Api di Bukit Menoreh [ series 6-10]

446

Karya : SH Mintardja

Series 6

Untara dan Agung Sedayu kemudian tidak membuang-buang waktu lagi. Segera mereka mulai dengan suatu latihan yang keras. Ternyata Untara benar-benar ingin melihat, sampai dimana puncak kemampuan adiknya.

Ketika latihan itu telah berjalan beberapa lama, maka tahulah Untara bahwa apa yang dikatakan oleh Widura itu memang sebenarnya demikian. Agung Sedayu mempunyai bekal yang cukup untuk menjadi seorang anak muda yang perkasa. Ketangkasan, kekuatan tenaga dan kelincahan. Apalagi kini, setelah anak muda itu menemukan kepercayaannya kepada diri sendiri, maka setiap geraknyapun seolah-olah menjadi lebih mantap. Meskipun beberapa kali Untara melihat kesalahan-kesalahan yang masih dilakukan oleh adiknya, namun kesalahan-kesalahan kecil itu segera dapat diperbaikinya.

Dalam latihan-latihan itulah, maka Widura melihat betapa Untara sebenarnya mempunyai ilmu yang hampir mumpuni. Bahkan kemudian Widura itu tersenyum sendiri mengenangkan perkelahian antara Untara dan Sidanti. “Aneh” pikirnya “Jarang aku temui anak muda sesabar Untara dalam menghadapi lawan perkelahian apapun alasannya. Tetapi terbawa oleh tugas yang diembannya, maka agaknya Untara harus berlaku bijaksana. Kalau ia mau, maka Sidanti adalah bukan lawannya.”

Namun Agung Sedayu ternyata telah mengagumkan pula. Kini anak itu tampaknya tidak ragu-ragu lagi untuk sekali-sekali membenturkan tenaganya apabila perlu. Meskipun beberapa kali ia terdorong surut oleh kekuatan Untara, namun segera ia berhasil menguasai keseimbangan dengan kelincahannya.

Untara melihat ketangkasan adiknya itu dengan penuh kebanggaan didalam dadanya. Apa yang dilakukan oleh Agung Sedayu, benar-benar jarang ditemuinya. Melatih diri dalam lukisan-lukisan. Membuat perhitungan-perhitungan dengan gambar. Tetapi ternyata dalam pelaksanaannyapun Agung Sedayu mampu melakukan sebagian besar dari angan-angannyayang dituangkannya diatas rontal-rontal. Hanya disana-sini Untara masih perlu memberinya beberapa petunjuk dan perubahan, sehingga dengan demikian ilmu Sedayu itupun menjadi semakin sempurna.

Ketika Untara telah cukup mengenal ilmu adiknya, serta menganggap latihan itu telah cukup, maka segera ia menghentikannya. Agung Sedayu, yang sebenarnya telah menjadi kelelahan, segera meloncat surut dan dengan wajah yang riang ia berdiri bertolak pinggang. Meskipun demikian, tampak juga dadanya menggelombang karena nafasnya yang terengah-engah.

“Kau lelah” bertanya Untara.

Agung Sedayu mengangguk, jawabnya “latihan ini terlalu keras bagiku.”

“Belum sekeras perkelahian sebenarnya” Untara menyahut “Apalagi kalau kau bertemu dengan Macan Kepatihan dengan tongkatnya yang mengerikan itu.”

Agung Sedayu menarik nafas. Kemudian iapun segera duduk diatas seonggok tanah disamping pamannya. Sedang Untara masih saja berdiri untuk kemudian memberikan beberapa petunjuk tentang kesakahan-kesalahan yang dibuat oleh Agung Sedayu.

“Sedayu” berkata kakaknya “kau ternyata mampu bertempur seorang lawan seorang. Tetapi suatu ketika kau akan turut serta dalam pertempuran brubuh. Pertempuran antara laskar Pajang dan laskar Jipang. Dalam pertempuran yang demikian kau tidak hanya dapat membanggakan kekuatan pertempuran seorang lawan seorang. Tetapi kau harus dapat menempatkan dirimu diantara kawan dan lawan.”

Agung Sedayu kemudian memperhatikan dengan seksama petunjuk-petunjuk yang diberikan oelah kakaknya. Kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi didalam perang atara dua kekuatan dalam jumlah yang banyak. Hal-hal yang sebagian lagi pamannya telah memberitahukannya kepadanya.

Tetapi Untara itupun berhenti ketika dilihatnya sebuah bayangan yang bergerak-gerak dibelakang pucuk kecil itu. Namun mereka tidak menjadi cemas karenanya. Orang itu telah mereka kenal baik-baik. Kiai Gringsing.

Namun mereka menjadi heran ketika melihat Kiai Gringsing itu tidak datang sendiri.

Ketika Untara melihat orang yang datang bersama dengan Kiai Gringsing itu, tampak wajahnya menjadi tegang. Dengan agak tergesa-gesa ia kemudian bertanya “Apakah ada sesuatu yang penting dengan pekerjaanmu?”

Sebelum orang itu menjawab, terdengar Kiai Gringsing tertawa. Katanya “Kenapa kau tidak mempersilahkan aku dahulu, baru bertanya kepada orang ini?”

Untara tertawa. Jawabnya “Marilah Kiai. Aku mempersilahkan Kiai.”

“Hem” Kiai Gringsing menarik nafas. Kemudian kepada Agung Sedayu ia berkata “Apakah muridmu bertambah seorang lagi Sedayu?”

Agung Sedayu tersenyum, tetapi ia tidak menjawab. Bahkan yang berkata kemudian adalah Kiai Gringsing “Nah, sekarang bertanyalah kepada orang itu.”

Untara mengerutkan keningnya. Kemudian katanya kepada orang yang datang bersama dengan Kiai Gringsing “Kemarilah”

Orang itu ragu-ragu sejenak. Ditatapnya wajah Agung Sedayu dan Widura berganti-ganti.

Untara yang dapat meraba keraguan orang itu berkata “Mereka adalah pemimpin laskar-laskar Pajang di Sangkal Putung. Yang satu adalah adikku Agung Sedayu dan yang lain adalah paman Widura.”

Orang itu menganggukkan kepalanya sambil berkata “Aku pernah mendengar tentang paman Widura di Sangkal Putung, tetapi baru kali ini aku melihat orangnya.”

Widura tersenyum, sahutnya “inilah orangnya. Tak ada yang menarik.”

Orang itu tertawa pendek, yang mendengarpun tertawa pula. kemudian Untaralah yang berkata “Soma, berkatalah. Biarlah paman Widura mendengar pula.”

Soma menarik nafas dalam-dalam, kemudian setelah menelan ludahnya ia berkata “Ada beberapa berita tentang orang itu.”

Sebelum Soma meneruskan, terdengar Widura menyela “Untara, aku telah memperkenalkan diriku, tetapi siapakah kisanak ini?”

Untara mengerutkan keningnya. Sesaat ia berdiam diri, namun kemudian jawabnya “ia salah seorang pembantuku.”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Segera ia mengerti, orang itu pasti dari pasukan sandi. Karena itu maka Widura tidak bertanya lagi.

Kemudian berkatalah Soma itu seterusnya “Ketika aku datang kepondokan kakang, ternyata kakang telah tidak ada. Menurut pesan kakang terakhir, aku harus datang kerumah itu. Dan yang aku jumpai adalah Kiai Gringsing.”

“Aku meninggalkan rumah itu dengan tergesa-gesa tanpa aku rencanakan terlebih dahulu. Tetapi bukankah aku telah berpesan kepada Kiai Gringsing?”

“Pesan yang aneh” gumam Kiai Gringsing.

Untara tersenyum dan Soma itupun tersenyum.

“Tak ada orang yang dapat berbicara dalam bahasamu Untara” berkata Kiai Gringsing kemudian “dan pesan itu sudah aku sampaikan.“ Kemudian kepada Agung Sedayu Kiai Gringsing berkata “He, Sedayu apakah kau dapat mengerti bahasa Untara itu. Bulan muda, angin selatan, bintang utara. Laju bersama gubug penceng. “Kiai Gringsing itupun kemudian tertawa terkekeh-kekeh. “Ayo Sedayu apakah kau tahu artinya?”

“Aku tahu Kiai” jawab Agung Sedayu.

“Apa?”

“Kisanak itu harus datang bersama Kiai menemui kakang Untara disini.” Jawab Agung Sedayu sambil tertawa.

Untara tertawa, Soma itupun tertawa dan yang lain-lain juga tertawa.

“Akupun dapat memberikan arti menurut kehendakku” berkata Kiai Gringsing.

“Tetapi bukankah Kisanak itu datang kemari bersama Kiai?” berkata Sedayu.

Kembali mereka tertawa. Tetapi Untara tidak berkata apa-apa tentang kata-kata sandi itu.

“Nah, Soma” berkata Untara kemudian “katakan berita itu?”

“Macan Kepatihan menempatkan beberapa orang untuk mengamat-amati Benda, namun kemudian pergi ke Timur.”

Untara mengerutkan keningnya, katanya “Apakah dapat diketahui, pada siapakah orang-orang Tohpati itu bersembunyi?”

“Sudah, tetapi kami belum mengetahui jumlah itu.” Jawab Soma “sedang dihutan-hutan disebelah barat kadang-kadang tampak juga beberapa orang Jipang. Diantara mereka adalah Plasa Ireng.”

Kini tidak saja Untara yang mengerutkan keningnya. Tetapi Widurapun kemudian memperhatikan berita itu dengan seksama. Bahkan dengan serta-merta ia berkata “Ada tanda-tanda Tohpati akan menyergap dari barat?”

Untara mengangguk “Ya” jawabnya “Mereka sedang menyusun kekuatannya di barat. Plasa Ireng dan pasti Alap-alap Jalatunda telah ditarik pula kedalamnya.”

Widura kemudian termenung sejenak. Agaknya Tohpati benar-benar mengerahkan segala kekuatan dari sisa-sisa laskar Jipang Plasa Ireng, Alap-alap Jalatunda dan mungkin pula pimpinan laskar Jipang didaerah utara, yang terkenal dengan nama Sanakeling.

Sesaat gunuk Gowok itu menjadi sepi. Mereka masing-masing hanyut dalam arus angan-angannya. Widura merasa bersyukur bahwa sampai saat ini Sidanti masih dapat dikuasainya atas kebijaksanaan Untara, sehingga apabila sergapan Tohpati itu datang beserta beberapa orang terkenal dari laskar Jipang, tenaganya masih dapat dipergunakan. Widurapun mengharap Agung Sedayu akan memperkuat laskarnya pula disamping Untara sendiri.

Untara itupun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kepada pembantunya “Aku terima beritamu. Hubungi Trigata. Aku berada di Sangkal Putung. Beritahukan setiap perkembangan keadaan.”

Orang itu mengangguk. Jawabnya “Tetapi pasti tidak malam ini. Mungkin besok malam atau lusa.”

“Apakah ada tanda-tanda Tohpati menyergap malam hari?”

“Mungkin. Mereka menyiapkan obor dan panah-panah api.”

“Setan” Untara menggeram “Tetapi bukan tujuan mereka menghancurkan Sangkal Putung, sebab mereka memerlukan lumbung-lumbung padi disini. Tetapi bahwa mereka menyerang pada malam hari adalah mungkin sekali.”

“Nah, aku akan pergi dulu kakang. Mungkin keadaan berkembang terlalu cepat.”

“Baik, aku akan berada di Sangkal Putung .”

Orang itupun kemudian mengangguk, minta diri kepada semua yang hadir ditempat itu, dan menghilang diantara gelapnya malam.

“Petugas yang baik” gumam Untara.

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi wajahnya masih tegang. Sebagai seorang yang bertanggung jawab atas daerah itu, maka segera Widura membuat perhitungan-perhitungan.

Tiba-tiba ia teringat kepada Tambak Wedi. “Sepasar” katanya dalam hati. Kini dua hari telah dilampauinya. Tiga dengan besok. “Gila orang yang tak tahu keadaan itu. Ia terlalu mementingkan diri sendiri dan muridnya tanpa memandang segenap persoalan dalam jangkauan yang luas. Tetapi tiba-tiba ia teringat pula pada orang yang bertopeng yang duduk dimukanya. Dan dengan serta-merta Widura itu bertanya “Kiai” katanya “apakah Kiai bertemu dengan Tambak Wedi di lapangan. Bukankah Kiai telah melemparkan cemeti Kiai setelah Tambak Wedi melemparkan gelang besinya.”

Orang itu tertawa “ya” jawabnya “ia memberi aku salam yang hangat, sehangat api neraka. Tetapi setelah kalian bubar orang itu pergi juga tanpa berbuat sesuatu. Aku sangka ia akan marah kepadaku. Tetapi ia hanya mengancamku.”

“Apakah katanya?”

Kiai Gringsing itu diam sesaat. Kemudian dijawabnya “Ki Tambak Wedi minta aku tidak ikut mencampuri urusannya dengan kau. Kalau aku tidak memenuhinya, maka aku akan dibunuhnya.”

Widura mengangkat alisnya. Setelah termenung sejenak ia bertanya pula “Bagaimanakah jawaban Kiai?”

“Hem” Kiai Gringsing menarik nafas. Kemudian katanya “Aku kira tak seorang pun yang berhak berbuat seperti Ki Tambak Wedi itu. Kalau ia ingin berbuat sekehendaknya, maka akupun akan berbuat sekehendakku. Bukankah nanti apabila Ki Tambak Wedi marah aku mencari perlindungan kepada Agung Sedayu?”

“Ah” Agung Sedayu mendesah, tetapi Widura dan Untara tertawa.

Dan Kiai Gringsing itupun berkata seterusnya “Tetapi lupakan sajalah Ki Tambak Wedi itu. Aku harap ia tidak bersungguh-sungguh. Yang perlu kau pikirkan, bagaimana kau dapat menghindarkan Sangkal Putung dari bencana yang akan dapat ditimbulkan oleh Tohpati.”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Untarapun kemudian berdiam diri, sedang Agung Sedayu memandang jauh kelangit, seakan-akan sedang menghitung bintang yang berhamburan diatas dataran yang biru pekat.

Sesaat mereka saling berdiam diri. Widura sedang mencoba menghitung-hitung kekuatan dipihaknya dan membandingkan dengan kekuatan Tohpati. Dalam jumlah, maka Widura dapat berbesar hati. Dengan anak-anak muda Sangkal Putung, laskarnya pasti berjumlah lebih banyak dari jumlah laskar Tohpati. Namun dalam penilaian seorang-seorang, maka Widura masih harus berkeprihatin. Meskipun setiap orang di dalam laskarnya tidak akan kalah dari setiap orang dalam laskar Jipang, tetapi anak-anak muda Sangkal Putung, Widurapun tidak yakin kalau jumlah laskarnya akan memadai. Karena laskar Jipang dapat berada dimana saja yang mereka kehendaki, sehingga suatu ketika, jumlah laskar Jipang itu dapat menjadi banyak sekali.

Karena itu maka Widura mengambil kesimpulan, bahwa anak-anak muda Sangkal Putung itupun selagi sempat harus mendapat penempaan sejauh-jauh mungkin. Bahkan orang-orang yang sudah agak lanjut usianya, asal mereka sanggup dan bersedia, pasti akan menjadi tenaga bantuan yang berarti.

Sesaat kemudian, maka Kiai Gringsing itupun pergi meninggalkan mereka. Katanya “Aku akan pulang kerumahku diantara rumpun-rumpun bambu. Hati-hatilah, setiap saat Tohpati itu akan datang. Mungkin benar ia akan menyergap dari arah barat. Karena itu, awasilah arah itu baik-baik. Namun jangan lengahkan penjagaan-penjagaan ditempat-tempat lain.”

“Baik Kiai” jawab Widura.

Namun Kiai Gringsing itu berpalingpun tidak. Orang itu berjalan mendaki puntuk kecil, lewat dibawah pohon kelapa sawit dan seterusnya hilang dibalik puntuk kecil itu.

Belum lagi Untara sempat berpaling, terdengar Agung Sedayu bertanya ”Siapakah sebenarnya orang itu?”

Untara tersenyum, jawabnya “Kiai Gringsing.”

Agung Sedayu hanya dapat menggigit bibirnya. Ketika kemudian Untara dan Widura tertawa, maka anak muda itu berdiri sambil menggeliat. Katanya “Apakah kita akan tidur disini?”

Widura bahkan tertawa semakin keras. Katanya “Apakah kau berani tidur disini? Bukankah setiap malam, apabila kita berada ditempat ini kau selalu saja mengajak pulang? apalagi ketika kau dengar Tohpati sedang berkeliaran didaerah ini?”

“Ketika itu tidak ada kakang Untara” jawab Sedayu.

“Bagaimanakah kalau aku lari apabila ada bahaya?” bertanya Untara.

“Apa kakang sangka aku tidak bisa lari secepat kakang?” bantah Agung Sedayu.

Kembali mereka tertawa. Namun terasa oleh Widura, betapa kemenakannya itu mengalami banyak perubahan. Kini ia sama sekali tidak tampak menjadi cemas seandainya bahaya betul-betul mengancamnya. Apalagi setelah ia mendapat beberapa petunjuk oleh kakaknya. Baik lukisan-lukisannya maupun pelaksanaannya, maka ternyata Agung Sedayu benar-benar dapat menjadi seorang anak muda yang perkasa. Apalagi hatinya benar-benar menjadi besar dan tangguh. Maka kekuatan Agung Sedayu pantas diperhitungkan.

Sesaat kemudian Widura dan Untarapun berdiri pula. keperluan mereka agaknya sudah cukup buat kali ini. Sehingga dengan demikian segera merekapun kembali ke kademangan.

Hari itu setiap penjagaan menjadi lebih diperkuat. Gardu-gardu peronda dan peronda-peronda keliling. Tohpati yang berada disekitar tempat mereka, setiap saat dapat menyergap. Namun yang harus mendapat pengawasan paling ketat adalah justru daerah barat.

Sedang kerja Widura hari itu adalah menangani sendiri latihan-latihan bagi anak-anak muda Sangkal Putung disamping beberapa orang anak buahnya. Langsung diberikannya beberapa petunjuk penting apa dan bagaimana mereka harus berbuat di dalam pertempuran-pertempuran. Swandaru, yang memimpin anak-anak muda itupun berlatih dengan sekuat-kuat tenaganya, supaya namanya tidak terlalu jauh dibawah nama-nama yang dikaguminya. Sidanti, Sedayu, Widura dan Untara.

Hanya Sidantilah yang selalu bersikap acuh tak acuh atas semua kesibukan itu. Meskipun demikian, sampai saat itu, Sidanti masih berada dalam barisan Widura.

Hari itupun ternyata Tohpati belum menyergap Sangkal Putung. Sehingga pada malam harinya Agung Sedayu masih dapat memanfaatkannya dengan beberapa latihan penting. Juga anak-anak muda Sangkal Putung, oleh Widura diajarinya bertempur dimalam hari. Bagaimana mereka harus mengenal kawan dan lawan di dalam gelap dan bagaimana mereka harus memberikan ciri masing-masing dan tanda-tanda sandi. Selain itu Widurapun telah membuat beberapa persiapan untuk bertempur malam hari. Obor-obor dan panah-panah api untuk mengimbangi laskar Tohpati yang dengan api akan mencoba mengacaukan pertahanan pasukan yang berada di Sangkal Putung.

Namun dipagi hari berikutnya, ketika Untara dan Agung Sedayu sedang sibuk mengurai lukisannya datanglah seorang penjual keris yang ingin menemui Untara. Kepada para penjaga dikatakannya bahwa ia mendapat pesanan dari Untara itu.

Ketika seseorang menyampaikannya kepada Untara, maka Untara itupun mengerutkan keningnya, kemudian katanya “Ya, aku memang memesan sebuah keris. Bawalah orang itu masuk.”

Sesaat kemudian orang yang menyebut dirinya pedagang keris itu diantar masuk ke pringgitan.

“Duduklah” Untara mempersilahkan.

Orang itupun kemudian duduk diatas sehelai tikar pandan. Dipunggungnya terselip sebilah keris, dan dianggarnya pula keris yang lain, pada sangkutannya didalam jumbai dibagian depan ikat pinggangnya.

“Paman” berkata Untara kemudian kepada Widura “apakah paman tidak ingin melihat beberapa bilah keris?”

Widura tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab. Namun demikian ia duduk pula dihadapan orang yang menyebut dirinya pedagang keris itu. Agung Sedayupun kemudian hadir juga diantara mereka.

Sesaat kemudian barulah Untara berkata kepada orang itu “Apakah kau membawa keris itu?”

Orang itu menggangguk. Kemudian dijawabnya “Ya, Soma telah menyampaikan pesan itu.”

Untara mengangguk-angguk. Bahkan Widurapun mengangguk-angguk pula. Sedang Agung Sedayu sekali-sekali mencoba memandang wajah orang itu.

“Nah, marilah aku perkenalkan dengan pemimpin laskar Pajang di Sangkal Putung” berkata Untara sambil menunjuk Widura “Paman Widura.”

Orang itu mengangguk dalam sambil berkata “Aku adalah utusan kakang Untara.”

Kembali Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Segera ia tahu bahwa orang itu sama sekali bukan pedagang keris. Tetapi orang itu adalah salah seorang pembantu sandi dari Untara dalam kedudukannya sebagai seorang senopati yang memegang kekuasaan atas nama Panglima Wira Tamtama. Ki Gede Pemanahan.

“Namanya Trigata” sambung Untara.

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Agung Sedayu mengangguk-angguk pula. nama itu pernah didengarnya di Gunung Gowok dahulu, ketika kakaknya berpesan pada Soma.

“Nah sekarang, apakah yang akan kau sampaikan?”

“Kelanjutan dari berita-berita yangdibawa oleh Soma.”

“Ya”

“Tohpati hari ini berada dihutan-hutan sebelah barat padukuhan Benda.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya “apakah sangkamu persiapannya sudah selesai?”

“Kami menyangka demikian. Orang menyelundup kami yang disekitar lingkungan mereka yang dapat kami hubungi telah mendengar perintah untuk tetap ditempat bagi mereka.”

Kembali Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bagaimanakah dengan obor dan panah api?”

Trigata berpikir sejenak, kemudian jawabnya “Mungkin akan benar-benar mereka pergunakan. Mereka tidak mau gagal kali ini. Karena itu mereka akan mempergunakan alat-alat untuk mengacaukan pertahanan kita disini.”

Sesaat mereka kini berdiam diri. Masing-masing mencoba membayangkan apakah kira-kira yang akan terjadi seandainya laskar Macan Kepatihan itu benar-benar akan datang.

Yang mula-mula berbicara adalah Widura, katanya “Aku harus menyiapkan orang-orangku.”

“Ya” berkata Untara “Tetapi tidak sekarang. Nanti sore setelah matahari hampir tenggelam, supaya Tohpati tidak sempat mengetahui, bahwa rencananya telah kita mengerti sebelumnya.”

“Kau benar” berkata Widura “aku hanya akan membuat latihan-latihan khusus pagi ini.”

Untara menggangguk. Kemudian kepada Trigata Untara itu berkata “Apakah menurut dugaanmu malam nanti Tohpati akan bergerak.”

“Demikianlah” sahut Trigata.

“Baik” berkata Untara “usahakan melihat gerakan mereka meskipun dari jarak yang jauh. Berilah tanda dengan panah sanderan. Tetapi ingat, kau tidak usah membunuh diri. Demikian kau melepaskan anak panah sanderan, kau harus segera melarikan dirimu. Terserahlah kepadamu, siapakah yang berani bertaruh nyawa berdiri diujung, yang lain akan menerima tanda itu dan meneruskan ke Sangkal Putung.”

“Ah pekerjaan itu tidak terlalu berbahaya” sahut Trigata “apalagi dimalam hari, kami akan dapat melakukannya dengan aman. Sebab dapat kami lakukan dari jarak yang cukup jauh. Pekerjaan ini jauh lebih aman dari melakukan pertempuran itu sendiri.”

“Bagus, dimana kalian berada?”

“Di Tegal” jawab Trigata “dirumah seorang petani miskin bernama Pada.”

“Kelak, apabila kau tidak datang sesudah serangan selesai, kami akan mencari kalian.”

“Terima kasih” sahut Trigata.

Kembali kemudian mereka berdiam diri. Wajah Agung Sedayu tampak tegang. Ada sesuatu yang bergolak didalam dadanya. Setelah ia menemukan kepercayaannya pada kekuatan yang tersimpan dalam dirinya, tiba-tiba timbullah keinginannya untuk ikut serta dalam pertempuran itu. Meskipun demikian maksudnya itu tidak segera disampaikannya kepada kakaknya maupun pamannya. Ia akan menunggu sampai nanti apabila diadakan pertemuan diantara para pemimpin laskar di Sangkal Putung.

Widura kemudian meninggalkan Pringgitan. Diberinya anak buahnya beberapa petunjuk khusus. Meskipun belum diberitahukannya bahwa Tohpati mungkin sekali akan menyergap malam nanti, namun secara tidak langsung telah dipersiapkannya anak buahnya untuk menghadapi kemungkinan itu. Dipersiapkannya pula anak-anak muda Sangkal Putung untuk menghadapi setiap kemungkinan, pula laki-laki yang telah berumur agak lanjut. Diberikannya petunjuk tempat-tempat yang harus mereka pertahankan dan diberitahukannya pula cara-cara untuk melawan api apabila timbul kebakaran.

Meskipun Widura belum mengatakan, namun sudah terasa oleh anak buahnya, bahwa bahaya itu semakin dekat. Karena itu, maka merekapun telah mulai mengatur hati masing-masing. Siap menghadapi setiap kemungkinan.

Penduduk Sangkal Putung merasa pula, bahwa mereka harus ikut serta mempersiapkan diri. Perempuan-perempuan telah membuat persiapan secukupnya menghadapi masa-masa yang sulit. Kalau terjadi pertempuran, belum pasti sehari, dua hari akan selesai. Dan yang paling mengerikan bagi mereka, bagaimanakah kalau laskar Pajang bersama-sama anak-anak muda Sangkal Putung tidak mampu menahan arus Macan Kepatihan?

Siang itu juga, Trigata meninggalkan Sangkal Putung kembali ketempatnya. Di tempat persembunyiannya ternyata telah berkumpul lima orang yang siap melakukan tugas-tugas mereka. Beberapa tanda sandi harus mereka berikan lewat panah sanderan yang nanti akan memberitahukan beberapa masalah mengenai gerakan Tohpati.

Hari itu Sangkal Putung benar-benar menjadi sibuk. Dimuka banjar anak-anak Sangkal Putung sibuk berlatih. Sedang anak buah Widura sibuk pula mempersiapkan senjata-senjata mereka.

“Jangan memeras tenaga kalian” Widura menasehati anak-anak muda Sangkal Putung “nanti apabila setiap saat diperlukan, kalian telah menjadi kelelahan.”

Anak-anak muda itupun menurut pula. Mereka kini tinggal mendengarkan beberapa petunjuk-petunjuk yang harus mereka lakukan dalam pertempuran yang setiap saat mungkin akan datang.

Ketika matahari telah condong kebarat, beberapa orang penjaga diujung induk desa Sangkal Putung terkejut mendengar panah sanderan yang meraung-raung dilangit, kemudian jatuh didekat mereka. Seseorang segera memungut anak panah itu. Namun mereka tidak melihat sesuatu pada anak panah itu. Karena itu, maka seorang dari mereka segera meloncat keatas punggung kuda dan langsung berpacu ke Kademangan.

Widura dan beberapa orang terkejut karenanya, ketika seorang dengan tergesa-gesa lari naik ke pringgitan.

“Ki Lurah” berkata orang itu kepada Widura “sebuah anak panah sanderan telah jatuh didekat gardu penjagaan kami. Tetapi kami tidak menemukan sesuatu apapun pada anak panah itu”

Widura mengerutkan keningnya. “Bawalah kemari” berkata Widura. ketika Untara ikut serta melihat anak panah itu, maka iapun mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kepada peronda yang menemukan anak panah itu ia berkata “Perkuat penjagaan digardumu”

“Baik tuan” jawab orang itu.

“Kembalilah. Setiap perkembangan akan kami beritahukan, tetapi kaupun harus melaporkan setiap perkembangan yang kau ketahui” berkata Untara pula.

Orang itupun kemudian pergi meninggalkan pringgitan. Disepanjang jalan ia menggerutu “Tidak juga mau memberitahukan apakah sebenarnya yang akan terjadi” Namun karena itulah maka para peronda itu menjadi semakin berhati-hati.

Sepeninggal orang itu, maka Untarapun berkata kepada Widura “Paman, anak-anak buahku telah mendapat kepastian. Malam nanti Tohpati akan mulai menyergap Sangkal Putung. Anak panah yang dikirim saat ini hanya sebuah. Menurut pesan yang aku berikan kepada mereka, kalau Tohpati akan bergerak sebelum tengah malam, mereka harus mengirimkan dua anak panah. Sedang kalau kira-kira antara tengah malam atau sesudah itu, satu anak panah. Sehingga dengan demikian maka kemungkinan terbesar, Tohpati nanti akan bergerak pada tengah malam”

Widura mengerutkan keningnya. “Waktu yang baik” gumamnya. “Mungkin Tohpati memperhitungkan, bahwa pada saat fajar mereka akan memasuki Sangkal Putung”

Keduanya kemudian berdiam diri. Masing-masing sedang mencoba melihat setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Yang mula-mula berbicara adalah Agung Sedayu “Kakang, apakah Alap-alap Jalatunda akan ikut serta dengan Tohpati?”

Untara mengangguk “Mungkin sekali”

Agung Sedayu menarik nafas. Namun ia tidak berkata apapun. Untara yang melihat wajahnya, segera mengerti perasaan adiknya. “Apakah kau sudah rindu kepadanya?”

Agung Sedayu tersenyum, tetapi ia masih belum menjawab

“Kalau begitu, apakah kau ingin bertemu malam nanti?”

Kini Agung Sedayu mengangguk “Ya” jawabnya “Aku sangka Alap-alap Jalatunda itu tidak terlalu menakutkan”

Untara tersenyum, namun kini ia berkata kepada Widura “Paman, barangkali sudah sampai waktunya paman memberitahukan persoalan Sangkal Putung kepada para pemimpin kelompok anak buah paman”

Widura mengangguk “Ya. Aku sangka demikian. Aku akan memanggilnya beserta beberapa pemimpin anak-anak muda Sangkal Putung, bapak Ki Demang Sangkal Putung dan bapak Jagabaya”

“Jagabaya?” bertanya Untara

“Ya. Iapun bekas prajurit yang baik. Meskipun umurnya telah agak lanjut, namun tekadnya masih menyala seperti anak-anak muda”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya.

Widurapun kemudian memanggil semua orang-orang penting di Sangkal Putung. Orang-orangnya sendiri, maupun orang-orang Sangkal Putung. Dengan singkat Widura menjelaskan kepada mereka, apakah yang sedang mereka hadapi sekarang. “Mungkin orang-orang Tohpati itu lebih banyak dari orang-orangnya terdahulu” berkata Widura kemudian. “Karena itu setiap tenaga harus kita manfaatkan”

Ki Demang Sangkal Putung mengangguk-anggukkan kepalanya. Iapun ikut bertanggung jawab atas apa saja yang terjadi diwilayahnya. karena itu, maka katanya “Semua anak-anak, akan dikerahkan dan semua laki-laki yang masih mungkin mengangkat senjata. Ada beberapa orang bekas prajurit yang meskipun sudah ubanan, tetapi menyatakan kesediaan mereka untuk ikut serta dalam pertempuran ini. Enam atau tujuh orang. Bahkan mungkin lebih dari itu”

“Bagus” sambut Widura. “Beberapa orangku akan berada dalam barisan anak-anak muda Sangkal Putung”

Ki Demang Sangkal Putung mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bagus” katanya “Anak-anak Sangkal Putung akan menjadi bergembira karenanya”

Tetapi hampir semuanya kemudian tak bersuara ketika Widura berkata “Tetapi perhatian terbesar harus kita berikan kepada pemimpin laskar Jipang itu, Macan Kepatihan. Disini kita akan menentukan, siapakah yang pantas untuk melawannya tanpa menimbulkan kemungkinan yang terlalu buruk bagi kita”

Sesaat pringgitan itu menjadi sepi. Tak seorangpun yang menyahut. Mereka saling berpandangan dan sebagian dari mereka memandangi Untara dan Sidanti berganti-ganti. Tetapi ada pula diantara mereka yang berpikir “Ternyata yang pantas melawan Tohpati itu adalah Agung Sedayu”

Kesepian itu kemudian dipecahkan oleh suara Sidanti perlahan-lahan “Kakang Widura, siapakah yang menurut kakang paling pantas melawan Macan Kepatihan itu?

Widura terdiam sejenak. Ia menunggu Untara menjawab pertanyaan itu. Dan sebenarnyalah kemudian Untara berkata “biarlah kita melihat keseluruhan dari musuh kita. Diantaranya mereka akan datang juga Plasa Ireng, Alap-alap Jalatunda dan beberapa orang yang lain. Karena itu, maka tugas kita akan menjadi berat. Aku sama sekali tidak menganggap bahwa akulah yang paling pantas melawan Tohpati. Tetapi aku akan bertanggung jawab terhadap atasanku. Biarlah aku mencoba melawannya, dan sudah tentu Plasa Ireng, Alap-alap Jalatunda dan yang lain-lain itupun perlu mendapat perhatian.”

Sidanti tersenyum. Jawabnya “aku sudah menyangka” katanya “kemudian kami, yang lain-lain adalah anak-anak yang tidak perlu ikut campur dalam pertempuran itu.”

“Bukan begitu” sahut Untara “aku, paman Widura tak akan dapat berbuat sendiri-sendiri. Kekuatan laskar Sangkal Putung adalah karena kita semua. Satu-satu dari diri kita masing-masing.”

Sidanti itu masih tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab. Ia sudah memperhitungkan sejak semula, bahwa Untara pasti akan menempatkan dirinya melawan Macan Kepatihan. Sedang ditangan Untara itu tergenggam kekuasaan. Sehingga dengan demikian, tak akan ada kesempatan baginya untuk menyainginya. Namun meskipun demikian, Sidanti mengharap, mudah-mudahan kepala Untara dipecahkan olah Macan yang garang itu dengan tongkat baja putihnya.

Untara melihat senyum yang aneh itu. Tetapi ia sama sekali tidak berkata apapun. Dalam keadaan yang demikian, maka kekuatan mereka sepenuhnya sangat diperlukannya. Karena itu, maka ia pura-pura sama sekali tidak melihat senyum Sidanti itu. Namun Hudaya, Citra Gati dan bahkan Agung Sedayu tidak dapat melepaskan perasaannya yang ganjil. Dari senyum itu mereka melihat, bahwa sesuatu tersembunyi dibelakangnya.

“Kalau Untara itu telah mati oleh Tohpati” berkata Sidanti “Maka keadaan Sangkal Putung akan kembali seperti semula. Apalagi kalau aku mampu membunuh Macan Kepatihan itu. Mudah-mudahan apa yang aku peroleh sekarang ini dari guruku, setidak-tidaknya akan dapat mengimbanginya. Sebab Tohpati itu sudah tidak sempat lagi mendalami ilmunya”

Akhirnya setelah Widura memberikan beberapa pesan kepada pemimpin-pemimpin kelompok itu, maka pertemuan itu segera dibubarkan. Mereka masing-masing kembali kepada kelompoknya, memberikan kepada mereka beberapa petunjuk dan sesaat kemudian mereka itu telah mempersiapkan diri masing-masing untuk menghadapi suatu pertempuran yang berat.

Anak-anak muda Sangkal Putungpun kemudian berlari-larian hilir mudik. Mereka segera memanggil kelompok masing-masing dan seperti juga anak buah Widura, merekapun segera mempersiapkan diri mereka masing-masing.

Ketika kemudian matahari tenggelam dibalik punggung bukit, laskar Sangkal Putung itupun telah siap dilapangan. Beberapa orang bekas prajurit ada diantara mereka. Meskipun orang-orang itu telah menjelang setengah abad, namun tubuh-tubuh mereka masih tegap, dan senjata-senjata mereka, yang selama ini disimpannya. Namun kini senjata-senjata itu diambilnya kembali. Terkenanglah mereka pada masa muda mereka. Bertempur untuk suatu keyakinan yang digenggamnya. Kini merekapun akan bertempur kembali untuk suatu pengabdian atas kampung halaman mereka.

Swandaru berdiri dengan gagahnya. Pedangnya yang besar tergantung dipinggangnya. Sekali-sekali ia menatap langit yang biru bersih, yang dibayangi oleh warna-warna merah. Matahari itu seakan-akan betapa malasnya. Gelap yang turun perlahan-lahan terasa sangat menjemukan. Mereka itu, anak-anak muda Sangkal Putung sedang menunggu datangnya tengah malam.

Orang-orang yang sudah setengah tua, mendapat tugas mereka sendiri. meskipun mereka membawa senjata pula, namun mereka harus berada didalam desa mereka. Kalau orang-orang Macan Kepatihan itu berhasil menembus pertahanan laskar Pajang dan anak-anak muda Sangkal Putung, maka merekapun akan ikut serta bertempur. Disamping itu, kalau Tohpati itu kemudian menjadi putus asa, dan mempergunakan panah-panah api untuk menimbulkan kebakaran, maka adalah pekerjaan mereka untuk mengatasinya. Sedang perempuan-perempuan muda tidak kalah sibuknya. Mereka mendapat pekerjaan yang pantas untuk mereka. Mempersiapkan makanan bagi mereka yang akan berangkat berperang. Meskipun demikian, diantara anak-anak gadis itupun ada pula yang menyelipkan keris dan patrem diantara ikat pinggang mereka seakan-akan merekapun siap pula, apabila perlu, untuk ikut serta bertempur bersama anak-anak mudanya.

Tetapi disamping semuanya itu, perempuan- perempuan yang bersembunyi dibalik-balik pintu rumahnya mendekap anak-anak mereka yang masih terlalu kecil dengan eratnya. Mereka mencoba untuk menghibur anak-anak mereka.

Ketika malam turun, maka Sangkal Putung benar-benar dikuasai oleh kegelapan. Hampir tak ada rumah yang menyalakan lampunya, dan bahkan hampir tiada rumah yang berpenghuni. Hampir setiap laki-laki telah keluar dengan senjata ditangan, dan hampir setiap perempuan pergi mengungsikan diri ke kademangan, berkumpul bersama mereka untuk menanggungkan segala macam keadaan bersama-sama. Apapun yang mereka alami, apabila dipikulnya bersama-sama, maka terasa akan menjadi bertambah ringan.

Meskipun hampir semua kekuatan laskar Widura dan anak-anak muda Sangkal Putung ditarik kearah barat, namun Widura tidak mengosongkan setiap gardu di sudut-sudut lain. Namun isi dari gardu-gardu itulah yang kemudian sebagian diserahkan kepada laki-laki Sangkal Putung yang tidak ikut serta dalam pertempuran langsung dengan anak-anak Macan Kepatihan, meskipun satu dua diantara mereka telah diperlengkapi dengan alat-alat tanda bahaya yang sebaik-baiknya, untuk setiap kali apabila bahaya mengancam mereka, segera mereka dapat memberitahukannya kepada laskar cadangan yang ditinggalkan di kademangan, bersama dengan beberapa orang Sangkal Putung sendiri, disekitar lumbung-lumbung dan di banjar desa.

Kini para peronda telah tahu benar, apa arti panah sanderan yang setiap saat akan meluncur disekitar tempat-tempat mereka. Untara telah berpesan kepada anak buahnya, bahwa apabila ada tanda-tanda Tohpati menggerakkan laskarnya, supaya mereka segera mengirimkan anak panah sanderan dua kali ganda berturut-turut. Dan apabila keadaan amat mendesak karena suatu perubahan, sedang mereka para petugas yang telah dikirim oleh Untara, tidak sempat memberitahukan langsung, supaya dikirimnya panah sanderan tiga kali berturut-turut.

Beberapa saat kemudian maka laskar Widura dan anak-anak muda Sangkal Putung telah siap seluruhnya dilapangan dimuka banjar desa, segera untuk berangkat. Beberapa orang laki-laki telah siap menempati tempat-tempat yang ditentukan, dan tanda-tanda telah mereka kenal dengan baiknya.

Namun tiba-tiba mereka menjadi tegang ketika mereka mendengar derap kuda yang berlari kencang memecah kesepian. Widura dan Untara segera melangkah maju menyongsong orang berkuda itu, sedang dibelakangnya Agung Sedayu berdiri dengan berdebar-debar. Kali ini untuk pertama kalinya ia mendapat kesempatan untuk ikut serta bertempur dengan lawan yang sebenarnya. Sebilah pedang tergantung dipinggangnya. Namun tanpa setahu kakaknya, disakunya terdapat beberapa butir batu sebesar telur ayam. Ia sendiri tidak tahu pasti apakah batu-batu itu akan bermanfaat. Namun begitu saja timbul keinginannya untuk mencoba apakah ia benar-benar dapat membidik dalam arti yang sebenarnya. Membidik tidak saja dalam permainan-permainan yang menggembirakan tetapi membidik dalam pertempuran yang berbahaya.

Sesaat kemudian tampaklah seekor kuda berlari dengan kencangnya. Demikian kuda itu berhenti, maka meloncatlah seorang prajurit dihadapan Widura.

Widura dengan tergesa-gesa bertanya kepadanya “Ada yang penting dipenjagaanmu?”

Orang itu mengangguk, katanya “kami menerima panah sanderan tiga kali berturut-turut.”

Widura mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling kepada Untara maka tampaklah Untara sedang berpikir. “Ada sesuatu yang menyimpang dari rencana semula.”ndesisnya.

Widura mengangguk.

Setelah Untara itu diam sejenak, maka katanya “siapkan seluruh laskar yang ada. Kita siap berangkat kemana saja. Beberapa orang berkuda supaya bersiap pula. Apabila ada perubahan arah, orang-orang itu dapat memberitahukannya kesegenap sudut penjagaan.”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian terdengar ia bersuit dua kali. Seorang yang bertubuh kecil berlari-lari datang kepadanya.

“Sonja” berkata Widura “siapkan orang-orangmu. Setiap saat kami memerlukan mereka.”

“Baik” sahut Sonja. Kemudian iapun berlari-lari kembali ketempat kawan-kawannya sekelompoknya menunggu didekat kuda-kuda ditambatkan. Mereka adalah kelompok yang harus menyampaikan setiap berita kepada segenap tempat yang diperlukan.

Sebelum Widura memberikan perintah-perintah berikutnya, kembali mereka mendengar suara kaki kuda berderap. Sekali lagi Widura, Untara dan orang-orang disekitarnya menjadi tegang.

Seperti orang yang pertama orang itupun tergesa-gesa berkata kepada Widura “kami telah menerima panah sanderan dua kali berturut-turut.”

“He” Widura mengerutkan keningnya “mereka mempercepat gerakan mereka.”

“itulah kecerdikan Macan Kepatihan itu” sahut Untara “setiap rencana dirahasiakan didalam otaknya. Baru pada saat terakhir dilakukannya rencana itu, sehingga orang-orang mereka sendiri tidak dapat mengetahui sebelumnya. Karena itulah maka Trigata itupun tidak dapat mengetahuinya dengan tepat apa yang akan dilakukan oleh Macan Kepatihan. Karena orang-orangnya yang dapat melakukan hubungan dengan orang-orang dalam laskat Tohpati itupun tidak dapat mengatakan dengan tepat pula.

Sekali lagi Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya “Kita juga sudah siap untuk berangkat. Bukankah kita segera berangkat pula.”

“Marilah” sahut Untara. Sementara tetap kebarat.”

Sekali lagi Widura bersuit dua kali. Dan sekali lagi Sonja berlari-lari kepadanya.

“Satu diantara kalian pergi ke Kademangan. Yang lain ke setiap gardu peronda. Tohpati telah mulai bergerak. Ingat jangan menimbulkan kegelisahan diantara mereka. Kemudian kalian kembali ketempat ini dan separo dari kalian harus berada digardu pertama sebelah barat.”

“Baik” Sonja mengangguk, kemudian kembali ia meloncat berlari kekelompoknya. Sesaat kemudian maka mereka telah menghambur kesegenap penjuru.

Kedua penjaga yang datang berkuda berturut-turut telah kembali ketempat mereka pula mendahului laskar Widura. Sedang para penghubung telah menghubungi gardu-gardu yang lain. Mereka sengaja tidak mempergunakan tanda-tanda, seperti dahulu, supaya Tohpati tidak menyadari bahwa kehadirannya telah dinantikan.

Para prajurit serta laki-laki dari Sangkal Putung yang merupakan kekuatan cadangan segera bersiap pula. Dengan senjata ditangan mereka, mereka mengawasi setiap tempat yang mereka anggap penting. Beberapa orang berjalan hilir-mudik, dari sudut yang satu ke sudut yang lain dengan pedang terhunus. Setiap jalan yang masuk ke induk desa Sangkal Putung telah tertutup rapat olah penjagaan yang ketat. Gardu-gardu peronda telah dilengkapi dengan senjata-senjata jarak jauh, panah, bandil dan alat-alat tanda bahaya.

Sementara itu laskar Widura telah mulai merayap kepintu sebelah barat, lewat tiga jalan. Yang separo menyusur jalan besar, sedang yang separo lagi dibagi menjadi dua pula. Sebagian lewat sebelah utara dan sebagian lewat sebelah selatan. Demikian pula anak-anak muda Sangkal Putung itupun dibagi menjadi tiga. Sepertiga lewat jalan besar, sepertiga lewat utara dan sepertiga lewat selatan.

Laskar itu kini telah keluar dari induk desa Sangkal Putung. Setelah melewati sebuah bulaj kecil mereka akan sampai kesebuah desa kecil yang hampir-hampir telah dikosongkan. Semua orang-orangnya telah pergi mengungsi keinduk desa Sangkal Putung.

Ketika Widura yang berjalan disamping Untara menengadahkan wajahnya, tampaklah langit yang bersih ditaburi oleh bintang-binang yang gemerlapan. Selembar-selembar awan mengalir dihanyutkan oleh angin yang lambut.

Sejenak kemudian laskar itupun telah sampai didesa kecil itu. Induk pasukan tepat berada ditengah, sedang kedua sayapnya masing-masing berada diujung desa-desa itu sebelah utara dan selatan.

Para penjaga masih tetap berada ditempat mereka. Namun mereka tidak lagi berada didalam gardu. Mereka lebih senang berada dibali pepohonan. Ketika mereka melihat induk pasukan itu datang, maka seakan-akan mereka bersorak didalam hati mereka. Sebab dengan demikian, apabila laskar Tohpati itu datang setiap saat, mereka tidak harus melakukan perlawanan darurat.

Laskar Widura dan anak-anak muda Sangkal Putung itu tidak maju terus. Mereka tinggal didalam desa itu, supaya lawan mereka tidak segera melihat kehadiran mereka.

Ketika Widura telah mengenal keadaan sejenak ditempat itu, maka segera diperintahkannya kepada para penjaga “Nyalakan pelita didalam gardumu. Dan nyalakan beberapa lampu di rumah-rumah yang terdekat.”

“Kenapa justru dinyalakan,Ki Lurah?” bertanya penjaga itu.

Biarlah laskar Tohpati menyangka, bahwa keadaan didalam desa ini seperti dalam keadaan biasa. Kalau kau padamkan lampunya dan semua lampu-lampu, maka itu pasti akan mencurigakan Macan Kepatihan yang cerdik itu.”

Penjaga itu mengangguk-angguk. “Alangkah bodohnya aku” katanya dalam hati.

Karena itu maka segera ia bergegas-gegas pergi kerumah-rumah yang telah kosong, untuk menyalakan lampu-lampunya. Sedang tiang digardunyapun segera dinyalakannya pula.

“Bagus” desis Widura kemudian “desa ini akan memiliki wajah seperti wajahnya disetiap hari. Tohpati yang berpengalaman luas itu pasti pernah melihat pedesaan ini dimalam hari sebelum ia memilih arah. Dan dengan demikian ia pasti akan mengenal keadaan ini baik-baik.”

Dalam pada itu, maka beberapa pengawaspun telah dikirim kedepan. Ketengah-tengah sawah yang menurut perhitungan mereka akan dilalui oleh laskar Tohpati.

Malam yang masih terlalu muda itu telah menjadi semakin gelap. Dan didalam gelap itulah berkeliaran laskar dari kedua belah pihak dengan alat-alat penyebar maut ditangan mereka masing-masing.

Sebenarnyalah Tohpati telah berada dihadapan hidung laskar Pajang itu. Namun mereka menunggu untuk menyakinkan, apakah yang sebenarnya terjadi dihadapan mereka. Laskar Tohpati yang bergerak jauh sebelum waktu yang ditentuka semula itu, dengan cepatnya mendekati Sangkal Putung. Namun laskar itu terhenti ketika Tohpati melihat suasana pedesaan dihadapannya.

“Desa itu terlampau sepi” desisnya.

Disampingnya berdiri seorang yang berwajah keras itu, yang bernama Plasa Ireng, tertawa. Gumamnya “setidak-tidaknya mereka telah mendengar bahwa pedesaan mereka terancam bahaya.”

Tohpati berdesis, kemudian gumamnya “Sanakeling. Bawalah laskarmu melingkar ke selatan.”

“Baik” sahut orang yang bernama sanakeling. Bekas pimpinan laskar Jipang daerah utara. Namun untuk kepentingan kali ini agaknya mereka telah ditarik dalam satu kesatuan. Namun sebelum Sanakeling itu bergerak, terdengar Alap-alap Jalatunda yang berdiri dibelakang mereka berkata “Aku melihat pelita-pelita itu dinyalakan.”

Tohpati tertawa. Dengan nada yang tinggi ia berkata “Paman Widura benar-benar cerdik. Ia ingin menjadikan desa itu seolah-olah tidak mengalami perubahan apa-apa. Namun agaknya anak buahnyalah yang terlalu bodoh. Sanakeling. Berjalanlah melingkari desa itu, langsung ke Sangkal Putung. Sayang Paman Widura agak terlambat menyalakan lampu-lampu itu. Kalau tidak maka kembali kami akan terjebak.”

Sanakeling kemudian dengan cepat membaw laskarnya ke selatan melingkari desa itu langsung menuju Sangkal Putung.

Tetapi Widura dan Untarapun bukan anak kemarin petang. Itulah sebabnya mereka telah memasang beberapa orang jauh dihadapan laskar mereka.

Dalam keheningan malam yang dingin itu, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sanderan yang meraung-raung diudara. Sekali, dua kali dan kemudian satu kali lagi.

Untara mengangka alisnya “ada sesuatu yang terjadi dalam barisan Tohpati itu.” Desis Untara.

Wajah Widura berubah menjadi tegang. Dengan gelisah ia menunggu orang-orangnya yang diperintahkannya untuk mengawasi setiap kemungkinan yang ada dihadapan mereka.

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kedatangan seorang pengawas dengan nafas terengah-engah. Tubuhnya dan seluruh pakaiannya kotor oleh lumpur. Dengan tergesa-gesa ia berkata “aku melihat laskar berjalan melingkar diarah selatan langsung menuju induk desa Sangkal Putung. Mereka pasti masuk dari arah selatan pula. Tetapi barisan itu tidak begitu besar.”

“Hem” geram Widura “Macan Kepatihan itu selalu membuat berbagai macam permainan.”

“Mereka telah mencapai simpang empat di bulak sebelah” orang itu berkata seterusnya.

“He?” Widura terkejut “begitu cepatnya?”

“Ya”

Tiba-tiba demang Sangkal Putung itu memotong “serangan yang sangat berbahaya. Apakah aku boleh menarik laskar Sangkal Putung kembali menyongsong mereka?”

“Jangan” sahut Widura. “kita belum tahu, siapakah yang memimpin laskar Jipang itu. Mungkin justru itu adalah induk pasukan mereka.”

Demang Sangkal Putung itupun terdiam. Baru sesaat kemudian Widura berkata ‘keadaan itu sangat gawat. Biarlah aku bawa laskar sayap kiri kembali ke kademangan. Seterusnya aku serahkan pimpinan ini kepadamu Untara. Kalau keadaan tidak terlalu gawat aku akan kembali kemari.”

Untara mengangguk “baiklah” jawabnya.

Widura itupun dengan cepat berlari kesayap kiri. Kemudian segera laskar kiri itu ditarik mundur, kembali ke kademangan Sangkal Putung.

Dengan tergesa-gesa mereka berjalan memintas. Mereka tidak lagi lewat diatas jalan diantara daerah persawahan. Namun mereka langsung memotong arah. Melompati tanaman-tanaman yang menghijau. Bahkan sekali-sekali tanam-tanaman itupun terpaksa terinjak-injak kaki mereka. Namun tanaman itu besok bisa disulami. Tetapi kehancuran kademangan mereka akan memerlukan banyak sekali pengorbanan. Harta, benda, tenaga dan waktu. Itulah sebabnya maka mereka tidak lagi sempat berpikir tentang tanaman-tanaman itu.

Sesaat kemudian mereka dikejutkan oleh bunyi tanda bahaya dari gardu selatan. Ternyata para peronda sempat melihat kedatangan mereka, sehingga mereka terpaksa membunyikan tanda itu, sementara beberapa orang yang lain, telah mencoba menghambat gerakan itu dengan senjata-senjata jarak jauh.

Tetapi mereka terkejut ketika mereka mendengar suara tertawa dari barisan yang datang itu. “He” kenapa kalian berteriak-teriak minta tolong?”

Pimpinan gardu itu sama sekali tidak memperhatikannya. Dengan cekatan mereka terus-menerus menghujani anak-anak panah dari balik gardu mereka seberang menyeberang. Dua orang lagi telah meloncat kebalik semak-semak dibelakang pagar. Anak panah merekapun meluncur tak henti-hentinya.

Ternyata usaha itu menolong pula, gerakan laskar Sanakeling itu terpaksa berhenti sebentar. Mereka sedang melihat, apakah yang sedang dihadapi. Tetapi sesaat kemudian Sanakeling itu tertawa pula, katanya sambil menghitung “tiga orang dibelakang gardu, dua orang dibalik pagar dan satu orang memukul kentongan. Apakah kalian berenam sudah jemu hidup? Dua diantara kalian benar-benar mampu memanah. Namun yang tiga itu sama sekali tak akan berarti apa-apa. Jangan membidik terlalu tinggi. Tarik tali busurmu agak kuat, supaya lari panahmu agak cepat dan keras.”

Yang mendengar suara Sanakeling itu benar-benar manjadi sangat cemas. Orang itu dapat menebak dengan tepat berapa orang yang sedang berjaga-jaga digardu itu. Mungkin pemimpin barisan itu dapat melihat arah lepasnya anak-anak panah. Tetapi ternyata orang itu dapat menebak pula, siapakah diantara mereka yang benar-benar mampu melepaskan senjata-senjata itu.

Karena itu maka orang itu pasti seorang yang telah kenyang makan garam pertempuran.

Sebenarnyalah para pemuda di gardu itu berjumlah enam orang. Dua diantaranya adalah anggota laskar Widura. Sedang yang empat adalah orang-orang Sangkal Putung. Karena itu, maka perlawanan merekapun berbeda dari mereka yang telah mengalami pertempuran berkali-kali. Meskipun demikian, panah-panah itu benar-benar menjengkelkan Sanakeling. karena itu, maka tiba-tiba ia berteriak “He, dua atau tiga orang, pergilah mendahului kami. Ambillah orang-orang yang mencoba merintangi perjalanan kami”

Pemimpin gardu itu terkejut. Sanakeling hanya memerintahkan dua atau tiga orang. Apakah menurut perhitungannya, orang-orang yang berada digardu itu benar-benar tidak akan mampu berkelahi melawan tiga orang saja? Kedua prajurit Pajang itu menggeram. Merekapun prajurit yang telah masak. karena itu maka jawabnya “Kami berenam disini seperti dugaanmu. Jangan mengirimkan dua atau tiga orang. Marilah, datanglah bersama-sama, supaya kalian dapat menilai pertahanan Sangkal Putung”

Sanakeling mengerutkan keningnya. Alangkah besarnya kata-kata penjaga gardu itu. Namun kemudian Sanakeling itu menjawab “Baiklah. Agaknya kau ingin bunuh diri” Sanakeling itu diam sejenak. Namun tiba-tiba ia berteriak “Menyebar. Masuki Sangkal Putung. Langsung ke kademangan dan kuasai daerah-daerah perbekalan”

Serentak laskarnya bergerak. Kini mereka sama sekali tak menghiraukan lagi anak panah yang menghujani mereka dari balik gardu dan semak-semak.

Ketika kemudian terdengar seorang anggota laskar Sanakeling itu mengaduh, karena pundaknya terkena anak panah, Sanakeling menggeram “Setan, bunuh mereka berenam”

Para penjaga gardu mendengar pula perintah itu. Karena itu maka terasa dadanya berdesir. Betapapun juga, maka mereka benar-benar tidak sedang membunuh diri. Dengan demikian maka mereka harus memperhitungkan setiap kemungkinan yang akan terjadi. Pemimpin peronda itupun kemudian menusup dibalik semak-semak pula bersama ketiga orang yang berada disekitar gardu. Ketika tanda bahaya dari gardu itu telah disahut oleh gardu-gardu yang lain dengan tanda kekhususannya, bahwa sumber tanda itu adalah dari gardunya, maka pemukul tanda bahaya itupun melepaskan kentongannya dan bersama-sama dengan kawan-kawannya menyusup dibalik semak-semak pula. dengan beringsut sedikit demi sedikit, mereka terus mengadakan perlawanan dengan anak-anak panah mereka.

Namun laskar lawan mereka, menjadi semakin dekat pula. bahkan beberapa orang telah berlari melingkar dan meloncati pagar-pagar batu yang melingkari desa itu.

Orang-orang yang berada didalam semak-semak itu merasa, bahwa mereka tidak akan dapat melawan mereka. karena itu maka merekapun semakin dalam membenamkan diri kedalam pedesan sambil mencari perlindungan didalam gelapnya malam.

Tiba-tiba, keenam orang itu menengadahkan wajah-wajah mereka. Dari kejauhan mereka mendengar derap orang berlari-lari. “Laskar cadangan” pikir mereka. karena itu maka pemimpin gardu itupun segera memberikan tanda sandi kepada mereka. “Gardu selatan. Langsung dari arah angin. Laskar lawan mendekati pada jarak limapuluh depa”

Sebenarnyalah mereka adalah laskar cadangan yang berada dikademangan. Namun kekuatan merekapun tidak seberapa. Meskipun demikian, keenam orang peronda itu menjadi berbesar hati. Sebab dengan demikian, maka perlawanan mereka akan menjadi lebih berarti. Dari kejauhan terdengar pemimpin laskar cadangan itu menjawab “Kami segera datang”

Yang menyahut kemudian adalah suara Sanakeling. “Hem. Kalian memanggil kawan-kawan kalian. Baiklah. Agaknya kalian ingin mendapat kawan lebih bayak lagi dalam perjalanan kalian ke akhirat”

Namun beberapa orang Sanakeling itupun telah sedemikian dekatnya. Sehingga tiba-tiba saja mereka telah terlibat dalam perkelahian. Kedua laskar Widura itu segera melepaskan busur mereka, dan dengan serta-merta mereka telah mencabut pedang-pedang mereka. Ketika beberapa orang melompat menerkamnya, maka segera terjadi perkelahian yang sengit. Keempat kawannya itupun tidak membiarkan kedua orang itu bertempur sendiri. ketika mereka sudah tidak dapat membidikkan anak panah mereka, maka merekapun segera melemparkan busur mereka, dan dengan golok ditangan mereka menyerbu pula dalam perkelahian iu. Namun mereka benar-benar belum banyak berpengalaman dalam pertempuran malam. karena itu, maka mereka tidak dapat melakukan perlawanan dengan sebaik-baiknya. Setapak demi setapak mereka terdesak mundur. Apalagi lawan-lawan mereka kemudian datang berloncatan.

Tetapi dalam pada itu, laskar cadangan itupun telah datang pula. segera mereka melibatkan diri dalam perkelahian itu. Meskipun jumlah mereka belum memadai jumlah laskar Sanakeling, namun didalam malam yang gelap itu, amatlah sukar untuk membedakan, siapa kawan siapa lawan. Meskipun laskar masing-masing agaknya telah memiliki tanda-tanda sandi mereka masing-masing, namun dalam keributan pertempuran itu, maka banyak diatara mereka yang menjadi ragu-ragu. Laskar Jipang dan laskar Pajang yang telah jauh lebih berpengalaman dari anak-anak muda Sangkal Putung itupun masih juga belum dapat menempatkan diri mereka dengan baik. Sebab sebenarnya mereka tidak terlalu biasa mengadakan pertempuran dimalam hari dalam jumlah yang cukup besar.

Sanakeling melihat kesulitan itu. Maka teriaknya kemudian “Nyalakan obor. Jumlah kita lebih banyak. Apalagi lawan-lawan kita adalah cucurut-cucurut dari Sangkal Putung”

Pemimpin laskar cadangan itupun tak mau anak buahnya berkecil hati karena teriakan-teriakan lawannya. Maka dengan lantang pula mereka menjawab “He anak-anak muda Sangkal Putung yang ikut dalam pertempuran ini. Lihatlah apa yang kami lakukan, anggaplah pertempuran ini sebagai latihan. Sebab ternyata yang dikirim oleh Tohpati kemari tidak lebih dari laskar yang mereka temukan disepanjang pengungsian mereka”

“Gila” sahut Sanakeling. “Inilah Sanakeling. Siapa yang berteriak-teriak itu”

Pemimpin laskar cadangan itu tergetar hatinya. Sanakeling. Nama itu pernah didengarnya sebagai pemimpin laskar Jipang disebelah utara. Namun ia tidak mau mengecilkan hati anak buahnya yang sedang bertempur itu. Maka katanya didalam gelap “Ha. Bukankah terkaanku benar. Sanakeling yang lari dari tekanan laskar Pajang disebelah utara, yang dipimpin langsung oleh Ki Panjawi”

“Gila. Siapakah kau. Ayo tampakkan dirimu”

Namun pemimpin laskar cadangan itu tidak mendekati Sanakeling. Sebab ia tahu, bahwa orang itu benar-benar bukan lawannya. Meskipun demikian ia menjawab “Disini. Datanglah kemari”

Sanakeling menjadi marah bukan buatan. Ia meloncat dengan garangnya kearah suara itu. Namun perkelahian menjadi semakin ribut. Dan sekali lagi ia berteriak “Tenaga kita berlebihan. Sebagian dari kalian nyalakan obor”

Sesaat kemudian beberapa obor telah menyala. karena itu daerah pertempuran itu menjadi agak terang. Dibeberapa bagian segera tampak wajah-wajah mereka samar-samar didalam bayang-bayang yang selalu bergerak-gerak. Pemimpin laskar Pajang menjadi cemas karenanya. Dengan demikian keringkihan laskarnya segera akan nampak. Namun demikian, laskar Pajang bersama laki-laki dari Sangkal Putung sendiri itu telah siap mengorbankan apa saja yang ada pada mereka.

Karena itu maka betapapun besarnya bahaya yang mengancam, namun mereka sama sekali tidak gentar. Bahkan dengan demikian, mereka segera menyerbu musuh-musuh mereka, mengamuk sejadi-jadinya. Mereka telah siap berkorban untuk kampung halaman mereka yang mereka cintai. Sawah ladang mereka yang telah memberi kepada mereka makan dan minum, serta lumbung-lumbung mereka, persediaan buat hari-hari mendatang, persediaan buat anak-anak mereka dimusim paceklik. Dengan demikian, maka pertempuran diujung desa Sangkal Putung itu segera berkobar dengan dahsyatnya. Sanakeling yang melihat keberanian laskar Sangkal Putung itu menggeram marah. Dengan wajah yang merah padam segera iapun terjun kekancah pertempuran itu.

Namun segera mereka dikejutkan oleh sorak-sorai yang membahana, seolah-olah mengalir disepanjang jalan disisi desa itu. Sesaat kemudian mereka melihat obor yang beterbangan menuju kekancah pertempuran itu. Kemudian diantara sorak yang menggelegar itu terdengar suara lantang “He, siapakah yang memimpin sempalan laskar Tohpati?”

Suara itu belum terjawab. Namun obor-obor yang seolah-olah beterbangan berebut dahulu itu menjadi semakin dekat. Dari antara mereka terdengar kembali suara “Angin barat. Sayap selatan. Ayo, siapa yang berada dipihak lawan?”

Mendengar suara itu laskar Pajang yang sedang bertempur itupun tiba-tiba bersorak pula. mereka mengenal tanda sandi itu, dan merekapun mengenal suara itu, suara Widura. Karena itu maka segera mereka menyahut “Laskar mereka dipimpin oleh Sanakeling”

“Setan” geram Sanakeling “Siapa yang datang?”

Sebenarnyalah yang datang itu adalah Widura beserta sebagian laskarnya. Dengan tergesa-gesa mereka berloncatan diatas parit-parit dan pematang supaya mereka segera sampai ke Sangkal Putung. Ketika mereka melihat nyala obor yang menerangi daerah sekitar gardu selatan itu hati mereka menjadi berdebar-debar. Rupanya laskar lawan benar-benar telah sampai ke Sangkal Putung. Tanda bahaya yang menggema diseluruh kademangan, telah mendorong mereka untuk berjalan lebih cepat. Karena itu kemudian mereka tidak saja berjalan cepat-cepat, namun mereka telah berlari-larian berebut dahulu.

Demikian mereka memasuki Sangkal Putung. Maka segera Widura memerintahkan kepada laskarnya untuk mempengaruhi pertempuran itu dengan caranya. Laskar yang dibawanya itu segera bersorak dengan riuhnya.

Ternyata usaha Widura itupun mempunyai pengaruh pula. laskar cadangan yang lebih dahulu telah terlibat dalam pertempuran itu menjadi berbesar hati, sehingga karena itu maka perlawanannya menjadi semakin seru. Meskipun saat-saat itu tidak terlalu panjang, namun saat-saat itu adalah saat-saat yang menentukan. Tekanan yang berat dari laskar Sanakeling, hampir-hampir menjebolkan laskar cadangan itu. Apabila demikian, maka arus mereka benar-benar akan melanda kademangan. Sehingga kademangan dan seluruh Sangkal Putung pasti akan menjadi geger.

Beberapa orang dari laskar Sanakeling itu telah siap untuk langsung menerobos masuk ke Sangkal Putung. Namun karena sorak sorai yang riuh itu, serta nyala api obor yang meluncur dengan cepatnya kedaerah pertempuran, terpaksa mereka mengurungkan niat itu. Mereka menunggu sementara apa yang akan terjadi.

Sanakeling yang melihat perubahan didalam tata pertempuran itu segera mengatur anak buahnya. Mereka yang telah bersiap untuk langsung masuk kejantung Sangkal Putung segera ditariknya kembali. Mula-mula Sanakeling itu berharap, bahwa dengan sebagian saja dari laskarnya, maka laskar cadangan itu akan dapat dimusnahkan, sedang yang lain-lain akan dapat merambas jalan masuk kepusat kademangan itu sebelum laskar Tohpati datang. Namun tiba-tiba rencananya itu terpaksa diurungkan. Dengan marahnya terdengar Sanakeling itu menggeram “He, ternyata cecurut-cecurut itu bertambah pula. jangan diberi kesempatan untuk memandang fajar esok”

Terdengar kemudian suara tertawa “Aku pernah mendengar suara itu” berkata suara itu diantara tertawanya.

“Setan” Sanakeling itu mengumpat “Siapakah yang memimpin laskar Pajang itu?”

“apakah kau Sanakeling?” sahut Widura yang belum menampakkan dirinya.

Sanakeling menggeram keras sekali. Sementara itu, laskar Widura telah terjun pula kedalam pertempuran yang menjadi semakin riuh.

“Inilah Sanakeling” teriak Sanakeling.

Sesaat Widura melihat pertempuran itu. Ia melihat beberapa orang laskarnya menebar. Mengambil arah yang tepat, langsung menghadapi laskar Sanakeling. Beberapa orang diantaranya memegang obor ditangan kiri dan pedang ditangan kanan. Sedang beberapa orang yang lain berusaha melindunginya. karena itu maka pertempuran itupun bertambah ribut pula. obor-obor berhamburan kian kemari pada kedua belah pihak. Sedang kawan-kawan mereka sibuk mempertaruhkan nyawa mereka.

Gemerincing pedang diantara pekik sorak gemuruh membelah sepi malam. Sekali-sekali terdengar sebuah jerit yang membumbung tinggi.

Tajam pedang berkilat-kilat dalam sinar obor yang kemerah-merahan. Tetapi warna merah itu telah bertambah merah karena darah yang tertumpah.

“Perang brubuh” desah Widura “keduanya tidak lagi pasang gelar. Tetapi tiba-tiba Widura terkejut. Diantara riuhnya pedang, tampaklah seseorang yang meloncat-loncat dengan lincahnya. Sekali-sekali pedangnya terjulur dan kemudian terayun deras sekali. Widura itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “itulah Sanakeling”vdesisnya. “Pedang ditangan kanan dan bindi ditangan kiri.”

Widura tidak dapat membiarkannya menyambar-nyambar diantara laskarnya. Karena itu, maka dengan tangkasnya ia meloncat langsung menghadapi pemimpin laskar Jipang dari utara itu.

“He” Sanakeling itu terkejut ketika ia melihat Widura hadir dalam pertempuran itu.

Widura kini telah tegak dihadapannya dengan sebuah pedang yang khusus. Pedang yang tidak terlalu tajam, namun ujungnya runcing seruncing ujung jarum.

“Aku memang mengharap dapat bertemu dalam pertempuran ini.” Berkata Sanakeling.

“Sekarang kau telah berhadapan dengan Widura. Menyesal bahwa pertempuran kita kali ini tidak terlalu leluasa.” Sahut Widura.

Sanakeling menggeram. Widura telah lama dikenalnya, dan ia telah mengenal pula kemampuan yang tersimpan didalam dirinya. Mereka dulu adalah kawan yang baik meskipun tidak terlalu akrab. Namun keadaan yang memisahkan Pajang dan Jipang sesudah Sultan Trenggana wafat, telah memutuskan hubungan mereka pula.

Dan Sanakelingpun tahu, siapa yang memimpin laskar Pajang di Sangkal Putung. Dari Tohpati dia mendengar, bahwa Widura beberapa waktu dahulu, setelah ia memimpin sendiri laskar Pajang di Sangkal Putung. Mungkin karena tanggung jawab yang sepenuhnya berada dipundaknya. Mungkin karena ketekunannya berlatih. Dan dari Tohpati ia mendengar bahwa dalam barisan Widura itu pula terdapat seorang anak muda yang bernama Sidanti, murid Ki Tambak Wedi.

Sanakeling menyadari bahwa ia harus berhadapan dengan salah satu diantara keduanya. Kalau ia harus melawan Sidanti maka Plasa Irenglah yang harus melawan Widura atau sebaliknya.

Sedangkan Tohpati akan dapat dengan leluasa membuat rencana mengatur laskarnya untuk langsung menembus jantung Sangkal Putung. Mungkin Plasa Ireng masih belum memadai kekuatan Widura atau Sidanti, namun Alap-alap Jalatunda akan dapat menyelesaikannya. Betapapun, tetapi anak muda yang menamakan dirinya Alap-alap Jalatunda memiliki beberapa kelebihan dari orang-orang lain didalam laskar Tohpati yang diperkuat itu.

Dan kini, ternyata yang tampil dihadapannya adalah Widura. Karena itu maka katanya “Apakah aku berhadapan dengan induk pasukan?”

Widura mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia berpaling dan berkata kepada seseorang yang berdiri tegak disampingnya dengan sebuah tombak pendek ditangan. Orang itu adalah seorang penghubung yang memang sedang menunggu perintah. Karena itu ia tidak turut bertempur.

“Sampaikan kepada laskar yang tinggal, bahwa aku tetap berada di Sangkal Putung. Sebab aku bertemu kawan lamaku Sanakeling.”

Orang itu mengangguk, namun ketika ia sedang bergerak maka Sanakeling itu berteriak ‘tungggu”

Orang itu berhenti, namun Widura memberi isyarat untuk berjalan terus. “He” teriak Sanakeling “berhenti”

Tetapi orang itu tidak berhenti. Karena itu Sanakeling berteriak pada anak buahnya “hentikan orang itu”

Seseorang meloncat maju memburunya. Namun orang itu telah tenggelam dibalik lindungan beberapa orang kawannya, sehingga Sanakeling seterusnya hanya mengumpat-umpat.

“He,Widura“ bertanya Sanakeling itu pula “apakah aku berhadapan dengan induk pasukan?”

Widura berpikir sejenak “kemudian katanya “ya, kau berhadapan dengan induk pasukan.”

Sanakeling mengerutkan keningnya, namun kemudian ia tertawa terbahak-bahak. Katanya “jadi inikah induk pasukan Sangkal Putung yang kau bangga-banggakan?”

“Aku tak pernah membangga-banggakannya. Sekarang kau melihatnya sendiri.”

“Hem” Sanakeling menggeram pula. Sekali lagi ia memandang pertempuran itu. Ia kini benar-benar terkejut. Dalam pertempuran itu terjadi banyak sekali perubahan hanya dalam waktu yang sangat pendek. Ternyata kehadiran laskar Widura benar-benar telah merubah keseimbangan pertempuran itu.

“Gila” Sanakeling mengumpat dengan kasarnya “ketahuilah Widura, dibelakangku masih ada bagian dari laskar yang jauh lebih kuat dari laskar ini. Kalau aku sudah berhadapan dengan induk pasukan maka pasukanmu yang lain sesaat kemudian pasti sudah akan musnah. Dan kemudian akan datang saatnya induk pasukanmu ini musnah pula.

Widura tersenyum. Jawabnya “Ya, aku tahu. Sisa-sisa laskar Jipang agaknya benar-benar telah dipusatkan disekitar Sangkal Putung. Kalau sempalan laskarnya disini dipimpin Sanakeling, maka dibagian yang lain masih ada Tohpati sendiri, Plasa Ireng, Alap-alap Jalatunda dan siapa lagi?”

“Gila, kau sadari kedudukanmu Widura, kalau begitu kau telah benar-benar siap mati. Nah lihatlah, Sangkal Putung untuk yang terakhir kalinya.

Widura bergeser setapak. Disekitarnya pertempuran masih berkecamuk. Namun mereka seolah-olah sama sekali tak menghiraukan kedua pemimpin yang asyik bercakap-cakap itu.

Tetapi kini mereka sudah tidak bercakap-cakap lagi. Mereka masing-masing telah mengangkat pedang, dan terdengar Sanakeling itu berkata “kau harus mati dulu Widura. Laskarmu akan buyar dengan sendirinya.”

“Aku atau kau” sahut Widura.

Sanakeling tidak menjawab. Digerakkannya pedangnya sambil berkata “apakah dadamu sudah berperisai baja.”

Widura menyilangkan pedangnya dimuka dadanya sambil menjawab “Inilah perisaiku.”

Sanakeling sudah tidak melihat kemungkinan lain daripada menyelesaikan dahulu orang ini, pemimpin laskar Sangkal Putung itu. Dengan demikian maka laskar Sangkal Putung itu akan menjadi tercerai berai dengan sendirinya. Apalagi kalau laskar Tohpati kemudian datang melanda desa yang sedang ketakutan itu maka semuanya akan segera selesai. Meskipun ia menjadi cemas juga melihat perkembangan pertempuran itu.

Karena itu maka segera ditundukkannya pedangnya. Dengan gerakan pendek dijulurkannya pedang itu kedada Widura.

Gerak Sanakeling itu menjadi isyarat dari suatu perkelahian yang akan menjadi dasyat sekali. Sebab Widura kemudian mundur selangkah sambil menangkis dengan pedangnya. Sentuhan dari kedua pedang itu untuk yang pertama kalinya, disusul dengan sentuhan-sentuhan yang berikutnya. Semakin lama menjadi semakin dasyat. Dan berkobarlah pertempuran antara Widura dan Sanakeling itu. Kedua-duanya adalah pemimpin yang telah cukup banyak makan asam garamnya peperangan. Masing-masing telah banyak memiliki perbendaharaan pengalaman didalam dirinya. Karena itu maka perkelahian itu segera menjadi perkelahian yang sengit. Sanakeling pernah mendengar keteguhan perlawanan Widura dari Tohpati sehingga ia dapat membandingkannya dengan apa yang pernah dilihatnya atas orang itu dahulu. Sedang Widura pernah mendengar tentang Sanekeling dari berbagai pihak. Ketrampilannya, kecepatannya dan ketangguhannya.

Kini mereka berhadapan dalam satu pertempuran. Dan ternyata apa yang telah mereka dengar itu sebenarnyalah demikian. Sanakeling terpaksa mengagumi ketangguhan lawannya, sedang Widura terpaksa berhati-hati karena ketrampilan Sanakeling itu benar-benar mengherankan.

Dalam pada itu, penghubung yang mendapat perintah Widura memberitahukan keadaan Sangkal Putung itu kepada Untara, segera melakukan tugasnya. Dengan berlari-lari kecil ia menghampiri kudanya yang ditambatkannya didalam gelap tidak jauh dari pertempuran itu, ditunggui oleh beberapa orang kawannya. Dengan tangkasnya ia meloncat keatas punggung kudanya, dan seperti angin kuda itu dipacunya ketempat kedudukan Untara, diujung Barat dari sebuah desa kecil dari kademangan Sangkal Putung.

Untara menerima berita itu denga mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya “baik. Aku terima beritamu.”

Sesaat kemudian Untara segera mengurai keadaan yang dihadapinya. Kini ia benar-benar memimpin induk pasukan yang diserahkan oleh Widura itu kepadanya.

Ketika ia melihat Sidanti diantara mereka, maka anak muda itu segera dipanggilnya “Sidanti, sampai saat ini belum ada laporan bahwa induk pasukan Tohpati akan merubah arah. Kalau ia menempuh jurusan ini, maka kita segera akan berhadapan. sekarang, kau aku serahi untuk memimpin laskar sayap kanan. Atas nama kakang Widura, yang dikuasakan kepadku, ambillah pimpinan itu. Kalau Tohpati telah terlibat dalam pertempuran dengan induk pasukan ini, maka ambillah arah lambung dan usahakan serangan itu dengan sangat tiba-tiba”

Tetapi Untara itu terkejut ketika Sidanti menjawab sama sekali diluar dugaannya “Aku adalah anak buah kakang Widura. berilah perintah kepada kakang Widura. dan biarlah kakang Widura yang memberi perintah kepadaku”

Untara mengerutkan keningnya. Meskipun demikian ditahannya hatinya, katanya “Aku disini mendapat kekuasaan dari kakang Widura”

Sidanti itu tersenyum. “Aneh, pangkat serta jabatanmu lebih tinggi dari kakang Widura. Apakah wajar kalau kau mewakilinya?”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Pandangan matanya melontar jauh menembus gelapnya malam, telah siap menerkamnya, Macan Kepatihan beserta laskarnya yang benar-benar telah mengerahkan segenap kekuatan yang ada pada mereka.

Karena itu, betapa darahnya bergolak, namun Untara mencoba sekuat-kuat tenaganya untuk melawannya. Bahkan katanya kemudian “Sidanti, kau benar-benar perasa. Dalam keadaan seperti sekarang ini, marilah kita lupakan segala persoalan diantara kita masing-masing. Marilah kita lupakan seandainya ada perselisihan diantara pribadi kita masing-masing. Marilah kita pusatkan kemampuan yang ada pada kita untuk menghadapi lawan kita. Macan Kepatihan beserta laskarnya”

Sidanti mendengar kata-kata Untara itu. Terasa juga sesuatu menyentuh dadanya, sehingga karena itu katanya “Baiklah. Untuk kali ini aku penuhi perintah yang tidak lewat saluran yang sewajarnya itu, demi keselamatan Sangkal Putung”

“Terima kasih Sidanti” sahut Untara

Sidanti itupun segera pergi kesayap kanan. Atas nama pimpinan laskar Sangkal Putung ia memegang pimpinan sayap kanan. Apabila induk pasukan telah terlibat dalam pertempuran, maka ia harus segera menyerang dari arah lambung.

Beberapa orang yang berada disayap kanan itu menjadi kecewa atas kehadirannya. Tetapi mereka dalam keadaan yang genting, sehingga Karena itu mereka tidak berbuat apa-apa. mereka menyadari bahwa Sidanti adalah kekuatan yang tangguh untuk melawan setiap pimpinan yang namanya menakutkan dari pihak lawan. Para anggota itupun telah mendengar bahwa didalam pasukan lawan itu terdapat pula nama-nama Plasa Ireng, Alap-alap Jalatunda, Sanakeling dan yang lain-lain.

Diseberang kegelapan malam, Tohpati sedang sibuk menilai keadaan pula. ketika didengarnya tanda bahaya meraung-raung diseluruh Sangkal Putung, maka Macan Kepatihan itu tertawa. katanya kepada Plasa Ireng “Mudah-mudahan laskar Pajang ditarik sebaian besar kearah suara itu”

Plasa Ireng dan Alap-alap Jalatunda yang muda itu tertawa pula. sambil mengangguk-anggukkan kepalanya mereka berkata “Tanda bahaya itu pasti akan menarik sebagian besar dari mereka. Karena itu marilah kita menerobos langsung kepusat kademangan Sangkal Putung. Sebagian dari kita, masih akan sempat menyelamatkan laskar Sanakeling, apabila ia keroban lawan.

Macan Kepatihan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Bagus. Marilah kita bergerak”

Plasa Ireng dan Alap-alap Jalatunda segera pergi ke kekelompoknya masing-masing. Dan sesaat kemudian Tohpati itupun segera memerintahkan laskar induk itu untuk maju.

Ternyata laskar induk itu tidak saja berjalan dalam gerombolan yang liar. Mereka berada dalam sebuah garis yang luas, hampir dalam gelar Garuda Ngalayang meskipun tidak sempurna.

Sengaja Tohpati memisahkan sayap-sayapnya dengan jarak yang cukup untuk memberi kesempatan kepada sayap-sayapnya itu melakukan kebijaksanaan menurut keadaan. Apabila ternyata laskar lawan tidak begitu berat, maka sayap-sayap pasukannya dapat berjalan terus menuju kejantung Sangkal Putung. Menduduki tempat-tempat yang penting, terutama lumbung-lumbung padi serta tempat-tempat perbekalan yang lain. Kemudian kademangan dan banjar desa. Tetapi kalau lawan yang dihadapi cukup kuat, maka mereka harus menempuhnya dari lambung.

Pengawas yang dipasang oleh Widura segera melihat kedatangan laskar lawan itu dalam tebaran yang luas. Karena itu segera ia merangkak-rangkak dan berusaha secepatnya menyampaikan berita itu kepada induk pasukannya.

Untara yang menerima berita itu segera mengatur laskarnya. Dipecahnya sebagian dari induk pasukan itu, untuk dengan tergesa-gesa menempati sayap kiri.

“Citra Gati memimpin sayap ini?” berkata Untara.

Citra Gati termangu-mangu sejenak. Dipandangnya Agung Sedayu dengan sudut matanya. Namun ia tidak bertanya sesuatu. Meskipun demikian Untara memaklumi. Katanya “Citra Gati, pimpinlah sayap ini. Biarlah Agung Sedayu besertamu. Ia bukan salah seorang dari laskar paman Widura, sehingga ia tidak dapat memegang pimpinan apapun. Tetapi ia akan dapat memberimu bantuan.”

Agung Sedayu menarik nafas. Meskipun kini ia tidak gemetar lagi, namun bagaimanapun juga, ia masih selalu ingin bersama-sama dengan kakaknya. Tetapi ia tidak dapat membantah. Karena itu maka katanya “Baik, kakang.”

“Cepat, berangkatlah.”

Citra Gati dan Agung Sedayu itupun segera membawa sebagian laskar Pajang dan beberapa anak-anak muda Sangkal Putung beserta mereka. Diantara mereka adalah Swandaru yang seolah-olah ingin berada didekat Agung Sedayu.

Kini Untara tinggal menantikan kedatangan laskar Tohpati. Namun Untara tidak ingin bertempur didalam desa yang gelap pekat. Karena itu, maka dibawanya laskarnya menyongsong induk laskar Tohpati yang semakin lama semakin dekat.

Setelah Untara menempuh jarak beberapa puluh langkah dari pedesaan maka laskarnya segera dihentikan. Diperintahkannya untuk menempatkan diri masing-masing sedemikian, sehingga tidak segera dapat dilihat oleh lawan-lawan mereka yang sedang mendekati. Apalagi dalam malam yang gelap segelap malam itu. Hanya cahaya bintang yang berkedipan dilangit sajalah yang dapat memberi kemungkinan untuk dapat memandang pada jarak yang dekat.

Tetapi ternyata laskar Tohpati itu tidak maju langsung dalam gelarnya. Ternyata beberapa orang diperintahkan oleh Macan Kepatihan itu merambas jalan. Mereka berkewajiban untuk mengetahui, apakah jalan yang mereka tempuh itu tidak berbahaya. Sebab Tohpati memang sudah menyangka, bahwa laskar Widura tidak akan menunggunya saja dipadesan yang berada dimukanya itu.

Meskipun demikian, namun laskar yang dipimpin oleh Untara itupun memiliki pengalaman yang cukup. Karena itu, ketika mereka telah mengendap dibalik pematang, maka dibiarkannya tiga orang laskar Tohpati yang mendahului barisannya untuk berjalan dengan tenang. Dibiarkannya orang itu melampaui barisan Untara yang diam-diam menunggu kehadiran lawannya.

Karena itulah maka, laskar Tohpatipun berjalan dengan tenangnya setenang ketiga orang yang mendahuluinya itu. Mereka tidak menduga bahwa laskar Widura yang dipimpin Untara beserta anak-anak muda Sangkal Putung itu telah menunggu mereka dibalik lindungan bayangan pematang yang hitam kelam. Maka ketika laskar Tohpati itu sudah semakin dekat, tiba-tiba terdengar suara Untara memecah sepi malam, mengatasi suara angin yang berdesah diantara daun-daun padi yang masih sangat muda. Diantara heningnya malam terdengar suara itu “Sergap…….!”

Seperti kuda yang lepas dari ikatan, maka laskar Untara itupun berloncatan dari balik-balik pematang, langsung menyergap lawan-lawan mereka yang terhenti karena terkejut. Ternyata mereka masih memerlukan waktu sekejap untuk melenyapkan desir yang menggoncangkan dada mereka. Dengan serta-merta mereka menjulurkan senjata-senjata mereka untuk menyongsong laskar Pajang yang melibat mereka seperti badai.

“Setan” geram Tohpati. Dengan lantang ia berkata “Sayap kanan dan kiri, lihat perkembangan keadaan”

Sayap-sayap kanan dan kiri itupun tidak segera meneruskan perjalanan mereka menyusup langsung kejantung Sangkal Putung. Mereka menunggu sesaat untuk melihat perkembangan keadaan induk pasukannya.

Tiga orang yang mendahului gelar laskar Macan Kepatihan itu ternyata terkejut bukan kepalang. Cepat mereka berloncatan kembali dan langsung melibatkan diri dalam pertempuran melawan orang-orang Pajang. Keadaan itu benar-benar tak disangkanya. Ternyata orang-orang Pajang telah berhasil dengan baik, menjebaknya dan menyergap pasukannya.

Pertempuran itupun segera berkobar dengan sengitnya. Tetapi pertempuran ini tidak berlangsung ditengah-tengah desa yang rimbun dalam gelap pepat. Diudara terbuka, maka mereka masih mempunyai kesempatan yang lebih baik untuk mengamati kawan dan lawan. Meskipun demikian pertempuran itu tidak berlangsung terlalu cepat. Masing-masing masih juga ragu-ragu untuk mengayunkan pedang-pedang mereka dengan lepas. Karena itu, baik laskar Macan Kepatihan maupun laskar Widura dibawah pimpinan Untara itupun menganggap perlu bahwa beberapa orang diantara mereka menyalakan obor-obor.

Ternyata laskar yang dihadapi oleh Tohpati itu cukup berat, sehingga terdengar suara Macan Kepatihan itu lantang “Sayap-sayap kanan dan kiri, ikutlah menghancurkan lawan disini. Baru kemudian kami bersama-sama memasuki Sangkal Putung”

Untara mendengar pula aba-aba itu. Tetapi ia tidak memberi aba-aba imbangan. Dibiarkannya sayap-sayapnya menyergap kemudian pertempuran menjadi riuh.

Sayap-sayap kanan dan kiri dari laskar Tohpati itupun kemudian segera menyergap lawannya dari arah lambung. Sehingga dengan demikian pertempuran itu menjadi bertambah sengit. Ketika sekali lagi Untara mengawasi pertempuran itu, maka hatinya menjadi tenang. Jumlah laskarnya kini telah seimbang dengan laskar Tohpati. Namun meskipun demikian, kemudian disadarinya, bahwa anak-anak muda Sangkal Putung yang ikut serta dengan mereka, masih belum memiliki kekuatan yang sama dengan laskar Pajang sendiri. Karena itu maka Untara kemudian memerintahkan kepada dua orang penghubung untuk segera menggerakkan sayap-sayap laskar mereka.

Macan Kepatihan itu tersenyum melihat keseimbangan pertempuran. Menurut perhitungannya, maka ia akan dapat mengatasi lawannya itu. Namun ia tidak tahu, bagaimanakah keadaan laskar Sanakeling. Kalau induk pasukan Pajang telah ditarik untuk melawan laskar Sanakeling, maka keadaan Sanakeling pasti akan gawat. Karena itu maka Macan Kepatihan segera mengerahkan segenap kekuatan yang ada padanya untuk menebus kekalahan kecil yang dialaminya pada benturan pertama.

Tetapi semakin lama Macan Kepatihan itu menjadi semakin yakin, bahwa laskarnya akan dapat menjebolkan pertahanan pasukan Pajang dan akan dapat langsung memasuki induk desa Sangkal Putung.

Namun tiba-tiba ia terkejut. Dilihatnya sekumpulan pasukan muncul diarah selatan, langsung menyerbu kedalam perkelahian itu. Sesaat ia berdiri tegak seperti patung, kemudian terdengar suaranya lantang “Sayap kiri, siap melawan sayap lawan”

Yang berdiri disayap kiri terkejut mendengar teriakan itu. Seorang anak muda dengan mata yang tajam setajam mata alap-alap menengadahkan wajahnya. dilihatnya sekelompok laskar langsung menyerbu kearah mereka yang sedang menghantam lawan dari arah lambung itu. Dengan tergesa-gesa anak muda itu menarik beberapa orangnya, yang dengan tergesa-gesa pula melepaskan lawan-lawan mereka.

Dengan marahnya anak muda yang memimpin sayap kanan laskar Macan Kepatihan itu menggeram. Kemudian dengan senjata ditangan ia mendahului anak buahnya meloncat menyongsong laskar yang datang itu.

Yang berdiri dipaling depan dari laskar Pajang adalah Citra Gati. Ketika ia melihat lawan menyongsongnya, segera ditundukkannya pedangnya. Dan tanpa berkata sepatah katapun maka kedua orang itu telah terlibat dalam satu perkelahian, sedang anak buah merekapun segera menghambur, dan dengan sengitnya kemudian campuh beradu senjata.

Agung Sedayu yang berada didalam sayap itu melihat Citra Gati bertempur dengan sekuat tenaganya. Lawannya adalah seorang anak muda yang lincah, namun serangannya kuat dan garang. Tiba-tiba dada Agung Sedayu bedesir “Alap-alap Jalatunda” desisnya. Namun ia tidak berbuat sesuatu atas perkelahian diantara kedua pemimpin sayap itu. Ketika kedua belah pihak telah tenggelam dalam suatu pertempuran, Agung Sedayupun ikut bertempur pula. pertempuran ini adalah pertempuran yang pertama kali dialami. Meskipun dengan pedangnya ia mampu melawan setiap serangan yang datang kepadanya, namun terasa sesuatu bergolak didalam dadanya. Ketika sekali pedangnya terayun, memukul pedang lawannya dengan kekuatannya yang tercurah sepenuhnya, maka pedang lawannya itu terpental jatuh. Kini kesempatan terbuka baginya. Lamat-lamat ia melihat wajah orang itu dalam cahaya obor dikejauhan menyeringai pedih. Dilihatnya betapa wajah itu menjadi ketakutan melihat pedangnya. Ketika tangan Agung Sedayu terjulur, dan ujung pedangnya hampir menembus dada lawannya, tiba-tiba ia menjadi ragu-ragu. Ketakutan yang terbayang diwajah lawannya yang telah tidak bersenjata itu membangkitkan iba dihatinya. Ia belum pernah membunuh orang. Dan ia sendiri pernah mengalami, betapa sakit perasaan yang dikejar-kejar oleh ketakutan. Karena itu maka tiba-tiba tangannya yang sudah terjulur itu digerakkan kesamping, sehingga pedangnya tidak menembus dada lawannya yang telah berputus asa.

Lawannya terkejut bukan main. Matanya telah menjadi gelap dan harapannya telah putus. Sekilas terbayang istrinya yang masih muda menunggunya, serta anaknya yang baru berumur tiga bulan. Anak yang masih belum pernah ditimangnya, sebab selama ini ia selalu mengembara dari satu tempat kelain tempat bersama-sama dengan Alap-alap Jalatunda atau pemimpin-pemimpin Jipang yang lain.

Tetapi tiba-tiba terasa kaki lawannya itu mendesak dadanya, dan terdengar suaranya lirih “Pergi. Kalau kau masih berdiri disitu, aku bunuh kau”

Orang itu benar-benar tidak mengerti. Namun secepat kilat ia meloncat kesamping, menyusup diantara teman-temannya dan dengan nafas terengah-engah ia berdiri dibelakang pertempuran itu. Sesaat ia mencoba untuk mengenangkan apa yang baru saja terjadi. “Mustahil, mustahil” katanya dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun ternyata ia masih hidup. Ketika ia menggeleng-gelengkan kepalanya, maka yang dilihatnya masih saja perkelahian yang seru. Ia tidak sedang mimpi. Karena itu segera ia meloncat kembali, mengambil pedang seorang kawannya yang terluka “Mari, berikan senjata itu kepadaku”

Kawannya yang terluka itu merangkak kesamping. Diberikannya pedangnya kepada kawannya sambil berdesah “Bunuhlah. Bunuhlah siapa saja yang kau temui. Aku sudah dilukainya. Dan lukaku parah”

Orang itu menerima pedang itu dengan tangan gemetar. Kawannya dilukai dadanya, sedang dirinya sendiri, yang telah pasrah pada nasib, tiba-tiba mendapat kesempatan untuk hidup. Dan apakah sekarang ia harus membunuh?

Tetapi ia tidak mendapat kesempatan ntuk berpikir lebih panjang. Sekali lagi ia melihat seorang kawannya jatuh terlentang dengan luka didadanya. Karena itu segera ia meloncat kembali memasuki arena pertempuran yang menjadi kian sengit.

Agung Sedayu masih juga bertempur dengan gagahnya. Namun ketika ia melihat beberapa orang kawan dan lawannya terluka, maka kepalanya menjadi serasa pening. Kini lututnya sudah tidak gemetar karena ketakutan. Apalagi setelah ternyata ia dapat melepaskan diri dari berbagai bahanya. Namun ia masih belum sampai hati untuk membunuh orang, meskipun dalam pertempuran.

Tetapi sementara itu pertempuran berjalan terus. Citra Gati dengan gigihnya bertempur melawan Alap-alap Jalatunda. Alap-alap yang masih muda itu bertempur dengan tangkasnya. Pedangnya menyambar-nyambar seperti beratus-ratus pedang.

Tetapi Citra Gatipun cukup berpengalaman. Pedangnyapun berputar seperti baling-baling. Dengan sepenuh tenaga dicobanya untuk melawan Alap-alap Jalatunda. Namun Alap-alap Jalatunda itu mempunyai  beberapa kelebihan daripadanya. Kelincahan dan kecepatannya. Sekali ia menyambar dari samping, namun dengan cepatnya pedangnya telah terjulur kearah lambung.

Agung Sedayu yang berdiri beberapa langkah dari pertempuran itu kadang-kadang dapat menyaksikannya dengan cermat. Ia melihat, bahwa Alap-alap Jalatunda itu benar-benar tangkas. Tetapi meskipun demikian, kini Agung Sedayu itu tidak menjadi gentar seperti pada saat ia melihat Alap-alap Jalatunda bertempur melawan kakaknya. Bahkan tiba-tiba terungkatlah kebenciannya kepad Alap-alap Jalatunda itu. Sebab ia adalah salah seorang dari mereka yang menyebabkan kakaknya terluka pada waktu itu.

Karena itu untuk melepaskan kebimbangannya melawan setiap orang yang belum pernah dikenalnya dalam laskar lawannya, maka tiba-tiba Agung Sedayu itupun meloncat mendekati Citra Gati. Ia sama sekali tidak cemas lagi melihat pedang Alap-alap Jalatunda itu. Meskipun demikian, ia menjadi berdebar-debar juga. Kalau ia terpaksa terlibat dalam pertempuran yang seimbang, apakah ia harus membunuh lawannya? Namun demikian, ada juga keinginannya untuk melepaskan gelora yang tersekap didalam dadanya. Gelora kemarahannya kepada Sidanti yang belum ditumpahkannya.

Alap-alap Jalatunda yang sedang bertempur melawan Citra Gati itu melihat seseorang mendekati perkelahian itu. Karena itu segera ia berteriak “Ha, siapa lagi yang ingin bertempur melawan Alap-alap Jalatunda?”

Dalam pada itu seorang prajurit Jipang tiba-tiba menyerang Agung Sedayu. Namun dengan tangkasnya Agung Sedayu menghindari serangan itu, bahkan dengan kerasnya ia memukul pedang lawannya, kearah yang sama, sehingga justru karena itu, maka pedang itupun meloncat dan terlepas dari tangannya.

Alap-alap Jalatunda sempat menyaksikan ketangkasan itu. Karena itu maka segera perhatiannya tertarik kepada lawan yang mendekatinya. Sambil bertempur melawan Citra Gati ia berkata “He, alangkah tangkasnya anak itu. Siapakah kau? Apakah kau ingin melawan Alap-alap Jalatunda?”

Agung Sedayu tidak segera menjawab. namun diamatinya perkelahian antara alap-alap itu melawan Citra Gati. Baru sesaat kemudian ia berkata “Aku Agung Sedayu, adik Untara yang kau cegat berempat disekitar Macanan”

“He, kaukah itu? Pengecut yang selama ini aku cari-cari”

“Kita bertemu disini. Apakah aku benar-benar pengecut?”

Citra Gati menjadi heran. Apakah mereka sudah berkenalan? Tetapi kemudian diingatnya cerita Agung Sedayu tentang perjalanannya malam-malam ia pertama kali datang di Sangkal Putung. Karena itu maka katanya sambil menggerakkan pedangnya, menangkis serangan Alap-alap Jalatunda “Apakah kau bertemu dengan kawan lama?”

“Ya” sahut Agung Sedayu.

“Kalau kau yang bertempur melawan aku sekarang, maka aku akan dapat melepaskan sakit hatiku. Bukankah kakakmu yang namanya Untara itu membunuh tiga orang kawan-kawanku?” teriak Alap-alap Jalatunda.

Agung Sedayu menarik nafas. Kemudian katanya “Kau masih marah?”

“Setan” desis Alap-alap Jalatunda. “Kalau kau tidak melarikan diri waktu itu, maka kau telah aku cincang dibawah randu alas ditikungan”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. “Ya” katanya dalam hati. “Kalau pada saat itu Kiai Gringsing tidak menolongku, mungkin aku benar-benar telah dicincangnya”

Kemudian jawabnya “Tetapi sekarang kita bertemu lagi”

“Jangan lari. Setelah aku menyelesaikan yang seorang ini, akan datang giliranmu”

Citra Gati tersinggung mendengar kata-kata itu. Karena itu ia memperketat serangannya sambil berteriak “Apa kau sangka aku ini dapat kau kalahkan?”

Alap-alap Jalatunda terkejut. Serangan Citra Gati benar-benar berbahaya. Sedang seorang yang lain telah menyerang Agung Sedayu pula. namun sekali lagi dengan mudahnya Agung Sedayu dapat menghindarinya. Bertempur beberapa saat, kemudian dengan sekuat tenaga melawan serangan orang itu dengan serangan pula, sehingga kedua senjata mereka beradu. Ketika pedang lawannya itu masih bergetar ditangannya, maka dengan cepatnya Agung Sedayu memukul pedang itu sehingga terlepas pula dari genggamannya. Namun sekali lagi ia ragu-ragu untuk membunuhnya. Maka dibiarkannya lawannya itu berlari menyusup diantara riuhnya pertempuran.

Kini, setelah beberapa kali Agung Sedayu meyakinkan kemampuannya, maka dengan tangkasnya ia meloncat mendekati Citra Gati sambil berkata “Lepaskan anak muda itu paman. Biarlah ia melawan aku dahulu”

Citra Gati mengangkat dahinya. Sebenarnya ia ingin menyobek mulut Alap-alap Jalatunda yang telah menghinanya itu. Tetapi ia tidak mampu. Karena itu maka jawabnya “Silakan. Kalau kawan lama sudah bertemu, maka aku akan menyingkir”

“Kau mau bunuh diri?” teriak Alap-alap Jalatunda “Beberapa waktu yang lalu kau melarikan dirimu, sekarang kau bersombong diri, melawan aku”

“Pada waktu itupun aku tidak lari” sahut Agung Sedayu yang mencoba menutupi kekecewaannya atas masa lampau itu “Waktu itu aku sedang menyelamatkan kakang Untara”

Alap-alap Jalatunda mencibirkan bibirnya. Anak muda itu dapat mengingatknya dengan baik ketika Agung Sedayu berdiri dengan gemetar melihat Untara bertempur seorang diri.

Tetapi Alap-alap Jalatunda itu benar-benar menjadi heran, bahwa kini Agung Sedayu benar-benar berani melawannya atas kehendak sendiri. bahkan sengaja mendatanginya dan menyatakan dirinya untuk bertempur melawannya.

Sementara itu pertempuran masih berlangsung terus. Citra Gati yang kemudian melepaskan lawannya, segera mendapat serangan dari orang-orang Alap-alap Jalatunda yang menyangka bahwa Agung Sedayu dan Citra Gati akan mengeroyok pimpinan sayapnya. Tetapi Citra Gati segera berkisar dari tempatnya, dan menyambut serangan itu dalam jarak yang cukup dari Alap-alap Jalatunda.

Kini Alap-alap Jalatunda berdiri bebas tanpa lawan seperti Agung Sedayu. Anak buahnya segera mengerti bahwa mereka berdua akan berhadapan sebagai lawan. Demikian juga dengan anak buah Citra Gati. Karena itu maka mereka tidak akan mengganggu kedua orang yang sudah siap untuk bertempur itu. Bahkan mereka sedang sibuk melayani lawan masing-masing.

Alap-alap Jalatunda itu sekali melayangkan pandangannya kearena yang tidak begitu luas itu. Perkelahian masih berlangsung dengan sengitnya. Terasa bahwa jumlah lawannya agak sedikit lebih banyak. Tetapi beberapa orang diatara mereka adalah anak-anak muda yang belum begitu tangkas mempergunakan senjata-senjata mereka, sehingga mereka terpaksa bertempur berpasangan. Tetapi anak buah Widura sendiri, telah bertempur mati-matian. Dan sebenarnya tandang mereka ngedap-edabi. Dengan demikian maka anak-anak muda Sangkal Putung yang berbekal tekad yang menyala didalam dada mereka itupun menjadi garang pula. diantara mereka, Swandaru tampak mempunyai beberapa kelebihan. Bahkan kini ia tidak kalah tangkas dengan setiap orang didalam pasukan kecil itu. Pedangnya yang besar berputar menyambar-nyambar seperti baling-baling. Dan setiap benturan, langsung terasa oleh lawannya bahwa kekuatannya benar-benar bukan main. Karena itulah maka Swandaru itu benar-benar mengamuk seperti banteng yang terluka.

Alap-alap Jalatunda itu kemudian memandang Agung Sedayu yang telah siap berdiri dimukanya. Dengan wajah yang tegang Alap-alap Jalatunda itu membentak “He, apakah kau sekarang sudah mendapat seorang guru yang pilih tanding? Yang mampu meremas prahara?

Agung Sedayu masih juga berdebar-debar. Meskipun demikian ia merasa bahwa ia tidak takut lagi menghadapinya. Karena itu maka katanya “Alap-alap Jalatunda, aku telah mendapat guru yang sangat baik. Aku berguru pada keadaan dan waktu. Akhirnya aku berani menghadipimu kini”

Alap-alap Jalatunda tertawa. katanya “Nah, berperisailah dengan segala macam mantra, doa, aji dan ilmu. Namun sebentar lagi dadamu akan tembus oleh ujung pedangku”

“Tidak. Aku hanya berperisai dengan keyakinan akan kebenaran perjuanganku. Mudah-mudahan Tuhan membenarkan pula”

“Huh, setiap orang meyakini kebenaran perjuangannya. Akupun yakin, Karena itu jangan membual tentang kebenaran”

“Kau benar” sahut Agung Sedayu “Tetapi marilah kita cari kebenaran yang jujur. Kebenaran yang dibenarkan oleh Tuhan kita. Bukankah kau juga mengakui kebenaran yang mutlak itu?”

“Pandangan kita tak akan bertemu”

“Mungkin tidak. Tetapi apa yang kau lakukan selama ini, perampokan, pencegatan, perkosaan atas kebebasan dan kemanusiaan adalah sama sekali tidak mencerminkan kebenaran perjuanganmu”

“Jangan menggurui aku. Kita sudah memegang pedang ditangan masing-masing”

“Bagus. Aku sudah siap”

Alap-alap Jalatunda tidak berbicara lagi. Segera ia meloncat sambil menjulurkan pedangnya. Namun Agung Sedayupun telah siap pula. ia telah banyak mengalami penempaan selama ini. Dari kakaknya dimasa kanak-kanaknya, dari ayahnya dan akhirnya dari pamannya. Namun ia sendiri telah menemukan banyak persoalan yang dapat dipecahkannya lewat lukisan-lukisannya yang telah disempurnakan oleh kakaknya, sehingga dengan demikian, maka Alap-alap Jalatunda benar-benar menjadi heran. Agung Sedayu adalah anak muda yang perkasa.

Demikianlah mereka terlibat dalam perkelahian yang sengit. Alap-alap Jalatunda yang ber tanggung-jawab atas anak buahnya, segera mengerahkan segenap kemampuannya untuk secepat-cepatnya berusaha menyelesaikan pertempuran itu. Sedang Agung Sedayu kemudian melawannya dengan gigih.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba timbullah berbagai pertanyaan didalam diri Agung Sedayu. Ia belum pernah mengalami pertempuran yang sebenarnya. Karena itu, ia menjadi heran. Apakah Alap-alap Jalatunda itu tidak bertempur dengan segenap kemampuannya? Apakah anak muda itu sengaja memancingnya atau membiarkannya menjadi lelah?

Sampai sedemikian lama, Agung Sedayu sama sekali tidak merasakan sesuatu kesulitan untuk melawan Alap-alap Jalatunda yang ditakutinya. Ia dapat melawan dengan baik, bahkan kadang-kadang ia mampu melibat lawannya dalam keadaan yang sangat sulit. Karena itu maka Agung Sedayu justru menjadi bingung. Ia akhirnya menyangka bahwa Alap-alap Jalatunda belum bertempur dengan sepenuh kemampuannya. Dengan demikian, maka Agung Sedayupun berusaha menyimpan sebagian dari tenaganya untuk menghadapi setiap saat apabila Alap-alap Jalatunda itu mengerahkan ilmunya.

Tetapi sebenarnya bahwa Alap-alap Jalatunda telah berjuang mati-matian untuk membinasakan lawannya. Namun betapa ia menjadi heran. Lawannya itu menjadi seperti hantu yang sangat membingungkannya. Sekali-sekali ia dapat menghadapinya dengan mantap, namun tiba-tiba bayangannya telah melontar mengitarinya seperti bayangan hantu yang tidak berjejak diatas tanah. Karena itu, maka keringat dingin telah mengalir disegenap wajah kulitnya. Meskipun demikian Alap-alap Jalatunda itu masih bertempur dengan garangnya.

Hal inilah yang tidak diketahui oleh Agung Sedayu. Ia masih menyangka bahwa Alap-alap Jalatunda belum bertempur sebenarnya.

Dengan demikian, maka Agung Sedayu itupun masih menunggu. Disimpannya sebagian dari tenaganya. Apabila saatnya datang, maka segera ia siap untuk bertempur mati-matian.

Bagaimanapun juga, Agung Sedayu itu masih juga terpengaruh kenangan masa-masa lampaunya. Ia masih menganggap bahwa Alap-alap Jalatunda adalah seorang anak muda yang perkasa. Karena itu maka ketika ia mengalami pertempuran melawan alap-alap itu, ia menjadi ragu-ragu. Sebab dalam perkelahian itu ternyata, bahwa Alap-alap Jalatunda sama sekali tidak segarang yang disangkanya, sehingga dengan demikian ia tetap mengira, bahwa Alap-alap Jalatunda masih menyimpan sesuatu yang akan dipakainya untuk mengakhiri pertempuran.

Demikianlah maka mereka berdua masih berempur dengan serunya, didalam riuhnya pertempuran antara laskar Widura dan anak-anak Sangkal Putung disatu pihak dan laskar Tohpati dilain pihak.

Sementara itu, induk pasukan merekapun bertempur dengan serunya pula. mereka telah berjuang sekuat-kuat tenaga mereka. Sejak munculnya laskar yang dipimpin oleh Citra Gati itu maka Macan Kepatihan yang cerdik segera dapat menduga, bahwa akan datang pula serangan dari sayap lain. Karena itu segera ia berteriak “Siapkan sayap kiri”

Dan sebenarnyalah laskar Pajang yang dipimpin oleh Sidanti itupun segera melanda lawannya seperti arus banjir yang berusaha memecahkan tebing. Bergulung-gulung gelombang demi gelombang.

Sidanti telah mengatur anak buahnya dalam sap-sap yang tipis. Sebagian anak buahnya langsung berusaha masuk kedalam barisan lawan. Sedang lawan-lawan mereka yang berdiri dibaris terdepan, harus berhadapan dengan lapis-lapis yang berikutnya. Dengan demikian, maka mereka menjadi ragu-ragu. Karena itu itu maka pertempuran yang ribut itu berlangsung dalam suasana yang tidak menentu. Apalagi malam yang pekat telah melindungi wajah-wajah mereka sehingga sukar untuk membedakan siapakah lawan dan yang manakah kawan. Tetapi dengan demikian Sidanti telah berhasil mengurangi kemungkinan yang tidak diharapkan bagi mereka yang masih belum lanyah mempermainkan senjata, sebab dalam keadaan demikian, mereka bertempur berpasang-pasang, bahkan kadang-kadang dalam jumlah tiga atau empat bersama-sama.

Dalam keadaan demikian itulah maka kedua belah pihak memandang perlu untuk menyalakan obor-obor lebih banyak lagi sehingga oleh sinar obor-obor itu mereka dapat sedikit membedakan, antara lawan dan kawan.

Namun Plasa Ireng tidak membiarkan pertempuran itu menjadi kisruh tidak menentu. Karena itu maka segera ia berteriak “Jangan berkisar dari satu titik. Merengganglah, dan carilah jarak diantara kawan sendiri”

Arena pertempuran yang mula-mula justru menjadi kian sempit itu, maka perlahan-lahan menebar kembali. Laskar Jipang bukan pula laskar kemarin petang. Karena itu segera mereka dapat menempatkan diri mereka dengan baik.

Sidanti yang memimpin laskar Pajang itupun segera dapat melihat siapakah yang memegang perintah dalam laskar lawannya. Karena itu maka tanpa berkata apapun segera ia meloncat menyerbunya.

Plasa Ireng terkejut melihat anak muda itu. Sekali ia meloncat kesamping kemudian dengan menggeram ia berkata “Siapakah kau?”

“Sidanti” sahut Sidanti. Namun sementara itu, senjatanya yang berujung tajam dikedua sisinya berputar dengan cepatnya. Sekali-sekali mematuk dan sekali-sekali menyambar hampir menyentuh wajah Plasa Ireng.

Plasa Ireng itu menjadi marah bukan buatan. Dengan menangkis setiap serangan Sidanti ia menggeram “apakah kau sudah jemu hidup?”

Sidanti menyerang semakin garang. Meskipun demikian ia menjawab “Kita berada dimedan pertempuran. Jangan ribut”

Plasa Ireng itupun kemudian berteriak nyaring. Dengan garangnya ia melawan serangan-serangan Sidanti. Iapun bukan anak-anak yang baru sekali menyaksikan darah tertumpah. Plasa Ireng adalah prajurit sejak mudanya. Seakan-akan ia memang dilahirkan untuk memanggul senjata.

Demikianlah perkelahian itu cepat menanjak menjadi dahsyat sekali. Sidanti bergerak dengan lincahnya, sedang Plasa Ireng bertempur dengan tangguhnya. Keduanya memiliki beberapa kelebihan dari orang-orang kebanyakan.

Namun ketika Plasa Ireng sempat memperhatikan senjata lawannya, maka iapun menjadi berdebar-debar. Ciri yang ada ditangan Sidanti itu adalah ciri perguruan Tambak Wedi.

“Hem” desisnya sambil bertempur “Apakah kau murid Ki Tambak Wedi?”

Sidanti menjadi berbangga hati mendengar pertanyaan itu “Ya” jawabnya singkat.

Sekali lagi Plasa Ireng menggeram “Jangan berbangga. Aku mendengar nama Ki Tambak Wedi dari Macan Kepatihan. Karena itu aku akan mencoba, apakah berita tentang Tambak Wedi itu benar-benar mendebarkan hati”

Sidanti menjadi tersinggung karenanya. Maka senjatanya menjadi semakin dahsyat berputar-putar mengitari tubuh lawannya. Bagaimana Plasa Irengpun telah mencapai puncak kemarahannya. Dengan demikian maka pertempuran itu menjadi bertambah seru. Sebenarnyalah Sidanti memiliki beberapa keanehan. Ia mampu meloncat-loncat seperti kijang, namun kadang-kadang ia menyambar seperti elang. Dengan penuh tekad, ia ingin menunjukkan kelebihannya dari setiap orang dari kedua belah pikak. Ia ingin membunuh lawannya itu, dan karena itu ia ingin membanggakan dirinya kepada setiap orang di Sangkal Putung.

Tetapi Plasa Ireng itupun ingin berbuat serupa. Ia ingin segera membinasakan murid Ki Tambak Wedi itu. Dengan demikian iapun akan dapat membanggakan dirinya pula.

Plasa Ireng pernah mendengar dari Macan Kepatihan bahwa murid Ki Tambak Wedi ternyata telah berhasil menyelamatkan dirinya ketika ia bertempur melawan Macan Kepatihan itu sendiri “Tetapi ia akan mati kali ini” berkata Plasa Ireng didalam hatinya. Dengan demikian maka pertempuran diantara mereka menjadi semakin seru. Masing-masing berhasrat untuk membunuh lawannya. Tanpa ampun, tanpa pertimbangan lain.

Ketika keuda sayapnya telah mendapatkan lawan masing-masing, maka kini Tohpati menjadi tenang. Kini ia tinggal mengatur induk pasukannya. Ketika dengan seksama ia memperhatikan pertempuran itu, maka ia menarik nafas dalam-dalam. Ia menyesal bahwa kunci pertempuran itu telah dibuka oleh laskar Pajang. Sesaat yang pendek itu ternyata benar-benar berpengaruh atas laskarnya. “Hem” ia menggeram. “Sekali lagi dapat disergap oleh Widura. Jaringan pengawasannya benar-benar luar biasa. Tetapi sejak pertempuran ini dimulai, aku belum melihatnya. Aku belum melihat seorangpun yang memberi aba-aba pada laskar ini”

Sesaat ia masih berdiri tegak dibelakang garis pertempuran. Namun kemudian ia tidak akan berdiri saja seperti patung. Keitka ia melihat bahwa jumlah laskar lawannya agak lebih banyak maka ia mengerutkan keningnya “Tidak akan berpengaruh apa-apa” desah Tohpati itu. Namun ia heran juga, kenapa mereka tidak terpancing oleh tanda bahaya yang bergema diseluruh Sangkal Putung itu sehingga jumlah mereka masih cukup banyak. Apakah jumlah laskar Widura itu telah ditambah?

Namun mata Macan Kepatihan itu benar-benar tajam. Sekali-sekali ia melihat satu dua orang diantara laskar Widura yang mempunyai cara dan sikap yang agak berbeda dari kawan-kawan mereka. Karena itu maka segera Tohpati dapat mengambil kesimpulan bahwa laskar Widura ini telah bergabung dengan anak-anak Sangkal Putung sendiri.

“Biarlah aku memberikan tekanan kepada laskar lawan itu. Mungkin dengan demikian Widura akan menghampiri aku” berkata Tohpati itu didalam hatinya.

Karena itu maka segera ia meloncat menyusup diantara anak buahnya, sehingga sesaat kemudian senjatanya telah berputaran diarena itu. Tongkatnya yang putih mengkilap dengan ujung yang kekuning-kuningan segera memberitahukan kepada lawan-lawannya bahwa Tohpati sendiri telah hadir digaris peperangan. Karena itu, sebelum mereka sempat berbuat apa-apa, maka seorang dua orang telah terpelanting jatuh. Setiap ia bergerak, maka tak ada seorangpun yang berani menyongsongnya seorang diri. Kalau terpaksa mereka harus melawan Macan Kepatihan itu, maka mereka berusaha untuk melawan berpasangan, tiga empat orang sekaligus. Tetapi lawan-lawan mereka yang lainpun segera menyerang mereka juga, sehingga setiap titik yang dihampiri oleh Tohpati itu, maka seseorang dari laskar lawannya pasti akan jatuh.

Tetapi Tohpati itu tidak terlalu lama dapat berbuat demikian. Tiba-tiba dari laskar Pajang, muncullah seseorang dengan sebuah pedang ditangan. Ketika tongkat Tohpati itu terayun dengan derasnya kearah salah seorang prajurit Pajang yang telah menjadi berputus asa karenanya, maka tiba-tiba pedang itu telah menyentuhnya. Tidak terlalu keras, namun dari arah yang tepat sehingga tongkat Tohpati itu tergeser dari arahnya.

Tohpati menggeram keras sekali. Ketika ia melihat orang yang menyentuh senjatanya itu didalam remang-remang cahaya obor ia terkejut. Hampir berteriak ia berkata “He, adakah kau adi Untara?”

Orang yang memegang pedang itu menyahut “Ya”

Sekali lagi Tohpati menggeram. Kini ia menemukan lawan yang sebenarnya. Karena itu maka ia tidak mau membuang waktu. Betempur melawan Widura, Sidanti atau siapapun, Tohpati tidak akan memerlukan waktu yang terlalu banyak. Namun kini Untara berdiri dihadapannya, maka dengan demikian ada kemungkinan ia harus bertempur lebih lama lagi, mungkin setengah malam, mungkin lebih.

Untara kini telah benar-benar siap untuk melawannya. Pedangnya terjulur setinggi dada. “Kakang Tohpati” katanya “Aku mendapat tugas untuk menyambut kedatanganmu”

Tohpati menggertakkan giginya. Dengan sekali loncat, tongkatnya telah mulai menyerang Untara. Namun Untara telah benar-benar siap. Meskipun Untara tidak mempunyai senjata khusus seperti Tohpati itu, namun Untara mampu mempergunakan setiap senjata untuk melawan Tohpati. Karena itu ketika tongkat Tohpati itu terayun kearah kepalanya, dengan tangkasnya ia merendahkan dirinya, sedang tangannya segera menggerakkan pedangnya, mematuk lambung lawannya. Namun Tohpatipun mampu bergerak secepat kilat, sehingga dengan memiringkan tubuhnya, serangan pedang Untara telah dapat dihindari.

Kini Tohpati itu kembali mempersiapkan sebuah serangan. Tongkatnya telah mulai berputaran seperti baling-baling. Bahkan kemudian seakan-akan menjadi sebuah gumpalan cahaya yang putih. Sedang kepala tongkatnya itu menjadi seakan-akan seleret cahaya kuning yang beterbangan diantara gumpalan yang berkilat-kilat itu.

Dalam pada itu terdengar Tohpati itu menggeram “Kenapa kau berada disini adi?”

Untara tersenyum. pada saat itu tongkat Tohpati menyambarnya kembali. karena itu, ia terpaksa bergeser surut, namun kemudian ia meloncat maju dengan tangkasnya. Kini ia menyerang dengan sebuha sabetan menyilang. Tohpati terkejut. Cepat ia menarik diri setengah langkah, dan mencondongkan badannya kebelakang. Ketika pedang Untara itu lewat, maka tongkatnyalah kini langsung menyambar tangan Untara itu. Namun Untarapun cukup cekatan. Dengan lincahnya ia memutar dirinya dan menarik tangannya, sehingga tongkat lawannya terayun tanpa menyentuhnya.

Meksipun mereka telah bertempur semakin cepat, namun Untara masih sempat berkata “Huh. Hampir aku tidak sempat menjawab untuk selama-lamanya. Nah kakang, aku datang kemari khusus untuk menerima kedatangan kakang”

“Gila” Tohpati mengumpat “Apakah paman Widura sudah ditarik ke Pajang?”

“Kakang mencari paman Widura?”

“Aku hampir membunuhnya” sahut Tohpati. Dalam pada itu serangannya telah meluncur kembali.

Tetapi Untara sama sekali tidak lengah. Setiap saat ia selalu siap menghadapi serangan lawannya. Bahkan dengan garangnya Untara itupun segera menyerang kembali.

Untara dan Macan Kepatihan itupun kemudian terlibat dalam perkelahian yang semakin lama menjadi semakin seru. Mereka masing-masing adalah pemimpin yang mendapat kepercayaan. Pada masa Jipang masih tegak, maka disamping Mantahun sendiri, pepatih Jipang, maka Tohpatilah prajurit yang paling dipercaya. Sedang Untara walaupun masih agak lebih muda dari Tohpati, namun ia telah menunjukkan kelebihan dari prajurit-prajurit yang lain, sehingga panglima Wiratamtama memberinya kepercayaan didaerah-daerah yang gawat, disekitar lereng gunung Merapi.

Tohpati itu bertempur semakin lama menjadi semakin garang. Tongkatnya menyambar-nyambar seperti elang, sedang kakinya meloncat-loncat dengan cepatnya, seperti seorang yang sedang menari diatas bara api. Tetapi Untara mampu melawannya dengan gigih. Seperti seekor banteng ia siap menghadapi kemungkinan apapun juga. Tenang tetapi yakin.

Anak buah masing-masingpun terpengaruh pula oleh pertempuran kedua pemimpin itu. Merekapun kemudian melepaskan segenap kemampuan yang ada pada mereka. Karena itu, maka diarena pertempura itu semakin lama menjadi semakin riuh. Suara senjata beradu, diselingi pekik mereka yang lengah sehingga ujung senjata lawannya hinggap ditubuhnya.

Malam yang gelap itu menjadi semakin gelap. Perlahan-lahan bintang-bintang dilangit merabat melewati garis edarnya. Angin malam yang dingin berhembus perlahan-lahan mengusap tubuh mereka yang sedang basah oleh keringat.

Dipinggir selatan induk desa Sangkal Putung, Widura sedang berjuang dengan gigihnya. Sanakeling yang melawannya telah memeras segenap kemampuan yang ada padanya. Ternyata apa yang pernah didengarnya tentang Widura, adalah bukan sekedar cerita belaka. Kini ia berhadapan langsung dengan orang yang bernama Widura itu. Tidak saja ia mempunyai kecepatan dan ketrampilan bertempur, namun caranya mengatur anak buahnya benar-benar mengagumkan. karena itu, maka Sanakeling harus bertempur mati-matian sehingga dengan demikian ia akan dapat mempengaruhi keadaan keseimbangan laskar mereka. “Kalau aku mampu membunuh Widura, maka laskar mereka akan dapat aku cerai-beraikan” pikir Sanakeling itu. Namun ternyata Widura tidak mudah didesaknya. Bahkan semakin lama menjadi semakin terasa bahwa Widura menjadi semakin mapan.

karena itu, maka timbullah berbagai persoalan didalam dirinya. Sudah cukup lama Sanakeling berusaha mempertahankan kedudukannya. Namun laskar yang lain, masih belum dilihatnya memasuki Sangkal Putung. Apalagi kemudian terasa bahwa laskar Sangkal Putung itu benar-benar sulit untuk dikuasai. Anak-anak muda Sangkal Putung sendiri bertempur dengan gigihnya, disamping laskar Widura yang telah masak menghadapi segala macam keadaan pertempuran. karena itu, maka Sanakeling itu sama sekali tidak dapat memberikan tekanan-tekanan seperti yang diharapkan, apalagi merambas jalan kekademangan,

Tetapi Sanakeling bukannya prajurit yang berpikiran pendek. Ia bukan seorang yang lekas menjadi berputus asa. Ia masih tetap dalam pendiriannya, kalau ia dapat membunuh Widura maka pekerjaannya akan dapat dilakukan dengan baik.

Dalam keadaan yang demikian itulah pertempuran itu menjadi semakin sengit. Laskar Widura dan laskar Sangkal Putung ternyata melebihi jumlah laskar lawan. Namun ternyata bahwa laskar Sanakeling memiliki pengalaman dan kelincahan lebih baik dari laskar Sangkal Putung sendiri. Untunglah bahwa laskar Widura mampu mengimbanginya, meskipun jumlahnya tidak dapat memadai.

Dibagian lain, Agung Sedayu masih juga bertempur melawan Alap-alap Jalatunda. Laskar Citra Gati disayap itupun ternyata mampu mengimbangi lawannya. Beberapa orang laskar Sangkal Putung yang tidak saja terdiri dari anak-anak muda, tetapi beberapa orang tua, namun justru bekas prajurit-prajurit dimasa mudanya, ternyata memberinya banyak bantuan. Meskipun tenaga orang-orang tua itu sudah tidak sekuat anak-anak muda, namun pengalamannya benar-benar dapat memberi beberapa keuntunga. Mereka masih dapat membingungkan lawan-lawan dengan gerak-gerak yang aneh. Kadang-kadang mereka menghilang didalam keriuhan pertempuran, namun dengan tiba-tiba mereka muncul kembali dengan sebuah serangan yang mengejutkan. Bahkan kadang-kadang mereka bertempur berpasangan dengan anak-anak muda sambil memberi beberapa petunjuk kepada mereka.

Citra Gati yang melihat cara mereka bertempur, sempat juga tersenyum. mereka adalah bekas prajurit Demak yang tangguh dimasa muda mereka.

Tetapi Agung Sedayu sendiri, masih saja merasa kebingungan. Ia ragu-ragu untuk segera mengakhiri pertempuran. Kalau ia segera mengerahkan segenap kemampuannya, apakah Alap-alap Jalatunda itu tidak menjadi beruntung karenanya? Apakah Alap-alap Jalatunda sengaja membuatnya tidak sabar, dan menunggu sampai ia menjadi lemah?

karena itu, maka akhirnya ia memutuskan untuk melayani saja lawannya. Dibiarkannya lawannya mengambil sikap lebih dahulu, baru kemudian ia akan menyelesaikannya.

“Biarlah” katanya dalam hati “Akan aku layani Alap-alap Jalatunda ini. Sehari, dua hari atau seminggu sekalipun. Kalau ia masih mampu menggerakkan senjatanya, masa aku tidak dapat melawannya dengan senjataku”

Dengan demikian Agung Sedayu itu bertempur saja sekedar untuk melindungi dirinya dari sentuhan senjata lawannya.

Tetapi disayap yang lain, keadaan Sidanti agak lebih sulit. Laskar Plasa Ireng benar-benar memiliki kemampuan yang baik. Dengan dahsyatnya mereka berhasil menekan laskar yang dipimpin oleh Sidanti, sehingga pertempuran itu telah bergeser beberapa langkah surut. Sidanti terpaksa mengambil kebijaksanaan untuk menarik laskarnya mendekati induk pasukan. Diharapkannya bahwa induk pasukan akan dapat memberinya bantuan.

Untarapun kemudian melihat kesulitan Sidanti. Beberapa kali ia mencoba untuk menilai induk pasukan itu. Namun keadaan induk pasukan itu sendiri tidak sedemikian baiknya. Ternyata laskar Tohpatipun mampu mengimbangi laskar Untara. Bahkan terasa bahwa anak-anak muda Sangkal Putung telah mulai susut tenaganya. Mereka belum biasa memeras tenaganya untuk waktu yang lama, apalagi dalam kesibukan yang membingungkan. Karena itu, maka Untara menjadi prihatin. Walaupun demikian, ia berusaha untuk memberi isyarat kepada Hudaya. Isyarat sandi yang sudah mereka bicarakan sebelumnya.

Hudaya melihat gerak tangan kiri Untara. karena itu, maka ia mengerutkan keningnya. Didalam hati ia bergumam “Biarlah Sidanti itu mampus. Kenapa Untara itu memerintahkan aku untuk membantunya?”

Sebenarnya bahwa isyarat sandi Untara itu adalah “Hudaya dan beberapa orang, pergi membantu sayap kanan” Bantuan itu memang hampir tak berarti. Tetapi sedikit banyak cukup berpengaruh sekedar untuk mengurangi kesibukan Sidanti.

Sidanti melihat Hudaya dan beberapa orang memisahkan diri dari induk pasukannya dan pergi kesayap yang dipimpinnya. Tetapi ia menjadi sangat kecewa. Bantuan itu sama sekali tidak berarti. Bahkan tersembullah suatu prasangka didalam hati Sidanti yang mudah menjadi panas itu. “Hem. Untara sengaja membiarkanku dalam kesulitan. Setan. Telah menjadi sumpahku, bahwa Untara itu harus disingkirkan”

Dan ternyata bahwa bantuan Hudaya itu hampir tak berarti. Namun Hudaya sendiri telah berusaha sebaik-baiknya. Bahkan hampir seperti orang yang kehilangan kesadaran diri. Mengamuk sejadi-jadinya.

Namun hal itu telah mendorong Sidanti untuk berbuat lebih banyak. Kemarahannya kepada Plasa Ireng, dirangkapi oleh kemarahannya kepada Untara menjadikannya berjuang sekuat-kuat tenaganya. Tetapi betapapun juga, kehadiran Hudaya didalam sayapnya, telah mengurangi kesibukan pikirannya. Ia menjadi agak tenang untuk menghadapi Plasa Ireng tanpa banyak berpikir tentang laskarnya. Meskipun bantuan yang didapatnya tidak banyak memberi kekuatan pada laskarnya, namun ternyata banyak membantu ketenangannya. Ia kini mencoba memusatkan perhatiannya kepada lawannya. Plasa Ireng. Ia mencoba untuk sesaat melupakan orang-orang lain didalam sayapnya yang dalam keadaan sulit itu.

Dalam keadaan yang demikian itu, maka Sidanti benar-benar menjadi seorang anak muda yang pilih tanding. Kalau beberapa saat yang lampau ia berhasil menyelamatkan dirinya setelah bertempur beberapa lama melawan Tohpati, maka kini ia berusaha memeras segenap kemampuan yang ada padanya untuk membinasakan lawannya. Selain itu, ternyata Sidantipun seorang yang keras hati. Sekali ia bertekad untuk membunuh lawannya, maka tak ada alasan apapun yang dapat mencegahnya. Kali inipun ia bertekad membunuh Plasa Ireng, seperti Plasa Ireng berusaha membunuhnya. Tak ada pikiran lain didalam benaknya. Membunuh. Hanya itu. Membunuh.

Dengan demikian maka Sidanti itupun kemudian memeras segenap kemampuan yang ada padanya. Senjatanya bergerak berputaran sehingga kemudian seakan-akan telah berubah menjadi asap yang hitam kebiru-biruan. Senjata yang hanya sebatang, namun berujung sepasang timbal-balik itu, seakan-akan berubah menjadi senjata serupa yang berpuluh-puluh jumlahnya. Menyerang tubuh Plasa Ireng dari segenap arah.

Meskipun Plasa Ireng bukan seorang prajurit yang baru saja belajar memegang senjata, namun tiba-tiba ia menjadi bingung menghadapi permainan Sidanti. Permainan murid Ki Tambak Wedi itu benar-benar memeningkan kepalanya. Meskipun demikian, Plasa Irengpun tidak segera menjadi cemas. Plasa Ireng adalah seorang prajurit yang tabah. Berpuluh bahkan beratus kali ia mengalami kesulitan didalam peperangan dan perkelahian perseorangan. Namun berpuluh bahkan beratus kali ia dapat menghindarkan kesulitan itu. karena itu, maka dengan sekuat-kuat tenaga yang ada padanya, maka ia berusaha untuk mematahkan gumpalan sinar hitam kebiru-biruan yang melandanya.

Tetapi gumpalan sinar hitam kebiru-biruan itu benar-benar seperti asap yang tak dapat disentuh oleh senjatanya. Sidanti yang menjadi semakin bernafsu itu, telah menyerangnya tanpa pertimbangan kecuali membinasakan.

Sekali-sekali Plasa Ireng itupun meloncat mundur. Ia menjadi berbesar hati ketika ia melihat laskarnya berhasil menekan laskar Sidanti. Tetapi ia tidak dapat menutup kenyataan bahwa desing senjata Sidanti itu seakan-akan sebuah siulan maut yang selalu mengejarnya.

karena itu, maka ia sama sekali tidak menjadi cemas. Kalau perlu ia dapat menarik satu dua orang untuk mengganggu Sidanti.

Hudaya yang bertempur didekat Sidanti melihat kelebihan Sidanti dari lawannya. Meskipun kebenciannya kepada anak itu sampai keujung rambutnya, tetapi, dalam menghadapi musuhnya, Hudaya berbesar hati juga melihat kemenangan Sidanti. karena itu, maka ia berusaha untuk selalu berada didekatnya. Ia sudah dapat memperhitungkan apa yang kira-kira akan terjadi. Sebagai seorang prajurit yang telah bertahun-tahun hidup didalam arena pertempuran, maka ia dapat menduga, bahwa apabila terpaksa Plasa Ireng pasti tidak akan segan-segan memanggil satu dua orang untuk membantunya.

Demikianlah pertempuran disayap kanan itu menjadi semakin ribut. Laskar Sidanti menjadi semakin lama menjadi semakin sulit pula. Plasa Irengpun semakin lama menjadi semakin sulit pula. sekali-sekali ia meloncat berkisar disekitar garis pertempuran berlindung dibelakang beberapa orang laskar yang sedang berjuang. Namun akhirnya Sidanti berhasil menekannya semakin dalam. Sidantipun mampu memperhitungkan keadaa, bahwa daya tahan laskarnya masih lebih baik dari daya tahan Plasa Ireng. Sehingga meskipun ia melupakan laskarnya sejenak, tetapi ia akan mencapai hasil yang pasti lebih baik.

Sehingga karena itu, maka Sidanti kemudian memusatkan segenap kemampuannya untuk membinasakan lawannya itu.

Plasa Irengpun benar-benar merasakan, betapa serangan-serangan Sidanti semakin menekannya. Senjatanya yang aneh benar-benar telah berputar-putar ditelinganya. Betapapun Plasa Ireng mencoba mempertahankan dirinya, namun Sidanti itu mendesaknya semakin kuat.

Akhirnya Plasa Ireng itu menganggap bahwa tak akan ada gunanya ia bertahan seorang diri. Dalam peperangan, tak akan ada celanya, apabila ia harus bertempur berpasangan. karena itu, tiba-tiba terdengar ia bersuit nyaring.

Sidanti mendengar suara suitan itu. Terasa dadanya bergetar. Iapun tahu pasti, bahwa Plasa Ireng memanggil seorang atau dua orang untuk membantunya.

Dan sebenarnyalah, seseorang yang bertubuh tinggi, namun tidak cukup besar dibandingkan dengan tingginya, meloncat sangat lincahnya, menyerbu ketempat pertempuran antara Plasa Ireng dan Sidanti. Ditangannya tergenggam sebilah tombak pendek. Dengan cepatnya ujung tombak itu bergetar, dan dengan tangkasnya ia memotong serangan-serangan Sidanti.

Sidanti surut selangkah. Terdengar ia menggeram parau “Setan. Apakah kau sudah kehabisan akal?”

Plasa Ireng tertawa “Didalam pertempuran, maka setiap orang dipihak lawan adalah musuhnya. Panggillah orang-orangmu untuk ikut serta dalam pertempuran berpasangan ini”

Sidanti menjadi semakin marah. Plasa Ireng ternyata mampu memperhitungkan kekuatan laskarnya. karena itu, maka sekali lagi Sidanti dipengaruhi oleh keadaan laskarnya.

Namun tiba-tiba tanpa diduga-duga, Hudaya yang dengan cepatnya memperhitungkan kemungkinan itu, meloncat dengan cepatnya. Pedangnya terjulur lurus, langsung kelambung orang yang tinggi itu. Orang itu terkejut, sekali ia melangkah kesamping dan kemudian dengan memutar tombaknya ua mencoba menghindarkan serangan Hudaya berikutnya.

Tidak saja orang yang tinggi itu yang terkejut. Plasa Irengpun terkejut pula. ia sama sekali tidak melihat tanda-tanda Sidanti memanggil seseorang untuk melibatkan diri dalam pertempuran diantara mereka. Tetapi Hudaya bukan seorang yang hanya mampu berbuat karena diperintah. Iapun mampu mengambil sikap dalam setiap pertempuran. Demikianlah pada saat-saat yang penting itu Hudaya mampu membuat perhitungan-perhitungan yang cermat. Ia menjadi marah pula, ketika ia melihat saat-saat terakhir dari lawan Sidanti itu diganggu oleh orang lain.

Dalam keadaan yang demikian itulah Sidanti yang berotak cerdas itu mempergunakan keadaan sebaik-baiknya. Pada saat orang yang tinggi itu masih dalam usaha menyelamatkan dirinya, maka Sidanti meloncat dengan garangnya. Memutar senjatanya dan mendesak Plasa Ireng sejadi-jadinya.

Plasa Ireng benar-benar terkejut dan karena itu sesaat ia kehilangan keseimbangan. Keseimbangan gerak dan keseimbangan pikiran. Dengan demikian maka justru ia lupa untuk memberi isyarat kepada orang lain lagi untuk membantunya. Perhatiannya tercurah sepenuhnya dalam usahanya untuk mempertahankan dirinya. Tetapi ketika kembali terasa nyawanya seakan-akan telah melekat diujung senjata Sidanti, maka barulah ia teringat kembali kepada orang-orang yang berdiri mengitarinya.

Tetapi Plasa Ireng itu telah terlambat. Getar senjata Sidanti telah benar-benar memusingkan kepalanya. Maka demikian terdengar ia bersuit dua kali untuk memanggil orangnya yang lain, maka demikian pundaknya tergores oleh senjata Sidanti. Plasa Ireng terkejut bukan buatan. Sekali ia melontar mundur, namun Sidanti itu sempat mengejarnya, dengan satu loncatan pula. Dan sebelum seseorang berhasil datang membantunya, terdengarlah Plasa Ireng memekik pendek. Sekali lagi senjata ciri perguruan Tambak Wedi yang dahsyat itu merobek dadanya.

Kini Plasa Ireng benar-benar telah kehilangan keseimbangannya. Matanya kemudian seakan-akan mejadi gelap, dan sinar-sinar obor disekitarnya itu serasa menjadi padang bersama-sama. Yang terasa kemudian sekali lagi sebuah tusukan menghunjam dadanya, langsung menembus jantungnya. Plasa Ireng itu mengaduh sekali, kemudian ketika Sidanti menarik senjatanya yang berlumuran darah, Plasa Ireng itu terseret selangkah maju untuk kemudian jatuh terjerembab dibawah kaki anak muda itu.

Ketika seseorang datang mendekatinya, orang itu terkejut. Yang dilihatnya adalah Sidanti berdiri tegak diatas tubuh Plasa Ireng. Karena itu betapa marahnya orang itu. Dengan serta-merta ia menyerang Sidanti tepat didadanya.

Tetapi serangan itu tidak banyak berarti buat Sidanti. Sekali Sidanti mengelak dan ketika senjata orang itu terjulur disamping tubuh Sidanti, maka tangan Sidanti bergerak dengan cepatnya. Sebuah goresan yang panjang telah melukai lambung orang itu. Ketika orang itu berteriak ngeri, maka sekali lagi Sidanti menusuk perutnya. Orang itupun terbanting jatuh disamping tubuh Plasa Ireng.

Tetapi agaknya kemarahan Sidanti masih belum tercurahkan seluruhnya. Ketika sekali lagi ia melihat tubuh Plasa Ireng, maka terungkatlah geram dihatinya. Karena itu dengan serta-merta ia menggerakkan senjatanya, menyobek punggung lawannya yang sudah tidak bernafas itu. Sekali, dua kali dan dipuaskannya hatinya.

Hudaya yang semula tersenyum melihat kemenangan Sidanti, tiba-tiba mengerutkan keningnya. Sambil melayani lawannya ia melihat betapa Sidanti berbuat melampaui batas. Hudaya sama sekali tidak menyangka, bahwa didalam hati Sidanti itu tersimpan kekerasan, kekejaman dan kekasaran. Ditubuh anak muda itu ternyata mengalir darah yang buram, sehingga dengan tangannya, anak muda itu sampai hati berbuat demikian atas lawannya yang sudah tidak dapat melawannya.

“Anak setan” geram Hudaya itu “Alangkah kotornya tangan anak muda itu”

Sidanti itu benar-benar seperti orang yang sedan kesurupan. Dengan mata yang merah liar dan gigi gemeretak, disobeknya tubuh lawannya yang terbaring diam

“Adi Sidanti” desis Hudaya yang tidak tahan lagi melihat perbuatan Sidanti “Sudahlah. Jangan kau turuti hatimu yang gelap”

“Tutup mulutmu” Sidanti itu membentak.

Dan Hudaya menutup mulutnya. Dalam keadaan itu, ia lebih baik tidak membuat persoalan, sebab kemungkinan menjadi salah paham sangat besar. Pada saat Sidanti sedang kehilangan segenap pertimbangannya. karena itu, maka adalah lebih baik memusatkan perhatiannya pada lawannya. Diputarnya senjatanya dan dengan dahsyatnya ia menyerang seperti taufan.

Tetapi bukan saja Hudaya yang heran melihat perbuatan Sidanti. Hampir setiap orang, baik dari laskar Pajang maupun dari laskar Jipang, hatinya tergetar melihat perbuatan itu. Perbuatan yang melampaui batas-batas yang dibenarkan dalam tata pergaulan keprajuritan. Apalagi anak-anak muda Sangkal Putung. Mereka menjadi ngeri. Bagi mereka, lebih baik memalingkan wajah-wajah mereka, dan memusatkan segenap perhatian mereka untuk menyelamatkan diri mereka dari kemungkinan yang sama dengan Plasa Ireng.

Perbuatan Sidanti itu ternyata berpengaruh bagi lawannya. Mereka menjadi ngeri dan cemas. Selain kematian pemimpin mereka, maka apa yang mereka lihat itu benar-benar telah mengerutkan hati mereka.

Setelah puas dengan perbuatannya, Sidanti tegak berdiri diatas mayat lawannya, satu kakinya menginjak punggung, dan satu kakinya diatas kepala. Dengan lantang ia berkata kepada laskar Jipang yang masih bertempur dengan gigihnya “He, laskar Jipang yang keras kepala. Lihatlah, pemimpinmu telah terbunuh mati oleh tangan Sidanti. Ayo, siapa yang berani mengangkat diri menjadi senapati. Inilah Sidanti, murid Tambak Wedi”

Suara Sidanti itu menggelegar, menyusup diantara dentang senjata dan jerit kesakitan, menggema berputar-putar didalam malam yang kelam, seakan-akan getar suara dari neraka, memanggil-manggil setiap nama yang ikut serta dalam pertempuran itu.

Malam menjadi semakin dalam. Bintang-bintang yang gemerlapan dilangit bergeser setapak-setapak kebarat dalam hembusan angin malam yang dingin. Selembar-selembar awan yang putiih mengalir keutara seperti gumpalan-gumpalan kapuk raksasa yang sedang hanyut.

Pertempuran diperbatasan kademangan Sangkal Putung masih berlangsung dengan sengitnya. Disayap kanan, laskar Jipang seakan-akan telah kehilangan semangat untuk bertempur, setelah mereka menyaksikan pemimpin mereka jatuh. Kekasaran Sidanti, meskipun menumbuhkan kengerian didalam dada laskar Jipang, namun didalam dada itu juga menyala dendam yang tiada taranya. Dendam yang seakan-akan tidak akan kunjung padam. Betapa perbuatan Sidanti itu tergores didinding jantung mereka. Sebelum nyawa mereka melayang, maka peristiwa itu tidak akan mereka lupakan.

Beberapa orang yang tidak dapat menahan hatinya melihat pemimpinnya mendapat perlakuan yang sedemikian menyakitkan hati, segera menyerbu bersama-sama. Namun Sidanti benar-benar memiliki tenaga dan ketrampilan yang luar biasa. Meskipun beberapa orang datang bersama-sama, namun anak muda itu masih saja mampu untk mengalahkan mereka.

Tetapi, ketika lawan Sidanti menjadi semakin banyak, maka Hudaya juga berasa bertanggung-jawab pula atas kemenangan yang harus mereka perjuangkan, betapapun hatinya menjadi pedih melihat perbuatan Sidanti, namun ia datang juga untuk membantunya.

Kemenangan-kemenangan yang didapatnya itu telah mendorong Sidanti lebih jauh kedalam ketamakan dan kesombongannya. Kematian Plasa Ireng merupakan racun yang tajam yang menusuk langsung keotaknya. Dengan membunuh Plasa Ireng maka Sidanti merasa bahwa ia wajar untuk menerima kehormatan yang jauh dari semestinya. Bahkan kematian Plasa Ireng itu telah menumbuhkan suatu impian yang mengerikan. Laskar Jipang yang kehilangan pemimpinnya itupun kemudian menjadi semakin kacau. Seorang yang bertubuh tinggi kurus, yang bertempur melawan Hudaya mencoba untuk mengambil alih pimpinan. Dipanggilnya beberapa orang untuk menggantikan perlawanannya terhadap Hudaya, dan ia sendiri meloncat kesana kemari, memekik tinggi memberikan aba-aba kepada sisa-sisa laskarnya. Namun usahanya itu tidak banyak memberikan perubahan apa-apa. bahkan dengan demikian maka ia memberi kesempatan kepada Hudaya untuk menghindari setiap lawannya, dan membantu Sidanti yang harus bertempur melawan beberapa orang sekaligus.

Serangan orang-orang lain yang berusaha untuk mencegahnya, terpaksa berhadapan dengan laskar Pajang yang lain pula.

Demikianlah maka laskar Jipang disayap itu menjadi semakin lemah. Kini orang yang tinggi kurus itulah yang mengambil alih kebijaksanaan, mendekati induk pasukannya.

Didalam induk pasukan itu Tohpati bertempur dengan dahsyatnya melawan Untara. Murid kepatihan Jipang yang mendapat julukan Macan Kepatihan itu menggeram tidak habis-habisnya. Untara ternyata mampu menandingi dalam segala hal. Ketrampilannya, kecepatannya, bahkan kekuatannya. karena itu, maka Tohpati itu semakin lama menjadi semakin marah. Namun Untara tetap tak dapat diatasinya.

Sedang Untarapun terpaksa mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Tetapi bekal yang didapatnya dari ayahnya Ki Sadewa, ternyata cukup banyak untuk menghadapi murid Mantahun ini.

Ketika mereka itu masih dicengkam oleh ketegangan, karena pertempuran yang dahsyat diantara mereka, datanglah seorang penghubung yang dengan hati-hati memberitahukan kekalahan yang terjadi disayap kiri laskar Jipang itu. Dengan tanda sandi, penghubung itu mengabarkan bahwa Plasa Ireng terbunuh dipeperangan.

Alangkah terkejutnya Tohpati itu. Sekali ia meloncat jauh kebelakang sambil berteriak nyaring “Siapa disayap laskar Pajang itu?”

Orang itu berhenti sejenak untuk berpikir. Ia mendengar pimimpin laskar Pajang itu sesumbar menyebut namanya sendiri. ketika kemudian teringat olehnya nama itu, maka jawabnya “Namanya Sidanti”

“Sidanti?” ulang Tohpati

Yang menjawab adalah Untara “Orang itu berkata benar”

Tohpati menggertakkan giginya. Ingin pada saat itu ia meremas tulang murid Tambak Wedi itu. “Hem, kenapa aku tidak berusaha membunuhnya beberapa waktu dahulu? Aku terlambat sesaat sehingga paman Widura mampu membebaskannya” katanya dalam hati.

Kini Sidanti itu telah sempat membunuh seorang kepercayaannya, Plasa Ireng. karena itu, maka kemarahan Tohpati itupun telah meluap sampai keubun-ubunnya. Namun ia tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk menumpahkan kemarahannya kepada Sidanti, sebab dihadapannya masih berdiri Untara. Dan Untara ini masih belum dapat dikalahkannya. karena itu, maka segera ia menggeram “Pertahankan diri pada keadaan kalian kini. Usahakan untuk menahan Sidanti dengan dua tiga kekuatan. Sebentar lagi aku akan datang membunuhnya”. Orang itu kemudian menghilang didalam hiruk-pikuk perkelahian, kembali kesayap kiri. Disampaikannya pesan itu kepada orang yang tinggi kurus, yang mengambil alih pimpinan dari tangan Plasa Ireng. Mendengar pesan itu maka orang itupun berteriak “Pertahankan keadaan kalian. Macan Kepatihan sendiri segera akan datang, membalaskan dendam kakang Plasa Ireng“

“Plasa Ireng” desis Sidanti. Jadi orang yang dibunuhnya itu adalah orang yang namanya ditakuti pula hampir seperti Macan Kepatihan sendiri. dan karena itulah maka Sidanti itu menjadi semakin membanggakan dirinya.

Berita itu telah membangkitkan kembali semangat bertempur prajurit-prajurit Jipang itu. Sebagian dari mereka segera menyerbu dengan dahsyatnya, sedang sebaigan yang lain berusaha untuk tetap mengurung Sidanti dalam satu lingkaran yang pepat.

Tetapi Hudaya tidak membiarkannya terpisah dari laskarnya. karena itu, maka iapun segera berusaha memecahkan kepungan itu, dan bertempur bersama-sama dengan Sidanti. Namun meskipun Sidanti melihat usaha-usaha yang dilakukan oleh Hudaya itu, tetapi ia tetap merasa, bahwa dirinya sumber kemenangan dari laskar Pajang. Ia yakin bahwa kekalahan sayap ini akan memperngaruhi pertempuran keseluruhannya.

Tohpati yang marah itupun kini benar-benar memeras tenaganya. Untara harus segera dibinasakan. Namun membinasakan Untara adalah pekerjaan yang sulit. Tohpati itu terpaksa melihat kenyataan yang dihadapinya, bahwa Untara adalah seorang anak muda yang perkasa.

karena itu, maka perkelahian antara Macan Kepatihan dan Untara itupun menjadi semakin sengit. Masing-masing telah sampai kepuncak kemampuan mereka. Namun kini Untara dapat memusatkan segenap perhatiannya pada lawannya yang menakutkan ini, sebab dari pertanda yang ditangkapnya, maka agaknya keadaan sayap kiri lawannya menjadi parah. Dan Untara itu dapat memperhitungkan pula, bahwa Sidanti berhasil membinasakan pimpinan sayap itu.

Namun Tohpati yang marah itu sedang membuat perhitungan pula atas keadaannya. karena itu, maka kini ia membiarkan Untara menyerangnya dan Tohpati menempatkan dirinya dalam suatu pertahanan yang rapat. Ia mencoba menilai sayap-sayap lainnya dan laskar yang dibawa oleh Sanakeling.

“Disamping Untara dan Sidanti masih ada paman Widura” katanya dalam hati. Namun Tohpati itu masih memiliki satu kelebihan menurut dugaannya. Alap-alap Jalatunda. “Meskipun demikian anak itu mampu mempengaruhi keseimbangan keadaan”

Menurut perhitungan Macan Kepatihan yang berotak cair itu, maka Widuralah yang telah mundur kembali ketika didengarnya tanda bahaya, dan menyerahkan pimpinan kepada Untara. karena itu, maka Tohpati mengharap bahwa Widura itu akan menemukan lawannya yang seimbang, Sanakeling. Sedang Alap-alap Jalatunda akan merupakan seorang yang akan dapat menggilas laskar Pajang diarenanya. Kalau orang-orang disayap kiri mampu bertahan terhadap Sidanti, mak orang-orangnya disayap kanan pasti akan dapat menguasai lawannya dibawah pimpinan Alap-alap Jalatunda.

Perhitungan Macan Kepatihan itu hanya sebagian saja yang tepat. Namun ia tidak tahu, bahwa disayap kiri lawannya, terdapat seorang anak muda yang bernama Agung Sedayu. Yang meskipun masih sangat hijaunya, namun ia memiliki persiapan yang jauh dari cukup. Persiapan-persiapan yang selama ini tersimpan saja didalam dirinya. Kini sedikit demi sedikit kekuatan yang membeku itu mulai dicairkannya.

Demikianlah maka akhirnya Tohpati mengambil kesimpulan, bahwa keadaan laskarnya tidak terlalu parah. Tetapi kemenangan-kemenangan kecil yang semula mulai tampak dipihaknya, kini telah runtuh satu demi satu. Dengan penuh tanggung-jawab Tohpati telah mengirim beberapa orang untuk membantu sayap yang lemah disebelah kiri. Orang-orang itu diharap dapat membantu menutup kebebasan gerak Sidanti. Beru kemudian ia memusatkan perhatiannya atas lawannya. Untara.

Untara yang bertempur dengan dahsyatnya itupun menyadari, bahwa ia harus memeras segenap kemampuannya. Dan kini hal itu telah dilakukannya. Sehingga betapapun Tohpati berusaha untuk menguasainya, namun usaha itu akan sia-sia saja.

Bahkan ketika Untara telah sampai kepuncak segala macam ilmu yang tersimpan didalam dirinya, terasa bahwa Macan Kepatihan bukanlah seorang yang tak dapat dikalahkan. Dalam remang-remang cahaya obor, Untara yang menerima turunan ilmu ayahnya itu, ternyata sempat membingungkan Macan Kepatihan. Tongkat putih yang menakutkan berujung kuning itu, sama sekali tidak lebih mengerikan dari gerak pedang Untara. Pedang itu mampu berputar dan mematuk dari segenap arah, menembus gumpalan cahaya putih dan garis-garis kuning yang membentengi Tohpati. Sekali-sekali terdengar kedua macam senjata itu beradu, dan meloncatlah bunga-bunga api keudara.

Senjata Tohpati itu memang sebenarnya merupakan senjata yang luar biasa. Hampir dalam setiap benturan dengan pedang Untara, pasti meninggalkan bekas luka pada pedang itu. Beberapa bagian tajamnya telah terpecah-pecah sehingga pedang itu benar-benar mirip sebuah gergaji. Untunglah pedang yang dipinjamnya dari Widura itu bukan pula sembarang pedang. Sehingga betapapun kerasnya benturan yang terjadi diantara kedua senjata yang digerakkan oleh tenaga-tenaga raksasa itu, namun pedang itu tidak juga dapat dipatahkan. Meskipun demikian, menyadari perbedaan sifat kedua senjata itu, Untara kemudian tidak mau membenturkan senjatanya langsung dalam arah yang bertentangan. Untara selalu berusaha untuk memukul senjata lawannya agak kesamping. Namun Untara itupun terpaksa memperhitungkan apabila perkelahian itu berlangsung terlalu lama, maka senjatanya akan menjadi semakin lemah.

Tetapi kelincahan, ketangkasan dan ketrampilan Untara yang telah memeras segala macam ilmu yang dimilikinya itu, ternyata benar-benar membingungkan Tohpati. Tohpati yang ditakuti disetiap pertempuran dan bahkan setiap prajurit musuhnya tidak berani menyebut namanya, namun ternyata kini ia menemukan lawan yang tangguh. Nama Untarapun merupakan nama yang mengerikan bagi laskar Jipang hampir disetiap garis peperangan. Disamping kecerdasannya mengatur laskarnya, Untarapun memiliki beberapa kelebihan dari beberapa senapati yang lain. Dan ternyata Untarapun mempunyai beberapa kelebihan dari Tohpati.

Keadaan Tohpati semakin lama menjadi semakin sulit. Apalagi ketika disadarinya, bahwa laskarnya disayap kiri benar-benar hampir pecah bercerai berai. karena itu, maka Macan Kepatihan yang garang itu menjadi cemas. Cemas akan nasib laskarnya yang sudah tidak begitu besar lagi jumlahnya, yang dengan susah payah dikumpulkan dari segala medan khusus untuk merebut daerah perbekalan ini. Namun sekali lagi Macan Kepatihan itu terpaksa mengumpat tak habis-habisnya. Ia merasa kini, bahwa gerakannya pasti sudah tercium oleh hidung Untara itu sebelumnya, sehingga Sangkal Putung benar-benar sudah siap menghadapi kedatangannya.

Dua kali ia dikecewakan oleh laskar Pajang di Sangkal Putung “Namun akan datang saatnya aku menebus setiap kekalahan” geramnya.

Tetapi Untara itu seakan-akan menjadi semakin lama menjadi semakin lincah. Pedangnya berputaran mengitari segenap tubuhnya dari segala arah. Bahkan kemudian, sekali-sekali terasa ujung pedang itu menyentuhnya.

“Setan” geramnya. Dan diputarnya tongkatnya semakin cepat. Tetapi Untarapun bergerak semakin cepat pula. anak muda, yang mendapat kepercayaan langsung dari panglima Wiratamtama itu benar-benar tidak mengecewakan. Dan ia benar-benar dapat menanggulangi kedahsyatan Tohpati.

Alangkah terkejutnya Macan Kepatihan itu, ketika dalam sebuah benturan yang dahsyat, tongkatnya tergetar kesamping. Hanya sesaat yang sangat pendek, ia melihat pedang Untara terjulur lurus kedadanya. Tohpati berusaha untuk memukul pedang itu kembali dengan tongkatnya, namun pedang itu berputar, dan dengan cepatnya pedang itu menyentuh lengannya. Ketika Untara menarik pedang itu, maka tajamnya yang menyerupai gergaji itu meninggalkan bekas luka ditangan Tohpati. Luka yang menganga seperti luka bekas gergaji. Terdengar Tohpati menggeram pendek. Dengan cepatnya ia meloncat kesamping, dan sesaat ia berusaha menjauhi Untara. Ketika ia memandang lengannya, dilihatnya darah mengalir dari lukanya yang menganga, seolah-olah dagingnya telah disayat dengan sebuah gergaji yang tumpul.

“Gila kau Untara” desis Tohpati. Matanya yang menyala menjadi semakin merah karena kemarahannya yang memuncak. Mulutnya itu meskipun terkatub rapat, namun terdengar giginya gemeretak. Dengan sebuah teriakan tinggi Macan Kepatihan itu meloncat dengan garangnya, langsung menyerang Untara dengan tongkatnya. Sebuah ayunan yang deras sekali menyambar kepala Untara. Namun Untara tidak tertidur karena kemenangan kecil itu. Dengan demikian segera ia merendahkan dirinya dan tongkat Tohpati itu terbang lewat diatas kepalanya.

Pertempuran yang sangat seru segera berkobar kembali. Tohpati yang membara karena kemarahannya, melawan Untara yang dengan sekuat tenaga ingin segera menyelesaikan pekerjaannya yang sudah mulai tampak akan berhasil. Sehingga dengan demikian kembali mereka bertempur dalam puncak ilmu masing-masing.

Namun kali inipun segera terasa bahwa Untara memang luar biasa. Meskipun ia masih lebih muda dari Tohpati, namun Tohpati itu tidak dapat menutup kenyataan, bahwa Untara mampu menandinginya dari segala segi.

Kini Tohpati terpaksa membuat pertimbangan-pertinbangan baru. Ia tidak boleh tenggelam dalam arus perasaan melulu. Ia harus mampu meninjau pertempuran itu dalam segala segi, segala kemungkinan dan segala akibat yang dapat timbul karenanya.

Keringkihan disayap kiri benar-benar sangat mengganggunya. Sedang Alap-alap Jalatunda yang diharap akan dapat menimbulkan pengaruh yang baru bagi perimbangan kedua pihak, ternyata masih belum mampu berbuat apa-apa. Karena itu maka Tohpati terpaksa sampai pada suatu keputusan untuk menghindarkan laskarnya dari kehancuran.

Dalam kekalutan itu, sekali lagi Tohpati mencoba melihat pertempuran itu. Namun malam sangat pekatnya. Ia hanya melihat titik pertempuran disayap kirinya telah bergeser jauh kebelakang, dan sayap kanannya masih saja belum mencapai kemajuan. Sedang diinduk pasukannya, meskipun laskarnya mendapat beberapa kesempatan yang baik, namun ia sendiri telah terluka.

Untara yang telah masak itu melihat setiap kemungkinan yang akan dilakukan oleh Tohpati. Ketika ia melihat sikapnya, serta usahanya untuk melihat seluruh laskarnya, maka Untara dapat meraba maksudnya. karena itu, maka tekanannya diperketat, sehingga hampir-hampir Tohpati itu tidak sempat berbuat lain daripada mempertahankan dri dari ujung pedang Untara yang seakan-akan terbang memgelilingi kepalanya.

Sementara itu, laskar Tohpati disayap kiri telah benar-benar hampir lumpuh, sehingga mereka tidak mampu lagi untuk bertahan sendiri. mereka itu kemudian segera menggabungkan diri dengan induk pasukan mereka.

Keadaan kedua pasukan diinduk pasukan itu kini menjadi semakin ribut. Pertempuran diantara mereka menjadi seakan-akan tidak teratur lagi. Tetapi meskipun demikian, kedua laskar itu masih tetap bertempur dengan gigihnya. Hanya anak-anak muda Sangkal Putung kini benar-benar telah menjadi pening. Meskipun beberapa orang laskar Widura terus menerus berusaha untuk menuntun mereka dan bahkan selalu mendampingi mereka, namun keadaan mereka itu agak berbeda dengan laskar Pajang maupun laskar Jipang. Sehingga dengan demikian maka keseimbangan kedua laskar itu semakin lama menjadi semakin berat sebelah pula. Tetapi dipihak Pajang mempunyai kelebihan yang ikut serta menentukan keseimbangan itu. Sidanti yang lepas tidak mempunyai lawan yang seimbang itu, mengamuk seperti serigala lapar. Namun beberapa orang Jipang yang berani telah mengepungnya. Mereka berusaha untuk selalu membatasi gerak Sidanti itu. Tetapi setiap saat Hudaya selalu berhasil memecahkan kurungan itu, dan melepaskan Sidanti untuk bertempur seperti elang yang merajai udara.

Tohpati adalah seorang pemimpin yang bertanggung-jawab. Ia tidak mau membiarkan korban berjatuhan tanpa arti. Setelah memperhitungkan keadaan masak-masak, maka yakinlah ia, bahwa ia tidak akan dapat menembus benteng yang dipertahankan oleh Untara itu. Bahkan tangannya yang telah terluka itu, semakin lama menjadi semakin lemah. Dan darah yang mengalir menjadi semakin banyak pula.

Betapa Macan Kepatihan itu menjadi marah, dan betapa ia menjadi sangat buas, namun ia tidak dapat menuruti perasaannya tanpa menghiraukan kenyataan.

Sesaat kemudian terdengarlah Macan Kepatihan itu bersuit panjang. Suitannya itu segera disambut oleh beberapa pemimpin kelompok didalam pasukannya. Dan sesaat kemudian menyalalah berpuluh-puluh anak panah berapi.

Untara terkejut melihat hal itu. Tetapi sebelum ia sepat berbuat apa-apa, maka panah-panah api itu seperti hujan berjatuhan didaerah laskarnya.

“Gila” Untara mengumpat. Ia tidak menyangka bahwa hal itu akan dilakukan oleh laskar Tohpati. Meskipun ia tahu betul bahwa Macan Kepatihan membuat anak panah api, tetapi disangkanya anak panah itu hanya untuk dipergunakan untuk membakar rumah atau apapun di Sangkal Putung sehingga menimbulkan kekacauan dan mempengaruhi ketahanan orang-orang Sangkal Putung.

Usaha Tohpati itu sebagian berhasil. Beberapa anak-anak muda Sangkal Putung menjadi kacau dan hampir kehilangan akal. Namun tiba-tiba terdengar Untara berteriak “Berlindung didaerah lawan”

Anak-anak muda Sangkal Putung mula-mula tak mengerti maksud aba-aba itu. Namun orang-orang Widura mendahului mereka, menyerang dan langsung menyusup kedaerah perlawanan musuh. Tetapi suitan itu ternyata mempunyai arti yang lain pula. demikian laskar Pajang berusaha masuk dalam garis pertahanan itu, maka laskar Jipangpun surut kebelakang. Bahkan semakin lama menjadi semakin cepat. Dan kemudian ternyatalah bahwa laskar Jipang sedang menarik diri.

Untara melihat kenyataan itu. Ia berusaha untuk tidak melepaskan lawannya. Mereka harus dapat melumpuhkan pasukan Macan Kepatihan, sehingga untuk seterusnya tidak mendapat kesempatan berbuat serupa. Menyerang Sangkal Putung dengan kekuatan yang berbahaya.

Demikian pula terjadi disayap kanan laskar Tohpati itu. Agung Sedayu yang menunggu kekuatan terakhir yang akan diungkapkan oleh Alap-alap Jalatunda menjadi bertanya-tanya didalam hati. Apakah Alap-alap Jalatunda itu sudah sampai pada puncak kekuatannya? Kalau demikian, apakah yang didengar tentang Alap-alap Jalatunda hanya sekedar dongengan untuk menakutkan orang-orang yang mendengarnya. Atau kemampuan dirinya telah cukup mengatasi alap-alap itu dengan mudah?

Dalam kebingungan itulah Agung Sedayu melihat laskar lawannya surut dengan cepat. Betapa ia berusaha mengejar lawannya, namun Alap-alap Jalatunda itu kemudian menenggelamkan diri dalam hiruk pikuk laskarnya. Mereka mundur sambil melawan serta melepaskan anak panah.

“Bukan main” desah Agung Sedayu. “Mereka mempergunakan anak panah” Agung Sedayu itu menyesal bahwa ia tidak membawa anak panah dan busur. Tetapi tiba-tiba ia terngat, bahwa dalam sakunya ada beberapa butir batu. Timbullah keinginannya untuk bermain-main dengan batu itu. Sekali ia melepaskan sebuah batu, maka terdengarlah seorang lawannya yang sedang membidikkan anak panah memekik tinggi, dan dalam remang-remang Agung Sedayu melihat orang itu jatuh terjerembab. Sesaat ia melihat orang itu menggeliat dan menahan sakit.

Agung Sedayu terkejut melihat akibat perbuatannya. Orang itu tampaknya menjadi sangat menderita. karena itu, maka tiba-tiba ia berlari-lari mendekatinya.

“Kenapa kau?” terndengar Agung Sedayu bertanya.

Orang itu masih menggeliat dan menyeringai kesakitan. Dipegangnya perutnya sambil mengaduh tak habis-habisnya. Sementara itu kawan-kawannya telah semakin jauh, mundur dari pertempuran.

Agung Sedayu mencoba menangkap lawannya yang kesakitan itu dan dicobanya untuk menenangkannya “Jangan berguling-guling”

Tetapi alangkah terkejutnya Agung Sedayu itu, karena sesaat kemudian orang itupun menjadi diam membeku.

“Oh” desah Sedayu “Apakah kau mati he?”

Dan sebenarnya orang itupun telah mati. karena itu, maka Agung Sedayu menyesal bukan main. Tetapi ia tidak akan dapat menghidupkannya lagi.

Swandaru juga melihat Agung Sedayu sibuk dengan orang itu mendekatinya sambil bertanya “Kenapa dengan orang itu?”

“Aku tidak sengaja membunuhnya. Tetapi orang ini mati”

“Kenapa kalau mati? Bukankah orang itu orang Jipang?”

Agung Sedayu kini telah tegak berdiri. Digigitnya bibirnya. Dan terasa sesuatu berdesir didadanya. “Ya” katanya dalam hati. “Apakah kita sudah sampai sedemikian jauh menyimpang dari peradaban manusia? Meskipun orang itu orang Jipang, Pajang atau orang yang ditemuinya dipinggir jalan sekalipun namun selama ia masih bernama manusia, apakah kita biarkan saja mereka mati selagi masih ada kesempatan untuk menolongnya?”

Tetapi ketika Agung Sedayu melayangkan pandangan matanya, maka dilihatnya diberbagai tempat, tubuh-tubuh yang terbaring membeku. Tetapi ada juga diantaranya terdengar merintih menahan sakit. Agung Sedayu belum pernah melihat medan pertempuran. Kali ini adalah kali yang pertama. Karena itu ia menjadi ngeri. Meskipun kini ia tidak takut lagi untuk bertempur, tetapi apa yang dilihatnya benar-benar mendirikan bulu romanya.

Namun sesaat kemudian Agung Sedayu itu mendengar Swandaru berkata “Marilah. Musuh kita masih berada dipelupuk mata kita”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sesaat kemudian dilihatnya Swandaru meloncat dan berlari kearah laskar Jipang mengundurkan dirinya. Agung Sedayupun kemudian mengikutinya pula, namun hatinya benar-benar digelisahkan oleh pengalamannya yang pertama itu.

Meskipun demikian, ada sesuatu yang didapatkannya dimedan peperangan itu. Disadarinya kemudian bahwa Alap-alap Jalatunda pada saat-saat bertempur, sama sekali bukan sekedar menunggunya lelah sambil menyimpan kekuatan terakhirnya. Tetapi Alap-alap Jalatunda itu benar-benar telah mengerahkan segenap kemampuannya. Maka hatinya menjadi semakin besar. Agung Sedayu itu semakin melihat kemampuan yang tersimpan didalam dirinya. Ternyata Alap-alap Jalatunda yang pernah menghantuinya itu tidak lebih daripada yang disaksikannya itu, yang ternyata masih berada dibawah kepandaiannya bermain pedang.

“Aneh” desahnya didalam hati. “Apakah yang selama ini memagari keberanianku untuk berbuat seperti ini?”

Agung Sedayu itu menjadi semakin percaya kepada diri sendiri. Tetapi ia masih belum dapat melihat tubuh-tubuh yang bergelimpangan dibekas medan pertempuran itu.

Laskar Jipang itupun kemudian mengundurkan dirinya dengan cepat sambil melawan terus, sehingga dengan demikian maka laskar Pajangpun tidak dapat berbuat banyak. Mereka hanya dapat mendesak laskar musuhnya itu. Dalam keadaan yang demikian, maka laskar dikedua belah pihak hampir bercampur baur dalam satu lingkaran pertempuran. Namun kemudian laskar Jipang itu menyebar dan dengan cepat berusaha menyusup kedalam sebuah desa yang pertama-tama mereka temui.

Diujung selatan induk desa Sangkal Putung, Sanakeling melihat diarah barat, panah api menari-nari diudara. karena itu, maka ia menjadi terkejut. Ia tidak menyangka bahwa laskar induknya terpaksa mengundurkan diri. “Kalau demikian” katanya dalam hati “Maka laskar yang aku hadapi dan dipimpin oleh Widura sendiri ini bukan laskar induk. Jadi siapakah yang memimpin laskar induk lawan ini?”

Tetapi Sanakeling tidak mendapat jawabannya. Dan ia tidak sempat untuk menanyakannya. Kini ia harus mematuhi perintah itu meskipun sebenarnya keadaan laskarnya sendiri sama sekali tidak mengkhawatirkan. Tetapi kalau laskar induk lawannya yang telah ditinggalkan oleh laskar Jipang itu mengepungnya, maka laskarnya pasti akan tumpas. karena itu, maka tidak ada pilihan lain daripada mengundurkan diri pula.

Demikianlah maka seluruh pasukan Tohpati itu kini telah ditarik mundur. Widurapun tidak berusaha mengejar lawannya terlampau jauh. Sanakeling berhasil juga mengundurkan dirinya dengan teratur, sehingga dari pihaknya tidak terlalu banyak korban yang jatuh.

Induk pasukan yang dipimpin oleh Untara itu mengejar lawannya sampai kedesa pertama yang dapat dicapai oleh laskar lawannya. Demikian mereka memasuki desa itu, maka seakan-akan mereka telah lenyap ditelan kegelapan. Obor-obor mereka segera menjadi padam, dan orang-orang merekapun segera menyelinap dan hilang dibalik daun-daunan yang rimbun serta rumpun-rumpun bambu yang lebat.

Laskar Pajang sejenak menjadi ragu-ragu. Mereka sama sekali tidak mendengar seorangpun memberikan aba-aba kepada mereka. Apakah mereka harus mengejar lawan itu terus atau mereka harus berhenti dibatas desa itu. Sebab alangkah berbahayanya melakukan pengejaran didalam gelap yang pekat itu.

Yang terdengar kemudian adalah suara Sidanti “He, apakah yang harus kami lakukan?”

Tak ada suara yang menyahut. Karena itu sekali lagi Sidanti berteriak “Apakah laskar Pajang ini laskar yang liar, yang dapat berbuat sekehendak diri kita masing-masing? Ayo, bagi yang memegang pimpinan, berikan perintah”

Kembali suara itu bergulung-gulung dan hilang ditelan kabut malam.

Semua yang mendengar suara Sidanti itu menjadi tegang. Mereka menunggu jawaban dari pimpinan mereka. Namun jawaban yang ditunggunya itu tidak juga kunjung datang.

Hudaya, Sidanti dan beberapa orang lagi menjadi gelisah. Citra Gati dan Agung Sedayu dari sayap yang lainpun telah bergabung dalam induk pasukan itu pula.

Dalam ketegangan itu terdengar suara Agung Sedayu gelisah “Kakang Untara, kakang Untara”

Tetapi Untara tidak menyahut. Karena itu seluruh laskar Pajangpun menjadi gelisah. Dalam hiruk pikuk pengejaran mereka tidak melihat kemana Untara pergi. Beberapa orang dari mereka masih melihat Untara berhasil melukai Tohpati. Dan kemudian berusaha mengejarnya. Tetapi tiba-tiba Untara itu seakan-akan menjadi hilang lenyap ditelan oleh malam yang kelam.

Suasana segera meningkat menjadi semakin tegang. Ternyata Untara telah hilang. Dengan demikian, maka laskar Pajang iu benar-benar menjadi bingung. Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.

Dalam ketegangan itu terdengar suara Citra Gati “Siapakah yang melihat ki Untara untuk yang terakhir kalinya?”

“Aku” jawab salah seorang “Pemimpin kita itu telah melukai Macan Kepatihan. Tetapi dalam hiruk pikuk pengejaran aku tidak melihatnya”

“Dimana?” bertanya Citra Gati pula.

“Digaris pertempuran tadi”

“Mari kita cari”

Beberapa orang segera bergerak kembali kegaris pertempuran beberapa langkah dibelakang mereka. Tetapi terdengar Sidanti berkata “Kenapa kita cari ia disana. Bukankah ia telah berhasil melukai Macan Kepatihan dan mengejarnya. Marilah kita cari kedepan, kedalam desa ini”

Citra Gati berpikir sejenak. Untara pasti tidak akan berbuat demikian. Berbuat sendiri dan meninggalkan laskarnya dalam keragu-raguan. Pemimpin yang bodohpun akan tahu, bahwa keragu-raguan dalam barisannya adalah sangat berbahaya. Maka sesaat kemudian ia menyahut “Kita cari digaris pertempuran” “Tidak” sahut Sidanti “Jangan membuang waktu”

Series 7

Ketegangan menjadi semakin memuncak karenanya. Masing-masing agaknya mempunyai perhitungan sendiri-sendiri. Sidantipun kemudian sudah bergerak diikuti oleh beberapa orang yang kebingungan, siap memasuki padesan dihadapannya.

Tetapi terdengar Citra Gati berteriak “Jangan berbuat hal-hal yang dapat membahayakan diri kita sendiri, dalam usaha yang sia-sia. kalau kita pasti Untara ada didepan kita, maka biarlah kita pertaruhkan nyawa kita untuk mencarinya. Tetapi kemungkinan itu tipis sekali”

“Kau jangan menghinanya” sahut Sidanti keras-keras. “Apakah kau sangka Untara terluka? Untara adalah seorang yang luar biasa. Aku sendiri pernah berkelahi melawannya. karena itu, maka tak akan ia terluka dan terbaring diantara orang-orang yang luka. Aku hormati dia aku kagumi dia”

Kata-kata itu masuk akal pula. karena itu beberapa orang menjadi mempercayai perhitungan itu. Tetapi Citra Gati tetap pada pendiriannya. Seandainya Untara telah terlanjur memasuki desa itu, maka pasti ia akan segera kembali dan memberikan aba-aba kepada mereka yang mengikutinya.

Dalam ketegangan yang dipenuhi oleh keragu-raguan itu tiba-tiba terdengar kembali Sidanti berkata “Taati perintahku. Aku mengambil alih pimpinan. Aku adalah orang yang paling baik diantara kalian”

“Tidak!” Citra Gati tiba-tiba berteriak tak kalah kerasnya “Aku ambil alih pimpinan. Aku adalah orang yang memiliki kedudukan tertua diantara kalian. Ketika kakang Widura meninggalkan Sangkal Putung, aku dan Hudayalah yang diserahi pimpinan”

“Persetan dengan tata cara itu. Sekarang aku mengkat diri menjadi pemimpin kalian. Apa maumu? Apakah aku harus membunuhmu?”

“Jangan berlagak jantan sendiri Sidanti. Aku tahu kau memiliki beberapa kelebihan dari kami. Tetapi kami bukan kelinci-kelinci yang patuh karena kami kau takut-takuti. Dengan meninggalkan tata cara yang ditetapkan dalam keprajuritan Pajang, maka kau adalah seorang pemberontak. Dan bagiku, bagi kami, laskar yag patuh pada tugas kami, maka nyawa kami akan kami pertaruhkan untuk menumpas setiap pemberontakan”

“Gila” teriak Sidanti “Ayo, siapakah yang menenang Sidanti, majulah”

Citra Gati bukan seorang penakut. Betapapun ia menyadari keringkihannya untuk melawan Sidanti, tetapi ia adalah soerang prajurit yang bertanggung-jawab. karena itu, maka ia tidak gentar menghadapi apapun. Tetapi sayang, bahwa Citra Gati itupun telah terbakar oleh perasaannya, sehingga ia lupa pada pokok persoalannya. Hilangnya Untara. Apalagi ketika Citra Gati menyadari, bahwa sebagian besar laskarnya condong kepadanya, sehingga dengan demikian hampir-hampir ia menjatuhkan perintah untuk bersama-sama menangkap Sidanti yang telah melanggar tata cara keprajuritan.

Tetapi dalam pada itu terdengar suara Agung Sedayu memecah ketegangan dan kepekatan malam. Katanya “Persetan dengan pimpinan atas laskar ini. Aku bukan prajurit Pajang, bukan pula laskar Sangkal Putung. Aku disini dalam kedirianku sendiri, dalam tugas yang aku bebankan sendiri dipundakku, sehingga aku ikut bertempur bersama-sama kalian. Tetapi aku tidak diperintah oleh pemimpin yang manapun. Bertempurlah diantara kalian. Aku akan mencari kakang Untara. Aku sependapat dengan kakang Citra Gati, kakang Untara masih berada dibelakang kita. Dan siapakah diantara kalian yang masih memiliki kesetiaan kepadanya ikutlah aku. Yang merasa diri kalian prajurit-prajurit yang baik, tunggulah sampai salah seorang berhasil membunuh orang-orang lain, dan mengangkat dirinya menjadi pemimpin laskar Pajang. Sedang tak seorangpun diantara kalian yang berusaha memberitahukan hal ini kepada paman Widura, pemimpin yang sebenarnya atas kalian. Dan siapa yang mencoba menghalangi Agung Sedayu, maka pedangku akan berbicara”

Kata-kata Agung Sedayu itu seakan-akan merupakan suatu pemecahan yang dapat mereka lakukan. tiba-tiba salah seorang dari mereka, seorang penghubung berlari kearah padesan dibelakang mereka. Disanalah kudanya ditambatkan.

“He, kemana kau?” teriak Sidanti yang menjadi marah.

“Aku akan melaporkannya kepada Ki Widura”

Sidanti tidak mencegahnya. Sikap itu agaknya telah mendapat dukungan dari setiap orang dalam pasukan itu.

Sedang Agung Sedayu kemudian tidak memperdulikan apa-apa lagi. Ia berjalan saja langsung kegaris peperangan untuk mencari kakaknya. Dalam hiruk pikuk perkelahian itu, adalah sangat mungkin bagi seseorang untuk mendapat serangan tanpa diketahuinya, apalagi Untara yang saat itu sedang menumpahkan perhatiannya kepada Tohpati.

Citra Gati, Hudaya dan sebagian besar dari mereka kemudian berjalan mengikuti Agung Sedayu. Mereka berjalan sambil memperhatikan keadaan disekeliling mereka. Dengan beberapa buah obor ditangan mereka mencoba mengamati setiap tubuh yang terbaring. Dengan demikian maka sekaligus mereka dapat menemukan beberapa orang yang terluka, namun kiranya masih mungkin diselamatkan.

“Rawat mereka” berkata Agung Sedayu. Ia tidak tahu lagi apakah ia berhak berkata demikian atau tidak. Namun menurut pendapatnya, semua orang berkepentingan dalam masalah kemanusiaan. Berhak atau tidak berhak.

Dalam kesibukan itu, maka mereka mendengar derap beberapa ekor kuda yang datang dari Sangkal Putung. Ketika mereka mengangkat wajah-wajah mereka, maka mereka melihat kedatangan Widura beserta beberapa orang pengawalnya.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” bertanya Widura masih dari atas kudanya.

“Kami mencari kakang Untara” sahut Agung Sedayu.

Widura mengerutkan keningnya. Sukar dimengerti olehnya bahwa Untara terluka, dan terbaring diantara mereka yang jatuh didalam pertempuran itu.

“Apakah menurut perhitunganmu, hal itu mungkin terjadi Sedayu?” bertanya Widura.

Sebelum Agung Sedayu menjawab, terdengar suara Sidanti lantang “Aku sudah mengatakan kepada mereka, bahwa Untara tidak mungkin terluka. Beberapa orang melihat bahwa Untara yang melukai Tohpati bukan Untara yand dilukai”

Widura mengerutkan keningnya. Dipandangnya Agung Sedayu yang masih termangu-mangu. Namun kemudian jawabnya “Kalau kakang Untara tidak terluka, maka ia pasti sudah kembali. Apakah menurut dugaan paman, kakang Untara tidak terluka tetapi justru tertangkap oleh Tohpati?”

“Tidak mungkin” sahut Widura serta-merta.

“Nah kalau begitu kemana? Terluka tidak, tertangkap tidak. Apakah kakang Untara mengejar musuh itu seorang diri tanpa memberikan perintah kepada kami disini?”

Widura menggeleng-gelengkan kepala. Jawabnya “Juga tidak”

“Lalu bagaimana?” bertanya Agung Sedayu yang menjadi sangat gelisah karena kehilangan kakaknya. Semula, ketika ia masih digenggam oleh perasaan takut setiap saat, maka kakaknya adalah satu-satunya tempat untuk melindungkan dirinya. Namun kini, meskipun ia merasa bahwa akhirnya dirinya sendirilah yang paling baik untuk menyelamatkan dirinya itu, maka yang tinggal adalah suatu ikatan kasih sayang seorang adik terhadap seorang kakak yang telah melindunginya bertahun-tahun. Seorang kakak yang telah banyak berkorban untuknya. Seorang kakak yang telah berusaha sekuat-kuat tenaganya untuk membentuknya menjadi seorang laki-laki yang sebenarnya, meskipun kakaknya itu telah hampir menjadi berputus asa atas kemajuan yang dicapainya. Namun kini ia telah menemukan dirinya. Dan karena itu maka terasa didalam dirinya suatu kewajiban untuk berbuat sesuatu untuk kepentingan kakaknya itu. Apapun yang akan dihadapinya.

Widura itupun kemudian meloncat pula dari kudanya. Setelah ia melayangkan pandangan matanya sejenak berkeliling bekas medan peperangan itu, ia bergumam “Aku sependapat dengan kau Sedayu” Kemudian kepada seluruh laskarnya Widura itu mengeluarkan perintah “Semua mencari diantara orang-orang yang terluka”

Beberapa orang kemudian tersebar disepanjang garis pertempuran. Mereka berusaha untuk melihat satu persatu dibawah cahaya obor yang suram. Hanya Sidanti sajalah yag berjalan mondar-mandir dengan malasnya. Bahkan terdengar ia bergumam “Tak ada gunanya”

Agung Sedayu sama sekali tidak memperhatikannya. Dengan tekun ia mencari kakaknya bersama-sama dengan Citra Gati dan Hudaya. Sedangkan Widura sendiri bersama dengan beberapa orang lainpun telah ikut mencari pula diantara mereka.

Tiba-tiba dalam kesepian malam itu terdengar seseorang berteriak lantang sambil melambai-lambaikan obornya “Inilah. Inilah yang kita cari”

Agung Sedayu benar-benar terkejut mendengar teriakan itu. Seperti kuda yang terlepas dari ikatan, ia meloncat hampir melanggar beberapa orang lain yang berdiri disampingnya. diloncatinya saja setiap tubuh yang terbaring ditanah. Bahkan beberapa kali kakinya telah terperosok kedalam lubang-lubang dipematang.

Demikian pula dengan beberapa orang yang lain. Widurapun terkejut bukan main. Seperti Agung Sedayu segera ia meloncat berlari kearah suara itu.

Ketika mereka sampai, dan ketika mereka melihat orang yang terbaring diam dengan darah yang memerahi tubuhnya, ternyatalah bahwa orang itu sebenarnya Untara. Tubuhnya telah menjadi sangat lemahnya, karena darah yang banyak sekali mengalir dari lukanya, bahkan beberapa orang telah menyangkanya mati.

Agung Sedayu dengan gemetar berlutut disamping kakaknya sambil memanggil-manggil “Kakang, kakang Untara. Kakang”

Tetapi Untara tidak menjawab. bibirnya menjadi seputih kapas, dan tubuhnya telah menjadi sangat dinginnya.

Perlahan-lahan Widura menempelkan telinganya didada Untara. Kemudian dengan penuh harapan ia berkata “Masih aku dengar jantungnya berdetak. Karena itu, carilah lukanya. Usahakan untuk menyumbatnya, supaya darahnya tidak terlalu banyak mengalir”

Tubuh Untara yang lemah itupun segera diangkat. Dan serentak mereka terkejut bukan kepalang. Pasti bukan Tohpati yang melukainya. Sebuah belati tertancap dipunggung Untara itu. ”Hem” terdengar Widura menggeram. Dengan hati-hati pisau itu ditariknya. Dan kemudian katanya tergesa-gesa “Kain.. Balutlah lukanya”

Beberapa orang menjadi bingung. Mereka tidak membawa secarik kainpun untuk membalut luka itu. Namun kemudian Agung Sedayu membuka ikat kepalanya, dan dengan ikat kepala itu ia mencoba menyumbat luka Untara.

Untara itupun kemudian dikerumuni oleh hampir semua orang didalam pasukan itu. Sidantipun kemudian datang pula, menerobos lingkaran itu sambil berkata “Apakah benar kakang Untara terluka?”

Agung Sedayu mengangkat wajahnya. ditatapnya wajah Sidanti. Wajah yang keras dan tajam. Namun ia tidak menjawab pertanyaan itu. Yang menjawab adalah Widura “Ya, Untara ternyata terluka”

“Benar-benar tidak menyangka” katanya sambil melangkah maju. Kini anak muda itu berdiri selangkah dibelakang Widura. Ditatapnya tubuh Untara yang lemah terbaring ditanah, sedang beberapa orang masih berusaha membalut luka itu.

Sidanti itu kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata “Seseorang melihat kakang Untara berhasil melukai Tohpati. Tetapi kenapa tiba-tiba ia terluka?”

Tak seorangpun yang menjawab kata-kata itu. Widura juga tidak. Sedang Agung Sedayu telah sibuk kembali dengan luka Untara itu.

Semua orang yang berdiri melingkar itu menahan nafas mereka. Seolah-olah ikut merasakan, betapa pedihnya luka itu. Luka yang menghunjam masuk kedalam punggung Untara.

Suasana kemudian menjadi sepi. Angin malam yang dingin menghembus perlahan-lahan, mengguncang batang-batang padi yang bergerak-gerak terinjak-injak oleh kaki-kaki mereka yang sedang bertempur. Sedang dikejauhan terdengar bunyi binatang-binatang malam bersahut-sahutan. Dilangit yang biru bersih, terpancang berjuta bintang gemintang yang berkilat-kilat. Sekali-sekali tampak kelelawar beterbangan merajai langit dimalam hari.

Dalam keheningan malam itu tiba-tiba terdengar Sidanti berdesah “Terlambat. Tidak ada gunanya lagi. Untara telah mati”

Semua yang mendengar desah itu terkejut. Lebih-lebih Agung Sedayu. karena itu, maka tiba-tiba ia berkata lantang “Jangan memecut hati kami. Kami sedang berusaha”

“Aku memandang segala persoalan menurut pertimbangan nalar” sahut Sidanti “Keadaan itu sudah sangat gawat. Apapun yang kalian usahakan akan sia-sia saja”

“Tidak” potong Widura “Kemungkinan masih ada”

Terdengar Sidanti tertawa pendek “Untara bukan malaikat. Tusukan itu tepat dan dalam. Untara, seperti juga orang lain yang mengalami peristiwa serupa, pasti akan mati”

“Tutup mulutmu!” tiba-tiba Agung Sedayu yang tidak dapat menahan hati lagi membentak lantang “kalau kau tidak merasa perlu untuk menolongnya, jangan membuat kami berputus asa”

Sidanti mengerutkan keningnya mendengar bentakan itu. Dengan tidak kalah lantangnya ia menjawab “Jangan bersikap seperti kaulah pemimpin laskar ini. Yang mendapat kepercayaan dari panglima Tamtama adalah Untara, bukan kau. Karena itu jangan membentak-bentak”

“Aku tidak peduli apakah dan siapakah yang memimpin laskar ini. Tetapi aku tidak mau mendengar kau berkata seolah-olah sudah sewajarnya kakang Untara harus mati. Kau lihat kami sedang berusaha untuk menolongnya”

“Itu urusanmu” sahut Sidanti “Aku hanya mengatakan bahwa menurut pendapatku, Untara tidak akan dapat ditolong lagi”

“Jangan kau katakan dihadapanku”

“Apa hakmu melarang aku berkata menurut pertimbanganku sendiri”

Agung Sedayu bukanlah seorang yang cepat menjadi marah karena pengaruh sifat-sifatnya. Ia adalah seorang yang lemah hati yang memandang semua persoalan dari segi yang paling damai. Tetapi meskipun demikian kali ini ia merasa benar-benar tersinggung. Kakaknya adalah orang yang paling dihormati sepeninggal orang tuanya. Kakaknya adalah orang yang paling baik dimuka bumi ini, yang telah banyak berbuat untuknya, untuk kepentingannya. karena itu, maka tanggapan Sidanti atas kakaknya itu benar-benar telah membakar telinganya sehingga Agung Sedayu itu seakan-akan kehilangan segenap sifat-sifatnya. Tiba-tiba ia menjadi keras dan dengan serta-merta ia berdiri sambil berkata “Sidanti, kau ingin perselisihan, maka sekarang adalah waktunya. Aku selalu mencoba menghindari setiap benturan diantara kita sejauh mungkin. Namun kau selalu membuat persoalan. Sekarang, kalau kau menantang aku, aku terima tantanganmu. Dengan atau tanpa senjata”

Tak seorangpun yang menyangka bahwa Agung Sedayu akan mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang terlalu keras dan langsung. Kata-kata yang menggeletar karena getaran didalam dadanya. Getaran yang telah memenuhi rongga hatinya yang betapapun luasnya. Sehingga akhirnya meluap juga, menggetarkan udara malam yang dingin.

Sidantipun sama sekali tidak menyangka, bahwa Agung Sedayu tiba-tiba saja berbuat demikian. Sesaat ia berdiri termangu-mangu dilihatnya didalam sinar obor yang kemerah-merahan mata Agung Sedayu yang menyala-nyala. Namun Sidanti adalah seorang yang keras hati. Ketika ia menyadari keadaan, tiba-tiba ia mengangkat dadanya. Dengan lantang ia menjawab kata-kata Agung Sedayu “Bagus. Aku tantang kau saat ini”

Agung Sedayu tidak menunggu apapun lagi. Setapak ia maju. Dan ketika ia melihat ditangan Sidanti masih tergenggam senjatanya yang aneh, maka dengan tanpa menghiraukan apapun lagi, dengan tangkasnya ditariknya pedangnya dari wrangkanya.

Tetapi tepat pada saatnya Widura telah berdiri diantara mereka. Dengan tenang ia berkata “Aku memerintahkan kalian menghindari bentrokan yang dapat terjadi. Aku perintahkan pada Sidanti selaku seorang prajurit dibawah pimpinanku, dan aku perintahkan kepada Agung Sedayu selagi masih keponakanku”

Kembali suasana menjadi sunyi senyap. Sidanti dan Agung Sedayu merasakan perbawa kata-kata Widura. karena itu, maka merekapun menundukkan wajah masing-masing.

Sesaat kemudian terdengar pula Widura itu berkata “Sekarang bawa Untara kembali ke Sangkal Putung. Cepat supaya kita dapat memberikan pertolongan yang lebih baik. Darah telah terlampau banyak tertumpah disini. Apakah masih ada yang akan memeras lagi darahnya? Apalagi tanpa arti?”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi segera ia melangkah mendekati tubuh kakaknya dan ikut serta mengangkatnya. Namun terasa bahwa sesuatu bergolak didalam dadanya.

Sedang Sidanti masih tegak ditempatnya. Diawasinya Agung Sedayu melangkah pergi, menyarungkan pedangnya dan kemudian bersama-sama dengan beberapa orang mengangkat tubuh Untara.

Widurapun kemudian meninggalkan Sidanti itu pula. dibelakang mereka yang mengangkat tubuh Untara, Widura berjalan sambil menggigit bibirnya. Seribu satu macam persoalan membentur dinding hatinya. Untara yang baru saja sembuh dari lukanya, kini telah terluka kembali. Bahkan agak lebih parah. Kalau anak muda itu tidak segera mendapat pengobatan yang baik, maka jiwanya ada dalam bahaya.

Ketika laskar Pajang dan anak-anak muda Sangkal Putung pergi meninggalkan tempat itu, maka Sidanti masih saja berdiri seperti patung. Dilihatnya Widura berjalan sambil menundukkan kepalanya dan dilihatnya laskar itu seakan-akan berduka.

Tiba-tiba timbullah iri dihatinya “Apakah kalau aku terluka maka semua orang akan berduka seperti itu?” katanya dalam hati.

Ketika kemudian terdengar suara ayam jantan berkokok, Sidanti itu terkejut. Terasa kemudian betapa silirnya angin yang mengusap tubuhnya. Ketika ia mengangkat wajahnya dilihatnya bintang-bintang masih bercahaya dilangit diatas kepalanya. Dilihatnya bintang Bima Sakti melintang dari kutub ke kutub, dilingkaran serbuk bintang yang keputih-putihan seperti awan yang bercahaya.

Dimukanya berpuluh-puluh obor berjalan semakin lama menjadi semakin jauh. Ketika ia kemudian melangkah, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah desir yang lembut. Cepat ia berpaling sambil menyiagakan senjatanya. Tetapi kemudian ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat orang yang mendatanginya. Gurunya, Ki Tambak Wedi.

“Apakah lau terkejut Sidanti?”

Sidanti menarik nafas. Jawabnya “Ya guru. Aku baru saja bertempur disini. karena itu, maka aku masih diliputi oleh suasana itu”

Gurunya itu tertawa pendek “Aku melihat pertempuran ini. Aku melihat pula kalian mencari pemimpin kalian yang bernama Untara itu”

Sidanti tersenyum pula “Hem. Pokal orang-orang gila itu” desisnya.

Ki Tambak Wedi itupun kemudian mengawasi obor-obor yang semakin menjauh. Nyala apinya kemudian seakan-akan hanya merupakan bintik-bintik merah yang bergerak-gerak diatas layar yang hitam.

Dalam pada itu, Agung Sedayu dengan penuh keprihatinan membawa tubuh kakaknya bersama-sama beberapa orang lain. Terasa pula padanya, alangkah besar bahaya yang selama ini mengancam jiwa kakaknya dalam pengabdiannya. Luka kakaknya yang pertama seakan-akan baru kemarin dibebatnya didaerah sekitar Macanan. Kini kakaknya sudah terluka kembali.

Namun demikian, kakaknya bukanlah korban satu-satunya. Didaerah bekas pertempuran itu masih banyak tubuh-tubuh lain yang bergelimpangan. Kawan atau lawan. Beberapa diantara mereka sudah tidak bernyawa lagi. Namun sebagian lagi masih hidup, merintih-rintih menahan sakit. Karena itu, tiba-tiba Agung Sedayu itu berpaling kepada pamannya sambil berkata “Paman, apakah orang-orang lain yang terluka digaris peperangan itu tidak mendapat perawatan seperti kakang Untara ini?”

Pamannya mengangguk. Jawabnya “Ya. Beberapa orang lain bertugas mengurusi mereka. Baik yang sudah meninggal. Maupun yang masih mungkin mendapat pertolongan”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ketika terpandang kembali wajah kakaknya yang pucat, hatinya berdesir keras. Dengan demikian, maka Agung Sedayu dan orang-orang yang membawa Untara itu berjalan semakin cepat. Untara harus segera mendapat pengobatan sewajarnya.

Kabar tentang Untara segera tersebar keseluruh Sangkal Putung. Beberapa orang semula menjadi kecewa mendengar berita itu. Salah seorang diantara mereka berkata “Kalau begitu, Untara benar-benar bukan orang yang pantas kita harapkan disini. Seperti kabar-kabar yang kita dengar, ternyata Untara sama sekali tidak mampu mempertahankan dan menyelamatkan dirinya sendiri”

“Kau salah” jawab yang lain. “Untara sebenarnya tidak sisip dari berita yang kita dengar disini. Ternyata Untara memang tidak dapat dikalahkan oleh Macan Kepatihan. Seseorang melihat Untara berhasil merobek lengan Tohpati. Bahkan kemudian mendesaknya terus. Seandainya Tohpati tidak segera mengundurkan dirinya, maka kemungkinan yang hampir pasti, Tohpati akan dapat dibinasakan oleh Untara. Namun, ketika kita sedang mengejar laskar lawan yang mengundurkan diri, seseorang menyerangnya dengan curang, menusukkan pisau itu terhunjam dipunggungnya”

Orang pertama menyesal atas penilaiannya terhadap Untara. Karena itu cepat-cepat ia membetulkan kesalahan “Ah, aku keliru. Ternyata Untara benar-benar mengagumkan. Namun jika seandainya seseorang berhasil melukainya, meskipun dari belakang, maka orang yang melakukan itu pasti seseorang yang pilih tanding pula”

“Mungkin” jawab orang kedua “Didalam laskar lawan terdapat Alap-alap Jalatunda, Plasa Ireng dan lain-lain”

“Plasa Ireng sudah mati”

Orang kedua itu mengerutkan keningnya. “Ya, ia mati dalam keadaan yang mengerikan. Hem. Sidanti benar-benar berdarah dingin. Dengan tangannya ia merobek-robek tubuh lawannya yang sudah tidak berdaya”

“Sungguh berlawanan dengan Agung Sedayu” sahut yang lain. “Menurut Swandaru Geni, Agung Sedayu menyesal ketika ia membunuh seseorang meskipun didalam peperangan”

Kemudian keduanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dilihatnya beberapa kawan-kawan mereka sedang berbaring-baring saja dimuka regol kademangan karena kelelahan. Beberapa orang duduk-duduk dihalaman, sedang yang lain masih berada di banjar desa.

Orang-orang yang terlukapun kemudian dibawa kebajar desa itu untuk mendapat pertolongan sekedarnya. Tetapi Untara tidak dibawa kebajar desa. Untara itu oleh Widura disuruhnya membawa kekademangan saja. Sebab Untara adalah orang penting bagi Pajang. Mau tidak mau Ki Ageng Pemanahan pasti akan menjadi heran atas keadaannya.

Untara itupun kemudian dibaringkan didalam pringgitan kademangan. Agung Sedayu, Widura, Ki Demang Sangkal Putung, Swandaru dan beberapa orang lagi berdiri memagarinya. Mereka menyaksikan dengan penuh haru, tubuh Untara yang terbaring diam. Meskipun demikian, mereka masih mempunyai harapan bahwa Untara akan dapat sadar kembali, karena mereka masih melihat dada Untara bergerak-gerak dalam pernafasan yang sulit.

Ki Demangpun menjadi gelisah pula. ia telah menyuruh beberapa orang untuk mencari daun-daun yang menurut pendengarannya dapat menolong sementara, menghentikan aliran darah.

“Untunglah” gumam Widura “Lukanya agak terlalu tinggi, sehingga tidak langsung menyentuh jantungnya”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun demikian, keadaan Untara cukup berbahaya.

Dalam pada itu, hampir setiap orang berbicara tentang Untara, tentang lukanya dipunggung. Mereka bersepakat bahwa Untara mendapat serangan dari belakang dengan cara yang curang.

“Didalam perang brubuh hal itu memang mungkin sekali terjadi” bisik salah seorang yang bertugas digardu pertama.

Yang diajak berbicara mengangguk. Katanya “Tetapi aneh. Tohpati dan Untara bertempur tepat digaris pertempuran. Apakah kemudian Untara mendesaknya hingga masuk kedalam lingkungan laskar Jipang, dan dalam pada itu ia mendapat serangan dari belakang?”

“Aku tidak melihatnya demikian. Kita bersama mendesak mereka. Dan mereka mundur dalam satu garis yang teratur, meskipun disana sini timbul pula kekacauan yang memungkinkan hal-hal semacam itu terjadi”

“Tetapi yang melukai Untara pasti bukan Macan Kepatihan”

“Pasti bukan” jawab yang lain.

Mereka kemudian terdiam. Tetapi mereka dikejutkan oleh sebuah bayangan yang perlahan-lahan mendatanginya. Orang-orang itu segera bersiaga. Dengan menggenggam hulu pedangnya yang masih disangkutkan didalam sarungnya ia menyapa “Siapa itu?”

Orang yang disapa itu mengangkat wajahnya. Sambil berjalan terus ia menjawab “Aku ngger, aku”

“Aku siapa?”bertanya penjaga itu pula.

Orang yang disapanya itu berjalan semakin dekat. Dengan langkah satu-satu ia menjadi semakin jelas. Seorang tua dengan sebuah tongkat kecil ditangannya.

“Siapa itu” penjaga itu mengulangi.

“Aku ngger, aku” jawabnya. Suaranyapun telah memberitahukan kepada para penjaga bahwa orang itu adalah seorang tua.

“Siapa namamu?”

Orang itu sudah dekat benar. Dengan nafas terengah-engah ia berkata “Huh. Aku hampir mati ketakutan melihat pertempuran itu”

“Kau melihat pertempuran itu kek? Bertanya salah seorang penjaga.

“Ya, aku melihat” jawabnya.

“Kenapa melihat, kalau kau hampir mati ketakutan?”

“Aku tidak sengaja melihat. Aku berjalan lewat daerah itu. Dan didaerah itu terjadi pertempuran”

“Mau kemana kau sebenarnya kakek?”

“Pulang ke dukuh Pakuwon” “Dukuh Pakuwon” bertanya para penjaga keheranan “Dari mana?”

Orang itu terdiam. Nafasnya masih saja terengah-engah. Baru kemudian ia menjawab “Aku baru saja pulang dari pesisir”

“Dari pesisir?”

“Ya. Aku baru saka mencari kulit kerang hijau. Kulit kerang ini sangat baik untuk mengobati luka-luka”

“Kau dapatkan kulit kerang itu?”

“Ya”

“Dapatkah dipakai untuk mengobati luka senjata tajam?”

“Tentu. Tentu”

“Banyak kawan-kawan kami terluka. Apakah kau mau mengobati mereka?”

“Tentu. Tentu”

Penjaga itu menjadi ragu-ragu sejenak. Ia tidak dapat percaya begitu saja kepada orang yang belum dikenalnya. karena itu, maka katanya kemudian “Pemimpin kami terluka. Marilah, aku antarkan kau kekademangan. Biarlah para pemimpin yang menentukan, apakah obatmu dapat menolongnya”

“Siapakah yang terluka?”

“Untara”

“Untara?” kakek itu mengulang.

Orang tua itupun kemudian dibawa oleh beberapa orang penjaga kekademangan. Ketika mereka sampai dipendapa, maka mereka melihat beberapa orang masih sibuk dipringgitan sehingga para penjaga itu menjadi ragu-ragu. Tetapi karena keinginan mereka untuk mengantarkan orang tua itu, maka diberanikan dirinya mengetuk pintu yang masih terbuka itu.

Widura berpaling kearah mereka. Dilihatnya seorang penjaga berdiri tegak dimuka pintu. “Ada apa?” katanya.

Maka diceritakannya tentang orang tua yang telah mendapatkan kerang hijau yang dapat untuk menyembuhkan luka-luka.

Widura yang sedang digelisahkan oleh luka Untara itu tidak berpikir panjang. Segera ia berkata “Bawa orang itu masuk kemari”

Orang tua itupun segera dipersilakan masuk kepringgitan. Namun demikian ia melangkah pintu, terdengarlah Agung Sedayu menyapanya lantang “Ki Tanu Metir!”

Orang tua itu memandang berkeliling. Akhirnya dilihatnya Agung Sedayu diantara mereka. karena itu, maka tampaklah ia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya “Kau disini juga ngger?”

“Ya Ki Tanu. Aku menunggui kakakku yang terluka” tiba-tiba Agung Sedayu itu teringat pula kepada peristiwa yang dialaminya di Macanan. Maka katanya pula “Ki Tanu. Kakakku yang terluka ini ada kakakku itu pula. Kakang Untara”

“He?” orang tua itu terkejut “Apakah angger Untara belum sembuh?”

Semua orang yang berada di pringgitan memandang orang tua yang bernama Ki Tanu Metir itu dengan seksama. Mereka menjadi heran, bahwa ternyata orang itu agaknya telah mengenal Untara dan Agung Sedayu dengan baik.

Agung Sedayupun kemudian menjelaskan “Kakang Untara baru saja terluka dalam pertempuran diperbatasan Sangkal Putung. Bukan luka yang dahulu”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya “Hem. Itu adalah akibat dari kedudukannya. Baru saja angger Untara sembuh, kini ia telah terluka kembali”

“Ya Kiai” sahut Widura “Setiap prajurit menyadari hal itu. Kamipun disini menyadari, dan Untarapun menyadari”

“Angger benar” jawab Ki Tanu Metir sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya “Siapakah angger ini?”

Widura ragu-ragu sesaat. Yang menjawab adalah Agung Sedayu “Paman Widura. pemimpin laskar Pajang di Sangkal Putung”

“Oh” desah orang tua itu, yang kemudian berkata pula kepada Widura “Angger, apakah aku diperbolehkan mencoba mengobati luka angger Untara?”

“Silakan Kiai. Kami akan berterima kasih kepada Kiai. Menurut cerita yang pernah aku dengar, Kiai pernah juga merawat Untara beberapa waktu yang lewat”

“Ya ya” sahut Ki Tanu Metir sambil melangkah maju.

Kemudian dengan sangat hati-hati ia mengamati dan meraba-raba luka Untara itu.

Semua orang menegang nafas. Mereka berharap-harap cemas, mudah-mudahan orang tua itu dapat memberinya obat.

Tampaklah Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Kemudian kepada Agung Sedayu ia berkata “Angger, tolonglah aku membuka bajunya”

Dengan tergesa-gesa Agung Sedayupun segera menolong Ki Tanu Metir, dengan sangat hati-hati membuka baju Untara.

Dari bungkusannya, Ki Tanu Metir mengeluarkan beberapa jenis obat-obatan, yang kemudian dilumurkan disekitar luka Untara.

“Marilah kita berdoa didalam hati kita. Sebab kita hanya wenang berusaha, dan Tuhanlah yang akhirnya menentukan. Mudah-mudahan angger Untara segera sembuh”

“Apakah luka itu tidak terlalu berat Kiai?” bertanya Agung Sedayu dengan cemas.

Ki Tanu Metir menggeleng “Tidak terlalu berbahaya”

Semua orang menarik nafas panjang mendengar keterangan Ki Tanu Metir, meskipun banyak diantara mereka yang meragukannya. Kalau luka itu tidak berat, maka orang seperti Untara itu tidak akan mengalami pingsan sedemikian kerasnya.

“Angger” berkata Ki Tanu Metir kepada Widura “Biarlah angger Untara beristirahat. Dan biarlah udara dipringgitan ini menjadi sejuk. Karena itu, apabila tidak berkeberatan, biarlah yang kurang berkepentingan meninggalkan ruangan ini”

Widura menjadi ragu-ragu untuk sesaat, diamatinya wajah orang tua itu. Namun kemudian ia berkata “Baiklah, biarlah ruangan ini menjadi jernih”

Beberapa orang lain segera meninggalkan ruangan itu. Mereka mengerti juga, bahwa dengan demikian udara didalam ruang pringgitan itu menjadi tidak terlalu panas.

Didalam ruang itu kini tinggal Widura, Ki Demang Sangkal Putung, Agung Sedayu dan Swandaru. dari balik dinding Sekar Mirah mencoba mengintip mereka. Tetapi ia tidak berani masuk kedalam pringgitan itu, sebab agaknya ayahnya dan beberapa orang yang lain lagi berwajah tegang. Dari beberapa orang ia mendengar bahwa Untara terluka.

Sekar Mirah menjadi gembira ketika ayahnya memanggilnya. Setelah ia berlari menjauh, maka dari kejauhan itu ia menjawab “Ya ayah”

“Kemarilah”

Dengan berlari-lari kecil Sekar Mirah itu masuk ke pringgitan dari pintu belakang. Gadis itu tertegun dipintu ketika ia memandang wajah Agung Sedayu yang suram. Tetapi kesuramannya itu tampaknya menambah Agung Sedayu menjadi dewasa.

“Ambillah jeruk” berkata ayahnya.

“Jeruk apa ayah?”

“Jeruk pecel” sahut ayahnya.

“Ya ayah” jawab gadis itu sambil berlari.

Widura sekejap memandang wajah kemenakannya. Ia melihat sesuatu pada wajah itu dan ia tidak berkata apapun.

Setelah ruangan itu menjadi sepi, maka terdengarlah Agung Sedayu bertanya “Ki Tanu, apakah benar luka itu tidak begitu parah?”

“Luka itu tidak parah ngger, tetapi aku kira tidak membahayakan jiwanya apabila aku berhasil mengembalikan pernafasannya dengan wajar. Yang lebih berbahaya bagi angger Untara bukan luka itu, tetapi lihatlah” Ki Tanu Metir itu kemudian menunjukkan sebuah noda kebiru-biruan dilambung kanan Untara. Semua yang menyaksikan noda itu terkejut karenanya. Dengan serta-merta Agung Sedayu bertanya “Noda apakah itu Kiai?”

“Sebuah pukulan yang tepat diarah ulu hati. Untunglah bahwa pukulan itu dilakukan agak tergesa-gesa, sehingga agaknya belum mempergunakan tenaga sepenuhnya”

Semua orang yang berada ditempat itu merenungi noda itu dengan seksama. Mereka melihat disekitar noda yang kebiru-biruan itu menjadi agak bengkak dan berwarna kemerah-merahan.

“Ada dua kemungkinan Kiai” berkata Widura “Pukulan itu tidak dilakukan dengan sepenuh tenaga karena tergesa-gesa atau memang penyerangnya kurang mempunyai tenaga untuk membuat Untara itu menjadi semakin parah”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Ya. Mungkin. Namun menilik kemudian yang dapat dilakukan atas angger Untara, maka orang itu pasti bukan orang kebanyakan”

Kembali ruangan itu menjadi diam. Masing-masing mencoba untuk mencari etiap kemungkinan yang dapat terjadi atas Untara itu, namun tak seorangpun yang mampu untuk mencoba menebak, siapakah yang telah melakukannya.

Pringgitan itu kini menjadi sepi. Ki Tanu Metir masih saja merenungi tubuh Untara. Diraba-rabanya dan dipijit-pijitnya.

Sekar Mirahpun kemudian masuk kembali kepringgitan itu dengan beberapa buah jeruk nipis. Diserahkannya jeruk itu kepada ayahnya, dan kemudian oleh ayahnya, jeruk itu diberikannya kepada Ki Tanu Metir.

“Terima kasih” sahut dukun tua itu.

Setelah dipotong-potong maka jeruk nipis itupun diperasnya dan dicampurkannya pada ramuan obat-obatan. Dengan ramuan itu Ki Tanu Metir mencoba mengurut-urut jalan pernafasan Untara. Dari lambung dada dan punggungnya.

Sesaat kemudian terdengarlah Untara itu berdesah, lalu terdengar pula sebuah tarikan nafas yang panjang.

“Bagaimana Kiai?” terdengar Widura bertanya.

Ki Tanu Metir tidak segera menjawab. ia masih menekan bagian bawah dada Untara dan mengurutnya perlahan-lahan.

Sekali lagi Untara menarik nafas panjang, kemudian terdengar ia mengeluh pendek.

Agung Sedayu, Widura, dan Ki Demang Sangkal Putung mendesak maju. Sedang Swandaru Geni berdiri kaku dibelakang ayahnya.

Mereka kemudian menarik nafas lega ketika Ki Tanu Metir itu berkata “Pernafasan angger Untara sudah berangsur baik. Mudah-mudahan segera ia menjadi sadar kembali. Gabungan dari dua luka ditubuhnya, benar-benar menjadikannya menderita. Luka tusukan dipunggungnya telah sangat melepahkannya, dan noda biru itu telah mengganggu pernafasannya.

Ternyata gerak dada Untara kini telah jauh berbeda. Kini Untara telah tampak bernafas dengan mudah. Sekali-sekali ia telah bergerak dan menggeliat perlahan-lahan sekali. Apalagi dengan obat-obat yang dilumurkan oleh Ki Tanu Metir pada lukanya, sama sekali telah menyumbat pendarahan.

Kemudian Ki Tanu Metir yang menarik nafas dalam-dalam. Lirih ia bergumam “Mudah-mudahan”

Setelah pernagasan Untara itu menjadi baik kembali, serta beberapa kali ia telah dapat menggerakkan tangannya, maka Ki Tanu Metir itupun berkata “Biarlah angger Untara tidur. Ia kini sudah tidak pingsan lagi. Namun karena tubuhnya yang sangat lemah, maka ia belum dapat menyadari dirinya sesadar-sadarnya”

“Jadi, luka-luka itu tidak membahayakan jiwanya Kiai?” desak Agung Sedayu

Ki Tanu Metir menggeleng “Marilah kita berdoa. Mudah-mudahan dugaanku benar. Angger Untara akan sembuh kembali”

Ruang pringgitan itu menjadi sepi kembali. Mereka kini tidak lagi berdiri melingkari Untara, namun mereka kini tidak lagi berdiri melingkari Untara, namun mereka kini duduk disamping tubuh Untara yang masih terbaring diam.

Sekar Mirah yang tidak pergi keluar sejak ia menyerahkan jeruk pecel kini ikut duduk disitu pula. Tetapi ia menjadi kecewa ketika ayahnya berkata “Mirah, manakah minuman kami?”

Sekar Mirah tidak menjawab, tetapi ia segera berdiri dan sambil bersungut-sungut ia keluar dari pringgitan pergi kedapur.

Sejenak kemudian, mereka yang duduk dipringgitan itu serentak berpaling, ketika mereka mendengar gerit pintu terbuka. Dimuka pintu itu mereka melihat, Sidanti berdiri tegak. Ketika dilihatnya Widura maka anak muda itu menganggukkan kepalanya.

“Kakang Widura” katanya “Apakah aku boleh masuk?”

“Apakah kau mempunyai suatu keperluan Sidanti?” bertanya Widura.

Sidanti mengangguk sambil menjawab “Ya kakang”

“Kemarilah” sahut Widura.

Sidanti itupun kemudian masuk kepringgitan dan duduk disamping Widura, ditangannya ia memegang sebuah bungkusan kecil.

“Kakang” katanya “aku telah mencoba menghubungi guruku. Aku katakan kepada guru, bahwa kakang Untara terluka. Aku coba mengatakan besar, dalam dan letak luka itu” Sidanti berhenti sesaat. Dicobanya mengawasi wajah-wajah mereka yang duduk disekitarnya. Ketika tak seorangpun menjawab maka Sidanti itu meneruskan “Namun sayang, menurut guruku, luka demikian adalah luka yang sangat berbahaya. Luka yang tak akan mungkin diobati. Meskipun demikian, maka kita wajib berusaha. Dan gurukupun akan mencoba menolongnya apabila mungkin. Namun segala sesuatu bukanlah kita yang menentukan. Dan inilah obat yang aku terima dari guruku itu. Biarlah aku mencoba mengusapkannya pada luka itu”

Widura mendengar kata-kata Sidanti itu dengan heran, dan bahkan sesaat ia berdiam diri. Timbullah perasaan aneh terhadap Sidanti. Ternyata anak itu tidak sejahat yang disangkanya. Dalam keadaan yang sulit, ia berusaha pula untuk berbuat sesuatu meskipun hasilnya belum pasti akan tampak. karena itu, maka sesaat kemudian menjawab “Terima kasih Sidanti”

Agung Sedayupun menjadi heran pula. tiba-tiba matanya menjadi suram. Ia menyesal bahwa ia telah memusuhi anak muda itu. Ternyata kini ia telah berbuat sesuatu untuk keselamatan kakaknya.

Ki Demang dan Swandaru Genipun menjadi bersenang hati atas sikap itu. Dengan demikian, maka pertentangan diantara mereka menjadi semakin tipis. Dan karenanya akan terjalinlah persatuan yang bulat diantara semua kekuatan di Sangkal Putung.

Tetapi yang masih saja berdiam diri adalah Ki Tanu Metir. Ia masih belum tahu, obat apakah yang dibawa oleh Sidanti itu. karena itu, maka katanya “Angger, apakah aku boleh melihat obat itu?”

Sidanti memandang kepada Ki Tanu Metir, dengan penuh curiga, sehingga kemudian ia bertanya kepada Widura “Siapakah orang ini kakang?”

Widura berpaling kepada Ki Tanu Metir, kemudian jawabya “Orang inilah yang telah melakukan pertolongan pertama kepada Untara. Namanya Ki Tanu Metir. Ki Tanu adalah seorang dukun yang berpengalaman”

Sidanti mengerutkan keningnya. Tampaklah dari sorot matanya, bahwa ia tidak senang melihat kehadiran Ki Tanu Metir. Maka katanya “Apakah Ki Tanu Metir dapat pula mengobati? Atau barangkali seorang dukun yang dapat menebak hati orang, atau menenung orang dari jauh dan menaruh guna-guna?”

“Oh tidak, tidak ngger” sahut Ki Tanu Metir “Aku bukan dukun semacam itu. Aku sama sekali tidak dapat menebak hai orang, merauh guna-guna apalagi menenung. Yang aku ketahui hanyalah sekedar beberapa jenis obat-obatan yang dapat dipakai untuk mengobati luka. Itupun hanya aku dengar dari nenek dan kakek. Hanya itu. Dan sekarang aku mencoba mengobati luka Untara dengan cara yang pernah aku pelajari dari orang-orang tua itu”

“Hem” Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya “Kalau begitu, obat ini adalah obat yang pasti akan lebih baik dari obat Ki Tanu Metir. Sebab obat ini diberikan oleh guruku, Ki Tambak Wedi”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditatapnya wajah Sidanti dan Agung Sedayu berganti-ganti. Kemudian ia menyahut “Mungkin Ki Tambak Wedi itu seorang dukun yang pandai. Tetapi apakah ia dapat mengobati tanpa melihat luka itu?”

“Tentu” jawab Sidanti “Ki Tambak Wedi dapat mengobati apa saja meskipun luka itu tidak dilihatnya. Sebab ia pasti tahu bahwa luka senjata pada dasarnya sama saja. Menghentikan aliran darah dan kemudian memampatkan luka itu untk memulihkan jaringan daging yang telah pecah dan sobek”

“Ya, ya, begitu pulalah yang pernah aku dengar dari orang-orang tua” berkata Ki Tanu Metir “Namun setiap luka ditempat yang berbeda-beda membawa cirinya sendiri-sendiri. Dan luka angger Untara itupun sudah pampat dan tidak mengalirkan darah lagi”

Sidanti mengerutkan keningnya. Ia menjadi semakin tidak senang melihat Ki Tanu Metir berada diruangan itu. Ketika ia berpaling kepada Untara, maka katanya “Apakah tubuh itu akan kita biarkan terbaring diam untuk kemudian mati? Kita harus berusaha, meskipun seandainya usaha itu gagal. Namun kita akan mengkhianatinya apabila kita biarkan saja Untara itu mati tanpa ikhtiar apapun”

Widura menjadi ragu-ragu sejenak. Dibiarkannya mereka berdua berbicara. Sementara itu ia mencari kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Namun ia tidak akan dapat menolak kebaikan hati Ki Tambak Wedi. akhirnya Widura itupun berkata “Sidanti, darah yang mengalir dari luka itu telah berhenti. Untara kini telah tidur nyenyak. Biarlah obat itu kau berikan kepadaku. Nanti apabila ia telah bangun, biarlah aku mengobati lukanya, atau biarlah Ki Tanu Metir yang melumurkannya”

“Kenapa kita menunda sampai nanti, kakang Untara pasti akan lebih menderita. Kalau kemudian terlambat, maka akan sia-sia segala usaha”

“Tetapi pasti tidak dapat sekarang” potong Ki Tanu Metir. “Obat itu mungkin sekali akan mengadakan tenggang-menenggang dengan obat yang lebih dahulu telah aku lumurkan. Karena itu biarlah obat itu menunjukkan akibatnya dahulu. Kalau ternyata tidak bermanfaat, baiklah kita ganti dengan obat yang lain”

“Banyak waktu yang terbuang” jawab Sidanti, kemudian kepada Widura ia berkata “Kakang, aku minta ijin untuk mencoba mengobati luka itu”

“Nanti dulu Sidanti” berkata Widura sambil berdiri “Jangan memaksa. Aku sangat berterima kasih kepadamu dan kepada Ki Tambak Wedi yang telah sudi memberikan obat itu. Namun sayang bahwa luka itu telah terlanjur diobati, dan darahnya telah tuntas. Karena itu, marilah berikan kepadaku, barangkali nanti kita perlukan”

Sidanti itupun menjadi sangat kecewa. Sehingga ia menggeram. Meskipun demikian ia masih ingin memaksa, katanya “Kakang, buat apa kita percaya kepada dukun itu. Biarlah aku mengobati luka itu kalau dukun itu marah, biarlah aku patahkan lehernya”

“Ampun ngger, jangan patahkan leherku. Aku masih sangat memerlukannya” Tiba-tiba Ki Tanu Metir itu menyahut “Tetapi demi kesembuhan angger Untara, jangan kau sentuh tubuhnya”

Agung Sedayu menjadi bingung mendengarkan pembicaraan itu. Tetapi tiba-tiba ia menjadi sangat tidak senang mendengar Sidanti mengancam Ki Tanu Metir. Meskipun ia dapat menghargai usaha Sidanti, namun ia tidak dapat melupakan, bahwa Ki Tanu Metir pernah menolong Untara itu dahulu, meskipun ia tidak tahu apa yang telah terjadi setelah ia meninggalkan rumah Ki Tanu Metir itu, namun Untara itu ternyata tertolong jiwanya. Sedang obat yang dibawa Sidanti itu masih harus diuji pula. karena itu, maka tiba-tiba ia berkata “Kakang Sidanti, berikanlah obat itu kepada paman Widura. biarlah besok atau nanti, paman Widura melumurkannya”

Sidanti itu memandang wajah Agung Sedayu dengan tajamnya. Kemudian terdengarlah suaranya parau “Agung Sedayu. Ternyata kau tidak mempunyai rasa kasih sayang terhadap kakakmu itu. Apakah kau akan menunggu sampai Untara mati, baru akan kau obati lukanya”

“Kalau kakang Untara gugur, maka sudah tentu akulah yang paling bersedih. Tetapi ia kini sudah berangsur baik. Karena itu jangan diganggu”

Sidanti itu berpaling kepada Widura. dengan wajah yang tegang ia berkata “Bagaimana kakang?”

“Berikan obat itu kepadaku, Sidanti”

Sidanti itu menjadi tegang. Namun kemudian ia tidak akan dapat memaksakan kehendaknya. Karena itu diberikannya bungkusan daun waru ditangannya itu kepada Widura. “Inilah kakang. Namun kalau Untara itu tidak tertolong, maka kalianlah yang telah membunuhnya. Meskipun demikian, aku mengharap obat itu akan dicoba pula”

“Baiklah, kami akan mencoba obat ini besok kalau ternyata kami perlukan”

Sidanti tidak berkata-kata lagi. Setelah bungkusan ditangannya itu diterima oleh Widura, maka segera ia meninggalkan ruangan itu. Sekali ia berpaling kearah Ki Tanu Metir, dan sekali kepada Agung Sedayu.

Ki Tanu Metir menangkap pertanyaan yang menyorot dari mata Widura. ia ingin penjelasan tentang obat itu. karena itu, maka Ki Tanu Metir itupun berkata “angger Widura, apakah aku boleh melihat obat itu?”

Widura kemudian duduk kembali ditempatnya. Diberikannya bungkusan daun waru ditangannya itu kepada Ki Tanu Metir. Katanya “Cobalah lihat Kiai, apakah obat ini bermanfaat pula?”

Dengan hati-hati Ki Tanu Metir membuka bungkusan itu. Ketika ia melihat obat yang terbungkus didalamnya tampak ia terkejut. Namun kemudian wajahnya menjadi tenang kembali.

“Bagaimana Kiai?” bertanya Widura ingin tahu.

Ki Tanu Metir mengangkat alisnya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “Aku tidak dapat memberikan obat ini kepada angger Untara, sebab aku tidak melihat manfaatnya”

Widura memandang Ki Tanu Metir dengan penuh pertanyaan. Ki Tambak Wedi adalah seorang yang cukup sakti. Namun apakah kata-kata Ki Tanu Metir sebenarnya?

Ki Tanu Metir melihat kebimbangan diwajah Widura. karena itu ia mencoba menjelaskan “Aku mempergunakan obat yang berlawanan dengan obat ini. Aku kira akibatnya akan merugikan angger Untara itu. Karena itu, biarlah kita tunggu saja sampai besok pagi. Mudah-mudahan obat yang aku berikan akan berguna”

Ruangan itu kemudian menjadi sepi kembali. Dikejauhan terdengar ayam jantan berkokok bersahut-sahutan.

“Hampir fajar” gumam Ki Tanu Metir.

Agung Sedayu mengangguk. Perlahan-lahan ia bangkit dan mendekati tubuh Untara terbaring.

Tiba-tiba Agung Sedayu itu membungkukkan badannya sambil berkata lirih “Ki Tanu, kakang Untara telah bangun”

Ki Tanu Metir itupun segera berdiri dan mendekati Untara pula. demikian pula Ki Demang Sangkal Putung dan Swandaru Geni. Mereka bersama-sama berdiri mengelilingi pembaringan Untara.

Untara itu kini telah dapat menggerakkan kepalanya. Sekali ia menarik nafas panjang, dan kemudian perlahan-lahan ia membuka matanya. Namun sesaat kemudian mata itu terpejam kembali.

“Masih sangat lemah” desis Ki Tanu Metir “Tetapi pernafasannya telah menjadi wajar kembali”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan tegang ia menunggu perkembangan keadaan Untara. Sehingga karenanya maka ia tetap saja berdiri disamping kakaknya ketika orang-orang lain telah duduk kembali ketempatnya.

Sesaat kemudian Sekar Mirah datang sambil membawa minuman hangat. Setelah diserahkannya mangkuk-mangkuk itu maka ia duduk disamping kakaknya. Tetapi segera ayahnya berkata “Kau harus menyiapkan makan pagi Sekar Mirah”

Sekar Mirah itu mengerutkan keningnya. Sambil memberengut ia menjawab “Ayah. Aku ingin istirahat. Meskipun aku tidak bertempur, tetapi semalam suntuk aku berjalan mondar-mandir didapur, menyiapkan segala macam makan dan minuman. Apakah aku tidak boleh duduk sebentar saja?”

“Duduklah, bahkan tidurlah. Tetapi tidak disini”

Sekar Mirahpun kemudian berdiri dan berjalan kebelakang. Wajahnya menjadi gelap dan sekali ia berpaling sambil mencibirkan bibirnya kepada Swandaru Geni.

“Kenapa aku” bentak Swandaru.

“Apa” sahut Sekar Mirah “Aku kan tidak apa-apa”

“Kau mencibir aku” jawab Swandaru.

“Salahmu kau melihat bibirku”

Swandaru masih akan menjawab, tetapi ayahnya telah menggamitnya. Karena itu ia berdiam diri. Tetapi dengan tangannya ia mengacungkan tinjunya kearah Sekar Mirah. Sekali lagi Sekar Mirah mencibirkan bibirnya kepadanya. Namun kemudian ia tenggelam kebalik pintu. Tetapi sebelum ia hilang dibelakang daun pintu itu, maka iapun sempat memandang Agung Sedayu dengan sudut matanya, sehingga Agung Sedayu tertunduk karenanya.

Tetapi perhatian Agung Sedayu kini bulat-bulat tertuju kepada kakaknya, kerana itu ia hampir tak memperdulikan apa saja yang terjadi.

Ia mendengar juga sekali Sekar Mirah berteriak dibelakang rumahnya “Gila” berkata Sekar Mirah itu “Pergi sendiri”

Swandaru mengangkat kepalanya. Hampir saja ia berdiri kalau ayahnya tidak menahannya “Bukan kau Swandaru”

Widura menggigit bibirnya. Pasti Sidanti telah mengganggunya. Anak itu benar-benar anak yang keras kepala. Namun Widura telah tidak segera berbuat apa-apa, sebab suara Sekar Mirah itupun telah hilang, dan bahkan dekat dibalik dinding gadis itu menggerutu “Anak setan. Kenapa ia tidak mati dibunuh Macan Kepatihan?”

Dalam pada itu sekali lagi Agung Sedayu melihat Untara menggerakkan kepalanya. Kemudian perlahan-lahan ia membuka matanya. Ketika ia melihat Agung Sedayu berdiri disampingnya terdengar ia berdesis “Sedayu”

“Ya kakang” jawab Agung Sedayu serta-merta.

Namun Untara itu terdiam. Kembali matanya terkatub. Namun wajahnya kini sudah tdak seputih mayat. Perlahan-lahan warna-warna merah mulai menjalari wajah itu. Dan perlahan-lahan kepercayaan Agung Sedayupun tumbuh pula.

Ki Tanu Metir, setelah meneguk minuman hangat itu, berdiri pula mendekati Untara. Dirabanya dada anak muda itu, kemudian diurut-urutnya lambungnya.

Sekali lagi Untara membuka matanya. Ketika ia melihat Ki Tanu Metir beridiri disampingnya pula, maka tampaklah bibirnya bergerak.

“Kiai disini?”

“Ya ngger, aku melihat bertempuran itu. Dan aku sengaja datang karena aku mendengar angger terluka”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya “Ya, aku terluka”. Kemudian desisnya “Sedayu. Kemarilah. Kau ingin tahu siapa yang melukai aku?”

Bukan main terkejutnya Sedayu mendengar kata-kata kakaknya itu. Karena itu dengan serta –merta ia melangkah lebih mendekati kakaknya sambil berdesis “Ya kakang, katakanlah siapa yang telah melukai kakang?”

Tidak saja Agung Sedayu yang tertarik pada kata-kata itu. Namun semuanya tertarik pula. karena itu, maka semua yang hadir disitu bergeser mendekat.

Namun Untara ternyata masih terlalu lemah. Tiba-tiba matanya terpejam kembali.

“Kakang” panggil Agung Sedayu.

“Jangan ngger” berkata Ki Tanu Metir “Jangan dipaksa”

“Hem” Agung Sedayu menggeram. Ia ingin segera tahu siapa yang telah melakukan perbuatan itu. Tohpati atau Alap-alap Jalatunda? Tetapi ia harus bersabar lagi menunggu Untara itu menjadi lebih kuat.

Diluar, kabut yang tebal mulai turun. Namun ayam jantan yang berkokok semakin lama menjadi semakin ramai bersahutan. Meskipun demikian, lewat pintu mereka masih melihat kehitaman yang kelam diantara kabut yang keputih-putihan. Tetapi mereka menyadari bahwa sebentar lagi, fajar telah menjenguk digaris kaki langit.

Kini mereka tidak dapat berdiri saja diseputar Untara. Widura dan Ki Tanu Metir minta diri sesaat kepada Agung Sedayu untuk sesuci, untuk kemudian mereka bergantian menunggu Untara yang terluka itu.

“Silakan paman” berkata Agung Sedayu.

Ki Demang Sangkal Putung dan Swandarupun kemudian meninggalkan ruangan itu, sehingga kini tinggallah Agung Sedayu seorang diri.

Telah lama Widura menunggu kesempatan itu. Berjalan berdua dengan Ki Tanu Metir. Dan kesempatan itu kini datang. karena itu, maka berkata Widura itu sambil berjalan kepadasan “Ki Tanu Metir, apakah Ki Tanu telah pernah datang ketempat ini sebelumnya?” Ki Tanu Metir menggeleng “Belum ngger”

Widura tersenyum. katanya “Baru kali ini?”

“Ya” sahut orang tua itu

“Ke daerah-daerah sekitar tempat ini?”

“Juga belum”

“Ki Tanu Metir benar-benar belum mengenal aku?”

Ki Tanu Metir berhenti. Diamatinya Widura dengan seksama, namun ia menggeleng “Belum ngger. Baru kali ini aku mengenal angger Widura”

Sekali lagi Widura tersenyum “Mungkin Kiai benar”

Ki Tanu Metir terkejut. Bagaimana sesaat kemudian ia tersenyum sambil berjalan terus.

Sepeninggal Widura, Agung Sedayu masih juga menunggu kakaknya dengan tekun. Sekali-sekali dilihatnya Untara menarik nafas panjang. Namun Untara itu masih belum juga membuka matanya kembali.

Agung Sedayu hampir-hampir menjadi tidak sabar menunggu. Ia ingin segera tahu, siapakah yang melukai kakaknya itu. Tetapi ia tidak berani memaksa kakaknya untuk berbicara.

Sesaat kemudian ketika Untara itu membuka matanya kembali, segera Agung Sedayu membungkukkan badannya sambil berbisik “Kakang, apakah akan mengatakan kepadaku, siapakah yang telah melukai kakang?”

Untara menarik nafas panjang. Tampak ia menyeringai, kemudian mencoba menggerakkan tangannya “Tanganku masih lemah sekali” desisnya.

“Jangan bergerak-gerak dulu kakang” Agung Sedayu mencoba mencegahnya.

Untara mengangguk kecil. “Dimana paman Widura?”

“baru sesuci kakang” sahut Agung Sedayu.

“Aku ingin mengatakan kepadanya, siapakah yang telah melukai aku”

“Katakanlah kakang, selagi kakang sempat, nanti kakang dapat tidur dengan nyenyak”

“Dimana pamanmu?”

“Biarlah nanti aku sampaikan”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan susah payah ia berkata “Agung Sedayu. Sebenarnya aku telah berusaha untuk melupakan setiap persoalan yang ada diantara kita masing-masing yang berada ditempat ini untuk kepentingan yang lebih besar. Tetapi ternyata aku menghadapi bahaya yang hampir saja merenggut nyawaku. Kalau kali ini aku, maka mungkin lain kali paman Widura dan kau. Karena itu maka sebelum terjadi, kau harus mencegahnya. Aku percaya bahwa kau akan dapat melakukannya bersama paman Widura”

“Ya kakang” sahut Agung Sedayu tidak sabar “Aku siap berbuat”

“Jangan orang itu mendapat kesempatan meninggalkan tempat ini. Dengan demikian ia akan menjadi lebih berbahaya bagimu dan bagi Sangkal Putung”

“Ya kakang, tetapi siapakah itu?”

“Dimanakah pamanmu Widura?”

“Sebentar lagi ia datang. Aku akan mengatakannya”

“Ya. Memang harus dilakukan secepatnya. Kalau ia tahu aku belum mati dan masih dapat mengatakannya, maka ada kemungkinan ia segera akan kembali”

“Ya, ya” sahut Agung Sedayu tidak sabar.

“Anak itu adalah Sidanti”

“He?” alangkah terperanjat Agung Sedayu “Sidanti” ulangnya “Bagaimana mungkin? Bukankah ia berada disayap yang lain?”

“Sayap itu telah bergabung dengan induk pasukan ketika kami mengejar lawan. Dan ternyata Sidanti telah melakukan rencananya sendiri. Ditinggalkannya anak buahnya untuk berbuat menurut rencananya. Aku terkejut ketika tiba-tiba ia menggamit aku. Tetapi aku tidak mendapat kesempatan. Aku berpaling pada saat pisaunya menembus punggungku. Tetapi aku tidak segera pingsan. Pukulannyalah yang menyebabkan aku tidak tahu apa lagi yang terjadi. Tetapi Tuhan Maha Besar. Aku ternyata diselamatkan olehNya dengan lantaran Ki Tanu Metir”

Terdengar gigi Agung Sedayu gemeretak. Namun ketika ia masih ingin mengajukan pertanyaan lagi, dilihatnya nafas kakaknya menjadi agak cepat.

“Kakang” panggil Agung Sedayu.

Untara memejamkan matanya. Dicobanya untuk menenangkan hatinya. Disadarinya bahwa ia masih belum dapat terlalu banyak berbicara. Karena itu katanya “Aku akan beristirahat. Katakanlah hal ini kepada paman Widura”

Agung Sedayu tidak menjawab. tetapi dadanya seakan-akan hampir meledak. Dilihatnya kakaknya menarik nafas dalam-dalam, dan sekali Untara itu berdesis “Aku masih terlalu lemah. Kini kepalaku terasa agak pening. Aku akan mencoba tidur lagi”

“Tidurlah kakang” jawab Agung Sedayu “Tenangkanlah hatimu. Biarkan aku selesaikan persoalan Sidanti”

“Jangan seorang diri” desis Untara.

Tetapi Agung Sedayu tidak menjawab. hatinya sudah tidak dapat ditahannya lagi. Meskipun selama ini Sidanti baginya seakan-akan hantu yang selalu mengejarnya kemana ia pergi, namun hantu itu kini sama sekali tidak menakutkan lagi baginya.

Karena itu, maka demikian kakaknya memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur, cepat-cepat Agung Sedayu beringsut surut, dan dengan tergesa-gesa ia meloncat keluar pringgitan. Sedemikian tergesa-gesa sehingga ia lupa menyandang pedangnya yang telah diletakkannya disamping pembaringan kakaknya itu.

Dipendapa dengan nanar Agung Sedayu mencari Sidanti. Namun disudut pendapa itu tak dilihatnya seseorang. Karena itu dengan berlari-lari ia turun kehalaman dan langsung dicarinya dibelakang rumah.

Namun dibelakang rumah itupun tak ditemuinya Sidanti. Ia tadi mendengar Sekar Mirah mengumpat-umpat disitu. Karena itu ketika ia melihat gadis itu menjengukkan kepalanya dipintu, dengan serta-merta ia bertanya “Mirah, kemanakah Sidanti?”

“Kenapa kau mencari Sidanti?” bertanya Sekar Mirah “kenapa tidak mencari aku?”

“Aku tergesa-gesa Mirah”

“apakah tuan sangka aku menyembunyikan Sidanti?”

“Tidak. Tetapi bukankah kau tadi bercakap-cakap dengan Sidanti disini? Barangkali kau tahu kemana ia pergi?”

Sekar Mirah menggeleng sambil tersenyum. bahkan kemudian ia melangkah keluar “Biarlah Sidanti pergi menurut kehendaknya sendiri. apakah kita berkepentingan atasnya?”

“Aku berkepentingan”

“Aku tidak”

“Mirah” Agung Sedayu menjadi jengkel karenanya “Aku sekarang sedang dihadapkan pada suatu keharusan untuk menemukannya. Dimana ia sekarang?”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Dilihatnya wajah Agung Sedayu bersungguh-sungguh. karena itu, maka iak tidak mau bergurau lagi. Jawabnya “Mungkin kesungai, mungkin ke prapatan”

Agung Sedayu berpikir sejenak. Apakah kepentingan Sidanti keprapatan yang paling mungkin baginya adalah pergi kekali disebelah ujung halaman kademangan itu. Sebuah kali yang tidak sedemikian besar, yang airnya seakan-akan hampir kering dimusim kemarau.

Agung Sedayu itupun tidak berkata-kata lagi. Dengan tergesa-gesa ia berjalan menuju kekali, tempat beberapa orang laskar Pajang sering mandi dan mencuci pakaiannya. Namun saat itu masih terlalu pagi. Belum ada seorangpun yang pergi kesana, selain Agung Sedayu yang sedang mencari Sidanti itu.

Ki Tanu Metir dan Widura, setelah sesuci segera bersembahyang. Ketika mereka menengok Untara, dilihatnya anak muda yang sedang terluka itu tidur. karena itu, maka Ki Tanu Metir tidak mendekatinya.

Sehabis sembahyang, mereka berdua duduk kembali, diatas tikar pandan dan kembali meneguk air yang masih hangat-hangat kuku.

“Dimanakah Sedayu?” desis Widura.

“Ya, dimana angger Sedayu?”s ahut Ki Tanu Metir.

Mula-mula mereka menyangka bahwa anak muda itu sedang sesuci dibelakang. Tetapi setelah ditunggu beberapa lama, maka Agung Sedayu tidak juga datang. Meskipun demikian, mereka sama sekali tidak menaruh syak bahwa Agung Sedayu sedang pergi mencari Sidanti. karena itu, maka Widura itu masih saja duduk dengan tenangnya bersama dengan Ki Tanu Metir.

Sekali Ki Tanu Metir itu berdiri. Didekatinya Untara yang kembali jatuh tertidur karena lemahnya. Dirabanya dada anak itu sambil bergumam “Pernafasannya menjadi bertambah baik. Mudah-mudahan ia dapat segera memiliki kesadarannya sepenunya kembali. Dalam keadaannya sekarang, maka angger Untara kadang-kadang masih menjadi pening dan berkunang-kunang”

“Mudah-mudahan” sahut Widura.

“Mulai besok, angger Untara harus banyak minum obat reramuan sehingga badannya akan menjadi segera kuat kembali. Obat-obatan yang dapat mengganti darahnya yang sudah terlalu banyak mengalir seperti yang pernah dialaminya dahulu”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia teringat kepada obat yang diberikan oleh Sidanti. karena itu, maka katanya “Bagaimanakah dengan obat yang diberikan oleh Sidanti?”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Sesaat ia berdiam diri. Tampaklah ia menjadi ragu-ragu karenanya.

“Bagaimana?” desak Widura pula.

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun sesaat tampak wajahnya menjadi tegang. Dan akhirnya menjawab “Maaf ngger. Apakah aku boleh berkata sebenarnya?”

“Ya, tentu” sahut Widura heran.

Perlahan-lahan diraihnya obat dari Sidanti yang diletakkannya disamping kaku pembaringan Untara. Sekali lagi obat itu dibukanya, dan ditunjukkannya kepada Widura.

“Obat ini sangat berbahaya ngger”

“Kenapa?” bertanya Widura heran.

Sekali Ki Tanu Metir memandang kedaun pintu yang terbuka, namun kemudian kepalanya itu ditundukkannya.

Widura menjadi heran melihat sikap Ki Tanu Metir itu. karena itu, maka ia mendesaknya “Kenapa obat itu sangat berbahaya Kiai?”

Ki Tanu Metir berpaling kearah Untara yang masih tertidur. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, ia bergumam “Untunglah bahwa obat ini belum menyentuh lukanya. Kalau angger pernah melihat, ini adalah salah satu jenis warangan yang akan dapat mempengaruhi peredaran darah”

“He?” Widura terkejut mendengar keterangan itu.

“Warangan ini” berkata Ki Tanu Metir “Akan dapat membekukan darah, sehingga cairan darah angger Untara akan bergumpal-gumpal dan menyumbat jalur-jalur nadinya”

“Jadi….” Kata-kata Widura terputus dikerongkongannya.

Namun Ki Tanu Metir sudah dapat menangkap maksudnya. karena itu, maka ia menyahut “Ya. Ternyata angger Untara benar-benar akan dibunuhnya”

Terasa keringat dingin mengalir ditubuhnya. Tiba-tiba teringatlah Widura itu kepada peristiwa yang pernah dialaminya sendiri. Sidanti dan Ki Tambak Wedi pernah akan membunuhnya pula. sehingga karena itu dengan serta-merta ia berkata “Kalau begitu, maka luka Untara itupun pasti dibuat oleh Sidanti”

Ki Tanu Metir terdiam sesaat. Kemudian jawabnya “Mungkin ngger. Adalah mungkin sekali”

Tubuh Widura itu menjadi gemetar karenanya. Perbuatan itu benar-benar tidak dapat dimaafkan lagi. Sidanti benar-benar tidak dapat dilunakkan hatinya. Nafsunya untuk segera menanjak ke tingkatan-tingaktan yang lebih tinggi telah mendorongnya untuk berbuat hal-hal yang kadang-kadang tidak dapat dimengerti. Dengan demikian maka anak muda itu telah kehilangan segala tata cara dalam peradaban manusia. Bahkan Sidanti itu, telah sedemikan sampai hati untuk melenyapkan kawan sendiri. membunuhnya untuk segera dapat menempati kedudukannya.

Widura itupun menjadi marah bukan buatan. karena itu, maka segera ia berdiri. Diambilnya pedangnya dan disangkutkan dipinggangnya.

“Akan kemanakah angger Widura ini?” bertanya Ki Tanu Metir.

“Aku harus menemui Sidanti. Anak itu harus berada dalam pengawasan yang lebih baik. Kali ini Untara, besok aku dan lusa Agung Sedayu”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun iapun berdiri juga. Widura yang telah siap untuk berbuat apapun juga itu memerlukan menjenguk sesaat. Dilihatnya anak itu membuka matanya. Ketika dilihatnya Widura, maka desisnya “Dugaan Ki Tanu Metir dan paman adalah benar. Aku mendengar apa yang kalian percakapkan. Aku telah mengatakan kepada Agung Sedayu”

“He” kembali Widura terkejut “Dimana Sedayu sekarang?”

“Aku suruh ia mengatakannya kepada paman Widura”

Widura menggigit bibirnya. Ada sesuatu yang tersimpan dihati Agung Sedayu terhadap Sidanti, seperti minyak yang tersekat didalam bumbung. Kini ternyata ada api yang menyambarnya, sehingga minyak itu pasti akan menyala dan bumbungnya akan meledak. Karena itu, maka Widura pun kemudian menganggukkan kepalanya sambil berkata “Baiklah aku temui anak itu”

Untara tidak mengerutkan keningnya. Dipejamkannya kembali matanya untuk mencoba beristirahat sebanyak-banyaknya. Ki Tanu Metirlah kemudian yang menungguinya sambil duduk ditasa tikar disamping pembaringannya.

Widura yang menahan kemarahan didalam dadanya itu, berjalan perlahan-lahan keluar pringgitan. Diluar malam telah berangsur hilang, sehingga bayangan pepohonan dihalaman semakin lama menjadi semakin jelas karenanya. Namun ia tidak melihat Agung Sedayu dan Sidanti dihalaman itu. karena itu, maka segera ia menjadi cemas.

Beberapa orang yang melihat Widura menyandang pedangnya, bertanya-tanya didalam hati. Widura itu dikademangan hampir tidak pernah membawa pedangnya dalam keadaan biasa. Namun kini pedang itu tergantung dilambungnya.

“Mungkin Ki Lurah itu belum sempat melepas pedangnya” berkata salah seorang.

“Aku sudah melihatnya sesuci. Dan pedang itu tidak tergantung dipinggangnya” sahut yang lain.

“Entahlah” gumam orang yang pertama.

Sementara itu Agung Sedayu yang berlari-lari kekali diujung halaman dengan gelora kemarahan yang menyala didadanya, tiba-tiba terkejut, ketika pada keremangan pagi ia melihat dua sosok tubuh berjalan kearahnya. Namun tiba-tiba sesosok diantaranya segera lenyap dan yang tinggal kemudian adalah Sidanti. Agung Sedayu itu tidak sempat berpikir dan bertanya, siapakah orang yang satu itu yang kemudian bersembunyi. Namun yang ada didalam dadanya adalah kemarahan yang menyala-nyala.

Dengan serta-merta, maka Agung Sedayu itu berteriak “Kau telah berusaha membunuh Untara. Sekarang aku datang untuk menuntut balas atas luka-luka yang dideritanya”

Sidanti terkejut. Jawabnya “Siapa bilang?”

“Untara sendiri”

“Omong kosong. Untara belum sadar”

“Jangan ingkar. Aku sudah tidak mempunyai pilihan lain sekarang”

Sidanti itu mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba ia tertawa “Bagus” katanya “Aku yang berusaha membunuh Untara, sekarang aku harus membunuh Agung Sedayu”

Agung Sedayu tidak menjawab. segera ia meloncat maju dan menyerang Sidanti sejadi-jadinya.

Sidanti benar-benar terkejut menerima serangan yang tiba-tiba itu. karena itu, maka ia tidak segera dapat mengelak. Dengan cepatnya ia berusaha untuk memunahkan serangan Agung Sedayu itu dengan menyilangkan kedua tangannya menyambut tangan Agung Sedayu.

Pada saat itu, Agung Sedayu benar-benar telah mempergunakan segenap kekuatannya dilambari dengan kemarahan yang membara didalam dirinya. karena itu, maka kekuatannyapun seakan-akan bertambah-tambah juga. Sehingga kemudian terjadi suatu benturan yang dahsyat antara keduanya,

Benturan kekuatan antara Agung Sedayu yang melontarkan kemarahan yang meledak dengan kekuatan Sidanti yang tegak seperti batu karang. Demikianlah maka kedua kekuatan itu telah melemparkan keduanya, sehingga masing-masing terpental dan jatuh terbanting diatas tanah,

Namun ketikq mereka terguling, maka segera mereka meloncat berdiri dan siap kembali untuk mempertahankan diri masing-masing.

Agung Sedayu yang sama sekali tidak dapat mengekang dirinya karena kemarahannya, segera menyerang kembali. Serangannya langsung mengarah ketitik-titik yang berbahaya pada tubuh Sidanti. Kalau selama ini Sidanti dan Agung Sedayu selalu urung bertempur dalam setiap persoalan, maka dendam yang tersimpan dihati masing-masing itu kini seakan-akan tertumpahkan. Sidanti yang selama ini merasa, tersisihkan karena kehadiran Agung Sedayu. Baik oleh Widura, orang-orang Sangkal Putung, lebih-lebih Sekar Mirah, namun usahanya untuk memancing perselisihan selalu gagal, maka kini ia terlibat dalam suatu perkelahian dengan Agung Sedayu. karena itu, maka kesempatan ini harus dipergunakan. Ia harus bertempur sampai rampung. Mati atau mematikan. Apalagi Agung Sedayu ternyata telah mengetahui bahwa dirinyalah sebenarnya yang telah berusaha membunuh Untara. Dan Sidanti tidak dapat mengingkari kalau itu dikatakan oleh Untara sendiri. Meskipun demikian Sidanti menyesal, kenapa ia tidak dapat menusuk anak muda yang mendapat kepercayaan langsung dari Ki Gede Pemanahan itu sekaligus, sehingga Untara itu masih sempat berkata tentang keadaannya. karena itu, maka Agung Sedayu itupun harus mati. Kalau Agung Sedayu sudah mati disini, maka ia akan dapat membunuh Untara nanti pada suatu kesempatan. Mudah-mudahan obatnya diusapkan pada luka itu. Kalau demikian maka Untara itupun pasti akan mati. Tetapi kalau tidak? Kalau rencana itu gagal? Sidanti itu menggeram. Apa yang dilakukan kali ini adalah suatu sikap terakhir. Kalau ia gagal, maka kisahnya sebagai prajurit Pajang akan berakhir. Kalau ia berhasil membunuh Agung Sedayu dan Untara, apakah tidak ada orang-orang lain yang akan menuntunya? “Hem” sekali lagi Sidanti menggeram. Kegagalannya terletak pada kegagalannya membunuh Untara, sehingga persoalan itu menjadi berlarut-larut. Tetapi meskipun demikian, ia tidak dapat mengingkari. Ia sudah langsung berbuat dengan tangannya meskipun ia berusaha untuk menghilangkan bekasnya. Ia menusuk Untara tidak dengan senjatanya, tetapi dengan pisau yang lain. Kini tangannya telah berbekas darah. karena itu, maka apapun yang akan dihadapinya ia tidak akan ingkar.

Sedangkan Agung Sedayupun telah menyimpan dendam yang membara didalam dirinya. Sejak ia hadir di Sangkal Putung, maka ia telah merasakan, bahwa seorang ini sama sekali tidak senang melihat kehadirannya. Anak muda inilah yang seakan-akan telah menyebabkan pamannya selalu marah kepadanya, sehingga seolah-olah Ia menjadi seorang tawanan yang dikurung didalam pringgitan. Anak muda ini pulalah yang telah berusaha membunuh kakaknya. Sampai saat itu kakaknya adalah orang yang paling baik yang dikenalnya. Orang yang selalu melindunginya dalam setiap kesempatan. Orang yang tidak pernah menyakiti hatinya. Orang yang telah menggantikan ibu bapaknya. Kini orang yang bernama Sidanti itu akan membunuh kakaknya itu. karena itu, maka segenap kemarahan dan dendam tertumpah kepadanya. Kepada Sidanti.

Demikianlah maka pertempuran itu menjadi seru sekali. Masing-masing telah menumpahkan segenap tenaganya dalam luapan kemarahan dan dendam. Masing-masing sudah tidak dapat lagi melihat kemungkinan lain daripada membunuh atau dibunuh. Agung Sedayu yang banyak sekali mempunyai pertimbangan dikepalanya hampir dalam setiap persoalan, kini pertimbangan-pertimbangan itu seakan-akan telah membeku.

Tetapi ternyata bahwa Sidanti memiliki pengalaman yang lebih luas dari Agung Sedayu. Meskipun persiapan-persiapan didalam diri Agung Sedayu telah cukup banyak untk menghadapi murid Ki Tambak Wedi itu, namun ada beberapa kelebihan dari Sidanti atas Agung Sedayu. karena itu, maka tampaklah bahwa Sidanti mempunyai kesempatan-kesempatan yang lebih baik dari Agung Sedayu. Namun meskipun demikian, Agung Sedayupun memiliki keadaan yang tidak dimiliki oleh Sidanti. Agung Sedayu yang seakan-akan menyimpan dan menahan gelora yang menyala didadanya karena keadaannya, maka tiba-tiba kini ia menemukan saluran yang dapat memuntahkan tekanan itu. Sebagai seorang penakut, maka Agung Sedayu selalu berangan-angan untk menjadi seorang yang pilih tanding. Seorang yang tak terkalahkan. Namun setiap gejolak didalam jiwanya selalu disekapnya didalam hati. Kemudian setelah ia berhasil menembus dinding yang menyelubunginya, tiba-tiba ia dihadapkan pada persoalan yang langsung menyentuh perasaannya yang paling dalam, sehingga dengan demikian maka Agung Sedayu itu seakan-akan benar-benar sebuah bumbung minyak yang terbakar. Meledak dengan dahsyatnya.

karena itu, maka tandangnyapun menjadi tidak menentu. Ia telah kehilangan kemungkinan untuk mempertimbangkan setiap geraknya. Hanya satu yang ada didalam hatinya, membinasakan Sidanti.

Sidanti melihat tandang Agung Sedayu itu benar-benar terkejut. Agung Sedayu dalam tangkapan Sidanti adalah seorang yang halus dan lunak. Ia menyangka, bahwa dalam perkelahianpun Agung Sedayu akan mencerminkan sifat-sifatnya itu. Tetapi tiba-tiba ia berhadapan dengan gerak yang ganas dan kasar. Bahkan kadang-kadang sama sekali diluar dugaannya. Agung Sedayu menyerang seperti seekor serigala yang lapar. Tidak hanya seekor, namun tiba-tiba karena luapan perasaannya, Agung Sedayu telah menumpahkan segenap ilmunya, sehingga seakan-akan Sidanti itu menghadapi berpuluh-puluh serigala yang kelaparan sedang berusaha bersantap dengan dagingnya.

karena itu, maka perkelahian itu menjadi semakin sengit. Sidanti berusaha untuk melawan Agung Sedayu dengan segenap kemampuannya pula. dengan lincahnya ia menghindari setiap serangan Agung Sedayu. Namun serangan itu mengalir seperti banjir. Meskipun demikian kelincahan Sidanti, sekali-sekali berhasil menerobos pertahanan Agung Sedayu yang kuat, sekali-sekali berhasil mengenai tubuhnya, sehingga sekali-sekali Agung Sedayu terpaksa terlempar surut dan bahkan jatuh berguling. Tetapi kambali anak muda itu bangkit, dan kembali serangannya datang membadai.

Namun Sidanti pada dasarnya adalah seorang anak muda yang berjiwa kasar. Ia adalah seorang yang berbuat tanpa kesan membunuh lawannya dan bahkan merobek mayat lawannya sekali. karena itu, maka segera ia menyesuaikandiri dengan Agung Sedayu. Sehingga sesaat kemudian Sidanti itupun bertempur dengan cara yang tidak kalah ganas dan kasar dari Agung Sedayu.

Dengan demikian maka perkelahian itu benar-benar menjadi perkelahian yang keras. Seakan-akan perkelahian diantara binatang-binatang buas yang sedang kelaparan berebut makanan. Setiap serangan hampir tak pernah dielakkan. Namun setiap serangan ditempuhnya dengan pengerahan tenaga.

Namun dalam perkelahian yang demikian itupun, Sidanti mempunyai kesempatan yang lebih banyak dari Agung Sedayu. Pengalamannya yang jauh lebih banyak dan hatinya yang lebih keras, telah memungkinkannya untuk berbuat lebih jauh dari apa yang dapat dilakukan pleh Agung Sedayu.

Tetapi Sidanti itupun menjadi heran. Betapa ia berhasil mengenai lawannya, bahkan dengan segenap tenaganya, dan betapa ia melihat Agung Sedayu terlempar jatuh, tetapi seakan-akan tubuh Agung Sedayu itu sedemikian liatnya. Demikian ia terbanting, demikian ia bangun kembali. Pukulan-pukulan yang mengenainya benar-benar tak pernah membekas, seakan-akan tubuhnya dapat dibebaskan dari rasa sakit.

Sebenarnya Agung Sedayu sudah war inguten, ia seolah-olah kehilangan segenap perasaannya. Bahkan rasa sakitpun seakan-akan tak dimilikinya. Tekanan gelora yang membakar dadanya telah menjadikannya nggegirisi.

Sidanti benar-benar menjadi bimbang. Apakah Agung Sedayu memiliki ilmu kekebalan? “Omong kosong” katanya dalam hati. Dan geraknyapun semakin dipercepatnya.

***

Sisa gelap malampun semakin lama menjadi semakin tipis. Dan sejalan dengan itu hati Sidantipun menjadi semakin cemas. Ia ingin segera menyelesaikan perkelahian itu. Namun betapa mungkin. Agung Sedayu seakan-akan tak dapat disakitinya. Seandainya seseorang melihatnya bertempur, dan orang itu mengetahui sebab dari pertempuran itu, maka mau tak mau ia harus berhadapan dengan seluruh laskar Pajang di Sangkal Putung. Meskipun pada saat itu gurunya berada disampingnya, namun alangkah baiknya kalau ia menyelesaikan persoalan itu sendiri. tanpa gurunya. Dan persoalan itu akan selesai kalau ia dapat membunuh Agung Sedayu. Mudah-mudahan baru Agung Sedayu sajalah yang mendengar dari Untara bahwa ialah yang telah melukainya. Nanti, akan dicarinya kesempatan untuk menyempurnakan pembunuhannya atas Untara. Seandanya ia sempat menutup jalan pernafasan anak yang luka itu, maka segera pekerjaannya akan selesai tanpa bekas.

Dengan demikian maka Sidanti semakin memperketat tekanannya, sehingga titik pertempuran itu telah bergeser dari tempatnya. Tanpa setahu mereka, maka mereka kini sudah merambat mendekati kandang kuda Demang Sangkal Putung.

Sidanti terkejut ketika ia mendengar kuda didalam kandang itu terpekik karena terkejut. Sesaat kemudian kuda-kuda yang lainpun menjadi gelisah pua sehingga kandang itu menjadi ribut karenanya.

“Gila” geram Sidanti

Suara kuda itu pasti akan memanggil beberapa orang untuk datang kepada mereka. karena itu, maka sebelum Agung Sedayu sempat berkata, maka ia harus dibunuh atau dilumpuhkan.

Sidanti menjadi semakin gelisah ketika dalam keremangan fajar, benar dilihatnya beberapa orang berdatangan. Dan Agung Sedayu itu masih bertempur dengan garangnya.

Kini Sidanti benar-benar mengerahkan segenap kemampuannya. Ia berkelahi seperti seekor harimau yang ganas. Dengan segenap kemampuan dan tenaganya, ia berusaha segera mengakhiri pertempuran. Namun tubuh Agung Sedayu itu seakan-akan terbuat dari tanah liat. Tetapi ketika langit menjadi semakin terang, tampaklah bahwa dari tubuh anak muda itu telah mengalir darah dari luka-luka ditubuhnya. Pakaiannya telah rontang-ranting dan wajahnya menjadi merah biru. Bukan saja Agung Sedayu, Sidantipun telah mengalami tekanan-tekanan yang berat karena serangan-serangan Agung Sedayu yang sedang mengamuk itu.

Tetapi pertempuran itu harus segera berakhir. Dalam keadaan itu akhirnya Sidanti mengambil keputusan yang pasti. Agung Sedayu harus dilumpuhkan dengan cara apapun juga. karena itu, maka dengan serta-merta Sidanti itu meloncat, meraih sepotong kayu yang tersandar didinding kandang itu. Dengan kayu itu ia bertempur melawan Agung Sedayu.

Betapapun kuatnya Agung Sedayu, namun dalam kegelapan pikiran itu, ia sama sekali telah kehilangan hampir segenap perhitungannya. Itulah sebabnya ia tidak dapat melihat dengan hati yang dingin, apa yang telah dilakukan oleh Sidanti. Tangan Sidanti benar-benar seperti tangan hantu yang sangat berbahaya. Meskipun kali ini ia tidak memegang senjata perguruannya, namun sepotong kayu itupun benar-benar dapat dipergunakan sebagai senjata yang sangat berbahaya. Dalam perkelahian tanpa senjata, anak muda itu telah menunjukkan beberapa kelebihan dari lawannya. Apalagi kini ia menggenggam sepotong kayu. Maka tanpa mempertimbangkan akibat-akibat yang dapat terjadi, Sidanti telah mempergunakan senjatanya untuk melawan dan berusaha membinasakan Agung Sedayu.

Sebuah pukulan yang keras telah mendorong Agung Sedayu kesamping. Berbareng dengan teriakan beberapa orang tiba-tiba melihat perkelahian itu. Bagaimana Sidanti tidak puas dengan pukulan pertama itu. Sebelum Agung Sedayu sempat menguasai dirinya, maka Sidanti telah mengulangi serangannya. Agung Sedayu masih sempat melihat kayu yang terayun itu, karena itu, maka ia masih berusaha untuk menghindarkan dirinya dengan membungkukkan badannya. Kayu itu menyambar beberapa jari diatas kepalanya. Namun karena geraknya yang tiba-tiba, Agung Sedayu kurang dapat menguasai keseimbangan dirinya, sehingga ia jatuh terguling. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Sidanti. Agung Sedayu harus menjadi terdiam saat itu, supaya ia tidak dapat mengatakan sebab dari perkelahian ini. Dengan garangnya Sidanti mengangkat sepotong kayu itu untuk diayunkan kekepala Agung Sedayu yang belum sempat bangun kembali.

Beberapa orang yang melihat perkelahian itu segera berlari-lari mendekati. Mereka melihat Agung Sedayu itu terjatuh, dan mereka melihat Sidanti mengayunkan sepotong kayu kekepala Agung Sedayu. Namun jarak mereka masih terlalu jauh. Sehingga mereka masih belum sempat untuk mencegah Sidanti. Mereka hanya sempat berteriak keras.

Pada saat itu Widurapun telah sampai ketempat itu pula. iapun melihat sepotong kayu yang terayun itu. Namun jaraknyapun masih beberapa langkah lagi. karena itu, maka Widura itupun hanya dapat berteriak sambil melompat sejauh-jauh mungkin. Tetapi jarak yang harus dicapainya masih ada dua tiga loncatan lagi.

Sidanti sama sekali tidak mau mendengarkan teriakan-teriakan itu lagi. Ia lebih senang mempertanggung-jawabkan perbuatannya itu daripada apabila Agung Sedayu mengatakan sebab yang sebenarnya. Daripada Agung Sedayu bercerita tentang apa yang pernah didengarnya dari Untara. karena itu, maka sama sekali ia tidak mau mengurungkan niatnya. Hatinya telah bulat sebulat-bulatnya. Dengan demikian maka kayu itupun telah diangkatnya untuk diayunkannya kuat-kuat. Ia tidak perduli lagi seandainya kepala Agung Sedayu itu menjadi pecah karenanya.

Tetapi justru karena itu, maka perhatian Sidanti seluruhnya tercurah pada sepotong kayu ditangannya dan kepala Sedayu. Anak muda itu hampir tidak memperhatikan lagi apa yang terjadi disekitarnya. Juga ia sama sekali tidak tahu, bahwa seseorang telah berdiri dekat dibelakangnya. Disamping kandang kuda itu.

Ketika kayu ditangannya itu telah sampai kepuncak ayunan dan siap untuk meluncur kekepala Agung Sedayu, Sidanti itu terkejut ketika ia mendengar sebuah suitan nyaring. Ia tahu benar, itu adalah suara gurunya. Namun ia tidak segera mengetahui, apa yang sebenarnya terjadi. karena itu, maka ia menjadi bingung untuk sekejap. Dan waktu yang sekejap itu telah merubah segala-galanya. Tiba-tiba ia melihat sesuatu melayang dari balik gerumbul-gerumbul disekitar tempat itu. Namun sesaat yang pendek. Ia sadar ketika tiba-tiba terdengar sepotong besi yang meluncur itu menghantam sebilah pedang yang terjulur kepunggungnya.

Suara itu berdentang sedemikian kerasnya, sehingga menggetarkan halaman belakang kademangan Sangkal Putung. Namun semuanya telah terlambat, pedang itu telah menyentuh punggung Sidanti, meskipun kemudian terlontar jatuh. Namun tajamnya telah menyobek punggung itu. Sidanti mengeluh pendek. Segera ia memutar tubuhnya. Dilihatnya dibelakangnya berdiri Swandaru Geni dengan mata yang menyala, namun ternyata mulutnya menyeringai menahan sakit ditangannya. Pedangnya terlempar beberapa langkah daripadanya.

Sidanti itupun menjadi semakin marah bukan buatan. Namun terasa luka dipunggungnya itu sedemikian nyerinya. Terasa seakan-akan dari luka itu dihisapnya segenap kekuatannya, sehingga dalam waktu yang singkat itu, hampir-hampir ia menjadi lemas dan tak berdaya. Namun ia tidak mau jatuh dan mati ditempat itu. Dengan segenap kemampuan yang ada dicobanya untuk tetap tegak berdiri sambil memandang setiap wajah yang berada disekitarnya.

Dilihatnya Widura yang kini telah tegak dihadapannya dengan pedang tergantung dilambungnya, disampingnya Swandaru Geni yang gemetar, namun dengan wajah yang menyala. Kemudian Agung Sedayu yang telah tegak kembali, dan kemudian beberapa orang lain. Sidanti itu menggeram penuh kemarahan dan dendam. ia belum berhasil membunuh Agung Sedayu, dan tiba-tiba Swandaru ikut campur dalam persoalan ini.

Sidanti menjadi semakin marah, ketika dilihatnya beberapa orang berdatangan. Ki Demang Sangkal Putung, bahkan Sekar Mirah dan orang-orang lain.

Dalam saat yang pendek itu, maka Sidanti segera dapat mengambil kesimpulan, bahwa hari ini adalah harinya yang terakhir bagi jabatan keprajuritannya. Hari ini adalah hari penentuan bahwa Sidanti bukan lagi berada dalam lingkungan laskar Pajang. Ia telah gagal mempercepat jalan dan memperpendek jarak dari tingkat ketingkat yang lebih tinggi. Bahkan sampati ketingkat yang paling atas. Dan kini ia harus mempertanggung-jawabkannya. Namun Sidanti itu menjadi berbesar hati, ketika diingatnya gurunya berada ditempat itu pula.

Dan gurunya ternyata tidak membiarkan Sidanti itu menjadi gelisah sendiri. dengan garangnya ia meloncat dai tempat persembunyiannya, dan dengan marahnya ia menggeram sambil berkata “Hem, kini kita harus berterus terang. Siapa yang harus berhadapan sebagai lawan dan siapakah yang akan dapat kita jadikan kawan. Namun adalah pasti, bahwa Sidanti telah kalian anggap berbuat suatu kesalahan. Nah, cepat katakan kepadaku Widura, apa yang akan kau lakukan? bukankah kau pemimpin dari laskar Pajang ini? Aku menuntut, yang melukai Sidanti dengan curang, harus mendapat hukuman. Setidak-tidaknya ia harus mengalami luka seperti yang dialami Sidanti”

Swandaru menjadi berdebar-debar. Apakah ia mau menerima hukuman itu? Yang terdengar adalah jawaban Sedayu “Sidanti curang pula. kami berkelahi tanpa senjata, tetapi Sidanti memungut sepotong kayu”

“Itu bukan senjata. Kau memiliki kesempatan yang sama kalau kau mampu. Tetapi Sidanti tidak menyerang dari belakang”

Ketika Agung Sedayu akan menjawab, Ki Tambak Wedi itu membentak “Tutup mulutmu. Aku berkata kepada Widura. jangan mencoba bermain-main dengan Ki Tambak Wedi”

Orang-orang yang berdiri disekitar tempat itu, yang belum reda getar jantungnya atas kehadiran orang yang sedemikian tiba-tiba itu, kembali terguncang ketika mereka mendengar orang itu menyebut dirinya Ki Tambak Wedi.

Sesaat Widura menjadi bimbang. Namun kemudian kembali darah kepemimpinannya mengalir kedadanya. Maka jawabnya “Aku tidak akan memberikan hukuman apapun sebelum aku tahu benar, dimana letak kesalahan dari peristiwa ini. Dan apakah sumber yang menyebabkan ini terjadi”

“Persetan” teriak Ki Tambak Wedi. “Kau jangan mengigau Widura. atau aku sendiri yang harus menghukumnya?”

Widura mengerutkan keningnya. Yang berdiri dihadapannya adalah Ki Tambak Wedi. maka segala sesuatu harus dipertimbangkannya masak-masak. Karena itu untuk sesaat ia hanya dapat berdiam diri. Dicobanya untuk mengurai setiap peristiwa yang telah dan bakal terjadi.

Karena Widura tidak segera menjawab, maka Ki Tambak Wedi itupun membentaknya “Widura, buka mulutmu”

Widura sama sekali tidak senang mendengar Ki Tambak Wedi membentaknya. Ketika ia berpaling kearah Sidanti, dilihatnya anak muda itu berdiri gemetar, sedang dari punggungnya menetes darah yang segar. Sekali-sekali tampak ia menyeringai, namun ia masih mencoba untuk berdiri tegak.

Dalam pada itu, Widura sedang menilai setiap orang yang berada disekitarnya. Dirinya sendiri, Agung Sedayu, sementara itu, beberapa orang laskarnya dan Ki Demang Sangkal Putung. Kalau perlu ia dapat memanggil orang-orang lain, yang pasti akan segera datang juga. Apakah dengan kekuatan itu ia akan dapat menangkap Ki Tambak Wedi? Widura menjadi bimbang. Mungkin hal itu dapat dilakukannya, namun apakah tidak banyak korban yang jatuh karenanya? Mungkin dirinya sendiri, mungkin Agung Sedayu, mungkin Ki Demang Sangkal Putung dan mungkin mereka bersama-sama.

Dalam kebimbangan itu sekali lagi Ki Tambak Wedi berteriak “Widura, jawab pertanyaanku. Kalau kau mau menyerahkan anak yang melukai punggung Sidanti dan Agung Sedayu, maka aku tidak akan berbuat apa-apa”

Kini Widura mengangkat kepalanya. Sudah pasti permintaan itu tidak akan dapat dipenuhinya. karena itu, maka jawabnya “Ki Tambak Wedi, aku adalah orang yang bertanggung jawab terhadap semua yang terjadi di Sangkal Putung. Karena itu aku tidak akan mungkin menyerahkan orang-orangku kepada siapapun juga, apapun kesalahannya. Aku sendiri yang harus melakukan hukuman atau segala macam tuntutan atas mereka seandainya mereka ternyata bersalah. Karena itu, tinggalkan Sidanti disini dan aku akan melihat apakah yang telah terjadi, dan aku akan tentukan siapakah yang bersalah. Aku adalah pemimpin tertinggi dari semua jabatan yang berada ditempat ini, sehingga aku tidak mau ada orang lain yang mencampuri urusanku”

Terdengar Ki Tambak Wedi menggeram. Betapa dadanya serasa terbakar mendengar kata-kata Widura itu. Matanya tiba-tiba menjadi merah menyala, dan rambutnya yang telah memutih dibeberapa bagian itu, seakan-akan tegak dibawah ikat kepalanya. Tanpa sesadarnya tangannya menggenggam sabil bergumam “Setan. Apakah kaliah sudah bosan hidup?”

Sekali lagi Widura melayangkan pandangan matanya. Beberapa orang berdatangan pula berkerumun disekitar tempat itu. Widura menarik nafas ketika ia melihat sebagian besar dari mereka telah membawa senjata-senjata mereka Kalau terjadi sesuatu maka mereka pasti akan melawan Ki Tambak Wedi itu dengan gigih. Meskipun mereka tahu, Ki Tambak Wedi adalah seorang yang ditakuti oleh hampir segenap orang disekitar gunung Merapi. Namun dalam melakukan kewajibannya, maka tak akan ada diantara mereka yang mengenal takut. Apalagi mereka dalam satu kelompok. Yang mereka hadapi kini hanya seorang saja, meskipun orang itu Ki Tambak Wedi.

Namun meskipun demikian, sebagian besar dari mereka berada didalam kebimbangan. Widura sendiri menjadi bimbang karenanya. Bukan karena ia takut mati, tetapi apakah ia akan mengorbankan orang-orangnya yang terpercaya untuk menangkap Ki Tambak Wedi? sedang besok atau lusa Macan Kepatihan masih mungkin menyerang mereka kembali dengan kekuatan yang masih cukup besar? Ternyata didalam pasukan Macan Kepatihan itu bersembunyi tokoh-tokoh seperti Sanakeling, Alap-alap Jalatunda dan orang-orang lain yang pernah menjadi kebanggaan Jipang. Baru Plasa Irenglah yang dapat dibinasakan oleh Sidanti itu. Apakah dalam keadaan yang demikian, ia harus mengurangi kekuatan pokoknya untuk menghadapi bahaya yang datang dari jurusan lain? Widura itu menarik nafas. Ia menyesal, benar-benar menyesal, bahwa didalam tubuhnya ada anak-anak muda seperti Sidanti itu. Tetapi semuanya itu telah terjadi. Dan kini ia dihadapkan pada puncak dari kesulitan itu.

Widura itu terkejut ketika ia mendengar Ki Tambak Wedi membentak pula “Widura, jangan mimpi. Kau tidak dapat berbuat lain daripada memilih diantara dua. Menyerahkan anak muda yang melukai Sidanti dan Agung Sedayu, atau aku membunuh kalian bersama-sama. Jawab”

Sekali lagi Widura menengadahkan dadanya. Ia tidak dapat ingkar akan kewajibannya. Karena itu jawabnya “Ki Tambak Wedi. kami adalah prajurit-prajurit. Kami tidak dapat menuruti kehendak dari seseorang yang bertentangan dengan tata keprajuritan. Siapapun orangnya, meskipun orang itu bernama Ki Tambak Wedi. namun kami terpaksa mempertahankan sendi tata keprajuritan yang menjadi pegangan kami. Kalau kami harus memilih, Ki Tambak Wedi, maka pilihan kami adalah melawan sampai kemungkinan yang terakhir. Bahkan kami telah bertekad untuk menangkap Ki Tambak Wedi dan Sidanti bersama-sama”

“Gila” teriak Ki Tambak Wedi. kemarahannya menjadi semakin memuncak. Namun tiba-tiba ia terpaksa mempertimbangkan keadaannya. Widura ternyata benar-benar telah siap dengan segenap anak buahnya. Mereka yang mendengar kata-kata Widura itupun tiba-tiba telah meraba hulu pedang mereka. Dalam kemerahan sinar matahari pagi, Ki Tambak Wedi melihat orang-orang yang berkerumun disekitarnya dengan wajah-wajah yang tegang. Wajah-wajah jantan yang keras dan kasar. Wajah-wajah yang untuk kesekian kalinya dihadapkan kepada kemungkinan yang paling akhir dari hidupnya untuk kewajibannya. Maut.

Ki Tambak Wedi tidak dapat menutup segala penglihatannya. Pengalamannya yang panjang, segera dapat memberikan pertimbangan kepadanya. Betapapun kesaktian yang tersimpan didalam dirinya, namun untuk melawan sekian banyak orang sekaligus, adalah pekerjaan yang sangat berat dan berbahaya. Mungkin ia akan membunuh separo dari mereka itu. Namun setelah itu ia akan kehabisan tenaga, dan yang separo lagi akan dapat menangkapnya, mengikatnya dan membawanya ke Pajang. “Hem” geramnya didalam hati “Apakah Ki Tambak Wedi terpaksa diikat tangan dan kakinya digiring ke Pajang?”

Sesaat halaman belakang kademangan Sangkal Putung itu menjadi sepi. Baik Ki Tambak Wedi maupun Widura terpaksa membuat pertimbangan-pertimbangan yang memragukan diri mereka. Keduanya agaknya segan untuk berbuat sesuatu atas yang lain.

Karena itu, maka suasana menjadi sedemikian tegangnya, ketika tiba-tiba Ki Tambak Wedi itu berkata kepada Sidanti “Sidanti, ikuti aku. Sangkal Putung sama sekali tak akan memberimu sesuatu”

Sidanti yang luka itupun menyadari sepenuhnya kata-kata gurunya. Sangkal Putung benar-benar tak akan memberinya sesuatu. Dan ia sependapat dengan gurunya, meninggalkan Sangkal Putung. Tetapi masih ada yang menjadikannya bimbang. Senjatanya berada dipendapa kademangan.

Dengan ragu-ragu ia berkata “Guru, bagaimana dengan senjataku?”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Namun kemudian jawabnya “Apakah keberatanmu dengan senjata itu. Senjata itu dapat dibikin. Besok aku bikinkan senjata semacam itu untukmu”

Sidanti tidak menunggu apa-apa lagi. Segera ia beringsut kesamping gurunya.

Tetapi Widura melangkah selangkah maju. Kembali kebimbangan melandanya. Apakah ia akan bertindak terhadap Ki Tambak Wedi dan Sidanti? Tetapi apakah ia akan memberikan pengorbanan yang sangat besar untuk mereka berdua?

Ki Tambak Wedi yang melihat Widura itu bergerak, segera menggeram “Widura, aku akan pergi. Kalau kau membuat kegaduhan diantara anak buahmu, baiklah. Mari kita mati bersama-sama. Kau tidak akan dapat menangkap Ki Tambak Wedi. aku akan membuat timbangan diantara kekuatan kita. Mungkin kau akan dapat membunuh aku, tetapi tiga perempat dari kalian pasti akan mati bersama aku. Jangan mimpi mengikat tangan Tambak Wedi”

Dada Widura itupun berdesir. Ia percaya akan kata-kata itu. Tiga perempat daripadanya, atau sedikit-sedikitya separo pasti akan mati. karena itu, maka ia tetap tegak ditempatnya ketika Ki Tambak Wedi dan Sidanti beringsut mundur dari tempatnya.

Agung Sedayu menjadi gemetar melihat keadaan itu. Dengan wajah yang merah membara ia menatap wajah pamannya. Tetapi ia tidak berkata sesuatu. Namun tatapan matanya cukup mengatakan hasratnya untuk menangkap Sidanti.

Agung Sedayu terkejut ketika pamannya menggeleng. Namun ia tidak dapat berbuat apa-apa. ia tidak akan dapat menangkap Ki Tambak Wedi itu seorang diri. Meskipun demikian, tanpa sesadarnya iapun beringsut dari tempatnya.

Ia terkejut ketika tiba-tiba dalam gerakan yang sangat cepat ditangan Ki Tambak Wedi itu telah tergenggam dua buah gelang. Masing-masing sebuah. Gelang dari sepotong besi yang dilengkungkannya. Dengan gelang itu pula, ia mampu menangkis serangan pedang dan alat pemukul lainnya.

Demikianlah, maka akhirnya Widura terpaksa melepaskan Ki Tambak Wedi itu pergi. Dengan penuh pertimbangan Widura masih lebih mengutamakan Macan Kepatihan dengan seluruh laskarnya daripada Ki Tambak Wedi dan Sidanti. Widura mengharap bahwa Ki Tambak Wedi untuk sementara tidak akan berbuat sesuatu. Sedang Macan Kepatihan dengan laskarnya yang masih cukup kuat itu pasti akan menyerang Sangkal Putung kembali. Mungkin Ki Gede Pemanahan sendiri atau gurunya akan dapat dengan mudah melenyapkan Ki Tambak Wedi yang hanya seorang diri itu.

Namun dengan hilangnya Ki Tambak Wedi, maka bahaya yang sebenarnya akan selalu menghantui Agung Sedayu, Swandaru yang telah melukai Sidanti, dan Widura sendiri.

Demikianlah, ketika Ki Tambak Wedi itu hilang dari lingkungan mereka, segera Agung Sedayu bertanya “Paman, kenapa mereka itu kita lepaskan?”

Widura menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Dengan menangkap Ki Tambak Wedi, maka aku pasti akan melepaskan lebih separo dari laskar kita. Seperti yang dikatakannya sendiri, ia sama sekali tidak akan dapat kita tangkap hidup-hidup. Ki Tambak Wedi itu pasti akan menyerah apabila ia telah mati dengan membawa korban yang tidak sedikit dari antara kita”

Agung Sedayu menundukkan wajahnya. tetapi ia dapat mengerti pikiran pamannya. Pamannya adalah seorang yang ditempatkan di Sangkal Putung untuk menghadapi Macan Kepatihan sehingga karena itu, maka segenap perhatian, perhitungan dan kekuatan dipusatkannya dalam menghadapi lawannya itu. Persoalan lain yang tidak menyangkut itu, adalah bukan tanggung-jawabnya yang utama, sehingga juga dalam menghadapi Ki Tambak Wedi, maka Widura itupun memeprhitungkan kemungkinan-kemungkinan itu.

Sesaat kemudian orang-orang yang berkerumun itupun menjadi sadar bahwa bahaya yang dihadapinya telah menghilang. Dengan lega mereka menarik nafas panjang. Dan satu demi satu merekapun segera pergi meninggalkan tempat itu setelah Widura berkata kepada mereka “Kambalilah ketempat masing-masing. Tetapi jangan lupakan kewaspadaan. Peristiwa ini akan dapat berbuntu panjang”. Kemudian kepada ki Demang Widura berkata “Kakang Demang, apakah pintu butulan itu boleh kami tutup saja?”

“Silakan, silakan” sahut Ki Demang.

Pintu butulan dinding belakang itupun segera ditutup. Pintu itu hanya boleh dibuka setiap ada kepentingan yang perlu. Mereka yang pergi kesungai kecil itu harus mengambil jalan lain, jalan disamping dinding kademangan. Tetapi Widura sadar, bahwa apa yang dilakukan itu hampir tak ada gunanya. Ki Tambak Wedi sama sekali tidak memerlukan pintu itu. Ia dapat meloncat atau memanjat atau apapun yang ingin dilakukan. Namun, dengan demikian maka kemungkinan-kemungkinan yang kecil dapat dihindarinya.

Widura sendiri itupun kemudian kembali masuk kepringgitan bersama Agung Sedayu. Dilihatnya Ki Tanu Metir masih duduk ditempatnya. Ketika ia melihat Widura dan Agung Sedayu yang biru pengab, segera ia bertanya dengan nada cemas “Kenapa wajahmu ngger?”

Dengan singkat Agung Sedayu mengatakan apa yang terjadi. Tanpa syak tanpa curiga. Dikatakan semuanya yang telah dialaminya.

Ki Tanu Metir mendengarkan setiap kata-kata Agung Sedayu itu dengan seksama. Sesaat Ki Tanu Metir itu mengangkat wajahnya yang memancarkan kecemasan dan kebimbangan. Tanpa sesadarnya ia berkata “Jadi, Ki Tambak Wedi itu kini membawa Sidanti serta meninggalkan Sangkal Putung?”

“Ya” jawab Agung Sedayu.

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Sehingga pringgitan itupun menjadi sepi.

Diluar panas matahari mulai membakar dedaunan yang letih. Disana sini, dibawah batang-batang pohon yang rindang, beberapa orang duduk dengan malasnya. Ada diantaranya yang berbaring-baring diatas helaian anyaman daun-daun nyiur tua.

Dalam keheningan itu, terdengarlah tiba-tiba suara Untara yang lemah “Jadi Sidanti itu tidak kalian tangkap?”

Widura terkejut mendengar suara Untara. Maka segera ia berdiri dan berjalan mendekati, diikuti oleh Ki Tanu Metir dan Agung Sedayu.

Dengan ragu-ragu Widura menjawab “Tidak Untara. Terpaksa aku tidak dapat menangkap anak muda itu, karena gurunya tiba-tiba datang melindunginya”

“Ki Tambak Wedi?” bertanya Untara

Widura mengangguk “Ya” sahutnya. “Mungkin aku dapat menangkap Ki Tambak Wedi itu sendiri, namun berapa orang yang harus aku korbankan?”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Sekali ia menyeringai menahan sakit, namun sesaat kemudian wajahnya menjadi tenang kembali.

“Bagaimana dengan lukamu?” bertanya Widura

“Sudah jauh berkurang. Tidak terlalu pedih. Namun tubuhku masih lemah sekali”

“Ya. Beristirahatlah sebaik-baiknya” berkata Widura

Tetapi Untara itu bertanya kembali “Apakah Agung Sedayu berkelahi dengan Sidanti?”

“Ya” jawab Widura “Wajahnya menjadi biru-biru dan Sidanti terluka oleh Swandaru”

Sekali lagi Untara menarik nafas dalam-dalam. Persoalan Sangkal Putung benar-benar akan menjadi pelik. Sidanti itu pasti akan menyimpan dendam didalam hatinya. Kepada dirinya, kepada Agung Sedayu dan kini kepada Swandaru, dan kepada pamannya itu sendiri. Sekilas ia membuka matanya dan memandang wajah Ki Tanu Metir. Namun tiba-tiba Ki Tanu Metir menggeleng lemah. “Mudah-mudahan mereka segera dapat ditangkap” desah Untara

Widura terkejut mendengar kata-kata itu. Apakah ia harus menangkap Ki Tambak Wedi? meskipun demikian Widura itu tidak bertanya sesuatu. Ketika dilihatnya Untara memejamkan matanya kembali, maka Widura itu kembali duduk bersama Agung Sedayu dan Ki Tanu Metir. Sementara itu Ki Demang dan Swandaru datang pula diantara mereka.

Hari itu adalah hari yang tegang bagi Sangkal Putung. Hampir setiap orang tidak terpisah dari senjata mereka. Mungkin Macan Kepatihan, mungkin Ki Tambak Wedi. namun mereka telah bertekad untuk melakukan tugas mereka sebaik-baiknya.

Gardu penjagaanpun masih juga diperkuat. Beberapa pengawas berkuda hilir mudik disekitar daerah kademangan Sangkal Putung. Namun Sangkal Putung sendiri menjadi sangat sunyinya. Hampir setiap rumah telah menutup pintunya, dan hampir setiap anak-anak tidak berani keluar dari rumah mereka. Bahkan ada diantaranya yang masih belum berani pulang kerumah sendiri. mereka masih saja tinggal dikademangan atau banjar desa.

Ki Tanu Metirpun kemudian tidak hanya megobati Untara, tetapi iapun pergi juga kebanjar desa. Dan dicobanya pula untuk meringankan setiap penderitaan dari mereka yang terluka.

Bukan saja hari itu Sangkal Putung diliputi oleh ketegangan. Beberapa orang pengawas yang dipasang oleh Untara masih saja memberikan laporan bahwa Macan Kepatihan masih menyusun kekuatannya disekitar tempat itu. Karena itu, maka Untara itu berkesimpulan bahwa laskar Pajanglah yang harus mengambil prakarsa memebersihkan mereka. Mereka tidak boleh menunggu saja di Sangkal Putung. Menunggu apabila Macan Kepatihan datang menyerang mereka kembali. Tetapi laskar Pajang suatu ketika harus mencari mereka. Menghancurkan mereka disarang-sarang mereka. Karena dengan demikian, maka pekerjaan laskar Pajang di Sangkal Putung akan lekas selesai.

Tetapi Widura tidak dapat dengan tergesa-gesa melakukan pekerjaan itu. Menurut perhitungannya, kekuatan Macan Kepatihan masih cukup banyak untuk mengimbangi kekuatan laskarnya. Dan didalam pasukan mereka terdapat seorang Macan Kepatihan yang berbahaya, dan beberapa orang penting yang lain.

Untarapun menyadari keadaan itu, sehingga kemudian diambilnya ketetapan bahwa gerakan itu akan segera dilakukan apabila Untara telah sembuh benar dari sakitnya itu.

Namun ketegangan itu semakin lama menjadi semakin tipis. Ternyata Macan Kepatihan tidak segera mengadakan penyerangan kembali. Agaknya mereka masih juga memperhitungkan setiap kemungkinan. Dan hilangnya Plasa Irengpun pasti mempengaruhi keadaan mereka. Bukan saja keadaan Tohpati beserta pasukannya yang tidak lagi tampak diseputar Sangkal Putung, namun perlahan-lahan mereka melupakan pula Ki Tambak Wedi dan Sidanti. Demikian pula Agung Sedayu dan Swandaru. mereka semakin lama menjadi semakin kehilangan perhatian atas orang yang menakutkan itu.

Tetapi Widura tidak mau melengahkan diri dan seluruh laskarnya. Setiap hari ia masih saja mengawasi sendiri keadaan anak buahnya. Bahkan setiap malampun ia masih berjalan dari satu gardu kegardu yang lain. Dan diperingatkannya stiap penjaga gardu itu, bahwa bahaya yang sebenarnya masih saja berada disekitar Sangkal Putung.

Namun ternyata Widura sendiri telah melupakan setiap kemungkinan yang paling berbahaya bagi dirinya dan Agung Sedayu. Ternyata, mereka berdua sama sekali tidak memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atas diri mereka.

Demikianlah, ketika mereka sedang nganglang kademangan, tiba-tiba mereka terhenti sebelum mereka sampai keujung jalan yang mengelilingi daerah gunung Gowok. Mereka terhenti ketika mereka melihat sesosok tubuh berjongkok ditepi jalan itu.

Widura bukanlah seorang anak kecil yang bodoh. Ketika ia melihat orang itu, segera ia menjadi curiga. Karena itu, maka digamitnya Agung Sedayu, dan keduanyapun berhenti.

“Kau lihat orang itu?” bertanya Widura berbisik.

“Ya” sahut Agung Sedayu perlahan-lahan.

“Siapa menurut dugaanmu?”

Agung Sedayu menggeleng “Entahlah”

Widura mengangkat alisnya. Kemudian katanya “Hanya ada dua kemungkinan. Ki Tambak Wedi atau Tohpati”

“Tohpati tidak akan seorang diri berada ditempat ini” sahut Agung Sedayu.

“Mungkin saja” jawab Widura. “Beberapa orang lain berada ditempat lain pula. atau orang yang diumpankannya untuk memancing kita”

Agung Sedayu menarik nafas. Meskipun demikian mereka menjadi berdebar-debar juga. Baru saat itu mereka menyadari, bahwa bahaya yang demikian itu memang dapat terjadi. Tetapi kesadaran itu datangnya agak terlambat, sebab bahaya itu sendiri telah berada dipelupuk mata mereka. Beberapa saat terakhir, seakan-akan mereka telah melupakan kemungkinan ini. Namun kelengahan itu telah membawa mereka kedalam satu bahaya.

Kini mereka tidak akan dapat mundur lagi, siapapun yang akan mereka hadapi. Karena itu, maka Widura itupun kemudian berkata “Marilah kita lihat, siapa orang itu.”

“Kita tidak usah mendekat” berkata Widura.

“Lalu bagaimana ?” bertanya Agung Sedayu

“Biarlah ia yang mendekat.”

“Apakah ia mau?”

“Marilah kita lihat” jawab Widura. Widura kemudian tidak menunggu jawaban Agung Sedayu lagi. Perlahan-lahan ia berjalan menepi dan duduk dengan enaknya ditepi jalan. Namun demikian, pedangnya telah disiapkannya, seandainya ada sesuatu yang tiba-tiba harus dihadapinya.

Agung Sedayu kini telah memahami maksud pamannya. Karena itu, maka iapun berjalan menepi pula, dan berjongkok berhadapan dengan pamannya itu.

“Kalau orang itu ingin bertemu dengan kita, ia pasti akan datang kemari” berkata pamannya.

“Ya” sahut Agung Sedayu.

“Kalau ia akan bertahan ditempatkannya, maka biarlah kita tunggu disini sampai besok siang.”

Agung Sedayu tersenyum. Meskipun demikian debar jantungnya menjadi semakin cepat. Seandainya orang itu benar-benar Ki Tambak Wedi, maka apakah mereka berdua akan mati sebelum mereka menyelesaikan pekerjaan mereka yang sebenarnya. Menumpas sisa-sisa laskar Jipang.

Agung Sedayu kini sudah bukan seorang penakut lagi. Tetapi ia mempunyai beberapa perhitungan, yang dikatakannya kepada pamannya. “Paman, adalah tidak menguntungkan sekali seandainya orang itu benar-benar Ki Tambak Wedi. Apakah dengan demikian kita tidak akan kehilangan kesempatan untuk melawan Tohpati dengan laskarnya?”

Widura mengangguk-angguk. “Kau benar Sedayu” katanya “tetapi kita sudah tidak mempunyai kesempatan lagi. Kita hanya tinggal memilih satu kemungkinan. Mempertahankan diri. Apalagi? Kalau kita kembali sekalipun maka orang itu pasti akan mengejar kita, dan kita harus bertempur pula.”

“Tidak dapatkah kita memberikan tanda bahaya?”

“Kita tidak membawa alat untuk itu. Yang ada pada kita hanyalah sehelai pedang.”

Agung Sedayu terdiam. Jawaban pamannya tak akan dapat diungkiri. Seandainya mereka berjalan kembali, maka orang itu pasti akan mengejarnya, atau bahkan menyerang dari arahnya dengan senjata-senjata jarak jauh. Paser atau bandil atau apapun yang akan dapat dilemparkannya.

Tiba-tiba Agung Sedayu itu teringat akan sesuatu. Ia mempunyai beberapa kelebihan dengan daya bidiknya. Mungkin akan mengurangi tekanan-tekanan yang akan dilakukan oleh orang yang berjongkok dipinggir jalan itu. Karena itu, maka tiba-tiba saja Agung Sedayu itupun mengumpulkan beberapa butir batu yang berada disekitarnya.

“Untuk apa?” bertanya Widura.

Agung Sedayu tersenyum meskipun masam. “Kalau kita yakin bahwa orang itu lawan kita siapapun ia, maka aku akan menyerangnya sebelum orang itu mendekat.”

Widura menjadi tersenyum pula. Jawabnya “Tak ada gunanya.”

Agung Sedayu menggigit bibirnya. Meskipun demikian, ia tetap pada pendiriannya.

Tetapi sesaat mereka duduk dipinggir jalan. Orang yang berjongkok itupun tidak bergerak. Orang itu masih juga berada ditempat itu juga. Karena itu, maka Widura dan Agung Sedayu adalah menjadi semakin lama semakin gelisah

“Orang itu memang membiarkan kita menjadi gelisah” bisik Widura “tetapi biarlah. Kita akan tetap berada ditempat ini.”

“Ya” sahut Agung Sedayu pendek.

Sebenarnyalah bahwa kegelisahan mereka sudah hampir tak tertahankan lagi. Orang itu sama sekali tidak bergerak dan seakan-akan sebuah patung yang mati.

Sikap itu sama sekali tidak menyenangkan bagi Widura dan Agung Sedayu. Ketika kegelisahan Agung Sedayu telah memuncak, maka ia berkata “Paman, biarlah aku mencoba melamparnya dengan batu, apakah ia masih akan berdiam diri? Aku kira aku akan dapat mengenainya.”

“Jangan” jawab Widura “kita jangan menjadi gelisah. Kita harus tetap tenang. Orang itu sengaja membuat kita gelisah.

Agung Sedayu terdiam. Namun dadanya benar-benar akan menjadi pecah karena kegelisahan yang menghentak-hentak. Meskipun berkali-kali pamannya mengatakan bahwa orang itu sengaja membiarkan mereka elisah, namun Agung Sedayu itu benar-benar hampir pingsan dibuatnya.

Sedemikian gelisahnya Agung Sedayu sehingga sekali ia berdiri, kemudian kembali berjongkok dihadapan pamannya. Sesaat kemudian dengan lesunya ia membantingkan diri duduk disini Widura.

Sebenarnya Widura itu sendiripun menjadi sangat gelisah. Namun ia masih berhasil mengendalikan dirinya. Ia masih tetap dalam sikapnya. Siap untuk menarik pedangnya apabila terjadi sesuatu.

Di kademangan Sangkal Putung. Ki Tanu Metir duduk sambil mengantuk. Sekali-sekali Untara yang telah menjadi berangsur baik, bertanya-tanya kepadanya. Namun dengan segannya orang tua itu menjawab sekenanya.

“Apakah Ki Tanu Metir sudah mengantuk?” bertanya Untara

“Hem” sahut Ki Tanu Metir sambil menguap “aku tidak biasa mengantuk pada saat-saat seperti ini. Kalau tengah malam sudah lampau, biasanya barulah aku mengantuk. Tetapi kali ini mataku rasa-rasanya tak mau dibuka lagi”

“Kenapa?” bertanya Untara

“Mungkin aku makan terlalu kenyang” jawab Ki Tanu Metir

Untara tertawa. biasanya Ki Tanu Metir itu, pada saat-saat yang demikian ini, pergi berjalan-jalan keluar. Baru segelah lewat tengah malam orang tua itu kembali ke pringgitan. karena itu, maka Untara bertanya pula “Ki Tanu, apakah Kiai tidak ingin berjalan-jalan?”

Sekali lagi Ki Tanu Metir itu menguap. Jawabnya “Setiap hari aku pergi berjalan-jalan. Tetapi kali ini rasa-rasanya agak segan. Mungkin karena aku sudah terlalu lelah”

“Ya” jawab Untara singkat. Ia tahu benar, bahwa Ki Tanu Metir sibuk mengobati orang-orang yang terluka dan dirawat dibajar kademangan. karena itu, maka Untara itupun kemudian berdiam diri. Tetapi tiba-tiba ia mendengar Ki Tanu Metir berkata “angger Widura dan angger Sedayu agaknya mempunyai keperluan yang khusus, sehingga sampai saat ini masih belum kembali”

“Apakah ini telah melampaui tengah malam?” bertanya Untara

“Hampir tengah malam” sahut Ki Tanu Metir “Biasanya pada saat-saat begini mereka telah kembali”

Untara tidak menjawab. mungkin sekali mereka berdua berhenti disalah satu gardu perondaan. Berkelakar dengan para petugas, atau menunggu mereka merebus ubi kayu. Tetapi agaknya Ki Tanu Metir berpendapat lain. Katanya “Hem, aku menjadi semakin mengantuk”

“Tidurlah Kiai” berkata Untara “Lebih baik ki Tanu beristirahat. Tenaga Kiai masih sangat diperlukan disini”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata “Setiap malam aku keluar berjalan-jalan. Aku kira lebih baik aku berjalan-jalan pula malam ini supaya kantukku hilang. Orang yang tidur sebelum tengah malam, rejekinya akan berkurang”

Untara tertawa. Jawabnya “Jangan terlalu jauh Kiai”

Ki Tanu Metir tertawa pula “Kenapa?” ia bertanya.

Kembali Untara tertawa. ia tahu benar, bahwa ia tidak perlu memperingatkan orang tua itu. Karena itu, maka jawabnya “Nanti Kiai jadi lapar lagi”

Ki Tanu Metir itupun tertawa. Ki Demang Sangkal Putung yang baru datang, dan mendengar percakapan itupun tertawa pula. sambungnya “Jangan takut Kiai, didapur masih tersedia ubi rebus”

“Terima kasih” sahut Ki Tanu Metir sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Terima kasih. Mudah-mudahan aku tidak memerlukannya”

Ki Tanu Metir itupun kemudian berdiri dan perlahan-lahan berjalan keuar pringgitan. Belum lagi ia melangkahi pintu, maka terdengar Ki Demang berkata “Apakah aku perlu mengantarkan Kiai?”

“Tidak, tidak” jawab Ki Tanu Metir cepat-cepat “Jangan repot karena aku. Biarlah aku berjalan-jalan sendiri. mungkin ke banjar desa, melihat mereka yang terluka, atau mungkin ke gardu-gardu peronda”

“Jangan ke gardu peronda. Dijalan Kiai dapat bertemu dengan bahaya”

“Oh ya, baiklah” berkata Ki Tanu Metir

Kemudian Ki Tanu Metir itupun pergi meninggalkan Ki Demang yang kini duduk mengawani Untara. Dalam kegelapan malam, Ki Tanu Metir itu meraba-raba tongkatnya menuju kegerbang halaman.

“Selamat malam Kiai” bertanya orang yang sedang bertugas “Apakah Kiai akan berjalan-jalan?”

“Ya” jawab Ki Tanu Metir

Orang yang sedang bertugas itu telah mengetahui kebiasaan Ki Tanu Metir itu. Setiap malam berjalan-jalan keluar halaman menikmati sejuknya udara. Karena itu, maka kepergian Ki Tanu Metir itu sama sekali tidak menarik perhatian mereka. Seorang yang sedang duduk menguap disamping regol berkata “Hem, dingin Kiai. Apakah Kiai tidak lebih senang tidur saja?”

“Uh” sahut Ki Tanu Metir “Sejak muda aku tidak pernah tidur sebelum lewat tengah malam”

Dan Ki Tanu Metir itupun berjalan tertatih-tatih menyusup kedalam gelapnya malam. Namun setelah cukup jauh tiba-tiba Ki Tanu Metir itu berpaling. Sekali ia menarik nafas panjang. Kemudian disangkutkannya kain panjangnya. Dan tiba-tiba orang tua itu berjalan tergesa-gesa. Gumamnya “Hem, kenapa hari ini aku lebih senang terkantuk-kantuk di kademangan? Justru hari ini angger Widura dan angger Agung Sedayu pulang terlambat. Mudah-mudahan tak ada sesuatu yang mengganggunya”

Meskipun demikian orang tua itu berjalan dengan cepatnya menyusup kegelapan. Kini Ki Tanu Metir itu sama sekali tidak mempergunakan tongkatnya lagi. Ketika dilihatnya dihadapannya sebuah gardu perondan, maka segera dengan tangkasnya ia menyelinap dan hilang dibalik pagar. Kini orang tua itu menyusup diantara rimbunnya dedaunan dan dengan cepatnya berjalan melingkari gardu perondan itu.

Dalam pada itu Agung Sedayu yang duduk dipinggir jalan dengan gelisahnya, benar-benar tak dapat menguasai dirinya lagi. karena itu, maka katanya “Paman, aku dapat menjadi gila karenanya. Marilah kita datang kepadanya, kita tanyakan apakah keperluannya”

“Itulah yang diharapkannya. Kita kehilangan kesabaran dan pengamatan diri”

Agung Sedayu menggeram. Ia dapat mengerti kata-kata pamannya, namun ia tidak dapat melawan perasaan gelisahnya, sehingga karenanya maka tubuhnya segera dilumuri oleh keringat dingin yang mengalir dari segenap permukaan kulitnya.

Meskipun demikian, Agung Sedayu bertanya juga kepada pamannya “Paman, apakah bedanya, seandainya kita harus benar-benar bertempur, menunggu atau datang kepadanya?”

“Kalau orang itu Ki Tambak Wedi, Sedayu, maka keadaan kita memang hampir sama saja. Tetapi kalau orang itu Tohpati, maka kita akan mendapat beberapa keuntungan. Kalau kita maju lagi, mungkin kita akan dijebak oleh orang-orangnya. Sedangkan kalau kita berada disini, maka kita mempunyai garis ancang-ancang yang cukup luas”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat juga mengerti keterangan itu. Bahkan seandainya orang itu Ki Tambak Wedipun maka mereka akan lebih banyak waktu untuk mempersiapkan diri mereka. Tetapi kenapa mereka harus menunggu terlalu lama?

“Agung Sedayu” berkata Widura “Sebenarnya pertempuran antara kita melawan orang itu sudah kita mulai. Dalam taraf ini kita sedang mengadu ketabahan hati kita masing-masing. Apakah kita dapat mengendalikan diri atau tidak. Siapa yang lebih dahulu kehilangan kesabaran maka ialah yang lebih dahulu akan kehilangan ketenangan. Seandainya kekuatan kita dengan orang itu seimbang, maka siapa yang kehilangan ketenangannya pasti akan kalah”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia tidak dapat menyabarkan dirinya sendiri lebih lama lagi. Bahkan akhirnya ia berkata “Paman, meskipun kita tidak mulai lebih dahulu, sebenarnya kita telah kehilangan ketenangan itu. Semakin lama kita menahan diri, maka ketenangan kita akan menjadi semakin tipis. Karena itu selagi kita masih menyadari keadaan, maka marilah kita lihat siapakah yang berada dihadapan kita itu”

Widura menarik nafas. Iapun sebenarnya telah hampir kehabisan kesabarannya pula. Untunglah bahwa ia masih bersabar sesaat. Namun ternyata waktu yang sesaat itu telah benar-benar menguntungkannya. Bukan karena orang yang berjongkok itu menjadi bingung dan kehilangan ketenangan, tetapi sebenarnya bahwa mereka masih mendapat perlindungan dari Kekuasaan yang melampaui segenap Kekuasaan.

Akhirnya ternyata Agung Sedayu itu menjadi benar-benar tidak dapat mengendalikan dirinya. Kini ia tidak minta ijin lagi kepada pamannya. Dengan serta-merta ia berdiri dan dengan sekuat tenaganya ia melemparkan sebuah batu mengarah kepada orang yang berjongkok dipinggir jalan itu.

Tetapi alangkah kecewanya, dan bahkan kemarahan didalam dadanya menjadi semakin menyala, ketika orang itu sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Apalagi bergerak, sikapnyapun sama sekali tidak berubah. Jongkok.

“Hem” Agung Sedayu menggeram.

“Sudahlah Sedayu” cegah pamannya.

“Aku tidak sabar lagi. Aku akan datang kepadanya dan akan melihat wajahnya. siapakah orang yang bermain hantu-hantuan itu”

“Jangan” pamannya segera memotong kata-katanya.

“Biarlah” sahut Agung Sedayu.

“Jangan” ulang pamannya.

Agung Sedayu menjadi kecewa. Tetapi ia tidak berani melanggar kata-kata pamannya. karena itu, maka ia menjadi semakin bingung.

Tetapi ternyata ketabahan hati Widura telah menjengkelkan orang yang berjongkok itu. Orang itu memang membiarkan Widura dan Agung Sedayu menjadi gelisah dan bingung. Tetapi yang dilihatnya hanya Agung Sedayu sajalah yang benar-benar seperti cacing kepanasan. Sedang Widura masih saja duduk ditempatnya tanpa bergerak. Orang itu ingin melihat keduanya menjadi bingung dan dengan demikian, ia akan mendapat permainan yang lucu dan menyenangkan. Tetapi harapannya itu hanya separo berhasil. Ia hanya melihat Agung Sedayu yang berjingkat-jingkat, berdiri, berjongkok, duduk dan segala macam perbuatan-perbuatan yang aneh.

Karena itu, maka akhirnya ia menganggap bahwa ia tidak perlu menunggu permainan yang lucu itu lebih lama lagi. Disadarinya bahwa cara berpikir pemimpin laskar Pajang itu benar-benar sudah dewasa. Karena itu, maka ia harus membuat permainan yang lain. Mula-mula ia sama sekali tidak menghiraukan lemparan-lemparan batu Agung Sedayu. Dengan sepotong besi batu-batu itu dipukulnya kesamping. Sedemikian cepatnya, sehingga Agung Sedayu sama sekali tidak melihat gerak itu.

Kini ia akan membuat permainan yang lain. Ia ingin melihat Agung Sedayu mati ketakutan atas setidak-tidaknya karena dibakar oleh kemarahannya. Mati dengan cara itu adalah mengerikan sekali. Karena itu, maka orang itupun tersenyum.

Dalam pada itu, Agung Sedayu dan Widura benar-benar menjadi sangat terkejut. Sesaat mereka bercakap-cakap sehingga mereka tidak melihat orang yang berjongkok itu. Namun sesaat itu benar-benar telah mendebarkan jantung mereka. Orang yang berjongkok itu telah lenyap.

“Gila” tiba-tiba Agung Sedayu itupun berteriak “Kemana orang itu?”

“Jangan berteriak” potong Widura. tetapi Widura itupun menjadi bersiaga. Iapun segera berdiri dan menarik pedang dari wrangkanya. Beberapa langkah ia berjalan ketengah jalan dan berbisik “Orang itu akan menyerang kita dari arah yang tidak kita ketahui”

“Kemana orang itu?” bertanya Agung Sedayu.

“Aku sangka ia berguling masuk keparit dipinggir jalan itu. Dari sana ia dapat pergi kemana saja yang disukainya. Karena itu kita harus bersiap menghadapi lawan dari segala arah. Ia dapat selalu memperhatikan kita, sedang kita tidak dapat melihat orang itu”

“Marilah kita cari”

“Sangat berbahaya” sahut pamannya “Aku kini pasti. Orang itu bukan Macan Kepatihan, tetapi Ki Tambak Wedi. Macan Kepatihan tidak akan berbuat sedemikian. Ternyata Ki Tambak Wedi mencoba membunuh kita dengan cara yang paling jahat yang dapat dilakukannya”

Agung Sedayu menggeram. Tiba-tiba tangannyapun telah menggenggam pedangnya. Dengan suara yang berat ia berkata “Akhirnya akan sama saja paman. Kenapa kita tidak datang menyerangnya”

“Sudah aku katakan” sahut pamannya “Aku, sebelum ini tidak yakin kalau orang itu Ki Tambak Wedi”

Agung Sedayu tidak menjawab. tiba-tiba ia berputar sambil berteriak “Ayo, kemarilah. Kita bertempur beradu pedang”

“Jangan berteriak Sedayu” desis pamannya.

“Punggungku dilemparnya dengan batu” sahut Agung Sedayu.

Pamannya mengerutkan keningnya. Ki Tambak Wedi benar-benar ingin mempermainkan mereka. karena itu, maka betapa kemarahan melonjak dikepalanya. Tetapi Ki Tambak Wedi itu belum dilihatnya.

Agung Sedayu benar-benar menjadi sangat marah dan bingung, sehingga benar-benar seperti orang yang kehilangan kesadaran diri. Sekali-sekali terasa punggungnya dikenai oleh lemparan-lemparan batu dari arah yang tak diketahuinya.

“Agung Sedayu” berkata Widura “Jangan menjadi bingung dan kehilangan pengamatan. Tenanglah. Kita sudah bersedia menghadapi segala kemungkinan”

Kembali Agung Sedayu menggeram. Tetapi ia mencoba menenangkan dirinya. Sekali dua kali dibiarkannya beberapa butir batu mengenainya, namun ternyata semakin lama menjadi semakin keras. Betapapun ia mencoba berdiam diri, tetapi kembali kemarahannya itu meledak. Sehingga terdengar ia berteriak “Ayo yang bersembunyi dibalik alang-alang atau dibalik gerumbul-gerumbul itu. Kemarilah, kita bertempur sebagai laki-laki. Jangan bersembunyi dan menyerang sambil bersembunyi”

Tetapi masih belum terdengar jawaban, sehingga Agung Sedayu seolah-olah benar-benar menjadi gila.

Widurapun telah kehabisan akal. Bagaimana ia akan melawan orang yang tidak dilihatnya. Orang itu pasti bersembunyi sambil berpindah-pindah. Dengan demikian, ia akan dapat menyerangnya menurut arah yang dikehendaki. Namun akhirnya Widura harus mengambil sikap yang dapat memecahkan kebingungan itu. Ia harus berani menghadapi akibat yang paling parah sekalipun. Karena itu, maka katanya berbisik “Sedayu. Kita tidak akan dapat tetap tinggal ditempat ini. Kitapun harus mengambil sikap. Mari kita bersembunyi pula dengan kemungkinan yang paling pahit, apabila kita menyuruk kegerumbul yang ditempati olehnya. Tetapi kalau tidak kita tidak akan menjadi bulan-bulanan lagi. Dan kita mempunyai kesempatan yang sama dengan orang itu”

“Marilah paman” sahut Agung Sedayu yang juga telah kehilangan akal. Ia sudah tidak dapat berpikir lagi. Sehingga apa saja yang harus dilakukannya, dilaksanakannya tanpa pertimbangan.

Tetapi tiba-tiba didengarnya suara tertawa didalam semak-semak diseberang parit. Suara itu tidak terlalu keras, tetapi benar-benar menyakitkan hati. Disela-sela suara tertawa itu terdengar ia berkata “Agung Sedayu. Aku senang sekali melihat kau kebingungan seperti kera yang ekornya terbakar. Kalian tak usah bersembunyi kemanapun sebab akibatnya akan sama saja. Aku akan selalu dapat melihat kalian. Karena itu lebih baik kalian berada ditempat yang terbuka supaya besok ada yang dapat menemukan mayat kalian”

Bukan main marah Widura dan Agung Sedayu mendengar suara itu. Namun suara itu seakan-akan memancar dari tempat yang tak dapat diketahui. Suara itu seakan-akan melingkar-lingkar dan bergetaran dari segenap arah.

Sesaat kemudian suara itu berkata kembali “Agung Sedayu dan Widura. aku sudah berkeputusan untuk membunuh kalian dengan bantuan kalian sendiri. Kemarahan dan kebingungan, kesakitan dan kelelahan adalah cara pembunuhan yang paling dahsyat. Meskipun kalian tidak menjadi ketakutan, tetapi bagiku tidak ada bedanya. Kalian menderita sebelum ajal datang”

“Setan” sahut Widura “Itu bukan perbuatan seorang jantan”

Kembali suara tertawa itu menggetar. “Jangan mengumpat-umpat” katanya. “Kau hanya akan menambah dosa saja. Sebaiknya kalian berbaring saja disitu, tenangkan hatimu dan berdo’alah supaya nyawamu tidak tersesat masuk neraka”

“Diam, diam!” teriak Agung Sedayu “Aku sobek mulutmu dengan pedangku ini”

“Bagus, bagus” sahut suara itu “Sobeklah kalau kau ingin. Mulut ini memang tidak terlalu lebar”

Mereka berdua, Widura dan Agung Sedayu semakin lama menjadi benar-benar hampir gila dibakar oleh perasaan sendri. Dan suara itupun masih selalu mengganggunya dari arah yang tidak ketahuan. Mudah-mudahan Widura masih dapat menyadari, bahwa orang itu pasti berpindah-pindah tempat. Namun disadarinya pula bahwa orang itu adalah seorang yang sakti. Tetapi semakin lama kesadarannya menjadi semakin tipis, sehingga akhirnya suara itu seakan-akan melingkar-lingkar dilangit yang kelam.

Namun dalam kebingungan yang hampir menelan Widura dan Agung Sedayu itu tiba-tiba terdengar suara yang lain dari suara yang pertama. Suara yang kedua terdengar lunak dan lembut, meskipun tidak pula mereka ketahui arahnya. Katanya “Widura dan Agung Sedayu. Jangan bingung. Biarkan saja suara itu mengganggu kalian. Anggaplah suara itu suara angin yang lembut, menyentuh daun-daun yang kering. Memang suaranya gemerisik menyakitkan telinga. Namun suara itu sama sekali tidak berbahaya. Turutilah kehendak yang tersembul didalam hati kalian, untuk mengurangi ketegangan dihati kalian. Kalau kalian ingin bersembunyi, bersembunyilah. Kalau kaian ingin kembali ke kademangan, kembalilah. Kalau kalian ingin berteriak, berteriaklah. Suara itu benar-benar tidak berbahaya”

Widura dan Agung Sedayu menggeram. Namun mereka menjadi bertambah bingung. Sehingga karena itu, maka mereka menjadi terpaku diam ditempatnya. Dalam pada itu suara yang kedua itu berkata pula “Jangan menjadi bingung. Tegasnya, jangan hiraukan suara itu”

Widura dan Agung Sedayu itupun mencoba mengingat-ingat suara yang kedua itu. Suara itu pernah didengarnya. Lembut, lunak meskipun bernada tinggi. Tiba-tiba Widura itupun bergumam “Kiai Gringsing”

Agung Sedayu segera menengadahkan wajahnya. perlahan-lahan mulutnya berdesis “Ya, Kiai Gringsing”

Sesaat kemudian suasana menjadi sunyi. Baik Ki Tambak Wedi maupun Kiai Gringsing tidak berkata-kata lagi. Widura dan Agung Sedayupun berdiri kaku bertolak punggung dengan pedang telanjang ditangan masing-masing. Namun mereka sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa.

Dalam pada itu angin malam yang lembut membelai kening mereka, menggerak-gerakkan ujung ikat kepala mereka yang berjuntai dibelakang telinga. Tetapi betapa sejuknya angin menyentuh tubuh mereka, namun hati mereka serasa tersentuh bara. Panas dalam kesunyian malam yang dingin.

Tetapi kesunyian itu benar-benar sangat menjemukan. Kesunyian itu terasa menjadi sedemikian tegangnya, sehingga karenanya Widura dan Agung Sedayu itu seolah-olah telah menahan nafas mereka.

Tiba-tiba Agung Sedayu dan Widura itu terkejut bukan kepalang. Dibalik gerumbul-gerumbul itu terdengar suara gemerisik. Bukan saja langkah seseorang, tetapi suara itu sedemikian ributnya.

“Suara apakah itu?” desis Agung Sedayu.

Widura memutar tubuhnya mengarah kepada suara itu. Namun suara itu telah jauh bergeser dari tempatnya semula. Sehingga Widura itupun ikut berputar pula.

“Suara apakah itu paman“ ulang Agung Sedayu sambil menahan nafasnya.

Widura menggeleng lemah. Iapun menjadi kebingungan karenanya. Sedang suara itu masih saja terdengar diantara rimbunnya gerumbul-gerumbul disekitarnya. Namun seperti suara Ki Tambak Wedi dan Kiai Gringsing, maka suara gemerisik itupun melingkar-lingkar tak tentu arahnya.

Namun akhirnya Widura menyadari keadaan itu. Dengan serta-merta ia berkata “Agung Sedayu. Mereka pasti sedang bertempur”

“Siapa?”

“Ki Tambak Wedi dengan Kiai Gringsing”

“He?” Agung Sedayu itupun terkejut. “Dimana?”

“Rupa-rupanya Ki Tambak Wedi tidak senang mendengar suara Kiai Gringsing, sehingga orang itu langsung menyerangnya. Dan kini keduanya sedang bertempur didalam gelap itu. Mereka bergeser dari satu tempat kelain tempat. Aku tidak tahu pasti, apakah Ki Tambak Wedi ataukah Kiai Gringsing yang sengaja memberikan kesan kepada kita, bahwa pertempuran itu seakan-akan terjadi dilangit yang kelam”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Keterangan pamannya itu benar-benar dapat dimengertinya dan akhirnya iapun merasakan, kesibukan perkelahian pada suara yang didengarnya. Tetapi perkelahian antara dua orang yang telah memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi dari mereka. Meskipun demikian Agung Sedayu itu menjadi cemas. Ki Tambak Wedi adalah seorang yang telah mempunyai nama yang cukup menggetarkan diseluruh lereng gunung Merapi itu, sedang nama Kiai Gringsing sama sekali belum dikenal oleh siapapun. Sedemikian besar keragu-raguan Agung Sedayu, sehingga terdengar ia berbisik kepada pamannya “Paman, apakah Kiai Gringsing cukup memiliki kemampuan untuk melawan Ki Tambak Wedi?”

Widura menarik alisnya. Tetapi pedangnya masih selalu siap didalam genggamannya. Jawabnya “Aku tidak meragukannya. Orang itu memiliki beberapa kelebihan. Kekuatan tenaganya telah membuktikannya”

“Apakah paman pernah melihat?”

“Aku belum pernah melihat ia bertempur, namun aku pernah melihat Kiai Gringsing mengimbangi kekuatan Ki Tambak Wedi. orang itu mampu meluruskan kembali lingkaran-lingkaran besi yang dibuat oleh Ki Tambak Wedi dengan tangannya”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun demikian masih saja perasaannya diliputi oleh keragu-raguan dan kecemasan. Disekitarnya masih terdengar suara gemerisik dan bahkan menjadi jelas. Namun kadang-kadang suara itu menjadi semakin jauh dan berkisar dengan cepatnya.

“Marilah kita melihat paman” ajak Agung Sedayu.

“Kemana?” bertanya pamannya.

Agung Sedayupun menjadi bingung. Ia tidak tahu arah yang harus didatangi. Suara itu benar-benar melingkar-lingkar seolah-olah memenuhi segenap penjuru.

Ketika Agung Sedayu dan Widura terdiam, maka suara itu menjadi semakin jelas. Kadang-kadang suara itu sedemikian dekatnya, namun kadang-kadang menjadi agak jauh, tetapi suara itu menunjukkan betapa ributnya pertempuran yang sedang berlangsung.

Tiba-tiba mereka terkejut, ketika mereka melihat bayangan yang melontar dari dalam kegelapan, disusul oleh sebuah bayangan yang lain. Demikianlah maka kedua bayangan itu kini bertempur ditempat yang terbuka. Masing-masing dengan caranya dan masing-masing dengan ilmunya yang khusus. Sehingga dalam malam yang gelap itu, Widura dan Agung Sedayu melihat pameran kekuatan yang mengagumkan.

Ki Tambak Wedi benar-benar tampak sedemikian garangnya. Tangannya bergerak-gerak dengan pasti dan cepat. Tangan yang hanya sepasang itu seakan-akan merupakan sepasang senjata yang sangat dahsyatnya. Seperti sepasang tombak pendek yang mematuk-matuk dari segenap arah.

Tetapi lawannya adalah seorang yang sangat lincah. Seperti asap yang berputaran dalam pusaran angin yang kencang. Sepasang kakinya seakan-akan tidak berjejak diatas tanah. Sehingga dengan cepatnya ia dapat berpindah-pindah tempat. Betapapun kekuatan lawan yang menghantamnya, namun serangan itu seakan-akan tidak dapat menyentuhnya.

Demikianlah pertempuran itu menjadi semakin sengit. Widura dan Agung Sedayu berdiri saja mematung. Dadanya terasa berdentangan dan darahnya mengalir semakin cepat. Pedang-pedang ditangan mereka seolah-olah sama sekali tidak akan berarti seandainya mereka harus bertempur melawan salah seorang dari mereka.

“Seandainya kami yang harus bertempur melawan Ki Tambak Wedi,” desis Agung Sedayu didalam hatinya “Entahlah apa kira-kira yang akan terjadi”

Sesungguhnyalah bahwa kekuatannya sama sekali tak akan berarti dibandingkan dengan kekuatan dan kesaktian orang yang menakutkan itu.

Malam yang dingin itu semakin lama menjadi semakin dingin. Angin yang basah perlahan-lahan mengalir dari selatan. Namun hati Widura dan Agung Sedayu terasa betapa panasnya. Mereka melihat perkelahian yang dahsyat antara Ki Tambak Wedi dan Kiai Gringsing. Namun kadang-kadang keduanya menjadi hilang didalam kegelapan malam, untuk kemudian muncul kembali ditempat yang lain. Ternyata mereka berdua telah mempergunakan tempat yang amat luas untuk bertempur. Mereka melontar-lontar sangat cepatnya dan loncatan-loncatan panjang yang mengherankan. Seolah-olah kedua-duanya memiliki sayap dipunggung mereka, sehingga mereka dapat beterbangan berputar-putar.

Pertempuran itu benar-benar seperti pertempuran antara dua ekor burung-burung raksasa dilangit yang luas berebut kekuasaan. Seakan-akan mereka sedang bertaruh, siapa yang menang diantara mereka maka ialah yang dapat merajai langit.

Tetapi Widura dan Agung Sedayu menjadi bingung. Mereka sama sekali tidak dapat menilai, siapakah diantara mereka berdua yang lebih kuat. Keduanya sama-sama memiliki keunggulan dan kelebihan yang sulit dimengerti. Desak-mendesak, silih berganti. Sehingga kemudian keduanya menjadi seperti gumpalan-gumpalan asap yang berbenturan tidak menentu.

Namun kemudian Widura dan Agung Sedayu terkejut ketika mereka melihat benda yang berkilat-kilat ditangan Ki Tambak Wedi pada kedua belahnya. Dalam genggaman tangannya, tiba-tiba telah melingkar gelang-gelang besi baja. Sepasang senjata yang pernah mereka lihat dihalaman belakang kademangan serta ciri yang sudah pernah mereka kenal pula. dengan senjata itu, maka tangan-tangan Ki Tambak Wedi itu menjadi semakin berbahaya. Serangan-serangan Kiai Gringsing kemudian selalu tidak pernah dihindarinya, namun dicobanya untuk menempuh serangan itu dengan gelang-gelang baja yang melingkari genggaman tangannya. Bahkan seandainya lawannya mempergunakan pedang sekalipun, namun pedang itu akan ditahannya dengan lingkaran-lingkaran itu.

Dengan senjata itulah maka Ki Tambak Wedi menjadi semakin dahsyat. Tangannya menyambar-nyambar kesegenap tubuh lawannya. Pukulan-pukulannya adalah pukulan-pukulan maut, seandainya tersentuhpun, maka tulang-tulang Kiai Gringsing agaknya akan berserak retak.

karena itu, maka kini Widura dan Agung Sedayu dapat melihat, bahwa Kiai Gringsinglah yang selalu mencoba menghindar serangan-serangan lawannya. Berkali-kali ia melontar mundur dan menjauh. Tetapi lawannya selalu mengejarnya dengan ganasnya. Sambaran-sambaran tangannya berdesingan seperti lalat yang terbang mengitari tubuh Kiai Gringsing. Sedang cahaya besi baja ditangannya yang bergerak-gerak itu, tampaknya seolah-olah kilat yang menyambar-nyambar.

Widura dan Agung Sedayu menjadi cemas pula karenanya. Meskipun dengan demikian mereka dapat menduga bahwa kemampuan Kiai Gringsing ternyata masih berada setidak-tidaknya menyamai Ki Tambak Wedi. Ternyata dengan senjata yang kemudian terpaksa digunakan oleh Ki Tambak Wedi. namun apabila dengan senjata itu Kiai Gringsing dapat dikalahkan, lalu apakah jadinya mereka berdua?

Tetapi mereka berdua bukannya pengecut. Juga Agung Sedayu kini sama sekali tidak ingin melarikan dri dari bahaya. Meskipun kadang-kadang terasa juga sesuatu yang berdesir didalam dadanya, seperti yang pernah dirasakannya dahulu, namun kini ia berkata kepada dirinya “Ki Tambak Wedi itu mempunyai kesaktian yang tiada taranya. Seandainya aku melarikan diri, maka itu pasti hanya akan bersifat sementara. Ia akan dapat mengejarku dan menangkapku seperti kalau aku tetap berada ditempat ini. karena itu, maka biarlah aku disini bersama-sama dengan paman Widura dan Kiai Gringsing. Meskipun kekuatanku sama sekali tidak berarti, tetapi lebih baik menghadapinya bersama-sama daripada aku nanti harus dikejarnya seorang diri”

karena itu, maka Agung Sedayu masih tetap berdiri ditempatnya. Sekali-sekali ia berkisar mengikuti putaran pertempuran Ki Tambak Wedi dan Kiai Gringsing.

Ki Tambak Wedi yang kemudian merasa bahwa lawannya selalu terdesak, berkata dengan lantang sambil mengayukan kedua tangannya berputaran menyerang lawannya “He, orang yang bodoh. Siapakah kau dan apamukah Agung Sedayu dan Widura ini?”

Jawabannya benar-benar menyakitkan hati Ki Tambak Wedi yang menyangka bahwa lawannya telah menjadi cemas akan nasibnya. Namun dengan jawaban itu, terasa seakan-akan lawannya itu masih saja menganggap perkelahian itu seperti sebuah permainan, katanya “Bukan apa-apa. kami hanya bersama-sama menghuni daerah ini, daerah yang diributkan oleh kehadiran Ki Tambak Wedi”

“Jangan mengigau” bentak Ki Tambak Wedi “apakah kau benar-benar telah jemu hidup?”

“Oh, kau salah sangka. Aku berkelahi karena aku ingin hidup tenteram didaerah ini”

“Hiduplah tenteram. Kenapa kau ganggu kami yang sedang terlibat dalam persoalan kami sendiri. apakah hubungannya hidupmu dengan persoalan ini?”

“Ada” sahut Kiai Gringsing “Angger Widura sedang memanggul tugasnya mempertahankan daerah perbekalan ini dari segapan Macan Kepatihan. Kalau kau binasakan orang itu, maka laskarnyapun akan berhamburan tanpa ikatan. Dan daerah ini akan menjadi kacau balau. Sangkal Putung akan berubah menjadi pusat perbekalan laskar Macan Kepatihan. Sehingga dengan demikian hidupkupun akan terancam”

“Gila. Jangan menganggap aku anak kambing yang bodoh. Kalau kau mampu bertempur melawan Ki Tambak Wedi, kenapa kau tidak mampu bertempur melawan Macan Kepatihan?”

“Seperti kau, kenapa kau tidak mau membunuh Macan Kepatihan? Kenapa mesti muridmu yang bernama Sidanti?”

“Gila, kau benar-benar gila. Seharusnya aku sudah membunuhmu. Nah sekarang kesempatan itu datang, orang yang tidak mau dikenal seperti kau inipun harus mati. Dan aku akan dapat mengerti, apakah sebabnya kau menyebut dirimu dan memulai dirimu seperti itu. Bukankah kau yang aku jumpai dilapangan dekat banjar desa pada saat Sidanti berlomba memanah?”

Sementara itu perkelahian diantara mereka berdua, Ki Tambak Wedi dan Kiai Gringsing menjadi bertambah cepat. Meskipun beberapa kali Kiai Gringsing terpaksa melontar surut, namun perlawanannya masih tetap sengit. Dalam kesibukan perkelahian itu Kiai Gringsing menjawab “Ya, akulah yang bertemu dengan kau dilapangan itu, kau masih ingat?”

“Tampangmu tak mudah dilupakan” jawab Ki Tambak Wedi “Dan didaerah ini jarang-jaranglah orang yang mampu bertempur melawan Ki Tambak Wedi sampai dua tiga loncatan. Tetapi kau mampu bertahan beberapa lama”

Kiai Gringsing menggeram. Katanya “Jadi kau pasti bahwa akhirnya pertahanankupun akan runtuh?”

“Tentu, meskipun kulitmu berlapis baja sekalipun”

“Kau, yang mempergunakan lapisan baja ditanganmu”

“Persetan. Ambillah senjatamu. Kita menentukan siapa diantara angkatan tua yang akan dapat merajai lereng gunung Merapi”

“Aku tidak ingin” jawab Kiai Gringsing “Tetapi aku juga tak ingin dirajai”

Ki Tambak Wedi tidak berkata-kata lagi. Serangannya menjadi bertambah seru. Sepasang gelang dikedua tangannya bergerak dengan dahsyatnya. Setiap sentuhan daripadanya, pasti akibatnya akan sangat dahsyat.

Namun kemudian masih juga ternyata bahwa Kiai Gringsing terpaksa selalu menghindari serangan Ki Tambak Wedi yang semakin garang. Beberapa kali Kiai Gringsing harus melontar surut, sedang Ki Tambak Wedi tidak akan melepaskan segenap kesempatan yang terbuka baginya.

Tetapi kemudian Kiai Gringsing tidak mau menjadi sasaran untuk meluapkan kemarahan Ki Tambak Wedi saja. Ketika kemudian ternyata bahwa ia tidak dapat bertahan terlalu lama menghadapi sepasang gelang itu, maka kemudian dari balik bajunya Kiai Gringsing menarik pula senjatanya yang tak kalah anehnya. Sebuah cambuk. Ya, cambuk yang tidak terlalu besar, dan berujung agak panjang. Tetapi benda itu keseluruhan tidak lebih panjang dari setengah depa sampai keujung juntainya.

Ki Tambak Wedi terkejut melihat senjata itu. Ia lebih tatag menghadapi pedang, tombak dan tongkat baja seperti milik Macan Kepatihan. Tetapi menghadapi senjata yang aneh ini, maka hatinya menjadi berdebar-debar. Cambuk yang kecil itu pasti akan sulit untuk dilawan dengan gelang besinya. Senjata itu lemas dan juntainya akan dapat menyengat tubuhnya dari segenap arah. Dan Ki Tambak Wedi sadar bahwa cambuk itu pasti dari bahan yang dapat dipercaya oleh seorang yang setingkat Kiai Gringsing.

Sebenarnyalah, tiba-tiba saja mereka telah dikejutkan oleh cambuk kecil itu. Cambuk itu memekik sedemikian kerasnya seperti sebuah ledakan yang dahsyat dalam nada yang tinggi. Sehingga tiba-tiba telinga mereka yang mendengarnya menjadi sakit.

Dengan serta-merta Widura dan Agung Sedayu telah menutup sebelah telinga mereka dengan tangan-tangan kiri mereka.

Yang terdengar kemudian adalah geram Ki Tambak Wedi. “Dahsyat. Kau mau mempengaruhi aku dengan letupan yang memekakkan telinga itu?”

“Kalau kau mau” sehut Kiai Gringsing sekenanya.

“Gila. Kau berhadapan dengan maut. Jangan menyesal kalau kau tidak sempat melihat bintang pagi terbenam”

Kiai Gringsing tidak menjawab. kini ia menyerang Ki Tambak Wedi dengan dahsyatnya dengan ujung-ujung cambuknya.

Karena itu maka perkelahian diantara mereka menjadi semakin dahsyat. Masing-masing telah mempergunakan senjata-senjata yang terpercaya. Karena itulah maka perkelahian itu segera meningkat sampai pada saat-saat yang menentukan.

Widura dan Agung Sedayupun menjadi bertambah tegang pula. Meskipun mereka berada diluar lingkungan perkelahian itu namun terasa pula oleh mereka, bahwa kedua orang yang sedang bertempur itu telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Mereka masing-masing sedang berusah untuk menumbangkan lawannya dalam taraf ilmu yang tertinggi yang mereka miliki.

Kini Widura dan Agung Sedayu tidak lagi melihat Kiai Gringsing selalu terdesak mundur. Bahkan kini mereka dapat merasakan, bahwa cambuk kecilnya benar-benar berbahaya. Sekali-sekali terdengar cambuk itu meledak dan terasa sebuah sengatan yang pedih pada tubuh lawannya. Kedua gelang besi ditangan Ki Tambak Wedi benar-benar tidak dapat dipergunakannya untuk menangkis serangan senjata yang aneh itu.

Demikianlah maka kini keadaan menjadi berubah. Bayangan Ki Tambak Wedi yang bergerak-gerak dengan lincahnya itu seolah-olah terdesak mundur. Bayangan yang lain perlahan-lahan telah mengurungnya. Tidak saja tangan Kiai Gringsing yang bergerak-terak dengan cepatnya, namun ujung cambuknyapun menjadi seakan-akan gumpalan-gumpalan asap yang menyebarkan maut.

Ternyata kemudian, bahwa saat yang menentukan telah datang. Ki Tambak Wedi menggeram tak henti-hentinya. Lawannya benar-benar menakjubkannya. Betapa ia menjadi marah dan memeras segenap kekuatannya, namun adalah diluar dugaannya bahwa suatu ketika dilereng Merapi akan datang seseorang yang akan dapat mengalahkannya. Karena itu mula-mula ia tidak mau melihat kenyataan itu. Dengan sekuat tenaga ia mencoba mempertahankan diri dan namanya. Bahkan hampir-hampir ia sampai pada suatu kesimpulan hidup dan mati. Namun tiba-tiba disadarinya kehadiran Widura dan Agung Sedayu. Diingatnya pula muridnya Sidanti yang belum sembuh benar dari lukanya. Dan diingatnya pula cita-cita masa depan muridnya itu. Karena itulah maka akhirnya Ki Tambak Wedi yang namanya ditakuti disekitar gunung Merapi itu terpaksa mengakui keadaannya kini.

Kiai Gringsing yang tidak dikenal itu telah mengalahkannya. Karena itu dengan penuh kemarahan, Ki Tambak Wedi menggeram “He orang gila. Kau mungkin menyangka bahwa Ki Tambak Wedi tidak akan mampu melawanmu. Tetapi aku mempunyai pertimbangan lain sehingga aku menghindari perkelahian seterusnya, hanya kali ini”

Kiai Gringsing tidak menjawab, ia ingin bahwa Ki Tambak Wedi tidak mendapat kesempatan untuk melarikan diri. Namun kelebihannya tidak terpaut banyak dari Ki Tambak Wedi, sehingga karena itu maka usahanya tidak berhasil. Ki Tambak Wedi sempat menghindarkan dirinya dan tenggelam kedalam gerumbul-gerumbul didalam gelap. Namun demikian terdengar Ki Tambak Wedi berkata “He orang yang gila. Kau ternyata telah mendorong Agung Sedayu dan Swandaru kedalam keadaan yang menyedihkan. Dengan perbuatanmu ini, maka keinginanku untuk membunuh mereka berdua menjadi semakin besar. Sidanti untuk seterusnya tidak akan kembali ke Sangkal Putung. Tak akan ada yang diharapkannya disini. Karena itu, maka baginya, Widura sudah tidak penting lagi. Tetapi dendamnya kepada Agung Sedayu dan Swandaru tidak akan dapat dilupakan. Aku atau Sidanti sendiri pada suatu ketika pasti akan melakukannya. Membunuh Agung Sedayu dan Swandaru. menggantung mayat mereka dimuka banjar desa Sangkal Putung”

“Jangan berangan-angan” potong Kiai Gringsing sambil mengejarnya “Selama aku masih ada, maka selama itu aku akan menghalangi maksud yang terkutuk itu. Marilah kita sejak ini menganggap diri kita sendiri berpacu. Aku berjanji untuk menyelamatkan Agung Sedayu dan Swandaru dari ketakutannya terhadap Sidanti. Sedang kalau kau ikut campur, maka aku akan ikut campur pula. kalau suatu ketika aku menjadi lengah dan kedua anak itu mengalami bencana karena pokalmu, maka aku berjanji, bahwa aku sendiri akan membunuh Sidanti dan kau bersama-sama”

“Setan” teriak Ki Tambak Wedi dari kejauhan. Namun nada suarnya menggetarkan kemarahan yang tiada taranya. Belum pernah ia mengalami penghinaan yang sedemikian kasarnya. Ancaman yang langsung diberikan kepadanya dan muridnya.

Namun ia harus mengakui, bahwa hal itu benar-benar mungkin dilakukan oleh orang yang belum dikenalnya dan menamakan dirinya Kiai Gringsing itu. Justru orang itu belum dikenalnya dengan baik, maka kemungkinan yang akan dilakukan oleh orang itu menjadi bertambah besar.

Namun sambil melarikan diri Ki Tambak Wedi yang bukan seorang yang tumpul otaknya itu sempat berpikir “Aku akan segera mengetahui siapakah orang itu. Siapa yang kemudian memimpin dan menggurui Agung Sedayu dan Swandaru, maka orang itulah sebenarnya yang bernama Kiai Gringsing”

Widura dan Agung Sedayu yang terpaku ditempatnya masih saja tegak seperti tonggak. Namun tiba-tiba Agung Sedayu terkejut ketika Widura itu berkata “Agung Sedayu, mari kembali ke kademangan. Cepat”

Agung Sedayu tidak sempat menjawab. tiba-tiba dilihatnya pamannya meloncat dan berlari kencang-kencang mendahului, setelah menyarungkan pedangnya. karena itu, maka Agung Sedayu yang tidak tahu maksudnyapun ikut berlari pula. sepanjang jalan ia tidak habis berpikir tentang pamannya. Ketika Ki Tambak Wedi masih belum dapat dikalahkan, pamannya sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Kini ketika bahaya telah meninggalkan mereka, tiba-tiba pamannya itu berlari-lari pulang. tetapi ia tidak sempat untuk menanyakannya. Sehingga karena itu maka Agung Sedayu itupun hanya dapat mengikutinya tanpa tahu maksudnya.

Widura yang berlari itu meloncati parit-parit dan pematang-pematang. Ia tidak lewat jalan yang biasanya dilaluinya. Ditempuhnya jalan yang memintas. Kali ini Widura tidak lagi singgah digardu-gardu perondan seperti biasanya. Baru ketika ia memasuki desa Sangkal Putung, maka Widura itu tidak berlari-lari lagi. Bagaimana langkahnyapun masih tetap panjang-panjang.

Agung Sedayu yang kemudian menyusulnya bertanya sambil terengah-engah “Kenapa paman berlari-lari?”

“Tidak apa-apa” jawabnya.

Agung Sedayu terdiam. Namun sudah tentu ia tidak percaya. Meskipun demikian, ia sudah tidak bertanya lagi. Dengan langkah yang panjang-panjang pula ia berjalan disamping pamannya.

Widura itu benar-benar menjadi seakan-akan tidak bersabar. Semakin dekat ia dengan kademangan, langkahnya menjadi semakin cepat. Tetapi ketika ia hampir sampai regol, maka dihentikannya langkahnya, diaturnya nafasnya. Dan seakan-akan tidak terjadi apa-apa Widura itu berjalan tenang-tenang.

Agung Sedayu dapat mengerti apa yang dilakukan pamannya terakhir. Widura tidak mau membuat kesan yang aneh terhadap anak buahnya.KI Widura malam itu datang menurut kebiasaan meskipun agak terlambat.

Seorang penjaga diregol halaman menganggukkan kepalanya sambil menyapa “Agak terlambat Ki Lurah pulang”

“Ya” sahut Widura. Ia mencoba menjawab tenang-tenang meskipun terasa nafasnya mendesaknya “aku berhenti di beberapa gardu perondan”

Seorang yang lain, yang berdiri pula disisi pintu menyahut “Adalah sesuatu yang perlu diperhatikan?”

“Tidak” jawab Widura sambil melangkahi regol. Namun kemudian ia berkata “adalah seseorang yang baru saja memasuki regol ini?”

Penjaga-penjaga diregol itu mengangkat alisnya. Sambil menggeleng-gelengkan kepala penjaga itu menjawab “Tidak. Sepengetahuanku tidak”

“Sama sekali tidak?” desak Widura.

Penjaga itu berpikir sejenak. Sambil menggeleng ia menjawab “Tidak Ki Lurah”

Widura menggigit bibirnya. Kemudian katanya berbisik kepada Agung Sedayu “Kalau begitu kita lebih dahulu sampai”

“Siapa?” bertanya Agung Sedayu.

“Sst…” desis Widura.

Namun tiba-tiba Widura itu menjadi kecewa ketika seorang penjaga berkata “Ki Tanu Metir, maksud Ki Lurah?”

“He?” bertanya Widura.

“Yang baru saja masuk regol adalah Ki Tanu Metir yang keluar untuk berjalan-jalan seperti yang dilakukannya setiap hari”

“Setiap hari?” bertanya Widura.

“Ya” jawab penjaga regol itu. “Setiap orang yang bertugas diregol ini melihat, bahwa orang tua itu selalu pergi berjalan-jalan dimalam hari”

Widura menarik nafas dalam-dalam. Otaknya bergerak menghubungkan keterangan-keterangan yang didengarnya itu. Tetapi kemudian ia tersenyum “Marilah Agung Sedayu” ajaknya.

Agung Sedayu benar-benar tidak tahu maksud pamannya. Tetapi ketika pamannya itu berjalan naik kependapa, maka ia ikut juga dibelakangnya.

Widura berjalan perlahan-lahan masuk kepringgitan. Dilihatnya Ki Tanu Metir duduk dengan tenangnya menggulung sehelai daun pisang pembungkus makanan, disamping Ki Demang dan Swandaru.

“Ha, kau baru pulang?” bertanya orang tua itu ketika dilihatnya Widura dan Agung Sedayu melangkah masuk

“Ya Kiai” jawab Widura.

“Kau pulang lebih malam dari biasanya. Aku juga baru saja datang. Berjalan-jalan dimalam hari benar-benar dapat memberi kesegaran padaku”

Ya Kiai. Memang udara sangat segar. Tetapi agaknya terlampau dingin” berkata Widura.

“Ya. Memang malam ini terlampau dingin” sahut Ki Tanu Metir

“Apakah Kiai juga merasakan dinginnya malam?” bertanya Widura.

“Ya, tentu. Aku menjadi menggigil karenanya”

“Aku juga” sambung Widura “Tetapi memang sudah menjadi kebiasaanku, aku selalu berkeringat apabila aku kedinginan”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Kemudian katanya “Apakah kau berkeringat?”

“Ya, seperti Kiai juga”

Ki Tanu Metir mencoba mengamat-amati pakaiannya. Terasa punggung bajunya memang basah oleh keringat yang mengalir tak habis-habisnya. Karena itu, maka iapun tersenyum sambil berkata “Aku juga berkeringat. Tetapi aku baru saja kepanasan minum air jahe hangat. Inilah. Mari minumlah mangkuk itu. Bukankah ini memang disediakan untukmu?” kemudian kepada Swandaru ia bertanya “Begitu bukan angger Swandaru?”

“Ya, ya. Silakan paman Widura dan tuan …..”

Series 8

“Jangan panggil dengan sebutan yang terlalu jauh. Panggillah dengan sebutan yang lebih dekat. Kakang. Juga kepada Untara lebih baik kau memanggilnya demikian” potong Widura.

“Ya” sahut Agung Sedayu “Aku lebih senang”

“Baiklah” sahut Swandaru “Marilah, minumlah”

Widura dan Agung Sedayupun minum pula air jahe yang hangat. Dengan demikian maka keringat mereka semakin banyak mengalir membasahi tubuh mereka.

Dalam pada itu Ki Tanu Metir itupun bertanya pula “Dari manakah angger berdua malam ini. Apakah seperti biasanya nganglang setiap gardu perondan?”

“Ya” sahut Widura “Dan ke gunung Gowok. Aku sedang berlatih bermain pedang. Guruku, Agung Sedayu telah mencobakan ilmu yang paling akhir”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Sedang Ki Demang Sangkal Putung menjadi terheran-heran. Apalagi Swandaru sehingga dengan serta-merta berdesah “Ah”

Mereka menjadi semakin tidak mengerti ketika Widura berkata “Tetapi seorang yang menamakan diri Kiai Gringsing selalu saja mengganggu kami, sehingga usaha kami itupun tidak dapat kami lakukan seperti yang kami kehendaki”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebelum berkata sesuatu, maka Widura telah berkata pula “Akhirnya kami tidak meneruskan latihan kami. Tetapi kami berpacu dengan orang yang tidak kami kenal itu kekademangan”

Ki Tanu Metir menarik alisnya. Kemudian sambil tersenyum ia berkata “Siapakah yang lebih dahulu sampai?”

“Ki Tanu Metir” jawab Widura.

“He” sahut Ki Tanu Metir “Kau berpacu dengan Kiai Gringsing, namun kenapa aku yang lebih dahulu sampai?”

Widura menggeleng, jawabnya “Entahlah. Aku tidak tahu”

Ki Tanu Metir itu menundukkan wajahnya. Widura dan Agung Sedayu duduk dengan gelisahnya, sedang Ki Demang Sangkal Putung dan Swandaru masih saja memandang mereka dengan penuh pertanyaan yang memancar dari wajah-wajah mereka.

Agung Sedayu yang semula juga ikut menjadi bingung perlahan-lahan dapat menangkap, apakah yang dilakukan pamannya itu. Bahkan kemudian tiba-tiba ia bertanya “Bagaimanakah dengan kakang Untara?”

Pertanyaan itu mengejutkan Ki Tanu Metir, sehingga dengan serta-merta ia menjawab “Sudah semakin baik. Angger Untara sudah dapat bangun dan berjalan-jalan. Sebentar lagi lukanya akan sembuh, meskipun masih diperlukan waktu untuk memulihkan kekuatannya”

“Tetapi malam ini aku tidak harus berkuda ke Sangkal Putung sendiri dan Kiai tidak usah menyusulku dan setelah Kiai kalah bertempur melawan aku, maka Kiai harus bertempur melawan Alap-alap Jalatunda”

Ki Tanu Metir tidak dapat menyembunyikan senyumnya lagi. Perlahan-lahan ia berdiri dan berjalan mendekati Untara. Ternyata Untara itu juga tidak sedang tidur. Bahkan ketika ia melihat Ki Tanu Metir itu mendekati maka desisnya “Bagaimana Kiai?”

“Kemana aku harus bersembunyi lagi ngger?” bertanya Ki Tanu Metir kepada Untara.

“Kiai tidak perlu bersembunyi lagi”

Ki Tanu Metir menarik nafas panjang. Kemudian gumamnya “Tamatlah cerita tentang seorang dukun tua dan tamatlah cerita tentang orang yang berkerudung kain gringsing”

“Cerita itu sudah lama tamat” sahut Widura.

Ki Tanu Metir berpaling. Ditatapnya wajah Widura yang aneh. Tetapi sesaat kemudian orang tua itu tertawa geli. Katanya “Terlalu banyak yang ingin kau ketahui ngger. Tetapi baiklah, aku tidak perlu bersembunyi lagi. Dugaanmu benar”

Widura tertawa. Agung Sedayupun tertawa. tetapi Ki Demang Sangkal Putung dan Swandaru sama sekali tidak tahu, apakah yang lucu.

Karena itu, maka Swandaru itupun segera bertanya “Apakah yang aneh paman Widura?”

Widura menggeleng sambil tersenyum “Tidak apa-apa. hanya suatu permainan saja”

“Permainan apa?”

“Ki Tanu Metir mencoba bersembunyi ketika melihat kami lewat. Disangkanya kami tidak melihatnya”

Swandaru mengerutkan keningnya. Jawaban Widura itu semakin membingungkannya. Sehingga kemudian ia mendesaknya “Tetapi, bagaimanakah cerita tentang paman Widura dan orang yang disebut gurunya yang bernama Agung Sedayu itu?”

Oh” sahut Widura “Aku hanya bermain-main. Ki Tanu Metir pernah bertanya kepadaku, siapakah guruku, karena aku tidak mau menunjukkannya, maka aku jawab saja sekenanya, Agung Sedayu”

Swandaru mengumpat-umpat didalam hatinya. Ia tahu betul, bahwa bukan itulah jawaban dari pertanyaannya. Meskipun demikian ia sudah tidak bertanya lagi. Namun, bagaimanapun juga, ia tidak dapat menjajagi, bahwa senda gurau itu telah mengungkapkan suatu peristiwa yang selama ini menjadi teka-teki bagi Widura. meskipun Ki Tanu Metir belum mengatakan kepadanya, namun Widura telah dapat merabanya. Bagaimanakah yang pernah terjadi atas Untara. Bagaimanakah sebabnya, maka orang-orang disekitar rumah Ki Tanu Metir menyangka bahwa orang tua itu bersama Untara telah hilang dibawa gerombolan Plasa Ireng. Kini semuanya sudah menjadi agak jelas bagi Widura. sudah tentu Plasa Ireng beserta Alap-alap Jalatunda tidak akan dapat berbuat sesuatu terhadapnya.

Ki Demang Sangkal Putungpun sebenarnya mempunyai keinginan untuk mengetahui, apakah sebenarnya yang sedang dipercakapkan oleh Ki Tanu Metir dan Widura, tetapi ia segera mengendalikan dirinya. Persoalan-persoalan diluar dirinya, dan mungkin menyangkut kepentingan kelaskaran Pajang, lebih baik baginya untuk tidak turut mempersoalkannya apabila tidak diminta.

Sesaat kemudian kembali mereka duduk melingkar diatas tikar pandan dipringgitan. Untara masih tetap berbaring dipembaringannya. Meskipun lukanya telah jauh berkurang, namun ia masih belum kuat benar untuk terlalu lama duduk.

Diantara mereka sudah terhidang berbagai makanan. Meskipun sudah terlalu dingin, namun dapat juga untuk menggerakkan rahang-rahang mereka.

Sambil makan Ki Tanu Metir berkata seakan-akan sambil lalu saja “Bagaimanakah kabarnya angger Sidanti itu sekarang?”

Widura mengerutkan keningnya. Dan dilihatnya wajah Swandaru menjadi tegang.

“Tak ada kabarnya” jawab Widura “Tetapi sudah pasti ia tidak akan kembali ke Sangkal Putung”

“Tetapi ia pasti mendendam” potong Swandaru tiba-tiba “Aku telah melukainya”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnyalah bahwa Sidanti itu mendendam. Tidak saja kepada Swandaru tetapi juga kepada Agung Sedayu. Sedang mereka, Widura dan Agung Sedayupun, mendengar dengan jelas, apa yang dikatakan oleh Ki Tambak Wedi, bahwa dendam Sidanti yang terbesar justru kepada Agung Sedayu dan Swandaru. Agung Sedayu yang dianggap menggesernya dari sudut hati Sekar Mirah, dan Swandaru yang telah melukainya bahkan hampir membunuhnya. Tetapi Agung Sedayu itu menjadi tenteram ketika ternyata bahwa Kiai Gringsing yang sekarang duduk dihadapannya sebagai seorang dukun tua itu, akan melindunginya.

Tetapi Swandaru tidak mendengar janji yang pernah diucapkan oleh orang yang menamakan dirinya Kiai Gringsing. Sehingga dengan demikian maka dadanya menjadi berdebar-debar apabila diingatnya nama itu. Sidanti. Selagi mereka masih berada dihalaman yang sama, Sidanti telah pernah menamparnya dua kali. Apalagi kini, maka Sidanti itu tidak akan sekedar menamparnya saja. Tetapi pasti membunuhnya.

Ayahnyapun merasakan kecemasan itu. Karena itu selagi mereka mempercakapkan Sidanti, maka sama sekali Ki Demang Sangkal Putung itupun ingin mencari perlindungan bagi anaknya. Maka katanya “Aku menjadi cemas juga akan angger Sidanti itu. Hubungannya dengan Swandaru terlalu jelek. Sehingga keadaan Swandaru kinipun selalu terancam pula olehnya. Apalagi pada saat terakhir, Swandaru itu telah berusaha untuk membunuhnya, sehingga dengan demikian maka dendam angger Sidanti itupun menjadi semakin dalam pula”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berdesis “Swandaru berusaha menyelamatkan aku”

Widura melihat kecemasan yang membayang diwajah ayah-beranak itu. Baik Ki Demang Sangkal Putung maupun Swandaru agaknya tidak akan dapat merasa tenteram. Karena itu, maka Widura itupun menjadi iba pula kepada mereka. Sehingga tanpa sengaja ia berkata “Jangan cemas kakang Demang, selagi Ki Tanu Metir masih disini”

Ki Demang terkejut mendengar kata-kata Widura itu. Bahkan Ki Tanu Metir itu sendiripun terkejut. Tetapi kembali Ki Demang Sangkal Putung itu menjadi kecewa. Ia menyangka bahwa Widura masih saja bergurau. Karena itu ia berdesah “Ah, nasib Swandaru benar-benar mencemaskan”

Widura menyadari kata-katanya. Bahkan ia menyesal, bahwa Ki Demang merasa ia hanya bergurau saja. Maka katanya kemudian untuk meyakinkan Ki Demang Sangkal Putung itu “Aku berkata sebenarnya kakang Demang. Sekaligus aku minta pula keringanan hati Ki Tanu Metir untuk menyelamatkan Agung Sedayu dan Swandaru bersama-sama”

Ki Demang Sangkal Putung sama sekali tidak segara dapat mengerti kata-kata itu. Sekali-sekali ditatapnya wajah Widura, dan sekali-sekali diamat-amatinya dukun tua itu. Sehingga akhirnya ia bertanya “Maksud adi, apakah apabila angger Agung Sedayu atau Swandaru dicederai oleh angger Sidanti, maka Ki Tanu Metir akan mengobatinya hingga sembuh?”

Ternyata Ki Demang Sangkal Putung itu benar-benar tidak mengerti maksud Widura. dan sebenarnya bahwa Widura mengatakan sesuatu sebelum lawan berbicaranya siap untuk menerimanya. Widura mengatakan suatu hal diluar pengetahuan Ki Demang Sangkal Putung. Tetapi, agak sulitlah bagi Widura untuk berkata terus terang tentang Ki Tanu Metir, meskipun ia sadar, bahwa itu harus dikatakannya.

Setelah menimbang beberapa lama, maka kemudian Widura itupun menjawab “Ki Demang, biarlah Ki Tanu Metir berusaha untuk memberikan beberapa pengetahuan kepada Agung Sedayu dan Swandaru, sehingga mereka berdua tidak dapat dikalahkan oleh Sidanti”

Ki Demang Sangkal Putung mengerutkan keningnya. Katanya dengan ragu-ragu “Angger Agung Sedayu barangkali dapat berbuat demikian. Sebab malahan angger Sedayu sudah melampaui ketinggian ilmu Sidanti. Tetapi anakku itu?”

“Itulah yang aku maksud, kakang” sahut Widura “Biarlah Ki Tanu Metir menuntun Swandaru dan Agung Sedayu. Karena Agung Sedayu telah memiliki bekal yang cukup, maka biarlah untuk Sementara Swandaru akan mendapat perhatian lebih banyak daripada Agung Sedayu. Sebab ternyata bahwa dendam itu disebabkan oleh Swandaru sedang berusaha menyelamatkan Agung Sedayu. Sehingga karena itulah maka akupun minta dengan sangat Ki Tanu Metir untuk memenuhi permintaan itu”

Ki Demang Sangkal Putung benar-benar menjadi pening mendengar keterangan Widura yang justru menjadikannya semakin bingung. Swandarupun tidak kalah bingungnya. Sehingga bahkan ia menjadi jengkel. Dengan bersungut-sungut ia berkata “Paman Widura, bahaya itu sebenarnya sedang mengancam kami. Aku dan kakang Agung Sedayu. Apakah dalam keadaan itu aku harus belajar mengobati luka-luka supaya aku sempat mengobati lukaku seandainya Sidanti mencelakakan aku?”

Widura benar-benar menjadi sulit untuk mengatakan maksudnya. Sedang Ki Tanu Metir sendiri sama sekali tidak membantunya. Karena itu, maka katanya kemudian kepada Ki Tanu Metir “Ki Tanu Metir, tolonglah, jelaskanlah maksudku kepada kakang Demang dan Swandaru. dan katakanlah kepada kami, apakah Ki Tanu bersedia memenuhi permintaan kami. Mengambil Agung Sedayu dan Swandaru sebagai murid Kiai dan memberi mereka bekal keselamatannya dari ancaman Sidanti”

Ki Tanu Metir mengangkat wajahnya. ditatapnya setiap orang yang duduk disekitarnya satu demi satu. Kemudian perlahan-lahan ia berkata “Jadi bagaimana angger Widura?”

“Terserahlah kepada Kiai” jawab Widura.

Ki Tanu Metir mengangguk-angguk. Kemudian kepada Widura ia berkata “Angger, permintaan angger aku terima dengan senang hati. Mudah-mudahan aku mampu berbuat demikian, seperti yang telah aku ucapkan Ki Tambak Wedi sendiri. sekarang apakah angger Agung Sedayu dan angger Swandaru bersedia menerima tawaran itu?”

Agung Sedayulah yang dengan serta-merta menjawabnya “Aku sangat berterima kasih atas kesempatan itu Kiai”

Tetapi Swandaru belum juga menyadari keadaannya. Ia masih merasa seakan-akan percakapan itu seperti senda-gurau saja. Namun meskipun demikian ia tidak berkata apa-apa, hanya sinar matanya sajalah yang memancarkan kebimbangan dan kebingungannya.

Ki Tanu Metir menangkap kebimbangan dihati Swandaru itu. karena itu, maka katanya “Angger, aku tahu angger menjadi ragu-ragu. Mungkin angger tidak mendapat keyakinan, bahwa dengan belajar kepadaku, angger mungkin akan menyelamatkan diri sendiri dari bahaya yang akan ditimbulkan oleh Sidanti. karena itu, maka aku akan mencoba menyakinkan angger untuk kepentingan keselamatan angger sendiri” Ki Tanu Metir itu berhenti sesaat. Sekali lagi ditatapnya wajah-wajah yang ada disekitarnya. Terasa alangkah berat hatinya untuk mengatakan sesuatu yang terkandung didalam dadanya. Sebenarnya Ki Tanu Metir bukanlah seorang yang suka menunjukkan kelebihan-kelebihannya kepada orang lain. Sebenarnyalah bahwa apakah Swandaru percaya atau tidak, bukanlah kepentingannya. Juga seandainya Swandaru itu kelak akan mengalami nasib yang malang karena pokal Sidanti, itupun sama sekali bukan kepentingannya. Namun ia sadari bahwa seharusnyalah anak itu diusahakan untuk dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Meskipun Ki Tanu Metir itupun mengetahuinya, bahwa pertentangan antara Swandaru dan Sidanti tidak saja timbul karena persoalan Agung Sedayu itu. Tetapi sejak masa-masa lampau sebelumnya, pertentangan itu memang telah ada. Namun sebab yang langsung sekali adalah usaha Swandaru membunuh Sidanti pada saat-saat Sidanti hampir saja berhasil melumpuhkan Agung Sedayu. Karena itu, oleh sesuatu tekanan didalam hatinya yang belum pernah dikatakannya kepada orang lain, maka Ki Tanu Metir merasa berkewajiban untuk menolong Swandaru itu, seperti ia menolong Agung Sedayu sendiri, karena persoalan yang bersangkut-paut.

Dengan demikian, maka setelah berhenti sejenak, Ki Tanu Metir itu berkata “Angger Swandaru, sebelum angger mulai dengan mematuhi petunjuk-petunjuk yang akan aku berikan, adalah wajah sekali kalau angger harus menjadi yakin, bahwa orang yang dipatuhi itu akan dapat memberinya sesuatu. Karena itu, maka biarlah aku mencoba meyakinkan angger. Aku bukan sengaja untuk menunjukkan keanehan dan mungkin juga menyombongkan diri, tetapi aku tidak melihat cara yang lain untuk itu”

Swandaru memandang Ki Tanu Metir tanpa berkedip. Ki Demang Sangkal Putungpun menjadi semakin bingung. Tetapi ia benar-benar ingin melihat, apakah yang akan dilakukan oleh Ki Tanu Metir itu.

Ki Tanu Metir itupun kemudian berpaling kepada Agung Sedayu dan berkata “Angger, apakah peristiwa yang angger saksikan tadi mampu meyakinkan angger Swandaru?”

Agung Sedayu tahu benar maksud Ki Tanu Metir. Karena itu segera diceritakannya apa yang baru saja dilihatnya. Tetapi seperti juga Ki Tanu Metir, Agung Sedayu ragu-ragu, apakah ceritanya cukup meyakinkan tanpa melihatnya sendiri.

Meskipun demikian, maka Agung Sedayu telah mencoba menceritakan apa yang telah terjadi. Pertempuran antara Ki Tambak Wedi dan Kiai Gringsing. Dan ternyata bahwa Kiai Gringsing itu adalah Ki Tanu Metir itu sendiri.

Swandaru dan Ki Demang Sangkal Putung mendengarkan cerita itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka dapat mengerti beberapa bagian dari cerita itu. Namun tampaklah pada wajah Swandaru, bahwa ia masih juga ragu-ragu mendengar cerita Agung Sedayu.

Mereka bukan tidak percaya pada Agung Sedayu, namun mereka sangatlah sukar utuk membayangkannya, bahwa hal itu dapat terjadi atas seorang dukun tua seperti Ki Tanu Metir itu.

Ki Tanu Metirpun dapat menangkap keragu-raguan itu. Tetapi apakah yang dilakukannya untuk meyakinkan mereka itu.

Dalam kebimbangan itu tiba-tiba terdengar Untara berkata “Aku juga mempunyai sebuah cerita. Apakah kau mau mendengarkan Swandaru?”

“Tentu” sahut Swandaru kosong.

“Baiklah” berkata Untara pula. perlahan-lahan ia bangkit dan dengan perlahan-lahan pula ia berjalan dan duduk disamping Ki Tanu Metir.

“Lukaku sudah tidak berbahaya lagi” katanya.

Swandaru dan kesempatan memandanginya dengan tegang. Cerita apakah yang akan dikatakan oleh Untara itu.

“Ki Demang Sangkal Putung dan kau Swandaru” berkata Untara itu kemudian “Cerita ini adalah cerita tentang diriku sendiri. Cerita tentang seorang prajurit yang gagal memenuhi kewajibannya. Mungkin sebagian kalian telah mendengar dari Agung Sedayu, namun aku yakin bahwa pada saat itu paman Widura dan Agung Sedayu telah berusaha mencari aku” Untara berhenti sejenak. Dilihatnya tidak saja Swandaru dan ayahnya yang mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Tetapi juga Agung Sedayu dan Widura sendiri.

“Aku kira, pada waktu itu hampir semua orang menyangka aku telah hilang. Bahkan mungkin orang menyangka bahwa aku telah diculik oleh gerombolan Plasa Ireng, sebab sepeninggal Agung Sedayu kemari, pada waktu itu datanglah Plasa Ireng dan Alap-alap Jalatunda. Namun ternyata aku selamat. Didalam rumah itu hanya ada aku berdua dengan Ki Tanu Metir. Seorang dukun tua. Aku sedang terluka, agak parah hampir seperti lukaku sekarang. Nah, siapakah menurut dugaan kalian yang telah menyelamatkan aku dari tangan Plasa Ireng itu?”

Widura dan Agung Sedayu menjadi semakin jelas akan persoalan itu. Sudah tentu Plasa Ireng tidak akan mampu mengambil Untara pada saat itu, sebab didalam rumah itu ada Ki Tanu Metir, yang kemudian menamakan dirinya Kiai Gringsing.

Swandaru dan Ki Demang Sangkal Putungpun segera dapat menjawab pertanyaan Untara itu. Sudah pasti Ki Tanu Metir. Namun kembali mereka tidak dapat membayangkan, apakah yang sudah dilakukan oleh dukun tua itu untuk menyelamatkan Untara. Bagaimanakah rupanya kira-kira kalau orang tua itu bertempur, apakah ia harus melawan Ki Tambak Wedi ataukah ia harus berkelahi melawan Plasa Ireng dengan beberapa orang kawannya.

Swandaru dan Ki Demang itu benar-benar berada dalam kebimbangan dan keragu-raguan. Sehingga kemudian terdengar Untara berkata seterusnya “Nah, ternyata Ki Tanu Metirlah yang berhasil menyelamatkan aku. Setelah Ki Tanu Metir itu berhasil mengusir Plasa Ireng dan orangnya, maka segera akupun disembunyikannya diatas kandang kuda, sementara itu Ki Tanu Metir pergi menyusul Agung Sedayu. Baru setelah Ki Tanu Metir kembali, maka aku dibawanya pergi, mengungsi ketempat yang tak banyak dikenal orang. Dan memang tidak banyak orang yang akan menyangka bahwa aku disembunyikan oleh dukun tua itu. Namun sebenarnyalah demikian”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dadanya sudah berdebar-debar seandainya kakaknya mengatakan bahwa ia telah menjadi ketakutan dan hampir menjadi pingsan ketika kakaknya itu memaksanya pergi ke Sangkal Putung. Sehingga sampai saat terakhir, tidak seorangpun dari Sangkal Putung yang mengetahui, bahwa Agung Sedayu baru saja melampaui suatu masa yang tak pernah disangkanya akan terjadi.

Swandaru dan Ki Demang Sangkal Putungpun mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun keragu-raguan yang bersarang didalam dada mereka, masih belum dapat mereka lenyapkan.

Ki Tanu Metir yang melihat perasaan itupun kemudian berkata “Angger Swandaru. Aku akan mencoba menunjukkan beberapa permainan yang dapat meyakinkan angger. Bukan semata-mata aku ingin dipercaya, namun semata-mata untuk memberikan dasar-dasar kepercayaan kepada angger Swandaru, bahwa usahanya akan tidak terlalu sia-sia. mungkin memang tidak akan dapat berhasil seperti yang diharapkan, misalnya, dalam waktu yang pendek akan segera dapat mengimbangi Sidanti, namun setidak-tidaknya ada usaha kearah itu. Mudah-mudahan lambat-laun akan berhasil pula, meskipun dari sedikit”

Swandaru tiba-tiba menjadi gembira. Kalau ia akan dapat melihat apapun yang dilakukan oleh Ki Tanu Metir, maka ia akan dapat meyakininya apa yang dilihat itu. Dan apabila demikian, maka ia berjanji didalam hatinya, bahwa ia akan menjadi seorang murid yang tekun. Mudah-mudahan ia tidak akan merasa selalu terancam hidupnya oleh Sidanti sepanjang umurnya.

Karena itu ketika Ki Tanu Metir mengajak mereka itu kehalaman, maka dengan serta-merta Swandaru itupun berdiri dan berkata “Benar-benar diluar kemampuanku untuk memikirkan apa yang telah terjadi itu, dan mungkin apa yang terjadi dalam permainan ini. Tetapi aku berjanji, bahwa aku akan menjadi seorang murid yang tekun, demi keselamatanku sendiri dan demi kelangsungan ketentraman didaerah ini”

“Bagus” desis Ki Tanu Metir “Angger adalah putra seorang Demang yang akan dapat nglintir kekuasaan itu. Mudah-mudahan angger akan dapat membawa bekal secukupnya”

“Terima kasih Kiai” jawab Swandaru.

Ki Tanu Metir itupun kemudian berjalan mendahului mereka. Tetapi dimuka pintu ia berhenti. Sambil berpaling ia berkata “Kita ke gunung Gowok”

Swandaru tidak peduli, apakah permainan itu dilakukan dirumah, dihalaman, atau di gunung Gowok. Karena itu ia menjawab “Marilah. Aku akan ikut kemana Kiai akan pergi”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kembali ia berjalan kehalaman. Ki Demang Sangkal Putung yang ingin juga melihat hal-hal yang baginya tak dapat dimengertinya itu ikut pula bersama Widura dan Agung Sedayu. Hanya Untara sajalah yang tinggal dipringgitan dan kembali ia membaringkan dirinya.

Para penjaga regol yang melihat mereka keluar menjadi heran dan bertanya-tanya didalam hati. Kemanakah mereka itu pergi? Widura dan Agung Sedayu baru saja pulang dari nganglang. Sekarang mereka pergi lagi bersama Ki Demang, Swandaru dan Ki Tanu Metir. Apakah ada seseorang yang perlu segera mendapat pertolongan dukun tua itu?

Tetapi mereka ridak bertanya terlalu banyak. Mereka hanya menyapa dan sekedar bertanya sepantasnya. Namun Widura yang menjawabnya hanya sekedar menjawab sepantasnya “Berjalan-jalan” katanya.

Mereka itupun kemudian berjalan tergesa-gesa ke gunung Gowok. Disepanjang jalan itu, mereka hampir tidak bercakap-cakap sepatahpun. Masing-masing sedang sibuk dengan angan-angannya.

Ki Tanu Metir itupun sibuk pula dengan pikirannya sendiri. adalah aneh sekali, bahwa ia seakan-akan memaksa seseorang untuk menjadi muridnya tidak atas permintaan anak itu sendiri. hal yang benar-benar menggelikan. Bahkan terpaksa ia membuktikan kepada anak itu sesuatu yang meyakinkannya, untuk bersedia menjadi muridnya. Tetapi ia tidak dapat menolak permintaan Widura dan ia tidak dapat membiarkan anak itu hidup dalam ketakutan atas bayangan orang lain yang mendendamnya. Ia harus menolongnya, meskipun dengan demikian terjadi kejanggalan itu.

Pada saat permulaan dari penurunan ilmu itu, Ki Tanu Metir telah melihat sesuatu yang menarik perhatiannya pada Swandaru. Anak itu memiliki sikap tinggi hati lebih dari Agung Sedayu. Mungkin terpengaruh oleh kebiasaan hidupnya sebagai seorang anak Demang, sehingga seakan-akan iapun memiliki pula kekuasaan yang dimiliki oleh ayahnya, Swandaru tidak segera menerima tawaran untuk menjadi muridnya. Namun ia meragukannya. Ia tidak ingin melihat hal-hal yang tidak dimengertinya itu lambat laun, namun dalam kebimbangan ia menunggu, meskipun telah didenganya beberapa keterangna mengenai dirinya.

Tetapi dengan demikian, maka Swandaru mempunyai sifat yang lebih terbuka pula. ia lebih senang melihat dan membuktikan langsung daripada menyimpan teka-teki didalam hatinya.

“Namun anak muda itu harus tahu” berkata Ki Tanu Metir didalam hatinya “Bahwa bukan kehendakku untuk mendapatkan murid-murid yang aku kehendaki, namun apa yang aku lakukan adalah untuk kepentingannya semata-mata, sehingga dengan demikian ia seharusnya tidak berbuat sekehendaknya seakan-akan tidak memerlukannya, tetapi harus benar-benar bertanggung-jawab bagi masa depannya sendiri”

Tetapi Ki Tanu Metir belum dapat mengatakan itu sekarang kepada Swandaru. Mungkin Agung Sedayu akan segera dapat mengertinya, namun Swandaru pasti belum. Anak itu harus melihat sesuatu lebih dahulu, sesuatu yang dapat menarik perhatiannya dan kepercayaannya. Tetapi apa?

Ki Tanu Metir menarik nafas panjang. Ia harus berbuat untuk menunjukkan kelebihannya dari orang lain. Benar-benar suatu hal yang asing baginya. “Mudah-mudahan aku tidak sekedar terdorong untuk menyombongkan diri” orang tua itu tersenyum didalam hati.

Tanpa terasa merekapun kemudian sampai pula disebuah tanah lapang kecil didekat puntuk kecil yang bernama gunung Gowok. Widura dan Agung Sedayu sudah kenal betul dengan gunung itu. Kepada batang kelapa sawit diatasnya, dan kepada tanah lapang yang kecil itu. Jauh lebih baik dari Ki Demang Sangkal Putung itu sendiri.

Swandaru menjadi gembira. Dilihatnya bintang-bintang yang bergantungan dilangit yang biru. Dilihatnya awan yang tipis bergerak lembut keutara.

Sesaat Ki Tanu Metir berdiri termangu-mangu. Terasa sangatlah berat baginya untuk memulai sebuah permainan yang aneh-aneh. Mungkin ia akan dapat berbuat demikian dalam keadaan yang serta-merta, tetapi ketika hal itu dirancangnya lebih dahulu, maka malahan terasa menjadi sulit.

Setelah sesaat mereka tegak membeku, maka Ki Tanu Metir menyadari, bahwa ia harus segera mulai. karena itu, maka dengan agak canggung diambilnya sepotong besi yang diselipkannya diikat pinggangnya. Dengan ragu-ragu ia berkata kepada Swandaru “Lihatlah ngger, mungkin kau kenal potongan-potongan besi semacam ini. Dengan potongan-potongan besi semacam ini Ki Tambak Wedi mencoba menakut-nakuti lawannya. Dengan tangannya Ki Tambak Wedi membengkokkan besi-besi semacam ini sehingga hampir berbentuk lingkaran, sehingga mirip dengan bentuk senjata yang disukainya disamping nenggalanya seperti kepunyaan Sidanti yang tertinggal di Sangkal Putung”

Swandaru tidak menjawab. ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Ia menunggu apa yang akan dilakukan oleh Ki Tanu Metir atas potongan besi itu.

Orang-orang yang berdiri tegak itupun kemudian melihat, Ki Tanu Metir menggenggam besi itu erat-erat, kemudian dengan kekuatan tangannya sepotong besi itu dilengkungkannya hampir berbentuk sebuah lingkaran. Widura dan Agung Sedayu menahan nafasnya. Terlebih-lebih Widura. ia pernah melihat Ki Tambak Wedi menakut-nakutinya dengan permainannya semacam itu.

Tetapi mereka terkejut ketika Swandaru itu berkata “Kiai, apakah aku tidak dapat melakukannya?”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak mau mengecewakan Swandaru. Besi yang lengkung itu diluruskannya kembali dan diberikannya kepada Swandaru “apakah angger ingin mencoba?”

Swandaru menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian ia menjawab “Biarlah aku mencobanya Kiai”

Swandaru kemudian menerima potongan besi itu. Sesaat ia diam. Dipandanginya Ki Tanu Metir dan potongan besi itu berganti-ganti.

“Silakan ngger, silakan mencoba”

Swandaru itu masih berbimbang hati. Tetapi kemudian dicobanya melakukan seperti apa yang baru saja diperbuat oleh Ki Tanu Metir.

Ketika ia mencoba melengkungkan besi itu, Swandaru benar-benar terkejut. Disangkanya pekerjaan itu amat mudahnya. Karena itu, maka dikerahkannya segenap kekuatan yang ada padanya. Dengan menggertakkan giginya, kedua tangannya menekan potongan besi itu.

Ternyata kekuatan Swandarupun benar-benar menakjubkan. Besi itu seakan-akan menggeliat, dan kemudian perlahan-lahan membengkok. Tetapi hanya sedikit sekali.

Nafas Swandaru menjadi terengah-engah. Ternyata kekuatannya yang dibangga-banggakannya selama ini hanya mampu membengkokkan besi itu sedikit saja. Itupun telah dikerahkan tenaganya sebesar-besar mungkin. Sedang Ki Tanu Metir nampaknya dapat berbuat demikian mudahnya, bahkan kedua ujung dan pangkalnya menjadi hampir bertemu.

“Bagaimana ngger?” bertanya Ki Tanu Metir kemudian. Swandaru menyerahkan potongan besi itu kembali sambil berkata “Aku tidak mampu Kiai”

Ki Tanu Metir tersenyum. Dilihatnya mata Swandaru selalu memandanginya. Dari pandangan mata itu Ki Tanu Metir melihat kepercayaan yang mulai tumbuh didalam hati Swandaru. Namun kepercayaan itu belum cukup meyakinkannya, bahwa Ki Tanu Metir benar-benar memiliki kelebihan seperti yang dikatakan oleh Agung Sedayu. Sebenarnyalah bahwa Swandarupun belum pernah melihat kelebihan Ki Tambak Wedi dari orang lain. Tetapi Swandaru telah mempercayainya. Ia percaya karena ia melihat kelebihan Sidanti, murid Ki Tambak Wedi itu, selain setiap orang menyebutnya sebagai seorang yang paling ditakuti disekitar gunung Merapi. Swandaru percaya karena hampir setiap mulut telah mengucapkannya. Sedang Ki Tanu Metir adalah seorang yang sama sekali tak dikenal sebelumnya.

Ki Tanu Metir menyadari keadaan itu. Ketenaran seseorang berpengaruh juga bagi kepercayaan orang lain terhadapnya. Meskipun ketenaran belum tentu menunjukkan ukuran sebenarnya dari seseorang. Namun Ki Tanu Metir tidak mengingkari pendapat itu. Karena itu, maka ia masih harus mendapatkan kepercayaan lebih banyak lagi dari calon muridnya itu.

Namun setiap ia akan mulai, maka keragu-raguannya tumbuh kembali didadanya. Permainan yang manakah yang sepantasnya dipertunjukan. Apakah ia mengajak saja Agung Sedayu atau Widura bertempur atau berdua bersama-sama. Tetapi Ki Tanu Metir akan tetap merasakan kebimbangan Swandaru seandainya Swandaru merasa bahwa Widura dan Agung Sedayu telah bersama-sama bersetuju. Kalau demikian, maka sebaiknya Swandaru itu sendiri yang melakukannya.

Tetapi sudah tentu, bahwa permainan itu tidak harus merupakan perkelahian. karena itu, maka berkatalah Ki Tanu Metir kepada Swandaru “Kau telah melihat pameran dengan kekuatan ngger. Tetapi tidak selalu bahwa kelebihan kekuatan pada seseorang akan dapat menyelamatkannya dari orang lain yang lebih lemah daripadanya. Kesempatan kelincahan seseorang juga akan turut menentukannya. Nah, sekarang marilah kita melihat, apakah kita cukup memiliki kelincahan”

Sebelum menjawab, maka Ki Tanu Metir itu kemudian mencari beberapa buah batu. Batu itupun kemudian diletakkannya dalam sebuah lingkaran yang tidak terlalu besar. Kemudian katanya kepada Swandaru “Nah, marilah kita bermain kejar-kejaran. Apakah angger Swandaru mampu menyentuh aku didalam lingkaran ini? Kalau aku meloncat terlalu jauh keluar lingkaran atau apabila angger Swandaru berhasil menyentuh tubuhku, maka aku telah angger kalahkan”

Swandaru mengerutkan keningnya. Permainan ini adalah permainan anak-anak saja nampaknya. Karena itu maka ia menjadi ragu-ragu. Sehingga Ki Tanu Metir itu mendesaknya “Marilah ngger. Kejarlah aku”

Swandaru menarik nafas. Meskipun demikian dicobanya juga untuk menyentuh Ki Tanu Metir didalam lingkaran itu. Mula-mula ia merasa bahwa Ki Tanu Metir terlalu menganggap dirinya sebagai anak-anak. Karena itu maka dilakukannya permintaan Ki Tanu Metir itu dengan segan-segan. Ia berjalan saja mendekati orang tua itu, dan dengan loncatan-loncatan dicobanya menyentuh tubuhnya. Tetapi semakin lama Swandaru itupun menjadi semakin jengkel. Telah berkali-kali ia mencobanya, tetapi setiap kali orang tua itu selalu menghindarinya. Karena itu semakin lama Swandaru menjadi semakin bernafsu. Lingkaran itu tidak terlalu lebar. Ia tinggal mengejar dan menyentuh tanpa takut-takut untuk mendapat serangan atau apapun dari orang tua itu. Tetapi ia tidak pernah berhasil. Semakin cepat ia bergerak, maka orang tua itu menjadi semakin cepat pula. sekali-sekali merunduk, namun disaat yang lain meloncat tinggi-tinggi. Bahkan ketika Swandaru telah benar-benar kehilangan kesabarannya, dan dengan sepenuh tenaganya ia mengejarnya, maka Ki Tanu Metir itu benar-benar telah membingungkannya. Sekali-sekali ia bahkan kehilangan orang tua itu. Baru ketika orang tua itu memanggilnya, disadarinya, bahwa orang tua itu telah berada dibelakangnya.

Ternyatalah kemudian bahwa bukan Swandaru yang berhasil menyentuh Ki Tanu Metir. Tetapi berkali-kali Ki Tanu Metirlah yang menggamitnya sambil menghitung “Satu, dua, tiga……” dan setiap sentuhan maka Ki Tanu Metir menambah hitungannya. Ketika hitungan Ki Tanu Metir telah sampai bilangan keduapuluh lima, maka ia berkata “Kalau kita bertaruh ngger, setiap sentuhan sebutir kelapa, maka duapuluh lima butir angger harus membayar”

Akhirnya Swandaru itupun berhenti. Nafasnya benar-benar terengah-engah. Ia berdiri sambil bertelekan dengan kedua tangannya pada pinggangnya. Dan dengan parau ia berkata “Tidak dapat. Tidak dapat Kiai”

Ki Demang Sangkal Putung mengangguk-anggukkan kepalanya. Sederhana sekali. Tetapi dengan permainan yang sederhana itu, Ki Tanu Metir benar-benar telah menunjukkan kekuatan dan kelincahan yang luar biasa.

Ki Demang Sangkal Putung yang telah memiliki pengalaman yang jauh lebih panjang dari Swandaru segera melihat, bahwa Ki Tanu Metir adalah seorang yang sakti namun penuh kesederhanaan. Ia tidak menunjukkan kelebihannya dengan cara-cara yang mengejutkan dan mengerikan, namun dengan cara yang sangat sederhana. Dan dengan demikian, maka Ki Demang itupun segera memahami, bahwa sifat-sifat itulah sebenarnya sifat Ki Tanu Metir. Bukan orang yang sesongaran dan terlalu membanggakan kelebihannya.

Namun berbeda dengan Swandaru sendiri, Swandaru adalah anak muda yang sedang berkembang. Angan-angannya membumbung tinggi keatas awan dilangit yang biru. Tak pernah ia puas melihat keadaan sekitarnya. Ia ingin segalanya yang serba besar, dahsyat dan mengejutkan. Karena itulah maka ia sama sekali belum puas dengan apa yang dilihatnya itu. Meskipun ternyata bahwa ia tidak mampu menyentuh ujung baju Ki Tanu Metir, namun tidak demikianlah kesaktian seseorang menurut angan-angannya. Seorang yang sakti harus mampu berbuat sesuatu yang dahsyat dan mengerikan. Memukul seekor lembu dengan tangannya sehingga pecah kepalanya. Ia sama sekali tidak puas dengan main-main kejar-kejaran, meskipun dengan demikian ia dapat melihat kelincahan dan kecepatan bergerak Ki Tanu Metir.

Ki Tanu Metir yang melihat Swandaru itu berdiri dengan nafas terengah-engah segera bertanya “Bagaimana angger Swandaru. apakah angger dapat memahami apa yang angger lihat?”

“Tetapi dalam keadaan bahaya Kiai” jawab Swandaru “Kita tidak hanya sekedar berlari-lari dan menghindarkan diri. Namun kita harus dapat melumpuhkan lawan. Apakah dengan berlari-lari dan menghindar kita akan mampu menjatuhkan musuh-musuh kita?”

Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya “Yang paling baik bagi kita ngger, adalah menyelamatkan diri kita. Apakah kita harus selalu menjatuhkan lawan kita dalam setiap pertempuran?”

Swandaru menjadi semakin tidak mengerti. Lalu apakah artinya pertempuran kalau kita hanya sekedar menghindarkan diri dengan berlari-lari saja? Karena itu maka ia bertanya “Jadi, apakah dengan berlari-lari menghindar persoalan akan selesai? Tidak Kiai. Misalnya Sidanti itu. Kalau suatu ketika aku bertemu dengan Sidanti, dan ia menyerangku, apakah aku hanya akan mampu melarikan diri, atau katakanlah menyelamatkan diriku sendiri. Apakah dengan demikian persoalanku dengan Sidanti selesai? Bagaimanakah kalau aku bertemu disaat yang lain?”

“Jadi bagaimana?” bertanya Ki Tanu Metir.

“Kalau aku bertempur” sahut Swandaru dengan nada yang berat “Maka aku harus dapat menghindari serangan lawan dan harus pula dapat membinasakan lawan”

Sekali lagi Ki Tanu Metir menarik nafas. Katanya “Jadi angger harus dapat membinasakan lawan dalam artian membunuhnya atau bagaimana?”

“Ya, demikianlah seharusnya”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia melihat perbedaan yang tajam antara Swandaru dan Agung Sedayu. Meskipun keduanya anak muda, dan bahkan mungin sebaya, namun keduanya memandang persoalan-persoalan yang harus dihadapinya dengan cara berpikir berbeda. Swandaru, seorang anak yang bertubuh kokoh kuat dengan bekal yang keras dan tegang dalam masa-masa pancaroba. Ketika anak itu meningkat dewasa, maka ia dihadapkan pada kekisruhan yang melanda kademangannya. Dalam pada itu ia hanya mendapat tuntunan lahiriah semata-mata. Berlatih untuk bertempur. Membinasakan lawan kalau tidak ingin dibinasakan. Sehingga semboyan yang ada padanya adalah, dibinasakan atau membinasakan. Tidak ada orang yang memberinya petunjuk, bahwa membinasakan lawan tidak selalu harus membunuhnya. Seorang yang dapat membinasakan lawan dalam tekad dan tujuannya yang salah, dan menjadikannya orang yang baik sehingga menyadari kesalahannya, untuk seterusnya menghentikan perbuatan-perbuatan itu, dapat juga dianggap sebagai usaha yang berhasil, meskipun tanpa membunuhnya.

Tetapi ia tidak dapat memberitahukan hal itu sekarang. Dan sudah pasti, bahwa Swandaru tidak akan segera dapat mengerti. Pengertian tentang hal semacam itu, sudah tentu diperlukan waktu. Dan Ki Tanu Metir itu menyadari, bahwa waktu yang diperlukan untuk Swandaru akan jauh lebih banyak dari waktu yang diperlukan untuk Agung Sedayu. Swandaru pasti menganggap hal yang demikian sebagai suatu kelemahan atau bahkan mungkin sifat-sifat cengeng.

Namun banyaklah contoh-contoh yang akan dapat diberikannya. Seorang penjahat dan liar pada suatu ketika akan dapat menjadi seorang alim yang berbudi. Yang bertobat dengan tulus dan menjadi seorang hamba Tuhan yang baik. Kesadaran yang demikian akan dapat terjadi dalam banyak persoalan. Dalam persoalan yang bersifat pribadi maupun persoalan yang lebih luas, sebagaimana yang dihadapi oleh Widura. Para pengikut Arya Penangsang sampai saat itu, masih belum mengakui keadaan yang dihadapinya. Sehingga karena itu maka mereka terperosok kedalam perbuatan-perbuatan tercela. Bukan sebagai seorang prajurit yang memanggul cita-cita kenegaraan yang tinggi, tetapi kesempatan sebagai gerombolan-gerombolan yang menakut-nakuti rakyat.

Apa yang terjadi dihadapan Swandaru itulah yang mendorongnya dalam masa pancaroba itu, berangan-angan tentang kejantanan, kekerasan dan kemenangan-kemenangan yang tampak oleh mata. Ki Tanu Metirpun menyadari, bahwa tekad yang demikian tidak boleh dipatahkan, tetapi harus mendapat penyaluran yang wajar. Perlahan-lahan. Karena itulah maka Ki Tanu Metir itupun kemudian tidak mempunyai pilihan yang lain untuk memenuhi harapan Swandaru, meskipun tidak berlebih-lebihan. Ia harus dapat memberikan suatu contoh yang tepat menurut selera anak muda dari Sangkal Putung itu. Tetapi apakah yang dapat dipertunjukkan dihadapannya. Dihadapan Swandaru dan orang-orang lain. Apakah ia harus mematahkan pedang dengan jari-jarinya atau memukul kelapa sawit itu hingga roboh dengan telapak tangannya?

Tetapi bagaimanapun juga Ki Tanu Metir harus melakukannya. Kali ini Ki Tanu Metir tidak mau berbuat menurut seleranya. Ia harus dapat memenuhi selera Swandaru. Karena itu, maka lebih baik baginya untuk bertanya saja, katanya “Angger Swandaru, kalau angger tidak puas dengan permainan kejar-kejaran itu maka permainan apakah yang angger senangi?”

Swandarupun tertegun diam. Ia sendiri menjadi bingung. Sejak lama ia mengangan-angankan untuk menjadi seorang jantan yang tidak dapat dikalahkan. Tetapi yang bagaimana? Ketika ia mendengar pertanyaan itu, maka iapun menjadi bimbang. Ia tahu apa yang dimaksudkannya, tetapi ia tidak dapat mengatakan.

Karena itu, maka Swandaru itupun berkata dengan jujur “Kiai, aku sebenarnya hanya ingin menjadi laki-laki yang sakti. Mungkin seperti Ki Tambak Wedi, atau setidak-tidaknya seperti kakang Untara, atau yang lain-lain yang dapat memenangkan pertempuran-pertempuran dan perkelahian-perkelahian”

Sekali lagi Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Kehormatan yang diidam-idamkan oleh Swandaru ternyata adalah kemenangan jasmaniah. Kemenangan-kemenangan dalam perkelahian-perkelahian dan pertempuran. Ia sama sekali tidak mengangankan kemenangan lain yang dapat dicapainya tanpa perkelahian dan pertempuran. Tetapi Ki Tanu Metir menghargai kejujurannya. Swandaru itu berkata apa saja yang dipikirkannya. Karena itu, maka Ki Tanu Metir masih mempunyai harapan, bahwa kelak Swandaru itu akan dapat dituntunnya sedikit demi sedikit.

Kali ini, Ki Tanu Metir benar-benar harus menunjukkan ketangkasannya berkelahi. Tidak ada pilihan lain. Tetapi bagaimana?

Tiba-tiba orang yang tampaknya demikian lemahnya, berjalan tersuruk-suruk dan dahi yang berkerut-kerut itu meloncat dengan garangnya. Dengan lantangnya ia berkata “He angger Widura, cabutlah pedangmu. Berdua dengan Agung Sedayu. Tidak, ayolah bertiga dengan Swandaru. cepat sebelum aku melukai kalian dengan senjataku ini”

Hampir tak terlihat oleh mata mereka, Ki Tanu Metir tiba-tiba telah menggenggam sebuah cambuk kecil yang berjuntai beberapa cengkang. Bukan cambuk yang dipakainya bertempur melawan Ki Tambak Wedi. tetapi cambuk ini agak lebih kecil.

Tetapi gerak Ki Tanu Metir itu benar-benar mengejutkan. Tiba-tiba saja ia sudah menyerang dengan senjatanya. Letusan cambuk itu meledak-ledak ditelinga Swandaru seperti letusan-letusan bambu sebesar paha yang termakan api. Swandaru benar-benar terkejut melihat gerakan dan serangan yang tiba-tiba itu. Tanpa disadarinya segera ia mencabut pedangnya. Dan dengan serta-merta iapun bersiap menghadapi setiap kemungkinan yang bakal datang.

Widura dan Agung Sedayupun segera menarik pedangnya. Meskipun agak segan-segan juga, namun mereka terpaksa menuruti kehendak itu. Sebab dengan demikian, maka mereka telah membantu meyakinkan Swandaru terhadap kelebihan Ki Tanu Metir.

Tetapi kembali Swandaru terkejut bukan kepalang, sebelum ia sempat berbuat apa-apa, maka terasa seakan-akan sebuah sambaran menyentuh pedangnya. Ternyata ujung cambuk Ki Tanu Metir telah membelit pedangnya. Sebuah sentakan telah merenggut pedang itu dari tangannya.

Sesaat Swandaru tegak seperti patung. Dilihatnya pedangnya terlempar dan jatuh beberapa langkah daripadanya. Demikian kagumnya ia melihat kecepatan itu, sehingga untuk sesaat ia tidak bergerak seperti tonggak.

“Kenapa pedangmu kau lepaskan” bertanya Ki Tanu Metir

Swandaru tidak menjawab. namun ia segera menyadari keadaannya. Dilihatnya kini Widura dan Agung Sedayu telah menyerang Ki Tanu Metir itu dengan pedang masing-masing. Namun serangan keduanya seakan-akan sama sekali tidak berarti bagi Ki Tanu Metir. Dengan berloncatan serangan kedua orang itu dengan mudahnya dihindari.

“Mereka tidak bersungguh-sungguh” pikir Swandaru. “Aku akan membuktikan bahwa Swandaru bukan tikus yang kagum melihat kucing menari-nari”

“Beri kesempatan aku mengambil senjataku” teriak Swandaru.

“Ambillah” sahut Ki Tanu Metir sambil melayani Agung Sedayu dan Widura.

Ki Tanu Metir itupun kemudian berkata pula “Marilah Ki Demang kita bermain-main”

Ki Demang belum lagi selesai mengelus dadanya. Tidak disangkanya bahwa dukun tua itu benar-benar mampu bergerak selincah burung sikatan menghadapi ujung-ujung pedang. Tetapi ia tersadar ketika Swandaru berbisik “Mereka hanya pura-pura. Mari ayah, kita buktikan, apakah benar-benar Ki Tanu Metir bukan hanya seorang dukun saja”

Mula-mula Ki Demang Sangkal Putung merasa segan pula. tetapi ketika ia melihat Widura menggerakkan pedangnya seperti baling-baling dan melibat Ki Tanu Metir sejadi-jadinya, maka perlahan-lahan Ki Demang itupun menarik pedangnya pula.

Kini mereka bertiga menghadapi Ki Tanu Metir dengan pedang ditangan. Swandarupun kemudian dengan tergesa-gesa memungut pedangnya pula. dengan hati-hati ia segera mendekati lingkaran pertempuran itu untuk mencoba menunjukkan bahwa iapun memiliki kekuatan yang dapat dibanggakan. Kalau sekali lagi ujung cemeti itu membelit pedangnya, maka pedang itu akan dipertahankan dengan kekuatannya. Meskipun Ki Tanu Metir itu memiliki kekuatan yang berlebihan, apakah ia dapat segera merebut pedangnya, sedangkan orang-orang lain akan menyerangnya? Setidak-tidaknya ayahnya, apabila Widura dan Agung Sedayu hanya berpura-pura saja.

Tetapi sekali lagi Swandaru itu terkejut bukan kepalang. Baru saja ia mengacungkan ujung pedang itu, tiba-tiba sekali lagi pedangnya meloncat dari tangannya. Dan sekali lagi ia mendengar Ki Tanu Metir itu berkata “Jangan lepaskan Swandaru”

Swandaru menggeram. Berlari-lari ia memungut pedangnya. Kali ini ia tidak bernafsu untuk menyerang. Digenggamnya pedangnya erat-erat. Tetapi kali ini ia benar-benar menjadi bingung. Ketika terasa ujung cambuk Ki Tanu Metir menarik pedangnya, maka pedang itu dipertahankannya. Namun sebuah tarikan yang kuat telah membantingnya terjerembab.

Tertatih-tatih Swandaru segera berusaha bangun. Sekali lagi menggeram. Swandaru merasa bahwa tarikan ujung cambuk itu terlalu tiba-tiba dan menyentak, sedangkan ia menggenggam pedangnya terlampau erat, sehingga ia tertarik kedepan dan kehilangan keseimbangan.

Ketika ia tegak berdiri, dilihatnya Ki Tanu Metir masih sibuk melayani Widura, Agung Sedayu dan Ki Demang Sangkal Putung. Bukan main panas hati Swandaru Geni itu. Ternyata bahwa tiga kali ia kehilangan senjatanya, dan bahkan yang terakhir kalinya ia terpaksa jatuh terjerebab mencium tanah.

Dengan lengan bajunya, Swandaru membersihkan debu yang melekat diwajahnya. Bajunyapun menjadi kotor pula karenanya. Namun semuanya itu tak dihiraukannya. Kali ini ia benar-benar akan mempertahankan dirinya dari tarikan cambuk itu. Betapapun kuatnya Ki Tanu Metir, namun apabila ia benar-benar bertahan, maka ia pasti bahwa ujung cambuk yang kecil itu akan terputus oleh tajam pedangnya, meskipun terbuat dari janget tenatelon sekalipun.

karena itu, maka kini Swandaru memungut pedangnya sekali lagi. Digenggamnya pedang itu erat-erat. Dengan hati-hati ia berjalan ketitik pertempuran, dan diacungkannya pedangnya kearah Ki Tanu Metir. Dengan sepenuh tenaga ia memegang hulu pedangnya. Sedang kedua kakinya yang melangkah setengah langkah ditekuk pada lututnya sedikit. Kini Swandaru berdiri rendah. Pedangnya teracung kearah Ki Tanu Metir. Namun Swandaru itu sama sekali tidak bergerak. Kakinya seakan-akan menghunjam jauh kedalam tanah, sehingga anak muda itu kini seakan-akan sebuah pokok dari sebatang pohon yang berakar jauh kepusat bumi.

“Kali ini aku akan bertahan sekuat-kuat tenagaku” kata Swandaru didalam hatinya. Sehingga dengan demikian maka Swandaru itu memusatkan segenap kekuatannya pada genggaman pedangnya serta kedua belah kakinya.

Beberapa saat ia melihat pertempuran itu masih berlangsung. Sebenarnya bahwa Ki Tanu Metir sangat lincah dan cekatan diluar dugaan. Orang tua yang tampaknya tidak memiliki daya gerak sama sekali itu ternyata seorang yang dapat bergerak secepat kilat menjilat langit dan memiliki tenaga sekuat tenaga raksasa. Meskipun demikian, Swandaru masih tetap bertekad untuk bertahan dari kemungkinan yang keempat. Pedangnya terjatuh atau dirinya terjerebab.

Tetapi kembali Swandaru itu terkejut. Kali ini Ki Tanu Metir itu tidak menyerangnya, mencabut pedang dari tangannya atau menariknya jatuh. Tiba-tiba Swandaru itu menjadi bingung ketika Ki Tanu Metir itu bertanya kepadanya “Swandaru, dengan berdiri mematung seperti itu, kau tidak akan dapat mengalahkan lawanmu. Betapa lemahnya lawanmu itu, maka ia akan dengan leluasa mencoba menyerangmu dari arah yang dipilihnya. Sedang engkau sendiri hanya tegak saja seperti sebuah tonggak. Kenapa?”

Pertanyaan itu benar-benar tak diduganya. Sesaat Swandaru tidak dapat menjawab. bahkan wajahnya menjadi merah. Dadanya bergelora dan berbagai perasaan berkecamuk didalam hatinya. Tetapi kemudian ia menyadari kebenaran kata-kata Ki Tanu Metir. Ia tidak dapat bertempur dengan caranya itu. Berdiri diam tanpa bergerak.

karena itu, maka tiba-tiba Swandaru itu segera meloncat, menyerbu kedalam pertempuran itu. Digerakkan pedangnya dengan garangnya, terayun-ayun menggetarkan. Tetapi sekali lagi pedangnya terlempar jatuh beberapa langkah daripadanya.

Kali ini Swandaru benar-benar terpaku ditempatnya. Kenapa hal itu dapat terjadi? Namun dengan demikian, benar-benar ia mendapatkan suatu keyakinan akan kecepatan bergerak Ki Tanu Metir itu. Dalam perkelahian itu, ia sama sekali tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk mencoba melawan Ki Tanu Metir. Ia sama sekali tidak mendapatkan waktu sekejappun untuk ikut serta dalam pertempuran itu. Sehingga dengan demikian, maka tiba-tiba Swandaru berkata “Aku tidak akan mengambil pedangku kembali.”

Ki Tanu Metir tersenyum dalam hati. Tetapi terdengar ia bertanya “Kenapa ngger?”

“Hem” Swandaru menarik nafas panjang-panjang. Jawabnya “Tak ada gunanya”

“Jadi bagaimana?” bertanya Ki Tanu Metir.

“Ya bagaimana? Aku sama sekali tidak sempat berbuat apa-apa.”

Ki Tanu Metir itupun kemudian meloncat beberapa langkah kebelakang sambil berkata “Sudahlah. Kita akhiri pertempuran ini. Angger Swandaru telah menjadi jemu.”

Perkelahian itupun segera berakhir. Widura dan Agung Sedayu tidak dapat menahan geli hatinya melihat Swandaru berdiri bertolak pinggang. Wajahnya berkerut-kerut dan bibirnya bergerak-gerak meskipun ia tidak berkata apapun juga.

“Bagaimana? Bertanya Ki Demang Sangkal Putung pada anaknya.

Swandaru menggeleng-gelengkan kepalanya. Jawabnya bersungguh-sungguh “Aku tidak ikut apa-apa. Sama sekali tidak.”

“Kenapa?” bertanya Widura sambil tertawa.

Sekali lagi Swandaru menggelengkan kepalanya. Pipinya yang gembung itu bergerak-gerak lucu sekali. Namun kini ia telah mendapatkan suatu keyakinan di dalam hatinya, bahwa Ki Tanu Metir benar-benar orang yang luar biasa. Tetapi meskipun demikian, selera Swandaru agak berbeda dengan apa yang dilihatnya. Ia adalah seorang yang memiliki kekuatan jasmaniah yang besar sekali. Tubuhnya yang besar dan hampir bulat itu, baginya terlalu sulit untuk bergerak cepat. Karena itu, maka ingin sekali ia melihat Ki Tanu Metir melakukan suatu perbuatan yang dapat menggetarkan dadanya. Namun ia tidak berani mengatakannya. Disimpannya saja keinginan dalam hatinya. “Mungkin suatu ketika aku akan melihatnya, atau barangkali Ki Tanu Metir hanya mampu berbuat seperti itu. Membanggakan kecepatan gerak tanpa dasar kekuatan?” Namun kemudian katanya didalam hatinya “Tetapi Ki Tanu Metir mampu melengkungkan sepotong besi.”

Swandaru itu menggeleng kepalanya kembali. Diakuinya kekuatan Ki Tanu Metir. Tetapi hatinya bertanya pula “Aku kurang puas. Aku kurang puas. Kenapa Ki Tanu Metir tidak mau menggempur padas itu sampai pecah.”

Tetapi Swandaru tidak mengatakan ketidakpuasannya. Ketidakpuasan itu disimpannya saja didalam hatinya.

Berbeda dengan Ki Demang Sangkal Putung. Demang itu menjadi benar-benar kagum melihat Ki Tanu Metir itu. Orang itu ternyata memiliki ketangkasan yang benar-benar tidak dibayangkan sebelumnya. Kekaguman Ki Demang Sangkal Putung tidak saja karena Ki Tanu Metir mampu bergerak dengan kecepatan yang tidak dimengertinya, sehingga Swandaru sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk bermain pedang, tetapi orang tua itu kagum juga akan cara Ki Tanu Metir untuk menunjukkan kelebihannya. Terasa bahwa usaha Ki Tanu Metir untuk memperlihatkan kepada orang lain, tidak terlalu berlebih-lebihan. Tanpa sikap sombong dan tidak menunjukkan kesadaran diri akan kelebihan-kelebihannya. Sikap yang dalam keseluruhannya benar-benar jarang ditemuinya. Sederhana, berilmu tinggi dan keseimbangan perasaan dan pikiran.

Orang-orang yang berada dilapangan kecil itu terkejut ketika mereka mendengar kokok ayam jantan yang bersahut-sahutan. Bintang-bintang yang berjejal-jejal dilangit, satu demi satu telah menghilang. Sedang ditimur membayang warna semburat merah mengusap langit yang biru kehitaman.

“Hampir fajar” desis Ki Tanu Metir.

“Apakah permainanmu ini sudah cukup? Bertanya Widura kepada Swandaru.

Swandaru mengangguk kepalanya. Jawabnya “Sementara sudah cukup paman.”

“Sementara?” ulang ayahnya.

Swandaru tidak menjawab. Ditundukkannya kepalanya. Namun hatinya menyahut “Ya. Sementara. Aku ingin melihat kedasyatan tenaga Ki Tanu Metir. Menggugurkan gunung atau mengeringkan lautan. Dasyat. Tidak sekedar kelincahan dan kekuatan yang diam seperti melengkungkan sepotong besi. Tetapi kekuatan yang hiduo. Yang menggetarkan dada ini.” Namun kata-kata itu sama sekali tidak terloncat dari bibirnya.

“Nah, apakah kita dapat kembali sekarang?” bertanya Ki Tanu Metir.

Semuanya mengiakan. Mereka segera akan melakukan kewajiban ibadah mereka.

Ketika fajar merekah, maka burung-burung liar terdengar berkicauan seakan-akan berebut keras meneriakkan selamat pagi. Cahaya matahari yang cerah melontar mengusap ujung-ujung pepohonan yang hijau segar. Dilangit awan yang putih berhamburan mengalir ke utara didorong oleh angin ngarai.

***

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Anak muda itu tegak berdiri disamping kandang kuda dibelakang rumah Kademangan. Ditatapnya cahaya matahari yang bermain-main diatas tanah yang kering seperti berloncat-loncatan berkejaran.

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Hampir saja kepalanya dipecahkan oleh Sidanti dihalaman ini, disamping kandang kuda itu. Namun kini ia akan mendapat kesempatan yang lebih banyak untuk mematangkan diri sendiri. Ki Tanu Metir yang dikaguminya itu telah berjanji untuk menjadikannya seorang murid.

“Mudah-mudahan aku dapat menjadi seorang murid yang baik” gumamnya.

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya dengan sendirinya. Ia mencoba memahami kata-kata Ki Tanu Metir kepada Swandaru semalam. Dan ia dapat mengertinya.

Agung Sedayu itu kemudian berpaling ketika ia mendengar gerit senggot diatas sumur. Dilihatnya seorang gadis mengambil air dari sumur itu. Dada Agung Sedayu terasa berdesir. Gadis yang sudah sering kali dilihatnya itu tiba-tiba menjadi bertambah segar dalam siraman cahaya matahari pagi yang bermain-main ditubuhnya. Tubuh yang bulat segar. Tubuh yang kuat seperti tubuh kawan-kawannya gadis pedesaan yang tidak saja duduk bersolek didalam biliknya tetapi juga bekerja keras membantu ayah bundanya.

Perlahan-lahan Agung Sedayu berjalan menghampirinya. Ketika gadis itu berpaling, maka Agung Sedayu tersenyum kepadanya “biarlah aku membantumu”

“Jangan Tuan” sahut Sekar Mirah “Biarlah aku mengambil air sendiri.”

Panggilan itu terasa asing baginya kini. Tiba-tiba ia sama sekali tidak senang mendengar sebutan itu. Karena itu, maka katanya “Mirah. Jangan panggil aku demikian. Biarlah kita yang menghuni rumah ini bersikap akrab. Seperti Swandaru kini tidak lagi diperkenankan bersikap terlalu hormat”.

Sekar Mirah menundukkan wajahnya. Dilihatnya bayangannya didalam sumur. Bayangan seorang gadis remaja yang segar gembira. Tetapi bayangan itu kemudian pudar dan lenyap ketika upihnya menyentuh permukaan air itu.

“Bagaimana aku harus menyebut tuan?” bertanya Sekar Mirah tanpa berpaling.

“Bertanyalah pada Swandaru.” sahut Agung Sedayu “Bagaimana ia menyebut aku sekarang.”

“Ah” Sekar Mirah itu tersenyum. Diangkatnya takir upihnya keatas. Dan dituangkannya air dari takir upih sebesar bejana itu kedalam kelentingnya.

“Marilah, aku ambilkan air untukmu” berkata Agung Sedayu.

“Jangan tuan” jawab Sekar Mirah

“Jangan panggil demikian”

“Bagaimana?”

“Bertanyalah pada kakakmu”

“Baik, aku akan merubah panggilan itu nanti kalau aku telah bertemu dengan kakang Swandaru. Bukankah sekarang aku belum tahu bagaimana aku harus memanggil tuan?”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya bertanya “Kenapa bukan orang lain yang mengambil air ini?. Bukan pembatu-pembatumu?”

“Tak ada bedanya” sahut Sekar Mirah

Agung Sedayu terdiam. Ditatapnya sekali lagi Sekar Mirah yang sedang menimba air itu seperti baru sekali dilihatnya.

Sekar Mirah yang merasa selalu diperhatikan oleh Agung Sedayu menjadi segan. Sehingga katanya kemudian “Tuan, apakah yang aneh padaku?”

“Oh” wajah Agung Sedayu menjadi kemerah-merahan. Cepat-cepat ia berpaling sambil berkata “Tak ada. Tak ada yang aneh padamu. Tetapi aku ingin membantumu mengambil air”

“Tak usah” sahut Sekar Mirah

Agung Sedayu tidak lagi memaksanya. Dibiarkannya Sekar Mirah menimba air. Mengisi kelentingnya dan kemudian menjinjingnya pada lambungnya.

“Berat?” bertanya Agung Sedayu

Sekar Mirah menggeleng lemah “Tidak” jawabnya “Aku sudah biasa mengambil air”

Agung Sedayu tidak berkata-kata lagi. Dilihatnya saja Sekar Mirah itu berjalan sambil menjinjing kelenting itu. Terasa hatinya menjadi tergetar melihat langkah gadis itu. Cepat, lincah dan penuh gerak dan gairah atas pekerjaannya.

“Gadis yang keras hati” desah Agung Sedayu.

Sebenarnya Sekar Mirah mempunyai hati yang menyala-nyala menyongsong hari depannya. Dilihatnya setiap orang dari anggota prajurit Pajang dengan seksama. Dinilainya seorang demi seorang, dan dikaguminya mereka yang penuh kejantanannya berjuang melawan musuh-musuhnya.

Itulah sebabnya mula-mula Sekar Mirah hampir tak pernah berpisah dengan Sidanti. Didorongnya pemuda itu untuk bertempur, berkelahi dan melawan musuh. Didesaknya pemuda itu untuk menemukan tempat yang sebaik-baiknya dalam kesatuannya. Dilecutnya Sidanti untuk meraih masa-masa yang gemilang pada masa-masa yang akan datang.

Dan Sidanti mendengarkannya dengan penuh minat. Sidanti menerimanya dengan penuh harapan. Bukan saja apa yang dikatakan oleh Sekar Mirah, namun demikianlah kata hatinya sendiri. ia adalah seorang anak muda yang memandang masa depan sebagai miliknya. Miliknya sendiri. Sebagai api yang disiram minyak ia bertemu dengan Sekar Mirah. Hasrat yang tersimpan dihatinya menjadi semakin menyala. Apalagi gurunya adalah seorang yang bernama Ki Tambak Wedi. Seorang yang bercita-cita setinggi awan dilangit. Namun dirinya sendiri tidak pernah dapat menggapainya, sehingga dengan demikian maka dinobatkannya dirinya sendiri menjadi seorang yang disegani dan ditakuti didaerah lereng gunung Merapi. Pertemuan diantara merekalah yang sebenarnya telah membakar Sangkal Putung. Bukan saja usaha Macan Kepatihan yang nyata-nyata berhadapan beradu dada, namun Sidanti ternyata merupakan bahaya yang membayang dibalik punggung.

Tetapi ternyata Sekar Mirah itupun menjadi kecewa terhadap Sidanti. Ternyata bukan Sidanti yang ingin didorongnya maju, tetapi dirinya sendiri. Ketika ia melihat nafsu Sidanti yang menyala-nyala, justru ia menjadi kecewa. Sidanti berjuang untuk dirinya sendiri, bukan untuk Sekar Mirah. Sekar Mirah bagi Sidanti adalah seorang yang baik hati, yang mendorongnya untuk semakin gigih berjuang. Tidak untuk Pajang, tetapi untuk dirinya, Sidanti. Dan ternyata Sekar Mirah adalah seorang gadis yang cantik.

Ketika kemudian hadir Agung Sedayu, maka hati Sekar Mirah segera berkisar. Ia mengharap untuk menemukan seorang pahlawan yang baru. Pahlawan yang dapat mendengarkan suara hatinya. Pahlawan yang dapat mengerti gelora dadanya. Pahlawan yang akan berjuang untuknya, yang akan mempersembahkan setiap kemenangan kepadanya.

Tetapi Sekar Mirah belum menemukannya pada Agung Sedayu. Ternyata sampai kini Agung Sedayu benar-benar seorang yang berjuang dengan tulus.

“Ia adalah kemenakan paman Widura” berkata Sekar Mirah didalam hatinya “Sehingga karena itu maka ia tidak akan berani berbuat diluar kehendak pamannya itu”

Karena itu, maka Sekar Mirah menjadi ragu-ragu. Ketika ia melihat perang tanding dilapangan, antara Sidanti dan Agung Sedayu dalam ketangkasan memanah dan seterusnya, hatinya benar-benar berguncang-guncang. Sekali-sekali ia kagum melihat ketangkasan Sidanti, serta nyala dan hasrat untuk menggenggam masa depan ditangannya. Ia melihat anak muda itu dengan penuh tekad menentang setiap tantangan. Sedang Agung Sedayu seolah-olah dibayangi oleh keragu-raguan dan kebimbangan. Tetapi kemudian perasaan Sekar Mirah itu terlempar pada suatu harapan yang diilihatnya dalam kemampuan Agung Sedayu. Ketrampilannya melepas anak panahnya, serta ketepatan bidiknya telah menariknya kedalam satu pertimbangan yang kacau.

Kemenangan Agung Sedayu pada saat itu telah benar-benar meyakinkan Sekar Mirah, bahwa hari depan Sidanti pasti akan benar-benar tertutup. Dalam pada itu, maka hilanglah segenap keragu-raguannya. Ia tidak dapat lagi bergantung pada anak itu, kepada Sidanti. Bahkan meskipun seandainya Sidanti menemukan masa-masa yang maju dan gemilang, maka masa-masa yang demikian adalah masa-masanya sendiri. Masa-masa yang dimilikinya sendiri. Bukan masa-masa yang akan diperuntukkannya. Bahkan dirinyapun bagi Sidanti, pasti hanya akan dipergunakan untuk kepentingan anak muda itu. Sebagai pendorong dan penuntun menjelang hari-hari yang akan lebih terang, bagi Sidanti.

Tetapi kini Sidanti sudah tidak ada di Sangkal Putung lagi. Sidanti telah hilang dari halaman rumahnya. Ia mendengar beberapa orang berkata kepadanya, seandainya perkelahian diantara Agung Sedayu dan Sidanti itu dilakukan dengan jujur, maka sudah pasti Sidanti tidak akan memenangkannya. Tetapi tiba-tiba Sidanti telah berbuat curang. Tetapi karena itulah maka Swandarupun menjadi terlibat pula kedalamnya.

Sekar Mirah yang kemudian bekerja didapur itupun tidak dapat segera menggeser perasaannya. Agung Sedayu tampaknya telah berubah. Ia kini tampak segar dan gembira. Dihari-hari yang lewat, Agung Sedayu hampir tak pernah keluar dari pringgitan. Baru sejak akhir-akhir ini seringkali ia tampak berjalan-jalan dihalaman. Namun wajahnya masih saja selalu dibayangi oleh kemuraman dan keragu-raguan. Tetapi kini sudah tidak lagi. Wajah itu menjadi cerah. Dan Sekar Mirah tidak dapat mengingkari dirinya lagi. Ia telah tertarik pada wajah itu. Wajah yang tampak lebih halus dan lunak dari wajah Sidanti. Tetapi apakah api yang menyala didada Sedayu itu sedahsyat api yang menyala didada Sidanti?

Hari itu Sangkal Putung tidak mendapat perubahan apa-apa. seperti hari-hari yang lain, para petugas sibuk dengan kewajibannya. Gardu-gardu masih berisi penjaga-penjaga yang mengawasi keadaan. Dan warung diujung desa masih juga ramai dikunjungi para pembeli dan penjual yang tidak berani pergi ketempat yang lebih jauh.

Untara kini telah menjadi lebih baik. Ia telah dapat turun kehalaman dan melihat laskar Pajang melakukan tugasnya. Satu-satu Untara menanyakan kepada mereka, nama mereka dan rumah tempat tinggal mereka. Keluarga mereka dan segala sesuatu yang berhubungan dengan mereka itu sebagai seorang prajurit dan sebagai manusia.

Ketika Untara itu bertanya kepada seorang yang berwajah keras dan berjanggut tebal, maka didengarnya jawaban “Aku beranak sebelas tuan”

“Sebelas” Untara terkejut “Dimana sekarang mereka tinggal?”

“Pengging”

“Kau berasal dari Pengging?”

“Ya” jawab orang itu.

Untara meninggalkannya. Sebelas orang. Dan sebelas orang itu semua beserta ibunya menunggunya dirumah. Menunggu orang yang berjanggut tebal itu pulang.

“Hem” Untara menggeram. Katanya dalam hati “Persoalan Macan Kepatihan harus cepat selesai. Kalau tidak, maka persoalan ini akan berlarut-larut. Waktu yang akan dipakai untuk merampungkan persoalan ini tidak terbatas pada bilangan minggu, bulan dan bahkan tahun”

Tetapi Untara harus menunggu punggungnya sembuh benar-benar. Kalau kekuatannya telah pulih kembali, maka ia akan memimpin langsung laskar ini bersama Widura. Mereka tidak boleh hanya menunggu saja, namun mereka harus bergerak, menusuk dijantung pertahanan dan tempat persembunyian mereka.

Adapun Agung Sedayu dan Swandaru sejak hari itu adalah murid Ki Tanu Metir. Mereka sudah tidak lagi dibingungkan oleh orang yang berkerudung kain gringsing. Namun Ki Tanu Metir sendiri itupun masih membawa teka-teki pula bagi mereka. Apakah sebenarnya ia seorang dukun tua saja? Seorang dukun yang tidak mempunyai kepentingan langsung dengan Agung Sedayu atau Untara atau Widura atau Swandaru? namun Agung Sedayu dan Swandaru sama sekali tidak mempersulit diri mereka. Mereka ingin mendapat ilmu dari orang tua itu. Dan ia akan memanfaatkan ilmu itu kelak.

Sejak hari itu, maka Swandaru dan Agung Sedayu telah mulai dengan hari pertama mereka berguru. Ki Tanu Metir membawa mereka kesungai yang agak jauh dari Sangkal Putung. Disanalah mereka mendapat beberapa petunjuk dari Ki Tanu Metir. Petunjuk-petunjuk untuk memulai dengan pelajaran-pelajaran jasmaniah. Mereka harus mendengarkan petunjuk-petunjuk itu dan mencoba mengertinya.

Agung Sedayu mendengarkan setiap kata-kata Ki Tanu Metir dengan seksama. Dicobanya untuk mengerti dan dicobanya untuk mencernakannya. Namun Swandaru merasa waktu itu terbuang-buang. Baginya lebih baik Ki Tanu Metir langsung mengajarnya dengan unsur-unsur gerak daripada harus mendengarkannya berbicara saja tentang beberapa hal yang penting untuk masa depannya.

Tetapi Ki Tanu Metir itu berbicara terus, dan ia masih harus mendengarkannya.

“Anak-anakku” berkata Ki Tanu Metir “Apa yang akan kalian dapat, hendaknya akan dapat bermanfaat bagi masa-masa mendatang. Bukan saja bagi kalian berdua, tetapi juga bagi beberapa lingkungan kalian. Ilmu yang akan kalian pelajari adalah sekedar alat. Alat itu tidak selalu harus dipergunakan dalam setiap kesempatan dan keadaan. Tetapi alat hanya akan dipergunakan pada kemungkinan yang paling tepat”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya sedang Swandaru memandangi percikan-percikan air yang mengalir dibawah batu-batu tempat duduk mereka.

“Hari ini adalah hari yang pertama bagi kalian” berkata Ki Tanu Metir itu “Dan dihari pertama kalian harus yakini, bahwa alat yang akan kalian terima bukanlah alat yang terbaik. Katakanlah bahwa alat ini adalah alat yang paling jelek. Alat yang hanya akan dipergunakan apabila sudah tidak ada alat lain, yang dapat kalian pakai. Namun jangan pula mencari sebab, sehingga kalian terdorong pada kemungkinan untuk mempergunakan alat ini. Ingat-ingatlah, alat ini adalah alat yang paling jelek yang kau miliki. Alat yang paling baik adalah alat yang telah ada didalam dirimu. Kasih sayang diantara sesama dan pegangan-pegangan yang kalian dapat dari ibadah kalian kepada Tuhan. Ingatlah ini. Janganlah dengan alat ini kalian mengorbankan apa yang sudah kalian miliki itu”

Kembali Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya dan Swandaru masih saja memandangi percikan air dibawah tempat duduk mereka.

“Apakah kalian mengerti kata-kataku?” bertanya Ki Tanu Metir itu kemudian.

“Ya Kiai” sahut Agung Sedayu dan Swandaru hampir bersamaan.

“Bagus” berkata Ki Tanu Metir kemudian “Ingat, jangan sesorangan. Jangan salah langkah. Bahkan tak ada seorangpun didunia ini yang paling menang. Suatu ketika seseorang pasti akan dikalahkan oleh yang lain, dan yang lain itu akan dikalahkan pula orang yang lain lagi. Lebih baik kalian tak pernah mempergunakan ilmu ini sepanjang hidupmu, daripada setiap kali kau terpaksa melakukannya. Namun kalian dengan ini mengemban tugas-tugas kemanusiaan yang wajib kalian tegakkan. Sudah tentu tanpa mengorbankan segi kemanusiaan yang lain”

Kembali Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya dan kali inipun Swandaru mengangguk-angguk pula.

“Nah, kita kembali kekademangan” berkata Ki Tanu Metir

Swandaru terkejut. Jadi hanya inilah pelajaran pertama yang akan diterimanya? Ia tidak sabar lagi. Sidanti dapat datang nanti sore atau besok atau lusa. Apakah ia telah dapat mencapai ilmu yang diharapkannya?

Ki Tanu Metirpun meihat perubahan wajah Swandaru. Dilihatnya Swandaru itu memandanginya dengan penuh keheranan. Karena itu maka Ki Tanu Metir itupun bertanya “Kenapa ngger?”

Swandaru mengangkat alisnya. Kemudian jawabnya “Jadi hanya inikah yang Kiai berikan hari ini?”

“Ya”

“Kenapa hanya duduk-duduk begini kita harus pergi jauh-jauh dari rumah?”

Ki Tanu Metir memandang Swandaru dengan heran. Anak itu sama sekali belum dapat menyesuaikan dirinya sebagai seorang murid terhadap gurunya. Namun Ki Tanu Metir tidak menjadi kecewa karenanya. Sedikit demi sedikit ia harus menuntun muridnya yang aneh itu.

“Swandaru” berkata Ki Tanu Metir “Lebih baik kita mengambil tempat yang jauh daripada kita dilihat orang. Bagiku tidak akan menguntungkan bila sebelum kita mulai apa-apa orang-orang sudah meributkan perbuatan kita. Mungkin hanya seorang dua orang sajalah yang mengetahuinya, namun sampai sehari maka hal itu pasti sudah akan menyebar kesegenap sudut kademangan. Dan setiap orang akan menilaimu setiap hati. Hari ini kau dapat berbuat apa, dan besok kau akan dapat berbuat apa lagi”

“Baik Kiai” jawab Swandaru “Aku sependapat. Tetapi marilah segera kita mulai. Apabila besok atau lusa aku bertemu dengan Sidanti, maka aku tidak lagi memerlukan pertolongan orang lain untuk melawannya”

Ki Tanu Metir terkejut mendengar kata-kata itu. Namun kemudian iapun tersenyum. Jawabnya “Angger, ketahuilah, bahwa untuk membentuk seseorang menjadi seorang Sidanti, itu diperlukan waktu bukan sehari dua hari. Tetapi setahun dua tahun. Bahkan lebih. Tergantung juga kepada orang-orang itu sendiri. Kalau ia mampu, maka ia akan menjadi lebih cepat terbentuk. Tetapi tidak dalam sehari dua hari. Apalagi kau harus menyusul orang lain yang jauh lebih dulu daripadamu. Bukankah dengan demikian kau memerlukan waktu yang lama?”

Alangkah kecewanya Swandaru mendengar kata-kata Ki Tanu Metir itu. Ia memang pernah mendengar, bahwa berguru kepada seseorang diperlukan waktu yang lama. Tetapi kalau setiap kesempatan dipergunakan sebaik-baiknya maka waktu itu pasti akan dapat diperpendek. Seperti saat ini misalnya, mereka hanya duduk-duduk saja diterik matahari, sesudah itu pulang kembali kekademangan. Bukankah dengan demikian mereka hanya membuang-buang waktu saja. Besoknya mereka akan kehilangan waktu pula. Lusa dan seterusnya.

Tetapi Swandaru itu tidak berkata-kata lagi. Ketika Ki Tanu Metir dan Agung Sedayu telah berdiri, iapun segera berdiri pula.

Namun Ki Tanu Metirlah yang masih berkata lagi, katanya “Swandaru, kau tidak perlu tergesa-gesa, asal untuk seterusnya kau bekerja dengan tekun, maka mudah-mudahan kau akan segera dapat menyusul Sidanti itu”

“Ya Kiai” sahut Swandaru kesal. Ia telah membayangkan sejak semalam dirinya menjadi seorang yang perkasa melampaui Sidanti, bahkan melampaui keperkasaan Tohpati. Tetapi ia masih harus menunda keinginan itu. Bahkan sama sekali ia belum mendapat apa-apa dihari pertama, kecuali nasehat-nasehat saja.

Ia tersadar ketika Ki Tanu Metir itu berkata pula “Marilah kita pulang”

“Marilah Kiai” sahut Swandaru kosong.

Tetapi sekali lagi Swandaru heran. Ki Tanu Metir itu malahan pergi ketengah sungai sambil mengajak mereka “Mari ikuti aku”

Swandaru dan Agung Sedayu menjadi ragu-ragu sejenak. Kalau orang tua itu mengajaknya pulang, mengapa ia malahan pergi ketengah, dan tidak berjalan menyusur tanggul seperti semula.

Tetapi Agung Sedayu segera mengerti maksud orang tua itu. Iapun kemudian mengikutinya meloncat dari batu kebatu menyusul Ki Tanu Metir.

“Bukankah sungai ini nanti akan sampai dipinggir desa Sangkal Putung dan sidatannya akan lewat sebelah halaman rumahmu Swandaru?” bertanya Ki Tanu Metir.

“Ya” jawab Swandaru yang berdiri ditepian.

“Karena itu, marilah kita mengambil jalan memintas, lewat sungai ini maka kita akan lebih cepat sampai”

“Ah” desah Swandaru “Aku lebih senang menyusur tanggul ini”

Ki Tanu Metir tertawa. Agung Sedayupun tersenyum pula. agaknya Swandaru benar-benar tidak tahu maksud gurunya, sehingga karena itu, maka Agung Sedayu berkata “Swandaru, mari kita bermain kejar-kejaran diatas batu-batu ini”

Swandaru menggeleng malas. Ia semakin kesal karenanya. Waktunya telah banyak terbuang. Apakah mereka masih harus bermain seperti anak-anak.

Tetapi kembali Agung Sedayu mengajaknya sambil tertawa “Swandaru, lihatlah betapa Ki Tanu Metir meloncat dari batu kebatu. Marilah”

Kembali Swandaru menggeleng. Katanya dalam hati “Akh, apa lagi kerja orang tua itu. Bukankah lebih baik memberitahukan kepada kita, apa yang harus kita lakukan? Unsur-unsur gerak, satu atau dua, untuk diulang-ulang”

Tetapi dengan demikian Agung Sedayupun menjadi kesal pula. Swandaru benar-benar tidak segera tahu maksud orang lain tanpa diberitahukannya sejelas-jelasnya. Seperti juga sifatnya sendiri yang selalu terbuka dan terus terang. Karena itu, maka Agung Sedayu itupun terpaksa berkata “Swandaru, kau ikut berlatih atau tidak?”

Swandaru terkejut. “Berlatih?” ulangnya “Berlatih apa?”

“Inilah latihan pertama yang harus kita lakukan”

“Oh” Swandaru itu tertegun sesaat. Kemudian dilihatnya Ki Tanu Metir meneruskan perjalanannya. Meloncat dari satu batu kebatu yang lain dengan lincahnya tanpa menyentuh air sedikitpun juga. Bahkan sekali-sekali diloncatinya batu-batu yang kecil dan goyah. Namun batu-batu itu seakan-akan bergerakpun tidak.

Sesaat Swandaru terpaku ditempatnya. Dilihatnya Ki Tanu Metir meloncat-loncat seperti orang sedang menari. Dibelakangnya menyusul Agung Sedayu. Dengan hati-hati anak muda itu meloncat pula dari batu kebatu. Namun tampaklah betapa ia masih harus memperhitungkan setiap langkahnya. Dicobanya mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Ki Tanu Metir. Namun sekali-sekali ia masih harus berhenti menjaga keseimbangan tubuhnya.

Tiba-tiba Swandaru itupun tertawa. digaruk-garuknya kepalanya sambil bergumam “Alangkah bodohnya aku. Aku tidak segera tahu maksud orang tua itu”

Maka dengan serta-merta Swandaru itupun berteriak “Tunggu, aku ikut serta”

Ki Tanu Metir itupun segera berhenti. Demikian juga Agung Sedayu. Mereka bersama-sama berpaling dan dilihatnya Swandaru Geni meloncat keatas sebuah batu yang besar. Tubuhnya yang bulat itu meluncur dari tebing sungai dan mencoba berdiri diatas batu itu. Sesaat ia masih harus mengatur keseimbangannya, namun kemudian ia tertawa sambil berkata “Tunggulah, aku akan segera sampai ketempatmu kakang Sedayu”

Swandaru itupun segera mulai dengan loncatan-loncatannya. Dari satu batu kebatu yang lain. Dicobanya juga meloncati batu-batu yang telah tersentuh kaki Ki Tanu Metir. Namun sekali-sekali batu-batu itu terguncang dan Swandaru terpaksa berpegangan pada batu-batu yang lain. Bahkan satu kali ia tergelincir dan jatuh masuk kedalam air.

“Gila” gumamnya seorang diri. Pakaiannya menjadi basah kuyup. Dengan wajah bersungut-sungut ia muncul dari dalam air seperti seekor tikus kehujanan.

Agung Sedayu dan Ki Tanu Metir tidak dapat menahan tawa mereka. Ketika Swandaru kemudian bangkit dan berdiri diatas sebuah batu maka Ki Tanu Metir berkata “Bukan apa-apa. kau hanya jatuh kedalam air”

“Ya, tidak apa-apa” sahut Swandaru kesal.

Tetapi tiba-tiba ia mengumpat ketika Ki Tanu Metir berkata “Ulangi. Ulangi sekali lagi”

“Kenapa aku harus mengulangi. Apakah Ki Tanu Metir ingin melihat aku sekali lagi jatuh kedalam air?”

“Tidak” jawab Ki Tanu Metir “Latihan ini adalah latihan dasar. Sekedar menghangatkan tubuh. Karena itu, maka angger harus dapat melakukannya.”

Swandaru bersungguh-sungguh. Dilangkahinya kembali beberapa batu yang sudah dilampauinya. Dan sekali lagi meloncat kejurusan Agung Sedayu. Namun kali inipun Swandaru masih belum dapat berdiri dengan tegak pada batu yang telah menggelincirkannya. Namun kali ini ia tidak jatuh bulat-bulat kedalam air. Setelah beberapa saat ia bertahan atas keseimbangannya, maka terpaksa ia harus terjun kembali. Namun ia dapat tegak diatas kakinya, meskipun didalam air juga.

“Bukan main” Swandaru itu mengeluh. Apalagi ketika Ki Tanu Metir minta ia mengulanginya satu kali lagi.

Swandaru terpaksa mengulangi sekali lagi. Kali ini ia benar-benar memperhitungkan setiap langkahnya. Dengan hati-hati ia meloncat dari satu batu kebatu berikutnya. Dan ketika ia meloncat kebatu yang itu-itu juga, maka ia menahan nafasnya. Dijaganya keseimbangan tubuhnya benar-benar dan ditapakkannya kakinya pada ujung jari-jarinya, dalam pemusatan perhatian yang bulat.

Swandaru menarik nafas panjang ketika untuk yang ketiga kalinya ia berhasil. Tubuhnya seakan-akan menjadi bertambah ringan, dan keseimbangannya serasa menjadi lebih baik. Ia tidak tahu apakah sebabnya hal itu dapat terjadi “Mungkin karena aku telah melakukannya tiga kali berturut-turut” katanya dalam hati.

Tetapi ia tidak dapat terlalu lama tegak berdiri menikmati kemenangannya yang pertama itu. Ketika ia mengangkat wajahnya, dilihatnya Ki Tanu Metir berkata “Marilah, teruskan perjalanan ini sampai keujung desa Sangkal Putung”

Agung Sedayupun kemudian berputar dan melanjutkan loncatan-loncatannya. Namun ketika suatu kali, dilompatinya sebuah batu yang sedikit goyah, maka batu itupun bergerak sedikit kesamping, dan kini Agung Sedayulah yang terbanting dipermukaan air. Swandaru terkejut, namun kemudian ia tertawa terbahak-bahak “Nah, rasakanlah. Aku sudah lebih dahulu mandi. Kakangpun harus mandi pula”

Ki Tanu Metirpun berhenti pula. dilihatnya Agung Sedayu bangkit dari dalam air sambil tertawa. Kainnya, bajunya, ikat kepalanya menjadi basah kuyup. Perlahan-lahan ia berdiri dan dikibaskannya pakaiannya yang dilekati pasir sungai.

“Hem” desis Swandaru “Memang segar kakang, mandi dengan segenap pakaiannya”

Agung Sedayu tersenyum. Katanya “Kau nanti juga harus melampaui batu ini Swandaru”

“He” Swandaru mengerutkan keningnya. Dilihatnya batu yang telah menjatuhkan Agung Sedayu itu. Batu yang seakan-akan bergoyang-goyang digerakkan arus sungai yang tidak seberapa deras.

“Ah” katanya dalam hati “Bagaimana mungkin”

Sesaat kemudian dilihatnya Agung Sedayu telah siap untuk mengulangi langkahnya tanpa mendapat perintah dari Ki Tanu Metir. Ia tahu benar, bahwa setiap kesalahan harus dibetulkannya. Dipusatkannya segenap perhatiannya. Dengan wajah yang tegang ditatapnya batu itu. Kemudian ditahankannya nafasnya dan dengan sepenuh hasrat ia meloncati kembali batu-batu itu sehingga akhirnya sampailah ia kepada batu yang agak goyah itu. Namun kali ini ia berbuat cepat sekali. Bahkan kakinya seakan-akan tidak berpijak pada batu itu. Batu itu hanya disentuhnya saja. Sedang kakinya yang lain segera meloncat kebatu yang lain pula.

Batu itupun bergerak pula sedikit. Namun Agung Sedayu telah meloncat lebih lanjut, sehingga kali ini Agung Sedayu selamat sampai kebatu berikutnya. Agung Sedayu itupun kemudian berhenti. Kini ia melihat Swandaru yang semakin lama menjadi semakin dekat. Ketika ia sampai kebatu yang goyah itu, maka ia bergumam didalam hati “Aku sudah bersedia, dan aku tidak akan jatuh lagi kedalam sungai”

Tetapi ternyata ia salah sangka. Batu itu adalah batu yang goyah. Sehingga karenanya, maka ketika ia meloncat keatasnya, sekali lagi ia terguncang dan kehilangan keseimbangan. Meskipun ia berusaha untuk meloncat kebatu yang lain, namun ternyata ia tidak berhasil.

Tetapi Swandaru kali ini tidak mau jatuh sendiri kedalam air. Agung Sedayu yang menunggunya sambil tertawa tiba-tiba terkejut. Dengan tidak disangka-sangka tangan Swandaru meraih pundaknya, dan jatuhlah mereka berdua kedalam air bersama-sama.

Ketika mereka muncul lagi dari permukaan air, maka mereka tidak dapat menahan gelak tawa mereka yang seperti meledak dari dada.

Ki Tanu Metir yang melihat mereka bergumul didalam air itupun tertawa pula terkekeh-kekeh, sampai tubuhnya terguncang-guncang. Demikian asyiknya ia tertawa dan melihat murid-muridnya yang basah kuyup, sehingga Ki Tanu Metir itu tidak melihat bahwa beberapa orang melihatnya dengan pandangan yang tajam. Mereka sama sekali tak mengetahuinya, apa yang dilakukan oleh kedua anak-anak muda itu.

Tiba-tiba batu tempat Ki Tanu Metir berdiri berguncang, dan hampir saja Ki Tanu Metir kehilangan keseimbangan. Secepat kilat ia sempat berpaling dan memandangi orang-orang ditepi sungai itu. Tetapi sekejap kemudian tiba-tiba Ki Tanu Metirpun terhuyung-huyung dan jatuh pula ke dalam air.

Agung Sedayu dan Swandaru terkejut. Ki Tanu Metir itupun terpelanting jatuh. Tetapi segera mereka melihat beberapa orang ditepi sungai itu tertawa terbahak-bahak. Seseorang diantaranya masih memegang sebutir batu, sedang orang yang lain berkata “lemparanmu tepat kakang.”

Mata Agung Sedayu dan Swandaru terbelalak melihat orang-orang itu, seorang diantaranya adalah orang yang bertubuh tinggi tegap, berkumis melintang. Ditangannya tergenggam sebatang tongkat besi baja putih dengan kepala kekuning-kuningan berbentuk sebuah tengkorak.

Hampir saja Swandaru berdesis. Tetapi untunglah ia dapat menahan diri. Namun hatinya berteriak “Macan Kepatihan”

Agung Sedayupun berdiri tegak tak bergerak. Tetapi tiba-tiba mereka berdua terkejut ketika mendengar Ki Tanu Metir berkata “E, tole tolonglah. Tolonglah aku berdiri.”

Sesaat mereka heran melihat Ki Tanu Metir tertatih-tatih berusaha untuk berdiri. Namun sekali-sekali ia tergelincir kembali. Tubuhnya benar-benar menggigil dan dengan terbata-bata ia berteriak-teriak sambil melambaikan tangannya.

Agung Sedayu cepat menangkap maksud Ki Tanu Metir. Orang tua itu telah menjadi seorang tua yang tak berdaya. Karena itu segera ia berlari dan menolong kiai yang sedang menggigil. Diangkatnya orang tua itu berdiri dan didudukkannya diatas sebuah batu yang besar. Sedangkan Swandaru melihat perbuatan Sedayu itu dengan herannya. Kenapa orang tua itu harus ditolongnya berdiri dan harus dipapah keatas sebuah batu yang besar? Bukankah orang tua itu pula yang telah memaksanya meloncat-loncat dan memberi mereka beberapa contoh untuk melakukannya? Namun Swandaru tidak bertanya apapun juga. Iapun perlahan-lahan berjalan mendekati Ki Tanu Metir. Ia semakin heran ketika dilihatnya orang tua itu menyeringai kesakitan. Ia sendiri telah tiga kali jatuh terpelanting, namun ia tidak merasa apa-apa. Orang tua itu baru sekali jatuh. Tetapi ia telah tampak sedemikian payahnya.

Tetapi ia menarik nafas ketika ia mendengar orang tua itu berbisik “Jangan terjadi bentrokan dengan orang-orang itu sekarang”

“Oh” desahnya. Sekali dilayangkannya pandangan matanya ketebing dan kemudian dipandanginya orang tua yang duduk kedinginan diatas batu itu.

Tetapi Swandaru kini telah mengerti maksud Ki Tanu Metir itu. Dan mereka berdua, Agung Sedayu dan Swandarupun kemudian mengerti pula, bahwa sebenarnya Ki Tanu Metir pasti akan mampu mempertahankan keseimbangannya seandainya yang hadir dipinggir kali itu Ki Tambak Wedi, tetapi orang tua itu pasti mempunyai pertimbangan lain sehingga ia tidak mau terlibat dalam bentrokan dengan Tohpati dan beberapa kawannya saat ini.

“He!” tiba-tiba mereka mendengar seseorang diantara orang-orang yang berdiri ditebing itu berteriak “Siapakah kalian?”

Ki Tanu Metir memandangi mereka dengan wajah ketakutan. Kemudian jawabnya gemetar “Kami orang-orang Benda tuan”

“Apa kerja kalian disini?”

“Kami sedang menyelusur air sawah tuan. Dan kami berhenti sejenak untuk mandi”

Orang-orang itu tertawa. Kata salah seorang dari mereka itu “Apakah kalian biasa mandi dengan seluruh pakaian kalian?”

“Tidak tuan. Salah seorang anak itu tergelincir, namun rupa-rupanya ia tidak mau melihat kawannya masih tetap kering”

Kembali mereka tertawa. dan kembali terdengar salah seorang berteriak “Apakah benar-benar kalian hanya menyusuri air?”

“Ya tuan” sahut Ki Tanu Metir “Tetapi siapakah tuan-tuan ini?”

“Kami dari Sangkal Putung” sahut orang yang bertongkat baja putih itu.

Swandaru menjadi berdebar-debar. Ia pernah bertemu muka dengan Macan Kepatihan itu, selagi Tohpati itu bertempur melawan Sidanti dan Widura. tetapi pertemuan itu hanya sekejap dan Tohpati waktu itu sedang disibukkan oleh perkelahian itu. Sehingga agaknya Tohpati itu kurang mengenalnya.

Ki Tanu Metir kemudian bertanya pula “Apakah yang akan tuan lakukan disini?”

“Hem. Aku ingin mendapat beras, apakah orang-orang Benda mempunyai persediaan cukup?”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia menggeleng. Jawabnya perlahan-lahan “Ah, tuan telah memeras semua persediaan kami. Beberapa orang Pajang yang berada di Sangkal Putung itu? Setiap minggu kami harus menyerahkan berbakul-bakul beras, sehingga kami sendiri akan menjadi kelaparan karenanya”

Tohpati itu tertawa. Kemudian katanya “Bukankah dengan demikian kalian membantu perjuangan kami melawan orang-orang Jipang?”

“Bagi kami tuan, sudah tentu lebih penting makan kami sehari-hari”

Macan Kepatihan mengerutkan keningnya. Dipandangnya ketiga orang yang berada dibawah tebing itu berganti-ganti. Kemudian katanya “He, apakah anak-anak muda itu tidak mau ikut bergabung dengan kami untuk melawan laskar Macan Kepatihan?”

Ki Tanu Metir menggeleng “Mereka adalah cucu-cucuku. Biarlah mereka menikmati ketentraman hidup dirumah. Apakah keuntungan kami apabila anak-anak muda itu turut bertempur?”

“Anak-anak muda seluruh kademangan Sangkal Putung bangkit serentak. Mereka telah menyumbangkan tenaga mereka untuk kemenangan Pajang. Apakah cucu-cucumu itu tidak ikut serta he?”

“Sudah aku katakan buat apa mereka ikut bertempur? Dan apakah sebenarnya keuntungan orang-orang Pajang dan orang-orang Jipang yang kini saling bertentangan?”

“Kami sedang mempertahankan pendirian kami masing-masing. Kami tidak senang melihat pengikut-pengikut Arya Penangsang berkeliaran”

“Mungkin pimpinan tuan tidak senang melihat Arya Penangsang. Tetapi apakah perlunya pertengkaran itu berlarut-larut terus? Sejak Arya Penangsang terbunuh, maka persoalan kalian sebenarnya telah selesai”

“Siapa yang bilang he, pak tua?”

Ki Tanu Metir tertawa. Kemudian katanya “Lima enam hari yang lalu, kawan-kawan tuan datang kepondokku. Seorang bertubuh sedang, masih sangat muda dan tampan. Dikawani oleh seorang yang sudah menginjak setengah umur. Namun wajahnya menunjukkan kewibawaan yang tinggi. Namanya Untara dan Widura”

Macan Kepatihan mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya “Apakah yang mereka lakukan dipondokmu?”

“Apakah tuan-tuan kenal mereka?”

“Tentu” sahut Macan Kepatihan “Untara adalah senopati laskar Pajang didaerah ini. Dikaki-kaki gunung Merapi. Sedang paman Widura adalah pimpinan laskar Pajang di Sangkal Putung”

“Oh, jadi mereka adalah pemimpin-pemimpin tuan?”

Macan Kepatihan menggigit bibirnya. Adalah tidak senang mendengar pertanyaan itu. Tetapi ia terpaksa menjawab “Ya, apa yang mereka lakukan?”

“Pertama, mereka mencari beras seperti tuan, mereka telah membawa sepuluh bakul beras. Apakah tuan tidak mendapat bagian dari yang sepuluh bakul itu sehingga tuan terpaksa mencari sendiri?”

Tohpati terdiam sesaat. Tetapi kemudian jawabnya “Kau benar-benar orang tua yang bodoh. Berapa ratus orang Pajang yang berada di Sangkal Putung. Sepuluh bakul beras hanya cukup untuk tiga hari, paling lama lima hari. Nah, apakah yang akan kami makan besok, lusa dan seterusnya?”

“Dari desa-desa lain tuan akan dapat mengambil beras pula. Tetapi itu tidak penting. Yang penting pemimpin-pemimpin tuan itu berkata kepadaku bahwa sebenarnya mereka telah jemu bertempur”

“Tidak” sahut Macan Kepatihan.

“Apa yang tidak, tuan? Apakah tuan tidak bertanya bahwa pemimpin-pemimpin tuan pernah berkata demikian? Atau apakah tuan tidak percaya bahwa orang-orang Jipang juga jenuh bertempur? Atau tuan tidak percaya bahwa setiap orang sudah jemu melihat pertempuran? “Aku tidak percaya bahwa pemimpin-pemimpin Pajang berkata demikian. Aku juga tidak percaya bahwa orang-orang Jipang telah jemu bertempur pula. Dan aku juga tidak percaya bahwa setiap orang sudah jemu melihat pertempuran.

“Jadi jelasnya tuan tidak percaya kepadaku?”

“Bukan. Mungkin orang Pajang berkata kepadamu. Tetapi mereka tidak berkata yang sebenarnya.”

“Mereka berbohong? Apakah gunanya?”

“Orang-orang Jipangpun tidak pernah merasa jemu bertempur. Mereka sedang memperjuangkan sebuah cita-cita. Dan cita-cita itu akan mereka bawa mati.”

“Cita-cita? Bertanya Ki Tanu Metir “apakah sebenarnya cita-cita itu bagi orang Jipang? Apakah mereka akan menghidupkan kembali dan meletakkan Arya Jipang yang sudah gugur itu apabila mereka sudah berhasil? Tuan. Apakah tuan tidak sependapat dengan pemimpin-pemimpin tuan? Bahwa sebenarnya diantara mereka dan orang-orang Jipang itu tidak terdapat soal-soal yang tidak perlu melibatkan mereka dalam pertentangan yang berlarut-larut? Pemimpin-pemimpin tuan itu berkata, bahwa orang-orang Jipang yang sekarang masih mengangkat senjata, sebenarnya hanyalah orang-orang yang keras hati dalam kesetiakawanan mereka. Kalau mereka setia pada cita-cita mereka semula, maka cita-cita itu tidak akan dapat terlaksana. Apapun yang akan mereka lakukan. Seandainya orang-orang Pajang akhirnya dapat mereka tumpas, namun trah Sekar Seda Lepen, dasar dari perjuangan Arya Penangsang telah punah. Tak ada orang yang dapat menempatkan diri sebagai penerus cita-cita itu. Tak ada orang yang dapat menamakan diri trah Sekar Seda Lepen.”

“Tetapi itu adalah perjuangan menuntut keadilan. Siapakah yang membunuh Sekar Seda Lepen? Kalau Sekar Seda Lepen tidak terbunuh, apakah Arya Penangsang tidak akan naik keatas tahta?”

“Ya, ya. Pemimpin tuan juga mengatakan dasar tuntutan orang-orang Jipang itu, sekarang tuan juga mengatakan.

“Oh” Tohpati mengusap kumisnya. Hampir-hampir ia lupa, bahwa ia mengaku sebagai orang Sangkal Putung.

Tetapi tak seorangpun tahu pasti, apa yang terjadi dengan Sekar Seda Lepen. “Terdengar Ki Tanu Metir meneruskan “dan semua itu telah lampau. Kalau kita tenggelam dalam urut-urutan dendam, kapan kita akan berhenti berkelahi sesama kita?”

Tohpati terdiam. Sesaat sambil mengurut-urut kumisnya yang tebal melintang. Didalam hatinya timbullah berbagai pertanyaan tentang orang tua yang mengaku berasal dari padukuhan benda itu. Macan Kepatihan sama sekali tidak dapat mengerti, kenapa orang-orang dari benda dapat berkata-kata seperti yang diucapkan oleh orang tua itu.

“Mungkin orang-orang Widura, atau Widura sendiri pernah berkata demikian seperti yang dikatakannya tadi.” Berkata Tohpati dalam hatinya. Kemudian suara didalam hatinya itu berkata pula “Apakah benar-benar Widura dan Untara sudah jemu bertempur?” Tohpati kemudian menggelengkan kepalanya ketika didalam hatinya terbetik suatu pertanyaan “Apakah orang-orang Jipang tidak jemu bertempur? Kapankah pertempuran itu akan berakhir?”

“Tidak” kata-kata orang itu dibantahnya sendiri didalam hatinya pula “Aku tidak akan pernah jemu bertempur. Syukurlah kalau orang-orang Pajang telah menjadi jemu. Itu adalah pertanda pertama bahwa mereka telah sampai ketepi jurang kehancuran mereka.”

Tetapi Tohpati itu terkejut ketika Ki Tanu Metir berkata pula “Nah, Tuan. Kalau tuan tidak sedang mengejar-ngejar orang Jipang, maka tuan akan dapat hidup didalam lingkungan keluarga tuan. Didalam lingkungan anak istri tuan kalau tuan sudah punya. Kalau tidak, maka ibu tuan dan ayah tuan tidak akan selalu menunggu tuan diambang pintu halaman”

“Kami bukan laki-laki cengeng” sahut Tohpati “Setiap perjuangan memerlukan pengorbanan. Kaupun harus mengorbankan berasmu untuk perjuangan ini. Nanti siang aku akan segera datang ke Benda untuk mengambil beras itu”

“Jangan tuan, jangan hari ini. Tuan pasti akan kecewa, sebab perempuan-perempuan kami belum menumbuk padi. Besok atau lusa baru tuan dapat datang mengambilnya”

“Aku perlu hari ini. Katakan kepada penduduk Benda, bahwa laskar Pajang tidak dapat menunda kebutuhannya. Siapa yang tidak tunduk kepada setiap perintah laskar Pajang, maka ia akan dihabisi jiwanya. Kau dengar?”

“Huh, tuan menakut-nakuti kami. Laskar Jipangpun tidak mengancam sekasar itu, tuan. Apakah tuan sedang bersenda gurau?”

Tohpati tersenyum didalam hati. Kalau ia dapat memisahkan laskar Pajang dari kekuatan rakyat yang mendukungnya, maka kekuatan Pajang pasti akan berkurang. Setidak-tidaknya di Sangkal Putung. Karena itu, maka jawabnya “Persetan dengan laskar Jipang. Apakah mereka juga sering mengambil beras ke padukuhan Benda?”

“Ya tuan, kadang-kadang. Tetapi mereka tidak pernah mengancam seperti tuan”

“Jipang ternyata sedang berusaha mendekatkan dirinya kepada orang-orang padesan untuk mendapat dukungan. Tetapi Pajanglah yang berkuasa atas kalian, sehingga kalian tidak bebas membantah perintahnya”

Mata Agung Sedayu dan Swandaru yang sejak tadi duduk mematung, tiba-tiba memancarkan kemarahannya yang selama ini ditahan didalam hatinya. Mereka tidak dapat mendengar fitnahan yang sedemikian tajamnya atas laskar Pajang yang berada di Sangkal Putung. Tetapi sebelum mereka berbuat sesuatu, maka dengan isyarat tangan yang disembunyikan dibalik batu, Ki Tanu Metir telah mencegah mereka berbuat sesuatu.

Dalam pada itu, maka terdengar Ki Tanu Metir itu berkata pula “Nah, itulah tuan. Kalau kalian, tuan-tuan tidak saling bertentangan, maka tuan-tuan tidak perlu berebut pengaruh atas rakyat padesan. Tuan-tuan dapat berbuat banyak untuk orang-orang kecil seperti kami ini”

“Tidak mungkin. Mereka bertentangan kepentingan. Kami orang-orang Pajang akan mempertahankan kemenangan kami, meskipun kami tahu, bahwa tuntutan Arya Penangsang itu adil”

Mendengar kebohongan itu, hampir-hampir Swandaru dan Agung Sedayu tidak dapat menguasai diri. Tetapi sekali lagi Ki Tanu Metir memberinya isyarat.

“Ya, katakanlah bahwa tuntutan Arya Penangsang itu adil. Tetapi garis keturunan yang sekarang memegang kekuasaan atas Demak telah patah. Putra-putra Sultan Trenggana telah hampir punah pula. Pangeran Prawata telah dibunuh oleh Arya Penangsang. Sunan Hadiri dari Kalinyamat. Kemudian yang terakhir tetapi gagal adalah Adipati Jipang. Katakanlah bahwa Arya Penangsang sedang berjuang menuntut warisan. Lalu, apakah Adipati Hadiwijaya di Pajang harus dengan rela hati menyerahkan lehernya untuk dipancung? Sedang Hadiwijaya itu sama sekali tidak tahu menahu tentang terbunuhnya Sekar Seda Lepen. Bukankah Adipati Pajangpun merasa, bahwa kini sedang memperjuangkan keadilan?

Nah tuan, selama keadilan itu dilihat dari sudut yang berbeda-beda, maka keadilan itu sendiri tidak akan dapat serupa bentuknya. Karena itu maka yang paling baik adalah apa yang dikatakan pemimpin tuan. Menjemukan. Pertentangan yang berlarut-larut adalah menjemukan sekali. Pertentangan itu tidak akan dapat memberikan apa-apa kepada kami. Kepada orang-orang kecil. Bahkan hanya akan menguras lumbung-lumbung kami. Beras-beras kami dan hidup kami akan menjadi semakin kering. Tetapi kalau tuan tidak saling bertentangan menimbang dendam dihati, maka kami akan dapat bekerja dengan baik, dengan tenang, dengan tentram. Dan tuan-tuan yang bijaksana akan dapat menuntun kami, tidak dalam olah senjata, tidak dalam bermain pedang dan tombak, tetapi dalam olah tetanen dan kebutuhan kami sehari-hari”

Macan Kepatihan terdiam pula sesaat. Kata-kata itu benar-benar menyentuh sudut hatinya. Tetapi tiba-tiba terdengar orang yang berdiri disampingnya, Sanakeling, tertawa terbahak-bahak. Katanya “He pak tua. Darimana kau dengar uraian yang melingkar-lingkar itu?”

Ki Tanu Metir memandang orang yang berdiri disamping Macan Kepatihan itu. Kemudian jawabnya “Sebagian aku dengar dari pemimpin-pemimpin tuan sendiri. Dari orang yang bernama Widura dan yang lain bernama Untara”

Sekali lagi Macan Kepatihan mengerutkan keningnya. Kalau Widura dan Untara berpendirian demikian, maka apakah sebenarnya yang telah mendorong mereka, orang-orang Pajang dan orang-orang Jipang saling berbunuhan? Namun kembali Sanakeling berkata “Mungkin pemimpin-pemimpin kami sedang berputus asa karena mereka tidak segera berhasil menguasai keadaan disini, begitu?”

Swandaru dan Agung Sedayu menjadi benar-benar muak mendengar percakapan itu. Mereka menjadi heran, kenapa Ki Tanu Metir masih juga telaten berbicara dengan Macan Kepatihan. Apalagi orang yang berdiri disampingnya itu.

Yang paling sukar untuk mengendalikan dirinya adalah Swandaru. Hampir-hampir ia berteriak memaki-maki. Untunglah bahwa Agung Sedayu yang agaknya lebih tenang menggamitnya. Agung Sedayu yang sejak masa anak-anaknya kelalu menghindari bentrokan-bentrokan, ternyata berpengaruh juga sampai saat ini. Meskipun alasannya telah berbeda. Dahulu Agung Sedayu menghindari setiap bentrokan dengan siapapun juga karena ia takut mengalami. Tetapi sekarang, ia menghindari bentrokan karena pertimbangan lain. Kali ini gurunya tidak mengijinkannya. Kebiasaannya untuk menghindari setiap pertentangan pada masa kecilnya ternyata membantu memperliat hatinya, menambah kesabarannya. Karena ini, apalagi disamping gurunya, ia sama sekali tidak takut bertempur dengan beberapa orang yang berada diatas tebing. Namun gurunya mengisyaratkan kepadanya untuk tetap tenang dan menghindari betrokan. Meskipun Agung Sedayu tidak tahu benar alasan gurunya, namun ia mematuhinya.

Ki Tanu Metir yang mendengar kata-kata orang yang berdiri disamping Macan Kepatihan menjadi seakan-akan terkejut. Kemudian sambil mengangkat kepalanya ia bertanya “Apakah pemimpin-pemimpin kalian benar-benar berputus asa?”

“Tentu” sahut Sanakeling “Kalau tidak, maka ia pasti tidak akan mengigau seperti itu. Perang adalah kewajiban seorang prajurit. Jadi apabila ada seorang prajurit yang tidak mau berperang, maka ia adalah seorang prajurit yang tak bernilai”

“Oh, jadi apabila keadaan Pajang dan Jipang telah menjadi baik kembali, maka apakah Adipati Pajang akan memecat semua prajuritnya?”

“Ah, orang tua yang bodoh. Tentu tidak. Negara yang tidak mempunyai prajurit maka negara itu akan tidak berarti. Setiap saat lawan mereka akan dengan senang hati merampok segala miliknya”

“Oh, jadi apabila peperangan yang satu sudah selesai, maka setiap negara perlu membuat persoalan dengan negara lain?”

He, kenapa?”

“Prajurit dan perang adalah satu, menurut tuan yang disamping itu”

Macan Kepatihan tertawa. Sanakeling akhirnya tertawa juga. “Alangkah bodohnya pertanyaan itu” gumam Sanakeling. Tetapi Macan Kepatihan menggelengkan kepalanya. Gumamnya “Tidak. Pertanyaan itu bukan pertanyaan yang bodoh. Ia telah mengambil kesimpulan yang tepat dari kata-katamu sendiri”

“Tetapi maksudku bukan begitu kakang. Maksudku, setiap prajurit harus bersedia berperang, tidak boleh jemu”

“Jelaskan kepada orang tua itu, jangan kepadaku” potong Macan Kepatihan.

“Oh” Sanakeling mengerutkan keningnya. Dipandangnya orang tua yang duduk diatas batu dibawah. Kakinya berjuntai terendam didalam arus sungai yang tidak sedemikian keras. Tiba-tiba wajah Sanakeling menjadi tegang. Dan dengan bersungguh-sungguh ia berkata “Marilah kita tinggalkan orang tua gila itu”

Sanakeling tidak menunggu jawaban Macan Kepatihan. Segera ia memutar tubuhnya dan berjalan menjauhi tebing sungai itu bersama beberapa orang yang lain. Namun ketika Macan Kepatihan akan beranjak pergi, maka Ki Tanu Metir itu memanggilnya “Tuan” katanya “Tunggulah sebentar”

Macan Kepatihan berhenti. Ditatapnya wajah Ki Tanu Metir yang kedinginan. Katanya “Ada apa kakek?”

“Tuan, apakah nanti tuan akan datang kepadukuhan kami?

“Tentu. Prajurit Pajang tidak dapat menunggu lebih dari saat yang telah ditentukannya sendiri. orang yang mencoba menghambat perintahnya, maka ia akan dibinasakan”

“Tuan” berkata Ki Tanu Metir “Berapa tahun peperangan ini akan berakhir?”

“Kenapa?”

“Aku ingin menghitung umurku dengan kemungkinan-kemungkinan yang bakal erjadi, tuan. Kalau peperangan ini masih akan berlangsung lama maka aku akan melihat padukuhanku benar-benar menjadi kering, dan anak cucuku pasti akan mati kelaparan. Sebab beras-beras kami akan selalu mengalir keluar padukuhan kami. Sekali harus kami serahkan kepada tuan. Kepada laskar Pajang. Sekali yang lain kepada laskar Jipang”

“Kenapa kau beri juga beras kepada orang-orang Jipang?”

“Mereka datang dengan senjata ditangan tuan. Apakah yang dapat kami lakukan? Baik orang Pajang maupun orang Jipang. Dan sebenarnyalah pemimpin-pemimpin tuan menjadi jemu berperang. Apakah tuan tidak? Seorang prajurit Pajang pernah berkata kepadaku, bahwa ketika ia berangkat kemedan perang, anaknya baru berumur tiga hari. Anak yang lahir dari istrinya tercinta, setelah mereka hampir sepuluh tahun kawin. Prajurit itu berkata ‘Kalau aku pulang nanti, anakku pasti sudah besar. Tetapi ia pasti takut melihat wajahku yang setiap hari menjadi semakin buas karena bau darah’. Tuan, benarkah demikian? Apakah prajurit yang selalu berada dipeperangan menjadi buas, eh, maksudku keras?”

Tohpati melangkah kembali ketebing sungai itu. Ia tertarik mendengar kata-kata Ki Tanu Metir. Pertanyaan yang didengarnya itu benar-benar telah menyentuh hatinya. Dan tanpa setahunya ia menganggukkan kepalanya “Ya. Mungkin prajurit itu benar. Setiap hari seorang prajurit dihadapkan pada saat-saat yang tegang dan melihat kekerasan”

“Apakah tuan tidak berpendapat bahwa ketegangan dan kekerasan itu sebaiknya berakhir?”

Tohpati tiba-tiba mengerutkan keningnya. Dan dengan serta-merta ia melangkah surut. Ia tidak mau mendengarkan pertanyaan-pertanyaan orang tua itu lebih banyak lagi. Pertanyaan-pertanyaan yang mengetuk dinding hatinya. Dinding hati seorang manusia yang kebetulan menjadi seorang prajurit. Seorang manusia yang kebetulan memiliki senjata ditangannya dan sedang memperjuangkan kehendak dan cita-cita dengan senjata itu. Bahkan mencoba memaksakan kehendak itu kepada orang lain dengan tajam senjatanya, baik atau tidak baik menurut penilaian orang lain.

Tohpati kini tidak mau mendengarkan lagi Ki Tanu Metir memanggilnya. Cepat ia berputar dan melangkah pergi meninggalkan orang tua yang duduk berjuntai diatas batu. Beberapa langkah daripadanya berdiri Sanakeling bertolak pinggang. Disampingnya dua orang kawannya sedang mengais-ngais tanah dengan ujung pedangnnya.

“Kenapa orang tua gila itu masih saja dilayani” gumam Sanakeling.

Macan Kepatihan tidak menjawab. Ia berpaling sejenak, namun ia berjalan terus sambil menundukkan wajahnya.

Sanakelingpun kemudian berjalan pula dibelakangnya bersama kedua orang yang berdiri disampingnya. dikejauhan tiga orang berjalan mendekati mereka dan berjalan dalam rombongan itu pula. Dan mereka masih mendapat kawan seorang lagi. Seorang anak muda yang bermata tajam, setajam mata burung alap-alap. Mereka adalah orang-orang yang harus mengawasi keadaan selama Tohpati berhenti ditepi sungai. Untunglah bahwa Alap-alap Jalatunda tidak turut menjenguk kedalam sungai itu. Apabila demikian, maka ia pasti tidak akan melupakan Agung Sedayu.

Sepeninggal Macan Kepatihan, Swandaru tidak sabar lagi, sehingga dengan serta-merta ia bertanya “Kiai, Tohpati itu ternyata telah datang kehadapan Kiai. Kenapa orang itu tidak saja Kiai tangkap? Tidakkah dengan demikian maka pertempuran yang Kiai katakan menjemukan itu akan segera berakhir?”

“Tidak mungkin ngger. Apakah kita bertiga akan mampu menangkapnya?”

“Kenapa tidak? Bukankah mereka hanya berempat atau lima orang? Kiai sendiri pasti akan mampu melakukannya”

 “Mungkin aku mampu mengalahkan lima orang itu. Tetapi bagaimana dengan kalian? Lihatlah, apakah mereka benar-benar hanya berlima?”

“Bukankah aku masih dapat menghitung demikian baik?” sahut Swandaru dengan nada tinggi.

“Belum tentu. Coba, tengoklah sekarang”

Swandaru menjadi ingin membuktikan kebenaran kata-kata Ki Tanu Metir. Karena itu segera ia meloncat berlari ketebing. Dengan tergesa-gesa ia mendaki tebing, dan dengan hati-hati ia mencoba mengintip Macan Kepatihan yang sudah berjalan agak jauh. Ketika dilihatnya rombongan itu, Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Ki Tanu Metir benar. Mereka tidak hanya berlima atau berenam. Tetapi sekarang rombongan itu menjadi tidak kurang dari sepuluh orang. Bahkan disudut-sudut desa dikejauhan masih mungkin pula berdiri orang-orangnya yang sedang mengawasi keadaan disekitarnya.

Perlahan-lahan Swandaru meluncur turun. Dengan mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “Ya, Kiai benar. Mereka sudah bersepuluh sekarang. Mungkin masih akan tambah lagi”

“Nah, karena itu, maka sebaiknya kalian tidak tergesa-gesa menentukan sikap apabila kalian menghadapi sesuatu. Cobalah membuat perhitungan-perhitungan yang cermat, baru kalian menentukan sikap. Tetapi itu tidak berarti bahwa kalian harus membuang-buang waktu untuk itu. Kalian perlu berpikir cepat dan tepat”

Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya mereka. Tetapi dalam pada itu Agung Sedayu bertanya pula “Tetapi Kiai, bukankah yang mereka katakan itu bohong belaka? Apakah benar bahwa orang-orang Pajang dan Sangkal Putung selalu berbuat sedemikian kasarnya terhadap penduduk?”

“Tentu tidak ngger”

“Tetapi orang-orang itu mengatakannya. Mereka berpura-pura menjadi orang Pajang. Dan berbuat hal-hal yang jelek atas penduduk”

Ki Tanu Metir tersenyum. “Namun dengan demikian bukankah kita dapat mengetahuinya, salah sebuah cara yang mereka tempuh? Mereka ternyata tidak saja berperang dengan pedang dan tombak, namun mereka mempergunakan cara-cara yang licik untuk mengurangi kekuatan prajurit Pajang dan laskar Sangkal Putung dengan memisahkan mereka dari penduduk disekitarnya. Dan pengetahuan kita atas cara itu adalah sangat penting. Angger Untara dan angger Widura harus segera mengetahuinya pula”

Kembali Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan kepala mereka. Dan sekali lagi mereka menyadari kekurangan mereka. Ternyata orang tua itu telah berbuat menurut pertimbangan yang semasak-masaknya.

Dalam pada itu maka Ki Tanu Metir itu berkata pula “Nah ngger, untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan yang kurang baik, maka marilah kita meninggalkan tempat ini segera. Aku tidak dapat memastikan apakah mereka akan kembali atau tidak. Namun apabila mereka kemudian berbicara diantara mereka, dan diketemukannya persoalan-persoalan yang mereka anggap kurang wajar, maka mereka pasti akan segera kembali. Karena itu, maka marilah kita segera menyingkir”

Swandaru dan Agung Sedayu mengangguk dan hampir bersamaan mereka menjawab “Marilah Kiai”

Ki Tanu Metir itupun kemudian berdiri. Dan segera kembali ia meloncat dari satu batu kebatu yang lain. Namun kali ini ia berkata “Kalian tidak perlu menginjak batu bekas kakiku. Pilihlah sendiri batu-batu mana yang mungkin kalian loncati. Namun kalian dapat melihat, bagaimana caraku meloncat. Cara inipun nanti akan sangat berguna bagi kalian dalam langkah-langkah unsur-unsur gerak yang akan kalian pelajari”

Swandaru menarik nafas panjang. Ia tidak perlu lagi jatuh terguling kedalam air. Kini ia dapat memilih batu-batu yang tidak sesulit langkah Ki Tanu Metir. Namun meskipun demikian sekali-sekali ia masih juga harus terjun kedalam air, meskipun tidak terpelanting jatuh.

Ternyata Agung Sedayu lebih lincah dari Swandaru. Kecakapannya dan bekalnya masih agak lebih banyak dari saudara seperguruannya yang gemuk bulat itu. Bahkan dalam olah senjatapun Agung Sedayu terpaut cukup jauh dari Swandaru. Dan inilah kesulitan Ki Tanu Metir. Namun ia adalah orang yang berpengalaman, sehingga kesulitan itupun pasti akan dapat diatasinya.

Ketika mereka mendekati padukuhan Sangkal Putung, dan ketika mereka sudah sampai disekitar tanah persawahan yang sedang digarap, maka merekapun segera berhenti. Mereka kemudian berjalan sebagaimana biasa menyelusur tepian memasuki padukuhan Sangkal Putung.

Tetapi ketika seseorang melihat mereka, maka tiba-tiba orang itu tertawa terkekeh-kekeh. Mereka segera mengenal Swandaru dan Agung Sedayu. Tetapi bahwa mereka basah kuyup adalah sangat menggelikan. “Anakmas Swandaru, kenapa kau menjadi basah kuyup?”

Swandaru tersenyum lucu sekali. Dengan singkat ia menjawab “Mandi”

“Apakah kalian mandi dengan seluruh pakaian kalian? Dengan ikat kepala kaian dan kamus timang segala?”

“Ya”

“Tanpa membuka baju dan kain panjang?”

”Aku tejatuh, tahu” potong Swandaru.

“Bertiga?”

“Ya, bertiga. Kami berjatuhan kedalam sungai”

Orang itu tertawa berkepanjangan. Namun Swandaru tidak memperdulikannya lagi. Mereka bersama berjalan tergesa-gesa lewat pinggir kali, kemudian menyusuri parit sidatan yang akan sampai dibelakang rumah Swandaru Geni.

Ketika mereka naik pinggiran susukan itu, maka Swandaru itupun mengumpat-umpat. Regol belakang ternyata ditutup rapat-rapat. Dengan jengkelnya Swandaru memukul-mukul pintu regol itu. Namun tidak seorangpun yang mendengarnya.

“Gila orang-orang Sangkal Putung” desahnya.

“Marilah kita lewat jalan samping” ajak Agung Sedayu.

“Tidak mau” jawab Swandaru “Pakaian kita basah kuyup. Mereka, seisi halaman pasti akan mentertawakan kita”

“Lalu bagaimana?”

Swandaru berpikir sejenak. Lalu tiba-tiba ia berjalan mendekati sebatang pohon randu diluar regol halamannya. Lewat pohon itu ia memanjat keatas. Kemudian dengan susah payah ia mencoba menggapai dinding halaman. namun ternyata ia tidak berhasil.

“Bagaimana?” bertanya Agung Sedayu.

Swandaru menggeleng “Sulit” desahnya.

“Turunlah, biar aku mencobanya” berkata Agung Sedayu.

“Huh. Sejak kecil aku sudah pandai memanjat. Kali ini aku tidak dapat meloncati jarak ini. Apakah kau pikir kau lebih pandai daripadaku?”

“Aku hanya akan mencoba” jawab Agung Sedayu.

Swandaru itupun kemudian meloncat turun. Kini Agung Sedayulah yang mencobanya. Namun iapun tidak juga berhasil. Ki Tanu Metir yang melihat mereka berdua sibuk dengan pohon randu itu tersenyum. Kemudian katanya “Turunlah ngger. Biarlah aku mencoba pula”

Agung Sedayupun turun pula dari pohon itu. Namun mereka berdua, Agung Sedayu dan Swandaru menjadi heran pula didalam hatinya, apakah Ki Tanu Metir juga cekatan memanjat

Namun ternyata orang tua itupun masih sangat lincahnya. Dengan cepat ia melonjak naik, seperti seekor tupai. Jauh lebih cepat dari Swandaru dan Agung Sedayu. Tetapi Ki Tanu Metir itu tidak berhenti ketika ia telah mencapai ketinggian yang sejajar dengan dinding halaman. Ia masih naik lagi beberapa depa. Kemudian dengan lincahnya orang tua itu berjejak pada batang randu itu dan melenting hinggap diatas dinding halaman yang cukup tinggi itu.

Sekali lagi Swandaru harus melihat bahwa kelincahan orang tua itu benar-benar mengagumkan. Bahwa tidak saja kekuatan tubuhlah yang menentukan segala-galanya. Namun kecekatan dan kelincahan akan banyak dapat membantu dalam segala persoalan jasmaniah.

Ki Tanu Metir itupun kemudian meloncat dan menghilang dibelakang dinding, sedang sesaat kemudian regol dinding itupun terbuka “Masuklah” berkata orang tua itu.

Swandaru dan Agung Sedayu segera melangkah masuk. Meskipun mereka tidak berkata apapun, namun didalam kepala Swandaru semakin tajamlah pengakuannya atas seorang yang menamakan diri Ki Tanu Metir itu. Bahwa apa yang telah diperlihatkan kepadanya barulah sebagian kecil dari segenap ilmunya. Dan karena itulah maka ia menjadi semakin mantap berguru kepadanya.

Jauh dari padukuhan Sangkal Putung, Tohpati berjalan sambil menundukkan wajahnya. rombongannya semakin lama menjadi semakin banyak, sehingga akhirnya sampai pada duapuluh orang. Tidak banyak diantara mereka yang bercakap-cakap. Sekali dua kali terdengar ada yang berbisik-bisik diantara mereka. Namun kemudian kembali mereka berdiam diri.

Dalam perjalanan itu, hati Tohpati selalu diganggu seja oleh pertanyaan-pertanyaan yang didengarnya dari Ki Tanu Metir “Ya” gumamnya didalam hati “Berapa tahun pertempuran ini akan berakhir?”

Tohpati itupun kemudian berpaling. Dilihatnya beberapa wajah anak buahnya yang kosong. Kosong seperti otak mereka yang kosong pula.

“Apakah kepentingan mereka bertempur?” desis Tohpati didalam hatinya “Apakah mereka tahu juga, bahwa kami sedang melepaskan dendam kami atas gugurnya Adipati Jipang?”

Tohpati itupun terkejut sendiri mendengar kata-kata hatinya “Dendam. Ya. Ternyata mereka kini tinggal mencoba untuk melepaskan dendam semata-mata. Seperti kata-kata orang tua ditengah-tengah sungai itu. Sebab mereka sudah pasti tidak akan dapat mencapai apa yang sejak semula mereka perjuangkan mati-matian. Kembalinya tahta pada garis keturunan Sekar Seda Lepen yang terbunuh sebelum sempat duduk diatas singgasana.

Macan Kepatihan itu berdesah didalam hatinya. Apakah sudah sewajarnya kalau ia membawa orang-orang yang tidak tahu-menahu itu kedalam suatu peperangan yang tak akan kunjung habis. Sedang ia tahu pasti bahwa akhir dari perjuangan ini bukanlah suatu yang dapat dibangga-banggakan. Bagi dirinya sendiri, sudah pasti tidak ada jalan kembali. Namun bagi orang-orangnya yang tidak banyak mengetahui tentang Arya Penangsang dan tuntutan-tuntutannya?

Tiba-tiba Macan Kepatihan itu mengumpat “Setan. Orang tua itu bukan orang yang tolol”

Sanakeling terkejut. Selangkah ia menyusul maju dan bertanya “Kenapa?”

Macan Kepatihan menggeram dengan marahnya. Langkahnya tiba-tiba terhenti dan dengan kepala tengadah ia mengulangi kata-katanya “Orang tua ditengah sungai itu benar-benar bukan orang bodoh” Sanakeling mengangkat alisnya. Kata-kata Tohpati itu mengherankannya. Apakah yang sebenarnya menarik pada orang tua itu? Tohpati telah memberi kesan kepada orang tua itu seolah-olah orang Pajanglah yang selalu datang kepadesannya dan merampas beras. Bukankah itu sudah memberikan suatu keuntungan. Kalau orang tua itu menyebarluaskan kata-kata Tohpati, maka mereka, penduduk Benda pasti akan membenci laskar Pajang dan setidak-tidaknya akan mengurangi bantuan mereka kepada orang-orang Pajang. Sehingga orang-orang Benda tidak lagi akan memberikan banyak keterangan tentang gerakan-gerakan Tohpati yang dapat mereka lihat dan mereka ketahui.

Tetapi Sanakeling itu menjadi semakin terkejut ketika Tohpati berkata “Ternyata kitalah yang bodoh. Bukan orang tua itu”

“Siapakah orang tua itu menurut dugaanmu?” bertanya Sanakeling.

Macan Kepatihan menggeleng “Aku tidak tahu. Tetapi orang itu memberikan suatu kesan yang aneh didalam hatiku. Ia bukan tidak sengaja mengajukan berbagai pertanyaan dan pasti bukanlah kebetulan kalau mereka berada ditempat itu disiang hari begini”

Sanakeling tidak bertanya lagi. Namun ia benar-benar heran ketika ia melihat mata Tohpati kemudian menjadi suram.

“Apakah kita akan kembali lagi kesungai itu untuk meyakinkan diri?”

Tohpati menggeleng “Tidak ada gunanya. Mereka pasti telah pergi. Mereka pasti bukan orang-orang Benda. Dan anak-anak muda itu pasti bukan cucunya. Aku terpengaruh melihat mereka basah kuyup, sehingga aku kehilangan kewaspadaan dalam mengamati mereka. Sekarang aku baru membayangkan kembali kedua anak muda itu. Matanya bersinar tajam. Mulutnya terkatub rapat. Namun mereka duduk dengan suatu kepastian didalam hati mereka. Mereka duduk terlalu tenang dan mereka sama sekali tidak keheranan melihat kita. Yang bertubuh kecil agaknya seorang anak muda yang tenang dan menyimpan sesuatu didalam tubuhnya, sedang yang gemuk rasa-rasanya aku pernah melihatnya”

“Dimana?”

Macan Kepatihan berpikir sejenak. Dicobanya untuk mengingat-ingat kapan ia melihat anak muda itu. Tetapi anak muda itu basah kuyup seluruh pakaiannya, sehingga memberikan kesan, seakan-akan anak itu benar-benar seorang anak padesan yang bodoh. Namun setelah Tohpati dengan segenap daya ingatnya mencoba mengenalnya, maka tiba-tiba Macan Kepatihan itu berteriak “Gila!. Kita tidak saja bodoh, tetapi kita sudah benar-benar gila, Sanakeling. Apakah kau tidak mempunyai mata lagi he?”

Sanakeling menjadi bertambah heran “Apa yang telah kau lihat?”

“Anak itu. Anak yang gemuk itu. Bukankah anak itu pernah turut dalam lomba memanah dilapangan dekat banjar desa Sangkal Putung? Bukankah anak itu yang menjadi pemenang diantara anak-anak muda Sangkal Putung?”

Sanakeling mengerutkan keningnya sambil menggigit bibirnya. Akhirnya iapun tersentak sambil berkata “Ya, ya. Aku melihat pula waktu itu. Aku memang melihat anak yang gemuk seperti anak muda yang basah kuyup seperti tikus sawah itu tadi”

“Hem” Tohpati menggeram, namun kemudian ia berkata “Biarlah mereka kembali dengan suatu pengertian, bahwa Tohpati tidak saja mampu bertempur dengan senjata. Tetapi Tohpati juga berbuat hal-hal yang lain, yang dapat mempersempit gerakan orang Pajang”

“Tetapi mereka kini mengetahui cara itu. Anak itu pasti akan menyampaikannya kepada Widura atau Untara yang sekarang sudah berada di Sangkal Putung pula”

“Ya. Tetapi Untara akan melihat pula bahwa luka-luka Tohpati yang ditimbulkannya kini telah sembuh benar-benar. Tohpati telah menjadi segar kembali. Dan sebentar lagi Tohpati akan mampu menggulung Sangkal Putung”

Sanakeling mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Marilah kita kembali. Kita lihat, apakah mereka masih berada ditempat itu”

Tohpati menggeleng, katanya “Mereka bukan orang-orang bodoh seperti kita. Mereka pasti tahu siapa kita. Karena itu mereka pasti sudah pergi”

Sanakeling tidak menjawab. dilihatnya betapa Tohpati menjadi sangat kecewa karenanya. Tetapi Sanakeling tidak melihat bahwa hati Macan Kepatihan yang tak pernah dapat digoncangkan itu kini sedang ragu-ragu. Diragukannya kata-katanya sendiri “Apakah ia benar-benar mampu menggulung Sangkal Putung?”

Dan kembali beberapa pertanyaan telah menggoncangkannya pula. Pertanyaan yang menggores dinding hatinya “Apakah sebenarnya yang akan aku dapatkan dengan menduduki Sangkal Putung? Makan. Itu saja?”

Pertanyaan itu tak pernah mengganggunya sebelum ia bertemu dengan orang tua di tengah-tengah sungai itu. Pertanyaan itu bahkan tidak pernah ada. Namun kini pertanyaan itu sangat mengganggu ketenangannya. Bahkan kemudian pertanyaan-pertanyaan yang lain bermunculan pula didalam benaknya. Pertanyaan-pertanyaan yang dapat menyulitkannya. Apakah ia untuk seterusnya akan dapat menduduki Sangkal Putung apabila berhasil direbutnya? “Tidak” pertanyaan itu dijawabnya sendiri. “Widura dan Untara akan mengerahkan pasukan yang kuat untuk merebut Sangkal Putung. Merampas kembali kademangan itu. Meskipun aku telah mendapatkan beberapa pikul padi dan kekayaan-kekayaan yang lain tetapi beberapa bulan kemudian, maka kami akan kelaparan lagi. Dan pasukan Untara akan diperkuat pula. Sedang apabila kami tetap bertahan dikademangan itu, apakah yang akan kami lakukan kemudian? Menjadi Adipati? Mewarisi cita-cita Arya Penangsang?”

“Menjemukan” desisnya tiba-tiba. Sanakeling terkejut mendengar kata-kata itu sehingga dengan serta-merta ia bertanya “Apa yang menjemukan?”

Tetapi Macan Kepatihan sendiri bukan main terkejutnya mendengar kata-kata itu. Kata-katanya sendiri.

Sehingga karena itu maka Macan Kepatihan itu menjadi gelisah. Apalagi ketika Sanakeling mendesaknya “Apakah yang menjemukan he?”

Tohpati menjawab sekenanya “Widura dan Untara. Mereka benar-benar menjemukan. Karena itu mereka harus segera dilenyapkan. Ayo, kita kembali. Malam ini Sangkal Putung kita bakar sampai habis. Persetan dengan segala lumbung-lumbungnya dan persetan dengan segala macam isinya”

Sanakeling mengerutkan keningnya. Dilihatnya wajah Macan Kepatihan menjadi merah membara. Namun demikian ia menjawab “Bagaimana mungkin. Sebagian orang-orang kita tidak ada ditempat. Mereka sedang mencoba mengambil perbekalan keutara”

“Aku tidak peduli”

“Masih harus dipertimbangkan” sahut Sanakeling. “Aku tidak mau membunuh diri”

“Terserah kepadamu. Aku akan pergi malam ini”

“Jangan kehilangan perhitungan”

Tohpati tersadar dari kebingungannya. Ketika dilihatnya Sanakeling penuh kebimbangan, maka berkatalah Macan Kepatihan itu kemudian “Kau tidak sependapat?”

“Berbahaya sekali”

“Kapan orang-orang yang pergi itu akan datang kembali?”

“Tiga empat hari. Mereka akan membawa sisa-sisa laskar kita yang bertembaran disisi utara Pajang. Kekuatan itu akan dipusatkan disini. Bukankah begitu kehendakmu? Nanti apabila kau telah berhasil disini, maka kau akan membawa seluruh barisan keutara dan melepaskan beberapa kepentingan diselatan. Kalau keadaan diutara menjadi lebih baik, kau akan bertempur dan memulai perjuangan seterusnya dengan landasan daerah utara. Bukankah begitu?”

Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan bimbangnya ia berkata “Ya. Aku pernah berkata demikian”

“Nah, karena itu, apakah kau akan menunggu orang-orang yang pergi itu?”

“Ya, aku akan menunggu dalam waktu yang pendek. Setelah itu, aku tidak akan dapat menunda lagi. Sejak kini seluruh pasukan harus disiapkan”

“Bagus. Kita harus menebus kekalahan yang pernah terjadi, bukan untuk mengulangi kesalahan itu”

“Ya, kau benar. Mari kita kembali”

Tohpati tidak menunggu jawaban Sanakeling. Dengan tergesa-gesa ia melangkah kembali kesarangnya. Sanakeling berjalan dibelakangnya bersama-sama dengan Alap-alap Jalatunda. Dengan berbisik-bisik alap-alap muda itu bertanya “Kenapa dengan Macan Kepatihan itu?”

Sanakeling menggeleng. Entahlah. Mungkin orang tua ditengah-tengah kali yang dijumpainya tadi membiusnya. Ia tampak bingung dan hampir-hampir kehilangan keseimbangan”

“Tetapi bukankah ia masih mendengarkan nasehat kakang?”

“Untunglah demikian. Kalau tidak, maka ia akan membunuh dirinya”

Alap-alap Jalatunda tidak menjawab. Ia berjalan saja disamping Sanakeling. Didalam hatinya ia bergumam “Untunglah, Tohpati mendengarkan nasehatnya. Kalau tidak, maka laskarnya akan menjadi semakin tercerai berai”

Tetapi orang-orang itu ternyata tidak tahu kalau Untara terluka. Sehingga dengan demikian maka mereka tidak mempergunakan kesempatan itu untuk menghancurkan Sangkal Putung meskipun Widura masih ada. Seandainya Tohpati tahu, maka ia akan mempergunakan saat itu sebaik-baiknya. Dan bahkan Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda pasti akan menyetujuinya. Mereka pasti tidak akan memperhitungkan hadirnya seorang dukun tua yang pasti akan menggemparkan mereka, seandainya ia mau berbuat sesuatu didalam pertempuran yang terjadi

Karena itulah maka kini Macan Kepatihan benar-benar telah kehilangan pengertian dan gambaran tentang kekuatan yang sebenarnya ada di Sangkal Putung. Anak-anak muda yang semakin hari tekadnya semakin menyala dan berlatih dengan tak mengenal lelah. Orang-orang tuapun tidak juga mau ketinggalan. Meskipun Sidanti meninggalkan Sangkal Putung, namun Agung Sedayu telah siap menggantikannya dalam setiap persoalan. Anak muda itu ternyata tidak kalah dari Sidanti dalam segenap hal. Apabila ia telah memiliki pengalaman seperti Sidanti, maka Agung Sedayu benar-benar tidak akan mengecewakan.

Demikianlah ketika Macan Kepatihan menyiapkan kembali sebuah serbuan yang akan dilancarkan atas Sangkal Putung, maka Sangkal Putungpun sedang giat menempa dirinya.

Sementara itu Swandaru dan Agung Sedayu telah dengan tekun menuruti nasehat-nasehat Ki Tanu Metir. Mereka kini tidak lagi berlatih disungai. Tetapi mempergunakan ruang-ruang tertutup dibelakang kademangan, atau ditempat lain yang telah disediakan oleh Ki Demang Sangkal Putung. Apabila malam datang, maka pergilah mereka berjalan-jalan bersama dengan Widura dan kadang-kadang Untara ke gunung Gowok. Ditempat itulah Swandaru dan Agung Sedayu bekerja keras untuk membentuk dirinya. Namun sebagian perhatian Ki Tanu Metir dititik-beratkan pada Swandaru. Anak yang gemuk itu harus mencapai tingkatan yang tidak begitu jauh dari Agung Sedayu. Barulah mereka dapat bersama-sama menerima pimpinan dan bimbingan yang serupa.

Semakin hari luka Untarapun menjadi semakin ringan. Bahkan kini luka itu telah tidak mengganggunya lagi. Karena obat-obat reramuan yang dibuat oleh Ki Tanu Metir dan diminumnya setiap hari, maka kesehatannyapun telah benar-benar pulih. Kekuatan tenaganya, ketangkasannya, sehingga Untara telah benar-benar siap untuk melakukan tugasnya kembali.

Dihari-hari terakhir, Untara telah mendengar pula dari orang-orangnya bahwa kegiatan Tohpati telah ditingkatkan. Tohpati telah melakukan kegiatan yang melampaui kebiasaan. Tetapi setelah lewat tiga hari dari peristiwa dipinggir kali itu, Tohpati ternyata belum melakukan sergapannya. Namun dengan demikian, berarti kepala Tohpati telah menjadi dingin kembali, dan persiapannya akan menjadi lebih masak.

Sebenarnyalah Tohpati kemudian menjadi lebih tenang. Ia tidak lagi berbuat tergesa-gesa. Bahkan dua kali ia telah menunda rencananya untuk menyerang Sangkal Putung.

Sanakeling, Alap-alap Jalatunda, dan orang-orangnya semula menganggap bahwa Macan Kepatihan merasa persiapannya masih belum cukup masak. Namun setelah Macan Kepatihan menunda rencananya sampai dua kali, maka mereka terpaksa menduga-duga. Apakah yang sebenarnya telah terjadi pada pemimpin laskar Jipang yang gigih itu.

Tetapi tak seorangpun yang tahu, apakah yang telah bergolak didalam dada Tohpati. Seorang senapati yang tidak pernah ragu-ragu dalam mengambil setiap keputusan. Seorang pemimpin yang mempunyai perbawa yang kuat, dan seorang pemimpin yang berjiwa kepemimpinan. Tetapi pada saat-saat terkhir, Tohpati tampaknya selalu ragu-ragu atas segala keputusannya. Bahkan kadang-kadang tampak ia menjadi bingung tak bernafsu.

Keadaan itu benar-benar mencemaskan beberapa orang pembantunya. Terutama Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda. Namun sampai sedemikian jauh, belum ada diantara mereka yang berani menanyakannya.

Meskipun laskar Jipang kemudian telah siap melakukan segala macam perintahnya, meskipun seluruh sisa-sisa pasukan Sanakeling, Alap-alap Jalatunda dan sisa-sisa laskar Plasa Ireng beserta laskar yang tercerai berai telah berkumpul dihutan-hutan disebelah barat Sangkal Putung, namun Tohpati tidak segera mulai dengan serangannya. Bahkan tampaklah ia menjadi murung dan ragu-ragu. Namun dalam saat-saat terakhir, Macan Kepatihan itu selalu berjalan berkeliling, dari seorang laskarnya keorang berikutnya. Mereka bercakap-cakap dan berbincang dalam berbagai persoalan. Mereka berbicara tentang hal-hal yang sama sekali tidak bersangkut-paut dengan kelaskarannya.

Beberapa orang anggota laskarnya menjadi heran dan terkejut. Pemimpinnya yang ditakuti dan disegani itu tiba-tiba telah datang kepadanya, menepuk pundaknya sambil bertanya dalam banyak persoalan.

Seorang yang bertubuh tinggi kurus dan berkumis jarang-jarang hampir tak dapat menjawab ketika tiba-tiba saja Tohpati telah berdiri disampingnya sambil bertanya “He, apa kerjamu?”

Orang itu memandang pemimpinnya seperti baru sekali dilihatnya, sehingga Tohpati itu mengulangi “Apa kerjamu?”

Terbata-bata orang itu menjawab “Duduk tuan, aku hanya duduk saja”

Tohpati tersenyum. Dipandanginya wajah yang kurus pucat itu. Tiba-tiba ia bertanya pula “Berapa umurmu?”

“Delapan belas tahun, tuan”

“He?” Tohpatilah yang kemudian terkejut. Anak itu berumur delapan belas tahun. Namun wajahnya tampak jauh lebih tua dari umurnya itu. Sehingga hampir tidak percaya ia mengulangi pertanyaannya “Umurmu berapa?”

Laskar yang kurus itu benar-benar menjadi heran. Namun ia menjawab “Delapan belas tahun tuan. Benar-benar delapan belas tahun”

Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan wajah yang suram ia berkata “Kau masih sangat muda. Apakah kau masih mempunyai ayah dan ibu?”

Anak itu menggeleng. Tiba-tiba wajah anak itupun menjadi suram pula sesuram wajah pemimpinnya. Dengan suara parau ia menjawab “Ayah telah mati terbunuh beberapa bulan yang lampau”

“Kenapa? Bertanya Tohpati “Siapakah yang membunuhnya?”

“Ayah terbunuh ketika laskar Pajang memasuki padukuanku. Ayah mencoba ikut bertahan. Namun ujung tombak orang Pajang telah menyobek dadanya”

“Oh” Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan nada yang rendah ia bertanya “Sekarang apakah kau ingin menuntut kematian ayahmu itu?”

“Tentu tuan. Aku harus membalas dendam yang membara dihati. Aku telah bersumpah, bahwa aku harus dapat menebus kematian ayahku dengan dua atau tiga orang Pajang. Aku tidak peduli apa yang sebenarnya terjadi antara Jipang dan Pajang”

Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Ternyata anak ini bertempur sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan cita-cita Arya Penangsang yang dianggapnya sedang berusaha menuntut keadilan. Anak itu sama sekali tidak tahu, apakah yang dikehendaki oleh Adipati Jipang itu. Tidak tahu menahu tentang Sekar Seda Lepen. Tidak tahu menahu tentang Sunan Prawata, Ratu Kalinyamat yang bertapa hanya berkain rambutnya sendiri, karena suaminya terbunuh oleh Arya Penangsang. Tidak tahu bahwa Adipati Pajang kemudian telah berhasil membinasakan arya Penangsang dengan tangan putra angkatnya Mas Ngabehi Loring Pasar. Tidak. Anak itu tidak tahu apa-apa. Ia hanya mendendam karena ayahnya terbunuh. Mungkin ayahnya sedang berjuang untuk satu cita-cita. Tetapi anak ini tidak. Anak ini hanya ingin melepaskan dendam dihatinya.

Tetapi ia melihat semangat yang menyala dari mata anak itu. Mata yang jauh lebih besar dibandingkan dengan tubuhnya yang kurus.

Tiba-tiba terluncur dari mulut Tohpati “Ibumu?”

Anak itu menggeleng. Jawabnya “Aku tidak tahu. Ibu telah lama pergi”

“Kemana?”

Anak itu menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian dengan berat hati ia menjawab “Ibu pergi dengan laki-laki lain”

Tohpati mengerutkan keningnya. Ia menjadi semakin iba mendengar jawaban itu. Sebab dengan demikian, maka adalah suatu kemungkinan bahwa ayahnyapun bertempur bukan karena cita-cita. Tetapi sekedar melepaskan sakit hatinya. Dan pengaruh keluarga yang buruk itu kemudian telah memaksa anak itu untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang memancarkan dendam dihatinya.

Tiba-tiba Tohpati mendengar kawannya yang duduk disampingnya tertawa meringkik seperti seekor kuda. Tohpati sama sekali tidak senang mendengar suara tertawa itu, sehingga ia membentak “Kanapa kau tertawa?”

Orang yang tertawa itu terkejut. Ia sendiri tidak menyadari bahwa ia telah tertawa. karena itu, maka ia menjadi ketakutan.

“Kenapa kau tertawa, he?” Tohpati mengulangi.

Sedemikian takutnya orang itu sehingga tanpa dapat berpikir ia menjawab “Anak itu tuan. Anak itu berbuat seperti laki-laki yang dikatakannya”

“He?” wajah Tohpati menjadi merah. Sambil menggertakkan giginya ia bertanya kepada anak muda itu “Apa yang telah kau lakukan?”

Anak muda itu menggigil seperti kawannya yang duduk disampingnya. “Tidak, todal tuan” katanya dengan gemetar. Sekali ia memandangi kawannya itu, dan sesekali ia memandang kaki Tohpati. Ia sangat menyesal kenapa kawannya itu mengatakannya, dan kawannya itupun bukan main terkejut mendengar kata-katanya sendiri.

“Apa yang telah kau lakukan?” bertanya Tohpati dengan nada yang berat penuh tekanan.

“Aku tidak apa-apa tuan” jawab anak muda itu terbata-bata.

“Apa yang sudah kau lakukan?” ulang Tohpati.

“Tidak ada tuan”

Sekali lagi Tohpati bertanya, kali ini perlahan-lahan “Apa yang sudah kau lakukan?”

Tubuh anak muda itu menjadi semakin gemetar. Hampir tak terdengar ia berkata “Aku hanya membalas sakit hatiku tuan. Aku membenci perempuan karena ibuku yang tidak setia”

“Apa yang telah kau lakukan terhadap perempuan?”

Laki-laki itu menjadi semakin ketakutan. Hampir-hampir ia menangis karenanya. Lamat-lamat ia menjawab “Tidak apa-apa tuan. Aku hanya berbuat menuruti perasaan. Aku sudah menyesal”

Tohpati berpaling pada laki-laki yang duduk disampingnya. laki-laki itupun menunduk dalam-dalam. Tiba-tiba ia menyambar pundaknya sambil mengguncang tubuhnya “Apa yang sudah dilakukannya?”

Laki-laki itu menjadi gemetar. Bibirnya bergerak-gerak namun suaranya tidak juga keluar dari mulutnya. Ketika Tohpati sama sekali mengguncang pundaknya, barulah ia berkata “Ia, ia membawa istri orang tuan”

Bukan main marah Tohpati mendengar jawaban itu. Itu adalah perbuatan terkutuk. Perbuatan yang tidak dapat dibenarkan. Hampir saja ia memukul laki-laki kurus dan berkumis jarang yang baru berumur delapan belas tahun itu. Namun tiba-tiba disabarkannya dirinya. Sambil menggigit bibirnya ia menggeram.

Tohpati mengangkat wajahnya. Apa yang dilakukan itu bukanlah satu-satunya kejahatan yang telah pernah terjadi diantara anak buahnya. Ia bukannya tidak mendengar bahwa anak buahnya pernah pula merampok, mencegat orang dan menyamunnya diperjalanan. Membunuh, menculik dan berbagai kejahatan-kejahatan yang lain. Tetapi Tohpati menyadari, bahwa itu adalah akibat yang tidak dapat dihindarkan dari keadaan laskarnya kini. Keadaan yang serba sulit dan tertekan. Beberapa orangnya telah menjadi berputus asa dan kehilangan pegangan, seperti anak muda yang baru berumur delapan belas tahun itu. Anak itu sama sekali tidak tahu apa yang sudah dilakukannya.

Tohpati itu menekan dadanya sambil menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Kenapa hal itu kau lakukan?”

Anak muda yang kurus pucat dan berkumis jarang itu tidak dapat menjawab. Ia tidak pernah berpikir sebelumnya, kenapa ia membawa perempuan itu. Barulah kini ia mencoba bertanya kepada dirinya, kenapa ia membawa perempuan itu. Tetapi perempuan itu tidak pernah merasa bahwa ia menyesal karena perbuatannya. Perempuan itu sampai sekarang masih juga selalu berusaha menyenangkannya dan memeliharanya.

Ia terkejut pula ketika mendengar Tohpati bertanya pula “Kenapa kau bawa perempuan iu. Dan apakah perempuan itu tidak ketakutan tinggal bersamamu diantara kawan-kawanmu?”

Laki-laki itu menggeleng “Ia senang tinggal bersama kami tuan”

“Oh” Tohpati mengelus kumisnya “Siapakah perempuan itu?”

Laki-laki itu ragu-ragu sesaat. Kemudian jawabnya “Namanya Nyai Pinan”

“He?” sekali lagi Tohpati terkejut. Nyai Pinan. “Hem” Macan Kepatihan itu menarik nafas dalam-dalam “Untunglah anak itu belum aku pukul kepalanya”

Tohpati itu tiba-tiba kehilangan kemarahannya. Ia menjadi kasihan kepada anak laki-laki itu. Nyai Pinan adalah seorang perempuan yang jauh lebih tua dari laki-laki itu. Perempuan yang berumur tigapuluh lima tahun, bukanlah perempuan yang perlu disesalkan apabila ia telah pergi meninggalkan suaminya. Pantaslah bahwa perempuan itu sama sekali tidak menyesal dan ketakutan tinggal diantara laskarnya, diantara laki-laki yang kasar dan keras.

Macan Kepatihan itu tiba-tiba saja melangkahkan kakinya pergi meninggalkan laki-laki itu. Sekilas masih terbayang didalam benaknya, perempuan yang bernama Nyai Pinan itu dahulu pernah dibawa oleh Plasa Ireng atau oleh orang lain diantara laskarnya.

“Gila. Kehidupan ini benar-benar kehidupan yang liar. Menjemukan, menjemukan”

Tohpati itupun kemudian langsung pergi kedalam gubugnya ditengah-tengah hutan. Langsung ia merebahkan dirinya diatas sebuah pembaringan bambu. Sekali-sekali terdengar ia menggeram. Dibayangkannya kehidupan seluruh laskarnya. Yang berada dekat-dekat disekitarnya, dan yang betebaran dibeberapa tempat yang lain. Laskar yang diperintahkannya untuk membuat Pajang kehilangan kesempatan membangun dirinya karena kekisruhan-kekisruhan yang terjadi.

“Apakah hasil yang telah kucapai dengan itu” desahnya.

Dibayangkannya bahwa rakyatnya justru menjadi bingung dan ketakutan. Tak ada ketenangan dan tak ada kesempatan mereka menikmati hidup setenang-tenangnya.

“Tetapi bukankah itu yang aku kehendaki?”

Kata-kata itu dijawabnya sendiri “Ya. Kini ternyata bahwa aku hanya sekedar mendendam dihati, melepaskan kekecewaan dan sakit hati. Aku hanya ingin Pajang tidak berhasil menenangkan dirinya dan melakukan rencana-rencananya. Itu saja.”

Macan Kepatihan itu menggeram. Dengan serta-merta ia bangkit dan menghentakkan kakinya ketanah sambil berkata kepada dirinya sendiri “Gila. Kenapa aku bertemu dengan orang tua itu. Dengan orang yang mengatakan dirinya orang Benda. Alangkah bodohnya aku. Orang itu bukan orang Benda. Dan orang itu bukan orang yang bodoh. Pertanyaannya telah menggoncangkan hatiku. Tetapi aku sudah berada ditengah-tengah arus. Aku tidak dapat berjalan kembali.”

Macan Kepatihan itu tiba-tiba melangkah dan berjalan keluar. Diluar dipanggilnya seorang laskarnya. Katanya “Panggil Sanakeling.”

Sesaat kemudian Sanakeling telah berada didalam gubugnya. Wajahnya tampak tegang dan sekali-sekali timbullah pertanyaan memancar dari matanya.

“Apakah kita sudah benar-benar siap” bertanya Macan Kepatihan.

Pertanyaan itu terdengar aneh ditelinga Sanakeling. Macan Kepatihan telah beberapa kali melihat sendiri, bahwa laskar Jipang telah ditarik sebagian besar kedalam hutan itu untuk melakukan rencananya yang tertunda-tunda. Kalau waktu persiapan yang diperluakan terlalu lama, maka mereka akan segera kehabisan persediaan bahan makanan. Dengan demikian maka ketahanan laskarnyapun pasti akan berkurang.

Meskipun demikian, maka Sanakeling itu menjawab “Sudah. Sudah sejak beberapa hari yang lalu laskar Jipang telah siap melakukan perintah. Bahkan kini mereka hampir kehilangan gairah untuk bertempur karena pertempuran tertunda-tunda.”

Tohpati mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak dapat membantah kata-kata Sanakeling itu. Ia mengakui, betapa seorang prajurit akan kehilangan semangatnya apabila mereka harus menunggu dan menunggu, sedangkan mereka sudah siap untuk melakukan setiap perintah.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Tohpati menjawab “Baik. Aku tidak akan menunda sergapan untuk kesekian kalinya. Tetapi aku harus yakin bahwa sergapan kita kali ini akan berhasil.”

“Kita telah mengukur kekuatan mereka” sahut Sanakeling “kita sudah tahu kekuatan-kekuatan yang ada didalam Kademangan Sangkal Putung. Dan kita kini telah memperhitungkan kekuatan itu pula. Orang yang berhasil membunuh Plasa Ireng itupun telah kita perhitungkan. Tiga orang itu dalam satu lingkaran pertempuran akan melampaui kekuatan Plasa Ireng. Sedangkan lawan Alap-alap Jalatunda ternyata memerlukan perhatian. Seorang dari mentaok akan mengawasi Alap-alap Jalatunda. Widura serahkan kepadaku, dan Untara adalah lawanmu. Terserah kepadamu, apakah perlu seseorng untuk membantumu, ataukah kau merasa bahwa kau akan berhasil melawannya sendiri. Sedang jumlah laskar yang kita pergunakan kini ternyata bertambah banyak. Hanya untuk mengumpulkan mereka aku memerlukan waktu sehari. Sebab untuk mengurangi kesempatan, sebagian tersebar dibeberapa tempat.

“Bagus. Siapkan mereka besok. Malam nanti aku akan melihat-lihat keadaan.”

Sanakeling mengerutkan alisnya. Dengan ragu-ragu ia berkata “Apakah kau bertanya sebenarnya?”

“Kenapa?”

“Apakah kali ini tidak akan tertunda lagi seperti hari-hari yang lalu?”

Macan Kepatihan mendengar sindiran itu. Namun ia tidak menjawab.

Sesaat mereka berdiam diri. Wajah Tohpati menjadi tegang. Kemudian terdengar ia berkata “Tinggalkan aku sendiri.”

Sanakeling mengangkat alisnya. Kemudian ia berdiri dan berjalan keluar ruangan itu dengan hati bimbang. Sekali ia berpaling dan dilihatnya Tohpati menekur kepalanya. Pemimpin laskar Jipang itu tampaknya tidak segarang beberapa saat yang lalu. Karena itulah Sanakeling menjadi cemas. Ia tidak mau melihat setiap kelemahan yang ada didalam dirinya, didalam tubuh laskarnya, apalagi dipucuk pimpinannya. Ia menghendaki semuanya berjalan keras, cepat dan dapat menimbulkan akibat yang menggoncangkan lawan-lawannya. Menimbulkan kengerian dan ketakutan.

Sepeninggal Sanakeling, maka Tohpati itupun segera memanggil seorang yang telah agak tua. Orang itu telah agak tua. Orang itu pernah menjadi penasehatnya dalam berbagai hal. Seorang yang tidak saja memiliki pengalaman yang luas. Namun ia adalah seorang yang memiliki daya pengamatan yang jauh.

Orang tua itu berdebar-debar mendengar panggilan Tohpati. Telah agak lama Tohpati tidak memerlukannya. Hampir tidak pernah dapat ia menemui anak muda yang menggemparkan seluruh daerah Demak itu. Namun kini tiba-tiba Tohpati memanggilnya.

“Duduklah paman Sumangkar.”

Orang yang telah agak lanjut dan bernama Sumangkar itu duduk disamping Tohpati sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Terima Kasih, ngger.”

“Kenapa paman tidak pernah menampakkan diri akhir-akhir ini?”

“Sumangkar mengerutkan alisnya yang hampir memutih. Jawabnya “Angger tidak pernah memanggil paman ini. Dan karena itu maka aku tidak berani mengganggu angger.” Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya serta-merta “Paman, aku akan memulai dengan sebuah sergapan baru. Apakah paman sependapat?”

Sumangkar mengerutkan keningnya pula. Pertanyaan ini agak aneh baginya. Sudah beberapa kali Tohpati melakukannya tanpa minta pendapatnya. Tiba-tiba kini pemimpin yang garang itu bertanya tentang rencananya itu. Justru karena itu maka Sumangkar menjadi ragu-ragu.

“Bagaimana paman?” desak Tohpati.

Sumangkar menarik nafasnya dalam-dalam. Dikenangannya ketika Tohpati itu menjadi sangat marah, dan seterusnya hampir tak pernah ia diajaknya berbincang. Tohpati itu marah ketika ia mencoba memperingatkan bahwa segenap usaha yang akan dilakukan adalah sia-sia. Tetapi kini ia menghadapi pertanyaan itu. Pertanyaannya yang seperti pernah didengarnya dahulu.

Karena itu maka untuk sejenak Sumangkar menjadi ragu-ragu. Apakah sebabnya tiba-tiba saja Tohpati memanggilnya dan bertanya kepadanya mengenai hal itu pula?

Karena Sumangkar tidak segera menjawab, maka Tohpati itu mendesaknya “Bagaimana paman?”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya “Raden. Pertanyaan itu sangat sulit bagiku.”

“Kenapa? Bukankah paman memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup dalam olah keprajuritan? Bukankah paman bekas seorang yang cukup dekat dengan paman Mantahun? Nah, bagaimanakah pendapat paman?”

“Aku adalah seorang yang telah berumur agak lanjut. Seharusnya aku harus berkata sebenarnya menurut pertimbangan didalam kepalaku. Namun aku tidak dapat menutupi kenyataan, bahwa untuk berkata sebenarnya adalah sulit sekali. Bukankah angger pernah marah kepadaku karena aku tidak sependapat dengan angger?”

Tohpati menarik keningnya. Dipandanginya Sumangkar tajam-tajam seperti ingin dilihatnya pusat jantungnya. Dan karena itulah maka Sumangkar itu menundukkan kepalanya.

“Paman” berkata Tohpati “aku tahu paman adalah seorang yang pilih tanding. Seorang yang memiliki kesaktian yang sukar dicari bandingnya. Kenapa paman berpikiran terlalu pendek. Kalau paman mempunyai tekad yang agak kuat didalam dada paman, maka paman akan dapat menyumbangkan tenaga paman dalam perjuangan ini. Tetapi selama ini paman lebih senang mendekam didapur sambil menghangatkan tubuh. Kenapa paman tidak lagi bersedia memandi tombak atau memegang gagang pedang?”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya, jawabnya “Sudah aku katakan Raden, alasan-alasan yang memaksa aku untuk berdiam diri.”

“Tetapi kenapa paman tidak pergi saja dan menyeberang ke pihak Pajang?”

Sumangkar mengangkat kepalanya sesaat. Namun kemudian ditundukkannya lagi. Pertanyaan itu amatlah sulitnya. Meskipun demikian dijawabnya pula dengan jujur “Raden, aku adalah hamba kepatihan Jipang sejak aku melepaskan pakaian Wira Tamtama karena umurku yang telah lanjut. Aku adalah saudara seperguruan Kakang Patih Mantahun. Aku adalah kawan berbincang, dan aku salah seorang yang ikut serta menyetujui tuntutan Arya Penansang kepada Pajang dan putra-putra Sultan trenggana yang lain. Tetapi caraku agak berbeda dengan cara yang telah ditempuh angger Pangeran. Aku menyarankan agar angger melakukan tuntutan dan perjuangan tanpa mengorbankan saudara-saudara sepupunya dengan cara yang telah ditempuh. Dengan demikian maka kawula Demak akan segera melihat noda-noda pada dirinya. Tetapi itu telah ditempuhnya, dan aku tidak dapat menghindarkannya. Kakang Mantahun adalah seorang yang keras hati sehingga Arya Penangsang yang terlalu dilanda oleh arus perasaannya itu terbakar oleh rencananya. Dan terjadilah apa yang telah terjadi. Apakah dengan demikian masih ada kemungkinan bagiku untuk menyeberang ke Pajang?”

Tohpati mendengarkan kata demi kata dengan penuh perhatian. Ia merasakan bahwa apa yang terjadi kemudian adalah akibat dari ketergesa-gesaan para pembantu Arya Penangsang. Namun sebagai seorang prajurit yang terpercaya, maka ia tidak dapat berbuat lain daripada meneruskan perjuangan itu. Tetapi apakah yang dapat dicapainya dengan perjuangannya itu?

Meskipun demikian Tohpati itu berkata tajam “Tetapi paman selama ini hampir tidak berbuat apa-apa. Pada saat Adipati Penangsang masih melakukan perjuangan, paman ternyata menjadi seorang yang ditakuti digaris-garis perang. Namun kemudian paman tidak lebih dari seorang juru masak yang malas. Kenapa paman tidak mau bertempur seperti masa-masa lampau itu?”

Sumangkar menarik alisnya tinggi-tinggi. Sebagai seorang yang telah berusia lanjut, maka ia dapat berpikir dengan tenang. Dan dengan tenang pula ia menjawab “Kalau aku turut dalam peperangan yang tidak akan berarti apa-apa ini Raden, maka aku hanya akan memperpanjang penderitaan. Penderitaan rakyat Pajang dan rakyat Jipang sendiri. Sebab seperti yang pernah aku katakan, perjuangan ini tidak akan berhasil. Apa yang dapat kita lakukan hanyalah pembalasan dendam pada beberapa pihak. Melepaskan sakit hati dan membuat onar dimana-mana. Apakah kira-kira demikian juga cita-cita Arya Penangsang sendiri? Seandainya Arya Penangsang berhasil merebut tahta, apakah yang kira-kira akan dikerjakan? Memanjakan diri sendiri atau berbuat sesuatu untuk membentuk Demak menurut seleranya? Nah, bandingkanlah dengan apa yang kau lakukan ngger. Dengan anak buah angger dan dengan seluruh perbuatan laskar Jipang ini”

Tohpati mengerutkan keningnya. Terdengar ia menggeram. Kata-kata Sumangkar itu hampir seperti kata-kata orang tua yang dijumpainya disungai beberapa hari yang lampau. Kata-kata orang tua yang telah memiliki berbagai pertimbangan. Tetapi Tohpati masih ingin meyakinkan dirinya “Paman, apakah dengan demikian kita tidak menjadi seorang pengecut? Seorang yang tidak berani menghadapi pahit getir perjuangan? Seorang prajurit sejati akan pantang menyerah. Pantang menyerah kepada lawan, dan pantang menyerah kepada keadaan”

“Raden benar” sahut Sumangkar “Jangan menyerah kepada lawan. Jangan menyerah kepada keadaan. Namun jangan membutakan diri atas kenyataan. Selama ini kita masih dihadapkan pada cita-cita, maka kita tidak akan berputus asa. Namun apabila kita menyakini kelemahan diri dan meyakini bahwa apa yang hendak kita capai itu tidak akan terpenuhi, maka sebaiknya kita menyadari keadaan. Korban telah semakin banyak dan korban itu tidak akan berarti apa-apa. Korban yang sia-sia. Korban dari nafsu pembalasan dendam dan sakit hati”

Tohpati tidak berkata apa-apa lagi. Ia kini seakan-akan melihat sebuah gambaran yang suram tentang masa depan laskarnya. Ia kini melihat betapa korban berjatuhan dikedua belah pihak tanpa dapat merubah keadaan. Korban yang menurut Sumangkar adalah korban yang sia-sia.

Sesaat mereka berdiam diri. Tohpati dengan angan-angannya dan Sumangkar dengan angan-angannya pula. namun sejenak kemudian terdengar Macan Kepatihan itu menggeram “Apakah paman menyayangkan korban-korban itu?”

“Ya” sahut Sumangkar pendek.

“Mati bagi prajurit adalah kemungkinan yang sudah diketahuinya. Mati bagi seorang prajurit adalah kemungkinan yang sama dengan kemungkinan untuk hidup. Sehingga mati magi seorang prajurit sama sekali bukan suatu hal yang mengejutkan”

“Angger benar. Mati bagi aku dan bagi angger adalah kemungkinan yang paling dekat terjadi. Bahkan lebih dekat dari kemungkinan untuk hidup. Tetapi apakah mati bagi mereka yang sama sekali tidak tahu menahu persoalan ini juga dapat dibenarkan? Apakah mati bagi orang-orang Sangkal Putung, dukuh Pakuwon, Benda dan orang-orang lain disekitar Pajang dan Jipang Wanakerta, disebelah barat Demak dan disudut-sudut Bergota itu juga sudah wajar? Laskar Raden yang terpencar dan menyusup didaerah-daerah itu benar-benar tak terkendalikan. Rakyat didaerah itu dan laskar Pajang berusaha untuk menumpasnya. Yang mati diantara laskar angger dan laskar Pajang adalah wajar. Tetapi rakyat yang tergilas oleh arus peperangnan itu?”

Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan menurut bunyi disudut relung hatinya berkata “Bukan hanya mereka. Tetapi bahkan anggota-anggota laskarnya sendiri bukanlah orang-orang yang tahu akan keadaannya. Ada diantara mereka yang hanya terlanjur terdorong oleh arus yang tidak dapat dihindari tanpa keyakinan apa-apa. Tetapi ada yang dengan sengaja dan mempergunakan kesempatan untuk kepentingan-kepentingan yang kotor. Bahkan ada yang kedua-duanya, putus asa dan kesempatan berbuat diluar peraturan-peraturan. Merampas dengan dalih yang itu-itu juga, untuk kepentingan perjuangan. Membunuh dengan dalih itu-itu juga, mengkhianati perjuangan atau berpihak kepada musuh. Menculik dan merampok. Bahkan segala perbuatan yang bertentangan dengan perikemanusiaan. Apabila peperangan ini masih berlangsung terus, maka hal-hal yang serupa itu masih akan berlangsung lama.

Kembali mereka berdua terlempar dalam kesenyapan. Yang terdengar hanyalah nafas Macan Kepatihan yang semakin cepat mengalir lewat lubang-lubang hidungnya. Matanya yang tajam menerkam dinding bambu yang berlubang-lubang dihadapannya. Tetapi lubang-lubang itu kini sama sekali sudah tidak kelihatan.

Ketika Tohpati berpaling menembus celah-celah tutup keyong gubugnya yang tidak rapat, maka terdengar ia berdesis “Sudah hampir gelap”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, sudah hampir gelap”

Tiba-tiba Tohpati berdiri. Beberapa langkah ia berjalan kesudut ruangan itu. Diraihnya tongkat baja putihnya yang tersangkut diatas pembaringannya. Sumangkar memandang senjata itu dengan wajah yang tegang. Ia tidak tahu, apakah yang akan dilakukan oleh Macan Kepatihan yang garang itu. Tetapi ketika ia melihat Tohpati memutar tubuhnya, dan dilihatnya dalam keremangan ujung malam itu kesan sikap yang wajar, maka Sumangkarpun tidak beranjak dari tempatnya. Dari lubang pintu cahaya pelita menembus masuk kedalam ruangan. Bukan pelita, tetapi sebuah obor yang menyala-nyala disamping dimulut pintu.

“Paman, aku ingin berjalan-jalan bersama paman malam ini” suara Tohpati datar dalam nada yang rendah.

Dada Sumangkar berdesir. Tidak pernah Tohpati membawanya pergi akhir-akhir ini. Kini tiba-tiba Macan Kepatihan itu mengajaknya.

Banyak hal yang dapat terjadi kemudian. Apakah Macan Kepatihan itu marah kepadanya, apakah Macan Kepatihan itu ingin mendengar pendapat-pendapatnya lebih lanjut, adalah teka-teki yang tak dapat diketahuinya. Tetapi sudah tentu ia tidak dapat menolak. Kalau Tohpati ingin berbuat jahat kepadanya, maka sudah tentu ia tidak akan pergi berdua, sebab Sumangkar tahu pasti, bahwa Tohpati menyadari keadaannya. Sumangkar bukanlah lawannya. Sumangkar adalah takaran dua tiga kali daripadanya. Sebab Sumangkar adalah saudara seperguruan dari gurunya, Patih Mantahun. Tetapi apa yang dilakukan Sumangkar itu kemudian tidak lebih dari seorang juru masak yang baik. Bahkan sebagian besar dari laskarnya yang baru ditemukan oleh orang-orang Jipang sepanjang peperangan atau prajurit-prajurit Jipang yang tersebar dimana-mana tidak mengenal Sumangkar dengan baik. Mereka menyangka bahwa orang itu benar-benar seorang juru masak.

Ketika Sumangkar tidak segera menjawab, maka sekali lagi Tohpati berkata “Paman, kita pergi berdua malam ini”

“Kemana ngger?”

Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang aneh. Sumangkar pasti sudah tahu kemana mereka akan pergi dalam keadaan serupa itu. Meskipun demikian Tohpati itu menjawab “Paman pasti sudah tahu, kemana kita akan pergi dalam keadaan ini. Dimana laskarku sudah siap untuk menggempur Sangkal Putung”

“Oh, jadi kita melihat-lihat Sangkal Putung?”

“Ya”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Tohpati telah memaksanya untuk melibatkan diri kedalam peperangan yang dibencinya itu. Peperangan yang semakin lama menjadi semakin jauh daru bentuknya. Tetapi keputusan terakhir pasti ada padanya sendiri.

Tohpati ternyata kemudian tidak menunggu Sumangkar menjawab. perlahan-lahan ia berjalan kepintu dan sekali ia berpaling. Ketika dilihatnya Sumangkar telah berdiri, maka Tohpati itupun berjalan terus.

Dimuka gubug Sanakeling dan orang-orangnya, Tohpati berhenti. Dipanggilnya Sanakeling yang sedang menghadapi seceting nasi dan daging menjangan.

“Apakah kakang akan pergi?” bertanya Sanakeling.

“Ya” jawab Tohpati “Pekerjaanmu besok mengumpulkan semua kekuatan. Malam ini aku ingin melihat Sangkal Putung bersama paman Sumangkar”

Sanakeling mengerutkan keningnya. Ia kenal siapakah Sumangkar itu. Ia kenal kebesaran namanya pada masa-masa lampau. Tetapi ia kenal juga, bahwa Sumangkar kini lebih senang menjadi seorang juru masak dengan pisau dapur ditangannya. Membelah daging binatang-binatang buruan dan membelah kayu-kayu bakar.

Bagi Sanakeling, Sumangkar sekarang hampir-hampir tidak berarti sama sekali. Seandainya Sumangkar itu mati sekalipun, maka laskar Jipang tidak akan merasa kehilangan. Sebab pekerjaannya segera dapat diganti oleh orang lain.

Karena itu, maka Sanakeling itupun bertanya “Apakah kau tidak memerlukan orang lain?”

“Tidak” jawab Tohpati menggelengkan kepalanya.

Sanakeling tidak bertanya-tanya lagi. Macan Kepatihan sudah cukup dewasa untuk menjaga dirinya, sehingga ia sudah cukup mempunyai perhitungan.

Ketika Tohpati itu kemudian berjalan meninggalkannya, maka segera Sanakeling masuk kembali kedalam biliknya, menjatuhkan dirinya disebuah bale-bale dan kembali meneruskan menikmati daging menjangan muda. Satu kakinya diangkatnya keatas bale-bale sedang kakinya yang lain berjuntai kebawah. Sambil mengunyah nasi, Sanakeling berkata tersendat-sendat “He, panggil Alap-alap kerdil digubugnya”

Seseorang yang berdiri dimuka pintu berpaling. Sekali lagi Sanakeling berkata “Panggil Alap-alap itu”

“Baik, baik Ki Lurah” jawab orang itu sambil berlari-lari kegubug yang lain. Tetapi kemudian langkahnya terhenti. Dilihatnya Tohpati dan Sumangkar berjalan dihadapannya menuju ke gubug Alap-alap Jalatunda pula.

Series 9

Sampai digubug Alap-alap Jalatunda Tohpati berhenti. Wajahnya tampak berkerut-kerut. Diangkatnya telinganya sambil bergumam lirih “Siapa itu paman?”

Sumangkar menarik pundaknya tinggi-tinggi. Katanya “Itulah Raden, gambaran kehidupan kita”

Tohpati menggeram. Didengarnya sekali lagi suara tertawa perempuan seperti seekor kucing tercekik. Kemudian terdengar suara Alap-alap Jalatunda yang muda itu “Jangan merajuk anak muda. Tinggalkan istrimu disini. Ia tidak akan berkurang cantiknya”

Yang terdengar kemudian ringkik perempuan. Katanya “Kembalilah dulu kang, aku ingin tinggal disini dahulu”

Tohpati itu kemudian melihat anak muda yang tinggi kurus dan berkumis jarang. Anak muda yang pernah diajaknya bercakap-cakap. Anak muda yang istrinya jauh lebih tua dan bernama Nyai Pinan. Laki-laki muda itu berjalan tersuruk-suruk dengan wajah yang suram. Sekali ia berpaling, dan terdengar istrinya berkata “Kang, aku akan segera kembali membawa sepotong daging rusa untuk kakang. Bukankah kakang senang makan daging rusa?”

Laki-laki itu mengangguk. Dan kembali ia berjalan meninggalkan gubug itu diiringi oleh suara tertawa istrinya dan Alap-alap Jalatunda. Diantara suara tertawa itu terdengar Nyai Pinan berkata “Suamiku adalah laki-laki yang baik hati”

Laki-laki muda yang bertubuh kurus itu berhenti sesaat mendengar pujian istrinya. Namun kemudian ia berjalan kembali.

Tetapi alangkah terkejutnya ketika tiba-tiba sebuah tangan yang kuat menyambar bahunya. Ketika ia berpaling, maka tubuhnya terputar dengan kuatnya.

Laki-laki itu sesaat seakan-akan kehilangan kesadarannya. Namun ketika ia menengadahkan wajahnya, ia bertambah terkejut lagi. Dilihatnya sepasang mata Tohpati seolah-olah memancarkan sinar api yang merah membara.

Laki-laki muda itu tidak mengerti apa yang harus dilakukannya, sehingga dengan gemetar ia menyeringai ketika tubuhnya diguncang-guncang oleh tangan Tohpati yang serasa akan meremukkan tulangnya.

“Kembali masuk kedalam gubug itu” teriak Tohpati dengan suara parau dan gemetar, sehingga suaranya seolah-olah telah berubah menjadi suara hantu yang sedang marah “Masuk kembali kegubug itu. Seret perempuan itu keluar. Perempuan yang pernah kau larikan dari suaminya”

Laki-laki muda yang tinggi kurus dan berkumis jarang itu menjadi semakin bingung. Ia kini benar-benar kehilangan akal dengan demikian maka ia masih saja berdiri dengan mulut ternganga.

“Ayo masuk kembali kedalam gubug itu” teriak Macan Kepatihan dengan marahnya.

Laki-laki itu benar-benar menjadi kebingungan, sehingga tanpa sesadarnya terloncat jawabannya “Tetapi tuan, ia masih ingin tinggal disana”

“Ambil perempuan gila itu. Seret keluar kalau tidak mau dilemparkan dari perkemahan ini”

Otak laki-laki kurus itu kini seolah-olah menjadi seperti baling-baling yang dipermainkan angin. Kalau angin itu bertambah kencang sedikit saja, maka ia akan semakin kencang berputar, dan tidak mampu untuk mencoba berhenti dengan sendirinya.

Dalam kebingungan itu tiba-tiba terdengar suara Alap-alap Jalatunda dengan garangnya “He, siapa diluar?”

Laki-laki kurus itu tidak dapat menjawab. mulutnya benar-benar serasa terbungkam, sehingga sekali lagi terdengar suara Alap-alap Jalatunda “Siapakah laki-laki gila yang mengumpat-ngumpat itu?”

Demikian marahnya Macan Kepatihan mendengar kata-kata itu sehingga bibirnya menjadi gemetar, dan bahkan tak sepatah katapun yang dapat melontar dari bibirnya.

Dalam pada itu terdengar suara perempuan dari dalam bilik itu “Ah, jangan marah kang. Tunggulah diluar. Sebentar lagi antarkan aku kembali kegubug suamiku”

Bukan main marahnya Macan Kepatihan itu. Dan kemarahannya itu benar-benar menimbulkan keheranan pada Sumangkar yang tua. Apa yang terjadi itu bukanlah barang baru didalam perkemahan ini. Tetapi agaknya Tohpati tidak pernah menaruh perhatian atasnya. Namun tiba-tiba ada suatu perubahan pada sikapnya. Perubahan yang tak dapat diketahui ujung dan pangkalnya. Namun yang dilihatnya kini Macan Kepatihan itu tidak dapat lagi mengendalikan kemarahannya. Karena itu, maka tiba-tiba Tohpati itu mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Sekali ia meloncat mendekati gubug itu, dan dengan sekuat tenaganya tiang sudut gubug itu berderak patah, dan runtuhlah sudut gubug Alap-alap Jalatunda.

Mendengar suara berderak-derak itu, alangkah terkejutnya Alap-alap Jalatunda dan Nyai Pinan. Dengan tangkasnya anak muda itu meloncat kepintu dan dengan sebuah loncatan yang panjang ia telah berdiri tegak diluar pintu.

Tetapi alangkah terkejutnya Alap-alap yang garang itu. Demikian ia berdiri tegak, maka dengan serta-merta sebuah tangan terjulur kearahnya dan dengan kuatnya menggenggam leher bajunya. Alangkah kuatnya tangan itu. Alap-alap Jalatunda itu serasa kehilangan segenap kekuatannya ketika tangan itu menariknya.

Sebelum Alap-alap Jalatunda sadar akan keadaannya, maka sebuah tamparan yang keras mengenai pipinya. Kini ia terhuyung-huyung. Tangan yang kuat itu telah tidak menggenggam bajunya lagi, sehingga Alap-alap itu terbanting jatuh. Namun sebenarnya tubuh Alap-alap Jalatunda itu sedemikian kokohnya. Demikian ia terguling, maka segera ia meloncat berdiri diatas kedua kakinya yang kokoh.

Kini barulah ia melihat siapakah laki-laki yang telah menamparnya itu. Seorang laki-laki yang bertubuh tinggi kekar berkumis tebal melintang. Macan Kepatihan.

Ketika disadarinya siapa yang berdiri dihadapannya itu, maka berdesirlah hatinya. Tiba-tiba ia tidak lagi bersikap garang. Sekali ia membungkukkan badannya dan berkata “Maafkan aku Raden. Aku tidak tahu, bahwa Raden berada disini”

Terdengar gigi Macan Kepatihan gemeretak menahan kemarahannya yang memuncak. Dengan tajamnya ia memandangi wajah Alap-alap Jalatunda yang tunduk.

Seandainya pada saat itu Alap-alap Jalatunda berkata sepatah kata saja, maka wajahnya pasti akan menjadi bengkak, karena Tohpati telah menggenggam tinjunya siap untuk memukul mulut Alap-alap Jalatunda itu. Namun untunglah bahwa Sumangkar sempat menenangkannya, katanya “Sudahlah ngger, biarlah ini menjadi pelajaran bagi setiap orang diperkemahan ini. Anak muda itu telah menyesal”

Tohpati tidak menjawab. Diedarkannya pandangan matanya berkeliling. Ternyata disekitar tempat itu telah berdiri berkerumun beberapa orang. Diujung berdiri seseorang dengan mulut yang bergerak-gerak, Sanakeling. Meskipun ia tegak dengan wajah tegang, namun mulutnya masih saja mengunyah daging menjangan yang belum sempat ditelannya.

Tohpati itu kemudian melangkah selangkah maju. Dengan tongkatnya ia menunjuk kedalam kekelaman malam, kekelaman hutan disekitarnya “Perempuan yang jahat. Pergi dari sini. Kaulah yang membawa sial dalam laskar kami”

“Raden” cegah Sumangkar hati-hati “Biarkan perempuan ini disini. Tempatkanlah perempuan itu pada suaminya. Jangan meninggalkan tempat ini. Kalau ia pergi maka suaminyalah yang akan menjadi gantinya”

Betapa marahnya Macan Kepatihan, namun naluri kepemimpinannya segera merayapi otaknya. Karena itu, maka katanya “Paman benar. Perempuan itu tidak boleh meninggalkan tempat ini”. Kemudian katanya kepada laki-laki kurus berkumis jarang “Kau menjaga istrimu digubug ini. Biarlah Alap-alap gila itu mencari tempat lain. Kalau istrimu sampai meninggalkan tempat ini, maka lehermu menjadi taruhannya”

Laki-laki itu mengangguk-anggukkan kepalanya dalam-dalam sambil gemetar. Ia tidak tahu kenapa istrinya tidak boleh meninggalkan tempat itu. Apakah besok istrinya akan dihukum, apakah ada persoalan-persoalan lain yang akan dilakukan oleh Macan Kepatihan itu? Tetapi ia hanya mampu menjawab “Ya, ya tuan”

Namun Sumangkar yang berpengalaman itu dapat membayangkan apa saja yang akan terjadi seandainya perempuan itu benar-benar meninggalkan perkemahan itu. Perkemahan yang dengan hati-hati dipersiapkan khusus untuk tujuan yang penting. Perkemahan yang dibangun dengan tergesa-gesa untuk mempersiapkan laskar-laskar Jipang yang terpencar disegala penjuru. Kalau perempuan itu lepas dengan luka dihatinya, maka perkemahan itu pasti segera akan hancur. Sebab tidak mustahil, tempat itupun akan segera diketahui oleh Untara dan Widura. Untunglah bahwa Tohpati segera menyadari pula keadaan itu, sehingga orang-orang Untara belum dapat mengetahui dengan pasti letak perkemahan itu. Hubungan-hubungan yang dibuat dengan orang-orang dalam masih terlalu sulit dan kesempatan untuk itu masih belum dapat diperoleh. Yang baru diketahui oleh orang-orang Untara adalah persiapan-persiapan dan kesibukan dari beberapa orang yang terpencar-pencar. Pemusatan kekuatan disekitar daerah yang sudah dikenal. Namun secara pasti, tempat itu belum dapat diketahui. Apalagi tempat ini belum lama dibangun, setelah beberapa puluh kali berpindah-pindah.

Nyai Pinan kemudian menjadi ketakutan bukan alang kepalang. Merangkak-rangkak ia menangis minta ampun. Bahkan ketika ia hampir sampai dihadapan Tohpati, maka segera ia menjatuhkan dirinya menelungkup. Namun Tohpati tidak menghiraukannya. Sekali lagi matanya beredar diantara orang-orangnya yang berdiri berkerumun sambil menahan gelora hati masing-masing. Dengan lantang ia berkata “Aku tidak mau melihat perbuatan terkutuk berulang diperkemahan ini”

Dan sebelum gema suaranya lenyap dalam kekelaman malam, maka segera Tohpati itu melangkah pergi. Beberapa orang menyibak kesamping memberinya jalan. Tanpa menoleh Tohpati berjalan masuk kedalam malam yang gelap. Dibelakangnya Sumangkar berjalan cepat-cepat. Diujung perkemahan itu Sumangkar masih sempat meraih sebuah golok pembelah kayu. Kalau mereka pergi ke Sangkal Putung, maka perjalanan itu bukanlah perjalanan tamasya dimalam purnama. Sehingga karena itu, maka golok itu akan sangat bermanfaat baginya apabila ditemuinya bahaya diperjalanan.

Sepeninggal Tohpati, Sanakeling melangkah maju. Mulutnya yang masih mengunyah daging menjangan itu berkata “Apakah yang kau lakukan Alap-alap kecil?”

Alap-alap Jalatunda menundukkan wajahnya. Terasa darah yang seakan-akan menggelegak, namun ia tidak berani berbuat apa-apa. Meskipun demikian terasa juga bahwa telah terjadi suatu perubahan sikap pada Tohpati yang garang itu.

Meskipun Pratanda yang juga bergelar Alap-alap Jalatunda itu belum menjawab, namun dengan melihat Nyai Pinan yang masih merangkak-rangkak, segera Sanakeling dapat menduga apa yang telah terjadi. karena itu, maka gumamnya didalam mulutnya “Hem, karena itu aku tidak mau berurusan dengan perempuan. Perempuan dimana-mana dapat menimbulkan persoalan. Dunia ini dapat menjadi sedemikian indah dan menggairahkan, karena perempuan. Namun dunia ini dapat berubah menjadi neraka juga karena perempuan. Nah alap-alap kecil, jangan menyesal. Yang sudah biarlah terjadi, tetapi ingatlah untuk seterusnya, bahwa Macan Kepatihan yang garang itu membenci perempuan”

Alap-alap Jalatunda mengangkat wajahnya. Dilihatnya Sanakeling masih menggerak-gerakkan mulutnya. Tetapi Alap-alap Jalatunda tidak berkata apa-apa. dengan langkah yang gontai ia berjalan meninggalkan tempat itu.

“Mau kemana?” bertanya Sanakeling.

“Tidak kemana-mana” sahut Alap-alap Jalatunda.

“Kau tidak boleh menempati gubug yang hampir roboh itu. Tidurlah ditempatku bersama orang-orangku”

Alap-alap Jalatunda menggeleng, katanya “Aku akan tidur bersama orang-orangku sendiri”

Sanakeling dengan susah payah menelan segumpal daging yang tidak dapat dikunyahnya. Sesaat terasa kerongkongannya tersumbat. Namun setelah gumpalan daging itu melalui lehernya ia berkata “Terserahlah, tetapi aku akan berbicara kepadamu. Datanglah kegubukku”

“Tentang apa?” bertanya Alap-alap Jalatunda.

“Tidak tentang perempuan” sahut Sanakeling.

“Ah” desah Alap-alap Jalatunda “Tentang apa?”

Sanakeling memandang Alap-alap Jalatunda dengan tajamnya. Ia tidak senang mendengar Alap-alap itu berkata tajam kepadanya. Meskipun demikian ia menjawab “Tentang kedudukan kita dan Sangkal Putung. Pergilah”

“Apa yang akan kita bicarakan?”

“Pergilah kegubugku”desak Sanakeling.

“Kita bicara disini saja”

Sanakeling mengerutkan keningnya. Katanya “He, apakah kau sudah menjadi gila?”

Alap-alap Jalatunda tidak memperdulikannya. Selangkah ia berjalan kesamping sambil bergumam “Aku akan pergi”

“Pergilah ketempatku. Aku perlu berbicara tentang berbagai persoalan”

Alap-alap Jalatunda yang sedang dibakar oleh gejolak hatinya itu menjawab dengan jengkelnya “Berbicaralah disini”

Sanakeling menjadi marah pula karenanya. Selangkah ia maju sambil menggeram perlahan-lahan “Alap-alap kecil. Jangan menjadi gila. Kau dihukum karena kesalahanmu. Jangan membuat persoalan baru. Pergi kegubug itu, atau kau aku tampar mulutmu dimuka anak buahmu. Aku masih merasa berbaik hati kepadamu bahwa aku memperingatkanmu perlahan-lahan”

Langkah Alap-alap Jalatunda itu terhenti. Alangkah sakit hatinya mendengar geram itu. Tetapi ketika dilihatnya mata Sanakeling yang seolah-olah menyala itupun, hatinya menjadi kecut. Disadarinya kini kekecilannya diantara para pemimpin Jipang. Sanakeling adalah orang yang garang segarang Plasa Ireng yang telah mati dibunuh oleh Sidanti dengan luka arang kranjang ditubuhnya.

Sekali lagi Alap-alap Jalatunda terpaksa menahan gelora didadanya. Ditelannya kepahitan itu meskipun hatinya tidak ikhlas. Karena itu, maka ia menjawab pendek “Ya, aku akan pergi kesana”

Sanakeling menarik nafas panjang. Namun matanya masih saja menyalakan kemarahannya. Dengan langkah yang berat ia berjalan meninggalkan gubug itu sambil memperingatkan perempuan yang masih saja menangis sambil duduk ditanah “Ingat semua kata-kata Macan Kepatihan supaya nyawamu tidak dicabut dengan tongkatnya yang mengerikan itu. Sekali kepalamu tersentuh kepala tongkatnya, maka otakmu pasti akan berhamburan. Nah, masuklah kegubug itu dan jangan meninggalkan tempat ini”

“Baik tuan. Aku tidak berani melanggar perintah itu” tangis Nyai Pinan.

Sanakeling itupun kemudian kembali kegubugnya. Ia dapat mengerti juga kenapa Nyai Pinan tidak boleh meninggalkan tempat itu. Sebab perbuatan itu akan sangat berbahaya bagi rahasia gerombolannya.

Alap-alap Jalatundapun tidak dapat berbuat lain daripada datang memenuhi permintaan Sanakeling. Ia sudah dapat membayangkan apa saja yang akan dikatakan oleh Sanakeling itu. Persiapan untuk menyerbu kembali Sangkal Putung.

Dalam pada itu, Tohpati berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan perkemahannya, seakan-akan ia ingin segera pergi sejauh-jauhnya dari tempat itu. Tempat yang dibangunnya sebagai landasannya untuk meloncat kedaerah perbekalan yang subur, Sangkal Putung. Namun perkemahan itu telah menumbuhkan kebencian padanya. Tempat yang terkutuk. Tempat yang dipenuhi oleh berbagai ciri kehidupan liar yang benar-benar menjemukan. Ia tidak mengerti apa yang terjadi didalam dirinya, bahwa baru sekarang ia merasa muak melihat perbuatan-perbuatan itu. Bukankah sebelumnya telah diketahui, setidak-tidaknya pernah didengarnya bahwa hal-hal semacam itu pernah dan bahkan sering terjadi? Kenapa pada saat itu ia tidak berbuat apa-apa? Kenapa pada saat itu dibiarkannya kemaksiatan semacam itu tumbuh seenaknya?

Macan Kepatihan itu menggeram. Ketika ia berpaling dilihatnya Sumangkar berjalan beberapa langkah dibelakangnya sambil menjinjing sebilah golok.

“Apakah yang paman bawa itu?”

“Golok” sahut Sumangkar.

“Untuk apa?”

“Tongkat” jawabnya pendek.

Tohpati mengerutkan keningnya dan memperlambat langkahnya, sehingga Sumangkarpun berjalan lebih lambat pula.

Sekali-sekali Macan Kepatihan itu berpaling dan akhirnya ia berkata “Golok itu terlampau pendek untuk dijadikan tongkat”

Sumangkar terkejut mendengar kata-kata itu. Cepat ia mencari jawaban yang lain, katanya “Tidak ngger. Bukan tongkat sebagai penyangga tubuh. Maksudku, golok ini dapat dipakai untuk menerabas dahan-dahan yang mengganggu jalan”

Tohpati itu tersenyum. Katanya dengan nada datar “Paman ternyata memerlukan juga senjata”

Sumangkar tidak menjawab. Ternyata Macan Kepatihan itu dapat menebak maksudnya. Namun bukankah ia akan pergi kedaerah lawan? Maka adalah kewajibannya untuk berhati-hati. Meskipun demikian Sumangkar itu tidak menjawab. Ia masih saja berjalan dibelakang Tohpati sampai mereka muncul dari balik rimbunnya dedaunan yang agak lebat.

Demikianlah mereka melangkahkan kaki mereka keluar hutan. Tohpati menarik nafas lega, seolah-olah ia telah keluar dari suatu daerah yang dibencinya. Suatu daerah yang sama sekali tidak menyenangkan. Seakan-akan ia baru keluar dari suatu tempat yang padat pepat sehingga menyesakkan nafasnya.

Ketika Tohpati menengadahkan wajahnya, dilangit dilihatnya bulan yang terbelah. Sehelai-sehelai awan yang putih hanyut dibawa arus angin yang lembut.

Sekali lagi Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Bulan itu tampaknya sangat asing baginya. Sudah beberapa tahun ia melupakan keindahan bulan, langit yang sumeblak, bintang-bintang dan bahkan melupakan apa saja yang dapat memberinya kesegaran seperti malam ini. Angin yang lembut dan daun-daun yang bergerak-gerak dibelai oleh angin yang lembut itu.

“Hem” desahnya.

Sumangkar melangkah lebih cepat lagi, sehingga ia berjalan disamping Macan Kepatihan itu. Ketika ia mendengar Tohpati itu berdesah, ia berpaling. Tetapi ia tidak bertanya apa-apa.

Tohpati masih mengagumi kesegaran angin malam dan kembutan sinar bulan setengah. Cahaya yang redup kekuning-kuningan dan daun-daun yang hijau gelap seperti langit digaris cakrawala. Dari dalam kekelaman malam, menjulang lamat-lamat gunung Merapi menyentuh langit.

“Paman” tiba-tiba terdengar Tohpati itu berkata “Umurku sudah cukup banyak paman. Sudah sepertiga abad. Tetapi aku merasa tiba-tiba menjadi orang asing disini. Asing dari alam disekitarku ini”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Pertanyaan itu telah mengatakan kepadanya, bahwa terjadi sesuatu pergolakan didalam dada murid saudara seperguruannya itu. Namun Sumangkar menjawab “Mungkin angger merasa asing. Tetapi alam yang Raden anggap asing ini, adalah alam yang sehari-hari telah memeluk angger dalam rangkumannya. Alam ini mengenal angger dengan baik. Sebab angger adalah bagian daripadanya. Angger telah lahir dari sumber yang sama”

Tohpati berdesir mendengar kata-kata Sumangkar itu. Tiba-tiba disadarinya bahwa alam adalah saudara kandungnya. Pepohonan, hutan, gunung, ngarai, bahkan bintang dan bulan, matahari dan seluruh isi angkasa. Semuanya telah tercipata oleh sabda yang Maha Pencipta. Semesta alam dan isinya. Juga manusia yang amat kecilnya dibandingkan dengan seluruh kebesaran alam ini.

Tetapi selama ini Tohpati tidak pernah mengingat sumbernya lagi. Yang diingatnya sehari-hari adalah nafsu yang menyala-nyala didalam dadanya untuk memusnahkan lawan. Membunuh dan menghancurkan. Membuat malapetaka dan meruntuhkan air mata.

Sekali lagi Tohpati menengadahkan wajahnya. Bulan itu masih memancar dilangit, dan bintang-bintang masih bergayutan pada dataran yang biru.

“Paman” gumam Macan Kepatihan itu perlahan-lahan “Besok kita akan mulai dengan persiapan yang terakhir. Mudah-mudahan kita akan dapat merebut daerah perbekalan itu kali ini”

Sumangkar berpaling. Kata-kata itu sama sekali tidak bernafsu seperti arti katanya. Tohpati itu seakan-akan berkata asal saja mengucapkan kata-kata. Karena itu Sumangkar tidak segera menjawab. Dibiarkannya Tohpati berkata pula “Besok kita akan mulai lagi dengan suatu gerakan. Aku mengharap lusa kita telah berada di Sangkal Putung”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya pendek “Ya ngger”

Tohpati sama sekali tidak tertarik kepada jawaban Sumangkar. Bahkan seolah-olah tidak didengarnya. Ia masih saja berkata seterusnya “Besok aku akan mulai dengan pembunuhan-pembunuhan dan kematian-kematian baru. Besok aku mengadakan benturan benturan antara manusia dengan manusia. Antara sesama yang mengalir dari sumber yang satu”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Kini ia tahu benar apa yang terkandung didalam hati Macan Kepatihan itu. Sehingga karena itu diberanikan dirinya berkata “Besok itu belum terjadi. Kita masih dalam keadaan kita sekarang. Apa yang terjadi besok bukanlah suatu kepastian dari sekarang. Kita mendapat wewenang untuk menentukan hari besok. Hari kita sendiri”

“Ya” sahut Tohpati “Paman benar. Tetapi apa yang kita lakukan besok pasti berdasarkan pertimbangan tentang hari sekarang dan hari kemarin. Apakah dan siapakah kita sekarang dan kemarin. Dengan dasar itulah kita berbuat untuk besok”

“Ya. Kita sendiri adalah kelanjutan dari masa lampau. Tetapi tidak seharusnya apa yang kita lakukan besok harus senafas dengan apa yang kita lakukan kemarin” sahut Sumangkar “Dengan demikian maka tidak akan ada perubahan-perubahan didalam diri manusia. Tetapi perubahan-perubahan itu selalu terjadi. Seorang yang hidup karena pekerjaan yang nista suatu ketika akan dapat menjadi seorang yang alim dan berbudi. Seorang yang baik hati, suatu saat dapat berbuat diluar batas kemanusiaan”

“Seorang pahlawan dimedan-medan perang, suatu ketika memilih jalan hidupnya didapur-dapur dan disudut-sudut perapian” potong Tohpati.

“Ya, itupun suatu perkembangan yang terjadi didalam diri manusia” sahut Sumangkar.

Tohpati mengerutkan keningnya. Sejenak ia berdiam diri. Ditatapnya padang rumput yang sempit dihadapannya, kemudian diseberang padang rumput itu terdapat sawah-sawah yang tidak pernah ditanami selama kerusuhan terjadi didaerah ini. Para petani yang memilikinya menjadi ketakutan untuk menggarapnya, sebab setiap saat laskat Jipang yang liar sering menyerang mereka.

Ketika mereka melangkah semakin jauh kedalam padang itu, kembali Tohpati berkata tanpa berpaling “Paman, apakah paman puas dengan keadaan paman sekarang?”

“Puas tentang apa, ngger?”

“Tentang keadaan paman. Paman yang pernah dikagumi digaris perang, kini tidak lebih dari seorang juru masak didapur”

“Aku puas ngger. Aku puas bahwa aku untuk sekian lamanya berhasil meletakkan senjataku dan menggantinya dengan pisau dapur dan golok pembelah kayu ini”

Macan Kepatihan mengerutkan keningnya. Terasa sesuatu menggeram didalam rongga dadanya, tetapi ia ragu-ragu untuk mengutarakannya.

Namun yang terloncat dari bibirnya adalah “Paman adalah seorang yang berhati goyah. Paman telah meletakkan suatu tekad perjuangan. Namun paman berhenti ditengah jalan”

“Raden” sahut Sumangkar perlahan-lahan “Aku memang pernah meletakkan suatu tekad. Tetapi aku bukan orang yang buta pada keadaan. Orang yang dengan membabi buta pula berbuat hanya karena sudah terlanjur. Sebenaryna ngger, terus terang, sejak Arya Penangsang dan pamanda Patih Mantahun melakukan rangkaian-rangkaian pembunuhan, sejak itu hatiku telah goyah. Tetapi aku pada saat itu tidak yakin, hatiku dapat goyah. Aku tidak percaya pada setiap persoalan yang timbul didalam diriku. Dan aku telah berusaha untuk membutakan mataku dan berbuat seperti yang sudah mulai aku lakukan. Tetapi akhirnya aku menyadari keadaanku. Aku tidak dapat membohongi perasaanku terus memerus. Aku jemu pada peperangan”

“Jangan berkata begitu” potong Tohpati. Langkahnyapun terhenti dan dengan pandangan yang tajam ditatapnya mata Sumangkar. Namun kini Sumangkar tidak lagi menundukkan wajahnya. Bahkan langsung dipandangnya biji mata Tohpati yang seakan-akan menyala itu. Pandangan mata seorang yang sudah lanjut usia.

Tohpatilah yang kemudian berpaling. Meskipun demikian ia bergumam “Paman jangan mencoba melemahkan hatiku. Apakah paman ingin memaksa aku untuk berbuat seperti paman itu. Meletakkan senjata ini dan merunduk-runduk kepada orang Pajang untuk menjadi juru masak atau pekatik”

“Tidak” sahut Sumangkar “Angger tidak dan akupun tidak”

“Lalu?”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Timbullah kebimbangan didalam hatinya. Sudah pasti ia tidak dapat mengatakan kepada Tohpati meskipun ia tahu bahwa hati Macan Kepatihan yang garang itu sedang goncang.

Tetapi Sumangkar itu terkejut ketika tiba-tiba ia mendengar Tohpati berkata “Paman, aku bukan pengecut. Aku bukan orang yang takut melihat beberapa kekalahan kecil. Dan aku tak akan dapat digoyahkan oleh keadaan yang bagaimanapun juga. Lusa apabila Sanakeling telah berhasil mengumpulkan segenap orang-orang kita, maka aku benar-benar akan menghancur-lumatkan Sangkal Putung. Kali ini yang terakhir. Kalau aku tidak berhasil menguasai Sangkal Putung, maka lebih baik Sangkal Putung itu aku binasakan. Rumah-rumahnya, sawah-sawahnya dan segala kekayaan yang ada didalamnya. Buat apa aku menyayangkan kehancurannya, kalau aku tidak dapat memanfaatkannya”

Sumangkar memandangi wajah Tohpati dalam keremangan cahaya bulan. Dilihatnya Macan Kepatihan itu kemudian menggigit bibirnya dan terdengar ia menggeram.

“Hem” Sumangkar menarik nafas dalam-dalam, meskipun ia tidak segera mengucapkan kata-kata.

“Kenapa paman berdesah?” bertanya Tohpati

“Tidak” sahut Sumangkar “Aku tidak berdesah. Aku sedang menyesal”

“Apa yang paman sesali?”

“Angger sudah mulai berkelahi dengan pertimbangan-pertimbangan sendiri. Angger melihat kewajaran didalam diri angger, tetapi angger tidak mau”

“Bohong” teriak Tohpati tiba-tiba. Wajahnya benar-benar menjadi merah. Tanpa disangka-sangka ia melangkah maju mendekati Sumangkar sambil menundingnya “Jangan berkhianat terhadap pimpinanmu paman. Paman sedang berusaha melemahkan hatiku”

“Kekuatan hati seseorang tidak harus ditampakkan pada kekerasan pendirian yang membabi buta. Mungkin angger mampu menghancurkan Sangkal Putung. Tetapi itu perbuatan putus asa. Angger benar-benar kehilangan akal. Dengan demikian maka beribu-ribu jiwa akan kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian apabila sawah-sawahnya dihancurkan. Mereka akan kelaparan dam mereka akan mati sia-sia”

“Itu adalah akibat dari kekerasan kepala mereka. Kenapa mereka tidak menyadari bahwa mereka harus menyerah?”

“Siapakah yang keras kepala? Siapakah yang tidak menyadari keadaannya?”

“Setan” potong Tohpati “Paman benar-benar telah berkhianat. Karena itu maka tidak sewajarnya paman ada didalam barisanku”

“Apakah aku harus pergi ke Pajang?”

“Tidak, tidak dalam barisanku dan tidak boleh pergi ke Pajang. Sebab dengan demikian maka pengkhianatan paman akan menjadi sempurna”

“Jadi, apa yang harus aku kerjakan?”

Sejenak Tohpati terbungkam. Yang terdengar hanyalah dengus nafasnya yang terengah-engah. Tetapi tiba-tiba ia berteriak “Mati, kau harus mati”

“He?” Sumangkar terkejut mendengar kata-kata itu, sehingga untuk sesaat mulutnya seakan-akan terkunci. Tetapi sesaat kemudian orang tua itu telah berhasil menguasai dirinya kembali sepenuhnya.

Bahkan Sumangkar itu kemudian tersenyum. Ditatapnya mata Tohpati seolah-olah orang tua itu ingin memandang tembus kedalam pusat jantungnya. Dengan tenangnya Sumangkar itu kemudian menjawab “Angger, apakah angger bermaksud membunuh aku?”

Pertanyaan itu menghantam dada Tohpati sehingga serasa akan meruntuhkan segenap tulang-tulang iganya. Sesaat Tohpati terdiam, namun kemudian dikerahkannya segenap tenaga dan kekuatannya untuk menjawab, hanya sepatah kata, “Ya”

Kembali Sumangkar tersenyum. Senyum yang menggoncangkan hati Macan yang garang itu. Dimata Tohpati, Sumangkar yang berdiri dihadapannya itu bukan lagi seorang juru masak yang malas, namun Sumangkar itu kini berdiri dengan wajah tengadah. Sumangkar tua kini benar-benar bersikap sebagai seorang senopati digaris peperangan. Sumangkar yang pernah dikenalnya dahulu.

Karena itu dada Tohpati menjadi berdentang cepat. Meskipun demikian, ia masih berusaha untuk tegak dengan wajah yang tegang, menghadapi orang tua itu.

Mendengar jawaban Tohpati yang pendek itu, Sumangkar kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berkata “Raden, aku adalah seorang abdi yang sejak Pamanda Kepatihan masih hidup aku adalah abdi kepatihan. Kalau aku kebetulan menjadi saudara seperguruan Gusti Patih itu bukanlah soal dalam hubungan antara hamba dan gustinya. Kini angger adalah pimpinan laskar Jipang sepeninggal Arya Penangsang. Dalam hal inipun siapa Sumangkar dan siapa Tohpati bukan juga menjadi soal”

“Diam” potong Tohpati dengan suara bergetar “Kubunuh kau”

Tetapi ia terkejut ketika ia melihat Sumangkar meletakkan golok pembelah kayu ditangannya dan selangkah ia maju mendekatinya “Marilah ngger. Seperti juga Pamanda Kepatihan, Sumangkar dapat pula dibunuh dan mati untuk tidak bangkit kembali. Hanya dongeng-dongeng ngayawara saja yang mengatakan bahwa murid-murid perguruan Kedung Jati memiliki nyawa rangkap sepuluh”

Macan Kepatihan itu kemudian menundukkan wajahnya dalam-dalam. Bahkan kemudian ia melangkah berjalan kesamping, dan dengan lemahnya menjatuhkan dirinya duduk datas rerumputan liar.

Sumangkarpun kemudian duduk pula disampingnya. kini ia sudah yakin apa yang terjadi didalam diri Tohpati itu. Kini ia yakin bahwa Tohpati telah menemukan nilai-nilai yang lain dari apa yang dimilikinya selama ini.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Sumangkar sengaja membiarkan Tohpati meyakinkan dirinya sendiri, sebelum ia membantunya.

Malam menjadi semakin lama semakin dingin. Angin yang basah mengusap tubuh-tubuh mereka yang seakan-akan membeku. Bagaimana didalam dada mereka telah bergolak dengan riuhnya, berbagai-bagai pertimbangan dan angan-angan.

“Paman” berkata Tohpati kemudian “Sejak aku memanggil paman Sumangkar, sebenarnya aku sudah dilanda oleh perasaan yang tidak menentu. Itulah sebabnya aku menunda penyerangan ke Sangkal Putung sampai beberapa kali. Tetapi aku tidak dapat berbuat demikian terus-menerus. Aku tidak dapat membiarkan anak buahku mejadi jemu dan semakin liar. Tetapi tiba-tiba aku kehilangan keberanian untuk menyerang Sangkal Putung”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Iapun menjadi terharu mendengar pengakuan itu. Pengakuan seorang pemimpin yang teguh hati serta sorang yang memiliki keberanian dan kemampuan yang cukup. Namun orang itu dihadapkan pada suatu kenyataan yang berlawanan dengan tekad serta kemauannya.

Dalam keremangan malam dibawah cahaya bulan sepotong, Sumangkar melihat kegelisahan wajah Tohpati. Tampaklah betapa ia menyesali keadaan dan menyesali kenyataan. Tetapi kenyataan itu telah dihadapkan dimuka wajahnya.

Tohpati benar-benar bukan seekor binatang liar yang tidak mempunyai jantung. Betapa ia keras dan buas didalam medan-medan peperangan, namun ia memiliki perasaan yang utuh. Karena itulah, maka ia dapat mengerti beberapa keberatan yang dikatakan oleh orang lain kepadanya. Yang dikatakan oleh orang tua diatas batu-batu ditengah sungai beberapa hari yang lalu, dan apa yang dikatakan Sumangkar sejak lama kepadanya. Meskipun ia telah berusaha menindas perasaan yang berkecamuk didalam dadanya, meskipun ia tidak ingin terpengaruh oleh perasaan-perasaan itu, namun sebenarnya hatinya selalu tersentuh-sentuh. Setiap kali ia pulang dari peperangan, setiap kali ia kembali dari nganglang, dan setiap kali ia melihat kekerasan, apalagi atas penduduk yang tidak banyak mengetahui seluk beluk pertentangan antara Pajang dan Jipang, hatinya selalu terganggu. Puncak dari gangguan dihatinya adalah orang tua ditengah-tengah kali itu, dan selanjutnya kata-kata Sumangkar itu sendiri. Sehingga seandainya benar Untara dan Widura mengatakan, bahwa pertentangan ini menjadi amat menjemukan, adalah benar. Kalau seseorang mengatakan bahwa pertentangan ini hanya akan menyengsarakan rakyat, adalah beralasan. Dan sejak ia melakukan pembunuhan yang pertama atas Sunan Prawata, apalagi ketika Sumangkar mendengar Ratu Kalinyamat bertapa tanpa mengenakan pakaian apapun selain rambutnya sendiri sebagai suatu penolakan, sebagai suatu jerit seorang wanita atas kekerasan dan kebiadaban yang terjadi pada suaminya. Namun Sumangkarpun mencoba mengingkari perasaan sendiri pada waktu itu.

Demikianlah meskipun Tohpati itu duduk diam seperti patung, namun hatinya bergolak dahsyat. Sedahsyat pusaran dimuara sungai yang sedang banjir bandang.

Tiba-tiba Tohpati itu mengeluh “Aku kini sampai pada suatu titik yang terkatung-katung ditengah-tengah gumulan ombak yang tidak menentu. Aku tidak dapat terus, tetapi aku tidak dapat kembali”

Sumangkar merasakan kesulitan itu. Sumangkar dapat mengerti sepenuhnya, bahwa Tohpati benar-benar tidak dapat maju tetapi juga tidak dapat kembali. Meskipun demikian ia mencoba menjajagi hati anak muda yang perkasa itu “Angger tidak usah terus dan tidak usah kembali. Angger dapat mencoba berhenti. Tetapi angger harus membiarkan orang lain kembali”

Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang benar, ia dapat menghilang dan tidak muncul kembali. Ia dapat menganjurkan orang lain untuk menghentikan perlawanan. Tetapi kenyataannya tidak dapat membenarkannya. Ia tidak mau lari dari kenyataan yang bagaimanapun pahitnya. Karena itu, Tohpati itu menggeleng lemah “Tidak paman, tidak”

Sumangkarpun tahu, bahwa Tohpati tidak akan dapat menyetujuinya. Tetapi ia tidak mempunyai pendapat lain yang dapat dikemukakan saat itu, sehingga sejenak ia terdiam.

Kembali mereka diamuk oleh kegelisahan dihati masing-masing. Kembali mereka dicengkam oleh kesepian dipadang rumput yang tidak terlalu luas itu. Suara cengkerik terdengar mengorek-ngorek dinding telinga. Sekali-sekali terdengar pekik binatang-binatang hutan mengejutkan.

Dalam keheningan malam itu tiba-tiba Sumangkar menundukkan wajahnya. Terasa sesuatu berdesir dihatinya, sehingga duduknya bergeser beberapa jari. Matanya yang tajam, menembus keremangan malam menusuk kekejauhan.

Sumangkar menarik nafas. Ia berpaling ketika terdengar Tohpati menggeram perlahan-lahan. Tetapi Sumangkar itu mengangguk-anggukkan kepalanya ketika ia mendengar Tohpati bergumam perlahan-lahan “Dua orang berjalan diujung padang ini”

“Ya, aku melihatnya”

“Siapa paman, apakah orang itu orang-orang kita?”

“Entahlah ngger. Apakah angger memberikan perintah kepada seseorang atau kedua orang itu untuk suatu pekerjaan?”

“Aku tidak. Entahlah kalau Sanakeling. Atau Alap-alap Jalatunda atau yang lain. Mungkin juga para pengawas yang telah dikirim lebih dahulu”

Meskipun demikian, firasat Sumangkar yang tua itu memberitahukan kepadana, bahwa orang itu akan dapat membawa bahaya. Dengan demikian maka Sumangkar beringsut sejengkal demi sejengkal untuk meraih golok pembelah kayu yang diletakkannya.

“Apakah paman memerlukan benda itu?”

“Aku tidak tahu ngger, mudah-mudahan tidak”

“Mudah-mudahan. Tetapi orang itu datang dari jurusan yang lain dari setiap jurusan yang akan dilalui para pengawas ke Sangkal Putung. Juga sama sekali bukan jurusan orang-orang Pajang yang berada di Sangkal Putung”

“Mungkin mereka memilih jalan yang melingkar demi keamanan mereka”

“Mungkin”

Sumangkar memandang kedua bayangan itu dengan seksama. Semakin lama menjadi semakin dekat. Namun agaknya mereka belum melihat Sumangkar berdua dengan Tohpati yang sedang duduk.

“Bagaimana kalau mereka orang-orang Pajang paman?”

“Apakah angger akan membiarkannya?”

“Tidak, aku tidak dapat membiarkan mereka mengetahui kedudukan kami. Aku tidak dapat membiarkan orang-orangku dihancurkan oleh orang-orang Pajang dalam peperangan”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Sudah tentu Tohpati tidak akan berbuat demikian. Tidak akan membiarkan orang-orangnya hancur disergap oleh lawannya, betapapun juga.

Maka kalau benar kedua orang itu orang Pajang, maka kedua orang itu pasti mendapat tugas untuk menyelidiki pertahanan laskar Jipang.

Sumangkar dan Tohpati kemudian saling berdiam diri. Bahkan nafas merekapun seakan-akan mereka tahankan, agar kehadiran mereka tidak segera diketahui oleh kedua orang itu.

“Kalau orang-orang itu orang Pajang” bisik Tohpati perlahan-lahan sekali “alangkah beraninya”

Sumangkar mengangguk, tetapi ia tidak menjawab.

“Tetapi aku pasti, mereka bukan orang-orang kita” sambung Tohpati hampir tak terdengar.

Sekali lagi Sumangkar mengangguk.

Dada mereka tiba-tiba berdesir ketika melihat kedua orang itu berhenti sesaat. Namun kemudian mereka melangkah kembali. Tetapi mereka kini tidak menuruti arah mereka semula. Menyilang garis pandangan Tohpati. Jantung Tohpati hampir-hampir berhenti berdenyut, ketika dilihatnya kedua orang itu berjalan kearahnya.

“Mereka kemari” bisik Tohpati.

Sumangkar menarik afas panjang-panjang “Tak ada gunanya untuk menyembunyikan diri dan mengintai mereka. Mereka telah melihat kehadiran kita.”

“Belum tentu. Mungkin suatu kebetulan.”

Sumangkar menggeleng. “Aku yakin.”

Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Apabila demikian maka kedua orang itu pasti dua orang yang terlalu percaya kepada diri mereka sendiri, sehingga mereka sengaja mendatanginya.

Terkaan Sumangkar itu sesaat kemudian ternyata terbukti. Kedua orang itu berhenti berjalan, dan salah seorang daripada mereka berkata “Siapa yang duduk disitu?”

Tohpati menjadi bimbang sesaat. Ditatapnya wajah Sumangkar untuk mendapatkan pertimbangan. Ketika Sumangkar menganggukan kepalanya, maka Macan Kepatihan itupun segera menjawab “Aku disini, siapa kalian?”

“Aku siapa?” desak salah seorang yang berdiri itu.

“Kau siapa?” Jawab Tohpati.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Kedua orang itu masih tegak seperti patung. Dalam keremangan cahaya bulan, mereka tempaknya seperti bayangan hitam yang menakutkan.

Tohpati menjadi semakin berdebar-debar ketika kedua orang itu melangkah kembali. Dan bahkan mendekatinya.

“Berhenti” teriak Tohpati “Kalau tidak, aku akan menyerang kalian dengan senjata jarak jauh.”

“Apa kau membawa panah?” terdengar suara diantara mereka.

“Tulup” sahut Tohpati “Aku tulup biji tulupku dengan getah pohon luwing dan bisa serangga. Kalian akan mati terkena sentuh saja”.

“Jangan terlalu kejam” sahut suara itu pula.

“Karena itu jawab, siapa kalian?”

Tohpati terkejut ketika kemudian didengarnya suara tertawa berderai. Diantara suara tertawa itu terdengarlah kata-kata “Menyerang dengan tulup bukanlah pekerjaan yang mudah. Bagaimanakah kalau aku berlari melingkar-lingkar.”

Sesaat Tohpati tidak menjawab. sebenarnya ia tidak membawa tulup. Kalau orang itu berlari melingkar-lingkar, maka ia tidak akan dapat berbuat apa-apa. Jangankan berlari melingkar-lingkar sedangkan apabila mereka berjalan perlahan-lahan dalam garis yang lurus sekalipun ia tidak akan dapat menyerang dari jarak yang jauh. Sebenarnya Tohpatipun tidak perlu menyerangnya dari jarak yang jauh. Namun ia hanya ingin menggertaknya dan segera mengetahui siapakah mereka itu. Tetapi ternyata orang itu orang yang berani dan tidak gentar mendengar ancamannya.

Namun tiba-tiba terasa Sumangkar merebut tongkat bajanya. Demikian tiba-tiba sehingga Tohpati tidak sempat menahannya. Sebelum Tohpati itu menyadari, Sumangkar telah meletakkan ujung tongkat itu dimuka mulutnya sambil berjongkok. Dengan suara parau Sumangkar berteriak “Nah cobalah. Berlarilah melingkar-lingkat. Salah seorang dari kalian berdua akan mati. Aku tidak akan memperdulikan yang seorang lagi.”

Kedua orang yang berdiri beberapa puluh langkah dari mereka itupun terdiam. Baru sejenak kemudian terdengar salah seorang berkata “Bagus. Kalian benar-benar dapat mempergunakan tulup. Kalian tidak akan dapat dibingungkan oleh bayangan kami berdua yang berlari melingkar-lingkar. Tetapi kami benar-benar tidak akan berbuat jahat terhadap kalian, siapapun kalian berdua itu.”

“Kalau demikian, sebut namamu” sahut Sumangkar.

Orang itu diam sesaat , dan kemudian terdengar ia menyebutkan sebuah nama “Supita, namaku Supita dan kawanku ini bernama Sukra.”

Sumangkar menarik nafas panjang-panjang. Bahkan hampir ia tertawa mendengar orang-orang itu menyebutkan namanya. Sekali ia berpaling memandang wajah Tohpati. Agaknya Tohpatipun sependapat dengan pikirannya, sehingga karena itu terdengar Tohpati menjawab lantang “Namaku Patra dan kawanku bernama Dadi. Nah apakah kau puas mendengar nama-nama kami?”

Orang itu terdengar tertawa. Suaranya berderai melingkar-lingkar membentur dinding hutan dan menggema kembali berulang-ulang. Katanya “Adakah gunanya kita menyebutkan nama masing-masing?”

Sumangkar menyahut “Nama-nama yang kami sebut, mungkin jauh lebih baik dari nama kalian sebenarnya. Nah apakah maksudmu datang kemari.”

“Apakah kita dapat berbicara perlahan-lahan” berkata orang itu.

Sumangkar tidak segera menyahut. Ditatapnya wajah Tohpati seakan-akan menyerahkan segenap persoalan kepadanya. Namun Tohpati tidak dapat berbuat lain daripada menerima orang itu. Seandainya orang itu lari sekalipun pasti akan dikejarnya. Dan kini orang itu bersedia datang kepadanya.

Karena itu, maka Tohpati menjawab tegas “Datanglah, supaya aku tidak mengajarmu.”

Sekali lagi terdengar salah seorang daripadanya tertawa. Sejenak kemudian kedua bayangan itu bergerak maju perlahan-lahan penuh kewaspadaan.

Tohpati dan Sumangkarpun segera berdiri. Diserahkannya tongkat Tohpati kembali. Tongkat ciri kebesaran, keperkasaan dan kewibawaan Macan Kepatihan, sehingga kawan maupun lawan mengenal tongkat itu seperti mengenal pemiliknya sendiri.

Semakin dekat kedua bayangan itu, hati mereka masing-masing baik yang menunggu maupun yang mendatangi, saling berdebaran. Semakin dekat, maka wujud masing-masing menjadi semakin jelas dibawah cahaya keremangan bulan sepotong yang menggantung diantara bintang-bintang dilangit.

Ketika bayangan itu sudah cukup dekat, maka terdengarlah Tohpati menggeram keras. Selangkah ia maju dan tiba-tiba tubuhnya menjadi gemetar. Bayangan itupun kemudian berhenti beberapa langkah daripadanya.

Yang terdengar adalah suara Macan Kepatihan itu parau “Kau. Kau guru dan murid lereng merapi. He, apa kerjamu disini Tambak Wedi?”

Terdengar orang itu, yang tak lain adalah Ki Tambak Wedi dann Sidanti, menarik nafas perlahan-lahan. Dengan menganggukkan kepalanya Ki Tambak Wedi menjawab “Selamat malam angger Macan Kepatihan. Apakah angger pernah melihat muridku?”

“Hampir kupecahkan dadanya dengan tongkatku ini kalau paman Widura tidak menyelamatkannya. Nah, sekarang kalian datang untuk memberi kesempatan kepadaku menyelesaikan pekerjaan itu?”

“Jangan marah. Dengarlah dulu maksud kedatangan kami” berkata Ki Tambak Wedi. Sesaat ia berpaling kepada Sumangkar yang berdiri dibelakang Tohpati. Tampaknya alisnya berkerut, dan dengan ragu-ragu ia berkata “Adi Sumangkar?”

Sumangkar tertawa pendek. Kini ia maju selangkah. Goloknya terselip pada ikat pinggangnya. Sambil mengangguk ia menjawab “Ya, Kakang Tambak Wedi. Agaknya kakang masih ingat kepadaku.”

“Ah. Aku tidak akan dapat melupakan kalian. Sepasang murid perguruan Kedung Jati.”

“Huh” potong Tohpati “Kau juga tidak lupa kepada guruku?”

“Tentu tidak angger. Aku adalah kawan seiring dengan almarhum patih Mantahun.”

“Omong kosong. Kau tinggalkan paman dalam kesulitan. Bahkan kemudian aku temui muridmu di Sangkal Putung dalam laskar paman Widura.”

Tambak Wedi terbahak-bahak. Sahutnya “Angger keliru. Angger keliru. Muridku berada di Sangkal Putung dengan tugasnya sendiri. apakah angger tidak mendengar bahwa Untara terluka?”

“Untara?”

Tambak Wedi mengangguk penuh kebanggaan. ”Ya, angger Untara terluka. Hampir-hampir membawa nyawanya.”

Tohpati mengerutkan keningnya. Kemudian terdengar ia bertanya “Apakah hubungan luka Untara itu dengan paman Tambak Wedi?”

“Ada sangkut paut yang erat dengan perjuanganmu, ngger” jawab Tambak Wedi “Karena itulah maka aku sengaja menemuimu. Maksudku aku akan datang keperkemahanmu.”

“Apakah paman Tambak Wedi tahu letak perkemahan kami?”

“Aku tidak tahu tepat. Tetapi aku kira-kira saja letak perkemahan itu.”

Macan Kepatihan menggeram. “Kau sedang memata-matai perkemahan kami untuk kepentingan Untara?”

“Tidak ngger, tidak.” potong Tambak Wedi cepat-cepat. “Aku datang untuk keperluan yang cukup penting.”

“Apa itu?”

“Apakah angger dapat menerima kami diperkemahan angger?”

Tohpati menggeleng. Dengan tegas ia berkata “Tidak. Disini paman dapat mengatakan keperluan itu.”

Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi kecewa tetapi ia tahu keberatan Macan Kepatihan. Karena itu ia berkata “Angger. Luka Untara adalah bukti, bahwa sebenarnya aku tidak pernah meninggalkan pamanmu patih Mantahun.”

“Apakah hubungannya?”

“Sidantilah yang melakukannya atas petunjukku.”

Tohpati mengerutkan keningnya. Desisnya “Tetapi Untara masih hidup. Ia masih berkeliaran, bahkan sampai ke Benda dan sekitarnya.”

“Sidanti salah hitung. Disangkanya serangannya berhasil, karena itu tidak diulanginya.”

“Omong kosong. Mungkin benar Sidanti melukai Untara, sebagai suatu cara untuk berpura-pura mengusir atau mengejar Sidanti. Sidanti akan lari kepadaku. Namun dalam pada itu, segala rahasiaku akan jatuh ketangan Untara.”

“Tidak angger. Tidak. Sebenarnya Untara dan Sidanti telah bermusuhan. Aku memang memberikan beberapa petunjuk. Bukankah aku sahabat pamanda kepatihan?”

Tohpati mengerutkan keningnya. Dan dibiarkannya Tambak Wedi berkata “Namun sayang. Tugas Sidanti itu tidak dapat selesai dengan baik.”

“Apa sebabnya Sidanti melukai Untara?”

“Untara adalah pemimpin laskar Pajang dilereng merapi ini. Sedangkan lereng merapi ini adalah Ki Tambak Wedi. Apalagi Untara adalah lawan sahabat Tambak Wedi, patih Mantahun.”

Tohpati menarik alisnya. Sesaat ia terdiam. Dicobanya untuk menimbang kata-kata Ki Tambak Wedi. Namun kemudian terdengar Sumangkar berkata “Muridmu yang bernama Sidanti itu, berusaha membunuh Untara karena daerah kekuasaanmu dikuasai pula olehnya, begitu?”

“Ya. Sebagian begitu.”

“Kalau demikian, maka kalian telah terlibat dalam persoalan kalian sendiri.” sahut Sumangkar.

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Sumangkar. Namun sejenak kemudian ia tersenyum sambil berkata “Hem, Adi Sumangkar, jangan menarik garis dari kepentingan yang saling mendorong itu. Aku mendendamnya karena ia berada didalam daerah kekuasaanku, tetapi aku tidak akan berbuat demikian terhadap angger Macan Kepatihan, meskipun angger itu berada dilereng merapi pula.”

Namun kata-kata itu segera disahut oleh Tohpati “Jangan mengelabuhi aku paman. Seorang pimpinan Jipang telah dibunuh mati oleh Sidanti.”

Hati Sidanti menjadi berdebar-debar karenanya. Tetapi ia sama sekali tidak ikut campur dalam percakapan itu, seolah-olah sama sekali tidak mempunyai kepentingan, atau benar-benar seperti anak-anak yang sedang dibicarakan nasibnya oleh ayah bundanya.

Yang menjawab kemudian adalah Ki Tambak Wedi “Ya, angger. Hal itu terpaksa dilakukan. Maksudnya untuk menghilangkan jejak dibunuhnya Untara, sehingga Sidanti tidak pernah meninggalkan Sangkal Putung dan dapat berbuat serupa terhadap pemimpin-pemimpin yang lain”

“Hem” geram Tohpati “Jadi Sidanti membunuh Plasa Ireng hanya sekedar untuk mendapat kepercayaan. Jadi Plasa Ireng itu nilainya tidak lebih dari alat untuk mendapat kepercayaan. Seandainya demikian, kenapa Sidanti kemudian melukainya arang kranjang meskipun Plasa Ireng telah terbunuh? Itu benar-benar suatu kekejaman. Kekejaman yang tidak pernah dilakukan oleh orang-orang yang beradab. Orang-orangku yang kalian sebut liar itupun jarang-jarang yang berbuat demikian.” Sekali lagi Ki Tambak Wedi menarik nafas. Ia terdorong dalam kesulitan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Meskipun demikian ia tidak segera kehilangan akal, maka katanya “Angger, memang sulit untuk menjawab pertanyaan angger. Memang sukar untuk menjelaskan sikap kami. Tetapi biarlah aku coba urut-urutannya. Sidanti menggabungkan diri dalam kelaskaran Pajang dan berhasil memilih Sangkal Putung sebagai daerah garis perangnya, kenapa tidak ditempat lain? Karena aku yakin bahwa suatu ketika Untara akan hadir ditempat itu. Kemudian Sidanti akan membunuh pimpinan-pimpinan Pajang itu satu demi satu tanpa kecurigaan. Baru kemudian setelah selesai pekerjaannya, ia akan memberitahukan kepada angger. Sebab apabila sebelum itu angger telah menyadari kedudukan Sidanti, serta orang lain mendengarnya, maka jiwa Sidanti sendiri akan terancam. Karena itulah, maka Sidanti selalu berusaha menjadi orang yang tampaknya paling gigih di Sangkal Putung sebagai usaha untuk menyelubungi dirinya. Tetapi usahanya itu tidak dapat sempurna. Suatu ketika usaha itu diketahui setelah Untara hampir mati. Sayang ia dapat sadar kembali dan mengatakan siapa yang telah berusaha untuk membunuhnya. Nah sekarang tidak ada lagi cara lain untuk berjuang selain melalui garis perang yang langsung berhadapan. Karena itu Sidanti aku bawa kemari. Mungkin dapat angger pergunakan untuk ganti yang telah terbunuh itu.”

Tohpati mendengarkan kata-kata Tambak Wedi itu dengan wajah yang tegang. Sepercik harapan timbuk didalam hatinya. Mungkin Sidanti tidak benar-benar seperti apa yang dikatakan oleh Ki Tambak Wedi itu, namun dengan hadirnya Sidanti diperkemahannya, pasti akan mengurangi kekuatan Sangkal Putung. Mungkin ia masih harus mencoba kesetiaannya sekali dua kali dengan pangawasan yang ketat. Namun apabila kemudian ternyata kata-kata Tambak Wedi itu benar, maka ia akan mendapat kekuatan baru disamping berkurangnya kekuatan di Sangkal Putung.

Tetapi tidak demikian yang terlintas diotak Sumangkar. Ia tidak dapat menerima Sidanti apapun alasannya. Ia tidak mau melihat Sidanti mengkhianati Tohpati. Menusuk dari belakang atau perbuatan apapun yang akan mencelakakannya. Tetapi seandainya Sidanti benar-benar ingin bekerja sama dengan Tohpatipun sama sekali tidak dikehendakinya. Dengan demikian maka peperangan ini akan semakin riuh. Dengan kekuatan baru mungkin Tohpati akan melupakan persoalan-perasoaan yang sudah timbul didalam kepalanya. Hal itu akan menghanyutkan kejemuannya terhadap perang, seandainya ia mendapat kemenangan baru saat-saat terakhir nanti. Dengan demikian penderitaan akan berjalan semakin lama. Usaha yang sia-sia dan putus asa inipun akan berjalan semakin lama pula. Korban yang berjatuhan akan menjadi semakin banyak. Korban-korban dari mereka yang sama sekali tidak tahu sudut tepinya peristiwa antara Pajang dan Jipang.

Karena itu, ketika diketahuinya Tohpati menjadi ragu-ragu maka Sumangkar itupun menjadi cemas. Sehingga ketika Tohpati tidak segera menjawab, berkatalah Sumangkar sambil tertawa lirih “Sebuah dongeng yang bagus Kakang Tambek Wedi.”

Tambak Wedi terkajut mendengar tanggapan Sumangkar itu. Karena itu, maka segera wajahnya menjadi tegang. Suaranyapun menjadi tegang pula. Katanya “Adi Sumangkar. Apakah adi tidak percaya pada muridku, murid Ki Tambak Wedi.”

“Kakang, bagaimana aku akan percaya. Ingatkah kakang apa yang telah kakang lakukan pada saat-saat ki Patih Mantahun terjepit antara dua pasukan Pajang yang kuat, yang dipimpin langsung oleh Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi, segera sepeninggal Arya Penangsang. Alangkah ngerinya. Patih itu berjuang mati-matian tanpa mengenal takut meskipun usianya telah lanjut. Nah, apa kerjamu waktu itu Ki Tambak Wedi? Seandainya kau tidak meninggalkannya waktu itu, setidak-tidaknya Patih Mantahun akan dapat meloloskan dirinya.”

Wajah Tambak Wedi menjadi merah semerah bara. Untunglah malam yang remang-remang telah melindunginya, sehingga perubahan wajah itu tidak segera diketahui oleh Tohpati. Namun demikian terasa dadanya bergetar dan suaranyapun gemetar pula. “Adi. Adi terlalu berparasangka. Aku sudah menasehatkan untuk meninggalkan pertempuran kepada kakang Mantahun waktu itu. Tetapi ia menolak.”

Mendengar jawaban Tambak Wedi Sumangkar tertawa. Dengan menengadahkan wajahnya ia berkata “Kata-katamu aneh kakang. Pada saat perang antara Jipang dan Pajang pecah, setelah Arya Penangsang gagal membunuh Karebet karena ia memiliki Aji Lembu Sekilan, maka kau hampir-hampir tak pernah tampak lagi dikepatihan Jipang. Apalagi setelah laskar Jipang terdesak dan Arya Penangsang terbunuh. Sehingga tidak mungkin kau berada disekitar kakang Mantahun pada saat menjelang ajalnya. Ketahuilah, bahwa kakang Mantahun meninggal dalam pangkuanku, setelah menyingkir dari peperangan. Namun laskar Pajang berhasil merebut jenazahnya.”

Tubuh Tambak Wedi menjadi gemetar menahan marah. Meskipun demikian ditenangkannya hatinya sejauh mungkin. Ia masih mengharap Macan Kepatihan menerima muridnya. Karena itu, maka katanya “Angger Macan Kepatihan, terserahlah dalam penilaian angger. Tetapi kalau angger mau bekerja bersama Sidanti, maka aku janjikan bahwa tenagaku akan aku serahkan pula. Angger pasti percaya, bahwa Untara, Widura, Agung Sedayu dan siapa lagi, biarlah mereka maju bersama-sama, maka mereka akan terbunuh olehku, asal laskar Jipang membebaskan aku dari laskar Pajang yang pasti akan membantu pemimpin-pemimpinnya”

Dentang jantung Tohpati seakan-akan menjadi semakin cepat. Sekali-sekali dipalingkannya wajahnya memandang Sumangkar, namun Sumangkar tidak sedang memandangnya. Bahkan Sumangkar itu agaknya benar-benar menyerahkan persoalan itu kepadanya. Namun percakapan Ki Tambak Wedi dan Sumangkar telah memberinya banyak bahan. Dikenangnya apa yang pernah dilakukan oleh Ki Tambak Wedi itu atas gurunya, Patih Mantahun. Dikenangnya pula saat Sidanti datang menyongsongnya, benar-benar bukan sedang bermain-main. Dikenangnya bentuk mayat Plasa Ireng yang sobek dipunggungnya arang kranjang. Ya, dikenangnya semuanya. Sehingga kemudian Tohpati itu menjawab “Paman Tambak Wedi, aku tidak dapat percaya, bahwa Sidanti akan melakukan kerjasama yang jujur. Pada saat Adipati Jipang sedang berusaha merebut kekuasaan dengan kekuatan yang agaknya cukup, paman berada dipihak kami. Tetapi demikian Jipang terdesak oleh kekuatan Pajang yang tak terduga-duga, murid paman itu berada dipihak Pajang. Apakah sekarang ada persoalan baru yang telah menyebabkan Sidanti berbalik pendirian lagi?”

“Sudah aku katakan sebabnya ngger, bukan benar-benar berpihak pada Untara”

Tohpati menggeram, kemudian katanya sambil menggeleng “Aku semakin yakin, bahwa kejujurannya tidak dapat dipercaya. Mungkin ia berselisih dengan Untara atau dengan Widura. Jangan disangka bahwa aku akan terjebak”

Sekali lagi Ki Tambak Wedi menggeram keras. Tubuhnya menjadi semakin gemetar oleh kemarahannya yang semakin memuncak. Namun lebih dari Ki Tambak Wedi yang sudah tua itu, Sidanti tidak dapat melawan kemarahannya. Karena itu dengan lantang ia mendahului gurunya “Guru. Kenapa kita harus mengemis belas kasihannya?”

Mendengar kata-kata Sidanti itu, maka telinga Macan Kepatihan serasa tersentuh api. Sekali ia menggeretakkan giginya, kemudian setapak ia melangkah maju sambil menunjuk wajah Sidanti “Kau ternyata lebih jantan dari gurumu. Nah, sekarang bersikaplah jantan untuk seterusnya”

“Baik” sahut Sidanti dengan beraninya. Diangkatnya dadanya sambil berkata “Aku juga memiliki harga diri, Tohpati yang perkasa. Jangan disangka, bahwa hidup matiku ada ditanganmu”

Ki Tambak Wedipun kemudian telah benar-benar kehilangan setiap kesempatan untuk menggabungkan Sidanti pada kekuatan Tohpati untuk membalas dendam kepada Untara beserta laskarnya. Alangkah kecewanya ketika semua rencananya dapat ditebak oleh Sumangkar, dan karena itu, maka didalam hatinya, Ki Tambak Wedi itu mengumpat tiada habisnya. Diumpatinya Sumangkar, dan bahkan Ki Tambak Wedi itu berjanji, bahwa Sumangkar itu harus dilenyapkannya. Kini muridnya telah kehilangan kesabaran dan merasa tersinggung harga dirinya. Maka keadaan akan dapat berkembang kearah yang tidak dikehendakinya. Namun ia tidak perlu pengkhawatirkan Sidanti. Selama ini anak muda itu telah ditempanya terus menerus. Mudah-mudahan telah dicapainya suatu tingkatan yang dapat menyamai Macan Kepatihan itu. Bukankah pada saat mereka bertempur di Sangkal Putung, kekuatan mereka tidak terpaut terlalu banyak. Ki Tambak Wedi itupun bahkan dengan bernafsu mendorong muridnya untuk masuk kedalam pertengkaran yang lebih dalam, sehingga ia akan mendapat kesempatan untuk membinasakan Sumangkar yang telah merusak segenap rencananya.

Macan Kepatihan itupun menjadi marah bukan buatan. Tangannyapun kemudian menjadi gemetar dan dengan serta-merta ia berkata “Siapkan senjatamu. Tohpati akan mengayunkan tonkgatnya pada gerakan yang pertama”

Sidanti tidak menjawab. selangkah ia meloncat kesamping, ditatapnya Tohpati dengan tajamnya, dan tiba-tiba kedua tangannya telah menggenggam dua belah pedang pendek.

Dalam pada itu Ki Tambak Wedi berkata “angger Tohpati, aku tidak mengharapkan perkelahian ini. Tetapi aku tidak dapat menyalahkan muridku. Sebagai murid lereng Merapi, ia tidak akan bersedia menelan hinaan”

“Persetan” sahut Tohpati “Dengan membunuhmu maka aku akan mengurangi kekuatan Sangkal Putung”

Sidanti sama sekali tidak berkata apapun. Kedua pedangnya bersilangan dimuka dadanya.

Namun Tohpati masih juga menggeram “Manakah senjatamu yang mengerikan itu?”

Sidanti masih tetap diam. Hanya didalam hatinya ia berkata “Peduli apa kau dengan senjata yang tertinggal di Sangkal Putung itu. Tetapi ternyata aku cukup kuat dengan senjata yang sepasang ini sekuat senjata yang aneh itu”

Kediaman Sidanti benar-benar telah membangkitkan luapan kemarahan Tohpati tiada taranya. Karena itu segera ia meloncat dan menyerang Sidanti dengan tongkat baja putihnya.

Sidanti telah benar-benar bersiap. Ketika tongkat baja Tohpati terayun kekepalanya, Sidanti sama sekali tidak berkisar dari tempatnya. Sidanti itu telah pernah bertempur dengan Tohpati sehingga kekuatan Tohpati telah diketahuinya.

Sidanti yakin bahwa selama ini Tohpati pasti tidak akan sempat memperdalam ilmunya, selain yang telah dimilikinya. Karena itu sengaja ia tidak mengelak, tetapi dibenturnya serangan itu dengan kedua pedang pendeknya. Dengan pedang itu Sidanti ingin menunjukkan, bahwa kini kekuatannya tidak lagi seperti beberapa waktu yang lalu, setelah dengan tekun ia melatih diri sejak ia meninggalkan Sangkal Putung. Lukanya yang tidak terlalu parah segera dapat disembuhkan oleh Ki Tambak Wedi. Dalam pada itu Sidanti yang menyimpan dendam dihatinya, segera berusaha untuk menambah ilmunya. Dendam kepada Untara dan orang-orang Sangkal Putung itu harus ditumpahkan.

Kini tiba-tiba Sidanti menemukan lawan yang tidak disangka-sangka. Namun lawan inipun sedahsyat orang yang didendamnya. Karena itu maka disadarinya, bahwa ia harus berjuang sekuat-kuat tenaganya.

Ketika tongkat baja putih Tohpati membentur kedua pedang pendek Sidanti, terdengarlah gemerincing senjata-senjata itu. Suaranya membelah sepi malam, membentur ujung rimba. Demikian dahsyatnya sehingga bunga-bunga api memercik keudara.

Tohpati terkejut mengalami benturan senjata itu. Apalagi ketika dilihatnya Sidanti tetap ditempatnya, dan kedua senjatanya masih ditangannya. Bahkan kemudian terdengar anak muda murid Ki Tambak Wedi itu menggeram.

Alangkah marahnya Macan Kepatihan. Terasa bahwa kekuatan Sidanti telah meningkat. Anak muda itu kini dapat mengimbangi kekuatannya yang disalurkan pada ayunan tongkat putihnya. Namun apa yang terjadi adalah suatu peringatan baginya, bahwa lawannya kini bukanlah Sidanti beberapa saat yang lampau.

Meskipun demikian, sebenarnya tangan Sidanti yang melawan tongkat baja putih Macan Kepatihan, merasakan arus kekuatan yang hampir melontarkan pedang-pedangnya. Namun dengan menggeretakkan giginya, ia berhasil menahan senjata-senjata itu, meskipun tangannya terasa nyeri. Dengan demikian, maka Sidanti merasa, bahwa kekuatan Macan Kepatihan masih belum dapat dikembarinya, namun ia masih dapat membanggakan kelincahannya dan ketajaman ujung pedangnya. Dengan sentuhan-sentuhan kecil, ia akan dapat merobek kulit Macan Kepatihan itu. Namun apabila ia tersentuh kepala tongkat Tohpati yang kekuning-kuningan dan berbentuk tengkorak itu, maka tulang-tulangnyapun akan dipecahkan.

Demikianlah maka mereka segera terlibat dalam sebuah perkelahian yang sengit. Sidanti yang lincah meloncat-loncat disekitar lawannya, seakan-akan bayangan hantu yang sedang menari-narikan sebuah tarian maut. Namun lawannya adalah seekor harimau yang garang. Betapa Macan Kepatihan itu dengan tangguhnya melawan sambaran-sambaran pedang Sidanti. Dilindunginya dirinya dengan tongkat putihnya, dan sekali-sekali tongkatnya terjulur mematuk tubuh lawannya. Namun Sidanti benar-benar seperti bayangan yang tidak dapat disentuhnya.

Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin cepat. Macan Kepatihan yang garang itupun menjadi semakin garang, sedang Sidanti yang lincah menjadi semakin lincah. Kedua senjatanya dengan cepatnya menyambar seakan-akan dari segala penjuru. Dengan kelincahannya, sekali-sekali ujung pedangnya berhasil menyentuh tubuh Tohpati meskipun hanya seujung rambut. Namun ujung rambut yang runcing itu telah berhasil menggores kulit dan bahkan telah berhasil meneteskan darah. Tetapi darah yang menetes dari luka itu bahkan telah membakar kemarahan Tohpati. Wajahnya yang membara seakan-akan menyala dalam kegelapan. Sehingga tandangnyapun menjadi semakin dahsyat.

Ki Tambak Wedi untuk sesaat berdiri mematung melihat muridnya bertempur. Mula-mula ia masih juga ragu-ragu, apakah Sidanti dapat mengimbangi Tohpati. Namun kemudian Ia tersenyum. Ia telah menemukan timbang-berat keduanya. Meskipun Sidanti belum dapat menyamai Tohpati sepenuhnya, namun masih dapat diharapkan, Tohpati berbuat kesalahan-kesalahan kecil yang dapat membantu Sidanti seandainya tidak sekalipun, maka ia tidak perlu terlalu cemas, bahwa muridnya akan dikalahkan oleh lawannya.

Ki Tambak Wedi itu kemudian mengangguk-angguk sambil bergumam “Itulah murid Ki Tambak Wedi. He, adi Sumangkar, apakah aku tidak berbangga karenanya?”

Sumangkar yang memperhatikan perkelahian itu berpaling. Jawabnya “Ya, kakang dapat berbangga karenanya. Umurnya masih cukup muda, sehingga perkembangannya dihari depan akan menjadi semakin menggemparkan lereng Merapi”

Ki Tambak Wedi tertawa pendek. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya terus ia berkata “Siapakah yang akan menang diantara mereka?”

“Aku tidak tahu” jawab Sumangkar pula. “Mereka memiliki kelebihan sendiri-sendiri. Meskipun demikian, muridmu masih harus belajar sebulan dua bulan lagi dengan tekun, supaya ia dapat mensejajarkan diri dengan angger Macan Kepatihan sepenuhnya. Tetapi meskipun demikian, bukan berarti muridmu kehilangan kesempatan untuk memenangkan perkelahian ini”

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Perkelahian diantara keduanya masih berjalan dengan serunya. Bahkan semakin seru. Seperti angin pusaran mereka berputar-putar. Tetapi semakin seru perkelahian itu semakin nampak, bahwa sebenarnya Tohpati adalah seorang yang pilih tanding.

“Kau lihat perkembangan perkelahian itu?” bertanya Sumangkar.

Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya kembali sambil menjawab “Apakah kau sedang bergembira karena kau melihat kelemahan muridku?”

“Ya” sahut Sumangkar pendek.

Tiba-tiba Ki Tambak Wedi tertawa. Tertawa berkepanjangan dan sangat menyakitkan telinga. Diantara suara tertawanya terdengar ia berkata “Meskipun tampak kekurangan pada muridku, namun ia akan mempunyai cukup waktu untuk menanti aku membunuhmu, adi”

Mendengar suara tertawa dan kata-kata Ki Tambak Wedi, Sumangkar berpaling. Dilihatnya Ki Tambak Wedi masih tertawa dan memandang muridnya yang sedang bertempur itu. Namun Sumangkar sama sekali tidak terkejut.

“Kau mendengar kata-kataku adi?” tiba-tiba Ki Tambak Wedi berteriak “Bahwa aku akan membunuhmu?”

Sumangkar mengangguk perlahan “Ya, aku mendengar” sahutnya.

Namun ancaman Ki Tambak Wedi itu telah mempengaruhi Macan Kepatihan yang sedang bertempur dengan Sidanti, sehingga sambil mengayunkan tongkatnya dengan dahsyatnya ia menggeram “Ki Tambak Wedi, biarlah aku menyelesaikan persoalan ini dengan Sidanti. Paman Sumangkar tidak akan ikut campur dalam hal ini”

“Benar ngger, pamanmu Sumangkar tidak ikut campur dalam persoalan ini, tetapi ia pasti menghalangi aku seandainya aku ingin membunuh angger pula bersama-sama dengan muridku. Karena itu maafkan aku ngger. Aku terpaksa membunuhnya. Sesudah itu untuk membunuh angger Macan Kepatihan yang perkasa akan menjadi semudah seperti membunuh seekor kelinci. Biarlah aku mendapat bintang jasa didada, atau lebih baik Sidanti yang akan menyebut dirinya telah membunuh Macan Kepatihan. Kepala angger akan kami bawa sebagai bukti pekerjaan yang telah dilakukan oleh Sidanti. Besok Sidanti akan menerima anugerah pangkat Senapati dari Wiratamtama Pajang. Kalau mereka yang membunuh adipati Jipang mendapat Mentaok dan Pati, maka kami akan memilih daerah disebelah barat Mentaok, atau daerah Wanakerta disebelah Pajang. Dari daerah-daerah itu kami akan dapat menguasainya, atau apabila kami mendapat Wanakerta, kami akan langsung menembus jantung Pajang”

“Diam” teriak Tohpati keras sekali. Suaranya mengguntur menyobek kepekatan malam yang sunyi. Namun suara itu ditimpa oleh gelak tertawa Ki Tambak Wedi “Bukankah itu suatu rencana yang bagus? Aku lebih berpijak pada kenyataan daripada angger Tohpati. Siapakah yang akan dapat mengalahkan Pemanahan, Penjawi dan Adipati Jipang itu didalam laskar angger? Ki Tambak Wedi akan dapat menepuk dada melawan mereka. Karena itu jangan menyesal”

“Persetan dengan ocehanmu Tambak Wedi. Tetapi kau benar-benar setan yang licik. Ayo, majulah bersama Sidanti, Macan Kepatihan bukan seorang pengecut”

Suara Ki Tambak Wedi semakin berkepanjangan. Katanya “Nah, kenapa angger menolak uluran tangan kami? Kalau kami bekerja bersama, bukankah kami dapat membagi tanah Demak ini? Angger mendapat Jipang, dan kami mendapat Pajang dan Demak beserta daerah pesisir lainnya”

“Kau jangan banyak bicara pemimpi tua. Jipang bukanlah tempat orang-orang yang hanya dapat mengantuk dan mimpi seperti kau. Jipang mempunyai cukup kekuatan untuk melawanmu. Apalagi Tohpati sendiri mampu membunuh kau berdua sekarang ini”

“Jangan sombong ngger, jangan membual. Semakin banyak kau membual, semakin tampak bahwa kau menjadi berputus asa menjelang saat kematianmu yang nista”

Mendengar hinaan itu Macan Kepatihan menjadi marah bukan buatan. Namun karena itu, maka tandangnya menjadi terganggu. Dalam pada itu Sidanti mempergunakan saat itu sebaik-baiknya, menyerang dengan segenap kemampuan dan kelincahannya.

Macan Kepatihan menggeram keras sekali untuk melepaskan kemarahan yang seolah-olah akan meledakkan dadanya. Apalagi suara tertawa Ki Tambak Wedi masih saja mengganggunya.

Namun disela suara tertawa Ki Tambak Wedi itu kemudian terdengar Sumangkar berkata “Angger Tohpati, kenapa angger menjadi gelisah sehingga murid Tambak Wedi itu mendapat kesempatan untuk memperpanjang nafasnya? Dalam pengamatan kami Raden, maka Sidanti benar-benar sudah hampir mati terjepit oleh kekuatan tongkat angger. Namun karena angger terganggu oleh suara Ki Tambak Wedi, maka Sidanti itu mampu bernafas kembali”

Sekali lagi Tohpati menggeram. Kata-kata Sumangkar telah memperingatkannya, bahwa ia telah berbuat kesalahan. Namun dalam pada itu kembali suara Ki Tambak Wedi “Suatu peringatan yang baik. Peringatan yang terakhir dari adi Sumangkar. Setelah ini maka adi akan mati aku cekik, dan angger Tohpati akan mati pula untuk kemudian aku penggal lehernya”

Kembali kegelisahan merambat dihati Tohpati. Namun kemudian Sumangkar berkata lantang kepada Tohpati “Jangan hiraukan aku ngger. Bukankah aku seorang juru masak yang baik? Karena itu aku selalu membawa golok pembelah kayu ini. Namun sebagai murid Kedung Jati, sebagai saudara seperguruan Patih Mantahun, maka golok ini akan dapat aku pergunakan untuk membelah dada Ki Tambak Wedi yang sombong. Bukankah Sumangkar murid kedua dari perguruan Kedung Jati yang tidak kalah besarnya dari perguruan lereng Merapi?”

“Setan” desis Ki Tambak Wedi. Kini Ki Tambak Wedi itu tidak tertawa lagi. Diamat-amatinya wajah Sumangkar didalam keremangan cahaya bulan. Wajah itu masih tenang setenang awan yang berlayar lembut dikebiruan langit “Kau merasa dirimu setingkat dengan Ki Tambak Wedi?”

Sumangkar tidak menghiraukan pertanyaan itu, namun kepada Tohpati ia berkata “Cekiklah Sidanti itu Raden. Sementara itu biarlah aku akan menyumbat mulut pemimpi tua itu dengan golokku”

Ternyata kata-kata Sumangkar itu memberi juga ketenangan pada Macan Kepatihan. Disadarinya kemudian, bahwa Sumangkar adalah saudara seperguruan gurunya sendiri, sehingga karena itu Macan Kepatihan itu tersenyum sendiri atas kegelisahan yang mencengkam dadanya. Kenapa ia mencemaskan nasib Sumangkar juru masak yang malas itu? Ia bukan seorang juru masak kebanyakan. Ia adalah seorang murid dari perguruan Kedung Jati seperti juga gurunya sendiri. Patih Mantahun yang sakti.

Dalam pada itu terdengar Ki Tambak Wedi berkata “Cecurut yang malang. Kau benar-benar jemu untuk hidup. Bukankah Ki Tambak Wedi telah terkenal mampu menangkap angin?”

Sumangkar tersenyum, jawabnya “Perguruan Kedung Jati terkenal karena murid-muridnya mampu menyimpan nyawa rangkapan didalam tubuhnya”

Ki Tambak Wedi menggeram penuh kemarahan. Apalagi ketika dilihatnya bahwa Macan Kepatihan telah menemukan keseimbangannya kembali. Sehingga karena itu maka katanya “Kau juga pandai membual adi Sumangkar. Kalau murid Kedung Jati dapat menyimpan nyawa rangkap didalam tubuhnya, maka Patih Mantahun itu tidak akan mati terbunuh meskipun harus bertempur melawan Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi atau Ki Juru Mertani ditambah Hadiwijaya dan Ngabehi Loring Pasar”

Sumangkarlah yang kini tertawa menyakitkan hati. Dengan renyah ia menjawab “Kau salah kakang. Mantahun waktu itu hanya membawa nyawa rangkap tiga. Tetapi ia benar-benar harus melawan lima orang sekaligus, Ki Gede Pemanahan, Ki Penjawi, Karebet, Juru Mertani dan Sutawijaya dengan Kiai Pered ditangannya. Nah, karena itulah maka ketiga nyawanya terpaksa dilepaskan”

“Setan belang” umpat Ki Tambak Wedi “Jangan banyak bicara. Sekarang kau harus dienyahkan”

Sumangkar memutar tubuhnya menghadap Ki Tambak Wedi yang memandanginya seolah-olah biji matanya akan meloncat dari kepalanya. Namun Sumangkar masih tetap dalam ketenangan. Ia tahu, bahwa Ki Tambak Wedi adalah seorang yang sakti pilih tanding. Tetapi ia tidak bernafsu untuk mengalahkannya. Ia hanya harus bertahan, sampai Macan Kepatihan menyelesaikan tugasnya. Setelah itu, maka ia akan dapat menghindar bersama-sama dengan Macan Kepatihan. Dan ia mengharap bahwa ia akan mampu melakukannya, bertahan melampaui ketahanan Sidanti melawan Macan Kepatihan.

Karena itu ketika Ki Tambak Wedi memakinya sekali lagi, berkatalah Sumangkar “Kakang, aku sudah siap. Kali ini akupun membawa nyawa tiga rangkap. Ayo mulailah. Kalau kau berhasil membunuh aku satu kali, maka kedua nyawaku yang lain akan mampu mencekik lehermu itu”

Ki Tambak Wedi tidak menjawab. Sekali ia menggeram dan dengan dahsyatnya ia meloncat menerkam Sumangkar. Namun Sumangkar sudah siap. Meskipun ia belum merasa perlu untuk mempergunakan senjata, namun goloknya tidak dapat diletakkannya dan tidak dapat terus disangkutkannya pada ikat pinggangnya karena tidak berwrangka. Karena itu maka sambil menghindar ia berkata “Kakang, sebenarnya aku sama sekali tidak menganggap perlu mempergunakan senjata ini. Namun terpaksa aku harus memeganginya terus supaya senjata ini tidak hilang apabila aku letakkan. Sebab aku sekarang adalah seorang juru masak. Aku perlu golok ini untuk membelah kayu bakar”

Tetapi Sumangkar itu terkejut ketika terasa goloknya menyentuh benda keras ditangan Ki Tambak Wedi. Barulah kini ia sadar. Didalam kedua tangan hantu lereng Merapi itu tergenggam sepasang gelang-gelang besi. Dengan gelang-gelang itu Ki Tambak Wedi menyambar golok Sumangkar. Namun untunglah Sumangkar cepat menyadarinya, sehingga goloknya tidak terloncat dari tangannya. Dengan demikian, maka Sumangkar tidak dapat lagi berkelahi sambil membual. Ia harus benar-benar bertempur dengan segenap kewaspadaan dan kemampuan yang ada padanya.

Maka dalam keremangan cahaya bulan, tampaklah dua lingkaran perkelahian yang semakin lama menjadi semakin sengit. Ki Tambak Wedi yang menjadi amat marah itupun bertempur dengan darah yang seolah-olah menyala membakar seluruh tubuhnya. Sumangkar itu adalah sumber kegagalannya malam ini. Kegagalan atas rencananya. Dan kegagalan itu membuatnya sangat marah. Karena itu, maka Ki Tambak Wedipun segera berusaha untuk menyingkirkan Sumangkar supaya muridnya dapat membunuh Tohpati meskipun ia harus membantunya. Pikirannya yang tiba-tiba saja timbul untuk membunuh Tohpati dan membawa bukti kematian itu ke Pajang, sangat mempengaruhinya. Dengan demikian ia ingin Sidanti akan mendapat kepercayaan melampaui kepercayaannya yang telah didapat Untara, sebab apabila ia berhasil, maka telah membawa bukti kesetiannya, sedang Untara dan Widura yang telah berjuang berbulan-bulan di Sangkal Putung sama sekali tidak mampu menangkap Macan Kepatihan hidup atau mati.

Tetapi Sumangkar ternyata bukan seorang yang bermalas-malasan saja. Ketika lawannya menjadi semakin dahsyat, maka gerakannyapun menjadi semakin tangguh. Ternyata murid kedua dari perguruan Kedung Jati itu tidak mengecewakan. Ketika terasa olehnya bahwa kedua tangan Ki Tambak Wedi seakan-akan terbalut oleh selapis baja, maka Sumangkar tidak lagi segan-segan mempergunakan goloknya. Meskipun golok itu golok pembelah kayu yang tidak setajam pedang Sidanti, namun ditangan Sumangkar senjata itu merupakan senjata yang cukup berbahaya.

Bulan dilangit beredar dengan lambannya. Sepotong-sepotong awan mengalir keutara dihembus angin lembah yang lembut. Betapa dinginnya malam namun keempat orang yang sedang berjuang antara hidup dan mati itu telah basah oleh keringat yang mengalir dari segenap lubang-lubang dipermukaan kulit mereka. Dan ketika tubuh-tubuh mereka telah menjadi basah, maka gerak merekapun menjadi semakin cepat dan semakin lincah.

Sidanti kini benar-benar telah menemukan nilai-nilai baru didalam tata geraknya. Unsur-unsur yang dapat memberinya kekuatan dan kelincahan. Kakinya melontar-lontar dengan cepatnya membawa tubuhnya yang seakan-akan tidak memiliki berat. Seperti seonggok kapuk yang diputar angin pusaran, sekali melenting tinggi, kemudian menukik menyambar dengan sepasang pedang pendeknya.

Tohpati kini terpaksa melawannya dengan sepenuh kemampuannya. Bahkan kadang-kadang ia menjadi bingung melihat gerak Sidanti. Tetapi Macan Kepatihan adalah seorang yang memiliki pengalaman yang sangat luas, sehingga sesaat kemudian ia telah berhasil menemukan keseimbangannya kembali. Meskipun terasa juga, kadang-kadang ujung pedang Sidanti berhasil menggores kulitnya dan meneteskan darahnya, namun kini ia tidak menjadi cemas. Apabila sekali ia mencoba melihat perkelahian antara Ki Tambak Wedi dan Sumangkar, maka terasa olehnya, bahwa keduanyapun mempunyai ilmu yang dapat disejajarkan, sehingga karenanya maka ia tidak perlu memecah perhatiannya, mencemaskan nasib Sumangkar. Demikianlah, mereka berempat telah memeras tenaga masing-masing. Ki Tambak Wedi terpaksa mengakui, bahwa murid kedua perguruan Kedung Jati benar-benar mampu melawannya. Meskipun senjata yang dipergunakan bukanlah senjata ciri perguruan Kedung Jati, namun senjata seadanya itu benar-benar dapat membantu Sumangkar memperpanjang umurnya.

***

Golok yang kehitam-hitaman ditangannya itu, berputaran, sekali mematuk, sekali menebas menyambar seperti hendak menebang roboh tubuh Ki Tambak Wedi itu. Namun hampir disetiap kesempatan Ki Tambak Wedi dengan beraninya memukul golok lawannya dengan tangannya yang terlindung oleh sepasang gelang baja. Dalam benturan-benturan yang terjadi itu, maka menyalalah bunga api memercik keudara. Setiap kali terjadi benturan, senjata Sumangkar, golok pembelah kayunya mengalami luka dibagian tajamnya, sehingga kemudian mata golok yang memang bukan senjata buatan khusus itu, menjadi semacam mata gergaji. Namun dengan demikian, maka setiap goresan akan mampu menyobek kulit dengan bekas yang tersayat-sayat.

Ki Tambak Wedipun kemudian terpaksa berjuang dengan sengitnya untuk segera mengalahkan Sumangkar. Namun Sumangkar tidak mau menerima keadaan dengan kedua tangan ngapurancang, Tetapi sepasang tangannya berjuang sekuat-kuat tenaganya, tenaga murid kedua perguruan Kedung Jati. Goloknya kadang-kadang menyambar dalam genggaman tangan kanannya, namun kemudian mematuk dalam kelincahan tangan kirinya.

“Demit, tetekan” Ki Tambak Wedi tak habis-habisnya mengumpat. Tetapi lawannya sama sekali tidak takut mendengar umpatan itu, bahkan dengan serunya Sumangkar melawannya tanpa mengenal lelah.

Keduanya adalah orang-orang sakti yang pilih tanding. Keduanya adalah orang-orang tua yang telah hampir merasa dirinya harus beristirahat dan menyerahkan segala persoalan kepada mereka yang masih muda. Namun pada saat-saat terakhir, mereka masih harus melindungi anak-anak muda yang mereka anggap akan dapat meneruskan umur mereka. Ki Tambak Wedi, seorang guru yang terlalu bangga akan muridnya dan terlalu jangkaunya, sedang Sumangkar melihat Tohpati adalah penerus perguruannya, lewat kakak seperguruan. Karena itu maka seandainya anak muda itu lenyap, lenyap pulalah ajaran-ajaran perguruan Kedung Jati yang pernah terkenal karena orang menyangka bahwa murid-murid perguruan Kedung Jati tidak dapat mati, karena memiliki nyawa rangkap. Sedang perguruan lereng Merapi yang terkenal seakan-akan setiap muridnya mampu menangkap angin.

Dipihak lain, Sidanti bertempur dengan sepenuh tekad melawan Macan Kepatihan. Kali ini ia akan menebus kekalahannya pada saat ia berhadapan dengan Macan Kepatihan itu. Seperti juga gurunya, ia benar-benar ingin membunuh Tohpati. Membawa kepalanya ke Pajang dan mengharap hadiah daripadanya, seperti hadiah yang akan diterima oleh mereka yang berhasil membunuh Arya Penangsang, tanah mentaok dan Pati. Kalau ia membunuh Macan Kepatihan, maka setidak-tidaknya ia akan menerima hadiah separo dari mereka yang membunuh Arya Penangsang.

Dengan harapan itu, serta pangkat yang akan melampaui pangkat Untara, maka Sidanti berjuang sekuat-kuat tenaganya.

Namun ternyata Macan Kepatihan tidak menyerahkan lehernya begitu saja. Bahkan semakin lama Tohpati seakan-akan menjadi semakin segar. Tongkatnya menjadi semakin cepat bergerak menyambar-nyambar seperti burung garuda yang bertempur diudara.

Mula-mula Sidanti berbangga dengan kemenangan-kemenangan kecilnya. Ketika sekali dua kali ujung pedangnya mampu meneteskan darah dari tubuh Tohpati. Namun kemudian terasa, bahwa kulitnya pasti menjadi merah biru pula. Setiap sentuhan ujung tongkat Macan Kepatihan yang berbentuk tengkorak itu, seakan-akan benar-benar memecahkan tulangnya. Meskipun ia selalu dapat menghindarkan dirinya dari benturan langsung, atau dengan sepasang senjatanya menghentikan ayunan tongkat lawannya, namun terasa tongkat itu menyengat-nyengat tubuhnya semakin lama semakin sering. Sehingga dengan demikian, maka Sidanti kemudian tidak lagi dapat membanggakan kelebihan-kelebihan yang ada padanya. Betapa ia menjadi semakin lincah disaat-saat terakhir, namun lawannyapun ternyata cukup tangguh untuk mengimbanginya.

Karena itulah maka perkelahian itu semakin lama menjadi semakin seru. Ketika bulan menjadi semakin merendah kegaris cakrawala diujung barat, maka mereka yang bertempur itu semakin ngetok kekuatan. Mereka tidak mau masing-masing menjadi korban dari perkelahian itu, dan mereka masing-masing berusaha untuk mengalahkan lawannya sebelum pasangannya dapat dikalahkan.

Tetapi kemudian, perkelahian itu menjadi terganggu karenanya. Dikejauhan mereka melihat tiga bayangan yang bergerak-gerak dalam keremangan cahaya bulan. Tiga bayangan manusia yang datang mendekat daerah perkelahian itu.

Baik Ki Tambak Wedi maupun Sumangkar bertanya-tanya didalam hati mereka, siapakah mereka, orang-orang yang mendatangi itu. Tohpati dan Sidantipun kemudian melihat mereka pula. Karena itu, maka mereka menjadi berdebar-debar. Tetapi mereka tidak dapat menghentikan perkelahian itu. Perkelahian itu adalah perkelahian antara hidup dan mati. Namun kalau yang datang itu kawan dari salah satu pihak, maka keseimbangan perkelahian itu akan terganggu.

Sesaat Tohpati menggeram keras sekali. Tiba-tiba ia memperketat tekanannya. Ia melihat satu tenaga cadangan yang akan mampu mempercepat penyelesaiannya. Kalau ia mengerahkan tenaganya dan berhasil, maka perkelahian itu akan menjadi semakin cepat selesai. Tetapi kalau tidak, maka akibatnya ia akan menjadi lebih dahulu kelelahan dan mungkin ia akan menjadi korban. Namun ia tidak dapat berbuat lain. Ketiga bayangan yang menjadi semakin dekat itu benar-benar mengganggunya.

Akibatnya terasa pula oleh Sidanti. Serangan Macan Kepatihan menjadi bertambah dahsyat. Sedahsyat angin prahara yang melanda tebing pegunungan, menggetarkan pepohonan dan menggugurkan daun-daunnya. Sekali Sidanti terpaksa meloncat surut, namun Tohpati mengejarnya terus.

Serangan Sidanti itu serasa benar-benar menyusup dari segenap arah, mematuk seluruh bagian tubuhnya. Dengan demikian maka Sidantipun terseret kedalam pencurahan segenap tenaga, segenap kekuatan dan segenap kemampuannya. Namun, meskipun demikian, maka amat sulitlah baginya untuk segera dapat membebaskan diri dari belitan serangan Tohpati yang seperti lesus itu.

Pada saat-saat terakhir, Ki Tambak Wedi sebenarnya telah menemukan segi-segi lawannya. Betapapun saktinya Sumangkar, namun pada orang tua itu masih terdapat beberapa kelemahan. Apalagi ketika pada saat-saat terakhir ia lebih senang tinggal didapur saja, maka nafsunya untuk bertempur tidak sehangat Ki Tambak Wedi lagi. Meskipun Sumangkar mampu menginbangi hampir setiap usaha Ki Tambak Wedi untuk menembus pertahanannya, namun lambat laun, terasa bahwa Ki Tambak Wedi masih selapis berada diatas Sumangkar.

Tetapi pada saat yang demikian, pada saat Ki Tambak Wedi memperkuat tekanannya untuk segera mengakhiri perkelahian itu, supaya ia sempat memenggal leher Tohpati, maka pada saat yang demikian itu pula, Sidanti terpaksa beberapa kali beringsut surut.

“Gila” desis Ki Tambak Wedi itu “Macan Kepatihan benar-benar berkelahi seperti seekor harimau jantan yang garang”

Dengan menggeram keras sekali ia mencoba mengakhiri perkelahiannya dengan Sumangkar, ketika dengan tangan kirinya ia memukul golok Sumangkar kesamping, dan dengan tangannya yang lain, Ki Tambak Wedi berusaha memecahkan kepala lawannya itu. Namun usahanya masih belum berhasil, Sumangkar masih mampu menggenggam golok itu ditangannya, dan masih mampu melontar kesamping sambil merendahkan dirinya, sehingga tangan Ki Tambak Wedi yang berlapis baja itu terbang beberapa jari dari kepalanya. Sesaat kemudian ketika Ki Tambak Wedi berusaha menerkamnya, maka Sumangkar sudah mampu mempersiapkan dirinya, dan menjulurkan goloknya dimuka dadanya. Bahkan kemudian ketika Ki Tambak Wedi mengurungkan serangannya, Sumangkarlah yang meloncat maju dengan sebuah ayunan pendek.

Namun kembali Ki Tambak Wedi mengumpat didalam hatinya. Kini ia benar-benar melihat muridnya dalam kesulitan. Karena itu maka mau tidak mau ia harus membagi perhatiannya. Namun karena orang tua itu memiliki pengalaman yang bertimbun-timbun didalam perbendaharaan ilmunya, maka segera ia menemukan jalan untuk menyelamatkan muridnya tanpa mengorbankan kehormatannya. Dengan lantang kemudian ia berkata “Ayo, meskipun Macan Kepatihan bukan muridmu Sumangkar, namun ia adalah murid saudara seperguruanmu, sehingga ilmumu berdua bersumber dari perguruan yang sama. Kalau ternyata kau tidak mampu melawan aku seorang diri, marilah, aku beri kesempatan kalian bertempur berpasangan. Muridku pasti akan senang juga melayanimu dengan cara itu”

“Kau licik”vsahut Sumangkar “Agaknya kau telah melihat bahwa muridmu telah hampir sampai pada titik ajalnya”

“Persetan, aku sobek mulutmu itu”

“Silakanlah kakang” jawab Sumangkar.

Ki Tambak Wedi menggeretakkan giginya. Namun ia tidak merubah rencana. Langsung ia melepaskan Sumangkar dan berlari kearah Sidanti yang semakin terdesak. Dengan demikian maka Sumangkar tidak dapat berbuat lain daripada berlari pula mengejar Ki Tambak Wedi itu.

Sesaat kemudian maka mereka terlibat dalam pertempuran berpasangan. Mula-mula Sumangkar dan Tohpati agak canggung juga menyesuaikan diri masing-masing, namun karena mereka bersumber pada ilmu yang sama, maka segera mereka menemukan titik-titik yang dapat membuka kemungkinan-kemungkinan seterusnya.

Dalam pada itu, ketika mereka telah luluh dalam satu lingkaran perkelahian, maka bayangan yang datang mendekati mereka menjadi semakin dekat. Mereka berjalan perlahan-lahan dengan penuh kebimbangan. Setapak mereka maju, dan sesaat mereka berhenti. Sejenak mereka maju lagi, namun dua tiga langkah mereka kembali tegak mengawasi perkelahian yang semakin seru.

“Mereka bertempur berpasangan” berkata salah seorang dari mereka.

“Ya. Salah satu pihak sedang mencari keseimbangan” jawab yang lain.

“Siapakah mereka?”

Tak seorangpun yang dapat menjawab. Namun salah seorang dari mereka berkata “Marilah kita mendekat”

Mereka berjalan maju lagi. Langkah mereka terayun satu-satu diantara rumput-rumput liar. Ragu-ragu dan penuh kewaspadaan, Namun kemudian mereka berhentu pada jarak yang tidak terlalu dekat.

“Dahsyat” terdengar salah seorang bergumam.

“Ya” sahut yang lain.

Dan yang lain lagi berkata “Aku sangka, mereka adalah guru dan murid saling berpasangan. Dua perguruan bertemu dipadang rumput ini”

Namun sesaat kemudian mereka bertiga mengerutkan kening mereka. Hampir bersamaan mereka dapat melihat semakin jelas ketika mereka sudah menjadi lebih dekat lagi.

Perlahan-lahan disela deru angin malam terdengar salah seorang berdesis “Macan Kepatihan”

Yang lain mengangguk-anggukkan kepala mereka. Tongkat baja putihnya, yang berkilat-kilat dikeremangan cahaya bulan yang hampir tenggelam telah menunjukkan kepada mereka, siapakah salah seorang dari mereka yang sedang bertempur itu.

Namun kemudian timbullah kebimbangan dihati mereka bertiga. Salah seorang berkata “Macan Kepatihan bertempur berpasangan. Siapakah yang seorang itu? Bukankah guru Macan Kepatihan itu Patih Mantahun? Dan Patih Mantahun itu telah mati terbunuh?”

Salah seorang bergumam lirih “Perguruan Kedung Jati terkenal, bahwa murid-muridnya mampu menyimpan nyawa rangkap didalam tubuhnya”

“Aku juga mendengar itu” sahut yang lain.

Tetapi yang seorang lagi tertawa perlahan-lahan. Gumamnya “Sebuah dongeng untuk menidurkan anak-anak disenja hari”

Kedua orang yang lain saling berpandangan sesaat, seolah-olah mereka tidak mengerti, kenapa yang seorang itu sama sekali tidak menaruh perhatian atas berita tentang nyawa yang rangkap itu.

“Apakah kalian percaya bahwa ada seorang yang mampu menyimpan nyawa rangkap didalam dirinya? Aji Pancasona barangkali? Nah, kalau kalian percaya, atau setidak-tidaknya bimbang akan hal itu, mulailah sejak ini menganggap bahwa itu hanya sebuah dongengan semata-mata. Dan hal itupun terbukti pula, bahwa Patih Mantahun tidak lagi bangkit dari kuburnya”

Kedua orang yang lain kini berdiam diri. Namun mata mereka tajam menatap pasangan-pasangan yang sedang bertempur dengan serunya. Dalam keremangan cahaya bulam, maka mereka seolah-olah hanya melihat bayangan-bayangan hitam yang berputaran dan berbenturan, disela-sela cahaya keputih-putihan yang memantul dari tongkat putih Macan Kepatihan dan sekali-sekali gemerlapnya pedang Sidanti. Golok Sumangkar yang kehitam-hitaman bahkan disana sini tampak berkarat, sama sekali tidak mampu memantulkan cahaya bulan yang semakin rendah.

“Apakah kalian ingin melihat lebih jelas?” terdengar salah seorang bertanya.

“Marilah Kiai” jawab yang lain.

Orang yang mengajak itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kainnya yang bercorak gringsing menutupi sebagian tubuhnya sedang kedua orang yang lain, berjalan dibelakangnya dengan penuh kewaspadaan. Mereka adalah dua orang anak muda yang sebaya. Yang seorang bertubuh sedang dan yang lain pendek gemuk hampir bulat. Dilambung mereka masing-masing tergantung sehelai pedang. Namun dilambung orang yang berjalan dipaling depan dan bahkan kedua anak-anak muda itu, melingkar sebuah cambuk yang bertangkai pendek dan berujung janget.

Ternyata orang yang pertama, yang berkain gringsing itu, telah menuntun mereka untuk mempergunakan senjata, ciri perguruannya, disamping senjata yang disukainya. Cambuk yang bertangkai tidak lebih dari sejengkal dan ujungnya berjuntai agak panjang, terbuat dari tambang kulit yang sangat kuat beranyam rangkap tiga ganda. Lemas namun kuatnya bukan main.

Tiba-tiba orang yang berkain gringsing itu berkata “Kemarilah ngger”

Kedua anak muda yang berjalan dibelakangnya segera berdiri disampingnya sebelah menyebelah.

“Apakah kalian kenal yang seorang lagi?”

Keduanya mengerutkan kening mereka dan mempertajam pandangan mata mereka. Tiba-tiba mereka berdesis “Sidanti”

“Ya, Sidanti” berkata orang yang berkain gringsing “Yang seorang pasti Ki Tambak Wedi”

Dua orang anak muda, Agung Sedayu dan Swandaru, mengangguk-anggukkan kepala mereka. Perlahan-lahan mereka berdesis “Kiai, lalu siapakah yang seorang lagi, pasangan Macan Kepatihan itu?”

Kiai Gringsing, yang oleh murid-muridnya lebih dikenal dengan nama Ki Tanu Metir menjawab “Aku belum tahu, siapakah orang itu. Aku masih belum dapat mengenalnya. Seandainya ia adalah seorang yang telah pernah terkenal didaerah ini, atau daerah Pajang, mungkin aku dapat menyebut namanya”

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepala mereka. Kini mereka menjadi semakin berani. Apabila salah satu pihak dari mereka adalah Sidanti dan Ki Tambak Wedi, sedang dipihak lain dalam keadaan yang seimbang melayaninya, maka bersama guru mereka, mereka tidak akan menjadi cemas lagi siapapun yang sedang bertempur itu. Karena itu maka Agung Sedayu kemudian berkata “Marilah kita dekati Kiai. Aku ingin melihat dengan pasti siapakah yang tengah bertempur itu”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia menjawab “Marilah. Tetapi berhati-hatilah. Siapa tahu bahwa mereka akan memilih lawan. Dan pilihan itu jatuh kepada kita”

Swandaru tersenyum. Selangkah ia maju. Tetapi ia segera berhenti ketika ia melihat perkelahian itu cepat bergeser dari tempatnya.

“Kenapa?” desisnya. “Apakah ada perubahan dari keseimbangan mereka?”

Tetapi ternyata perkelahian itu segera berjalan kembali dengan sengitnya.

Mereka hanya bergerak sekedar menemukan bentuk yang baru dari daerah perkelahian serta letak pasangan dari antara mereka.

Namun waktu yang sesaat itu telah menggoncangkan hati Kiai Gringsing. Pada saat yang demikian itu, ia mengenal, siapakah seorang lagi, yang selama ini menjadi teka-teki diantara murid-muridnya. Namun untuk meyakinkannya, ia dengan serta-merta melangkah maju lagi beberapa langkah, sehingga jarak mereka menjadi semakin dekat, bahkan terlalu dekat.

Yang sedang bertempur itupun kemudian terkejut melihat kehadiran mereka yang terlalu dekat itu. Apalagi dengan demikian segera mereka mengenal siapakah orang-orang yang datang mendekat. Yang pertama-tama berteriak diantara mereka adalah justru Ki Tambak Wedi “He, orang yang menamakan diri Kiai Gringsing, apakah kerjamu disini?”

Kiai Gringsing tidak menjawab. Matanya sedang menekuni gerak seorang lagi diantara mereka yang selama ini tak pernah disangkanya akan bertemu kembali. Tiba-tiba terdengar ia bergumam “Sumangkar, murid kedua dari perguruan Kedung Jati”

“He, siapakah kau?” sahut Sumangkar yang mendengar namanya disebut-sebut.

“Bertanyalah kepada Ki Tambak Wedi” sahut Kiai Gringsing

“Aku mendengar ia menyebutmu Kiai Gringsing. Siapakah sebenarnya kau ini?”

“Itulah aku sebenarnya”

Sumangkar masih mau berkata lagi. Tetapi tiba-tiba terdengar Tohpati berteriak “He, bukankah kalian orang-orang yang aku temukan ditengah kali itu? Yang gemuk itu, yang satunya dan apakah kau orang tua itu pula?”

“Ya, akulah itu” jawab Kiai Gringsing.

Ternyata dada Tohpati berdesir mendengar pengakuan itu, meskipun hal itu telah diketahuinya atau setidak-tidaknya telah digambarkannya. Sehingga karena itu ia berkata “Aku sudah menyangka. Kalau aku tahu bahwa kalian orang-orang aneh dari Sangkal Putung, maka pada saat itu kalian pasti telah aku bunuh”

“Apa salah kami?” teriak Kiai Gringsing “Dan karena itu pula agaknya waktu itu kami tidak mengaku orang-orang aneh”

“Gila!” teriak Tohpati “Jangan mengigau, nanti akan datang giliran kalian untuk aku bunuh setelah musuh-musuhku ini mati”

Yang terdengar adalah suara tertawa Ki Tambak Wedi. Sementara itu mereka basih bertempur dengan serunya. Dan diantara derai tertawa itu terdengar Ki Tambak Wedi berkata “Jangan sombong Macan Kepatihan yang gagah perkasa. Mungkin kalian berdua mampu membunuh kami, tetapi orang-orang itu?”

Macan Kepatihan benar-benar terkejut mendengar kata-kata Ki Tambak Wedi yang biasanya terlalu menyombongkan diri. Tetapi ia tidak segera bertanya lagi. Tekanan Ki Tambak Wedi bahkan menjadi semakin mendesak.

Dalam kesibukan perkelahian itu yang terdengar kemudian adalah geram Sidanti penuh kemarahan “Agung Sedayu, musuh bebuyutan, apakah kau sudah jemu hidup sehingga kau berani mendatangi tempat ini, dimana aku dan guruku sedang berpesta? Kedatanganmu akan merupakan hadiah terbesar bagiku sesudah kepala Tohpati malam ini”

Ketika Agung Sedayu hampir membuka mulutnya untuk menjawab maka terasa lengannya digamit oleh gurunya. Dengan serta-merta ia mengurungkan niatnya sambil berpaling kepada gurunya, untuk mendapat penjelasan. Namun Kiai Gringsing itu hanya mengangkat dagunya kearah perkelahian itu. Dalam kebimbangan Agung Sedayu menuruti arah itu. Barulah kemudian ia tahu maksud gurunya, bahwa kata-kata Sidanti itu pasti akan menyinggung perasaan Tohpati pula. Dan Kiai Gringsing mengharap biarlah Macan Kepatihan itulah yang menjawab.

Sebenarnyalah kemudian Macan Kepatihan menggeram “Gila kau Sidanti, kau sangka bahwa Macan Kepatihan sama murahnya dengan kepalamu?”

“Jangan marah ngger” sahut Ki Tambak Wedi “Sidanti hanya berkata sebenarnya”

Betapa marahnya Macan Kepatihan mendengar penghinaan itu. Namun kemudian terdengar Sumangkar berkata tenang “He orang yang menamakan dirinya Kiai Gringsing, kau lihat, bahwa ditempat ini terjadi dua macam perkelahian? Yang pertama perkelahian jasmaniah. Kami masing-masing telah bertempur dengan sekuat-kuat tenaga kami, namun belum ada diantara kami yang dapat dikalahkan oleh pihak yang lain, Sedang perkelahian yang kedua adalah perkelahian mulut. Kami masing-masing mencoba saling menyombongkan diri kami. Kami masing-masing berkata bahwa kami akan membunuh lawan-lawan kami. Kalau itu mampu lakukan, maka sudah pasti kami lakukan. Tetapi ternyata seperti yang kau lihat. Kami masih bertempur mati-matian sehingga kami harus tertawa mendengar suara kami sendiri. Karena itu Kiai, kalau Kiai masih ingin menonton, menontonlah dengan tenang. Waktu masih panjang. Kalau ada diantara kami yang akan memusuhi Kiai, maka itu masih harus melalui waktu yang cukup banyak untuk mengalahkan lawan-lawan kami”

Ki Tambak Wedi dan Sidanti menggeram mendengar kata-kata itu, bahkan Tohpati sendiri menggertakkan giginya. Namun dengan demikian mereka tidak lagi berteriak-teriak dan saling mengancam. Mereka kini memusatkan tenaga mereka dalam pertempuran yang terjadi. Namun meskipun demikian hati mereka telah digelisahkan oleh kehadiran Kiai Gringsing dengan murid-muridnya. Mereka mempunyai persoalan sendiri-sendiri terhadap mereka. Tohpati menyadari bahwa diantara orang-orang itu terdapat orang-orang Sangkal Putung. Namun justru karena itu ia mulai menimbang-nimbang. Kalau tidak ada persoalan diantara mereka dengan Sidanti, maka mereka pasti akan membantu Sidanti. Karena itu maka kehadiran mereka benar-benar mempengaruhi perasaannya. Dalam pada itu, Ki Tambak Wedipun menjadi gelisah. Disadarinya bahwa orang yang menyebut dirinya Kiai Gringsing itu tidak dapat dikalahkan. Ternyata Kiai Gringsing telah mengambil lawan Sidanti menjadi muridnya. Dengan demikian maka apabila terpaksa mereka harus berhadapan saat itu, maka tidak akan dapat memberinya kesempatan apa-apa.

Yang terdengar kemudian adalah suara Kiai Gringsing. Kiai Gringsing senang mendengar kejujuran sikap Sumangkar, sehingga menyahut “Kau benar-benar murid kedua perguruan Kedung Jati yang perkasa. Aku terpaksa tertawa mendengar pengakuanmu. Dan aku akan mencoba memenuhinya. Duduk disini sambil melihat kalian berkelahi”

“Gila!” teriak Ki Tambak Wedi, namun suaranya segera tenggelam dalam kata-kata Sumangkar “Silakan Kiai, silakan. Kiai akan dapat menilai, sampai sejauh mana kemungkinan yang ada dikedua belah pihak. Dan kira-kira Kiai akan lebih senang melawan pihak yang mana? Bukankah dengan demikian Kiai dapat berbuat sesuatu?”

Kembali Kiai Gringsing tertawa, jawabnya “Tidak, aku tidak berpihak. Aku tidak akan berpihak pada yang lemah untuk nanti mendapatkan lawan yang lemah itu”

Sumangkar tertawa pendek. Sekali ia harus meloncat kesamping untuk menghindari sambaran tangan Ki Tambak Wedi. Namun ia harus segera menggeliat pula, ketika dilihatnya pedang Sidanti menjulur mematuk lambungnya. Namun ketika Ki Tambak Wedi akan menyerangnya kembali, segera Sumangkar meloncat dan memutar golok ditangannya. Ia tidak perlu memperhatikan Sidanti lagi, karena dengan serta-merta, tongkat Macan Kepatihan menyambar lengan anak muda itu, sehingga ia terpaksa meloncat surut.

Namun dalam pada itu, timbullah banyak pertimbangan dikepala Tohpati. Seandainya perkelahian itu dibiarkannya berjalan dalam keseimbangan, maka semalam suntuk mereka pasti tidak akan menemukan penyelesaian. Bahkan mungkin pada saat-saat mereka hampir mati kekelahan, pada saat itulah Kiai Gringsing baru tampil ke gelanggang.

Karena itu, maka segera timbul banyak pertimbangan dikepala Macan Kepatihan. Ia sendiri tidak yakin, apakah yang dapat dilakukan oleh Kiai Gringsing. Apakah ia akan berpihak ataukah ia akan melawan segala pihak. Namun keadaannya pasti akan menjadi paling baik. Seperti tantangan Sumangkar, Kiai Gringsing dapat berpihak yang dianggapnya paling lemah untuk membinasakan yang kuat, supaya apabila kemudian terpaksa bagi Kiai Gringsing untuk bertempur, maka musuhnya adalah pihak yang lemah. Namun agaknya permusuhan telah terjadi antara Kiai Gringsing dan Ki Tambak Wedi seperti halnya murid-muridnya dikedua belah pihak. Apakah permusuhan itulah yang menyebabkan Sidanti meninggalkan Sangkal Putung? Sekali-sekali terlintas juga didalam benaknya untuk melawan saja Kiai Gringsing bersama muridnya itu bersama-sama dengan Sidanti dan gurunya dalam satu gabungan kekuatan, maka pasti Kiai Gringsing dapat dikalahkan. Namun kemudian Tohpati itu menjadi ragu-ragu pula. Meskipun hatinya cenderung berbuat demikian. Sebab apabila yang tinggal adalah mereka berempat, maka kekuatan mereka pasti akan tetap seimbang.

Dalam keragu-raguan itu tiba-tiba Tohpati mendengar tawaran Ki Tambak Wedi yang agaknya mempunyai pikiran yang sama, sehingga tawaran itu benar-benar mengejutkan Macan Kepatihan “He, angger Tohpati yang perwira. Orang baru itu adalah musuhku bebuyutan. Sedangkan apa yang kita lakukan adalah suatu permainan yang tidak berarti apa-apa. karena itu, apakah tidak sebaiknya kita hentikan permainan ini, dan kita binasakan saja lawan kita yang berbahaya itu bersama-sama. Kemudian baiklah permainan ini kita lanjutkan kembali?”

Tohpati mengerutkan keningnya. Semula ia tidak yakin akan tawaran Ki Tambak Wedi, namun kemudian tampaklah serangan-serangan Ki Tambak Wedi mengendor, sehingga Tohpati menjadi ragu-ragu dan bertanya “Apakah pertimbanganmu?”

Ki Tambak Wedi tertawa, jawabnya “Sebenarnyalah kita sudah dapat mengetahui keadaan kita masing-masing. Juga Kiai Gringsing itu pasti tahu, kenapa kita akan menyatukan kekuatan kita. Bukankah dengan demikian kita akan dapat meneruskan permainan ini tanpa terganggu dan tanpa menunggu kemungkinan yang paling buruk? Membiarkan Kiai Gringsing menunggu kita masing-masing mati kelelahan?”

Sekali lagi Tohpati dilanda oleh keragu-raguan. Sementara itu, Swandaru dan Agung Sedayu yang mendengar tawaran Ki Tambak Wedi itu segera meraba hulu pedang masing-masing. Tanpa berpikir akibat yang akan terjadi maka tiba-tiba Swandaru tertawa sambil berkata “Kiai, kita akan mendapat latihan yang baik” Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah Swandaru dan Agung Sedayu berganti-ganti. Tiba-tiba ia menjadi cemas. Mungkin Agung Sedayu dapat mempertahankan dirinya melawan Sidanti atau Tohpati sekalipun dalam taraf kekuatannya kini setelah ia maju dengan pesatnya.

Namun Swandaru masih belum dapat disejajarkan dengan salah seorang dari mereka. Apalagi kalau kekuatan mereka digabung, maka Sumangkar dan Ki Tambak Wedi akan menjadi lawan yang amat berat meskipun kekuatan mereka telah menunjukkan tanda-tanda menurun karena perjuangan yang berat diantara mereka.

Tetapi Swandaru yang sedang berkembang itu tidak dapat menimbang berat ringan orang-orang yang dihadapinya. Ia masih dalam tingkatan ingin mencoba segala kemampuan yang ada didalam dirinya. Apalagi kini dihadapannya berdiri Sidanti dan Tohpati. Ia ingin menakar diri. Apakah kekuatannya sudah seimbang dengan Tohpati atau Sidanti?

Dalam kesibukan berpikir itu, Kiai Gringsing mendengar Sumangkar menjawab tawaran Ki Tambak Wedi sebelum Tohpati mengambil keputusan “Ki Tambak Wedi, dihadapan kami berdiri Ki Tambak Wedi dan Sidanti. Kini datang Kiai Gringsing dengan kedua muridnya, anak-anak Sangkal Putung. Adakah itu suatu kebetulan? Apakah Ki Tambak Wedi sudah menyediakan perangkap untuk menjebak kami berdua?”

Ingatan Tohpati benar-benar seperti tersengat lebah mendengar kata-kata itu. Alangkah mengejutkan meskipun seharusnya kemungkinan itu telah dipertimbangkannya. Ya, seandainya mereka telah merencanakan itu, alangkah bodohnya. Kalau ia menerima tawaran Ki Tambak Wedi, kemudian Ki Tambak Wedi dan Sidanti mengkhianatinya dalam perkelahian itu, maka membunuh Tohpati akan sama mudahnya dengan memijat bji ranti. Karena itu tiba-tiba Tohpati menggeram dengan marahnya. Katanya “Hem. Ternyata kalian adalah orang-orang yang sangat licik. Kalian berpura-pura saling bertentangan antara kedua pihak guru dan murid sekali. Tetapi ternyata kalian telah menjebak kami. Tetapi jangan kalian sangka Tohpati akan menyerah. Tohpati hanya menyerah apabila Tohpati telah menjadi mayat”

Ki Tambak Wedi mengumpat didalam hatinya. Sumangkar benar-benar gila. Beberapa kali ia merusak usahanya. Kini orang itu telah menempatkannya pada kesulitan pula. Karena itu ia berteriak “Sumangkar, kau adalah biang keladi dari kehancuran Macan Kepatihan. Kini kau menolak tawaranku. Baiklah marilah kita teruskan perkelahian ini. Siapa yang menang, biarlah ia menjadi korban berikutnya dari kebodohanmu. Dan kita berempat akan mati dilapangan rumput ini. Apa katamu?”

“Lebih baik demikian Ki Tambak Wedi” sahut Sumangkar “Lebih baik kita mati berempat disini daripada hanya kami saja berdua. Setuju”

Sekali lagi Ki Tambak Wedi menggeram. Rupanya kesempatan untuk bersama-sama menghancurkan Kiai Gringsing telah benar-benar tertutup baginya, sehingga tidak ada pilihan lain daripada meneruskan perkelahian itu mati-matian.

Tetapi sejak saat itu Tohpati selalu dihantui oleh kemungkinan yang sangat pahit. Terjebak oleh perangkap Ki Tambak Wedi dan Kiai Gringsing bersama-sama. Karena itu maka otaknya bekerja dengan sibuknya, disamping tenaganya yang berjuang melawan lawan-lawannya, ia harus menemukan jalan untuk melepaskan diri seandainya Kiai Gringsing dan kedua anak muda Sangkal Putung itu mulai menyerangnya pula dengan cara apapun.

Karena itulah maka Tohpati harus menemukan suatu cara untuk mengusir mereka dari padang rumput ini. Bukan karena ia takut untuk bertempur sampai mati, tetapi ia tidak mau mati meringkuk dalam perangkap lawannya.

Tiba-tiba dalam kesibukan pertempuran itu Tohpati memasukkan jari-jari tangan kirinya kedalam mulutnya, dan sesaat kemudian terdengarlah ia bersuit nyaring membelah sepi malam.

Sekali suaranya seolah-olah meluncur memenuhi padang rumput, bahkan terpantul oleh bukit dikejauhan melengking berkali-kali.

Ki Tambak Wedi terkejut mendengar suara itu. Bahkan semua orang yang mendengarnya, termasuk Sumangkar. Namun sebelum mereka menyadari keadaan mereka, terdengar kembali suitan Tohpati untuk kedua kalinya dan sesaat kemudian untuk ketiga kalinya.

“Gila!” teriak Sidanti “Apakah yang kau lakukan pengecut?”

“Mari, mari Ki Tambak Wedi dan Kiai Gringsing, majulah bersama-sama. Cobalah tangkap Tohpati dan Sumangkar malam ini”

“Kau panggil anak buahmu?” bertanya Sidanti

“Itu adalah hakku”

“Pengecut, kau tidak berani berkelahi sebagai seorang laki-laki”

“Aku adalah pemimpin pasukan Jipang. Aku tidak mau masuk kedalam perangkap kalian. Apakah aku harus membiarkan kalian berbuat licik, berusaha memasukkan kami berdua kedalam perangkap? Sedang aku, Macan Kepatihan sebagai pemimpin pasukan tidak boleh memanggil pasukannya?”

“Gila” desis Ki Tambak Wedi.

Namun sebelum mereka sempat berkata lagi, kembali terdengar Tohpati bersuit. Kali ini berkepanjangan.

“Apa artinya?” gumam Ki Tambak Wedi.

Macan Kepatihan tertawa, katanya “Orang-orangku harus menangkap kalian hidup-hidup”

“Kau benar-benar licik seperti setan” geram Ki Tambak Wedi.

Tohpati tidak menjawab, namun tongkatnya berputar semakin cepat menyambar lawan-lawannya.

Dalam pada itu timbullah pikiran baru didalam benak Ki Tambak Wedi. Kalau pasukan Tohpati segera datang dan membantu, maka keseimbangan akan segera berubah. Betapapun lemahnya orang seorang dalam pasukan Tohpati, namun mereka pasti akan mampu menambah kekuatan kedua orang yang tak dapat mereka kalahkan bersama dengan Sidanti. Karena itu, maka tiba-tiba Ki Tambak Wedi itu menggeram “Bagus Tohpati, karena kau tidak menepati kejantananmu, maka biarlah aku melepaskan kesempatan kali ini memenggal lehermu, memenggal leher adik gurumu. Tetapi ingatlah, aku pasti akan datang untuk kedua kalinya”

“Pengecut” terdengar suara Tohpati “Kau akan lari?”

“Bukan aku yang licik”

“Tidak ada kesempatan. Perintahku, mengepung tempat ini dan merapat dari jarak yang agak jauh, supaya setiap usaha untuk lari dapat digagalkan”

“Persetan, laskarmu akan aku tumpas kalau berani menghalangi aku”

Macan Kepatihan itu tertawa berkepanjangan. Katanya “Jangan mengigau. Umurmu tidak akan lebih dari umur bintang pagi yang baru terbit itu”

Ki Tambak Wedi menggeram sekali lagi. Tiba-tiba ia berkata kepada muridnya “Musuh kita kali ini licik seperti demit. Tak ada gunanya kita menjual kejantanan diri, menghadapi setan-setan pengecut itu. Marilah kita tinggalkan padang rumput ini, kita mencari kesempatan dilain kali”

“Tunggulah sebentar” cegah Sumangkar “Aku belum selesai”

“Persetan” sahut Ki Tambak Wedi yang menyangka bahwa Sumangkar ingin memperlambatnya, sehingga laskar Jipang cukup waktu untuk mengepung mereka.

Sesaat kemudian Ki Tambak Wedi dan Sidanti itu berloncatan menarik diri masing-masing, kemudian segera mereka berlari meninggalkan gelanggang sebelum mereka terjebak dalam kepungan laskar Macan Kepatihan.

Kegelisahan itu sebenarnya tidak saja melanda Ki Tambak Wedi dan Sidanti. Kiai Gringsingpun ternyata terpaksa berpikir menghadapi keadaan itu. Seandainya laskar Jipang yang sarangnya mungkin tidak jauh dari tempat ini benar-benar datang, maka mereka benar-benar berada dalam kesulitan. Sebab Kiai Gringsing seperti juga Ki Tambak Wedi menyadari, bahwa didalam laskar Tohpati itu ada orang-orang seperti Sanakeling, Alap-alap Jalatunda, dan orang-orang lain yang tidak jauh tingkatnya dari mereka itu. Disamping Sumangkar dan Tohpati, maka mereka pasti akan menjadi orang-orang yang sangat berbahaya.

Sekali dua kali Kiai Gringsing menimbang-nimbang. Diamat-amatinya muridnya. Ia menjadi cemas apabila ia menatap Swandaru yang gemuk itu. Anak itu kurang perhitungan. Ia merasa tenaganya terlampau kuat, sehingga ia tidak pernah mempertimbangkan kekuatan lawan-lawannya.

Karena itu maka ketika dilihatnya Ki Tambak Wedi melarikan dirinya, tiba-tiba Kiai Gringsing berteriak “angger Macan Kepatihan dan Sumangkar yang perkasa. Aku kali ini lebih berkepentingan dengan Ki Tambak Wedi dan Sidanti. Karena itu biarlah aku mengejar mereka. Mudah-mudahan lain kali aku dan murid-muridku dapat menjumpai kalian berdua dalam kesempatan seperti ini”

“Kau juga mau lari?” teriak Macan Kepatihan.

Kiai Gringsing tertawa, tetapi ia sudah meloncat sambil berkata kepada murid-muridnya “Jangan lepaskan Sidanti”

Swandaru dan Agung Sedayu tidak sempat bertanya lebih banyak. Segera merekapun berloncatan mengikuti Ki Tanu Metir mengejar Ki Tambak Wedi dan Sidanti.

Tohpati dan Sumangkar melihat mereka berlari-larian meninggalkan lapangan rumput sambil tertawa “Hem” geramnya “Aku sudah hampir kehabisan akal”

Sumangkar tidak segera menyahut. Ia masih memandang kedalam malam yang semakin gelap, karena bulan yang terbelah telah lenyap dibalik pepohonan.

Baru setelah mereka lenyap dari pandangan mata Sumangkar, maka berkatalah orang tua itu kepada Tohpati “Semula aku tidak tahu, apakah maksud angger sebenarnya”

Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya “Kita tidak akan dapat melawan mereka semuanya apabila mereka benar-benar ingin menjebak kita”

“Ya, dan angger telah membuat permainan yang baik sekali. Ternyata mereka semuanya pergi meninggalkan kita. Mereka menyangka bahwa angger benar-benar memanggil anak buah angger”

Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berkata bersungguh-sungguh “Tetapi ada sesuatu yang tidak wajar paman. Aku sangka, Ki Tambak Wedi dan Kiai Gringsing benar-benar tidak akan bekerja bersama-sama, meskipun kita harus berhati-hati terhadap dugaan itu”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian jawabnya “Aku juga menyangka demikian. Bahkan aku menyangka diantara mereka benar-benar ada persoalan yang telah membawa mereka dalam suatu keadaan permusuhan”

“Nah, bukankah kalau demikian kita akan dapat mempergunakan salah satu pihak untuk keuntungan kita? Sidanti misalnya?”

“Belum pasti ngger. Belum pasti kalau Sidanti dan Ki Tambak Wedi akan dapat memberi keuntungan kepada angger. Kalau sekali ia telah meninggalkan kesetiaannya kepada kesatuannya dan berpihak kepada lawannya, maka orang yang demikian adalah orang yang benar-benar tidak dapat dipercaya. Mungkin ia akan memperalat kita untuk kepentingannya, kemudian menhancurkan kita sendiri. Gurunya, Ki Tambak Wedi, bukankah contoh yang sangat baik bagi sifat Sidanti itu?”

“Aku akan dapat mempergunakannya dimana perlu paman, bukan sebaliknya”

Sumangkar mengerutkan keningnya. Kembali dadanya dirayapi oleh kecemasan. Mungkin Tohpati akan dapat mempergunakan Sidanti tanpa mencelakakan dirinya. Mungkin kemudian Sidanti akan dapat dibinasakan oleh Tohpati apabila ada tanda-tanda ia akan mengkhianatinya. Namun dengan demikian, maka keadaan akan menjadi semakin parah. Peperangan akan menjadi semakin berlarut-larut. Karena itu, maka diberanikan dirinya berkata “Raden, apakah Raden dapat bekerja sama dengan anak muda itu? Setiap kali angger malahan akan kehilangan kesempatan untuk berbuat sesuatu. Angger setiap kali hanya akan mengawasinya saja. Pekerjaan itu pasti akan menjemukan sekali. Dan bukankah dengan demikian angger akan memperluas kesulitan rakyat Jipang dan Pajang sendiri?”

Tohpati menundukkan wajahnya. Tiba-tiba hatinya bergetar cepat sekali. Teringatlah ia kini, akan apa yang mengganggunya akhir-akhir ini. Kesadaran diri atas segala yang telah berlaku dan akan dilakukan benar-benar mengganggunya siang dan malam. Perang, kebencian, kekerasan dan permusuhan merajalela.

Sesaat kemudian terdorong dalam suatu kesepian yang pekat. Malam menjadi sangat gelapnya. Dilangit bintang-bintang masih bercanda dengan awan yang mengalir dihanyutkan oleh angin yang lembut.

Sementara itu Ki Tambak Wedi dan Sidanti berlari kencang-kencang meninggalkan padang rumput itu. Mereka benar-benar menyangka bahwa Tohpati sedang memanggil anak buahnya. Apabila demikian, maka mereka pasti akan dibinasakan. Binasa dalam keadaan yang benar-benar mengecewakan.

Apalagi ketika mereka berpaling, mereka melihat tiga buah bayangan mengejarnya, maka segera mereka mempercepat langkah mereka. Sesaat kemudian mereka telah menyelinap kedalam gerumbul-gerumbul liar dan hilang didalamnya.

Kiai Gringsing yang berlari sambil menunggu murid-muridnya ternyata kehilangan jejak. Karena itu, maka segera mereka berhenti diantara gerumbul-gerumbul perdu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, Kiai Gringsing bergumam “Hilang, mereka hilang disini”

“Marilah kita cari Kiai” ajak Swandaru.

Swandaru benar-benar tidak melihat bahaya yang dapat menyergapnya apabila mereka mencari. Ki Tambak Wedi akan dapat menerkam muridnya satu persatu. Bagi Kiai Gringsing sendiri, maka bahaya itu tidak akan sampai membinasakannya. Namun bagaimana dengan Swandaru dan Agung Sedayu? Ki Tambak Wedi dan Sidanti dapat berada disetiap kegelapan dibalik gerumbul-gerumbul itu. Dengan ujung-ujung pedangnya Sidanti dapat mendahuluinya. Apalagi Ki Tambak Wedi.

Karena itu, maka Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya sambil bergumam “Sangat berbahaya Swandaru, terutama bagimu dan bagi Agung Sedayu”

“Kalau demikian, lalu apa yang harus kita lakukan Kiai?”

Kiai Gringsing berdiam diri untuk sejenak. Ia tahu pasti bahwa Swandaru menjadi kecewa. Jauh lebih kecewa dari Agung Sedayu, sebab ia kehilangan kesempatan untuk mencoba ilmunya. Sehingga Ki Tanu Metir dengan sangat hati-hati mencoba melunakkan hatinya “Kita kehilangan lawan Swandaru”

“Tetapi kita tidak mencarinya”

“Disetiap ujung daun-daun perdu itu mungkin sekali kau temukan ujung pedang Sidanti atau ujung-ujung jari Ki Tambak Wedi”

“Tetapi dengan demikian mereka tidak berlaku jantan”

“Mungkin demikian, namun apakah yang dapat kita katakan dengan kejantanan itu apabila lambung kita telah tembus oleh pedangnya. Dan bukankah sangat sulit untuk mencari dua orang saja diantara gerumbul-gerumbul liar itu?. Mungkin mereka tidak menunggu kita dengan ujung pedang, tetapi mereka kini telah hilang menyusur gerumbul-gerulbul itu masuk kedalam hutan. Nah, apakah dengan demikian kita tidak hanya akan membuang waktu?”

“Apakah kita akan kembali ketempat Tohpati?”

Kiai Gringsing menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya “Setiap kemungkinan untuk dapat bertemu semua pihak telah hilang. Seandainya Tohpati benar-benar memanggil anak buahnya, maka kita akan masuk kedalam perangkapnya. Seandainya Macan Kepatihan hanya menakut-nakuti Ki Tambak Wedi dan muridnya, maka kini ia pasti sudah pergi”

“Ternyata bukan Ki Tambak Wedi dan Sidanti saja yang menjadi ketakutan Kiai, kita juga menjadi ketakutan dan lari terbirit-birit”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Ia tahu benar perasaan muridnya yang seorang itu. Swandaru menjadi sangat kecewa, bahwa ia tidak berhasil mendapat tempat untuk mencoba segala macam ilmu yang selama ini dipelajarinya.

Maka berkatalah dukun tua itu “Swandaru, kita harus mempertimbangkan segala kemungkinan yang dapat terjadi atas perbuatan kita. Kita bukan orang-orang yang memiliki kekhususan yang berlebih-lebihan. Bukan orang yang tak pernah melihat kelemahan diri. Apabila demikian ngger, maka kita telah mulai dengan langkah yang sangat berbahaya”

“Tetapi kita bukan pengecut-pengecut Kiai. Bukankah kita anak-anak jantan yang pantang menghindari kesulitan?”

Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian jawabnya “Ya, apabila kesulitan itu berada dijalan kita, maka kita tidak boleh menghindar. Kita harus mencoba mengatasinya. Tetapi bukan kita mencari kesulitan apabila kesulitan itu sama sekali tidak akan berarti apa-apa bagi kita”

“Kiai, baik Sidanti maupun Tohpati adalah orang-orang yang sangat berbahaya bagi Sangkal Putung. Kenapa mereka kita lepaskan setelah mereka berada diujung hidung kita? Apakah dengan demikian kita tidak hanya malas mengatasi kesulitan yang bakal datang?”

Ki Tanu Metir tersenyum. Muridnya yang seorang ini memang keras hati. Dalam kekerasan itu maka apabila mendapat menyaluran yang tepat, maka Swandaru akan dapat menjadi seorang prajurit yang nggegirisi. Tetapi ternyata bahwa akalnya masih belum mampu mempertimbangkan setiap kemungkinan dari tindakannya.

“Swandaru” jawab Ki Tanu Metir “Sebaiknya mulai saat ini belajarlah menilai diri sendiri secara wajar. Jangan terlalu menghargai kekuatan sendiri berlebih-lebihan. Dengan demikian kita akan mudah terjerumus kedalam tindak yang kurang bijaksana. Coba hitunglah, apa yang dapat kita lakukan bertiga dan apa yang dilakukan oleh Tohpati berdua ditambah dengan laskarnya yang bakal datang. Kita tidak tahu berapa orang, tiga, enam, sepuluh atau lebih. Diantaranya akan datang Sanakeling, Alap-alap Jalatunda, dan orang-orang lain yang cukup berbahaya bagi kita. Nah, kita harus memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kalau kita bertempur melawan mereka”

“Jadi kita tidak berani menghadapi mereka itu?”

“Ada bedanya Swandaru” jawab Ki Tanu Metir “Ada perbedaan antara seorang pengecut dan seorang yang memperhitungkan kekuatan diri. Seseorang dapat saja meninggalkan perkelahian dan pertempuran dalam keadaan tertentu. Kalau kita meninggalkan Tohpati yang memanggil laskarnya, maka kita sama sekali bukan pengecut. Tohpatilah yang mulai. Sebab ia memanggil orang banyak untuk menghadapi kita bertiga. Dan kita tidak mau membunuh diri kita. Seorang pemberani bukanlah seorang yang membabi buta dan membunuh diri sendiri”

Swandaru terdiam sesaat. Ia dapat mengerti keterangan gurunya itu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berguman “Ya, aku mengerti Kiai”

“Bagus, ingatlah untuk seterusnya” sahut Kiai Gringsing.

Swandaru tidak menjawab. Ia dapat mengerti keterangan gurunya, namun dihati kecilnya tumbuhlah perasaan yang aneh. Seolah-olah ia sedang melarikan diri dari suatu tugas yang harus diselelsaikan.

Ketika malam yang hening merambat makin jauh, maka bergumamlah kiai Gresing “Kita kembali ke kademangan. Ada sesuatu yang harus kita sampaikan kepada angger Widura dan angger Untara. Perjalanan kita kali ini menangkap suatu peristiwa yang tidak kita duga-duga sebelumnya. Sidanti dan Tohpati berdiri berhadapan langsung sebagai lawan”

“Apakah yang penting dari peristiwa ini Kiai?” bertanya Agung Sedayu.

“Mereka tidak bekerja bersama” sahut Kiai Gringsing. “Mungkin hal ini baik bagi Sangkal Putung. Tetapi mungkin buruk pula. Sidanti dapat membentuk suatu gerombolan baru yang akan mempersulit keadaan. Ki Tambak Wedi mempunyai pengaruh yang kuat dilereng Merapi ini”

Kedua murid Ki Tanu Metir itu terdiam. Berbagai persoalan hilir mudik didalam kepala mereka. Swandaru masih merasa aneh tentang dirinya, sedang Agung Sedayu dapat berpikir lebih tenang dan memandang lebih jauh. Sifat-sifatnya dimasa anak-anaknya ternyata ikut membantu mengekangnya menghindari bentrokan-bentrokan yang sama sekali tidak perlu. Untunglah bahwa setelah ia berhasil memecahkan dinding yang mengungkungnya dalam dunia ketakutan, ia tidak kehilangan keseimbangan. Untunglah bahwa ia berada didekat kakaknya yang dapat memberinya petunjuk-petunjuk, untunglah bahwa gurunya adalah seorang dukun yang banyak sekali berusaha menyembuhkan orang-orang sakit, bukan sebaliknya membuat orang menjadi sakit.

Sejenak kemudian maka merekapun meninggalkan padang rumput itu, dan kembali ke kademangan Sangkal Putung.

Pada saat itu Tohpati dan Sumangkar telah pula melangkah pergi. Mereka tidak meneruskan perjalanan mereka ke Sangkal Putung. Tetapi mereka bermaksud kembali kesarang mereka. Tohpati berjalan dengan wajah tertunduk, sedang disampingnya Sumangkar berjalan sambil mengamat-amati goloknya. Perlahan-lahan ia bergumam “Besok aku akan mengalami kesulitan”

“Apa?” Tohpati terkejut mendengar keluhan itu.

Sambil menunjukkan goloknya Sumangkar berkata “Mata golokku menjadi pecah-pecah. Aku tidak dapat lagi mempergunakannya untuk membelah kayu”

“Oh” Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Kalau bukan Sumangkar yang berkata demikian, maka orang itu pasti sudah ditamparnya. Namun tiba-tiba untuk melepaskan kejengkelannya Tohpati itu berkata lantang “Besok aku akan pergi ke Sangkal Putung untuk yang terakhir kalinya”

Sumangkarlah kini yang terkejut “Besok? Apakah angger sudah cukup siap?”

Tohpati tidak segera menjawab. Ia melangkah semakin lama menjadi semakin cepat dan semakin panjang, sehingga Sumangkar terpaksa berkali-kali mempercepat langkahnya pula.

Ketika Tohpati tidak segera menjawab pertanyaannya maka sekali lagi Sumangkar bertanya “Angger, apakah angger besok dapat menyiapkan laskar Jipang untuk menyerang Sangkal Putung?”

“Aku telah siap sejak pecah perang Jipang dan Pajang”geram Tohpati tanpa berpaling.

Sumangkar mengerutkan keningnya. Tiba-tiba terasa sesuatu pada dinding Tohpati itu. Meskipun demikian Sumangkar mencemaskan nasib Macan Kepatihan itu pula sehingga ia berkata “Mungkin angger Tohpati sendiri telah siap sejak lama. Tetapi apakah laskar angger, dan pimpinan-pimpinan yang lain telah siap pula?”

“Aku tidak peduli apakah mereka sudah siap atau belum. Besok aku akan menyerbu Sangkal Putung. Untuk yang terakhir kalinya”

“Kenapa yang terakhir kalinya ngger?”

“Aku sudah jemu pada peperangan ini. Aku sudah jemu melihat pepati. Aku sudah jemu melihat darah dan penderitaan”

Dada Sumangkar berdesir mendengar jawaban itu. Ia sendiri adalah orang yang jemu menghadapi persoalan yang seakan-akan tidak berpangkal dan tidak berujung. Tetapi ia melihat pada dada Tohpati itu membayang keputus-asaan dan kekecewaan yang meluap-luap. Disamping Widura dan Untara, kini ia mengenal lawan yang baru, yang cukup berbahaya pula laginya. Bukan Sidanti, tetapi Ki Tambak Wedi. Ia tidak akan dapat menggantungkan nasibnya terus menerus kepada Sumangkar, paman gurunya itu. Bahkan kemudian diketahuinya pula bahwa di Sangkal Putung ada orang yang menamakan dirinya Kiai Gringsing yang memiliki ilmu sejajar dengan Ki Tambak Wedi, sehingga orang itu berani menonton perkelahian yang sedang berlangsung diantara mereka. Diantara ilmu yang bersumber dari Kedung Jati melawan ilmu yang bersumber dari lereng Merapi.

Persoalan-persoalan yang tumbuh didalam perkemahannya, persoalan-persoalan yang tumbuh disekitarnya telah mendorong Tohpati dalam keadaan yang sulit. Tetapi semuanya itu tidak akan menggoncangkan tekadnya, seandainya tidak ada persoalan-persoalan yang tumbuh didalam dadanya sendiri. Beberapa hari ia telah diganggu oleh pertimbangan-pertimbangan yang membingungkannya. Pertimbangan-pertimbangan yang tidak pernah dikenalnya sebelumnya. Tak pernah sehelai bulunyapun yang meremang, apabila ia melihat darah, mayat, mendengar pekik rintih dan tangis. Dadanya sama sekali tidak tergetar melihat pedang yang berlumur darah dan bahkan tubuh yang terpisah-pisah. Namun tiba-tiba kini ia merasa ngeri hanya mengenangkan itu semua. Mengenangkan kembali dan tidak sedang menghayatinya.

“Setan” geramnya.

Sumangkar berjalan terloncat-loncat disampingnya. Ketika ia mendengar Tohpati menggeram, maka sekali lagi ia bertanya “Kenapa angger menjadi jemu?”

Sekali lagi Tohpati menggeram, katanya “Kenapa paman bertanya? Paman adalah salah satu sebab dari kejemuan itu. Paman telah membujuk aku. Paman telah memperlemah tekadku. Dan paman pasti akan menyetujui pendapatku. Peperangan ini harus segera berakhir. Pajang atau Jipang yang akan hancur”

Dada Sumangkar benar-benar bergetar mendengar jawaban itu. Sehingga cepat-cepat ia menjawab “Angger telah memilih jalan yang sama sekali tidak tepat”

Langkah Tohpati terhenti mendengar perkataan Sumangkar itu. Dengan tajamnya ia memandang wajah orang tua itu dengan sinar kemarahan yang menyala-nyala “Apakah yang kau katakan paman?”

“Angger mencoba menempuh jalan yang salah”

“Kenapa?”

“Angger telah meninggalkan segenap perhitungan seorang senapati”

“Apa gunanya perhitungan-perhitungan itu lagi? Bukankah paman juga menghendaki supaya kami cepat hancur dan peperangan berhenti?”

“Tidak”

“Paman” geram Tohpati “Paman sudah tua. Dan perkataan paman sama sekali tidak dapat didengar dengan pasti. Apa yang paman kehendaki sebetulnya? Jangan mencla-mencle”

“Tidak, aku tetap pada pendirianku. Aku menghendaki peperangan segera berakhir. Tetapi aku tidak menghendaki laskar Jipang membunuh dirinya”

“Apa pedulimu paman. Hidupku adalah wewenangku. Kalau besok aku menyerbu Sangkal Putung sebagai sulung menjelang api, dan kemudian aku akan binasa karenanya, namun peperangan akan berhenti, bukankah paman akan tertawa pula karenanya. Paman akan tertawa melihat mayat Tohpati dipenggal kepalanya dan diseret sepanjang jalan raya Pajang untuk dipertontonkan kepada rakyat. Dan paman akan tertawa melihat Untara mendapat hadiah serupa dengan yang diterima oleh Pemanahan dan Penjawi?”

“Angger salah terka. Aku tidak ingin melihat angger membunuh diri bersama seluruh laskar”

“Apa pedulimu? Apa pedulimu. He? Nyawa ini adalah nyawaku. Hidup ini adalah hidupku sendiri”

“Aku tidak keberatan kalau Raden membunuh diri dengan cara itu. Tetapi jangan membinasakan laskar angger itu. Jangan membawa mereka terjun kedalam lembah kengerian itu”

“Diam, diam kau tua bangka” teriak Tohpati dengan marahnya sehingga tongkatnya terayun-ayun menunjuk kearah kepala Sumangkar. Tetapi kini Sumangkar tidak meletakkan goloknya, tidak menyerahkan kepalanya sambil ngapurancang. Tetapi orang tua itu tiba-tiba meloncat surut sambil mempersiapkan dirinya. Benar-benar bukan Sumangkar juru masak yang malas, tetapi Sumangkar yang telah berhasil mengimbangi kekuatan hantu lereng Merapi.

Mata Tohpati terbelalak karenanya, seakan-akan ingin meloncat dari pelupuknya. Betapa dadanya menjadi bergelora seolah-olah akan meledak melihat sikap Sumangkar itu. Melihat Sumangkar menyilangkan goloknya dimuka dadanya dan siap menghadapi setiap kemungkinan.

Sejenak kemudian tubuhnya menjadi gemetar karena marahnya. Tongkatnya yang putih berkilauan itupun bergetar dalam genggaman tangannya. Sambil menunjuk dengan tongkatnya itu Macan Kepatihan menbentak “He, Sumangkar, apakah kau akan berani melawan Macan Kepatihan?”

“Hem” Sumangkar berdesah “Angger Macan Kepatihan, meskipun angger bernyawa rangkap berkadang dewa-dewa dilangit, namun kau tidak akan mampu melawan Sumangkar”

“Persetan dengan kesombonganmu itu tetapi kau telah berbuat kesalahan terhadap pemimpinmu disini”

“Apa salahku? Aku mencoba mengatakan apa yang baik bagiku. Bagi pendirianku. Apakah itu salah? Kalau kau tidak mau mendengarkan nasehatku, jangan kau dengar. Berbuatlah sesuka hatimu. Kau bukan anakku, bukan cucuku. Kau bagiku tidak lebih dari murid saudara seperguruanku. Apakah kau akan mati pancang, ataukah mati digilas guntur dari langit, aku tidak akan kehilangan. Tetapi sebagai orang tua aku ingin melihat, kalau kau mati, matilah dengan hormat. Kalau kau jemu melihat penderitaan, jangan kau jerumuskan anak buahmu dalam penderitaan. Kalau kau jemu melihat pepati, jangan kau bawa anak buahmu kedalam lembah kematian. Kau dapat berbuat banyak, namun orang akan menilai apa yang telah kau lakukan. Apalagi kalau kau sudah memutuskan untuk pergi ke Sangkal Putung yang terakhir kalinya. Maka nilaimu sebagai seorang pemimpin akan terletak pada saat-saat yang demikian itu”

Tohpati menjadi seolah-olah terbungkam. Ia tidak mampu menjawab kata-kata Sumangkar itu. Dan bahkan kepalanyapun terkulai tunduk menghunjam ketanah dimuka kakinya. Tongkatnyapun kemudian tertunduk dengan lemahnya.

Terdengar Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Maafkan aku paman”

Sesaat mereka terhentak kedalam kesenyapan. Angin malam yang lembut mengusap mahkota dedaunan. Suaranya yang gemerisik seolah-olah suara tembang yang sangat rawan dikejauhan.

Dalam keheningan malam itu terdengar suara Tohpati berat “Maafkan aku paman. Ternyata aku telah kehilangan akal”

“Jangan menyesal ngger” sahut Sumangkar sambil mendekati Tohpati yang masih berdiri ditempatnya. “Aku hanya ingin memberimu peringatan. Rupa-rupanya dengan cara yang wajar, kau tidak dapat mendengar kata-kataku. Mungkin dinding hatimu yang kisruh itu hampir-hampir telah tertutup rapat oleh kebingungan dan kekecewaan, sehingga aku harus menjebolnya dengan sedikit permainan yang agak kasar”

“Tidak paman” sahut Tohpati “Aku berterima kasih kepada paman. Paman telah menarik aku kembali pada tempat yang sewajarnya bagiku. Aku akan dapat tegak kembali sebagai seorang kesatria dari Kepatihan Jipang. Aku bukan sebangsa cecurut yang kerdil menghadapi kesulitan. Terima kasih paman. Akan aku pikirkan nasehat paman. Aku akan kembali ke Sangkal Putung untuk yang terakhir kalinya, tetapi tidak besok. Aku akan berbicara dengan Sanakeling”

Sementara itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya “Bagus. Angger adalah seorang pemimpin. Angger tidak boleh kehilangan kebeningan pikiran. Kepadamu tergantung beratus-ratus nyawa anak buahmu. Sedang pada beratus-ratus nyawa itu tergantung beribu-ribu jiwa keluarganya”

Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia berkata “Marilah kita kembali keperkemahan”

Sumangkar mengangguk kecil “Marilah” katanya.

Sepanjang jalan kembali itu mereka sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Mereka terbenam dalam kesibukan pikiran masing-masing.

Begitu sampai kebaraknya, segera Tohpati berteriak kepada seseorang yang berada disamping barak itu untuk berjaga-jaga “He, panggil Sanakeling kemari”

Orang itu mengangguk hormat sambil menjawab “Baik Raden”

Sepeninggal orang itu maka berkatalah Sumangkar “Aku akan kembali kebarakku Raden. Silakan Raden membicarakan persoalan ini dengan para pemimpin laskar Jipang”

“Tidak paman” sahut Tohpati “Paman tetap disini”

Sumangkar menggeleng lemah “Aku hanya akan mengganggu saja ngger. Mungkin aku akan menambah persoalan yang akan angger bicarakan. Mungkin aku tidak dapat menahan mulutku, apabila aku mendengar persoalan-persoalan yang aku tidak sependapat. Karena itu, aku tidak akan mencampuri persoalan-persoalan para pemimpin. Aku hanya akan tunduk pada setiap perintah. Mudah-mudahan angger tetap pada kejernihan hati”

“Nasehat paman sangat kami perlukan”

“Tetapi aku adalah orang tua ngger. Aku sudah tidak dapat menyesuaikan diri lagi dengan anak-anak muda seperti angger Sanakeling, angger Alap-alap Jalatunda dan beberapa orang yang lain. Tetapi aku akan menjalankan setiap perintah”

Sumangkar benar-benar tidak mau lagi tinggal dibarak Tohpati. Karena itu maka Macan Kepatihan terpaksa membiarkannya pergi meninggalkannya dan berjalan tersuruk-suruk diantara beberapa barak kembali menuju kebaraknya sendiri. Sebuah barak doyong beratap daun-daun ilalang, bertiang bambu muda dan berdinding anyaman bambu pula.

Didalam barak itu ditemuinya beberapa orang tidur mendengkur diatas tumpukan ilalang kering. Ketika salah seorang membuka matanya terdengar suaranya parau “Dari mana kau, paman Sumangkar?”

“Berjalan-jalan” sahut Sumangkar

“Tidurlah, hari telah jauh malam, bahkan hampir menjelang pagi. Besok Kau terlambat bangun. Kenapa golok itu kau bawa kemari?”

“golokku rusak”

“Kenapa?”

“Tulang-tulang harimau yang keras telah memecahkan dibagian tajamnya”

Orang yang terbangun itu menguap sekali, lalu sahutnya “Apakah kau mendapat seekor harimau?”

“Hanya tulang-tulangnya” sahut Sumangkar.

“Huh” orang itu mencibirkan bibirnya. “Jangan membual, sekarang tidurlah”

“Aku belum mengantuk”

Orang itu, yang mengenal Sumangkar tidak lebih dari seorang juru masak yang malas mengumpat. Katanya “Pemalas tua. Besok kau pasti akan terlambat bangun. Kalau kau tidak dapat menyiapkan makan kami, maka kepalamu akan aku gunduli”

“Bukankah tidak aku sendiri juru masak diperkemahan ini?” Bantah Sumangkar.

“Tetapi kaulah yang paling malas diantara mereka. Dan kemalasanmu akan dapat menjalar kesegenap orang.”

“Bukankah itu bukan salahku.”

“Diam. Sekarang kau tidur. Kalau tidak aku sumbat mulutmu dengan ilalang.”

Sumangkar tidak menjawab. Segera ia merebahkan dirinya diatas tumpukan ilalang itu pula.

“Nah. Begitulah.” Gumam orang yang membentak-bentaknya.

Sumangkar hanya tersenyum “Biarlah ia mendapat kepuasan” katanya dalam hati “kasian orang itu. Jarang-jarang ia menemukan kepuasan seperti ini. Apa salahnya aku menyenangkan hatinya?”

Lamat-lamat masih terdengar orang itu berkata “Kalau kau tidak mau menuruti perintahku, maka kau benar-benar akan menyesal seumur hidupmu.”

Sumangkar masih saja berdiam diri. Dan orang itupun masih saja bergumam untuk melepaskan kepuasannya. Ia mengumpat Sumangkar sepuas-puasnya. Akhirnya orang itupun terdiam. Ketika Sumangkar mengangkat kepalanya, dilihatnya orang itu tidur mendekur menikmati mimpi yang indah.

“Kasihan” desis Sumangkar “Anak itu tidak pernah mendapat kesempatan untuk membentak-bentak orang lain kecuali aku dan para juru masak. Para pemimpin lebih banyak membentak-bentaknya daripada memberinya hati.”

Tetapi sejenak kemudian Sumangkar itupun benar-benar merasa sangat penat. Matanya mulai diganggu oleh kantuk yang amat sangat, sehingga sejenak kemudian orang tua itupun tertidur pula diatas batang-batang ilalang kering.

Dalam pada itu, penjaga yang mendapat perintah dari Tohpati untuk memanggil Sanakeling telah melakukan pekerjaannya. Betapa Sanakeling mengumpat tidak habis-habisnya. Matanya yang seolah-olah melekat itu benar-benar mengganggunya.

“Kenapa tidak menunggu sampai esok” keluhnya. Tetapi ia tidak dapat membantah panggilan itu. Sanakeling tahu, bahwa agaknya Macan Kepatihan sedang diganggu oleh perasaan yang tidak menyenangkannya. Sehingga Alap-alap Jalatunda mengalami perlakuan yang sedemikian buruknya. Karena itu, maka betapapun juga, Sanakeling berjalan pula kebarak Tohpati.

Sedangkan Tohpati hampir tidak sabar menunggu kedatangan Sanakeling. Mondar-mandir ia berjalan didalam ruang yang sempit itu. Ketika itu ia mendengar langkah seorang diluar pintu, maka segera ia menyapa “Kau Sanakeling”

“Ya Raden”

“Duduklah”

Sanakeling melangkah memasuki ruangan yang diterangi oleh pelita yang samar. Meskipun demikian, betapa terkejutnya Sanakeling melihat tubuh Tohpati. Dibeberapa tempat dilihatnya goresan-goresan dan darah yang telah kering.

“Kenapa luka itu?” bertanya Sanakeling dengan serta-merta.

Macan Kepatihan menggeram. Dipandanginya goresan-goresan itu. Tetapi sama sekali luka-luka itu tak terasa lagi.

“Kakang bertempur?” bertanya Sanakeling.

“Ya” sahut Tohpati pendek.

“Dengan orang-orang Sangkal Putung?”

Tohpati menggeleng, “Tidak” sahutnya “Dengan Sidanti”

“Sidanti?” ulang Sanakeling. “Jadi benar dengan orang Sangkal Putung”

“Tidak” Macan Kepatihan mencoba menjelaskan “Sidanti sudah tidak lagi di Sangkal Putung. Agaknya ada pertentangan diantara mereka”

“Oh” Sanakeling mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tetapi kenapa kakang bertempur melawan Sidanti itu? Apakah dengan demikian kakang tidak dapat mengambil keuntungan dari pertentangan itu?”

“Sidanti telah berkhianat atas kesatuan dan kesetiaannya. Dimanapun ia berada maka ia akan berbuat hal yang serupa. Anak itu memang ingin menggabungkan kekuatannya dengan kita. Namun aku menolaknya”

Sanakeling mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tersirat pula kekecewaan hatinya. Segera ia mengetahui apa yang agaknya terjadi. Tohpati dan Sidanti pasti telah bertempur. Tetapi luka-luka itu benar-benar mengherankannya, sehingga ia bertanya “Apakah Sidanti seorang diri?”

“Tidak, bersama gurunya”

“Oh” Sanakeling mengangguk-angguk kembali. Ia kini dapat membayangkan semakin jelas perkelahian yang terjadi antara Tohpati dan Sumangkar melawan Sidanti dan Ki Tambak Wedi.

Namun ia masih juga diliputi oleh perasaan kecewa. Kalau saja Sidanti dapat berada dipihaknya, maka orang itu akan dapat menambah banyak kekuatan pada kesatuan Jipang. Sudah pasti bahwa Ki Tambak Wedi akan membantunya pula. Mungkin pengaruh yang dimilikinya atas orang-orang dilereng Merapi akan menambah jumlah kekuatan mereka. Tetapi ia tidak berani menanyakannya kepada Tohpati. Besok atau kapan saja apabila ada kesempatan ia ingin menemui Sidanti dan membawanya dalam lingkungan mereka. Namun diantara kekecewaan yang merayapi hatinya, Sanakeling menjadi heran pula. Agaknya Sumangkar yang tua itu masih saja memiliki ketangguhan yang dapat dibanggakan, meskipun selama ini ia lebih senang berada dimuka perapian menanak nasi.

Sanakeling itupun kemudian duduk disebuah bale-bale bambu. Ia masih memandangi tubuh Tohpati yang tergores oleh ujung pedang di beberapa tempat.

“Sidanti menjadi semakin maju” desisnya “Agaknya gurunya selalu mengolahnya”

Sanakeling mengangguk-anggukkan kepalanya. Kalau demikian maka Sidanti akan lebih baik baginya.

Namun seolah-olah Tohpati mengetahui apa yang tersirat didalam kepala Sanakeling itu. Maka katanya “Tetapi betapapun baiknya anak itu, namun ia tidak dapat kita jadikan kawan. Suatu ketika ia pasti akan menerkam kita sendiri”

Sanakeling tidak menjawab. Ia mengangguk lemah.

“Nah, lupakanlah Sidanti dan Ki Tambak Wedi itu” berkata Tohpati tiba-tiba. “Kewajiban kita adalah menyerang Sangkal Putung. Bagaimanamun juga kepergian Sidanti pasti akan mengurangi kekuatan Sangkal Putung. Aku tidak tahu, apakah laskar Sangkal Putung terpecah atau tidak. Syukurlah kalau ada sebagian dari mereka pergi mengikuti Sidanti, tetapi ukuran kita laskar Sangkal Putung masih utuh”

“Ya” sahut Sanakeling. Ia menjadi gembira mendengar pendapat Macan Kepatihan itu. Laskarnya sudah terlalu lama menunggu sehingga ia takut apabila akan timbul kejemuan dikalangan mereka. Kejemuan itu sudah pasti akan sangat membahayakan. Mereka akan dapat berbuat aneh-aneh untuk mengisi kekosongan waktu mereka. Dan kadang-kadang akan sangat merugikan. Kadang-kadang mereka berpencaran kedesa-desa dan dengan demikian maka kadang-kadang ada diantara mereka yang dapat ditangkap oleh laskar Pajang.

“Bagaimana pendapatmu?” bertanya Macan Kepatihan itu kemudian.

“Sangat menarik. Aku sudah lama mengharap keputusan itu. Agaknya kakang selalu ragu-ragu. Sekarang apabila kakang telah menemukan keputusan, maka keputusan itu harus segera dilaksanakan. Tidak ditunda-tunda lagi. Aku juga sudah membuat perintah untuk bersiap. Tetapi karena aku ragu-ragu bahwa kakang akan menundanya lagi, maka perintahku belum perintah terakhir, belum perintah kepastian”

“Sekarang aku sudah pasti. Kita harus secepatnya pergi ke Sangkal Putung, bagaimana kalau besok?”

“He?” mata Sanakeling terbelak. Namun kemudian ia tersenyum “Tidak mungkin. Besok aku baru mengambil keputusan tentang perintah yang akan aku berikan. Besok perintah itu pula baru akan dijalankan. Besok malam secepat-cepatnya laskar itu baru siap. Sedang kalau ada beberapa kelambatan maka laskar itu baru akan siap lusa. Sehingga sehari sesudah itu kita baru akan dapat mulai dengan setiap rencana penyerangan yang baik. Bukankah kakang telah beberapa kali mengalami kegagalan? Apakah kakang Raden Tohpati, harus gagal lagi nanti?”

“Tidak. Kali ini harus kali yang terakhir”

Sanakeling tertawa. Sahutnya “Bagus. Karena itu persiapan kita harus benar-benar masak. Bukankah kita harus mendapatkan Sangkal Putung sebagai tempat perbekalan? Kalau kita menduduki Sangkal Putung, maka kita harus dapat memanfaatkannya. Lumbung kademangan itu harus dapat segera kita singkirkan. Kita duduki tempat itu sejauh dapat kita pertahankan. Meskipun kakang akan melepaskan beberapa kepentingan didaerah selatan ini kelak, namun apa yang ada didaerah yang subur dan kaya itu harus benar-benar bermanfaat bagi kita. Korban telah banyak jatuh untuk merebut daerah itu”

Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Terbayanglah apa saja yang pernah dilakukan untuk merebut daerah ini. Bahkan akhirnya dirinya sendirilah yang memimpin pasukan Jipang untuk menguasai daerah yang kaya. Kaya akan hasil bumi, sehingga lumbung-lumbung Sangkal Putung penuh dengan padi. Dan kaya akan berbagai macam benda-benda berharga. Penduduk Sangkal Putung terkenal sebagai penduduk yang senang sekali menyimpan barang-barang berharga. Perhiasan, ternak dan benda-benda lainnya.

Tetapi meskipun ia sendiri yang memimpin laskar Jipang didaerah Sangkal Putung, namun ia belum berhasil untuk merebutnya. Belum berhasil untuk menguasai kekayaan yang tersimpan didalamnya. Dan Pajangpun agaknya tidak mau melepaskan daerah itu, sehingga ditempatkannya Untara untuk mencoba melindunginya.

Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Sejak Arya Jipang dan kemudian Patih Mantahun terbunuh dipeperangan, maka korban masih saja berjatuhan. Satu demi satu dan bahkan sepuluh dua puluh sekaligus. Peperangan masih saja terjadi dimana-mana. Gerombolan kecil-kecil dari sisa-sisa laskar Jipang masih bergerak terus, meskipun demikian mereka tidak lebih dari gerombolan-gerombolan perampok dan penyamun. Tetapi karena mereka masih merasa terikat oleh seorang pemimpin yang mereka segani, maka mereka masih belum melepaskan diri dari kelaskaran mereka. Kesetiaan mereka kepada pemimpin mereka masih mengikat mereka untuk merasa wajib melakukan perang untuk seterusnya. Dan karena itulah maka dimana-mana masih timbul pepati.

Sedang pemimpin itu adalah dirinya sendiri, Tohpati

Tohpati menggigit bibirnya. Ia berterima kasih kepada kesetiaan itu. Ia merasa betapa dirinya mendapat kehormatan untuk mengikat sekian banyak manusia dalam satu ikatan. Tetapi ia merasa bahwa dirinyalah sumber dari setiap akibat dari kesetiaan itu. Akibat yang kadang-kadang tidak dikehendakinya.

Ruangan itu untuk sejenak dikuasai oleh kesepian. Masing-masing terbenam dalam angan-angan sendiri. Angan-angan yang bertolak dari gejolak perasaan yang berbeda-beda. Sanakeling masih dikuasai oleh nafsu untuk memiliki segenap kekayaan yang ada di Sangkal Putung. Kekayaan yang mungkin masih akan dapat membantu gerakan-gerakan yang mereka lakukan. Dan kekayaan yang mungkin dapat dimilikinya. Bahkan mungkin untuk dirinya sendiri. Mungkin akan ditemuinya perhiasan-perhiasan yang sangat berharga. Gelang, kalung atau pendok emas tretes berlian. Atau apa saja yang dapat dimilikinya sendiri.

Sesaat mereka masih tetap membisu. Sanakeling masih saja berangan-angan tentang kekayaan yang akan dapat dirampasnya dari Sangkal Putung, sedang Tohpati berjejak pada pendapat yang berbeda. Pendapat seorang pemimpin yang melihat kenyataan-kenyataan dari laskar yang dipimpinnya, perkembangan keadaan dan perhitungan-perhitungan atas masa-masa yang akan datang.

Malam yang hening itu kemudian dipecahkan oleh suara Sanakeling penuh nafsu “Kakang, baiklah aku kembali kebarakku. Aku berjanji bahwa orang-orangku dan orang-orang baru yang telah aku panggil dari daerah utara akan merupakan kekuatan yang dapat dibanggakan. Sangkal Putung kini ternyata telah berkurang kekuatan, sedang kekuatan kita bertambah. Menurut perhitunganku maka kekuatan yang telah ada disini ditambah dengan kekuatan-keuatan baru, akan dapat melanda Sangkal Putung dan menghancurkannya. Laskar dari utara itu kelak akan kembali dengan perbekalan untuk mereka, sedang laskar didaerah inipun akan dapat memperkuat diri dengan semua yang akan kita dapatkan dari Sangkal Putung”

Tohpati mengerutkan keningnya. Ia tidak menanggapi angan-angan Sanakeling itu, tetapi ia berkata “Kembalilah. Aku tidak dapat menunggu lebih lama dari waktu yang kau katakan”

Sanakeling mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi timbullah keheranannya atas sikap Tohpati itu. Beberapa kali ia menunda penyerangan sehingga laskarnya tercerai berai kembali, namun tiba-tiba kini Macan Kepatihan itu menjadi sangat tergesa-gesa.

“Mungkin Raden Tohpati melihat kelemahan Sangkal Putung kini” pikirnya.

Sanakeling itu kemudian berdiri. Dilihatnya halaman barak itu. Gelapnya masih menghitam.

“Aku akan kembali” katanya.

“Kembalilah. Ingat-ingat perintahku”

“Baik” sahut Sanakeling sambil melangkah meninggalkan ruangan itu. Disepanjang jarak yang ditempuhnya, bahkan sampai ketempatnya dan ketika ia telah membaringkan dirinya, dirasakannya beberapa keanehan pada pemimpinnya itu. Ia melihat wajahnya yang murung, dan kadang-kadang perbuatan-perbuatan yang tidak pernah dilakukannya sebelumnya. Dalam keseluruhannya, tampaklah Tohpati menjadi sangat gelisah. Tetapi Sanakeling tidak mempedulikannya. Mungkin Tohpati sedang diganggu oleh beberapa persoalan yang bersifat pribadi. Mungkin ia kesal pada kegagalan-kegagalan yang dialaminya, atau mungkin Tohpati sedang membuat rencana-rencana baru yang belum dimengertinya.

Pada hari berikutnya, maka tampaklah kesibukan diperkemahan itu. Beberapa orang berjalan hilir mudik dari satu barak kebarak yang lain, sedang beberapa orang lagi pergi meninggalkan perkemahan itu diatas punggung-punggung kuda. Mereka harus pergi berpencaran mencari tempat-tempat yang tersebar dari kawan-kawan mereka. Gerombolan-gerombolan yang seolah-olah liar dan melakukan berbagai perbuatan yang kadang-kadang benar-benar kasar dan menakutkan. Perampokan, perampasan dan sebagainya. Kadang-kadang hanya sekedar untuk memberikan kesan bahwa keadaan sedemikian buruknya, tetapi kadang-kadang mereka benar-benar melakukannya untuk memperpanjang hidup mereka.

Dalam pada itu Sangkal Putungpun telah disibukkan pula oleh persoalan yang dibawa Kiai Gringsing beserta murid-muridnya. Untara dan Widura yang mendengarkan cerita Ki Tanu Metir menjadi berlega hati, bahwa kekuatan Sidanti pada saat yang pendek masih belum mungkin bergabung dengan kekuatan Tohpati. Meskipun demikian disaat-saat yang akan datang, mereka merasa, bahwa pekerjaan mereka akan menjadi semakin berat. Apakah Sidanti dan Tohpati menemukan titik-titik persamaan dan kemudian dapat bekerja sama, apakah Sidanti dengan Ki Tambak Wedi akan menyusun kekuatan baru untuk menggagalkan semua rencananya. Kalau demikian, maka Sidanti pasti hanya akan sekedar membalas dendam, dan mungkin setelah usaha Untara dan Widura gagal di Sangkal Putung, Sidanti akan menjual jasa melenyapkan Tohpati.

“Tetapi kedudukan Tohpati cukup kuat ngger” berkata Ki Tanu Metir kemudian.

Untara, Widura dan bahkan Ki Demang Sangkal Putung yang ikut pula mendengarkan segenap cerita itu mengerutkan kening-kening mereka. Terdengarlah kemudian Untara bertanya “Bukankah kita sudah mengetahui kekuatan mereka?”

“Ternyata ada yang belum angger ketahui”

“Apakah itu?” bertanya Widura.

Ki Tanu Metir memandang mereka satu demi satu. Kemudian katanya “Murid kedua dari Kedung Jati ternyata ada diantara mereka”

“Siapa?” desak Untara

“Angger pasti sudah pernah dengar namanya, Sumangkar”

“Sumangkar” Untara dan Widura hampir bersamaan mengulang nama itu.

“Ya” berkata Untara seterusnya “Aku pernah mendengar nama itu, dan pernah pula melihat dan bertemu dengan orang itu di kepatihan Jipang. Bukankah paman Sumangkar itu adik seperguruan paman Mantahun?”

“Ya” sahut Kiai Gringsing.

Untara menarik nafas dalam-dalam. Yang terdengar kemudian adalah suara Widura “Nama itu cukup mengejutkan hampir seperti nama patih Matahun sendiri. Tetapi kenapa selama ini orang itu tidak pernah hadir didalam setiap pertempuran? Bukankah dengan tenaganya maka Sangkal Putung pasti sudah dapat dipatahkan sejak serangan yang pertama?”

Kiai Gringsing menggeleng-gelengkan kepalanya. “Entahlah. Aku tidak tahu. Apakah Sumangkar belum lama berada diantara mereka, apakah ada sebab-sebab lain”

Namun ternyata berita itu benar-benar telah menyebabkan Untara dan Widura berpikir keras. Kalau pada saat-saat mendatang orang itu hadir pula dalam pertempuran, maka keadaan Sangkal Putung pasti akan sangat berbahaya. Tetapi tiba-tiba Untara tersenyum, katanya “Sumangkar benar-benar berbahaya bagi kita disini seandainya ia ikut bertempur bersama Tohpati, kecuali Kiai Gringsing bersedia menolong kami”

Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Untara itu. Namun kemudian ia tersenyum sambil menjawab “Hem, apakah aku harus melibatkan diriku langsung dalam pertengkaran antara Pajang dan Jipang?”

“Adalah menjadi kewajiban kita bersama untuk berbuat demikian Kiai” sahut Untara “Seperti Sumangkar merasa wajib pula untuk melindungi Tohpati”

“Ya, angger benar. Angger tahu pasti pendirian Sumangkar dalam pertentangan antara Jipang dan Pajang. Sumangkar adalah orang kedua setelah Mantahun dalam perguruannya, sedang orang kedua setelah Mantahun dalam tata kelaskaran Jipang adalah Tohpati itu sendiri. Sehingga mau tidak mau, maka Sumangkar adalah orang yang langsung berkepentingan atas Tohpati itu. Baik Tohpati sebagai pemimpinnya maupun Tohpati sebagai murid saudara seperguruannya”

Mendengar jawaban itu, Untara mengerutkan keningnya. Widura yang duduk disamping Untara mengangguk-anggukkan kepalanya sambil memijit-mijit betisnya.

“Ya” desah Untara “Kiai benar. Seharusnya aku tidak melibatkan Kiai dalam pertentangan yang belum pasti Kiai setujui. Sebenarnyalah bahwa aku belum tahu pasti pendirian Kiai dalam pertentangan antara Pajang dan Jipang”

Kiai Gringsing itupun tertawa. Sahutnya “Jangan menangkap kata-kataku itu terlalu tajam ngger. Meskipun aku termasuk orang yang menjadi bersedih hati melihat pertentangan yang berlarut-larut antara orang-orang Pajang dan orang-orang Jipang, namun aku melihat kenyataan-kenyataan yang kini berlangsung. Akupun tidak akan dapat melihat kelaliman dan kekerasan berlangsung terus-menerus. Aku tidak menutup mata, bahwa laskar Jipang yang putus asa itu menjadi liar dan berbuat banyak hal yang terkutuk. Karena itu akupun tidak akan mengingkari tugasku untuk membantu mencegah perbuatan-perbuatan itu”

Tiba-tiba wajah Untara dan Widura menjadi cerah. Meskipun Kiai Gringsing tidak menjanjikan sesuatu dengan jelas, namun apa yang dikatakannya adalah jaminan, bahwa apabila Sumangkar turut campur pula dalam pertempuran yang akan datang, dalam setiap pertempuran yang pasti akan berlangsung lagi, maka Kiai Gringsing akan dapat menjadi lawannya yang cukup berbahaya bagi murid kedua setelah Mantahun dari perguruan Kedung Jati itu.

Series 10

Tetapi dengan berita itu, maka Sangkal Putung harus lebih berhati-hati lagi. Lawan mereka kini bukan saja Tohpati dan Sumangkar yang setiap saat dapat menyusup kedalam lingkungan mereka, tetapi juga Sidanti dan Ki Tambak Wedi yang apabila mereka kehendaki mereka akan dapat berjalan-jalan didaerah kademangan Sangkal Putung yang mereka kenal dengan baik. Karena itu maka mereka harus lebih berwaspada apabila malam-malam yang akan datang salah seorang atau dua tiga orang dari mereka nganglang kademangan.

Sehari itu, cerita tentang Sidanti dan Ki Tambak Wedi yang bertempur melawan Tohpati dan Sumangkar telah tersebar luas diantara laskar Pajang dan anak-anak muda Sangkal Putung. Sengaja berita itu disebarkan sejauh-jauh mungkin supaya mereka menjadi semakin berhati-hati menghadapi setiap kemungkinan. Gardu-gardu dengan demikian menjadi semakin cermat mengawasi keadaan. Penjaga-penjaga menjadi lebih hati-hati dan penghubung-penghubungpun selalu berwaspada apabila tiba-tiba mereka bertemu dengan orang-orang yang mereka anggap sebagai hantu-hantu yang berkeliaran, siang maupun malam.

Tetapi malam berikutnya, bukan saja berita tentang Sidanti dan Tohpati yang ternyata berkeliaran, dan yang suatu saat mereka saling bertemu dan bertempur, tetapi datang pula seorang pengawas menghadap Untara. Seorang prajurit dalam jabatan sandi.

Untara, Widura, Kiai Gringsing, Ki Demang Sangkal Putung, Agung Sedayu dan Swandaru, dengan dada yang berdebar-debar menerima orang itu.

“Apakah yang kau ketahui tentang Tohpati?” bertanya Untara.

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian katanya “Kami, para pengawas melihat kesibukan diantara mereka. Bahkan salah seorang dari kami telah berhasil menghubungi orang-orang kami yang dekat dengan lingkungan laskar Tohpati. mereka kini sedang menyiapkan diri untuk menyerbu Sangkal Putung kembali”

Mereka yang mendengar laporan itu sama sekali tidak terkejut. Mereka selalu menunggu, siang maupun malam, serbuan yang serupa itu dapat terjadi. Tetapi adalah lebih baik apabila hal itu telah mereka ketahui sebelumnya seperti pada saat-saat yang lewat.

“Kapan rencana itu akan mereka lakukan?”bertanya Widura.

“Secepatnya, mungkin dalam dua tiga hari ini”

Ki Demang Sangkal Putung tersenyum, katanya “Beberapa hari yang lalu, mereka telah menyiapkan diri pula. Bahkan sampai dua tiga kali, namun serangan itu tidak juga datang”

“Tetapi kali ini agaknya serangan itu tidak akan ditunda-tunda lagi” Sahut pengawas itu.

“Mereka hanya ingin menakut-nakuti kita” gumam Swandaru.

“Itu salah satu dari siasat Tohpati yang cerdik” berkata Untara “Beberapa kali ia menggagalkan serangannya, supaya untuk seterusnya kita selalu menganggap bahwa serangan-serangannya akan tertunda-tunda pula. Tetapi apabila kita telah lengah, maka sergapan itu benar-benar datang”

Yang mendengar penjelasan Untara itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata Untara yang berpandangan luas itu sangat berhati-hati menanggapi setiap persoalan.

“Ya, angger Untara benar” sahut Ki Demang Sangkal Putung “Ternyata aku telah termakan oleh siasat itu”

“Belum terlambat” sahut Widura

“Kalau mereka tidak datang” sambung Swandaru “Kitalah yang datang kepada mereka”

Serentak, mereka yang duduk dipringgitan, berpaling kepada Swandaru. Mereka merasakan getaran kata-kata itu. Getaran kata-kata seorang anak muda yang sedang dibakar oleh darah mudanya.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti sedalam-dalamnya perasaan yang sedah membakar hati Swandaru Geni. Sebagai seorang anak Demang Sangkal Putung, ia merasa bahwa tanah kelahirannya itu selalu dalam keadaan kecut dan suram. Ketakutan, kegelisahan dan kecemasan membayangi setiap wajah. Bahkan setiap orang di Sangkal Putung menjadi ngeri apabila senja datang, apabila matahari mendekati punggung pegunungan diujung barat. Namun mereka menjadi gelisah apabila mereka mendengar ayam jantan berkokok menjelang fajar.

Mereka selalu diganggu oleh bayangan-bayangan yang menakutkan. Apabila malam datang, maka seolah-olah orang-orang Jipang merayap-rayap dihalaman rumah-rumah mereka. Merangkak-rangkat mendekati pintu dan setiap saat mereka akan dapat dikejutkan oleh ketokan yang keras dan kasar pada pintu-pintu rumah mereka.

Tetapi apabila matahari mulai membayang diujung timur, mereka membayangkan sepasukan laskar Jipang dalam gelar Sapit Urang, atau dalam gelar Wilan Punanggal, bahkan mungkin dalam gelar Samodra Rob datang melanda kademangan itu.

Karena itulah maka setiap laki-laki di Sangkal Putung disetiap malam selalu menggantungkan senjata diatas pembaringan mereka, kecuali mereka yang berada di gardu-gardu. Bahkan lebih banyak dari mereka yang tidak berada didalam rumah mereka, tetapi digardu-gardu, disimpang-simpang empat dan di bajar desa, dengan pedang ditangan, atau keris dilambung.

Namun hati mereka menjadi agak tentram apabila mereka melihat laskar Pajang yang tampaknya selalu tenang dan teguh hati. Mereka berbangga apabila mereka melihat pedang yang berjuntai diikat pinggang mereka, atau tombak dipundak mereka. Bukan saja laskar Pajang, namun anak-anak muda mereka sendiri telah memberi kepada mereka sekedar ketentraman dan keberanian.

Tetapi bagaimanapun juga, Sangkal Putung selalu dibayangi oleh ancaman-ancaman yang menegangkan. Seperti bumbung yang dipanggang diatas api. Setiap saat akan meledak dengan dahsyatnya.

Bukan saja Kiai Gringsing, tetapi hampir setiap orang, bahkan Agung Sedayu yang sebaya dengan Swandaru itupun dapat melihat perasaan itu. Namun selain perasaan itu, Kiai Gringsing melihat perasaan yang lain yang mendorong Swandaru kedalam gelora yang lebih dahsyat lagi. Seperti yang pernah dilihatnya, Swandaru tidak segera dapat mengerti, mengapa mereka harus menghindari Tohpati dan Sidanti pada saat mereka bertemu dipadang rumput malam yang lampau. Kiai Gringsing menyadari bahwa anak muda itu sukar mengendalikan perasaannya yang sedang berkobar. Apalagi setelah ia merasa mendapatkan bekal yang lebih banyak dari masa-masa sebelumnya. Karena itu maka Kiai Gringsing merasa bahwa tugasnya membentuk Swandaru jauh lebih berat daripada Agung Sedayu. Baik dalam ilmu tata bela diri maupun dalam pembinaan watak dan sifatnya.

Dalam pada itu, maka terdengarlah Untara menyahut sambil tersenyum “Pendapatmu sangat baik Swandaru. Kalau mereka tidak datang, kita akan menjemput mereka. Namun sayang, bahwa kita masih harus melihat jalan-jalan manakah yang dapat kita lalui untuk sampai kepesangrahan Macan Kepatihan itu”

“Nah, bukankah orang yang dapat mengetahui bahwa mereka akan menyerang kita itu dapat menunjukkan dimana tempat tinggal mereka?”

Untara masih tersenyum. Jawabnya “Mudah-mudahan. Tetapi orang-orang itu pasti hanya mengetahui letak dan sekedar keadaan mereka. Namun mereka tidak akan mengenal tempat itu sebaik Tohpati mengenal Sangkal Putung. Mereka tidak atau belum dapat mengenal bahaya dan rintangan yang mungkin dipasang oleh orang-orang Macan Kepatihan. Tempat-tempat yang berbahaya sebagai tempat yang sengaja dipersiapkan untuk menergap dan menghancurkan kita. Sebab mereka tahu pasti, bahwa daerah mereka tidak akan dilewati orang lain selain orang-orang mereka. Dan suatu ketika orang-orang Pajang. Berbeda dengan Sangkal Putung. Bagaimanapun juga, Sangkal Putung adalah daerah terbuka”

Swandaru mengerutkan keningnya. Ia mengerti keterangan itu. Tetapi ia berkata didalam hatinya “Kenapa kita tidak menyergapnya dari arah-arah yang berbeda? Kalau dari satu arah dipasang rintangan-rintangan maka dari arah yang lain kita akan dapat mencapainya”. Tetapi Swandaru tidak mengatakannya. Ia mengerti betul bahwa didalam perbendaharaan pengalaman Untara, semuanya itu telah diperhitungkan dengan seksama.

Sepeninggal orang yang menyampaikan kabar kepada Untara tentang persiapan orang-orang Jipang itu, maka segera Untara mempersiapkan laskarnya. Kepada petugas sandi itu Untara berpesan, bahwa pada saatnya ia harus menerima berita kelanjutan dari berita itu. Sedangkan kepada Swandaru dan Agung Sedayu, Untara berpesan untuk sementara merahasiakan berita itu, supaya rakyat Sangkal Putung tidak menjadi gelisah dan supaya Tohpati tidak menyadari bahwa rencananya sudah diketahui.

Namun yang diketahui oleh rakyat Sangkal Putung dan bahkan laskar Pajang sendiri, mereka diwajibkan meningkatkan kewaspadaan dan latihan-latihan mereka, supaya mereka tidak menjadi lengah dan bahkan melupakan bahaya yang setiap saat dapat datang. Meskipun demikian, orang-orang yang telah penuh dengan pengalaman seperti Hudaya, Citra Gati, Sonya dan beberapa orang lain, segera dapat merasakan kesibukan para pemimpin mereka, dan dengan tersenyum Citra Gati pada suatu senja berbisik kepada Hudaya “Adi, apakah aku masih akan sempat mencukur rambut yang tumbuh diwajahku ini besok?”

“Kenapa?”

“Mudah-mudahan malam nanti aku belum mati”

Hudaya tersenyum, katanya “Pasti belum malam nanti”

Sonya yang ada didekat mereka menyahut “aku sudah menyiapkan pisau itu sekarang kakang Citra Gati, mumpung kau masih sempat”

Citra Gati mengerutkan keningnya, kemudian tangannya meraba kumisnya yang jarang “Hem” desahnya “Jangan sekarang. Aku belum sempat”

Sonyapun kemudian tersenyum. Katanya “Aku sudah pemgasah pedang. Kapan kira-kira kita bermain-main lagi?”

Citra Gati mengerutkan keningnya, jawabnya “Pasti sudah mendesak. Dua tiga hari lagi”

“Kenapa perintah itu tidak dijelaskan saja kepada kita? Supaya kita menjadi semakin gairah berlatih dan memersiapkan diri”

Citra Gati menggeleng “Entahlah. Pasti ada pertimbangan-pertimbangan lain. Mungkin untuk membuat kesan seolah-olah kita belum menyadari bahaya yang akan mengancam. Dengan demikian kewaspadaan orang-orang Jipang akan berkurang, seperti pada saat-saat yang lampau. Terutama pada saat serangannya yang pertama”

Sonya mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi Hudaya terawa pendek “Sebenarnya kita sudah siap menerima mereka, atau datang ketempat mereka”

“Kemana?” bertanya Citra Gati.

“Kesarang mereka” sahut Hudaya.

“Ya, dimana sarang itu?”

Hudaya menggeleng “Kalau aku tahu, aku sudah pergi kesana”

“Uh, jangan membual. Belum sampai kau kejarak seribu langkah, kepalamu telah retak oleh tongkat baja putih itu”

Hudaya tersenyum. Dikenangnya pada saat ia harus membantu Sidanti bersama Citra Gati untuk melawan Tohpati. Senjata tongkat baja putih itu terasa seperti seekor nyamuk yang beterbangan disekeliling telinganya. “Ngeri” gumamnya tiba-tiba.

“Apa yang ngeri?” bertanya Citra Gati dan Sonya hampir bersamaan.

“Tongkat baja putih itu. Ketika Tohpati datang untuk pertama kali, kepala tongkat itu hampir menyambar kepalaku”

“Oh” sahut Sonya “aku tidak sempat ikut bertempur saat itu. Aku hanya boleh berlari. Tetapi lusa, kalau Macan Kepatihan itu datang kembali, akulah lawannya”

Mereka bertiga tertawa, seakan-akan mereka mempercakapkan suatu peristiwa yang lucu. Namun percakapan itu adalah suatu pengakuan, betapa besarnya perbawa Macan Kepatihan pada lawan-lawannya.

Mereka berhenti tertawa ketika mereka melihat Swandaru dan Agung Sedayu berjalan melintasi pendapa turun kehalaman. Mereka kemudian berjalan berdua kehalaman belakang kademangan.

“Sudah mendesak” terdengar Agung Sedayu berbisik. Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya “Aku tidak sabar. Apa kata orang itu tadi?”

“Laskar Tohpati kini telah siap seluruhnya”

“Aku berani bertaruh, serangan itu pasti akan ditunda lagi”

“Menurut persiapan yang diketahui oleh prajurit sandi itu, agaknya mereka benar-benar akan segera menyerang”

Swandaru menggeleng lemah “Seperti beberapa waktu yang lalu. Persiapan itu telah sempurna, namun mereka tidak datang. Kali inipun agaknya demikian”

“Kita tunggu saja tengah malam nanti. Orang itu berjanji akan datang, atau orang lain yang ditugaskannya”

“Aku tidak sabar. Sarang Macan Kepatihan itu pasti disekitar tempat mereka bertempur melawan Sidanti itu. Kita aduk saja seluruh hutan itu, maka kita pasti akan menjumpai sarangnya ”gerutu Swandaru.

Agung Sedayu tidak menjawab. Ia tahu benar tabiat saudara seperguruannya. Meskipun demikian, terasa suasana yang berbeda pada kademangan itu. Firasatnya mengatakan bahwa Tohpati benar-benar akan datang.

Swandaru kemudian pergi berbelok memasuki dapur. Dilihatnya ibunya dan Sekar Mirah sedang menunggui beberapa orang yang sedang masak. Ketika Swandaru melihat gumpalan daging rebus, maka segera disambarnya sepotong.

“He, Swandaru. Daging itu baru direbus. Belum lagi dibumbui. Digaramipun belum”

Swandaru tidak menjawab. Tangannya menyambar sejumput garam. Kemudian dilumurkannya garam itu pada gumpalan dagingnya.

“Huh” Sekar Mirah mencibirkan bibirnya. “Anak muda ketuk”

Swandaru berhenti. Ia berpaling sambil bertanya “apa itu?”

“Anak muda yang suka masuk kedapur, adalah anak muda yang ketuk”

Swandaru tertawa terbahak-bahak. Sambil berteriak ia bertanya “He, kakang Agung Sedayu, kau mau daging?”

Agung Sedayu yang berjalan keperigi mendengar pertanyaan itu. Tetapi ia tidak menjawab. Langsung diraihnya senggot timba, dan dengan tersenyum ia menarik senggot itu turun.

Sekar Mirah yang mendengar gerit timba segera mengetahui bahwa Agung Sedayu berada diperigi. Tetapi ketika ia beranjak, Swandaru membentaknya “Mau apa kau?”

“Apa pedulimu?”

“Yang mengambil air itu bukan Sidanti”

Tiba-tiba Sekar Mirah itu meloncat mengambil sepotong kayu dan dilemparkannya kepada kakaknya. Swandaru bergeser setapak sambil tertawa “Jangan marah, aku berkata sebenarnya”

Ketika lemparannya tidak mengenai sasarannya, Sekar Mirah langsung mengambil segayung air.

“Mirah” cegah ibunya “Jangan membuat dapur menjadi becek”

Sekar Mirah bersungut-sungut sambil berjalan keluar. Gerutunya “Awas kakang Swandaru”

Tetapi bukan saja Swandaru yang bermain-main mengejek adiknya, namun sebenarnya ibunyapun kadang-kadang heran melihat sifat anak perempuannya itu. Ibunya itu tahu benar, hubungan yang tampaknya bersungguh-sungguh antara Sekar Mirah dan Sidanti beberapa waktu yang lampau.

Ibunya itupun mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi kemudian. Sejak Agung Sedayu datang kekademangan ini. Agaknya Sekar Mirah adalah seorang pengagum atas sifat-sifat kejantanan, kepahlawanan. Dan terpengaruh oleh kedudukan ayahnya, ia adalah seorang gadis yang selalu berangan-angan tentang kepemimpinan dan kedudukan. Ketika setiap orang di Sangkal Putung membicarakan keberanian anak muda yang bernama Sidanti disetiap medan pertempuran, maka Sekar Mirahpun mengaguminya berlebih-lebihan. Dimatanya pada saat itu tak ada seorang laki-laki yang melampaui Sidanti diseluruh Sangkal Putung. Itulah sebabnya maka hubungannya dengan anak muda itu tampak bersungguh-sungguh.

Tetapi pada suatu ketika hadirlah Agung Sedayu diantara mereka. Setiap mulut menyebut namanya sebagai seorang anak muda yang telah membebaskan Sangkal Putung dari bencana. Seorang anak muda yang pemalu dan pendiam, tetapi menyimpan kesaktian yang tiada taranya. Namun Sekar Mirah kadang-kadang menjadi ragu-ragu menghadapi Agung Sedayu. Anak itu terlalu lembut. Bahkan anak itu selalu menghindarkan diri dari bentrokan yang akan terjadi atas dirinya dan Sidanti. Bahkan Agung Sedayu membiarkan dirinya dihinakan dan direndahkan dimuka Sekar Mirah dan pamannya Widura. Sekar Mirah hampir-hampir kehilangan kepercayaan tentang kesaktian Agung Sedayu, ketika anak muda itu tidak mau mengikuti sayembara memanah beberapa saat yang lalu.

Namun Sekar Mirah tidak dapat mengerti, kenapa Agung Sedayu ternyata benar-benar memiliki kelebihan dari orang lain. Kenapa Agung Sedayu menyembunyikan kelebihannya itu. Seandainya Swandaru tidak melihatnya, maka kemampuan Agung Sedayu tetap akan terpendam untuk seterusnya.

“Anak muda itu terlampau rendah hati” desisnya didalam hati ketika ia melihat kemenangan Agung Sedayu atas Sidanti dilapangan pada saat-saat mereka sedang berlomba. Kemenangan-kemenangan yang dicapai oleh Agung Sedayu benar-benar membuat hati Sekar Mirah meledak-ledak.

Sepeninggal Sidanti, maka hubungannya dengan Agung Sedayu menjadi semakin dalam. Sekar Mirah semakin lama menjadi semakin mengagumi Agung Sedayu. Dari kakaknya ia mendengar bahwa Agung Sedayu mampu mengalahkan Alap-alap Jalatunda digaris peperangan. Tetapi Sekar Mirah tidak dapat mengerti kenapa Alap-alap Jalatunda itu tidak dibinasakan seperti Sidanti membinasakan Plasa Ireng. Bukankah dengan demikian namanya akan menjadi semakin ditakuti oleh lawan dan disegani oleh kawan? Bukankah dengan demikian kejantanannya akan menjadi semakin mengagumkan setiap orang di Sangkal Putung seperti Sidanti disaat-saat yang lampau. Sidanti selalu membanggakan diri kepadanya bahwa ia telah lebih dari sepuluh kali membinasakan lawan-lawannya dipeperangan. Kemudian angka itu dengan cepatnya naik. Duapuluh dan yang terakhir sebelum Tohpati sendiri datang ke Sangkal Putung, Sidanti berkata “Nanggala ini telah menghisap darah lebih dari limapuluh orang”

Tetapi Agung Sedayu tak pernah berkata tentang peperangan. Agung Sedayu tidak pernah bercerita, berapa orang telah pernah dipenggal lehernya, atau berapa orang pernah ditumpahkan darahnya.

Namun disamping kekecewaan-kekecewaan itu, Agung Sedayu telah benar-benar memikat hati Sekar Mirah. Ada kekuatan-kekuatan lain yang telah menariknya. Bukan karena kekaguman-kekaguman yang berlebih-lebihan. Bukan karena Agung Sedayu banyak menceritakan kemenangan-kemenangannya seperti Sidanti. Bukan karena sifat-sifatnya yang keras dan tegas. Tetapi ujud wadag Agung Sedayulah yang telah mempesona Sekar Mirah. Meskipun Sekar Mirah kadang-kadang kecewa atas sifat dan sikap Agung Sedayu yang menurut anggapannya telalu lemah dan menyia-nyiakan kekuatan-kekuatan yang tersimpan didalam tubuhnya, namun wajah Agung Sedayu selalu membayang dirongga matanya.

Ketika Sekar Mirah melangkahi pintu dapur, ia masih mendengar suara tertawa Swandaru didalam rumahnya. Tetapi Sekar Mirah tidak memperdulikannya. Bahkan kemudian gadis itu melangkahkan kakinya keperigi, menghampiri Agung Sedayu yang sedang menimba air.

“Untuk apa kakang menimba air?” bertanya Sekar Mirah.

“Mandi” jawab Agung Sedayu. Jawaban itu terlalu singkat bagi Sekar Mirah, sehingga karena itu maka sambil mencibirkan bibirnya Sekar Mirah menirukan jawaban itu “Mandi”

Agung Sedayu berpaling. Ketika dilihatnya wajah Sekar Mirah yang memberengut, Agung Sedayu tersenyum “Kenapa?”

“Kenapa?” Kembali Sekar Mirah menirukan.

Agung Sedayu kini tertawa. Tangannya masih sibuk melayani senggot timba. Ketika air didalam upih telah dituangkannya kedalam jambangan, maka dilepaskannya senggot timba itu. Perlahan-lahan ia berjalan mendekati Sekar Mirah sambil bertanya “Apakah jawabanku salah?”

“Tidak” sahut Sekar Mirah pendek.

Kini suara tertawa Agung Sedayu menjadi semakin keras. Katanya “Ah, agaknya aku telah berbuat suatu kesalahan diluar sadarku. Maafkan aku Mirah”

“Tidak ada yang harus dimaafkan” sahut Sekar Mirah sambil berjalan menjauh.

Agung Sedayu mengikuti dibelakangnya beberapa langkah. Kemudian diambilnya sebutir batu, dan dilemparkannya kearah sarang lebah disebuah cabang yang tinggi.

Begitu sarang lebah itu terkena lemparan Agung Sedayu, maka berbondong-bondong lebah-lebah itu beterbangan.

Sekar Mirah terkejut. Ketika dilihatnya segerombol lebah beterbangan diudara, maka ia menjadi ketakutan. Dengan serta-merta ia berlari dan bersembunyi dibelakang Agung Sedayu sambil berkata cemas “Kakang, lebah itu akan menyengat kita”

Agung Sedayu tertawa. Jawabnya “Biarlah kita menjadi bengkak-bengkak karenanya”

“Kakang, aku takut”

Agung Sedayu masih tertawa. Dilihatnya lebah itu semakin banyak beterbangan mengitari sarangnya yang baru saja disentuh oleh batu Agung Sedayu. Tetapi lebah itu adalah lebah gula yang jarang sama sekali tidak berbahaya dan tidak buas.

Tetapi Sekar Mirah menjadi semakin ketakutan melihat lebah beterbangan mengitari sarangnya “Kakang” katanya “Bagaimana kalau lebah-lebah itu menyerang kita?”

“Kulitku kebal” sahut Agung Sedayu “Tak ada lebah yang dapat menyengat kulitku”

“Tetapi aku tidak” berkata Sekar Mirah sambil mengguncang-guncang tubuh Agung Sedayu.

“Lihat” berkata Agung Sedayu “Lebah itu akan menurut segala perinntahku. Sebentar lagi mereka pasti akan kembali kedalam sarang-sarang mereka setelah diketahuinya bahwa aku yang berdiri disini”

Sekar Mirah tidak menjawab, tetapi ia masih berpegangan pada lengan Agung Sedayu.

Dan sebenarnyalah lebah-lebah yang beterbangan itu satu demi satu hinggap kembali kedalam sarangnya. Sehingga semakin lama gerombolan lebah yang mirip dengan gumpalan asap tiu menjadi semakin tipis.

Sekar Mirah memandangi lebah-lebah itu dengan mulut ternganga. Namun ketika dilihatnya lebah itu menjadi semakin berkurang, hatinyapun menjadi semakin tenang.

“Apakah mereka tidak akan menyerang kita kakang?” gumamnya.

“Kalau lebah-lebah itu akan menyerangmu, biarlah aku lawan mereka. Bukankah aku wajib melindungimu?”

“Kenapa? Siapa yang mewajibkan melindungi aku?”

“Oh, jadi bukan begitu?”

“Tidak ada kewajiban itu” jawab Sekar Mirah sambil bersungut.

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi kembali ia meraih sebutir batu.

“Untuk apa?” bertanya Sekar Mirah terkejut.

“Sekehendakkulah” sahut Agung Sedayu sambil membidik sarang itu kembali “Kali ini aku akan menjatuhkan sarangnya. Dengan demikian lebah itu akan menjadi liar. Aku tidak takut sebab kulitku kebal. Dan aku tidak perlu melindungi seseorang disini”

“Jangan. Jangan kakang” minta Sekar Mirah

“Sekehendakku” jawab Agung Sedayu.

“Aku takut”

“Sekehendakku”

“Kakang, jangan”

Agung Sedayu telah menarik tangannya siap mengayunkan lemparan batunya. Tetapi Sekar Mirah memegangi tangannya sambil meminta “Jangan. Kalau kakang melempar juga, aku akan berteriak-teriak”

Agung Sedayu tertawa. Batu ditangannya dilemparkannya dan kemudian katanya “Kanapa kau melarang?”

“Aku takut disengat lebah”

“Lebah itu sama sekali tidak berbahaya. Lihatlah sarangnya yang melekat pada pohon itu. Bukankah itu sarang lebah gula? Bahkan sebaiknya besok aku bikin gelodok. Kalau lebah itu mau bersarang kedalam gelodok, maka kita akan mendapatkan madu”

Sekar Mirah menekan dadanya sambil bersungut-sungut “Kakang menakut-nakuti aku”

“Seharusnya kau tidak takut Mirah. Lebah itu sama sekali tidak berbahaya, seandainya lebah yang paling buas sekalipun. Lebih berbahaya daripada itu adalah laskar Jipang yang dipimpin Tohpati. Kalau Tohpati itu menyerang kita, dan berhasil memasuki kademangan ini, nah barulah kau boleh merasa takut atau barangkali kau akan berbangga atas kedatangannya”

“Kenapa aku berbangga?”

“Tohpati berwajah tampan, bertubuh tegap kekar dan seorang yang sangat sakti”

“Huh” Sekar Mirah mencibirkan bibirnya, kemudian katanya “Apakah peduliku?” Tetapi tiba-tiba ia bertanya “Tetapi apakah benar-benar Tohpati mungkin sampai kerumah ini?”

Agung Sedayu memandangi wajah gadis itu dengan seksama, kemudian jawabnya “Bagaimana kalau hal itu terjadi?”

“Jangan, jangan biarkan hal itu terjadi kakang” sahut Sekar Mirah

Kali ini Agung Sedayu tidak mengganggunya lagi ketika dilihatnya wajah Sekar Mirah menjadi bersungguh-sungguh. Seakan-akan dari matanya memancar kecemasan yang sangat. Sekali lagi ia bertanya “Apakah laskar Jipang itu masih cukup kuat untuk mematahkan pertahanan Sangkal Putung?”

Agung Sedayu tidak segera menjawab. Ia takut kalau jawabannya akan menambah kegelisahan gadis itu. Dan karena Agung Sedayu tidak menjawab, Sekar Mirah mendesaknya lagi “Kakang, apakah dengan kepergian Sidanti, kekuatan Sangkal Putung menjadi sangat jauh berkurang?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Terasa sesuatu berdesir didalam dadanya. Sambil menarik nafas dalam-dalam Agung Sedayu bertanya “Siapa yang mengatakannya Mirah?”

Sekar Mirah menggeleng “Tidak ada. Tetapi aku menyangka demikian. Sebab kakang Sidanti adalah seorang yang sangat sakti. Bukankah kakang Sidanti telah berhasil membunuh orang yang bernama Plasa Ireng sebelum ia meninggalkan Sangkal Putung?”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Jawabnya “Mungkin Sidanti sangat sakti. Tetapi apakah tidak ada orang lain yang menyamai kesaktiannya?”

“Ya, ya, ada” sahut Sekar Mirah cepat-cepat “Kau, kakang”

Agung Sedayu menggeleng “Bukan, bukan aku”

“Ya, aku melihat sendiri kau memenangkan perlombaan memanah pada waktu itu”

“Bukan ukuran dalam peperangan yang campuh” jawab Agung Sedayu.

“Tetapi unsur perseorangan sangat berarti dalam peperangan yang betapapun juga”

“Mungkin kau benar. Tetapi aku mengharap bahwa ada orang lain yang akan dapat mengganti kedudukannya. Bukankah di Sangkal Putung masih ada kakang Untara dan paman Widura?”

“Ya, dan kau kakang?”

“Aku tidak terhitung dalam tingkatan itu. Aku hanya seorang untuk menambah hitungan saja”

Sekar Mirah memandang Agung Sedayu dengan sudut matanya. Alangkah jauh berbeda. Kalau yang berdiri dihadapannya itu Sidanti maka jawabannya pasti akan bertentangan sama sekali. Sidanti pasti akan menjawab “Tak ada orang lain di Sangkal Putung yang dapat menyamai aku”. Tetapi Agung Sedayu berkata lain “Aku hanya seorang untuk menambah hitungan saja”

“Hem” Sekar Mirah menarik nafas.

“Kenapa?” bertanya Agung Sedayu.

Sekar Mirah menggeleng “Tidak apa-apa”

Kembali Agung Sedayu tersenyum. Ia menyangka bahwa Sekar Mirah masih jengkel kepadanya karena lebah gula itu. Tetapi ia tidak tahu apa yang sebenarnya bergolak didalam gadis itu. Diam-diam ia selalu membandingkan Agung Sedayu dengan Sidanti.

Sidanti baginya adalah seorang laki-laki yang dahsyat. Ia selalu berkata tentang dirinya, tentang kepercayaan pada diri sendiri, tentang kemampuan dan tentang cita-citanya yang melambung setinggi langit. Ia kagum kepada anak muda itu. Ia kagum akan kedahsyatannya, akan kepercayaan kepada diri sendiri, akan kemampuan dan cita-citanya. Tetapi ia hanya mengaguminya. Lebih dari itu, ternyata tidak. Ia kecewa bahwa Sidanti pergi. Kecewa karena di Sangkal Putung tidak ada seorang yang dapat dibanggakan kesaktiannya. Tidak ada orang yang berkata kepadanya, bahwa dadanya adalah perisai dari kademangan ini. Tidak ada orang yang berkata kepadanya seperti Sidanti pernah berkata “Mirah, berkatalah. Apakah aku harus membawa sepotong kepala untuk kakimu? Tunggulah, pada saatnya, aku akan membawa kepala Tohpati. Rambutnya dapat kau pakai untuk membersihkan alas kakimu”

Meskipun Sekar Mirah tahu benar justru Untara ternyata melampaui kedahsyatan Sidanti menghadapi Tohpati, namun ia hampir tidak mengenal Untara. Orang itu terlalu angker baginya. Seakan-akan hampir-hampir belum pernah ia bercakap-cakap dengan orang itu. Karena itu maka tidak ada sentuhan apa-apa yang dapat memberinya kebanggaan. Widura yang menurut pendengaran Sekar Mirah tidak kalah saktinya dari Sidanti, itupun bagi Sekar Mirah tidak berarti apa-apa. Dahulu ia pernah mengharap didalam hatinya, semoga Sidanti dapat menunjukkan kelebihannya dari Widura, sehingga Sidanti mendapat tempat yang lebih baik daripadanya. Dengan demikian ia akan dapat turut merasakan kedudukan anak muda itu. Sebab Sekar Mirah lebih mengenal Sidanti dari Widura yang sama sekali hampir tidak pernah mempedulikannya.

Diantara mereka yang dapat dibanggakan di Sangkal Putung yang dikenalnya dengan baik adalah Agung Sedayu. Menurut penilaiannya Agung Sedayu ternyata melampaui Sidanti. Ia melihat sendiri Agung Sedayu memenangkan perlombaan memanah beberapa saat yang lalu. Bahkan ketika mereka berkelahi disamping kandang kuda itupun ternyata Sidanti terpaksa mengambil sepotong kayu sebagai senjatanya. Sedang Agung Sedayu sama sekali tidak mempergunakan senjata apapun. Tetapi kenapa Agung Sedayu tidak pernah berkata kepadanya “Mirah, apakah aku harus membawa kepala Tohpati untuk alas kakimu?”

Tidak, Agung Sedayu tidak berkata demikian kepadanya. Anak muda itu hanya akan membuat gelodok lebah gula untuk mendapat madu.

Sebenarnya Sekar Mirah menjadi kecewa atas sikap Agung Sedayu itu. Sikap yang baginya kurang jantan. Kurang dahsyat dan kurang perkasa. Sangat berbeda dengan Sidanti. Tetapi meskipun Sekar Mirah mengagumi Sidanti, namun ia mempunyai perasaan yang aneh terhadap Agung Sedayu yang mengecewakannya itu. Perasaan yang tak dimilikinya terhadap Sidanti.

“Alangkah mengagumkan seorang anak muda, seandainya berwadag Agung Sedayu namun memiliki sifat-sifat kejantanan Sidanti” gumamnya didalam hati “Sayang Sidanti tidak terlalu menarik, dan lebih-lebih sayang lagi, Sidanti telah mengkhianati kawan sendiri”

Ketika Sekar Mirah masih saja termenung, maka berkatalah Agung Sedayu “Kenapa kau termenung Mirah?”

“Oh” Sekar Mirah tergagap seperti baru terbangun dari tidurnya “Tidak apa-apa”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ternyata Sekar Mirah tidak saja masih jengkel kepadanya hanya karena lebah itu. Maka itu ia bertanya “Kenapa kau termenung? Apakah kau masih marah kepadaku tentang lebah itu, atau tentang hal yang lain?”

“Tidak kakang” jawab Sekar Mirah sekenanya, bahkan kemudian diteruskannya “Aku masih cemas tentang laskar Tohpati itu”

Tiba-tiba Agung Sedayu tertawa “Jangan cemas. Tohpati tidak berbahaya bagi Sangkal Putung. Laskarnya tidak melampaui laskar Pajang di Sangkal Putung, ditambah dengan anak-anak muda yang berani dan bertanggung jawab”

“Tetapi Tohpati sendiri?” bertanya Sekar Mirah.

“Bukankah disini ada kakang Untara atau paman Widura?”

Sekar Mirah menggigit bibirnya “Kalau kakang Untara atau paman Widura tidak ada?”

“Mereka akan tetap disini Mirah”

“Ya. Seandainya tidak ada. Atau ada halangan apapun”

Agung Sedayu menarik nafas panjang, namun ia tersenyum “Salah seorang dari mereka pasti berada disini. Kalau ada keperluan yang sangat penting sekalipun, pasti mereka tidak akan pergi berdua”

“Seandainya mereka berdua sakit? Sakit panas, sakit perut atau sakit apapun yang berat dan bersamaan?”

“Itu adalah suatu halangan diluar kemampuan manusia. Namun disini ada seorang dukun yang pandai yang akan dapat mengobatinya”

“Oh” Sekar Mirah menjadi tidak sabar. Katanya hampir berteriak “Keduanya tidak dapat maju berperang. Apapun alasannya. Lalu bagaimana, apakah Sangkal Putung akan menyerah?”

Meskipun Agung Sedayu tidak tahu maksud Sekar Mirah namun ia menjawab “Tentu tidak Mirah. Disini ada paman Citra Gati dan paman Hudaya. Ada juga paman Sonya dan kakang Sendawa. Mereka dapat menggabungkan kekuatan mereka dalam satu lingkaran untuk melawan Tohpati”

Mendengar jawaban Agung Sedayu itu Sekar Mirah terhenyak duduk diatas setumpuk kayu bakar. Ditekankan tangannya pada dadanya yang seakan-akan menjadi sesak. Jawaban Agung Sedayu benar-benar tidak diharapkannya. Meskipun ia terduduk diatas seonggok kayu bakar namun hatinya berteriak “Oh, Agung Sedayu yang bodoh, kenapa jawabanmu demikian mengecewakan aku? Kenapa kau tidak menjawab sambil mengangkat kepalamu “Seandainya mereka sakit, atau berhalangan apapun Sekar Mirah, aku, Agung Sedayulah yang akan melawan Tohpati. Aku akan bunuh orang itu, aku penggal kepalanya, dan aku berikan sebagai alas kakimu”

“Oh” tiba-tiba Sekar Mirah mengeluh.

Agung Sedayu benar-benar tidak mengerti maksud Sekar Mirah. Ia melihat gadis itu menjadi kecewa. Tetapi ia tidak tahu kenapa ia menjadi kecewa.

Terdorong oleh kegelisahannya karena ia tidak tahu apa yang dikehendaki oleh Sekar Mirah, maka dengan jujur Agung Sedayu itu bertanya “Mirah, apakah sebenarnya yang kau kehendaki dengan segala macam pertanyaanmu?”

“Kakang Agung Sedayu” berkata Sekar Mirah menahan jengkel “Apakah kau tidak akan ikut bertempur?”

“Tentu Mirah”

“Kenapa kakang hanya menyebut nama-nama orang lain? Kakang tidak pernah menyebut nama kakang sendiri. Apakah dengan demikian berarti bahwa kakang tidak banyak mempunyai kepentingan dengan laskar Tohpati itu? Atau barangkali kakang tidak mempedulikan mereka. Atau tidak memperdulikan Sangkal Putung?”

“Kenapa?” bertanya Agung Sedayu semakin tidak mengerti.

“Baiklah aku bertanya terus kakang, tetapi aku ingin segera mendengar jawabanmu yang terakhir. Aku ingin kau menyebut namamu sendiri. Kakang, bagaimanakah seandainya tidak ada orang lain yang dapat lagi maju melawan Tohpati? Apakah yang akan kakang lakukan?”

Agung Sedayu tiba-tiba mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini tahulah arah pertanyaan Sekar Mirah. Karena itu, tiba-tiba Agung Sedayu tersenyum sambil menjawab “Oh, itukah yang ingin kau ketahui Mirah”

“Ya, aku ingin mendengar jawabmu. Aku ingin mendengar apakah yang dapat kau berikan kepada Sangkal Putung. Apakah yang dapat kau sumbangkan kepada tanah kelahiranku ini? Bukan kakang Untara, bukan paman Widura, bukan paman Hudaya, paman Citra Gati, paman Sonya. Bukan kakang Swandaru, bukan ayah, bukan orang lain. Tetapi kakang Agung Sedayu”

“Hem” Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya “Aku sendiri? Baiklah. Aku akan menjawab pertanyaanmu Sekar Mirah. Kalau tidak ada orang lain yang akan melawan Tohpati, maka sudah tentu aku akan melawannya”

“Hanya itu?” Sekar Mirah masih kecewa.

“Lalu apa lagi?”

“Apakah kau biarkan Tohpati mengalahkanmu? Membunuhmu?”

“Kau aneh Mirah”

“Apa yang aneh padaku? Kaulah yang aneh”

“Kenapa kau bertanya demikian?”

“Habis. Kau tidak berkata, apa yang akan kau lakukan atas Tohpati itu”

Perlahan-lahan Agung Sedayu kemudian dapat meraba pertanyaan-pertanyaan Sekar Mirah yang membanjiri dirinya itu. Sekar Mirah ingin mendengar jawaban yang dapat memberinya kepuasan. Yang dapat menentramkan dirinya dan mungkin dapat memberinya kebanggaan. Namun tidak terpikir oleh Agung Sedayu bahwa keinginan Sekar Mirah bukan saja jawaban-jawaban yang dapat menentramkan hatinya, dan memberinya kebanggaan, tetapi Sekar Mirah ingin mendapat seorang pahlawan yang dapat mengimbangi Sidanti.

Karena itu bagaimanapun juga Agung Sedayu masih juga tidak memberinya kepuasan seperti yang dikehendakinya, ketika ia mendengar Agung Sedayu itu menjawab “Sekar Mirah, sudah tentu aku akan melawan Tohpati dengan segenap tenaga dan kemampuan yang ada padaku. Aku masih ingin hidup lebih lama lagi, Mirah. Karena itu maka aku tidak akan membiarkan Tohpati berbuat sekehendak hatinya. Aku akan melawannya. Tetapi takdir berada ditangan Tuhan. Itulah sebabnya maka aku tidak dapat berkata lebih jauh daripada itu tentang diriku. Aku berwenang berusaha, namun akhir daripada semua peristiwa berada ditanganNya”

Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia sama sekali tidak puas dengan sifat-sifat Agung Sedayu itu, namun ia tidak akan mendesaknya lagi.

Sekar Mirah semakin melihat perbedaan-perbedaan yang ada pada Agung Sedayu dan Sidanti. Ia pernah juga dahulu mendengar Agung Sedayu itu berkata tentang dirinya. Bahkan dahulu Agung Sedayu lebih banyak menyebut-nyebut dirinya dan membanggakan tugas-tugas yang telah diselesaikannya. Tetapi sekarang, sungguh mengherankan, Agung Sedayu seakan-akan telah kehilangan gairah atas kemenangan-kemenangan yang pernah dicapainya.

Tetapi bagaimanapun juga, Agung Sedayu itu selalu membayanginya. Wajahnya hampir tidak pernah lenyap dari matanya. Bahkan didalam tidur sekalipun. Namun justru karena itulah maka Sekar Mirah menjadi semakin kecewa. Ia ingin melibatkan dirinya dalam hubungan yang semakin dalam. Namun Agung Sedayu tidak bersikap seperti yang diinginkannya.

Sekar Mirah yang duduk diatas seonggok kayu bakar itu mengangkat wajahnya. Ia mendengar langkah orang disudut rumahnya. Ketika ia berpaling, dilihatnya seorang prajurit berjalan keperigi. Dilambungnya tergantung pedang yang panjang.

“Kenapa senjata itu disandangnya?” tiba-tiba ia bertanya.

Agung Sedayu berpaling. Ia melihat prajurit itu. Karena itu ia menjawab “Sangkal Putung berada dalam kesiap-siagaan penuh. Prajurit itu aku kira baru saja nganglang kademangan”

“Apakah Tohpati akan segera menyerang?”

“Aku tidak tahu. Tetapi kemungkinan itu setiap saat memang dapat terjadi”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Ia memang melihat pada saat-saat terakhir kesibukan yang meningkat. Ia melihat ayahnya semakin jarang-jarang berada dirumah, dan kakaknya tidak pernah berpisah dengan pedangnya.

“Apakah sudah ada berita tentang penyerbuan yang bakal datang?”

Agung Sedayu ragu-ragu sejenak. Ia tidak dapat berkata berterus terang. Agaknya Ki Demang dan Swandarupun belum berkata kepada gadis itu. Karena itu jawabnya “Meskipun tidak ada berita apapun dan dari siapapun Mirah, memang kita wajib selalu berwaspada. Ketegangan memang meningkat akhir-akhir ini. Tohpati mempercepat gelombang kegiatannya pula”

Sekar Mirah mengangguk-anggukkan kepalanya. Kadang-kadang ia menjadi cemas membayangkan apa yang bakal terjadi seandainya Macan Kepatihan itu benar-benar akan menggulung Sangkal Putung. Tetapi kadang-kadang ia mengharap serbuan itu datang. Ia mengharap kakaknya, Swandaru berhasil membunuh orang-orang penting dari laskar Tohpati itu. Dan ia mengharap Agung Sedayu berhasil lebih banyak lagi. Bahkan ia mengharap bahwa Agung Sedayulah yang akan membunuh Tohpati, bukan Untara dan bukan Widura.

Tetapi apabila ia melihat sikap Agung Sedayu, kembali ia menjadi kecewa “Hem” desahnya didalam hati “Orang ini lebih pantas menjadi seorang penulis kitab-kitab tembang daripada seorang prajurit. Seorang yang hampir setiap hari duduk diatas tikar pandan, menggurat-gurat rontal dengan pensilnya. Kemudian membaca kisah-kisah yang menawan hati. Kisah kasih antara Pandu dan Kirana, atau kisah petikan-petikan dari Mahabharata.

Ketika Sekar Mirah sejenak berdiam diri sambil memandangi noktah-noktah dikejauhan, maka berkatalah Agung Sedayu “Betapapun kuatnya laskar Macan Kepatihan, Mirah, tetapi kau jangan cemas. Sangkal Putungpun semakin lama menjadi semakin kuat. Anak-anak muda yang kini menjadi semakin kaya akan pengalaman dan semakin kaya akan tekad mempertahankan tanahnya, menjadi perlambang kemenangan-kemenangan yang akan dicapai oleh daerah ini”

“Mudah-mudahan” gumam Sekar Mirah “Mudah-mudahan kademangan ini dapat diselamatkan. Tohpati dapat terpenggal lehernya dan orang-orang Jipang itu dapat dimusnahkan”

“Kemungkinan yang kita harapkan akan terjadi Mirah. Jangan takut”

Sekar Mirah itu kemudian bangkit dan berjalan perlahan-lahan keperigi. Katanya “Mudah-mudahan itu akan segera terjadi dan kakang akan datang kepadaku sambil bercerita, bahwa pedang kakang telah menghisap darah lebih dari seratus orang”

Agung Sedayu tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab. Dipandanginya Sekar Mirah untuk beberapa saat, kemudian ia bertanya “Apakah kau akan mengambil air?”

“Tidak”

“Lalu mengapa?”

“Tidak apa-apa”

Agung Sedayu tidak bertanya lagi. Ia melihat Sekar Mirah mengambil sebuah belanga dan menjinjingnya kedapur.

Agung Sedayu tidak mengikutinya terus. Ia melihat Sekar Mirah berpaling dan tersenyum kepadanya. Senyum seorang gadis yang lincah dan manis. Namun bagaimanapun juga, Agung Sedayu melihat sesuatu dibelakang senyum yang manis itu. Sekar Mirah adalah seorang gadis yang keras hati. Seperti kakaknya, gadis itupun ingin melihat dan mendengar peristiwa-peristiwa yang dahsyat. Seandainya sama sekali itupun seorang pemuda seperti Swandaru, maka keduanya akan menjadi pasangan kakak-beradik yang dahsyat pula.

Ketika Agung Sedayu kemudian kembali kepringgitan, dilihatnya seseorang yang datang memasuki pringgitan itu pula besama-sama dengan kakaknya. Sesaat kemudian orang itu bersama dengan Untara telah duduk berhadapan sambil berbicara perlahan-lahan.

“Baiklah” berkata Untara kemudian “Aku akan mempersilakan paman Widura dan bapak Demang kemari”

Untara itupun kemudian menyuruh seseorang memanggil Widura dan Ki Demang Sangkal Putung. Agung Sedayupun diperkenankan pula ikut hadir didalam pertemuan kecil itu besama dengan Swandaru Geni.

Ketika orang-orang yang penting itu telah berkumpul, maka mulailah orang itu berkata “Kakang Untara, hampir pasti bahwa Tohpati akan menyerbu besok pagi-pagi. Agaknya mereka tidak akan mengulangi serangan malamnya yang gagal. Mereka akan mencoba memecahkan pertahanan Sangkal Putung pada siang hari. Mereka akan menempuh arah yang lurus dari barat. Mereka kali ini akan datang dalam gelar perang yang sempurna”

“Apakah laskar mereka bertambah kuat sehingga Tohpati mengambil keputusan datang dengan gelar perang?”

“Sanakeling berhasil menghimpun tenaga cukup banyak. Meskipun ia tidak berhasil menghubungi laskar yang tersebar dipantai utara, namun yang ada benar-benar telah cukup untuk mengimbangi kekuatan laskar Pajang di Sangkal Putung ini”

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Terbayang dipelupuk matanya sepasukan yang kuat datang dari arah barat dipagi-pagi buat dalam gelar yang sempurna. Sembil menarik nafas dalam-dalam ia berkata “Tohpati telah kehabisan kesabaran”

“Ya” jawab orang itu. “Mereka menganggap bahwa serangan kali ini haruslah serangan yang terakhir. Mereka sudah jemu menunggu kesempatan untuk memasuki Sangkal Putung. Beberapa bagian laskar dari utara telah terlalu lama berada didaerah ini. Bahkan Tohpati sendiri, sudah ingin melepaskan beberapa kepentingan diselatan. Namun sesudah Sangkal Putung jatuh. Sesudah mereka mendapat bekal yang cukup untuk perjalanan mereka kembali kedaerah yang bertebaran”

Yang mendengarkan keterangan orang itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka menyadari apa yang sedang mereka hadapi sekarang. Agaknya bahaya kali ini benar-benar telah menggoncangkan dada mereka.

“Keadaan ini benar-benar menegangkan“ Desis Ki Demang Sangkal Putung.

Untara berpaling. Sambil tersenyum senapati yang masih muda itu berkata “Tidak banyak bedanya dengan serangan-serangannya yang lampau Ki Demang”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Sahutnya “Ah, angger hanya ingin membesarkan hatiku. Tetapi aku mempunyai gambaran yang lain. Macan Kepatihan benar-benar telah mengerahkan kekuatan yang luar biasa”

“Tetapi kekuatannya sangat terbatas. Laskar Pajang dimana-mana telah berusaha memotong perhubungan mereka, sehingga yang dapat mereka kumpulkan itupun pasti belum merupakan bahaya yang sebenarnya bagi Sangkal Putung” jawab Untara

Ki Demang tidak segera menjawab. Sekali disambarnya wajah Widura yang tegang. Kemudian wajah Agung Sedayu dan akhirnya wajah anaknya sendiri. Dilihatnya Swandaru Geni tersenyum. Wajahnya menjadi amat cerah, dan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “Bagus, lebih besar kekuatan Tohpati, akan lebih baik bagi kita. Kita akan dapat menimbang, seberapa sebenarnya kekuatan kita di Sangkal Putung. Ayah sebenarnya tidak perlu cemas. Anak-anak Sangkal Putung semakin banyak yang bersedia ikut memegang senjata. Sedang merekapun menjadi semakin banyak memiliki pengalaman. Nah, aku mengharap Tohpati mengerahkan seluruh sisa laskar Jipang”

”Huh” sahut Ki Demang Sangkal Putung “Kau hanya pandai membual Swandaru. Kau tidak memperhitungkan kecakapan laskar Jipang dibandingkan dengan anak-anak muda Sangkal Putung”

“Ayah memperkecil arti anak-anak kita sendiri” jawab Swandaru sambil mengerutkan keningnya. Ia tidak senang mendengar keluhan itu, sebab ia sendirilah yang memimpin anak-anak muda Sangkal Putung.

“Swandaru benar kakang Demang” potong Widura “Kakang harus mencoba membuat hati mereka menjadi besar. Anak-anak Sangkal Putung hampir setingkat dengan laskar Pajang sendiri dan sudah tentu laskar Jipang pula. Beberapa orang bekas prajurit yang ada di Sangkal Putung telah menguntungkan keadaan meskipun pada umumnya usia mereka telah cukup tinggi. Namun pengalaman mereka menggerakkan senjata dan olah peperangan masih cukup baik”

Ki Demang Sangkal Putung tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Dicobanya untuk menenangkan hatinya. Tetapi sebagai seorang yang bertanggung-jawab atas Sangkal Putung, atas semua isi dan penghuninya, maka mau tidak mau Demang Sangkal Putung itu menjadi prihatin. Bagaimana nasib orang-orangnya apabila laskar Tohpati benar-benar dapat menmbus pertahanan Untara. Bagaimana akan jadinya dengan kademangan ini? Tetapi apabila dipandanginya wajah Widura, wajah Untara, Agung Sedayu dan apalagi anaknya sendiri, terasa ketenangan merayapi dadanya. Wajah-wajah itu tampak teguh dan meyakinkan bahwa mereka akan mencoba sekuat-kuat tenaga mereka melindungi kademangan yang subur dan kaya ini.

“Kakang Untara” terdengar prajurit sandi itu berkata “Aku akan segera kembali ketempat tugasku. Mudah-mudahan aku akan mendapat keterangan-keterangan yang lebih jelas. Malam ini kami akan mencoba untuk membuat hubungan terus-menerus dengan kakang disini”

Untara mengangguk “Baik, lakukan pekerjaanmu sebaik-baiknya. Keadaan kami disini sebagian tergantung kepada keterangan-keterangan yang akan kau berikan kemudian”

“Baik kakang” sahut orang itu.

Dan sesaat kemudian orang itupun minta diri untuk kembali ketempatnya.

Sepeninggal orang itu, maka Widura dan Untara segera menentukan keadaan. Apa yang harus mereka lakukan untuk melawan kedatangan laskar Macan Kepatihan itu.

“Jangan dilupakan, bahwa kita akan minta Kiai Gringsing untuk ikut serta” desis Widura.

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Sahutnya “Baik paman, aku akan minta kepadanya. Tetapi dimana Ki Tanu Metir itu sekarang?”

“Berjalan-jalan” sahut Agung Sedayu “Namun aku sangka bahwa guru tidak akan berkeberatan”

Untara dan Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Merekapun yakin akan kesediaan itu “Nanti kalau Ki Tanu Metir kembali, sampaikan sekali lagi permohonan kami itu Sedayu” minta Untara kepada adiknya.

“Baik kakang” jawab Agung Sedayu.

Widurapun kemudian memanggil beberapa orang pemimpin kelompok untuk datang keringgitan. Kini mereka tidak lagi harus merahasiakan kedatangan Tohpati besok. Perlahan-lahan namun jelas, Widura menguraikan apa yang kira-kira akan mereka hadapi.

Hudaya yang duduk disamping Sonya tersenyum mendengar penjelasan itu. Ketika kemudian pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Citra Gati, yang duduk dibelakang Untara, merekapun mengangguk-angguk sambil tersenyum pula.

“Kakang Hudaya” bisik Sonya “Cepat-cepatlah mencukur janggut dan kumismu malam ini”

“Sst” desis Hudaya “Jangan ribut. Lihat kakang Citra Gati sedang menghitung, berapa sisa hutangnya yang tidak perlu dibayarnya”

Sonya menutup mulutnya dengan kedua tangannya ketika ia hampir tidak dapat menahan tawanya. Namun ia tidak tertawa lagi ketika kemudian ia melihat beberapa orang kawan-kawannya menjadi tegang. Hanya Sendawa agaknya tidak banyak menaruh perhatian. Sekali-sekali ia memandang lampu yang menggapai-gapai tiang. Dan haripun segera memasuki ujung malam.

Malam yang pasti akan sangat menegangkan seluruh Sangkal Putung. Sebab besok pagi-pagi mereka akan dihadapkan pada suatu bahaya yang benar-benar tidak dapat diabaikan.

Dengan cermatnya Widura dan Untara mulai mengatur laskar mereka. Mereka mempertimbangkan ketiap kemungkinan dan setiap keadaan dengan pemimpin-pemimpin kelompok didalam laskar Pajang itu. Dengan penuh kesungguhan mereka mengurai kekuatan yang ada pada mereka dan kemungkinan-kemungkinan yang ada pada lawan mereka.

Setapak demi setapak malampun memasuki daerah kelamnya semakin dalam. Pembicaraan diantara para pemimpin Pajang itupun menjadi semakin meningkat. Gelar-gelar yang harus mereka persiapkan untuk menghadapi kemungkinan dari setiap gelar yang akan dipergunakan oleh Macan Kepatihan.

“Tohpati pasti akan berada dipusat pimpinan gelarnya” berkata Untara “Ia adalah seorang senapati yang bertanggung-jawab atas tugas-tugasnya”

“Ya” Widura menjawab. “Itu dapat kita pastikan. Seandainya mereka mempergunakan gelar Dirada Meta, maka Tohpati akan menjadi ujung belalainya”

“Kemungkinan yang paling banyak terjadi. Gelar Dirada Meta pasti akan sesuai dengan sifat-sifat Macan Kepatihan itu.

“Lalu bagaimanakah gelar kita, dan siapakah yang akan berada dipusat pimpinan?” bertanya Swandaru.

Semua orang berpaling kepadanya. Pertanyaan itu sebenarnya sudah mereka ketahui jawabnya. Pastilah Untara yang akan berada dipusat pimpinan. Seandainya mereka harus melawan dalam gelar yang lebih luas karena jumlah mereka lebih banyak, meskipun nilainya belum pasti melampaui laskar Jipang, karena diantara mereka terdapat anak-anak muda Sangkal Putung, misalnya gelar Garuda Nglayang, maka Untara pasti akan menjadi ujung paruhnya.

Untara sendiri tersenyum mendengar pertanyaan itu. Jawabnya “Siapakah menurut penilaianmu yang paling tepat untuk melawan Tohpati itu Swandaru?”

Swandaru kemudian tersenyum pula. Ia ingin berkata “Swandarulah yang paling mungkin untuk melawan Macan Kepatihan yang garang itu, seandainya diberi kesempatan”. Tetapi Swandaru kemudian bahkan menundukkan wajahnya.

Yang terdengar kemudian adalah suara Untara “Biarlah aku mencoba sekali lagi melawan Macan Kepatihan itu. Mudah-mudahan kali ini aku dapat pula mengimbanginya”

“Siapakah senapati-senapati pengapitnya kakang?” bertanya Swandaru pula.

Untara mengerutkan keningnya. Ia melihat Swandaru mempunyai keinginan yang besar untuk mendapat tanggung-jawab yang cukup dalam pertempuran itu. Tetapi pertempuran kali ini bukanlah semacam sebuah permainan yang menggembirakan. Laskar Jipang pasti akan menempatkan orang-orangnya yang paling terpilih diantara mereka. Sedang Swandaru masih terlalu muda dalam pengalaman dan dalam kematangan berpikir. Untara lebih condong untuk memilih Agung Sedayu meskipun anak itu ternyata dalam bertindak terlalu banyak pertimbangan-pertimbangan. Namun bekal yang dimiliki Agung Sedayu ternyata lebih banyak dari Swandaru.

Namun sudah tentu Untara tidak akan mengecewakan anak muda itu. Karena itu maka jawabnya “Swandaru, kita harus memperhitungkan siapakah kira-kira yang akan menjadi senapati pengapit Macan Kepatihan. Seandainya mereka mempergunakan gelar Dirada Meta, maka sudah dapat dibayangkan, bahwa Sanakeling adalah salah seorang senapati pengapitnya. Salah seorang yang akan ditempatkan diujung gading gajah raksasa yang akan mengamuk itu. Sedang diujung yang lain, mungkin Macan Kepatihan akan menempatkan Alap-alap Jalatunda atau orang lain yang lebih baik daripada orang itu”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditebarkannya pandangan matanya berkeliling pringgitan. Dilihatnya diantara mereka, Widura dan Agung Sedayu disamping dirinya sendiri. Karena itu maka katanya dalam hati “Apakah kakang Untara tidak mau memberi aku kesempatan?”

Dan terdengarlah Untara berkata “Swandaru, aku ingin menempatkan paman Widura untuk melawan Sanakeling. Tak ada orang lain yang mampu melakukannya. Aku mempunyai perhitungan, bahwa Sanakeling akan menjadi pengapit kanan Macan Kepatihan, sehingga aku akan minta paman Widura mempimpin sayap kiri pasukan Sangkal Putung”

“Satu-satunya kemungkinan” sesis Swandaru “Lalu siapakah yang harus melawan Alap-alap Jalatunda?”

Untara mengerutkan keningnya. Apalagi ketika ia melihat sekali dua kali Swandaru memandang kearah Agung Sedayu, seolah-olah ia sedang membandingkan dirinya sendiri dengan Agung Sedayu itu. Karena itu maka kembali Untara berada dalam kesulitan. Apakah ia akan dapat memilih salah seorang dari mereka? Kalau ia menunjuk Swandaru, Agung Sedayu pasti tidak akan menjadi kecewa. Tetapi Swandaru sama sekali kurang pengalaman dalam perang yang memasang gelar-gelar sempurna.

Namun akhirnya, Untara menemukan jawabnya. Ditebarkannya pandangannya berkeliling dan akhirnya berhenti pada seseorang yang duduk agak dibelakangnya. Katanya “Disayap yang lain aku pasang Citra Gati”

Swandaru sekali lagi mengerutkan keningnya. Kini ia benar-benar salah tebak. Ia menyangka bahwa Untara akan memilih satu diantara mereka berdua, Agung Sedayu atau dirinya sendiri.

Namun sebelum ia menyatakan pendiriannya, terdengar Untara memberi penjelasan “Aku harus menempatkan seorang prajurit Pajang dalam gelar yang sempurna ini, supaya garis perintahku dapat tersalur dengan baik. Sebenarnya aku ingin menempatkan Agung Sedayu atau kau Swandaru. Tetapi ada yang belum kalian ketahui, saluran-saluran perintah dalam gelar perang yang sempurna. Nah, karena itu aku tempatkan saja Citra Gati itu disayap kanan. Meskipun demikian, Swandaru, kau dan Agung Sedayu akan merupakan ujung-ujung kuku dalam gelar Garuda Nglayang yang mungkin akan kita pergunakan”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Keputusan Untara adalah keputusan yang bijaksana. Bukan Agung Sedayu dan bukan Swandaru yang kedua-duanya bukan prajurit Pajang.

Tetapi kemudian Widura memotong pembicaraan itu “Bagaimana dengan Sumangkar? Siapakah yang akan menghadapinya bila Sumangkar itu ikut turun pula dalam laskar Jipang yang akan segera menyerbu itu?”

Semua yang hadir dalam pertemuan itu menjadi berdebar-debar karenanya. Mereka sadar akan kemampuan Sumangkar yang terkenal dengan adik seperguruan Patih Mantahun, yang memiliki nyawa rangkap didalam tubuhnya. Kesaktiannya sudah terbukti dapat mengimbangi Ki Tambak Wedi, hantu lereng gunung Merapi itu.

Tidak ada diantara mereka yang akan mampu mengimbangi Sumangkar itu, dan mereka semua menyadarinya. Tetapi harus ada orang yang terpilih diantara mereka. Padahal mereka masing-masing sudah terikat pada lawan-lawan yang tidak dapat mereka abaikan pula. Untara melawan Macan Kepatihan, Widura berhadapan dengan Sanakeling dan Citra Gati harus melawan Alap-alap Jalatunda. Apakah Agung Sedayu dan Swandaru yang akan dipersiapkan melawan Sumangkar itu?

Ketika mereka baru berteka-teki, terdengarlah Untara menjelaskan perhitungannya “Tak ada seorangpun diantara kita yang sanggup melawan Sumangkar. Namun meskipun demikian, kita akan mendapat seorang yang akan sanggup untuk mengimbanginya, Kiai Gringsing”

Para pemimpin laskar Pajang itu mengangkat wajah-wajah mereka. Terdengar mereka bergumam diantara mereka. Berulang kali terdengar mereka menyebut nama Kiai Gringsing itu. Namun belum seorangpun dari mereka yang tahu pasti siapakah Kiai Gringsing itu. Karena itu terdengar Sendawa meyakinkan dirinya “Siapakah Kiai Gringsing itu?”

Untara menarik alisnya. Agaknya orang-orangnya belum mengenal siapakah Kiai Gringsing itu. Beberapa orang sudah dapat meraba-raba, namun yang lain sama sekali belum mengenalnya.

Tetapi kini Untara tidak berahasia lagi. Untuk menentramkan orang-orangnya ia berkata “Orang yang kalian kenal setiap hari sebagai dukun yang baik itulah orangnya. Yang hampir setiap malam pergi berjalan-jalan dengan Swandaru dan Agung Sedayu. Yang hampir setiap hari berada diantara orang-orang yang sakit. Namanya Ki Tanu Metir”

Kembali terdengar mereka bergumam. Beberapa orang yang sudah menduganya tersenyum bangga atas ketepatan tebaknya. Tetapi kini mereka belum melihat, dimanakah orang itu. Karena itu maka Citra Gati berkata “Dimanakah Ki Tanu Metir itu sekarang?”

Untara mengangkat wajahnya. kemudian kepada Agung Sedayu ia berkata “Panggilah Kiai Gringsing”

Agung Sedayu segera berdiri dan melangkah keluar pringgitan. Dicobanya untuk mencari Kiai Gringsing dipendapa, namun orang itu tidak kelihatan. Dengan segan Agung Sedayu turun kehalaman yang sudah menjadi semakin kelam. Dicarinya gurunya diantara para penjaga gerbang. Orang tua itu kadang-kadang berkelakar digardu penjagaan bersama-sama mereka yang bertugas.

“Aku tidak melihat Ki Tanu Metir sepanjang sore ini” berkata salah seorang penjaga.

“Apakah Ki Tanu Metir pergi keluar?”

“Aku tidak melihatnya” sahut penjaga itu “Entahlah sebelum aku bertugas disini”

“Siapakah yang bertugas sebelum kalian?”

“Diantaranya kakang Santa”

Agung Sedayupun bergegas-gegas mencari Santa dipendapa. Namun ternyata orang itu juga tidak melihat Ki Tanu Metir. Katanya “Aku tidak melihatnya”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Apakah Ki Tanu Metir sedang berada dibelakang? Agung Sedayupun kemudian mencoba mencarinya keperigi. Tetapi diperigi itupun Ki Tanu Metir tidak ditemukannya.

Satu-satunya kemungkinan tinggallah di banjar desa. Masih ada satu dua orang yang dirawat disana. Mungkin Ki Tanu Metir ada diantara mereka.

Karena itu maka Agung Sedayu segera pergi kepringgitan, memberitahukan kepada kakaknya, bahwa ia akan mencoba mencari Ki Tanu Metir ke banjar desa.

“Aku pergi bersamamu” sela Swandaru sebelum Untara menjawab.

Agung Sedayu mengangguk “Marilah” jawabnya.

Dan Untarapun kemudian bertanya “Apakah kau sudah mencari diseluruh halaman ini?”

“Sudah kakang”“Tidak seorangpun yang melihatnya?”

“Tidak kakang, para penjaga regolpun tidak melihat bahwa Ki Tanu Metir meninggalkan halaman”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Apabila dikehendakinya sudah tentu ia dapat pergi tanpa seorangpun yang mengetahuinya. Meloncat dinding halaman belakang atau lewat manapun. Tetapi mungkin juga, hanya karena para penjaga tidak begitu memperhatikannya.

“Sore tadi aku masih bercakap-cakap dengan Ki Tanu Metir” Agung Sedayu menjelaskan.

“Kalau demikian” berkata Untara “Cobalah kau cari Ki Tanu Metir dibanjar desa”

Agung Sedayu dan Swandaru segera pergi meninggalkan kademangan. Malam sudah semakin kelam dan langitpun tampak gelap kelabu dilapis oleh mendung yang rata. Sekali-sekali asl menengadahkan wajahnya dan dilihatnya kesempatan lidah api berloncatan. Bintang-bintang jauh bersembunyi dibalik tabir yang hitam.

Agung Sedayu itupun segera terkenang pada waktu kakaknya Untara, membawanya pergi meninggalkan padukuhannya Jati Anom. Pada saat kakaknya itu mendapat berita bahwa Tohpati akan melanda Sangkal Putung untuk yang pertama kalinya. Alangkah jauh bedanya, perasaannya pada waktu itu dan perasaannya pada saat ini. Pada saat itu perasaannya diliputi oleh ketakutan dan kecemasan. Betapa ia menjadi gemetar. Namun ketika pundaknya telah terluka dan memancarkan darah, dan dirasakannya luka itu, serta desakan-desakan keadaan yang tidak dapat dihindarinya, maka pecahlah belenggu yang mengungkungnya selama ini. Ditemukannya nilai-nilai baru pada dirinya. Dan karena itulah maka kini Agung Sedayu sama sekali tidak lagi dicengkam oleh ketakutan, meskipun beberapa segi sifat-sifatnya masih juga melekat pada dirinya, sehingga Untara menganggapnya sebagai seorang anak yang terlalu banyak mempunyai pertimbangan. Akibatnya adalah, ragu-ragu, meskipun ragu-ragu ini bukanlah ungkapan dari bentuk ketakutan dan kecemasan.

Agung Sedayu dan Swandaru berjalan tergesa-gesa ke banjar desa. Mereka takut kalau hujan segera akan jatuh. Dengan demikian maka mereka akan menjadi basah kuyup.

“Alangkah sepi malam ini” desis Agung Sedayu.

“Mungkin beberapa orang mendapat firasat buruk. Mungkin beberapa orang telah menyangka bahwa bahaya besok pagi akan mengancam kademangan ini” sahut Swandaru “Tetapi mungkin karena mendung yang tebal”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Besok pagi-pagi buta mereka pasti sudah mengungsi kekademangan dan ke banjar desa. Hati Agung Sedayu berdesir ketika ia mendengar tangis bayi memecah kesepian malam. Tangis itu terdengar betapa rawannya diantara bunyi guruh yang menggelegar dilangit.

“Kenapa anak itu menangis?” desisnya.

Swandaru heran mendengar desis itu. Ketika ia berpaling, dilihatnya Agung Sedayu masih memandangi rumah yang memancarkan tangis bayi itu.

“Bayi-bayi menangis dimalam hari” sahut Swandaru “Mungkin kakunya digigit nyamuk, mungkin terkejut mendengar tikus melonjak-lonjak diatap rumahnya”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi hatinya selalu tersentuh-sentuh oleh tangis itu. Besok pagi-pagi bayi-bayi di Sangkal Putung akan dibangunkan oleh ibu-ibunya. Digendongnya dan dibawanya berlari-lari kekademangan sambil menggandeng anak-anaknya yang lebih besar. Anak-anak itu berlari-larian dengan hati yang cemas, secemas hatinya dahulu, pada saat ia harus pergi mengikuti kakaknya dari Jati Anom. Alangkah pahitnya perasaannya waktu itu. Ia pernah mengalaminya. Ketakutan. Dan besok perempuan dan anak-anak di Sangkal Putung akan mengalaminya pula, ketakutan.

Agung Sedayu dan Swandaru terkejut ketika guruh meledak dengan kerasnya, seakan-akan menggetarkan seluruh bumi. Cahaya yang terang benderang menjilat langit. Hanya sesaat, kemudian gelap kembali.

Keduanya berjalan semakin cepat. Banjar desa tidak terlalu jauh. Sekali mereka melampaui gardu perondan. Beberapa orang duduk dengan malasnya dibawah cahaya pelita. Tetapi beberapa orang yang lain berdiri dan berjalan hilir mudik dimuka gardu itu. Ketika mereka melihat dua sosok bayangan dalam gelapnya malam, segera mereka menundukkan tombak mereka sambil bertanya “Siapa?”

“Aku” sahut Swandaru “Swandaru Geni.

“Oh” gumam penjaga itu, yang segera mengenal suara Swandaru “Akan kemanakah adi berdua?” bertanya penjaga itu.

“Banjar desa” sahut Swandaru pendek.

Penjaga itu tidak bertanya lagi. Tetapi kemudian Agung Sedayulah yang bertanya “Apakah kalian melihat Ki Tanu Metir lewat jalan ini menuju kebanjar desa?”

Penjaga itu mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya “Tak seorangpun lewat sejak senja”

“Sore tadi?” desak Sedayu.

“Agaknya juga tidak”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Baiklah aku melihatnya di banjar desa”

“Silakan. Tetapi hati-hatilah. Jalan tampaknya terlalu sepi”

“Kalian terpengaruh oleh suasana” sahut Swandaru “Mendung yang tebal, guruh dan kilat yang memancar dilangit menjadikan malam ini sangat sepi”

Peronda itu mengangkat alisnya. Sekali ditatapnya langit yang gelap pekat. Kemudian gumamnya seolah-olah kepada diri sendiri “Ya, mungkin adalah Swandaru benar”

Swandaru dan Agung Sedayu tidak menjawab lagi. Dengan tergesa-gesa mereka meninggalkan gardu perondan itu langsung menuju banjar desa. Sangkal Putung. Jarak mereka sudah tidak terlalu jauh lagi. Namun karena angin yang basah dan kilat yang bersambung dilangit maka Agung Sedayu dan Swandaru itu seakan-akan berlari supaya mereka tidak kehujanan.

“Perintah paman Widura belum sampai kepada para perondan itu bukan?” bertanya Swandaru

“aku kira belum” sahut Agung Sedayu.

“Namun seakan-akan mereka sudah tahu bahwa mereka sudah dihadapkan pada bahaya”

“Firasat seorang prajurit” jawab Agung Sedayu.

Mereka sama sekali tidak memerlukan waktu terlalu lama. Segera mereka sampai keregol banjar desa disamping sebuah lapangan.

Ketika mereka dengan tergesa-gesa menyusup regol itu, maka sekali lagi mereka terhenti ketika dua ujung tombak menghalangi mereka “Siapa?”

“Swandaru Geni” sahut Swandaru.

“Oh” desis penjaga itu “Kalian mengejutkan kami. Tidak pernah kalian datang dimalam hari begini”

“Kau yang tidak pernah melihat kedatangan kami” sahut Agung Sedayu “Hampir setiap malam kami datang kemari, meskipun hanya lewat disamping regol ini”

Penjaga itu mengerutkan keningnya “Aku tidak pernah melihatnya”

Agung Sedayu tersenyum “Mungkin. Mungkin kau sedang tidur. Mungkin orang lain yang bertugas disini, dan mungkin memang aku berjalan terlalu jauh sehingga kau tidak akan dapat melihatnya dimalam hari”

“Oh” kembali penjaga itu berdesis “Tetapi kau sekarang singgah dibanjar ini. Adalah sesuatu yang penting?”

“Tidak” jawab Agung Sedayu “Kami hanya ingin mencari Ki Tanu Metir”

“Tidak ada disini” sahut penjaga itu.

“Jangan main-main” sela Swandaru Geni. “Ada yang penting bagi dukun tua itu”

“Ya, bapak dukun itu tidak ada disini”

“Bukankah disini masih ada orang yang perlu perawatannya?”

“Siang tadi ia datang, tetapi tidak terlalu lama. Sesudah itu ia pergi, dan ia tidak kembali lagi”

“Tadi sore aku masih bercakap-cakap dikademangan” gumam Agung Sedayu.

Penjaga itu menggeleng “Entahlah”

Meskipun demikian, namun agaknya Agung Sedayu dan Swandaru masih belum puas, sehingga hampir bersamaan keduanya berkata “Kami akan mencoba melihatnya”

Penjaga itu tersenyum “Kami tidak akan menyembunyikan dukun tua itu. Apakah ada orang sakit dikademangan?”

“Seluruh kademangan Sangkal Putung sedang sakit” sahut Swandaru.

Penjaga itu tidak tahu maksud Swandaru. Tetapi ia menjawab “Kalau demikian silakan. Mungkin aku tidak melihatnya memasuki regol, apabila dukun tua itu mempunyai aki panglimunan sehingga dapat melenyapkan diri dari pandangan mata”

Swandaru dan Agung Sedayu segera melangkah masuk. Di banjar desa mereka melihat beberapa orang prajurit yang bertempat tinggal dibanjar desa itu, berbaring-baring dengan tenangnya. Bahkan ada pula diantara mereka yang duduk menghadapi pelita sambil bermain macanan.

Ketika mereka melihat Swandaru dan Agung Sedayu memasuki pendapa bajar desa itu, maka beberapa orang yang sedang berbaring segera bangun dan yang bermain macanan itupun berhenti.

“Siapa pemimpin kelompok disini?” bertanya Agung Sedayu.

Orang yang sedang menghadapi permainan macanan menjawab “Kakang Sendawa. Kini sedang dipanggil ke kademangan”

“Oh” desis Swandaru “Aku melihatnya tadi. Tetapi apakah Ki Tanu Metir tidak ada disini sekarang?”

“Tidak” jawab mereka serempak.

Agung Sedayu menarik nafas. “Aneh” sesahnya.

“Biasanya guru selalu mengatakan, kemana ia pergi” bisik Swandaru.

Sesaat mereka berdiri saja seperti patung dipendapa banjar desa itu. Mereka mencoba mengingat-ingat kemanakah kira-kira Ki Tanu Metir itu pergi. Tetapi mereka sama sekali tidak dapat menemukan jawabnya.

“Justru pada saat yang penting” kembali Agung Sedayu berdesah.

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya “Marilah kita laporkan kepada paman Widura dan kakang Untara”

Agung Sedayu mengangguk. Kepada orang yang duduk disamping pelita, Agung Sedayu berkata “Baiklah aku kembali ke kademangan. Sebentar lagi kakang Sendawa akan datang membawa berita penting untuk kalian. Sejak kini jangan lepaskan senjata kalian dari tangan”

Yang mendengar kata-kata Agung Sedayu itu menjadi berdebar-debar. Namun mereka adalah prajurit-prajurit, sehingga isyarat itu sudah cukup bagi mereka sebagai isyarat bahwa keadaan menjadi semakin berbahaya.

Meskipun demikian ada yang bertanya “Apakah yang kira-kira akan terjadi? Tohpati akan datang malam ini?”

“Tunggulah kakang Sendawa”j awab Agung Sedayu. “Ia akan memberikan perintah kepada kalian. Segera ia akan kembali meskipun seandainya hujan segera tercurah dari langit. Karena itu bersiaplah menghadapi setiap kemungkinan”

Sejenak para prajurit dibanjar desa itu saling berpandangan. Namun apa yang dikatakan Agung Sedayu dan Swandaru telah cukup banyak bagi mereka sebagai suatu perintah untuk bersiap sepenuhnya. Karena itu maka selah seorang dari mereka berkata “Jadi kami harus berada dalam kesiap-siagaan tertinggi?”

“Ya” sahut Agung Sedayu.

Mereka, laskar Pajang di banjar desa itupun mengangguk-anggukkan kepala mereka. Kesiap-siagaan tertinggi adalah pertanda bahwa sebentar lagi mereka harus menghadapi peperangan. Atau tanda-tanda peperangan itu telah semakin dekat.

“Sudahlah” Agung Sedayu kemudian minta diri “Kami akan mencari dukun tua itu”

“Silakan” jawab beberapa orang serempak.

Sepeninggal Agung Sedayu dan Swandaru diantara mereka terdengar salah seorang berkata “Seperti hari-hari yang lalu, Tohpati mencoba membuat kita tidak bisa tidur, sedang mereka sendiri tidur mendengkur dikandangnya”

“Jangan kehilangan kewaspadaan” sahut kawannya sambil berdiri “Mungkin kali ini mereka benar-benar datang untuk memenggal lehermu. Karena itu lebih baik kau sediakan pedangmu. Apakah Tohpati itu tidak membawa senjata, maka pedangmu akan berguna bagimu. Ingat, senjata Tohpati hanyalah sepotong tongkat yang berkepala tengkorak. Bukan alat yang baik untuk memotong kepala. Ia akan berterima kasih kalau kau sediakan pedang untuknya”

Orang yang pertama meraba lehernya yang pajang. Jawabnya “Sayang sekali. Leher ini adalah leher yang jenjang. Dulu istriku jatuh cinta kepadaku karena leher ini. Sekarang, ketika anakku telah genap sepuluh, maka leher ini tidak pernah lagi dikagumi oleh istriku itu. Meskipun demikian, aku tidak akan menyerahkannya kepada siapapun”

Kawannya tertawa. Tetapi ia tidak menjawab perlahan-lahan ia berjalan kesudut pendapa banjar itu mengambil sebuah tombak pendek, sambil bergumam kepada diri sendiri dibelainya senjatanya itu “Malam sangat dingin. Marilah, tidur bersama ayah”

Kawan-kawannya memandanginya sambil tertawa. Namun satu demi satu merekapun berdiri, berjalan ketempat senjata masing-masing dan mengambilnya. Ketika mereka berbaring lagi, maka mereka telah memeluk setiap senjata mereka dengan eratnya.

“Tidur” berkata salah seorang dengan lantangnya “Tidurlah sepuas-puasnya supaya besok menjelang fajar, kita telah segar kembali. Mungkin Sangkal Putung akan menerima tamu”

“Atau bahkan sebelum kau sempat tidur kau harus sudah bangun lagi”

Tak ada yang menyahut. Pendapa banjar desa itu tiba-tiba menjadi sangat sepi. Masing-masing kini telah terbaring diam. Tidak ada lagi yang bermain macanan. Angan-angan mereka dicengkam oleh gambaran yang beraneka. Masing-masing memandang persoalannya menurut kepentingan dan kegairahan masing-masing. Namun mereka semuanya menunggu seseorang, Sendawa.

Sementara itu Agung Sedayu dan Swandaru telah berdiri dijalan kembali kek kademangan. Sejenak mereka termangu-mangu. Apakah mereka cukup melaporkannya kepada Untara bahwa Ki Tanu Metir tidak mereka temukan, atau mereka masih akan mencari ketempat yang lain?

“Bagaimana?” bertanya Swandaru Geni.

Agung Sedayu terdiam sejenak. Ketika ia mengangkat wajahnya, maka dilihatna mendung menjadi semakin tebal dan kilat semakin banyak berkeliaran dilangit. Angin yang lembab mengalir semakin kencang, menggoyang-goyangkan ujung-ujung pepohonan dengan suara yang riuh.

“Kakang Untara harus cepat mengambil kesimpulan. Kalau tidak, maka kita tidak cukup waktu untuk menyiapkan diri malam ini” berkata Agung Sedayu.

“Ya, aku juga masih harus menyiapkan anak-anak muda Sangkal Putung. Agaknya mereka malam ini betebaran digardu-gardu. Dibanjar ini aku tidak melihat mereka” sahut Swandaru Geni, namun ia meneruskan “Tetapi mungkin pula mereka berkumpul dirumah Tima yang sedang memperingati selapan kelahiran anaknya yang pertama”

“Kalau mereka berkumpul disana, maka tugasmu akan berkurang” berkata Agung Sedayu pula “Kau akan menemukan mereka bersama-sama sekaligus”

“Ya” sahut Swandaru “tetapi sekarang bagaimana?”

“Kita kembali” jawab Agung Sedayu “Nanti kalau kakang Untara telah menjatuhkan perintah terakhir, biarlah kita mencarinya lagi”

Swandaru mengangguk-anggut, desisnya “Marilah”

Keduanyapun kemudian berjalan tergesa-gesa kembali kekademangan. Sekali-sekali mereka melihat lidah api memancar menyilaukan. Namun sekejap, mereka telah berada dalam kelam kembali. Ketika mereka sampai dimuka gardu perondan, maka berkata Agung Sedayu kepada mereka “Tingkatkan kesiagaan”

Para penjaga itu mengangkat wajah-wajah mereka. Terdengar salah seorang bertanya “Apakah Kiai Dukun itu kalian ketemukan?”

“Tidak. Kami masih harus mencarinya. Tetapi tingkatkan kewaspadaan” sahut Agung Sedayu.

“Apakah ada bahaya disekitar Sangkal Putung?”

“Kalian akan segera mendapat perintah itu”

“Terima kasih” sahut diantara mereka. Dan Agung Sedayupun kemudian melihat beberapa orang yang duduk terkantuk-kantuk diatas gardu berloncatan turun setelah meraih senjata masing-masing.

“Biarlah kita mengadakan ronda keliling diwilayah perondaan kami”

“Silakan” sahut Agung Sedayu “Kami akan segera kembali sebelum hujan”

Agung Sedayu dan Swandaru kini berjalan semakin cepat. Bersamaan dengan guruh yang menggelegar dilangit, mereka merasa beberapa tetes air menyentuh tubuh mereka.

Ketika Swandaru menengadahkan telapak tangannya terdengar dikejauhan suara gemerasak semakin lama menjadi semakin keras dan semakin dekat.

“Hujan yang lebat itu telah datang” desis Swandaru.

“Ya” sahut Agung Sedayu.

Langkah-langkah merekapun menjadi semakin cepat pula. Regol kademangan kini sudah berada beberapa puluh langkah saja daripada mereka.

Ketika bunyi hujan yang lebat itu seolah-olah jatuh menimpa mereka, maka mereka telah meloncat masuk kedalam regol halaman kademangan. Dibawah atap regol itu Swandaru menarik nafas sambil berdesah “Hem, tepat. Demikian hujan tercurah dari langit, kita telah sampai disini”

Agung Sedayupun mengibas-ngibaskan bajunya. Beberapa titik air telah membasahinya. Ketika ia memandang kehalaman, tampaklah halaman itu tersaput oleh air hujan yang benar-benar seperti tertumpah dari udara. Sinar pelita yang tergantung ditiang regol halaman memancarkan cahayanya yang redup kemerah-merahan menembus butir-butir air hujan yang pepat padat.

“Kita harus menyeberangi halaman itu” desis Agung Sedayu.

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Sahutnya “Hujan lebat bukan main. Kita akan basah kuyup meskipun jarak pendapa itu tidak lebih dari limabelas duapuluh langkah’

Swandaru memandang berkeliling, kemudian gumamnya “Adakah disini payung belarak?”

Salah seorang penjaga diregol itu menggeleng “Sayang tidak ada”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Para penjaga diregol, Agung Sedayu dan Swandaru terkejut ketika mereka mendengar petir meledak dekat sekali diatas regol halaman itu, bahkan seakan-akan meledak didalam kepala mereka masing-masing.

“Gila” umpat Swandaru sambil menyumbat lubang kupingnya. Tetapi ledakan itu telah lewat. Dan suara ledakan itu telah terlanjur masuk kedalam lubang kupingnya.

Hujan semakin lama menjadi semakin lebat. Butiran-butiran air yang berjatuhan menjadi semakin padat, sehingga bayangan yang keputih-putihan membusa dihalaman kademangan iu. Sinar lampu yang menyala kemerah-merahan hanya mampu menerangi tetesan-tetesan air diteritisan regol halaman itu. Dan air yang tergenang dihalaman semakin lama menjadi semakin banyak, sehingga kemudian air itupun merambat naik kelantai regol dan dengan derasnya mengerutkan keningnya mengalir keluar dibawah kaki-kaki mereka yang berada didalam regol halaman. Beberapa orang penjaga meloncat naik keamben yang tinggi. Namun dua orang lain terpaksa harus tetap berada ditempat mereka sambil memegangi tombak-tombak mereka. Mereka itulah yang sedang mendapat giliran berjaga-jaga. Mereka berdiri ditempatnya meskipun kaki-kaki mereka terbenam didalam genangan air yang melimpah dari halaman mengalir kejalanan.

Dalam hiruk pikuk air hujan yang jatuh dari langit itu, terdengar Agung Sedayu bertanya “Apakah kalian sudah melihat Ki Tanu Metir datang?”

Hampir serentak para penjaga diregol itu menjawab “Belum”

Agung Sedayu dan Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Hampir bersamaan mereka berdesah “Aneh”

“Kita harus segera memberitahukan kepada kakang Untara” berkata Agung Sedayu.

Swandaru ragu-ragu sejenak. Ditatapnya air hujan yang lebat diantara suara angin yang kencang. Ketika kilat memancar sekali dilangit, maka mereka melihat ujung-ujung pepohonan seperti menggeliat diputar angin.

“Hujan dan angin” desis salah seorang penjaga.

Agung Sedayu berpaling. Kemudian ia bergumam seperti kepada diri sendiri “Tetapi besok pagi kita akan mengalami prahara yang lebih berbahaya”

“He?” bertanya penjaga itu.

Agung Sedayu menggeleng “Tunggulah perintah itu. Kau akan tahu, kenapa aku bingung mencari Ki Tanu Metir”

Para penjaga itu mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya mereka berguman “Itukah sebabnya para pemimpin kelompok kami berkumpul dipringgitan?”

“Ya” sahut Agung Sedayu.

Mereka kemudian terdiam. Meskipun mereka tidak gentar menghadapi setiap kemungkinan yang bakal datang, namun terasa juga dada mereka berdebar-debar.

“Ah, biarlah kami berlari saja menyeberangi halaman itu”

“Kalian akan basah kuyup”

“Tidak apa-apa. Hanya basah karena air” sahut Agung Sedayu.

“Bukan basah karena darah” sambung Swandaru sambil tertawa. Para penjagapun tertawa.

Agung Sedayu dan Swandarupun kemudian melipat kain mereka dan membelitkannya pada bagian belakang ikat pinggang mereka. Sambil mengawasi air hujan yang pekat itu mereka berdiri diteritisan regol halaman. Pelita dipendapa yang menyala-nyala hampir-hampir tidak dapat mereka lihat, meskipun jaraknya tidak begitu jauh.

“Ayolah, hujan ini selebat pada saat aku pergi dari Jati Anom bersama kakang Untara”

“Mari” sahut Swandaru.

Dan keduanyapun kemudian terjun kedalam air yang tergenang dihalaman dan berlari menembus kepekatan air hujan yang seperti tertumpah dari langit yang retak.

Demikianlah mereka naik kependapa, maka pakaian mereka benar-benar telah basah kuyup. Tak setitik noda keringpun yang melekat pada pakaian mereka. Ikat kepala, baju, kain dan celana mereka.

Beberapa orang yang duduk-duduk dipendapa terperanjat melihat dua orang berlari-lari meloncat ketangga pendapa.

“Siapa?” teriak salah seorang dari mereka.

Agung Sedayu dan Swandaru tidak menjawab. Namun terdengar Swandaru menyumpah “Setan. Basah kuyup juga pakaianku meskipun jarak itu hanya sejangkau tangan kidal”

Karena Agung Sedayu dan Swandaru tidak menjawab, maka beberapa orang segera mendekatinya. Namun kemudian terdengar mereka tertawa. Salah seorang dari mereka berkata “He, seperti tikus terjerumus dalam parit”

Swandaru bersungut-sungut. Segera ia berlari lewat pintu gandok masuk kedalam rumah mencari ganti pakaian. Sedang Agung Sedayu masih berdiri termangu-mangu dipendapa. Pakaian yang diberikan kepadanya oleh pamannya, berada dipringgitan.

Tetapi terasa dingin air hujan itu sampai menggigit tulang. Sehingga karenanya maka Agung Sedayu tidak tahan lagi. Dengan pakaiannya yang basah kuyup ia masuk kepringgitan. Beberapa orang yang duduk dipringgitan segera berpaling. Ketika Untara dan Widura melihatnya, maka merekapun tertawa pula.

“Gantilah Sedayu, lalu katakan apakah kau temukan orang yang kau cari itu”

Agung Sedayu segera bersembunyi dibelakang sehelai warana untuk mengganti pakaiannya yang basah kuyup itu.

Sesaat kemudian Agung Sedayu dan Swandaru telah duduk kembali didalam lingkaran para pemimpin kelompok laskar Pajang.

“Bagaimana dengan Kiai Dukun tua itu?” bertanya Untara

Agung Sedayu menggeleng-gelengkan kepala, jawabnya “Tidak ketemu kakang. Aku telah mencarinya ke banjar desa”

“Ya, aku melihat kalian basah kuyup”

“Ketika hujan turun aku sudah sampai diregol halaman ini” sahut Swandaru “Kami basah kuyup dalam jarak yang hanya beberapa langkah itu saja. Dari regol sampai kependapa”

“Alangkah derasnya hujan” desis Widura.

“Dan orang tua itu tidak dapat kau ketemukan” Untara menyambung.

“Ya” jawab Agung Sedayu

“aneh” gumam Untara “Dalam keadaan yang gawat ini, Ki Tanu Metir menghilang dari antara kami. Aku tidak tahu, apakah orang tua itu benar-benar tidak mengerti, bahwa hari ini adalah hari yang akan menentukan kedudukan Sangkal Putung, ataukah karena orang tua itu menghindarkan diri dari kemungkinan untuk turut bertempur?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya “Aku kira Ki Tanu Metir tidak akan menghindari tugas yang akan dibebankan kepadanya. Tugas dalam lingkaran kewajiban kita bersama. Bukankah dengan mempertahankan Sangkal Putung kita telah memberikan setitik perjuangan untuk menegakkan Pajang? Katakan seandainya Ki Tanu Metir berada diluar lingkaran pertentangan antara Jipang dan Pajang, mempertahankan Sangkal Putung adalah tugas kemanusiaan. Ki Tanu Metir pasti dapat membayangkan, apabila Sangkal Putung benar-benar hanyut dilanda arus kekuatan Macan Kepatihan, maka disini akan terjadi perkosaan atas sendi-sendi kemanusiaan. Perampasan hak rakyat Sangkal Putung atas tanah dan kekayaan mereka”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedayu pasti tidak akan membenarkan pendapat bahwa Ki Tanu Metir melarikan diri dari kemungkinan untuk bersama-sama laskar Pajang bertempur melawan laskar Jipang. Bukankah Ki Tanu Metir sendiri yang telah memberitahukan bahwa didalam lingkungan laskar Jipang itu terdapat seorang yang bernama Sumangkar? Tetapi kenapa justru pada saat yang genting ini orang tua itu tidak menampakkan diri?

Untara menjadi cemas, apakah Ki Tanu Metir tidak tahu, bahwa besok pagi-pagi terang tanah, Sangkal Putung telah dilanda oleh arus laskar Jipang yang kuat, yang telah memutuskan bertempur dalam gelar yang sempurna?

Tetapi Untara tidak boleh tenggelam dalam teka-teki itu. Sebagai seorang senapati ia harus segera menentukan sikap melawan musuh dengan kekuatan yang ada. Ia tidak boleh mencari-cari sebab untuk membenarkan kelemahan-kelemahan yang ada pada laskarnya. Untuk mengurangi kesalahan sebagai seorang senapati, dengan menuduhkan sebab-sebab dari kelemahan itu kepada orang lain. Demikian juga agaknya dengan Widura. Wajahnya yang suram, tiba-tiba menjadi tegang. Dengan dahi yang berkerut, ia berkata “Untara, kita harus segera menentukan sikap”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya “Ya paman. Aku sedang berpikir, apakah sebaiknya yang harus kita lakukan”

“Kita anggap bahwa Ki Tanu Metir tidak ada diantara kita”

Sekali lagi Untara mengangguk “Ya” jawabnya “Kita perhitungkan kekuatan yang ada pada kita”

Semua yang duduk dipringgitan itu tiba-tiba menjadi tegang. Pembicaraan itu telah menunjukkan kepada mereka, bahwa kekuatan lawan kali ini benar-benar telah mendebarkan dada para pemimpin laskar Pajang di Sangkal Putung.

“Kita tidak sempat untuk mengirim orang ke Pajang, mengundang salah seorang senapati tertinggi dari Wiratamtama” desis Widura.

Untara menggeleng, katanya “Tidak paman. Mungkin Ki Gede Pemanahan atau Ki Penjawi dapat menempatkan diri langsung menghadapi orang-orang sekuat Sumangkar. Namun kesempatan tidak mengijinkan lagi. Nah, karena itu siapakah yang kita persiapkan untuk melawan hantu dari Kedung Jati itu? Hantu yang sering dikatakan orang dapat membawa nyawa rangkapan didalam tubuhnya? Tetapi cerita itu ternyata sama sekali tidak benar. Patih Mantahun terbunuh mati. Dan ia tidak dapat hidup kembali”

Sesaat pringgitan itu menjadi sepi. Pertanyaan Untara benar-benar memusingkan kepala mereka. Siapakah yang akan mampu menghadapi murid kedua dari Kedung Jati itu?

Yang terdengar kemudian adalah suara hujan yang gemerasak diatas atap rumah kademangan. Disana-sini tetesan-tetasan air menembus atap yang tiris. Angin yang kencang, telah mengguncang-guncang daun pintu pringgitan, sehingga beberapa kali terdengar daun pintu terbanting.

Dipendapa nyala pelita terayun-ayun dibuai angin yang kencang, sehingga sekali-sekali nyalanya menjadi redup hampir padam. Seseorang kemudian telah menutupnya dengan sehelai daun, untuk melindungi api pelita itu supaya tidak terlanjur padam.

Tak seorangpun yang duduk dipringgitan segera dapat memecahkan teka teki itu. Sumangkar adalah seorang yang pilih tanding. Melampaui Macan Kepatihan sendiri yang selama ini menjadi hantu yang menegakkan bulu tengkuk.

“Kita harus segera mengambil keputusan” terdengar Untara menggeram.

Hampir serentak semua orang dipringgitan itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Marilah aku mencoba menentukan orang itu” berkata Untara lebih lanjut. “Semua orang terpenting telah mendapat tugasnya masing-masing. Macan Kepatihan itupun tidak mungkin aku lepaskan. Sedang paman Widura harus menghadapi Sanakeling. Disayap yang lain Citra Gati harus dapat menahan Alap-alap Jalatunda. Dan kini kita mencari lawan untuk Sumangkar itu. Sudah tentu untuk melawan orang itu harus kita persiapkan beberapa orang dalam satu kelompok. Orang-orang itu antara lain adalah Agung Sedayu, Swandaru Geni, Hudaya, Sonya serta orang-orang terpilih dari kelompoknya. Sisanya serahkan pimpinannya pada Sendawa. Kalian harus berada diujung barisan, sebagai inti kekuatan yang akan menghadapi seorang yang luar biasa itu”

Agung Sedayu dan Swandaru mengangkat wajahnya. Sesaat mereka saling memandang, kemudian dipandanginya wajah Hudaya dan Sonya. Mereka tidak segera dapat menjawab, namun didalam dada mereka terasa sebuah gelombang yang menghempas dinding jantung. Sumangkar adalah seorang yang sakti. Sesakti guru mereka Kiai Gringsing.

Tetapi mereka tidak dapat menolak perintah itu. Dan bukankah mereka tidak harus menghadapinya sendiri? Karena itu betapa beratnya tugas itu, namun tugas itu harus mereka lakukan dengan sepenuh kemungkinan yang ada pada diri mereka.

Hudaya dan Sonya tidak begitu terpengaruh oleh perintah itu. Mereka belum dapat membayangkan, sampai dimana kesaktian orang yang bernama Sumangkar itu. Mungkin setingkat Macan Kepatihan atau melampauinya sedikit. Sehingga empat orang termasuk Agung Sedayu sebenarnya bagi Hudaya dan Sonya telah cukup menentramkan hatinya. Tetapi Agung Sedayu dan Swandaru pernah melihat orang yang bernama Sumangkar itu bertempur melawan Ki Tambak Wedi. Karena itu maka mau tidak mau, mereka harus mempertimbangkan setiap kemungkinan yang dapat terjadi.

Dalam pada itu terdengar Untara bertanya “Bagaimana Sedayu dan Swandaru?”

Kembali Swandaru dan Agung Sedayu saling memandang. Namun kemudian serentak mereka menganggukan kepala sambil menjawab hampir bersamaan “Kami junjung kewajiban itu”

“Bagus” sahut Untara “Disamping kalian berdua, Hudaya, Sonya dan beberapa orang terpilih harus bekerja mati-matian menahan orang tua itu”

Hudaya dan Sonyapun mengangguk-anggukkan kepala mereka. Tanpa disadarinya Hudaya meraba-raba janggutnya yang lebat. Wajahnya yang keras dan hampir tertutup oleh rambut itu tampak berkerut-kerut.

Sejenak kemudian pembicaraan mereka telah selesai. Perintah Untara dan Widura telah mereka dengar seluruhnya. Apa yang harus mereka lakukan untuk menghadapi sergapan laskar Jipang yang akan datang dalam gelar yang sempurna.

Karena itu maka segera Untara memutuskan apakah yang harus dilakukan oleh mereka masing-masing segera. Barulah kemudian Untara berkata kepada Widura “Nah, sekarang bagaimana dengan rakyat Sangkal Putung paman?”

Widura mengerutkan keningnya. Sekali ia berpaling kepada Ki Demang Sangkal Putung, kemudian katanya “kakang Demang. Agaknya tekanan kali ini akan terasa cukup berat. Bagaimanakah sebaiknya dengan rakyat Sangkal Putung? Dengan perempuan dan anak-anak?”

Ki Demang termenung sesaat. Terbayang diwajahnya, perasaan cemas yang dalam. Sebagai seorang yang selama ini bekerja untuk kademangan dan rakyat dikademangan ini, maka semua bahaya itu benar-benar telah menegangkan urat syarafnya. Tetapi seperti juga Untara dan Widura, ia tidak boleh tenggelam dalam kecemasannya itu. Karena itu maka setelah berpikir sejenak, maka katanya “Perempuan dan anak-anak harus kita singkirkan”

Untara dan Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi apakah dalam keadaan seperti sekarang ini mereka dapat meninggalkan rumah-rumah mereka dengan bayi-bayi mereka? Hujan yang lebat seperti tertumpah dari langit. Guntur meledak-ledak tak henti-hentinya mengguncang-guncang Sangkal Putung. Tetapi bagaimanapun juga, kira-kira harus berkumpul dan mendapat pengawalan yang cukup. Setiap saat yang diperlukan mereka harus dapat diselamatkan dari keganasan laskar Jipang. Meskipun sama sekali tidak mereka kehendaki, tetapi seandainya laskar Jipang berhasil masuk kedaerah kademangan ini maka mereka harus dijauhkan dari orang-orang Jipang yang sedang haus itu. Haus kemenangan, haus akan benda-benda berharga dan apabila mereka melihat gadis-gadis Sangkal Putung.

Ki Demang itupun kemudian berkata pula “Adalah menjadi kewajiban setiap laki-laki di Sangkal Putung untuk menyingkirkan keluarga mereka. Mula-mula mereka harus dibawa kemari, sedang dalam keadaan yang gawat, mereka akan kita selamatkan pula. Melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi kemudian. Tetapi sementara dapat dipersiapkan desa diujung timur kademangan ini”

Untara dan Widura mengangguk-angguk. Dan terdengar Widura berkata “Kalau demikian, maka pembicaraan kita sudah selesai. Segenap perintah dapat dilakukan segera. Sedang pengungsian perempuan dan anak-anak dapat dimulai lewat tengah malam. Biarlah mereka menikmati ketenangan ditengah malam pertama. Biarlah anak-anak tidur meskipun hanya sebentar, sehingga mereka tidak akan terjaga semalam penuh karena kegelisahan”

Pertemuan itupun kemudian diakhiri. Para pemimpin kelompok segera kembali kekelompok masing-masing. Menyampaikan berita terakhir yang telah mereka dengar. Setelah cukup lama mereka tidak maju kegaris perang, maka besok mereka akan berada didalam gelar yang sempurna. Karena itu maka seakan-akan mereka kini merasakan kembali nafas keprajuritan mereka.

Selama ini mereka merasa tidak lebih dari sekelompok laskar yang dihadapkan pada gerombolan perampok dan penyamun. Tetapi besok kedua pasukan akan berhadapan, sebagai pasukan dari Jipang dan pasukan dari Pajang yang selama ini belum menemukan penyelesaian, meskipun Adipati Jipang telah terbunuh dimedan peperangan.

Untunglah bahwa selama ini laskar Pajang di Sangkal Putung sempat memberikan bimbingan kepada anak-anak muda Sangkal Putung untuk mengenal cara-cara bertempur dalam gelar yang sempurna. Mereka telah berlatih dengan tekun untuk melakukan pertempuran dalam cara ini. Berbagai gelar telah mereka pelajari. Meskipun mereka belum setangkas prajurit yang sebenarnya, namun ketangkasan mereka telah cukup mereka pergunakan sebagai bekal untuk mempertahankan kampung halaman mereka besok.

Para prajurit yang memang belum lelap tertidur segera bangkit kembali dan berkerumun disekeliling pemimpin-pemimpin kelompok mereka untuk mendapat petunjuk-petunjuk yang penting.

Beberapa orang mendapat tugas khusus untuk memimpin anak-anak muda Sangkal Putung bersama Swandaru Geni, Ki Demang sendiri, Jagabaya dan beberapa orang bekas prajurit Demak yang kemudian menetap di Sangkal Putung. Sedang beberapa orang diantara mereka adalah petugas-petugas yang harus siap diatas punggung kuda masing-masing, yang apabila setiap saat diperlukan, mereka harus segera mencapai tempat-tempat yang dikehendaki.

Sendawapun segera kembali ke banjar desa. Betapa hujan seperti tercurah dari langit, namun orang itu beserta seorang pembantunya berlari kencang-kencang menembus lebatnya titik-titik air yang berjatuhan dari langit,

“Alangkah lebatnya hujan ini” desis Sendawa sambil mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.

“Ya” sahut kawannya “Hampir aku tidak dapat bernafas”

Dan keduanyapun berlari semakin kencang, agar mereka tidak membeku dibawah hukan yang seakan-akan menjadi semakin lebat.

Swandaru Geni dan Agung Sedayu sesaat kemudian berdiri termangu-mangu dipendapa kademangan. Mereka harus segera berbuat sesuatu atas anak-anak muda Sangkal Putung. Tidaklah sebaiknya Ki Demang yang tua itulah yang berjalan hilir mudik didalam hujan yang lebat. Karena itu maka Swandaru kemudian berkata “Aku akan ganti pakaian kembali”

“Kenapa?” bertanya Agung Sedayu.

“Aku akan kenakan pakaianku yang basah. Bukankah aku harus menari-nari didalam hujan itu kembali?”

Agung Sedayu termenung sejenak. jawabnya “Aku juga. Sayang pakaian kering ini. Kalau pakaian ini basah pula, aku tidak lagi punya ganti besok”

“Apakah kita besok masih perlu berganti pakaian?”

“Kenapa?” bertanya Agung Sedayu.

Swandaru tertawa lucu sekali. Katanya “Bagaimana kalau Sumangkar besok pagi-pagi memelukmu?”

Agung Sedayu tertawa. Tetapi ia tidak menjawab pertanyaan itu, bahkan ia berkata “Cepat, gantilah. Aku juga mau berganti pakaian kembali. Waktu kita tidak terlalu panjang. Sebentar lagi kita akan sampai ketengah malam. Pekerjaan kita akan bertambah banyak. Menyelenggarakan pengungsian orang-orang perempuan dan anak-anak”

“Biarlah orang lain mengurusnya” sahut Swandaru “Aku akan tidur. Besok menjelang fajar kita harus sudah berada dalam gelar perang. Jangan membuang tenaga terlalu banyak”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan sesaat kemudian keduanyapun telah berganti pakaian dengan pakaian-pakaian mereka yang basah. Bahkan mereka berdua sama sekali tidak mengenakan baju dan ikat kepala. Dengan meloncat-loncat mereka menuruni halaman dan berlari keregol halaman.

Suasana para penjaga diregol halaman telah berubah. Mereka telah mendengar perintah, apa yang harus mereka lakukan. Karena itu maka sebagian besar dari mereka harus mempergunakan waktu sebaik-baiknya untuk beristirahat, supaya tenaga mereka besok sepenuhnya dapat mereka manfaatkan.

Swandaru dan Agung Sedayu segera berlari meninggalkan regol halaman. Semakin lama menjadi semakin cepat untuk mengurangi perasaan dingin yang seperti menusuk-nusuk kulit. Yang pertama-tama mereka datangi adalah Jagabaya Sangkal Putung untuk memberitahukan kepadanya tugas yang harus dilakukannya sejak malam ini. Jagabaya itu harus menyelenggarakan pengungsian dan besok memimpin sebagian dari laki-laki Sangkal Putung yang masih mungkin menggenggam senjata, melakukan pengawalan di kademangan.

“Apakah perlu kita bunyikan tanda bahaya?” bertanya Jagabaya.

“Jangan” cegah Swandaru “Tidak banyak manfaatnya. Hanya akan menimbulkan kecemasan dan kekacauan. Rakyat akan berbuat tanpa dapat dikendalikan”

“Jadi apakah aku harus mendatangi setiap rumah diseluruh kademangan?”

“Apakah begitu juga yang pernah kau kerjakan?” bertanya Swandaru.

“Tidak” sahut Jagabaya itu “Aku hanya membangunkan beberapa orang, dan berita itu telah menjalar sendiri”

“Nah, lakukanlah. Tetapi beri mereka ketenangan, bahwa di kademangan akan ditempatkan pengawalan yang kuat. Para peronda disegenap mulut lorong telah mendapat perintah apabila ada diantara rakyat yang menjadi bingung dan ingin mengungsi keluar dari kademangan ini, mereka harus dicegah, dan membawa mereka ke kademangan supaya tidak timbul kekacauan yang merugikan. Aku akan mempergunakan tenaga-tenaga anak-anak muda untuk keperluan serupa, membantu pengungsian ini. Namun sebagian dari mereka harus beristirahat menjelang fajar besok”

Jagabaya itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian “baik. Kewajiban itu akan aku lakukan sebaik-baiknya”

Sesaat kemudian Agung Sedayu dan Swandaru telah berada kembali dibawah lebatnya hujan. Mereka meninggalkan rumah Ki Jagabaya, akan memanggil beberapa orang pemuda untuk mengawani Ki Jagabaya itu. Sedang anak-anak muda yang lain supaya segera bersiap dalam susunan kelompok-kelompok yang telah ditentukan.

“Kemana kita pergi sekarang?” bertanya Agung Sedayu kepada Swandaru.

“Memanggil anak-anak” sahut Swandaru.

“Ya, tetapi kemana? Dirumahnya masing-masing atau kegardu mana yang kita tuju pertama-tama?”

“Kerumah Tima. Mungkin anak-anak berada disana”

Agung Sedayu tidak menjawab. Segera mereka berdua berlari kerumah Tima yang sedang merayakan selapan bayinya.

Sampai dirumah Tima, Swandaru langsung meloncat menyusup regol masuk kedalam halaman. Dengan tubuh dan pakaian yang basah kuyup mereka menaiki tangga pendapa yang terang benderang karena cahaya lampu-lampu minyak yang betebaran tergantung hampir disetiap tiang-tiangnya.

Beberapa orang terkejut melihat dua orang berlari-lari meloncat naik tangga pendapa rumah itu. Namun kemudian hampir serentak setiap mulut bergumam “Swandaru dan Agung Sedayu”

Tima yang melihat kehadiran mereka berdua segera menyongsongnya sambil bertanya dengan serta-merta “Oh, marilah, marilah tuan berdua. Akh, aku tidak sempat menyongsong kerumah. Hujan lebatnya bukan main. Apakah kalian basah?”

“Tidak” sahut Swandaru “Aku memiliki aji pengabaran. Tidak basah oleh hujan dan tidak panas terjilat api”. Namun suaranya terdengar gemetar karena giginya gemeretak kedinginan.

Yang mendengar jawaban Swandaru itu tertawa geli. Tetapi mereka menjadi iba melihat bibir Swandaru itu bergetaran.

“Mari, mari silakan naik” Tima mempersilakan.

“Sebenarnya sejak senja aku ingin datang kemari” berkata Swandaru kemudian “Tetapi aku belum sempat. Hujan telah tercurah dari langit. Meskipun demikian, aku paksa juga untuk mengunjungi selapanan bayimu. Nasi megana, telur bulat, sambal goreng yang pedas. Hem, alangkah nikmatnya”

“Karena itu marilah naik” sekali lagi Tima mempersilakan.

“Tetapi sayang, kami berdua basah kuyup”

“Tidak apa, silakan”

“Kami bisa membeku kedinginan”

Tima menjadi bingung. Apakah maksud Swandaru itu sebetulnya. Dan tiba-tiba berkata “Apakah kalian memerlukan pakaian kering supaya tidak kedinginan?”

“Terima kasih” sahut Swandaru “Aku kira tidak perlu pakaian kering, bahkan pakaian kalianlah yang akan menjadi basah kuyup”

Tima menjadi bingung. Namun kemudian terdengar Swandaru berkata “Sebelum nasi meganamu siap Tima, aku lebih dahulu ingin bertemu dengan beberapa pemimpin kelompok anak-anak muda Sangkal Putung yang kebetulan berada dirumah ini”

Tima mengerutkan keningnya. Terasa dadanya berdebar-debar. Beberapa anak muda yang mendengarnya, dengan serta-merta bangkit dan berdiri mengelilingi Swandaru dan Agung Sedayu.

“Duduklah” minta Swandaru “Aku tidak ingin mengganggu pertemuan ini. Nanti aku juga ingin turut menikmati suguhan-suguhan yang telah terlanjur siap”

Tetapi anak-anak muda dipendapa itu justru semakin banyak yang berdiri melingkarinya, sehingga kemudian Swandaru terpaksa memperingatkan mereka sekali lagi “Duduklah. Kalau kalian berebutan berdiri, nanti suguhan-suguhan itu akan terinjak-injak”

Namun kali ini suara Swandaru itupun seakan-akan tidak mereka dengar. Berebutan mereka mendekati Swandaru dan Agung Sedayu. Swandaru akhirnya menjadi jengkel. Tiba-tiba ia meloncat turun kehalaman, kedalam hujan yang masih tercurah dari langit. Dalam keriuhan air hujan terdengar suara Swandaru disela-sela derai tertawanya “Nah, marilah, siapa yang akan mengerumuni aku lagi”

Beberapa anak-anak muda mengumpat-umpat didalam hatinya. Namun beberapa orang yang kebetulan pemimpin-pemimpin kelompok anak-anak muda Sangkal Putung melihat, bahwa ada sesuatu yang penting yang akan disampaikan oleh Swandaru kepada mereka, sehingga karena itu, maka ada diantara mereka yang benar-benar meloncat pula kehalaman, dibawah curahan hujan yang lebat.

“He, kau gila” teriak Swandaru. “Tunggulah, aku akan naik lagi kependapa”

Namun anak-anak muda itu tersenyum, jawabnya “Pasti ada yang penting terjadi. Kalau tidak, maka aku kira kakang Swandaru tidak akan datang ketempat ini dengan pakaian basah kuyup dan tanpa baju”

“Anak setan kau” umpat Swandaru sambil tertawa “Baiklah, marilah, ikuti aku keteritis gandok”

Kemudian Swandaru dan Agung Sedayu diikuti oleh lima orang anak muda berlari menuju keteritis gandok.

Ketika mereka sudah berada ditempat yang teduh, maka segera Swandaru memberitahukan kepada mereka, apa yang harus mereka lakukan.

“Apakah hanya ada lima orang pemimpin kelompok yang berada ditempat ini?”

“Ya kakang. Pemimpin kelompok dari kelompok lima, tujuh dan sembilan tidak datang, sedang pemimpin kelompok delapan sedang bertugas digardu selatan”

“Besok kalian berada langsung dibawah pimpinan ayah sendiri. Aku mempunyai tugas khusus bersama kakang Agung Sedayu. Satu kelompok laskar Pajang ada diantara kalian. Ingat, bahwa satu kelompok laskar pajang, meskipun jumlahnya hampir sama dengan kelompok-kelompokmu, namun mereka sudah terlatih baik dan penuh pengalaman. Kalian berada dibawah tuntunan mereka bersama beberapa orang Sangkal Putung sendiri bekas prajurit yang akan ikut serta dengan kalian dalam kelompok-kelompok yang telah ditentukan”

“Baik kakang” jawab mereka hampir bersamaan.

Swandaru menjadi bangga akan kesediaan anak-anak Sangkal Putung menghadapi bahaya. Mereka benar-benar telah siap lahir batin untuk membela tanah yang digarapnya setiap hari, tanah sumber hidupnya, kampung halaman.

“Bagus” sahut Swandaru “Kalau demikian, kalian harus segera berbuat sesuatu. Waktumu terbatas sekali. Siapkan beberapa anak muda untuk membantu Jagabaya. Serahkan beberapa orang dari kelompok tiga. Mereka harus membantu menyelenggarakan pengungsian dan kemudian mengadakan pengawalan atas kademangan. Hubungi pimpinan kelompok orang-orang yang sudah setengah umur. Merekapun harus membantu penyelenggaraan pengungsian dan pengawalan atas kademangan. Tetapi separo dari mereka yang masih sanggup ikut pula besok pagi-pagi menyongsong musuh, kalian harus bersiap dihalaman banjar desa. Tidak akan ada tanda bahaya dibunyikan. Satu-satunya tanda justru kentong dara muluk menjelang terang tanah. Atau kalau perlu dipercepat. Ingat, dara muluk”

Kelima anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka sudah dapat membayangkan apa yang harus mereka lakukan bersama ayah-ayah mereka, paman-paman mereka, dan bahkan kakek-kakek mereka. Setiap laki-laki di Sangkal Putung. Setiap kelompok mempunyai tugasnya masing-masing. Kelompok anak-anak muda, kelompok orang-orang yang lebih tua dan kelompok orang-orang setengah umur yang masih sanggup menggenggam senjata. Bahkan anak-anak tanggungpun akan diikut-sertakan dalam kesempatan yang sesuai dengan hasrat yang menyala didalam dada mereka.

Ketika semuanya sudah menjadi jelas, maka berkata Agung Sedayu “Jangan kecewakan Tima yang telah terlanjur menyediakan suguhan buat kalian. Tetapi usahakan dengan bijaksana supaya kerja besok tidak terbengkalai”

“Baik kakang” jawab salah seorang dari mereka “Aku akan berusaha mempercepat hidangan itu. Sesudah itu, kami akan bekerja keras”

“Bagus, cobalah untuk beristirahat. Jangan kau peras habis tenagamu malam ini” sambung Agung Sedayu.

“Baik”

“Kalau demikian, kembalilah kependapa. Pakaian kalianpun telah basah pula”

“Tidak apa. Kami hanya tinggal sebentar duduk diantara mereka”

Setelah semuanya menjadi semakin jelas, maka Swandaru dan Agung Sedayupun segera berlari kembali kependapa bersama kelima anak-anak muda pemimpin kelompok itu. Ditangga pendapat Agung Sedayu dan Swandaru segera minta diri kepada Tima yang berdiri dengan mulut ternganga. Ia sama sekali tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Agung Sedayu dan Agung Sedayu. Sehingga terloncat dari mulutnya “Lalu apakah yang kalian kehendaki datang dalam pakaian yang basah kuyup tanpa baju, kemudian pergi sebelum aku memberikan apa-apa?”

Swandaru tertawa “Nanti aku datang kembali”

Tima tidak sempat berkata apapun lagi. Mereka yang dipendapa hanya sempat melihat Swandaru dan Agung Sedayu meloncat kedalam hujan yang lebat dan hilang ditelan oleh kegelapan.

Tima masih berdiri diatas tangga pendapa rumahnya. Ia merasa aneh atas sikap Swandaru itu. Namun telah terasa pula didalam hatinya, bahkan setiap orang dan anak muda yang duduk dipendapa itu, bahwa sesuatu yang penting telah terjadi. Segera mereka menghubungkan perintah kesiapsiagaan yang meningkat akhir-akhir ini. Latihan-latihan yang lebih berat, dan kewaspadaan yang semakin tajam.

Kini yang menjadi pusat perhatian mereka adalah kelima anak-anak muda yang masih berdiri ditangga pendapa. Meskipun pakaian mereka basah juga, namun mereka masih sempat naik kependapa dan duduk kembali ditempat masing-masing.

Tima yang tidak sabar segera bertanya kepada salah seorang dari mereka “Apakah yang penting?”

Yang ditanya menggeleng “Tidak ada”

“Kau menyimpan rahasia itu?” bertanya anak muda yang lain.

“Tidak. Swandaru hanya datang untuk mempercepat nasi megana yang telah dipersiapkan supaya tidak menjadi terlalu dingin”

Tima segera mengerti. Kini ia yakin, bahwa pertemuan itu telah dikejar waktu. Ada sesuatu yang penting akan terjadi. Demikian juga orang-orang lain dipendapa itu. Sehingga karena itu maka Tima berkata “Baik. Aku akan percepat gelombang hidangan yang telah kami siapkan. Bukankah kalian ditunggu oleh tugas-tugas yang penting ?”

Kelima orang anak muda itu tersenyum. Dan senyumnya itu telah membenarkan ucapan Tima yang segera bergegas kebelakang.

Pertemuan itu cepat selesai jauh sebelum waktu yang ditentukan. Kelima anak-anak muda pemimpin kelompok segera memanfaatkan pertemuan itu. Sehingga sejenak kemudian, beberapa anak-anak muda segera berlari-larian berpencaran dari rumah Tima untuk melakukan pekerjaan masing-masing.

Sebenarnyalah Sangkal Putung didalam malam yang kelam, dibawah cucuran hujan yang lebat itu, telah terbangun karena sebuah kejutan yang menegangkan. Hilir mudik anak-anak muda dan orang-orang yang bertugas menyelenggarakan penyingkiran perempuan dan anak-anak, masuk keluar pintu-pintu rumah, mengetuk pintu-pintu yang masih tertutup dan memberitahukan kepada mereka untuk mengamankan diri mereka bersama anak-anak mereka.

Rakyat Sangkal Putung benar-benar dicengkam oleh kecemasan. Cemas akan datangnya malapetaka besok, dan cemas akan hujan angin yang kencang. Namun mereka terpaksa meninggalkan rumah-rumah mereka, membawa barang-barang mereka yang paling berharga. Dibawah payung-payung belarak dan daun-daun pisang, mereka berbondong-bondong pergi ke kademangan mengamankan diri dan barang-barabg mereka. Tangis anak-anak kecil telah memecahkan kesepian kademangan itu. Obor-obor blarak berlarian didalam kelamnya malam. Namun sebagian dari obor-obor itu terbunuh oleh hujan yang masih saja tercurah dari langit. Tetapi pengungsian berjalan terus.

Laskar Pajang yang berada dikademangan telah menyingkirkan diri mereka sendiri dari pendapa. Mereka betebaran digandok dan disetiap sudut rumah itu untuk memberi tempat kepada para perempuan dan anak-anak yang segera akan memenuhi pendapa itu.

Pendapa kademangan Sangkal Putung itu segera menjadi hiruk pikuk. Rengek anak-anak diantara tangis bayi. Sedangkan beberapa orang perempuan menjadi gemetar ketakutan. Tetapi mereka menjadi agak tentram ketika mereka melihat beberapa orang laki-laki, suami-suami mereka, anak-anak mereka, dan saudara-saudara mereka telah siap dengan senjata ditangan mereka. Apalagi ketika mereka melihat beberapa orang prajurit Pajang yang hilir mudik diantara mereka. Seolah-olah mereka berada didalam pelukan tangan-tangan yang akan sanggup melindunginya.

Ternyata waktu merayap terlampau cepat. Prajurit-prajurit Pajang dan laki-laki Sangkal Putung yang besok harus maju berperang, sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk beristirahat. Karena itu maka Untara segera mengambil kebijaksanaan lain. Setiap orang yang besok akan ikut serta dalam perlawanan terhadap laskar Jipang langsung digaris peperangan harus meninggalkan kademangan dan pergi kebanjar desa.

Demikianlah maka sesaat kemudian seperti banjir yang mengalir mereka meninggalkan halaman kademangan. Dan sesaat kemudian laki-laki dihalaman kademangan itu, menjadi semakin susut, tetapi sebaliknya perempuan dan anak-anak menjadi bertambah-tambah.

Yang tinggal dihalaman itu, selain para pengungsi, tinggallah beberapa orang laki-laki dan para pemuda yang bertugas mengawal mereka. Tetapi disamping mereka, hampir setiap laki-laki yang seharusnya tidak turut dalam setiap persiapan karena umur-umur mereka yang telah lanjut, ternyata tidak mau ketinggalan pula. Meskipun mereka telah dibebaskan dari kewajiban itu, namun mereka tidak dapat tinggal diam.

Seorang yang berambut putih seperti kapas berkata kepada temannya yang berdiri disampingnya, diteritisan kademangan itu “Hem. Kenapa aku tidak diikutsertakan dalam barisan yang besok akan menyongsong lawan itu?”

Temannya yang sudah tidak bergigi satupun menjawab “Aku juga menyesal. Kemarin aku sudah berkata apabila ada bahaya datang setiap saat, aku sanggup untuk maju kegaris perang terdepan. Tetapi Ki Jagabaya tertawa sambil menunjuk gigiku yang telah habis ini “Gigimu telah habis Kek”

Aku menjawab “Bukankah aku tidak akan menggigit musuh-musuhku? Tetapi tanganku masih kuat mengayunkan pedang. Jagabaya itu tidak percaya. Aku telah memberinya bukti. Dengan sebuah kapak, aku membelah sepotong balok dihalaman rumah Ki Jagabaya. Tetapi Ki Jagabaya masih juga tertawa sambil menjawab “Balok itu tak dapat bergerak kek. Kalau lawanmu itu mampu menghindar dan menjauh, kau akan kehabisan nafas untuk mengejarnya”. Terlalu, terlalu Ki Jagabaya itu. Meskipun demikian aku sekarang membawa kapakku itu. Aku akan membuktikan bahwa aku masih mampu membelah kepala musuh-musuhku”

Temannya yang berambut putih kapas mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya “Akupun masih dapat memanjat pohon kelapa dihalaman rumahku. Kau tahu, dirumahku ada duapuluh lima pohon kelapa. Aku memanjatnya berganti-ganti tanpa istirahat”

Temannya yang tak bergigi mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Jawabnya “Itulah. Mereka menyangka kita sudah pikun. Nanti, apabila orang-orang Jipang itu ada yang merembes sampai kehalaman ini, akan aku buktikan kemampuanku”

Mereka kemudian berdiam diri. Dengan tajamnya mereka mengamati beberapa orang prajurit Pajang yang masih bertugas ditegol halaman itu. Diteritisan yang lain mereka melihat anak-anak muda yang telah bersiaga penuh. Sebagian dari mereka menyeret pedang dilambung mereka, dan sebagian lagi memandi tombak dipundak mereka.

Kedua orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka berbangga didalam hati mereka. Tetapi mereka lebih berbangga hati lagi, ketika mereka melihat orang-orang tua sebaya dengan mereka, membawa senjata-senjata pula ditangannya. Seorang yang duduk ditepi pendapa, meskipun hampir seluruh kulitnya telah berkeriput, namun tangannya masih juga menggenggam sebilah pedang karatan. Pedang yang agaknya tidak pernah disentuhnya selama ini. Namun justru pedang-pedang yang karatan itu merupakan senjata yang berbahaya. Luka yang ditimbulkannya dapat menjadikan penderitanya bengkak dan keracunan. Seorang yang lain sibuk membelai cucunya yang menangis. Ibu anak itu sedang menyusui bayinya yang menangis pula. Tetapi anak yang menangis dipangkuan kakeknya itu masih sempat mempermainkan hulu keris kakeknya.

“Jangan dicabut ngger” desis kakeknya. Tetapi cucunya melengking-lengking ingin melihat benda itu.

“Hem” desis kakeknya. “Mintalah yang lain”

Cucunya terdiam ketika seorang perempuan yang lain memberinya sepotong jenang alot kepadanya.

Pendapa, pringgitan, bahkan ruangan dalam dan gandok kademangan itu benar-benar telah penuh sesak. Tak ada setapak tempatpun yang masih kosong. Anak panah yang malang mujur terbaring, dan ibu-ibu mereka yang duduk bersimpuh diantara mereka. Mereka sama sekali tidak memperhatikan lagi pakaian mereka yang basah kuyup.

Sedang dibawah pendapat itu, diteritisan gandok dan dibelakang kademangan, sebagian anak-anak muda berdiri berjajar-jajar dengan sebagian laki-laki Sangkal Putung dalam kesiagaan. Hujan yang lebat terasa menjengkelkan selaki. Tetapi mereka sama sekali tidak kehilangan kewaspadaan. Setiap saat tangan-tangan mereka siap mengangkat senjata mereka. Sedang diregol halaman beberapa prajurit Pajangpun selalu berada dalam kesiagaan penuh.

Prajurit-prajurit yang lain, laki-laki Sangkal Putung dan anak-anak muda mereka, yang besok mendapat tugas menyongsong musuh, berjalan dalam iring-iringan kebanjar desa. Beberapa orang diantara mereka terutama anak-anak mudanya, berjalan langsung menuju kebanjar itu dari rumah masing-masing. Sedangkan ayah-ayah mereka terpaksa mengantar istri-istri mereka, dan anak-anak mereka yang masih kecil lebih dahulu kekademangan.

Demikianlah maka bajar desa dan lapangan dimukanya telah menjadi pusat persiapan untuk menghadapi lawan-lawan mereka besok.

Demikianlah maka semakin jauh malam memanjat kepuncaknya, maka Sangkal Putung menjadi semakin sibuk. Persiapan-persiapan menjadi semakin ketat, dan setiap dada menjadi semakin berdebar-debar. Bagi laskar Sangkal Putung, adalah untuk pertama kalinya mereka akan menghadapi lawan-lawan mereka dengan gelar yang sempurna. Namun Widura berkata kepada mereka “Apa yang akan kalian alami tidak akan jauh berbeda dari setiap pertempuran yang pernah terjadi. Kalian hanya lebih terikat pada kerjasama dalam gelar yang telah ditentukan. Namun untuk selanjutnya apabila kalian selalu ingat kepada segala petunjuk yang pernah diberikan kepada kalian, maka kalian tidak akan menemui kesulitan apa-apa. Satu kelompok prajurit Pajang akan menuntun kalian, apa yang harus kalian lakukan”

Laskar Sangkal Putung itu menjadi berbesar hati. Tetapi mereka tidak cukup terlatih seperti prajurit Pajang dan para prajurit Jipang yang mampu bertempur sehari penuh. Mulai pada saat matahari terbit, dan baru berhenti pada saat matahari terbenam. Mereka telah cukup dapat mengatur diri mereka untuk menyesuaikan dengan keadaan itu. Sedangkan laskar Sangkal Putung masih belum pernah melakukannya. Peperangan yang pernah terjadi tidak sampai melampaui tengah hari. Dan pertemuran malampun tidak sampai separo malam. Kini apabila kedua pihak telah bertekad untuk melakukan peperangan dalam tingkat terakhir maka mereka harus berani menghadapi kemungkinan itu.

Untuk menghadapi keadaan ini Untara dan Widura mempunyai cara mengatasinya.

“Kita harus menyediakan tenaga cadangan” berkata Untara

“Ya” Widura membenarkan “Sebagian dari mereka harus tetap segar. Kalau kawan-kawan mereka sesudah tengah hari akan mengalami kekendoran dan kelelahan, maka mereka harus turun kegaris perang. Bukankah begitu?”

“Ya paman” jawab Untara “Aku kira jumlah kita bersama dengan laskar Sangkal Putung melampaui jumlah prajurit Jipang. Karena itu maka kita akan dapat menyimpan tenaga cadangan disamping mereka yang bertugas dikademangan dan digardu-gardu. Apabila kita ternyata terdesak oleh kekuatan mereka, maka sebagian laskar cadangan itu dapat kita turunkan kemedan, berangsur-angsur. Dan apabila perlu, maka sebagaimana peronda digardu-gardu dapat ditarik seluruhnya. Digardu-gardu itu kita tempatkan dua orang pengawas saja, yang apabila keadaan memaksa mereka hanya bertugas untuk melaporkan keadaan”

“Ya, semua tenaga dapat penyaluran sewajarnya menurut keadaan dan kekuatan lawan. Pengawal di kademanganpun kalau perlu dapat dikurangi” sahut Widura.

Kesepakatan pendapat itulah yang kemudian mereka pergunakan untuk mengatur laskar Sangkal Putung dan prajurit Pajang. Sekali lagi segenap pemimpin kelompok bertemu. Dan sekali lagi Untara memberi penjelasan, apa yang harus dilakukan dan apa yang harus diperhatikan.

Setelah itu maka segala persiapan telah selesai. Saat yang pendek itu dapat mereka pergunakan untuk beristirahat. Beberapa orang dibelakang merebus air sambil menghangatkan tubuhnya. Sedang beberapa orang yang masih sakit, yang ditempatkan dibanjar desa itu menjadi kecewa, bahwa mereka tidak dapat ikut serta kali ini menyongsong pula kedatangan Macan Kepatihan.

Ketika malam telah melampaui pusatnya, maka Untara telah mengirim dua orang berkuda untuk menghubungi para pengawas digardu terdepa. Namun mereka belum melihat sesuatu dan bahkan para pengawas yang langsung berada dilingkungan lawanpun belum memberikan laporan apa-apa

Tetapi Untara dan Widura tidak melemahkan kesiagaan. Mereka tetap dalam kesiapan. Setiap saat laskar di banjar desa itu dapat digerakkan.

Namun demikian, masih ada yang selalu membayangi perasaan Untara, Widura dan bahkan beberapa orang Sangkal Putung yang lain. Ki Tanu Metir masih belum tampak diantara mereka. Sehingga semakin dekat fajar menyingsing, harapan mereka untuk mengikutsertakan Ki Tanu Metir menjadi semakin tipis.

Apalagi ketika kemudian telah datang beberapa orang dari kademangan membawa makan pagi bagi laskar Sangkal Putung dan prajurit Pajang di banjar desa itu. Maka mereka tidak akan memerhitungkan kekuatan Ki Tanu Metir lagi.

Kepada laskarnya Widura berkata “Makanlah. Makanlah sekenyang-kenyangnya. Mungkin sehari nanti kalian tidak mendapat kesempatan untuk makan. Apalagi makan, minumpun belum tentu. Apabila kekuatan kita melampaui kekuatan lawan atau sebaliknya, maka pertempuran itu akan lekas selesai. Kalian akan menang atau akan kalah. Tetapi kalau kekuatan kita seimbang, maka belum mengalami kekalahan salah satu pihak harus berjuang dahulu sehari penuh. Nah, mudah-mudahan kekalahan itu tidak dipihak kita. Makanlah dan kemudian siapkan dirimu. Kalian besok harus berusaha sekuat-kuat tenagamu. Tetapi kalian tidak boleh melupakan, bahwa segala sesuatu tergantung kepada Yang Maha Pengasih. Karena itu berdoalah, semoga kalian dapat menyelesaikan tugas-tugas kalian”

Sejenak kemudian mereka telah tenggelam dalam kesibukan menyuapi mulut-mulut mereka. Citra Gati yang duduk didekat Sendawa berguman “Alangkah nikmatnya makan pagi kali ini”

“Hus” desis Sendawa “Apakah makanan ini merupakan makanan terakhir yang dapat kau makan?”

“Jangan berkata begitu” sahut Citra Gati “Tetapi masakan kali ini memang lain daripada yang lain. Mungkin juga nasi hangat dan sambal lombok goreng ini benar-benar sesuai dengan suasanan yang dingin beku ini”

Keduanya tertawa. Dan keduanya menyuapi mulut-mulut mereka tanpa henti-hentinya.

Tidak terlalu jauh dari Sangkal Putung. Ditengah-tengah hutan yang tidak terlalu lebat, Tohpati duduk termenung membelai tongkat baja putihnya. Ia masih mendengar hiruk pikuk prajuritnya yang sedang menyusun diri.

Berbagai perasaan berkecamuk didalam kepala Macan yang garang itu. Baru saja ia menjatuhkan perintah terakhir. Siap untuk berangkat. Namun demikian, meskipun perintah itu diucapkannya dengan tegas, tetapi ia tidak dapat mengelabui dirinya sendiri. Hatinya selama ini selalu dibayangi oleh keragu-raguan. Peristiwa-peristiwa yang susul-menyusul disaat-saat terakhir benar-benar sangat mempengaruhinya. Ia mendengar berbagai tanggapan atas peperangan yang masih saja dilanjutkannya. Mula-mula ia merasa bahwa ia harus berbangga, ia dapat bertahan sampai sekian lama sepeninggal Arya Penangsang. Bahkan laskar Jipang yang berserakan masih juga mengakuinya sebagai pimpinan mereka, sehingga kepadanyalah ketergantungan itu dipercayakan.

Tetapi Tohpati bukanlah seorang yang berhati batu berjantung kayu. Setiap kali ia melihat darah menggelimang diujung tongkatnya, setiap kali ia melihat mayat terbujur lintang. Bukan saja mayat-mayat prajurit yang bertempur dimedan-medan perang, tetapi ia pernah juga melihat mayat-mayat perempuan dan anak-anak yang terbunuh dalam kerusuhan-kerusuhan. Bahkan ia pernah melihat mayat seorang perempuan dan bayinya masih dalam pelukan. Tetapi mayat itu sudah menjadi arang.

Macan Kepatihan itu menarik nafas dalam-dalam. Tanpa disadarinya diamatinya tangannya. Besar dan kasar. Bulu-bulunya tumbuh hampir sampai ketelapak tangannya.

“Hem” geram Macan yang garang itu. Bulu-bulunya serasa tegak berdiri ketika tiba-tiba dikenangnya bahwa tangan itu pernah menampar pipi seorang perempuan muda. Demikian kerasnya sehingga perempuan itu pingsan. Dan tiga hari kemudian didengarnya bahwa perempuan itu mati.

Perempuan itu datang kepadanya sambil mengumpat-umpatinya. Dituding-tudingnya wajahnya sambil mengucapkan sumpah serapah yang paling menyakitkan hati.

“Tohpati” berkata perempuan itu “Kau bunuh suamiku itu”

Tohpati menggeleng-gelengkan kepala. Seakan-akan perempuan itu berdiri dimukanya kini. Suaminya, yang baru saja mengawininya, terbunuh dimedan perang. Dan perempuan itu menyalahkannya.

“Ketamakanmu atas kekuasaan telah membunuh suamiku” berkata perempuan itu “Kaulah yang kelak akan menjadi adipati menggantikan Adipati Jipang, tetapi suamiku yang kau korbankan”

Pada saat itu Tohpati tidak mau mendengar perempuan itu berteriak-teriak sehingga tanpa disadarinya, terbakar oleh kemarahan yang memuncak, perempuan itu ditamparnya. Tetapi sama sekali ia tidak bermaksud membunuhnya.

“Perempuan itu bukan satu-satunya” desisnya “Ada sepuluh, seratus bahkan ribuan perempuan yang menangisi kematian suaminya. Tetapi perempuan-perempuan Pajang, perempuan-perempuan Sangkal Putung menangisi kematian suaminya dengan kebanggan didalam hati. Meskipun mereka menangis, tetapi mereka dapat berkata “Kematianmu adalah tawur bagi sawah ladang, kampung halaman. Kematianmu akan dikenang seumur negeri ini”

Tohpati mengangkat wajahnya ketika ia mendengar Sanakeling berteriak memberikan aba-aba. Sesaat kemudian terdengar suara Alap-alap Jalatunda menyahut, dan kemudian yang lain-lainpun terdengar meneruskan perintah Sanakeling itu.

Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Perintah itu adalah perintah mempersiapkan diri untuk segera berangkat ke Sangkal Putung. Tetapi Tohpati seakan-akan masih saja terpaku diambennya. Ia masih duduk termenung sambil membelai tongkat berkepala tengkorak kuningnya. Ia masih tenggelam dalam seribu macam kenangan. Bahkan sejak ia menjadi prajurit dalam kadipaten Jipang. Pada masa Demak masih mengumandang namanya, kemudian datanglah bencana itu. Perang saudara antara Jipang dan Pajang ketika tahta Demak kosong sepeninggal Sultan Trenggana yang gugur. Dan kini ia tinggal didalam barak ilalang dengan orang-orang sekasar Sanakeling, selicik Alap-alap Jalatunda dan setamak dirinya sendiri.

Kembali Tohpati terkejut ketika ia mendengar seseorang memasuki gubug itu. Ketika ia berpaling dilihatnya Sanakeling berdiri diambang pintu dengan wajah berseri-seri.

“Semuanya sudah siap kakang Tohpati. Kita menunggu perintah untuk berangkat”

Tohpatipun kemudian tegak berdiri. Sekali ia menarik nafas pula sedalam-dalamnya. Kemudian terdengar ia menggertakkan giginya. Ia ingin menindas setiap perasaan yang dapat mengganggunya. Karena itu sebelum ia bertempur melawan orang-orang Pajang dan Sangkal Putung, ia harus memenangkan perasaannya lebih dahulu.

Tetapi alangkah sulitnya. Ia tidak dapat mempergunakan senjatanya yang mengerikan itu dalam pertempurannya melawan perasaanya sendiri.

Namun tiba-tiba Tohpati itu berteriak keras-keras sehingga Sanakeling terkejut “Siapkan mereka!. Aku segera akan datang!”

“Baik kakang!” sahut Sanakeling yang tiba-tiba berteriak pula tanpa disengajanya.

Ketika Sanakeling kemudian lenyap didalam kelam diluar barak itu, maka Tohpatipun kemudian melangkah perlahan-lahan. Sampai diambang pintu ia berhenti sesaat. Ia tidak tahu kenapa ia berpaling. Kenapa tiba-tiba ia ingin memandangi segenap isi ruangan itu. Lampu minyak. Tiang-tiang bambu. Sebuah gelodog bambu disudut dan sebuah gendi diatasnya. Amben bambu tempatnya berbaring tidur. Itu saja.

Baru Tohpati itu melangkah keluar.

Hatinya berdesir ketika didalam cahaya obor ia melihat berbagai macam umbul-umbul, rontek dan tunggul-tunggul. Terasa sesuatu yang aneh merayap didalam hatinya. Ia sama sekali tidak memerintahkan untuk membawa segala perlengkapan upacara perang itu. Tetapi agaknya perintahnya untuk membuat gelar yang sempurna telah menumbuhkan perintah pula untuk membawa segala macam tanda-tanda kebesaran Jipang, meskipun umbul-umbul dan rontek itu sudah menjadi kumal karena tidak terpelihara. Namun bahwa barang-barang itu dapat diselamatkan telah membesarkan hatinya pula.

“Itu adalah jasa paman Sumangkar” gumamnya didalam hati.

Sementara itu Tohpati diam mematung. Diamat-amatinya seluruh pasukannya yang telah siap menunggu perintahnya. Tiba-tiba hatinya merasa tersentuh oleh kesetiaan laskarnya itu. Meskipun keadaan mereka telah jauh terperosok dalam kesulitan yang sangat, namun dibawah panji-panji kebesaran Jipang, terasa seakan-akan ia benar masih seorang senapati perang yang berwibawa.

Sebenarnya bahwa Macan Kepatihan itu masih memiliki kewibawaan diantara anak buahnya, sehingga apapun yang diperintahkannya akan dilakukan. Dan kali ini pasukan itu menunggu untuk berangkat menggempur laskar Sangkal Putung yang dipimpin oleh seorang senapati muda bernama Untara.

Dimuka pasukannya itu telah berdiri Sanakeling. Dilambung kirinya tergantung sebilah pedang dalam wrangka putih mengkilat, dan dilambung kanannya, pada ikat pinggangnya tergantung sebuah bindi dari kayu berlian berlapis besi berjalur-jalur. Bindi itu ditangan kiri Sanakeling kadang-kadang dipakainya sebagai perisai untuk menangkis serangan lawan namun apabila bindi itu menyentuh tubuh lawannya, maka akibatnya tidak kalah berbahaya dari pedang ditangan kanannya.

Agak jauh dibelakang dilihatnya belahan pasukannya dibawah pimpinan seorang anak muda yang bermata tajam setajam mata burung alap-alap. Sebenarnya anak muda itu berbangga apabila orang menyebutnya Alap-alap Jalatunda. Dengan penuh dendam ia mengharap dapat bertemu lagi dengan Agung Sedayu. Kali ini ia mengharap bahwa ia akan dapat menebus kekalahannya. Setelah dengan tekun ia melatih dirinya sendiri hampir siang dan malam, maka sudah tentu ia memiliki kemampuan yang bertambah-tambah.

Ketika Tohpati memandang wajah Sanakeling yang samar-samar diterangi oleh cahaya obor yang kemerah-merahan, dilihatnya wajah yang keras kasar itu hampir tidak sabar lagi menunggu perintahnya. Karena itu maka sambil menganggukkan kepalanya, Tohpati melambaikan tongkat baja putihnya yang mengerikan itu.

Sanakeling tersenyum melihat lambaian tongkat Macan Kepatihan. Dengan serta-merta ia menarik pedangnya. Diangkatnya pedangnya itu tinggi-tinggi seolah-olah hendak menusuk langit. Dan kemudian dari sela-sela bibirnya yang tebal, terdengarlaj ia meneriakkan aba-aba.

Dalam waktu sekejap, hampir setiap pemimpin kelompok telah mengulangi aba-aba itu. Terdengarlah kemudian seseorang membunyikan sebuah bende. Suaranya menggema melingkar-lingkar didalam hutan itu.

Ketika Sanakeling mengangkat tangannya untuk kedua kalinya, maka sekali lagi bende itu bergema, suaranya memukul-mukul batang-batang kayu dan dedaunan. Hampir setiap tubuh didalam pasukan itu bergerak. Tangan-tangan mereka sekali lagi meraba-raba pakaian mereka, senjata mereka dan perlengkapan-perlengkapan mereka yang lain. Mereka tidak boleh menjadi korban karena kealpaan mereka atas persiapan mereka sendiri.

Sesaat kemudian Sanakeling mengangkat pedangnya untuk yang ketiga kalinya. Pedang itu melingkar satu kali, disambut oleh bunyi bende untuk yang ketiga kalinya. Bunyi itu terasa seakan-akan menyentuh sudut hati mereka yang berdiri didalam barisan itu. Sudah lama mereka tidak mendengar bunyi aba-aba dengan cara yang demikian. Sudah lama mereka hanya mendengar aba-aba dari pemimpin-pemimpin mereka yang berteriak-teriak tidak menentu. Kadang-kadang bahkan bunyi aba-aba itu terasa sesuka hati yang mengucapkannya. Namun kali ini mereka mendengar aba-aba seperti yang selalu didengarnya pada saat Jipang masih tegak. Pada saat mereka masih bernama seorang prajurit Wiratamtama Jipang, dibawah pimpinan adipati yang mereka segani, Arya Penangsang. Seorang adipati muda yang perkasa, dengan seekor kuda bernama Gagak Rimang dan sebilah keris ditangannya. Keris yang sakti tiada taranya, yang dinamainya Setan Kober. Sedemikian saktinya keris itu, sehingga orang menganggapnya, bahwa karena sentuhan keris itu gunung akan runtuh dan lautan akan menjadi kering.

Meskipun kali ini mereka tidak bersama dengan adipati itu lagi, namun Macan Kepatihan masih tetap memberi mereka kebanggaan. Macan Kepatihan yang kali ini tidak berada diatas punggung kudanya, kuda segagah Gagak Rimang yang dinamainya Maruta. Kuda yang dapat berlari sekencang angin. Namun meskipun demikian, ketika setiap orang dalam pasukan itu melihat tongkat putihnya yang berkilat-kilat, maka hati mereka menjadi bangga. Seolah-olah merekalah yang menggenggam senjata yang mengerikan itu.

Beberapa orang dari mereka tidak dapat melupakan kenyataan, bahwa Tohpati itu beberapa waktu yang lampau dapat dilukai oleh senapati Pajang yang ditempatkan di Sangkal Putung, dan bernama Untara. Tetapi mereka menganggap peristiwa itu sebagai sebuah kecelakaan. Tohpati pasti tidak dapat dikalahkan oleh siapapun. Mungkin Ki Gede Pemanahan, Ki Penjawi, atau Ki Juru Mertani. Tetapi tidak oleh orang lain. Apalagi Untara. Tohpati pada waktu itu pasti baru melindungi seseorang atau lebih, sehingga dirinya sendiri dikorbankannya.

Apalagi kini, dibawah umbul-umbul, rontek dan tunggul-tunggul kebesaran Jipang, dibelakang senapati mereka, Macan Kepatihan, maka laskar Jipang itu merasa, bahwa mereka adalah pasukan yang paling kuat yang pernah terbentuk sejak Jipang runtuh.

Demikianlah, maka setelah bende yang ketiga kalinya itu, pasukan Jipang mulai bergerak dengan sigapnya. Setiap orang didalam pasukan itu tampak berwajah cerah, seakan-akan mereka telah menggengam kemenangan ditangannya.

Dibawah cahaya obor-obor yang menyala hampir disetiap ujung dan pangkal kelompok, pasukan itu bergerak. Mereka tidak takut lagi apabila lawan-lawan mereka dapat melihat cahaya obor-obor itu dari kejauhan. Kini mereka datang dengan dada tengadah, tanpa berusaha mencari kelengahan lawan. Kini mereka datang beradu muka. Mereka datang dalam gelar yang sempurna. Dari Sanakeling mereka telah mendengar perintah, apabila mereka telah sampai didaerah yang luas, maka mereka segera akan membuat gelar yang cukup tanggon, Dirada Meta.

Laskar Jipang itu kemudian menjalar bagaikan seekor ular raksasa yang merayap diantara pohon-pohon liar. Seekor ular naga yang bersisik api. Obor-obor diantara mereka benar-benar seperti sisik yang gemerlapan.

Semua orang didalam pasukan itu tiba-tiba menengadahkan wajahnya ketika mereka melihat kilat menyambar diudara. Sekali-sekali mereka mendengar guntur menggelegar dilangit. Ketika mereka memandang kearah timur, tampaklah langit gelap pekat.

Seorang didalam barisan itu bergumam lirih “Diarah timur aku kira hujan turun dengan lebatnya”

Kawannya yang berjalan disampingnya mengangguk. Sebelum ia menjawab, ditengadahkannya tangannya, katanya “Disinipun hujan sebentar lagi akan turun. Lihat, titik-titik air telah satu-satu berjatuhan”

”Tetapi angin bertiup kearah timur. Awan yang basah itu akan dihalau pergi”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab.

Perlahan-lahan ular raksasa itu maju terus. Semakin lama menjadi semakin dekat dengan tepi hutan. Dan sesaat kemudian ujung dari barisan itu telah muncul dari sela-sela belukar dan batang-batang pohon liar. Kini mereka berjalan diatas padang perdu yang tidak terlalu luas, diselingi oleh gerumbul-gerumbul dan pepohonan yang semakin jarang.

Macan Kepatihan yang berjalan diujung pasukan itu berdesir. Didekat tempat inilah ia bersama Sumangkar bertemu dengan Ki Tambak Wedi dan Sidanti. Bahkan kemudian datang pula Kiai Gringsing dan kedua orang yang mungkin sekali adalah murid-muridnya.

Macan Kepatihan itu tiba-tiba menundukkan wajahnya. seolah-olah ia ingin melihat setiap langkah yang dilampaui oleh kaki-kakinya itu. Dijinjingnya tongkatnya dengan tangan kanannya, terbuai oleh ayunan lenggangnya. Sekali-sekali tongkat itu tampak gemerlapan karena cahaya obor yang dipantulkannya.

Agak jauh dihadapan mereka, dua orang bersembunyi dengan rapatnya dibalik dedaunan. Ketika mereka melihat iring-iringan itu, hati mereka menjadi berdebar-debar. Apalagi ketika mereka melihat umbul-umbul, rontek dan tunggul-tunggul lengkap dibagian depan pasukan Jipang.

“Gila” desis salah seorang dari mereka “Mereka benar-benar datang dalam kelengkapan yang sempurna”

Yang lain tidak menjawab. Ketika mulutnya hampir terbuka, tiba-tiba didengarnya lamat-lamat suara aba-aba dari laskar Jipang itu. Dengan sigapnya setiap orang didalam barisan itu bergerak. Dan terbentuklah gelar Dirada Meta yang sempurna. Macan Kepatihan, senapati yang disegani itu, berdiri diujung gelar itu. Agak jauh disisinya, kedua senapati pengapitnya, siap membayangi setiap perkembangan keadaan. Mereka adalah Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda. Tepatlah tebakan Untara atas gelar yang akan dilakukan oleh Macan Kepatihan itu. Namun sebaliknya. Macan Kepatihanpun dapat memperhitungkan dengan tepat, bahwa Pajang akan mempergunakan gelar yang lebih luas. Sesuai dengan keadaan laskarnya yang bercampur baur dengan laskar Sangkal Putung, maka mereka memerlukan medan yang lebih lebar, supaya tidak terjadi desak-mendesak diatara mereka. Laskar Sangkal Putung itu pasti belum mampu untuk menghadapi keadaan yang serba tiba-tiba seperti laskar Pajang sendiri. Namun keberanian dan tekad dari orang-orang Sangkal Putung benar-benar memusingkan kepala Tohpati. Mereka mengamuk seperti orang mabuk, apalagi disampingnya selalu dibayangi oleh kemahiran bertempur orang-orang Pajang, sehingga gabungan diantara mereka, keberanian, tekad yang meluap-luap dan pengalaman serta kemahiran merupakan kekuatan yang benar-benar ngedab-edabi.

Kedua orang yang bersembunyi itu adalah orang-orang Pajang yang dipasang oleh Untara. Karena itu maka segera mereka menyelinap dan berlari terbongkok-bongkok kearah kuda-kuda mereka didalam semak-semak. Sesaat kemudian mereka itupun telah meloncat keatas punggung kuda masing-masing dan dengan hati-hati mereka berusaha untuk mencari tempat-tempat yang terlindung. Baru setelah agak jauh mereka memacu kuda-kuda mereka dengan cepatnya menuju ke Sangkal Putung

Tohpati dan beberapa pemimpin pasukan Jipang melihat kedua orang berkuda itu. Namun mereka sama sekali tidak berkeberatan seandainya kedatangan mereka kali ini disongsong oleh laskar Sangkal Putung dan pasukan Pajang. Pasukan Jipang yang terhimpun dari orang-orang mereka yang betebaran itu merupakan kekuatan yang cukup besar untuk menggulung kademangan Sangkal Putung.

Kedua pengawas dari Sangkal Putung itu memacu kudanya seperti angin. Mereka harus segera sampai Sangkal Putung dan melaporkan apa yang mereka lihat.

Ketika mereka menjadi semakin dekat dengan Sangkal Putung, terasa titik-titik hujan semakin deras berjatuhan diatas tubuh-tubuh mereka. Namun ketika kemudian mereka melihat air yang tergenang disana-sini, maka gumam salah seorang adri mereka “Agaknya hujan lebat didaerah ini”

Yang lain menganggukkan kepalanya sambil berkata “Ya, lebat sekali. Bahkan anginpun agaknya terlalu kencang”

Keduanya tidak berbicara lagi. Kuda mereka berlari semakin kencang. Sekali-sekali menyeberangi genangan-genangan air dijalan yang mereka lalui. Dan ternyata hujanpun belum teduh sama sekali, sehingga sebelum mereka memasuki Sangkal Putung mereka telah menjadi basah kuyup pula. Tetapi hujan sudah jauh berkurang. Air tidak lagi seakan-akan tertumpah dari langit yang retak.

Kedua ekor kuda itu berpacu langsung kekademangan. Tetapi mereka menjadi kecewa ketika para penjaga regol kademangan berkata bahwa Untara telah berangkat kebanjar desa.

“Hem” desah salah seorang dari mereka “Marilah kita lekas kebanjar desa itu”

Dan kembali keduanya berpacu. Derap langkah kuda-kuda mereka itu terdengar memecah kesepian jalan-jalan di Sangkal Putung. Sekali-sekali genangan air memercik membasahi kaki penunggang-penunggang kuda itu. Mereka harus segera menemui Untara atau Widura.

Dibanjar desa derap kuda itu disambut dengan hati yang berdebar-debar. Kedua orang itu segera dibawa menghadap Untara dan Widura untuk menyampaikan laporannya tentang laskar Tohpati itu.

Dengan tergesa-gesa kedua orang itu menceritakan apa yang telah dilihatnya tentang laskar Jipang yang datang benar-benar dengan gelar dan kelengkapan gelar yang sempurna.

“Hem” Untara menarik nafas dalam-dalam. “Mereka mempergunakan tanda-tanda kebesaran kadipaten Jipang?”

“Ya tuan” jawab kedua orang itu.

Untara terdiam sejenak. Meskipun yang dikatakan oleh kedua pengawasnya itu adalah barang-barang mati, umbul-umbul, rontek dan sebagainya, namun benda-benda itu langsung atau tidak langsung akan mempunyai pengaruh pada jiwa setiap orang didalam pasukan itu. Tanda-tanda itu akan memberi semangat dan nafsu berjuang. Tanda-tanda itu dapat memperbesar hati setiap prajuritnya. Tanda-tanda itu dapat menjadi lambang tekad dari segenap prajurit didalam barisan itu.

Widurapun agaknya mempunyai pendapat yang sama. Karena itu ketika ia melihat Untara termenung, maka gumamnya “Apa kita juga memerlukannya, Untara?”

“Ya paman. Alangkah baiknya kalau kita memiliki benda-benda semacam itu. Kalau tidak, maka sesaat pasukan kita bertemu dengan pasukan Jipang itu, maka akan terasa seolah-olah pasukan Jipang itu mempunyai kebesaran melampaui pasukan kita, sehingga mau tidak mau, perasaan yang demikian akan mempengaruhi setiap prajurit didalam pasukan kita. Sedang sebaliknya, pasukan Jipang akan lebih berbesar hati dengan kebesarannya”

“Lalu apakah kita akan memasang umbul-umbul?” bertanya Widura.

“Berapa banyak umbul-umbul yang ada disini?”

“Terlalu sedikit. Dan tidak lebih dari tanda-tanda pasukanku. Sama sekali bukan umbul-umbul kebesaran Pajang, apalagi Demak” sahut Widura “Dan itupun terlalu kecil hampir tidak akan berarti”

Untara kembali termenung. Dan tiba-tiba ia berkata “Tidak apa-apa, yang kecil itu akan merupakan panji-panji kebanggaan pasukan paman Widura. Tetapi adalah paman mempunyai panji-panji Gula Kelapa?”

“Gula Kelapa? Mengapa?”

“Panji-panji itu adalah lambang kebesaran Demak. Dan tentu akan merupakan lambang kebesaran Pajang pula”

“Tentu. Didalam pasukanku ada panji-panji itu”

Untara mengangguk-angguk. Kepada Ki Demang Sangkal Putung iapun bertanya “Ada berapa panji-panji Gula Kelapa diseluruh kademangan Sangkal Putung?”

Ki Demang ragu-ragu sejenak. Dengan ragu-ragu pula ia menjawab “Aku tidak tahu ngger. Apakah di Sangkal Putung ada panji-panji semacam itu”

“Tentu paman” jawab Untara “Bukankah Sangkal Putung dahulu mengakui kebesaran Demak, kemudian mengakui Pajang dan bukan Jipang?”

Ki Demang itu kembali termangu-mangu. Tiba-tiba ia tersentak, seakan-akan sebuah ingatan telah menyentak kepalanya. Katanya “Ya, ya. Aku ingat sekarang. Di kademangan ini ada sebuah pepunden. Panji-panji Gula Kelapa yang besar. Panji-panji yang kita namai Kiai Unggul. Tetapi panji-panji itu adalah pepunden kademangan ini, yang kami keluarkan dari penyimpanan setahun sekali, setiap bulan pertama untuk dibersihkan”

Untara mengerutkan keningnya. Kemudian katanya “Itulah. Saat ini adalah waktunya untuk mengeluarkan Kiai Unggul dari simpanannya”

“Ya, bahkan ada pula panji-panji yang lain. Milik seorang bekas prajurit Demak. Lengkap dengan tunggulnya. Panji-panji itu didapatnya pada saat ia ikut berperang melawan orang-orang Portugis diujung Melayu bersama pangeran Sebrang Lor”

“Orang itu sudah tua sekali?”

“Ya, panji-panji itu dinamainya Kiai Jetayu”

“Nama seekor burung Garuda” desis Agung Sedayu

“Ya, panji-panji itupun cukup besar. Hampir sebesar Kiai Unggul” berkata Ki Demang.

Wajah Untara menjadi cerah. Tiba-tiba ia berkata lantang “Waktu sudah mendesak. Siapkan pasukan dan siapkan Kiai Tunggul dan Kiai Jetayu”, kemudian kepada Ki Demang ia berkata “Suruhlah seseorang menjemput kedua panji-panji itu. Berkuda sekarang juga, dan bersama dengan itu ambillah semua tanda-tanda kebesaran pasukan Pajang dikademangan”

Untara tidak perlu mengulangi perintahnya. Widura segera berdiri dan berjalan kehalaman. Kepada bawahannya segera ia memerintahkan untuk menyiapkan pasukan. Sedang kepada beberapa orang lain diperintahkannya mengambil beberapa tanda kebesaran di kademangan. Didalam gelodog, dipringgitan. Sedang beberapa orang yang lain mendapat perintah dari Ki Demang untuk mengambil panji-panji Kiai Unggul dan Kiai Jetayu beserta tunggulnya masing-masing.

Sesaat kemudian dilapangan dimuka banjar desa itu, pasukan Pajang dan laskar Sangkal Putung telah mempersiapkan dirinya. Mereka menunggu beberapa orang menyiapkan tanda-tanda kebesaran mereka. Beberapa buah tunggul dengan ujung berbentuk garuda dan bunga berdaun lima. Itu adalah tanda kebesaran dari pasukan Widura di Sangkal Putung. Panji-panji yang besar berwarna emas dengan gambar seekor Garuda yang sedang mengembangkan sayap-sayapnya. Kemudian beberapa umbul-umbul kecil dan rontek-rontek yang tidak semegah umbul-umbul pasukan Jipang. Namun ketika kemudian dujung pasukan itu berkibar tiga buah panji-panji yang besar berwarna Gula Kelapa, maka kebesaran pasukan Pajang bersama dengan laskar Sangkal Putung itu menjadi bercahaya.

Ketiga panji-panji itu adalah Kiai Unggul, Kiai Jetayu dan panji-panji pasukan Widura sendiri. Panji-panji Gula Kelapa dari pasukan Wiratamtama dibawah kekuasaan Pajang, disamping panji-panji pasukannya.

Ketika pasukan Pajang beserta laskar Sangkal Putung itu melihat ketiga panji-panji Gula Kelapa diujung pasukannya maka hati mereka serentak bersorak. Kiai Unggul bagi rakyat Sangkal Putung mempunyai arti tersendiri. Kiai Jetayu itupun telah mereka kenal pula sebagai selembar panji-panji pusaka yang bertuah.

Dari kedua orang pengawasnya, Untara mengetahui bahwa pasukan Jipang sudah berangkat menuju ke Sangkal Putung. Karena itu maka ia tidak menunggu lebih lama lagi. Dipersiapkannya seluruh pasukannya untuk segera berangkat menyongsong pasukan Jipang.

Sesaat kemudian terdengar dipendapa banjar desa itu, kentongan dalam nada Dara-muluk. Nada yang tidak biasa diperdengarkan dalam keadaan bahaya seperti saat itu. Namun setiap orang di Sangkal Putung kali ini mengetahui, bahwa bunyi kentong itu adalah pertanda bahwa pasukan Pajang beserta laskar Sangkal Putung telah siap untuk berangkat.

Beberapa orang yang karena suatu sebab, belum berada dilapangan itu, segera berlari-lari sambil menjinjing senjatanya, menuju ke banjar desa. Ketika mereka melihat laskar Sangkal Putung telah bersiap segera mereka memasuki kelompok masing-masing.

Setelah para pemimpin kelompok menghitung anak buah masing-masing serta segala persiapan telah lengkap, maka terdengarlah suara Widura memecah gelap malam. Mengumandang memenuhi lapangan.

Aba-aba itu adalah aba-aba yang pertama. Aba-aba yang disambut dengan debar disetiap dada. Sehingga lapangan itu kemudian terhenyak kedalam kesepian. Seakan-akan tak seorangpun yang berada disanan.

Aba-aba itu adalah aba-aba yang pertama. Aba-aba yang disambut sesaat kemudian, setelah Widura yakin bahwa segala sesuatunya telah siap, maka terdengarlah aba-abanya yang terakhir. Aba-aba itu disambut oleh pemimpin-pemimpin kelompok, yang mengulanginya dengan cepat seperti apa yang diucapkan oleh Widura.

Maka mulailah pasukan itu bergerak. Seperti pasukan Jipang, maka pasukan Widura inipun dilengkapi dengan obor-obor, sehingga lapangan dimuka banjar desa itu menjadi terang benderang.

Hujan kini sudah tidak lebat lagi. Titik-titik air satu-satu masih berjatuhan. Namun sudah tidak mampu lagi memadamkan nyala-nyala obor yang seolah-olah melonjak-lonjak kegirangan.

Untara dan Widura berjalan diujung pasukan itu. Kemudian Agung Sedayu, Swandaru dan Ki Demang Sangkal Putung. Hudaya dan Sonya masih berada didalam kelompoknya masing-masing sebelum mereka kemudian harus mempersiapkan diri bersama-sama dengan Agung Sedayu dan Swandaru menghadapi kemungkinan yang paling berat. Melawan seorang yang bernama Sumangkar.

Dibelakang induk pasukan berjalanlah sebagian dari laskar Sangkal Putung. Mereka berjalan dengan penuh semangat. Mereka merasa bahwa dipundak mereka terletak tanggung-jawab atas Sangkal Putung. Pasukan Pajang yang berada dikademangan itu adalah sekedar tenaga yang memberi bantuan kepada mereka. Merekalah yang harus melindungi kademangan itu. Dan merekalah yang harus bertempur mati-matian melawan orang-orang Jipang.

Dibelakang laskar Sangkal Putung itu Citra Gati berjalan sambil menundukkan wajahnya. Ia merasa badannya aneh kali ini. Kepada seseorang yang berjalan dibelakangnya, Citra Gati itu bertanya “Kau lihat Hudaya?”

Orang yang mendapat pertanyaan itu menjawab “Kakang Hudaya masih berada didalam kelompoknya”

“Panggil ia sebentar kemari” katanya.

Orang itupun segera keluar dari barisannya. Sesaat ia berhenti menunggu Hudaya yang berada agak jauh dibelakang mereka.

Hudaya heran mendengar bahwa Citra Gati memanggilnya. Karena itu dengan tergesa-gesa ia berjalan mendahului berisannya kekelompok Citra Gati. Kelompok yang nanti akan memimpin pasukan Pajang disayap kanan.

Ketika Hudaya telah berjalan didekat Citra Gati, maka dengan serta-merta ia bertanya “Apakah ada sesuatu yang penting ?”

Citra Gati berpaling. Dilihatnya Hudaya memandanginya dengan tegang.

Citra Gati itu tersenyum. Ia hanya ingin melepaskan perasaannya yang aneh. Maka katanya “Apakah kumis dan janggutmu sempat kau bersihkan?”

Hudaya mengerutkan keningnya. “Belum. Kau juga belum” jawabnya “Biarkan saja kumis dan janggut itu. Tetapi apakah yang penting?”

Citra Gati menggeleng “Tidak ada” jawabnya “Aku hanya merasa sepi. Seakan-akan aku berjalan seorang diri disayap ini”

“Uh, bukan main” keluh Hudaya sambil mengerutkan keningnya “Aku sangka ada hal-hal yang sangat penting”

Citra Gati tersenyum. Tetapi senyumnya tampak hambar. Katanya “Jangan marah. Rambut diwajahmu benar-benar menarik perhatianku. Aku cemas kalau kau tidak sempat membersihkannya lagi”

Hudayalah yang kini tersenyum, katanya “Aku belum pernah melihat seseorang yang bernama Sumangkar. Mungkin ia ganas, seganas Macan Kepatihan. Tetapi mungkin ia lunak, selunak jenang alot”

“Jangan mengigau” potong Citra Gati “Sekarang kembalilah kekelompokmu”

Hudaya menarik nafas dalam-dalam. Gumamnya “Aku sangka kau sempat membawa jenang alot itu kakang. Dan kau ingin memberi aku sepotong. Kalau tahu demikian, aku tidak akan datang”

Citra Gati tidak menjawab. Sekali lagi ia tersenyum, senyum yang hambar.

Hudaya kembali kekelompoknya. Namun ia merasa aneh. Citra Gati tidak pernah merasakan hal-hal yang aneh didalam setiap pertempuran. Ia tidak pernah merasa keganjilan dalam setiap tugas yang diserahkan kepadanya. Tetapi Hudaya tidak mau dipengaruhi oleh keadaan itu. Dipusatkannya perhatiannya kepada saat-saat yang akan datang.

Sesaat kemudian mereka telah meninggalkan induk padesan Sangkal Putung. Dihadapan mereka terbentang beberapa desa kecil. Lepas padesan itu nanti, segera mereka akan sampai ketempat terbuka. Tanah persawahan yang menghadap langsung kepadang rumput dan perdu dipinggir hutan.

Untara segera memerintahkan untuk mempercepat perjalanan, supaya mereka tidak terlambat. Apabila laskar Tohpati sudah memasuki padesan Sangkal Putung, maka pertempuran akan menjadi bertambah sulit. Apabila mungkin maka mereka harus sudah melampaui tanah-tanah persawahan dan bertempur dipadang rumput. Supaya tanaman mereka tidak terinjak-injak.

Disepanjang perjalanan itu meskipun Untara, Widura, Agung Sedayu dan Swandaru seakan-akan telah membulatkan hatinya untuk bertempur tanpa Kiai Gringsing, namun disudut hati mereka masih juga menyimpan harapan, mudah-mudahan Kiai Gringsing tiba-tiba saja muncul diantara mereka.

Tetapi semakin jauh mereka berjalan, harapan itu semakin tipis. Semula mereka masih juga mengharap, bahwa Kiai Gringsing hanya sedang berteduh karena hujan yang lebat. Namun setelah hujan menjadi jauh berkurang, dan Kiai Gringsing tidak juga muncul, maka harapan merekapun menjadi semakin tipis pula.

Dengan langkah yang tetap setiap orang didalam pasukan itu berjalan menuju keujung kademangan. Satu dua desa kecil telah mereka lampaui. Dan akhirnya mereka menembus jalan ditengah-tengah desa terakhir. Semakin dekat mereka dengan ujung jalan itu, hati mereka menjadi semakin berdebar-debar.

Demikian mereka keluar dari mulut lorong itu, demikian dada mereka bergetar. Ternyata agak jauh dihadapan mereka, mereka melihat untaian obor-obor beriringan. Terdengarlah hampir setiap mulut bergumam “Itulah mereka“

Tanpa disengaja setiap tangan segera meraba senjata masing-masing. Beberapa bagian dari mereka, yang bersenjata pasangan pedang dan perisai, segera memasang perisai-perisai mereka ditangan kiri. Sedang mereka yang bersenjata tombak, maka tombak-tombak itu sudah tidak mereka panggul diatas pundak mereka. Namun tombak-tombak itu telah merunduk, seolah-olah mereka tidak sabar lagi untuk meloncat menerkam dada lawan-lawan mereka.

Untara semakin mempercepat perjalanan itu. Ternyata laskar Jipang telah lebih dahulu sampai dipadang rumpur. Namun apabila mereka berjalan cepat, maka mereka masih belum terlambat. Mereka masih akan mencapai sisi padang itu, sebelum laskar Jipang lepas meninggalkannya.

Kening Untara berkerut ketika ia melihat iring-iringan laskar Jipang itu. Meskipun Untara belum dapat melihat dengan jelas, namun sebagai seorang prajurit yang berpengalaman ia segera dapat menebak, bahwa laskar Jipang telah berjalan dalam gelar.

~ Article view : [247]