Api di Bukit Menoreh [ series 66-70 ]

278

Karya : SH. Mintardja

 

Series 66

 

KEDUA murid Kiai Gringsing itu mengangguk-angguk. Meskipun agak lambat, namun alasan itu akhirnya dimengertinya pula. Rencana yang sudah mereka mengerti itulah yang sebaiknya berjalan, karena rencana yang lain tidak akan dapat mereka sadap dengan mudah, apalagi jika pernah terjadi, orang-orang mereka hilang di daerah Jati Anom.

“Apakah kita akan bertindak sendiri?” bertanya Agung Sedayu tiba-tiba.

Kiai Gringsing tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah Sumangkar yang berkerut-merut.

“Kita tidak akan dapat bertindak sendiri,” berkata Sumangkar. “Bukankah begitu?”

Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Kita memang tidak akan dapat berbuat sendiri.”

“Jadi, apakah yang harus kita lakukan?”

“Kita harus berbicara dengan Ki Widura. Kita memerlukan pertimbangannya. Orang-orang yang akan melakukan rencana yang sudah tersusun itu pasti tidak hanya satu dua orang. Dan sesuai dengan rencananya, yang datang pasti bukan orang-orang kebanyakan.”

“Apakah inti dari rencana mereka, Guru?” bertanya Swandaru.

“Rencana mereka sangat mengerikan. Membunuh para perwira yang tinggal di rumah Untara untuk membangkitkan kemarahan prajurit-prajurit Pajang. Dengan demikian maka Pajang pasti tidak akan dapat menahan hati lagi. Sedang para penyerang itu akan meninggalkan kesan bahwa orang-orang Mataram-lah yang telah melakukannya,”

“Seperti yang diperhitungkan Ki Lurah Branjangan. Orang itu memang mempunyai pandangan yang tajam.”

“Bukan sekedar perhitungan. Tentu orang-orang Mataram telah mencium rencana ini dari petugas-petugas sandinya, meskipun samar-samar. Karena itulah agaknya Ki Lurah Branjangan bertugas untuk menjaga, jika penciuman yang samar-samar itu benar-benar akan terjadi. Dan ternyata bahwa yang didengar oleh orang-orang Mataram itu bukan sekedar mimpi yang buruk.

“Jadi, apakah kita akan berbicara pula dengan Untara?” bertanya Sumangkar kemudian.

“Biarlah Untara menjalani hari-harinya dengan tenang. Meskipun kita memberitahukan kepadanya, tetapi kita jangan memberikan kesan, bahwa masalah yang dihadapinya adalah masalah yang terlalu berat.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Kiai Gringsing berkata selanjutnya “Marilah kita kembali ke rumah Widura.”

“He, bukankah kita pergi ke Sangkal Putung sore tadi?”

Kiai Gringsing tersenyum Jawabnya, “Ya, kita kembali ke Sangkal Putung sore tadi, sehingga baru besok pagi kita dapat mengunjungi Widura. Tetapi untuk benar-benar pergi ke Sangkal Putung menjelang pagi ini, agaknya akan sangat mengejutkan.”

“Lalu?”

“Marilah kita pergi ke tempat kuda kita tertambat. Kita beristirahat di pategalan itu sebentar, kemudian menjelang terang tanah kita mencari sumber air untuk membersihkan diri.”

Sumangkar dan kedua murid Kiai Gringsing itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Betapapun malasnya, Swandaru terpaksa juga berjalan di belakang Agung Sedayu menuju ke hutan kecil di sebelah jalan ke Sangkal Putung, kemudian ke pategalan tempat kuda mereka tertambat.

Ternyata ketika mereka sampai ke pategalan itu, langit sudah menjadi merah. Sehingga karena itu, mereka hanya mempunyai sedikit sekali kesempatan untuk beristirahat.

“Aku akan tidur sehari penuh,” desis Swandaru.

“Tentu tidak mungkin,” jawab Agung Sedayu, “kita berada di tempat perhelatan. Semua orang akan sibuk dengan persiapan keberangkatan Kakang Untara.”

“Aku akan bersembunyi di atas kandang, di belakang. Tidak ada orang yang akan mencari aku, karena aku tidak banyak dikenal oleh keluarga Kakang Untara.”

“Aku yang mengenalmu dan aku akan mencarimu.”

Swandaru memandang Agung Sedayu dengan dahi yang berkerut, lalu gumamnya, “Aku akan mendekur terus.”

Ternyata di sepanjang jalan dan selagi mereka duduk di atas kuda mereka, Kiai Gringsing dan Sumangkar masih saja membicarakan segenap kemungkinan yang akan terjadi. Namun mereka berkesimpulan, bahwa suasana tidak boleh dikacaukan karena peristiwa yang bakal terjadi setelah Untara pergi. Untara harus tetap tenang dan tidak terganggu karenanya, meskipun ia mengetahui serba sedikit apa yang terjadi.

Demikianlah setelah cahaya merah menjadi semakin merah, dan menjadi semburat kuning, maka mereka pun segera meninggalkan tempat itu.

“Hapuskan jejak sejauh mungkin,” berkata Kiai Gringsing.

Agung Sedayu dan Swandaru pun berusaha untuk melakukannya. Meskipun tidak sempurna, tetapi tidak segera menimbulkan kesan yang mencurigakan bagi pemilik pategalan itu.

“Belum tentu dua tiga hari sekali pategalan ini di kunjungi pemiliknya,” gumam Swandaru, “biar saja begitu.”

“Hus,” desis Agung Sedayu, “jangan terlampau malas.”

Ketika matahari terbit, mereka masih berada di sebuah belik kecil untuk mencuci muka. Kemudian mereka pun segera melanjutkan perjalanan kembali ke Jati Anom.

Kedatangan mereka yang masih terlalu pagi memang menimbulkan berbagai pertanyaan, tetapi sebagian dari orang-orang yang ada di rumah Widura menjadi acuh tidak acuh karena kesibukan mereka. Hanya beberapa orang pekerja yang sebenarnya adalah petugas sandi yang memang dipergunakan oleh Untara sajalah yang memperhatikan mereka berempat agak lebih banyak dari orang lain.

Untara yang sedang sibuk dengan kepentingan perajalannya, memerlukan menemui Kiai Gringsing bersama Widura. Mereka ingin tahu hasil dari kerja yang dilakukannya semalam.

“Tidak banyak yang aku ketahui,” berkata Kiai Gringsing, “namun pada dasarnya, rencana pengacauan itu memang ada. Seperti yang dicemaskan oleh Ki Lurah Branjangan itu memang akan terjadi.”

“Jadi bagaimana menurut pertimbangan Kiai?” bertanya Untara. Sebenarnya bukan kebiasaan Untara untuk menyerahkan keputusan kepada orang lain, apalagi di luar lingkungannya. Tetapi ia bukan orang yang sama sekali tidak mau mendengarkan pendapat orang lain.

Dan kini ia tidak dapat lagi memusatkan pikirannya kepada tugasnya melulu. Karena itu, maka ia memang memerlukan nasehat dari orang-orang yang dipercayanya meskipun ia berada di luar lingkungan keprajuritan.

“Sudahlah, Anakmas Untara,” berkata Kiai Gringsing, “serahkan semua kepada orang yang kau percaya. Tetapi aku minta ijin untuk berbicara dengan orang itu tanpa ada orang lain, meskipun perwira prajurit Pajang. Aku ingin berbicara dengan perwira itu di sini bersama Ki Widura. Anakmas tidak perlu cemas, bahwa kekacauan itu akan dapat mengganggu, bukan saja perhelatan anakmas, tetapi juga hubungan Pajang dan Mataram. Kami akan mencoba mengatasinya sebaik-baiknya.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya, “Dan Kiai tidak memerlukan aku untuk ikut berbicara?”

“Tentu aku tidak dapat menolak jika Anakmas memutuskan demikian. Tetapi jangan terlalu berpengaruh bagi Anakmas. Jika Anakmas datang ke rumah pengantin perempuan dengan kening yang berkerut-merut, maka kesannya akan berbeda. Mertua Anakmas akan bertanya-tanya, kenapa menantuku berwajah murung justru di malam pengantin?”

Untara tersenyum. Tetapi sebagai seorang senapati ia dapat menangkap dengan ketajaman tanggapan, bahwa persoalan yang sebenarnya bukannya begitu sederhana.

Atas perintah Untara, maka perwira yang tertua, yang mendapat wewenang melakukan tugas Untara selama Untara sibuk dengan persoalan pribadinya, segera datang ke rumah Widura. Perwira itu meskipun rambutnya sudah diselingi oleh warna-warna putih, namun tatapan matanya yang tajam, serta tubuhnya yang kuat kekar, masih tetap merupakan seorang yang pantas disegani.

Setelah saling memperkenalkan diri, maka perwira yang bernama Ki Ranadana itu segera mendapat penjelasan dari Untara siapakah yang sekarang sedang dihadapi.

Ki Ranadana mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku menyesal, bahwa aku tidak mendapat tugas di Sangkal Putung saat itu bersama Ki Widura, sehingga aku baru mengenal Kiai sekarang ini.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi aku akan berdebar-debar juga jika aku bertemu dengan Ki Sumangkar di medan waktu itu.”

Sumangkar hanya tersenyum saja. Meskipun ia belum mengenal terlalu baik, namun agaknya Ki Ranadana telah mengetahuinya, siapakah sebenarnya orang yang bernama Ki Sumangkar itu.

“Nah, silahkan,” berkata Untara kemudian, “aku akan menjadi pendengar saja.”

“Pendengar yang baik,” sahut Kiai Gringsing, “dengan demikian Anakmas tidak akan selalu memikirkannya.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil tersenyum ia berkata, “Ya, aku akan mencoba melupakannya, setidak-tidaknya untuk lima hari selama aku berada di Pengging.”

Sejenak kemudian mereka pun mulai berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat timbul. Dengan hati-hati Kiai Gringsing mengatakan apa yang dilihatnya dan apa yang didengarnya. Rencana yang agaknya telah tersusun dan hampir merupakan kepastian tentang usaha orang-orang itu untuk memasuki rumah Untara, dan membunuh beberapa orang perwira.

“Itu bukan persoalan yang dapat dilupakan begitu saja,” tiba-tiba Untara memotong.

“Anakmas Untara sudah berjanji untuk menjadi pendengar yang baik, sehingga Anakmas Untara tidak usah ikut mempersoalkannya. Bukankah Anakmas Untara sudah diwakili Ki Ranadana?”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Persoalannya adalah persoalan yang besar. Apakah aku akan melepaskan persoalan ini berlalu begitu saja? Sebenamya ini adalah suatu kesempatan untuk mengetahui, siapakah yang sebenarnya telah membuat jurang yang semakin dalam antara Pajang dan Mataram.”

“Tetapi ada kemungkinan lain,” berkata Kiai Gringsing. “Mungkin Anakmas Untara terlalu berpikir jauh dan berlandaskan pada masalah-masalah yang besar. Tetapi hal ini mungkin berpijak pada masalah yang sangat sederhana meskipun dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kemampuan tinggi.”

“Apakah alasan yang sederhana itu?”

“Orang-orang yang tidak ingin melihat orang lain membuka Alas Mentaok siapa pun orangnya. Mereka adalah orang-orang yang kecewa, karena mereka sendiri mempunyai pamrih atas Alas Mentaok. Tidak ada persoalan apa pun yang ada hubungannya dengan kepemimpinan Sultan Pajang dan Ki Gede Pemanahan beserta puteranya Raden Sutawijaya.”

“Jika demikian maka keadaannya akan menjadi semakin parah. Seolah-olah kita yang memiliki kemampuan berpikir sebagai prajurit, akan diadu domba begitu saja oleh orang-orang yang sekedar dikendalikan nafsu ketamakan?”

“Itulah sebabnya kita berhati-hati. Persoalannya memang cukup gawat, tetapi kita sudah mengetahuinya lebih dahulu. Apalagi di sini ada Ki Lurah Branjangan yang sekarang berada di gandok. Ia akan dapat ikut memecahkan masalahnya apabila kita berhasil menangkap beberapa orang dari mereka.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Baiklah. Aku akan menjadi pendengar yang baik.”

Kiai Gringsing tersenyum. Dipandanginya wajah Untara sejenak, lalu wajah Ki Ranadana. Setelah menarik nafas maka ia pun berkata, “Kita akan membuat rencana untuk menjebak mereka.”

“Ya. Dan itu bukan suatu hal yang mudah,” sahut Ranadana.

“Besok kita akan menentukan garis pertahanan yang akan kita susun.”

“Kenapa besok. Kita tidak boleh lengah. Aku akan memanggil beberapa orang perwira untuk membicarakan hal ini bersama Kiai berdua.”

Tetapi Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. “Jangan. Semakin banyak orang yang mengetahui masalah ini, bahaya kebocoran pun menjadi semakin besar. Jika orang-orang itu mengetahuinya, bahwa kita sudah mencium rencana mereka, maka mereka pasti akan merubah cara mereka untuk mengacaukan Jati Anom dan memancing kekeruhan.

Ki Ranadana mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi pada pokoknya kita sudah mengetahui, bahwa sasaran utama yang telah mereka tentukan adalah para perwira yang ada di Jati Anom, dan yang tentu saja tidak ikut ke Pengging bersama Anakmas Untara. Tetapi seandainya mereka berhasil membunuh seorang perwira saja, maka kemarahan prajurit Pajang tidak akan dapat dibendung lagi.”

Untara yang mendengarkan percakapan itu menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berbicara apa pun. Ia percaya bahwa Kiai Gringsing dan Ki Ranadana pasti akan menemukan jalan yang paling baik untuk mencegah pembunuhan itu.

Meskipun ada juga kegelisahan di hati Untara, namun ia mencoba untuk mempercayakan hal itu kepada orang-orang yang ditinggalkannya di Jati Anom. Selain Kiai Gringsing dan Ki Ranadana, masih ada pula Widura dan Ki Sumangkar. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai pengalaman yang cukup dan pikiran yang cerah untuk memecahkan seiap persoalan.

“Aku kira bahan yang aku berikan sudah cukup Ki Ranadana. Hari ini kita akan merenungkan, apa yang akan kita lakukan. Sementara itu Anakmas Untara dapat mempersiapkan dirinya. Besok Anakmas harus pergi ke Pengging. Bukan saja diiringi oleh keluarga pengantin, tetapi juga oleh sepasukan prajurit.”

Untara tersenyum. Katanya, “Baiklah. Aku akan mempersiapkan diriku. Silahkanlah kalian berbicara tentang usaha kalian untuk menyelamatkan daerah ini dari kekacauan yang dapat menyeret Pajang dalam suatu keadaan yang gawat. Aku percaya kepada kalian.”

Untara pun kemudian meninggalkan pertemuan itu. Ia sadar, bahwa kehadirannya memang agak mengganggu, Kiai Gringsing tidak akan menyebutkan rencana apa pun yang dapat membuatnya gelisah.

Sepeninggal Untara, maka barulah Kiai Gringsing berkata, “Kita harus menyelamatkan sasaran itu.”

“Ya,” jawab Ki Ranadana, “dan itu bukannya yang sulit. Tetapi bagaimana kita dapat membuktikan bahwa yang datang itu benar-benar bukan orang-orang Mataram.”

“Ki Lurah Branjangan akan menentukan.”

“Aku tahu. Tetapi bagaimana kita meyakinkan prajurit-prajurit dan rakyat yang sudah dibekali dengan kecurigaan.”

“Kita harus berhasil menangkap beberapa orang di antara mereka hidup-hidup. Kita hadapkan orang itu kepada Ki Lurah Branjangan di hadapan beberapa orang prajurit yang paling berpengaruh.”

Ki Ranadana mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jadi, apakah kita akan menjebak mereka? Menurut perhitunganku, menahan mereka di luar kademangan adalah lebih baik. Kita dapat mengurangi ketegangan dan ketakutan.”

“Aku sependapat,” sahut Kiai Gringsing, “tetapi aku masih belum dapat memastikan, apakah pendapat orang-orang yang berhasil kami ikuti itu diterima. Dalam hal ini, apakah mereka akan datang dari Barat atau seperti yang mereka katakan, mereka akan datang dari Timur.”

Ki Ranadana mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Jika demikian, bagaimana pendapat Kiai?”

“Kita jebak mereka di halaman rumah Anakmas Untara dan di sepanjang jalan. Menilik rencana yang akan mereka jalankan, jumlah mereka tidak akan begitu banyak. Tetapi di antara mereka pasti ada orang-orang yang dapat dipercaya untuk menghadapi para perwira yang diperkirakan jumlahnya akan jauh berkurang, karena sebagian telah pergi mengikuti dan mengawal Anakmas Untara ke Pengging besok.”

“Kenapa harus di halaman dan di dalam padukuhan Jati Anom?”

“Kesempatan mereka untuk melarikan diri harus kita tutup serapat-rapatnya. Di luar padukuhan mereka akan banyak mendapat kesempatan untuk lari.”

Ki Ranadana mengangguk-anggukkan kepalanya. Semuanya itu akan terjadi besok malam menurut perhitungan mereka, setelah besok Untara berangkat ke Pengging.”

“Aku akan memberitahukan masalahnya setelah Untara berangkat,” berkata Ki Ranadana, “agar persiapan pengantin itu tidak terganggu.”

“Ya,” sahut Kiai Gringsing. “Kita akan memerlukan prajurit seperlunya dalam kesiagaan penuh, tanpa menyatakan persoalannya yang sebenarnya kecuali kepada beberapa orang pemimpin kelompok. Kita harus menjaga agar semuanya itu seakan-akan hanyalah kesiagaan karena Jati Anom menjadi sepi.”

Demikianlah mereka telah sepakat untuk mengatur persiapan besok setelah Untara berangkat. Menurut keputusan terakhir, Untara akan berangkat besok dengan iring-iringan yang kuat. Beberapa orang keluarga yang meskipun agak jauh, pergi mengantarkannya. Tetapi Widura justru tinggal di Banyu Asri karena persoalan yang cukup gawat yang akan terjadi di padukuhan Jati Anom.

Dengan persetujuan Untara, maka menjelang sore yang kemudian turun di atas Jati Anom, Kiai Gringsing dan Sumangkar pergi juga ke Lemah Cengkar. Jika pendapat orang-orang yang kemarin diikutinya itu disetujui oleh pimpinan mereka, maka ada kemungkinan satu dua orang yang lebih tinggi tingkatannya, akan memastikan tempat itu sebagai landasan gerak mereka. Tetapi kali itu mereka tidak membawa Agung Sedayu dan Swandaru.

Ternyata bahwa Kiai Gringsing dan Sumangkar mendapatkan kepastian itu. Beberapa orang ternyata kembali ke Lemah Cengkar dan bahkan mereka agaknya telah menentukan di mana mereka harus berkumpul.

Tetapi Kiai Gringsing dan Sumangkar tidak dapat mendekati mereka, keduanya hanya dapat melihat dari kejauhan sambil berjongkok menyabit rumput.

“Mereka benar-benar datang seperti yang mereka rencanakan,” berkata Kiai Gringsing.

Sumangkar menganggukkan kepalanya. Katanya, “Mereka agaknya telah mapan dengan tempat ini. Yang tinggi itu agaknya pemimpinnya. Ia mengangguk-angguk mantap sekali.”

Kiai Gringsing tidak menyahut. Ketika orang yang tinggi itu kebetulan berpaling, maka kedua orang tua-tua itu bekerja semakin tekun, menyabit rumput yang hijau segar.

Tetapi keduanya menjadi berdebar-debar ketika orang-orang itu mendekatinya. Orang yang tinggi itu berdiri beberapa langkah di samping Ki Sumangkar dan memandang kedua orang tua itu berganti-ganti.

“He, siapakah kalian?”

Sumangkar mengangkat wajahnya. Tubuhnya yang tidak ditutup dengan baju itu tampak berkeringat dan terbakar oleh sinar matahari di sore hari.

“He, siapa kau?”

“Namaku Puji Ki Sanak.”

“Dari mana?”

“Sendang Gabus.”

Orang yang tinggi itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu ia pun bertanya, “Apakah kau bukan orang Jati Anom?”

Sumangkar menggeleng. “Bukan Ki Sanak. Tetapi aku memang sering pergi ke Jati Anom. Apakah Ki Sanak memerlukan sesuatu yang dapat kami bantu?”

“Tidak, tidak,” jawab orang itu, lalu, “bukankah di Jati Anom ada pengantin agung.”

“O, maksud Ki Sanak pengantin Senapati Pajang itu?”

“Ya.”

“Ya. Besok ia akan berangkat ke Pengging. Apakah Ki Sanak akan mengunjungi perhelatan itu?”

“Ya. Aku akan datang. Tetapi besok, di hari ke lima, jika Untara membawa isterinya kembali. Aku bukan keluarga dekat.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia menegang sejenak ketika orang itu bertanya, “Kenapa kau menyabit rumput di sini dan di sore hari?”

Namun Sumangkar pun segera tersenyum sambil menjawab, “Seperti yang Ki Sanak lihat, rumput di sini tumbuh subur. Aku bukan saja menyabit rumput di sini, tetapi di pagi hari aku kadang-kadang menggembalakan kambing dan kerbau di tempat ini.”

“Jarang sekali ada orang yang menggembalakan ternaknya di sini. Bukankah Lemah Cengkar terkenal angker karena Macan Putihnya?”

“Tetapi tidak bagi gembala,” jawab Sumangkar. “Pohon Panca Warna yang angker itu memberikan buahnya khusus bagi para gembala. Selain bagi gembala yang setiap hari bermain di bawahnya, buahnya dapat menjadi racun. Tetapi tidak bagi kami. Anak-anak sampai orang yang paling tua sekalipun.”

Orang itu mengerutkan keningnya sejenak. Namun tiba-tiba ia tersenyum sambil berkata, “Itu adalah akal yang licik dari para gembala. Agar buah itu tidak diambil orang lain, kalian membuat cerita begitu?”

“Tidak. Memang tidak ada orang yang berani makan buahnya.”

Orang yang tinggi itu mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun berkata kepada kawan-kawannya, “Marilah, kita tinggalkan tempat ini.”

Sumangkar tidak bertanya apa pun kepada mereka, kenapa mereka berada di tempat itu, namun orang yang tinggi itulah yang berkata sebelum ia pergi, “Kami adalah pemburu harimau. Kami sebenarnya ingin melihat Macan Putih di daerah ini. Jika menurut dugaan kami, macan itu adalah macan sewajarnya, maka kulitnya akan sangat berharga. Tetapi jika yang disebut Macan Putih itu menurut ciri-cirinya adalah harimau jadi-jadian, sudah tentu kami tidak akan berani berbuat apa-apa.”

Sumangkar mengangguk-angguk. Jawabnya, “Hanya di malam hari Macan Putih itu menampakkan diri.”

“Menurut kepercayaanmu. Tetapi jika harimau itu benar-benar harimau, di siang hari kami akan menemukan bekas-bekasnya, sehingga memberikan petunjuk bagi kami untuk berburu di malam hari.”

Sumangkar mengangguk-angguk. Sekilas dipandanginya Kiai Gringsing tetapi orang tua itu masih tetap sibuk menyabit rumput.

Sejenak kemudian orang-orang itu pun pergi meninggalkan tempat itu. Sesekali mereka masih berpaling. Salah seorang dari mereka berpendapat, bahwa kedua orang itu dapat membahayakan keadaan mereka. Tetapi orang yang tinggi itu berkata, “Gembala itu tidak mengerti apa-apa. Tetapi jika kita berbuat sesuatu, maka justru akan dapat menimbulkan persoalan. Katakanlah jika orang-orang itu tidak pulang ke rumahnya malam nanti, maka keluarga mereka tentu akan mengadu. Bukan sekedar kepada bebahu kademangannya, tetapi kepada prajurit Pajang di Jati Anom. Nah, hal itu akan dapat membuat mereka bertanya-tanya dan barangkali justru menimbulkan kesiagaan yang lebih mantap sepeninggal Untara.”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan orang tinggi itu berkata lagi, “Kita berpencar, agar kita tidak menumbuhkan kecurigaan apa pun.”

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar memandangi orang-orang itu sampai mereka hilang di balik gerumbul-gerumbul perdu. Mereka berpencar ke arah yang berbeda, agar orang-orang yang menjumpai mereka tidak bertanya-tanya tentang sekelompok orang yang tidak dikenal.

Ketika mereka sudah tidak tampak lagi, Kiai Gringsing dan Sumangkar pun segera berdiri. Dikibaskannya kain panjang mereka yang menjadi kotor dan diusapnya keringat yang membasahi kening.

“Agaknya semuanya sudah hampir dapat dipastikan,” berkata Kiai Gringsing.

“Ya. Dan kita harus menyusun rencana sebaik-baiknya bersama Ki Ranadana. Jika kita masih juga terjebak, maka kitalah yang ternyata terlampau dungu.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Marilah kita kembali.”

Mereka pun kemudian meninggalkan Lemah Cengkar dan meninggalkan keranjang mereka di pinggir belukar ilalang. Baju yang mereka lilitkan di pinggang pun segera mereka pakai, sementara keringat mereka masih saja mengalir. Tetapi keduanya tidak membuang sabit mereka.

Orang Sendang Gabus dan Jati Anom tidak menghiraukannya sama sekali. Tidak banyak orang yang mengenal keduanya dan tidak banyak orang yang menghiraukan mereka seperti juga orang-orang Sendang Gabus dan Jati Anom tidak menghiraukan orang-orang asing yang lewat di jalan-jalan padukuhan mereka. Orang-orang Jati Anom menyangka bahwa mereka adalah penghuni kademangan dan padukuhan tetangga yang sedang dalam perjalanan, seperti yang sering terjadi. Berpuluh-puluh kali, dan bahkan beratus-ratus kali. Setiap hari ada saja orang yang tidak mereka kenal lewat di sepanjang jalan kademangan.

Dalam pada itu, matahari semakin lama menjadi makin rendah, sedang di rumah Widura pun tampak menjadi semakin sibuk. Beberapa orang tua-tua sudah menyiapkan beberapa buah jodang yang besok akan dibawa serta bersama pengantin laki-laki. Jodang-jodang yang berisi pakaian buat pengantin wanita. Sanggan yang terdiri dari buah-buahan, setangkep pisang dan kelengkapannya.

Di malam berikutnya, pintu rumah Widura sama sekali tidak pernah tertutup meskipun hanya sekejap. Semalam suntuk, hilir-mudik orang tua-tua yang mengatur persiapan keberangkatan Untara besok, sementara di halaman rumah itu, beberapa orang pembantu juga tampak hilir-mudik menyiapkan bermacam-macam kebutuhan. Namun sebagian dari mereka adalah petugas-petugas sandi yang mengawasi keamanan rumah Widura, karena setiap saat dapat terjadi sesuatu yang tidak terduga-duga.

Selama kesibukan itu, Ki Lurah Branjangan dan beberapa orang pengiringnya, masih saja dipersilahkan tinggal di pendapa, agar mereka tidak terlibat dalam kesibukan, sehingga mereka tidak sempat beristirahat. Namun sekali-sekali mereka datang juga ke pendapa dan duduk bercakap-cakap dengan Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar. Namun sampai demikian jauh, Kiai Gringsing masih belum memberitahukan, apa yang pernah didengarnya dari orang-orang yang tidak mereka kenal itu.

Tetapi malam itu Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar memerlukan menemui Ki Ranadana. Semuanya harus diatur sebaik-baiknya sehingga apabila tiba saatnya, prajurit-prajurit Pajang tidak terjebak dalam kesulitan, dan terlebih-lebih lagi, mereka jangan sampai terjerat kedalam suatu kesan, bahwa orang-orang Mataram telah datang ke Jati Anom dan mempergunakan saat-saat yang sibuk itu untuk menimbulkan kekacauan.

“Aku akan menyiapkan sekelompok prajurit pilihan,” berkata Ki Ranadana. Lalu, “Untuk sementara aku tidak akan mengatakan keperluan yang sebenarnya. Di pagi besok kelompok pilihan itu sekedar aku persiapkan untuk pengamanan keberangkatan Ki Untara. Tetapi kelompok itu juga yang akan aku pergunakan di malam hari besok untuk menjebak orang-orang liar itu.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih juga bertanya, “Bagaimana dengan para perwira yang masih tinggal di rumah itu, karena mereka tidak ikut serta mengantar Anakmas Untara ke Pengging.”

“Sampai gelap mereka akan tetap di rumah itu. Tetapi di saat berikutnya mereka akan aku persilahkan pergi ke Banyu Asri, untuk berjaga-jaga dan ikut berdoa agar pengantin yang pergi ke Pengging selamat sampai ke tujuan dan perkawinan dapat berlangsung dengan baik.”

“Tanpa memberitahukan keadaan yang sebenarnya sama sekali?”

“Beberapa orang akan diberi tahu. Dan yang beberapa orang itu akan terlibat langsung apabila orang-orang itu benar-benar telah datang. Sedang yang lain, akan diatur oleh seorang perwira yang cukup berpengalaman apabila diperlukan. Demikian juga para prajurit yang ada di banjar. Aku akan menempatkan tiga orang perwira di Banjar itu untuk mendengar pertempuran yang dapat timbul apabila mereka mengatasi kebingungan yang mungkin terjadi.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata Ki Ranadana adalah seorang perwira tua yang berhati-hati.

“Sampai Untara berangkat, tidak akan ada seorang, pun selain kita yang mengetahui, apa yang bakal terjadi. Para perwira pun tidak. Yang mereka ketahui, kelompok pilihan itu sekedar untuk berjaga-jaga tanpa sasaran yang pasti,” berkata Ki Ranadana.

“Baik sekali. Dengan demikian tidak akan timbul kegelisahan justru menjelang keberangkatan pengantin ini.”

Demikianlah rencana Ki Ranadana berlangsung seperti yang dikehendakinya, sementara persiapan keberangkatan Untara pun telah selesai.

Seperti yang telah ditentukan oleh orang tua-tua, maka di hari berikutnya, berangkatlah Untara bersama pengiringnya ke Pengging dengan pengawalan yang cukup kuat.

Beberapa orang perwira dari Jati Anom ikut bersamanya sebagai pengiring. Sebagian lagi adalah kawan-kawannya dan para perwira yang datang dari Pajang.

Namun ketika iring-iringan itu mulai bergerak, Untara masih sempat berbisik kepada Widura dan Ki Ranadana yang berdiri didekatnya, “Jagalah padukuhan ini baik-baik. Jangan sampai terjadi sesuatu yang dapat memberikan kesan yang jelek sekali, justru karena aku tidak ada. Bantuan Kiai Gringsing dan murid-muridnya beserta Ki Sumangkar sangat kita perlukan.”

Widura dan Ki Ranadana mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Percayakan saja kepadaku,” berkata Ki Ranadana, “jangan kau pikirkan Jati Anom. Aku dan Ki Widura akan mengurusnya. Urusanmu adalah pengantin perempuan itu.”

“Ah kau,” desis Untara sambil tersenyum.

Ki Ranadana dan Ki Widura pun tersenyum pula. Tetapi hati mereka cukup berdebar-debar. Sepeninggal Untara, mereka masih harus menyiapkan diri menghadapi persoalan yang gawat, yang barangkali mempunyai akibat yang sangat jauh.

Agung Sedayu dan Swandaru mengantar pengantin itu sampai ke regol padukuhan. Kemudian dilepaskannya Untara pergi di atas punggung kuda. Tetapi mereka tidak dapat berpacu terlampau cepat. Meskipun beberapa buah pedati-pedati yang memuat jodang-jodang yang berisi bermacam-macam keperluan telah berangkat lebih dahulu menjelang fajar, namun kuda-kuda mereka pasti akan segera melampauinya.

Tetapi segala sesuatunya telah diatur. Telah disediakan sebuah rumah khusus buat peristirahatan pengantin laki-laki. Sebelum pengantin laki-laki pergi ke rumah pengantin perempuan dengan segala peralatannya, maka pengantin itu akan tinggal di rumah yang sudah ditentukan sambil menunggu kedatangan pedati-pedati yang membawa beberapa buah jodang itu.

Dalam pada itu, sepeninggal Untara, maka Ki Ranadana pun segera membicarakan tugasnya. Prajurit pilihan yang dipersiapkan masih tetap di dalam kelompoknya. Karena sebenarnya prajurit itu memang dipersiapkan untuk pengamanan Jati Anom di malam yang mendatang.

Tetapi seperti yang telah mereka putuskan, Ki Ranadana belum memberitahukan hal itu kepada para perwira yang lain. Ia masih tetap menyimpan hal itu di dalam dirinya.

Sepeninggal pengantin laki-laki, maka rumah Widura menjadi semakin sepi. Beberapa orang sanak kadangnya telah minta diri pulang ke rumah masing-masing.

“Besok lusa aku akan kembali menjelang sepasaran pengantin,” berkata salah seorang dari mereka.

Sambil mengucapkan terima kasih Widura mempersilahkan mereka dan mengantar sampai ke regol halaman. Apalagi di dalam hati Widura memang mengharap agar mereka segera meninggalkan rumahnya, agar ia mendapat kesempatan untuk memikirkan kemungkinan yang bakal terjadi malam nanti.

Meskipun Widura tidak berkata berterus terang, tetapi ia sudah membayangkan kepada Ki Lurah Branjangan bahwa sesuatu memang mungkin terjadi, seperti yang diperhitungkannya.

“Mudah-mudahan perhitunganku salah,” berkata Ki Lurah Branjangan. “Aku hanya terlampau curiga, seperti juga Raden Sutawijaya. Kami, orang-orang Mataram, merasa bahwa suasana yang meliputi Mataram kini adalah suasana yang lapuk sekali. Setiap saat dapat terjadi perubahan-perubahan. Dan banyak sekali pihak yang memang menginginkan Mataram tenggelam sebelum tumbuh.”

“Ah, jangan berprasangka terlampau buruk. Meskipun kemungkinan itu terjadi, tetapi kau jangan terlampau berkecil hati. Sudah tentu, para prajurit Pajang akan berusaha untuk melihat kebenaran sejauh dapat dijangkau. Mereka tidak akan begitu saja melemparkan kesalahan kepada sesuatu pihak tanpa bukti-bukti yang meyakinkan.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku akan tetap di sini sampai hari-hari perkawinan ini selesai. Aku harus melihat perkembangan suasana. Alangkah baiknya jika tidak terjadi sesuatu. Tetapi jika ada persoalan yang tumbuh selama ini dan menyangkut nama Mataram, aku akan berusaha menyelesaikannya.”

Demikianlah, maka Ki Ranadana dan Widura telah mulai sibuk mengatur diri bersama Kiai Gringsing, kedua muridnya dan Ki Sumangkar. Mereka menentukan di mana prajurit Pajang harus menunggu orang-orang yang akan menyergap rumah Untara.

Adalah tidak menimbulkan kesan apa pun ketika Agung Sedayu, Swandaru, dan gurunya bersama Ki Sumangkar memasuki rumah itu diiringi oleh Ki Ranadana, karena rumah itu memang rumah Agung Sedayu. Bahkan tidak seorang pun yang curiga ketika ia berjalan-jalan di kebun belakang. Mengitari sebuah rumah kecil di bagian belakang, yang masih juga dihuni keluarga yang menunggui rumah itu sejak rumah itu ditinggalkan oleh Agung Sedayu dan Untara.

Dalam kesempatan itulah Ki Ranadana menentukan tempat-tempat yang akan mendapat pengawasan dari prajurit-prajurit pilihan. Dan prajurit-prajurit itu baru akan mengetahui persoalannya setelah senja. Demikian juga para perwira yang akan dipindahkan ke rumah Widura selain mereka yang bertugas. Sepeninggal para perwira itu. Kiai Gringsing, Sumangkar, Ranadana, dan tiga orang perwira yang akan dipilih sajalah yang akan tinggal di rumah itu, sedang para perwira yang berada di rumah Widura akan ditempatkan di bawah pengaruh Widura, meskipun ia bukan prajurit lagi.

“Di dalam saat yang gawat, mereka akan terlibat. Juga para prajurit di banjar. Tetapi jika keadaan dapat di atasi, maka kekisruhan akan dibatasi sekecil-kecilnya, sehingga rakyat Jati Anom tidak akan menjadi bingung karenanya.”

Demikianlah semua rencana sudah menjadi matang, seperti juga beberapa orang yang berada agak jauh dari Jati Anom. Mereka pun telah menyiapkan suatu rencana yang matang pula.

Dan orang-orang itulah yang dengan sengaja ingin memancing kekeruhan. Mereka akan menyerang para perwira di Jati Anom dengan diam-diam. Dan dengan tersamar mereka ingin meninggalkan kesan seakan-akan mereka adalah orang-orang Mataram yang dengan menyelubungi diri membuat keributan di daerah yang berada dekat sekali dengan batas yang sebenarnya tidak dapat ditentukan dengan nyata.

Dengan demikian, maka semakin jauh matahari menjelajahi langit di sebelah Barat, maka ketegangan-ketegangan menjadi semakin nampak. Baik di Jati Anom, maupun di sebuah hutan kecil di sebelah jalan ke Sangkal Putung.

Sekelompok kecil orang-orang yang tidak dikenal memasuki hutan itu dan hilang di antara rimbunnya pepohonan. Mereka tidak datang bersamaan untuk menghindari kecurigaan orang lain. Kadang-kadang mereka hanya datang berdua, bertiga dan tidak lebih dari empat orang setiap kelompok.

Namun ternyata mereka berkumpul menjadi sekelompok orang yang cukup banyak setelah mereka berada di dalam hutan yang terlindung itu.

“Setelah gelap, kita akan mempersiapkan diri kita di Lemah Cengkar,” berkata salah seorang dari mereka. “Kita akan melingkar dan memasuki Jati Anom dari Utara.”

“Dari Utara?” bertanya salah seorang dari mereka. “Apakah kita tidak dapat memasuki Jati Anom dari Timur?”

“Sendang Gabus?”

“Ya.”

Orang yang agaknya merupakan pemimpin mereka ini menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak. Kita akan datang dari Utara. Kemarin aku sudah memastikan setelah aku melihat daerah Lemah Cengkar di sore hari. Daerah itu memang agak sulit. Gerumbul-gerumbul berduri. Dan jika ada yang masih percaya, di sana ada seekor harimau putih. Tetapi kita tidak mempunyai kepetingan apa pun dengan harimau putih itu, meskipun seandainya harimau itu adalah harimau jadi-jadian.”

Kawan-kawannya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Lewat gerumbul-gerumbul berduri itu kita mendekati Jati Anom, dan kita akan menyusup di sela-sela para peronda dan gardu-gardu yang sudah kita kenal letaknya. Kita akan langsung memasuki halaman rumah Untara. Kita akan membunuh para perwira yang ada di rumah itu, sambil mengumpati mereka dan sekali-sekali menyebut nama Mataram. Tetapi ingat, jangan semua orang dibunuh, agar ada yang bercerita tentang kita, bahwa kita menyebut-nyebut nama Sutawijaya dan Pemanahan sebagai orang terbaik. Hanya itu, seolah-olah kita memang menyembunyikan kenyataan bahwa kita orang-orang Mataram.”

Kawan-kawannya menarik napas dalam-dalam. Pekerjaan itu memang sulit. Mereka harus berpura-pura menjadi orang Mataram yang sedang berpura-pura pula.

“Kita akan masuk lewat bagian belakang. Kita harus menyergap dengan tiba-tiba. Sebagian para penjaga di depan regol dan yang lain para perwira di dalam rumah itu. Sekali lagi aku peringatkan, mereka jangan sampai mendapat kesempatan untuk membunyikan tanda apa pun. Tetapi mereka jangan ditumpas semuanya. Biarlah satu dua orang yang telah terluka parah dapat hidup terus untuk menceritakan apa yang telah terjadi.” Orang itu berhenti sejenak, lalu, “Yang harus diperhatikan adalah, bahwa para perwira Pajang bukannya anak-anak. Mereka adalah prajurit yang mendapat tempaan yang cukup. Mereka memiliki kemampuan keprajuritan yang tinggi, dan memiliki kemampuan secara pribadi pula, sehingga jika mereka sempat bangun, mereka akan memberikan perlawanan yan sangat berat. Aku sendiri akan berada di antara mereka yang harus membunuh beberapa orang perwira itu. Aku mendengar laporan, bahwa sebagian besar dari mereka iku bersama Untara. Aku kira di dalam rumah itu tidak akan ada lebih dari lima orang perwira saja.”

“Hanya lima?” bertanya seseorang.

“Ya. Yang lain pasti ada di banjar. Sebagian ada di rumah Widura bersama beberapa orang petugas sandi, dan yang lain ada di kademangan dan di gardu induk.”

“Kita tidak dapat menumpas mereka sekaligus.”

“Bodoh kau,” bentak pemimpinnya, “kita memang tidak ingin menumpas mereka. Kita hanya sekedar membuat orang-orang Pajang marah. Jika di antara para perwira itu, dua atau tiga orang saja yang terbunuh bersama para prajurit pengawal rumah itu, itu sudah cukup. Pajang akan menjadi marah, dan kita mengharap, mereka akan mengambil tindakan terhadap orang-orang Mataram. Apakah kau mengerti?”

“Aku mengerti. Tetapi alangkah baiknya jika keduanya dapat dilaksanakan bersama-sama.”

“Sebuah mimpi yang bagus sekali. Tetapi kemampuan kita tidak akan mungkin.”

Ternyata pemimpinnya masih memberikan beberapa pesan kepada anak buahnya, agar usaha mereka itu tidak gagal. Mereka mengharap, bahwa Pajang benar-benar segera bertindak terhadap Mataram. Jika terjadi demikian, maka selain dendam mereka terbalas karena kematian orang-orang mereka yang terpenting di Alas Mentaok, maka Mataram akan segera dikosongkan. Mereka akan mendapat kesempatan dengan perlahan-lahan mengisi kekosongan itu. Lewat beberapa orang perwira dan pemimpin pemerintahan yang mereka kenal, maka mereka akan mendapat pengesahan atas penggunaan tanah di Alas Mentaok itu.

Tetapi selagi mereka bersiap, Kiai Gringsing, kedua muridnya, Sumangkar, dan Ki Ranadana pun telah menyiapkan penyambutannya pula. Meskipun mereka tidak tahu pasti, dari mana orang-orang itu akan memasuki halaman rumah Agung Sedayu itu, namun mereka telah menyiapkan sepasukan pilihan yang akan menyambut mereka, meskipun sampai matahari menyentuh pucuk pepohonan di ujung Barat, mereka masih belum mengetahui apa yang bakal terjadi. Mereka hanya sekedar mendapat perintah untuk bersiaga.

Dalam pada itu Kiai Gringsing dan Sumangkar masih juga mempertimbangkan beberapa lama, apakah Agung Sedayu dan Swandaru lebih baik berada di Banyu Asri saja. Namun akhirnya mereka mengambil keputusan bahwa biarlah keduanya berada di rumah yang akan menjadi sasaran itu, namun keduanya harus berhati-hati dan benar-benar mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan yang berat, karena Kiai Gringsing dan Sumangkar yakin, bahwa orang-orang yang akan memasuki rumah itu pun adalah orang-orang pilihan.

Demikianlah, matahari pun semakin lama menjadi makin rendah, sehingga akhirnya wajah langit pun menjadi kemerah-merahan dan senja pun turun dengan perlahan-lahan.

“Kita harus segera bersiaga,” berkata Kiai Gringsing kepada Ki Ranadana.

Perwira prajurit Mataram itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia sudah siap dengan pasukan pilihannya hingga setelah hari menjadi benar-benar gelap, dipanggilnya pasukannya itu.

“Kau mendapat tugas khusus malam ini,” berkata Ki Ranadana kepada pemimpin prajurit pilihan itu.

Perintah itu sebenarnya tidak begitu mengherankan bagi mereka. Adalah menjadi kewajiban seorang prajurit untuk berjaga-jaga di dalam setiap kemungkinan.

“Malam ini adalah malam yang mendebarkan jantung,” berkata Ki Ranadana kemudian, “karena itu, aku telah memilih kalian. Karena kalian adalah sekelompok prajurit pilihan.”

Pemimpin kelompok prajurit pilihan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyangka, bahwa justru malam itu Jati Anom akan menjadi sepi, sehingga penjagaan harus diperkuat.

“Nah,” berkata Ki Ranadana, “kalian akan bertugas di rumah ini. Pada saatnya aku akan memberikan perintah lebih lanjut.”

Barulah pemimpin kelompok itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih belum bertanya apa pun selain bersiap untuk menjalankan perintah.

Para perwira pun tidak kalah heran, ketika mereka dikumpulkan oleh Ki Ranadana dan mendapat perintah untuk bermalam di rumah Widura semalam itu.

“Widura memerlukan kawan untuk berjaga-jaga memanjatkan doa, agar Untara selamat sampai di perjalanan, dan sejahtera untuk selanjutnya,” berkata Ki Ranadana kepada para perwira.

Sejenak para perwira itu saling berpandangan. Namun kemudian Ki Ranadana melanjutkan, “Aku persilahkan kalian segera berangkat. Ki Widura tentu sudah menunggu. Bersama kalian adalah kemanakan Ki Widura, yang seorang adik Ki Untara, yang akan mengantarkan kalian, tetapi anak itu akan segera kembali ke rumah ini, rumahnya.”

Tidak banyak yang dapat mereka tanyakan. Para perwira itu pun kemudian berkemas dan pergi meninggalkan rumah Agung Sedayu menuju ke rumah Widura. Namun demikian, Ki Ranadana masih berpesan kepada Agung Sedayu, agar Widura benar-benar mengawasi para perwira itu agar mereka tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan. Meskipun Widura sudah bukan prajurit, namun pengaruhnya masih terasa pada para perwira yang masih muda-muda itu.

Tetapi tidak semua perwira harus bermalam di rumah Widura, Ki Ranadana masih menahan tiga orang perwira yang sudah setengah umur bersamanya, tanpa memberikan penjelasan mengenai persoalan yang sebenarnya.

“Aku akan menjadi kesepian jika kalian semuanya berada di Banyu Asri,” berkata Ki Ranadana. “Biarlah yang tua-tua berada di sini menunggui rumah ini, dan yang muda-muda mendapat kesempatan untuk berkelakar dengan gadis-gadis Jati Anom.”

Meskipun demikian, perwira-perwira muda itu bertanya-tanya juga di dalam hati, apakah sebenarnya yang telah mendorong Ki Ranadana mengirim mereka ke rumah Widura.

Memang tidak ada kesan apa pun di rumah Widura. Mereka disambut dengan ramah dan gembira. Seakan-akan memang Widura mengharap kedatangan mereka untuk berjaga-jaga dan beramah-tamah.

Namun demikian, para penjaga yang biasanya bertugas di rumah Untara pun telah dipindahkan pula ke rumah itu bersama para perwira, sedang yang bertugas di halaman rumah Untara telah digantikan oleh para prajurit pilihan.

Meskipun demikian, untuk menjaga setiap kemungkinan dan barangkali perubahan sasaran, terlebih-lebih lagi apabila ada pengkhianatan, sehingga orang-orang itu merubah sasaran ke Banyu Asri, dan menyerang rumah Widura, Ranadana pun masih tetap menempatkan beberapa orang petugas sandi di sekitar rumah Widura itu.

Baru setelah Agung Sedayu kembali lagi, dan malam menjadi semakin larut, Ki Ranadana memanggil setiap orang yang masih ada di halaman rumah Untara, termasuk pemimpin kelompok prajurit pilihan itu.

“Malam menjadi semakin jauh,” katanya, “sebentar lagi kita akan menghadapi tugas yang berat dan menegangkan. Kita tidak tahu kapan hal itu akan terjadi. Mungkin sebentar lagi, selagi kita masih berbicara ini, tetapi mungkin pula menjelang fajar.”

Para perwira dan pemimpin kelompok prajurit pilihan itu menjadi berdebar-debar.

Perlahan-lahan dan dengan sejelas-jelasnya Ki Ranadana menguraikan apa yang mungkin akan terjadi malam itu. Hasil pengamatan Kiai Gringsing dan Sumangkar, serta kehadiran Ki Lurah Branjangan. Hubungan persoalan yang tidak terlepas yang satu dengan yang lain, serta yang paling akhir adalah keadaan halaman rumah itu sendiri.

“Penjagaan itu harus diletakkan di tempat yang sudah aku tentukan. Sebentar lagi kita akan pergi ke halaman, ke kebun belakang dan tempat-tempat di sekitar rumah ini yang pantas mendapat pengawasan,” berkata Ki Ranadana kemudian. “Aku sengaja tidak memberitahukan kepada siapa pun juga selain kalian.”

Mereka yang mendengarkan penjelasan Ki Ranadana itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Terbayang sekelompok orang-orang yang tentu juga pilihan sedang merayap mendekati halaman rumah itu. Namun demikian salah seorang dari ketiga perwira itu bertanya, “Apakah para peronda di gardu-gardu sudah diberitahukan, setidak-tidaknya untuk bersiaga?”

“Aku tidak memberitahukan tepat apa yang terjadi. Aku hanya memerintahkan mereka untuk bersiap lebih mantap jika sesuatu terjadi.”

Perwira itu mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin kita tidak dapat menyelesaikan mereka di halaman ini, sehingga ada di antara mereka yang berhasil lolos. Jika demikian, kita memerlukan peronda-peronda itu.”

“Ya. Bukan saja peronda-peronda itu, tetapi juga prajurit di banjar dan para perwira di rumah Widura.”

“Kenapa mereka tidak diberitahukan saja?”

“Bukan karena kita tidak percaya. Tetapi aku ingin membatasi persoalan ini sesempit mungkin. Jika kita berhasil, maka kita akan menangkap mereka di halaman ini tanpa menimbulkan ketegangan dan keributan. Kita masih harus ingat, bahwa lima hari lagi, Jati Anom akan ngunduh pengantin. Supaya kita bersama dapat menyambut pengantin itu dengan tenang, maka kita akan mencoba membatasi persoalan ini sejauh mungkin, selain perhitungan kita atas keamanan persiapan ini sendiri. Semakin banyak orang yang mengetahui bahwa kita sudah bersiap, maka bahaya tentang hal itu semakin besar bagi kita, karena mereka tentu memiliki telinga di sekitar kita.”

Para perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, sekarang, marilah kita mengatur diri. Mungkin orang-orang itu sekarang sudah ada di balik dinding kebun belakang.”

Demikianlah mereka segera pergi ke kebun belakang. Ki Ranadana menunjukkan kepada pemimpin kelompok prajurit pilihan itu untuk menempatkan orang-orangnya di tempat terlindung. Bukan saja di bagian belakang, tetapi juga di samping dan di depan rumah. Sedang mereka yang ada di gardu, dipersiapkan seperti penjagaan yang biasa dilakukan setiap hari.”

“Ingat,” berkata Ki Ranadana, “mereka adalah orang-orang pilihan. Biarkan mereka semuanya masuk. Yang akan mereka lakukan adalah menyergap para penjaga di depan dan sebagian yang lebih matang akan memasuki rumah ini. Biarlah kami yang berada di dalam rumah itu.”

Pemimpin kelompok itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, lakukan tugasmu sebaik-baiknya,” berkata Ki Ranadana, lalu katanya kepada para perwira, “Kalian masing-masing akan mendapat tugas di antara prajurit. Satu di belakang, satu di sisi kanan dan yang satu di sisi kiri. Ternyata menurut pertimbanganku, tenaga kalian akan sangat diperlukan. Jika aku yang ada di dalam memerlukan, aku akan memberikan isyarat. Pemimpin kelompok itu sendiri akan berada di gardu sebagai salah satu sasaran utama sergapan para penyerang itu.”

Pemimpin kelompok prajurit pilihan dan para perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan demikian, maka yang akan ada di dalam rumah itu hanyalah Ki Ranadana dengan beberapa orang yang sama sekali bukan prajurit, meskipun ada di antara mereka adalah Agung Sedayu, adik Senapati Besar yang menguasai daerah Selatan ini.

Sejenak kemudian, maka pemimpin kelompok itu pun telah memberikan penjelasan kepada prajurit-prajuritnya. Dengan cepat ia membagi kelompoknya menjadi empat kelompok yang lebih kecil yang masing-masing akan dipimpin langsung oleh seorang perwira, sedang pemimpin kelompok itu sendiri akan berada di gardu depan, seperti penjagaan yang biasa dilakukan setiap hari atas rumah Untara yang dipakai sebagai tempat tinggal para perwira itu.

Tetapi pemimpin kelompok itu tidak mau lengah. Sergapan itu dapat datang setiap saat dari arah yang tidak terduga-duga. Tidak dapat dipastikan bahwa para penyerang itu akan masuk lewat kebun belakang. Mungkin mereka justru masuk lewat gerbang depan dan langsung menyerang para penjaga di gardu itu.

Karena itu, maka selain mereka yang ada di gardu, pemimpin kelompok itu telah menempatkan beberapa orang di tempat yang terlindung, bahkan tiga orang terpencar di luar halaman, di seberang jalan. Mereka duduk di atas sebatang dahan yang tidak terlalu tinggi, tetapi cukup terlindung oleh segerumbul dedaunan di dalam gelapnya malam.

Ketiga orang yang terpencar itu harus mengawasi jalan dan halaman rumah di seberang jalan. Mungkin para penyerang itu akan datang lewat halaman itu. Jika tidak, maka mereka akan dapat menjadi tenaga cadangan apabila dengan tiba-tiba saja para penyerang itu menyergap gardu.

Selain tiga orang itu, maka ditempatkannya juga dua orang setiap sudut depan, sehingga ada empat orang yang tidak berada di gardu selain tiga orang yang berada di seberang jalan.

Demikianlah, mereka memasuki malam yang semakin dalam dengan dada yang tegang. Setiap kejap rasa-rasanya terlampau lama berjalan. Dan karena itu, malam menjadi sangat panjang.

Di dalam rumah itu, Ki Ranadana masih duduk sejenak bersama Kiai Gringsing, kedua muridnya dan Ki Sumangkar. Mereka masih berbincang tentang beberapa hal, sebelum mereka membagi ruangan, di mana mereka akan tidur.

“Aku akan berada di bilik sebelah bersama Ki Sumangkar,” berkata Ki Ranadana, “sedang Kiai Gringsing bersama kedua muridnya akan mempergunakan bilik yang satu.”

Tiba-tiba saja Agung Sedayu menyahut, “Di dalam bilik itu pula aku tidur ketika aku masih kanak-kanak.”

Kiai Gringsing tersenyum. Demikian pula Ki Ranadana dan Ki Sumangkar. Sedang Swandaru menyahut, “Bukankah kau sekarang masih juga kanak-kanak.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab. Dipandanginya saja Swandaru yang masih tertawa kecil.

“Kau akan diprimpeni nanti malam,” berkata Sedayu kemudian. “Hati-hatilah di rumah ini.”

Swandaru masih saja tertawa. Tetapi ia tidak menjawab.

Demikianlah mereka memasuki bilik masing-masing. Kiai Gringsing dan kedua muridnya berada di satu bilik, sedang Ki Ranadana dan Ki Sumangkar di bilik yang lain.

“Kita harus seakan-akan tertidur nyenyak jika mereka datang,” berkata Ki Ranadana.

Ki Sumangkar menganggukkan kepalanya. Katanya, “Aku benar-benar mengantuk. Beberapa malam terakhir aku kurang sekali tidur.”

“Tetapi orang seperti Ki Sumangkar ini dapat tidak tidur terus menerus lima hari lima malam.”

“Jika memang harus demikian. Tetapi kekuatan seseorang ada juga batasnya. Aku pernah tidur sambil berjalan selagi aku masih mengikuti pasukan Tohpati. Tetapi aku dapat bangun dan berbuat sesuatu setiap saat.”

“Itulah kelebihanmu,” Ki Ranadana tersenyum. “Jika demikian silahkan tidur. Ki Sumangkar akan terbangun setiap saat dan akan segera dapat berbuat sesuatu.”

Sumangkar hanya tersenyum saja. Tetapi ia benar-benar ingin tidur sebelum orang-orang yang ditunggunya itu datang. Menurut perhitungan Sumangkar, mereka baru akan datang di sekitar tengah malam. Namun seandainya lebih awal, Ki Ranadana pasti akan membangunkannya.

Di bilik yang lain, Kiai Gringsing memang menyuruh kedua muridnya untuk tidur. Mereka pun kurang tidur beberapa malam terakhir. Mereka tidak dapat tidur nyenyak di rumah Widura yang sedang sibuk, tetapi juga selagi mereka mengikuti orang-orang yang akan menyerang Jati Anom itu.

“Aku akan membangunkan kalian jika terjadi sesuatu,” berkata gurunya

Dalam pada itu, di Pengging, sambutan atas kedatangan Untara ternyata dilakukan dengan megah dan meriah. Beberapa orang sanak kadang pengantin perempuan telah siap menunggunya di rumah yang sudah ditentukan. Hanya karena keadaan yang mendesak oleh kegawatan dan ketegangan yang timbul di daerah sekitar Alas Tambak Baya dan Mentaok sajalah, yang membuat pihak Untara tidak mematuhi kebiasaan. Ia tidak tinggal selama empat puluh hari empat puluh malam di rumah bakal mertuanya untuk ngenger. Tetapi ia datang sehari sebelum upacara perkawinan itu berlangsung.

Di malam hari menjelang hari perkawinan, Untara duduk dikelilingi oleh sanak keluarga pengantin perempuan. Dan karena ayah pengantin perempuan adalah seorang Perwira Pajang pula, maka baik yang mengantar maupun yang menyambut, selain keluarga mereka, adalah perwira-perwira prajurit Pajang.

Demikianlah mereka berbicara seakan-akan tanpa ujung dan pangkal. Perwira yang masih muda dengan riuhnya menggoda Untara yang besok akan mengenakan pakaian kebesaran seorang pengantin laki-laki.

Dengan tersipu-sipu Untara menanggapi kelakar kawannya. Meskipun kadang-kadang angan-angannya terbang kembali ke Jati Anom, namun tampaknya ia selalu tersenyum dan tertawa.

Tetapi kadang-kadang saja ia termenung jika tiba-tiba ia seolah-olah sadar, bahwa malam itulah Jati Anom akan mengalami serangan yang sangat berbahaya. Bukan dari segi pengamanan daerah karena kekuatan penyerang itu tidak cukup besar, tetapi justru dari segi lain. Dari segi hubungan antara Pajang dan Mataram.

“Jika ada seorang saja perwira yang terbunuh, maka hal itu sudah cukup alasan membakar setiap hati prajurit di seluruh Pajang untuk menyerang Mataram,” berkata Untara di dalam hatinya.

Tetapi setiap kali ia seolah-olah terperanjat ketika tiba-tiba saja seorang perwira muda mengganggunya dengan kelakarnya yang segar.

Tetapi pertemuan itu tidak berlangsung lama. Orang tua-tua segera memperingatkan, bahwa Untara pasti masih sangat lelah. Karena itu, pertemuan itu tidak dilanjutkan. Meskipun masih juga agak kecewa, kawan-kawan Untara pun segera meninggalkan rumah yang disiapkan bagi Untara. Bagi kawan-kawannya yang mengiringkannya dari Jati Anom pun telah disediakan pula tempat untuk beristirahat.

Namun demikian masih juga ada satu dua orang perwira yang mengawani Untara duduk sambil menghirup minuman hangat. Bahkan bakal mertuanya pun memerlukan datang menyambutnya dan berbicara beberapa lamanya.

Meskipun demikian, kegelisahan Untara rasa-rasanya semakin dalam menghunjam di jantungnya sejalan dengan malam yang semakin kelam, sehingga akhirnya ia tidak dapat menahannya lagi, betapapun ia berusaha.

Apalagi di ruangan itu sudah tidak ada orang lain kecuali bakal mertuanya dan beberapa orang perwira Pajang yang terpercaya.

“Sebenarnya aku sangat gelisah malam ini,” berkata Untara, “hampir saja aku menunda keberangkatanku.”

“Ah,” bakal mertuanya berdesis. “Seisi padukuhan ini akan kecewa. Keluargaku akan kecewa dan kawan-kawan kita para prajurit pun akan kecewa.”

“Tetapi aku mempunyai alasan yang kuat. Justru sebagai seorang senapati.”

“Kenapa?” bakal mertuanya mengerutkan keningnya.

Untara ragu-ragu sejenak. Namun menurut pertimbangannya, tidak akan terjadi sesuatu jika orang-orang yang ada di sekitarnya itu mengetahui apa yang akan terjadi di Jati Anom, karena jarak antara Jati Anom dan Pengging tidak terlalu dekat.

Apalagi yang tinggal duduk bersama hanya beberapa orang yang paling dekat dengan mertuanya saja. Sehingga dengan demikian, menurut pertimbangan Untara, sama sekali tidak akan menimbulkan gangguan apa pun bagi para perwira di Jati Anom. Bahkan dengan demikian ia akan dapat memberikan gambaran kepada mertuanya yang seolah-olah dengan mutlak menolak kehadiran Mataram.

Meskipun masih juga ragu-ragu, namun Untara akhirnya berkata, “Di Jati Anom, ada beberapa orang yang berusaha meneguk di dalam kekeruhan yang terjadi sekarang ini.”

“Kekeruhan yang manakah yang kau maksud? Apakah sebelum kau berangkat ada sanak kadangmu yang mencoba mencatatkan atau merubah rencana hari-hari perkawinan ini?”

“Tidak, sama sekali tidak,” berkata Untara. “Kekeruhan itu bukan di dalam rencana keberangkatanku. Tetapi justru karena rencana itu berjalan lancar.”

“Aku kurang mengerti.”

“Justru aku berangkat ke Pengging inilah, maka ada sekelompok orang-orang yang akan mempergunakan kesempatan. Mengganggu ketenangan Jati Anom.”

“Gila,” desis Rangga Parasta, “tentu orang Mataram.”

“Bukan. Tetapi mereka memang ingin meninggalkan kesan seolah-olah mereka adalah orang-orang Mataram. Dengan demikian maka hubungan antara Mataram dan Pajang akan menjadi kian memburuk bahkan lebih dari itu, mereka mengharapkan benturan langsung antara Mataram dan Pajang.”

“Omong kosong,” tiba-tiba Rangga Parasta memotong, “mereka pasti benar-benar orang Mataram. Aku tidak tahu, kenapa Sultan Adiwijaya masih terlampau sabar menghadapi anak angkatnya yang begitu bengal. Sekarang ia mempergunakan kesempatan kepergianmu itu untuk mengacaukan keadaan.” Rangga Parasta berhenti sejenak, dan Untara sengaja membiarkan berbicara. Ia mengerti bahwa jika pembicaraan itu diputus di tengah, ia akan menjadi semakin bersitegang. Dan Rangga Parasta itu meneruskan, “Jika kau sudah mengetahui akan hal itu, apakah yang kau lakukan?”

Untara menarik napas dalam-dalam. Lalu katanya, “Yang perlu aku ulangi adalah, mereka bukan orang Mataram.”

“Tidak. Tentu orang Mataram.”

Akhirnya Untara menjadi jengkel juga. Meskipun Rangga Parasta adalah bakal mertuanya, tetapi Untara adalah senapati besar di daerah Selatan sehingga karena itu maka katanya, “Aku tahu pasti, bahwa mereka bukan orang-orang Mataram. Aku akan membuktikannya sebagai seorang senapati yang mendapat kepercayaan langsung dari Sultan Pajang. Dan aku akan menemukan jawab siapakah mereka sebenarnya.”

Rangga Parasta mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja ia menyadari bahwa bakal menantunya itu adalah seorang senapati, sehingga ia tidak akan dapat berkata lebih pasti daripadanya meskipun hatinya meyakininya.

Namun demikian, ia masih juga bertanya, “Apakah yang sudah kau lakukan sebelum kau berangkat?”

“Menyiapkan jebakan. Malam ini semuanya itu akan terjadi, dan malam ini para perwira yang aku percaya di Jati Anom akan dapat menarik kesimpulan, siapakah mereka sebenarnya.”

Rangga Parasta tidak membantah lagi. Tetapi di dalam hati ia berkata, “Jika Untara berhasil menangkap satu atau dua orang di antara mereka dalam keadaan hidup, maka barulah akan terbuka matanya, bahwa Mataram memang harus dihadapi dengan kekerasan. Tidak dengan senyum manis seorang ayah yang terlalu baik hati terhadap seorang anak yang berkhianat.”

Namun Rangga Parasta tidak berkata apa pun lagi.

Dalam pada itu, selagi Untara berbicara dengan Rangga Parasta, seorang perwira yang duduk di antara mereka tiba-tiba saja menjadi sangat gelisah. Tetapi ia tetap berusaha untuk menghapuskan kesan dari wajahnya. Bahkan ia masih tetap duduk untuk sesaat, sampai saatnya ia berkata, “Aku akan ke belakang sebentar, Kakang Rangga.”

“Kenapa?”

“Ke pakiwan.”

“O, silahkan.”

Perwira itu dengan tergesa-gesa meninggalkan lingkaran pembicaraan itu. Apalagi ketika ia sudah turun ke halaman, langsung ia menghilang di dalam kegelapan.

Dengan hati yang gelisah, ia berlari-lari kecil mencari seseorang yang berada tidak begitu jauh dari rumah Rangga Parasta.

“Gila,” ia berkata dengan suara gemetar ketika ia berhasil menemukan kawannya, “orang-orang Jati Anom telah mencium rencana itu.”

“He? Darimana kau tahu?”

“Sebelum berangkat, Untara telah menyusun jebakan.”

“Omong kosong. Rahasia itu disimpan cukup rapat.”

“Tetapi aku mendengar dari mulut Untara sendiri. Kau jangan merendahkan Untara. Ia mempunyai kemampuan yang tidak terduga-duga. Petugas sandinya adalah petugas-petugas sandi yang terbaik di seluruh Pajang.”

“Jadi?”

“Batalkan.”

“Bagaimana mungkin aku harus membatalkan.”

“Pergi ke Jati Anom.”

“Aku tidak akan dapat mencapai mereka. Mungkin mereka sekarang sudah mulai bergerak.”

“Berusaha. Berusahalah. Pergi ke Jati Anom dengan seekor kuda yang dapat berlari paling cepat. Ajak seorang kawan, dan segera kembali.”

“Pengging ke Jati Anom bukan jarak yang dekat sekali.”

“Pergi. Berusahalah membatalkan rencana itu. Atau, jika mungkin, hilangkan jejak mereka.”

Orang yang diajak berbicara oleh perwira itu masih terdiri termangu-mangu. Adalah tidak mungkin lagi untuk berusaha apa pun juga. Apalagi berusaha membatalkan rencana itu, karena orang-orang yang mendapat tugas untuk melakukan pembunuhan terhadap para perwira yang masih ada di jati Anom itu pasti sudah bergerak.

Namun selagi orang itu masih kebingungan perwira itu membentaknya, “Berangkat sekarang. Apa pun yang dapat kau lakukan. Cepat.”

Orang itu tidak mau berpikir lagi. Meskipun ia sadar, bahwa tidak banyak yang dapat dilakukan, maka ia pun segera berlari-lari pergi ke rumah seorang kawannya.

Berkuda keduanya berpacu ke Jati Anom. Mereka mengharap bahwa kawan-kawannya di Jati Anom terlambat bergerak sehingga ia masih sempat menggagalkan mereka, karena ternyata Untara telah memasang sebuah jebakan bagi mereka. Karena itu, maka mereka pun telah memacu kuda mereka secepat-cepat dapat dilakukan, dan kuda-kuda itu pun berlari seperti dikejar hantu.

Malam yang gelap menjadi semakin gelap. Di langit bintang-bintang bertaburan dari ujung sampai keujung. Angin malam yang dingin bertiup dari Selatan menyapu hutan-hutan kecil yang bertebaran.

Namun kedua orang yang berkuda itu ternyata telah basah oleh keringat yang mengembun dari wajah-wajah kulitnya. Bukan saja karena mereka harus berpacu dengan waktu, tetapi juga karena kegelisahan yang mencengkam hati.

“Apakah masih ada harapan untuk melakukannya?” bertanya salah seorang dari mereka.

“Kita berusaha. Apa pun yang akan terjadi atas kuda-kuda kita. Mungkin kuda-kuda ini akan kehabisan napas.”

“Tetapi sia-sia. Mereka pasti sudah mulai bergerak.”

Kawannya tidak menyahut. Satu-satunya harapan adalah jika ada perubahan rencana, sehingga gerakan mereka mundur sampai jauh lewat tengah malam. Jika tidak, maka perjalanan yang melelahkan itu akan sia-sia.

Dalam pada itu di Jati Anom, sekelompok orang-orang yang tidak dikenal justru telah mulai bergerak. Mereka telah berada di Lemah Cengkar dan berjalan beriringan. Mereka akan memasuki Jati Anom dari Utara.

Namun tiba-tiba saja dua orang yang mendapat tugas mengawasi jalan yang akan mereka lalui, memberikan isyarat kepada kawan-kawannya untuk berhenti dan bersembunyi. Dengan memperdengarkan suara burung bence, keduanya memberikan petunjuk kepada kawan-kawannya bahwa ada bahaya di depan mereka.

Ternyata kedua orang itu melihat sekelompok kecil peronda prajurit berkuda Pajang lewat.

“Gila,” desis pemimpin kelompok para penyerang itu, “kenapa mereka meronda malam ini? Biasanya mereka tidak meronda sampai ke daerah ini.”

“Justru karena Untara tidak ada. Kiranya Untara telah berpesan kepada pasukan yang ditinggalkan agar mereka menjadi semakin berhati-hati dan meningkatkan perondaan di seluruh Jati Anom. Kemarin ada juga beberapa peronda berkuda yang sampai ke sebelan hutan di sisi jalan ke Selatan.”

“Apakah Untara sudah mencium gerakan kita?”

“Sore tadi dua orang petugas sandi kita lewat daerah Jati Anom. Tidak ada tanda-tanda pemusatan pasukan yang berarti. Mereka memang meningkatkan penjagaan, tetapi tidak lebih dari sikap hati-hati justru karena Untara tidak ada. Jika mereka telah mencium rencana kita, maka di rumah Untara itu pasti sudah dipasang pasukan yang kuat dan mungkin di luar padukuhan. Tetapi prajurit Pajang masih saja berkeliaran di muka banjar, dan beberapa orang perwira masih berada di rumah Untara itu.”

Pemimpin kelompok itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Barangkali sekarang Untara sedang menikmati makan bersama keluarga pengantin perempuan itu. Di sini beberapa orang kawannya akan mati dibantai orang. Kita harus berhasil. Beberapa orang kita yang berada lingkungan keprajuritan malam ini akan selalu mendampingi Untara, setidak-tidaknya akan mengawasinya di Pengging. Jika ada perubahan rencana yang mencurigakan, mereka akan mengirimkan beberapa orang untuk memberitahukan kepada kita di sini.”

“Tidak ada seorang pun yang datang. Tentu rencana perkawinan itu berlangsung seperti yang telah disusun. Memang tidak mudah untuk merubah rencana perkawinan apa pun yang terjadi. Apalagi pengaruh orang-orang kita atas Rangga Parasta akan menentukan.”

“Ya. Kita tidak boleh mengulangi kegagalan yang pernah terjadi di Alas Mentaok.”

“Tentu tidak. Meskipun kita berada di lingkungan prajurit Pajang, tetapi sebenarnya tugas kita tidak lebih berat dari tugas Kiai Damar dan Kiai Telapak Jalak.”

Pemimpin kelompok penyerang itu mengangguk-angguk. Kemudian dipandanginya seorang yang hampir tidak pernah berbicara apa pun. Wajahnya yang tegang dan kasar, melontarkan kesan yang khusus pada orang itu.

“Jangan seorang pun yang salah langkah. Ingat, setidaknya kau harus berhasil membunuh seorang perwira.”

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak sebodoh Kiai Telapak Jalak dan Kiai Damar.”

“Tentu tidak sia-sia Ki Lurah mengirimkan kau kemari.”

Orang itu tidak menyahut.

“Tetapi jangan meremehkan para perwira itu.”

“Aku dapat membunuh empat orang sekaligus. Jika kalian dapat membendung bantuan prajurit-prajurit Pajang yang bertugas menjaga rumah itu, maka para perwira itu akan aku bunuh. Aku hanya memerlukan lima enam orang untuk mengikat mereka dalam perkelahian sebelum aku sempat membunuh mereka seorang demi seorang.”

Pemimpin kelompok penyerang itu mengerutkan keningnya. Dipandanginya orang berwajah kasar itu. Namun kemudian katanya, “Itulah kelemahanmu. Kau menganggap dirimu dapat membunuh empat orang perwira sekaligus apabila kau mendapat kesempatan. Kau hanya memerlukan orang lain menahan mereka agar tidak lari, supaya kau dapat membunuhnya.”

“Kenapa?” orang itu bertanya.

“Membunuh empat orang perwira sekaligus, meskipun seorang demi seorang, bukan pekerjaan yang mudah. Seorang perwira Pajang memiliki nilainya tersendiri.”

Orang itu tidak segera menjawab.

“Dan aku memang tidak hanya menyiapkan kau sendiri untuk menghadapi perwira-perwira itu. Sudah aku katakan, setidak-tidaknya kau harus membunuh seorang. Aku akan membunuh seorang di antara mereka. Tetapi kalau kau ingin menghadapi lebih dari seorang perwira, maka kaulah yang akan terbunuh.”

Orang berwajah kasar itu tidak menjawab. Tetapi di dalam hati ia berkata, “Orang-orang ini belum mengenal siapa aku. Perwira Pajang bukan orang-orang ajaib. Dan aku akan membunuh mereka.”

Sesaat kemudian, dua orang yang berjalan mendahului mereka pun segera memberikan isyarat, bahwa orang-orang berkuda itu sudah menjauh. Dengan bunyi yang sama tetapi dalam irama yang lain, pemimpin kelompok itu segera mengetahui, bahwa mereka dapat meneruskan perjalanan.

Dengan melewati semak-semak belukar dan kadang-kadang semak-semak berduri mereka merayap mendekati Jati Anom justru dan arah Utara. Menurut rencana, mereka akan memasuki padukuhan itu seorang demi seorang, agar para peronda tidak dengan mudah melihat kehadiran mereka. Seperti yang sudah mereka rencanakan, mereka akan berkumpul di kebun di belakang rumah Untara. Selanjutnya mereka akan memanjat dinding batu yang tidak begitu tinggi dan memasuki rumah yang dipergunakan oleh para perwira-perwira itu.

“Kami tidak dapat mengetahui dengan pasti, ada berapa orang yang masih tinggal di rumah itu,” desis pemimpin gerombolan penyerang itu.

“Lima atau enam menurut dugaan terakhir,” berkata salah seorang dari pembantunya.

“Tidak. Tentu kurang dari itu. Tentu di antara mereka ada yang bertugas menangani para peronda di malam itu, yang lain bertugas mengawasi para prajurit di banjar dan yang lain tentu ada yang mengawani Widura,” sahut yang lain.

“Tetapi jangan menilai mereka menurut ukuran yang rendah. Kita anggap saja ada enam orang di dalam rumal itu. Selain aku dan kepercayaan Ki Lurah itu, kalian yang bertugas di dalam rumah harus benar-benar mempersiapkan diri. Meskipun kalian tidak berhasil membunuh, namun kalian harus berhasil memberi kesempatan kepada kami untuk membunuh. Kami mengharap semuanya dapat terbunuh, selain yang sengaja kita hidupi agar ia dapat bercerita tentang orang-orang Mataram yang menyerang mereka dengan tiba-tiba,” berkata pemimpin gerombolan itu.

Mereka terdiam ketika mereka menjadi semakin dekat dengan padukuhan Jati Anom. Namun sekali, lagi mereka mendengar isyarat agar mereka berhenti sejenak.

Pemimpin gerombolan itu tidak begitu sabar menunggu. Karena itu maka ia pun merayap maju mendekati kedua orang yang ditugaskannya untuk mendahului perjalanan mereka.

“Kenapa?” bertanya pemimpin rombongan itu.

“Api itu,” desis salah seorang dari petugas yang mendahului gerombolannya.

Pemimpin gerombolan itu mengerutkan keningnya. Kemudian mengumpat, “Kenapa para peronda itu menyalakan api besar-besar.”

Kedua petugasnya tidak menjawab.

“Mendekatlah. Lihat apa yang mereka lakukan. Dan kenapa mereka bercakap-cakap begitu keras dan riuhnya?”

Kedua petugas itu pun kemudian merayap dengan hati-hati mendekati sebuah gardu peronda. Dari jarak yang tidak terlalu jauh keduanya melihat para prajurit Pajang yang meronda bersama beberapa orang anak muda sedang berkelakar dengan ramainya. Agaknya mereka mendapat kiriman makanan dari rumah Widura, sehingga mereka menjadi sangat ribut. Apalagi ada di antara mereka yang dengan diam-diam membawa sebumbung tuak.

“He,” pemimpin peronda itu membentak, “kau membawa tuak?”

“Hanya sedikit. Malam terlalu dingin. Marilah, minumlah lebih dahulu.”

“Tidak. Aku tidak mau.”

“Malam ini adalah malam yang sangat menyenangkan. Ki Untara menjelang hari-hari yang bahagia di Pengging. Dan kita ikut merayakannya di sini.”

Ternyata para prajurit dan anak-anak muda itu seakan-akan mendapat kesempatan untuk melupakan ketegangan sehari-hari. Mereka bersuka-ria dan satu dua di antara mereka meneguk tuak dari bumbung itu.

“Bukankah kita sudah mendapat peringatan, agar kita berwaspada?” berkata pemimpin peronda itu.

“Kami tidak apa-apa. Kami akan dapat menjalankan tugas kami dengan baik. Bukankah api itu memberikan penerangan di sekitar gardu ini, sehingga kita akan dapat melihat apabila ada orang yang mendekat.”

Pemimpin peronda itu tidak menyahut lagi. Tetapi ia tetap sadar bahwa ia harus berhati-hati.

Ketika pemimpin gerombolan penyerang mendengar laporan itu, ia pun mengumpat-umpat. Dengan demikian berarti rencananya harus tertunda, atau mereka mencari jalan lain untuk memasuki padukuhan itu, justru karena api yang menyala itu. Tetapi hampir di setiap lorong terdapat gardu-gardu peronda semacam itu.

“Kita menunggu sejenak sampai api itu redup. Kita akan tetap memasuki Jati Anom menurut rencana. Seorang demi seorang akan meloncati dinding batu yang rendah itu,” berkata pemimpin gerombolan itu.

Beberapa orang di antara mereka justru menjadi gelisah. Mereka ingin segera memasuki Jati Anom dan menjajagi kemampuan prajurit Pajang dan perwira-perwiranya.

Dalam pada itu, dua ekor kuda sedang berpacu seperti angin. Mereka berusaha untuk secepat-cepatnya mencapai Jati Anom. Tetapi jarak yang mereka tempuh masih jauh. Apalagi malam gelapnya bukan kepalang. Sehingga karena itu, kadang-kadang kuda-kuda itu pun terpaksa memperlambat langkah kakinya jika jalan yang dilaluinya menjadi sulit.

“Mudah-mudahan mereka tertunda oleh sesuatu hal,” bergumam salah seorang dari keduanya.

“Hanya apabila terjadi sebuah keajaiban,” sahut yang lain.

Keduanya tidak berbicara lagi. Kuda mereka berpacu terus menembus gelapnya malam yang pekat.

Di Jati Anom gerombolan orang-orang yang akan menyerang rumah Untara masih harus menunggu sejenak. Meskipun mereka mulai menjadi jemu dan mengumpat-umpat, namun pemimpin mereka berkata, “Kita menunggu sejenak. Kita tidak dapat mencari jalan lain.”

“Bukankah ada dua jalan yang kemarin kita perbincangkan?” berkata salah seorang dari mereka.

“Kenapa dengan dua jalan.”

“Yang lain, kita langsung datang dari arah Timur.”

Tetapi pemimpinnya menggeleng. Katanya, “Kita sudah mematangkan rencana kita. Kita tidak dapat merubah begitu saja. Karena itu, kita harus bersabar sebentar. Justru yang mereka lakukan itu akan menguntungkan kita. Mereka akan kelelahan dan langsung menjadi lengah. Mungkin di bagian lain, penjaga-jaganya lebih berwaspada dari penjaga-jaga yang tidak menepati perintah itu.”

Tidak ada lagi yang membantah. Mereka sadar, bahwa mereka harus mentaati perintah itu tanpa banyak persoalan. Karena itu mereka pun segera berpencar dan duduk bersandar dahan-dahan kayu yang ada sambil menunggu api itu redup.

“Api sudah redup,” berkata salah seorang dari kedua pengawas yang mendahului gerombolan penyerang itu, “kita akan segera maju.”

Laporan itu pun segera sampai kepada pemimpin mereka mengikuti perkembangan di gardu itu dengan saksama.

“Sebentar lagi perapian itu akan padam. Daerah ini akan menjadi gelap dan kita akan merayap maju mendekati dinding padukuhan itu. Daerah itulah yang paling ringkih, sehingga jalan inilah yang paling baik kita lalui. Kita akan langsung sampai ke jalan kecil yang menuju ke bagian belakang rumah Untara. Kita akan berkumpul sejenak di halaman rumah di belakang rumah Untara untuk mematangkan semua rencana.”

Orang-orang dari gerombolan itu pun mulai mempersiapkan diri. Api di dekat gardu itu telah benar-benar menjadi redup dan hampir padam. Suara gelak tidak lagi terdengar. Agaknya beberapa orang justru telah menjadi mabuk karenanya.

Pemimpin gerombolan itu masih menunggu sejenak. Diperintahkannya kedua pengawasnya mendekat lagi dan melihat perkembangan terakhir di gardu itu.

Sejenak kemudian kedua pengawas itu datang kepadanya dan berkata, “Hanya anak-anak muda sajalah yang menjadi mabuk. Para prajurit masih tetap berjaga-jaga, meskipun dengan lesu. Satu dua di antara mereka masih berjalan hilir-mudik. Tetapi dinding yang kita tandai sebagai tempat yang paling baik itu agaknya memang paling aman. Gardu yang paling dekat dari gardu itu, agaknya juga sepi.”

“Lihat pula gardu itu untuk meyakinkan.”

Kedua orang itu pun segera berangkat. Gardu itu pun tidak terlalu jauh dari tempat mereka. Dan menurut rencana, mereka akan menyusup di antara kedua gardu itu. Gardu yang baru saja ribut, dan gardu lain yang tidak begitu jauh.

“Kenapa kedua orang itu harus melihat pula gardu yang lain?” desis salah seorang dari gerombolan yang gelisah itu.

“Pemimpin kita terlalu berhati-hati. Adakalanya baik, tetapi, ada kalanya, kita justru terlambat karenanya,” sahut salah seorang kawannya.

Tidak seorang pun lagi yang menyambung. Namun kegelisahan nampaknya menjadi semakin tajam.

Akhirnya kedua pengawas itu pun datang kepada pemimpin gerombolan itu dan berkata, “Mereka pun mendapat makanan dari rumah Widura tampaknya. Tetapi mereka tidak terlalu ribut seperti gardu yang satu itu.”

“Jika demikian, kita dapat melangsungkan rencana kita.”

Namun belum lagi mereka bergerak, terdengar suara kentongan di kejauhan. Meskipun kentongan itu adalah sekedar isyarat agar para peronda tetap berhati-hati, namun pemimpin gerombolan itu berkata, “Bersiaplah. Kita tunggu gema suara kentongan itu lenyap.”

Orang-orangnya menarik napas dalam-dalam. Tetapi mereka tidak berkata apa pun juga.

Di perjalanan, kedua orang yang berpacu dari Pengging mencoba mempercepat laju kudanya. Tetapi kemampuan kuda mereka terbatas dan jalan-jalan pun tidak serata yang mereka harapkan. Meskipun demikian mereka masih mengharap, bahwa ada keajaiban yang menahan orang-orang yang akan menyerang itu, sehingga ia mendapat kesempatan untuk menggagalkan mereka.

“Tetapi kemungkinan itu kecil sekali,” gumam yang seorang.

“Aku tidak peduli. Tetapi kita harus sampai ke Jati Anom. Kita harus menyusur jalan sesuai dengan rencana yang sudah mereka berikan itu.”

Kawannya tidak menjawab. Ia hanya berdesis ketika angin yang kencang megusap wajahnya. Dingin malam terasa semakin menggigit kulit. Dan mereka harus berpacu lebih cepat lagi, agar mereka dapat mencapai Jati Anom sebelum terlambat.

Demikianlah, maka akhirnya malam yang sepi itu menjadi semakin sepi. Gerombolan penyerang yang sudah bersiap di sebelah Utara padukuhan Jati Anom itu menjadi semakin tegang. Dan sejenak kemudian pemimpinnya berkata kepada pembantunya yang berada di dekatnya, “Apakah semua sudah siap?”

“Sudah sejak lama,” jawab pembantunya.

“Baik. Kita akan berangkat sekarang.”

“Marilah. Kita jangan membuang waktu.”

Tetapi tampaknya pemimpin rombongan itu menjadi ragu-ragu. Ada sesuatu yang terasa agak menghambat niatnya untuk segera menyerang. Namun ia tidak tahu, apakah sebenarnya yang telah terjadi di dalam dirinya, sehingga ia menjadi ragu-ragu. Ia tidak pernah mengalami hal serupa itu. Selama ini ia adalah seorang yang tidak pernah gentar menghadapi apa pun juga. Meskipun ia harus melakukan tugas yang sangat berat sekalipun, ia dapat menjalankan tugas itu sambil tertawa. Tetapi rasa-rasanya kali ini ia telah dibebani oleh sesuatu yang tidak dimengertinya sendiri.

“Persetan,” ia menggeram untuk mendapatkan kemantapan di dalam hati, “tidak ada seorang perwira Pajang yang memiliki kemampuan seperti Ki Gede Pemanahan sekarang ini. Untara sendiri masih belum mencapai tingkat itu. Karena itu, aku tidak harus ragu-ragu. Aku baru boleh ragu-ragu jika Pemanahan sendiri ada di gardu itu, atau orang-orang yang telah membunuh Kiai Damar dan Kiai Telapak Jalak.”

Namun tiba-tiba timbul pertanyaan, “Apakah orang-orang yang membunuh Kiai Damar dan Kiai Telapak Jalak itu ada di sini?”

Tetapi ia sendiri belum pernah melihat orang yang telah membunuh Kiai Damar dan Kiai Telapak Jalak itu. Namun demikian ia harus berhati-hati. Sepeninggal Kiai Damar dan Kiai Telapak Jalak, orang-orang semacam itu pasti tidak akan mengeram di Alas Mentaok untuk seterusnya, ia meski akan bertualang. Dan mungkin sampai ke Jati Anom ini.

Dalam pada itu, orang-orang yang berpacu dari Pengging itu menjadi semakin dekat juga dengan Jati Anom. Meskipun pengharapan mereka sangat kecil, tetapi mereka masih juga mencoba dan berpacu sekencang-kencangnya.

“Kita langsung ke Lemah Cengkar,” berkata salah seorang dari mereka. “Menurut laporan terakhir, rencana itu mengatakan bahwa mereka memasuki Jati Anom dari sebelah Utara. Kita akan menyusul mereka. Kita tinggalkan kuda kita di Lemah Cengkar.”

Kawannya tidak menjawab. Tetapi mereka berpacu secepat dapat mereka lakukan.

Akhirnya mereka pun menjadi semakin dekat. Dengan napas terengah-engah mereka memasuki sebuah hutan perdu lewat gerumbul-gerumbul dan semak-semak liar mereka menerobos langsung memasuki daerah Lemah Cengkar.

“Kita sudah sampai di Lemah Cengkar,” desis salah seorang dari mereka.

“Tetapi sudah lewat tengah malam. Ternyata daerah ini sudah sepi. Mereka pasti sudah berangkat.”

“Kita tinggalkan kuda kita di sini. Kita mendekat.”

Mereka pun segera mengikat kuda mereka di tempat yang tersembunyi. Kemudian dengan tergesa-gesa mereka menyusup semak-semak pergi menyusul kawan-kawannya yang sudah mendahului mereka mendekati Jati Anom. Seperti pesan yang mereka dengar, pasukan kecil itu akan menyerang Jati Anom dari sebelah Utara.

“Cepat. Mudah-mudahan mereka masih di sebelah Utara padukuhan Jati Anom.”

Pada saat itulah pemimpin pasukan kecil yang akan menyerang Jati Anom itu baru mendapat kepastian bahwa jalan telah aman di hadapan mereka. Karena itu, maka ia pun segera berkata kepada pembantunya, “Marilah kita masuk.”

“Sekarang. Jangan ditunda lagi. Orang kita menjadi gelisah dan jika terlampau lama kita mendekam di sini, mereka akan kehilangan napsu dan gairah untuk menumpas prajurit-prajurit Pajang itu.”

“Baiklah. Ingat, hanya dengan kecepatan bergerak kita tidak akan gagal. Kita harus menghancurkan penjaga rumah itu dengan tiba-tiba tanpa memberi kesempatan mereka memukul tengara. Dan aku bersama orang-orang yang sudah ditentukan akan membunuh para perwira di dalam rumah itu, juga tanpa memberi kesempatan mereka berbuat sesuatu. Tetapi harus ada satu orang yang masih sempat hidup di antara mereka.”

“Baik.”

“Nah, aku akan masuk lebih dahulu. Kemudian biarlah orang-orang kita mengikuti aku. Sedang kau akan masuk yang terakhir sekali sambil mengawasi keadaan bersama kedua pengawas itu.”

“Baik.”

Pemimpin gerombolan penyerang itu pun kemudian merayap di dalam gelapnya malam. Dengan sangat hati-hati ia mendekati dinding batu. Di kedua gardu sebelah-menyebelah yang tidak terlampau jauh jaraknya itu sudah tidak terdengar suara apa pun lagi. Untunglah bahwa malam gelapnya bukan kepalang, sehingga pemimpin pasukan penyerang itu dapat merayap tanpa dapat dilihat di antara rerumputan yang tinggi. Kemudian ia harus menyeberang sawah yang tidak terlampau luas, menyelusur pematang. Tetapi sawah itu agaknya tidak terlampau subur, sehingga daerah itu kurang mendapat perhatian. Bahkan daerah yang bersemak-semak liar itu pun masih juga tidak pernah disentuh tangan apalagi digarap. Daerah di sebelah Utara Jati Anom itu memang masih diperlukan saluran air yang cukup untuk membuatnya menjadi tanah pertanian.

Dalam pada itu, seorang demi seorang merayap mendekati dinding batu padukuhan Jati Anom, dan seorang demi seorang telah meloncat masuk dengan sangat hati-hati di dalam lindungan gelapnya malam.

Sementara itu, kedua orang penghubung dari Pengging dengan tergesa-gesa mendekati padukuhan itu dari Utara pula.

Tetapi ketika ia sampai di sebelah padukuhan Jati Anom, ternyata tempat itu telah sepi. Mereka tidak menjumpai seorang pun juga, karena orang yang terakhir ternyata telah merayap mendekat dinding dan meloncat masuk pula.

“Terlambat,” desis salah seorang dari keduanya, “mereka sudah memasuki padukuhan itu.”

Kawannya menarik napas dalam-dalam. Namun ia bergumam, “Tetapi aneh. Tidak terdengar keributan sama sekali. Jika kedatangan mereka sudah diketahui, maka mereka pasti sudah disergap.”

“Prajurit Pajang menunggu di halaman rumah Untara.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Lalu, “Apakah kita akan menyusul mereka, barangkali mereka masih belum bertindak.”

“Atau kita akan masuk ke dalam jebakan itu sama sekali.”

“Kita tidak akan memasuki halaman rumah Untara, dan kita sudah mempersiapkan diri jika benar-benar hal itu terjadi, sehingga kita tidak boleh memasuki daerah yang tidak akan mungkin mudah kita tinggalkan.”

Kawannya mengangguk-angguk sejenak, lalu, “Apakah kau mengenal daerah Jati Anom dengan baik.”

“Tidak dengan baik, tetapi aku pernah mengelilingi daerah ini. Barangkali aku masih dapat mengenal satu dua jalur lorong di dalam padukuhan itu.”

“Baiklah. Tetapi bersiaplah untuk mati.”

“Ah, aku masih belum ingin mati. Aku mempunyai anak dan isteri. Jika aku mati, mereka akan bersedih. Dan isteriku akan menjadi janda muda.”

“Ia akan segera kawin lagi. Jangan cemas.”

“Persetan,” kawannya mengumpat.

Demikianlah keduanya dengan hati-hati merayap mendekati dinding padukuhan. Sejenak mereka memperhatikan lampu minyak yang berkeredipan di gardu. Ternyata bahwa perapian yang dibuat oleh para peronda telah hampir padam sama sekali.

“Sst, gardu peronda,” bisik yang seorang. Sedang yang lain menunjuk pula ke kejauhan, “Itu juga.”

“Hati-hati. Kita menerobos di tengah.”

Mereka menjadi semakin hati-hati. Perlahan sekali mereka maju. Namun akhirnya mereka sampai pula di balik tanggul parit yang kering di seberang jalan di pinggir padukuhan. Mereka harus menyeberangi jalan itu dan meloncati dinding.

“Marilah, tidak ada yang memperhatikan kita dari kedua gardu di sebelah-menyebelah,” bisik yang seorang.

Kawannya tidak menyahut. Dengan hati-hati sekali keduanya pun segera meloncat, memasuki Padukuhan Jati Anom.

Pada saat itulah pemimpin gerombolan yang akan menyerang rumah Untara itu sedang memberikan beberapa petunjuk kepada anak buahnya, di kebun yang rimbun di belakang rumah Untara.

Empat orang pemimpin kelompok kecil dari antara mereka mendapat pesan bagi kelompok masing-masing dengan seteliti-telitinya. Ke mana mereka harus pergi, dan apa saja yang harus mereka lakukan. Dan pemimpin kelompok itu kemudian berkata, “Ingat, kalian harus menyergap seperti kalian menangkap seekor kepiting. Jika kau tidak sekaligus mendekap, maka tanganmulah yang justru akan disapitnya. Jika kepiting itu besar, maka mungkin jari-jari kalian akan putus. Demikian juga prajurit-prajurit Pajang yang bertugas itu. Apalagi para perwira. Jika yang bertugas di dalam rumah itu tidak sempat membunuh mereka, jaga agar mereka tetap terikat pada perkelahian yang mantap, agar kami dapat membunuhnya pula kemudian, kecuali seorang dari mereka akan hidup dan satu dua orang dari para prajurit yang bertugas di luar.”

Para pemimpin kelompok itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, sekarang lakukanlah. Jika kalian gagal maka nasib kita semuanya tidak akan lebih baik dari nasib Kiai Damar dan Kiai Telapak Jalak. Dan kita pun akan berbuat jantan seperti Kiai Damar dan Kiai Telapak Jalak karena mereka yakin akan kebenaran perjuangan kita ini.”

Para pemimpin kelompok itu pun kemudian kembali ke kelompok masing-masing. Sebuah isyarat yang kemudian diberikan oleh pemimpin kelompok itu, telah menggerakkan orang-orang itu semakin mendekati halaman rumah Untara dari arah belakang.

Dalam pada itu, para prajurit pilihan yang berada di halaman rumah itu pun hampir menjadi semakin jemu menunggu. Bahkan ada satu dua di antara mereka yang tanpa dikehendakinya sendiri, telah terkantuk-kantuk bersandar sebatang pohon perdu yang rimbun. Dan di dalam biliknya, ternyata bahwa Swandaru telah benar-benar tidur mendekur.

Namun suara isyarat pemimpin kelompok penyerang yang tidak begitu keras itu ternyata telah menumbuhkan kecurigaan. Suara burung hantu itu disekat oleh irama yang terlampau teratur, sehingga suara itu telah mengingatkan Kiai Gringsing pada suara burung kedasih di Alas Mentaok.

Ternyata bukan saja Kiai Gringsing yang telah mendengar suara isyarat itu. Ki Ranadana, Sumangkar, dan bahkan para prajurit di halaman pun telah menjadi curiga mendengar suara burung yang aneh itu. Meskipun demikian, ada juga di antara mereka yang menyangka, bahwa suara itu adalah suara burung hantu yang sebenarnya.

Tetapi, ternyata bahwa para pemimpin kelompok yang ada di dalam halaman itu telah memberikan aba-aba pula, dengan menyentuh seorang yang bertugas di sampingnya, kemudian sentuhan itu pun menjalar dari yang seorang kepada orang lain. Bagi mereka yang berada pada jarak beberapa langkah, maka para prajurit itu pun telah mempergunakan batu-batu kerikil sebagai isyarat, bahwa mereka harus bersiap.

Pada saat itulah, beberapa orang penyerang mulai tersembul dari balik dinding halaman di belakang rumah. Dengan sangat hati-hati, seorang demi seorang telah meloncat dinding itu.

Maka sejenak kemudian, saat-saat yang paling menegangkan telah terjadi di halaman rumah Untara itu. Beberapa orang prajurit yang terpencar dan bersembunyi di balik semak-semak dapat melihat beberapa orang yang meloncat masuk itu. Tetapi seperti pesan yang mereka terima, mereka tidak boleh berbuat sesuatu jika belum ada perintah, kecuali apabila tanpa disengaja mereka telah diketahui oleh para penyerang itu.

Tetapi karena para prajurit itu telah menempatkan diri pada tempat yang paling baik menurut pilihan mereka, maka orang-orang yang memasuki halaman di dalam gelap itu pun tidak segera dapat melihat mereka. Bahkan mereka sama sekali tidak menyangka, bahwa kedatangan mereka telah ditunggu oleh prajurit-prajurit Pajang justru yang paling baik yang ada di Jati Anom.

Perlahan-lahan orang-orang yang memasuki halaman itu merayap semakin dalam. Seperti pesan yang telah mereka terima, maka mereka pun segera mengambil tempat mereka masing-masing. Dua kelompok dari mereka harus menyergap para prajurit yang bertugas di gardu depan. Sedang sekelompok yang lain harus memasuki rumah itu tersama dengan pemimpin kelompok dan seorang yang dikirim langsung oleh pemimpin-pemimpin mereka untuk membantu pemimpin kelompok itu membunuh para perwira yang ada di dalam rumah. Satu kelompok lagi harus mengawasi suasana, dan membunuh setiap orang yang berusaha melarikan diri dari halaman adbmcadangan.wordpress.com itu. Apakah ia seorang prajurit atau seorang perwira. Karena itu, maka mereka pun harus dapat bekerja sama sebaik-baiknya jika yang mereka hadapi adalah seorang perwira yang memiliki kemampuan yang tinggi.

Demikianlah, keempat kelompok itu telah berada di tempatnya masing-masing seperti pesan pemimpinnya. Mereka menemukan tempat-tempat yang telah ditentukan, yang agaknya oleh seseorang yang telah mengenal halaman rumah itu sebaik-baiknya.

Namun mereka tidak menyangka, bahwa di setiap sudut, bahkan beberapa, langkah dari tempat mereka bersembunyi, prajurit-prajurit Pajang yang terpilih selalu mengawasi mereka dengan saksama.

Kelompok-kelompok penyerang itu telah siap untuk melakukan penyergapan. Yang terakhir adalah usaha memasuki rumah itu tanpa menimbulkan persoalan. Karena itu, maka pemimpin kelompok itu sendirilah yang akan melakukannya, sementara kelompok yang lain mengawasi dengan saksama jika ada di antara mereka yang melarikan diri.

Ternyata pemimpin kelompok itu adalah orang yang berpengalaman. Dengan hati-hati ia memutus tali-tali pengikat dinding di sudut rumah Untara yang paling lemah, di sudut belakang. Hampir tidak menimbulkan desir yang paling lembut sekalipun ia kemudian membuka dinding-dinding itu, dan dengan sangat hati-hati ia pun merayap masuk. Seorang dari anak buahnya dibawanya serta memasuki rumah yang sepi itu.

Sejenak orang-orangnya menunggu. Ternyata bahwa ketegangan yang menghentak-hentak dada hampir tidak tertahankan. Rasa-rasanya jantung mereka menjadi semakin cepat berdentangan.

Bukan saja para penyerang, tetapi prajurit-prajurit Pajang yang menyaksikan itu pun menjadi berdebar-debar pula. Rasa-rasanya mereka tidak dapat menunggu lagi. Tangan mereka telah bergetar dan darah mereka menjadi semakin cepat mengalir.

Sejenak kemudian mereka mendengar derit yang lirih sekali. Ternyata para prajurit Pajang yang berada di sisi rumah itu melihat bahwa pintu butulan telah terbuka.

Dengan isyarat tangan, maka pemimpin kelompok itu memanggil orang-orangnya yang bertugas masuk ke dalam rumah itu bersama seorang yang dipercaya langsung dari pimpinan mereka.

Seorang perwira Pajang yang melihat pintu yang terbuka itu pun menjadi berdebar-debar pula. Dan ia pun yakin bahwa di antara para penyerang itu pasti ada satu atau dua orang yang benar-benar dapat dipercaya melakukan tugas itu.

“Jika saja rencana ini tidak dapat diketahui, maka akulah yang ada di dalam rumah itu bersama beberapa orang kawan. Barangkali aku dan beberapa orang kawan itu sama sekali tidak sempat berbuat sesuatu ketika pedang-pedang mereka menikam dada ini, selagi kami masih tidur,” katanya di dalam hati. Dan ia pun merasa bersyukur bahwa ia sempat mendengar rencana itu dan kini ia telah siap menghadapi setiap kemungkinan.

“Meskipun seandainya aku akan mati juga malam ini, tetapi aku mati sambil menggenggam pedang seperti seharusnya seorang prajurit, bukan mati di pembaringan tanpa berbuat sesuatu,” perwira itu menggeram di dalam hati. Tanpa disadarinya maka tangannya pun telah meraba hulu pedangnya.

“Apakah Ki Ranadana dan kawan-kawannya yang ada di dalam rumah itu tidak tertidur, dan mereka mengetahui bahwa yang mereka tunggu telah datang?” ia bertanya kepada diri sendiri. Tetapi karena yang ada di dalam rumah itu adalah orang-orang yang dapat dipercaya, maka ia pun mencoba untuk menenteramkan dirinya sendiri.

Sejenak kemudian perwira itu melihat beberapa orang merayap mendekati pintu butulan itu. Sedang di bagian lain, beberapa bayangan yang bergerak-gerak menjadi semakin dekat dengan regol halaman. Mereka harus langsung menyergap para penjaga yang jumlahnya tidak begitu banyak itu tanpa memberi kesempatan mereka membunyikan tanda apa pun juga.

Dada setiap orang di halaman rumah Untara itu menjadi semakin tegang. Bahkan para prajurit yang ada di regol itu bagaikan duduk di atas bara api. Mereka mengerti, bahwa beterapa orang sedang merayap untuk menerkam mereka, namun mereka masih harus duduk di tempatnya. Meskipun demikian, senjata-senjata mereka telah siap di lambung. Sekejap saja senjata itu akan berada di genggaman. Demikian juga kawan-kawannya yang ada di sudut-sudut halaman depan. Rasa-rasanya mereka sudah ingin meloncat menyerang bayangan yang merambat semakin dekat dengan regol itu.

Dalam pada itu, orang-orang yang ada di dalam rumah itu pun segera berdiri di depan bilik yang mereka perkirakan di pakai oleh para perwira Pajang. Sejenak mereka memusatkan segenap pikiran dan perhatian mereka kepada tugas yang akan mereka lakukan.

Ketika semuanya menurut perhitungan pemimpin kelompok nenyerang itu sudah siap, maka terdengarlah dari dalam rumah itu suara burung hantu yang keras sekali tiga kali. Hanya tiga kali. Dan yang tiga kali itu adalah perintah bagi setiap orang di dalam pasukan kecilnya untuk menyerang semua sasaran yang telah ditentukan.

Pada saat suara burung hantu itu menggema, dua orang yang dengan napas terengah-engah menyusul mereka dari Pengging menjadi berdebar-debar. Ternyata mereka sudah terlambat. Meskipun mereka sudah berada di belakang rumah Untara, namun perintah itu sudah diberikan, sehingga mereka tidak dapat berbuat apa-apa.

“Terlambat,” desah yang seorang.

“Tetapi, kenapa mereka masih sempat menunggu perintah itu? Jika orang-orang Pajang sudah menunggu mereka, maka demikian mereka memasuki halaman rumah ini, mereka pasti akan segera diterkam oleh para prajurit Pajang,” sahut yang lain.

“Kita menunggu perkembangan,” berkata yang lain.

Demikianlah mereka menunggu apa yang terjadi di dalam rumah Untara dan di halamannya itu.

Dalam pada itu, demikian isyarat itu berbunyi, maka setiap orang yang ada di dalam rumah itu pun segera mendorong pintu bilik. Senjata-senjata telanjang yang ada di tangan mereka telah bergetar. Pemimpin kelompok itu berada di depan satu bilik bersama beberapa orang kawannya, sedang orang yang langsung diperbantukan kepadanya oleh pemimpin mereka itu berada di bilik yang lain bersama beberapa orang pula. Mereka harus melakukan tugas mereka dengan cepat dan cermat. Sedang beberapa orang lainnya berada di bilik yang lain pula, untuk mengawasi jika di dalam bilik itu ada juga penghuninya.

Bersama dengan gerit pintu-pintu bilik itu, para penyerang yang sudah siap menunggu di halaman pun segera berloncatan. Jumlah mereka ternyata cukup banyak untuk membinasakan beberapa orang yang bertugas di regol itu.

Namun, demikian isyarat itu berbunyi, maka prajurit-prajurit Pajang yang berada di regol itu pun segera berloncatan berdiri. Seakan-akan suara burung hantu itu memang merupakan perintah bagi mereka untuk bersiap menghadapi setiap kemungkinan.

Sekejap para penyerang itu pun menjadi heran. Namun mereka tidak menghiraukannya lagi. Seperti banjir bandang mereka pun segera menyerang. Orang-orang yang ada di regol itu harus ditumpas.

Tetapi mereka pun terkejut ketika tiba-tiba saja mereka mendengar gemerisik dedaunan dan semak-semak di sekitar mereka. Sebelum mereka mencapai gardu itu, mereka menjadi terpukau karena beberapa orang yang tiba-tiba saja justru berloncatan menyerang mereka.

Sebelum mereka menyadari keadaan mereka, maka tiba-tiba mereka mendengar salah seorang dari prajurit Pajang itu berkata lantang, “Kalian terjebak. Menyerahlah.”

Tetapi para penyerang itu tidak yakin akan kata-kata prajurit Pajang itu meskipun mereka melihat beberapa orang berdatangan. Karena itu, maka pemimpin kelompok mereka pun berkata, “Tumpas mereka. Jangan ada yang tersisa. Mataram harus menguasai daerah Jati Anom sebelum menguasai seluruh Pajang.”

Kata-kata itu mendebarkan jantung para praiurit Pajang. Untunglah mereka sudah mengetahui dengan siapa mereka berhadapan, sehingga mereka pun tidak mudah terpengaruh oleh kata-kata itu, yang seakan-akan para penyerang itu adalah orang-orang Mataram.

Ternyata serangan itu telah mendapat sambutan hangat. Para penjaga di regol halaman pun sudah siap menunggu mereka menyergap. Namun ternyata bahwa para penyerang tidak dapat memusatkan kekuatan mereka, kepada para prajurit yang tidak begitu banyak jumlahnya di regol, tetapi mereka harus melayani prajurit-prajurit Pajang yang bermunculan seperti laron dimusim hujan. Ternyata bahwa jumlah prajurit Pajang itu pun cukup banyak sehingga para penyerang itu pun menjadi berdebar-debar. Apalagi prajurit Pajang yang mereka hadapi adalah prajurit pilihan.

“Gila,” pemimpin kelompok penyerang itu menggeram, “kita harus memencar. Kita binasakan semua orang yang ada di halaman ini.”

Dalam pada itu kelompok cadangan yang harus mengawasi jika ada di antara para prajurit Pajang yang melarikan diri itu pun tidak lagi dapat tinggal diam. Mereka pun segera terlibat pula di dalam perkelahian melawan para prajurit Pajang.

Dalam pada itu, yang ada di dalam rumah pun terkejut bukan kepalang. Ternyata mereka hanya menjumpai seorang perwira Pajang di dalam rumah itu. Dan perwira itu adalah Ki Ranadana. Sedang yang lain sama sekali bukan prajurit Pajang. Namun justru karena itulah, maka kemudian mereka menjumpai banyak sekali kesulitan.

Para penyerang yang belum mengenal Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar itu semula tidak begitu menghiraukannya. Pembunuhan di dalam rumah itu akan tetap berlangsung, siapa pun yang ada di dalamnya. Perwira yang hanya seorang itu harus dibunuh pula, sedang salah seorang dari orang-orang yang ada di rumah itu akan dihidupinya.

“Kalian tidak usah melawan,” berkata pemimpin gerombolan itu, “kami datang dengan kekuatan yang tidak akan terlawan oleh kalian. Marilah kalian berkumpul di ruang tengah.”

Ki Ranadana dan Ki Sumangkar memandang pemimpin kelompok itu sejenak, lalu sambil mengangguk-angguk Ki Ranadana menjawab, “Apakah yang akan kalian lakukan atas kami?”

“Sayang, kami akan membunuh kalian. Para perwira dan siapa pun yang ada di dalam rumah ini.”

Ki Ranadana dan Ki Sumangkar tidak segera menyahut, sedang di depan pintu bilik yang lain terdengar seorang dari para penyerang itu berkata, “Keluar. Kami akan memenggal lehermu. Lebih baik kau mati di ruang yang agak luas daripada dibilik yang sempit agar rohmu mendapat jalan yang agak lapang.”

Dan terdengar jawab Kiai Gringsing, “Baiklah. Kami akan keluar ke ruang yang lebih luas. Tetapi apakah kalian benar-benar akan membunuh kami?”

“Jangan banyak bicara. Sediakan diri untuk mati. Pedang kami akan memenggal leher kalian.”

Tetapi yang terdengar kemudian adalah kata-kata Swandaru, “Kulit kami amat liat. Apakah pedang kalian cukup tajam?”

Pertanyaan itu benar-benar tidak diduga oleh orang-orang yang datang memasuki rumah itu. Karena itu, sejenak mereka hanya memandang Swandaru dengan tatapan mata yang aneh.

“He, kenapa kalian menjadi heran seperti melihat hantu?” bertanya Swandaru pula. “Ayo, jawab pertanyaanku. Apakah pedangmu cukup tajam untuk memotong leherku. Kulitku cukup liat dan tulangku sangat keras.”

“Persetan,” orang yang dikirim oleh pemimpin para penyerang itu menggeram, “kaulah yang akan aku bunuh pertama-tama.”

“Aku?” Swandaru membelalakkan matanya. “Kenapa bukan yang lain? Kau misalnya?”

“Tutup mulutmu,” orang itu berteriak.

“Kami adalah para perwira pilihan dari prajurit Pajang,” berkata Swandaru. “Ketika kami memasuki lingkungan keprajuritan, kami harus melalui pendadaran yang berat. Nah, apakah kami yang sudah melalui pendadaran itu harus menyerahkan leher kami begitu saja?”

Orang itu tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba saja ia menyergap masuk. Agaknya kemarahannya sudah memuncak sampai ke ubun-ubun.

Beberapa orang kawannya pun ikut pula menyergap. Mereka langsung menyerang kiai Gringsing dan kedua muridnya dan berusaha membunuh mereka sebelum mereka sempat berbuat apa pun juga, apalagi memberikan isyarat.

Demikian juga pemimpin kelompok penyerang itu. Mereka pun telah menyerang Ki Ranadana dan Ki Sumangkar di dalam biliknya yang sempit.

“Ki Ranadana,” berkata Ki Sumangkar, “agak menjauhlah. Senjataku memerlukan ruang yang agak luas.”

“Eh,” sahut Ki Ranadana, “apakah aku tidak akan kau beri sisa tempat di ruang ini? Jika demikian, sebaiknya aku keluar saja.”

“Jangan sekarang. Kita memilih tempat yang sempit ini saja dahulu.”

Ki Ranadana tidak menjawab, tetapi ia bergeser ke sudut yang lain menjauhi Sumangkar yang kemudian menggenggam senjatanya yang aneh. Trisulanya yang berantai di tangan kanan, dan yang sebuah lagi di tangan kiri langsung digenggamnya pada tangkainya.

Namun yang paling mengejutkan para penyerang itu, ketika Swandaru yang langsung diserang telah menarik cambuk yang membelit di lambungnya. Ketika cambuk itu meledak, rasa-rasanya meledak pulalah setiap jantung dari para pemimpin penyerang itu. Sedikit banyak mereka telah pernah mendengar, bahwa kawan-kawan mereka yang berjuang di Alas Mentaok, telah gagal sama sekali akibat hadirnya orang-orang yang bersenjata cambuk. Dan kini rumah Untara itu telah digetarkan pula oleh suara cambuk.

Bukan saja Swandaru yang kemudian telah meledakkan cambuknya. Namun juga Agung Sedayu dan bahkan Kiai Gringsing, Karena lawan mereka telah langsung menyerang mereka dengan pedang ke arah jantung mereka, untuk segera membunuh apabila mungkin, maka mereka pun telah mempergunakan senjata mereka pula.

Demikianlah di dalam bilik yang sebelah, tiga buah cambuk telah meledak bersahut-sahutan.

Di bilik yang lain, trisula Sumangkar telah berputar pula pada rantai yang mengikatnya. Suaranya berdesing mengerikan. Sedang Ki Ranadana yang bersenjata pedang pun telah mulai pula bertempur melawan orang-orang yang menyerangnya.

Betapapun juga, namun putaran trisula di tangan Sumangkar telah menimbulkan persoalan bagi para penyerangnya, sehingga beberapa orang terpaksa terdesak surut oleh kawan-kawan mereka. Dengan lambat laun pasti Sumangkar telah mendesak lawannya ke pintu keluar dari bilik itu.

“Kita akan mencari jalan keluar,” berkata Sumangkar kepada Ki Ranadana, “supaya kita dapat lebih leluasa bermain-main.”

“Aku sependapat,” berkata Ki Ranadana. Meskipun ia tidak mendesak lawannya, namun suara trisula Sumangkar yang berdesing itu berpengaruh juga, sehingga Ki Ranadana pun telah mendesak lawannya pula.

Demikianlah maka para penyerang itu tidak mau bertahan di dalam bilik yang sempit itu pula. Mereka pun segera berloncatan keluar disusul oleh Sumangkar dengan senjatanya yang mengerikan.

Yang terakhir keluar dari bilik itu adalah Ki Ranadana. Tetapi ketika beberapa orang lawan menyambutnya, maka ia tidak langsung pergi ke ruang tengah yang agak luas, tetapi ia berhenti saja di pintu sambil bertempur. Jika ia agak terdesak oleh beberapa orang lawannya maka ia melangkah surut, sehingga ia langsung menghadapi sebuah pintu yang sempit. Dengan demikian ia sempat mempergunakan pintu bilik itu sebagai perisai, sehingga lawannya terpaksa berdiri di satu arah daripadanya.

“Licik,” geram salah seorang lawannya, “jangan berdiri di pintu.”

Tetapi Ki Ranadana tertawa. Katanya, “Bagaimana mungkin kau dapat mengatakan aku licik, sedang kau menyerang dengan pasukan segelar sepapan?”

Lawan-lawannya tidak menjawab. Tetapi mereka berusaha mendesak Ranadana masuk ke dalam bilik itu kembali dan beramai-ramai membinasakannya.

Tetapi Ki Ranadana menyadari keadaannya, sehingga karena itu maka ia pun bertahan mati-matian agar ia tetap berada di pintu bilik itu.

“Untunglah bahwa kami dapat mengetahui lebih dahulu serangan ini. Jika tidak, maka kami akan benar-benar dibantai tanpa perlawanan,” berkata Ki Ranadana di dalam hatinya. Seperti yang tersirat di hati setiap prajurit Pajang. Namun demikian ia masih juga memikirkan Ki Sumangkar, Kiai Gringsing dan kedua muridnya.

“Adik Untara adalah seorang yang dapat dipercaya,” berkata Ki Ranadana, karena ia mengetahui bahwa Agung Sedayu berhasil mengalahkan seorang perwira muda dari Pajang pada perselisihan yang tidak dapat dihindarkan, justru di saat Agung Sedayu baru saja datang di tempat ini.

“Tetapi anak muda yang gemuk itu, apabila orang tua itu, pasti memiliki kemampuan yang cukup pula,” katanya pula kepada diri sendiri.

Sekilas Ki Ranadana melihat bagaimana Sumangkar bertempur melawan beberapa orang yang menyerangnya. Putaran trisulanya benar-benar membatasi kemampuan gerak lawannya. Trisula yang disangkutkan pada ujung rantai itu tidak saja berputar seperti baling-baling, tetapi kadang menjulur mematuk seperti seekor ular yang berbisa.

Dalam pada itu, cambuk yang meledak-ledak di bilik sebelah serasa telah menggetarkan rumah yang besar itu. Bahkan kemudian seperti Sumangkar, Kiai Gringsing telah mendesak lawannya ke luar ruangan, sehingga di ruang tengah yang luas itulah mereka kemudian bertempur.

Swandaru tersenyum melihat Sumangkar telah lebih dahulu ada di ruang itu. Ketika ia memandang Ki Ranadana, maka keningnya pun terkerut-merut.

Bukan saja Swandaru, tetapi Kiai Gringsing pun melihat, bahwa Ki Ranadana mulai menjadi lelah menghadapi lawan-lawannya. Di antaranya adalah pemimpin kelompok penyerang yang memiliki kelebihan dari kawan-kawannya. Hanya dengan mengerahkan segenap kemampuannya sajalah Ki Ranadana tetap bertahan di depan pintu bilik itu.

Tetapi Ki Ranadana sama sekali tidak mengeluh dan tidak menjadi cemas. Ia menyadari, bahwa keadaan ini adalah keadaan yang jauh lebih baik daripada keadaan yang seharusnya terjadi. Seperti setiap perwira ia berpendapat, bahwa seandainya ia sendiri menjadi korban, bukanlah merupakan soal yang memberati perasaannya, namun dengan suatu keyakinan, bahwa keadaan akan dapat dikuasai oleh pasukannya.

Ternyata bahwa Swandaru-lah yang berasa paling dekat dengan pintu bilik Ki Ranadana. Itulah sebabnya, maka ia pun segera berusaha berbuat sesuatu untuk mengurangi tekanan yang semakin lama menjadi semakin berat.

Tetapi Swandaru tidak segera berhasil. Beberapa orang berusaha menahannya dan memisahkannya dari Ki Ranadana.

Dalam pada itu, di luar rumah, para penyerang telah terlibat pula dalam pertempuran yang sengit. Mereka yang menyerang para prajurit yang tampaknya tidak begitu banyak di gardu peronda, menjadi berdebar-debar melihat para prajurit Pajang yang berloncatan dari dalam gelap. Karena itulah, maka setiap orang yang ada langsung terlibat dalam perkelahian. Kelompok yang harus mengawasi perkembangan keadaan di halaman itu sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk tetap berada di tempatnya. Mereka pun langsung melibatkan diri dalam perkelahian yang seru.

Tetapi para prajurit Pajang sama sekali tidak membunyikan tanda apa pun seperti yang sudah dipesankan kepada mereka. Jika keadaan tidak memaksa, maka mereka harus menyelesaikan tugas itu tanpa mengganggu ketenteraman Jati Anom. Mereka tidak boleh menimbulkan kesan bahwa ada sekelompok orang yang mampu menerobos masuk ke dalam lingkungan prajurit Pajang, dan lebih daripada itu, ketenangan hari-hari perkawinan Untara tidak boleh terganggu.

Namun kesiagaan yang cermat telah menempatkan para prajurit Pajang itu dalam kedudukan yang baik. Apalagi ketika para prajurit yang ada di halaman belakang pun telah ikut melibatkan diri pula menyerang orang-orang yang bertugas mengawasi keadaan di bagian belakang.

Karena jumlah mereka tidak banyak, maka mereka pun segera bergeser ke halaman depan, bergabung dengan kawan-kawannya yang sedang bertempur pula.

Dengan demikian maka perkelahian,yang terjadi di halaman rumah Untara itu menjadi semakin seru. Samar-samar oleh cahaya lampu minyak di gardu, orang-orang yang bertempur itu berusaha membedakan, yang manakah kawan dan manakah lawan. Namun prajurit Pajang ternyata telah memakai cirri-ciri keprajuritan mereka masing-masing, sehingga di antara mereka dengan mudah dapat saling mengenal.

Karena prajurit-prajurit Pajang yang bertempur di halaman itu adalah prajurit-prajurit pilihan, serta jumlah mereka pun memadai, maka mereka segera menguasai keadaan. Namun ternyata lawan-lawan mereka pun adalah orang-orang terpilih pula, sehingga prajurit-prajurit Pajang itu harus mengerahkan segenap kemampuan mereka, secara pribadi dan secara bersama-sama untuk mendesak lawan mereka. Tetapi orang-orang itu sejauh mungkin tidak sampai merembes ke luar, halaman, agar ketenangan Jati Anom tidak terganggu.

Di luar regol depan, dua orang prajurit pengawas dari Pajang menyaksikan perkelahian yang bergolak dihalaman. Setelah mereka yakin, bahwa tidak akan ada lagi orang-orang yang bakal datang, maka mereka pun segera ikut pula di dalam perkelahian itu.

Namun dalam pada itu. Keadaan Ki Ranadana ternyata menjadi semakin sulit karena jumlah lawannya yang kuat.

Bagaimanapun juga ia berusaha, namun ternyata bahwa ia perlahan-lahan terdesak juga, sehingga sedikit demi sedikit ia bergeser masuk ke dalam bilik.

“Jika aku terdorong masuk,” berkata Ki Ranadana, “maka aku tidak akan dapat menyaksikan akhir dari perkelahian ini meskipun aku yakin, bahwa prajurit Pajang akan menguasai keadaan.”

Dalam pada itu, Swandaru yang berada dekat dengan pintu bilik itu masih belum dapat berbuat sesuatu untuk membantu Ki Ranadana, sehingga karena itu, maka ia pun berusaha sekuat-kuat tenaganya untuk memecahkan kepungan atas dirinya sendiri. Namun demikian usaha itn bukannya usaha yang mudah.

Ternyata Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar pun melihat kesulitan Ki Ranadana. Karena itu, hampir bersamaan mereka berusaha untuk menolongnya.

Sumangkar yang masih belum mempergunakan segenap kemampuannya tiba-tiba memutar trisulanya semakin cepat. Kini ia tidak memperhitungkan lagi korban yang bakal jatuh. Baginya, orang-orang itu tidak akan banyak dapat memberikan keterangan, sehingga apabila terpaksa ujung trisulanya menimbulkan kematian, maka itu adalah sesuatu hal yang tidak dapat dihindarinya.

Karena itu, sejenak kemudian terdengar salah seorang dari lawan-lawannya mengeluh tertahan. Namun hampir bersamaan di lingkaran perkelahian yang lain seseorang menjerit kesakitan, ketika ujung cambuk Kiai Gringsing mengenai pelipisnya. Sekilas warna merah seakan-akan menyala di wajah itu, kemudian darah yang merah mengalir memenuhi kepalanya.

Dua orang sekaligus telah terluka. Yang seorang di kepalanya, sedang yang lain, trisula Ki Sumangkar langsung mematuk dada.

Ternyata hal itu sangat berpengaruh. Orang-orang yang mendesak Ki Ranadana pun menjadi ragu-ragu. Tetapi di antara mereka adalah pemimpin kelompok itu sendiri, sehingga ia pun segera menguasai keadaan, dan memimpin kawan-kawannya untuk mendesak lawannya kembali.

Meskipun demikian, hati pemimpin penyerang itu sudah dihinggapi oleh keragu-raguan. Siapa sajakah yang berada di dalam rumah ini, sehingga kawan-kawannya sama sekali tidak segera berhasil membunuh mereka. Bahkan dua orang kawannya telah terluka parah.

Ketika kemudian sebuah hentakan mendesak Ki Ranadana, maka ia telah kehilangan kesempatan untuk bertahan di depan pintu. Ternyata pemimpin kelompok penyerang itu berhasil meloncat masuk untuk menyerang Ki Ranadana dari arah lain. Namun dengan demikian Ki Ranadana tidak tetap berdiri saja di pintu. Ia pun segera meloncat masuk dan mundur mendekati dinding agar ia dapat melawan tanpa mendapat serangan dari belakang.

Empat orang termasuk pemimpin gerombolan penyerang itu menyusulnya. Pedang mereka telah teracu lurus ke dada Ki Ranadana, sehingga hampir tidak ada kesempatan baginya untuk menghindarkan diri dari bencana. Apalagi ketika dilihatnya dua orang lawannya tetap berdiri di pintu untuk menjaga agar tidak ada seorang pun yang dapat membantunya.

Meskipun demikian Ki Ranadana tidak menyerah begitu saja. Ia tahu, salah seorang dari keempat lawannya itu adalah orang yang pilih tanding. Karena itu, maka perlawanannya dipusatkan kepadanya.

Namun hatinya berdebar-debar ketika ia mendengar orang itu berkata, “Aku akan membunuhnya. Bantulah kawan-kawanmu yang lain. Aku menunggu kesempatan untuk berkelahi dengan leluasa seperti ini. Di dalam perkelahian yang kisruh aku justru merasa terganggu. Sekarang aku mendapat kesempatan untuk mengetahui dengan pasti, betapa tinggi ilmu seorang perwira Pajang.”

Hati Ranadana menjadi berdebar-debar. Apalagi ketika ketiga orang yang lain benar-benar menarik dirinya dari perkelahian itu.

“Jaga pintu itu,” berkata pemimpin gerombolan itu, “jangan seorang pun boleh masuk. Setelah orang ini mati, biarlah aku menyelesaikan yang lain. Jaga mereka agar mereka tidak sempat lari.”

Ketiganya mengangguk-anggukkan kepalanya. Seorang dari mereka langsung pergi ke pintu, sedang yang dua orang lainnya masih termangu-mangu.

Sejenak kemudian perkelahian seorang lawan seorang telah terjadi. Tetapi seperti yang dikatakan oleh pemimpin gerombolan itu, rasa-rasanya ia kini mendapat kesempatan lebih banyak, sehingga dengan demikian, meskipun ia hanya seorang diri, maka perwira itu pun tidak dapat mengimbanginya. Selangkah demi selangkah ia terdesak. Apalagi tenaganya yang telah diperas di depan pintu itu pun telah menjadi semakin susut.

Dalam pada itu, Kiai Gringsing pun menjadi cemas karena Ki Ranadana terdesak. Tetapi ia tidak dapat meninggalkan lingkaran perkelahiannya. Ternyata seorang lawannya adalah orang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Ditambah lagi dengan dua orang yang membantunya. Orang itu adalah orang yang langsung diperbantukan dari pemimpin gerombolan yang lebih tinggi lagi tingkatnya.

Tetapi ternyata yang dihadapinya kini adalah Kiai Gringsing. Karena itu, maka orang yang telah mendapat kepercayaan itu menjadi berdebar-debar. Ia memang pernah mendengar tentang orang-orang bercambuk. Tetapi kini ia harus menghadapinya sendiri.

“Orang ini telah membunuh Kiai Damar dan Kiai Telapak Jalak,” berkata orang itu di dalam hatinya. Dengan demikian ia dapat menilai, betapa tinggi ilmu orang bercambuk itu.

“Tetapi aku tidak sebodoh Kiai Telapak Jalak,” berkata orang itu di dalam hatinya pula, “aku harus dapat mengumpankan cucurut-cucurut bodoh ini, sementara aku mengambil keuntungan dan kemudian membinasakan.”

Ternyata berbeda dengan pemimpin gerombolan penyerang itu sendiri, yang ingin membinasakan Ranadana dengan tangannya dan kemampuannya sebagai suatu kebanggaan bahwa ternyata perwira Pajang tidak lebih daripada dirinya sendiri, maka orang yang sedang bertempur dengan Kiai Gringsing itu mempunyai caranya sendiri. Meskipun ia memiliki kemampuan melampaui kawan-kawannya namun ia sama sekali tidak berusaha melindungi mereka. Bahkan dibiarkannya kawan-kawannya menyerang dan memancing perhatian Kiai Gringsing sementara ia berusaha menyerang dengan diam-diam. Ia sama sekali tidak menghiraukan jika ada satu dua orang kawannya yang tersentuh senjata lawan atau bahkan terbunuh sekalipun.

Namun bahwa kesempatan itu masih juga belum terbuka baginya membuatnya semakin marah. Bukan saja kepada Kiai Gringsing tetapi kepada kawan-kawannya sendiri yang tidak mampu menarik perhatian lawannya sebanyak-banyaknya sehingga memberi kesempatan kepadanya untuk menikam lawannya dengan kecepatan yang dimilikinya.

“Hmm. Orang bercambuk ini memang gila,” ia menggeram. Namun ketika ia sadar, bahwa masih ada beberapa orang lain yang harus diselesaikan, maka ia pun bertempur semakin sengit pula.

“Jangan berkelahi seperti pengecut,” ia menggeram, “aku dikirim untuk membantu kalian, untuk menyelesaikan tugas yang dibebankan oleh Sutawijaya kepada kita. Karena itu, jangan bertempur seperti seorang gadis yang sedang menerima lamaran.”

Mendengar sindiran itu, kawan-kawannya menjadi berdebar-debar. Tetapi usaha orang itu berhasil karena kawan-kawannya bertempur semakin gigih dan kadang-kadang benar-benar berhasil menarik perhatian Kiai Gringsing sepenuhnya.

Namun dengan demikian, Kiai Gringsing menyadari betapa liciknya lawannya yang seorang ini. Meskipun kemampuannya jauh lebih besar dari kawan-kawannya, namun ia justru berlindung kepada mereka dan kemudian jika ia berhasil, maka dirinyalah yang akan mendapat pujian, seakan-akan ialah yang telah mampu menyelesaikan tugas itu.

Karena itu, kemarahan Kiai Gringsing justru ditujukan kepada orang itu, sehingga ada yang telah dilupakannya. Jika ia dapat menangkap orang itu hidup-hidup, maka ia akan mendapat penjelasan lebih banyak tentang orang itu dan gerombolannya, bahkan pemimpin-pemimpin yang lebih tinggi.

Tetapi Kiai Gringsing tidak mengerti susunan dan tingkatan dari lawannya. Yang ia ketahui, lawannya yang seorang ini sangat licik dan pengecut meskipun dengan demikian ia justru menjadi sangat berbahaya.

Sejenak kemudian, maka serangan-serangan Kiai Gringsing telah dipusatkan kepada orarg yang licik itu. Betapapun ia berusaha berlindung di punggung kawan-kawannya, namun ujung cambuk Kiai Gringsing seakan-akan selalu mengejarnya.

Tetapi orang itu masih juga sempat berteriak, “Ayo, jangan lari. Aku ada di antara kalian.”

Namun bagaimanapun juga, serangan-serangan Kiai Gringsing tidak juga dapat dihindarinya. Sekali-sekali ujung cambuk orang tua itu telah menyentuhnya, dan membuat jalur yang pedih dikulitnya.

Akhirnya orang itu pun menyadari keadaannya. Ternyata lawannya memusatkan serangan-serangannya kepadanya. Karena itu, maka ia tidak dapat ingkar lagi, bahwa ia harus bertempur sebaik-baiknya.

“Tetapi orang bercambuk ini benar-benar gila,” katanya di dalam hati. “Kenapa ia berada juga di tempat ini? Jika yang ada di dalam rumah ini benar-benar empat atau lima orang perwira prajurit Pajang, maka aku kira tugas akan cepat selesai.”

Dalam pada itu ia sempat juga bertanya-tanya tentang pemimpin gerombolannya. Ia mengetahui bahwa pemimpinnya itu sedang mengejar seorang perwira yang terdesak ke dalam bilik. Tetapi sampai berapa lamanya ia masih belum dapat menyelesaikannya pula.

Dalam pada itu, perkelahian di dalam ruangan itu pun menjadi semakin sengit. Lawan-lawan yang tidak terduga ternyata telah dijumpai oleh gerombolan penyerang itu. Yang kemudian menjadi paling parah adalah sekelompok orang yang bertempur melawan Sumangkar. Sejenak kemudian maka seorang demi seorang telah dijatuhkannya. Mati atau terluka berat. Sumangkar memang ingin segera menyelesaikan tugasnya untuk dapat menolong Ki Ranadana yang agaknya terdesak.

Swandaru, yang bertempur dengan segenap kemampuannya, tidak dapat berbuat secepat Sumangkar. Menghadapi beberapa orang sekaligus, Swandaru masih harus berjuang sekuat-kuatnya, sekedar untuk bertahan. Namun ia masih mendapatkan kesulitan untuk memecahkan kepungan dan membantu Ki Ranadana.

Sejenak kemudian dada Swandaru berdesir ketika ia tidak melihat lagi Agung Sedayu bertempur di tempatnya. Ia tidak melihat ke mana saudara seperguruannya itu pergi. Yang paling mungkin adalah bahwa Agung Sedayu telah digiring oleh lawan-awannya seperti Ki Ranadana masuk ke dalam bilik yang lain, karena Agung Sedayu berdiri tidak begitu jauh dari pintu bilik itu.

Ketika Swandaru sempat melihat perkelahian antara gurunya dengan lawannya maka dadanya menjadi berdebar-debar. Ia dapat melihat, bahwa seorang dari lawan-lawan gurunya adalah seorang yang berilmu tinggi.

Dengan demikian, maka Swandaru pun menjadi semakin garang. Cambuknya menjadi semakin cepat berputar dan menggelegar seperti patuk seekor burung sikatan.

Sementara itu, lawan Ki Sumangkar seorang demi seorang telah berjatuhan. Namun setiap kali orang baru telah menyerangnya pula. Bahkan orang-orang yang semula berkelahi melawan Ki Ranadana di dalam bilik itu pun telah membantu kawan-kawannya mengepung Ki Sumangkar yang bersenjata trisula itu.

Dalam pada itu Agung Sedayu benar-benar telah masuk ke dalam bilik di sebelah. Tetapi ia tidak mempunyai lawan seberat Ki Ranadana. Bahkan sebagian lawannya yang lain telah melepaskan dirinya dan membantu bertempur melawan Sumangkar.

Ternyata bahwa sejenak kemudian ketika cambuknya meledak, seorang dari lawannya telah meloncat surut sambil menyeringai. Kemudian disusul oleh ledakan-ledakan yang kedua dan yang ketiga.

Ledakan-ledakan itu telah memberitahukan kepada Swandaru bahwa Agung Sedayu memang berada di dalam bilik itu. Tetapi Swandaru tidak dapat membayangkan, apa yang telah terjadi atas kakak seperguruannya itu.

Demikianlah maka akhirnya Agung Sedayu berhasil melumpuhkan lawan-lawannya, karena sebagian yang lain telah bertempur melawan Sumangkar, namun yang seorang demi seorang terlempar dari gelanggang.

Pada saat yang gawat itulah Agung Sedayu mencoba melihat bilik yang lain yang dibatasi dengan dinding bambu. Sambil mematahkan satu dua anyaman ia melihat bahwa keadaan Ki Ranadana benar-benar gawat. Kini ia sudah terjepit di sudut bilik. Sejenak kemudian maka lawannya pasti akan dapat membinasakannya.

“Inikah nilai dari perwira-perwira Pajang?” berkata pemimpin penyerang itu. “Pada saatnya, Mataram pasti akan segera menguasai. Mataram mempunyai pasukan yang jauh lebih kuat. Baik jumlahnya maupun kemampuan seorang demi seorang. Kami sedang membujuk Mangir untuk ikut bersama kami dan juga Menoreh. Nah, sampailah saatnya Pajang akan runtuh.”

“Persetan,” Ki Ranadana menggeram, “kau jangan mengigau. Pajang akan tetap tegak. Dan kau sama sekali bukan orang Mataram.”

“He?” pemimpin penyerang itu mengerutkan keningnya.

“Kau sama sekali tidak berasal dari Mataram. Di sini ada seorang perwira dari Mataram yang akan menentukan, apakah kau benar-benar seorang Mataram atau bukan.”

“Gila. Kau masih juga mengigau di saat matimu.”

Ki Ranadana tidak menjawab. Tetapi serangan lawannya menjadi semakin garang, sehingga akhirnya Ki Ranadana benar-benar telah kehilangan kesempatan untuk berbuat sesuatu.

Namun pada saat itulah, tiba-tiba dinding yang menyekat antara kedua bilik di rumah itu pecah oleh dorongan kekuatan yang besar. Seorang anak muda muncul dengan cambuk di tangan. Anak muda itu adalah Agung Sedayu.

“Gila,” geram pemimpin penyerang itu. Tetapi ketika cambuk Agung Sedayu meledak, ia terpaksa berusaha menghindar. Ternyata bahwa Agung Sedayu memburunya terus, dengan ledakan-ledakan yang dahsyat.

Namun lawannya adalah seorang yang pilih tanding. Itulah sebabnya, sejenak kemudian ia berhasil menguasai dirinya dan dengan mantap melawan serangan-serangan Agung Sedayu.

“Licik,” ia berteriak.

Tetapi Agung Sedayu dan Ki Ranadana tidak menjawab. Keduanya segera menempatkan diri untuk melawan pemimpin penyerang itu.

“Sisihkan anak muda ini,” teriak pemimpin penyerang itu kepada orang yang berdiri di muka pintu.

Tetapi orang yang berdiri di muka pintu itu sudah tidak mampu berbuat apa-apa, karena ujung trisula Ki Sumangkar telah menyentuhnya.

Demikianlah lambat laun, para penyerang itu pun menjadi semakin berkurang. Seorang demi seorang mereka telah terbunuh. Jika bukan, oleh Ki Sumangkar, maka cambuk Kiai Gringsing-lah yang telah melemparkan lawannya.

Namun orang yang berilmu tinggi, yang bersama-sama dengan beberapa orang berkelahi melawan Kiai Gringsing itu pun masih juga berusaha untuk menang. Namun agaknya kesempatannya semakin lama menjadi semakin tipis.

Dalam pada itu, di halaman keadaan para penyerang itu menjadi lebih parah. Prajurit-prajurit Pajang mendesaknya ke satu sudut di halaman sehingga mereka hampir tidak mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu.

“Tentu ada pengkhianatnya di antara kita,” geram salah seorang dari para penyerang itu.

Namun mereka tidak sempat lagi mencari, siapakah pengkhianatnya yang ada di antara mereka itu.

Sementara itu, dua orang utusan yang berpacu dari Pengging sama sekali tidak sempat mencegah kawan-kawannya. Dari kejauhan mereka mendengar hiruk pikuk pertempuran. Namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Dan mereka pun tidak berani terjun langsung ke dalam pertempuran itu jika keduanya tidak ingin binasa pula.

Perkelahian itu pun semakin lama menjadi semakin jelas akan segera sampai ke akhirnya. Kiai Gringsing sudah berhasil mengurangi lawannya seorang demi seorang, sehingga akhirnya, Kiai Gringsing harus berhadapan dengan dua orang saja. Yang seorang justru orang yang paling licik yang pernah dijumpainya.

Demikianlah dalam keadaan terdesak, maka ternyata orang yang licik itu sama sekali tidak bertanggung jawab lagi terhadap apa yang terjadi. Ketika kawannya mencoba menyerang Kiai Gringsing dari lambung, dan berhasil menarik perlawanan orang tua itu, maka tiba-tiba saja ia meloncat berlari meninggalkan lawannya.

“Pengecut,” Kiai Gringsing menggeram. Namun ia tidak melepaskannya Ditinggalkannya lawannya yang seorang lagi dan dengan marahnya ia mengejar lawannya yang melarikan diri itu.

Ternyata bahwa lawannya berhasil keluar dari pintu butulan dan turun ke longkangan samping. Namun ia tidak dapat lari lebih jauh lagi. Tiba-tiba saja ia mendengar cambuk Kiai Gringsing meledak, dan terasa segores luka yang pedih di lambungnya.

Dengan serta-merta ia memutar diri. Dengan sekuat tenaga dilemparkannya sebuah pisau belati ke arah Kiai Gringsing.

Tetapi Kiai Gringsing sempat melihat pisau belati yang meluncur itu, sehingga ia masih sempat menghindarinya.

Sejenak kemudian maka orang itu pun mencoba untuk sekali lagi melepaskan diri dari tangan Kiai Gringsing. Bukan saja karena ia memang licik, tetapi ia sadar, bahwa jika ia tertangkap hidup-hidup, maka ia pasti akan diperas oleh orang-orang Pajang untuk memberikan keterangan tentang para pemimpinnya yang sebagian memang berada di Pajang.

Namun Kiai Gringsing yang marah karena kelicikannya itu tidak membiarkannya meninggalkan halaman itu. Ketika orang itu mencoba meloncati dinding batu, maka sekali lagi terdengar cambuk Kiai Gringsing menggelepar dan membelit kakinya. Dengan suatu hentakan maka orang itu pun terseret jatuh di hadapan Kiai Gringsing yang sedang marah.

Tetapi orang itu ternyata tidak menyerah. Sekali lagi sebuah pisau belati meluncur cepat sekali.

Kali ini Kiai Gringsing tidak menyangka, bahwa orang yang masih terbaring di tanah itu mampu melemparkan pisau sekeras dan secepat itu, sehingga dengan demikian, maka Kiai Gringsing menjadi agak lemah. Karena itu, maka usahanya untuk menghindari pisau itu tidak sepenuhnya berhasil. Meskipun pisau itu tidak menghunjam di arah jantungnya, namun pisau itu telah menyobek bahunya.

Kemarahan Kiai Gringsing benar-benar tidak dapat dikendalikannya. Karena itu, maka tiba-tiba saja cambuknya meledak dua kali. Dua kali ledakan cambuk yang digerakkan oleh tenaga Kiai Gringsing. Bukan saja karena kemarahannya melihat kelicikan lawannya, tetapi juga karena pisau lawannya yang menyobek dan bahkan masih melekat di bahunya.

Orang itu masih sempat menggeliat sesaat. Sebuah luka yang mengerikan telah menganga di dadanya dan hampir di lehernya. Ternyata bahwa orang itu tidak dapat menahan perasaan sakit dan darah yang tidak habis-habisnya mengalir dari lukanya itu, sehingga sejenak kemudian maka ia pun telah melepaskan napasnya yang terakhir.

Sejenak Kiai Gringsing memandang mayat yang terbujur di tanah. Baru kemudian ia sadar, bahwa pisau belati lawannya masih menancap di bahunya, sehingga dengan demikian maka perlahan-lahan pisau itu ditariknya.

Demikian pisau itu terlepas, maka darah pun seakan-akan telah menyembur dari luka itu.

Namun Kiai Gringsing adalah seorang dukun yang baik. Sebelum ia sempat mengobati lukanya, maka dipetiknya beberapa genggam daun metir. Setelah dikunyahnya, maka daun metir itu pun segera dilekatkannya pada lukanya, sehingga sejenak kemudian lukanya telah tidak mencucurkan darah terlalu banyak lagi.

Setelah sekali lagi mengawasi lawannya, Kiai Gringsing pun kemudian melangkah kembali ke dalam. Di dalam, beberapa orang masih berkelahi dengan gigihnya. Apalagi Ki Ranadana.

Tetapi ketika ia memasuki rumah itu, dilihat Ki Sumangkar sudah tidak ada di tempatnya lagi. Ia telah berhasil memasuki bilik tempat Ki Ranadana dan Agung Sedayu bertempur melawan pemimpin penyerang itu.

“Menyerah sajalah,” berkata Sumangkar.

Tetapi orang itu menggelengkan kepalanya sambil menggeram, “Kalian sajalah yang menyerah. Aku mengemban tugas dari Raden Sutawijaya untuk membinasakan kalian. Karena itulah maka kalian harus binasa.”

“Apakah dalam keadaan seperti ini kau masih merasa mampu untuk membinasakan kami?” bertanya Sumangkar.

“Kenapa tidak. Kau semuanya harus mati. Semua perwira Pajang di Jati Anom harus mati.”

“Ki Sanak,” berkata Sumangkar, “sebaiknya kau menyadari keadaanmu. Di luar, orang-orangmu telah terkepung oleh prajurit Pajang. Tidak seorang pun dari kalian yang akan berhasil lolos dari halaman rumah ini, karena sebenarnyalah kalian telah terjebak. Kami telah mengetahui rencana kalian, bahwa kalian akan membunuh para perwira yang ada di Jati Anom dan mengatasnamakan diri kalian sebagai petugas dari Raden Sutawijaya. Tetapi kalian keliru.”

“Persetan,” geram pemimpin penyerang itu. Tiba-tiba saja ia telah menyerang Ranadana dengan garangnya. Hampir tidak dapat dicegah lagi, ujung senjatanya telah siap menembus dada perwira yang sedang lengah itu.

Agung Sedayu yang berdiri di samping Ki Ranadana segera meloncat ke samping sambil meledakkan cambuknya ke arah hulu pedang pemimpin penyerang itu dengan hentakan sendal pancing. Maksudnya agar ujung pedang orang itu bergeser dari dada Ki Ranadana.

Sementara itu Ki Ranadana sendiri terkejut bukan kepalang. Karena itu yang dapat dilakukannya hanyalah sekedar menangkis serangan itu dengan pedangnya.

Tetapi untunglah bahwa usaha Agung Sedayu berhasil, sehingga hentakan cambuknyaa telah menarik serangan orang itu ke samping, sehingga sama sekali tidak mengenai sasarannya. Namun ternyata yang lebih parah dari itu, adalah tindakan Sumangkar yang terkejut. Hampir di luar sadarnya, tangannya telah bergerak dan ujung trisulanya telah meluncur dan menghunjam ke lambung orang yang sedang menyerang Ki Ranadana. Akibat dari serangan Sumangkar itu ternyata tidak dapat dihindarkan lagi dari sentuhan maut.

“Ki Sanak,” berkata Sumangkar yang kemudian berjongkok di samping orang itu, “aku tidak sengaja membunuhmu. Tetapi barangkali seorang kawanku akan dapat mengobati luka-lukamu.”

“Persetan,” orang itu menggeram sambil meyeringai menahan sakit.

Sumangkar masih melihat wajah orang itu menegang menahan sakit. Namun agaknya lukanya benar-benar telah parah, sehingga kemungkinan untuk mengobatinya pun tidak ada sama sekali.

Dengan demikian Sumangkar, Agung Sedayu, dan Ki Ranadana tanpa dapat berbuat apa-apa menyaksikan perlahan orang itu dijemput oleh maut. Ketika ia membuka matanya sekali lagi, dipandanginya Sumangkar sejenak. Masih tampak keheranan membayang di sorot mata yang sudah redup itu. Seakan-akan ia tidak percaya bahwa di rumah itu, di rumah yang didiami para perwira Pajang, ada seseorang tua yang memiliki senjata yang mengerikan itu.

Pada saat itulah Kiai Gringsing masuk ke dalam rumah itu lewat pintu butulan. Ia masih melihat Swandaru bertempur sejenak. Namun ketika ia melangkah masuk pintu butulan itu, beberapa orang yang berkelahi melawan Swandaru itu pun berloncatan mundur.

“Kami menyerah,” berkata salah seorang dari mereka.

Kiai Gringsing memandang mereka sejenak. Kemudian ia pun memberi isyarat kepada Swandaru agar orang-orang yang menyerah itu diberi kesempatan untuk hidup.

“Siapa pemimpinmu,” bertanya Kiai Gringsing kepada salah seorang dari mereka.

Orang itu menunjuk sesosok mayat yang terbaring di dalam bilik itu.

Kiai Gringsing pun kemudian berdiri di muka pintu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Jika demikian ada dua orang yang memiliki kelebihan dari kawan-kawannya. Karena itu, maka ia pun bertanya pula, “Siapakah yang mencoba melarikan diri itu?”

“Seseorang yang langsung dikirim oleh pemimpin kami di Mataram.”

“Jangan sebut Mataram,” bentak Swandaru, “kau kira kami tidak mengetahui bahwa kalian bukan orang-orang Mataram.”

“Kami orang-orang Mataram.”

“Coba ulangi,” sekali lagi Swandaru membentak sambil mengangkat cambuknya.

Orang itu menjadi pucat, lalu katanya tergagap, “Tetapi, tetapi kami mendapat perintah untuk mengaku orang Mataram.”

“Nah, jika demikian masih mungkin. Kalian memang mendapat perintah demikian,” sahut Kiai Gringsing, lalu, “siapa orang yang mencoba melarikan diri itu?”

“Ia adalah seseorang yang diperbantukan kepada kami oleh pimpinan kami yang lebih tinggi lagi, yang, yang sepengetahuan kami memang berada di Mataram dan Pajang.”

“Jika demikian orang itu termasuk orang yang penting.”

Orang itu menganggukkan kepalanya.

Barulah Kiai Gringsing sadar, bahwa ia telah terseret oleh gejolak perasaannya, justru karena orang itu telah melukainya, selain orang itu memang orang yang licik.

Dalam pada itu pemimpin penyerang itu pun telah terbunuh pula, sehingga sulitlah bagi Kiai Gringsing untuk menyelusur orang-orang yang telah menggerakkan mereka.

Namun demikian ia berkata kepada orang-orang itu, “Kalian tawanan prajurit Pajang. Ki Ranadana akan mengurus kalian.”

 

Series 67

 

KI RANADANA seakan-akan tersadar dari mimpi buruknya. Tiba-tiba saja ia menengadahkan kepalanya. Ia adalah perwira Pajang yang mengemban tugas langsung dari Senapati di daerah Selatan ini. Karena itu, maka katanya, “Kalian harus tunduk pada perintah kami.”

Orang-orang itu tidak membantah lagi. Beriringan mereka digiring ke luar pintu butulan setelah mereka meletakkan senjata mereka, sedang Swandaru dan Agung Sedayu telah mendahului turun dan menunggu mereka di longkangan.

Sementara itu, mereka yang bertempur di halaman pun telah dapat dikuasai sepenuhnya. Ada juga di antara mereka yang terbunuh, namun ada juga yang tertawan hidup-hidup, meskipun ada beberapa orang prajurit yang terluka yang kehilangan pengamatan diri dan akan membunuh mereka semuanya.

“Kita memerlukan sebagian dari mereka yang hidup,” berkata perwira yang bertugas di halaman. “Jika mereka terbunuh semuanya, kita akan kehilangan jejak sama sekali.”

“Tetapi apa yang diketahui oleh cucurut-cucurut semacam ini. Mungkin orang-orang yang ada di dalam rumah itulah yang pantas dihidupi sekedar untuk mendapatkan keterangannya. Tetapi orang-orang ini tidak pantas sama sekali.”

“Aku perintahkan, yang masih hidup biarlah tetap hidup,” berkata perwira itu dengan tegas.

Tidak ada seorang pun yang membantah lagi. Bersama-sama tawanan yang ada di dalam rumah, mereka dikumpulkan di sudut halaman belakang di bawah penjagaan yang ketat.

Sejenak kemudian, Ki Ranadana pun mulai memberikan perintah agar semuanya kembali ke tempatnya.

“Usahakan, selain yang bertugas di sini, seolah-olah tidak terjadi sesuatu.”

“Ada beberapa orang peronda telah melihat perkelahian di sini. Agaknya mereka memberikan laporan kepada perwira yang ada di banjar.”

“Kau yakin?”

“Ya.”

“Susul mereka. Katakan bahwa tidak terjadi sesuatu. Cegah agar mereka tidak sampai membunyikan isyarat apa pun juga.”

Dua orang prajurit yang bertugas di regol depan pun segera mengambil kudanya dan berpacu menyusul dua orang peronda yang lewat jalan depan.

Untunglah bahwa belum ada tanda apa pun yang dibunyikan. Kedua prajurit itu sempat memberikan penjelasan apa yang telah terjadi.

Agung Sedayu dan Swandaru pun kemudian siap menjalankan tugas itu. Namun Sumangkar masih memperingatkan, “Sebaiknya biarlah keduanya dikawani oleh satu atau dua orang prajurit Pajang agar perjalanan yang meskipun hanya pendek ini tidak terganggu.”

“O,” Ki Ranadana mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Benar. Dalam keadaan yang serba samar-samar memang mudah timbul salah paham. Biarlah dua orang prajurit mengawaninya sampai ke Banyu Asri.”

Dengan demikian maka perjalanan Agung Sedayu dan Swandaru pun disertai dua orang prajurit yang mendapat pesan, agar keduanya tidak memberikan keterangan kepada siapa pun juga supaya tidak terjadi salah paham.

“Katakan kepada siapa pun juga, bahwa besok mereka akan mengetahui dengan pasti apa yang sudah terjadi di sini,” berkata Ki Ranadana.

“Baiklah,” jawab prajurit-prajurit itu. Dan mereka pun mengerti bahwa keterangan-keterangan yang tidak lengkap, hanya akan menambah bahan pembicaraan yang kadang-kadang semakin jauh dari kenyataan yang sebenarnya.

Sejenak kemudian maka keempat orang itu pun segera pergi ke Banyu Asri. Meskipun jarak itu tidak dapat disebut jauh, namun mereka telah mempergunakan kuda untuk mempercepat perjalanan.

Untunglah bahwa di antara mereka terdapat dua orang prajurit Pajang seperti yang diusulkan oleh Sumangkar sehingga di setiap gardu, mereka dapat segera lolos tanpa banyak persoalan, meskipun di setiap gardu mereka benar-benar telah dihentikan dan dicurigai.

Tanpa kedua prajurit itu, Agung Sedayu dan Swandaru justru pasti sudah ditahan. Ada di antara para prajurit yang masih saja mencurigai Agung Sedayu sejak Agung Sedayu datang dan berkelahi dengan seorang perwira yang kebetulan kali ini dibawa serta oleh Untara dengan sengaja, meskipun alasannya adalah alasan hari-hari perkawinannya. Tetapi Untara memang berusaha memisahkan perwira muda itu dari adiknya, tanpa hadirnya dirinya sendiri.

Ketika mereka memasuki rumah Widura, ternyata rumah itu masih terang benderang dan semua pintu tampaknya masih belum tertutup. Agaknya seperti yang direncanakan, Widura mengadakan jamuan semalam suntuk untuk keselamatan kemanakannya Untara yang sedang menjalani hari-hari perkawinannya

Kedatangan Agung Sedayu, Swandaru, dan kedua prajurit itu telah menimbulkan persoalan-persoalan di setiap hati. Ternyata bahwa desas-desus tentang sesuatu yang terjadi itu telah sampai di telinga para petugas sandi di rumah Untara meskipun hal itu masih belum begitu jelas bagi mereka. Namun sebagai seorang prajurit, maka setiap keterangan tetap merupakan bahan yang harus dicernakannya.

Itulah sebabnya maka ketika mereka melihat Agung Sedayu dan Swandaru datang diiringi oleh dua orang prajurit, maka mereka pun telah bersiap pula di dalam keadaan masing-masing. Mereka yang berada di bagian belakang pun segera duduk di serambi sambil berbicara yang seorang dengan yang lain. Sedang yang ada di bagian depan pun segera naik pula ke pendapa dan duduk di atas tikar yang terbentang dalam pakaian lengkap dengan sebilah keris di lambung.

Agung Sedayu dan Swandaru pun mengerti, bahwa di antara sekian orang yang duduk tirakatan itu terdapat beberapa prajurit Pajang.

Meskipun demikian, maka ternyata bahwa pamannya cukup mengerti akan keadaannya, sehingga ketika ia melihat kemanakannya itu datang, langsung dibawanya masuk ke ruang dalam, “Mari, marilah Agung Sedayu dan Angger Swandaru. Kalian tentu belum makan. Kami mempersilahkan kalian langsung saja untuk mengambil makan kalian berdua.” Sedang kepada kedua prajurit Pajang ia berkata, “Duduklah di pringgitan. Kalian pun harus makan lebih dahulu. Yang lain agaknya baru saja mendahului karena kami tidak tahu bahwa kalian akan datang.”

Agung Sedayu dan Swandaru tidak membantah. Kedua prajurit yang menyertainya pun tidak. Ternyata meskipun Widura sudah bukan prajurit lagi, namun ia masih tetap bersikap seperti seorang prajurit.

Kedua prajurit itu pun segera duduk di pringgitan. Seseorang kemudian menghidangkan makan dan minuman hangat kepada mereka.

“Silahkanlah,” berkata Widura yang kemudian datang kepada kedua orang prajurit itu.

Keduanya ragu-ragu sejenak, namun salah seorang kemudian berkata, “Apakah kami diperkenankan mencuci diri sebentar.”

“O,” Widura tertawa. Ia tahu bahwa keduanya pasti baru saja berkelahi. Bahkan salah seorang dari padanya masih tampak sangat payah dan bahkan sepercik darah telah menodai bajunya.

Baru setelah keduanya duduk kembali setelah membersihkan tangan dan kaki, mereka pun makan dengan lahapnya. Memang terasa nyaman sekali makan dan minum setelah mereka memeras tenaga dalam perkelahian yang cukup berat.

“Ada juga untungnya,” gumam salah seorang dari keduanya. “Semula aku menggerutu ketika aku ditunjuk untuk pergi. Rasa-rasanya terlalu malas berkuda di malam hari setelah berkelahi mati-matian. Tetapi ternyata kitalah yang paling beruntung.”

Kawannya tersenyum. Katanya, “Yang lain akan ganti meggerutu jika mereka tahu, di sini kita mendapat makan yang lengkap dan yang tidak kita temui sehari-hari. Bagaimana pun juga kita berada di tempat perhelatan.”

Keduanya pun mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak lagi berbicara karena mulut mereka sedang sibuk mengunyah.

Dalam pada itu di ruang dalam, Agung Sedayu dan Swandaru pun sudah dipersilahkan makan oleh pamannya. Setelah mereka membersihkan diri pula. Sedangkan Widura sendiri telah duduk pula di hadapan mereka.

Ketika Agung Sedayu dan Swandaru mulai menyuapi mulutnya, maka mulailah pamannya bertanya, “Apakah mereka benar-benar datang ke rumah itu?”

Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk hampir bersamaan.

“Mereka telah datang,” sahut Agung Sedayu. “Kami datang kepada Paman untuk menyampaikan pemberitahuan itu.”

Ki Widura mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Dan kalian harus bertempur?” ia bertanya pula.

“Ya, kami harus bertempur,” jawab Agung Sedayu pula, “Guru terluka.”

“He,” Widura terkejut, “Kiai Gringsing terluka? Siapakah lawannya?”

“Tetapi tidak apa-apa. Maksudku, hanya luka ringan. Ia harus melawan beberapa orang pilihan. Salah seorang dari mereka mempunyai kemampuan yang tinggi, tetapi sangat licik. Ternyata orang itu adalah orang yang dikirim langsung oleh pimpinan mereka untuk membinasakan para perwira. Tetapi ia langsung bertemu dengan guru.”

“Bagaimana Kiai Gringsing dapat terluka?”

Agung Sedayu pun kemudian menceritakan serba sedikit apa yang telah terjadi atas gurunya. Hampir di luar dugaan, bahwa orang itu masih mampu melemparkan sebilah pisau dengan cepat sekali. Dan agaknya gurunya pun lengah waktu itu.

“Ia termasuk salah seorang yang sedikit jumlahnya yang pernah berhasil melukai Kiai Gringsing,” berkata Widura. “Aku hampir tidak pernah melihat ia terluka di dalam pertempuran yang bagaimana pun juga, melawan orang-orang yang paling terpuji kemampuannya.”

Agung Sedayu dan Swandaru tidak menjawab. Dan Widura berkata seterusnya. “Namun bagaimana pun juga itu merupakan suatu gambaran, bahwa yang datang ke rumah itu bukannya sekedar orang-orang yang berani dan terpilih saja antara mereka, tetapi benar-benar orang yang berkemampuan tinggi. Jika yang dihadapinya bukan Kiai Gringsing, maka akan dapat digambarkan, apa akibatnya.”

Agung Sedayu pun menceritakan bahwa ada dua orang yang sebenarnya memiliki kemampuan yang tinggi. Yang seorang hampir saja berhasil membinasakan Ki Ranadana. Untunglah, bahwa masih ada kesempatan untuk menyelamatkannya.

Ki Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Benar-benar suatu rencana yang tersusun rapi. Jika tidak diketahui sebelumnya oleh Kiai Gringsing, maka para perwira itu akan benar-benar ditumpas oleh mereka, dengan kesan bahwa orang-orang Mataram-lah yang melakukannya. Suatu usaha yang berani dan hampir saja berhasil menghancurkan Pajang dan Mataram sekaligus.”

Agung Sedayu dan Swandaru masih saja mengangguk-angguk sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya. Mereka pun menyadari betapa bahaya yang sebenarnya dapat mengancam keselamatan para perwira Pajang, dan lebih dari itu, kelangsungan hidup Pajang dan Mataram sendiri, karena jika usaha orang-orang itu berhasil, Pajang dan Mataram pasti akan terlibat dalam suatu benturan yang dahsyat, sedang kedua-duanya masih belum siap untuk melakukannya. Apalagi sebenarnya pada mereka tidak terkandung maksud sama sekali untuk saling berbenturan meskipun agaknya hubungan antara keduanya tidak begitu baik lagi.

“Kita akan berhubungan dengan Ki Lurah Branjangan. Ialah yang akan memaksa orang-orang yang tertangkap itu untuk tidak lagi menyebut dirinya orang-orang Mataram.”

“Sayang, Paman,” berkata Agung Sedayu, “tidak ada orang-orang penting yang tersisa. Dua orang yang agaknya dapat memberikan keterangan telah terbunuh, sedang yang lain adalah sekedar pelaksana yang tidak banyak mengerti tentang tugas mereka sendiri.”

“Baiklah. Tetapi mereka tetap merupakan tawanan yang penting bagi kita.”

“Mereka dijaga baik-baik, Paman.”

“Besok kita akan melihat mereka,” berkata Widura, “sekarang makanlah banyak-banyak, lalu kembalilah kepada Ki Ranadana. Katakanlah bahwa besok kami akan datang pagi-pagi benar.”

“Baiklah, Paman,” jawab Agung Sedayu.

“Teruskanlah. Aku akan pergi menemui Ki Lurah Branjangan.”

Widura pun kemudian meninggalkan kedua anak-anak muda itu pergi ke gandok menemui tamunya yang datang dari Mataram.

Sepeninggal Ki Wudura. Swandaru justru menyendok nasi lebih banyak lagi sambil bergumam, “Tidak ada yang disegani lagi sekarang. Makanlah seperti biasa. Daging ayam lembaran, bubuk dele, pecel lele. Sedap sekali.”

Agung Sedayu tidak menyahut, tetapi ia hanya tersenyum saja melihat mangkuk nasi Swandaru justru menjadi semakin penuh meskipun yang dikunyahnya sudah sebanyak yang tersisa itu pula.

Ketika Widura turun ke longkangan di sebelah gandok, ternyata langit telah menjadi kemerah-merahan. Fajar sudah mulai membayang. Karena itu, maka ia berkata kepada diri sendiri, “Sebentar lagi kami harus sudah berangkat ke rumah Untara itu.”

Ternyata Ki Lurah Branjangan yang berada di gandok masih tidur mendekur. Tetapi bagaimana pun juga mereka serombongan adalah sepasukan prajurit Mataram meskipun belum menyebut dirinya demikian, sehingga ada di antara mereka yang seolah-olah bertugas jaga di antara mereka sendiri. Ketika Widura memasuki gandok dilihatnya dua orang di antara mereka duduk bersila di belakang pintu bilik. Dua helai pedang tersandar di dinding dekat di samping mereka, sedang keris mereka masing-masing tetap berada di lambung.

Ketika mereka melihat Widura memasuki ruangan itu, maka mereka pun segera bergeser dan mempersilahkan, “Marilah Ki Widura.”

Widura tersenyum. Kemudian sambil duduk di antara mereka ia berkata, “Ki Lurah masih tidur?”

“Ya. Ia tidur nyenyak sekali tampaknya.”

“Aku memerlukannya.”

“O,” kedua orang itu mengerutkan keningnya. Salah seorang di antara mereka pun kemudian berkata, “Aku akan membangunkannya, Ki Widura.”

Sejenak kemudian sambil mengusap matanya Ki Lurah Branjangan pun segera duduk menemui Widura. Tampak dari wajahnya bahwa ia sudah mulai meraba-raba, apakah kiranya yang telah terjadi.

“Ki Lurah,” berkata Widura,” ada sekelompok orang-orang Mataram yang datang menyerang rumah para perwira Pajang dengan diam-diam.”

“He? Orang Mataram?”

“Seperti yang kau cemaskan Ki Lurah. Tetapi sebaiknya Ki Lurah melihatnya. Mungkin di antaranya benar-benar ada orang Mataram. Maksudku, orang-orang yang dengan sengaja menyusup ke Mataram untuk sekedar membuat hubungan yang keruh ini menjadi semakin keruh. Aku yakin bahwa ada di antara mereka yang memasuki tubuh Mataram, dan ada yang tinggal di Pajang.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku juga berpendapat demikian. Itulah sebabnya aku berada di sini.”

“Silahkan berkemas Ki Lurah. Kita akan pergi ke Jati Anom sejenak, untuk melihat orang-orang yang mengaku dirinya orang-orang Mataram itu.”

“Baiklah. Aku akan mandi sebentar.”

Ki Lurah Branjangan pun segera mandi dan berpakaian rapi, seperti ketika ia datang menyampaikan sumbangan dari Raden Sutawijaya untuk Untara.

“Aku ingin mempersilahkan kalian makan lebih dahulu,” berkata Widura ketika Ki Lurah Branjangan telah siap.

“Ah, sepagi ini?”

“Mungkin Ki Lurah akan sibuk dan tidak sempat makan pagi nanti.”

“Aku makan kapan saja ada kesempatan. Aku tidak mudah menjadi lapar meskipun sehari aku tidak makan.”

“Dan kesempatan itu ada sekarang.”

Ki Lurah. Branjangan mengerutkan keningnya, lalu sambil tertawa ia berkata, “Baiklah. Bukankah rumah ini sedang mengadakan perhelatan? Tentu makan dan minuman panas tersedia setiap saat. Siang dan malam. Juga di pagi-pagi buta ini.”

Demikianlah setelah Ki Lurah Branjangan makan pagi, maka mereka pun segera pergi ke rumah Untara yang dipergunakan oleh para perwira itu. Widura, Agung Sedayu, Swandaru, Ki Lurah Branjangan bersama beberapa orang pengiringnya, dan kedua prajurit Pajang yang datang bersama Agung Sedayu dan Swandaru. Sedang para perwira yang sedang berada di rumah Widura justru dipersilahkan untuk tinggal sejenak.

Demikianlah beberapa saat kemudian mereka pun telah sampai. Ki Ranadana segera menyambut kedatangan mereka. Dipersilahkannya mereka duduk di pendapa, di sebelah beberapa sosok mayat yang terbujur diam.

“Inilah sebagian dari mereka,” berkata Ki Ranadana, “sayang bahwa orang-orang terpenting dari mereka telah terbunuh.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya, sayang. Jika mereka tertangkap hidup, maka mereka akan dapat diperas untuk mengatakan sesuatu tentang diri mereka.”

“Aku tidak ingin membunuh,” berkata Sumangkar kemudian, “tetapi sayang, begitu cepat dan tiba-tiba hal itu terjadi.”

“Ya, Ki Sumangkar tidak dapat berbuat lain daripada membunuhnya,” sahut Ki Ranadana. “Jika tidak, akulah yang terbunuh saat itu.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Di manakah di antara mereka yang masih hidup?”

“Di belakang. Di kebun belakang.”

“Apakah aku boleh menemui mereka.”

“Marilah.”

Ki Lurah Branjangan bersama Ki Ranadana, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar pun segera pergi ke kebun belakang. Agung Sedayu dan Swandaru pun mengikuti mereka pula.

Sejenak kemudian Ki Lurah Branjangan telah berada di hadapan para tawanan itu. Sejenak ia mengamat-amati mereka seorang demi seorang, selagi langit menjadi semakin cerah.

“Aku adalah seorang Lurah prajurit dari Pajang,” berkata Ki Lurah Branjangan, “kalian harus menjawab pertanyaanku sebaik-baiknya. Kau harus tahu, bahwa di hadapan seorang perwira, seseorang tidak boleh berbohong.”

Para tawanan itu menjadi ragu-ragu sejenak. Namun jantung mereka terasa berdebaran.

Sambil menunjuk seseorang yang berkumis lebat, Ki Lurah Branjangan berkata, “Jawab pertanyaanku. Dari manakah kalian datang dan untuk apa?”

Orang itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Kami adalah prajurit-prajurit Mataram yang mendapat tugas untuk membunuh para perwira Pajang di sini.”

“Kenapa?” bertanya Ki Lurah Branjangan. “Kenapa perwira Pajang harus dibunuh? Jika berkesempatan kalian tentu akan membunuh aku juga.”

“Pajang harus dimusnahkan.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi kau prajurit Mataram?”

“Ya.”

“Siapakah pemimpinmu? Pemimpinmu yang terbunuh itu?”

Orang berkumis itu ragu-ragu sejenak. Dipandanginya beberapa orang kawannya sebelum ia menjawab. Namun sebuah tarikan pada bajunya membuatnya tergagap, “Ya, ya. Ia pemimpin kami.”

“Siapa namanya?”

“Yang kami tahu, namanya Soma Katik.”

“Kau dapat menyebut seribu nama. Tetapi siapakah orang itu sebenarnya?”

“Soma Katik. Aku tidak tahu lebih dari namanya.”

“Bohong!” Ki Lurah Branjangan telah mengguncang baju orang itu sehingga ia turut terguncang pula.

“Ya, ya. Aku tidak tahu lebih dari itu.”

“Bagaimana mungkin kau berada di dalam pasukannya?”

“Kami memang orang-orang Mataram.”

“Tutup mulutmu!” bentak Ki Lurah Branjangan. “Jadi kau masih menyebut dirimu orang Mataram? Orang-orang Mataram dapat mengenal pemimpinnya dengan baik. Seorang demi seorang, karena jumlahnya memang belum banyak.”

Orang itu memandang Ki Lurah Branjangan dengan ragu-ragu. Kemudian katanya, “Maksudku, kami adalah orang-orang Mataram dari kerajaan yang kami susun sendiri.”

“Eh, jadi kau ikut juga menyusun Kerajaan Mataram?”

“Maksudku, pemimpin-pemimpin kami. Dan kami adalah prajurit-prajuritnya yang harus mengabdi sejauh-jauh dapat kami lakukan, agar kelak kami dapat menjadi seorang yang berkedudukan baik apabila kerajaan kami itu benar-benar sudah berdiri.”

“Jadi apa hubungannya dengan Mataram yang ada sekarang, maksudku dengan Raden Sutawijaya.”

“Pemimpin kami adalah Raden Sutawijaya.”

Ki Lurah Branjangan tidak dapat menahan dirinya, sehingga tiba-tiba saja ia sudah menampar mulut orang berkumis itu. “Gila kau!” teriaknya.

“Jangan, jangan,” orang berkumis itu pun berteriak, sedang kawan-kawannya menjadi sangat berdebar-debar pula.

Tetapi tiba-tiba Ki Lurah Branjangan itu tersenyum, lalu, “Raden Sutawijaya. Ya, Raden Sutawijaya memang pemimpin tertinggi Mataram. Jadi kau mengabdi kepada Raden Sutawijaya?”

Orang itu ragu-ragu sejenak, lalu perlahan-lahan ia mengangguk.

“Sutawijaya pulalah yang membuka hutan Mentaok itu. Jadi kau seorang di antara orang-orang yang menebas hutan itu?”

Orang itu masih tampak ragu-ragu. Tetapi sekali lagi ia mengangguk.

“Jadi bagaimana dengan hantu-hantu? Aku dengar di Alas Mentaok banyak hantu-hantu?”

“O, ya. Di Alas Mentaok memang banyak terdapat hantu-hantu.”

“Kau tidak takut hantu?”

“Kami bekerja bersama dengan hantu-hantu.”

Ki Lurah Branjangan yang tersenyum-senyum itu tiba-tiba menggeram. Dengan suara yang serak ia bertanya, “Kalian pernah datang ke Mataram yang kau sebut-sebut itu?”

Pertanyaan itu membuat orang berkumis itu menjadi pucat.

“Jawablah, apakah kau pernah datang ke Mataram seperti yang kau sebutkan itu? Jika kau orang Mataram, kau pasti dapat mengatakan sesuatu tentang Mataram itu”

Orang itu menjadi gemetar.

Dengan sekali dorong, orang itu pun jatuh, terlentang di antara kawan-kawannya. Ki Lurah Branjangan yang masih berwajah merah itu berkata, “Siapakah yang masih akan menjawab bahwa kalian adalah orang-orang Mataram?”

Tidak seorang pun lagi yang menyahut.

“Siapa?” ulang Ki Lurah Branjangan.

“Tidak ada?” Ki Lurah Branjangan memandang mereka seorang demi seorang dalam cahaya matahari pagi yang sudah mulai naik di atas cakrawala.

“Kalian memang orang-orang gila. Kalian mengatakan apa yang tidak kalian ketahui sama sekali. Hantu-hantu, Kerajaan Mataram dan Sutawijaya.” Ki Lurah Branjangan berhenti sejenak, lalu, “Untunglah bahwa kalian segera mengaku, dan aku tahu bahwa kalian memang tidak tahu apa-apa, karena kalian hanyalah orang-orang yang tidak punya nalar, sekedar mendapat perintah dari orang yang tidak kau kenal pula. Apakah keuntungan kalian berbuat demikian? Janji untuk menjadi tumenggung, atau bupati atau mantri dan lurah?” Sekali lagi Ki Lurah Branjangan berhenti berbicara. Wajahnya masih juga merah, seperti langit di ujung gunung Merapi. “Ketahuilah, bahwa aku adalah Ki Lurah Branjangan dari Mataram.”

Pengakuan itu telah mendebarkan jantung orang-orang yang tertawan itu. Sejenak mereka saling berpandangan, lalu dengan mata yang seakan-akan tidak berkedip mereka memandang Ki Lurah Branjangan yang berdiri tegak seperti patung.

“Pandanglah aku baik-baik. Aku datang dari Mataram bersama beberapa orang pengiring. Dan kau harus yakin, bahwa usahamu telah gagal sama sekali untuk membenturkan Pajang dan Mataram dengan cara yang sangat licik ini,” suaranya menjadi semakin keras. “Sayang, aku hanya berbicara dengan cucurut-cucurut kecil. Aku ingin suaraku didengar oleh pemimpin-pemimpin tertinggimu. Mereka harus tahu, seperti Pajang, Mataram juga sudah siap menghadapi orang-orang macam mereka itu. Macam kalian dan hantu-hantu yang sudah dapat kami ketahui sarangnya, dan yang kini sudah kamanungsan.”

Tidak seorang pun dari antara mereka yang mengucapkan kata-kata, bahkan kepala mereka pun segera tertunduk dalam-dalam.

“Aku akan membawa mereka ke Mataram,” berkata Ki Lurah Branjangan kepada Ki Ranadana,

Tetapi Ki Ranadana menggelengkan kepalanya. Katanya, “Pajang masih memerlukan mereka. Mudah-mudahan ada jalur yang dapat kami pergunakan untuk menemukan pemimpin mereka.”

Ki Lurah Branjangan mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak membantah. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya sekali lagi ia memandang orang-orang itu satu demi satu.

“Sayang,” katanya, “orang-orang penting di antara kalian telah meninggal.”

Tidak ada jawaban apa pun juga.

“Aku sudah cukup Ki Ranadana,” berkata Ki Lurah Branjangan. “Aku kira aku sudah dapat meyakinkan, bahwa orang-orang ini memang benar-benar bukan orang Mataram. Meskipun aku kira di antara mereka yang menjadi pimpinan dari kelompok ini ada yang berada di Mataram dan ada yang berada di Pajang. Kita akan sama-sama dapat membuat laporan kepada atasan kita, agar kita tidak terjerumus ke dalam keadaan yang sama-sama tidak kita kehendaki.”

“Ya,” Ki Ranadana mengangguk-anggukkan kepalanya, “kehadiran Ki Lurah Branjangan ternyata tidak sia-sia. Apa yang kau cemaskan telah terjadi di sini. Dan kau dapat meyakinkan kami bahwa mereka memang benar-benar bukan orang Mataram.”

Ki Lurah Branjangan tidak menjawab. Hanya kepalanya sajalah yang terangguk-angguk.

“Baiklah,” berkata Ki Ranadana, “biarlah mereka berada di situ. Marilah kita kembali ke pendapa. Sebentar lagi kita harus menyelenggarakan penguburan mayat-mayat itu.”

Mereka pun kemudian duduk kembali di pendapa. Tetapi rasa-rasanya mereka tidak tenang duduk di sebelah mayat-mayat yang berjajar-jajar meskipun mereka adalah prajurit-prajurit yang berpengalaman di medan perang.

“Ki Ranadana,” berkata Ki Lurah Branjangan, “aku tidak mempersoalkannya di hadapan orang-orang yang tertawan itu. Tetapi sebenarnya aku ingin membawa orang itu ke Mataram karena mereka mengaku orang-orang Mataram. Aku ingin membuktikan kepada Raden Sutawijaya bahwa kedudukannya benar-benar dalam keadaan yang goyah. Bukan karena ayahanda Sultan Pajang sendiri, tetapi oleh orang-orang yang tidak menyukainya. Yang mencoba mempergunakan hubungan yang memang agak kurang baik pada permulaan kerja kami membuka hutan-hutan di Mentaok, tetapi yang tidak berarti bahwa untuk selanjutnya hubungan itu akan bertambah keruh.”

“Maaf, Ki Lurah Branjangan,” jawab Ki Ranadana, “yang terjadi ini adalah di daerah kami. Daerah yang diserahkan kepada kami, dalam hal ini sebagai wakil Ki Untara. Aku harus menyelesaikan semua persoalan. Aku harus melaporkan apa yang terjadi bersama orang-orangnya sama sekali. Jika semuanya sudah diterima oleh atasanku, dan mereka mengijinkan Ki Lurah Branjangan untuk membawanya, aku sama sekali tidak berkeberatan. Jika tidak semua, mungkin dua tiga orang. Tetapi terserahlah kepada para senapati tertinggi di Pajang yang akan mengambil keputusan terakhir, termasuk Ki Untara sendiri.”

Ki Lurah Brajangan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti, bahwa Ki Ranadana memang tidak dapat melepaskan orang-orang itu. Karena itu, maka ia pun berniat untuk menunggu sampai Untara datang.

Setelah berpikir sejenak, maka ia pun kemudian berkata, “Jadi apakah menurut Ki Ranadana, aku sebaiknya menunggu Ki Untara?”

“Jika Ki Lurah Branjangan dapat menunggu, aku kira tidak ada jeleknya, meskipun sudah tentu Ki Lurah tidak akan dapat mempersoalkannya setelah Ki Untara datang tanpa memberinya kesempatan untuk beristirahat dan melepaskan diri dan kesibukan pekerjaannya.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Benar juga kata-kata Ki Ranadana. Ia tidak akan dapat langsung membicarakannya begitu Untara datang, karena ia tidak datang seorang diri. Ia akan datang bersama isterinya.

“Jadi, bagaimanakah sebaiknya, Ki Ranadana?” bertanya Ki Lurah Branjangan.

“Persoalannya sudah jelas. Ki Lurah ingin membawa bukti kepada Raden Sutawijaya, bahwa sejenis bahaya yang tidak dapat diabaikan sebenarnyalah memang ada, seperti hantu-hantu yang pernah mengganggu pembukaan hutan Mataram, meskipun dalam ujud yang berbeda. Tetapi Ki Lurah Branjangan tidak dapat tergesa-gesa. Dengan demikian, maka terserah kepada Ki Lurah, apakah Ki Lurah Branjangan akan menunggu di sini atau akan mengambil suatu tindakan lain.”

Ki Lurah menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya wajah-wajah yang ada di sekitarnya. Wajah Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan para perwira yang lain.

“Aku akan memikirkannya. Tetapi setidak-tidaknya Ki Ranadana sudah mengetahui persoalannya dan dapat menyampaikannya kepada Ki Untara. Mungkin aku akan mengambil jalan lain. Aku akan kembali ke Mataram, dan pada suatu saat aku akan datang lagi. Mungkin orang-orang ini sudah tidak ada di sini dan aku harus mengambilnya di Pajang.”

Ki Ranadana menarik nafas dalam-dalam. Jika Ki Lurah Branjangan benar-benar pergi ke Pajang, maka ia akan mendapat kesan yang lain. Bahkan seandainya saat itu di Jati Anom ada Ki Ranajaya seorang perwira muda yang mempunyai sikap yang keras terhadap Mataram, dan sempat banyak bertemu dan berbicara, persoalannya pun akan berbeda. Sedangkan di Pajang sikap yang berbeda-beda banyak ditemui di kalangan para perwira, di antaranya adalah mertua Ki Untara.

“Tetapi Ki Lurah Branjangan sendiri adalah bekas seorang perwira Pajang,” berkata Ki Ranadana di dalam hatinya. Dan bagi Ki Ranadana, tidak perlu diingkari, bahwa memang banyak di antara para perwira yang tidak puas melihat perkembangan Pajang di saat-saat terakhir.

Tetapi Ki Ranadana tidak mengatakannya. Ia akan menyerahkan hal itu sepenuhnya kepada Ki Untara, apakah yang akan dilakukannya jika pada suatu saat Ki Lurah Branjangan kembali untuk mendapatkan tawanan itu, meskipun hanya seorang.

Sejenak Ki Lurah Branjangan berpikir. Akhirnya ia merubah keputusannya untuk menunggu Untara, karena dirasakan akan memakan waktu terlalu lama. Karena itu, agaknya lebih baik baginya kembali saja ke Mataram, dan di saat yang lain kembali ke Jati Anom.

“Aku akan meninggalkan pesan saja,” berkata Ki Lurah Branjangan. “Jika aku menunggu, maka Raden Sutawijaya pasti akan menjadi gelisah. Disangkanya aku menjumpai halangan di sini. Karena itu, aku akan memilih jalan yang kedua. Kembali ke Mataram dan beberapa waktu kemudian datang lagi ke Jati Anom. Aku minta persoalannya telah diketahui oleh Ki Untara, dan akan lebih baik jika beberapa orang yang dapat kami bawa ke Mataram itu tetap tinggal di sini.”

“Tugas yang berat bagi kami,” sahut Ki Ranadana, “bukankah selama itu kita harus menjaganya?”

Ki Lurah Branjangan tersenyum. Jawabnya, “Hanya dua tiga orang saja. Aku kira bukan tugas yang sulit bagi prajurit Pajang yang kuat yang berada di Jati Anom.”

Ki Ranadana pun tertawa. Katanya, “Aku akan menyampaikannya. Keputusan terakhir tidak ada padaku, tetapi ada pada Ki Untara.”

“Aku mengerti,” Ki Lurah Branjangan pun menganggukkan kepalanya, lalu, “dengan demikian maka aku kira persoalan ini menjadi jelas. Aku akan kembali ke rumah Ki Widura untuk berkemas. Aku masih menunggu perkembangan keadaan sehari ini. Besok pagi-pagi aku akan kembali ke Mataram.”

Ki Ranadana mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Silahkan. Tetapi setiap saat kami akan minta Ki Lurah datang meskipun hanya hari ini, selama kami mengadakan pemeriksaan pendahuluan atas para tawanan itu.”

“Aku bersedia sampai malam nanti. Aku akan datang setiap saat aku dipanggil.”

Demikianlah Ki Lurah Branjangan pun kembali bersama Ki Widura ke Banyu Asri. Ternyata Ki Widura sudah tidak ingin mencampuri persoalan para prajurit itu terlampau banyak. Hanya dalam keadaan yang penting sajalah ia bersedia untuk berbuat sesuatu yang berada di dalam lingkungan keprajuritan.

Demikianlah mereka berdua hampir tidak berbicara apa pun di sepanjang perjalanan. Ki Lurah Branjangan sedang mereka-reka tindakan apakah yang sebaiknya dilakukan oleh Mataram menghadapi kenyataan itu, sedang Widura dipengaruhi oleh gambaran-gambaran yang buram yang dapat membatasi hubungan Pajang dan Mataram, sehingga jarak antara kedua kekuasaan resmi atau tidak resmi itu, menjadi semakin jauh.

Meskipun demikian ternyata Ki Lurah Branjangan masih mengharap kelak akan dapat membawa seorang atau dua orang dari antara para tawanan itu sebagai bahan yang langsung dapat didengar oleh pemimpin tertinggi di Mataram.

Sementara itu, sepeninggal Ki Lurah Branjangan, Ki Ranadana pun segera memerintahkan anak buahnya untuk berbuat sesuatu atas mayat-mayat yang masih terbaring di pendapa. Sedang yang lain mendapat tugas untuk mengurus para tawanan dan menempatkan dalam ruang yang dapat diawasi.

Selain tugas-tugas itu, maka Ki Ranadana pun segera memberitahukan kepada semua perwira dan pemimpin pasukan yang ada di Jati Anom tentang apa yang sebenarnya telah terjadi. Mereka tidak boleh mengadakan tanggapan yang dapat mengeruhkan suasana damai di Jati Anom.

“Biarlah rakyat Jati Anom menunggu pengantin mereka dengan tenang. Jika satu dua orang mengetahui apa yang terjadi, mereka harus yakin, bahwa yang terjadi itu bukan suatu yang perlu menggelisahkan hati. Yang terjadi hanyalah sekedar pengacauan saat-saat Ki Untara melewati hari-hari pengantinnya. Pengacauan yang tidak berarti. Mereka sengaja membuat hari-hari yang penting bagi Ki Untara ini menjadi keruh. Karena itu, janganlah menambah dengan kekeruhan-kekeruhan baru. Prajurit-prajurit Pajang telah siap menjaga segala kemungkinan yang dapat terjadi. Seandainya hal seperti ini akan terulang, maka akibatnya pun sama sekali tidak akan menyentuh rakyat Jati Anom. Dan jangan sekali-sekali menghubungkan kekacauan ini dengan daerah mana pun juga di wilayah kekuasaan Pajang. Yang datang mengacau itu adalah sekelompok orang yang datang dari banyak penjuru,” pesan Ki Ranadana kepada setiap prajurit lewat pemimpin-pemimpin mereka.

Meskipun masih banyak pertanyaan yang timbul di hati setiap prajurit dan rakyat di Jati Anom, namun pesan Ki Ranadana itu telah sedikit memberikan ketenangan di hati mereka. Mereka percaya bahwa Ki Ranadana berkata sebenarnya. Bukan sekedar untuk menenangkan mereka saja. Apalagi mereka melihat kenyataan bahwa tidak ada seorang perwira pun yang terbunuh, meskipun ada juga beberapa prajurit yang terluka. Namun jelas, bahwa prajurit Pajang dalam waktu singkat berhasil menguasai kekacauan yang terjadi itu.

Dengan demikian maka kepercayaan rakyat Jati Anom kepada prajuritnya menjadi semakin kuat.

Dalam pada itu, ketika mayat yang berjajar di pendapa itu sudah dikuburkan sebagaimana seharusnya, mulailah Ki Ranadana bersama beberapa orang perwira memeriksa seorang demi seorang dari para tawanannya. Namun sebagian terbesar dari jawaban mereka sama sekali tidak dapat memberikan gambaran yang pasti tentang usaha mereka yang sebenarnya. Tentang pemimpin mereka dan tentang kekuatan yang ada pada mereka. Satu dua di antara mereka pernah mendengar nama Ki Damar dan Ki Telapak Jalak selagi pemimpin mereka berbicara dengan orang-orang yang tidak dikenal. Tetapi mereka seakan-akan sengaja dipisahkan dari jalur yang menghubungkan mereka dengan pemimpin-pemimpin tertinggi mereka.

Karena itu, maka Ki Ranadana tidak merasa perlu untuk menghubungi Ki Lurah Branjangan lagi. Biarlah ia beristirahat dan menyiapkan perjalanannya kembali bersama pengiringnya ke Mataram.

Demikianlah maka Ki Lurah Branjangan pun menyadari, agaknya ia memang tidak diperlukan lagi. Apa yang dilakukannya sudah cukup meyakinkan, bahwa orang-orang itu benar-benar bukan orang Mataram. Bahkan mungkin ada di antara mereka yang sudah mengaku, asal dan daerah tempat tinggal masing-masing.

Malam berikutnya, adalah malam yang terlampau sepi bagi Jati Anom. Bagaimana pun juga ada semacam perasaan ngeri merayap setiap hati. Meskipun mereka percaya bahwa prajurit Pajang akan melindungi mereka, tetapi bagi mereka, lebih baik berbaring di pembaringan dari pada berada di jalan-jalan yang senyap. Bahkan ada juga satu dua orang yang menyediakan senjata di bawah tikar, atau digantungkan pada dinding di samping pembaringan. Seandainya ada juga bahaya yang datang, mereka harus berbuat sesuatu untuk kampung halaman mereka.

Namun pada malam itu, sebenarnya adalah malam yang paling aman bagi Jati Anom. Di setiap gardu jumlah peronda ditambah menjadi dua kali lipat. Peronda-peronda yang berjalan berkeliling padukuhan diperbanyak pula dan hubungan prajurit berkuda antara padukuhan yang satu dan padukuhan yang lain menjadi semakin sering dilakukan. Bahkan prajurit-prajurit yang biasanya tidur di banjar dan di kademangan, telah berpencar di beberapa tempat untuk menjaga setiap kemungkinan yang dapat terjadi.

Tetapi semua itu dilakukan setelah senja turun, sehingga kesibukan para prajurit itu tidak justru menimbulkan kegelisahan pada hati rakyat Jati Anom.

Namun agaknya malam itu benar-benar malam yang sepi. Meskipun ada juga ketegangan di hati para prajurit yang bertugas, namun ternyata bahwa tidak seorang pun yang lewat memasuki Kademangan Jati Anom. Jalan-jalan menjadi lengang, dan lampu-lampu di setiap rumah cahayanya seakan-akan menjadi redup. Bahkan tidak ada seorang pun yang keluar dari rumahnya pergi ke sawah meskipun mendapat giliran menerima air di malam itu. Hati mereka masih dibayangi oleh peristiwa semalam. Meskipun mereka tidak melihat apa yang terjadi, namun mereka melihat iring-iringan mayat yang dibawa ke kuburan, dan mereka juga melihat prajurit Pajang yang terluka, bahkan ada yang cukup parah.

Prajurit Pajang sendiri menyadari, seandainya mereka belum mengetahui sebelumnya apa yang akan terjadi, mungkin serangan itu sebagian besar akan berhasil. Meskipun seandainya mereka sempat memukul isyarat, namun pasti sudah jatuh korban di rumah kediaman Untara yang dipergunakan oleh para perwira itu. Dan korban-korban itu akan menuntut jatuhnya korban-korban berikutnya, karena tentu orang-orang Pajang akan marah dan menganggap bahwa orang-orang Mataram-lah yang telah melakukannya.

Dan karena itulah maka Ki Ranadana bersyukur di dalam hati. Ternyata orang tua bercambuk itu telah berhasil mencegah suatu benturan yang dahsyat yang dapat terjadi akibat dari peristiwa yang tidak terduga-duga itu seandainya benar-benar terjadi. Karena itu, diucapkan atau tidak diucapkan, maka Ki Ranadana dan setiap prajurit Pajang yang mengetahui persoalan itu selengkapnya akan mengucapkan terima kasih kepada Kiai Gringsing, yang pada malam itu juga terluka meskipun tidak berarti, karena luka itu pasti akan segera sembuh.

Demikianlah perlahan-lahan malam itu pun akhirnya sampai juga pada ujungnya. Ketika langit menjadi merah, maka setiap prajurit yang tegang sepanjang malam menjadi agak lapang. Malam itu ternyata telah mereka lalui tanpa terjadi sesuatu peristiwa yang dapat mengguncangkan ketenteraman Kademangan Jati Anom.

Namun para prajurit itu sadar, bahwa bahaya itu dapat datang bukan saja malam yang lewat. Tetapi masih akan datang lagi malam-malam berikutnya. Bahkan mungkin di siang hari, justru di siang hari prajurit-prajurit Pajang tidak begitu bersiaga seperti di malam hari.

Dalam pada itu, di rumah Ki Widura, Ki Lurah Branjangan telah selesai berkemas. Mereka telah siap meninggalkan rumah Ki Widura kembali ke Mataram.

“Aku mengucapkan terima kasih bahwa Prajurit Pajang telah berhasil mencegah usaha yang keji itu,” berkata Ki Lurah Branjangan kepada Ki Widura. “Jika tidak maka akibatnya akan sangat parah bagi hubungan antara Pajang dan Mataram.”

“Ki Lurah telah melihat sendiri apa yang terjadi di sini,” sahut Widura. “Mudah-mudahan hal ini akan menjadi bahan pertimbangan bagi Raden Sutawijaya yang seakan-akan mengasingkan dirinya dari keluarga istana Pajang.”

Ki Lurah Branjangan mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba ia menganggukkan kepalanya, “Ki Widura benar. Memang Raden Sutawijaya di tengah-tengah hutan belantara yang sedang dibuka. Tetapi aku kira bukan itu soalnya. Raden Sutawijaya dan ayahnya, Ki Gede Pemanahan, terlampau sibuk dengan kerja itu, sehingga masih belum sempat datang menghadap Ayahanda Sultan Pajang. Tetapi tentu bukan maksudnya untuk memisahkan dirinya dari keluarga Sultan Pajang, karena Raden Sutawijaya adalah putera angkatnya yang terkasih, hampir tidak ada bedanya dengan putera Sultan sendiri. Pangeran Benawa.”

Ki Widura tidak menyahut, meskipun kepalanya terangguk-angguk. Yang dikatakan oleh Ki Lurah Branjangan itu adalah sudut pandangan orang-orang Mataram. Namun adalah mustahil bahwa Raden Sutawijaya benar-benar tidak mempunyai waktu sama sekali.

Tetapi Ki Widura tidak mau berbantah dengan seorang perwira Mataram yang pernah menjadi kawannya di dalam lingkungan keprajuritan Pajang. Apalagi kini ia adalah tamunya. Karena itu maka ia pun tidak berusaha membantah meskipun apa yang dikatakan oleh Ki Lurah Branjangan itu tidak sesuai di hatinya.

Ki Lurah Branjangan pun kemudian tidak lagi memperbincangkan Raden Sutawijaya. Sekali lagi ia minta diri untuk segera kembali ke Mataram.

“Selamat jalan, Ki Lurah. Mudah-mudahan tidak ada apa-apa di sepanjang jalan.”

Ki Lurah Branjangan tertawa. Jawabnya, “Mudah-mudahan tidak ada orang Mataram yang menyamun aku di perjalanan.”

Ki Widura pun tertawa pula.

“Aku akan singgah sejenak, untuk minta diri kepada Ki Ranadana. Tetapi aku akan terus melakukan perjalanan tanpa kembali lagi kemari.”

“Silahkan, Ki Lurah,” sahut Widura. “Ki Ranadana akan senang sekali menerimamu. Marilah, aku akan menyertaimu sampai ke rumah Untara itu.”

Demikianlah Ki Lurah Branjangan itu pun singgah sejenak di rumah Untara untuk minta diri kepada orang-orang yang ada di sana. Ki Ranadana, Kiai Gringsing dengan kedua muridnya, Ki Sumangkar, dan perwira-perwira Pajang yang lain.

Demikianlah maka Ki Lurah Branjangan segera mulai dengan perjalanannya menuju ke Mataram. Ke daerah yang baru dibuka dan masih merupakan suatu kerja yang sangat berat, sebelum Mataram menjadi kota yang cukup besar. Ternyata bahwa daerah yang sedang tumbuh itu harus menghadapi tantangan-tantangan yang cukup berat, yang seakan-akan tersebar di segala penjuru tanah Pajang. Hambatan-hambatan itu ada di Alas Mentaok yang sedang dibuka itu, di daerah perbatasan yang tidak nyata antara Pajang dan Mataram. Bahkan di Pajang dan di Mataram sendiri.

Sepeninggal Ki Lurah Branjangan, maka Kiai Gringsing dan kedua muridnya bersama Ki Sumangkar pun segera minta diri kepada Ki Ranadana. Mereka akan tinggal saja di rumah Widura. Terasa di sana lebih nyaman dan tidak terikat oleh keseganan seperti tinggal bersama para perwira itu.

“Kau juga Agung Sedayu?” bertanya Ki Ranadana.

“Ya. Bukankah aku sedang menyelenggarakan perhelatan perkawinan kakakku.”

Ki Ranadana tersenyum. Katanya, “Tetapi rumah ini adalah rumahmu. Jika kau ingin tinggal di sini kau berada di rumahmu sendiri.”

Agung Sedayu tertawa. Tetapi sebelum ia menjawab, Swandaru sudah mendahuluinya, “Di sini tidak ada asap di dapur seperti di rumah Paman Widura sekarang. Jika asap itu sudah lenyap, kami pun akan segera berpindah tempat lagi.”

Semua yang mendengar kata-kata Swandaru itu tertawa. Ki Ranadana tertawa pula. Ia senang melihat anak muda yang gemuk itu. Selain berkelakar, ia pandai juga menggerakkan senjatanya yang aneh itu seperti senjata gurunya. Bahkan ia kagum melihat hasil yang telah dicapai oleh Kiai Gringsing. Ternyata ia telah membentuk kedua muridnya menjadi anak-anak muda yang mengagumkan.

Demikianlah maka Kiai Gringsing beserta murid-muridnya dan Ki Sumangkar segera meninggalkan rumah itu. Sebelum mereka melangkah ke luar regol, Ki Ranadana berkata, “Kami masih selalu memerlukan bantuan Kiai berdua dan kedua anak-anak muda itu.”

Kiai Gringsing tersenyum, “Tentu. Kami akan berusaha sejauh dapat kami lakukan. Kami tidak akan tinggal jauh. Kami masih akan tinggal di rumah Ki Widura menunggu pengantin itu datang.”

“Terima kasih,” sahut Ki Ranadana, “mungkin untuk waktu yang lama sekali setelah Ki Untara hadir di sini, kalian masih tetap kami minta tinggal di sini.”

Kiai Gringsing tidak menjawab. Ia hanya tertawa saja sambil mengangguk-angguk kecil.

Sejenak kemudian, maka mereka pun telah meninggalkan rumah itu. Di sepanjang jalan yang tidak begitu panjang, mereka tidak terlalu banyak berbicara. Mereka melihat prajurit-prajurit Pajang yang selalu siap menghadapi setiap kemungkinan. Siang dan malam. Namun mereka tampaknya berhasil membuat penduduk Jati Anom tidak gelisah, justru merasa tenang melihat kesiagaan para prajurit.

Ternyata bahwa setelah peristiwa yang berhasil disederhanakan oleh para perwira dan prajurit Pajang itu sehingga tidak menegangkan hati orang-orang Jati Anom tidak ada lagi yang terjadi. Kedua orang yang mencoba mencegah kawan-kawannya menyerang rumah itu tetapi terlambat, masih sempat melaporkan kehancuran kawan-kawannya kepada pemimpin-pemimpin mereka yang lebih tinggi di Pajang.

“Gila,” berkata salah seorang dari pemimpin itu, “kita telah terjebak. Siapakah yang dapat ditangkap?”

“Tidak ada yang dapat lepas. Sebagian terbunuh dan sebagian tertangkap hidup.”

Namun akhirnya mereka mendapat keterangan juga, bahwa kedua orang yang justru paling terpercaya dari pasukan itu telah terbunuh. Mereka pun mengetahui pula, bahwa di dalam pertempuran yang terjadi itu terdengar bunyi cambuk yang meledak-ledak.

“Orang bercambuk itu benar-benar berbahaya. Seakan-akan ia berada di segala tempat untuk merintangi tugas-tugas kita. Tetapi kita tidak akan berhenti. Kita akan menyingkirkan Sutawijaya dari Mataram, bagaimana pun juga caranya.”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukan kepalanya. Mereka tetap sependapat bahwa Mataram harus dilebur. Barulah akan bangkit suatu kekuatan baru di Mataram, meskipun tidak dengan tiba-tiba. Perlahan-lahan Mataram akan bangun dengan wajah yang baru sama sekali.

Tetapi di antara mereka ternyata menghendaki lebih daripada itu. Bukan saja Mataram, tetapi Pajang pun harus hancur. Tanpa Pajang yang sekarang, tidak akan ada kekuatan yang dapat mengikat kesatuan tanah ini. Kesempatan untuk bangkit bagi Mataram akan menjadi semakin luas.

Tetapi satu hal yang masih menjadi persoalan, bahwa di antara para pemimpin gerombolan itu, tidak ada seorang yang bernama Raden Sutawijaya atau Ki Gede Pemanahan, atau Ki Penjawi atau Ki Juru Martani, atau nama-nama lain yang mempunyai pengaruh yang cukup. Yang ada hanyalah nama-nama yang tidak dikenal oleh rakyat Pajang pada umumnya, meskipun ada di antara mereka yang memiliki kemampuan seperti Kiai Damar dan Kiai Telapak Jalak. Bahkan perwira Pajang yang terlibat dalam rencana ini pun bukanlah perwira yang namanya lebih besar dari Untara yang muda itu.

Meskipun demikian mereka berusaha terus. Namun mereka mulai curiga di antara mereka sendiri. Jika tidak ada seorang pengkhianat, maka pasukan mereka yang menyerang rumah kediaman para perwira di Jati Anom itu tidak akan terjebak.

Demikianlah, untuk beberapa saat Jati Anom masih tetap tenang. Menjelang hari kelima dari hari perkawinan Untara, maka Jati Anom telah menjadi pulih kembali. Peristiwa yang pernah terjadi di kediaman para perwira itu sudah hampir dilupakan. Baik oleh rakyat Jati Anom mau pun oleh para prajurit Pajang, meskipun mereka tetap berada di dalam kesiap-siagaan.

Di hari yang sudah ditentukan, genap sepasar hari perkawinan Untara, maka rumah Widura pun menjadi ramai.

Hari itu, kedua pengantin akan datang ke Banyu Asri. Di malam harinya akan diadakan upacara sekali lagi mempertemukan pengantin itu dalam upacara ngunduh pengantin. Di hari yang penting itu, bertebaranlah prajurit Pajang memenuhi kademangan. Bahkan di sawah-sawah pun bertebaran prajurit sandi yang ikut bekerja bersama para petani. Mereka memakai pakaian petani dan membawa cangkul di pundak. Tetapi di lambung mereka tergantung sebuah pedang pendek di bawah kain yang mereka singsingkan.

Dengan demikian maka Jati Anom pun menjadi sibuk. Di hari itu, tampaknya sawah yang menebar di seputar padukuhan induk Jati Anom menjadi lebih ramai dari biasanya. Tampaknya petani di Jati Anom menjadi bertambah banyak. Di gubug-gubug di tengah sawah. Di pematang, di tanggul parit, dan di tengah-tengah tanaman jagung yang hampir berbuah.

Namun tidak banyak orang yang menghiraukannya, ada juga satu dua orang lewat yang merasa melihat sesuatu yang agak lain di daerah persawahan itu. Begitu banyak orang yang turun ke sawah pada hari itu. Tetapi mereka tidak menghiraukannya lagi. Sedang bagi orang Jati Anom hal yang serupa itu sudah tidak mengejutkan lagi. Mereka sudah sering melihat prajurit-prajurit sandi yang berkeliaran dalam pakaian seorang petani. Namun agaknya memang tidak sebanyak menjelang datangnya Untara bersama isterinya.

Kesiagaan di hari kelima itu memang agak luar biasa. Mereka bukan semata-mata menjaga keselamatan Untara. Tetapi lebih dari pada itu, mereka menjaga agar peristiwa yang mungkin terjadi itu tidak membakar hati para perwira Pajang dan melemparkan kesalahan kepada orang-orang Mataram.

Menurut utusan yang mendahului, kedua pengantin itu akan datang menjelang sore hari. Mereka beristirahat sejenak, kemudian di malam harinya mereka langsung akan dipersandingkan. Untara sendiri berharap agar semuanya segera selesai, sehingga ia segera dapat melangsungkan tugasnya lagi. Meskipun barangkali ia masih harus beristirahat beberapa hari setelah upacara sepekan itu, namun apabila semuanya sudah selesai, maka ia akan dapat melakukan sebagian tugasnya selagi ia masih beristirahat.

“Pengantin itu berangkat di pagi-pagi benar,” berkata utusan itu, “pengantin laki-laki naik kuda bersama para pengiring, sedang pengantin perempuan naik tandu. Perjalanan mereka tidak akan dapat terlalu cepat. Apalagi di sepanjang jalan, banyak orang yang melihat dan tentu mengganggu perjalanan mereka pula.”

Widura pun segera mempersiapkan penyambutan sebaik-baik dapat dilakukan. Beberapa orang tamu sudah siap di pendapa sejak tengah hari. Bahkan Ki Demang Jati Anom pun telah berada di rumah Widura sejak pagi.

Agung Sedayu dan Swandaru yang menunggu kedatangan pengantin itu pun menjadi tegang pula. Masih terbayang orang-orang yang dengan tiba-tiba saja menyerbu rumah kediaman para perwira. Jika hal itu belum diketahui sebelumnya, maka akibatnya pasti akan mengerikan. Barangkali, demikian Untara datang, maka ia akan segera memimpin pasukan ke Mataram.

“Untunglah, hal itu tidak terjadi,” desis Agung Sedayu.

“Apa?”

“Orang-orang yang malam itu datang menyerbu.”

“O,” Swandaru pun mengerti apa yang dipikirkan oleh Agung Sedayu, karena ia sendiri setiap kali juga memikirkannya.

“Tetapi penjagaan kali ini cukup, bahkan terlalu kuat. Kapan dan dari mana pun datangnya pengacauan, pasti akan diketahui dan dapat dihentikan jauh dari Banyu Asri dan kademangan induk.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang Jati Anom saat itu sudah berpagar prajurit. Dalam pakaian keprajuritan mau pun yang dalam pakaian sandi.

Namun bagi Agung Sedayu, bahaya yang dapat timbul bukan sekedar di Jati Anom. Jalan yang ditempuh oleh Untara cukup panjang sehingga banyak kemungkinan yang dapat terjadi di sepanjang perjalanan itu.

“Apa yang kau pikirkan?” bertanya Swandaru karena Agung Sedayu justru merenung.

“Perjalanan Kakang Untara.”

“Tetapi bagaimana pun juga, tidak ada lagi orang yang dapat melemparkan kesalahan kepada Mataram. Kakang Untara sendiri sudah mengetahuinya, bahwa yang datang mengacau itu sama sekali bukan orang Mataram.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Memang bukan orang Mataram. Tetapi persoalan Mataram sendiri akan semakin berkembang.”

“Ya,” sahut Swandaru, “Mataram akan berkembang sejalan dengan persoalan-persoalannya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Agaknya daerah yang sedang tumbuh itu akan banyak mengalami tantangan yang harus dijawab. Tidak dengan ledakan perasaan, tetapi dengan hati yang dingin dan sikap yang dewasa.

Namun dalam pada itu, orang-orang Jati Anom sendiri hampir tidak menghiraukan lagi persoalan-persoalan yang tumbuh di antara dua pusat kepemimpinan Pajang yang seakan-akan terpecah. Jika yang terjadi itu seperti berkembangnya daerah Pati, maka tidak akan banyak menimbulkan persoalan-persoalan yang rumit. Tetapi Mataram lahir dalam suasana yang tegang.

Lewat tengah hari, telah banyak anak-anak yang berkumpul di pinggir padukahan, di tepi-tepi jalan yang akan dilewati oleh Untara. Bahkan beberapa orang anak-anak muda duduk-duduk di gardu sambil bergurau dan menunggu kedatangan pengantin yang agak lain dari pengantin yang sering mereda saksikan di Jati Anom. Pengantin yang akan datang adalah seorang senapati yang memiliki pengaruh yang besar di dalam dan di luar istana.

Tetapi seperti yang sudah diperkirakan, Untara akan datang ke rumah pamannya menjelang sore hari. Ketika matahari ada di puncak langit iring-iringan itu masih berada di perjalanan.

Seperti kesiagaan para prajurit Pajang di Jati Anom, demikian pula kesiagaan iring-iringan itu. Apalagi Untara yang sedang kawin itu mengerti, bahwa di Jati Anom telah terjadi kerusuhan, meskipun ia belum mengetahui secara terperinci apakah yang sudah terjadi. Jika orang-orang yang gagal itu kehilangan akal, dapat saja mereka mencegat iring-iringan yang sedang berada di perjalanan.

Karena itulah, maka di antara iring-iringan itu terdapat sepasukan kecil prajurit. Namun di antara para pengiring yang memakai pakaian lengkap, untuk mengunjungi perhelatan itu pun terdapat beberapa orang perwira kawan-kawan Untara. Sedang sebagian lagi adalah juga prajurit-prajurit sandi yang bertugas mengawal pengantin.

Namun sebenarnya Untara sendiri tidak mencemaskan perjalanan itu. Setiap orang, juga orang-orang yang ingin mengacau, tentu sudah mempunyai perhitungan, bahwa iring-iringan ini pasti merupakan iring-iringan bukan saja orang tua yang mengantar pengantin, tetapi juga sepasukan prajurit yang siap untuk bertempur di setiap saat. Hanya apabila mereka mempunyai kekuatan yang besar sekali, mereka akan berani mengganggunya.

Demikianlah iring-iringan pengantin itu berjalan lewat padukuhan-padukuhan yang penuh dengan orang-orang yang ingin menyaksikannya di sebelah-menyebelah jalan. Bahkan anak-anak sudah mulai bersorak-sorak sejak mereka melihat debu mengepul di kejauhan.

Di dalam terik sinar matahari, tampaklah warna-warna yang cerah seakan-akan berkeredipan di antara debu yang terlempar dari kaki-kaki kuda. Bagi mereka yang menunggu, rasa-rasanya perjalanan itu terlampau lambat.

Namun bukan saja bagi yang menunggu, baik di sepanjang jalan mau pun di Jati Anom, tetapi bagi Untara dan isterinya yang duduk di dalam tandu itu pun terasa, perjalanan ini terlampau lambat.

Meskipun demikian, mereka pun menjadi semakin dekat pula dengan tujuan. Semakin lama semakin dekat, dan hati Untara pun menjadi semakin berdebar-debar. Bukan hanya karena ia akan disambut oleh orang-orang tua di Jati Anom sebagai mempelai yang dihormati, tetapi ia ingin segera mendengar dengan pasti apa yang sudah terjadi sepeninggalnya.

Untara tersenyum di dalam hati, ketika ia memasuki daerah Jati Anom. Di antara mereka yang menunggunya di pinggir-pinggir jalan, dilihatnya beberapa orang prajuritnya. Bahkan ketika ia menebarkan pandangan matanya ke tanah persawahan, dilihatnya beberapa orang yang kotor oleh lumpur berdiri di pematang, Untara menarik nafas dalam-dalam.

“Tentu sesuatu telah benar-benar terjadi di sini,” katanya di dalam hati. “Penjagaan tampaknya diperkuat. Petugas-petugas sandi bertebaran di segala tempat, bahkan di bulak-bulak yang masih agak jauh dari Jati Anom.”

Dengan demikian hati Untara menjadi kian berdebar-debar. Perjalanan itu terasa seakan-akan menjadi semakin lambat. Tetapi terhadap para pengiring, ia tidak dapat membentak seperti kepada para prajurit, agar perjalanan ini dipercepat.

Ternyata meskipun Untara sedang diiringi oleh orang-orang tua dalam pakaian pengantin, namun ia tidak dapat melepaskan tanggung jawabnya. Justru yang paling menggelisahkan adalah keadaan Jati Anom daripada tentang dirinya sendiri.

“Tetapi di sana ada Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar,” Untara mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Bagaimana pun lambatnya, namun akhirnya iring-iringan pengantin itu pun memasuki dan berjalan menyelusur jalan padukuhan menuju ke rumah Ki Widura. Seorang utusan dengan tergesa-gesa mendahului dan mengabarkan kepada mereka yang sudah menunggu, bahwa rombongan pengantin telah datang.

Maka anak-anak yang sudah berkerumun di muka regol pun segera berteriak-teriak. Mereka berdesak-desakan untuk melihat, alangkah gagahnya Untara yang mengendarai seekor kuda yang tegar di samping sebuah tandu yang bertabir kain yang mengkilap.

Ketika iring-iringan itu memasuki regol, maka mereka pun segera berhenti. Untara meloncat turun dari kudanya, sementara tandunya pun diturunkan pula dari pundak para pengusungnya.

Demikianlah maka Widura segera menerima sepasang mempelai itu, dan mengiringkannya masuk ke dalam.

Tetapi kedua pengantin itu tidak naik lewat pendapa. Mereka berjalan di sisi pendapa, lewat longkangan naik di pintu samping. Mereka masih belum memasuki pendapa, karena upacara itu masih akan dilakukan malam nanti.

Dengan demikian maka kedua mempelai itu langsung dibawa ke dalam bilik yang sudah disediakan untuk beristirahat.

Namun demikian, setelah berganti pakaian dan minum seteguk Untara pun segera keluar dari biliknya menemui para tamu yang menunggunya di pendapa. Tetapi pertemuan itu masih belum merupakan pertemuan yang resmi.

Ki Demang dan beberapa orang tua pun kemudian menyapanya dan menanyakan keselamatannya. Kemudian mereka menanyakan apakah selama ini keadaannya dan isterinya baik-baik saja.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Untara menjawab sambil tersenyum. Seperti kebiasaan pula, maka jawabnya, “Baik. Keadaan kami selalu baik.”

Setelah mereka berbicara sejenak, maka hati Untara rasa-rasanya sudah tidak sabar lagi. Setiap kali dipandanginya Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, pamannya Widura, dan Ki Ranadana. Seakan-akan ia tidak sabar lagi menunggu datangnya suatu saat untuk bertanya kepada mereka, apakah yang sudah terjadi di Jati Anom.

Agaknya Kiai Gringsing dapat menebak isi hati Untara, sehingga katanya, “Untuk berapa hari Anakmas Untara akan beristirahat tanpa memikirkan tugas keprajuritan. Agaknya perlu juga bagi Anakmas untuk melupakan semua persoalan yang setiap hari membebani badan dan pikiran. Agaknya untuk beberapa lamanya, tidak akan terjadi apa-apa di Jati Anom. Sampai saat ini Jati Anom aman dan tenteram.”

Untara mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun menarik nafas dalam-dalam. Meskipun demikian terloncat juga pertanyaannya, “Apakah tidak terjadi sesuatu selama ini?”

“Ada peristiwa-peristiwa kecil yang tidak berarti. Yang sama sekali tidak mengganggu sendi-sendi kehidupan di Jati Anom,” jawab Kiai Gringsing.

“Bagaimana dengan para perwira?”

Kiai Gringsing tidak menjawab. Dipandanginya saja Ki Ranadana yang mengangguk-anggukkan kepalanya, dan katanya kemudian, “Para perwira tetap menjalankan tugas mereka dengan baik. Tidak terjadi sesuatu atas mereka. Dan mereka saat ini lengkap menyambut kedatangan Ki Untara berdua, selain yang sedang bertugas.”

Sekali lagi Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti, bahwa para perwira yang menjadi sasaran para penyerang itu ternyata selamat. Agaknya Ki Ranadana bersama Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar berhasil menyergap mereka sebelum jatuh korban.

“Lalu bagaimana dengan para prajurit?” ia bertanya pula.

“Tidak ada apa-apa dengan mereka. Ki Untara memang dapat melupakan mereka sejenak di hari-hari perkawinan itu. Mereka tetap dalam keadaan yang baik.”

Hati Untara menjadi agak lega. Tidak langsung Ki Ranadana sudah memberikan laporan kepadanya. Meskipun belum terperinci, tetapi pada pokoknya para perwira dan prajurit yang ada di Jati Añom selamat semuanya.

Demikianlah maka Untara pun dapat melepaskan ketegangan di hatinya. Ia pun kemudian dapat menanggapi pembicaraan tamu-tamunya yang lain. Orang tua-tua dan sanak kadang.

Tetapi sebentar kemudian ia pun sudah harus masuk lagi ke dalam biliknya, untuk segera ditempatkan di gandok, karena dalam upacara nanti, ia akan datang ke pendapa dari gandok, sedang isterinya akan menyongsongnya dari pringgitan.

Sementara itu, tamu-tamunya masih saja berdatangan. Semakin lama semakin banyak sehingga pendapa rumah Ki Widura itu hampir menjadi penuh karenanya. Juga tamu-tamu dari Sangkal Putung.

Selama itu Untara memang dapat melupakan tugasnya sehari-hari. Apalagi ketika ia sedang sibuk mengenakan pakaian kebesaran seorang pengantin. Bukan saja pengantin seorang anak muda padukuhan. Tetapi pengantin seorang yang terpandang.

Namun dalam pada itu di antara orang-orang yang berdesak-desakan di halaman, yang ingin melihat upacara yang akan berlangsung di depan pendapa, terdapat orang-orang yang tidak dikenal di Jati Anom. Orang-orang yang tidak hanya sekedar ingin menyaksikan pengantin itu, tetapi juga ingin menyaksikan suasana yang meliputi padukuhan dan seluruh Kademangan Jati Anom.

Tetapi di antara mereka yang asing, maka ada pula anak-anak muda Jati Anom yang ikut berdesak-desakan di antara para penonton. Meskipun sebenarnya mereka telah menjadi seorang prajurit, tetapi kali ini ia sama sekali tidak dalam pakaian seorang prajurit. Sebagai anak Jati Anom mereka dapat mengenal orang-orang Jati Anom sendiri.

Dengan demikian maka anak-anak muda itu mengenal pula orang yang sama sekali asing baginya. Sedangkan orang-orang dari padukuhan di sekitarnya pada umumnya pernah juga dilihatnya selagi mereka pergi ke sawah, ke pasar dan kadang-kadang mereka saling kunjung-mengunjungi. Karena itu wajah-wajah yang asing itu pun segera mendapat perhatian. Mungkin mereka benar-benar datang dari tempat yang jauh sekedar melihat pengantin yang agak lain dari pengantin yang biasa mereka saksikan. Tetapi bagi petugas-petugas sandi dari Pajang itu, setiap yang asing harus mendapat pengawasan. Apalagi setelah terjadi serangan atas rumah Untara yang dihuni oleh para perwira.

Agaknya kedua belah pihak sudah saling mengetahui bahwa mereka saling mengawasi. Tetapi selagi mereka yang asing bagi anak-anak muda Jati Anom yang mendapat tugas sandi itu tidak berbuat apa-apa, maka tidak akan ada alasan untuk bertindak atas mereka.

“Penjagaan benar-benar ketat sekali,” desis seseorang di telinga kawannya yang berdiri di sisinya.

“Sst, aku curiga pada anak muda di belakang kita. Meskipun ia berpakaian bukan seperti seorang prajurit dan tampaknya ia memang anak Jati Anom karena ia mengenal hampir setiap orang, namun agaknya ia mendapat tugas khusus untuk mengawasi orang-orang yang bertebaran di halaman ini, termasuk kita.”

Kawannya tidak berpaling, tetapi kepalanya terangguk kecil.

“Dimana Bubut dan Kandar?”

“Di ujung Barat. Tetapi tentu ada pula yang mengawasi mereka.”

“Kita tidak peduli. Kita tidak akan berbuat apa-apa di sini. Kita hanya sekedar nonton pengantin dan melihat suasana.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sejenak kemudian, ketika di depan gandok terjadi desak-mendesak, maka tahulah orang-orang di halaman bahwa pengantin sudah siap untuk dipertemukan dalam upacara. Karena itu, maka orang-orang yang lain pun mulai berdesak-desakan pula, terutama anak-anak. Mereka berebut dahulu berdiri di depan. Apabila pengantin nanti telah lewat setelah selesai dengan berbagai macam upacara di halaman, membasuh kaki, lempar-melempar sadak, berdiri di atas pasangan dan kemudian bersama-sama memasuki pendapa, maka semua kelengkapan di tiang depan dapat diperebutkan oleh anak-anak. Dua tandan pisang raja, dua jenjang kelapa, padi, dan masih ada beberapa macam buah-buahan yang lain.

Orang-orang yang berwajah asing itu pun dengan sendirinya terdesak pula ke depan. Tetapi anak-anak muda Jati Anom dalam tugas sandinya sebagai seorang prajurit, mendesak maju pula di belakang mereka.

Demikianlah, maka upacara pun segera berlangsung. Seperangkat gamelan mengiringi dengan gending-gending yang agung. Beberapa orang-orang tua duduk di paling depan memberikan restunya dengan nasehat-nasehat dan petunjuk-petunjuk.

Karena Untara sudah tidak mempunyai orang tua, maka upacara pangkon dilakukan oleh pamannya Widura, yang duduk bersila di tengah-tengah ruang dalam, di muka sentong tengah. Pengantin laki-laki duduk di ujung lutut kanannya dan pengantin perempuan duduk di ujung lutut kirinya.

“Bagaimana?” seorang laki-laki tua bertanya.

“Seimbang,” jawab Widura sambil menyeringai. Lututnya terasa agak sakit juga menahan berat tubuh Untara dan isterinya.

“Turunlah,” berkata laki-laki tua itu.

Kedua pengantin itu pun kemudian turun dari lutut Widura dan Widura pun menarik nafas.

Upacara itu pun kemudian disusul dengan upacara-upacara lain, asok kaya, menyuapi isterinya dengan nasi kepelan dan upacara-upacara yang lain sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang senapati yang besar.

Namun perhelatan itu sendiri sama sekali bukan suatu perhelatan yang berlebih-lebihan. Bahkan terlalu sederhana bagi seorang senapati yang namanya sudah dikenal oleh setiap prajurit di belahan Selatan Kerajaan Pajang.

Dalam pada itu, selagi di Jati Anom berlangsung upacara ngunduh pengantin, maka di Mataram Raden Sutawijaya duduk menghadap ayahandanya Ki Gede Pemanahan. Pada wajahnya nampak bahwa keduanya sedang memperbincangkan suatu masalah dengan bersungguh-sungguh.

“Kali ini mereka gagal mengumpankan nama Mataram, Ayah, tetapi lain kali?”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kita harus memperhatikan masalah ini dengan sungguh-sungguh. Aku puji kegigihan sekelompok orang yang berusaha mengusir kita dari tanah yang sudah kita buka ini. Mereka gagal bermain hantu-hantuan. Kini mereka mempergunakan cara lain yang tidak kalah berbahayanya. Bahkan mungkin akan berakibat sangat jauh apabila orang-orang Pajang tidak selalu berusaha mengendalikan diri. Aku tahu, beberapa orang yang tidak dapat mengendalikan diri berusaha menggagalkan usaha kita. Tampaknya usaha mereka berhasil sebagian, karena sampai saat ini, Sultan Pajang tidak juga memberikan ketetapan yang tegas atas tanah yang sudah terbuka ini. Berbeda dengan Pati, kita masih harus menunggu apakah daerah ini akan diakui sebagai suatu daerah yang dapat berdiri sendiri dalam bentuk yang mana pun.”

Raden Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Ki Lurah Branjangan menyarankan agar ada hubungan langsung antara kita dengan Ayahanda Sultan di Pajang. Tetapi aku berkeberatan sebelum ada pengakuan yang tegas atas tanah ini.”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Meskipun tidak terlampau dalam, namun ada juga kecemasan yang merayapi hatinya. Ternyata bahwa Raden Sutawijaya adalah seorang anak muda yang keras hati. Ia sadar, bahwa ada ketimpangan pada sikap Sultan Pajang, sehingga dengan demikian hubungan batin antara Sutawiiaya dan Sultan Paiahg itu pun agaknya semakin lama menjadi semakin jauh dan bahkan seolah-olah tidak akan dapat dipertautkan kembali.

Tetapi selain kecemasan, ada juga sedikit penyesalan di hati Ki Gede Pemanahan. Ialah yang mula-mula meninggalkan istana Pajang dan kembali ke Sela. Ia tidak mau menerima sikap Sultan Pajang yang menunda-nunda hadiah yang sudah dijanjikan, sedang kawannya, seorang senapati yang lain telah menerima bagiannya. Apalagi Ki Gede Pemanahan merasa bahwa tanah yang diperuntukkan baginya adalah sebuah hutan belantara yang masih memerlukan penggarapan yang lama dan tekun.

“Jika aku tidak bersikap keras, maka daerah ini pasti masih belum diserahkan dengan resmi,” berkata Pemanahan di dalam hati, namun, “tetapi sikap itu agaknya mempengaruhi pendirian Sutawijaya yang tidak kalah kerasnya dari sikapku sendiri.”

Ki Gede Pemanahan mengangkat wajahnya ketika ia mendengar anaknya berkata, “Ayah, kenapa Ayahanda Sultan Pajang tidak segera mengakui kedudukan kita?”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak mau membakar hati anaknya lagi. Bagaimana pun juga, pertentangan yang berkepanjangan tidak akan menguntungkan bagi kedua belah pihak. Tetapi ia pun tidak ingin menganjurkan agar anaknya merendahkan dirinya, memohon dan memohon kemurahan hati Sultan Pajang atas kedudukannya di Mataram. Kedudukan itu adalah haknya sebagaimana hak Ki Penjawi atas Pati, Dan sikapnya itu sama sekali bukan meloncat dari perasaan iri dan dengki. Ki Gede Pemanahan merasa senang bahwa sahabatnya telah berada dalam kedudukan yang wajar, sesuai dengan pengabdiannya kepada Pajang. Namun ia mengharap bahwa haknya pun akan segera diakui.

“Kenapa Ayah?” desak Sutawijaya. “Apakah Ayah mengerti alasan yang sebenarnya? Jika keadaan kita masih saja tetap seperti sekarang, maka kemungkinan-kemungkinan yang buruk itu memang dapat terjadi. Usaha orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan berusaha untuk mendapat keuntungan bagi dirinya sendiri akan menjadi semakin berbahaya bagi kita dan bagi Pajang sendiri.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak mengerti, Sutawijaya. Aku pun selalu menunggu, kapan kita mempunyai kedudukan yang pasti. Bahkan aku pun menjadi hampir tidak sabar.” Ki Gede Pemanahan berhenti sejenak, “Tetapi jangan terlampau banyak dipengaruhi oleh pengakuan dari Pajang. Kita bekerja terus membuka daerah ini dan menjadikannya suatu daerah yang ramai. Jika kita sudah membuktikan bahwa kita mampu berbuat banyak atas daerah ini, maka pengakuan itu akan segera menyusul. Kita akan mendapat batasan yang tegas atas daerah ini.”

“Tetapi selama itu terjadi, banyak sekali kemungkinan. Mungkin orang-orang yang dengki dan barangkali lebih dari itu, karena mereka sendiri ingin memiliki tanah ini, atau barangkali kecurigaan dan kecemasan orang-orang Pajang atau apa pun yang menyebabkannya sehingga Ayahanda Sultan Pajang justru mengambil sikap lain.”

“Kita memang dapat berprasangka, Sutawijaya. Tetapi kita jangan terlampau dihantui oleh prasangka itu. Sekarang berbuatlah sesuatu. Jadikanlah tanah ini menjadi tanah yang ramai dan kuat. Maka tidak akan ada kemungkinan lain daripada pengakuan, bahwa Mataram sebagai suatu kenyataan telah ada dan mampu mengurus dirinya sendiri, meskipun kita masih ada di dalam lingkungan kesatuan dengan Pajang dan daerah-daerah yang lain.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sependapat dengan ayahnya.Tetapi yang menjadi pusat perhatiannya adalah membuat Mataram suatu daerah yang kuat. Dengan demikian maka tidak akan ada orang lain yang dapat memaksakan kehendaknya atasnya dan atas Mataram, meskipun ia sadar akan bahayanya. Jika Mataram merasa kuat, mungkin bukan Sultan Pajang-lah yang berubah pendirian dan sikap, tetapi Mataram sendiri.

“Aku akan menjaga diriku sendiri,” berkata Sutawijaya di dalam hatinya, “aku akan tetap menganggap bahwa Mataram adalah bagian dari Pajang yang satu dan mudah-mudahan akan tumbuh menjadi besar seperti kerajaan-kerajaan yang terdahulu.”

Ki Gede Pemanahan yang seakan-akan dapat membaca kata-kata hati anaknya menarik nafas dalam-dalam. Ia pun mengharap Pajang menjadi besar. Tetapi ia kadang-kadang tidak dapat lari dari kenyataan bahwa Sultan Pajang yang bernama Mas Karebet dan bergelar Sultan Adiwijaya itu ternyata telah banyak berubah. Dan Pajang yang baru tumbuh itu seakan-akan justru menjadi pudar.

“Baiklah, Ayah,” berkata Sutawijaya, “aku akan membuat Mataram mampu mengurus dirinya sendiri dalam segala bidang. Mataram memang harus menjadi kuat. Bukan untuk menakut-nakuti orang lain, tetapi Mataram harus dapat melindungi dirinya sendiri. Di Jati Anom telah terjadi suatu usaha untuk mencemarkan nama Mataram. Untunglah orang tua bercambuk itu ada di sana, sehingga tugas Ki Lurah Branjangan banyak dipengaruhi justru oleh kerja Kiai Gringsing. Jika tidak, maka kita akan menjadi lontaran caci-maki, dan barangkali Untara telah membawa pasukan segelar sepapan memasuki daerah ini bersama mertuanya itu.”

Ki Gede Pemanahan hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat menyalahkan anaknya, karena agaknya Mataram memang harus menyiapkan diri menghadapi setiap kemungkinan. Jika terjadi fitnah seperti yang baru saja dilakukan di Jati Anom, dan fitnah itu benar-benar berhasil, maka Mataram memang harus melindungi dirinya sendiri.

“Mudah-mudahan hal semacam itu tidak terjadi,” berkata Ki Gede Pemanahan di dalam hatinya. “Ngabehi Loring Pasar adalah seorang anak muda yang paling dikasihi oleh Sultan Pajang di samping anak laki-lakinya sendiri, Pangeran Benawa. Segala sesuatu pasti akan dipikirnya masak-masak sebelum bertindak.”

Tetapi selain kemungkinan-kemungkinan yang pahit itu, Mataram pasti harus bersiap pula menghadapi gerombolan-gerombolan itu sendiri. Dalam keadaan yang penuh kebimbangan dan ketiadaan harapan, mereka mungkin akan berbuat di luar dugaan karena di antara mereka pasti terdapat orang-orang kuat seperti Kiai Damar dan Kiai Telapak Jalak. Bahkan mungkin di belakang kedua orang itu masih terdapat seseorang yang melampaui kemampuan keduanya di dalam nalar dan olah kanuragan, sehingga ia mampu mengendalikan kedua orang yang cukup mumpuni itu.

Karena itulah, maka Ki Gede Pemanahan membiarkan puteranya untuk melakukan rencananya. Bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan dengan membuat daerah yang sedang tumbuh ini menjadi daerah yang kuat.

Dalam pada itu di Jati Anom, Untara yang masih ada di dalam suasana yang lain dari hidupnya sehari-hari, kadang-kadang masih juga malas untuk berbicara tentang tugas-tugasnya. Hanya karena ia adalah seorang yang penuh dengan tanggung jawab sajalah, ia memerlukan juga bertemu dengan Ki Ranadana dan perwira-perwira yang lain, meskipun hanya sekali di dalam satu hari, sedang Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar masih tetap menjadi tamu Ki Widura bersama Agung Sedayu dan Swandaru.

Agaknya Ki Ranadana yang sudah menginjak usia pertengahan, cukup mengerti tentang keadaan Untara, sehingga ia pun selalu membatasi persoalan-persoalan yang dibicarakan. Bahkan ia masih belum menyinggung-nyinggung tentang tawanan-tawanan yang ada di dalam pengamatannya.

Tetapi Untara tidak memerlukan banyak waktu untuk beristirahat. Ia pun segera mulai lagi dengan tugas-tugasnya yang berat. Namun kemudian ia tidak lagi tinggal bersama para perwira di rumahnya. Namun untuk sementara ia tinggal bersama pamannya.

Karena itulah, maka Kiai Gringsing bersama kedua muridnya dan Ki Sumangkar pun merasa bahwa kehadirannya hanya akan mengganggu saja. Tetapi ketika mereka minta diri untuk pergi ke Sangkal Putung, ternyata bahwa Untara dan Widura menahannya.

“Tinggallah di sini untuk beberapa lama Kiai,” berkata Untara. “Di saat-saat ini aku masih terlampau malas untuk berbuat sesuatu. Kehadiran Kiai berdua di sini rasa-rasanya membuat aku tenteram.”

“Tetapi di sini ada sepasukan prajurit yang kuat dengan beberapa orang perwira yang cakap,” sahut Kiai Gringsing.

Untara tertawa. Jawabnya, “Sepasukan prajurit yang kuat, beberapa orang perwira yang cakap akan lebih meyakinkan lagi jika ditambah dengan dua orang tua yang pilih tanding bersama dua orang muridnya. Ingat, bahwa Agung Sedayu itu nilainya tidak kalah dengan seorang perwira muda prajurit Pajang. Ketika ia berkelahi di dalam lumpur, ternyata bahwa aku menganggap, Agung Sedayu mempunyai banyak kelebihan. Bukan karena ia adikku. Dan aku pun yakin bahwa Swandaru pun memiliki kemampuan serupa.”

“Ah, Kakang Untara terlampau memuji,” jawab Swandaru. “Tetapi jika aku dinilai dengan seorang perwira, pasti aku akan melampauinya. Tetapi dalam bidang yang khusus.”

Untara tertawa semakin keras. Swandaru memang pandai menanggapi gurau siapa pun juga.

“Terutama menanggapi isi jodang,” Swandaru menyambung.

Widura pun tertawa pula. Katanya, “Itulah agaknya yang membuat Angger Swandaru menjadi gemuk.”

“Ya, Paman. Aku tidak pernah menolak rejeki.”

“Maksudku bukan itu,” berkata Widura, “hatimu terbuka. Itulah soalnya. Bukan karena kau terlampau banyak makan, meskipun agaknya hal itu benar.”

Suara tertawa Swandaru meledak. Ternyata Widura pandai bergurau juga.

Namun dengan demikian Kiai Gringsing, kedua muridnya dan Ki Sumangkar terpaksa tinggal untuk sementara di rumah itu.

“Kakang Untara pandai juga memanfaatkan kita di sini,” berkata Swandaru kepada Agung Sedayu ketika mereka berada di gandok.

“Kenapa?”

“Penjagaan kita tentu akan lebih rapat dari para prajurit yang hanya berada di regol dan halaman. Kita berada di dalam rumah. Bersama Paman Widura kita merupakan pengawal yang baik selama malam-malam yang suram bagi Kakang Untara.”

“Ah kau.”

“Besok, jika datang saatnya aku kawin, aku akan menahan Kakang Untara barang tiga sampai lima hari untuk mengawal aku.”

Agung Sedayu tidak mendengarkannya lagi. Bahkan ia pun kemudian membaringkan dirinya di pembaringan yang besar.

Swandaru tertawa sendiri. Katanya, “Aku sudah rindukan Sangkal Putung. Dan sudah barang tentu ayah dan ibu menunggu aku pula. Apalagi Sekar Mirah.”

Agung Sedayu berpaling menatap wajah Swandaru sejenak. Namun kemudian ia kembali acuh tidak acuh. Bahkan ia pun kemudian memejamkan matanya.

Swandaru pun tidak menghiraukannya. Ia masih berbicara terus, “Sekar Mirah tentu hampir kehilangan kesabaran. Ia mengira bahwa kami tidak akan berada di Jati Anom lebih dari sepekan. Ternyata sudah hampir sepuluh hari kami berada di sini.”

“Kita berada di Menoreh berbulan-bulan,” sahut Agung Sedayu tanpa berpaling.

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ya. Kita berada di Menoreh berbulan-bulan. Dan dengan demikian Sekar Mirah menyusul dan mencari kita.”

Agung Sedayu tidak menyahut lagi. Matanya justru menjadi semakin rapat.

Namun tiba-tiba Swandaru bertanya, “Kau sudah mendengar laporan prajurit sandi yang berada di halaman rumah Paman Widura ini ketika upacara ngunduh pengantin berlangsung?”

Agung Sedayu menggeleng lemah.

“Ada beberapa orang yang tidak dikenal menyaksikan upacara itu. Mereka adalah orang-orang yang mencurigakan.”

Kini Agung Sedayu membuka matanya. Dengan kerut-merut di dahinya ia bertanya, “Dari siapa kau dengar hal itu?”

“Dari prajurit Pajang.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Bukan, bukan dari prajurit itu, tetapi dari Paman Widura.”

“Benar dari Paman Widura?”

“Juga bukan,” Swandaru mengingat-ingat.

“Aku yang memberi tahukan hal itu kepadamu. Kakang Untara telah menerima laporan itu.”

“He,” Swandaru membelalakkan matanya, lalu, “o, ya. Kaulah yang memberitahukan kepadaku. Kakang Untara mengatakan hal itu kepadamu. Ya, aku ingat sekarang.”

Kembali Agung Sedayu memejamkan matanya. Sedang Swandaru masih saja duduk di pembaringan yang besar itu sambil tersenyum-senyum sendiri.

“Sampai kapan kita akan tetap di sini?” ia bertanya.

Tetapi Agung Sedayu sama sekali tidak menjawab.

“Keluarga di Sangkal Putung pasti sudah menunggu. Juga keluarga Ki Argapati di Menoreh. Kita di sini merasakan bahwa waktu berjalan terlampau cepat. Tetapi bagi orang yang menunggu, rasa-rasanya matahari tidak bergeser dari tempatnya.”

“Siapa yang menunggu?” desis Agung Sedayu masih sambil memejamkan matanya.

“Paman Argapati.”

“Kenapa Paman Argapati menunggu kita?”

Swandaru tidak menyahut. Ia hanya menarik nafas saja dalam-dalam.

Keduanya pun kemudian terdiam sejenak. Swandaru yang duduk di pembaringan itu pun kemudian menguap. Setelah menarik nafas dalam-dalam ia pun segera merebahkan dirinya di sisi Agung Sedayu. Namun ternyata yang mendekur lebih dahulu adalah Swandaru.

Agung Sedayu justru tidak segera dapat tertidur. Kata-kata Swandaru ternyata telah menyentuh hatinya. Orang-orang yang menunggu itu pasti jauh lebih gelisah dari yang ditunggunya. Bagi orang yang sedang menunggu, waktu seakan-akan sama sekali tidak bergerak.

“Apakah setelah Kakang Untara aku akan segera menyusul?” bertanya Agung Sedayu kepada diri sendiri.

Namun setiap kali pertanyaan itu tumbuh, Agung Sedayu menjadi berkerut. Katanya di dalam hati, “Apakah isteriku kelak akan aku beri makan batu? Aku masih belum mempunyai pegangan apa pun sekarang.”

Lalu terngiang kata-kata kakaknya dan pamannya, “Kenapa kau tidak menjadi seorang prajurit? Kau mempunyai beberapa kelebihan dari perwira-perwira yang masih muda.”

Tetapi untuk menjadi prajurit Pajang Agung Sedayu sama sekali tidak menginginkannya.

Pendengarannya tentang Pajang yang kurang lengkap itu sempat menimbulkan perasaan yang kurang mapan baginya untuk bekerja bagi Pajang. Ia mendengar bahwa Sultan Pajang kini hampir tidak sempat lagi menghiraukan daerah dan rakyatnya. Ia adalah seorang raja yang mudah sekali dipengaruhi oleh kecantikan seorang perempuan, sehingga waktunya benar-benar terampas habis oleh perempuan-perempuan itu. Semakin lama penghuni keputrennya menjadi semakin banyak, sedang di daerah-daerah, kesulitan pun menjadi semakin bertimbun pula. Sultan Pajang yang bernama Mas Karebet dan yang disebut Jaka Tingkir itu sudah kehilangan gairah petualangannya untuk menyaksikan Pajang seisinya dari dekat. Para Adipati di pesisir sudah hampir kehilangan ikatan dan berbuat sendiri-sendiri sesuai dengan keinginan masing-masing.

Sesudah Pajang berhasil mengalahkan Jipang, maka seakan-akan Pajang sudah waktunya mengenyam hasil jerih payahnya tanpa ada yang mengganggu gugat.

Meskipun demikian, Agung Sedayu harus berhati-hati mengambil kesimpulan bahwa sebenarnyalah yang terjadi demikian. Ia belum mengenal sultan dari dekat. Namun jika hal itu benar terjadi, maka seluruh rakyat Pajang seharusnya menjadi berprihatin.

“Apakah pantas jika seseorang menaiki jenjang perkawinan tetapi masih belum mempunyai pegangan apa pun seperti aku ini? Jika aku ingin menjadi petani, aku tidak tahu lagi, apakah sawah dan ladang ayah masih ada. Apakah Kakang Untara pernah memikirkannya dan menyatakan menjadi hak kami berdua.”

Tetapi Agung Serlayu menggeleng. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berdesah, “Sekar Mirah tidak akan bersedia menjadi isteri seorang petani biasa. Kini ia adalah putera seorang Demang yang cukup kaya.”

Namun dengan demikian Agung Sedayu menjadi semakin gelisah karenanya. Ia sadar, bahwa ia masih belum memiliki masa depan yang mantap meskipun ia memiliki bekal yang cukup. Selama ia berada di dalam asuhan Kiai Gringsing, ia tidak hanya sekedar belajar oleh kanuragan, tetapi ia masih juga mempelajari beberapa macam ilmu yang lain. Dari Kiai Gringsing Agung Sedayu mengenal ilmu kesusasteraan, ilmu bintang-bintang dan sedikit tentang tata hubungan masyarakat. Bahkan Ki Sumangkar pun memberinya beberapa macam ilmu pengetahuan tentang hubungan dan sangkut pautnya penjabat-penjabat yang ada di dalam susunan pemerintahan dan ilmu tata pemerintahan itu sendiri. Hukum-hukum yang terdapat di dalam kitab-kitab yang ada dan hukum-hukum yang tidak tertulis tetapi berlaku dan dipatuhi oleh segala pihak di dalam masyarakat.

Tetapi sampai saat ia menjelang hari-hari yang penting itu, ia masih belum menempatkan dirinya pada suatu kedudukan yang dapat memberinya jaminan hidup di hari-hari mendatang.

“Selama ini aku hanyalah seorang petualang. Guru agaknya seorang petualang juga yang tidak berpikir tentang keluarga dan peri kehidupan ini sebagai manusia biasa. Justru karena Guru sendiri tidak berkeluarga,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. “Tetapi meskipun bertualang bersama, namun Swandaru mempunyai kedudukan lain. Ia sudah pasti akan memasuki hari depan yang jauh lebih baik dari hari depanku, karena ia seorang yang akan menerima warisan kedudukan ayahnya. Seorang Demang di daerah yang sesubur Sangkal Putung.”

Agung Sedayu yang gelisah itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk mengusir kegelisahan itu dengan mengenang peristiwa dan persoalan yang memberinya kegembiraan dan kebanggaan. Tetapi setiap kali ia selalu gagal, sehingga karena itu, ia masih saja tidak dapat tidur senyenyak Swandaru.

Demikianlah, maka setiap kali keduanya berbincang tentang diri mereka sendiri dan tentang masa depan mereka, Agung Sedayu selalu dipacu oleh kegelisahan yang mencengkam. Namun ia selalu berusaha menyembunyikan perasaan itu, dan menanggapi persoalan-persoalan yang dilontarkan oleh Swandaru.

Di hari-hari berikutnya, maka Untara pun mulai menjalankan tugasnya seperti biasa. Tetapi ia tidak lagi tinggal di rumahnya yang dihuni oleh para perwira. Meskipun setiap hari ia datang juga ke rumah itu, tetapi di sore hari ia kembali ke rumah Widura yang untuk sementara dipergunakannya sebagai tempat tinggal.

Dalam pada itu, selagi Untara sudah mulai menjalankan tugasnya seperti biasa, maka Kiai Gringsing dan kedua muridnya beserta Sumangkar merasa bahwa tidak ada lagi masalah yang harus dihadapinya di Jati Anom, sehingga mereka pun minta diri kepada Untara dan Widura untuk kembali ke Sangkal Putung.

“Kenapa di Sangkal Putung?” Tetapi Untara masih saja bertanya, “Bukankah bagi Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar, Sangkal Putung dan Jati Anom tidak ada bedanya, dan bahkan bagi Agung Sedayu, Jati Anom adalah kampung kelahirannya sedang Swandaru pun tidak akan berkeberatan untuk hilir-mudik karena gurunya berada di sini, dan jaraknya pun tidak begitu jauh?”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Sebenarnyalah bahwa bagiku tidak ada bedanya. Apakah aku berada di Sangkal Putung, Jati Anom, atau kembali kepondokku yang barangkali sekarang sudah hampir roboh di Dukuh Pakuwon. Tetapi sebaiknya aku pergi ke Sangkal Putung lebih dahulu. Seterusnya, Dukuh Pakuwon adalah tempat yang paling baik bagiku. Ada sebidang tanah, sebuah gubug kecil dan tetangga-tetangga yang baik. Mereka mengenal aku sebagai seorang dukun bernama Tanu Metir.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi pada suatu saat, Agung Sedayu tentu akan memerlukan Anakmas Untara dan Widura. Ia pun sudah menjadi dewasa sekarang.”

“Tentu kami tidak akan berkeberatan. Adalah kewajibanku untuk melayani kepentingan Agung Sedayu, apalagi setelah aku berpengalaman. Paman Widura pun pasti akan dengan senang hati melakukannya, karena Agung Sedayu dan aku tidak ada bedanya bagi Paman Widura dalam hubungan keluarga.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu, “Tetapi di samping Agung Sedayu, masih ada lagi yang harus kami selesaikan dalam hal yang serupa.”

“Siapa?”

“Swandaru.”

“He, kau juga?”

“Kami harus pergi ke Menoreh.”

“Jauh sekali. Itulah sebabnya kalian berada di sana dalam waktu yang lama. Aku memang pernah mendengar, tetapi sekedar desas-desus. Kini Adi Swandaru tidak membantah.”

Swandaru hanya menarik nafas dalam-dalam.

“Selain hal itu,” berkata Kiai Gringsing, “jika aku pergi ke Menoreh, maka aku akan dapat singgah menemui Ki Lurah Branjangan. Tetapi mungkin sebelum aku menemuinya ia sudah datang kembali ke Jati Anom. Seperti yang dipesankannya, ia ingin membawa satu atau dua orang tawanan itu. Ia harus meyakinkan kepada Raden Sutawijaya bahwa hal itu telah benar-benar terjadi.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu ia pun bertanya, “Jadi menurut Kiai, ada gunanya jika satu dua orang dari mereka dibawa ke Mataram?”

“Ada. Kedua belah pihak menyadari bahwa ada pihak ketiga yang sengaja menjauhkan jarak antara Pajang dan Mataram. Dan hal itu sangat berbahaya, baik bagi Mataram mau pun bagi Pajang.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pun mengakui bahwa yang terjadi itu berbahaya sekali seandainya tidak seorang pun yang dapat menjelaskan apa yang sebenarnya mereka hadapi. Karena itu maka katanya, “Baiklah Kiai. Jika demikian, apabila Ki Lurah Branjangan segera kembali, aku akan menyerahkan satu dua orang kepadanya, agar ia dapat membawanya kepada Raden Sutawijaya.”

“Ya. Mudah-mudahan Sutawijaya pun menyadari, sehingga ia ikut menjaga agar antara Pajang dan Mataram pada suatu saat akan terjalin pengertian yang mendalam.”

“Ya,” sahut Untara.

“Dengan demikian maka Mataram dan Pajang akan menghormati kedudukan mereka masing-masing.”

Untara mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Ya. Mataram dan Pajang harus menghormati kedudukan mereka masing-masing. Mataram harus merasa bahwa Mataram berada di bawah lingkungan kesatuan Pajang yang besar, dan Pajang pun merasa wajib melindungi kesatuan itu. Itulah yang disebut saling menghormati dalam kedudukan masing-masing. Sikap yang lain daripada itu, tidak akan dapat diterima.”

Sesuatu berdesir di dada Kiai Gringsing. Namun ia pun mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Ya begitulah.”

“Tidak ada kemungkinan lain, Kiai. Demikian juga jika orang-orang itu dibawa menghadap Raden Sutawijaya. Orang-orang itu akan meyakinkan bahwa sebenarnya ada pihak yang ingin mendorong Mataram untuk menjauh dari Pajang. Dengan tidak langsung mereka membuat kesan bahwa Mataram sudah memberontak. Karena itu Mataram harus dapat menunjukkan kesetiaannya kepada Pajang, agar usaha pihak ketiga untuk menumbuhkan kesan pemberontakan itu dapat dilenyapkan.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk pula. Ia tidak dapat bersikap lain di hadapan Untara. Untara adalah seorang Senapati yang berdiri di atas segala macam sikap. Ia adalah seorang prajurit yang utuh. Karena itu, maka Kiai Gringsing tidak akan dapat berbicara dengan Untara selain mendengarkan pendapatnya sebagai seorang Senapati.

“Kiai,” berkata Untara kemudian, “alangkah besar jasa Kiai Gringsing, jika Kiai dapat mempergunakan pengaruh Kiai untuk memberikan kesadaran kepada Raden Sutawijaya bahwa sikapnya selama ini memang dapat menimbulkan kesan yang kurang baik bagi Pajang. Menurut keterangan yang aku dengar, karena ia terlampau sibuk maka Raden Sutawijaya itu belum sempat menghadap Sultan di Pajang yang kebetulan adalah ayah angkatnya sendiri. Ayah angkat yang sangat mengasihinya. Selain hal itu kurang baik bagi seorang pejabat tinggi di Pajang yang mendapat wewenang atas Mataram, juga kurang baik bagi seorang anak yang setia dan mengenal terima kasih kepada ayahnya.”

Kiai Gringsing masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun terasa dadanya menjadi berdebar-debar. Ketika ia memandang kedua muridnya dengan sudut matanya, maka dilihatnya wajah Swandaru yang agak berkerut, sedang Agung Sedayu berusaha untuk tidak memberikan kesan apa pun mendengar kata-kata Untara itu.

Kiai Gringsing tidak mengetahui, perasaan apakah yang bergejolak di dada Sumangkar. Seorang tua yang pernah berada di pihak Jipang ketika perang antara Jipang dan Pajang pecah. Namun yang kemudian mendapat pengampunan dan bahkan seluruh kebebasannya kembali, karena ternyata ia tidak begitu banyak terlibat dalam perlawanan atas Pajang. Apalagi setelah pasukan Jipang tercerai berai.

“Baiklah, Anakmas Untara,” berkata Kiai Gringsing, “aku akan menyampaikan semua pesan itu jika kelak aku pergi ke Menoreh. Atau jika aku diminta ikut pergi ke Menoreh. Yang penting harus pergi ke Menoreh adalah ayah Swandaru. Mungkin ia tidak dapat pergi berdua dengan Nyai Demang karena perjalanan yang jauh dan sulit. Sehingga Ki Demang agaknya akan mengajak kawan lain selama perjalanan.”

“Terima kasih, Kiai. Aku kira Raden Sutawijaya adalah seorang yang berjiwa besar. Demikian juga Ki Gede Pemanahan. Kelambatan saat menyerahkan Alas Mentaok yang dijanjikan tentu tidak akan menimbulkan kegusaran di dalam hati. Sedang sebenarnya kelambatan itu pun didasari pada perasaan kasih Sultan Pajang kepada putera angkatnya itu. Sultan Pajang akan menyerahkan bumi Mentaok kepada Raden Sutawijaya setelah bumi Mentaok menjadi ramai. Tetapi Ki Gede Pemanahan agaknya salah paham dan memaksa Sultan untuk segera menyerahkannya.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Kiai Gringsing berkata, “Aku akan berusaha mengatakan hal ini langsung kepada Raden Sutawijaya kelak.”

“Terima kasih, Kiai. Hormatku kepada Ki Gede Pemanahan dan Raden Sutawijaya disertai ucapan terima kasih yang tidak terhingga atas pemberiannya. Mudah-mudahan Mataram tidak menyulitkan kedudukanku sebagai seorang senapati yang langsung beradu hidung dengan daerah baru yang dibuka itu. Pada saat yang tepat tentu kami akan datang ke Mataram memberikan perlindungan jika Mataram benar-benar ada di dalam bahaya. Selama ini Mataram masih mampu mengatasinya sendiri, dan membinasakan Kiai Damar dan Kiai Telapak Jalak dengan bantuan Kiai. Jika perlu kami akan ikut menyingkirkan bahaya yang lebih besar dan berada di luar kemampuan Mataram untuk mengatasinya.”

Kiai Gringsing masih juga mengangguk, “Baiklah, Anakmas. Aku akan menyampaikan semua pesan itu. Dan aku pun mengharap agar semua persoalan dapat teratasi dengan baik. Soal yang menyangkut kepentingan bagi kedua belah pihak dalam kedudukannya masing-masing.”

Demikianlah maka akhirnya Kiai Gringsing dan kedua muridnya dan Sumangkar pun mohon diri. Mereka minta diri pula untuk pergi ke Menoreh pada suatu saat yang baik. Jika mereka tidak ada waktu, maka mereka tidak akan singgah dahulu ke Jati Anom.

“Kau harus segera kembali, Agung Sedayu,” berkata Untara. “Jika kau memang akan segera kawin, kau jangan terus-menerus bertualang. Isterimu tentu tidak akan cukup kau tinggal menjelajahi tanah ini. Kau harus mapan dan mempunyai kedudukan yang baik. Bukan berarti kau harus menjadi seorang perwira tinggi sekaligus, tetapi kedudukan yang bagaimana pun rendahnya, asal kau mempunyai kemungkinan yang terang di hari mendatang.”

“Baik, Kakang,” sahut Agung Sedayu, setuju atau tidak setuju.

“Dan Adi Swandaru pun aku harapkan agar segera berada di kademangannya kembali. Sangkal Putung akan tetap merupakan daerah yang penting dipandang dari segala segi sesuai dengan letaknya dan daerahnya yang subur.”

“Ya, ya,” sahut Swandaru pula, “aku akan segera kembali.”

“Apakah Ki Sumangkar akan ikut pergi Ke Menoreh?” bertanya Untara kemudian.

“Aku tidak tahu, Anakmas. Tergantung Ki Demang di Sangkal Putung. Apakah aku akan dibawanya atau tidak.”

“Apakah Ki Sumangkar sudah menjadi bebahu Kademangan Sangkal Putung?”

Ki Surnangkar mengerutkan keningnya. Namun sambil mengangkat wajahnya ia berkata, “Bukan, Anakmas, tetapi aku sekarang sudah dianggap keluarga sendiri oleh Ki Demang, apalagi aku memang sudah lama berada di rumahnya.”

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Baiklah. Selamat jalan. Jangan lupa, apabila kalian singgah di Mataram, hormatku bagi Ki Gede Pemanahan dan Raden Sutawijaya serta ucapan terima kasih yang tidak terhingga. Dan sebagai seorang senapati aku akan selalu bersedia melindungi daerah itu dari kesulitan apabila diperlukan.”

“Baiklah, Anakmas,” berkata Kiai Gringsing, “mudah-mudahan Jati Anom pun selalu aman dan tenteram. Mudah-mudahan peristiwa yang mengejutkan itu tidak terulang kembali.”

“Kami akan selalu bersiap menghadapi segala kemungkinan. Tetapi kami mengucapkan terima kasih atas segala bantuan Kiai, dan terutama bahwa Kiai seolah-olah telah menyelamatkan Jati Anom dalam suasana yang tetap tenang, karena di Jati Anom sedang berlangsung perhelatan. Tanpa perhelatan itu, Jati Anom tidak akan gentar dilanda oleh huru-hara yang bagaimana pun ricuh dan ributnya. Namun demikian, mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu apa pun lagi di daerah ini. Tidak terganggu oleh orang yang mengaku berasal dari Mataram dan oleh orang-orang Mataram yang sebenarnya.”

Orang-orang yang mendengarkan kata-kata Untara itu hanya menarik nafas dalam-dalam. Mereka sadar bahwa mereka berbicara dengan seorang prajurit. Setelah beberapa hari Untara melampaui hari-hari perkawinannya, ia telah berdiri di atas landasannya semula. Seorang senapati yang bertugas di daerah Selatan dari Kerajaan Pajang.

Demikianlah maka Kiai Gringsing bersama kedua muridnya dan Ki Sumangkar pun meninggalkan Jati Anom. Meskipun Untara sudah menjadi semakin banyak tertawa dan bergurau, tetapi ia masih tetap seorang perwira.

Kedatangan Kiai Gringsing dan rombongan kecilnya di Sangkal Putung telah disambut dengan gembira oleh Ki Demang. Dengan serta-merta mereka pun segera dipersilahkan naik ke pendapa.

“Aku kira Kiai berdua serta kedua anak-anak muda itu akan segera kembali,” berkata Ki Demang.

“Kami terpaksa memenuhi permintaan Anakmas Untara untuk tinggal di Jati Anom beberapa hari Ki Demang.”

“Ketika aku pulang dari Jati Anom, aku tidak segera pergi melakukan tugas hari itu, karena aku menyangka bahwa kalian akan segera menyusul. Ternyata kalian kembali beberapa hari kemudian.”

Kiai Gringsing hanya tersenyum saja. Sedang Swandaru berkata, “Sebenarnya kami juga akan segera pulang, Ayah. Tetapi ternyata dapur Paman Widura masih terus berasap.”

“Pantas,” desis seseorang dari dalam pintu. Swandaru berpaling. Meskipun ia tidak melihat seseorang tetapi ia tahu bahwa suara itu suara Sekar Mirah.

“He, kau iri ya?”

Sekar Mirah menjengukkan kepalanya, katanya, “Kenapa aku iri? Apa yang aku irikan? Jika aku tidak mengingat sopan santun aku pulang sebelum pengantin didudukkan di depan sentong tengah.”

“Kenapa?”

“Tidak seorang pun menghiraukan kedatangan kami seperti yang aku duga. Hanya isteri-isteri perwira sajalah yang dipersilahkan duduk. Ayah pun tidak mendapat tempat yang baik meskipun Ayah datang jauh sebelum pengantin siap.”

“Ah,” sahut ayahnya, “aku duduk bersama Ki Demang di Jati Anom. Dalam perhelatan, semua orang sibuk dan sudah barang tentu mereka tidak dapat menemui tamunya seorang demi seorang.”

“Ki Demang tidak jadi bermalam di Jati Anom,” bertanya Agung Sedayu memotong.

“Aku sibuk sekali dengan pekerjaan yang bertimbun-timbun. Bendungan yang belum selesai, perluasan tanah pertanian mendesak hutan sebelah Barat karena terasa daerah kami menjadi semakin padat, dan gangguan-gangguan keamanan yang mulai terasa meskipun tidak menggelisahkan.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Jawaban ayahnya terasa aneh di telinganya. Apakah hal yang dikatakan oleh ayahnya itu tiba-tiba saja telah tumbuh menjadi sesuatu persoalan yang gawat di Sangkal Putung. Semua yang dikatakan oleh ayahnya itu memang pernah didengarnya. Tetapi kini ayahnya menyebut bahwa persoalan itu merupakan persoalan yang membuatnya terlampau sibuk.

“Agaknya Sekar Mirah-lah yang memaksa ayah tidak bermalam di Jati Anom. Mungkin Paman Widura tidak sempat mempersilahkan mereka karena kesibukannya menerima tamu-tamu yang lain,” berkata Swandaru di dalam hatinya. “Tetapi bukankah hal itu wajar di dalam suatu perhelatan?”

Tetapi Swandaru tidak mengatakannya. Bahkan kemudian ia berkata kepada diri sendiri, “Untunglah bahwa ayah pun menyadari hal itu. Tetapi yang penting bagi Sekar Mirah, Kakang Agung Sedayu yang sibuk pula mengatur jamuan di belakang, tidak sempat menemui Sekar Mirah dan mempertemukannya dengan mempelai perempuan.”

Namun Swandaru itu pun tersenyum di dalam hati. Ia sadar, bahwa dalam tingkat hubungan antara Agung Sedayu dan Sekar Mirah dapat menimbulkan persoalan-persoalan yang aneh-aneh, seperti cerita anak-anak muda yang kemudian sudah berkeluarga, di dalam pertemuan-pertemuan dan di dalam pembicaraan sambil bergurau di gardu-gardu perondan.

“Mungkin aku akan menghadapi persoalan yang serupa. Jika Pandan Wangi merajuk karena aku terlampau lama tidak datang ke Menoreh, aku akan menjadi pening,” gumam Swandaru di dalam hati.

Dan tiba-tiba saja ia menjadi gelisah. Sudah terlampau lama tidak mendengar berita tentang Menoreh. Dan sudah terlalu lama hubungannya dengan Menoreh seakan-akan terputus.

“Hantu-hantu di Mentaok itulah yang gila, sehingga aku tertahan di sana untuk waktu yang cukup lama. Mungkin Pandan Wangi menganggap aku tidak datang lagi kepadanya, atau ayahnya mengambil keputusan lain. Mungkin ada anak muda Menoreh sendiri yang berhasil mengambil alih persoalanku dengan Pandan Wangi,” Swandaru menjadi berdebar-debar memikirkan masalahnya itu. Namun ia tidak segera dapat mengatakannya pada saat itu.

“Tetapi semuanya sudah selesai. Tidak ada lagi persoalan yang akan menghambat. Mudah-mudahan Ki Gede Menoreh tidak menganggap bahwa aku sudah mati di perjalanan.”

Demikianlah, persoalan itu pun merupakan persoalan yang selalu mendebarkan hati Swandaru. Seolah-olah ia tidak sabar lagi menunggu hari-hari berikutnya untuk pergi ke Menoreh. Bahkan ia berkata di dalam hatinya, “Jika ayah merasa terlampau sibuk dan tidak dapat bermalam di Jati Anom untuk semalam saja, apakah ayah juga akan berkeberatan untuk segera pergi ke Menoreh.”

Tetapi Swandaru tidak dapat mengatakan hal itu langsung kepada ayahnya. Karena itu, ketika mereka kemudian beristirahat di gandok, Swandaru mengatakan hal itu kepada gurunya.

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah, aku akan mengatakannya kepada ayahmu. Mudah-mudahan ayahmu dapat meninggalkan kesibukannya barang dua pekan untuk pergi ke Menoreh menghadap Ki Gede Menoreh itu. Kau benar, jika hubungan ini terlalu lama terputus, mungkin Ki Argapati mengambil sikap lain.”

“Terima kasih, Guru. Aku segan mengatakannya kepada ayah langsung. Lagipula, ayah tentu akan lebih memperhatikan kata-kata Guru daripada permintaanku sendiri.”

Kiai Gringsing hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Tetapi ia tidak dapat ingkar, bahwa hal itu merupakan kewajibannya pula, karena muridnya bagi Kiai Grining tidak ada bedanya dengan anaknya sendiri. Sedang kedua muridnya itu kini sedang menghadapi masalah yang serupa.

“Tetapi persoalan Agung Sedayu sudah lebih jelas dari persoalan Swandaru. Meskipun secara resmi Anakmas Untara dan Widura belum datang menemui Ki Demang dan membicarakan masalah anaknya, namun agaknya orang tua Sekar Mirah sudah menerima persoalan itu seluruhnya. Persoalan yang menyusul adalah sekedar hubungan resmi,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya.

Karena itu, maka Kiai Gringsing pun berusaha untuk mendapatkan waktu yang sebaik-baiknya. Di sore hari, ketika mereka sudah menyelesaikan semua pekerjaan, dan sesudah membersihkan diri, mereka pun duduk di pendapa bersama Ki Demang dan Ki Sumangkar, di bawah nyala lampu minyak yang berkeredipan disentuh angin.

Sejenak mereka berbicara tentang Kademangan Sangkal Putung, tentang musim dan tentang tanaman yang subur di sawah dan pategalan.

Barulah pembicaraan mereka mulai merayap kepada anak-anak muda di Sangkal Putung, dan kemudian mereka pun berbicara tentang Swandaru.

Kiai Gringsing tidak mau kehilangan kesempatan itu. Karena itu, maka ia pun segera mengulangi pembicaraan yang pernah disampaikan meskipun hanya sepintas, bahwa Swandaru telah membuat hubungan dengan seorang gadis di Menoreh, putera Ki Argapati, kepala Tanah Perdikan Menoreh.

Ki Demang pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Persoalan itu sedikit banyak sudah pernah didengarnya. Namun ia masih memerlukan banyak sekali penjelasan.

“Apakah Ki Argapati benar-benar tidak berkeberatan, Kiai?” bertanya Ki Demang. “Hal itu harus aku yakini sebelum aku berangkat, agar aku tidak sia-sia pergi menempuh jarak yang jauh, meninggalkan kademangan yang sedang berusaha mengembangkan diri di segala bidang ini?”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Alasan Ki Demang sebenarnya tentu bukan kesibukannya di segala bidang karena perkembangan Sangkal Putung, tetapi jika Ki Argapati menolak lamaran yang disampaikannya, maka hatinya pasti akan menjadi sangat sakit. Apalagi ia datang dari jauh.

Kiai Gringsing itu pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Pertanyaan itu wajar tumbuh pada Ki Demang. Apabila kedatangan kita tidak membawa hasil, maka alangkah sakitnya hati ini. Namun jika kita tilik dari kewajaran hidup, kita memang mempunyai dua kemungkinan untuk setiap permintaan. Diterima atau ditolak. Sudah barang tentu Ki Demang baru dapat mengambil kepastian setelah menyatakan permintaan itu dan mendapat jawaban. Bahkan kadang-kadang datang lamaran bagi seorang gadis oleh dua tiga orang sekaligus. Dan sudah barang tentu tidak semua akan dapat diterima.”

Ki Demang pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Ya, Kiai. Demikianlah memang seharusnya. Maksudku, apakah sebelum aku datang melamar kepada Ki Gede Menoreh, sudah ada tanda bahwa lamaranku akan diterima?”

“Pada saat itu Ki Demang, ketika aku meninggalkan Menoreh, agaknya tanda-tanda itu memang sudah ada. Sedang anak-anak yang bersangkutan pun tampaknya sudah sejalan. Tetapi aku tidak tahu perkembangan yang terjadi kemudian. Namun menilik bahwa Ki Argapati adalah orang yang cukup dewasa, aku kira ia tidak akan dengan mudah menarik kembali sikapnya. Tentu juga mengenai puterinya itu. Kecuali jika ada keadaan yang sangat memaksa. Pandan Wangi adalah seorang gadis yang memang sedang mekar.”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Karena itu, Ki Demang, sebaiknya hal ini memang harus segera dilakukan. Apakah lamaran ini diterima atau tidak, kita tidak mempersoalkannya sekarang. Kedua-duanya memang mungkin dan kedua-duanya pun wajar. Meskipun demikian menurut penilaianku, lamaran Ki Demang hampir dapat dipastikan akan diterima oleh Ki Argapati sesuai dengan hubungan yang pernah ada, jika tidak ada persoalan yang mendesak seperti yang aku katakan tadi.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Memang hal itu adalah kewajiban yang harus dilakukan. Karena itu, maka ia pun menganggukkan kepalanya sambil menyahut, “Baiklah Kiai. Aku akan segera pergi ke Menoreh. Tetapi karena Kiai-lah yang dahulu pernah datang kepada Ki Argapati, maka sudah barang tentu aku minta Kiai ikut bersamaku. Apalagi Kiai adalah guru Swandaru yang tentu juga sekaligus akan ikut berkepentingan dengan persoalan anak itu.”

“Tentu aku tidak berkeberatan, Ki Demang. Aku akan pergi ke Menoreh.”

“Bagaimana dengan Ki Sumangkar?” bertanya Ki Demang.

Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun menyahut, “Terserahlah kepada Ki Demang. Apakah aku perlu menyertainya atau tidak. Aku tidak mempunyai pilihan sendiri untuk itu.”

Ki Demang merenung sejenak, lalu, “Mengingat perjalanan yang jauh, alangkah baiknya jika Ki Sumangkar pergi bersama kami. Banyak kemungkinan dapat terjadi di perjalanan. Apalagi suasana yang kini hampir tidak menentu. Di perbatasan yang kabur antara Pajang dan Mataram, akan dapat ditemui banyak persoalan-persoalan di luar dugaan. Seperti yang aku dengar, hantu-hantu Alas Mentaok yang ternyata terjadi dari orang-orang yang mempunyai kepentingan tertentu. Orang-orang yang menyerang rumah Anakmas Untara yang dihuni oleh para perwira dan barangkali banyak lagi hal yang serupa meskipun bentuknya berbeda.”

“Jika demikian kita akan berjalan dalam sebuah rombongan kecil,” sahut Ki Sumangkar. “Sudah barang tentu Anakmas Agung Sedayu akan ikut serta bersama kita. Dan bagaimana dengan Sekar Mirah?”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sebaiknya Sekar Mirah menunggu ibunya di rumah. Sudah barang tentu bahwa ibunya tidak akan dapat ikut menempuh perjalanan begitu panjang dan terbahaya.”

Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku sependapat dengan Ki Demang. Tetapi menilik sifatnya, bagaimana jika ia memaksa juga.”

“Kita akan mencoba meyakinkan, bahwa ibunya memerlukan seorang pelindung. Sudah tentu bukan orang lain yang paling dapat dipercaya. Dan sudah barang tentu aku dan Swandaru kali ini harus pergi meninggalkannya.”

Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun demikian ia masih meragukan, apakah Sekar Mirah yang keras hati itu dapat dibujuknya untuk tinggal.

“Kita besok akan bersiap-siap,” berkata Ki Demang. “Aku menyadari bahwa hal ini harus segera dilaksanakan agar persoalannya tidak berkembang ke arah yang tidak kita kehendaki. Kita tidak tahu apakah yang sudah terjadi di Menoreh akhir-akhir ini dan kita juga tidak tahu apa yang terjadi di daerah yang sedang tumbuh itu. Mudah-mudahan kita masih dapat lewat tanpa dihalang-halangi oleh keadaan dan suasana yang bagaimana pun juga.”

“Baiklah, Ki Demang,” berkata Kiai Gringsing. “Kita pun akan segera mendapat penyelesaian. Jika pembicaraan telah bulat, maka pelaksanaanya pun sebaiknya di lakukan dengan cepat.”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Aku akan berbicara dengan Nyai Demang dan Sekar Mirah. Silahkan Kiai memberitahukan kedua anak-anak muda itu agar mereka pun mempersiapkan diri menempuh perjalanan yang panjang ini, Kiai. Meskipun keduanya pernah pergi ke Menoreh, namun mereka pun harus membuat ancang-ancang untuk perjalanan ini.”

Demikianlah maka malam itu juga Ki Demang di Sangkal Pulung telah berbicara dengan isterinya tentang rencana kepergiannya ke Menoreh.

“Kapan Ki Demang akan pergi?” bertanya isterinya.

“Besok aku akan menyerahkan pengamatan dan pimpinan kademangan ini kepada bebahu Kademangan Sangkal Putung. Mereka akan menjalankan tugasku sehari-hari, tetapi mereka tidak akan mengambil tindakan yang sangat penting yang menyangkut perubahan apa pun di Sangkal Putung. Besok lusa aku akan menyiapkan bekal dan minta diri kepada orang-orang tua bersama Swandaru. Jadi hari berikutnyalah aku akan berangkat.”

“Begitu tergesa-gesa?” isterinya menjadi heran. “Tentu tidak mungkin. Jika kau mengikat seorang gadis, tentu harus membawa barang-barang yang umumnya dipergunakan sebagai pengikat. Pakaian sepengadeg, dan beberapa jenis barang lainnya.”

“Aku belum akan membelikan peningset. Bukankah kita belum pernah melamarnya dengan resmi? Jika semua persoalan telah selesai, barulah aku akan pergi lagi membawa peningset itu.”

Nyai Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu ia pun bertanya, “Siapa saja yang akan pergi bersama Ki Demang?”

“Kiai Gringsing yang pernah merintis pembicaraan dengan Ki Gede Menoreh, kemudian sudah tentu Swandaru sendiri, Angger Agung Sedayu dan Ki Sumangkar.”

“Bagaimana dengan Sekar Mirah?”

“Biarlah ia tinggal di rumah mengawanimu. Ia bukan saja anak kita, tetapi ia adalah pelindung yang dapat dipercaya. Sekar Mirah sekarang memiliki kemampuan yang jauh lebih besar dari kemampuan Ki Jagabaya jika di rumah ini datang sesuatu yang membahayakan.”

“Bagaimana jika ia ingin ikut, karena Ki Demang pergi bersama dengan Anakmas Agung Sedayu dan gurunya Ki Sumangkar?”

“Aku akan berbicara. Panggillah anak itu sebentar jika ia belum tidur.”

Sejenak kemudian maka Sekar Mirah pun telah duduk bersama ayah dan ibunya. Tampaklah bahwa ia menjadi gelisah. Bahkan Sekar Mirah menyangka bahwa ayahnya akan berbicara tentang dirinya sendiri.

Tetapi ketika ayahnya sudah mengatakan maksudnya, tiba-tiba saja ia tidak lagi menjadi gelisah, tetapi sepercik kekecewaan telah melonjak di hatinya. Sebenarnya ada keinginan di dalam hatinya, bahwa persoalannya pun sebaiknya segera diselesaikan. Tetapi sudah barang tentu, sebagai seorang gadis ia tidak dapat mengatakannya.

“Kau tinggal di rumah Mirah,” berkata ayahnya.

“Aku ikut,” Sekar Mirah bersungut-sungut.

“Kau tinggal di rumah.”

“Semua orang pergi, dan aku tinggal di rumah.”

“Justru karena semua orang pergi. Kau mengawani ibumu. Jika kau juga pergi, maka ibumu akan tinggal di rumah tanpa seorang kawan pun.”

“Kenapa Ibu tidak pergi sama sekali? Bukankah akan lebih baik jika Ayah datang berdua bersama Ibu?”

“Tentu. Tetapi perjalanan ke Menoreh bukan perjalanan yang pendek. Bukankah kau pernah pergi ke sana? Kau dapat membayangkan, bagaimanakah sulitnya jika ibumu juga pergi bersama kami.”

Sekar Mirah merenung sejenak. Tetapi tampak membayang kekecewaan di wajahnya.

“Aku tidak akan pergi terlalu lama, Mirah. Kau tahu bahwa kini aku sedang sibuk dengan Sangkal Putung yang sedang berkembang ini.”

“Kenapa aku tidak boleh ikut, Ayah?”

“Sudah aku katakan. Ibumu tidak ada pelindungnya. Kau adalah pelindung yang paling baik baginya.”

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam.

“Ya, Mirah,” berkata ibunya, “tanpa kau aku menjadi sendiri. Bagaimana pun juga tenteramnya kademangan ini, tetapi aku pasti masih juga selalu cemas jika aku sekedar menyandarkan keselamatan isi rumah ini kepada peronda.”

Sekar Mirah tidak menyahut. Kepalanya sajalah yang kadang-kadang menengadah, kadang-kadang tunduk. Sebenarnya ia ingin sekali turut menempuh perjalanan. Selain ia dapat pergi bersama gurunya dan Agung Sedayu, ia pun dapat melihat keadaan yang berbeda dari yang dilihatnya sehari-hari.

Tetapi ketika terpandang wajah ibunya yang suram, maka ia pun berkata, “Baiklah, Ayah. Aku akan mengawani Ibu di rumah.”

“Terima kasih, Sekar Mirah. Aku akan pergi dengan tenang jika kau bersedia menjaga ibumu.”

Demikianlah maka Ki Demang sudah mendapat keputusan untuk berangkat besok tiga hari lagi. Ketika Sekar Mirah bertemu dengan gurunya, maka gurunya pun memberinya nasehat seperti yang dikatakan oleh ayahnya.

“Jagalah ibumu baik-baik. Meskipun kau seorang gadis, tetapi kau adalah gadis yang lain dari gadis-gadis kawanmu bermain. Kau tidak saja dapat bermain nini towong di terang bulan, tetapi kau dapat melindungi ibumu dari bahaya yang sebenarnya.”

Kesempatan yang singkat sebelum mereka berangkat, dipergunakan oleh Ki Demang untuk menyerahkan pimpinan kademangan kepada para bebahunya, kemudian minta diri kepada orang-orang tua agar lamarannya dapat diterima oleh Ki Gede Menoreh.

“Hati-hatilah,” pesan seorang yang rambutnya telah menjadi putih seluruhnya, “perjalanan ini sangat jauh dan berbahaya karena kalian harus melewati Alas Tambak Baya, Alas Mentaok, menyeberang sungai yang besar dan deras, dan perjalanan di daerah yang asing bagi kalian.”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia pergi bersama beberapa orang yang dapat dipercaya, namun setiap pesan diperhatikannya juga. Meskipun kadang-kadang orang-orang tua yang memberinya pesan mawanti-wanti itu sama sekali belum pernah melihat Alas Tambak Baya dan Alas Mentaok, namun tanggapan naluriah mereka kadang-kadang berguna baginya.

Dan atas pesan orang tua yang rambutnya sudah memutih itu Ki Demang menyahut, “Terima kasih, Paman. Perjalanan ini memang perjalanan yang jauh.”

“Dengan siapa kau akan pergi?”

“Dengan Swandaru dan beberapa orang lagi.”

“Kau tidak membawa Ki Jagabaya?”

“Tidak, Paman.”

“O, bawalah dia. Orang itu akan dapat memberikan perlindungan kepadamu dan kepada anakmu.”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Tetapi orang itu memang tidak tahu bahwa Swandaru sendiri mempunyai kemampuan melampaui Ki Jagabaya, karena orang tua itu sudah jarang-jarang keluar rumahnya. Tetapi Ki Demang menjawab, “Tenaga Ki Jagabaya diperlukan di kademangan ini, Paman. Ia harus melindungi tidak hanya satu dua orang, tetapi beratus-ratus, bersama-sama anak-anak muda Sangkal Putung.”

“Tidak ada apa-apa di sini. Kademangan ini cukup aman. Tetapi Alas Tambak Baya dan Alas Mentaok itu sangat wingit. Bukan saja hantu-hantu penunggu pepohonan yang besar-besar dan batu-batu yang angker, tetapi juga penyamun-penyamun dan perampok-perampok yang masih banyak berkeliaran.”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Jawabnya, “Aku akan sangat hati-hati. Meskipun aku tidak pergi bersama Ki Jagabaya, namun aku pergi bersama beberapa orang kawan yang dapat dipercaya.”

“Tetapi mereka tidak akan memberi ketenangan seperti Ki Jagabaya.”

“Mudah-mudahan mereka dapat melindungi aku seperti Ki Jagabaya.”

Orang tua itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Jika kau yakin mereka dapat melindungi kau seperti Ki Jagabaya, terserahlah. Aku hanya dapat berdoa, mudah-mudahan kau selamat, dan Cucu Swandaru dapat menemukan jodohnya.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi kenapa ia mengambil perempuan yang begitu jauh?”

“Hati mereka telah bertaut.”

“Di mana mereka bertemu?”

“Di Menoreh.”

“Apakah Swandaru pernah pergi ke Menoreh?-”

“Pernah. Belum lama ia kembali.”

“O,” orang tua itu mengangguk-angguk. Lalu, “Anak-anak sekarang. Masih ingusan sudah sampai ke ujung bumi. Syukurlah ia kembali dengan selamat. Dan mudah-mudahan perjalananmu pun selamat pula.”

“Terima kasih, Paman. Kami yang akan berangkat mohon pengestu.”

Demikianlah orang-orang tua yang lain pun berpesan serupa. Bahkan para bebahu Kademangan Sangkal Putung yang mengetahui siapa Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, Agung Sedayu, dan Swandaru sendiri pun berpesan agar mereka berhati-hati.

“Menurut pendengaran kami,” Ki Jagabaya berkata, “perampokan dan penyamun di sepanjang jalan menjadi semakin meningkat. Mungkin hal ini disebabkan kegagalan mereka di Mataram dan juga di Jati Anom serta di tempat-tempat lain, mendorong mereka untuk mengambil jalan lain. Semua jalan yang menuju ke Mataram tidak tenteram sama sekali. Ada dugaan bahwa orang-orang yang tidak senang melihat Mataram berdiri itu berusaha untuk membendung arus manusia yang tidak henti-hentinya memasuki daerah baru itu.”

“Memang masuk akal,” berkata Kiai Gringsing yang hadir juga di antara mereka, “orang-orang yang kecewa itu dapat berbuat apa saja. Tetapi mungkin mereka tidak sekedar melepaskan kekecewaannya. Tetapi semuanya itu dilakukan atas suatu dasar pertimbangan dan perhitungan yang masak.”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun Kiai Gringsing melanjutkan, “Tetapi kita akan berhati-hati. Kita akan mencari jalan yang paling aman, yang jauh dari kemungkinan perampokan dan penyamun.”

Ki Demang masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

Dalam pada itu Ki Jagabaya berkata, “Tetapi kita percaya kepada Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar. Apalagi mereka sudah pernah pergi ke Menoreh. Bahkan Sekar Mirah pun pernah. Bedanya, sekarang perampok-perampok itu bagaikan semut yang diusir dari sarangnya. Bertebaran ke mana pun di seluruh hutan.”

“Pasti ada jalan yang tidak mereka awasi. Justru jalan-jalan sempit dan yang jarang dilalui orang. Meskipun kemungkinan untuk bertemu dengan mereka masih ada juga.”

Para bebahu Sangkal Putung itu pun mengangguk-anggukkan kepala. Tetapi mereka percaya bahwa Ki Demang akan dapat sampai ke tempat tujuan dan kembali ke Sangkal Putung, meskipun ada juga perasaan was-was di dalam hati. Jika terjadi sesuatu atasnya, maka orang yang berhak mewarisi ikut serta bersamanya. Yang tinggal adalah Sekar Mirah. Sedang anak muda yang agaknya dipilihnya menjadi sisihannya, pergi juga bersama Ki Demang itu.

Namun demikian, rencana Ki Demang tetap dilaksanakan. Setelah hari yang ditentukan tiba, maka semuanya pun telah siap. Mereka kini tidak sekedar berjalan kaki, tetapi mereka akan pergi berkuda, supaya perjalanan mereka tidak terlampau lama.

“Cepatlah pulang, Ayah,” pesan Sekar Mirah dengan suara yang tersangkut di kerongkongan.

Ki Demang memandang wajah Sekar Mirah yang muram. Seakan-akan ia melihat wajah gadis itu semasa kanak-kanak apabila ia ingin ikut pergi bersamanya keliling kademangan.

“Kau tinggal bersama ibu.”

“Tidak, aku ikut Ayah.”

“Kau lelah.”

“Tidak.”

Dan jika ia tidak mengijinkannya, maka gadis kecil itu akan menangis.

Tetapi sekarang Sekar Mirah berusaha menahan air mata yang sebenarnya hampir pecah dari pelupuknya. Namun, Sekar Mirah itu menyadari bahwa ia bukan anak-anak lagi, dan bahkan ia kini adalah pelindung ibunya di dalam segala hal. Ia harus melayani ibunya sebagai seorang gadis, tetapi jika perlu ia harus melindungi ibunya sebagai seorang yang memiliki ilmu kanuragan.

Bukan saja Ki Demang yang memandang Sekar Mirah dengan iba, tetapi juga Kiai Gringsing, Sumangkar, Swandaru, dan Agung Sedayu. Mereka mengerti betapa perasaan gadis itu. Sekaligus beberapa orang yang tersangkut di hatinya telah pergi. Ayahnya, kakaknya, gurunya, dan seorang anak muda yang telah merampas hatinya.

Karena itu, maka wajah-wajah itu pun menjadi muram dan berkesan dalam.

Namun akhirnya mereka pun berangkat juga meninggalkan Kademangan Sangkal Putung. Di regol halaman berdiri Nyai Demang bersama Sekar Mirah dan beberapa bebahu kademangan beserta beberapa orang tua tetangga terdekat.

“Mudah-mudahan kalian selamat di perjalanan,” seorang perempuan tua berdoa sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, “dan kalian akan pulang membawa seorang menantu yang cantik bagi Nyai Demang.”

Demikianlah, mereka mulai dengan sebuah perjalanan yang jauh. Perjalanan yang mereka sadari sebagai perjalanan yang cukup berat.

Tetapi Ki Demang tidak merasa cemas sama sekali, karena lima orang yang menempuh perjalanan itu, empat di antaranya sudah pernah melakukannya.

Beberapa saat lamanya mereka masih menyusuri jalan di Kademangan Sangkal Putung. Beberapa orang yang sudah mendengar bahwa Ki Demang akan pergi ke Menoreh yang mereka jumpai, mengucapkan juga beberapa ucapan selamat jalan, sedang satu dua orang yang masih belum jelas bertanya, “Apakah Ki Demang akan menempuh perjalanan jauh?”

“Ya,” jawab Ki Demang.

“Jadi benar kata orang bahwa Ki Demang akan pergi ke Menoreh?”

“Ya.”

“Sebuah perjalanan yang jauh dan berbahaya. Ki Demang akan melintasi hutan yang penuh dengan binatang buas.”

Demang mengerutkan keningnya. Yang dikatakan orang ini agak berbeda dengan yang pernah diucapkan oleh orang lain. Yang terdahulu selalu memperingatkan, agar kelompok kecil yang bersamanya pergi ke Menoreh itu berhati-hati menghadapi penyamun, perampok, atau sekelompok orang-orang yang sekedar ingin mengacau dan membendung orang-orang yang mengalir ke Mataram dan sebangsanya. Tetapi yang seorang ini memperingatkan agar mereka berhati-hati terhadap binatang buas. Namun sambil tersenyum Ki Demang berkata, “Tentu. Kami akan berhati-hati menghadapi apa dan siapa pun.”

“Alas Mentaok adalah sarang binatang buas,” katanya. “Ada lebih dari lima jenis harimau yang hidup di hutan itu. Dan yang tidak kalah ganasnya adalah anjing hutan. Meskipun seekor demi seekor anjing hutan itu tidak begitu berbahaya, tetapi jika mereka datang dalam kelompok yang terdiri dari puluhan dan bahkan ratusan ekor, maka sebenarnyalah kalian bertemu dengan bahaya maut.”

“Kami dapat memanjat,” jawab Ki Demang.

“Kuda-kuda kalianlah yang akan tinggal menjadi kerangka tidak lebih dari seratus hitungan.”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Namun Kiai Gringsing-lah yang menyahut, “Mudah-mudahan kami tidak bertemu dengan segerombolan anjing hutan yang berbahaya itu.”

“Mudah-mudahan. Anjing hutan itu sama sekali tidak dapat didekati. Sekelompok banteng pun akan menepi jika mereka menyadari bahwa mereka berada di dalam lingkungan anjing-anjing hutan, meskipun anjing-anjing hutan itu tidak menyerang mereka.”

“Terima kasih,” Ki Sumangkar-lah yang kemudian menyahut.

Ketika mereka melanjutkan perjalanan, maka tampak wajah Ki Demang agak berkerut, sehingga sambil tersenyum Kiai Gringsing berkata, “Peringatan yang baik. Tetapi kita tidak perlu cemas. Anjing-anjing hutan yang liar itu hidup beberapa tahun yang lampau, sebelum Mentaok dihuni oleh hantu-hantu yang menakut-nakuti orang-orang Mataram yang membuka hutan itu. Hantu-hantu itu agaknya mempunyai cara yang baik untuk membunuh anjing-anjing liar itu, sehingga jumlahnya cepat sekali susut.”

“Bagaimana cara mereka membunuh anjing-anjing liar itu?” bertanya Ki Demang.

“Dengan racun. Mereka adalah orang-orang yang ahli dalam hal bermain-main dengan racun. Seekor lembu dilumuri racun hampir diseluruh tubuhnya. Kemudian lembu itu di lepaskan di antara anjing-anjing liar. Nah, sekaligus mereka dapat membunuh berpuluh-puluh anjing liar itu.”

Ki Demang Sangkal Putung itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan wajahnya yang mulai berkerut itu pun menjadi cerah kembali.

Dalam pada itu kuda mereka berjalan terus. Semakin lama semakin jauh meninggalkan Kademangan Sangkal Putung.

Di perjalanan itu Ki Demang justru merasa dirinya sebagai anak-anak yang berjalan di antara pemomongnya. Meskipun di antara mereka terdapat anaknya yang masih muda dan Agung Sedayu, namun ia merasa bahwa mereka itu adalah pelindung-pelindingnya yang baik. Ia merasa bahwa ia adalah orang yang paling lemah di antara sekelompok kecil orang-orang yang akan pergi ke Menoreh itu.

Demikianlah mereka berjalan terus. Dengan mengendarai kuda, mereka maju lebih cepat daripada berjalan kaki. Tetapi apabila mereka sampai ke daerah-daerah yang berhutan lebat, maka mereka akan maju lebih lambat daripada jika mereka tidak membawa kuda. Di dalam hutan yang lebat, kuda bukannya tunggangan. Bahkan kadang-kadang kuda merudang menikmati bekal mereka.

Namun selagi mereka masih berada di luar hutan, maka perjalanan mereka sama sekali tidak terhambat. Kuda mereka berlari kencang, seakan-akan berpacu dengan matahari yang semakin lama menjadi semakin tinggi.

Ketika matahari mencapai nuncak langit, maka mereka pun beristirahat sejenak. Mereka memberi kesempatan kepada kuda mereka untuk makan rumput yang hijau, sedang penunggang-penunggangnya pun duduk di bawah pohon yang rindang menikmati bekal mereka.

Selagi mereka duduk sambil menyuapi mulut mereka, mereka melihat seseorang datang mendekat. Dengan ragu-ragu orang itu bertanya, “Apakah Ki Sanak sedang dalam perjalanan?”

Ki Demang yang duduk di paling tepi menjawab, “Ya, kami sedang dalam perjalanan.”

“Apakah Ki Sanak akan menyeberang hutan Tambak Baya dan Mentaok?”

Ki Demang menjadi ragu-ragu sejenak, lalu dipandanginya Kiai Gringsing yang duduk di sampingnya

“Kami akan pergi ke Menoreh Ki Sanak,” jawab Kiai Gringsing.

“O, apakah kalian tidak akan pergi ke Mataram yang sekarang sedang tumbuh?”

Kiai Gringsing menggeleng.

“Sayang,” desisnya.

“Kenapa?”

“Aku ingin pergi ke Mataram.”

“Kenapa kau tidak pergi?”

“Aku menunggu beberapa orang yang akan bersama-sama menyeberangi Alas Tambak Baya ini.”

“Kenapa harus menunggu?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Jalan terlampau berbahaya. Jika kita ingin menyeberangi hutan, biasanya beberapa orang pergi bersama.”

“Siapakah yang mengatakan kepada Ki Sanak?”

“Orang-orang yang tinggal di sebelah hutan itu. Jika Ki Sanak singgah pada sebuah warung, maka orang-orang itu akan memberitahukan kepada Ki Sanak.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Jika Ki Sanak ingin pergi bersama dengan kami sampai ke seberang Alas Tambak Baya, kami tidak berkeberatan sama sekali. Tetapi selanjutnya Ki Sanak pergi sendiri ke Mataram.”

“Aku tidak berani.”

“Jika demikian, kami akan mengantar Ki Sanak sampai ke Mataram. Kami akan singgah di Mataram sejenak.”

Tiba-tiba saja orang itu menjadi ragu-ragu. Lalu katanya, “Apakah Ki Sanak siap menghadapi kemungkinan yang dapat terjadi di perjalanan?”

“Apakah yang mungkin terjadi?”

“Perampokan.”

“Kami tidak membawa apa-apa. Mungkin bekal makan kami inilah yang akan dirampoknya. Nasi jagung dan gembrot sembukan. Selebihnya tidak ada.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Kuda kalian adalah kuda-kuda yang tegar.”

“Kuda padesan. Sekedar dapat menyambung perjalanan.”

Orang itu masih ragu-ragu. Namun kemudian ia menggeleng, “Tidak usah, Ki Sanak. Aku tidak akan mengganggu Ki Sanak. Silahkan berjalan terus ke Menoreh.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian, “Sebenarnya arah perjalanan kami masih belum pasti. Kami mungkin akan langsung pergi ke Menoreh, tetapi ada juga niat kami pergi ke Mataram.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi di mana bekal dan barang-barang Ki Sanak disimpan?”

“Ada diwarung itu. Di pinggir Alas Tambak Baya.”

“Kenapa Ki Sanak ada di sini? Kenapa Ki Sanak tidak menunggu saja di pinggir hutan itu?”

Orang itu termangu-mangu sejenak, namun kemudian jawabnya, “Aku sedang berjalan-jalan di sini ketika aku melihat kalian berhenti dan beristirahat di sini.”

“O,” Kiai Gringsing mengangguk-angguk, “jika Ki Sanak berubah pendirian dan ingin pergi bersama kami, beritahukan hal itu kepada kami.”

“Apakah kalian akan berjalan terus?”

“Ya. Kami akan bermalam di seberang Alas Tambak Baya jika kami dapat mencapainya.”

“Tetapi kemana sebenarnya kalian akan pergi?”

“Kami belum tahu. Mungkin kami dapat berganti haluan dengan tiba-tiba.”

“Tetapi kalian tentu mempunyai rencana.”

“Rencana kami masih belum pasti. Tetapi jika kau akan pergi bersamaku, kami akan memastikan rencana kami. Kami pergi ke Mataram, karena kami mempunyai saudara yang tinggal di sana.”

Orang itu menjadi termangu-mangu. Namun katanya kemudian, “Terima kasih. Pergilah ke Menoreh. Aku akan menunggu orang lain.”

Kiai Gringsing tidak segera menyahut. Dipandanginya orang itu tajam-tajam, sehingga ketika tatapan mata mereka beradu, orang itu memalingkan wajahnya.

“Kenapa kau tiba-tiba mengurungkan niatmu pergi bersama kami?” bertanya Kiai Gringsing.

“Aku tidak mau mengganggu kalian, selamat jalan.”

Orang itu tidak menunggu Kiai Gringsing menjawab. Tetapi ia pun segera meninggalkannya. Namun ia sama sekali tidak pergi ke padesan di pinggir hutan Tambak Baya.

Sepeninggal orang itu Ki Demang di Sangkal Putung berkata, “Aku menjadi bingung. Orang itu pun agaknya menjadi bingung mendengar keterangan Kiai.”

Kiai Gringsing memandang orang yang semakin lama menjadi semakin jauh itu. Gumamnya kemudian seakan-akan kepada diri sendiri, “Aku menjadi curiga kepadanya.”

“Kenapa Kiai menjadi curiga?”

“Mula-mula hanya sekedar firasat, tetapi semakin lama aku melihat tanda-tanda itu. Kenapa ia tidak mau pergi bersama kami ke Mataram?”

“Mungkin ia menjadi curiga juga kepada Kiai, karena tiba-tiba saja Kiai berputar haluan.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Mungkin aku terlampau berprasangka, Tetapi mudah-mudahan orang itu sama sekali tidak berniat buruk.”

“Ia seorang diri.”

“Seharusnya ia tidak berada di sini, tetapi di padesan itu. Tetapi mungkin juga ia mempunyai beberapa orang kawan yang menunggui barang-barangnya.”

“Marilah kita pergi ke padesan itu,” tiba-tiba saja Ki Sumangkar menyela. “Di sana ada orang yang menjual makanan, barangkali kita dapat membeli tambahan bekal di perjalanan.”

Kiai Gringsing merenung sejenak, lalu, “Baiklah. Kita pergi ke padesan yang kecil itu.”

Demikianlah mereka pun segera pergi kepadesan itu. Dilihatnya beberapa orang duduk di sebuah gardu. Tetapi mereka adalah orang-orang yang beristirahat setelah bekerja di sawah, ternyata dari alat-alat yang masih ada pada mereka.

“Hanya ada sebuah warung kecil,” berkata Ki Sumangkar, “agaknya jalan ini memang sepi.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Marilah kita membeli bekal.”

“Bekal kita sudah cukup,” berkata Ki Demang.

“Sekedar berbicara dengan penjual itu.”

“Baiklah. Aku menunggu di sini.”

Kiai Gringsing dan Sumangkar-lah yang kemudian mendekat. Sambil membeli beberapa macam makanan Ki Gringsing berkata, “Apakah jalan ini menjadi sepi sekarang?”

“Ya, Ki Sanak,” jawab penjual makanan yang sudah agak lanjut itu, “jalan sangat sepi.”

“Kenapa?”

“Aku tidak tahu. Tetapi menurut pendengaranku jalan sekarang menjadi tidak aman. Banyak orang yang terpaksa melepaskan barang-barangnya karena mereka tidak mau kehilangan nyawanya.”

“Perampok?”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam.

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar berpandangan sejenak. Ternyata apa yang mereka dengar selagi mereka masih di Sangkal Putung itu tidak jauh dari keadaan yang sebenarnya. Bagi Kiai Gringsing, perampokan yang terjadi itu bukan semata-mata untuk mendapatkan barang-barang dan kekayaan, tetapi tentu suatu usaha untuk memisahkan Mataram dari lingkungan disekitarnya.

“Tetapi apakah masih ada orang yang kadang-kadang lewat?”

“Ya, kadang-kadang. Beberapa orang kadang-kadang berkumpul di sini. Mereka membentuk semacam kelompok kecil untuk menyeberangi Alas Tambak Baya dan kemudian masuk ke Alas Mentaok yang sedang dibuka itu.”

“Kau tahu segala-galanya,” berkata Ki Sumangkar.

Orang itu mengerutkan keningnya. Lalu suaranya menjadi terputus-putus, “Tidak. Aku tidak tahu apa-apa.”

Tetapi Sumangkar tersenyum, “Jangan takut. Aku bukan ingin menakut-nakutimu. Tetapi apakah di dalam kelompok-kelompok kecil orang tidak takut dirampok? Bagaimana jika perampoknya berjumlah besar?”

“Kadang-kadang ada prajurit Mataram yang datang kemari. Hampir setiap tiga hari, sehingga orang-orang itu sabar menunggu. Jika ada prajurit Mataram datang menyongsong mereka, maka mereka pun pergi dengan aman ke Mataram. Tetapi akhir-akhir ini sering timbul kerusuhan tidak di tengah-tengah hutan, tetapi di sekitar tempat ini.”

“Maksudmu perampok-perampok itu datang kemari?”

Orang itu tidak segera menjawab. Tetapi dipandanginya kedua orang yang berdiri di muka barang-barang dagangannya itu. Sekali-sekali ia memandang Ki Demang, Agung Sedayu yang berdiri beberapa langkah dari tempatnya sambil memegangi kuda.

“Tetapi siapakah kalian?” bertanya penjual makanan itu.

“Yang berdiri itu adalah Demang Sangkal Putung,” sahut Kiai Gringsing, “jangan takut. Kami hanyalah sekedar lewat.”

“Ya. Aku dapat mengenal dari wajah dan sikap kalian, bahwa kalian bukan dari golongan mereka. Tetapi ….” orang itu tidak melanjutkan kata-katanya.

“Apakah kau melihat seseorang yang kau curigai?”

Orang itu tidak menyahut. Tetapi diedarkannya pandangan matanya berkeliling.

Kiai Gringsing dan Sumangkar mengikuti arah pandangan mata orang itu. Tetapi mereka tidak melihat seseorang pun.

“Dinding-dinding sekarang mempunyai telinga,” berkata orang itu, “aku tidak berani mengatakan apa pun.”

“Jangan takut. Tidak ada orang lain yang mendengar.”

Orang itu masih ragu-ragu. Lalu, “Apakah Ki Sanak yakin?”

“Ya. Aku yakin, tidak ada orang lain yang mendengar.”

“Tetapi siapakah sebenarnya Ki Sanak berdua?”

“Kami adalah saudara-saudara Ki Demang. Kami adalah paman-pamannya.”

“Dan kedua anak-anak muda itu?”

“Yang seorang anaknya, yang seorang kemanakannya.”

“Kalian tinggal di Sangkal Putung?”

“Ya.”

“Baiklah. Aku ingin mengiakan pertanyaan Ki Sanak. Para perampok itu kadang-kadang datang kemari, karena semakin sedikit orang yang lewat menyeberang hutan Tambak Baya dan hutan Mentaok.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu bertanya, “Apakah hari ini tidak ada seorang pun yang akan menyeberang hutan ini?”

“Ada seorang. Ia menunggu kawan.”

“Di mana ia sekarang. “

“Berjalan-jalan. Ia sangat gelisah karena belum ada kawan yang akan pergi bersamanya.”

“Bukankah sering ada pengawal-pengawal Mataram yang kau sebut sebagai prajurit-prajurit itu?”

“Ia menjadi gelisah karena perampok-perampok itu sekarang tidak sekedar menunggu, tetapi mereka menyongsong korban-korban mereka kemari.”

Kiai Gringsing menjadi gelisah. Dipandanginya Sumangkar dengan wajah yang tegang. Lalu, “Jadi, jadi mereka akan datang kemari.”

“Ya.”

“Kalau begitu aku tidak akan beristirahat di sini. Aku akan pergi seperti orang itu. Atau sebaiknya aku kembali saja ke Sangkal Putung.”

“Kenapa kembali?”

“Aku tidak dapat menyediakan diri untuk dibantai oleh para perampok.”

“Bukankah kalian akan pergi ke Mataram?”

“Tidak, kami belum pasti pergi ke Mataram. Mungkin ke Mataram, mungkin ke Menoreh.”

“Kenapa?”

Kiai Gringsing yang gelisah menggeleng, “Tetapi aku kira kita tidak akan pergi ke mana-mana.”

Penjual makanan itu tiba-tiba tersenyum, katanya, “Kenapa kalian menjadi ketakutan?”

Sumangkar yang gemetar berkata, “Kita kembali saja.”

Tetapi orang setengah tua di belakang barang-barang jualannya itu tertawa. Katanya, “Kalian tidak usah takut.”

“Kenapa?”

“Aku tahu jalan yang paling baik yang dapat kau lalui.”

“Maksudmu?”

“Jalan yang jarang-jarang dilalui orang, tetapi justru karena itu kalian tidak akan menjumpai seorang perampok pun. Mereka tidak akan telaten duduk berhari-hari tanpa mendapatkan seorang korban pun.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jadi, ada jalan yang Ki Sanak anggap tidak akan ada seorang perampok pun yang mengganggu perjalanan kami?”

“Ya.”

“Tetapi jalan itu menuju ke Menoreh atau ke Mataram?”

“Kedua-duanya. Kau dapat menempuh jalan itu, kemudian kau dapat memilih jika kalian sampai pada sebuah jalan simpang setelah kalian melewati Alas Tambak Baya.

“Maksudmu jalan itu adalah jalan lurus satu-satunya sehingga kami akan menjumpai jalan simpang?”

“Ya.”

“Terima kasih. Kami harus segera pergi.”

“Ya. Kalian harus segera berangkat sebelum perampok-perampok itu datang.”

“Kapankah kira-kira para pengawal dari Mataram itu akan datang kemari?”

“Baru kemarin mereka datang, tiga hari lagi paling cepat. Mungkin lebih lagi, karena jalan semakin sepi.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia memandang beberapa orang yang ada di gardu. Seorang di antaranya ternyata memperhatikannya baik-baik. Tetapi Kiai Gringsing tidak menghiraukannya.

“Jika demikian kami akan segera pergi. Terima kasih atas petunjuk Ki Sanak. Tetapi jalan manakah yang akan kami tempuh?”

“Melingkarlah. Lewat di belakang padukuhan ini kalian akan sampai jalan sempit yang menjelujur masuk ke dalam hutan. Jalan itulah yang akan kalian lalui.”

“Tetapi jalan itu justru menjauhi arah yang kami tuju. Jalan itu menuju ke Utara, baru ke Barat.”

“Tetapi setelah masuk ke dalam hutan, jalan itu akan melingkar ke Selatan. Memang ada simpang empat pada persilangan jalan itu dengan jalan yang biasa dilalui orang, tetapi kalian dapat berhati-hati dan dengan menyusup gerumbul-gerumbul perdu, kalian dapat menyilang jalan yang sering ditunggui para penyamun itu.”

“Baiklah. Terima kasih. Kami akan segera pergi.”

“Tentu Ki Demang Sangkal Putung membawa bekal banyak sekali.

 

Series 68

 

KIAI GRINGSING termangu-mangu sejenak. Sekilas ia memandang Ki Sumangkar. Dan jawabnya kemudian, “Tidak banyak. Hanya sekedar hadiah untuk bakal menantunya.”

“O, jadi Ki Demang Sangkal Putung akan pergi ke bakal menantunya di Menoreh?”

“Ya.”

Penjual itu tertawa. Katanya, “Kenapa kau membuat dirimu sendiri bingung, dengan cerita bahwa kau akan pergi ke Mataram? Mungkin kau mencoba untuk menghilangkan jejak kepergianmu. Jika di sini ada perampok atau setidak-tidaknya orang-orangnya, mereka tidak tahu pasti kemana kau akan pergi.”

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia mengangguk, “Ya, ya, begitulah.”

“Nah, sekarang pergilah dengan aman. Turutlah nasehat kami.”

“Terima kasih. Jika kau tidak berbaik hati memberitahukan hal itu kepada kami, maka kami tentu akan melewati jalan yang berbahaya itu, dan kami akan terjebak ke dalam sarang para penyamun. Barang-barang Ki Demang yang tidak seberapa nilainya, yang akan diberikan kepada bakal menantunya itu, tentu akan dirampasnya.”

“Ya. Sekarang, pergilah lewat jalan yang aku katakan.”

“Terima kasih.”

“Tetapi, apakah kalian memerlukan bekal di perjalanan kalian?”

“O, hanya sedikit, karena kami sudah membawanya.”

“Ambillah.”

Kiai Gringsing menjadi heran, sehingga ia pun bertanya, “Apakah maksudmu, aku membeli bekal padamu?”

“Ambillah. Kau tidak usah membeli. Jualanku tinggal sisanya. Aku sudah mendapat banyak untung sampai hari ini.”

“Ah, jangan begitu.”

“Ambillah menurut kebutuhanmu.”

Kiai Gringsing menjadi ragu-ragu. Tetapi ia pun mengambil beberapa macam makanan. Lalu sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Kau baik sekali. Mudah-mudahan, kebaikanmu akan berbuah sesuai menurut nilainya.”

Kiai Gringsing dan Sumangkar pun kemudian meninggalkan penjual itu. Tetapi, Kiai Gringsing-lah yang membawa makanan yang diambilnya dari dagangan orang yang memberinya banyak petunjuk itu.

Ketika ia kemudian mendapatkan Ki Demang, maka dikatakanlah semua pesan penjual makanan dan beberapa macam bahan yang sering dibutuhkan di dalam perjalanan yang panjang, apalagi lewat hutan yang lebat.

Ki Demang termangu-mangu sejenak mendengar semua pesan itu. Namun kemudian katanya, “Jadi, kita akan berjalan lewat jalan yang ditunjukkan itu?”

Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya. “Ya. Kita akan pergi lewat jalan yang ditunjukkan itu.”

“Dan bekal itu?” Ki Demang ragu-ragu. “Maksudku, orang itu terlampau baik hati kepada kita.”

“Ya. Ia tahu bahwa Ki Demang akan pergi ke Menoreh, dan aku katakan kepadanya bahwa Ki Demang membawa sekedar hadiah buat bakal menantunya.”

“Ah,” Ki Demang berdesah.

“Sudahlah, marilah kita berangkat sebelum ada seorang perampok yang datang kemari.”

Ki Demang, Agung Sedayu dan Swandaru menjadi ragu-ragu. Tetapi mereka tidak bertanya lagi. Mereka pun segera meloncat ke atas punggung kuda masing-masing dan meneruskan perjalanan, lewat jalan yang ditunjukkan oleh penjual di warung itu.

“Guru,” tiba-tiba Agung Sedayu berkata, “aku merasakan sesuatu yang tidak wajar pada perjalanan kita ini. Apakah benar jalan yang kita lalui ini, jalan yang paling aman?”

“Padukuhan ini terlampau lengang,” desis Swandaru, “Apakah padukuhan ini masih dihuni orang?”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Itulah yang menarik. Dan karena hal yang tidak wajar, dan kelengangan padukuhan inilah aku mau mendengarkan petunjuk orang itu.”

“Maksud Guru, menghindari penyamun?”

Kiai Gringsing tertawa. Katanya, “Kita adalah petualang yang gatal tangan. Tetapi bukan itu maksudku. Jika kita bertemu dengan penyamun, maka kita akan men-dapat keterangan tentang mereka.”

“Aku tidak mengerti, bagaimana maksud Kiai sebenarnya?” bertanya Ki Demang.

Kiai Gringsing pun mengamat-amati makanan yang dibawanya sejenak. Namun makanan itu pun kemudian dilemparkannya jauh-jauh.

“Aku tidak yakin bahwa makanan itu tidak mengandung racun yang sangat lemah, dan dapat memberikan pengaruh atas tenaga kita, sehingga pada suatu saat kita akan kehilangan segenap kemampuan kita.”

“O,”

“Jelasnya, Ki Demang. Aku berprasangka, mudah-mudahan prasangka ini keliru,” Kiai Gringsing berhenti sejenak. Lalu, “Bahwa orang itu telah menjerumuskan kita ke dalam sarang perampok. Padukuhan ini adalah padukuhan yang kosong. Rumah, halaman dan kebun tampak kotor dan tidak terpelihara. Aku tidak melihat seorang pun yang ada di dalam rumahnya. Sawah yang berada di dekat padukuhan ini pun menjadi bera dan tidak ditanami lagi. Tentu padukuhan ini sudah dikosongkan oleh penduduknya dan mereka mengungsi ke padukuhan-padukuhan lain, meskipun mereka masih bekerja di sawah yang agak jauh dari padukuhan ini.”

“O. Dan kita sengaja menjerumuskan diri?”

“Sekedar didorong oleh perasaan ingin tahu. Tetapi mungkin gunanya lebih dari itu.”

Ki Demang termangu-mangu sejenak. Dipandanginya wajah Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar berganti-ganti, dan kemudi-an wajah Agung Sedayu dan Swandaru. Namun sebelum ia berkata sesuatu, Swandaru sudah mendahuluinya, “Kita akan mendapat mainan, Ayah. Apa salahnya kita mencari perampok-perampok itu?”

“Ah, bukankah kita akan melamar seorang gadis? Marilah kita hindari semua kemungkinan yang dapat menghambat perjalanan. Aku bukannya menjadi takut terhadap perampok. Aku lebih takut kepada anjing-anjing liar itu seandainya masih ada. Ketika aku mendengar cerita tentang anjing liar, aku benar-benar menjadi gemetar. Alangkah sakitnya digigit oleh berpuluh-puluh anjing tanpa berbuat sesuatu. Tetapi terhadap para perampok, seandainya terpaksa kita bertemu, apa boleh buat. Aku juga membawa senjata,” Ki Demang berhenti sejenak. Tanpa disadarinya dirabanya hulu pedangnya yang tersangkut di bawah sehelai kain di punggung kuda di bawah pelana, sehingga senjata itu tidak begitu tampak dari kejauhan. Lalu katanya, “Tetapi jika kita tahu benar bahwa kita akan bertemu dengan sekelompok perampok, apa gunanya kita berjalan terus lewat jalan ini? Apakah tidak lebih baik jika kita mengambil jalan lain yang lebih aman dan tidak mengganggu kepergian kita, untuk suatu keperluan yang sangat penting ini?”

Swandaru yang merasa berkepentingan itu pun mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih juga ragu-ragu. Sebenarnya ia ingin juga cepat-cepat sampai ke Menoreh tanpa gangguan apa pun. Tetapi perampok-perampok itu pun tentu sangat menarik hati. Apalagi apabila di antara mereka ada orang-orang yang dapat dianggap penting dari antara mereka.

Kiai Gringsing yang mengangguk-angguk, kemudian menjawab setelah merenung sejenak, “Ki Demang memang benar. Tetapi bagi kita, persoalan perampok itu bukannya sekedar perampok biasa. Perampok itu tentu ada hubungannya dengan berdirinya Mataram. Sebagai daerah yang baru tumbuh, ternyata Mataram menghadapi banyak sekali tantangan. Dimana-mana, orang-orang yang tidak senang terhadap Mataram dengan serentak telah melakukan kegiatannya. Sudah barang tentu semuanya dijalin dalam satu puncak kekuasaan dari mereka itu. Terlebih-lebih lagi, beberapa orang senapati tertinggi Pajang benar-benar tidak mau melihat kehadiran Mataram sebagai suatu daerah yang kuat. Tentu banayak alasan yang dapat dikemukakan. Sebagian dari mereka adalah orang-orang yang tidak ingin melihat Raden Sutawijaya memiliki kekuasaan, karena ia adalah orang yang besar. Jika ia mempunyai bekal kekuasaan atas suatu daerah yang betapa kecilnya, maka ia pasti akan dapat mengembangkan kekuasaan itu dengan baik. Ada pula di antara mereka adalah prajurit-prajurit, yang semata-mata mengemban tugas. Di antara mereka adalah Untara. Ia merasa ikut membina Pajang se-jak berdirinya. Karena itu, maka ia tidak akan dapat dengan mudah melepaskan diri dari ikatan yang terjalin, antara dirinya dengan Pajang. Yang lain adalah orang-orang yang berjiwa kerdil dan dengki, sehingga mereka menjadi iri melihat perkembangan Mataram, sedang yang masih harus di cari sebabnya adalah orang-orang yang langsung merintangi pembukaan hutan itu, di hutan itu sendiri. Mungkin mereka adalah orang-orang yang sebelumnya sudah bertempat tinggal di daerah itu atau di padukuhan-padukuhan di sekitar Alas Mentaok dan sudah mempersiapkan diri untuk membuka hutan itu. Tetapi, sudah barang tentu mereka merasa dihalangi oleh usaha Raden Sutawijaya. Namun semua itu barulah sekedar dugaan.”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Tetapi seperti Swandaru, ia menjadi ragu-ragu. ia berdiri di antara kepentingannya sendiri dan kepentingan yang lebih besar.

“Nah, apakah Ki Demang dapat sepakat dengan perjalanan ini?”

Ki Demang tidak segera menyahut. Di antara, mereka terdapat Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar. Sudah tentu bahwa keduanya adalah pelindung yang baik. Apalagi Ki Demang sendiri bukan sekedar seorang yang harus pasrah diri dalam perlindungan orang lain, karena ia pun mampu pula berkelahi. Tetapi setiap kali ia menjadi gelisah. Jika sesuatu terjadi di perjalanan, apakah yang akan dilakukan kemudian?

Namun akhirnya, Ki Demang tidak dapat mengelak lagi. Meskipun Agung Sedayu dan Swandaru tidak menyatakan pendapatnya lagi, tetapi menurut tatapan mata mereka, keduanya ingin mencoba untuk meneruskan perjalanan lewat jalan sempit itu.

“Baiklah,” berkata Ki Demang, “aku akan mengikuti kalian. Aku percaya bahwa kalian sudah membuat perhitungan yang sebaik-baiknya.”

“Mudah-mudahan semua angan-angan dan prasangka kami tidak benar, Ki Demang.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Marilah, kita melihat apa yang ada di depan kita.”

Kiai Gringsing memandang Ki Demang sejenak. Lalu katanya, “Kita akan berusaha, bahwa apa yang kita lakukan ini tidak mengganggu perjalanan kita, karena pada pokoknya kita sedang pergi ke Menoreh. Apa yang terjadi ini hanyalah sekedar gejolak di permukaan air saja. Tetapi arusnya tetap menuju ke muara.”

Ki Demang memandang wajah Kiai Gringsing sejenak. Namun ia pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Aku sudah terlalu tua untuk bertualang.”

“Umurku lebih tua.”

“Bukan umur. Tetapi jiwa kita masing-masing. Aku adalah seorang Demang yang biasa bekerja di satu tempat yang ajeg, tidak berkeliling kemana-mana. Dan cara hidup yang demikian itulah, yang agaknya membuat jiwaku lebih tua dari Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar.”

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar tersenyum, sedang Swandaru tertawa pendek. Dipandanginya wajah ayahnya yang memang masih nampak lebih muda dari Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar. Bahkan katanya, “Kebiasaan Ayah memang hanya menunggui banjar dan bendungan di Sangkal Putung.”

“Bukan begitu, Ki Demang,” berkata Ki Sumangkar, “kita memang mempunyai pekerjaan dan kebiasaan kita masing-masing. Itulah justru yang membuat kehidupan ini menjadi sangat menarik.”

Ki Demang pun tersenyum pula. Tetapi ia tidak menyahut lagi.

Demikianlah, mereka meneruskan perjalanan melingkar padukuhan yang sepi, kemudian menyusuri jalan sempit di bulak yang tidak ditanami. Tetapi bulak itu pun tidak begitu luas. Kemudian, mereka mengikuti jalan itu berbelok menuju ke Alas Tambak Bayu.

Tetapi jalan yang mereka lalui itu agaknya memang hampir tidak pernah disentuh kaki. Rerumputan liar dan dedaunan yang dilemparkan oleh pepohonan di sebelah-menyebelah jalan itu, sama sekali tidak menyibak.

Meskipun demikian, agaknya sesuatu telah menarik perhatian Kiai Gringsing, Dilihatnya batang-batang rumput yang patah, dan di antara dedaunan kuning yang runtuh, kadang-kadang tampak juga bekas kaki yang belum terlalu lama pada tanah yang gembur lembab.

Karena itu, maka Kiai Gringsing pun kemudian menggamit Ki Sumangkar dan memperlihatkan bekas-bekas yang menarik perhatiannya itu, sambil berjalan terus perlahan-lahan.

Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya. Aku juga melihat.”

Kedua orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas dipandanginya wajah Ki Demang yang tampak bersungguh-sungguh dan wajah kedua anak-anak muda yang justru menjadi cerah. Ternyata udara terbuka membuat mereka menjadi gembira. Mereka dapat melihat alam yang luas dan rasa-rasanya hati mereka pun menjadi lapang, selapang bulak yang tidak ditanami itu.

Tetapi kedua anak-anak muda itu beserta Ki Demang tertegun, ketika mereka melihat Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar yang berkuda di paling depan berhenti sejenak. Tampaknya mereka sedang mengamat-amati jalan di depan kaki-kaki kuda mereka.

“Ada apa, Kiai?” bertanya Ki Demang.

Kiai Gringsing berpaling. Namun ia pun kemudian tersenyum. Katanya, “Tidak apa-apa. Aku hanya melihat bahwa dekat sebelum kita, ada juga orang yang lewat jalan ini. Tentu atas petunjuk penjual itu.”

“O.”

“Aku semakin yakin, bahwa orang yang menunggui warung itu bukan orang yang baik hati seperti kita duga semula. Padukuhan yang berubah cepat sekali sejak kami lewat terakhir kalinya, memberikan kesan yang menarik, sehingga kita memang harus berhati-hati.

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak kemudian ia pun menyahut, “Baiklah. Aku akan berhati-hati. Tetapi mudah-mudahan jika terjadi sesuatu, tidak akan mengganggu rencana perjalanan kita yang sebenarnya.”

“Aku rasa memang tidak, Ki Demang.”

“Ki Demang tidak menyahut lagi. Namun sekali ia berpaling. Di belakangnya, Agung Sedayu dan Swandaru menengadahkan kepalanya sambil memandang ke kejauhan. Memandang sinar matahari yang menjadi semakin terik, membakar wajah bulak yang tidak ditanami.

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya ia memang sudah dipagari oleh kekuatan yang dapat dipercaya. Namun demikian, baginya lebih baik tidak bertemu dan berkelahi dengan siapa pun daripada harus terganggu, meskipun tidak terlalu lama.

“Tetapi bagaimanakah jika kekuatan perampok itu melampaui kekuatan kami?” ia berdesah di dalam hati. Tetapi Ki Demang tidak mau memikirkannya lagi. Bukan karena ia menjadi ketakutan. Tetapi, ia tidak ingkar bahwa ia menjadi cemas.

“Jika aku tidak sedang dalam perjalanan yang penting,” katanya di dalam hati, Ki Demang bukannya orang yang menjadi ketakutan dan bersembunyi ketika Tohpati mengancam kademangannya. Bahkan bersama para pengawal kademangan yang masih muda-muda dan beberapa orang laki-laki yang tidak ingin melihat kademangannya ditelan oleh pasukan Tohpati, Ki Demang maju juga ke medan.

Tetapi yang mencemaskannya kini, adalah justru kepentingan perjalanannya itu. Namun agaknya kawan-kawannya seperjalanan adalah petualang-petualang yang selalu tertarik pada persoalan-persoalan yang mendebarkan. Termasuk anaknya yang menjadi murid Kiai Gringsing. Bahkan jika diijinkan, anaknya perempuan akan berbuat serupa pula.

Namun sebenarnya, jika Kiai Gringsing tertarik kepada perampok-perampok itu, bukan semata-mata karena darah petualangannya. Sebenarnya ia pun telah dicengkam oleh kecemasan. Betapa beratnya tantangan yang harus dihadapi oleh daerah yang sedang tumbuh itu.

“Kenapa aku ikut berprihatin atas Mataram?” kadang ia bertanya kepada diri sendiri.

Namun, betapa pun ia mencoba menyembunyikan perasaannya, tetapi terhadap dirinya sendiri ia harus berkata dengan jujur, bahwa sebenarnyalah ia kecewa terhadap Pajang sekarang. Pajang yang dahulu diharapkan dapat menjadi pelita dan pemersatu daerah-daerah yang bertebaran di tanah ini. Tetapi agaknya Sultan Pajang tidak akan berhasil, karena kemudian ia terbenam dalam kamukten yang berlebih-lebihan, meskipun di masa mudanya ia adalah anak muda yang sangat prihatin. Seorang anak muda yang seakan-akan selalu tidur berselimut embun di sawah, yang beratapkan langit yang luas.

Tetapi Kiai Gringsing selalu mencoba menghindarkan diri dari setiap dorongan untuk berbuat lebih jauh lagi. Bahkan kadang-kadang ia mencoba menasehati dirinya sendiri, “Apakah artinya kau seorang diri. Seorang dukun tua, yang tersisih dari percaturan pemerintah sejak Demak masih berdiri?”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Dan ia terperanjat ketika ia mendengar suara sawangan berdesing di atas kepalanya.

Dengan serta-merta Kiai Gringsing menengadahkan wajahnya. Tetapi dedaunan di sebelah-menyebelah jalan yang rimbun menutup pandangannya, sehingga ia tidak dapat melihat seekor merpati yang terbang dengan sawangan itu. Ketika ia maju beberapa langkah dan berhenti di tempat terbuka, suara sawangan itu telah menjadi semakin jauh.

“Merpati dengan sawangan,” ia berdesis.

“Ya,” sahut Ki Sumangkar, “ketika aku masih kanak-kanak, aku senang juga bermain dengan burung merpati yang diberi sawangan, sehingga seolah-olah kita mendengar desing yang tiada putus-putusnya di udara.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ketika ia berpaling, dilihatnya Ki Demang menjadi heran dan bertanya, “Apakah Kiai juga senang bermain sawangan?”

Kiai Gringsing tersenyum. Sebelum ia menjawab Swandaru pun berkata pula, “Aku mempunyai banyak sawangan di rumah. Tetapi burung merpatiku sudah hampir habis disembelih. Ayah dan Ibu ternyata benci kepada burung merpati, karena merusak genting dan mengotori dinding.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia menengadahkan kepalanya karena suara itu terdengar lagi, semakin lama semakin dekat.

“Aku pernah mendengar isyarat semacam ini.” katanya.

“Isyarat?” bertanya Ki Demang.

“Aku kira di padukuhan yang kosong, tidak ada anak-anak yang bermain sawangan.”

Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Katanya, “Memang agak aneh bahwa di sini ada seekor merpati dengan sebuah sawangan.”

“Maksud, Kiai, apakah merpati ini suatu isyarat bagi para perampok itu?”

“Boleh jadi. Orang-orang di pinggir padukuhan itulah yang melepaskannya, untuk memberitahukan bahwa di jalan ini lewat beberapa orang yang dapat dijadikan korbannya.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengerutkan keningnya ia berkata, “Jadi menurut dugaan, Kiai, kita sudah hampir berpapasan dengan perampok-perampok itu?”

“Sekedar dugaan. Sebentar lagi kita memasuki hutan yang semakin lebat. Memang mungkin sekali kita ditunggu oleh para perampok itu di mulut hutan.

Ki Demang memandang hutan yang terbentang di hadapannya. Kemudian ia pun berdesah, “Jika memang jalan itu yang harus kita tempuh, apa boleh buat.”

Hampir di luar sadarnya, disentuhnya tangkal pedangnya yang mencuat dari balik sehelai kain di punggung kudanya, di bawah pelana.

Kiai Gringsing dapat membaca perasaan Ki Demang. Sebagai orang tua yang membawa anak laki-lakinya melamar, maka sudah barang tentu bahwa ia tidak ingin menjumpai gangguan berupa apa pun juga. Tetapi bagi Kiai Gringsing, rasa-rasanya orang-orang itu perlu ditemuinya. Jika mungkin untuk sekedar bertanya-jawab apabila mereka mengetahui serba sedikit tentang diri mereka dan orang-orang yang berdiri di belakang mereka. Menurut perhitungannya, maka para perampok itu tidak akan mengganggu perjalanannya ke Menoreh dan apalagi merintanginya. Mungkin memang ada persoalan yang harus di atasinya, tetapi persoalan-persoalan itu tidak akan banyak mempunyai arti.

Meskipun demikian, Kiai Gringsing tetap berhati-hati. Memang mungkin sekali, bahwa perampok yang dijumpainya adalah segerombolan orang-orang yang kuat dan yang mendapat kepercayaan untuk memagari Mataram, agar Mataram tidak lagi dapat terlalu banyak menarik perhatian orang, sehingga dalam waktu yang singkat akan dapat menjadi sebuah negeri yang ramai.

Demikianlah, maka bagi Kiai Gringsing suara sawangan merpati itu adalah meyakinkan sekali. Ia pernah mendengar isyarat yang sama. Dan kini dihubungkan dengan kecurigaaannya kepada orang-orang yang pernah ditemuinya, maka suara sawangan itu adalah suara yang merupakan isyarat juga baginya, agar ia berhati-hati.

Karena itu, ketika mereka menjadi semakin dekat dengan mulut lorong yang menyusup ke dalam hutan, maka Kiai Gringsing pun kemudian merubah urut-urutan perjalanan mereka. Yang di paling depan dari mereka adalah Kiai Gringsing. Tetapi mereka tidak lagi berjajar dua, tetapi beriringan seorang demi seorang.

Di belakang Kiai Gringsing adalah Swandaru, kemudian Ki Demang Sangkal Putung. Di belakang Ki Demang adalah Agung Sedayu dan di paling belakang dari iring-iringan itu adalah Ki Sumangkar.

“Urut kacang,” desis Swandaru.

Agung Sedayu yang berada di belakang Ki Demang menjawab, “Jalan memang terlampau sempit.”

“Mungkin kita harus turun dari punggung kuda,” sahut Ki Sumangkar yang ada di paling belakang.

Kiai Gringsing sama sekali tidak berkata apa pun. Dengan penuh perhatian dipandanginya hutan yang lebat di hadapannya. Beberapa langkah lagi mereka akan menyusuri hutan perdu yang sempit, kemudian mereka akan segera memasuki hutan yang pepat.

“Berhati-hatilah,” desis Kiai Gringsing ketika mereka telah berada di antara gerumbul-gerumbul perdu.

Swandaru yang berkuda di belakang Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Ada semacam kegembiraan yang tidak dikenalnya di dalam hatinya. Ternyata bahwa anak muda itu memang memiliki jiwa petualangan. Kemungkinan-kemungkinan yang berbahaya dan keras seakan-akan membuatnya semakin gairah menghadapi perjalanan itu. Bagi Swandaru ternyata petualangan dan seorang isteri memiliki daya tariknya masing-masing, sehingga ia ingin menempuh kedua-duanya.

Ki Demang yang berada di belakang Swandaru menjadi berdebar-debar. Di dalam setiap benturan kekerasan, sesuatu dapat terjadi atas setiap orang yang terlibat di dalamnya. Mungkin dirinya sendiri, mungkin Swandaru, atau kedua-duanya. Dengan demikian maka perjalanan ini adalah perjalanan yang sia-sia. Namun ia tidak dapat menentang kematian setiap orang di dalam rombongannya yang kecil itu.

Karena itu, sebagai seorang yang memiliki kepercayaan kepada Yang Menjadikannya, maka Ki Demang itu pun berdoa di dalam hatinya, agar perjalanan itu mendapat perlindungan-Nya,

Dalam pada itu, wajah Agung Sedayu pun nampak bersungguh-sungguh. Berbeda dengan Swandaru, maka yang dipersoalkan oleh Agung Sedayu di dalam hatinya adalah, kesulitan-kesulitan yang banyak dihadapi oleh Mataram. Apakah sebabnya maka orang-orang itu masih saja berusaha menggagalkan usaha Raden Sutawijaya untuk membina daerah yang sedang tumbuh ini? Apakah salahnya jika Mataram menjadi ramai seperti kota-kota lain di dalam wilayah Pajang?

Masih terngiang di telinganya keterangan gurunya, bahwa Pajang memusatkan perhatiannya kepada perkembangan Mataram, dan yang justru beberapa orang menganggapnya sebagai lawan, karena Mataram memiliki seorang Raden Sutawijaya. Pengaruh Raden Sutawijaya akan dapat menyuramkan kebesaran cahaya yang pernah dipancarkan oleh seorang anak, yang bernama Jaka Tingkir dan disebut Mas Karebet, yang kemudian menduduki tahta Pajang.

Di luar kehendaknya sendiri, ternyata Agung Sedayu tertarik sekali pada perkembangan Mataram. Ia bahkan menjadi kagum melihat kemauan yang keras dari Raden Sutawijaya yang didorong oleh ayahnya, Ki Gede Pemanahan, untuk mengatasi setiap kesulitan. Bahkan menurut penilaian Agung Sedayu, setiap kesulitan yang dihadapinya, merupakan pendorong yang kuat bagi Raden Sutawijaya.

Di paling belakang dari iring-iringan itu adalah Sumangkar. Persoalan yang dihadapinya di saat-saat terakhir, membuatnya kehilangan gairah untuk memikirkan masalah-masalah yang menyangkut pemerintahan. Yang ada di dalam hatinya kemudian adalah, jika benar mereka akan menghadapi segerombolan perampok yang mengganggu kemungkinan pertumbuhan Mataram, maka perampok-perampok itu harus dimusnahkan. Baik Mataram maupun Pajang tentu tidak akan mendapat keuntungan dari sikap keras yang tidak dilandasi oleh kepentingan yang luas dan jauh, selain kepentingan bagi diri sendiri dan gerombolannya. Bahkan di sejajari dengan usaha-usaha untuk mengadu domba antara Pajang dan Mataram.

Demikianlah, maka sejenak kemudian iring-iringan itu sudah sampai ke mulut lorong yang menghunjam ke dalam hutan Tambak Baya. Lorong itu adalah lorong yang agaknya memang jarang sekali dilalui orang, selain mereka yang terjerumus karena petunjuk orang-orang yang memang dipasang oleh para perampok, atau satu dua orang-orang yang mencari kayu baka di hutan-hutan.

Dengan angan-angan dan persoalan yang berbeda-beda di dalam hati masing-masing, maka mereka pun mulai memasuki hutan itu. Meskipun di bagian tepi dari hutan Tambak Baya itu masih belum merupakan hutan yang lebat pepat, namun sudah terasa bahwa udara mulai menjadi lembab.

Sekali-sekali mereka masih mendengar sawangan merpati yang terbang melingkar-lingkar di atas mereka. Sehingga karena itu, maka mereka pun menjadi semakin berhati-hati.

Namun dugaan Kiai Gringsing, bahwa dihadapan iring-iringan kecil itu sudah ada sekelompok orang yang mendahului menjadi semakin kuat, karena bekas-bekasnya tampak semakin nyata. Ranting-ranting yang patah dan batang-batang rerumputan liar yang terinjak kaki di sepanjang jalan itu.

“Agaknya sudah ada pula orang yang terjerumus ke dalam neraka ini,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya. Namun ia sama sekali tidak mengatakannya, meskipun menurut dugaan Kiai Gringsing, kawan-kawan seperjalanannya mengetahui pula bekas-bekas itu, terutama Ki Sumangkar.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja Swandaru bertanya, “Guru, apakah Guru sudah mengenal jalan ini?”

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku baru kali ini melalui jalan ini, meskipun jalan ini agaknya sudah lama ada, dan bahkan sekarang sudah tidak dipergunakan lagi. Tetapi aku kira jalan ini bukan jalan yang harus dilalui untuk pergi ke Mataram.”

“Jadi, apakah kita akan dapat menemukan jalan keluar dari hutan ini? Meskipun hutan ini tidak seluas Mentaok, tetapi hutan ini cukup lebat.”

“Asal kita tidak kehilangan kiblat. Selagi matahari masih ada di langit, kita akan dapat mengetahui arah.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih bertanya, “Tetapi bagaimana jika jalan ini kemudian terputus. Apakah kita harus menyusup hutan di antara sulur-sulur kayu dan menyibakkan dedaunan yang rimbun? Dengan demikian, maka seperti kata Paman Sumangkar, bukan kita naik punggung kuda, tetapi kuda-kuda itu akan menjadi beban selama perjalanan ini.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya, ia mengerti pertanyaan muridnya itu. Namun jawabnya, “Kita melihat keadaan yang akan kita hadapi.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Gurunya ternyata tidak menjawab pertanyaannya. Dan mereka bersama-sama masih harus menunggu dan melihat, apa yang mereka hadapi kemudian.

Dengan demikian, maka Swandaru tidak bertanya lagi. Sambil maju terus ia memandang keadaan di sekitarnya, rasa-rasanya memang ada sesuatu di perjalanan itu. Bahkan nalurinya mengatakan bahwa beberapa pasang mata seakan-akan sedang mengintip di balik dedaunan.

Belum lagi mereka menusuk jauh ke dalam, tiba-tiba saja mereka telah dikejutkan oleh suara yang aneh, tidak jauh dihadapan mereka. Karena itu, maka Kiai Gringsing pun memperlambat langkah kudanya. Didengarnya suara itu dengan saksama. Seperti yang pernah dikenalnya dalam keadaan yang tidak dapat diketahuinya dengan pasti itu, orang-orang yang bersembunyi di hutan Mentaok dan mungkin juga yang bersembunyi di hutan Tambak Baya ini telah membuat berbagai macam keadaan yang membuat seseorang menjadi bingung.

Semakin dekat, ternyata bahwa suara itu adalah suara merintih seseorang. Semakin lama semakin dekat. Bahkan bukan saja seseorang yang merintih-rintih, tetapi orang itu benar-benar berteriak minta tolong.

Sejenak kemudian mereka pun melihat seseorang berlari-lari terhuyung-huyung dari arah yang berlawanan. Di tubuhnya terdapat noda-noda darah yang masih basah.

“Lihat!” Ki Demang hampir berteriak pula.

“Tunggu,” cegah Kiai Gringsing, “kami pernah tertipu oleh keadaan yang serupa. Kita pernah melihat orang, yang luka parah dengan darah di seluruh tubuhnya, ternyata orang itu sama sekali tidak terluka. Dan darah itu sama sekali bukan darah yang sebenarnya.”

Orang yang berlari-lari itu ketika melihat iring-iringan orang berkuda, maka seakan-akan mendapatkan tenaga baru untuk berlari-lari mendekat. Suaranya yang telah parau masih terdengar, “Tolong, tolonglah kami.”

“Ia tidak sendiri,” desis Swandaru. Kiai Gringsing pun justru telah berhenti. Dengan, sigapnya ia meloncat turun. Ketika orang yang berlari-lari itu mendekatinya sambil memegangi lambungnya. Kiai Gringsing berkata, “Berhenti di situ.”

Orang itu terkejut. Tetapi ia berkata terputus-putus, “Tolong. Tolonglah kami.”

“Apakah kau terluka?”

“Ya, Ki Sanak. Aku terluka parah. Tiga orang kawanku masih terjebak. Mereka berkelahi melawan beberapa orang penyamun.”

“Jangan mendekat,” cegah Kiai Gringsing pula. “Berdiri di situ. Akulah yang akan mendekat.”

Orang yang pucat itu menjadi semakin heran. Tetapi ia berhenti juga sambil berpegangan sebatang pohon.

Kiai Gringsing pun segera melangkah mendekatinya. Di amat-amatinya orang itu sejenak. Kemudian, “Tunjukkan lukamu.”

Orang itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia menunjuk lambungnya,

“Singsingkan bajumu.”

Orang itu menjadi semakin termangu-mangu. Tetapi ia menyingsingkan bajunya pula.

Dari balik baju itu Kiai Gringsing melihat lambungnya tergores oleh ujung senjata tajam. Kali ini ia tidak akan tertipu lagi. Dari luka itu pula darahnya telah menitik. Benar-benar darahnya. Bukan sekedar warna merah.

Karena itu maka Kiai Gringsing pun segera mendekatinya. Diamatinya luka itu sejenak. Dan ia pun yakin bahwa kali ini ia tidak tertipu lagi. Orang yang dihadapinya itu adalah benar-benar orang yang terluka. Dan ia tidak menganggap bahwa orang itu telah dengan sengaja melukai dirinya sendiri begitu parah untuk menjebaknya.

“Kenapa kau, Ki Sanak?” bertanya Kiai Gringsing.

“Penyamun. Kami telah dicegat di balik tikungan itu.”

“Kau bertempur melawan mereka?”

“Kami ingin menyelamatkan barang kami. Tetapi kami tidak dapat bertahan. Aku terluka dan melarikan diri. Mungkin aku sedang mereka cari sekarang.”

“Tidak sulit mencarimu. Tetesan darah di tubuhmu membawa mereka segera datang kemari.”

“Lindungi kami.”

“Kami harus berkelahi melawan mereka?”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian tatapan matanya yang pasrah itu pun menjadi redup. Katanya, “Apa boleh buat. Jika kalian tidak dapat melindungi aku karena kalian tidak ingin terlibat dalam perkelahian, aku tidak dapat memaksa. Nasibku sebentar lagi akan ditentukan oleh mereka, apabila mereka menemukan jejakku.”

“Mereka pasti akan menemukan. Bagaimana, Ki Sanak dapat lari?” bertanya Kiai Gringsing.

“Kami tiba-tiba saja telah disergap. Beberapa orang dari kami telah berkelahi. Meskipun kami berusaha keras, tetapi kami tidak akan mampu melawan mereka. Karena itu, kami berlari-larian ke segala arah mencari keselamatan diri kami masing-masing. Beberapa orang penyamun telah mengejar kami berpencaran. Sedang tiga orang di antara kami tidak sempat berlari. Dan mereka masih bertahan melawan seorang penyamun. Sedang penyamun-penyamun yang lain mengejar kami yang berpencaran. Aku dapat menyelipkan diriku di antara dedaunan dan kemudian lari sampai ke tempat ini. Aku tidak tahu bagaimana nasib kawan-kawanku yang lain.”

“Ada berapa orang penyamun yang mencegatmu? “

“Empat orang. Tetapi tiga orang dari kami tidak dapat mengalahkan seorang dari mereka.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata jumlah penyamun itu tidak banyak.

“Berapa jumlah kawan Ki Sanak seluruhnya?” bertanya Kiai Gringsing kemudian.

“Kami berlima, sedang rombongan yang lain berempat.”

“Maksudmu rombongan yang lain?”

“Kami terdiri dari dua rombongan yang bersama-sama akan pergi ke Mataram. Jumlah kami seluruhnya sembilan orang.”

Kiai Gringsing masih mengangguk-angguk. Lalu ia pun bertanya pula, “Kalian sembilan orang tidak dapat melawan hanya empat orang?”

“Tetapi yang empat orang itu adalah orang-orang yang luar biasa. Ketika aku bersembunyi, aku masih melihat tiga orang di antara kami yang terikat dalam suatu perkelahian, melawan seorang saja dari antara mereka, karena yang tiga dari mereka sedang berpencaran mengejar kami. Tetapi, tiga orang kawan kami itu tidak berdaya. Mungkin mereka kini sudah berlari pula. Atau mati.”

Sejenak Kiai Gringsing memandangi wajah yang pucat itu. Kemudian berpaling kepada Sumangkar sambil berkata, “Di hadapan kita ada empat orang penyamun.”

Sumangkar yang ada di paling belakangpun kemudian maju mendekati Kiai Gringsing. Ia pun mengamati orang yang terluka itu dengan saksama. Lalu katanya kepada Kiai Gringsing, “Marilah kita berjalan terus.”

“Kalian akan berjalan terus?” bertanya orang yang terluka itu.

“Ya. Kami akan berjalan terus,” sahut Ki Sumangkar.

“Kalian akan membantu kami?”

“Tergantung kepada keadaan yang akan kita hadapi.”

“O,” orang itu menjadi sedikit kecewa.

“Sekarang,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “cobalah mengobati lukamu itu.”

“Obat apakah yang harus aku pergunakan sekarang? Aku sama sekali tidak membawa obat apa pun juga.”

Kiai Gringsing pun kemudian mengambil sebuah bumbung kecil, berisi obat bagi luka-luka baru. Kemudian ditaburkannya serbuk dari bumbung itu pada luka di lambung yang cukup panjang. Meskipun goresan itu tidak terlalu dalam, namun jika tidak segera mendapat pengobatan, maka luka itu akan dapat berbahaya bagi orang itu.

Orang itu menjadi terheran-heran, bahwa tanpa disangka-sangka ia telah bertemu dengan seseorang yang dapat mengobati lukanya. Dengan demikian ia mulai bertanya-tanya kepada diri sendiri, “Siapakah orang-orang berkuda ini?”

Namun, baru saja Kiai Gringsing selesai mengobati orang itu, dilihatnya sesosok bayangan di kejauhan. Hanya sekilas, karena bayangan itu segera berlindung di balik dedaunan.

Karena itu, maka Kiai Gringsing kemudian berkata, “Kita diamati oleh beberapa orang.”

“Siapa?” bertanya Ki Sumangkar yang kebetulan tidak melihat bayangan itu.

“Apakah adi Sumangkar memperhatikan para petani yang ada di gardu?”

“Ya.”

“Apakah kesan yang kau dapat?”

“Aku mencurigainya. Petani-petani itu seakan-akan sedang berisirahat. Tetapi tidak ada sawah yang dikerjakan di dekat gardu itu.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Kita akan berhadapan dengan orang-orang yang akan mengejar orang yang terluka ini, dan orang-orang yang memang ditugaskan mengikuti kita.”

“Ya.”

“Nah, tempatkan diri kalian masing-masing,” berkata Kiai Gringsing. Lalu, “Tidak menguntungkan jika kita berada di punggung kuda di daerah yang pepat seperti ini.”

Ki Sumangkar menganggukkan kepalanya.

Sejenak kemudian, maka mereka pun telah berloncatan turun. Agung Sedayu, Swandaru dan Ki Demang Sangkal Putung pun segera menambatkan kuda mereka, seperti juga Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar.

“Mau tidak mau perjalanan ini akan terganggu,” desis Ki Demang.

“Maaf, Ki Demang,” berkata Kiai Gringsing, “mudah-mudahan tidak memerlukan waktu terlalu lama.”

Ki Demang pun menganggukkan kepalanya. Ia masih saja berdiri di sisi kudanya, karena senjatanya tersangkut pada pelana kudanya, terlindung oleh selembar kain di bawah pelana itu.

Sejenak mereka menunggu, sedang orang yang terluka itu duduk sambil menyeringai menahan panas oleh obat yang diberikan Kiai Gringsing pada lukanya. Namun kegelisahan di hatinya bahkan telah mengurangi rasa sakit yang dideritanya.

“Ternyata kami tidak dapat maju lagi,” bisik Ki Sumangkar kepada orang itu, “Kami menghadapi persoalan kami sendiri. Mudah-mudahan kawan-kawanmu selamat.”

Orang itu dapat mengerti. Karena itu maka ia pun mengangguk-anggukkan kepalanya.

Namun sejenak kemudian, mereka terkejut ketika mereka mendengar derap orang berlari-lari kejar mengejar. Kemudian muncullah seseorang yang berlari sekencang-kencangnya, menuju ke arah mereka.

“Itu seorang dari kawan kami,” desis orang yang terluka itu. Lalu sambil melambaikan tangannya ia memanggil, “Aku di sini.”

“Sst,” desis Kiai Gringsing.

Orang itu terkejut mendengar desis Kiai Gringsing. Tetapi dalam pada itu kawannya sudah mendengar dan melihatnya, sehingga karena itu, maka dengan serta-merta ia pun berlari mendatanginya.

Sejenak kemudian muncullah orang yang mengejarnya. Ketika orang itu melihat buruannya berlari di antara beberapa orang, maka ia pun segera berhenti.

Orang yang baru saja datang sambil berlari-lari itu berhenti di samping kawannya yang terluka dengan nafas terengah-engah. Tanpa menghiraukan orang lain ia bertanya, “Kau sudah ada di sini?”

“Ya. Aku bertemu dengan orang-orang ini.”

“Ia berteriak-teriak,” sahut Kiai Gringsing, “untunglah bahwa yang mendengar suaranya adalah kami bukan orang-orang yang mencarinya.”

“Aku bingung dan ketakutan.”

“Kau terluka?” bertanya kawannya. Orang yang terluka itu mengangguk.

Namun dalam pada itu, orang yang mengejarnya tertawa sambil berkata, “Tidak ada jalan untuk lari. Karena itu, dengan telaten kami mencari kalian seorang demi seorang.”

Semua orang memandanginya dengan tajamnya. Tetapi tidak seorang pun yang segera menyahut.

“Jika kalian keluar dari hutan ini, kalian bukan berarti terlepas dari tangan kami,” orang yang mengejar itu berkata selanjutnya. Lalu, “Bahkan bukan saja kalian yang sudah terlanjur berada di tangan kami, tetapi orang-orang yang baru datang dengan mengendarai kuda itu pun tidak akan dapat meninggalkan kami dengan selamat. Jangan menyesal bahwa kalian telah berada di dalam kekuasaan kami. Hutan Tambak Baya dan Mentaok adalah kerajaan kami.”

“Siapakah sebenarnya kalian, Ki Sanak?” bertanya Kiai Gringsing.

“Tidak ada yang dapat mengenal kami dengan tepat. Kami adalah orang-orang yang tidak bernama dan tidak bertempat tinggal. Istana kami adalah hutan ini. Dan kalian telah masuk ke dalam lingkungan kami, sehingga kalian tidak akan dapat keluar lagi. Mungkin masih ada cara bagi kalian antuk menyelamatkan diri, tetapi barangkali memerlukan suatu perjanjian yang matang.”

“Apa maksudmu?”

“Apakah kalian membawa harta benda? Mungkin bekal kalian atau mungkin barang dagangan?”

“Jika tidak?”

“Nyawa kalian-lah yang kami perlukan. Atau, dua orang di antara kalian menjadi tawanan kami. Keduanya akan kami bebaskan kemudian, jika yang lain dapat menebusnya dengan uang atau emas atau apa pun yang kami tentukan.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Sejenak dipandanginya Ki Sumangkar yang berdiri sambil menyilangkan tangan di dadanya. Sedang Agung Sedayu dan Swandaru berdiri sebelah-menyebelah Ki Demang yang termangu-mangu di sisi kudanya.

“Nah, apakah yang akan kalian pilih? Atau, barangkali kalian sekarang sudah membawa barang-barang yang cukup?”

“Jika kami membawa barang-barang yang cukup, apakah kami dapat meneruskan perjalanan kami ke Mataram?” bertanya Kiai Gringsing.

“Tidak. Kalian boleh pergi, tetapi kalian harus kembali, tidak terus ke Mataram atau kemana pun juga. Kalian hanya dapat kembali tanpa pilihan yang lain. Sedangkan apabila kalian tidak membawa apa-apa, dan tidak bersedia menyerahkan dua orang sebagai tanggungan, maka kalian semuanya akan kami bunuh.”

“Apakah keberatan kalian jika kami pergi ke Mataram?”

“Tentu tidak ada. Tetapi kami berhak untuk menentukan kemana kalian harus pergi, karena daerah ini adalah kerajaan kami. Apa yang kami katakan harus kalian lakukan.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas di pandanginya dua orang yang berhasil melepaskan diri dari tangan para perampok itu, dan kini ada di antara rombongannya. Namun sekilas terbayang tiga orang yang berusaha berkelahi mati-matian, tetapi tidak berhasil mengalahkan hanya seorang lawan.

Tetapi menurut perhitungan Kiai Gringsing, jika orang-orang itu berhasil melarikan diri, maka mereka pasti akan sampai ke tempat ini karena jalan ini adalah jalan keluar dari hutan Tambak Baya, kecuali mereka yang tersesat dan kehilangan arah. Karena itu, maka Kiai Gringsing sengaja memperpanjang waktu sambil menunggu orang-orang lain yang mungkin akan berdatangan.

“Ki Sanak,” berkata Kiai Gringsing, “kenapa kalian mengganggu perjalanan kami dan perjalanan rombongan-rombongan yang lebih dahulu dari kami? Jika kalian sekedar penyamun yang memerlukan harta benda, maka kalian tentu akan berkeberatan jika kami berjalan terus ke Mataram.”

“Kami bukan orang yang paling bodoh di muka bumi,” jawab orang itu, “tentu kalian dapat bercerita kepada orang-orang Mataram tentang kami.”

“Apakah jika kami kembali ke asal kami, kami tidak dapat bercerita tentang kalian?”

“Aku tidak peduli. Dan mereka yang mendengar ceritamu itu, tidak akan berani lewat jalan ini pergi ke Mataram.”

“Apakah dengan demikian kalian tidak kehilangan mata pencaharian? Bukankah semakin banyak orang yang lewat, rejeki kalian menjadi semakin banyak?”

Wajah orang itu menegang sejenak. Namun kemudian ia pun tertawa, “Kalian cukup cerdas. Tetapi sayang, bahwa aku tidak peduli pada pendapat kalian itu.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya wajah orang yang belum dikenalnya itu sejenak. Ternyata wajah itu menyimpan ungkapan sikap yang keras dan kasar.

“Ki Sanak,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “apakah sebenarnya maksud kalian dengan tingkah laku kalian di hutan Tambak Baya ini? Manakah yang lebih penting bagi kalian, menyamun untuk mendapatkan harta benda, atau menahan arus manusia yang mengalir ke Mataram?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Dan kembali wajahnya menegang. Katanya, “Terlalu banyak yang ingin kau ketahui. Sekarang, apakah kau membawa barang-barang berharga?”

Kiai Gringsing memandang ke tikungan. Masih belum ada orang lain yang datang. Karena itu ia masih mencoba memperpanjang waktu, “Apakah sebenarnya yang kau maksud dengan barang-barang berharga? Pakaian atau uang.”

“Apa saja. Pakaian, uang, emas atau intan berlian atau kuda-kudamu yang tegar itu.”

“Yang jelas dapat kau lihat adalah kuda-kuda kami. Tetapi sayang, bahwa kuda kami akan kami pakai untuk meneruskan perjalanan. Apakah ada yang lain yang kau kehendaki?”

“Nyawa kalian. Memang sebaiknya nyawa kalian. Jika kalian mati terbunuh, maka semua barang yang kalian bawa akan menjadi milik kami. Juga kuda-kuda itu.”

“Kau hanya seorang diri. Kami berlima dan sekarang bertujuh, meskipun yang seorang telah terluka. Tetapi, ia masih mampu berkelahi melawanmu.”

Tiba-tiba saja orang itu tertawa terbahak-bahak. Katanya, “Kau sangka aku hanya seorang diri?”

Kiai Gringsing masih belum menjawab ketika tiba-tiba saja ia melihat seseorang berlari-lari. Tetapi langkahnya tertegun sejenak ketika ia melihat sekelompok orang yang berdiri di jalan sempit itu.

Dan ternyata orang itu adalah salah seorang dari kawan-kawan orang yang terluka itu, sehingga sekali lagi ia memanggil sambil melambaikan tangannya, “Aku di sini.”

Dengan ragu-ragu orang itu mendekat. Ternyata di belakangnya diikuti oleh seorang lagi.

“Kemarilah,” berkata orang yang terluka itu. Penyamun yang mengejar orang-orang itu pun memandang kedua orang yang datang itu. Katanya kemudian, “Baiklah, kalian berkumpul di sini. Dengan demikian kami akan lebih mudah menyelesaikannya.”

Kiai Gringsing memandang kedua orang yang datang itu sejenak. Ketika keduanya sudah dekat, ia pun bertanya, “Dimana kawan-kawanmu?”

Kedua orang itu menggeleng. Salah seorang menjawab, “Aku tidak tahu.”

“Kami akan mencari mereka,” penyamun itulah yang menyahut. Lalu diletakkannya jari-jarinya ke dalam mulutnya. Ketika ia meniup, terdengarlah suara suitan yang nyaring, yang gemanya seakan-akan memenuhi Hutan Tambak Baya.

“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya Kiai Gringsing.

“Aku memanggil kawan-kawanku.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Ketika ia menebarkan pandangannya, dilihatnya beberapa sosok bayangan yang bergerak-gerak. Kemudian muncullah beberapa orang mendekati mereka. Empat orang lagi.

Tetapi selain empat orang itu, masih ada lagi seorang yang datang sambil mendorong dua orang yang sudah tidak berdaya. Bahkan yang seorang agaknya telah terluka, meskipun tidak parah.

“Itu kawan kami,” desis orang yang terluka.

“Ya.” sahut yang lain.

“Mereka adalah kawan-kawanmu,” berkata penyamun itu. Lalu, “Kumpulkan mereka di sini,” katanya lantang kepada kawannya yang mendorong kedua orang itu dengan Punggung tombak pendeknya.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Lalu, “Mereka akan berkumpul lagi dan kami harus berkelahi lagi.”

“Kumpulkan mereka. Kami tidak akan membuat kesalahan serupa, membiarkan orang-orang semacam mereka itu berlari bercerai-berai. Kami akan mengepung mereka dan membunuh mereka di dalam lingkaran kepungan kami. Kecuali jika mereka dapat memenuhi syarat-syarat kami.”

“Tidak akan dapat mereka penuhi,” berkata yang baru datang sambil mendorong kedua tawanannya, “sebaiknya mereka dibunuh saja.”

“Kami akan membunuh mereka beramai-ramai. Ada berapa orang yang sudah terkumpul?”

Tidak ada seorang pun yang menjawab. Tetapi orang itu telah menghitungnya dan bergumam, “Enam orang. Masih ada tiga orang yang belum kami ketemukan.”

“Yang seorang sudah mati. Aku berkelahi melawan tiga di antara mereka. Inilah yang dua. Hampir saja aku membunuhnya. Tetapi aku mendengar isyaratmu.”

“Apakah kau berada dekat sekali dari tempat ini?”

“Aku menggiring orang ini. Maksudku, mereka akan kami bawa keluar hutan ini dan menggantungkan tubuhnya di mulut lorong, sampai keduanya mati dengan sendirinya. Keduanya adalah orang yang paling sombong yang pernah aku temui.”

Yang mendengar kata-kata itu menjadi ngeri. Agaknya mereka adalah orang-orang yang dapat membunuh dengan hati yang dingin, seperti mereka sedang menebas pohon pisang yang sedang berbuah.

“Nah,” berkata penyamun yang bersuit itu, “kumpulkan mereka. Apa masih ada yang lain?”

“Mudah-mudahan yang lain belum terbunuh. Kawan-kawan kami sedang mencari mereka.”

Penyamun itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia memandang ke tikungan. Seakan-akan ia pun sedang menunggu kawan-kawannya yang lain. Karena tidak seorang pun yang tampak, maka sekali lagi ia bersuit lebih keras lagi.

Dari kejauhan terdengar suara suitan yang serupa. Agaknya kawan-kawannya mendengar isyaratnya dan menjawab isyarat itu dengan suitan pula.

Beberapa saat mereka menunggu. Kiai Gringsing masih tetap berdiri di tempatnya. Demikian pula Ki Sumangkar, Ki Demang, Agung Sedayu dan Swandaru. Sedang orang-orang yang berdatangan kemudian menjadi semakin gelisah karenanya.

Sejenak kemudian, muncullah dua orang yang lain, hampir berbareng. Yang seorang menggiring seorang tawanan yang sudah hampir tidak dapat berjalan lagi, sedang yang lain datang seorang diri.

“Nah, kumpulkan mereka,” berkata penyamun yang pertama-tama datang, yang agaknya adalah pemimpin mereka.

“Buat apa?” bertanya yang menggiringnya.

“Kami akan membunuh beramai-ramai. Semuanya ada tujuh orang ditambah dengan lima. Dua belas orang.” orang itu berhenti sejenak. Lalu, “Manakah yang seorang?”

“Belum kami ketemukan. Ia pasti bersembunyi di dalam hutan. Tersesat atau keluar lewat belukar. Tetapi ia tidak akan dapat hidup. Jika ia keluar hutan, maka ia akan ditangkap juga, sedang apabila ia masih tetap ada di dalam hutan yang lebat, maka ia akan menjadi mangsa binatang buas nanti malam.”

Pemimpin penyamun itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Jika demikian, kita tidak menunggunya. Berapa orangkah kita semuanya?”

Para penyamun itu menghitung jumlah mereka sendiri. Lalu, “Delapan orang.”

Pemimpin penyamun itu masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah. Kami semua ada delapan orang. Yang kita hadapi lima orang, dengan tujuh orang yang sudah hampir mati.”

“Yang sudah lelah silahkan beristirahat,” berkata seorang penyamun yang lain, “kami masih segar dan senjata kami belum bernoda darah. Kami berempatlah yang akan menyelesaikan semuanya.”

“Aku belum membunuh!” teriak yang lain, yang datang seorang diri. “Aku akan ikut beramai-ramai sekarang.”

“Semua akan ikut,” jawab pemimpin penyamun itu, “tetapi aku ingin kepastian, apakah orang-orang berkuda itu mau memenuhi permintaan kami?”

Para penyamun itu terdiam.

“Bagaimana, Ki Sanak?” bertanya pemimpin penyamun itu kepada Kiai Gringsing, “Bawalah kepada kami beberapa keping emas dan perak. Kami memberi waktu dua hari dengan dua orang tanggungan. Tanggungan yang kami pilih adalah kedua anak-anak muda itu.”

“Ah,” desah Kiai Gringsing, “tentu tidak mungkin. Mereka adalah cucu-cucu kami yang akan melanjutkan kelangsungan hidup nama kami.”

“Terserahlah kepada kalian. Jika kalian membawa emas itu, maka keduanya akan kami bebaskan.”

“Kami agak kurang percaya menilik sikap dan kata-kata kalian. Jika kami datang membawa tebusan, maka kami pun pasti akan kalian bunuh.”

Pemimpin penyamun itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tertawa berkepanjangan. Katanya, “Kau terlampau berprasangka, kakek tua. Jika demikian, maka tidak ada pilihan lagi dari kalian selain mati. Kami, yang delapan orang ini akan beramai-ramai membunuh kalian. Melawan atau tidak melawan.”

“Itu tidak berperikemanusiaan.”

“Kami memang tidak berperikemanusiaan. Tetapi tidak apalah. Agaknya cukup menyenangkan berburu manusia seperti kalian. Nah, apakah kalian bersenjata?”

Kiai Gringsing menggeleng. Jawabnya, “Kami tidak bersenjata.”

“Kalau begitu, kami akan memberi kalian senjata. Pedang atau tombak atau senjata apakah yang kalian pilih?”

Kiai Gringsing terdiam sejenak. Namun tiba-tiba ia berkata, “Bukankah yang berdiri di sana itu, petani yang duduk di gardu ketika aku lewat?”

Orang yang ditunjuk Kiai Gringsing itu tersenyum. Katanya, “Kau masih dapat mengenali aku. Ingatanmu baik sekali, Kakek. Aku memang yang tadi duduk di gardu itu. Tetapi aku bukan petani seperti yang kau sangka. Aku adalah salah seorang dari penyamun-penyamun yang kebetulan sudah lama ingin memiliki seekor kuda yang tegar seperti kudamu itu.”

“Kalian adalah penjahat-penjahat yang licik. Tentu penjual makanan itu pun kawanmu pula. Ia-lah yang menjerumuskan kami lewat jalan ini. Ternyata kalian sudah menunggu kami di sini. Orang itu memang berusaha menjebak kami.”

Hampir berbareng penyamun-penyamun itu tertawa, Pemimpinnya berkata, “Kau menyenangkan sekali, Kakek tua. Sayang sebentar lagi kau akan mati. Tetapi sebaiknya kau mati paling akhir. Aku senang mendengar kau berkicau seperti seekor burung.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Tetapi tanpa diduga-duga, ternyata Swandaru tidak lagi dapat menahan perasaannya. Tiba-tiba saja dengan lantang ia menjawab. “Kalian akan kecewa. Meskipun Kakek ini sebangsa burung, tetapi bukan jenis burung berkicau. Kakek ini adalah seekor burung kedasih, yang suaranya menggemakan kematian. Nah, apakah kalian siap untuk mati?”

Kata-kata Swandaru itu memang mengejutkan sekali. Bahkan Kiai Gringsing sendiri pun terkejut karenanya. Tetapi sifat-sifat itulah memang yang menonjol pada muridnya yang gemuk itu.

Sejenak, para penyamun yang berdiri bertebaran itu menjadi termangu-mangu. Seakan-akan mereka tidak percaya pada pendengarannya, bahwa anak muda yang gemuk itu telah berkata tentang kematian. Bukan kematian orang-orang yang ketakutan itu, tetapi kematian para penyamun.

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar sudah tidak dapat mencegah lagi. Agaknya benturan yang keras akan segera terjadi. Salah seorang dari penyamun itu ternyata tidak dapat dilawan oleh tiga orang sekaligus, bahkan salah seorang dari ketiga lawannya itu telah terbunuh dan yang dua lainnya, dikuasainya dengan mutlak. Dan sekarang yang ada di sekitarnya adalah delapan orang penyamun. Sedang rombongan Kiai Gringsing bersama orang-orang yang seakan-akan sudah tidak berdaya lagi itu berjumlah lima dan tujuh orang. Namun yang tujuh orang itu sama sekali sudah tidak bersenjata.

Dalam pada itu, penyamun-penyamun itu pun telah bergeger maju. Ternyata kata-kata Swandaru itu membuat mereka marah. Pemimpin penyamun itu pun kemudian berkata, “Jadi kalian benar-benar akan melawan?”

Kiai Gringsing-lah yang cepat-cepat menjawab, “Apakah kalian benar-benar akan memberi senjata kepada kami, agar kalian mendapat perlawanan yang kalian kehendaki? Berilah senjata itu jika benar-benar kalian ingin berkelahi.”

Wajah pemimpin penyamun itu menjadi merah. Tiba-tiba ia berteriak, “Hati-hatilah! Orang-orang ini ternyata lebih sombong dari orang-orang yang baru saja kalian hancurkan itu.”“

“Berikan kami senjata, terutama orang-orang yang baru saja kalian kalahkan. Agaknya kalian telah melucuti senjatanya.”

“Persetan!”

“Kalian akan ingkar?” bertanya Ki Sumangkar. “Itulah ciri dari sifat dan watak kalian. Demikian juga agaknya jika kami menyerahkan tebusan berupa apa pun juga.”

“Diam, diam!” pemimpin penyamun itu berteriak.

“Kenapa kami harus diam? Kita sudah mendapat gambaran yang jelas dari keadaan yang akan kita hadapi.” Swandaru-lah yang menyahut, “Kalian akan membunuh kami. Diam atau tidak, persoalan yang kami hadapi akan serupa saja. Karena itu, jangan risau bahwa kami berbuat sekehendak kami.”

Para penyamun itu tidak dapat menahan kemarahan mereka lagi. Pemimpin penyamun itu tiba-tiba meneriakkan perintah, “Kepung mereka! Jangan seorang pun yang dapat lepas. Kita sudah kehilangan seorang dari kelinci-kelinci itu.”

“Tetapi, tetapi,” tiba-tiba salah seorang dari orang-orang yang sudah tidak berdaya itu berkata dengan gemetar, “kami sudah menyerah. Apakah kami dapat menyingkir dan tidak ikut campur lagi?”

“Kami akan membunuh kalian semua!” teriak pemimpin penyamun itu dengan marahnya.

“Kenapa kalian ketakutan?” bertanya Kiai Gringsing kepada orang itu, “Kalian semula hanya sembilan orang. Sekarang jumlah kita semua bertambah menjadi duabelas orang.”

“Kami sudah tidak bersenjata dan jumlah lawan kita pun berlipat. Tadi, kami sembilan orang melawan empat orang. Apalagi dalam keadaan kami yang parah, dan apakah kalian juga mampu berkelahi seperti kami?”

“Mungkin tidak. Tetapi kami mempunyai harga diri. Jika kami harus mati, kami harus mati dengan dada tengadah. Tetapi kami sama sekali tidak akan pasrah untuk mati. Kami akan melawan, dan kamilah yang akan membunuh mereka.”

“Gila!” teriak tiga orang penyamun hampir berbareng. Dan pemimpin mereka berkata, “Bersiaplah untuk mati. Tetapi kami telah menentukan cara mati yang paling baik bagi orang-orang yang sombong seperti kalian. Kami akan mengikat kaki kalian pada sebatang dahan di dalam hutan. Kepala kalian akan diraih oleh seekor harimau yang ganas dari bawah atau seekor ular menyelusur pada tali pengikat kaki kalian itu. Mungkin juga semut salaka yang akan menyerang kalian dan menyerap darah kalian sampai kering, dan makan daging kalian sehingga yang akan tinggal bergantungan adalah kerangka yang kering.”

Kata-kata itu telah mendirikan bulu roma. Bahkan Swandaru pun berdesis, “Mengerikan sekali. Tetapi bagaimana jika terjadi sebaliknya? Kalian-lah yang akan kami gantungkan pada dahan kayu di hutan ini atau kami ikat dan kami seret di belakang kuda kami?”

“Jangan beri kesempatan mereka berbicara lagi!” teriak pemimpin penyamun yang marah itu.

Serentak para penyamun itu mulai bergerak dari segala arah, sehingga Kiai Gringsing pun harus menyesuaikan dirinya. Kelima orang itu pun segera berpencar. Ki Demang tidak mempunyai pilihan lain daripada berkelahi, meskipun kadang-kadang sepercik kecemasan merayapi hatinya.

Agaknya Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar tidak sampai hati, untuk melepaskan Ki Demang begitu saja menghadapi lawan-lawannya, sehingga karena itu meskipun merasa tidak saling berjanji, keduanya berdiri di sebelah-menyebelah. Sedang Agung Sedayu dan Swandaru dengan gerak naluriah telah menghadapi para penyamun dari arah yang lain. Kelimanya sama sekali tidak mempedulikan lagi, apakah orang-orang yang sudah patah keberaniannya sama sekali itu akan membantu mereka atau tidak.

Ketika para penyamun itu kemudian mengacu-acukan senjata mereka, maka Kiai Gringsing pun berkata, “Bukankah Ki Demang membawa senjata?”

“Ya,” sahut Ki Demang. Dengan tergesa-gesa, ia pun kemudian mencabut pedangnya jang tersangkut di punggung kudanya.

“He!” teriak pemimpin penyamun, “ternyata kalian bersenjata.”

Kiai Gringsing memandang Ki Demang sejenak, lalu memandang pemimpin penyamun itu sambil berkata, “Apakah salahnya jika kami bersenjata? Sebenarnya kami sudah tahu bahwa kami akan bertemu dengan penyamun di sini. Sejak kami bertemu dengan seseorang yang mencurigakan, kami sudah merasa bahwa kami harus bersiap menghadapi segala kemungkinan. Apalagi ketika kami berbicara dengan penjual makanan yang menunjukkan jalan ini kepada kami, jalan yang kami tahu, bahwa bukan jalan yang seharusnya kami lalui. Kami pun tahu bahwa para petani itu sama sekali, bukan petani wajar, karena di sekitar padukuhan yang sudah tidak berpenghuni ini, tidak ada sawah yang sedang digarap. Kami pun curiga atas pemberian penjual makanan yang menurut dugaan kami pasti mengandung sesuatu yang tidak wajar pula. Nah, apakah kata kalian jika sebenarnya kami sudah siap untuk berkelahi?”

“Persetan!” pemimpin penyamun itu menjadi merah padam. Dan sebelum ia melanjutkan, Swandaru telah mendahului, “Menyesal bahwa kawan-kawan kami yang terdahulu tidak menunggu kami, karena mereka tidak tahu bahwa kami akan lewat. Tetapi sebaiknya sekarang mereka tidak pasrah pada nasibnya yang malang.”

Orang-orang yang terdahulu, yang telah dikalahkan mutlak itu menjadi bimbang. Tetapi mereka sama sekali sudah tidak bersenjata. Bahkan ada di antara mereka yang sudah luka-luka.

Agaknya Ki Sumangkar dapat menangkap gejolak hati mereka. Karena itu maka katanya, “Jika kalian sudah tidak bersenjata, kalian dapat mempergunakan apa saja, batu, potongan kayu yang bertebaran itu, atau apa pun juga. Tetapi yang penting adalah keberanian kalian mempertahankan diri. Daripada kalian mati tanpa perlawanan, maka alangkah baiknya jika kalian masih menunjukkan sedikit kejantanan. Mati dalam perlawanan.”

“Persetan!” potong pemimpin penyamun yang marah, “Siapa yang melawan, kematiannya pasti akan sangat menyedihkan. Tetapi siapa yang menyerah, nasibnya akan dipertimbangkan.”

“Ha!” Swandaru hampir berteriak, “Kalian sudah mulai cemas bahwa kami semuanya akan bangkit melawan kalian, meskipun bersenjata sepotong kayu. Meskipun sepotong kayu, jika kami mampu mempergunakannya, maka yang sepotong itu tidak akan dapat dikalahkan oleh pedang atau sebatang tombak pendek atau aku lihat di antara kalian ada yang membawa sepasang bindi bergigi. Tampaknya memang mengerikan, tetapi itu tidak lebih dari sepotong dahan randu alas yang berduri.”

“Sebentar lagi kalian tidak akan dapat mengigau!” teriak pemimpin penyamun. Lalu, “Apakah yang ditunggu lagi. Bunuh semuanya dengan cara yang sudah aku katakan. Mati perlahan-lahan.”

Tetapi Swandaru justru tertawa. Katanya, “Jika kalian menusuk dadaku dengan tombak, maka aku akan mati. Nah, kalian boleh menggantungkan mayatku pada sebatang pohon, apakah dengan kaki di atas atau di bawah atau di samping, aku sudah tidak akan dapat mengetahuinya.”

“Diam, diam!” lalu perintahnya kepada orang-orangnya, “Bunuh semuanya! Tetapi biarkan anak gemuk yang gila ini hidup.”

“Terima kasih!” Swandaru pun berteriak.

Tetapi Swandaru tidak dapat berkata lebih banyak lagi, karena kedelapan penyamun itu pun bersama-sama berloncatan menyerang.

Ki Demang-lah yang menjadi sangat cemas, bukan saja karena dirinya sendiri, tetapi terutama justru karena anaknya yang membuat pemimpin penyamun itu menjadi marah sekali.

Sejenak kemudian, maka mereka pun telah terlibat dalam suatu perkelahian. Kiai Gringsing dan kedua muridnya terpaksa mengurai senjata mereka, cambuk yang berjuntai panjang, sedang Ki Sumangkar pun telah memutar trisulanya yang terikat pada seutas rantai, sedang pasangannya digenggamnya dengan tangan kirinya.

“Gila!” teriak pemimpin penyamun ketika mereka melihat jenis senjata itu.

Orang-orang yang ketakutan itu pun mulai tergugah hatinya. Mereka mulai dijalari oleh harapan, bahwa orang-orang yang baru datang itu dapat membantu mereka menyelamatkan diri, karena agaknya kelima orang itu memang sudah siap untuk berkelahi.

Sejenak mereka termangu-mangu. Namun tiba-tiba salah seorang dari mereka segera memungut sepotong kayu yang banyak berserakan di hutan itu. Dengan kayu itu, ia bertekad untuk nempertahankan diri bersama-sama dengan kelima orang berkuda yang baru datang dan yang kemudian telah terlibat dalam perkelahian dengan para penyamun.

Dengan demikian, maka kawan-kawannya pun segera mengikutinya pula. Dahan-dahan yang kering itu merupakan senjata yang cukup untuk sekedar bertahan di sela-sela dentang senjata beradu dan ledakan cambuk Kiai Gringsing dan murid-muridnya. Bahkan ada di antara mereka yang menggenggam sepasang dahan kayu yang tidak terlalu panjang, tetapi ada yang membawa sebatang dahan yang lurus sepanjang tombak pendek. Meskipun ujung kayu itu tidak seruncing tombak, tetapi jika ia berhasil memukul lawannya, maka pukulan itu akan cukup membuat lawannya menjadi pingsan.

Usaha mempersenjatai diri itu ternyata telah membuat para penyamun menjadi semakin marah. Tetapi mereka tidak dapat berbuat sekehendak hati, karena orang-orang itu telah mulai mengadakan perlawanan lagi. Apalagi kini di samping mereka terdapat beberapa orang yang ternyata memiliki kemampuan yang tidak mereka sangkal-sangka.

Kemarahan para penyamun itu pun segera mereka tumpahkan terutama kepada Kiai Gringsing dan kawan-kawannya. Tetapi ketika cambuk Kiai Gringsing mulai meledak disela-sela desing trisula Sumangkar, maka penyamun-penyamun itu harus mengakui betapa dahsyatnya lawan-lawan mereka saat itu.

Kiai Gringsing dan kedua muridnya beserta Ki Sumangkar pun segera melayani lawan-lawan mereka. Ki Demang justru telah bertempur dengan pedangnya, karena seorang penyamun yang marah meloncat menyerangnya.

Namun demikian, meskipun orang-orang yang semula ketakutan itu sudah mempersenjatai diri, namun mereka hampir tidak berarti sama sekali di dalam perkelahian yang menjadi semakin seru. Dengan demikian, maka Kiai Gringsing bersama kawan-kawannya harus berkelahi melawan kedelapan orang itu. Hanya kadang-kadang saja, orang-orang yang bersenjata kayu itu dapat juga mengganggu para penyamun itu dengan serangan-serangan yang tidak berbahaya bagi mereka.

Dengan demikian maka para penyamun itu pun kemudian memusatkan kekuatan mereka kepada Kiai Gringsing dan kawan-kawannya. Orang-orang yang bersenjata kayu itu sama sekali tidak akan berdaya jika kelima orang itu sudah dapat dilumpuhkan.

Ternyata kemudian di dalam perkelahian yang berlangsung semakin sengit, Kiai Gringsing dan kawan-kawannya mengetahui, bahwa lawan-lawannya sama sekali bukan orang-orang yang berilmu tinggi. Jika seorang dari mereka dapat mengalahkan tiga orang sekaligus, itu bukan karena mereka memiliki kelebihan yang luar biasa, tetapi ketiga orang lawannya lah yang sama sekali tidak memiliki keberanian yang cukup untuk bertempur terus.

Karena itulah, maka kedelapan orang itu sama sekali tidak dapat menguasai lawannya, meskipun Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar tidak menunjukkan kelebihan yang ada padanya. Mereka berkelahi seperti lawan-lawannya. Tata geraknya sederhana dan kadang-kadang tanpa arti. Mereka sekedar mempertahankan diri dan memancing segenap tenaga lawannya, agar mereka menjadi lelah dan akan dapat mereka kuasai tanpa membunuh seorang pun dari mereka.

Tanpa perintah yang terucapkan, Swandaru dan Agung Sedayu dapat mengerti isyarat yang diberikan oleh gurunya. Sedang Ki Sumangkar sempat juga berbisik di telinga Ki Demang, “Jangan membunuh lawan.”

Ki Demang termangu-mangu sejenak. Tetapi sebagai seorang Demang yang pernah berhadapan dengan prajurit di bawah pimpinan Tohpati, maka ia pun mampu menjaga dirinya.

Demikianlah, berganti-ganti mereka berlima melibatkan diri melawan satu atau dua orang penyamun sekaligus. Agung Sedayu dan Swandaru pun tidak berbuat terlampau kasar terhadap lawan-lawan mereka. Apalagi Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar.

Orang-orang yang semula ketakutan dan yang kemudian bersenjatakan kayu-kayu yang mereka pungut di antara batang-kayu, sama sekali tidak mendapat kesempatan lagi. Kelima orang yang bergerak dalam lingkaran yang sempit di sekitar mereka itu bagaikan pagar yang rapat sekali, dan terdiri dari berpuluh-puluh orang dengan senjatanya masing-masing.

Ki Demang pun harus menyesuaikan diri dengan cara lawan-lawannya berkelahi. Mereka bergeser di seputar lingkaran, sehingga lawan-lawannya tidak dapat memusatkan serangannya terhadap seseorang.

Ternyata bahwa kedelapan penyamun itu tidak berdaya menghadapi kelima orang itu. Meskipun kelima orang itu tidak memberikan serangan yang berbahaya, namun mereka tidak tahu apa yang sebaiknya mereka lakukan terhadap orang-orang itu.

Dalam pada itu, lawan-lawannya pun menjadi semakin lama semakin bingung bercampur marah. Mereka menganggap bahwa lawan-lawan mereka itu pun akan segera dapat mereka binasakan. Namun ternyata bahwa mereka hampir kehilangan nalar untuk mengalahkan mereka.

Swandaru yang biasanya tidak dapat mengendalikan diri, ternyata saat itu sama sekali tidak bernafsu untuk berbuat lebih banyak dari bertahan dan membiarkan lawan-lawannya menjadi lelah. Demikian juga Agung Sedayu.

Namun selagi Swandaru sambil tersenyum meledakkan cambuknya, ia sempat melihat seseorang yang meloncat dari sebuah dahan ke dahan yang lain. Demikian lincahnya seperti seekor kera yang besar sekali sedang bermain-main di antara pepohonan hutan.

Terasa dada Swandaru menjadi berdebar-debar. Ia hanya dapat melihat sepintas karena kebetulan orang itu berada di arah pandangannya, sedangkan gurunya dan Ki Sumangkar sedang menghadap ke arah lain. Ayahnya bahkan sedang melawan orang yang berdiri berlawanan arah dengan lawannya. Dan Agung Sedayu pun tidak sedang memandang ke arah itu.

“Apakah penglihatanku benar?” ia bertanya di dalam hatinya, sehingga selagi ia merenungi bayangan itu, hampir saja senjata lawannya menyentuh hidungnya.

Swandaru terkejut ketika sebuah bindi berdesing di depan wajahnya. Untunglah ia masih sempat mengelak. Namun dengan demikian, dengan gerak naluriah ia menyerang lawannya. Ujung cambuknya berhasil membelit pergelangan tangan, dan ketika ia menghentakkan cambuknya, orang itu pun terseret beberapa langkah dan kemudian jatuh berguling. Bindi yang hampir mengenai Swandaru itu pun terlepas dari tangannya.

Ketika ia bangkit dan meloncat surut, dilihatnya tangannya terkelupas dan mulai membasah darah.

“Gila!” ia berteriak.

Swandaru tidak mengacuhkannya. Selagi lawannya masih sedang memperbaiki keadaannya, ia mencoba memandang ke arah bayangan yang dilihatnya. Tetapi ia tidak melihat apa-apa lagi.

Karena itu, agar kawan-kawannya menyiapkan diri menghadapi keadaan yang tiba-tiba saja dapat mempengaruhi perkelahian itu, maka ia pun berkata, “Guru, apakah Guru melihat sesuatu di luar arena perkelahian ini?”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Cambuknya dengan mudah dapat menahan lawan-lawannya. Dengan pandangannya yang tajam ia mencoba mengawasi keadaan di sekitarnya. Tetapi ia tidak dapat melihat sesuatu.

“Di arah ini, Guru,” berkata Swandaru kemudian.

Kiai Gringsing tidak dapat begitu saja berpaling, karena bagaimanapun juga ia sedang berhadapan dengan dua orang lawan. Sehingga karena itu, maka ia pun menjawab, “Kau kemari.”

Swandaru menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi sebelum ia berbuat sesuatu Agung Sedayu-lah yang menyahut, “Aku akan datang, Guru.”

Belum lagi gema suaranya berhenti, maka cambuknya segera meledak mendorong lawannya beberapa langkah surut. Bahkan kemudian jatuh berguling di tanah, sedang ketika cambuk itu sekali lagi meledak, lawannya yang seorang lagi memekik kesakitan. Ujung cambuk Agung Sedayu membelit kakinya dan oleh hentakan yang keras, maka yang seorang itu pun terbanting jatuh pula.

Sementara itu, Agung Sedayu segera meloncat meninggalkan lawannya dan menggantikan kedudukan Kiai Gringsing melawan dua orang yang lain.

Dalam pada itu, ketika kedua orang lawan Agung Sedayu yang terjatuh itu bangkit, maka yang berdiri dihadapan mereka adalah Kiai Gringsing yang juga bersenjata cambuk.

Kedua orang itu masih menyeringai sejenak. Yang seorang kakinya menjadi merah oleh darah yang meleleh dari lukanya. Sedang yang lain telah kehilangan pedangnya, sehingga ia membutuhkan waktu sejenak untuk mencarinya.

Sambil bertempur melawan kedua lawannya, Kiai Gringsing mencoba mengawasi pepohonan yang semakin dalam menyusup ke dalam hutan, tampaknya semakin lebat.

Tetapi ternyata, pandangan mata Kiai Gringsing benar-benar tajam. Setiap gerakan dahan pepohonan tidak lepas dari pengawasannya, sehingga akhirnya ia melihat pula sesosok bayangan yang duduk, di atas dahan hanya beberapa langkah dari arena perkelahian, berlindung di balik rimbunnya dedaunan dan sulur-sulur yang bergayutan.

Kiai Gringsing menarik nafas. Tetapi ia masih belum berbuat sesuatu. Bahkan ia masih bertempur dengan kedua lawannya, seolah-olah ia masih belum melihat orang yang bersembunyi sambil memperhatikan perkelahian itu.

Meskipun Kiai Gringsing tidak melihat orang itu dengan jelas, namun menilik sikapnya ia dapat menduga, bahwa orang itu adalah orang yang memiliki ilmu yang cukup, setidak-tidaknya ia adalah orang yang memiliki kepercayaan kepada diri sendiri.

Dengan demikian, Kiai Gringsing harus berhati-hati. Keadaan agaknya akan menjadi semakin gawat. Namun selagi orang itu masih duduk diam, Kiai Gringsing pun tidak berbuat sesuatu. Ia masih saja melayani lawannya seperti sebelumnya.

Namun hatinya berdesir ketika ia melihat gerak yang lain di kejauhan. Ternyata selain orang yang duduk memperhatikan perkelahian itu, masih ada orang lain yang sedang mengawasi pula.

Tetapi ketika Kiai Gringsing melihat bahwa orang yang duduk itu sekali-sekali berpaling dan tidak membuat gerak yang mencurigakan, maka Kiai Gringsing mengerti, bahwa kedua orang itu adalah kawan.

Dengan demikian, Kiai Gringsing harus menjadi semakin berhati-hati. Ternyata bahwa sejenak kemudian, lawan mereka akan bertambah. Bahkan bertambah dengan dua orang yang pasti memiliki kelebihan dari kawan-kawannya yang telah berada di arena perkelahian.

Selain Kiai Gringsing mencoba menemukan dugaan yang lebih dekat lagi atas kedua orang itu, tiba-tiba saja Swandaru berkata lantang, “Apakah, Guru sudah melihatnya?”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Jawabnya kemudian, “Apakah kau benar-benar melihat sesuatu?”

“Ya, Guru. Aku melihat sesuatu bergerak-gerak di kejauhan.”

Kiai Gringsing tidak menyahut. Sekilas ia melihat lagi bayangan yang bergerak semakin dekat.

“Aku melihat lagi, Kiai,” Swandaru hampir berteriak. Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ternyata yang dilihat Swandaru adalah justru orang yang berada di kejauhan. Bukan orang yang duduk di atas dahan itu.

“Jika demikian, orang ini benar-benar orang yang harus diperhitungkan,” berkata Kiai Gringsing kepada diri sendiri. Bahwa ia dapat hadir di tempat itu tanpa diketahuinya adalah pertanda, bahwa orang itu adalah orang yang cukup mempunyai bekal dalam olah kanuragan. Meskipun pada saat ia mendekat agaknya Kiai Gringsing sedang sibuk melayani lawannya, apalagi ia sedang menghadap ke arah lain, namun orang itu adalah orang yang memiliki kelebihan dari orang-orang kebanyakan.

“Ternyata mereka datang berdua,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya. Sehingga dengan demikian, maka banyak kemungkinan yang dapat terjadi.

“Ternyata bahwa kami tidak dapat melewati mereka begitu saja,” berkata Kiai Gringsing pula di dalam hatinya, “tentu Ki Demang menjadi semakin cemas. Apalagi jika terjadi sesuatu. Jika perjalanan ini urung, maka ia pasti akan menjadi kecewa sekali dan akulah yang akan dipersalahkannya.”

Karena itu, maka Kiai Gringsing pun harus berusaha, bahwa apa yang akan dihadapinya ini, tidak akan mengurungkan perjalanan mereka ke Menoreh.

“Tetapi kedua orang itu cukup mendebarkan,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya.

Meskipun demikian, Kiai Gringsing tampaknya masih tidak begitu menghiraukannya. Tetapi sekali-sekali ia memandang juga ke atas dahan itu dengan sudut matanya.

Sejenak kemudian, ketika Swandaru sekali lagi melihat, ia pun berkata, “Sekarang orang itu menjadi semakin dekat.”

“Ya,” sahut Kiai Gringsing, “ia menjadi semakin dekat.”

Sumangkar, Agung Sedayu dan Ki Demang sebenarnya tertarik juga untuk melihat. Tetapi mereka harus melawan orang-orang yang menyerang mereka dari jurusan lain, sedang orang-orang yang bersenjatakan kayu itu hampir tidak dapat membantu mereka sama sekali.

Agung Sedayu yang masih muda itu akhirnya tidak dapat menahan diri. Meskipun ia bukan seorang yang cepat kehilangan pengamatan diri, namun keinginannya untuk melihat orang yang dikatakan oleh Swandaru itu telah memaksanya untuk segera mengalahkan lawannya, setidak-tidaknya mendesak mereka jauh-jauh.

Demikianlah, maka sejenak kemudian cambuknya menggelepar keras sekali. Dengan cepatnya ia memutarnya sekali lagi, dan ketika cambuk itu meledak pula, maka terdengar suara seseorang mengaduh.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia sama sekali tidak bertempur dengan menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya. Bahkan sebagian kecil saja yang dipergunakannya untuk melawan para penyamun itu. Karena itu ketika ia mendengar cambuk Agung Sedayu meledak, tahulah ia bahwa Agung Sedayu-lah yang tidak telaten kali ini. Bukan Swandaru. Namun Kiai Gringsing pun mengetahui, bahwa Agung Sedayu pasti ingin segera dapat melihat orang yang disebut oleh Swandaru itu.

Tetapi Kiai Gringsing tidak mencegahnya. Hal itu memang sudah waktunya terjadi. Bahkan semakin cepat menarik perhatian orang-orang yang bergayutan di pepohonan itu, menjadi semakin baik pula.

Ternyata bahwa Agung Sedayu mendesak lawannya dengan dahsyatnya. Ia tidak memerlukan waktu yang panjang. Ketika sekali lagi cambuknya meledak, sekali lagi lawannya harus menyeringai menahan sakit sambil mengeluh tertahan.

Namun cambuk Agung Sedayu menjadi semakin sering meledak. Dengan demikian, maka lawan-lawannya itu pun menjadi semakin sering mengaduh. Di tubuhnya telah tergores jalur-jalur merah silang-melintang. Dengan demikian, maka keduanya menjadi ragu-ragu untuk mendekatinya.

Dalam kesempatan-kesempatan itulah Agung Sedayu mencoba berpaling. Tetapi ia tidak segera dapat melihat orang yang di katakan oleh Swandaru itu. Namun dengan demikian maka Agung Sedayu pun menjadi semakin jengkel, sehingga cambuknya pun menjadi semakin garang pula.

Ternyata bahwa tindakan Agung Sedayu itu, serta noda-noda darah pada tubuh lawan-lawannya telah menarik perhatian orang yang duduk di atas dahan sambil memperhatikan pertempuran yang menjadi semakin cepat. Sejenak ia termangu-mangu, namun kemudian terdengar suaranya, “Kau memang dahsyat sekali anak muda.”

Agung Sedayu terkejut, mendengar suara itu. Demikian juga Sumangkar dan Ki Demang. Karena mereka tidak melihat, mereka menyangka bahwa yang disebut oleh Swandaru itu tidak berada pada jarak sedekat itu.

Bahkan Swandaru sendiri pun terkejut pula. Yang dilihatnya adalah orang lain, dan tiba-tiba ia mendengar suara tidak begitu jauh dari arena.

“He, apakah ada yang lain?” bertanya Swandaru tanpa sesadarnya.

Orang itu tertawa. Jawabnya, “Memang ada yang lain. Yang kau lihat adalah seorang kawanku.”

“O, jadi kalian berdua?” bertanya Swandaru.

“Ya. Kami datang berdua. Dengan delapan orang yang sudah bertempur lebih dahulu, kami adalah sepuluh orang.”

“Bagus,” Swandaru-lah yang menjawab, “setiap orang dari kami akan berkelahi melawan dua orang.”

“Tetapi orang itu tertawa pula. Katanya, “Jangan terlampau sombong. Bagaimana jika kami berdua saja yang akan turun ke arena? Biarlah delapan orang-orang kami itu menonton sambil mengepung kalian, jika ada di antara kalian yang akan melarikan diri.”

“He,” Swandaru meloncat surut setelah meledakkan cambuknya beberapa kali dan mendorong lawan-lawannya. Katanya, “Turunlah. Aku ingin melihat tampangmu.”

“Persetan!” orang itu menggeram. Tetapi ia pun kemudian tertawa lagi, “Kau menyenangkan anak muda. Tetapi sayang, bahwa karena itulah maka kau akan men-jadi seorang anak peliharaan di tempat kami.”

Swandaru tidak segera menjawab. Tetapi cambuknya meledak keras sekali, sehingga kedua lawannya berloncatan surut. Baru kemudian Swandaru berkata, “Turunlah. Aku ingin melihat wajahmu.”

“Apakah kau tidak melihat sekarang?”

“Terlindung oleh sulur-sulur kayu.”

“Baiklah. Aku akan turun,” lalu katanya kepada anak buahnya, “jangan menyerang korban-korbanmu lebih dahulu. Biarlah mereka mepunyai kesempatan mengenal wajahku. Mundurlah supaya mereka tidak berprasangka.”

Para penyamun itu pun segera berloncatan mundur. Bukan saja karena perintah orang yang bertengger di atas dahan itu, tetapi justru karena sebenarnya mereka menjadi ketakutan mendengar ledakan cambuk dan desing trisula Sumangkar, meskipun ujung trisula itu sama sekali belum pernah menyentuh lawan-lawannya.

Sejenak kemudian, orang yang berada di atas dahan itu pun segera meloncat turun. Demikian Kiai Gringsing dan kawan-kawannya melihat wajahnya, maka hati mereka pun bergejolak.

Sejenak Kiai Gringsing termangu-mangu memandanginya. Namun sebagai seorang yang cukup berpengalaman, maka ia pun segera dapat menenangkan hatinya.

“Ki Sanak,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “aku tidak menyangka bahwa kau adalah orang yang justru memegang pimpinan di daerah ini.”

Orang itu tertawa. Jawabnya, “Aku pun tidak menyangka, bahwa kau yang tua itulah yang memimpin kawan-kawanmu. Bukan Ki Demang yang kau katakan itu.”

Ki Sumangkar pun kemudian menyahut pula, “Jadi warung itu merupakan kedok yang bagus sekali bagimu, Ki Sanak.”

Orang itu tertawa sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Demikianlah. Aku memang mempergunakannya sebagai kedok yang baik sekali.”

Agung Sedayu, Swandaru dan Ki Demang memandanginya dengan heran pula. Namun mereka pun kemudian dapat menenangkan diri mereka sendiri. Namun Agung Sedayu masih juga berdesis sambil mendekati Ki Demang, “Penunggu warung itu, Ki Demang.”

“Ya, penunggu warung. Tentu tidak seorang pun mengira bahwa ia memiliki kemampuan yang begitu tinggi.”

“Guru sudah mencurigainya. Tetapi karena ia tidak mempunyai alasan yang lain, maka guru tentu tidak menyangka bahwa ia-lah justru yang memimpin perampokan ini. Dan ternyata bahwa ia sendiri mempunyai kemampuan yang begitu tinggi.”

“Ya. Kita harus berhati-hati. Bagaimanapun juga hal ini pasti akan mengganggu perjalanan kita, setidak-tidaknya memperpanjang waktu.”

“Tetapi tentu tidak dapat kita hindari. Jika orang itu yang memimpin perampokan, maka kita pasti akan mengalaminya lewat jalan manapun, karena ia pasti akan dapat mengatur orang-orangnya.”

“Ya, ya. Kau benar. Kita tidak dapat menghindarinya lewat jalan yang manapun.”

Keduanya pun terdiam, ketika mereka mendengar orang yang semula dikenalnya sebagai penunggu warung itu berkata, “Ternyata firasatmu baik Ki, Sanak. Aku tahu bahwa makanan yang aku berikan tidak kau makan sama sekali.”

“Terima kasih,” sahut Kiai Gringsing. Lalu, “Tetapi justru kebaikan yang berlebih-lebihan itu dapat menimbulkan kecurigaan. Bukankah hampir tidak pernah terjadi, seorang penunggu atau katakanlah penjual makanan yang begitu baik hati memberi bekal perjalanan kepada orang lewat tanpa alasan?”

Orang itu tertawa. Katanya, “Tetapi karena kau mampu berpikir itulah agaknya maka kau menolak pemberianku, meskipun tidak berterus terang. Kau terima juga makanan itu meskipun kemudian kau buang. Tetapi ada juga yang dengan lahapnya dimakan dan akibatnya mereka tidak dapat memberikan perlawanan yang berarti. Mereka menjadi sesak nafas dan kehilangan kekuatan.”

“Apakah setiap orang lewat kau beri bekal makanan buatanmu itu?”

“Tidak. Hanya orang-orang khusus saja. Seperti kau yang sudah mencurigai aku, maka aku pun sebenarnya agak curiga juga kepadamu. Terutama Ki Demang itu. Aku melihat sesuatu di balik pelana kudanya. Dan ternyata dugaanku benar. Senjata. Seorang Demang yang bersenjata sudah tentu berbahaya sekali. Ternyata dugaanku tidak salah. Meskipun agaknya Ki Demang bertempur seperti acuh tidak acuh, namun tidak seorang pun yang mampu mendekatinya,” orang itu berhenti sejenak. Lalu, “Tetapi, ternyata kemudian bahwa bukan saja Ki Demang, tetapi anak muda yang gemuk yang banyak berbicara itu pun mempunyai kemampuan yang cukup baik, sehingga dengan demikian, maka kalian berlima mampu bertahan melawan kedelapan orang anak buahku.”

“Terima kasih atas pujian itu. Tetapi adalah wajar, bahwa kami harus berjuang mempertahankan diri dan harta benda kami yang cukup banyak jumlahnya, karena kami pergi untuk melamar seorang gadis dan membawa oleh-oleh untuknya.”

Orang yang semula bertengger di atas pohon itu tertawa. Katanya, “Seperti kau mencurigai pemberianku, aku pun jadi curiga akan ceritamu. Dalam keadaan yang demikian gawat bagimu, kau masih juga mengatakan bahwa kau membawa harta benda yang cukup banyak jumlahnya. Bukankah itu benar-benar mencurigakan?”

Kiai Gringsing pun tersenyum. Lalu katanya, “Baiklah. Dengan demikian kita memang sudah saling mencurigai. Kita masing-masing memang sudah siap untuk berdiri berseberangan. Kau hendak menyamun kami, dan kami pun ingin mempertahankan diri dan milik kami. Setidak-tidaknya kuda-kuda kami yang tegar.”

“Baiklah. Aku percaya bahwa kau dapat mengalahkan dua tiga orang anak buahku sekaligus setiap orang. Tetapi kau belum mengenal aku dan seorang sahabatku, kami memang orang-orang baru di sini. Tetapi kami mendapat tugas yang berat sekali.”

“Kau sadari tugasmu sebagai seorang penyamun. Apakah penyamun mempunyai ikatan yang luas sekali, sehingga kau mendapat perintah untuk bertugas di sini?”

Orang itu tertawa. Jawabnya, “Demikianlah agaknya. Tetapi kami bukanlah penyamun kebanyakan. Kami adalah pagar bagi Mataram.”

“Seperti yang kau katakan. Kau ingin memagari Mataram dan memisahkannya dari dunia luar. Nah, siapakah yang memegang kendali dari antara kalian? Apakah kau pemimpin tertinggi dari gerakan yang ingin memperkecil arti Mataram?”

“Eh, kau salah duga. Tentu bukan aku, karena aku hanya sekedar menjalankan perintah. Tetapi meskipun demikian, aku mempunyai wewenang yang luas di sini. Beberapa orang yang bertugas di sekitar Alas Tambak Baya dan Mentaok tidak dapat berbuat banyak menghadapi Mataram. Sekarang aku akan mencoba dengan caraku.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi persoalan yang dikatakan oleh orang itu adalah persoalan yang sudah diduganya. Kiai Gringsing ingin mendengar keterangan yang lebih dalam lagi. Tetapi sulitlah dapat di harapkan dari orang itu. Meskipun demikian ia masih juga mencobanya, “Ki Sanak. Meskipun kau berhasil di sini, tetapi jalan ke Mataram bukan hanya satu jalur. Dari Selatan, dari Barat, dan dari Utara masih tetap terbuka.”

“Semua jalan sudah ditutup. Tetapi menurut perhitungan kami, jalan yang menghadap langsung ke Pajang ini adalah jalan yang paling penting. Karena itu, aku-lah yang ditugaskannya di sini.”

“O, kalau begitu Ki Sanak adalah orang yang paling dipercaya dari lingkunganmu.”

Orang itu tersenyum. Katanya, “Ya. Akulah orang yang paling dipercaya.”

“Masih adakah orang yang melampauimu?”-

“Tidak. Tidak ada lagi orang yang melampaui aku.”

“Yang menugaskan kau di sini?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Mungkin. Satu-satunya orang yang mungkin melampaui aku.”

“Kenapa mungkin?”

“Ia hanya memiliki pengaruh. Jika aku dan pemimpin kami itu harus bertempur, maka aku kira, aku tidak akan dapat dikalahkannya.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Tetapi harapan untuk mendapat penjelasan dari orang ini, baik sebelum maupun seandainya ia berhasil menangkapnya, akan sia-sia saja. Seperti juga yang pernah terjadi, mereka adalah orang-orang yang teguh memegang rahasia. Kiai Damar, Kiai Telapak jalak, orang-orang yang menyerang rumah Untara yang dihuni oleh para perwira Pajang dan tentu juga orang-orang ini.

“Tetapi setidak-tidaknya aku harus membuka jalur ini,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “Jika orang-orang itu masih ada di jalur ini, maka hubungan dengan Mataram pasti akan benar-benar terputus. Prajurit-prajurit yang meronda tidak akan dapat memecahkan masalah ini, karena mereka hanya sekedar lewat dan segera kembali ke Mataram. Dan jika ter-jadi benturan senjata, maka prajurit Mataram itu tidak akan dapat mengalahkan orang-orang ini, terutama penjual makanan itu.”

Dalam pada itu, maka orang itu pun kemudian berkata, “Nah, sekarang kalian yang sudah terlanjur mengetahui beberapa hal tentang kami dan usaha kami, tidak akan dapat keluar lagi dari hutan ini.”

“Jangan meramalkan yang belum terjadi.”

Orang itu tertawa. Katanya, “Aku tidak pernah ikut campur dalam setiap perampokan dan kadang-kadang pembantaian. Tetapi kali ini, ternyata orang-orangku tidak mampu melaku-kannya. Karena itu, aku sendiri harus turun tangan. Jika tidak, maka pagar yang kami buat pasti akan dapat kau tembus. Apakah kau akan pergi ke Menoreh atau ke Mata-ram?”

Kiai Gringsing tidak menyahut. Ketika ia kemudian melihat orang yang satu lagi dengan jelas, maka orang itu adalah orang yang mula-mula bertanya kepadanya, di saat ia beristirahat sebelum sampai ke tepi hutan Tambak Baya.

“Nah, jangan menyesal, bahwa kami harus menjalankan tugas kami. Kami mendapat kebebasan mempergunakan cara yang paling kami sukai untuk membantai korban-korban kami. Adalah kebetulan sekali bahwa yang paling menarik dari kalian adalah anak muda yang gemuk itu.”

Kiai Gringsing tidak menyahut. Tetapi ketika ia berpaling kepada Ki Demang, dilihatnya wajah itu menjadi berkerut merut.

Namun, itu adalah wajar sekali. Ki Demang sedang dalam perjalanan untuk melamar seorang gadis justru untuk Swandaru. Dan kini Swandaru yang menjadi pusat sasaran para penyamun itu.

Meskipun demikian Ki Demang percaya, bahwa Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar pasti tidak akan tinggal diam.

Dalam pada itu, penjual makanan yang ternyata adalah pemimpin dari para penyamun itu maju selangkah sambil berkata, “Kami akan segera melakukan tugas kami. Kami akan membunuh kalian. Tetapi anak yang gemuk itu akan menjalaninya yang terakhir kali.”

Tetapi adalah di luar dugaan bahwa Swandaru menyahut, “Sejak tadi kau hanya berbicara saja tanpa berbuat sesuatu. Ayo, kita segera menentukan siapakah yang akan terbantai. Kami atau kalian.”

Orang yang ternyata memimpin para penyamun itu mengerutkan keningnya, namun ia pun tertawa, “Kau memang menyenangkan sekali.”

“Persetan!” Swandaru menjadi tidak sabar lagi. Orang itu masih saja tertawa. Tetapi suara tertawanya terputus ketika cambuk Swandaru tiba-tiba saja meledak.

“Anak setan!” pemimpin penyamun itu menggeram. Namun Kiai Gringsing-lah yang menyahut, “Marilah, Ki Sanak. Kita sudah bersiap.”

Orang itu memandang Kiai Gringsing dengan sorot mata yang menyala. Dengan isyarat ia memanggil kawannya yang paling dipercaya. Katanya, “Marilah kita selesaikan orang-orang ini.”

Kiai Gringsing melihat orang itu meloncat mendekat. Karena itu, maka ia pun berkata, “Marilah, adi Sumangkar. Kita yang tua-tua sajalah yang sebaiknya melayani tamu-tamu kita kali ini,” lalu katanya kepada Swandaru dan Agung Sedayu, “Kalian mempunyai tugas khusus. Kedelapan orang itu tentu tidak akan hanya sekedar menonton. Jika mereka berbuat sesuatu, adalah bagianmu.”

Mendengar kata-kata gurunya itu, Swandaru menjadi kecewa. Karena itu, maka ia pun menjawab, “Aku ingin bahwa aku-lah yang mendapat kesempatan membantai penjual makanan yang licik itu.”

Tetapi gurunya menyahut, “Jangan kalian biarkan kedelapan orang itu mengganggu kami. Kami ingin berkelahi seperti kami sedang melagukan tembang macapat.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Ia mengerti bahwa gurunya tentu berpendirian lain. Karena itu maka katanya di dalam hati, “Orang itu tentu orang yang memiliki kemampuan yang tinggi menurut pendapat guru, sehingga aku tidak diperkenankan untuk bertempur melawannya.”

Dalam pada itu, Sumangkar pun telah menyiapkan dirinya di samping Kiai Gimgsing. Seperti Kiai Gringsing maka Sumangkar pun melihat, bahwa kedua orang itu bukan orang-orang kebanyakan dan bukan pula seperti penyamun-penyamun yang lain.

Orang yang semula menunggui warung itu pun kemudian berkata, “Kalian akan menyesal. Tetapi apa boleh buat. Aku harus menyelesaikan kalian di sini. Kalian sudah membuat aku marah dan tentu jualanku sekarang sudah habis dicuri orang, karena tidak ada yang menungguinya.”

Tanpa diduga-duga Swandaru menjawab, “Jika daganganmu habis dicuri orang, maka pencurinya tentu anak buahmu sendiri, karena di sini sama sekali tidak ada orang lain.”

“Persetan!” orang itu memotong. Namun sebelum orang itu berbicara, Kiai Gringsing telah mendekat selangkah sambil berkata, “Bersiaplah. Jangan membual kepada anak-anak. Kita sudah berjanji untuk berkelahi dan mempertaruhkan nyawa.”

Orang itu menggeram. Lalu tiba-tiba saja ia berteriak, “Beri aku senjata. Cepat. Beri aku senjata. Agaknya untuk membunuh orang ini diperlukan senjata.”

Sejenak para penyamun itu saling berpandangan. Dan orang itu sekali lagi berteriak, “Berikan senjata itu kepadaku. Apakah kalian tuli? He, yang memegang sepasang bindi. Berikan kepadaku sebuah. Dan kau yang memegang pedang dan pisau belati panjang. Berikan pisau itu kepadaku. Aku akan membunuh orang ini dengan bindi dan pisau belati.”

Orang yang memegang sepasang bindi itu pun segera berlari-lari kepadanya, dan menyerahkan sebuah dari sepasang bindinya, sedang yang membawa sebuah pedang dan pisau belati panjang pun datang pula kepadanya menyerahkan pisau belatinya.

“Nah, aku kini sudah bersenjata dan kalian masih juga bersenjata. Aku akan membunuh orang tua ini, dan kalian harus membunuh anak-anak muda itu beserta Ki Demang. Kemudian tikus-tikus yang lain itu pun harus kau bunuh pula.” lalu ia pun berpaling kepada kawannya yang telah siap melawan Sumangkar, “Bunuh pulalah orang yang membawa senjata aneh itu. Seakan-akan ia adalah seorang petualang yang biasa membelah dada orang dengan trisulanya itu.”

Orang yang diajak berbicara itu mengangguk dan menjawab, “Senjatanya memang sangat menarik. Tetapi orang itu sama sekali tidak menarik bagiku. Apakah kau pernah mendengar tentang orang-orang bercambuk yang telah membunuh Kiai Damar dan Kiai Telapak Jalak?”

Penjual yang menjadi pemimpin para penyamun itu mengerutkan keningnya. Katanya, “O, aku memang pernah mendengar, tetapi aku tidak menghiraukannya. Apakah orang-orang itu adalah orang yang sedang kita hadapi sekarang ini?”

“Aku kira.”

“Persetan! Jika demikian, mereka benar-benar harus dibunuh,” lalu ia pun berteriak kepada para penyamun yang lain, “Cepat, bunuhlah anak-anak muda itu dengan Ki Demang sekali. Mereka tidak berhak lagi keluar dari hutan ini. Kemudian kalian harus menjaga agar kedua orang tua-tua ini tidak dapat lari. Karena, merekalah agaknya yang telah membunuh Kiai Damar, mengaku atau tidak mengaku.”

Para penyamun itu pun segera bergeser maju. Kini mereka berdelapan hanya tinggal menghadapi tiga orang lagi, karena yang dua, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar sudah terikat kepada kedua orang yang sudah bersiap pula menyerangnya.

Swandaru menggeram ketika ia melihat tiga orang mendekatinya. Ia harus berkelahi melawan tiga orang itu. Sedangkan Agung Sedayu pun harus berhadapan dengan tiga orang pula, dan Ki Demang dengan pedangnya berhadapan dengan dua orang penyamun.

Ternyata Swandaru tidak menunggu mereka menyerang. Sejenak kemudian terdengar cambuknya meledak. Ia-lah yang lebih dahulu mulai menyerang lawan-lawannya.

Ledakan cambuk Swandaru bagaikan aba-aba setiap orang yang ada di tempat itu. Semuanya pun segera berloncatan dan menghadapi lawan masing-masing.

Ki Demang tidak lagi dapat berpikir lain daripada bertempur. Mau tidak mau, perkelahian memang harus terjadi karena orang-orang yang berada di mulut hutan itu ternyata adalah orang-orang yang sengaja menghalang-halangi, tetapi menakut-nakuti dengan membunuh orang-orang lain, yang lebih dahulu melalui jalan itu.

Sejenak kemudian, maka Ki Demang pun telah bertempur mati-matian. Tetapi karena ia memiliki pengalaman yang cukup, maka dua orang lawannya bukannya lawan yang dapat membahayakan jiwanya, meskipun ia harus memeras tenaga. Namun demikian, jika perkelahian itu berlangsung lama, maka nafasnya-lah yang agaknya akan mengalami kesulitan.

Dalam pada itu, Swandaru dan Agung Sedayu pun segera berloncatan dengan lincahnya. Karena mereka mencemaskan nasib Ki Demang di Sangkal Putung, maka mereka pun tidak lagi sekedar melayani lawannya seperti yang telah di lakukannya. Kini mereka benar-benar harus segera membinasakan lawannya sebelum dirinya sendiri.

Karena itulah, maka tandang Swandaru dan Agung Sedayu tidak lagi seperti saat mereka bertempur sebelumnya. Kini mereka memeras segenap kemampuan yang ada. Selain lawannya memang menjadi lebih banyak, maka mereka harus berpacu dengan waktu. Mereka tidak tahu, apakah Ki Demang mampu mempertahankan dirinya melawan kedua orang itu, sedangkan apakah gurunya dan Ki Sumangkar dapat mengimbangi lawannya itu pun, masih merupakan pertanyaan yang besar bagi keduanya. Meskipun kedua anak-anak muda itu tidak berjanji, tetapi mereka menganggap bahwa semakin cepat mereka menyelesaikan tugas mereka, itu akan berarti semakin baik buat dirinya sendiri dan buat orang lain yang memerlukan pertolongan.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian pertempuran itu pun meningkat menjadi semakin seru. Untuk melawan Swandaru dan Agung Sedayu yang bertempur seperti banteng yang terluka itu, lawan-lawannya pun telah memeras kemampuan yang ada pada mereka.

Dalam pada itu Ki Demang pun harus mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Kedua lawannya ternyata memiliki pikiran yang serupa dengan Swandaru dan Agung Sedayu. Jika Ki Demang itu segera dapat dibinasakan, maka mereka berdua pun akan segera dapat membantu kawan-kawannya yang lain.

Namun ternyata, meskipun umurnya sudah menjadi semakin tua, Ki Demang cukup tangkas untuk mempertahankan dirinya. Kadang-kadang ia memang harus berloncatan surut. Tetapi kemudian, ia segera menemukan keseimbangan yang mantap untuk bertahan.

Swandaru-lah yang setiap kali menggeram jika ia melihat ayahnya harus bergeser surut. Namun lawannya pun tidak dengan sukarela menyerahkan diri mereka. Meskipun di antara mereka terdapat orang yang telah terluka, tetapi perlawanannya masih tetap harus diperhitungkan.

Sementara itu, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar pun telah terlibat di dalam pertempuran yang sengit. Ternyata penjual makanan itu bukan sekedar menakut-nakuti dengan sikap dan kata-katanya. Dengan sebuah bindi dan sebuah pisau belati panjang ia bertempur melawan Kiai Gringsing yang mempergunakan cambuknya. Setiap kali cambuk itu meledak bagaikan memecahkan selaput telinga. Namun orang yang memegang bindi dan pisau belati panjang itu setiap kali tertawa sambil berkata, “Tenagamu dahsyat sekali, Ki Sanak.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Ternyata ia benar-benar menemukan lawan yang cukup tangguh, sehingga dengan demikian ia menjadi heran, bahwa orang-orang yang berhimpun untuk menentang berdirinya Mataram itu terdiri dari orang-orang yang pilih tanding. Jika mereka bergabung menjadi satu dan menyusun sebuah pasukan yang besar, maka kekuatannya pasti akan menggetarkan Pajang maupun Mataram. Yang pernah dikenalnya dari lingkungan mereka adalah Kiai Damar, Kiai Telapak Jalak, seorang yang telah menyerang rumah Untara yang dihuni oleh para perwira bersama pemimpin gerombolan penyerang itu, dan kini dua orang lagi yang belum dikenal namanya.

“Delapan orang,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “adalah sulit sekali bagi Mataram untuk mendapatkan delapan orang seperti orang-orang ini. Di Mataram yang dapat aku ketahui hanyalah Ki Gede Pemanahan sendiri dan yang masih sedang berkembang adalah Raden Sutawijaya. Meskipun barangkali Mataram dapat menyusun kelompok-kelompok yang kuat untuk melawan mereka, tetapi Mataram pasti akan mengalami kesulitan.”

Tetapi untunglah bahwa mereka tidak bergerak dalam irama yang mantap, sehingga kemampuan mereka pun agaknya terpecah-pecah.

Dalam perkelahian yang sengit, maka Kiai Gringsing kemudian benar-benar harus berhati-hati. Lawannya kali ini adalah seorang yang dapat bergerak secepat tatit, sehingga kadang-kadang ujung cambuknya tidak dapat mengejarnya, bahkan kadang-kadang, angin yang berdesir karena ayunan bindi orang itu telah terasa di kening Kiai Gringsing. Sedikit saja ia lengah, maka kepalanya pasti dipecahkan oleh lawannya itu.

“Benar-benar di luar dugaanku,” berkata Kiai Gringsing di dalam hati, “jika terjadi sesuatu atas salah seorang dari kami, maka akulah yang bertanggung jawab.”

Namun, selagi ia sempat melihat dengan sudut matanya Swandaru dan Agung Sedayu, hatinya menjadi sedikit tenang, meskipun Ki Demang Sangkal Putung kadang-kadang membuatnya tegang.

Lawan Ki Sumangkar pun ternyata seorang yang tangguh. Tetapi Ki Sumangkar tidak mengalami tekanan yang terlampau berat seperti Kiai Gringsing. Meskipun orang itu mampu mengimbangi tata gerak Ki Sumangkar, namun keduanya masih juga harus berjuang untuk menentukan siapakah yang akan menang, dengan kemungkinan yang lebih baik pada Ki Sumangkar, jika Ki Sumangkar tidak berbuat kesalahan. Setiap kali, Ki Sumangkar dengan senjatanya yang dahsyat itu, berhasil mendorong lawannya surut. Tetapi kemudian lawannya itu pun segera memperbaiki keadaannya. Dalam keadaan yang sulit, lawannya mencoba bertahan dengan senjatanya yang aneh pula. Dua batang tongkat pendek yang tajam di kedua ujungnya, sehingga seakan-akan ia mempergunakan empat buah mata tombak yang runcing.

“Ternyata kami tidak dapat melampaui penyamun-penyamun ini dengan tanpa berjuang mati-matian,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya. Apalagi ternyata lawannya memang memiliki kemampuan yang mendebarkan. Senjatanya itu setiap kali rasa-rasanya telah menyentuh kulit Kiai Gringsing.

Bahkan Gringsing terkejut ketika terasa sebuah sentuhan telah menyentuh lengan bajunya. Dengan gerak naluriah ia melangkah surut. Jika bindi itu menyentuh tangannya, maka tulangnya pasti akan remuk, dan seterusnya kepalanya-lah yang akan dipecah oleh lawannya itu.

Karena itulah, maka Kiai Gringsing menjadi semakin berhati-hati dan sekaligus berjuang semakin dahsyat. Sebagai seorang yang memiliki pengalaman yang cukup dan ilmu yang tinggi ia pun segera berusaha menyesuaikan dirinya, tanpa melupakan kemungkinan waktu yang lama dari pertempuran itu, sehingga ia pun harus mengatur pernafasan sejak permulaan.

Dengan demikian, maka pertempuran antara Kiai Gringsing dengan lawannya itu pun meningkat semakin dahsyat. Keduanya memiliki kelebihan dari orang-orang kebanyakan, sehingga karena itu, maka arena perkelahian mereka pun seakan-akan menjadi ajang angin pusaran yang sangat dahsyat. Pohon-pohon perdu pun berserakan dan ranting-ranting berpatahan. Senjata Kiai Gringsing meledak memekakkan telinga disela-sela desing bindi dan pisau belati panjang yang bagaikan melontarkan arus angin yang tiada taranya.

Dan perkelahian itu pun kemudian bagaikan tidak dapat dinilai lagi. Gerak tangan dan kaki mereka tidak lagi dapat diikuti dengan mata telanjang.

Ternyata Ki Sumangkar menjadi cemas melihat perkelahian itu. Di Jati Anom Kiai Gringsing telah dapat dilukai, sedang di saat-saat sebelumnya, Kiai Gringsing hampir selalu dapat langsung menguasai lawannya. Dan sekarang ia menjumpai lawan yang seakan-akan lebih tinggi lagi ilmunya dari lawan-lawan sebelumnya.

Tetapi dalam pada itu, Sumangkar sendiri masih terlibat dalam perkelahian yang dahsyat. Ternyata lawannya pun segera mengerahkan segenap tenaganya untuk berusaha secepatnya mengakhiri perkelahian. Tetapi ternyata bahwa Sumangkar bukan lawan yang dapat ditentukan nasibnya.

Di lingkaran yang lain, Agung Sedayu dan Swandaru bertempur mati-matian pula untuk segera mengalahkan lawan-lawan mereka, seperti juga Ki Demang yang sudah mengerahkan semua kemampuannya melawan penyamun-penyamun itu.

Dengan hati yang berdebar-debar, tetapi juga dengan kemarahan yang mencengkam, Swandaru memutar cambuknya seperti baling-baling, sedang cambuk Agung Sedayu menyambar-nyambar seperti puluhan cambuk yang berterbangan di udara.

Orang-orang lain yang bersenjatakan potongan-potongan kayu, sama sekali tidak mampu lagi melibatkan diri di dalam perkelahian itu. Hanya kadang-kadang saja mereka mengayun-ayunkan kayu di tangan mereka apabila para penyamun itu terdesak. Tetapi mereka segera melangkah surut apabila penyamun-penyamun itu memandang mereka dengan tatapan mata yang marah.

“Kepung mereka!” teriak Swandaru, “Jangan biarkan mereka lari.”

Orang-orang itu termangu-mangu sejenak. Lalu terdengar suara Swandaru itu lagi, “Mereka juga mengepung kita dan berusaha agar kita tidak dapat keluar dari hutan ini. Jangan takut. Aku ada di antara kalian. Jika mereka akan menyerang kalian, maka punggungnya akan aku sobek dengan ujung cambukku.”

Orang-orang yang sudah hampir kehilangan keberaniannya sama sekali itu saling berpandangan. Tetapi mereka tidak segera berbuat apa-apa. Karena itu, maka Swandaru berteriak lagi, “Berbuatlah sesuatu. Jika kita berhasil membunuh mereka, kita akan selamat. Tetapi jika tidak, kita lah yang akan digantung di mulut lorong ini dengan kaki kita di atas, dan dibiarkannya kita mati perlahan-lahan atau digapai oleh seekor harimau yang akan melubangi kepala kita dengan taring-taringnya.”

Mereka masih saja termangu-mangu. Namun kemudian Agung Sedayu pun berkata pula sambil bertempur, “Seorang kawanmu telah mati di tangan mereka. Kawanmu itu telah menjadi banten perjuangan kalian untuk melepaskan diri.”

Ternyata kata-kata itu telah menyentuh hati mereka. Karena itu, mereka pun kemudian berpencaran, meskipun mereka tidak berani berdiri sendiri. Mereka telah berdiri terbagi menjadi tiga kelompok kecil yang masing-masing mencoba menjaga lawan-lawan Agung Sedayu, Swandaru dan Ki Demang Sangkal Putung.

“Bagus!” teriak Swandaru, “Kalian dapat memukul kepala mereka dengan tongkat-tongkat kayu kalian.”

Tetapi, orang-orang itu masih saja berdiri termangu-mangu. Mereka tidak berani menerjunkan diri di dalam arena perkelahian itu. Apalagi mereka yang telah terluka. Namun tampak di wajah mereka, sepercik keberanian mulai tumbuh. Juga karena seorang kawan mereka telah terbunuh, sehingga korban yang telah jatuh itu mendorong mereka untuk menuntut balas.

Yang kemudian segera menguasai lawan-lawannya justru adalah Agung Sedayu. Sebuah serangan mendatar membuat ketiga lawannya berloncatan mundur. Namun tiba-tiba seorang dari mereka segera meloncat begitu ujung cambuk Agung Sedayu berdesing di depan wajahnya. Tombak pendeknya berputar sekali, lalu mematuk leher anak muda itu. Tetapi Agung Sedayu pun cepat mengelak, ia sempat meloncat ke samping dan kemudian berputar setengah lingkaran. Tetapi pada saat itu, sebuah bindi melayang menyambar ubun-ubunnya. Dengan demikian, Agung Sedayu terpaksa meloncat lagi. Namun seorang lawannya yang lain mengayunkan pedangnya langsung menebas lehernya.

Agung Sedayu tidak sempat meloncat lagi. Tetapi ia merendahkan diri untuk mengelakkan pedang itu.

Pada saat yang gawat itulah, Agung Sedayu melihat ujung tombak lawannya melayang ke lambungnya.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ia harus bertindak tepat. Dalam waktu sekejap, ia harus menentukan suatu langkah untuk membebaskan dirinya dari lawan-lawannya yang semakin garang.

Agung Sedayu bergeser sedikit surut. Ia masih tetap merendahkan dirinya. Namun tiba-tiba ia berputar di atas tumitnya, dan sekali lagi cambuknya berputar pula mendatar. Lawan-lawannya segera berloncatan surut. Tetapi orang yang sedang meloncat dengan ujung tombak terjulur itu tidak dapat berbuat sesuatu, karena ia sedang melayang laju ke depan.

Yang dapat dilakukannya kemudian adalah berusaha menangkis ujung cambuk yang terayun tepat kepadanya.

Karena itulah, maka tombaknya pun segera dirundukkannya. Dengan sebuah hentakan, ia ingin menghentikan ayunan cambuk Agung Sedayu. Namun dengan demikian, maka terjadilah benturan antara dua senjata itu, sehingga ujung cambuk Agung Sedayu pun langsung membelit tangkai tombak itu.

Agung Sedayu yang sudah memperhitungkannya itu pun segera menarik ujung cambuknya sendal pancing. Dengan sepenuh kekuatannya, ia menghentakkan cambuknya demikian tiba-tiba, sehingga lawannya tidak mampu lagi menguasai senjatanya.

Senjata itu pun kemudian terlepas dari tangannya dan terlempar beberapa langkah, lawannya sama sekali tidak mampu bertahan untuk tetap menggenggam tangkai tombaknya itu.

Agung Sedayu melihat kesempatan terbuka baginya. Karena itu, ia tidak menyia-nyiakannya. Sekejap kemudian, maka ia pun segera meloncat menyerang lawannya yang sudah tidak bersenjata itu.

Tetapi ternyata, bahwa kawan-kawan penyamun itu tidak membiarkan kawannya itu menjadi sasaran serangan Agung Sedayu tanpa melakukan perlawanan. Hampir berbareng mereka menyerang dengan ujung senjata yang terjulur lurus ke depan.

Agung Sedayu melihat serangan yang datang dengan dahsyatnya itu. Sekali lagi ia memutar cambuknya untuk mempertahankan jaraknya dari penyamun-penyamun itu. Namun tiba-tiba saja dengan cambuk yang masih berputar, Agung Sedayu meloncat langsung dengan garangnya, menyerang lawannya yang sudah tidak bersenjata itu.

Lawannya masih berusaha mengelak. Dengan tangkas ia meloncat surut sambil merendahkan dirinya dalam-dalam, di bawah putaran cambuk Agung Sedayu.

Namun, ternyata yang mengenainya sama sekali bukan ujung cambuk Agung Sedayu. Selagi cambuknya masih berputar, dan orang itu telah terbebas dari sambaran ujung cambuk yang berdesing di atas kepalanya, namun tiba-tiba saja terdengar keluhan yang tertahan. Ternyata kaki Agung Sedayu-lah yang menyambar orang yang sedang merunduk itu, sehingga ia terlempar beberapa langkah surut dan kemudian jatuh berguling di tanah. Demikian kerasnya tendangan kaki Agung Sedayu, sehingga terasa tulang-tulang iganya menjadi remuk karenanya, dan karena itulah, maka ia tidak lagi mampu untuk bangkit dan ikut memberikan perlawanan.

Dengan demikian, maka lawannya telah berkurang dengan seorang, yang justru merupakan penggerak dari perlawanan mereka.

Dengan demikian, maka perlawanan yang kemudian-pun menjadi jauh lebih lemah. Dua orang yang masih tetap bertempur itu hampir tidak mempunyai kesempatan lagi. Dan Agung Sedayu pun tidak menyia-nyiakan waktu lagi. Keadaan masih cukup gawat. Ia melihat betapa Ki Demang bertahan mati-matian sehingga keringatnya telah membasahi seluruh tubuh dan pakaiannya.

Namun dalam pada itu, selagi Agung Sedayu berusaha mengakhiri perlawanan kedua penyamun yang lain, ia mendengar seseorang memekik kesakitan. Ia masih sempat memalingkan wajahnya dan melihat seorang lawan Swandaru terlempar dari arena dan jatuh di tanah dengan darah yang meleleh dari luka di lambungnya. Ternyata Swandaru telah berhasil mengenai lambung lawannya dengan ujung cambuknya dan dengan sebuah tarikan yang menghentak, maka karah-karah besi di ujung cambuk itu telah melukai lambung lawannya.

Sesaat kemudian, Agung Sedayu pun mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya untuk segera menjatuhkan lawan-lawannya yang lain. Dan usaha itu tidak terlampau sulit baginya. Seorang demi seorang, maka lawannya itu pun berhasil di lumpuhkannya. Yang seorang menjadi pingsan karena keningnya telah disambar oleh ujung cambuk Agung Sedayu, sedang yang lain tidak mampu lagi melakukan perlawanan karena kakinya rasa-rasanya patah karenanya.

Berbeda dengan Agung Sedayu, Swandaru masih bertempur melawan kedua lawannya, yang agaknya dengan gigih melakukan perlawananan. Keduanya mulai berlari-lari mengelilingi pepohonan hutan, mereka memanfaatkan rimbunnya dedaunan dan batang perdu yang tumbuh liar.

“Licik!” geram Swandaru yang menjadi marah karenanya.

Tetapi lawan-lawannya tidak menghiraukannya. Mereka masih menyerang, dan kemudian berlari-larian menjauh.

Agung Sedayu yang sudah selesai dengan lawan-lawannya, melihat cara yang licik itu. Karena itu, maka ia pun segera meloncat memburu salah seorang dari mereka sambil berkata, “Selesaikanlah yang seorang itu. Aku akan menyelesaikan yang seorang lagi.”

Swandaru berpaling, dilihatnya Agung Sedayu telah bebas dari lawan-lawannya. Tetapi ia menyahut, “Bebaskan Ki Demang dari kedua lawannya. Aku akan menyelesaikan cecurut-cecurut ini.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Kemudian dipandanginya arena pertempuran antara Ki Demang melawan kedua orang penyamun yang bertempur mati-matian.

Ki Demang memang tidak dapat segera dikalahkan. Bahkan serangan-serangan Ki Demang adalah serangan-serangan yang berbahaya. Tetapi lawannya pun bertempur dengan gigihnya, sehingga Ki Demang harus memeras segenap tenaga dan kemampuannya. Karena itulah, maka nafasnya menjadi semakin cepat mengalir dan keringatnya membasahi seluruh permukaan kulit tubuhnya.

Agung Sedayu menarik nafas panjang. Meskipun Ki Demang memiliki pengalaman dan ilmu yang dapat mengimbangi lawannya, namun agaknya nafas Ki Demang-lah yang pada suatu saat pasti akan mengganggunya.

Karena itu, maka Agung Sedayu pun kemudian selangkah demi selangkah mendekati Ki Demang di Sangkal Putung. Dengan saksama ia memandang kedua lawan Ki Demang itu berganti-ganti. Dan bagi Agung Sedayu keduanya tidak memiliki kelebihan apa pun juga. Kedua lawan Ki Demang itu tidak lebih baik dari ketiga lawannya yang telah dikalahkannya.

Namun dalam pada itu, langkah Agung Sedayu itu terasa bagaikan hentakan-hentakan di dalam dada kedua lawan Ki Demang. Mereka sadar, bahwa ternyata Agung Sedayu bukan seorang anak muda kebanyakan, yang menggigil melihat senjata berputar. Ternyata Agung Sedayu itu memiliki kemampuan yang sangat mengejutkan para penyamun itu.

Tetapi para penyamun itu tidak dapat berbuat apa pun juga. Langkah Agung Sedayu sama sekali tidak ada yang menghalanginya lagi. Selangkah demi selangkah ia mendekat dan setiap langkahnya membuat nafas para penyamun itu menjadi semakin sesak.

Ternyata kegelisahan para penyamun itu telah mempengaruhi sikapnya. Perlawanannya pun menjadi kacau, sehingga mereka tidak dapat lagi memusatkan perhatiannya pada ujung-ujung senjatanya.

Pada saat yang demikian itulah, Ki Demang menghentakkan semua kemampuan yang ada padanya. Pedangnya berputar cepat sekali, dan kemudian meliuk mematuk dengan dahsyatnya.

Sesaat kemudian terdengar jerit terputus. Ternyata pedang itu telah menembus dada seorang lawannya.

Darah yang merah memancar dari luka itu. Sesaat ia masih dapat berdiri, namun sesaat kemudian tubuhnya itu pun roboh, seperti robohnya sebatang kayu yang mati.

Kawannya tercengang memandang tubuh yang terguling tanpa berdaya sama sekali itu. Bahkan sejenak kemudian, setiap orang yang menyaksikan, dapat memastikan bahwa orang yang terbaring itu sudah tidak bernafas lagi.

Penyamun yang seorang itu berdiri termangu-mangu. Sejenak ia kebingungan. Dipandangnya Ki Demang di Sangkal Putung berdiri dengan pedang telanjang di tangan. Pedang yang sudah dilumuri dengan darah kawannya. Dan ketika Ia sempat berpaling, beberapa langkah di sampingnya, dilihatnya anak muda bercambuk itu berdiri termangu-mangu.

Rasa-rasanya nyawanya telah berada di ujung ubun-ubunnya. Ketika ia sempat memandang perkelahian yang terjadi beberapa langkah dari mereka, hatinya menjadi semakin berkeriput. Ternyata penjual makanan, yang selama ini menjadi kebanggaan para penyamun itu, masih belum dapat mengalahkan Kiai Gringsing yang tua itu. Bahkan agaknya perkelahian itu masih akan berlangsung lama. Sehingga dengan demikian, ia tidak akan dapat mengharapkan perlindungan dari penjual di warung yang sebenarnya adalah pemimpinnya itu.

“Kenapa ada juga orang yang mampu bertempur melawannya?” berkata penyamun itu di dalam hatinya.

Namun ia kemudian tidak sempat berpikir lagi. Kini, Ki Demang dengan pedang di tangan dan Agung Sedayu sudah menjadi semakin dekat.

Di tempat lain, Sumangkar pun bertempur mati-matian untuk mempertahankan dirinya dan sekali-sekali berusaha menyerang lawannya langsung ke tempat yang berbahaya. Tetapi ia masih juga belum berhasil, sehingga pertempuran itu masih juga berlangsung dengan sengitnya.

Karena itulah, maka penyamun itu menjadi putus asa. Ia merasa tidak akan dapat berbuat sesuatu melawan Ki Demang dan anak muda yang bersenjata cambuk itu. Sehingga sejenak kemudian, maka dilemparkannya senjatanya di tanah sambil berteriak, “Aku menyerah. Jangan bunuh aku dengan cara yang mengerikan itu.”

Agung Sedayu memandang orang itu dengan tajamnya. Namun terhadap seseorang yang sudah melemparkan senjatanya, ia tidak dapat berbuat apa-apa.

“Kau menyerah?” ia bertanya dengan nada yang datar.

“Ya, aku menyerah.”

Agung Sedayu mendekatinya. Kemudian ditariknya orang itu sambil berkata kepada orang-orang yang sudah kehilangan keberanian, meskipun mereka masih menggenggam potongan-potongan kayu di tangannya. “Ambillah orang ini dan ikatlah. Ikatlah dengan lulup kayu atau dengan kain panjangnya sendiri.”

Orang-orang itu termangu-mangu sejenak. Dan Agung Sedayu berkata selanjutnya, “Ia tidak akan berbuat apa-apa. Aku akan menunggui kalian.”

Mereka masih termangu-mangu sejenak. Agung Sedayu yang tidak sabar, kemudian mendorong orang yang sudah tidak bersenjata itu, sehingga jatuh terjerembab di antara mereka yang bersenjatakan kayu kering itu.

Tiba-tiba saja salah seorang dari mereka bangkit dengan garangnya sambil berkata, “Bunuh. Bunuh saja orang ini.”

“Ya. Bunuh saja,” yang lain menyahut.

Ketika mereka mulai mengangkat kayunya, Agung Sedayu berteriak, “Jangan kau bunuh! Aku menyuruh kalian mengikat tangannya.”

“Tetapi mereka telah membunuh kawanku,” jawab salah seorang.

“Tetapi ia sudah menyerah.”

“Aku tidak peduli,” dan yang lain menyahut pula, “Aku tidak peduli. Ia sudah membunuh. Kami pun akan membunuhnya pula. Hutang harta membayar harta, hutang nyawa membayar nyawa.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Ia mengerti bahwa ledakan perasaan orang-orang yang selama ini ketakutan itu membuat mereka kehilangan pertimbangan.

Sebelum Agung Sedayu terbuat sesuatu, orang-orang itu pun telah berteriak-teriak pula, “Biarlah aku yang membunuhnya.” Dan yang lain, “Pukul saja kepalanya.”

Orang yang sudah menyerah itu menjadi semakin ketakutan. Terbayang di wajahnya, betapa ia kehilangan dirinya sendiri. Sama sekali tidak tampak kegarangan dan kekejaman yang pernah dilakukannya.

“Jangan bunuh aku, jangan bunuh aku.” orang itu surut ke belakang dan berjongkok dihadapan Agung Sedayu sambil memohon, “Jangan bunuh aku, jangan bunuh aku.”

Agung Sedayu memandanginya dengan keragu-raguan yang bergejolak di dalam hati. Jika ia mencoba melindungi orang itu, apakah tidak akan timbul salah paham dan justru persoalan baru dengan orang-orang yang akan membunuhnya?

Sekilas Agung Sedayu sempat melihat Swandaru yang masih bertempur melawan para penyamun yang berlari-larian mengitari pepohonan dan rumpun-rumpun perdu yang liar. Kemudian dipandanginya sejenak wajah Ki Demang yang masih tegang.

“Ampuni aku, ampuni aku,” penyamun itu merengek seperti anak-anak yang memaksa ibunya untuk membelikan baju yang baru.

“Tidak ada kesempatan lagi bagimu!” teriak orang-yang marah itu.

Namun dalam pada itu Agung Sedayu bertanya kepadanya, “Apakah kau masih tetap ingin hidup?”

“Ya. Aku masih ingin hidup.”

“Kau ketakutan melihat potongan-potongan kayu yang terayun-ayun itu?”

“Ya. Aku takut sekali.”

“Apakah kau tidak pernah membayangkan, begitulah perasaan takut itu mencengkam hati?”

“Aku takut sekali.”

“Apakah kau tidak pernah membayangkan, bahwa orang lain yang ketakutan, seperti juga yang kau alami saat ini? Bahkan seandainya ada orang yang kau gantung, dengan kakinya di atas dan kau biarkan kepalanya diraih oleh kuku-kuku harimau, mempunyai perasaan takut melampaui perasaanmu sekarang.”

“Bukan aku, bukan aku-lah yang mengikat.”

“Siapakah yang mengikat, tetapi betapa tidak senangnya dihinggapi oleh perasaan takut. Perasaan takut memang dapat menyiksa seseorang melampaui mati itu sendiri. Dan kau sekarang pun sedang ketakutan. Aku tidak dapat berbuat apa-apa.”

“Jangan biarkan aku dibunuh, jangan.”

“Aku ingin kau mendalami perasaan takut. Hayatilah sebaik-baiknya agar kau tidak akan pernah melupakan, bagaimana seseorang yang sedang ketakutan. Dengan demikian di kesempatan yang mana pun juga, apabila kau masih akan tetap hidup, kau tidak akan membuat orang lain menjadi takut.”

“Tidak, aku tidak akan menakut-nakuti orang lagi.”

“Aku tidak yakin kalau kau berkata dari dalam lubuk hatimu. Kau hanya sekedar mengucapkan kata-kata tanpa memikirkan arti dari kata-katamu.”

Orang itu memandang Agung Sedayu sejenak, dan ia masih mendengar orang-orang lain berteriak-teriak, “Serahkan kepada kami.”

Orang itu telah benar-benar menjadi ketakutan. Keringat dingin mengalir membasahi segenap pakaiannya.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa bahwa orang itu telah benar-benar merasakan betapa tersiksanya seseorang yang dicengkam oleh ketakutan. Karena itu, maka katanya kepada orang-orang yang melingkarinya dengan tongkat-tongkat kayu yang terayun-ayun, “Sudahlah. Kita akan mengikatnya. Biarlah ia tetap hidup dalam ketakutan. Kami akan menyerahkannya kepada para peronda dari Mataram.”

“Tidak, kami akan membunuhnya.”

“Aku tidak sependapat.”

“Aku tidak peduli. Aku ingin membunuhnya.”

Orang-orang itu pun kemudian berdesakan maju. Wajah mereka menjadi tegang dan tatapan mata mereka yang merah, memancarkan kemarahan yang tiada taranya.

“Jika demikian,” berkata Agung Sedayu kemudian, “aku tidak akan ikut campur lagi. Terserahlah kepada kalian. Biarlah ia mengambil senjatanya. Dan aku akan mengajak semua kawan-kawanku pergi,” ia berhenti sejenak. Lalu, “Lihat, saudaraku yang gemuk itu masih belum berhasil mengalahkan lawannya, yang bertempur sambil berputar-putar dengan liciknya. Biarlah ia melepaskan kedua orang itu dan menyerahkan kepada kalian.”

Orang-orang itu pun tiba-tiba telah terdiam.

“Kemudian aku akan memanggil orang-orang tua yang sedang bertempur itu pula. Biarlah kalian menyelesaikannya.”

Orang-orang itu pun menjadi semakin diam.

Namun dalam pada itu, terdengar Swandaru berkata, “Kakang. Jangan biarkan orang-orang ini melarikan diri. Kenapa kau masih saja berdiri di situ?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Baiklah.” Namun kemudian kepada orang-orang di sekitarnya ia bertanya, “Nah, cepat pilih. Mengikat orang ini atau kami semuanya akan meninggalkan gelanggang.”

Orang-orang itu tidak segera menjawab.

“Cepat. Katakan. Aku tidak mempunyai waktu lagi. Aku harus segera mengambil keputusan. Jawab, ya atau tidak. Jika kau ingin mengikatnya, jawablah ya. Cepat.”

Orang-orang itu masih termangu-mangu. Di wajah mereka masih tampak dendam yang tidak mudah terhapuskan. Sementara Swandaru telah berteriak sekali lagi, “Jangan biarkan mereka lari.”

Agung Sedayu menjadi termangu-mangu. Namun sebelum ia meninggalkan orang-orang itu, Ki Demang-lah yang telah lebih dahulu bergeser. Suara Swandaru bagaikan membangunkannya dari sebuah mimpi melihat penyamun yang sedang ketakutan. Dan ketakutan itu adalah bencana, yang paling dahsyat di dalam hidup seseorang.

Dengan tergesa-gesa Ki Demang pun kemudian berlari ke arena pertempuran yang luas, karena lawan Swandaru masih saja selalu berputar-putar.

Dengan loncatan panjang ia mencoba memotong gerakan salah seorang penyamun yang sedang mengitari sebuah gerumbul perdu, sedang yang lain sedang mencoba menyerang Swandaru dari samping.

Penyamun itu pun segera berhenti. Sekilas dipandanginya pedang Ki Demang yang masih berlumuran darah yang mulai membeku.

Terasa sesuatu meremang di tengkuknya. Namun sebelum ada perintah untuk menyingkir, penyamun itu masih harus berjuang mati-matian. Adalah pengkhianat, penyamun yang menyerah dengan ketakutan seperti lawan Ki Demang, yang kini berdiri berjongkok dihadapan Agung Sedayu itu.

Karena betapa dadanya dicengkam oleh kecemasan, namun kedua penyamun yang tidak ingin menjadi pengkhianat itu masih juga berusaha untuk berjuang terus. Yang seorang melawan Swandaru, sedang yang lain melawan Ki Demang.

Dengan demikian maka Swandaru tidak memerlukan waktu yang lama untuk menguasai lawannya. Ledakan cambuknya segera membuat lawannya terbanting jatuh. Ketika ujung cambuk Swandaru kemudian membelit pergelangan kaki lawannya itu dan menariknya, maka penyamun itu telah terseret beberapa langkah mendekati Swandaru.

Dengan susah payah, penyamun itu berusaha meloncat bangkit. Tetapi ketika ia berdiri, ternyata tangan Swandaru telah mendorongnya, dan sekali lagi ia terjatuh di tanah.

“Jangan bangkit lagi!” bentak Swandaru sambil menginjak tangan penyamun yang masih menggenggam senjatanya itu.

“Persetan!” penyamun itu menggeram. Tetapi suaranya segera terputus, karena cambuk Swandaru meledak tepat di depan wajahnya.

“Lepaskan senjatamu, atau aku menyobek wajahmu dengan ujung cambukku.”

Orang itu memandang Swandaru sejenak. Tetapi sudah tidak ada jalan lain baginya kecuali melepaskan senjatanya.

Pada saat itu, orang-orang yang bersenjata potongan-potongan kayu itu pun telah melepaskan niatnya untuk membunuh. Mereka pun kemudian mengikat tangan penyamun yang menyerah itu pada sebatang pohon, sementara Agung Sedayu berjalan mendekati Ki Demang yang masih berkelahi.

Betapa kuatnya ikatan yang ada di antara para penyamun itu, dan betapa dalam ketaatan mereka terhadap pemimpin-pemimpinnya, namun penyamun yang sedang bertempur melawan Ki Demang itu pun sama sekali tidak berdaya untuk bertahan terus. Apalagi ketika Agung Sedayu telah berdiri di sebelah arena itu.

Dalam pada itu, Sumangkar masih berjuang mati-matian untuk dapat mengatasi lawannya. Bahkan kemudian orang tua yang pernah berada di istana Kepatihan Jipang itu masih harus memeras segenap kemampuannya. Namun dengan demikian, maka Sumangkar tidak mempunyai cara lain untuk mengakhiri pertempuran itu, selain benar-benar melumpuhkan lawannya, dan jika terpaksa, maka ia harus membunuhnya.

Dengan demikian, maka senjatanya yang dahsyat itu pun segera berputar semakin cepat. Sekali-sekali trisula kecilnya di ujung rantai itu meliuk dan menyambar mendatar. Bahkan sekali-sekali mematuk dengan dahsyatnya.

Lawannya pun telah berjuang mati-matian untuk mempertahankan diri. Seperti para penyamun yang lain, ia tidak menyangka bahwa ia akan menjumpai lawan sekuat itu.

Jika saja Sumangkar mempergunakan senjatanya yang diterimanya dari gurunya, sebuah tongkat baja putih berkepala tengkorak yang kekuning-kuningan, maka namanya akan segera dikenal kembali sebagai saudara seperguruan Patih Mantahun. Tetapi Sumangkar memang ingin melupakan semuanya itu, sehingga senjatanya itu pun telah diserahkannya kepada muridnya. Dan kini ia justru mempergunakan senjata yang mengerikan bagi lawan-lawannya, meskipun bagi Sumangkar sendiri, senjatanya ini tidak sedahsyat senjatanya, yang diterima dari gurunya itu.

Ketika serangan Sumangkar menjadi semakin dahsyat, maka semakin jelas, bahwa lawannya kadang menjadi gugup, sehingga Sumangkar yang telah memeras segenap kemampuannya itu, mempergunakan setiap kesempatan untuk mengakhiri perkelahian, sebelum nafasnya sendiri terputus karenanya.

Dan pengerahan segenap kemampuan Sumangkar itu, telah melahirkan serangan-serangan yang sangat berbahaya bagi lawannya. Hanya karena lawannya pun orang yang memiliki kelebihan di dalam olah kanuragan, maka ia masih juga dapat mengelak dan menghindari serangan-serangan itu.

Tetapi Sumangkar yang benar-benar telah dikuasai oleh nafas pertempuran, tidak lagi dapat berbuat lain daripada berjuang sejauh-jauh dapat dilakukan. Segala ilmu dan kemampuan yang ada padanya telah dicurahkan dan behkan telah diperasnya habis-habisan, “Aku tidak boleh menunggu sampai nafasku putus,” katanya di dalam hati.

Dengan serangan yang menghentak-hentak, Sumangkar pun kemudian mendesak lawannya semakin dahsyat, sehingga lawannya pun menjadi semakin terdesak karenanya. Ujung trisula Sumangkar semakin lama serasa menjadi semakin dekat mengitari tubuhnya yang basah oleh keringat.

Namun menghadapi serangan Sumangkar yang semakin dahsyat itu, lawannya pun berjuang semakin keras pula. Bahkan untuk sesaat, lawannya itu telah melakukan tindakan untung-untungan. Jika ia berhasil, ia akan dapat mengatasi kemampuan Sumangkar. Jika tidak, maka semuanya masih harus diperhitungkan lagi.

Dengan demikian, maka serangan yang dilakukannya adalah serangan yang dahsyat sekali. Sedahsyat angin prahara yang melanda pepohonan.

Sumangkar terkejut mengalami serangan itu. Sesaat ia terdesak. Namun ia pun kemudian menyadari, bahwa lawannya telah mencurahkan segenap kemampuannya untuk sesaat. Sesaat yang diharapkan dapat menentukan akhir dari perkelahian itu.

Dengan demikian, Sumangkar pun harus mengimbanginya pula. Dikerahkannya pula segenap tenaga, kekuatan, kemampuan dan ilmu yang ada padanya. Ia pun melakukan pertimbangan yang sama seperti lawannya. Jika ia berhasil, maka perkelahian ini akan berakhir. Jika tidak, maka ia akan mungkin sekali terjerumus ke dalam kesulitan.

Karena itulah, maka sejenak kemudian telah terjadi benturan dua ilmu yang sangat dahsyat. Benturan antara dua kekuatan puncak yang sukar dicari bandingnya.

Orang-orang yang ada di sekitarnya sempat menyaksikan benturan kekuatan yang dahsyat itu. Bahkan Kiai Gringsing dan lawannya, yang mempunyai kepentingan yang sama untuk menyaksikan akhir dari pertempuran itu, telah dengan sendirinya mengendorkan pertempuran yang terjadi di antara mereka.

Agung Sedayu, Swandaru, Ki Demang di Sangkal Putung pun telah dicengkam pula oleh kecemasan, sedang orang-orang lain memandang puncak pertempuran itu dengan mulut ternganga.

Sejenak kemudian, keduanya hampir tidak lagi dapat dilihat dengan mata telanjang. Keduanya berputar seperti angin pusaran dalam selubung bayangan senjata masing-masing.

Namun sejenak kemudian, di balik selubung putaran senjata itu terdengar suara tertahan. Sebuah keluhan. Tetapi tidak terlontar seluruhnya.

Yang menyaksikan pertempuran itu menjadi termangu-mangu. Mereka menunggu sejenak dengan tegangnya. Dan yang sejenak itu rasa-rasanya bagaikan tanpa akhir.

Tetapi sejenak kemudian, mereka mulai dapat melihat apa yang telah terjadi. Keduanya mulai tampak semakin jelas. Namun seorang dari keduanya mulai terhuyung-huyung surut.

Dan sejenak kemudian semuanya menjadi jelas. Sumangkar berdiri tegak dengan pangkal rantainya di dalam genggaman. Meskipun demikian, tampaklah segores luka di pundaknya, sehingga di lengannya meleleh titik darah yang merah.

Namun dalam pada itu, lawannya terbungkuk sambil memegangi dadanya. Tangannya dan lengannya menjadi basah oleh darahnya yang memancar dari luka di dada itu.

Sejenak orang itu masih berdiri di atas kedua kakinya. Dengan matanya yang redup dipandanginya wajah Sumangkar yang tegang.

“Kau, kau menang,” suaranya dalam dan datar, “aku tidak menyangka, bahwa aku akan bertemu dengan orang semacam kau. Dalam keadaan seperti ini, seharusnya kau menentukan sikap dan berpihak Pajang atau Mataram.”

“Apakah kau juga berpihak?” bertanya Sumangkar. Orang itu menggeleng. Katanya, “Tidak. Aku tidak berpihak. Tetapi aku menentukan pihakku sendiri.”

“Aku juga menentukan sikapku sendiri. Aku pun heran bahwa di dalam keadaan seperti ini, kau masih saja berkeliaran di hutan. Kenapa, kau tidak berada di Pajang atau Mataram seperti yang kau katakan itu? Dan apakah pihak yang kau tentukan sendiri itu akan berhasil mengatasi kekuasaan Mataram dan Pajang?”

“Tidak sebodoh itu. Tetapi ceritanya terlampau panjang, dan umurku terlampau pendek.”

“Sebut, siapakah kau dan siapakah pemimpinmu tertinggi sebelum kau mati. Kau akan menebus dosamu, dan jalanmu akan menjadi lapang.”

Tampak wajah itu ragu-ragu sejenak, tetapi ia pun kemudian menyeringai menahan sakit.

“Kau menang,” suaranya semakin sendat, “tetapi sampai akhir hayatku, aku tidak akan mengakui adanya Mataram, meskipun aku tidak berdiri di pihak Pajang.”

“Jadi, jadi?” Sumangkar meloncat mendekatinya dan mencoba menahan tubuh itu.

Tetapi, tubuh itu sudah terlampau lemah. Trisula Sumangkar menusuk dadanya terlampau dalam. Tiga bekas luka berderet di dada itu.

“Sebut nama pemimpinmu,” bisik Sumangkar.

Tetapi orang itu sudah tidak menyahut. Sejenak ia masih menggeliat. Tetapi kemudian, Sumangkar mendengar tarikan nafasnya yang terakhir.

Perlahan-lahan Sumangkar meletakkan tubuh itu. Sejenak ia merenung. Namun sejenak kemudian ia berpaling, terdengar suara gemerasak yang tiba-tiba saja mengejutkan dan mengejutkan setiap orang yang sedang terpukau oleh peristiwa itu.

Serentak mereka berpaling, dan serentak mereka melihat lawan Kiai Gringsing meloncat meninggalkan arena.

Kiai Gringsing ternyata tidak mau melepaskan lawannya. Secepat loncatan lawannya, ia pun segera memburunya, menyusup dedaunan perdu di hutan yang liar itu.

Demikianlah, mereka pun segera berkejar-kejaran. Kiai Gringsing berusaha sejauh-jauh dapat dilakukan untuk mengejar lawannya dan apabila mungkin menangkapnya. Tetapi ternyata bahwa kemampuan lawannya tidak berada di bawah kemampuannya.

Bahkan Sumangkar yang telah meletakkan lawannya itu pun berusaha untuk ikut mengejarnya pula. Sumangkar adalah seorang yang memiliki kecepatan berlari yang tinggi. Karena itu, ia ingin membantu Kiai Gringsing mengejar orang yang sedang meninggalkan arena itu.

Tetapi ternyata bahwa kedua-duanya tidak berhasil. Bahkan selagi mereka berkejar-kejaran, Kiai Gringsing masih mendengar suara tertawanya di sela-sela gemerisik dedaunan, “Orang bercambuk, kali ini kau menang. Tetapi bukan aku kalah perang tanding melawanmu. Kawan-kawanku lah yang ternyata tidak mampu mengimbangi orang-orangmu. Namun aku sendiri sama sekali tidak gentar melawan kau dan kawanmu yang berhasil membunuh kepercayaanku itu. Tetapi jangan kau kira bahwa usaha kami akan berhenti sampai di sini. Kami akan berusaha terus, sehingga Mataram ini tenggelam dalam kesombongan Sutawijaya dan Pemanahan sendiri.”

“Siapakah kau sebenarnya?” bertanya Kiai Gringsing sambil mengejar terus.

“Aku adalah seorang Panembahan yang tidak bernama.”

“Apakah kepentinganmu dengan Mataram?”

Yang didengar oleh Kiai Gringsing hanyalah suara tertawanya saja yang berkepanjangan. Tetapi ia tidak lagi dapat melihat orangnya. Bahkan Kiai Gringsing telah kehilangan arah ketika suara tertawanya itu berhenti.

Akhirnya, Kiai Gringsing pun berhenti dengan nafas yang terengah-engah. Sebagai seorang yang mumpuni, maka ia pun harus mengakui bahwa lawannya kali ini adalah orang yang mempunyai kelebihan dari sesamanya.

Sejenak kemudian, Sumangkar pun mendekatinya. Ia pun masih juga terengah-engah. Setelah bertempur memeras tenaga, ia masih harus berlari-larian di antara pepohonan.

“Luar biasa,” ia berdesis di antara desah nafasnya.

“Ya, luar biasa,” sahut Kiai Gringsing.

“Jika ia tersusul, belum tentu kita dapat menangkapnya,” berkata Sumangkar kemudian.

“Adi Sumangkar,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “aku tidak begitu pasti. Tetapi dari sikap dan tandangnya, ia tentu orang yang yakin akan dirinya. Yakin bahwa dirinya memiliki kemampuan yang tidak mudah terkalahkan oleh siapa pun juga,” Kiai Gringsing berhenti sejenak. Lalu, “Tetapi apakah adi Sumangkar melihat sesuatu yang dapat dikenal pada orang itu?”

Sumangkar menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak melihatnya, Kiai. Tetapi samar-samar menilik tata geraknya, aku seolah-olah pernah melihatnya, meskipun hampir berubah sama sekali.”

“Nah, itulah yang ingin aku katakan,” sahut Kiai Gringsing, “sesuatu yang samar tampak pada tata gerak itu.”

Ki Sumangkar tidak menyahut, tetapi tatapan matanya mengambang ke kejauhan, menembus rimbunnya gerumbul-gerumbul liar di dalam hutan itu.

“Marilah,” berkata Kiai Gringsing, “kita kembali kepada Ki Demang di Sangkal Putung.”

“Marilah,” sahut Ki Sumangkar, “Mataram ternyata menghadapi tantangan yang sangat berat. Mudah-mudahan, Ki Gede Pemanahan sanggup mengatasinya.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba ia berkata, “Mungkin ia dapat mengenal pula tata gerak, Adi Sumangkar dan barangkali aku.”

Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Apa boleh buat. Kita sudah terlanjur berdiri berseberangan di dalam persoalan Mataram. Tentu kita masing-masing akan bertanggung jawab seandainya dugaan kami ini benar.”

“Ya, jika hal itu benar,” desis Kiai Gringsing.

Keduanya pun kemudian melangkah kembali ke arena perkelahian yang sudah menjadi sepi. Yang masih ada adalah orang-orang yang menyerah dan yang sudah dilumpuhkan.

Ketika Kiai Gringsing dan Sumangkar datang kembali, maka Ki Demang pun segera bertanya, “Bagaimana dengan orang itu?”

“Kami tidak dapat menemukannya,” desis Kiai Gringsing, “ia memiliki kemampuan yang tinggi. Dan karena itu, berhasil melarikan darinya pula.”

Ki Demang mengerutkan keningnya. Desisnya, “Jika demikian, orang itu tentu berbahaya sekali.”

“Ya,” Ki Sumangkar-lah yang menyahut, “orang itu memang berbahaya sekali.”

Ki Demang tidak segera berkata sesuatu. Demikian pula Swandaru dan Agung Sedayu. Mereka menundukkan kepala seakan-akan sesuatu sedang mereka pikirkan.

Namun dalam pada itu, terdengar Kiai Gringsing berkata, “Adi Sumangkar, baiklah lukamu itu diobati lebih dahulu. Meskipun luka itu tidak berbahaya, tetapi jika terlambat, maka luka itu dapat menjadi luka yang sulit disembuhkan. Apalagi luka bekas goresan senjata.”

“Luka ini tidak terlalu dalam. Menilik darah yang mengalir, senjata itu tentu tidak beracun,” sahut Ki Sumangkar.

“Atau beracun lemah sekali. Tetapi racun yang lemah dapat berkerja perlahan-lahan sekali. Karena itu, lebih baik aku mengobatinya.”

Sumangkar menganggukkan kepalanya. Namun ia masih juga memandang berkeliling, kepada orang-orang yang ada di sekitarnya dan kepada beberapa orang penyamun yang masih hidup dan sudah mereka kuasai sepenuhnya itu.

Hampir di luar sadarnya Ki Sumangkar pun berkata, “Lalu, kita apakan mereka itu? Apakah kita akan melepaskannya atau membawanya ke Menoreh?”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Orang-orang itu memang merupakan persoalan bagi mereka. Sudah barang tentu mereka tidak akan dapat melepaskannya, karena ternyata orang-orang itu adalah orang-orang yang berbahaya. Jika mereka dilepaskan dan dapat dijumpai kembali oleh pemimpinnya yang berhasil melarikan diri itu, maka mereka akan menjadi orang yang lebih berbahaya lagi bagi rakyat di sekitar daerah itu dan bagi lalu lintas pada umumnya.

“Guru,” tiba-tiba Agung Sedayu berkata, “bukankah kadang-kadang ada peronda dari Mataram yang lewat di jalur jalan ke Mataram itu?”

“Menurut pemimpin penyamun ini memang demikian.”

“Apakah kita dapat mempercayainya? Jika hal itu tidak benar, maka aku kira pemimpin penyamun itu tidak akan menjerumuskan kita ke jalan ini.”

“Memang masuk akal,” desis Sumangkar, “tetapi jarak kedatangan mereka tidak kita ketahui dan tidak dapat ditentukan.”

 

Series 69

 

“AKU kira, jika ada prajurit-prajurit peronda sampai ke daerah ini, maka tentu ada gardu-gardu dan tempat-tempat pengawas yang menjadi tempat peristirahatan dan pusat-pusat perondaan.”

“Mungkin demikian,” Kiai Gringsing pun mengangguk-angguk.

“Jika demikian, kita dapat menempuh jalan yang semula akan kita lalui. Bukan jalan ini,” berkata Agung Sedayu kemudian.

Tiba-tiba Swandaru mengerutkan keningnya. Sambil berpaling kepada seorang penyamun yang menyerah ia bertanya, “Apakah benar bahwa kadang-kadang ada peronda dari Mataram yang nganglang sampai ke mulut lorong itu?”

“Aku tidak tahu.”

“Aku bertanya, menurut pengetahuanmu. Apakah selama kau menyamun kau pernah melihat, mendengar, atau bahkan menjumpai peronda-peronda dari Mataram yang sampai ke lorong itu.”

Penyamun itu merenung sejenak. Namun kemudian ia menggeleng, “Tidak. Tidak pernah ada.”

“Benar? Tidak pernah ada?”

“Ya, memang tidak pernah ada.”

Swandaru pun kemudian mendekatinya. Katanya seakan-akan bergumam kepada diri sendiri, “Lebih baik mereka disembelih, atau digantung di batang pohon dengan kepala di bawah supaya seekor harimau meraihnya dan melobangi wajahnya dengan kukunya.”

“Swandaru?” ayahnya memanggil.

Tetapi Swandaru melangkah terus. Bahkan gurunya berkata, “Baiklah Swandaru. Ikat saja mereka di pepohonan. Kami tidak memerlukan mereka lagi.”

“Jangan, jangan,” orang itu memohon seperti yang merengek melihat ayahnya membawa sehelai cambuk.

Ki Demang menjadi bingung. Namun Agung Sedayu menggamitnya sambil berbisik, “Biarkan saja, Ki Demang. Swandaru tidak akan berbuat apa-apa.”

Semakin dekat juntai ujung cambuk Swandaru, semakin takutlah orang yang sudah menyerah itu. Sekali lagi ia memohon, “Jangan diikat aku pada sebatang pohon.”

“Kenapa tidak? Tentu kami tidak akan dapat membawa kalian ke Menoreh, karena kami akan mengunjungi Ki Gede Menoreh sebagai tamu yang terhormat.”

“Kami tidak perlu dibawa ke Menoreh?”

“Dan kami tidak dapat melepaskan kau di hutan. Kau akan sangat berbahaya.”

“Jangan dilepaskan kami, asal kami jangan dibunuh dan jangan diikat pada sebatang pohon, karena hutan ini memang banyak dihuni harimau loreng.”

“Lalu kami harus menunggui kalian di sini?”

Penyamun itu tertunduk.

“Jika kalian membuat kami bingung, maka jalan satu-satunya memang membunuh kalian.”

“Tidak, tidak,” tiba-tiba yang lain berteriak, “ada prajurit yang sering meronda di jalan itu. Ada pusat-pusat perondaan di tengah-tengah hutan. Pengawal-pengawal dari Mataram yang kuat berada di gardu-gardu. Bahkan bersama beberapa orang pemimpinnya.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya, sementara Swandaru menarik nafas dalam-dalam.

Namun dengan demikian mereka mengerti, bahwa Mataram tidak tinggal diam menghadapi persoalan ini. Mereka agaknya menyadari bahwa orang-orang yang telah mengganggu ketenteraman daerah yang sedang tumbuh ini adalah orang-orang yang kuat, sehingga mereka terpaksa menempatkan beberapa buah gardu di tengah-tengah hutan.

Ki Demang yang kemudian menangkap maksud anaknya itu pun mengumpat di dalam hati. Bahkan sambil tersenyum ia berbisik kepada Agung Sedayu, “Aku memang terlalu bodoh.”

Agung Sedayu pun tersenyum. Katanya, “Bukan, tetapi Ki Demang kurang terbiasa bersikap seperti kami. Apalagi Swandaru, ia segera dapat menyesuaikan diri dengan sikap guru.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam, sementara ia mendengar Kiai Gringsing berkata, “Kita kembali lewat jalan yang biasa dilalui orang. Kita bawa semua orang yang tertawan.” Lalu kepada orang-orang yang semula menjadi ketakutan Kiai Gringsing itu pun bertanya, “Lalu bagaimana dengan kalian?”

“Kami memang akan pergi ke Mataram.”

“Ikutlah kami.”

Mereka pun segera berkemas. Tawanan-tawanan yang tidak dapat berjalan tegak lagi mereka taruh di atas punggung kuda. Sementara Agung Sedayu dan Swandaru berjalan mengiringinya bersama dengan orang-orang yang semula menjadi putus asa. Di antara mereka yang terluka pun mendapat kesempatan pula mempergunakan kuda Kiai Gringsing dan Sumangkar.

Iring-iringan itu pun kemudian mengambil jalan yang sudah mereka lalui. Mereka berputar lagi menuju lorong yang biasa dilalui orang, karena jalan yang sedang terbentang di bawah kaki mereka itu adalah jalan jebakan.

Sebelum mereka sampai ke tanah pategalan, ternyata mereka masih menemukan seorang kawan dari orang-orang yang berjalan lebih dahulu dan hampir saja dibinasakan oleh para perampok itu. Tetapi demikian hatinya dicengkam oleh ketakutan, maka untuk beberapa lama ia tidak mau keluar dari gerumbul tempatnya bersembunyi. Namun demikian desah nafasnya serta kadang keluhan-keluhan yang tertahan telah menunjukkan di mana ia berada.

Tetapi akhirnya, atas bujukan kawan-kawannya ia mau keluar juga dari persembunyiannya yang tidak tersembunyi itu. Perlahan-lahan kepercayaannya atas tanggapan inderanya mulai timbul kembali.

Demikianlah, akhirnya iring-iringan itu pun sampai ke warung yang kini sudah kosong. Gardu yang kosong dan mulut lorong yang sepi. Meskipun demikian di warung itu masih terdapat beberapa jenis makanan yang dijajakan. Namun Kiai Grhigsing tetap mencurigai jenis makanan itu, meskipun ia pun berpendapat bahwa tidak semua makanan berisi jebakan racun yang lemah, karena ternyata tidak semua orang telah diberinya racun itu. Hanya mereka yang menurut dugaannya orang-orang yang berbahaya sajalah yang telah dicobanya untuk diracun, seperti Kiai Gringsing, Sumangkar, Ki Demang, beserta kedua anak-anak muda itu.

Sejenak kemudian maka mereka pun telah melintasi hutan Tambak Baya yang lebat. Tetapi karena jalur jalan yang mereka lalui adalah jalan yang sering disentuh kaki manusia, maka jalan itu agaknya memang tidak begitu sulit.

Di dalam perjalanan itu Kiai Gringsing masih juga sempat bertanya kepada para penyamun yang ditawannya. Katanya, “Apakah jalan ini masih sering dilalui orang, maksudku, orang yang dengan sengaja kalian lepaskan?”

Para penyamun itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Hanya kadang-kadang. Jika kebetulan para prajurit Mataram meronda sampai ke ujung lorong, kami tidak dapat berbuat apa-apa. Orang-orang yang akan lewat jalan ini pun lewatlah bersama para prajurit itu.”

“Apakah pemimpinmu itu tidak dapat membinasakan hanya sekelompok prajurit?”

“Tentu. Tetapi dengan demikian kami akan mengundang kesiagaan yang lebih tinggi lagi dari para prajurit Mataram, sehingga barangkali justru di mulut lorong itu berinya gardu penjaga.”

“Di mana gardu penjaga yang pertama?”

“Tidak begitu jauh lagi.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia percaya pada keterangan itu. Gardu itu tentu tidak begitu jauh. Jika tidak demikian, maka para penyamun itu tidak perlu menyesatkan calon-calon korbannya ke jalur jalan jebakan itu.

Namun dalam pada itu tiba-tiba saja Kiai Gringsing bertanya, “Siapakah pemimpinmu itu?”

Penyamun itu mengerutkan keningnya.

“Siapa?”

“Kami tidak mengenalnya lebih jauh selain yang kami lihat sehari-hari.”

“Siapa? Siapa namanya?”

Penyamun itu menjadi ragu-ragu. Namun katanya kemudian, “Kami memanggilnya Kiai Wedung. Hanya itulah yang kami ketahui tentang dirinya.”

“Kenapa kau ikut orang yang kau sebut Kiai Wedung itu?”

“Kami tidak mempunyai pilihan lain.”

“Aku tidak tahu maksudmu. Kenapa kau tidak mempunyai pilihan lain? Apakah yang kau kerjakan sebelum kau menjadi penyamun?”

Orang itu masih ragu-ragu.

“Apakah kau memang ditugaskan untuk menyamun sebagai tabir saja dari usaha Kiai Wedung membatasi orang-orang yang masuk ke Mataram?”

“Tidak. Kami memang penyamun sejak lama. Tetapi kami dikalahkan oleh Kiai Wedung dan orang-orangnya. Akhirnya mereka memaksakan suatu kerja sama. Kami diperkenankan merampas semua milik orang-orang yang lewat, dan membunuhnya. Hanya sebagian kecil saja yang harus kami serahkan kepadanya, sementara semua tanggung jawab diambil alih oleh Kiai Wedung.”

Kiai Gringsing memandang Sumangkar sejenak. Tetapi Sumangkar tidak memberikan tanggapan apa pun. Sehingga Kiai Gringsing pun bertanya pula, “Apakah kau pernah mendengar tentang seorang panembahan di daerah hutan ini?”

“Panembahan? Maksudmu panembahan siapa?”

“Bukan siapa pun. Tetapi apakah kau pernah mendengar seorang panembahan di sebuah padepokan di sekitar Alas Tambak Baya ini atau di sekitar Alas Mentaok?”

Orang itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku mengenal seorang demang yang mempunyai pengaruh yang besar di kalangan demang-demang yang lain. Agaknya ia menaruh perhatian juga terhadap Alas Mentaok.”

“Siapa?”

“Demang di tlatah Mangir.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam, sedang Sumangkar memandanginya dengan sorot mata yang aneh.

Tetapi menurut dugaan Kiai Gringsing, demang tlatah Mangir itu tentu tidak ada hubungannya sama sekali dengan panembahan yang tidak bernama itu.

Namun demikian, bahwa seorang demang dari tlatah Mangir telah tertarik pada perkembangan Alas Mentaok itu pun bukan suatu hal yang mustahil. Bahkan mungkin bukan hanya demang di tlatah Mangir itu saja, selain panembahan yang mengaku tidak bernama itu. Tetapi mungkin masih ada juga beberapa orang yang berkepentingan dengan Alas Mentaok. Bahkan mungkin juga Kepala Tanah Perdikan Menoreh.

Dan tiba-tiba saja Kiai Gringsing bertanya pula ke penyamun itu, “Kenapa kau sebut demang di tlatah Mangir itu, he? Apakah kebetulan saja kau mengetahuinya bahwa demang itu dengan penuh minat mengikuti perkembangan Mataram atau kau mendengar bahwa ia pernah berkata, bahwa ia tertarik sekali kepada Mataram atau dengan cara yang lain lagi?”

Orang itu menjadi termangu-mangu.

“Bagaimana kau dapat mengatakan hal itu?”

“Aku tidak mendengar sendiri atau melihat sikap itu.”

“Lalu kenapa kau dapat mengatakannya?”

“Menurut Kiai Wedung. Kiai Wedung-lah yang mengetahui hal itu.”

Kiai Gringsing memandanginya dengan tajamnya, mudian ia menggeram, “Itukah ajaran pemimpinmu yang licik itu? Dengan demikian mulutmu akan menjadi racun yang paling berbisa, yang dapat menumbuhkah pertentangan tanpa sebab. Pemimpinmu yang gila itu tentu mengajarimu untuk menumbuhkan pertentangan antara tlatah Mangir dengan Mataram. kunjungi adbmcadangan.wordpress.com. Jika kau menyebutnya hal itu di hadapan orang-orang Mataram, yang ternyata mereka bukan orang-orang yang bodoh, maka mulutmu pasti akan disumbat. Mungkin dengan sabut kelapa, tetapi mungkin juga dengan tangkai pedang.”

Orang itu tidak menyahut lagi. Tetapi dadanya menjai berdebar-debar. Memang menurut gambarannya orang-orang Mataram yang sedang berjuang membuka tanah dan berjuang melawan alam yang keras, apalagi gangguan-gangguan yang tidak ada habis-habisnya itu, bukannya orang-orang yang lembut dan ramah-tamah. Mereka pasti orang-orang yang berwajah keras dan berhati keras.

Demikianlah maka iring-iringan itu pun semakin lama semakin dalam menusuk ke dalam Alas Tambak Baya. Meskipun hutan ini sudah menjadi kian sempit, tetapi jantungnya masih merupakan hutan yang lebat sekali.

Jalur jalan yang mereka lalui itu meskipun merupakan jalur yang sering dilewati, namun kadang-kadang mereka masih menjumpai gerumbul yang liar dan sulur-sulur berduri.

Sejenak kemudian, maka jalan yane mereka lewati itu pun menjadi semakin baik. Bagi mereka yang lewat, hal ini merupakan pertanda bahwa daerah ini adalah daerah yang lebih sering dijamah kaki. Dan mereka pun menduga bahwa mereka telah berada dekat dengan gardu penjaga.

“Apakah kita sudah dekat?” bertanya Kiai Gringsing kepada penyamun itu.

Penyamun itu menjadi termangu-mangu. Namun ia pun kemudian menganggukkan kepalanya sambil menyahut, “Ya. Kita sudah dekat dengan gardu penjaga.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berbicara lagi. Kini angan-angannya justru sedang membayangkan, siapakah prajurit-prajurit yang ada di gardu itu. Apakah mereka akan mempercayainya atau tidak, karena para penyamun itu pun akan dapat berkata lain.

“Tetapi ke delapan orang ini pun akan dapat mengiakan keteranganku,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya.

Demikianlah maka sejenak kemudian, mereka pun sudah dapat melihat sebuah barak kecil di tengah-tengah hutan itu. Namun agaknya para prajurit yang bertugas di dalam barak itu cukup berhati-hati, karena ternyata pepohonan di sekitar barak itu sudah dibersihkan.

“Itulah,” desis Agung Sedayu.

Swandaru mengerutkan keningnya. Namun kesan yang didapatnya adalah bahwa di daerah sekitar tempat ini memang dianggap daerah yang gawat, ternyata bahwa yang disebut gardu penjaga itu adalah sebuah barak yang tentu berisi lebih dari sepuluh orang.

Ternyata prajurit yang sedang bertugas mengawasi barak itu pun segera melihat kehadiran iring-iringan itu, dan segera ia memberikan isyarat kepada kawan-kawannya.

Dalam waktu yang singkat, maka di sekitar barak itu telah siap menyambut kedatangan mereka lebih dari sepuluh orang prajurit. Mereka telah bersiaga dengan senjata telanjang, karena iring-iringan itu adalah iring-iringan yang mencurigakan.

“Siapakah kalian?” bertanya prajurit yang sedang bertugas. “Berhenti di situ.”

Kiai Gringsing pun kemudian memberikan isyarat agar iring-iringan itu berhenti.

“Kemarilah satu atau dua orang yang dapat memberikan keterangan tentang kalian,” perintah pengawal itu pula.

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya, “Siapakah yang akan pergi bersamaku? Ki Demang atau Adi Sumangkar.”

“Silahkan, Ki Demang,” berkata Sumangkar.

Ki Demang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Ki Sumangkar sajalah. Aku tinggal di sini.”

Ki Sumangkar-lah yang kemudian pergi bersama Kiai Gringsing ke barak itu menemui para pengawal yang sedang bertugas di tengah-tengah hutan.

“Siapakah kau?” bertanya prajurit yang bertugas.

“Kami datang dari Sangkal Putung, Ki Sanak,” jawab Kiai Gringsing.

Prajurit itu memandang Kiai Gringsing sejenak, lalu dipandanginya pula Ki Sumangkar. Bahkan kemudian ditebarkannya tatapan matanya kepada orang-orang yang berdiri agak jauh dari mereka.

“Apakah kalian semuanya datang dari Sangkal Putung?”

“Tidak, tidak semua.”

Prajurit-prajurit yang ada di sekitar barak itu pun tertarik kepada beberapa orang yang ternyata telah terluka, sehingga salah seorang dari mereka melangkah mendekat sampai beberapa depa.

“Kenapa kawan-kawanmu terluka,” bertanya pengawal yang sedang berbicara dengan Kiai Gringsing itu.

“Kami membawa cerita yang panjang,” berkata Kiai Gringsing, lalu, “sedang iring-iringan ini terdiri dari tiga rombongan.”

“Tiga rombongan?”

“Ya. Yang pertama adalah rombongan kami dari Sangkal Putung. Yang kedua adalah rombongan yang datang, lebih dahulu dari kami, dan yang ketiga adalah penyamun-penyamun.”

“Penyamun?” para pengawal yang mendengar keterangan itu menjadi heran.

Kiai Gringsing pun kemudian menceritakan apa yang diketahuinya tentang penyamun-penyamun itu kepada para pengawal, dan maksudnya untuk menyerahkan mereka kepada para pengawal.

Pengawal itu mengerutkan keningnya. Sejenak kemudian ia melangkah mendekat sambil bertanya, “Apakah kau berkata sebenarnya?”

“Ya, silahkan bertanya kepada orang-orang yang datang sebelum kami dan yang hampir saja binasa oleh para penyamun itu.”

“Kenapa kalian tidak dibinasakan sama sekali, maksudku siapakah sebenarnya kalian sehingga kalian dapat membebaskan diri dari para penyamun itu dan bahkan menawannya?”

Kiai Gringsing tidak segera menyahut. Dipandanginya Ki Sumangkar dan kemudian ia pun berpaling pula kepada Ki Demang di Sangkal Putung.

“Kami memerlukan keterangan yang selengkap-lengkapnya,” berkata pengawal itu. “Kami tidak mengenalmu dan tidak mengenal orang-orang yang kau sebut penyamun itu. Juga kami tidak mengenal orang-orang yang datang lebih dahulu daripadamu dan hampir saja dibinasakan oleh penyamun-penyamun itu.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti kecurigaan para pengawal itu.

“Kau dapat memutar-balikkan cerita yang sebenarnya,” berkata prajurit itu kemudian. “Yang hitam kau katakan putih dan yang putih kau katakan hitam karena kebetulan kau dapat menguasai mereka dengan kekerasan.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia berpikir, lalu katanya, “Salah seorang saksi yang dapat dibuktikan adalah Ki Demang di Sangkal Putung. Jika diperlukan maka dapat dibuktikan bahwa ia benar-benar Demang di Sangkal Putung. Ia dapat memberikan kesaksian apa yang telah terjadi.”

“Apakah bedanya Demang Sangkal Putung dan orang-orang yang lain? Jika kau mengancamnya bahwa ia harus berkata seperti yang kau kehendaki, maka ia akan berkata seperti itu.”

Meskipun Swandaru berdiri agak jauh, tetapi ia dapat mendengar kata-kata itu sehingga tiba-tiba saja ia menyahut. “Aku adalah anak Ki Demang Sangkal Putung. Aku pun sanggup memberikan kesaksian tanpa dipaksa dan bahkan dengan mengucapkan sumpah.”

Pengawal itu mengerutkan keningnya. Lalu, “Apakah aku dapat mempercayaimu bahwa kau adalah anak Ki Demang Sangkal Putung.”

“Kalian dapat datang ke Sangkal Putung dan bertanya kepada setiap orang. Terlebih-lebih kepada isteri Ki Demang Sangkal Putung itu.”

“Kau sangat yakin bahwa kami tidak akan melakukan pembuktian itu, sehingga kau dapat mengucapkannya dengan sangat lancar.”

Swandaru mendengarkan jawaban itu dengan dada yang berdebaran, sehingga hampir di luar sadarnya ia berkata, “Jadi bagaimana kami harus membuktikan bahwa kami benar-benar telah melakukan seperti apa yang dikatakan oleh Kiai Gringsing itu?”

“Kiai Gringsing?” ulang pengawal itu. “Yang mana yang kau sebut dengan Kiai Gringsing itu?”

Swandaru tiba-tiba menjadi ragu-ragu. Gurunya sendiri belum mengucapkan namanya, dan kini ia telah menyebutkannya. Namun karena hal itu sudah terlanjur maka ia tidak akan dapat menariknya kembali.

“Itulah,” katanya, “yang berbicara dengan Ki Sanak.”

Pengawal itu memandang Kiai Gringsing dengan saksama. Namun sekali lagi ia berkata, “Aku belum pernah mengenalnya.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Bahkan ia sudah menjadi agak jengkel karenanya, sehingga dengan suara datar ia bergumam, “Lalu apa yang harus kami kerjakan? Apa?”

Dalam pada itu, selagi Swandaru dan rombongannya menjadi bingung untuk membuktikan kebenaran keterangannya, maka tiba-tiba penyamun yang duduk di punggung kuda karena lukanya itu pun berkata dengan suara parau dan terputus-putus, “Tuan, bukankah Tuan pengawal Tanah Mataram? Tolonglah kami. Kami adalah petani-petani dari Cupu Watu. Kami tidak tahu apakah maksud orang-orang ini membawa kami dan menyiksanya di sepanjang jalan ini.”

Kata-kata itu telah mengejutkan semua orang yang mendengarnya. Para prajurit, Kiai Gringsing dan kawan-kawannya, orang-orang yang telah diselamatkannya dan bahkan penyamun-penyamun yang lain pun terkejut pula. Namun mereka pun segera mengerti maksud keterangan itu, sehingga seorang penyamun yang lain pun segera menyambung, “Ya, Tuan. Kami mohon perlindungan. Kami sama sekali tidak mengerti apa kesalahan kami. Apakah karena kami tidak mau pergi dari Cupu Watu seperti yang mereka kehendaki, atau ada sebab-sebab lain.”

Prajurit yang sedang bertugas itu menjadi tegang. Dan tiba-tiba saja ia berkata lantang, “Nah, kau dengar kata-kata itu? Jika aku tergesa-gesa mempercayai keteranganmu, maka aku pasti akan terjerumus ke dalam kesulitan. Nah, ternyata dengan kekuatan kau ingin menentukan sesuatu yang pasti akan mengganggu ketenangan tanah yang baru dibuka ini. Kau tentu telah mengancam orang-orang itu untuk mengatakan seperti yang kau kehendaki, termasuk Ki Demang Sangkal Putung.”

“Tidak, Ki Sanak,” sahut Ki Demang Sangkal Putung sambil melangkah maju. “Aku bebas menentukan sikap dan kata-kataku. Aku masih bersenjata dan senjataku bernoda darah. Jika seseorang dan siapa pun juga ingin me-maksakan kehendaknya dengan menakut-nakuti aku, maka aku akan menentangnya sampai ujung umurku.” Ki Demang berhenti sejenak, lalu, “Aku menjadi saksi apa yang telah terjadi. Dan aku telah membunuh seorang dari para penyamun yang menyerang aku.”

Para prajurit itu mengerutkan keningnya. Namun sebelum salah seorang dari mereka memberikan tanggapannya, Swandaru tiba-tiba saja tertawa. Katanya di sela-sela derai tertawanya, “Ki Sanak memang aneh.”

“Kenapa kau tertawa,” para pengawal Tanah Mataram itu menjadi heran.

“Mungkin kalian adalah pengawal baru yang terbentuk di Mataram. Jika kalian pengawal-pengawal yang dibentuk dari bekas prajurit-prajurit Pajang, mungkin kalian akan berpikir lain.”

“Gila kau,” bentak seorang pengawal, “aku bekas prajurit Pajang. Aku datang kemari karena sebuah cita-cita. Aku bukan orang yang pantas kau tertawakan.”

“Hampir kami semuanya pernah menjadi prajurit di Pajang,” berkata yang lain. “Jangan menghina kami.”

Dan pengawal yang berdiri dengan tegangnya di tengah-tengah mereka itu pun membentak keras-keras, “Kenapa kau tertawa, he?”

Swandaru berusaha menghentikan suara tertawanya. Ia melihat sekilas Kiai Gringsing pun ikut menjadi tegang. Namun ia berkata, “Jika demikian aku keliru. Tetapi tentu bukan semuanya bekas prajurit. Aku bahkan menyangka hanya ada seorang dua saja. Tetapi sekali lagi, aku keliru.”

“Apakah sebenarnya maksudmu?” bentak prajurit yang sedang memeriksa Kiai Gringsing.

Swandaru melangkah maju. Tetapi seorang pengawal membentaknya, “Kau tetap di situ.”

“Baik, baik. Aku akan tetap di sini.” Swandaru berdiri di tempatnya sambil berpaling. Dipandanginya orang-orang yang ada di dalam rombongannya termasuk para penyamun. Katanya kemudian, “Jika kami membawa orang-orang ini dengan paksa tanpa salah, apakah kira-kira kami akan datang kemari dan menyerahkan orang-orang ini kepada para pengawal di sini? Kami menganggap bahwa orang-orang ini semula tidak akan pernah mempunyai niat untuk memutar balikkan keadaan. Tetapi kecurigaan Ki Sanak yang berterus-terang itu memang menimbulkan suatu ilham kepada mereka, untuk memutar-balikkan keadaan seperti yang dikatakannya.”

Para prajurit itu mengerutkan keningnya.

“Nah, apakah keuntungan kami dengan membawa orang-orang Cupu Watu ini kemari dalam keadaan luka dan payah, dan kemudian menyerahkannya kepada kalian? Jika kami ingin membinasakan mereka, kami pasti sudah melakukannya.”

Keterangan Swandaru itu memang masuk akal. Satu dua orang dari mereka mulai mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi prajurit yang sudah terlanjur membentak-bentak itu masih juga berkata, “Itu pun omong kosong. Kalian tentu dapat mengambil keuntungan dengan melakukan hal yang gila itu. Kalian dapat melepaskan tanggung jawab kalian. Dan kalian mengharap bahwa kami akan dengan begitu saja memberikan hukuman kepada orang-orang yang kau sebut penyamun itu tanpa memeriksanya dengan teliti.”

Tetapi Swandaru masih tersenyum. Katanya, “Semula aku memang bingung, bagaimana mengatakan yang sebenarnya kepada kalian. Kalian tidak percaya kepada Kiai Gringsing, tidak pula percaya kepada ayahku, Ki Demang di SangKal Putung. Namun tentu aku mempunyai suatu bukti yang dapat kalian lihat. Tidak begitu jauh dari tempat ini. Kami baru saja bertempur. Di sana masih ada beberapa sosok mayat yang tergolek yang sebenarnya akan kami serahkan pula kepada kalian di sini untuk mendapat perawatan yang sewajarnya.”

“Mayat siapa?” bertanya prajurit itu.

“Para penyamun dan seorang lagi adalah seorang dari antara orang yang akan melintasi Alas Tambak Baya ini. Jika benar kami membawa orang-orang ini dari Cupu Watu, maka bekas pertempuran itu pasti tidak ada. Jika kalian melihat tempat itu, maka kalian akan dapat mengambil kesimpulan. Bukan saja perkelahian itu sendiri, kunjungi adbmcadangan.wordpress.com. tetapi lebih dalam daripada itu adalah latar belakang dari pertempuran yang terjadi itu, dan kenapa para penyamun berusaha untuk menutup jalan menuju ke Mataram. Bukan saja jalan perdagangan, tetapi juga arus orang yang ingin menetap di tlatah yang kini sedang tumbuh itu.”

Para prajurit itu mendengarkan keterangan Swandaru dengan dahi yang berkerut-merut. Mereka mulai mempercayai keterangan orang-orang yang mereka curigai itu. Bahkan prajurit yang mula-mula menyangkal keterangan Kiai Gringsing itu pun mulai mengangguk-anggukkan kepalanya.

Dalam pada itu, selagi persoalan yang timbul pada mereka itu masih belum terpecahkan sepenuhnya, mereka mendengar derap kaki-kaki kuda di dalam lebatnya Alas Mentaok. Gemanya seakan-akan bergulung-gulung datang dari segala arah. Namun bagi mereka yang memiliki pendengaran yang tajam segera mengerti, dari manakah kuda-kuda itu datang.

Sejenak kemudian sebuah iring-iringan prajurit memasuki halaman barak itu. Agaknya yang berkuda paling depan adalah pemimpin dari prajurit-prajurit itu.

“Nah, ia datang,” berkata prajurit yang langsung minta keterangan kepada Kiai Gringsing, “ialah yang akan menentukan apakah kita dapat mempercayai kalian.”

Kiai Gringsing pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia pun kemudian tersenyum ketika orang yang berkuda di paling depan itu terkejut melihatnya. Kemudian dengan bergegas-gegas ia meloncat turun dan berkata, “Kiai, kaukah itu Kiai Truna Podang, eh, Kiai Gringsing.”

“Ki Wanakerti,” desis Kiai Gringsing, “aku dan murid-muridku bersama Ki Sumangkar dan Ki Demang Sangkal Putung sedang mengalami pemeriksaan yang teliti. Aku senang melihat ketelitian para prajurit Mataram.”

Ki Wanakerti pun kemudian menyambut tangan Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar. Dengan wajah yang cerah ia memandang kepada Agung Sedayu dan Swandaru, “Kalian benar-benar memenuhi undanganku.”

Agung Sedayu dan Swandaru pun menganggukkan kepala mereka. Sambil tersenyum Agung Sedayu yang selama itu hanya mendengarkan perdebatan adik seperguruannya itu berkata, “Kami datang ke barak ini tidak dengan kami sengaja.”

“Kenapa?” Ki Wanakerti mengerutkan keningnya.

Sambil menunjuk orang-orang yang ada di sekitarnya ia berkata, “Kami mengantarkan mereka ini.”

Ki Wanakerti memandangi mereka dan kemudian para prajurit. Dilihatnya wajah para prajurit yang ada di sekitarnya menjadi berkerut-merut.

“Apa yang sudah terjadi?” ia bertanya.

Para prajurit itu tidak segera menyahut, sehingga Kiai Gringsing-lah yang berkata, “Tidak terjadi apa-apa di sini. Aku baru saja datang.”

Ki Wanakerti memandang Kiai Gringsing sejenak, kemudian kembali kepada wajah para prajurit yang tunduk.

“Apakah telah terjadi salah paham?” Ki Wanakerti bertanya.

“Tidak. Tidak terjadi apa-apa. Aku baru akan mulai menceritakan apa yang terjadi.”

Para prajurit itu terdiam bagaikan patung yang membeku, sedang penyamun yang telah berusaha memutar-balikkan keadaan itu menjadi semakin gemetar. Ia merasa bersalah dua kali lipat, sehingga karena itu, tubuhnya yang lemah menjadi semakin lemah.

“Marilah, aku persilahkan kalian masuk ke dalam gardu yang jelek ini,” berkata Wanakerti kemudian.

“Tetapi gardu ini jauh lebih baik dari gardumu di Alas Mentaok, di daerah yang berhantu itu.”

Ki Wanakerti tertawa. “Marilah,” sekali lagi mempersilahkan.

“Maaf Ki Wanakerti,” berkata Kiai Gringsing, “aku datang bersama beberapa orang dalam kedudukan yang berbeda-beda.”

“O, siapa?”

Kiai Gringsing memandang orang-orang yang ada di sebelah-menyebelah Agung Sedayu dan Ki Demang Sangkal Putung. Kemudian katanya, “Aku mempunyai cerita yang menarik tentang mereka.”

“Tetapi marilah, kami persilahkan kalian duduk. Marilah aku persilahkan Ki Demang di Sangkal Putung.”

Mereka pun saling berpandangan. Dan Kiai Gringsing pun kemudian berkata, “Marilah. Marilah, Ki Demang,” namun kemudian ia berkata kepada Ki Wanakerti, “Ki Wanakerti, kami akan memenuhinya, tetapi bagaimana dengan tawanan kami ini?”

“Tawanan?”

“Mereka adalah para penyamun yang telah mencoba menghentikan perjalanan kami.”

Para penyamun itu menjadi semakin gemetar. Kini mereka tidak berani lagi membuat cerita palsu itu, karena agaknya Ki Wanakerti sudah mengenal orang bercambuk itu dengan baik.

“Jadi kalian menawan penyamun sekian banyaknya?” bertanya Wanakerti kemudian.

“Bukan semuanya. Yang lain adalah korban-korban mereka yang belum sempat mereka binasakan.”

Ki Wanakerti memandang penyamun-penyamun itu dengan tajamnya. Lalu katanya kepada prajurit-prajuritnya, “Awasi mereka. Bawa mereka ke serambi dan biarlah yang lain beristirahat.”

Para prajurit itu mengangguk. Katanya, “Baiklah. Kami akan mengurusnya.”

Demikianlah maka Kiai Gringsing dan rombongannya kemudian dipersilahkan masuk ke dalam gubug itu. Setelah saling bertanya tentang keadaan masing-masing sejenak, maka Kiai Gringsing pun kemudian menceritakan tentang orang orang yang telah ditawannya itu.

Ki Wanakerti mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Baiklah, aku memang mendapat tanggung jawab di daerah ini. Kami akan mengurusnya sebaik-baiknya.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Demikian pula di luar sadarnya yang lain pun mengangguk-angguk pula.

“Ada beberapa orang terpaksa terbunuh di dalam perkelahian. Tetapi sayang, bahwa kami tidak dapat menangkap puncak dari kekuatan mereka,” berkata Kiai Gringsing kemudian.

“Siapakah orang itu?” bertanya Wanakerti.

“Akulah yang ingin bertanya, apakah di daerah ini ada seseorang yang menyebut dirinya seorang panembahan.”

“Panembahan siapa?”

“Ia menyebut dirinya panembahan tidak bernama.”

Ki Wanakerti mengerutkan keningnya. Namun sejenak kemudian ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya, “Aku belum pernah mendengar.”

“Tentu namanya yang sebenarnya tidak disebutkannya,” berkata Kiai Gringsing kemudian.

“Tetapi, apakah orang itu dapat lolos dari tangan Kiai dan kawan-kawan Kiai ini?”

“Ya.”

Ki Wanakerti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tentu bukan orang kebanyakan jika ia dapat melepaskan diri dari tangan Kiai.”

Kiai Gringsing mengangguk. Katanya, “Orang itu memang perlu mendapat perhatian. Aku sudah mencoba mendengarkan keterangan tawanan-tawanan itu. Tetapi tidak seorang pun yang dapat mengatakan sesuatu tentang panembahan tidak bernama itu.”

“Baiklah. Kami akan mencoba mendapat keterangan dari mereka, meskipun sudah tentu keterangan itu tidak akan memuaskan.”

“Tetapi hal itu dapat kau pergunakan sebagai bahan yang cukup penting di daerah tugasmu sekarang ini.”

“Ya. Jika orang itu dapat lolos dari tangan Kiai, maka kami di sini, para prajurit, perlu mempertimbangkan. Mungkin pada suatu saat ia akan datang dan melepaskan dendamnya terhadap para prajurit. Karena itu, kami harus bersiap menghadapinya, meskipun akan terlampau berat.”

“Ada suatu hal yang dapat kau jadikan dasar perhitungan menurut pengamatanku, Ki Wanakerti,” berkata Kiai Gringsing kemudian. “Meskipun ada satu dua orang yang menonjol di antara mereka, namun kekuatan mereka sama sekali tidak seimbang yang seorang dengan yang lain. Ada di antara mereka yang mampu meloloskan diri dari tangan kami, tetapi ada yang hampir tidak berarti. Justru kebanyakan dari mereka adalah orang-orang kasar yang tidak mempunyai dasar ilmu apa pun selain kekasarannya itu. Sedangkan para prajurit, meskipun di antaranya tidak ada yang mampu mengimbangi Ki Gede Pemanahan, namun hampir semuanya memiliki kemampuan dan ilmu yang sejajar, sehingga apabila terpaksa kalian harus berhadapan dengan mereka, maka kalian dapat membentuk kelompok-kelompok yang kuat.”

Ki Wanakerti mengangguk-angguk. Katanya, “Aku harus sudah menyusunnya. Dan kelompok-kelompok itu harus meyakinkan. Jika kita meronda di sekitar tempat ini dan di jalan menuju ke luar, kami harus melepaskan kelompok-kelompok itu.”

“Ya,” sahut Kiai Gringsing, lalu ia pun bertanya, “sampai ke mana saja para pengawal tanah Mataram ini meronda?”

“Kami tidak keluar terlalu jauh dari Alas Tambak Baya. Sebenarnya kami tidak ingin memasuki hutan ini karena hutan ini dapat menimbulkan persoalan. Hutan ini bukan bagian tersendiri dari Alas Mentaok. Tetapi hutan ini adalah hutan yang terpisah dan berdiri sendiri. Orang-orang Pajang akan dapat mempersoalkannya jika mereka menyadari akan hal ini. Tetapi kami terpaksa memasuki hutan ini karena para penyamun dan orang-orang yang tidak senang melihat Mataram berkembang berusaha untuk menghentikan arus manusia yang dapat membuat Mataram menjadi semakin ramai. kunjungi adbmcadangan.wordpress.com. Bahkan jalur-jalur perdagangan hampir berhenti sama sekali. Karena itu, kami mengirimkan beberapa orang untuk mengawasi hutan ini, dan saat ini kebetulan akulah yang sedang bertugas di sini.” Ki Wanakerti berhenti sejenak, lalu, “Tetapi tugas kami belum memenuhi keinginan kami. Ternyata arus manusia dan arus perdagangan masih belum dapat pulih kembali. Setiap kali masih saja ada orang yang hilang dan pedagang yang mengalami perampokan.”

“Dan sekarang Ki Wanakerti mengetahui, bahwa orang-orang yang berada di mulut lorong ini sebenarnya adalah mereka itu. Orang-orang yang berjualan dan beberapa orang yang tampaknya sebagai petani-petani yang sedang beristirahat itu.”

“Itulah kebodohan kami. Kami sama sekali tidak memperhitungkan mereka. Apalagi penjual makanan itu.”

“Ialah pemimpin dari setiap perampokan itu. Dan orang itu pulalah yang menyebut dirinya panembahan tidak bernama itu.”

Ki Wanakerti mengangguk-anggukkan kepalanya ketika Kiai Gringsing menceritakan para penyamun itu lebih jauh lagi.

“Syukurlah. Aku baru saja datang dari meronda di daerah Barat sambil mengantarkan tiga orang pedagang sampai ke daerah peronda gardu berikutnya di pintu Alas Tambak Baya. Jika saat itu akulah yang berjumpa dengan panembahan tidak bernama itu, maka aku dan sekelompok pasukanku akan binasa. Tetapi kini aku akan membentuk kelompok-kelompok yang Kiai maksudkan itu.”

“Ya, hati-hatilah. Mungkin kekalahannya kali ini akan merangsang orang itu untuk melakukan perbuatan yang lebih jauh lagi.”

“Tetapi kami dapat tidur nyenyak selama Kiai ada di sini.”

“Aku tidak akan berhenti di sini. Aku sedang mengantar Ki Demang Sangkal Putung ke Menoreh.”

Ki Wanakerti mengerutkan keningnya. Dipandanginya Kiai Gringsing dan kawan-kawannya dengan heran.

“Jadi Kiai tidak sedang pergi ke Mataram?” bertanya Ki Wanakerti.

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak. Kali ini kami akan pergi ke Menoreh.”

“Kenapa Kiai tidak singgah sebentar dan menemui Raden Sutawijaya. Ia tentu senang sekali menerima kunjungan Kiai di saat seperti ini. Sebenarnyalah bahwa Kiai dan kedua murid Kiai itu sudah ditunggu.”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Pada suatu saat kami akan singgah. Mungkin setelah kami kembali dengan selamat dari Menoreh. Apabila kami dapat menyelesaikan tugas kami dengan baik, maka kami akan mendapat kesempatan barang sehari dua hari untuk singgah.”

Ki Wanakerti mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia bertanya pula, “Berapa hari Kiai berada di Menoreh?”

“Kami tidak dapat mengatakannya. Tetapi kami harus secepatnya kembali ke Sangkal Putung. Ki Demang tidak dapat meninggalkan tugasnya terlampau lama bersama-sama dengan anak laki-lakinya sekaligus.”

Wanakerti masih mengangguk-angguk.

“Nah, salamku kepada Raden Sutawijaya dan kepada Ki Lurah Branjangan.”

“Ki Lurah Branjangan?”

“Ya. Aku bertemu dengan Ki Lurah pada perhelatan perkawinan Untara.”

“O. Ia memang mendapat tugas untuk datang saat itu.”

“Dan ia pun mengalami sesuatu yang dapat dijadikan bahan pembicaraan dengan Raden Sutawijaya dan Ki Gede Pemanahan. Sedang kini, kau di sini menghadapi hal yang hampir serupa.”

Ki Wanakerti mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku sudah mendengar cerita Ki Lurah Branjangan.”

“Dan kini Ki Lurah Branjangan harus mendengar pula ceritamu.”

“Ya,” sahut Ki Wanakerti, “semua pemimpin dari tanah Mataram harus mendengarnya. Tetapi ada satu yang sama dari ceritaku dan cerita Ki Lurah Branjangan.”

“Apa?”

“Bahwa baik peristiwa di Jati Anom dan Banyu Asri itu, mau pun peristiwa di Alas Tambak Baya, bahkan di Alas Mentaok ketika Kiai Damar dan Kiai Tapak Jalak masih merajalela, selalu muncul beberapa orang bercam-buk dan seorang yang bersenjata Trisula yang aneh. Kini orang itu muncul pula di sini. Malahan bersama Ki Demang Sangkal Putung.”

“Ah,” desah Kiai Gringsing, “itu hanya suatu kebetulan. Tentu ada berpuluh-puluh peristiwa yang telah terjadi dan ditangani sendiri oleh Ki Gede Pemanahan dan Raden Sutawijaya.”

“Tentu. Tetapi justru peristiwa yang tidak kalah besar telah dengan kebetulan kalian selesaikan. Dan sudah barang tentu Ki Gede Pemanahan akan mengucapkan terima kasih kepada kalian.”

“Lain kali kami akan singgah. Tetapi kali ini kami terpaksa sekali meneruskan perjalanan, karena perjalanan kami kali ini adalah perjalanan yang sangat penting bagi kami dan terutama bagi Swandaru.”

Ki Wanakerti tidak dapat menahan lebih lama lagi. Kiai Gringsing dan kawan-kawannya tidak mau tinggal lebih lama lagi di gardu itu. Tetapi alasan mereka dapat dimengerti oleh Ki Wanakerti, sehingga Ki Wanakerti tidak menahan lebih lama lagi.

“Kami mengucapkan selamat jalan. Tetapi yang telah terjadi merupakan peringatan bagi kami. Ternyata bahwa di hutan ini ada kekuatan yang tidak dapat kami anggap ringan. Bahkan yang sebenarnya adalah jauh lebih besar dari kekuatan kami seorang demi seorang.”

“Ingat, Ki Wanakerti. Berapa orang yang mempunyai kekuatan yang tidak terduga itu. Kiai Damar, Kiai Telapak Jalak, orang-orang yang menyerang Jati Anom dan sekarang dua orang lagi. Meskipun dari yang dua itu seorang telah terbunuh, namun masih ada seorang lagi yang mungkin dapat mencari kawan baru yang memiliki kekuatan serupa. Tetapi mungkin juga orang yang menyebut dirinya panembahan tidak bernama itu justru termasuk orang terpenting dari lingkungan yang masih merupakan rahasia bagi Mataram.”

“Ya. Aku segera menyampaikannya kepada Ki Gede Pemanahan. Segera setelah kami menyadari, kami akan membentuk beberapa kelompok pengawal untuk menghadapi setiap kemungkinan.”

“Baiklah. Kami akan segera mohon diri. Terserahlah orang-orang yang datang bersama kami. Baik para penyamun mau pun orang-orang yang sebenarnya ingin pergi ke Mataram itu. Selebihnya kami serahkan juga mayat-mayat yang masih berserakan di hutan itu. Kami harap mayat-mayat itu dapat diselenggarakan seperlunya.”

“Baik, Kiai. Kami mengucapkan terima kasih, tentu Raden Sutawijaya menunggu kedatangan kalian di Mataram.”

Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya. Tetapi ia pun segera minta diri bersama Ki Sumangkar, kedua murid-muridnya, dan Ki Demang Sangkal Putung. Mereka ingin segera sampai ke tempat tujuan, setelah perjalanan mereka terganggu beberapa lamanya. Dan mereka pun menyadadari bahwa mereka akan bermalam di perjalanan.

Tetapi bagi mereka, bermalam di mana pun juga bukan merupakan persoalan lagi, karena mereka sudah membiasakan diri bertualang, selain Ki Demang Sangkal Putung.

Demikianlah, maka Kiai Gringsing bersama rombongan kecilnya itu pun segera meninggalkan gardu yang ternyata dipimpin oleh Ki Wanakerti itu. Beberapa orang pengawal memandang mereka dengan hati yang berdebar-debar. Hampir saja timbul salah paham di antara mereka. Jika terjadi sesuatu, maka Ki Wanakerti tentu akan sangat marah kepada mereka

Tetapi ketika Ki Wanakerti sempat bercerita tentang Kiai Gringsing dan rombongan kecilnya, maka para pengawal itu hanya dapat mengusap dadanya. Nama Kiai Gringsing memang pernah mereka dengar. Tetapi mereka tidak berpikir jauh. Seandainya terjadi sesuatu, bukan Ki Wanakerti marah kepada mereka, tetapi Ki Wanakerti akan merenungi mayat-mayat mereka yang berserakan seperti mayat penyamun itu.

“Jadi mereka itulah yang disebut orang-orang bercambuk itu, Ki Wanakerti?” bertanya seorang pengawal.

“Ya. Bukankah kalian melihat senjata orang-orang itu adalah hanya sehelai cambuk.”

“Tetapi cambuk itu mampu membunuh. Mampu membelah lambung.”

“Itulah keahlian mereka. Cambuk itu berkarah besi baja yang tipis, hampir tidak terlihat. Jika mereka menghendaki, maka tarikan yang khusus dari permainan cambuknya akan menyobek daging. Tetapi jika mereka tidak menghendaki, maka dengan cara yang hanya dapat dipelajari dalam waktu yang lama, maka bekas lukanya pun seakan-akan tidak lebih parah dari lecutan cambuk gembala kambing.”

Para prajurit Mataram itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Itulah agaknya yang membuat luka-luka yang berbeda-beda pada para penyamun itu pada tubuh mereka. Ternyata bahwa Kiai Gringsing dan kedua muridnya benar-benar menguasai permainan cambuk mereka dengan baik.

Dalam pada itu, maka Ki Wanakerti pun segera memerintahkan pengawal-pengawal itu untuk menyelenggarakan mayat para penyamun yang terbunuh. Tetapi sehubungan dengan keterangan Kiai Gringsing bahwa masih ada seorang yang perlu mendapat perhatian, orang yang menyebut dirinya panembahan tidak bernama itu, maka Ki Wanakerti pun telah membagi anak buahnya menjadi dua kelompok. Yang separo tinggal di gardu dan yang lain pergi ke bekas arena perkelahian itu untuk mengubur mayat-mayat yang masih berhamburan.

Sementara itu, Kiai Gringsing bersama kedua muridnya, Ki Demang Sangkal Putung, dan Ki Sumangkar, telah menjadi semakin jauh terbenam ke dalam hutan yang lebat meskipun tidak begitu luas. Namun mereka masih harus melintasi hutan yang lebih besar lagi, yaitu Alas Mentaok yang sedang dibuka untuk menjadi suatu daerah yang ramai dan dinamai Mataram di bawah pimpinan Raden Sutawijaya.

Tetapi pembukaan hutan itu tidak dapat berlangsung secepat dikehendaki oleh orang-orang Mataram. Banyak rintangan yang harus dihadapi. Namun satu demi satu rintangan-rintangan itu dapat di atasinya.

Demikianlah ketika malam tiba, Kiai Gringsing dan rombongan kecilnya masih belum menyeberangi Kali Praga. Mereka sengaja bermalam di sebelah Timur sungai di sebuah padang perdu tidak begitu jauh lagi dari tepian.

Setelah mengikat kuda-kuda mereka, maka mereka pun mencari tempat yang baik dan tidak berbahaya, karena kadang-kadang ular banyak berkeliaran di padang perdu. Tetapi karena di dekat Kali Praga, tanahnya berpasir, maka agaknya ular tidak begitu senang tinggal di daerah itu.

“Bagaimana kita besok menyeberang?” bertanya Swandaru kepada Kiai Gringsing.

“Kita bergeser sedikit ke Selatan. Di jalur jalan perdagangan antara sebelah Barat dan sebelah Timur sungai itu pasti terdapat tempat penyeberangan.”

“Jalur jalan yang mana yang Guru maksud?” bertanya Swandaru pula.

“Sudah sejak beberapa waktu yang lalu, hubungan antara daerah di sebelah Barat dan di sebelah Timur berlangsung dengan ramainya. Meskipun pada waktu-waktu yang lampau, pusat perdagangan di sebelah Timur Kali Praga berpusat di ujung Selatan, di daerah Kademangan Mangir dan sekitarnya. Kemudian daerah Pliridan yang lewat jalur yang agak sulit menghubungkan daerah itu dengan daerah Prambanan lewat jalan Selatan, dan yang akhir-akhir ini mulai ramai pula jalan tembus di Hutan Tambak Baya dan Hutan Mentaok. Namun yang kemudian terhenti karena para penyamun itu.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Agung Sedayu pun bertanya, “Apakah hanya ada sebuah tempat penyeberangan?”

“Tentu tidak. Di musim kering, kita dapat menyeberang tanpa perahu meskipun agak berbahaya di daerah yang agak ke Utara. Tetapi lebih baik kita menyeberang di daerah penyeberangan itu dengan getek. Apalagi kini kita membawa beberapa ekor kuda.”

Kedua anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Bagi Sumangkar, jalan ke Menoreh itu sama sekali tidak menjadi persoalan. Ia sudah sering menyeberangi sungai-sungai yang besar di sebelah Timur, dan ia pun pernah juga menyeberangi Sungai Praga bersama Sekar Mirah seperti juga Agung Sedayu dan Swandaru. Namun pada saat itu mereka memang tidak membawa kuda.

Namun bagi Ki Demang, menyeberangi Kali Praga itu masih juga menjadi pikirannya. Tetapi untunglah bahwa bukan musimnya Kali Praga menjadi besar dan apalagi banjir.

Demikianlah, maka malam itu mereka bermalam di sebelah Kali Praga. Ternyata tempat itu merupakan tempat yang tenang dan tidak berbahaya sama sekali.

Meskipun demikian, mereka tidak kehilangan kewaspadaan. Berganti-ganti mereka berjaga-jaga. Meskipun tampaknya tempat itu tidak berbahaya, tetapi tidak seorang pun yang mengetahui apa yang tersembunyi di balik dedaunan dan pepohonan.

Di setengah malam pertama, Kiai Gringsing mendapat giliran bersama Swandaru, sedang di setengah malam kedua Ki Sumangkar berjaga-jaga bersama Agung Sedayu dan Ki Demang Sangkal Putung.

Demikianlah, ketika fajar menyingsing di Timur, mereka pun segera berkemas. Mereka membersihkan diri di Kali Praga dan kemudian menyusur ke Selatan.

Semakin dekat dengan laut Selatan, maka Kali Praga itu tampaknya menjadi semakin lebar dan dalam. Airnya tidak mengalir deras lagi. Tetapi rasa-rasanya sungai itu menjadi bertambah garang.

Karena masih terlampau pagi, maka belum banyak orang yang menyeberang di seberangan Kali Praga itu. Tetapi sudah ada satu dua getek yang menyusur tepian sebelah-menyebelah.

Kiai Gringsing dan kawan-kawannya pun kemudian memanggil sebuah getek untuk menyeberang. Mereka berlima dan kuda-kuda mereka.

Mula-mula pemilik getek itu dan seorang kawannya tampak ragu-ragu. Bahkan kawannya itu hampir saja tidak bersedia. Namun Kiai Gringsing dengan hati-hati mencoba memberikan kesan, bahwa mereka adalah orang-orang yang sedang dalam perjalanan yang jauh.

“Apakah tidak pernah ada orang berkuda menyeberang sungai ini?” bertanya Kiai Gringsing.

“Ada juga, Ki Sanak. Tetapi akhir-akhir ini kami melihat kesibukan yang meningkat di Mataram. Para pengawal menjadi terlampau sibuk. Beberapa orang kadang-kadang tampak mengawasi tempat ini. Bahkan kadang-kadang mereka duduk hampir sehari penuh di tepian.”

“Apakah salahnya?”

“Tidak apa-apa, Ki Sanak. Tetapi jika kami menyusur sungai ini lebih ke Selatan. Maka kami melihat kesibukan yang serupa. Tetapi bukan pengawal dari Mataram. Mereka adalah pengawal dari kademangan di tlatah Mangir.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Apakah terjadi sedikit ketegangan antara Mataram yang sedang tumbuh ini dengan Mangir?

Tetapi Kiai Gringsing tidak bertanya lebih lanjut. Ia pura-pura tidak memperhatikan persoalan pengawal dari Mataram dan pengawal-peengawal Kademangan Mangir.

“Ki Sanak,” berkata pemilik getek itu, “ternyata bukan saja di sebelah Timur sungai. Tetapi di sebelah Barat sungai ini pun tampak kegiatan para pengawal yang meningkat. Sebelumnya kami hampir tidak pernah melihat seorang pengawal pun dari Tanah Perdikan Menoreh yang sampai ke tepian Kali Praga. Tetapi kini sekali dua kali kami melihat pengawal-pengawal berkuda seakan-akan mengawasi daerah penyeberangan ini.

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Betapa hatinya berdebaran, namun sama sekali tidak berkesan apa pun di wajahnya. Bahkan ia masih juga bertanya, “Jadi di sebelah Barat sungai ini, sudah termasuk daerah kekuasaan Tanah Menoreh.”

“Ya. Tanah Perdikan Menoreh terbentang dari ujung Selatan sampai ke Utara. Agak panjang, meskipun tidak terlampau melebar ke Barat. Namun Tanah Perdikan Menoreh, termasuk daerah yang luas. Tetapi di dalam daerah yang luas itu, beberapa bagian terdiri dari bukit-bukit yang tandus, meskipun bagian yang lain adalah dataran yang subur.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia sebenarnya sudah memahami daerah Tanah Perdikan Menoreh itu. Bukit-bukit yang keras membentang ke Utara. Namun di sebelah Timur dari bukit-bukit padas itu adalah tanah yang subur.

“Ki Sanak,” bertanya Kiai Gringsing kemudian, “apakah dengan demikian berarti kegiatan perdagangan lewat daerah penyeberangan ini menjadi susut?”

“Tidak,” pemilik getek itu menggeleng, “tetapi aku kenal hampir semua pedagang yang sering lewat daerah ini. Aku mengenal mereka seorang demi seorang dengan baik. Dan kami memang agak ragu-ragu melihat Ki Sanak se-rombongan kecil ini, karena Ki Sanak bukan pedagang-pedagang yang kami kenal itu. Apalagi ujud dan sikap kalian memang bukan sikap yang sering kami jumpai di dalam penyeberangan ini.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ternyata para pemilik getek di daerah penyeberangan ini mempunyai pandangan yang tajam terhadap orang-orang yang lewat.

“Mereka setiap hari melihat orang-orang yang kemudian mereka kenal itu menyeberang. Bahkan sikap dan kebiasaan mereka. Mungkin barang-barang yang mereka bawa,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya.

“Ki Sanak,” katanya kemudian, “sebaiknya Ki Sanak tidak ragu-ragu. Kami memang orang-orang yang jarang sekali lewat daerah ini. Tetapi bukan berarti bahwa kami tidak pernah sama sekali lewat. Mungkin kecurigaan Ki Sanak atas kami beralasan. Namun sebenarnyalah kami adalah orang-orang yang ingin berkunjung kepada sanak saudara kami yang kebetulan tinggal di Menoreh. Di Tanah Perdikan Menoreh.”

Pemilik getek itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak mereka merenung. Namun kemudian pemilik getek itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah. Marilah Ki Sanak naik.”

Kiai Gringsing dan kedua muridnya, Ki Sumangkar dan Ki Demang Sangkal Putung pun kemudian naik ke atas getek bersama dengan kuda-kuda mereka. Sejenak kemudian maka getek itu pun mulai bergerak dan melintas arus Kali Praga yang tidak begitu deras.

Di tengah-tengah sungai, Kiai Gringsing masih sempat juga bertanya, “Apakah Ki Sanak pernah mendapat kesulitan dari orang-orang yang menyeberang?”

Tukang getek itu tidak segera menyahut. Dipandanginya wajah kawan-kawannya sejenak. Tampaklah keragu-raguan membayang di tatapan mata mereka.

Namun pemilik getek itu akhirnya menjawab, “Pada umumnya tidak, Ki Sanak.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Kemudian katanya pula, “Aku dapat menangkap keteranganmu. Pada umumnya memang tidak. Tetapi dengan demikian kadang-kadang kau pernah juga mendapat kesulitan itu.”

Dengan ragu-ragu orang itu mengangguk.

“Apakah yang pernah terjadi?” bertanya Kiai Gringsing pula. “Jika Ki Sanak tidak berkeberatan, aku ingin mendengar cerita dan pengalaman Ki Sanak selama menjadi tukang getek ini.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab.

“Ki Sanak,” berkata Kiai Gringsing, “aku memang orang yang jarang sekali menyeberang. Karena itu aku dan kawan-kawanku ingin berhati-hati, barangkali tiba-tiba saja kami dihadapkan pada suatu persoalan yang tidak kami duga-duga sebelumnya.”

Tukang satang itu menelan ludahnya. Namun kemudian katanya, “Tidak banyak kesulitan yang pernah aku alami di sini. Hanya memang pernah terjadi, seorang penumpang getek ini berbuat kasar terhadap penumpang yang lain. Bahkan merampas segala barang-barang yang mereka bawa.”

“O, mereka adalah penyamun.”

“Ya. Mereka telah menyamun semua barang-barang milik para penumpang. Bahkan salah seorang telah mereka lukainya.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Dan Ki Sumangkar yang selama itu mendengarkan cerita itu pun bertanya, “Ki Sanak saat itu menyeberangkan para penumpang itu dari sisi Timur ke Barat atau sebaliknya.”

“Aku membawa mereka dari sisi Barat ke Timur. Begitu getek kami merapat di tepian, orang itu pun segera meloncat dan lari menghilang di dalam semak-semak. Kami sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa. Apalagi orang itu bersenjata.”

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi Agung Sedayu masih bertanya, “Apakah penyamun itu hanya seorang? Dan berapa orangkah yang telah dirampas barangnya?”

“Ya. Penyamun itu hanya seorang. Waktu itu semua penumpang getek ini adalah enam orang.”

“Semuanya laki-laki?”

“Ya, Semuanya laki-laki. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Seorang yang lambat memberikan barang-barangnya telah dilukainya dengan senjatanya itu.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi menurut dugaannya orang itu adalah penyamun biasa. Bukan golongan orang-orang yang mendapat tugas untuk memagari Mataram. Meskipun demikian kemungkinan itu pun dapat juga terjadi, betapa pun kecilnya.

Sejenak kemudian mereka pun tidak lagi berbicara untuk beberapa saat. Swandaru duduk dibibir getek sambil memandangi air yang berwarna coklat keputih-putihan. Sekali-sekali tanpa disadarinya tangannya menyentuh air yang agak keruh itu.

Namun tiba-tiba saja terasa bulu-bulunya meremang ketika ia melihat sesuatu yang hanyut di dalam air yang keruh itu. Tidak terlalu cepat, karena arus air Kali Praga semakin dekat dengan muaranya menjadi semakin lamban, sekali-sekali tampak sesuatu itu mengambang di atas air, namun sekali-sekali hilang di bawah permukaan.

“Guru,” terdengar suaranya bergetar, “Lihat.”

Semua orang berpaling ke arahnya.

“Lihat,” ia mengulangi sambil menunjuk kepada benda yang terapung itu.

“Uh,” Ki Demang berdesah, sementara Agung Sedayu mengerutkan keningnya.

“Apakah hal itu sering terjadi?” bertanya Kiai Gringsing kepada tukang getek itu.

Tetapi wajah tukang getek itu pun menjadi tegang. Jawabnya, “Akhir-akhir ini kadang-kadang memang terdapat mayat yang hanyut di Kali Praga. Dua hari yang lalu, kami melihatnya pula.”

“Sebelum dua hari yang lalu, apakah hal yang serupa pernah terjadi?”

Tukang getek itu menggelengkan kepalanya. Tetapi ia berkata, “Hampir sebulan yang lalu. Tetapi aku tidak melihatnya sendiri.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Tetapi berbagai pertanyaan menyentuh dasar hatinya.

“Apakah mungkin pula penyamun seperti yang pernah terjadi di sini?” desis Agung Sedayu. Tetapi tiba-tiba saja ia bertanya, “Apakah di sebelah Utara terdapat pula tempat penyeberangan?”

“Ya, tetapi agak jauh.”

“Apakah mungkin mayat-mayat itu hanyut dari tempat itu?”

Pemilik getek itu tidak menyahut. Tetapi dilayangkannya tatapan matanya menyusur sungai yang panjang dan luas itu.

“Jika pada suatu ketika hal itu menjalar kemari,” tukang getek yang lain bergumam, “kami akan kehilangan mata pencaharian, karena tidak ada lagi orang yang mau menyeberang.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun kemudian ia bertanya, “Apakah mayat itu dibiarkannya saja hanyut?”

“Apakah yang dapat kita lakukan?”

“Apakah tidak ada yang mengambilnya dan menguburkannya baik-baik.”

Pemilik getek itu merenung sejenak, lalu, “Ada juga niat kami melakukannya. Tetapi kami tidak tahu sebab kematian orang itu. Bagaimana jika ada penyakit yang menular?”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan Swandaru pun ikut mengangguk-angguk pula. Ternyata para tukang getek di Kali Praga itu pun sudah mempunyai pertimbangan yang jauh.

Sambil memandangi mayat yang terapung-apung itu, Agung Sedayu berkata pula, “Memang ada juga bahayanya jika terjadi ada penyakit menular di padukuhan-padukuhan sebelah-menyebelah sungai ini. Tetapi apakah mungkin seseorang yang meninggal karena penyakit menular dilemparkan be-gitu saja ke dalam sungai?”

“Tentu kami tidak mengetahui dengan pasti. Tetapi kemungkinan itu memang ada. Orang-orang yang terkena penyakit menular kadang-kadang diasingkan sehingga tidak ada orang yang mengurusinya. Mungkin ia mati selagi ia berada di tepi sungai ini, atau sebab-sebab yang lain, sehingga ia ter-jerumus masuk ke dalamnya.”

Agung Sedayu masih mengangguk-angguk meskipun rasa-rasanya masih saja ia ingin mendengar penjelasan orang itu. Namun demikian ia tidak bertanya lagi.

Tetapi dalam pada itu Kiai Gringsinglah yang bertanya, “Ki Sanak. Memang mungkin penyakit menular itu menghantui kalian di sini. Tetapi apakah ada alasan lain daripada penyakit menular itu?”

Pemilik getek itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak. Tidak ada alasan apa pun.”

Kiai Gringsing memandanginya dengan tajamnya, lalu, “Ki Sanak. Aku minta maaf kalau kali ini aku salah menebak. Tetapi menurut dugaanku, memang ada persoalan lain yang membuat kalian di sini ragu-ragu untuk mengambil mayat-mayat itu.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, “Menurut dugaanku, kalian selain takut akan kemungkinan penyakit menular itu kalian juga takut terlibat pada suatu tindakan kejahatan apabila kalian mengambil mayat itu, kunjungi adbmcadangan.wordpress.com. karena kalian menduga bahwa di bagian atas dari padukuhan di pinggir sungai ini telah terjadi kerusuhan. Agar kalian tidak terseret dalam suatu persoalan yang kalian tidak tahu-menahu, maka kalian lebih baik sama sekali tidak campur tangan. Bukankah begitu?”

Pemilik getek itu mengerutkan keningnya. Sejenak ia diam mematung. Namun sejenak kemudian ia berkata dengan suara gemetar, “Tidak. Tidak. Aku tidak mengatakan begitu.”

“Tetapi apakah kau menganggap bahwa tidak ada perasaan itu di dalam hatimu?”

Pemilik getek itu tidak segera menyahut. Namun kemudian ia berkata, “Kita sudah sampai.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Mereka memang sudah sampai di seberang.

“Terima kasih,” berkata Kiai Gringsing, “kami akan melakukan perjalanan di daerah Menoreh. Tetapi beritahukan kepada kami, apakah pernah kau lihat sesuatu terjadi di daerah ini? Misalnya kekerasan dan semacamnya yang dapat kau lihat dari getekmu?”

Orang itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak.”

“Benar?”

Orang itu memandang ke sekitarnya. Rasa-rasanya ada sesuatu yang membayangi perasaannya. Namun kemudian ia berkata, “Tidak. Tidak ada sesuatu yang pernah terjadi. Daerah itu diawasi dengan saksama oleh para pengawal Tanah Perankan Menoreh. Seperti yang aku katakan, setiap kali ada peronda yang lewat di daerah ini.”

“Terima kasih,” sahut Kiai Gringsing.

Setelah memberikan upah penyeberangannya, maka mereka berlima pun naik ke tepian sebelah Barat sambil menuntun kuda mereka. Kemudian setelah mereka berada di tempat yang datar, mereka pun segera melanjutkan per-jalanan mereka di atas punggung kuda.

Jalan yang mereka lalui adalah jalan yang rata. Berbeda dengan perjalanan mereka selama di hutan Tambak Baya dan Mentaok, mereka pun tidak menemui hambatan-hambatan. Kuda-kuda mereka dapat berlari meskipun tidak terlalu kencang karena berbagai macam pertimbangan. Agar tidak menumbuhkan kecurigaan mereka berusaha untuk tidak menarik perhatian dan berbuat sesuatu yang asing.

“Daerah ini masih tetap subur dan tenang,” berkata Swandaru.

“Ya. Seperti ketika kita meninggalkannya,” sahut Agung Sedayu.

“Tetapi ada juga bedanya,” berkata Kiai Gringsing, “ternyata Menoreh menganggap perlu meningkatkan pengawasannya di sepanjang Kali Praga. Tentu hal itu dilakukannya bukan tanpa alasan.”

Ki Sumangkar-lah yang menyahut, “Ya. Tentu ada alasannya. Tetapi menurut pendapatku, hal itu bukan timbul karena persoalan yang terjadi di Menoreh sendiri.”

“Ya. Aku sesuai. Menoreh tidak mau menjadi tempat pelarian, atau alas dan sarang dari orang-orang yang menjadi buruan di Mataram dengan berbagai alasan,” sahut Kiai Gringsing.

“Itulah alasan yang tepat,” Ki Demang yang selama itu berdiam diri itu menyahut, “aku pun sama sekali tidak akan membiarkan daerahku menjadi tempat persembunyian orang-orang buruan dari tlatah di sekitar Sangkal Putung.”

“Yang menjadi persoalan kemudian,” berkata Kiai Gringsing, “apakah Menoreh sudah mencium persoalan orang-orang yang berusaha memagari Mataram, atau Menoreh sendiri tidak senang melihat Mataram berkembang.”

“Tentu bukan,” Swandaru-lah yang menyahut. “Menoreh tidak akan mengambil sikap demikian.”

Kiai Gringsing memandang Swandaru sejenak. Namun ia pun kemudian tersenyum. Katanya, “Tentu. Ki Gede Menoreh tidak akan mengambil sikap demikian. Ki Gede Menoreh adalah orang yang berjiwa besar. Apalagi ia yakin akan perkembangan daerahnya sendiri. Tetapi Ki Gede Menoreh tidak berdiri sendiri.”

“Maksud Guru orang-orang yang ada di sekitarnya? Pembantunya atau pelaksana di padukuhan-padukuhan apalagi yang jauh dari padukuhan induk?”

Kiai Gringsing memandang Swandaru sejenak. Kemudian kepalanya terangguk kecil sambil menjawab, “Semuanya baru merupakan dugaan. Mungkin benar dan mungkin sama sekali tidak benar. Seperti di Pajang, ada perwira-perwira yang dengan keras menentang perkembangan Mataram, sedang yang lain masih dapat menilai keadaan dengan tenang.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya, “Memang mungkin.”

“Orang-orang di sebelah sungai ini mempunyai kepentingan langsung dengan perkembangan Mataram,” berkata Ki Sumangkar kemudian. “Ada yang merasa beruntung apabila di seberang Timur sungai menjadi ramai. Tetapi ada yang merasa disaingi. kunjungi adbmcadangan.wordpress.com. Semula orang-orang di sebelah Selatan Alas Mentaok mengambil bahan-bahan keperluan sehari-hari di sebelah Barat Kali Praga. Tetapi jika Alas Mentaok sudah menjadi ramai dan menjadi sumber bahan-bahan yang serupa, maka hal itu akan menjadi persaingan yang berat bagi daerah seberang sungai. Orang-orang di sekitar Alas Mentaok tidak perlu lagi menyeberangi Kali Praga untuk mendapat bahan keperluannya yang sebelumnya harus dibelinya dari daerah Menoreh.”

“Tetapi tentu bukan atas persetujuan Ki Gede Menoreh,” sahut Swandaru.

“Tentu tidak,” berkata Sumangkar selanjutnya, “dan sikap itu adalah sikap yang mencerminkan kekerdilan pikiran. Tetapi ada saja orang yang berpikiran kerdil serupa itu.”

Swandaru merenung sejenak. Tetapi ia tidak segera menjawab.

“Tetapi,” Kiai Gringsing-lah yang berbicara kemudian, “orang-orang yang mempunyai pandangan jauh justru akan menyambut perkembangan Mataram dengan senang hati, karena perkembangan Mataram tentu akan menumbuhkan kemungkinan-kemungkinan baru meskipun ada juga persaing-an yang akan timbul. Tetapi Mataram pasti memerlukan banyak hal yang tidak kunjungi adbmcadangan.wordpress.com. dapat dihidupinya sendiri, sehingga harus ada hubungan timbal-balik yang saling menguntungkan dengan daerah di sekitarnya. Jika Mataram akan membuka tanah pertanian yang luas, sehingga mereka tidak memerlukan padi dari Menoreh, namun Mataram harus mengambil ternak dan barangkali barang pecah belah, jembangan, kendi, mangkuk, dan gerabah lainnya.”

Swandaru mengangguk-angguk. Bahkan Agung Sedayu dan Ki Demang pun mengangguk-angguk pula. Mereka dapat mengerti, bahwa goncangan yang dapat timbul karena lahirnya daerah baru itu, apabila tidak dilandasi dengan prasangka, akan tidak menumbuhkan pengaruh buruk. Bahkan apabila kedua belah pihak berbuat dengan jujur, maka akan dapat menimbulkan hubungan yang menguntungkan.

“Tetapi apakah hubungan yang demikian dapat dijalin antara Mataram dengan Menoreh,” pertanyaan itu masih juga sering timbul. Apalagi pertanyaan yang serupa, “Bagaimana dengan Pajang?”

Sejenak kelima orang berkuda itu saling berdiam diri. Matahari yang menjadi semakin tinggi memancarkan cahayanya yang cerah di langit yang bersih. Di hadapan mereka terbentang tanah persawahan yang subur dan luas. Tetapi sebentar lagi, di seberang Kali Praga itu pun akan terdapat tanah persawahan yang serupa.

Dalam pada itu, ternyata perjalanan mereka telah menarik perhatian beberapa orang petani yang sedang bekerja di sawah. Meskipun mereka sering juga melihat orang-orang berkuda yang lewat jalan itu, tetapi kelima orang berkuda yang lewat itu pasti bukan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

Meskipun demikian, para petani itu segera tidak menghiraukannya lagi. Bukan hal yang aneh jika orang-orang itu adalah orang-orang yang sekedar melintas, atau seandainya mereka ingin berkunjung kepada sanak kadangnya yang tinggal di Menoreh pun, bukannya suatu hal yang mengherankan.

Namun demikian, rasa-rasanya ada juga pertanyaan yang tumbuh di hati mereka sehubungan dengan perkembangan keadaan terakhir. Terutama di seberang Kali Praga yang sedang tumbuh menjadi suatu negeri yang ramai.

Demikianlah Kiai Gringsing bersama rombongan kecilnya berkuda di sepanjang bulak yang panjang. Meskipun tidak terlalu cepat tetapi kuda mereka itu pun berlari, sehingga mereka tidak memerlukan waktu yang terlalu lama untuk mencapai kademangan induk Tanah Perdikan Menoreh.

“Apakah perjalanan ini masih panjang?” bertanya Ki Demang.

“Kita mengharap sebelum tengah hari kita sudah akan sampai,” jawab Kiai Gringsing, “asal tidak ada gangguan apa pun di perjalanan.”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Dalam pada itu, ia pun memperhatikan daerah yang masih agak asing baginya, meskipun ia pernah lewat sepintas ketika ia masih muda. Hanya lewat daerah ini ketika ia sedang menempuh perjalanan yang jauh bersama ayahnya dahulu, ketika ayahnya mengunjungi orang yang sangat dihormati di sebelah Barat pegunungan Menoreh. kunjungi adbmcadangan.wordpress.com. Orang itu adalah kakek ayahnya yang tinggal di lingkungan keluarga neneknya. Karena itulah ia hampir tidak dapat mengenali lagi tlatah Menoreh yang berkembang dengan pesatnya itu. Hutan-hutan menjadi semakin sempit dan jarang. Sedang sawah dan pategalan menjadi semakin luas.

Tetapi Menoreh sekarang rasa-rasanya menjadi semakin cantik dengan tanamannya yang hijau terbentang sampai ke kaki pebukitan.

Dalam pada itu, Kiai Gringsing dan rombongan kecilnya maju terus. Semakin lama semakin dekat dengan padukuhan induk. Di sepanjang jalan, mereka tidak banyak berbicara tentang apa pun juga. Bahkan tentang perjalan-an itu sendiri.

Semakin dekat dengan padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh, Swandaru-lah yang menjadi semakin berdebar-debar. Bahkan kadang-kadang terlontar pertanyaan di dalam hatinya, “Apakah Pandan Wangi masih ingat kepadanya?”

“Tentu,” pertanyaan itu dijawabnya sendiri, “sebagai seorang yang setia, ia tidak boleh mengingkari janji yang pernah diucapkannya.” Ia merenung sejenak, lalu, “Kecuali jika Ki Gede Menoreh tidak telaten lagi menunggu karena justru Ki Gede-lah yang menganggap aku telah ingkar.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Dan dipersalahkannya dirinya sendiri. Bahkan gurunya. Ia terlalu lama berada di Alas Mentaok, melayani hantu-hantu yang berkeliaran. Kemudian perkawinan Untara dan segala macam persoalan yang menghambat perjalalannya. Meskipun ia hanya terhambat beberapa saat saja, rasa-rasanya ia benar-benar terganggu.

Bukan hanya Swandaru sajalah yang menjadi cemas. Bahkan Kiai Gringsing pun mulai berpikir juga. Pandan Wangi adalah seorang gadis yang mekar. Jika ia menganggap Swandaru terlalu lama melupakannya, dan bahkan ia menganggap bahwa Swandaru tidak akan datang kembali ke Tanah Perdikan Menoreh, maka ia pun tidak terikat lagi.

“Apakah yang akan terjadi jika kini Pandan Wangi telah bersuami?” pertanyaan itu pun tumbuh pula di dalam hati Kiai Gringsing.

Namun demikian mereka berjalan terus. Mereka harus membuktikannya lebih dahulu, apakah memang demikian, atau hal itu hanyalah semata-mata angan-angan mereka saja.

Kelima orang itu menjadi termangu-mangu ketika mereka melihat debu yang mengepul di jalan berbatu-batu di hadapan mereka. Beberapa ekor kuda berlari-lari berlawanan arah dengan rombongan kecil itu.

“Para pengawal,” desis Kiai Gringsing.

“Apakah mereka dapat menghalangi perjalanan kita?” bertanya Ki Demang.

“Mungkin tidak. Kita akan berkata berterus terang.”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu lagi. Meskipun demikian keningnya berkerut juga ketika para pengawal Tanah Perdikan itu menjadi semakin dekat.

Dugaan mereka tentang orang-orang berkuda itu ternyata tepat. Yang datang itu adalah beberapa orang pengawal berkuda. Empat orang. Mereka adalah anak muda yang belum pernah dikenal oleh Kiai Gringsing dan kedua muridnya.

Ketika kuda-kuda itu menjadi semakin dekat, seorang pengawal yang ada di paling depan mengangkat tangannya dan sekaligus menarik kekang kudanya, sehingga keempat pengawal itu pun segera berhenti. Demikian pula Kiai Gringsing dan iring-iringan kecilnya pun telah berhenti pula.

Anak muda yang agaknya memimpin keempat pengawal itu maju beberapa langkah. Kemudian dengan nada datar ia bertanya, “Siapakah kalian?”

Kiai Gringsing-lah yang menjawab, “Kami adalah orang-orang Sangkal Putung.”

“Sangkal Putung?” pemimpin pengawal itu mengulang. Agaknya ia belum pernah mendengar nama Sangkal Putung.

“Ya. Sangkal Putung,” sahut Ki Demang, “apakah Ki Sanak belum pernah mendengarnya?”

Pengawal itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku belum pernah mendengar.”

“Sangkal Putung adalah sebuah kademangan di sebelah Timur Alas Tambak Baya. Masih agak jauh. Masih melintasi daerah Prambanan dan menyeberangi Kali Wedi.”

Anak muda itu menggelengkan kepalanya. Namun kemudian ia berdesis, “Di seberang Alas Tambak Baya. Bukankah Alas Tambak Baya itu terletak di sebelah Timur Alas Mentaok.”

“Ya,” sahut Swandaru.

“Jadi kalian datang dari jauh?”

“Ya. Kami datang dari jauh.”

“Apakah keperluan kalian.”

Kiai Gringsing-lah yang kemudian menyahut, “Kami akan menghadap Ki Gede Menoreh.”

“Menghadap Ki Gede?” bertanya pemimpin pengawal itu hampir di luar sadarnya.

“Ya, kami adalah sahabat-sahabat Ki Gede Menoreh. Sudah lama kami tidak bertemu. Itulah sebabnya dari jauh kami perlukan datang kepadanya.”

Pemimpin pengawal itu menjadi ragu-ragu. Sejenak ia berpikir. Lalu dengan nada yang masih tetap ragu-ragu ia bertanya, “Siapakah nama Ki Sanak?”

“Namaku Kiai Gringsing,” jawabnya. Kemudian sambil menunjuk Ki Sumangkar ia pun memperkenalkannya, “Ini Ki Sumangkar. Kami berdua pernah tinggal di Tanah Perdikan Menoreh beberapa lama bersama kedua anak-anak kami ini. Sedang yang seorang ini adalah Ki Demang di Sangkal Putung.”

“O,” pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun sebelum ia berkata sesuatu, salah seorang dari pengawal yang masih muda itu mendesak maju sambil berkata, “Jadi Ki Sanak ini Agung Sedayu dan Swandaru? Dan Kiai ini adalah Kiai Gringsing?”

Kiai Gringsing memandang anak muda itu sejenak. Tetapi ia belum mengenalnya. Ketika ia berpaling kepada Agung Sedayu dan Swandaru, kedua muridnya itu pun menggelengkan kepalanya.

“Tentu kalian tidak mengenal aku,” berkata pengawal yang masih muda itu. “Aku hanya seorang dari antara sekian banyaknya anak-anak muda Menoreh yang waktu itu ikut bertempur melawan pasukan Sidanti dan guru-nya.”

“O,” Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya, “saat itu kau sudah ikut?” bertanya Kiai Gringsing kemudian.

“Ya. Aku sudah ikut berlari-lari sambil membawa senjata meskipun di paling belakang. Aku ikut bersama pasukan Ki Gede Menoreh menyingkir dari induk Tanah Perdikan ini. Tentu aku dan orang-orang yang waktu itu ikut di dalam pasukan pengawal Ki Gede Menoreh mengenal Kiai.”

“Tidak semua,” sahut pemimpin pengawal itu, “aku belum begitu mengenalnya.”

“Kau tidak berada di induk pasukan waktu itu. Kau berjuang di tempat lain dalam kelompok-kelompok kecil.”

Pemimpin pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya. Kami agak terpisah dari induk pasukan dan kami waktu itu harus mengambil sikap sendiri menghadapi Sidanti. Tetapi karena Ki Gede Menoreh tetap bertempur, kami pun tetap berjuang.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya pula sambil berkata, “Dan kita sekarang bertemu lagi. Sudah cukup lama kami tidak menginjakkan kaki kami di atas Tanah Perdikan ini. Itulah sebabnya kami memerlukan da-tang untuk sekedar menengok Ki Gede Menoreh.”

Para pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Pemimpin pengawal itu pun kemudian berkata, “Jika benar kalian adalah orang-orang yang pernah membantu perjuangan Ki Gede, maka kedatangan kalian pasti akan sangat menyenangkah hatinya di saat-saat seperti ini.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Dan sebelum ia bertanya Swandaru telah mendahului, “Kenapa dengan saat seperti ini?”

Pemimpin pengawal itu memandang Swandaru. Sejenak. Lalu jawabnya, “Sejak pertempuran yang menentukan itu, dan sejak Ki Gede menjadi cacat, kesehatannya berangsur-angsur turun. Meskipun hasrat Ki Gede untuk tetap melaksanakan tugasnya terlampau besar, namun agaknya pertempuran yang terjadi di saat terakhir itu mempunyai akibat yang parah di bagian dalam tubuhnya, sehingga lambat laun, kesehatannya menjadi semakin buruk.”

“O,” Kiai Gringsing mengerutkan keningnya, “jadi bagaimana dengan Ki Gede sekarang?”

“Ki Gede masih tetap melakukan tugasnya. Tetapi sebenarnyalah ia sudah harus beristirahat,” pengawal itu berkata selanjutnya. “Selain keadaan kesehatannya, sebenarnyalah usia Ki Gede memang sudah menjadi semakin tua.”

“Belum terlalu tua,” sahut Kiai Gringsing, “umurnya kira-kira sebaya dengan umurku. Tetapi benturan kekuatan yang terjadi di saat terakhir melawan Ki Tambak Wedi memang sangat berpengaruh. Ternyata Ki Gede tidak dapat sembuh sepenuhnya.”

Pengawal itu mengangguk-angguk. Suaranya menjadi dalam, “Ya. Dan kedatangan kalian akan membuatnya gembira.”

“Tetapi,” tiba-tiba saja Swandaru menyela, “apakah tidak ada orang lain yang dapat membantunya?”

“Setiap orang dengan sepenuh hati membantunya. Tetapi, tidak semua orang harus bertanggung jawab atas Tanah Perdikan ini.”

“Maksudku apakah tidak ada anggauta keluarganya yang ikut memikul beban tanggung jawab itu. Ki Argajaya misalnya.”

Pengawal itu mengerutkan keningnya. Justru mereka menjadi semakin percaya kepada Kiai Gringsing dan rombongan kecilnya karena ternyata Swandaru mengenal Ki Argajaya pula.

“Tentu Ki Argajaya membantunya,” jawab pengawal itu kemudian, “tetapi Ki Gede-lah yang harus mempertanggung-jawabkannya. Dan ia masih tetap melakukannya.”

“Apakah Ki Argajaya benar-benar sudah baik?”

Pengawal itu memandang Swandaru sejenak. Lalu, “Ya. Ki Argajaya benar-benar sudah menjadi baik. Ia benar-benar menyadari kesalahannya di waktu lampau. Dan kini ia menebus kesalahannya itu dengan kerja, ia telah membuat bendungan dan memperbaiki saluran air hampir di seluruh daerah Tanah Perdikan ini.”

“Syukurlah,” Kiai Gringsing pun berdesis.

“Nah,” tiba-tiba suara pengawal itu meninggi, “marilah. Kita tidak akan berbicara di tengah jalan begini sampai sehari penuh. Marilah, kami antar kalian menghadap Ki Gede. Akhir-akhir ini Ki Gede jarang keluar.”

“Marilah,” jawab Kiai Gringsing, “aku pun ingin segera bertemu dengan Ki Gede.”

Demikianlah kuda-kuda mereka pun segera bergerak. Tetapi sebenarnya masih ada satu soal yang tersangkut di hati Swandaru. Pengawal-pengawal itu sama sekan tidak menyebut anak gadis Ki Gede Menoreh.

“Kenapa?” bertanya Swandaru kepada diri sendiri. “Mungkin pengawal itu lupa saja menyebut bahwa gadis itu mampu juga membantu ayahnya di dalam menjalankan tugasnya. Karena ia memiliki kelebihan dari gadis-gadis kebanyakan. Atau barangkali gadis itu sudah tidak ada di Tanah Perdikan ini dan pergi mengikuti seseorang di tempat yang lain?”

Dada Swandaru menjadi berdebar-debar. Tetapi ia agak malu untuk menanyakannya. Dan ia mengumpat-umpat di dalam hatinya, kenapa Agung Sedayu juga tidak bertanya sesuatu, apalagi tentang Pandan Wangi.

Tetapi Agung Sedayu benar-benar tidak menanyakan tentang sesuatu. Sekali ia memandang wajah Swandaru yang tegang. Namun kemudian ia pun memandang ke kejauhan, memandang pepohonan yang hijau dan burung yang beterbangan di langit.

Swandaru pun kemudian mendekatinya sambil menggamit Agung Sedayu ia bertanya, “He, apakah kau tidak ingin mengetahui tentang sesuatu di Menoreh ini?”

Agung Sedayu memandang Swandaru sesaat. Namun ia pun kemudian mengerti apa yang dimaksudkan oleh anak yang gemuk itu. Sorot matanya yang bagaikan menyala dan wajahnya yang tegang penuh keragu-raguan, namun agak kemerah-merahan.

Karena itu justru ia ingin mengganggunya. Sambil menggeleng Agung Sedayu menyahut acuh tidak acuh, “Tidak. Aku tidak ingin mengetahui apa pun tentang Tanah perdikan Menoreh.”

Swandaru menggeram. Sementara itu kuda-kuda mereka berjalan terus mendekati induk Tanah Perdikan Menoreh.

“Kau tidak ingin bertanya tentang keadaan Ki Gede Menoreh, atau Ki Argajaya atau anak laki-lakinya itu, atau apa pun lainnya?”

Sekali lagi Agung Sedayu menggeleng. Jawabnya masih dengan acuh tidak acuh, “Tidak ada yang menarik perhatianku di Menoreh. Aku sudah mendengar cerita tentang Ki Gede, tentang adiknya dan tentang orang-orang di sekitarnya. Apalagi yang ingin aku tanyakan.”

“O, kau memang pemimpi. Ternyata kau tertidur di perjalanan. Kau tidak tahu apa yang sedang terjadi sekarang. Dan kau masih saja terkantuk-kantuk di atas punggung kuda.” Swandaru berhenti sejenak, lalu, “Bangun, bangunlah Kakang Sedayu. Lihat, kita berada di atas Tanah Perdikan Menoreh.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Katanya, “Ya. Aku tahu bahwa kita berada di atas Tanah Perdikan Menoreh. Aku mendengar seluruh percakapan Guru dengan anak-anak muda pengawal Tanah Perdikan itu, aku mendengar semuanya. Justru karena itu aku tidak perlu bertanya lagi. Kaulah yang agaknya tertidur di perjalanan. Dan jika ada yang ingin kau tanyakan kenapa kau tidak bertanya sendiri?”

“Persetan,” Swandaiu masih saja menggeram. Tetapi ia tidak menyahut. Namun ketika ia melihat Agung Sedayu tersenyum maka ia pun mendekat semakin rapat dan berbisik, “Awas jika kelak kita kembali ke Sangkal Putung. Kau akan mengalami nasib yang jelek.”

Agung Sedayu tidak dapat menahan hati lagi. Betapa pun juga ia menahan, namun ia pun tertawa pula.

Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Demang berpaling mendengar suara tertawa Agung Sedayu yang tertahan-tahan. Sekilas mereka melihat wajah Swandaru yang buram, namun mereka tidak bertanya sesuatu karena mereka tahu bahwa Agung Sedayu sedang mengganggu Swandaru.

Demikianlah, mereka semakin lama menjadi semakin dekat dengan induk Tanah Perdikan Menoreh. Sedang hati Swandaru pun menjadi semakin berdebar-debar karenanya.

Ketika mereka lewat di jalan berdebu tidak jauh dari sebuah hutan sempit yang menjadi salah satu daerah perburuan, hati Swandaru bergetar. Bahkan di luar sadarnya ia berkata kepada diri sendiri, “Apakah Pandan Wangi masih sering berburu. Di hutan itulah ia kadang-kadang berburu. Tetapi kadang-kadang di hutan yang membujur di ujung Selatan dari Tanah Perdikan ini. Jika ia berburu di hutan itu, dan kebetulan melihat iring-iringan ini, ia pasti akan mendekat.”

Tetapi ternyata tidak ada seorang pun yang tampak keluar dari hutan itu. Pepohonan yang hijau bagaikan membeku. Bahkan angin pun seolah-olah telah berhenti bertiup.

“Sepi,” desah Swandaru di dalam hatinya. Namun, katanya kemudian, “Hutan itu tidak hanya seluas sepatok sawah. Jika ia berada di tengah-tengah atau bahkan di sisi seberang, ia tentu tidak akan melihat iring-iringan ini.”

Tetapi Swandaru tidak mengatakannya kepada siapa pun. Ketika ia melihat Agung Sedayu memandang ke kejauhan tanpa berkedip, ia pun mengumpat di dalam hatinya.

Tetapi Agung Sedayu tidak menghiraukannya. Ia mengagumi perkembangan Tanah Perdikan Menoreh. Yang dilihatnya kini jalur-jalur air yang lebih baik dari yang pernah dilihatnya dahulu. Sawah pun rasa-rasanya menjadi semakin subur dan luas. Ia tidak melihat lagi padang perdu yang kering di pinggir hutan. Namun padang perdu itu telah menjadi tanah pategalan dan padang-padang alang-alang pun sudah menjadi sawah. Hutan rasanya menjadi sempit, dan lereng pegunungan menjadi hijau.

Ternyata Tanah Perdikan ini menyimpan banyak sekali kemungkinan. Jika Mataram kelak berkembang, daerah ini pun akan berkembang juga. Mataram dan Menoreh akan dapat saling mencukupi kebutuhan. Betapa pun juga, Mataram akan menjadi negeri yeng ramai, yang memerlukan banyak sekali kebutuhan-kebutuhan yang tidak dapat dicukupinya sendiri. kunjungi adbmcadangan.wordpress.com. Tanah perluasan dari Alas Mentaok yang ditebanginya tentu tidak akan dapat menjadi tanah persawahan yang cukup luas untuk menampung kebutuhan orang-orang yang mengalir membanjiri negeri itu. Kebutuhan akan ternak, kain tenun, dan alat-alat kebutuhan sehari-hari pasti harus didatangkan dari daerah di sekitarnya. Dan Menoreh akan dapat menampung kebutuhan-kebutuhan itu, di samping daerah-daerah yang lain. Kademangan Mangir, Prambanan, dan bahkan mungkin sampai juga ke daerah Jati Anom dan Sangkal Putung.

Agung Sedayu terkejut ketika terasa pundaknya digamit oleh Swandaru. Ketika ia berpaling, Swandaru berkata, “Apakah kau masih ingat bahwa hutan itu merupakan hutan perburuan?”

“Ya,” sahut Agung Sedayu.

Swandaru mengerutkan keningnya. Jawab Agung Sedayu ternyata terlampau pendek. Karena itu maka Swandaru-lah yang kemudian berkata pula, “Orang-orang Menoreh senang sekali berburu.”

“Ya. Orang-orang Menoreh suka sekali berburu,” jawab Agung Sedayu pendek.

Swandaru menggeram. Tetapi ia tidak berkata apa pun juga. Ia tahu Agung Sedayu sengaja mengganggunya. Meskipun Agung Sedayu tahu bahwa Swandaru ingin mempercakapkan seorang gadis Menoreh yang suka berburu, tetapi Agung Sedayu dengan sengaja tidak menanggapinya.

Swandaru pun kemudian terdiam. Tetapi sekali-sekali ia masih memandang wajah Agung Sedayu. Wajah yang sangat menjengkelkan sekali, karena terbayang senyum kecil di bibirnya.

Tetapi Swandaru pun pura-pura tidak menghiraukannya lagi. Dipercepatnya kudanya meninggalkan Agung Sedayu, melampaui gurunya dan Ki Sumangkar serta Ki Demang Sangkal Putung. Katanya, “Aku ingin berbicara dengan para pengawal yang di depan itu.”

Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya sambil menyahut, “Berbicaralah. Kau tentu akan banyak bertanya tentang tanah ini.”

Swandaru tersenyum. Tetapi ketika ia berpaling dan dilihatnya Agung Sedayu tertawa, maka senyumnya pun segera lenyap dari bibirnya.

Sejenak kemudian Swandaru telah berkuda di antara para pengawal yang masih sangat muda itu. Mereka asyik berbicara tentang Tanah Perdikan Menoreh. Tentang Ki Gede dan keluarganya. Tetapi seperti ketika ia bercakap-cakap dengan Agung Sedayu, maka para pengawal itu pun sama sekali tidak menyinggung Pandan Wangi.

“Kenapa sebenarnya dengan Pandan Wangi?” bertanya Swandaru di dalam hatinya. “Tidak seorang pun yang menyebutkan namanya. Apakah ia sudah tidak berada di Tanah Perdikan ini lagi?”

Tetapi ia masih tetap malu untuk bertanya tentang gadis itu.

Demikianlah mereka menjadi semakin dekat, dan dada Swandaru pun menjadi semakin berdebar-debar. Bahkan kemudian timbul kecemasan di dalam hatinya bahwa kunjungannya bersama ayahnya kali ini justru akan menumbuhkan kekecewaan yang amat sangat.

Ketika mereka memasuki daerah induk Tanah Perdikan, maka Swandaru telah berada di samping Agung Sedayu. Sekali-sekali dilihatnya orang-orang Menoreh yang bekerja di sawah dan ladang, berhenti bekerja sejenak untuk memperhatikan iring-iringan itu. Tetapi karena tampaknya bahwa para penga-wal tidak bersiaga, mereka pun tidak mencurigai orang-orang berkuda yang memasuki induk tanah mereka.

Sebenarnya bukan saja Swandaru yang menjadi berdebar-debar ketika mereka memasuki induk Tanah Perdikan. Kiai Gringsing dan Sumangkar pun menjadi berdebar-debar pula. Sudah cukup lama mereka tidak bertemu dengan Ki Gede Menoreh yang ketika ditinggalkan dalam keadaan yang masih belum pulih kembali.

Ki Demang pun menjadi berdebar-debar justru karena ia belum pernah bertemu dengan Ki Gede Menoreh dan ketika sekali ia datang, ia telah membawa suatu keperluan yang penting.

Sebagai seorang pemimpin di daerahnya, Ki Demang merasa kagum juga melihat tata susunan Tanah Perdikan Menoreh. Meskipun Sangkal Putung tidak kalah subur dan hijau, namun Menoreh memiliki ragam yang lebih banyak, dari Sangkal Putung. kunjungi adbmcadangan.wordpress.com. Menoreh masih mempunyai daerah hutan yang lebat di lereng-lereng bukit, tetapi juga hutan-hutan perburuan yang lebih kecil. Pegunungan yang seakan-akan memagari Tanah Perdikan yang besar ini. Lebih besar dari Sangkal Putung, meskipun sebagian merupakan daerah yang tandus dan berbatu-batu padas.

Ki Demang mengerutkan keningnya ketika ia melintasi regol induk kademangan. Dilihatnya beberapa orang Menoreh yang berada di dalam halaman rumah masing-masing berdiri memandangi iring-iringan itu. Mereka menjadi bertanya-tanya pula, siapakah orang-orang yang datang diantar oleh para pengawal itu.

Seorang anak muda yang berdiri di simpang tiga memandang iring-iringan itu dengan saksama. Bahkan kemudian ia menggamit seorang yang sudah setengah umur yang berdiri di sampingnya sambil memanggul cangkul, “He Paman. Apakah Paman masih mengenal orang itu?”

“Siapa?” bertanya orang setengah umur itu.

“Ketika daerah ini dikacaukan oleh Ki Tambak Wedi dan Sidanti. Bukankah orang-orang itu pada saat itu ada di Tanah Perdikan ini pula. Bukankah gembala itulah yang telah membantu Ki Gede membinasakan Ki Tambak Wedi dan pasukannya.”

Orang setengah umur itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya. Aku ingat sekarang. Orang itu dengan kedua anak-anaknya. O, mereka datang kembali. Ki Gede tentu senang sekali menyambut kedatangan mereka.”

Anak muda itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Lalu katanya, “Aku akan memberitahukan kepada kawan-kawanku yang dahulu ikut bersama pasukan Ki Gede Menoreh. Mereka tentu senang mendengar kedatangan anak-anak muda itu. He, siapakah nama anak-anak muda itu?”

Orang setengah umur itu menggelengkan kepalanya. Lalu katanya, “Kedatangannya memang menyenangkan sekali. Mereka sempat melihat Menoreh bangkit kembali, setelah dilanda oleh badai yang hampir saja menghanguskan Tanah Perdikan ini.”

Anak muda kawannya berbicara itu masih mengangguk-angguk. Ditatapnya iring-iringan itu sampai hilang di kelokan jalan. Kemudian ia pun berdesis, “Ya. Ia ikut memadamkan api yang membakar Tanah Perdikan Menoreh. Dan kini ia melihat Menoreh menjadi hijau kembali.”

Anak muda itu tidak menunggu jawaban, ia pun segera meloncat berlari-lari mencari kawan-kawannya. Ia ingin mengabarkan bahwa anak-anak muda yang dahulu ikut bertempur di pihak mereka melawan Sidanti dan Ki Tambak Wedi, kini datang lagi ke Menoreh bersama beberapa orang.

Dalam pada itu, iring-iringan itu telah menyusuri jalan padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Ketika mereka lewat di depan banjar kademagan, Kiai Gringsing dan kedua murid-muridnya tersentuh juga hatinya.

Sejenak kemudian maka regol halaman rumah Ki Gede Menoreh pun sudah tampak di hadapan mereka. Mereka tidak lagi melihat orang-orang bersenjata berkeliaran. Yang mereka lihat adalah orang-orang yang berjalan tergesa-gesa memanggul cangkul atau alat-alat pertanian yang lain. Seorang anak muda memanggul bajak di pundaknya dan memegangi tali pengikat dua ekor lembu yang berjalan berlawanan arah. Anak muda itn hanya memandangi iring-iringan itu sejenak. Namun ia pun tidak memperhatikannya lagi.

Kiai Gringsing memandang pagar-pagar batu di sebelah-menyebelah jalan. Pagar batu itu sudah ada sejak ia berada di Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi pagar-pagar itu agaknya baru saja diperbaharui.

“Tanah ini tampaknya tenang sekali,” berkata Kiai Gringsing kepada para pengawal.

“Ya. Tanah ini memang tenang,” jawab pengawal itu. “Di induk Tanah Perdikan ini tidak terasa adanya gejolak yang menyentuh daerah di pinggir Kali Praga, meskipun satu dua orang mempercakapkan juga.”

“O,” sahut Kiai Gringsing, “sebenarnya aku ingin mendengar cerita tentang Kali Praga itu.”

Pengawal itu mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Biarlah Ki Gede sajalah yang menceritakan.”

Kiai Gringsing tidak bertanya lagi. Kini mereka benar-benar telah berada di regol halaman rumah Ki Gede Menoreh.

Yang ada di regol itu hanyalah seorang penjaga yang duduk di gardu sambil terkantuk-kantuk. Seorang pengawal Tanah Perdikan yang juga masih muda.

“Baru sejak beberapa hari regol ini ditunggui oleh seorang pengawal,” berkata pengawal berkuda itu, “sebelumnya tidak seorang pun yang menjaga halaman ini, karena memang tidak pernah terjadi sesuatu.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab.

“Siapa?” bertanya penjaga regol itu.

Seorang pengawal berkuda menyahut, “Apakah kalian tidak mengenal mereka lagi?”

Penjaga itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia memang tidak segera ingat, siapakah orang-orang yang disebut itu.

“Kau sudah ikut di dalam pergolakan beberapa waktu yang lampau melawan Sidanti?”

“O, aku ingat sekarang. Ya, aku ingat. Marilah, silahkan. Kebetulan sekali, Ki Gede ada di rumah sekarang. Baru saja Ki Gede pulang dari daerah sebelah Utara yang baru saja longsor.”

“He?” Kiai Gringsing mengerutkan keningnya.

“Tidak apa-apa. Hanya sebuah guguran padas yang tidak seberapa. Yang agak mengganggu adalah karena longsoran batu-batu padas itu telah menutup sebuah jalur air yang agak besar, sehingga beberapa kotak sawah diancam oleh bahaya kekurangan air. Tetapi untunglah bahwa kesulitan itu segera dapat diatasi.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.

“Apakah Ki Gede Menoreh pergi bersama anak gadisnya?” bertanya Swandaru, tetapi hanya di dalam hatinya.

Demikianlah maka para pengawal dan iring-iringan kecil itu pun segera turun dari kuda mereka ketika mereka telah memasuki halaman.

“Sampaikan kepada Ki Gede, bahwa ada serombongan tamu dari seberang Kali Praga,” berkata salah seorang pengawal berkuda itu kepada penjaga regol.

Penjaga itu pun segera bergegas pergi ke belakang lewat longkangan gandok. Disampaikannya kabar kedatangan Kiai Gringsing itu kepada seorang pelayan yang melangsungkannya kepada Ki Gede Menoreh.

“Siapa?” bertanya Ki Gede Menoreh.

“Tamu dari seberang Kali Praga.”

Ki Gede Menoreh termangu-mangu sejenak. Menurut pengertiannya seberang Kali Praga kini lahir sebuah daerah baru yang mulai ramai, dan disebut Mataram.

Karena itu, ia pun menjadi berdebar-debar, justru dalam keadaan terakhir yang meragukan itu.

“Silahkan mereka duduk di pendapa,” berkata Ki Gede, “sebentar lagi aku akan menemuinya.”

Pelayan itu pun kemudian dengan tergesa-gesa mempersilahkan Kiai Gringsing dan kedua muridnya, Ki Sumangkar dan Ki Demang Sangkal Putung duduk di pendapa, sementara Ki Gede Menoreh sedang membenahi pakaiannya, memperbaiki lipatan ikat kepalanya dan membetulkan kamusnya yang agak miring.

Dengan hati yang berdebar-debar ia melangkah ke pintu depan. Ia tidak banyak berhubungan dengan Mataram yang baru tumbuh selama ini.

Perlahan-lahan Ki Gede Menoreh membuka pintu pendapa. Dari sela-sela daun pintu ia melihat beberapa orang duduk di atas sehelai tikar pandan.

Dada Ki Gede Menoreh berdesir. Ketika seorang tua yang duduk di antara mereka berpaling oleh derit pintu, maka Ki Gede Menoreh yang berdiri bertelekan sebuah tongkat itu berkata lantang di luar sadarnya, “Kiai, kaukah itu Kiai?”

Kiai Gringsing pun berlonjak berdiri. Bergegas-gegas ia mendapatkan Ki Gede Menoreh dengan wajah yang cerah. Seakan-akan dua orang sahabat yang sudah bertahun-tahun tidak pernah bertemu.

Dengan senyum yang lebar Kiai Gringsing mengguncang-guncang tangan Ki Gede Menoreh sambil berkata, “Ki Argapati, kau tampak semakin sehat dan muda.”

Ki Gede Menoreh tertawa. Jawabnya, “Aku menjadi semakin tua dan lemah. Tetapi aku gembira sekali Kiai datang ke Tanah Perdikan ini. Tanah Perdikan yang semakin lama semakin tidak terurus.”

Keduanya pun kemudian melangkah ke pendapa kembali. Kiai Gringsing membimbing Ki Gede Menoreh yang berjalan bertelekan tongkatnya, sedang yang lain-lain pun telah berdiri pula.

Sejenak Ki Gede Menoreh memandang Swandaru dan Agung Sedayu sejenak sambil masih saja tersenyum. Kemudian Ki Sumangkar pun menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Akhirnya kami datang juga Ki Gede.”

“Tentu, tentu. Aku yakin bahwa kalian tentu akan datang,” Ki Gede Menoreh mengangguk-angguk. Ketika tatapan matanya bertemu dengan pandangan Ki Demang, ia mengerutkan keningnya. Seakan-akan ia bertanya, siapakah orang yang masih belum dikenalnya ini.

Kiai Gringsing yang menyadarinya segera berkata, “Ki Argapati, inilah Ki Demang di Sangkal Putung.”

“O,” kening Ki Gede Menoreh berkerut. Namun kemudian ia pun mengulurkan tangannya sambil berkata, “Aku senang sekali Ki Demang datang berkunjung ke Tanah Perdikan ini. Aku mengucapkan selamat datang.”

“Terima kasih, Ki Gede,” jawab Ki Demang, “kami memang memerlukan datang mengunjungi Ki Gede. Aku sudah banyak mendengar tentang Ki Gede, tetapi aku belum pernah bertemu muka. Itulah sebabnya, maka pada suatu kesempatan aku ingin sekali dapat menghadap Ki Gede Menoreh.”

“Ah,” Ki Gede berdesah, “kini, setelah Ki Demang melihat orangnya, tentu Ki Demang menjadi kecewa. Orangnya tidak lebih dari orang cacat seperti ini.”

“Ah, tentu tidak Ki Gede. Aku bangga dapat bertemu dengan Ki Gede Menoreh, dan aku pun kagum melihat Tanah Perdikan ini. Tanah Perdikan yang luas dan subur, dipagari oleh pegunungan. Sawah yang luas dihiasi dengan hutan-hutan yang masih membuka kesempatan perkembangan baru di atas Tanah Perdikan ini.”

Ki Gede Menoreh tertawa. Katanya kemudian, “Terima kasih. Dan sekarang kami persilahkan kalian duduk.”

Mereka pun duduk kembali di atas tikar pandan yang putih. Sambil memandang Agung Sedayu dan Swandaru berganti-ganti, maka Ki Gede Menoreh pun bertanya, “Bagaimana aku harus memanggil kalian? Gupala dan Gupita atau nama yang lain itu?”

Kedua anak-anak muda itu tersenyum. Katanya, “Terserahlah kepada Ki Gede.”

Ki Gede Menoreh tertawa. Katanya, “Nama mana yang kau pilih? Atau kau sudah membuat nama lain lagi?”

Keduanya tertawa. Tetapi keduanya tidak menjawab.

Demikianlah mereka duduk kembali dalam satu lingkaran. Mereka membicarakan tentang keselamatan mereka masing-masing. Kemudian mulailah Ki Gede Menoreh menceritakan perkembangan Tanah Perdikannya.

“Atas pertolongan Kiai dan murid-murid Kiai itu, kini Tanah ini menjadi semakin baik.”

“Kenapa pertolonganku?” bertanya Kiai Gringsing. “Ki Argapati-lah yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Dalam waktu yang terhitung singkat, Tanah ini telah menjadi pulih kembali.”

“Bukan pekerjaan yang sulit. Jika saat itu, Tanah ini benar-benar hangus dibakar oleh api pertentangan yang memalukan di antara keluarga sendiri itu, maka tidak ada orang yang akan mampu membangun Menoreh. Siapa pun. Dan sekarang, ternyata kami di sini masih mendapat kesempatan itu. Meskipun demikian, aku yang menjadi semakin tua dan lemah, hampir tidak dapat berbuat apa-apa.”

Kiai Gringsing tertawa. Katanya, “Jika seperti ini, Ki Argapati masih menyebut tidak dapat berbuat apa-apa, tentu Ki Argapati mempunyai cita-cita yang jauh lebih tinggi dari yang kita lihat ini. Mudah-mudahan di masa mendatang, angkatan yang bakal menggantikan para pemimpin di Tanah Perdikan ini mampu membangun Menoreh lebih baik lagi.”

Ki Argapati tertawa. Katanya, “Tentu, Kiai. Cita-cita pada umumnya mendahului ujud pencapaian kita. Dan kami memang bercita-cita. Tentu bukan kami, juga Kiai dan setiap orang bercita-cita.”

“Aku sudah tua.”

“Ah,” Ki Gede Menoreh tertawa, “aku pun sudah tua. Tetapi apakah cita-cita kita dapat dibatasi oleh ketuaan kita?” lalu sambil berpaling kepada Ki Demang, “Bukankah begitu, Ki Demang?”

Ki Demang tertawa pula. Katanya, “Ya. Cita-cita kita mengatasi umur kita sendiri karena angkatan yang bakal datang akan melanjutkan dan mewujudkan cita-cita itu. Cita-cita kita ternyata akan berkembang terus. Apalagi mengenai suatu daerah seperti Tanah Perdikan Menoreh. Dari ang-katan yang satu kepada angkatan yang kemudian.”

Kiai Gringsing tertawa. Dipandanginya kedua muridnya sejenak. Lalu katanya, “Ki Demang benar. Cita-cita kita adalah cita-cita buat masa depan angkatan sesudah kita. Tentu kita tidak sekedar hidup untuk kita sendiri. Jika kita memanjakan kamukten buat diri kita sendiri, memanjakan segala macam nafsu badani, kita memang akan kehilangan masa depan anak-anak kita.”

Ki Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedang Argapati pun tersenyum pula, katanya, “Demikianlah aku berusaha membuat Menoreh menjadi harapan bagi masa mendatang.”

Hampir di luar sadarnya Agung Sedayu berpaling pada Swandaru. Sedang ketika Swandaru pun memandanginya, maka cepat-cepat ia memalingkan wajahnya sambil mencibirkan bibirnya. Namun dalam pada itu, Swandaru masih saja digelut oleh pertanyaan, di mana Pandan Wangi?

Apalagi ketika beberapa saat kemudian, setelah mereka berbicara kian kemari, seorang pelayan perempuan menghidangkan minum dan makanan buat tamu-tamu Ki Gede Menoreh itu. Yang menghidangkan minum dan makanan itu sama sekali bukan Pandan Wangi.

Di luar kebiasaan yang pernah dilihat oleh Swandaru. Apabila ada tamu yang dihormati, maka biasanya adalah Pandan Wangi sendiri yang menghidangkan suguhan bagi mereka. Namun yang menghidangkan adalah seorang pelayan saja.

Dengan wajah yang berkerut, Swandaru mencoba memandang ke halaman di sekitar pendapa itu. Tetapi ia tidak melihat seorang pun kecuali beberapa orang pekerja yang lewat melintasi halaman itu.

Ternyata orang-orang tua yang sedang bercakap-cakap tentang berbagai masalah itu seakan-akan tidak teringat lagi kepada anak-anak muda itu. Mereka mempunyai keasyikan sendiri, hingga seolah-olah Swandaru yang gelisah dan Agung Sedayu itu tidak ada di antara mereka.

Agung Sedayu dan Swandaru terkejut ketika mereka melihat seorang anak yang masih sangat muda melintas di atas punggung kuda di halaman. Ketika ia melihat beberapa orang tamu di pendapa, maka ia pun dengan tergesa-gesa menarik kekang kudanya dan meloncat turun. Kemudian dengan tergesa-gesa pula dituntunnya kudanya ke belakang.

Swandaru mengerutkan keningnya melihat anak muda yang tampan itu. Namun ia menarik nafas dalam-dalam ketika Agung Sedayu berbisik di telinganya, “Bukankah itu anak Ki Argajaya.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam, “Ya, ia adalah putera Ki Argajaya.”

Swandaru itu tiba-tiba bergeser setapak maju. Agung Sedayu tersenyum melihat wajahnya yang tegang. Sekilas Swandaru yang kebetulan tidak mendengarkan percakapan orang-orang tua itu karena kuda yang melintas di halaman, mendengar Ki Argapati menyebut nama anak gadisnya, Pandan Wangi.

“Apa yang dikatakannya?” bisik Swandaru kepada agung Sedayu.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dan ia bertanya kembali, “Tentang apa?”

“Tadi, baru saja.”

“O, tentang kuda itu.”

“Bukan tentang kuda.”

“Tentang apa?”

“Sesudah membicarakan masalah kuda.”

“Ah, aku tidak mendengarnya. Aku baru memperhatikan kuda yang melintas di halaman itu.”

“Ah kau,” Swandaru menggeram. Namun sekali lagi ia mendengar Ki Argapati menyebut nama Pandan Wangi.

“Ia sedang berburu,” berkata Ki Argapati, “ia mengantarkan seorang tamu pula.”

Swandaru tertarik sekali kepada pembicaraan itu. Dan apalagi ketika Argapati mengatakan, “Sebenarnya masih ada sangkut pautnya juga. Anak muda itu masih kadang sendiri. Tetapi sudah agak jauh. Ia adalah salah seorang pada garis keluarga ibu Pandan Wangi.”

Kiai Gringsing ternyata menaruh perhatian juga kepada cerita itu. Maka ia pun bertanya, “Jadi, Ki Gede sekarang sedang menerima tamu juga di rumah ini?”

“Ya. Kadang sendiri. Dan bukan dari jauh.”

“Dari mana?”

“Dari daerah Tempuran.”

“Tempuran?”

“Ya, sebuah daerah kecil di sebelah Utara Tanah Perdikan ini.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi Ki Sumangkar-lah yang kemudian bertanya, “Apakah tamu Ki Gede itu juga baru saja datang?”

“Tidak. Sudah dua malam mereka bermalam di tempat ini. Ayah, ibu, dan seorang anak laki-laki yang sekarang sedang pergi berburu bersama Pandan Wangi.”

Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya seperti juga Kiai Gringsing. Tanpa dikehendakinya sendiri ia memalingkan wajahnya memandang Swandaru. Ternyata wajah Swandaru menegang. Ada sesuatu yang bergetar di dalam hatinya. Jika yang pergi berburu bersama Pandan Wangi itu meskipun masih keluarga tetapi sudah jauh, maka dapat tumbuh persoalan yang dapat mengganggu perasaannya.

Tetapi Swandaru tidak dapat mengatakannya kepada siapa pun bahkan ia berusaha sejauh-jauhnya menyimpan perasaan itu di dalam sudut hatinya yang paling dalam. Bahkan apabila mungkin menghilangkan sama sekali kesan yang dapat timbul di wajahnya.

Selain Swandaru, sebenarnya Agung Sedayu pun menjadi tegang pula. Meskipun ia tidak langsung tersangkut, tetapi rasa-rasanya adalah juga keberatannya mendengar keterangan Ki Gede Menoreh.

“Siapakah sebenarnya anak muda itu,” Agung Sedayu bertanya kepada diri sendiri.

Ada berbagai dugaan yang melintas di benaknya, bahkan ia sudah membayangkan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi.

“Mungkin kami terlalu lama membiarkan Ki Argapati menunggu,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya pula.

Demikianlah, selagi gambaran yang beraneka ragam mengganggu orang-orang yang sedang dijamu oleh Ki Argapati itu, terutama Swandaru, Ki Demang dan Kiai Gringsing, di hutan perburuan, Pandan Wangi berpacu di atas punggung kudanya mengikuti jejak seekor rusa. kunjungi adbmcadangan.wordpress.com. Dengan susah payah ia menunggu tidak begitu jauh dari sebuah sumber air yang menurut dugaannya menjadi tempat minum binatang-binatang buruannya. Tetapi agaknya arus angin tidak menguntungkan ketika tiba-tiba saja angin berubah arah. Ketika seekor rusa sedang berjalan perlahan-lahan mendekati sumber air itu, maka oleh angin yang berganti arah itu, dihanyutkannya bau manusia, sehingga rusa itu pun segera lari terbirit-birit.

Betapa kuda Pandan Wangi berlari kencang, namun kuda itu sudah tidak akan mungkin lagi dapat menyusul rusa itu, karena rusa itu segera pula menghilang di antara gerumbul-gerumbul perdu.

Alangkah kecewanya Pandan Wangi. Buruannya ternyata sama sekali tidak dapat ditangkapnya.

Dalam pada itu, kawannya berburu, selain beberapa orang pengiring, adalah masih ada sangkut paut kekeluargaan meskipun agak jauh. Tetapi ternyata anak muda itu tidak dapat membantu sama sekali. Justru kadang-kadang ia telah mengganggu Pandan Wangi. Setiap kali ia berteriak-teriak memanggil kawan-kawannya dan Pandan Wangi.

“Sayang sekali,” desis Pandan Wangi. Ia masih maju beberapa puluh langkah lagi dengan kudanya. Namun ketika ia kemudian berpaling, ia sudah tidak melihat saudaranya itu.

“Kemana ia pergi?” bertanya Pandan Wangi di dalam hatinya.

Dan sejenak kemudian Pandan Wangi pun mendengar suaranya bergema, “Pandan Wangi, Pandan Wangi, di mana kau?”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Dengan kesal ia berbalik untuk mengambil anak muda yang berteriak-teriak di dalam hutan, meskipun sekedar hutan buruan. Namun di dalam hutan buruan itu benar-benar masih terdapat beberapa ekor harimau.

Ketika Pandan Wangi mendekat, ia masih sempat mendengar seorang pengawal berkata, “Marilah, kita menusulnya.”

“Jangan terlampau cepat.”

“Pandan Wangi memburu seekor rusa. Jika kita tidak cepat, kita akan kehilangan jejak.”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Namun sebelum ia menjawab, ia melihat Pandan Wangi datang menyongsongnya.

“Pandan Wangi, kenapa kau selalu meninggalkan aku?”

“Kita berburu di hutan,” jawab Pandan Wangi.

“Aku belum pernah berburu seperti caramu.”

“O, kau pernah juga berburu?”

“Tidak, maksudku aku tidak pernah berburu di hutan begini. Kadang-kadang aku memang pergi menyumpit. Tetapi hanya sekedar mencari burung-burung kecil. Burung tilang, podang, dan sebagainya.”

Pandan Wangi tersenyum. Tetapi ia pun berkata, “Tidak ada bedanya. Kau dengan sumpit, aku memakai panah. Sedang yang aku kejar berlari kencang sekali, yang kau kejar tidak.”

“O, kau sangka kecepatan terbang burung podang kalah cepat dengan lari seekor rusa.”

“Tidak, memang tidak. Tetapi kau tidak pernah menyumpit burung yang sedang terbang. Sedang pemburu di hutan, kadang-kadang ia harus memanah buruannya yang sedang berlari.”

“Memanah sambil naik kuda?” bertanya anak muda itu.

“Ya, berkuda sambil melepaskan anak panah.”

“Bagaimana mungkin. Dengan tangan kirimu kau memegang busur, sedang tangan kananmu menarik anak panahnya.”

“Maksudmu kendali?”

“Ya.”

“Aku sering melepaskan kendali sama sekali karena kudaku ini sudah terlampau jinak dan penurut. Tetapi kadang-kadang aku menjepitnya dengan lutut.”

“Berbahaya sekali.”

“Tidak. Mungkin apabila kita naik seekor kuda yang nakal. Tetapi kudaku sangat baik kepadaku.”

Anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia pun bertanya, “Kau dapatkan rusa itu?”

“Tidak,” sahut Pandan Wangi.

“Kita membuang-buang waktu.”

“O, kau tidak senang berburu di hutan yang sejuk ini?”

Anak muda itu ragu-ragu sejenak, lalu, “Senang, senang sekali.”

Pandan Wangi menjadi heran. Anak muda itulah yang mengajaknya berburu. Tetapi ternyata ia tidak begitu tertarik pada perburuan lagi ketika mereka sudah berada di hutan.

“Rusa itu terkejut mendengar suaramu berteriak-teriak itu,” berkata Pandan Wangi kemudian. “Kita harus diam, supaya seekor binatang tidak segera melarikan diri sebelum kita sempat membidiknya.”

Anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi nafasnya menjadi terengah-engah. Agaknya berburu di hutan dengan naik di punggung kuda kurang menyenangkan. Meskipun demikian ia tidak mau mengatakan berterus terang.

Pandan Wangi agaknya dapat membaca isi hatinya. Karena itu maka ia pun berkata, “Apakah perburuan ini kita akhiri sekian saja?”

“Jangan. Berburulah sehingga kita mendapatkan seekor binatang buruan.”

“Dan kau akan tetap berteriak-teriak mengusir binatang yang sedang aku bidik?”

“Tidak. Aku akan diam saja.”

Pandan Wangi termenung sejenak Tetapi kegairahannya untuk berburu terus telah turun sama sekali.

“Teruskanlah Pandan Wangi,” berkata anak muda itu selanjutnya. “Kenapa kau termenung.”

“Aku tidak bernafsu lagi. Marilah kita kembali ke rumahku. Ayah sudah menunggu.”

“Bukankah ayahmu sudah mengetahui bahwa kau berburu bersama aku? Ia tidak akan mencarimu. Agaknya ia percaya kepadaku.”

“Maksudmu?” bertanya Pandan Wangi.

“Maksudku, ayahmu tidak akan mencemaskan kau selama kau pergi bersamaku. Aku akan melindungimu dan membawamu pulang dengan selamat.”

“O,” suara Pandan Wangi bernada tinggi, namun kemudian merendah, “ya. Tentu Ayah akan percaya bahwa aku akan selamat sampai di rumah.”

“Karena itu jangan tergesa-gesa pulang. Kita teruskan perburuan ini, aku tidak akan memanggilmu lagi.” Tetapi kemudian, “Meskipun demikian, aku harus selalu mengawasimu karena aku harus melindungimu.”

“Aku sudah lelah sekali,” berkata Pandan Wangi, “aku ingin keluar dari hutan ini.”

“Tidak. Kita akan berburu bersama-sama.”

Pandan Wangi menjadi agak bingung menanggapi sikap anak muda itu, tetapi sambil tersenyum ia berkata, “Marilah kita keluar dahulu dari hutan ini. Jika kita akan berburu lagi, kita akan melakukannya.”

Pandan Wangi tidak menunggu jawabannya. Ia pun kemudian menggerakkan kudanya mendahului menuju ke luar hutan.

Anak muda itu tidak dapat berbuat lain daripada mengikutinya bersama beberapa orang pengiring Pandan Wangi. Meskipun ia agak kecewa, karena Pandan Wangi nampaknya tidak lagi berminat meneruskan perburuan ini karena sikapnya.

Sejenak kemudian mereka pun telah sampai ke pinggir hutan. Rasa-rasanya seperti seseorang yang baru saja muncul dari dalam goa yang lembab, terasa betapa sejuknya udara terbuka di luar hutan perbmuan itu, meskipun juga terasa panas matahari yang bagaikan menyengat wajah dedaunan yang hijau segar.

Tetapi angin yang lemah membuat udara di pinggir hutan itu tetap sejuk. Suara gemerisik yang menyentuh telinga, membuat hati bagaikan dibelai oleh bisikan-bisikan yang lembut.

Belum lagi Pandan Wangi turun dari kudanya, dilihatnya debu yang mengepul di kejauhan, dilemparkan oleh kaki beberapa ekor kuda yang berlari di sepanjang jalan berdebu.

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Ia pun segera mengerti bahwa mereka adalah beberapa orang peronda yang sedang nganglang di sepanjang jalan Tanah Perdikan Menoreh yang terutama di bagian Selatan dan Timur, mulai tersentuh oleh persoalan-persoalan yang dapat menimbulkan kegeli-sahan rakyatnya.

Para peronda berkuda yang berlari di sepanjang jalan itu pun agaknya dapat melihat Pandan Wangi. Sejenak mereka berbicara di antara mereka. Namun kemudian salah seorang dari mereka mengacu-acukan tangannya.

Pandan Wangi memandangi mereka dengan heran. Ia tidak segera mengerti maksudnya. Namun ia pun tidak segera berbuat sesuatu.

Ternyata beberapa ekor kuda itu pun berhenti sejenak. Kemudian mereka berbelok ke arah Pandan Wangi yang memandangi mereka dengan hati yang berdebar-debar.

“Pandan Wangi,” salah seorang dari para peronda itu berkata meskipun ia belum dekat benar, “apakah kau tidak ingin segera pulang?”

Pandan Wangi tidak segera menjawab. Ditunggunya orang itu menjadi semakin dekat dan baru kemudian ia bertanya, “Kenapa tergesa-gesa pulang?”

Para peronda itu pun kemudian berhenti beberapa langkah dari Pandan Wangi. Wajahnya tampak aneh dan tanpa sebab orang itu tersenyum-senyum sendiri.

“Ada apa?” Pandan Wangi bertanya pula.

“Seharusnya kau pulang.”

“Ya, ada apa?” gadis itu menjadi jengkel.

“Ada tamu di rumahmu.”

“Ah, apa salahnya ada tamu. Ayah terlalu sering menerima tamu dari mana saja.”

“Tetapi sekali ini tamu ayahmu agak lain. Tamu yang tentu tidak kau duga akan datang hari ini.”

Pandan Wangi memandang orang itu dengan heran. Dan sekali lagi ia mendesak, “Siapakah tamu Ayah kali ini?”

“Tamu Ki Gede datang dari seberang Kali Opak. Bahkan dari seberang Alas Mentaok, dari seberang Alas Tambak Baya.”

“Siapa, siapa?”

“Dari seberang Candi Prambanan. He, kau pernah lihat candi itu? Candi yang sangat indah?”

Pandan Wangi tidak segera menangkap maksud para pengawal itu. Karena itu ia masih saja berdiri termangu-mangu. Sedang para pengawal itu masih saja tersenyum-senyum.

“Apakah kalian mendapat perintah dari Ayah untuk menyusul aku?”

“Tidak. Tidak,” jawab para pengawal itu, “aku hanya melihat tamu-tamu itu, dan kebetulan aku melihat kau di sini.”

“Siapakah sebenarnya tamu itu?” Pandan Wangi menjadi jengkel.

Tetapi para pengawal itu masih saja tersenyum-senyum. Sedangkan Pandan Wangi menjadi semakin jengkel karenanya, sehingga ia berkata, “Jika kalian tidak segera mengatakan siapa tamu itu, aku akan mengejutkan kuda kalian dan kalian akan dibawanya berlari sambil melonjak-lonjak. Jika ada di antara kalian yang terlempar karenanya, itu bukan salahku.”

“Jangan. Jangan,” para pengawal itu hampir berbareng menyahut.

“Jika demikian, sebut tamu itu.”

“Tamu itu datang dari Sangkal Putung. Ki Demang Sangkal Putung bersama puteranya yang gemuk itu. Kau sudah mengenalnya bukan?”

“He,” sekilas terpancar kegembiraan dimata Pandan Wangi. Namun kemudian ia berusaha menghapus kesan itu dan berkata, “Aku tidak kenal mereka.”

“He,” salah seorang pengawal itu pun menyahut, “kau tidak kenal mereka? Dua anak muda yang pernah berada di Tanah Perdikan ini pada saat tanah ini dibakar oleh api kedengkian dan iri hati?”

“Cukup.”

“Maaf, Pandan Wangi. Bukan maksudku mengingatkan pertentangan yang pernah terjadi. Tetapi aku ingin mengingatkan kau pada kedua anak-anak muda itu. Yang seorang gemuk namun tampan. Dengan wajah yang agak ke kanak-kanakan. Sedang yang lain sedang dan agak lebih bersungguh-sungguh.”

“Aku tidak ingat mereka lagi. Dan aku tidak sempat mengingatnya,” lalu ia pun berpaling kepada anak muda yang diajaknya berburu. “Marilah apakah kau masih ingin berburu?”

Anak muda itu meniadi heran. Ia tidak mengerti perubahan sikap yang tiba-tiba saja. Karena itu ia tidak segera menjawab.

“Katakan, apa keinginanmu sekarang?” bertanya Pandan Wangi.

Anak muda itu tidak mengerti maksud Pandan Wangi yang sebenarnya. Sekenanya saja ia menjawab, “Apakah kita sebaiknya pulang saja?”

“Ah,” Pandan Wangi berdesah, “jika kita harus pulang, sama sekali bukan karena ada tamu itu. Tetapi karena kaulah yang ingin pulang.”

Anak muda itu menjadi semakin bingung, sedang para pengawal itu pun masih saja tersenyum-senyum.

“Pergilah. Jika kalian mempunyai kewajiban, lakukanlah. Jangan mengganggu aku lagi. Aku masih ingin berburu dan masih ingin berbuat apa saja sebelum aku pulang, dan kapan aku akan pulang tergantung kepadaku. Ada atau tidak ada tamu.”

“Baiklah,” jawab peronda itu sambil menganggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Kami memang akan melanjutkan tugas kami mengelilingi daerah Selatan ini sampai ke Kali Praga. Dan aku pun tidak mendapat perintah dari Ki Gede agar menjemputmu. Aku tidak tahu, pembicaraan apakah yang sedang berlangsung, tetapi aku melihat wajah-wajah yang buram. Mula-mula Ki Gede akan memerintahkan adikmu sepupu untuk menjemputmu, tetapi tiba-tiba niat itu dibatalkan. Adikmu sepupu telah ada di regol ketika Ki Gede berteriak dengan nada yang tinggi.”

Wajah Pandan Wangi menegang. Lalu dengan cemas ia bertanya, “Apa yang dikatakan Ayah ?”

“Aku tidak tahu. Mungkin adikmu itu berbuat kesalahan, atau apa pun. Tetapi Ki Gede agaknya marah sekali.”

Wajah Pandan Wangi menjadi semakin tegang. Dan tiba-tiba saja ia berkata, “Aku akan pulang.”

“Ki Gede tidak menunggu kau. Justru sebaiknya kau menunggu perintahnya.”

“Sudah aku katakan. Terserah kepadaku. Apakah aku akan pulang atau tidak.”

“Baik, baik.”

“Pergi. Cepat pergi.”

Para peronda itu pun kemudian meninggalkan Pandan Wangi. Tetapi mereka masih saja tersenyum-senyum. Namun salah seorang dari mereka berkata, “Kau sudah keterlaluan. Bagaimana jika Pandan Wangi tergesa-gesa pulang dan bertanya tentang ceritamu itu kepada Prastawa.”

“Tidak apa-apa. Prastawa akan menjadi kebingungan. Tetapi Pandan Wangi akan segera tahu, bahwa kita berbohong.”

“Dan besok jika kita bertemu dengan gadis itu, kita akan dilabraknya.”

“Besok ia pasti sudah lupa. Anak yang gemuk itu akan sangat menarik perhatiannya.”

“Tetapi jika ia masih ingat akan kelakarmu ini, terserahlah kepadamu. Mungkin kepalamu akan dikerawunya dengan ampas kelapa.”

Kawannya justru tertawa. Tetapi suara tertawanya terputus ketika ia mendengar derap kuda berlari kencang. Ketika ia berpaling dilihatnya Pandan Wangi dan tamunya itu berpacu pulang diikuti oleh beberapa orang pengiring.

“Tentu ia menyangka sesuatu telah terjadi. Ia pasti mengira bahwa terjadi perselisihan antara tamunya dan ayahnya tentang dirinya.”

Kawannya tersenyum. Lalu, “Kita memang harus berhati-hati besok, jika ia masih mengingatnya.”

Para pengawal itu melanjutkan perjalanan mereka. Namun mulailah mereka merasa cemas. Jika tiba-tiba saja Pandan Wangi berbuat sesuatu di rumahnya, siapakah yang harus bertanggung jawab? Dan hampir di luar sadarnya pengawal yang mencoba mengganggu Pandan Wangi itu berkata hampir kepada diri sendiri, “Tetapi, jika Pandan Wangi langsung marah-marah di rumahnya dan berbuat di luar dugaan karena sifatnya yang keras, dan agak seperti seorang laki-laki itu, siapakah yang dapat dipersalahkan?”

“Kau, kau,” kawannya menudingnya, “kau memang kurang berhati-hati. Kau kurang menempatkan diri apabila kau berhasrat bergurau. Persoalan ini bagi Pandan Wangi bukan persoalan kecil. Sekian lamanya ia menunggu, tiba-tiba saja ia dihadapkan pada suatu persoalan yang tidak diinginkannya.”

“Aku tidak mengatakan apa-apa tentang anak muda Sangkal Putung itu.”

“Tetapi kau sengaja memberikan gambaran yang salah pada Pandan Wangi.”

“Dan kau tidak mencegahnya. Sekarang kau menyalahkan aku pula.”

Kawannya tidak menjawab. Ia menjadi kasihan juga melihat wajah pengawal yang merasa terdorong terlampau jauh itu.

“Aku akan kembali. Mungkin sesuatu akan terjadi.”

Tetapi kawannya menggeleng, “Kami sedang menjalankan tugas. Jika selama kita di perjalanan kembali terjadi sesuatu di sini, dosa kita akan bertambah-tambah. Bukankah kadang-kadang di daerah ini timbul sesuatu yang tidak dapat kita mengerti, yang sampai saat ini masih merupakan teka-teki? Meskipun kita mengetahuinya bahwa persoalan yang sebenarnya tidak terjadi di Menoreh, tetapi di daerah di seberang Kali Praga, namun sentuhan peristiwa itu di daerah Menoreh tidak dikehendaki oleh Ki Gede. Dan jika kita tidak bertindak tegas sejak permulaan, maka semakin lama persoalannya akan menjadi semakin sulit dipecahkan dan semakin sulit diatasi.”

Pengawal yang merasa menyesal atas kelakarnya yang berbahaya itu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih berkata, “Aku menjadi gelisah sekarang.”

“Salahmu.”

“Bagaimana jika aku kembali seorang diri, dan kalian meneruskan tugas kita.”

“Terserah kepadamu.”

Orang itu merenung sejenak, lalu, “Biarlah aku terus bersama kalian. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa. Tolong bantulah aku berdoa.”

Kawan-kawannyalah yang kemudian tersenyum. Tetapi karena mereka tidak sampai hati melihat kegelisahan dan kecemasan yang mencengkam jantung kawannya itu, hampir berbareng kawan-kawannya menjawab, “Baiklah. Kami akan berdoa, mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa.”

Pengawal yang sedang menyesal itu memandangi wajah kawan-kawannya berganti-ganti. Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi.

Sementara itu, Pandan Wangi berpacu kembali ke induk Tanah Perdikan Menoreh. Tiba-tiba saja hatinya menjadi gelisah. Ia memang dicemaskan oleh cerita pengawai itu, seakan-akan telah terjadi sesuatu di rumahnya. Seolah-olah kedatangan tamu-tamu ayahnya dari Sangkal Putung itu membawa persoalan yang kurang menyenangkan.

Karena itu, ia hampir tidak menghiraukan lagi anak muda yang berburu bersamanya, yang masih ada hubungan darah dengan keluarganya meskipun sudah agak jauh.

“Pandan Wangi,” anak muda itu memanggilnya, “jangan terlalu cepat.”

Pandan Wangi tidak menghiraukannya. Ia masih saja berpacu lewat jalan berdebu.

Beberapa orang petani yang melihat Pandan Wangi bergegas pulang itu mengerutkan keningnya. Namun seorang anak muda yang lewat di pematang berkata kepada petani itu, “Pandan Wangi tergesa-gesa pulang karena ada tamu di rumahnya. He, apakah Paman tidak melihat iring-iringan orang berkuda lewat jalan di sebelah Utara itu? Mereka datang dari Sangkal Putung.”

Petani itu menggeleng.

“O, jika Paman melihatnya, Paman tidak akan heran lagi. Tamu itu adalah anak muda yang beberapa saat yang lalu ada di Tanah ini, ketika Tanah ini dibakar oleh pertentangan antara Ki Argapati dan Ki Argajaya bersama Sidanti.”

“O,” petani itu mengangguk-angguk.

“Bukankah Paman ikut dalam pertempuran-pertempuran yang terjadi saat itu?”

“Ya. Pertentangan itu kini sudah kita lupakan.”

“Tentu. Tetapi bahwa anak muda itu pernah di sini itulah yang aku ingat. Dan anak muda itu memang mempunyai persoalan tersendiri dengan Pandan Wangi.”

Petani itu tersenyum. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Pantas Pandan Wangi tidak sabar lagi.”

Dan ketika petani itu mengangkat wajahnya, dilihatnya debu yang meloncat ke udara dilemparkan oleh kaki-kaki kuda yang berlari kencang.

Di regol padukuhan induk, Pandan Wangi mengurangi kecepatan derap kudanya. Bahkan sejenak ia menjadi ragu-ragu. Apakah ia akan langsung pulang ke rumahnya atau akan singgah dahulu di mana pun juga untuk menge-tahui keadaan di rumahnya. Apakah benar tamu-tamunya itu datang dari Sangkal Putung, atau pengawal itu keliru menjawabnya.

Pandan Wangi mengerutkan keningnya ketika seorang anak muda di regol padukuhannya tertawa tanpa alasan sambil memandanginya.

“He, kenapa kau tertawa?” bertanya Pandan Wangi.

“Tidak apa-apa. Tetapi pulanglah. Ada tamu yang membawa oleh-oleh yang sangat menarik.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Ia sadar bahwa anak muda itu sengaja mengganggunya. Karena itu maka ia pun berpura-pura tidak mengetahuinya dan bertanya lebih lanjut, “Siapa tamu itu?”

“Aku kurang tahu. Tetapi yang aku ketahui mereka datang dari jauh dan membawa oleh-oleh buatmu. Khusus buatmu.”

“Terima kasih. Aku akan melihat tamu yang membawa oleh-oleh itu.”

Anak muda di regol pedukuhan itu tidak menyahut lagi. Dipandanginya saja Pandan Wangi yang maju perlahan oleh keragu-raguan.

“He, siapakah sebenarnya orang yang selalu disebut-sebut itu Pandan Wangi?” bertanya anak muda yang berburu bersama Pandan Wangi itu.

“Aku tidak tahu,” jawab Pandan Wangi.

“Mustahil. Aku menangkap kesan yang aneh pada setiap orang yang memberitahukan tentang tamu itu. Mereka tertawa-tawa seperti orang kesurupan, dan bahkan ada yang mirip-mirip dengan orang gila.” Anak muda itu berhenti sejenak, lalu, “Dan sikapmu sendiri menjadi aneh. Tentu kau sudah tahu siapakah tamumu itu.”

“Aku tidak tahu.”

“Setidak-tidaknya kau dapat menduga, siapakah tamumu, yang oleh anak muda di regol ini disebut membawa oleh-oleh yang sangat menarik buatmu.”

Pandan Wangi tidak menyahut.

“Tentu kau tidak berkeberatan mengatakan kepadaku, siapakah tamumu itu. Apakah yang mereka maksudkan adalah keluargaku?”

Pandan Wangi menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tentu tidak. Kau tidak datang hari ini. Kau sudah ada dirumahku. Dan mereka tidak mengatakan apa-apa tentang kedatanganmu, karena tetangga-tetanggaku belum mengenalmu dengan baik.”

“Aku pernah datang ke rumahmu sebelumnya.”

“Tetapi sudah lama sekali.”

Anak muda itu tidak menyahut lagi. Tampaklah keningnya berkerut-merut. Ia mencoba untuk mengetahui siapakah tamu Ki Gede Menoreh kali ini, yang agaknya lebih penting dari dirinya sendiri. Tetapi tidak seorang pun yang dapat memberitahukan kepadanya. kunjungi adbmcadangan.wordpress.com. Karena Pandan Wangi sendiri tidak mau menyebut tamunya, maka para pengiringnya pun tentu tidak akan mau mengatakannya.

“Aku akan langsung pulang,” tiba-tiba saja Pandan Wangi berdesis.

Anak muda yang bersamanya itu tidak mengerti maksudnya. Kenapa Pandan Wangi harus berkata demikian. Jika ia tidak pulang ke rumah, maka ke mana saja ia akan pergi.

Demikianlah maka mereka pun langsung menyelusur jalan induk Tanah Perdikan Menoreh.

Meskipun masih juga ragu-ragu, namun Pandan Wangi langsung menuju ke regol rumahnya. Ketika ia akan memasuki regol itu, tiba-tiba saja berkata, “Kemarilah.”

Anak muda yang berburu bersamanya itu menjadi heran. Tetapi Pandan Wangi berkata sekali lagi, “Marilah kita bersama memasuki regol itu. Jangan terlalu lambat. Kita langsung masuk ke longkangan samping dan berhenti di belakang.”

“Kenapa?”

“Ikut kataku.”

Anak muda itu tidak sempat bertanya lagi. Pandan Wangi sudah mempercepat lagi derap kudanya dan memberi isyarat agar anak muda itu berkuda di sampingnya.

Sambil menengadahkan wajahnya Pandan Wangi memasuki halaman rumahnya bersama anak muda itu. Sama sekali tidak berpaling ke pendapa dan langsung menuju ke longkangan samping.

“Itulah Pandan Wangi,” berkata Ki Argapati.

“Ya,” jawab Kiai Gringsing.

Tetapi orang-orang yang berada di pendapa itu menjadi heran. Pandan Wangi berpaling pun tidak.

“Tentu ia belum tahu bahwa ada tamu di pendapa ini.”

Kiai Grlngsing, Ki Sumangkar, dan Ki Demang Sangkal Putung mengangguk-anggukkan kepalanya.

Namun dalam pada itu, terasa sesuatu berdesir di dada Swandaru. Ia belum mengenal anak muda itu. Meskipun ia sudah mendengar bahwa anak muda itu masih ada sangkutan darah pada garis keturunan ibu Pandan Wangi. Namun sikapnya agak memanaskan hatinya. Apalagi Pandan Wangi sendiri sama sekali tidak berpaling dan tidak menghiraukan kehadirannya.

Tetapi ia pun mencoba menghibur dirinya sendiri dengan kalimat yang dikatakan oleh Ki Argapati, “Tentu ia belum tahu bahwa ada tamu di pendapa ini.”

“Tetapi anak muda yang lebih dahulu berpacu melintasi halaman ini melihat bahwa kami duduk di sini dan dengan tergesa-gesa turun,” berkata Swandaru di dalam hatinya pula.

Tidak ada yang dapat dimintainya pertimbangan. Agung Sedayu tentu hanya akan mengganggunya saja.

Namun dalam pada itu, Agung Sedayu pun menjadi heran melihat sikap Pandan Wangi. Apakah mungkin Pandan Wangi tidak melihat tamu-tamu yang ada di pendapa, ini atau ia memang mengalami perubahan selama ini?

Namun sikap itu memang menimbulkan berbagai pertanyaan di hati anak-anak muda yang sedang duduk di pendapa itu bersama Ki Gede Menoreh.

Dalam pada itu Pandan Wangi yang terus saja membawa kudanya ke longkangan langsung pergi ke belakang rumahnya. Dengan tenangnya ia meloncat turun dan menambatkan kudanya pada sebatang pohon. Tanpa menghiraukan apa pun juga, maka Pandan Wangi pun langsung masuk ke bagian belakang rumahnya itu.

Anak muda yang pergi berburu bersamanya itu pun mengikutinya saja. Ia sama sekali tidak mengerti maksud Pandan Wangi. Sedang ia masih belum mendapat kesempatan untuk bertanya lebih lanjut.

Di bagian belakang dari rumahnya itu Pandan Wangi bertemu dengan adik sepupunya, dan langsung saja ia bertanya, “Kenapa ayah marah?”

Prastawa memandang Pandan Wangi dengan heran. Tetapi sebelum ia menjawab Pandan Wangi mendesaknya, “Kenapa? Apakah tamu-tamu di pendapa itu membawa berita buruk atau penghinaan terhadap kita di sini?”

“Aku tidak mengerti,” Prastawa terheran-heran.

“Kenapa ayah marah? Kenapa?”

“Paman Argapati sama sekali tidak marah.”

“He?” Pandan Wangi mengerutkan keningnya, lalu, “Tetapi kenapa kau dipanggilnya setelah kau sampai di regol halaman pada saat kau akan memanggil aku pulang?”

“Aku tidak mengerti. Aku tidak akan memanggil kau pulang. Kami di sini mengetahui bahwa kau tidak akan berburu terlalu lama. Karena itu, kami sama sekali tidak bermaksud memanggil kau pulang.”

Pandan Wangi menjadi agak bingung. Tetapi ia masih mendesaknya, “Aku tidak peduli, tetapi kenapa ayah marah dan pembicaraan antara ayah dan tamu-tamu di pendapa itu tidak berlangsung dengan baik?”

“Tidak ada yang marah. Mereka berbicara dengan baik. Ketika kami menghidangkan makanan dan minuman, semuanya tertawa-tawa dengan cerah. Tidak ada apa-apa. Sungguh, tidak ada apa-apa dengan tamu-tamu itu.”

“Jadi, kau tidak dipanggil ayah ketika kau akan memanggil aku pulang?”

“Aku tidak akan memanggil kau pulang.”

Pandan Wangi termangu-mangu sejenak. Dicobanya mengingat wajah para pengawal itu. Dan tiba-tiba ia menggeram, “Gila, Mereka pasti membohongi aku. Mereka sengaja menggangguku. Awas, jika besok aku bertemu lagi, aku pilin telinganya sampai putus. Jika tidak ada orang gila itu, aku tentu masih belum pulang saat ini.”

Prastawa memandang Pandan Wangi dengan heran. Lalu ia pun bertanya, “Apakah sebenarnya yang telah terjadi?”

“Tidak apa-apa. Tidak apa-apa.”

Pandan Wangi pun kemudian membanting dirinya duduk di atas sebuah amben bambu. Dipandanginya adik sepupunya itu sejenak namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam, menyesali ketergesa-gesaannya. Bahkan kemudian ia berkata di dalam hati, “Tentu orang-orang menyangka, bahwa aku tergesa-gesa pulang karena tamu-tamu itu.”

Dalam pada itu, anak muda yang pergi berburu bersamanya menjadi sangat heran akan tingkah laku Pandan Wangi. Karena itu, setelah Pandan Wangi agak tenang dan duduk di amben bambu ia mencoba bertanya, “Pandan Wangi, apakah yang sebenarnya telah terjadi?”

Pandan Wangi memandanginya sejenak, lalu, “Tidak ada apa-apa yang terjadi.”

“Tetapi tampaknya kau menjadi bingung.”

Pandan Wangi mengangguk kecil, lalu, “Ya, aku menjadi bingung karena para pengawal itu telah memperolok-olokkan aku. Awas, jika aku bertemu mereka besok.”

Anak muda itu masih tetap tidak mengerti. Dan tanpa disadarinya ia telah bertanya, “Siapakah tamu-tamu itu, Pandan Wangi?”

Pandan Wangi memandang anak muda itu sejenak, lalu, “Bertanyalah kepada Prastawa.”

Anak muda itu mengerutkan keningnya. Sambil menganggukkan kepalanya ia meninggalkan Pandan Wangi dan mendekati Prastawa yang masih juga heran melihat sikap Pandan Wangi.

“Siapakah tamu-tamu itu?”

Prastawa ragu-ragu sejenak. Kemudian jawabnya, “Bertanyalah kepada Pandan Wangi.”

“He?” anak muda itu menjadi termangu-mangu pula. Katanya, “Apakah sebenarnya yang telah terjadi? Dan siapakah sebenarnya orang di pendapa itu? Aku bertanya kepada Pandan Wangi, disuruhnya aku bertanya kepadamu. Sekarang aku bertanya kepadamu, kau suruh aku bertanya kepada Pandan Wangi.”

“O, apakah Pandan Wangi menyuruhmu bertanya kepadaku?”

“Ya.”

Prastawa masih ragu-ragu. Namun kemudian ia menjawab, “Mereka datang dari seberang Alas Tambak Baya, bahkan dari seberang candi Prambanan.”

“Jauh?”

“Ya. Cukup jauh. Salah seorang dari mereka adalah Demang di Sangkal Putung.”

“Demang di Sangkal Putung,” anak muda itu mengulangi.

“Ya, Demang di Sangkal Putung. Sedang anak-anak muda yang ada di antara mereka adalah anak-anak muda yang pernah tinggal di rumah ini.”

“Tinggal di rumah ini? Kenapa?”

Prastawa menjadi berdebar-debar mendengar pertanyaan itu. Peristiwa yang pernah terjadi di atas Tanah Perdikan Menoreh merupakan goresan yang tajam di hatinya. Ia ingin melupakannya sama sekali. Karena itu, maka ia tidak dapat menjawab sebenarnya. Katanya, “Mereka berada di sini untuk beberapa lamanya. Mereka adalah perantau yg berkeliling dari satu daerah ke daerah lain tanpa tujuan.”

“Perantau? Apakah mereka tidak mempunyai tempat tinggal untuk menetap.”

Prastawa tidak segera menyahut. Dipandanginya anak muda itu sejenak, seakan-akan ingin mengetahui alasan pertanyaan-pertanyaannya itu.

Dan anak muda itu mendesaknya, “Jadi mereka tidak mempunyai rumah?”

Prastawa menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tentu. Sudah aku katakan, mereka berasal dari Sangkal Putung. Mereka merantau karena panggilan hatinya, bukan karena mereka tidak mempunyai tempat tinggal. Yang seorang dari mereka itu adalah Demang Sangkal Putung Dan sudah barang tentu Ki Demang itu bukan perantau seperti yang lain, karena ia mempunyai tugas tertentu di rumahnya.”

Anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih bertanya lagi, “Kenapa mereka datang kemari?”

“Mereka adalah sahabat-sahabat Ki Gede. Dan anak-anak muda yang ada di antara mereka adalah sahabat anak-anak muda Menoreh.”

“Sahabat anak-anak muda Menoreh. Bagaimana mungkin?”

“Cerita panjang sekali. Tetapi yang penting kau ketahui adalah bahwa anak muda yang gemuk itu adalah putera Ki Demang di Sangka Putung. Tentu mereka mempunyai kepentingan khusus karena mereka datang dari jarak yang jauh.”

“Apakah kepentingan khusus itu?

“Bertanyalah kepada Pandan Wangi.”

“Tentu ia tidak akan menjawab. Tentu ia akan menyuruhku bertanya kepadamu lagi. Ternyata kalian memperolok-olokkan aku sehingga aku menjadi bingung.”

“Semua orang merasa dirinya diperolok-olokkan. Aku tidak tahu bagaimana aku harus melayani kalian. Sudahlah. Nanti kalian akan tahu juga apa kepentingan mereka datang kemari.”

Anak muda itu tidak bertanya lagi. Sebenarnya ia memang ingin bertanya kepada Pandan Wangi. Tetapi ketika ia berpaling, dilihatnya Pandan Wangi sudah berdiri dan melangkah masuk ke ruang dalam, dan langsung ke dalam biliknya.

Setelah menutup pintu rapat-rapat, maka Pandan Wangi pun merebahkan dirinya di pembaringan. Bagaimana pun juga ia tidak dapat mengingkari perasaan yang sebenarnya bergejolak di dalam hatinya.

Sudah terlalu lama ia menunggu. Bahkan hampir saja ia menjadi berputus asa. Seakan-akan ia sedang menunggu terbitnya bulan di musim hujan. Setiap kali ia menengadahkan wajahnya, maka langit selalu gelap disaput olen hawa yang kelabu.

Namun tiba-tiba saja kini yang ditunggunya itu datang, “Apakah mereka datang untuk memenuhi upacara seperti yang lazim, melamar dengan resmi atau justru sebaliknya?” pertanyaan itu masih juga mengganggunya. Untuk menenangkan dirinya sendiri. Pandan Wangi berkata di dalam hati, “Jika tidak demikian, aku kira mereka tidak akan datang. Sejauh-jauhnya mereka akan menyuruh seseorang untuk menyampaikannya kepada Ayah.”

Terasa sesuatu bergejolak di dalam hati Pandan Wangi. Ia tidak tahu pasti, apakah yang sebenarnya sedang dihadapi. Tetapi harapan yang selama ini rasa-rasanya menjadi semakin pudar itu pun tumbuh kembali.

Di luar sadarnya Pandan Wangi pun kemudian bangkit perlahan-lahan. Diamat-amatinya jari-jari tangannya yang lentik tetapi tidak sehalus tangan gadis pingitan, karena tangannya itu sering tersentuh tangkai pedang atau menggenggam busur dan anak panah, kadang-kadang memegangi kendali kuda.

 

Series 70

 

PANDAN WANGI menarik nafas dalam-dalam. Sekali dua kali ayahnya sudah harus menolak lamaran yang datang dari orang-orang penting di Menoreh, bahkan dari daerah tetangga. Agaknya ayahnya pun masih juga menunggu karena ia sudah pernah membicarakannya dengan Kiai Gringsing, apalagi Ki Argapati mengetahui bahwa agaknya anaknya telah bersetuju di dalam hati.

Perlahan-lahan Pandan Wangi itu pun kemudian mengambil pakaiannya yang disimpannya di geledeg bambu. Seperti di luar kehendaknya sendiri, maka dilepaskannya pakaian berburunya. Dikenakannya pakaiannya yang lain, pakaian seorang gadis. Bahkan dibenahinya rambutnya yang kusut dan disaputnya wajahnya dengan kain yang dibasahinya dengan air kendi.

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam.

Namun tiba-tiba ia menyembunyikan wajahnya di balik ke dua telapak tangannya. Ia menjadi malu kepada diri sendiri. Seakan-akan berpuluh-puluh pasang mata sedang memandanginya. Memandang seorang gadis yang sedang dibayangi oleh angan-angannya sendiri.

Dengan tergesa-gesa, Pandan Wangi duduk di pembaringannya. Kepalanya masih saja menunduk dalam-dalam.

Gadis itu mengangkat wajahnya ketika ia mendengar suara gelak di pendapa. Agaknya ayahnya dan tamu-tamunya sedang membicarakan kenangan yang menggelikan pada saat tamu-tamunya itu berada di Tanah Perdikan ini.

Pandan Wangi pun tanpa disadarinya telah tersenyum pula meskipun ia tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.

“Ternyata ayah sama sekali tidak marah,” ia berkata kepada diri sendiri.

Pandan Wangi terkejut ketika ia mendengar pintunya diketuk dari luar. Dengan tergesa-gesa ia berdiri dan melangkah membukanya.

“Ada apa, Prastawa,” ia bertanya kepada saudara sepupunya itu.

“Sudah waktunya menghidangkan makan, Pandan Wangi.”

“Bukankah sudah dihidangkan?”

“Belum. Baru minum dan makanan. Belum makan. Baru saja nasi masak.”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba saja memberengut. Katanya, “Bukankah ada pelayan yang dapat menghidangkan suguhan itu? Biarlah mereka membawanya ke pendapa.”

Prastawa termangu-mangu sejenak. Itu sama sekali bukan kebiasaan Pandan Wangi. Jika ada tamu yang khusus, biasanya Pandan Wangi sendirilah yang mengantarkan suguhan itu ke pendapa. Seperti saat-saat yang lewat, untuk tamu-tamu yang masih ada hubungan keluarga, atau tamu-tamu ayahnya yang terdekat, Pandan Wangi tidak membiarkan orang lain membawakannya. Tetapi kini justru tamu yang datang dari jauh, dan seperti yang sudah didengar oleh Prastawa, hubungan yang pernah terjalin antara Swandaru dan Pandan Wangi, Pandan Wangi menolak membawakannya kepada mereka.

“He. Kenapa kau diam saja dan seperti membeku di situ?” bertanya Pandan Wangi kepada anak muda yang kebingungan itu.

“Jadi, bagaimanakah maksudmu sebenarnya?” bertanya Prastawa.

“Aku sedang lelah sekali. Biar orang lain saja yang menghidangkannya. Apakah ayah menyuruhmu memanggil aku dan menghidangkan makan itu?”

“Tidak. Tetapi bukankah itu kebiasaanmu? Jika kau tidak membawanya ke pendapa saat ini, tentu Ki Gede akan bertanya-tanya, meskipun hanya di dalam hati.”

“Aku lelah sekali,” Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam.

Prastawa tidak menyahut. Tetapi dipandanginya saja Pandan Wangi yang sudah berpakaian rapi. Bukan lagi pakaian berburunya. Tetapi pakaian seorang gadis.

“He, kenapa kau memandang aku seperti itu?” bertanya Pandan Wangi kepada adik sepupunya.

“O,” Prastawa tergagap. Namun ia masih sempat menjawab sambil tersenyum, “Kau jarang sekali berhias diri seperti sekarang.”

“Ah.”

“Aku tidak pernah melihat kau secantik itu.”

“Prastawa,” potong Pandan Wangi, “pantaskah kau berkata begitu buat kakakmu sendiri.”

“Tentu tidak pantas jika aku berkata buat aku sendiri. Tetapi aku berkata buat tamuku yang gemuk itu.”

“Ah, kau,” Pandan Wangi melangkah maju. Tangannya sudah terjulur untuk mencubit lengan adiknya. Tetapi Prastawa dengan tergesa-gesa meninggalkannya sambil berkata, “Aku berani berkejar-kejaran sekarang jika kau memakai pakaian seperti itu.”

Pandan Wangi tidak menyahut. Ia mengacukan tangannya ketika ia melihat adik sepupunya itu berpaling. Tetapi sejenak kemudian Prastawa itu sudah hilang di balik pintu.

Prastawa terkejut ketika hampir saja ia melanggar anak muda yang mengikuti Pandan Wangi berburu. Sambil mengerutkan keningnya ia berkata, “Ah kau. Hampir saja aku terantuk.”

“Kenapa dengan Pandan Wangi?” anak muda itu bertanya.

“Ia sedang bersembunyi.”

“Ya, kenapa?”

“Aku tidak tahu. Bertanyalah kepadanya.”

Anak muda itu termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Di mana Pandan Wangi sekarang?”

“Di dalam biliknya. Ia sedang merias diri.”

“Merias diri? Kenapa?”

“Aku tidak tahu, bertanyalah. Ia menjadi cantik sekali. Tidak lagi seperti laki-laki di atas punggung kuda.”

Anak muda itu ragu-ragu sejenak. Tetapi wajahnya yang berkerut-merut itu membuat kesan yang aneh di hati Prastawa. Karena itu ia justru mengganggunya, “Lihatlah sendiri. Apa yang sedang dikerjakannya.”

Anak muda itu ragu-ragu sejenak. Tetapi ia melangkah masuk ke ruang dalam.

Prastawa memandanginya dari kejauhan. Tetapi ketika ia melihat anak muda itu mengayunkan tangannya mengetuk pintu bilik Pandan Wangi yang tertutup, hatinya berdesir. Dengan serta-merta ia berdesis sambil memberikan isyarat agar niat itu diurungkan. Tetapi ia terlambat. Tangan itu sudah mengetuk pintu.

“Bodoh sekali,” desis Prastawa.

Perlahan-lahan pintu bilik itu terbuka. Pandan Wangi terkejut ketika dilihatnya anak muda itu berdiri di muka pintu.

“He, kenapa kau mengetuk pintu?”

Anak muda itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengetahui apa yang sedang kau kerjakan. Menurut Prastawa, kau sedang berhias. Dan kau menjadi sangat cantik, tidak seperti seorang laki-laki di atas punggung kuda. Tetapi kau benar-benar menjadi seorang gadis.”

“Ah,” Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Wajahnya menjadi kemerah-merahan. Ketika ia melihat Prastawa menjengukkan kepalanya di pintu belakang, sekali lagi ia mengacukan tangannya. Tetapi Prastawa itu pun segera menghilang.

“Aku tidak berhias,” berkata Pandan Wangi kemudian, “aku sekedar berganti pakaian. Jika ayah memanggilku dan menyuruh aku membawa hidangan ke pendapa, aku sudah berpakaian rapi.”

Anak muda itu mengangguk-anggukan kepalanya. Tetapi matanya kemudian hinggap di wajah Pandan Wangi. Matanya seakan-akan tidak berkedip sehingga Pandan Wangi menjadi bingung karenanya.

“Kau memang menjadi cantik sekali seperti yang dikatakan oleh Prastawa.”

“Ah, sudahlah. Jangan hiraukan anak bengal itu.”

“Tidak. Bukan karena Prastawa. Aku benar-benar menganggap kau seorang gadis yang sangat cantik. Sejak aku datang, aku tidak pernah melihat kau berhias seperti ini. Kenapa sekarang kau tiba-tiba saja berhias? Ketika kau menghidangkan suguhan bagi ayah dan ibu di pendapa, kau juga berpakaian seorang gadis. Tetapi kau tidak secantik sekarang.”

“Ah, sudahlah. Jangan memuji. Aku akan beristirahat sebentar di dalam bilik.”

Pandan Wangi pun kemudian melangkah surut. Tetapi ia menjadi heran karena anak muda itu tidak segera pergi. Bahkan ia melangkah maju pula sambil berkata, “Aku juga akan beristirahat Pandan Wangi. Aku juga lelah se-kali.”

“Di mana kau akan beristirahat?”

“Apakah salahnya jika aku beristirahat di bilikmu juga.”

“He,” wajah Pandan Wangi menjadi merah padam, “apakah maksudmu?”

“Beristirahat,” katanya dengan jujur.

“Kenapa di sini? Apa tidak ada tempat lain.”

“Apakah aku tidak boleh masuk.”

“Sudah disediakan tempat sendiri buatmu dan ayah ibumu.”

Anak muda itu menjadi kecewa. Katanya, “Kau terlampau tinggi hati, Pandan Wangi. Baiklah, memang tempatku tidak di ruang dalam. Aku hanya seorang tamu dari daerah terpencil. Tetapi kau harus ingat bahwa ayahku seorang yang kaya.”

“O,” Pandan Wangi justru menjadi termangu-mangu, “bukan maksudku. Tetapi sebaiknya kau tidak berada di dalam bilikku. Aku akan tidur sejenak.”

Anak muda itu pun kemudian melangkah pergi. Di luar pintu ruang dalam ia melihat Prastawa sedang menunggui para pelayan yang mengatur hidangan yang akan disuguhkan ke pendapa. Sejenak Prastawa memandangi anak muda itu. Kemudian ia mendengar anak muda itu mengeluh.

“Pandan Wangi terlampau tinggi hati. Aku tidak boleh masuk ke dalam biliknya.”

Prastawa menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia bertanya, “Kenapa kau akan masuk ke dalam biliknya? Itu tidak pantas. Ia adalah seorang gadis.”

“Kenapa? Aku hanya ingin memandanginya. Ia memang cantik sekali dalam pakaian yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Kenapa ia berpakaian begitu bagusnya sekarang? Kenapa tidak ketika ia akan menghidangkan suguhan bagi ayah dan ibuku pada saat kami datang?”

“Ah, tentu ia tidak akan memakai pakaian yang sama saja. Itu hanyalah suatu kebetulan bahwa yang dipakainya sekarang agak lebih baik dari yang dipakainya dahulu.”

“Ayahku seorang yang paling kaya di daerahku yang kecil itu. Mungkin juga karena ayah datang dari daerah kecil, sedang tamu-tamu itu datang dari sebuah kademangan yang besar. Begitu?”

Prastawa mengerutkan keningnya. Katanya, “Kau senang merangkai perasaan. Ada baiknya. Tetapi jika berlebih-lebihan kau akan menjadi seorang anak muda perasa yang agak cengeng.”

“He,” mata anak muda itu menyala sesaat. Namun kemudian katanya, “Kalian tidak menghormati tamu kalian. Pandan Wangi tidak, dan kau juga tidak. Ayahku adalah keluarga Ki Gede Menoreh. Kami adalah tamu dari orang yang berkedudukan paling tinggi di Menoreh. Kalian harus menghormati aku.”

Prastawa mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab. Ia sadar, bahwa anak muda itu sedang merajuk.

“Agaknya ia adalah anak yang terlalu manja. Manja sekali,” berkata Prastawa di dalam hati. “Jika Pandan Wangi menjadi jengkel akan kelakuannya itu, salah-salah ia dapat dibantingnya sampai pingsan.”

Prastawa hanya memandanginya berjalan ke pintu samping. Namun supaya tidak menimbulkan kesan yang dapat membuat anak muda itu semakin merajuk, dan mengatakannya kepada ayah ibunya agak berlebih-lebihan, maka Prastawa pun berkata, “Kami minta maaf. Kami tidak tahu maksudmu yang sebenarnya.”

Anak muda itu berpaling. Dilihatnya Prastawa sejenak. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Aku akan melupakannya. Kau anak yang baik.”

Prastawa menahan senyumnya. Memang anak muda itu agaknya lebih tua daripadanya. Tetapi karena tempaan keadaan, Prastawa menjadi lebih dewasa. Pengalamannya di saat-saat kemelutnya pertentangan di atas Tanah Perdikan ini, membuatnya cepat menjadi dewasa. Kematian Sidanti dan bahkan dirinya sendiri yang hampir saja tenggelam di dalam keputus-asaan, membuatnya lebih matang menghadapi persoalan-persoalan hidup.

Prastawa itu terkejut ketika di belakangnya terdengar suara kakak sepupunya, “Apa yang dikatakannya?”

Prastawa berpaling. Sambil tertawa ia berkata, “Anak itu merajuk. Ayo, kau apakan saja tamumu itu?”

“Aku pilin telingamu. Aku tidak berbuat apa-apa.”

“Katanya kau terlampau tinggi hati karena ia tidak kau perkenankan ikut beristirahat di dalam bilikmu.”

“Ah, anak gila.”

“Tetapi ia tidak bermaksud apa-apa. Ia berkata dengan sorot mata yang jujur. Kau sadari itu?”

Pandan Wangi mengangguk. Katanya, “Anak itu tentu merupakan sebuah golek kencana yang hidup di rumahnya. Ia anak orang yang kaya. Anak satu-satunya.”

“Seperti kau. Anak satu-satunya. Tetapi kau tidak cengeng seperti anak itu.”

“Kau memuji lagi. Tentu kaulah yang menyebabkannya seperti orang mabuk tuak. Ia memuji seperti memuji bakal isterinya.”

“Sedang kau adalah bakal isteri orang lain.”

“Hus.”

Prastawa bergeser. Pandan Wangi benar-benar akan memilin telinganya.

“Jangan,” berkata adik sepupunya itu, “tetapi lihat, hidangan sudah tersedia. Siapakah yang akan menghidangkannya ke pendapa? Pelayan atau aku atau kau?”

Pandan Wangi termangu-mangu sejenak, lalu, “Marilah, kita bersama-sama menghidangkannya. Kau membawa nasi dan lauk pauknya.”

“Lalu kau membawa apa?”

Pandan Wangi tersenyum. Dipandanginya hidangan yang sudah tersedia itu sejenak, lalu katanya, “Aku membawa nampannya.”

“Ah,” Prastawa berdesah, lalu katanya, “cepatlah. Nanti Paman Argapati menunggu.”

Pandan Wangi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Marilah kita hidangkan bersama. Kaulah dahulu. Aku di belakang. Bawa apa saja, sisanya aku yang akan membawanya.”

Demikianlah, maka hidangan itu tidak jadi disuguhkan oleh para pelayan yang sudah siap, tetapi Prastawa dan Pandan Wangi sendiri akan membawanya ke pendapa.

Beberapa orang pelayan yang berdiri di ruang belakang itu kemudian saling menggamit. Mereka tahu siapakah tamu yang ada di pendapa itu, sehingga seorang di antaranya tidak dapat menahan senyumnya. Karena itu, maka kepalanya pun segera ditundukkannya dalam-dalam. Apalagi ketika ia merasa bahwa Pandan Wangi sedang memandanginya dengan tajamnya.

Ketika pintu pendapa berderit, maka semuanya pun segera berpaling. Yang mula-mula mereka lihat adalah Prastawa. Namun kemudian Pandan Wangi pun melangkah ke luar dengan kepala tunduk.

Berbeda dengan kebiasaannya, bahwa ia dapat dengan cekatan menghidangkan suguhan bagi tamu-tamu ayahnya, maka kali ini Pandan Wangi menjadi gemetar. Ia sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya sama sekali.

“Ha, inilah anak itu,” berkata Ki Gede Menoreh, “ia baru pulang dari berburu bersama tamu kami.”

Kiai Gringsing tertawa. Di luar sadarnya ia bertanya, “Siapakah nama anak muda itu?”

“Rudita,” jawab Ki Gede.

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Nah, tentu hidangan ini hasil buruan Angger Pandan Wangi.”

Pandan Wangi mendengar namanya disebut. Tetapi ia tidak dapat menangkap kata-kata Kiai Gringsing dengan jelas. Terasa tubuhnya benar-benar telah menggigil seperti kedinginan. Namun demikian ia masih juga mencoba tersenyum.

Orang-orang tua yang ada di pendapa itu sama sekali tidak heran melihat keadaan Pandan Wangi. Agak gemetar dan kepalanya selalu menunduk.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Pandan Wangi pun kemudian melangkah surut setelah meletakkan hidangan yang dibawanya. Begitu ia melangkahi pintu, maka ia pun segera berlari-lari ke belakang. Dilemparkannya nampan yang dibawanya dan dengan serta-merta ia pun membanting dirinya duduk di atas sebuah amben yang besar di belakang. Nafasnya menjadi terengah-engah seperti ketika ia sedang memburu kijang di hutan perburuan.

Prastawa pun kemudian menyusulnya. Sambil tersenyum ia berkata, “Kenapa kau menjadi begitu gelisah? Kau sudah terbiasa membawa hidangan bagi para tamu. Apakah bedanya tamu yang sekarang dengan tamu-tamu yang lain?”

Pandan Wangi tidak menjawab. Dicobanya menenangkan hatinya sambil duduk bersandar kedua tangannya.

“Sudahlah. Biarlah aku saja yang menyelesaikannya. Duduk sajalah. Jika kau sekali lagi membawa hidangan itu, maka hidangan itu tentu akan tumpah.”

Pandan Wangi masih tetap diam saja. Dipandanginya bayangan dedaunan di longkangan lewat pintu samping yang terbuka.

Ketika Prastawa kemudian menyelesaikan membawa hidangan itu ke pendapa, maka anak muda yang berburu bersama Pandan Wangi dan bernama Rudita itu sudah berada di gandok Kulon menemui kedua orang tuanya.

“Tamu yang datang itu agaknya lebih dihormati oleh Pandan Wangi dari kita, Ayah,” berkata anak muda itu.

“Kenapa?”

“Aku tidak tahu. Tetapi ia adalah seorang Demang.”

“O,” ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya, “tentu kawan baik Ki Gede Menoreh.”

“Ya,” jawab anaknya. “Pandan Wangi mengenakan pakaiannya yang sangat bagus. Lebih bagus dari yang dipakainya saat membawa suguhan buat kita.”

“Ah, kau.”

“Dan ternyata Pandan Wangi sangat cantik.”

“Cantik? Jadi menurut penilaianmu anak itu sangat cantik?”

“Ya, Ayah. Cantik sekali. Aku belum pernah melihat gadis secantik Pandan Wangi.”

“Berbanggalah bahwa kau mempunyai seorang saudara yang sangat cantik.”

“Ya, Ayah. Aku berbangga,” jawab anak muda itu, “tetapi apakah Pandan Wangi termasuk sanak kita yang dekat?”

Ayahnya menggelengkan kepalanya, “Ia bukan sanak kita yang dekat. Sudah agak jauh, lewat garis keturunan ibunya.”

Anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi.

Ayahnya memandanginya sejenak. Ketika anak itu agak membelakanginya, ibunya menggamit ayah Rudita yang duduk di sebelahnya. Keduanya saling berpandangan sejenak, dan ayah Rudita itu pun tersenyum.

Isterinya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka tidak berbicara apa pun juga. Mereka hanya duduk saja berdiam diri sambil memandangi anak laki-lakinya yang kemudian berdiri dan melangkah ke luar.

“Ia sudah dapat menyebut tentang seorang gadis yang cantik. Sayang yang disebut itu adalah Pandan Wangi, sanak sendiri,” berkata ibu anak muda itu.

Ayah Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya isterinya sejenak, kemudian sambil menarik nafas ia berkata, “Sekarang ia menyebut Pandan Wangi. Tetapi dengan demikian perhatiannya kepada perempuan mulai bangkit. Aku berharap bahwa selain Pandan Wangi ada pula perempuan cantik menurut anggapannya nanti.”

“Bagaimana jika tidak?” bertanya isterinya.

“Maksudmu?”

“Jika tidak ada perempuan lain yang menarik selain Pandan Wangi?”

“Ah tentu tidak. Ia tahu bahwa Pandan Wangi adalah sanak sendiri.”

Isterinya mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun demikian ia bergumam seperti kepada diri sendiri, “Mereka bukan sanak yang dekat.”

Ayah Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya pula tanpa disadarinya. Namun sesaat kemudian ayahnya itu mengerutkan keningnya dan berkata, “Tetapi siapakah tamu Ki Gede dipendapa itu?”

Isterinya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Orang itu tentu sangat dihormati oleh Ki Gede. Jika tidak, meskipun ia seorang Demang, maka ia tidak akan mendapat pelayanan yang begitu baik dan sambutan yang sangat hangat.”

Isterinya masih berdiam diri.

“Aku ingin memperkenalkan diri,” berkata ayah Rudita.

“Sekarang?”

“Tentu tidak. Tetapi agaknya mereka akan bermalam di sini pula. kesempatan masih panjang.”

Tetapi belum lagi ia selesai berbicara, dilihatnya Prastawa datang kepadanya sambil berkata, “Paman, Ki Gede mempersilahkan Paman makan bersama tamu-tamu yang datang dari Sangkal Putung itu.”

“O,” ayah Rudita itu mengerutkan keningnya.

“Dan Paman sekarang dipersilahkan ke pendapa bersama Bibi.”

Keduanya saling berpandangan sejenak, lalu, “Baiklah. Kami akan datang. Kami akan membenahi pakaian kami sebentar.”

Demikianlah maka kedua suami isteri itu pun kemudian diperkenalkan dengan tamu-tamu Ki Gede yang datang dari Sangkal Putung itu. Namun mereka masih belum tahu maksud tamu-tamu yang datang dari Sangkal Putung itu. Mereka hanya mendapat keterangan dari Ki Gede, bahwa tamu-tamunya adalah sahabat-sahabatnya yang sudah lama tidak datang.

Apalagi tamu-tamu itu sendiri memang belum mengatakan sesuatu tentang Swandaru, karena dirasa waktunya belum tepat.

Setelah makan, maka tamu-tamu itu pun dipersilahkannya untuk beristirahat. Ayah dan ibu Rudita berada di gandok Kulon, sedang tamu-tamu dari Sangkal Putung itu dipersilahkan beristirahat di gandok Wetan.

Dalam pada itu, selagi orang-orang tua beristirahat dan berbicara di antara mereka, maka Swandaru dari Agung Sedayu duduk di serambi gandok. Sejenak mereka saling berdiam diri memandang halaman rumah yang sudah berubah itu. Suasananya benar-benar telah jauh berbeda. Halaman rumah itu kini ditanami dengan pohon bunga-bunga di pinggir-pinggir pagar batu. Sebatang bunga soka putih, seolah-olah tidak berdaun lagi karena bunganya yang sedang berkembang. Sedang di sudut halaman itu kini tumbuh sebatang bunga kemuning.

Keduanya berpaling ketika mereka mendengar langkah mendekatinya. Ternyata yang datang itu adalah Prastawa.

Agung Sedayu dan Swandaru bergeser sedikit untuk memberikan tempat kepada anak muda itu, yang sambil tersenyum kemudian Prastawa pun duduk pula di antara mereka.

Sama sekali tidak ada lagi kesan permusuhan di antara mereka seperti juga pada Pandan Wangi dan adik sepupunya itu. Prastawa mencoba memperbaiki keadaannya dengan berbuat sebaik-baiknya, meskipun kadang-kadang hatinya masih juga merasa pedih.

Sejenak mereka berbicara tentang keadaan masing-masing. Meskipun mereka masih juga tetap berhati-hati agar pembicaraan mereka sama sekali tidak menyentuh persoalan yang dapat mengungkat hubungan di masa lalu itu.

Selagi mereka dengan asyiknya berbicara, di halaman melintas seorang anak muda yang pergi berburu bersama Pandan Wangi. Sejenak anak muda itu berpaling memandang Prastawa, namun ia pun kemudian melangkah terus meninggalkan halaman, masuk ke longkangan gandok Kulon.

“Siapakah anak muda itu?” bertanya Swandaru.

“Rudita,” jawab Prastawa, “ia adalah kadang yang sudah agak jauh dari Kakak Pandan Wangi dari garis ibunya.”

“O,” Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Apakah ia sudah lama berada di sini?”

“Tidak. Ia datang bersama ayah dan ibunya, dua hari yang lalu. Sudah lama mereka tidak berkunjung kemari. Agar hubungan persaudaraan itu tidak terputus, mereka memerlukan mengunjungi Ki Gede di sini.”

Swandaru masih saja mengangguk-anggukkan kepalanya, dan kemudian ia masih bertanya lagi, “Apakah ia pandai berburu?”

Prastawa tersenyum. Tetapi ia menjawab, “Ya. Ia senang berburu.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Namun sebelum ia menyahut maka seseorang datang mendekatinya sambil berkata kepada Prastawa, “Rudita memanggilmu.”

Prastawa mengerutkan keningnya. “Ada apa?”

“Aku tidak tahu.”

Prastawa mengangkat pundaknya. Namun ia pun kemudian berdiri dan berkata kepada Agung Sedayu dan Swandaru. “Ia memerlukan pelayanan melampaui seorang gadis kecil yang paling manja.”

Swandaru dan Agung Sedayu berpandangan sejenak. Namun keduanya tidak mengatakan apa pun. Mereka hanya memandangi saja langkah Prastawa yang pergi ke gandok Kulon.

Di longkangan, Rudita telah menunggu kedatangan Prastawa. Dengan wajah yang tegang Rudita itu bertanya, “Siapakah mereka itu?”

“Yang mana?” Prastawa ganti bertanya.

“Dua orang anak muda di serambi gandok Wetan itu.”

“O, tamu Ki Gede yang baru datang hari ini. Bukankah keduanya ikut duduk di pendapa pada saat kami menghidangkan makanan?”

“Aku sudah tahu. Siapa nama mereka?”

“O,” Prastawa mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Yang gemuk itu namanya Swandaru. Ia adalah putra Ki Demang Sangkal Putung. Sedang yang sedang itu bernama Agung Sedayu.”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih bertanya, “Kenapa mereka datang kemari? Apakah mereka masih kadang Ki Gede?”

Prastawa menggeleng. “Bukan. Bukan sanak, bukan kadang. Tetapi jika mati, kami akan kehilangan.”

Rudita mengerutkan keningnya, “Apa maksudmu?”

“Tidak apa-apa,” jawab Prastawa, lalu katanya, “marilah. Sebaiknya kau memperkenalkan dirimu.”

“Bukan aku. Merekalah yang harus datang memperkenalkan diri kepadaku. Aku adalah kadang Ki Gede Menoreh. Ayahku meskipun bukan Demang, tetapi ia adalah orang yang terpandang, karena ayahku lebih kaya dari Demang di Tempuran.”

Prastawa mengerutkan dahinya. Jawabnya kemudian, “Mereka tentu tidak akan berani berbuat demikian, karena mereka merasa diri mereka kecil.”

Rudita merenung sejenak, lalu katanya, “Jadi bagaimana sebaiknya?”

“Kaulah yang datang kepadanya. Mereka akan menyambut dengan senang hati.”

Sekali lagi Rudita merenung. Namun kemudian katanya, “Baik, aku akan datang kepadanya. Tetapi jika mereka ternyata menyombongkan diri, aku pilin lehernya sampai patah. Kau dan kedua anak-anak muda itu harus mengerti, bahwa aku adalah murid Kiai Kuda Prakosa.”

Prastawa menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia menjadi berdebar-debar juga. Agaknya anak muda yang manja ini mempunyai bekal dalam olah kanuragan pula. Bahkan ia telah menyebut pula nama gurunya. Tetapi nama itu belum pernah dikenalnya.

“He, kenapa kau diam saja? Kau tidak usah takut mendengar nama guruku. Aku tidak akan berbuat apa-apa kepadamu. Juga kepada kedua anak-anak muda itu pun aku tidak akan berbuat apa-apa jika mereka menghormati aku seperti seharusnya.”

“Aku akan mengatakannya. Dan mereka tentu akan menghormatimu.”

“Baiklah jika demikian. Tetapi sekali lagi aku peringatkan, jangan mempermainkan aku. Kau pun jangan mempermainkan aku.”

“Tidak, tentu aku tidak berani mempermainkan kau,” berkata Prastawa.

“Marilah,” ajak Rudita.

“Tunggulah di sini. Aku akan mempersiapkan kedua anak-anak muda itu agar mereka mengetahui siapakah kau sebenarnya sebelum kau memperkenalkan diri.”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu katanya, “Baik. Pergilah.”

Prastawa pun kemudian berlalu. Hampir saja ia yang masih sangat muda itu tidak dapat menahan tawanya. Di dalam kemelutnya api peperangan, ia sudah berani memegang pedang di medan pertempuran yang paling ganas sekali pun. Namun menghadapi anak muda yang terlalu cengeng, ia masih juga dapat menahan diri, untuk tidak menyakiti hatinya. Apalagi Prastawa tahu bahwa anak itu adalah kadang Pandan Wangi dari saluran darah ibunya, sedang ia bersumber dari saluran darah ayahnya. Anak muda yang cepat menjadi dewasa berpikir karena tempaan keadaan itu tidak mau memberikan kesan yang kurang baik kepada tamunya itu.

“Tetapi bagaimanakah jika sikapnya kemudian menjadi berlebih-lebihan?” ia bertanya kepada diri sendiri di dalam hatinya. Namun kemudian dijawabnya sendiri, “Biarlah Pandan Wangi sendiri mengurusnya.”

Agar tidak menimbulkan persoalan, maka Prastawa pun kemudian berkata berterus terang kepada Agung Sedayu dan Swandaru tentang anak muda yang bernama Rudita itu.

“Sekali-sekali anak semacam itu perlu diperkenalkan dengan kehidupan yang sewajarnya,” berkata Swandaru.

“Ah, kau,” potong Agung Sedayu, “itu bukan urusanmu. Biarlah ayahnya membenturkannya kepada kenyataan hidup yang pahit dan keras. Biarlah kita menghindarkan diri dari persoalan-persoalan yang dapat timbul. Apakah ruginya jika kita berbuat demikian dan karena itu dapat menye-nangkan hati orang lain?”

“Kau tidak pernah berusaha menyenangkan hatiku,” sahut Swandaru.

“Apa? Kau sangka aku tidak sedang menyenangkan hatimu sekarang, sehingga aku terlunta-lunta sampai ke tempat ini.”

Prastawa-lah yang tersenyum. Katanya, “Tentu. Kita semua sedang menyenangkan hati Swandaru. Semakin senang ia akan menjadi semakin gemuk.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Terima kasih Ki Sanak, terima kasih.”

Prastawa justru menjadi tertawa karenanya. Dipandanginya wajah Swandaru yang bulat itu. Lalu katanya, “Ingat, kita akan bermain-main dengan sebatang ranting yang kering. Jika kita salah raba, ranting itu akan patah.”

Agung Sedayu dan Swandaru tidak menyahut. Mereka hanya memandangi Prastawa yang kemudian pergi menemui Rudita, dan mengajaknya ke serambi gandok Wetan.

Agung Sedayu dan Swandaru yg melihat Prastawa dan Rudita berjalan ke arahnya, tergopoh-gopoh berdiri dan menyongsongnya. Namun Swandaru masih juga sempat bergumam perlahan-lahan, “Jika ada orang yang melihat sikap kita seperti kucing melihat tulang ini, mereka tentu akan men-tertawakan.”

Agung Sedayu tidak menghiraukan. Ia bergegas mendapatkan Rudita sambil ngapurancang dan membungkuk dalam-dalam.

“Siapa namamu?” bertanya Rudita.

“Namaku Agung Sedayu, Ki Sanak.”

“Rudita, panggil aku Rudita.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Yang kemudian menganggukkan kepala adalah Swandaru. Dan ketika Rudita bertanya namanya, maka dijawabnya, “Namaku Swandaru. Semula Swandaru Geni.”

“Kenapa semula?”

“Sekarang api itu sudah menjadi suram.”

Rudita mengerutkan keningnya dan Agung Sedayu menarik, nafas dalam-dalam.

“Apa keperluan kalian kemari?” bertanya Rudita kemudian.

“Tidak apa-apa,” Agung Sedayu-lah yang menjawab, “kami hanya ingin melihat tanah yang sudah sangat lama kami tinggalkan. Beberapa waktu yang lampau, aku dan adikku pernah tinggal di padukuhan ini untuk beberapa lamanya.”

“Kenapa kalian pergi.”

“Kami pulang ke Sangkal Putung.”

“Kenapa saat itu kau tinggal di sini? Di rumah ini maksudmu?”

“Tidak, tidak dirumah ini. Kami tinggal di gubug di padukuhan sebelah. Kami adalah penggembala kambing.”

“Kenapa sekarang kau mengunjungi Tanah Perdikan Menoreh langsung menemui Ki Gede? Kenapa kau tidak pergi ke rumah gubugmu itu?”

“Anak ini memang ingin dipilin lehernya,” berkata Swandaru di dalam hatinya, “dan Kakang Agung Sedayu agaknya menjadi kambuh pula.”

“Rudita,” berkata Agung Sedayu kemudian, “tidak ada tempat yang lebih baik dari rumah ini bagi kami. Itulah sebabnya, ayah kami yang tua itu pun ikut pula untuk mengucapkan terima kasih kepada Ki Gede Menoreh.”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Kalian harus mencoba menyesuaikan diri di sini. Aku dengar ayah kalian seorang Demang di Sangkal Putung. Jangan kalian menyangka bahwa pangkat Demang adalah pangkat yang sangat tinggi.”

“Tentu tidak,” Swandaru-lah yang tiba-tiba saja menyahut.

Tetapi sebelum ia melanjutkan, Agung Sedayu telah mendahului, “Kami memang merasa, bahwa ayah kami adalah seorang Demang dari sebuah kademangan yang kecil.”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia merasa bahwa kedua anak-anak muda itu cukup menghormatinya. Karena itu, maka ia pun bersikap semakin tinggi, seakan-akan ia memang benar-benar seorang yang pantas dihormati.

Dalam pada itu dari celah-celah dinding pendapa, seseorang sedang mengintip peristiwa yang terjadi di halaman dekat dengan longkangan di muka serambi gandok Wetan. Selain orang itu dapat melihat semua yang terjadi, maka meskipun lamat-lamat, ia mendengar pembicaraan mereka, sehingga hampir saja ia tidak dapat menahan hatinya. Kadang-kadang ia menjadi geli sehingga tertawanya harus ditahankannya di dada. Namun kadang-kadang terasa betapa jengkelnya mendengar kata-kata Rudita itu.

Orang itu adalah Pandan Wangi. Bahkan Pandan Wangi itu mengumpat di dalam hati, “Kakang Agung Sedayu selalu bersikap begitu. Tetapi sebenarnya kini sudah bukan masanya lagi untuk berpura-pura. Apalagi berpura-pura menjadi seorang yang sangat rendah martabatnya. Sekali-sekali Rudita memang harus melihat kehidupan ini dengan sewajarnya.”

Tetapi Pandan Wangi tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya dapat menyaksikan sambil mengumpat-umpat di dalam hati.

“Marilah kita duduk di pendapa,” ajak Rudita.

“Terima kasih,” jawab Agung Sedayu, “udaranya sangat panas. Lebih baik aku duduk di serambi. Udaranya terasa agak segar oleh angin yang lembab.”

“Duduklah di pendapa. Aku mengajak kalian duduk di pendapa. Jangan membuat rencana sendiri. Jika aku mempersilahkan kalian ke pendapa, maka kalian akan ke pendapa, bukan pergi ke tempat yang kalian sukai masing-masing. Aku adalah keluarga Ki Gede Menoreh, dan kalian adalah tamu-tamu kami.”

Swandaru berpaling kepada Prastawa. Ia pun kadang langsung dari Ki Gede. Tetapi ia tidak pernah bersikap seangkuh itu.

Namun demikian, ketika sekali lagi Rudita menyuruh mereka naik, maka mereka pun segera naik pula ke pendapa, dan duduk saling berhadapan.

“Ada juga untungnya berkenalan dengan kalian,” berkata anak muda itu, “mungkin kalian lebih banyak mengenal hutan daripadaku. Benar?”

“Maksudmu?” bertanya Agung Sedayu.

“Apakah kau sering berburu?”

“Kadang-kadang.”

“Kau dapat mempergunakan anak panah dan busur?”

“Serba sedikit, Rudita. Tetapi aku memang pernah mencoba.”

Rudita menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Aku ingin memberikan sebuah hadiah yang menarik buat Pandan Wangi. Seekor rusa hasil buruan. Apakah kau mau pergi bersamaku ke hutan perburuan itu?”

Agung Sedayu dan Swandaru saling berpandangan sejenak. Ketika mereka berpaling kepada Prastawa dilihatnya anak muda itu menganggukkan kepalanya, sehingga Agung Sedayu pun kemudian berkata, “Baiklah. Aku senang sekali mendapat kesempatan mengantarkan kau berburu. Tetapi sebenarnya aku sendiri tidak begitu mengerti cara-cara yang harus dilakukan untuk mendapatkan seekor binatang buruan.”

“Katamu, kau pernah berburu.”

“Hanya kadang-kadang. Kadang-kadang sekali. Itu pun di hutan yang kecil di sekitar Kademangan Sangkal Putung. Memang kami pernah mendapat seekor rusa di hutan itu.”

“Kau panah?”

“Tidak.”

“Bagaimana kau mendapatkannya?”

“Kami beramai-ramai mengejarnya. Tiga puluh orang anak muda.”

“Bodoh sekali,” berkata Rudita. Namun katanya kemudian, “Baiklah, kita coba. Kita akan berburu.”

“Kapan?”

“Sekarang.”

“O, kita akan kemalaman di hutan perburuan itu. Kenapa tidak besok pagi?”

“Aku ingin memberikan hadiah seekor rusa malam nanti.”

“Tetapi, waktunya tinggal sedikit. Sebentar lagi matahari akan mulai turun di Barat.”

“Aku tidak peduli. Aku ingin sekarang. Akulah yang ingin sekarang. Bukan kalian.” Lalu Rudita itu berpaling kepada Prastawa, “Di manakah hutan perburuan yang paling banyak mempunyai rusa atau kijang?”

Prastawa mengerutkan keningnya. Kemudian ia pun menjawab, “Di ujung Timur dari Tanah Perdikan ini. Dekat Kali Praga.”

“Yang baru saja kami kunjungi, bersama Pandan Wangi?”

“Terlalu jauh. Hutan itu sedikit lebih dekat.”

“Berapa lama kita sampai ke tempat itu?”

“Menjelang senja kita sampai ke tempat itu.”

“Bodoh sekali kau. Apa yang dapat kita kerjakan di dalam gelapnya malam?”

“Tidak ada hutan yang lebih dekat lagi yang memiliki binatang buruan sebanyak hutan itu. Di hutan rindang di sebelah Barat ada juga satu dua ekor kijang. Tetapi terlalu sedikit untuk diburu dengan tergesa-gesa.”

“Baiklah,” berkata Rudita, “besok pagi saja kita berangkat. Pagi-pagi benar. Kita mengharap bahwa di sore hari kita sudah pulang membawa seekor rusa.”

“Pandan Wangi sering berburu di malam hari. Bahkan pernah ia bermalam dua malam berturut-turut di hutan buruan.”

Rudita mengerutkan keningnya. Dipandanginya Prastawa sejenak, lalu, “Kau berkata sebenarnya?”

“Ya, aku berkata sebenarnya.”

“Dan Pandan Wangi mendapatkan binatang buruan?”

“Ya. Kadang-kadang mendapatkannya. Tetapi kadang-kadang bukan Pandan Wangi sendiri yang berhasil, tetapi para pengiringnya.”

Rudita memandang Prastawa dengan tajamnya. Lalu katanya, “Itulah sebabnya aku ingin memberikan hadiah kepadanya seekor rusa buruan.”

Pandan Wangi yang mengikuti pembicaraan itu dari dalam rumahnya hampir tidak dapat menahan hati lagi. Suara tertawanya hampir saja meledak. Tetapi ia bertahan sekuat-kuatnya. Bahkan kemudian ia pun segera berlalu, agar pada suatu saat ia tidak kehilangan mengendalikan diri.

Demikianlah, anak-anak muda itu masih saja duduk di pendapa. Sebenarnya Pandan Wangi tidak sabar lagi menunggu Rudita itu meninggalkan anak-anak muda dari Sangkal Putung itu. Ada sesuatu yang mendesaknya untuk menemui mereka. Namun kadang-kadang ia mencoba menekan perasaan itu sedalam-dalamnya, justru karena ia adalah seorang gadis.

Namun Pandan Wangi yang duduk sendiri di ruang dalam itu terkejut ketika ayahnya berkata dari balik pintu, “Pandan Wangi.”

“O,” Pandan Wangi menjadi tersipu-sipu. Agaknya ayahnya mengetahui bahwa ia mengintip anak-anak muda yang sedang di pendapa itu. Tetapi sebenarnya ia tidak sedang mengintip Swandaru. Justru ia sedang mengintip Rudita yang berbuat aneh-aneh menurut penilaiannya.

Tetapi Pandan Wangi tidak dapat mengatakannya. Ketika ia kemudian berpaling dan memandang wajah ayahnya, pipinya sendiri menjadi semakin merah, karena ayahnya tersenyum dengan pandangan yang menggelitik hatinya.

“Pandan Wangi,” berkata ayahnya, “mumpung mereka duduk di pendapa, kau dapat menyuguhkan minuman panas bagi mereka.”

Pandan Wangi tidak menjawab. Tetapi kepalanya menunduk dalam-dalam.

“Aku kira tidak ada salahnya jika kau menghidangkan minuman bagi mereka. Mereka bukan orang lain bagi kita. Meskipun mereka tamu dari jauh, tetapi mereka sengaja datang untuk memperpendek jarak antara Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh.” Ayahnya pun kemudian mendekatinya sambil berkata lirih, “Pandan Wangi. kunjungi adbmcadangan.wordpress.com. Marilah kita melihat ke dalam diri kita. Aku memang termasuk orang tua yang ketinggalan batasan hidup seperti yang dikehendaki oleh anak-anak muda. Tetapi aku mengerti bahwa kedatangan Ki Demang Sangkal Putung mempunyai maksud yang khusus. Meskipun belum dikatakan, tetapi sudah membayang di dalam pembicaraan kami. Karena itu aku tidak berkeberatan kau menemui anak Ki Demang itu bersama dengan saudara seperguruannya.”

Wajah Pandan Wangi menjadi panas, tetapi hatinya memang terlonjak untuk melakukannya.

Ayahnya masih memandanginya sejenak. Senyumnya masih saja membayang di bibirnya. Bahkan kemudian ia berkata, “Kau memang seorang gadis yang lain dari gadis sebayamu. Kadang-kadang kau bersikap dan bertindak sebagai seorang laki-laki. Namun dalam pakaian seorang gadis yang baik, kau adalah seorang gadis yang utuh. Meskipun demikian lebih baik bagimu keluar sama sekali ke pendapa daripada kau duduk di dalam seorang diri.”

Wajah Pandan Wangi yang merah menjadi semakin tunduk. Ayahnya tidak menyebut saja bahwa ia mengintip. Jika demikian justru ia dapat membantah bahwa sebenarnya ia sekedar tertarik pada sikap Rudita. Tetapi justru karena ayahnya tidak menyebutkannya, ia menjadi bingung.

“Sudahlah, Pandan Wangi. Yang paling baik buat mereka, sediakan minuman hangat. Agaknya Rudita tertarik pula untuk menemui mereka.”

Pandan Wangi tidak menjawab. Ia pun kemudian pergi ke dapur, menyediakan minuman hangat bagi anak-anak muda yang duduk di pendapa.

Ketika pintu pendapa itu terbuka dari dalam, anak-anak muda itu pun berpaling. Sejenak mereka memandang seorang gadis yang berdiri di muka pintu sambil membawa nampan berisi beberapa mangkuk minuman.

Perlahan-lahan Pandan Wangi melangkah mendekati mereka. Ditundukkannya saja kepalanya, agar ia tidak menjadi gemetar jika pandangannya beradu dengan tatapan mata Swandaru.

Tetapi yang mula-mula berbicara adalah Rudita, “Ha, duduklah di sini, Pandan Wangi.” Lalu sambil berpaling ia berkata, “Prastawa, kau dapat menerima nampan itu.”

Prastawa mengumpat di dalam hatinya. Tetapi ia beringsut juga menerima nampan yang dibawa oleh Pandan Wangi yang mulai gemetar itu.

“Duduklah di sini. Apakah kau sudah mengenal anak-anak yang baru datang dari Sangkal Putung ini?”

Prastawa hampir tidak dapat menahan gelaknya mendengar pertanyaan itu.

“Apa salahnya kau duduk di sini bersamaku menemui tamu-tamu ayahmu ini. Mereka adalah anak-anak yang datang dari Sangkal Putung.”

“Kakak Pandan Wangi pernah mengenal mereka,” berkata Prastawa. “Bukankah sudah aku katakan, bahwa mereka pernah tinggal di sini? Eh, apakah aku belum mengatakannya?”

Rudita mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu mulutnya pun bergerak, “Jadi kalian memang pernah berkenalan?”

Yang menjawab adalah Prastawa, “Mereka sudah saling mengenal.”

“O,” Rudita masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Kalau begitu, duduklah, Pandan Wangi. Kita temui tamu-tamu kita ini.”

Pandan Wangi menjadi semakin segan duduk di antara mereka justru karena ada Rudita. Tetapi ia tidak dapat pergi lagi karena Prastawa pun mempersilahkannya pula.

“Kita sedang merencanakan untuk pergi berburu,” berkata Rudita. “Aku ingin memberikan hadiah seekor rusa buruan kepadamu.”

Kata-kata itu tidak disangka-sangka akan dikatakannya kepadanya, sehingga karena itu Pandan Wangi justru menjadi tersipu-sipu. Kepalanya menjadi semakin tunduk dan sikapnya yang gelisah menjadi semakin gelisah.

Dalam pada itu, ternyata bahwa Swandaru pun menjadi bingung menghadapi Pandan Wangi. Setelah sekian lamanya mereka tidak bertemu, dan kini Pandan Wangi menemuinya dengan pakaian seorang gadis yang menurut penilaiannya cukup sempurna, maka hatinya pun menjadi berdebar-debar.

Karena itu, meskipun ada juga debar di jantungnya, namun tidak sekeras debar jantung Swandaru, maka Agung Sedayu-lah yang mulai bertanya kepada gadis itu, “Apakah sejak saat kami meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh, kau masih saja senang berburu, Pandan Wangi.”

Pertanyaan yang tidak langsung menyentuh dirinya itu membuat gadis itu seakan-akan terlepas dari belenggu yang menyesakkan. Karena itu maka jawabnya, “Sekali-sekali aku masih berburu, Kakang.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pun kemudian. bertanya tentang hutan perburuan di daerah Menoreh dan bahkan hutan-hutan yang kadang-kadang masih belum banyak dijamah oleh seseorang.

“Kita akan berburu ke hutan yang lebat itu,” berkata Agung Sedayu, “tentu binatang buruannya masih jauh lebih banyak dari hutan-hutan perburuan.”

“Maksudmu?” bertanya Rudita yang menjadi heran, bukan saja hubungan Agung Sedayu dan Pandan Wangi yang tampaknya sudah begitu erat, juga karena Agung Sedayu menyebut-nyebut hutan yang lebat dan jarang disentuh tangan manusia.

“Kita berburu di hutan itu. Tentu akan lebih menarik dari sekedar berburu di hutan perburuan.”

Belum lagi Rudita mengerti sepenuhnya, Pandan Wangi justru menyahut, “Kita akan mencobanya.”

Sambil menyentuh Swandaru, Agung Sedayu bertanya, “He, bagaimana dengan kau, Swandaru Geni.”

Swandaru tergagap. Tetapi ia menyahut, “Tentu menyenangkan sekali. Aku sependapat.”

Tetapi tiba-tiba saja Prastawa menyahut sambil tersenyum, “Kau tidak usah berburu kemana-mana Swandaru. Kau berburu saja di sini.”

Sejenak Swandaru justru terbungkam. Sepercik warna merah menjalar di wajahnya. Bahkan bukan saja Swandaru, tetapi Pandan Wangi yang mengerti maksud itu pun menjadi semakin tertunduk dalam-dalam.

Tetapi Swandaru cepat dapat mengatasi kesulitannya, bahkan ia sempat menyahut, “Bagaimana aku akan berburu, kalau yang diburu tidak ada di sini di saat perburuan besok, karena justru akan pergi ke hutan.”

Prastawa tidak dapat menahan gelaknya. Agung Sedayu pun tertawa pula. Meskipun wajah Pandan Wangi terasa panas, namun ia tersenyum pula.

Yang terheran-heran adalah Rudita. Ia tidak mengerti kenapa hal itu dapat menimbulkan tertawa. Karena itu ia pun dengan serta-merta bertanya, “He, siapakah yang kalian maksud? Siapakah yang harus diburu di sini? Aku? Atau siapa?”

Prastawa menahan suara tertawanya. Katanya, “Jangan terlampau perasa. Kami berbicara tentang diri kami. Bukan kau. Kami memang saling memburu pada saat lampau pada saat Menoreh masih belum setenteram sekarang. Akulah yang selalu diburu oleh Kakak Pandan Wangi dan kedua anak-anak muda ini. Tetapi sekarang aku sudah menyadari keadaanku, dosa-dosaku, dan kesalahan-kesalahanku.”

Rudita mengerutkan keningnya. Persoalan yang dikatakan Prastawa adalah persoalan yang berat bagi Menoreh. Bukan persoalan yang dapat disebut sambil lalu saja. Tetapi Prastawa mengucapkannya sambil tertawa-tawa, meskipun ia menyebut dirinya sendiri sebagai buruan.

Sejenak Rudita termenung. Namun kemudian ia berkata, “Kalian membohongi aku. Kalian jangan berbicara tentang persoalan-persoalan yang aku tidak mengerti. Di dalam pembicaraan dengan banyak pihak, kalian harus mengambil persoalan yang tidak dapat menimbulkan salah paham.”

Prastawa menganggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah. Kita akan berbicara saja tentang binatang buruan di hutan lebat itu. Jika kita berburu ke hutan buruan di sebelah Kali Praga kita akan dapat menyusur ke Utara dan kita akan sampai ke hutan yang masih liar. Tentu di daerah itu banyak sekali binatang buruan. Apalagi tidak terlalu jauh dari aliran Kali Praga sebagai tempat untuk mendapatkan air bagi binatang-binatang yang kehausan, karena tebingnya yang landai.”

“Aku tidak mau,” berkata Rudita, “aku hanya akan berburu di hutan buruan.”

Namun di luar dugaannya, Pandan Wangi yang selama itu berdiam diri sambil menunduk, tiba-tiba menyahut, “Aku ingin berburu di hutan itu. Jika kau tidak berani, kau dapat menunggu kami di luar hutan.”

“Pandan Wangi,” desis Rudita dengan sorot mata yang aneh. Apalagi saat itu Pandan Wangi mengenakan pakaian seorang gadis yang hampir sempurna. Tidak pantaslah nampaknya jika ia berbicara tentang perburuan.

Namun sebelum ia melanjutkan, Pandan Wangi yang mengenakan kain panjang yang singset dan baju yang rapat itu tersenyum kepadanya sambil berkata, “Ya Rudita. Kami akan berburu di hutan yang paling liar di Menoreh. Tentu menyenangkan sekali. Tidak ada orang yang pernah melakukannya selain aku dan ayah. Sekarang ayah sudah tidak pernah lagi melakukannya sejak kakinya tidak mau pulih seperti sediakala. Dan kini aku mempunyai beberapa orang kawan untuk melakukannya.”

Prastawa memandang Pandan Wangi dengan tegangnya. Dari sela-sela bibirnya terdengar suaranya, “Gila. Tentu di hutan liar banyak binatang buas, ular-ular berbisa dan bahkan serangga yang dapat menghentikan jalan darah.”

“Masih banyak lagi. Kumbang biru, semut sabuk putih, kera yang buas berambut merah, harimau dahan yang licik, anjing hutan.”

“Cukup,” Rudita memotong. Wajahnya menjadi kemerah-merahan seperti wajah Pandan Wangi ketika ia baru saja keluar dari pintu depan.

“Apakah kau tidak ingin ikut?” bertanya Pandan Wangi.

Wajah Rudita yang merah menjadi tegang. Namun katanya kemudian, “Aku akan ikut. Akulah yang ingin berburu.”

“Baiklah. Kita akan berangkat besok pagi-pagi. Mungkin kita akan bermalam di hutan itu.”

“Bermalam?” Rudita menjadi heran. “Apakah Paman Argapati mengijinkan kau bermalam? Bukankah kau seorang gadis? Dan apakah kau sering melakukannya seperti yang dikatakan oleh Prastawa, bermalam di hutan dua tiga malam bersama banyak pengiring laki-laki.”

“Kenapa?” bertanya Pandan Wangi.

Rudita menarik nafas dalam-dalam. Dipeganginya keningnya. Lalu katanya, “Baik, baik. Aku akan pergi berburu besok. Sekarang aku akan berkemas.”

Dengan tergesa-gesa Rudita pun kemudian meninggalkan pendapa itu. Pandan Wangi dan Prastawa memandanginya sambil tersenyum. Namun mereka tidak berkata apa pun juga, sedang Swandaru dan Agung Sedayu pun segan juga bertanya tentang anak muda itu, karena mereka mengetahuinya, bahwa Rudita adalah masih mempunyai hubungan keluarga dengan Pandan Wangi lewat jalur ibunya.

Sejenak kemudian, ketika Rudita telah hilang di longkangan, maka Pandan Wangi pun berkata pula, “Kita benar-benar akan berburu besok. Tetapi yang kita hadapi dan yang mungkin kita temui bukan sekedar binatang buas atau binatang-binatang berbisa. Tetapi mungkin juga bahaya yang lain.”

“Apa yang kau maksud?” bertanya Agung Sedayu.

“Kita harus bersenjata selengkapnya, bukan sekedar senjata untuk berburu, karena di sepaniang tepian Kali Praga kadang-kadang kita jumpai orang-orang yang tidak kita kehendaki.”

Ternyata kata-kata Pandan Wangi itu telah menarik perhatian Agung Sedayu dan Swandaru sehingga tanpa mereka sadari, hampir bersamaan mereka bertanya, “Siapakah mereka itu?”

Pandan Wangi sadar bahwa kata-katanya pasti akan menarik perhatian. Karena itu maka ia pun segera menjawab, “Kami di sini tidak tahu dengan pasti. Tetapi mereka adalah orang-orang yang menyeberang dari sebelah Kali Praga. Kami mengetahui bahwa telah terjadi pertentangan bersenjata di seberang. Dan kami tidak ingin Menoreh menjadi tempat pelarian atau landasan di dalam pertentangan bersenjata itu.”

Kedua anak-anak muda dari Sangkal Putung itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata bahwa cerita pemilik getek yang membawa mereka menyeberang itu pasti bukan sekedar cerita atau desas-desus.

Namun dalam pada itu, ternyata Swandaru menjadi sangat tertarik, sehingga katanya kemudian, “Jika demikian, besok kita benar-benar pergi ke Kali Praga, berburu atau tidak berburu.”

“Ah, kau,” desis Agung Sedayu, “tujuan kita adalah berburu. Jika kita menjumpai persoalan lain kecuali binatang buruan, kita tidak dapat lari lagi dari padanya.”

Swandaru tersenyum. Dipandanginya Agung Sedayu sejenak, lalu, “Baiklah, jika itu istilah yang paling baik dipergunakan.”

Prastawa pun tersenyum pula, sedang Pandan Wangi menundukkan kepalanya.

Demikianlah maka mereka masih berbicara beberapa lama tentang hutan liar di sebelah Kali Praga itu. Juga tentang orang-orang bersenjata yang kadang-kadang menyeberang ke Barat setelah terjadi benturan senjata di sebelah Timur Kali Praga.

“Ah,” berkata Prastawa, “kenapa kita berbicara tentang hal-hal yang dapat menegangkan syaraf. Marilah kita berbicara tentang diri kita.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Aku akan pergi sebentar ke belakang. Aku ingin melihat, apakah kuda-kuda sudah dibersihkan.”

Prastawa tidak menunggu jawaban siapa pun. Ia pun segera bergeser. Namun sebelum ia pergi, Agung Sedayu menyela, “Apakah aku dapat melihat bagian belakang dari halaman ini. Aku tidak tahu lagi, di manakah letak pakiwan.”

“Baiklah, aku akan menunjukkannya,” sahut Prastawa.

Tetapi tiba-tiba Pandan Wangi berkata, “Prastawa tunggulah di sini. Biarlah aku yang menunjukkannya.”

“Ah.”

Pandan Wangi pun kemudian berdiri. Ia tahu maksud kedua anak-anak muda ini. Namun rasa-rasanya masih asing bagi Pandan Wangi untuk duduk berdua saja dengan Swandaru di pendapa itu. Karena itu dengan tergesa-gesa ia melangkah sambil berkata, “Marilah, Kakang Agung Sedayu.”

Tetapi Agung Sedayu-lah yang kemudian tersenyum sambil berkata, “Ah, tentu tidak pantas jika kau mengantarkan aku ke pakiwan.”

“Apa salahnya. Aku pantas pergi berburu dan bermalam di hutan.”

Agung Sedayu tertawa. Tetapi ia justru memperbaiki letak duduknya dan bergeser mendekati Swandaru.

“Terserahlah,” berkata Pandan Wangi, “tetapi jika perlu, biarlah Prastawa mengantarkanmu.”

Prastawa tidak menyahut. Tetapi tatapan matanya sajalah yang membuat Pandan Wangi menjadi tersipu-sipu.

Demikianlah, ketiga anak-anak muda itu masih berbincang sejenak mengenai orang-orang yang tidak dikehendaki di hutan di sepanjang Kali Praga. Kemudian Agung Sedayu dan Swandaru pun segera kembali ke gandok.

Dalam pada itu maka orang tua di kedua belah pihak, Swandaru dan Pandan Wangi, ternyata telah mempersiapkan diri masing-masing untuk pada saatnya memasuki pembicaraan yang resmi. Agar mereka tidak terlalu lama berada di Menoreh, maka Ki Demang Sangkal Pulung telah sependapat dengan Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar bahwa pada malam harinya mereka akan menyampaikan maksud kedatangan mereka di Tanah Perdikan Menoreh.

Karena itulah, maka ketika Tanah Perdikan Menoreh, dibayangi oleh cahaya senja, Kiai Gringsing-lah yang pertama-tama menemui Ki Gede Menoreh, dan mengatakan bahwa malam nanti Ki Demang di Sangkal Putung, ingin menyampaikan suatu kepentingan kepada Ki Argapati.

Ki Argapati tersenyum. Katanya kepada Kiai Gringsing, “Aku menjadi berdebar-debar. Tetapi aku mendapat firasat bahwa kedatangan Kiai adalah kelanjutan dari apa yang pernah Kiai katakan sebelumnya.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Demikianlah adanya, Ki Gede. Sekarang Ki Demang sudah berada di Menoreh. Biarlah nanti malam Ki Demang menyampaikannya sendiri.”

“Baiklah, Kiai Gringsing. Aku akan menerimanya. Dan karena kebetulan di rumah ini ada juga seorang tamu yang sudah agak lama tidak saling mengunjungi, maka kami akan membawanya menerima Ki Demang, Kiai sendiri, dan Ki Sumangkar.”

“Terima kasih, Ki Gede,” desis Kiai Gringsing, “sebenarnya persoalannya sudah jelas jika tidak ada persoalan lain yang selama ini telah terjadi. Tetapi semuanya harus dilakukan sesuai dengan jalur jalan yang sewajarnya.”

“Ya, ya Kiai. Aku mengerti dan berterima kasih.”

Demikianlah, maka segala sesuatunya pun telah dipersiapkan. Ki Gede Menoreh telah menemui ayah Rudita. Dimintanya ayah Rudita untuk ikut menerima Ki Demang Sangkal Putung yang akan membicarakan Pandan Wangi secara resmi.

“Ayah,” berkata Rudita sepeninggal Ki Gede, “apakah maksud Ki Argapati sebenarnya.”

Ayahnya memandang Rudita sejenak. Lalu sambil tertawa ia pun berkata, “Rudita, Pandan Wangi sudah cukup dewasa. Bahkan umurnya justru sudah agak lampau bagi seorang gadis. Namun sebenarnyalah pembicaraan tentang hubungannya dengan anak Sangkal Putung itu sudah agak lama. Tetapi berhubung dengan banyak persoalan, baru sekarang mereka datang dengan resmi untuk membicarakannya.”

Rudita memandang ayahnya dengan wajah yang tegang. Lalu tiba-tiba saja ia berkata, “Jadi, maksud Ayah, Pandan Wangi akan kawin?”

Ayahnya menganggukkan kepalanya.

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak mengerti, kenapa tiba-tiba saja ia menjadi kecewa mendengar kata-kata ayahnya itu. Bahkan Ia pun kemudian berkata, “Sayang sekali.”

“Kenapa?” bertanya ayahnya.

“Ia cantik sekali.”

Ayahnya tertawa. Katanya, “Apakah seseorang yang cantik sekali itu tidak seharusnya mengakhiri masa remajanya dan kemudian kawin?”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kau pun sebenarnya sudah dewasa Rudita. Dan sekarang ternyata kau sudah mengenal kecantikan seorang gadis. Memang sudah waktunya bagimu untuk berbicara tentang gadis.”

“Tetapi Pandan Wangi sudah akan kawin.”

“Ya, tentu. Dan kau pun pada saatnya akan kawin juga. Pada suatu kali kau tentu akan menjumpai seorang gadis yang pantas untuk kau jadikan seorang isteri.”

Anak muda itu tidak menjawab.

“Nah, kau harus mengucapkan selamat kepada Pandan Wangi. Meskipun sudah tidak terlampau dekat, kau adalah sanak kadangnya.”

Rudita tidak menyahut. Tetapi kepalanya ditundukkannya. Tanpa disadarinya ia mulai memandang dirinya sendiri. Bahkan kemudian ia mencoba memperbandingkan dirinya sendiri dengan anak muda Sangkal Putung itu. Namun tiba-tiba ia bertanya, “Ayah, yang manakah yang kelak akan menjadi suami Pandan Wangi.”

Ayahnya memandanginya sejenak, lalu, “Yang gemuk dan berwajah cerah seperti wajah kanak-anak yang tidak berlapis.”

“Yang tidak berlapis?”

“Ya. Yang di luar dan di dalamnya sama sekali tidak berbeda. Mudah-mudahan dugaanku benar, karena aku hanya menangkap kulit luarnya saja. Memang mungkin sifat yang terbaca pada bentuk dan cahaya matanya itu tidak tepat.”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi sayang, bahwa betapa pun bersihnya hati seseorang, ada juga nodanya meskipun hanya setitik. Anak yang gemuk itu agak terlampau bernafsu untuk memenuhi semua keinginannya tanpa kendali. Mudah-mudahan aku salah.”

“Tidak, Ayah tidak pernah salah.”

Ayahnya tersenyum, katanya, “Mana mungkin seseorang tidak pernah salah.”

“Pada umumnya. Jika seseorang bertanya kepada Ayah tentang sesuatu, biasanya Ayah benar. Bukankah karena itu Ayah menjadi terkenal dan disegani. Juga bukankah karena itu Ayah menjadi kaya?”

“Ah,” potong ayahnya, “tidak seorang pun yang mengerti tepat seperti yang kemudian terjadi. Yang aku lihat adalah semacam isyarat dari setiap peristiwa. Karena itu ada dua kemungkinan yang dapat membuat aku keliru. Isyarat itu tidak tepat, atau uraianku tentang isyarat itulah yang tidak tepat.”

Anaknya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Mungkin demikian. Tetapi sampai sekarang, kesalahan semacam itu jarang sekali terjadi. Dan Ayah semakin lama menjadi semakin dikenal orang.”

Ayahnya tersenyum. Katanya, “Berterima kasihlah kepada Yang Maha Murah, bahwa aku mendapat anugerah ketajaman pengamatan atas peristiwa yang bakal terjadi. Tetapi ingat, bahwa yang dapat aku katakan, hanyalah yang aku lihat isyaratnya. Karena banyak sekali persoalan yang tidak dapat aku jawab. Aku juga tidak tahu, apa yang akan terjadi dengan diri kita, dengan Ki Gede Menoreh dan tentang banyak orang. Namun kadang-kadang seseorang yang datang kepadaku membawa persoalan-persoalan yang sudah disertai dengan isyarat itu sendiri.”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya. Selama ini ia tidak pernah tertarik dengan ketajaman indera ayahnya. Yang ia tahu ayahnya adalah seorang yang kaya dan disegani. Yang banyak dikunjungi orang dan setiap kali dapat meramalkan apa yang akan terjadi atas suatu persoalan.

“Atas sesuatu persoalan,” berkata Rudita di dalam hatinya, “jadi tidak pada setiap persoalan. Menurut Ayah, banyak sekali pertanyaan yang tidak dapat dijawabnya.”

Dan tiba-tiba saja Rudita bertanya, “Ayah, siapakah bakal suami Pandan Wangi.”

Ayahnya menjadi heran. Jawabnya, “Kau aneh. Bukankah Ki Gede sedang menerima lamaran seseorang? Tentu anak muda Sangkal Putung itulah bakal suaminya. Dalam hal ini, kita tentu tidak perlu menunggu bentuk isyarat yang mana pun dan kemudian mengurainya.”

“Maksudku, apakah benar-benar akan terjadi, bahwa Pandan Wangi akan kawin dengan anak muda Sangkal Putung itu.”

Ayahnya tersenyum. Katanya, “Aku tidak berusaha melihat isyarat lain. Kita menganggap bahwa perkawinan itu akan terjadi.”

“Cobalah, Ayah. Buatlah suatu isyarat bahwa perkawinan itu tidak akan berlangsung.”

Ayahnya mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah anaknya sejenak tanpa mengucapkan kata-kata.

“Ayah,” ulang anaknya, “buatkan suatu isyarat. Agar kelak perkawinan itu gagal.”

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Yang aku lihat itu adalah suatu isyarat. Bukan syarat-syarat untuk melakukan sesuatu.”

“Apakah bedanya?”

“Ah kau. Kelak kau akan mengetahui dengan sendirinya. Tetapi dengan mudah dapat aku katakan bahwa syarat-syarat diperlukan untuk melakukan sesuatu, atau untuk mengharap sesuatu terjadi. Tetapi isyarat adalah sekedar petunjuk, tanda-tanda atau semacam itu bahwa sesuatu akan terjadi. Jika aku melihat suatu isyarat bahwa seseorang akan mengalami bencana, bukan akulah yang menyebabkan bencana itu terjadi, atau bukan isyarat itulah yang menyebabkan sesuatu itu terjadi. Tetapi yang akan terjadi itu tetap terjadi dengan atau tidak dengan isyarat.”

Rudita mengerutkan keningnya. Ia selama ini hampir tidak pernah berbicara dengan ayahnya tentang kerja ayahnya itu. Dan tiba-tiba saja ia menjadi tertarik karenanya.

“Jika kau masih juga tidak mengerti Rudita, cobalah perhatikan. Jika malam menjelang fajar, maka kau akan mendengar ayam jantan berkokok. Nah, bagaimana seandainya semua ayam di dunia ini dibungkam? Tentu matahari akan tetap terbit, karena bukannya matahari itu terbit karena ayam berkokok, tetapi kokok ayam adalah suatu isyarat akan datangnya fajar.”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia tidak begitu mengerti, tetapi sudah mulai terbayang maksud ayahnya.

Karena itu maka katanya, “Jika demikian, apakah Ayah tidak dapat berbuat sesuatu agar yang akan terjadi itu urung atau batal sama sekali.”

Ayahnya menggelengkan kepalanya. “Tidak Rudita. Aku sebenarnya tidak dapat berbuat apa-apa. Untuk mengetahui isyarat itu pun tidak setiap kali dapat aku lakukan. Kadang aku gagal dan sama sekali tidak melihat apa-apa, tetapi kadang-kadang aku salah mengartikan isyarat itu dengan bahasa sehari-hari.”

Rudita mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Baiklah, Ayah.”

“Kenapa?” bertanya ayahnya dengan curiga.

“Tidak apa-apa. Bukankah Ayah mengatakan bahwa Ayah tidak dapat berbuat apa-apa.”

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Terasa sesuatu menyentuh hatinya. Sudah lama ia mengharap anaknya itu menyebut sesuatu tentang perempuan, karena umurnya memang sudah cukup dewasa meskipun sifatnya yang kadang masih kekanak-kanakan.

Dan yang membuatnya prihatin, ayah Rudita itu masih saja gagal melihat kemungkinan yang bakal terjadi dengan anaknya, seperti yang kadang-kadang memang terjadi. Tetapi bagi masa depan anaknya, bukan saja karena ia tidak berhasil tetapi sebagian karena pemusatan pikirannya terganggu oleh perasaan takut dan cemas. Ayah Rudita itu tidak berani melihat kenyataan tentang anaknya karena sikap dan sifat anaknya itu sendiri. Jika ia melihat se-suatu yang gelap di masa depan itu, tentu ia akan bersedih. Apalagi jika isterinya mengetahuinya pula.

Karena itulah kemudian ayah Rudita itu hanya pasrah saja kepada Yang Maha Kuasa. Apa pun yang terjadi pasti akan terjadi. Diketahui atau tidak diketahui lebih dahulu. Dan tentu demikian pula atas anaknya itu.

Namun pertanyaan ayahnya tentang kemungkinan yang akan terjadi atas Pandan Wangi itu telah membuatnya berprihatin. Ia mengerti, bahwa anaknya yang jarang sekali bergaul dengan perempuan itu telah tertarik oleh Pandan Wangi meskipun mungkin sekali umur Pandan Wangi agak lebih tua daripadanya, dan keduanya masih mempunyai hubungan darah.

Ternyata bukan saja ayahnya. Ibunya yang sama sekali tidak mencampuri pembicaraan itu pun menjadi berprihatin pula. Ketika anaknya kemudian pergi dengan kepala tunduk, maka ibunya mendekati suaminya sambil berkata, “Apakah yang Kakang pikirkan tentang Rudita?”

“Aku justru menjadi semakin prihatin, Nyai,” jawabnya.

“Agaknya ia mulai tertarik kepada perempuan.”

“Ya. Tetapi sayang sekali, bahwa perempuan itu adalah Pandan Wangi.”

“Ya sayang sekali. Tetapi cobalah Kakang, apakah sama sekali tidak ada kemungkinan untuk menuruti keinginan anak itu?”

“Ah, kau. Bagaimana mungkin. Anak muda Sangkal Putung itu sudah datang untuk melamarnya. Sebentar lagi mereka tentu akan kawin. Apa yang dapat aku lakukan?”

“Batalkan perkawinan itu.”

“Ah,” suaminya bergeser sejenak, lalu, “mana mungkin, Nyai. Mana mungkin seseorang dapat merubah keharusan yang bakal terjadi. Jika hal itu akan terjadi, terjadilah. Tetapi jika batal, itu sama sekali bukan karena seseorang.”

“Kakang,” berkata isterinya, “selama ini kau sudah melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Selama ini kau dapat melihat apa yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Jika demikian, maka kau pun tentu dapat berbuat sesuatu yang tidak dapat diperbuat oleh orang lain pula. Selama ini kau hanya berusaha melihat apa yang bakal terjadi. Tetapi kekuatan batiniah yang sudah ada itu, tentu akan dapat kau pergunakan untuk mem-pengaruhi sesuatu yang bakal terjadi itu, karena hubungan sebab dan akibat. Jika yang bakal terjadi itu adalah satu saja rangkaian peristiwa dari kejadian-kejadian, maka pengaruh kekuatan batinmu akan berlaku.”

Ayah Rudita itu mengerutkan keningnya. Ia memang memiliki kelebihan dari orang-orang lain. Ia dapat melihat isyarat yang ada pada seseorang, sehingga kadang-kadang ia dapat mengatakan sesuatu yang akan terjadi pada seseorang, meskipun ia tidak ingkar bahwa kadang-kadang ia keliru. Keliru melihat isyarat itu atau keliru mengurai.

“Nyai,” berkata ayah Rudita itu kemudian, “aku pun senang sekali jika aku dapat menuruti keinginan anak itu seperti yang selalu kita lakukan sampai sekarang. Tetapi yang satu ini menyangkut beberapa macam persoalan. Selain aku belum dengan sungguh-sungguh berusaha melihat isyarat apa yang ada pada Pandan Wangi, pada anak muda Sangkal Putung itu dan pada diri anak kita sendiri, sebenarnya aku pun mempunyai beberapa keberatan. Pandan Wangi adalah sanak kita sendiri, sehingga pada kedua anak itu terdapat tetesan darah yang sama. Selain daripada itu, agaknya Pandan Wangi lebih tua dari Rudita.”

“Ah, keberatanmu bukan persoalan yang pokok di dalam kehidupan rumah tangga. Banyak sekali perkawinan antara sanak yang sudah jauh dan sangat berbahagia. Juga umur dua orang suami isteri tidak menentukan.”

“Kau benar. Memang kedua masalah itu tidak menentukan. Tetapi bagiku lebih baik jika Rudita itu kita carikan jodoh yang lain. Bukan Pandan Wangi yang sudah mengikat pembicaraan dengan Demang Sangkal Putung itu.”

“Ah, kau aneh, Kakang. Yang diingini anak kita adalah Pandan Wangi. Ia adalah anak seorang Kepala Tanah Perdikan. Meskipun umurnya lebih tua, tetapi di dalamnya banyak mengandung kemungkinan yang baik bagi Rudita. Kelak Rudita tentu akan dapat menggantikan kedudukan Ki Gede Menoreh. Dibekali dengan kekayaan kita, maka kedudukan Rudita tentu akan menjadi sangat kuat di bagian Barat Kali Praga ini. Apalagi menghadapi perkembangan daerah baru di seberang Timur Kali Praga yang dipimpin oleh Ki Gede Pemanahan itu.”

Ayah Rudita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Itu adalah pamrih yang berlebih-lebihan. Soalnya adalah Rudita dan Pandan Wangi itu lebih dahulu. Jika Rudita karena kemanjaannya saja dengan tiba-tiba menganggapnya Pandan Wangi seorang perempuan yang paling cantik, itu adalah sangat berbahaya. Setiap saat anggapan itu dapat berubah. Jika demikian maka perkawinannya akan goyah.”

“Kau dapat melihatnya. Seandainya demikian, kau pun dapat mencoba memberikan pengaruh atas rangkaian sebab dan akibat dari kehidupan keduanya sehingga kesulitan itu tidak akan terjadi.”

“Itulah kesalahan orang lain menilai diriku. Bahkan isteriku sendiri. Pengaruh batiniah dari seseorang atas orang lain, hanya dapat terjadi sepanjang tidak menyilang garis keharusannya yang sudah tersusun dalam rangkaian kehidupan seseorang. Dan itu pun hanya dapat dilakukan oleh orang tertentu. Bukan aku yang mempunyai kerunia penglihatan saja. Jika seseorang mencoba memaksakan pengaruhnya atas orang lain dan bahkan kemudian dengan sifat kekerasan, maka ia sudah melawan kehendak Maha Penciptanya. Dan itu berarti bahwa ia mencoba melawan Maha Kekuatan di atas langit dan bumi. Mungkin di dalam bentuk lahiriahnya, orang itu akan berhasil. Tetapi sudah tentu bahwa ia tidak akan berhasil berusaha menyelamatkan dirinya sendiri dari tuntutan Yang Maha Adil.”

Isterinya mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Jika Yang Maha Adil itu tidak berkenan di hati, maka kenapa sesuatu itu dapat terjadi? Bukankah kuasanya dapat mencegah peristiwa yang akan berlaku. Jika yang berlaku itu sudah berlaku, itu tandanya bahwa tidak ada persoalan lagi di hadapan Yang Maha Penciptanya.”

“Itulah justru sifat Yang Maha Besar. Bahwa manusia mendapat kebebasan atas dirinya sendiri untuk menentukan sikapnya. Di sinilah letak ujian bagi manusia itu sendiri. Di dalam dirinya ia mendapatkan wewenang untuk memilih sikap dan perbuatan jasmaniah dan rohaniah. Hasil pilihan itulah sebenarnya yang menentukan jalan baginya untuk sampai kepada Yang Maha Pencipta. Itu pun bukan karena kemampuan diri sendiri, tetapi dengan cahaya kasih Yang Maha Kasih itu juga adanya.”

“Di sini aku melihat kecemasan seseorang yang menggenggam senjata atas senjatanya. Memang tidak bijaksana untuk menusuk jantung sendiri. Tetapi jika hati berpandangan terang, yakinilah bahwa senjata itu dapat dipergunakan bagi suatu perjuangan. Kebebasan memilih adalah suatu kurnia pula sehingga tidak akan ada aibnya mempergunakan kurnia atas kita. Kakang seharusnya tidak mengingkari kekuatan alam yang ada di sekitar kita untuk dimanfaatkan seperlunya. Sedangkan aku tahu, bahwa kekuatan Kakang jauh berada di atas kekuatan yang Kakang perlihatkan kepadaku. Dan jika itu melanggar Kuasa-Nya karena Kuasa-Nya tidak terbatas, maka senjata itu akan direnggutnya dari tanganmu.”

“Memang tidak bijaksana menusuk jantung sendiri. Tetapi juga tidak bijaksana menusuk jantung orang lain tanpa sentuhan sebab yang wajar. Dan bahwa Yang Kuasa tidak merampas yang melanggar Kuasa-Nya, itulah sifatnya yang Maha Agung. Tetapi bahwa di dalam alam ini ada kekuatan yang menentang Kuasa-Nya kita harus meyakini, mereka yang sejak semula menyediakan diri dan kekuatannya untuk menentang Kasih dari Yang Maha Kasih dengan pemanjaan nafsu lahiriah dan kekuasaan yang semu. Disinilah manusia berdiri.” Ayah Rudita itu berhenti sejenak, lalu, “Berdoalah Nyai. kunjungi adbmcadangan.wordpress.com. Barangkali doamu dapat mendekatkan kau kepada kemurnian kurnianya kepadaku. Dan apakah aku dibenarkan untuk melakukan perbuatan seperti yang kau kehendaki, karena pada dasarnya itu pun sekedar pemanjaan nafsu lahiriah. Justru karena Pandan Wangi seorang gadis yang cantik menurut pengamatan Rudita.”

Isterinya tidak segera menjawab. Tetapi seperti biasanya apabila mereka berselisih pendapat tentang Rudita, maka perempuan itu pun menundukkan kepalanya sambil menitikkan air matanya.

“Hem,” ayah. Rudita itu menarik nafas dalam-dalam. Sudah berpuluh kali ia mengalami persoalan yang serupa. Isterinya menangis karena ia tidak dapat memenuhi permintaan anak laki-laki satu-satunya yang menjadi sangat manja itu.

Tetapi tidak seperti biasanya, laki-laki itu berkata, “Nyai. Biasanya aku tidak dapat menolak jika kau sudah mulai menitikkan air mata. Sebenarnya kali ini pun aku ingin memenuhinya. Tetapi apa boleh buat. Persoalannya ada di luar kemampuanku. Aku tidak dapat merobah jalan hidup seseorang jika itu memang harus berlaku.”

“Bukan tidak dapat, tetapi kau tidak mau melakukannya,” jawab isterinya di sela-sela sedu sedannya.

Sekali lagi ayah Rudita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak tahu, bagaimana aku harus mengatakan. Tetapi aku benar-benar tidak mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi jalan hidup seseorang dengan kekuatan batinku.”

Isterinya tidak menyahut lagi. Tetapi kediamannya terasa bukan kediaman yang ikhlas. Agaknya isterinya kali ini merasa bahwa suaminya tidak lagi mau menuruti permintaannya dan permintaan anaknya. Meskipun perasaan itu direndamnya, namun suaminya yang mempunyai pengamatan tajam sekali atas peristiwa manusiawi dan alami di sekitarnya merasakan kekecewaan yang dalam itu. Namun demikian ia pun tidak dapat berbuat apa-apa.

“Nyai,” berkata ayah Rudita itu kemudian, “aku tahu bahwa kau kecewa, Nyai. Tetapi aku harap bahwa kau dapat mengerti keadaanku pula.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Aku tidak dapat menolak, bahwa malam nanti aku akan ikut membicarakan persoalan Pandan Wangi itu secara resmi dengan Ki Demang di Sangkal Putung.”

Tetapi isterinya sama sekali tidak menjawab. Bahkan titik air matanya sajalah yang menjadi semakin deras. Sambil terisak ia berkata, “Rudita adalah satu-satunya anak kita. Alangkah malang nasibnya. Dan alangkah kecil arti orang-orang tua yang tidak dapat memenuhi keinginan anaknya. Kelahiran yang tanpa dimintanya itu adalah sepenuhnya tanggung jawab kita, sehingga kelanjutan dari kelahirannya itu pun akan tetap menjadi tanggung jawab kita.”

Suaminya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab. Di dalam keadaan yang demikian, isterinya terlampau sulit untuk dapat mengerti kata-katanya. Tetapi kali ini ia sama sekali tidak akan berniat untuk mencoba memenuhi permintaan isterinya itu. Selain ia merasa bahwa ia akan memaksakan dirinya menjelajahi daerah kemampuan yang tersembunyi baginya, juga karena ia merasa terlampau berat untuk mengiakannya.

Dengan demikian maka untuk beberapa lamanya keduanya berdiam diri. Masing-masing dihanyutkan oleh angan-angan yang berselisih jalan.

Dalam pada itu Rudita sendiri sedang berjalan-jalan di kebun belakang. Ada sesuatu yang belum pernah hinggap di perasaannya. Tiba-tiba saja ia merasa tertarik sekali kepada Pandan Wangi. Gadis itu serasa gadis yang paling cantik yang pernah dilihatnya. Selama ini ia tidak pernah menghiraukan gadis yang mana pun juga. Namun tiba-tiba ia merasa tertarik kepada gadis yang masih mempunyai saluran darah dari sumber yang sama.

Langkahnya terhenti ketika kemudian ia melihat Prastawa sedang sibuk di kandang kudanya. Sejenak ia memandang dari kejauhan. Tetapi ia tidak mendekatinya. Sambil menundukkan kepalanya, ia melanjutkan langkahnya menyelusuri pepohonan yang rimbun.

“Besok aku akan berburu,” berkata Rudita di dalam hati, “tetapi anak yang gemuk itu tentu akan lebih menarik bagi Pandan Wangi. Apalagi apabila pembicaraan tentang mereka sudah selesai.”

Rudita mengerutkan keningnya. Lalu, “Ayah kali ini tidak mau membantuku.”

Kekecewaan yang sangat telah mencengkam hati anak muda itu. Namun ia tidak mempunyai jalan untuk memecahkannya.

Demikianlah ketika waktu yang dibicarakan tiba, secara resmi Ki Demang Sangkal Putung, diiringi oleh Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar naik ke pendapa diterima oleh Ki Gede Menoreh bersama ayah Rudita.

Mula-mula mereka memperkenalkan diri masing-masing sebelum mereka terlibat di dalam pembicaraan pendahuluan yang riuh di seling dengan gelak tertawa.

“Namanya Waskita,” berkata Ki Gede Menoreh. Lalu, “Bukan saja karena ia kemudian dapat melihat peristiwa yang bakal terjadi atas seseorang, tetapi nama itu dimilikinya sejak kecil. Adalah kebetulan saja, maksudku adalah terpenuhi keinginan orang tuanya dengan memberinya nama Waskita.”

“Tidak melihat peristiwa yang bakal terjadi atas seseorang. Tetapi aku sekedar mencoba menguraikan isyarat yang dapat aku lihat. Hanya yang dapat aku lihat. Dan yang dapat aku lihat jumlahnya terlampau sedikit dibandingkan dengan kejadian alam yang tidak terhitung jumlahnya.”

“Yang sedikit itu pun sudah merupakan kelebihan, karena pada umumnya kami tidak dapat melihatnya sama sekali.”

“Bukan tidak melihat. Tetapi perhatian kalian tidak tertuju pada penggunaan mata hati untuk melihat isyarat-isyarat yang ada. Kalian tertarik pada persoalan yang lain yang aku tidak dapat melakukannya.”

“Tentu tidak. Kau pun memiliki ilmu yang hampir sempurna di bidang kanuragan. Itulah kelebihanmu.”

Orang yang bernama Waskita itu tersenyum. Dipandanginya Ki Gede Menoreh sesaat, lalu katanya, “Jangan menyebut ilmu di dalam olah kanuragan. Aku menjadi malu karenanya. Benar-benar tidak berarti dibandingkan dengan Ki Gede. Apalagi sebelum Ki Gede kena cidera.”

Ki Gede Menoreh tersenyum. Katanya kemudian, “Kau memang seorang yang rendah hati.” Lalu katanya kepada Ki Demang di Sangkal Putung dan kawan-kawannya, “Inilah orang yang sekarang ada di rumah ini. Sudah lama sekali ia tidak berkunjung kemari. Tiba-tiba saja tanpa mimpi apa pun, aku mendapat kunjungannya.”

“Tentu Ki Gede tidak mengetahuinya bahwa akan ada tamu berkunjung kemari,” bertanya Kiai Gringsing.

“Tidak.”

“Dan kunjungan kami?”

“Juga tidak.”

“Tetapi bagi Ki Waskita, barangkali kunjungan kami tidak mengejutkannya.”

“Ah, tentu mengejutkan. Aku sama sekali tidak mengetahuinya bahwa sesudah kami akan datang tamu dari Sangkal Putung. Sudah aku katakan, hanya jika ada isyarat aku mengetahuinya. Itu pun kadang-kadang harus dengan tekun dan sengaja mencari pada seseorang atau keadaan.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebagai seorang yang mempunyai pengalaman yang luas dan dalam, ia segera mengerti apa yang dimaksudkan oleh Waskita. Demikian juga Ki Sumangkar dan Ki Demang di Sangkal Putung, seperti juga Ki Gede Menoreh.

Dalam pada itu, pembicaraan mereka pun segera berkembang dari satu persoalan ke persoalan yang lain, sehingga akhirnya Ki Demang Sangkal Putung sampai juga pada pokok persoalannya membicarakan hubungan yang sudah lama terjalin antara Swandaru yang gemuk itu dengan Pandan Wangi.

Tidak ada kesulitan di dalam pembicaraan itu. Ki Gede Menoreh yang sebenarnya memang sudah lama menunggu kedatangan mereka, dengan senang hati menerimanya, meskipun sebagai kelaziman seorang ayah Ki Gede berkata, “Baiklah Ki Demang, lamaran Ki Demang bagi putera Ki Demang yang bernama Swandaru itu aku terima. Meskipun demikian, karena bukan aku orangnya yang akan menjalaninya, maka aku akan menanyakannya kepada anakku. kunjungi adbmcadangan.wordpress.com. Karena itu, kami persilahkan Ki Demang tinggal dua tiga hari di sini. Pada saatnya kami akan memberikan jawaban atas lamaran Ki Demang bagi putera Ki Demang itu.”

Ki Demang pun mengetahui, bahwa akan demikian jawaban Ki Gede Menoreh. Itulah sebabnya ia sudah bersedia jawaban pula. “Baiklah, Ki Gede. Kami akan menunggu sampai pintu yang kami ketuk itu terbuka.”

Demikianlah pembicaraan itu tidak mengalami persoalan apa pun. Semuanya berlangsung seperti yang diharapkan. Meskipun kadang-kadang terasa perasaan Ki Waskita tersentuh. Setiap kali ia teringat kepada anak laki-lakinya. Namun demikian sama sekali tidak terlintas di dalam angan-angannya untuk berbuat sesuatu atas pembicaraan itu. Ia tidak ingin mempergunakan sesuatu yang dimilikinya untuk mempengaruhinya.

“Jika terjadi sesuatu, biarlah itu terjadi karena seharusnya terjadi. Bukan karena aku dan apalagi karena usahaku untuk mempengaruhi peristiwa-peristiwa yang bakal terjadi itu.”

Tetapi kegelisahan di hati Ki Waskita seakan-akan selalu mengganggunya. Ketika ia mendapat kesempatan, maka dicobanya untuk menilik di dalam dirinya, apakah ia menemukan sesuatu yang kurang wajar di dalam persoalan yang sedang dihadapinya.

Tiba-tiba keringat dingin mengembun di keningnya. Ia melihat sesuatu yang seakan-akan disaput oleh mendung yang kelabu.

“Tidak, tidak,” desisnya di dalam hati.

Tetapi itu di luar kuasanya. Ia hanya melihat. Ia tidak dapat berbuat apa pun atas penglihatannya.

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak mengerti, di manakah letak kesalahan dari persoalan yang dihadapinya karena ia tidak sempat merenunginya ketika pembicaraan itu kemudian berlangsung dengan riuhnya, diselingi oleh gelak tertawa.

Ki Waskita mencoba juga untuk tertawa. Namun setiap kali terbayang di rongga mata hatinya, bahwa perkawinan yang dibicarakan ini bagai bayang-bayang di dalam gelapnya kabut yang buram.

“Kenapa?” timbul pertanyaan yang membelit hatinya. Tetapi Ki Waskita tidak sempat mencari jawab. Bahkan menurut tanggapannya di dalam kesempatan yang sempit itu, seakan-akan perkawinan yang akan terjadi antara Swandaru dan Pandan Wangi, akan diliputi oleh kegelapan hati, meskipun perkawinan itu sendiri akan berlangsung.

“Mudah-mudahan aku salah,” ia berkata kepada diri sendiri di dalam hatinya, “aku tidak mendapat waktu yang luas untuk meyakini isyarat yang tidak aku kehendaki terselip di dalam hati ini.”

Namun yang terjadi kemudian adalah pembicaraan-pembicaraan yang berkepanjangan, yang kadang-kadang sudah menyimpang dari persoalan yang sebenarnya.

Sesaat kemudian maka Pandan Wangi pun menghidangkan makanan dan minuman bagi mereka, bahkan makan malam sama sekali.

“Biarlah anak-anak muda makan kemudian,” berkata Ki Gede Menoreh. Lalu, “Biarlah nanti Swandaru, Agung Sedayu dan Rudita berbujana sendiri dengan Prastawa dan Pandan Wangi.” Ki Gede berhenti sejenak, kemudian, “Di mana mereka sekarang?”

“Mereka ada di gandok. Atau mungkin di gardu peronda. Agaknya mereka ingin menemui kawan-kawannya ketika mereka berada di Tanah Perdikan ini.”

Ki Gede Menoreh mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum. Bagi Swandaru dan Agung Sedayu, maka sudah banyak sekali anak-anak muda di Tanah Perdikan ini yang dikenalnya. Karena itu, maka mereka tentu ingin juga bertemu dan sedikit membicarakan kenangan masa lampau itu meskipun bagi orang-orang di Tanah Perdikan Menoreh, masalah-masalah di masa lampau itu sudah tidak ingin dikenangnya lagi.

Tetapi dalam pada itu, ternyata hanya Agung Sedayu sendirilah yang pergi ke gardu di regol halaman. Ketika udara di gandok terasa terlampau panas, maka kedua anak muda itu pun duduk di serambi. Mereka tidak ikut Ki Demang menghadap Ki Gede Menoreh, karena persoalan yang akan dibicarakan adalah persoalan Swandaru.

“Kakang Agung Sedayu,” berkata Swandaru yang gemuk itu, “udara panasnya bukan main. Aku akan ke pakiwan sebentar.”

“Kenapa?”

“Aku akan membasahi wajahku sejenak. Mencuci muka, agar badanku terasa agak segar.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia pun kemudian duduk sendiri di serambi.

Tetapi ternyata Swandaru lama sekali tidak kembali ke serambi gandok. Karena itulah maka Agung Sedayu yang kesepian itu pun berdiri dan melangkah pergi ke gardu di regol untuk menemui beberapa orang yang sedang bertugas meronda. Ternyata ada di antara mereka yang sudah dikenalnya ketika ia berada di Tanah Perdikan itu, sehingga dengan demikian maka Agung Sedayu pun segera terlibat dalam pembicaraan yang mengasyikkan.

Dalam pada itu, Swandaru yang pergi ke pakiwan, dan mencuci mukanya, tidak segera kembali ke serambi gandok karena kebetulan saja ia berpapasan dengan Prastawa. Sejenak mereka bercakap-cakap di dalam keremangan malam di serambi belakang. Tetapi sejenak kemudian, seseorang telah mendekati mereka sambil bertanya, “Apa kerjamu di situ, Prastawa?”

Prastawa berpaling. Lalu jawabnya, “Aku kurang mengerti apa yang dikehendaki orang ini.”

“Siapa?” bertanya orang itu.

“Seorang pekatik. Ia bertanya tentang kudamu yang hitam itu.”

“Kenapa kuda itu?”

Prastawa tidak menjawab. Tetapi dengan sengaja ia bergeser membayangi Swandaru, sehingga tidak dapat terlihat dengan jelas.

Swandaru menjadi berdebar-debar. Apalagi ketika ia melihat orang yang mendekatinya itu.

“Apa katanya?” orang itu masih bertanya.

“Bertanyalah sendiri kepadanya.”

Ketika orang itu berdiri di hadapan Prastawa, maka tiba-tiba Prastawa berkata, “Uruslah kudamu. Aku akan menyiapkan keperluan tamu-tamu di pendapa itu.”

“Prastawa,” orang itu mencoba mencegah, tetapi Prastawa sudah meninggalkannya.

“Anak Bengal,” orang itu mengumpat. Wajahnya menjadi merah ketika ia melihat bahwa yang disebutnya pekatik itu adalah Swandaru.

Tetapi ia masih berdiri saja sambil menundukkan kepalanya. Ada sesuatu yang seakan-akan mengikatnya untuk tetap di situ.

Swandaru pun menjadi bingung, karena orang itu adalah Pandan Wangi. Sejak Prastawa memanggil gadis itu, maka hampir saja mulutnya terbuka untuk menyatakan dirinya. Tetapi ternyata kata-katanya tidak meloncat dari sela-sela bibirnya.

Kini keduanya berdiri berhadapan di dalam keremangan malam di serambi belakang dalam suasana yang beku.

Tetapi Swandaru pun akhirnya dapat menguasai perasaannya dan berkata, “Bukan maksudku memanggilmu. Tetapi apakah pekerjaanmu sudah selesai? Bukankah kau sedang mempersiapkan hidangan buat para tamu?”

Dengan keringat yang membasahi punggungnya, Pandan Wangi menjawab seperti di luar sadarnya, “Aku sudah selesai. Aku sudah menghidangkan suguhan itu.”

“O,” Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun dalam pada itu ada sepercik kegembiraan bahwa Pandan Wangi tidak perlu lagi meninggalkannya.

Namun suaranya masih terasa sendat ketika ia bertanya, “Apakah mereka sudah selesai berbincang?”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya, “Rupa-rupanya pembicaraan mereka sudah selesai.”

“Jadi, jadi,” suara Swandaru bahkan menjadi gemetar, “apakah ayahmu tidak berkeberatan?”

Pandan Wangi nnenundukkan kepalanya. Dengan suara yang hampir tidak terdengar ia berkata, “Ayah menyerahkan persoalannya kepadaku. Aku mendengar ayah berkata, bahwa ayah akan bertanya kepadaku lebih dahulu.”

Dada Swandaru menjadi semakin berdebar-debar. Ketika terlihat olehnya sebuah dingklik bambu di serambi belakang, maka katanya, “Apakah kita akan duduk saja di dingklik itu?”

Pandan Wangi tidak mengerti, pesona apakah yang telah menggerakkan kepalanya, sehingga kepalanya itu terangguk-angguk.

Keduanya pun kemudian duduk di atas dingklik bambu di serambi belakang di dalam keremangan malam. Ketika amben bambu itu bergoncang dan keduanya tanpa sengaja bersentuhan, terasa sesuatu bagaikan mengalir di sepanjang jalur darah kedua anak muda itu dan merayap sampai ke pusat jantungnya. Namun dengan demikian mulut mereka justru seakan-akan menjadi terbungkam.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Dalam kesenyapan malam yang menjadi semakin dalam, terdengar jantung mereka berdegup terlampau keras.

Namun perlahan-lahan keduanya berhasil menguasai kegelisahannya. Pandan Wangi mengangkat wajahnya ketika ia mendengar pembantu-pembantunya sibuk mencuci alat-alat dapur di sebelah serambi itu.

“Aku mempunyai pekerjaan di dapur,” berkata Pandan Wangi.

Swandaru .menganggukkan kepalanya sambil menjawab singkat, “Ya.”

Tetapi Pandan Wangi tidak beringsut dari tempatnya. Ia masih saja duduk di samping Swandaru. Tatapan matanya bahkan jauh menembus ke dalam gelapnya malam.

“Pandan Wangi,” sejenak kemudian terdengar suara Swandaru perlahan-lahan, “tentu ayah dan Ki Gede membicarakan persoalan kita sampai sejauh-jauhnya. Meskipun Ki Gede masih akan bertanya kepadamu, namun sebenarnya mereka telah mengetahui jawabnya, karena Kiai Gringsing sudah mengatakannya kepada ayah bahwa pernah dibicarakannya masalah ini sebagai pendahuluan.”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya.

“Meskipun demikian Pandan Wangi, sebaiknya kau mengenal aku lebih jauh lagi. Tentu aku tidak akan dapat mengatakan tentang diriku sendiri. Selama kami masih akan tinggal di sini beberapa hari lagi untuk menunggu jawabmu, selama itu kau dapat bertanya kepada guru tentang diriku atau kepada Kakang Agung Sedayu. Kau mengenal aku selama ini sebagai tamu di rumah ini. Karena itu, tentu tingkah lakuku, tutur kataku, aku jaga sebaik-baiknya. Tetapi tidak demikian halnya jika aku berada di rumahku sendiri.”

Pandan Wangi berpaling sejenak. Tetapi hanya sejenak. Kata-kata Swandaru itu mempunyai kesan yang aneh di dalam hatinya. Justru karena keterbukaannya itulah, maka Pandan Wangi merasa semakin tertarik kepada anak yang gemuk ini. Hampir di luar sadarnya ia menjawab, “Betapa pun sifatmu, Kakang, tetapi aku melihat kejujuran di dalam sikap, kata, dan kalau aku tidak salah tangkap juga angan-anganmu. Itu adalah bekal yang sangat berharga bagi kita kelak, karena aku tidak ingin ada rahasia di antara keluarga, apalagi pada suami dan isterinya. Pengalaman yang pahit di dalam keluargaku sendiri menyatakan, bahwa ketidak-jujuran hanya akan menimbulkan malapetaka saja.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Pandan Wangi yang tiba-tiba menjadi sayu. Karena itu ia tidak bertanya lebih lanjut. Karena persoalannya pasti akan menyangkut kakaknya, Sidanti, yang pernah menggemparkan Tanah Perdikan ini dan bahkan tanpa dikehendakinya, Sidanti terbunuh oleh adiknya itu sendiri.

“Pandan Wangi,” berkata Swandaru kemudian, “terima kasih atas pengertianmu. Tetapi keterbukaan hati kadang-kadang ujudnya adalah sikap yang barangkali tampak kasar dan tidak sopan. Aku merasakan betapa kadang-kadang orang tuaku, atau guruku, atau orang lain tidak senang melihat sikapku. Aku memang berusaha untuk sedikit melunakkan keterbukaan hatiku dengan bentuk yang lebih baik. Tetapi tidak selalu berhasil. Setiap kali tiba-tiba saja meloncat sikapku yang kadang-kadang menyinggung perasaan orang lain. Apalagi di hadapan Kakang Agung Sedayu yang mempunyai sifat-sifat yang kadang-kadang tidak dimengerti oleh orang lain.”

Pandan Wangi sekali lagi mengangkat wajahnya dan memandang wajah Swandaru yang bulat. Tetapi juga hanya sesaat.

“Kakang Swandaru,” berkata Pandan Wangi kemudian, “kekasaran bukan sifat yang kurang baik apabila itu disadari dan dilandasi dengan niat-niat yang baik. Namun kejujuran itu sendiri mempunyai nilai yang sangat tinggi bagiku.” Pandan Wangi menundukkan kepalanya semakin dalam, lalu, “Dan aku bukannya orang yang terbuka, meskipun aku berusaha untuk berbuat sejujur-jujurnya. Tetapi Kakang, aku adalah seorang gadis yang murung sejak kanak-kanak.”

“Aku mengerti, Pandan Wangi,” jawab Swandaru, “kau pernah kehilangan sesuatu yang paling mahal harganya, yaitu kasih ibumu. Tetapi ayahmu adalah seorang yang sangat baik bagimu sehingga kau dapat berkembang seperti sekarang ini.”

“Aku hanya ingin kau juga mengetahui, Kakang. Jika aku setiap kali berwajah murung, sama sekali bukan selalu karena persoalan yang aku hadapi pada suatu saat. Tetapi itu adalah sifatku yang mungkin sangat menjemukan bagi orang lain.”

“Aku pernah mendengar guruku menasehati aku, Pandan Wangi. bahwa di dalam hidup berkeluarga itu, masing-masing tidak memasang harga diri yang mati. Kadang kita masing-masing harus berbuat sesuatu yang bertentangan dengan keinginan sendiri. kunjungi adbmcadangan.wordpress.com. Itulah agaknya salah satu bentuk pengorbanan yang kecil, dan tentu kau pun pernah mendengar uraian yang panjang lebar di dalam setiap upacara perkawinan. Jika kita memperhatikan setiap nasehat meskipun tidak ditujukan kepada kita, tetapi kepada nganten yang dirayakan saat itu, kita akan dapat mengambil manfaat sebanyak-banyaknya. Tetapi pokok dari persoalannya adalah bahwa kita masing-masing harus menerima sisihan kita itu seutuhnya. Bukan hanya yang baik saja yang ada padanya, tetapi dengan segada kekurangan-kekurangannya.”

“Aku mengerti, Kakang,” berkata Pandan Wangi. “Dan kita bukan anak-anak yang baru menginjak usia remaja yang membayangkan malam terang bulan di sepanjang tahun, namun yang dengan segera menjadi kecewa ketika melihat bulan tidak bulat lagi.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya. Kita memang bukan remaja kecil lagi. Mudah-mudahan aku dapat menyesuaikan diriku dalam kehidupan yang lebih dewasa. Dengan segala kekurangan dan kelebihan, aku berharap bahwa kita dapat mempertahankan segala yang baik dan mengurangi sejauh mungkin kekurangan-kekurangan di hati kita masing-masing.”

Pandan Wangi tidak segera menyahut. Tetapi kata-kata Swandaru itu membuatnya berbangga. Sehari-hari ia melihat Swandaru itu seakan-akan tidak pernah bersungguh-sungguh dalam setiap persoalan. Namun ternyata, menghadapi perkawinannya, Swandaru dapat berbicara seperti seorang kakek di depan sepasang mempelai yang sedang dipersandingkan.

“Mudah-mudahan semuanya itu bukan sekedar petuah-prtuah yang didengarnya di dalam perhelatan-perhelatan saja,” berkata Pandan Wangi di dalam hatinya, “tetapi benar-benar tumbuh dari dasar hatinya.”

Namun dalam pada itu, selagi keduanya masih sedang mencernakan pembicaraan mereka, maka mereka telah dikejutkan oleh desir langkah seseorang di kegelapan. Keduanya adalah orang-orang yang berilmu tinggi, sehingga pendengaran mereka pun cukup terlatih. Karena itulah, maka keduanya pun segera memperhatikan suara yang mereka dengar itu dengan lebih saksama.

Langkah itu terdengar semakin jelas. Dan tiba-tiba saja dari kegelapan mereka mendengar seseorang berkata, “Pandan Wangi, apakah pantas hal itu kau lakukan?”

Kedua anak muda yang duduk di amben bambu itu segera melihat bayangan di dalam kegelapan. Namun mereka pun segera mengenalnya, bahwa orang itu adalah Rudita.

Perlahan-lahan Rudita mendekati keduanya sambil berkata, “Pandan Wangi. Aku adalah saudaramu. Aku berkeberatan melihat caramu bergaul dengan laki-laki. Laki-laki itu kini bukan sanakmu, bukan kadangmu. Karena itu kau tidak boleh duduk berdua saja di dalam gelap. Sentuhan kulit kalian, membuat kalian menjadi kotor, dan harus disucikan.”

Wajah Pandan Wangi menjadi merah padam. Hampir saja ia meloncat menerkam Rudita dan meremas mulutnya. Namun untunglah bahwa ia masih sempat menguasai perasaannya.

Rudita yang sudah berdiri di hadapan mereka sambil bertolak pinggang berkata, “Pandan Wangi. Kau adalah contoh dari setiap gadis di Tanah Perdikan ini. Jika anak gadis kepala Tanah Perdikannya saja berbuat seperti itu, apakah yang akan dilakukan oleh gadis-gadis yang lain?”

“Rudita,” jawab Pandan Wangi yang berusaha menahan hati itu, “berbicaralah yang agak baik. Apakah yang salah padaku sekarang? Apakah salahnya aku duduk di sini bersama Kakang Swandaru?”

“Kau sudah melanggar pantangan bagi seorang gadis.”

“Rudita,” berkata Pandan Wangi kemudian, “barangkali aku sudah terlampau sering melanggar pantangan serupa ini jika hal serupa ini merupakan sebuah pantangan. Aku dibentuk oleh ayah menjadi seorang gadis yang memang agak lain dari gadis yang lain. Aku oleh ayah diperkenankan pergi berburu dan bermalam di perburuan. Aku adalah satu-satunya perempuan di perburuan itu. Tentu di hutan perburuan aku selalu duduk bersama dengan lebih dari tiga empat orang laki-laki pengiringku.”

“Soalnya berbeda,” sahut Rudita, “kau benar-benar tidak mempunyai sentuhan apa pun dengan laki-laki itu. Lahir dan batin. Tetapi dengan Swandaru, kau telah bersentuhan jasmaniah dan rohaniah. Itu adalah perbuatan terlarang sebelum kalian menjadi pasangan suami isteri yang sah.”

“Ah,” Pandan Wangi berdesah, “kau jangan membuat keributan Rudita. Aku berterima kasih jika kau memperingatkan kesalahanku. Tetapi jangan berbicara terlalu tajam. Kata-kata bagi seseorang dapat berpengaruh baik tetapi juga dapat berpengaruh buruk bagi diri sendiri.”

“Apa yang aku katakan?” bertanya Rudita. “Memang mungkin tidak menyenangkan bagimu. Sudah barang tentu seseorang tidak akan dengan senang hati melihat cacat di tubuh sendiri. Tetapi aku merasa wajib. Dan kau harus menjaga bahwa hal yang serupa ini tidak berkelanjutan.”

Wajah Pandan Wangi terasa menjadi panas. Namun ia masih tetap bertahan untuk tidak berbuat sesuatu yang dapat menimbulkan persoalan lebih jauh karena orang tua Rudita itu pun sedang menjadi tamu ayahnya pula. Na-mun yang mencemaskannya adalah Swandaru yang masih berdiam diri. Pandan Wangi sedikit banyak mengenal watak Swandaru. Karena itu, jika anak muda yang gemuk itu menjadi jengkel, maka ia akan dapat berbuat sesuatu yang dapat menumbuhkan keributan dan bahkan mungkin akan berkepanjangan.

Karena itu, maka Pandan Wangi itu pun berkata, “Rudita. Aku berterima kasih. Sekarang, barangkali ibumu mencarimu. Aku pun akan segera pergi ke dapur untuk menyiapkan makan kita.”

“Kau harus pergi lebih dahulu,” berkata Rudita, “jika tidak, maka sepeninggalku kau dapat berbuat apa saja di dalam gelap.”

“Rudita, apakah kau dengar suara para pelayan mencuci alat dapur di balik dinding ini? Mereka tentu mendengar percakapan kita, juga jika aku berbicara dengan Kakang Swandaru. Di sebelah kiri dari tempat duduk ini adalah sumur dan pakiwan. Setiap saat orang akan pergi hilir-mudik ke sumur. Karena itu kami tidak melanggar pantangan. Terutama pantangan ayahku sendiri, karena yang berkuasa di dalam rumah ini adalah ayah. Selama aku belum melanggar perintah dan pantangannya, maka aku merasa bahwa aku masih dapat melakukannya.”

Wajah Rudita menjadi tegang, dan Pandan Wangi berkata selanjutnya, “Ingat, ayahlah yang paling berkuasa di sini. Tidak hanya di rumah ini, tetapi di seluruh Tanah Perdikan Menoreh. Karena itu, untuk mengukur apakah aku telah berbuat kesalahan di rumah ini dan di atas Tanah Perdikan ini, bertanyalah kepada ayahku. Katakan apa yang kau lihat, dan mintalah pendapatnya.”

Rudita menjadi semakin tegang. Dipandanginya wajah Pandan Wangi sejenak, kemudian wajah Swandaru yang hampir bulat itu.

Bagi Rudita, kata-kata Pandan Wangi itu seolah-olah merupakan tantangan, bahwa gadis itu tidak akan mendengarkan semua pendapatnya. Pandan Wangi merasa bahwa apa yang dilakukannya itu masih belum melanggar pantangan.

Karena itu, maka dirasa dadanya semakin lama menjadi semakin pepat. Kemanjaannya membuatnya menjadi sakit hati. Kebiasaannya adalah, bahwa semua keinginan dan kata-katanya terpenuhi atau setidak-tidaknya orang lain berusaha untuk memenuhinya. Namun kini Pandan Wangi justru bersandar kepada kekuasaan ayahnya di atas Tanah Perdikan ini.

Sejenak Rudita berdiri termangu-mangu. Namun sejenak kemudian ia pun meninggalkan kedua anak muda itu tanpa berkata sepatah kata pun.

Pandan Wangi menarik nafas dalam. Sebenarnya ia sama sekali tidak ingin menyakiti hati tamunya itu. Tetapi ia tidak mempunyai cara lain, apalagi Rudita sudah melanggar haknya sebagai seorang tamu. Seandainya ia tidak senang melihatnya berbicara berdua dengan Swandaru, sebaiknya ia tidak dengan langsung menegurnya.

Pandan Wangi berpaling ketika ia mendengar Swandaru berkata, “Maafkan Pandan Wangi, jika kehadiranku di sini menimbulkan persoalan di antara kalian, di antara sanak dan kadangmu, karena bukankah Rudita itu masih bersangkut paut keluarga denganmu?”

“Ia tidak berhak mempersoalkannya, Kakang Swandaru,” jawab Pandan Wangi.

“Mungkin maksudnya baik. Tetapi sifatnya yang terlalu memandang setiap persoalan berkisar pada dirinya dan kemanjaannyalah yang membuatnya berbuat sesuatu yang nampaknya kurang menghiraukan perasaan orang lain.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Mungkin begitu, Kakang. Dan aku pun berterima kasih karena Kakang menanggapi persoalan ini dengan hati yang lapang. Sebenarnya aku sudah cemas, jika tiba-tiba saja Kakang Swandaru merasa tersinggung dan bertindak langsung terhadapnya.”

Swandaru tersenyum. Katanya, “Aku pun tamu di sini. Karena itu, sejauh mungkin aku harus menyesuaikan diriku dengan keadaan apa pun di sini.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu katanya, “Sudahlah, Kakang Swandaru, aku akan pergi ke dapur. Jika tamu-tamu di pendapa itu sudah selesai, maka kita akan makan bersama-sama.”

Swandaru memandang Pandan Wangi sejenak, namun kemudian ia menganggukkan kepalanya meskipun sebenarnya ia masih ingin duduk bersamanya agak lebih lama lagi, “Baiklah, Wangi.”

Pandan Wangi pun kemudian berdiri dan melangkah perlahan-lahan meninggalkan Swandaru yang masih duduk di atas amben bambu. Baru beberapa langkah Pandan Wangi berhenti sejenak. Ketika ia berpaling, Swandaru pun sedang memandanginya sehingga tatapan mata keduanya pun beradu.

Dengan tergesa-gesa Pandan Wangi menundukkan kepalanya. Tetapi ia masih tetap saja berdiri di tempatnya.

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan.

Sejenak kemudian, Pandan Wangi menyadari keadaannya. Sekali lagi ia memandang Swandaru sambil tersenyum. Kemudian ia pun meneruskan langkahnya ke pintu dapur.

Swandaru termangu-mangu sejenak di tempatnya. Bahkan kemudian ia bersandar tiang di belakang amben bambunya. Dipandanginya kegelapan malam yang semakin pekat menyelubungi Tanah Perdikan Menoreh. Bahkan kemudian di balik kegelapan itu seakan-akan dilihatnya Rudita sedang berdiri tegang di balik dedaunan mengawasi setiap gerak-geriknya.

Ketika ia mendengar suara Pandan Wangi yang sedang berbicara dengan pembantunya di dapur, barulah Swandaru menyadari dirinya. Ia pun kemudian berdiri pula dan berjalan perlahan-lahan meninggalkan tempat itu, kembali ke gandok. Tetapi ia tidak menjumpai Agung Sedayu di gandok itu.

Meskipun demikian, ia tidak segera mencarinya. Ketika dilihatnya mereka yang sedang berbincang masih berada di pendapa, bahkan bekas makan malam mereka pun masih belum disingkirkan, maka Swandaru pun justru masuk ke dalam gandok dan membaringkan dirinya di amben yang besar sambil menarik nafas dalam-dalam. Dibiarkannya angan-angannya terbang ke dalam dunia yang asing baginya, namun memberikan harapan yang cerah bagi hari depannya.

Dalam pada itu, Pandan Wangi mulai menyibukkan dirinya di dapur. Beberapa orang pelayannya pun kemudian pergi ke pendapa untuk menyingkirkan mangkuk dan tempat nasi yang masih ada di pendapa itu. Sementara ayahnya berpesan, agar bagi anak-anak muda yang ada disediakan makan di pringgitan saja, karena orang-orang tua itu masih ingin berbicara panjang, meskipun persoalannya sudah berkisar dari persoalan pokok yang sebenarnya sudah selesai.

Sambil mengatur makan malam bagi Swandaru dan anak-anak muda yang lain, perasaan Pandan Wangi pun selalu disentuh oleh hubungannya dengan anak muda yang gemuk itu. Bahkan ia pun kemudian bertanya kepada diri sendiri, “Apakah benar aku sudah melanggar pantangan bagi seorang gadis?”

Tanpa disadarinya dikenangnya jalan hidup ibunya yang telah diperciki noda yang tidak akan dapat terhapus sepanjang umurnya. Tanpa dikehendakinya sendiri, ia membayangkan apa saja yang dilakukan ibunya. Pergaulan yang melanggar batas dan bahkan kehilangan kekang atas diri sendiri, sehingga lahirlah kakaknya Sidanti, bukan karena ayahnya Ki Argapati. Kelahiran yang sebenarnya tidak dikehendaki oleh Sidanti sendiri, sehingga karena itu, maka Sidanti tidak akan dapat dianggap bersalah oleh keadaannya itu.

Diam-diam Pandan Wangi mcmperbandingkan hubungannya dengan Swandaru dengan apa yang pernah terjadi dengan ibunya, sehingga ia berkata di dalam hatinya, “Aku tidak boleh mengulangi yang pernah terjadi dengan ibuku, agar aku tidak termasuk di dalam kata orang, bahwa kacang tidak dapat ingkar dari lanjaran. Tetapi aku juga tidak dapat membelenggu diriku di dalam bilik yang gelap, karena pada dasarnya ayah telah memberikan kebebasan kepadaku. Tetapi sudah barang tentu bahwa ia tidak ingin terluka sampai dua kali oleh tusukan keadaan yang sama. Jika ibu pernah melukai hatinya, maka aku harus membuktikan, bahwa aku dapat menjaga diriku sendiri.”

Meskipun demikian, kenangannya atas peristiwa yang pernah terjadi atas ibunya, telah membuatnya menjadi muram. Bahkan kadang-kadang ia terpaksa menghapus setitik air yang mengembang di pelupuknya, meskipun tidak seorang pun yang melihatnya.

Pandan Wangi pun kemudian semakin menyibukkan diri dengan kerja di dapur menyiapkan makan malam tamu-tamunya dan dirinya sendiri di pringgitan. Pandan Wangi berusaha melupakan kepedihan hatinya itu.

Sejenak kemudian, maka semuanya pun telah bersiap, Prastawa-lah yang kemudian mencari Swandaru di gandok, dan diketemukannya anak muda yang gemuk itu sedang berbaring.

“He, bukankah kau belum makan?” ia bertanya.

Swandaru terkejut. Perlahan-lahan ia bangkit dan dilihatnya Prastawa telah berdiri di pintu.

“Ah, agaknya kau sedang melamun, sehingga kau tidak mendengar kedatanganku. Di medan kau dapat mendengar langkah seseorang pada jarak yang jauh. Ternyata di sini kau tidak mendengar langkahku sampai ke ambang pintu.”

“Aku tertidur,” jawab Swandaru.

“Hanya nampaknya kau tertidur. Tetapi angan-anganmu pasti sedang terbang sampai ke bintang.”

Swandaru tersenyum. Dibenahinya pakaiannya yang menjadi agak kusut.

Prastawa pun kemudian mempersilahkannya pergi ke pringgitan. Kemudian dipanggilnya pula Agung Sedayu yang diketemukannya di gardu depan, dan ia masih harus mencari Rudita di gandok yang lain.

“Makanlah sendiri,” berkata Rudita.

“Ah,” Prastawa menyahut, “sebaiknya kau pergi ke pringgitan. Kita makan bersama-sama.”

“Biarlah Pandan Wangi makan bersama anak yang gemuk itu.”

Prastawa menarik nafas dalam-dalam.

“Aku malu mempunyai seorang saudara perempuan seperti Pandan Wangi. Ia duduk berdua di dalam kegelapan. Itu melanggar kesusilaan.”

Prastawa mengerutkan keningnya. Katanya, “Tetapi mereka tidak berbuat apa-apa. Mereka hanya duduk di amben yang kebetulan terlindung dari sinar lampu di serambi belakang.”

“Itulah salah mereka. Tentu bukan sekedar kebetulan.”

Prastawa termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Sudahlah, jangan hiraukan mereka. Marilah kita makan.”

“Aku memang tidak berkepentingan. Tetapi sebagai seorang yang tahu akan kesopanan dan kesusilaan, aku tidak dapat melihat hal serupa itu terjadi”

“Biarlah hal itu diselesaikan oleh orang-orang tua, oleh ayah mereka atau oleh siapa pun juga.”

“O, ternyata kau juga tidak bertanggung jawab. Ternyata kau bukan seorang pembina kesusilaan yang baik.”

Prastawa menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia menemukan jawab, “Aku mengerti. Memang sebaiknya mereka tidak melakukannya. Aku akan mencoba mencegahnya, justru karena aku adalah saudara sepupu Pandan Wangi. Mungkin karena aku tidak melihat sendiri, aku kurang menaruh perhatian. Namun pada suatu saat jika aku melihatnya, aku akan menegur mereka.”

Rudita memandang Prastawa sejenak. Kemudian sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Berbuatlah sesuatu sebagai seorang yang beradab. Yang mengerti baik dan buruk.”

“Aku akan mencobanya,” sahut Prastawa, lalu, “sekarang, marilah kita makan.”

Rudita termenung sejenak. Lalu katanya sambil menganggukkan kepalanya, “Baiklah.”

Akhirnya anak-anak muda itu pun makan bersama di pringgitan. Namun suasananya jadi agak tegang. Rudita seakan-akan tidak mau berbicara apa pun juga selain sepatah-sepatah saja, sehingga dengan demikian Pandan Wangi pun menjadi semakin diam pula.

“Besok kita pergi berburu,” Prastawa-lah yang mencoba membuka pembicaraan agar suasananya tidak menjadi beku.

“Ya,” Agung Sedayu-lah yang pertama-tama menyahut, “kita akan pergi berburu besok. Bukankah begitu?”

Dengan sudut matanya Pandan Wangi memandang wajah Rudita yang tegang. Namun kemudian anak muda itu menganggukkan kepalanya sambil menyahut, “Baiklah. Kita besok pergi berburu.”

Pandan Wangi tidak menyahut. Hampir saja ia menyebut hutan yang liar itu. Namun untunglah bahwa ia tidak mengucapkannya.

“Kita pergi bersama beberapa orang pengiring,” berkata Rudita.

“Bukankah kita sudah berlima?” bertanya Agung Sedayu.

“Belum cukup,” jawab Rudita.

Sebelum Agung Sedayu menyahut, Prastawa-lah yang menengahi, “Ya, kita membawa beberapa orang pengawal. Seperti yang sudah kita bicarakan, di pinggir Kali Praga itu sekarang tidak saja dihuni oleh binatang-binatang buas, tetapi juga orang-orang bersenjata yang tidak diketahui kedudukan dan asal usulnya. Namun demikian, senjata-senjata mereka itu tetap berbahaya.”

“Jika kita tidak berbuat apa-apa?” bertanya Rudita.

“Mereka pun tidak berbuat apa-apa,” sahut Prastawa sebelum Agung Sedayu membuat Rudita menjadi ketakutan.

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ketika terpandang olehnya wajah Prastawa, maka anak muda itu mengedipkan matanya.

Isyarat itu dapat dimengerti oleh Agung Sedayu, sehingga karena itu ia hanya menarik nafas saja panjang.

“Besok kita membawa tiga orang pengawal pilihan,” berkata Prastawa, lalu, “ditambah dengan dua orang yang akan melayani kebutuhan kita selama berburu. Makan, minum, dan membawa busur dan anak panah.”

“Kenapa hanya tiga?” bertanya Rudita.

“Masih ditambah dua orang lagi.”

“Tetapi mereka hanya sekedar pesuruh atau pelayan atau juru masak.”

“Tetapi sekaligus pengawal yang berpengalaman mempergunakan senjata.”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dipandanginya Agung Sedayu sejenak. Dengan ragu-ragu ia pun bertanya, “Bagaimana dengan kau? Apakah kau berani juga pergi berburu hanya dengan lima orang pengawal?”

Agung Sedayu menjadi bingung. Kenapa justru Rudita itu bertanya kepadanya. Karena itu, maka ia pun kemudian menjawab dengan ragu-ragu pula, “Terserahlah kepadamu.”

Rudita mengangkat wajahnya sambil berkata, “Kau belum mengerti bahaya yang dapat ditimbulkan oleh hutan-hutan liar. Baru saja aku berburu dengan Pandan Wangi di hutan perburuan. Di hutan perburuan itu pun kita dapat menemukan bahaya yang tidak tersangka-sangka. Dan kau dengan tanpa berpikir berkata “Kita sudah berlima.” Nah. Apakah kau dapat membayangkan bahaya yang dapat kita jumpai di perjalanan? Jika kau sudah dapat membayangkannya, maka kau tentu akan minta pengawal lebih dari sepuluh orang.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya dengan suara yang tertahan, “Terserahlah kepadamu. Jika Prastawa berani bertanggung jawab hanya dengan lima orang pengawal, aku juga berani, karena aku percaya bahwa ia sudah mengenal medan dengan sebaik-baiknya.”

Tetapi ternyata bahwa Swandaru mulai digelitik oleh perasaan sendiri, sehingga ia tidak dapat menahan dirinya dan berkata, “Untunglah bahwa selama perjalanan kami berlima tidak ditelan oleh ganasnya Alas Mentaok. Padahal Alas Mentaok jauh lebih ganas dari hutan yang mana pun juga di sebelah Selatan sepanjang tanah ini.”

“Ah,” desis Agung Sedayu.

Namun untunglah bahwa Prastawa tidak mengetahui maksud Swandaru yang sebenarnya sehingga ia justru menyahut, “Ya, beruntunglah kalian, bahwa kalian masih tetap hidup. Memang bagi orang yang tidak mengetahui bahaya yang terdapat di perjalanannya, mereka justru tidak akan mengenal takut. Meskipun sebenarnya bukan karena keberanian dan percaya kepada diri sendiri, tetapi justru karena kalian tidak mengerti apakah yang kalian hadapi.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika Agung Sedayu menggamitnya Swandaru tersenyum.

“Demikian juga agaknya sikap kalian tentang perburuan yang akan kita lakukan. Kalian menganggap bahwa perburuan itu seperti sebuah tamasya saja.”

Swandaru masih mengangguk-angguk. Tetapi sebenarnya ia sudah jemu mendengar sesorah itu. Meskipun demikian ia masih tetap menghormati anak muda yang manja itu.

Ternyata kemudian Prastawa-lah yang berhasil menutup persoalan seperti ia membukanya, “Baiklah. Kita sekarang beristirahat. Kita akan tidur nyenyak malam ini. Besok kita akan berangkat pagi-pagi benar. Nanti sesudah pembicaraan di pendapa selesai, kita masing-masing akan minta ijin. Tentu Pandan Wangi akan minta ijin kepada Ki Gede dan minta beberapa orang untuk mengawalnya.”

Demikianlah pembicaraan itu seakan-akan telah selesai. Demikian juga acara makan malam pun selesai pula. Namun di pendapa ternyata masih terdengar gelak tertawa yang berkepanjangan.

Hampir tengah malam, barulah pembicaraan di pendapa itu diakhiri. Seperti yang sudah direncanakan oleh anak-anak muda yang berkumpul di pringgitan untuk makan malam, masing-masing minta ijin kepada orang tuanya untuk pergi berburu besok pagi-pagi benar dan kembali di hari berikutnya.

“Berhati-hatilah,” berkata Ki Gede Menoreh, “bawalah obat penawar racun karena di hutan liar itu masih banyak terdapat binatang berbisa. Tetapi juga bersiaplah menghadapi kemungkinan yang lain, karena kadang-kadang beberapa orang bersenjata telah menyeberangi Kali Praga jika mereka berbenturan dengan pasukan pengawal Tanah Mataram yang sedang tumbuh itu. Mereka adalah orang-orang yang tidak diketahui sikap dan pendiriannya dengan pasti, sehingga siapa pun dapat dianggapnya sebagai lawannya.”

“Baik, Ayah,” jawab Pandan Wangi, “kami akan membawa beberapa orang pengawal dan orang-orang yang akan membawa perlengkapan berburu kami.”

“Baiklah. Nanti aku akan mempersiapkannya.”

“Kami akan berangkat besok pagi-pagi benar.”

“Ya. Aku akan memanggil orang yang bertugas di gardu malam ini dan menyuruhnya menghubungi orang itu.”

“Terima kasih, Ayah.”

“Tetapi, apakah Rudita akan ikut serta?”

“Ya, Ayah.”

“Suruhlah ia minta ijin kepada ayahnya.”

“Kami masing-masing akan minta ijin lebih dahulu,” sahut Pandan Wangi, “dan karena bersama Rudita itulah, kami memerlukan beberapa orang pengawal yang sebenarnya tidak kami perlukan.”

“Tentu kalian perlukan. Bukan sekedar untuk menangkap kijang.”

Pandan Wangi memandang ayahnya sejenak. Namun kemudian kepalanya pun terangguk-angguk. Ia mengerti maksud ayahnya, bahwa ayahnya pun menganggap perlu untuk berhati-hati menghadapi orang-orang yang tidak dikenal itu.

“Sekarang, beristirahatlah,” berkata Ki Gede, “aku akan memanggil peronda itu untuk menghubungi orang-orang yang akan aku tunjuk ikut di dalam perburuan itu. Agaknya perburuan memang menjadi suguhan yang menyenangkan, bagi Agung Sedayu dan Swandaru. Mungkin juga Rudita.”

Pandan Wangi menggelengkan kepalanya, katanya, “Rudita bukan seorang pemburu yang baik.”

“Mungkin,” desis ayahnya, “namun ayahnya adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Meskipun demikian, jika Rudita ikut serta, hati-hatilah. Jagalah anak muda yang manja itu, agar kulitnya tidak terluka. Jika ia tergores duri betapa pun kecilnya, ibunya akan menjadi sangat cemas dan ketakutan.”

“Baiklah, Ayah,” Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya, “sekarang aku akan tidur saja. Besok pagi-pagi aku akan berangkat.”

Demikianlah maka Pandan Wangi pun pergi ke dalam biliknya. Namun ia tidak segera dapat tertidur. Sebagai seorang gadis, maka ia pun berangan-angan tentang hari depannya. Apalagi setelah ayah Swandaru benar-benar datang ke Tanah Perdikan Menoreh setelah sekian lama bagaikan hilang tidak ada kabar beritanya.

Untunglah bahwa ayahnya termasuk seorang yang tabah, yang tidak segera goyah. Meskipun cukup lama Swandaru tidak ada kabar beritanya, namun ayahnya tetap percaya bahwa pada suatu saat anak muda itu akan kembali. Orang seperti Kiai Gringsing tentu dapat dipercaya kata-katanya.

Dan sebenarnyalah bahwa akhirnya ayah Swandaru itu pun datang untuk melamarnya dengan resmi.

Dalam pada itu, Agung Sedayu dan Swandaru pun telah minta ijin kepada gurunya dan kepada Ki Demang untuk pergi berburu besok pagi-pagi bersama Pandan Wangi. Seperti yang didengarnya, maka dikatakannya pula, bahwa daerah di sebelah-menyebelah Kali Praga memang sering dilalui oleh orang-orang yang tidak dikenal. Karena itulah maka mereka selain pergi berlima, akan pergi juga beberapa orang pengawal.

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Hati-hatilah. Jangan menyia-nyiakan waktu yang sebenarnya sangat berharga bagimu Swandaru.”

“Aku mengerti, Guru.”

“Tetapi ingat, jangan menyeberangi Kali Praga. Jika kebetulan kau bertemu dengan orang-orang bersenjata dan ternyata mereka adalah orang-orang Mataram yang belum kau kenal sehingga terjadi bentrokan senjata, maka kau akan membuat persoalan baru. Menurut dugaanku, orang-orang Ma-taram tidak akan menyeberang Kali Praga, sehingga jika ada sepasukan orang-orang bersenjata di sebelah Barat Kali Praga, maka sudah tentu bukan orang-orang Mataram.”

“Baik, Guru,” jawab Agung Sedayu, “kami akan selalu menjaga diri. Kami tidak akan menyeberang ke Timur kali ini.”

“Baiklah. Jagalah dirimu baik-baik,” pesan gurunya.

“Jangan membuat persoalan, dengan siapa pun juga di atas Tanah Perdikan ini Swandaru,” pesan ayahnya.

“Tentu, Ayah. Aku akan menjaga diriku baik-baik.”

Demikianlah maka kedua anak-anak muda itu pun pergi ke pembaringan. Berbeda dengan Pandan Wangi, maka keduanya tidak sekedar merenung. Swandaru mempunyai kawan berbincang untuk mengisi waktu sebelum matanya terpejam.

Di bilik yang lain, Rudita ternyata tidak juga dapat tidur. Bermacam-macam persoalan mengganggu perasaannya. Betapa pun ia mencoba mengusirnya, namun setiap kali bayangan-bayangan yang muram pun datang lagi hinggap di hatinya.

“Persetan,” geramnya, lalu, “aku tidak peduli.” Namun ternyata ia memerlukan waktu yang lama pula untuk dapat tertidur. Bahkan di dalam tidur pun Rudita masih juga diganggu oleh mimpi yang menyeramkan, seakan-akan seekor harimau sedang merunduk untuk menerkamnya.

Untunglah ia segera terbangun sebelum mulutnya berteriak-teriak. Namun rasa-rasanya seluruh bulu-bulunya tegak berdiri. Ketika terlihat olehnya ayahnya tidur di pembaringan yang besar itu juga, maka hatinya pun menjadi tentram.

Ketika kemudian ayam jantan berkokok, maka anak-anak muda di rumah Ki Gede itu pun sudah terbangun. Prastawa sudah sibuk mengisi jambangan pakiwan. Tanpa dimintanya Agung Sedayu pun ikut pula membantunya, menimba air untuk mengisi gentong di dapur.

Sejenak kemudian anak-anak muda itu pun segera bersiap. Rudita pun segera mandi dan mempersiapkan diri. Demikian juga Agung Sedayu setelah selesai mengambil air.

Sebelum matahari terbit, semuanya sudah siap di pendapa. Bahkan para pengawal pun telah siap pula. Semalam-malaman para peronda berkeliling ke rumah mereka memberitahukan bahwa pagi-pagi benar mereka harus sudah siap di halaman rumah Ki Gede Menoreh untuk mengawal Panduan Wangi dan tamu-tamunya berburu.

Meskipun hari masih pagi, namun mereka pun sempat juga makan pagi sekedarnya. Baru kemudian mereka turun ke halaman menuju ke kuda masing-masing.

Sekali lagi anak-anak muda itu minta ijin. Rudita mendapat beberapa pesan dari ibunya yang agaknya sangat berat melepaskannya.

“Biarlah, Nyai,” berkata ayahnya, “di sini ia mendapat kawan anak-anak muda. Biarlah Rudita menjadi seorang anak muda.”

Isterinya tidak menyahut. Dipandanginya saja anaknya yang kemudian meloncat ke punggung kudanya.

“Lihatlah, betapa gagahnya,” desis ayah Rudita itu. Istrinya hanya menganggukkan kepalanya saja. Tetapi ia tidak menyahut.

Sejenak kemudian beberapa ekor kuda itu pun berderap meninggalkan halaman. Debu yang putih mengepul di keremangan pagi. Di langit cahaya merah mulai memancar membayang di wajah yang kebiru-biruan.

Orang-orang tua yang melepas anak-anak muda itu pun kemudian kembali masuk ke tempat mereka masing-masing. Ki Gede naik ke pendapa sedang Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Demang kembali ke gandok peristirahatannya, sedang ayah dan ibu Rudita di gandok yang lain.

Sementara itu pengawal yang sedang meronda di halaman rumah Ki Argapati, memandang iring-iringan itu dengan perasaan yang aneh. Meskipun Agung Sedayu dan Swandaru bukan anak-anak Tanah Perdikan, namun anak-anak Menoreh mempunyai perhatian terhadap mereka. Apalagi mereka yang pernah bersama-sama berjuang mengatasi perpecahan yang pernah membakar Tanah Perdikan itu.

Dalam pada itu, iring-iringan kuda itu pun telah keluar dari padukuhan induk, tepat pada saat matahari merayap naik ke atas punggung bukit.

Pandan Wangi yang sedang dibelit oleh perasaan gairah seorang gadis yang menjelang hari-hari perkawinannya, tampak begitu cerah di dalam cahaya matahari pagi. Pandan Wangi itu pulalah yang berkuda di paling depan. Dengan dada tengadah ia memegang kendali kudanya yang tegar, memandang tanah persawahan yang hijau terbentang di hadapannya. Cahaya matahari yang kekuning-kuningan terpantul di wajah daun yang hijau menumbuhkan sinar yang menyentuh hati.

Di belakangnya Rudita memandangnya tanpa berkedip. Rambutnya yang disanggul tinggi-tinggi, lehernya yang jenjang, kemudian pakaiannya yang tidak lazim dipergunakan oleh seorang gadis, dengan endong panah di lambung kuda dan busur menyilang punggung, membuat Pandan Wangi bagaikan seorang tokoh yang hanya terdapat dalam dongeng dan mimpi.

Di belakang Rudita, Prastawa berkuda berjajar tiga dengan Agung Sedayu dan Swandaru. Sekali-sekali mereka mengedarkan pandangan mata mereka menyapu langit yang jernih dan ujung pegunungan di kejauhan.

Namun sekali-sekali Swandaru sempat memandang Rudita dan memperhatikan sikapnya. Namun ia selalu mencoba untuk tidak berprasangka, karena Rudita adalah masih ada hubungan darah dengan Pandan Wangi.

Perjalanan ke hutan di pinggir Kali Praga itu merupakan perjalanan yang segar bagi Agung Sedayu dan Swandaru yang sudah lama tidak menjelajahi Tanah Perdikan ini.

Sawah dan ladang yang luas, yang kadang-kadang masih diseling dengan hutan-hutan sempit yang sengaja dibiarkan untuk kepentingan masa depan Tanah Perdikan Menoreh, jalan yang lebar dan dipagari oleh parit yang mengalirkan air yang jernih, pematang yang panjang dan lurus, ditumbuhi rerumputan yang hijau di sela-sela batang padi yang tumbuh dengan suburnya.

Tanpa disadarinya Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Ada, sesuatu yang menyentuh hatinya. Tiba-tiba saja ia teringat kepada Sangkal Patung yang subur. Betapa suburnya Menoreh, namun daerah di sebelah Barat merupakan daerah pegunungan padas yang keras. Sedangkan Sangkal Putung adalah daerah perbekalan yang terbesar di bagian Selatan, di sebelah Timur Alas Tambak Baya. Bahkan Prambanan tidak sesubur Sangkal Putung.

“Pada suatu saat aku harus memilih,” tiba-tiba saja Swandaru berangan-angan, “apakah aku harus menangani Tanah Perdikan Menoreh ini atau aku harus berada di kampung halaman kelahiranku. Sudah barang tentu aku tidak akan dapat berada di kedua tempat ini bersama-sama. Jika aku berdiri sebagai menantu Ki Argapati, maka aku adalah orang yang melakukan tugas Pandan Wangi, sebagai Kepala Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi dengan demikian aku harus meninggalkan Sangkal Putung. Daerah yang selama ini merupakan tanah yang memberiku segala macam kebutuhan hidupku, dan yang selama ini telah dibina oleh ayah serta seluruh rakyatnya yang baik. kunjungi adbmcadangan.wordpress.com. Yang sudah dipertahankan dengan segala pengorbanan dari bahaya kehancuran pada saat Tohpati berada di daerah Selatan ini. Jika aku berada di sini, maka tugasku di Sangkal Putung akan melimpah kepada Sekar Mirah, dan itu berarti akan jatuh di pundak Kakang Agung Sedayu.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ia akan menghadapi persoalan, di mana ia harus menjatuhkan pilihan.

“Tetapi itu masih cukup lama. Selama Ki Gede Menoreh masih dapat menjalankan tugasnya, maka hal itu belum akan menjadi persoalan yang penting bagiku. Juga selama Ayah masih tetap berada di tempatnya, maka semuanya masih akan berjalan seperti biasa. Namun memang akan datang saatnya aku harus memikirkannya.”

Tanpa disadarinya Swandaru memandang kepada Agung Sedayu yang berkuda di sebelah Prastawa.

Namun jantung Swandaru bergetar ketika ia melihat Prastawa yang berkuda sambil memandang lurus ke depan. Ia adalah kemanakan Ki Gede Menoreh. Jika ia tidak mau menerima jabatan Ki Gede Menoreh, karena ia memberatkan kampung halamannya, maka itu berarti bahwa kekuasaan Menoreh akan jatuh ke tangan Ki Argajaya, ayah Prastawa. Dan itu akan berarti pula bahwa arus kekuasaan itu akan sampai kepada Prastawa. Tidak kepada orang lain.

Swandaru menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia ingin mengusir persoalan itu. Persoalan yang belum waktunya dipikirkannya sekarang. Namun bagaimana pun juga persoalan itu masih saja membayanginya.

“Aku tidak peduli,” geramnya di dalam hati. Dan Swandaru itu pun kemudian melemparkan pandangan matanya jauh-jauh. Dengan sepenuh niat ia ingin melupakan persoalan itu dan memandang ujung-ujung pepohonan yang hijau berkilat ditempa cahaya matahari pagi.

“Apakah perjalanan ini masih jauh,” tiba-tiba saja Swandaru bertanya untuk melepaskan kepepatan di dadanya.

Yang mendengar pertanyaan itu menjadi heran. Swandaru pernah berada di Tanah Perdikan ini, sehingga seharusnya sudah mengetahui, bahwa perjalanan mereka itu baru saja mulai.

“Pertanyaanmu aneh,” desis Agung Sedayu.

“O,” Swandaru tidak dapat menahan tertawanya Tetapi kali ini ia mentertawakan dirinya sendiri. Karena itu dengan tergesa-gesa ia berkata, “Maksudku, apakah kita akan langsung pergi ke hutan liar itu, atau kita akan beristirahat dahulu sambil melihat-lihat hutan-hutan kecil yang bertebaran itu.”

“Hutan-hutan itu sudah kosong,” Pandan Wangi-lah yang menyahut, “yang ada hanyalah tikus-tikus tanah. Namun dengan demikian, kadang-kadang dapat menimbulkan bencana bagi tanaman.”

“O,” Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya, “apakah tidak ada usaha untuk mengatasinya?”

“Tentu. Dan usaha itu nampaknya akan berhasil.”

Rudita yang berkuda di belakang Pandan Wangi tiba-tiba saja memotong, “Kenapa kita berbicara tentang tikus tanah? Kenapa kita tidak berbicara tentang harimau loreng atau harimau kumbang yang licik. Atau tentang ular sebesar paha.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Namun ternyata bahwa ia tidak dapat melepaskan sama sekali kebiasaannya, sehingga hampir tanpa disadarinya ia bertanya, “Paha siapa?”

Rudita berpaling mendergar pertanyaan itu. Wajahnya menegang. Ia merasa bahwa Swandaru sedang mempermainkannya.

Tetapi Swandaru menundukkan kepalanya, sedang Prastawa mencoba menyembunyikan tertawanya yang ditahan-tahannya sekuat tenaga. Bahkan Pandan Wangi yang berkuda di paling depan pun tersenyum. Demikian juga para pengawal yang mendengar pertanyaan itu. Bahkan salah seorang dari mereka berbisik, “Paha anak-anak. Bahkan bayi.”

Kawannya tidak menjawab. Mereka mengerti bahwa Rudita sama sekali bukan seorang pemburu yang baik. Bahkan ia masih harus berteriak-teriak memanggil ketika Pandan Wangi memburu kijang di hutan perburuan kemarin.

Ketika Swandaru itu kemudian berpaling memandang Agung Sedayu, dilihatnya anak muda itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan Swandaru pun mendekatinya sambil berbisik, “Aku benar-benar tidak sengaja, Kakang.”

“Itulah. Kau biasa melepaskan setiap kata yang kau pikirkan. Anak itu tentu tersinggung.”

“Begitu saja kata-kata itu terlontar dari bibirku,” Swandaru berhenti sejenak lalu, “sebenarnya aku agak bosan mendengar kata-katanya.”

“Kau tidak mau melihat alasan, kenapa ia berkata begitu.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Lalu ia pun bertanya, “Apakah alasannya? Untuk menyombongkan diri?”

“Ya, tetapi bukan semata-mata karena ia sombong,” jawab Agung Sedayu. “Ternyata ia merasa betapa dirinya terlampau kecil sehingga ia perlu membusungkan dadanya, agar ia dapat seimbang dengan kebesaran pribadi Pandan Wangi.”

“Kenapa Pandan Wangi?”

“Bukankah ia merasa bahwa masih ada hubungan keluarga dengan gadis itu betapa pun jauh jaraknya? Karena itulah, maka ia harus seimbang dengan pribadi Pandan Wangi. Apalagi ia seorang laki-laki, sedang Pandan Wangi seorang gadis. Selain dari itu, ayahnya pun termasuk orang terpandang, sehingga ia perlu menyesuaikan dirinya.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Hatinya yang kecil jangan kau injak sama sekali,” berkata Agung Sedayu pula. “Cobalah kendalikan kebiasaanmu itu.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baik. Baik. Aku akan mengendalikan kebiasaanku ini.”

Namun Agung Sedayu pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Gurunya pun kadang-kadang berbuat sesuatu yang aneh menurut tanggapan kebanyakan orang, meskipun maksudnya jauh lebih jelas dan bermanfaat dari sekedar letupan hati Swandaru.

Samar-samar teringat oleh Agung Sedayu, bagaimana gurunya itu mengenakan topeng dan menegurnya sebagai seorang pertapa ketika ia terjun ke dalam parit, karena ia dicengkam oleh ketakutan tiada taranya selagi dikejar oleh Alap-alap Jalatunda selagi ia meneruskan tugas kakaknya Untara. Begitu juga permainan gurunya di hutan Tambak Baya selagi ia bertiga pergi ke Alas Mentaok bersama Swandaru dan Raden Sutawijaya.

Swandaru memang merupakan tanah yang subur bagi benih yang ditaburkan oleh gurunya itu, dengan sikap yang kadang-kadang aneh. Namun keterbukaan sifat Swandaru membuat sikap yang aneh itu kadang-kadang terlampau langsung dan menyinggung orang lain.

Sejenak kemudian mereka saling berdiam diri. Pandan Wangi masih tetap berkuda di paling depan. Rudita yang di belakangnya kadang-kadang masih saja berpaling memandang Swandaru. Tetapi Swandaru selalu menghindari tatapan mata itu.

“Jangan hiraukan,” tiba-tiba saja Prastawa berdesis.

Swandaru menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya. Aku justru sedang menghiraukan daerah ini. Aku tidak tahu, kenapa hutan-hutan kecil itu tidak dibuka sama sekali.”

“Sebuah persediaan di masa mendatang. Pada saatnya kita akan kekurangan tanah garapan. Padahal sementara ini kita sudah cukup.”

Swandaru mengerutkan keningnya, katanya, “Apakah jika kita sudah cukup, kita harus berhenti.”

“Bukan berhenti. Tetapi kami justru menyediakan tanah itu buat perkembangan di masa datang.”

Ternyata Swandaru, anak laki-laki seorang Demang yang kelak akan menggantikan kedudukannya itu mempunyai sikap tersendiri. Karena itu, maka katanya, “Sebenarnya Tanah Perdikan ini dapat berbuat lain. Hutan itu sebagian dapat dibuka. Hanya sebagian kecil sajalah yang dapat dibiarkan untuk kepentingan khusus. Meskipun saat ini lahan pertanian bagi Tanah Perdikan ini sudah cukup, namun alangkah baiknya jika hutan-hutan itu dapat digarap sebagai tanah pertanian. kunjungi adbmcadangan.wordpress.com. Jika ada kelebihan hasil sawah, maka hasil sawah itu dapat dijual atau ditukar dengan kebutuhan-kebutuhan lain yang akan menjadi kebutuhan Tanah Perdikan ini meskipun tidak sekarang, tetapi masa depan. Dengan demikian maka Tanah Perdikan ini sudah mempunyai tabungan yang bermanfaat bagi masa mendatang.”

Prastawa mengerutkan keningnya. Dan Swandaru berkata seterusnya, “Ada baiknya kita bekerja keras sekarang. Jika kita sudah mendapat sesuap nasi, bukan berarti kita sudah harus puas. Tetapi tidak ada salahnya jika masih ada waktu kita mengumpulkan dua suap nasi. Yang sesuap untuk kepentingan-kepentingan lain bagi kesejahteraan hidup kita.”

Prastawa masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Bagus sekali. Mungkin kelak Tanah Perdikan ini akan berbuat demikian. Sisa tenaga yang ada sekarang, daripada sekedar untuk termenung di pojok padukuhan atau berbincang tentang hal yang tidak bermanfaat, ada baiknya dipergunakan untuk membuat hutan-hutan yang berserakan itu menjadi tanah garapan, setelah diperhitungkan, berapa banyaknya yang harus disisakan, sehingga tanah itu dapat merupakan jaminan bagi masa datang. Bukan sekedar persediaan.”

“Begitulah. Kecuali jika tenaga kita sekarang memang sudah tidak mampu lagi, sehingga kita harus menunggu perkembangan.”

Prastawa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Ketika ia menengadahkan wajahnya, maka dilihatnya matahari menjadi semakin tinggi. Sedang dalam pada itu Agung Sedayu sudah berada agak di depan mereka, tepat di belakang Rudita.

Demikianlah perjalanan itu pun semakin lama menjadi semakin jauh dari induk Tanah Perdikan. Matahari pun menjadi semakin tinggi memanjat langit, sehingga dedaunan yang hijau bagaikan menyala di kejauhan memantulkan cahaya matahari, yang mulai terasa panas di wajah kulit.

Ketika Agung Sedayu melihat gerumbul-gerumbul perdu yang semakin lebat, maka ia pun memperlambat kudanya dan kemudian kepada Prastawa itu berkata, “Bukankah kita sudah mendekati tujuan?”

“Ya. Di seberang hutan perdu inilah kita mendapatkan sebuah lapangan pasir yang agak luas, sampai ke tepian Kali Praga.”

“Jika begitu, bukankah hutan yang tampak itulah yang akan kita tuju?”

“Hutan perburuan.”

“Ya, bukankah kita akan berburu?”

“Tetapi bukankah kita ingin berburu di hutan yang masih liar? Tidak di hutan perburuan itu.”

“O, jika demikian, ke mana kita akan pergi?”

“Kita tidak langsung sampai ke tepian. Kita berbelok di pinggir hutan perdu itu dan kita akan sampai di hutan perburuan. Jika kita ingin beristirahat, kita beristirahat sebentar. Tetapi jika kita ingin langsung berburu di hutan yang liar itu, kita berjalan terus dan kita akan memasuki daerah yang semakin lama menjadi semakin lebat dengan jenis-jenis binatang hutan yang ganas.”

Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun rasa-rasanya ia akan mendapatkan permainan yang mengasyikkan. Sudah lama ia tidak bermain-main dengan alat bidik. Kini ia membawa busur dan anak panah.

“Bagaimana rencana kita selanjutnya?” justru Agung Sedayu-lah yang kemudian bertanya. “Apakah kita akan berhenti atau terus?”

“Terserah kepada kita,” jawab Prastawa.

“Kalau begitu, bertanyalah kepada Pandan Wangi.”

Prastawa pun kemudian mempercepat kudanya dan melampaui Rudita. Ketika ia berada di samping Pandan Wangi, maka ia pun bertanya, “Bagaimana rencanamu, Pandan Wangi?”

“Rencana yang mana?”

“Apakah kita akan langsung pergi ke hutan yang buas?”

Sebelum Pandan Wangi menyahut, Rudita telah menyahut, “Tentu ke hutan perburuan. Kita akan menangkap seekor kijang. Aku akan menghadiahkannya kepada Pandan Wangi.”

Semua orang berpaling kepadanya. Pandan Wangi memandanginya dengan heran. Namun Swandaru-lah yang kemudian bertanya, “Bagaimana jika Pandan Wangi yang mendapat lebih dahulu dari kita?”

Rudita mengerutkan keningnya. Lalu jawabnya, “Tentu tidak. Ia tidak akan berbuat apa-apa. Ia akan menunggu kita mendapatkan seekor buatnya.”

“Bagaimana jika Agung Sedayu yang mendapatkannya?” bertanya Prastawa.

“Semua yang kita dapatkan, akulah yang akan menyerahkannya kepada Pandan Wangi. Itu sudah menjadi keputusanku. Tidak ada orang lain yang berhak atas hasil buruan ini, selain aku yang akan menyerahkannya kepada Pandan Wangi.”

Swandaru dan Agung Sedayu berpandangan sejenak. Namun mereka pun tidak menghiraukannya lagi. Sikap itu bagaikan sikap anak yang sedang dalam pertumbuhannya, yang menganggap dirinya adalah pusat berkisarnya dunia.

Karena itulah, maka justru mereka tidak memberi tanggapan apa pun juga. Swandaru yang mempunyai sifat yang aneh itu pun kemudian berdiam diri.

~ Article view : [175]