para pengawal yang ada di sekitar gardu dan di regol itu pun mencoba merenungkan kata-kata Pandan Wangi. Satu-dua orang mulai mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan kemudian pemimpin mereka pun berkata, “Masuk akal juga. Selama ini kami memang hanya mengawasi rumah itu sehingga kami kurang memperhatikan kemungkinan-kemungkinan lain.”

“Nah, sejak sekarang bertindaklah lebih cermat,” berkata Pandan Wangi. “Awasi orang-orang yang masih berkeras hati itu dengan saksama.”

“Baik,” jawab pemmpin rombonaan itu.

“Aku akan segera kembali,” berkata Pandan Wangi kemudian.

Apakah kalian memerlukan beberapa orang untuk mengawani perjalanan kalian,” bertanya pemimpin pengawal.

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Tidak sesadarnya dipandanginya bulak yang terbentang di hadapannya. Namun sebelum Pandan Wangi menjawab, Gupita sudah mendahului, “Kami tidak akan menyulitkan kalian.”

“Itu tugas kami,” jawab pemimpin pengawal itu. “Dalam perjalanan kembali mungkin kalian akan berpapasan dengan mereka dalam jumlah yang tidak seimbang. Apalagi kalian berdua.”

“Kami mempergunakan kuda-kuda kami, sehingga apabila orang-orang itu tidak berkuda, kesempatan untuk membebaskan diri cukup besar,” Gupita berhenti sejenak, dan Pandan Wangi menyahut, “Sudah tentu orang-orang itu tidak mempergunakan kuda. Bukankah begitu?”

“Ya, mereka memang tidak berkuda.”

“Karena itu, biarlah kami pergi berdua”

Para pengawal itu pun mengangguk-anggukkan kepala mereka, dan pemimpin mereka berkata, “Baiklah.”

Pandan Wangi dan Gupita pun kemudian minta diri meninggalkan padukuhan yang masih belum terkuasai seluruh segi-segi kehidupannya itu. Namun demikian, kekerasan-kekerasan yang berpengaruh sudah tidak lagi pernah terjadi.

Pandan Wangi dan Gupita itu pun segera meninggalkan padakuhan itu, melalui jalan di tengah-tengah sawah yang luas. Matahari sudah menjadi kian tinggi sehingga panasnya sudah mulai mengusik kulit.

Sepanjang jalan, dada Gupita selalu berdebar-debar. Semakin lama bulak yang dilaluinya menjadi seakan-akan semakin pendek. Kalau mereka melampaui padesan dan pategalan yang terletak beberapa puluh langkah dari jalan ini, kemudian sampai di lengkungan jalan di sebelah susukan, maka kesempatannya menjadi eemakin sempit.

Karena itu, meskipun dadanya serasa akan retak, namun dipaksakannya juga untuk mencoba menyampaikan pesan Gupala itu kepada Pandan Wangi, meskipun dengan ancang-ancang yang panjang.

Hampir segenap tubuh Gupita menjadi basah oleh keringat. Bukan saja karena panas matahari yang semakin tinggi, tetapi juga karena gejolak di dalam dadanya.

“Persetan,” Gupita menggeram di dalam hatinya, “bukan untuk kepentinganku sendiri. Apa pun akibatnya, bukan menjadi tanggung jawabku. Aku hanya akan menyampaikan hasilnya saja kepada Gupala.”

Dengan demikian, maka akhirnya Gupita telah memaksa dirinya sendiri dengan mengerahkan segenap kemapuan yang ada padanya.

“Pandan Wangi,” suaranya gemetar, “kenapa kau begitu tergesa-gesa?”

Pandan Wangi berpaling. Ia melihat kegelisahan di wajah Gupita. “Apakah aku tergesa-gesa?” ia bertanya.

“Kita berkuda terlampau kencang,” jawab Gupita.

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Katanya, “Kita berada di daerah yang belum kita ketahui keadaan yang sebenarnya.”

“Tetapi daerah ini sudah aman.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Mungkin. Tetapi bukankah menurut keterangan para pengawal masih juga ada satu-dua orang yang sering mengganggu di daerah ini?”

“Ya,” jawab Gupita, “tetapi, tetapi, perlambatlah kudamu.”

Pandan Wangi menjadi heran. Namun tanpa sesadarnya ia pun menarik kendali kudanya dan dengan demikian maka perjalanan mereka pun menjadi semakin lambat.

“Pandan Wangi,” suara Gupita menjadi semakin gemetar, sehingga Pandan Wangi pun menjadi semakin berdebar-debar.

Hampir meledak Gupita kemudian berkata, “Ada sesuatu yang ingin aku katakan, Wangi.”

Kini dada Pandan Wangi benar-benar berdesir tajam. Dipandanginya wajah Gupita sesaat, kemudian kepalanya tertunduk dalam-dalam.

Tetapi Gupita menyadari keadaan dirinya. Betapa pun kegelisahan melanda jantungnya, namun ia masih berusaha untuk tidak menumbuhkan salah paham, sehingga dengan suara gemetar ia berkata, “Bukankah sudah aku katakan, bahwa Gupala sekarang menjadi semakin dewasa?”

Pandan Wangi tiba-tiba mengangkat wajahnya. Kerut-merut di keningnya membayangkan seribu satu macam pertanyaan.

“Pandan Wangi,” berkata Gupita tergagap, “apakah kau mau kita berhenti sebentar, supaya aku tidak salah mengucapkan kata-kata?”

Pandan Wangi tidak menjawab. Dadanya menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia menganggukkan kepalanya.”

Maka sejenak kemudian mereka pun telah menghentikan kudanya. Gupita yang meloncat turun lebih dahulu dari kudanya berkata, “Turunlah. Bukankah kau masih mempunyai sedikit waktu.”

Kini tiba-tiba saja tubuh Pandan Wangi pun menjadi gemetar. Perlahan-lahan ia turun dari kudanya. Sebagai seorang gadis yang dewasa, maka ia sudah dapat menduga apa yang akan dikatakan oleh Gupita.

Namun justru karena itu, maka Pandan Wangi menjadi semakin berdebar-debar.

Gupita yang sudah basah kuyup oleh keringatnya itu mencoba untuk menenangkan hatinya. Disekanya keringat di keningnya. Lalu katanya, “Pandan Wangi, aku tidak tahu bagaimana aku akan mengatakannya. Tetapi aku sebenarnya membawa pesan dari Gupala. Itulah sebenarnya, mengapa aku memaksamu untuk pergi berdua.”

Sepercik warna merah membayang di wajahnya, sedang kepalanya pun mejadi semakin tunduk karenanya.

Namun demikian, terjadi juga kejutan yang menghentak di dada Pandan Wangi. Gupita sekedar membawa pesan Gupala. Apa yang akan dikatakan oleh Gupita adalah ungkapan perasaan Gupala.

“Kenapa?” sebuah pertanyaan telah menyentuh hatinya. “Kenapa Gupita tidak mengatakan tentang dirinya sendiri?”

Meskipun demikian sebuah keragu-raguan telah mengisruhkan perasaannya pula. Gupala memang mempunyai kesan yang tersendiri. Seorang periang dengan hati terbuka.

“Tetapi kenapa ia tidak mengatakannya sendii?”

Dalam kebimbangan itu terdengar Gupita berkata, “Pandan Wangi, bukankah kau bersedia mendengarkannya. Sebagai seorang saudara tua aku memang wajib menolongnya, memecahkan kesulitan yang selalu mengganggunya siang dan malam.”

Pandan Wangi tidak menjawab. Tetapi kepalanya kini menjadi semakin menunduk. Gadis yang membawa sepasang pedang itu pun kemudian perlahan-lahan duduk di bawah sebuah gerumbul perdu. Setitik air matanya jatuh di pangkuannya. Dengan jari-jarinya gadis itu mengusap sudut matanya yang membasah.

Gupita menjadi semakin gelisah. Ia memang tidak biasa menghadapi seorang gadis yang sedang menangis. Karena itu, maka ia pun berjalan hilir-mudik di belakang Pandan Wangi.

Keduanya sama sekali sudah tdak ingat lagi kepada sisa-sisa pasukan Ki Tambak Wedi. Keduanya sudah tidak ingat lagi bahwa kadang-kadang masih saja ada satu-dua orang yang hilang di dalam perjalanan dari padukuhan yang baru ditinggalkannya ke padukuhan di seberang bulak yang panjang itu.

Pandan Wangi yang duduk di bawah gerumbul perdu itu tidak segera dapat menjawab. Terasa hatinya menjadi kacau. Sebenarnya kerisauan itu sudah lama membayanginya. Kedua anak-anak muda itu memang mempunyai kelebihannya masing-masing. Namun bagi Pandan Wangi, Gupiti pernah dikenalnya lebih dahulu, sehingga pahatan yang ada di dinding jantungnya, agak lebih dalam dari adiknya yang menyusul kemudian.

Sekilas bahkan terbayang seorang anak muda yang bertubuh rakassa, Wrahasta. Anak muda yang malang itu sama sekali tidak berhasil menggetarkan hatinya, meskipun di saat terakhir ia terpaksa menganggukkan kepalanya, Pandan Wangi sama sekali tidak menyangka, bahwa anggukan kepela itu, anggukan yang hanya dilakukannya sekali, telah membekas pula di dalam hatinya.

“Seandainya saat itu Wrahasta dapat ditolong,” pertanyaan itu pun selalu mengejarnya, “apakah yang akan aku lakukan.”

Kini ia dihadapkan pula pada persimpangan jalan.

“Tetapi kedua-duanya adalah kakak-beradik, meskipun menurut dugaanku hanya sekedar kakak-beradik seperguruan,” desis Pandan Wangi di dalam hatinya.

Namun demikian sudah barang tentu, Pandan Wangi tidak akan dapat mempertentangkan keduanya. Kini Gupita datang kepadanya, menyatakan perasaan yang tersimpan di dalam hati, tapi hati adiknya. Gupala.

Pandan Wangi memang menjadi bingung. Ia tidak tahu, manakah yang lebih menggembirakan hatinya. Apakah Gupita menyatakan perasaannya sendiri, atau seperti yang dilakukannra kini.

Gupita pun menjadi semakin gelisah karenanya. Bahkan kadang-kadang jantungnya serasa berhenti mengalir. Ketika Pandan Wangi duduk tertunduk, tanpa sesadarnya, dipandanginya gadis itu. Dalam sekilas, kenangannya langsung melontar ke Sangkal Putung. Tanpa dikehendakinya sendiri, Gupita pun mulai membandingkan kedua gadis itu.

“Pandan Wangi mempunyai banyak kelebihan,” terdengar kata-kata itu terlonjak di dasar hatinya. “Anak ini mampu bermain pedang,” kata-kata itu terdengar terus, “tetapi ia sama sekali bukan seorang anak yang manja dan tinggi hati. Ia tahu benar kewajibannya. Baik sebagai seseorang yang berpedang, maupun sebagai seorang gadis. Sambil menyandang pedang, Pandan Wangi berjongkok di muka api menanak nasi dan merebus air.”

Tetapi Gupita tergagap ketika tiba-tiba saja Pandan Wangi mengangkat wajahnya dan berpaling. Benturan pandangan mata mereka, membuat keduanya menjadi gemetar.

Untuk mengusir kesan yang tersirat di wajahnya, Gupita berkata dengan gugup, “Bagaimana, Wangi. Aku sudah mengatakan apa yang harus aku katakan. Sekedar pesan Gupala.”

Pandan Wangi masih belum menjawab. Tatapan matanya yang membentur pandangan Gupita itu pun segera dilemparkannya jauh-jauh ke tengah-tengah sawah yang tidak terpelihara itu. Namun demikian serasa jantungnya berdenyut semakin cepat, sehingga dadanya seakan-akan menjadi pepat.

Gupita masih saja berdiri tegak di belakang Pandan Wangi. Tetapi kini ia tidak berani menatap rambut yang hitam yang bergerak-gerak dibelai angin. Apabila sekali lagi Pandan Wangi berpaling dan menatap matanya, mungkin ia akan terbungkam untuk selanjutnya.

“Kau belum menjawab, Pandan Wangi,” desak Gupita yang gelisah.

Pandan Wangi menark nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk menenangkan hatinya yang bergolak. Karena ia tidak segera menemukan jawaban, maka tiba-tiba saja ia bertanya, “Siapakah kalian sebenarnya?”

Pertanyaan itu benar-benar mengejutkan Gupita, sehingga kini ia-lah yang tidak segera dapat menjawab.

“Aku akan menjawab pertanyaanmu apabila aku tahu pasti, siapakah sebenarnya kalian. Siapakah kau, siapakah Gupala, dan siapakah gembala tua itu.”

Gupita masih tetap berdiam diri. Kegelisahannya menjadi semakin meningkat. Sementara itu Pandan Wangi masih saja duduk memandang ke kaki langit di kejauhan.

Sejenak mereka berdua saling berdiam diri. Hanya desah nafas dan detak jantung masing-masing sajalah yang terdengar di sela-sela desir angin.

Namun tiba-tiba mereka dikejutkan oleh gemerisik di seberang jalan di belakang mereka, sehingga dengan gerak naluriah mereka meloncat berdiri dan siap menghadapi segala kemungkinan.

Yang telah mereka lupakan itu tiba-tiba kini berada di hadapan mereka. Enam orang dengan senjata telanjang di tangan masing-masing. Salah seorang dari mereka adalah seorang anak yang masih sangat muda. Namun dengan tangkasnya ia merundukkan pedangnya sambil berkata lantang, “Tak ada gunanya kalian melawan.”

Pandan Wangi terkejut bukan kepalang. Tanpa sesadarnya ia memekik, “Prastawa. Kaukah itu?”

Anak yang masih terlampau muda itu menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya, aku, Kenapa?”

“Aku baru saja datang mengunjungi bibi. Kau sangat ditunggu oleh bibi, dan bahkan oleh paman.”

Tiba-tiba saja tenak itu tertawa. Suara tertawanya meninggi dan menyakitkan hati.

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Ia melihat perubahan yang tajam pada adik sepupunya itu.

“Apakah ini putera Ki Argajaya?” Gupita berbisik.

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya.

Gupita tidak bertanya lagi. Tetapi ia harus mempunyai cara yang disesuaikan dengan lawan yang dihadapinya.

“Aku sekarang tidak dapat mempercayai siapa pun. Kau juga tidak,” berkata anak muda itu lantang. “Aku hanya percaya kepada diriku sendiri.”

Pandan Wangi tidak segera menyahut. Tetapi ia mencoba mengenal kawan-kawan adik sepupunya itu seorang demi seorang.

“Semula aku tidak menyangka bahwa kaulah yang lewat berdua di jalan ini. Aku kira kau berdua adalah sebangsa cucurut penjilat yang memuakkan, sehingga aku memutuskan untuk membunuh saja kalian berdua dan kubawa kepalamu sebagai pangewan-ewan ke padepokan. Tetapi aku tertegun ketika aku mengenal kau. Aku menjadi ragu, apakah aku akan membunuhmu atau tidak. Namun agaknya keadaanmu yang memuakkan pula itu telah mendorong aku untuk meneruskan rencana ini. Kau sudah bercumbu dengan orang asing ini. Tanpa malu-malu kau sudah melakukan perbuatan tercela di tengah jalan meskipun kau yakin bahwa jalan ini terlampau sepi. Seandainya yang menemukan kau bukan aku, tetapi para perondamu sendiri pun, kau akan dicela dan ditandai dengan noda hitam di keningmu. Apalagi kau puteri Kepala Tanah Perdikan Menoreh yang hampir mati itu.”

“Prastawa,” suara Pandan Wangi menyentak, “jangan salah sangka. Seharusnya kau bertanya, apa yang sedang aku lakukan.”

“Kenapa aku harus bertanya? Aku sudah melihat apa yang terjadi. Kau menyesali dirimu sendiri, sehingga kau menangis. O, kau sudah menodai nama baik Tanah Perdikan ini. Karena itu, kalian berdua harus mati.”

“Apa yang harus aku sesali?” bertanya Pandan Wangi lantang.

“Tentu tentang dirimu sendiri. Tetapi yang sudah teranjur itu tidak akan dapat kau perbaiki. Apakah aku harus mengatakan? Apakah aku harus menunjuk percikan lumpur di wajahmu. He, apa yang kalian kerjakan di semak-semak perdu itu? Lalu kenapa kau menangis? Jelas?”

“Prastawa!” Pandan Wangi hampir menjerit. “Kau sudah kehilangan nalar.”

Tetapi anak muda itu tertawa berkepanjangan. Katanya kemudian, “Sebagai seorang adik, aku malu sekali mempunyai kakak perempuan seperti kau. Sebagai orang Menoreh, aku merasa tersinggung, bahwa kau sudah menyerahkan dirimu pada orang asing, dan sebagai putera ayah, Ki Argajaya, aku memang harus membalas dendam.”

Tiba-tiba tubuh Pandan Wangi menjadi gemetar. Tuduhan yang terlampau keji itu telah menddihkan darahnya, sehingga hampir saja ia kehilangan pengamatan diri. Sebagai seorang gadis, ia tersinggung sekali oleh kata-kata adik sepupunya. Apalagi semuanya itu tidak benar sama sekali.

“Prastawa,” berkata Pandan Wangi dengan suara gemetar, “kau jangan asal berbicara saja. Kau salah sama sekali. Tidak terjadi apa pun di sini.”

Tetapi suara tertawa anak itu benar-benar menyakitkan hati.

Dalam pada itu, Gupita agak lebih mengendalikan perasannya daripada Pandan Wangi, karena Gupita bukan seorang gadis. Kini justru ia berhasil mengatur detak jantungnya yang semula berdentangan di dadanya.

“Ki Sanak,” ia mencoba berkata sareh, “Pandan Wangi memang menitikkan air mata. Tetapi sama sekali tidak seperti yang kau duga. Kami berdua baru saja datang mengunjungi ibumu dengan maksud yang sebaik-baiknya. Semula ibumu tidak dapat menerima kami, namun perlahan-lahan ia dapat menyadari keadaannya.”

“Omong kosong!”

“Tunggu, aku belum selesai,” potong Gupita. “Namun sebuah penyesalan yang dalam telah mengganggu perasaan Pandan Wangi, karena usahanya untuk membawamu menghadap Ki Argajaya gagal.”

“O,” anak muda itu berteriak, “jangan kalian sangka aku anak kecil yang masih ingusan. Sekarang jangan banyak bicara. Tindakan kalian telah menodai Tanah Pendikan Menoreh. Kalian telah membuat tanah di sekitar tempat ini menjadi sangar dan gersang. Karena itu, tebusannya adalah darah kalian. Kalau darah kalian berhasil menyiram tanah ini, maka tanah ini akan menjadi subur kembali. Dosa kalian sudah kalian tebus dengan darah merah kalian.”

Gupita menarik nafas dalam-dalam. Anak ini agaknya sudah tidak dapat diajak berbicara lagi.

“Ayo kawan-kawan,” berkata anak muda itu, “kita selesaikan saja orang-orang ini.”

“Tunggu,” berkata Gupita, “aku tidak menyangka bahwa kau dapat berbuat demikian. Ketika kami melukai Ki Peda Sura, kau agaknya masih dapat berpikir bening. Kau waktu itu bersikap sebagai seorang adik yang baik. Tetapi kenapa tiba-tiba saja kau sudah berubah?”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Sejenak ia berdiam dan merenungkan kata-kata Gupita itu. Namun dalam pada itu seorang yang bertubuh tinggi kurus berdesis, “Jangan hiraukan. Mereka sekedar ingin dihidupi.”

Anak yang masih sangat muda itu berpaling. Ditatapnya wajah orang yang tinggi kurus itu sejenak. Dan orang yang tinggi kurus itu masih berkata terus, “Bukankah setiap orang Menoreh akan berkata demikian apabila maut telah menyentuhnya? Itu semua hanya omong kosong. Kalau kesempatan itu datang, maka kaulah yang akan dibunuhnya.”

Anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan sejenak kemudian terdengar suara tertawanya mengejutkan. Katanya lantang, “Ya. ya. Kau benar. Hampir saja aku tertipu oleh orang ini.”

Tetapi Gupita masih tetap berhasil menguasai perasaannya. Katanya, “Apakah setiap orang akan berkata kepadamu bahwa kau pernah mempertahankan namanya di hadapan pasukanmu sendiri? Tetapi itu benar-benar kau lakukan atas kakakmu Pandan Wangi. Bukankah kau saat itu tampak bertengkar dengan pimpinan pasukanmu karena pemimpinmu itu menghina Pandan Wangi justru karena Pandan Wangi berhasil melukai Ki Peda Sura?”

Sekali lagi anak yang masih terlampau muda itu berkerut-merut. Tetapi sekali lagi orang yang tinggi kurus itu berkata, “Kau sudah dipengaruhinya. Kau sudah mulai menyentuh getah yang akan dapat menjeratmu. Berusahalah untuk melepaskan diri. Buat apa kita berbicara terlampau banyak? Kalau keduanya sudah mati maka kau akan berkesempatan mempertimbangkan kebenaran kata-kataku. Apalagi keduanya telah membuat Tanah ini menjadi sangar dan gersang karena tindakannya yang tidak tahu malu.”

“Ya, ya. Aku mengerti. Kau memang benar. Orang-orang ini harus dibunuh.”

“Apakah kau meyakini kata-kata orang kurus yang sedang berputus asa itu,” tiba-tiba Gupita menyela.

“Jangan hiraukan. Bunuh saja,” teriak yang kurus.

“Dengar. Kata-katanya tidak menentu,” sahut Gupita. “Kalau ia tidak sedang berputus asa, ia pasti mau mendengarkan kata-kataku.”

“Omong kosong! Kau sedang dipengaruhi. Kedua orang itulah yang sedang berputus asa.”

“Tentu tidak,” berkata Gupita. “Bukan kami yang berputus asa. Kami yakin akan kemampuan kami. Ki Peda Sura dapat kami kalahkan. Siapa lagi?”

“Tetapi kami bukan Ki Peda Sura. Ki Peda Sura pun tidak akan mampu melawan kami berenam,” berkata orang yang kurus itu. “Sekarang jangan berbicara lagi. Berdoalah, supaya arwahmu tidak tersesat ke api neraka.”

Gupita menarik nafas dalam-dalam. Agaknya orang yang tinggi kurus ini sangat berpengaruh atas putera Ki Argajaya, sehingga anak muda itu hampir tidak berkesempatan untuk merenungkan dirinya sendiri.

Karena itu maka ia berkeputusan, apabila keadaan terpaksa, maka orang yang tinggi kurus ini harus di pisahkan dari putera Ki Angajaya itu.

Sebenarnyalah bahwa Gupita memang tidak sempat untuk berbicara lagi. Orang-orang itu sudah siap untuk menyergap mereka dengan senjata masing-masing

“Tidak ada jalan lain,” bisik Gupita, “kita memang harus membela diri.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sayang anak itu.”

“Ia masih mempunyai harapan. Orang yang tinggi kurus itu harus dipisahkan daripadanya.”

“He,” teriak orang yang tinggi kurus ini, “apa yang kau katakan?”

“Kami sedang membicarakan kau. Dan kami berkeputusan untuk memisahkan kau dari putera Ki Argajaya. Hari depannya masih panjang dan penuh harapan. Agaknya kau memang sudah meracuninya perlahan-lahan, sehingga anak itu tidak mau kembali kepada ibu dan ayahnya.”

“O, jangan mengigau,” orang yang tinggi kurus itu tiba-tiba saja sudah menyerang. Ternyata ia tangkas juga menggerakkan pedangnya. Yang pertama-tama menjadi sasarannya adalah Gupita.

Dengan demikian maka kawan-kawannya yang lain pun segera berloncatan menyerang pula. Beberapa orang bergeser mengambil arah yang yang lain. Tetapi Pandan Wangi pun tidak tinggal diam. Segera ia meloncat menjauhi Gupita, sedang sepasang pedangnya pun telah berada di dalam genggaman.

Seperti yang sudah mereka duga, bahwa mereka masing-masing akan berhadapan dengan tiga orang. Ternyata putera Ki Argajaya itu memilih Gupita sebagai lawannya. Ada sesuatu yang menahannya untuk bertempur melawan kakak sepupunya itu.

Gupita pun harus menarik senjatanya pula. Anak muda itu cukup lincah. Pedangnya berputaran di antara kedua senjata kawan-kawannya.

Sejenak kemudian menggeletarlah suara cambuk Gupita memenuhi udara. Suaranya serasa tidak segera mau lenyap dari pendengaran. Suara itu seakan-akan berdesing-desing seperti lebah yang terbang di sekitar lubang telinga.

Tetapi lawan-lawannya ternyata orang-orang yang keras hati. Dengan sepenuh kemampuan mereka menyerang Gupita dari segala arah.

Namun bagi Gupita sendiri, orang yang kurus itulah yang menjadi sasaran utamanya. Ia harus dipisahkan dari putera Ki Argajaya.

Dengan demikan, maka ujung cambuk Gupita seolah-olah selalu mengejarnya. Kemana ia meloncat, terasa ujung cambak itu selalu mengikutinya

“Setan alas!” ia menggeram. Tetapi ia tidak berdaya. Ujung cambuk itu benar-benar selalu mengejar.

Orang yang tinggi kurus itu sudah berusaha untuk menebas ujung cambuk Gupita dengan pedangnya. Tetapi ia sama sekali tidak berhasil. Menyentuh pun terlampau sulit baginya, karena ujung cambuk itu menyambar kemudian meledak dan seolah-olah meloncat menjauh dengan kecepatan yang tidak dapat diperhitungkan. Secepat kilat yang berloncatan di langit.

Semakin lama orang yang tinggi kurus itu merasa, bahwa ia benar-benar terancam.

Terhadap lawan-lawannya yang lain Gupita seakan-akan hanya sekedar membela dirinya. Ia hanya sekedar menghindar dan kadang-kadang menghalau mereka menjauh. Tetapi terhadap yang tinggi kekurus-kurusan ini senjatanya benar-benar menyerang. Ketika ujung cambuknya berhasil menyentuh kulit orang yang kekurus-kurusan itu, maka terdengarlah keluhan yang tertahan. Bukan saja lengan bajunya yang sobek karenanya, tetapi ternyata kulitnya pun terkelupas pula sehingga darahnya segena mengalir memerahi pakaiannya.

“Setan alas!” ia mengumpat pula.

Namun ujung cambuk Gupita tidak juga berpindah daripadanya. Apalagi putera Ki Argajaya yang masih sangat muda itu. Meskipun ia tidak kalah lincah dan berbahaya dari kawan-kawannya, namun Gupita seakan-akan tidak pernah bersungguh-sungguh menyerangnya.

Tiba-tiba orang yang tinggi kurus itu merasa, bahwa Gupita benar-benar ingin membinasakannya, seperti yang sudah dikatakaanya, memisahkannya dari putera Ki Argajaya. Karena itu, maka ia merasa terancam untuk tetap berkelahi melawan Gupita. Dengan demikian maka tiba-tiba ia meloncat surut dan berpindah ke lingkaran perkelahian yang lain sambil menyuruh seorang kawannya menggantikan tempatnya.

“Huh, kalian tidak segera berhasil menyelesaikan perempuan ini,” katanya. “Tahanlah dahulu anak dungu itu. Aku akan menyelesaikannya. Kemudian kita bantai bersama-sama kawan laki-lakinya itu.”

Kawannya sama sekali tidak berprasangka apa pun. Ia pun segera meninggalkan Pandan Wangi dan bergabung dalam lingkaran perkelahian yang lain, bersama putera Ki Argajaya.

Melihat kehadiran orang yang tinggi kurus itu Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia teringat kata-kata Gupita, bahwa orang inilah agaknya yang telah meracuni jiwa adiknya.

Terngiang di telinganya suara Gupita, “Ia masih mempunyai harapan. Orang yang tinggi kurus itu harus dipisahkan daripadanya.”

Tiba-tiba Pandan Wangi menggeretakkan giginya. Agaknya memang orang inilah yang selama ini telah menghasut adik sepupunya, sehingga adiknya itu seakan-akan menjadi liar.

Sejenak kemudian maka kedua ujung pedang Pandan Wangi pun seakan-akan selalu mengitari tubuh orang itu. Pandan Wangi tidak lagi menaruh minat kepada kedua lawannya yang lain. Seperti Gupita ia hanya sekedar menghindar dan menangkis serangan kedua lawan-lawannya yang lain, tetapi serangan-serangannya dipusatkannya kepada orang yang tinggi kurus itu.

Sesaat setelah orang yang tnggi kurus itu bergabung dalam lingkaran pertempuran yang baru, ia belum merasakan tekanan ujung pedang Pandan Wangi. Tetapi sejenak kemudian, orang itu terpaksa mengumpat-umpat lagi. Di dalam hatinya ia berkata, “Setan betina ini pun agaknya memusatkan serangannya kepadaku.”

Semula orang yang tinggi itu bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, kenapa serangan-serangan lawannya dipusatkannya kepadanya. Tidak kepada orang lain, dan tidak kepada putera Ki Argajaya. Namun akhirnya ia menyadari dirinya. Kedua orang itu memang menganggap dirinya sebagai penghasut atas putera Ki Argajaya, sehingga anak itu benar-benar berniat ingin membunuh mereka. Dengan demikian maka kedua orang itu pasti mendendamnya.

Satu hal yang tidak diduganya, bahwa kedua orang itu mempunyai kemampuan yang luar biasa, sehingga masing-masing mampu bertahan atas tiga orang sekaligus.

“Tetapi sebentar lagi tenaga mereka pasti akan segera susut,” orang yang tinggi kurus itu mencoba menenteramkan hatinya yang sudah mulai gelisah.

Tetapi dugaan itu ternyata keliru. Meskipun masing-masing harus berkelahi melawan tiga orang, namun ternyata mereka berdua memang mempunyai kemampuan yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya.

Sepeninggal orang yang tinggi kurus itu Gupita merasa seakan-akan kehilangan sasaran. Karena itu, maka seolah-olah ia tidak berkelahi bersungguh-sungguh. Ia hanya sekedar berusaha menyelamatkan dirinya dari ujung-ujung senjata lawannya. Tetapi ia sama sekali tidak berusaha untuk mengurangi jumlah lawannya itu dengan kematian apalagi putera Ki Argajaya. Ia memang ingin membuat kesan bahwa apa yang dikatakan itu memang benar-benar bermaksud baik.

Namun dalam pada itu, orang yang tinggi kurus itu sudah mandi keringat di seluruh tubuhnya. Bukan saja ia menjadi semakin gelisah, tetapi ternyata ia benar-benar telah hampir kehilangan akal. Ujung-ujung pedang Pandan Wangi seakan-akan mempunyai mata yaag tajam, yang dapat melihat ke mana pun ia menghindar.

Ia terloncat surut sambil menyeringai ketika segores luka telah menyobek pundaknya. Sambil mengumpat-umpat ia meraba-raba pundaknya yang terluka itu. Ketika terpandang olehnya jari-jarinya sendiri hatinya berdesir tajam. Warna merah yang tajam telah membasahi tangannya.

“Setan alas! Apakah hanya aku yang mereka anggap lawan,” pertanyaan itu selalu mengganggunya.

Sejenak ia dihinggapi oleh penyesalan, bahwa ia telah dengan terus terang menghasut putera Ki Argajaya, sehingga orang-orang itu langsung dapat menilai dirinya.

“Tetapi aku tidak menyangka bahwa mereka dapat bertahan,” katanya di dalam hati.

Kini, mau tidak mau ia harus bertempur. Tetapi ia terdesak dalam keadaan sekedar membela diri.

Dalam pada itu, selagi mereka bertempur dengan serunya, dua pasang mata mengawasi pertempuran itu dengan tajamnya. Yang seorang dengan wajah yang tegang dan merah padam oleh kemarahan yang serasa menyesakkan dadanya.

“Guru, bukankah kita mendengar apa yang dikatakan oleh anak yang masih sangat muda itu, bahwa keduanya telah melakukan pelanggaran yang memalukan?”

“Jangan percaya,” jawab yang lain.

“Kenapa?”

“Kita dapat menemui mereka, dan bertanya sebaik-baiknya.”

Sejenak mereka terdiam, seolah-olah terpukau oleh pertempuran yang menjadi semakin seru. Sambil menahan nafas mereka menyaksikan senjata baradu dan gemeletarnya cambuk Gupita. Di dalam hati keduanya mengakui bahwa Gupita memang seorang yang pilih tanding.

Tetapi gadis kawannya bertempur itu pun mempunyai banyak kelebihan dari lawan-awannya. Ia mampu melawan tiga orang tanpa menemui kesulitan apa pun. Bahkan ia masih juga dapat melukai orang yang tinggi kekurus-kurusan itu.

“Aku tidak sabar lagi,” desis yang seorang.

“Dengarlah kata-kataku,” sahut yang lain, gurunya, “kau tidak perlu berbuat sesuatu. Kita dapat menunggu sampai perkelahian itu berakhir.”

“Aku tidak sabar lagi, Guru.”

“Kau diombang-ambingkan oleh perasaanmu. Pergunakanlah nalarmu.”

Orang itu menggeram. Tetapi wajahnya justru menjadi semakin tegang.

“Aku mengharap kedua orang itu berhasil mengalahkan lawan-lawannya,” gumamnya.

“Tentu, menilik perhitunganku, mereka akan menang.”

“Dan aku mendapat kesempatan untuk berperang tanding.”

“Kau harus mencoba mengendalikan diri.”

Muridnya tidak menjawab. Tetapi sorot matanya. masih saja menyala seperti api yang tersiram minyak.

Pertempuran itu sendiri memang berlangsung semakin seru. Gupita dan Pandan Wangi berhasil menekan lawan-lawan mereka, sehingga keenam orang itu sama sekali sudah tidak mampu untuk besbuat apa-apa. Apalagi orang yang tinggi kekurus-kurusan itu. Lukanya semakin lama menjadi semakin banyak.

“Kau adalah sumber malapetaka yang menimpa adikku,” desis Pandan Wangi. “Aku kira akan lebih baginya kalau kau tidak mengganggunya lagi untuk seterusnya.”

Orang itu pun menggeram pula. Tetapi ia benar-benar sudah tidak berpengharapan. Meskipun demikian ia masih juga melawan bersama-sama dengan kawan-kawannya.

Putera Ki Argajaya pun kemudian harus melihat kenyataan yang dihadapinya. Kawannya yang tinggi kekurus-kurusan itu sudah terluka. Sedang kawan-kawannya yang lain sama sekali tidak berdaya melindunginya.

Dengan demikian ia pun mulai ragu-ragu. Kalau ia bersama kawan-kawannya meneruskan perlawanan, maka hampir tidak dapat diharapkan bahwa mereka akan dapat mempertahankan diri. Kalau mereka gagal, dan apalagi berhasil ditangkap, maka nasibnya akan menjadi terlampau jelek. Bukan karena takut digantung di alun-alun, tetapi untuk menjadi tontonan adalah sama sekali tidak menarik.

Karena itu maka putera Ki Argajaya itu pun segera membuat pertimbangan-pertimbangan. Ia memang melihat beberapa keanehan di dalam pertempuran itu. Lawannya agaknya sama sekali tidak bernafsu untuk menyerangnya atau sama sekali membinasakannya. Orang yang bersenjata cambuk itu seperti orang yang hanya sekedar membela dirinya saja, betapapun beratnya. Hanya kadang-kadang saja ia berusaha menyerang lawan-lawannya, untuk mengurangi tekanan-tekanan ketiga ujung senjata yang kadang-kadang berbareng mematuknya.

Apalagi apabila dilihatnya kawan-kawannya pun sama sekali sudah tidak banyak berdaya.

Karena itu akhirnya, dengan pahit anak muda itu harus mengakui keunggulan lawannya kali ini. Biasanya dengan penuh kebanggaan mereka membinasakan siapa pun yang dapat mereka jumpai di tegah-tengah bulak yang panjang itu. Namun kali ini keadaan menjadi sangat berbeda. Dua orang lawannya itu, dengan mudahnya mampu mendesak enam orang kawan-kawannya yang terpilih.

“Tidak ada jalan lain,” katanya di dalam hati, “lari adalah jalan yang jauh lebih baik dari digantung di alun-alun.”

Akhirnya keputusan itu jatuhlah. Putera Ki Argajaya itu tidak sempat minta pertimbangan kepada kawannya yang tinggi kekurus-kurusan, karena ia sendiri masih terlampau sibuk dengan ujung cambuk Gupita, sedang kawan-kawannya selalu saja digantungi oleh nasib mereka masing-masing. Apalagi kawannya yang tinggi kurus itu.

Dengan demikian, maka anak muda itu pun segera memberikan isyarat sehingga kawan-kawannya segera mengerti, mereka harus melarikan diri.

Tidak seorang pun yang merasa berkeberatan untuk melakukan perintah itu. Dengan demikian, maka sekejap kemudian, mereka pun telah berloncatan meninggalkan arena.

Tetapi baik Gupita mau pun Pandan Wangi merasa berkeberatan apabila orang yang tinggi kurus itu meninggalkan arena pula bersama kawan-kawannya. Karena itu, hampir berbareng keduanya memburu. Mereka hampir tidak menghiraukan lagi kelima orang yang lain, juga putera Ki Argajaya. Di dalam hati keduanya, baik Pandan Wangi maupun Gupita, berpendapat bahwa apabila orang yang tinggi kurus ini tidak lagi berada bersama-sama dengan anak yang masih terlampau muda itu, maka ia akan mendapat kesempatan untuk menilai segala perbuatannya. Mungkin ia akan segera teringat kepada ibunya atau sanak saudaranya dipadepokan. Dengan demikian maka menjinakkan anak itu akan menjadi jauh lebih mudah daripada sekarang.

Untuk menangkapnya dengan kekerasan agaknya baik Pandan Wangi maupun Gupita masih belum sampai hati. Mereka sadar, bahwa apabila anak muda itu diperlakukan demikian, maka hatinya pasti akan benar-benar patah, dan tidak akan dapat disambungkannya lagi. Seperti ayahnya, anak muda itu agaknya keras hati dan harga dirinya sama sekali tidak mau tersentuh sama sekali.

Dengan demikian, maka tanpa berjanji lebih dahulu, Pandan Wangi dan Gupita telah bersama-sama berusaha untuk menghentikan orang yang tinggi kurus itu.

Dengan sekuat-kuat tenaganya, orang itu mencoba untuk melepaskan dirinya. Ia merasa, bahwa pusat perhatian lawan-lawannya ditujukan kepadanya. Karena itu, maka ia harus mencoba untuk lari sekuat-kuatnya.

Tetapi agaknya langkah Gupita cukup cepat untuk menyusulnya. Tiba-tiba saja terasa kaki orang yang tinggi kurus itu seperti terkait sesuatu, sehingga ia kehilangan keseimbangannya. Tiba-tiba saja ia telah terlempar dan jatuh terjerambab. Ternyata ujung cambuk Gupita telah membelit pergelangan kakinya.

Baik Gupita maupun Pandan Wangi memang berusaha untuk menangkapnya. Tetapi sama sekali tidak untuk membunuhnya. Menurut perhitungan mereka, orang yang tinggi kurus itu akan dapat menjadi sumber keterangan, di mana dan sampai seberapa jauh orang-orang yang keras kepala itu mengadakan pemusatan-pemusatan kekuatan.

Tetapi nasib yang malang sama sekali tidak dapat ditolak. Ketika orang yang tinggi kurus itu terlempar dan jatuh menelungkup, maka ujung senjatanya sendiri telah terhunjam ke dalam perutnya. Sejenak ia masih menggeliat, namun sejenak kemudian orang itu telah terdiam untuk selama-lamanya.

Pandan Wangi dan Gupita saling berpandangan sejenak. Mereka hampir-hampir telah terlupa kepada orang-orang lain yang berlari semakin lama semakin jauh.

“Aku tidak sengaja,” desis Gupita.

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia percaya bahwa Gupita memang tidak sengaja. Karena itu katanya, “Agaknya memang sudah menjadi batas hidupnya. Orang itu harus mengakhiri hidupnya dengan senjatanya sendiri.”

“Meskipun caranya agak berbeda dengan Arya Penangsang,” desis Gupita.

Pandan Wangi masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kita tidak berhasil kali ini,” desis Pandan Wangi sambil menyarungkan senjatanya, “tetapi aku mengharap bahwa anak itu akan mendapat kesempatan untuk menilai dirinya sendiri.

Sayang orang terbunuh,” berkata Gupita kemudian. “Kalau tidak, kita akan banyak mendapat keterangan.”

“Sudahlah. Bukan salah kita. Kita akan memberitahukan kepada para peronda untuk merawat mayat itu.”

“Tetapi mereka harus berhati-hati.”

“Ya, mereka harus datang dalam jumlah yang cukup.”

Gupita menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia berdesis, “Sekarang kita akan kembali.”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya. Tetapi ketika tampak olehnya wajah Gupita yang ragu-ragu, maka ia pun segera menundukkan kepalanya.

Keduanya pun kemudian melangkah perlahan-lahan mendekati kuda-kuda mereka. Tetapi mereka tidak saling berbicara apa pun. Gupita yang merasa bahwa ia belum menyampaikan pesan Gupala seluruhnya menjadi kecewa. Tetapi suasananya sudah menjadi rusak sama sekali karena kehadiran orang-orang yang berputus asa dan berbuat tanpa tujuan itu.

“Tetapi aku sudah mengatakan sebagian,” katanya di dalam hati, “sehingga lain kali aku hanya tinggal menanyakan jawabnya.”

Gupita menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang sudah dikatakannya. Namun tiba-tiba ia mengerutkan keningnya, “Aku belum memintanya untuk Gupala. Aku belum mengatakan pokok persoalannya.” Ia berkata pula di dalam hatinya, “Tetapi Pandan Wangi sudah dapat menangkap maksudku. Dan ia sudah mengerti.”

Gupita terperanjat ketika ia mendengar Pandan Wangi bertanya, “Apakah kita terus pulang ke rumah?”

Gupita heran mendengar pertanyaan itu. Dengan ragu-ragu ia menjawab, “Ya. Kita pulang. Tetapi persoalan kita, maksudku persoalan yang dititipkan Gupala kepadaku masih belum selesai.”

Pandan Wangi tidak menyahut, tetapi kepalanya menjadi semakin tunduk.

Adalah diluar dugaan sama sekali, bahwa tiba-tiba keduanya mendengar pula gemerisik dedaunan di belakang mereka. Serentak mereka berbalik dan siap menghadapi kemungkinan apa pun yang bakal datang.

Tetapi darah Gupita tiba-tiba saja serasa berhenti mengalir ketika ia melihat seseorang berdiri di hadapannya. Seeorang yang berpakaian seperti seorang laki-laki. Tetapi dalam sekilas Gupita langsung dapat mengenalnya, bahwa ia bukan seorang laki-laki.

Apalagi ketika ia melihat di tangan orang itu tergenggam sebatang tongkat baja putih, dengan sebuah tengkorak kecil yang berwarna kekuning-kuningan pada pangkalnya.

“Inikah Agung Sedayu yang pernah aku kenal dahulu?” terdengar orang itu berdesis.

Sejenak Gupita membeku diam di tempatnya. Ditatapnya orang itu dari ujung kepala sampai ke ujung kakinya.

“Apakah kau melihat sesuatu yang lain padaku?” ia bertanya.

Gupita masih tetap membisu.

“Inikah puteri kepala Tanah Perdikan Menoreh yang perkasa itu, dan bernama Pandan Wangi?”

Gupita masih tetap berdiam diri, sedang Pandan Wangi menjadi terheran-heran melihat orang itu. Seperti Gupita ia pun segera mengenal bahwa orang itu sama sekali bukan seorang laki-laki.

“Adalah pantas sekali bahwa puteri Kepala Tanah Perdikan Menoreh telah menggemparkan seluruh tlatah Pajang. Kini aku melihat sendiri, betapa ia mampu melawan tiga orang laki-laki sekaligus.”

Pandan Wangi menjadi semakin heran. Ia sama sekali tidak merasa bahwa namanya pernah dikenal orang sampai di luar tlatah Menoreh. Namun ia merasa, kata-kata itu sekedar suatu kata-kata sindiran yang mengungkat kemarahannya.

“Namun sayang,” berkata orang bertongkat itu, “kebesaran namanya sama sekali tidak diimbanginya dengan keluhuran trapsila seorang wanita.”

Pandan Wangi menjadi semakin tidak mengerti, apakah yang dimakud oleh orang itu. Sekilas ia teringat kepada orang-orang yang baru saja melarikan diri. Apakah orang ini termasuk salah seorang dari mereka?

“He, kenapa kalian membeku seperti patung?” orang itu hampir berteriak. “Kenapa? Dan inikah hasil perjalananmu, Agung Sedayu?”

Gupita menarik nafas dalam-dalam. Kini ia yakin siapakah yang dihadapinya, meskipun tongkat baja putih itu semula telah membingungkannya. Tetapi tidak salah lagi, sehingga karena itu ia berdesis, “Sekar Mirah.”

“Nah, kau masih ingat aku? Aku adalah Sekar Mirah.”

“Tetapi kenapa kau tiba-tiba mengucapkan kata-kata yang dapat menyakitkan hati Pandan Wangi?” Gupita masih agak ragu.

“O, kau membelanya? Aku memang sudah yakin, bahwa kau pasti akan membelanya.”

“Tunggu, Sekar Mirah. Biarlah aku berbicara.”

“Tdak ada yang dibicarakan, dan aku pun tidak akan berbicara apa pun. Aku hanya akan sekedar menyatakan sakit hati yang hampir tidak tertahankan. Merendahkan derajat wanita adalah perbuatan yang paling terkutuk.”

Pandan Wangi yang mendengar tuduhan-tuduhan itu tidak dapat menahan hatinya lagi, sehingga karena itu ia menggeram, “Apa maksudmu? Dan siapakah kau?”

“Kau sudah mendengar namaku disebut. Aku Sekar Mirah. Tetapi kau tidak perlu tahu lebih banyak tentang aku. Kau bukan seorang gadis yang pantas untuk dibawa bersahabat.”

“Dam!” Pandan Wangi benar-benar tidak dapat menahan perasaannya lagi. Selangkah ia maju, “Apakah kau termasuk salah seorang upahan dari gerombolan yang keras kepala, yang baru saja kami usir dari tempat ini?”

“Tunggu. Tunggu!” Gupita berteriak sekeras-kerasnya. Pertemuan yang aneh dan tiba-tiba ini sudah membuat kepalanya menjadi pening. Katanya kemudian, “Kalian salah paham. Dengarlah. aku akan memberikan penjelasan.”

“Tidak ada yang harus aku dengar. Aku hanya sekedar ingin mengatakan sesuatu yang menyekat dadaku. Sekarang dadaku terasa sudah lapang, dan aku akan pergi.”

“Nanti dulu.”

“Jangan menahanku.”

“Tidak!” Pandan Wangi-lah yang berteriak. “Kau menghina aku. Aku harus mendapat penjelasan, apa yang telah kau lakukan itu. Aku bukan seseorang yang begitu saja membiarkan diriku direndahkan, meskipun kadang-kadang aku dapat juga menahan diri. Tetapi tuduhanmu terlampau menyakitkan hati.”

“Aku memang ingin membuat kau sakit hati, seperti hatiku yang pedih saat ini. Aku tidak dapat membiarkan aku tersiksa sendiri, sedang kau sambil tertawa-tawa menikmati kesegaran tindakanmu yang memalukan itu.”

“Apa yang sudah aku lakukan? Apa?”

“Persetan! Sekarang aku akan pergi. Aku tidak peduli lagi kepada kalian.”

“Tidak!” sahut Pandan Wangi yang meloncat semakin maju. “Kau tidak dapat pergi sebelum kau memberi penjelasan. Kau sudah menghina aku. Dan aku tidak akan membiarkan diriku kau hinakan tanpa mengetahui persoalannya. Kalau aku memang bersalah, mungkin aku dapat mengerti dan tidak akan bersakit hati. Tetapi dalam keadaan serupa ini, aku tidak mau.”

Sekar Mirah tidak segera menjawab. Tetapi suara tertawanya meninggi dan berkepanjangan. Benar-benar menyakitkan hati.

Namun justru Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya sambil bergumam, “Sekarang aku sudah mendapat gambaran, dengan siapa aku berhadapan.”

Suara tertawa Sekar Mirah tiba-tiba terputus. Dengan serta-merta ia bertanya, “Dengan siapa kau berhadapan?”

“Seorang perempuan yang paling tidak tahu diri yang pernah aku temui. Suara tertawamu mirip dengan suara tertawa Ki Peda Sura, atau barangkali kau muridnya?”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya.

“Kalian ternyata telah menjadi semakin jauh terlibat ke dalam kesalahpahaman. Aku akan menjelaskan, siapakah kalian masing-masing,” potong Gupta.

Tetapi Sekar Mirah menggeleng. “Tidak perlu. Kau hanya akau menambah hatiku menjadi semakin parah.”

“Tidak. Tetapi kau tidak mengerti.”

“Gupita,” berkata Pandan Wangi, “kau kenal perempuan binal ini? Biarlah ia di sini. Aku ingin mengenalnya lebih banyak lagi.”

“Kau keliru, Pandan Wangi.”

“Tidak. Seperti perempuan ini yakin tentang diriku sebelum ia mengenalku, aku pun yakin tentang dirinya sebelum aku mengenalnya.”

“Kalian adalah gadis-gadis yang paling bodoh yang pernah aku temui,” akhirnya Gupita pun menjadi jengkel. “Kalian telah dibakar oleh perasaam kalian tanpa nalar. Kalau kalian mempunyai telinga, dengarkan aku akan berbicara.”

“Tidak perlu,” hampir berbareng Pandan Wangi dan Sekar Mirah menjawab. Namun keduanya menjadi terkejut oleh jawaban itu.

“Kalau kalian tidak mau mendengar keterangan, apa yang akan kalian lakukan?”

“Aku hanya ingin mengenalnya lebih banyak,” sahut Pandan Wangi. “Kebinalan dan keliarannya memberi gambaran yang semakin jelas padaku.”

“Tutup mulutmu perempuan yang tidak tahu diri,” Sekar Mirah memotong.

Tetapi Pandan Wangi menyahut lebih keras, “Ini daerahku. Aku dapat berbuat apa saja di sini. Aku dapat mengusir kau, dan menangkap kau dan dapat memperlakukan kau menurut kehendakku. Aku adalah puteri Kepala Tanah Perdikan.”

“Itu kalau kau mampu menangkap aku.”

“Aku akan mencoba dan membawamu kepada ayah. Aku mendapat sebuah permainan yang mengasyikkan. Barangkali kau dapat menjadi tontonan di halaman rumahku.”

Ketika Pandan Wangi melihat wajah Sekar Mirah menjadi merah, maka ia menjadi semakin mantap. Pandan Wangi sadar, bahwa Sekar Mirah pun sedang membuatnya marah. Karena itu, supaya ia tidak kehilangan keseimbangan, maka ia pun melakukan perbuatan yang serupa.

Akibatnya memang sudah dibayangkan oleh Gupita. Kedua gadis itu menjadi marah bukan buatan. Masing-masing masih saja berusaha mengungkat kemarahan dan sengaja menyinggung perasaan.

Tetapi akhirnya keduanya sama-sama tidak dapat mengendalikan diri lagi. Ketika tongkat Sekar Marah bergetar di tangannya, maka Pandan Wangi pun telah menggenggam sepasang pedangnya.

“He, kalian telah gila!” Gupita berteriak.

Tetapi keduanya seolah-olah sudah tidak mendengar lagi. Sekejap kemudian keduanya sudah terlibat dalam perkelahian. Sekar Mirah bersenjata tongkat baja putih berkepala sebuah tengkorak yang berwarna kekuning-kuningan, sedang Pandan Wangi mempergunakan sepasang pedangnya yang selama berkecamuknya api peperangan di atas Tanah Perdikan Menoreh seakan-akan tidak pernah terpisah dari tubuhnya.

Gupita yang tidak herhasil melerai keduanya, akhirnya hanya dapat melihat perkelahian itu dengan dada berdebar-debar. Namun di sudut hatinya memang tumbuh pula keinginannya untuk melihat, apakah yang sudah dapat dilakukan oleh Sekar Mirah dengan tongkat baja putihnya.

Meski pun demikian Gupita tidak berani menjauhi arena. Kalau keadaan memaksa ia barus cepat bertindak. Ia tidak ingin salah seorang dari keduanya benar-benar tersentuh ujung senjata.

Ternyata Sekar Mirah benar-benar membuat Gupita tercengang. Dalam waktu yang singkat ia telah berhasil menyerap ilmu cabang perguruan tongkat baja putih itu.

“Satu-satunya kemungkinan adalah Paman Sumangkar,” desisnya di dalam hati.

Perkelahian itu pun semakin lama menjadi semakin. seru. Gupita yang berdiri tidak begitu jauh dari arena perkeiahian itu segera melihat benturan ilmu yang luar biasa. Ilmu yang diturunkan lewat Ki Argapati dan yang lain bersumber dari Ki Sumangkar.

Ketika tangan kedua gadis itu telah menjadi basah oleh keringat, maka mereka pun menjadi semakin bernafsu. Senjata-senjata mereka menjadi semakin cepat berputar. Sinar matahari yang semakin panas, memantul dari batang tongkat dan sepasang pedang Pandan Wangi. Berkilat-kilat seperti pancaran sinar yang berlompatan dari senjata-senjata itu.

Dengan dada berdebar-debar Gupita mengikuti perkelahian itu. Semakin lama terasa semakin tegang. Setiap kali ia menahan nafasnya, dan bahkan setiap kali ia melangkah maju. Kalau ia melihat serangan-serangan yang berbahaya, maka ia tidak dapat berdiri saja di tempatnya. Ia selalu berusaha berdiri di tempat yang memungkinkan ujung cambuknya mencapai kedua gadis yang sedang bertempur itu.

Agaknya kedua gadis itu menjadi semakin bersungguh-sungguh. Dengan kemarahan yang semakin membara di dada masing-masing, mereka telah mengerahkan segenap kemampuan yang ada.

Namun dengan demikian maka keadaan mereka menjadi semakin berbahaya, karena ujung-ujung senjata mereka semakin lama menjadi semakin mendekati tubuh-tubuh lawan.

Kecuali Gupita, masih ada sepasang mata yang mengikuti perkelahian itu. Dari balik gerumbul yang rapat, orang itu berjongkok sambil mengintai dari celah-celah dedaunan. Sekali-sekali ia menarik nafas dalam-dalam. Sekali wajahnya menjadi tegang, namun kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

Namun ia masih saja tetap berada di tempatnya. Kadang-kadang ia memandang wajah Gupita yang semakin tegang pula. Dengan dada yang berdebar-debar ia melihat ujung cambuk di tangan Gupita yang setiap saat dapat meledak di antara dentang senjata yang beradu.

“Mudah-mudahan anak muda itu tidak berpihak,” berkata orang itu di dalam hatinya.

Sebenarnyalah bahwa Gupita memang tidak ingin berpihak. Dengan susah payah ia menunggu kesempatan untuk melerai perkelahian itu. Namun setiap kali ia kehilangan kesempatan karena keduanya mampu bergerak begitu cepat dan lincah.

Sejenak Gupita teringat kepada cara Tohpati berkelahi. Selain tangkas, ayunan tongkat itu memang benar-benar berbahaya. Kalau Pandan Wangi lengah, maka benturan senjata mereka akan dapat mematahkan pedang tipisnya.

Namun untunglah bahwa Pandan Wangi menyadari akan hal itu. Itulah sebabnya, maka ia tidak pernah membentur senjata lawannya dengan langsung. Dengan kecakapannya mempergunakan pedangnya. Pandan Wangi selalu dapat menggeser arah senjata lawannya dengan sentuhan sisi, sehingga pedangnya tidak menjadi cacat karenanya. Apalagi patah.

Dalam pada itu, perkelahian itu menjadi semakin seru. Dalam puncak kemampuan masing-masing, kemudian dapat diketahui, baik oleh Gupita maupun oleh sepasang mata yang berada di balik dedaunan, bahwa Pandan Wangi memiliki pengalaman lebih banyak dari lawannya. Agaknya Pandan Wangi telah lebih matang menyerap ilmu Ki Argapati, sehingga semakin lama ia justru menjadi semakin mapan.

Berbeda dengan Sekar Mirah. Ia masih belum mampu mengungkapkan ilmu Ki Sumangkar sebaik-baiknya. Ketika gerak sepasang pedang Pandan Wangi menjadi semakin cepat, maka Sekar Mirah yang belum cukup lama mempelajari ilmunya, tampak agak menjadi bingung.

“Keseimbangan telah bergoncang,” desis Gupita di dalam hatinya, “perkelahian itu harus dihentikan sebelum salah seorang dari mereka merasa menang atau kalah. Jika demikian maka perkelahian ini akan mungkin membangkitkan dendam pada salah seorang dari mereka, atau bahkan kedua-duanya.” Gupita mengerutkan keningnya, “Tetapi bagaimana.”

Dalam pada itu perkelahian itu masih berlangsung terus. Namun semakin lama menjadi semakin nyata, bahwa Pandan Wangi memang lebih banyak mempunyai pengalaman sehingga Sekar Mirah menjadi semakin sulit menghadapinya.

“Tidak dapat ditunda-tunda lagi,” pikir Gupita. Karena itu maka ia meloncat semakin dekat. Sementara itu cambuknya meledak dahsyat sekali beberapa jengkal saja dari keduanya.

Baik Pandan Wangi maupun Sekar Mirah terkejut karenanya. Ketika cambuk itu meledak untuk kedua kalinya, tepat di antara keduanya, maka mereka berloncatan surut selangkah

“Berhentilah berkelahi!” Gupita berteriak.

“Jangan ganggu kami,” sahut Sekar Mirah.

“Kami belum selesai,” Pandan Wangi hampir berteriak.

“Kalian sudah menjadi gila. Kalau kalian hanya dapat berbicara dengan senjata, maka aku pun akan berbicara dengan senjata.”

“Bagus,” jawab Sekar Mirah, “aku bersedia.”

“Kau bermaksud agar aku mempergunakan senjataku terhadapmu juga?” bertanya Pandan Wangi.

Ternyata sikap kedua gadis itu membuat Gupita menjadi bingung.

Namun, dalam pada itu, seseorang muncul dari balik gerumbul sambil berkata sareh, “Sudahlah, Ngger. Aku sudah mengatakan, bahwa cara yang kau pilih agaknya kurang menguntungkan.

“Biarlah, Guru,” jawab Sekar Mirah.

Gupita yang berpaling juga mendengar suara itu, terperanjat pula. Dengan serta-merta ia berdesis, “Paman Sumangkar.”

“Ya, Anakmas. Akulah yang telah membawa Angger Sekar Mirah ke tlatah Menoreh.”

“Tetapi kenapa Paman biarkan perkelahian ini terjadi? “

“Aku tidak dapat mencegahnya. Tetapi aku tahu bahwa Angger ada di dekat arena, sehingga aku percaya bahwa tidak akan terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan.”

Gupita mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Tetapi aku menemui kesulitan untuk melerainya, Paman.

“Angger Sekar Mirah akan menghentikan perkelahian.”

“Tidak,” tiba-tiba Sekar Mirah memotong, “aku akan berkelahi terus.”

“Jangan, Ngger. Sebaiknya kau berhenti.”

“Aku tidak akan berhenti. Gadis itu harus berlutut di bawah kakiku.”

“Bagus,” sahut Pandan Wangi, “marilah kita teruskan. Aku atau kau yang akan mencium telapak kaki.”

“Tidak!” suara Sumangkar meninggi. “Aku perintahkan Angger Sekar Mirah menghentikan perkelahian.”

Dada Sekar Mirah berdesir. Tetapi ia tidak dapat membantah lagi. Ia sadar, bahwa gurunya benar-benar menghendaki perkelahian berhenti.

Dan tiba-tiba saja Pandan Wangi bertanya kepada Sumangkar, “Siapakah Kiai? Apakah perempuan ini murid Kiai?”

“Ya, Ngger,” jawab Sunvingkar, “gadis ini adalah muridku.”

“Kenapa tiba-tiba saja ia menyerangku? Baik dengan kata-kata maupun dengan tongkat itu?”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. “Maafkan, Ngger. Aku kira hal ini hanya terjadi karena kesalahpahaman.”

“Tidak, bukan sekedar salah paham,” sahut Pandan Wangi. “Kami belum berkenalan, belum berbicara tentang apa pun. Apa yang dapat menimbulkan salah paham?”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kau benar, Ngger. Tetapi pembicaraan Angger dengan orang-orang yang menyerang Angger berdua sebelum inilah yang dapat menumbuhkan salah paham.”

Gupita menarik nafas. “Itukah sebabnya, Paman? Dan Paman tidak mencegahnya?”

“Aku sudah mencoba, Ngger.”

“Maksud Guru, akulah yang telah berkeras hati untuk berkelahi melawan gadis ini?” bertanya Sekar Mirah.

“Apakah yang harus aku katakan, Ngger?” Sumangkar ganti bertanya. “Tetapi aku memang tidak mencegahnya dengan keras. Ada keinginanku untuk melihat sampai di mana Anger Sekar Mirah mampu mengungkapkan ilmunya menghadapi ilmu dari perguruan lain. Kali ini ilmu yang diturunkan oleh Ki Argapati, bukankah begitu?”

“Apakah Kiai mengenal ayah?” bertanya Pandan Wangi.

“Berkenalan secara pribadi belum. Tetapi sudah tentu aku mengenal namanya.”

“Siapakah Kiai sebenarnya?”

“Sumangkar. Namaku Sumangkar.”

Dan Gupita melanjutkannya, “Salah seorang bekas Senapati Jipang.”

“Bukan senapati,” Sumangkar membetulkan, “seorang juru masak.”

Gupita menarik nafas sekali lagi.

“Tetapi,” tiba-tiba Sekar Mirah berkata lantang, “apakah aku akan berdiam diri menghadapi kenyataan ini?”

“Kenyataan yang mana?” bertanya Gupita.

“Aku mendengar apa yang dikatakan oleh keenam orang itu tentang kalian. Keenam orang yang berhasil kalian kalahkan. Yang seorang di antaranya terbunuh itu.”

“Jangan kau dengarkan igauan mereka,” sahut Gupita. “Kau akan mendengar langsung tentang Pandan Wangi daripadanya, atau dari Gupala.”

“Siapa itu Gupala?” bertanya Sekar Mirah.

Gupita mengerenyitkan alisnya. “Namaku Gupita dan adikku bernama Gupala.”

“Gila, aku tidak mengenal nama-nama itu,” desis Sekar Mirah.

Pandan Wangi pun menjadi bingung. Dan tiba-tiba ia bertanya, “Siapakah sebenarnya gembala ini?”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia mengetahuinya, bahwa agaknya guru anak muda itu telah merubah nama murid-muridnya seperti apa yang sering ia lakukan atas dirinya sendiri.

Agaknya nama Agung Sedayu telah dirubahnya menjadi Gupita dan Gupala pastilah Swandaru Geni. Karena itu, maka sambil tersenyum ia berkata, “Angger Gupita. Di manakah gurumu dan siapakah namanya kini?”

Gupita menarik nafas dalam-dalam.

Dan Pandan Wangi pun bertanya pula, “He, siapakah sebenarnya gembala ini?”

Gupita berpikir sejenak, kemudian ia menyahut “Marilah kita ke rumah. Sebaiknya kalian bertemu dengan Gupala.”

“Aku tidak kenal Gupala,” Sekar Mirah berteriak. “Dan aku tidak mau kembali ke tempat yang sama sekali tidak aku kenal.”

“Sekar Mirah,” berkata Gupita, “aku dapat mengerti, kenapa salah paham ini dapat terjadi. Tetapi kita jangan memperbesar salah paham ini. Kita harus berusaha menyelesaikannya. Kalau kau sudah bertemu dengan Gupala, eh, maksudku Swandaru, maka semuanya akan menjadi jelas.”

“Siapakah Swandaru itu?” Pandan Wangi-lah yang memotong. “Dan apakah hubungan gadis ini dengan Swandaru dan dengan kau Gupita?”

“Nah, agaknya ia tidak mengatakannya,” sahut Sekar Mirah. “Memang, menilik namanya yang sekarang, Gupita, ia ingin melupakan hidupnya yang lama, ketika ia bernama Agung Sedayu.”

“Itulah yang aku maksudkan dengan salah paham. Karena itu semakin cepat kita bertemu dengan Swandaru akan menjadi semakin baik. Salah paham ini akan segera hilang.”

“Apakah hubungannya semua ini dengan Kakang Swandaru?” bertanya Sekar Mirah.

Gupita menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia menjawab ragu, “Sekar Mirah. Swandaru akan dapat menjelaskan kepadamu.” Lalu kepada Pandan Wangi Gupita berkata, “Pandan Wangi, gadis yang bernama Sekar Mirah ini adalah adik Gupala. Yang nama sebenarnya adalah Swandaru Geni.”

“He?” Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Tiba-tiba wajahnya menjadi tegang. Sekilas teringat olehnya pesan Gupala yang telah disampaikan kepadanya oleh Gupita. Kalau ia menerima pesan itu, maka Sekar Mirah akan menjadi saudara perempuannya.

Dalam keragu-raguan itu ia mendengar Sekar Mirah bertanya, “Apakah hubunganmu dan Kakang Swandaru dan dengan gadis ini.”

“Tidak ada hubungan apa-apa antara aku dan Pandan Wangi, selain dalam usaha bersama mempertahankan hak di atas Tanah Perdikan ini. Hubungan yang lain agaknya sudah mulai dijalin antara Pandan Wangi dengan Adi Swandaru. Aku kini adalah seorang utusan Adi Swandaru. Tetapi sayang, bahwa pembicaraan kami belum selesai, orang-orang itu sudah mengganggu kami. Apalagi tuduhan mereka yang keji telah membuat kami marah dan kehilangan kesabaran.”

Sebuah getaran yang aneh telah menyentuh dada Sekar Mirah. Meski pun tidak jelas benar, tetapi ia melihat remang-remang hubungan antara gadis yang bernama Pandan Wangi itu dengan kakaknya dan dengan Agung Sedayu. Karena itu, maka dadanya pun menjadi berdebar-debar seperti dada Pandan Wangi pula.

Dalam pada itu, Sumangkar yang mendengarkan penjelasan Gupita itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia lebih cepat dapat menangkap maksudnya. Bahkan sesaat kemudian ia telah mulai mempunyai gambaran, hubungan antara mereka.

Tanpa maksud apa pun Sumangkar kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya sambl berkata, “Begitulah kiranya. Angger Sekar Mirah memang terlampau cepat dibakar oleh perasaan cemburu.”

“Guru,” Sekar Mirah hampir berteriak. Tetapi suaranya terputus.

Sumangkar hanya tersenyum. Dipandanginya wajah muridnya dan wajah Gupita yang juga bernama Agung Sedayu yang kemerah-merahan itu.

Sementara itu dada Pandan Wangi berdesir tajam. Ditatapnya wajah Sekar Mirah sejenak. Kini ia sempat menilai gadis itu. Meskipun ia tidak sedang berhias, namun Sekar Mirah adalah seorang gadis yang cantik.

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Inilah agaknya kunci dari pertanyaan yang selama ini tersimpan di hatinya. Kenapa Gupita bertanya tentang hatinya, tidak atas namanya sendiri, tetapi atas nama Gupala? Agaknya Gupita telah meninggalkan seorang gadis di kampung halamannya, atau di suatu tempat yang lain, yang kini mencarinya.

Dengan gambaran yang meskipun masih samar-samar tetapi kedua gadis itu kini telah mengerti, bahwa sebenarnyalah mereka telah terikat dalam suatu salah paham.

Tetapi yang paling menyesal adalah Sekar Mirah. Ia telah melontarkan tuduhan-tuduhan yang paling menyakitkan hati. Samar-samar ia dapat menangkap maksud Gupita, yang katanya, “Aku kini adalah seorang utusan Adi Swandaru. Tetapi sayang, bahwa pembicaraan kami belum selesai, orang-orang itu sudah mengganggu kami.”

Meskipun demikian Sekar Mirah masih saja berdiam diri mematung di tempatnya.

“Angger Sekar Mirah,” berkata Sumangkar yang melihat penyesalan di wajah muridnya, “apakah salahnya, kalau kau memberanikan dirimu minta maaf kepada Angger Pandan Wangi?”

Sekar Mirah menundukkan wajahnya.

“Itu pasti akan lebih baik bagi hubunganmu selanjutnya. Meskipun belum begitu jelas, tetapi aku melihat kaitan hubungan di antara kalian semuanya.”

Sekar Mirah masih menundukkan kepalanya. Sementara Pandan Wangi menjadi ragu-ragu menanggapi keadaan.

“Kalian adalah gadis-gadis yang berjiwa besar,” berkata Sumangkar kemudian. “Aku percaya, bahwa kalian akan dapat saling memaafkan dan melupakan apa yang baru saja terjadi.”

Kedua gadis itu kini semakin menunduk. Sedang di dada Pandan Wangi masih juga terjadi gejolak yang kadang-kadang hampir menyesakkan nafasnya. Masih juga terkenang olehnya, gembala muda itu bermain dengan serulingnya, kemudian lari bersama-sama menghindari anak buah Ki Peda Sura. Anak muda yang bemama Agung Sedayu itu seolah-olah menyeretnya saja di sepanjang pematang sawah yang tidak digarap.

Tetap saat itu ia sama sekali belum mengenal anak muda yang bernama Gupala, yang juga disebut bernama Swamdaru Geni. Ia belum melihat anak muda periang yang gemuk itu.

Kini ia harus melihat kenyataan. Meski pun tidak jelas, namun ia mengerti seperti yang dikatakan oleh orang tua yang bernama Sumangkar itu, bahwa Sekar Mirah diamuk oleh perasaan cemburu.

“Inilah kenyataan yang aku hadapi,” desisnya di dalam hati. Tetapi kini selain Gupita ia telah mengenal pula Gupala.

Menurut penglihatannya keduanya mempunyai kelebihan sendiri-sendiri. Mempunyai daya tariknya masing-masing.

Gupala yang juga bernama Swandaru-lah yang telah menyatakan perasaannya kepadanya lewat Gupita. Dan kini, seorang gadis telah datang pula mencari Gupita yang juga bernama Agung Sedayu itu.

Dengan demikian maka Pandan Wangi masih juga merenung untuk sesaat. Ia sadar dari angan-angannya ketika ia mendengar Sumangkar berkata kepada Sekar Mirah, “Sekar Mirah. Seharusnya kau minta maaf kepadanya. Selanjutnya kalian berdua harus melupakan apa yang pernah terjadi ini. Memang pahit agaknya untuk mengakui kesalahan. Tetapi itu adalah sikap yang paling baik.”

Betapa pun beratnya, dan betapa pun tinggi hatinya, namun Sekar Mirah akhirnya berkata, “Pandan Wangi. Aku minta maaf atas keterlanjuranku.”

Kepala Pandan Wangi pun tampaknya terlampau kaku untuk mengangguk. Namun akhirnya kepala itu tergerak juga sambil berkata, “Baiklah kita lupakan semua peristiwa yang baru saja terjadi.”

“Nah,” sahut Sumangkar, “aku memang sudah menyangka, bahwa kalian memang berjiwa besar. Angger Agung Sedayu,” katanya kemudian kepada Agung Sedayu yang juga menyebut dirinya Gupita, “kita menjadi saksi, bahwa seterusnya peristiwa ini tidak akan disebut-sebut lagi.”

“Ya,” jawab Gupita, “kita semua melupakannya.” Gupita berhenti sejenak, lalu, “Sekarang, marilah kita kembali ke padukuhan induk. Kita akan bertemu dengan Gupala, eh, maksudku Swandaru, dengan guru dan sudah tentu apabila keadaan mengijinkan dengan Ki Argapati.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Kami senang sekali apabila kami dapat bertemu dengan Ki Argapati.”

“Sudah tentu,” jawab Pandan Wangi, “ayah sudah menjadi berangsur baik. Ayah akan senang sekali dapat menerima kalian.”

“Marilah,” berata Agung Sedayu. “Kita dapat membicarakannya sambil berjalan. Agung Sedayu merenung sejenak, kemudian, “Apakah kalian hanya berjalan kaki?”

“Ya, kami memang hanya berjalan kaki.”

“Kalau begitu, kami akan berjalan pula. Atau kami akan naik berdua di atas seekor kuda?”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Namun sebelum ia menjawab, Sumangkar telah berdesis, “Aku melihat debu yang mengepul ke udara.”

Serentak semuanya berpaling ke arah pandangan mata Sumangkar. Dan mereka pun melihat pula, debu yang mengepul itu.

“Serombongan orang-orang berkuda,” desis Pandan Wangi.

Semuanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Lamat-lamat mereka sudah mendengar derap kaki kuda-kuda itu. Semakin lama semakin dekat.

“Siapakah mereka?” bertanya Sekar Mirah.

“Aku belum tahu,” jawab Pandan Wangi.

“Marilah kita lihat,” bertanya Agung Sedayu.

“Bagaimana kalau mereka adalah sisa-sisa pasukan yang telah memberontak itu?” bertanya Sekar Mirah.

“Apabila mereka mengancam keselamatan kami, apa boleh buat,” jawab Pandan Wangi.

Mereka berempat pun kemudian justru melangkah ke pinggir jalan yang akan dilalui oleh beberapa orang berkuda itu. Semakin lama semakin dekat.

Namun Pandan Wangi kemudian menarik nafas dalam-dalam.

“Mereka adalah para pengawal.”

“Apakah mereka sedang meronda?” bertanya Gupita

“Mungkin. Mungkin mereka sedang mengawasi daerah ini.”

Orang-orang berkuda yang berpacu di sepanjang jalan itu pun menjadi semakin lambat pula ketika mereka melihat Pandan Wangi telah berdiri di pinggir jalan bersama Gupita dan dua orang yang tidak mereka kenal.

“O, kau sudah mencemaskan seluruh penjagaan,” berkata salah seorang dari para pengawal itu sambil menghentikan kudanya dan meloncat turun. Yang lain pun kemudian berloncatan pula seorang demi seorang.

“Kenapa?” bertanya Pandan Wangi.

“Kami menunggu terlampau lama dan kalian masih juga belum kembali. Kami menyangka bahwa terjadi sesuatu atas kalian berdua.” Orang itu berhenti sejenak. “Tetapi kini kalian justru berempat.”

“Apakah kalian mencari aku?”

“Begitulah. Karena kami menjadi cemas, maka kami terpaksa melihat apakah yang terjadi atas kalian. Syukurlah bila tidak ada sesuatu yang terjadi.”

“Memang ada yang terjadi. Kalian akan mendapat pekerjaan karenanya.”

“Apa?”

“Sebelah gerumbul itu ada sesosok mayat. Bawalah ke padukuhan dan kuburlah baik-baik.”

Para pengawal itu mengerutkan keningnya.

“Masih ada lagi. Aku meminjam dua ekor kuda kalian. Kemudian empat orang dari kalian naik di atas dua ekor kuda yang lain. Sementara orang kelima membawa mayat itu di atas punggung kudanya pula.”

Sejenak mereka saling berpandangan. Tetapi Pandan Wangi sudah berkata pula, “Jangan merenung. Nanti di gardu kalian, aku akan menceritakan apa yang sudah terjadi di sini.”

Para pengawal itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Dua di antara mereka menyerahkan dua ekor kuda, kemudian yang lain meloncat ke balik gerumbul mencari mayat yang disebut Pandan Wangi.

Tetapi sampai di gardu perondan pun Pandan Wangi tidak sempat menceriterakan apa yang terjadi seluruhnya. Ia hanya mengatakan bahwa ia memang bertemu dengan beberapa orang yang keras kepala, dan maacoba menyerangnya. Tetapi mereka dapat diusirnya bersama dengan Gupita.

“Salah seorang daripadanya terbunuh,” berkata Pandan Wangi. “Kuburlah mayat itu baik-baik.”

Pandan Wangi pun kemudian membawa Sekar Mirah bersama gurunya ke induk padukuhan. Namun di sepanjang jalan, pikirannya serasa menjadi kalut menghadapi persoalannya sendiri. Persoalan pribadinya.

Tetapi Pandan Wangi tidak dapat ingkar pula, bahwa pada suatu saat ia pasti akan menghadapi masalah serupa ini. Masalahnya bukan sebagai puteri Kepala Tanah Perdikan yang berhadapan dengan persoalan-persoalan Tanah Perdikan Menoreh, tetapi masalahnya sebagai seorang gadis yang meningkat dewasa. Bahkan sebelum kedatangan Gupita dan Gupala, persoalan itu pun pernah membingungkannya ketika Wrahasta dalam saat-saat yang memuncak, mencoba untuk mengetahui pendiriannya.

Dengan demikian, maka hampir tidak seorang pun yang berbicara di perjalanan. Mereka membiarkan angan-angan masing-masing terbang menerawang ke ujung langit.

Semakin dekat dengan rumahnya, Pandan Wangi menjadi semakin berdebar-debar. Ia tidak mengerti, kesimpulan apakah yang ditangkap oleh Gupita atas sikapnya. Ia belum sampai mengatakan apa pun kepadanya.

Tetapi bukan saja Pandan Wangi yang berdebar-debar, namun juga Sekar Mirah. Ia akan bertemu dengan Swandaru dan yang lebih mendebarkan jantungnya adalah nama yang selama ini selalu menghantuinya, Sidanti.

“Apakah yang akan aku lakukan atasnya?” desisnya. Karena Sekar Mirah telah mendengar dari orang-orang Menoreh di sepanjang perjalanannya bahwa Sidanti dan Argajaya kini ditahan di rumah Kepala Tanah Perdikan Menoreh.

Namun dendamnya kepada anak muda itu telah melonjak sampai ke ujung ubun-ubun.

Di sepanjang jalan, diam-diam Pandan Wangi teringat pula cerita kakaknya tentang seorang gadis yang bernama Sekar Mirah. Seorang gadis yang menurut kakaknya telah melukai hatinya, dan berbuat tidak sewajarnya. Tetapi setelah ia mengetahui sifat-sifat kakaknya, maka ia sudah tidak begitu mempercayai lagi ceritanya. Apalagi setelah ia melihat sendiri gadis yang bernama Sekar Mirah itu.

Ketika mereka mendekati halaman rumah Kepala Tanah Perdikan, dari kejauhan mereka sudah melihat para peronda di muka regol. Namun kemudian mereka pun melihat, bahwa di antara peronda yang berdiri sebelah-menyebelah jalan itu terdapat Gupala. Agaknya ia hampir tidak sabar lagi menunggu, sehingga setelah menyerahkan pengawasan Ki Argajaya kepada beberapa orang pengawal, ia sendiri menunggu dengan gelisah kedatangan Gupita dan Pandan Wangi.

Tetapi kini ia melihat empat orang datang bersama-sama. Di antaranya Pandan Wangi dan Gupita.

“Siapakah yang dua?” ia bertanya di dalam hatinya. Semakin dekat, Gupala menjadi semakin jelas melihat kedua orang kawan Pandan Wangi dan Gupita itu. Tetapi seperti orang bermimpi ia memperhatikan mereka, Seorang gadis dengan tongkat baja putih dengan pangkal sebuah tengkorak kecil yang berwarna kekuningan.

Tongkat serupa itu pulalah senjata Tohpati. Tetapi menurut dugaannya tongkat itu pasti sudah dibawa oleh Untara ke Pajang.

“Sumangkar,” ia berdesis.

Gupala menjadi berdebar-debar. Ia tidak mengerti bagaimana hal itu dapat terjadi.

Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan itu. Yang datang bersama Pandan Wangi dan Gupita adalah Sekar Mirah dan Sumangkar.

Tiba-tiba Gupala tidak dapat mengendalikan dirinya. Dengan dada yang berdebar-debar ia meloncat berlari menyongsong orang-orang berkuda itu. Belum lagi mereka mendekat, Gupala sudah berteriak, “He, kau itu Mirah?”

Sekar Mirah tersenyum. Sudah lama ia tidak melihat kakaknya. Perasaan rindu yang melonjak di dadanya ditahankannya. Ketika Swandaru berdiri di samping kudanya ia masih tetap duduk saja di atas pungguag kuda itu.

“Mirah.”

Sekar Mirah tidak beranjak dari tempatnya.

“Mirah. Apakah kau kesurupan?” tiba-tiba tangan Swandaru yang juga bernama Gupala itu menarik tangan Sekar Mirah sehingga gadis itu hampir saja jatuh terpelanting dari kudanya. Tetapi dengan tangkasnya ia justru meloncat dan atas bantuan Gupala Sekar Mirah berhasil tegak di atas tanah.

Gupala heran sejenak melihat sikap adiknya. Namun kemudian diterkamnya pundak gadis itu dan diguncang-guncangnya. “He, kenapa kau kemari, Mirah. Bagaimana dengan ayah dan ibu?”

“Sakit,” desis adiknya. “Lepaskan dahulu.”

“Bagaimana kau sampai kemari?” Lalu, “He, Paman Sumangkar. Apakah Kiai yang membawa Mirah kemari dan memberinya mainan serupa ini?”

“Ya, Ngger. Akulah yang memberinya.”

“Apakah kau dapat juga mempergunakan?” Gupala bertanya kepada adiknya, kemudian, “Tetapi bagaimana dengan ayah dan ibu?”

“Ayah dan ibu siapa?” Sekar Mirah bertanya.

Gupala mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan itu.

“Ayah dan ibuku” ia menjawab.

Sekar Mirah menggelengkan kepalanya. “Aku belum mengenal ayah dan ibu seorang anak muda gemuk yang bernama Gupala.”

“Hus,” Gupala berdesis, “jangan main-main. Aku bertanya sebenarnya. Bagaimanakah ayah dan ibu?”

Sekar Mirah memandang Gupala dengan tajamnya. Dan sekali lagi ia berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak kenal dengan seorang yang bernama Gupala. Bagaimana aku dapat mengatakan sesuatu tentang ayah dan ibunya.”

“Kemayu kau,” desis Gupala. “Kalau kau tidak kenal Gupala, maka kau tidak akan mengenal Gupita. Kenapa kau mengikutinya kemari?”

“Siapa yang mengikutinya?”

“Paman Sumangkar. Dan kau mengikuti Paman Sumangkar, begitu?”

“Aku tidak mengikuti siapa pun.”

“Omong kosong. Sekarang jawab, bagaimana dengan ayah dan ibu? Apakah mereka selamat?”

Sekar Mirah akhirnya tidak dapat mengganggunya terus. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia menjawab, “Ya. Ayah dan ibu selamat.”

“Syukurlah.”

“Dan kau sudah terlampau lama pergi. Ayah dan ibu menunggu siang dan malam. Apalagi ibu. Karena itu, aku diijinkannya mencarimu kemari, asal diantar oleh Paman Sumangkar.”

“Ya, ya. Aku memang sudah terlampau lama pergi.” Gupala mengerutkan keningnya, lalu, “Marilah. Marilah, Paman Sumangkar,” tetapi tiba-tiba ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. “Maaf. Bukan akulah tuan rumah. Tetapi di sini ada Puteri Kepala Tanah Perdikan Menoreh.” Lalu ia bertanya kepada Pandan Wangi, “Apakah kau akan mempersilahkan mereka?”

Tiba-tiba saja sikap Pandan Wangi menjadi sangat kaku. Ia tidak dapat mengesampingkan masalah dirinya sendiri. Sehingga karena itu ia tidak segera menjawab. Tetapi ketika terpandang olehnya mata Swandaru, kepalanya justru tertunduk.

Series 49

SWANDARU menjadi heran melihat sikap itu. Tetapi kemudian ia pun menyadarinya pula, sehingga tiba-tiba saja sikapnya pun menjadi lain. Dengan nada yang datar ia berkata, “Mirah. Kau di sini bukan berada di rumahmu sendiri. Kau harus mencoba menyesuaikan dirimu.”

Gupita melihat sikap kedua anak-anak muda yang tiba-tiba menjadi kaku itu. Karena itu, maka ia pun mencoba untuk mengatasi keadaan, “Marilah kita teruskan perjalanan yang tinggal beberapa langkah ini.”

Pandan Wangi berpaling kepadanya. Dan Gupita pun berkata pula, “Berjalanlah dahulu. Kaulah yang akan mempersilahkan tamu-tamu kami.”

Pandan Wangi tidak menjawab. Tetapi kudanya melangkah lambat mendahului yang lain. Di belakangnya Gupita dan Sumangkar tidak lagi berada di punggung kuda. Mereka pun berloncatan turun dan berjalan bersama-sama dengan Sekar Mirah dan Gupala.

Pandan Wangi-lah yang mendahului masuk ke halaman rumahnya. Didapatinya Samekta dam Kerti berdiri gelisah di tangga pendapa.

“Hem, kau Wangi,” desis Samekta. “Dapat saja kau membuat orang-orang tua berdebar-debar. Dari mana kau, he?”

Pandan Wangi tidak menjawab pertanyaan itu. Tetapi ia langsung memberitahukan kehadiran dua orang tamu, yang salah seorang di antaranya adalah adiknya Gupita.

“Yang seorang?” bertanya Samekta.

“Gurunya,” jawab Pandan Wangi, “seorang yang pasti luar biasa seperti gembala bercambuk itu. Muridnya yang bernama Sekar Mirah, mempunyai kemampuan yang cukup tinggi.”

Samekta mengerutkan keningnya Kemudian ia pun bertanya, “Apakah keperluannya? Tanah Perdikan ini sudah mulai tenang. Apakah mereka akan ikut mengguncang-guncangnya lagi?”

“Tidak, Paman,” jawab Pandan Wangi. “Menilik pembicaraan mereka, agaknya mereka sedang mencari Gupala yang sebenarnya bernama Swandaru.”

“He?”

“Itulah mereka,” berkata Pandan Wangi ketika ia melihat Gupita dan tamu-tamunya memasuki regol.

Samekta sejenak berdiri mematung.

“Sambutlah, Paman. Paman adalah wakil ayah saat ini, sebelum ayah dapat menemui mereka.”

“O,” Samekta tersadar, “marilah,” ajaknya kepada Kerti.

Keduanya pun kemudian menyongsong kedatangan tamu mereka, seorang gadis dengan gurunya yang bernama Sumangkar itu.

Ketika Sekar Mirah melihat Samekta dan Kerti menyongsongnya, maka ia pun bertanya kepada kakaknya, “Yang manakah yang bernama Ki Gede Menoreh?”

“Bukan kedua-duanya,” jawab Swandaru. “Tetapi yang satu, yang di depan itu adalah tetua Tanah Perdikan ini sesudah Ki Argapati. Ialah yang menerima kepercayaan untuk melakukan tugas-tugas pemerintahan. Sedang untuk tugas-tugas yang menyangkut keamanan sebagian terbesar diletakkan pada puterinya itu.”

“Pantas,” desis Sekar Mirah.

“Kenapa?”

“Gadis itu luar biasa.”

“Darimana kau tahu?”

Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi Sumangkar yang mendengar percakapan itu tersenyum. Namun ia tidak sempat menyahut. Sedang Gupita yang meskipun mendengar pula, tetapi ia pura-pura tidak mendengarnya sama sekali.

Gupita-lah yang kemudian memperkenalkan tamu-tamunya kepada Samekta dan Kerti. Keduanya kemudian mempersilahkan Sumangkar dan muridnya untuk naik ke pendapa.

“Di sini tinggal seorang gembala yang aneh,” berkata Samekta kemudian, “yang menurut pengakuannya adalah ayah Gupala dan Gupita. Tetapi sejak semula aku sudah ragu-ragu. Apakah Ki Sumangkar mengenalnya?”

“Siapa?” bertanya Sumangkar.

“Bertanyalah kepada Gupita dan Gupala, siapakah sebenarnya orang yang mengaku ayahnya itu. Seorang gembala yang bersenjata cambuk.”

Sumangkar mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum. Ia tahu benar siapakah yang dimaksud oleh Samekta itu. Karena itu ia menjawab, “Apakah yang kalian maksud seorang gembala tua bersenjata cambuk, tetapi juga seorang dukun?”

“Tepat,” sahut Kerti. “Dukun itulah yang mengobati luka-luka Ki Argapati dengan cermatnya, sehingga agaknya luka, itu akan segera dapat sembuh.”

Sumangkar mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Tentu aku mengenalnya. Di manakah gembala itu sekarang?”

“Ia ada di dalam.” Kemudian katanya kepada Gupita, “apakah kau tidak mengundang ayahmu supaya ikut menemui tamu kita di sini?”

Gupita tersenyum. Jawabnya, “Baiklah. Aku akan mengundangnya untuk ikut menemui Ki Sumangkar.”

Gupita pun kemudian masuk ke pringgitan. Gembala tua itu sedang duduk di dalam bilik Ki Argapati.

Dengan hati-hati Gupita menjengukkan kepalanya di pintu yang terbuka. Kemudian mengangguk sambil bertanya, “Apakah aku dapat masuk?”

“Masuklah,” desis gembala itu perlahan-lahan.

Gupita pun segera masuk dengan hati-hati pula.

“Siapakah yang masuk?” bertanya Ki Argapati dengan nada datar.

“Gupita, Ki Gede. Anakku.”

“O, apakah, ada keperluan dengan aku?”

“Tidak, Ki Gede,” sahut Gupita perlahan-lahan. “Aku hanya sekedar menemui ayah untuk menyampaikan pemberitahuan.”

“Ada apa?” bertanya gembala itu.

“Ada tamu, Ayah.”

“Siapa?”

“Ki Sumangkar bersama Sekar Mirah, yang agaknya telah diangkat menjadi muridnya.”

Gembala itu mengerutkan keningnya, namun kemudian ia tertawa. “Baik. Baik, aku akan menemuinya.” Kemudian kepada Ki Gede yang terluka itu gembala tua itu berkata, “Ki Gede, seorang saudaraku datang berkunjung kemari. Aku minta diri sejenak untuk menemuinya.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya, “Apakah Pandan Wangi sudah kembali? Bukankah ia pergi bersamamu, Gupita. Ia minta ijin kepadaku. Tetapi menurut Ki Samekta, ia belum datang sehingga menimbulkan kegelisahan.”

“Ya, Ki Gede,” jawab Gupita, “tetapi ia sudah datang bersama aku. Ia berada di pendapa menemui tamu-tamu kami bersama Ki Samekta dan Ki Kerti.”

“Kemana saja kalian pergi?”

“Kami hanya sekedar melihat-lihat daerah Tanah Perdikan ini. Tetapi kami bertemu dengan Ki Sumangkar di perjalanan, sehingga kami bersama-sama kembali ke rumah ini.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “Syukurlah, kalau tidak terjadi sesuatu di perjalanan.”

“Tidak, Ki Gede.”

“Sekarang silahkan, kalau kalian ingin menemui tamu-tamu kalian,” berkata Ki Argapati kemudian.

“Ya, Ki Gede, kalau Ki Gede tidak berkeberatan, Ki Sumangkar pun akan menemui Ki Gede pula. Tidak ada persoalan apa pun yang akan dibicarakan, selain memperkenalkan dirinya.”

“Tentu aku sama sekali tidak berkeberatan.” Ki Gede berhenti sejenak, kemudian, “Tetapi siapakah Ki Sumangkar itu?”

“Ia pernah menjadi seorang penghuni Kepatihan Jipang. Ki Sumangkar sebenarnya adalah saudara seperguruan Ki Patih Mantahun yang terbunuh di peperangan antara Jipang dan Pajang.”

Ki Argapati mengerutkan keningnya.

“Tetapi,” gembala itu meneruskan, “Sumangkar telah mendapat pengampunan, karena ia tidak banyak terlibat dalam masalah Jipang dan Pajang.”

Ki Argapati kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya, “Saudara seperguruan Patih Mantahun, bukanlah orang kebanyakan.”

Gembala tua itu tersenyum, “Demikianlah kiranya, Ki Gede.”

“Baik, baik. Aku akan menerimanya dengan senang hati.”

Sejenak kemudian maka Gupita pun mengikuti gurunya keluar dari bilik Ki Argapati. Di ruang tengah mereka berpapasan dengan Pandan Wangi.

“Kemana, Wangi?” bertanya Gupita.

“Menyiapkan minuman untuk tamu-tamu kita.”

“O,” Gupita mengangguk-angguk, lalu, “ayahmu agaknya menjadi gelisah pula.”

“Kenapa?”

“Kita terlampau lama pergi,” sambung Gupita. Lalu diberitahukannya apa yang sudah dikatakan kepada Ki Gede tentang kepergian mereka berdua. “Jangan salah,” pesan Gupita kepada Pandan Wangi, “kalau kau ingin bercerita, sesuaikan ceritamu dengan ceritaku.”

Pandan Wangi mengangguk.

“He,” tegur gembala tua, “darimanakah sebenarnya kalian? Jadi apa yang kau katakan kepada Ki Argapati tidak benar?”

“Bukan tidak benar,” jawab Gupita, “tetapi tidak lengkap. Masih ada beberapa hal yang belum kami katakan sekarang.”

Gembala tua itu menarik nafas. Gumamnya, “Anak-anak muda sekarang kadang-kadang memang membuat orang-orang tua kebingungan.”

Gupita tidak menjawab. Ia mengikut saja di belakang gurunya ketika gurunya meneruskan langkahnya ke pendapa, sedang Pandan Wangi pergi ke dapur untuk mengatur jamuan bagi tamu-tamunya, sebelum ia pergi ke bilik ayahnya.

Pertemuan antara dua orang tua-tua di pendapa rumah itu merupakan pertemuan yang meriah. Dengan nada yang tinggi Sumangkar berkata, “Apakah Kiai selamat selama kita tidak bertemu? Dan bagaimanakah kabar tentang kambing-kambingmu?”

Gembala tua itu pun tertawa. Sambil membungkuk dalam-dalam ia menjawab, “Kami selamat semua di sini. Bagaimana dengan kalian, dan Ki Demang Sangkal Putung suami isteri?”

Sumangkar pun tertawa pula. Ia mengenal orang tua itu dengan seribu nama dan seribu warna. Kali ini ia menjadi seorang gembala dengan kedua anak-anaknya.

“Selamat, Kiai,” jawab Sumangkar kemudian. “Ki Demang dan Nyai Demang Sangkal Putung dan seluruh rakyatnya dalam keadaan selamat. Kademangan Sangkal Putung telah mulai berkembang kembali, setelah sekian lama dibayangi oleh ketakutan.”

“Syukurlah. Dan kini Adi Sumangkar sempat berjalan-jalan sampai ke daerah ini.”

“Ya,” jawab Sumangkar, “Ki Demang Sangkal Putung mengharap Angger Swandaru segera kembali. Kini Sangkal Putung telah diserahkan seluruhnya kepada Sangkal Putung sendiri. Pasukan Pajang sama sekali sudah ditarik.”

“Angger Widura?”

“Sudah ditarik pula.”

“Jadi Paman sudah tidak berada lagi di Sangkal Pulung?” bertanya Gupita.

“Tidak,” jawab Sumangkar, “Sangkal Putung sudah dianggap dapat menjaga dirinya sendiri.”

“Dan Kiai masih saja berada di Sangkal Putung itu?”

“Ya,” sahut Sumangkar, “aku diijinkan tinggal. Tetapi setiap saat aku dipanggil, aku harus datang ke Pajang.”

“Kalau Kiai tidak berada di tempat seperti sekarang ini?”

“Aku sudah mendapat ijin.”

Gupita mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya Sumangkar masih belum memiliki kebebasannya sepenuhnya.

Dan orang tua itu berkata pula, “Tetapi, aku hampir tidak dapat mengenal lagi daerah sebelah Barat Sangkal Putung. Sejak meninggalkan Prambanan, kami merasakan perubahan yang pasti telah menjadi di sebelah Barat. Hutan Tambak Baya rasa-rasanya sudah tidak singup lagi. Sebuah jalan telah dibuka, dan berbagai padukuhan kecil telah dihuni orang. Semakin ke Barat, yang menurut pengenalan kami sebelumnya semakin pepat, karena daerah itu mendekati Alas Mentaok, namun ternyata justru menjadi semakin ramai. Agaknya Alas Mentaok telah dibuka. Dan menurut pendengaran kami, yang membuka alas Mentaok itu adalah Ki Gede Pemanahan dengan puteranya, Mas Ngabehi Loring Pasar.”

Gembala tua beserta anak-anaknya mengerutkan keningnya. Demikian juga Samekta dan Kerti.

“Apakah Alas Mentaok sudah menjadi sebuah kota yang ramai?”

“Belum dapat disebut sebuah kota,” berkata Sumangkar, “tetapi sebuah padukuhan yang besar, meskipun masih belum teratur. Namun setiap hari berdatangan orang-orang baru dari daerah di sekitarnya, dan menetap menjadi penghuni-penghuni baru dari padukuhan yang semakin lama semakin besar itu. Lebih dari itu, mereka yang mengenal siapakah Ki Gede Pemanahan dan siapakah Sutawijaya itu pun segera mengarahkan pandangan matanya kepada mereka. Padukuhan-padukuhan di sekitar padukuhan besar yang baru itu, secara diam-diam mengakui bahwa Ki Gede Pemanahan dan puteranya, akan dapat memberikan bimbingan kepada mereka, sehingga mereka telah berkiblat ke padukuhan yang baru itu. Mereka tiba-tiba merasa, bahwa mereka menjadi terlampau jauh dari Pajang.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi aku tidak tahu, apalagi yaag sudah berkembang di daerah itu, karena aku hanya sekedar lewat.”

Gembala itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Bagaimanakah dengan padukuhan-padukuhan di sebelah Timur Alas Mentaok itu sendiri. Prambanan dan Sangkal Putung sendiri misalnya?”

“Alas Mentaok baru menjadi dongeng di daerah kami, Sangkal Putung. Tetapi sekali pernah datang Angger Widura dan beberapa orang perwira yang lain. Mereka berbicara dengan Ki Demang tentang perkembangan daerah baru itu.”

“Apa kata mereka?”

Sumangkar menggeleng, “Aku tidak tahu.”

“Aku mendengar sedikit,” berkata Sekar Mirah.

“Apa kata mereka?”

“Kakang Untara mendapat tugas langsung untuk mengawasi daerah Selatan.”

Terasa dada Gupita berdesir mendengar jawaban itu. Sejak semula mereka yang berada di Menoreh telah menduga, bahwa senapati muda itulah yang akan mendapat tugas yang berat itu.

“Tetapi selanjutnya kami tidak tahu.”

Setiap orang yang mendengarkan cerita itu hanya sekedar mengangguk-anggukkan kepala mereka, sehingga pada suatu saat Pandan Wangi datang dengan nampan kayu di tangannya, membawa minuman bagi tamu-tamu yang baru datang itu.

Sejenak kemudian, mereka pun telah meneguk air hangat dan menikmati makanan yang dihidangkan untuk mereka. Sedang pembicaraan mereka pun telah berkisar tanpa sesadar mereka.

Dengan demikian, maka tamu-tamu yang bermalam di rumah itu pun menjadi bertambah dengan dua orang. Mereka ditempatkan di gandok, kecuali Sekar Mirah, yang mendapat tempat di ruang dalam.

Namun dengan demikian, setiap kali Sekar Mirah pasti melihat bagaimana Pandan Wangi berusaha melayani kakaknya sebaik-baiknya, meskipun masih tetap di dalam pengawasan yang ketat.

Meskipun Sidanti sendiri tetap acuh tak acuh terhadap siapa pun, tetapi Pandan Wangi sama sekali tidak berkecil hati. Ia bersikap baik dan teliti, seperti juga terhadap pamannya. Namun terasa oleh Pandan Wangi, bahwa sikap kakaknya dan pamannya kini telah menjadi jauh berlainan. Hati pamannya yang sekeras batu padas itu semakin lama akan semakin dapat dilunakkan. Tetapi agaknya tidak begitu mudah bagi Sidanti.

Tetapi Pandan Wangi dapat mengerti. Argajaya adalah adik kandung Argapati, sedang sejak kelahirannya, Sidanti telah dipisahkan oleh jarak yang seakan-akan tidak akan terseberangi lagi dari Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu, meskipun hal itu belum lama disadarinya.

Meskipun demikian, Pandan Wangi tidak segera berputus asa. Meskipun kadang-kadang ia harus menitikkan air matanya.

Betapa besar dendam yang membara di dada Sekar Mirah terhadap Sidanti, namun sikap Pandan Wangi menumbuhkan iba juga di hatinya. Setiap kali ia melihat betapa Pandan Wangi seakan-akan diguncang-guncang oleh perasaannya. Ia berdiri di persimpangan yang sangat sulit.

Argapati adalah ayahnya. Ayah yang dicintai dan mencintanya. Sedang Sidanti adalah kakaknya, yang dilahirkan oleh ibunya pula. Kakak yaag telah banyak menolongnya sejak ia masih kanak-kanak hingga api permusuhan antara ayah dan kakaknya itu sudah mulai kemelut.

“Kalau Kakang Sidanti tetap berkeras hati dan Ayah kemudian kehilangan kesabarannya, maka hatiku pasti akan semakin hancur.” desisnya kepada diri sendiri.

Dengan hadirnya Sekar Mirah, Pandan Wangi merasa mendapat seorang kawan. Meskipun kadang-kadang ia tidak dapat mengerti sifat kawan barunya, adik Gupala yang juga ternama Swandaru itu, namun sedikit banyak ia mendapat tempat untuk mengungkapkan perasaannya.

Atas nasehat Gupita, Gupala, dan gurunya, Sekar Mirah berusaha menyesuaikan dirinya dengan cara hidup Pandan Wangi, meskipun kadang-kadang ia harus memaksa diri. Sebenarnya Sekar Mirah tidak begitu telaten menenggang perasaan seperti gadis puteri Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu. Menurut Sekar Mirah, apabila Sidanti memang berkeras kepala, apa salahnya kalau ia dihukum mati saja meskipun menurut pengertiannya ia adalah putera Argapati sendiri.

“Jangan berkata begitu kepada Pandan Wangi,” Agung Sedayu mencoba menasehatinya.

“Gadis itu terlampau cengeng.”

“Bukan, bukan terlampau cengeng, tetapi perasaannya sangat lembut meskipun ia mampu bertempur dengan sepasang pedangnya di peperangan.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Tetapi ia mencoba untuk menahan hatinya. Ia mencoba seolah-olah ia mengerti dan menampung perasaan gadis Menoreh yang lembut itu.

Tetapi di hadapan Swandaru, Sekar Mirah masih juga berkata sambil mencibirkan bibirnya, “He, kaukah yang berkata kepadaku dahulu di Sangkal Putung, bahwa kau akan kembali sambil menjinjing kepala Sidanti?”

“Hus, jangan begitu, Mirah. Hati-hatilah sedikit dengan kata-katamu. Kami semua tidak akan dapat berkata begitu lagi. Kita berhadapan dengan orang-orang yang lain daripada orang-orang Tohpati dan bahkan Sidanti sendiri.”

Sekar Mirah tersenyum. Jawabnya, “Aku mengerti. Mereka mencoba untuk menjadi pahlawan-pahlawan yang luhur budi, yang mengampuni segala kesalahan orang lain, agar dirinya sendiri mendapat pujian atas kebaikan hati itu.”

“Begitukah caramu memandang sikap Ki Argapati, Pandan Wangi, dan orang-orang lain lagi? Apa katamu terhadap Kakang Untara dan Ki Gede Pemanahan yang telah mengampuni Ki Sumangkar, yang sekarang menjadi gurumu?” bertanya Swandaru.

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab pertanyaan kakaknya.

“Sudahlah. Jangan kita persoalkan lagi. Kau coba menyesuaikan dirimu. Setidak-tidaknya kau harus menjadi tamu yang baik.”’

“Kau sekarang memandang aku menurut caramu,” berkata Sekar Mirah, “tetapi aku tidak boleh memandang sikap orang lain menurut caraku. Sekarang di dalam pandanganmu aku selalu bersalah, sedang gadis Menoreh itu selalu benar, karena kau sudah jatuh cinta kepadanya.”

“Hus.”

“Karena Sidanti adalah kakak gadis yang kau cintai itu, maka kau pun telah merubah niatmu untuk membalas sakit hatimu. Bukankah kau sudah dua atau tiga kali dipukulnya?”

“Sudahlah. Jangan ribut. Lihat, itu Pandan Wangi mencari kau. Ia membutuhkan seorang kawan yang dapat diajaknya membagi duka. Kau adalah adikku, sehingga kau harus membantu aku, agar ia tidak benci kepadaku.”

“Bukankah ternyata bahwa kita masing-masing mementingkan diri kita sendiri?”

“Ya. Aku tidak ingkar.”

Sekar Mirah menjadi bersungut-sungut. Tetapi ia menyongsong Pandan Wangi yang pergi ke arahnya.

Keduanya pun kemudian berjalan bergandengan ke belakang rumah sambil bercakap-cakap dengan akrabnya.

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Tetapi harapannya kini menjadi kian membara di dalam dadanya. Kalau Sekar Mirah dapat membantunya, maka kemungkinan untuk mempertautkan hatinya kepada gadis itu akan berhasil.

Dari hari ke hari, maka luka Ki Argapati pun kian menjadi baik. Dengan sangat hati-hati dan lambat laun Ki Argapati mencoba untuk bangkit dan duduk. Gembala tua itu pun dengan telaten selalu menungguinya apabila Ki Argapati mulai dengan perkembangan baru sesuai dengan kesehatannya yang menjadi semakin baik.

“Aku sudah merasa seakan-akan aku sudah sehat sama sekali,” desisnya.

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tampak sesuatu mengganggu pikirannya.

“Kiai,” berkata Ki Argapati, “bagaimana menurut pendapat Kiai dengan keadaanku kemudian? Apakah aku akan dapat pulih kembali seperti sediakala?”

Gembala itu merenung sejenak.

“Berkatalah terus terang. Aku bukan anak-anak lagi.”

“Ki Gede,” berkata gembala tua itu, “aku tidak dapat mengatakan dengan pasti. Meskipun aku tetap berusaha. Namun agaknya ada sesuatu yang kurang pada Ki Gede sekarang, sehingga untuk dapat pulih kembali seperti sediakala, agaknya memerlukan waktu yang sangat panjang.”

Ki Argapati memandang wajah gembala tua itu dengan saksama. Tetapi dari sorot matanya terpancar hatinya yang sudah pasrah kepada pepesten, kepada keharusan yang tidak akan dapat dielakkannya lagi.

Karena itulah maka Ki Argapati tidak lagi menjadi gelisah dan cemas, apa pun yang akan terjadi atasnya. Seandainya ia tidak akan dapat pulih kembali sekalipun. Yang terutama menjadi persoalan di dalam hatinya adalah justru Tanah Perdikan Menoreh. Kalau ia tidak kuasa lagi memimpin tanah ini dan tidak ada orang lain yang dapat dipercayainya, maka Tanah yang kini tinggal abunya ini tidak akan dapat tumbuh dan berkembang kembali. Samekta dan Kerti memang dapat memimpin pemerintahan dalam arti yang sangat sempit. Tetapi untuk mengembangkan apa yang masih tersisa untuk mencapai tingkat yang diharapkan agaknya akan banyak menjumpai kesulitan.

“Tanah ini memerlukan orang kuat,” berkata Ki Argapati di dalam hatinya.

Sekilas terlintas di angan-angannya satu-satunya anaknya Pandan Wangi. Kepadanyalah Ki Argapati menumpahkan segala harapannya.

“Tetapi ia hanya seorang gadis,” desisnya, “bagaimana pun juga nalarnya kadang-kadang terdesak oleh perasaannya.”

“Kiai,” berkata Ki Argapati kepada gembala tua itu, “bagaimana pun juga aku mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepadamu dan kedua anak-anakmu.”

Gembala tua itu pun tersenyum.

“Tetapi,” berkata Ki Argapati, “aku masih ingin mendapat pertimbanganmu Kiai.”

Gembala tua itu mengerutkan keningnya.

“Apakah yang sebaiknya aku lakukan atas Argajaya dan Sidanti?” bertanya Ki Argapati kemudian.

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kedua orang itu adalah termasuk dalam keluarga Ki Argapati. Karena itu maka sulitlah baginya untuk menyatakan sikapnya. Apalagi bahan-bahan yang ada padanya tentang hubungan kekeluargaan dan sikap Argajaya dan Sidanti atas Menoreh sebelumnya terlampau sedikit.

“Ki Gede,” berkata gembala itu, “kalau aku boleh berterus terang, aku tidak dapat menyatakan apa pun tentang kedua anggota keluarga terdekat Ki Gede itu. Ki Argajaya adalah adik kandung Ki Gede, sedang Sadanti adalah putera Ki Gede.”

“Kau benar Kiai, tetapi apakah katamu setelah kau melihat sikap mereka kini? Menurut laporan yang aku terima, agaknya Argajaya sempat melihat kepada dirinya sendiri. Kepada apa yang sudah dilakukannya. Ia sempat memisahkan mana yang salah dan mana yang benar. Tetapi agaknya Sidanti masih tetap berkeras hati.”

Gembala tua itu menganggukkan kepalanya, “Ya Ki Gede. Memang demikanlah agaknya. Aku memang menjadi heran justru Angger Sidanti sama sekali tidak mau mengerti akan kedudukannya, meskipun gurunya sudah meninggal.”

Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. Ia menduga bahwa gembala tua itu belum tahu, hubungan yang sebenarnya antara dirinya dan anak muda yang keras hati itu.

“Itulah yang membuat aku berprihatin,” desis Ki Argapati.

“Ki Gede,” berkata gembala tua itu, “aku kira ada jalan yang dapat Ki Gede tempuh. Tetapi sudah tentu itu bukan satu-satunya.”

Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Bagaimana kalau Ki Gede memanggil mereka, dan berbicara langsung dari hati ke hati? Ki Gede akan dapat bertanya kepada mereka, bagaimanakah sikap mereka sekarang.”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku memang sudah berpikir demikian. Aku memang berhasrat untuk memanggil mereka. Tetapi sudah tentu tidak bersama-sama.”

“Aku kira memang itu adalah jalan yang sebaik-baiknya. Kini di rumah ini ada dua orang tamu, yang apabila diperlukan dapat membantu Ki Gede dengan pendapat-pendapatnya pula. Terutama Adi Sumangkar.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sesudah aku bertemu dengan keduanya berganti-ganti, aku memang mungkin memerlukan pendapat-pendapat itu.”

“Aku kira mereka tidak akan berkeberatan.”

“Tetapi bukankah kalian masih akan tinggal di Tanah Perdikan ini untuk waktu yang tidak terlampau pendek?”

“Kami berharap bahwa kami akan segera dapat minta diri, Ki Argapati. Perkembangan di sebelah Timur Kali Praga agaknya memerlukan perhatian. Alas Mentaok yang kini sudah menjadi semakin ramai ternyata menjadi pusat perhatian seluruh kerajaan Pajang. Bahkan daerah di sekitarnya kini seakan-akan telah berpaling ke daerah baru itu.”

Ki Argapati menganggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba ia berkata, “Bagaimana dengan Ki Ageng Mangir?”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Sambil menggelengkan kepalanya ia menjawab, “Aku tidak tahu.”

Ki Argapati merenung sejenak. Tetapi menurut pengenalannya atas Ki Ageng Mangir, agaknya pemimpin Tanah Perdikan di Mangir itu pun tidak akan banyak mengambil peranan di dalam perubahan keadaan yang tidak akan dapat dielakkan lagi. Entahlah apabila Ki Ageng Mangir itu sudah tidak mampu lagi memimpin pemerintahan, dan yang kelak akan menyerahkan pimpinan kepada puteranya. Mungkin puteranya yang kini masih kecil itu akan bersikap lain apabila ia mendengar riwayat perkembangan Tanah Perdikannya dan hadirnya suatu daerah baru di Alas Mentaok yang lebih muda dari Tanah Perdikannya.

“Kiai,” berkata Ki Argapati kemudian, “apalagi menghadapi keadaan yang berkembang terus di sebelah Kali Praga. Tanah Perdikan ini sendiri memerlukan seorang yang kuat. Apabila aku tidak dapat melakukan tugasku dengan baik, maka aku menjadi cemas, bahwa Tanah Perdikan yang kini seakan-akan menjadi lumpuh ini tidak dapat mengikuti perkembangan keadaan, sehingga akhirnya justru ditelan oleh pergeseran yang terjadi di luar Tanah ini sendiri. Apalagi apabila selama ini, kami keluarga Tanah Perdikan ini masih belum dapat mengatasi goncangan-goncangan keadaan yang telah timbul sebagai akibat api yang baru saja membakar Tanah ini.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Karena itu, aku memanggil Argajaya segera. Kemudian Sidanti. Aku harus mendapat kepastian, apakah mereka akan ikut serta, atau harus kita tinggalkan.”

Gembala tua itu masih mengangguk-angguk. Memang tidak ada jalan lain daripada berbicara langsung dengan keduanya. Baik Argajaya maupun Sidanti.

“Tetapi,” berkata gembala itu, “apakah Ki Gede tidak menunggu keadaan Ki Gede menjadi semakin baik?”

“Kapan, Kiai?” jawab Ki Argapati. “Kalau aku masih harus menunggu lagi, maka aku kira Tanah Perdikan ini akan banyak kehilangan waktu.”

Gembala tua itu tidak menjawab, ia mengerti bahwa Ki Argapati harus bertindak cepat. Apabila Ki Argapati sudah mempunyai keputusan, apakah yang sebaiknya dilakukan atas Argajaya dan Sidanti, maka ia pun akan segera dapat membuat rencana bagi keseluruhan Tanah Perdikannya, meskipun masih banyak masalah yang harus diatasinya. Putera Ki Argajaya yang masih berkeliaran dengan beberapa orang yang keras kepala, tanah yang kering karena parit-parit yang rusak, persediaan makanan yang menipis, dan panen yang harus segera dapat diusahakan untuk mengatasi kekurangan bahan makanan akibat peperangan.

Menoreh memang harus mengadakan perbaikan di segala bidang, terutama mengembalikan kepercayaan rakyat kepada pemimpinnya.

Dalam keadaannya, Ki Gede pasti tidak akan dapat bekerja selincah sebelumnya. Badannya sudah tidak memungkinkan lagi meskipun bukan berarti bahwa Ki Gede harus selalu berada di pembaringan.

“Kiai,” berkata Ki Gede Menoreh kemudian, “aku ingin bertemu dengan Argajaya. Tetapi maaf, aku kira lebih baik tidak seorang pun yang mendengarkan pembicaraan kami. Bukan karena aku tidak percaya kepada siapa pun juga terutama kepada Kiai, tetapi aku menjaga agar Argajaya dapat berkata dengan hati terbuka.”

Gembala itu mengerutkan keningnya. Namun katanya, “Ki Gede memerlukan saksi meskipun hanya seorang. Saksi itu bukan orang lain, tetapi sebaiknya adalah Angger Pandan Wangi.”

Ki Argapati merenung sejenak. Katanya, “Apakah, kehadiran Pandan Wangi tidak justru mengganggu?”

“Menurut pendapatku tidak, Ki Gede. Pandan Wangi adalah puteri Ki Gede yang diharap kelak akan berperanan di dalam pemerintahan.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah. Aku sependapat. Aku minta tolong sama sekali, apakah Kiai dapat membawa keduanya kemari?”

“Maksud Ki Gede aku harus membawa Angger Pandan Wangi dan Ki Argajaya?”

“Ya.”

Gembala itu merenung sejenak. Kemudian, “Sebaiknya biarlah Angger Pandan Wangi sajalah yang membawa pamannya kemari?”

“Tetapi Argajaya adalah seorang yang keras kepala. Meskipun menurut laporan yang kami terima, orang itu sudah menjadi agak lunak, tetapi aku belum mempercayainya sepenuhnya.”

Gembala itu tidak segera menjawab.

“Bagaimana kalau tiba-tiba timbul niatnya untuk melakukan perbuatan yang tidak terpuji?”

“Ki Gede, kami akan mengawasi dari kejauhan.”

“Argajaya dapat berbuat cukup cepat.”

“Tetapi Angger Pandan Wangi adalah seorang gadis yang cukup terlatih, ia mempunyai kemampuan yang seandainya terpaut, tidak terlampau banyak dari Ki Argajaya. Karena itu, setidak-tidaknya ia mempunyai kesempatan bertahan sampai kami datang mendekati mereka.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku sependapat, Kiai,” katanya kemudian, “tetapi aku titipkan keselamatan Pandan Wangi kepadamu.”

Gembala itu mengangguk, “Ya. Aku akan mencoba.”

“Baiklah. Aku menunggu kedatangan Argajaya dan Pandan Wangi.”

Gembala tua itu pun kemudian minta diri. Ditemuinya Pandan Wangi, dan diberitahukannya maksud ayahnya untuk berbicara langsung dengan Ki Argajaya.

“Bagus,” Pandan Wangi menjawab dengan serta-merta, “sudah lama aku memikirkan hal itu. Sebaiknya ayah memang berbicara langsung apabila keadaannya sudah memungkinkan.”

“Ya, Ngger. Aku juga mengharap bahwa segala sesuatunya akan segera selesai.”

“Lalu?”

“Kami sudah terlampau lama di sini. Aku dan anak-anakku harus kembali menyeberang Kali Praga dan Alas Mentaok.”

“Bukankah Alas Mentaok sudah mulai ramai?”

“Kami masih harus membuktikan.”

Pandan Wangi tidak menjawab. Sekilas terbayang kedua anak-anak muda yang mengaku anak gembala tua itu, yang ternyata bernama Agung Sedayu dan Swandaru Geni. Terasa sesuatu berdesir di dadanya. Apakah ia akan dapat membiarkan keduanya pergi begitu saja tanpa kesan apa pun? Bagaimana dengan pesan Swandaru lewat Agung Sedayu?

Pandan Wangi menundukkan kepalanya. Ia sudah pasti tidak akan dapat memikirkan Agung Sedayu. Sama sekali tidak akan ada gunanya, karena sudah hadir Sekar Mirah.

Tetapi anak yang gemuk itu pun agaknya, sudah mulai tersangkut di hatinya, meskipun perlahan-lahan. Sikapnya yang terbuka meskipun tidak terhadapnya dan mengenai masalahnya. Tertawanya yang lepas dan tidak tertahan-tahan. Sikap dan tingkah lakunya yang kadang-kadang penuh kejenakaan.

“Bagaimana, Ngger?” suara gembala tua itu mengejutkannya.

“O,” Pandan Wangi tergagap, “maksud Kiai, aku sekarang supaya membawa Paman Argajaya menghadap Ayah?”

“Ya, Ngger, kami akan mengamat-amati dari kejauhan.”

“Kenapa Kiai masih harus mengamat-amati?”

“Ayahmu masih belum mempercayainya sepenuhnya.”

“Aku percaya kepadanya. Paman tidak akan berbuat apa-apa. Karena itu Kiai tidak perlu mengawasinya. Aku bertanggung jawab atas Paman Argajaya.”

Gembala itu menarik nafas dalam-dalam. Ada juga sifat keras hati pada gadis ini, seperti juga pada keluarga Menoreh yang lain. Pada Ki Argapati dan Ki Argajaya, dan meskipun berbeda sumber aliran darahnya, namun juga Sidanti. Bahkan putera Argajaya itu pun ternyata keras kepala juga.

“Kapan ayah akan menerima Paman?” bertanya Pandan Wangi.

“Sekarang ayahmu sudah siap, Ngger.”

“Baik. Baik. Aku akan pergi kebilik Paman di ujung gandok.”

Pandan Wangi pun kemudian berlari-lari pergi ke bilik Ki Argajaya. Gupita, Gupala, dan beberapa orang pengawal terkejut melihat kedatangannya. Bahkan Sekar Mirah dan Sumangkar yang duduk agak jauh dari mereka pun mengerutkan keningnya.

“Kenapa anak itu berlari-lari” desis Sumangkar.

Sekar Mirah menggelengkan kepalanya. Tetapi ia pun kemudian berdiri dan berjalan mendekatinya.

Gupita dan Gupala yang merasa diserahi tanggung jawab atas Ki Argajaya serentak berdiri dan bertanya, “Ada apa Wangi?”

“O,” Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam, “Ayah memanggil Paman Argajaya.”

Gupita dan Gupala berpandangan sejenak. Namun kemudian guru mereka pun datang sambil berkata, “Ya, Ki Argapati memanggil Ki Argajaya.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah kalian tidak percaya kepadaku, sehingga ayahmu perlu menjelaskan?”

“Tidak. Sama sekali tidak,” Gupalalah yang menjawab. “Aku percaya kepadamu.”

Pandan Wangi memandang Gupala dengan tajamnya. Dan Gupala berkata terus, “Silahkan mengambil Ki Argajaya.”

Pandan Wangi tidak menjawab. Tetapi kemudian ia melangkah menghampiri pintu yang diselarak dari luar. Perlahan-lahan ia menarik selarak itu, lalu perlahan pula pintu bilik itu terbuka.

“Paman,” desis Pandan Wangi sebelum ia memasuki bilik itu.

Argajaya yang duduk termenung di atas pembaringannya mengangkat wajahnya. Ketika ia berpaling, memandang ke arah pintu, dilihatnya seorang gadis dengan ragu-ragu memasuki biliknya.

“Paman,” sekali lagi Pandan Wangi berdesis.

“O,” Ki Argajaya menarik nafas dalam-dalam, “kau Wangi.”

“Ya, Paman.”

“Jangan masuk. Udara sangat lembab dan aku hampir tidak dapat bernafas di dalam bilik yang sempit dan gelap ini.”

Pandan Wangi tertegun sejenak.

“Apakah keperluanmu Wangi?”

“Aku akan berbicara sedikit, Paman.”

Argajaya tidak segera menjawab. Matanya yang menyala kini menjadi cekung dan dalam.

Perlahan-lahan ia berdiri dan melangkah mendekati Pandan Wangi.

“Kau lebih baik tetap berada di muka pintu itu Wangi. Kau tidak akan menjadi sesak nafas.”

Pandan Wangi tidak menyahut. Tetapi ditungguinya pamannya mendekatinya.

“Paman,” katanya kemudian setelah pamannya berdiri di hadapannya, “Ayah memanggil Paman.”

Ki Argajaya mengerutkan keningnya. Kemudian kepalanya terangguk-angguk. Sejenak kemudian ia menarik nafas sambil bertanya, “Wangi, apakah ayahmu sudah menemukan keputusan, hukuman apakah yaag akan dijatuhkan atasku?”

“Tidak, Paman,” jawab Pandan Wangi, “Ayah sekedar ingin berbicara dengan Paman.”

“Apakah yang akan dibicarakan?”

“Aku tidak tahu, Paman. Tetapi sudah terang, tentang Tanah Perdikan ini.”

“Pandan Wangi,” berkata Argajaya, “kau tahu bahwa aku pasti sudah dianggap bersalah oleh ayahmu. Sudah tentu ayahmu akan mengambil suatu keputusan untuk menghukum aku.”

“Tidak, Paman. Tidak.”

“Sejak semula ayahmu tidak mau bertanggung jawab terhadap semua tindakanku dan Sidanti yang menyangkut kekuasaan Pajang. Itulah sebabnya Sidanti mencoba mencari kekuatan dibantu oleh gurunya. Karena aku terlibat dalam masalah Tambak Wedi yang langsung berbenturan dengan kekuasaan Pajang di Selatan yang dipimpin oleh Untara, maka aku tidak mempunyai pilihan lain daripada mencoba mencuri kekuatan bersama Sidanti untuk menghadapi setiap tindakan Pajang atas diri kami.”

“Tetapi ternyata Pajang tidak berbuat apa-apa. Bahkan sekarang mereka tidak akan sempat lagi mengurus masalah-masalah yang kecil seperti itu, Paman.”

“Kenapa?.”

“Aku tidak tahu pasti. Tetapi Ki Gede Pemanahan sudah tidak menjadi panglima lagi. Bersama puteranya mereka membuka hutan Mentaok di sebelah Kali Praga.”

Argajaya mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia berkata, “Mungkin kau salah, Wangi. Mereka membuka Alas Mentaok sebagai batu landasan untuk meloncat ke Barat.”

“Aku kira tidak begitu, Paman.”

Argajaya mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab.

“Tetapi entahlah, apa yang terjadi di seberang Kali Praga. Yang penting sekarang Paman diminta datang oleh Ayah. Tetapi Ayah sama sekali tidak akan menjatuhkan keputusan saat ini.”

Ki Argajaya merenung sejenak. Dari sela-sela pintu yang terbuka ia memandang ke luar, ke hijaunya dedaunan. Ketika terasa angin yang silir menyusup lewat pintu yang terbuka menyentuh wajahnya, ia menarik nafas dalam-dalam.

“Marilah, Paman,” berkata Pandan Wangi, “aku antarkan Paman menghadap ayah.”

“Sudah tentu aku tidak akan dapat ingkar,” jawab Argajaya. “Adalah hak ayahmu untuk memanggil aku, bahkan menggantung aku di alun-alun kalau aku dianggapnya sebagai seorang pengkhianat yang telah menodai Tanah Perdikan ini.”

Pandan Wangi menahan nafasnya sejenak. Ditatapnya wajah pamannya yang cekung dan pucat. Tetapi pada wajah itu kini sudah tidak dilihatnya lagi gelora yang menyala seperti sebelum terjadi peperangan yang telah membuat Tanah Perdikan Menoreh menjadi abu. Wajah yang pucat itu kini seolah-olah seperti wajah telaga yang tenang. Pasrah.

“Paman,” berkata Pandan Wangi kemudian, “aku menjamin bahwa ayah tidak akan menghukum Paman, apabila Paman sejak kini masih tetap menjadi seorang putera Menoreh yang bersedia uutuk bersama-sama membangun tanah ini kembali.”

“Jangan, Pandan Wangi,” potong pamannya, “jangan memberikan jaminan apa-apa. Kalau kau berbeda pendirian dengan ayahmu, maka akan timbul persoalan-persoalan berikutnya sebagai akibat jaminan yang kau berikan itu.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Sifat-sifat itu masih juga ditemui pada pamannya yang agaknya sudah pasrah.

“Sekarang, bawalah aku menghadap ayahmu. Apa pun yang akan diperlakukan atasku, aku tidak akan dapat ingkar. Aku tidak dapat menolak dengan cara apa pun. Kasar atau halus.”

Pandan Wangi tidak menyahut. Tetapi ia bergeser ketika pamannya perlahan-lahan melangkah ke luar pintu.

Selangkah di luar pintu Ki Argajaya berhenti sejenak. Disekanya matanya, seakan-akan ia menjadi silau melihat sinar matahari yang menyala di halaman. Namun sejenak kemudian ia melangkah lagi dengan kepala tunduk. Ki Argajaya sama sekali tidak mempedulikan siapa saja yang memandanginya dari dekat dan kejauhan. Ia tidak melihat gembala tua, Gupita dan Gupala, Sumangkar dan bahkan Sekar Mirah yang memandanginya dengan tatapan mata yang tidak berkedip.

Perlahan-lahan Ki Argajaya berjalan naik ke pendapa, kemudian masuk ke pringgitan diantar oleh Pandan Wangi. Beberapa langkah di belakangnya, gembala tua itu mengikutinya. Tetapi ia tidak ikut memasuki bilik Ki Argapati. Karena itu, maka ia pun kemudian duduk saja di ruang tengah bersama beberapa orang prajurit yang bertugas mengawasi bilik Sidarti.

Ketika kaki Argajaya memasuki bilik kakaknya yang masih berbaring, rasanya kaki itu menjadi lemah dan gemetar. Karena itu maka langkahnya pun tertegun sejenak. Terlampau sulit baginya untuk mengendalikan perasaannya yang tiba-tiba saja bergolak.

“Kau Argajaya,” terdengar suara Ki Argapati datar.

Ki Argajaya menelan ludahnya.

“Marilah. Duduklah.”

Ki Argajaya tidak menjawab. Tetapi ia maju selangkah.

“Duduklah.”

Pandan Wangi pun kemudian memberikan sebuah dingklik kayu kepadanya.

Ki Argajaya pun kemudian duduk di atas dingklik kayu itu di dekat pembaringannya Ki Argapati.

“Mendekatlah Argajaya. Badanku masih belum terlampau baik untuk duduk terlampau lama.”

Argajaya tidak menjawab dan tidak bergeser dari tempatnya.

Terdengar desah nafas Ki Gede, kemudian Ki Gede itu pun perlahan-lahan bangkit.

Pandan Wangi segera mendekatinya dan menolongnya duduk. Tetapi ia bertanya, “Apakah Ayah tidak terlampau lelah?”

Ki Argapati menggeleng, “Tidak, Wangi.”

Pandan Wangi tidak bertanya lagi. Dibantunya ayahnya menempatkan diri, duduk menghadap kepada adiknya, Argajaya.

Setelah menarik nafas dalam-dalam Ki Argapati berkata, “Argajaya. Kau sudah mendengar akibat dari peperangan yang baru saja terjadi?”

Ki Argajaya yang menundukkan kepalanya itu mengangguk.

“Ya, Kakang. Aku mendengarnya.”

“Baik,” sahut Ki Argapati, “bukankah kau juga mendengar bahwa Tanah Perdikan ini sudah benar-benar menjadi abu?”

“Ya, Kakang.”

“Ini adalah suatu contoh dan pengalaman yang baik bagi masa depan. Setiap perpecahan tidak akan membawa manfaat apa pun bagi Tanah ini. Seandainya Ki Tambak Wedi, kau, dan Sidanti memenangkan perang yang baru saja terjadi itu, kalian pun pasti hanya akan menemukan sisa-sisa seperti Tanah Perdikan ini sekarang. Kerusuhan masih terdapat di mana-mana. Setiap saat rakyat masih selalu dicengkam oleh ketakutan. Mereka yang selalu menghantui rakyat Tanah Perdikan Menoreh ini.”

Dan tiba-tiba saja Ki Argapati bertanya, “Bagaimana dengan anakmu?”

Ki Argajaya menarik nafas dalam-dalam. Dengan kepala yang masih menunduk ia berkata, “Aku tidak tahu, apa yang telah terjadi atasnya.”

“Pandan Wangi sudah mencoba mencarinya.”

Ki Argajaya tidak menyahut, sedang Pandan Wangi menjadi berdebar-debar. Untunglah bahwa mereka tidak membicarakan anak itu lebih jauh.

“Itu adalah salah satu gambaran, Argajaya,” berkata Ki Argapati, “ayah yang terpisah dari anak, anak yang terpisah dari ibu dan isterinya yang terpisah dari suami.”

Argajaya masih tetap berdiam diri.

“Meskipun hal itu dapat dianggap wajar terjadi dalam peperangan, tetapi alangkah baiknya kalau peperangan, perpecahan lebih-lebih di antara keluarga sendiri itu tidak terjadi. Dengan demikian tidak akan ada suami yang terpisah dari isterinya, ibu yang terpisah dari anaknya dan anak yang terpisah dari bapaknya. Lebih menyedihkan lagi, apabila anak dan ayah, adik dan kakak telah memilih pihak yang berlawanan seperti yang sudah terjadi atas kita berdua, justru sebagai pusat perhatian orang-orang dari tlatah Menoreh ini. Maka jalur perpecahan itu akan membelah seluruh rakyat Tanah Perdikan ini. Bahkan akan membelah keluarga-keluarga dan saudara-saudara sekandung seperti kita pula.”

Ki Argajaya masih saja menundukkan kepalanya. Tetapi kata-kata kakaknya itu telah menyentuh hatinya. Terbayang kembali peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di atas Tanah Perdikan ini. Pertempuran demi pertempuran. Kekerasan dan perampasan yang hampir tidak terkendali atas rakyat yang seakan-akan tidak terlindungi lagi.

Dan tiba-tiba Ki Argajaya itu memandang ke dirinya sendiri. Benarkah bahwa ia melakukan perlawanan atas kakaknya itu hanya karena ia memerlukan perlindungan terhadap orang-orang Pajang yang mungkin masih mencarinya sampai ke Tanah Perdikan Menoreh? Benarkah bahwa ia tidak mempunyai pilihan lain kecuali berpihak kepada Sidanti dan Ki Tambak Wedi karena ia sudah terlanjur terlibat dalam peperangan di Tambak Wedi?

Ki Argajaya menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat membohongi dirinya sendiri, bahwa ia merasa satu-satunya keluarga trah Argapati. Kalau Ki Argapati tidak ada lagi, maka ia adalah satu-satunya waris yang sah atas Tanah Perdikan ini. Sudah tentu ia harus menyingkirkan pandan Wangi pula. Ia tidak lagi terhalang oleh Sidanti, karena ia akan segera dapat mengumumkan bahwa Sidanti sama sekali bukan darah keturunan Ki Argapati.

Tetapi yang terjadi kini adalah sama sekali tidak seperti yang dibayangkannya waktu itu. Yang terjadi, Tanah Perdikan Menoreh kini menjadi abu setelah terbakar oleh api peperangan di antara keluarga sendiri.

Dan Ki Argajaya yang sedang merenung itu kemudian mendengar suara Ki Argapati, “Argajaya, apakah kau merasakan semuanya itu kini?”

Argajaya mengangguk perlahan, “Ya, Kakang. Aku merasakan kini. Dan aku tidak ingkar, bahwa aku telah ikut membakar Tanah Perdikan Menoreh apa pun alasanku. Karena itu, sekarang Kakang dapat menjatuhkan keputusan, apakah aku akan digantung, atau dipancung atau dipicis sekalipun.”

Ki Argapati mengerutkan alisnya. Katanya, “Kau masih seperti dulu. Apakah kau tidak dapat menanggapi keadaan ini dengan cara yang lain-lain. Apakah kau masih saja mengeraskan hatimu meskipun kau sudah melihat sendiri Tanah Perdikan ini terbakar menjadi abu?”

Ki Argajaya mengangkat wajahnya. Sorot matanya memancarkan pertanyaan yang tersimpan di dalam hatinya atas kata-kata kakaknya.

“Argajaya,” berkata Ki Argapati kemudian, “kalau kau masih berkeras hati, maka harapanku untuk membangun Tanah ini akan lenyap sama sekali. Aku sendiri bukan orang yang dapat menahan diri dan bersabar menghadapi persoalan-persoalan yang berat. Apalagi dalam keadaanku sekarang. Karena itu, aku harap kau dapat mengerti maksudku. Aku pun tidak akan dapat merendahkan diri, mohon kepadamu agar kau sudi membantu aku, seperti kau tidak akan mengatakan kepadaku, bahwa kau merasa bersalah, kemudian minta agar kesalahan itu diampuni dan mendapat kesempatan untuk hidup. Tidak. Kau tidak mau dan aku pun tidak, karena kita masing-masing adalah orang-orang yang berhati batu.”

Dada Ki Argajaya tiba-tiba menjadi berdebar-debar. Dan ia mendengar Ki Argapati berkata seterusnya, “Kau merasa lebih jantan apabila kau digantung atau dipacung di alun-alun, sehingga karena itu kau menantang aku untuk melakukannya.” Argapati berhenti sejenak, lalu, “Argajaya. Kalau aku menuruti perasaanku, aku cenderung untuk memenuhi tantanganmu. Tetapi dengan demikian aku tidak berhasil mengatasi persoalan di antara kita sendiri dengan cara yang baik. Yang aku inginkan, kita dapat membangun Tanah yang sudah menjadi abu ini. Tentu saja dengan ikhlas.”

Ki Argajaya tidak menjawab. Tetapi kepalanya kini tertunduk semakin dalam.

“Kita masing-masing harus bersedia mengorbankan sebagian kecil harga diri kita masing-masing. Mungkin aku terpaksa menelan ucapan-ucapan orang yang tidak senang melihat sikap ini, bahwa aku tidak berani mengambil sikap yang tegas, atau karena kau adalah adik kandungku. Dan kaupun barangkali akan mendapat sebutan seorang pengecut yang minta ampun dan tidak bertanggung jawab setelah kalah di peperangan. Tetapi kalau kelak kita dapat membuktikan bahwa kita berhasil membangun Tanah Perdikan ini sehingga menjadi pulih kembali, maka suara-suara itu akan hilang dengan sendirinya.”

Ki Argajaya tidak menyahut.

“Tetapi sudah tentu, bahwa persetujuan di antara kita harus dibuat dengan ikhlas. Kalau tidak, maka benih-benih api yang akan membakar Tanah ini, kelak masih belum terpadamkan.”

Terasa sesuatu bergetar di dada Argajaya. Belum pernah ia mendapat sentuhan begitu tajam pada dinding jantungnya, sehingga tanpa sesadarnya kepalanya terangguk-angguk lemah.

“Bagaimana pendapatmu, Argajaya?”

Sejenak ia masih berdiam diri. Tetapi kepalanya masih terangguk-angguk.

“Apakah kau dapat mengerti dan bersedia untuk bersama-sama dengan semua orang yang masih ada dan sejalan dengan pikiran kita untuk membangun kembali Tanah ini.”

Ki Argajaya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian diangkatnya kepalanya perlahan-lahan sambil berdesis, “Ya, Kakang. Aku mengerti maksud Kakang. Agaknya meskipun samar-samar aku telah dapat melihat ke dalam diriku sendiri. Apakah memang benar kata-kata Kakang Argapati bahwa aku adalah orang yang keras kepala? Jika demikian, maka biarlah aku mencoba untuk melunakkan diri sendiri. Dan agaknya aku memang harus mengakui bahwa aku kadang-kadang tidak dapat mempertimbangkan sikapku lebih dahulu.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sekarang,” berkata Ki Argapati, “apakah katamu tentang masa depan Tanah ini, tentang kau dan tentang aku? Apakah kau dapat menerima pendapatku?”

Ki Argajaya mengangguk-angguk kecil pula, sambil menyahut perlahan-lahan, “Aku akan menerima kemurahan hati Kakang itu dengan segala senang hati dan terima kasih. Kalau aku memang masih mendapat kesempatan, maka kesempatan itu akan aku pergunakan sebaik-baiknya.”

Sejenak Ki Argapati berdiam diri sambil menatap wajah adiknya seakan-akan ingin mengunyah jawaban itu di dalam hati.

Sepercik harapan telah tumbuh di dalam dada Ki Argapati, bahwa ia akan dapat menyiapkan kembali Tanah Perdikan Menoreh, meskipun ia masih harus tetap mempunyai kecurigaan, bahwa masih ada benih-benih yang dapat menyalakan api di kemudian hari.

“Agaknya laporan-laporan tentang Argajaya ada juga benarnya,” katanya di dalam hati. “Setelah ia mendapat kesempatan menilai perbuatannya, maka agaknya ia menemukan kesadarannya.”

Tanpa sesadarnya Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

Ketika terpandang olehnya wajah puterinya Pandan Wangi, maka puterinya itu pun mengangguk kecil.

“Agaknya Pandan Wangi menyetujui pembicaraan ini,” katanya di dalam hati pula, “tetapi, apabila pembicaraan nanti sampai pada Sidanti, apakah juga akan dapat selancar ini?”

Sejenak mereka yang ada di dalam ruangan itu saling berdiam diri, tenggelam dalam angan-angan masing-masing.

“Argajaya,” berkata Ki Argapati kemudian, “aku merasa bahwa aku pun akan segera sembuh sama sekali. Kalau kau dapat melupakan apa yang terjadi, maka aku kira Tanah ini akan segera pulih kembali seperti sedia kala.”

Argajaya tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Argajaya,” berkata Ki Argapati kemudian, “aku akan segera mempersiapkan segala sesuatunya. Aku juga akan segera bertemu dengan Sidanti. Mudah-mudahan hatinya pun sudah terbuka. Dengan demikian kita akan segera dapat bersama-sama membangun Tanah yang tinggal sisa-sisanya ini.”

Tetapi dada Argajaya tiba-tiba menjadi berdebar-debar. Ia mengenal benar sifat Sidanti yang keras seperti batu hitam. Karena itu, apakah usaha Ki Argapati itu akan berhasil?

Sejenak Ki Argajaya melihat ke dirinya sendiri. Ke hatinya yang semula tidak kalah kerasnya dari Sidanti. Namun akhirnya hatinya menjadi luluh. Bukan saja karena ia menyadari segala kekeliruannya, tetapi sebagian juga karena sikap Argapati yang tidak disangka-sangka. Menurut pengenalan Ki Argajaya, kakaknya itu pun berhati padas. Namun agaknya kali ini ia sempat mempergunakan nalarnya. Bukan sekedar perasaannya.

“Argajaya,” berkata Ki Argapati kemudian, “meskipun kita sudah menemukan persetujuan, tetapi aku minta maaf, bahwa aku masih akan mempersilahkan kau kembali ke dalam bilikmu. Mungkin bilik itu sama sekali tidak memadai. Setelah aku menemukan kesamaan pendapat dengan Sidanti, kita akan segera berbuat sesuatu. Kau akan segera dapat mencari anakmu bersama dengan beberapa orang yang akan mengawani kau dalam perjalanan, karena orang-orang yang tidak puas mungkin masih akan melakukan tindakan-tindakan yang tidak sepantasnya.”

“Terserahlah kepada Kakang,” jawab Ki Argajaya.

“Nah, Argajaya, biarlah Pandan Wangi membawamu kembali. Besok atau lusa kita akan bertemu lagi. Hari ini aku akan berusaha bertemu dengan Sidanti supaya masalahnya, lekas selesai.”

Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia tidak dapat menahan diri ketika dari mulutnya meloncat suatu peringatan kepada kakaknya, “Hati-hatilah terhadap Sidanti, Kakang.”

Ki Argapati mengerutkan keningnya. Tetapi dari lontaran kata-kata itu ia melihat ketulusan hati Argajaya. Karena itu maka ia menjawab, “Terima kasih Argajaya. Aku akan berhati-hati kepadanya. Tetapi aku telah mengenalnya sejak kecil. Ia adalah anakku.”

Ki Argajaya memandang wajah Argapati sejenak. Tetapi tampaklah kemuraman yang dalam menikam jantungnya. Kata-kata itu telah dipaksanya untuk meloncat dari bibirnya, sedang hatinya sendiri tersayat karenanya.

Namun Ki Argajaya tidak berkata apa pun lagi.

“Argajaya,” Ki Argapatilah yang berkata lagi, “biarlah Pandan Wangi mengantarkan kau.” Kemudian kepada Pandan Wangi ia berkata, “Langsung sajalah kau pergi menjemput kakakmu. Bawalah ia kemari. Aku ingin berbicara pula kepadanya.”

“Baik, Ayah,” jawab Pandan Wangi.

“Marilah, Wangi,” berkata Ki Argajaya. Lalu kepada Ki Argapati, “Aku minita diri Kakang. Aku menunggu apa pun yang akan Kakang lakukan. Tetapi sebelumnya aku mengucapkan diperbanyak terima kasih atas kebaikan hati Kakang itu.”

“Sudahlah. Kita saling memerlukan.”

Pandan Wangi pun kemudian, mengantarkan pamannya keluar dari bilik ayahnya. Di ambang pintu, Pandan Wangi melihat gembala tua itu duduk di antara mereka yang bertugas menjaga Sidanti.

“Hem, gembala itu tidak percaya lagi kepada Paman Argajaya dan barangkali juga kepada Kakang Sidanti,” katanya di dalam hati. Tetapi ia tidak mengucapkan kata-kata itu.

Ketika Argajaya juga melihat gembala itu, maka ia pun segera berpaling. Ia masih belum dapat mengatur perasaannya apabila ia melihat orang-orang dari luar Tanah Perdikan ini, tetapi terlampau banyak ikut mencampuri masalah di dalam wilayah ini.

Karena itu, maka Argajaya pun kemudian melangkah tanpa berpaling lagi diikuti oleh Pandan Wangi. Apalagi ketika di luar pendapa ia melihat Gupita dan Gupala dan bahkan Sekar Mirah ada di antara mereka. Dahinya pun segera menjadi berkerut-merut. Tetapi tidak ada yang dapat dilakukannya selain membuang wajahnya. Ia menjadi muak mendengar suara Gupala dan Gupita dari dalam biliknya, selama Gupala dan Gupita bertugas di luar pintu menungguinya.

“Mereka pun harus pergi. Selama mereka masih ada di atas Tanah ini, Kakang Argapati tidak akan dapat melakukan pekerjaannya sesuai dengan kehendaknya yang murni. Orang-orang ini pun pasti mempunyai maksud pula untuk kepentingan diri mereka sendiri, yang mungkin bertentangan dengan kepentingan Tanah Perdikan ini,” katanya di dalam hati.

Gupala dan Gupita pun sama sekali tidak menegurnya. Bahkan mereka pun kemudian berpaling pula memandang kearah lain.

Sejenak kemudian Ki Argajaya telah masuk kembali ke dalam biliknya. Namun pertemuannya dengan kakaknya menjadikannya semakin menyadari diri. Meskipun perlahan-lahan namun pasti, bahwa Ki Argajaya merasa, bahwa tidak ada jalan lain daripada menundukkan kepalanya kembali di hadapan kakaknya. Baik sebagai seorang saudara muda, maupun sebagai seorang warga Tanah Perdikan Menoreh.

Ki Argajaya mengangkat wajahnya ketika ia mendengar Pandan Wangi berkata, “Silahkan, Paman, aku minta diri untuk menemui Kakang Sidanti.”

“O,” Ki Argajaya menjawab, “baiklah. Mudah-mudahan semuanya dapat berjalan lancar seperti yang diharapkan oleh ayahmu. Sekali lagi aku menyampaikan terima kasih atas kemurahannya. Tetapi aku pun berpesan, agar orang-orang asing itu segera diusir dari Tanah ini. Mereka akan menjadi benalu yang memuakkan apabila mereka dibiarkan untuk tetap berada di atas Tanah ini.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. “Maksud Paman?” ia bertanya.

“Orang-orang gila itu. Swandaru, Agung Sedayu, gurunya, dan orang-orang lain yang datang bersamanya. Termasuk perempuan muda itu pula.”

Pandan Wangi menarik nafas. Tetapi ia tidak menjawab. Yang dikatakannya kemudian, “Silahkan Paman beristirahat. Aku akan menemui Kakang Sidanti.”

Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia melangkah ke pembaringannya di dalam bilik yang gelap dan lembab.

Sejenak kemudian pintu bilik itu pun tertutup kembali. Argajaya merasa bahwa kini ia kembali terpisah dari dunia di sekitarnya. Dunianya adalah ruangan yang sempit, gelap, dan lembab. Dunia yang sama sekali tidak berarti apa-apa itu.

Ia mengangkat kepalanya ketika ia mendengar pintu, biliknya diselarak dari luar. Dan ia berdesah ketika ia mendengar suara Gupala, “Aku akan menungguinya.”

“Jagalah ia baik-baik,” pesan Pandan Wangi.

“Tentu. Aku akan menjaganya baik-baik.”

Sejenak kemudian tidak terdengar apa-apa lagi. Sepi. Agaknya Pandan Wangi telah pergi meninggalkan pintu biliknya.

Sebenarnyalah bahwa Pandan Wangi telah pergi. Dengan hati yang berdebar-debar ia menuju ke bilik kakaknya. Terasa sesuatu yang lain. Dan gadis itu sadar, bahwa kakaknya Sidanti memang bersikap lain dari pamannya, Ki Argajaya.

“Aku akan mencoba melunakkan hatinya,” katanya di dalam hati. Namun demikian Pandan Wangi sendiri masih ragu-ragu. Apakah ia akan berhasil? Agaknya hati Sidanti benar-benar sudah mengeras, sekeras batu hitam.

“Tetapi kami harus berusaha. Keputusan terakhir terserah kepada ayah,” ia berbicara kepada dirinya sendiri.

Di muka pintu ruangan tengah ia menjadi ragu-ragu sejenak. Ia masih melihat gembala tua itu duduk di antara penjaga bilik Sidanti.

“Marilah, Ngger,” gembala itu mempersilahkan.

Pandan Wangi maju beberapa langkah, kemudian katanya, “Kiai, aku mendapat perintah dari ayah untuk membawa Kakang Sidanti menghadap sekarang.”

“Sekarang?” bertanya gembala itu.

“Ya. Ayah ingin menyelesaikan pembicaraan ini sama sekali. Kemudian ayah akan segera dapat menyusun rencana untuk Tanah Perdikan ini. Rencana yang segera dapat dikerjakan, dan rencana yang akan dikerjakan kemudian.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Pembicaraan antara Ki Argapati dan Sidanti pasti akan merupakan peristiwa yang cukup penting. Sementara itu ia tidak melihat Ki Samekta dan Ki Kerti.

“Karena itu,” berkata Pandan Wangi kemudian, “aku akan menemui Kakang Sidanti sekarang.”

“Ya, ya. Silahkan,” berkata orang tua itu. “Tetapi apakah Angger melihat Ki Samekta dan Ki Kerti?”

“’Mereka berada di antara para pengawal. Mungkin sekarang mereka sedang nganglang atau melihat-lihat apa pun.”

“Apakah mereka tidak dipanggil oleh Ki Argapati?”

“Kali ini tidak.”

Gembala itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Kalau begitu, silahkanlah. Tetapi hati-hatilah.”

“Aku adalah adiknya. Aku mengenal tabiatnya sejak kanak-kanak.”

Gembala itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya Pandan Wangi sama sekali tidak dapat melepaskan hubungan yang telah mengikatnya sejak ia dilahirkan. Sebagai dua orang anak yang dilahirkan oleh ibu yang sama, maka Pandan Wangi tetap merasa sebagai seorang adik dan Sidanti adalah seorang kakak. Pergaulan mereka di masa kanak-kanak pun agaknya membekas terlampau dalam di hati gadis itu.

Pandan Wangi pun kemudian melangkah perlahan-lahan mendekati ujung ruangan itu. Di muka pintu bilik Sidanti, Pandan Wangi menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi ia berusaha menindas setiap perasaan yang telah menghambatnya.

“Sekasar-kasar Kakang Sidanti, ia tetap kakakku. Ia masih berusaha menolongku justru di permulaan pertentangan antara ayah dan Kakang Sidanti itu, sedang Kakang Sidanti sadar, bahwa aku pasti akan berpihak kepada ayah.”

Ketika Pandan Wangi maju semakin dekat, maka seorang pengawal telah mendekatinya dan berkata, “Apakah pintu ini akan dibuka.”

“Ya,” jawab Pandan Wangi.

Pengawal itu pun kemudian maju ke depan pintu. Perlahan-lahan ia meraba selaraknya, dan perlahan-lahan ia mulai menarik. Namun demikian dadanya menjadi kian berdebar-debar. Berbagai bayangan melonjak di kepalanya. Bagaimana kalau tiba-tiba saja pintu ini menyentak terbuka. Kemudian sebuah pukulan melayang ke wajahnya, sehingga ia menjadi pingsan.

Oleh angan-angannya sendiri, maka tangannya menjadi semakin gemetar. Ketika selarak itu telah terlepas, maka tiba-tiba selarak itu sekan-akan meloncat dari tangannya dan jatuh berderak-derak dilantai.

Semua orang terkejut karenanya. Lebih-lebih lagi adalah orang itu sendiri, sehingga ia meloncat beberapa langkah surut sambil menarik pedangnya.

“He, kenapa kau?” bertanya kawannya.

Ketika ia menyadari keadaanya, maka wajahnya menjadi merah padam. Tersipu-sipu ia menyarungkan pedangnya kembali sambil melangkah maju.

“Kenapa kau, he?” bertanya Pandan Wangi.

“Tidak apa-apa,” jawab pengawal itu. Tetapi hatinya masih tetap berdebaran.

Ketika kemudian Pandan Wangi perlahan-lahan membuka pintu, pengawal itu menekan nafasnya. Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam ketika dari sela-sela pintu yang mulai terbuka itu ia melihat Sidanti duduk saja di pembaringannya. Bahkan berpaling pun tidak. Seakan-akan ia tidak mendengar pintu itu terbuka dan adiknya melangkah masuk.

“Kakang,” desis Pandan Wangi kemudian.

Tanpa berpaling Sidanti katanya, “Kenapa kau kemari?”

Pandan Wangi tidak segera menyahut. Selangkah ia maju. Ditatapnya wajah kakaknya yang muram dan gelap. Rambutnya yang kusut dan ikat kepalanya yang tersangkut di lehernya.

Terasa dada Pandan Wangi tergetar. Setiap kali ia melihat kakaknya itu dikawani oleh beberapa orang pengawal dan diawasi oleh gembala tua, apabila ia pergi ke sumur atau ke pakiwan. Namun ia tidak melihat wajah yang semuram dan segelap itu.

“Kenapa?” suaranya datar.

Terasa kesepian yang tajam membakar dada anak muda itu. Ia merasa bahwa kini ia tinggal hidup sendiri. Karena itu maka setiap orang sama sekali sudah tidak berarti lagi baginya. Juga Pandan Wangi.

“Kakang,” berkata Pandan Wangi, “aku perlu berbicara sedikit.”

“Tidak,” jawab Sidanti, “tidak ada yang dapat kita bicarakan.”

“Tentu ada Kakang. Soal apa pun juga.”

“Tidak. Pergilah. Tinggalkan aku sendiri.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Namun ia maju selangkah, “Kakang, aku ingin berbicara kepadamu. Bukankah aku adikmu.”

“Dahulu kau adikku. Tetapi sekarang kau sudah berpihak kepada laki-laki tamak itu.”

Dada Pandan Wangi tergetar. Ia memang sudah menyadari bahwa ia seakan-akan berdiri di simpang jalan yang paling sulit untuk memilih arah. Sidanti adalah kakaknya, dan Argapati adalah ayahnya. Tetapi sama sekali tidak ada hubungan darah antara Argapati dan Sidanti itu. Bahkan sejak dilahirkan, sebuah jurang yang dalam memang telah ternganga di antara keduanya. Betapa pun Ki Argapati mencoba menimbuni jurang itu, namun ketika banjir bandang yang dahsyat melanda dari tebing-tebing pegunungan, maka semua lumpur di dalam jurang yang sedikit demi sedikit tertimbun itu telah hanyut kembali seluruhnya. Dan jurang itu kini menganga semakin dalam dan semakin lebar.

“Kakang,” berkata Pandan Wangi, “apa pun yang telah terjadi atas diri kita masing-masing, tetapi ikatan itu tidak akan dapat berubah. Kau dilahirkan oleh Rara Wulan, dan aku pun dilahirkan oleh perempuan itu pula. Kita tidak akan dapat lari dari kenyataan itu. Kenyataan bahwa kita seibu. Kita adalah kakak-beradik.”

“Aku bukan laki-laki cengeng,” suara Sidanti meninggi, “aku tidak mau terbelenggu oleh ikatan-ikatan yang tidak aku kehendaki. Aku tidak minta dilahirkan oleh perempuan yang melahirkan kau juga. Aku tidak pernah menghendaki apa pun atas kelahiranku. Justru aku merasa tersiksa bahwa aku telah dilahirkan oleh perempuan yang bernama Rara Wulan itu, karena ia berhubungan dengan laki-laki yaug bukan bakal suaminya.”

“Kakang.”

“Apakah kau akan ingkar? Bukankah kau yang mengatakan bahwa kita tidak dapat lari dari kenyataan. Dan kenyataan itu mengatakan bahwa perempuan yang bernama Rara Wulan itu telah berbuat keji karena ia berhubungan dengan Ki Tambak Wedi sehingga aku terlempar ke dunia dengan cacat yang tidak akan terhapuskan. Apakah aku harus berbangga dan berterima kasih atas kejadian serupa itu? Kalau kemudian Rara Wulan itu melahirkan kau juga itu sama sekali tidak aku minta.” Sidanti berhenti sejenak, lalu, “apakah sekarang aku harus tetap mengikatkan diri pada masalah-masalah dan hubungan yang tidak aku kehendaki itu. Tidak. Tidak. Aku kini sudah melepaskan diri dari semuanya itu. Aku adalah aku. Aku tidak terikat oleh siapa pun.”

“Kakang,” suara Pandan Wangi menjadi semakin dalam, “hatimu menjadi gelap. Kau sudah kehilangan dirimu sendiri.”

“Di dalam bilik yang sempit ini aku menemukan diriku. Aku. Aku. Tanpa orang lain aku tetap Sidanti. Dan kini suatu kenyataan pula, yang menurut kau, sebaiknya tidak kita hindari bahwa aku adalah aku sendiri. Tanpa kau, tanpa Argapati, tanpa Tambak Wedi seandainya ia masih hidup, tanpa Argajaya, dan tanpa Rara Wulan seandainya ia masih ada pula.”

Pandan Wangi menggelengkan kepalanya. Tetapi matanya mulai basah, “Tidak, Kakang. Tidak mungkin. Kau adalah putera ibuku. Itu tidak akan dapat berubah betapa pun kau membencinya, betapa kau menganggap ia perempuan yang paling hina sekalipun. Kau dapat malu kepada dirimu sendiri, bahwa kau mempunyai seorang ibu bernama Rara Wulan dan seorang ayah bernama Tambak Wedi, tetapi kau tidak dapat menghapusnya. Itu sudah terjadi. Kau sudah lahir. Dan kau adalah kau itu juga.”

Suara Pandan Wangi terpotong oleh isaknya yang seakan-akan menyumbat kerongkongannya. Sejenak ia tidak dapat mengucapkan kata-kata selain suara isaknya yang tertahan-tahan.

Sidanti masih duduk di tempatnya. Ia sama sekali tidak berpaling dan beringsut sama sekali. Tatapan matanya yang tajam, seakan-akan terpaku ke sudut bilik yang sempit itu.

Dengan susah payah Pandan Wangi mencoba menahan perasaannya. Dengan susah payah ia membendung air matanya. Tetapi setitik-setitik air mata itu jatuh pecah di atas lantai.

“Kau hanya akan memamerkan tangismu,” geram Sidanti kemudian.

Pandan Wangi tidak segera menjawab. Dengan ujung bajunya ia mengusap matanya yang basah.

“Kalau kau hanya akan menangis, sebaiknya kau keluar.”

“Tidak. Aku tidak menangis,” jawab Pandan Wangi terputus-putus.

“Bohong! Kau menangis.”

“Tidak.”

“Air matamu mengalir semakin deras.”

“Itu adalah air mata kegadisanku. Tetapi aku tidak mau tunduk pada perasaan itu. Aku harus tetap pada suatu pendirian bahwa kau harus menghadap ayah saat ini. Memang itu bukan ayahmu, itu adalah ayahku. Tetapi kita bersama-sama adalah putera Tanah Perdikan ini yang bersama-sama mempunyai tanggung jawab bagi masa depannya. Kau dilahirkan dan dibesarkan di atas Tanah ini meskipun kau kemudian pergi ke Tambak Wedi. Ibumu adalah anak Tanah ini juga. Kau tidak dapat acuh tidak acuh terhadap masa depan Tanah ini. Mungkin orang yang bernama Ki Tambak Wedi itu seandainya masih hidup sama sekali tidak peduli, apakah Tanah ini menjadi abu atau akan tetap berkembang. Tetapi kau tidak. Kau tidak dapat.”

“Diam! Diam!” bentak Sidanti.

“Kenapa aku harus diam? Marilah kita berbicara tentang diri kita, pendirian kita, sikap kita dan pandangan hidup kita masing-masing. Baik atas Tanah Perdikan Menoreh maupun atas diri kita sendiri.”

“Cukup! Cukup!”

“Aku akan berbicara. Kalau kau akan berbicara, berbicaralah. Mungkin kau akan melepaskan endapan-endapan yang selama ini terpaksa kau simpan di dalam dadamu. Sekarang lontarkanlah semuanya. Mungkin kau akan mengatakan bahwa Argapati adalah seorang yang tamak, yang tidak bertanggung jawab, yang hanya mementingkan dirinya sendiri, yang apa lagi, apa lagi. Kemudian kau dapat menilai orang-orang lain, menilai aku, menilai ibuku dan ibumu itu dan menilai apa pun juga. Berbicaralah, berteriaklah sepuas-puasmu.” Pandan Wangi berhenti sejenak, kemudian, “Tetapi apa yang sudah terjadi akan tetap seperti yang sudah terjadi itu. Kau akan tetap menjadi anak Rara Wulan seperti aku.”

“Cukup, cukup!” Sidanti berteriak semakin keras, sehingga setiap orang yang berada di ruang tengah menjadi berdebar-debar. Gembala tua yang ada di ruangan itu telah beringsut mendekat. Ia tidak dapat lengah, seandainya Sidanti kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Tetapi yang dilihatnya, Sidanti itu tiba-tiba menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Sejenak bilik itu menjadi sepi. Hanya desah nafas mereka sajalah yang terdengar, saling berkejaran.

Dengan dada yang berdebar-debar mereka yang berada di luar bilik itu melihat lewat pintu yang masih terbuka, apa yang kira-kira akan terjadi.

Mereka kemudian menahan nafas ketika tiba-tiba saja mereka melihat Pandan Wangi meloncat maju. Dengan serta-merta ia berjongkok di hadapan kakaknya yang masih menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dengan nada suara yang meninggi Pandan Wangi berkata sambil mengguncangi lengan Sidanti, “Kakang. Kakang. Dengarlah kata-kataku. Aku datang kepadamu sebagai seorang anak Tanah Perdikan ini, dan lebih daripada itu aku tidak akan dapat melepaskan diri dari ikatan kekeluargaan kita. Kakang. Apakah kau tidak sempat melihat ke dalam dirimu, ke masa lampau kita dan ke masa datang yang panjang?”

Sidanti tidak menjawab. Tetapi ia tidak dapat menatap wajah adiknya, sehingga karena itu ia memalingkan wajahnya.

“Kakang. Berbicaralah seperti kau dahulu berbicara kepadaku.”

Sidanti masih tetap berdiam diri.

“Kakang. Kenapa kau diam saja, kenapa?”

Tetapi Sidanti masih tetap mematung.

Akhirnya bagaimanapun juga, Pandan Wangi tetap seorang gadis yang tidak kuat menahan gelora perasaannya. Seperti bendungan yang tidak tahan lagi menahan arus banjir yang melandanya, Pandan Wangi kemudian menangis sejadi-jadinya. Tanpa malu-malu diletakkannya kepalanya di pangkuan kakaknya yang masih duduk diam seperti patung batu.

Tetapi Sidanti tidak mengusirnya. Sidanti tidak lagi berkata. Terasa sesuatu bergetar di dada anak muda yang keras hati itu. Guncangan isak tangis Pandan Wangi telah mengguncang jantungnya pula.

Kembali keduanya terdiam. Tetapi kini yang terdengar adalah isak tangis Pandan Wangi yang semakin keras. Air matanya pun menjadi semakin deras mengalir.

Tetapi Sidanti tidak mengusirnya Sidanti tidak lagi berteriak-teriak. Meskipun hatinya telah mengeras sekeras batu, namun Pandan Wangi tetap mempunyai kesan yang lain padanya. Meskipun ia berusaha, tetapi ia tidak akan dapat melepaskan dirinya dari kenangan masa kanak-kanaknya.

Terbayang di angan-angannya gadis kecil itu menangis memeluknya sambil berkata terputus-putus, “Kakang, anak itu nakal Kakang. Aku dicubitnya. Permainanku diambilnya.”

Di saat-saat yang demikian itulah ia berteriak, “Siapa yang nakal? Tunggu di sini. Aku pilin tangannya.”

Tetapi apakah yang harus dilakukannya kini? Pandan Wangi kini menangis di pangkuannya dalam keadaan yang jauh berbeda dari tangis seorang gadis kecil.

Apalagi pikiran Sidanti sendiri memang sedang kalut oleh keadaan yang tidak menentu baginya. Sidanti tidak tahu apa yang akan terjadi atas dirinya. Mungkin Ki Argapati kini sudah menyiapkan seorang pengawal untuk memenggal lehernya, atau menggantungnya di alun-alun. Sedang kini Pandan Wangi sedang membujuknya untuk menghadap ayahnya, agar ia dapat mendengar keputusan hukuman itu.

Terasa dada Sidanti bergetar. Hampir saja ia mendorong Pandan Wangi dan melemparkannya ke sudut ruangan.

“Ia membawa sepasang pedang,” katanya di dalam hati, “Aku dapat mengambilnya dan mempergunakannya. Atau aku dapat menjadikan gadis ini sebagai perisai untuk keluar dari rumah ini.”

Ketika Sidanti hampir saja melakukannya, tiba-tiba tangannya menjadi gemetar. Ia benar-benar tidak dapat berbuat demikian betapa pun ia sendiri sedang dilanda oleh kekalutan hati. Meskipun Sidanti mencoba menyingkirkan segala macam pertimbangan, namun ia masih tetap diam tanpa berbuat sesuatu.

Sejenak kemudian, ketika tangis Pandan Wangi mereda, maka terdengar suaranya kembali, “Kakang, apakah kau mendengarkan aku?”

Sidanti tidak menjawab.

“Akulah yang minta kepadamu.”

“Kau membujuk aku, Wangi. Kau ingin mengeluarkan aku dari bilik ini, dan tidak akan kembali lagi ke mari.”

“Kenapa, Kakang?”

“Sidanti akan tinggal namanya saja,” sahut Sidanti. “Aku menyesal bahwa aku tidak terbunuh di peperangan. Itu akan menjadi jauh lebih baik dari keadaanku sekarang.”

“Tidak. Kalau kau terbunuh, maka tidak akan ada kemungkinan lagi bagimu, untuk turut serta membangun Tanah ini.”

“Sekarang pun tidak.”

“Ada. Seperti Paman Argajaya. Paman telah menyatakan kesediaanya untuk ikut serta membangkitkan Tanah ini kembali.

Sidanti mengerutkan keningnya. “Begitukah dengan Paman Argajaya?”

“Ya.”

Sidanti terdiam sejenak. Wajahnya menjadi tegang kembali. Namun sejenak kemudian ia menarik nafas.

“Argajaya adalah adik Argapati,” katanya. “Aku bukan apa-apanya.”

“Itu tidak penting. Yang penting, kita adalah putera-putera Tanah Perdikan. Pada kitalah terletak tanggung jawab masa depan Tanah ini. Tanah yang kini sudah menjadi abu.”

“He, kau ingin mengatakan bahwa akulah yang telah membakar Tanah ini, dan adalah menjadi tanggung jawabku untuk mengembalikannya kembali.”

“Tidak. Bukan itu. Kita akan melupakan apa yang sudah terjadi. Kita akan melupakannya.”

Sidanti terdiam sejenak. Ditatapnya wajah adiknya dengan saksama. Dilihatnya wajah itu tidak secerah wajahnya dahulu. Betapa sayunya.

Ketika Pandan Wangi kemudian menatapnya dengan mata yang merah karena tangis, Sidanti tidak dapat menolaknya lagi.

“Aku minta kau pergi kepada ayah, Kakang.”

Sidanti tidak menjawab.

“Bukankah kau bersedia?”

Sidanti akhirnya menganggukkan kepalanya.

“Kalau bukan kau, Wangi, aku tidak akan beranjak dari tempat ini apa pun yang akan terjadi atasku. Aku kira aku akan lebih merasa berbahagia kalau aku mati di bilik ini daripada di alun-alun.”

“Aku yang meminta kau pergi.”

Sidanti mengangkat wajahnya. Dipandanginya sudut-sudut bilik ini, seolah-olah ia tidak akan dapat melihatnya lagi.

“Di sini aku tinggal di masa kecil itu. Di bilik ini pula aku tidur. Kadang-kadang sendiri, kadang-kadang bersama Paman Argajaya.”

Sidanti terdiam sejenak, “aku merasa bersyukur bahwa aku masih sempat melihat untuk yang terakhir kalinya sebelum aku mati.”

“Kau tidak akan mati.”

“Marilah, Pandan Wangi,” berkata Sidanti, “aku sudah muak melihat wajah-wajah di luar bilik ini. Kau lupa menutup pintu.”

Pandan Wangi berpaling. Ia melihat beberapa orang yang duduk di ruang dalam agak jauh dari pintu bilik itu.

“Mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa.”

“Maksudku, mereka adalah orang-orang yang memuakkan. Mereka adalah penjilat-penjilat yang tidak tahu diri.”

Pandan Wangi tidak menjawab. Ia takut kalau suasana itu akan rusak karenanya. Karena itu, maka ia hanya sekedar menganggukkan kepalanya saja.

Pandan Wangi kemudian berdiri ketika air matanya sudah menjadi agak kering. Sidanti pun berdiri pula dan berjalan mengikuti Pandan Wangi. Sekali-sekali matanya masih juga tertarik pada sepasang pedang di lambung adiknya. Tetapi ia tidak berbuat apa-apa.

Ketika ia melintasi ruang tengah, anak muda itu sama sekali tidak mengacuhkan, siapa saja yang duduk di atas tikar pandan itu. Ia hanya sekilas melihat sebuah tombak pendek yang mencuat di antara mereka. Maka sadarlah ia bahwa orang-orang yang duduk itu pasti para pengawal yang sedang menjaganya, sedang di antara mereka adalah gembala tua yang dikenalnya bernama Kiai Gringsing.

Seperti Argajaya, maka ketika kakinya melangkah memasuki ruangan bilik Ki Argapati, hatinya menjadi berdebar-debar. Tetapi ia merasa heran, bahwa di dalam bilik itu sama sekali tidak terdapat para pengawal yang berjaga-jaga.

Ki Argapati yang melihat kedatangannya pun segera bangkit dan duduk di pembaringannya. Dengan nada yang dalam ia berkata, “Kemarilah, Sidanti.”

Sidanti tidak menjawab. Tetapi yang pertama-tama dilihatnya adakah tombak pendek yang bersandar dinding di atas pembaringan Ki Argapati.

Tetapi segera ia menggeser tatapan matanya kepada Ki Argapati yang duduk dengan nafas yang masih belum teratur benar karena luka-lukanya.

“Duduklah dulu, Sidanti,” orang tua itu mempersilahkan Sidanti duduk di atas dingklik kayu di dekat pembaringannya.

Tetapi Sidanti tidak segera duduk. Ia berdiri saja di tempatnya. Meskipun demikian ia masih juga merasa heran. Bilik tempat Ki Argapati berbaring itu sama sekali tidak seperti yang dibayangkannya. Tidak ada seorang pengawal pun yang ada di dalam. Ki Argapati yang sakit itu tidak juga diapit-apit oleh dua orang pengawal pilihan, kemudian di setiap sudut, dan di sisi pintu, tidak juga ada ujung-ujung senjata yang merunduk ke arahnya.

“Duduklah,” Ki Argapati mengulangi. Tetapi Sidanti masih tetap berdiam diri.

Pandan Wangi-lah yang kemudian membimbingnya dan meletakkannya di atas dingklik itu. Seperti anak-anak yang dibimbing ibunya Sidanti tidak melawan. Ia melangkah dengan berat, dan kemudian duduk di atas dingklik kayu itu dengan kepala tunduk.

“Sudah lama aku ingin berbicara dengan kau, Sidanti,” berkata Ki Argapati, “tetapi lukaku agaknya masih belum mengijinkan. Hari ini aku merasa agak ringan, sehingga aku segera memanggil kau dan pamanmu berganti-ganti.”

Sidanti tidak menjawab. Kepalanya masih saja menunduk.

“Apakah adikmu sudah mengatakan sesuatu kepadamu?”

Sidanti mengangkat wajahnya sejenak, kemudian dipalingkannya kepalanya kepada Pandan Wangi. Tetapi kepalanya itu pun kemudian menunduk lagi tanpa menjawab apa pun juga.

“Aku belum mengatakan apa-apa kepadanya, Ayah,” sela Pandan Wangi. “Aku hanya mengajaknya kemari, agar Ayah mengatakan sendiri maksud Ayah itu.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah, Pandan Wangi. Aku akan mengatakannya seperti aku mengatakan kepada Argajaya.”

Tetapi Sidanti sama sekali tidak menyahut.

Ki Argapati terdiam sejenak. Dipandanginya kepala Sidanti yang menunduk. Tetapi tangkapan mata hati Ki Argapati yang tajam segera merasakan, bahwa hati Sidanti masih belum dapat dilunakkan sama sekali, tidak seperti pamannya Argajaya.

“Anak ini benar-benar keras kepala,” berkata Ki Argapati di dalam hatinya. Meskipun demikian Ki Argapati masih akan mencobanya untuk menjajagi hati Sidanti lebih jauh.

“Sidanti,” katanya, “apakah hatimu sudah terbuka untuk berbicara? Seperti pamanmu Argajaya, aku membawanya berbicara tentang keadaan kita saat ini. Tentang Tanah Perdikan Menoreh, dan tentang masa depannya. Aku ingin bersama melihat, di mana kita sekarang ini berada. Dan ke mana kita masing-masing akan pergi. Kalau kita dapat menemukan persesuaian arah, maka kita akan dapat berjalan bersama-sama.”

Ternyata Sidanti masih belum menjawab. Kepalanya masih menunduk, seakan-akan ia sedang merenungi dirinya sendiri dalam-dalam.

“Sidanti, kenapa kau diam saja?” bertanya Ki Argapati. “Katakanlah apa yang ingin kau katakan. Aku memang ingin mendengarkan isi hatimu dengan terbuka, supaya aku dapat memperhitungkan segala sesuatu buat masa depan Tanah ini.”

Perlahan-lahan Sidanti mengangkat wajahnya. Tetapi wajah itu adalah wajah yang suram dan gelap. Dengan suara parau ia berkata datar, “Kalau kau akan menjatuhkan hukuman atasku, segera katakan. Ternyata aku menjadi muak berada di bilik ini lebih lama lagi.”

“Kakang,” Pandan Wangi memotong, “sadarilah keadaan ini, Kakang. Kita sedang mencari jalan sebaik-baiknya, agar kita menemukan titik pertemuan.”

“Itulah yang sulit. Kalian kini sedang berkuasa atasku. Kalian dapat berbuat apa saja.”

“Tetapi kami tidak ingin berbuat demikian. Kami ingin mencari cara yang baik. Seperti Paman Argajaya, yang dengan hati terbuka menyatakan keinginannya untuk bersama-sama membangun kembali Tanah Perdikan ini.”

“Apakah aku harus berjanji seperti Paman Argajaya itu pula?”

“Tidak, Sidanti,” sela Ki Argapati, “tidak seorang pun yang mengharuskannya. Mungkin aku dapat memaksa berjanji. Tetapi janji yang demikian adalah janji yang tidak akan menghasilkan buah yang wajar. Janji itu sendiri harus terlontar dari hati dan kesadaran diri.”

Jawab Sidanti ternyata telah mengejutkan Pandan Wangi dan Ki Argapati, “Aku tidak akan berjanji apa-apa. Aku tidak merasa wajib untuk berbuat sesuatu.”

“Kakang,” Pandan Wangi hampir berteriak, “kita adalah anak-anak Tanah ini. Kita dilahirkan di atas Tanah ini.”

“Tetapi aku sudah mengkhianati Tanah ini menurut anggapanmu dan anggapan orang-orang yang sekarang ini berkuasa. Kenapa kalian tidak menghukum aku saja? Apakah kalian sedang berusaha untuk memperalat aku, agar perlawanan yang mungkin masih ada itu segera padam?”

“Seandainya demikian, Sidanti,” jawab Ki Argapati, “itu sudah merupakan urusanmu membangun Tanah ini. Dengan demikian maka ketenteraman akan segera pulih kembali.”

“Aku tidak mau diperalat dengan cara itu, dengan cara yang licik. Kalian sudah menang atas pasukanku. Kalian berhak membunuh aku. Aku tidak boleh berkhianat untuk kedua kalinya. Berkhianat menurut anggapanmu dan berkhianat terhadap pasukanku yang telah kau hancurkan. Apalagi berkhianat terhadap guruku, dan………” Sidanti tidak dapat mengatakannya. Terasa sesuatu menahan di kerongkongannya sehingga kata-katanya terputus. Tetapi dengan demikian api kebenciannya kepada Ki Argapati serasa meluap. Tiba-tiba saja ia merasa terlempar pada kenyataannya. Seperti yang dikatakan oleh Pandan Wangi. Dan ia tidak dapat mengingkari kenyataan itu, bahwa Argapati bukan apa-apa baginya.

Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa bahwa usahanya kali ini tidak akan dapat berhasil. Agaknya hati Sidanti benar-benar telah mengeras seperti batu hitam.

Namun demikian, berbeda dengan Ki Argapati, Pandan Wangi merasa bahwa masih ada harapan untuk merubah sikap kakaknya itu. Meskipun harapan itu tampaknya semakin lama menjadi semakin tipis. Tetapi ia masih berkata, “Apakah kita tidak dapat melupakan apa yang telah terjadi? Atau bahkan kita menganggap hal itu sebagai suatu pengalaman?”

“Tidak, tidak!” Sidanti berteriak.

Pandan Wangi terkejut mendengar teriakan itu. Sekilas dipandanginya wajah ayahnya yang tegang. Terasa bahwa di wajah ayahnya itu telah terbayang warna hatinya yang muram.

“Apakah Kakang Sidanti tidak juga dapat dilunakkan?” pertanyaan itu mulai membelit hatinya.

Dalam pada itu, di ruang tengah beberapa orang duduk dengan cemasnya. Mereka kini sudah beringsut dari depan pintu bilik Sidanti ke depan pintu bilik Ki Argapati. Bahkan kini jumlah mereka telah bertambah pula karena Ki Samekta dan Ki Kerti telah ada di antara mereka.

“Apakah Ki Gede memang memanggil Angger Sidanti?” bertanya Samekta sambil berbisik.

“Ya,” jawab gembala tua itu.

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Kerti pun berkata, “Ki Argapati masih juga dipengaruhi oleh hubungan masa lampau. Bagaimana pun juga Sidanti pernah dianggap sebagai anaknya.”

“Ya,” jawab Samekta, “tetapi apakah pantas bahwa anak itu kini berteriak-teriak begitu di dalam bilik Ki Argapati yang sedang sakit.”

Kerti mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Siapa sajakah yang ada di dalam?” bertanya Kerti kemudian.

“Selain Angger Sidanti hanyalah Angger Pandan Wangi.”

Samekta mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Ia percaya kepada Pandan Wangi. Tetapi hatinya hampir-hampir tidak tahan lagi mendengar Sidanti berteriak-teriak dan membentak-bentak.

“Itu sudah terlalu,” gumam Samekta. “Sedang Sidanti yang bukan tawanan saja, tidak sepantasnya berteriak-teriak dan membentak-bentak seperti itu. Apalagi kini Sidanti adalah tawanan.”

“Kalau ia bukan seorang tawanan, aku kira ia tidak akan membentak-bentak,” berkata gembala tua itu lirih.

“Kenapa?”

“Sebagai seorang tawanan ia merasa bahwa tubuhnya terbelenggu. Karena itu, maka yang dapat dilakukan hanyalah sekedar melepaskan suaranya menembus ikatan-ikatan yang membatasinya.”

“Tetapi akibatnya dapat berbahaya bagi dirinya. Kalau Ki Argapati marah, maka segala kebaikan hatinya akan larut, karena ia adalah manusia biasa.”

Gembala tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia menjawab, “Sidanti telah dicengkam oleh keputus-asaan dan kehilangan pegangan. Ia menyadari hal itu, tetapi agaknya ia memang memilih jalan yang terdekat untuk mati.”

Samekta dan Kerti mengerutkan keningnya. Namun kepala mereka pun kemudian terangguk-angguk lemah.

Sejenak mereka pun terdiam. Mereka mencoba mendengarkan apa yang dikatakan oleh Pandan Wangi. Tetapi mereka tidak dapat mendengarnya dengan jelas, apalagi kemudian terdengar suara Pandan Wangi seakan-akan tenggelam di dalam isaknya.

“Jangan membujuk lagi,” suara Sidanti-lah yang terdengar jelas, “aku sudah memutuskan. Kalau kalian akan membunuh aku, segera lakukanlah. Jangan memaksa aku untuk melakukan hal-hal yang tidak akan mungkin bagiku. Aku tidak bertabiat serendah itu.”

“Kau tidak mau memikirkannya, Kakang,” sahut Pandan Wangi, “kau menanggapinya dengan perasaan tanpa nalar. Itu adalah kebiasaan perempuan. Kau adalah seorang anak muda. Seorang laki-laki. Tetapi hatimu digelapi oleh perasaanmu. Seharusnya kau mempergunakan nalarmu, Kakang.”

“Tidak. Aku tidak dapat kau paksa lagi dengan cara apa pun.”

“Kalau begitu, maka kau adalah laki-laki cengeng. Bukan sebaliknya, karena kau tidak dapat mempergunakan nalarmu.”

Wajah Sidanti menjadi merah padam. Sejenak ia membeku. Dipandanginya wajah Pandan Wangi dan Argapati berganti-ganti.

Melihat kakaknya berdiam diri, maka tumbuh kembalilah harapan Pandan Wangi. Karena itu maka suaranya segera menurun, “Bukankah begitu, Kakang? Bukankah kau seorang laki-laki yang berani menghadapi kenyataan? Seharusnya kau memang tidak usah lari. Marilah kita terima apa yang sudah tersedia di hadapan kita. Kalau kita menerimanya dengan ikhlas, maka semuanya akan berlangsung dengan baik.”

Sidanti tidak menjawab. Dengan demikian maka Pandan Wangi pun menjadi semakin berpengharapan. Bahkan Ki Argapati yang sudah berputus asa untuk dapat mengait Sidanti dari kegelapan, menjadi heran. Apakah Pandan Wangi akan berhasil.

“Kau mengerti maksudku bukan, Kakang?”

Sidanti masih tetap berdiam diri.

Perlahan-lahan Pandan Wangi melangkah mendekati tempat duduk kakaknya sambil berkata pula, “Bukankah kau mengerti? Ini bukan kebaikan hati kami. Tidak. Tetapi kita akan bertanggung jawab bersama-sama.”

Namun yang terjadi kemudian benar-benar di luar dugaan Pandan Wangi. Ternyata kediaman Sidanti telah menumbuhkan kelengahan pada Pandan Wangi. Pandan Wangi tidak dapat mencegahnya ketika tiba-tiba saja Sidanti meloncat menyambar tombak yang terletak di atas pembaringan Ki Argapati. Demikian cepatnya, sehingga Pandan Wangi sadar, ketika tombak itu sudah ada di tangan Sidanti.

Argapati pun terkejut bukan buatan. Getaran dadanya yang tergoncang agaknya telah membuat lukanya menjadi seakan-akan terhenti. Dengan darah yang seakan-akan terhenti ia menatap ujung tombaknya itu merunduk ke arah dadanya yang luka.

Pandan Wangi tidak mendapat kesempatan untuk merebut tombak itu dari tangan kakaknya. Tetapi ia tidak tinggal diam menyaksikan ujung tombak itu menembus dada ayahnya. Karena itu, maka dengan secepat-cepat kemampuannya ia meloncat memeluk kakangnya dari belakang.

Tetapi Sidanti telah menjadi wuru. Seakan-akan ia telah kehilangan akal. Tanpa menghiraukan apa pun lagi, maka dikibaskannya Pandan Wangi sekuat-kuatnya.

Pandan Wangi yang belum siap benar menanggapi peristiwa itu, tidak dapat bertahan. Ia terlempar membentur dinding kayu bilik itu, kemudian terjatuh di lantai.

Kini Sidanti berdiri dengan mata yang merah menghadap Argapati yang belum mampu melakukan perlawanan apa pun karena luka-lukanya. Tombak di tangannya kini telah merunduk kembali setelah diguncang oleh Pandan Wangi, tepat mengarah ke dada Ki Argapati.

Benturan tubuh Pandan Wangi pada dinding kayu telah mengejutkan beberapa orang yang berada di luar pintu. Tetapi mereka tidak segera melihat apa yang telah terjadi di dalamnya. Pintu yang terbuka sedikit, tidak tepat pada pembaringan Ki Argapati, sehingga orang-orang yang di luar pintu, tidak melihat Sidanti yang menggenggam tombak telah menggeram seperti seekor harimau yang terluka.

“Suara apakah itu?” bertanya Ki Samekta.

Tetapi yang lain hanya menggelengkan kepalanya saja. Tidak seorang pun yang beranjak dari tempatnya. Mereka agaknya segan untuk memasuki ruangan itu, sebelum mereka dipanggil.

Namun demikian, tanpa mereka sadari, seorang demi seorang telah beringsut dari tempat duduknya semula.

Pandan Wangi yang terbanting di lantai masih sempat melihat kakaknya maju setapak dengan tombak di tangannya. Dan tiba-tiba saja ia terpekik, “Kakang, Kakang Sidanti. Jangan.”

Tetapi Sidanti sama sekali tidak mendengarkan lagi suara ini. Ia maju selangkah lagi. Kini ia sudah memusatkan tenaganya di telapak tangannya yang menggenggam tombak pendek itu.

Ki Argapati benar-benar telah tidak mempunyai kesempatan apa pun. Ia tidak melihat senjata apa pun yang akan dapat menolongnya, sedang tenaganya sama sekali belum cukup kuat untuk melontarkan tubuhnya dari pembaringannya itu. Karena itu, ia hanya menunggu apa yang akan terjadi, ia mengharap bahwa ia masih sempat untuk mengelak apabila Sidanti benar-benar ingin menghunjamkan, tombak pendeknya.

Ternyata suara Pandan Wangi telah mengejutkan mereka yang berada di luar pintu. Serentak mereka berloncatan dan tanpa menunggu lagi, mereka berlari-larian ke bilik Ki Argapati.

Tetapi untuk memasuki pintu itu mereka memerlukan waktu. Sedang Sidanti telah benar-benar siap menusukkan tombaknya.

Terdengar ia menggeram, “Orang-orang Menoreh hanya dapat menghukum mati aku satu kali. Meskipun aku membunuhmu, maka hukuman itu tidak akan dapat ditambah lagi.”

Ketika gembala tua, Ki Samekta, Kerti, dan beberapa orang prajurit meloncat tlundak pintu, maka pada saat itu, mereka kehilangan segala kemungkinan untuk dapat menolong Ki Argapati karena Sidanti sudah mulai mengayunkan tombaknya untuk menusuk langsung ke dada Ki Argapati.

Tetapi dalam kecemasan yang amat sangat, yang telah mencekam setiap dada, mereka melihat kilatan senjata yang langsung menghunjam ke lambung Sidanti. Demikian, cepat dan kerasnya, sehingga Sidanti yang telah mengayunkan tombak itu terdorong ke samping.

Terdengar sebuah keluhan tertahan. Kemudian perlahan-lahan tombak yang sudah hampir saja menembus dada Ki Argapati itu menjadi bergetar, dan terjatuh di lantai.

Yang telah terjadi itu telah benar-benar mencengkam semua orang yang menyaksikannya. Nafas mereka seakan-akan telah berhenti mengalir ketika kemudian mereka melihat, apakah yang sebenarnya telah terjadi.

Pandan Wangi berdiri dengan tubuh gemetar di sisi pembaringan ayahnya. Dengan wajah yang pucat pasi dipandanginya pedangnya yang masih menghunjam di lambung kakaknya yang berdiri tertatih-tatih. Sejenak Sidanti memandang adiknya, namun kemudian ia tidak lagi mampu bertahan. Perlahan-lahan ia jatuh di atas lututnya, sedang darah yang merah mengalir dari lukanya.

Dengan kekuatan terakhirnya Sidanti masih sempat mencabut pedang yang telah terlepas dari tangan Pandan Wangi itu, kemudian meletakkannya di sampingnya.

Pandan Wangi memandanginya dengan wajah yang tegang beku. Namun ketika kemudian Sidanti tidak lagi mampu berdiri di atas lututnya, dan perlahan-lahan menahan tubuhnya dengan kedua tangannya, terdengar Pandan Wangi menjerit keras sekali, “Kakang. Kakang Sidanti.”

Seperti orang yang kehilangan akal, Pandan Wangi memeluk kakaknya yang sudah hampir kehabisan tenaganya, sehingga justru dengan demikian Sidanti tidak lagi dapat bertahan. Perlahan-lahan ia menelentang dan terbaring dilantai, sedang Pandan Wangi menelungkup memeluknya sambil menangis sejadi-jadinya. Darah Sidanti yang bergelimang di lantai, telah memerahi pakaian gadis itu pula.

“Kakang, Kakang Sidanti.”

Ki Argapati yang masih berada di pembaringan hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia beringsut dan memaksa dirinya untuk duduk di pinggir pembaringan, sementara gembala tua, Samekta, dan Ki Kerti serta beberapa orang yang lain telah melingkarinya.

“Kakang, Kakang, kenapa jadi begini, Kakang. Aku tidak sengaja, Kakang. Aku tidak sengaja melukaimu.”

Nafas Sidanti semakin cepat memburu. Ketika ia membuka matanya ia melihat Pandan Wangi yang menangis seperti kanak-kanak, meraung-raung tidak terkendali lagi. Penyesalan yang tiada taranya telah melanda dadanya. Dengan gerak naluriah ternyata ia telah meloncat dan menusuk lambung Sidanti untuk mencegah Sidanti membenamkan ujung tombaknya di dada ayahnya.

Ternyata akibat dari tusukan di lambung anak muda itu terlampau parah, sehingga maut telah membayang di wajahnya.

Dalam suatu saat, ternyata Pandan Wangi memang harus memilih. Dan saat itu terlampau pendek. Hanya sekejap. Ia tidak dapat membuat pertimbangan lebih jauh ketika ia melihat kakaknya sudah siap menusukkan tombak pendeknya ke dada Argapati.

Dan Pandan Wangi pun memang sudah melakukan pilihan itu. Betapa besar ikatan kasih antara kakak-beradik, namun ia tidak dapat membiarkan ayahnya terbunuh di pembaringan selagi ia tidak kuasa berbuat apa-apa. Dan di saat yang sekejap itu, ia telah memilih ayahnya daripada kakaknya meskipun akhirnya ia harus memeras air matanya.

“Pandan Wangi,” terdengar suara Sidanti parau.

“Kakang. Aku minta maaf.”

Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Orang-orang yang kini berjongkok di sekitarnya melihat Sidanti menyeringai menahan sakit. Namun kemudian mereka menjadi heran dan kemudian terharu ketika mereka melihat Sidanti itu tersenyum, “Kau tidak bersalah, Adikku,” desisnya.

“Aku tidak sengaja, Kakang.”

“Aku tahu bahwa kau memang tidak sengaja. Tetapi dipandang dari segi keharusanmu, kau sudah bertindak tepat. Kau berusaha menyelamatkan ayahmu.”

“Tetapi maksudku tanpa mengorbankan kau.”

“Dalam keadaan ini tidak mungkin, Pandan Wangi,” jawab kakaknya. “Alangkah anehnya hati ini. Justru pada saat terakhir aku melihat cahaya yang terang.”

“Maksudmu, Kakang?”

“Aku merasa bersalah.”

“Kakang,” Pandan Wangi menggucang-guncang tubuh kakaknya.

“Jangan kau guncang, Wangi. Sakit.”

“Tetapi jangan berkata saat-saat terakhir. Kau pasti akan sembuh,” tiba-tiba saja Pandan Wangi dengan nanar mengedarkan tatapan matanya. “Kiai. Kiai,” katanya kepada gembala tua itu, “kenapa kau diam saja? Kenapa kau tidak berbuat sesuatu untuk mengobati luka Kakang Sidanti.”

Gembala tua itu beringsut maju. Tetapi suara Sidanti menjadi semakin lemah, “Tidak ada gunanya. Aku akan mati.”

“Tidak. Tidak. Kau tidak akan mati.”

Sekali lagi Pandan Wangi melihat Sidanti tersenyum. Kemudian dicobanya memandangi Argapati yang duduk di pinggir pembaringannya. “Ayah,” desisnya.

Terasa sesuatu berdesir di dada Ki Argapati. Panggilan itu selalu didengarnya dahulu. Tetapi di saat-saat api membakar Tanah Perdikan, anak muda itu telah menjadi musuhnya. Kini, ketika jari-jari maut mulai merabanya, ia mendengar panggilan itu lagi.

“Aku minta maaf.”

“Kau tidak bersalah, Sidanti,” suara Ki Argapati berat.

Tetapi Sidanti tertawa, “Maafkan aku, Ayah, jangan berkata aku tidak bersalah.”

Ki Argapati terdiam sesaat.

Dan Sidanti mengulanginya, “Aku mengharap Ayah memaafkan kesalahanku.”

“Ya, ya, Sidanti. Aku maafkan semua kesalahanmu.”

“Terima kasih,” nafas Sidanti menjadi semakin sendat.

Dan yang terdengar adalah suara Pandan Wangi, “Kiai, kenapa Kiai diam saja? Apakah Kiai memang mengharap luka itu tidak dapat ditolong lagi.”

Gembala tua itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi, sebagai seorang yang telah mengenal beribu jenis luka, maka luka Sidanti itu tidak akan dapat ditolong lagi.

“Sudahlah,” Sidanti sendiri memang menolak, “aku sudah sampai pada batas,” suaranya menjadi semakin lambat. Lalu, “Kiai, bukankah murid-muridmu ada di sini?”

“Ya. Mereka ada di sini, Ngger.”

“Apakah aku dapat bertemu.”

Gembala itu mengerutkan keningnya, “Apakah maksud Angger Sidanti, anak-anak itu dipanggil kemari?”

Sidanti mengangguk lemah. “Apakah Paman Argajaya juga ada?”

Gembala itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian kepada seseorang yang ada di belakangnya ia memberi isyarat untuk memanggil mereka.

Dengan tergesa-gesa orang itu berdiri. Tetapi di muka pintu ia tertegun sejenak. Dipandanginya Ki Argapati, seolah-olah ingin mendapat ketegasannya.

Ketika Ki Airgapati pun kemudian menganggukkan kepalanya, maka orang itu pun berlari ke gandok. Dengan singkat disampaikannya berita tentang Sidanti dan diperintahkannya kedua murid gembala tua itu membawa Ki Argajaya menghadap.

Mereka pun segera memenuhinya pula. Argajaya justru berjalan di paling depan. Kemudian Gupala dan Gupita. Tetapi tidak hanya mereka, Sekar Mirah dan Sumangkar pun ikut serta pula.

Ketika mereka sampai ke dalam bilik itu, Sidanti sudah menjadi terlampau lemah. Tetapi ia masih sempat melihat Argajaya, Agung Sedayu, dan Swandaru berjongkok di sampingnya. Dan ia masih sempat berbisik, “Maafkan aku.”

Agung Sedayu yang dikenal juga bernama Gupita dan Swandaru yang dipanggil Gupala itu menganggukkan kepalanya. Tetapi mereka tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Betapa kebencian mencengkam dada mereka, namun mereka menjadi terharu juga melihat kematian yang tidak disangka-sangka itu.

Dalam pada itu, semua orang yang ada di seputarnya terkejut, ketika tiba-tiba saja Sidanti menghentakkan kepalanya dan seolah-olah ia berusaha untuk bangkit. Tetapi ia sudah terlampau lemah, sehingga ia sama sekali tidak berhasil menggerakkan dirinya. Yang terdengar kemudian suaranya lambat, “Apakah mataku masih juga tidak salah? Apakah benar aku melihat Sekar Mirah.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun ia menjawab, “Ya, Sekar Mirah memang ada di sini.”

Sidanti tersenyum. Bibirnya bergetar lamban sekali. Dan Pandan Wangi masih mendengar ia berdesis, “Mirah.”

Tidak seorang pun yang dapat mengucapkan kata-kata ketika mereka melihat Sidanti menjadi semakin lemah. Tatapan matanya menjadi semakin redup. Tetapi ia masih berusaha tersenyum. Dipandanginya Argajaya yang seolah-olah menjadi semakin kabur, Argapati, Pandan Wangi, Sekar Mirah, dan yang lain-lain.

Sekali lagi Sidanti menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah ia ingin menyambung nafasnya yang menjadi semakin pendek. Tetapi ketika ia melepaskan nafas itu, ternyata itu adalah tarikan nafasnya yang terakhir.

Yang terdengar adalah jerit Pandan Wangi yang melengking. Sidanti telah meninggal, justru karena ujung senjatanya, yang tidak dengan sengaja telah menghunjam ke lambung kakaknya yang selama ini masih diharapkannya untuk dapat hidup dan berbuat sesuatu bersama-sama untuk kepentingan Tanah Perdikan Menoreh.

Beberapa orang telah mencoba menenangkan hati gadis itu. Sekar Mirah pun kemudian mendekatinya dan mencoba membawanya pergi meninggalkan mayat Sidanti yang masih terbujur di lantai. Tetapi Pandan Wangi masih saja memeluknya, betapa tubuh itu telah mulai menjadi dingin.

“Pandan Wangi,” bisik Sekar Mirah, “biarlah tubuh Kakang Sidanti segera mendapat perawatan yang sebaik-baiknya.”

Tetapi Pandan Wangi masih belum melepaskannya.

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Bahkan kemudian ditatapnya mayat Sidanti yang pucat.

Tiba-tiba dada Sekar Mirah berdesir. Teringat olehnya, bagaimana Sidanti pernah menculiknya dan menyembunyikannya di padepokan Tambak Wedi. Pada saat itu, hatinya yang seakan-akan terbakar oleh kemarahan dan kebencian, seakan-akan berjanji, bahwa pada suatu saat ia menginginkan kepala anak muda itu. Ia pernah mengharap Agung Sedayu berkata kepadanya, “Aku akan pergi ke Menoreh dan akan kembali, dengan membawa kepala Sidanti.”

Tetapi ketika kini ia melihat anak muda itu terbujur sambil memejamkan matanya, hatinya menjadi iba juga. Bagaimana pun juga, Sidanti pernah tinggal serumah dengan keluarganya di Sangkal Putung. Dan tiba-tiba pula ia merasa, bahwa perasaan Sidanti kepadanya saat itu agaknya memang bersungguh-sungguh. Sidanti tidak sekedar ingin melepaskan ketegangan urat syarafnya selagi ia berada di peperangan. Tetapi Sidanti benar-benar mencintainya.

Argajaya, gembala tua yang dikenal juga bernama Kiai Gringring, Argapati yang duduk di pembaringan, dan orang-orang lain yang ada di sekitar mayat Sidanti itu pun telah mencoba untuk menenteramkan hati Pandan Wangi.

Akhirnya tangis gadis itu pun mereda. Sekali lagi Sekar Mirah berbisik di telinganya, “Marilah kita tinggalkan Kakang Sidanti, agar ia segera mendapat perawatan yang sebaik-baiknya. Ternyata bahwa setiap orang masih menaruh hormat kepadanya. Kepada kejantanannya dan kekerasan hatinya. Ia mati setelah ia mempertahankan keyakinannya sampai batas terakhir.”

Pandan Wangi masih terisak-isak. Dan di sela-sela isaknya ia menjawab, “Tetapi kekerasan hatinya itu pulalah yang menyeretnya ke dalam keadaannya yang pahit ini. Kakang Sidanti sama sekali tidak mau melihat kenyataan yang dihadapinya.”

“Ya, hatinya memang sekeras batu. Tetapi itu adalah ciri kejantanannya. Meskipun ia tersesat jalan. Karena itu, maka biarlah ia dihormati karena kekerasan hatinya pula.”

Pandan Wangi tidak menjawab.

“Marilah. Kau pun perlu membersihkan dirimu. Mandi dan berganti pakaian.”

Pandan Wangi tidak menyahut. Tetapi ketika Sekar Mirah membimbingnya, maka perlahan-lahan ia pun melepaskan pelukannya dan bangkit berdiri. Pakaiannya yang kusut telah dinodai oleh darah Sidanti yang menjadi kehitam-hitaman.

“Marilah,” ajak Sekar Mirah.

Sambil menundukkan kepalanya Pandan Wangi melangkah setapak demi setapak meninggalkan bilik itu dibimbing oleh Sekar Merah. Di depan pintu ia berpaling. Sejenak ia berdiri memandangi tubuh kakaknya yang pucat membeku. Namun kemudian ia meneruskan langkahnya meninggalkan bilik itu.

Sepeninggal Pandan Wangi, barulah mayat Sidanti itu diangkat dan dibawa keluar dari bilik Ki Argapati. Atas perintah Ki Argapati, Sidanti dirawat sebagai putera Kepala Tanah Perdikan Menoreh apa pun yang telah dilakukannya.

Dalam pada itu, ketika tubuh Sidanti sedang sibuk dibersihkan dan dirawat seperlunya, Pandan Wangi duduk di dalam biliknya dengan air mata yang selalu membasah pipinya. Yang paling mencengkamnya adalah justru penyesalan yang sangat, bahwa ia adalah lantaran kematian kakaknya itu.

“Kau tidak dapat berbuat lain, Pandan Wangi,” berkata Sekar Mirah. Lalu, “Aku kira setiap orang akan berbuat seperti yang telah kau lakukan dalam saat-saat serupa itu.”

Pandan Wangi tidak menjawab.

“Kau dapat membuat perbandingan, sekedar untuk mengurangi penyesalan yang selalu menyesakkan dadamu. Seandainya kau tidak berbuat demikian, maka apakah kira-kira jadinya. Kau harus bersyukur, bahwa kau hadir pada saat itu. Bukan berarti bahwa Kakang Sidanti pantas dikorbankan, tetapi kau sudah menghindarkan korban yang lebih banyak lagi.”

Pandan Wangi tidak menjawab. Tetapi kepalanya terangguk kecil.

“Kau harus berusaha untuk melupakan apa yang sudah terjadi. Dan kau harus mencoba melihat ke masa depan.”

Pandan Wangi mengangguk pula. Setiap kali ia sendiri selalu mengatakan tentang masa depan. Karena itu, ia tidak harus mengorbankan masa depan itu karena peristiwa yang meledak sesaat.

“Tanah ini memerlukan penanganan,” katanya di dalam hati. Dan Pandan Wangi sadar, bahwa ia tidak boleh tenggelam dalam kekecewaan dan kesedihan.

Dalam pada itu, maka di pendapa orang-orang sedang sibuk merawat tubuh Sidanti yang segera akan dimakamkan.

Seperti perintah Ki Argapati, maka Sidanti diperlakukan sebagai seorang putera Kepala Tanah Perdikan. Meskipun ada di antara mereka, para pengawal dan rakyat Menoreh yang melakukannya dengan setengah hati, karena mereka tidak dapat menutup mata, apa yang telah dilakukan oleh Sidanti itu.

Tetapi bagaimana pun juga mereka harus melakukan perintah Kepala Tanah Perdikannya.

Ketika semuanya sudah selesai, maka mayat Sidanti pun segera dimakamkan dengan penghormatan secukupnya. Argajaya, Pandan Wangi dan para pemimpin Tanah Perdikan Menoreh, gembala tua yang juga bernama Kiai Gringsing serta kedua muridnya, Sumangkar, dan Sekar Mirah hadir di pemakaman itu.

“Aku kehilangan satu-satunya saudara laki-lakiku,” gumam Pandan Wangi ketika mereka kembali dari tanah pekuburan.

“Kau akan segera mendapatkan,” desis Sekar Mirah.

Pandan Wangi tidak menyahut. Tetapi terasa bahwa kini hatinya yang kosong menjadi kian sepi.

“Satu-satunya keluarga adalah ayah,” berkata Pandan Wangi seterusnya.

“Hari ini,” jawab Sekar Mirah, “tetapi keluarga itu akan segera berkembang. Bahkan kita akan meninggalkan ayah-ayah kita untuk hidup dalam keluarga yang baru.”

Pandan Wangi tertegun sejenak. Ditatapnya wajah Sekar Mirah yang tersenyum karenanya.

Tetapi Pandan Wangi tidak menyahut. Kepalanya masih selalu tunduk. Terasa bahwa apa yang baru saja terjadi itu adalah suatu goncangan yang sangat berat baginya.

Di rumahnya pun Pandan Wangi seakan-akan kehilangan segala kegairahannya. Ia tidak mau makan dan sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Terbayang-bayang selalu di rongga matanya, Sidanti yang terbaring berlumuran darah. Sebuah luka yang dalam telah menghunjam di lambungnya.

“Akulah yang membunuhnya. Justru aku.”

Atas desakan Swandaru, Agung Sedayu, dan gurunya sendiri, Sekar Mirah selalu berusaha mengawani Pandan Wangi untuk mengurangi kesepian yang mencengkam dadanya. Tetapi bagaimana pun juga Sekar Mirah sudah mencoba, namun agaknya masih saja ada ruang-ruang yang kosong di dalam hati Pandan Wangi.

Dalam saat-saat yang demikian itulah maka Agung Sedayu berkata kepada Swandaru, “Kau lihat, betapa akibat yang sangat parah telah mencengkam hati gadis itu.”

“Ya. Ia menjadi sangat sedih dan menjadi semakin diam.”

“Swandaru,” berkata Agung Sedayu, “Sekar Mirah memang dapat menjadi sekedar isi di dalam kekosongan jiwa Pandan Wangi. Tetapi ia memerlukan seorang kakak. Tidak sekedar menghiburnya, tetapi yang dapat memberinya ketenangan. Ketenangan seorang gadis dewasa.”

“Maksudmu?”

“Aku tahu, bahwa kau bersungguh-sungguh menaruh hati kepada gadis itu, bukan?”

Swandaru mengerutkan keningnya, “Tentu. Aku memang menaruh hati kepada gadis itu. Sepenuh hati.”

“Nah,” berkata Agung Sedayu, “kini adalah waktunya bagimu. Kau akan dapat mengisi kekosongan hatinya.”

Swandaru termenung sejenak, lalu, “Bagaimana aku dapat mengisinya?”

“Jangan kau tunggu gadis itu melamarmu. Kaulah, yang harus datang kepadanya. Dengan bijaksana dan sopan, rebutlah hatinya.”

“Tetapi, tetapi bukankah kau sudah mengatakan kepadanya?”

“Belum sepenuhnya.”

“Kalau begitu, kau pasti bersedia menolong aku.”

“Swandaru,” berkata Agung Sedayu, “kau sendirilah yang harus melakukannya. Ia memerlukan seseorang setelah ia kehilangan kakaknya.”

“Tetapi aku tidak mengerti, bagaimana aku harus mulai.”

“Hem,” Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam, “pergunakanlah Sekar Mirah. Bukankah kau dapat saja menemuinya bersama Sekar Mirah, kemudian berbicara apa saja?”

Swandaru berpikir sejenak, kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, aku mengerti.”

“Nah, lakukanlah. Semakin lama ia mengalami kekosongan, semakin berbahaya baginya. Ia akan selalu merenung dan memikirkan banyak sekali kemungkinan di dalam hidupnya. Kalau kau tidak segera hadir di dalam hatinya, mungkin ia tidak akan dapat lagi membuka kemungkinan itu bagi siapa pun.”

“Ya, ya. Aku mengerti.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya wajah Swandaru sejenak. Ia melihat sesuatu membayang di wajah yang bulat itu. Agak lain dari kebiasaannya. Ketika dahi Swandaru mulai berkerut, tahulah Agung Sedayu, bahwa adik seperguruannya itu mulai berpikir dengan sungguh-sungguh.

Sebenarnyalah Swandaru memikirkan petunjuk Agung Sedayu itu. Ia sadar, bahwa kekosongan jiwa itu memerlukan isi. Bahkan kemudian ia pun sadar, seandainya Agung Sedayu yang datang kepadanya setiap kali, meskipun membawa pesannya, namun akan dapat terjadi kesalah-pahaman. Justru Agung Sedayu-lah yang akan mengisi kekosongan hati gadis itu.

“Terima kasih,” desisnya, “memang aku harus berbuat sesuatu. Aku sendiri. Tanpa perantara orang lain.”

“Bagus. Tetapi hati-hatilah. Jangan tergesa-gesa supaya tidak terjadi hal yang sebaliknya. Kalau kau salah langkah, maka hatinya tidak akan tersentuh.”

“Ya, ya. Aku mengerti.”

Demikianlah Swandaru mulai berpikir sungguh-sngguh atas masalah yang dihadapinya. Masalah ini memang bukan masalah yang dapat dilakukannya sambil lalu, dengan tertawa dan kemudian dilupakannya. Masalah ini akan menyangkut seluruh hidupnya kelak, yang menurut perhitungan lahiriah masih cukup panjang.

Kali ini Swandaru tidak akan dapat melakukannya dengan cara yang semudah-mudahnya saja. Setiap langkah harus diperhitungkannya masak-masak.

Untunglah bahwa di antara mereka hadir Sekar Mirah yang dapat menjadi jembatan, yang akan menghubungkannya dengan gadis itu.

“Mirah,” berkata Swandaru dalam suatu kesempatan, “sekarang kau harus menolong aku.”

“Apa yang harus aku kerjakan?”

“Kawani aku.”

“Untuk apa?”

“Aku ingin mengatakan sesuatu kepada Pandan Wangi. Aku harus mengatakannya sendiri. Menurut Kakang Agung Selayu, saat ini Pandan Wangi sedang dicengkam oleh kekosongan jiwa.”

Meskipun Sekar Mirah lebih muda dari Swandaru, tetapi ia lebih cepat dapat mengerti apa yang dimaksud. Karena itu maka katanya sambil tersenyum, “Ah, sudah tentu aku tidak akan dapat mengawanimu. Kau harus pergi sendiri kepadanya.”

“Jangan mengganggu aku, Sekar Mirah.”

“Kau keliru. Sudah tentu maksudnya, kau harus dapat mengisi kekosongan jiwanya kalau kau ingin merebut hatinya. Kalau aku selalu mengawanimu, maka maksud itu tidak akan tercapai. Pandan Wangi akan dibayangi oleh perasaan malu seorang gadis.”

Swandaru mengerutkan keningnya.

“Tetapi Kakang Sedayu mengatakan, bahwa kau dapat menjadi penghubung yang baik.”

“Tentu. Maksudnya, aku hanya sekedar mendekatkan kau kepadanya, sehingga kau mendapat kesempatan itu. Bukan mengawani.”

Swandaru mengangguk-angguk kecil.

“Jadi, bagaimana?”

“Ikuti aku. Tetapi kemudian kau harus melakukannya sendiri.”

“Kapan?”

“Sekarang.”

“Jangan sekarang. Dadaku sudah mulai berdebar-debar.”

“Lalu?”

“Sebaiknya nanti, atau besok, agar aku dapat mengatur perasaanku sebaik-baiknya.”

Sekali lagi Sekar Mirah tertawa. Katanya, “Terserahlah kepadamu. Tetapi kalau kau terlampau lamban maka burung itu akan terlepas dan terbang terlampau tinggi. Padahal kau terlampau pendek, sehingga kau akan mengalami kesulitan untuk meraihnya.”

Swandaru tidak menjawab. Tetapi ia bersungut-sungut. Adiknya memang nakal. Tetapi bahwa Sekar Mirah telah menyanggupinya untuk mendekatkannya kepada Pandan Wangi, maka anak yang gemuk itu menjadi agak berlega hati.

Ketika saat itu tiba di keesokan harinya, maka Sekar Mirah berkata, “Marilah, bukankah perasaanmu telah tenang. Selagi Pandan Wangi tidak sedang sibuk. Ia sedang duduk di serambi gandok. Baru saja ia membagikan makan para pengawal.”

Swandaru berpikir sejenak. Namun kemudian, “Ayolah, Kakang, sebaiknya kau ikut pula.”

“Ah, ada-ada saja kau. Aku akan mengganggu,” jawab Agung Sedayu.

“Tetapi kehadiran kita tidak akan menimbulkan kecurigaan. Kita menemuinya seperti biasanya saja.”

“Kalau begitu waktu ini pun akan terbuang seperti biasanya pula.”

“Jadi, bagaimana?”

“Pergilah bersama Sekar Mirah. Kemudian Sekar Mirah akan meninggalkan kau berdua.”

“Jangan sekarang. Jangan sekarang.”

“Kapan. Kapan lagi,” Sekar Mirah hampir berteriak. “Kau akan kehilangan waktu. Suatu ketika kau hanya akan melihat orang datang melamarnya, dan kau kehilangan segala kesempatan.”

Swandaru yang juga dikenal bernama Gupala itu termangu-mangu sejenak.

“Tetapi kali ini aku minta kalian mengawani aku.”

Agung Sedayu tidak dapat menghindar lagi ketika Swandaru menarik tangannya. Sehingga kemudian mereka bertiga berjalan ke serambi gandok.

Tetapi apa yang dikatakan oleh Agung Sedayu. Pembicaraan mereka sama sekali tidak dapat mengarah seperti yang dimaksudkan. Ketegangannya hampir tidak berkata apa-apa, karena Pandan Wangi nampaknya masih diliputi oleh kepedihan hati.

Sekali-sekali Sekar Mirah-lah yang mencoba menenteramkan hatinya seperti yang setiap kali dilakukannya. Seperti setiap kali ia mendengar kata-kata Sekar Mirah, maka Pandan Wangi selalu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Lihat,” bisik Agung Sedayu, “kau tidak akan mendapat kesempatan.”

Swandaru mengerutkan keningnya.

Akhirnya Swandaru benar-benar tidak berbuat apa-apa, karena Pandan Wangi kemudian dipanggil oleh ayahnya.

“Maaf,” berkata gadis itu, “ayah memanggil aku.”

“Silahkan,” jawab Sekar Mirah, “tetapi di saat lain kami akan selalu mengawani kau kalau kau memerlukan.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya, “Terima kasih.”

Namun demikian tumbuhlah sebuah pertanyaan di hatinya. Sekar Mirah setiap hari sudah selalu mengawaninya. Kenapa tiba-tiba ia harus berkata, bahwa ia selalu akan mengawani di kesempatan lain?

“Tetapi katanya ‘Kami akan selalu mengawani’. Kami, bukan aku,” berkata Pandan Wangi di dalam hatinya.

Ia merasa aneh, bahwa ia sempat mempersoalkan kata-kata itu di dalam hatinya yang sedang pepat. Bahkan sekali-sekali terbayang wajah-wajah yang telah menggetarkan jantungnya. Dalam kekosongan jiwa, wajah-wajah itu rasanya menjadi semakin terbayang. Bahkan semakin dibayangkannya di dalam hatinya.

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun meninggalkan anak-anak muda itu berserta Sekar Mirah, masuk dalam bilik ayahnya.

Sepeninggal Pandan Wangi, Sekar Mirah tertawa berkepanjangan meskipun ia berusaha menahannya. Ditatapnya wajah kakaknya yang kecewa dan sekaligus gelisah.

“Nah, apakah yang kau dapatkan?”

Swandaru tidak menjawab. Tetapi dahinya menjadi berkerut-merut.

“Lain kali,” berkata Agung Sedayu, “berbuatlah lebih baik. Kalau kau tetap ragu-ragu, maka kau akan kehilangan banyak waktu. Siapa tahu, besok atau lusa kita harus sudah meninggalkan tempat ini. Sepeninggal Sidanti, agaknya tidak banyak lagi yang harus dilakukan oleh Ki Argapati untuk mengatasi pertentangan yang setiap kali masih akan meledak.”

“Anak Argajaya masih belum diketemukan.”

“Ah, anak-anak itu tidak banyak dapat berbuat. Ia masih belum mempunyai sikap sekuat Sidanti. Kalau pada suatu saat ia bertemu dengan ayah ibunya, ia akan segera tunduk kepada mereka.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Di dalam setiap tindakan kau pasti lebih cepat mengambil keputusan daripadaku. Kau kadang-kadang menjadi jengkel karena aku selalu saja menunggu dan menurut kau ragu-ragu. Tetapi sekarang kau lebih ragu-ragu daripadaku.”

“Tetapi persoalan ini belum pernah aku hadapi,” jawab Swandaru.

“Berapa kali kau akan menghadapi masalah serupa ini, Kakang?” bertanya Sekar Mirah.

“Maksudku, aku masih sangat asing.”

“Cobalah.”

“Baiklah. Aku akan mencobanya. Aku akan menemuinya dengan Sekar Mirah. Kemudian biarlah Sekar Mirah meninggalkan aku.”

Sekar Mirah tersenyum.

“Sungguh. Aku bersungguh-sungguh.”

Sambil melangkah Sekar Mirah berkata, “Aku percaya. Tetapi marilah kita pergi. Aku akan menemui guru.”

“Untuk apa?”

“He, apakah kita akan selamanya di sini? Bukankah pada suatu saat kita akan kembali ke tempat kita masing-masing? Ayah dan Ibu dahulu berpesan, kami jangan terlampau lama di perjalanan. Ibu pasti menunggu kita dengan gelisah. Aku akan bertanya kepada guru, apakah kami dapat menunggu kau yang maju mundur ini.”

“Hus, jangan mengacaukan perasaanku. Kau dan Ki Sumangkar harus menunggu sampai aku selesai dengan persoalan ini.”

“Kau belum mulai. Kapan akan selesai.”

Swandaru menjadi bersungut-sungut karenanya. Tetapi ia tidak menjawab. Sambil mengikuti langkah adiknya ia menundukkan kepalanya. Sedang Agung Sedayu berjalan di sampingnya. Tetapi mereka pun kemudian tidak berkata apa pun juga.

Sehari-harian Swandaru hanya berbaring saja di ujung gandok, di atas sebuah lincak kayu. Wajahnya tampak bersungguh-sungguh dan gelisah sekaligus. Sekali-sekali ia menarik nafas dalam-dalam. Direka-rekanya apa yang akan dikatakan seandainya ia nanti benar-benar dapat berbicara dengan Pandan Wangi.

Namun tiba-tiba sesuatu telah meledak di dadanya, “Kenapa aku tiba-tiba saja menjadi pengecut?”

Swandaru mengerutkan keningnya. Di dalam pergaulan sehari-hari ia dapat berbuat wajar, berbicara dan bahkan bergurau, dengan gadis itu. Tetapi apabila masalahnya membentur perasaannya terhadap gadis itu, tiba-tiba saja lehernya seakan-akan menjadi berkerut terlampau pendek.

“Aku tidak boleh berlaku demikian,” katanya kepada diri sendiri, “aku harus mulai dengan sikap yang bersungguh-sungguh.”

Perlahan-lahan maka Swaudaru pun kemudian menemukan kepercayaan kepada diri sendiri. Katanya di dalam hati, “Seandainya aku menunda-nunda, maka akhirnya aku pun harus sampai pada masalah itu. Aku harus sampai pada suatu batas, bahwa aku harus mengucapkannya dengan mulutku sendiri.”

Demikianlah di saat Swandaru mendapat kesempatan untuk menjumpai Pandan Wangi bersama Sekar Mirah ketika senja turun di serambi belakang, sikapnya sudah berlainan. Meskipun dadanya masih juga berdebar-debar, tetapi Swandaru tampaknya sudah menjadi tenang.

“Apakah Ki Argapati sudah menjadi semakin baik?” bertanya Sekar Mirah.

“Ya, gembala tua yang ternyata bernama Kiai Gringsing itu dengan tekun merawatnya”

Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ia seorang dukun yang luar biasa,” desis Sekar Mirah. “Namanya bukan saja Kiai Gringsing. Ketika ia pertama kali muncul di Sangkal Putung, ia memakai pakaian gringsing. Tetapi ia dikenal juga dengan nama Ki Tanu Metir.”

“Tidak,” sahut Swandaru, “ia menyebut dirinya Kiai Gringsing pertama-tama ketika ia menjumpai Kakang Agung Sedayu di perjalanan ke Sangkal Putung.”

“O,” Sekar Mirah mengerutkan keningnya.

Sementara itu, Swandaru meneruskan ceritanya tentang dukun yang aneh itu, sehingga akhirnya ia menjadi muridnya bersama Agung Sedayu.

“Sampai saat ini, aku masih belum tahu benar, siapakah sebenarnya Kiai Gringsing itu.”

Pandan Wangi mendengarkannya dengan penuh minat.

Namun tiba-tiba ia berpaling ketika Sekar Mirah meloncat berdiri, “He, ada yang harus aku tanyakan kepada guruku di padepokan Ki Gede Menoreh.”

“Sesuatu. Tunggulah kau di sini sebentar. Hanya sebentar.”

“Apa?”

Sekar Mirah tidak menunggu jawaban. Dengan tergesa-gesa ia meninggalkan Pandan Wangi dan Swandaru sambil berkata, “Teruskan ceritamu, Kakang. Aku tidak lama.”

“He,” Pandan Wangi memanggil.

Sekar Mirah berpaling sambil tersenyum. Tetapi ia berjalan.

Swandaru dan Pandan Wangi yang ditinggalkannya sejenak menjadi termangu-mangu. Mereka memandangi langkah Sekar Mirah yang hilang di sudut serambi.

Tetapi Swandaru yang benar-benar ingin menyatakan perasaannya, dan yang perlahan-lahan telah menemukan keberanian itu pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Biar saja anak itu pergi.”

Pandan Wangi tidak menjawab, tetapi kepalanya tiba-tiba saja tertunduk dalam-dalam.

“Sampai di mana aku tadi bercerita?” bertanya Swandaru.

Pandan Wangi mengangkat wajahnya. Ia tidak menyangka bahwa pembicaraan mereka masih akan tetap dapat berjalan lancar. Namun ia tidak menjawab.

“O, ya, kita sudah sampai di jilid limapuluh tiga” berkata Swandaru, “aku sendiri sampai sekarang tidak tahu, siapakah sebenarnya guruku.”

“Aneh,” desis Pandan Wangi tiba-tiba.

“Apa yang aneh.”

“Kau. Kau yang sudah sekian lama berguru, masih juga tidak tahu siapakah gurumu.”

“Memang aneh.”

“Dan sekarang, aku dan orang-orang Menoreh lebih-lebih lagi tidak tahu. Bukan saja siapa gurumu itu, tetapi siapakah kau sebenar-benarnya. Mula-mula kau mengaku seorang gembala. Kemudian adikmu itu mengatakan bahwa kau bukan bernama Gupala, tetapi Swandaru yang kau tambahi sendiri menjadi Swandaru Geni, anak seorang Demang di Sangkal Putung.”

Swandaru tersenyum.

“Kakakmu itu pun orang aneh.”

Swandaru tertawa pendek. Katanya, “Kami memang kumpulan orang aneh-aneh. Tetapi itu adalah ajaran guru. Guru orang aneh. Murid-muridnya pun orang aneh pula.”

Pandan Wangi pun tersenyum pula.

“Tetapi kepadamu aku pasti harus berterus terang,” berkata Swandaru kemudian. Terasa bahwa nadanya menjadi agak gemetar.

Pandan Wangi mengangkat wajahnya, memandang langit yang menjadi semakin hitam. Tanpa memandang Swandaru itu berkata, “Kenapa?”

Swandaru menjadi agak bingung. Tetapi kemudian ia menjawab, “Karena kau pemilik rumah ini, di mana aku, kakak seperguruanku, adikku, dan guru tinggal.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak segera menyahut, sehingga suasana menjadi hening sejenak.

Dan tiba-tiba saja terdengar Pandan Wangi menarik nafas panjang. Panjang sekali. Meskipun yang ada di sampingnya kini adalah Gupala, yang ternyata bernama Swandaru itu, namun sekali melintas juga bayangan gembala yang lain, yang telah menyentuh hatinya dengan suara serulingnya.

Tetapi sudah pasti bahwa ia tidak akan dapat menyebut namanya lagi di dalam hatinya, karena kini sudah pasti baginya bahwa telah terjadi ikatan antara gembala yang pandai bermain seruling itu dengan Sekar Mirah.

“Aku memang tidak memerlukannya,” ia menghentak di dalam hatinya sendiri. Namun kemudian terasa seolah-olah dunianya menjadi sepi. Apalagi sepeninggal Sidanti.

Terasa kekosongan yang sunyi telah melihatnya. Di dalam saat-saat tertentu ia merasa, seakan-akan terlempar ke dalam suatu dunia yang asing. Kadang-kadang ia merasa berdiri di atas jalur yang panjang sekali. Seolah-olah tidak ada ujung dan pangkalnya. Kadang-kadang ia seakan-akan berdiri di sebuah padang yang luas. Luas sekali tanpa tepi. Hanya kadang-kadang ia melihat ayahnya berdiri di kejauhan. Dengan luka di dadanya ia berjalan tertatih-tatih. Lambat sekali.

Dalam kesepian, dalam kesendirian di dunia yang serasa asing dan sunyi itu hadir seorang anak nuuda. Anak muda yang mempunyai beberapa kelebihan dari anak-anak muda yang lain.

Tiba-tiba terasa sesuatu telah menyentuh hatinya. Sentuhan-senyuhan yang semula tidak begitu terasa, kini benar-benar telah menumbuhkan kesan yang agak mendalam.

Dalam keadaan itu, Swandaru tidak mau kehilangan kesempatan. Ia harus sampai pada pokok masalah yang selama ini telah direndamnya. Karena itu, maka ia masih juga berusaha mencari jalan, untuk dapat sampai pada masalah itu.

Karena Pandan Wangi masih juga diam saja maka Swandaru itu pun bertanya, “Kenapa kau tiba-tiba terdiam?”

Pandan Wangi berpaling. Tetapi ia tidak menjawab.

Swandaru menjadi agak gelisah. Namun ia tidak mau mundur lagi. Dengan suara yang semakin gemetar, ia kemudian bertanya, “Pandan Wangi, pada suatu saat aku dan rombonganku yang kecil ini pasti akan meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh. Karena itu, tidak akan ada salahnya kalau kau mengenal aku bukan sebagai murid seorang guru yang selalu terselubung.”

Pandan Wangi masih tetap berdiam diri.

“Apakah Sekar Mirah sudah mengatakan tentang dirinya dan diriku?”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya.

“Nah, baiklah. Kalau ia berkata bahwa aku adalah anak seorang Demang di Sangkal Putung itu berarti bahwa ia berkata sebenarnya.”

Sekali lagi Pandan Wangi menganggukkan kepalanya.

“Dan selain Sekar Mirah, apakah Kakang Agung Sedayu sudah pernah mengatakan sesuatu tentang dirinya sendiri?”

“Belum,” jawab Pandan Wangi lambat.

“Mungkin. Mungkin ia tidak akan mengatakan tentang dirinya sendiri, sehingga sampai saat ini kau pasti belum mengenalnya dengan baik. Ia adalah seorang anak Jati Anom. Kakaknya adalah seorang Senapati Pajang yang mempunyai daerah kekuasaan di sepanjang sisi Selatan Pulau ini. Tetapi yang penting bukan itu.” Swandaru berhenti sejenak, lalu, “Yang penting bagiku adalah Kakang Agung Sedayu pernah mengatakan sesuatu tentang diriku?”

Sepercik warna merah membayang di wajah Pandan Wangi. Kini ia merasa bahwa ia sudah diseret ke dalam suatu pembicaraan pribadi yang berat.

Dengan demikian Pandan Wangi menjadi semakin tunduk. Diusapnya keringatnya yang membasahi keningnya. Kemudian dengan jari-jarinya ia mempermainkan ujung kain panjangnya. Tetapi Pandan Wangi masih tetap berdiam diri.

“Pandan Wangi,” desis Gupala, “kau belum menjawab pertanyaanku.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam.

“Apakah Kakang Agung Sedayu yang kau panggil sehari-hari dengan nama Gupita itu sudah pernah mengatakan sesuatu pesan dari padaku?”

Tiba-tiba kepala Pandan Wangi terangguk lemah.

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Kini ia sudah, hampir sampai pada pokok pembicaraannya. Karena itu, meskipun dadanya menjadi semakin berdebar-debar ia berkata selanjutnya, “Bagaimanakah jawabmu?”

Pandan Wangi tidak segera menjawab. Kepalanya kini terangkat. Dipandanginya hitamnya malam yang kini telah merata. Hijaunya dedaunan yang menjadi kelam dan seolah-olah bersembunyi di balik kegelapan.

Sejemput angin yang silir mengalir mengusap wajah-wajah yang menegang itu. Di kejauhan sinar obor yang lemah telah menyentuh kulit mereka yang menjadi merah tembaga.

Tetapi Pandan Wangi tidak segera menjawab. Di dalam dirinya masih saja terjadi gelora yang mengguncang jantungnya. Namun ia tidak akan dapat lari dari kenyataan, bahwa Swandaru memang mempunyai sentuhan-sentuhan yang membekas di hatinya.

“Bagaimana, Pandan Wangi?” desak Swandaru.

Pandan Wangi menarik nafas. Kemudian terdengar suaranya lemah sekali, “Tetapi Agung Sedayu belum mengatakan pesanmu seluruhnya. Tiba-tiba kalimat-kalimatnya terganggu oleh gerombolan di bawah pimpinan adik sepupuku sendiri.”

“Tetapi bukankah kau sudah tahu maksudnya?”

Swandaru menggerutu di dalam hatinya ketika ia melihat Pandan Wangi menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Belum. Aku belum tahu maksudnya.”

“Tetapi, menurut Kakang Agung Sedayu, ia sudah mengatakannya.”

“Kalau begitu akulah yang tidak mendengarnya,” jawab Pandan Wangi. “Jalan itu memang menegangkan, sehingga perhatianku terlampau banyak tertuju kepada daerah yang sedang kami lewati daripada yang lain-lain.”

“O,” Swandarulah yang kini menundukkan kepalanya, “memang mungkin pesan itu sama sekali tidak berharga bagimu, sehingga kau sama sekali tidak berkesempatan untuk mendengarkannya.”

Pandan Wangi terkejut mendengar suara Swandaru yang tiba-tiba mendatar itu, sehingga ia pun berpaling. Ketika dilihatnya Swandaru menunduk dalam-dalam maka ia pun berdesis, “Tidak. Bukan maksudku untuk mengabaikannya. Tetapi, aku tidak dapat menangkapnya dengan jelas karena berbagai macam keadaan. Aku sudah mencoba untuk mengetahuinya, tetapi tidak seluruhnya aku mengerti.”

“Apakah kesanmu terhadap yang sedikit itu?” desak Swandaru.

Namun jawaban yang didengarnya sama sekali tidak diduganya. Sambil menundukkan kepalanya Pandan Wangi menjawab, “Aku tidak dapat mengatakan sesuatu. Aku takut kalau pesan yang sedikit itu keliru.”

Swandaru menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa sesadarnya. Kini sudah pasti baginya untuk mengatakan sendiri. Agaknya Pandan Wangi memang ingin mendengar hal itu daripadanya.

Setelah beberapa kali ini menarik nafas dalam-dalam, maka ia berkata lambat, “Begitulah, Pandan Wangi. Seperti yang aku pesankan kepada Kakang Agung Sedayu,” Swandaru berhenti sejenak. Kemudian, “Seperti yang dinasehatkan oleh Kakang Agung Sedayu kepadaku. Katanya “Swandaru, kau harus mulai dengan suatu sikap hidup yang baru karena umurmu sudah cukup dewasa. Kalau kau memang menaruh hati kepadanya, katakanlah berterus terang.” Dan aku memang tidak ingkar lagi akan hal itu.”

Swandaru berhenti sejenak. Ia menunggu kesan Pandan Wangi atas kata-katanya itu, tetapi Pandan Wangi masih tetap berdiam diri.

“Begitulah Pandan Wangi, dan aku sekarang telah mencoba memenuhi petunjuk Kakang Agung Sedayu.”

Pandan Wangi mengangkat wajahnya. Sekali lagi dilontarkannya tatapan matanya jauh ke alam gelap. Tanpa memandangi Swandaru ia berkata, “Hanya sekedar memenuhi pesan Kakang Agung Sedayu?”

“O, tidak. Tidak,” cepat-cepat Swandaru menyahut. Kini keringatnya sudah mengalir membasahi tubuhnya. Betapa ia mengatur perasaannya, namun terasa jantungnya menjadi semakin cepat berdebaran.

“Bukan maksudku, Pandan Wangi,” katanya, “tetapi aku memang harus mengatakannya. Maksudku bahwa aku sama sekali tidak mengerti apa yang harus aku perbuat. Dan Kakang Agung Sedayu memberi nasehat itu kepadaku.”

Pandan Wangi menundukkan kepalanya pula. Malam menjadi semakin lama semakin gelap, dan obor di regol butulan halaman belakang terombang ambing disentuh angin. Lamat-lamat tampak bayangan para penjaga yang hilir-mudik, meskipun tidak begitu jelas.

Dalam pada itu, seseorang yang sedang berjalan ke regol belakang berhenti sejenak di balik bayangan yang kelam. Tatapan matanya yang tajam memandang kedua sosok tubuh yang duduk di serambi. Meskipun keduanya tidak tersentuh langsung oleh sinar-sinar lampu, tetapi tampak olehnya betapa mereka sedang berbicara bersungguh-sungguh.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun melangkah pergi sambil menundukkan kepalanya. Terasa sesuatu berdesir di dadanya. Namun kemudian ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

“Mudah-mudahan Swandaru berhasil,” desisnya. “Tidak pantas lagi aku memikirkan tentang seseorang.”

Sambil menggigit bibirnya orang itu pun sekali lagi berpaling. Tetapi orang itu, Agung Sedayu, tidak berhenti. Ia sadar bahwa ia harus berdiri di atas kaki yang kuat. Perasaannya memang kadang-kadang menjadi agak lentur. Namun ia mencoba melawannya sekuat-kuatnya.

Sementara itu Swandaru sendiri duduk dengan gelisahnya. Punggungnya menjadi basah oleh keringat. Sekali-sekali ia menarik nafas dalam-dalam, karena serasa dadanya tersumbat oleh perasaannya yang bergejolak.

“Pandan Wangi,” berkata Swandaru kemudian. Dikerahkannya segenap keberaniannya, sehingga meledaklah kata-katanya, “Aku ingin mendengar jawabmu, apakah kau bersedia menjadi imbangan hidupku kelak?”

Pertanyaan Swandaru yang terlampau langsung itu ternyata telah menggetarkan isi dadanya. Terasa darah-darahnya seakan-akan menjadi semakin cepat mengalir.

Kini mulutnya justru menjadi seakan-akan terbungkam. Ia memang mengharapkan Swandaru mengatakan hal itu langsung kepadanya. Bukan sekedar pesan atau cara-cara yang miring. Tetapi ia ingin mendengarnya langsung. Namun justru karena ia kini mendengar pertanyaan itu langsung, maka sejenak ia menjadi kebingungan.

Swandaru yang dengan segala macam usaha dengan pengerahan keberaniannya telah berhasil melontarkan pertanyaan itu, seakan-akan merasa dadanya menjadi terlampau lapang. Seakan-akan ia telah melontarkan sesuatu yang selama ini membebaninya. Karena itu, kini darahnya menjadi tidak terasa terlampau panas, sedang dadanya tidak lagi berguncang-guncang. Bahkan karena Pandan Wangi tidak segera menjawab ia mendesaknya, “Kau belum menjawab, Pandan Wangi.”

Untunglah bahwa cahaya obor di kejauhan tidak mencapai langsung ke tempat mereka, sehingga Swandaru tidak melihat wajah itu menjadi kemerah-merahan.

“Aku sudah mengucapkannya,” berkata Swandaru pula, “dan aku ingin mendengar kau menjawabnya.”

Pandan Wangi mengangkat wajahnya. Tetapi ia tidak berpaling kearah Swandaru. Perlahan-lahan ia berkata, “Kakang Swandaru. Aku adalah seorang gadis. Sudah menjadi kelaziman bagi seorang gadis Menoreh, bahwa lamaran itu ditujukan kepada orang tuanya. Demikian pula aku. Sebaiknya Kakang Swandaru memintanya kepada ayah.”

“Tetapi, bagaimana dengan kau sendiri, Wangi. Aku ingin mendengar perasaanmu.”

“Aku tidak dapat menentukan sesuatu atas diriku sendiri.”

“Tetapi bukankah kau mempunyai perasaan itu?” suara Swandaru menjadi gelisah kembali. “Aku tidak peduli, apakah jawaban orang tuamu nanti. Tetapi bagaimana perasaanmu sendiri?”

“Tidak, Kakang Swandaru,” sahut Pandan Wangi, “kau tidak dapat untuk tidak menghiraukan suara ayahku. Suara ayah itu pasti menentukan. Kalau ayah berkata ya, maka semua itu akan terjadi, tetapi kalau ayah berkata tidak, maka semuanya tidak akan dapat terjadi.”

“Aku tahu, aku tahu,” nada suara Swandaru meninggi, “tetapi aku ingin tahu perasaanmu sendiri. Kalau kau berkata ya, aku akan berusaha melamarmu lewat ayahmu, meskipun memang mungkin juga ditolak dan urung. Tetapi kalau kau berkata tidak, maka aku tidak akan berbuat apa-apa. Meskipun seandainya ayahmu mengijinkan, tetapi aku tidak mendapatkan kau seutuhnya.”

Pandan Wangi tidak dapat mengelak lagi. Ketika Swandaru kemudian bertanya lagi, “Bagaimana pendapatmu, Pandan Wangi?” maka dengan wajah yang merah dan bibir yang gemetar gadis itu menjawab parau, “Apakah kau akan menemui ayah?”

“Tentu. Seandainya bukan aku, karena itu juga tidak lazim, tetapi ayah atau orang-orang tua yang lain, itu pun akan tergantung kepada jawabanmu.”

“Datanglah kepadanya. Bertanyalah kepada ayah.”

“Aku akan melakukannya, tetapi setelah aku mendapat kepastian. Aku juga mempunyai adik seorang gadis. Aku kira adat kita tidak akan jauh berbeda. Kalau seseorang datang melamar, maka orang tuanya akan menjawab ‘Aku akan menanyakannya dahulu kepada gadisku’. Bukankah ayahmu nanti akan berkata begitu juga? Nah, sebelumnya aku sudah membawa jawabnya. Meskipun aku tidak akan dapat mendahului jawaban ayahmu, tetapi setidak-tidaknya aku berpengharapan untuk mendapatkan kau seutuhnya. Kau dan perasaanmu. Kalau kau kemudian mengiakannya, itu bukan karena ayahmu yang mendesaknya. Aku tahu pasti, kalau kau sendiri tidak berkeberatan.”

Pandan Wangi benar-benar sudah tersudut. Sedang Swandaru mendesaknya lagi, “Bagaimana, Wangi?”

Gadis itu tidak dapat menghindarinya. Karena itu, maka betapa pun beratnya, dianggukkannya kepalanya.

“Terima kasih, terima kasih,” terdengar Swandaru berdesis, “aku sudah mengerti perasaanmu sekarang. Aku memang sudah menduga. Tunggulah. Aku akan memenuhi segala macam upacara adat kelak. Tetapi sudah tentu aku harus kembali dahulu ke Sangkal Putung. Namun selain ayahku, aku mempunyai orang tua di sini, guruku. Mungkin sebelum ayahku datang, guruku akan dapat membicarakannya dengan ayahmu. Guruku, guru adikku itu, dan Kakang Agung Sedayu.” Swandaru berhenti sejenak, lalu, “Begitu, bukankah begitu?”

Namun ketika ia tanpa sesadarnya menyentuh lengan Pandan Wangi gadis itu beringsut sejengkal.

Swandaru mengerutkan keningnya. Tetapi ia sadar, bahwa sentuhan di antara mereka memang tidak dibenarkan.

Pandan Wangi sendiri tidak tahu, kenapa ia harus bergeser. Ia tidak mengelak, ketika tangannya dibimbing oleh gembala yang lain di peperangan setelah mereka berkelahi melawan Ki Peda Sura.

“Saat itu, perasaanku telah dirampas oleh tegangnya peperangan,” ia mencoba mencari jawabnya.

“Nah,” terdengar suara Swandaru, “nanti malam aku akan dapat tidur nyenyak, Pandan Wangi. Dan aku akan mengatakannya kepada guruku. Apakah ia dapat berbuat sesuatu sebelumnya, mendahului ayah dan ibuku di Sangkal Putung.”

Pandan Wangi tidak menyahut. Kembali kepalanya tunduk dalam-dalam. Dan malam pun menjadi semakin malam.

Akhirnya kedua anak-anak muda itu menjadi seakan-akan tersadar, bahwa mereka telah terlampau lama duduk berdua, di dalam keremangan malam yang tidak langsung dicapai oleh cahaya obor di kejauhan.

Karena itu, ketika Swandaru mendengar tembang macapat yang melontar dari gandok di sebelah Barat, ia berkata, “Sudahlah Pandan Wangi, aku sudah puas dengan jawabanmu. Aku merasa bahwa kehadiranku di atas Tanah Perdikan ini tidak sia-sia. Bukan saja untuk kepentingan Tanah Perdikanmu, tetapi untuk kepentinganku pula.”

Pandan Wangi tidak menjawab. Tetapi kepalanya terangguk lemah.

“Hari sudah menjadi semakin malam. Aku sudah mendengar salah seorang pengawal membaca tembang macapat.”

Sekali lagi kepala Pandan Wangi terangguk.

Swandaru kemudian berdiri dan melangkah menjauhi serambi. Sekali ia berhenti dan berpaling.

“Apakah kau tidak akan masuk ke dalam,” ia bertanya ketika ia masih melihat Pandan Wangi duduk di tempatnya.

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya. Tetapi ia masih tetap berdiam diri.

“Masuklah,” berkata Swandaru, “malam akan menjadi terlampau dingin.”

Perlahan-lahan Pandan Wangi pun berdiri. Seperti bukan kehendaknya sendiri. Ia pun melangkah, menuju ke pintu butulan. Sejenak kemudian ia pun segera hilang di balik pintu.

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun meneruskan langkahnya kembali ke ujung gandok. Tugasnya bersama Agung Sedayu masih belum dicabut, menunggui bilik Argajaya, meskipun sudah tidak seketat semula.

Malam itu rasa-rasanya menjadi malam yang terlampau segar bagi Swandaru. Kadang-kadang ia tersenyum sendiri mengenangkan pembicaraannya. Ia merasa sebagai seorang pahlawan yang telah memenangkan perang.

“Apakah kau berhasil?” bertanya Agung Sedayu ketika ia melihat Swandaru berbaring sambil memandang langit-langit biliknya.

“Agaknya aku merasa berhasil,” jawab Swandaru, “aku masih perlu meyakinkan.”

Agung Sedayu tersenyum, “Apa yang akan kau yakinkan?”

“Kebenaran kata-katanya.”

Sambil tertawa Agung Sedayu menepuk bahunya, “Kau memang harus yakin.”

Swandaru tidak menjawab. Ia masih tetap berbaring ketika Agung Sedayu meninggalkan biliknya. Dan Swandaru itu pun tidak mendengar Agung Sedayu bergumam, “Mudah-mudahan kau menemukan kebahagiaan.”

Di ruang dalam, Sekar Mirah sempat juga mengganggu Pandan Wangi yang tersipu-sipu. Karena Sekar Mirah tidak juga berhenti, maka Pandan Wangi pun kemudian berlari menuju ke pintu bilik ayahnya. Namun kemudian, berjingkat ia masuk. Dengan demikian ia berhasil melepaskan dirinya dari Sekar Mirah.

Tetapi pertemuan dan pengakuan merupakan jenjang kehidupan baru bagi keduanya. Keduanya tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh perasaan masing-masing, sehingga hampir setiap orang segera dapat melihat, bahwa ada sesuatu yang berkembang di hati keduanya.

Namun bukan saja hati Swandaru dan Pandan Wangi yang telah berkembang. Keadaan di Tanah Perdikan Menoreh pun telah berkembang pula.

Ki Argapati yang mengikuti keadaan dengan seksama, meskipun ia masih tetap berada di pembaringannya, pada suatu kesempatan telah memanggil Argajaya untuk menghadap, dikawani oleh Pandan Wangi, Samekta, dan Ki Kerti.

“Aku percaya kepadamu,” berkata Ki Argapati kepada adiknya setelah mereka berbincang panjang, “mudah-mudahan kau tidak menyia-nyiakan kepercayaanku itu.”

“Aku sudah menyesali semuanya itu, Kakang. Bukan karena aku sudah tidak berdaya lagi. Tetapi aku melihat noda-noda yang melekat di hati ini. Aku memang banyak dipengaruhi oleh pamrih dan ketamakan. Kalau semula aku hanya dicemaskan oleh kejaran orang-orang Pajang, namun kemudian masalahnya menjadi berkembang terlampau jauh, sehingga aku harus malu kepada diri sendiri.”

“Baiklah. Atas persetujuan kami, kau kami ijinkan pulang ke rumahmu.”

“Kakang?”

“Ya. Aku kira kau tahu apa artinya.” Ki Argapati menarik nafas, kemudian, “kau telah ditunggu oleh suatu kewajiban bagi Tanah perdikan ini.”

Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ketahuilah, bahwa anakmu masih belum dapat kami ketemukan. Ia masih berada di antara orang-orang yang belum dapat diyakinkan, bahwa apa yang mereka lakukan adalah sia-sia.”

Argajaya mengangguk-anggukkan kepala. Ia mengerti bahwa anaknya telah berada di antara gerombolan orang-orang yang dengan putus asa telah melakukan apa saja tanpa tujuan, selain memuaskan nafsu kekerasan mereka.

“Pulanglah, mungkin anakmu akan datang kepadamu. Ia masih terlampau muda.”

“Baiklah, Kakang. Mudah-mudahan aku dapat menjumpainya dan menjinakkannya.”

“Cobalah,” Argajaya berhenti sejenak. Ia tampak menjadi ragu-ragu, namun kemudian, “Tetapi, kau pun jangan salah mengerti. Apakah kau memerlukan perlindungan? Mungkin seseorang telah menjadi sakit hati atau mencoba untuk melakukan sesuatu atasmu.”

Argajaya menarik nafas pula. Semakin dalam ia menyadari bahwa kakaknya seharusnya tidak mengatakan bahwa ia perlu dilindungi, tetapi ia agaknya memang perlu diawasi.

“Mana yang baik bagi, Kakang,” jawab Argajaya.

“Jangan salah mengerti. Menurut perhitunganku, masih ada orang yang akan melakukan sesuatu yang berbahaya bagimu, karena sikapmu. Kau pasti akan dianggap bersalah terhadap mereka, karena justru kau menyadari keadaanmu yang sebenarnya.”

Argajaya tidak menjawab. Tetapi kepalanya tertunduk dalam-dalam. Ia dapat mengerti sikap kakaknya. Dan karena itu maka ia tidak menolaknya. Meskipun berat ia berkata, “Baiklah, Kakang. Kalau Kakang menganggap perlu.”

“Aku masih menganggap perlu,” jawab Argapati. “Mungkin dari orang-orangmu sendiri yang kini tidak dapat terkendali. Tetapi mungkin juga dari pihak lain. Rakyat yang merasa terjerumus ke dalam kesulitan karena peperangan yang baru lalu dan mereka pasti akan melemparkan kesalahan kepada Sidanti dan gurunya. Apabila yang ada kemudian tinggal kau sendiri, maka kau akan dapat menjadi sasaran kemarahan mereka.”

Ki Argajaya menganggukkan kepalanya. Memang alasan kakaknya dapat diterima, di samping dugaannya yang lain, bahwa kakaknya masih perlu mengawasinya.

Demikianlah maka Ki Argajaya pada hari itu juga telah diijinkan meninggalkan bilik sempit yang dihuninya selama ini. Bilik yang sempit, gelap, dan pengap. Kebebasan yang didapatnya kali ini terasa sebagai suatu kurnia yang tidak ternilai harganya. Kini ia dapat melihat alam yang terbentang. Tidak hanya sesempit sebuah bilik dan bayangan dedaunan yang kadang-kadang dapat dilihatnya dari sela-sela pintunya apabila sedang terbuka.

Diantar oleh sepasukan kecil pengawal, Argajaya akan pulang ke rumahnya. Untuk mengurangi bahaya yang dapat menerkamnya setiap saat, Ki Argapati telah berpesan dengan sungguh-sungguh kepada pemimpin pengawal itu, “Ingat, kau jangan sampai melakukan kesalahan. Aku sudah memaafkan kesalahan Argajaya dengan beberapa macam pertimbangan. Bahkan aku sudah mengumumkan pengampunan umum. Kau harus mengawasi anak buahmu dan setiap orang di sekitar rumah Argajaya. Tidak boleh ada dendam yang dilontarkan kepadanya. Bukan karena Argajaya adikku, tetapi aku mempunyai banyak pertimbangan. Aku mengampuni semua orang yang mau mendengarkan seruanku dan dengan kesungguhan hati berusaha ikut membangunkan kembali Tanah yang sudah hampir runtuh ini.”

Pemimpin pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tampaknya ia tidak begitu yakin. Bukan karena ia sendiri tidak dapat menyingkirkan dendam di hatinya, tetapi apakah ia akan mampu membendung perasaan seluruh anak buahnya dan bahkan rakyat di sekitarnya?

“Apakah kau ragu-ragu?” bertanya Ki Argapati.

“Tugas ini sangat berat bagiku,” jawab pemimpin pengawal itu.

“Ya, aku tahu bahwa tugasmu sangat berat. Tetapi aku harap kau dapat melakukannya.”

Orang itu tidak segera menyahut.

Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Mungkin kau memerlukan seorang kawan?”

Pemimpin itu menganggukkan kepalanya.

Ki Argapati berpikir sejenak. Tampaklah wajahnya menjadi tegang. Namun sejenak kemudian ia berkata, “Panggillah gembala tua itu.”

Pemimpin pasukan itu ragu-ragu sejenak. Tetapi ia pun kemudian meninggalkan bilik Ki Argapati memanggil gembala tua yang kini juga disebut Kiai Gringsing itu.

“Kiai,” berkata Ki Argapati, “aku memerlukan bantuan Kiai.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya.

“Aku masih mengharap Kiai berada di Tanah Perdikan ini beberapa saat. Hanya beberapa saat saja.”

“Maksud Ki Gede?”

“Aku akan meminjam anak-anakmu. Salah seorang atau keduanya.”

“Untuk?”

Maka diceritakannya maksudnya. Untuk melindungi Argajaya ia memerlukan sepasukan prajurit. Tetapi pemimpin prajurit itu memerlukan kawan, karena ia agak bimbang atas kemampuannya melakukan tugas yang berat ini. Ia merasa bahwa ia tidak hanya sekedar berhadapan dengan banyak kemungkinan yang datang dari sekelilingnya. Mungkin sisa-sisa pasukan Argajaya sendiri yang mendendam, mungkin rakyat yang marah, tetapi juga mungkin timbul dari pasukannya itu sendiri.

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti kesulitan pemimpin pasukan itu. Karena itu maka jawabnya, “Baiklah, Ki Gede. Aku akan menyuruh kedua anak-anakku itu mengikuti Ki Argajaya, karena tugas mereka selama ini pun adalah menjaganya di dalam bilik itu.”

“Terima kasih,” Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

Tetapi ketika Kiai Gringsing mengatakannya kepada Swandaru, tampak betapa ia menjadi kecewa. Bahkan sambil berdesah ia menjawab, “Guru, apakah aku boleh beristirahat?”

Kiai Gringsing menjadi heran mendengar jawaban itu. Swandaru adalah seorang anak muda yang lebih senang berada dilingkungan ketegangan daripada duduk menunggu sambil bertopang dagu. Tetapi tiba-tiba kini sikapnya menjadi lain.

“Lalu apakah yang akan kamu lakukan?”

“Aku minta ijin untuk beristirahat barang sejenak di rumah ini. Aku ingin beberapa hari tidak lagi dibebani oleh tugas-tugas yang berat.”

Kiai Gringsing masih belum mengerti, kenapa tiba-tiba tabiat muridnya ini berubah. Namun sebelum orang tua itu menanyakannya kepada Swandaru sendiri, Agung Sedayu telah mendahuluinya, “Biarlah aku berangkat sendiri untuk kali ini, Guru.”

“Kenapa?” bertanya Kiai Gringsing.

Agung Sedayu tidak segera menjawab. Tetapi sambil tersenyum dipandanginya wajah Swandaru yang murung.

“Kenapa?” gurunya mendesak.

“Adi Swandaru sedang sakit.”

“Sakit,” guruya menjadi semakin heran, “apakah yang sakit? Kenapa kau tidak mengatakannya kepadaku? Meskipun segalanya tergantung kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi kita wajib berusaha. Dan aku akan berusaha untuk mengobatinya.”

Series 50

WAJAH Swandaru menjadi merah padam. Sambil bersungut-sungut ditatapnya wajah Agung Sedayu sejenak. Ketika ia melihat Agung Sedayu masih juga tersenyum, Swandaru bergumam, “Tidak. Aku tidak sedang sakit.”

Gurunya tidak segera menyahut. Kini dipandanginya wajah Agung Sedayu yang masih juga tersenyum.

“Benar, Guru. Adi Swandaru sedang sakit. Tetapi yang sakit bukan badannya.”

Gurunya menjadi tegang. Dengan nada yang tinggi ia bertanya, “Ya Swandaru, kau sakit? Tetapi yang sakit bukan badanmu?”

Kini sadarlah Swandaru yang gemuk itu, bahwa gurunya pun agaknya telah dengan sengaja mengganggunya. Karena itu maka jawabnya, “Ya. Yang sakit bukan badanku. Tetapi ingatanku.”

Kiai Gringsing dan Agung Sedayu pun kemudian tertawa, sedang Swandaru masih juga bersungut-sungut. Namun akhirnya Kiai Gringsing berkata, “Baiklah. Kalau demikian biarlah Angger Swandaru berada di sini. Aku agak kurang menghiraukan perasaannya. Tetapi kini aku mengerti, bahwa memang sebaiknya Anakmas Swandaru tidak ikut serta. Ia memang perlu beristirahat sepekan dua pekan.”

Swandaru tidak menjawab. Ditatapnya wajah Agung Sedayu yang melemparkan tatapan matanya jauh-jauh.

“Angger Agung Sedayu akan pergi sendiri bersama pasukan kecil itu mengantarkan Ki Argajaya karena hal itu memang diperlukan,” berkata Kiai Gringsing kemudian.

“Baik Guru,” jawab Agung Sedayu. Namun tiba-tiba mereka berpaling ketika terdengar suara Sekar Mirah, “Aku akan ikut serta bersama Kakang Agung Sedayu menggantikan Kakang Swandaru di dalam pasukan itu.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Sekilas ia berpaling ke arah Ki Sumangkar, seolah-olah ia berkata, “Apakah kita akan dapat mengijinkannya?”

Ki Sumangkar pun kemudian menarik nafas dalam-dalam.

“Apakah kau perlu ikut bersamanya?” Sumangkar bertanya.

“Ya, Guru,” jawab Sekar Mirah, “Kakang Swandaru merasa perlu untuk tinggal.”

“Tetapi,” berkata Kiai Gringsing, “aku menjadi bingung. Di mana aku harus berada. Aku tinggal di sini atau aku harus pergi bersama Agung Sedayu dan Sekar Mirah?”

“Kenapa Kiai harus pergi bersama aku dan Kakang Agung Sedayu atau menunggui Kakang Swandaru?”

Kiai Gringsing tidak dapat segera menjawab. Tetapi ketika ia memandang wajah Ki Sumangkar, orang tua itu pun menganggukkan kepalanya. Ia tahu bahwa Kiai Gringsing memerlukannya. Adalah kurang bijaksana bahwa yang tua-tua membiarkan anak-anak muda itu tanpa pengawasan, justru mereka telah menyatakan diri mereka saling mengikat.

“Kiai,” berkata Ki Sumangkar kemudian, “aku akan ikut bersama Sekar Mirah dan Angger Agung Sedayu.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan agaknya anak-anak muda itu pun kemudian menyadari, kenapa orang-orang tua itu menjadi bingung untuk melepaskan mereka pergi berdua saja.

Dengan demikian, maka meskipun dengan alasan yang lain, Ki Sumangkar turut serta bersama dengan Agung Sedayu dan Sekar Mirah di dalam pasukan kecil yang mengantarkan Ki Argajaya. Atas pendapat Kiai Gringsing, Ki Argapati pun tidak berkeberatan, bahwa kedua orang itu pun pergi bersama Agung Sedayu untuk membantu kesulitan yang mungkin timbul.

Maka setelah pasukan kecil itu bersiap seluruhnya, mereka pun kemudian berangkat meninggalkan induk padukuhan.

Agaknya rombongan kecil itu memang benar-benar telah menarik perhatian. Beberapa orang yang melihatnya segera memberitahukan kepada tetangga-tetangganya, bahwa sekelompok pasukan pengawal Menoreh telah lewat mengantarkan Ki Argajaya.

“He,” desis seseorang yang melihat pasukan itu, “bukankah di antara mereka itu terdapat Ki Argajaya?”

“Ya, Ki Argajaya? Apakah ia akan dibawa ke tempat hukumannya yang baru?”

“Mungkin, ia akan digantung di bawah Puncang Kembar.”

“Tidak,” seseorang menggeleng, “tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan menjalani hukuman. Mungkin ia akan dibebaskan. Bukankah Ki Argapati telah menyerukan pengampunan umum?”

Orang-orang itu pun saling berpadangan. Salah seorang yang tidak mau berteka-teki tiba-tiba berteriak, “He, akan dibawa ke mana orang itu?”

Hampir segenap isi rombongan kecil itu berpaling. Tetapi tidak seorang pun yang menjawab.

“Apakah orang itu akan digantung di bawah Pucang Kembar?” teriak orang itu pula.

Tidak seorang pun juga yang menjawabnya. Namun, pertanyaan itu benar-benar telah menyentuh perasaan Ki Argajaya. Kini ia menyadari, betapa tanggapan rakyat Menoreh kepadanya. Kepada perbuatan yang telah dilakukannya.

Karena itu, maka kepalanya yang tunduk menjadi semakin tunduk. Sebuah pengakuan yang mendalam telah menusuk-nusuk jantungnya. Apalagi ketika dilihatnya sawah-sawah yang kering dan tidak terpelihara. Di sana-sini para petani sedang sibuk memperbaiki parit sehingga mereka masih belum sempat menanami sawahnya yang memang tidak dapat dikerjakannya selama peperangan berkecamuk.

Hatinya berdesir tajam ketika mereka melewati sebuah regol yang sudah menjadi abu dan belum sempat diperbaiki. Para pengawal terpaksa mendampingi Ki Argajaya ketika mereka melihat anak-anak muda yang berkumpul di ujung jalan padukuhannya itu berteriak, “Ha, inilah salah seorang yang telah membakar regol kita.”

“Bukan hanya regol kita,” teriak yang lain, “tetapi ia sudah membakar seluruh Tanah Perdikan Menoreh.”

Terasa dada Ki Argajaya menjadi semakin pepat. Tetapi ia sudah menemukan pengakuan yang pasrah. Ia memang telah melakukan semua kesalahan itu, sehingga ia harus menelan kepahitan perasaan itu tanpa dapat mengelak lagi.

Karena itu maka ia pun kemudian berjalan dengan kepala yang tetap tunduk. Seakan-akan ia tidak berani lagi memandang Tanah Perdikan Menoreh yang porak poranda itu.

“Apakah kita masih akan berjalan jauh?” tiba-tiba salah seorang pengawal berdesis.

Pemimpin pengawal dan kawan-kawannya pun segera berpaling kepadanya. Sudah tentu ia tahu bahwa mereka masih akan berjalan beberapa lama lagi, melintasi beberapa buah bulak dan padukuhan.

“Kenapa?” bertanya pemimpin pengawal.

“Kenapa kita harus mengantarkannya pulang? Apakah orang itu belum pernah melihat jalan di daerah ini?”

Dada Argajaya berdesir. Ternyata bukan saja orang-orang di tepi-tepi jalan yang mengumpatnya. Bahkan di dalam pasukan pengawal ini pun terselip perasaan itu.

Pemimpin pengawal itu pun menjadi berdebar-debar pula. Dugaannya ternyata tidak jauh keliru. Kalau perasaan itu berkembang, maka keadaan akan menjadi panas. Karena itu cepat-cepat ia menjawab, “Itu bukan persoalan kita. Kita mengemban perintah Ki Gede Menoreh, apa pun alasannya.”

Ternyata usahanya untuk sementara berhasil. Pengawal itu tidak bertanya lebih lanjut, sedang orang-orang lain yamg mulai dijalari oleh perasaan yang serupa, yang agaknya sudah mulai akan terangkat oleh pertanyaan seorang kawannya itu, menjadi terbungkam. Mereka menghormati Kepala Tanah Perdikannya, sehingga mereka patuh menjalani tugas yang dibebankan kepada mereka. Mengantarkan Ki Argajaya dengan selamat sampai di rumahnya, kemudian mengawal rumah itu untuk sementara sampai petugas yang akan menggantikan mereka datang.

Dalam pada itu, di balik gerumbul-gerumbul liar agak di tengah-tengah sawah yang tidak terpelihara, beberapa orang melihat iring-iringan itu dengan wajah yang tegang. Salah seorang daripadanya adalah seorang anak laki-laki yang masih sangat muda.

“Kemana mereka akan pergi?” salah seorang dari mereka itu berdesis.

“Ini adalah suatu pameran kebaikan hati Ki Argapati. Mungkin ini adalah satu dari sekian banyak orang yang diampuninya dalam rangka pengampunan umum yang telah diteriakkan oleh Kepala Tanah Perdikan yang nyaris terbunuh itu.”

Anak yang masih sangat muda yang ada di antara mereka tidak segera dapat menyambung pembicaraan kawan-kawannya. Ia melihat, bahwa di antara rombongan itu adalah ayahnya.

“Bukankah itu Ki Argajaya?” desis seorang kawannya. Anak muda itu mengangguk.

“Agaknya ayah akan diantarkan pulang,” desisnya.

“Pulang? Atau mungkin ke suatu tujuan yang tidak diketahui.”

“Jalan ini adalah jalan pulang. Mungkin ayah telah mengucapkan sumpah untuk tetap setia kepada Ki Gede. Atau janji-janji yang lain.”

“Mungkin. Mungkin juga Ki Argajaya akan menjadi alat yang baik untuk menangkap kita.”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Dan kawannya berkata seterusnya, “Aku tidak mengira bahwa Ki Argajaya akan bersedia melakukannya.”

“Apakah kau yakin bahwa ayah akan berbuat demikian?”

“Lalu apalagi?”

“Apakah ayah tidak sedang dibawa ke suatu tempat untuk menjalani hukuman?”

“Aku sependapat dengan kau. Jalan ini adalah jalan pulang bagi Ki Argajaya.”

Anak muda itu terdiam.

“Kita mengangkat senjata justru karena kita membela pendirian Ki Argajaya, Sidanti, dan Ki Tambak Wedi. Aku menaruh hormat yang tinggi kepada Sidanti yang memilih mati dari segala keadaan yang lain. Ia tidak menyerah meskipun ia berhadapan langsung dengan Ki Argapati, yang meskipun orang itu adalah ayahnya sendiri. Itu adalah suatu sikap yang jantan.”

Anak muda itu menjadi tegang.

“Tetapi Ki Argajaya memilih jalan lain.”

“Persetan orang itu,” geram anak muda itu, “aku akan memilih jalan seperti Kakang Sidanti, meskipun ia adalah ayahku sendiri. Tetapi ayah sudah ingkar pada perjuangan kita. Kita sudah terlanjur menyingsingkan lengan baju kita. Kini ayah menyerahkan diri seperti seorang pengecut.”

“Kita akan berhenti bertempur kalau kita sudah mati. Seandainya kita menyerah sekalipun, apakah jaminannya bahwa kita akan benar-benar diampuni seperti Ki Argajaya? Seandainya Ki Argajaya tidak akan dipergunakan sebagai alat untuk menjerat kita, aku kira Argapati tidak akan bersikap begitu lunak kepadanya.”

“Kita akan memilih waktu. Aku mengenal halaman rumahku dengan baik. Pasti jauh lebih baik dari pengawal-pengawal yang bodoh itu, sehingga meskipun halaman rumah itu dijaga, aku pasti akan dapat memasukinya.”

“Kita tidak akan ingkar pada perjuangan yang sudah kita letakkan. Kalau kita tidak berputus asa, maka lambat laun kita akan mendapat pengikut pula. Kita harus menumbuhkan ketidakpuasan rakyat kepada keadaan yang berkembang kemudian.”

“Aku akan pulang pada suatu saat,” desis anak muda itu, “aku akan menemui ayah di rumah. Kalau ayah berkeras hati, apa boleh buat. Kakang Sidanti juga mati di tangan ayahnya. Bagaimana kalau terjadi sebaliknya?”

“Sidanti mati dibunuh adiknya selagi ia beradu di hadapan ayahnya.”

“Itu tentu sudah diatur sebelumnya.”

Mereka pun kemudian terdiam sejenak. Mereka memandang iring-iringan. itu semakin lama menjadi semakin jauh.

“Persetan dengan mereka,” anak muda itu menggeram pula, “akan datang saatnya kita menuntut.”

“Ya, kita yang sudah dikorbankannya, kemudian ditinggalkannya dalam keadaan yang sulit ini.”

Sekelompok orang-orang itu pun masih memandangi iring-iringan itu untuk sejenak. Namun kemudian mereka segera bergeser dan menghilang di antara tetanaman liar yang tumbuh di sana sini. Mereka sudah berketetapan untuk membalas sakit hati mereka yang mereka tanggungkan selama ini. Kekalahan yang bertubi-tubi dan apalagi kini mereka, merasa tidak berharga sama sekali. Satu-satunya jalan bagi mereka untuk dapat sekedar mengobati sakit hati itu adalah melakukan kekerasan. Siapa pun korbannya. Dan kini mereka telah menemukan sasaran yang menggairahkan. Ki Argajaya yang telah mereka anggap berkhianat.

Ki Argajaya sendiri merasa bahwa ia memang berada di dalam keadaan yang sulit. Ternyata Ki Argapati bukan hanya sekedar ingin mengawasinya, tetapi kecemasan Kepala Tanah Perdikan itu kini benar-benar dapat dirasakannya.

Tetapi ternyata bahwa di dalam lingkungan para pengawal sendiri ada orang-orang seperti yang dicemaskannya itu, meskipun agaknya pemimpin pengawal telah menunjukkan sikapnya yang baik.

Demikianlah iring-iringan itu semakin lama menjadi semakin mendekati rumah Ki Argajaya. Tetapi semakin banyak pula mereka melihat wajah-wajah yang tidak puas dan bahkan memancarkan dendam di hati mereka.

Dengan hati yang berdebar-debar Ki Argajaya kemudian memasuki regol padukuhannya. Iring-iringan itu berhenti sejenak di depan regol karena para pengawal padukuhan itu ingin mendengar keputusan Ki Argapati tentang adiknya itu.

“Ki Argajaya sudah diampuni kesalahannya, seperti juga orang-orang lain yang mendengar seruan Ki Argapati,” pemimpin rombongan pengawal yang mengantarkan Ki Argajaya itu menjelaskan.

Pemimpin pengawal padukuhan itu memandang Ki Argajaya dari ujung kakinya sampai ke ikat kepalanya, seakan-akan belum pernah melihat sebelumnya. Dengan nada yang kecut ia bertanya, “Benarkah begitu Ki Argajaya?”

Ki Argajaya merasakan nada yang pahit itu menyentuh perasaannya. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa pun juga. Sambil nengangguk ia menjawab, “Ya demikianlah agaknya.”

“Apakah Ki Argajaya tidak memegang tekad perlawanan seperti Sidanti yang mati oleh adiknya sendiri?”

“Aku mengalami perkembangan tanggapan terhadap keadaanku dan keadaan Tanah ini. Ini adalah sikap yang membuat aku dimaafkan oleh Kakang Argapati.”

“Ternyata Sidanti agak lebih jantan dari Ki Argajaya. Ia mati menggenggam tanggung jawab.”

“Aku mengalami perkembangan perasaan, pikiran, dan tanggapan. Ini adalah pertanda bahwa aku masih hidup, seperti orang-orang lain pula. Kadang-kadang keputusan yang telah dibuat hari ini akan disesali di keesokan harinya.”

“Huh, kau memang pandai menyusun kalimat-kalimat itu. Tetapi kau bagi kami tidak lebih dari seorang pengecut.”

Ki Argajaya tidak menjawab. Ia harus menerima penghinaan yang langsung menusuk jantungnya itu.

Pemimpin pengawal yang mengantarkannya pun tidak menyahut. Ia menyadari keadaan yang sedang dihadapinya. Kalau ia ikut campur dalam pembicaraan itu, maka suasananya tidak akan menjadi semakin baik. Karena itu ia telah membatasi dirinya untuk membiarkan Ki Argajaya menjawab sendiri pertanyaan itu selama pembicaraan itu tidak berbahaya bagi segala pihak.

“Bukankah sekarang kau akan pulang ke rumahmu?” tanya pemimpin pengawal itu.

“Ya,” jawab Ki Argajaya.

Tiba-tiba pemimpin pengawal itu menyingkir sambil menbungkukkan kepalanya dalam-dalam, “Silahkan, Tuanku.”

Sekali lagi dada Ki Argajaya berdesir. Tetapi sekali lagi ia harus menelan penghinaan itu.

Sejenak kemudian maka iring-iringan itu pun melanjutkan perjalanannya. Yang menarik perhatian bagi para pengawal bukan saja Ki Argajaya, tetapi seorang gadis yang ada di dalam iring-iringan itu.

“Siapakah gadis itu?” desis salah seorang dari mereka.

Yang lain menggelengkan kepalanya, “Aku pernah melihatnya di rumah Ki Argapati. Mungkin gadis itu kawan Pandan Wangi dari daerah lain, atau mungkin masih ada hubungan keluarga dengannya.”

“Gadis itu datang dari Sangkal Putung,” berkata yang lain. “Gadis itu adalah adik gembala muda yang gemuk, yang ikut membantu kita menumpas pemberontakan Sidanti.”

“Darimana kau tahu.”

“Semua orang mengetahuinya.”

“Aku tidak tahu.”

“Kau memang selalu ketinggalan.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Kemudian ia pun berdesis, “Kenapa ia ikut bersama iring-iringan ini?”

“Entahlah. Aku tidak tahu. Nanti aku tanyakan kepadanya. Mungkin ia memang mencari aku.”

“Huh, sebaiknya sekali-sekali kau melihat bayangan wajahmu di dalam air. Kau akan tahu bahwa kau sama sekali tidak berbentuk.”

Mereka terdiam ketika mereka melihat pemimpin pengawal di padukuhan itu berjalan di depan mereka sambil bersungut-sungut. Ia masih menyesali Ki Argajaya yang telah membakar Tanah Perdikan ini dan meninggalkan bekas yang sukar untuk dihapuskan. Sekarang, agaknya ia telah dibebaskan dari segala tuntutan.

Tetapi ternyata pemimpin pengawal itu kemudian berhenti. Ditatapnya para pengawal yang sedang berbicara itu. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Kenapa gadis Sangkal Putung yang bernama Sekar Mirah itu ada pula di dalam rombongan ini?”

Pengawal-pengawal itu menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu,” salah seorang dari mereka menjawab.

Pemimpin pengawal itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia melanjutkan langkahnya.

“He, ada juga perhatiannya kepada gadis itu,” desis salah seorang dari mereka.

Kawannya tidak menjawab. Dipandanginya saja langkah pemimpin pengawal itu. Kemudian mereka pun saling berpandangan satu sama lain. Tetapi mereka tidak berbicara apa pun lagi.

Sementara itu, Ki Argajaya bersama para pengawal yang mengantarkannya menjadi semakin dekat dengan halaman rumahnya. Namun ternyata dada Argajaya menjadi kian berdebar-debar. Rumah itu baginya serasa menjadi asing.

Dirumah itulah ia mula-mula bersama Sidanti dan Ki Tambak Wedi merencanakan perlawanan. Pengawal-pengawal yang tinggal di sekitar rumahnya adalah inti dari pasukannya. Apalagi ketika Sidanti menunjukkan beberapa kelebihannya bersama gurunya, maka seakan-akan semakin yakinlah perjuangan mereka untuk mendapatkan kemenangan.

Kemudian berdatanganlah orang-orang dari luar tlatah Menoreh yang akan ikut serta di dalam pertarungan antara keluarga itu. Meskipun Ki Argajaya sadar, bahwa mereka tidak akan lebih baik dari perampok-perampok yang melihat medan yang lunak di dalam kemelutnya peperangan, namun Argajaya, Sidanti, dan Ki Tambak Wedi merasa, bahwa pada akhirnya mereka akan dapat menguasai orang-orang itu.

Ternyata bahwa pergaruh mereka semakin lama menjadi semakin besar, sehingga mereka berhasil merebut padukuhan induk dan mendesak Ki Argapati.

Tetapi akhir dari semuanya itu adalah seperti yang disaksikannya kini. Kuburan yang menjadi semakin padat, sawah yang terbengkelai dan permusuhan yang tersebar di mana-mana.

Ki Argajaya seakan-akan tersedar dari lamunannya ketika ia sampai di muka regol rumahnya. Terasa dadanya berdesir tajam sekali. Rumah yang ditinggalkannya beberapa saat itu menjadi seakan-akan sudah bertahun-tahun tidak berpenghuni. Kotor, sepi, dan pintu pringgitan yang tertutup rapat. Tiang-tiang pendapa yang tegak kaku itu bagaikan tubuh-tubuh yang tegang menunggu berakhirnya masa yang pahit.

“Kita sudah sampai,” desis pemimpin pengawal itu, “kami persilahkan Ki Argajaya masuk bersama tamu-tamu itu. Kami akan mengawal di halaman depan dan halaman belakang.”

Ki Argajaya menjadi termangu-mangu. Tetapi ia sadar, bahwa yang disebutnya sebagai tamu-tamunya adalah Agung Sedayu, Sekar Mirah, dan gurunya.

“Kenapa mereka ikut kemari?” katanya di dalam hati, meskipun ia menyadari bahwa mereka harus membantu pemimpin pengawal apabila ia menghadapi kesulitan.

“Silahkan,” pemimpin pengawal itu mengulangi.

“Terima kasih,” sahut Argajaya. Kemudian kepada Agung Sedayu, Sekar Mirah, dan Sumangkar ia berkata, “Marilah. Aku persilahkan kalian melihat-lihat rumah yang menjadi seperti tanah pekuburan ini.”

Tetapi Agung Sedayu menyahut, “Aku akan berada di antara para pengawal, karena aku merupakan bagian dari mereka selagi aku berada di Tanah Perdikan Menoreh.”

Ki Argajaya mengerutkan keningnya. Dan Agung Sedayu berkata selanjutnya, “Silahkanlah Ki Sumangkar dan kau Sekar Mirah. Kawanilah Ki Argajaya yang barangkali akan menjadi kesepian.”

Ki Sumangkar mengerutkan keningnya. Dipandanginya muridnya sejenak, lalu katanya kepada Agung Sedayu, “Baiklah. Aku dan Sekar Mirah akan mengawani Ki Argajaya.”

Maka ditinggalkannya Agung Sedayu bersama para pengawal di luar. Ki Sumangkar mengerti, bahwa Agung Sedayu memang ditugaskan untuk mengawani pemimpin pengawal yang mungkin pada suatu saat akan mengalami kesulitan dari anak buahnya sendiri.

Dikawani oleh Ki Sumangkar dan Sekar Mirah, Ki Argajaya pun kemudian naik ke pendapa. Seperti orang asing ia memandang ke sekitarnya dengan berbagai pertanyaan di dalam hatinya. Tiba-tiba saja tangannya menjadi gemetar ketika ia meraba pintu pringgitan yang tertutup.

Perlahan-lahan Ki Argajaya mengetuk pintu rumahnya. Sekali, dua kali. Tetapi ia tidak mendengar jawaban.

Ketukan itu pun semakin lama menjadi semakin keras. Namun masih belum juga terdengar jawaban.

Ki Argajaya menjadi gelisah. “Apakah istriku tidak di rumah?” ia bertanya kepada diri sendiri. Tetapi ia tidak tahu, bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu.

Sebenarnyalah Ki Argajaya tidak mengetahui, bahwa isterinya benar-benar sudah berada di puncak ketakutannya. Setiap kali pintu diketuk, maka setiap kali hatinya serasa tersayat. Kalau ia membukakan pintu, maka yang ditemuinya adalah orang-orang yang selalu menggetarkan perasaannya.

Kadang-kadang para pengawal Tanah Perdikan, muncul dengan senjata terhunus sambil menggeram, “Aku melihat seseorang bersembunyi di rumah ini.”

Tanpa menunggu jawabnya, para pengawal itu pun langsung memasuki rumahnya dan menggeledah setiap sudut. Tetapi karena tidak diketemukan sesuatu, mereka pun pergi sambil bersungut-sungut.

Namun di saat lain, yang tiba-tiba saja menyusup masuk pada saat pintu dibuka adalah sisa-sisa orang-orang suaminya. Dengan kasar mereka minta persediaan apa saja yang ada. Katanya, “Anakmulah yang memerlukan semua itu.”

Dengan demikian maka perasaan perempuan yang menjadi semakin tua itu bagaikan ilalang yang diombang-ambingkan oleh angin prahara. Tanpa pegangan.

Kini setiap ketukan pintu terasa bagaikan pisau yang menyengat jantungnya. Karena itu, maka ia tidak lagi berani bangkit dari amben bambu di ruang dalam.

“Kalau aku tidak membuka pintu itu, mereka pasti akan mengelilingi rumah ini,” desisnya. Dan perempuan itu memang membiarkan pintu samping rumahnya tetap terbuka. Siang dan malam. Ia tidak perlu lagi membuka pintu, seandainya laki-laki yang kasar dari pihak mana pun juga ingin memasuki rumahnya.

Namun Ki Argajaya tidak mengetahui, bahwa pintu samping itu terbuka. Karena itu ia pun mengetuk semakin lama semakin keras

Nyi Argajaya yang mendengar ketukan itu pun menjadi gelisah pula. Orang-orang yang biasa datang ke rumahnya sudah mengetahui, bahwa pintu sebelah selalu terbuka.

Tetapi Nyai Argajaya masih tetap duduk di tempatnya. Dicobanya untuk menduga-duga siapakah kira-kira yang telah mengetuk pintunya itu semakin lama justru menjadi semakin keras.

“Mungkin para pengawal padukuhan ini baru saja diganti dengan orang-orang baru,” katanya di dalam hati, “mereka masih belum tahu bahwa pintu disebelah selalu terbuka.”

Nyai Argajaya menjadi ragu-ragu sejenak. Namun akhirnya ia memutuskan, “Biar sajalah. Kalau mereka mau memecah pintu, biarlah pintu itu dipecah. Kalau salah seorang dari mereka sempat menengok ke samping, mereka pasti akan melihat pintu terbuka.”

Ki Argajaya yang sedang mengetok pintu itu pun menjadi gelisah pula. Bahkan ia berkata di dalam hatinya, “Apakah rumah ini benar-benar sudah kosong?”

Tetapi ia tidak berani membenarkan angan-angannya itu. “Tidak,” ia membantah sendiri di dalam hatinya pula, “istriku pasti masih berada di rumah ini.”

Karena itu, maka sekali lagi ia mengetuk semakin keras. Kali ini ia memanggil isterinya dengan suara yang gemetar, “Nyai, Nyai. Apakah kau tidak ada di rumah?”

Ternyata suara itu didengar oleh Nyai Argajaya. Semula ia tidak dapat mengenal lagi suara itu. Namun lambat laun, warna suara yang semula kabur itu, menjadi semakin lama semakin jelas di depan mata hatinya.

“Nyai, Nyai.”

Tiba-tiba Nyai Argajaya menjadi berdebar-debar. Ia tidak percaya lagi pada pendengarnya yang sudah terlampau sering keliru. Namun demikian, suara ini terlampau menarik baginya, sehingga dipasangnya pendengarannya baik-baik.

“Nyai, Nyai.”

Terasa darah perempuan tua yang sudah hampir membeku itu menjadi hangat kembali. Kini ia mulai berpengharapan, bahwa ia tidak salah lagi dengan pendengarannya kali ini.

Perlahan-lahan ia berdiri dan berjalan selangkah-selangkah mendekati pintu. Dengan suara parau tiba-tiba saja ia bertanya, “Siapa di luar?”

Jawaban itu telah menyentuh perasaan Ki Argajaya, sehingga dengan serta-merta ia menjawab, “Aku, Nyai. Argajaya.”

Dada perempuan tua itu berdesir. Tetapi ia tidak segera yakin akan pendengarannya. Sekian lama ia mengalami kekecewaan. Dan kali ini ia menjadi ragu-ragu. Apakah ia benar-benar mendengar suara itu.

“Aku, Nyai. Bukakan pintu.”

Kini Nyai Argajaya menjadi semakin yakin, bahwa yang didengarnya itu adalah suara suaminya. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa ia pergi ke pintu pringgitan. Dengan tergesa-gesa pula dilontarkannya selarak, sehingga suaranya berderak-derak di lantai.

Dengan serta-merta, perempuan itu membuka daun pintu. Namun hampir saja ia menjadi pingsan ketika yang berdiri di hadapannya adalah seorang laki-laki yang tidak dikenal. Sumangkar.

“O,” terdengar ia mengeluh, “apa lagi yang akan datang di rumah ini.”

Namun sebelum ia kehilangan tenaganya, terasa daun pintu itu terdorong ke samping. Ketika pintu itu terbuka lebar, barulah ia melihat orang-orang lain yang berdiri di luar. Seorang gadis muda dan seorang laki-laki yang pucat.

“Kakang. Kakang Argajaya. Benarkah?”

“Ya, Nyai. Aku Argajaya.”

“O,” tiba-tiba perempuan itu memekik sambil berlari ke arah suaminya.

“Akhirnya kau pulang juga.”

Ki Argajaya memeluk isterinya yang menangis. Ia tidak menghiraukan lagi, siapa saja yang ada di tempat itu. Tetapi ia ingin menumpahkan segala macam kepahitan, kepedihan, dan berbagai perasaan yang bercampur baur di dalam dadanya. Lewat air matanya yang seperti terperas dari pusat jantungnya, Nyai Argajaya menangis sejadi-jadinya.

Ki Argajaya dapat mengerti, betapa berat penderitaan yang dialami oleh isterinya saat ia tidak ada di rumah. Pasti tidak kurang pedihnya dari yang dialaminya sendiri.

“Sudahlah, Nyai,” Ki Argajaya berusaha menenteramkan hati istertnya itu, “kita mempunyai dua orang tamu.”

Tetapi Nyai Argajaya seolah-olah tidak mendengar kata-kata itu. Ia masih belum puas menumpahkan segala macam perasaan yang selama ini menyumbat dadanya.

Ki Sumangkar hanya dapat menundukkan kepalanya, sedang Sekar Mirah melemparkan tatapan matanya jauh-jauh. Betapa keras hatinya, tetapi ia pun seorang gadis, sehingga terasa matanya menjadi panas mendengar tangis Ki Argajaya yang memelas.

Seperti kepada Sidanti, kebencian Sekar Mirah kepada Argajaya pun pernah sampai ke puncak ubun-ubunnya. Namun melihat keadaannya, ia tidak dapat mempertahankan perasaannya itu. Seperti pada saat ia melihat mayat Sidanti terbujur di lantai bermandi darah, maka kini ia menjadi iba hati melihat pertemuan dua orang tua yang telah mengalami kepahitan hidup masing-masing.

“Sudahlah, Nyai,” Argajaya masih berusaha menenteramkan hati isterinya meskipun tenggorokannya sendiri serasa tersumbat.

“Anakmu, Kakang,” desis perempuan itu.

“Bagaimana dengan anak itu,” bertanya suaminya.

“Ia masih belum kembali.”

“Sama sekali?”

“Ya, sama sekali. Tetapi aku memang pernah melihatnya, hanya seperti bayangan hantu yang tampak sekejap lalu menghilang lagi.”

Ki Argajaya menarik nafas dalam-dalam. Lalu ia pun bertanya, “Dengan siapa kau tinggal di rumah ini?”

“Dengan perempuan tua itu, pemomong anakmu.”

Ki Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ia masih di sini?”

“Ia mengawani aku dalam keadaan apa pun.”

“Di mana ia sekarang?”

“Ia berada di rumah belakang. Jarang-jarang sekali ia masuk ke dalam kalau aku tidak memanggilnya.”

Ki Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini dihadapinya keluarganya yang porak-poranda seperti Tanah Perdikan Menoreh ini pula. Dengan demikian ia menjadi semakin menyadari, bahwa akibat dari sikap yang keras yang telah menyalakan api peperangan di Tanah ini benar-benar tidak bermanfaat bagi siapa pun.

Mereka pun kemudian bersama-sama duduk di atas sebuah amben yang besar di ruang dalam. Seperti halamannya, maka rumah itu pun seakan-akan sama sekali tidak berpenghuni. Kotor dan tidak terawat.

“Maaf,” desis Nyai Argajaya, “kami tidak dapat menerima kalian dengan cara yang lebih baik.”

Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab, “Tidak apa, Nyai. Di dalam masa-masa seperti ini, kita tidak akan dapat menuntut terlampau banyak. Kita harus memahami keadaan.”

“Tetapi rumah ini benar-benar menjadi rumah hantu.”

Ki Sumangkar tersenyum. “Aku sudah terbiasa berada di tengah-tengah peperangan.”

Ki Argajaya mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba sorot matanya seakan-akan bertanya tentang laki-laki tua yang mengawani Sekar Mirah itu.

“Maksudku,” dengan serta-merta Sumangkar menyambung, “aku sudah sering mengalami masa-masa yang pahit. Aku melihat bergesernya kekuasaan dari Demak ke Pajang. Kemudian pergolakan yang seakan-akan tidak ada henti-hentinya antara Pajang dan Jipang. Dengan demikian, aku dapat banyak melihat akibat dari peperangan.”

Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Perang itu pasti lebih dahsyat dari yang kita alami di sini.”

Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Terkenang olehnya sekilas, betapa ia tinggal di hutan-hutan dan di pategalan-pategalan yang terbengkelai, pada saat ia mengikuti pasukan Tohpati yang sudah kehilangan arah perjuangannya.

Katanya di dalam hati, “Perang itu di mana-mana sama. Yang menimbulkan kematian, kekerasan, dan penyimpangan dari sifat-sifat kemanusiaan yang wajar.”

Sejenak Sumangkar menundukkan kepalanya. Argajaya hanyut ke dalam suatu kenangan yang mendebarkan. Ia mengangkat wajahnya ketika ia mendengar Nyai Argajaya berdiri sambil berkata, “Maaf, aku akan ke dapur sejenak.”

“Jangan menjadi sibuk karena kedatangan kami,” jawab Sumangkar.

Nyai Argajaya menarik nafas, “Hanya airlah yang akan dapat aku sediakan untuk menjamu tamu-tamu kami sekarang.”

“Itu sudah cukup. Dan anggaplah bahwa kami sama sekali bukan tamu. Kami akan tinggal di sini beberapa hari.”

“He,” Nyai Argajaya terperanjat. Kemudian ditatapnya wajah suaminya, seolah-olah ia minta pertimbangan.

“Ya,” berkata Ki Argajaya, “mereka datang bersama sepasukan kecil pengawal, mengawani aku di perjalanan. Mereka akan tinggal di sini untuk beberapa lama, untuk melindungi aku dan keluargaku dari dendam yang mungkin tumbuh di pihak-pihak yang terlibat dalam pertengkaran di atas Tanah Perdikan ini.”

“Tetapi,” Nyai Argajaya tidak melanjutkan kata-katanya.

Ki Argajaya ternyata menangkap kegelisahan di dalam hati isterinya. Katanya, “Kita tidak usah malu mengatakan, bahwa kita tidak akan dapat menjamu mereka selama mereka ada di rumah ini. Bukankah begitu.”

Perempuan itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia pun menganggukkan kepalanya.

“Bukan tanggungan kita, Nyai,” berkata Ki Argajaya kemudian. “Mereka akan mendapat rangsum mereka dari dapur-dapur yang khusus dibuat untuk anggauta-anggauta pengawal yang bertugas di seluruh Tanah Perdikan ini.”

Perempuan itu mengangguk-angguk pula. Tetapi kini ditatapnya wajah kedua orang tamunya itu. Dan agaknya Ki Argajaya pun menangkap maksudnya. Katanya, “Kedua tamu kita ini pun akan mendapat bagian dari mereka.”

Nyai Argajaya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Syukurlah. Aku tidak akan dapat berbuat apa-apa. Keadaanku sudah terlampau parah. Aku hanya mempunyai persediaan yang sangat terbatas. Itu pun aku dapatkan dengan susah payah. Perempuan tua pemomong anakmu itulah yang mencari untuk kami di sini, dengan menukarkan macam-macam barang yang ada dengan beras dan jagung.”

Ki Argajaya mengerutkan keningnya. Ia menjadi semakin menyadari kepahitan hidup isterinya selama ini.

“Kami berdua jangan menjadi beban yang membuat Nyai terlampau sibuk,” ulang Sumangkar kemudian. “Kami sudah mendapat bagian kami di antara pasukan pengawal. Tetapi hanya karena kami termasuk orang-orang yang agak lain dari anggauta pengawal yang lain, maka kami telah dipersilahkan masuk ke dalam rumah ini oleh Ki Argajaya.”

Nyai Argajaya menjadi heran, dan bahkan Ki Argajaya pun bertanya-tanya di dalam hatinya, “Apakah kelainan itu?”

Dan Ki Sumangkar pun meneruskan, “Perbedaan itu adalah, karena aku adalah seorang tua yang barangkali tidak lagi dapat berbuat terlampau banyak seperti anak-anak muda, sedang anakku ini adalah seorang gadis.”

Ki Argajaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil mengusap keningnya ia berkata, “Aku sudah menjadi bingung, karena aku tidak dapat melihat kelainan itu. Justru sekarang aku baru menyadari akan hal itu. Aku hanya menganggap bahwa kalian adalah tamu-tamu kami. Tamu-tamu Tanah Perdikan Menoreh.”

Ki Sumangkar tersenyum. Katanya, “Karena itu, silahkan Nyai duduk saja di sini. Kita dapat berbicara tentang banyak hal yang kita alami masing-masing selama ini.

“Terima, kasih, tetapi aku akan merebus air,” Nyai Argajaya pun kemudian meninggalkan ruangan itu. Yang tinggal adalah Sumangkar, Sekar Mirah, dari Argajaya. Namun sejenak mereka hanya saling berdiam diri, meskipun di dalam dada masing-masing menggelepar berbagai masalah yang sedang mereka hadapi di saat-saat yang akan segera datang.

Dalam pada itu, para pengawal segera mencari tempatnya masing-masing tanpa menunggu Ki Argajaya. Mereka seakan-akan mengerti, bahwa Ki Argajaya tidak akan sempat menunjukkan tempat bagi mereka. Karena itu sebagian dari mereka pun segera naik ke pendapa, dan yang lain duduk-duduk di serambi gandok.

“Apakah di sini tidak ada selembar tikar pun?” desis salah seorang pengawal.

Yang lain, yang duduk di tangga mengerutkan keningnya. Katanya, “Huh, di sini kita akan mengalami kejemuan selama beberapa hari.”

“Beberapa hari?”

“Ya. Apa kau sangka nanti sore kau dapat pulang ke rumah isterimu?”

Kawannya hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.

“Kalau tidak ada tikar di sini, kita akan tidur di lantai.”

“Tidak. Aku akan mencari belarak, dan aku akan membuat ketepe. Apa bedanya dengan tikar?”

Kawannya tidak menyahut. Sambil menguap ia bersandar pada sebuah tiang. Tetapi sejenak kemudian digeleng-gelengkannya kepalanya. Desisnya, “Aku sudah mulai mengantuk.”

“Persetan dengan Ki Argajaya. Biar saja kalau orang ini dirampok rakyat seperti macan di alun-alun. Apakah keberatannya? Mungkin karena ia adik Ki Argapati. Tetapi ia sudah melawan kakaknya itu. Apa lagi yang harus disayangkan?”

Tidak seorang pun yang menjawab. Namun wajah-wajah mereka telah membayangkan kelesuan. Sejak perang berkecamuk, para pengawal itu seakan-akan belum pernah beristirahat sepenuhnya. Setiap kali mereka masih harus bergilir menjaga daerah-daerah yang terpencil. Dan kini mereka harus mengawal orang yang telah membakar Tanah Perdikan ini menjadi abu.

Namun perintah yang mereka terima harus mereka kerjakan. Betapa pun beratnya, mereka harus melakukannya di halaman yang kotor dan menjemukan itu pula. Dengan hati yang berat mereka harus mendengarkan nama mereka disebut oleh pimpinan mereka untuk berjaga-jaga pada waktu-waktu tertentu, berganti-gantian di depan regol halaman dan di bagian belakang rumah itu.

“Kita mencari tikar di gerbang padukuhan ini. Barangkali para pengawal di sana mempunyai kelebihan,” berkata salah seorang dari antara pengawal itu. “Aku mengantuk sekali. Nanti malam aku bertugas. Sekarang aku akan tidur.”

“Carilah. Kalau ada, aku ikut tidur.”

Tetapi yang lain berkata, “Aku akan bertanya kepada Ki Argajaya, apakah di rumah ini tidak ada tikar sama sekali, meskipun tikar lama.”

Demikianlah, maka para pengawal itu pun mulai menempatkan dirinya. Tanpa dipersilahkan oleh Ki Argajaya yang masih belum mapan benar meskipun di rumah sendiri, para pengawal itu mencari tempatnya masing-masing. Mereka mencari sendiri tikar di rumah itu. Ternyata mereka masih, menemukan beberapa helai dan bahkan ada di antaranya yang masih baru. Di antara para pengawal itu adalah Agung Sedayu yang selalu dibawa berbincang oleh pimpinan pengawal itu, sementara Sumangkar dan Sekar Mirah yang menjadi tamu Ki Argajaya itu mendapat tempat di ruang dalam.

“Bilik kami terlampau kotor,” berkata Nyai Argajaya, “sehingga malam ini masih belum dapat dipergunakan.”

“Sudahlah,” sahut Sumangkar, “biarlah aku tidur di amben ini bersama-sama dengan Ki Argajaya, sedang Sekar Mirah dapat saja tidur di sembarang tempat di dalam rumah ini.”

“Biarlah ia tidur di dalam bilik yang sering aku pergunakan sehari-hari. Aku akan tidur di bilik sebelah,” berkata Nyai Argajaya.

“Dimana pun aku dapat tidur,” berkata Sekar Mirah. Demikianlah sambil minum dan makan ubi rebus mereka mencoba untuk berbicara wajar, meskipun kadang-kadang terasa juga pembicaraan mereka membeku.

Sekar Mirah yang sama sekali tidak mengetahui keadaan rumah itu, tanpa prasangka apa pun kemudian memasuki bilik yang diperuntukkan baginya. Bilik Nyai Argajaya.

Ketika malam pun kemudian turun, menyelubungi pedukuhan itu maka masing-masing segera mengambil tempatnya untuk beristirahat. Ki Sumangkar dan Ki Argajaya mempergunakan amben besar di ruang tengah, sedang Nyai Argajaya tidur di bilik di sebelah bilik Sekar Mirah, meskipun masih belum bersih benar.

Dalam pada itu, serombongan orang-orang yang benar-benar sudah tidak dapat berpikir jernih, masih berusaha mendekati rumah Ki Argajaya. Mereka itu justru dipimpin oleh seorang anak muda, putera Ki Argajaya sendiri.

“Aku harus dapat bertemu dengan ayah dan ibu malam ini,” berkata anak muda itu.

“Berbahaya sekali,” desis kawannya, “kenapa kita tidak menunggu kesempatan lain yang lebih baik.”

“Terlampau lama. Aku kira pengawal-pengawal itu akan tetap berada di rumah itu untuk beberapa hari.”

“Tetapi tidak di hari pertama,” kawannya masih mencoba meyakinkan. “Mereka masih segar, dan mereka masih berada di puncak kewaspadaan.”

“Sudah aku katakan, aku mengenal halaman rumah itu lebih baik dari siapa pun. Tidak seorang pun yang mengetahui lubang di atap rumah itu. Aku dapat masuk lewat lubang itu langsung ke bilik dalam.”

“Tetapi seluruh halaman diawasi oleh para pengawal.”

“Mereka tidak akan dapat melihat segala sudut. Mereka tidak akan melihat jalur yang telah dibuat di balik-balik gerumbul di halaman samping di antara pagar batu dan lumbung yang kosong itu.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Tetapi ia menjadi cemas, bahwa kali ini mereka tidak akan dapat lolos lagi.

“Di siang hari pun beberapa orang di antara kita berhasil melepaskan diri dari pengawal-pengawal yang bodoh itu. Apalagi malam yang gelap seperti ini.”

Kawan-kawannya saling berpandangan sejenak. Namun sorot mata mereka masih juga dapat memancarkan kecemasan. Meskipun mereka selama ini seakan-akan sudah tidak berperhitungan lagi, namun untuk memasuki halaman itu pada malam pertama dari kehadiran Ki Argajaya, merupakan suatu tindakan yang seharusnya tidak dilakukan.

“Apakah kalian takut?” tiba-tiba anak muda itu bertanya.

“Bukan, bukan karena takut,” jawab salah seorang kawannya, “tetapi kita masih dapat berbuat banyak. Kenapa kita harus membunuh diri?”

“Huh, kalian memang sudah menjadi pengecut. Kalau kalian memang tidak berani masuk, biar aku sajalah yang memasuki halaman rumah itu.”

“Sudah aku katakan, kami tidak takut. Tetapi itu suatu tindakan yang kurang bijaksana.”

“Aku tidak peduli. Tetapi aku yakin bahwa tidak seorang pun yang akan melihat aku memasuki halaman rumah itu dan bahkan sampai aku masuk ke bilik dalam, bilik ibu.”

Kawan-kawannya tidak segera menjawab. Tetapi kekhawatiran yang sangat, tidak dapat mereka sembunyikan.

Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Baiklah, kalau kau memang berkeras untuk bertemu dengan ayah dan ibumu. Tetapi bagaimana kalau ada di antara para pengawal itu yang tidur di dalam rumahmu, sehingga ia dapat membahayakan kedatanganmu.”

“Kalau hanya dua atau tiga orang pengawal, biarlah, aku akan menyelesaikan.”

“Tetapi hal itu akan memanggil pengawal-pengawal yang lain di luar rumah.”

“O, sejak kapan kalian mulai ragu-ragu untuk melakukan sesuatu tindakan? Kalau kita semua berpikir serupa itu, kita tidak akan sempat melakukan apa-apa. Sebaiknya kita menyerah saja memenuhi panggilan Ki Argapati. Kita akan diampuni dan kita tidak akan dituntut apa pun juga. Tetapi dengan demikian kita sudah berkhianat terhadap perjuangan kita, terhadap Kakang Sidanti yang gagah berani dan gurunya Ki Tambak Wedi. Di dalam bilik yang dijaga ketat Kakang Sidanti masih melakukan perlawanan.”

“Benar,” sahut seorang yang sudah agak tua, “tetapi manakah yang penting. Berhasil memasuki rumah itu dan menemui ayah dan ibumu, entah akibat apa yang timbul dari pertemuan itu, atau hanya sekedar menunjukkan keberanian?”

Anak muda itu tidak menjawab.

“Kalau kau hanya ingin sekedar menunjukkan keberanian, marilah kita serang rumah itu dari depan. Tetapi kalau kau ingin bertemu dengan ayah ibu, biarlah kita berpikir sejenak, cara yang sebaik-baiknya kita tempuh.”

Anak muda itu tidak segera menyahut. Dipandanginya wajah kawannya yang sudah agak tua itu.

“Bagaimana?”

“Aku ingin bertemu dengan ayah dan ibu, meskipun kalau pembicaraan kita tidak berhasil, aku akan mengambil sikap tegas.”

“Nah, kalau begitu, kita harus membuat pertimbangan-pertimbangan. Kalau kita memang seorang pemberani, biarlah kita mati, tetapi kalau persoalan yang ingin, kita lakukan itu sesudah selesai. Dalam hal ini, setelah kau berhasil bertemu dengan ayah dan ibumu.”

“Ibu tidak bersalah,” berkata anak muda itu, “tetapi ayah sudah berkhianat.”

“Terserahlah menurut penilaianmu. Kami tidak berani mengambil sikap, karena kami tidak tahu pasti bagaimana tanggapanmu atas kelakuan ayahmu itu.”

“Sikapku tegas. Ayah sudah mengkhianati perjuangan kami.”

“Lalu maksudmu?”

“Ayah harus memilih. Berada di pihak kami dengan meninggalkan rumah itu, menembus penjagaan atas dirinya, atau ………” suaranya terputus.

“Atau,” desak kawannya.

“Mati sajalah seperti Kakang Sidanti.”

“Tidak mungkin. Ayahmu tidak akan mungkin mati jantan seperti Sidanti. Kalau ia kau bunuh misalnya, maka ia akan menjadi semakin hina.”

“Memang ia pantas dihinakan.”

Kawannya itu tidak menyahut lagi. Sejenak mereka saling berpandangan. Tetapi mereka masih tetap saling berdiam diri.

“Marilah,” berkata anak muda itu.

“Tunggu lewat tengah malam, kalau kau memang tidak dapat dicegah lagi.”

Anak muda itu hampir tidak dapat menyabarkan dirinya lagi. Tetapi kali ini ia menurut. Ia akan memasuki rumahnya lewat tengah malam, langsung memanjat dan masuk ke dalam lewat lubang yang memang sudah disediakan di atas atap, langsung memasuki bilik tidur ibunya. Tetapi anak muda itu sama sekali tidak mengetahui, bahwa yang ada di dalam bilik itu kini sama sekali bukan ibunya lagi, tetapi seorang gadis dari Sangkal Putung yang bernama Sekar Mirah.

Demikianlah maka mereka menunggu dengan gelisah, sampai bintang Gubug Penceng condong ke Barat. Putera Ki Argajaya itu hampir sudah tidak dapat bersabar lagi. Setiap kali dibelainya hulu pedangnya sambil menggeram.

Namun ia masih harus duduk termenung beberapa saat lagi lamanya.

Angin malam yang dingin bertiup semakin lama semakin basah. Di kejauhan terdengar suara burung kedasih mengusik sepinya malam. Sedang bintang yang gemerlapan tergantung menebar di seluruh dataran langit yang luas.

Anak muda yang sedang menunggu itu rasa-rasanya sudah tidak dapat bersabar lagi. Bintang Gubug Penceng di atas ujung Selatan rasa-rasanya tergeser terlampau lamban.

“Apakah ini belum tengah malam,” anak muda itu bertanya.

“Kira-kira saat ini baru tengah malam,” jawab yang lain.

“Aku akan pergi. Sendiri.”

Kawan-kawannya saling berpandangan sejenak. Agaknya anak itu sudah dihinggapi oleh kemarahan yang tidak dapat dikendalikannya lagi, sehingga ia terlampau bernafsu untuk melakukan rencananya itu tanpa menghiraukan apa pun juga.

“Kalian menunggu aku di sini.”

“Jangan tergesa-gesa,” berkata kawannya yang sudah agak tua, “kau tidak boleh pergi sendiri. Itu sangat berbahaya bagimu.”

“Tetapi kemungkinan untuk diketahui oleh para penjaga itu menjadi semakin berkurang. Aku dapat mencari jalan sebabnya untuk dapat sampai ke dalam bilik ibu. Kalau ada orang lain yang ikut bersamamu, maka ia hanya akan mengganggu saja.”

“Jangan kehilangan akal. Kalau kau mempunyai kawan meskipun hanya seorang, maka kau akan dapat berbincang tentang sesuatu hal yang harus segera kau putuskan. Apalagi, kalau kau harus melawan beberapa orang sekaligus di dalam rumah itu. Kau mempunyai kawan pula agar perkelahian itu cepat selesai sebelum para pengawal yang lain mengetahuinya.”

Anak muda itu merenung sejenak. Tetapi ia tidak segera mengambil keputusan. Bahkan ia bertanya, “Kalau aku membawa seorang kawan, siapakah yang akan pergi bersamaku?”

“Kaulah yang harus memilih. Siapakah yang paling kau percaya di antara kami.”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja ia berkata lemah, “Orang itu sudah mati.”

“Jangan kau hiraukan lagi si kurus yang sudah dibunuh oleh orang asing itu. Sekarang, pilihlah di antara kami yang masih ada. Kami tidak kalah tangguh dari si kurus itu.”

Anak itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dipandanginya seorang anak yang masih muda pula, meskipun agak lebih tua dari dirinya sendiri. Seorang anak muda yang berbadan kekar dan berdada bidang, meskipun tidak terlampau tinggi.

“Kau sajalah,” berkata putera Ki Argajaya.

“Tepat,” jawab kawannya yang sudah agak tua, “orang ini adalah orang yang paling baik di antara kami.”

“Badak itu memang akan berguna bagimu,” desis kawannya yang lain.

Anak muda yang bertubuh kekar itu tersenyum. Ia merasa mendapat kehormatan dari kawan-kawannya yang lain. Dan ia kemudian menjawab, “Aku senang sekali ikut bersamamu. Aku ingin melihat, apakah para pengawal yang ada di rumahmu itu sudah ada yang aku kenal.”

“Jangan mencari perkara. Kalian pergi untuk menemui Ki Argajaya. Itulah masalahnya. Bukan melihat pengawal yang lagi berjaga-jaga. Bukan menantang mereka berkelahi. Terserahlah kalau persoalan yang sebenarnya telah selesai. Tetapi yang penting, kalian dapat bertemu dengan Ki Argajaya. Kalau Ki Argajaya bersedia meninggalkan rumahnya dan bergabung bersama kita, maka lambat laun kita pasti akan berhasil menyusun kekuatan lebih baik dari yang ada sekarang. Bahkan mungkin akan dapat mengimbangi kekuatan Argapati lagi.”

Anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Terbayang di rongga matanya peperangan yang baru saja terjadi di atas Tanah Perdikan ini. Peperangan yang telah menghancurkan sendi-sendi kehidupan rakyatnya.

Tetapi kalau perjuangannya menang, Ki Argajaya berhasil mengusir kakaknya, maka garis kekuasaan Menoreh akan berpindah pada garis keturunan keluarganya. Apalagi Sidanti kini sudah tidak ada lagi. Maka tanggung jawab perjuangan berpindah ke tangannya.

Anak yang masih terlalu muda itu merasa, sepeninggal Sidanti ialah yang harus memimpin perjuangan. Namun kadang-kadang ia mengeluh di dalam hati. “Kakang Sidanti didampingi sepenuhnya oleh gurunya, bahkan sampai mengorbankan nyawanya. Tetapi aku tidak mendapat perlindungan dari siapa pun. Bahkan ayah telah berkhianat.”

“Nah, hati-hatilah. Perjuangan kita masih panjang. Kalau kalian gagal, maka semuanya akan berhenti sampai di sini. Kita harus menelan semua kekalahan, semua hinaan dan semua kesalahan,” terdengar kawannya yang sudah agak tua itu memperingatkan.

“Tunggulah kalian di sini. Aku akan pergi sekarang.”

“Sudah tentu kami tidak akan sekedar menunggu. Kami akan memancing perhatian para pengawal itu. Pengawal yang ada di regol padukuhan, dan pengawal yang ada di halaman rumah Ki Argajaya.”

“Apa yang akan kalian lakukan.”

“Bermain-main.”

“Ya, tetapi apa yang akan kalian perbuat.”

“Kami akan membakar rumah di pojok desa itu. Semua perhatian akan tertumpah kepada api yang menyala.”

“Tidak ada gunanya. Itu adalah tugas para pengawal di regol padukuhan dan kawan-kawannya. Yang ada di halaman rumah ayah itu pasti tidak akan beranjak. Mereka justru akan menjadi semakin bersiaga.”

“Tentu. Tetapi perhatian mereka sepenuhnya akan tertuju kepada api itu. Dua orang di antara kami akan menyerang halaman rumah itu dari depan dengan panah.”

“Kalian tidak akan mendapatkan apa-apa. Mereka pasti akan berlindung.”

“Soalnya bukan mengenai sasaran, tetapi menarik perhatian. Mereka memang akan bersiaga. Tetapi aku berani bertaruh kepala, bahwa perhatian mereka tertuju kepada lawan di luar halaman. Kalau kalian menyusup di dalam gerumbul-gerumbul di sebelah kandang, dan naik ke atap rumah itu, pasti tidak akan mereka duga sama sekali.”

Anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya

“Masuklah ke halaman rumah itu setelah api mulai menyala,” berkata orang yang sudah agak tua itu. “Ingat. Tepat pada saat api mulai menyala. Mereka belum sempat memikirkan apa-apa, selain memperhatikan api itu. Baru kemudian mereka akan bersikap. Dalam pada itu kau sudah ada di atas atap. Setidak-tidaknya kau sudah ada di halaman itu. Serangan kami kemudian akan menarik perhatian mereka selanjutnya, sehingga kau akan sela-mat memasuki rumah itu.”

“Baiklah. Aku harap ibu tidak akan mengganggu aku, karena aku akan langsung sampai ke biliknya.” Anak itu berhenti sejenak, lalu, “Cepat, lakukanlah rencana kalian itu.”

Kawan-kawannya kemudian segera meninggalkannya. Mereka pergi ke sasaran yang telah mereka pilih. Sebuah rumah di pojok desa.

Dengan tanpa mendapat kesulitan sama sekali masing-masing dapat mendekati sasaran mereka dengan segera. Para pengawal hanya berada di sekitar regol padukuhan, sedang mereka yang mengawal Ki Argajaya sama sekali tidak beranjak dari halaman rumah itu, kecuali penghubungnya yang kadang-kadang pergi mengambil kebutuhan-kebutuhan lain bagi mereka dan seisi halaman itu, termasuk Ki Argajaya dan keluarganya.

Memang kadang-kadang para pengawal di regol padukuhan itu melepaskan sekelompok kecil orang-orangnya untuk meronda dan berkeliling seluruh padukuhan, namun itu terjadi hanya tiga kali dalam semalam suntuk, sehingga tidak akan terlampau sulit untuk menghindari mereka.

Karena itu, maka kawan-kawan putera Ki Argajaya itu pun segera mencapai rumah yang telah mereka tandai. Rumah kecil dan beratap ilalang.

“Sekarang?” bertanya salah seorang dari mereka perlahan-lahan.

Orang yang sudah setengah tua menganggukkan kepalanya sambil berdesis, “Apakah isi rumah itu sudah tidur?”

“Sudah.”

“Berapa orang?”

“Hanya dua orang. Seorang laki-laki setengah umur dengan seorang anaknya, seorang laki-laki muda yang malas.”

“Tidak ada perempuan?”

Kawannya menggeleng, “Tidak ada. Isteri laki-laki itu sudah meninggal hampir tiga bulan yang lalu.”

Laki-laki setengah tua itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Siapa yang akan memancing para pengawal di rumah Ki Argajaya dengan panah?”

“Tentu dua di antara kami,” jawab salah seorang dari mereka.

Orang tua itu pun kemudian menunjuk kedua orang yang dimaksud. Katanya, “Hati-hatilah. Mendekatlah lewat jalan depan. Tetapi kalian harus segera melarikan diri kalau kalian masih belum jemu menjalani tata kehidupan yang kau tempuh selama ini.”

“Aku akan lepas dari segala akibat serangan itu,” berkata salah seorang dari keduanya yang ditunjuk itu.

“Jangan terlampau sombong,” desis kawannya yang lain. Tetapi orang itu hanya tersenyum saja. Sambil menimang busurnya ia pun kemudian berdesis, “Aku pergi sekarang.”

Maka dua orang dari antara mereka itu pun segera memisahkan diri. Dengan hati-hati mereka menyusup di antara rimbunnya dedaunan di kebun-kebun, mendekati halaman rumah Ki Argajaya justru dari jurusan depan.

Sejenak kemudian maka mereka pun telah siap di tempatnya. Dengan dada berdebar-debar mereka menunggu api yang akan segera menyala di sudut desa.

Orang tua yang sudah siap membakar rumah itu pun masih sempat berkata, “Bangunkan pemilik rumah ini.”

“Kenapa?”

“Supaya mereka selamat meninggalkan rumahnya yang terbakar.”

Kawan-kawannya menjadi heran. Namun salah seorang dari mereka tertawa sambil berkata, “He, sejak kapan kau menjadi seorang yang luhur budi? Justru kami ingin membakarnya hidup-hidup. Nyalakan lebih dahulu dinding di sekitar pintu depan dan pintu butulan, supaya orang itu tidak dapat lari.”

“Orang itu tidak tahu apa-apa. Bukankah seorang laki-laki setengah tua dan anaknya yang malas.”

“Justru karena kemalasannya itulah ia pantas dibakar hidup-hidup karena anak itu sama sekali tidak berguna.”

Orang tua itu tidak menyahut lagi. Tiba-tiba saja ia menghentakkan kakinya pada dinding rumah atap yang kecil itu sambil berkata, “He, bangun, cepat!”

Orang yang ada di dalam rumah itu terkejut. Sayup-sayup ia mendengar suara di luar rumahnya.

“Siapa?”

Tetapi sudah tidak ada jawaban lagi. Yang didengarnya adalah gemericik api yang mulai menjilat sudut rumahnya.

Orang tua yang ada di dalam rumah itu pun terkejut bukan kepalang. Dengan serta-merta ia terloncat dari pembaringannya. Dengan tubuh gemetar ia pergi ke amben di sudut. Anaknya laki-laki masih saja tidur dengan nyenyaknya.

““He, bangun, bangun. Rumah ini terbakar.”

Anaknya masih sempat menggeliat, kemudian berkisar setapak sambil melingkarkan tubuhnya kembali.

“Bangun, bangun. Rumah kita terbakar.” Diguncang-guncangnya tubuh anaknya yang masih saja berusaha untuk meneruskan mimpinya.

Akhirnya anak itu terbangun juga. Tetapi ia menjadi agak bingung. Terheran-heran ia melihat ayahnya menariknya dari pembaringannya, “Cepat, rumah kita terbakar.”

Sebuah ledakan bambu telah mengejutkannya. Barulah ia kini sadar, bahwa rumahnya telah mulai dimakan api.

Dengan tergesa-gesa ia pun bangkit. Tetapi api sudah cukup besar, sehingga tidak mungkin lagi untuk dipadamkannya. Yang dapat mereka lakukan kemudian adalah menyambar pakaian mereka yang sudah kumal di sampiran, kemudian segera berlari-lari ke luar rumah. Di emper depan orang tua itu masih melihat kentongan kecilnya bergantungan, terayun-ayun seperti sedang dibuai. Dengan serta-merta ia mencari sepotong kayu, dan dipukulnya kentongannya itu sekuat-kuat tenaganya, tiga kali berturut-turut.

Ternyata, api itu benar-benar dapat menggoncangkan kesenyapan malam. Sejenak kemudian suara kentongan itu pun menjalar sampai ke telinga para peronda di gardu padukuhan.

“Kebakaran,” desis salah seorang dan mereka, lalu, “lihat api sudah mulai naik.”

“Marilah kita lihat.”

“Hati-hati,” tiba-tiba pemimpinnya memperingatkan, “pergilah dengan kelompokmu. Yang lain tetap tinggal di sini. Aku yakin bahwa ada kesengajaan untuk memancing kami sekarang.”

Para pengawal itu tertegun sejenak. Dari sorot mata mereka, terasa bahwa timbul berbagai pertanyaan di dalam dada. Sekilas mereka memandang api yang menjadi semakin besar, kemudian mereka pandangi wajah pemimpin mereka yang tegang.

“Maksudku,” berkata pemimpin itu, “kalian harus pergi ke tempat itu dalam kesiagaan tempur, bukan seperti rombongan orang-orang ingin melihat tayub. Mengerti?”

Para pengawal itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka terkejut ketika justru pemimpinnya yang kemudian mendesak mereka, “Cepat! Jangan terlampau lamban berpikir.”

Maka sekelompok pengawal pun segera bersiaga. Dengan senjata masing-masing mereka berangkat ke tempat api yang semakin lama menjadi semakin besar.

Pemimpin pengawal di regol padukuhan itu sebelah-menyebelah, segera mempersiapkan diri mereka. Agaknya sesuatu memang telah terjadi, tepat pada saat Ki Argajaya siang tadi kembali ke rumahnya.

“Mungkin mereka melakukan gerakan dengan seluruh kekuatan mereka yang tersisa,” berkata pemimpin pengawal di padukuhan itu. “Tetapi kita tidak tahu pasti apakah maksud mereka. Apakah mereka ingin mengambil Ki Argajaya untuk memperkuat kedudukan mereka, atau justru mereka ingin, melepaskan dendam karena Ki Argajaya mereka anggap berkhianat.”

Para pemimpin kelompok yang mendengarkan penjelasan itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Cepat, hubungi para pengawal di pintu regol di ujung jalan yang lain dari padukuhan ini. Tutup semua pintu. Tidak seorang pun boleh masuk atau keluar. Awasi segala sudut sejauh dapat dijangkau.”

Dengan demikian maka para pengawal di padukuhan itu pun menjadi sibuk. Beberapa kelompok-kelompok kecil segera memencar dengan alat-alat yang dapat memberikan tanda setiap saat di samping senjata-senjata mereka yang siap di tangan.

Pada saat yang bersamaan, pengawal yang sedang bertugas berjaga-jaga di depan regol halaman Ki Argajaya pun melihat api itu. Sejenak mereka termangu-mangu, namun sejenak kemudian mereka pun sadar, bahwa mereka harus melaporkannya. Maka salah seorang dari mereka pun kemudian dengan tergesa-gesa menemui pemimpinnya.

Ternyata api itu sudah mengejutkan seisi halaman. Para pengawal, yang segera bersiap di halaman, terpaku melihat nyala api yang semakin lama menjadi semakin besar.

“Semua bersiaga di tempat masing-masing seperti yang sudah ditentukan, apabila keadaan menjadi panas,” perintah pemimpin pengawal itu.

Perintah itu tidak perlu diulangi. Maka para pengawal itu pun segera memencar ke tempat-tempat yang memang sudah ditentukan di dalam halaman. Mereka mengerti, bahwa mereka tidak dapat keluar dari halaman itu, apa pun yang terjadi, kecuali keadaan sudah sangat memaksa. Tugas mereka adalah di dalam halaman rumah Ki Argajaya, karena di luar halaman rumah itu sudah menjadi tanggung jawab para pengawal yang di tempatkan di padukuhan itu.

Namun para pengawal itu tiba-tiba terkejut ketika, mereka mendengar anak panah berdesing tepat di atas kepala mereka. Dengan gerak naluriah, maka para pengawal pun segera mencari perlindungan. Di balik-balik pepohonan atau di balik pagar batu, yang mengitari halaman.

“Gila,” desis pemimpin pengawal, “apakah orang-orang itu ingin membunuh dirinya?”

Agung Sedayu yang berada di dekat pemimpin pengawal itu tidak segera menyahut. Ia mengetahui tepat, dari mana arah anak panah itu.

Beberapa anak panah yang lain pun segera menyusul, meluncur dari arah yang berbeda-beda, seolah-olah beberapa orang telah mengepung halaman rumah Ki Argajaya.

Pemimpin pengawal itu menjadi tegang. Terdengar ia berdesis, “Berapa orang kira-kira yang datang menyerang halaman ini?”

Agung Sedayu tidak segera menjawab. Dicobanya mengamati dengan cermat, dari mana saja anak panah itu meluncur.

Namun akhirnya Agung Sedayu berkata, “Tidak lebih dari dua atau tiga orang.”

“He,” pemimpin pengawal itu mengerutkan keningnya.

“Mereka berpindah-pindah tempat.”

Pemimpin pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kita tidak dapat mengejar mereka. Nanti dapat terjadi salah paham, apabila para pengawal di regol padukuhan itu pun sudah melakukan pengejaran.”

“Ya, kita bertahan di batas halaman ini,” sahut Agung Sedayu.

Karena itu, maka para pengawal itu pun tetap tinggal di tempat masing-masing. Di belakang pepohonan, dedaunan yang rimbun di balik dinding-dinding batu dan di belakang regol.

Namun sejenak kemudian anak panah itu pun menjadi semakin jarang, dan akhirnya berhenti sama sekali.

“Mereka sudah berhenti,” desis pemimpin pengawal.

“Mungkin. Tetapi mungkin pula mereka menunggu sasaran.”

Pemimpin pengawal itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku akan berada di halaman,” desis Agung Sedayu.

“Jangan,” jawab pemimpin itu, “berbahaya.”

“Tidak. Aku akan membawa perisai.”

“Apa perisaimu itu.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi dilepaskannya ikat kepalanya. Ujungnya dibalutkannya pada tangan kirinya. Katanya, “Tunggulah di sini.”

Pemimpin pengawal itu menjadi berdebar-debar. Dipandanginya saja Agung Sedayu berjalan dengan tenangnya ke tengah-tengah halaman rumah Ki Argajaya.

Meskipun disaput oleh keremangan malam, namun bayangannya masih juga tampak dari jarak yang agak jauh.

Dan ternyata bahwa orang-orang yang melontarkan anak panah itu masih belum meninggalkan halaman itu. Mereka mengerutkan kening mereka, ketika tampak seseorang yang dengan tenangnya justru menampakkan dirinya.

Sejenak kedua orang yang melontarkan anak panah itu memandangi bayangan di halaman dengan herannya. Apalagi ketika bayangan itu kemudian berhenti di tengah-tengah halaman sambil menengadahkah dadanya.

“He, apakah di antara mereka ada juga orang yang membunuh diri,” pertanyaan itu melonjak di dalam dada kedua orang yang sedang bersembunyi dengan anak-panah yang siap diluncurkan.

Tetapi ternyata bayangan yang hitam di halaman itu tidak segera beranjak pergi.

Salah seorang dari kedua orang yang sudah siap dengan busur dan anak panah itu pun mendekati kawannya. Perlahan ia berbisik, “He, kau lihat orang aneh itu?”

“Ya,” sahut kawannya.

“Apa katamu tentang orang itu?”

“Mungkin ia sedang memancing anak panah kami, agar mereka mengetahui arah tempat kami bersembunyi.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya, “Lalu bagaimana dengan kita?”

“Kita tinggalkan tempat ini.”

Kawannya mengangguk-angguk pula. Namun katanya, “Tetapi orang itu tampaknya sengaja menghina kami. Apakah kita tidak mencoba yang seorang itu, kemudian kita dengan segera pergi?”

Kawannya terdiam sejenak. Lalu, “Terserah kepadamu.”

Yang tangannya menjadi gatal itu mengerutkan keningnya. Kemudian diangkatnya busurnya. Dengan cermat dibidiknya bayangan orang yang ada di tengah-tengah halaman itu.

“Aku ingin mengenai dadanya. Bidikanku tidak pernah meleset apabila sasaran itu tetap di tempatnya.”

Kawannya tidak menjawab. Dipandanginya kawannya yang telah mulai menarik tali busurnya sambil menahan nafas.

Sejenak kemudian anak panah itu meluncur secepat tatit menyambar bayangan hitam di halaman. Suaranya berdesing di dalam gelapnya malam.

Agung Sedayu yang sudah terlatih baik segala alat inderanya, segera mendengar desing anak panah. Meskipun malam masih tetap kelam, namun oleh ketajaman pendengaran dan tatapan matanya, Agung Sedayu segera dapat mengerti dengan pasti, dari mana dan kemana anak panah itu meluncur. Karena itu, maka segera ia mengibaskan ikat kepalanya berputaran di depan dadanya, sambil memiringkan tubuhnya.

Hampir tidak masuk akal, tetapi para pengawal dan bahkan mereka yang sedang bersembunyi dengan busur dan anak-panah itu, kemudian melihat panahnya tersangkut pada ikat kepala yang sedang berputar itu.

“He,” desis salah seorang dari kedua orang yang sedang bersembunyi itu, “apa yang kau lihat?”

“Ia mengibaskan selembar kain.”

“Dan anak panah itu?”

“Agaknya tersangkut pada kain itu.” Ia berhenti, lalu, “Lihat ia rupa-rupanya ia sedang mencabut anak panah itu.”

“Setan alas!” geram salah seorang dari mereka. “Siapakah orang itu?”

“Kita harus segera pergi. Kalau tidak, kita akan dapat dijebaknya. Orang itu benar-benar luar biasa?”

“Apakah orang itu Ki Argajaya?”

Kawannya menggelengkan kepalanya, “Tidak jelas. Tetapi menilik tinggi tubuhnya, agaknya bukan.”

Keduanya tidak berkata-kata lagi. Tetapi seperti berjanji mereka pun segera bergeser menjauhi tempat itu. Ketika mereka telah berada di halaman yang rimbun di rumah sebelah, salah seorang dari mereka berdesis, “Kita harus menjauh secepatnya.”

Keduanya pun kemudian dengan tergesa-gesa merangkak di antara pepohonan menjauhi rumah Ki Argajaya. Mereka sadar, bahwa di padukuhan itu, para peronda pasti sedang berkeliaran, menilik tanda yang bergema. Bunyi kentongan, tiga-tiga ganda berturut-turut.

“Hati-hati,” desis salah seorang dari keduanya, “jangan sampai terjebak oleh para peronda yang pasti sedang menyusuri semua jalan-jalan di seluruh padukuhan ini.”

Kawannya tidak menjawab. Tetapi ia berdesis sambil meletakkan jari-jarinya di depan bibirnya yang terkatup.

Sejenak mereka membeku. Lamat-lamat mereka mendengar desir langkah semakin lama semakin dekat.

Keduanya segera berlindung semakin rapat, sambil menahan nafas. Di sebuah lorong sempit di depan mereka, beberapa orang peronda berjalan perlahan-lahan. Bahkan kedua orang itu mendengar mereka berbicara, “Kalau kita dapat menangkap salah seorang dan mereka, kita cincang saja di mulut pedukuhan, supaya yang lain menjadi jera.”

“Kita gantung pada kedua kakinya, dan kepalanya dijungkir di bawah. Sepantasnya mereka mendapat hukuman picis.”

Kedua orang yang bersembunyi itu menjadi ngeri pula karenanya, sehingga karena itu, serasa tubuh mereka berkerut semakin kecil.

Mereka menarik nafas dalam-dalam, ketika para peronda itu menjadi semakin jauh, akhirnya desir langkah mereka sudah tidak terdengar lagi.

“Cepat, kita seberangi lorong itu,” Kawannya tidak menjawab, namun mereka berdua pun segera menyusup menyeberangi lorong kecil itu.

Sementara itu, perhatian para pengawal di rumah Ki Argajaya benar-benar sedang dicengkam oleh serangan anak panah di halaman depan, sehingga seperti yang diperhitungkan oleh kawan-kawan putera Ki Argajaya, mereka hampir tidak menaruh perhatian sama sekali kepada segerumbul perdu yang rimbun di samping kandang. Mereka benar-benar tidak melihat, ketika dua orang anak muda meloncati dinding batu dan bersembunyi di dalam gerambul itu.

Meskipun ada beberapa orang penjaga di halaman belakang, namun mereka pun sedang dipengaruhi oleh kemungkinan serangan-serangan anak panah yang tiba-tiba saja dapat menyambar mereka seperti yang terjadi di halaman depan.

Dalam saat-saat yang demikian itulah dua orang anak muda yang berada di balik gerumbul-gerumbul perdu itu berkisar selangkah demi selangkah mendekati sudut rumah. Seperti yang mereka harapkan, maka perhatian para penjaga benar-benar telah terampas oleh api dan serangan anak panah yang tidak mereka ketahui dari mana asalnya.

Agung Sedayu yang berada di halaman depan pun sama sekali tidak menyangka, bahwa di dalam pengawasan yang demikian rapatnya, masih juga ada seseorang yang berani memasuki halaman, sehingga karena itu, maka ia pun tidak menduga sama sekali, bahwa ada dua orang yang kini sedang memanjat sisi rumah di sebelah kandang.

Meskipun para pengawal sama sekali tidak menjadi lengah, tetapi mereka benar-benar tidak melihat dua orang yang dengan susah payah telah berhasil naik ke atas atap. Perhatian para pengawal masih tetap tertuju kepada setiap kemungkinan yang datang dari luar dinding halaman. Yang mereka bayangkan adalah kemungkinan serangan kekuatan-kekuatan terakhir dari sisa-sisa pasukan Sidanti.

Sejenak kemudian, pemimpin pengawal yang ada di halaman depan rumah Ki Argajaya melihat beberapa peronda mendatanginya. Kemudian salah seorang peronda itu bertanya, “Bukankah halaman ini tidak mendapat gangguan?”

“Pada dasarnya tidak,” jawab pemimpin pengawal.

“Kenapa pada dasarnya?”

“Ada beberapa anak panah yang meluncur ke halaman. Tetapi kemudian terhenti.”

“Jadi ada orang-orang yang telah menyerang kalian dengan anak panah?”

“Hanya dua atau tiga orang,” sahut Agung Sedayu.

“Di mana mereka sekarang?”

“Kami tidak tahu. Aku kira mereka sudah melarikan diri.

“Kalian membiarkan saja mereka lari?”

“Kami tidak dapat keluar dari halaman ini. Kami tidak ingin terjadi salah paham dengan kalian. Di dalam gelap kadang-kadang kita sukar membedakan, siapakah yang kita hadapi.”

Para peronda itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kita akan mencarinya di seluruh padukuhan,” berkata peronda itu, “tetapi jangan kalian harapkan, kami dapat menemukan mereka. Masih ada satu dua orang yang bersedia menyembunyikan orang-orang itu, atau barangkah mereka sudah meloncati dinding pedukuhan yang sekian panjangnya, yang sudah tentu tidak dapat kami awasi seluruhnya dalam waktu yang bersamaan.”

Pemimpin pengawal di halaman itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti betapa sulitnya tugas para pengawal padukuhan itu, karena pada suatu waktu ia pun pernah bertugas di padakuhan itu pula.

Ketika para peronda itu pergi, maka pemimpin pengawal itu dan Agung Sedayu duduk di tangga pendapa rumah yang sepi itu tanpa berprasangka apa pun. Apalagi menyangka, bahwa kini dua orang anak-anak muda di atas atap itu sudah merambat mendekati sebuah lubang yang memang sudah mereka buat, tepat di atas bilik yang malam itu dipergunakan oleh Sekar Mirah.

Dengan hati-hati keduanya berusaha membuka lubang itu. Sekali-sekali mereka mengamati suara-suara yang masih mungkin terdengar di dalam rumah. Namun agaknya rumah itu sudah sepi.

“Apakah mereka tidak terbangun oleh suara kentongan?” bisik kawannya.

“Mungkin, kita masih harus menunggu sejenak.”

Kawannya pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka tidak dapat tergesa-gesa masuk ke dalam bilik itu. Memang kemungkinan bahwa isi rumah itu terbangun adalah besar sekali.

Tetapi rumah itu agaknya benar-benar sudah dicengkam oleh kesenyapan. Lelah dan kantuk agaknya telah menguasai seluruh isinya. Apalagi mereka mempercayai para pengawal yang ada di luar rumah itu sepenuhnya, sehingga tidak seorang pun dari isi rumah itu yang keluar meskipun mereka mendengar juga suara kentongan di kejauhan.

“Tak ada apa-apa di halaman,” perasaan itulah yang telah tumbuh di setiap dada orang-orang yang ada di dalam rumah itu.

Setelah menunggu sejenak, dan kedua anak-anak muda yang ada di atas atap itu tidak mendengar suara apa-apa sama sekali, maka mulailah mereka mencoba memasuki bilik dalam. Dalam keremangan cahaya lampu yang kemerahan, dari lubang atap, kedua anak-anak muda itu melihat seorang perempuan yang sedang tidur dengan nyenyaknya.

“Ibu masih tidur nyenyak,” desis putera Ki Argajaya.

“Hati-hati, jangan mengejutkannya. Kalau ibumu terkejut, mungkin sekali ia akan berteriak.”

Putera Ki Argajaya itu menganggukkan kepalanya. Perlahan ia mengikatkan ujung sebuah tali yang memang sudah dibawanya. Kemudian dengau hati-hati sekali ia meluncur ke bawah, tepat di sudut bilik. Dengan tangannya ia memberikan isyarat kepada kawannya, dan kawannya itu pun meluncur pula ke bawah.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Dipandanginya saja tubuh yang sebagian terbesar ditutup oleh selimut, sebuah kain panjang. Apalagi perempuan yang sedang tidur itu membelakangi kedua anak-anak muda itu, sehingga mereka tidak segera mengenalinya.

“Apakah kita biarkan saja ibu tidur, dan kita langsung mencari ayah,” desis putera Ki Argajaya.

“Tidak. Sebaiknya ibumu kau bangunkan supaya ia tidak terkejut dan justru berteriak-teriak.”

Sejenak anak muda itu berpikir. Namun kemudian ia menganggukkan kepalanya, “Baiklah.”

Perlahan-lahan ia maju selangkah. Tetapi langkahnya tertegun ketika ia melihat perempuan itu bergerak. Dan bahkan darahnya tersirap ketika ia mendengar suara, “Kalian tidak usah membangunkan aku.”

Putera Ki Argajaya itu surut selangkah. Matanya terbelalak ketika ia kemudian melihat siapakah yang tidur di dalam bilik itu.

Sekar Mirah yang ternyata mendengar seluruhnya apa yang telah terjadi di atas biliknya, kemudian dua orang meluncur turun itu, perlahan-lahan bangkit dan duduk di bibir pembaringan.

Kedua anak muda yang memasuki bilik itu pun seakan-akan membeku di tempatnya. Sejenak mereka terpesona melihat seorang gadis cantik berada di bilik itu, bilik yang biasanya dipakai oleh ibunya.

Sekar Mirah yang duduk di pembaringan itu masih saja duduk di tempatnya. Dipandanginya kedua anak muda yang terheran-heran itu sambil tersenyum.

“Siapakah kau?” desis putera Ki Argajaya.

“Aku kira kaulah putera Ki Argajaya yang selama ini seakan-akan telah menghilang.”

“Siapa kau?” ulang putera Ki Argajaya itu, “dan kenapa kau ada di sini.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Dipandanginya saja anak muda yang berdiri termangu-mangu itu. Anak muda yang berperawakan sedang, namun dengan sorot mata yang berapi-api.

“Kalau saja anak ini sempat memelihara dirinya, ia adalah anak muda yang tampan,” desis Sekar Mirah di dalam hati.

“He, kau belum menjawab.”

“Aku,” Sekar Mirah memiringkan kepalanya, “aku adalah tamu Ki Argajaya. Apakah kau belum tahu bahwa ayahmu sudah pulang hari ini.”

Anak muda itu tidak menjawab. Hatinya menjadi semakin berdebar-debar setiap kali ia melihat gadis itu tersenyum.

Tiba-tiba saja, kawannya menggamitnya sambil bertanya, “Apakah gadis itu bukan saudaramu. Saudara yang datang dari jauh atau dari mana pun juga?”

Putera Ki Argajaya itu menggelengkan kepalanya.

“Jadi kau belum mengenalnya dan sama sekali tidak ada hubungan apa pun?”

Sekali lagi anak muda itu menggeleng.

Sekar Mirah yang masih duduk di pinggir pembaringan itu memandangnya dengan seksama. Di dalam hatinya ia berkata, “Anak ini memang agak mirip dengan Sidanti. Sorot matanya yang berapi-api, bibirnya yang terkatup dan apanya lagi?” Sekar Mirah menarik nafas, “Keduanya adalah saudara sepupu.”

Tetapi Sekar Mirah sama sekali tidak mengerti bahwa sebenarnya anak itu tidak mempunyai hubungan darah dengan Sidanti.

“Jadi siapa gadis ini,” kawan putera Ki Argajaya itu bertanya.

Putera Ki Argajaya itu menggeleng, “Aku tidak tahu. Aku baru melihatnya.”

“Aku sudah mengenalmu. Bukankah kau bernama Prastawa,” tiba-tiba Sekar Mirah menyela.

“Kau tentu mendengar dari ayah atau ibu.”

Sekar Mirah tertawa Dan tiba-tiba saja ia berkata, “Silahkan. Jangan berdiri saja di situ. Apakah kau ingin bertamu dengan ayahmu? Ia ada di ruang dalam. Tidur di amben besar itu bersama seorang tamu yang lain.”

“Siapakah tamu yang lain itu?”

“Ayahku.”’

“Kau datang bersama ayahmu?”

“Ya.”

“Siapakah kau sebenarnya?”

Sekar Mirah tertawa, “Apakah begitu penting bagimu untuk mengetahui namaku.”

Prastawa, putera Ki Argajaya itu mengerutkan keningnya. Sikap Sekar Mirah dirasakannya sangat aneh. Gadis itu sama sekali tidak terkejut, apalagi menjadi ketakutan.

Namun di luar dugaan kawan Prastawa itu pun kemudian berkata, “Prastawa. Kalau gadis ini memang bukan sanak-kadangmu, kenapa ia berada di sini?”

“Aku tidak tahu,” jawab Prastawa.

“Kalau begitu, biarlah aku mengurusnya.”

Prastawa mengerutkan keningnya. “Maksudmu?” ia bertanya.

Kawannya tiba-tiba saja tertawa, meskipun tidak bersuara. Katanya, “Ia terlampau cantik.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan?” bertanya Prastawa.

Kawannya masih tertawa. Lalu, “Apakah kita akan menemui Ki Argajaya lebih dahulu? Aku kira lebih baik kau menemuinya sendiri. Kau dapat berbicara dengan leluasa.”

“Lalu kau?”

“Aku tinggal di sini, mengawani gadis ini. Aku dapat mencegahnya kalau ia berteriak dan mengejutkan para penjaga.”

Putera Ki Argajaya itu mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Tetapi aku belum melihat Ibu.”

“Nah, carilah ibumu. Katakan maksudmu. Tetapi sebaiknya kau berbuat seperti seorang anak terhadap orang tuamu. Berbicara dengan baik dan sopan. Aku yakin, bahwa ayahmu akan mengerti, bahwa perjuangan kita masih panjang.”

“Kau terpancang pada kepentinganmu sendiri.”

“Bukankah kau sejak semula akan pergi sendiri? Tetapi pertimbangan keamanan dirimulah yang membawa aku kemari. Tetapi agaknya tidak ada seorang pengawal pun yang ada di dalam rumah ini.”

Prastawa mengerutkan keningnya. Dan ia melihat kawannya itu melangkah mendekati Sekar Mirah, “Kau sudah terdampar ke suatu tempat yang barangkali tidak pernah kau impikan.”

“Kenapa,” bertanya Sekar Mirah tanpa beranjak dari tempatnya.

“Kau sangat diperlukan di sini. Kalau kau tetap tinggal di rumah ini, sedang di halaman rumah ini berkerumun serigala-serigala lapar, maka nasibmu tidak akan berketentuan.”

“Aku datang bersama ayah.”

“Siapa ayahmu.”

“Ya ayahku.”

“Kalau ia mencoba menghalangi mereka, ayahmulah yang akan disingkirkannya dahulu.” Anak muda itu berhenti sebentar. Sambil berpaling kepada putera Ki Argajaya ia berkata, “Pergilah ke ayahmu. Aku akan menyelamatkan gadis ini. Kau masih terlampau muda untuk memikirkan seorang gadis cantik ini.”

Putera Ki Argajaya termenung sejenak. Dipandanginya wajah kawannya yang aneh, kemudian ditatapnya Sekar Mirah yang masih tersenyum-senyum saja.

“Apa yang kau tunggu?” bertanya kawan Prastawa itu.

“Aku tidak mengerti, kenapa gadis itu di sini.”

“Jangan hiraukan. Biarlah aku yang mengurusnya. Sekarang kau temui ibu dan kemudian ayahmu.”

Sekali lagi Prastawa memandang wajah Sekar Mirah. Ia tidak dapat mengerti, kenapa sikapnya begitu ramah menerima kedatangan orang yang belum dikenalnya, di tempat yang asing baginya.

“Jangan tunggu sampai pagi,” desis kawannya.

Prastawa menganggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah. Aku akan menemui Ibu dan Ayah. Tetapi kalau aku tidak dapat berbicara dengan mulutku, maka aku akan berbicara dengan senjataku.”

“Pertimbangkan baik-baik.”

“Aku sudah mengerti.”

“Terserahlah,” ternyata kawannya itu sama sekali sudah tidak menghiraukan lagi apa yang akan dilakukan oleh putera Ki Argajaya itu. Perhatiannya seluruhnya telah ditumpahkannya kepada Sekar Mirah yang masih duduk di tempatnya.

“Hati-hatilah dengan gadis itu,” putera Ki Argajaya masih berpesan, “jangan sampai ia dapat mengganggu acara kita.”

“Serahkan kepadaku. Tetapi kau pun harus berhati-hati pula.”

Putera Ki Argajaya itu pun kemudian dengan sangat hati-hati menyibakkan pintu lereg di bilik itu. Ternyata ruang dalam rumah itu pun sudah sepi. Cahaya lampu minyak yang remang-remang sama sekali tidak menyentuh seorang pun yang masih terbangun.

“He, kenapa kau belum juga keluar?” kawannya berdesis.

Putera Ki Argajaya itu berpaling. Tetapi ia tidak berkata apa pun. Namun kawannya menjadi tidak sabar lagi. Kalau saja ia tidak sadar akan tugasnya, maka anak muda itu sudah dilemparkannya ke luar bilik.

“Bukankah kita sudah yakin bahwa rumah ini sepi. Aku tidak mendengar apa-apa.”

“Bukankah aku harus berhati-hati?” sahut Prastawa.

Kawannya mengangguk kecil, meskipun ia mengumpat-umpat di dalam hati. Namun ketika sekilas dipandanginya Sekar Mirah masih saja duduk tenang di tempatnya, ia menarik nafas dalam-dalam.

Perlahan-lahan putera Ki Argajaya itu pun kemudian melangkah ke luar. Dengan ragu-ragu ia memandang berkeliling. Sebuah pertanyaan terbersit di hatinya, “Di manakah ibu tidur?”

Tetapi ketika ia melihat lampu yang kecil menyala di bilik sebelah, ia pun segera mengetahuinya, bahwa ibunya ada di dalam bilik itu.

“Aku harus menemuinya dahulu, supaya ibu tidak berteriak-teriak.”

Prastawa pun kemudian dengan sangat hati-hati melangkah melintasi ruangan dalam menuju ke pembaringan ibunya. Perlahan-lahan pula ia menarik daun pintunya, kemudian melangkah masuk.

Sementara itu, kawannya masih berdiri tegak di hadapan Sekar Mirah yang belum berkisar dari tempatnya.

“He, siapakah sebenarnya kau?” bertanya anak muda itu.

“Siapa aku itu tidak penting buatmu. Apakah yang kau kehendaki dari aku? Aku bukan orang padukuhan ini, bukan penghuni rumah ini sehingga aku tidak akan dapat memberikan banyak keterangan yang kau ingini.”

“Aku tidak memerlukan keterangan apa pun.”

“Lalu apa yang kau inginkan?”

“Kau.”

“Aku?”

“Ya. Aku ingin membawamu ke luar dari rumah ini.”

Sekar Mirah menggelengkan kepalanya, “Tidak mungkin. Ayahku ada di rumah ini dan di halaman rumah ini bertebaran para pengawal.”

“Bodoh kau. Aku dapat masuk tanpa mereka ketahui.”

“Kau memanjat?”

“Ya. Aku memanjat atap rumah ini, kemudian turun dengan tali itu.”

“Aku tidak dapat memanjat.”

“Aku dapat mendukungmu. Lihat, tubuhku hampir sebesar tubuh gajah.”

“Akan kau bawa ke mana aku nanti?”

Anak muda itu terdiam sejenak. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan Sekar Mirah.

“Ke mana?” Sekar Mirah mengulang.

Anak muda itu termenung sejenak. Sudah lama ia meninggalkan rumahnya. Sudah tentu ia tidak dapat pulang sambil membawa seorang gadis. Seandainya demikian, maka ia pasti akan segera ditangkap oleh para pengawal yang sekarang sudah menguasai hampir semua sudut-sudut Tanah Perdikan ini.

“Apakah kau mempunyai rumah?”

Tanpa sesadarnya anak muda itu mengangguk, “Ya. Aku punya rumah.”

“Rumahmu sebesar ini?”

“Ya, rumahku sebesar ini.”

“Dan aku akan kau bawa ke rumahmu?

Anak muda itu menjadi kian bingung. Ia tidak mengerti, bagaimana ia harus menjawab.

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Kemudian terdengar ia berdesah, “Kau tidak mau mengatakan, ke mana aku akan kau bawa.”

Tiba-tiba wajah anak muda itu menjadi tegang. Katanya, “Kau aku bawa ke tempatku sekarang.”

“Kau tentu tinggal bersama kawan-kawanmu. Dan aku akan kau ambil dari daerah serigala lapar dan kau masukkan ke dalam kandang harimau yang juga kelaparan?”

Anak muda itu menjadi semakin bingung. Memang tidak mungkin baginya untuk membawa gadis itu ke sarang persembunyiannya. Di sana terdapat banyak sekali laki-laki yang liar seperti dirinya sendiri. Kehadiran Sekar Mirah di antara mereka pasti hanya akan menimbulkan keonaran saja.

Karena itu, maka untuk sejenak laki-laki yang bertubuh seperti seekor badak itu berpikir sejenak. Sekali-sekali ditatapnya wajah Sekar Mirah di bawah remang-remang sorot lampu minyak yang redup.

Dan tiba-tiba tanpa sesadarnya laki-laki muda itu bertanya, “Lalu bagaimana sebaiknya?”

Sekar Mirah tersenyum. Katanya, “Kaulah yang menentukan, bagaimana sebaiknya.”

Laki-laki itu menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudiaan katanya, “Kau ikut aku. Aku tidak tahu ke mana kau akan aku bawa.”

“He, kau aneh sekali.”

“Tidak. Ini bukan hal yang aneh. Aku memerlukan kau dan aku tidak mau dibingungkan oleh tempat dan segala macam.”

“Jadi bagaimana?”

Wajah anak muda itu tiba-tiba menjadi merah. “Ayo, ikut aku.”

“Kau belum mengatakan, ke mana.”

“Jangan bertanya lagi. Kita harus segera keluar dari tempat ini.”

“Jangan tergesa-gesa. Duduklah. Bukankah kau masih menunggu putera Ki Argajaya.”

“Tidak, aku tidak menunggu lagi.”

Sekar Mirah tertawa. Katanya, “Kau seperti anak-anak yang lapar melihat ibunya membawa makanan.”

“Jangan membuat darahku semakin menggelegak.”

“Duduklah.”

“Tidak, Kita harus segera pergi.

“Anak muda,” berkata Sekar Mirah kemudian, “kalau kau memang tidak mempunyai tempat tinggal, kenapa kau tidak menetap di sini saja? Rumah ini terlampau besar untuk dihuni keluarga Ki Argajaya yang sudah terpecah-pecah itu. Mungkin rumah ini dahulu sangat baik dan bersih. Dihuni oleh beberapa orang sanak saudara dan pelayan-pelayan yang sanggup memelihara rumah ini.

“Jangan mengigau,” potong anak muda itu, “ayo, ikut aku. Berdirilah.”

Tetapi Sekar Mirah masih saja tersenyum di tempatnya.

“Kau aneh,” berkata Sekar Mirah, “kau ingin membawa aku tanpa mengerti ke mana kau akan pergi. Sudah aku katakan tinggallah di sini. Atau, aku yang akan membawamu?”

“He?”

“Aku hanya mempunyai seorang saudara laki-laki. Kau dapat aku jadikan saudaraku yang kedua. Aku mempunyai kakak, dan kau akan menjadi adikku.”

“Gila. Gila kau,” tiba-tiba anak muda itu mengumpat-umpat.

“Kau sendirilah yang berteriak. Kalau seisi rumah ini bangun, itu bukan salahku.”

“Aku memerlukan kau tidak sebagai saudara. Aku memerlukan kau sebagai seorang perempuan,” laki-laki itu menjadi tegang. Lalu, “Ikut aku. Cepat!”

Agaknya ia sudah tidak sabar lagi. Selangkah ia maju menyambar lengan Sekar Mirah dan menariknya. Sekar Mirah tidak melawan. Ia pun terseret beberapa langkah. Namun kemudian tangan anak muda itu dikibaskannya, sehingga pegangannya pun terlepas.

“Kau menyakiti aku,” desis Sekar Mirah.

Namun anak muda itu menjadi heran karenanya. Ia tidak menyangka bahwa Sekar Mirah cukup kuat untuk mengibaskan tangannya, dan apalagi setelah gadis itu berdiri, matanya seakan-akan tidak berkedip lagi memandangi pakaian Sekar Mirah.

“Kenapa kau termenung?” bertanya Sekar Mirah.

“Pakaianmu.”

“Kenapa pakaianku?”

Anak muda itu tidak segera menjawab. Dipandanginya Sekar Mirah dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya. Dan tiba-tiba saja ia berdesis, “Kenapa kau berpakaian seperti itu.”

“Kenapa? Ya, kenapa? Bukankah aku berpakaian biasa?”

Hati anak muda itu kini menjadi semakin berdebaran. Pakaian Sekar Mirah bukanlah pakaian gadis-gadis sewajarnya. Di atas Tanah Perdikan ini, hanya Pandan Wangi sajalah gadis yang mengenakan pakaian seperti yang dipakai oleh Sekar Mirah itu. Karena pakaian itu semula ditutupinya dengan kain panjang yang dipergunakannya sebagai selimut, maka anak muda itu tidak begitu memperhatikannya. Namun agaknya cara berpakaian gadis ini telah menunjukkan suatu ciri yang lain dari gadis-gadis kebanyakan.

“Kenapa kau termenung? Apakah kau tidak mau aku bawa pulang, dan aku jadikan adik laki-laki.”

Jantung anak muda itu kini menjadi semakin cepat berdentang. Tetapi tiba-tiba ia menggeram, “Persetan dengan kau. Aku tidak peduli siapa kau dan kenapa kau berpakaian seperti seorang laki-laki. Tetapi aku tahu pasti, kau seorang gadis. Dengan demikian aku memerlukan kau. Mau tidak mau, kau harus aku bawa ke luar dari tempat ini. Aku dapat membuat kau pingsan, kemudian aku dukung kau ke luar dari dalam bilik ini lewat atap.”

“Aku tidak dapat membayangkan, apakah kau benar-benar dapat melakukannya. Kalau tanganmu memegangi tubuhku, bagaimana kau dapat memanjat.”

“Gila,” anak muda itu menggeram. Matanya menjadi nanar memperhatikan barang-barang yang ada di dalam bilik itu. Ia ingin mendapat alat yang dapat dipakainya untuk memanjat atap. Tetapi ia tidak melihat sesuatu kecuali sebuah geledeg bambu yang tua.

“Nah, apakah kau menemukan jalan keluar.”

“Gila,” ia menggeram, dan tiba-tiba ia menjadi liar, “aku tidak akan membawamu ke luar.”

“Lalu?”

“Aku memerlukan kau sekarang.”

“Gila,” tiba-tiba wajah Sekar Mirah menjadi merah, “sebaiknya kau pikirkan setiap kalimat yang kau ucapkan.”

“Persetan. Jangan banyak tingkah, supaya aku tidak menjadi kasar.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya, ketika ia melihat anak muda itu melangkah maju. Matanya seakan-akan telah menyala dan nafasnya menjadi terengah-engah.

Sekar Mirah surut selangkah. Tetapi ia tidak dapat mundur lagi karena ia sudah berdiri melekat pinggir pembaringannya. Karena itu, ia hanya dapat berdiri dengan tegang memandangi anak muda yang seakan-akan ingin menelannya bulat-bulat itu.

Sekar Mirah menjadi ngeri juga melihat sorot mata anak muda itu, sehingga kulitnya serasa meremang. Terkenang sesaat tingkah laku Alap-alap Jalatunda di Padepokan Tambak Wedi, ketika ia diambil oleh Sidanti dari Sangkal Putung.

Tetapi Sekar Mirah sekarang bukanlah Sekar Mirah yang dahulu.

Anak muda itu menjadi semakin dekat kepadanya. Terdengar kemudian ia berdesis, “Kau lebih baik tidak menolak. Aku memang tidak akan dapat membawamu ke mana saja. Tetapi sekarang kita cukup waktu. Prastawa masih harus menyelesaikan persoalannya dengan ayah dan ibunya.”

Tetapi Sekar Mirah menggelengkan kepalanya. Katanya, “Kau jangan menjadi gila dan liar. Ingat, di sekitar rumah ini para pengawal bertebaran di segala sudut dan hampir di setiap jengkal tanah.”

“Aku tidak peduli.”

“Jangan,” desis Sekar Mirah.

Namun orang itu justru menjadi semakin liar. Matanya menjadi merah dan dadanya berdentangan tidak menentu.

“Jangan menolak.”

“Jangan.”

“Aku tidak dapat dicegah lagi.”

“Aku dapat berteriak.”

“Aku akan membungkam mulutmu.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Menilik sorot matanya, anak muda itu memang tidak akan dapat dicegah lagi.

Belum lagi Sekar Mirah berbuat apa-apa, maka tiba-tiba saja anak muda itu meloncat menerkamnya. Menurut perhitungannya. Sekar Mirah tidak akan dapat lolos lagi, karena ia sudah berdiri melekat pembaringan.

Tetapi anak muda itu terkejut, ketika tanpa disangka-sangka ia merasa tangannya yang terulur itu terdorong ke samping. Demikian keras dan apalagi didorong oleh kekuatannya sendiri, sehingga anak muda itu terhuyung-huyung membentur dinding kayu.

“He,” bertanya Sekar Mirah, “kenapa kau?”

Anak muda itu menggeram. Tetapi otaknya telah menjadi gelap sehingga ia tidak segera dapat menilai apa yang telah terjadi. Karena itu, maka sekali lagi ia bersiap. Dengan tangan gemetar ia menunjuk wajah Sekar Mirah, “Kau mau mengelak, he? Kaulah yang memulainya, sehingga kau tidak akan dapat menghentikannya sekarang sebelum aku menjadi puas.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Dengan sudut matanya ia memandang gulungan tikar di pinggir pembaringannya. Di situlah senjatanya disimpan.

“Aku belum tahu, apakah yang dapat dilakukan oleh anak ini,” katanya di dalam hati. “Tetapi agaknya ia sudah kehilangan akal, sehingga tidak akan terlampau sulit mengurusnya.”

Sebenarnyalah bahwa anak muda itu sudah kehilangan akal. Ia sudah tidak tahu lagi apa saja yang mungkin dapat terjadi.

Sementara itu, Prastawa dengan ragu-ragu berdiri di sisi pembaringan ibunya. Tampaknya ibunya tidur terlampau nyenyak. Selama ini Nyai Argajaya memang tidak pernah dapat tidur senyenyak itu. Namun agaknya kedatangan suaminya telah membuat hatinya menjadi lebih tenteram, meskipun masih juga dibayangi oleh ketidak-tentuan. Karena itulah maka malam itu ia dapat tidur dengan nyenyaknya.

Sekali-sekali Prastawa menjulurkan tangannya untuk membangunkannya, namun setiap kali tangannya itu ditariknya kembali. Betapa pun juga perempuan yang tidur itu adalah ibunya.

Tetapi ketika teringat akan maksudnya memasuki rumah itu, maka anak muda itu pun menggeretakkan giginya, seolah-olah ia sedang mengumpulkan kekuatan yang ada di dalam dirinya untuk mengatasi getar perasaannya sebagai seorang anak.

Sejenak ia masih diam mematung. Namun sejenak kemudian ia melangkah maju. Dengan tangan gemetar akhirnya ia menyentuh kaki ibunya yang sedang tidur dengan nyenyaknya itu.

Sentuhan itu agaknya telah membagunkan ibunya. Dikedip-kedipkannya matanya yang buram. Seperti bermimpi ia melihat anaknya berdiri tegak di hadapannya.

“Kau, kaukah itu?”

“Ya, Ibu.”

“O,” dengan serta-merta ibunya bangkit, lalu katanya, “kali ini kau tidak boleh pergi lagi, Prastawa. Ayahmu telah kembali. Apakah kau sudah mengetahuinya.”

“Sudah, Ibu.”

“Kau sudah menemuinya?”

Anak muda itu menggelengkan kepalanya.

“Ayahmu ada di ruang dalam,” tiba-tiba ia mengerutkan keningnya. Sejenak kemudian ia bertanya, “Dari mana kau masuk?”

“Dari lubang itu.”

“Dan kau turun di bilik ibu?”

“Ya, Ibu.”

“Di bilik itu ada seorang gadis yang sedang tidur. Aku lupa mengatakannya, bahwa di atas atap ada sebuah lubang yang dapat ditutup dan dibuka. O, kalau ia tahu, ia pasti akan sangat terkejut.”

“Gadis itu sudah tahu, Ibu.”

“He, dan gadis itu tidak berteriak.”

Anak muda itu mengerutkan keningnya, Tiba-tiba saja timbul pertanyaan di dalam hatinya, “Ya, gadis itu tidak berteriak. Tampaknya gadis itu seolah-olah justru menunggu kedatangan kami. Aneh.”

“Bagaimana dengan gadis itu? Apakah kau …….” suara ibunya terputus.

“Maksud ibu, aku telah membunuhnya?”

Ibunya mengangguk lemah.

“Tidak, Ibu. Gadis itu masih ada di dalam biliknya. Ia tidak terkejut sama sekali melihat kehadiranku.”

Nyai Argajaya mengerutkan keningnya. Sejenak ia terdiam sambil menatap wajah anaknya, seakan-akan ia tidak percaya pada keterangannya.

“Aku berkata sebenarnya, Ibu,” seolah-olah anaknya itu pun mengerti apa yang tersirat di dalam hatinya.

“Lalu apakah yang dilakukannya sekarang?”

“Ia masih ada di dalam bilik itu bersama seorang kawanku.”

“He? Jadi kau datang tidak seorang diri?”

“Tidak. Aku datang bersama kawanku. Ia ada di dalam bilik bersama gadis itu.”

“Lalu, lalu apakah yang mereka lakukan? Maksudku, apakah anak muda itu telah membunuh atau mengancam gadis itu?”

“Tetapi gadis itu bersikap baik kepada kami. Ia mengetahui kami memasuki ruangan itu. Sambil tersenyum-senyum ia mempersilahkan kami.”

“Ah,” Nyai Argajaya menjadi bingung, “aku tidak mengerti apa yang kau katakan.”

“Sudahlah, jangan hiraukan gadis itu. Ia sudah ada yang mengawaninya. Agaknya gadis itu pun senang mendapatkan seorang kawan.”

“Tentu tidak. Aku tidak percaya bahwa ia senang mendapatkan kawan. Kawan itu adalah kawan-kawanmu. Aku mengenal mereka.” Ibunya berhenti sejenak, “Sedang aku, orang tua ini pun ngeri melihat kawan-kawanmu dan sikapnya yang liar.”

“Ibu.”

“Tetapi, bukankah kau tidak akan pergi lagi dari rumah ini? Kalau kawanmu itu bersedia, biarlah ia tinggal di sini pula, asal ia tidak membuat keributan. Biarlah ayahmu yang menanggungnya.”

“Tidak!” tiba-tiba anak itu membentak, sehingga ibunya terkejut karenanya.

“O,” Prastawa tergagap, “bukan maksudku mengejutkan Ibu. Tetapi kami tidak akan menetap. Kami datang untuk menjemput ayah agar ayah bersedia membantu kami.”

“Prastawa,” ibunya terkejut bukan buatan sehingga kemudian ia berdiri saja dengan mulut ternganga.

“Ibu tidak usah menyingkirkannya. Ini adalah persoalan laki-laki. Kami sudah terlanjur mengangkat senjata. Ayahlah yang pertama-tama telah memulainya. Tetapi kini kamilah yang mendapat kesulitan karenanya Kakang Sidanti sudah terbunuh, orang-orang lain yang memimpin perjuangan ini pun telah terbunuh pula. Apakah ayah akan sampai hati mendapat pengampunan dari Ki Argapati, lalu duduk memeluk lutut di rumah ini sementara sisa-sisa pasukannya berkeliaran dan selalu dikejar-kejar saja oleh para pengawal Menoreh?”

“Jangan. Jangan, Anakku. Baik kau mau pun ayahmu, sebaiknya tidak memulainya lagi. Aku sudah cukup lama menderita karena pertengkaran antara Kakang Argapati dengan ayahmu itu.”

“Ibu adalah seorang perempuan. Ibu tidak banyak mengerti, kenapa kami berperang.”

“Apakah kau sendiri mengerti kenapa kalian berperang?”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Kemudian menarik nafas dalam.

“Tidak, Anakku. Kau tidak boleh terseret oleh arus yang tidak kau mengerti,” berkata ibunya. “Aku yakin kalau ayahmu dahulu mempunyai sesuatu pamrih kenapa ia memulainya. Tetapi kini ayahmu sudah berhasil menempatkan dirinya di dalam suatu keadaan yang mau tidak mau harus diakuinya sebagai suatu kenyataan.”

Prastawa berdiri mematung. Ditatapnya nyala api yang bergetar disentuh angin malam yang bertiup menyusup dinding.

Tiba-tiba ia menggeram, “Hatiku sudah terbakar. Hati ini sudah terlanjur menyala, dan tidak akan dapat dipadamkan lagi.”

“Jangan begitu, Anakku. Jangan mengeraskan hati di jalan yang sesat.”

“Aku tidak pernah merasa sesat jalan. Ayahlah yang membawa aku memasuki ujung jalan ini. Dan sekarang, aku harus berjalan sampai ke ujung yang lain.”

“Kau keliru. Ayahmu telah melihat jalan simpang yang dapat menyelamatkan dirinya.”

“Ayah hanya sekedar mementingkan diri sendiri.”

“Tidak, justru keselamatan rakyat Menoreh yang tersisa. Yang tidak ikut menjadi abu karena api yang telah membakar Tanah Perdikan ini.”

“Itu sikap pengecut.”

Dan tiba-tiba keduanya terkejut ketika mereka mendengar suara yang serak di muka pintu, “Jadi kau datang untuk menjemput ayahmu sebagai seorang pengecut.”

Prastawa dan ibunya serentak berpaling. Dada mereka berdesir ketika mereka melihat Ki Argajaya berdiri di muka pintu dengan wajah yang suram.

Sejenak Prastawa terdiam. Namun sejenak kemudian ia berkata, “Ya. Ayah seorang pengecut.”

Di luar dugaannya, Ki Argajaya menganggukkan kepalanya, “Ya, aku memang seorang pengecut. Ternyata aku tidak berani melihat Tanah ini menjadi semakin lumat setelah kini menjadi abu.”

“Bohong! Ayah hanya sekedar mementingkan diri sendiri. Keselamatan Ayah sendiri.”

“Prastawa,” suara ayahnya merendah, “marilah, duduklah di ruang dalam. Kita akan berbicara dengan baik. Aku dapat berbicara sebagai seorang ayah, dan kau sebagai seorang anak laki-laki.”

“Tidak. Itu tidak perlu. Aku hanya menuntut agar Ayah tetap ikut di dalam perjuangan ini. Kenapa Ayah tidak meneruskan perjuangannya sampai saat terakhir seperti Kakang Sidanti dan Ki Tambak Wedi? Nama mereka akan tetap dikenang. Kalau kami mendapat kemenangan, maka akan dibuat masing-masing sebuah patung dan akan dipasang di gapura induk padukuhan Menoreh.”

Ki Argajaya menarik nafas dalam-dalam. Sejak sekian lama anaknya berada di dalam lingkungan itu, sehingga hatinya telah menjadi beku, terselubung oleh keputus-asaan yang menyeretnya ke dalam keadaannya itu. Tanpa harapan dan cita-cita.

Penyesalan yang dalam telah menikam jantung Ki Argajaya. Anak itu tinggallah satu-satunya anaknya sejak anak perempuannya meninggal dunia. Tetapi ia sendiri telah menjerumuskannya ke dalam suatu keadaan yang hitam kelam, sehingga anak itu sendiri tidak dapat melihat hari depannya sama sekali.

“Aku memang salah langkah,” katanya di dalam hati. “Maksudku memang merintis jalan bagi anak itu. Tetapi, karena aku tidak berjalan di jalan yang benar, akhirnya aku justru terpelanting ke dalam keadaan yang sangat pahit.”

Ki Argajaya terkejut ketika ia mendengar anaknya berkata, “Bagaimana, Ayah? Apakah Ayah sependapat dengan aku, bahwa perjuangan ini harus diteruskan?”

“Prastawa,” suara Ki Argajaya merendah, “marilah duduk di sini. Bukankah kau tidak tergesa-gesa?”

“Aku tergesa-gesa. Kawanku menunggu aku di bilik ibu.”

“He,” Ki Argajaya mengerutkan keningnya, “maksudmu, kau membawa seorang kawan yang kini berada di bilik itu.”

“Ya. Biarlah ia menunggui gadis itu. Kami tidak tahu, apakah yang dapat dilakukannya. Apakah ia akan berteriak, atau ia memang mengharapkan kedatangan seorang laki-laki.”

Ki Argajaya termenung sejenak. Lalu, “Marilah, kau dan kawanmu aku persilahkan duduk sebentar. Yang kita bicarakan adalah masalah yang penting. Sudah tentu tidak dengan cara ini. Berdiri dengan tegang di tengah-tengah pintu.”

Prastawa merenung sejenak. Namun kemudian ia menggeleng sambil menghentakkan perasaan sendiri yang mulai tersentuh-sentuh kata-kata orang tuanya, “Tidak. Aku tidak akan duduk. Aku tetap di sini.”

“Tetapi kawanmu itu Prastawa. Sebaiknya kita berbicara sambil mengendapkan perasaan sendiri yang mulai terbuka sehingga aku mengerti keadaanmu yang sebenarnya dan kau mengerti keadaanku yang sebenarnya. Dengan demikian kita akan dapat mengambil kesimpulan daripadanya.”

Prastawa masih termenung.

“Marilah,” ayahnya pun kemudian menarik tangan anak itu. Selangkah Prastawa mengikutinya. Tetapi kemudan ia menyentakkan tangannya sambil berkata, “Tidak! Aku tidak mau.”

Ki Argajaya berdiri membeku. Ditatapnya wajah anak itu sejenak. Kemudian perlahan-lahan ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menarik nafas dalam-dalam.

“Sudah sewajarnya ia bersikap begitu,” berkata di dalam hati. Ia memang tidak dapat ingkar, bahwa ia telah menjerumuskan anaknya ke dalam keadaannya yang sekarang.

Tetapi Prastawa itu tidak dapat mengelak ketika ibunya mendekatinya dan berbisik di telinganya, “Marilah bersama ibu, Ngger.”

Prastawa tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk mengibaskan tangan ibunya. Meskipun ia mencoba bertahan di tempatnya, ketika ibunya menariknya, namun kemudian Prastawa pun melangkah mengikutinya.

Ki Argajaya menarik nafas dalam-dalam. Ia melangkah di belakang anaknya yang berjalan bersama ibunya ke ruang tengah.

“O, Kiai sudah bangun?” bertanya Nyai Argajaya.

“Apakah ada tamu malam-malam begini?” bertanya Sumangkar yang telah duduk di pinggir amben.

“Anakku, Kiai,” jawab Nyai Argajaya yang masih membimbing Prastawa.

“O,” Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ini tamu ayahmu, Ngger,” berkata Nyai Argajaya kepada anaknya.

“Apakah orang ini termasuk pengawal yang mengawasi Ayah di sini?”

“Ia tamuku, Prastawa,” sahut ayahnya. “Ia bukan orang Menoreh.”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia melangkah surut sambil berkata, “Inikah orang-orang asing yang ikut campur dalam persoalan Menoreh?”

Sumangkar mengerutkan keningnya. Kemudian ia pun tersenyum sambil berkata, “Aku belum lama berada di sini, Anakmas. Aku datang setelah keadaan menjadi baik kembali. Bahkan aku tidak melihat apa yang telah terjadi di sini.”

Prastawa mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Ha, sekarang aku tahu. Kau dan anak perempuan itu pasti datang bersama Ayah dan para pengawal. Tentu.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya, “Memang aku dan anakku datang bersama Ki Argajaya. Tetapi kami tidak ikut campur tentang keadaan di atas Tanah Perdikan ini.”

“Sudahlah, Ngger,” berkata ibunya, “jangan hiraukan apa pun juga. Duduklah. Rumah ini adalah rumahmu, milikmu. Sekarang kau berada di rumahmu sendiri. Karena itu jangan gelisah.”

Prastawa masih tetap berdiri di tempatnya.

“Duduklah. Marilah kita berbicara. Apakah kita akan menemukan persesuaian atau tidak, terserahlah kepada keadaan nanti. Tetapi marilah kita mulai dengan hati yang bening, niat yang baik dan harapan-harapan yang dapat memberikan ketenteraman hati. Terutama perempuan-perempuan tua seperti aku.”

Prastawa masih berdiri di tempatnya. Tetapi perlahan-lahan ia berdesis, “Aku tidak datang seorang diri.”

“Marilah kita panggil kawanmu itu.”

“Ia ada di dalam bilik Ibu.”

Dada Nyai Argajaya menjadi berdebar-debar. Sekilas dipandanginya Ki Sumangkar. Tetapi kemudian ia berkata, “Marilah, bersama Ibu.”

Keduanya pun kemudian berjalan ke bilik yang dipergunakan oleh Sekar Mirah. Dalam pada itu, detak jantung Nyai Argajaya menjadi semakin cepat. Ia tidak berani membayangkan apa yang telah terjadi di dalam bilik itu.

“Seandainya kawan Prastawa menjadi gila dan liar, maka malanglah nasib gadis itu.”

Tetapi Nyai Argajaya tidak mengatakannya, meskipun semakin dekat mereka dengan daun pintu yang tertutup hatinya menjadi semakin berdebar-debar.

Sejenak kemudian mereka sudah berdiri di depan pintu. Mereka sama sekali tidak mendengar suara apa pun dari dalam. Sepi.

Putera Ki Argajaya pun menjadi termangu-mangu. Kawannya memang bukan seorang anak muda yang jinak. Orang itu kadang-kadang dapat berbuat liar dan bahkan dapat menjadi buas.

“Apakah yang dilakukan oleh kawanmu itu?” bisik Nyai Argajaya.

Prastawa tidak menyahut. Tetapi perlahan-lahan diketuknya pintu bilik yang tertutup itu.

Tetapi agaknya Nyai Argajaya tidak sabar menunggu. Dengan suara serak ia berkata, “Buka, bukalah.”

Seperti didorong oleh sesuatu yang tidak dimengertinya. Prastawa pun mendorong pintu bilik itu sehingga menganga lebar.

Sejenak mereka berdua dicengkam oleh pemandangan, yang membingungkan sehingga nafas mereka terhenti. Dengan mata terbelalak mereka menyaksikan peristiwa yaag sama sekali tidak mereka duga.

“Bagaimana hal ini dapat terjadi?” desis Nyai Argajaya. Prastawa pun kemudian maju selangkah. Diamatinya sesosok tubuh yang terbaring di lantai. Pingsan.

“Apa yang sudah kau lakukan atasnya,” putera Ki Argajaya itu bertanya.

Sejenak bilik itu dicengkam oleh kesenyapan. Namun kemudian terdengar jawaban, “Aku tidak sengaja. Aku hanya menyentuh dadanya. Aku kira ia mempunyai kekuatan yang dapat dibanggakan.”

Nyai Argajaya masih memandanginya dengan mulut ternganga. Ternyata gadis yang menempati biliknya itu adalah seorang gadis yang luar basa. Dengan tenangnya gadis itu duduk di pinggir pembaringannya.

“Aku hanya sekedar membela diri,” berkata Sekar Mirah selanjutnya. “Ia akan melakukan perbuatan yang terkutuk. Aku menolak tubuhnya. Tetapi ia menerkam seperti serigala lapar. Tanpa aku sengaja, agaknya aku sudah memukul dadanya. Hanya sekali, dan kawanmu ini menjadi pingsan.”

Prastawa menggeram. Tiba-tiba saja ia membentak, “Perempuan gila. Kau sangka kau dapat menakut-nakuti aku dengan ceritamu itu. Kau pasti telah membujuknya sehingga ia menjadi lengah. Kemudian selagi ia lengah, kau sudah mengkhianatinya.”

Sekar Mirah menggeleng, “Tidak. Bukan begitu. Aku sama sekali tidak berbuat curang. Aku menyerangnya beradu dada. Bahkan anak inilah yang telah menyerang aku lebih dahulu.”

“Aku tidak percaya. Kau harus menebus dosamu itu.”

“He, kenapa kau marah kepadaku?” berkata Sekar Mirah, “Kenapa kau tidak menghukum kawanmu yang bertindak tidak sepantasnya?”

“Bohong! Bohong kau!”

Tiba-tiba saja Prastawa meloncat maju selangkah ke depan Sekar Mirah sambil berkata, “Jangan ingkar. Kau tidak dapat lari lagi.”

“Prastawa,” panggil ibunya, “kenapa kau menjadi gila? Gadis ini adalah tamuku.”

“Aku tidak peduli. Tetapi ia sudah mengkhianati kawanku. Itu berarti mengkhianati aku pula.”

“Tidak. Kau belum mengetahui keadaan yang sebenarnya. Jangan terburu nafsu.”

“Aku akan menghukumnya.”

Tiba-tiba mereka pun tertegun. Serentak mereka berpaling. Di muka pintu telah berdiri Ki Argajaya dan Sumangkar.

“Gadis itu tamuku, Prastawa.”

“Aku tidak peduli. Aku tidak peduli. Ia sudah menghina kawanku. Itu berarti aku dan seluruh kelompokku terhina pula.”

“Kawanmulah yang mencari perkara,” berkata Sekar Mirah. “Kalau ia dapat berlaku sedikit sopan, maka aku kira tidak akan terjadi sesuatu atasnya.”

Tetapi Prastawa sudah tidak mendengarkan lagi. Sambil menggeram ia beringsut setapak, “Aku akan menuntut.”

“Prastawa,” desis Ki Argajaya.

Namun mereka menjadi heran ketika Ki Sumangkar justru berkata, “Apakah kau benar-benar berbuat salah, Sekar Mirah.”

“Tidak. Aku hanya sekedar membela diri.”

“Tidak mungkin,” potong Prastawa. “Kawanku adalah seorang yang mempunyai kekuatan dan kemampuan cukup. Apakah gadis ini dapat membuatnya pingsan tanpa perlawanan apa pun? Aku sudah pasti, ia telah merayunya, kemudian melakukan perbuatan yang menyinggung perasaan ini.”

“Jangan berprasangka, Prastawa,” sahut Ki Argajaya.

“Aku tidak peduli. Jangankan gadis yang tidak aku kenal. Seisi rumah ini, bahkan Ayah sekalipun, apabila berani menghalang-halangi aku, aku tidak akan memaafkannya.”

Ketika Ki Argajaya akan menjawab lagi, Ki Sumangkar menggamitnya sambil berkata, “Baiklah. Kalau anakku memang bersalah, kau dapat menghukumnya. Tetapi hukuman apa yang akan kau berikan?”

Pertanyaan itu telah membuat Prastawa menjadi bingung. Tanpa sesadarnya ia memandang wajah Sekar Mirah yang sedang memandanginya pula, sehingga tatapan mata mereka bertemu.

Dengan serta-merta keduanya melemparkan pandangan matanya ke samping. Namun untuk melepaskan desir jantungnya yang serasa menekan seisi dada, anak muda itu berkata, “Aku akan membunuhnya.”

“Benarkah begitu?” bertanya Sumangkar.

Prastawa menjadi ragu-ragu. Dan sebelum ia sempat menjawab, ibunya berkata, “Kau jangan kehilangan akal anakku. Jangan berbuat sebodoh itu.”

Prastawa mengerutkan keningnya. Ia mencoba untuk bertahan pada pendiriannya. Tetapi sesuatu telah mengaburkannya, sehingga untuk sesaat ia hanya berdiam diri saja.

“Sudahlah. Marilah kita rawat kawanmu itu,” berkata ibunya.

Namun justru dengan demikian, harga diri Prastawa tumbuh kembali, bahkan mencengkam dengan dahsyat. Katanya, “Aku akan menghukumnya. Benar-benar menghukumnya dengan caraku. Aku akan membawanya kepada kawan-kawanku dan memberitahukan kepada mereka apa yang sudah terjadi. Terserahlah kepada mereka, apa yang akan mereka lakukan atas gadis ini sebagai hukumannya.”

Kata-kata Prastawa itu benar-benar telah mengejutkan ibu dan ayahnya. Namun justru dengan demikian mereka untuk sesaat terdiam mematung. Dengan mata yang hampir tidak berkedip dipandanginya anaknya, kemudian Sekar Mirah dan Sumangkar.

Namun dalam keadaan yang demikian itu Sumangkar justru tersenyum, katanya, “Kau mempersulit dirimu sendiri, Anak Muda. Bagaimana kau dapat membawanya ke luar dari ruangan ini?”

Prastawa mengerutkan keningnya. Memang tidak mudah membawa gadis itu keluar dari lingkungan para pengawal di halaman rumah ini.

“Sudahlah, Prastawa,” berkata ibunya. “Kau selalu dibayangi oleh dendam yang tidak kunjung padam. Kini tamu yang tidak mengerti apa pun yang terjadi di atas rumah ini, kau jadikan sasaran perasaan dendammu itu.”

“He, apakah gadis ini tidak berbuat apa-apa? Ia sudah merayu kawanku, kemudian mencelakakannya?”

“Tentu tidak,” berkata Sumangkar. “Anakku tidak akan berbuat demikian. Aku yakin bahwa ia tidak berbohong.”

“Aku yakin ia berbohong. Kawanku bukan seorang anak ingusan yang begitu saja dapat dibuatnya pingsan.”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia merenung, apakah yang harus dikatakan. Namun kemudian ia tersenyum pula, “Bagaimana gadis itu harus membuktikan bahwa ia berkata sebenarnya? Kalau kawanmu ini nanti sadar, barangkali kau dapat melihatnya sendiri, bahwa anak gadisku itu tidak berbohong.”

Tetapi Prastawa tidak mendengarkannya. Tiba-tiba ia menarik pedangnya dan langsung meloncat maju mendekati Sekar Mirah lebih dekat lagi. Tiba-tiba pula ujung pedangnya sudah merunduk ke dada gadis itu.

“Nah, lihat. Aku mempunyai cara yang menarik untuk membawanya ke luar,” berkata Prastawa.

Semuanya yang menyaksikan hal itu terkejut bukan buatan. Sekar Mirah sendiri pun terkejut pula. Hampir saja ia meloncat dan menangkap pergelangan tangan anak muda itu. Tetapi sebagai isyarat Sumangkar menggeleng lemah. Sehingga dengan demikian Sekar Mirah pun mengurungkan niatnya. Namun matanya kini tidak berkisar dari tangan anak muda itu. Setiap gerakan yang terlontar di luar sadarnya mungkin sekali akan merobek dada gadis itu. Karena itu Sekar Mirah menjadi tegang dan siap untuk melakukan segala usaha untuk menyelamatkan diri apabila keadaan memaksanya.

Sejenak ia memandang Prastawa, kemudian gurunya yang berkerut-merut. Namun tatapan matanya segera kembali ke tangan putera Ki Argajaya.

“Prastawa,” berkata ibunya, “apakah kau benar-benar sudah kehilangan akal.”

“Tidak. Aku akan membawa gadis ini. Tidak seorang pun yang akan berani mengganggu aku, apabila dengan ujung pedang aku menggiringnya ke luar halaman. Setiap tindakan yang mencurigakan, akibatnya akan menimpa gadis yang malang ini.”

Sejenak mereka termangu-mangu. Ujung senjata Prastawa telah bergetar seperti getar di dalam jantungnya.

Dengan nada yang tinggi ia berkata, “Ayo, tolonglah kawanku itu, supaya ia segera sadar. Aku akan segera meninggalkan tempat terkutuk ini. Mungkin gadis ini akan berguna di persembunyianku.”

Dada Ki Argajaya dan isteterinya menjadi berdentangan karenanya. Namun Sumangkar tampaknya masih tetap tenang. Ia yakin bahwa Sekar Mirah tidak akan terlampau banyak mendapat kesulitan.

“Berdirilah,” berkata Prastawa.

Sumangkar mengangguk kecil kepada Sekar Mirah. Ia akan mendapat lebih banyak kesempatan, apabila Prastawa akan membawanya ke luar bilik.

Sekar Mirah pun kemudian berdiri. Seperti yang diduga oleh Sumangkar, Prastawa pun berkata, “Keluar dari bilik ini, supaya kawanku itu segera mendapat pertolongan.”

Sekar Mirah tidak membantah. Ia melangkah maju mengitari tubuh yang masih terbaring di lantai bilik itu. Dengan sudut matanya ia memandang gulungan ujung tikar di pembaringan, tempat ia menyimpan senjatanya.

Sumangkar mengerti iyarat itu, dan ia pun menganggukkan kepalanya.

“Biarlah aku tolong anak muda ini,” berkata Sumangkar. Ki Argajaya ragu-ragu sejenak. Tetapi ia pun bukan orang yang terlampau bodoh menghadapi keadaan itu. Ia menyadari keadaan Sekar Mirah, sehingga ia pun tanggap akan keadaan, bahwa Sekar Mirah memang memiliki kemampuan untuk menjaga dirinya.

Dengan berbagai cara, Sumangkar menolong kawan Prastawa. Digosoknya telinga orang itu dengan minyak, kemudian diangkatnya tangannya tinggi-tinggi berulang kali.

Sejenak kemudian orang itu pun menarik nafas. Perlahan-lahan ia bergerak. Ketika ia membuka matanya, ia terkejut melihat beberapa orang berdiri di sampingnya. Mula-mula kabur, seperti bayangan-bayangan raksasa yang berdiri dekat di sisinya. Namun kemudian pandangan matanya menjadi semakin jelas, sehingga akhirnya ia melihat Ki Argajaya, Nyai Argajaya, dan seorang laki-laki yang tidak dikenalnya, sedang Sekar Mirah dan Prastawa tidak ada di dalam bilik itu.

Dengan kekuatannya yang belum pulih kembali ia mencoba berdiri. Tertatih-tatih ia berpegangan pada tiang pintu.

“Di mana Prastawa?” ia menggeram.

Prastawa yang berada di luar pintu mendengar pertanyaan itu, sehingga ia pun menjawab, “Aku di sini. Gadis keparat itu ada di sini pula.”

“O,” kawannya berdesis. Sejenak ia menggosok-gosok matanya, kemudian katanya, “aku telah lengah ketika ia memukul dadaku.”

Tidak seorang pun yang menyahut. Ki Argajaya, isterinya, dan Sumangkar membiarkannya ketika anak muda itu dengan langkah yang belum tegak benar keluar dari bilik itu. Sejenak ia berdiri termangu-mangu. kemudian sambil memandangi Sekar Mirah ia berkata, “Bagus. Kau berhasil menguasai gadis itu. Ia ternyata terlampau garang.”

Sekar Mirah masih berdiri di tempatnya. Sekali-sekali ia memandang tangan Prastawa, dan kadang-kadang dipandanginya wajah anak muda yang baru saja sadar dari pingsan itu.

Gadis itu masih saja ragu-ragu, apa yang akan dilakukannya. Dalam pada itu, Ki Argajaya bersama isterinya dan Sumangkar pun telah keluar pula dari dalam bilik.

“Prastawa,” berkata ibunya, “sekali lagi aku mengharap, kau jangan dibayangi oleh perasaan dendammu. Duduklah, dan berbicaralah dengan ayahmu. Di saat terakhir keadaan Tanah Perdikan ini sudah berangsur menjadi baik, tetapi apakah tidak demikian dengan seisi rumah ini? Apalagi kini kau membuat persoalan baru dengan tamu-tamu ayahmu.”

“Aku tidak peduli,” jawab Prastawa. “Sudah aku katakan, aku tidak akan menghentikan perjuangan. Sekarang aku akan mendengar keputusan Ayah sebelum aku pergi membawa gadis ini.”

“Keputusan tentang apa, Prastawa?” bertanya ayahnya.

“Ayah harus pergi bersama dengan kami meneruskan perjuangan yang masih jauh dan belum selesai ini. Sepeninggal Kakang Sidanti dan gurunya, akulah yang mengambil alih pimpinan sebelum Ayah dapat melakukannya.”

“O, kau masih belum melihat kenyataan ini,” berkata ayahnya. “Jangan keras hati seperti Sidanti.”

“Ia seorang yang teguh pada pendiriannya. Apakah aku harus berbuat seperti Ayah? Seperti seorang pengecut.”

“Prastawa,” berkata Ki Argajaya, “dengarlah. Kita sebaiknya berbicara dengan tenang.”

“Tidak, dan aku tidak akan melepaskan gadis ini.”

Ki Argajaya menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba saja ia berkata, “Prastawa, aku adalah ayahmu. Kau wajib mendengar kata-kataku.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Aku memang bersalah membawamu dalam kekalutan di atas Tanah Perdikan ini. Tetapi itu suatu kekhilafan. Kini sudah tiba saatnya kita berani menilai diri kita sendiri. Dengan demikian kita akan dapat menentukan sikap yang sebaik-baiknya. Sebaik-baiknya bagi kita sendiri dan terutama sebaik-baiknya bagi Tanah Perdikan Menoreh. Apakah yang dapat kau capai dengan petualangan yang tidak kunjung selesai itu, selagi dendam masih tetap menyala di hati? Prastawa, api yang membakar Tanah ini sudah padam. Tetapi api dendam di dadamu masih tetap kau hembus-hembus dengan segala macam alasan.”

Prastawa termenung sejenak. Namun kemudian ia menjawab, “Ayah mengajari aku memberontak terhadap Paman Argapati. Dan kini Ayah mengajari aku mengkhianati kawan-kawanku.”

Jantung Argajaya serasa tertusuk ujung duri. Sakit sekali. Tetapi ia menganggukkan kepalanya sambil menjawab. “Kalau sikapku kau artikan demikian, kau tidak terlampau salah. Tetapi aku harus melihat alasan dari kedua sikapku itu. Yang pertama, aku mengajarimu memberontak karena aku dipacu oleh nafsu yang tidak terkendali. Nafsu untuk berkuasa, nafsu untuk dihormati, dan nafsu lain-lain yang sebenarnya hanya sekedar nafsu pemanjaan badani. Kini aku menyadari, bahwa nafsu pemanjaan badani itulah yang sebenarnya telah menyeret aku ke dalam jurang yang kelam seperti sekarang. Dan kau yang masih memiliki hari depan yang jauh lebih panjang dari hari-hariku sendiri, ikut pula terjerumus ke dalam masa yang gelap.” Ki Argajaya berhenti sejenak, lalu, “Prastawa, sebenarnya apa yang aku lakukan itu semata-mata karena aku ingin melihat kau mendapat tempat yang baik di hari depanmu. Tetapi yang aku dapatkan justru sebaliknya.”

Prastawa merasakan suatu sentuhan di hatinya. Sebenarnya ia menyimpan juga suatu pengakuan di dalam hatinya, bahwa ayahnya telah melakukan sesuatu yang berbahaya untuk dirinya, untuk hari depannya. Tetapi usaha itu gagal, dan yang didapatinya adalah sebaliknya.

“Nah, kemudian terserah kepadamu, Prastawa. Apakah kau mau mendengar atau tidak. Menurut pendapatku, seumurmu itu sudah cukup dewasa untuk menilai keadaan. Apakah ayahmu benar-benar seorang pengkhianat seperti yang kau katakan, seorang pengecut, seorang pemberontak dan apa lagi, atau kau melihat sesuatu yang lain dari sebutan-sebutan itu.”

Prastawa tidak menyahut. Tampak keningnya berkerut-merut. Dengan hati yang suram ia mencoba menilai keadaan yang sedang dihadapinya.

Namun tiba-tiba ia mendengar kawannya berkata, “Prastawa, jangan terpengaruh. Kau harus tetap bersikap jantan seperti Sidanti. Kalau Ki Argajaya akan berkhianat, biarlah ia berkhianat. Tetapi kita harus tetap di dalam garis perjuangan yang panjang. Pantang menyerah. Kita tidak segera akan mati besok atau lusa karena dimakan oleh umur. Kita masih cukup muda. Kita masih mempunyai banyak kesempatan. Hanya orang-orang pikun sajalah yang menyerah begitu saja kepada keadaan.”

Bagaimana pun juga, darah Ki Argajaya berdesir mendengar kata-kata itu. Anak muda itu bukan anaknya. Bukan sanak dan bukan kadang. Namun demikian ia masih menahan diri. Kalau ia berbuat sesuatu atas anak muda itu, maka ia akan menggugah kemarahan Prastawa yang agaknya sudah mulai tersentuh oleh kata-katanya.

Tetapi ucapan kawannya itu telah melemparkan Prastawa kembali ke dalam suatu dunia yang gelap tanpa arah. Karena itu, maka ia pun kemudian berkata, “Benar. Aku bukan anak-anak yang dapat dibujuk dengan cara apa pun. Aku sudah dewasa, dan aku sudah cukup mampu menentukan sikap,” ia berhenti sejenak. Ditatapnya wajah ayahnya dan ibunya berganti-ganti. Kemudian, “Aku tetap pada pendirianku. Ayah harus memilih. Ikut aku se-bagai pejuang atau tinggal di sini sebagai pengkhianat. Namun dengan demikian Ayah harus menyadari hukuman apakah yang dapat diberikan kepada seorang pengkhianat.”

“Prastawa,” suara ibunyalah yang melengking dengan gemetar, “jangan berkata begitu. Kau tidak dapat melepaskan diri dari aliran darah ayah dan ibumu dalam tubuhmu. Kau adalah anakku dan anak ayahmu pula. Apa pun yang kami lakukan, aku dan ayahmu, tetapi kau adalah anak kami.”

Sekali lagi Prastawa terdiam. Ia memang tidak akan dapat lari dari kenyataan itu. Ia adalah anak ayah dan ibunya. Bagaimana pun juga, dan apa pun yang telah mereka lakukan.

Namun dalam kebimbangan itu ia mendengar kawannya berkata, “Lalu, apakah akibat dari hubungan itu di dalam perjuangan ini. Argapati telah membunuh anaknya. Apakah Argapati tidak tahu bahwa Sidanti itu anaknya, dan apa pun yang telah dilakukannya, ia adalah anaknya, yang dialiri oleh darahnya?”

Terasa dada Argajaya terguncang. Meskipun ia dibebaskan oleh kakaknya dari segala tuntutan karena pengampunan, namun hukuman ini terasa amat menyiksanya. Anaknya sendiri sama sekali tidak menghargainya lagi. Bahkan anak itu telah mengancam untuk membunuhnya.

“Nah, apa katamu?” bertanya kawan Prastawa itu.

“Kakang Argapati tidak membunuhnya,” berkata Argajaya dengan suara yang serak.

“Omong kosong! Aku yakin, pasti Argapati sendiri yang membunuhnya karena anaknya telah dianggapnya berkhianat kepadanya.”

“Tidak. Yang membunuh Sidanti adalah Pandan Wangi. Itu pun tidak disengajanya. Ia tidak dapat menghindari hentakan gerak naluriahnya saat itu ketika justru Sidanti-lah yang akan membunuh Ki Argapati.”

“Seandainya benar, itu adalah perbuatan jantan. Dan Prastawa pun harus berani berbuat demikian.”

Ki Argajaya menekan dadanya dengan telapak tangannya.

“Nah, apa katamu sekarang,” anak muda kawan Prastawa itu kini berdiri bertolak pinggang. “Kalian tidak akan dapat berbuat banyak. Gadis ini dapat mati tanpa arti sama sekali, kalau kalian mencoba untuk berbuat sesuatu. Kini sekali lagi kita akan menguji kejantanan Ki Argajaya. Apakah ia berani menghadapi pertanggungan jawab ini, atau gadis inilah yang akan dijadikannya korban, untuk menyelamatkan dirinya.”

“Prastawa,” suara ibunya seolah-olah tersangkut di kerongkongan, “kau jangan mendengarkan kata-kata iblis itu.”

Prastawa mengerutkan keningnya.

“Kau adalah anakku. Aku mengandungmu, kemudian melahirkan kau dengan susah payah, dibayangi maut. Tidak ubahnya seperti orang yang sedang berperang melawan musuh yang tidak tampak.”

“Maksud Ibu, musuh itu adalah aku yang akan lahir?”

“Bukan. Bukan begitu maksudku.”

“Jadi, aku sudah menyusahkan Ibu?”

“Tidak. Juga tidak,” jawab ibunya. “Aku menyambut kedatanganmu dengan harapan dan cita-cita, bahwa ada seseorang yang akan menyambung hidup kami kelak. Sakit dan cemas itu adalah tebusan dari harapan itu. Dan aku dengan senang hati telah menjalaninya.”

“Lalu, apa maksud, Ibu mengatakannya?”

“Prastawa, kemudian aku dan ayahmu mengasuhmu. Membesarkan kau dengan cinta kasih. Apakah kau menyadari? Kalau kau sedang sakit, semalam suntuk aku mendukungmu, karena kau tidak mau diajak oleh orang lain. Dan apakah kau sangka ayahmu dapat tidur sekejap pun? Ayahmu adalah orang terhormat waktu itu. Ia mempunyai banyak pelayan dan pembantu. Ayahmu hampir tidak pernah turun ke sawah kalau bukan karena keinginannya. Tetapi menunggui kau sakit, Prastawa, ayahmu tidak dapat menyuruh salah seorang pembantunya, atau bahkan sepuluh atau lima-puluh orang sekalipun. Kalau aku mendukungmu disaat kau sakit, ayahmu duduk betapa pun lelah dan kantuknya, sampai saatnya kau tertidur. Dan hal ini harus dilakukannya sendiri, seperti yang dikehendakinya.”

Prastawa tidak segera menjawab. Perlahan-lahan kepalanya tertunduk. Meskipun samara-samar, ia masih dapat mengingat masa-masa kecilnya itu.

Tetapi sekali lagi kawannya berkata, “Itu bukan salah Prastawa. Ia tidak minta dilahirkan. Ia tidak minta dipelihara dengan susah payah. Bukankah salah orang tuanya pula apabila ia lahir di dunia ini? Semua yang kalian lakukan, juga yang dilakukan oleh ayah dan ibuku atasku, adalah tanggung jawab orang-orang tua yang telah melahirkan kami.”

“O,” ibu Prastawa menutup mulutnya dengan kedua belah telapak tangannya, meskipun terdengar kata-katanya, “itukah anggapan anak-anak muda sekarang terhadap orang tuanya?”

“Sudah tentu,” jawab anak muda itu. “Kalian telah melahirkan kami, maka kalian pulalah yang harus memenuhi kebutuhan kami. Seperti kini yang diperlukan oleh Prastawa. Hal ini tidak akan terjadi apabila Prastawa tidak dilahirkan dan Ki Argajaya tidak menuntunnya ke jalan yang sekarang dilaluinya.”

Dada Ki Argajaya menjadi semakin pedih. Namun ternyata isterinya masih juga berkata, “Terserahlah pendapat apa yang ada di dalam kepalamu, Anak Muda, tetapi aku ingin mengajari anakku, bahwa bukan sekedar kemauan kamilah yang telah melahirkannya. Seperti adanya isi dunia ini, maka adanya seseorang merupakan bagian daripadanya. Kami adalah lantaran-lantaran atas kelahiran anak-anak kami. Tetapi asal kelahirannya sama sekali bukan dari kami. Memang kami dapat mencegah diri kami, agar kami tidak menjadi lantaran kelahiran seseorang dengan usaha-usaha badaniah, misalnya seseorang yang tidak kawin, tetapi kewajiban manusia adalah mempertahankan adanya manusia di muka bumi seperti yang dikehendaki oleh Penciptanya. Prastawa, sebaiknya kau tidak mengikuti jalan pikiran duniawi itu. Jalan pikiran yang sama sekali tidak mempertimbangkan sumber hidup manusia itu sendiri. Tuhan mempercayai manusia untuk melahirkan manusia baru dengan kewajiban-kewajiban yang memang dibebankan kepadanya, tetapi manusia-manusia baru itu pun wajib menghargai lantaran kelahirannya atas kekuasaan Tuhan dan atas kepercayaan Tuhan. Bukankah begitu? Dan itu adalah orang tuamu. Ayah dan ibumu. Kalau kau merendahkan harga diri ayah dan ibumu, maka kau telah merendahkan kepercayaan sumber hidupmu atas kedua orang tuamu itu, lantaran-lantaran yang telah dipilihnya.”

Dada Prastawa menjadi berdebar-debar. Yang mengucapkan kata-kata itu adalah ibunya. Ibu yang melahirkannya.

Namun dalam pada itu kawan Prastawa itu pun menjadi berdebar pula. Kalau Prastawa terpengaruh oleh orang tuanya, maka ia akan mengalami kesulitan. Ia akan tersudut dan mungkin ia akan ditangkap.

Karena itu, maka ia masih berusaha membakar hati Prastawa. Katanya, “Itulah pendapat orang-orang tua, Prastawa. Ia menganggap bahwa kami, anak-anak muda adalah alat-alat untuk memuaskan diri. Orang-orang tua sama sekali tidak berbuat apa-apa atas kita tanpa niat mementingkan dirinya sendiri. Mereka ingin mendapat tempat bergantung. Kalau mereka berusaha agar kita menjadi manusia yang baik, terhormat dan bahkan kaya raya, adalah karena kepentingan mereka sendiri. Orang-orang tua itu akan mendapat pujian, dan kelak mendapat tempat di hari tuanya. Itulah sebabnya mereka bersusah payah berusaha agar kita menjadi manusia yang melampaui manusia lainnya. Seperti ayahmu yang menginginkan kau menjadi Kepala Tanah Perdikan ini misalnya. Sama sekali bukan karena kau, bukan karena kepentinganmu, tetapi karena nafsunya sendiri. Nafsu memuaskan diri sendiri itulah.”

“O,” desis ibu Prastawa, “bagaimana kau sampai pada pikiran itu?”

“Kenapa tidak? Ternyata orang-orang tualah yang berusaha menentukan jalan hidup anak-anaknya. Kalau mereka benar-benar mencintai anaknya tanpa pamrih, mereka pasti akan mengikuti jalan pikiran anak-anak muda dan berjuang untuk mereka sesuai dengan jalan, cara, dan cita-cita yang mereka kehendaki. Di sini anak menjadi tujuan pengabdian, bukan alat-alat membanggakan dan memuaskan diri sendiri.”

“Jadi menurut pikiranmu, kasih dan cinta orang tua itu akan melahirkan perbuatan-perbuatan tanpa pertimbagan, dan asal memberikan kepuasan bagi anak-anak mereka? Tidak, Anak Muda. Cinta bukanlah sekedar membenarkan semua perbuatan, memanjakan, dan tanpa arah. Itu salah. Aku memang mempunyai pamrih atas anakku. Tetapi itu untuk kepentingan anakku kelak. Bukan sekedar pamrih pribadi. Kalau aku sekedar memanjakan pamrih pribadi, aku dapat menahan kebaikan kepada orang-orang lain, tanpa memerlukan seorang anak pun.”

“Bohong! Semuanya bohong!” anak muda itu memotong. Lalu, “Sekarang, Prastawa, sebelum iblis merasuk ke dalam hatimu. Mari, kita keluar dari rumah ini. Sekarang kau harus bertanya, apakah Ki Argajaya bersedia pergi bersama kita atau tidak. Gadis ini akan menjadi tanggungan.”

Kini Prastawa telah benar-benar dicengkam oleh suatu keragu-raguan. Karena itu ia tidak menjawab. Pedangnya sudah tidak lurus lagi mengarah ke lambung Sekar Mirah.

Sekali-sekali terbayang perjuangan yang dianggapnya masih belum selesai. Namun kemudian terngiang kata-kata ibunya, dan bayangan-bayangan di masa kecilnya. Alangkah sejuknya barada di dalam pelukan ayah dan ibu. Apakah kini ia harus melawan keduanya dan menyakiti bukan saja hatinya tetapi juga tubuhnya.

Kawan Prastawa menjadi semakin cemas melihat keragu-raguan itu, melihat wajah Prastawa yang menjadi suram dan tunduk.

“O, agaknya racun itu telah mencengkam perasaan anak itu,” berkata kawan Prastawa di dalam hatinya. Karena itu, maka ia pun segera mencari jalan untuk melepaskan dirinya, seandainya Prastawa benar-benar telah terpengaruh oleh kata-kata ayah dan ibunya.

Dalam keheningan itu, tiba-tiba saja kawan Prastawa itu meloncat merampas pedang di tangan putera Ki Argajaya yang sedang merenung itu. Dengan wajah yang tegang diacungkannya ujung pedang itu ke lambung Sekar Mirah sambil berkata, “Akulah yang kini menguasainya.”

Prastawa sendiri terkejut. Ketika ia menyadari keadaannya, pedangnya sudah berpindah tangan. Selangkah ia terdorong ke samping, kemudian ia tinggal dapat menyaksikan kawannya yang kini menguasai keadaan.

“Semua orang harus menurut perintahku. Kalau tidak, gadis ini akan menjadi korban.”

“Tunggu,” berkata Prastawa.

“Aku tidak yakin bahwa kau mempunyai hati yang teguh.”

Prastawa terdiam sementara kawannya berkata pula, “Kau Prastawa, kau harus mengikuti aku bersama ayahmu.”

Ki Argajaya berdiri saja membeku. Sejenak dipandanginya wajah Sekar Mirah, kemudian wajah Sumangkar. Sedang isterinya menjadi pucat dan gemetar.

“Aku tidak sedang bermain-main. Kalian tidak akan dapat mempengaruhi aku seperti mempengaruhi Prastawa, karena aku bukan apa-apamu.”

“Tetapi dengarlah,” berkata Ki Argajaya. “Di luar rumah ini sepasukan prajurit sedang berjaga-jaga.”

“Aku tidak peduli. Aku menguasai gadis ini. Kalau seorang pun dari mereka tidak tunduk kepada perintahku, maka gadis ini akan mati.”

“Kenapa aku yang akan mati?” tiba-tiba Sekar Mirah bertanya.

“Bodoh. Diam kau, jangan mencoba bertingkah lagi. Aku sekarang sudah siap. Kalau kau sendiri berbuat aneh, kau pun akan mati.”

“Kalau tidak, apakah aku akan kau bawa ke sarangmu?”

“Ya, bersama Prastawa dan Ki Argajaya.”

“Jauh?”

“Diam kau. Jangan banyak berbicara.”

Tetapi sebelum anak muda itu selesai membentak, terasa pedangnya bergetar. Kekuatan yang besar telah mendorong pedangnya ke samping. Ketika ia sadar, maka Sekar Mirah itu telah meloncat beberapa langkah daripadanya.

“Gila, kau sudah gila,” geram anak muda itu.

Kini setiap orang berloncatan menepi. Nyai Argajaya yang ketakutan berdiri di belakang suaminya yang berdiri tegak seperti tonggak.

Anak muda itu kini berdiri melekat dinding dengan pedang terjulur lurus ke depan. Dengan mata yang liar ia berkata, “Kalian benar-benar telah menjadi gila, terutama gadis itu. Aku akan membunuhmu kemudian membunuh setiap orang di dalam ruangan ini.”

“Jangan kehilangan akal,” berkata Sekar Mirah. “Bukankah kau mengenal Ki Argajaya?”

Anak muda itu seakan-akan tidak mendengar kata-kata Sekar Mirah. Setapak ia bergeser mendekati Sekar Mirah. Tetapi Sekar Mirah pun bergeser pula ke samping.

“Kau tidak akan dapat lari,” geram anak muda itu. Sekar Mirah tidak menjawab kata-kata itu, namun justru ia berkata, “Kau seharusnya mengenal kemampuan Ki Argajaya. Kalau Ki Argajaya kehilangan kesabaran, maka ia akan segera bertindak atasmu.”

“Persetan. Tetapi aku pun bukan tikus clurut. Aku adalah satu-satunya orang yang bersenjata di ruang ini,” anak muda itu kemudian berpaling kepada Prastawa. “Prastawa, cepat tentukan, di pihak mana kau berdiri? Apakah kau juga akan berkhianat kepada perjuangan kita?”

Sebelum Prastawa menjawab, terdengar suara Ki Argajaya, “Prastawa. Memang benar. Kau harus segera menentukan sikap. Kalau kau memutuskan untuk segera kembali kepada ayah dan ibumu, maka soal anak itu bukanlah soal yang sulit, meskipun ia bersenjata. Tetapi kalau kau benar-benar menganggap aku pengkhianat, dan seharusnya aku dibunuh, maka biarlah aku tidak akan melawan kalau kau memang menghendaki. Tetapi aku memang tidak akan dapat berdiri di pihak mereka yang tidak mau melihat kenyataan.”

Prastawa berdiri membeku di tempatnya. Seakan-akan terjadi benturan yang dahsyat di dalam dadanya.

“Cepat!” anak muda itu membentaknya.

Wajah Prastawa menjadi tegang. Dari keningnya menitik keringat dingin. Sejenak dipandanginya anak muda itu kemudian ayahnya dan ibunya.

“Kaulah yang membawa aku kemari, Prastawa. Apakah kau akan membiarkan aku dibantai di sini karena pengkhianatanmu.”

Ruangan itu pun kemudian serasa dibakar oleh kesenyapan vaag pengap. Dada mereka menjadi sesak, dan darah mereka seakan-akan menjadi semakin lambat mengalir. Kini setiap mata hinggap pada wajah Prastawa yang tegang dan basah oleh keringat.

Degup jantung anak muda yang memegang pedang itu pun menjadi semakin cepat. Ia hampir tidak sabar lagi menunggu keputusan Prastawa. Sedang Prastawa masih saja diamuk oleh kebimbangan.

Dalam kesenyapan itu terdengar suara Nyai Argajaya, “Prastawa, jangan hanyut pada suatu perasaan sekedar untuk mempertahankan harga dirimu, karena kau tidak mau disebut seorang pengkhianat. Kau harus dapat membedakan, siapakah yang menyebutmu demikian. Kalau yang menyebutmu seorang pengkhianat itu sendiri tidak mengerti tentang dirinya sendiri, apakah kau akan terpengaruh karenanya.”

“Diam, diam kau!” potong anak muda itu. Hampir saja ia meloncat sambil menjulurkan pedangnya. Tetapi langkahnya tertahan karena perempuan itu berdiri di belakang Ki Argajaya. Dan hampir setiap orang di Menoreh mengetahui, bahwa Ki Argajaya memiliki kemampuan yang tidak dapat diabaikan.

Kedua anak-anak muda di ruangan itu, Prastawa dan kawannya, sama-sama menjadi tegang. Tubuh mereka telah basah oleh keringat.

“Cepat, tentukan sikapmu,” geram anak muda itu.

Sekali lagi, semua perhatian telah terampas oleh Prastawa. Wajah-wajah yang tegang memandanginya dengan tajamnya, seolah-olah mereka langsung ingin melihat isi dada anak muda itu.

Ketika Prastawa menggerakkan kepalanya, seakan-akan semua orang berhenti bernafas.

Setelah melampaui perjuangan yang dahsyat di dalam dirinya, meskipun dengan penuh keragu-raguan. Prastawa menggelengkan kepalanya sambil berkata lambat hampir tidak terdengar, “Aku tidak dapat melakukannya.”

“He,” anak muda itu terbelalak, “maksudmu?”

“Aku terikat oleh sesuatu yang tidak aku mengerti.”

“Jadi?”

“Aku tinggal di sini.”

“Gila. Gila kau, Prastawa,” wajah anak muda itu menjadi merah padam, serta matanya menjadi bertambah liar. Sejenak dipandanginya Prastawa yang berdiri di atas kakinya yang renggang. Kemudian Ki Argajaya yang sudah bersiaga. Di belakangnya, Nyai Argajaya yang menjadi kian berdebar-debar. Selangkah daripadanva, seorang tua vang tidak dikenalnya yang disebut-sebut sebagai ayah gadis itu. Dan yang terakhir, anak muda itu memandang Sekar Mirah dengan nafas terengah-engah.

Sekar Mirah berdiri tidak begitu jauh daripadanya. Meskipun semuanya tidak bersenjata, tetapi ia harus dapat menguasai orang yang dianggapnya paling lemah. Anak muda itu mengenal kemampuan Prastawa, kemudian Ki Argajaya. Laki-laki tua itu tidak akan banyak artinya baginya. Dan apabila ia dapat menguasai Sekar Mirah, maka gadis itu akan dapat dipakainya untuk perisai.

Tiba-tiba saja anak muda itu meloncat ke arah Sekar Mirah. Ia ingin mengancam gadis itu dengan ujung pedangnya. Dengan suara yang berat ia berkata, “Jangan mencoba melawan.”

Tetapi alangkah terkejutnya, ketika ternyata gadis itu mampu meloncat secepat loncatannya. Ketika ia menjejakkan kakinya di lantai, maka Sekar Mirah telah berada beberapa langkah daripadanya.

“Gila. Apakah kau mencoba melarikan diri?” geramnya. Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Terbersit niat di dalam hatinya, untuk menghentikan permainan itu. Anak itu tidak boleh terlampau lama mengalami ketegangan yang dapat membuatnya menjadi benar-benar gila.

Karena itu, justru selangkah ia maju. Katanya, “Jangan menjadi liar. Sudah aku katakan, sebaiknya kau tinggal di sini. Aku kira, kau akan diterimanya pula, apabila kau benar-benar menghentikan segala macam tingkah yang dapat mengganggu ketenteraman Tanah Perdikan ini.”

“Persetan!” anak muda itu tiba-tiba berteriak. Ia tidak menghiraukan lagi para pengawal yang mungkin mendengarnya dari halaman. “Aku bunuh kau. Kita akan mati bersama-sama.”

Dengan garangnya anak muda itu meloncat maju. Kali ini ia tidak sekedar mengancam. Tetapi ia benar-benar mengayunkan pedangnya, menyerang Sekar Mirah.

Tetapi Sekar Mirah sudah bersiaga. Ia mampu melihat gelagat, bahwa anak muda itu akan menyerangnya apabila ia sudah kehilangan akal.

Karena itu, serangan anak muda itu tidak mengejutkannya. Meskipun ia tidak bersenjata, tetapi murid Sumangkar yang berguru dengan tekun itu, tidak banyak mengalami kesulitan untuk mengelak, sehingga serangan anak muda itu sama sekali tidak menyentuh apa pun.

Dengan kemarahan yang membakar dadanya, anak muda itu menggeram. Dengan menghentakkan kakinya ia meloncat menghadapi Sekar Mirah yang menghindar ke samping.

Tetapi sama sekali tidak disangkanya, bahwa gadis itu mampu bergerak lebih cepat, daripadanya. Ketika ia menyadari keadaannya, gadis itu telah menghantam pergelangan tangannya sehingga ia tidak mampu lagi mempertahankan pedangnya, sehingga pedang itu pun terpelanting jatuh.

Betapa tangannya seolah-olah tersengat oleh bara api. Dengan serta-merta ia menarik tangannya sambil mengerang kesakitan. Tetapi belum lagi ia sempat mengusap pergelangan tangannya, terasa tubuhnya terdorong kuat sekali, sehingga terhuyung-huyung ia melangkah surut.

“Gila kau,” anak muda itu mengumpat ketika ia melihat Sekar Mirah memungut pedangnya. Tetapi ketika ia siap melompat maju untuk mencegahnya, langkahnya terhenti, karena tiba-tiba saja ujung pedang itu sudah mengarah ke dadanya.

“Kalau kau meloncat maju, maka ujung pedang ini akan tertancap di dadamu,” desis Sekar Mirah.

Anak muda itu tegak bagaikan patung. Ditatapnya wajah Sekar Mirah yang cantik itu dengan sorot mata yang aneh. Wajah yang cantik itu tiba-tiba saja telah berubah menjadi wajah yang menakutkan. Seperti wajah seorang dewi maut yang sudah siap untuk menarikan tari maut dengan sepucuk pedang.

Tetapi Sekar Mirah tidak beranjak dari tempatnya.

“Prastawa,” desis anak muda itu, “kau telah mengkhianati kawan-kawanmu pula.”

Prastawa tidak menjawab. Ia masih dicengkam oleh keraguan. Ia tidak mengerti manakah yang sebaiknya dipilih. Seperti seseorang yang berdiri di simpang jalan yang membujur lurus dan panjang sekali, seakan-akan sama-sama tidak berujung.

“Apakah kau sengaja menjebak aku di rumah ini?” bertanya kawannya.

Prastawa masih berdiri mematung.

Wajah anak muda itu pun menjadi semakin nanar. Ketakutan yang betapa pun lambatnya, kini telah mulai menyentuh jantungnya. Di hadapannya berdiri seorang gadis yang ternyata, terlampau garang, segarang seekor harimau betina. Itulah agaknya, maka ia tidak takut berada di kandang serigala. Di sebelah lain Argajaya berdiri tegak dengan tatapan wajah yang menggetarkan jantung. Di sebelahnya, orang tua yang disebut ayah gadis yang garang itu. Agaknya ia tidak segarang anak gadisnya? Sedang di sebelah lain berdiri termangu-mangu seorang anak yang masih terlampau muda, yang justru membawanya masuk ke dalam sarang harimau ini.

Tiba-tiba anak muda itu tidak dapat lagi mengendalikan ketakutan yang sudah mencengkam dadanya. Ia tidak mau mati begitu saja. Ia masih akan berusaha di dalam keputus-asaan, untuk keluar dari rumah terkutuk ini.

Karena itu, maka sejenak ia mencoba berpikir. Kemana ia harus melarikan diri, sementara orang-orang yang berdiri di sekitarnya itu seolah-olah telah berubah menjadi sekelompok iblis yang menakutkan, yang siap menerkamnya dan merobek-robek tubuhnya.

Ketika ia tidak lagi dapat menahan ledakan di dadanya, tiba-tiba ia melompat. Sekilas ia teringat pada seutas tali yang masih masih menggantung di dalam bilik dalam.

“He, apakah kau akan lari?” bertanya Sekar Mirah.

Tetapi anak muda itu sama sekali tidak menghiraukannya lagi. Dengan sekuat-kuat tenaganya ia meloncat masuk ke dalam bilik itu.

Sementara itu, para pengawal yang berada di halaman, lamat-lamat mendengar keributan di dalam rumah. Agung Sedayu yang duduk di sebelah pimpinan pengawal berdesis, “He, kau mendengar sesuatu di dalam?”

“Ya.”

“Apakah mungkin terjadi keributan?”

Pemimpin pengawal itu ragu-ragu sejenak. “Bagaimana pendapatmu?” ia bertanya. “Kaulah yang lebih mengenal gadis dan gurunya itu.”

“Aku kira tidak akan ada keributan. Tetapi baiklah kita melihatnya.”

Ketika keduannya berdiri, mereka menjadi heran. Mereka memang mendengar keributan. Namun mereka tidak dapat dengan tergesa-gesa memasuki ruangan dalam. Sejenak mereka berdiri di pendapa. Kalau terjadi sesuatu, maka pasti salah satu pihak akan memanggil mereka.

Anak muda yang berlari itu pun kemudian meloncat masuk ke dalam bilik. Semula ia mencoba untuk menutup pintu bilik, tetapi terlambat karena Sekar Mirah telah berada beberapa langkah saja di belakangnya. Karena itu, maka ia harus cepat mencapai tali yang masih tergantung. Tali yang dipergunakan sebagai alat untuk turun masuk ke dalam neraka ini.

Dengan segenap kekuatan dan kemampuan yang ada, anak muda itu pun segera menggapai ujung tali itu. Ternyata ia memang cakap memanjat.

Tetapi anak muda itu mengumpat keras-keras ketika tubuhnya terhempas dilantai. Agaknya Sekar Mirah telah meloncat ke atas pembaringannya, kemudian sekali lagi meloncat sambil mengayunkan pedang yang dibawanya memutuskan tali yang masih terjuntai itu, tepat di atas tangan anak muda yang sedang memanjat itu.

Namun demikian, anak muda itu tidak berhenti sampai sekian. Sekali lagi ia meloncat ke luar dan berlari ke arah pintu.

“Ia tidak akan lolos. Biarlah para pengawal menangkapnya,” desis Sekar Mirah.

Argajaya yang telah siap untuk menangkapnya, telah tertegun mendengar desis Sekar Mirah, sejenak ia berdiri termangu melihat anak muda itu berlari ke pringgitan.

Agung Sedayu yamg berada di pendapa bersama pemimpin pengawal itu pun menjadi semakin berdebar-debar mendengar derap orang berlari. Kini mereka tidak dapat menunggu lagi. Meskipun tidak seorang pun yang memanggil mereka, namun keduanya tanpa berjanji telah melangkah ke pintu.

Ketika Agung Sedayu berdiri tepat di muka pintu, ia mendengar seseorang membuka selarak dengan tergesa-gesa.

Agung Sedayu menjadi semakin curiga. Kini ia berdiri di muka pintu. Namun ia terkejut ketika tiba-tiba saja pintu itu terbuka dan seseorang telah melanggarnya.

Karena Agung Sedayu tidak menduga sama sekali, maka ia pun tidak menghindari benturan itu. Begitu tiba-tiba sehingga Agung Sedayu terdorong beberapa langkah surut. Tetapi anak muda yang juga terkejut itu pun seakan-akan telah terlempar masuk kembali ke pringgitan dan jatuh terbanting di lantai.

Dengan serta-merta ia pun bangkit. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Kini ia berdiri di muka Agung Sedayu dan pemimpin pengawal yang sudah meraba hulu pedangnya.

“Siapakah anak ini?” bertanya pemimpin pengawal itu kepada Argajaya yang berdiri termangu-mangu.

Sebelum Argajaya menjawab, Sekar Mirah yang masih memegang pedang, maju beberapa langkah. Sambil tersenyum ia berkata, “Kami mendapat dua orang tamu malam ini. Tetapi tamu yang seorang ini agaknya tidak kerasan tinggal di sini.”

Agung Sedayu dan pemimpin pengawal itu mengedarkan tatapan matanya berkeliling. Dilihatnya seorang anak muda yang lain berdiri termangu-mangu dekat di depan dinding bilik di ruang dalam. Dari lubang pintu yang memisahkan pringgitan dan ruang dalam mereka melihat anak muda itu termangu-mangu. Namun mereka menarik nafas dalam-dalam, ketika ia melihat Sumangkar berdiri beberapa langkah daripadanya.

~ Article view : [192]