Api di Bukit Menoreh [ series 75- 80 ]

595

Karya : SH. Mintardja

Series 75

KI DEMANG mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu lagi.

Dalam pada itu, Putut Nantang Pati duduk di atas sebuah batu sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Tubuhnya menjadi gemetar oleh getaran yang serasa menyesakkan dadanya. Di sekitarnya beberapa orang pengawalnya berjaga-jaga dengan senjata telanjang untuk melindunginya selama ia mengerahkan kemampuannya, permukaan dari ilmu yang didapatkannya dan Panembahan Agung. Ternyata bahwa ia sudah memberanikan diri untuk melepaskan ilmu yang baru permulaannya saja didapatkannya itu dengan akibat yang cukup melelahkan baginya.

Daksina yang berada di belakannya memandangnya dengan cemas, ketika kemudian Putut Nantang Pati menarik nafas dalam-dalam dan mengurai tangannya yang menyilang di dadanya, maka Daksina pun ikut menarik nafas dalam-dalam pula.

“Ternyata kau juga sudah mempelajari ilmu itu.”

“Baru mulai. Sebenarnya belum waktunya aku mencoba kemampuanku.”

“Tetapi tentu telah membingungkan orang-orang Mataram itu. Jika kau memang memiliki kemampuan itu, sebenarnya kau akan dapat menumpas orang-orang Mataram di lembah itu dengan membuat bentuk-bentuk semu.”

“Apakah kau sekarang percaya, bahwa hal yang lebih dahsyat dapat dilakukan oleh Panembahan Agung.”

“Aku percaya. Tetapi aku tidak tahu, apakah orang Mataram tidak memiliki kemampuan pemunah dari ilmu itu?”

“Ternyata tidak. Ilmu yang belum dapat disebut, atau bahkan sebenarnya aku belum pantas menyebut diriku menerima ilmu itu meskipun baru permulaannya, telah dapat membuat mereka menjadi bingung. Kau dengar, bahwa mereka dengan mantap telah menyambut api yang semu itu.”

”Tetapi apakah akhirnya mereka mengetahui bahwa api itu sebenarnya hanya semu?”

“Aku tidak tahu. Tetapi barangkali mereka menganggap itu sebagai suatu keajaiban. Aku mengharap bahwa mereka menyangka, bahwa di daerah ini memang terdapat keajaiban itu. Hantu, misalnya. Di Mentaok, hantu-hantu yang kami ciptakan ternyata telah gagal.”

“Kenapa kau tidak membantu hantu-hantuanmu dengan caramu ini?”

“Seperti aku katakan, aku sedang mencoba. Untuk mencoba satu kali seperti ini, aku memerlukan waktu pemusatan pikiran yang lama. Dan sudah barang tentu aku tidak akan berani mengulanginya malam ini. Jika sekali lagi aku mencoba, maka aku tidak akan mampu menahan diri. Aku tentu akan pingsan, dan jika ada kesalahan pemulihan syaraf, aku dapat menjadi gila. Gila adalah akibat buruk yang mungkin terjadi atas mereka yang mempelajari ilmu serupa ini.”

Daksina menarik nafas dalam-dalam. Lalu, ”Jika demikian, kenapa bukan Panembahan Agung sendiri yang datang ke Mataram, dan dengan ilmunya, ia mengacaukan tata pemerintahan dan hubungan yang ada di antara mereka.”

“Panembahan Agung hampir tidak pernah meninggalkan padepokannya,” sahut Putut Nantang Pati, “kecuali jika ada sesuatu yang luar biasa. Bukankah kau mengetahui, bahwa Panembahan Agung tidak pernah keluar pagar batu padepokannya? Selama aku menjadi pengikutnya, baru satu kali Panembahan Agung meninggalkan padepokannya.”

“Kapan dan untuk apa?”

“Pada saat Demak runtuh.”

“Demak tidak pernah runtuh. Sepeninggal Sultan Demak, maka pemerintahan hanya berpindah ke Pajang.”

“Tetapi kebesaran Demak telah runtuh, kekuasaan Sultan Pajang jauh berada di bawah kekuasaan yang sebenarnya dari Sultan Demak. Apalagi perang di antara mereka yang merasa berhak mewarisi kerajaan, membuat Pajang hanya sekedar abu dari kekuasaan yang pernah menyala sebelumnya. Apalagi dibandingkan dengan kebesaran Majapahit.”

Daksina menarik nafas dalam-dalam.

“Pada saat itulah maka Panembahan Agung yang waktu itu masih lebih muda, pergi ke puncak gunung Merapi untuk melihat kemungkinan yang bakal terjadi di pulau ini. Dari puncak gunung itulah ia melihat bahwa Alas Mentaok seakan-akan menyala di malam hari. Tiga hari tiga malam Panembahan Agung menyaksikan Alas Mentaok itu bagaikan bara. Dan pada malam berikutnya, Panembahan Agung melihat segumpal cahaya yang berwarna pulih kebiru-biruan meluncur dan jatuh di atas Alas Mentaok. Itulah sebabnya, maka Panembahan Agung menganggap bahwa Mataram pada suatu saat akan menjadi pusat pemerintahan.”

Daksina mengerutkan keningnya. Jika demikian, maka Panembahan Agung sudah mempunyai rencana tersendiri bagi Mataram. Dengan demikian, maka bagi Panembahan Agung, kekuatan Pajang yang ada di padepokannya dan di padepokan Putut Nantang Pati itu hanya sekedar pemanfaatan yang tidak akan diperhitungkan kelak.

Tetapi Daksina itu berkata di dalam hatinya, ”Memang dahsyat sekali. Tetapi Kakang Tumenggung dan Kakang Panji bukannya anak-anak kemarin sore. Terlebih-lebih lagi jika Paman Ajar di Kleca ikut campur di dalam persoalan ini. Agaknya Panembahan Agung masih harus membuat pertimbangan khusus jika ia sendirilah yang ingin berkuasa.”

Namun yang kemudian dikatakan adalah, ”Jika demikian, jika menurut pandangan Panembahan Agung, berdasarkan atas isyarat yang pernah diterimanya, bahwa Mataram akan menjadi pusat pemerintahan, kenapa ia tidak mengerahkan semua kemampuan, tenaga dan apa pun juga untuk merebut Mataram?”

“Itu tidak bijaksana. Selain Panembahan Agung harus memperhitungkan kemampuan yang ada di Mataram sekarang, juga pengaruh dan kewibawaan nama Ki Gede Pemanahan. Meskipun hubungan Mataram dan Pajang agak renggang, namun jika Panembahan Agung menghancurkan Mataram dengan kekuatan senjata, apabila berhasil, maka Panembahan akan berhadapan dengan Pajang. Dan seperti yang kita ketahui, Pajang memiliki kemampuan dan kekuatan yang tidak dapat dijajagi. Antara lain adalah Sultan Pajang sendiri, yang menyimpan seribu macam ilmu di dalam dirinya. Ilmu yang dipelajari, disadap dari guru-gurunya yang sakti, dan ilmu yang tiba-tiba saja ada pada dirinya tanpa diketahuinya sendiri.”

Daksina menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah yang katakan oleh Putut Nantang Pati itu benar. Bagi Pajang, maka Sultan Hadiwijaya adalah seorang yang diliputi oleh rahasia. Tidak seorang pun dapat menjajagi kemampuan yang sebenarnya ada pada dirinya. Namun bahwa Pajang tiba-tiba menjadi buram, karena Sultan Pajang itu tidak lagi memiliki api perjuangan bagi perkembangan negerinya. Bahkan ia pun kemudian tenggelam di dalam hidup yang di buatnya sendiri bagaikan sorga, meskipun hanya sekedar bagi wadagnya.

Tetapi sikap Sutawijaya, telah sangat mempengaruhinya. Sutawijaya adalah anak angkatnya yang sangat kasihinya. Dan yang tiba-tiba saja telah meninggalkannya dalam tahtanya yang terasa menjadi sepi.

Sejenak mereka yang ada di atas tebing itu saling berdiam diri. Mereka tidak mendapat isyarat gerakan apa pun dari para pengawal yang mengawasi pasukan Mataram dan Menoreh yang ada di tebing.

“Ternyata aku memerlukan waktu yang lama untuk memulihkan tenagaku,” berkata Putut Nantang Pati.

“Kenapa?”

“Sebenarnya belum waktunya aku memaksa diri dengan ilmu itu. Tetapi aku ingin melakukannya. Dan kini terasa badanku menjadi lemah.”

“Bagaimana dengan besok?”

“O, tentu sudah pulih kembali. Sebelum fajar, tentu sudah mendapatkan tenagaku sepenuhnya. Dan sebelum fajar kita sudah akan berada di pertahanan terakhir.”

“Tetapi apakah Panembahan Agung juga mengalami keadaan seperti kau, jika ia melontarkan ilmunya itu ?”

“Tentu tidak. Meskipun ia memerlukan pemusatan pikiran, tetapi ilmu itu sudah bekerja seolah-olah dengan sendirinya jika ia menghendakinya.”

Daksina mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu. Bahkan di dalam hatinya ia merasa beruntung, bahwa ia akan dapat melihat dan mencoba mengetahui serba sedikit rahasia dari ilmu yang aneh itu.

“Jika datang saatnya, Kakang Tumenggung akan berterima kasih kepadaku, jika aku dapat mengatakan bagaimana harus melawan ilmu itu,” namun kemudian, ”tetapi Paman Ajar di Kleca tentu sudah tahu.”

Demikianlah maka Daksina dan beberapa orang pengawal padepokan serta beberapa orang bekas prajurit Pajang masih tetap berada di tempatnya. Mereka menunggu Putut Nantang Pati mendapatkan kekuatannya kembali setelah ia memaksa diri dengan melontarkan ilmu yang sebenarnya masih belum dikuasainya itu.

Baru ketika Putut Nantang Pati merasa dirinya lebih baik, ia berdiri tertatih-tatih sambil berkata, ”Marilah, kita mendahului para pengawal. Kita langsung pergi ke padepokan Panembahan Agung. Biarlah anak-anak itu mengganggu orang-orang Mataram dengan anak panah, atau biarlah mereka membuat beberapa buah obor yang sebenarnya. Jika obor-oborku tadi berhasil menumbuhkan gambaran adbmcadangan.wordpress.com tentang keajaiban, maka obor-obor yang akan dinyalakan oleh para pengawal dan ditancapkan di tebing, akan menimbulkan tanggapan serupa.”

“Tetapi obor itu akan menyala sampai pagi. Dan mereka akan menemukan bekas-bekasnya, sehingga tanggapan yang semula akan larut karenanya, jika mereka menyangka bahwa yang dilihatnya semalam juga hanya sekedar obor-obor biasa.”

“Obor-obor itu hanya akan dibasahi dengan minyak sedikit saja, sehingga akan segera padam. Orang-orang yang tinggal di sini akan mengambil obor itu dan menyembunyikannya.”

Daksina mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa bertanya lagi, maka ia pun kemudian mengikuti Putut Nantang Pati meninggalkan tebing.

Ternyata mereka tidak singgah lagi di padepokan Putut Nantang Pati yang memang sudah dikosongkan. Mereka langsung pergi ke padepokan Panembahan Agung diiringi oleh beberapa orang pengawal. Meskipun malam masih disaput oleh gelap yang pekat, namun agaknya mereka sudah terlalu biasa berjalan di tebing padas yang curam itu.

Para pengawal yang ditinggalkan oleh Daksina mulai berusaha mengganggu pasukan Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh yang ingin mempergunakan sisa malam itu untuk beristirahat. Jika besok mereka akan menghadapi perang yang sebenarnya, maka mereka perlu mengumpulkan tenaga untuk melayani lawannya. Mungkin sehari penuh mereka harus bertempur. Mungkin bahkan masih akan berlanjut di hari kemudian.

Seperti yang dikatakan oleh Putut Nantang Pati, maka satu dua orang mulai menyalakan obor dan pergi ke atas tebing yang agak jauh.

Nyala api obor itu memang dapat mengejutkan sesaat. Namun indera wadag orang-orang Mataram dan Menoreh yang tajam, segera dapat membedakan obor itu dengan obor yang semu. Apalagi Ki Argapati dan Kiai Gringsing.

“Agung Sedayu,” bertanya Kiai Gringsing, ”kau melihat obor itu.”

“Ya, Guru,” jawab Agung Sedayu.

“Kau melihat sesuatu selain obor?”

“Aku melihat bayangan seseorang, meskipun ia berusaha bersembunyi di balik pepohonan.”

“Nah, itulah bedanya dengan obor yang tadi. Orang itu tentu akan mengganggu kita, seakan-akan obor yang semu itu menyala lagi. Nah, kau tahu apa yang harus kau lakukan?”

“Maksud Guru?”

“Ambillah busurmu.”

“O,” Agung Sedayu pun kemudian mengambil busur dan anak panah.

“Cepat, sebelum orang itu pergi dan meninggalkan obor di tebing.”

Sejenak Agung Sedayu termangu-mangu. Tetapi segera ia sadar, bahwa ia berada di medan peperangan. Itulah sebabnya, maka ia pun segera menarik busurnya meskipun dengan hati yang berdebar-debar.

Agung Sedayu adalah seorang anak muda yang memiliki kemampuan bidik yang luar biasa, seakan-akan mewarisi kemampuan ayahnya. Karena itu, maka ketika anak panahnya meluncur dengan cepat, segera terdengar sebuah keluhan di atas tebing. Orang yang sedang berusaha menancapkan obor, yang meskipun sebagian tubuhnya terlindung oleh gerumbul dan pepohonan perdu, namun ternyata Agung Sedaya telah berhasil mengenai lengannya yang memegang obor itu.

Sengatan anak panah itu sama sekali tidak diduganya, sehingga karena itu, maka obor ditangannya itu pun bagaikan dilemparkannya ke dalam lembah berbatu padas.

Kawan-kawannya yang mendengar keluhan itu pun segera mendekatinya. Beberapa buah obor yang seharusnya ditancapkan di tempat yang agak memencar, seakan-akan telah berkumpul menjadi satu.

“Kau dapat membidik mereka Agung Sedayu,” berkata gurunya.

Sekali lagi Agung Sedayu disentuh oleh keragu-raguan. Namun sekali lagi ia mencoba memaksa dirinya untuk menyadari, bahwa di dalam peperangan, tidak ada pilihan lain daripada berusaha melemahkan lawan dengan segala cara.

Karena itu, selagi orang-orang di atas tebing itu sedang sibuk menolong kawannya yang terluka, dan tanpa mereka sadari, mereka telah mempergunakan obor-obor mereka justru untuk menerangi luka di lengan itu, Agung Sedayu telah menarik busurnya sekali lagi. Bahkan bukan saja Agung Sedayu, tetapi juga Pandan Wangi, Swandaru dan Prastawa, hampir bersamaan telah menyerang orang-orang yang sedang mengerumuni kawannya yang terluka di atas tebing itu.

Sekali lagi terdengar sebuah keluhan. Bukan dari satu orang. Agaknya anak panah yang meluncur itu telah berhasil melukai lebih dari seorang sekaligus. Sejenak kemudian terjadi kebingungan di antara mereka, Namun sejenak kemudian maka mereka pun segera menghilang di balik gerumbul dan pepohonan sambil membawa kawan-kawan mereka yang terluka.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Mau tidak mau ia mengakui kemampuan Agung Sedayu. Bidikannya hampir tidak pernah salah.

“Mereka mencoba untuk membuat kita semakin bingung,” berkata Kiai Gringsing kemudian, ”Mereka berusaha agar kita menyangka, bahwa obor-obor itu pun tentu bukan obor yang sebenarnya.”

“Bagaimana Kiai mengetahuinya?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Orang-orang yang membawa obor itu berusaha meletakkan obor mereka di bibir tebing. Sudah barang tentu mereka mengharapkan kesan, seakan-akan obor itu pun tidak ada bedanya dengan obor yang sebenarnya hanya semu itu. Dengan demikian akan menimbulkan dugaan, bahwa ada di antara mereka memiliki ilmu itu dengan baik.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Kiai Gringsing pun berkata selanjutnya, ”Tetapi sebenarnyalah bahwa untuk menimbulkan kesan yang pertama, orang itu telah kehabisan tenaga, sehingga ia sudah tidak mampu lagi melakukannya.”

Dalam pada itu Agung Sedayu dan Swandaru pun kemudian duduk di antara para Pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Namun mereka sama sekali tidak lagi merasa kantuk, karena hampir setiap orang telah dicengkam oleh persoalan yang hampir serupa.

“Apakah kira-kira yang akan dijumpainya besok di dalam perang yang tentu akan lebih besar dari yang pernah terjadi?” mereka bertanya kepada diri sendiri.

Demikianlah, meskipun lawan tidak lagi mengganggu di sisa malam itu, namun para pengawal dari Mataram dan dari Tanah Perdikan Menoreh itu tidak dapat lengah. Setiap saat mereka akan dapat menerkam dengan segala cara. Karena itulah, maka bukan saja yang lagi bertugas yang merasa wajib berjaga-jaga. Tetapi semuanya.

Jika ada di antara mereka yang diserang oleh perasaan kantuk pula, maka mereka pun hanya dapat terlena beberapa kejap saja sambil duduk memeluk lutut atau bersandar pepohonan.

Dalam pada itu, orang-orang yang mencoba memasang obor di atas tebing, dengan tergesa-gesa meninggalkan daerah yang terkutuk itu. Beberapa orang dari mereka telah terluka. Bahkan salah seorang dari mereka terluka agak parah, karena sebuah anak panah telah menancap di punggung.

Tetapi mereka tidak akan dapat menghubungi dan menunggu perintah yang lain dari Putut Nantang Pati dan Daksina karena keduanya telah mundur bersama pasukannya menempatkan diri pada pertahanan terakhir di muka padepokan Panembahan Agung. Sedang yang ada di padepokan Putut Nantang Pati sendiri tentu hanya sekedar pengawal yang bertugas mengganggu perjalanan pasukan pengawal Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh.

Karena itu, yang dapat mereka lakukan adalah sekedar menyingkir dan menyerahkan tugas mereka kepada orang-orang lain. Namun yang lain pun menganggap bahwa permainan obor tentu tidak akan berguna lagi. Karena itu, mereka memusatkan diri pada tebing yang tinggi untuk menghujani pasukan yang bakal lewat dengan anak panah dan tombak-tombak pendek.

Tetapi hal yang serupa itu telah diperhitungkan oleh Raden Sutawijaya dan Ki Argapati, sehingga pasukan mereka telah siap menghadapi setiap kemungkinan.

Demikianlah ketika matahari mulai membayangkan warna-warna merah, maka pasukan di lembah itu pun telah bersiap. Tetapi agaknya Sutawijaya menyadari sepenuhnya, bahwa di hadapannya terbentang medan yang berat sekali.

Karena itu, maka Sutawijaya pun berpendapat, bahwa pasukannya tidak akan dengan mudah dapat menyelesaikan tugasnya. Mungkin mereka memerlukan waktu lebih dari sehari. Sehingga karena itu, maka Sutawijaya pun harus mempersiapkan semua segi dari pasukannya. Kemampuan, kekuatan jasmaniah dan ketahanannya, perbekalan dan persoalan yang lain lagi.

Ternyata bahwa mereka tidak dapat membiarkan kuda-kuda mereka terikat beberapa hari tanpa minum meskipun diseputarnya terdapat rumput-rumput segar. Sehingga karena itu, maka dua orang dari pasukan Pengawal Mataram dan dari Menoreh mendapat tugas untuk kembali memelihara kuda-kuda mereka, sedang apabila perlu, Sutawijaya dan Ki Argapati harus telah bersetuju untuk menyiapkan beberapa orang yang harus mengambil perbekalan kembali ke Menoreh, dan bahkan jika perlu memanggil beberapa orang pasukan Pengawal untuk memperkuat kedudukan mereka.

“Kita akan menjajagi,” berkata Raden Sutawijaya, ”mudah-mudahan kita tidak memerlukan lagi. Baik pasukan mau pun perbekalan.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “Raden benar. Tetapi jika perlu, pasukan Pengawal Menoreh dapat mempersiapkan diri dalam waktu setengah hari, sedang pasukan cadangan dapat dipersiapkan dalam waktu satu hari satu malam.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berdesis, ”Ternyata pasukan Pengawal Tanah Perdikan Menoreh mempunyai susunan yang hampir sempurna, sehingga dalam waktu yang singkat, sudah dapat digerakkan seluruhnya.”

“Bukan sempurna, Raden. Tetapi karena pengalaman pahit di masa lampau, maka pasukan kami masih tetap di dalam susunan yang mapan.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia percaya sepenuhnya bahwa pasukan Pengawal Tanah Perdikan Menoreh susunannya tidak jauh berbeda dengan anak-anak muda yang menjadi Pengawal Kademangan Sangkal Putung.Kedua daerah ini pernah mengalami masa yang hampir saja mengguncangkan kelestarian daerah mereka, sehingga karena itu, maka mereka justru mempunyai ketahanan diri yang mapan.

Dan tidak berbeda pula dan bahkan memiliki susunan yang lebih tertib adalah pasukan Pengawal Mataram yang sebagian disusun seperti dan oleh bekas prajurit-prajurit Pajang.

Ketika matahari kemudian mulai melontarkan sinarnya di atas punggung pegunungan, maka mulailah pasukan yang berada di lembah itu bergerak. Mereka menyadari bahwa pada suatu saat mereka akan mendapat serangan kecil dari tebing. Namun serangan-serangan itu bukannya lawan yang sebenarnya sehingga karena itu, maka mereka tidak boleh terpancang pada serangan-serangan itu. Meskipun demikian bukan berarti bahwa mereka tidak harus berhati-hati, karena betapa pun juga anak panah yang dilontarkan dari tebing itu akan mampu membunuh dalam arti yang sebenarnya.

Demikianlah, maka pasukan pengawal Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh itu mulai bergerak maju. Untuk mengurangi kemungkinan yang tidak diharapkan, serta jebakan-jebakan yang akan dapat mengganggu pasukan itu, maka atas persetujuan Raden Sutawijaya dan Ki Argapati, maka pasukan itu pun berjalan dalam urutan yang panjang. Yang berjalan di sisi kiri luar lembah adbmcadangan.wordpress.com yang agak luas itu adalah pasukan Pengawal Mataram. Kemudian di sisi kanan adalah Pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Berurutan dan bahkan kelompok demi kelompok saling membatasi diri beberapa langkah.

Tetapi ternyata bahwa jalan yang mereka lalui adalah daerah yang liar, sehingga mereka tidak dapat maju dengan pesat.

Namun beberapa puluh langkah kemudian, ternyata lembah itu menjadi semakin mudah dilalui. Bahkan pepohonan pun menjadi semakin jarang, sehingga akhirnya Raden Sutawijaya tertegun sejenak sambil berdesis, ”Kita sampai ke daerah yang sering disentuh oleh tangan manusia.”

“Tentu kita sudah dekat dengan perkemahan atau padepokan atau semacam itu,” sahut Ki Lurah Branjangan.”

“Ya. Di hadapan kita itu tentu daerah yang dapat ditanami. Lihat hijaunya lain dengan daerah yang liar. Di sini pepohonan tumbuh tanpa diatur, sehingga jenis pohon apa pun tumbuh bersama-sama. Tetapi menilik hijaunya daun, maka di depan kita tentu pategalan yang sudah mengalami pemeliharaan.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian menunjuk sebuah tebing yang menjorok sambil berdesis, ”Jika masih ada orang yang ingin mengganggu perjalanan kita, maka tebing itu merupakan tempat yang paling baik untuk melakukannya.”

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun menganggukkan kepalanya.

Pada saat yang bersamaan di sisi lain, Ki Argapati pun menunjuk tebing yang menjorok itu. Katanya, ”Kita harus berhati-hati.”

“Kenapa, Ayah?” bertanya Pandan Wangi.

“Tebing itu.”

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya. Ia mengerti maksud ayahnya, sehingga ia pun segera mempersiapkan dirinya sambil berdesis kepada Prastawa, ”Beritahukan seluruh pasukan. Kita harus berhati-hati.”

Prastawa pun kemudian surut beberapa langkah. Diberitahukannya pemimpin kelompok terdepan dari pasukan Pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang kemudian menjalar ke setiap telinga.

Ketika Prastawa melihat Kiai Gringsing dan kedua muridnya yang berjalan agak di belakang, maka ia pun mendekatinya sambil berkata, ”Tebing itu.”

Kiai Gringsing mengangguk. Katanya, ”Sebaiknya kita mempersiapkan anak panah dan busur.”

“Ya. Paman sudah memerintahkan kepada seluruh pasukan.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Dipalingkannya wajahnya kepada kedua muridnya yang ternyata juga menyandang busur dan anak panah, yang didapatkannya dari para pengawal.

Ki Demang Sangkal Putung yang berada beberapa langkah di belakang mereka, berjalan sambil menundukkan kepalanya. Kadang-kadang ia merasa aneh, bahwa kedatangannya ke Menoreh adalah untuk melamar seorang gadis bagi anaknya. Namun tiba-tiba ia telah terlempar ke dalam lembah yang liar di antara bukit-bukit padas ini. Bahkan, bersama anaknya ia sudah berada di depan bahaya yang mungkin dapat merampas nyawanya.

“Bukan main,” katanya kepada diri sendiri di dalam hatinya, ”kadang-kadang kita memang harus menjalani liku-liku kehidupan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Jika karena sesuatu hal, apakah Swandaru apakah Pandan Wangi yang tersentuh oleh tajamnya senjata, maka kedatangan kami di Menoreh adalah sia-sia. Bahkan adalah suatu kegagalan.”

Tetapi Ki Demang tidak dapat menyalahkan siapa pun juga. Keadaan yang memang di luar kekuasaannya, bahkan di luar kekuasaan Ki Argapati, dan telah menyeret pasukan pengawal Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh itu menyusur lembah ini.

Ki Demang terkejut ketika Swandaru yang berhenti menunggunya menggamit lengannya. “Ayah,” berkata Swandaru, ”marilah berjalan bersama kami.”

“Kenapa? Apakah kita sudah dekat?”

“Tidak, Ayah. Tetapi tebing yang menjorok itu mememerlukan perhatian yang khusus.”

Ki Demang mengangkat wajahnya. Dilihatnya tebing yang menjorok itu. Dan ia pun mengerti, bahwa di atas tebing itu mungkin tersembunyi beberapa orang lawan. Mereka dapat menggulingkan batu dan batang-batang kayu seperti yang pernah mereka lakukan. Tetapi lembah di sebelah tebing yang menjorok itu tidak menguntungkan untuk mengulangi cara itu.

”Tentu serangan dengan anak panah,” desis Ki Demang.

“Kita sedang menduga,” sahut Swandaru, ”mungkin memang demikian, tetapi mungkin tidak. Tetapi jika benar, kita harus bersiap menghadapinya.”

“Baiklah,” berkata Ki Demang, ”tetapi aku dapat meminjam sebuah perisai dari seorang pengawal.”

“Dan pengawal itu?”

“Bersama-sama berlindung di bawah dua orang kawannya yang berperisai juga.”

Swandaru tersenyum. Tetapi Swandaru sendiri tidak memerlukan perisai. Jika perlu, cambuknya dapat melindungnya. Dengan putaran secepat baling-baling, maka setiap anak panah akan terlempar menjauhinya

Demikianlah pasukan itu merayap semakin dekat. Dan Ki Demang telah berada bersama dengan Kiai Gringsing dan kedua muridnya yang kemudian berjalan di belakang Ki Argapati, Pandan Wangi dan Prastawa.

Kini di hadapan mereka telah berjalan lebih dahulu beberapa orang pengawal yang membawa perisai, agar mereka dapat melindungi diri mereka dari serangan anak panah lawan.

Semakin dekat kedua pasukan yang berjalan sebelah-menyebelah itu dari tebing yang menjorok, maka kedua pasukan itu menjadi semakin berhati-hati. Beberapa orang telah mempersiapkan perisai mereka, sedang yang lain mempersiapkan busur dan anak panah.

Hampir setiap mata memandang ke arah tebing yang menjorok itu. Setiap pepohonan dan setiap gerumbul tidak terlepas dari pengawasan, seakan-akan di balik setiap batang pohon dan setiap gerumbul perdu, bersembunyi orang-orang siap melemparkan anak panah.

Tetapi tiba-tiba saja mereka terkejut ketika mereka mendengar teriakan nyaring disusul dengan sorak sorai yang riuh. Selagi pasukan itu tertegun heran, maka anak panah pun meluncur seperti hujan yang dicurahkan dari langit.

Sekejap kedua pasukan itu menjadi bingung. Namun hampir bersamaan, maka Raden Sutawijaya, Ki Lurah Branjangan, Ki Argapati dan Swandaru berteriak, ”Berlindung. Cepat.”

Setiap orang di dalam pasukan itu segera mencari perlindungan. Batang-batang pohon, gerumbul-gerumbul dan mereka yang membawa perisai, langsung melindungi diri mereka dengan perisai.

“Gila,” Prastawa mengumpat, ”ternyata mereka tidak menunggu sampai kita sampai di bawah tebing itu.”

Tidak seorang pun yang menyahut. Beberapa orang menggeretakkan giginya, sedang yang lain mengumpat-umpat, karena mereka hanya dapat menyembunyikan diri tanpa dapat berbuat apa-apa.

Tetapi Agung Sedayu, Swandaru, dan mereka yang membawa busur dan panah, segera mencari tempat. Mereka bergeser dari satu pohon ke balik pohon yang lain, sehingga mereka dapat menemukan tempat yang paling baik untuk melawan anak panah itu.

Sejenak kemudian beberapa buah anak panah meluncur pula dari lembah. Dengan demikian, maka deras anak panah yang menghujan itu pun segera berkurang, karena orang-orang yang berada di atas tebing pun harus mencari perlindungan. Tetapi ada pula di antara mereka yang dengan beraninya berdiri saja di bibir tebing sambil melontarkan anak panah mereka dan sekedar berlindung pada sebatang pohon perdu yang tidak begitu rapat.

Sejenak Agung Sedayu mengamati medan. Namun sejenak kemudian ia serasa disentuh oleh perasaan wajib. Karena itu, maka perlahan-lahan tangannya mulai memasang anak panah pada busurnya, sementara Swandaru telah melepaskan beberapa anak panahnya.

Di bagian lain, Sutawijaya pun telah membalas serangan-serangan itu. Tetapi mereka harus bersembunyi sebaik-baiknya karena ternyata bukan saja anak panah yang ringan dan kecil, tetapi mereka telah melemparkan pula tombak-tombak pendek dan lembing-lembing bambu cendani sebesar ibu jari kaki, yang mereka beri semacam bedor besi diujungnya.

Sejenak maka kedua pasukan yang ada di lembah itu harus melayani lawan-lawannya meskipun mereka tahu, bahwa yang mereka hadapi adalah sekedar usaha untuk memperlambat laju mereka.

Meskipun demikian, pasukan pengawal Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh itu memerlukan waktu yang cukup lama untuk melayani orang-orang yang berada di atas tebing itu. Untuk menghindari korban-korban yang tidak perlu, maka para pengawal itu pun masih saja berlindung di balik pepohonan, sementara mereka yang bersenjata panah, mengurangi derasnya serangan lawan dengan anak panah-panah pula.

“Jika kita masih tetap ada di sini, maka mereka tidak akan segera pergi,” desis Ki Lurah Branjangan.

“Maksudmu?” bertanya Sutawijaya.

“Aku akan membawa beberapa orang pengawal, merayap naik tebing dan menyerang mereka dari jarak dekat.”

“Bagaimana kau akan naik?”

”Kami memerlukan perlindungan dari mereka yang bersenjata panah.”

Sutawijaya menganggukkan kepalanya. Katanya, ”Baiklah. Pergilah dengan beberapa orang pengawal. Beritahukan Ki Argapati dan para pemimpin dari Menoreh, agar pasukanmu tidak justru menjadi sasaran serangan panah mereka.”

Ki Lurah Branjangan pun kemudian membawa beberapa orang untuk menghalau orang-orang yang menyerang mereka dari atas tebing itu. Dengan sedikit melingkar, mereka merayap naik setelah mereka memberitahukan rencananya kepada pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

Beberapa orang pengawal Mataram yang bersenjata panah melindunginya dari serangan orang-orang di atas tebing dengan melontarkan panah sebanyak-banyaknya, dibantu oleh para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh.

Demikianlah, maka anak panah pun meluncur dengan derasnya dari kedua belah pihak. Sekali-sekali jika dua batang anak panah kebetulan beradu, maka sepercik bunga api telah meletik di udara.

Ternyata pasukan yang merayap itu telah menarik perhatian orang-orang yang berada di atas tebing. Dengan demikian, maka serangan-serangan mereka pun segera dipusatkan ke arah mereka, karena pengawal yang naik ke atas tebing akan langsung dapat menyerang mereka dari jarak dekat.

Tetapi dengan demikian, maka pasukan pengawal yang ada di lembah mendapat kesempatan lebih banyak. Mereka segera menghujani orang-orang di atas tebing itu sebanyak-banyaknya yang dapat mereka lemparkan.

“Apakah anak panah kalian akan kalian habiskan di sini?” bertanya Swandaru kepada salah seorang pengawal.

“Mereka harus dihalau.”

“Jika panahmu habis dan kita masih menjumpai gangguan yang sama, apa yang dapat kita lakukan?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia masih mendapat jawaban, ”Kita akan memungut anak panah yang bertebaran di sekitar kita dan kita masukkan ke dalam endong kita.”

Swandaru tersenyum sambil mengumpat, ”Ada saja jawabanmu itu.”

Orang itu pun tersenyum.

Tetapi keduanya terkejut ketika mereka mendengar teriakan nyaring. Mereka masih sempat berpaling dan melihat seseorang di atas tebing itu menggeliat dan tanpa dapat menguasai dirinya, ia terjatuh ke dalam jurang yang terjal. Sebuah anak panah menancap di dadanya, dan darah yang merah seakan-akan memancar dari luka itu.

Semua mata tertambat kepada orang yang berguling itu, kecuali Swandaru. Ia mencoba memandang wajah Agung Sedayu yang berdiri beberapa langkah daripadanya. Dilihatnya Agung Sedayu tiba-tiba saja menundukkan kepalanya.

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Katanya di dalam hati, ”Tentu Kakang Agung sedayu yang mengenainya dengan tepat. Ia benar-benar seorang yang memiliki kemampuan bidik yang luar biasa. Orang yang sudah berlindung di belakang ilalang itu tepat dikenai dadanya,” Swandaru menarik nafas dalam-dalam, lalu, “Tetapi ia memang bukan seorang prajurit yang baik. Ia bukan Untara, dan ia bukan Raden Sutawijaya. Bukan pula seperti aku.”

Agung Sedayu masih berdiri sambil menunduk di balik sebatang pohon. Namun hiruk-pikuk di sekelilingnya seakan-akan telah membangunkannya, sehingga sejenak kemudian ia mulai mengangkat wajannya dan memandang ke atas tebing.

Swandaru mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak berbuat sesuatu. Justru ia sengaja agar Agung Sedayu tidak mengetahui bahwa ia sedang memperhatikannya.

Ketika Swandaru pun kemudian menengadahkan wajahnya pula, dilihatnya pasukan Ki Lurah Branjangan yang dengan susah payah merayap naik itu telah hampir mencapai bibir tebing di bawah perlindungan anak panah dari para pengawal di bawah, dan perisai-perisai yang mereka bawa.

Beberapa orang lawan yang melihat usaha itu hampir berhasil segera berlari-lari mendekat dengan pedang terhunus. Namun satu dua di antara mereka terpaksa jatuh terkapar, ketika anak panah yang dilontarkan dari lembah mengenai mereka.

Tetapi mereka bukan orang-orang yang dungu. Mereka pun segera menjauhi bibir tebing, dan mencoba menyerang Lurah Branjangan dengan anak panah dari tempat yang tidak terlihat dari lembah.

Namun pasukan Ki Lurah pun sudah mulai menebar. Satu dua orang sudah mencapai bibir tebing, dan yang satu dua itu langsung terlibat di dalam perkelahian. Sementara yang lain segera menyusulnya.

Meskipun pertempuran yang terjadi itu sekedar merupakan bagian kecil dari keseluruhan, namun para pemimpin Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh mengikutinya dengan dada yang berdebar-debar.

Bahkan beberapa orang menjadi cemas, jika sekiranya mereka salah hitung, dan ternyata orang-orang yang berada di atas tebing itu berjumlah jauh lebih banyak dari anak buah Ki Lurah Branjangan, maka keadaannya akan menyulitkannya.

Apalagi ketika pertempuran sudah berkobar, maka para pengawal dilembah tidak berani lagi melontarkan anak panah mereka. Sehingga dengan demikian, mereka hanya dapat sekedar memperhatikan pertempuran yang sedang berlangsung.

Namun pertempuran itu tidak berlangsung lama. Ketika Sutawijaya memerintahkan beberapa orang pengawalnya untuk menyusul naik ke atas tebing pegunungan itu, maka orang-orang yang sedang mengganggu perjalanan itu pun harus memperhitungkannya.

Karena itu, maka sejenak kemudian mereka pun segera berusaha menarik diri. Dengan sebuah isyarat, maka perlahan-lahan mereka surut, dan kemudian berhamburan masuk ke dalam semak-semak dan belukar di atas tebing.

Ki Lurah Branjangan mencoba mengejar mereka beberapa puluh langkah. Namun ia pun kemudian memerintahkan anak buahnya berhenti. Mereka tidak mengetahui apa yang ada di balik gerumbul-gerumbul dan belukar yang cukup lebat itu, sehingga karena itu, maka ia pun segera menghentikan pasukannya.

Beberapa orang yang sedang memanjat naik itu pun mengurungkan usahanya untuk mencapai bibir tebing, karena tidak ada lagi lawan yang harus dihadapinya. Dan sebenarnyalah menurut perhitungan Sutawijaya, orang-orangnya itu bukannya benar-benar harus bertempur. Dengan memerintahkan beberapa orang naik, pasukan lawan itu tentu akan menghindar.

Sejenak kemudian Ki Lurah Branjangan pun telah sampai ke induk pasukannya. Segera mereka melanjutkan perjalanan. Meskipun mereka baru saja bertempur, namun di bawah tebing yang menjorok itu, mereka tetap berhati-hati.

Tetapi ternyata mereka lewat tanpa gangguan apa pun. Meskipun demikian, ternyata ada juga di antara anak buah Ki Lurah yang terluka. Meskipun lukanya tidak partah, tetapi sambil berjalan, kawan-kawannya berusaha untuk menahan arus darah yang mengalir dari luka itu. Dan dari Kiai Gringsing mereka mendapat serbuk obat yang dapat mengurangi titik-titik darah yang keluar dari luka-luka itu.

Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai ke daerah pategalan yang seperti telah diduga oleh para pengawal Mataram dan Menoreh, merupakan tanah yang sudah digarap. Ternyata bahwa lembah itu memang menjadi semakin luas dan merupakan sebuah dataran yang tersembunyi di antara pegunungan.

”Ada mata air,” tiba-tiba salah seorang dari para pengawal itu berteriak.

Pasukan itu terhenti. Di lereng sebelah kiri, di bawah sebatang pohon ketapang yang besar, terdapat sebuah mata air yang cukup besar sehingga airnya mengalir ke dalam sebuah parit.

Sutawijaya memperhatikan mata air itu sejenak. Kiai Gringsing, kedua muridnya, Ki Demang Sangkal Putung, dan para pemimpin dari Tanah Perdikan Menoreh pun kemudian berkerumun di sekitar mata air itu.

“Suatu sumber penghidupan di lembah ini,” desis Sutawijaya.

“Ya,” sahut Kiai Gringsing, ”air itu tentu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Dengan demikian, jika kita menyusuri air yang mengalir ini, kita akan sampai kepada dua kemungkinan. Keluar dari lembah ini, mungkin memang ada jalan keluar tanpa melalui puncak-puncak bukit kecil itu, atau menerobos di bawah tanah. Sedang kemungkinan yang lain, bahwa kita akan sampai ke daerah yang berawa-rawa.”

“Kemungkinan yang pertama itulah yang paling dekat dengan keadaan daerah ini,” berkata Ki Argapati. ”Jika kita akan sampai ke daerah yang berawa-rawa, selain tanah akan menjadi semakin lembab, kita akan dapat melihat rawa-rawa itu dari tebing pegunungan ini.”

Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun mereka mendapatkan satu kesimpulan, bahwa tanah dataran di antara bukit-bukit kecil ini merupakan tanah yang baik untuk digarap. Dengan demikian maka mereka berpendapat, bahwa mereka tentu akan sampai kepada sebuah padukuhan. Dan padukuhan itulah yang mungkin telah dipergunakan sebagai pusat gerakan dari seorang yang menyebut dirinya Panembahan Agung.

Dengan demikian, maka mereka pun menduga, bahwa mereka benar-benar telah berada di ambang pintu padepokan yang mereka cari. Karena itulah maka sejenak kemudian, para pemimpin dari Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh itu pun segera mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.

Dengan kesiagaan sepenuhnya maka pasukan itu pun merayap maju. Di sela-sela pategalan mereka menemukan jejak dari sebuah pasukan yang cukup besar. Karena itulah maka para pengawal itu telah menggenggam senjata di tangan masing-masing. Mereka menyangka bahwa sebentar lagi mereka tentu akan disergap oleh sepasukan yang kuat dari sela-sela pepohonan di pategalan itu.

Tetapi sampai beberapa puluh langkah kemudian mereka tidak mengalami sesuatu. Apalagi pategalan itu menjadi semakin jarang dan sekedar ditanami dengan pohon buah-buahan dan agaknya baru saja orang-orang di padukuhan itu mengambil hasil tanaman mereka. Menilik bekasnya, maka tanah di antara pohon buah-buahan yang jarang itu baru saja ditanami dengan ketela pohon dan sebagian dengan sejenis kacang.

Namun yang mereka yakini, bahwa mereka telah menjadi semakin dekat dengan sebuah padukuhan.

Pasukan itu pun kemudian menjadi semakin berhati-hati. Sebelum mereka maju lagi, maka mereka telah mengirimkan tiga orang yang akan mengawasi keadaan di hadapan mereka, apakah mereka akan masuk ke dalam perangkap atau tidak.

Para pengawas itu dengan hati-hati merayap maju mendahului pasukannya. Mereka membawa beberapa macam alat untuk mengirimkan isyarat. Panah sendaren, bahkan kentongan kecil.

Tetapi mereka sama sekali tidak menjumpai apa pun yang mencurigakan. Mereka tidak melihat sebuah pertahanan yang kuat, dan ujung-ujung senjata yang mencuat.

Namun mereka tidak tergesa-gesa maju terus, karena mereka masih selalu dibayangi oleh kecurigaan, bahwa lawan tereka dapat memasang jebakan yang tidak mereka duga lebih dahulu.

Dengan sangat hati-hati mereka maju beberapa puluh langkah lagi, bergeser di antara pepohonan.

Tetapi mereka pun tidak menemukan apa-apa. Di antara pepohonan yang jarang itu, mereka sama sekali tidak melihat pasukan pengawal segelar sepapan.

“Kenapa begitu sepi?” bertanya salah seorang di antara para pengawas itu sambil berbisik.

“Ya. Aku justru menjadi curiga. Mungkin mereka berada di balik dinding batu di belakang pategalan itu.”

“Itu pun sepi.”

“Mereka sengaja berlindung.”

“Tetapi itu tidak menguntungkan. Jika kita datang dengan seluruh pasukan, mereka akan terkepung di dalam halaman yang sempit. Dan karena itu, maka mereka tidak akan dapat memberikan perlawanan yang sempurna.”

“Itulah yang aneh. Dan yang tidak lazim itulah yang harus kita perhatikan.”

“Aku akan maju lagi,” berkata yang lain dengan tiba-tiba, ”aku tidak telaten untuk sekedar menduga-duga saja.”

Kawan-kawannya tidak membantah, sehingga karena itu maka mereka pun mulai bergerak maju dengan hati-hati. Mereka selalu berusaha berlindung di antara pepohonan dan pohon-pohon perdu yang bertebaran di pategalan di hadapan padukuhan yang sudah nampak.

“Padukuhan itu kecil,” desis salah seorang.

“Ya. Tetapi rumah-rumah yang nampak itu adalah barak-barak yang dihuni bersama-sama oleh beberapa orang.”

“Memang menarik sekali. Mungkin mereka mempertahankan setiap rumah yang mereka huni itu dengan cara yang asing bagi kita.”

“Mungkin, memang mungkin,” potong yang lain, ”tetapi yang paling baik adalah mendekat.“

Mereka bertiga menjadi semakin gelisah. Tetapi justru karena itu, mereka ingin mengetahui dengan pasti, apakah yang mereka hadapi. Meskipun demikian salah seorang dari mereka harus mempersiapkan isyarat. Jika tiba-tiba saja mereka disergap, maka mereka sempat membunyikan tanda bahaya itu. Setidak-tidaknya kentongan dengan nada yang sudah mereka sepakati.

Tetapi mereka sama sekali tidak menjumpai apa pun juga di dalam padepokan itu. Ketika mereka dengan hati-hati menjenguk ke balik dinding batu yang mengelilingi padepokan itu, maka mereka sama sekali tidak melihat apa pun. Padepokan itu agaknya memang benar-benar telah kosong.

“Gila, perangkap apa lagi yang akan mereka pasang buat kita?” berkata salah seorang dari ketiganya.

“Aku akan masuk. Biarlah apa yang akan terjadi. Tetapi semuanya ini membuat aku justru menjadi semakin ingin tahu.”

Orang itu pun kemudian meloncat masuk ke dalam lingkungan dinding batu. Kedua kawannya pun segera mengikutinya. Disamping alat-alat yang dapat memberikan isyarat, mereka menggenggam senjata telanjang pula di tangannya.

Dengan dada yang berdebar-debar mereka melangkah maju melintasi sela-sela pepohonan di kebun padepokan itu. Perasaan ingin tahu yang semakin besar telah mendorong mereka untuk melihat-lihat, apakah yang sebenarnya sedang mereka hadapi.

Sejenak mereka saling berpandangan ketika mereka melihat sebuah pintu barak yang tertutup. Mereka menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi salah seorang berbisik, “Aku akan melihat apakah yang ada di dalam barak itu.”

“Baiklah,” berkata yang lain, lalu katanya kepada kawannya yang satu lagi, ”kau tetap di sini. Jika terjadi sesuatu, kau sempat memberikan isyarat. Aku kira induk pasukan itu tidak begitu jauh di belakang kita, karena mereka pun maju terus.”

“Baiklah. Tetapi berusahalah untuk memberikan tanda apa pun.”

“Maksudmu jika tiba-tiba kami disergap?”

“Ya. Memang mungkin kalian kehilangan kesempatan.”

”Kami akan masuk seorang demi seorang.”

“Baik. Lakukan. Tetapi berhati-hatilah. Kita berhadapan dengan lawan yang dibayangi oleh semacam rahasia.”

Kedua pengawas itu pun kemudian dengan perlahan-lahan mendekati pintu yang tertutup itu, sedang yang seorang lagi menempatkan dirinya di tempat yang agak terlindung sehingga tidak mungkin mendapat serangan dari jarak jauh.

Namun demikian, orang yang tinggal itu selalu digelisahkan oleh kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Kadang-kadang ia harus mengawasi cabang-cabang pepohonan jika ada satu dua orang yang mengintainya. Tetapi sepi. Benar-benar sepi. Dalam pada itu, adbmcadangan.wordpress.com kedua orang yang mendekati pintu barak tertutup itu pun menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi mereka maju terus. Perlahan-lahan mereka meraba pintu lereg itu. Dan ketika dengan isyarat keduanya bersepakat untuk membuka, maka perlahan-lahan mereka mendorong pintu itu ke samping.

Mereka terkejut ketika terdengar gerit pintu itu sendiri. Namun kemudian mereka mendorongnya lebih lebar lagi, sehingga mereka dapat menjengukkan kepala ke dalam barak yang tampak kegelapan karena tidak ada lubang sama sekali selain pintu yang sedikit terbuka itu.

Sejenak mereka termangu-mangu. Namun kemudian mereka pun yakin bahwa barak itu ternyata kosong. Tidak ada seorang pun yang ada di dalamnya.

Perlahan-lahan pintu itu pun kemudian terbuka semakin lebar, dan cahaya matahari pun semakin banyak memercik kedalamnya. Namun mereka benar-benar tidak menemukan seorang pun meskipun mereka mendapatkan bekas-bekasnya. Di dalam barak itu masih terdapat beberapa jenis mangkuk dan bumbung. Bahkan masih ada beberapa macam alat yang dipergunakan di sawah atau pategalan.

Sejenak mereka termangu-mangu. Namun kemudian salah seorang dari keduanya berkata, ”Aku yakin, padepokan ini memang dikosongkan.”

“Lalu, di manakah penghuninya?”

“Itulah yang merupakan teka-teki.”

“Biarlah bukan kita yang menjawabnya. Marilah kita meyakinkan kekosongan padepokan ini, kemudian melaporkannya kepada induk pasukan.”

Demikianlah mereka kemudian mengelilingi sebagian dari padepokan itu. Dan seperti yang mereka duga padepokan itu memang sudah kosong.

Dengan tergesa-gesa mereka bertiga pun kemudian kembali kepada Induk pasukan yang menunggu beberapa puluh langkah dari dinding padepokan itu,

“Jadi mereka sudah meninggalkan padepokan itu?” bertanya Pandan Wangi.

“Ya. Padepokan itu sudah sepi,” jawab salah seorang dari pengawas itu.

“Ke mana mereka pergi?”

“Kami belum tahu.”

Pandan Wangi menjadi tegang. Bukan karena pasukan itu tidak dapat menguasai lawan yang tentu masih akan tetap berbahaya bagi Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh, tetapi dengan demikian mereka tentu tidak akan menemukan Rudita pula.

Ayahnya, Ki Argapati agaknya dapat menangkap kegelisahan hati anaknya, sehingga karena itu ia bertanya kepada ketiga pengawas itu, ”Apakah kau tidak dapat melihat bekas-bekas kepergian mereka?”

“Kami belum menyelidikinya dengan teliti.”

Pandan Wangi yang menjadi sangat gelisah itu pun kemudian serasa tidak sabar lagi. Katanya, ”Kita memasuki padepokan itu, barangkali kita menemukan sesuatu.”

Raden Sutawijaya pun menjadi gelisah pula. Orang-orang yang meninggalkan padepokan itu tentu akan menjadi seperti semut yang disentuh sarangnya. Buyar bertebaran ke segenap arah. Jika demikian, maka mereka akan dapat menimbulkan banyak kesulitan. Baik bagi Mataram mau pun bagi Tanah Perdikan Menoreh. Apalagi jika Raden Sutawijaya itu pun memikirkan nasib anak muda yang namanya Rudita.

Dengan demikian, maka pasukan itu pun kemudian dengan tidak meninggalkan kewaspadaan memasuki padepokan yang sudah kosong itu. Tetapi agar mereka tidak terjebak dalam sebuah kepungan, maka baik Raden Sutawijaya mau pun Ki Argapati memerintahkan agar pasukannya sebagian besar tetap berada di luar dan mengawasi setiap kemungkinan. Mengawasi tebing dan daerah di seberang padepokan itu.

“Kita tidak boleh ditepuk dengan sebelah tangan di dalam padepokan sempit ini,” berkata Raden Sutawijaya.

Dengan demikian maka Ki Lurah Branjangan pun membawa sepasukan pengawal di depan padepokan itu, sedang pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh bersama Prastawa berada di antara pategalan di sisi padepokan.

Tetapi padepokan itu benar-benar kosong. Mereka tidak menemukan seorang pun di dalam padepokan itu.

Namun demikian, menurut penyelidikan yang kemudian mereka lakukan, mereka menemukan jejak sepasukan yang cukup besar meninggalkan padepokan itu.

“Mereka menarik pasukannya,” berkata Raden Sutawijaya.

Kiai Gingsing yang melihat bekas-bekas pasukan yang meninggalkan padepokan itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pun memikirkan nasib Rudita. Apakah anak itu masih selamat atau karena orang-orang di padepokan ini merasa tidak memerlukan lagi, maka ia pun mengalami nasib yang buruk.

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam.

“Kiai,” bertanya Sutawijaya, ”apakah yang menurut pertimbangan Kiai sebaiknya kita lakukan kemudian?”

Kiai Gringsing tidak segera menjawab. Dilayangkannya pandangan matanya berkeliling. Dilihatnya puncak pegunungan yang seakan-akan memagari lembah yang cukup luas itu.

“Apakah Kiai sedang memikirkan aliran air dari mata air itu?” bertanya Ki Argapati.

Kiai Gringsing memandanginya sejenak, lalu menganggukkan kepalanya, ”Ya, Ki Gede. Jalan keluar dari parit itu merupakan jalur yang dapat kita ikuti, kecuali apabila air itu kemudian menembus di bawah tanah.”

“Kenapa jalur parit itu?” tiba-tiba saja Agung Sedayu bertanya. ”Kita sudah menemukan jejak mereka.”

“Ya. Jejak itu memang dapat kita ikuti. Tetapi jika kita kehilangan jejak itu, maka kita mempunyai pegangan lain.”

“Tetapi apakah mereka akan selalu mengikuti air itu? Mungkin mereka mempunyai jalan lain,” potong Swandaru.

“Memang mungkin. Kita memang dihadapkan pada banyak kemungkinan. Tetapi semuanya memerlukan perhatian dan perhitungan yang cermat.”

Ki Argapati dan para pemimpin yang lain mengangguk-anggukkan kepala. Tetapi tidak seorang pun dari mereka yang menduga, bahwa di hadapan mereka masih terdapat sebuah padepokan lagi dan justru merupakan pusat pertahanan yang sangat kuat.

Karena itulah, yang mereka putuskan kemudian adalah sekedar mengikuti jejak pasukan yang telah meninggalkan padepokan itu.

“Kita berusaha untuk menemukan mereka di mana pun,” berkata Raden Sutawijaya.

”Tetapi jika mereka keluar dari lembah ini,” sahut Ki Argapati, ”kita akan mendapatkan kesulitan. Mereka akan menenggelamkan diri dalam kehidupan biasa di antara orang-orang padesan. Kita tidak akan dapat membedakan lagi, yang manakah orang-orang yang ikut di dalam pasukan di lembah ini dan yang manakah orang-orang padesan yang sewajarnya.”

“Orang-orang padesan itu, atau para bebahu akan dapat menunjukkan kepada kita, siapakah di antara mereka yang harus kita ambil.”

“Berbahaya sekali. Berbahaya bagi orang-orang padesan itu. Sebab mereka akan diancam dan pada saat lain akan mengalami nasib yang sangat buruk.” Ki Argapati berhenti sejenak, lalu, ”Tetapi kita dapat mencoba. Marilah kita ikuti jejak itu, agar kita mendapatkan kepastian, apakah yang harus kita lakukan.”

Para pemimpin kedua pasukan itu bersama-sama sependapat, bahwa mereka akan melanjutkan perjalanan, mengikuti jejak pasukan yang meninggalkan padepokan itu.

Setelah mereka berhenti sejenak untuk meneliti padepokan itu, maka mereka pun segera mengatur pasukankan berjalan menyusuri bekas pasukan yang telah pergi menghindar itu.

Namun mereka sama-sama berpendapat, bahwa padepokan itu bukan sebenarnya padepokan. Mereka tidak mendapatkan tanda-tanda bahwa di padepokan itu tinggal pula perempuan dan anak-anak, seperti kewajaran keluarga.

“Padepokan itu tidak lebih dari sarang segerombolan perampok yang sangat besar jumlahnya,” desis Kiai Gringsing yang samar-samar teringat pada sarang pasukan Jipang yang dipimpin oleh Tohpati di hutan rindang di hadapan Kademangan Sangkal Putung. Padepokan ini tidak ubahnya seperti sarang pasukan Jipang yang sudah kehilangan bentuknya itu. Namun agaknya sarang yang besar ini memiliki susunan yang lebih baik dari sebuah masyarakat yang tidak wajar.

“Agaknya memang demikian,” berkata Raden Sutawijaya kemudian. ”Dengan demikian kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa padepokan ini adalah sebuah pusat pemerintahan yang tersendiri. Penghuni-penghuninya adalah orang-orang yang meninggalkan keluarga mereka dan berhimpun di sini. Tentu di dalam keadaan yang sulit mereka akan memencar dan kembali kepada keluarga masing-masing.”

“Tetapi itu bukan berarti bahwa usaha mereka sudah berakhir. Hadirnya prajurit-prajurit Pajang di daerah ini tentu menimbulkan pertimbangan-pertimbangan tersendiri di dalam penilaian ini,” sahut Ki Argapati.

Yang mendengarkan kata-kata Ki Argapati itu menganggu-anggukkan kepalanya. Memang mereka tidak dapat melupakan begitu saja peranan yang dipegang oleh beberapa orang Senapati dari Pajang, yang tentu bukannya sekedar seperti daun kuning yang berguguran dari ranting-rantingnya. Kehadiran pasukan Pajang di daerah ini tentu masih mempunyai jalur hubungan dengan para senapati yang ada di istana.

Demikianlah pasukan itu berjalan maju perlahan-lahan. Mereka menyusuri bekas yang dapat mereka ketemukan dengan jelas. Seakan-akan orang-orang yang meninggalkan padepokannya itu sama sekali tidak menjadi cemas atas jejak yang mereka tinggalkan.

Dalam pada itu, masih agak jauh dari pasukan yang bergerak maju itu, Putut Nantang Pati dan Daksina sedang mengatur sebuah pertahanan yang kuat untuk menghentikan pasukan Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh yang tentu akan segera datang.

“Kita akan menghadapinya dengan perlawanan terbuka,” berkata Putut Nantang Pati, ”kita tidak usah membuat jebakan-jebakan seperti yang pernah kita lakukan. Di sini kita akan menghancurkan mereka. Hancur lumat.”

Daksina menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Kau terlampau percaya kepada kemampuan diri sendiri tanpa memperhitungkan kemampuan lawan.”

Putut Nantang Pati tersenyum. Katanya, ”Kau harus menyadari kemampuan kita di sini. Kau melihat sendiri, bahwa dengan permainan api yang kecil itu, pasukan Mataram dan Menoreh sudah menjadi bingung. Apalagi apabila Panembahan Agung sendiri yang melepaskan ilmu itu. Pasukan Mataram dan Menoreh akan kehilangan keseimbangan.”

“Ya. Menghadapi pasukan yang besar itu, apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh Panembahan Agung?”

”O, tentu ada seribu cara dapat dilakukannya. Panembahan Agung dapat membuat seakan-akan hutan di sekitar tempat ini terbakar. Atau seakan-akan langit dipenuhi burung garuda yang menyambar-nyambar.”

“Tetapi bukankah bentuk-bentuk semu itu tidak dapat berbuat apa-apa? Maksudku, seandainya di langit ada berates-ratus atau bahkan beribu-ribu burung garuda sebesar kerbau sekalipun, namun burung-burung semu itu tentu tidak akan dapat menyentuh pasukan Menoreh dan Mataram.”

“Tidak. Tetapi sementara mereka kebingungan karena bentuk semu itu, kita akan dapat menghancurkan sebagian dari mereka. Jika kemudian bentuk-bentuk itu hilang, maka pasukan mereka tinggal tidak lebih dari separo. Apalagi jika hadir bentuk-bentuk yang lain, seekor Naga bertanduk dan bertaring, atau berkepala lima dan menyemburkan api dari mulutnya.”

Daksina menarik nafas dalam-dalam. Bentuk-bentuk itu memang mengerikan. Tetapi apakah pasukan Mataram dan Menoreh dapat dikelabuhinya dengan mudah?

Tetapi agaknya Putut Nantang Pati memang yakin, bahwa pasukannya akan dapat menghancurkan pasukan Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh betapapun kuatnya. Dengan bentuk-bentuk semu kedua pasukan itu akan kehilangan pemusatan arah perlawanan sehingga dengan mudah pasukan Putut Nantang Pati akan dapat membinasakan sebagian besar dari mereka.

Tetapi agaknya Daksina lebih mementingkan kepada pertahanannya. Pasukan yang berada di dalam garis pertahanan itu mendapatkan petunjuk-petunjuk bagaimana mereka harus menghentikan gerak pasukan Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh yang kuat.

“Mereka adalah pengawal-pengawal yang memiliki nilai tempur seperti prajurit-prajurit Pajang,” berkata Daksina, ”karena itu, jangan lengah. Kita bukannya tidak percaya, bahwa Panembahan Agung akan mampu menciptakan bentuk-bentuk semu, tetapi kita pun harus memperhitungkan kemungkinan yang ada pada pasukan lawan. Aku kira tidak ada di antara mereka yang mampu melawan ilmu Panembahan Agung. Tetapi mungkin ada di antara mereka yang menyadari, bahwa mereka tidak boleh dibingungkan oleh bentuk-bentuk semu itu sehingga mereka sama sekali mengabaikan penglihatan mereka yang tidak wajar itu.”

Anak buahnya mengangguk-anggukkan kepala. Mereka, terutama prajurit-prajurit Pajang memang tidak meletakkan kekuatan mereka kepada ilmu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Tetapi mereka harus menyandarkan perlawanan mereka kepada kemampuan diri sendiri. Meskipun demikian, ada juga semacam harapan, bahwa mereka tidak perlu memeras segenap tenaga dan kemampuan mereka, jika benar ilmu Panembahan Agung dapat mempengaruhi lawan.

“Daksina,” berkata Putut Nantang Pati yang mengetahui bahwa Daksina masih meragukan kelebihan ilmu Panembahan Agung, ”mungkin orang-orang Mataram dan Menoreh tidak menghiraukan sama sekali burung-burung garuda di langit, ular naga sebesar pohon nyamplung di sebelah itu, atau bentuk-bentuk yang lain karena mereka sadar, bahwa bentuk-bentuk itu adalah bentuk-bentuk semu, tetapi mereka tidak akan dapat membedakan bentuk semu yang berupa lembah dan pegunungan. Kayu-kayu besar yang roboh dan angin pusaran di lereng pegunungan. Mereka tentu akan bingung melihat pasukan kita terbang di atas jurang yang dalam, karena jurang itu sebenarnya tidak pernah ada.”

Daksina mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang berdiri di persimpangan. Ia sudah melihat sendiri, bentuk semu yang dibuat oleh Putut Nantang Pati meskipun menurut pengakuannya sama sekali belum sempurna. Namun demikian, ia adalah senapati prajurit, yang memperhitungkan kekuatan di peperangan dengan jumlah ujung senjata dan kemampuan setiap pribadi di dalam pasukannya.

Namun sebenarnyalah dengan demikian pertahanan yang disusun oleh Putut Nantang Pati dan Daksina adalah pertahanan yang sangat kuat, justru karena Daksina tidak menumpukan kekuatannya kepada ilmu ajaib yang dimiliki oleh Panembahan Agung. Jika ternyata kemudian Penembahan Agung juga berhasil membingungkan pasukan Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh, maka kedua pasukan itu benar-benar akan diancam kepunahan.

Dalam pada itu, di hadapan garis pertahanan itu pasukan Mataram yang tidak sempat mengetahui kekuatan lawan, bersama pasukan Tanah Perdikan Menoreh bergerak maju. Mereka sama sekali tidak menduga, bahwa di hadapan mereka terbentang sebuah pertahanan yang kuat dari tebing sampai ke tebing. Bukan saja pertahanan yang dilambari dengan kemampuan tempur pasukan yang telah menggemparkan Mataram itu, tetapi juga dibayangi oleh ilmu yang belum pernah ditemui di medan yang mana pun.

Yang berjalan di paling depan, adalah para pengawas yang perhatiannya lebih banyak ditujukan kepada jejak orang-orang yang mereka cari daripada sebuah pertahanan yang bagaikan benteng baja. Mereka sibuk menundukkan kepalanya, mengungkit ranting-ranting patah dan dedaunan yang tumelung di atas jalur jalan yang mereka tempuh, sehingga dengan demikian mereka tidak mengetahui, bahwa jarak pertahanan di hadapan mereka semakin lama menjadi semakin pendek.

Sementara pasukan Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh merayap semakin dekat, maka Daksina dan Putut Nantang Pati menjadi berdebar-debar ketika ia dipanggil menghadap di padepokan di belakang pertahanan mereka.

“Apakah yang penting? Jika tiba-tiba saja pasukan Mataram dan Menoreh melanda pasukan kita, maka pertahanan ini akan menjadi hancur. Aku di sini justru sedang menunggu kehadiran Panembahan Agung, jika setiap saat lawan kita itu datang,” jawab Daksina.

“Kenapa kau bertanya?” bertanya utusan itu. ”Panembahan Agung memiliki perhitungan yang sempurna. Apakah kau merasa bahwa perhitunganmu lebih matang?”

“O,” Daksina menjadi tergagap karenanya, ”bukan maksudku. Tetapi aku mendasarkan pada perhitungan keprajuritan.”

“Jangan membantah lagi,” berkata Putut Nantang Pati pula, ”marilah, kita menghadap.”

Keduanya pun kemudian dengan ter-gesa-gesa pergi ke padepokan. Daksina tampak menjadi sangat gelisah. Ia tidak biasa meninggalkan pasukannya di saat yang paling genting meskipun sudah diserahkannya kepada orang yang dipercayainya.

Daksina hampir tidak sabar ketika ia harus duduk di serambi depan menunggu kehadiran Panembahan Agung. Keringatnya mengalir membasahi kening dan punggung.

Ketika pintu terbuka, maka yang hadir sama sekali bukan Panembahan Agung, tetapi Panembahan Alit, yang juga menyebut dirinya Panembahan Tidak Bernama.

“O,” desis Daksina yang mulai menjadi jengkel, ”apakah kami sudah diperbolehkan menghadap Panembahan Agung yang memanggil kami?”

Panembahan Alit memandanginya sejenak. Kemudian ia pun duduk pula di antara mereka sambil berkata, ”Aku tidak tahu, kapan kalian diperbolehkan menghadap. Tetapi justru aku mendapat perintah untuk berada bersama kalian di sini.”

“Tetapi pasukan lawan tentu sudah menjadi semakin dekat. Naluri keprajuritanku sudah memperingatkan agar aku siap menunggu mereka di dalam pasukan yang harus bersiaga sepenuhnya.”

“Ah kau,” Putut Nantang Pati tersenyum, ”percayalah. Panembahan Agung mengetahui apa yang sedang kita hadapi. Pasukan itu tentu terhalang oleh orang-orang kita yang bertugas memperlambat dan mengganggu pasukan mereka. Bukan saja agar mereka tidak dapat maju dengan pesat. Tetapi mereka akan menjadi marah sehingga mereka lebih banyak mempergunakan perasaannya daripada perhitungan nalarnya. Karena itu, mereka tentu masih berada di jarak yang jauh.”

Daksina menarik nafas dalam-dalam. Dan Panembahan Alit itu pun berkata, ”Jangan gelisah. Percayalah.”

Daksina tidak menyahut lagi. Tetapi rasa-rasanya hatinya selalu melonjak-lonjak di dalam dadanya. Sebagai seorang senapati, ia merasa wajib berada di gelanggang di saat pertempuran mulai berkobar.

Tetapi agaknya Putut Nantang Pati sama sekali tidak merasa gelisah. Ia menyandarkan semua pertimbangan di saat itu kepada Panembahan Agung, meskipun biasanya ia adalah seorang pemimpin yang baik di peperangan.

Baru sejenak kemudian maka seseorang telah keluar lagi dari ruang dalam dan berkata, ”Panembahan Alit diharap menghadap lebih dahulu.”

“Hanya Panembahan Alit?” desak Daksina.

“Ya.”

Panembahan Alit itu pun berdiri sambil menepuk bahu Daksina, ”Sabarlah. Tidak akan ada apa-apa yang terjadi.”

Daksina menarik nafas dalam-dalam.

Sejenak kemudian, maka Panembahan Alit itu pun hilang di balik pintu.

“Kita masih harus menunggu?” bertanya Daksina yang kehilangan kesabaran.

“Semakin kau mendesak, maka kau akan merasa semakin lama menunggu di sini. Jangan hiraukan, agar kau tidak terlampau gelisah.”

Daksina hanya menarik nafas saja dalam-dalam. Sesaat kemudian pintu itu pun terbuka lagi. Yang tampak keluar lewat pintu itu adalah Panembahan Alit. Sambil membawa sebatang tongkat ia berkata, ”Daksina dan Putut Nantang Pati. Ternyata aku menerima tongkat kekuasaan tertinggi di padepokan ini. Karena itu. maka akulah yang akan menjadi senapati besar di dalam pertempuran yang akan segera terjadi. Menurut pengamatan Panembahan Agung, pasukan Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh yang datang ke padepokan adbmcadangan.wordpress.com ini cukup besar, sehingga kita di sini harus berjuang sebaik-baiknya melawan mereka. Panembahan Agung sendiri akan hadir di medan dan dengan kuasanya akan berusaha untuk memperlemah daya tempur pasukan Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh.”

Putut Nantang Pati mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, ”Jika memang itu yang diperintahkan. Aku percaya bahwa Panembahan Alit akan dapat melakukan tugas itu sebaik-baiknya.”

Tetapi Daksina berkata, ”Jadi, apakah kami sudah dapat menghadap Panembahan Agung?”

“Kalian tidak perlu menghadap. Perintahnya sudah jelas. Dan tongkat kekuasaan ini merupakan bukti perintah yang sudah diucapkan itu.”

“Jadi buat apa aku harus datang kemari?” bertanya Daksina.

“Itu adalah kehendak Panembahan Agung. Kenapa kau tampak kecewa?”

“Tentu. Sebaiknya aku berada di antara pasukanku jika aku di sini hanya sekedar duduk menunggu dan tidak ada kepentingan apa pun juga.”

“Kau tidak dapat membantah perintahnya.”

“Aku bukan anak buahnya. Tetapi aku adalah seorang senapati yang dikirim oleh Kakang Tumenggung untuk memimpin pasukan Pajang yang ada di sini.”

“Di sini kau berada di bawah perintah Panembahan Agung yang kali ini dilimpahkan kepadaku,” berkata Panembahan Alit, ”jangan membuat keributan di saat pasukan lawan sudah berada di depan hidung.”

Daksina menggeretakkan giginya. Katanya, ”Hanya karena kesadaran itu aku melalaikannya. Tetapi jika kau mengecilkan arti Daksina di sini, berarti kau mengecilkan arti Kakang Tumenggung dan Kakang Panji di Pajang. Jangan kau sangka bahwa keduanya dapat kalian perintah seperti memerintah anak-anak yang paling dungu seperti ini. Namun sekali lagi aku katakan, bahwa aku hanya sekedar mengingat bahwa musuh kini sudah berada di hadapan hidungku.”

“Jangan bersikap begitu kasar. Agaknya sikapmu tidak akan menguntungkan sama sekali.”

“Tetapi bukan berarti bahwa kalian dapat menghinakan dan memerintah aku seperti seorang budak.”

Panembahan Alit mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih tetap menyadari, bahwa untuk menghadapi Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh, mereka memerlukan paduan kekuatan yang ada, dan karena itulah maka ia masih tetap menahan diri.

Namun dalam pada itu, mereka bertiga terkejut ketika tiba-tiba saja mereka mendengar seekor kuda meringkik. Kemudian dari pintu itu pun muncul seekor kuda yang tegar meloncat ke halaman. Sekali kuda itu melonjak, namun kemudian berlari kencang sekali seperti angin, sedang di atasnya duduk seorang anak kecil berambut putih.

Tetapi ketika kuda itu kemudian hilang di balik pepohonan, Panembahan Alit dan Putut Nantang Pati justru tersenyum karenanya, sedang Daksina masih saja termangu-mangu.

“Siapa anak itu?” bertanya Daksina. ”Aku belum pernah melihatnya. Bahkan bentuknya agak aneh. Wujudnya kecil, tetapi rambutnya sudah memutih,”

Panembahan Alit tertawa. Katanya, ”Itu adalah salah seorang prajurit Panembahan Agung. Kau tentu belum pernah melihatnya. Aku juga belum.”

Daksina menjadi semakin tidak mengerti. Apalagi ketika Panembahan Alit bertanya, ”Apakah menurut pengenalanmu, rambutnya memang sudah putih?”

“Ya.”

“Matanya lebar?”

Daksina mengingat-ingat sejenak, lalu, ”Ya.”

“Hidungnya?”

Daksina agak bingung. Dan Panembahan itu berkata, ”Mungkin kita menangkap suatu perbedaan kecil pada bagian-bagiannya. Tetapi tentu tidak pada keseluruhannya.”

“Aku tidak mengerti.”

“Itulah yang dimaksud dengan ilmu Panembahan Agung. Semula aku juga terkejut karena tiba-tiba saja aku mendengar derap kuda itu. Tetapi lihatlah, pintu itu hanya terbuka sedikit. Apakah menurut dugaanmu, kuda yang setegar itu benar-benar dapat meloncat keluar dari pintu yang tidak terbuka seluruhnya itu? Dan apalagi pintu itu adalah pintu yang rendah.”

Daksina memandang pintu itu sesaat. Kemudaan dipandanginya arah kuda itu hilang di balik gerumbul-gerumbul.

Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, ”Inikah yang dimaksud dengan bentuk-bentuk semu itu?”

Putut Nantang Pati pun tertawa sambil berkata, ”Ya itulah. Jangan bingung. Kau harus meyakinkan pasukanmu, bahwa mereka tidak usah menghiraukan jika di dalam peperangan nanti ada bentuk-bentuk semu yang kadang-kadang mengerikan, karena sebenarnya mereka tidak berpengaruh secara langsung. Di dalam keadaan yang memungkinkan itulah, kita menghancurkan lawan, selagi orang-orang Mataram dan Menoreh kebingungan. Tetapi jika kita sendiri bingung, maka kita tidak akan dapat berbuat apa-apa.”

Daksina termangu-mangu sejenak. Dadanya menjadi berdebar-debar. Apa yang dikatakan dengan bentuk semu itu memang aneh sekali baginya. Kuda itu adalah kuda yang sangat bagus. Dan anak yang ada di punggungnya itu adalah anak yang aneh sekali.

“Nah, marilah,” berkata Panembahan Alit, ”kita harus segera berada di garis pertahanan. Pasukan Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh itu memang sudah mendekati daerah ini. Mereka telah melampaui gangguan-gangguan kecil di perjalanan mereka menuju ke pertahanan ini. Tetapi sudah pasti, bahwa mereka tidak tahu, bahwa kita sudah menunggu mereka dan siap menghancurkan mereka dengan cara yang paling menarik.”

Daksina mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, ”Jadi, pasukan Mataram dan Tanah Perdikan penoreh itu akan dicengkam oleh bentuk-bentuk semu seperti itu? Dan kita akan menyerang mereka selagi mereka kebingungan?”

“Ya. Jika datang saatnya mereka menyadari bahwa yang mereka hadapi sekedar bentuk-bentuk semu, maka jumlah mereka sudah jauh berkurang.”

“Mengerikan,” desis Daksina tiba-tiba.

“Kenapa?”

“Aku tidak biasa berbuat seperti itu di peperangan. Ada semacam ketidak-adilan dengan cara itu. Kita akan membunuh orang-orang yang sedang kebingungan dan tidak tahu apa yang dikerjakan. Itu bukan sikap jantan.”

Tetapi Panembahan Alit dan Putut Nantang Pati tertawa bersama-sama. Di sela-sela suara tertawanya Panembahan Alit berkata, ”Jangan menyalahkan diri sendiri. Di dalam perang semua ilmu dapat dipergunakan. Itulah kelebihan kita dari mereka. Dan bukannya suatu kecurangan bahwa kita memiliki kelebihan. Baik yang berupa senjata, jumlah orang dan juga ilmu yang dapat mereka anggap ajaib.”

“Aku mengerti. Tetapi perasaanku agak kurang mapan.”

“He, Daksina,” berkata Panembahan Alit, ”barangkali kau pernah mendengar cerita tentang usaha penyerbuan Adipati Unus ke seberang lautan melawan orang-orang berkulit putih. Nah, apakah juga dapat disebut tidak adil, bahwa orang-orang berkulit putih itu bersenjatakan petir?

“Petir?”

“Tentu bukan petir di langit. Tetapi mereka mempunyai senjata yang dapat meledak dan menghancurkan lawan dari jarak yang jauh. Apakah itu juga tidak adil jika lawan mereka hanya sekedar bersenjata tombak dan pedang seperti kita sekarang ini?”

Daksina tidak menyahut. Pertanyaan itu memang tidak dapat dijawabnya. Tetapi di dalam relung hatinya yang paling dalam ia merasakan perbedaan dari kedua persoalan itu.

”Sudahlah,” berkata Panembahan Alit, ”mumpung masih ada waktu. Marilah kita pergi. Pada saatnya Panembahan Agung akan menyusul kita dan akan menyusun pertahanan yang sempurna. Tetapi sekali lagi aku ingatkan bahwa pasukanmu harus kau beritahu dengan segera, bahwa jangan terpengaruh oleh bentuk-bentuk semu yang akan dijumpainya di peperangan. Kau sudah melihat sendiri contoh dari bentuk itu.”

Seperti tanpa disadari, Daksina pun melangkah sambil menganggukkan kepalanya di sisi Panembahan Alit dan Putut Nantang Pati.

Tetapi tiba-tiba langkah mereka tertegun. Tiba-tiba saja Daksina merasa sebuah gempa telah mengguncang daerah itu dan tanah di hadapannya bagaikan runtuh ke dalam jmung yang dalam.

Namun ia segera menguasai diri dan mengerti, bahwa yang terjadi hanyalah sekedar guncangan pada inderanya sendiri.

Karena itu, maka sambil menarik nafas Daksina berpaling. Tetapi ia tidak melihat Panembahan Agung, yang dilihatnya hanyalah beberapa orang pengawal yang berdiri di sebelah rumah yang baru saja ditinggalkannya.

“Marilah,” ajak Panembahan Alit.

Daksina termangu-mangu. Ia melihat sebuah jurang yang menganga di hadapannya. Meskipun tidak begitu lebar, tetapi jurang itu sangat dalam.

“Marilah,” desak Putut Nantang Pati pula. Daksina masih berdiri di tempatnya. Ia menjadi ragu-ragu untuk melangkah, karena seakan-akan ia melihat sebuah jurang yang terbentang di hadapannya.

Tetapi agaknya Panembahan Alit tidak menghiraukannya sama sekali. Meskipun jurang itu sangat dalam, namun Panembahan Alit berjalan terus tanpa menghiraukannya.

Hampir saja Daksina berteriak memanggilnya ketika Panembahan Alit yang sudah berdiri di bibir jurang itu masih melangkahkan kakinya, justru ke atas jurang itu.

Tetapi ternyata Panembahan Alit sama sekali tidak terlempar turun ke dalam jurang itu. Bahkan seakan-akan Panembahan Alit itu berjalan di udara di atas jurang yang menganga mengerikan.

“Panembahan,” Daksina berdesis.

“Marilah. Kau pun dapat melakukannya.”

Di sinilah Daksina berdiri di simpang jalan antara nalar dan penglihatannya. Penglihatannya yang terganggu di jalur syarafnya, seakan-akan melihat sebuah jurang yang terbuka. Sedang nalarnya tahu pasti, bahwa tidak ada apa-apa di hadapan kakinya saat itu, sehingga jika ia melangkah terus, maka ia akan dapat seakan-akan berjalan di udara seperti Panembahan Alit.

“Kau ternyata ragu-ragu,” berkata Panembahan Alit, ”agaknya akan demikian pula orang-orang Mataram itu. Mereka akan ragu-ragu seperti kau meskipun seandainya mereka tahu bahwa yang dihadapi adalah sekedar bentuk-bentuk semu.”

Daksina menganggukkan kepalanya. Katanya, ”Ya. Agaknya bentuk-bentuk semacam ini memang akan dapat mengganggu.”

“Nah, yakinilah. Sehingga dengan demikian kita akan dapat menghancurkan orang-orang Mataram dan Menoreh itu dengan mudah.”

Daksina tidak menjawab. Dan ketika ia mendengar Putut Nantang Pati pun kemudian mengajaknya, maka dengan ragu-ragu ia melangkahkan kakinya. Seperti orang buta ia meletakkan kakinya di atas jurang itu ketika ia sudah berdiri tepat di bibirnya.

Tetapi ternyata kakinya mendapat sentuhan pula, meskipun seakan-akan ia berjalan di atas jurang.

Daksina menarik nafas panjang. Dan tiba-tiba saja sekali lagi ia terkejut. Ketika ia berdiri di atas jurang itu, maka tiba-tiba tanah bagaikan terkatub seperti sediakala.

“Kau sudah melihat dan merasakan sendiri, betapa kau dicengkam oleh keragu-raguan. Katakanlah kepada prajurit-prajuritmu agar mereka, tidak usah ragu-ragu jika mereka menghadapi persoalan semacam ini. Mereka harus yakin bahwa mereka akan dapat mempergunakan kesempatan serupa ini justru untuk menghancurkan lawan yang sedang dikuasai oleh kebimbangan dan keragu-raguan.”

Daksina menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab.

“Nah, marilah. Agaknya musuh yang datang itu sudah menjadi semakin dekat. Kita masih harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk melawan mereka.”

Daksina masih tetap berdiam diri. Tetapi ia melangkah semakin cepat, agar ia segera sampai kepada anak buahnya.

Seperti pesan Panembahan Alit, maka Daksina pun segera memberitahukan kepada para prajurit Pajang yang masih belum pernah mengalami peristiwa-peristiwa yang aneh itu. Namun agaknya satu dua orang di antara mereka sudah pernah mendengar bahwa ada semacam ilmu yang dapat menciptakan bentuk-bentuk yang sebenarnya hanya semu.

Ternyata bahwa kesempatan yang dapat dipergunakan hanya sedikit sekali. Namun demikian, Daksina berhasil menyebarkan pengertian itu kepada setiap telinga orang-orang yang ada di bawah perintahnya.

Panembahan Alit yang mendapat kewajiban untuk memimpin seluruh pasukan itu pun segera mengatur pasukannya. Meskipun Panembahan Agung akan datang dengan ilmunya yang ajaib, tetapi ternyata Daksina harus mengakui, bahwa Panembahan Alit pun mengerti tentang olah keprajuritan.

Dengan teliti Panembahan Alit memberikan perintah kepada para senapati, termasuk Daksina dan Putut Nantang Pati yang akan menjadi senapati pengapitnya.

“Jika orang-orang Mataram dan Menoreh berhasil menyingkirkan keragu-raguan mereka tentang bentuk-bentuk semu yang diciptakan oleh Panembahan Agung, maka kalian harus bertempur dengan wajar. Namun demikian, kalian harus yakin, bahwa kalian lebih menguasai medan dari mereka. Karena itu, sebagian di ujung kanan dan kiri, sebaiknya naik memanjat tebing di sebelah-menyebelah. Mereka nanti akan menyerang pasukan Mataram dan Menoreh dari lambung. Apalagi apabila mereka sedang terpengaruh oleh bentuk-bentuk semu yang akan diciptakan pada saat pasukan itu memasuki medan yang sudah kita tandai ini.”

Para senapati bawahannya mengangguk-anggukkan kepala termasuk kedua Senapati pengapitnya, Daksina dan Putut Nantang Pati.

“Sebentar lagi Panembahan Agung akan datang. Ia tahu pasti, kapan ia harus mendekati garis pertempuran, karena ia tahu pasti, sampai di mana pasukan Mataram dan Menoreh itu mendekat,” berkata Panembahan Alit kemudian.

Dalam pada itu, pasukan Mataram dan Menoreh benar-benar telah menjadi semakin dekat. Tetapi mereka sama sekali tidak menduga bahwa mereka menjadi semakin dekat dengan pertahanan lawan.

Meskipun demikian pasukan Mataram dan Menoreh tidak kehilangan kewaspadaan. Mereka masih tetap mengikuti jejak yang sengaja dibiarkan saja oleh orang-orang yang sedang dicarinya. Namun justru jejak itu menuju ke pertahanan yang kuat yang telah disusun oleh Panembahan Alit yang kadang-kadang juga menyebut dirinya Panembahan Tidak Bernama.

Tiga orang pengawas yarg mendahului pasukan Mataram dan Menoreh itu pun berusaha untuk mengenali daerah yang akan dilalui oleh pasukannya. Dengan teliti mereka mengamati setiap batang pohon dan gerumbul-gerumbul. Namun mereka pun menjadi curiga, bahwa daerah yang semakin jauh dari padepokan yang mereka sangka adalah padepokan Panembahan Agung itu tidak justru menjadi semakin liar, tetapi pategalan dan sawah-sawah menjadi semakin teratur dan subur.

“Aku tidak mengerti, apakah daerah padepokan yang tersembunyi di antara pebukitan ini memang membujur sampai ujung lembah,” desis salah seorang dari mereka.

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pun menjadi heran melihat daerah yang justru menjadi semakin teratur. Jalur-jalur jalan yang semakin jelas dan bersih, sehingga mereka menduga bahwa jalan itu adalah jalan yang masih selalu dipergunakan.

“Agaknya jalur jalan ini adalah salah satu jalur jalan keluar dari lembah terkurung ini. Bukankah kita pernah melihat jalan di lereng bukit di seberang puncak itu.”

“Ya, Dan itu wajar sekali. Mereka tentu mempunyai jalan untuk menghubungkan diri dengan daerah di luar daerah ini. Mereka tentu memerlukan kebutuhan-kebutuhan yang tidak mereka dapatkan di sini. Misalnya garam.”

“Ya,” tetapi sambil mengangguk-anggukkan kepadanya ia berkata, ”aku menduga bahwa di hadapan kita masih ada padepokan yang lain, yang mungkin lebih besar dari yang baru saja kita temukan.”

”Ya. Dan sebaiknya kita segera melaporkannya. Siapa tahu bahwa justru di hadapan kita itulah padepokan yang sebenarnya.”

Para pengawas itu termangu-mangu sejenak. Namun mereka merasa wajib untuk segera melaporkan kepada pimpinan mereka.

“Pergilah,” berkata yang tertua kepada salah seorang dari mereka bertiga, ”kami akan tetap di sini. Kami akan mengawasi keadaan.”

Salah seorang dari mereka pun segera merayap kembali ke induk pasukan untuk melaporkan apa yang dilihatnya.

“Memang menarik perhatian,” berkata Kiai Gringsing.

“Dua padepokan yang terletak di lembah yang sama meskipun jaraknya agak jauh,” desis Raden Sutawijaya.

“Mungkin sekali,” sahut Ki Demang di Sangkal Putung, ”seperti sebuah kademangan, kadang-kadang terdiri dari lima bahkan sampai sepuluh padukuhan.”

Raden Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi yang kemudian menjadi teka-teki, yang manakah padepokan induk dari seluruh padepokan di lembah ini. Jika benar Panembahan Agung ada di padepokan ini atau panembahan yang mana pun juga, maka ia tentu akan berada di induk padepokan.

“Apakah benar Panembahan Tak Bernama yang pernah berada di Alas Tambak Baya itu ada di sini? Dan apakah masih ada panembahan yang lain atau orang-orang sakti yang lain yang berada di lembah ini?” bertanya Agung Sedayu di dalam hatinya karena baginya padepokan ini benar-benar masih suatu teka-teki.

Ternyata bahwa orang-orang yang lain pun menyimpan pertanyaan yang serupa. Swandaru, Ki Demang Sangkal Putung, Ki Argapati, Pandan Wangi, Prastawa, dan yang lain lagi.

Namun dengan demikian maka mereka merasa bahwa mereka harus lebih berhati-hati lagi menghadapi lawan yang kurang mereka kenal.

“Kita harus bergerak dalam gelar yang sesuai dengan keadaan lembah ini,” berkata Sutawijaya.

“Ya. Kita akan maju dalam kesiagaan,” desis Prastawa. ”Sebelum kita berada di mulut lembah yang menghadap ke daerah yang terbuka, kita masih mungkin diterkam oleh jebakan yang tidak kita ketahui.”

“Kita tidak dapat memasang gelar Cakra Byuha yang sempurna. Tetapi kita dapat mempergunakan,” berkata Ki Argapati.

Ternyata Raden Sutawijaya sependapat, sehingga sejenak kemudian mereka pun segera membentuk sebuah gelar Cakra Byuha yang kurang sempurna, karena mereka tidak dapat berdiri dalam suatu lingkaran bergerigi.

“Cakra yang terbentuk adalah cakra yang bulat panjang,” desis Agung Sedayu ditelinga Swandaru.

Swandaru tidak menjawab, karena ia pun harus segera memisahkan diri dan berada di ujung gerigi di lambung pasukannya.

Demikianlah para pemimpin, baik dari Mataram mau pun dari Tanah Perdikan Menoreh telah terbagi dalam kelompok-kelompok kecil yang berada di sebuah lingkaran, bagaikan gerigi-gerigi yang tajam yang akan memotong kekuatan lawan.

Yang berada di paling depan adalah Raden Sutawijaya. sedang di sampingnya sebelah-menyebelah adalah Kiai Gringsing dan Ki Argapati yang dibayangi oleh Pandan Wangi, karena di dalam keadaan yang gawat, apabila kaki ayahnya itu kambuh, Pandan Wangi merasa bertanggung jawab untuk membantunya.

Kemudian di lambung kanan adalah Prastawa, Agung Sedayu, Swandaru dan di lambung kiri adalah para pemimpin dari Mataram, termasuk Ki Lurah Branjangan.

Di bagian belakang dari gelar itu pun harus mendapat perhatian, jika terpaksa lingkaran itu bergerak dalam putaran, maka bagian belakang akan mengalami perlawanan yang berat, sehingga karena itu, maka Ki Demang-lah yang kemudian berada di gerigi belakang itu.

Perlahan-lahan gelar perang yang tidak sempurna itu berderap maju. Meskipun jumlahnya tidak sebanyak pasukan Jipang yang menyeberangi Kali Sore, pada saat berkecamuknya perang saudara yang mengerikan itu, namun pasukan adbmcadangan.wordpress.com dari Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh itu pun merupakan kekuatan yang cukup untuk menghadapi sebuah pertahanan yang mempunyai kekuatan yang sebenarnya masih kabur bagi para pemimpin pasukan yang bergerak maju itu.

Dengan hati-hati pengawas yang melaporkan pengamatannya tentang daerah di hadapan mereka itu membawa Sutawijaya dengan pasukannya yang sudah berjalan dalam gelar, menuju ketempat kedua kawan-kawannya menunggu.

Tetapi ketika mereka sampai ke tempat itu, mereka tidak menemukan seorang pun dari keduanya.

“Keduanya ada di sini,” berkata pengawas itu.

“Mungkin ada yang menarik perhatiannya. Mereka tentu sudah bergerak maju.”

“Kita sudah berada dekat di muka padepokan itu.”

“Ya,” sahut Raden Sutawijaya, ”kita memang sudah berada dekat dengan padepokan yang satu lagi. Kita tidak tahu, apakah padepokan ini juga kosong seperti padepokan yang baru saja kita lewati.”

“Jadi, apakah kita akan maju terus?”

“Kita tunggu sejenak. Mungkin kedua pengawas itu dapat memberikan penjelasan.”

Demikianlah maka Sutawijaya pun memberikan isyarat yang diteruskan oleh para pemimpin dari kedua pasukan yang sedang bergerak itu, sehingga dengan demikian kedua pasukan itu berhenti sejenak. Tetapi karena kedua pengawas itu tidak juga datang kembali ke induk pasukan, maka mereka pun kemudian berangkat lagi. Meskipun demikian, Sutawijaya telah mengirimkan dua orang dari Mataram dan dua orang dari Menoreh untuk mendahului.

Beberapa saat kemudian, maka keempat orang yang berada di depan pasukan itu terkejut. Ternyata mereka menemukan kawan-kawan mereka yang dua orang terkapar pingsan di antara gerumbul-gerumbul perdu.

“Jangan sentuh,” yang tertua di antara mereka berempat itu pun memperingatkan kawan-kawannya.

“Kita laporkan kepada Raden Sutawijaya.”

“Sebentar lagi mereka akan datang.”

Sebenarnyalah maka pasukan itu pun segera sampai pula ke tempat itu. Seperti para pengawas yang berjalan mendahului, maka para pemimpin dari pasukan itu pun menjadi heran melihat kedua pengawas yang terdahulu itu.

Kiai Gringsing-lah yang kemudian mendekatinya. Dengan ketajaman inderanya ia mengetahui, bahwa orang-orang itu sama sekali tidak tersentuh racun.

Karena itu, maka ia pun segera merabanya dan mencoba mencari sebab, kenapa kedua orang itu menjadi pingsan.

“Tidak ada tanda-tanda bahwa orang itu terluka baik di luar mau pun di dalam,” berkata Kiai Gringsing.

Beberapa orang yang mengerumuninya menjadi heran. Memang tidak ada bekas apa pun pada tubuhnya yang dapat dijadikan pertanda, sebab-sebab kenapa ia pingsan.

Sutawijaya yang berdiri termangu-mangu itu pun memandang berkeliling. Barangkali ia menemukan sesuatu yang mencurigakan. Tetapi ia tidak melihat apa pun juga, apalagi melihat seseorang.

“Apakah orang-orang itu telah dicekik?” tiba-tiba saja Pandan Wangi bertanya.

Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Jawabnya, ”Tidak. Tidak ada bekas-bekas jari di lehernya.”

Dalam pada itu, Ki Argapati yang mengamati keadaan di sekelilingnya berkata, ”Agaknya ada bekas perkelahian di tempat ini.”

Kiai Gringsing yang melihat juga tanda-tanda itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, ”Ya. Agaknya memang ada bekas perkelahian. Tetapi setelah ada perkelahian, apakah yang kemudian menyebabkan kedua orang ini pingsan.”

Tidak seorang pun yang menjawab, sedang Kiai Gringsing pun kemudian berusaha untuk membuat kedua orang itu sadar.

Perlahan-lahan kedua orang itu mulai membuka matanya. Namun dengan wajah yang pucat dan ketakutan meresa segera menutup matanya kembali.

“Tidak, tidak.”

“Sst,” desis Kiai Gringsing, ”aku, Kiai Gringsing dan di sini ada pula Raden Sutawijaya.”

Perlahan-lahan orang itu sekali lagi membuka matanya meskipun mula-mula agak kabur, namun mereka pun melihat bahwa yang ada di sekitarnya adalah kawan-kawannya sendiri.

Sambil menarik nafas dalam-dalam, salah seorang dari mereka berusaha bangkit. Setelah duduk di rerumputan, maka ia pun mengusap matanya beberapa kali. Diedarkannya pandangan matanya menyapu dedaunan di sekitarnya.

“Kenapa kau berdua pingsan?” bertanya Kiai Gringsing.

“Tiba-tiba saja kami diserang.”

“Siapa?”

“Seseorang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan.”

“Kau berkelahi?”

“Ya. Kami berdua berkelahi melawan orang itu. Tetapi ternyata orang itu sangat tangguh. Kami berdua tidak berhasil mengalahkannya.”

“Tetapi kenapa kau pingsan tanpa luka di tubuhmu?”

“Aku kira, aku telah kehabisan nafas. Aku tidak dapat lagi menggerakkan tubuhku sama sekali. Mataku menjadi berkunang-kunang dan akhirnya aku tidak sadarkan diri.”

Yang mendengarkan cerita itu mengerutkan keningnya. Dan dengan jantung yang berdebar-debar Kiai Gringsing bertanya, ”Apakah kau tahu namanya?”

“Orang itu memang menyebutkan namanya.”

“Siapa?”

“Namanya Tak Bernama.”

“He,” yang mendengar itu menjadi heran. Tetapi Kiai Gringsing menyahut, ”Maksudmu. Panembahan Tidak Bernama?”

“Ya. Ya. Ia menyebut namanya Panembahan Tidak Bernama.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ternyata orang itu memang ada di sini. Orang yang menyebut dirinya Panembahan Tidak Bernama.

Namun kemudian tumbuh pertanyaan di dalam dirinya, apakah Panembahan Tidak Bernama itu juga yang menyebut dirinya Panembahan Agung?

Dalam pada itu Raden Sutawijaya pun bertanya, “Kenapa orang itu tidak menangkapmu, atau berusaha membunuhmu?”

“Aku tidak tahu, Raden. Tetapi ia memang berkata, bahwa ia tidak akan membunuhku. Yang ditunggunya adalah para pemimpin dari Mataram dan Menoreh. Bahkan orang itu menyebut-nyebut orang yang bersenjata cambuk.”

Kiai Gringsing menganggukkan kepalanya. Katanya, ”Agaknya mereka sudah mengetahui bahwa kami ada di tempat ini.”

“Tentu,” sahut Sutawijaya, ”Agung Sedayu dan Swandaru bersenjata cambuk pula ketika kami berkelahi melawan pasukan Daksina di daerah terbuka di sebelah hutan itu.”

Kiai Gringsing tidak menyahut. Dipandanginya orang yang baru sadar itu sejenak, lalu perlahan-lahan ia menarik orang-orang itu untuk berdiri.

“Apakah kau sudah dapat berdiri?”

“Ya. Tetapi badanku masih terlalu lemah.”

“Baiklah. Beradalah di dalam pasukan. Gelar yang tidak sempurna ini akan bergerak terus. Dan sebelum badanmu pulih kembali, kau sebaiknya berada di dalam lingkaran bersama para tawanan yang ada pada kami dan pengawal-pengawalnya. Kau dapat membantu mereka jika diperlukan.”

Demikianlah, maka pasukan itu pun mulai bergerak lagi. Sutawijaya pun kemudian berpesan kepada pengawas-pengawas yang baru, agar mereka memberikan isyarat jika mereka menjumpai kesulitan atau sesuatu yang mencurigakan.

Para pengawas yang kemudian berjalan mendahului pasukan itu pun menjadi semakin berhati-hati. Mereka tidak mau mengalami nasib seperti kedua kawannya yang pingsan di dalam perkelahian karena kehabisan nafas meskipun hal itu cukup menarik perhatian. Apalagi karena lawannya sama sekali tidak melukainya dan apalagi membunuh.

“Mungkin orang itu sekedar memberikan peringatan. Tetapi mungkin juga ia tergesa-gesa pergi karena pasukan ini sudah menjadi semakin dekat,” berkata pengawas itu di dalam hati.

Namun demikian, mereka sadar bahwa orang itu tentu orang yang memiliki kelebihan.

Dalam pada itu, pasukan Mataram dan Menoreh itu pun sudah menjadi sangat dekat dengan pertahanan lawan yang tersembunyi, sehingga tidak mudah bagi mereka untuk melihatnya lebih dahulu. Mereka sama sekali tidak sadar, bahwa di balik batu-batu padas di lereng bukit sebelah-menyebelah, di balik dinding-dinding batu padepokan di hadapan mereka di belakang gerumbul-gerumbul di sebelah padepokan itu, pasukan lawan sudah menunggu dengan pedang terhunus.

Namun lebih daripada itu, di antara mereka terdapat Panembahan Alit diapit oleh Daksina dan Putut Nantang Pati, serta agak di belakang terdapat Panembahan Agung yang duduk di serambi sebuah gardu kecil. Di sebelah-menyebelah gardu itu terdapat para pengawal yang juga tersembunyi.

Dari gardu itulah Panembahan Agung akan mengawasi pertempuran yang sebentar lagi bakal terjadi.

Beberapa puluh langkah di hadapan pertahanan itu Raden Sutawijaya memimpin pasukannya mendekati dinding batu di ujung padepokan. Perlahan-lahan dan hati-hati. Namun sama sekali tidak menduga bahwa di balik dinding batu, di balik pepohonan dan batu-batu padas, lawannya sedang mengintai dan siap untuk menerkam.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja para pengawas yang mendahului pasukan Mataram itu terkejut. Tiba-tiba saja mereka melihat sebatang pohon raksasa di hadapan mereka yang berguncang. Apalagi para pengawas yang datang dari Menoreh, yang kebetulan ikut di dalam perburuan bersama Pandan Wangi dan kedua anak-anak muda Sangkal Putung.

“Tentu ular naga,” desis yang seorang, ”gerak pohon itu tepat seperti yang kita lihat di hutan itu.”

“Ya. Dan bau yang wengur ini?”

“Apa?” bertanya pengawal yang datang dari Mataram.

”Ular raksasa yang lapar. Kau lihat pepohonan yang berguncang itu. Tidak hanya satu, tetapi tiga batang.”

“Ya. Tiga batang. Jadi tentu ada tiga ekor ular raksasa lapar di hadapan kita.”

“Kita berhenti di sini,” berkata salah seorang pengawas. “Lebih baik melawan Panembahan Tidak Bernama daripada melawan ular-ular raksasa itu. Adalah kebetulan saja Agung Sedayu dapat mengenai mata naga itu dengan tombak. Jika tidak, maka kita tentu akan disapu dengan ekornya. Demikian juga agaknya pasukan ini Jika kita tidak berhenti di sini, maka kita akan kehilangan banyak orang tanpa arti.”

“Tetapi kapan ular itu akan pergi?”

“Tentu kita tidak tahu. Biarlah Raden Sutawijaya mengambil keputusan.”

Seperti yang mereka harapkan, maka sejenak kemudian induk pasukan pun datang ketempat itu. Seperti pengawas, maka mereka pun segera melihat pepohonan besar yang bagaikan ditiup angin pusaran.

Raden Sutawijaya menjadi termangu-mangu sejenak, sedang Pandan Wangi yang berada bersama ayahnya di sisi ujung tengah pasukan itu pun hampir berteriak berkata, ”Ular-ular naga.”

Sutawijaya memandang pepohonan yang bergetar itu dengan hati yang berdebar-debar. Sementara itu Agung Sedayu dan Swandaru meninggalkan kelompoknya sejenak dan mendekati gurunya yang berdiri di sebelah Sutawijaya.

“Guru,” berkata Agung Sedayu, ”ketika kami menangkap ular naga, maka yang pertama-tama kami lihat adalah getar pepohonan seperti itu.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tampaklah keragu-raguan membayang di wajahnya.

“Jika tidak dengan kebetulan aku mengenai matanya dengan tombak, aku kira kami tidak akan dapat kembali. Setidak-tidaknya salah seorang dari kami telah menjadi korban.”

“Ya,” sahut Kiai Gringsing, ”ular yang berbuat demikian adalah ular yang lapar. Dan kini ada tiga ekor ular naga yang lapar bersama-sama.”

Tidak seorang pun yang menjawab. Namun tiba-tiba salah seorang dari ke empat pengawas itu berteriak, ”Aku sudah melihat ular itu. Hampir tidak mungkin. Lebih besar yang pernah kita tangkap.”

Ternyata bahwa bukan saja para pengawas itu melihat ular raksasa yang mulai meluncur turun dari pohonan itu. Tetapi hampir setiap orang di dalam pasukan itu dengan hati yang berdebar-debar menyaksikan tiga ular yang besar sekali sedang turun dari pohon-pohon raksasa di hadapan mereka.

“Apakah kita akan bertempur melawan ular-ular naga itu?” bertanya salah seorang kepada kawan-kawannya.

Tetapi belum lagi kawannya menjawab, mereka melihat suatu peristiwa yang belum pernah mereka saksikan sepanjang hidup mereka. Ternyata ke tiga ekor ular naga yang sedang lapar itu telah saling menyerang dan berkelahi di antara mereka sendiri

Perkelahian itu benar-benar telah menarik perhatian para pengawal dari Mataram dan dari Tanah Perdikan Menoreh itu, sehingga mereka menjadi lengah dan kehilangan perhatian terhadap gelar yang mulai pecah.

“Ular itu saling menyerang,” desis Agung sedayu.

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menyahut sama sekali.

Sejenak seluruh pasukan itu terpesona melihat tiga ekor ular naga raksasa yang saling membelit dan bertempur di antara mereka. Semakin lama menjadi semakin liar. Apalagi setelah darah yang merah kehitam-hitaman mulai membasahi tubuh mereka.

“Guru,” berbisik Agung Sedayu kemudian, ”ular sebesar itu tentu memiliki tenaga yang luar biasa. Pepohonan menjadi rusak dan berhamburan. Bagaimana kira-kira jika ular-ular itu menyerang pasukan ini, apalagi dalam keadaan yang marah?”

Kiai Gringsing tidak segera menjawab. Diperhatikannya ketiga ekor ular yang bertempur sendiri itu.

Tetapi ternyata bahwa yang dicemaskan Agung Sedayu itu terjadi. Tiba-tiba salah seekor dari ular itu yang terlepas dari belitan perkelahian di antara mereka, mengangkat kepalanya tinggi-tinggi seakan-akan ingin melihat keadaan di sekelingnya. Perlahan-lahan ular itu mengangkat kepalanya sambil mengangakan mulutnya. Tampak taringnya yang panjang dan tajam, kemudian lidahnya yang bercabang menjulur panjang sekali.

Dengan mata yang merah menyala ular itu memandang perbukitan di sekitarnya. Kemudian tiba-tiba saja mata itu menyentuh para pengawal yang dengan termangu-mangu sedang memperhatikannya.

Tiba-tiba ular itu mendengus keras sekali sehingga kedua ekor yang lain terkejut. Perkelahian di antara mereka pun tiba-tiba juga berhenti. Kini ketiga ekor naga itu memperhatikan arah yang sama. Pasukan Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh.

Para pengawal menjadi berdebar-debar. Sejenak mereka memperhatikan ketiga ekor ular naga itu. Jika ular itu menyerang mereka, maka mereka tidak akan banyak dapat berbuat. Seandainya mereka melemparkan semua senjata ke arah ke tiga ekor naga itu maka mereka tidak akan mampu menahan gejolak yang sangat dahsyat sebelum ketiga ekor ular itu mati. Dan separo dari pengawal di dalam pasukan itu pun akan terbunuh.

Dan ternyata yang mereka cemaskan itu terjadi. Ketiga ekor ular naga yang sudah terluka itu mulai merunduk. Mereka agaknya menjadi sangat marah melihat orang-orang yang telah melihat perkelahian di antara mereka.

Sesaat kemudian hampir berbareng ketiga ekor naga itu meluncur maju. Perlahan-lahan tetapi pasti, bahwa mereka akan menyerang orang-orang yang mereka anggap telah mengganggu.

Tanpa disadari, maka para pengawal dari Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh itu melangkah surut. Tiga ekor ular naga yang besar bersama-sama telah menyerang mereka.

Sesaat pasukan itu menjadi berdebar-debar. Apalagi mereka yang pernah melihat, bagaimana seekor ular naga yang marah menyerang lawannya, ketika mereka berburu bersama Pandan Wangi dan anak-anak Sangkal Putung itu. Prastawa menjadi gelisah. Bahkan dengan serta-merta berkata kepada pamannya, ”Paman, sebaiknya kita menghindari ular-ular naga itu. Mereka sangat buas dan barangkali tidak ada cara yang dapat kita pergunakan untuk melawan mereka bertiga.”

Ki Argapati tidak menjawab. Ia sedang memandang ketiga ekor ular naga itu dengan wajah yang tegang.

Dalam pada itu, selagi seluruh pasukan menjadi cemas. Agung Sedayu sempat melihat beberapa ekor burung yang berterbangan di udara. Sehingga karena itu ia bertanya kepada gurunya, ”Guru, apakah Guru juga melihat burung-burung di udara itu?”

Kiai Gringsing mengangkat wajahnya. Dilihatnya burung yang berterbangan di langit. Berputar-putar seakan-akan tidak ada apa pun yang terjadi di bawah sayapnya.

Tiba-tiba saja Kiai Gringsing tersenyum. Katanya kepada Agung Sedayu, ”Kita sudah mulai mengalami.”

Dan berbareng dengan itu Raden Sutawijaya pun bertanya, ”Kiai, coba katakan, apakah yang kita lihat itu bukan sekedar bentuk semu? Aku tidak yakin, bahwa kita menjumpai tiga ekor ular raksasa sekaligus.”

“Tetapi mereka bertempur di antara mereka sendiri,” desis Prastawa ragu-ragu.

Dan keragu-raguan telah melanda seluruh pasukan. Namun dalam pada itu Kiai Gringsing berkata, ”Kita tidak berhadapan dengan tiga ekor ular naga yang sebenarnya. Jika ada seekor ular saja di hadapan kita, maka binatang-binatang yang lain akan menghindar. Demikian juga burung-burung di udara.”

“Jika demikian,” teriak Sutawijaya, ”semua kembali ke dalam kelompoknya. Adalah berbahaya sekali jika kita terpancang oleh bentuk-bentuk semu itu, sedang pasukan lawan yang sebenarnya akan menyerang kita.”

Perintah itu telah menggerakkan para pemimpin dari Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh. Mereka sadar, bahwa mereka harus berada di dalam lingkaran gelar yang tidak sempurna itu. Karena itu maka mereka pun segera berlari-larian kembali ke kelompok masing-masing.

Namun demikian bentuk yang mengerikan itu semakin lama menjadi semakin dekat. Adalah meragukan sekali, bahwa bentuk-bentuk itu hanya sekedar bentuk semu. Bahkan ada di antara para pengawal yang menjadi gemetar melihat taring yang panjang runcing dan lidah yang menjulur bercabang.

Tetapi Kiai Gringsing sempat menyakinkan dirinya sendiri. Dengan ilmu yang ada padanya, ia telah menemukan kepastian bahwa yang dilihatnya bukannya tiga ekor ular naga raksasa.

“Kita maju terus,” perintah Raden Sutawijaya kemudian.

Namun Raden Sutawijaya sendiri masih juga dicengkam oleh kebimbangan, sehingga tombaknya selalu merunduk ke depan, siap untuk dipergunakan.

Namun seandainya yang menjadi semakin dekat itu adalah benar-benar tiga ekor naga maka tombak itu tidak akan berarti apa-apa.

Dalam pada itu, selagi pasukan Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh dicengkam oleh keragu-raguan yang dahsyat, maka pasukan yang dipimpin oleh Putut Nantang Pati dan Daksina sudah siap untuk menyerang mereka. Tetapi yang telah menggoncangkan hati adalah perintah Raden Sutawijaya, justru para pengawal itu harus kembali di tempat masing-masing di dalam gelar yang tidak sempurna itu.

“Mereka mengerti, bahwa bentuk-bentuk itu bukannya bentuk yang sesungguhnya,” berkata Putut Nantang Pati.

“Mereka bukan orang dungu. Tetapi nampak bahwa pasukan itu menjadi ragu-ragu,” jawab Daksina yang bersembunyi di balik dinding batu.

“Kita menunggu perintah Panembahan Alit.”

Dalam pada itu Panembahan Alit menjadi bimbang pula. Ternyata pasukan Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh tidak menjadi pecah dan berlarian saling tunjang sehingga dengan mudah mereka dapat menumpasnya. Bahkan ia mendengar meskipun lamat-lamat perintah Sutawijaya untuk tetap berada di dalam gelar perangnya yang meskipun tidak sempurna, namun merupakan suatu gelar yang rapat di dalam lembah yang tidak terlalu luas ini.

Dalam keragu-raguan itu, tiba-tiba mereka terkejut melihat api yang menyala dari mulut ke tiga ekor naga itu. Sejenak, Panembahan Alit dan anak buahnya terpesona sendiri melihat nyala yang menyembur dari mulut yang sedang menganga itu meskipun mereka tahu pasti, bahwa yang mereka lihat bukannya api yang sebenarnya.

Namun dalam pada itu, ternyata bahwa api yang memancar dari mulut tiga ekor naga itu telah menggetarkan jantung setiap orang di dalam pasukan Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh. Rasa-rasanya api itu terasa panasnya pada tubuh mereka, sehingga mereka benar-benar meragukan, apakah yang mereka lihat hanya sekedar semu.

Dengan demikian maka pasukan yang berada di dalam gelar itu telah terhenti. Bahkan beberapa orang mulai tergerak surut karena api yang semakin lama menjadi semakin besar itu.

“Tidak ada apa-apa,” Kiai Gringsing-lah yang kemudian berteriak, ”aku tidak melihat apa-apa.”

Mereka yang mengenal Kiai Gringsing sebagai seorang yang memiliki kelebihan, menerima keterangannya itu dengan akalnya. Namun ternyata sebelum para pengawal itu harus bertempur melawan pasukan Panembahan Agung, mereka telah bertempur di dalam diri mereka sendiri, karena akal dan perasaan mereka menjadi tidak seimbang.

“Nah,” berkata Panembahan Alit, ”kini mereka mulai kehilangan keseimbangan. Sejenak lagi kita akan menyerang mereka. Terutama pasukan yang ada di lambung itu.”

Tetapi yang terjadi kemudian adalah suatu permainan baru yang menggemparkan medan. Tiba-tiba saja, selagi pasukan Mataram dan Menoreh mulai kebingungan, di langit berterbangan beberapa ekor burung elang raksasa. Semakin lama semakin banyak sehingga kemudian langit bagaikan diliputi oleh mendung. Berpuluh-puluh burung elang yang besar berterbangan mengitari tiga ekor naga raksasa itu. Dan sejenak kemudian tiba-tiba saja berpuluh-puluh burung elang yang besar itu menyerang ke tiga ekor ular naga itu dengan paruhnya yang tajam dan dengan kuku-kukunya yang runcing.

Ular-ular naga itu pun terkejut mendapat serangan yang tiba-tiba dari udara. Ketiganya menggeliat, dan kemudian menengadahkan kepalanya. Namun burung-burung elang raksasa itu pun menyerang semakin lama menjadi semakin dahsyat, sehingga ketiga ekor ular itu tidak sempat memperhatikan lagi para pengawal dari Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh. Mereka menyemburkan api adbmcadangan.wordpress.com di mulutnya ke arah burung elang itu. Tetapi agaknya burung-burung elang itu telah kebal sehingga api yang menjilat mereka, sama sekali tidak menghanguskan bulu-bulunya.

Panembahan Alit yang melihat pertempuran itu menjadi heran. Kemudian cemas dan berdebar-debar. Sedang Putjut Nantang Pati dan Daksina menjadi bingung dan bertanya, ”Panembahan, apakah yang terjadi?”

“Aku tidak mengerti. Tentu ada sesuatu yang tidak pada tempatnya. Elang-elang raksasa itu sangat mencurigakan, tentu hanya bentuk semu seperti ular raksasa itu pula. Jika burung-burung itu adalah burung yang sebenarnya, mereka tentu tidak akan terpengaruh, oleh bentuk-bentuk semu seperti ke tiga ekor ular raksasa itu.”

Ternyata bukan saja Panembahan Alit yang menjadi cemas dan bingung. Panembahan Agung yang duduk di serambi gardunya pun terkejut merasakan suatu getaran yang lain yang telah terjadi pada pusat samadinya sehingga akhirnya ia melihat gangguan-gangguan yang tidak dikehendaki.

Yang terjadi kemudian sebenarnya adalah pertempuran kekuatan ilmu yang aneh itu. Dengan segenap pemusatan pikiran dan perasaan, Panembahan Agung mempertahankan bentuk-bentuk semunya agar tidak terganggu oleh burung-burung yang berterbangan dan menyerangnya berganti-ganti. Getar-getaran yang dahsyat ternyata telah melanda pemusatan pikirannya, sehingga bentuk-bentuk yang diciptakannya terpengaruh pula olehnya.

Ternyata bahwa gelombang getaran yang melanda jantungnya adalah ilmu yang sangat dahsyat. Apalagi Panembahan Agung tidak menyangka bahwa ia akan mendapat serangan yang sangat dahsyat seperti itu.

Karena itulah maka ia harus berjuang mati-matian, agar bentuk-bentuk semunya tidak terpengaruh oleh benturan ilmu itu.

Tetapi itu tidak mungkin. Penguasaannya atas getaran alam di sekitarnya yang langsung mempengaruhi syaraf setiap orang yang berada di dalam lingkup jangkau kemampuan ilmunya sehingga tercipta bentuk-bentuk yang semu, yang seolah-olah dapat disentuh oleh syaraf penghayatan yang wadag itu, terpengaruh pula oleh gejolak getaran ilmu yang serupa.

Akhirnya Panembahan Agung itu tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Apalagi ia merasa tidak bersiap menghadapi serangan yang tiba-tiba serupa itu sehingga akhirnya ia berniat untuk mulai saja dengan medan yang baru sama sekali dengan melepaskan medan yang lemah itu.

Karena itu, maka dengan hati yang berdebar-debar orang-orang yang berada di lembah dan yang sudah bersiap untuk bertempur itu menjadi termangu-mangu. Mereka melihat ke tiga ekor ular naga itu bergeser surut. Perlahan-lahan mereka meninggalkan medan diburu oleh burung-burung yang berterbangan di udara. Dan akhirnya ketiga ekor ular naga itu pun meluncur masuk ke dalam rimbunnya pepohonan di lembah itu.

Demikian ketiga ekor ular naga itu hilang, maka burung-burung itu pun melayang meninggi, dan akhirnya hilang pula di balik awan.

Para pengawal Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh menggosok mata mereka. Kini mereka melihat, bahwa sebenarnya di hadapan mereka tidak ada bekas-bekas perkelahian dari tiga ekor ular naga itu. Mereka tidak melihat pepohonan yang berserakan dan dahan-dahan kayu yang berpatahan. Pepohonan yang ada di padukuhan di hadapannya masih tampak hijau segar dan daun-daunnya masih tetap rimbun.

“Kita telah dihadapkan pada permainan yang gila,” teriak Sutawijaya. ”Jika kita setiap kali menghadapi permainan seperti itu, kita memang akan dapat menjadi gila karenanya. Sekarang, selagi kita masih sadar sepenuhnya bahwa kita adalah sasaran permainan itu, cepat, kita harus menemukan sumber dari permainan gila itu sendiri.”

Para pemimpin dari Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh sependapat dengan perintah Raden Sutawijaya itu. Namun mereka masih saja selalu dibebani oleh pertanyaan, bagaimana burung-burung elang raksasa itu begitu saja hadir dan membantu mereka menghapus bayangan semu yang mengerikan itu.

“Apakah juga Panembahan Agung yang menciptakan bentuk-bentuk burung elang raksasa yang dahsyat itu?” bertanya salah seorang pengawal Tanah Perdikan Menoreh kepada seorang kawannya.

“Aku kira bukan,” Agung Sedayu yang mendengar pertanyaan itu menjawab.

“Jadi siapa?”

“Lembah ini memiliki seribu rahasia yang tidak mudah dikatakan maknanya.”

Pengawal itu tidak bertanya lagi. Raden Sutawija yang marah karena merasa dipermainkan, segera membawa pasukannya maju.

Tetapi langkahnya terhenti ketika tiba-tiba saja, seperti yang pernah dialami Daksina, lembah itu telah diguncang oleh gempa bumi. Pohon-pohon besar berguncang dan dan tebing batu-batu yang besar runtuh menimpa pepohonan.

Raden Sutawijaya terkejut. Dan rasa-rasanya tanah memang berguncang, sehingga karena itu, sejenak ia menjadi bingung. Apalagi kemudian terdengar tanah di hadapan mereka runtuh, dan mengangalah sebuah jurang yang besar dan dalam.

Beberapa orang pengawal di dalam pasukan yang sedang bergerak maju itu berpegangan pepohonan erat-erat, seakan-akan mereka akan terlempar ke dalam jurang yang dalam itu. Bahkan beberapa orang dibagian depan gelar yang tidak sempurna itu bergeser surut.

Ketika gempa menjadi reda, maka kebimbangan yang sangat telah meraba hati setiap orang. Bahkan mereka merasa tidak pasti terhadap diri mereka sendiri, setelah mereka diganggu oleh peristiwa-peristiwa yang mengerikan itu.

Dan belum lagi getaran jantung mereka mereda, mereka melihat asap yang tebal mengepul dari dalam jurang itu, seolah-olah di dalam jurang itu terdapat kawah gunung berapi yang panas.

Kali ini Panembahan Alit tidak mau lagi melepaskan kesempatan itu. Selagi orang-orang Mataram dan orang-orang Tanah Perdikan Menoreh menjadi kebingungan, maka terdengar isyarat dari senapati itu, bahwa pasukannya harus menyerang.

Demikianlah, maka anak buah Putut Nantang Pati dan Daksina itu pun segera menghambur keluar dari persembunyian mereka. Karena mereka sudah dibekali keyakinan bahwa yang mereka lihat adalah sekedar bentuk semu, maka mereka tidak menghiraukannya lagi. Yang berada di paling depan sebelah-menyebelah adalah Putut Nantang Pati dan Daksina. Mereka bagaikan terbang melintasi jurang dan asap tebal keputih-putihan. Di belakangnya, anak buahnya mengikutinya tanpa ragu-ragu. Mereka berlari-larian di udara, melintasi jurang yang dalam itu.

Sebenarnyalah bahwa para pengawal dari Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh menjadi bingung. Meskipun mereka mencoba untuk menilai apa yang dilihatnya, tetapi untuk beberapa saat mereka kehilangan keseimbangan nalarnya.

Dalam pada itu, para pemimpinnya merasakan keragu-raguan yang dahsyat itu. Apalagi setelah mereka melihat pasukan lawan mulai menyerang dan seakan-akan terbang di udara di atas jurang yang menganga.

Hampir berbareng di dalam kecemasan melihat kebimbangan pasukannya, Raden Sutawijaya, Kiai Gringsing, dan Ki Argapati berteriak, ”Jangan bingung. Kalian melihat bentuk-bentuk yang tidak sebenarnya ada. Tetapi pasukan lawan itu sebenarnya sedang menyerang kalian.”

Perintah itu memang berpengaruh. Tetapi nalar mereka seakan-akan sedang buntu oleh kebingungan yang mencengkam mereka.

Baru ketika terdengar perintah sekali lagi, maka mereka pun mulai terbangun dan mempersiapkan senjata mereka. Dengan dada yang berdebar-debar mereka menunggu lawan mereka yang terbang di atas jurang yang lebar dan dalam itu.

Tetapi sebelum mereka menjadi benar-benar mapan, maka datanglah gangguan yang lain. Tebing lembah itu sekali lagi bagaikan runtuh. Batu-batu besar berguguran dan pepohonan tumbang. Rasa-rasanya lembah itu semakin lama menjadi semakin sempit.

Sekali lagi timbul kebingungan pada setiap orang di dalam pasukan itu, sehingga sekali lagi Kiai Gringsing berteriak, ”Jangan hiraukan. Tidak ada apa-apa.”

Dan disahut oleh setiap pemimpin, meskipun mereka juga masih ragu-ragu. ”Jangan hiraukan. Bersiap melawan pasukan lawan itu.”

Tetapi mereka pernah menyaksikan lembah yang bagaikan runtuh ketika mereka memasuki lembah yang agak luas itu. Reruntuhan itu telah benar-benar menguburkan beberapa orang kawan mereka, sehingga karena itu, batu-batu padas yang runtuh itu benar-benar telah membuat mereka kebingungan.

Dengan pemusatan perhatian terhadap para penyerang, Para pemimpin kelompok dari pasukan pengawal Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh mencoba melepaskan perhatiannya kepada semua yang telah terjadi di sekitarnya. Meskipun demikian, mereka tidak berhasil sepenuhnya mengnguasai diri sendiri.

Terlebih-lebih lagi ketika mereka mulai disentuh oleh angin yang bagaikan menggugurkan gunung yang mengalir di lembah itu, sehingga setiap pohon berguncang dengan dahsyatnya.

Tetapi, suatu peristiwa yang tidak mereka sangka-sangka telah terjadi lagi. Selagi pasukan lawan hampir mencapai ujung jurang yang hanya ada di dalam kegelisahan hati itu, tiba-tiba meluncurlah anak panah bagaikan hujan dari balik pepohonan. Bukan saja anak panah, tetapi tombak-tombak pendek dan bahkan lembing-lembing bambu yang berujung runcing.

Dengan demikian maka pasukan Panembahan Alit yang terbang itu bagaikan berhenti. Mereka menjadi ragu-ragu pula. Sejenak Putut Nantang Pati dan Daksina mencoba menilai keadaan. Apakah yang sebenarnya mereka hadapi.

Panembahan Alit yang berada di antara pasukan itu pun kemudian bergeser maju. Katanya, ”Gila, orang-orang Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh benar-benar tidak terpengaruh oleh bentuk-bentuk yang aneh ini.”

“Ya, mereka sempat menyerang dari balik pepohonan tanpa menghiraukan angin ribut dan batu-batu padas yang berguguran itu.

Para pemimpin pasukan Panembahan Alit itu menjadi bimbang. Panah-panah yang meluncur itu seperti merambat semakin maju mendekati ujung pasukan mereka yang kini bagaikan terkatung-katung di udara.

Ketika satu dua anak panah sudah menjadi semakin dekat, maka tanpa disengaja, beberapa orang mulai bergeser surut.

Namun dalam pada itu, Sutawijaya dan seluruh pasukannya pun menjadi heran. Tidak seorang pun dari mereka yang dengan tenangnya melontarkan anak panah dari balik pepohonan. Namun ternyata anak panah itu meluncur deras sekali, sehingga menahan arus pasukan lawan yang menyerang mereka dalam saat mereka berada di dalam cengkaman kebimbangan dan kebingungan.

Dalam pada itu, Sutawijaya juga dicengkam oleh kebimbangan yang luar biasa sehingga tanpa disadarinya ia memukul-mukul kepalanya sendiri sambil berkata, ”Kita berada di daerah yang dapat membuat kita gila.” Tetapi tiba-tiba ia berteriak, ”Jangan hiraukan, marilah kita maju. Kita tentu dapat juga terbang seperti orang-orang itu. Sebenarnyalah bahwa jurang itu tidak ada sama sekali. Hanya kegilaan kita sajalah yang telah membayangkannya bahwa kita di batasi oleh sebuah jurang yang dalam.”

Sutawijaya tidak menunggu lebih lama lagi, ia pun kemudian melangkah dengan tombak pendeknya merunduk rendah.

Namun betapa pun juga, sebenarnya Raden Sutawijaya masih juga dibayangi oleh keragu-raguan meskipun ia sadar, bahwa persoalannya terletak pada ketidak-seimbangan antara nalar dan perasaannya.

Dengan hati yang berdebar-debar Sutawijaya memperhatikan anak panah yang meluncur seperti semburan air dari arah pasukannya. Tetapi ia pun segera dapat menghubungkannya dengan garuda yang telah menyerang tiga ekor naga raksasa yang mengganggu pasukannya. Yang menjadi teka-teki baginya, siapakah yang sudah melakukannya.

Sebagai seorang senapati, maka Sutawijaya mencoba mengambil keuntungan dari keadaan medan. Justru karena lawannya yang sedang ragu-ragu, maka Sutawijaya pun membawa pasukannya untuk maju terus.

Tetapi di samping Sutawijaya terdapat seseorang yang memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak daripadanya, sehingga karena itu, maka Sutawijaya mendengar Ki Argapati memerintahkan kepada anak buahnya, tetapi perlahan-lahan agar tidak diketahui oleh lawan, ”Lepaskan anak panah yang sebenarnya. Kita mengambil keuntungan dari keadaan yang belum kita ketahui dengan pasti.”

Ternyata bahwa para pemimpin dari Mataram pun melakukan hal yang serupa. Mereka melepaskan anak panah sambil melangkah maju, sehingga ketika sebuah dari anak panah itu mengenai lawannya, maka lawannya pun benar-benar menjadi terluka.

Putut Nantang Pati dan Daksina menjadi bingung. Meskipun mereka semula mulai menyadari, bahwa anak panah itu sekedar bayangan semu seperti jurang yang seakan-akan berada di bawah kaki mereka, namun ketika Panembahan Alit hampir meneriakkan perintah bahwa pasukannya tidak usah memperhatikan anak panah itu, tiba-tiba saja dua orang dari mereka sekaligus terluka oleh anak panah itu. Anak panah yang sebenarnya dilepaskan oleh orang-orang Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh.

Bahkan anak panah itu tidak saja mengarah ke medan di hadapan mereka, tetapi juga menghadap ke lambung, ke arah batu-batuan yang berguguran, yang sebenarnya melindungi pasukan yang sudah siap menyerang dari lambung.

Dengan demikian, maka pasukan Putut Nantang Pati dan Daksina pun terpaksa melangkah surut digiring oleh anak panah yang mendesak maju. Mereka tidak siap menghadapi serangan itu, sehingga mereka tidak segera dapat menemukan cara untuk melawan anak panah itu, adbmcadangan.wordpress.com selain berusaha menangkis dengan senjata yang ada pada mereka. Pasukan itu agaknya terlampau percaya dengan permainan Panembahan Agung yang akan dapat membingungkan pasukan lawan. Namun ternyata, bahwa mereka masih tetap berada di dalam gelar yang utuh meskipun tidak sempurna.

Meskipun kemudian Putut Nantang Pati dan Daksina sadar, bahwa bukan semua anak panah yang meluncur itu adalah benar-benar anak panah, namun memang terlampau sulit untuk membedakan, yang manakah yang sebenarnya anak panah, dan yang manakah yang sekedar seperti elang raksasa yang berterbangan di langit.

Tetapi, ternyata bahwa pasukan Raden Sutawijaya pun terhambat pula oleh jurang itu. Ketika pasukannya sudah berdiri di bibir jurang, maka sekali lagi mereka diamuk oleh kebimbangan.

“Ikuti aku,” teriak Kiai Gringsing yang berjalan terus tanpa ragu-ragu. Ia berhasil melihat kenyataan yang di hadapannya dengan mengesampingkan perasaannya. Namun yang lain tidak memiliki keteguhan kepercayaan dan nalar seperti Kiai Gringsing, sehingga untuk beberapa saat pasukan itu terhenti

Namun sekali lagi mereka dikejutkan oleh peristiwa yang tidak mereka sangka-sangka. Tiba-tiba saja sekali lagi tanah berguncang. Tetapi tidak sedahsyat yang baru saja terjadi, namun ternyata goncangan itu telah melontarkan beberapa buah pokok kayu raksasa yang kemudian tumbang dan menyilang jurang yang dalam itu. Terlampau banyak, seakan-akan sengaja diatur seperti sebuah jembatan.

“Oh, gila. Benar-benar gila,” Raden Sutawijaya berteriak keras sekali. Lalu, ”Tetapi lintasi jembatan itu jika kalian ragu-ragu bahwa jurang itu memang tidak ada.”

Agung Sedayu, Swandaru, Pandan Wangi, Prastawa, dan para pemimpin dari Mataram, yang memiliki pemusatan nalar lebih baik dari orang kebanyakan segera membawa kelompoknya mendesak maju. Mereka yakin bahwa mereka tidak akan terperosok ke dalam jurang yang memang tidak ada.

Demikianlah pasukan itu maju terus, meskipun dengan dibayangi oleh kebimbangan dan keragu-raguan. Namun mereka pun kemudian dengan hati yang bulat bertekad untuk melawan ilmu yang gila-gilaan itu. Pengalaman yang telah terjadi, membuat mereka justru semakin mantap, bahwa mereka tidak boleh dikelabuhi oleh gambaran-gambaran gila di dalam angan-angan mereka sendiri.

Ternyata bahwa yang terjadi itu justru mengacaukan pasukan Panembahan Alit. Mereka sama sekali tidak menduga, bahwa pada suatu saat mereka akan berhadapan dengan lawan yang memiliki kemampuan serupa. Bahkan salah seorang dari para pemimpinnya berdesis, ”Mataram memang tidak dapat diangggap ringan.”

Selain pasukannya, maka ternyata Panembahan Agung sendiri mengalami goncangau perasaan yang dahsyat, sehingga mempengaruhi pemusatan ilmunya. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa ilmunya mengalami perlawanan. Dengan susah payah ia berusaha merubah medan. Ia berusaha merubah jurangnya menjadi semakin besar, agar pohon-pohon yang menyilang itu terjerumus ke dalamnya. Tetapi rasa-rasanya ia terpengaruh oleh sebuah kekuatan yang menggetarkan setiap pemusatan ilmunya.

Karena itu, maka sekali lagi Panembahan Agung menjadi marah oleh kekalahan yang tidak diduganya sama sekali. Dengan serta-merta ia merusak medan yang sudah diciptakannya dan berusaha membuat gangguan-gangguan baru meskipun ia tahu, bahwa ia harus bertempur melawan ilmu yang serupa.

Raden Sutawijaya dan anak buahnya terkejut ketika tiba-tiba saja jurang itu lenyap. Dan ternyata mereka benar-benar berdiri di atas tanah. Sedang pepohonan yang besar itu pun telah tidak ada di tempatnya pula.

“Kita maju terus,” teriak Raden Sutawijaya kemudian, ”kita tidak boleh terpengaruh oleh perang urat syaraf yang tidak mempengaruhi langsung keadaan medan. Di sinilah sebenarnya kita diuji ketahanan kita. Jika kita percaya kepada diri sendiri dengan sepenuh hati, maka kita akan mengatasi gangguan-gangguan yang sebenarnya tidak berarti apa-apa. Terserah kepada kalian, apakah kalian dapat dipengaruhi oleh perang urat syaraf yang gila-gilaan ini atau tidak.”

Ternyata kata-kata Sutawijaya itu dapat membangkitkan kemantapan di hati setiap orang di dalam pasukannya. Mereka mencoba untuk tidak lagi menghiraukan bentuk-bentuk semu yang sengaja dipergunakan sebagai alat di dalam perang urat syaraf. Mereka sadar bahwa apabila mereka tenggelam di dalam kegelisahan karena perang urat syaraf itu, maka sebenarnyalah mereka telah dikalahkan sebelum perang yang sebenarnya mulai.

Dengan mantap maka pasukan Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh itu berderap maju. Mereka siap dengan senjata telanjang di tangan, karena mereka sudah berada di hadapan pasukan Panembahan Alit dan kedua senapati pengapitnya.

Namun sekali lagi gangguan itu datang. Tiba-tiba saja terdengar suara prahara yang berputar-putar di dalam lembah itu. Tidak ada angin dan tidak ada mendung di langit, tetapi suara prahara itu terdengar semakin lama semakin dekat.

“Jangan terpengaruh,” terdengar perintah Raden Sutawijaya.

Namun tiba-tiba saja terdengar jawaban dengan suara yang berat dalam dan melingkar-lingkar di dalam lembah itu. ”Kau memang luar biasa anak muda. Agaknya tidak sia-sialah kau menjadi anak pungut Kanjeng Sultan Pajang. Dan tidak sia-sia pula kau menyebut dirimu anak Pemanahan.”

Raden Sutawijaya justru terhenti mendengar suara itu. Dengan lantang ia menyahut, ”Akulah Sutawijaya. Siapakah kau, he? Aku mendengar suaramu, tetapi kau tidak berani menampakkan ujudmu.”

Terdengar suara tertawa melingkar-lingkar. Suara yang memenuhi lembah itu sehingga setiap orang menjadi berdebar-debar dan cemas. Seakan-akan mereka sedang berbicara dengan lanngit dan bumi dan dengan gunung-gunung di sekitar mereka.

“Kau aneh Sutawijaya. Jika kau bertanya ujudku, maka tentu kau tahu, aku dapat berada di segala bentuk apa yang aku kehendaki. Aku dapat menjadi seekor naga raksasa. Bahkan tiga ekor. Aku dapat menjadi raksasa sebesar gunung Merapi. Aku dapat menjadi api dan dapat menjadi banjir. Aku dapat menjadi angin prahara dan petir yang menyambar di langit. Aku mempunyai bentuk seperti isi dunia ini.”

“Omong kosong,” teriak Raden Sutawijaya, ”kau hanya dapat membuat bentuk-bentuk semu yang tidak ada artinya bagiku.”

“Jangan sombong anak muda. Kau akan menyesal karena pada suatu saat, kau tidak akan dapat membedakan antara bentuk yang sebenarnya dan bentuk yang semu. Aku akui, kali ini kau berhasil mengalahkan gangguan atas syarafmu. Tetapi nanti tidak. Sebentar lagi kau akan benar-benar kehilangan kemampuan untuk mempertimbangkan yang manakah yang semu dan yang manakah yang sebenarnya.” Suara itu berhenti sejenak, lalu, ”Dan akulah ujud dari segalanya itu.”

Namun sebelum Sutawijaya menjawab, terdengar suara yang lain. Tidak ada bedanya dengan suara yang seakan-akan memenuhi seluruh lembah mengumandang dari dinding pegunungan yang satu membentur dinding pegunungan yang lain.

“Panembahan Agung. Sebenarnya kau memang dapat mewujudkan dirimu dalam segala bentuk sebanyak bentuk yang ada di muka bumi. Bahkan bentuk-bentuk yang ada di dalam dongeng dan cerita-cerita. Tetapi bentuk yang kau ciptakan itu sama sekali tidak berarti. Seperti angin lembut yang lewat tanpa meninggalkan bekas. Hanya orang-orang yang hatinya ringkih sajalah yang dapat kau pengaruhi dengan kebohongan yang paling besar itu. Kebohongan yang dapat berujud dan dibentuk oleh kelemahan hati sendiri. Ternyata bentuk-bentuk yang kau ciptakan itu tidak dapat berpengaruh terhadap mereka yang hatinya bagaikan baja. Bukan saja atas orang-orang tua seperti Kiai Gringsing, Ki Gede Menoreh, Ki Demang di Sangkal Putung, bahkan sama sekali tidak berarti apa-apa bagi anak semuda Raden Sutawijaya, Agung Sedayu, Swandaru, Pandan wangi, Prastawa, dan para pemimpin adbmcadangan.wordpress.com Mataram yang lain. Bahkan merupakan tontonan yang menarik hati bagi Ki Lurah Branjangan dan anak buahnya.”

“Cukup,” terdengar suara yang meledak bagaikan guntur. Lalu, ”Siapakah kau sebenarnya. Aku tahu, tentu kau yang sudah mengganggu pemusatan samadiku.”

“Kita saling mengganggu. Dan kita memang sedang bermain-main seperti orang gila, karena permainan kita sama sekali tidak menarik bagi pasukan Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh. Justru anak buahmulah yang menjadi bingung karenanya.”

Benturan suara yang menggetarkan lembah itu benar-benar telah menggelisahkan setiap orang di dalam pasukan yang sudah berhadapan dengan senjata telanjang. Seakan-akan mereka berada di tengah-tengah, di antara dua ekor gajah raksasa yang akan bertempur.

Dalam pada itu terdengar lagi suara, ”Kau sudah mengenal aku sebagai Panembahan Agung yang menguasai bumi pulau ini, sekarang sebut namamu, siapakah kau sebenarnya.”

Terdengar suara tertawa perlahan-lahan. Kemudian katanya, ”Kau tentu sudah mengenal aku, Panembahan.”

“Aku ingin melihatmu, mungkin aku akan segera mengenal, siapakah lawanku kali ini.”

Suara tertawa itu pun menjadi semakin keras. Di antara suara tertawa itu terdengar, ”Kau memang aneh. Seperti kau, aku berada dalam segala bentuk sebanyak bentuk di atas bumi. Bahkan bentuk dan ujud yang hanya ada di dalam dongeng-dongeng. Burung berkepala dua, atau seekor ular bertanduk seperti tanduk rusa dan berkaki seperti kaki harimau. Nah, sebut saja, bentuk yang manakah yang kau kehendaki.”

“Bentukmu yang sebenarnya. Aku ingin melihat kau sebagai mana kau yang sebenarnya.”

“Baiklah. Tempatkan dirimu. Aku pun akan segera keluar dari persembunyianku.”

Setiap dada sekali lagi berguncang. Bahkan rasa-rasanya mereka yang tidak tabah menghadapi kegilaan itu, telah kehilangan kepastian tentang pengamatan dirinya.

Dengan dada yang berdebar-debar mereka melihat seorang raksasa berdiri di atas puncak sebuah bukit padas. Sambil bertolak pinggang ia berkata, ”Inilah aku, Panembahan Agung yang sakti tiada duanya di muka bumi. Ayo, siapakah yang berani menempatkan diri sebagai lawan Panembahan Agung, akan aku injak sampai lumat. Jika kau melihat bentuk ini, maka kalian tidak akan dapat menyebutnya sebagai sekedar bentuk semu seperti naga dan jurang itu. Tetapi akulah sebenarnya Panembahan Agung.”

Belum lagi gema suaranya berhenti, tiba-tiba tangan raksasa itu memungut segumpal batu sebesar kerbau. Sambil mengangkat batu itu ia berkata, ”Aku dapat melemparkan batu ini ke tengah-tengah pasukan Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh. Kalian boleh melihat, apakah batu ini sekedar bayangan di dalam perasaanmu atau sebenarnya batu yang dapat memecahkan kepala dan melumatkan tubuhmu.”

Namun dalam pada itu terdengar jawaban, ”Aku percaya kalau batu itu sebenarnya batu, Panembahan. Kau memang sakti, kau mampu mengangkat batu sebesar itu dengan kekuatan samadimu dan melontarkannya ke dalam pasukan lawanmu dengan alat bentukmu sendiri yang kau hadirkan sebesar raksasa itu. Tetapi jika kau mempergunakan ilmu semacam itu, maka ilmumu harus dilawan dengan ilmu gila-gilaan yang serupa.”

“Persetan,” raksasa itu menggeram, ”aku tidak peduli.”

Dengan dada yang berdebar-debar setiap orang di dalam lembah itu melihat, raksasa yang berdiri di atas ujung bukit padas itu pun mengangkat batu sebesar kerbau dan siap untuk dilemparkan ke arah pasukan Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh.

Para pengawal dari Mataram dan Menoreh itu menahan nafasnya. Jika benar batu itu bukan sekedar bentuk semu seperti yang pernah dilihatnya, maka batu itu akan dapat menggilas lebih dari dua puluh lima orang sekaligus apabila raksasa itu melontarkan dengan tepat ke dalam gelar yang tidak sempurna itu. Pepohonan yang melindungi mereka tentu akan berhamburan dan roboh berserakan.

Tetapi sebelum batu itu terlepas, tiba-tiba sebuah sinar yang silau telah meluncur dan menyambar batu itu sehingga batu itu pecah berserakan.

Serentak setiap orang di dalam lembah itu berpaling ke arah yang lain, ke arah sumber sinar yang memecah batu sebesar kerbau itu.

Dengan jantung yang seolah-olah terhenti mereka melihat raksasa yang lain. Raksasa yang bentuk dan wajahnya dapat segera mereka kenali.

“Ki Waskita,” Sutawijaya tiba-tiba berteriak.

“Ya Raden. Inilah aku. Tetapi jangan hiraukan bentuk ini. Bentuk yang tidak sebenarnya ada. Meskipun seperti Panembahan Agung yang dengan kekuatan samadinya benar-benar dapat melontarkan batu yang sebenarnya.”

Dalam pada itu, di atas dua ujung gunung yang berseberang sebelah-menyebelah lembah tempat pasukan Menoreh dan Mataram sudah berhadapan dengan pasukan Panembahan Agung, berdiri dua orang raksasa yang mengerikan.

Dengan suara bagaikan guruh Panembahan Agung menggeram, ”Jadi kau, Jaka Raras. Aku memang sudah mengira, bahwa hanya kaulah yang mampu mengganggu aku di dalam keadaan serupa ini.”

“Maaf, Panembahan. Kau agaknya sudah melupakan kewajibanmu atas diri sendiri. Kau tidak akan dapat mempergunakan ilmu ini sekehendak hatimu, untuk tujuan yang tidak seharusnya kau lakukan. Karena itu, sudah tentu aku tidak akan dapat tinggal diam.”

“Persetan, tetapi aku tidak menyentuh kepentinganmu.”

“Sengaja atau tidak, kau sudah membuat aku hampir gila sehingga aku terpaksa sekali bermain-main dengan gila pula kali ini. Kau sudah mengambil anakku dari padaku.”

“He,” Panembahan Agung terkejut, ”siapa anakmu?”

“Rudita. Rudita adalah anakku, anak Waskita. Tentu ia tidak akan dapat menyebut namaku seperti yang kau kenal. Namaku sejak kecil memang Waskita. Tetapi kita bertemu di satu perguruan setelah aku menyebut diriku Jaka Raras. Karena itu jika kau bertanya kepada Rudita, maka ia akan berkata, bahwa ayahnya bernama Waskita.”

Raksasa yang berdiri di puncak bukit padas itu menggeram. Suaranya bagaikan suara guruh yang menggelegar di langit. Ditatapnya raksasa yang lain, yang menyebut dirinya Jaka Raras dengan sinar mata yang bagaikan memancarkan api.

“Nah, Panembahan Agung, sekarang aku datang untuk mengambil anakku,” berkata Ki Waskita kemudian.

Sejenak Panembahan Agung tercenung. Namun kemudian terdengar suara tertawanya, ”Kau memang bernasib malang, Jaka Raras. Anakmu yang bernama Rudita memang berada di tanganku. Aku kira aku memerlukannya. Tetapi ternyata anakmu itu tidak lebih dari seekor cucurut kecil yang tidak berarti. Selain anakmu memang menyebutmu dengan nama yang tidak aku kenal, aku memang tidak menyangka bahwa Jaka Raras yang perkasa itu mempunyai anak seekor cucurut. Nah, sekarang sebaiknya kau berbuat sebaik-baiknya untuk mengambil anakmu itu.”

“Aku memilih cara ini, Panembahan. Aku kira cara ini adalah cara yang paling baik. Tentu aku tidak akan dapat datang sendiri untuk membebaskan anakku. Dan kini aku sudah mendapat perlindungan dari Raden Sutawijaya. Karena sebenarnyalah bahwa kekuatan dari kedua belah pihak yang berhadapan kali ini ada di dalam pasukan itu. Tidak pada permainan gila ini.”

“Persetan,” teriak Panembahan Agung sehingga rasa-rasanya setiap selaput telinga akan pecah, ”aku tidak peduli. Tetapi kau akan aku hancurkan bersama pasukan Mataram dan Menoreh. Sedang anakmu pun kini berada di tangan orang yang mengetahui akan tugasnya. Dengan isyarat dari padaku, maka anakmu akan segera dicekik dengan tali yang diikat pada seekor kuda. Kau mengerti.”

“Kau kini berada di sini. Bagaimana kau dapat memerintahkan anak buahmu itu?”

“Kau bodoh. Aku adalah seseorang yang memiliki kemampuan menciptakan seribu macam bentuk. Dan dengan bentuk-bentuk yang sudah aku janjikan, aku dapat rnemberikan perintah itu.”

”Omong kosong, Panembahan. Kau tidak dapat menciptakan apa pun juga. Seperti aku juga tidak. Yang sama-sama dapat kita ciptakan hanya sebuah kebohongan besar seperti ini.”

“Tetapi dengan kebohongan yang mantap ini, aku dapat memerintahkan membunuh anakmu itu.”

“Jangan kau coba, Panembahan. Kau akan gagal. Aku dapat menghadang samadimu sekarang ini.”

Sekali lagi Panembahan Agung menggeram. Sejenak kedua raksasa itu saling memandang. Dan tiba-tiba saja dari kedua pasang mata itu bagaikan memancar sinar-sinar yang menyilaukan dan berbenturan dengan dahsyatnya.

Dalam pada itu, terdengar suara Waskita datar, ”Raden Sutawijaya. Jangan hiraukan kami, Raden. Mulailah. Biarlah raksasa yang semu ini aku hadapi. Raden dapat menghancurkan pasukannya seperti menghancurkan pasukan-pasukan yang lain, yang akan selalu mengganggu Mataram yang sedang berkembang dan Tanah Perdikan Menoreh.”

Raden Sutawijaya dan setiap pemimpin di dalam pasukannya rasa-rasanya terbangun mendengar peringatan itu. Maka mereka pun segera mempersiapkan diri menghadapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi. Bahkan Raden Sutawijaya sudah siap meneriakkan perintah untuk menyerang pasukan lawan.

Sementara itu kedua raksasa itu masih saja bertempur dengan caranya. Meskipun orang-orang di lembah itu berusaha untuk tidak menghiraukan, namun mereka masih juga terpengaruh oleh ledakan petir yang saling menyambar dan guntur yang menggelegar, seakan-akan kedua raksasa itu bersenjatakan lidah api dan ledakan-ledakan di langit.

Namun orang-orang di dalam pasukan yang siap bertempur itu telah menyadari, bahwa yang mereka lihat sebenarnya adalah ketiadaan, sama seperti sebuah kebohongan besar yang mantap.

Karena itu, maka Raden Sutawijaya tidak membuang waktu lagi. Segera ia mendesak maju dalam gelarnya yang kurang sempurna.

Tetapi agaknya seperti Raden Sutawijaya, maka Panembahan Alit pun berpikiran serupa. Ternyata ia tidak dapat lagi menyerahkan persoalannya kepada Panembahan Agung. Bukan karena Panembahan Agung kehilangan kesaktiannya, tetapi justru karena lawannya memiliki kemampuan untuk melawan kesaktian itu.

Sesaat kemudian terdengar isyarat dari Panembahan Alit. Dan hampir bersamaan, maka dari sebelah-menyebelah itu menghambur pasukannya yang memang sudah dipersiapkan menyerang dari lambung.

Demikianlah maka pertempuran pun kemudian mulai berkobar. Pertempuran yang wajar dari kedua belah pihak. Dan agaknya kedua belah pihak, telah berhasil menyingkirkan pengaruh ilmu kedua raksasa yang meskipun masih bertempur dengan caranya, namun keduanya tidak lagi menentukan apa-apa.

Tetapi di dalam kesulitan itu, Panembahan Agung masih sempat berkata, ”Jaka Raras. Apakah kau sampai hati membiarkan anakmu dicekik sampai mati dengan sebuah tambang yang diikatkan pada seekor kuda, yang menjerat lehernya, sedang kaki anakmu itu terikat pada sebatang pohon.”

”Itu jauh lebih gila dari permainan gila ini,” sahut Waskita.

“Aku memang senang pada permainan-permainan yang gila. Aku akan tetap membunuh anakmu yang cengeng itu dengan caraku. Ia membuat aku hampir gila karena menangis siang dan malam. Aku kira aku akan dapat mempergunakannya untuk menahan arus pasukan Raden Sutawijaya di saat terakhir seperti yang aku pertimbangkan sebelumnya, apabila orang-orang Mataram dan Menoreh tidak menghiraukan kebohongan-kebohonganku yang besar itu.”

“Maksudmu?”

”Kau dapat minta Raden Sutawijaya menghentikan pasukannya. Berbicara dan kemudian anakmu selamat,” Waskita menjadi termangu-mangu sejenak. Dipandanginya raksasa yang berdiri di atas bukit di hadapannya. Meskipun ia sadar, bahwa yang dilihatnya itu sekedar sebuah bayangan seperti dirinya sendiri.

Dalam keadaan yang diperlukan, Waskita dapat melenyapkan gangguan pada syaraf inderanya itu dan melihat dengan wajar, siapakah yang dihadapinya. Namun ia masih membiarkan saja permainan yang gila itu berlangsung terus. Justru dengan demikian, anak buah Panembahan Agung sendirilah yang menjadi bingung karena mereka tidak bersiap menghadapi keadaan serupa itu. Berbeda dengan pasukan dari Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh. Mereka memang sudah mempersiapkan diri memasuki medan yang akan dipenuhi oleh keajaiban yang sebenarnya tidak lebih dari sebuah kebohongan besar.

Karena Waskita tidak segera menjawab, maka Panembahan Agung pun segera mendesaknya, ”Bagaimana, Jaka Raras. Apakah kau setuju. Jika kau setuju, maka hentikan pasukan Raden Sutawijaya dengan pengaruhmu.”

Ki Waskita memandang pertempuran yang sudah berkobar itu sejenak. Pasukan Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh yang mempergunakan gelar Cakra Byuha yang tidak sempurna, ternyata berhasil menahan serangan lawannya yang tidak saja datang dari depan, tetapi juga dari lambung.

Di ujung pasukan, Panembahan Alit yang memimpin pasukannya langsung turun ke medan. Dengan kemarahan yang meluap-luap ia berusaha untuk dapat bertemu dengan Senapati yang memimpin gelar lawannya itu.

Namun ketika Raden Sutawijaya siap untuk melawannya, Kiai Gringsing terpaksa bergeser sambil berdesis, ”Raden, serahkan orang tua itu kepadaku. Orang itulah yang pernah aku jumpai di Alas Tambak Baya dan menyebut dirinya Panembahan Tidak Bernama. Ternyata bahwa Panembahan Agung adalah orang lain dari orang yang menyebut dirinya Panembahan Tidak Bernama ini.”

“Tetapi bagaimanakah jika orang itu juga yang menyebut dirinya Panembahan Agung?”

“Tidak. Ia sedang berdiri di puncak bukit sebagai seorang raksasa itu. Setidak-tidaknya ia sedang berada di dalam semadinya untuk mempertahankan bentuk itu dari gangguan Ki Waskita.”

Raden Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia sadar bahwa ia tidak akan mampu melawan Panembahan Alit itu.

Series 76

DENGAN demikian maka bersama di dalam satu kelompok dengan Ki Lurah Branjangan, Raden Sutawijaya berusaha untuk menahan Daksina. Meskipun Raden Sutawijaya sadar, bahwa Daksina memiliki kemampuan yang lebih baik daripada dirinya sendiri, tetapi seperti yang pernah di lakukan, Raden Sutawijaya tidak berdiri sendiri.

Di pihak yang lain, Senapati pangapit Panembahan Alit tertahan oleh Ki Argapati yang kini dirangkapi oleh anak gadisnya, Pandan Wangi, karena Pandan Wangi sadar, bahwa gangguan pada kaki ayahnya tentu akan segera kambuh lagi jika ia harus bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuannya. Itulah sebabnya maka ia merasa wajib selalu berada di sampingnya.

Di bagian lain, para pemimpin Mataram harus menahan serangan lambung yang berusaha memecah perhatian para pemimpin pasukan Mataram dan Menoreh. Namun ternyata bahwa kekuatan serangan pada lambung itu sama sekali tidak mampu mengatasi ketangkasan para pengawal dari Mataram.

Demikian juga di lambung yang lain. Ketika Agung Sedayu dan Swandaru mulai melecutkan cambuknya, maka ternyata bahwa lawan mereka tidak banyak berarti bagi gelar yang kurang sempurna itu, sehingga serangan lambung di belahan yang terdiri dari orang-orang dari Tanah Perdikan Menoreh itu pun tidak banyak memberikan gangguan.

Sementara itu, pasukan yang berada di bagian belakang dari gelar yang tidak sempurna itu sama sekali tidak mendapat gangguan apa pun. Ki Demang yang berada di bagian belakang, benar-benar merupakan tenaga cadangan yang setiap saat dapat dipergunakan sebaik-baiknya.

Sejenak setelah kedua pasukan itu berbenturan, Panembahan Alit sudah merasa tekanan yang berat dari lawannya. Namun demikian ia masih tetap merasa cukup kuat untuk melawan pasukan Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh itu, meskipun ia segera dapat juga mengenal orang bercambuk yang kini menahannya di ujung medan.

“Kita bertemu lagi Panembahan,” berkata Kiai Gringsing setelah keduanya terlibat di dalam peperangan.

“Kenapa kau turut campur?” bertanya Panembahan Alit. “Aku kira kau mendendam ketika aku menahanmu di Alas Tambak Baya.”

“Bukan sekedar itu,” sahut Kiai Gringsing, “tetapi aku memang sependapat dengan Raden Sutawijaya bahwa alas tempat gerombolanmu berpijak ini harus dihancurkan. Sudah sekian lamanya Mataram harus mengalami gangguan-gangguan yang gila dari Panembahan Agung dan Panembahan Alit. Hantu-hantuan, racun, dan seakan-akan kalian telah memagari Mataram dengan kekerasan.”

“Persetan. Tetapi kali ini kalian benar-benar telah terjerumus ke dalam sarang serigala. Kau akan mati dan hancur disayat-sayat oleh ujung senjata kami.”

Kiai Gringsing tidak menyahut. Yang terdengar adalah ledakan cambuknya sehingga Panembahan Alit terkejut dan meloncat menghindar dengan tangkasnya.

Selagi pertempuran itu berlangsung, maka masih terdengar suara Panembahan Agung, “Cepat, tahanlah pasukan Raden Sutawijaya. Kau dapat mempergunakan pengaruhmu. Kemudian aku akan menyerahkan anakmu itu.”

“Sayang, Panembahan,” sahut Ki Waskita, “aku tidak dapat melakukannya. Aku akan membebaskan anakku, tetapi tidak untuk menjerumuskan orang lain ke dalam tanganmu.”

Terdengar raksasa itu menggeram. Dengan nada tinggi ia kemudian berkata, “Jadi kau relakan anakmu mati dengan cara yang mengerikan itu?”

“Kenapa mengerikan?”

“Sudah aku katakan. Aku akan mengikat kakinya dan menjerat lehernya dengan tali yang terikat pada seekor kuda.”

“Jika kau mengerti bahwa hal itu mengerikan, kenapa kau lakukan?”

“Sengaja, agar kau tahu, bahwa kau terlampau sombong dengan membiarkan anakmu mati dengan cara itu. Mungkin kau lebih menghargai hadiah dari Raden Sutawijaya atas bantuanmu saat ini. Mungkin dijanjikan bahwa kau kelak akan diangkat menjadi seorang pemimpin di Mataram sehingga kau bersedia mengorbankan anakmu.”

“Aku sama sekali tidak bermaksud mengorbankan anakku yang manja itu. Aku akan membebaskan dengan caraku.”

“Persetan. Ia akan mati. Jika aku tidak melihat kau berusaha mempengaruhi Raden Sutawijaya dalam hitungan ke sepuluh, aku akan melepaskan isyarat.”

Waskita termangu-mangu sejenak. Tetapi ia sengaja memperpanjang waktu dengan berkata, “Tunggu dulu. Aku sedang berpikir. Jangan mulai dengan hitungan itu.”

“Kau menunggu pasukanku hancur?”

“Bukan itu, tetapi sekedar jaminan bahwa anakku akan selamat. Apakah kau dapat menunjukkan di mana anakku sekarang?”

“Ada padaku. Bukan aku sendirilah yang menemukannya. Tetapi orang-orang kepercayaanku. Kami mengira bahwa anak itu dapat kita pergunakan sebagai umpan antuk memancing kalian. Tetapi kami sudah gagal menghancurkan kalian di mulut lembah yang sempit. Kemudian pemainanku telah kau ganggu. Dan sekarang, satu-satunya kesempatan adalah mempergunakan kau dan anakmu itu.”

“Aku minta jaminanmu.”

Panembahan Agung menggeram. Ia masih belum mulai menghitung, karena Waskita sengaja memperpanjang pembicaraan.

Dalam pada itu, Waskita memang menunggu agar usahanya untuk melepaskan anaknya dapat terlaksana lebih dahulu sebelum Panembahan Agung menentukan sikap dan melepaskan isyarat untuk membunuh anaknya.

Dengan petunjuk dari Ki Waskita atas dasar isyarat yang ditangkapnya, maka Sumangkar merayap semakin dekat dengan padepokan Panembahan Agung yang seakan-akan telah menjadi kosong. Para penjaga dan pengawal telah dikerahkan ke medan untuk menahan arus pasukan Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh. Yang tinggal di padepokan itu hanyalah beberapa orang yang bertugas mengawasi keadaan dan dua orang untuk menjaga Rudita yang terikat pada tiang di ruang belakang padepokan itu. Panembahan Agung ternyata telah kecewa menahan anak cengeng yang semula disangkanya tidak akan mempunyai arti apa-apa, yang ternyata meleset dari perhitungannya.

Dengan demikian maka nilai Rudita bagi Panembahan Agung itu telah mengalami beberapa kali perubahan. Semula ketika ia menerima anak itu ia mendapat laporan, bahwa anak itu agaknya termasuk orang yang penting, sehingga ia tidak ikut di dalam pertempuran yang sedang berlangsung. Tetapi kemudian Panembahan Agung berpendapat, bahwa anak itu adalah anak yang dianggapnya tidak bernilai. Cengeng dan sama sekali tidak mengetahui apa pun juga tentang Mataram. adbmcadangan.wordpress.com Namun ketika anak itu akan dibunuhnya, tanpa disadari, anak itu telah bercerita tentang Tanah Perdikan Menoreh, sehingga Panembahan Agung berpendapat bahwa dari anak itu akan dapat diperas beberapa keterangan mengenai Menoreh. Yang terakhir ternyata, Panembahan Agung mengetahui bahwa anak itu adalah anak Jaka Raras, orang yang paling diseganinya karena orang itu juga memiliki ilmu seperti ilmunya sendiri. Ilmu yang dapat menjelmakan kebohongan yang paling besar yang dapat dilakukan oleh seseorang.

Tetapi ternyata bahwa di saat yang paling genting bagi Panembahan Agung, ayah anak cengeng itu sama sekali tidak berniat untuk menebus anaknya, karena ia tidak mau berkhianat kepada Raden Sutawijaya. Dengan demikian maka anak itu benar-benar tidak berarti lagi baginya, sehingga agaknya lebih baik anak itu dibunuhnya saja.

Pada saat itu Sumangkar telah berada di dalam padepokan yang sepi. Menurut Ki Waskita, anaknya ada di bagian belakang dari padepokan itu, sehingga dengan hati-hati, ia berkisar dari balik gerumbul ke balik gerumbul yang lain mendekati ruangan yang paling mungkin dipergunakan untuk menahan Rudita.

Dalam pada itu, Sumangkar menyadari, bahwa Rudita akan dapat dijadikan barang penting untuk memeras Ki Waskita. Karena itu, maka ia pun berusaha dengan secepat-cepatnya untuk melepaskannya.

Sumangkar menjadi berdebar-debar ketika dilihatnya masih ada beberapa orang yang hilir-mudik di halaman rumah induk padepokan itu. Dengan demikian, maka ia berpendapat, bahwa pada suatu saat, jika perlu, ia memang harus mempergunakan kekerasan.

Tetapi Sumangnar maju terus mendekati tempat yang diduganya dipergunakan untuk menyembunyikan Rudita. Ketika ia mendapat kesempatan, maka Sumangkar pun berlari dari balik gerumbul ke sudut rumah induk itu.

Namun, ternyata tanpa disengaja seseorang telah melihatnya. Tetapi karena orang itu tidak begitu jelas, siapakah yang dilihatnya itu, maka ia pun mendekatinya dengan senjata teracu.

Dalam keadaan itu, Sumangkar tidak dapat bersembunyi lagi. Bahkan ia pun kemudian berjongkok di sudut rumah itu sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Siapa kau, he?” bertanya orang yang mendekatinya.

Tetapi orang itu tidak dapat bertanya untuk kedua kalinya, ketika tiba-tiba saja ia terhuyung-huyung.

Dengan mata terbelalak orang itu masih melihat Sumangkar berdiri. Namun kemudian matanya menjadi berkunang-kunang. Dadanya serasa sesak.

Agaknya Sumangkar telah meloncat dan memukul dada orang itu, sehingga akhirnya orang itu pun terjatuh menelentang di tanah. Pingsan.

Dengan tergesa-gesa Sumangkar masih sempat menarik orang itu dan menyembunyikannya di balik pintu yang terbuka. Kemudian dengan hati-hati ia bergeser menuju ke tempat yang paling sesuai dengan keterangan yang diberikan oleh Ki Waskita menurut rabaan isyaratnya.

Sekali-sekali Sumangkar masih harus berhenti dan berlindung di balik sudut-sudut rumah atau gerumbul-gerumbul yang rimbun.

Ia masih berusaha untuk menghindari kekerasan sejauh dapat dilakukan, karena ia tidak mengetahui dengan pasti, ada berapa orang yang masih tinggal di padepokan ini.

Ketika Sumangkar mendekati rumah yang diduga sebagai tempat untuk menyembunyikan Rudita, maka ia terpaksa bersembunyi melekat dinding ketika ia melihat seseorang justru berjalan ke arahnya. Namun ia tidak menbiarkan orang itu memberikan isyarat kepada kawan-kawannya. Demikian orang itu sampai di sudut rumah, maka ia tidak sempat berbuat apa pun juga. Sebuah tangan yang kuat telah mencengkam mulutnya dan sebuah pukulan yang keras terasa mengenai tengkuknya. Setelah itu, maka ia pun jatuh pingsan pula.

Seperti orang yang pertama, maka orang itu pun kemudian disembunykan di balik dinding. Agaknya rumah-rumah gubug yang bertebaran di padepokan itu sudah dikosongkan, karena orang-orangnya berada di medan di hadapan padepokan yang terpencil dan tersembunyi itu.

Dengan hati yang berdebar-debar Sumangkar melanjutkan langkahnya. Setiap kali ia berhenti dan mendengarkan setiap bunyi yang mencurigakan.

Akhirnya Sumangkar berhasil mendekati tempat yang dicarinya. Lamat-lamat ia mendengar seseorang menangis meskipun tertahan-tahan.

“Hanya Rudita-lah yang menangis dengan cara itu,” desis Sumangkar kepada diri sendiri.

Perlahan-lahan ia berusaha mendekati gubug itu. Ternyata gubug itu sepi. Meskipun demikian Sumangkar yakin, bahwa tentu ada satu atau dua orang yang menjaganya.

Selagi ia termangu-mangu, tiba-tiba ia mendengar suara yang menggelegar dari medan. Ketika ia berpaling, dilihatnya sesuatu telah berbenturan di langit. Sejenak Sumangkar termangu-mangu, namun kemudian ia tidak menghiraukan sama sekali. Ia sadar, bahwa yang dilihat dan didengarnya sama sekali bukannya bentuk yang sebenarnya, seperti dua raksasa yang berdiri di puncak bukit itu. Meskipun ia melihat juga bayangan raksasa di sela-sela dedaunan, tetapi ia sama sekali tidak menghiraukannya, karena raksasa-raksasa itu tidak akan dapat berbuat apa-apa atasnya.

Tetapi ketika ia melangkah semakin dekat, dan berdiri di ujung dinding di belakang gubug itu, ia mendengar bunyi yang berdesing di udara. Seperti bunyi sawangan yang kadang-kadang dipasang pada burung merpati.

Mula-mula Sumangkar tidak menghiraukannya. Namun kemudian ia mulai tertarik ketika ia mendengar suara seseorang di dalam gubug itu, “Kau mendengar bunyi sawangan?”

“Ya,” jawab yang lain.

“Apakah itu suatu isyarat?”

Sejenak mereka terdiam. Namun kemudian salah seorang berkata, “Ya. Itu tentu suatu isyarat. Bukankah Panembahan Agung sudah berpesan, bahwa jika terdengar isyarat yang akan akan dilontarkannya lewat bunyi, maka anak ini dapat dibunuh.”

Rudita yang agaknya mendengar pembicaraan itu pun tiba-tiba berteriak, “Jangan, Jangan bunuh aku.”

“Diam anak gila. Semakin keras kau berteriak, nasibmu akan menjadi semakin jelek. Aku kira Panembahan Agung akan sependapat jika kita memilih cara yang paling baik untuk membunuhnya.”

“Jangan, jangan,” teriak anak itu.

“Kita tunggu sejenak,” terdengar suara dari dalam gubug itu pula, “mungkin ada isyarat lain yang lebih jelas.”

Gubug itu menjadi sepi sejenak. Yang terdengar hanyalah tangis Rudita yang semakin keras.

“Tutup mulutmu, tutup mulutmu,” bentak salah seorang dari penjaganya.

Sumangkar tergeser setapak ketika ia mendengar sebuah pukulan diikuti jerit tertahan.

“Ampun, ampun. Aku tidak bersalah.”

“Jika kau tidak mau diam, aku remukkan mulutmu.”

Suara tangis itu pun menurun. Tetapi terdengar isak yang sesak. Agaknya Rudita mencoba menahan tangisnya sekuat-kuatnya.

Sumangkar terkejut ketika ia mendengar langkah seseorang berlari-lari. Karena itu, ia pun mencoba bergeser dan berlindung di sudut gubug itu, di sisi yang lain dari arah suara yang didengarnya.

Ternyata suara langkah, orang itu telah memasuki gubug tempat Rudita ditahan.

“Aku mendapat perintah langsung dari Panembahan Agung,” desis orang itu.

“Bagaimana mungkin. Panembahan Agung masih berada dipuncak bukit.”

“Gila, seakan-akan kau tidak mengenal ilmunya. Dengar, aku diperintahkan, bersama kalian membawa anak ini ke medan. Cepat.”

“Untuk apa?”

“Untuk memaksa ayahnya menghentikan perlawanan.”

Sejenak bilik di dalam gubug itu menjadi sepi. Tetapi kemudian tangis Rudita seakan-akan meledak lagi. Agaknya, ia menyadari apa yang akan terjadi atas dirinya jika ia dibawa ke medan.

“Jangan, jangan,” Rudita berteriak lagi. Tetapi sekali lagi suaranya terputus ketika terdengar sebuah pukulan mengenai pipinya.

“Jika kau berteriak lagi, aku remukkan mulutmu.”

“Tetapi jangan bawa aku ke medan.”

“Kau tidak mempunyai pilihan. Kau harus pergi ke medan dengan diikat pada lehermu. Setiap kali ayahmu menolak perintah Panembahan Agung, maka tali di lehermu akan menjadi semakin mencekik leher itu. Perlahan-lahan tali itu akan ditarik ke atas dan digantungkan pada sebatang pohon. Jika ayahmu tetap menolak maka kau terayun-ayun di atas jurang yang paling dalam. adbmcadangan.wordpress.com Tetapi tentu tidak akan lama, karena tali itu akan segera diputuskan dan kau akan terlempar jatuh ke dalamnya. Kau tahu berapa dalam jurang itu? Tidak kurang dari tiga puluh depa.”

“Tidak, tidak,” Rudita menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menangis. Tangannya masih terikat sehingga ia tidak dapat berbuat lain.

Orang-orang yang menjagainya tidak menghiraukan tangisnya lagi. Yang terdengar adalah, “Cepat. Lepaskan talinya.”

Sumangkar menahan nafasnya sejenak. Didekatkannya telinganya pada dinding gubug itu. Yang terdengar kemudian adalah desir tali yang sedang dilepaskan dan tangis Rudita yang tertahan-tahan.

Namun, Sumangkar terkejut ketika ia mendengar langkah mendekatinya. Agaknya perhatiannya terlampau tertuju kepada peristiwa di dalam gubug itu, sehingga ia tidak mendengar langkah mendekati. Baru ketika orang itu sudah terlampau dekat, Sumangkar dapat mendengar desir langkahnya dan desah nafasnya yang justru tertahan-tahan.

Tepat pada saatnya Sumangkar berpaling. Agaknya orang itu memang sedang merunduknya. Tanpa bertanya sesuatu, tombaknya langsung meluncur menyerang lambung.

Tetapi Sumangkar sempat melihat mata tombak itu. Karena itu, maka ia masih sempat mengelak sehngga ujung tombak itu langsung menubruk dinding gubug itu.

Ternyata dinding gubug itu bukannya dinding yang kuat. Ketika ujung tombak itu membentur dinding, maka dinding itu pun tembus dan bahkan oleh dorongan yang kuat, maka tali pengkat dinding itu pun terputus, dan dinding itu seakan-akan telah terbuka di sudut.

Orang-orang yang berada di dalam bilik di gubug kecil itu terkejut. Mereka melihat ujung tombak yang menerobos masuk, kemudian seseorang melanggar dinding sehingga dinding itu hampir roboh.

Selagi orang-orang itu termangu-mangu, maka Sumangkar menyadari keadaannya. Ia tidak dapat menyembunyikan diri lagi. Karena itu, maka ia harus mengambil tindakan yang cepat.

Sejenak kemudian, maka Sumangkar pun mulai bertindak. Selagi orang yang membentur dinding itu berusaha untuk bangkit, maka sebuah pukulan telah mengenai tengkuknya, sehingga sekali lagi ia jatuh terjerembab. Dan bahkan kesadarannya pun seakan-akan telah direnggut sama sekali daripadanya. Dan ia pun jatuh pingsan karenanya.

Untuk beberapa saat Sumangkar masih berdiri di tempatnya. Ia ragu-ragu untuk meloncat masuk. Karena itu, maka ia masih saja berdiri di luar dinding yang hampir roboh itu.

“Jika aku masuk, maka akan dapat mendorong orang-orang itu mempergunakan Rudita untuk memaksakan kehendaknya,” berkata Sumangkar kepada diri sendiri, sehingga dengan demikian, ia masih tetap berada di luar.

Ia berharap bahwa orang-orang yang ada di dalam bilik itulah yang justru keluar dan meninggalkan Rudita. Setidak-tidaknya, sebagian dari mereka.

Ternyata perhitungannya itu benar. Dua orang telah meloncat keluar dengan senjata terhunus, sedang yang seorang lagi justru sedang mengikat kembali tangan Rudita yang sudah hampir terlepas.

“Siapa kau?” bertanya salah seorang dari mereka.

Sumangkar tidak segera menyahut. Bahkan ia melangkah surut sambil memandang berkeliling. Jika ada orang lain lagi yang melihatnya, maka keadaannya akan menjadi gawat. Tetapi rupa-rupanya padepokan itu memang sudah sepi.

“Jangan lari,” bentak salah seorang dari orang-orang yang menunggui Rudita.

Sumangkar tidak menyahut. Ia melangkah lagi surut. Dan seperti yang dikehendakinya, maka kedua orang itu mengikutinya semakin jauh dari bilik Rudita.

“Siapa kau he?” bentak orang itu lagi.

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Ia mengharap agar yang masih ada di dalam bilik itu tidak mempergunakan Rudita.

Agaknya kedua orang itu pun tidak sabar lagi. Karena Sumangkar tidak juga menjawab, maka salah seorang dari mereka menggeram, “Baik Jika kau tetap membisu, maka kau akan mati tanpa dikenal namamu.”

Kedua orang itu pun langsung menyerang Sumangkar dengan dahsyatnya. Senjata mereka berputar dan mematuk dengan cepatnya. Agaknya untuk menjaga Rudita, Panembahan Agung telah menempatkan orang-orangnya yang paling terpercaya.

Dengan demikian, maka perkelahian itu pun semakin lama menjadi semakin sengit. Sumangkar ternyata selalu meloncat surut meskipun hanya berputar-putar di tempat itu.

Tampaknya sulit bagi Sumangkar untuk melawan kedua orang yang menyerangnya dengan garang meskipun ia sudah mempergunakan senjatanya.

Tetapi ia masih sempat untuk berusaha menghindarkan diri dari setiap sentuhan senjata, meskipun ia harus selalu berloncatan dan bergeser surut.

“Kau tidak akan dapat lari,” bentak orang-orang itu.

Sumangkar tidak menyahut. Ia masih melawan dengan gigih sambil terdesak terus-menerus.

“Menyerahlah, dan katakan apa yang kau kehendaki,” berkata salah seorang dari lawannya sambil menyerangnya terus.

Sumangkar tidak menjawab.

“ Gila, apakah kau memang bisu?”

“Tidak,” jawab Sumangkar.

“Jadi bagaimana? Kenapa kau tidak dapat mengatakan, untuk apa kau datang kemari? Jika kau tidak mempunyai niat jelek, kami dapat mengampunimu.”

Sumangkar tidak menjawab lagi. Tetapi ia masih berusaha melawan terus.

Sejenak kemudian terdengar salah seorang dari lawannya tertawa. Katanya, “Kau tentu akan melepaskan anak manja yang bernama Rudita itu. Apakah kau ayahnya? Tentu tidak. Jika kau ayahnya, kau tentu sudah dibinasakan oleh Panembahan Agung, karena ayahnya selalu mengganggunya di medan yang berat itu. Aku mendapat perintah dari Panembahan Agung untuk membawa anak itu ke medan.”

Sumangkar sama sekali tidak menjawab. Ia masih saja bertempur dengan gigihnya meskipun ia masih selalu terdesak surut.

Kedua orang lawannya menjadi semakin marah karenanya. Karena itu, maka salah seorang berkata, “Cepat, kita selesaikan saja orang ini. Kita harus segera membawa anak cengeng itu sebelum pasukan kita menjadi semakin terdesak. Ayah anak itu akan dapat mempengaruhi medan, jika anaknya kita ikat pada sebatang pohon di atas jurang itu.”

Dengan demikian maka kedua orang itu bertempur semakin sengit, dan Sumangkar pun menjadi semakin terdesak karenanya. Ia harus berusaha sekuat tenaga untuk menghindari serangan-serangan lawannya. Dengan senjatanya ia berusaha menahan desakan kedua lawannya itu.

Tetapi meskipun Sumangkar hampir tidak mampu berbuat apa-apa selain berloncatan, bahkan berlari-lari surut dan melingkar-lingkar, namun ia masih berhasil membebaskan diri dari senjata-senjata lawannya yang mematuk berganti-ganti.

Akhirnya lawan-lawannya itu tidak sabar lagi. Salah seorang dari mereka pun berteriak, “Cepat. He, kemarilah, jagalah agar orang ini tidak berlari-larian saja. Kita bunuh saja meskipun kita tidak mengenal namanya. Apa boleh buat. Ia terlalu keras kepala.”

Kawannya yang dipanggil, yang sedang menunggu Rudita, menjadi termangu-mangu. Namun ia pun melihat cara Sumangkar berkelahi. Agaknya jika seorang lagi terjun ke arena perkelahian itu, dan berusaha menahan agar Sumangkar tidak berlari-lari dan menghindar melingkar-lingkar, maka usaha mereka akan cepat berhasil.

Tetapi ia masih tetap ragu-ragu. Jika selain Sumangkar masih ada orang lain yang akan dapat mengambil anak cengeng itu, maka Panembahan Agung tentu akan marah sekali.

Karena itu maka orang itu pun tidak segera beranjak dari tempatnya.

“Cepat, kau kemarilah. Kita selesaikan saja orang tua ini,” teriak salah seorang lawan Sumangkar.

Tetapi orang yang menjagai Rudita itu menjawab, “Tetapi apakah anak ini akan ditinggalkan?”

“Ia tidak akan dapat melepaskan dirinya.”

“Bagaimana jika ada orang lain?”

Kedua lawan Sumangkar itu terdiam. Memang mungkin sekali ada orang lain yang dapat mengambil anak itu selagi mereka bertempur melawan Sumangkar yang meskipun tidak menggetarkan dada mereka, namun terlampau licin sehingga mereka masih belum dapat membunuhnya.

Untuk beberapa saat kemudian, kedua lawannya itu mencoba berusaha tanpa orang ke tiga yang menunggui Rudita. Tetapi Sumangkar memang terlampau licin, sehingga keduanya pun kemudian mengambil cara lain.

Keduanya menyerang Sumangkar dari arah yang berlawanan. Dengan demikian mereka berharap bahwa Sumangkar tidak dapat menghindarkan dirinya lagi dengan berloncatan surut.

Sumangkar memang tampaknya mendapat kesulitan. Tetapi ia masih saja dapat menghindar dengan loncatan-loncatan panjang dari antara kedua orang yang menyerangnya.

“Anak setan. Kau tidak akan berhasil melarikan diri,” teriak salah seorang lawannya yang jengkel, “menyerahlah. Kami tidak akan membunuhmu.”

Sumangkar sama sekali tidak menjawab.

“Apakah ia memiliki aji welut putih,” desis yang lain.

“Persetan. Tetapi ia harus mati. Tentu ia tidak memiliki aji apa pun. Welut putih hanya sekedar untuk melepaskan diri dari tangkapan tangan. Tetapi ia akan mati jika tersentuh senjata.”

Tetapi meskipun dengan banyak kesulitan, namun Sumangkar benar-benar tidak mau pergi apalagi menyerah, sehingga salah seorang dari lawannya berteriak lagi kepada kawannya yang menjaga Rudita, “Selarak pintu depan. Kau lewat dinding yang terbuka itu membantu kami. Dari tiga arah, maka orang ini akan segera mati terbunuh. Kita harus segera menghadap Panembahan Agung.”

Orang yang menjaga Rudita termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian menyelarak pintu depan, dan dengan senjata terhunus terjun ke medan yang menjengkelkan itu.

Sumangkar melihat orang itu berlari-lari mendekati arena. Kemudian bertiga mereka mengepungnya. Dengan penuh ketegangan mereka merundukkan senjata-senjata mereka mengarah ke dada Sumangkar.

“Sekarang kau akan mati,” desis salah seorang dari mereka, “jika kau tidak berkeberatan, sebut namamu. Kelak akan ada orang yang dapat mengatakan jika seseorang mencarimu.”

Sumangkar berdiri diam. Dengan tegang pula ia bersiaga untuk mempertahankan dirinya dari sergapan ketiga orang yang sedang marah itu.

“Baiklah. Jika kau tidak mau menyebut namamu, maka kau akan mati tanpa meninggalkan bekas apa pun.”

Sumangkar masih tetap diam. Dan orang-orang itu tidak membuang waktu lebih banyak lagi. Sejenak kemudian mereka pun segera berloncatan menyerang.

Saat yang demikianlah yang sebenarnya ditunggu oleh Sumangkar. Jika ia memberikan perlawanan dan berusaha menentukan akhir dari perkelahian itu, tidak ada orang lagi yang dapat mengancam Rudita dan memaksakan kehendaknya. Karena itu, maka Sumangkar pun tidak mau memperpanjang permainannya lagi.

Demikian ketiga orang itu menyerang, maka Sumangkar pun memutar senjatanya. Sebuah trisula yang kecil terikat pada ujung rantai, dan trisula yang lain di tangan kirinya.

Tetapi orang-orang yang mengepungnya pun memang bukan orang-orang kebanyakan. Untuk beberapa saat mereka masih tetap bertahan dan berusaha untuk mengalahkan orang tua yang bersenjata aneh itu.

Namun usaha mereka sama sekali tidak berhasil. Kini Sumangkar justru tidak berloncatan mundur lagi. Ia tetap berdiri di tempatnya sambil memutar senjatanya. Bahkan rantai itu kadang-kadang dapat digerakkan ke arah yang tidak terduga-duga.

Akhirnya ketiga orang itu menyadari, bahwa sebenarnya Sumangkar bukan orang yang disangkanya hanya mampu berlari-lari. Mereka pun mulai sadar, bahwa ternyata Sumangkar telah memancing mereka bertiga untuk keluar dari bilik itu. Karena itu, maka selagi masih sempat, tiba-tiba saja salah seorang dari mereka bersuit nyaring. Kemudian berteriak, “Ambil anak itu. Kita paksa orang ini berhenti dengan anak itu pula.”

Dada Sumangkar tergetar karenanya. Namun ia tidak mau terlambat. Karena itu, maka ketika orang itu berhenti berteriak, Sumangkar mempergunakan saat yang tepat.

Hampir tidak dapat ditangkap dengan indera wadag ketika begitu mulut orang itu terkatub, maka ia pun terdorong surut dan jatuh terlentang di tanah. Dadanya memancarkan darah yang merah dari lukanya. Tiga buah lubang yang meskipun tidak begitu besar, tetapi ternyata cukup parah dan berbahaya.

Dua kawannya yang lain terkejut melihat peristiwa itu. Tetapi mereka tidak sempat meninggalkan arena, dan apalagi mengancam Rudita. Dalam keragu-raguan itu, keduanya dikejutkan oleh sambaran senjata Sumangkar. Salah seorang dari mereka mengaduh tertahan. Sesaat ia masih berdiri terhuyung-huyung, namun kemudian ia pun jatuh terbanting di tanah.

Kawannya yang seorang menyadari keadaannya. Karena itu ia sama sekali tidak berusaha melawan. Dengan cepatnya ia meloncat berlari ke bilik tempat mereka mengikat Rudita. Namun nasibnya tidak berbeda dengan kedua kawannya. Ketika ia sedang merunduk masuk lewat dinding yang terbuka, maka terasa jari-jari yang kuat mencengkam pundaknya. Ia tidak dapat bertahan ketika ia seakan-akan terseret keluar lagi dari bilik itu.

Ketika ia mencoba berpaling maka ia masih sempat melihat wajah Sumangkar yang garang. Kemudian sebuah pukulan mengenai tengkuknya.

Semuanya menjadi gelap. Dan orang itu pun kemudian pingsan.

Ketika Sumangkar mencoba dengan tergesa-gesa memasuki ruangan itu, ia masih melihat dua orang berlari-lari ke arahnya. Agaknya keduanya telah mendengar suitan kawannya yang dadanya telah berlubang. Karena itu maka ia pun harus segera mengambil sikap agar ia tidak kehilangan kesempatan menyelamatkan Rudita yang terikat di dalam bilik.

Sejenak Sumangkar menimbang-nimbang. Jika ia melepaskan Rudita, mungkin ia justru akan mendapat kesulitan dari Rudita itu sendiri, karena ia sadar, bahwa Rudita adalah seorang yang sangat dipengaruhi oleh perasaan takut dan cemas.

Karena itu, Sumangkar tidak segera memasuki bilik itu ia justru meloncat dan berdiri beberapa langkah dari lubang dinding yang terbuka itu.

Kedua orang yang berlari-lari itu sempat melihat beberapa orang kawannya yang terbaring. Karena itu, maka ia pun langsung mengerti, bahwa orang yang berdiri di belakang gubug itu tentu bukan orang dari pihak mereka atau bukan prajurit Pajang yang berada di dalam lingkungan mereka bersama Daksina. Karena itulah maka mereka berdua pun langsung menyerang dengan garangnya.

Tetapi Sumangkar yang tergesa-gesa itu tidak memberikan banyak kesempatan kepada mereka, karena sejenak kemudian, keduanya pun telah terbaring di tanah.

Sesaat kemudian Sumangkar pun telah berada di dalam bilik itu. Dengan tergesa-gesa ia membuka ikatan Rudita sambil berdesis, “Jangan berbuat sesuatu yang dapat merugikan dirimu sendiri. Aku akan berusaha menyelamatkan kau.”

“Tetapi, tetapi apa yang akan kau lakukan?”

“Bersembunyi. Hanya bersembunyi.”

“Apakah orang-orang itu tidak akan mencari kita?”

“Kita mencari jalan untuk menemui ayahmu. Aku sudah berjanji membawamu ke tempat yang sudah kami setujui bersama. Karena itu, kau harus menurut petunjukku. Jika tidak, dan kau tertangkap lagi, maka kau akan dicincang. Mengerti?”

Mengerikan sekali. Karena itu, maka Rudita pun menjadi gemetar dan berkata terbata-bata, “Baiklah, Kiai. Kita bersembunyi saja. Orang-orang di Tanah Perdikan Menoreh ternyata bukan orang-orang yang baik.”

“Tidak semuanya.”

“Ya. Semuanya. Mereka senang sekali berkelahi satu sama lain. Jika Pandan Wangi dan kawan-kawannya tidak sengaja memburu orang-orang yang tidak dikenalnya untuk saling berkelahi, maka aku tidak akan sampai ke tempat ini.”

“Sudahlah. Sekarang, ikuti aku.”

Rudita tidak menyahut lagi. Dengan kaki gemetar ia mencoba mengikuti langkah Sumangkar, yang dengan sangat hati-hati keluar dari bilik itu lewat celah-celah dinding yang terbuka.

Ketika tanpa disadari kaki Rudita menyentuh orang yang terbaring, tiba-tiba saja ia memekik. Dengan serta-merta ia berlari memeluk lambung Sumangkar sambil berkata dengan gemetar, “Siapa yang mati itu, Kiai, siapa?”

“Yang dua orang itu tidak mati. Mereka hanya pingsan. Tetapi yang lain, entahlah. Mungkin mereka terbunuh oleh senjataku. Tetapi aku tidak sengaja membunuh mereka.”

Rudita melepaskan pelukannya sambil melangkah surut, “Kiai membunuh orang-orang itu?”

“Ya.”

“Kenapa Kiai membunuh?”

“Supaya kau tidak mati terbunuh oleh mereka.”

Darah Rudita serasa berhenti mengalir. Tetapi ia pun sadar bahwa sebenarnya hal itu memang dapat terjadi atasnya. Bahkan mungkin seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang akan membawanya kepada Panembahan Agung, bahwa ia akan digantung di atas jurang yang dalam.

Rasa-rasanya Rudita tidak lagi memiliki kekuatan. Tubuhnya bagaikan sudah tidak bertulang lagi. Ketakutan yang amat sangat telah mencengkam hatinya. Apalagi ketika ia melihat tidak hanya seorang yang terbaring diam. Tetapi beberapa orang.

Dalam keadaan yang demikian Sumangkar berkata, “Jangan kehilangan akal. Jika kau tidak mampu lagi berbuat sesuatu, dan kau akan tetap berada di sini maka kau benar-benar akan digantung atau dicincang. Nah, cepat, bukankah kau tidak ingin diperlakukan demikian?”

Rudita mengangguk lemah. Tetapi ia mengikuti ketika Sumangkar kemudian melangkah meninggalkan tempat itu dan menerobos masuk ke dalam semak-semak.

Dengan susah payah Sumangkar membawa Rudita meninggalkan padepokan itu dan menuju ke tempat ayahnya menunggu. Mereka menghindari daerah peperangan yang semakin bergeser mendekati padepokan. Namun agaknya pertempuran itu masih berjalan dengan sengit dan memerlukan waktu yang cukup panjang.

Dalam pada itu, ternyata Panembahan Agung masih tetap dalam bentuknya. Seorang raksasa yang berdiri di puncak bukit sambil menggeram dengan marahnya, sedang di puncak yang lain Jaka Raras sekedar melayaninya, dalam sikap yang tenang.

“Itulah ayahmu,” berkata Sumangkar sambil menunjuk kepada raksasa itu.

“He,” ternyata Rudita terkejut bukan kepalang. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa di hadapannya seorang raksasa yang besar berdiri di atas bukit. Selama itu ia hanya memperhatikan semak-semak dan duri di sepanjang jalannya. Tetapi ketika ia menengadahkan wajahnya, maka dilihatnya bentuk yang mengerikan itu.

“Jadi raksasa itu sebenarnya ada?” ia bertanya kepada Sumangkar. “Selama ini aku hanya menyangka bahwa raksasa itu hanya terdapat di dalam cerita-cerita saja.”

“Memang tidak ada,” berkata Sumangkar.

“Jadi apakah yang tampak di puncak bukit itu?”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Ki Waskita benar-benar seorang yang rendah hati. Ia sama sekali tidak menampakkan ilmunya yang aneh itu. Kepada anaknya pun tidak. Ia tidak mau memberikan kesan kepada anaknya bahwa ayahnya adalah seorang pembohong besar, yang dengan ilmunya dapat mengelabuhi banyak orang sehingga mereka dapat kehilangan pegangan.

Tetapi dalam keadaan yang memaksa, maka Ki Waskita telah melawan setiap bentuk semu dengan bentuk semu pula, sehingga pasukan pengawal Menoreh dan Mataram tidak terjebak karenanya.

“Kiai,” Rudita mendesak, “jadi apakah yang tampak itu jika keduanya bukan raksasa?”

“Tidak ada apa-apa.”

“Yang kita lihat itu?”

“Sebuah gambaran di dalam angan-angan kita setelah kita dipengaruhi oleh ilmu kedua orang itu. Ilmu Panembahan Agung dan ilmu ayahmu sendiri. Pengaruh ilmunya telah menyesatkan kita. Apalagi pengaruh ilmu Panembahan Agung yang dengan sengaja menyesatkan kita dengan tujuan yang jahat.”

“Aku tidak mengerti,” sahut Rudita, “Kiai menyebut nama ayahku?”

“Sudahlah. Marilah kita mendekati bukit itu. Aku sudah berjanji akan membawamu ke tempat itu.”

Namun langkah mereka segera tertegun, ketika tiba saja raksasa yang berdiri di atas bukit itu tiba-tiba tertawa sambil berkata, “Nah, apakah kau tetap pada pendirianmu Jaka Raras. Lihatlah, aku sudah benar-benar bermaksud membunuh anakmu.”

Dan ketika mereka yang mendengar suara itu berpaling memandang ke atas bukit, dilihatnya raksasa itu memegangi seorang anak muda. Anak muda itu adalah Rudita.

Sejenak mereka terpaku di tempat masing-masing. Bahkan mereka yang sedang bertempur, yang melihat Rudita di tangan raksasa itu pun menjadi ragu-ragu. Tetapi mereka tidak dapat membiarkan diri mereka terbunuh di peperangan, sehingga karena lawan-lawannya masih saja menyerang, maka pasukan Mataram dan Menoreh itu pun bertempur terus betapa mereka diganggu oleh kegelisahan yang sangat melihat Rudita di tangan raksasa yang telah diujudkan oleh Panembahan Agung itu.

“Jaka Raras,” berkata Panembahan Agung dalam bentuknya yang mengerikan itu, “apakah kau melihat anakmu?”

Ki Waskita termenung sejenak. Dipandanginya anak muda yang meronta-ronta di tangan Panembahan Agung.

“Hentikan perlawanan orang-orang Mataram dan Menoreh. Jika tidak anakmu akan aku lemparkan ke dalam jurang yang dalam itu. Kepalanya akan membentur batu-batu padas dan akan remuk sama sekali. Otaknya berhamburan dan tulang-tulangnya akan patah.”

“Kau licik Panembahan,” geram Ki Waskita.

Panembahan Agung tertawa. Lalu, “Terserah kepadamu. Aku sudah kehilangan cara lain yang lebih sopan daripada cara ini. Karena itu, terserah kepadamu. Aku memberi waktu kau beberapa saat. Tetapi aku akan segera menentukan sikap.”

Jaka Raras yang juga bernama Ki Waskita itu berdiam diri sejenak. Dipandanginya anaknya dengan wajah yang tegang.

Dalam pada itu Rudita sendiri memandang orang yang di dalam genggaman raksasa itu dengan tegangnya pula. Sejenak ia berdiri membeku. Namun kemudian tubuhnya menjadi gemetar.

“Kiai, bagaimana aku dapat melihat diriku sendiri di tangan raksasa itu?”

“Yang manakah yang kau sadari saat ini tentang dirimu. Apakah kau merasa berdiri di sini bersama aku, atau kau merasa dirimu digenggam oleh raksasa itu.”

“Aku merasa di sini. Tetapi bagaimana dengan aku yang itu, Kiai?”

“Kau hanya satu. Tidak ada kau yang lain. Kesadaranmu tentang dirimu itulah yang benar. Yang kau lihat itu adalah kau di luar dirimu. Dan apa pun dapat berujud seperti dirimu di luar dirimu, tetapi tanpa dapat kau kuasai dan tanpa hubungan rohani sama sekali. Itulah yang kau lihat sekarang. Dan bentuk yang menyerupai dirimu sendiri itu adalah kesatuan bentuk semu dari Panembahan Agung.”

Rudita menjadi bingung. Dengan sosok mata penuh pertanyaan ia memandang sumangkar. Dan Sumangkar pun kemudian berkata, “Baiklah. Jika kau kurang mengerti, jangan hiraukan. Marilah kita cepat menemui ayahmu, agar ayahmu tidak terpengaruh oleh ujudmu itu. Ayahmu adalah seorang yang memiliki ilmu yang seimbang dengan Panembahan Agung. Tetapi kejutan dan kegelisahannya melihat ujud anaknya, barangkali membuat pandangannya menjadi buram. Padahal di dalam pertarungan ilmu, ayahmu memerlukan hati yang bening. Demikian juga agaknya penglihatannya atas ujudmu itu. Goncangan perasaannya telah membuatnya agak bingung dan gelisah, sehingga ia tidak sempat memandang lawannya dengan cermat dengan mata hatinya.”

Rudita masih juga tidak mengerti. Tetapi ia tidak sempat bertanya karena Sumangkar segera menarik tangannya dan melangkah dengan tergesa-gesa di sela-sela gerumbul-gerumbul liar.

“Kakiku sakit, Kiai.”

Tetapi Sumangkar tidak menghiraukannya. Ia menarik anak muda itu semakin cepat.

“Kakiku sakit,” Rudita mengulangi.

Dan Sumangkar menjawab, “Lebih sakit lagi jika kau benar-benar dilemparkan ke dalam jurang itu.”

Rudita tidak menjawab lagi. Ia berusaha untuk mempercepat langkahnya betapa kakinya digigit oleh perasaan nyeri. Tetapi ketakutannya telah membuatnya menahan rasa sakit yang menggigit kakinya.

Namun sekali lagi orang-orang di lembah itu dikejutkan oleh suara tertawa. Kali ini Ki Waskita-lah yang tertawa sambil berkata, “Panembahan Agung. Ternyata kau berhasil mengejutkan aku sehingga aku kehilangan ketajaman penglihatanku untuk beberapa saat. Hampir saja aku menangis melihat anakku yang kau genggam itu, Panembahan. Tetapi akhirnya aku menyadari, bahwa kebohonganmu yang mantap itu hampir menelan aku dan tentu anakku juga. Tetapi Panembahan, sekarang aku sempat melihat apa yang terjadi dengan ilmuku. Dan kau tidak usah ingkar, bahwa bentuk semu yang kau ciptakan itu tentu tidak akan dapat menguasai bentuk yang sebenarnya jika benar anakkulah yang kau pegang dengan bentuk semumu itu. Nah, kau mengerti bahwa aku tidak kehilangan akal? Karena itu, terserahlah kepadamu, apakah kau akan melemparkan bentuk yang menyerupai ujud anakku itu ke dalam jurang, atau akan kau telan sama sekali.”

“Persetan,” teriak Panembahan Agung yang marah. Tetapi ia tidak dapat ingkar, bahwa ia telah gagal lagi. Karena itu maka diputarnya ujud Rudita yang ada ditangannya itu kemudian dilemparkannya membentur lereng bukit. Sebuah ledakan yang dahsyat telah terjadi, disusul dengan api yang melonjak tinggi menelan ujud Rudita yang terdengar berteriak-teriak sekuat-kuat tenaganya.

“Kiai, Kiai,” Rudita yang sebenarnya pun hampir berteriak. Tetapi Sumangkar sempat menutup mulutnya sambil berkata, “Diam saja kau. Jika terdengar oleh orang-orang Panembahan Agung, dan mereka telah mendapat laporan bahwa kau hilang, maka mereka akan mencarimu dan menangkapmu.”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi rasa-rasanya ia tidak lagi mengerti, apakah yang harus dilakukan dan bahkan keadaan yang sebenarnya sedang dialaminya.

Ia tidak dapat mempertimbangkan apa pun lagi ketika kemudian Sumangkar menariknya terus menyusup gerumbul-gerumbul perdu.

Dalam pada itu, pertempuran yang terjadi di lembah itu pun menjadi semakin seru. Orang-orang Mataram dan Menoreh pun kemudian menyadari, bahwa yang kemudian hancur menjadi abu itu sama sekali bukan Rudita yang sebenarnya. Kebohongan Panembahan Agung hampir saja berhasil mengguncangkan pemusatan ilmu lawannya, Ki Waskita.

Panembahan Agung yang masih menunggu kedatangan anak buahnya yang disuruhnya mengambil Rudita, menjadi tidak sabar lagi. Apalagi setelah usahanya mengguncangkan ketabahan hati Ki Waskita tidak berhasil.

Dengan demikian, maka ia harus menilai pertempuran yang sedang terjadi itu dengan perhitungan dan pertimbangan wajar. Ia tidak lagi dapat mempergunakan perang urat syaraf yang seakan-akan tidak berpengaruh lagi atas orang-orang Mataram dan Menoreh.

Dengan dada yang berdebar-debar Panembahan Agung harus melihat kenyataan. Pasukannya semakin terdesak terus. Pemimpin-pemimpinnya sama sekali tidak berhasil menguasai lawannya. Meskipun Panembahan Alit mampu mengimbangi kemampuan Kiai Gringsing, tetapi di bagian lain, pasukannya tidak berhasil menahan arus tekanan para pengawal dari Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh.

Dengan tombak pendeknya Sutawijaya berusaha mendesak lawannya dilengkapi oleh kemampuan menggerakkan senjata Ki Lurah Branjangan. Di bagian lain Ki Argapati dan Pandan Wangi masih tetap merupakan kekuatan yang tidak dapat ditembus oleh lawannya.

Namun semakin lama terasa kaki Ki Argapati mulai dijalari oleh perasaan nyeri. Namun ia tidak mengeluh. Dan ia tidak ingin membuat Pandan Wangi berkecil hati. Sehingga karena itu, maka ia pun masih juga tetap bertempur dengan gigihnya.

Meskipun demikian, Pandan Wangi yang bertempur bersamanya merasakan, tekanan yang semakin berat padanya dengan demikian ia menyadari, bahwa tenaga ayahnya menjadi semakin susut karenanya.

Dengan demikian, maka Pandan Wangi pun bertempur semakin sengit. Ia ingin memaksa lawannya kehilangan kemampuan perlawanannya sebelum ayahnya menjadi lumpuh. Jika ayahnya tidak dapat melakukan perlawanan yang wajar, maka pertempuran itu akan menjadi sangat berbahaya baginya.

Apalagi Putut Nantang Pati yang harus melihat kenyataan yang dihadapinya itu menjadi sangat marah. Ia tahu bahwa usaha Panembahan Agung telah gagal karena tanpa mereka duga, dipihak Mataram dan Menoreh ada seorang yang memiliki ilmu yang serupa dengan ilmu Panembahan Agung, sehingga orang itu berhasil mengacaukan semua usahanya.

Dengan segala kemampuan yang ada, Pandan Wangi mengisi kelemahan ayahnya melawan Putut Nantang Pati. Agaknya Putut Nantang Pati sudah mengetahui kelemahan Ki Argapati, sehingga ia berusaha untuk berkelahi dalam lingkaran yang luas, untuk memaksa Ki Argapati berloncatan. Tetapi Pandan Wangi-lah yang kemudian berusaha mengisi jarak yang panjang itu.

Namun Putut Nantang Pati, seperti yang sudah pernah terjadi tidak berhasil memancing Pandan Wangi menjauhi ayahnya dan menghancurkannya tanpa perlindungan ayahnya. Tetapi sebaliknya Putut Nantang Pati juga tidak pernah berhasil menyerang Ki Argapati yang sudah semakin lemah itu tanpa bantuan anak gadisnya.

Dalam pada itu, di bagian lain, di lambung gelar yang tidak sempurna itu, beberapa orang pemimpin Mataram di satu sisi, dan di sisi yang lain, Agung Sedayu, Swandaru, dan Prastawa, sudah berhasil menghancurkan, usaha lawannya untuk menyergap gelar itu dari lambung. Pasukan Panembahan Agung yang berada di lereng perbukitan, sama sekali tidak berhasil mengganggu gelar itu dari sebelah-menyebelah. Bahkan tanpa mereka duga-duga mereka telah membentur kekuatan yang tiada dapat mereka lawan sama sekali.

Pasukan yang menyerang lambung di belahan pasukan Menoreh terkejut ketika tiba-tiba saja mereka telah dilanda oleh ujung-ujung cambuk Agung Sedayu dan Swandaru. Sedang di sisi yang lain, para pemimpin pengawal Mataram pun dengan cepat berhasil menghancurkan mereka.

Putut Nantang Pati tidak dapat mengabaikan semua yang telah terjadi itu. Kemarahan yang menggelegak sampai keubun-ubunnya serasa akan meledakkan kepalanya.

Tetapi ia tidak dapat terbuat banyak karena ia masih harus menghadapi Ki Argapati meskipun ia mulai terganggu oleh kakinya beserta anak gadisnya.

Di bagian lain tumpuan dari pertempuran itu, Panembahan Alit pun berusaha sekuat-kuat tenaganya untuk segera mengalahkan Kiai Gringsing. Namun seperti yang pernah terjadi di Alas Tambak Baya, panembahan yang juga menyebut dirinya Tak Bernama itu tidak mampu segera mengatasi lawannya. Bahkan semakin lama rasa-rasanya rambuk Kiai Gringsing meledak semakin dekat dengan telinganya.

Tetapi Panembahan Alit adalah orang yang mumpuni di dalam olah kanuragan seperti Kiai Gringsing sendiri. Karena itulah maka pertempuran di antara keduanya adalah pertempuran yang sangat sengit. Di dalam puncak ilmu masing-masing, maka keduanya telah membuat arena yang seakan-akan terpisah dari keseluruhan pertempuran.

Tenaga mereka bagaikan berkembang sejalan dengan kemarahan yang berkembang di hati masing-masing. Bahkan ranting-ranting dan batang-batang perdu di sekitar mereka telah berpatahan dan daun-daun berguguran di tanah.

Agaknya keduanya sadar, bahwa kali ini mereka harus bertempur mati-matian. Mereka tidak dapat membiarkan pertempuran itu selesai tanpa akhir dalam keadaan serupa itu. Beberapa puluh langkah di belakang Panembahan Alit adalah padukuhan induk yang dihuni oleh Panembahan Agung sendiri. Jika pasukan Mataram dan Menoreh sampai ke pusat padepokan itu, maka habislah alat pertahanan mereka yang selama ini mereka susun.

Dengan demikian, maka tinggal ada dua pilihan bagi Panembahan Alit. Mempertahankan padepokan itu atau mati sama sekali. Itulah sebabnya, maka ia pun bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya.

Ternyata bahwa kemampuan Panembahan Alit tidak berada di bawah kemampuan Kiai Gringsing. Bahkan agaknya Panembahan Alit mempunyai sedikit kelebihan dari Kiai Gringsing. Panembahan Alit di dalam keadaan yang paling sulit itu, tidak lagi menghiraukan sopan santun di dalam perkelahian. Ia tidak lagi memikirkan bahwa apa yang dilakukan adalah tata gerak yang kasar dan bahkan hampir liar. Namun satu hal yang dipegangnya, bertahan sampai kemungkinan yang lain merenggutnya, mati.

Agaknya sikapnya itu sangat berpengaruh kepada anak buahnya. Nantang Pati pun sama sekali tidak berniat untuk mundur setapak. Apalagi karena menurut penilaiannya Argapati tidak akan dapat lagi mendesaknya. Ia lebih banyak bertahan bersama anak gadisnya. Titik berat gerak Ki Argapati kini berada di tangannya. Namun demikian, tangannya tetap merupakan tangan seorang yang mumpuni di dalam olah kanuragan.

Di bagian lain, Daksina mulai terdesak oleh Raden Sutawijaya, Ki Lurah Branjangan, dan para pemimpin pengawal yang telah kehilangan lawannya di lambung. Mereka melepaskan diri dari kelompoknya dan membantu Raden Sutawijaya yang sebenarnya masih belum dapat disejajarkan dengan kemampuan Daksina. Tetapi Daksima tidak dapat melawan beberapa orang sekaligus di dalam kepungan orang-orang Mataram dan Menoreh. Pengawal-pengawalnya seorang demi seorang telah berguguran dan terdesak menjauhinya tanpa dikehendakinya.

Dalam pada itu, Rudita yang dibimbing oleh Sumangkar, yang bahkan seakan-akan diseretnya saja di sela-sela gerumbul-gerumbul perdu itu pun semakin lama menjadi semakin dekat dengan ayahnya. Namun ketika ia berada di lereng gunung alas berdiri raksasa yang berujud seperti ayahnya, Rudita menjadi ragu-ragu.

“Ayahku bukan sebesar itu,” katanya.

“Marilah,” berkata Sumangkar, “jangan ragu-ragu, akulah yang akan membawamu kembali kepada ayahmu.”

“Tetapi di manakah ayah sebenarnya jika raksasa itu hanya sekedar bentuk semu?”

“Aku mengetahui tempatnya. Karena itu, cepatlah sedikit, agar ayahmu segera dapat mengambil tindakan jika ia yakin bahwa kau sudah selamat.”

Meskipun dengan ragu-ragu, namun Rudita mengikuti saja dibimbing oleh Sumangkar merayap mendekati bukit. Sedang di bukit yang lain tampak Panembahan Agung masih berdiri dengan wajah yang merah membara.

Sejalan dengan kemenangan demi kemenangan yang dicapai oleh pasukan Mataram dan Menoreh, maka Panembahan Agung yang tidak dapat ingkar dari kenyataan itu pun semakin menjadi cemas. Ia sadar bahwa ia tidak dapat mempengaruhi pasukan Mataram dan Menoreh itu dengan kebohongan-kebohongan lain, karena kegagalannya pada bagian pertama dari pertempuran ini, telah membuat lawannya menjadi kebal. Mereka tahu pasti, bahwa apa yang akan diujudkan dalam bentuknya yang semu itu benar-benar tidak akan berpengaruh atas mereka.

Sementara itu Kiai Gringsing masih bertempur dengan gigihnya. Bahkan dengan mengerahkan segenap kemampuannya, perlahan-lahan Kiai Grngsing dapat membatasi kekasaran dan keliaran Panembahan Alit.

Ki Argapati yang bertempur tidak terlampau jauh dari Kiai Gringsing, melihat betapa Kiai Gringsing telah berjuang dengan sepenuh kemampuannya. Bahkan kadang-kadang tampak sesuatu yang mendebarkan jantung Ki Argapati. Tetapi ia tidak mempunyai waktu untuk memperhatikannya terlalu lama, karena Pulut Nantang Pati yang mendekati kegoyahan sikap itu masih saja menyerangnya dengan garang. Bahkan kemudian yang tampak pada sikap Putut itu adalah keputus-asaan atas segala kegagalan Panembahan Agung yang selama ini dianggapnya sebagai manusia yang tidak ada tandingnya di muka bumi. Manusia yang seakan-akan dapat mengubah alam menurut keinginannya dan mengacaukan bentuk yang sebenarnya dengan bentuk-bentuk semu yang tidak dapat dibedakan dengan kenyataan di dalam ujud yang terbayang oleh pengaruh getaran ilmu yang langsung mempengaruhi pusat syaraf.

Dalam pada itu, Agung Sedayu, Swandaru, dan Prastawa tidak lagi harus bertempur mati-matian. Ia kini berada di antara para pengawal. Cambuknya masih meledak-ledak, tetapi mereka tidak lagi harus memeras segenap kemampuan. Apalagi Agung Sedayu yang menganggap lawan mereka tinggal para pengawal yang tidak banyak mengetahui apa yang harus dilakukan itu. Ia bertempur untuk sekedar menahan mereka. Sekali-sekali ia terpaksa melukai, tetapi ia sama sekali tidak ingin membunuh lagi, setelah dengan berat hati ia terpaksa mematahkan serangan lawan-lawannya dengan sungguh-sungguh, dan bahkan menimbulkan kematian.

Dalam keadaan yang demikian, sekali-sekali ia sempat melihat gurunya bertempur. Ada sesuatu yang sangat menarik perhatiannya. Di dalam penempuran yang sangat dahsyat melawan orang yang sudah mencapai puncak ilmunya, ternyata Kiai Gringsing memiliki sesuatu yang masih agak asing bagi kedua muridnya. Meskipun pada dasarnya murid-muridnya sudah memiliki ilmu itu, tetapi ada yang masih mendebarkan jantung mereka.

Agung Sedayu pernah melihat gurunya bertempur melawan orang-orang yang memiliki ilmu yang luar biasa. Gurunya pernah bertempur melawan Ki Tambak Wedi. Melawan hantu-hantu di Alas Mentaok. Melawan banyak lagi orang-orang yang tidak terduga-duga. Bahkan Kiai Gringsing pernah terluka di Jati Anom. Namun kali ini perkelahian di antara kedua orang itu benar-benar merupakan perkelahian yang luar biasa.

“Agaknya Panembahan Alit bukan saja mempergunakan ilmu olah kanuragan secara wajar,” perasaan itu tumbuh di dalam hati kedua murid-murid Kiai Gringsing itu.

Sebenarnyalah mereka melihat, bahwa pertempuran itu rasa-rasanya seperti tidak sewajarnya. Kadang-kadang mereka bergerak terlampau cepat. Namun kadang-kadang mereka berdiri saja dengan tegang sambil menggenggam senjata masing-masing.

Dalam pada itu Panembahan Alit merasa, bahwa kali ini ia benar-benar menemukan lawan yang tidak dapat dikalahkannya dengan segenap ilmu yang ada padanya. Seakan-akan Kiai Gringsing dapat melakukan apa saja yang dilakukannya.

Di lingkaran perkelahian yang lain, Putut Nantang Pati benar-benar telah dicengkam oleh perasaan putus asa. Anak buahnya telah terdesak semakin mundur. Sedangkan ia masih belum berhasil menga1ahkan Ki Argapati dan anak gadisnya, meskipun tampaknya Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu menjadi semakin parah.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba seorang anak muda telah terjun ke dalam arena itu pula. Prastawa, yang agaknya sudah kehilangan lawan-lawannya di lambung, tidak mau membiarkan Pandan Wangi semakin sulit mengalami tekanan Putut Nantang Pati justru karena Ki Argapati menjadi semakin lemah.

Kehadiran Prastawa membuat Putut Nantang Pati menjadi semakin marah. Dengan segenap kemampuan dilambari oleh perasaan putus asa ia mencoba memecahkan perlawanan ketiga orang itu. Tetapi ternyata usahanya sia-sia saja. Meskipun Prastawa tidak sekuat Pandan Wangi, namun kehadirannya benar-benar telah membuat Putut Nantang Pati kehilangan harapan untuk memenangkan perkelahian itu. Bahkan ia telah kehilangan harapan atas keseluruhan dari pertempuran itu.

Dan itulah sebabnya, maka ia pun seakan-akan menjadi kehilangan akal. Dengan membabi buta ia berusaha untuk, memecahkan kerja sama ketiga lawannya. Tetapi Putut Nantang Pati pun merasa bahwa usaha itu tidak akan berhasil.

Dalam keadaan itu, Ki Argapati merasa bahwa tugasnya pun menjadi semakin ringan. Prastawa dapat mengambil sebagian dari tugasnya mengatasi serangan-serangan Putut Nantang Pati yang menjadi semakin kasar dan liar.

Namun dalam kesempatan itu, kadang-kadang ia masih sempat memperhitungkan Kiai Gringsing yang bertempur melawan Panembahan Alit. Sebagai seorang yang memiliki ilmu yang hampir sempurna, Ki Argapati dapat menilai pertempuran yang sedang berlangsung antara Kiai Gringsing dan Panembahan Alit. Meskipun Ki Argapati pada saat itu tidak akan lagi mampu melawan Panembahan Alit karena cacatnya, namun Ki Argapati masih mampu melihat, apakah sebenarnya yang terjadi di arena kedua orang yang pilih tanding itu.

Ki Argapati melihat bahwa keduanya telah sampai kepada inti ilmu masing-masing. Bahkan kadang-kadang mereka telah sampai pada puncak tenaga cadangan yang ada di dalam dirinya, sehingga nampaknya, tenaga yang terlontar dari kedua orang itu memiliki kekuatan yang luar biasa.

Tetapi selain dari kekaguman Ki Argapati atas kemampuan Kiai Gringsing dan Panembahan Alit yang masih tetap utuh, meskipun umur mereka menjadi semakin tua bahkan seakan-akan justru menjadi semakin masak dan sempurna, Ki Argapati juga menjadi heran, bahwa Kiai Gringsing selama ini telah melakukan suatu usaha yang dapat membahayakan jiwanya. Sejak pertama kali ia melihat adbmcadangan.wordpress.com kehadiran orang itu di Menoreh pada saat pertentangan berkobar di Tanah Perdikan ini, dan yang ternyata telah didahului oleh peristiwa-peristiwa yang penting yang terjadi di Sangkal Putung, saat Tohpati masih memiliki kekuatan, telah menimbulkan beberapa pertanyaan di hatinya.

“Apakah yang telah mendorong orang tua itu untuk menyabung nyawa di setiap peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di sekitar Mataram? Jika ia sekedar seorang yang memiliki kelebihan di dalam olah kanuragan, kemudian mengambil kedua anak muda itu menjadi muridnya, maka ia tidak akan mempertaruhkan nyawanya bagi Mataram.” Namun kemudaan, “Apakah hanya secara kebetulan saja semuanya itu terjadi?”

Namun Ki Argapati masih tetap menganggap bahwa ada sesuatu yang lain yang mendorong Kiai Gringsng itu berbuat banyak bagi Mataram,

“Bukan hanya bagi Mataram,” Ki Argapati melengkapi pendapatnya sendiri di dalam hati, “ia telah membantu menegakkan Pajang di saat pasukan Jipang masih tersisa. Dan ia telah membantu memadamkan api yang berkobar di atas Tanah Perdikan Menoreh, dan kini ia berbuat banyak sekali bagi Mataram yang sedang tumbuh itu.”

Tetapi Ki Argapati terpaksa menghentikan angan-angannya. Ia melihat Pandan Wangi dan Prastawa menjadi semakin sulit melawan Putut Nantang Pati yang benar-benar telah berputus asa, meskipun beberapa orang pemimpin pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang telah kehilangan lawan-lawannya datang membantu, sehingga Putut Nantang Pati itu seakan-akan telah dikepung oleh empat orang sekaligus, selain darinya sendiri, dan seorang di antaranya adalah seorang anak muda bertubuh gemuk dan bersenjata sebuah cambuk.

Sejenak Ki Argapati mengamati pertempuran itu. Putut Nantang Pati memang seorang yang memiliki perhitungan yang baik. Di dalam keputusasaan itu, hampir di luar sadarnya, ia masih mampu melakukan gerak-gerak yang mengejutkan. Di dalam saat ia tidak lagi dapat berpikir dengan baik, ia masih mampu menemukan sikap yang tidak disangka-sangka oleh lawannya.

“Di dalam segala keadaan, agaknya Putut Nantang Pati benar-benar sudah mapan dan menguasai ilmunya dengan baik,” berkata Ki Gede Menoreh di dalam hatinya. Dan itulah sebabnya, maka ia harus berada di tengah-tengah pertempuran itu meskipun ia hanya sekedar menentukan keadaan, karena untuk langsung bertempur menghadapi Putut Nantang Pati, kakinya menjadi semakin sakit dan lemah.

Kehadiran Swandaru di dalam arena itu telah menggetarkan hati Putut Nantang Pati. Bunyi cambuknya itu bagaikan suara hantu yang memanggilnya dari lubang kubur. Apalagi ketika mulai terasa ujung cambuk menyentuh tubuhnya.

Memang tidak ada jalan untuk keluar dari pertempuran itu. Pasukannya sudah terdesak, dan ia sendiri seakan-akan telah dipisahkan dari pasukannya. Di sekitarnya melingkar orang-orang Menoreh yang bersenjata telanjang teracu kepadanya.

Akhirnya, tidak ada pilihan lain daripada Putut Nantang Pati selain mati. Dan ternyata bahwa ia tidak lagi segan untuk melakukannya.

Demikian juga agaknya Daksina. Sutawijaya, Ki Lurah Branjangan, dan beberapa orang pengawal pilihan telah mengepungnya dan mendesaknya sampai ke tepi padas yang tegak pada kaki pebukitan.

“Kau tidak akan dapat lari lagi,” desis Sutawijaya, “menyerahlah. Mungkin aku masih dapat berbicara dengan mulutku, tidak dengan senjataku, karena aku tahu Paman adalah seorang Senapati Pajang. Di saat Pajang mulai tegak, Paman telah berjasa bagi Pajang. Barangkali jasa Paman itu dapat mengurangi kemurkaan Ayahanda Sultan Pajang dan Ayahanda Pemanahan.”

“Aku tidak akan memohon belas kasihan kepada siapa pun juga. Kepada kedua ayahmu itu pun tidak,” Daksina justru berteriak.

Sutawijaya mengerutkan keningnya, lalu, “Bukan belas kasihan, tetapi Pajang dan Mataram tidak akan melupakan jasa seseorang. Karena itu menyerahlah. Paman tidak akan mengalami nasib yang buruk.”

“Bohong. Aku tentu akan kau perah seperti cucian hingga darahku kering. Kau dan ayahmu Pemanahan tentu ingin tahu, siapa saja yang berada di pihakku.”

“Kau berprasangka. Kami telah bersama-sama berjuang menegakkan Pajang. Karena itu, marilah. Jangan kehilangan akal.”

Tetapi Daksina tidak menghiraukannya. Ia masih tetap bertempur dengan gigihnya.

Para pengawal dari Mataram itu pun masih mencoba melunakkan hati Daksina. Mereka memang berkepentingan untuk dapat menangkap Daksina hidup. Tetapi agaknya Daksina sendiri tidak lagi berminat untuk tetap hidup.

“Daksina,” berkata Ki Lurah Branjangan, “kau tentu mengenal aku dan beberapa orang prajurit Pajang yang ada di sini seperti aku mengenal kau dan beberapa orang kawanmu. Kenapa kau berkeras untuk berkelahi sampai mati jika kita dapat mencari cara penyelesaian yang lain?”

“Persetan!” bentak Daksina. “Jangan banyak bicara Branjangan, kau atau aku yang akan mati.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Daksina bagaikan orang mengamuk.

“Kita tangkap hidup-hidup,” desis Sutawijaya kepada Branjangan.

Tetapi agaknya Daksina mendengarnya sehingga dengan penuh kemarahan ia berteriak, “Sombong. Ayo tangkap aku hidup-hidup jika kau mampu.”

Dalam pada itu, Agung Sedayu yang sudah tidak mempunyai lawan lagi berdiri termangu-mangu. Dilihatnya pasukan Panembahan Agung yang semakin jauh terdesak, sehingga mereka sudah hampir memasuki padepokan induk. Sejenak ia termangu-mangu karena di sekitarnya masih ada beberapa lingkaran perkelahian. Kiai Gringsing yang bertempur melawan Panembahan Alit benar-benar merupakan arena pertempuran yang tidak ada bandingnya. adbmcadangan.wordpress.com Pertempuran itu tentu lebih dahsyat dari saat-saat Kiai Gringsing harus bertempur melawan Ki Tambak Wedi. Sekilas terbayang perang tanding yang pernah dilakukan oleh Ki Argapati melawan Ki Tambak Wedi. Tentu merupakan pertempuran yang sangat dahsyat pula. Namun kini di samping kemampuan olah kanuragan dan pengungkapan tenaga cadangan, di dalam pertempuran itu terasa sesuatu telah membakar keduanya. Kemarahan dan puncak dari ilmu mereka.

Setiap kali Agung Sedayu masih mendengar cambuk Kiai Gringsing meledak-ledak. Demikian juga cambuk Swandaru. Karena itu, maka Agung Sedayu mulai tertarik untuk membantu salah seorang dari mereka. Tetapi ia pasti, bahwa ia tidak akan dapat banyak berbuat di arena pertempuran melawan Panembahan Alit.

Karena itu, perlahan-lahan Agung Sedayu mendekati arena pertempuran melawan Putut Nantang Pati. Ia masih melihat senjata terayun. Tetapi ketika ia mendekat, terdengar seseorang mengaduh perlahan-lahan. Dan sekali lagi cambuk Swandaru meledak, maka suara itu pun terulang lagi.

Agung Sedayu tertegun ketika ia melihat darah ditubuh Putut Nantang Pati. Ternyata senjata Pandan Wangi telah menyentuhnya, disusul oleh senjata Swandaru, sehingga dari luka di tubuh Putut Nantang Pati itu pun meleleh darah dan menitik ke atas tanah di lembah yang terasing itu.

Putut Nantang Pati menggeram. Tetapi ia sudah bertekad, bahwa lembah terasing ini adalah lembah yang harus dipertahankan dengan mempertaruhkan nyawa. Karena itu, maka ia sama sekali tidak berusaha untuk menghindari maut yang sudah mulai menyentuhnya.

Serangan-serangan berikutnya adalah serangan-serangan yang lebih dahsyat lagi. Dan Putut Nantang Pati yang menjadi semakin lemah, sama sekali tidak mampu lagi untuk menghindarkan diri dari kematian.

Tetapi sebelum saat terakhir datang, maka terdengar suara Ki Argapati, “Cukup. Tidak bijaksana membunuh lawan yang sudah tidak berdaya.”

“Persetan,” tiba-tiba Pulut Nantang Pati berteriak dengan sisa tenaganya, “aku tidak akan mengharap belas kasihan seperti itu. Aku adalah Putut Nantang Pati, murid terpercaya dari Panembahan Agung. Jika kalian ingin membunuh aku, bunuhlah.”

“Ki Sanak,” berkata Ki Argapati, “kematian bukan tujuan kami. Kau harus dapat mengerti, bahwa yang kami perangi bukan kau sebagai manusia wadag. Tetapi adalah sikap dan perbuatan. Jika wadagmu tidak mampu lagi mendukung sikap dan keinginanmu yang salah, maka kami tidak akan berbuat banyak lagi atas wadagmu itu.”

Mata Putut Nantang Pati justru menjadi semakin membara. Sejenak ia memandang Ki Argapati. Namun agaknya ia benar-benar tersinggung oleh kata-kata Ki Argapati itu, sehingga ia pun kemudian berteriak, “Kau menghina aku. Kau menghina kejantananku.”

Hampir di luar dugaan siapa pun juga, Putut Nantang Pati yang lemah itu, didorong oleh kemarahan yang meluap-luap, tiba-tiba saja meloncat secepat tatit di udara, menyerang Ki Argapati, tanpa menghiraukan lawan-lawannya yang lain.

Namun sudah menjadi tekadnya, ketika ujung pedang Pandan Wangi, ujung cambuk Swandaru dan serangan mendatar Prastawa berbareng mengenainya. Bahkan Ki Argapati sendiri yang terkejut, tidak mampu lagi untuk menghindar. Apalagi kakinya benar-benar terasa sangat mengganggunya. Karena itu, yang dapat dilakukannya adalah mengacungkan tombak pendeknya ke arah lawannya.

Demikianlah beberapa ujung senjata, bersama-sama telah mengenai tubuh Putut Nantang Pati. Ia masih dapat menggeram dan menggeliat. Tetapi kemudian ia menghembuskan nafasnya yang penghabisan, menelungkup di atas tanah yang dipertahankannya sampai ujung hidupnya.

Agung Sedayu yang juga melihat tubuh Putut Nantang Pati yang arang kranjang itu memalingkan wajahnya. Meskipun ia berada di medan, tetapi ia tidak sampai hati melihat luka dan darah yang bagaikan membalut tubuh yang terbaring itu.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia pernah mendengar cerita tentang Kiai Ageng Sela yang mengikuti pencalonan senapati. Di dalam pendadaran, Kiai Ageng Sela harus bertempur melawan seekor harimau lapar di alun-alun. Dengan menaiki seekor kuda, Kiai Ageng Sela memasuki arena, diringi oleh sorak sorai prajurit yang menjadi pagar arena dengan tombak di tangan.

Ketika sampai saatnya ia berhasil menusuk harimau itu tepat di punggungnya, dan ketika darah yang merah seakan-akan memancar dari luka itu. Kiai Ageng Sela memalingkan wajahnya. Ia tidak sampai hati melihat harimau itu mengaum dan mandi darah.

Namun dengan demikian, ternyata ada orang yang lain melampauinya di dalam pendadaran itu. Bukan kemampuannya olah senjata sambil mengendalikan seekor kuda. Tetapi orang itu tanpa mengedipkan matanya memandang harimau korbannya yang berguling-guling kesakitan dan kemudian mati terkapar di alun-alun diiringi sorak sorai yang rasa-rasanya akan merobohkan langit.

Kiai Ageng Sela tidak berhasil menjadi seorang senapati. Tetapi Kiai Ageng Sela sama sekali tidak menyesal, bahkan ia masih berasa bersyukur bahwa ia tidak berhasil, karena di medan perang, yang dibunuhnya itu tentu bukanya sekedar seekor harimau.

Agung Sedayu sekali lagi menarik nafas dalam-dalam. Dan ia menjadi semakin yakin akan dirinya sendiri, bahwa ia tidak akan dapat menjadi seorang prajurit yang baik.

Selagi merenungi keadaannya sendiri, maka Agung Sedayu pun terkejut pula ketika ia mendengar orang-orang Mataram bersorak. Ternyata beberapa orang yang juga berasal dari Pajang, termasuk Raden Sutawijaya dan Ki Lurah Branjangan, telah berhasil mengakhiri pertempuran itu. Seperti Putut Nantang Pati maka Daksina pun tidak mau menyerah. Ia sadar, bahwa ia akan mengalami banyak kesulitan di Mataram, jika ia tertangkap hidup-hidup. Ia akan mengalami perlakuan yang parah untuk diperas keterangan dari mulutnya tentang orang-orang Pajang.

Dalam pada itu, yang masih saja bertempur dengan gigihnya adalah Panembahan Alit. Kiai Gringsing benar-benar mengalami kesulitan, bahkan hampir tidak mungkin untuk mengalahkannya. Panembahan Alit memilki ilmu yang sulit diatasi. Kecepatannya bergerak merupakan senjata yang dibanggakannya. Karena itu, maka ujung cambuk Kiai Gringsing hampir tidak pernah berhasil menyentuhnya.

“Ilmu apa sajakah yang sedang bertarung di arena itu,” Raden Sutawijaya pun menjadi heran. Hampir saja ia memerintahkan pasukannya untuk bersama-sama membinasakan Panembahan Alit. Namun Kiai Gringsing sempat berterak, “Biarkan Panembahan Alit bermain-main dengan aku sendiri.”

Dengan demikian, maka perkelahian itu pun berlangsung dengan sangat sengitnya, sementara pasukan Panembahan Agung yang lain telah terdorong memasuki padepokannya.

Panembahan Alit pun mengetahui, bahwa pasukannya telah terdesak dan bahkan terpisah dari padanya. Dan ia pun mengetahui bahwa kedua senapati pengapitnya telah mati di peperangan itu. Namun ia tidak ingin lari, tidak berbuat seperti di Alas Tambak Baya. Kali ini ia bertempur mati-matian mengerahkan segenap ilmu yang ada padanya.

Ternyata bahwa Panembahan Alit yang juga menyebut dirinya Panembahan Tidak Bernama itu berhasil mengimbangi kemampuan Kiai Gringsing. Bahkan sekali-sekali Panembahan Alit mampu mendesak Kiai Gringsing beberapa langkah surut.

Kiai Gringsing pun sadar, bahwa ia tidak akan dapat memenangkan perkelahian itu begitu saja. Ia kagum akan kecepatan bergerak lawannya, yang kadang-kadang dapat melampaui kecepatan ujung cambuknya.

Dengan demikian, maka beberapa orang pemimpin dari Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh kemudian berdiri melingkari arena pertempuran antara Kiai Gringsing dan Panembahan Alit yang semakin lama justru menjadi semakin seru. Bahkan mereka sudah bertekad untuk bertempur sehari semalam, dan jika perlu lebih panjang lagi dari waktu yang sehari semalam itu.

Namun dalam pada itu, Panembahan Agung sendiri tidak dapat mengingkari kenyataan. Pasukan lawan sedikit demi sedikit telah memasuki padepokannya, sehingga ia tidak akan dapat tinggal diam.

Karena itulah, maka telah terjadi sesuatu yang mengguncangkan keseimbangan pertempuran itu.

Di dalam cengkaman perang tanding yang dahsyat itu, Panembahan Alit masih sempat melihat bayangan raksasa di puncak bukit. Semakin lama bayangan itu menjadi semakin samar. Bayangan itu tidak hilang dengan tiba-tiba, tetapi perlahan-lahan, sehingga akhirnya hilang sama sekali.

Bukan saja Panembahan Alit, tetapi hampir setiap orang sempat melihat raksasa yang seakan-akan perlahan-lahan menjadi asap sehingga akhirnya.tidak lagi kasat mata.

Kepergian bayangan itu agaknya menimbulkan kesan tersendiri. Raksasa yang lain pun tiba-tiba telah lenyap pula dari atas bukit, meskipun dengan cara yang lain, tidak dengan perlahan-lahan.

Sumangkar yang membimbing Rudita melihat juga bahwa kedua raksasa itu telah hilang. Karena itu dengan bergegas ia berkata, “Rudita, ayahmu telah selesai dengan samadinya. Marilah, cepat.”

Keduanya merayap naik di antara batu-batu padas. Hanya beberapa langkah. Di balik sebuah gerumbul mereka melihat Ki Waskita masih duduk di atas sebuah batu yang tersembunyi.

Rudita menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi Sumangkar berbisik, “Itu benar-benar ayahmu, bukan bentuk semu.”

Rudita memandang Sumangkar sejenak, namun kemudian ia berteriak, “Ayah.”

Ki Waskita pun kemudian berdiri. Dipandanginya saja anaknya yang kemudian tertatih-tatih berlari mendapatkannya dan langsung memeluknya sambil menangis seperti kanak-kanak.

Ki Waskita membelai kepala anaknya yang telah hilang beberapa lamanya itu.

“Kau tidak apa-apa?” desis ayahnya.

“Kenapa tidak apa-apa,” sahut anaknya di sela-sela tangisnya, “aku telah diikat, disakiti dan dipaksa untuk berbicara yang aku sendiri tidak mengerti.”

Ki Waskita menjadi semakin iba kepada anaknya. Anak laki-lakinya yang sangat manja, yang tidak pernah mengalami persoalan yang dapat menggoncangkan hatinya. Tiba-tiba saja ia mengalami peristiwa yang memang sangat dahsyat, bahkan bagi mereka yang berhati tabah sekali pun.

“Baiklah, Rudita. Beristirahatlah di sini bersama pamanmu Sumangkar. Aku masih harus menyelesaikan pekerjaan ini.”

“Apakah Ayah akan pergi?”

“Ya. Aku harus bertemu dengan Panembahan Agung Agaknya ia menyingkir dari padepokannya.”

“Darimana Ayah tahu?”

“Bentuk semu yang diciptakannya ditinggalkan begitu saja sehingga perlahan-lahan menjadi kabur dan hilang. Ia tidak sempat menghapusnya lebih dahulu ketika ia meninggalkan tempatnya.”

“Tetapi biar sajalah ia pergi, Ayah?”

“Ia akan menjadi manusia yang paling berbahaya. Kegagalannya kali ini akan menumbuhkan dendam yang semakin dahsyat di dalam hatinya.”

“Tetapi Ayah jangan pergi.”

Ki Waskita seolah-olah tidak menghiraukan suara anaknya. Perlahan-lahan ia melepaskan pelukan anaknya sambil berkata kepada Ki Sumangkar, “Aku titip anakku. Bawalah kepada Ki Gede Menoreh jika ia sudah selesai. Aku harus mendapatkan Panembahan Agung, jika kita tidak ingin melihat ia mengguncang-guncang ketenteraman bumi ini dengan ilmu kebohongan itu.”

“Ayah,” Rudita berteriak.

“Jangan gelisah. Kau sudah aman di sini. Tidak ada apa-apa lagi.”

“Tetapi Ayah jangan pergi.”

Ki Waskita tidak menghiraukannya. Ia pun segera berlari menghambur dan hilang di balik gerumbul.

“Ayah, Ayah,” Rudita masih berteriak.

“Sudahlah, Rudita. Marilah kita pergi mendapatkan Ki Argapati.”

Rudita mencoba untuk meronta melepaskan dirinya dari tangan Sumangkar untuk menyusul ayahnya. Tetapi Sumangkar memeganginya semakin erat sambil membujuknya, “Rudita. Kau adalah seorang anak muda yang sudah dewasa. Kau bukan anak-anak lagi. Anak-anak muda sebayamu kini berada di medan dengan senjata di tangan. Kenapa kau masih saja menangis?”

Rudita memandang Sumangkar dengan tatapan mata yang basah. Namun anak muda itu mencoba juga untuk menahan tangisnya yang menyesak di dadanya.

“Sudahlah,” berkata Sumangkar kemudian, “ayahmu adalah seorang yang memiliki kelebihan dari orang lain. Ia merasa mempunyai kewajiban untuk berbuat kebajikan. Karena itu, jangan kau tahan agar usahanya untuk bertemu dengan Panembahan Agung dapat berhasil.”

Rudita tidak menyahut.

“Nah, marilah kita menemui Ki Argapati.”

Rudita tidak meronta lagi ketika Ki Sumangkar membimbingnya seperti membimbing anak-anak menuruni tebing dan mendekati arena yang sudah menjadi lengang.

Namun ternyata masih ada pertempuran yang sengit terjadi di lembah itu. Bahkan seperti ayam jantan yang sedang bersabung, maka beberapa orang telah melingkarinya menyaksikan perkelahian yang dahsyat itu.

Sampai saat terakhir tidak ada tanda-tanda, bahwa Kiai Gringsing akan berhasil. Panembahan Alit bagaikan menyimpan sarang angin di dalam dadanya. Betapa pun ia bergerak dan berloncatan, nafasnya rasa-rasanya sama sekali tidak terpengaruh. Bahkan seolah-olah tata geraknya semakin lama menjadi semakin mapan. Meskipun Panembahan Alit adalah seorang yang bertubuh wajar, namun ia selalu berhasil menyusup di antara lecutan-lecutan cambuk Kiai Gringsing yang meledak-ledak di seputarnya.

Tetapi di saat-saat terakhir, terjadilah perubahan itu. Ketika Panembahan Alit melihat bayangan raksasa di atas bukit yang lenyap dengan perlahan-lahan, maka seolah-olah ia mendapatkan isyarat, bahwa Panembahan Agung sudah tidak mampu lagi bertahan.

Bagi Panembahan Alit, maka Panembahan Agung adalah tumpuan perjuangannya. Ia bertempur mati-matian dan melakukan semua usaha selama ini untuk menggagalkan usaha membuka Alas Mentaok karena ia berharap bahwa pada suatu saat Panembahan Agung akan dapat menjadi Ratu Adil yang menguasai Tanah Jawa. Yang akan memerintah dengan kebesaran yang tiada taranya, yang akan disegani oleh kawan dan lawan, dihormati oleh bangsa-bangsa di permukaan bumi. Namun di dalam saat terakhir, pertahanan ini agaknya tidak lagi dapat diselamatkan. Panembahan Agung sendiri agaknya telah menjadi berputus asa, atau meninggalkan padepokan tanpa memberitahukan kepadanya lebih dahulu.

Perasaan kecewa, menyesal, dan cemas bercampur baur di dalam hatinya, sehingga tata geraknya pun menjadi terpengaruh olehnya.

Pada saat-saat yang demikian itulah maka cambuk Kiai Gringsing telah menyentuhnya tepat di lambung, sehingga Panembahan Alit itu pun terdorong beberapa langkah surut. Tetapi ternyata bahwa setiap mata menjadi terbelalak karenanya. Ujung cambuk Kiai Gringsing yang tiada taranya itu, sama sekali tidak berhasil melukai tubuh Panembahan Alit. Meskipun pakaian Panembahan Alit koyak karenanya, tetapi kulitnya sama sekali tidak tersobek, sehingga tidak setitik darah pun yang mengembun dari tubuhnya.

Bukan saja yang menyaksikan hal itu menjadi terheran-heran. Tetapi Kiai Gringsing sendiri menjadi heran pula. Hampir di luar sadarnya ia berdesis perlahan-lahan kepada diri sendiri, “Orang ini agaknya memiliki ilmu kebal.”

Ternyata bukan hanya sekali dua kali. Ujung cambuk Kiai Gringsing beberapa kali berhasil menyentuh lawannya. Tetapi sentuhan itu sama sekali tidak melukainya.

Dada Kiai Gringsing menjadi berdebar-debar. Sepanjang petualangan yang pernah dilakukan, jarang sekali ia menjumpai orang yang memiliki ilmu serupa ini. Ki Tambak Wedi yang menggetarkan itu pun tidak memiliki kekebalan. Ki Argapati justru pernah terluka, dan sudah barang tentu Sumangkar pun tidak. Namun Panembahan Alit yang juga menyebut dirinya Panembahan Tidak Bernama ini ternyata tidak dapat dilukai oleh ujung cambuknya.

Meskipun oleh pengaruh perasaan sendiri, tandang Panembahan Alit seakan-akan menjadi susut, dan bahkan beberapa kali lawannya berhasil mengenainya, namun tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan menghentikan pertempuran itu, atau bahkan tidak ada tanda-tanda bahwa Kiai Gringsing akan berhasil mengalahkannya. Karena itulah, maka setiap orang yang menyaksikan perkelahian itu pun menjadi sangat cemas. Mereka tidak dapat membayangkan apakah yang akan terjadi dengan pertempuran itu. Dengan kemampuannya Kiai Gringsing selalu berhasil menghindari serangan lawannya, sedang lawannya seakan-akan tidak dapat di lukai dengan senjata.

“Jika pertempuran berlangsung terus seperti ini, maka aku kira tidak akan dapat selesai tiga hari tiga malam,” berkata Raden Sutawijaya kepada diri sendiri.

Namun Raden Sutawijaya tidak dapat berbuat apa-apa. Jika ia turun ke gelanggang dan tidak memiliki kemampuan bergerak seperti Kiai Gringsing, maka ia tentu akan segera diterkam oleh bencana karena di dalam keadaan yang pahit itu, Panembahan Alit masih tetap seorang yang sangat berbahaya.

Dengan sepenuh tenaga Kiai Gringsing mencoba untuk mempergunakan saat-saat yang tidak menguntungkan bagi Panembahan Alit itu. Tetapi setiap kali ia gagal. Bahkan Kiai Gringsing pun menjadi cemas. Jika Panembahan Alit berhasil mengatasi persoalan di dalam dirinya, atau justru menjadi putus asa sama sekali dan bertempur membabi buta, maka akibatnya akan pahit pula baginya. Justru karena senjatanya seakan-akan tidak mampu menembus pertahanan kekebalan kulit Panembahan Alit itu.

Dengan demikian maka pertempuran itu pun menjadi kian sengit. Kiai Gringsing berusaha sekuat tenaga untuk mencoba menembus kekebalan kulit Panembahan Alit. Tetapi usahanya tidak berhasil, karena kulit Panembahan Alit itu pun seakan-akan telah berlapis baja

Sejenak Kiai Gringsing menjadi termangu-mangu. Bahkan kadang-kadang ia harus meloncat surut. Namun ia tidak dapat ingkar dari kenyataan yang dihadapinya. Lawannya tidak dapat dilukai dengan senjatanya.

Karena itu, Kiai Gringsing tidak dapat berbuat lain, Meskipun seakan-akan ia telah menyimpan ilmunya yang jarang-jarang sekali dipergunakannya itu, karena ia hampir tidak pernah menjumpai lawan yang sekuat Panembahan Alit, namun akhirnya datang saatnya ia harus mempergunakannya lagi.

Dalam keadaan yang sangat terdesak, Kiai Gringsing menggeretakkan giginya. Matanya menjadi merah dan tiba-tiba saja orang-orang yang berdiri di sekeliling arena melihat perubahan pada wajah orang tua itu. Kiai Gringsing yang berwajah lunak dan sejuk itu, betapa pun ia dilibat oleh kesulitan di dalam pertempuran tiba-tiba menjadi seorang yang berwajah keras seperti batu-batu padas di tebing pegunungan. Matanya menjadi seakan-akan bersinar kemerah-merahan oleh goncangan di dalam dirinya.

Ternyata Kiai Gringsing sedang memusatkan segenap kemampuannya pada ilmunya yang selama ini tidak pernah dibangunkannya lagi, setelah ia meninggalkan lingkungannya pada masa Demak masih berkuasa. Meskipun saat itu ia masih muda, namun gurunya telah mempercayakan sebuah ilmu yang hampir tidak dapat dicarinya duanya.

Di dalam kesulitan itulah, maka Kiai Gringsing mencoba untuk membangunkan ilmunya. Ilmu yang masih sangat asing meskipun bagi murid-muridnya sendiri.

Dengan sebuah loncatan panjang Kiai Gringsing menjauhi lawannya. Kemudian dengan sepenuh kekuatan yang terpusat pada anggauta badan wadagnya, maka Kiai Gringsing mengangkat sebelah tangannya yang menggenggam cambuknya tinggi-tinggi menyilangkan tangan kiri di dadanya, dan sambil menggeram ia mematangkan dirinya pada pusat kekuatan yang ada padanya.

Pada saat itu, Ki Waskita yang sedang berusaha mengejar Panembanan Agung yang telah meninggalkan bentuk semunya begitu saja sehingga seperti asap lenyap perlahan-lahan, melihat dari kejauhan sikap Kiai Gringsing itu. Sejenak ia tertegun. Sebuah getaran telah mengguncang dadanya. Ilmu itu adalah ilmu yang dianggapnya telah tenggelam dilanda oleh arus waktu yang keras. Namun ternyata ia masih sempat melihat seseorang bersikap seperti yang pernah dilihatnya.

Namun Ki Waskita harus berusaha menenangkan debar jantungnya, karena ia harus mengejar Panembahan Agung. Dengan kemampuan mengenal isyarat di dalam dirinya, Ki Waskita dapat menduga ke mana arah yang dilalui oleh Panembahan Agung itu.

Demikianlah maka dengan segenap kemampuan yang ada padanya, Ki Waskita berlari menyusup semak-semak dan gerumbul-gerumbul perdu memotong arah Panembahan Agung. Ia yakin, bahwa pada suatu saat ia tentu akan dapat menyusulnya. Jika tidak dihari itu maka di malam hari ia akan berhasil. Dan jika tidak di malam hari, maka ia akan mengejarnya terus, meskipun ia harus berlari sampai tiga hari tiga malam.

Langkah Ki Waskita terhenti sejenak ketika kakinya menginjak jalan lurus yang meninggalkan padepokan induk di lembah terasing itu. Sejenak ia memusatkan perhatiannya kepada orang yang sedang dikejarnya. Dan tiba-tiba saja ia meloncat berlari di antara pohon-pohon perdu dan merayap tebing pegunungan. Di antara batu-batu padas, Ki Waskita pun kemudian mencoba memotong arah dan menyilang sebuah jalan sempit yang mendaki pegunungan itu.

Tetapi tiba-tiba wajahnya menjadi tegang. Ia sama sekali tidak melihat bekas-bekas kaki di jalan sempit yang kotor itu. Karena itu maka dicobanya untuk meraba buruannya dengan inderanya yang lain.

Terdengar Ki Waskita menggeram. Ternyata ia telah melampaui jalur jalan yang ditempuh oleh Panembahan Agung itu, sehingga ia terpaksa meluncur turun beberapa, langkah dengan tergesa-gesa.

Ternyata bahwa isyarat, yang dilihatnya dapat dipercayanya ketika ia juga melihat bekas kaki yang masih baru, menyelusuri sebuah jalan yang berbelok menyusur tebing.

Panembahan Agung ternyata menempuh jalan yang tidak diperhitungkannya dengan nalar. Tetapi alat perabanya yang lain berhasil menyentuh jejak orang yang sangat berbahaya itu.

“Ia tidak akan dapat menghindar dengan cepat,” berkata Ki Waskita kepada diri sendiri, “aku tentu mampu berlari lebih cepat daripadanya.”

Dengan demikian maka ia yakin bahwa Panembahan Agung semakin lama menjadi semakin dekat daripadanya, meskipun Ki Waskita belum melihatnya.

Sebenarnya Panembahan Agung pun telah memperhihitungkan, bahwa hal itu akan terjadi. Tetapi ia merasa tidak akan ada gunanya mengganggu Ki Waskita dengan bentuk-bentuk semu yang dapat dibuatnya di sepanjang jejaknya, meskipun kemudian akan hilang dengan perlahan-lahan. Panembahan Agung yakin, bahwa orang yang menyebut dirinya Jaka Raras itu akan dengan mudah mengatasi bentuk-bentuk semu yang dibuatnya. Sehingga bentuk-bentuk semu itu justru akan mempertegas jejaknya saja. Atau usaha untuk melindungi diri dari tangkapan isyarat pun ia tidak akan berhasil karena jarak yang sudah terlampau dakat.

Sekali-sekali Panembahan Agung memang mencoba untuk membuat Ki Waskita bingung. Bukan dengan menciptakan jurang yang luas atau api yang membakar bukit, tetapi justru bentuk-bentuk yang sederhana dan kecil. Bekas-bekas kaki yang berbelok di jalan yang sebenarnya tidak dilaluinya.

Beberapa kali Ki Waskita memang dapat dihambat dengan cara itu, karena semula Ki Waskita tidak menduga, bahwa Pembahan Agung sempat melakukannya. Tetapi, ketika sekali ia disesatkan oleh bentuk semu, yang kemudian berhasil dipunahkannya, maka untuk seterusnya ia menjadi sangat berhati-hati. Di setiap simpangan ia melihat bekas-bekas yang diikutinya itu dengan mata ilmunya.

Meskipun Ki Waskita selalu berhasil menemukan bekas kaki yang benar, tetapi usaha untuk mengetahui itu telah memerlukan waktu meskipun pendek. Dengan demikian maka Panembahan Agung mendapat kesempatan untuk memperpanjang jarak yang telah menjadi semakin pendek.

Tetapi akhirnya Panembahan Agung sadar, bahwa usahanya untuk melepaskan diri itu tidak akan berhasil, ia tahu pasti bahwa Jaka Raras mampu menyelusur jejaknya bukan saja dari jejak-jejak kaki, tetapi juga getaran isyarat pada dirinya. Meskipun di dalam usaha melepaskan diri Panembahan Agung sudah membatasi kemungkinan itu sekecil-kecilnya, dengan ilmu yang ada padanya, mengaburkan setiap getaran yang dapat dikenal oleh orang lain, namun di dalam keadaan yang sulit itu, usahanya tidak banyak membawa hasil.

Demikianlah maka Ki Waskita yang mengejarnya terus itu semakin lama menjadi semakin dekat. Sehingga pada akhirnya, ketika Ki Waskita telah sampai ke puncak bukit yang rendah, ia berhasil melihat di sela-sela semak belukar, Panembahan Agung yang sedang melarikan diri itu.

Dengan ilmunya Ki Waskita pun kemudian berkata dari jarak yang jauh, “Panembahan Agung, apakah kau masih akan berusaha untuk melarikan diri?”

Panembahan Agung mengerti bahwa suara itu bukan suara wajar Jaka Raras, seperti ia sendiri mampu melakukannya. Tetapi suara itu telah menggetarkan jantungnya pula.

Namun Panembahan Agung itu pun menjawab, “Jangan menakut-nakuti aku, Jaka Raras. Kau mempergunakan ilmumu. Tetapi sebenarnya kau belum melihat aku.”

Jaka Raras tertawa. Katanya, “Aku bukan anak kecil lagi Panembahan, seperti juga kau yang sudah berani menyebut dirimu panembahan, bahkan panembahan yang agung. Aku tahu bahwa kau memiliki ilmu serupa. Tetapi aku kali imi tidak sedang bermain-main. Aku telah melihatmu. Aku kini berada di puncak bukit kecil yang tebingnya baru kau turuni.”

Hampir di luar sadarnya, Panembahan Agung berpaling. Dan sebenarnyalah ia melihat seseorang berdiri di atas bukit padas itu. Bukan terbentuk seorang raksasa, tetapi seorang dalam ujudnya yang wajar. Kecil sekali di sela-sela batu-batu besar.

“Nah, bukankah kau sudah melihat aku? Aku yang sebenarnya. Kau tentu dapat membedakan, apakah yang kau lihat ini bentuk yang sebenarnya atau sekedar bentuk semu saja.”

Dada Panembahan Agung menjadi berdebar-debar. Ia tahu tenar, bahwa yang berdiri di atas bukit itu adalah Jaka Raras. Sebenarnya Jaka Raras, bukan bentuk semu yang diciptakannya.

Karena itu untuk beberapa saat ia tidak menyahut. Dicobanya untuk mencari jalan, melepaskan diri dari kejaran Jaka Raras. Meskipun ia berpengawal saat itu sedang Jaka paras hanya seorang diri mengejarnya, tetapi ia merasa, bahwa terlampau berat agaknya untuk melawan Jaka Raras yang sedang didera oleh kemarahan karena anaknya, telah disembunyikannya.

“Panembahan Agung,” berkata Jaka Raras, “berhentilah. Dan marilah kita berbicara dengan baik. Aku dapat berbuat kasar, tetapi aku pun dapat berbuat lunak. Aku sekarang berdiri sendiri. Anakku yang telah aku ketemukan kembali, tidak ada bersamaku sekarang. Karena itu, jika perlu aku dapat berbuat liar atau buas. Kita memang bukan orang-orang yang berhati sutra adbmcadangan.wordpress.com. Kita telah ditempa oleh kehidupan yang keras, kasar dan bahkan liar dan buas. Jika selama ini aku menjadi seorang yang seolah-olah baik, lembut, dan lunak, semata-mata untuk kepentingan anakku, karena aku sadar bahwa hidup dengan cara kita, adalah hidup yang dipenuhi dengan kegelisahan dan kecemasan, sehingga karena itu, aku sama sekali tidak menghendaki anakku akan menempuh hidup seperti kehidupan yang pernah kita jalani. Namun agaknya aku salah hitung, ditambah dengan kasih yang berlebih-lebihan dari ibunya, maka anakku menjadi seorang laki-laki yang cengeng, bodoh, dan agak sombong. Aku sendiri sudah menyalurkan ilmu yang ada padaku pada bentuk yang bermanfaat bagi sesama. Melihat masa-masa yang dekat dan jauh di hadapan kita tanpa mendahului dan berusaha merubah takdir dan keharusan. Karena yang aku lihat adalah yang akan terjadi, bukan yang diinginkan terjadi. Namun aku harus mengakui betapa piciknya pengetahuan seseorang. Ternyata bahwa aku tidak mengerti, bahwa pada suatu saat anakku akan hilang, karena akulah yang menganjurkannya untuk ikut berburu supaya ia sedikit memiliki sifat seorang laki-laki.”

Panembahan Agung menjadi berdebar-debar mendengar kata-kata Jaka Raras. Ia sadar, bahwa Jaka Raras tidak hanya sekedar menggertaknya. Ia kenal orang itu di dalam perguruan. Jaka Raras memang dapat berbuat keras dan kasar, bahkan liar dan buas.

“Panembahan,” berkata Jaka Raras, “aku menunggu keputusanmu. Sekali lagi aku peringatkan, bahwa aku kini tidak bersama anakku, sehingga jika aku kambuh lagi kepada sifat-sifatku, maka anakku tidak akan menjadi kecewa karena ia tidak melihat bahwa ayahnya bukannya orang yang baik seperti yang dikenalnya. Nah, bersiaplah. Kita akan bertempur dengan cara kita. Kemudian jika aku berhasil mengatasi kekuatan batinmu, maka wadagmu akan hancur menjadi makanan burung gagak, karena aku dapat melampaui kebuasan binatang yang paling buas di hutan.”

Panembahan Agung masih tetap berdiam diri. Ia seakan-akan telah terjepit pada suatu keharusan untuk bertempur melawan Jaka Raras. Meskipun ia tidak seorang diri, tetapi agaknya beberapa pengawalnya itu tidak akan berarti apa-apa bagi Jaka Raras.

Tetapi sudah barang tentu bahwa Panembahan Agung bukan seorang pengecut yang menyerah untuk diikat dan dibawa ke Mataram sebagai seorang tawanan. Dengan demikian ia akan dapat menjadi tontonan orang di alun-alun di negeri yang sedang tumbuh itu. Karena itu, maka tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh kecuali bertempur sampai kemungkinan yang paling akhir.

“Panembahan Agung,” terdengar lagi suara Jaka Raras, “kenapa kau tidak menjawab? Apakah kau sedang memperhitungkan untung dan rugi dari tindakan yang akan kau ambil?”

Panembahan Agung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jaka Raras, kau memang selalu menghina aku. Tetapi sampai saat ini, hinaan itu sudah cukup banyak. Aku tidak mau lagi mendengarnya. Sebaiknya kau tidak usah mendekati aku, karena itu akan berarti maut bagimu. Pergilah. Jika anakmu sudah kembali padamu, baiklah. Dan segera pergilah daripadaku, agar aku tidak terlanjur berbuat lebih banyak lagi atasmu.”

“Ah, kau aneh, Panembahan,” sahut Jaka Raras, lalu, “seakan-akan kita adalah orang-orang yang baru pertama kali ini bertemu. Bukankah kita sudah saling mengenal sejak di perguruan. Dan aku tahu pula seorang yang bernama Panembahan Cahyakusuma, yang kemudian menyebut dirinya bernama Panembahan Agung. Jangan mencoba menakut-nakuti, seperti aku juga tidak akan ada gunanya menakut-nakuti kau. Yang akan kita lakukan selanjutnya ada dua pilihan. Kau menyerah atau kita bertempur sampai mati. Mungkin kau tetapi mungkin juga aku. Tetapi itu adalah akibat yang sudah sama-sama kita ketahui sebelumnya.”

“Jika demikian, Jaka Raras,” berkata Panembahan Agung, “kenapa kau masih saja berbicara berkepanjangan tidak ada habis-habisnya. Berbuatlah sesuatu. Sikapku sudah jelas, bahwa aku tidak akan membiarkan diriku menjadi pangewan-ewan di Mataram. Aku tahu bahwa sekarang ini selain kau mencari anakmu, kau juga berada di pihak Mataram. Dan itulah kesalahanku yang pokok, karena aku tidak mengerti bahwa Radita adalah anakmu, sehingga kehadiranmu di pihak Mataram benar-benar membuat aku kehilangan kesempatan kali ini.”

“Kau sangka tanpa aku Mataram tidak dapat menggilasmu?” bertanya Ki Waskita. “Mungkin kehadiranku mempercepat saja penyelesaian yang berlangsung seperti sekarang ini. Tetapi tanpa aku pun kau tidak akan banyak berarti, karena di antara mereka terdapat orang-orang yang tidak akan menghiraukan bentuk-bentuk semu yang gila-gilaan itu.”

“Omong kosong,” geram Panembahan Agung, “mereka akan kebingungan dan kehilangan pegangan.”

“Jangan mimpi,” sahut Ki Waskita, “Kiai Gringsing akan mentertawakan ular nagamu, jurangmu, dan apimu. Ki Argapati akan menjadi acuh tidak acuh melihat raksasa yang berada di atas bukit-bukit padasnya. Dan bentuk-bentuk apa lagi yang akan terwujud tentu tidak akan menarik perhatian.” Jaka Raras itu berhenti sejenak, lalu, “Sudahlah Panembahan Agung. Jika kau memang memilih jalan kekerasan, kebuasan yang liar, baiklah, aku akan segera menyusulmu.”

Panembahan Agung menggeram. Katanya, “Datanglah. Aku akan menyambutmu.”

Jaka Raras tidak menyahut lagi. Ia pun kemudian menghambur menuruni tebing pegunungan mendekati Panembahan Agung yang sudah ada di lereng.

Dalam pada itu, maka Panembahan Agung pun kemudian berkata lantang kepada pengawalnya, “Tempatkan aku di atas jalan setapak menghadap arah ia akan datang.”

Sementara itu, Jaka Raras pun menjadi semakin dekat. Ia sadar bahwa lawannya adalah seorang yang memiliki kelebihan yang kadang-kadang tidak diduganya. Itulah sebabnya, maka ia pun menjadi sangat berhati-hati.

Di dalam keadaan yang tegang itu, Jaka Raras tidak kehilangan penguasaan atas perasaannya. Betapa pun ia marah dan dendam karena anaknya yang mendalami perlakuan yang sangat buruk itu. Namun ia tetap berhati-hati.

Tetapi seperti Panembahan Agung, ia tidak akan lagi mempergunakan bentuk-bentuk semu, karena ia tahu bahwa bentuk-bentuk yang demikian itu tidak akan ada gunanya lagi, karena keduanya benar-benar telah berada di puncak ilmunya.

Di balik sebuah batu padas, Ki Waskita terhenti sejenak. Ia menjadi ragu-ragu untuk melangkah maju. Karena itu, maka segera dilepasnya bajunya dan dilemparkannya dari balik batu padas itu.

Dugaannya ternyata, tidak salah. Begitu bajunya tersembul dari balik batu padas, sebuah anak panah yang besar telah menyambarnya.

“Hem,” Jaka Raras menarik nafas. Jika ia sendiri yang muncul, maka dadanya tentu akan tembus. Ia tahu benar, bahwa busur dan anak panah Panembahan Agung adalah busur dan anak panah yang khusus. Hampir tidak ada orang yang mampu menarik busurnya yang besar itu, selain mereka yang memiliki tenaga melampaui tenaga orang kebanyakan.

“Gila,” Panembahan Agung-lah yang berteriak kemudian ketika ia sadar, bahwa yang dikenainya sama sekalii bukan Jaka Raras, tetapi hanya selembar bajunya saja.

Dalam pada itu, Ki Waskita telah meloncat menyusup gerumbul perdu dan melingkari sebuah gundukan padas yang besar dan menjadi semakin dekat dari tempat Panembahan Agung. Tetapi ia harus hati-hati, bahwa setiap kali anak panah Panembahan itu akan dapat menyambar lehernya, sehingga ia tidak dapat menarik nafas sekali lagi.

Ternyata bahwa yang membingungkan Panembahan Agung kemudian sama sekali bukan bentuk-bentuk semu. Tetapi bentuk-bentuk wadag yang sebenarnya tidak mempunyai arti di dalam pertempuran itu. Baju Jaka Raras jauh lebih berarti daripada bentuk-bentuk apa pun yang mengerikan atau yang menggetarkan jantung. Ternyata Panembahan Agung yang tidak dapat dibingungkan dengan bentuk-bentuk semu itu menjadi bingung dan mengumpat-umpat tidak habis-habisnya karena selembar baju yang telah dikenainya dengan anak panahnya.

Kini Panembahan Agung memusatkan perhatiannya kepada keadaan di sekelilingnya. Ia sadar, bahwa setiap saat Jaka Raras akan muncul dan menerkamnya. Dicobanya untuk menangkap setiap gerak dan getar dari udara di sekelilingnya. Tetapi agaknya Jaka Raras berhasil membersihkan dirinya dari isyarat-isyarat yang akan dapat ditangkap oleh Panembahan Agung.

Tetapi Panembahan Agung tidak berdiri sendiri. Beberapa orang pengawal pilihannya pun segera menebar dan menjaga segala penjuru. Mereka pun sadar, bahwa lawan Panembahan Agung kali ini bukannya orang kebanyakan. Bahkan memiliki ilmu yang serupa dengan ilmu Panembahan Agung sendiri.

Karena itu, maka mereka pun telah menyiapkan senjata telanjang. Setiap saat Jaka Raras muncul, maka mereka akan beramai-ramai menyerangnya, sebelum Panembahan Agung akan mengakhiri nyawanya dengan anak panahnya yang luar biasa itu.

Dalam pada itu, Panembahan Agung yang dijalari oleh perasaan gelisah itu menjadi semakin tidak tenang lagi. Ketika ia melihat sesuatu bergerak di balik segunduk batu padas, maka tiba-tiba saja sebuah anak panah telah meluncur dengan cepatnya, seperti petir menyambar di langit. Batu padas itu seolah-olah meledak karena hantaman anak panah yang besar dan dengan kekuatan yang luar basa. Segumpal batu padas itu pecah dan berserakan menghambur di sekelilingnya.

Mereka yang melihat dan mendengar ledakan itu menahan nafas. Jika yang dikenalnya itu tubuh seseorang, maka tubuh ini tentu akan tembus oleh anak panah raksasa itu, dan tulang-tulangnya pun akan remuk menjadi debu.

Dalam pada itu, Ki Waskita pun menjadi berdebar-debar. Ia sadar akan kemampuan Panembahan Agung. Karena itu, maka ia pun harus berhati-hati.

Tetapi bagi Jaka Raras, tentu tidak mungkin melawan Panembahan Agung yang memiliki kesaktian tiada taranya itu hanya dengan tangannya. Karena itu, untuk beberapa saat ia menjadi ragu-ragu sambil berjongkok di balik sebuah batu besar. Sudah bertahun-tahun ia tidak mempergunakan senjatanya. Tetapi di dalam keadaan ini, ia tidak akan dapat berbuat lain.

Betapa pun ia dicengkam oleh keragu-raguan, namun akhirnya Ki Waskita itu pun melepaskan ikat pinggangnya yang besar, yang terbuat dari kulit berlapis baja pilahan. Kemudian diurainya sebuah rantai di bawah ikat pinggangnya dan sebuah cakram kecil bergerigi yang diambilnya dari kantong ikat pinggangnya. Dengan ragu-ragu Jaka Raras mengaitkan rantainya pada cakram bergerigi itu. Namun akhirnya ia berkata kepada diri sendiri, “Di dalam keadaan tanpa pilihan, adbmcadangan.wordpress.com aku tidak dapat berbuat lain. Aku masih belum ingin mati. Bukan saja karena aku masih harus membentuk anakku, tetapi jika aku mati maka akibatnya akan sangat luas. Panembahan Agung akan menjadi gila, dan orang orang Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh harus menyediakan banyak korban sebelum berhasil membiasakannya.

Karena itu, maka Jaka Raras pun kemudian menggeretakkan giginya, seakan-akan ingin mengusir keragu-raguan yang masih saja menggelitiknya.

Sambil menggeram maka Ki Waskita itu pun berkata kepada diri sendiri, “Bukan maksudku. Tetapi apa boleh buat.”

Namun sejenak Ki Waskita menundukkan kepalanya, bagaimana pun juga ia merasa bertanggung jawab atas perbuatannya. Bukan saja kepada orang lain, tetapi terutama kepada Penciptanya. Di dalam hatinya ia memohon agar jika perbuatannya itu sesat dari jalan yang telah dipilihnya selama ini, hendaklah diampuninya, karena yang dilakukannya itu semata-mata didorong oleh keinginannya menyelamatkan banyak orang dari kebuasan Panembahan Agung.

Sesaat kemudian, maka Ki Waskita itu pun membelitkan ikat pinggangnya yang berlapis baja dilengannya, ia dapat mempergunakan ikat pinggangnya itu sebagai perisai menghadapi anak panah Panembahan Agung.

“Tetapi anak panah itu bukan anak panah biasa,” katanya di dalam hati, “namun ikat pinggang ini pun bukan ikat pinggang biasa.”

Dengan demikian Ki Waskita kini sudah siap menghadapi lawannya yang paling berat. Setelah bertahun-tahun Ki Waskita menghindarkan diri dari tindakan kekerasan, sehingga anak laki-lakinya sama sekati tidak membayangkan bahwa ayahnya dapat melakukan hal serupa itu, kini terpaksa melakukannya.

“Mudah-mudahan hanya sekali saja lagi,” desisnya.

Menjelang Ki Waskita mengatur perasaannya dan memantapkan hatinya, maka Kiai Gringsing sudah sampai pada puncak pertempurannya.

Tangannya yang menggenggam cemeti itu seakan-akan telah dipenuhi dengan segenap kekuatan yang ada padanya, dan segenap kekuatan cadangan yang mampu dihimpunnya.

Pada saat terakhir Kiai Gringsing melihat lawannya, Panembahan Alit pun telah berada pada puncak kemampuannya dalam ilmu kebalnya, sehingga seakan-akan mereka berdua telah sampai pada saat yang menentukan, siepakah yang akan memenangkan pertempuran itu.

Rasa-rasanya setiap jantung dari mereka yang berada di seputar arena itu menjadi berhenti berdenyut melihat sikap kedua orang yang sudah sampai pada puncak ilmunya ini.

Beberapa saat keduanya masih melakukan gerakan-gerakan kecil, seakan-akan mencari kelemahan pada lawan masing-masing. Namun pada saatnya, keduanya sadar, bahwa pertempuran itu sudah mendekati akhirnya, siapa pun yang akan binasa.

Karena itu, ketika keduanya merasa bahwa mereka telah berada pada puncak kekuatannya, maka keduanya pun mulai mempersiapkan diri, untuk membenturkan ilmu masing-masing.

Ki Argapati yang memiliki kemampuan yang hampir sempurna itu pun menahan nafasnya. Seandainya kakinya tidak sedang cacat, maka ia akan dapat berbuat serupa, meskipun di dalam kenyataan terakhir, selagi Kiai Gringsing menghadapi puncak kesulitannya, ternyata mempunyai beberapa kelebihan yang menentukan.

Demikianlah lembah yang baru saja hiruk-pikuk oleh pertempuran yang sengit itu justru menjadi hening diam, namun betapa setiap hati dicengkam oleh ketegangan.

Sejenak kemudian perlahan-lahan tangan Kiai Gringsing mulai bergerak, sehingga ujung cambuknya mulai berjuntai perlahan-lahan. Ternyata gerakan itu telah menyentuh naluri Panembahan Alit, sehingga ia pun mulai melangkah ke samping. Tetapi ia tidak menunggu lebih lama lagi. Ia ingin perkelahian itu segera berakhir, siapa pun yang akan terkapar di tanah. Karena itu, maka ia pun segera mempersiapkan senjatanya. Sejenak ia memandang Kiai Gringsing sambil menggeram. Namun sejenak kemudian maka senjatanya itu pun mulai teracu.

Berhentilah segala tarikan malas dan detak jantung ketika tiba-tiba saja Panembahan Alit meloncat menyerang Kiai Gringsing dengan loncatan yang dilambari dengan puncak ilmunya, sehingga bagaikan loncatan petir di langit yang tidak mampu diikuti oleh mata telanjang.

Namun Kiai Grjngsing pun sudah mempersiapkan dirinya pula. Sekali cambuknya berputar, kemudian sebuah ayunan yang dahsyat telah menyongsong Panembahan Alit yang masih terapung di udara karena loncatannya.

Sebuah ledakan cambuk yang menggelegar rasa-rasanya telah mengguncangkan lembah itu. Orang-orang yang ada di sekitar arena itu sebelumnya telah mendengar cambuk itu meledak beberapa kali. Tetapi ledakan yang dilontarkan oleh puncak ilmunya itu rasa-rasanya telah memecahkan selaput telinga.

Panembahan Alit masih sempat menggeliat. Namun ia tidak dapat menghindari ujung cambuk Kiai Gringsing yang melecutnya jauh lebih cepat dari lecutan sewajarnya.

Terdengar Panembahan Alit menggeram. Tetapi ia masih sempat berdiri di atas kedua kakinya. Bahkan sebuah loncatan lagi yang tidak terduga telah mendorongnya mendekati Kiai Gringsing sambil mengacukan senjatanya.

Kiai Gringsing tidak sempat mengelak. Karena itulah maka ia tidak dapat berbuat lain daripada melindungi dadanya dengan lengannya. Betapa pun ia berusaha untuk memukul sisi pedang lawannya, namun Panembahan Alit sempat memutar pedangnya, sehingga lengan Kiai Gringsing tersobek karenanya.

Terdengar orang tua itu berdesis. Sekilas ia melihat darah mengalir dari luka itu.

Namun ternyata bahwa Panembahan Alit mampu bergerak terlalu cepat. Sekali lagi ia meloncat sambil, mematukkan senjatanya sehingga Kiai Gringsing kehilangan kesempatan untuk kedua kalinya. Meskipun Kiai Gringsing masih berusaha untuk mencondongkan tubuhnya, namun pedang itu telah tergores di pundaknya.

Kiai Gringsing sadar, bahwa ia tidak boleh kehilangan kesempatan berikutnya. Jika demikian maka ia akan kehilangan kesempatan untuk seterusnya. Karena itu, maka selagi Panembahan Alit menyiapkan serangan berikutnya, Kiai Gringsing sempat mendahuluinya. Sebuah ledakan cambuk yang dilambari oleh puncak ilmunya telah menggetarkan lembah itu. Tebing-tebing gunung bagaikan bergetar, dan dedaunan yang menguning satu-satu berguguran di tanah.

Tetapi rasa-rasanya setiap orang tidak mempercayai penglihatannya. Panembahan Alit masih tetap berdiri tegak dengan senjata di tangannya. Dua ledakan cambuk yang didorong oleh kekuatan yang tiada taranya, itu sama sekali tidak melukai kulitnya selagi Panembahan Alit berada di puncak ilmu kebalnya pula.

Sejenak Kiai Gringsing pun menjadi termangu-mangu. Namun ketika Panembahan Alit mulai bergerak, sekali lagi Kiai Gringsing mendahuluinya. Cambuknya meledak sekali lagi tanpa menghiraukan darahnya sendiri yang mengucur dari luka.

Panembahan Alit tampak bergoyang sedikit seperti sebatang pohon raksasa yang disentuh angin. Namun sekejap kemudian, ia ternyata masih sempat meloncat menyerang dengan pedang terjulur.

Kiai Gringsing sama sekali tidak menyangka, bahwa Panembahan Alit masih mampu melakukan serangan yang dahsyat itu. Karena itu, Kiai Gringsing kehilangan kesempatan sekali lagi. Kali ini lambungnya telah sobek oleh senjata Panembahan Alit. Untunglah bahwa ia mempergunakan ikat pinggang kulit yang tebal dan besar, sehingga dengan menyumbatkan kainnya yang dibelitkan pada ikat pinggangnya, Kiai Gringsing dapat mengurangi kucuran darah dan rasa sakit.

Tetapi dengan demikian tenaga Kiai Gringsing pun menjadi semakin lemah. Pemusatan ilmunya pun mulai menjadi kabur. Sejenak ia melihat Panembahan Alit masih berdiri tegak di hadapannya.

Dengan mata terbelalak Kiai Gringsing melihat, bahwa kulit Panembahan Alit benar-benar tidak dapat dilukainya meskipun ia sudah berada di puncak ilmunya. Meskipun demikian, Panembahan Alit itu bagaikan sudah tidak berpakaian lagu. Pakaiannya ternyata telah terbakar oleh ledakan dahsyat dari cambuk Kiai Gringsing yang dilambari oleh puncak ilmu simpanannya.

Lembah itu benar-benar telah dicengkam oleh keheningan yang sangat tegang. Semua orang yang berdiri melingkari arena pertempuran yang sangat dahsyat itu tidak dapat menahan kekaguman di dalam hati. Di tengah-tengah arena itu berdiri dua orang yang memiliki kelebihan yang hampir tiada bandingnya. Kiai Gringsing yang melepaskan puncak ilmunya itu telah mampu menimbulkan kekaguman yang sangat. Ternyata ujung cambuknya bukan saja mampu menyayat-nyayat pakaian Panembahan Alit. Tetapi ternyata bahwa bekas cambuk itu bagaikan bara api yang mampu membakar Panembahan itu sehingga menjadi hangus.

Namun kekaguman mereka pun kemudian bertumpu kepada kemampuan Panembahan Alit bertahan atas ujung cambuk Kiai Gringsing yang telah membakar pakaiannya itu. Kulitnya yang dilambari oleh ilmu kekebalan itu sama sekali tidak terluka. Meskipun tampak juga jalur-jalur kehitam-hitaman seakan-akan kulit itu telah disengat oleh api.

Sejenak Panembahan Alit masih berdiri tegak dengan pedang terjulur. Kemudian tampak Panembahan itu menggerakkan tangannya, siap untuk menusuk perut Kiai Gringsing yang sudah menjadi semakin lemah.

Tetapi Kiai Gringsing pun pantang menyerah. Dengan sisa puncak ilmu yang masih ada, sekali lagi ia meledakkan cambuknya, tepat mengenai leher Panembahan Alit.

Ternyata ilmu Panembahan Alit masih mampu bertahan. Lehernya sama sekali tidak terluka.

Tetapi orang-orang yang berdiri di sekitar arena itu pun kemudian menyaksikan perubahan yang terjadi pada keduanya. Kiai Gringsing yang kehilangan pemusatan ilmunya itu pun menjadi semakin tidak berdaya. Cambuknya tidak lagi menggetarkan tebing dan meruntuhkan dedaunan.

Namun dalam pada itu, orang-orang itu pun melihat tatap mata Panembahan Alit seakan-akan menjadi kosong di dalam keputus-asaannya. Ia tidak lagi berpengharapan apa pun selain membinasakan lawannya sebelum ia sendiri menyudahi hidupnya di peperangan.

Sejenak orang-orang yang berdiri di seputar arena itu menjadi tegang. Mereka melihat Kiai Gringsing melangkah surut. Dan mereka pun melihat Panembahan Alit selangkah maju mendekati dengan pedang di tangan.

Betapa pun juga, Kiai Gringsing masih tetap siap melecutkan cemetinya, meskipun pandangan matanya menjadi kabur. Darah yang mengalir dari lukanya telah membasahi sebagian besar tubuhnya. Luka-lukanya di pundak, lengan, dan lambung rasa-rasanya telah menghisap semua tenaganya dan bahkan pemusatan puncak ilmunya.

Ketika Panembahan Alit melangkah sekali lagi, maka dengan lemahnya Kiai Gringsing masih mengayunkan cambuknya. Tetapi cambuknya tidak lagi melecut dan meledak dalam gerak sendal pancing. Bahkan di luar kemampuan Kiai Gringsing yang lemah itu, ternyata ujung cambuknya telah tersangkut pada tubuh Panembahan Agung.

Di saat terakhir itulah Kiai Gringsing telah kehilangan segenap kemampuannya untuk bertahan. Matanya menjadi berkunang-kunang. Ia sadar, bahwa terlampau banyak darah yang mengalir dari lukanya, sehingga ia tidak mampu lagi mempertahankan puncak ilmunya.

Sekilas Kiai Gringsing masih melihat Panembahan Alit yang tidak dapat dilukainya itu masih berdiri tegak tanpa mengibaskan ujung cambuknya.

Sesaat kemudian, Kiai Gringsing sudah tidak mampu lagi mempertahankan keseimbangannya. Perlahan-lahan ia terhuyung-huyung dan jatuh pada lututnya. Ia masih mencoba berpegangan pada tangkai cambuknya yang ujungnya tersangkut pada lawannya. Tetapi rasa-rasanya kesadarannya menjadi semakin samar. Dan ia pun jatuh terlentang di atas tanah dengan perlahan-lahan.

Semua orang yang menyaksikan menahan nafas. Bakan rasa-rasanya jantung Agung Sedayu dan Swandaru akan meledak menyaksikan hal itu. Kekalahan gurunya akan berarti kebinasaan bagi semua orang yang ada di lembah itu, karena Panembahan Alit akan mampu mengalahkan setiap orang dari mereka. Apalagi apabila Panembahan Agung sendiri akan turun ke gelanggang.

Namun demikian, bukan saja keduanya, tetapi semua orang yang ada di sekitar arena itu telah membulatkan hati untuk melawan siapa pun juga tanpa menghiraukan apa pun akibatnya.

Tetapi ternyata bahwa sekali lagi mereka dicengkam oleh peristiwa yang menggetarkan dada mereka. Ternyata demikian Kai Gringsing terjatuh dan berpegangan pada tangkai cambuknya, perlahan-lahan Panembahan Alit pun bagaikan dihisap pula oleh ujung cambuk itu adbmcadangan.wordpress.com. Ternyata kemampuan jasmaniahnya terbatas pula seperti Kiai Gringsing. Meskipun kulitnya tidak terluka, namun Panembahan Alit telah kehilangan semua kekuatannya. Seperti Kiai Gringsing, maka perlahan-lahan Panembahan Alit pun terjerembab jatuh di atas tanah.

Mereka yang mengerumuni arena itu melihat, segumpal darah yang kehitam-hitaman meloncat dari mulut Panembahan Alit itu.

Sejenak orang-orang di sekitar arena itu terdiam mematung, namun Ki Argapati pun segera menyadari bahwa ia harus berbuat sesuatu. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa ia mendekati Kiai Gringsing yang sudah terbaring diam. Dilekatkannya telinganya di dada orang tua itu. Dan perlahan-lahan ia berdesis, “Aku masih mendengar detak jantungnya.”

Agung Sedayu, Swandaru dan orang-orang lain bagaikan sadar dari mimpi mereka yang paling buruk. Mereka pun segera berloncatan mendekatinya.

“Darah ini masih saja mengalir,” desis Ki Argapati. Lalu, “Jika Kiai Gringsing kehabisan darah, maka tidak ada jalan untuk menolongnya.”

Orang-orang yang ada di sekitarnya saling berpandangan sejenak. Kiai Gringsing sendiri sudah menjadi semakin lemah. Matanya terpejam dan nafasnya menjadi terengah-engah.

“Ki Gede,” tiba-tiba Agung Sedayu berdesis, “biasanya Kiai Gringsing membawa obat pada kantong ikat pinggangnya.”

“O,” Ki Argapati dengan tergesa-gesa mencari obat yang memang biasa dibawa oleh Kiai Gringsing.

Ternyata di kantong ikat pinggang Kiai Gringsing memang terdapat beberapa bumbung kecil berisi serbuk-serbuk obat. Tetapi Agung Sedayu tidak dapat mengatakan, yang manakah yang harus dipergunakan.

Dalam kebingungan itu, Ki Argapati mencoba berbisik ditelinga Kiai Gringsung, “Kiai, Kiai?”

Ternyata bahwa perlahan-lahan Kiai Gringsing masih sempat membuka matanya. Meskipun kabur, namun ia melihat bayangan orang-orang yang mengerumuninya.

Ki Argapati mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Ditunjukkannya beberapa buah bumbung di tangannya. Bumbung kecil yang berwarna wulung, yang lain berwarna kuning dan yang lain lagi dari ujung pring tutul yang berbintik-bintik.

Ketika Ki Argapati menunjukkan sebuah bumbung kecil yang terbuat dari pring gading, maka Kiai Gringsing mengangguk kecil.

Ki Argapati tidak menyia-nyiakan waktu. Ia tahu bahwa obat yang dicarinya terdapat di dalam bumbung kecil itu. Karena itu, maka ia pun segera membukanya dan menaburkan serbuk berwarna putih kehitam-hitaman ke atas luka-luka di lengan, pundak dan lambung Kiai Gringsing.

Betapa lemahnya orang tua itu, namun ternyata perasaan sakit yang menyengat membuatnya menggeliat. Namun kemudian orang tua itu mengatupkan bibirya rapat-rapat. Bahkan Kiai Gringsing itu pun kemudian jatuh pingsan.

Namun dalam pada itu, ternyata obat yang ditaburkannya di atas luka-lukanya mulai bekerja. Perlahan-lahan darah yang mengalir itu pun menjadi mampat.

“Mudah-mudahan kita berhasil,” desis Ki Demang yang sejak semula berdiri saja seperti patung.

“Mudah-mudahan,” desis Ki Argapati.

Di belakang Ki Argapati, Pandan Wangi berdiri termangu-mangu. Sekilas terkenang ujung dari peristiwa ini. Semula yang akan dilakukannya hanyalah sekedar berburu di hutan liar itu. Tetapi akhirnya ia telah menyeret Tanah Perdikan Menoreh ke dalam peperangan yang gawat. Sudah barang tentu ada beberapa orang korban yang jatuh. Dan bahkan di hadapannya seorang tua yang memiliki ilmu hampir sempurna ini pun terbaring diam dengan beberapa buah luka di tubuhnya.

Tetapi ketika orang-orang itu melihat luka di tubuh Gringsing tidak lagi mengucurkan darah, mereka menjadi agak tenang dan berpengharapan.

Dalam pada itu, barulah mereka teringat pada tubuh yang lain yang terbaring tidak jauh dari tempat itu. Tubuh Panembahan Alit.

Prastawa yang pertama-tama menyentuh tubuh itu, menarik rafas dalam-dalam sambil berkata, “Ia sudah meninggal.”

Ki Argapati mengerutkan keningnya. Orang-orang yang lain telah menyibak. Dan Ki Argapati pun mendekati tubuh yang terbaring diam itu. sementara Ki Demang di Sangkal Putung masih tetap menunggui Kiai Gringsing.

Ketika Ki Argapati meraba-raba tubuh Panembahan Alit yang bagaikan disengat oleh bara api hampir di seluruh tubuhnya, meskipun tubuh itu tidak terluka sama sekali, terasa betapa kedahsyatan ilmu Kiai Grmgsing telah meremukkan tulang-tulangnya.

“Panembahan Alit memang seorang yang kebal,” berkata Ki Argapati, “tetapi ternyata bagian tubuhnya tidak mampu bertahan atas ujung cambuk Kiai Gringsing. Ujung cambuk yang mampu membakar pakaiannya dengan ledakan-ledakan yang dahsyat dan membuat jalur-jalur hitam di kulit yang kebal ini.”

Orang-orang yang kemudian mengerumuni tubuh yang terbaring diam itu menjadi semakin kagum. Kagum akan kekebalan kulit Panembahan Alit dan kagum akan kedahsyatan tenaga Kiai Gringsing yang mampu meremukkan bagian dalam tubuh Panembahan Alit itu.

“Jika kita tidak bersama Kiai Gringsing dan Ki Waskita,” berkata Sutawijaya kemudian dengan nada yang dalam dan datar, “aku kira, yang akan kembali hanyalah sekedar nama-nama kita saja.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia teringat Ki Waskita, sehingga tanpa sesadarnya ia berkata, “Ya, Ki Waskita masih belum ada di antara kita.”

Semua orang menengadahkan wajahnya. Mereka tidak lagi melihat bentuk-bentuk semu di sekitar lembah itu. Karena itu, maka Pandan Wangi pun berdesis, “Masih ada seorang yang lain yang harus dihadapi.”

“Ya, Panembahan Agung,” desis Sutawijaya.

Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi tampak ketegangan membayang di wajahnya. Panembahan Agung tentu memiliki kemampuan yang setidak-tidakmya mengimbangi kemampuan Panembahan Alit di dalam olah kanuragan, selain ilmu semunya. Dan Ki Argapati tidak lagi dapat mengharapkan Kai Gringsing yang sudah terluka parah.

Namun dalam pada itu mereka semuanya terkejut ketika mereka mendengar seseorang berkata di antara mereka, “Serahkan Panembahan Agung kepada Ki Waskita.”

“Ki Sumangkar,” desis beberapa orang bersamaan. Perhatian mereka yang terpusat kepada Kiai Gringsing dan Panembahan Alit membuat mereka tidak segera melhat kehadiran Ki Sumangkar yang membimbing seorang anak muda.

Sumangkar tersenyum. Tetapi di wajahnya masih nampak ketegangan yang mencengkam perasaannya. Sambil membimbng Rudita ia melangkah maju.

“Aku telah mengambil Rudita dari sarang mereka,” berkata Sumangkar.

“Syukurlah,” Pandan Wangi-lah yang meloncat ke depan. Wajahnya seolah-olah memancar meskipun hanya sejenak. “Jadi, tidak terjadi apa-apa atasmu Rudita?”

Rudita termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian menggelengkan kepalanya.

“Kau tidak mengalami sesuatu?” bertanya Pandan Wangi seolah-olah tidak percaya.

Sekali lagi Rudita menggeleng. Perlahan-lahan ia menjawab seolah-olah suaranya tersangkut di kerongkongannya, “Tidak, Pandan Wangi.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam sambil menekankan tangannya di dadanya, “Syukurlah. Tuhan masih melindungi kita semua.”

Namun dalam pada itu Ki Argapati bertanya, “Tetapi di manakah Ki Waskita?”

“Aku sudah menyerahkan anak ini kepada ayahnya. Tetapi Ki Waskita mengembalikannya kepadaku. Ia kini sedang berusaha untuk menemukan Panembahan Agung.”

“O,” dada Ki Argapati menjadi berdebar-debar.

“Ia merasa berkewajiban untuk menemukannya,” sambung Ki Sumangkar.

“Tetapi, apakah Ki Waskita sudah siap menghadapinya dengan segala macam cara?” bertanya Ki Argapati.

“Ia cukup masak di dalam sikap. Karena itu, ia tentu dapat mengukur dirinya sendiri sebelum ia memutuskan untuk menemui Panembahan Agung.”

Ki Argapati tidak menyahut. Namun nampak kecemasan membayang di wajahnya meskipun tidak dikatakannya, karena jika dengan demikian Rudita akan menjadi semakin gelisah.

“Ki Waskita minta agar Rudita berada di antara kita. Agaknya tidak lagi akan ada bahaya yang mengancam. Seandainya masih ada juga, maka kita bersama-sama akan dapat melindungnya.”

Ki Argapati masih saja mengangguk-anggukkan kepalanya.

Namun tiba-tiba saja Ki Sumangkar bertanya, “Jadi bagaimana dengan Kiai Gringsing?”

Ki Argapati berpaling memandangi tubuh Kiai Gringsing yang masih terbaring ditunggui oleh Ki Demang Sangkal Putung.

“Lukanya sudah tidak lagi mengucurkan darah. Tetapi ia menjadi sangat lemah.”

“Luka itu tampaknya cukup parah.”

“Ya, cukup parah. Mudah-mudahan kita tidak terlambat. Darahnya sudah terlampau banyak mengalir.”

Ki Sumangkar termenung sejenak. Namun kemudian perlahan-lahan ia melangkah mendekati Kiai Gringsing.

“Ia pingsan,” desis Ki Argapati.

“Tetapi ia sudah mulai menggerakkan pelupuk matanya,” desis Ki Demang Sangkal Putung.

“Apakah tidak ada setitik air yang dapat dipercikkan ke bibirnya. Agaknya Kiai Gringsing merasa haus sekali.”

“Kita belum tahu, apakah ada air di sekitar tempat ini. Dan seandainya di padukuhan itu ada air, apakah airnya masih dapat kita minum tanpa kecurigaan apa pun juga.”

Ki Sumangkar menjadi termangu-mangu. Ia sadar, bahwa segala cara dapat dipakai oleh lawan untuk membunuh musuhnya. Dan Ki Sumangkar pun kadang-kadang masih merasa ngeri mendengar cerita tentang racun di Alas Mentaok.

Ketika Ki Sumangkar kemudian berjongkok di samping Kiai Gringsing, ternyata orang itu sudah mulai sadar. Karena itu maka Ki Sumangkar pun kemudian berkata, “Jika Kiai Gringsing mendapatkan kesadarannya sepenuhnya kembali, kita berpengharapan besar bahwa ia akan dapat sembuh kembali. Kiai Grngsing tentu dapat menyebut obat apakah yang diperlukannya.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu katanya, “Apakah tidak sebaiknya Kiai Gringsing kita sisihkan dan kita tempatkan di tempat yang agak tenang?”

“Sebaiknya demikian. Biarlah murid-muridnya membawanya ke bawah pepohonan yang rimbun di kaki tebing itu,” sahut Sumangkar.

Demikianlah maka Agung Sedayu dan Swandaru membawa Kiai Gringsing yang masih sangat lemah itu menepi. Tetapi Kiai Gringsing ternyata sudah tidak pingsan lagi. Tetapi wajahnya masih sangat pucat dan tubuhnya sangat lemah.

Dalam pada itu, ketika Kiai Gringsing sudah berada di tempat yang lebih tenang, maka Ki Argapati pun mulai menanyakan lagi tentang Ki Waskita.

“Ia pergi seorang diri.”

Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam, lalu, “Apakah tidak sebaiknya kita menyusulnya?”

Sumangkar merenung selenak, lalu, “Ki Gede. Sebaiknya Ki Gede berada di tempat ini. Kiai Gringsing tidak akan dapat ditinggalkan begitu saja. Biar aku sajalah yang mencari Ki Waskita. Mungkin aku dapat menemukannya.”

Ki Argapati memandang Ki Sumangkar sejenak, lalu, “Tugas itu cukup berbahaya, Ki Sumangkar.”

“Aku sadari. Tetapi aku sudah berniat melakukannya,” tanpa disadari Ki Sumangkar memandang kaki Ki Gede yang cacat, sehingga Ki Gede Menoreh memotong kata-katanya, “Aku mengerti, Ki Sumangkar. Agaknya Ki Sumangkar mencemaskan kakiku.”

“Bukan, Ki Gede,” cepat-cepat Sumangkar menyahut, “bukan hanya karena itu. Tetapi ada sebab-sebabnya yang lain. Dan agaknya Ki Argapati memang lebih baik berada di sini.”

“Jika demikian, biarlah aku saja yang ikut bersamamu,” berkata Sutawijaya tiba-tiba.

Ki Sumangkar memandang anak muda itu sejenak, lalu, “Angger memimpin pasukan dari Mataram.”

Sutawijaya termenung seienak. Kemudian dilontarkannya pandangan matanya ke padepokan yang sudah benar-benar dikuasai oleh pasukan Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh.

Maka katanya kemudian, “Di sini sudah tidak ada apa apa lagi. Pasukan kita sudah menguasai keadaan sepenuhnya.”

“Tetapi persoalannya belum berarti selesai. Jika timbul sesuatu yang memerlukan keputusan Raden, maka Raden harus berada di antara mereka.”

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak membantah lagi.

Dalam pada itu Ki Sumangkar pun kemudian berkata, “aku akan pergi sendiri. Aku serahkan Rudita kepada Ki Argapati. Mudah-mudahan aku segera menemukannya.”

“Hati-hatilah,” pesan Ki Argapati, “Panembahan Alit telah berhasil mengimbangi kemampuan Kiai Gringsing. Bahkan hampir saja membawanya serta ke dalam kekuasaan maut. Karena itu Panembahan Agung tentu merupakan orang yang lebih berbahaya dari Panembahan Alit itu.”

“Baiklah, Ki Gede,” jawab Sumangkar, “aku akan sangat berhati-hati.”

Demikianlah maka Ki Sumangkar pun meninggalkan para pemimpin pasukan Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh yang sedang menunggui Kiai Gringsing. Namun agaknya keadaan Kiai Gringsing sendiri menjadi berangsur baik.

Dengan tergesa-gesa Sumangkar mencoba mencari jejak yang ditinggalkan oleh Ki waskita. Karena Ki Waskita tidak berusaha untuk menghilangkan jejaknya, maka Ki Sumangkar dapat melihat dengan jelas. Ranting-ranting yang patah, rerumputan yang terinjak kaki dan jejak-jejak kaki di atas tanah berdebu di sela-sela batu padas.

Sementara itu, Panembahan Agung masih menunggu. Beberapa orang pengawalnya yang menebar dengan penuh kewaspadaan mengawasi segala penjuru. Setiap saat Ki Waskita yang juga disebut Jaka Raras itu dapat meloncat menyerang.

Ki Waskita sendiri tidak berani bertindak dengan tergesa-gesa. Ia pun menyadari bahwa Panembahan Agung bukan orang yang dapat diabaikan kemampuannya, meskipun Jaka Raras sendiri memiliki bekal yang cukup untuk melawannya. Panahnya dan kekuatan busurnya yang besar, merupakan senjata yang sangat dahsyat. Jika anak panah itu berhasil menyentuh tubuhnya maka tulang-tulangnya pun akan menjadi lumat karenanya.

Karena itu Ki Waskita harus memperhitungkan sebaik-baiknya, apakah yang harus dilakukannya.

Dari tempatnya bersembunyi, ia dapat melihat samar-samar beberapa orang pengawal Panembahan Agung, sehingga karena itu ia harus bertindak dengan tepat. Jika pengawalnya itu dapat mengetahui, bahwa ia bersembunyi di balik gerumbul atau batu, maka Panembahan Agung tentu akan menghancurkan batu atau membakar gerumbul itu dengan panahnya yang besar sekali itu.

Sejenak Ki Waskita mencari cara yang paling baik dilakukan. Ia pun sadar, bahwa para pengawal Panembahan Agung itu tentu bukan orang-orang kebanyakan pula. Mereka tentu dipilih di antara pengawal yang lain.

Panembahan Agung sendiri menjadi sangat tegang. Sudah beberapa lama ia menunggu. Rasa-rasanya bahkan sudah terlampau lama. Tetapi Ki Waskita masih belum berbuat sesuatu.

Tetapi Ki Waskita tidak dapat dipancingnya keluar. Panembahan Agung sadar bahwa Ki Waskita yang dikenalnya bernama Jaka Raras itu pun mempunyai perhitungan yang masak pula.

Karena itu untuk beberapa saat lamanya, kedua belah pihak hanya saling menunggu saja. Panembahan Agung tidak dapat mencari Ki Waskita, sedang Ki Waskita tidak segera menemukan cara untuk menyerang, karena Panembahan Agung memiliki beberapa orang pengawal. Jika ia menyerang juga, maka kedatangannya tentu sudah diketahui sebelumnya, dan anak panah Panembahan Agung akan menghujaninya tanpa kesempatan untuk mengelak sama sekali.

Dalam pada itu, Sumangkar pun menjadi semakin dekat pula dengan arena ketegangan yang senyap itu. Dari puncak bukit ia mencoba memandang ke tebing seberang. Sejenak Sumangkar merenung. Ia tahu pasti, bahwa jejak Ki Waskita berhenti untuk sesaat di tempat itu.

Tiba-tiba dadanya menjadi berdebar-debar. Di lereng, ia melihat beberapa buah bintik yang bergerak-gerak. Ia melihat beberapa orang yang berdiri dan berjalan-jalan hilir-mudik.

“Apakah mereka itu Panembahan Agung dengan pengawalnya?” bertanya Sumangkar di dalam hati.

Tetapi Sumangkar tidak yakin akan penglihatannya. Kadang-kadang ia masih saja ragu-ragu, bahwa ia melihat bentuk semu yang sebenarnya sama sekali tidak ada.

Karena itu untuk beberapa saat Sumangkar tidak melanjutkan langkahnya. Ia masih menunggu, apakah sebenarnya yang dilihatnya itu.

Sementara itu, Ki Waskita yang masih saja bersembunyi di balik sebuah batu, tiba-tiba mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejengkal ia bergeser. Dilihatnya seseorang yang berdiri beberapa langkah daripadanya, menghadap ke arah yang lain. Ketika dengan hati-hati ia menjenguk semakin jauh, dilihatnya orang yang lain lagi dengan senjata telanjang di tangannya.

Tiba-tiba saja Ki Waskita bertekad untuk mulai. Ia tidak dapat berada di balik batu untuk waktu yang tidak terbatas. Apa pun yang terjadi, ia sudah bertekad untuk melawan Panembahan Agung sejadi-jadinya.

Sejenak ia memusatkan kemampuan lahir dan batinnya. Sekali lagi ia memohon kepada Penciptanya, agar ia mendapatkan petunjuk, apakah yang harus dilakukannya.

Dalam pada itu, para pengawal Panembahan Agung itu pun tiba-tiba terkejut ketika mereka melihat seseorang yang merunduk dari balik sebuah batu dan hilang di belakang semak-semak.

Sejenak mereka termangu-mangu. Namun kemudian salah seorang dari mereka berdesis, “Aku melihat sesuatu bergerak di balik gerumbul itu.”

“Ya. Aku juga,” sahut yang lain.

“Kita lihat, siapa yang berada di balik gerumbul itu. Jika benar yang kita lihat itu seseorang, maka tentu orang yang sedang kita tunggu itulah.”

Dengan hati-hati keduanya mendekati gerumbul itu. Beberapa langkah kemudian mereka berpencar. Mereka ingin mencapai orang yang bersembunyi itu dari dua arah.

Namun agaknya orang yang bersembunyi itu telah melihat keduanya lebih dahulu, karena tiba-tiba saja orang itu pun merunduk berlari meninggalkan gerumbul itu ke gerumbul yang lain.

Setelah yakin bahwa yang ditunggunya berusaha menghindar maka salah seorang dari kedua pengawal itu berkata lantang, “Orang itu berada di sini.”

Para pengawal yang lain pun berlari-larian mendekatinya. Dengan tegang pengawal itu menunjuk sebuah gerumbul perdu yang rimbun sambil berkata, “Kepung gerumbul perdu itu.”

Dalam pada itu, Panembahan Agung pun menjadi tegang. Dari tempatnya ia tidak melihat sesuatu, sehingga karena itu ia bertanya, “Apakah yang kalian lihat?”

“Seseorang. Tentu yang sedang mengejar kita,” jawab salah seorang.

“Di mana?”

“Ia berlari dari balik batu besar itu, kemudian bersembunyi di balik gerumbul-gerumbul. Kita akan mengepungnya, agar orang itu tidak dapat lolos lagi.”

Panembahan Agung menjadi ragu-ragu. Tetapi ia berkata, “Giringlah orang itu mendekat, agar aku dapat melumatkannya dengan anak panahku.”

“Baik, Panembahan.”

“Tetapi hati-hatilah. Ia bukan orang kebanyakan. Jika kalian tidak berhasil, berilah aku tanda sebelum kalian semuanya punah oleh ilmunya.”

Para pengawalnya itu pun kemudian berdiri dalam sebuah lingkaran mengepung sebuah gerumbul yang rimbun. Selangkah demi selangkah mereka maju, sedang Panembahan Agung pun sudah siap dengan anak panahnya.

Namun betapa terkejut Panembahan Agung, ketika ia mendengar desir lembut di belakangnya. Dengan cepatnya ia memutar tubuhnya. Dan dilihatnya Jaka Raras itu berdiri beberapa langkah dari padanya.

“Gila,” Panembahan Agung itu bergumam.

“Ajaklah anak buahmu mengenal bentuk-bentuk semu itu Panembahan, agar anak buahmu tidak mengejar sekedar bayangan yang tidak berarti.”

Panembahan Agung tidak menjawab. Ia harus bertindak cepat menghadapi seseorang yang memiliki kelebihan seperti Jaka Raras itu agar ia tidak menjadi korban kelambatannya. Itulah sebabnya ia tidak menyahut lagi. Namun hampir tidak dapat dilihat dengan mata, tangannya telah memasang anak panah pada busurnya, menarik talinya, dan sekejap kemudian sebuah anak panah raksasa telah meluncur mengarah ke dada Jaka Raras.

Tetapi Jaka Raras pun sudah bersiap menghadapi serangan itu. Selangkah ia bergeser, dan anak panah itu menghantam sebuah batu padas di belakangnya sehingga pecah berantakan.

Namun Jaka Raras terkejut, bahwa sebelum ia sempat memperbaiki keseimbangannya, anak panah kedua telah terlepas dari busurnya. Dengan demikian Jaka Raras tidak dapat berbuat lain daripada melemparkan dirinya sekali lagi agar anak panah itu tidak menyambar lehernya.

Tetapi demikian kakinya menginjak tanah berbatu padas, anak panah ketiga telah mengarah ke dadanya pula. Tidak ada kesempatan baginya untuk menghindar. Karena itu, maka tidak ada cara lain daripada melindungi dadanya dengan menangkis anak panah raksasa itu.

Meskipun Jaka Raras masih agak ragu-ragu, tetapi ia tidak sempat membuat banyak pertimbangan. Diangkatnya tangannya yang dibalut dengan ikat pinggangnya yang berlapis baja tipis, tetapi baja pilihan.

Sejenak kemudian terdengarlah benturan yang sangat dahsyat. Sepercik bunga api meloncat keudara ketika mata anak panah Panembahan Agung menghantam baja pilihan lapisan dari ikat pinggang Ki Waskita yang dililitkan di tangannya itu.

Selangkah Ki Waskita terdesak surut. Tetapi ternyata bahwa lapisan baja pada ikat pinggangnya tidak sobek oleh ujung anak panah raksasa itu, meskipun tampak juga bekasnya yang lekuk cukup dalam.

Panembahan Agung menjadi termangu-mangu melihat kemampuan Jaka Raras. Apalagi ketika Panembahan Agung melepaskan anak panahnya yang berikutnya.

Jaka Raras yang telah berhasil menyiapkan dirinya, berdiri agak condong ke depan. Sebuah kakinya ditekuknya pada lututnya sedang kakinya yang lain ditariknya sedikit ke belakang. Tangan kirinya yang dibalut dengan ikat pinggangnya siap untuk menangkis setiap serangan, sedang tangannya yang lain telah memutar rantainya yang pada ujungnya disangkutkan sebuah cakram kecil yang bergerigi.

“Gila,” geram Panembahan Agung, “kau berhasil menangkis anak panahku.”

“Panembahan,” berkata Ki Waskita, “kita sudah menjadi semakin tua. Sebaiknya kita berbuat baik bagi sesama. Karena itu, cobalah mengerti, bahwa tidak ada gunanya lagi kau menumbuhkan pertengkaran di antara kita.”

“Tutup mulutmu!” bentak Panembahan Agung. “Sebentar lagi kau akan mati dan dicincang oleh pengawal-pengawalku.”

Ki Waskita terdiam sejenak. Dilihatnya para pengawal Panembahan Agung yang agaknya sudah menyadari kesalahan mereka.

Sejenak Ki Waskita berdiri termangu-mangu. Dilihatnya para pengawal itu memandanginya masih dari tempat mereka disesatkan oleh bentuk semu yang dibuat oleh Ki Waskita.

“Jaka Raras,” berkata Panembahan Agung, “jangan menyesal bahwa kau sudah menyusul aku. Agaknya kau benar-benar sudah jemu hidup. Jika kau sudah menemukan anakmu, sebenarnya persoalanmu sudah selesai. Dan kau tidak perlu ikut campur dalam persoalan-persoalan berikut.”

Ki Waskita menarik nafas. Katanya, “Panembahan Agung. Aku sudah berjanji di dalam diriku sendiri untuk menghentikan petualanganmu yang sesat itu. Kenapa kau tidak mendengarkan tawaranku. Berhentilah. Dan marilah kita berbuat baik untuk tanah kelahiran kita. Kita tahu bahwa Mataram itu kini sedang tumbuh. Apakah salahnya jika kita justru membantu. Bukan menghalang-halangi. Sudah berapa puluh korban yang jatuh dalam usahamu menggagalkan perkembangan Mataram karena ternyata kau sendiri menghendakinya. Hantu-hantuanmu telah gagal. Racun yang kau sebarkan di daerah yang sedang dibuka itu pun tidak berhasil. Kemudian kau mencoba membenturkan Pajang dan Mataram ketika Senapati Pajang di daerah Selatan ini, Untara, sedang melangsungkan perkawinannya. Yang terakhir kau berusaha menutup daerah yang seharusnya sedang berkembang itu dari dunia luar. Nah, kenapa kau tidak berpikir untuk menghentikan usahamu yang selalu gagal itu?”

“Jaka Raras,” jawab Panembahan Agung, “setiap orang tentu mempunyai cita-cita. Aku pun mempunyai cita-cita. Apakah yang akan aku dapatkan jika Mataram menjadi ramai dan bahkan menjadi sebuah negeri. Aku hormat kepada Ki Gede Pemanahan, tetapi aku membenci Sutawijaya dalam segala bentuknya. Ia adalah putera angkat Sultan Pajang. Seharusnya ia tunduk kepada semua perintah ayah angkatnya, karena Sultan Pajang bukan saja ayah angkatnya, tetapi juga guru dan rajanya adbmcadangan.wordpress.com. Tiga kedudukan yang seharusnya memaksa Sutawijaya itu untuk tidak berbuat khianat kepada Pajang. Tetapi apa yang dilakukannya. Ia membuka Mataram dengan tujuan yang tidak baik. Ia ingin menghisap kebesaran Pajang ke Mataram. Dan yang terakhir, ia telah menodai seorang gadis yang dipersiapkan untuk menjadi isteri Sultan Pajang itu sendiri. Yang seharusnya menjadi ibunya.”

Jaka Raras mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Setiap orang dapat memandang Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabehi Loring Pasar itu dari seginya masing-masing. Dan kau memandang dari segi yang buram. Tetapi demikian juga setiap orang berhak menyebut Sultan Pajang dengan semua kelebihan dan kekurangannya sehingga memaksa Sutawijaya untuk berbuat sesuatu.”

“Apakah bedanya solah tingkah Sutawijaya itu dengan yang sedang aku lakukan? Kita masing-masing ingin mengambil alih kekuasaan Pajang. Dan kita masing-masing mempunyai cara kita sendiri.”

“Panembahan Agung,” berkata Jaka Raras, “apakah sebenarnya Sutawijaya itu sudah melakukan seperti yang kau katakan? Alas Mentaok sudah resmi diserahkan kepadanya oleh ayahandanya Sultan Pajang. Apakah salahnya jika ia membuka hutan itu dan kemudian mengusahakannya menjadi negeri yang ramai?”

“Kau jangan berpura-pura bodoh, Jaka Raras. Aku tahu kau memiliki ketajaman penglihatan lahir dan batin. Kau bukan saja mampu membuat uraian atas peristiwa-peristiwa yang terjadi, kemudian membuat kesimpulan berdasarkan perhitungan. Tetapi kau juga mampu melihat dari segi yang lain dari perhitungan nalarmu. Nah, karena itu jangan mencoba membodohkan diri sendiri.”

“Hanya karena prasangka buruk saja kau berpendapat demikian, Panembahan Agung, yang juga bergelar Panembahan Cahyakusuma dan pernah menyebut dirimu sendiri dengan Panembahan Panjer Bumi atau barangkali masih ada sebutan-sebutan lain. Seharusnya kau tidak usah berprasangka demikian. Biarlah Mataram berkembang.”

“Kau memiliki kemampuan tiada bandingnya. Tetapi jiwamu adalah jiwa penjilat kecil yang sama sekali tidak bercita-cita selain menggantungkan diri kepada orang lain. Kenapa kau tidak ingin berbuat sesuatu yang dapat mengangkat derajadmu? Kenapa kau sekedar menerima nasibmu yang buruk itu?”

“Setiap orang dapat bercita-cita setinggi bintang. Tetapi tidak setiap orang sampai hati berbuat onar seperti kau. Mengorbankan orang lain dan bahkan meletakkan bebanten tanpa hitungan. Caramu telah menimbulkan kekacauan dan bahkan kau harapkan peperangan antara Pajang dan Mataram. Apakah yang menarik dalam setiap peperangan? Kematian, luka-luka parah yang mengerikan? Anak-anak menjadi yatim dan perempuan menjadi janda? Adakah sepantasnya kita mencoba meraih cita-cita kita yang setinggi bintang itu dengan alas mayat yang bertimbun-timbun?”

“Kau memang berjiwa budak kecil yang hanya pantas menghambakan diri. Jika demikian sepanjang umurmu kau tidak akan dapat berdiri di depan.”

“Aku tidak memerlukannya, Panembahan Agung. Karena itu, marilah kita hentikan semuanya ini. Kau dapat bekerja bersama kami, membangun Mataram menjadi sebuah negeri.”

“Persetan! Jangan membujuk seperti membujuk anak kecil.”

“Jadi, apakah kita harus bertempur?”

“Apa boleh buat. Anak panahku pada suatu saat akan menyobek dadamu.”

Jaka Raras menarik nafas dalam-dalam. Dilihatnya para pengawal Panembahan Agung berdiri termangu-mangu.

“Panembahan,” berkata Jaka Raras, “aku terpaksa bertindak atasmu. Aku akan menghapuskan semua kemampuan ilmumu. Jika kau tetap bertahan, maka aku minta maaf, bahwa jiwamu pun akan serta bersama ilmumu yang kau pergunakan untuk tujuan yang sesat itu, meskipun bukan itulah yang aku kehendaki.”

Wajah Panembahan Agung menjadi merah padam. Ia benar-benar merasa terhina oleh Jaka Raras, seakan-akan Jaka Raras itu pasti, bahwa ia tidak akan dapat melawannya.

Karena itu, maka ia tidak berbicara lagi. Ia mulai lagi menghujani Jaka Raras dengan anak panah raksasa. Tetapi seperti yang sudah terjadi, Jaka Raras berhasil menangkis setiap anak panahnya. Sekali-sekali meloncat menghindar dan kadang-kadang memukul anak panah itu dengan cakram yang di putarnya seperti baling-baling.

Panembahan Agung menjadi semakin marah melihat kemampuan Jaka Raras yang seharusnya telah diketahuinya. Karena itu maka tiba-tiba saja ia berteriak, “Kepung orang ini! Hati-hati, jangan dikelabui lagi dengan bentuk-bentuk semu. Di hadapanku ia tidak akan sempat membuat bentuk-bentuk yang sebenarnya tidak ada itu.”

Series 77

KI WASKITA menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa beberapa orang Pengawal Panembahan Agung itu tentu bukan orang kebanyakan. Jika mereka bersama-sama menyerangnya, maka ia akan menjadi agak bingung juga. Namun ia sudah bertekad, bahwa ia harus terlibat dalam perkelahian yang kisruh sehingga Panembahan Agung akan menjadi ragu-ragu melepaskan anak panahnya, karena dengan demikian akan dapat mengenai anak buahnya sendiri. Atau ia justru harus langsung menyerang Panembahan Agung dalam jarak yang pendek, sehingga Panembahan Agung tidak sempat lagi melepaskan anak panah itu ke arahnya.

Dan agaknya cara yang kedua itulah yang condong akan diambil oleh Jaka Raras. Dengan tangkasnya ia meloncat maju sambil menangkis setiap serangan yang menghujaninya. Semakin lama semakin dekat. Ternyata bahwa ikat pinggangnya benar-benar memiliki kekuatan yang mengagumkan, sehingga ia tidak lagi mencemaskannya, bahwa ikat pinggang itu akan menjadi hancur.

Dalam pada itu, para pengawal Panembahan Agung pun mulai bergerak. Mereka sudah mendengar perintah yang diberikan oleh pemimpinnya, sehingga mereka sudah tidak ragu-ragu lagi untuk bertindak.

Tetapi sebelum mereka sempat berbuat apa-apa, mereka pun terkejut ketika mereka mendengar seseorang berkata, “He, Ki Sanak. Jangan ganggu Jaka Raras. Marilah kita membuat arena permainan sendiri.”

Para pengawal itu pun berpaling. Dilihatnya seseorang muncul dari balik gerumbul-gerumbul perdu di belakang mereka.

Sejenak para pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian salah seorang berkata, “Biarkan bentuk semu itu. Lawan Panembahan Agung yang licik itu tentu akan mencoba menahan kita di sini, agar ia tidak menjadi bingung karena ia harus melawan kita bersama-sama.”

“Lihatlah dengan saksama,” berkata orang itu, “ini bukan sekedar bentuk semu. Sebenarnyalah kau melihat seseorang yang berdiri di sini.”

Tetapi para pengawal itu menjadi ragu-ragu. Sementara Panembahan Agung hampir tidak mendapat kesempatan untuk membantu mereka, karena Jaka Raras berloncatan semakin mendekatinya.

“Jangan hiraukan,” sekali lagi seorang pengawal berdesis, “yang pasti, Jaka Raras itu sajalah yang harus kita binasakan.”

Para pengawal itu pun kemudian tidak menghiraukan lagi orang yang berdiri di depan gerumbul-gerumbul perdu itu. Dengan tergesa-gesa mereka pun kemudian siap untuk menerjunkan diri melawan Jaka Raras yang sedang bertempur melawan Panembahan Agung.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja salah seorang pengawal itu pun memekik tertahan. Ternyata senjata orang yang berdiri di depan gerumbul itu telah menyambar lengannya, sehingga lengannya itu pun tersobek karenanya.

“He,” salah seorang kawannya berdesis, “apakah kau benar-benar terluka, atau sekedar penglihatanku.”

Orang yang terluka itu terdorong beberapa langkah dan bersandar pada sebuah batu padas yang besar sambil menggeram, “Setan. Ia benar-benar melukai tanganku.”

“Nah, kalian harus percaya bahwa aku bukannya sekedar bentuk semu. Trisulaku telah berhasil menyobek lengan itu, dan sebentar lagi, dada kalian pun akan berlubang karenanya.”

Meskipun demikian para pengawal itu masih termangu-mangu sejenak sehingga mereka tidak segera melibatkan diri dalam perkelahian.

“He, siapakah orang itu,” Panembahan Agung yang sempat memperhatikan dengan seksama itu pun bertanya ketika ia sekilas melihat seseorang yang bersenjata sebuah trisula yang diikatkan pada ujung rantai, hampir seperti cakram bergerigi Jaka Raras.

“Ki Sumangkar,” Ki Waskita-lah yang menjawab, “ia akan menghancurkan pengawalmu.”

“Apakah kalian seperguruan di dalam olah kanuragan setelah kita berpisah dari perguruan kita itu?” bertanya Panembahan Agung.

“Ya. Kami seperguruan. Guru kami adalah tuntunan keadilan sehingga kami harus bekerja bersama melawanmu dan para pengawalmu kali ini.”

Panembahan Agung menjadi semakin marah sehingga rasa-rasanya dadanya akan meledak karenanya. Sambil menyerang Jaka Raras dengan anak panahnya ia berteriak, “Bunuhlah orang itu. Yang berdiri di hadapan kalian itu bukannya bentuk semu.”

Tetapi ketika para pengawal itu mulai menyadari sepenuhnya akan keadaan mereka, maka seorang lagi di antara mereka telah berteriak kesakitan. Trisula Sumangkar benar-benar telah menyambar lambung salah seorang dari mereka.

Yang lain tidak membiarkan Sumangkar mendahului lagi. Mereka pun segera menyerangnya hampir berbareng dengan senjata masing-masing.

Tetapi mereka tidak segera dapat mendekat. Sumangkar memutar rantai yang berujung trisula dan trisula yang lain di tangan kirinya.

Dengan demikian, maka di antara mereka, Sumangkar dan para pengawal Panembahan Agung itu pun segera timbul pertempuran yang sengit. Sumangkar harus melawan beberapa orang sekaligus yang mengepungnya rapat-rapat. Tetapi mereka tidak dapat dengan mudah menyerang Sumangkar yang mempunyai senjata yang aneh itu.

Meskipun demikian, karena jumlah mereka berlipat banyaknya, maka Sumangkar pun akhirnya harus berusaha melepaskan diri dari kepungan yang rapat itu. Untunglah bahwa di sekitarnya terdapat pohon-pohon perdu, sehingga Sumangkar dapat memanfaatkannya sebaik-baiknya.

“Licik,” teriak salah seorang pengawal Panembahan Agung, “kau tidak bertempur secara jantan.”

“Kenapa?” bertanya Sumangkar.

“Kau berlari-lari melingkar-lingkar di seputar gerumbul-gerumbul perdu. Bukan begitu caranya seorang laki-laki bertempur.”

“Maaf, aku akan bersikap jantan terhadap orang-orang yang bersikap jantan pula. Jika salah seorang dari kalian siap untuk berperang tanding, aku akan melayaninya dengan jantan.”

Sejenak para pengawal itu tidak menjawab. Namun sejenak kemudian salah seorang dari mereka berteriak, “Aku menantangmu. Marilah kita bertempur dengan jantan.”

“Aku tidak membawa saksi,” sahut Sumangkar sambil memutar senjatanya.

“Pengecut.”

“Aku mempunyai firasat bahwa kalian akan menjebak aku. Perang tanding itu sendiri adalah suatu cara yang licik dan pengecut.”

“Jangan banyak bicara.”

Di luar dugaan mereka, Sumangkar menjawab, “Baik.”

Dan Sumangkar pun tidak berbicara lagi. Tetapi ia masih mempergunakan caranya. Sekali-sekali ia menyusup di balik batang-batang perdu, kemudian berlari-lari dan dengan tiba-tiba ia menyerang dengan garangnya. Di antara gerumbul-gerumbul yang rimbun itu, sulitlah untuk dapat mengepungnya dan kemudian menyerang bersama-sama dari banyak arah.

Selagi Sumangkar bertempur dengan sengitnya, maka Panembahan Agung pun mengerahkan segenap kemampuannya untuk membinasakan Jaka Raras.

Tetapi anak panahnya seakan-akan tidak banyak berarti lagi. Jaka Raras mempunyai perisai yang dapat memunahkan serangan-serangan anak panah Panembahan Agung. Bahkan semakin lama Jaka Raras justru menjadi semakin dekat.

“Kau tidak akan dapat lari lagi, Panembahan. Aku tahu bahwa kau terikat pada tempatmu itu.”

“Persetan.”

Terdengar Jaka Raras tertawa. Suaranya dalam dan datar. Katanya, “Sekali lagi aku tawarkan kepadamu, hentikan semua kegiatanmu.”

“Syaratnya?” tiba-tiba Panembahan Agung bertanya.

“Aku akan memunahkan semua kesaktian yang ada padamu. Kau akan menjadi seorang panembahan yang baik dan hidup tenteram di padukuhanmu di mana pun yang kau kehendaki.”

“Gila. Syarat itulah yang gila. Lebih baik aku membunuhmu.”

Jaka Raras tidak menjawab. Ia disibukkan oleh anak panah yang bagaikan hujan menyerangnya. Namun ia berhasil menangkis dan menghindarinya.

Betapa pun banyaknya persediaan anak panah pada Panembahan Agung, namun semakin lama menjadi semakin susut juga, sejalan dengan kecemasan yang semakin mengguncangkan dadanya. Apalagi karena ia sadar, bahwa tidak akan banyak gunanya lagi ia melepaskan anak panah itu kepada lawannya.

Apabila sekilas ia melihat kepada pertempuran yang berlangsung antara pengawalnya melawan Sumangkar, maka ia tidak mendapat gambaran sama sekali, siapakah yang akan dapat menang. Setiap kali Sumangkar berlari bersembunyi di balik batang-batang perdu yang rimbun. Kemudian dengan tiba-tiba saja ia menyerang lawan-lawannya yang sedang mencarinya. Setiap kali adbmcadangan.wordpress.com justru ialah yang berhasil melukai lawannya, sehingga kekuatan para pengawal itu pun semakin lama menjadi semakin berkurang.

Sekali lagi, Panembahan Agung menggeram. Ia tidak dapat mengelakkan kenyataan itu. Yang terjadi bukannya sekedar bentuk-bentuk semu yang dilontarkan oleh Jaka Raras. Tetapi yang terjadi adalah sebenarnya terjadi. Pengawalnya tidak segera dapat mengalahkan lawannya, sehingga karena itu mereka tidak akan segera dapat membantunya.

Karena itu, maka Panembahan Agung pun tidak lagi ingin berbuat setengah-setengah. Ia sudah melepaskan ilmunya yang dahsyat dengan membingungkan lawannya. Tetapi ternyata di antara lawan-lawannya itu terdapat orang yang memiliki kemampuan yang serupa.

Dengan demikian maka Panembahan Agung pun berusaha untuk sampai kepada puncak ilmunya. Ilmu yang didapatkannya dari perguruannya. Ia tahu, bahwa lawannya juga pernah menerima ilmu itu dari gurunya. Tetapi ia mendapatkan lebih banyak sampai saatnya gurunya tidak lagi mampu menambah ilmu itu, justru karena ia lebih dekat pada gurunya itu daripada Jaka Raras. Pada saat maut tidak lagi terelakkan, karena usia yang lanjut, gurunya belum sempat meratakan ilmunya itu kepada Jaka Raras sampai setingkat dengan dirinya.

“Aku terpaksa membinasakannya dengan ilmu ini,” katanya di dalam hati, “jika tidak, maka akulah yang akan dibinasakannya, atau semua ilmuku akan dipunahkannya.”

Dalam pada itu, Sumangkar pun semakin lama semakin sibuk melayani lawan-lawannya yang marah. Tetapi ia masih dapat melawan dengan caranya. Dengan trisula di ujung rantainya dan dengan berlari-lari sambil bersembunyi. Namun yang kemudian menyerang dengan tiba-tiba.

Agaknya Sumangkar berhasil mengurangi jumlah lawannya. Tetapi ia masih belum berhasil melepaskan dirinya sama sekali dari bahaya yang masih selalu mengancamnya dari segala arah. Apalagi ketika kemudian terasa nafasnya mulai mengganggu.

Tetapi Sumangkar adalah saudara seperguruan Patih Mantahun dari Jipang yang dikenal seakan-akan memiliki nyawa rangkap. Karena itu, maka ia masih mampu mengatasi kesulitan yang ada di sekitarnya.

Namun demikian, jumlah lawannya yang banyak itu telah menimbulkan kesulitan yang beruntun. Ketika ujung tombak seorang lawannya berhasil menyentuhnya, maka rasa-rasanya dadanya mulai diganggu oleh debar yang semakin cepat.

Ternyata ketika ia bersembunyi di balik sebuah gerumbul yang rimbun, seorang lawannya yang marah tidak menunggunya atau mengitari gerumbul itu. Untung-untungan ia melontarkan tombaknya dengan sekuat tenaga. Namun ternyata bahwa ujung tombak itu justru berhasil mengenai lengan Sumangkar yang sedang bersembunyi di dalamnya, meskipun luka itu tidak terlampau dalam.

“Setan alas,” Sumangkar mengumpat. Kemarahannya bagaikan menyala sampai ke ujung ubun-ubun. Namun demikian ia harus menyadari bahwa kemampuannya pun terbatas. Apalagi menghadapi lawan yang jumlahnya cukup banyak.

Ternyata kemudian bahwa lawan-lawannya itu telah berhasil melukainya.

Sekilas teringat olehnya Kiai Gringsing yang terbaring dengan luka-lukanya pula. Bagi Sumangkar Kiai Gringsing adalah seorang yang memiliki kelebihan daripadanya betapa pun tipisnya. Meskipun di Jati Anom Kiai Gringsing pernah juga terluka, tetapi agaknya hal itu terjadi karena kesalahan yang dilakukan oleh Kiai Gringsing sendiri. Sedang berhadapan dengan Panembahan Alit, ternyata bahwa Kiai Gringsing tidak akan dapat menghindarkan diri dan luka-lukanya itu meskipun ia sama sekali tidak melakukan kesalahan di dalam pertempuran itu.

Dan kini, ia pun sudah mulai terluka. Seorang demi seorang lawan-lawannya bukannya orang yang harus disegani. Tetapi mereka berada di dalam satu kelompok yang berusaha mengepungnya dan menyerangnya dari segala penjuru.

Debar jantung Sumangkar terasa semakin cepat. Tangannya menggenggam senjata semakin erat. Ketika ia meraba lukanya dengan ujung jarinya, terasa ujung jari itu menjadi hangat oleh darah.

Tetapi Sumangkar tidak segera kehilangan akal. Ia masih tetap menguasai perasaannya. Karena itu ia tidak menjadi putus asa dan membabi buta. Ia masih sempat memperhitungkan dan mempertimbangkan setiap langkahnya.

Sementara itu Panembahan Agung yang sudah sampai pada puncak ilmunya, sudah siap untuk menghancurkan Jaka Raras. Namun Jaka Raras yang agaknya mengetahui bahwa Panembahan Agung berusaha untuk melontarkan ilmunya yang dahsyat, ia pun segera meloncat semakin dekat dan menyerangnya dengan cakramnya yang digantungkannya pada ujung rantainya.

Panembahan Agung mengumpat di dalam hati. Ia belum sempat melontarkan ilmunya itu ketika Jaka Raras mengayunkan cakramnya yang bergerigi itu hampir menyambar hidungnya.

Dengan demikian maka Panembahan Agung terpaksa mempergunakan busurnya untuk menangkis setiap serangan Jaka Raras, sedang tangannya yang lain menggenggam anak panahnya yang sekaligus dipergunakannya sebagai senjata yang mematuk-matuk.

Namun Jaka Raras ternyata sangat lincah. Ia mampu meloncat selincah anak kijang di padang perburuan. Ditambah lagi dengan ayunan senjatanya yang dahsyat itu.

Sekali-sekali terdengar Panembahan Agung menggeram ia belum mendapat kesempatan melontarkan ilmunya. Justru karena Jaka Raras berhasil mendekatinya sampai pada jarak putar cakramnya.

Namun Panembahan Agung pun memiliki kecepatan bergerak yarg luar biasa. Ketika terbuka sedikit kesempatan, maka anak panahnya telah melekat pada busurnya. Dalam jarak yang sangat pendek Panembahan Agung membidikkan anak panahnya.

Jaka Raras terkejut melihat kecepatan bergerak tangan Panembahan Agung itu. Namun jaraknya tidak lagi memungkinkannya untuk menyerang dengan cakramnya.

Karena itu, dadanya menjadi berdentangan. Jarak itu sangat pendek. Sedangkan Jaka Raras mengetahui dengan pasti kekuatan busur Panembahan Agung itu.

Tetapi Jaka Raras tidak membiarkan lehernya terputus oleh anak panah itu. Dengan memusatkan kekuatan pada tangan kirinya ia berdiri tegak. Justru memusatkan tatapan matanya kepada ujung anak panah Panembahan Agung itu.

Yang terjadi kemudian hanyalah beberapa saat yang pendek. Anak panah Panembahan Agung pun telah terlepas dari busurnya dan meluncur dengan cepatnya. Hampir berbareng, karena jarak yang sangat pendek, terdengar benturan yang sangat dahsyat. Jaka Raras terlontar beberapa langkah surut. Dorongan anak panah pada lengannya yang terbalut ikat pinggang itu benar-benar bagaikan merontokkan tulang-tulangnya.

Untunglah bahwa ia memiliki kemampuan dan ketahanan tubuh yang luar biasa sehingga ia masih sempat meloncat berdiri dan mempersiapkan diri dengan serangan berikutnya.

Tetapi Panembahan Agung tidak ingin menyerangnya lagi dengan anak panah, karena ia kini mendapat kesempatan untuk melontarkan puncak ilmunya.

Jaka Raras yang juga bernama Ki Waskita itu terkejut melihat tatapan mata Panembahan Agung. Ia tidak menduga bahwa Panembahan Agung telah sampai kepada ilmu simpanannya.

Untunglah bahwa Jaka Raras masih melihat seolah-olah asap yang tipis bergulung lepas dari mata Panembahan Agung.

Dengan serta-merta Jaka Raras meloncat dan berguling di atas batu-batu padas.

Pada saat itulah terdengar ledakan di sebelah Jaka Raras. Ternyata kekuatan aji pamungkas yang terlontar dari mata Panembahan Agung tidak mengenai sasarannya. Ketika kekuatan itu menyentuh batu padas, maka padas itu seakan-akan meledak.

“Kau gila Panembahan,” teriak Jaka Raras.

“Kau harus lumat dibakar oleh ilmu ini.”

Tetapi Jaka Raras tidak mau menjadi debu. Ia pun pernah menerima dasar-dasar dari ilmu yang dahsyat itu. Tetapi sebelum ia menjadi sempurna, bahkan belum sejauh Panembahan Agung yang dekat dengan gurunya, gurunya itu telah kehilangan kemampuannya karena kekuasaan yang seakan-akan tidak terbatas itu telah direnggut oleh Maha Kekuasaan yang tidak dapat dilawannya, dan yang sebenarnyalah memang tidak terbatas.

Namun dalam pada itu, sepeninggal gurunya ia masih sempat bersunyi diri mematangkan ilmu yang baru diterima dasar-dasarnya. Tetapi dengan dasar-dasar ilmu yang telah lengkap itu, ia telah berhasil membentuk dirinya pada saat itu menjadi orang yang luar biasa. Dengan mesu raga dan olah tapa, maka ternyata bahwa ia berhasil menguasai dan mengembangkan ilmu itu.

Itulah sebabnya, ketika ia diserang dengan kemampuan yang seakan-akan tidak terbatas itu, Jaka Raras benar-benar telah kehilangan pengekangan diri. Ia pun kemudian meloncat bangkit, berdiri pada kedua kakinya yang renggang, dan dengan wajah yang seakan-akan membara memandang mata Panembahan Agung yang mulai melepaskan asap yang tipis bergulung-gulung melibatnya.

Tetapi pada saat yang bersamaan, dari mata Jaka Raras pun telah memancar kabut yang tipis pula, sehingga sejenak kemudian gulungan asap tipis yang seakan-akan saling menyerang itu pun berbenturan dengan dahsyat sekali.

Tidak seorang pun yang mendengar sesuatu. Tidak seorang pun yang melihat batu-batu berguguran atau gumpalan api yang memancar. Namun terasa pada keduanya, maka dada mereka telah berguncang dengan dahsyatnya.

Benturan ilmu yang telah dilontarkan oleh dua buah ujung dari garis lurus yang menghubungkan pasangan mata kedua orang itu bagaikan guruh yang meledak hanya di dada masing-masing. Demikian dahsyatnya sehingga keduanya telah berguncang.

Sebenarnyalah telah terjadi pergolakan yang dahsyat di dalam diri masing-masing ketika keduanya kemudian saling perpandangan. Masing-masing telah mengerahkan segenap kemampuan yang ada di dalam dirinya.

Panembahan Agung telah menerima ilmu itu hampir lengkap dari gurunya, sedang Jaka Raras baru menerima dasar-dasarnya saja. Tetapi ia telah berhasil mengembangkannya sendiri dan justru tidak kalah dahsyatnya dengan yang dimiliki Panembahan Agung. Panembahan Agung menerima dari gurunya seakan-akan telah berada dalam tingkatnya yang sekarang, sedang Jaka Raras yang harus mencari kesempurnaannya sendiri, ternyata telah justru mendapatkan lebih banyak dari yang ada pada Panembahan Agung yang sudah puas dengan apa yang telah dimilikinya itu.

Sejenak mereka masih saling memandang. Dari segenap lubang kulit mereka, mengembun bintik-bintik keringat yang semakin lama bukan saja keringat yang bening, tetapi menjadi semburat merah seakan-akan di dalam butiran-butiran keringat itu mengembun pula warna darah.

Dengan sekuat tenaga keduanya mencoba mengerahkan segenap kemampuan yang ada di dalam diri mereka. Kedua macam ilmu yang serupa itu bagaikan saling mendesak dan mendorong.

Namun dengan demikian, maka tubuh kedua orang itu rasa-rasanya semakin lama menjadi semakin panas. Desakan-desakan yang tidak kasat mata itu membuat keduanya terbenam dalam ketegangan yang semakin memuncak.

Keringat yang semburat merah itu semakin lama justru menjadi semakin jelas berwarna darah. Semakin lama semakin rata di seluruh tubuh kedua orang yang sedang bertempur dengan ilmu yang dahsyat itu.

Untuk beberapa saat lamanya keduanya bagaikan menjadi patung. Nafas mereka semakin lama menjadi semakin cepat mengalir. Apalagi ketika kemudian dari ubun-ubun mereka seakan-akan telah mengepul kabut yang berwarna putih, seperti yang telah terlontar dari mata masing-masing.

Sejenak kemudian keduanya pun menjadi gemetar. Jantung mereka rasa-rasanya semakin lama semakin lemah, dan darah mereka pun mengalir semakin lambat. Tetapi dalam pada itu, keringat mereka telah benar-benar berwarna darah.

Tidak ada kekuatan seseorang yang dapat mencegah apa yang terjadi kemudian. Kedua sosok tubuh itu benar-benar telah menjadi gemetar seperti orang kedinginan. Perlahan-lahan keduanya telah kehilangan kekuatan mereka, sehingga akhirnya keduanya merasa bahwa pertempuran yang aneh itu memang harus segera berakhir.

Tetapi mereka masih belum tahu pasti, siapakah yang masih akan dapat menghisap udara pegunungan yang segar oleh angin lembah yang mengusap punggung-punggung bukit itu.

Jaka Raras pun kemudian tidak mampu lagi tetap berdiri tegak pada kedua kakinya. Perlahan-lahan ia jatuh berlutut dan mencoba menahan tubuhnya dengan kedua tangannya. Namun demikian ia masih tetap memandang sepasang mata Panembahan Agung yang masih juga memandanginya.

Dalam keadaan yang semakin lemah keduanya tidak mau melepaskan tatapan mata mereka, karena dari mata mereka itulah pancaran kekuatan mereka saling berbenturan. Betapa pun lemahnya keadaan mereka, namun keduanya masih tetap saling memandang dalam puncak ilmu masing-masing.

Dari tubuh kedua orang itu telah benar-benar mengalir keringat yang bercampur dengan darah. Wajah mereka menjadi kehitam-hitaman seakan-akan hangus terbakar oleh ilmu mereka masing-masing.

Dalam pada itu, Sumangkar pun masih harus bertempur mati-matian melawan para pengawal Panembahan Agung. Segores demi segores kulitnya telah disobek oleh senjata lawannya. Semakin lama semakin banyak. Seperti juga Panembahan Agung dan Jaka Raras, maka Sumangkar pun telah dibasahi oleh darahnya, meskipun tidak mengembun lewat lubang-lubang kulitnya, tetapi mengalir lewat luka senjata.

Tetapi senjata Sumangkar yang dahsyat itu masih juga sempat melukai lawan-lawannya. Seorang demi seorang telah tersentuh oleh ujung trisula, sehingga bukan saja dirinya sendiri yang terluka, tetapi beberapa orang lawannya pun telah dilukainya pula.

Namun demikian Sumangkar yang seorang diri itu semakin lama menjadi semakin lemah. Sedang jumlah lawannya masih cukup banyak mengepungnya dan mengejarnya kemana ia berlari dan bersembunyi sebelum ia tiba-tiba meloncat menyerang.

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak akan dapat berbuat lebih banyak lagi. Apalagi ketika ia sekilas melihat Jaka Raras yang berdiri pada lututnya dan menahan tubuhnya dengan kedua tangannya.

Tetapi bagi Sumangkar, tugas seorang di medan perang memang mengarah kepada kemungkinan yang paling pahit itu. Jika ia tidak berhasil, maka ia akan mati. Dan mati di peperangan adalah mati yang paling terhormat bagi seorang prajurit.

Meskipun Sumangkar sudah bukan seorang prajurit, tetapi tugasnya kini adalah tugas seorang prajurit, sehingga baginya apa pun yang akan terjadi, bukannya harus diratapi dan disesali. Meskipun demikian Sumangkar masih tetap bertempur sekuat tenaga.

Tetapi kemampuan dan tenaganya benar-benar tidak dapat dipaksakannya melampaui batas tertentu. Nafasnya yang semakin lama menjadi semakin dalam. Kekuatannya yang semakin susut, dan darah yang semakin banyak mengalir.

Namun dalam pada itu, selagi Sumangkar sudah hampir kehilangan kesempatan untuk mempertahankan hidupnya, seorang anak muda telah meloncat ke tengah-tengah perkelahian itu dengan sebatang tombak pendek. Kemudian disusul oleh dua orang yang lain dengan cambuk di tangannya.

Ketika seorang anak gadis muncul di antara mereka, maka terdengar anak muda bertombak pendek itu berdesis, “Tolonglah Paman Sumangkar lebih dahulu.”

Gadis itu adalah Pandan Wangi. Mereka yang datang ke arena itu adalah anak-anak muda yang merasa cemas karena Sumangkar yang pergi menyusul Panembahan Agung. Setelah mendapat ijin dari orang-orang tua, serta menyerahkan pimpinan pasukan Mataram kepada Ki Lurah Branjangan, maka Sutawijaya bersama dengan kedua murid Kiai Grinsing dan Pandan Wangi adbmcadangan.wordpress.com mencoba menyusulnya. Semula mereka hanya akan melihat apakah kira-kira yang telah terjadi. Namun dari puncak bukit mereka melihat bahwa di lereng seberang. Sumangkar sedang bertempur melawan beberapa orang yang mengeroyoknya.

Anak-anak muda yang melihat perkelahian yang tidak seimbang itu tidak dapat membiarkannya terjadi. Karena itu, maka mereka pun segera berlari turun dan berusaha membantu Sumangkar yang menjadi semakin lemah.

Pandan Wangi segera mendekati Sumangkar. Masih ada satu dua orang yang mencoba menyelesaikan hidup Sumangkar yang sudah hampir tidak dapat melawan sama sekali, sedang yang lain menghambur melawan anak-anak muda yang berdatangan itu.

Namun Pandan Wangi ternyata cukup cepat. Dengan sepasang pedangnya ia menyerang orang-orang yang masih berusaha menghabisi nyawa Sumangkar.

Sumangkar melihat kehadiran anak-anak muda itu. Terasa dadanya berdesir oleh haru yang mendalam. Apalagi ketika dilihatnya dengan lincah Pandan Wangi berhasil menghalau dua orang yang masih tetap berusaha menyerangnya.

Sesaat Sumangkar masih tetap berdiri di tempatnya. Namun kemudian terasa tubuhnya menjadi semakin lemah. Karena itu, maka ia pun melangkah tertatih-tatih menepi dan duduk bersandar pada sebatang pohon sambil menyaksikan pertempuran yang seakan-akan menyala semakin dahsyat antara anak-anak muda itu melawan para pengawal Panembahan Agung.

Sutawijaya, Agung Sedayu, Swandaru, dan Pandan Wangi bertempur dengan gigihnya. Senjata mereka yang terayun-ayun itu pun berhasil memecah kesatuan pengawal Panembahan Agung yang menjadi kisruh.

Sementara itu Sumangkar melihat dalam sekilas, bahwa anak-anak muda itu akan segera berhasil menguasai keadaan. Jumlah mereka cukup banyak untuk melawan para pengawal yang jumlahnya sudah menjadi semakin susut.

Demikianlah, maka seorang demi seorang para pengawal itu pun terluka oleh ujung pedang, tombak, dan cambuk. Betapa pun mereka berusaha, namun mereka tidak dapat melawan anak-anak muda yang darahnya seolah-olah mendidih menyaksikan perkelahian yang tidak seimbang, sehingga hampir saja membunuh Ki Sumangkar.

Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam, ketika ia melihat beberapa orang pengawal itu mencoba melarikan diri. Tetapi mereka justru tergelincir dan terperosok ke dalam tebing padas yang dalam, sehigga yang terdengar hanyalah teriakan ngeri yang menyayat.

Akhirnya, para pengawal Panembahan Agung itu pun tidak lagi dapat berbuat apa pun juga. Tiga orang yang tersisa, kemudian melemparkan senjatanya dan menyerah.

“Kalian benar-benar menyerah?” bertanya Sutawijaya.

“Ya. Kami benar-benar menyerah. Tetapi jangan bunuh kami.”

Sutawijaya memandang mereka sejenak, lalu, “Kalian harus diikat, sementara kami akan melihat pertempuran antara Panembahan Agung dan Ki Waskita itu.”

Ketiga orang pengawal yang menyerah itu tidak mengelak ketika tangan mereka kemudian diikat pada sebatang pohon dengan kain panjang mereka sendiri.

Dalam pada itu, maka anak-anak muda itu pun mendekati Ki Sumangkar dan bertanya, “Apakah Ki Sumangkar tidak terlampau parah?”

Sumangkar menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak. Aku telah mencoba mengurangi arus darah dari luka-lukaku dengan serbuk-serbuk ini yang aku dapatkan dari Kiai Gringsing.”

Sutawijaya melihat sebuah bumbung kecil di tangan Ki Sumangkar yang berisi serbuk seperti yang dikatakannya.

“Aku akan melihat pertempuran itu.”

“Hati-hatilah. Mereka tidak saja mempergunakan ilmu kanuragan. Jangan memasuki daerah kemampuan kekuatan aji mereka yang belum kita ketahui dengan pasti.”

Sutawijaya menganggukkan kepalanya. Ia tidak dapat membiarkan pula sesuatu terjadi atas Ki Waskita yang nampaknya telah menjadi sangat lemah dan berlutut di hadapan Panembahan Agung.

Dengan tergesa-gesa anak-anak muda itu berlari-lari mendekat arena itu. Tetapi langkah mereka tertegun beberapa langkah, ketika rasa-rasanya mereka telah menyentuh arena yang tidak dapat mereka masuki. Rasa-rasanya udara menjadi sangat panas dan mencengkam.

Yang dapat mereka lakukan adalah sekedar menyaksikan apa yang kemudian terjadi. Dengan hati yang berdebar-debar anak-anak muda itu menyaksikan Ki Waskita yang meskipun sudah berdiri di atas lututnya, namun ia masih tetap memandang mata Panembahan Agung. Sebaliknya Panembahan Agung pun masih tetap pula menatap sepasang mata Ki Waskita.

Namun dalam pada itu, anak-anak muda itu pun menjadi heran. Mereka hampir tidak percaya pada penglihatannya, bahwa Panembahan Agung di dalam keadaannya itu duduk bersila di atas sebuah amben kecil dengan sepasang kayu usungan. Tandu.

Serentak tumbuh dihati anak-anak muda itu dugaan, “Apakah Panembahan Agung telah diusung dengan tandu itu?”

Tetapi mereka tidak segera dapat kepastian. Yang dilihatnya adalah Panembahan Agung yang sedang bertempur itu duduk dengan lemahnya di atas sebuah amben kecil yang terikat dengan beberapa helai tali-temali pada usungan yang terletak di sebelah menyebelah amben kecil itu.

Untuk beberapa saat keduanya tetap dalam keadaannya. Mereka seakan-akan telah terpisah dengan dunia sekitarnya. Keduanya seakan-akan tidak melihat anak-anak muda yang ada di sekitar arena itu.

Dengan demikian keduanya masih tetap saling memandang. Agaknya ilmu mereka yang berdasarkan pada sumber yang sama itu sudah berada pada batas kemampuan mereka. Yang mereka lakukan kemudian adalah sekedar bertahan agar diri masing-masing tidak lumat dilanda oleh ilmu lawannya.

Tetapi keadaan itu pun sampai pula pada saatnya berakhir. Baik Panembahan Agung mau pun Jaka Raras benar-benar telah sampai pada batas kemampuan mereka. Namun batas itu ternyata berselisih beberapa kejap.

Pada saat terakhir, Panembahan Agung yang duduk bersila di atas ambennya itu masih sempat menghempaskan sisa-sisa kekuatannya pada saat yang pendek, sehingga hampir saja Jaka Raras kehilangan kemampuan untuk bertahan. Namun sekejap kemudian, ternyata Panembahan Agung benar-benar telah kehilangan segenap kekuatannya. Betapa pun ia mencoba bertahan namun perlahan-lahan kepalanya mulai menunduk dengan lemahnya.

Yang dapat dilakukan olehnya hanyalah mengatupkan giginya rapat-rapat. Tetapi kepalanya itu tetap bergerak perlahan-lahan.

Maka sampailah batas yang mengerikan itu. Ketika Panembahan Agung telah kehilangan segenap kekuatannya, ia pun tidak dapat lagi bertahan memandang sepasang mata Jaka Raras, sehingga dengan demikian, maka ilmunya pun perlahan-lahan menjadi padam sejalan dengan gerak kepalanya yang lemah itu.

Karena itulah, maka kekuatan ilmu Jaka Raras bagaikan mendapat kesempatan. Seakan-akan Panembahan Agung telah membuka pintu bagi serangan yang melontar dari kekeuatan ilmu Jaka Raras yang tidak kasat mata itu.

Demikianlah, maka sesaat Panembahan Agung terlepas dari kemampuan tatapan matanya, maka serasa api neraka telah melanda tubuhnya. Sejenak ia menggeliat. Namun ia pun kemudian terkapar tidak berdaya. Meskipun kakinya masih tetap bersila, namun tubuhnya terkulai di atas ambennya dan kepalanya seolah-olah bergantungan tanpa kekuatan sama sekali.

Panembahan Agung agaknya telah terbakar oleh ilmu yang dahsyat yang dilontarkan oleh Jaka Raras.

Namun dalam pada itu, dalam saat yang bersamaan, Jaka Raras pun seakan-akan telah kehilangan segenap kekuatannya pula. Sejenak ia bertahan pada lututnya, namun kemudian ia pun segera duduk bersila pula sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Kepalanya tertunduk dalam-dalam dan matanya telah terpejam.

Anak-anak muda itu berdiri termangu-mangu. Untuk beberapa lamanya mereka tidak tahu apa yang harus dilakukannya selain setiap kali memandang Jaka Raras yang duduk dengan kepala tunduk dan mata terpejam itu berganti-ganti dengan Panembahan Agung yang sudah terkulai dengan lemahnya.

Dalam ketegangan itu, mereka dikejutkan oleh suara di belakang mereka, “Pertempuran sudah selesai.”

Serentak anak-anak muda itu berpaling. Dilihatnya Sumangkar yang lemah berdiri di belakang mereka. Kedua tangannya memegangi luka-lukanya yang dirasanya paling pedih.

“Bagaimana dengan Ki Waskita?” bertanya Agung Sedayu.

“Ia sedang memusatkan segenap kekuatan untuk memulihkan tenaganya. Kekuatan yang tidak tampak di mata kita, tetapi ada di dalam dirinya.”

Anak-anak muda itu termangu-mangu sejenak. Tanpa sesadarnya Pandan Wangi memandang Panembahan Agung yang terkulai diam itu sambil berdesis, “Dan Panembahan Agung itu?”

“Ia kehabisan tenaga sama sekali, sehingga di saat terakhir kekuatan aji pamungkas Ki Waskta berhasil menghantamnya. Tetapi ternyata kekuatan itu pun tidak ada lagi sepersepuluh dari kemampuan yang sebenarnya sehingga Panembahan Agung tidak hancur menjadi debu karenanya.”

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu Sutawijaya pun kemudian bertanya, “Apakah kami dapat mendekati keduanya, Kiai?”

“Kita harus menunggu sampai Ki Waskita selesai dengan samadinya. Mudah-mudahan ia akan segera dapat pulih kembali.”

Anak-anak muda itu tidak menyahut. Mereka masih saja berdiri termangu-mangu memandang kedua orang yang sudah tidak berdaya itu berganti-ganti. Namun tiba-tiba saja Swandaru bertanya, “Paman Sumangkar, apakah Panembahan Agung itu mati.”

“Aku pun tidak tahu. Apakah ia mati atau sekedar pingsan karena kekuatan aji Ki Waskita yang sudah sangat lemah itu.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia pun kemudian bertanya pula, “Paman. Apakah sebenarnya amben kecil itu? Apakah benar amben itu sebuah tandu?”

“Ya,” jawab Sumangkar.

“Kenapa Panembahan Agung harus ditandu? Apakah ia tidak mau berjalan sendiri atau …”

Sumangkar menganggukkan kepalanya. Katanya, “Dugaanmu benar. Dari Ki Waskita aku mendengar bahwa Panembahan Agung memang cacat kaki. Lebih parah dari Ki Argapati. Tetapi bahwa ia harus berada di atas tandu itu pun baru aku ketahui ketika aku mengikuti perkelahian ini dan melibatkan diri ke dalamnya. Menilik keadaannya, maka Panembahan Agung telah mengalami cacat kaki yang sangat parah.”

Anak-anak muda itu saling berpandangan sejenak. Meskipun tidak mereka ucapkan, namun seakan-akan mereka berkata di dalam hatinya bersama-sama, “Ia telah mengimbangi cacat tubuhnya dengan ilmu yang luar biasa dahsyatnya.”

Dalam pada itu, Ki Waskita masih saja tekun dalam samadinya dalam usahanya untuk memulihkan segenap kekuatan tenaganya. Karena itu, ia sama sekali tidak menghiraukan apa pun yang terjadi di sekitarnya. Bahkan seandainya ada seekor harimau yang hendak menerkamnya pun ia tidak dapat melawannya sama sekali.

Karena itu, maka agar mereka tidak melakukan kesalahan, maka Sumangkar yang lemah itu pun berkata, “Baiklah, kita menunggunya sampai selesai. Lebh baik kita duduk sejenak di sini. Aku masih harus banyak beristirahat karena rasa-rasanya tubuhku terlampau lemah meskipun kini darah sudah tidak banyak mengalir lagi dari luka-lukaku. Sedangkan orang-orang yang terikat itu pun tidak akan dapat melepaskan diri mereka sendiri.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab, “Baiklah, Kiai. Kita sudah tidak tergesa-gesa lagi. Semuanya seakan-akan sudah selesai. Rudita sudah diketemukan dan sarang Panembahan Agung ini sudah kita kuasai pula seluruhnya.”

Dengan demikian, maka anak anak muda itu pun kemudian duduk di atas rerumputan menunggui Ki Waskita yang sedang samadi. Namun demikian, mereka masih saja selalu diganggu oleh kegelisahan. Mereka tidak dapat melepaskan diri dari perasaan, bahwa mereka masih tetap berada di medan peperangan.

Dada anak-anak muda itu bergetar ketika mereka melihat justru Panembahan Agung yang terkulai itulah yang mula-mula bergerak. Ternyata Panembahan Agung itu tidak mati. Bahkan perlahan-lahan ia berusaha mengangkat kepalanya dan bangkit duduk meskipun nampaknya masih terlampau lemah. Sejenak kepalanya tertunduk kembali karena kekuatannya sama sekali masih belum mampu menahan kepalanya yang tegak.

Sumangkar pun menjadi berdebar-debar. Ia mengenal Panembahan Agung sebagai seseorang yang memiliki ilmu yang luar biasa. Ia pun mengetahui bahwa busurnya yang besar itu dapat melontarkan anak panah raksasa yang dapat meledakkan kepala seseorang.

“Kiai,” berkata Sutawijaya, “Panembahan Agung itu seolah-olah bagaikan mayat yang bangkit lagi dari kuburnya. Mengerikan sekali. Ia akan dapat membakar kita dengan ilmunya.”

“Ya,” sahut Sumangkar.

“Kita mendahuluinya,” geram Swandaru, “kita membunuhnya selagi ia masih belum mampu berbuat apa-apa.”

Sumangkar berpikir sejenak. Agaknya pendapat Swandaru itu dapat dimengertinya. Lebih baik mendahuluinya daripada mereka harus dibakar hidup-hidup oleh ilmunya yang sangat dahsyat itu.

Namun demikian mereka masih tetap ragu-ragu. Sekilas mereka berpaling. Dilihatnya Ki Waskita masih duduk dalam samadinya.

Dalam pada itu, perlahan-lahan Panembahan Agung mendapatkan sebagian kecil kekuatannya kembali sehingga meskipun masih bersandar pada kedua telapak tangannya yang bertelekan di sisi tubuhnya, ia sudah berhasil mengangkat kepalanya.

Dalam pada itu, mereka yang ditinggalkan oleh anak-anak muda itu menyusul Ki Sumangkar menjadi cemas juga. Namun mereka percaya bahwa anak-anak muda yang sudah cukup matang menghadapi berbagai jenis medan itu akan dapat menolong diri mereka sendiri apabila terjadi sesuatu.

Sementara itu, pasukan pengawal Menoreh dan pasukan pangawal dari Mataram telah benar-benar menguasai seluruh padepokan yang oleh Panembahan Agung disebutnya Padepokan Medang.

Sebagian dari para pengawal padepokan itu dapat dikuasai hidup-hidup. Namun korban pun berserakan hampir tidak terhitung jumlahnya dari kedua belah pihak. Namun karena pasukan Mataram dan Menoreh telah mempersiapkan diri menghadapi medan yang membingungkan, justru korban di antara mereka tidak jatuh sebanyak korban dari padepokan itu sendiri. Para pengawal Panembahan Agung ternyata telah terguncang oleh kenyataan yang tidak mereka duga-duga adbmcadangan.wordpress.com. Mereka menyangka bahwa hanya Panembahan Agung sajalah yang dapat menciptakan kebohongan-kebohongan yang membingungkan. Namun ternyata bahwa lawan mereka pun mampu melakukannya, sehingga karena mereka belum bersiap sama sekali menghadapi hal itu, justru merekalah yang menjadi sangat bingung sehingga korban berjatuhan tanpa hitungan.

Apalagi para pemimpin padepokan itu. Tidak seorang pun yang berusaha untuk tetap hidup. Sepeninggal Putut Nantang Pati dan Daksina, apalagi kemudian Panembahan Alit, maka mereka pun bagaikan saling mendahului membunuh diri di peperangan.

Dalam pada itu, Kiai Gringsing yang lemah sudah dibawa ke padepokan. Dibaringkannya tubuhnya di pembaringan yang terletak di sebuah gubug kecil dekat regol terdepan padepokan Panembahan Alit.

Namun Kiai Gringsing sudah dapat memberikan petunjuk kepada Ki Demang Sangkal Putung, bagaimana merawat luka-lukanya sendiri. Sementara itu Ki Argapati dan Prastawa sibuk mengatur para pengawal yang memasuki padepokan itu. Menempatkan mereka di tempat-tempat yang pantas mendapat pengawasan dan menjaga para tawanan yang menyerah.

Sementara itu beberapa orang pemimpin pengawal dari Mataram telah mengatur beberapa orang pengawal dan para tawanan untuk membersihkan medan. Menyingkirkan mayat yang berserakan dan mengurus penguburannya.

Di dalam kesibukan itu, Ki Lurah Branjangan segera dapat mengenali beberapa orang yang sebenarnya prajurit-prajurit Pajang. Baik yang menjadi korban di dalam peperangan itu, maupun yang masih hidup dan menjadi tawanan.

Tetapi mereka adalah prajurit-prajurit. Mereka tidak akan dapat memberikan banyak keterangan selain menyebut nama Daksina sebagai senapati mereka yang telah membawa mereka ke padepokan terpencil itu.

Namun dengan demikian semakin nyata bagi Ki Lurah Branjangan, bahwa sebenarnyalah Pajang telah terpecah. Seperti dirinya sendiri yang pernah menjadi seorang senapati di Pajang, kini telah berada di antara para pengawal di tanah Mataram yang sedang berkembang itu. Dengan demikian maka ternyata bahwa kekuatan Pajang telah terpecah dalam bagian-bagian kecil yang saling bertentangan dan bahkan saling bertempur. Jika di peperangan ini ia bertemu dengan Daksina, itu berarti bahwa dua orang Senapati Pajang telah berhadapan di bawah panji-panji yang berbeda warna. Namun dengan demikian, warna-warna itu seakan-akan telah melambangkan keringkihan Pajang yang semakin lama menjadi semakin parah.

Sementara itu, selagi orang-orang di padepokan itu sibuk dengan menyingkirkan mayat-mayat yang akan dikubur di tempat yang masih harus dicari, maka Ki Pemanahan yang berada di Mataram dengan gelisah menunggu kedatangan Sutawijaya. Namun sebagai seorang prajurit ia menyadari, bahwa tugas Sutawijaya tidak akan dapat diselesaikan dalam waktu satu dua hari saja. Mungkin Sutawijaya berhasil menduduki sarang orang-orang bersenjata itu, tetapi tentu diperlukan waktu untuk menguasainya sama sekali.

Namun dalam pada itu, yang seakan-akan membuat Ki Gede Pemanahan tidak sabar lagi menunggunya adalah berita yang sudah sampai di telinganya, yang bersumber dari seorang prajurit Pajang, bahwa Sutawijaya telah melakukan tindakan yang tercela. Ia telah melakukan kesalahan yang besar sekali terhadap Sultan Pajang, yang telah mengangkat menjadi anaknya dan mengasihinya seperti anaknya sendiri.

“Jika berita ini benar, celakalah Sutawijaya. Sultan Pajang mempunyai alasan yang kuat untuk menghukum Sutawijaya. Jika beberapa daerah sebelumnya menyetujui sikapnya, meskipun hanya di dalam hati, tentu akan melepaskan dukungannya terhadap Mataram. Beberapa orang bupati yang menjunjung tinggi nilai kesopanan, akan mengutuknya dan meninggalkannya dalam kesulitan. Bahkan mereka tentu akan mendukung tindakan Sultan Pajang seandainya mereka akan menangkap Sutawijaya,” keluh Ki Gede Pemanahan di dalam hati.

Sekali-sekali Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Meskipun ia tidak segera mengambil tindakan berhubung dengan berita yang sampai kepadanya, namun ia merasa seakan-akan tersiksa karenanya.

Karena itu, ketika ia tidak dapat menahan hati lagi, masa diperintahkannya beberapa orang penghubung untuk menyusul Sutawijaya ke Menoreh.

“Katakan kepadanya, jika persoalan yang dihadapinya sudah selesai, ia harus segera kembali ke Mataram. Ada sesuatu yang sangat penting untuk dibicarakan,” berkata Ki Gede kepada utusan itu.

Utusan itu menjadi termangu-mangu. Kepergian Sutawijaya ke Menoreh dengan membawa pasukan berkuda adalah untuk melakukan tugas yang cukup berat. Namun tiba-tiba Ki Gede Pemanahan seolah-olah tidak sabar menunggunya dan memerintahkan puteranya segera kembali ke Mataram.

Karena itu maka utusan itu pun memberanikan diri untuk bertanya, “Ki Gede. Kami kurang mengerti Bukankah kepergian Raden Sutawijaya itu untuk menunaikan tugas pengamanan daerah Mataram?”

“Ya. Tetapi yang harus kau sampaikan itu ada juga sangkut pautnya dengan pengamanan daerah yang sedang kita buka ini. Justru tidak kalah pentingnya dengan persoalan yang kini sedang dihadapi oleh Sutawijaya di Menoreh.”

“Apakah aku dapat menyampaikan persoalan itu kepada Raden Sutawijaya.”

Ki Gede menggelengkan kepalanya. Katanya, “Kau tidak usah menyebut persoalan itu. Mungkin Sutawijaya sendiri tidak segera mengetahui apakah yang akan dijumpainya di dalam persoalan yang aku pesankan kepadamu. Itu tidak penting. Yang penting biarlah Sutawijaya segera kembali.”

“Tetapi bagaimanakah jika tugas itu belum selesai.”

Ki Gede Pemanahan termangu-mangu sejenak.

“Panggilan ini tentu akan menggelisahkannya, Ki Gede. Jika Raden Sutawijaya sedang berada di medan, sudah tentu bahwa aku tidak akan dapat menyampaikan kepadanya.”

“Kenapa?” bertanya Ki Gede.

“Aku mengetahui benar tabiat Raden Sutawijaya. Jika ia dikecewakan oleh sesuatu persoalan, selagi persoalannya yang dahulu belum selesai, ia akan menjadi marah, dan berbuat atas landasan perasaannya.”

“Kau benar.”

“Jadi?”

“BaiKiah. Jika ia masih berada di medan, kau dapat menunggunya sampai selesai. Mudah-mudahan ia tidak mengalami sesuatu di tlatah Menoreh, dan bahkan mudah-mudahan ia dapat berhasil.” Ki Gede berhenti sejenak, lalu, “Tetapi ingatlah, ia harus segera berada di Mataram, sebelum ada persoalan yang datang justru dari Pajang.”

Penghubung itu mengerutkan keningnya. Tetapi Ki Gede berkata seterusnya, “Jangan kau pikirkan apa yang telah terjadi dengan Sutawijaya. Tugasmu adalah membawanya kembali. Biar aku sajalah yang menyampaikan persoalan itu kepadanya, agar tidak terjadi salah mengerti.”

“Baiklah, Ki Gede.”

“Nah, berangkatlah. Pergilah ke induk Tanah Perdikan Menoreh. Kebijaksanaan selanjutnya ada padamu.”

Demikianlah maka penghubung itu pun segera berkemas. Dengan tiga orang kawannya maka ia pun segera berangkat menyeberangi Sungai Praga.

Ternyata di lereng perbukitan padas di perbatasan Menoreh, Raden Sutawijaya bersama anak-anak muda murid Kiai Gringsing, Pandan Wangi, dan Ki Sumangkar sedang dicengkam oleh kegelisahan.

Panembahan Agung itu pun perlahan-lahan mencoba sekali lagi mengangkat wajahnya. Namun sekail lagi wajah itu tertunduk. Agaknya masih belum cukup kekuatan padanya untuk memandang keadaan di sekelilingnya dengan tatapan matanya.

Sementara itu, Swandaru hampir tidak sabar lagi. Sekali lagi ia berdesis, “Apakah kita akan menunggu Panembahan Agung itu berhasil membangunkan kekuatannya dan membakar kita di sini menjadi debu?”

Sutawijaya memandang Ki Sumangkar sejenak, seakan-akan mencari jawab atas pertanyaan Swandaru itu yang memang dapat dimengertinya.

Sekilas Ki Sumangkar memandang Panembahan Agung yang lemah. Nampaknya betapa pun ia berusaha, tetapi ia masih tetap tidak bertenaga. Ia hanya berhasil bangkit dan duduk bertelekan kedua tangannya dengan kepala yang seakan-akan terkulai tunduk tidak bertulang lagi.

Namun tiba-tiba Sutawijaya berdesis, “Apakah ia memiliki ilmu kebal seperti Panembahan Alit. Jika tidak, maka ia tentu sudah menjadi debu oleh kekuatan ilmu Ki Waskita.”

Anak-anak muda itu saling berpandangan. Hampir bersamaan mereka pun memandang kepada Ki Sumangkar. Swandaru-lah yang mula-mula bertanya kepadanya, “Apakah Panembahan Agung itu juga kebal seperti Panembahan Alit?”

Ki Sumangkar menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak mengerti. Tetapi kemungkinan itu memang ada. Ternyata ia berhasil lolos dari maut oleh kekuatan ilmu Ki Waskita. Tubuhnya sama sekali tidak terluka meskipun menjadi kehitam-hitaman.”

Anak-anak muda itu menjadi tegang. Jika benar Panembahan Agung juga memiliki ilmu kebal, maka sudah barang tentu mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa. Hanya Kiai Gringsing-lah yang akan berhasil meremukkan bagian dalam orang itu meskipun kulitnya masih tetap utuh. Tetapi Kiai Gringsing bangkit pun seakan-akan tidak mampu lagi karena luka-lukanya yang agak parah.

Dalam keragu-raguan itulah mereka melihat Panembahan Agung bergerak-gerak lagi. Dengan sepenuh sisa tenaga yang dapat dibangunkannya lagi, ia berusaha mengangkat wajahnya yang kehitam-hitaman.

Betapa pun beratnya, namun akhirnya Panembahan Agung itu berhasil. Ia berhasil mengangkat wajahnya dan memandang keadaan di sekelilingnya. Tatapan matanya itu pun kemumudian terhenti ketika terlihat olehnya Ki Sumangkar bersama anak-anak muda yang sedang termangu-mangu itu.

Debar di jantung Ki Sumangkar dan anak-anak muda itu pun rasa-rasanya menjadi semakin cepat. Mereka hanya dapat berdiri tegak memandang Panembahan Agung dari tempat mereka. Rasa-rasanya mereka bagaikan melekat di atas tanah tempat mereka berdiri.

Sejenak Panembahan Agung menggeram. Matanya masih memandang kepada Ki Sumangkar dan anak-anak muda yang ada di sekitarnya.

“Panembahan Agung sedang menyiapkan ilmunya,” berkata anak-anak muda itu di dalam hatinya.

Namun tiba-tiba anak-anak muda itu mendengar Ki Sumangkar berkata, “Kita harus memencar. Jika tenaga itu tumbuh lagi di mata Panembahan Agung, kita tidak bersama-sama terbakar.”

“Bagus,” desis Sutawijaya, “kita bersembunyi di balik batu-batu padas.”

Anak-anak muda itu pun telah siap untuk meloncat memencar agar mereka tidak hangus bersama-sama. Dari tempat mereka bersembunyi mereka akan dapat berusaha melawan Panembahan Agung sejauh dapat mereka lakukan.

Namun sebelum mereka melangkahkan kaki mereka, terdengar suara lemah di belakang mereka, “Kalian tidak usah menyingkir ke mana pun.”

Serentak mereka berpaling. Dan mereka pun merasa seolah-olah telah terlepas dari mulut seekor harimau yang paling ganas. Mereka melihat Ki Waskita telah mengangkat wajahnya meskipun ia masih duduk bersila.

“Ki Sumangkar,” berkata Ki Waskita, “kau tidak usah cemas lagi terhadap Panembahan Agung. Meskipun ia masih tetap hidup tetapi ia tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. Ia telah kehilangan sebagian besar dari dirinya sendiri. Ia sudah tidak dapat memancarkan ilmunya yang dahsyat itu lagi. Di dalam keadaan yang terakhir, kita berjuang untuk saling menghancurkan sumber ilmu yang ada di dalam diri kita masing-masing, bukan bentuk jasmaniah ini meskipun siapa yang menang akan dengan mudah dapat menjadikan bentuk jasmaniah ini menjadi debu.”

Sumangkar mengerutkan keningnya. Sejenak ia memandang Panembahan Agung yang masih juga memandang ke arahnya dan anak-anak muda yang berdiri di sekitarnya.

Namun tiba-tiba Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Baru kini ia sadar, bahwa tatapan mata Panembahan Agung itu bagaikan tatapan sebutir batu hitam. Tanpa sorot dan tanpa lukisan kehendak sama sekali.

Tiba-tiba saja Sumangkar menjadi ngeri. Seakan-akan ia melihat sebuah sumur yang sudah mati, namun dalamnya tidak dapat dijajagi. Dalam sekali tanpa dasar, namun kosong.

Agaknya anak-anak muda. yang ada di sekitarnya pun menangkap keadaan itu pula, sehingga Pandan Wangi yang meremang di seluruh tubuhnya bergeser mendekatinya sambil berdesis, “Kiai, apakah yang sebenarnya terjadi?”

Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Sambil memandang Panembahan Agung ia berkata, “Ia telah kehilangan segala-galanya yang ingin ia miliki di dunia ini. Ilmunya, kedudukannya, dan kini dirinya sendiri.”

Pandan Wangi bergeser semakin mendekati Sumangkar. Meskipun ia prajurit di medan perang, tetapi kesan yang ditangkapnya pada Panembahan Agung agak berbeda. Semula ia sudah siap untuk pergi memencar dan berjuang seorang demi seorang. Tetapi kini justru ia menjadi ngeri dan seakan-akan ia ingin berlindung di belakang Sumangkar yang telah mengalami luka-luka.

Dalam pada itu, perlahan-lahan Ki Waskita pun berdiri pula. Dengan kening yang berkerut ia melangkah mendekati Panembahan Agung yang masih duduk sambil memandang berkeliling. Seakan-akan ia menjadi heran melihat alam yang gumelar di sekitarnya.

Ketika Ki Sumangkar melangkah mengikutinya, Pandan Wangi pun ikut pula di belakangnya diiringi oleh anak-anak muda yang lain.

Beberapa langkah di hadapan Panembahan Agung, Ki Waskita pun berdiri tegak. Kemudian sambil membungkukkan kepalanya ia bertanya, “Apa kabar, Panembahan?”

Panembahan Agung memandanginya sejenak, lalu terdengar ia bertanya. Namun Ki Sumangkar dan anak-anak muda itu terkejut mendengar suaranya yang tidak ubahnya suara seorang tua yang sudah pikun, “Kau siapa, he?”

“Panembahan, apakah Panembahan tidak mengenali aku lagi? Aku Jaka Raras.”

“Jaka Raras,” Panembahan Agung mengingat-ingat. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya, “Siapakah Jaka Raras itu?”

“Aku Panembahan.”

“Kenapa kau panggil aku Panembahan.”

“Bukankah kau menyebut dirimu Panembahan Agung?”

Panembahan Agung itu mengangkat alisnya, lalu, “Aku tidak mengerti.”

“Baiklah. Jika kau tidak mengenal lagi dirimu sebagai Panembahan Agung, biarlah aku memanggilmu Gantar, yang kemudian kau lengkapi namamu menjadi Gantar Angin. Kau ingat.”

“Ya, ya. Aku adalah Gantar Angin.”

“Dan aku adalah Jaka Raras.”

“Jaka Raras,” orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengingat-ingat. Lalu, “O, aku ingat sekarang. Kau Jaka Raras. Ya, Jaka Raras yang dungu itu.” Terdengar suara orang itu tertawa terkekeh-kekeh. Suara tertawa seorang tua.

Namun tiba-tiba suara tertawanya terhenti. Sambil mengerutkan keningnya ia berdesis, “Jaka Raras. Ya, kita pernah berguru bersama.”

“Benar. Kau sudah menemukan permulaan dari kesadaranmu. Cobalah, kau telusuri ingatan itu, sehingga kau tentu akan menemukan keadaanmu sekarang, sebagai seorang Panembahan yang menyebut dirinya Panembahan Agung.”

Orang yang menyebut dirinya Panembahan Agung itu termenung sejenak. Ia masih tetap duduk bersila di atas sebuah amben kecil. Sekali-sekali ia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan tangannya yang lemah ia mencoba mengusap keningnya yang sudah menjadi kehitam-hitaman.

Tetapi, ketika kulitnya bersinggungan, Panembahan Agung itu menyeringai menahan sakit.

“O,” Pandan Wangi semakin bergeser di belakang Sumangkar. Ia menjadi bertambah ngeri melihat keadaannya. Rasa-rasanya ia benar-benar menghadapi sesosok mayat yang hidup kembali.

“Jaka Raras,” berkata Panembahan Agung, “di manakah aku sekarang ini berada?”

“Jangan kau cari di mana kau sekarang. Telusurilah kenanganmu sejak kita bersama-sama berguru.”

Panembahan Agung tidak segera menjawab. Dengan ingatannya yang gelap ia mencoba mengenang semua yang telah terjadi atas dirinya.

“Gantar Angin,” berkata Jaka Raras, “mulailah dari nama itu.”

Panembahan Agung mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku sedang mencoba. Tetapi aku rasa, aku tidak akan berhasil.”

“Kau akan berhasil,” sahut Jaka Raras, “kau telah mendapatkan ilmu yang tidak ada taranya. Ilmu yang dapat menciptakan bentuk-bentuk semu, kemudian ilmu yang dapat kau pergunakan untuk membakar gunung dan memecahkan batu-batu hitam sebesar kerbau dengan tatapan matamu. Dan kau mempunyai sebuah busur yang besar sekali yang tidak setiap orang dapat mempergunakan.”

“O,” Gantar Angin yang kemudian menyebut dirinya Panembahan Agung itu mengangguk-angguk kecil.

“Nah, bukankah kau sudah menemukan.”

“Kau benar,” tiba-tiba Panembahan Agung itu mengangkat wajahnya. Sambil memandang Jaka Raras ia berkata, “Aku memiliki ilmu itu, ilmu yang dapat membakar gunung. He, apakah kau akan menghalang-halangi aku? Jaka Raras, aku ingat semuanya. Aku memiliki ilmu untuk menciptakan bentuk-bentuk semu. Nah, malanglah nasibmu. Aku akan membakarmu dengan ilmuku.”

“Panembahan,” berkata Jaka Raras, “kau belum selesai. Ingatanmu baru merambat sampai saat kau mendapatkan ilmu itu.”

“Aku tidak peduli. Aku mempunyai firasat bahwa kau berniat buruk. Karena itu kau harus mati.”

Panembahan Agung itu memandang Jaka Raras dengan tajamnya.

“Jangan kau siksa dirimu dengan kenangan itu. Jika kau menyadari kenyataanmu, dan jika kau berhasil menemukan dirimu saat ini, kau akan mengetahui, bahwa ilmumu sudah punah semuanya.”

Mata Panembahan Agung terbelalak. Dan tiba-tiba saja ia memandang ke dirinya sendiri.

“Panembahan Agung. Kau adalah Panembahan Agung. Tetapi kau bukan lagi Panembahan Agung seperti pada saat kau menyebut dirimu demikian.”

“He,” mata Panembahan Agung itu terbelalak, “jadi ilmuku sudah punah? He, siapakah yang sudah memunahkan ilmuku. Tidak mungkin. Hanya gurukulah yang dapat melakukannya. Tidak orang lain. Tidak ada ilmu yang dapat menyingkirkan ilmuku dari diriku.”

“Gantar Angin,” berkata Jaka Raras, “kita bersama telah menerima bagian dari ilmu guru. Meskipun kau mendapat kesempatan lebih banyak, tetapi setelah guru tidak ada lagi, aku berhasil menyempurnakan ilmuku sehingga mendekati kemampuan guru. Dan aku, seperti juga kau, tentu akan dapat melakukannya. Memunahkan ilmu itu. Kita telah bertempur untuk berusaha saling membakar dan memunahkan ilmu kita masing-masing. Dan karena usahaku aku landasi dengan keyakinan bahwa aku benar, maka aku berani mohon kepada Tuhan agar menolongku di dalam puncak perjuanganku. Ternyata aku berhasil.”

“O, gila kau Jaka Raras. Aku mempelajari ilmu itu bertahun-tahun. Kini kau khianati aku. Kau khianati aku,” Panembahan Agung itu tiba-tiba berteriak keras sekali sehingga suaranya seakan bergema memenuhi lembah dan tebing-tebing pegunungan, meskipun ia tidak mampu lagi melontarkan suara di luar jangkauan getaran tenggorokannya seperti yang pernah dapat ia lakukan.

“Sudahlah, Panembahan. Sadarilah bahwa hukuman Tuhan telah datang.”

“Persetan. Aku tidak mau. Kembalikan ilmuku itu, kembalikan,” Panembahan itu berteriak-teriak.

“Sadarlah, kau bukan anak-anak lagi.”

“Tidak, tidak. Kembalikan, kembalikan,” Panembahan itu menjerit. Namun tiba-tiba suaranya terputus. Sejenak Panembahan Agung itu jatuh terkulai. Namun sejenak kemudian ia pun bangkit kembali perlahan-lahan.

Wajahnya masih tetap kehitam-hitaman. Tetapi justru menjadi semakin mengerikan ketika Panembahan Agung itu justru tertawa, “Ha, akulah manusia yang paling sempurna di muka bumi. Aku adalah satu-satunya orang yang memiliki ilmu yang dahsyat, yang mampu membakar gunung dan memecahkan batu hitam sebesar kerbau. Aku pulalah yang dapat menciptakan apa pun juga yang aku kehendaki.”

“Panembahan,” Jaka Raras mengerutkan keningnya.

Panembahan Agung tertawa semakin keras, semakin keras sehingga tubuhnya yang lemah itu menjadi terguncang-guncang.

“Panembahan, sadarilah keadaanmu.”

Suara tertawanya justru semakin keras. Sambil berteriak ia menengadahkan tangannya, “Aku adalah manusia yang paling sempurna. Aku akan menghancurkan semua negeri yang ada di muka bumi. Akulah penguasa tunggal alam semesta. Aku adalah yang Maha Kuasa di atas bumi.”

Ki Waskita yang juga disebut Jaka Raras itu mundur selangkah. Wajahnya menjadi tegang. Demikian pula agaknya Ki Sumangkar dan anak-anak muda yang ada di sebelahnya.

“Panembahan,” desis Jaka Raras.

“Pergi, pergilah kalian. Jangan ganggu aku lagi. Atau aku harus membakar kalian menjadi abu?”

“Semuanya sudah lampau, Panembahan. Sebaiknya Panembahan melanjutkan selangkah lagi. Panembahan belum sampai pada ujung penjelajahan kenangan masa lampau itu.”

Panembahan Agung mengerutkan keningnya. Namun ia kemudian tertawa lagi, “Persetan. Jangan mencoba menghasut. Jika kau ingin hidup, pergilah.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak dapat menolong lagi goncangan jiwa Panembahan Agung yang agaknya telah menghancurkan nalarnya, sehingga ia tidak lagi dapat mengendalikan gejolak perasaannya.

“Pergi, pergi. Aku akan menghancurkan Mataram. Aku akan menghancurkan Demak yang sudah bergeser ke Pajang itu. Aku akan menghancurkan kekuasaan para Adipati di pasisir dan Bang Wetan. Semuanya, semuanya. Dan aku adalah penguasa tunggal di atas bumi.”

Jaka Raras hanya dapat memandanginya saja ketika Panembahan Agung berusaha untuk meloncat bangkit. Sambil berteriak mengerikan ia menolak kenyataan tentang dirinya yang sebenarnya lumpuh.

Tetapi Panembahan Agung sama sekali tidak mempunyai kekuatan lagi. Ilmunya sudah punah dan kekuatan jasmaniahnya pun telah hampir punah sama sekali.

Karena itulah, maka hentakan kekuatan yang dipaksakannya itu ternyata telah merampas semua yang tersisa padanya. Seperti sebatang pohon pisang, Panembahan Agung roboh di tanah. Nafasnya menjadi terengah-engah, dan wajahnya yang hitam menjadi semakin hitam.

Perlahan-lahan Ki Waskita mendekatinya. Sambil berjongkok di samping tubuh Panembahan Agung ia berkata, “Panembahan, sebaiknya kau menyadari dirimu. Marilah, ikutlah aku.”

“Aku adalah orang yang paling berkuasa. Jangan memerintah aku.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam.

“He kau dengar, bukankah aku orang yang paling berkuasa di muka bumi.”

Hampar di luar sadarnya tiba-tiba saja Ki Waskita mengangguk, “Ya, Panembahan.”

“Nah, bersujudlah.”

“Ya, Panembahan.”

“Akuilah bahwa aku mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas atas manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan di muka bumi.”

“Ya, Panembahan.”

Panembahan Agung memandang Ki Waskita sejenak. Perlahan-lahan ia menggeliat. Ketika terpandang olehnya wajah Ki Waskita yang sedang mengangguk-anggukkan kepalanya, maka tiba-tiba ia pun tersenyum sambil berdesis, “Bagus, akulah yang Maha Kuasa itu.”

Ki Waskita tidak sempat menjawab. Tiba-tiba saja kepala Panembahan Agung itu terpejam untuk selama-lamanya.

Perlahan-lahan Ki Waskita bergeser surut. Diusapkan kening Panembahan Agung yang menjadi dingin.

“Ia sudah meninggal,” desisnya.

Ki Sumangkar diikuti oleh Agung Sedayu, Swandaru, dan Sutawijaya mendekatinya. Tetapi Pandan Wangi masih tetap berdiri di kejauhan. Ia tidak berani memandang wajah dan tubuh Panembahan Agung, yang mengerikan baginya itu.

“Ia tetap pada pendiriannya sampai saat matinya,” desis Ki Waskita. “Ia bertahan pada jalannya yang sesat tanpa setitik terang pun sampai ia harus kembali kepada Yang Maha Pencipta.”

“Mengerikan sekali,” tiba-tiba Agung Sedayu berdesis.

Sutawijaya menundukkan kepalanya. Panembahan Agung adalah gambaran orang yang tetap mengeraskan hatinya sampai saat pengadilan yang abadi itu tiba. Dan ia tidak akan sempat lagi untuk menyesali segenap kesalahan dan mohon ampun kepada Yang Maha Pengasih.

Rasa-rasanya semua pintu telah tertutup baginya, bagi orang yang tidak mengindahkan kasih dan pengampunan-Nya.

Ki Waskita pun kemudian berdiri. Dipandanginya orang-orang yang terikat pada batang-batang pohon sambil menahan segala macam pergolakan di dalam hati. Panembahan yang mereka sangka tidak dapat dikalahkan oleh siapa pun juga itu, akhirnya terbunuh di peperangan

“Ki Sanak,” berkata Ki Waskita, “Panembahan Agung telah mati. Ia adalah orang yang memiliki ilmu tanpa tanding. Tetapi ia memilih jalan sesat. Kalian yang selama ini mengaguminya dan percaya kepadanya, kini melihat kenyataan, bahwa tidak ada seorang pun yang sempurna di muka bumi.” Ki Waskita berhenti sejenak. “Nah, yang dapat kalian lakukan kemudian adalah menguburnya dan mengubur kawan-kawanmu yang terbunuh. Berilah pertanda pada kuburannya, panembahan yang pernah menggoncangkan dunia.”

Orang-orang itu tidak menyahut. Tetapi mereka dengan sepenuh hati menguburkan Panembahan Agung setelah ikatan mereka dilepaskan. Salah seorang dari mereka pun kemudian menemukan sebatang pohon nyamplung yang baru tumbuh dan memindahkannya di atas kuburan Panembahan Agung itu, sehingga apabila pohon nyamplung itu kelak dapat tumbuh dan menjadi sebesar gumuk kecil yang berada di lereng bukit, maka akan dapat dikenal, bahwa di tempat itulah Panembahan Agung dikuburkan, tanpa setetes pengampunan atas segala dosa-dosanya.

Demikianlah, setelah penguburan Panembahan Agung dan korban-korban yang lain telah selesai, maka mereka pun segera kembali kepada induk pasukan yang sedang menunggu. Swandaru berjalan di paling depan sambil menolong Ki Sumangkar yang terluka. Sedang dibelakangnya Pandan Wangi melangkah sambil menundukkan kepalanya. Beberapa orang tawanan mengikutnya dengan hati yang kosong. Mereka sama sekali tidak dapat membayangkan, apakah yang akan dapat terjadi atas diri mereka. Dan di belakang mereka berjalan Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Ki Waskita.

Sutawijaya sekali-sekali menarik nafas dalam-dalam. Yang terjadi adalah peristiwa yang sangat gawat bagi Mataram. Jika tidak secara kebetulan ia pergi bersama Ki Waskita dan pasukan pengawal terpilih dari Menoreh, maka ia tidak akan dapat menyelesaikan tugas itu. Bahkan mungkin hanya tinggal namanya sajalah yang akan diucapkan oleh orang-orang Mataram, sebagai seorang pahlawan yang mengorbankan diri sebagai bebanten berdirinya Tanah Mataram. Atau dengan demikian adbmcadangan.wordpress.com ayahnya akan menjadi sangat kecewa dan melepaskan niatnya untuk mendirikan sebuah negeri yang ramai. Mataram akan terbengkelai, dan akhirnya benar-benar jatuh ke tangan orang-orang yang gila itu.

Tetapi bagi Sutawijaya, peristiwa ini bukan akhir dari perjuangannya untuk menegakkan Mataram. Ia yakin bahwa di Pajang masih ada beberapa orang yang memiliki kelebihan di dalam berbagai bidang, yang tidak senang melihat Mataram tumbuh dan menjadi kuat. Mereka tentu akan melakukan apa saja yang dapat mereka usahakan untuk menghancurkan Ki Gede Pemanahan.

“Persetan dengan mereka,” berkata Sutawijaya di dalam hatinya, “pada suatu saat aku akan menemukan mereka. Ayahanda Suitan Pajang akan mengetahui, siapakah sebenarnya yang telah menggali jarak antara Pajang dan Mataram.”

Namun tiba-tiba dada Sutawijaya terguncang. Hampir di luar kemampuannya untuk menolak, telah hadir pula di dalam angan-angannya wajah seorang gadis cantik dari Kalinyamat itu.

“Persetan,” sekali lagi ia berdesis.

Namun ia akhirnya gagal untuk mengusir kegelisahan di hatinya itu. Ia tidak akan dapat ingkar, jika seandainya ia dihadapkan pada gadis itu.

“Tetapi, apakah benar-benar ia mengandung?” pertanyaan itu telah mengguncangkan dadanya. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia berkata kepada diri sendiri, “Mudah-mudahan tidak. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu akibat dari kekhilafan itu.”

Meskipun demikian Sutawijaya tidak dapat mengingkari, bahwa rahasia itu tentu sudah tersebar. Jika Daksina berhasil mengetahui rahasia itu, maka para pemimpinnya di Pajang pun pasti telah mengetahuinya pula. Bukannya aneh jika kekhilafan itu akhirnya akan didengar pula oleh ayahandanya

Baik ayahanda angkatnya, Sultan Pajang, mau pun ayahandanya sendiri, Ki Gede Pemanahan.

Raden Sutawijaya berusaha mengusir angan-angan itu dengan menggeretakkan giginya. Bahkan kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. Untunglah bahwa orang-orang yang berjalan di sekitarnya tidak memperhatikannya, karena mereka sedang sibuk dengan persoalan mereka masing-masing.

Kedatangan mereka di induk pasukannya disambut dengan perasaan lega, setelah beberapa lamanya pasukan itu dicengkam oleh kegelisahan. Rudita pun kemudian berlari-larian mendapatkan ayahnya dan seperti seorang kanak-kanak yang baru pandai berjalan, ia menangis terisak-isak.

“Rudita,” berkata ayahnya, “lihatlah. Kawan-kawan sebayamu tidak menangis seperti kau meskipun mereka mengalami peristiwa yang barangkali lebih dahsyat dari yang kau alami.”“

Rudita menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak merengek seperti biasanya. Matanya yang redup memandang ke kejauhan, seakan-akan menggapai-gapai mencari persoalan di dalam dirinya sendiri yang tidak dapat diketemukannya selama ini di dalam dirinya itu.

“Memang ada kelainan pada diri ini dengan anak-anak muda sebayaku,” tiba-tiba saja terbersit perasaan itu di dalam dadanya.

Tetapi Rudita hanya menarik nafas dalam-dalam. Ia mulai menyadari bahwa dirinya berbeda dengan Agung Sedayu, dengan Swandaru, Prastawa, dan apalagi Sutawijaya.

Sementara itu, Pasukan dari Mataram dan Menoreh itu pun mempersiapkan diri dan berkemas. Setelah beristirahat secukupnya mereka harus segera kembali ke tempat masing-masing.

Di malam hari, lembah itu bagaikan dunia yang senyap dan terpisah dari dunia yang lain. Gelap pekat dan sunyi. Suara malam bagaikan lagu yang sangat asing menyentuh relung-relung hati yang paling dalam.

Meskipun para pengawal menyadari bahwa peperangan yang aneh itu sudah selesai, namun hampir tidak seorang pun dari mereka yang sempat tidur dengan nyenyak. Berbagai bayangan mengganggu angan-angan mereka. Bahkan kadang-kadang mereka seakan-akan melihat bentuk-bentuk semu yang mengerikan di dalam gelapnya malam.

Ketika angin lembut mengusap tubuh mereka, terasa malam menjadi dingin. Dingin, sepi, tetapi mengerikan.

Di lewat tengah malam para pengawal itu terkejut mendengar suara anjing liar menyalak di kejauhan. Melolong-lolong, seperti hantu-hantu yang buas mencium bau mayat yang berserakan, yang terlampaui tidak diketemukan oleh kawan-kawannya dan karena itu tidak dikuburkan.

Lembah itu rasa-rasanya bagaikan neraka yang dingin beku, tetapi melampaui panasnya bara api kayu mlandingan.

Setiap orang mengharap agar mereka segera terlepas dari belenggu yang menegangkan itu. Setiap kali mereka selalu memandang batas langit di ujung sebelah Timur.

Ketika seorang pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh tidak dapat menahan lagi kesepian yang mencengkam, ia mencoba untuk bangkit dan melangkah hilir-mudik di antara beberapa orang kawannya yang terbaring membujur lintang. Namun hatinya menjadi bergetar ketika ia mendengar di kejauhan terdengar suara burung kadasih. Perlahan-lahan ia kembali duduk dan merayap ke atas rerumputan yang telah dibuatnya menjadi pembaringannya.

“Kau ngeri mendengar suara burung itu?” tiba-tiba saja terdengar kawannya yang berbaring di sampingnya bertanya. Meskipun suaranya lambat sekali, namun pengawal yang gelisah itu terkejut bukan buatan, sehingga hampir saja ia melonjak.

“Kau mengejutkan aku,” desah pengawal yang terkejut itu.

“Aku hanya berbisik,” jawab kawannya.

Pengawal itu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata kesepian yang memuncak itu telah membuat setiap hati menjadi semakin mudah tersentuh.

Dalam pada itu, Agung Sedayu dan Swandaru mendengarkan suara burung kedasih itu dengan hati yang semakin gelisah. Suara burung kedasih bagi mereka mempunyai arti tersendiri. Beberapa kali mereka pernah mendengar suara burung kedasih sebagai pertanda yang khusus dari anak buah orang yang ternyata menyebut dirinya Panembahan Agung itu.

Namun setelah mereka mendengarkan suara burung itu dengan saksama, disusul oleh suara burung kedasih yang lain di kejauhan, maka mereka pun yakin bahwa yang didengarnya itu adalah benar-benar suara burung kedasih.

“Kau mendengar suara burung itu?” bertanya Agung Sedayu berbisik.

Swandaru mengangguk lemah. Katanya, “Tetapi agaknya suara itu benar-benar suara seekor burung.”

“Ya. Memang agak berbeda. Tetapi agaknya di daerah ini memang banyak burung kedasih. Bahkan mungkin daerah ini merupakan sarang sekelompok besar burung kedasih, sehingga menimbulkan gagasan bagi Panembahan Agung untuk mempergunakan suara burung itu sebagal suatu isyarat tertentu.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi suara burung kedasih yang ngelangut itu masih saja menggelitik hatinya.

Namun keduanya tidak lagi membicarakannya. Keduanya mencoba untuk mempergunakan sisa malam itu untuk benar-benar beristirahat meskipun mereka sama sekali tidak dapat tertidur sekejap pun.

Di antara mereka yang tidak dapat tertidur terdapat Rudita. Malam baginya benar-benar merupakan malam yang dahsyat. Setiap kali ia terkejut mendengar desir daun yang terlepas dari tangkainya dan jatuh di tanah.

Namun dalam pada itu, Rudita sempat melihat kepada dirinya sendiri. Pengalamannya telah menimbulkan persoalan yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.

Tetapi pengalaman itu ternyata telah memacunya untuk berpikir lebih dewasa. Ia merasa, bahwa sebenarnyalah ia bukan lagi kanak-kanak yang dapat bermanja-manja kepada setiap orang. Memang ayah dan ibunya akan berusaha untuk dapat mengerti perasaannya, tetapi tentu tidak bagi orang lain. Jika orang lain mencoba mengertinya, maka tentu dalam batas-batas yang jauh lebih sempit dari ayah dan ibunya sendiri.

Dalam pada itu, mereka yang mendapat perintah untuk melihat kuda-kuda mereka yang terikat, merasa jauh lebih sepi lagi dari kawan-kawannya, yang ada di dalam pasukan. Beberapa orang yang berada di daerah terpisah, di antara sekelompok kuda yang tertidur sambil terikat pada batang-batang pohon, merasa diri mereka selalu terancam bahaya. Mereka belum mengerti akhir dari pertempuran yang terjadi di depan padepokan Panembahan Agung, sehingga karena itu, mereka masih tetap dibayangi oleh kecemasan bahwa para pengawal dari Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh akan mengalami kegagalan.

Kecemasan dan kegelisahan yang mencengkam hati mereka, membuat mereka selalu berjaga-jaga sepanjang malam. Senjata mereka sama sekali tidak terlepas dari tangan. Apa pun yang sedang mereka lakukan, maka mereka tetap menggenggam senjata telanjang.

Ketika cahaya kemerah-merahan mulai membayang di langit sebelah Timur, maka rasa-rasanya setiap orang yang berada di lembah itu mulai dijalari oleh ketenangan. Rasa-rasanya darah yang seakan-akan telah membeku di malam hari, mulai mengalir lagi perlahan-lahan di seluruh tubuh.

Para pengawal itu tidak menunggu sampai matahari terbit. Ketika cahaya kemerah-merahan semakin jelas membayang di punggung pegunungan, maka mereka pun membenahi diri mereka masing-masing. Mereka menyiapkan segala peralatan, dan mengumpulkah para tawanan. Dengan batang-batang kayu yang dianyam dengan tali, mereka telah membawa Kiai Gringsing yang terluka. Namun agaknya badan Kiai Gringsing sudah merasa lebih segar dan lebih baik.

Ketika lembah itu menjadi semakin terang, para pengawal itu mulai menghitung diri. Setiap kelompok melihat keadaan masing-masing. Mereka harus tahu pasti, apakah ada korban yang jatuh di dalam kelompok itu.

Setelah semuanya selesai, maka mulailah pasukan itu berjalan perlahan-lahan, bersamaan dengan cahaya yang semakin terang muncul di balik bukit.

Demikianlah maka mulailah perjalanan mereka, pasukan pengawal dari Mataram dan dari Tanah Perdikan Menoreh menyusuri lembah kembali keluar dari daerah yang terpencil itu.

“Raden Sutawijaya, kami harap singgah sejenak di Tanah Perdikan Menoreh,” Ki Argapati mempersilahkan.

Semula Raden Sutawijaya ragu ragu. Namun kemudian ia menganggukkan kepalanya. Namun ia sama sekali tidak tahu, bahwa utusan ayahandanya telah menunggunya dengan membawa kabar yang sangat penting baginya.

Setelah menempuh jalan yang sulit, dan setelah mereka melalui daerah yang mengerikan karena guguran-guguran tebing di sebelah-menyebelah lembah yang mereka lalui, maka mereka pun akhirnya sampai ke daerah hutan perdu, di mana kuda-kuda mereka terikat.

Sejenak mereka beristirahat dan membenahi kuda-kuda mereka yang gelisah. Beberapa orang yang terluka terpaksa naik ke atas punggung kuda dijagai oleh kawannya. Yang tidak terlalu parah masih dapat berkuda sendiri, tetapi ada di antara mereka yang sudah tidak mampu lagi untuk berpegangan pada kendali.

Demikian juga Kiai Gringsing. Tubuhnya masih terlalu lemah untuk berkuda sendiri Karena itu, maka Agung Sedayu terpaksa menjaganya. Dipilihnya kuda yang tegar dan besar. Dan di atas punggung kuda itulah Kiai Gringsing dan Agung Sedayu naik bersama-sama.

Setelah semuanya siap, maka pasukan berkuda itu pun kemudian meniggalkan lembah yang masih saja selalu membekas dalam kenangan setiap orang. Peristiwa yang mengerikan dan hampir tidak dapat mereka percaya, telah terjadi. Tebing yang bagaikan runtuh. Batang-batang kayu yang bergulung-gulung menimbuni lembah. Bahkan beberapa orang kawan mereka telah tertimbun pula di bawah batu dan kayu-kayu itu. Kemudian bentuk-bentuk semu yang hanya dapat mereka lihat di dalam mimpi, namun ternyata bahwa mata mereka seakan-akan telah benar-benar melihatnya.

“Perang yang paling gila yang pernah aku alami,” desis Ki Lurah Branjangan. “Aku adalah prajurit Pajang sejak aku masih sangat muda. Aku sudah mengalami banyak sekali peperangan. Namun baru kali ini aku berada di dalam dunia yang seolah-olah hanya sekedar khayalan saja.”

Kawannya yang berada di sisinya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia menyahut, “Jika aku ceritakan pengalaman ini kepada orang lain, maka apakah mereka dapat mempercayainya?”

Ki Lurah Branjangan menggelengkan kepalanya, “Tentu tidak. Dan menurut Ki Waskita semuanya itu adalah sebuah kebohongan yang paling besar yang dapat dibuat oleh Panembahan Agung.”

Keduanya pun kemudian terdiam. Mereka memandang lurus ke depan. Ke jalan yang samar di antara batang-batang perdu. Sebentar lagi mereka akan sampai ke tempat yang lebih lapang.

Namun perjalanan mereka tidak dapat lebih cepat lagi, karena mereka harus membawa beberapa orang tawanan yang tidak dapat berjalan secepat seekor kuda. Karena itu, maka perjalanan itu pun menjadi sangat lamban dan hampir merampas kesabaran para pengawal itu.

Tetapi mereka tidak dapat memaksa tawanan mereka berjalan sambil berlari-lari, karena perjalanan yang akan mereka tempuh adalah perjalanan yang cukup jauh.

Sekali-sekali iring-iringan itu harus beristirahat di sepanjang jalan yang mereka lalui. Para tawanan yang tidak dapat berjalan lagi karena luka-luka, mendapat kesempatan untuk naik ke punggung kuda yang tidak berpenumpang. Mungkin karena penumpangnya berkuda bersama kawannya karena keadaan tubuhnya yang lemah. Tetapi mungkin juga karena mereka tidak dapat lagi kembali karena mereka gugur di peperangan yang karena keadaannya, mereka terpaksa dikuburkan di medan dengan ciri-ciri tertentu, sehingga kuburan itu akan tetap dapat dikenal apabila pada suatu saat sanak keluarganya akan pergi menengoknya.

Karena perjalanan yang lambat itulah maka iring-iringan itu tidak dapat mencapai padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Mereka berhenti pada sebuah padukuhan kecil di sebelah hutan yang lebat itu. Padukuhan yang hanya dihuni oleh beberapa orang, yang kerjanya sehari-hari berburu binatang dan mencari kayu.

Baru di pagi harinya mereka meneruskan perjalanan menuju ke induk Tanah Perdikan Menoreh.

Kedatangan pasukan itu disambut dengan berbagai macam perasaan. Ada yang gembira, terharu, tetapi ada juga yang harus menitikkan air mata karena yang ditunggunya terpaksa tidak dapat datang bersama kawan-kawan mereka.

“Mereka adalah bebanten bagi ketenteraman Tanah Perdikan ini,” berkata kawan-kawannya menghibur mereka yang kehilangan sanak keluarganya. “Seluruh Tanah Perdikan tidak akan melupakan jasa-jasanya.”

Orang yang kehilangan itu menahan isaknya sambil bertanya, “Apakah begitu?”

“Ya. Kita semuanya akan menghargai mereka yang mendahului kita. Untuk selama-lamanya. Anak cucu kita pun harus mengetahui siapa saja yang pernah melakukan pengorbanan tanpa dapat dinilai dengan nilai kebendaan, karena yang mereka korbankan adalah jiwa.”

Namun demikian, mereka yang kehilangan masih juga menitikkan air mata. Meskipun nalar mereka dapat mengerti, tetapi perasaan mereka bersikap lain.

Setelah beristirahat sejenak di halaman rumah Kepala Tanah Perdikan Menoreh serta setelah setiap kelompok mengulangi hitungan mereka, maka pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu pun diperkenankan pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan yang kemudian menjaga para tawanan adalah para pengawal dari Mataram dan pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang tidak ikut serta pergi ke peperangan.

Dalam pada itu, para pemimpin pasukan pengawal itu pun kemudian naik ke pendapa. Mereka duduk melingkar di atas tikar pandan yang putih

Namun yang tidak ada di antara mereka adalah Ki Waskata. Ia langsung membawa Rudita ke gandok, mendapatkan ibunya yang menunggu dengan hati yang bagaikan dipanggang di atas bara sambil menangis tanpa henti-hentinya.

Pandan Wangi yang merasa bertanggung jawab atas hilangnya Rudita pun kemudian mengikutinya beberapa langkah di belakang Ki Waskita.

Pandan Wangi tidak dapat menahan air matanya yang mengembun di pelupuknya melihat betapa ibu Rudita itu menyambut anaknya yang dikembalikannya kepadanya, setelah hilang untuk beberapa saat lamanya.

Beberapa orang yang ada di pendapa melihat pertemuan itu dengan perasaan haru pula. Namun mereka pun bersyukur bahwa Tuhan masih melindungi anak muda itu dan dapat kembali kepada orang tuanya dengan selamat.

Sementara itu di gandok yang lain, Kiai Gringsing terbaring di atas pembaringan ditunggui oleh Agung Sedayu. Namun karena keadaannya sudah menjadi semakin baik, maka Kiai Grigsing pun menyuruh muridnya itu naik ke pendapa bersama dengan para pemimpin yang lain.

“Apakah keadaan Guru sudah baik?” bertanya Agung Sedayu.

“Sudah. Aku sudah menjadi semakin baik. Tinggalkan aku. Aku akan tidur. Dan sebaiknya kau berada di pendapa. Mungkin ada persoalan yang perlu kau dengar.”

Agung Sedayu menganggukkan kepalanya. Dengan ragu ragu ia melangkah meninggalkan Kiai Gringsing yang sudah tampak lebih segar.

Tetapi langkahnya tertegun ketika di pintu gandok Agung Sedayu berpapasan dengan Ki Sumangkar yang masih pucat dilayani oleh seorang pengawal.

“Kenapa, Kiai?” bertanya Agung Sedayu.

“Tidak apa-apa. Aku hanya merasa pening. Luka-lukaku agak terasa pedih meskipun tidak mengalirkan darah lagi. Aku hanya ingin beristirahat sejenak mengawani Kiai Gringsing.”

Agung Sedayu masih berdiri termangu-mangu.

“Aku tidak apa-apa,” berkata Sumangkar kemudian, “aku hanya ingin tidur. Luka-lukaku akan sembuh dalam waktu yang dekat.”

Kiai Gringsing tersenyum melihat kehadiran Ki Sumangkar di bilik itu. Katanya, “Marilah kita berlomba, siapakah yang lebih dahulu tertidur.”

Ki Sumangkar pun tertawa. Sambil berpaling kepada Agung Sedayu ia berkata, “Apakah kau akan ikut pula?”

Agung Sedayu pun tersenyum. Namun dengan demikian ia tidak ragu-ragu meninggalkan kedua orang-orang tua itu karena keadaan mereka agaknya menjadi berangsur baik.

Sepeninggal Agung Sedayu, maka Ki Sumangkar pun berbisik kepada Kiai Gringsing, “Utusan dari Mataram ternyata telah menunggu Raden Sutawijaya.”

“Ki Gede Pemanahan tentu sekedar cemas karena puteranya tidak segera datang,” sahut Kiai Gringsing.

“Mungkin. Tetapi jika demikian utusan itu tidak akau memanggil Raden Sutawijaya untuk segera menghadap ayahandanya.”

“Kenapa? Seperti ayah dan ibu Rudita, mereka pun tidak sabar menunggu kedatangan anaknya lebih lambat lagi.”

Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya, “Mungkin demikian. Tetapi masih ada bedanya. Raden Sutawijaya adalah seorang prajurit.”

Kiai Gringsing-lah yang kemudian mengangguk-angguk. “Ya, agaknya demikian.”

Dalam pada itu, di pendapa, utusan yang sudah ada di Menoreh itu masih berada bersama di antara para pemimpin yang sedang beristirahat sambil menikmati minuman hangat dan sekedar makanan ringan yang tergesa-gesa dipersiapkan.

Namun agaknya suasananya memang dipengaruhi oleh kehadiran beberapa orang utusan dari Mataram itu, karena mereka langsung menyampaikan pesan Ki Gede Pemanahan kepada Raden Sutawijaya.

“Biarlah Raden Sutawijaya beristirahat sehari dua hari di sini,” berkata Ki Argapati.

Utusan itu tersenyum. Katanya, “Ki Gede Pemanahan berpesan, agar Raden Sutawijaya segera kembali.”

“Apakah sebenarnya yang telah terjadi di Mataram?” bertanya Ki Lurah Branjangan.

“Kami tidak mengetahui dengan pasti,” sahut utusan itu, sehingga Ki Lurah Branjangan pun hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.

Raden Sntawijaya sendiri menjadi gelisah mendengar panggilan ayahandanya. Sekilas terngiang ancaman Daksina bahwa rahasianya tentu akan terbongkar. Gadis dari Kalinyamat itu tidak akan dapat lagi menyembunyikan dirinya akibat hubungannya dengan Raden Sutawijaya.

“Apakah ayahanda sudah mendengar?” ia bertanya kepada diri sendiri. Tetapi hal itu mungkin sekali terjadi karena orang-orang Pajang banyak sekali yang tidak menyukainya lagi, justru karena ia berusaha membuka hutan Mentaok dan menjadikannya sebuah negeri yang ramai.

“Tetapi,” berkata Ki Argapati kemudian, “bukankah Ki Gede tidak perlu gelisah lagi, bahwa puteranya telah pasti selamat dan berada di sini?”

Utusan itu masih tersenyum, katanya, “Aku tidak dapat membuat pertimbangan seperti itu menilik pesan yang agaknya sangat mendesak.”

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Aku akan segera kembali. Tetapi aku minta kesempatan untuk beristirahat sejenak. Aku harus membersihkan diri dahulu. Demikian juga para pengawal. Kami harus mengurus orang-orang yang terluka dan para tawanan.”

“Tentu, Raden. Kami akan membantu. Bukan maksud kami, Raden harus berangkat sekarang. Tetapi sudah barang tentu Raden akan berkemas lebih dahulu dan beristirahat secukupnya. Tetapi tidak terlampau lama.”

Raden Sutawijaya merasa bahwa sesuatu yang sangat penting telah terjadi. Dan firasatnya pun telah mengatakan kepadanya, bahwa persoalan yang dihadapi adalah persoalan gadis dari Kalinyamat itu. Gadis yang seharusnya disediakan untuk ayahandanya Sultan Pajang, namun yang terjadi adalah di luar kemampuannya untuk menghindar.

Sutawijaya yang termangu-mangu itu pun kemudan mencoba mengusir kegelisahannya. Di pendapa itu masih ada beberapa orang yang duduk sambil menghirup minuman hangat dan makanan sepotong-sepotong.

Pandan Wangi yang sekali-sekali masih mengusap matanya yang basah telah duduk di pendapa pula, sedang Ki Argapati-lah yang kemudian turun dari pendapa menemui Ki Waskita dan isterinya.

“Kami berterima kasih kepada Ki Gede dengan para pengawal dari Menoreh dan Mataram,” berkata Ki Waskita.

“Ah, justru kamilah yang berterima kasih kepada Ki Waskita. Tanpa Ki Waskita, kami tidak akan kembali dengan selamat,” sahut Ki Gede Menoreh.

Namun dengan segera Ki Waskita memotong, “Aku tidak berbuat apa-apa. Aku sekedar menggantungkan diri kepada kalian. Aku hanya sekedar orang yang mencoba melihat isyarat buat masa depan yang sebenarnya tidak jelas.”

Ki Gede mengerutkan keningnya. Apalagi ketika dilihatnya wajah Rudita yang keheran-heranan.

“Aku tidak lebih dari sebuah beban bagi Ki Gede,” berkata Ki Waskita. Sambil berpaling kepada anaknya ia melanjutkan, “Kau harus mengucapkan terima kasih. Kau tahu bahwa ayahmu tidak lebih adalah seorang tukang ramal yang lebih banyak gagal dari hasil yang memadai. Tanpa pasukan pengawal Menoreh dan Mataram, kau benar-benar telah hilang.”

Rudita masih termangu-mangu. Namun kemudian ia berkata, “Ki Gede. Aku mengucapkan terima kasih kepada Ki Gede, kepada pasukan pengawal Menoreh dan Mataram, kepada Pandan Wangi, kepada Prastawa kepada Ki Demang dari Sangkal Putung, Kiai Gringsing dan kedua muridnya, dan terlebih-lebih kepada Ki Sumangkar. Ki Sumangkar-lah yang secara langsung membebaskan aku dari kekuasaan mereka.”

Ki Argapati mengerutkan keningnya. Ia merasakan nada yang berbeda pada cara Rudita menyatakan perasaannya.

“Ki Gede,” berkata Rudita kemudian, “agaknya selama ini aku telah keliru menilai diriku sendiri.”

“Rudita,” hampir berbareng Ki Waskita dan ibunya memotong meskipun tanggapan mereka berbeda-beda.

“Kau tidak keliru, Rudita,” berkata ibunya, “kamilah yang kurang berhati-hati menjagamu. Ayahmu terlalu lengah karena ia telah melepaskanmu berburu hanya dengan anak-anak muda.” Ibunya berhenti sejenak, lalu, “Aku pun tidak dapat menyalahkan anak-anak muda itu, karena mereka pun masih dipengaruhi oleh kemudaannya dan memburu kesenangan diri masing-masing.”

Ki Argapati mengerutkan keningnya, sedang Ki Waskita pun dengan tergesa-gesa menyahut, “Tentu tidak, Nyai. Meskipun mereka masih muda, tetapi sikap mereka cukup dewasa.”

“Tetapi tentu berbeda dengan orang-orang tua.”

“Ya,” potong Ki Argapati, “tentu berbeda dengan orang-orang tua. Biasanya anak-anak lebih memperhatikan diri sendiri seperti yang dikatakan oleh Nyai Waskita. Tetapi orang tua lebih banyak menjaga anak-anaknya dan anak-anak muda yang bersamanya.”

“Nah,” sahut Nyai Waskita, “bukankah benar kataku. Kau jangan menyalahkan anakmu saja. Meskipun aku juga tidak menyalahkan anak-anak muda yang bersamanya, tetapi bahwa keadaan yang demikian itulah yang telah memungkinkan Rudita hilang.”

“Tetapi kita sekarang tinggallah mengucap sukur,” Ki Argapati menyela, “dan Rudita sudah ada di antara kita.”

“Ya. Demikianlah aku mengucap sukur kepada semuanya, terutama kepada kemurahan Yang Maha Agung.”

Ki Argapati memandang Rudita yang menundukkan kepalanya sejenak, lalu katanya, “Tenteramkan hatimu. Kau sudah berada di sarang sendiri, di bawah sayap induk yang akan selalu melindungmu. Dan agaknya indukmu adalah seekor burung garuda yang luar biasa.”

“Aku tidak mengerti, Ki Gede,” desis Ki Waskita, “tetapi bagaimana pun juga, aku mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga.”

Demikianlah Ki Argapati pun kembali ke pendapa. Ternyata Raden Sutawijaya masih tetap duduk di tempatnya. Agaknya ia masih sangat segan untuk segera berkemas dan kembali ke Mataram. Karena itulah, maka Ki Gede sama sekali tidak bertanya apa pun kepadanya.

Sepeninggal Ki Argapati, ibu Rudita agaknya masih belum puas mendengar pembicaraan suaminya dengan Ki Argapati. Katanya, “Kiai, sebenarnya Kiai harus menunjukkan kekecewaan kita terhadap anak-anak muda itu. Kiai jangan mencari kesalahan pada Rudita. Adalah suatu kurnia bahwa mereka berhasil menemukan Rudita. Jika tidak, maka anak itu akan benar-benar sudah hilang. Dan akulah orang yang akan merasa paling pedih karena kehilangan itu. Bukan Ki Argapati, bukan tamu-tamu dari Sangkal Putung itu dan bukan anak-anak muda yang membawanya tanpa bertanggung jawab itu.”

“Kau jangan menyalahkan mereka Nyai. Mereka adalah anak-anak muda yang sebaya dengan Rudita.”

“Siapa pun mereka, tetapi mereka telah membawanya.”

“Tidak, Ibu,” potong Rudita tiba-tiba saja, “seharusnya Ibu tidak menganggap bahwa mereka telah membawa aku serta di dalam perburuan itu. Tetapi yang benar, kami pergi bersama-sama. Karena aku pun anak muda yang sudah sebaya dengan mereka, sehingga di antara kita, tidak ada yang harus mempertanggung-jawabkan yang seorang atas yang lain.”

Ibu Rudita menjadi heran mendengar jawaban itu. Demikian juga ayahnya. Tetapi tanggapan mereka terhadap Rudta menjadi semakin jauh berbeda. Ki Waskita melihat sesuatu yang tumbuh dan berkembang pada anaknya seperti yang diharapkannya. Sedang ibunya sama sekali tidak mengerti, kenapa Rudita menjawab demikian.

“Rudita,” berkata ibunya, “kenapa kau menganggap bahwa kau tidak pergi bersama anak-anak muda itu di dalam tanggung jawab mereka. Bukankah mereka telah membawamu?”

“Seperti juga Pandan Wangi tidak bertanggung jawab atas Prastawa, dan juga Prastawa tidak bertanggung jawab atas Agung Sedayu, maka kenapa mereka harus bertanggung jawab atasku?”

“Tetapi kedudukanmu lain dari mereka, Rudita. Mereka adalah anak-anak yang sudah terbiasa melakukan perburuan atau pekerjaan-pekerjaan kasar seperti itu. Tetapi tidak dengan kau. Kau adalah anakku. Kau wajib mendapat perlindungan sebaik-baiknya. Jika kau hilang, maka aku akan kehilangan milikku yang paling berharga di muka bumi ini. Tetapi jika orang lain, anak-anak Sangkal Putung itu, aku sama sekali tidak akan merasa kehilangan apa pun juga. Aku mungkin akan terharu dan iba jika terjadi sesuatu atas mereka, tetapi aku sendiri tidak kehilangan apa pun juga.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sebelum la menyahut ternyata Rudita berkata, “Ibu memandang persoalan ini dari satu segi. Coba katakan, apakah kira-kira yang akan terjadi seandainya Swandaru itu hilang. Aku tidak menyebut Agung Sedayu, karena ia adalah anak yatim piatu. Jika Swandaru hilang, maka banyak sekali orang yang akan merasa kehilangan adbmcadangan.wordpress.com. Ibunya. Tentu ia akan berkata seperti ibu. Swandaru adalah miliknya yang paling berharga. Kemudian ayahnya. Seperti Ayah, Ki Demang Sangkal Putung menganggap Swandaru adalah anak yang paling baik. Tetapi masih ada orang lain yang merasa kehilangan. Luka di hatinya tentu akan sangat parah. Orang itu adalah Pandan Wangi dan ayahnya.”

“Rudita,” potong ibunya. Wajahnya benar-benar diwarnai oleh keheranan yang menghentak dadanya.

“Sudahlah,” berkata Ki Waskita menengahi, “Rudita baru saja dicengkam oleh kegelisahan yang sangat. Mungkin sesuatu telah terjadi di dalam dirinya. Kita belum dapat menilai, apakah ia akan menjadi semakin dewasa atau sebaliknya. Karena itu biarlah ia beristirahat. Pengaruh goncangan perasaannya itu tentu masih terasa. Dan karena itulah maka kau seakan-akan tidak mengenali lagi perasaan anakmu. Tetapi jika ia sudah tenang, maka biarlah ia menilai dirinya sendiri.”

Ibunya mengusap air matanya. Dibelainya kepala anaknya. Lalu katanya, “Tenangkan hatimu, Anakku. Kita berada di halaman rumah Kepala Tanah Perdikan Menoreh yang dijaga dengan baik. Kau akan dapat tidur nyenyak dan beristirahat sebaik-baiknya.”

Rudita menganggukkan kepalanya.

“Jika kau memerlukan sesuatu, kau dapat mengatakannya kepadaku. Di sini banyak pelayan yang dapat melayanimu.”

Sekail lagi Rudita mengangguk. Tetapi kata-kata ibunya itu kini bukannya ditelannya begitu saja, tetapi ia sudah mulai mencernakannya.

Ketika ibunya pergi ke belakang, dan berada di antara para pelayan dan tetangga yang sibuk menyediakan makan dan minuman bagi para pengawal di halaman depan, maka Ki Waskita pun mendekati anaknya sambil bertanya, “Rudita, siapakah yang mengajarimu bahwa kepergianmu ke hutan perburuan itu sama sekali bukannya menjadi beban tanggung jawab orang lain, tetapi sekedar pergi bersama-sama di dalam tanggung jawab kalian masing-masing?”

Rudita memandang ayahnya sejenak, lalu, “Apakah maksud Ayah?”

“Rudita, aku memang melihat sesuatu berubah di dalam dirimu.”

Rudita menarik nafas dalam-dalam. Ki Waskita tidak lagi melihat mata anaknya itu mengembun dan menitikkan air mata. Mulutnya tidak lagi menyeringai dibuat-buat untuk memberikan tekanan kepada usahanya menarik perhatian orang lain.

“Ayah,” berkata Rudita, “pengalaman beberapa hari ini telah membangunkan aku. Aku tidak tahu, kenapa aku merasa bahwa aku memang agak lain dari anak-anak muda itu. Mereka berbuat sesuatu untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Tetapi aku tidak. Aku masih saja menggantungkan diriku kepada orang lain seperti aku berada di rumah, di antara Ayah dan ibu. Dan agaknya ibu memang mendidik aku untuk selalu bergantung kepada orang lain.”

Ki Waskita menepuk bahu anaknya. Sesuatu telah bergetar di dalam hatinya, seakan-akan ia melihat cahaya terang yang memercik di sanubari anaknya.

“Rudita,” berkata ayahnya, “kau telah tumbuh ke arah yang benar. Kau masih mempunyai waktu untuk meraih bentuk dirimu. Meskipun barangkali tidak untuk menjadi anak-anak muda seperti Agung Sedayu dan Swandaru.”

Rudita menganggukkan kepalanya.

“Banyak cara yang dapat di tempuh untuk menentukan diri sendiri. Ciri seorang yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri bukannya hanya ada pada mereka yang pandai bermain pedang dan tombak.”

Sekali lagi Rudita menganggukkan kepalanya.

“Rudita, betapa pun dahsyatnya ilmu yang dimiliki seseorang namun sebenarnya bahwa tujuan setiap manusia adalah perasaan damai dan tenang. Kehidupan yang aman tenteram. Bukankah seseorang mempelajari ilmu sejauh-jauhnya sekedar berusaha melindungi dirinya dari ketidak-tenangan. Dengan ilmu itu ia menjadi tenang karena ia merasa tidak ada orang lain yang dapat mengganggunya dan menghalang-halangi kehendaknya. Meskipun ada satu dua perkecualian, namun demikianlah pada umumnya.”

Rudita tidak menyahut. Tetapi kepalanya pun kemudian tertunduk. Rasa-rasanya di dalam waktu terakhir, di sepanjang pulang kembali ke induk Tanah Perdikan Menoreh ini, hatinya bergejolak dahsyat sekali. Seolah-olah ada sesuatu yang saling berbenturan dan melingkar-lingkar di dalam hatinya itu.

Tetapi di dalam waktu yang singkat itu, Rudita masih belum dapat menemukan apakah yang sebenarnya kini sedang berkembang di dalam dirinya. Namun ia mulai meyakini bahwa jalan yang dilaluinya selama ini tidak menguntungkannya.

Dalam pada itu, para pengawal dari Mataram yang bertebaran di halaman, telah mendapatkan makan mereka masing-masing. Mereka sebenarnya masih juga segan untuk segera berangkat kembali ke Mataram karena badan mereka yang masih terasa letih setelah melakukan peperangan yang dahsyat itu. Namun ada juga dorongan untuk segera kembali kepada keluarga mereka yang menunggu siang dan malam. Karena itu, maka mereka tidak mengerti tentang diri mereka sendiri, manakah yang lebih-baik, segera kembali atau beristirahat barang semalam di Menoreh.

“Terserah kepada Raden Sutawijaya,” berkata seorang pengawal yang sudah setengah tua, “tetapi ada juga baiknya kita pulang. Sama sekali kita menjadi letih. Tetapi kita segera berada di antara keluarga.”

Seorang pengawal yang masih muda menarik nafas. Katanya, “Sebenarnya aku ingin tidur sejenak.”

“Tidurlah. Tidak ada yang melarangmu tidur. Mungkin di bawah jambu itu kau dapat tidur nyenyak,” sahut seorang kawannya.

“Aku masih malas untuk meneruskan perjalanan.”

“Kau masih sendiri,” berkata seorang yang sudah lebih tua sedikit daripadanya.

“Ah, tentu. Kau penganten baru,” jawab pengawal yang muda itu.

“Sudahlah,” sahut yang sudah setengah umur, “sekarang tidur sajalah. Nanti jika pasukan ini benar-benar akan segera kembali ke Mataram, aku akan membangunkanmu.”

Pengawal muda itu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun segera berbaring di bawah pohon jambu yang sejuk, sehingga beberapa saat kemudian, ia pun benar-benar telah tertidur.

Ternyata bukan hanya pengawal muda itu saja yang telah tertidur. Di kebun belakang, beberapa orang pengawal bertebaran dan tidur silang melintang.

Di pendapa, Sutawijaya sama sekali tidak sempat beristirahat dengan baik. Utusan ayahnya benar-benar tidak memberinya kesempatan untuk menunda perjalanannya kembali ke Mataram.

Karena itu, setelah pasukannya beristirahat beberapa lamanya, maka Sutawijaya pun membenahi dirinya. Untuk menyegarkan tubuhnya, maka ia pun memerlukan mandi di pakiwan. Kemudian bersiap-siap untuk meneruskan perjalanannya.

Para pengawal dari Mataram pun kemudian berkemas pula. Ada di antara mereka yang masih segan untuk bangun meskipun mereka hanya sekedar bersandar tiang gedogan.

Tetapi Sutawijaya pun memutuskan untuk segera kembali ke Mataram. Baginya hal itu tentu lebih baik. Ia tidak akan dapat beristirahat dengan tenang di Tanah Perdikan Menoreh, karena ayahnya sudah mengharapnya menghadap karena ada persoalan yang cukup penting.

Demikianlah, maka Raden Sutawijaya itu pun segera mohon diri kepada Ki Argapati. Dengan mengucapkan terima kasih, maka ia terpaksa sekali segera meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh.

“Agaknya persoalan yang akan disampaikan oleh ayahanda Raden cukup penting.”

Raden Sutawljaya hanya tersenyum saja.

“Kami di sini tidak dapat memaksa Raden untuk tinggal lebih lama lagi, jika ayahanda memang ingin segera bertemu dengan Raden.”

Raden Sutawijaya pun kemudian minta diri pula kepada orang-orang tua yang ada di Induk Tanah Perdikan Menoreh. Kepada Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, Ki Demang Sangkal Putung, dan terutama kepada Ki Waskita.

“Jasa Ki Waskita tidak akan dilupakan. Bukan saja olehku dan pasukanku, tetapi oleh seluruh Tanah Mataram.”

“Ah,” Ki Waskita berdesah, “sudahlah, Raden. Aku sudah senang sekali bahwa aku dapat bertemu dengan anakku. Tidak ada yang lebih baik dari ketenangan di dalam hidup kekeluargaan. Dan agaknya Rudita pun akan menempuh jalan yang sudah terbuka baginya. Ketenangan di dalam hati sendiri.”

Raden Sutawijaya memandang wajah Rudita sejenak. Tetapi anak muda yang perkasa itu mengerutkan keningnya. Seakan-akan wajah Rudita itu adalah wajah yang lain dari yang dilihatnya pada saat anak itu belum hilang. Dan bahkan sesaat setelah ia diketemukan.

“Memang ada sesuatu yang berkembang di dalam jiwa anak itu,” berkata Raden Sutawijaya di dalam hatinya.

Demkianlah, maka pasukan pengawal dari Mataram itu pun segera bersiap untuk berangkat. Atas persetujuan Ki Argapati, maka para tawanan pun akan dibawanya pula bersama pasukan itu ke Mataram. Karena jumlah mereka tidak begitu banyak lagi maka Sutawijaya pun meminjam beberapa ekor kuda di samping kuda-kuda pasukan Mataram sendiri yang tersisa, untuk membawa tawanan-tawanan itu.

“Kita akan segera mengembalikan,” berkata Sutawijaya.

Ketika pasukan pengawal itu mulai bergerak, anak-anak muda dari Sangkal Putung dan Menoreh melambaikan tangannya. Bahkan Prastawa telah melambaikan kedua belah tangannya, sedang Pandan Wangi memandangi pasukan itu dengan senyum yang tergores di bibirnya.

“Menoreh akan segera menjadi sunyi kembali,” desisnya.

Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. Memang Menoreh akan menjadi sunyi. Setelah terasa kegelisahan dan kesibukan di seluruh tlatah Menoreh, meskipun pertempuran itu hanya terjadi di salah satu sudutnya saja, maka kini semuanya itu telah berlalu.

Yang tinggal adalah kepedihan hati mereka yang telah kehilangan keluarganya di peperangan itu. Seakan-akan masih terdengar isak tangis mereka di antara derap kaki-kaki kuda yang gemeretak di atas tanah berbatu-batu.

Demikianlah, maka mereka yang berada di regol pun perlahan-lahan melangkah melintasi halaman dan kembali ke pendapa. Sedang Agung Sedayu dan Swandaru pergi sejenak ke gandok menengok Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar yang masih berbaring.

“Raden Sutawijaya itu sudah berangkat?” bertanya Kiai Gringsing.

“Ya, Guru,” jawab Agung Sedayu dan Swandaru hampir bersamaan.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berkata apa pun lagi. Sumangkar pun agaknya lebih senang mengangguk-angguk saja tanpa bertanya sesuatu. Sambil melangkah ke pendapa, Swandaru berdesis ragu, “Apakah kau tahu apakah yang penting bagi Raden Sutawljaya itu?”

Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak tahu.”

“Bagaimana pendapatmu tentang gadis yang disebut-sebut oleh beberapa orang termasuk Daksina? Apakah agaknya gadis itu telah menumbuhkan persoalan yang pentang bagi Raden Sutawijaya?”

“Mungkin. Bahkan mungkin bukan saja bagi Raden Sutawijaya. Tetapi juga bagi Mataram.”

Swandaru menarik nafas. Katanya, “Agaknya memang demikian. Gadis itu gadis yang penting bagi Sultan Pajang. Menurut pendengaran kami, Sultan Pajang adalah seorang raja yang agak banyak terlibat hubungan dengan perempuan.”

“Ya. Dan itulah kelemahan Sultan Pajang.”

“Tetapi agaknya Raden Sutawijaya pun demikian.”

Agung Sedayu hanya menundukkan kepalanya saja. Meskipun tidak jelas baginya, namun ia dapat menduga, bahwa agaknya Sultan Pajang telah mendengar, bahwa salah seorang gadis yang ditemukannya di Kalinyamat itu telah membuat hubungan dengan Raden Sutawijaya tanpa ijinnya. Dan apabila persoalannya telah memuncak, maka persoalan pribadi itu akan membakar hubungan baik antara Pajang dan Mataram yang nampaknya memang sudah menjadi semakin buram.

Tetapi keduanya tidak memperbincangkannya lagi. Mereka pun kemudian duduk di pendapa bersama beberapa orang pemimpin Tanah Perdikan Menoreh. Ki Argapati sendiri telah masuk ke dalam rumah bersama Pandan Wangi.

Prastawa yang masih ada di pendapa pun kemudian mendekatinya sambil berkata, “Aku akan ke belakang dahulu.”

Agung Sedayu merenung sejenak, lalu, “Aku ikut bersamamu.”

Prastawa memandang Agung Sedayu sejenak, lalu berpaling kepada Swandaru, “Kau di sini mengawani Ki Demang sejenak?”

“Aku ikut ke belakang.”

“Biarlah ia ikut ke belakang. Barangkali ia dapat membantu mengambil air atau membersihkan kuda,” potong Ki Demang Sangkal Putung. “Aku akan menengok Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar.”

Demikianlah maka mereka pun telah meninggalkan pendapa. Tetapi di pendapa itu masih ada beberapa orang pemimpin pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Meskipun agaknya Menoreh telah menjadi tenang kembali, namun di setiap padukuhan harus dipersiapkan penjagaan yang baik. Orang-orang yang berhasil melarikan diri dari padepokan yang pecah itu tentu akan bertebaran ke mana-mana. Mungkin ke tlatah Tanah Perdikan Menoreh. Mungkin justru memasuki daerah adbmcadangan.wordpress.com Mataram yang sedang dibuka. Tetapi mungkin juga mereka memasuki Tanah Mataram dengan tujuan yang sudah jauh berbeda dengan yang pernah mereka lakukan. Mereka memasuki tlatah Mataram dengan niat yang baik. Karena mereka telah kehilangan pegangan, maka mereka merasa lebih baik membuka hutan dan hidup wajar di dalam sebuah padukuhan yang baru bersama orang-orang yang baru dalam suasana yang lain dari suasana kehidupan di padepokan Panembahan Agung.

Dalam pada itu, di gandok yang lain, Ki Waskita duduk di amben yang besar bersandar dinding. Dibiarkannya angan-angannya terbang dari waktu ke waktu. Yang baru saja terjadi di lembah terasing itu telah mengungkapkan masa hidupnya yang lampau. Petualangan yang kadang-kadang agak binal. Namun kemudian semakin matang ia menguasai ilmunya, maka rasa-rasanya apa yang sudah dilakukannya itu bagaikan bayangan yang pahit. Dengan sepenuh hati maka ia bertekad untuk menghentikannya.

Maka Ki Waskita memilih suatu kehidupan yang tenang. Meskipun sebagian dari ilmunya masih terus dapat dipergunakan, ia memiliki kurnia dari Yang Maha Kuasa untuk melihat isyarat bagi masa dan tempat yang terpisah oleh waktu dan jarak. Dan karena ilmu itu dirasakannya tidak merugikan orang lain, maka ia masih tetap mempergunakannya.

Tetapi pada suatu saat ia harus mempergunakan ilmu yang lain, yang telah disimpannya untuk beberapa lama.

“Untunglah Rudita tidak melihat seluruhnya, sehingga ia tidak akan menuntut untuk mewarisinya.” Ki Waskita berhenti sejenak, lalu, “Aku kira ilmu ini tidak sesuai dengan jiwanya yang agak lemah. Ia memandang semuanya dari kepentingan diri sendiri.” Ki Waskita mengerutkan keningnya sejenak, lalu, “Tetapi agaknya ia telah berubah. Tetapi tidak seorang pun dapat menjamin, bahwa apabila ia memiliki ilmu itu, ia akan menjadi semakin mengendap.”

Dan sekilas terbayang olehnya Panembahan Agung yang salah langkah justru karena ia memiliki ilmu yang dahsyat itu.

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Ia adalah orang yang berusaha memandang persoalan yang dihadapinya, apalagi yang menyangkut orang banyak dengan sejujur-jujurnya. Meskipun Rudita adalah anaknya sendiri, tetapi ia tidak dapat dengan begitu saja memberikan pengetahuan yang dapat membahayakan ketenangan lingkungannya seperti Panembahan Agung.

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Ia mengucapkan sukur di dalam hatinya, bahwa Yang Maha Kuasa memberikan tuntunan kepadanya sehingga ia tidak kehilangan akal karena justru ia telah berhasil menguasai beberapa macam ilmu yang dahsyat, dan bahwa ia masih dapat menyumbangkan ilmunya bagi ketenangan hidup sesamanya.

Namun agaknya Ki Waskita masih mempunyai banyak harapan pada anak laki-lakinya itu untuk menemukan jalan yang baik dan matang. Meskipun sebagai seorang ayah Ki Waskita dibayangi oleh keragu-raguan dan kecemasan sehingga ia tidak berani melihat isyarat bagi masa depan Rudita, tetapi berdasarkan perkembangan pribadinya yang dirasakannya di saat terakhir, agaknya Rudita akan menemukan dirinya bukan sebagai seorang anak yang cengeng, manja, dan mementingkan dirinya sendiri.

Meskipun demkian setiap kali ia ingin mencoba melihat masa depan anaknya, ia masih saja dibayangi oleh keragu-raguan. Ia tidak akan begitu banyak terpengaruh seandainya ia melihat kemungkinan yang buram bagi orang lain. Bahkan, ia merasa beruntung bahwa ia dapat memberitahukannya, sehingga orang itu sempat mempersiapkan dirinya dan menjauhkan kemungkinan yang lebih buruk lagi. Tetapi jika yang dilihatnya itu adalah masa yang buram bagi anaknya sendiri, maka hatinya tentu akan menjadi sangat bersedih. Dan itu pun disadarinya, bahwa kelemahan hati manusiawinyalah yang telah membuatnya takut melihat kenyataan yang bakal dihadapi.

Di belakang, pada saat itu Prastawa sibuk dengan kerjanya. Meskipun sebenarnya ia masih lelah, namun ia termasuk anak yang rajin. Ia harus membersihkan kuda yang baru saja mereka pakai ke medan. Kuda yang dipergunakan oleh pamannya dan Pandan Wangi.

Tetapi kini ia mendapat kawan bekerja. Agung Sedayu dan Swandaru pun termasuk anak-anak muda yang biasa bekerja berat, selain beberapa orang pelayan.

Agung Sedayu dan Swandaru tidak saja sekedar membersihkan kuda yang mereka pakai sendiri, tetapi juga kuda-kuda Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar.

“Daripada kita kehabisan waktu menimba air, bagaimana jika kuda-kuda ini kita bawa saja ke sungai?” berkata Swandaru.

Prastawa mengerutkan keningnya. Katanya, “Tetapi tentu tidak sebanyak ini. Nanti kita pergi ke sungai membawa beberapa saja yang mudah dikuasai.”

Demikianlah, setelah sebagian dibersihkan di halaman belakang dan dimasukkan ke dalam gedogan, maka yang lain pun dimandikannya di sungai. Mereka membawa kuda-kuda itu ke dalam air sehingga dengan mudah mereka memandikannya tanpa menghabiskan tenaga untuk menimba.

Dalam pada itu selagi mereka sibuk dengan kuda-kuda itu, seseorang perlahan-lahan mendekatinya dengan ragu-ragu. Sejenak ia berdiri di tepian. Namun kemudian ia melangkah mendekat.

Prastawa-lah yang mula-mula melihatnya, sambil mengerutkan keningnya ia berdesis, “Anak cengeng itu datang pula kemari.”

Swandaru berpaling sejenak. Kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Aku juga termasuk anak manja. Tetapi aku tahu bahwa manja yang berlebih-lebihan seperti itu sama sekali tidak menguntungkan.”

Agung Sedayu yang juga berpaling tidak berkata sepatah kata pun.Namun ia melihat sesuatu yang lain di wajah anak muda yang bernama Rudita itu. Tetapi karena ia tidak yakin akan penglihatannya, maka ia pun sama sekali tidak mengatakannya.

Prastawa yang benar-benar telah menjadi jemu melayani Rudita, masih saja berpura-pura tidak melihatnya. Bahkan ia telah bergeser dan membelakangi anak muda yang berdiri di tepian itu. Nampaknya ia masih saja sibuk memercikkan air ke tubuh kuda yang sedang dimandikannya.

Ternyata Swandaru pun tidak menghiraukannya sama sekali. Seperti Prastawa ia sibuk dengan kudanya dan menggosoknya dengan sepotong kain.

Agung Sedayu-lah yang kemudian tidak sampai hati membiarkan anak muda itu terlalu lama berdiri termangu-mangu di tepian. Karena itulah maka anak muda itu pun mengangkat wajahnya dan seakan-akan baru saja melihat Rudita itu berdiri di situ.

“O, kau?” bertanya Agung Sedayu.

Rudita menganggukkan kepalanya. Jawabnya lambat, “Ya.”

“Kenapa kau kemari?” bertanya Agung Sedayu pula.

Rudita termangu-mangu sejenak, lalu dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah aku dapat membantu kalian memandikan kuda-kuda itu?”

Pertanyaan itu ternyata telah mengejutkan, sehingga Prastawa dan Swandaru pun terhenti sejenak sambil memandang Rudita yang termangu-mangu.

“Kau akan memandikan kuda?” bertanya Prastawa.

Rudita mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Aku memang tidak biasa memandikan kuda, Prastawa. Tetapi aku ingin belajar melakukannya, akhirnya aku berpendapat, bahwa pada suatu saat aku pun harus memandikan kuda seperti yang kalian lakukan.”

Prastawa dan Swandaru saling berpandangan sejenak, sedang Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Seakan-akan ia melihat bayangannya sendiri pada anak muda yang bernama Rudita itu. Sebagai seorang anak muda yang pernah mengalami perkembangan pribadi yang cukup berat, maka Agung Sedayu segera dapat merasakan, ada sesuatu yang bergejolak di hati Rudita.

Karena itu, maka ialah yang mula-mula menanggapinya dengan penuh minat. Sejenak dipandanginya wajah Rudita yang nampak bersungguh-sungguh. Kemudian sambil menganggukkan kepalanya ia berkata, “Kemarilah jika kau memang ingin mencoba menyesuaikan dirimu dengan kehidupan yang barangkali agak terlampau keras bagimu.”

“Ya. Aku selama ini menganggap bahwa aku dapat berbuat apa saja tanpa berbuat sesuatu.”

Swandaru dan Prastawa mulai merasakan getaran di dalam hati anak muda itu. Wajah Rudita nampaknya telah berubah. Tatapan matanya tidak lagi memancarkan perintah yang tidak berkeputusan. Mulutnya tidak lagi menuntut perhatian orang lain dan ia mulai mendengarkan pendapat orang lain atas dirinya.

Anak-anak muda itu pun menjadi iba kepadanya. Prastawa yang mula-mula merasa sangat jemu karena tingkah lakunya, kini menganggap anak itu sebagai anak yang paling malang.

“Apakah kau benar-benar akan mencoba memandikan kuda?” hampir di luar sadarnya Swandaru bertanya.

Rudita mengangguk.

“Baiklah. Kemarilah. Kau tentu akan segera dapat melakukannya. Jika kau tidak mengejutkan kuda yang sedang kau mandikan, maka kuda itu pun tidak akan berusaha untuk lari.”

Perlahan-lahan Rudita melangkah ke dalam air sungai yang tidak begitu dalam. Kakinya memang agak merasa sakit karena batu-batu kerikil, tetapi sama sekali tidak dihiraukannya, sehingga semakin lama ia pun menjadi semakin ke tengah mendekati anak-anak muda yang sedang memandikan kuda itu.

Sejenak kemudian Rudita telah ikut serta memandikan kuda-kuda itu. Semula tangannya memang agak canggung. Tetapi semakin lama pekerjaan itu menjadi semakin menarik. Bahkan rasa-rasanya ia menemukan kegembiraan baru di dalam percikan-percikan air sungai itu.

Rudita tidak menghiraukan lagi pakaiannya yang kemudian menjadi basah kuyup seperti pakaian anak-anak muda yang lain. Tetapi Rudita tidak mau melepaskan bajunya seperti kawan-kawannya. Karena itu, maka baju yang masih dipakainya itu pun menjadi kuyup pula karenanya.

Sejenak kemudian maka anak-anak muda itu pun menuntun kuda-kuda itu kembali ke rumah Ki Argapati. Tidak banyak orang yang memperhatikannya. Mereka yang bertemu di sepanjang jalan, sekedar mengangggukkan kepalanya, karena mereka sudah mengenal anak-anak muda itu, sedang memandikan kuda sama sekali bukan pekerjaan yang aneh bagi mereka.

Ketika mereka sampat di rumah Ki Argapati, maka mereka pun segera memasukkan kuda-kuda itu ke dalam kandang. Kemudian anak-anak muda itu pun kembali ke bilik masing-masing untuk mengambil ganti pakaian yang basah. Mereka masih akan mengguyur tubuh mereka di pakiwan sebelum mereka berganti pakaian.

Berbeda dengan Agung Sedayu, Swandaru dan Prastawa yang setelah memberikan keterangan bahwa mereka baru saja memandikan kuda di sungai maka pakaian mereka yang basah sama sekali tidak menjadikan persoalan apa pun, namun ternyata bahwa pakaian Rudita yang basah telah sangat mengejutkan ibunya.

“Kenapa pakaianmu Rudita? Dan apalagi yang telah terjadi atasmu?”

Rudita memandang ibunya sejenak, lalu jawabnya dengan tenang, “Aku ikut memandikan kuda di sungai, Ibu.”

“Memandikan kuda?” ibunya mengulangi dengan mata terbelalak. “He, kenapa kau harus memandikan kuda? Apakah tidak ada seorang pelayan pun yang mau memandikan kudamu dan barangkali juga kuda ayahmu?”

“Aku ikut dengan Agung Sedayu, Swandaru, dan Prastawa.”

“Kenapa kau ikut dengan anak-anak itu? Kau dapat menyuruh orang lain. Atau barangkali kau dapat menyuruh anak-anak itu memandikan kudamu dengan sekedar upah.”

Tetapi kali ini Rudita menggelengkan kepalanya. Katanya, “Ternyata senang sekali memandikan kuda di sungai. Barangkali kerja yang lain pun memberikan kegembiraan yang serupa. Aku belum pernah pergi ke sawah untuk membajak dan mencangkul. Aku kira pekerjaan itu pun memberikan kepuasan tersendiri. Apalagi jika kelak kita memetik hasilnya.”

“He, aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan?”

“Ibu,” berkata Rudita, “ternyata aku selama ini telah jauh ketinggalan dari anak-anak muda sebayaku. Aku tidak dapat mengerjakan apa yang sanggup mereka lakukan dengan baik.”

“O, Rudita. Apakah sebenarnya yang telah terjadi atasmu. Kenapa kau tiba-tiba saja telah berubah. Kau tidak perlu berbuat apa-apa anakku. Kau tidak perlu berbuat seperti anak-anak padesan itu. Kita mempunyai banyak pelayan di rumah. Kita mempunyai uang untuk mengupah orang-orang yang dapat mengerjakan pekerjaan kita.”

“Itulah yang membuat aku ketinggalan, Ibu. Terlalu jauh.”

Ibunya masih akan menjawab. Tetapi mereka berpaling ketika terdengar suara, “Tetapi masih ada kesempatan mengejar ketinggalan itu, Rudita.”

Ibunya memandang Ki Waskita yang berdiri di muka pintu sambil menatap wajah anaknya. Dengan nada yang datar ayahnya itu berkata selanjutnya, “Kau agaknya telah menemukan jalan yang benar anakku.”

“Apakah yang kau maksud, Kiai?” bertanya ibu Rudita itu. “Apakah kau akan menjadikan anak kita seperti anak-anak padesan yang melarat itu dan membuatnya menjadi budak? Tidak. Anakku harus menjadi anak yang lebih baik dari mereka. Anakku tidak seharusnya bekerja di sawah, apalagi memandikan kuda.”

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Seharusnya kita berterima kasih, bahwa sepercik cahaya terang telah memancar di hati anak kita itu.”

Nyai Waskita termangu-mangu sejenak. Tetapi nampak pada sorot matanya bahwa ia tidak dapat mengerti keterangan suaminya. Baginya Rudita adalah anak yang lain dari anak-anak padesan. Bahkan bagi ibu Rudita itu, anaknya adalah anak yang lebih tinggi martabatnya dengan anak-anak Sangkal Putung meskipun yang seorang dari keduanya adalah anak Demang di Sangkal Putung.

Tetapi ibu Rudita itu tidak berusaha mengetahui lebih banyak tentang sikap suaminya. Ia seolah-olah telah menentukan sikapnya sendiri terhadap anaknya. Karena itu maka katanya kemudian, “Aku akan tetap menjaga agar derajat anakku tidak merosot. Ia harus tetap anak yang baik, yang terhormat dan berwibawa.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun sadar, bahwa tidak akan ada gunanya menjelaskan kepada isterinya untuk langsung dapat dimengerti.

“Mudah-mudahan pada suatu saat ibunya dapat mengerti,” katanya di dalam hati.

Rudita sendiri kemudian merasa dirinya berdiri di persimpangan jalan. Ia kini sadar, bahwa ibunya masih tetap dalam sikapnya. Dan itulah yang membuatnya semakin jauh dapat menyelami dirinya sendiri. Perlahan-lahan ia dapat melihat sebab yang membuatnya tumbuh di dalam keadaan yang lain dari anak-anak muda sebayanya.

Ketika malam kemudian menyaput induk Tanah Perdikau Menoreh, maka Rudita mendapatkan Agung Sedayu dan Swandaru yang duduk di serambi gandok. Udara yang panas membuat mereka tidak tahan berada di dalam bilik menunggui Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar. Apalagi mereka terlampau asik berbicara di antara mereka orang-orang tua bersama Ki Demang Sangkal Putung.

Tetapi sikap Rudita pun kemudian sudah sangat berlainan. Ia tidak lagi memandang kedua anak-anak muda itu dengan kepala tengadah dan mengucapkan perintah-perintah dan menyatakan keinginan-keinginannya tanpa menghiraukan perasaan orang lain. Kini Rudita itu duduk di hadapan Agung Sedayu dan Swandaru dengan kepala tunduk.

“Aku minta maaf kepada kalian,” berkata Rudita itu, “kepada kau berdua, kepada Pandan Wangi, dan kepada Prastawa.”

Agung Sedayu bergeser setapak. Lalu katanya, “Kesalahanmu bukan kesalahan yang tidak termaafkan. Kami tahu, bahwa kau selama ini dibayangi oleh kepribadian yang belum terbentuk karena lingkungan keluargamu. Hampir tidak masuk akal bahwa kau adalah anak Ki Waskita yang tidak dapat dibayangkan, betapa tinggi kemampuannya.”

Rudita mengerutkan keningnya, lalu,”Maksudmu?”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Lalu, “Ayahmu adalah seorang yang memiliki ilmu tidak ada duanya dari mereka yang pernah aku kenal.”

Rudita tidak mengerti yang dimaksud oleh Agung Sedayu. Namun kemudian ia menyahut, “Ayah hanya mampu menebak apa yang dilihatnya dalam isyarat. Kadang-kadang benar dan kadang-kadang salah.”

Agung Sedayu dan Swandaru mulai merasakan sesuatu yang ganjil pada tanggapan Rudita terhadap ayahnya. Bahkan mereka pun kemudian mulai curiga bahwa Rudita tidak banyak mengetahui bahwa ayahnya memiliki kemampuan olah kanuragan yang luar biasa di samping ilmunya yang ajaib itu.

Karena itu, maka Agung Sedayu dan Swandaru pun kemudian tidak lagi berbicara tentang kemampuan Ki Waskita. Namun mereka ingin menjajagi perkembangan pribadi Rudita

“Rudita,” Swandaru-lah yang kemudian bertanya kepadanya, “aku melihat sesuatu yang berubah pada dirimu. Apakah kau menyadarinya?”

“Aku menyadari,” berkata Rudita, “aku merasa bahwa aku selama ini bersikap lain dengan sikap anak-anak muda sebayaku. Aku dipengaruhi oleh perasaan yang baru sekarang aku sadari, bahwa hal itu kurang menguntungkan bagi diriku sendiri.”

Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Tetapi kau adalah orang yang jujur sekali Rudita. Jarang sekali orang yang mau mengakui kelemahan sendiri di masa lampaunya.”

“Aku mengalami getaran yang sangat dahsyat di dalam jiwaku. Aku bahkan merasa bahwa aku tidak akan pernah dapat melihat matahari terbit esok pagi.” Rudita berhenti sejenak, lalu, “Ketika Paman Sumangkar menemukan aku, rasa-rasanya aku adalah orang yang mati dan hidup lagi. Goncangan itulah yang membuat aku harus mengakui apa yang terjadi atas diriku.”

“Apakah dengan demikian kau kemudian berhasrat untuk mempelajari olah kanuragan?”

“Sudah terlambat.”

“Tidak. Kau adalah seorang laki-laki. Adikku, Sekar Mirah adalah seorang gadis. Ia bertekun mempelajari ilmu di saat ia sudah dewasa. Ia pun mengalami goncangan seperti yang terjadi atasmu ketika ia diculik oleh seorang laki-laki yang menginginkannya. Kini Sekar Mirah adalah seorang gadis yang dapat menjaga dirinya sendiri.”

Rudita tersenyum. Katanya, “Tetapi aku memilih jalan lain. Kekerasan bukan satu-satunya jalan untuk membina ketenteraman. Jika Raden Sutawijaya dan Paman Argapati mempergunakan kekerasan untuk membuat Mataram dan Menoreh tenteram dan tidak lagi diganggu oleh orang-orang bersenjata yang ternyata di bawah pimpinan Panembahan Agung itu, maka aku akan memilih jalan lain.”

“Apakah yang kau pilih itu?” bertanya Agung Sedayu.

“Jika setiap orang menghindarkan diri dari tindak kekerasan, maka rasa-rasanya kita bersama-sama akan hidup tenteram. Memang agaknya kemungkinan itu jauh sekali dari batas pencapaian di masa kini. Tetapi aku kira, itu adalah cara yang dapat dimulai.”

Agung Sedayu dan Swandaru mendengarkan kata-kata Rudita itu dengan dada yang berdebar-debar. Mula-mula mereka tidak begitu menyadari arti dari kata-kata itu. Namun kemudian terasa sesuatu yang lain menyentuh hati mereka.

“Jika kita masih tetap menganggap bahwa kekerasan adalah jalan satu-satunya untuk mendapatkan ketenangan, maka aku kira kita tidak akan pernah sampai pada ketenangan yang sebenarnya,” berkata Rudita pula.

“Tetapi,” dengan ragu-ragu Swandaru menyahut, “apakah sikap itu akan ada artinya apabila kita harus berhadapan dengan kekerasan? Kita tentu tidak akan dapat meneriakkan aba-aba agar semua orang menghentikan kekerasan dalam satu saat yang sama. Dengan demikian, maka sikap itu pun akan terguncang oleh kenyataan bahwa kita berhadapan dengan sikap yang lain. Apakah dalam keadaan serupa itu kita tidak seharusnya berusaha mempertahankan diri sebagai salah satu sifat manusiawi, bahwa kita selalu ingin mempertahankan hidup kita dan menghindari kematian sejauh dapat kita lakukan.”

“Kau benar, Swandaru,” berkata Rudita, “seperti yang aku katakan, masa itu adalah masa yang masih jauh sekali dari masa kini, di mana sikap tenang dan damai tidak dilambari dengan sikap kekerasan. Tetapi menurut pendapatku, sesuai dengan keadaanku, maka bagiku jalan inilah yang paling tepat aku tempuh. Tentu tidak akan dapat tercapai sejauh umurku. Jika ada orang lain yang dapat mengerti caraku berpikir dan berusaha untuk bersama-sama melakukannya, maka aku akan berbesar hati. Mudah-mudahan pada suatu saat yang jauh sekali, akan datang waktunya bahwa kekerasan bukan merupakan pelindung yang paling utama untuk mendapatkan kedamaian.”

Swandaru memandang wajah Rudita sejenak. Rasa-rasanya yang diajaknya berbicara kali ini bukan Rudita yang beberapa hari yang lalu masih saja membentak sambil berkata, “Hasil buruan yang pertama akan aku hadiahkan kepada Pandan Wangi.”

Bahkan Agung Sedayu menerima kata-kata Rudita itu dengan debar yang rasa-rasanya menghentak-hentak di dadanya. Ia sendiri pernah mengalami masa yang serupa dengan Rudita. Tetapi akibat yang kemudian tumbuh adalah berbeda sekali. Ia sendiri memilih jalan kekerasan untuk memantapkan diri, mempelajari ilmu kanuragan dan ketahanan jasmaniah, namun Rudita memilih jalan yang lain. Ia memilih jalan yang terasa asing. Namun justru jalan yang sangat mengagumkan.

Namun Agung Sedayu pun menyadari alasan dari perkembangan yang berbeda itu. Pada masa kecilnya, betapa pun ibunya memanjakannya seperti ibu Rudita, namun ia sempat mempelajari beberapa jenis kemampuan jasmaniah. Ia mempelajari dasar-dasar tata bela diri dan ilmu bidik yang ternyata melampaui kemampuan orang kebanyakan. Modal itulah yang kemudian berkembang sejalan dengan perkembangan kepribadiannya. Dan agaknya berbeda dengan Rudita. Meskipun ayahnya seorang yang memiliki kelebihan yang jarang ada duanya, namun agaknya Rudita sama sekali tidak pernah diperkenalkan dengan ilmu olah kanuragan sehingga arah perkembangan kepribadiannya pun sangat berlainan dangan Agung Sedayu.

“Rudita,” berkata Agung Sedayu kemudian, “sikapmu sangat mengagumkan. Aku iri mendengar pernyataanmu tentang dunia yang kau cita-citakan. Tetapi apakah kau tidak membayangkan, betapa pun bersihnya suatu cita-cita, namun apabila cita-cita itu tidak pernah dapat berkembang, bukankah itu sama artinya dengan kesia-siaan?”

“Tentu, Agung Sedayu,” jawab Rudita, “karena itu terserahlah kepada orang lain yang menanggapi sikapku. Jika tidak ada orang lain yang berpendapat sesuai dengan pendapatku, dan bahkan aku akan tergilas oleh sikap yang lain dalam waktu yang singkat, maka yang aku harapkan itu tidak akan pernah terwujud. Tetapi aku masih ada harapan lain, bahwa pada suatu saat ada orang lain yang meskipun belum pernah mendengar namaku dan belum pernah mengetahui sikapku ini, akan mengambil sikap serupa.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk kecil. Lalu katanya, “Apakah bedanya sikapmu itu dengan sikap seseorang yang meskipun memiliki kemampuan yang tinggi tetapi ia mendambakan kedamaian yang kekal. Justru dengan demikian ia akan dapat memelihara dan mempertahankan sikapnya itu jika orang lain berusaha menghancurkan cita-citanya dengan kekerasan, maka ia mempunyai kekuatan untuk melindunginya.”

“Agung Sedayu. Di dalam pertempuran yang baru saja terjadi di padepokan yang terpencil itu, aku melihat sesosok tubuh raksasa. Aku semula tidak mengerti, karena bentuk yang satu mirip sekali dengan ayahku. Ternyata Panembahan Agung sedang bermain-main dengan bentuk semunya. Bentuk yang menurut Paman Sumangkar dapat mengelabuhi siapa pun juga yang ada di sekitar jarak jangkau ilmunya. Namun akhirnya yang semu itu tidak ada artinya apa-apa. Demikian juga agaknya kekerasan itu. Yang dapat dicapai dengan kekerasan adalah keadaan yang semu, karena pada suatu saat kekerasan yang lain akan saling berbenturan sehingga akhirnya kekuatan yang satu akan segera lenyap karena kekuatan yang lain yang timbul kemudian. Demikian seterusnya. Tetapi jika kita bersama-sama sama sekali tidak memiliki kemampuan apa pun yang bersifat kekerasan, kita tidak akan dapat berbuat demikian. Dan kita akan menemukan ketenangan yang sebenarnya di dalam sikap damai setiap orang.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti pendirian itu, namun bagi Swandaru pendirian Rudita masih merupakan suatu mimpi yang samar-samar terapung di langit yang jauh sekali. Meskipun Swandaru tidak menolak, bahwa jika benar keadaan yang demikian itu dapat dicapai, maka hidup di dunia ini akan menjadi semakin tenang.

Agung Sedayu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Seperti Swandaru ia pun mengerti. Bahkan ia lebih dalam tersentuh oleh kata-kata Rudita itu. Dan menurut pendapat Agung Sedayu, apa yang dikatakan oleh Rudita itu adalah murni tumbuh dari sanubarinya sendiri setelah ia mengalami goncangan perasaan yang sangat dahsyat.

“Agung Sedayu,” berkata Rudita kemudian, “peristiwa yang baru saja terjadi telah melontarkan aku ke dalam puncak perasaan takut. Dengan demikian maka kini justru timbul pertanyaan di dalam diriku, kenapa aku harus ketakutan menghadapi peristiwa semacam itu. Takut atau tidak takut sebenarnya bagiku tidak akan ada bedanya. Jika tidak ada Paman Sumangkar yang menolongku, maka aku sekarang sudah tidak akan sempat berbicara dengan kau lagi. Karena itu sebenarnya sia-sialah perasaan takut itu bagiku. Mungkin tidak bagimu, karena di dalam ketakutan adbmcadangan.wordpress.com kau dapat mencurahkan ilmumu untuk melindungi dirimu. Tetapi tidak bagiku. Aku tidak perlu takut, karena aku tidak akan dapat berbuat apa-apa. Sehingga karena perasaan takut atau tidak takut sama saja bagiku, sebaiknya aku belajar mengusir perasaan takut itu. Ketakutan yang bagaimana pun juga tidak akan menolongku.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Sejenak ia berpaling memandang wajah Swandaru. Wajah itu tampak tegang. Namun kemudian kepala Swandaru pun terangguk-angguk kecil.

Agung Sedayu pun kemudian mengangguk-angguk pula di luar sadarnya. Rudita benar-benar telah menemukan dirinya di dalam bentuknya yang lain. Jika Agung Sedayu pun kemudian berhasil melepaskan diri dari belenggu perasaannya dari ketakutan, maka agaknya Rudita pun demikian. Namun Rudita menganggap bahwa lebih baik baginya untuk berada di dalam sikapnya yang damai tanpa ketakutan sama sekali apa pun yang akan dialami.

Untuk beberapa saat ketiga anak-anak muda itu berdiam diri, masing-masing dengan angan-angannya sendiri. Agung Sedayu dan Swandaru masih saja merenungi sikap Rudita yang dapat mereka mengerti, namun masih belum dapat mereka lakukan karena pertimbangan yang berlapis-lapis.

“Aku hormati sikapmu,” desis Agung Sedayu kemudian, “ternyata bahwa kau jauh lebih berani daripada aku. Aku mengerti bahwa jalan itu benar. Tetapi aku tidak mempunyai keberanian untuk menempuhnya. Dan kau pun benar, bahwa dengan ketakutan sebagai dasar yang paling dalam, maka aku merasa perlu untuk menempa diri dengan berbagai macam ilmu, sekedar untuk mendapatkan ketenteram hati. Dan agaknya kau telah menemukan sikap yang damai dan tenang tenteram tanpa mempelajari ilmu yang kau sebut dengan sikap kekerasan itu.”

Rudita tersenyum. Katanya, “Mungkin dapat juga diartikan, aku sudah terlanjur menjadi anak yang malas, yang tidak mempunyai kemampuan dan kemauan apa pun lagi untuk memilih sikap yang lain dari sikapku ini.”

“Sikapmu agaknya bukan sekedar karena kau tidak dapat berbuat yang lain,” jawab Swandaru, “agaknya kau meyakini bahwa sikap itu adalah sikap yang paling baik kau lakukan.”

Rudita menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak segera menyahut.

Maka malam pun menjadi semakin dalam. Di langit bintang bertebaran dari ujung sampai ke ujung. Di kejauhan terdengar suara bilalang berderik bersahut-sahutan.

Rudita menarik nafas. Kadang-kadang bulu-bulunya masih juga meremang jika ia mengenang masa-masa yang mengerikan di padepokan yang terasing itu. Namun ia tersenyum sendiri mengenangkan saat-saat ia menangis hampir semalam suntuk. Dan ternyata tangisnya sama sekali tidak menolongnya. Yang menolongnya adalah Ki Sumangkar yang memasuki padepokan itu.

Meskipun Ki Sumangkar harus berbekal kekerasan selagi melepaskannya, namun kekerasan itu sendiri agaknya tidak lagi diperlukannya bagi dirinya sendiri.

Pembicaraan mereka pun terputus ketika Prastawa kemudian datang memanggil mereka dan Ki Demang Sangkal Putung untuk makan bersama. Sedang bagi Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar, Pandan Wangi telah membawa dan melayani mereka berdua makan di dalam biliknya.

“Aku dapat naik ke pringgitan,” berkata Sumangkar, “mungkin bagi Kiai Gringsing masih diperlukan pelayanan di dalam bilik ini.”

“Beristirahat sajalah, Kiai,” sahut Pandan Wangi, “biarlah aku melayani Kiai berdua. Meskipun luka-luka Kiai tidak separah Kiai Gringsing, tetapi biarlah Kiai beristirahat secukupnya.”

Dengan demikian, di pringgitan kemudian berkumpul beberapa orang tua bersama anak-anak muda untuk makan bersama. Sedangkan ibu Rudita seperti biasanya makan bersama beberapa orang perempuan yang sibuk di dapur membantu menyediakan makan bagi para tamu dan pengawal yang masih selalu bersiap-siap.

Sekali-sekali mereka yang makan di pringgitan itu masih juga berbicara tentang kekuatan yang tersembunyi di padepokan terpencil itu. Kekuatan yang sebenarnya akan sangat berarti jika disalurkan lewat jalan yang benar dan baik.

Dengan demikian Rudita pun menjadi semakin yakin, bahwa ilmu yang semakin tinggi, akan semakin berbahaya. Sifat manusia adalah lupa diri. Betapa pun juga ia mendasari dirinya dengan sifat-sifat yang baik, namun apabila pada suatu saat ia tersentuh oleh nafsu yang tidak terkendali, maka kemampuannya itu pun akan tergeret oleh nafsunya dan akan disalah-gunakannya.

Demikian asyiknya mereka berbicara, akhirnya sampai juga mereka pada Raden Sutawijaya. Seorang anak muda yang mengagumkan. Namun timbul pula pertanyaan di dalam diri mereka, siapakah sebenarnya gadis yang telah disebut-sebut berasal dari Kalinyamat itu.

Dalam pada itu, Raden Sutawijaya sendiri yang sedang dibicarakan itu, telah dicengkam oleh kecemasan yang sangat. Betapa pun ia mencoba menyembunyikan perasaannya, namun tampaklah bahwa ia sedang kebingungan.

Ki Lurah Branjangan yang telah menduga bahwa sesuatu sedang bergolak di dalam hati anak muda itu, sekali-sekali ingin juga bertanya kepadanya. Tetapi ia selalu ragu-ragu dan pertanyaan itu masih belum dapat dilontarkannya. Ia hanya dapat duduk memandangi anak muda yang murung itu sambil menunggu saat yang baik untuk bertanya.

Namun dalam pada itu, beberapa orang pengawal justru menjadi gelisah. Mereka tidak mengerti, kenapa Sutawijaya telah menghentikan pasukannya justru setelah mereka berada di mulut Tanah Mataram.

“Apakah kita harus tidur di belukar ini setelah rumah kita berada di depan hidung?” desis seorang pengawal yang nampaknya sudah terlalu letih sehingga seakan-akan ia sudah tidak lagi dapat menahan hati untuk segera pulang dan tidur dengan nyenyaknya.

Kawannya hanya dapat mengangkat bahu. Mereka tidak mengerti kenapa mereka harus berhenti. Jika mereka harus beristirahat di tempat itu, maka akan lebih baik jika jarak yang pendek itu mereka selesaikan saja sama sekali. Baru kemudian mereka beristirahat sebaik-baiknya.

Tetapi tidak seorang pun yang menanyakannya kepada Sutawijaya. Bahkan utusan yang memanggilnya agar ia cepat-cepat pulang ke Tanah Mataram itu pun tidak bertanya apa-apa. Bahkan utusan itu malahan mendekati Ki Lurah Branjangan dan duduk di sebelahnya.

“Apakah ada sesuatu yang tidak wajar terjadi atas Raden Sutawijaya?” bertanya utusan itu.

Ki Lurah Branjangan hanya dapat menarik nafas dalam-dalam, sambil bergumam, “Aku tidak mengerti perasaan apa yang berkecamuk di dalam dadanya.”

Keduanya pun kemudian terdiam. Mereka sekilas memandang Raden Sutawijaya yang duduk bersandar sebatang pohon. Kemudian berdiri dan berjalan mondar-mandir.

“Ki Lurah,” berkata utusan itu, “agaknya Raden Sutawijaya memang sedang menghadapi kesulitan.”

“Ya,” sahut Ki Lurah Branjangan, “apakah kau benar-benar tidak mengerti, atau setidak-tidaknya mendengar desas-desus, apakah desas-desus itu salah atau benar, bahwa sesuatu telah terjadi sehingga ia telah terpaksa pulang dengan tergesa-gesa?”

Utusan itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Hanya sekedar desas-desus. Tetapi sudah barang tentu tidak akan dapat dijadikan pegangan. Dan itulah sebabnya aku bertanya kepada Ki Lurah barangkali Ki Lurah mengetahuinya.”

“Aku tidak tahu. Tetapi bagaimana bunyi desas-desus itu?”

Utusan yang menjemput Raden Sutawijaya itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya berbisik, “Raden Sutawijaya telah membuat hubungan gelap dengan seorang gadis dari Kalinyamat, yang seharusnya diperuntukkan bagi ayahandanya Sultan Pajang.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sebenarnya ia sudah tidak terkejut lagi. Ia memang sudah menduga bahwa hal itulah yang menjadi persoalannya. Ia pernah mendengar desas-desus yang serupa pula. Dan agaknya hal itu sudah bukan merupakan rahasia lagi, meskipun belum seorang pun yang berani mengatakannya dengan berterus-terang. Setiap mulut berbisik ke setiap telinga dengan pesan, “Jangan kau katakan kepada orang lain.” Namun akhirnya desas-desus itu sudah merata di seluruh Tanah Mataram.”

Utusan yang membisikkan desas-desus itu menjadi berdebar-debar. Bahkan kemudian ia bertanya, “Kau tidak sependapat bahwa hal itu telah terjadi?”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Bukan aku tidak sependapat bahwa hal itu telah terjadi. Jika hal itu sudah terjadi, apa yang dapat aku lakukan? Tetapi aku memang tidak sependapat bahwa hal itu terjadi. Tetapi sudah barang tentu yang sudah terjadi itu terjadilah.”

Utusan itu mengangguk-angguk. Katanya, “Jika benar hal itu telah dilakukan oleh Raden Sutawijaya, maka yang akan terjadi tentu tidak kita harapkan bersama. Kesulitan demi kesulitan akan melanda Mataram. Hari ini Mataram telah membebaskan diri dari gangguan orang yang menyebut dirinya Panembahan Tidak Bernama yang juga disebut Panembahan Alit dan orang yang lebih berbahaya lagi, Panembahan Agung, namun kesulitan yang bakal datang adalah dari Pajang. Di Pajang tidak kurang jumlah orang sakti yang akan dapat mempengaruhi pertumbuhan Mataram.”

Ki Lurah Branjangan memandang saja ke dalam kegelapan yang rasa-rasanya semakin mencengkam. Lamat-lamat ia masih melihat bayangan Sutawijaya yang berjalan hilir-mudik. Sepercik cahaya perapian telah mewarnai wajahnya menjadi kemerah-merahan.

“Ya,” jawab utusan itu, “di Pajang masih ada beberapa orang sakti. Mereka adalah senapati-senapati yang terpilih. Sepeninggal Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi, masih ada Ki Mancanagara, masih ada Ki Wilamarta dan Ki Wuragil. Masih ada senapati-senapati lain yang namanya cukup mendebarkan, selain mereka masih juga harus diingat, bahwa kekuasaan Pajang meliputi Pasisir Lor dan Wetan, para adipati tentu tidak akan tinggal diam jika Sultan Pajang menjatuhkan perintah atas mereka untuk menyapu Mataram yang kini masih tidak lebih dari sebutir debu di pantai.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Memang Mataram masih terlalu kecil jika dibandingkan dengan Pajang keseluruhan. Tanpa para adipati itu pun Mataram tentu akan menghadapi kesulitan apabila senapati di daerah Selatan yang justru merupakan jalur lurus antara Pajang dan Mataram itu mulai bertindak. Jika Sultan Pajang menjatuhkan perintah atas Untara maka Mataram akan menghadapi persoalan yang sangat rumit. Kekuatan Untara memang masih belum sebesar adbmcadangan.wordpress.com kekuatan Mataram jika dihimpun seluruhnya. Tetapi Untara adalah bagian kecil saja dari seluruh pasukan yang ada. Jika dikehendaki, maka pasukan Untara dalam waktu satu hari satu malam dapat ditambah dengan dua kali lipat, di bawah pimpinan senapati yang berilmu tinggi.

Ki Lurah Branjangan mengerutkan keningnya. Ia mengetahui semuanya itu. Tetapi ada sesuatu yang mendesaknya untuk pergi ke Mataram saat itu. Bukan ia sendiri, tetapi beberapa kawannya dan beberapa orang prajurit.

Tetapi agaknya Pajang yang tampak kuat di luar itu, ternyata semakin lama menjadi semakin rapuh. Para senapatinya telah menentukan sikapnya sendiri-sendiri. Jika Ki Lurah Branjangan itu pergi ke Mataram, maka Daksina telah berada di padepokan terpencil di bawah pengaruh Panembahan Agung, meskipun Daksina sendiri bukannya orang tertinggi di Pajang di dalam lingkungannya.

“Apakah pada saatnya Pajang akan runtuh dengan sendirinya?” bertanya Ki Lurah Branjangan di dalam hatinya.

Tetapi Ki Lurah Branjangan masih tetap berdiam diri. Ketika ia mengangkat wajahnya, dilihatnya langit yang gelap menjadi semakin gelap. Segumpal mendung yang hitam mengalir di ujung langit menutupi bintang yang bertebaran, dan hujan tentu sudah jatuh di bagian lain dari daerah Mataram

Raden Sutawijaya masih saja berjalan hilir-mudik dengan gelisahnya. Kegelisahannya ternyata membuat para pengawal itu menjadi gelisah pula.

“Jika kita berjalan terus, kita tentu sudah berada di mulut gerbang,” desis seorang pengawal.

Tetapi kawannya sama sekali tidak menyahut. Mereka tidak akan dapat merubah keputusan Raden Sutawijaya. Bahkan utusan yang seolah-olah telah memaksa anak muda itu meninggalkan Menoreh, sama sekali tidak berbuat apa-apa meskipun pasukan para pengawal itu sudah berada di depan pintu gerbang.

Selagi para pengawal itu merenung, maka tiba-tiba saja terdengar Raden Sutawijaya itu memanggil Ki Lurah Branjangan, sehingga dengan tergesa-gesa Ki Lurah itu berdiri dan melangkah mendekatinya.

“Raden memanggil aku?” bertanya Ki Lurah Branjangan.

“Ya, Ki Lurah,” sahut Haden Sutawijaya, “kemarilah. Aku ingin berbicara sedikit.”

Ki Lurah Branjangan pun menjadi termangu-mangu. Namun ketika Sutawijaya kemudian duduk di atas sebuah batu, maka Ki Lurah Branjangan pun berjongkok pula.

“Duduklah,” berkata Raden Sutawijaya, “aku ingin berbicara dengan Paman seorang diri.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian duduk pula di atas sebuah batu. Ketika ia berpaling, dilihatnya utusan yang tadi berbicara dengannya itu sudah melangkah pergi.

“Ki Lurah,” berkata Sutawijaya kemudian, “sebenarnya ada sesuatu yang menyulitkan kedudukanku sekarang.”

Ki Lurah Branjangan yang sudah menduga, persoalan apa yang sedang mencengkam hati Raden Sutawijaya itu, mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih tidak segera menanggapinya, seolah-olah ia masih belum mengetahuinya sama sekali.

Tetapi Sutawijaya itu pun berkata, “Paman tentu sudah mengetahuinya. Bahkan sebagian para pengawal Mataram pun sudah membicarakannya. Daksina menyebutnya dengan berterus-terang di hadapan para pengawal. Maksudnya memang dengan sengaja mempengaruhi perasaanku pada waktu itu.”

“Persoalan apakah yang Raden maksudkan?”

“Ki Lurah tentu sudah mengetahuinya.”

Ki Lurah memandang wajah Raden Sutawijaya sejenak. Meskipun wajah itu hanya disentuh oleh nyala perapian yang redup namun Ki Lurah Branjangan dapat menangkap betapa tegangnya perasaan Raden Sutawijaya, sehingga ia sama sekali tidak dapat menyembunyikannya lagi.

“Raden,” berkata Ki Lurah Branjangan, “ada beberapa persoalan yang sedang kita hadapi bersama. Tetapi persoalan yang khusus bagi Raden, tentu aku tidak berani menyebutnya. Jika aku keliru, barangkali Raden dapat marah kepadaku, sedangkan persoalan yang sebenarnya adalah persoalan yang sama sekali tidak menyangkut masalah yang aku perkirakan itu.”

Raden Sutawijaya termenung sejenak. Lalu katanya, “Baiklah, Paman. Paman adalah orang yang sudah jauh lebih masak dari padaku.” Raden Sutawijaya berhenti sejenak, lalu, “Aku kini dihadapkan pada persoalan yang sangat rumit. Aku tentu akan dituntut oleh suatu pertanggungan jawab yang barangkali berada di luar batas kemampuanku untuk mempertanggung-jawabkannya.”

Ki Lurah Branjangan hanya mengangguk-angguk saja. Dan Sutawijaya pun mulailah menceritakan apa yang pernah terjadi atas dirinya selagi ia pada suatu saat datang ke Pajang.

“Aku menjumpai gadis itu di luar rencanaku,” berkata Sutawijaya, “tetapi tiba-tiba saja hal itu sudah terjadi. Gadis itu terlampau cantik, manja, dan seakan-akan pasrah diri. Dan akhirnya terjadilah semuanya itu. Apa yang dikatakan Daksina itu sebenarnyalah memang sudah terjadi.”

Series 78

KI LURAH Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Ia memang sudah menduga sebelumnya. Meskipun demikian, pengakuan Raden Sutawijaya itu telah menggetarkan dadanya. Hubungan antara Raden Sutawijaya dengan seorang gadis yang dikehendaki oleh Sultan Pajang, tentu akan menimbulkan persoalan yang sangat rumit, justru pada saat Mataram sedang tumbuh dan berkembang menjadi suatu negeri yang ramai.

“Paman,” berkata Sutawijaya kemudian, “aku mengerti bahwa keteranganku ini mengguncangkan kepercayaan Paman kepadaku. Baik sebagai seorang anak muda yang selama ini dianggap sebagai seorang pemimpin oleh orang-orang Mataram mau pun sebagai putera angkat Ayahanda Sultan Pajang sendiri.”

Ki Lurah Branjangan tidak segera menanggapinya. Terasa sesuatu bergetar di dalam dadanya. Memang ada semacam tuntutan terhadap tingkah laku Raden Sutawijaya itu. Karena dengan demikian, maka semua perjuangan bagi berkembangnya Mataram selama ini menjadi pudar. Kemarahan Sultan Pajang dalam saat semacam ini henar-henar tidak menguntungkan. Di saat Mataram sedang menghadapi kesulitan yang berturut-turut telah menghambat perkembangannya.

“Ki Lurah, Ki Lurah,” desis Raden Sutawijaya, “kenapa kau diam saja? Apakah kau lebih dahulu telah menjatuhkan hukuman atasku dengan sikap diammu itu? Dan dengan demikian kau ingin menunjukkan bahwa kau telah membenciku, menganggap aku seorang anak muda yang liar dan tidak berkesopanan sama sekali? Jika demikian, sebaiknya Paman mengatakannya. Aku tidak akan marah. Aku akan menerima semua caci dan maki dari siapa pun juga.” Raden Sutawijaya terdiam sejenak, lalu, “Tetapi apakah yang dapat aku katakan kepada Ayahanda Ki Gede Pemanahan.”

Tiba-tiba saja Ki Lurah Branjangan menjadi iba kepada anak muda yang sedang menyesali kesalahannya itu. Sejenak Ki Lurah Branjangan memalingkan wajahnya ke sekitarnya. Ketika ternyata bahwa tidak ada seorang pun yang duduk di dekat mereka, maka ia pun berkata, “Raden, semuanya telah terjadi. Apa pun alasannya, namun hal itu sudah terjadi.”

“Ya, Paman, dan aku mengetahui bahwa aku tidak akan dapat mencari alasan apa pun untuk mengurangi kesalahanku.”

“Begitulah. Tetapi agaknya jalan yang paling baik bagi Raden sekarang adalah berterus terang. Berterus terang kepada Ki Gede Pemanahan. Apa pun yang akan terjadi kemudian, memang tidak akan dapat dihindari dan apalagi dengan sengaja mengelakkan diri dari pertanggungan jawab.”

“Apa yang Paman maksud dengan pertanggungan jawab? Apakah aku harus menghadap Ayahanda Sultan dan mohon untuk memperisteri gadis itu? Apakah dengan demikian aku tidak akan segera ditangkap dan dipenggal leherku?”

“Bukan begitu maksudku, Raden. Bertanggung jawab terhadap persoalan ini berarti, Raden harus bersedia melakukan perintah apa pun juga dari ayahanda Ki Gede Pemanahan.”

“Jika Ayahanda memerintahkan aku menghadap Ayahanda Sultan?”

“Apa boleh buat.”

“Tidak, Paman. Aku tidak dapat menghadap Ayahanda Sultan saat ini. Bukan karena aku takut menghadapi hukuman apa pun yang akan dijatuhkan atasku karena aku sudah menodai gadis yang akan diambilnya menjadi isterinya. Tetapi aku merasa bahwa belum saatnya aku menghadap. Mataram masih belum berbentuk. Aku sudah berprasetia, bahwa aku tidak akan menghadap Ayahanda Sultan sebelum aku berhasil menjadikan Alas Mentaok menjadi sebuah negeri. Pada saat itu, para pemimpin di Pajang seakan-akan telah menghinakan aku dan Ayahanda Ki Gede Pemanahan, bahwa kami tidak akan berhasil membuka Alas Mentaok dan membuat suatu negeri yang ramai. Karena itu maka aku tidak akan menghadap dan bertemu muka dengan para pemimpin pajang sebelum aku dapat menengadahkan dadaku dan berkata, ‘Bahwa Alas Mentaok telah menjadi sebuah negeri yang patut dihitung di dalam percaturan pemerintahan di Pajang’.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk kecil. Katanya kemudian, “Itulah sulitnya, Raden. Sebenarnya aku sependapat, bahwa sebaiknya Raden tidak usah datang ke Pajang apa pun alasannya. Tetapi persoalan yang satu ini agaknya telah menambah segala macam sikap dan tekad kita.”

Raden Sutawijaya menundukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia bergumam seakan-akan kepada diri sendiri, “Aku telah mengkhianati perjuanganku sendiri. Kini aku berdiri di atas kesulitan yang hampir tidak terpecahkan.”

“Sudahlah, Raden,” berkata Ki Lurah Branjangan kemudian, “sebaiknya Raden tidak hanyut dalam persoalan yang satu itu saja. Masih banyak persoalan yang harus dihadapi. Karena itu, sebaiknya Raden menabahkan hati. Raden harus menghadap ayahanda Ki Gede Pemanahan secepatnya. Kemudian Raden akan mendengarkan keputusan yang akan diambil oleh ayahanda. Apa pun sumpah dan prasetia yang sudah Raden ucapkan, namun kadang-kadang kita harus menelan ludah sendiri untuk tujuan yang lebih besar.”

“Tetapi itu bukan sifat kesatria Ki Lurah. Aku tidak mau. Yang sudah aku ucapkan adalah ucapan kesatria. Aku tidak akan menelan ludah sendiri apa pun akibatnya.”

“Raden benar. Tetapi Raden sendiri sudah melangkahkan kaki Raden melintasi pagar ayu yang dihormati oleh para kesatria. Sehingga akibatnya menuntut agar Raden melepaskan sikap kesatria yang lain lagi.”

“O,” Raden Sutawijaya menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya. Namun yang terdengar kemudian adalah gemeretak gigi.

Ki Lurah Branjangan dapat mengerti, betapa hati Raden Sutawijaya diombang-ambingkan oleh kebimbangan yang dahsyat. Tetapi bagi Ki Lurah Branjangan, tidak ada jalan lain daripada segera menyelesaikan masalah yang satu itu.

“Raden Sutawijaya sudah bertekad untuk menjadikan Mataram sebuah negeri,” berkata Ki Lurah Branjangan di dalam hatinya, “tetapi jika tidak diketemukan penyelesaian yang baik maka Mataram yang sedang berkembang ini akan segera pecah berserakan.” KI Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam sambil memandang Raden Sutawijaya yang kini memandang ke kejauhan menembus gelapnya malam. Dan Ki Lurah itu pun berkata kepada diri sendiri lebih lanjut, “Ki Gede Pemanahan harus berusaha menemukan jalan itu. Ia adalah orang yang disegani oleh Sultan Pajang, sehingga kemungkinan yang paling besar untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik adalah Ki Gede Pemanahan. Mungkin Ki Gede Pemanahan dapat mencarikan gantinya atau syarat-syarat lain yang dikehendaki oleh Sultan Pajang.”

Tetapi Ki Lurah Branjangan tidak sampai hati mengatakannya kepada Raden Sutawijaya. Jika kelak ia sampai di Mataram dan menghadap Ki Gede Pemanahan, maka ia akan menyampaikannya langsung kepadanya.

Dalam pada itu maka Raden Sutawijaya pun kemudian berdiri dan berjalan hilir-mudik. Kegelisahan yang sangat nampak pada sikapnya. Sekali-sekali ia berhenti, seakan-akan ingin mengatakan sesuatu. Namun kata-kata itu ditelannya kembali di kerongkongannya.

“Sebaiknya Raden beristirahat,” berkata Ki Lurah Branjangan, “bahkan jika mungkin Raden tidur sekejap untuk menyegarkan tubuh Raden. Biarlah para petugas berjaga-jaga mengawasi keadaan. Aku kira, Alas Mentaok menjadi semakin aman setelah Panembahan Agung tidak ada lagi. Jika anak buahnya yang masih berserakan masih saja melakukan kegiatan, semata-mata terdorong oleh dendam atau barangkali sekedar mencari makan. Tetapi mereka tidak lagi mempunyai pegangan yang terarah bagi kegiatannya itu.”

Raden Sutawijaya yang gelisah itu mengangguk kecil. Katanya, “Aku akan mencoba, Paman. Jika Paman ingin beristirahat, silahkanlah.”

Ki Lurah Branjangan mengerutkan keningnya, lalu katanya, “Baiklah, Raden. Aku akan mencoba untuk tidur barang sejenak. Besok pagi kita memasuki kota Mataram yang sedang kita bangun itu dengan tubuh yang segar.”

Tanpa menunggu jawaban Sutawijaya, Ki Lurah Branjangan pun kemudaan mencari tempat yang mapan untuk membaringkan dirinya. Tanpa alas selain rerumputan yang kering.

Sutawijaya sendiri pun kemudian duduk bersandar sebatang pohon. Meskipun sambil bersandar, namun ia mencoba memejamkan matanya juga untuk melupakan kegelisahannya barang sejenak.

Tetapi rasa-rasanya terbayang wajah gadis Kalinyamat yang muram dan basah oleh air mata, wajah Ayahanda Ki Gede Pemanahan yang penuh penyesalan dan wajah Ayahanda Sultan Pajang yang merah darah karena marah.

Sekali-sekali terdengar Raden Sutawijaya berdesah. Ayahanda Sultan Pajang adalah orang yang tidak terlawan. Di dalam dirinya terkumpul beberapa puluh macam aji yang menurut orang-orang yang mengenal dari dekat sejak masa mudanya memiliki kelebihannya masing-masing. Bahkan beberapa orang berpendapat bahwa di seluruh Pajang tidak ada orang yang menyimpan ilmu dan aji sebanyak yang dimiliki oleh Sultan Pajang. Sejak ia masih kanak-kanak, ia sudah mengelilingi seluruh pulau Jawa dan berguru hampir kepada setiap orang yang sakti, sehingga ia berhasil mempelajari dan kemudian menguasai aji Lebur Seketi, Welut Putih, Tameng Waja, Sepi Angin, Lembu Sekilan, dan masih banyak lagi. Itulah sebabnya maka ketika Arya Penangsang ingin menyingkirkan saudara-saudara sepupunya untuk menguasai tahta Demak, termasuk Adipati Pajang pada waktu itu, meskipun utusannya berhasil memasuki bilik tidur Adipati Pajang, namun senjatanya sama sekali tidak melukainya. Berkali-kali orang-orang yang sudah berada di dalam biliknya selagi Adipati Pajang masih tertidur nyenyak itu berusaha membunuhnya. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Bahkan ketika Adipati Pajang itu menyingkapkan selimutnya dan menyentuh utusan itu, maka utusan-utusan itu pun menjadi pingsan karenanya, sehingga keduanya dengan mudahnya dapat ditangkap, dan kemudian disadap keterangannya.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Memang terlintas di dalam kepalanya, jika hal itu akan menjadi dinding pemisah antara Pajang dan Mataram, maka apa boleh buat. Namun setiap kali ia sadar bahwa Ayahanda Adipati Pajang yang kemudian mengangkat dirinya menjadi Sultan Pajang itu adalah orang yang tidak terlawan, maka hatinya menjadi berdebar-debar. Bukan karena dirinya sendiri, tetapi karena ia tentu akan gagal membangun Mataram menjadi sebuah negeri. Dan kegagalannya itu akan memberikan kepuasan kepada beberapa orang yang sejak semula tidak percaya bahwa ia akan dapat membuka Alas Mentaok dan membuatnya menjadi suatu negeri.

“Tentu orang-orang itu pulalah yang telah mengirimkan Daksina kepada Panembahan Agung untuk bergabung dengan orang yang luar biasa itu,” berkata Sutawijaya di dalam dirinya sendiri.

Dan tiba-tiba saja hampir di luar sadarnya ia memperbandingkan Sultan Pajang dengan Panembahan Agung.

“Ayahanda Sultan memiliki ilmu yang lengkap. Yang kasat mata dan yang tidak kasat mata. Aku kira Ayahanda Sultan Pajang masih berada di atas Panembahan Agung meskipun hanya selapis tipis. Dan dengan demikian, apakah yang dapat aku lakukan jika Ayahanda Sultan benar-benar akan mengambil tindakan.”

Sutawijaya justru semakin bingung. Apalagi ia tahu pasti bahwa perempuan merupakan bagian dari nafas kehidupan Sultan Pajang.

Rasa-rasanya pikiran Raden Sutawijaya pun menjadi buntu. Ia tidak lagi mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan.

“Tetapi semuanya sudah terlanjur,” tiba-tiba ia menggertakkan gigi. “Semisal orang yang menyeberangi sungai, aku sudah terlanjur basah, sehingga aku tidak akan dapat ingkar lagi.”

Sutawijaya itu menjadi tegang sejenak, lalu, “Aku harus segera menghadap Ayahanda Pemanahan. Apa pun yang harus aku lakukan, kecuali menghadap Ayahanda Sultan. Aku baru akan menghadap jika Mataram sudah menjadi sebuah negeri yang ramai dan dapat aku banggakan, sehingga tidak akan ada orang yang menghinaku lagi.”

Tiba-tiba saja Raden Sutawijaya yang sedang bingung itu berdiri tegak sambil menengadahkan dadanya. Dengan lantang ia berteriak, “Kita berangkat sekarang. Kita lanjutkan perjalanan. Kita akan memasuki gerbang kota.”

Suara Raden Sutawijaya itu benar-benar mengejutkan setiap orang di dalam pasukannya. Bahkan Ki Lurah Branjangan pun terbangun dengan dada yang berdebar-debar.

Sekali lagi mereka mendengar Sutawijaya berkata, “Kita berkemas sekarang. Kita segera melanjutkan perjalanan. Cepat. Siapa yang lambat, akan aku tinggalkan di sini.”

Perintah yang tidak terduga-duga itu membuat para pengawal sejenak kebingungan. Tetapi mereka pun segera bangkit berdiri dan dengan tergesa-gesa mengemasi diri mereka dan kuda-kuda mereka.

Sutawijaya benar-benar bersikap aneh malam itu. Dengan tergesa-gesa ia pun membenahi dirinya. Kemudian berteriak, “Bawa kudaku kemari. Sekarang.”

“Raden,” Ki Lurah Branjangan mendekatinya dan berkata dengan sareh, “apakah sebenarnya yang telah terjadi?”

“Tidak ada apa-apa. Tetapi kita akan berjalan terus. Kita sudah berada dekat dengan gerbang kota. Apa gunanya kita beristirahat di sini?”

“Bukankah pertanyaan yang nadanya serupa itu sudah aku katakan sebelum Raden mengambil keputusan untuk berhenti di sini.”

“Bohong. Kalian menghendaki kita berhenti. Dan aku terpaksa memenuhi permintaan kalian. Ternyata sikap itu adalah sikap yang bodoh.”

“Raden,” berkata Ki Lurah Branjangan pula, “sebagai orang yang lebih tua, aku mengerti bahwa yang sebenarnya bergejolak adalah dada Raden sendiri. Dan itu pun adalah persoalan yang wajar sekali. Karena itu, cobalah Raden tenang sedikit. Aku tidak berkeberatan seandainya kita melanjutkan perjalanan sekarang. Tetapi tentu tidak tergesa-gesa. Biarlah para prajurit adbmcadangan.wordpress.com menyiapkan kuda mereka dan membenahi pakaian dan peralatan yang kita bawa. Jika kita tergesa-gesa mungkin ada beberapa macam barang yang tertinggal dan barangkali beberapa orang tawanan akan kurang mendapat pengawasan.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Sikap Ki Lurah Branjangan yang tenang dan sareh, membuat hatinya yang melonjak-lonjak itu menjadi agak tenang pula. Karena itu maka katanya, “Baiklah, aku menunggu sejenak. Tetapi jangan menjadi malas dan berlama-lama mengemasi diri.”

Ki Lurah Branjangar menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian mengemasi pakaian dan beberapa macam alat yang dibawanya. Terutama senjata-senjatanya.

Beberapa saat kemudian, maka para pengawal pun sudah siap. Para tawanan sudah dihitung dan dipersiapkan pula untuk segera berangkat.

“Aku akan menghadap Ayahanda Pemanahan malam ini,” gumam Raden Sutawijaya.

Ki Lurah Branjangan tidak menjawab. Sekilas dipandanginya wajah Raden Sutawijaya yang tegang. Namun ia tahu pasti apakah sebenarnya yang bergejolak di dalam dadanya itu.

Sejenak kemudian maka iring-iringan itu pun segera berangkat. Raden Sutawijaya memerintahkan beberapa orang membawa obor dan berada di paling depan, di tengah-tengah iring-iringan dan di belakang.

Di perjalanan tidak banyak pengawal yang berbincang. Mereka masih terkantuk-kantuk di punggung kuda. Hanya sekali-sekali mereka terkejut jika kuda yang ditumpanginya meloncati lubang dan batu-batu padas di perjalanan.

“Apakah yang sebenarnya terjadi?” bertanya utusan yang memanggil Sutawijaya itu kepada Ki Lurah Branjangan yang berkuda beberapa langkah di belakang Raden Sutawijaya

Ki Lurah Branjangan memandangi utusan itu sejenak. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil berdesis, “Aku tidak mengerti.”

“Agaknya ada sesuatu yang penting. Agaknya benar-benar berhubungan dengan desas-desus itu.”

“Desas-desus yang mana?”

“Setiap orang aku kira sudah mendengar bahwa Raden Sutawijaya telah melakukan hubungan terlarang dengan seorang puteri istana yang berasal dari Kalinyamat.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Berita semacam itu memang mudah sekali tersebar. Apalagi menyangkut seorang pemimpin yang disegani seperti Raden Sutawijaya itu.

“Apa kata Ki Gede Pemanahan?” bertanya Ki Lurah Branjangan.

“Aku tidak tahu, tetapi Ki Gede Pemanahan agaknya sedang menekan perasaannya. Jika hal itu benar, mungkin Ki Gede akan mengalami kejutan. Meskipun ia seorang Senapati yang pilih tanding di medan perang, tetapi amat sulitlah bagi seseorang untuk memerangi perasaan sendiri.”

Ki Lurah Branjangan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu lagi tentang Raden Sutawijaya.

Demikianlah iring-iringan itu maju terus meskipun tidak begitu cepat. Tetapi jarak yang mereka tempuh memang sudah tidak begitu jauh lagi. Sebentar kemudian mereka pun sudah mendekati gerbang kota yang baru dibangun itu.

Para penjaga gerbang melihat obor yang semakin lama menjadi semakin dekat. Mereka tidak segera mengetahui siapakah yang datang beriringan. Yang mereka ketahui adalah, bahwa ada utusan yang menjemput Raden Sutawijaya ke Tanah Perdikan Menoreh. Namun demikian, belum pasti bahwa yang datang itu adalah Raden Sutawijaya dengan pasukannya.

Karena itu, maka pemimpin peronda di pintu gerbang itu pun segera memerintahkan para pengawal yang bertugas untuk bersiap. Yang sedang tidur pun dibangunkannya.

“Jika mereka itu hantu-hantu di Alas Mentaok, atau penyamun dari Tambak Baya, maka kita harus menghalaunya,” berkata pemimpin peronda itu.

“Mudah-mudahan bukan mereka,” desis seorang pengawal yang masih terkantuk-kantuk.

“Justru karena sarangnya mungkin telah diduduki oleh Raden Sutawijaya, maka mereka pun berkeliaran sampai ke tempat ini,” gumam pengawal yang lain.

Para pengawal itu pun kemudian mempersiapkan diri. Seorang di antara mereka telah berdiri di sisi kentongan yang jika terpaksa dapat dipergunakannya untuk mengirimkan isyarat pada para peronda di dalam kota Mataram yang sedang dibangun itu.

Obor itu merayap semakin dekat. Namun para peronda masih belum dapat mengetahui siapakah mereka itu.

Namun ketika mereka melihat sepasukan berkuda mendekati gerbang, maka mereka pun mulai yakin, bahwa yang datang itu adalah benar-benar Raden Sutawijaya.

Demikianlah, maka para penjaga pintu gerbang itu pun segera menyibak. Mereka benar-benar melihat seorang anak muda yang menggenggam sebatang tombak pendek.

Namun agaknya wajah anak muda itu tidak secerah biasanya. Di depan pintu gerbang ia sama sekali tidak berpaling, dan tidak memberikan salam kepada para penjaga, selain sebuah anggukan kecil yang kosong.

“Apakah yang sudah terjadi?” para peronda itu bertanya-tanya di dalam hati.

Namun di dalam iring-iringan itu mereka melihat beberapa orang yang tidak mereka kenal, dan bahkan para penjaga itu melihat ciri-ciri mereka sebagai tawanan.

Ketika iring-iringan itu sudah memasuki gerbang, maka para penjaga itu pun menjadi sibuk berbincang. Seorang pengawal yang kurus seolah-olah melihat sendiri apa yang terjadi, dan berkata lantang, “Raden Sutawijaya sudah menguasai lawannya. Yang ada di antara para pengawal itu adalah para tawanan. Mereka adalah sisa-sisa dari pasukan lawan yang terbunuh di peperangan dan menyerah.”

“Dari mana kau tahu?” bertanya kawannya.

Pengawal yang kurus itu termangu-mangu sejenak, lalu, “Tentu demikian yang sudah terjadi.”

“Kira-kira,” kawannya yang lain memotong.

Pengawal yang kurus itu memandangi kawannya sejenak. Namun kemudian ia tidak berkata apa pun lagi.

Dalam pada itu iring-iringan itu pun langsung menuju ke jantung kota. Namun ketika mereka sampai di alun-alun, maka sekali lagi Raden Sutawijaya dilanda oleh keragu-raguan. Di seberang alun-alun itu adalah sebuah bangunan yang besar tempat tinggal Ayahanda Ki Gede pemanahan yang kemudian juga sering disebut Ki Gede Mataram setelah Mataram nampak akan menjadi sebuah negeri yang ramai.

“Apakah Raden akan langsung menghadap?” bertanya Ki Lurah Branjangan kepada Sutawijaya.

“Yang manakah yang baik menurut pertimbangan Paman?”

Ki Lurah Branjangan termangu-mangu sejenak. Lalu katanya kemudian, “Menurut pertimbanganku sebaiknya Raden menunggu sampai besok.”

“Tetapi kenapa para pengawal agaknya mengeluh ketika kita berhenti di luar pintu gerbang?”

“Raden,” berkata Ki Lurah Branjangan, “jika kita sejak semula langsung masuk ke pintu gerbang, kita sampai di alun-alun ini sebelum jauh malam seperti sekarang, bahkan menjelang fajar. Kita masih sempat menghadap, dan membagi pekerjaan bagi para pengawal. Yang lain dapat beristirahat di barak-barak dan bergantian menjaga tawanan. Tidak di pinggir hutan.”

“Kita adalah pengawal Tanah Mataram, yang tidak ubahnya seperti prajurit-prajurit Pajang. Apa salahnya kita berada di pinggir hutan di malam hari?”

“Tentu, Raden. Kita dapat berada di segala tempat. Tetapi jika tidak ada kemungkinan lain,” berkata Ki Lurah Branjangan kemudian. “Tetapi baiklah aku tidak menyalahkan siapa pun juga. Tetapi aku mengerti kegelisahan hati Raden. Sebaiknya Raden tidak membawa pasukan seluruhnya untuk menghadap. Raden dapat menyerahkan kepada para pimpinan untuk mengatur anak buahnya dan para tawanan itu. Sedang Raden sendiri dapat beristirahat sejenak sambil menunggu fajar di tempat yang lebih baik dari rerumputan kering itu. Terserahlah kepada Raden siapakah yang harus menyertai Raden menghadap ayahanda besok. Mungkin aku, mungkin beberapa orang lain lagi.”

Raden Sutawijaya terdiam sejenak. Rasa-rasanya hatinya masih saja mendidih karenanya. Namun kemudian ia berkata, “Paman, suruhlah para pengawal beristirahat. Jagalah tawanan itu sebaik-baiknya. Aku akan menghadap ayahanda besok. Sendiri.”

“Sendiri?”

“Ya. Sendiri.”

Ki Lurah Branjangan menjadi termangu-mangu, Sutawijaya adalah seorang anak muda. Darahnya masih terlampau cepat menjadi panas. Karena itu, jika ia berhadapan sendiri dengan ayahnya dalam keadaan seperti itu, mungkin akan dapat timbul salah paham padanya. Karena itu maka Ki Lurah itu pun berkata, “Raden, apakah Raden tidak memerlukan seorang saksi yang dapat ikut serta melaporkan peristiwa-peristiwa yang mengerikan di dalam perjalanan Raden. Dengan demikian maka kesaksian itu akan dapat mengurangi beban Raden.”

“Jadi maksud Paman, kemenangan kita bersama para pengawal dari Menoreh itu akan aku pergunakan untuk memperkecil kesalahanku dalam persoalan gadis Kalinyamat itu?” bertanya Sutawijaya.

Ki Lurah Branjangan menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia mengangguk lemah sambil menjawab, “Demikianlah apabila mungkin, Raden.”

“Tidak. Aku tidak akan melakukan tukar tambah seperti itu. Biarlah aku menerima hukumanku lebih dahulu sebelum aku melaporkan tentang hasil perburuan kita bersama pengawal dari Menoreh.”

Ki Lurah Branjangan tidak dapat berbuat lain. Namun dengan demikian ia menjadi semakin cemas. Agaknya Sutawijaya akan mengakui segala kesalahannya dengan dada tengadah. Ia akan menghadapi segala akibat dari tindakannya itu. Tetapi ia tidak akan bersedia datang menghadap Sultan Pajang. Bukan karena ia tidak berani mempertanggung-jawabkan perbuatannya dan menerima hukumannya, tetapi justru ia tidak mau menjadi bahan tertawaan para Senapati di Pajang yang sejak semula sudah tidak percaya bahwa Alas Mentaok akan dapat dibuka oleh Ki Gede Pemanahan yang juga disebut Ki Gede Mataram bersama anaknya Raden Sutawijaya.

Sekilas terbayang di angan-angan Ki Lurah Branjangan, seorang senapati muda yang berada di antara Pajang dan Mataram. Senapati yang namanya tidak dapat dikesampingkan. Jika jatuh perintah dari Sultan Pajang untuk menggempur Mataram, maka Untara tentu tidak akan menunggu bantuan kekuatan dari para adipati di pasisir mana pun juga. Kekuatan Untara sendiri dengan prajurit yang berada di Pajang, di bawah pimpinan para senapati yang membenci Raden Sutawijaya beserta ayahandanya Ki Gede Pemanahan, yang iri hati dan yang mempunyai keinginan untuk memiliki sendiri Tanah yang sudah ternyata akan menjadi sebuah negeri yang subur ini, sudah terlalu besar bagi Mataram.

Dengan demikian, maka yang akan disebut oleh Raden Sutawijaya mempertanggung-jawabkan segala kesalahannya itu adalah ambaguguk-akuta-waton. Ia akan bersikap dan menghadapi akibat dari sikapnya itu. Kasar atau halus.

Sebagai orang yang telah mempunyai pengalaman yang luas dan umur yang sudah cukup panjang, maka Ki Lurah Branjangan kemudian memberanikan diri untuk berpesan, “Raden, sebaiknya Raden bersikap dewasa menghadapi persoalan orang-orang dewasa. Raden tidak boleh dibayangi oleh sikap seorang anak muda menghadapi tantangan. Raden akan menghadap ayahanda sendiri adbmcadangan.wordpress.com. Dan karena itu, Raden harus menyiapkan bekal secukupnya agar Raden dapat disebut sebagai seorang anak yang baik di dalam segala persoalan. Anak yang baik adalah anak yang menghormati orang tuanya di dalam segala bentuk.”

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Di luar sadarnya anak muda itu mengusap dadanya sambil berkata, “Baiklah, Paman. Aku akan mendengarkan pesan Paman semuanya. Aku akan menghadap sebagai seorang anak menghadap ayahandanya.”

“Apakah Raden dapat bersikap demikian pula kepada Ayahanda Sultan Pajang?”

Raden Sutawijaya memandang Ki Lurah Branjangan dengan tajamnya. Namun kemudian ia menundukkan kepalanya tanpa menjawab sepatah kata pun.

Ki Lurah Branjangan pun tidak mendesaknya. Ia sadar bahwa Raden Sutawijaya memang tidak dapat menjawab saat itu. Nalarnya dan perasaannya masih belum dapat sejalan. Sehingga dengan demikian maka Ki Lurah Branjangan pun terdiam untuk beberapa saat.

Ki Lurah Branjangan itu mengangkat wajahnya ketika terdengar perintah Raden Sutawijaya perlahan-lahan, “Paman, biarlah para pemimpin kelompok mengurus kelompoknya masing-masing. Dan serahkan para tawanan kepada yang bertugas. Beri kesempatan mereka beristirahat. Aku besok akan menghadap sendiri. Tetapi para prajurit harus bersiap di alun-alun agar pada saatnya aku dapat melaporkan perjalanan kita bersama mereka semuanya.”

“Baiklah, Raden.”

“Sekarang, aku pun akan beristirahat.”

“Kemana Raden akan beristirahat? Apakah Raden akan kembali kepada ayahanda malam ini?”

Raden Sutawijaya termangu-mangu sejenak, lalu, “Tidak. Di mana pun aku dapat beristirahat. Tinggalkan aku di sini sendiri.”

“Sendiri?”

“Ya. Sendiri.”

“Itu tidak mungkin, Raden. Raden harus disertai beberapa orang pengawal yang akan mengawasi keadaan.”

“Tinggalkan aku sendiri.”

Ki Lurah Branjangan menjadi bingung. Namun sebelum ia dapat berbuat sesuatu, justru Raden Sutawijaya sudah memacu kudanya menembus gelapnya malam ke arah yang tidak diketahui.

Ki Lurah Branjangan pun dengan sigapnya melecut kudanya. Tetapi ternyata kelambatan beberapa kejap itu sudah sangat membingungkan. Justru karena jalan yang bercabang-cabang di dalam kota.

Hanya dalam beberapa saat yang pendek, Ki Lurah Branjangan telah kehilangan Raden Sutawijaya. Jika ia berada di bulak yang panjang, mungkin ia sempat menyusul, atau setidak-tidaknya dapat mengikutinya. Tetapi jalan di sekitar alun-alun ini benar-benar membuatnya bingung dan kehilangan jejak. Apalagi di malam hari.

Karena itu, maka Ki Lurah Branjangan pun segera kembali kepasukannya dengan wajah yang tegang. Ketika beberapa orang pemimpin kelompok mendapatkannya dan bertanya tentang Raden Sutawijaya, muka Ki Lurah Branjangan itu hanya menggeleng sambil menjawab, “Aku tidak tahu, apakah yang merisaukannya.”

Namun ternyata bahwa cerita tentang gadis Kalinyamat itu telah merambat ke setiap telinga. Dan setiap pengawal pun berpendapat, bahwa Raden Sutawijaya telah dirisaukan oleh keadaan gadis itu. Apalagi gadis itu adalah gadis simpanan Ayahanda Sultan Pajang.

Dalam kegelisahan itu, maka Ki Lurah Branjangan pun memerintahkan agar pasukan itu beristirahat ke barak mereka. Para tawanan harus mendapat pengawalan dan pengamatan secukupnya.

“Lalu bagaimana dengan Raden Sutawijaya?” bertanya utusan Ki Gede Pemanahan yang memanggil Raden Sutawijaya itu.

“Biar sajalah ia melepaskan kerisauan hatinya. Tetapi aku yakin bahwa ia akan datang besok pagi menghadap Ayahanda Ki Gede Pemanahan tanpa diketahui orang lain. Bagi Raden Sutawijaya persoalan yang akan dibicarakan dengan ayahandanya adalah persoalan yang sangat penting.”

Utusan itu tidak mempersoalkan lagi. Meskipun ia menjadi cemas bahwa Raden Sutawijaya tidak akan memenuhi panggilan Ki Gede dan karena kegelisahan dan perasaan bersalah ia pergi tanpa tujuan. Namun agaknya Raden Sutawijaya yang jantan itu tidak akan lari dari pertanggungan jawab bagaimana pun bentuknya.

Demikianlah maka para pengawal yang letih itu pun segera pergi beristirahat selain mereka yang bertugas, betapa pun risaunya hati mereka melihat sikap Raden Sutawijaya. Tetapi sebagian besar dari mereka dapat mengerti, bahwa anak muda yang sedang kalut itu mencari ketenangan di sepinya malam tanpa orang lain, meskipun kecemasan masih saja membayangi perasaan mereka, jika saja Raden Sutawijaya tidak sempat berpikir jauh.

Dalam pada itu Sutawijaya yang sedang berpacu itu pun tidak menghiraukan apa pun lagi. Dilecutnya kudanya sehingga berlari semakin cepat, berderap di atas jalan berbatu-batu. Ia sadar ketika ia melihat pintu gerbang kota sudah ada di hadapannya. Tetapi ia tidak berhenti. Ketika beberapa orang penjaga mencoba menghentikannya, kudanya yang bagaikan gila itu berlari terus sehingga para penjaga itu pun berloncatan menepi.

“Siapa orang gila itu,” desis seseorang.

Pemimpin penjaga itu pun kemudian berdesis, “Aku tidak akan mengejarnya. Bukankah ia Raden Sutawijaya?”

Yang lain berpikir sejenak, lalu, “Ya. Raden Sutawijaya.”

“Kenapa ia memacu kudanya?”

“Aku tidak tahu. Tetapi ia adalah pemimpin yang terpercaya sehingga kita tidak perlu mencurigainya sama sekali.”

Para pengawal itu pun mengangguk-angguk. Tetapi mereka masih saja dicengkam oleh perasaan heran bahwa Raden Sutawijaya memacu kudanya secepat angin keluar kota di saat yang aneh pula.

“He, bukankah Raden Sutawijaya pergi ke Menoreh?” tiba-tiba seorang penjaga bertanya.

“Baru saja pasukannya memasuki kota lewat gerbang Utara. Seorang penghubung telah memberitahukan hal itu kepadaku,” sahut pemimpin penjaga. “Tetapi bahwa ia berlari lewat pintu gerbang ini keluar kota, aku tidak tahu apakah maksudnya.”

Para penjaga itu pun terdiam. Mereka merenungi sikap yang aneh dari Raden Sutawijaya. Tetapi akhirnya mereka menjadi jemu, dan membiarkan saja apa yang akan terjadi, karena mereka tidak akan dapat menebaknya dengan tepat.

Dalam pada itu kuda Raden Sutawijaya pun berpacu di tengah-tengah bulak yang panjang, menembus gelapnya sisa malam. Nafasnya terasa mengalir berdesakan seperti gejolak perasaannya yang bagaikan merekahkan dadanya.

Namun akhirnya Raden Sutawijaya itu menarik kekang kudanya. Perlahan-lahan kudanya itu pun memperlambat derap kakinya, sehingga akhirnya berhenti sama sekali di tengah-tengah bulak yang kelam.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ia ingin menghirup udara yang segar sebanyak-banyaknya setelah ia berpacu di atas punggung kudanya.

Sejenak Raden Sutawijaya duduk diam di atas punggung kuda. Dipandanginya keredip kunang-kunang yang hinggap bertaburan di daun padi, seperti mutiara yang di sebar di atas rerumputan hijau.

Namun kemudian terasa dadanya menjadi sesak. Persoalan yang dihadapinya seakan-akan tidak akan dapat terpecahkan. Ia berdiri pada dua ujung yang bertentangan. Sebagai seorang kesatria ia harus mengakui dan bertanggung jawab atas gadis Kalinyamat yang sudah membuat hubungan gelap dengan dirinya. Jika ia harus digantung, maka ia tidak boleh ingkar. Tetapi sebagai kesatria pula ia sudah bersumpah, bahwa ia akan membuat Mataram menjadi sebuah negeri yang ramai. Ia tidak akan menginjak tangga Istana Pajang sebelum ia dapat menengadahkan dadanya dan berkata, bahwa Mataram sekarang sudah menjadi sebuah negeri seramai Pati.

Raden Sutawijaya berdesah pendek sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Angin malam yang lembab bertiup perlahan-lahan. Namun hati Raden Sutawijaya yang gemuruh bagaikan prahara yang menyapu belukar.

Perlahan-lahan Raden Sutawijaya turun dari kudanya. Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Namun jantungnya terasa semakin cepat berdetak.

Dengan lemahnya Raden Sutawijaya duduk di atas sebuah batu di pinggir parit yang mengalir gemericik. Diamatinya arus air bening yang hanya setinggi mata kaki itu.

Namun justru terbayang di dunia angan-angannya, seraut wajah seakan-akan bercermin di dalam air yang jernih itu. Wajah seorang gadis yang sebenarnya sudah bukan gadis lagi. Apalagi ia sudah mulai mengandung.

Sutawijaya mulai membayangkan bagaimana hal itu telah terjadi. Ketika ayahanda angkatnya, sultan di Pajang menghadap kakandanya Ratu Kalinyamat, maka jatuhlah janji, jika seseorang dapat membunuh Arya Penangsang yang telah membunuh suami Ratu Kalinyamat itu, maka ia akan mendapatkan dua orang gadis cantik.

“Tentu Ratu Kalinyamat tahu benar sifat Ayahanda Sultan Pajang,” berkata Sutawijaya di dalam hatinya.

Dan yang sebenarnya membunuh Arya Penangsang adalah dirinya. Raden Sutawijaya. Tetapi kepada Sultan Pajang dikatakan bahwa pembunuhnya adalah Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi, agar janji Sultan Pajang atas mereka yang berhasil membunuh Arya Penangsang, hadiah tanah Pati dan Alas Mentaok diserahkan.

“Kedua gadis cantik itu tidak pernah disebut sama sekali oleh Ayahanda Sultan Pajang,” berkata Raden Sutawijaya di dalam dirinya pula.

Dan terbayang pula, betapa akhirnya justru Ki Penjawi dahululah yang menerima Tanah Pati sebagai hadiah. Sedang ayahandanya sendiri, Ki Gede Pemanahan tidak segera menerima bagiannya yang masih berupa hutan belukar.

“Aku yang membunuh Pamanda Arya Penangsang. Tetapi hadiah yang diterima Ayahanda Ki Gede Pemanahan adalah yang paling jelek dan lambat, yang harus didesak dengan sikap yang agak keras,” desis Sutawijaya lambat. “Jadi apakah aku terlalu bersalah jika aku mengambil hadiah yang sebenarnya dijanjikan oleh Ratu Kalinyamat? Salah seorang dari kedua gadis itu?”

Tetapi kepala Raden Sulawijaya pun tertunduk lesu. Memang ia telah melakukan kesalahan. Kedua gadis itu sudah diambil oleh ayahandanya Sultan Pajang. Dan sebagai gantinya Sultan Pajang telah menghadiahkan Tanah Pati dan Alas Mentaok.

Sekali lagi membayang di angan-angannya, bagaimana ayahandanya melakukan suatu cara untuk menangani usaha membinasakan Arya Penangsang itu.

“Tentu Adipati Pajang akan turun ke medan,” berkata Ki Juru Martani pada waktu itu, “ia adalah orang yang sakti tanpa tanding. Mungkin ia akan berhasil mengalahkan Arya Penangsang di medan. Tetapi usahakan bahwa ada orang lain yang diperintahkannya dengan hadiah tanah yang cukup baik.”

Ternyata Ki Pemanahan berhasil menahan Adipati Pajang agar ia tidak turun sendiri ke gelanggang.

“Ampun, Tuanku,” sembah Ki Gede Pemanahan, “jika para panglima sudah tidak sanggup lagi melakukan, barulah Tuanku melakukannya sendiri. Tetapi sepanjang masih ada orang lain yang sanggup, biarlah orang itu melakukannya.”

Sultan Pajang yang pada waktu itu masih seorang adipati menyetujuinya. Bahkan katanya, “Jika ada yang sanggup membunuhnya, maka aku akan memberikan hadiah tanah Pati dan Alas Mentaok. Tetapi jika tidak ada yang sanggup melakukannya, maka aku sendiri akan turun ke medan.”

Seperti yang dikehendaki oleh Ki Juru Martani, maka ayahandanya Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi menyanggupinya di paseban.

“Ternyata perhitungan Ki Juru Martani itu benar,” gumam Raden Sutawijaya. “Ki Juru Martani mengharap aku ingin ikut ke medan bersama ayahanda. Dan aku pun telah memaksa untuk pergi. Dan seperti yang diharapkan oleh Ki Juru Martani pula, maka Ayahanda Sultan tidak sampai hati melepaskan aku, anak angkatnya yang dikasihinya tanpa memberikan sipat kandel. Dan ternyata bahwa Ayahanda Sultan Pajang memberikan Kiai Pleret, tombak pusaka yang tiada duanya itu kepadaku.”

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Memang tombak Kiai Pleret itulah yang diharapkan oleh Ki Juru Martani. Dan ternyata dengan tombak itu pulalah ia berhasil melukai Arya Penangsang karena kuda Arya Penangsang tiba-tiba menjadi binal tanpa dapat dikendalikan lagi.

Raden Sutawijaya yang sedang diamuk oleh lamunan itu pun terkejut ketika ia mendengar ayam jantan berkokok di kejauhan. Ketika ia mengangkat wajahnya, dilihatnya cahaya merah sudah nampak di langit. Fajar.

Sekilas terbayang darah yang memancar dari lambung Arya Penangsang. Darah yang merah melampaui merahnya fajar di langit. Ususnya yang mencuat ke luar, ditahannya dengan tangannya, kemudian disangkutkannya di keris pusakanya. Tetapi malang, justru ketika Arya Penangsang itu menarik keris pusakanya yang sakti tiada tandingnya itu, ususnya sendiri terpotong, dan Arya Penangsang itu pun tewas seketika.

“Bukan saja karena keris itu,” desis Sutawijaya, “tetapi luka di lambung oleh pusaka Kiai Pleret itu pun merupakan luka yang tidak dapat disembuhkan lagi. Kiai Pleret adalah pusaka yang tiada bandingnya, ditambah pula oleh luka karena keris pusakanya sendiri, Setan Kober.”

Tetapi sekali lagi Sutawijaya terbanting pada kegelisahan yang tidak ada bandingnya pula. Bagaimanakah keputusan ayahandanya Ki Gede Pemanahan tentang gadis Kalinyamat itu.

Raden Sutawijaya menggeram sambil menggeretakkan giginya. Cahaya merah di langit bagaikan warna wajah Ayahanda Ki Gede Pemanahan yang menjadi sangat marah.

“Apa boleh buat. Aku harus menghadap. Apa pun yang akan terjadi.”

Untuk beberapa lamanya Raden Sutawijaya masih berada di tempatnya. Sekali-sekali kepalanya ditengadahkan memandang warna langit yang seakan-akan menjadi semakin tajam.

Namun dalam pada itu, Raden Sutawijaya terkejut ketika terdengar derap kuda menuju ke arahnya. Dengan gerak naluriah ia pun meloncat berdiri. Di kejauhan dilihatnya bayangan di dalam samarnya sinar fajar, seekor kuda mendekatinya. Tetapi Raden Sutawijaya tidak segera dapat mengetahui siapakah penunggangnya.

Baru ketika kuda itu menjadi semakin dekat, Raden Sutawijaya mengenalnya. Ki Lurah Branjangan.

“Darimana Ki Lurah mengetahui bahwa aku ada disini?” bertanya Raden Sutawijaya.

Ki Lurah Branjangan pun kemudian meloncat turun. Perlahan-lahan ia melangkah mendekati Raden Sutawijaya sambil berkata, “Raden. Penjaga gerbang itu menjadi bingung. Salah seorang dari mereka memerlukan datang kepada induk pasukan yang memasuki kota ini dari gerbang Utara.”

“Apa katanya?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Para penjaga itu menjadi bingung. Baru saja mereka mendengar bahwa pasukan ini memasuki kota lewat gerbang Utara. Namun mereka pun segera melihat Raden keluar lagi lewat gerbang ini. Karena itu mereka memerlukan mengirimkan seorang pengawal untuk menanyakan kepada kami, karena mereka selalu dikejar oleh teka-teki tentang Raden.”

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Dengan demikian Paman menemukan jejakku dau menyusulku kemari?”

“Begitulah,” Ki Lurah Branjangan berhenti sejenak, lalu, “sebaiknya Raden kembali masuk ke kota dan bergabung dengan induk pasukan yang kini sedang beristirahat.”

Raden Sutawijaya tidak segera menyahut. Tetapi ditatapnya warna merah di langit.

“Fajar telah mewarnai langit,” berkata Ki Lurah Branjangan, “apakah Raden tidak segera kembali sebelum langit menjadi terang dan jalan-jalan penuh dengan orang-orang yang akan pergi ke pasar untuk menjual hasil bumi mereka? Jika kita kembali saat ini pun, di perjalanan kita akan bertemu dengan para pedagang dan orang-orang yang akan pergi ke pasar itu.”

Raden Sutawijaya merenung sejenak.

“Silahkan, Raden.”

“Baiklah, Paman,” desis Raden Sutawijaya kemudian, “aku akan kembali.”

“Marilah. Mumpung masih gelap.”

Raden Sutawijaya masih saja ragu-ragu. Namun ia pun kemudian pergi juga kekudanya.

Keduanya pun kemudian berkuda menuju kembali ke kota. Tetapi Raden Sutawijaya tidak lagi berpacu seperti dikejar hantu.

Seperti yang dikatakan oleh Ki Lurah Branjangan, maka di perjalanan mereka telah bertemu dengan orang-orang yang pergi ke pasar. Beberapa orang perempuan masih membawa obor di tangan sedang di beberapa tikungan, orang-orang mulai berkerumun memperjual-belikan dagangan mereka.

Sekali-sekali mereka bertemu dengan pedati yang penuh dengan muatan menuju ke kota. Muatan yang akan dibawa ke pasar.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam di dalam sejuknya udara pagi. Ia sempat melihat sendiri bahwa sebenarnya Mataram memang sudah mulai menjadi ramai.

“Tetapi masih belum menjadi sebuah negeri yang dapat dibanggakan di paseban Pajang. Beberapa orang pemimpin dan senapati tentu masih mencibirkan bibirnya dan mengejek bahwa aku telah menelan ludah kembali,” berkata Raden Sutawijaya di dalam hati.

Tetapi Raden Sutawijaya pun sadar sepenuhnya bahwa tidak ada jalan lain kecuali menghadap Ayahanda Ki Gede Pemanahan.

Meskipun demikian Sutawijaya tidak segera pergi menghadap. Ia masih harus menunggu matahari terbit dan langit menjadi terang. Karena itu, maka ia pun pergi bersama Ki Lurah Branjangan ke tempat para pengawalnya beristirahat.

Kedatangan Raden Sutawijaya di antara para pengawalnya justru menumbuhkan ketegangan. Tidak ada seorang pun yang berani memandangnya, apalagi menegurnya. Mereka yang melihat Raden Sutawijaya mendekatinya, segera menundukkan kepalanya.

Raden Sutawijaya sendiri tidak berkata sepatah kata pun kepada siapa pun juga. Ia hanya duduk saja menyendiri menunggu cahaya matahari yang semakin terang di langit.

Rasa-rasanya hari lambat sekali terbit. Dalam keadaan yang gelisah, ia mengharap agar ia segera dapat bertemu dengan ayahanda, apa pun yang akan terjadi atasnya.

Akhirnya saat yang ditunggunya itu pun datang. Matahari sudah memanjat semakin tinggi, sehingga datanglah saat baginya untuk menghadap ayahanda.

Betapa pun hatinya berdebaran, tetapi Sutawijaya mempersiapkan diri untuk menghadap. Dibenahinya pakaiannya, agar ia cukup pantas menghadap ayahandanya meskipun ia baru saja pulang dari peperangan.

Keberangkatan Raden Sutawijaya menghadap ayahandanya di ikuti oleh pandangan mata yang penuh dengan getaran pertanyaan di dalam dada Ki Lurah Branjangan. Apakah yang kira-kira akan terjadi dengan anak yang masih muda itu.

Tetapi seperti yang diharapkan oleh Raden Sutawijaya bahwa ia akan menghadap ayahanda seorang diri. Tanpa seorang pun yang boleh mengikutinya.

“Mungkin Raden Sutawijaya merasa malu persoalannya itu didengar oleh orang lain,” berkata Ki Lurah Branjangan kepada diri sendiri.

Dalam pada itu dengan dada yang berdebar-debar Raden Sutawijaya menyusuri jalan kota yang mulai ramai itu menuju ke rumahnya. Rumah yang dibangun oleh ayahandanya dalam kedudukannya sebagai seorang cikal bakal dari Tanah Mataram yang besar, yang diharapkannya dapat menjadi negeri yang ramai.

Ada sesuatu yang serasa menahan Raden Sutawijaya untuk memasuki halaman rumahnya yang luas lewat regol depan. Dengan hati yang berdebar-debar ia memasuki regol samping dan langsung menuju ke butulan.

Ketika seorang pengawal melihatnya, maka dengan hati-hati ia mendekatinya sambil membungkuk-bungkukkan punggungnya. Agaknya telah terasa oleh pengawal itu suasana yang lain dari biasanya.

“Ayahanda Raden sudah menunggu di pringgitan,” desis pengawal itu.

Raden Sutawijaya memandanginya sejenak. Lalu, “Dari mana kau tahu?”

“Aku baru saja dari halaman depan. Para pengawal di regol depan siap menunggu kedatangan Raden. Mereka semuanya mengetahui bahwa Ki Gede Mataram berada di pringgitan sejak pagi-pagi benar. Bahkan semalam sampai jauh malam ayahanda menunggu Raden di pringgitan itu juga.”

Terasa sesuatu berdesir di dada Raden Sutawijaya. Agaknya persoalannya itu benar-benar telah membuat ayahandanya sangat berprihatin. Dengan demikian maka dadanya pun menjadi semakin berdebar-debar.

“Silahkan Raden segera menghadap. Bukankah pasukan yang Raden bawa telah memasuki regol Utara tadi malam.”

“Dari mana kau tahu?”

“Laporan itu sampai kepada kami di sini. Bahkan semua penjaga gerbang yang ada di kota ini.”

Dada Sutawijaya menjadi semakin berdebaran. Kemudian diserahkannya kudanya kepada pengawal itu sambil berkata, “Aku akan segera menghadap.”

Raden Sutawijaya mengatur dirinya sejenak. Kemudian ia pun memaksa kakinya untuk melangkah lewat longkangan samping menuju ke pendapa.

Dengan dada yang serasa berdentangan Raden Sutawijaya naik ke pendapa. Ayahandanya, Ki Gede Pemanahan seperti yang dikatakan oleh pengawal itu, memang berada di pringgitan. Duduk di atas tikar pandan yang putih menghadap semangkuk minuman.

Rasa-rasanya dada Raden Sutawijaya akan meledak melihat wajah ayahanda yang muram. Jauh berbeda dengan wajah ayahanda ketika melepaskannya pergi mencari orang-orang bersenjata yang mengganggu perkembangan wilayahnya itu.

Beberapa orang pengawal di regol depan melihat Raden Sutawijaya yang justru datang lewat longkangan samping. Tetapi mereka tidak berbuat apa-apa. Mereka justru memandang saja dari kejauhan.

Ketika Raden Sutawijaya berada di atas tangga, ayahandanya sudah melihatnya. Tetapi ia masih tetap berdiam diri menunggu Sutawijaya mendekatinya.

Dengan ragu-ragu Sutawijaya mendekat. Kemudian duduk di hadapan ayahandanya yang memandanginya dengan tatapan mata sayu.

“Kau sudah datang semalam Sutawijaya?” bertanya Ki Gede Pemanahan.

“Ya, Ayahanda,” jawab Raden Sutawijaya dengan dada yang bergejolak semakin cepat.

“Kau tidak langsung pulang.”

“Sudah terlampau malam, Ayahanda. Aku takut mengejutkan Ayahanda.”

“Ketika aku mendengar laporan itu, aku menunggu kau di sini. Tetapi kemudian aku mendengar laporan berikutnya bahwa kau keluar lagi lewat gerbang yang lain.”

Raden Sutawijaya menjadi semakin bingung. Justru karena itu ia tidak menjawab.

“Aku akan berbicara dengan kau tentang masalah yang penting. Tetapi tentu tidak sekarang. Kau tentu masih lelah. Nanti setelah kau membersihkan diri, makan dan minum, beristirahat sebentar, kita akan berbicara dengan tenang.”

Sesuatu melonjak di dada Raden Sutawijaya. Ia ingin mendengar keputusan ayahandanya segera. Tetapi ia tidak berani mendesaknya.

“Aku ingin mendengar ceritamu tentang tugas yang kau lakukan. Apakah kau berhasil?”

Raden Sutawijaya menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Kami berhasil, Ayah.”

“Kau mendapat bantuan dari Ki Gede Menoreh?”

“Ya, Ayah. Dan bantuan dari seorang yang menyebut dirinya Ki Waskita, yang juga ternama Jaka Raras. Bantuan yang menentukan.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-angguk. Kemudian ia bertanya, “Apakah kau temukan pula orang bercambuk itu?”

“Ya, Ayah. Mereka berada pula di Menoreh.”

Ki Gede masih mengangguk-angguk. Lalu, “Sekarang pergilah membersihkan dirimu. Aku juga belum makan. Kita akan makan bersama-sama di ruang dalam. Kemudian kita akan berbincang sedikit.”

Raden Sutawijaya termangu-mangu sejenak memandang ayahnya. Wajahnya tiba-tiba saja tampak terlampau tua. Baru beberapa hari ia meninggalkannya. Namun di dalam beberapa hari itu rasa-rasanya ayahnya sudah berubah menjadi bertahun-tahun lebih tua.

“Pergilah ke belakang,” berkata Ki Gede Pemanahan. Meskipun suaranya terdengar sareh, tetapi terasa bahwa di dalam dada orang tua itu bergejolak perasaan yang tertahan.

Sutawijaya pun kemudian bergeser surut. Perlahan-lahan ia pergi meninggalkan ayahandanya duduk seorang diri seperti sebelum ia datang.

Ketika ia turun di halaman, sekali lagi ia memandang ayahandanya yang duduk sambil menundukkan kepalanya. Terasa sesuatu bergetar di dadanya. Ayahnya telah benar-benar berubah. Seakan-akan ayahnya bukan lagi seorang prajurit yang bahkan seorang panglima di peperangan. Yang duduk di pendapa sambil menundukkan kepalanya itu seolah olah seorang tua yang putus asa menghadapi penghidupan yang sulit. Yang tidak dapat lagi berusaha mencari makan buat anak dan isterinya.

Sutawijaya termangu-mangu sejenak. Namun ayahandanya sama sekali tidak berpaling ke arahnya.

Beberapa orang pengawal di regol memandang Raden Sutawijaya dengan heran. Ki Gede Pemanahan menunggu semalam di pendapa. Pagi-pagi benar Ki Gede sudah bangun dan duduk di pendapa itu pula. Kini Raden Sutawijaya sudah datang. Tetapi baru beberapa saat sudah disuruhnya meninggalkannya.

Para pengawal itu tidak mendengar apa yang sudah dikatakan oleh Ki Gede Pemanahan dan apa yang akan dilakukannya.

Sementara itu Sutawijaya pun pergi ke belakang. Sambil termangu-mangu ia kemudian masuk lagi lewat pintu butulan dan langsung ke biliknya mengambil ganti pakaian dan kemudian pergi ke pakiwan.

Baru setelah ia selesai mengemasi dirinya, ia kembali menemui ayahnya yang masih duduk di pendapa. Masih seperti tadi. Kepalanya tertunduk lesu, seakan-akan ayahandanya itu tidak bergerak sama sekali.

Ketika Ki Gede Pemanahan melihat Sutawrjaya naik lagi ke pendapa, maka katanya, “Nah kau sudah selesai. Marilah kita makan bersama di ruang dalam.”

Sutawijaya tidak menjawab. Ia mengikuti saja ketika ayahnya kemudian bangkit dan melangkah masuk keruang dalam.

Ternyata makan mereka sudah disediakan. Seorang pelayan yang menunggui makanan itu pun kemudian pergi ke belakang setelah Ki Gede Pemanahan dan Raden Sutawijaya duduk menghadapi hidangan itu.

“Marilah kita makan Sutawijaya,” ajak ayahnya.

Sutawijaya merasa semakin asing di rumah dan di hadapan ayahnya sendiri. Biasanya ayahnya tidak begitu kaku menghadapinya. Bahkan kadang-kadang ayahnya tidak begitu menghiraukan, apakah ia sudah makan atau belum setelah ia sering bertugas keluar.

Seperti melayani seorang tamu, Ki Gede Pemanahan mempersilahkan anaknya untuk menyenduk nasi dari ceting lebih dahulu, kemudian mengambil lauk pauknya sebelum ia sendiri mengambilnya.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan, “tidak banyak orang makan sambil berbicara. Tetapi jika dengan irama yang baik aku kira tidak akan mengganggu. Karena itu, sambil makan, aku akan bertanya tentang perjalananmu.”

Leher Sutawijaya terasa menjadi semakin sempit sehingga ia agak susah menelan nasi yang sudah dikunyahnya lumat-lumat. Namun ia mengangguk sambil menjawab, “Silahkan, Ayah.”

Tetapi Ki Gede Pemanahan tidak segera bertanya. Ia menyuapi mulutnya kemudian mengunyahnya dan menelannya.

Sutawijaya termangu-mangu beberapa saat. Namun ia pun kemudian makan sambil menundukkan kepalanya.

“Bagaimana dengan perjalananmu itu,” tiba-tiba saja Ki Gede Pemanahan bertanya.

Sutawijaya mengangkat wajahnya. Ia sudah menelan suap nasi yang terakhir. Jawabnya kemudian, “Kami berhasil dengan baik, Ayah.”

“Nah, sekarang ceritakanlah. Dari permulaan sampai kau datang lagi menghadap aku sekarang ini.”

Raden Sutawijaya menarik nafas. Kemudian ia pun mulai menceritakan pengalamannya menusuk langsung ke sarang orang-orang yang selama ini dianggapnya mengganggu perkembangan Mataram. Dikatakannya pula tentang pasukan pengawal Tanah Perdkan Menoreh yang membantunya karena kebetulan seorang tamu Menoreh telah hilang pula, Sutawijaya juga menceritakan tentang Daksina dan Ki Waskita yang memiliki ilmu yang aneh.

Ki Gede Pemanahan yang sudah selesai makan itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mendengarkan cerita Raden Sutawijaya dengan asyiknya.

“Menarik sekali,” berkata Ki Gede kemudian, “untunglah bahwa kau mendapat kawan orang-orang tua yang berpengalaman. Jika kau tidak berhasil menghindarkan diri dari reruntuhan kayu-kayuan dan bebatuan di tebing itu, tentu kau akan kehilangan segala-galanya. Mataram pun kehilangan orang-orangnya yang terbaik, dan gangguan berikutnya tentu akan memunahkan segala keberangan dan hasrat untuk tetap membangun Tanah Mataram. Kemudian orang adbmcadangan.wordpress.com yang memiliki ilmu yang aneh itu pun sangat berjasa kepada kita di Tanah yang sedang tumbuh ini. Mudah-mudahan aku mendapat kesempatan bertemu dengan mereka. Dengan Ki Gede Menoreh, dengan orang-orang bercambuk itu dan dengan Ki Waskita. Aku akan mengucapkan terima kasih kepada mereka, karena langsung atau tidak langsung mereka telah ikut menegakkan Mataram yang goyah ini. Dengan demikian jika kemudian ternyata ada orang yang mengganggu perkembangan Mataram dengan alasan apa pun, maka orang itu telah menyia-nyiakan segala pengorbanan dan bantuan yang pernah diterima oleh Mataram.”

Dada Sutawijaya rasa-rasanya menjadi sesak karenanya. Meskipun ayahnya tidak langsung menyebut namanya, tetapi rasa-rasanya kata-kata ayahnya itu memang tertuju kepadanya.

Dengan demikian maka Raden Sutawijaya pun hanya dapat menundukkan kepalanya saja.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan kemudian, “kau pun tidak boleh melupakan semuanya itu. Kau sendiri mengalami dan melihat, bagaimana tebing jurang seperti yang kau ceritakan itu runtuh. Dan kau tahu sendiri, betapa orang yang bernama Panembahan Agung itu dapat mempermainkan kalian, jika tidak ada orang yang bernama Ki Waskita itu.”

“Ya, Ayah. Aku tidak akan melupakannya.”

“Bagus,” Ki Gede Pemanahan mengangguk-angguk, “sekarang, jika kau sudah selesai makan, beristirahatlah. Aku ingin berbicara sedikit tentang dirimu.”

Dada Raden Sutawijaya berdebar-debar semakin cepat.

“Kau dapat mempergunakan waktumu sekehendakmu. Jika kau lelah dan kantuk karena semalaman kau tidak tidur, sekarang tidurlah. Aku harap setelah tidur sejenak, kau akan menjadi segar, dan pembicaraan kita akan lancar.”

“Aku sama sekali tidak lelah, Ayah. Jika Ayah ingin mengatakan sesuatu, aku sudah siap”

“Tidak, Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan, “kau perlu beristirahat agar hatimu menjadi bening dan kau dapat mendengarkan penjelasanku sebaik-baiknya.”

“Aku tidak sedang bingung, Ayah.”

Ki Gede menggelengkan kepalanya. Katanya, “Sebaiknya kau memang tidur. Menilik ceritamu, selama kau berada di Menoreh, kau hampir tidak pernah tidur untuk beberapa malam. Semalam kau tentu juga tidak tidur sama sekali. Karena itu, sekarang pergilah ke bilikmu. Kau perlu tidur meskipun hanya sekejap.”

Sutawijaya tidak dapat membantah lagi. Ia pun kemudian meninggalkan ayahnya dan pergi ke dalam biliknya. Namun kegelisahan di hatinya rasa-rasa menyentak-nyentak dadanya, sehingga ia sama sekali tidak dapat tidur. Jangankan tidur, berbaring pun Sutawijaya tidak betah.

Dengan gelisah Sutawijaya duduk di bibir pembaringannya. Sekali-sekali ia bergeser setapak. Kemudian berdiri dan melangkah hilir mudik.

Ternyata ayahandanya membiarkannya dalam kegelisahan itu. Rasa-rasanya sudah berhari-hari Sutawijaya berada di dalam biliknya, namun ayahandanya masih belum juga memanggilnya dan membawanya berbicara.

Namun Sutawijaya itu terkejut, ketika pintu biliknya berderit. Dilihatnya Ki Gede Pemanahan sudah berdiri di depan pintu yang kemudian terbuka.

“O,” desis Sutawijaya, “apakah Ayahanda memanggil aku sekarang?”

Ki Gede Pemanahan tidak menyahut. Tetapi ia melangkah saja masuk dan duduk di tepi pembaringan Sutawijaya.

Sutawijaya termangu-mangu sejenak. Sehingga ayahnya berkata, “Duduklah. Agaknya lebih baik berbicara di sini daripada di ruang dalam.”

Rasa-rasanya dada Raden Sutawijaya menjadi sesak. Jantungnya berhenti berdetak. Tetapi ia pun kemudian duduk pula di sebelah ayahandanya.

Sejenak keduanya saling berdiam diri, sehingga ruangan itu pun menjadi hening.

Yang terdengar kemudian adalah tarikan nafas yang panjang dari Ki Gede Pemanahan. Agaknya ia pun merasa sulit untuk memulai pembicaraannya dengan anak laki-lakinya.

Namun kemudian akhirnya terucapkan juga pertanyaan, “Sutawijaya, apakah kau telah mendengar desas-desus yang keras tentang dirimu sendiri?”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Darahnya bagaikan benar-benar berhenti mengalir.

“Desas-desus yang semakin lama menjadi semakin merata di seluruh Mataram?”

Sutawijaya tidak segera menjawab pertanyaan itu. Tetapi justru ia pun bertanya, “Dalam hubungannya dengan apa, Ayah?”

Ki Gede Pemanahan memandang wajah anaknya sejenak. Namun kemudian dilontarkannya tatapan matanya ke luar pintu sambil berkata, “Aku kira kau tentu sudah mendengarnya. Hampir setiap orang memperkatakannya.”

Sutawijaya menjadi semakin gelisah.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan kemudian, “apa boleh buat. Aku memang harus mengatakannya kepadamu, bahwa orang-orang Mataram selalu membicarakan tentang hubungan yang menurut desas-desus itu terjadi antara kau dengan salah seorang gadis dari Kalinyamat yang diperuntukkan bagi Kanjeng Sultan Pajang.”

Meskipun Raden Sutawijaya sudah menduga bahwa persoalan itulah yang akan dibicarakan oleh ayahandanya, namun pertanyaan itu rasa-rasanya telah meretakkan dadanya.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede kemudian dengan nada yang dalam, “aku hanya sekedar bertanya. Jika memang tidak terjadi hal itu, kau dapat menjawabnya bahwa hal itu tidak benar.”

Sutawijaya berusaha menenangkan hatinya. Rasa-rasanya jika mungkin ia ingin menekan jantungnya yang berdentangan semakin cepat dan keras.

“Aku ingin mendengar jawabanmu Sutawijaya. Katakan dengan jujur apa yang sebenarnya telah terjadi. Jika kau berkata sebenarnya, maka kita akan dapat bersama-sama mencari jalan yang paling baik dan benar untuk mengatasi persoalan yang agaknya akan menjadi rumit.”

Sutawijaya masih berdiam diri. Terasa dadanya bergolak semakin dahsyat. Meskipun sudah semalam suntuk ia menganyam perasaan, namun ketika pertanyaan itu benar-benar dilontarkan, maka ia pun masih juga menjadi sangat bingung.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan, “kau sudah bukan anak-anak lagi. Jika pada saat kau baru saja kembali dari peperangan dan membawa hasil yang harus dihargai oleh Mataram, namun kemudian kau sudah dihadapkan pada persoalan pribadimu, sama sekali bukan maksudku untuk memperkecil perjuanganmu bagi Mataram. Tetapi semata-mata karena persoalan yang sudah terjadi itu tidak akan dapat dibiarkannya tanpa penyelesaian.”

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam.

“Sutawijaya,” Ki Gede meneruskan, “kau bukan kanak-kanak yang hanya pandai memecahkan belanga, namun kemudian kau tinggalkan bersembunyi.”

Sutawijaya bergeser setapak. Katanya kemudian dengan nafas yang tertahan-tahan, “Maafkah aku, Ayahanda. Sebenarnyalah bahwa hal itu sudah terjadi.”

Ki Gede Pemanahan memejamkan matanya sesaat. Jawaban itu pun sudah diduganya. Namun seperti Sutawijaya, ia pun sejenak menjadi bingung mendengarnya.

Namun kemudian Ki Gede Pemanahan, orang tua yang penuh dengan pengalaman dan pengenalan atas hidup dan kehidupan itu pun menarik nafas dalam-dalam. Dengan susah payah ia berhasil mengendalikan perasaannya yang bergelora.

Meskipun demikian masih juga tampak ketegangan yang memancar di sorot matanya.

Sutawijaya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dan dengan dada yang berdentangan ia mendengar ayahandanya berkata, “Sutawijaya. Setelah kau berhasil menaburi tanah ini dengan bunga yang semerbak dengan usahamu menumpas laskar Panembahan Agung, maka kini kau melumuri Tanah Mataram yang mulai berkembang ini dengan lumpur. Sutawijaya, apakah kau tahu arti seorang gadis bagi Sultan Pajang?”

Raden Sutawijaya tidak menjawab, tetapi kepalanya tertunduk semakin dalam.

“Anakku,” berkata Ki Gede Pemanahan, “ketika aku meninggalkan Pajang dan kembali ke Sela untuk memaksa Sultan Pajang mengingat kembali janjinya untuk menyerahkan Alas Mentaok, aku masih mempunyai keyakinan bahwa ia akan melakukannya. Bahkan sekarang pun jika kau memaksakan kehendakmu untuk mendapatkan suatu daerah yang sudah ramai sekali pun mungkin Sultan Pajang akan memberikannya. Apalagi setiap orang tahu, bahwa sebenarnya kau adalah anak angkatnya yang dikasihinya seperti anaknya sendiri.” Ki Gede terdiam sejenak untuk mengatur pernafasannya, lalu, “Tetapi jika kau mengambil seorang gadis dari padanya, akibatnya tentu akan lain.”

Sutawijaya menjadi semakin tunduk. Ia menyadari sepenuhnya kata-kata ayahandanya. Dan ia pun mengerti akan hal itu. Tetapi ketika semuanya itu terjadi, hatinya serasa gelap dan ia sama sekali tidak ingat apa pun juga, termasuk kemungkinan semacam itu.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan, “kau masih belum menjawab seluruhnya. Kenapa hal itu terjadi dan akibat yang timbul kemudian dari peristiwa yang pahit itu?”

Sutawijaya tidak dapat ingkar lagi. Maka ia pun kemudian menceritakan, bahwa sama sekali di luar kesengajaannya bahwa ia bertemu dengan gadis di dalam pingitan itu, dan apalagi kemudian terjadi hubungan yang telah menodainya.

“Ayahanda, gadis itu ternyata kini telah mengandung.”

“O,” Ki Gede Pemanahan mengusap dahinya yang berkeringat, “bagaimana mungkin semuanya ini terjadi. Tetapi yang hampir tidak masuk akal itu ternyata telah terjadi.”

Sutawijaya tidak menyahut.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan, “tidak ada jalan lain bagimu kecuali menghadap ayahandamu Sultan Pajang. Mungkin ayahandamu sudah mendengar. Tetapi mungkin juga karena ketakutan yang sangat dari gadis itu, serta belas kasihan orang-orang di sekitarnya, hal itu masih belum sampai kepada Sultan meskipun setiap orang sudah mengetahuinya. Tetapi kemungkinan itu adalah kemungkinan yang sangat kecil. Karena itu lebih baik kau datang menghadapnya lebih dahulu dan pasrah diri atas segala kelancanganmu daripada Sultan harus mengambil sikap lebih dahulu.”

Terasa kepala Sutawijaya menjadi pening. Peristiwa demi peristiwa yang membayang di angan-angannya berputar seperti kepalanyalah yang berputar. Lambat, namun kadang-kadang cepat seperti baling-baling ditiup angin yang kencang.

“Tidak ada jalan lain Sutawijaya,” terdengar suara Ki Gede Pemanahan.

Kepala Sutawijaya menjadi semakin pening. Terngiang di kepalanya sumpahnya sendiri yang pernah diucapkan, bahwa ia tidak akan menginjakan kakinya di tangga Istana Pajang sebelum ia menjadikan Mataram sebuah negeri yang ramai. Namun kemudian suara ayahandanya bagaikan meledak di telinganya, “Tidak ada jalan lain Sutawijaya, kau harus menghadap.”

Karena itu, Sutawijaya justru terdiam beberapa saat tanpa dapat berkata apa pun juga. Wajahnya menjadi tegang kemerah-merahan. Sedang denyut jantungnya serasa semakin cepat berdetak.

Tetapi, sekali lagi suara ayahandanya itu seolas-olah menjerit di telinganya, “Kau harus menghadap dan pasrah diri atas segala kesalahan yang kau lakukan.”

Maka terasa sesuatu bergejolak di dalam dada Raden Sutawijaya. Benturan perasaan yang rasa-rasanya akan memecahkan jantungnya.

Namun justru karena itu, maka Raden Sutawijaya itu pun seakan-akan terbungkam karenanya.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan, “apakah kau mempunyai pertimbangan lain?”

Untuk beberapa saat Sutawijaya masih tetap berdiam diri. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, sedang nafasnya bagaikan saling memburu di lubang hidungnya.

“Kau harus cepat memutuskan Sutawijaya. Kau harus melakukannya sebelum ayahandamu Sultan Pajang berbuat sesuatu.”

Dengan susah payah Sutawijaya berusaha untuk mengendapkan perasaannya. Sekali-sekali ia menark nafas dalam-dalam.

“Aku ingin mendengar sikapmu Sutawijaya.”

Sutawijaya masih saja termangu-mangu. Namun ia tidak akan dapat terus menerus berdiam diri. Karena itu maka katanya kemudian, “Ayahanda. Aku mohon beribu-ribu maaf. Sebenarnya aku sama sekali tidak menghendaki hal ini terjadi. Tetapi apa boleh buat, bahwa yang telah terjadi tidak akan dapat diingkari lagi. Namun demikian, Ayahanda, apakah tidak ada jalan lain yang dapat aku tempuh selain datang menghadap Ayahanda Sultan?”

Wajah Ki Gede Pemanahan memerah sejenak. Lalu, “Maksudmu Sutawijaya.”

Dada Sutawijaya menjadi semakin berdebar-debar. Suaranya menjadi semakin dalam dan lamban, “Ayahanda, apakah ada cara lain yang dapat aku tempuh selain menghadap Ayahanda Sultan Pajang. Aku sudah berjanji, bahwa sebelum Mataram menjadi ramai, aku tidak akan menginjakkan kakiku di atas tangga Istana Pajang.”

Ki Gede Pemanahan memandang puteranya dengan tajamnya. Lalu katanya, “Apakah kau tidak berani mempertanggung jawabkan perbuatanmu?”

“Bukan maksudku, Ayahanda. Tetapi hanya karena aku sudah bersumpah,” Sutawijaya tergagap. “Aku tidak mau menjadi sasaran ejekan para pemimpin pemerintahan dan prajurit di Pajang yang sejak semula sudah menganggap bahwa usahaku akan sia-sia.”

“Kenapa kau lebih memperhatikan para pemimpin prajurit dan pemimpin pemerintahan di Pajang daripada ayahandamu Sultan sendiri?”

Kepala Sutawijaya semakin tertunduk. Lambat ia menyahut, “Aku sudah terlanjur bersumpah.”

“Tetapi apakah hal itu bukan sekedar kau buat menjadi alasan, agar kau tidak harus datang ke Pajang?”

“Tidak, Ayahanda. Sama sekali tidak. Itu adalah sumpah yang sebenarnya sudah aku ucapkan. Ketika para pemimpin di Pajang seakan-akan mencibirkan bibirnya mendengar tekad kita untuk membuka Alas Mentaok, aku tidak dapat menahan perasaan lagi. Aku telah mengucapkan sumpah itu.”

“Kenapa para pemimpin di Pajang itu tidak yakin bahwa kita akan berhasil?”

“Aku tidak tahu pasti, Ayah. Tetapi hal itu ada hubungannya dengan perkembangan keadaan kita sejak Mentaok benar-benar diserahkan kepada Ayahanda. Pada saat Ayahanda meninggalkan Pajang dan kembali ke Sela, maka perhatian seluruh pemimpin di Pajang tertuju kepada Ayahanda. Itulah permulaan dari sikap mereka yang menyakitkan hati. Mereka menganggap seolah-olah kita telah memaksakan kehendak kita kepada Ayahanda Sultan. Justru ketika akhirnya Sultan adbmcadangan.wordpress.com benar-benar menyerahkan Alas Mentaok kepada kita, maka para pemimpin itu mulai melontarkan sikap yang menggelitik hati itu, sehingga akhirnya aku tidak dapat menahan perasaan dan aku telah mengucapkan sumpahku saat itu bahwa aku akan menjadikan Mentaok sebuah negeri yang ramai.”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Sutawijaya telah menyentuhnya pula. Dan Ki Gede Pemanahan pun merasa bahwa ia telah melakukan suatu tindakan yang terdorong oleh perasaan semata-mata. Ia telah mengajari Sutawijaya menentang ayahandanya Sultan Pajang. Ia telah bersikap kasar untuk memaksa Sultan Pajang memenuhi janjinya menyerahkan Alas Mentaok sebagai hadiah.

Tetapi semuanya itu sudah terlanjur. Dan kini ternyata bahwa Sutawijaya pun bersikap keras menghadapi para pemimpin di Pajang yang disangkanya pernah menghinanya.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan kemudian dengan nada yang datar, “jadi kau menyandarkan sikapmu itu kepada sikap ayahandamu waktu itu? Aku mengakui Sutawijaya, bahwa saat itu aku telah didorong oleh perasaan yang kurang mendapat pengekangan, sehingga terjadilah apa yang telah terjadi itu. Tetapi aku berharap bahwa kau akan bersikap lain, Sutawijaya. Kau adalah anak angkat terkasih dari ayahandamu Sultan Pajang. Karena itu, kau pun harus menanggapinya. Kau harus mengakui kesalahan yang pernah kau lakukan itu langsung kepada ayahandamu Sultan Pajang, apa pun yang akan diperbuatnya atasmu. Aku tidak berkeberatan untuk mengantarkanmu ke Pajang secepat-cepatnya.”

Dada Sutawijaya rasa-rasanya akan retak karenanya. Tetapi sangat berat baginya untuk memenuhi perintah ayahandanya itu untuk datang ke Pajang selagi Mataram baru mulai berkembang. Tetapi ia sadar, bahwa persoalan gadis Kalinyamat itu harus segera diselesaikan.

Karena itu, kembali Sutawijaya diam mematung. Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Sekilas ada niatnya untuk berbicara. Tetapi kemudian mulutnya terkatup lagi rapat-rapat.

Ki Gede Pemanahan menunggu jawaban Sutawijaya dengan dada yang berdebar-debar. Sepercik penyesalan telah membakar hatinya. Jika ia tidak bertindak kasar dan merajuk, sehingga memaksa Sultan Pajang segera menyerahkan Alas Mentaok, maka yang terjadi tentu akan berbeda.

“Kenapa aku pada waktu itu anggege-mangsa? Kenapa aku berusaha mempercepat saat penyerahan Alas Mentaok? Jika pada waktu itu aku tetap berdiam diri saja, mungkin Kanjeng Sultan akan mengambil sikap yang lebih baik akibatnya daripada sekarang ini,” berkata Ki Pemanahan di dalam hatinya. Dan terngiang ditelinganya pendapat bahwa sebenarnya Sultan Pajang sama sekali tidak akan ingkar janji. Tetapi karena akhirnya Alas Mentaok akan jatuh ke tangan Sutawijaya, putera angkatnya yang sangat dikasihinya, maka Sultan Pajang tidak tergesa-gesa menyerahkannya.

“Apakah justru Sultan akan membuka Alas Mentaok menjadi sebuah negeri yang ramai lebih dahulu baru memberikan kepadaku dan Sutawijaya?” bertanya Ki Gede Pemanahan di dalam hatinya.

Tetapi semuanya sudah terjadi. Anaknya pun ternyata telah dijalari oleh sikapnya pada waktu itu. Keras hati dan gejolak perasaan yang membara di hati, Alas Mentaok harus menjadi sebuah negeri yang besar. Setidak-tidaknya sebesar Pati.

Karena Sutawijaya masih saja tetap berdiam diri maka Ki Gede Pemanahan pun bertanya sekali lagi, “Sutawijaya, kau masih belum memberikan jawaban.”

Sutawijaya masih tetap menundukkan kepalanya. Namun kemudian dengan suara tertahan-tahan ia berkata, “Ampun, Ayahanda. Sebenarnya aku tidak akan ingkar sama sekali akan kesalahan yang telah aku lakukan. Tetapi bagaimana aku akan dapat mengakui kesalahan itu di hadapan Ayahanda Sultan karena aku sudah bersumpah tidak akan datang ke Istana Pajang.”

Terasa sesuatu melonjak di hati Ki Gede Pemanahan. Tetapi ia masih tetap berkata sareh, “Sutawijaya. Kau selama ini tidak pernah membantah. Kau adalah anak yang baik, penurut dan bertanggung jawab.” Ki Gede Pemanahan berhenti sejenak, lalu, “Ingatlah Sutawijaya, betapa besar kasih Sultan Pajang kepadamu. Ketika kau memaksa untuk ikut ke medan melawan Adipati Jipang, ayahandamu angkat itu melarang kau dan menahanmu sedapat-dapat dilakukan. Tetapi kau keras kepala dan memaksa. Dan karena kau tidak dapat ditahan lagi, maka Sultan memberikan pusaka terbesar dari Pajang kepadamu demi keselamatanmu. Bahkan Sultan Pajang berpesan kepadaku, kepada pamanmu Penjawi, jika sampai sobek pakaianmu, dan apalagi luka kulitmu di peperangan, maka aku dan pamanmu Penjawi akan digantung di alun-alun Pajang, karena aku tidak dapat melindungi keselamatan putera Sultan. Kau ingat Sutawijaya?”

Kepala Sutawijaya menjadi semakin tertunduk. Ia ingat jelas, bagaimana ayahanda angkatnya itu menahannya agar ia tidak turun ke medan ketika terjadi perang antara Pajang dan Jipang. Ia merasa betapa besar kasih sayang Sultan Pajang kepadanya.

Namun demikian, terbayang pula wajah-wajah para pemimpin yang dengki dan iri di paseban istana Pajang saat itu, sehingga ia telah melontarkan sumpahnya di hadapan para pemimpin itu. Dan sumpahnya itulah yang sangat memberati hatinya untuk memenuhi perintah ayahandanya.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan, “kau harus segera mengambil keputusan.”

Sutawijaya adalah seorang anak muda yang memiliki kelebihan dari anak-anak muda kebanyakan. Ialah yang dengan ujung tombak pusaka Pajang melukai lambung Arya Penangsang yang sakti tiada bandingnya, meskipun dengan siasat yang cerdik dari Ki Juru Martani, sehingga kuda Arya Perangsang menjadi binal.

Namun menghadapi persoalan yang hampir tidak terpecahkan itu, terasa betapa hatinya bagaikan disayat.

“Sutawijaya,” suara ayahandanya menjadi semakin berat, “kenapa kau diam saja?”

“Ayahanda,” terasa sesuatu menyumbat kerongkongannya, sehingga Sutawijaya berhenti sejenak, lalu, “berat sekali perasaanku untuk melanggar sumpahku, Ayahanda.”

“Jadi kau lebih memberatkan sumpahmu di hadapan para pemimpin yang iri itu daripada ayahandamu Sultan Pajang?”

“Bukan berarti demikian, Ayahanda. Tetapi yang aku cari adalah penyelesaian lain. Aku tidak akan berkeberatan menghadap Ayahanda Sultan. Tetapi sudah barang tentu tidak menghadapnya di istana Pajang.”

“Kau gila,” tiba-tiba Ki Gede Pemanahan tidak dapat menahan hatinya lagi. “Jadi kau mengharap bahwa Sultan Pajang yang datang menghadap kau di Mataram ini dan justru bukan kau yang datang di Pajang?”

“Tidak, Ayah. Tidak,” cepat-cepat Sutawijaya memotong, “bukan maksudku, Ayah. Tetapi seandainya Sultan sedang berburu atau sedang pergi mengunjungi daerah pesisir dan kadipaten di Bang Wetan atau Bang Kulon, aku tidak berkeberatan untuk menghadap.”

“Pikiranmu memang sudah tidak waras lagi, Sutawijaya,” geram ayahandanya. “Itu sama sekali tidak sopan. Jika Sultan Pajang pergi berburu, maka maksudnya tentu untuk melupakan kesibukannya sehari-hari. Tetapi kau akan datang mengganggunya sehingga menimbulkan persoalan baru baginya. Kecuali itu, kapan hal itu akan terjadi? Kapan? Setahun, dua tahun lagi atau barangkali setelah bayi yang dikandung itu sempat ikut menghadap Sultan?”

Dada Sutawijaya tergetar karenanya. Ia jarang sekali melihat dan mendengar ayahandanya marah kepadanya. Sejak ia diangkat oleh Sultan Pajang menjadi anaknya, maka sikap Ki Gede Pemanahan kepadanya benar-benar seperti sikap seorang panglima perang di Pajang kepada putera sultan yang sebenarnya. Sedang ketika kemudian ia memutuskan untuk ikut serta dengan Ki Gede Pemanahan membuka Alas Mentaok, maka ayahandanya itu benar-benar menaruh hormat kepadanya, karena ia tidak silau dengan kemukten yang didapatnya di istana Pajang, dan mengikuti ayahandanya berprihatin.

Tetapi justru setelah Alas Mentaok sedang tumbuh dan mekar, ia telah melakukan suatu kesalahan yang membuat ayahandanya itu marah.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan itu pula karena Sutawijaya masih tetap berdiam diri, “kau harus cepat mengambil keputusan.”

Sutawijaya menjadi semakin bimbang. Namun seperti ayahandanya, maka Sutawijaya adalah seorang anak muda yang keras hati. Ia mempunyai pegangan atas nilai-nilai yang diyakininya. Karena itulah maka ia merasa bahwa apabila ia pergi juga ke Pajang, maka ia adalah seorang kesatria yang tidak berharga di mata para pemimpin dan Senapati Pajang yang pernah mendengar sumpahnya. Mereka akan mengejek dan mentertawakannya. Dan bahkan mungkin di antara mereka terdapat orang-orang yang mempunyai hubungan dengan Daksina. Orang-orang itu tentu akan memanfaatkan keadaan dan menekannya sehingga ia menjadi sasaran ejekan dan hinaan, meskipun seandainya tidak terucapkan. Namun tatapan mata dan senyum yang masam, akan menjadi duri yang mematuk dinding jantung.

Karena itu, maka hati Sutawijaya pun telah mengeras. Ia tidak ingin datang menghadap ayahanda di Istana Pajang.

“Sutawijaya. Kenapa kau berdiam diri?” desak ayahandanya.

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian dengan suara bergetar oleh debar jantungnya, “Ayahanda. Tentu Daksina yang telah terbunuh itu tidak berdiri sendiri di lingkungan keprajuritan Pajang. Para senapati yang berpihak kepadanya atau justru yang mengendalikannya, akan menarik keuntungan dengan kehadiranku di Istana Pajang sebagai seorang kesatria yang tidak teguh memegang janji kepada diri sendiri. Tetapi secara terbuka adbmcadangan.wordpress.com mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka tidak akan dapat menuntut aku di hadapan Ayahanda Sultan, karena Ayahanda Sultan tidak akan berpegang pada sumpahku itu sebagai sumber keadilan untuk menghukum aku. Namun demikian, aku akan tetap merasa, bahwa di dalam hati mereka sudah membuat penilaian atas diriku, bahwa aku adalah laki-laki yang tidak teguh, dan luluh karena langsung atau tidak langsung, oleh sentuhan halusnya kulit seorang perempuan.”

Ki Gede Pemanahan memandang wajah Sutawijaya sejenak, lalu katanya, “Tetapi bukankah hal itu memang sudah terjadi? Dan kau telah melumuri namamu sendiri dengan lumpur?” Ki Gede Pemanahan berhenti sejenak, lalu, “Sutawijaya, aku hanya ingin mendengar jawabmu. Kau bersedia datang ke Pajang atau tidak. Dengan atau tidak dengan aku.”

Dada Sutawijaya menjadi sesak. Tetapi kekerasan hatinya telah melonjak sampai ke tenggorokannya, sehingga jawabnya kemudian dengan kepala tunduk, “Ayahanda, aku mohon maaf. Aku tidak dapat menghadap Ayahanda Sultan di Istana Pajang. Tetapi aku akan menghadap Ayahanda di mana pun jika Ayahanda Sultan sudi menerima aku.”

“Cukup Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan, “kau tidak usah bercerita panjang lebar. Tetapi jawabmu sudah jelas bagiku. Kau tidak mau menghadap, apa pun alasanmu.”

“Bukan maksudku, Ayahanda …”

Tetapi kata-kata Sutawijaya terpotong oleh kata-kata ayahandanya, “Cukup. Aku sudah cukup, kau tidak usah mengatakan apa-apa lagi.”

“Tetapi Ayah salah mengerti.”

“Salah atau tidak salah, aku mempunyai arti sendiri bagi sikapmu itu.” Ki Gede berhenti sejenak, lalu, “Jika demikian biarlah aku menghadap sendiri.”

“Ayahanda,” potong Sutawijaya, “tentu Ayahanda juga tidak akan menghadap.”

“Aku tidak terikat oleh janji apa pun juga, dan aku tidak mau membiarkan pengkhianatan ini terjadi.”

“Ayahanda. Kenapa Ayahanda menyebut hal ini sebagai pengkhianatan?”

“Pengkhianatan seorang anak kepada ayahandanya, meskipun ia sekedar ayahanda angkat. Seperti sudah aku katakan, bagi Sultan Pajang, nilai seorang gadis akan sama nilainya dengan tanah wewengkonnya. Kau sudah melanggar pagar ayu, terlebih-lebih lagi karena gadis itu adalah pilihan Sultan Pajang.”

“Tidak, Ayahanda. Aku tidak melanggar pagar ayu. Gadis itu belum resmi menjadi isteri Ayahanda Sultan. Ia masih dipersiapkan untuk menjadi isterinya.”

“Tidak akan banyak bedanya. Sudahlah, jangan mencari alasan untuk memperingan kesalahanmu. Aku akan menghadap Sultan Pajang. Biarlah aku dihinakan orang, biarlah aku direndahkan oleh mereka yang membenci aku, karena aku datang menghadap setelah aku adbmcadangan.wordpress.com seolah-olah lari dari Pajang untuk memaksa agar Sultan bersedia menyerahkan Alas Mentaok. Tetapi bagiku persoalanmu harus segera mendapat penyelesaian. Jika akulah yang harus digantung karena aku gagal mengendalikan anak laki-lakiku, dan bahkan putera angkat Sultan sendiri, aku akan menjalaninya dengan senang hati.”

“Ayahanda,” desis Sutawijaya.

Ki Gede Pemanahan tidak menghiraukan suara Sutawijaya lagi. Perlahan-lahan ia terdiri sambil berkata, “Sudahlah, Sutawijaya. Kau tidak perlu mencari alasan apa pun lagi. Tunggulah Tanah Mataram yang sedang berkembang. Aku besok akan pergi. Jika matahari besok terbit di Timur, maka aku akan berangkat menuju ke Pajang.”

“Ayahanda,” Sutawijaya berkata dengan suara yang gemetar, “bukan maksudku bahwa Ayah harus pergi ke Pajang. Biarlah Ayah tinggal saja di Mataram. Aku akan mencari jalan untuk menyelesaikan persoalanku sendiri.”

“O,” desis Ki Gede Pemanahan, “jadi kau benar-benar merasa dirimu sudah dewasa, sehingga kau akan mencari jalan untuk menyelesaikan persoalanmu sendiri. Tidak, Sutawijaya. Kau adalah anakku. Kesalahan yang kau buat bukan sekedar tanggung jawabmu. Tetapi juga tanggung jawabku. Karena itu, jika kau memang tidak mau menginjakkan kakimu di tangga Istana Pajang, maka biarlah aku yang pergi.”

“Ayahanda. Sebaiknya Ayahanda jangan pergi.”

“Dan kau akan pergi?”

Sutawijaya terdiam. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya, “Aku juga tidak dapat pergi.”

“Cukup. Kau jangan mempermainkan orang tuamu lagi Sutawijaya. Kau sudah cukup membuat aku pening. Sekarang kau masih juga ingin menambah beban perasaanku.”

“Maafkan aku, Ayahanda. Sama sekali bukan maksudku. Aku ingin Ayahanda tidak bersusah payah berbuat sesuatu karena kesalahanku. Tetapi aku pun tidak dapat pergi ke Pajang sekarang ini.”

“Kau memang keras kepala dan keras hati. Cukup. Semua persoalan sudah selesai. Aku sudah mengambil keputusan.”

“Ayahanda,” Sutawtjaya berjongkok dihadapan ayahandanya. Tetapi Ki Gede Pemanahan sama sekali tidak menghiraukannya. Ia pun kemudian berdiri dan meninggalkan anaknya dengan hati yang tegang.

Sutawijaya pun menyadari, jika ayahandanya sudah berkata demikian, tidak akan ada gunanya lagi ia menahannya, apalagi merengek seperti anak-anak. Jika ayahanda sudah mengambil keputusan, maka keputusan itu tentu akan dilaksanakannya. Dan kini ayahandanya sudah menentukan sikap.

Sepeninggal ayahnya, Sutawijaya diamuk oleh gemuruh di dalam hatinya. Keragu-raguan yang dahsyat telah mengguncangnya. Kadang-kadang timbul pula niatnya untuk pergi menghadap ayahandanya, namun jika terbayang wajah-wajah yang penuh dengan hinaan dan ejekan, maka niat itu pun bagaikan disapu angin yang kencang. Hanyut tanpa bekas.

“Aku tetap pada pendirianku. Aku tidak akan pergi.”

Dan keputusan itu pun kemudian tidak berubah lagi seperti juga keputusan ayahandanya untuk pergi ke Pajang.

Sementara itu, maka Ki Gede Pemanahan telah memerintahkan kenada abdi terdekatnya untuk menyiapkan kudanya. Besok Ki Gede akan pergi bersama dua orang pengawalnya ke Pajang. Apa pun yang akan dihadapinya di Pajang, Ki Gede sudah memutuskan tidak akan ingkar lagi, karena ia merasa bahwa Sutawijaya memang sudah melakukan kesalahan yang besar.

Demikianlah, waktu yang mendebarkan itu akhirnya datang pula. Gelap yang kemudian menyelubungi Mataram telah didorong perlahan-lahan oleh cahaya pagi di ujung Timur.

Malam yang gelisah telah lampau. Malam yang rasa-rasanya terlampau panjang, karena hampir semalam suntuk, baik Ki Gede Pemanahan, maupun Raden Sutawijaya, tidak dapat memejamkan matanya sama sekali.

Kabar keberangkatan Ki Gede Pemanahan ke Pajang untuk menghadap sultan, telah tersebar di seluruh kota. Tidak banyak yang mengetahui alasan yang sebenarnya. Namun setiap orang telah menghubungkan keberangkatan Ki Gede itu dengan desas-desus yang tersiar, bahwa Raden Sutawijaya telah melakukan kesalahan yang besar terhadap Sultan Pajang. Ketegangan antara Pajang dan Mataram menjadi semakin tajam.

Beberapa orang menjadi kecewa oleh keputusan Ki Gede Pemanahan. Mereka sebenarnya ingin memaksa orang-orang Pajang mengakui terlebih dahulu, bahwa Mataram benar-benar sudah menjadi sebuah negeri yang ramai. Sesudah itu, barulah salah seorang pemimpin Mataram akan menghadap ke Pajang dengan bangga, bahwa mereka telah berhasil membuat Alas Mentaok yang besar dan lebat tiada bandingnya itu menjadi sebuah negeri.

Namun setiap orang pun kemudian melontarkan kekecewaannya kepada Raden Sutawijaya. Jika Raden Sutawijaya tidak melakukan kesalahan itu, maka keadaan tidak berkembang demikian cepatnya, justru menuju ke arah yang tidak diinginkan.

Ki Lurah Branjangan hanya dapat menekan dadanya, ketika ia melihat seekor kuda yang tegar sudah siap di depan pendapa rumah Ki Gede Pemanahan. Dua orang pengawal telah bersiap pula di sisi regol.

“Alangkah beratnya tanggung jawab seorang ayah menghadapi anak yang keras hati,” berkata Ki Lurah Branjangan di dalam hati. “Aku kagum kepada kejantanan Raden Sutawijaya. Dan aku kagum pula dengan kekerasan hatinya. Tetapi aku tidak mengerti, bagaimana aku harus menanggapinya melihat sikapnya yang satu ini, sehingga ayahandanyalah yang terpaksa pergi ke Pajang.”

Di pendapa Ki Gede Pemanahan masih sempat memberikan beberapa pesan kepada para pemimpin di Mataram termasuk Sutawijaya sendiri yang tetap berkeras hati untuk tidak mau pergi menghadap ayahanda Sultan.

“Aku tidak akan membawa pengawal lebih dari dua orang,” berkata Ki Gede Pemanahan, “karena aku tidak akan pergi berperang melawan Pajang.”

Ki Lurah Branjangan yang juga hadir saat Ki Gede Pemanahan memberikan pesan-pesan sebelum berangkat, merasakan betapa tekanan perasaan menghimpit jantung Ki Gede Pemanahan. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Persoalan yang dihadapi oleh Ki Gede Pemanahan kali ini bukan persoalan pertahanan dan pengamanan Alas Mentaok yang masih sedang berkembang, tetapi persoalan yang lebih berat pada persoalan keluarga meskipun akibatnya akan dapat menyangkut Tanah Mataram seluruhnya.

Dalam pada itu, Ki Lurah Branjangan tidak dapat menahan hati untuk bertanya kepada Ki Gede Pemanahan, “Ki Gede, memang tidak baik untuk membawa sepasukan pengawal ke Pajang pada saat seperti ini. Tetapi di sepanjang jalan Ki Gede memerlukan kekuatan yang memadai. Mataram masih dikelilingi oleh bahaya yang tersembunyi meskipun Panembahan Agung sudah tidak ada lagi. Tetapi justru karena Daksina terbunuh pula di dalam pertempuran itu, maka tentu ada pihak yang merasa dirugikan dan ingin membalas dendam.”

Tetapi Ki Gede Pemanahan menggelengkan kepalanya. Katanya, “Dua orang sudah cukup. Aku tidak membawa persoalan lain kecuali persoalan Sutawijaya. Karena itu, aku tidak akan menghadapi kekerasan yang mana pun juga selain menghadapi hukuman yang akan dijatuhkan oleh Sultan. Dan aku tidak akan ingkar jika aku harus menjalaninya. Dengan demikian maka pengawal-pengawal itu tidak perlu sama sekali bagiku.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Ki Gede Pemanahan adalah seorang perasa. Ia meninggalkan Pajang karena Sultan Pajang dianggap tidak memenuhi janjinya menyerahkan Alas Mentaok. Dan kini ia pergi tanpa pengawal karena anak laki-lakinya telah membuatnya sangat kecewa.

Demikianlah maka akhirnya Ki Gede Pemanahan pun segera berangkat disertai dua orang pengawalnya yang terpercaya. Dua orang lurah yang dibawanya dari kampung halamannya, Sela.

“Mudah-mudahan kita dapat melihat Tanah Mataram ini kembali,” desis Ki Gede Pemanahan.

Semua orang yang melihat keberangkatan Ki Gede Pemanahan menahan perasaan ibanya. Ki Gede Pemanahan adalah seorang Panglima di Pajang, kemudian bergelar Ki Gede Mataram setelah Mataram mulai berkembang. Kini ia terpaksa pergi ke Pajang karena anak laki-lakinya telah melakukan kesalahan yang besar dan tidak bersedia mempertanggung-jawabkannya sendiri.

Ketika Ki Gede Pemanahan hilang dari tatapan mata mereka yang melepaskannya di regol halaman, maka sebagian besar dari mereka telah berpaling kepada Sutawijaya. Dilihatnya anak muda itu berdiri tegang. Tetapi tidak seorang pun yang mengetahui apakah yang sebenarnya bergejolak di dalam hatinya.

Sutawijaya sendiri kemudian dengan tergesa-gesa naik ke pendapa dan hilang masuk ke ruang dalam. Ia tidak menghiraukan para pemimpin dan orang-orang tua yang masih ada di pendapa. Dengan hati yang bagaikan tersayat ia masuk ke dalam biliknya.

Sutawijaya adalah seorang anak jantan sejak masih terlampau muda. Ia dengan hati jantan memaksa untuk ikut berperang melawan Adipati Jipang. Ia dengan tabah menghadapi Adipati Jipang dengan tombak Kiai Pleret, selagi para panglima ragu-ragu, apakah ada di antara mereka yang dapat mengalahkan Arya Penangsang, seorang yang sakti tiada bandingnya

Namun dalam keadaan serupa itu, Sutawijaya hanya dapat duduk sambil bertopang dagu. Matanya menjadi panas dan tenggorokannya serasa tersumbat.

“Kenapa aku harus mengalami persoalan ini?” ia bergumam di dalam hati.

Sementara itu para pemimpin dan orang-orang tua di pendapa masih berbincang beberapa saat lamanya. Tidak seorang pun yang dapat menilai dengan tepat, apakah tindakan Raden Sutawijaya itu dapat dibenarkan. Demikian pula tindakan tergesa-gesa dari Ki Gede Pemanahan, yang dalam keadaan yang tidak pasti ini pergi ke Pajang hanya dengan dua orang pengawal.

“Ki Gede Pemanahan didorong oleh kemarahan yang tertahan di dalam dadanya,” berkata salah seorang dari mereka.

Ki Lurah Branjangan yang ada di antara mereka sama sekali tidak mengatakan sesuatu. Hatinya merasa pedih. Baru saja ia menyaksikan bagaimana musuh terbesar Mataram dihancurkan. Bagaimana pasukan pengawal Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh bersama Ki Waskita berhasil membinasakan Panembahan Agung dan pengikut-pengikutnya. Dan kini di Menoreh orang tua bercambuk itu agaknya masih berbaring karena luka-lukanya. Juga Ki Sumangkar masih terluka meskipun tidak separah Kiai Gringsing.

Dalam pada itu, di Mataram telah terjadi ketegangan yang lain. Ketegangan yang terjadi antara Raden Sutawijaya dan ayahandanya Ki Gede Pemanahan. Raden Sutawijaya tidak bersedia memenuhi perintah ayahandanya pergi ke Pajang, sedang ayahandanya Ki Gede Pemanahan tidak mau mendengarkan permintaan anaknya agar ayahanda tidak pergi untuk mewakilinya.

“Mudah-mudahan semuanya akan dapat selesai dengan baik,” berkata Ki Lurah Branjangan di dalam hatinya. Hati yang rasa-rasanya menjadi pepat.

Dalam keadaan yang demikian itu, tiba-tiba saja telah timbul suatu keinginan di dalam dadanya untuk pergi ke Menoreh. Jika ia dapat bertemu dengan Kiai Gringsing, Ki Gede Menoreh, Ki Waskita, dan Ki Sumangkar, maka beban di hatinya itu akan dapat dikuranginya.

Karena itu, di luar pengetahuan Raden Sutawijaya, Ki Lurah Branjangan mempersiapkan dirinya untuk pergi ke Menoreh. Tidak ada kepentingan yang lain kecuali sekedar mengurangi beban di dalam hatinya. Di Mataram, semua-orang dibebani oleh perasaan yang sama, sehingga seakan-akan tidak ada tempat baginya untuk membagi perasaan itu.

Setelah minta diri kepada orang-orang tua maka Ki Lurah Branjangan pun segera meninggalkan Mataram. Ia hanya berpesan, jika Raden Sutawijaya mencarinya, mereka dapat mengatakan bahwa Ki Lurah Branjangan sedang pergi ke Tanah Perdikan Menoreh. Meskipun baru beberapa hari ia kembali dari Menoreh, namun rasa-rasanya ada yang mendorongnya untuk bertemu dengan orang-orang tua di Tanah Perdikan Menoreh.

Bersama dengan dua orang pengawalnya, Ki Lurah Branjangan pun berpacu menuju ke Tanah Perdikan Menoreh. Jarak antara Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh sebenarnya tidak terlampau jauh. Tetapi selain jalan yang masih cukup berat, kedua daerah itu dibatasi oleh sebuah sungai yang cukup besar.

Tetapi di antara dua tepian sungai itu, dihubungkan dengan beberapa perahu getek yang hilir mudik di tempat-tempat tertentu. Sehingga karena itu, maka Ki Lurah Branjangan pun tidak menemui banyak kesulitan untuk menyeberang Apalagi di musim kering. Sedang di musim hujan pun banyak getek yang berani menyeberang meskipun banjir. Hanya apabila banjir itu terlampau besar, maka getek-getek pun tertambat erat-erat di tepian.

Ketika kemudian Raden Sutawijaya mengetahui bahwa Ki Lurah Branjangan pergi ke Menoreh, rasa-rasanya ia ingin pergi menyusulnya. Tetapi Raden Sutawijaya masih dicegah oleh perasaan tanggung jawabnya atas Tanah Mataram, justru karena ayahandanya tidak ada.

Karena itu, maka yang dapat dilakukan oleh Raden Sutawijaya hanyalah dengan gelisah mondar-mandir di dalam biliknya, kemudian di ruang dalam dan kadang-kadang ia pergi juga ke pendapa.

Kedatangan Ki Lurah Branjangan di Tanah Perdikan Menoreh benar-benar mengejutkan. Para pengawal yang nganglang di sepanjang perbatasan menerima dengan heran. Baru saja Ki Lurah Branjangan bersama pasukan Mataram meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh. Kemudian kini Ki Lurah Branjangan datang lagi hanya dengan dikawal oleh dua orang.

“Mungkin ada yang penting,” desis salah seorang pengawal. “Pasukan pengawal Mataram tergesa-gesa kembali ke Mataram karena ada utusan yang sudah menunggu sejak Raden Sutawijaya belum kembali dari peperangan itu.”

“Dan kini ada utusan yang dengan tergesa-gesa pergi ke Menoreh,” sahut kawannya.

Mereka menghubungkan kedatangan Ki Lurah Branjangan dengan kepergian Raden Sutawijaya dengan tergesa-gesa meninggalkan Menoreh. Namun demikian, mereka tidak berani meyakini apa yang sebenarnya telah terjadi.

Diantar oleh beberapa orang pengawal, maka Ki Lurah Branjangan pun langsung pergi ke induk Tanah Perdikan meskipun hari telah menjadi malam. Di dalam kegelapan mereka menyusuri bulak yang panjang di antara tanah persawahan.

Tetapi para pengawal yang mengantarkannya sama sekali tidak berani menanyakan kepada Ki Lurah Branjangan, apakah kepentingannya datang ke Tanah Perdikan Menoreh.

Kedatangan Ki Lurah Branjangan di halaman rumah Ki Gede Menoreh telah mengejutkan seisi rumah itu pula. Tanpa memberikan kabar lebih dahulu, tiba-tiba saja Ki Lurah Branjangan telah berada kembali di Tanah Perdikan Menoreh.

Namun kedatangan Ki Lurah Branjangan ke Tanah Perdikan Menoreh agaknya memang suatu kebetulan yang baik baginya. Meskipun hari telah malam, namun orang-orang tua di rumah itu masih duduk di pendapa sambil bercakap-cakap. Mereka melingkari hidangan yang masih berserakan. Beberapa mangkuk minuman dan beberapa potong makanan masih tersedia di hadapan mereka.

Ketika kedatangan Ki Lurah Branjangan itu diberitahukan kepada Ki Argapati, maka dengan tergesa-gesa Ki Argapati pun segera menyongsongnya, diiringi oleh beberapa tamunya yang sedang berada di pendapa itu pula.

“Kedatangan Ki Lurah mengejutkan kami,” berkata Ki Argapati. “Marilah, silahkan naik ke pendapa.”

Ki Lurah tersenyum. Setelah menyerahkan kudanya, maka Ki Lurah dan kedua pengawalnya pun segera naik ke pendapa.

Setelah Ki Argapati menanyakan keselamatan tamunya dan perjalanannya yang cukup panjang itu, maka ia pun kemudian bertanya, “Ki Lurah, kedatangan Ki Lurah mendebarkan jantung kami, justru karena Ki Lurah baru saja kembali ke Mataram dari Tanah ini. Apakah ada sesuatu yang penting, atau yang tertinggal di sini atau persoalan-persoalan yang lain?”

Ki Lurah Branjangan mencoba tersenyum sambil menjawab, “Tidak Ki Argapati. Tidak ada persoalan apa pun yang penting yang harus aku sampaikan kepada Ki Argapati. Kedatanganku kemari sekedar didorong oleh kepepatan hati menghadapi persoalan yang sedang berkembang di Mataram.”

“Persoalan apa Ki Lurah?”

“Sebenarnya tidak menyangkut Tanah Perdikan Menoreh. Karena itu, supaya kalian tidak terganggu karenanya, silahkan meneruskan pembicaraan jika ada pembicaraan yang penting. Aku akan menyampaikannya nanti jika pembicaraan Ki Gede dan para tamu sudah selesai.”

“Ah,” desis Ki Gede sambil berkisar, “tidak ada persoalan yang penting di sini. Kami sedang berbicara tentang hari depan anak-anak muda. Di sini duduk Ki Demang Sangkal Putung. Aku sedang berbicara tentang anaknya.”

“O,” Ki Lurah Branjangan mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ditatapnya wajah-wajah yang ada di pendapa itu. Wajah orang-orang tua yang sedang membicarakan hari depan anak-anak mereka.

Ki Lurah Branjangan memang pernah mendengar bahwa memang ada hubungan antara putera Ki Demang Sangkal Putung itu dengan anak Ki Argapati. Karena itu, maka sambil tersenyum ia pun berkata selanjutnya, “Sebaiknya aku tidak memberikan warna yang lain dari suasana yang cerah ini. Silahkan. Setelah Menoreh berhasil menyingkirkan orang-orang yang mungkin akan dapat mengganggu ketenteraman dan hubungan baik dengan Mataram, kini Menoreh menghadapi hari-hari yang cerah.”

“Ah,” Ki Argapati tersenyum, “demikianlah agaknya. Sebenarnya kedatangan Ki Demang Sangkal Putung bersama Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar adalah untuk membicarakan hubungan yang sudah lama terjalin antara putera Ki Demang dengan anakku. Tetapi kedatangannya itu terganggu oleh keadaan yang berkembang di Tanah Perdikan Menoreh ini.”

“Tetapi semuanya sudah lampau.”

“Ya, ya, Ki Lurah. Semuanya sudah lampau.”

“Karena itu, silahkanlah. Jika Ki Gede tidak berkeberatan aku ikut mendengarkannya, maka biarlah aku ikut mendengar. Baru nanti atau besok aku akan menceritakan apa yang terjadi di Mataram.”

Demikianlah maka Ki Lurah Branjangan telah menahan hati untuk tidak mengatakan apakah yang telah mendorongnya pergi ke Menoreh. Ia tidak sampai hati merusakkan suasana yang cerah itu, karena mau tidak mau ceritanya pasti akan menarik banyak perhatian dan membuat setiap wajah menjadi buram.

“Maaf, Ki Lurah. Kami akan melanjutkan pembicaraan kami yang sudah hampir selesai,” berkata Ki Gede Argapati.

“Silahkan, silahkanlah,” sahut Ki Lurah sambil menganggukkan kepalanya dalam-dalam kepada orang-orang yang ada di pendapa itu.

“Kami sedang menentukan saat yang baik,” berkata Ki Demang Sangkal Putung.

“Sayang, Kiai Gringsing belum dapat ikut duduk bersama di pendapa ini,” berkata Ki Lurah Branjangan.

“Ya, Kiai Gringsing masih harus banyak berbaring ditunggui oleh kedua muridnya. Ki Sumangkar juga. Tetapi keadaannya sudah bertambah baik, dan setiap kali pembicaraan kami juga berdasarkan pesan-pesan kedua orang-orang tua itu,” sahut Ki Demang Sangkal Putung.

“Jika demikian,” berkata Ki Lurah Branjangan, “apakah aku diperkenankan menengoknya sebentar, sementara Ki Gede dan Ki Demang bersama orang-orang tua melanjutkan pembicaraan?”

“Baiklah, Ki Lurah,” sahut Ki Argapati, “biarlah Ki Lurah diantar saja ke gandok sebelah.”

Ki Lurah Branjangan pun kemudian diantar oleh seorang bebahu Tanah Perdikan Menoreh pergi ke gandok dengan kedua pengawalnya menengok Kiai Gringsing yang sedang sakit bersama Ki Sumangkar.

Kedatangannya telah membuat orang-orang yang ada di gandok itu menjadi terkejut pula. Namun senyum Ki Lurah Branjangan membuat mereka menjadi agak tenang.

“Tidak ada yang penting,” berkata Ki Lurah Branjangan.

Kiai Gringsing yang masih berbaring di pembaringannya, mempersilahkan Ki Lurah Branjangan duduk di amben bambu. Sedang Ki Sumangkar sudah dapat menemuinya dan duduk bersamanya.

“Sebenarnya aku sudah sembuh,” berkata Ki Sumangkar, “tetapi untuk duduk berlama-lama, badanku masih kurang baik.”

“Sebaiknya Ki Sumangkar masih harus banyak beristirahat,” berkata Ki Lurah Branjangan.

“Keadaanku menjadi semakin baik.”

Dalam pada itu Agung Sedayu dan Swandaru pun kemudian duduk pula bersama mereka. Yang pertama-tama mereka tanyakan adalah keadaan Raden Sutawijaya.

“Tidak ada apa-apa,” berkata Ki Lurah Branjangan, “hanya ada sedikit kesulitan.”

Kedua anak-anak muda itu menjadi semakin tertarik untuk mendengar berita tentang Raden Sutawijaya yang kembali dengan tergesa-gesa karena ayahandanya memanggil tanpa dapat ditunda barang sehari dua hari dari Tanah Perdikan Menoreh.

“Aku tidak mau mengganggu pembicaraan yang sedang berlangsung di pendapa,” berkata Ki Lurah Branjangan sambil tersenyum kepada Swandaru, sedang anak yang gemuk itu pun menundukkan kepalanya dengan wajah yang kemerah-merahan, “mudah-mudahan semuanya segera berlangsung dengan baik. Semakin cepat memang semakin baik. Hubungan yang terlampau lama banyak sekali bahayanya. Tetapi jika keduanya menyadari diri masing-masing maka semuanya akan berlangsung dengan selamat.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Agung Sedayu pun mencoba mencari arti dari kata-kata Ki Lurah Branjangan. Hampir di luar sadarnya Agung Sedayu pun menghubungkan kata-kata Ki Lurah itu dengan kabar tentang Sutawijaya, sehingga dengan demikian anak muda itu semakin ingin segera mendengar berita tentang pemimpin Mataram yang masih muda itu.

Hati Kiai Gringsing pun agaknya tersentuh juga. Tetapi ia tidak sekedar menyimpan pertanyaan di dadanya. Karena itu maka ia pun kemudian bertanya, “Apakah yang telah terjadi di Mataram atau atas Raden Sutawijaya?”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah Kiai pernah mendengar sesuatu tentang Raden Sutawijaya?”

“Utusan yang memanggilnya pulang itu agak menarik perhatianku.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Katanya, “Itu akibat dari hubungan yang tidak disertai kesadaran diri. Agaknya Sutawijaya telah dicengkam oleh nafsu yang tidak terkendali. Memang hanya sesaat. Tetapi akibatnya ternyata sangat parah.”

Kiai Gringsing memandang Ki Lurah Branjangan sejenak, kemudian kedua muridnya yang agaknya sangat tertarik kepada cerita Ki Lurah Branjangan itu.

“Apakah benar-benar telah terjadi sesuatu yang akibatnya terasa di seluruh Mataram?” bertanya Kiai Gringsing kemudian.

“Ya, Kiai. Ternyata telah terjadi sesuatu yang mencemaskan seluruh Mataram.”

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Dan Ki Lurah Branjangan pun berkata selanjutnya, “Jika keadaan tidak dapat ditolong lagi dengan kehadiran Ki Gede Pemanahan di Pajang, maka menurut perhitunganku, Mataram akan mengalami guncangan yang dahsyat sekali. Mungkin Mataram masih akan tetap ada, tetapi bukan kelanjutan Mataram yang sekarang.”

“Apakah sebenarnya yang telah terjadi?” bertanya Sumangkar.

“Ah,” Ki Lurah Branjangan tiba-tiba saja tersenyum, “betapa pahitnya aku rasa, lebih baik kita berbicara tentang yang lain. Mungkin tentang Swandaru, atau tentang pembicaraan yang dilakukan oleh Ki Demang dan orang-orang tua di Tanah Perdkan Menoreh di pendapa, atau tentang yang lain. Besok sajalah aku akan bercerita tentang Raden Sutawijaya, agar nafasku sudah menjadi semakin teratur, dan sudah barang tentu tidak merusak suasana malam ini di Tanah Perdikan Menoreh.”

Yang mendengarnya menjadi kecewa. Terutama Agung Sedayu dan Swandaru.

Namun Kiai Gringsing pun kemudian berkata, “Baiklah, Ki Lurah. Ki Lurah tentu masih lelah. Sebaiknya Ki Lurah pergi ke pakiwan membersihkan diri. Tetapi sudah barang tentu kami tidak akan bersabar menunggu sampai besok. Aku kira pembicaraan di pendapa itu akan sampai lewat tengah malam, karena sebenarnya mereka sudah tidak mempunyai persoalan lagi. Yang mereka lakukan adalah berbicara sambil berkelakar ke sana ke mari sambil mengawani orang-orang yang sedang ronda di gardu.”

“Baiklah, Kiai. Aku akan mandi dahulu. Nanti aku akan bercerita.”

Demikianlah maka Ki Lurah Branjangan pun segera membersihkan diri, sementara beberapa orang pelayan telah menghidangkan suguhan langsung ke gandok.

“Minumlah, Ki Lurah,” Kiai Gringsing pun mempersilahkannya setelah Ki Lurah dan para pengawalnya membersihkan diri. “Kemudian berceritalah. Sebentar lagi Ki Lurah tentu akan dipersilahkan naik ke pendapa untuk makan bersama. Aku kira Ki Argapati masih belum menjamu makan tamu-tamunya, orang-orang tua yang dibawanya berbicara tentang saat-saat perkawinan Swandaru itu.”

Ki Lurah Branjangan pun kemudian meneguk air panas dari dalam mangkuknya. Terasa tubuhnya menjadi segar kembali setelah menempuh perjalanan yang meskipun tidak begitu jauh tetapi cukup melelahkan.

“Kiai,” berkata Ki Lurah Branjangan kemudian, “yang terjadi memang bukanlah yang kita harapkan.”

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar mendengarkannya dengan saksama. Apalagi Agung Sedayu dan Swandaru.

Ki Lurah Branjangan pun kemudian menceritakan apa yang diketahuinya tentang Raden Sutawijaya dan seluruh persoalannya dengan gadis Kalinyamat itu.

“Jadi Raden Sutawijaya tetap tidak mau menghadap?” bertanya Kiai Gringsing.

“Ya. Raden Sutawijaya tidak mau menghadap ayahanda Sultan dengan alasannya sendiri,” sahut Ki Lurah Branjangan.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam.

“Ki Gede Pemanahan yang kemudian pergi menghadap sendiri,” Ki Lurah Branjangan melanjutkannya.

“Memang di luar dugaan,” berkata Kiai Gringsing kemudian. “Adalah sewajarnya jika Ki Gede Pemanahan menjadi sangat kecewa atas putera satu-satunya itu. Putera yang diharapkan akan dapat menyambung namanya.”

“Tetapi alasannya dapat kita mengerti,” Swandaru menyela. “Harga diri Raden Sutawijaya memang terlampau besar. Sebenarnya ia tidak ingin mengingkari hubungannya dengan gadis itu.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Bukankah begitu, Ki Lurah?”

“Ya. Harga diri seorang anak muda. Namun bagaimana pun juga ia telah membuat ayahandanya menjadi sangat kecewa.”

“Dan Ki Gede Pemanahan itu pergi menghadap sendiri dengan dua orang pengawalnya,” sambung Ki Sumangkar.

Swandaru tidak menyahut lagi. Memang terasa betapa pedihnya hati Ki Gede Pemanahan. Namun agaknya Ki Gede juga dapat mengerti alasan Raden Sutawijaya, terbukti bahwa ia tidak memaksa anaknya untuk berangkat ke Pajang. Jika Ki Gede Pemanahan tidak mau mendengar sama sekali alasan Sutawijaya, maka ia tentu akan memaksanya. Mau atau tidak mau.

Dalam pada itu Kiai Gringsing mulai merenungi dirinya sendiri. Selama ini ia menghindari sedapat mungkin hubungan langsung dengan Ki Gede Pemanahan. Bukan karena alasan yang terlampau dalam. Tetapi sekedar karena ia merasa saat untuk itu belum datang. Kiai Gringsing sendiri kecewa melihat perkembangan Demak yang beralih ke Pajang. Semula ia memang ingin melihat, apa yang dapat dilakukan oleh Mas Karebet yang juga disebut Jaka dari Tingkir, putera Ki Kebo Kenanga itu. Namun akhirnya Pajang tidak menjadi lebih baik dari Demak. Justru Pajang seakan-akan telah berhenti.

Ketika ia melihat Raden Sutawijaya, keberanian dan kejantanannya, apalagi ia adalah putera Ki Gede Pemanahan dari Sela timbullah harapannya, bahwa ia akan dapat mengembangkan Pajang. Namun persoalan itu kini harus dihadapinya. Anak muda itu tergelincir ke dalam tindakan yang sangat berbahaya bagi Mataram.

Kiai Gringsing mengerti, seperti juga setiap orang yang mengenal Sultan Pajang mengerti, bahwa baginya seorang gadis mempunyai harga yang khusus di dalam hatinya.

“Mudah-mudahan Ki Gede Pemanahan mendapatkan Jalan yang baik untuk melepaskan Mataram dari bencana,” berkata Kiai Gringsing seakan-akan kepada diri sendiri.

Ki Lurah Branjangan hanya dapat mengangguk-angguk saja sambil menyahut, “Mudah-mudahan.”

Dalam pada itu, di pendapa pembicaraan sudah berjalan semakin jauh. Semua yang harus dibicarakan sudah dibicarakan. Ancar-ancar perkawinan Swandaru pun sudah ditentukan pula meskipun tidak dalam waktu yang terlampau singkat. Saatnya pun segera akan diperhitungkan pula.

Rasa-rasanya semua orang yang duduk di pendapa berwajah cerah. Semua mengharap bahwa perkawinan yang bakal berlangsung antara Swandaru dan Pandan Wangi dapat menghubungkan bagian-bagian yang terpisah dari daerah Selatan ini. Jika Menoreh berada di sebelah Barat Alas Mentaok yang akan berkembang menjadi sebuah negeri yang besar, maka Sangkal Putung berada di sebelah Timur.

Namun berbeda dengan orang-orang tua yang lain, meskipun nampaknya ia tersenyum-senyum juga, tetapi di dalam hatinya terasa sentuhan yang mencemaskan. Orang itu adalah Ki Waskita. Meskipun demikian ia mencoba melenyapkan kecemasan itu dari wajahnya yang buram.

Bahkan kemudian ketika orang-orang yang berada di pendapa itu dipersilahkan makan dan minum, Ki Waskita pun berbuat seperti orang-orang lain tanpa menimbulkan kecurigaan. Apalagi setelah Ki Lurah Branjangan dan kedua pengawalnya dipersilahkan naik ke pendapa pula, dan makan bersama dengan mereka.

Ketika semua persoalan dianggap selesai, dan para tamu, orang-orang tua di Tanah Perdikan Menoreh sudah makan dan minum di pendapa, pertemuan itu pun mendekati akhirnya. Para tamu, orang-orang tua di Menoreh itu pun seorang demi seorang minta diri dan pulang ke rumah masing-masing. Sedang mereka yang bermalam di rumah itu pun segera pergi ke gandok sebelah-menyebelah.

Seperti mereka yang lain, Ki Waskita pun kembali ke gandok, penginapan yang disediakan baginya. Tetapi wajahnya tidak lagi nampak cerah. Justru karena Ki Waskita melihat sesuatu yang lain dari yang diharapkannya.

Sejak ia melihat Swandaru dalam hubungannya dengan Pandan Wangi, Ki Waskita telah melihat semacam kabut yang membayanginya. Meskipun langit nampaknya cerah, tetapi selembar mendung yang kelam nampak lewat melintas.

“Mudah-mudahan aku salah. Mudah-mudahan aku tidak melihat isyarat yang sebenarnya,” katanya di dalam hati. Namun Ki Waskita tidak dapat ingkar, bahwa biasanya ia melihat isyarat seperti yang sebenarnya akan terjadi sesuai dengan uraiannya.

Ki Waskita menghentikan penglihatannya atas isyarat itu ketika Rudita memasuki ruangan. Sambil tersenyum anak muda itu kemudian bertanya, “Ayah, apakah semua pembicaraan tentang Swandaru itu sudah selesai?”

Ki Waskita pun mencoba tersenyum pula. Katanya, “Sudah, Rudita. Semua persoalan sudah dibicarakan. Sampai pada persoalan yang paling kecil sekalipun. Ternyata Ki Demang Sangkal Putung adalah orang yang mudah menyesuaikan diri. Ia tidak berpegang pada pendiriannya saja.”

“Sukurlah. Mudah-mudahan segera berlangsung dengan baik.”

Ayahnya mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Aku kira tidak akan ada kesulitan lagi. Baik yang datang dan Sangkal Putung mau pun dari Menoreh. Jika ada persoalan yang timbul kemudian adalah persoalan tentang jarak. Jarak antara Menoreh dan Sangkal Putung yang di antarai oleh Tanah Mataram yang sedang tumbuh.”

“Tetapi itu bukannya kesulitan pokok di dalam persoalan ini, Ayah. Jika ada kesulitan perjalanan, aku kira mereka akan dapat mengatasinya. Apalagi Swandaru adalah seorang anak muda yang sudah terbiasa bertualang bersama gurunya dan Agung Sedayu.”

“Mudah-mudahan. Apalagi Mataram sekarang seharusnya sudah menjadi semakin baik.”

Namun tiba-tiba kening Ki Waskita itu berkerut karenanya. Ia melihat kehadiran Ki Luiah Branjangan di pendapa. Tentu bukan sekedar sebuah kunjungan. Meskipun Ki Lurah Branjangan tidak segera mau mengatakan kepentingannya, namun rasa-rasanya memang ada sesuatu yang penting yang akan diceritakannya kepada Ki Argapati.

“Besok aku akan mendengarnya juga,” berkata Ki Waskita di dalam hatinya, lalu, “apakah kehadirannya itu ada hubungannya dengan selembar mendung yang lewat itu?”

Tetapi Ki Waskita menggeleng lemah. Katanya pula di dalam hatinya, “Tentu tidak. Isyarat itu memberitahukan bahwa mendung itu tidak ada di ujung perjalanan Swandaru. Tetapi kelak, setelah semuanya berlangsung dengan selamat.”

Sekali lagi kecemasan telah mencengkam dada Ki Waskita. Meskipun kedua anak-anak muda yang akan melangsungkan perkawinannya itu bukan anaknya, tetapi rasa-rasanya keduanya sudah terlalu dekat dengan dirinya. Selain Pandan Wangi memang masih ada sangkut paut dalam hubungan keluarga, Swandaru bagi Ki Waskita, yang telah berkumpul beberapa lamanya di Menoreh dan berada di medan yang sama pun mempunyai arti tersendiri.

Rudita yang melihat wajah ayahnya telah berubah itu pun menjadi heran. Tentu ada sesuatu yang telah dilihatnya di dalam isyarat. Sesuatu yang kurang menggembirakan.

Tetapi Rudita tidak mau bertanya jika ayahnya tidak dengan kehendaknya sendiri memberitahukan kepadanya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Rudita duduk di sebelah ayahnya yang masih tepekur. Namun hatinya telah dirambati pula oleh kecemasan tentang masa depan Swandaru.

Ki Waskita yang kemudian berpaling memandang anaknya itu pun berkata, “Rudita, bagaimana pendapatmu tentang Swandaru?”

Rudita yang telah dihentak oleh pengalamannya yang sangat pahit itu, kini menjadi jauh lebih masak dari Rudita beberapa saat yang lalu. Seakan-akan di dalam waktu yang dekat, perkembangan jiwanya telah meloncat jauh meningkat. Ia tidak lagi dikejar oleh perasaannya yang tidak dikendalikan sama sekali oleh nalar. Demikian juga sikapnya terhadap Pandan Wangi. Meskipun ia tetap menganggap bahwa Pandan Wangi adalah seorang gadis yang paling cantik yang pernah dijumpainya adbmcadangan.wordpress.com, tetapi ia tidak lagi menaruh harapan membabi buta kepadanya, justru karena kini pertimbangan nalarnya mulai mengekangnya, sehingga ia menyadari bahwa gadis itu adalah bakal isteri Swandaru, anak muda dari Sangkal Putung.

“Rudita,” desak ayahnya, “bukankah kau mengenal Swandaru agak baik?”

“Ya, Ayah,” jawab Rudita, “menurut pengenalanku, Swandaru adalah anak yang baik. Ia berterus terang dan gembira.”

Ki Waskita mengangguk-anggukkan kepalanya. Yang dikatakan oleh Rudita itu sesuai dengan isyarat yang dilihatnya. Namun kemudian ia melihat getaran-getaran yang mendebarkan jantung di perjalanan hidup Swandaru yang terasa melonjak-lonjak tidak menentu.

“Apa yang sebenarnya akan terjadi?” bertanya Ki Waskita kepada diri sendiri, karena ia hanya dapat melihat isyarat dan tidak dapat melihat peristiwa yang terjadi dengan tepat. Jika sekiranya orang lain yang bertanya kepadanya dalam isyarat yang demikian, maka ia akan menjawab, “Kau akan mengalami peristiwa yang sangat pahit dan mendebarkan hati. Hubungan-hubungan yang baik dan nampaknya kokoh akan tergoyahkan dan kau akan dilemparkan ke dalam suatu keadaan yang gelap.”

Tetapi Ki Waskita mencoba mengingkari penglihatannya sendiri justru karena yang dilihat di dalam isyarat itu adalah Swandaru dan Pandan Wangi yang masih ada hubungan keluarga dengan dirinya.

“Tentu aku telah salah mengurai isyarat itu,” desisnya, “atau barangkali keduanya akan menemukan penawar dari kejadian yang tidak dikehendaki itu.”

Namun Ki Waskita telah melupakan bahwa yang dilihatnya adalah yang akan terjadi, bukan penglihatannyalah yang menyebabkan hal itu terjadi.

Rudita masih duduk termenung memandang kegelisahan dan kecemasan ayahnya. Tetapi ia tidak menanyakan kepadanya, apa yang sedang dipikirkannya, meskipun Rudita dapat meraba bahwa sesuatu yang gelap telah dilihatnya dalam jalur kehidupan Swandaru.

Selagi keduanya duduk sambil berdiam diri, maka Nyai Waskita pun dengan wajah yang buram memasuki ruangan itu. Langsung ia duduk di sisi suaminya sambil berkata seakan-akan kepada diri sendiri, “Agaknya kita sama sekali tidak menghiraukan nasib anak kita sendiri.”

Ki Waskita mengangkat wajahnya. Dipandanginya isterinya sejenak, lalu ia pun bertanya, “Apa maksudmu, Nyai?”

“Kakang, kau lihat bahwa pembicaraan tentang Pandan Wangi itu sudah selesai?”

“Ya. Bukankah aku ikut duduk di pendapa ketika pembicaraan itu berlangsung dihadiri oleh orang-orang tua di Tanah Perdikan Menoreh dan Ki Demang Sangkal Putung?”

“Bagaimana pendapatmu tentang perkawinan itu?”

“Kedua anak-anak itu sudah setuju. Orang tua mereka pun sependapat. Biarlah perkawinan itu berlangsung.”

“Kau tidak pernah memikirkan anakmu sendiri.”

“Maksudmu dengan Rudita?”

Isterinya mengangguk.

“Bagaimana dengan Rudita?”

Isterinya memandang Rudita sejenak. Dan agaknya anak muda itu pun menjadi heran mendengar kata-kata ibunya.

“Kakang. Rudita pun sudah meningkat menjadi dewasa. Ia sudah mengatakan bahwa Pandan Wangi adalah gadis yang cantik, dan satu-satunya yang pernah menyentuh hatinya. Kenapa kau tidak berbuat sesuatu agar Pandan Wangi itu memalingkan niatnya untuk kawin dengan Swandaru dan memilih anakmu?”

“Ah,” Rudita-lah yang menyahut, “Ibu. Aku memang tertarik kepada Pandan Wangi. Tetapi sudah barang tentu tidak sampai sejauh itu. Biarlah perkawinan itu berlangsung dan biarlah keduanya mendapatkan kebahagiaannya.”

“Kau memang sudah berubah Rudita. Kau sekarang menjadi ragu-ragu dan kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri.”

“Kau keliru, Nyai,” sahut Ki Waskita, “justru yang terjadi adalah sebaliknya. Rudita sekarang sudah menemukan kepribadiannya. Ia dengan sadar mengambil sikap. Tidak seperti yang pernah terjadi. Rudita seolah-olah tidak mempunyai kekang sama sekali atas dirinya sendiri. Dan hal itu sama sekali bukan karena ia percaya kepada diri sendiri. Tetapi ia tidak memiliki kesadaran tentang dirinya.”

“Ah. Kau selalu menyalahkan anakmu. Lihatlah Rudita sekarang. Aku menjadi iba. Ia tidak berani mengambil keputusan karena setiap keputusan yang diambilnya dengan jujur dan kepercayaan kepada diri sendiri itu selalu kau tentang dan kau anggap tidak baik.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Biasanya ia tidak suka berbantah dengan isterinya Tetapi kali ini ia ingin memberikan penjelasan lebih banyak lagi, sehingga karena itu katanya, “Nyai. Kadang-kadang seseorang cepat tertarik kepada sesuatu sebelum ia sempat berpikir. Agaknya demikian pula dengan Rudita. Tetapi setelah ia mendapat waktu untuk merenungi dirinya sendiri, barulah ia sadar, bahwa ia telah salah langkah.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Agaknya demikianlah yang terjadi atas Rudita kini.”

“Tentu tidak. Ia melangkah surut karena sikap ayahnya. Ayahnya tidak pernah memberikan dorongan apa pun kepadanya.”

Ki Waskita menjadi termangu-mangu. Ia merasa sulit untuk menjelaskannya kepada isterinya, sehingga akhirnya ia berkata, “Rudita, apakah kau dapat menjelaskan sikapmu kepada ibumu?”

Rudita memandang ibunya sejenak. Namun sebelum ia berkata sesuatu ibunya telah melangkah pergi sambil bergumam, “Anakmu tidak mempunyai keberanian lagi untuk mengatakan isi hatinya. Yang dikatakannya adalah sekedar bayangan kecemasan dan kebimbangan hati.”

Rudita mengangkat pundaknya. Ia tidak jadi mengatakan sepatah kata pun. Ditatapnya saja wajah ayahnya yang menjadi semakin buram.

“Ibumu salah mengerti, Rudita,” berkata ayahnya.

“Aku sudah terlampau lama berjalan di atas jalan yang salah, sehingga ibu sudah terbiasa melihat sikapku. Tetapi kini ibu melihatku sebagai orang lain yang justru tidak sesuai deugan kebiasaan yang dikehendakinya.”

“Sudahlah, Rudita. Pada saatnya ibumu akan mengerti. Jika kau pada suatu ketika menyebut nama gadis yang lain, maka persoalan ini akan dilupakannya.”

Rudita tersenyum. Katanya, “Setelah aku mengalami peristiwa yang sangat pahit itu, Ayah, maka perjalananku nampaknya akan menjadi sangat panjang menuju saat-saat yang demikian.”

“Tetapi ibumu memerlukannya, Rudita.”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku akan mencoba, Ayah.”

Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Rudita pun kemudian berkata, “Aku sudah mengantuk. Aku akan tidur.”

Ki Waskita melihat anaknya hilang di balik pintu. Tanpa disadarinya orang tua itu pun meraba dadanya. Bagaimana pun juga Ki Waskita dapat merasakan getar di dada anaknya, bahwa sebenarnya Rudita memang menaruh perhatian kepada Pandan Wangi. Tetapi kini nalarnya telah mampu mengendalikan perasaannya, sehingga sikap Rudita itu pun menjadi jauh berbeda.

Namun setiap kali Ki Waskita masih saja disentuh oleh penglihatannya tentang masa depan yang buram di sepanjang jalan hidup Swandaru. Tetapi ia tidak sampai hati untuk menerimanya sebagai suatu penglihatan yang benar.

Berbeda dengan Ki Waskita, maka di gandok yang lain, setiap kali terdengar suara tertawa yang cerah. Bahkan untuk beberapa saat, orang-orang yang ada di gandok itu telah melupakan persoalan yang baru saja diceritakan oleh Ki Lurah Branjangan tentang Raden Sutawijaya. Yang mereka bicarakan kemudian adalah hari-hari yang sudah cukup lama ditunggu oleh Swandaru dan keluarga Ki Demang Sangkal Putung.

Bahkan Ki Lurah Branjangan yang merasa dadanya pepat sebelum ia tiba di Menoreh, merasa bebannya menjadi semakin berkurang. Bukan saja karena ia telah menceritakan persoalan yang memberati hatinya, namun karena mereka sedang sibuk membicarakan masa-masa yang bakal ditempuh oleh Swandaru. Bahkan Prastawa pun kemudian masuk pula ke ruangan itu dan dengan jenaka menyindir Swandaru yang hanya tersenyum-senyum saja.

Tetapi ketika kemudian mereka sudah menjadi tenang kembali karena malam menjadi semakin malam, dan apalagi setelah masing-masing berada di pembaringan, maka mulailah angan-angan mereka menyelusuri seluruh peristiwa yang sudah terjadi dan yang akan terjadi.

Ki Lurah Branjangan ternyata masih juga tidak dapat segera tertidur. Ia kadang-kadang tersenyum membayangkan Swandaru yang gemuk itu duduk bersanding dengan Pandan Wangi dalam pakaian pengantin. Namun kemudian wajahnya menjadi suram jika ia mengenangkan apa yang kini terjadi atas Ki Gede Pemanahan yang pergi ke Pajang hanya dengan dua orang pengawalnya.

“He,” tiba-tiba saja Ki Lurah Branjangan bangkit, “kenapa aku justru berada di sini.”

Tetapi ketika tatapan matanya menyentuh dua orang pengawalnya yang ada di dalam satu bilik, dan kemudian lewat pintu yang tidak tertutup rapat dilihatnya di amben yang besar, Agung Sedayu dan Swandaru terbaring diam, Ki Lurah Branjangan menekan dadanya. Ia berada di Tanah Perdikan Menoreh untuk sekedar mengurangi beban yang serasa pepat di dadanya.

“Jika terjadi sesuatu di Mataram, aku tidak menyaksikannya,” geramnya.

Tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Ia harus menunggu sampai pagi. Baru ia dapat kembali ke Mataram.

“Kedatanganku tentu meninggalkan kesan yang aneh,” gumamnya.

Ketika Ki Lurah Branjangan berbaring lagi, didengarnya ayam jantan berkokok untuk yang terakhir kalinya.

“Hampir pagi,” Ki Lurah Branjangan bergumam.

Sebenarnyalah bahwa sebentar kemudian Ki Lurah Branjangan telah mendengar suara sapu lidi di halaman. Kemudian suara senggot timba berderit di belakang.

Ki Lurah Branjangan yang sama sekali tidak sempat tidur itu pun kemudian bangkit dan duduk bersandar tiang. Kadang-kadang matanya memang terpejam oleh penat dan lelah. Tetapi ia tidak dapat tertidur nyenyak.

Demikianlah ketika di luar cahaya pagi menjadi semakin terang, Ki Lurah Branjangan menjadi gelisah. Kini ia gelisah karena ia telah digelitik oleh kecemasan bahwa sesuatu telah terjadi di Mataram.

Karena itu, maka setelah ia membersihkan dirinya, ia pun segera menyatakan maksudnya untuk minta diri dan kembali ke Mataram kepada Kiai Gringsing.

“He,” Kiai Gringsing terkejut, “kau aneh sekali, Ki Lurah. Kau datang menjelang malam hari. Dan kini pagi-pagi kau sudah ingin kembali ke Mataram. Apakah kepergianmu kemari sekedar mengungsi karena di Mataram tidak ada pembaringan lagi bagimu?”

Ki Lurah Branjangan menjawabnya dengan jujur, bahwa ia memang sedang dalam kebingungan, sehingga kadang-kadang yang dilakukan kurang mendapat pertimbangannya.

“Jika aku menyadari keadaanku sepenuhnya, barangkali aku tidak berada di sini sekarang ini Kiai.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia mengerti kesulitan perasaan yang dialami Ki Lurah Branjangan sebagai seorang yang termasuk dekat dengan Raden Sutawijaya dan ayahandanya Ki Gede Pemanahan.

Karena itu, Kiai Gringsing tidak dapat menahannya lebih lama lagi. Namun demikian katanya, “Ki Lurah, agar kedatanganmu tidak menimbulkan persoalan di dalam hati Ki Gede Menoreh, maka sebaiknya kau mengatakannya dengan jujur, apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ki Gede Menoreh tentu akan dapat mengerti.”

“Baiklah, Kiai,” jawab Ki Lurah Branjangan, “aku akan mengatakan seperti yang sebenarnya bergolak di dalam hatiku. Namun satu hal yang aku dapatkan di sini. Aku sudah mendengar apa yang akan berlangsung atas Swandaru dan Pandan Wangi.”

Orang-orang yang mendengarnya tersenyum karenanya. Namun Swandaru masih juga menjawab, “Mudah-mudahan tidak ada seorang pun yang berlaku seperti Raden Sutawijaya di sini.”

“Ah, kau,” desis Kiai Gringsing bersamaan dengan tangan Agung Sedayu yang menggamitnya.

Swandaru mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menyadari bahwa ia sudah terdorong kata. Dan sudah barang tentu ia tidak akan dapat menelannya kembali.

Dalam pada itu, maka Ki Lurah Branjangan pun segera minta diri kepada Ki Argapati. Benar-benar seperti sekedar sebuah mimpi bahwa malam itu ia berada di Tanah Perdikan Menoreh.

Ternyata Ki Argapati pun dapat mengerti. Bahkan rasa-rasanya seluruh Mataram sedang dalam kecemasan.

“Hari ini Ki Gede Pemananan ada di Pajang,” berkata Ki Lurah Branjangan. “Aku kira secepat-cepatnya hari ini Ki Gede Mataram itu baru dapat menghadap jika tidak ada apa-apa diperjalanan, karena saat ini yang tidak terduga itu dapat terjadi.”

Demikianlah Ki Lurah Branjangan itu pun bersama kedua pengawalnya segera mohon diri dan berpacu meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh setelah semalam tanpa disengaja menyaksikan pembicaraan antara Ki Demang Sangkal Putung dengan Ki Gede Menoreh yang akan mengikat perkawinan anak-anak mereka.

Dalam pada itu, selagi Ki Lurah Branjangan berpacu kembali ke Mataram, Sutawijaya yang masih saja dicengkam oleh kebingungan, hilir-mudik saja di biliknya. Tidak ada kerja yang dapat dilakukan dengan pasti. Setiap kali hatinya selalu dibayangi oleh kebimbangan dan keragu-raguan sehingga ia akhirnya tidak melakukan sesuatu selain berjalan saja kian-kemari dalam biliknya.

Namun setiap kali ia mengenang perjalanan ayahnya, maka hatinya selalu bergejolak dengan dahsyatnya. Berbagai bayangan hilir-mudik di dalam angan-angannya. Kadang-kadang ia hampir tidak dapat menahan hati lagi. Rasa-rasanya ia ingin terbang menyusul ayahnya ke Pajang. Namun setiap kali niatnya itu pun diurungkannya, karena ia benar-benar tidak ingin menginjakkan kakinya di Pajang sebelum Mataram menjadi negeri yang ramai.

“Tetapi bagaimana dengan ayahanda,” ia selalu berbantah dengan dirinya sendiri

“Tetapi jalan ini sudah terbuka. Tentu tidak akan ada lagi orang yang berani mengganggu perjalanan ayahanda. Tidak akan ada lagi orang yang menamakan dirinya Panembahan Tidak Bernama, atau menyebut dirinya Hantu dari Alas Mentaok, atau sebutan yang lain. Perampok-perampok kecil tidak akan dapat mengganggu ayahanda karena ayahanda memiliki kemampuan yang jarang ada bandingnya,” Raden Sutawijaya menenangkan hatinya sendiri.

Meskipun demikian rasa-rasanya ada saja dorongan yang memaksanya untuk pergi. Setiap kali ia selalu menimbang berkali-kali, manakah yang sebaiknya dilakukan.

Tiba-tiba Sutawijaya sampai pada puncak kebingungannya sehingga dengan lantang ia memanggil pengawal di luar yang sedang bertugas di regol dalam.

“Ya, Raden,” pengawal itu datang berlari-lari mendekatinya.

“Panggil Ki Lurah Branjangan,” perintah Raden Sutawijaya.

Pengawal itu termangu-mangu sejenak. Namun karena ia mengetahui bahwa Ki Lurah Branjangan sedang pergi, maka ia pun kemudian berkata, “Ampun, Raden. Ki Lurah Branjangan sedang pergi ke Tanah Perdikan Menoreh.”

“He,” Sutawijaya terkejut, “kenapa ia pergi ke Menoreh?”

Pengawal itu menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak tahu, Raden. Ki Lurah Branjangan kemarin pergi dengan dua orang pengawal.”

Raden Sutawijaya menjadi semakin pepat. Dan tiba-tiba saja ia berteriak, “Pergi, kau juga pergi kembali ke tugasmu.”

Pengawal itu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian pergi meninggalkan Raden Sutawijaya yang sedang kebingungan itu.

“Ia tidak pernah berbuat sekasar itu,” berkata pengawal itu di dalam hatinya, “betapa pun marahnya, tetapi Raden Sutawijaya tidak pernah berteriak-teriak seperti orang kesurupan.”

Dalam pada itu Raden Sutawijaya menjadi bertambah bingung. Disangkanya Ki Lurah Branjangan dengan sengaja meninggalkannya karena ia tidak mau pergi bersama ayahandanya Ki Gede Pemanahan ke Pajang.

Sejenak Raden Sutawijaya masih menghentakkan kakinya di lantai, namun sejenak kemudian maka ia pun duduk dengan lemahnya di pembaringannya. Kepalanya tertunduk lesu tertampang pada kedua tangannya yang bertelekan pada lututnya.

“Apakah orang-orang sudah mulai meninggalkan aku?” ia bertanya kepada diri sendiri. “Apakah aku telah berbuat suatu kesalahan karena aku berpegang pada sumpahku?” Namun kemudian sekilas tampak bayangan wajah gadis Kalinyamat itu, sehingga dengan suara datar Raden Sutawijaya berdesis, “Aku telah tergelincir ke dalam keadaan yang sangat sulit.”

Dengan demikian maka Raden Sutawijaya semakin membenamkan diri di dalam biliknya. Ia sama sekali tidak menghiraukan waktu dan apa pun yang terjadi di luar biliknya dan apalagi di luar rumahnya.

Namun ia pun kemudian terkejut ketika ia mendengar pintu biliknya diketuk orang.

“Siapa?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Aku Raden. Lurah Branjangan.”

Di luar sadarnya tiba-tiba Raden Sutawijaya meloncat berdiri dan membuka pintu biliknya, dan dilihatnya Ki Lurah Branjangan benar-benar berada di muka pintu.

“Kau sudah kembali?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Ya, Raden.”

“Kau benar-benar pergi ke Menoreh?”

“Ya, Raden. Aku baru saja kembali dari Menoreh. Seorang pengawal mengatakan bahwa Raden mencari aku.”

“Ya. Aku memang mencarimu sejak pagi, Ki Lurah. Marilah, masuklah.”

Ki Lurah Branjangan pun kemudian masuk ke dalam bilik Raden Sutawijaya dan duduk di atas sebuah dingklik kayu persegi panjang.

“Ki Lurah. Hatiku setiap saat menjadi bertambah gelisah sepeninggal ayahanda,” berkata Raden Sutawijaya.

Ki Lurah mengerutkan keningnya. Dan ia pun bertanya, “Lalu, maksud Raden? Apakah Raden akan menyusul ke Pajang?”

“Tidak. Aku tidak akan pergi ke Pajang sebelum Mataram menjadi sebuah negeri yang ramai.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian ia bertanya pula, “Jadi, apakah maksud Raden?”

“Ki Lurah,” berkata Raden Sutawijaya kemudian, “aku memang akan pergi, tetapi tidak sampai ke Pajang.”

“Jadi kemana Raden akan pergi?”

“Aku akan menjemput ayahanda. Ada dorongan yang tidak dapat aku elakkan, seakan-akan aku melepaskan ayah berjalan di tengah-tengah kawanan perampok yang paling jahat,” jawab Raden Sutawijaya, “meskipun aku yakin akan kemampuan Ayahanda. Namun kali ini aku tidak dapat mengingkari perasaanku yang tidak aku ketahui sebabnya, bahwa aku harus menjemput ayahanda, setidak-tidaknya sampai ke seberang Alas Tambak Baya, atau bahkan sampai ke Prambanan.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Kenapa Raden tidak pergi saja sama sekali ke Pajang?”

“Tidak, Paman. Aku tetap pada pendirianku.”

Ki Lurah Branjangan tidak dapat memaksanya lagi.

“Aku hanya akan menjemput ayah di perjalanannya kembali,” berkata Raden Sutawijaya kemudian. “Aku tidak tahu, kenapa perasaanku menjadi cemas sekali.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu katanya, “Jika demikian, barangkali ada juga baiknya, Raden. Jika Raden memerintahkan, aku akan pergi bersama Raden.”

“Baiklah, Paman. Sebaiknya Paman menyiapkan sepasukan kecil pengawal. Kita besok pergi menjemput ayahanda. Aku kira hari ini ayahanda baru dapat menghadap. Dan besok pagi ayahanda baru akan kembali.”

“Tetapi, Raden, jika Raden membawa sepasukan pengawal dan berada di daerah Prambanan, apakah pasukan pengawal itu tidak akan dicurigai oleh prajurit Pajang yang berada di daerah Selatan ini? Kita tahu bahwa senapati pasukan Pajang di daerah Selatan ini adalah Untara yang berada di Jati Anom. Jika ia mengetahui pasukan pengawal Mataram lewat daerahnya, maka kita mungkin akan terpaksa berurusan dengan Untara.”

Raden Sutawijaya menjadi termangu-mangu sejenak. Ia kenal Untara dengan baik, Untara adalah seorang prajurit. Tidak lebih dan tidak kurang. Dan ia tahu sikap Untara menghadapi persoalan yang menyangkut tugasnya. Karena itu, maka Raden Sutawijaya pun harus mempertimbangkannya sebaik-baiknya.

Tetapi dorongan kecemasannya tidak dapat dielakkannya lagi sehingga katanya, “Baiklah, Ki Lurah. Kita tidak akan lewat Prambanan dan menyusuri daerah Selatan ini dalam satu barisan. Kita akan lewat dalam kelompok-kelompok kecil seperti kelompok-kelompok pedagang yang menyeberangi Alas Tambak Baya. Tiga atau empat orang berurutan. Tetapi di dalam saat yang diperlukan, kita dapat berkumpul bersama. Lima belas atau dua puluh orang pengawal.”

Ki Lurah Branjangan termangu-mangu sejenak. Ia menjadi agak bingung menanggapi orang yang begitu banyak diperlukan oleh Raden Sutawijaya.

Namun akhirnya Ki Lurah Branjangan pun menyadari, bahwa Raden Sutawijaya memperhitungkan segenap kemungkinan yang dapat terjadi atas ayahandanya di daerah yang tidak menentu bagi Mataram. Baik sikap maupun tanggapan dari orang-orang yang berada di sepanjang jalan antara Mataram dan Pajang.

“Bukankah cara itu menurut Paman dapat juga ditempuh?” bertanya Raden Sutawijaya kemudian.

“Ya, ya, Raden. Memang cara itu dapat ditempuh,” sahut Ki Lurah Branjangan.

“Nah, jika demikian, siapkanlah orang yang akan berangkat bersama kita besok menjemput ayahanda di perjalanannya kembali dari Pajang.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk dalam-dalam. Kemudian ia pun minta diri untuk menghubungi pengawal-pengawal terpilih dari Tanah Mataram yang sedang tumbuh itu.

Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa Ki Gede Pemanahan sudah berada di Pajang. Perjalanannya tidak mengalami rintangan apa pun, dan ia dapat sampai dengan selamat. Bahkan ia tidak mengalami kesulitan apa pun untuk memasuki istana Pajang, meskipun ia masih harus menyampaikan pesan kepada Sultan Pajang lewat para abdi bahwa ia akan menghadap.

Meskipun demikian, meskipun kedatangannya tidak mengalami rintangan apa pun, namun Ki Gede Pemanahan merasa, betapa tatapan mata yang tajam selalu mengikutinya ke mana ia pergi. Para pemimpin pemerintahan dan para senapati menyapanya dengan hampa dan ragu-ragu. Bahkan ada di antara mereka, yang dengan acuh tak acuh melihat kedatangannya.

Tetapi di samping mereka yang bersikap asing, ada juga antara para senapati yang dengan tergopoh-gopoh mempersilahkannya dan dengan gairah menyambut tangannya. Bagi para senapati, Ki Gede Pemanahan adalah bekas panglimanya.

Namun agaknya sebagian dari mereka telah dijalari oleh perasaan tidak senang melihat perkembangan Mataram dan seperti yang diduga oleh Ki Gede Pemanahan, para pemimpin di Pajang itu sudah mengetahui apa yang terjadi atas salah seorang dari gadis Kalinyamat itu.

Seperti yang diperhitungkan oleh Raden Sutawijaya, maka baru setelah Ki Gede Pemanahan bermalam semalam di Pajang, barulah ia mendapat kesempatan untuk menghadap Sultan untuk menyampaikan persoalannya.

Di luar paseban dada Ki Gede pemanahan bagaikan terhimpit oleh kepenatan perasaannya. Apakah yang akan dikatakan oleh Sultan Hadiwijaya kepadanya, dan hukuman apakah yang akan dilimpahkan kepada anaknya dan kepada dirinya sendiri.

“Sultan tentu sudah mengetahui apa yang terjadi atas Sutawijaya dengan gadis Kalinyamat itu,” berkata Ki Gede Pemanahan di dalam hatinya.

Ketika saat menghadap itu tiba, terasa darah Ki Gede Pemanahan bagaikan semakin cepat mengalir. Sebagai seorang prajurit, Ki Gede Pemanahan tidak pernah dibayangi oleh ketakutan mengenai dirinya sendiri apa pun yang akan terjadi di peperangan. Tetapi kini, menghadap Sultan membawa pengakuan atas kesalahan puteranya, rasa-rasanya ia berjalan di atas seonggok bara.

Ketika seorang pengawal mempersilahkannya masuk, hatinya menjadi semakin gelisah dan cemas. Rasa-rasanya ia sendirilah yang kini memasuki sebuah ruang untuk menjalani hukuman yang sangat berat.

Tetapi ia tidak dapat ingkar. Ia harus masuk ke dalam, apa pun yang akan terjadi atasnya.

Dengan langkah yang berat Ki Gede Pemanahan melangkah memasuki pintu ruang paseban dalam.

Ketika ia berada di depan pintu, terasa dadanya terguncang. Ruang yang luas itu ternyata kosong sama sekali. Tidak ada seorang pun di dalamnya kecuali Sultan Hadiwijaya sendiri. Sejenak Ki Gede Pemanahan diam mematung. Ia belum pernah melihat suasana paseban seperti itu. Ia belum pernah melihat Sultan Hadiwijaya duduk sendiri di ruangan yang luas itu, tanpa dihadap oleh para panglima dan bahkan Ki Patih.

Ki Gede Pemanahan terkejut ketika kemudian mendengar Sultan Hadiwijaya menyapanya dengan ramah, “Marilah, Kakang Pemanahan, silahkan. Kenapa kau nampak ragu-ragu?”

Ki Gede Pemanahan menundukkan kepalanya. Sambil berjongkok ia maju mendekat.

Ki Gede Pemanahan pun kemudian duduk dengan kepala tertunduk beberapa langkah di hadapan Sultan Hadiwijaya. Sikap Sultan yang ramah dan paseban dalam yang sepi telah menumbuhkan persoalan tersendiri dalam hatinya. Bahkan kemudian timbullah kecurigaannya atas keadaan itu. Rasa-rasanya di balik dinding paseban itu telah siap sepasukan prajurit yang tinggal menunggu perintah untuk menangkapnya.

Sekali lagi Ki Gede Pemanahan terkejut ketika Sultan menyapanya pula, “Kemarilah, mendekatlah, Kakang.”

Ki Gede Pemanahan bergeser maju sambil menyembah dan menyampaikan salam baktinya.

Sultan Hadiwijaya tersenyum. Senyumnya masih seperti dahulu, ketika Ki Gede Pemanahan belum meninggalkan Pajang.

“Kakang Pemanahan,” berkata Sultan itu kemudian, “Kedatanganmu mengejutkan aku, tapi juga menggembirakan. Sudah lama kita tidak bertemu. Aku sudah rindu kepadamu dan anakku Sutawijaya. Tapi agaknya kali ini ia tidak ikut bersamamu. Bagaimana keadaannya, dan apakah ia baik-baik saja?”

“Hamba mohon ampun, bahwa kali ini hamba tidak menghadap bersama putranda. Tapi keadaannya baik-baik saja. Dan hamba berharap bahwa dalam waktu yang dekat, puteranda akan datang menghadap,” jawab Ki Gede dengan kepada yang semakin menunduk.

Sultan Hadiwijaya masih saja tersenyum. Di wajahnya tidak ada kesan bahwa ia sudah mengetahui apa yang terjadi atas gadis Kalinyamat yang disimpannya itu.

“Tentu Sutawijaya sedang sibuk,” berkata Sultan itu kemudian. “Aku tahu Sutawijaya adalah seorang anak yang rajin dan suka bekerja keras. Aku sudah mendengar bahwa Mataram sudah menjadi semakin ramai. Aku gembira bahwa perkembangan Mataram akan menjadi pesat meskipun aku juga mendengar banyak rintangan yang harus diatasi.”

“Sebenarnyalah Kanjeng Sultan, Danang Sutawijaya adalah anak yang rajin dan suka bekerja keras. Bahkan bukan saja bekerja membuka hutan, tetapi juga mengamankannya dari gangguan yang bermacam macam.”

“Ya, aku dengar banyak binatang buas yang kadang-kadang mengganggu orang-orang yang sedang membuka hutan.”

“Bukan hanya binatang buas yang selama ini mengganggu pekerjaan hamba dan Danang Sutawijaya.”

“O, apa saja yang telah mengganggu kalian?”

Ki Gede Pemanahan termangu-mangu sejenak. Pertanyaan Sultan Pajang itu tidak menyakinkannya. Apakah benar Sultan Hadiwijaya belum pernah mendengar apa yang terjadi di Alas Mentaok? Bukankah para prajuritnya tersebar sampai di perbatasan?

Tetapi Ki Gede Pemanahan harus menjawab pertanyaan itu. Karena itu maka katanya, “Ampun Kanjeng Sultan. Selain binatang luas agaknya ada juga orang-orang yang tidak senang melihat Alas Mentaok dibuka menjadi sebuah negeri.”

“O,” Sultan Hadiwijaya mengerutkan keningnya, “tetapi itu pun tidak mengherankan. Semua usaha tentu akan mengalami rintangannya. Tetapi usaha yang demikian akan memberikan kepuasan jika kelak berhasil. Danang Sutawijaya akan berbangga bahwa ia telah membuka hutan yang lebat dan menjadikannya sebuah negeri yang ramai. Berbeda dengan mereka yang tanpa berbuat apa-apa sudah dengan sendirinya menerima kedudukan dan kekuasaan yang berlimpah-limpah. Bukankah demikian, Kakang Pemanahan?”

“Ya, ya, Kanjeng Sultan,” Pemanahan tergagap. Ia masih belum dapat menjajagi kata-kata dan sikap Sultan Hadiwijaya. Apakah sikapnya itu sekedar lamis, atau benar-benar melontar dari lubuk hatinya.

Namun ternyata dengan demikian Ki Gede Pemanahan menjadi semakin berdebar-debar. Seakan-akan ia berhadapan dengan seseorang yang tidak dapat dimengerti. Seseorang yang dibayangi oleh rahasia yang tidak terungkapkan. Rasa-rasanya di balik senyum dan sapa yang ramah itu, Sultan Hadiwijaya sengaja menyimpan keputusan hukum pancung yang akan dijatuhkan kepadanya jika saatnya telah tiba.

Tetapi dalam pada itu, Ki Gede Pemanahan masih juga diganggu oleh keragu-raguan, apakah Sultan Hadiwijaya benar-benar belum mengetahui apa yang telah terjadi dengan gadis Kalinyamat itu?”

“Tetapi, Kakang,” berkata Sultan Hadiwijaya selanjutnya, “di dalam saat-saat seperti ini, dengan tanpa memberitahukan lebih dahulu, Kakang Pemanahan tiba-tiba saja sudah berada di Istana Pajang, telah membuat aku bertanya-tanya.” Sultan Hadiwijaya berhenti sejenak, lalu, “Apakah di dalam usaha Kakang Pemanahan dan Sutawijaya membuka Alas Mentaok menemui kesulitan? Bukankah sejak Kakang meninggalkan Pajang dan kemudian dengan resmi aku menyerahkan adbmcadangan.wordpress.com Alas Mentaok, aku sudah mengatakan bahwa apabila Kakang Pemanahan dan Danang menemui kesulitan, katakanlah terus terang. Tentu aku tidak akan sampai hati melepaskan kalian bekerja sendiri. Aku tahu betapa liarnya Alas Mentaok karena pada masa mudaku aku sering berkeliaran sampai ke jantung hutan itu.”

Pertanyaan itu membuat hati Ki Gede Pemanahan menjadi semakin berdebar-debar. Ia semakin tidak mengerti sikap sebenarnya dari Sultan Pajang.

Akhirnya Ki Gede Pemanahan tidak lagi dapat menahan hatinya. Daripada ia selalu diombang-ambingkan oleh keragu-raguan, kegelisahan dan tanggapan yang tidak menentu tentang sikap Sultan Hadiwijaya, maka ia pun kemudian mengambil keputusan untuk mengatakan saja kepentingannya datang ke Pajang.

Sekali lagi Ki Gede Pemanahan memandang berkeliling paseban dalam yang sepi. Dan sekali lagi ia mencoba menerka, apakah yang ada di balik dinding paseban dalam itu.

Ternyata Sultan Pajang mengetahui keragu-raguan di hati Ki Gede Pemanahan, sehingga karena itu maka ia pun kemudian berkata, “Kakang Pemanahan. Agaknya kau heran melihat ruangan yang sepi ini. Memang tidak pernah terjadi, bahwa aku berada di paseban tanpa pengawal, tanpa dihadap oleh para pemimpin pemerintahan dan para senapati. Tetapi Kakang, kali ini aku menerimamu bukan dalam sikap resmi sebagai seorang Sultan di Pajang. Aku lebih senang menerimamu sebagai saudara yang di saat-saat Pajang mulai tumbuh, kita telah bersama-sama membangunkannya dan kemudian memeliharanya. Itulah sebabnya aku lebih senang menerimamu seorang diri. Apalagi apabila kemudian di antara kita ada persoalan-persoalan yang bersifat pribadi.”

Dada Ki Gede Pemanahan berdesir karenanya. Entah disengaja atau tidak, Sultan Pajang sudah mulai menyinggung persoalan pribadi seperti yang hendak dikatakannya.

“Ampun, Kanjeng Sultan,” berkata Ki Gede Pemanahan itu kemudian, “sebenarnyalah hamba menjadi heran bahwa hamba telah berada di dalam ruang paseban dalam yang sepi dan tidak seperti kebiasaan yang berlaku. Namun agaknya Kanjeng Sultan telah mempersiapkan pertemuan ini sebagai pertemuan yang akan membicarakan masalah-masalah pribadi.”

“Bukan demikian, Kakang,” sahut Sultan Hadiwijaya, “aku tidak mempersiapkannya demikian meskipun agaknya memang akan terjadi.”

Series 79

DADA KI GEDE Pemanahan menjadi semakin berdebar-debar. Kini ia mulai condong kepada pendapat bahwa agaknya Sultan Hadiwijaya sudah mengetahui apa yang terjadi atas putera angkatnya Raden Sutawijaya.

Jika demikian, maka selama ini yang dihadapi adalah sikap yang pura-pura saja dari Sultan. Sebenarnya Sultan Pajang itu telah menyimpan kemarahan yang membara di dadanya. Namun agaknya dengan sengaja Sultan telah menyembunyikannya dan pada saatnya menumpahkannya sampai tuntas.

“Apakah Sultan Hadiwijaya sengaja menunggu Sutawijaya?” Ki Gede Pemanahan bertanya kepada diri sendiri

“Kakang,” berkata Sultan Hadiwijaya kemudian, “jika Kakang Pemanahan datang ke Pajang tanpa memberitahukan lebih dahulu, dan datang sendirian tanpa Danang Sutawijaya, tentu Kakang membawa masalah yang cukup penting. Mungkin masalah Alas Mentaok yang semakin lama menjadi semakin ramai. Mungkin hubungan antara Mentaok yang sekarang disebut Mataram dengan daerah di sekitarnya. Mangir, Menoreh atau barangkali dengan senapati di daerah Selatan ini, Untara, atau persoalan-persoalan yang lain. Tetapi mungkin persoalan yang lebih bersifat pribadi seperti yang sudah aku katakan. Nah, Kakang Pemanahan, sebaiknya Kakang segera mengatakannya. Kakang tidak usah segan. Anggaplah aku masih seperti dahulu. Kakang bagiku adalah saudara tua yang banyak berjasa bukan saja kepadaku, tetapi juga kepada Pajang. Tanpa Kakang Pemanahan, maka persoalan yang terjadi di Kudus akan berakhir jauh lebih buruk dari yang telah terjadi. Mungkin aku sudah tidak dapat melihat terbitnya matahari lagi.”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Ia semakin tersiksa oleh sikap Sultan Hadiwijaya. Ia lebih senang jika Sultan Hadwijaya itu bersikap garang. Marah dan membentak-bentak. Atau bahkan dengan lantang menjatuhkan hukuman atasnya.

Tetapi kini Sultan Hadiwijaya tetap tersenyum dan dengan ramah bertanya kepadanya, apakah yang akan dikatakannya.

Sekilas teringat oleh Ki Gede Pemanahan atas apa yang pernah dilakukan oleh Sultan Pajang pada saat Adipati Jipang mulai menebarkan kekuasaannya yang ternyata kemudian gagal. Setelah Sunan Prawata terbunuh, kemudian disusul oleh Sunan Hadiri, terjadilah peristiwa itu. Dua orang utusan Adipati Jipang berhasil memasuki istana Pajang. Namun atas kesigapan Panglima Wira Tamtama yang saat itu dipegang oleh Ki Gede Pemanahan sendiri bersama Ki Penjawi, maka kedua orang itu tertangkap. Ternyata keduanya mendapat perintah untuk membunuh Sultan Hadiwijaya.

Tetapi kemudian apa yang terjadi? Sultan Hadiwijaya dengan sengaja memberi hadiah kepada kedua orang itu dan disuruhnya kembali ke Jipang. Ternyata bahwa hukuman yang sebenarnya diterima oleh orang-orang itu datang dari Arya Penangsang sendiri yang merasa terhina karena keduanya telah menerima hadiah dari Sultan Hadiwijaya.

Karena itu, Ki Gede Pemanahan menjadi semakin bimbang melihat sikap Sultan Hadiwijaya itu.

Namun akhirnya Ki Gede Pemanahan pun kemudian memaksa dirinya untuk mengatakan keperluannya kepada Sultan Hadiwijaya apa pun yang akan dihadapinya. Katanya, “Ampun Kanjeng Sultan. Sebenarnyalah bahwa kedatangan hamba mempunyai suatu kepentingan yang bersifat sangat pribadi. Jika Kanjeng Sultan berkenan, hamba ingin menyebutkannya, apakah sebenarnya kepentingan hamba datang ke Pajang saat ini.”

“Tentu, Kakang, tentu. Bukankah sejak tadi aku sudah mempersilahkan Kakang untuk mengatakan keperluan Kakang?”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas. Kemudian katanya, “Kanjeng Sultan, sebenarnyalah hamba membawa persoalan yang sangat rumit bagi hamba. Sebelum hamba mengatakannya biarlah hamba menyerahkan diri, pasrah hidup mati hamba ke hadapan Kanjeng Sultan.”

“Kakang Pemanahan, apakah sebenarnya yang akan Kakang katakan? Kenapa Kakang pasrah hidup mati Kakang kepadaku seakan-akan Kakang pernah melakukan kesalahan yang tidak dapat dimaafkan?”

“Ampun Kanjeng Sultan. Sebenarnyalah demikian. Hamba memang sudah melakukan kesalahan yang tidak dapat dimaafkan atas kekhilafan hamba mengawasi Danang Sutawijaya, sehingga Sutawijaya telah melakukan perbuatan yang tercela.”

Sultan Hadiwijaya mengerutkan keningnya. Ditatapnya Ki Gede Pemanahan sejenak. Lalu dengan nada datar ia berkata, “Katakan.”

“Ampunkan hamba. Bahwa hal itu telah terjadi.”

“Hal yang manakah yang kau maksudkan?”

“Kanjeng Sultan. Adalah di luar kemampuan hamba untuk mencegahnya bahwa Danang Sutawijaya, putera angkat terkasih dari Kanjeng Sultan sendiri telah melanggar pagar ayu.”

“Katakan, katakan,” suara Sultan Hadiwijaya mulai berubah.

“Danang Sutawijaya dengan diam-diam telah melakukan hubungan dengan salah seorang gadis Kalinyamat, puteri dari Kanjeng Sunan Prawata yang sedianya diperuntukkan bagi Kanjeng Sultan. Bukankah kedua puteri itu hadiah Kanjeng Ratu Kalinyamat kepada siapa pun juga yang berhasil membinasakan Arya Penangsang, dan bukankah Kanjeng Sultan-lah yang saat itu menyanggupinya dan sebenarnyalah Arya Penangsang telah terbunuh. Dengan demikian maka Kanjeng Ratu Kalinyamat tidak akan dapat ingkar dan menyerahkan kedua gadis itu kepada Kanjeng Sultan Hadiwijaya.”

Sultan Hadiwijaya memejamkan matanya. Sejenak ia diam mematung.

Terasa jantung Ki Gede Pemanahan berdetak semakin keras. Dengan menahan nafas ia menunggu, apakah yang akan dikatakan oleh Sultan Hadiwijaya tentang Sutawijaya. Menilik sikapnya maka agaknya Sultan Hadiwijaya sedang menahan gejolak perasaan yang melanda dinding jantungnya.

Namun demikian Ki Gede Pemanahan sama sekali tidak dapat meraba, apakah yang akan dikatakan oleh Sultan Hadiwijaya itu kepadanya, dan apakah yang sebenarnya sedang bergejolak di dalam hatinya.

Sejenak Sultan Hadiwijaya masih berdiam diri, sedangkan jantung Ki Gede Pemanahan seakan-akan semakin berdentangan.

Ki Gede menahan nafasnya ketika ia kemudian melihat Sultan Hadiwijaya membuka matanya. Tanpa berkedip Ki Gede memandang wajah Sultan Hadiwijaya sambil menunggu setiap patah kata yang akan diucapkan.

Namun terasa darah Ki Gede Pemanahan itu berhenti mengalir ketika justru ia melihat Sultan Hadiwijaya itu tersenyum. Senyum yang itu juga, seperti senyumnya sebelum Ki Gede meninggalkan Pajang.

“Ki Gede Pemanahan,” berkata Sultan Pajang, “aku kagum atas kejujuran dan kesetianmu. Kau datang sendiri dengan tergesa-gesa, ternyata kau tidak sempat memberitahukan lebih dahulu, untuk menyampaikan laporan tentang kesalahan yang dilakukan oleh anakmu yang sudah aku angkat menjadi anakku. Jarang orang yang berbuat seperti itu, yang dengan dada tengadah menyatakan kesalahan diri.” Kanjeng Sultan berhenti sejenak, lalu, “Itu adalah ciri watakmu, Kakang. Sejak kita bersama-sama menegakkan Pajang, kau memang seorang yang pantas dikagumi. Kau adalah seorang panglima yang berani dan terlebih-lebih lagi adalah seorang panglima yang jujur. Dan kini sifat itu masih ada padamu. Itulah yang sebenarnya telah memukau hatiku. Bukan karena aku mendengar pengakuanmu bahwa gadis Kalinyamat itu sudah berhubungan diam-diam dengan anak angkatku sendiri. Dan bahkan jika kau belum tahu aku ingin memberitahukan bahwa gadis itu sekarang sudah mengandung.”

Rasa-rasanya telinga Ki Gede Pemanahan itu berdesing. Ternyata Sultan Hadiwijaya sudah mengetahui semuanya. Bahkan mengetahui pula bahwa gadis itu sudah mengandung.

“Ampun Kanjeng Sultan,” Ki Gede Pemanahan menyembah, “kini aku pasrah diri. Hukuman apakah yang akan dilimpahkan kepada hamba dan anak hamba Sutawijaya. Yang terjadi adalah cela yang tidak termaafkan. Apalagi Danang Sutawijaya telah banyak sekali menerima sih dan kanugrahan dari Kanjeng Sultan sendiri.”

Tetapi Ki Gede Pemanahan menjadi semakin bingung ketika ia mendengar Sultan Hadiwijaya itu tertawa perlahan. Dengan sareh ia pun kemudian berkata, “Kakang Pemanahan. Apakah sudah sepantasnya aku menjatuhkan hukuman atasmu dan Sutawijaya.”

“Tentu Kanjeng Sultan. Jika anak hamba telah melakukan kesalahan yang demikian besarnya, maka sudah sepantasnya bahwa hamba pun menerima hukumannya pula.”

Tetapi Sultan Hadiwijaya tertawa pula, sehingga Ki Gede Pemanahan menjadi semakin bingung.

“Kakang,” berkata Sultan Hadiwijaya, “Semangkin dan Prihatin, kedua gadis dari Kalinyamat itu memang telah disediakan bagi orang yang berhasil membunuh Arya Penangsang. Bukankah yang telah berhasi1 membunuh Arya Penangsang adalah Kakang Pemanahan dan Kakang Penjawi seperti yang dikatakan oleh Kakang Juru Mertani? Tetapi sebenarnya aku pun mengetahui bahwa adbmcadangan.wordpress.com yang telah membenamkan tombak Kiai Pleret ke lambung Arya Penangsang adalah Danang Sutawijaya. Karena itu, bukankah sudah sewajarnya jika Sutawijaya menerima hadiah yang dijanjikan oleh Kanjeng Ratu Kalinyamat itu?”

“O,” Ki Gede Pemanahan justru menjadi bertambah bingung, sehingga ia hanya dapat menunggu Sultan Hadiwijaya meneruskan, “Kakang Pemanahan. Karena itu, agaknya sudah tertulis di jalur jalan kehidupan Semangkin bahwa ia memang akan menjadi sisihan orang yang berhasil membalaskan dendam ayahandanya dan bibinya, kematian pamandanya Arya Penangsang.”

“Jadi?” Ki Gede Pemanahan tergagap.

“Jadi, tidak ada apa-apa, Kakang Pemanahan. Sutawijaya memang sudah dewasa. Sudah sepantasnya ia mencintai dan dicintai oleh seorang gadis. Dan gadis itu adalah Semangkin.”

“Ampun, Kanjeng Sultan Hadiwijaya. Sebenarnyalah hamba menjadi bingung. Hamba sama sekali tidak mengerti sikap Kanjeng Sultan. Seharusnya paduka menjatuhkan hukuman atas hamba berdua. Tetapi paduka sama sekali tidak menyebut hukuman apakah yang harus hamba jalani.”

Sultan Hadiwijaya menggelengkan kepalanya, katanya, “Tidak senantasnya aku menjatuhkan hukuman kepada Sutawijaya. Ia sudah berjalan menurut kodrat manusiawi. Yang dapat aku berikan hanyalah sekedar pesan, bahwa sebaiknya Sutawijaya tidak melakukannya terhadap setiap gadis atau perempuan yang dikehendakinya.”

Terasa tubuh Ki Gede Pemanahan menjadi gemetar. Dan ia mendengar Sultan Hadiwijaya berkata seterusnya, “Dan permintaanku, hubungan yang sudah menumbuhkan buah di tubuh Semangkin itu janganlan disia-siakan. Tentu aku akan menganggapnya sebagai menantuku juga. Namun hendaknya Sutawijaya bertindak sebagai seorang laki-laki di dalam hal ini. Anak yang bakal lahir adalah anaknya. Belahan jiwanya sendiri. Karena itu, selanjutnya hubungan antara Sutawijaya dan Semangkin supaya dapat berlangsung wajar. Aku restui hubungan itu, dan keduanya memang sudah cukup dewasa.”

“Kanjeng Sultan Hadiwijaya,” sembah Ki Gede Pemanahan, “benarkah yang telah hamba dengar, bahwa paduka sama sekali tidak menjatuhkan hukuman apa pun kepada hamba, bahkan justru sebaliknya.”

Sultan Hadiwijaya tertawa. Dipandanginya Ki Gede Pemanahan yang membungkukkan kepalanya sehingga hampir menyentuh lantai.

“Sudahlah, Kakang Pemanahan. Jangan menanggapi keputusanku itu dengan berlebihan. Bukankah aku bersikap wajar pula dan tidak berlebihan. Kau bagiku adalah seorang saudara tua yang pantas aku hormati. Sutawijaya adalah anakku yang aku kasihi. Apalagi? Apakah artinya seorang gadis bagiku? Maksudku bukan karena aku menyiapkannya, karena ia adalah hadiah Kakanda Ratu Kalinyamat. Dan aku harus mengartikan lain dari hadiah itu, karena keduanya adalah kemanakanku sendiri, meskipun hubungan darah dari Adinda Permaisuri.”

Ki Gede Pemanahan untuk beberapa saat justru tidak, dapat berbicara sepatah kata pun.

“Kakang, sebenarnya aku tidak dapat berpura-pura bersih di dalam hal ini. Apalagi terhadap Kakang Pemanahan yang mengetahui Karebet ini seutuhnya. Luar dan dalam. Karena itu, aku tidak bermaksud mengatakan bahwa aku bersih dari nafsu. Bahkan mungkin Kakang Pemanahan menganggap aku sebagai seorang tua yang tidak tahu diri. Dan aku pun tidak ingkar, bahwa kelemahanku adalah pada seorang perempuan. Tetapi tentu tidak untuk menjatuhkan hukuman kepada Sutawijaya karena ia mencintai seorang gadis. Tentu tidak. Karena hal itu adalah wajar sekali. Dan betapa ganasnya seekor harimau, tetapi ia tidak akan menelan anaknya sendiri.”

Ki Gede Pemanahan tiba-tiba saja bergeser maju. Didekapnya kaki Sultan Hadiwijaya sambil berkata, “Kanjeng Sultan adalah seorang yang berhati selapang lautan.”

Sambil menepuk bahu Ki Gede Pemanahan, Sultan Hadiwijaya berkata, “Sekali lagi, Kakang, jangan menanggapi sikapku berlebihan.”

Ki Gede Pemanahan mundur setapak. Sambil menyembah ia berkata, “Hamba mengucapkan terima kasih yang sebesarnya. Hamba tidak tahu, bagaimana hamba akan membalas kebaikan budi Kanjeng Sultan.”

“Tidak ada yang harus dibalas. Jika kita berbicara tentang hutang budi, maka hutangku kepada Kakang Pemanahan jauh lebih banyak dari yang pernah aku berikan. Karena itu, sudahlah. Kita lupakan apa yang sudah terjadi. Tetapi jangan dilupakan pesanku kepada Sutawijaya.”

“Semua pesan Paduka akan hamba sampaikan.”

“Terima kasih, Kakang. Dan pesanku yang lain, aku sudah rindu kepadanya. Aku mengharap ia datang ke Pajang.”

Terasa sesuatu berdesir di dada Ki Gede Pemanahan. Anaknya adalah anak muda yang keras hati. Dan ia telah mengajarinya untuk berbuat seperti yang dilakukannya sekarang.

Kembali dada Ki Gede Pemanahan telah ditusuk oleh penyesalan yang tajam. Namun semuanya itu telah terjadi, dan ia tidak akan dapat menghapus ketergesa-gesaan yang pernah dilakukannya itu.

“Nah, Kakang,” berkata Sultan Pajang kemudian, “apakah masih ada persoalan lain yang akan Kakang katakan?”

“Tidak, Kanjeng Sultan. Hamba datang untuk menyampaikan penyesalan dan pasrah diri. Tetapi Paduka telah melimpahkan keluhuran budi yang tiada taranya. Karena itu hamba hanya dapat mengucapkan beribu-ribu terima kasih.”

“Jika demikian, baiklah Kakang. Aku kira aku sudah cukup lama menerima Kakang. Sekarang Kakang dapat beristirahat. Pada saatnya, Kakang Pemanahan akan pulang ke Mataram, aku hanya dapat mengucapkan selamat jalan.”

“Terima kasih,” sembah Ki Gede Pemanahan, “hamba mohon diri, Paduka.”

Demikianlah maka Ki Gede Pemanahan mengundurkan diri dengan hati yang bergejolak dengan dahsyat. Gambaran yang pernah bermain di angan-angannya sama sekali tidak terjadi. Ia menyangka bahwa ia akan digantung di alun-alun, atau dihukum picis di simpang empat karena selain kesalahan Sutawijaya, tentu Sultan sebenarnya menjadi sangat marah pada saat ia meninggalkan Pajang tanpa pamit dan dengan demikian memaksa Sultan Pajang untuk menyerahkan Alas Mentaok yang sudah dijanjikannya. Namun yang terjadi adalah sebaliknya.

Atas desakan beberapa orang sahabatnya, maka Ki Gede Pemanahan masih diminta untuk tinggal semalam lagi di Pajang. Beberapa orang di antara mereka masih ingin berbicara dan bercerita tentang banyak hal yang menyangkut Alas Mentaok.

Sebenarnyalah bahwa Ki Gede Pemanahan kurang berhati-hati menghadapi para pemimpin dan Senapati Pajang yang nampaknya sangat ramah dan baik hati. Berbeda dengan Sultan Hadiwijaya yang dengan jujur menanggapi sikap Ki Gede Pemanahan yang jujur itu pula, maka beberapa orang pemimpin dan senapati di Pajang ingin memancing keterangan dari Ki Gede Pemanahan.

Bahkan ketika salah seorang dari mereka dengan terus terang bertanya tentang hubungan antara Sutawijaya dengan gadis Kalinyamat itu, maka Ki Gede Pemanahan pun mengatakan bahwa hal itu sudah diserahkan kepada Sultan Pajang

“Apakah keputusan Sultan?” bertanya seorang perwira yang sudah setengah umur.

Ki Gede Pemanahan ragu-ragu. Namun akhirnya ia berkata, “Kami menunggu perintah Kanjeng Sultan kapan saja perintah itu datang.”

“Apakah Kanjeng Sultan menjadi marah?”

“Aku tidak dapat membedakan, apakah Sultan sedang marah atau justru sedang berkenan di hati,” jawab Ki Gede Pemanahan, “dan hal seperti itu selalu aku alami sejak aku masih menjadi Panglima Tamtama di Pajang.”

Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah bahwa Ki Gede Pemanahan pernah menjabat sebagai panglima di Pajang.

Selain persoalan Sutawijaya, masih banyak lagi yang mereka perbincangkan. Kadang-kadang Ki Gede Pemanahan menganggap bahwa tidak sepantasnya ia berprasangka terhadap para perwira di Pajang. Mereka adalah orang-orang yang baik dan ramah.

“Selama ini, kami terlampau berprasangka,” berkata Ki Gede di dalam hatinya, “terhadap Sultan dan para perwiranya. Ternyata mereka adalah orang yang baik dan bukan pendendam. Untunglah setiap usaha untuk melibatkan Pajang di dalam pertentangan dengan Mataram selalu gagal.”

Dan terbayang di angan-angan Ki Gede wajah seorang senapati yang bernama Daksina. Lalu katanya di dalam hati, “Tetapi terbukti ada juga senapati yang telah berusaha merusak sama sekali rencana kami untuk membuka Tanah Mataram.”

Meskipun demikian Ki Gede Pemanahan telah tenggelam ke dalam sikap yang baik dan ramah dari para perwira sehingga ia menjadi agak lengah dan kadang-kadang memberikan keterangan tentang Mataram agak terlampau banyak.

Memang ada di antara para perwira yang benar-benar dengan jujur mengagumi perkembangan yang telah dicapai oleh Ki Gede Pemanahan dan Sutawijaya. Namun ada pula di antara mereka yang dengan saksama mencari kelemahan-kelemahan yang ada pada Ki Gede.

Namun kemudian ketika pembicaraan telah hilir-mudik tidak menentu salah seorang senapati bertanya, “Kapan Ki Gede akan kembali ke Mataram?”

“Sebenarnya segera. Tetapi baiklah besok saja aku kembali ke Mataram. Besok pagi-pagi jika matahari terbit di Timur.”

Senapati itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja tanpa menanggapinya.

Malam itu Ki Gede Pemanahan tidur di tempat seseorang yang baik sekali kepadanya. Seorang sahabat sejak Ki Gede masih berada di Pajang.

“Kau harus berhati-hati Ki Gede,” berkata orang itu, “di Pajang banyak orang yang tidak senang melihat perkembangan Mataram.”

“Kenapa?”

“Iri hati dan dengki.”

“Ah, ternyata mereka sangat baik dan sama sekali tidak perlu berprasangka. Aku telah berbicara dengan mereka sehari-harian.”

Tetapi orang itu menggeleng. Katanya, “Kau hanya melihat kulit luarnya saja. Dalamilah apa yang mereka katakan dan renungilah setiap pertanyaannya.”

Ki Gede tidak menyahut. Namun baginya sama sekali tidak ada alasan untuk mencurigai siapa pun.

“Kau terlampau bersih, sehingga kau pun menganggap orang lain tidak bercela.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mencoba menilai kembali isi pembicaraannya dan sikap para perwira Pajang kepadanya. Tetapi bagi Ki Gede Pemanahan tidak ada persoalan yang dapat menumbuhkan kecurigaan apa pun.

Meskipun demikian Ki Gede Pemanahan tidak dapat mengabaikan sama sekali pendapat sahabatnya itu, karena Ki Gede Pemanahan pun menyadari bahwa sahabatnya itu tentu bermaksud baik dan tidak sekedar mengada-ada.

Demikianlah ketika fajar di pagi berikutnya mulai memerah di langit, Ki Gede Pemanahan dan kedua pengawalnya pun mulai berkemas. Mereka ingin berangkat pagi-pagi benar selagi matahari belum mulai membakar kulit.

“Berhati-hatilah, Ki Gede Mataram,” pesan sahabatnya sambil menepuk bahu Ki Gede, “Mataram benar-benar suatu Tanah Harapan bagi rakyat Pajang. Bukan saja karena di Mataram akan dapat tumbuh persoalan-persoalan baru dan usaha-usaha baru, melainkan juga karena Mataram menyebarkan cita-cita baru bagi hari depan kita semuanya.”

“Ah, kau terlampau memuji,” sahut Ki Gede Pemanahan, “tetapi, yang tampak, Mataram adalah tanah garapan baru bagi para petani. Itu saja. Di atas tanah yang baru dibuka itu para petani akan dapat mengembangkan usahanya dan beberapa percobaan yang baru di bidangnya.”

Sahabat Ki Gede Pemanahan tersenyum. Namun ketika ia melepas Ki Gede dan kedua orang pengawalnya, sekali lagi ia berkata, “Hati-hatilah, Ki Gede. Kau adalah seorang panglima yang berani di peperangan. Dan sekarang kau masih menunjukkan keberanian itu. Kau bertiga akan menyeberangi jarak yang cukup panjang antara Pajang dan Mataram. Namun selain panjang jarak, itu pun menyimpan berbagai bahaya bagimu.”

“Aku tidak akan berbuat buruk. Tentu perjalananku pun akan lancar dan tidak ada gangguan apa pun di perjalanan.”

“Mudah-mudahan.”

Ki Gede Pemanahan tersenyum. Ia pun kemudian minta diri dan dengan lajunya bersama kedua pengawalnya Ki Gede meninggalkan gerbang kota Pajang.

Namun dalam pada itu, di luar pengetahuan Ki Gede Pemanahan beberapa pasang mata mengawasinya dari kejauhan. Demikian Ki Gede Pemanahan meninggalkan gerbang, maka mereka pun menarik nafas dalam-dalam. Salah seorang dari mereka berkata, “Kita tentu akan berhasil. Selama ini usaha kita bersama Panembahan Agung selalu gagal. Seakan-akan Mataram benar-benar telah dilindungi oleh Yang Maha Kuasa. Sutawijaya selalu luput dari maut. Tetapi kini kita justru mulai dari Ki Gede Pemanahan sendiri.”

“Ya. Ia pasti tidak akan pernah sampai ke daerah yang dibukanya.”

Orang-orang itu saling berpandangan sejenak. Di bibir mereka nampak membayang senyum yang penuh arti. Seakan-akan mereka pasti, bahwa Ki Gede Pemanahan memang tidak akan dapat sampai ke Mataram kembali.

“Orang-orang itu tentu akan dapat menyelesaikan tugas mereka dengan baik. Meskipun Ki Gede Pemanahan dapat menangkap angin sekalipun, ia tidak akan dapat melawan ke empat bersaudara itu,” berkata yang lain lagi.

Orang yang tertua di antara mereka berkata sambil melangkah, “Marilah kita kembali. Pemanahan bukan orang yang bernyawa rangkap. Pada saatnya ia akan kehilangan nyawanya itu.”

Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mungkin saat itu sekarang sudah datang,” orang itu melanjutkan, “dan aku yakin bahwa Pemanahan akan mati. Keempat bersaudara itu memang memiliki kemampuan yang dapat dibanggakan. Aku sudah mencoba kemampuan mereka. Dan aku tahu pasti, bahwa Pemanahan tidak dapat melawan mereka karena aku sendiri pun agaknya tidak. Dan kemampuan Pemanahan tidak akan lebih tinggi dari kemampuanku. Bagiku sebenarnya Pemanahan bukan orang yang menakutkan. Tetapi kedudukankulah yang tidak memungkinkan aku bertindak sendiri. Usahaku untuk bekerja bersama Panembahan Agung pun ternyata gagal karena Panembahan Agung justru terbunuh. Dan bagiku Panembahan Agung pun bukan orang yang ajaib. Ia hanya dapat membuat mainan kanak-kanak yang kebingungan. Selebihnya, ia adalah seorang cengeng yang manja.”

Kawan-kawannya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.

“Karena itu aku bersedia bekerja bersamanya. Aku tahu bahwa kelak ia akan menyingkirkan kita jika kerja ini sudah selesai. Tetapi kita pun akan berbuat serupa seandainya ia tidak mati di peperangan. Aku tidak gentar menghadapinya meskipun aku tahu bahwa ia memiliki aji Pangangen-angen yang kadang-kadang membingungkan bagi anak-anak.”

“Nah, kita akan kembali. Besok kita akan mendengar kabar bahwa Ki Gede Pemanahan terbunuh oleh sekelompok penyamun. Empat orang bersaudara dari lereng Gunung Lawu itu akan membawa beberapa orang kawan karena mereka harus melakukan kerja ini sampai selesai. Mungkin kedua orang pengawal Pemanahan itu memiliki kelebihan pula dari kebanyakan orang.”

Yang lain masih saja mengangguk-angguk. Tetapi dari wajah mereka memancar harapan, bahwa Ki Gede Pemanahan akan terbunuh di perjalanan. Selanjutnya, mereka harus berhasil menyingkirkan Sutawijaya. Mereka tidak mempunyai harapan lagi untuk dapat memanfaatkan kedua orang itu. Seandainya Ki Gede Pemanahan dan Sutawijaya yang keras hati itu dapat mereka tangkap hidup-hidup, maka dengan ancaman apa pun juga mereka tidak akan bersedia bekerja bersama sehingga akhirnya keduanya tidak lagi diperlukan.

Dalam pada itu, Ki Gede Pemanahan sendiri, yang sedang berpacu kembali ke Mataram, hampir tidak pernah berbicara sama sekali. Angan-angannya sedang dipenuhi oleh kegelisahan yang pepat. Sikap Sultan Hadiwijaya benar-benar telah menyiksanya justru karena semua kesalahan yang telah dilakukan oleh Sutawijaya itu sama sekali tidak mendapat hukuman apa pun juga,

“Kebaikan hatinya benar-benar membuat aku semakin merasa bersalah,” berkata Ki Gede Pemanahan di dalam hatinya. “Dan sikap Sutawijaya yang keras membuat aku semakin menyesali kesalahan yang pernah aku lakukan.”

Terasa sesuatu bergejolak di dada Ki Gede Pemanahan. Ia menjadi sangat perihatin akan kekerasan hati Sutawijaya yang benar-benar tidak mau datang menghadap ke Pajang.

“Aku adalah sumber kesalahan ini. Aku tidak dapat mengajari anakku mengenal kebaikan budi Sultan Pajang. Dan aku tidak dapat mengajari anakku berbuat sebagai seorang kesatria yang berwatak, karena ia sudah melakukan perbuatan tercela. Siapa pun gadis itu, namun perbuatan itu bukannya perbuatan yang terpuji,” keluh Ki Gede Pemanahan di dalam hatinya. Lalu, “Apalagi ia adalah gadis yang sebenarnya akan diperuntukkan bagi Sultan Hadiwijaya sendiri.”

Namun sebuah kejanggalan telah melonjak pula di hatinya. Kedua gadis itu masih terlalu muda. Sedang Sultan Hadiwijaya sudah melalui masa-masa pertengahan umur seseorang.

Sehingga karena itu, sepercik kekecewaan telah membersit di hatinya. Tetapi Ki Gede Pemanahan cepat-cepat menyingkirkannya. Katanya di dalam hatinya, “Ia adalah seorang raja. Apa pun yang dikehendaki akan terjadi.”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Di hatinya telah bergejolak perasaan yang bercampur baur. Namun bagaimana pun juga, sikap Sultan Hadiwijaya telah membuatnya merasa terlalu kecil.

Ketiga ekor kuda yang meninggalkan Pajang itu berderap semakin cepat. Penunggangnya sama sekali tidak menghiraukan lagi keadaan di sekelilingnya. Apalagi Ki Gede Pemanahan. Meskipun ia menatap lurus-lurus ke depan, namun agaknya tidak satu pun yang dilihatnya. Ia sama sekali pasrah pada derap kaki kudanya. Hanya sekali-sekali ia terkejut dan memberikan arah dengan menggerakkan kendali.

Dalam pada itu, sekelompok orang-orang yang garang telah menunggu dengan tegang. Mereka adalah empat bersaudara dari lereng Gunung Lawu. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Apalagi apabila mereka berempat berada di dalam satu pasangan. Apalagi mereka telah membawa beberapa orang kawan yang terpilih. Mereka menyadari bahwa orang yang kali ini harus diselesaikan adalah Ki Gede Pemanahan. Seorang yang pilih tanding.

Keempat saudara dari lereng Gunung Lawu itu tahu benar, bahwa Ki Gede Pemanahan adalah bekas Panglima Wira Tamtama di Pajang. Dan mereka pun tahu benar, bahwa Ki Gede Pemanahan adalah seorang putera dari Sela, dari daerah yang terkenal keturunan seseorang yang menurut berita mampu menangkap petir.

“Kali ini kita harus benar-benar mempersiapkan diri,” berkata orang tertua dari keempat saudara dari lereng Gunung Lawu.

“Ya, Kakang Dandun,” jawab adiknya yang kedua, “kita semua sudah mengetahui siapakah yang kali ini kita hadapi. Karena itu, kita tidak boleh lengah.”

“Ki Gede Pemanahan dengan dua orang pengawal,” sahut yang lain, “betapa pun tinggi ilmu mereka, tetapi mereka tidak akan dapat berbuat banyak. Mungkin aku seorang diri dapat dikalahkan oleh Ki Gede Pemanahan. Tetapi ukurannya adalah paling banyak dua dari kita. Selebihnya adalah tenaga cadangan yang meyakinkan.”

“Ditambah dengan orang-orang kita,” berkata yang lain lagi sambil memandang beberapa orang yang bertebaran duduk di atas rerumputan.

“Kita masih mempunyai waktu,” berkata Dandun, “tetapi baiklah dua orang di antara orang-orang yang malas itu mengamat-amati jalan. Jika Ki Gede Pemanahan sudah tampak, kita harus benar-benar bersiap.”

Demikianlah dua orang di antara mereka harus berada di ujung bulak untuk mengawasi jalan. Jika mereka melihat tiga ekor kuda berpacu menuju ke arah mereka, dari Pajang maka ketiganya adalah Ki Gede Pemanahan dengan dua orang pengawalnya.

“Kita sudah memilih tempat yang paling tepat. Jika kita berhasil, kita ceburkan saja mayat mereka ke Kali Opak.”

“Ya. Dan kita akan menerima upah kita dan kelak, jika orang-orang tamak itu berhasil, kita akan mendapat kedudukan yang baik pula.”

Dandun menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian berbaring di atas rerumputan di bawah sebatang pohon yang rimbun.

“Jalan ini jarang dilalui orang,” desisnya. Lalu, “Karena itu kita tidak usah takut diketahui orang. Seandainya ada orang lewat pun, mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa. Jika mereka mencoba mencampurinya, kita akan menyelesaikannya sama sekali.”

Adik-adiknya mengangguk-anggukkan kepalanya. Jalan itu nampaknya memang sepi. Meskipun demikian ada juga beberapa orang yang lewat di dalam kelompok-kelompok kecil. Sudah sejak beberapa lama jalan itu menjadi tenang dan tidak ada lagi gangguan-gangguan yang berarti. Apalagi sejak jalan ke sebelah Barat seakan-akan terbuka sama sekali, maka jalan adbmcadangan.wordpress.com itu rasa-rasanya menjadi benar-benar telah aman meskipun masih belum banyak orang yang melaluinya, karena mereka masih dibayangi oleh kenangan masa yang mendebarkan karena orang-orang yang menyamun di sepanjang jalan itu dan dengan sengaja menakut-nakuti orang-orang yang lewat, terutama yang menuju ke Barat.

Semakin tinggi matahari merayap di langit, rasa-rasanya mereka menjadi semakin gelisah. Kadang-kadang mereka tidak telaten lagi menunggu.

“Mungkin Ki Gede Pemanahan belum akan lewat hari ini,” berkata salah seorang dari keempat orang dari Lereng Gunung Lawu itu.

“Orang-orang Pajang sudah memberi tanda. Mereka tahu pasti bahwa hari ini Ki Gede Pemanahan akan kembali ke Mataram. Tetapi mungkin ia tidak berangkat pagi-pagi benar,” jawab Dandun.

Adiknya tidak menyahut lagi. Seperti kakaknya, ia pun kemudian berbaring di bawah pohon yang rindang pula.

Dalam pada itu, beberapa kelompok orang yang lewat menjadi heran melihat beberapa, orang duduk-duduk di pinggir jalan menuju ke daerah Mataram. Tetapi mereka tidak bertanya sesuatu karena orang-orang itu sama sekali tidak mengganggu mereka. Bahkan mereka kemudian beranggapan bahwa mereka adalah sekelompok orang lewat yang sedang beristirahat seperti mereka.

Sementara itu, Ki Gede Pemanahan tidak lagi berpacu dengan tergesa-gesa. Semakin lama dibiarkannya kudanya berlari semakin lambat, sementara itu angan-angannya masih saja dibayangi oleh sikap Sultan Hadiwijaya. Betapa hatinya merasa terbanting di atas batu pualam yang keras oleh sikap yang sangat baik dari Sultan Hadiwijaya itu.

Namun dalam pada itu, Ki Gede sama sekali tidak menyangka bahwa beberapa orang telah diupah untuk mencegatnya di perjalanan. Ia tidak menyangka bahwa orang-orang Pajang benar-benar telah menginginkan kematiannya. Apalagi mereka yang mendengar bahwa sikap Sultan terlampau baik kepadanya.

Ternyata orang-orang Pajang itu sudah mengambil sikap pasti, membunuh Ki Gede Pemanahan.

Karena ia tidak menyangka sama sekali, maka ia tidak mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan itu. Ki Gede Pemanahan tidak membawa senjata lain kecuali keris di punggungnya. Ki Gede menganggap bahwa jalan dari Pajang ke Mataram kini seakan-akan sudah terbuka luas dan tidak ada gangguan lagi. Jika ada penyamun-penyamun kecil, maka penyamun-penyamun itu tentu tidak akan dapat berbuat apa-apa menghadapi Ki Gede Pemanahan beserta kedua pengawalnya itu.

Dengan demikian maka perjalanan Ki Gede Pemanahan itu semakin lama menjadi semakin dekat dengan Kali Opak di Prambanan. Dan dengan demikian perjalanannya menjadi semakin lama semakin dekat dengan bahaya yang sebenarnya bagi keselamatannya.

Sekali-sekali Ki Gede Pemanahan masih harus menyusup hutan yang meskipun tidak lebat, tetapi cukup menghambat perjalanannya. Bahkan kadang-kadang kudanya sama sekali tidak dapat berlari. Ki Gede Pemanahan harus menyusup di bawah sulur pohon kayu yang rimbun atau meloncati batang pepohonan yang melintang di jalan. Namun pada dasarnya kudanya dapat maju terus meskipun perlahan-lahan.

Ki Gede Pemanahan tertegun sejenak ketika ia kemudian sampai ke tlatah Sangkal Putung. Masih juga tersangkut sebuah kenangan pada saat ia masih menjadi seorang panglima. Ia pernah datang ke Sangkal Putung khusus untuk menerima penyerahan sisa-sisa dari laskar Jipang, namun yang karena kekhilafan senapati muda di daerah ini, hampir saja ia terbunuh oleh Ki Tambak Wedi yang mencegatnya di perjalanan justru setelah mendekati Sangkal Putung. Untunglah Untara cukup cekatan, sehingga akhirnya ia selamat. Meskipun Ki Gede Pemanahan sendiri adalah lawan yang seimbang dengan Ki Tambak Wedi, namun saat itu Ki Tambak Wedi berhasil mengerahkan anak buahnya lebih banyak dari anak buahnya sendiri.

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Kini Sangkal Putung menjadi daerah yang semakin subur. Tidak ada lagi gangguan yang berarti sepeninggal sisa-sisa pasukan Jipang. Dengan demikian maka orang-orang Sangkal Putung dapat memusatkan kerjanya di sawah dan ladang. Jika matahari memanjat ujung pepohonan, terdengar hampir di setiap padesan suara pande besi menempa alat-alat pertanian. Lembu yang melenguh dan perempuan-perempuan menumbuk padi. Kadang-kadang di seling oleh suara anak-anak melengking minta air susu ibunya. Sedang di tepian, gembala meniup serulingnya menyusup suara desau angin ladang yang lembut.

“Daerah yang semakin segar,” desis Ki Gede Pemanahan.

“Apa, Ki Gede?” bertanya seorang pengawalnya.

“Sangkal Putung ini,” jawab Ki Gede, “sekarang menjadi daerah yang hijau segar. Nampaknya tidak ada lagi kekacauan yang sering terjadi seperti pada saat pasukan Jipang yang sudah terpecah belah berada di daerah ini. Pengaruh orang-orang yang dengan sengaja menutup daerah Mataram pun agaknya tidak begitu terasa di daerah Sangkal Putung ini.”

“Ya, Ki Gede,” sahut pengawalnya, “daerah ini merupakan daerah yang sudah teratur. Tetapi agaknya daerah ini tidak berkembang pesat di bidang pemerintahan.”

“Maksudmu?” bertanya Ki Gede Pemanahan. “Daerah ini adalah daerah Kademangan yang luas. Dengan demikian daerah ini sudah mempunyai bentuknya yang pasti, seperti Menoreh yang telah mendapat pelimpahan kekuasaan sebagai sebuah Tanah Perdikan. Meskipun berbeda bentuk wewenang dan kewajibannya, namun kedua-duanya sudah mempunyai bentuk yang pasti. Jadi bagaimana maksudmu dengan perkembangan pemerintahan?”

“Maksudku, bahwa bentuk kademangan itu tidak meningkat lagi menjadi bentuk yang lebih mantap.”

Ki Gede Pemanahan menggelengkan kepalanya, “Tidak. Kademangan adalah bentuk yang sudah mantap. Untuk menjadi Tanah Perdikan diperlukan syarat-syarat tertentu. Ki Argapati, Kepala Tanah Perdikan di Menoreh mempunyai jasa yang besar sehingga daerahnya pantas diangkat menjadi daerah Tanah Perdikan.”

“Bukankah Sangkal Putung merupakan benteng yang kuat menghadapi Tohpati saat kekuatan Jipang masih terkumpul di bawah pimpinan Macan Kepatihan itu?”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata, “Memang dapat dipertimbangkan. Tetapi daerah ini belum tentu mendapatkan kedudukan yang lebih mantap sebagai Tanah Perdikan, karena Sangkal Putung tidak seluas Tanah Perdikan Menoreh.”

Pengawal Ki Gede itu pun kemudian terdiam. Namun ia mulai membayangkan, bentuk apakah kira-kira yang akan didapat oleh Tanah Mataram nanti jika Tanah itu sudah menjadi ramai. Apakah sekedar sebuah Kademangan atau Tanah Perdikan? Ki Gede Pemanahan pernah menjabat sebagai seorang Panglima yang diakui memiliki kelebihan dari senapati yang lain. Apakah pada saat ia berhasil membuka Alas Mentaok, ia hanya akan mendapatkan kedudukan sebagai seorang Demang? Dan untuk waktu yang jauh sekali, sejauh yang pernah dialami Sangkal Putung, Mataram hanya tetap sebuah Kademangan?

Meskipun hal itu tidak dikatakan, tetapi rasa-rasanya Ki Gede Pemanahan dapat mengerti. Maka katanya, “Bagi Mataram, bentuk tidak penting. Wewenang dan kekuasaan pun akan menyusul dengan sendirinya apabila Mataram berhasil menyusun dirinya. Sultan Hadiwijaya adalah orang yang baik. Dan aku harus bersujud di hadapannya karena kebaikan hatinya.”

Kedua pengwalnya tidak menyahut. Mereka mengerti bahwa Ki Gede sedang dihimpit oleh perasaan yang aneh. Sesudah ia merasa bersalah, khawatir, cemas, dan bayangan yang kelam bahwa ia akan mendapatkan hukuman karena Sutawijaya telah melakukan pelanggaran yang berat, namun tiba-tiba yang terjadi bukan apa-apa. Sultan Hadiwijaya tidak menghukumnya, tidak marah dan bahkan merestui hubungan antara Raden Sutawijaya dengan gadis Kalinyamat itu.

Ternyata Ki Gede Pemanahan telah terlempar kembali ke dalam kediamannya. Matanya kembali menatap ke kejauhan.

Sementara itu, orang-orang sangkal Putung yang sedang bekerja di sawah sama sekali tidak menghiraukannya. Mereka memang sering melihat beberapa orang berkuda lewat. Tetapi kali ini yang lewat adalah Ki Gede Pemanahan. Namun orang-orang Sangkal Putung tidak menyangkanya, karena Ki Gede Pemanahan sama sekali tidak mengenakan tanda-tanda kebesarannya. Ia mengenakan pakaian seorang petani. Dan sebagai orang kebanyakan maka ia sama sekali tidak menimbulkan kesan apa pun bagi mereka yang melihatnya, bahkan berpapasan sekalipun.

Demikianlah maka Ki Gede Pemanahan menjadi semakin dekat dengan Kali Opak. Setelah Sangkal Putung ditinggalkannya, maka untuk beberapa saat lamanya Ki Gede menyusuri hutan yang tidak begitu lebat. Tetapi hutan itu adalah hutan yang sudah terlampau sering dilalui, sehingga seakan-akan hutan itu adalah hutan tamasya saja. Binatang-binatang yang masih ada justru menjauhi jalan yang membelah tengah-tengah hutan itu.

Tetapi hutan itu ternyata tidak begitu luas, sehingga beberapa saat kemudian Ki Gede telah berada di bulak persawahan lagi. Namun dengan demikian terasa panas matahari seakan-akan menyengat kulit punggung meskipun dilambari oleh selembar baju yang tebal.

matahari yang melayang di langit yang biru bersih. Seperti Sangkal Putung, maka Prambanan pun memiliki tanah yang subur. Bendungan yang menyekat kali, kemudian mengangkat air naik ke tanah persawahan di sebelah Timur Kali Opak.

Dari kejauhan Ki Gede Pemanahan memandang ujung candi yang bagaikan bercahaya ditimpa teriknya matahari.

“Candi yang manis,” berkata Ki Gede di dalam hatinya, “candi yang bagi rakyat di sekitarnya merupakan lambang keagungan cinta yang dapat melahirkan sebuah karya yang mengagumkan.”

Dengan tatapan mata yang memancarkan kekaguman Ki Gede memandang candi yang semakin lama menjadi semakin dekat. Candi yang terletak tidak terlampau jauh dari Kali Opak. Namun Ki Gede Pemanahan tidak menyangka sama sekali, bahwa sebentar lagi, jika ia lewat di depan candi itu dan menuruni tebing yang landai dari sebuah sungai yang lebar, ia akan berhadapan dengan bahaya yang akan memungut nyawanya.

Namun tiba-tiba saja Ki Gede terkejut ketika kudanya tiba-tiba saja menjadi sendat. Bahkan kemudian seakan-akan tidak mau maju lagi. Beberapa kali kudanya melingkar-lingkar bahkan, kemudian meringkik.

Kedua pengawalnya pun menjadi heran. Kuda itu adalah kuda yang sangat baik. Kuda tunggangan Ki Gede Pemanahan sejak ia berada di Pajang.

“Kenapa dengan kuda ini?” bertanya Ki Gede Pemanahan sambil menepuk leher kudanya supaya kuda itu menjadi tenang.

Kedua pengawalnya pun kemudian berhenti beberapa langkah daripadanya sambil memperhatikan kuda yang menjadi gelisah itu.

“Aneh,” desis yang seorang.

“Tentu firasatnya mengatakan sesuatu,” sahut yang lain.

Ki Gede Pemanahan sendiri masih menepuk beberapa kali leher kudanya sambil bedesis perlahan-lahan. Kemudian diusapnya dahi kuda itu dengan lembut sehingga akhirnya kudanya menjadi tenang. Tetapi rasa-rasanya kuda itu tidak mau lagi melangkah maju.

“Aku jadi heran,” berkata Ki Gede Pemanahan, “sebentar lagi kita akan menyeberang sungai Opak. Kenapa kuda ini tidak mau berjalan lagi? Apakah kali Opak sedang banjir?”

“Aku kira tidak, Ki Gede. Langit cerah. Demikian juga di sebelah Utara. Agaknya di kaki Gunung Merapi itu pun tidak turun hujan.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya. Tentu bukan karena telinganya sudah mendengar deru air banjir. Tetapi kenapa?”

“Mungkin sekedar sentuhan kecil. Karena itu biarlah kuda itu menjadi tenang sesaat.”

Ki Gede mengangguk. Ia pun kemudian turun dari kudanya dan membiarkan kudanya merenungi jalan yang akan dilaluinya. Sekali-sekali kuda itu menengadahkan kepalanya dan penciumannya seakan-akan menyentuh sesuatu yang membuatnya gelisah.

“Jika ada binatang buas, tentu kuda-kuda yang mana pun menjadi gelisah pula,” berkata seorang pengawalnya.

“Memang mungkin seekor binatang buas yang sedang minum di Kali Opak,” jawab yang lain.

Ki Gede menganggukkan kepalanya. Katanya, “Mungkin sekali. Sebentar lagi binatang buas itu akan pergi.”

Kedua pengawal Ki Gede yang sudah turun pula, mengikat kuda masing-masing pada sebarang pohon perdu. Keduanya pun kemudian ikut mengusap kuda Ki Gede Pemanahan yang gelisah. Seakan-akan keduanya ingin meyakinkan kepada kuda itu, bahwa tidak ada apa-apa di perjalanan. Seandainya ada binatang buas pun kuda itu tidak perlu cemas.

Agaknya kuda itu pun mengerti. Perlahan-lahan kuda itu menjadi tenang, sehingga dengan demikian maka Ki Gede Pemanahan pun siap melanjutkan perjalanannya.

“Kau dapat minum sampai kenyang nanti di Kali Opak,” berkata pengawal Ki Gede sambil mengusap leher kuda yang gelisah itu.

Sejenak kemudian kuda itu melanjutkan perjalanannya meskipun nampaknya masih ada keragu-raguan. Apalagi ketika mereka muncul di sebuah bulak di sebelah Timur Kali Opak.

“Apakah kau takut melihat candi yang menjulang sampai ke langit itu,” desis Ki Gede Pemanahan seolah-olah berbisik di telinga kudanya.

Tetapi rasa-rasanya kuda itu masih tetap gelisah meskipun perlahan-lahan ia maju terus. Sedang Ki Gede Pemanahan pun tidak mau memaksa kudanya lari lebih cepat.

Dalam pada itu kedua pengawal Ki Gede Pemanahan pun rasa-rasanya menjadi gelisah pula. Seekor kuda adalah binatang yang memiliki firasat yang tajam. Karena itu, tanpa sesadarnya keduanya telah menggeser keris di punggungnya, dan meraba hulu pedangnya. Sekilas mereka memandang Ki Gede yang ada di depannya. Ternyata Ki Gede Pemanahan tidak membawa senjata lain kecuali keris di punggungnya.

Namun demikian mereka berjalan terus. Hanya kadang-kadang mereka harus berhenti sejenak, jika kuda Ki Gede Mataram nampaknya menjadi semakin gelisah. Jika kuda itu menjadi agak tenang, maka mereka pun melanjutkan perjalanannya pula.

Tetapi ternyata bahwa kuda-kuda yang lain pun mulai menjadi gelisah pula, sehingga meskipun kedua pengawal Ki Gede itu tidak mengatakan sesuatu, namun mereka hampir memastikan di dalam hati, bahwa sesuatu akan terjadi.

Sebenarnyalah bahwa saat ketiga orang itu mendekati Kali Opak, maka orang-orang yang harus mengawasinya telah lebih dahulu melihat tiga orang berkuda mendekat. Karena itu maka mereka pun segera memberi isyarat kepada kawan-kawannya yang menunggu di tepi sungai.

“Mereka sudah datang,” desis Dandun.

Ketiga adiknya pun segera bersiap. Mereka sadar sepenuhnya bahwa melawan Ki Gede Pemanahan, adalah suatu perjuangan yang berat. Tetapi mereka berempat di dalam satu kelompok perkelahian merupakan suatu kekuatan yang tidak ada taranya.

Dandun pun kemudian memerintahkan orang-orangnya untuk bersiap pula. Katanya, “Biarlah dua orang kita berada di belakang ketiga orang itu. Mereka harus dibiarkan melintas, tetapi kedua orang kita itu harus menutup jalan agar Ki Gede dan pengawalnya tidak berbalik dan melarikan diri. Mereka harus masuk ke dalam jebakan dan kita akan mencincang mereka sampai lumat. Mayat mereka kita lemparkan saja ke Kali Opak. Tetapi ingat, keris Ki Gede harus diambil sebagai bukti bahwa kita sudah berhasil.”

Pesan Dandun cukup gamblang. Karena itu maka orang-orangnya pun segera menebar.

“Kita berempat harus menyelesaikan Ki Gede Pemanahan lebih dahulu,” berkata Dandun, “biarlah orang-orang kita yang berjumlah sepuluh orang itu mengurusi kedua pengawalnya. Jika Ki Gede Pemanahan sudah terbunuh, maka ke dua orang itu bagaikan tikus saja di sarang kucing-kucing liar.”

Adik-adiknya tertawa. Namun wajah-wajah mereka pun kemudian menjadi tegang, ketika dari kejauhan mereka melihat tiga orang berkuda datang mendekat.

“Itulah mereka,” desis Dandun.

Demikianlah mereka yang mencegat perjalanan Ki Gede itu pun segera bersembunyi di balik batu-batu padas dan gerumbul-gerumbul liar di tepi Kali Opak. Mereka telah menyiapkan senjata mereka masing-masing. Setiap saat mereka dapat segera menyergap ketiga orang yang sesaat kemudian akan melintasi Kali Opak.

Tetapi rasa-rasanya mereka tidak sabar lagi melihat ketiga ekor kuda yang tidak berlari cukup cepat. Bahkan kadang-kadang kuda Ki Gede justru berhenti dan meringkik. Baru kemudian kuda itu perlahan-lahan maju lagi beberapa langkah.

“Kuda itu malas sekali,” desis Dandun yang juga tidak sabar menunggu.

“Kita meloncat naik dan mengepungnya,” sahut adiknya.

“Masih terlampau jauh. Jika mereka terkejut, mereka dapat melarikan diri.”

“Kita harus bersabar sedikit,” desis yang lain.

Tetapi ketiga orang itu tidak segera maju mendekat. Bahkan seakan-akan mereka sengaja berhenti dan mengamati keadaan dengan saksama,

“Bagaimana?” bertanya salah seorang dari keempat bersaudara itu.

“Kita tunggu sebentar,” jawab Dandun, “jika mereka masih saja menunggu, kitalah yang menyergap naik ke atas tebing, kemudian kita dorong mereka turun, supaya tidak banyak orang yang dapat menyaksikan perkelahian ini dari jauh.”

“Aku sependapat,” adiknya yang bungsu bergumam. Dengan demikian, maka dengan gelisah dan menahan nafas orang-orang itu menunggu Ki Gede Pemanahan menjadi semakin dekat. Namun agaknya kesabaran mereka pun sudah sampai pada batasnya.

“Kuda-kuda itu agaknya menjadi gila,” berkata Dandun.

Sebenarnyalah bahwa Ki Gede Pemanahan sendiri tidak berusaha lagi untuk maju lagi. Firasatnya sebagai seorang prajurit yang mumpuni seakan-akan memberinya peringatan, bahwa di hadapannya sedang menunggu bahaya yang dapat merenggut nyawanya. Sehingga karena itu, maka Ki Gede itu pun justru mengekang kudanya dan berhenti sejenak.

“Apakah Ki Gede melihat sesuatu?” bertanya salah seorang pengawalnya.

“Jalan ini terlampau lengang,” jawab Ki Gede.

“Jalan ini memang jarang sekali dilalui orang,” sahut yang seorang.

“Ya. Tetapi rasa-rasanya ada sesuatu.”

“Benar, Ki Gede. Hatiku menjadi berdebar-debar.”

“Baiklah kita berhenti sejenak,” berkata Ki Gede Pemanahan, “mungkin kita sudah dibebani prasangka buruk. Mungkin kita dipengaruhi oleh sikap beberapa orang Pajang yang tidak menyenangkan. Tetapi mungkin pula perasaanku sedang dikacaukan oleh sikap Kanjeng Sultan yang sama sekali berbeda dengan gambaran-gambaran yang tersusun di angan-angan sejak aku berangkat dari Mataram. Tetapi yang terjadi adalah berbeda sekali, bahkan berlawanan. Kejutan itulah agaknya yang membuat aku kadang-kadang menjadi bingung seperti sekarang ini.”

Kedua pengawalnya tidak menyahut. Tetapi rasa-rasanya memang ada sesuatu. Bahkan salah seorang dari keduanya tiba-tiba berdesis, “Ki Gede, agaknya aku memang melihat sesuatu bergerak di kejauhan, di balik sebuah batu yang besar.”

Ki Gede mengerutkan keningnya. Sebenarnya ia pun telah melihat sesuatu bergerak seperti yang dilihat oleh pengawalnya. Namun ia masih mencoba meyakinkan, apakah yang telah dilihatnya itu.

Karena pengawalnya telah menyebutnya lebih dahulu, maka Ki Gede pun kemudian berkata, “Memang ada sesuatu yang bergerak di tepian. Tetapi banyak sekali kemungkinan yang dapat kita sebut. Mungkin seorang petani yang membersihkan alat-alatnya atau mungkin seorang yang lewat di jalan ini sedang beristirahat.”

“Memang, Ki Gede,” sahut pengawal-pengawalnya, “ada bermacam-macam kemungkinan. Namun agaknya aku mencurigainya.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk. Katanya, “Berhati-hatilah. Firasat seorang prajurit kadang-kadang tidak akan terlampau jauh dari kebenaran jika akan menjumpai bahaya.”

Kedua pengawalnya menjadi semakin berdebar-debar. Dengan demikian keduanya hampir tidak berkedip memandang ke tepian di hadapan mereka.

Tetapi Ki Gede Pemanahan dan kedua pengawalnya tidak segera maju lagi. Di dalam keadaan yang mendebarkan itu, barulah Ki Gede menyadari ketergesa-gesaannya. Ia sama sekali tidak mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan yang dapat membahayakan jiwanya.

Kini ia baru menyadari bahwa di Pajang, terdapat banyak sekali orang yang tidak senang kepadanya. Yang iri, yang dengki dan yang mempunyai kepentingan-kepentingan lain. Dan kini firasatnya mengatakan kepadanya, bahwa di hadapannya memang ada bahaya yang sedang mengancam.

Sekilas Ki Gede terkenang akan sikap Sultan Pajang. Sepercik kecurigaan melonjak di hatinya.

“Apakah Sultan Pajang hanya berpura-pura, namun kemudian memerintahkan sekelompok Senapati terpilih untuk mencegat aku di tepian Kali Opak?” ia bertanya kepada diri sendiri. Namun kemudian dijawabnya, “Tentu tidak. Aku merasakan sikap Sultan yang ikhlas itu.”

Akhirnya Ki Gede Pemanahan pun jemu menunggu. Ketika kecurigaannya justru semakin tajam, ia berkata kepada kedua pengawalnya, “Kita tidak dapat berhenti di sini sampai sore. Apa pun yang akan kita hadapi kita akan maju.”

“Ki Gede,” berkata seorang pengawalnya, “mungkin aku memang sudah menjadi seorang pengecut. Tetapi sebaiknya Ki Gede tetap berada di sini. Biarlah aku berdua melihat, apakah yang ada di balik bebatuan dan gerumbul-gerumbul di tepian. Jika yang kami jumpai ternyata berbahaya bagi Ki Gede, sebaiknya Ki Gede menghindar. Bukan maksudku untuk memperkecil arti Ki Gede Pemanahan di dalam medan, justru kami tahu bahwa Ki Gede adalah seorang panglima perang. Tetapi adalah tidak seimbang bahwa Ki Gede harus melayani pengecut-pengecut itu.”

Ki Gedu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum pahit. Katanya, “Jika aku berhadapan dengan pengecut, bukan berarti aku sendiri harus menjadi pengecut.”

Kedua pengawalnya tahu benar, bahwa jawaban itu adalah sikap Ki Gede Pemanahan. Karena itu, maka keduanya tidak akan berani mengusulkan apa pun lagi.

“Marilah kita maju,” desis Ki Gede.

Namun sebelum mereka menggerakkan kendali kudanya, mereka terkejut mendengar derap kaki kuda yang semakin lama menjadi semakin dekat.

“Berhati-hatilah,” berkata Ki Gede, “mungkin kita memang sudah terkepung.”

Kedua pengawalnya segera bergeser. Karena Ki Gede Pemanahan kemudian memutar kudanya menghadap arah suara derap kaki kuda yang seolah-olah menyusulnya, maka kedua pengawalnya tetap memandang ke arah tepian. Karena di sana pun terdapat bahaya yang dapat menyergap dengan tiba-tiba. Hanya sekali-sekali saja mereka berpaling. Sekilas mereka melihat beberapa ekor kuda mendekatinya.

Ki Gede Pemanahan mengerutkan keningnya melihat seorang anak muda yang berpacu di paling depan. Sekali-sekali ia melihat anak muda itu melambaikan tangannya, memberikan isyarat. Tetapi Ki Gede tidak tahu pasti, apakah arti isyarat itu.

“He,” tiba-tiba Ki Gede berdesis, “kau kenal anak muda di paling depan itu?”

Kedua pengawalnya serentak berpaling. Mereka melihat lima ekor kuda. Dan yang paling depan berpakaian sebagai seorang Senapati Pajang.

“Untara,” desis Ki Gede Pemanahan, “bukankah ia Untara?”

“Ya, Ki Gede,” sahut kedua pengawalnya hampir berbareng.

Ki Gede yang sedang termangu-mangu itu menjadi semakin termangu-mangu. Sebelum ia jelas siapakah yang menunggunya di tepian Kali Opak, kini dilihatnya Untara berpacu menyusulnya dikawal oleh empat orang prajuritnya.

“Berhentilah, Ki Gede,” Untara itu berteriak di kejauhan.

Ki Gede tiba-tiba menjadi curiga. Kenapa Untara berteriak menghentikannya. Apakah memang sudah diatur, bahwa Untara akan menyergapnya, sedang di tepian beberapa orang lain sudah menunggunya.

Tetapi Untara sama sekali tidak menyentuh senjatanya. Bahkan ia masih saja mengangkat tangan kanannya, sedang tangan kirinya memegang kendali kudanya.

Beberapa langkah daripadanya Untara itu pun menarik kekang kudanya, sehingga kudanya itu pun menghentikan derap kakinya. Segumpal debu meloncat ke udara dan hanyut didorong angin yang lembut.

“Hampir saja aku terlambat,” berkata Untara tiba-tiba.

Ki Gede mengerutkan keningnya, dan sebelum ia berkata sesuatu Untara mendahuluinya, “Jangan meneruskan perjalanan, Ki Gede.”

Ki Gede menjadi heran. Kenapa Untara menghentikan perjalanannya.

Kedua pengawalnya pun menjadi tegang. Kecurigaan mereka menjadi semakin tajam. Tetapi jika mereka menatap wajah Untara, terasa ada kesan yang lain pada wajah itu.

“Ki Gede,” berkata Untara kemudian, “aku akan mempersilahkan Ki Gede kembali. Maksudku, bukan kembali ke Pajang, tetapi menunda perjalanan kembali ke Mataram barang sehari.”

“Apa maksudmu, Untara. Aku sudah tidak mempunyai keperluan lagi. Aku tergesa-gesa kembali ke Mataram dan menyampaikan hasil kepergianku ke Pajang kepada Sutawijaya.”

“Ki Gede. Kapan pun Ki Gede akan kembali ke Mataram, aku tidak akan mencegahnya. Tetapi tidak sekarang. Dan sekarang aku ingin mempersilahkan Ki Gede kembali sejenak. Sampai saatnya kami dapat mengantarkan Ki Gede sampai ke batas Tanah Mataram.”

Ki Gede mengusap keningnya. Katanya, “Aku menjadi bingung, Untara. Katakanlah, apakah maksudmu yang sebenarnya.”

Untara mencoba menenangkan pernafasannya. Tetapi sejenak kemudian ia berdesis, “Terlambat. Kita harus terlibat dalam perkelahian.”

Ki Gede berpaling ke tepian. Sejenak ia termangu-mangu, namun kemudian ia bertanya, “Apakah yang akan terjadi, Untara?”

Untara memberi isyarat kepada pengawal-pengawalnya. Mereka pun segera bergeser sebelah-menyebelah.

“Ki Gede,” desis Untara, “aku mendapat perintah dari Kanjeng Sultan Pajang. Petugas sandi Pajang menangkap keterangan bahwa beberapa orang telah menghadang perjalanan Ki Gede di sekitar Kali Opak. Petugas sandi yang berhasil menyadap pembicaraan beberapa orang yang memang dengan sengaja ingin menjebak Ki Gede mengatakan bahwa kekuatan mereka yang disediakan untuk menyingkirkan Ki Gede adalah tidak tanggung-tanggung.

“Lalu apa maksudmu, Untara?”

“Aku mendapat perintah untuk menyelamatkan Ki Gede,” jawab Untara. “Bukan maksudku mengatakan bahwa aku memiliki kelebihan dari Ki Gede, tetapi aku adalah senapati yang bertanggung jawab di daerah ini dan aku mempunyai pengawal yang cukup. Karena itu, untuk menghindari kesan yang jelek terhadap Pajang, seakan-akan Pajang-lah yang telah menjebak Ki Gede adbmcadangan.wordpress.com, maka aku harus mencegat perjalanan Ki Gede. Tetapi agaknya aku terlambat. Aku mendapat keterangan dari beberapa orang yang bekerja di sawah, bahwa tiga orang berkuda telah lewat. Karena itu aku segera menyusul dengan pengawal yang ada. Aku memang memerintahkan seorang pengawalku untuk menyiapkan prajurit yang berada di daerah Prambanan yang dapat dihimpun untuk menyusul perjalananku sekarang ini, karena kita akan menghadapi kekuatan yang cukup besar.”

Ki Gede mengerutkan keningnya. Sekarang ia mengerti, siapakah yang bergerak-gerak di tepian. Di balik batu-batu besar dan gerumbul-gerumbul liar.

“Kapan kau mendapat keterangan itu, Untara?” bertanya Ki Gede.

“Baru pagi ini,” jawab Untara. “Demikian aku menerima perintah itu aku pun segara berangkat dengan tergesa-gesa. Tetapi aku terlambat. Dan aku berusaha menyusul Ki Gede. Agaknya Ki Gede tidak berpacu terlampau cepat, sehingga aku dapat bertemu Ki Gede di sini.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jadi siapakah yang telah berusaha menjebak aku?”

“Kami tidak mendapat keterangan itu. Tetapi petugas sandi berhasil mendengar atau mencuri keterangan tentang hal itu. Siapa pun yang telah memerintahkan penyergapan itu, namun Sultan menjadi sangat marah karenanya dan memerintahkan untuk mengambil langkah-langkah untuk menyelamatkan Ki Gede.”

Ki Gede masih mengangguk-angguk. Tetapi berbagai macam persoalan berdesakan di dalam dadanya. Memang ada sepercik kecurigaan. Tetapi kemudian goresan-goresan yang dalam di dinding jantungnya justru karena sikap Kanjeng Sultan yang sangat baik, dan bahkan telah memerintahkan untuk menyelamatkan nyawanya.

Dalam pada itu, Dandun dan adik-adiknya benar-benar sudah kehilangan kesabaran. Apalagi karena mereka mendapat laporan bahwa lima orang prajurit telah datang untuk menahan Ki Gede Pemanahan.

“Gila,” teriak Dandun, “semakin lama prajurit-prajurit itu akan menjadi semakin banyak. Karena itu, kita selesaikan saja mereka sekarang. Yang terpenting adalah membinasakan Ki Gede Pemanahan itu dahulu.”

“Bagus,” desis adiknya, “kita tidak dapat menunggu lagi.”

Dandun pun kemudian menarik senjatanya sambil menggeram, “Kita bertiga menyelesaikan Ki Gede. Yang seorang, dari kita membayangi pemimpin prajurit itu, sedang yang lain harus membinasakan semua pengawal yang berjumlah enam orang itu.”

“Baik, Kakang”, jawab adiknya yang tertua, “aku akan membinasakan senapati itu.”

Demikianlah, maka mereka tidak menunggu lebih lama lagi. Mereka sadar bahwa prajurit-prajurit itu akan bertambah-tambah. Karena itu tugas mereka harus segera selesai sebelum mereka akan melarikan diri.

Karena itulah maka sejenak kemudian terdengar Untara berdesis, “Ki Gede, agaknya mereka sudah akan mulai.”

Ki Gede tidak sempat menjawab. Beberapa orang berloncatan dari balik gerumbul-gerumbul dan melingkari kelompok kecil yang memang sudah menyiapkan diri untuk melawan itu.

Ki Gede menyadari, bahwa orang-orang yang telah dikirim untuk mencegat perjalanannya itu tentu bukan orang-orang kebanyakan. Karena itulah maka ia pun segera menyiapkan dirinya sebaik-baiknya.

Sejenak Ki Gede memandang orang-orang yang berlari-larian melingkarinya. Dan di antara mereka terdapat empat orang yang meyakinkan. Dan mereka agaknya adalah pemimpin dari kelompok yang kini telah mengepungnya.

Untara yang melihat kepungan yang dalam waktu yang singkat telah menjadi rapat itu mendekati Ki Gede Pemanahan sambil berkata, “Menurut keterangan yang aku terima, Ki Gede, keempat orang itu datang dari kaki Gunung Lawu. Mereka khusus datang untuk menyambut Ki Gede di Kali Opak ini.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba ia bertanya, “Bagaimana mungkin kau menerima keterangan yang lengkap sekali tentang orang-orang itu?”

“Aku belum sempat menanyakannya kepada petugas sandi itu. Aku tergesa-gesa berangkat mencegat Ki Gede. Tetapi Ki Gede sudah lampau. Itulah sebabnya aku hanya membawa lima orang pengawal. Yang seorang dari mereka kini berhenti di Prambanan menghubungi pimpinan kelompok prajurit yang aku tempatkan di sana.

“Kenapa utusan dari Pajang itu tidak langsung menyusul aku? Jika ia harus pergi ke Jati Anom lebih dahulu, maka kau tentu akan terlambat.”

“Aku memiliki pasukan di daerah ini Ki Gede. Dan seperti yang aku katakan aku adalah senapati di daerah ini.”

Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Dipandanginya saja empat orang yang berjalan selangkah demi selangkah mendekatinya.

Wajah Ki Gede Pemanahan menjadi tegang. Demikian juga wajah Untara. Pengawalnya telah menebar menghadap ke segenap arah. Sedang kedua pengawal Ki Gede Pemanahan pun telah merenggang.

“Kita harus melawan mereka sejauh-jauh dapat kita lakukan Ki Gede. Sementara prajurit-prajurit dari Prambanan akan segera datang.”

Ki Gede tidak menyahut.

Dalam pada itu, Dandun dan ketiga adiknya sudah menjadi semakin dekat. Dengan kepala tengadah maka empat bersaudara dari Gunung Lawu itu kemudian berhenti beberapa langkah di hadapan Ki Gede Pemanahan dan Untara.

Sekilas Ki Gede teringat pada saat ia dihentikan oleh sekelompok pasukan yang dipimpin oleh Ki Tambak Wedi. Seorang yang memiliki kemampuan luar biasa. Tetapi Ki Tambak Wedi tidak mempunyai pasangan seperti orang-orang ini. Bahkan sampai empat orang.

Sejenak Ki Gede memandang wajah Dandun yang keras sekeras batu-batu padas di tepian Kali Opak. Kemudian wajah ketiga adik-adiknya berganti-ganti. Wajah mereka memang mirip seperti kebanyakan kakak beradik. Dan agaknya sifat-sifatnya pun tidak jauh berbeda yang satu dengan yang lain.

Dandun, yang tertua di antara mereka pun kemudian maju selangkah. Dipandanginya Ki Gede Pemanahan dan Untara berganti-ganti. Lalu katanya, “Kenapa kalian tidak mau maju lagi sampai ke tepian? Di tepian kita mempunyai tempat yang cukup luas untuk berkelahi. Siapa yang terbunuh di dalam perkelahian itu, dengan mudahnya kita lemparkan saja ke dalam air. Apakah kalian tidak sependapat, sebaiknya kita bertempur di pinggir sungai saja?”

Ki Gede memandang Dandun sejenak, lalu, “Siapakah kau sebenarnya, Ki Sanak. Dan apakah kepentinganmu dengan aku?”

Dandun tertawa. Jawabnya, “Apakah ada perlunya Ki Gede Pemanahan mengetahui? Eh, bukankah kau yang bernama Ki Gede Pemanahan?”

“Benar, Ki Sanak. Akulah yang bernama Pemanahan. Kau tentu sudah mendapat banyak keterangan tentang aku, ujudku. Tubuhku dan tentu kau mendapat pesan bahwa aku menempuh perjalanan ini bersama kedua orang sahabatku.”

“Ya,” sahut Dandun, “dan kau pun tentu sudah dapat menduga apakah keperluanku. Karena itu, sebaiknya kau turun saja dari kudamu dan menundukkan kepalamu dalam-dalam. Aku akan memenggal kepalamu dengan penuh hormat.”

“Tutup mulutmu,” Untara-lah yang membentak. Dengan mata yang merah menyala Untara berkata lantang, “Kau jangan menghina. Kau harus sadar, dengan siapa kau berhadapan.”

Dandun mengerutkan keningnya, lalu, “Sebenarnya kau siapa, Anak Muda. Kau agaknya seorang senapati. Apakah kau akan melindungi Ki Gede Pemanahan atau sebaiknya akan membantu aku mempercepat tugas ini.”

“Aku tahu bahwa kau mendapat tugas dari seseorang yang kebetulan juga seorang prajurit, atau seorang Senapati Pajang. Kau menjual tenagamu untuk melakukan perbuatan terkutuk ini. Tetapi ketahuilah aku mengemban tugas dari Kanjeng Sultan Hadiwijaya langsung untuk melindungi Ki Gede Pemanahan dan mencari keterangan tentang orang-orang yang telah mengupahmu.”

Dandun tertawa semakin keras. Katanya, “Senapati Muda, kau memang berani. Tetapi jangan menyesal, bahwa karena keterlibatanmu dalam persoalan ini, maka kau pun akan mati terbunuh di tangan kami.”

“Baiklah,” berkata Untara, “jika kau yakin akan dapat membunuh aku, lakukanlah. Tetapi aku pun yakin akan dapat menangkap kalian. Aku ingin kalian tetap hidup, supaya kalian dapat diperas untuk menitikkan keterangan, siapakah yang telah memberimu upah.”

Dandun tertawa terus. Namun tiba-tiba suara tertawanya menurun, lalu, “O, hampir saja aku terpancing. Jika kau sempat memperpanjang pembicaraan, maka mungkin sekali kau akan dapat bantuan dari kawan-kawanmu yang barangkali akan menyusul,” Dandun berhenti, lalu dilambaikannya tangannya sebagai isyarat bagi anak buahnya untuk segera mulai.

Orang-orang yang telah mengepung Ki Gede Pemanahan, Untara, dan para pengawalnya itu mulai bergerak. Perlahan-lahan mereka maju selangkah demi selangkah dengan senjata telanjang di tangan.

Melihat orang-orang yang mengepungnya mulai bergerak, maka Ki Gede dan Untara pun bersiap. Demikian juga para pengawalnya. Namun dalam pada itu, kadang-kadang jauh di dasar hatinya, Ki Gede masih juga bertanya, “Apakah yang terjadi ini bukan sekedar sebuah permainan? Dan Untara adalah salah seorang dari para pemain yang dapat melakukan peranannya dengan baik sekali?”

Tetapi Ki Gede mencoba mengusir, prasangka di hatinya itu. Ia mencoba mempercayai Untara dan dengan demikian Ki Gede akan bekerja dengan senapati itu sepenuhnya.

Sementara itu, bukan saja orang-orang yang mengepung itu telah bergerak maju. Tetapi Dandun dan adik-adiknya pun telah mendekat pula, langsung menghadapi Ki Gede Pemanahan dan Untara.

Ki Gede pun sadar, bahwa ia adalah arah utama dari orang-orang yang telah menunggunya di tepian Kali Opak itu. Karena itu, ia telah menyiapkan dirinya menghadapi segala kemungkinan. Sebagai seorang prajurit yang pernah memegang jabatan tertinggi di Pajang, maka Ki Gede pun tidak merasa gentar sama sekali. Apa pun yang akan terjadi, akan dihadapinya dengan tabah. Apalagi setelah ia tahu pasti, bahwa Sultan Hadiwijaya tidak marah dan tidak mendendam kepada Sutawijaya. Maka rasa-rasanya semua yang harus dihadapinya adalah tugas-tugas yang tidak seberat saat ia berangkat pergi ke Pajang.

Demikian pula agaknya dangan Untara. Meskipun ia sadar, bahwa jumlah orang-orangnya jauh lebih sedikit dari lawan-lawannya, apalagi di antara mereka terdapat empat bersaudara dari kaki Gunung Lawu, namun ia pun bertekad untuk menghadapi mereka dengan tatag. Meskipun demikian ada juga sedikit penyesalan padanya, bahwa ia tidak membawa pengawal adbmcadangan.wordpress.com yang cukup. Demikian tergesa-gesa dan bahwa ia tidak menyangka akan berhadapan langsung dengan orang-orang yang mencegat Ki Gede karena ia hanya sekedar akan menghentikan perjalanannya, maka ia tidak membawa pengawal lebih dari lima orang.

Untara sama sekali tidak menjadi gentar karena dirinya sendiri, tetapi ia lebih memikirkan nasib Ki Gede Pemanahan. Pesan Sultan Hadiwijaya jelas baginya, bahwa Ki Gede harus dihentikan sebelum sampai ke tepian Kali Opak, agar sikap Sultan Hadiwijaya tentang hubungan antara Sutawijaya dan puteri dari Kalinyamat itu tidak dianggap sekedar sebuah jebakan.

Tetapi kini ia sudah berada di depan hidung empat bersaudara dari Gunung Lawu, sehingga ia tidak akan dapat berbuat lain daripada bertempur, sambil menunggu kedatangan prajurit yang dapat dihimpun di Prambanan.

Dengan tegang Untara menunggu. Dandun dan adik-adiknya beserta orang-orangnya semakin lama menjadi semakin dekat. Sebentar lagi ia harus mulai mengayunkan senjatanya dan bertempur sekuat tenaganya.

Namun Untara itu terkejut. Bahkan bukan saja Untara, tetapi setiap orang yang ada di tempat itu, termasuk keempat orang bersaudara dari Gunung Lawu itu, ketika mereka melihat tiba-tiba saja Ki Gede Pemanahan menghentakkan tali kekang kudanya sehingga kuda itu bagaikan meloncat dengan garangnya ke depan.

Dan ternyata bahwa Ki Gede Pemanahan-lah yang telah memulainya lebih dahulu. Dengan dahsyatnya kudanya menerjang keempat orang bersaudara dari Gunung Lawu itu dengan keris yang terhunus.

Serangan yang tidak terduga itulah yang telah menggoncangkan setiap dada. Dandun dan adik-adiknya pun bagaikan kehilangan pegangan, apakah yang akan dilakukan.

Ternyata perhitungan Ki Gede Pemanahan itu dapat dilakukan dengan tepat meskipun tidak berhasil seperti yang diharapkan. Ternyata keempat orang dari kaki Gunung Lawu itu benar-benar bukan orang kebanyakan. Meskipun mereka terkejut bukan buatan, namun mereka masih sempat berbuat sesuatu. Mereka sempat berloncatan menghindari senjata Ki Gede Pemanahan.

Tetapi tidak semuanya dari keempat orang itu dapat membebaskan, dirinya. Ternyata keris Ki Gede masih berhasil menggores punggung salah seorang dari mereka. Adik Dandun yang paling kecil.

Ketika keris itu menyentuh kulitnya, terdengar ia mengaduh. Kemudian sebuah dorongan yang kuat telah melemparkannya sehingga ia jatuh berguling di tanah.

Meskipun dalam waktu sekejap ia berhasil meloncat berdiri namun kemudian, terasa punggungnya sangat pedih. Kekuatannya semakin lama bagaikan dihisap oleh luka di punggungnya itu.

Tetapi ia tetap bertahan. Dengan wajah yang tegang dan gigi gemeretak ia siap menghadapi kemungkinan berikutnya.

Agaknya kedua pengawal Ki Gede menyadari, bahwa pertempuran yang sebenarnya, sudah dimulai. Karena itu mereka pun tidak menunggu lebih lama lagi. Kuda mereka pun segera berderap menyerang orang-orang yang mengepungnya.

Dalam pada itu, selagi kuda Ki Gede Pemanahan sedang melingkar, Untara tidak membiarkan keempat orang itu berhasil mempersiapkan diri dan menyergap Ki Gede. Karena itu, maka ia pun segera mendera kudanya dan menyerang dengan pedangnya sambil berkata, “Ki Gede, sebaiknya Ki Gede meninggalkan pertempuran ini. Serahkan semuanya kepadaku, mumpung Ki Gede kini berada di luar lingkaran.”

Sesaat Dandun dan anak buahnya menjadi agak gugup. Mereka benar-benar tidak menyangka, bahwa justru Ki Gede Pemanahan dan Untara-lah yang telah mulai dengan garangnya dalam waktu yang sangat cepat.

Tetapi Dandun adalah orang yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Itulah sebabnya, maka dalam waktu dekat ia berhasil menguasai dirinya dan anak buahnya.

Namun dalam waktu yang dekat itu, para pengawal Ki Gede Pemanahan dan Untara, telah berhasil mengurangi jumlah lawan mereka meskipun hampir tidak berarti dalam pertempuran yang kemudian berlangsung.

Dalam pada itu, Ki Gede yang mendengar teriakan Untara mengerutkan dahinya. Ia adalah seorang prajurit, bahkan seorang yang pernah menjadi panglima perang Pajang yang disegani.

Karena itulah, maka peringatan Untara itu sama sekali tidak dihiraukannya. Ia tidak akan dapat begitu saja menyelamatkan dirinya, sedang orang lain berada dalam kesulitan. Sehingga dengan demikian Ki Gede Pemanahan sama sekali tidak menghindarkan diri. Meskipun usianya menjadi semakin tua, namun ia masih tetap seorang yang pilih tanding. Seorang yang tidak sekedar mementingkan dirinya sendiri. Apalagi dalam kesulitan selagi mereka bercanda dengan maut.

Dengan demikian, maka Ki Gede Pemanahan yang sudah berada di luar kepungan itu justru sudah siap menyerbu lawannya. Sejenak Ki Gede mempersiapkan diri dan memperhitungkan keadaan. Kemudian kudanya pun berderap dengan lajunya sementara beberapa orang lawannya sedang mempersiapkan dirinya melawan Untara.

Ki Gede yang memiliki pengalaman yang cukup, bahkan berlimpah itu melihat ujung-ujung senjata yang sudah siap menyambut Untara. Sebuah desir yang tajam telah menyentuh jantungnya. Meskipun Untara seorang senapati yang terpercaya, ternyata bahwa umurnya yang masih muda sangat mempengaruhi sikapnya di peperangan. Serangannya terhadap lawan-lawannya saat itu justru telah membahayakan dirinya. Namun Ki Gede pun menyadari bahwa Untara sengaja memancing perhatian lawan-lawannya agar mereka tidak terikat kepada Ki Gede Pemanahan saja.

“Tetapi perbuatan itu adalah perbuatan yang bodoh,” sekilas melintas di pikiran Ki Gede Pemanahan. “Ternyata Untara tidak menyadari, dengan siapa ia berhadapan.”

Itulah sebabnya Ki Gede tidak melepaskan saat yang sekejap. Pada saat Untara terperosok ke dalam bahaya di antara keempat bersaudara dari Kaki Gunung Lawu itu, Ki Pemanahan dengan garangnya telah menyerang mereka dengan kerisnya, sehingga dengan demikian, pemusatan serangan keempat orang itu menjadi pecah.

Namun keempat orang itu masih berhasil menghindari serangan yang menyambar mereka. Mereka sempat meloncat ke arah yang berlawanan sambil merendahkan diri.

Selagi kuda-kuda yang menyambar itu lewat, Dandun yang memiliki pengalaman terbanyak dibanding dengan adik-adiknya segera mengatur diri. Dengan lantang ia berkata kepada adiknya yang kedua, “Hadapi senapati dari Pajang itu, yang lain akan membantu aku membinasakan Ki Gede Pemanahan.”

Waktu yang singkat itu ternyata cukup bagi mereka untuk mempersiapkan diri. Keempatnya kemudian memisahkan diri sesuai dengan perintah yang telah diucapkan oleh Dandun.

Ki Gede Pemanahan yang mendengar perintah itu menjadi berdebar-debar. Bukan karena Ki Gede Pemanahan gentar menghadap tiga orang, sedang yang seorang sudah terluka, tetapi menilik tata gerak yang dilihatnya pada permulaan dari pertempuran itu, ia menganggap bahwa yang seorang itu pun akan menjadi sangat berbahaya bagi Untara. Apalagi jumlah pengawalnya masih belum sebanyak jumlah orang-orang yang mengepungnya.

Meskipun demikian. Ki Gede Pemanahan masih berpengharapan bahwa Untara akan dapat bertahan sampai orang-orangnya yang berada di Prambanan datang.

Demikianlah kemudian terjadi pertempuran yang sengit. Ki Gede Pemanahan yang masih berada di atas kudanya harus melawan tiga orang lawan, sedang Untara seorang diri melawan salah seorang dari keempat bersaudara dari Gunung Lawu itu.

Namun sejenak kemudian mulai nampak, bahwa orang lereng Gunung Lawu itu benar-benar mampu mendesak Untara. Sekali-sekali Untara harus menyingkirkan kudanya menjauhi lawannya yang dapat bergerak dengan cepat sekali.

Sementara itu, Ki Gede Pemanahan sendiri harus menghadapi tiga di antara mereka. Untunglah bahwa ia berhasil melukai yang seorang dari ketiganya, yang ternyata semakin lama menjadi semakin lemah, dan hampir tidak berdaya sama sekali.

Dengan lincahnya Ki Gede masih selalu berhasil menghindarkan dirinya dari serangan kedua lawannya, meskipun setiap kali ia harus selalu menjauhi mereka. Untunglah bahwa kuda Ki Gede Pemanahan itu rasa-rasanya mengerti setiap isyarat yang diberikan oleh Ki Gede, sehingga dalam pertempuran itu kudanya terasa sangat membantunya.

Tetapi dalam pada itu Ki Gede menjadi berdebar-debar melihat Untara. Ternyata, seorang pengikut orang-orang dari kaki Gunung Lawu itu telah mendekati lingkaran pertempuran dan langsung membantu melawan Untara, sehingga dengan demikian Untara segera terlibat dalam kesulitan.

Ki Gede Pemanahan adalah seorang prajurit. Itulah sebabnya maka ia tidak dapat sekedar mementingkan keselamatannya sendiri. Apalagi ia tahu bahwa kedatangan Untara ke tepi Kali Opak ttu adalah sekedar menyelamatkan jiwanya seperti yang diperintahkan oleh Sultan Hadiwijaya.

Dengan demikian, maka perhatian Ki Gede Pemanahan pun mulai terbagi.

Sebenarnya kedua lawan Ki Gede Pemanahan itu cukup berbahaya baginya. Sedang yang seorang dari mereka, yang telah terluka, sudah tidak mampu berbuat apa-apa lagi, selalu bertahan untuk keselamatannya sendiri.

Demikianlah, pertempuran itu pun semakin nampak, bahwa Ki Gede Pemanahan dan Untara beserta para pengawalnya tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi. Apalagi Untara sendri semakin lama semakin terdesak oleh lawannya.

Bahkan kemudian Untara benar-benar berada dalam kesulitan ketika kedua lawannya sempat memisahkan diri dan berani sebelah-menyebelah kuda Untara. Keduanya pun telah siap mengayunkan senjatanya menyerang dari dua arah.

Untara masih akan dapat menangkis serangan itu. Tetapi tidak kedua-duanya dalam saat yang bersamaan dan dari arah yang berseberangan.

Meskipun kudanya berderap terus, namun kedua ujung senjata yang teracu dalam waktu yang bersamaan itu benar-benar sangat berbahaya baginya.

Tidak ada jalan lain bagi Untara selain memanfaatkan kudanya. Karena itulah, maka ia menarik kendali kudanya dan menderanya ke arah salah seorang dari kedua lawannya.

Ternyata Untara berhasil mengusir salah seorang dari mereka. Tetapi orang itu hanya sekedar meloncat selangkah. Ketika Untara sempat menangkis serangan yang seorang lagi, maka orang itu, salah seorang dari keempat saudara dari kaki Gunung Lawu itu, dengan sigapnya meloncat maju dan mengayunkan senjatanya mengarah ke lambung Untara.

Untara sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk mengelak atau menangkis serangan itu, selagi kudanya sedang berderap. Seandainya ia memaksa menarik kekang kudanya ke samping, maka kuda itu akan melonjak atau bahkan akan berguling jatuh.

Karena itu, tidak ada jalan lain bagi Untara kecuali mencoba mengelakkan serangan itu dengan menjatuhkan dirinya dari kudanya. Tepat ketika senjata itu mematuk lambungnya, Untara terpaksa melepaskan kendali kudanya dan menjatuhkan diri ke sebelah lain dari kuda itu.

Untara berhasil membebaskan diri dari ujung senjata itu. Beberapa kali ia berguling, dan dengan lincahnya ia meloncat berdiri. Tetapi pada saat itu, salah seorang dari empat bersaudara itu telah siap menerkamnya sebelum ia sempat memperiapkan dirinya.

Ternyata lawan Untara itu adalah orang yang memiliki kecepatan bergerak yang mengagumkan. Pada saat terakhir agaknya Untara memang sudah tidak mempunyai kesempatan lagi. Ujung senjata lawannya rasa-rasanya sudah siap menembus dadanya, sehingga Senapati Pajang di bagian Selatan itu akan tidak lagi dapat melakukan tugasnya, bukan karena sepasukan prajurit yang telah melawan Pajang, tetapi justru oleh sekelompok penjahat dari kaki Gunung Lawu.

Ki Gede Pemanahan, yang sempat melihat hal itu darahnya bagaikan berhenti mengalir. Tidak ada cara apa pun yang akan dapat dilakukan oleh Untara untuk menyelamatkan dirinya. Untara hanya dapat mencoba menangkis serangan itu. Tetapi itu hanya merupakan perpanjangan sekejap bagi umurnya, karena pada serangan berikutnya Untara yang belum siap sama sekali itu akan segera terdorong oleh sebuah tusukan di dadanya.

Pada saat yang mendebarkan itulah, ternyata Ki Gede Pemanahan yang harus melawan dua dari keempat bersaudara itu, tidak dapat membiarkan hal itu terjadi. Tetapi jarak Ki Gede Pemanahan tidak terlampau dekat dari Untara. Jika ia mendera kudanya meloncat maju, ia akan tertambat.

Karena itu, Ki Gede Pemanahan tidak berpikir lebih panjang lagi. Ia hanya memikirkan kemungkinan untuk menyelamatkan Untara. Karena itu, maka dengan serta-merta Ki Gede Pemanahan telah melontarkan kerisnya ke arah orang yang sudah mulai bergerak menyerang Untara itu.

Serentak terdengar teriakan kedua bersaudara yang sedang menghadapi Ki Gede Pemanahan. Mereka mencoba memperingatkan saudaranya dari sambaran keris Ki Gede Pemanahan. Namun ternyata setiap usaha dari orang itu sudah terlambat. Dengan derasnya keris itu telah menyambar punggung orang yang sudah siap menerkam Untara dengan senjatanya itu.

Terdengar sebuah keluhan tertahan. Orang itu terhuyung-huyung sejenak. Kemudian ia pun jatuh terjerembab di hadapan Untara.

Namun pada saat itu, Untara-lah yang berteriak nyaring. Ia melihat sebuah serangan yang tiba-tiba sekali dan hampir di luar kemampuan penglihatan mata wadag.

Tetapi ternyata Untara pun terlambat. Ki Gede yang sedang memusatkan perhatiannya kepada keselamatan Untara, tidak begitu memperhatikan serangan yang menyambarnya dari salah seorang lawannya yang dibakar oleh dendam yang menyala di hatinya. Bukan saja karena ia mendapat upah untuk membunuh Ki Gede Pemanahan, tetapi Ki Gede ternyata telah membunuh seorang dari mereka dan melukai seorang yang lain.

Ki Gede Pemanahan menyadari keadaannya ketika senjata lawannya sudah hampir menyentuh kulitnya. Dengan sigapnya ia mencoba memiringkan tubuhnya. Tetapi senjata lawannya itu tetap berhasil melukainya di pundak.

Ki Gede Pemanahan berdesis menahan pedih yang menyengat. Ujung senjata orang-orang dari kaki Gunung Lawu itu bukannya ujung senjata kebanyakan. Terasa betapa panas dan pedihnya.

Dalam pada itu, di luar sadarnya oleh gerak naluriah Ki Gede menghentakkan kakinya di perut kudanya. Dan kudanya yang tanggap atas isyarat itulah yang telah menolongnya kemudian, karena pada saat itu yang seorang dari kedua bersaudara yang melawan Ki Gede bersama-sama itu telah siap menyerangnya pula. Namun kuda Ki Gede masih sempat meloncat dan dengan cepat meninggalkan arena.

Beberapa langkah kemudian barulah Ki Gede menyadari keadaannya dan berusaha menghentikan kudanya. Ketika ia berpaling dilihatnya ketegangan yang luar biasa. Yang ada di arena itu adalah Untara dan para pengawal. Sedang di pihak lawan, masih ada dua orang bersaudara dari Gunung Lawu yang ternyata memiliki ilmu yang tinggi. Di dalam pertempuran yang dilakukan berpasangan, mereka memiliki kemampuan yang saling mengisi sehingga seakan-akan kekuatan mereka telah terjalin dan luluh menjadi suatu kekuatan yang mengagumkan. Itulah sebabnya, salah seorang dari mereka berhasil melukai Ki Gede Pemanahan di pundaknya.

Sejenak Ki Gede Pemanahan termangu-mangu. Ia kini sudah tidak bersenjata lagi. Pusakanya sudah terlepas dari tangannya.

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Adalah pantang melepaskan pusaka. Tetapi ia tidak dapat membiarkan Untara mati di peperangan itu, justru pada saat senapati itu berusaha menyelamatkan jiwanya.

Ternyata Ki Gede Pemanahan masih tetap seorang prajurit. Meskipun darah sudah mengucur dari lukanya, namun ia tidak akan beranjak pergi. Ia tidak dapat membiarkan Untara dan para pengawalnya menjadi banten dan mati terkapar di tepi Kali Opak, karena Ki Gede yakin bahwa mereka tidak akan mampu melawan orang-orang dari Gunung Lawu itu.

Jika mereka dibiarkan saja bertempur, maka Untara dan para pengawal itu tentu akan tumpas.

Ki Gede Pemanahan merenung sejenak. Lukanya telah membuatnya sangat marah meskipun sebagai seorang yang sudah kenyang mengalami peristiwa yang dahsyat ia masih tetap dapat berpikir.

Tiba-tiba saja Ki Gede Pemanahan itu meloncat turun dari kudanya. Sejenak ia diam sambil menundukkan kepalanya. Kedua telapak tangannya digosok-gosokkannya yang satu dengan yang lain.

Dan sesaat kemudian, maka Ki Gede itu pun menengadahkan kepalanya. Sejenak ia berdiri mematung. Namun kemudian ia pun meloncat menggapai sebuah ranting pohon cangkring yang tumbuh di pinggir Kali Opak.

Ketika ranting yang besar itu berderak, maka orang yang masih sedang bertempur itu terkejut. Mereka melihat ranting itu patah.

Derak ranting yang patah itu bagaikan derak di setiap jantung. Ternyata dalam kemarahan yang memuncak, Ki Gede Pemanahan telah menunjukkan kekuatannya yang tersimpan di dalam dirinya. Kekuatan yang melampaui kekuatan orang kebanyakan sehingga ia mampu mematahkan ranting pohon cangkring yang cukup besar.

Dengan keheran-heranan orang-orang yang termangu-mangu itu melihat Ki Gede Pemanahan kemudian memotong kayu itu dengan tangannya pula, melemparkan ranting-ramting yang lebih kecil beserta daun-daunnya. Yang tinggal di tangannya kemudian adalah sepotong adbmcadangan.wordpress.com kayu cangkring dengan duri-durinya yang tajam meskipun hanya jarang-jarang. Namun tanpa duri-duri yang jarang itu pun kayu cangkring itu dapat memecahkan tulang kepala jika Ki Gede Pemanahan mengayunkannya sekuat tenaga, bukan sekedar tenaga jasmaniahnya sehari-hari.

Sejenak kemudian selangkah demi selangkah Ki Gede yang sudah terluka itu maju mendekati arena pertempuran.

Dandun, seorang adiknya dan seorang lagi yang telah terluka memandang Ki Gede dengan tanpa berkedip. Mereka adalah orang-orang yang pilih tanding. Namun melihat sikap dan tatapan mata Ki Gede Pemanahan, mereka menjadi berdebar-debar juga.

Namun demikian, Dandun dan adiknya berhasil menguasai perasaannya. Pengalamannya dalam petualangan yang bertahun-tahun membuat mereka berhasil mengendapkan keheranan mereka.

“Kita harus berhati-hati,” berkata Dandun, “tetapi Ki Gede tidak akan dapat melawan kita berdua. Yakinlah”

“Ya. Aku sudah dapat menimbang kemampuannya. Tidak terlampau jauh dari kau. Dengan demikian bersama aku, kita tentu akan menang.”

“Kita biarkan saja senapati itu untuk sementara. Biarlah orang-orang lain yang menyelesaikannya, atau setidak-tidaknya menahannya.”

Sejenak kemudian kedua bersaudara dari Gunung Lawu itu pun segera mempersiapkan diri. Seorang lagi dari mereka yang telah terluka, sama sekali sudah tidak berani lagi mendekati Ki Gede Pemanahan yang meskipun sudah terluka pula.

“Aku terpaksa melakukannya,” geram Ki Gede Pemanahan, “kalian telah mendahului, menitikkan darah dari tubuhku.”

Kata-kata itu tidak terlampau keras. Tetapi rasa-rasanya bahwa ancaman itu benar-benar akan terjadi.

Sejenak kemudian kedua bersaudara itu pun segera memencar. Keduanya ternyata telah matang pula dalam ilmunya. Itulah sebabnya, maka Ki Gede Pemanahan masih harus tetap berhati-hati. Dengan mempergunakan sebatang kayu cangkring yang besar Ki Gede Pemanahan menghadapi lawan-lawannya.

Sementara itu Untara sudah mulai sibuk lagi melawan orang-orang dari Gunung Lawu, sementara para pengawalnya pun telah bertempur dengan gigihnya pula.

Namun dalam pada itu, luka di pundak Ki Gede Pemanahan pun terasa pula pengaruhnya. Semakin banyak ia mengerahkan tenaganya, maka rasa-rasanya darahnya menjadi semakin banyak mengalir.

Tetapi Ki Gede sama sekali tidak menghiraukannya. Meskipun ia menyadari bahwa kedua lawannya itu adalah orang-orang yang memiliki kelebihan, namun ia harus melawannya.

Untara yang sudah kehilangan lawan tangguhnya, kini menjadi agak bebas bergerak. Meskipun demikian orang-orang dari Gunung Lawu yang lain telah melawannya dalam kelompok kecil yang kadang-kadang sangat membingungkannya. Sedang pengawal Untara yang hanya empat orang dan dua orang pengawal Ki Gede Pemanahan itu telah berkurang dengan seorang yang mengalami luka parah dan seorang lagi luka meskipun ringan.

Untara terkejut ketika ia mendengar sebuah jerit melengking. Agaknya Dandun telah mulai menyerang Ki Gede untuk menghadapi kayu cangkring dan agaknya dilambari dengan segenap ilmu yang ada pada Ki Gede Pemanahan, maka Dandun dan seorang adiknya itu pun sampai pada puncak ilmunya pula.

Dengan demikian, maka pertempuran itu pun menjadi semakin sengit. Ki Gede yang terluka itu masih mampu bertempur dengan garangnya. Bahkan rasa-rasanya Ki Gede telah berubah sama sekali. Ia bukan lagi seorang laki-laki yang sareh, tenang dan sabar. Tetapi ia adalah seekor banteng yang sudah terluka menghadapi lawan-lawannya dengan ilmunya yang dahsyat yang dipelajarinya temurun dari perguruan Sela.

Tetapi sebenarnyalah cukup berat bagi Ki Gede menghadapi kedua orang dari kaki Gunung Lawu itu. Keduanya ternyata mampu bergerak dengan cepat dibarengi dengan teriakan-teriakan yang melengking-lengking yang sengaja mereka lontarkan untuk membingungkan pemusatan perlawanan Ki Gede Pemanahan.

Sebenarnyalah bahwa perlawanan Ki Gede Pemanahan, Untara, dan anak buahnya masih terasa sangat berat meskipun dua orang dari keempat bersaudara dari kaki Gunung Lawu sudah dapat dilumpuhkan. Tetapi ternyata bahwa jumlah para pengawal Untara dan Ki Gede pun telah berkurang pula. Apalagi Untara yang mengerahkan segenap kemampuannya, seolah-olah telah melepaskan semua nafasnya sehingga nafasnya itu pun mulai mengalir semakin cepat, sedang darah di pundak Ki Gede Pemanahan pun menitik semakin deras pula.

Dalam puncak kesulitan itulah, Ki Gede Pemanahan melihat tiga orang muncul dari arah Kali Opak. Dengan ragu-ragu ketiga orang itu memperhatikan perkelahian itu dengan saksama.

Sejenak ketiganya termangu-mangu. Mereka maju beberapa langkah lagi untuk meyakinkan penglihatan mereka.

Ternyata bukan saja Ki Gede Pemanahan yang telah melihat mereka. Tetapi Dandun, adiknya, dan Untara pun telah melihat tiga orang dalam pakaian petani biasa sedang menonton perkelahian yang semakin dahsyat itu.

Semula mereka sama sekali tidak menghiraukannya. Tetapi lambat laun kehadiran mereka itu memang sangat menarik perhatian.

Ketiga orang petani yang melihat pertempuran itu sama sekali tidak menjadi ketakutan atau menghindar. Mereka justru semakin lama merayap semakin dekat. Dan bahkan akhirnya agaknya setelah mereka yakin akan penglihatannya, segera berlari-lari mendekat.

Dandun menjadi heran melihat ketiganya. Seperti juga Ki Gede Pemanahan dan Untara berpendapat, bahwa mereka tentu bukan petani dari Prambanan yang pulang dari sawah dan mencuci badan mereka di Kali Opak.

Setelah ketiga orang itu menjadi semakin dekat, maka Ki Gede menjadi berdebar-debar karenanya. Apalagi ketika salah seorang dari mereka segera berteriak, “Ayahanda.”

Salah seorang dari mereka adalah seorang anak muda yang meskipun memakai pakaian petani yang kumal, namun segera dikenal sebagai pemimpin tertinggi di Mataram setelah Ki Gede Pemanahan.

Anak muda itu, Sutawijaya, segera berlari-lari mendekati arena pertempuran. Dengan isyarat ia memerintahkan seorang anak buahnya memanggil kawan-kawannya.

Terdengarlah sebuah suitan nyaring. Suitan itu ternyata telah disahut oleh suara yang lain. Meskipun lamat-lamat namun masih juga terdengar sambutan yang lain lagi.

Dandun menjadi tegang. Apalagi ketika Sutawijaya itu pun, dengan segera menyingsingkan kain panjangnya dan lengan bajunya. Kemudian ditariknya sebuah pedang pendek yang semula tersembunyi di balik bajunya.

“Aku tidak dapat membawa tombak pendekku dalam pakaian ini, Ayahanda. Tetapi dengan pedang aku akan mampu membantu Ayahanda.”

Sutawijaya tidak menunggu jawaban. Ia pun segera terjun ke arena pertempuran diikuti oleh pengawalnya. Namun ternyata bahwa masih berdatangan beberapa orang yang lain berlari-lari naik tebing Kali Opak yang landai.

Ketika Sutawljaya melihat Untara bertempur mati-matian maka ia pun berkata, “Orang-orangku akan segera datang membantumu, Untara.”

“Terima kasih, Raden. Aku juga sedang memanggil orang-orangku dari Prambanan.”

Sejenak kemudian arena itu menjadi semakin kisruh. Dan jumlah yang bertambah-tambah itu ternyata menjadi perhatian Dandun dan adiknya, yang mengumpat-umpat tidak habis-habisnya di dalam hati.

Sejenak pertempuran masih berlangsung terus. Tetapi keadaannya sudah jauh berubah. Apalagi dari kejauhan masih berdatangan satu dua orang pengawal Sutawijaya yang terpisah-pisah.

Tetapi ternyata Dandun cukup cepat berpikir. Ia sadar bahwa sebentar lagi keadaan medan itu akan menjadi berbeda sama sekali, bahkan akan berbalik pihaknyalah yang harus mengalami tekanan-tekanan yang sangat berat.

Karena itu, selagi masih belum terlampau banyak orang-orang yang datang, maka Dandun pun segera mengambil keputusan. Keputusan yang betapa pun liciknya, tetapi menguntungkan baginya. Ia tidak bertanggung jawab apa pun selain untuk mendapatkan upah. Karena itu, maka ia pun tidak bertanggung jawab pula seandainya usahanya membunuh Ki Gede Pemanahan itu gagal. Ia tidak bertanggung jawab seandainya Ki Gede mengusut usaha pembunuhan itu dan menemukan orang-orang yang berjanji akan mengupahnya.

Ia tidak peduli, bahwa orang itu kemudian akan dihukum atau akan mengalami apa pun juga. Ia sudah terlampau banyak berkorban. Dua orang adiknya.

Sejenak ia memandang adiknya yang terluka. Agaknya ia masih sempat berlari meninggalkan arena.

Karena itu, maka ia pun segera memberi isyarat kepada kedua adiknya dengan isyarat sandi. Isyarat yang hanya diketahui oleh mereka bertiga saja.

Sejenak kemudian adiknya yang terluka itu pun telah bersiap-siap. Mereka sudah memperhitungkan sejak semula, bahwa usaha melenyapkan diri yang paling baik adalah menyusup semak-semak yang lebat di tepian Kali Opak arah Selatan menyusur tebing. Meskipun tebing itu tidak begitu curam, tetapi sulit bagi penunggang kuda untuk menembus semak-semak di sela-sela batu karang pada tanah yang miring.

Dandun memang sudah memperhitungkan. Jika ada orang yang melihat perkelahian sehingga orang itu sempat memberitahukan kepada para pengawal yang mana pun juga, ia akan dapat segera menghilang setelah usaha mereka berhasil. Tetapi ia sama sekali tidak menyangka bahwa membunuh Ki Gede Pemanahan adalah pekerjaan yang jauh lebih sulit dari yang mereka perhitungkan.

Demikianlah ketika Dandun memberikan isyarat sekali lagi maka mulailah mereka bergeser mendekati semak-semak. Mereka sama sekali tidak memperhitungkan orang-orangnya yang masih harus bertempur melawan para pengawal. Agaknya orang-orangnya masih belum mengalami banyak kesulitan karena mereka masih cukup. Tetapi satu dua orang pengawal Sutawijaya yang berdatangan akhirnya telah mendesak mereka semakin jauh.

Pada saat yang tepat, Dandun pun segera meloncat masuk ke dalam semak-semak bersama kedua adiknya. Yang seorang terpaksa harus dipapah oleh adiknya yang lain, sedang Dandun sendiri berusaha menahan Sutawijaya yang mendesaknya terus.

Ketika kemudian Dandun lenyap pula di dalam semak-semak, sedang Sutawijaya dengan beberapa pengiringnya akan mengejarnya terus, dan bahkan kemudian Untara pun telah meloncat mendekat pula, terdengar Ki Gede berteriak memanggil.

Sutawijaya tertegun sejenak. Demikian juga Untara dan pengawalnya yang mengiringinya.

“Jangan kau kejar mereka, Sutawijaya,” berkata Ki Gede dengan nada yang dalam.

Sutawijaya memandang ayahnya sejenak. Namun kemudian ia berlari mendekatinya sambil bertanya, “Ayah, bagaimana dengan luka Ayah?”

Untara pun terkejut melihat keadaan Ki Gede Pemanahan. Agaknya darah telah terlampau banyak keluar dari luka itu. Dengan demikian betapa pun tinggi ilmunya, namun kekuatan jasmaniahnya memang terbatas. Dan itu adalah ciri kelemahan manusia. Betapa pun ia memiliki bekal dan kekuatan diarena kekerasan jasmaniah, namun pada batasnya, ia tidak akan mampu melampauinya. Dan ternyata bahwa ilmu yang betapa pun juga tingginya, tidak akan mampu mengatasi kesulitan yang timbul akibat terlampau banyaknya darah yang mengalir dari luka.

Dengan dada yang berdebar-debar, Untara pun kemudian mendekatinya, sementara Ki Lurah Branjangan yang telah hadir pula di tempat itu segera mengambil pimpinan melawan orang-orang dari Gunung Lawu yang masih memberikan perlawanan.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan, “jangan kau kejar orang-orang itu,” suaranya terengah-engah.

“Ayahanda,” Sutawijaya menjadi cemas.

“Untara,” berkata Ki Gede pula, “mereka ternyata memiliki kemampuan yang jauh berada di atas kalian. Kalian tidak dapat mengejar dan berusaha menangkap mereka. Yang akan terjadi tentu akan sebaliknya. Sedang aku sendiri, dalam keadaan seperti ini, tentu tidak akan mungkin pula mengejar mereka.”

Untara dan Sutawijaya termangu-mangu sejenak. Kemudian mereka membantu Ki Gede yang dengan kaki gemetar mencoba duduk di atas sebuah batu.

“Tubuhku menjadi lemah oleh darah yang keluar.”

“Apakah Ayahanda tidak membawa obat untuk memampatkan darah itu?”

Ki Gede menggelengkan kepalanya.

“O, aku membawa Ki Gede,” tiba-tiba Untara berdesis.

Dari kantong ikat pinggang kulitnya, Untara mengambil sekantung kecil serbuk yang berwarna kehitam-hitaman. Serbuk yang dibuat dari sarang laba-laba hijau yang dikeringkan setelah dibasahi dengan getah batang pisang kapok, dicampur dengan sarang tawon telutur bersabuk putih.

Dengan tidak menghiraukan hiruk-pikuk pertempuran, maka Untara pun mencoba membersihkan luka Ki Gede Pemanahan dan mencoba mengobatinya.

Sementara itu, ternyata bahwa kekuatan orang-orang yang berusaha menyingkirkan Ki Gede Pemanahan itu, telah hampir kehilangan kesempatan untuk mempertahankan diri. Apalagi ketika mereka melihat bahwa pemimpin-pemimpin mereka yang masih hidup telah melarikan diri.

Dengan demikian, maka mereka masing-masing tidak menganggap perlu lagi untuk mempertaruhkan nyawa. Jika pemimpin-pemimpin mereka meninggalkan arena, maka mereka tidak lagi mempunyai kewajiban untuk bertahan sampai mati.

Karena itulah, maka meskipun tidak ada di antara mereka yang kemudian memegang pimpinan, namun perasaan yang tumbuh itu rasa-rasanya tidak berbeda yang satu dengan yang lain.

Demikianlah ketika salah seorang dari mereka tidak tahan lagi menghadapi tekanan para pengawal, baik mereka yang datang dari Jati Anom, maupun dari Tanah Mataram, sehingga tanpa menghiraukan apa pun lagi berusaha untuk melarikan diri, maka ternyata yang lain pun tanpa mendapat perintah dari siapa pun juga, segera meloncat berlari meninggalkan arena.

Beberapa orang di antara mereka tidak sempat meloncat lebih dari sepuluh langkah, karena lawan yang mengejarnya berhasil menghunjamkan senjatanya di punggung. Tetapi ada juga di antara mereka yang berhasil melintasi gerumbul-gerumbul perdu dan mencoba melepaskan diri dari kejaran lawannya.

Namun tiba-tiba saja mereka terkejut ketika mereka melihat beberapa ekor kuda yang menghambur datang ke arah mereka. Mereka yang berkuda itu adalah prajurit yang telah dihimpun dengan tergesa-gesa di Prambanan. Karena prajurit yang ditempatkan di Prambanan memang tidak begitu banyak, sehingga mereka memerlukan waktu untuk menghimpun diri.

Tujuh orang dari sepuluh prajurit yang ditempatkan di Prambanan berhasil dikumpulkan dan dengan tergesa-gesa menuju ke tepian Kali Opak. Tetapi agaknya mereka sedikit terlambat. Mereka hanya menemukan lawan yang sedang melarikan diri.

Namun ternyata nasib orang-orang yang melarikan diri itu memang terlampau jelek. Hampir tidak ada kesempatan sama sekali untuk tetap hidup, kecuali satu dua orang yang berhasil bersembunyi sebaik-baiknya di bawah semak-semak dan kemudian merayap semakin menjauhi tepian Kali Opak, yang ternyata telah menjadi neraka bagi mereka itu.

Sejenak kemudian para prajurit dan pengawal itu pun telah berkumpul mengerumuni Ki Gede Pemanahan yang terluka. Dalam kesempatan itu Untara masih sempat mengumpati prajurit-prajuritnya yang terlambat.

“Kalian tidak bersikap seperti prajurit. Kalian bukan perempuan yang akan mengunjungi perhelatan perkawinan, sehingga kalian harus berkemas dan menghias diri setengah hari penuh. Tetapi kalian adalah prajurit. Sekarang kalian melihat akibat kelambatan kalian.”

Para prajurit itu menundukkan kepalanya. Namun pengawal Untara yang berangkat dari Jati Anom dengan tergesa-gesa untuk berusaha menghentikan perjalanan Ki Gede Pemanahan itu pun mencoba menjelaskan, “Mereka bertebaran di beberapa tempat. Kami harus memanggil mereka seorang demi seorang.”

“Kenapa mereka bertebaran?”

“Mereka pada umumnya membantu para petani mengerjakan sawahnya, atau membantu kerja yang lain yang dapat mereka lakukan, karena di dalam keadaan yang rasa-rasanya sudah tenang, mereka tidak mempunyai tugas yang berat.”

“Kalian memang bodoh. Kenapa kalian harus menunggu sampai kalian berkumpul sejumlah tujuh orang? Kenapa kalian tidak pergi lebih dahulu meskipun hanya seorang atau dua orang. Demikian berturut-turut sehingga dengan demikian keadaan akan menjadi semakin baik?”

Tidak seorang pun yang menjawab.

“Jika kalian menghadapi pasukan segelar sepapan dalam gelar perang yang mapan, memang kalian tidak akan mungkin berangkat satu atau dua orang saling mendahului. Tetapi berhadapan dengan perampok-perampok yang apalagi kalian tahu bahwa sudah ada prajurit sebelum kalian yang mendahului, kalian harus cepat berpikir.”

Prajurit-prajurit itu hanya menundukkan kepalanya saja.

“Kedatanganmu sudah terlambat. Jauh terlambat,” geram Untara.

Sutawijaya yang berada di sisi Untara hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia pun akan membentak-bentak demikian jika ia menyaksikan kelambatan pengawal-pengawalnya.

Untara kemudian tidak menghiraukan mereka lagi. Kini ia mendekati Ki Gede Pemanahan. Sambil berjongkok di sebelahnya ia berkata, “Bagaimana dengan Ki Gede kemudian? Apakah Ki Gede ingin beristirahat dahulu di Prambanan?”

Ki Gede yang masih duduk di atas sebuah batu merenung sejenak, lalu sambil menggeleng ia menjawab, “Terima kasih, Untara. Tetapi aku tidak akan berhenti di perjalanan. Aku akan meneruskan perjalananku sampai ke Mataram. Bukankah Mataram sudah tidak jauh lagi?”

“Jaraknya memang sudah tidak begitu jauh Ki Gede. Tetapi Ki Gede masih harus melintasi hutan dan menyeberangi sungai.”

Tetapi Ki Gede tertawa. Katanya, “Aku tidak akan menyeberangi Kali Sore seperti Arya Penangsang.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa Ki Gede adalah prajurit yang keras hati. Karena itu, maka ia pun tidak dapat memaksa lagi. Apalagi ketika Sutawijaya berkata, “Jika sekiranya Ayahanda menghendaki, kami akan menjaga Ayahanda sebaik-baiknya di perjalanan. Tetapi seandainya Ayahanda ingin beristirahat barang sejenak di Prambanan, terserah kepada Ayahanda.”

Ki Gede Pemanahan memandang Sutawijaya dan Untara berganti-ganti. Keduanya adalah anak muda. Keduanya adalah prajurit-prajurit pilihan yang mempunyai harapan untuk menggantikan para senapati yang telah menjadi semakin tua seperti Ki Gede Pemanahan sendiri.

Namun terasa hati Ki Gede Pemanahan justru menjadi pedih seperti luka-lukanya yang menjadi agak pampat.

Kedua anak-anak muda itu rasa-rasanya berdiri di atas ujung yang berseberangan.

“Akulah yang telah memisahkan Mataram dari Pajang,” berkata Ki Gede Pemanahan di dalam hatinya.

Dan baru sejenak kemudian Ki Gede itu berkata, “Untara. Baiklah aku meneruskan perjalananku saja. Aku berterima kasih kepadamu, karena langsung atau tidak langsung kau telah menyelamatkan jiwaku. Alangkah sakitnya mati di antara para perampok yang ganas dan liar itu.”

“Ki Gede,” berkata Untara, “aku sekedar menjalankan tugasku. Tetapi Ki Gede Pemanahan pun telah menyelamatkan aku, dan bahkan karena itu Ki Gede telah terluka.”

Ki Gede tersenyum. Katanya, “Kita telah melakukan tugas kita masing-masing. Kemudian sampaikan ucapan terima kasihku kepada Kanjeng Sultan Hadiwijaya yang telah dengan susah payah mengirimkan utusan kepadamu dan memerintahkan kau dengan pengawal-pengawalmu melindungi perjalananku.”

“Akan aku sampaikan, Ki Gede,” jawab Untara.

“Nah, sekarang aku minta diri. Sutawijaya telah datang bersama beberapa orang pengawal sehingga aku tidak perlu cemas lagi di perjalanan seandainya orang-orang itu masih berusaha untuk melakukan tugas yang dibebankan kepadanya. Karena agaknya mereka akan mendapat upah yang cukup banyak dari orang-orang yang menugaskan itu.”

“Ya, Ki Gede, dan sudah barang tentu aku tidak perlu mencemaskan perjalanan Ki Gede lagi. Namun apabila Ki Gede perlu beristirahat itulah yang harus mendapat perhatian Ki Gede di sepanjang perjalanan. Sebaiknya Ki Gede memperhatikan keadaan Ki Gede yang rasa-rasanya menjadi kekurangan darah.”

“Ya, ya Untara. Aku akan memperhatikan tubuhku yang agaknya tidak mengalami banyak gangguan karena lukaku.

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya kepada Sutawijaya, “Raden, perjalanan masih jauh. Tidak bagi para prajurit dan pengawal, tetapi bagi Ki Gede yang terluka, keadaannya tentu berbeda.”

“Aku akan selalu mengingatnya, Kakang Untara,” jawab Sutawijaya.

Demikianlah maka mereka pun segera berpisah. Ki Gede Pemanahan yang terluka bersama Sutawijaya dan para pengawalnya kembali ke Mataram. Sedang Untara masih harus mengurusi korban yang jatuh di dalam pertempuran itu dan membawa orang-orangnya yang terluka ke Prambanan.

Namun dalam pada itu Untara yang teringat lagi akan kelambatan prajurit-prajuritnya, kembali membentak-bentak dan mengumpat-umpat tidak habis-habisnya. Sedang para prajuritnya hanya dapat mendengarkannya dengan kepala tunduk.

Baru setelah mereka selesai dengan tugas mereka, para pengawal itu pun membawa kawan-kawannya yang menjadi korban dan yang terluka ke Prambanan.

Dalam pada itu perjalanan Ki Gede Pemanahan ke Mataram menjadi semakin lambat. Sutawijaya yang berangkat pagi-pagi benar dari Mataram tanpa membawa kuda-kuda mereka, karena mereka sudah memperhitungkan, bahwa apabila terjadi sesuatu atas Ki Gede, kemungkinan hal itu akan dilakukan oleh orang-orang yang berusaha menyingkirkan Ki Gede di sekitar Alas Tambak Baya atau bahkan di mulut Alas Mentaok. Tetapi mereka sudah berjalan agak lebih jauh, karena mereka telah sampai di daerah Prambanan.

Namun Sutawijaya bertekad, seandainya tidak dijumpainya Ki Gede di Prambanan, maka ia akan terus sampai ke gerbang kota Pajang dengan penyamarannya itu.

Tetapi ternyata Sutawijaya menjumpai ayahandanya di Tepi Kali Opak.

Di perjalanan kembali ke Mataram, Ki Gede yang naik di atas punggung kudanya yang berjalan perlahan-lahan, sempat menceritakan bagaimana ia harus berhadapan dengan orang-orang yang agaknya telah menunggunya di pinggir Kali Opak.

“Siapakah sebenarnya mereka Ayahanda?” bertanya Sutawijaya.

“Mereka tidak penting bagi kita. Tetapi siapakah yang ada di belakang mereka itulah yang harus mendapat perhatian.”

“Satu dua orang dari mereka yang tertangkap hidup itu akan dapat memberikan keterangan.”

Ki Gede menggelengkan kepalanya. Katanya, “Pengalaman kita sudah cukup meyakinkan, bahwa orang-orang itu tidak tahu-menahu kecuali pemimpin-pemimpinnya.”

“Ayahanda melarang aku mengejar orang yang aku anggap sebagai pemimpin mereka.”

“Sudah aku katakan, mereka bukan lawanmu. Kaulah yang akan dijebaknya. Dan kau, meskipun bersama Untara sekali pun tidak akan dapat melawan mereka.”

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Jika ayahnya telah berkata demikian, maka ia tidak dapat membuat penilaian lain karena ayahandanya adalah orang yang memiliki pengamatan yang telah masak.

Namun dalam pada itu, perasaan Sutawijaya mulai diganggu oleh angan-angannya tentang sikap Sultan Hadiwijaya. Tetapi ia tidak berani bertanya kepada ayahnya yang sedang terluka itu, bagaimanakah hasil pembicaraannya saat ia menghadap ayahanda angkatnya untuk membicarakan gadis Kalinyamat itu.

Demikianlah, meskipun lambat, namun iring-iringan itu pun semakin lama menjadi semakin dekat dengan Tanah Mataram. Mereka menyeberangi Alas Tambak Baya dan kemudian Alas Mentaok yang masih belum dibuka.

Di sepanjang perjalanan, iring-iringan itu sama sekali tidak menjumpai gangguan apa pun lagi. Dandun dan anak buahnya sama sekali tidak bermaksud melanjutkan usaha mereka untuk membunuh Ki Gede Pemanahan. Keadaan mereka sudah terlampau parah. Seorang dari keempat saudara itu sudah terbunuh. Yang seorang terluka, sehingga hampir kehabisan darah. Sedang orang-orang yang dibawanya sudah hampir habis musna. Satu dua orang yang berhasil melepaskan diri, berlari tanpa arah.

Karena itulah maka gangguan satu-satunya di perjalanan adalah luka Ki Gede Pemanahan. Meskipun luka itu sudah pampat, tetapi rasa-rasanya tubuh Ki Gede Pemanahan menjadi semakin lemah.

Namun, akhirnya mereka pun sampai juga dengan selamat. Ketika iring-iringan itu memasuki gerbang, maka para pengawal tercenung sejenak, melihat bahwa Ki Gede Pemanahan terluka di pundaknya.

“Siapakah yang berhasil melukai Ki Gede Pemanahan?” bertanya salah seorang di antara para pengawal.

“Anak dungu,” desis kawannya di sebelahnya.

“Siapa? Aku benar-benar tidak mengerti.”

“Tidak seorang pun di antara kita yang mengerti,” jawab kawannya itu.

Pengawal yang mula-mula bertanya itu mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah-olah jawaban kawannya itu telah memberikan kepuasan padanya.

Namun dalam pada itu, di antara para pengawal yang tidak mengerti apakah yang sebenarnya sudah terjadi, ternyata telah tumbuh berbagai tafsiran. Bahkan ada di antara mereka yang saling berbisik, “Apakah kemurkaan Sultan di Pajang sampai pada puncaknya, sehingga langsung dengan tangannya sendiri melukai Ki Gede Pemanahan?”

Kawannya mengerutkan, keningnya. Namun ia pun menyahut, “Kemarahan yang tidak terkendali memang dapat menumbuhkan sikap yang tidak seimbang. Mungkin sekali Kanjeng Sultan di Pajang tidak dapat mengekang diri. Tetapi jika demikian Ki Gede Pemanahan tentu tidak akan dibiarkan kembali ke Mataram”

“Dengan sengaja Ki Gede dilemparkan kembali ke Mataram agar Raden Sutawijaya melihat kedaannya.”

“Apakah ini berarti suatu permulaan dari pemisahan Mataram dari Pajang dan yang sudah barang tentu akan diikuti oleh tindakan-tindakan Pajang lebih lanjut atas Mataram?”

Kawannya menggelengkan kepalanya. Katanya, “Kita tidak mengetahuinya. Banyak kemungkinan dapat terjadi. Tetapi agaknya kita memang harus mempersiapkan diri. Ki Gede Pemanahan telah menjadi kurban, karena Raden Sutawijaya tidak dapat mengendalikan dirinya.”

Namun segala kesimpang-siuran itu pun segera berakhir. Para pengawal yang mengiringi Ki Gede, setelah Ki Gede Pemanahan memasuki halaman rumahnya, maka sebagian dari mereka pun tinggal di regol. Dari mulut merekalah kemudian tersebar cerita tentang Ki Gede Pemanahan yang terluka itu.

“Jadi ada orang yang mampu melukai Ki Gede Pemanahan?” bertanya seorang prajurit hampir tidak percaya.

“Tidak hanya satu orang.”

“Berapa orang?”

“Mula-mula empat orang yang tiada tandingnya. Tetapi seorang dari mereka harus melawan Untara yang datang membantu Ki Gede. Tiga orang itulah.”

“Siapakah mereka bertiga? Tentu orang-orang sakti pula.”

“Ya. Ternyata mereka berhasil melukai Ki Gede Pemanahan,” dan pengawal itu pun menceritakan apa yang dilihatnya dan apa yang didengarnya dari kedua pengawal Ki Gede yang mengikutinya sejak Ki Gede berangkat dari Mataram.

“Jadi luka itu bukan hukuman yang diberikan oleh Kanjeng Sultan.”

“Sama sekali bukan.”

Para pengawal Mataram yang mendengar cerita itu pun menjadi heran. Menurut pengawal yang dua itu, Kanjeng Sultan Pajang tidak berbuat apa-apa, meskipun mereka tidak tahu pasti keseluruhan persoalan.

Namun mereka pun menjadi panas mendengar bahwa ada orang yang telah mencegat Ki Gede dan melukainya. Ki Gede bagi mereka adalah pemimpin, orang tua dan Panglima yang tiada bandingnya.

Tetapi mereka telah dihadapkan pada suatu kenyataan. Dan mereka pun membayangkan bahwa orang-orang yang telah melukai Ki Gede itu pun adalah orang-orang yang luar biasa pula.

“Raden Sutawijaya dan Untara sama sekali tidak boleh mengejar mereka ketika mereka melarikan diri,” berkata pengawal yang telah ikut bertempur.

“Kenapa?”

“Justru karena keduanya tidak akan dapat mengimbangi kemampuan orang-orang itu.”

“Kenapa tidak seluruh pasukan?”

“Yang lain masih harus bertempur dengan pengawal-pengawal orang-orang yang telah melukai Ki Gede itu.”

Orang-orang yang mendengar cerita itu pun mengangguk-anggukkan kepala mereka. Ternyata bahwa di luar Mataram masih ada juga orang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Namun hampir di luar sadar mereka, mereka pun menilai para senapati yang masih ada di Pajang. Di Pajang tentu tidak hanya satu dua orang saja yang memiliki kemampuan seperti Ki Gede Pemanahan. Apalagi para bupati dan adipati yang masih tetap setia kepada Pajang sampai saat itu.

Para pengawal Mataram itu telah didorong untuk menilai keadaan mereka. Menilai kekuatan Mataram dibandingkan dengan Pajang.

“Seperti sebuah mentimun dibandingkan dengan sebuah durian,” berkata para pengawal itu di dalam hatinya

Tetapi adalah suatu kenyataan bahwa Mataram memang sudah berdiri. Mataram semakin lama menjadi semakin ramai dan semakin besar.

“Mataram harus membina dirinya sendiri,” tekad itu agaknya telah bergetar di jantung para pengawal.

Dalam pada itu, Ki Gede Pemanahan langsung memasuki bagian dalam rumahnya. Sutawijaya yang cemas memapahnya dan membawanya ke dalam biliknya. Perlahan-lahan dilayaninya Ki Gede duduk di pembaringannya.

Dengan nafas yang terengah-engah Ki Gede berkata, “Ternyata aku masih sempat sampai ke bilik ini lagi.”

Sutawijaya yang kemudian duduk pula di sebuah dingklik kayu di sebelah Ki Lurah Branjangan pun bergeser mendekat. Katanya, “Sebaiknya Ayah beristirahat sepenuhnya. Ayahanda tidak usah memikirkan apa pun juga yang terjadi. Baik di Mataram maupun di Pajang.”

Ki Gede menganggukkan kepalanya. Namun jawabnya, “Aku tidak apa-apa Sutawijaya. Lukaku tidak begitu parah.”

“Tetapi Ayahanda kelihatan sangat letih.”

“Ya. Aku memang letih sekali.”

“Aku akan memanggil dukun yang paling baik yang ada di Mataram untuk mengobati luka Ayahanda.”

Ki Gede merenung sejenak, lalu, “Lukaku tidak apa-apa, Sutawijaya.”

“Meskipun demikian, tetapi luka itu harus diobati.”

Ki Gede Pemanahan tidak menyahut. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia kemudian berdesis, “Aku akan berbaring.”

Sutawijaya kemudian membantu Ki Gede yang berbaring sambil berdesis. Lukanya tidak begitu terasa sakit. Tetapi karena darahnya yang terlampau banyak mengalir dari luka itu sebelum dipampatkan, maka rasa-rasanya tubuh Ki Gede menjadi lemah sekali.

“Aku akan tidur,” berkata Ki Gede.

“Para pelayan sedang menyiapkan minuman panas dan makan bagi Ki Gede,” berkata Ki Lurah Branjangan.

“Terima kasih,” Ki Gede berdesis, lalu, “aku memang haus sekali.”

Ki Lurah Branjangan pun segera pergi ke luar untuk memanggil pelayan yang tengah menyiapkan makan dan minum Ki Gede Pemanahan.

Ki Lurah Branjangan pun kemudian membawa semangkuk minuman hangat ke dalam bilik dan dengan hati-hati membantu Ki Gede yang bangkit sejenak untuk menghirup minuman yang terasa menyegarkan tubuhnya.

“Apakah Ki Gede juga akan makan?” bertanya Ki Lurah Branjangan.

“Suruhlah menyediakan, Ki Lurah,” sahut Ki Gede.

Ki Lurah Branjangan pun kemudian pergi ke luar bilik itu untuk menyediakan makan bagi Ki Gede pemanahan.

Sementara itu, tinggal Sutawijaya-lah yang masih ada di dalam bilik ayahnya yang sedang berbaring diam itu.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan itu perlahan-lahan, “apakah kau tidak ingin mendengar cerita perjalananku pada saat aku menghadap Kanjeng Sultan Pajang?”

Sutawijaya menundukkan kepalanya. Ada keinginannya untuk mendengar sikap Sultan Pajang, tetapi ada juga keragu-raguan di dalam hatinya.

Namun demikian ia kemudian menjawab, “Tentu, Ayahanda.”

“Baiklah, Sutawijaya. Yang penting, bahwa sikap dan keputusan yang diambil oleh Kanjeng Sultan di Pajang itu jauh berbeda dengan angan-anganku pada saat aku berangkat. Namun justru karena itu, aku telah mengalami kejutan yang tiada taranya.”

Sutawijaya masih tetap menundukkan kepalanya. Ki Gede pun kemudian menceritakan perjalanannya menghadap Sultan Pajang, dan sekaligus sikap dan keputusan yang diambil oleh Sultan Pajang itu.

“Jika aku dihukum, rasa-rasanya kesalahanku telah aku bayar lunas. Tetapi kini Sultan Pajang seolah-olah membiarkan aku selalu dikejar oleh perasaan bersalah dan berhutang budi,” berkata Ki Gede kemudian.

Sutawijaya masih tetap duduk diam di tempatnya.

Ki Gede pun kemudian mengisahkan perjalanannya kembali, dan diceritakannya pula pertempuran yang terjadi di tepi Kali Opak itu sejak permulaan sampai Sutawijaya datang.

Dengan saksama Sutawijaya mendengarkan cerita ayahandanya. Dicobanya untuk mengurai persoalan yang telah terjadi itu.

“Itulah sebabnya aku merasa bahwa hutangku kepada Sultan Pajang rasa-rasanya menjadi semakin bertimbun,” desis Ki Gede kemudian.

Tetapi ternyata Sutawijaya tidak menanggapinya. Bahkan keningnya nampak berkerut membayangkan ketegangan di dalam dadanya.

Ki Gede Pemanahan dapat menangkap sesuatu yang lain di dalam diri Sutawijaya sehingga ia pun kemudian bertanya, “Apakah kau mempunyai penilaian yang lain Sutawijaya?”

Sutawijaya menjadi ragu-ragu. Karena itu, ia tidak segera menyahut. Bahkan rasa-rasanya keringat dinginnya mulai mengalir di tubuhnya. Dengan susah payah ia berusaha untuk mengarahkan angan-angannya sendiri, sesuai dengan tanggapan Ki Gede Pemanahan. Namun setiap kali telah memercik tanggapan yang jauh berbeda.

Ki Gede Pemanahan menunggu sejenak. Namun terasa bahwa memang ada sesuatu yang lain pada anak laki-lakinya itu.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede kemudian, “kenapa kau diam saja?”

“O,” Sutawijaya tergagap. Dengan serta-merta ia ber-desis, “begitulah, Ayahanda.”

“Kau tidak berkata sebenarnya,” tiba-tiba saja Ki Gede bergumam seakan-akan kepada diri sendiri, “ada sesuatu yang berbeda dengan penilaianmu.”

“Tidak. Tidak ada yang lain, Ayahanda.”

“Sutawijaya,” suara Ki Gede menjadi dalam, “aku orang tua, Sutawijaya. Aku dapat membedakan tanggapan seseorang. Jika yang aku katakan sesuai dengan perasaanmu, maka tanggapanmu tentu akan langsung terungkap di dalam kata-kata dan sikapmu. Tetapi agaknya bukan begitu. Sikapmu, kata-katamu dan bayangan wajahmu menunjukkan yang lain itu kepadaku.”

Sutawijaya tidak menjawab. Tetapi kepalanya tertunduk semakin dalam.

“Katakanlah sutawijaya. Aku tetap menganggapmu bahwa, kau sudah cukup dewasa untuk menentukan sikap. Mungkin sikap kita sekarang ada yang berbeda. Itu tentu wajar, karena aku dan kau adalah dua pribadi yang terpisah. Jika sampai saat ini di antara kau dan aku tidak ada perbedaan apa-apa, itu bukan karena setiap persoalan menimbulkan tanggapan yang sama di dalam hati kita, tetapi justru karena kau adalah anakku, yang di dalam beberapa hal tentu akan menurut saja pendapatku dan sikapku daripada bersikap atas pribadimu sendiri.”

Sutawijaya tidak segera menjawab.

“Sutawijaya,” Ki Gede melanjutkan, “daripada sampai masa yang panjang hal ini akan tetap merupakan teka-teki bagiku, maka sebaiknya, katakanlah. Bagaimanakah sikapmu atas persoalan ini.”

Sutawijaya masih ragu-ragu.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede pula, “bukankah kau sudah berani menyatakan perbedaan sikapmu pada saat aku pergi ke Pajang? Kau tetap pada pendirianmu, bahwa kau tidak akan bersedia pergi, dan kau tetap pada sikap itu ketika aku pergi seorang diri dengan dua orang pengawal. Meskipun ternyata kemudian firasatmu telah menuntun kau menyongsong aku pulang, dan menemukan aku dalam bahaya. Tetapi betapa pun juga kau tetap tidak mau menghadap ke Pajang.”

Sutawjaya mengangguk kecil.

“Nah, sekarang kau dapat menyatakan pendapatmu pula?”

“Ayahanda,” suara Sutawijaya dalam, “aku mohon maaf, Ayahanda, bahwa aku memang mempunyai tanggapan lain atas peristiwa yang baru saja terjadi.”

Ki Gede Pemanahan menarik keningnya, lalu katanya, “Bukankah hal itu wajar? Nah, katakanlah.”

“Ayahanda, apakah Ayahanda percaya bahwa Ayahanda Sultan di Pajang benar-benar tidak marah karena peristiwa itu?”

Ki Gede Pemanahan berpikir sejenak. Namun pengalamannya dan pengenalannya atas Sutawijaya segera membimbingnya pada suatu kesimpulan tentang sikap Sutawijaya. Karena itulah maka dadanya menjadi berdebar-debar.

“Apakah yang kau maksudkan sebenarnya, Sutawijaya? Apakah kau menganggap bahwa Sultan Hadiwijaya hanya sekedar berpura-pura saja?”

“Ayahanda. Jika Ayahanda Sultan Hadiwijaya benar-benar tidak marah dan tidak mengambil tindakan apa pun terhadap aku, itu pertanda bahwa Ayahanda Sultan Hadiwijaya tidak adil. Ia menandai pemerintahannya dengan kepentingan diri sendiri.”

“Kenapa mementingkan diri sendiri? Bukankah dengan demikian justru menunjukkan bahwa ia seorang Raja yang berjiwa lapang?”

“Tidak, Ayah. Ia hanya mementingkan diri sendiri. Mementingkan keluarganya sendiri, karena aku adalah anaknya, meskipun sekedar anak pungut. Apakah Sultan Hadiwijaya akan berbuat sama jika yang melakukan itu orang lain? Bukan keluarganya, bukan anak angkatnya?”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Kau tentu belum selesai, teruskan.”

Sutawijaya justru termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Ya, Ayah. Aku memang belum selisai.” Sutawijaya menelan ludahnya, lalu, “Seharusnya seorang raja yang adil menghukum siapa saja yang bersalah.”

“Kau juga minta dihukum?”

“Setidak-tidaknya ada keputusan bahwa aku harus dihukum. Mungkin aku akan melarikan diri atau mengambil sikap yang lain.”

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede, “tentu kau masih ingat, apa yang dilakukan olea Sultan Hadiwijaya semasa ia masih selalu dibayangi oleh perpecahan dan perang saudara. Arya Penangsang telah mengirimkan beberapa orang, bahkan dengan pertanda kebesaran Jipang, pusaka keris yang disebutnya Brongot Setan Kober. Orang-orang itu berhasil memasuki bilik tidur Sultan Hadiwijaya. Tetapi mereka gagal membunuh. Bahkan kemudian mereka dapat ditangkap. Kau ingat?”

“Ayahanda-lah yang menangkapnya.”

“Aku beserta beberapa orang prajurit,” sahut Ki Gede. “Namun ternyata orang-orang itu juga tidak dihukum. Orang-orang itu masing-masing menerima hadiah dari Kanjeng Sultan.”

“Tetapi nilai hadiah itu sangat berbeda dari ujudnya. Hadiah itu justru suatu alat untuk merendahkan Pamanda Arya Penangsang. Justru hadiah itu suatu hukuman yang paling berat bagi Pamanda”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Sutawijaya memang bukan anak-anak lagi. Ia memiliki pengamatan yang tajam. Hadiah bagi orang-orang yang akan membunuh Sultan Hadiwijaya itu memang salah satu cara yang dipergunakan oleh Sultan Hadiwijaya untuk membakar hati Arya Penangsang, yang memang seorang yang mudah sekali menjadi marah dan kehilangan pertimbangan yang bening.

“Karena itu, Ayahanda,” berkata Sutawijaya, “apakah kita yang mengenal Ayahanda Sultan sejak lama dapat menganggap bahwa sikapnya itu sebagai suatu sikap yang jujur?”

Ki Gede termenung sejenak. Namun dengan hati yang suram ia berkata, “Kau benar, Sutawijaya. Memang saat itu Sultan Hadiwijaya sengaja melemparkan tantangan bagi Arya Penangsang karena kemarahannya, bahwa Arya Penangsang telah mencoba membunuhnya. Tetapi aku kira kali ini ia berbuat lain. Aku melihat pengampunan yang tulus memancar dari sorot matanya.”

“Adalah sangat sulit membedakan, yang manakah yang dinyatakan dengan tulus dan jujur, dan yang manakah yang sekedar untuk memancing pertengkaran seperti yang dilakukan terhadap pesuruh Arya Penangsang. Sureng yang mendapat tugas untuk membunuhnya itu memang tidak berharga sama sekali bagi Ayahanda Sultan sehingga mereka tidak perlu dibunuhnya, dan justru dipergunakan sebagai alat untuk memancing kemarahan Pamanda Arya Penangsang.”

“Sutawijaya,” suara Ki Gede menurun, “kau terlampau berprasangka terhadap ayahandamu. Bagi kita Sutawijaya, apakah keuntungan Sultan untuk berbuat dengan pura-pura. Pada masa pertentangan antara Pajang dan Jipang, keadaan belum meyakinkan seperti sekarang ini. Pajang belum terlampau kuat, dan Jipang masih nampak besar. Sikap para Adipati masih belum pasti, sehingga Sultan Hadiwijaya harus sangat berhati-hati menghadapi Jipang. Tetapi tidak dengan adbmcadangan.wordpress.com Mataram. Mataram tidak lebih dari sebuah ranti masak yang berada di sisi sebuah durian. Jika durian itu berguling, maka akan lumatlah buah ranti itu.”

“Tidak, Ayahanda. Di Mataram ada Ayahanda. Dan Ayahanda adalah orang yang sangat disegani di Pajang. Para Adipati mengakui kelebihan Ayahanda sebagai seorang panglima. Dan kini Ayahanda masih tetap merupakan hantu bagi mereka dan akhirnya juga bagi Pajang. Itulah sebabnya, maka Ayahanda-lah yang pertama-tama harus disingkirkan.”

“Maksudmu?”

“Ayahanda. Semua pihak berusaha untuk menarik Ayahanda. Orang-orang Panembahan Agung pun berusaha untuk memperalat Ayahanda. Mereka ingin menangkap aku hidup-hidup. Bukan karena aku mereka anggap orang penting, tetapi mereka ingin memeras Ayahanda dengan mempergunakan aku sebagai taruhan.”

Ki Gede Pemanahan tidak segera menyahut. Karena itu Sutawijaya berkata selanjutnya, “Ayahanda, maafkan aku, Ayahanda, bahwa aku mempunyai prasangka buruk terhadap sikap Ayahanda Sultan Hadiwijaya terhadap Ayahanda Pemanahan.”

Ki Gede masih merenung sejenak. Namun kemudian yang nampak pada sikap yang keras dari anak laki-lakinya itu adalah kesalahannya sendiri. Kesalahan Ki Gede Pemanahan sendiri. Pada saat perasaannya melonjak tidak terkendali, dan dengan diam-diam ia meninggalkan Pajang kembali ke Sela, maka pada saat itulah ia mulai meracuni hati Sutawijaya dengan ketidak-percayaan lagi kepada ayahanda angkatnya, Sultan Hadiwijaya.

Dengan demikian maka penyesalan itu terasa semakin pedih menusuk hatinya.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan kemudian, “aku sudah dapat membaca sikap dan tanggapanmu. Seperti yang dilakukan terhadap beberapa orang petugas yang dikirim oleh Arya Penangsang untuk membunuh Sultan itulah maka ia bersikap sekarang. Namun seandainya ia berhasil memancing kemarahanmu, apakah yang dimaksudkannya? Apakah ia mengharap kau marah, lalu dengan serta-merta mengangkat senjata untuk melawan Pajang, sehingga dengan demikian Sultan mempunyai alasan untuk menggilas Mataram yang sedang tumbuh ini?”

Raden Sutawijaya termangu-mangu sejenak. Ada sesuatu yang masih tersangkut di dalam dadanya. Tetapi ia ragu-ragu untuk mengucapkannya.

Ki Gede Pemanahan menangkap keragu-raguan itu. Karena itu maka katanya, “Sutawijaya, jika masih ada persoalan yang belum kau katakan, katakanlah sampai tuntas. Aku akan mencoba mengerti.”

Sutawijaya tidak segera menyahut. Namun nampak wajahnya menjadi tegang.

Untuk beberapa saat keduanya saling berdiam diri. Sutawijaya menjadi sangat gelisah. Ia ragu-ragu untuk menentukan sikap. Apakah ia akan mengatakan tanggapannya atas semua peristwa yang telah terjadi atau tidak.

Dalam pada itu, sebelum Sutawijaya mengatakan sesuatu. Ki Lurah Branjangan pun kemudian masuk ke dalam bilik itu sambil berkata, “Ki Gede. Makan telah tersedia. Apakah para pelayan harus membawarya masuk ke dalam bilik? Aku kira itu akan lebih baik bagi Ki Gede. Ki Gede tidak usah pergi ke ruang dalam, karena agaknya Ki Gede masih nampak terlampau letih.”

Ki Gede termenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah, Ki Lurah. Suruhlah para pelayan membawa makanan itu masuk. Aku akan makan di dalam bilik ini.”

Ki Lurah Branjangan pun kemudian keluar untuk memanggil para pelayan. Sementara itu, Sutawijaya diam saja sambil menundukkan kepalanya. Ada sesuatu yang masih terasa menyangkut di dalam dadanya

Sejenak Ki Gede Pemanahan berdiam diri. Ia menunggu agar Sutawijaya mengatakan sesuatu yang masih tersisa dihatinya. Tetapi Sutawijaya tidak mengatakan sesuatu.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede, “masih ada waktu sebelum aku makan.”

Sutawijaya masih saja ragu-ragu sehingga nampaklah pada sikap dan wajahnya bahwa sesuatu memang masih tersangkut didadanya,

“Katakanlah, Sutawijaya,” desak Ki Gede.

“Ayahanda,” berkata Sutawijaya, “memang masih ada sesuatu di hatiku. Tetapi aku ragu-ragu mengatakannya. Mungkin aku salah. Tetapi aku seakan-akan melihat, bagaimana hal itu sudah terjadi.”

Ki Gede Pemanahan memandang wajah anaknya sejenak, lalu, “Sebutlah.”

Sutawijaya memandang pintu sejenak seakan-akan ia tidak ingin ada orang yang yang mendengarnya, meskipun ia Ki Lurah Branjangan sekalipun.

Baru setelah ia yakin tidak ada seorang pun diluar pintu, maka ia pun berkata, “Ayahanda, seakan-akan aku melihat, bahwa yang terjadi di Prambanan itu adalah akibat dari sikap Ayahanda Sultan Hadiwijaya.”

“Sutawijaya,” desis Ki Gede Pemanahan dengan wajah yang tegang. Bahkan di luar sadarnya ia berusaha bangkit. Namun kemudian ia terbaring lagi dengan lemahnya.

Sutawijaya bergeser maju. Sambil menahan lengan Ki Gede ia berkata, “Ayahanda. Sebaiknya Ayahanda tetap berbaring.”

“O,” Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian dengan nafas terengah-engah, seakan-akan ia baru saja selesai bertempur melawan orang-orang dari kaki Gunung Lawu, “katakan Sutawijaya.”

Sutawijaya menjadi semakin ragu-ragu. Namun ayahandanya mendesak, “Katakanlah, supaya aku tidak keliru menafsirkan dugaanmu itu.”

“Ayahanda,” berkata Sutawijaya, “memang pada bentuk lahiriahnya Ayahanda Sultan Hadiwijaya memaafkan segala kesalahanku. Tetapi mustahil bahwa Ayahanda demikian saja melupakan gadis dari Kalinyamat itu.”

“Jadi?”

“Ayahanda sudah mengatur semuanya. Juga orang yang berada di Kali Opak itu.”

Ki Gede Pemanahan diam bagaikan membeku. Hatinya serasa dibebani oleh berbagai macam persoalan yang hampir tidak dapat dipikulnya.

“Ayahanda, itulah sebabnya maka Untara hanya datang dengan pengawalnya yang sangat terbatas. Sedang pengawal-pengawalnya yang lain baru menyusul setelah terlambat.”

“O,” Ki Gede menekan dadanya.

“Maaf, Ayahanda. Aku tidak tahu, apakah aku benar. Tetapi seolah-olah aku yakin, bahwa sebenarnya Ayahanda Sultan sejak semula sudah tidak bersikap jujur terhadap kita.”

“Kenapa kau berpendirian begitu?”

“Ayahanda. Kenapa Ayahanda tidak segera memenuhi janjinya kepada kita. Hanya kepada kita, sedangkan janjinya yang lain sudah dipenuhi? Kenapa kitalah yang harus menerima daerah yang masih berupa hutan belukar dan apalagi Alas Mentaok. Kenapa bukan daerah yang sudah terbuka seperti Pati. Dan kenapa justru Pamanda Penjawi-lah yang menerima daerah itu lebih dahulu dari kita, itu pun jika Ayahanda Pemanahan tidak memaksa, daerah ini tidak akan diserahkannya.”

“Sutawijaya.”

“Dan kini, semuanya sudah sampai ke puncaknya. Memang aku merasa bersalah. Aku telah berhubungan dengan gadis yang sebenarnya telah disengker oleh Ayahanda Sultan. Tetapi, apakah seimbang, bahwa karena gadis itu Ayahanda Pemanahan harus dilenyapkan?”

“Kau salah Sutawijaya, kau salah,” suara Ki Gede agak mengeras. Namun kemudian suara menurun lagi, “Kau mempunyai tangkapan terlampau jauh atas sikap ayahandamu Sultan Pajang. Barangkali sudah pernah aku katakan kepadamu, bahwa aku menyesali perbuatanku yang tergesa-gesa pada waktu itu.”

“Maksud Ayahanda?”

“Sebenarnya buat apa Sultan mengingkari janjinya? Apalagi atas Alas Mentaok, sedangkan Pati yang ramai itu pun sudah diserahkannya kepada Adi Penjawi,” berkata Ki Gede. “Sutawijaya, barangkali sudah pernah aku katakan pula, bahwa sikap Sultan itu justru karena ia menganggap kau benar-benar sebagai anaknya. Bahwa bukan saja Alas Mentaok, tetapi mungkin sudah ada tempat yang diperuntukkan bagimu, bagi puteranya.”

“Tentu tidak, Ayahanda. Aku hanya sekedar anak angkatnya.”

“Tetapi kenapa kau berprasangka sampai sedemikian jauh, Sutawijaya.”

“Semuanya itu berdasarkan atas pengenalanku terhadap sifat dan sikap Ayahanda Sultan Hadiwijaya selama ini.”

“Tetapi kau salah sama sekali. Kali ini pun kau salah menilai keadaan seperti kesalahan yang pernah aku lakukan, sehingga aku meninggalkan Pajang. Untara adalah seorang prajurit jantan. Seandainya semuanya itu hanyalah permainan saja. Untara tidak akan sampai pada ujung nyawanya karena hampir saja ia terbunuh. Sehingga karena itulah maka pusakaku aku lepaskan dan mematuk salah seorang dari lawan Untara yang garang itu.”

Sutawijaya menundukkan kepalanya. Tetapi seakan-akan ia sama sekali tidak mempercayainya, ia tetap menganggap semuanya itu sebagai suatu permainan yang sempurna.

Itulah yang membuat Ki Gede Pemanahan sangat bersedih.

Ki Gede sudah dapat menangkap seluruh tanggapan Sutawijaya atas peristiwa yang terjadi itu. Sutawijaya menganggap bahwa sikap Sultan Hadiwijaya, yang seakan-akan memaafkan kesalahannya itu, sebagai sifat berpura-pura. Sementara itu, ia menyiapkan sekelompok orang yang harus membunuh Ki Gede Pemanahan. Untara harus berpura-pura menolongnya, tetapi prajuritnya mengalami kelambatan sehingga Ki Gede tidak dapat diselamatkan. Kemudian Sultan mengharap Sutawijaya menjadi marah dan dengan serta-merta mengangkat senjata melawan Pajang.

Dengan demikian, seandainya Sutawijaya dan Mataram yang baru berkembang itu hancur, maka persoalannya bukan semata-mata karena persoalan gadis yang seakan-akan telah dicuri oleh Sutawijaya itu.

Ki Gede Pemanahan berdesis tertahan. Bukan karena pedih lukanya, tetapi pedih di hatinya.

Sementara itu, maka Ki Lurah Branjangan pun memasuki ruangan itu bersama para pelayan yang telah menyediakan makan bagi Ki Gede Pemanahan.

Tetapi ternyata Ki Gede sama sekali tidak berminat untuk makan. Ketika dipaksanya dirinya bangkit perlahan-lahan dilayani oleh Ki Lurah Branjangan, dan menyuapi mulutnya dengan sesuap nasi, rasa-rasanya nasi itu tidak dapat lewat di kerongkongannya.

Sambil menggelengkan kepalanya Ki Gede berkata, “Aku belum ingin makan.”

“Ki Gede,” berkata Ki Lurak Branjangan, “sebaiknya Ki Gede makan meskipun hanya sedikit. Dengan demikian kekuatan tubuh Ki Gede akan menjadi bertambah baik.”

“Aku sudah mengerti, Branjangan. Aku juga sering menasehati demikian itu kepada orang lain yang sedang sakit. Tetapi ternyata mereka pun tidak dapat memaksa diri menyuapi mulut mereka.”

Ki Lurah Branjangan tidak dapat memaksa lagi. Karena itu ia pun kemudian duduk saja sambil merenungi Ki Gede yang sedang sakit.

Namun bagi Ki Lurah Branjangan, terasa bahwa sebenarnya Ki Gede tidak sedang menahan sakit di lukanya. Nampaknya Ki Gede justru tidak menghiraukan lukanya sama sekali.

“Tentu ada sesuatu yang mengganggu perasaannya,” berkata Ki Lurah Branjangan di dalam hati. “Agaknya perasaannya terasa lebih sakit dari lukanya itu sendiri.”

Tetapi Ki Lurah Branjangan tidak berani menanyakannya kepada Ki Gede Pemanahan maupun kepada Raden Sutawijaya, karena ia tahu, bahwa persoalannya tentu berkisar kepada gadis Kalinyamat itu.

Setelah sejenak mereka saling berdiam diri, maka Ki Gede Pemanahan pun kemudian berkata, “Ki Lurah, suruhlah para pelayan menyingkirkan makanan itu. Tetapi biarlah mangkuk minuman itu tetap di situ.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain.

Setelah para pelayan menyingkirkan makanan yang seakan-akan tidak disentuh oleh Ki Gede, maka Ki Gede pun kemudian berkata, “Aku akan mencoba untuk beristirahat. Karena itu, tinggalkan aku sendiri.”

Ki Lurah Branjangan dan Raden Sutawijaya pun kemudian meninggalkan bilik itu. Dengan hati yang bimbang Sutawijaya berdiri sejenak di muka pintu. Namun kemudian ia pun melangkah pergi.

Sejenak anak muda itu merenungi dirinya sendiri. Ia pun menjadi heran, kenapa kepercayaannya kepada Ayahanda Sultan Hadiwijaya itu seolah-olah telah lenyap sama sekali. Sejak ayahandanya, Ki Gede Pemanahan memutuskan untuk meninggalkan Pajang, rasa-rasanya setiap tindakan, setiap keputusan dan kata-kata dari Sultan Hadiwijaya tidak lagi dapat dipercayainya.

Raden Sutawijaya terkejut ketika Ki Lurah Branjangan menggamitnya. Kemudian dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah yang telah membuat Ki Gede nampaknya menjadi semakin murung?”

Raden Sutawijaya tidak segera menjawab.

“Apakah aku tidak boleh mendengarnya?”

Sutawijaya masih ragu-ragu. Namun kemudian ia bertanya, “Ki Lurah. Apakah masih ada sisa kepercayaan kita kepada Ayahanda Sultan Hadiwijaya?”

Ki Lurah menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak mengerti maksud Raden.”

Raden Sutawijaya menarik nafas. Katanya, “Aku kira kau menggelengkan kepalamu karena kau sependapat dengan aku.”

“Aku masih belum mengerti.”

“Ki Lurah. Apakah kita masih dapat menganggap Sultan Hadiwijaya itu mengambil keputusan dengan jujur sejak kita meninggalkan Pajang dan membuka Alas Mentaok.”

“Kenapa tidak, Raden.”

“Jadi kenapa kau meninggalkan Pajang?”

“Raden,” berkata Ki Lurah Branjangan, “Sultan Hadiwijaya bukannya tidak lagi dapat dipercaya. Tetapi menurut pendapatku. Sultan Hadiwijaya itu sudah berhenti. Batas kebesaran Pajang sudah tidak akan lagi berkembang. Maksudku, bukannya luas daerahnya, atau kekuasaannya atas rakyatnya. Tetapi Pajang tidak dapat membangun dirinya sendiri. Karena Sultan telah berhenti, maka gairah rakyatnya pun berhenti. Pajang tidak lagi berusaha membangun dirinya. Bendungan yang pecah tidak lagi mendapat perbaikan. Jalan yang terputus dibiarkannya. Penduduk yang berkembang tidak diimbangi dengan perkembangan tanah persawahan dan pategalan. Karena itulah, maka aku mencari adbmcadangan.wordpress.com tempat yang lebih hidup. Lebih banyak bergerak dan menggelegak. Dan aku menemukan tanah yang baru tumbuh ini. Tanah Mataram.”

Raden Sutawijaya termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Ki Lurah Branjangan dengan wajah yang tegang. Namun kemudian Raden Sutawijaya itu melontarkan tatapan matanya ke kejauhan.

“Paman,” berkata Raden Sutawijaya dengan nada datar, “ternyata aku mempunyai pendapat yang lain dengan Paman dan ayahanda. Tetapi aku tidak akan berpendapat bahwa pendapatkulah yang benar. Untuk sementara biarlah kita ada di dalam perbedaan itu. Mungkin di saat lain pendapat kita akan bertemu.”

“Maksud Raden?” bertanya Ki Lurah Branjangan.

“Aku meragukan kejujuran Ayahanda Sultan Hadiwijaya.”

“Itu wajar sekali, Raden,” berkata Ki Lurah Branjangan, “tetapi sebaiknya Raden memperhatikan perkembangannya lebih lanjut.” Ki Lurah Branjangan berhenti sejenak, lalu, “Maksud Raden tentang keputusan Ayahanda Sultan Hadiwijaya?”

Raden Sutawijaya tidak segera menjawab.

“Mungkin memang belum saatnya Raden mengatakannya kepadaku. Tetapi agaknya ada sesuatu yang kurang sesuai antara Raden dan Ayahanda Ki Gede Pemanahan.”

Raden Sutawijaya masih tetap berdiam diri.

“Baiklah, Raden menenangkan hati. Aku juga akan menghadap ayahanda dan mohon agar Ki Gede mencoba mengendapkan perasaannya. Ki Gede adalah seorang tua yang memiliki pengalaman lahir dan batin yang cukup luas.”

Raden Sutawijaya masih saja tidak menyahut.

“Sudahlah, Raden. Silahkan beristirahat. Raden pun tentu juga letih.”

Sutawijaya kemudian ditinggalkan oleh Ki Lurah Branjangan seorang diri. Hatinya yang memang sedang risau itu rasa-rasanya menjadi semakin risau. Ia diombang-ambingkan oleh gejolak perasaannya yang kadang-kadang tidak sejalan dengan nalarnya.

Tiba-tiba saja Raden Sutawijaya teringat kata-kata Ki Lurah Branjangan. Betapa pun juga, kelemahan ayahanda Sultan memang pada kelemahannya kini. Ia seakan-akan memang telah berhenti. Ia telah dijerat oleh kamukten yang membuatnya kehilangan gelora di masa mudanya.

Selagi masih muda, Sultan Hadiwijaya yang juga disebut Mas Karebet, dan juga dinamai Jaka Tingkir itu memiliki gelora yang bagaikan menyala-nyala di dalam dadanya. Seorang anak muda yang meledak-ledak dalam pencaharian dan pencapaian. Dan itulah yang telah menarik perhatian Sultan Trenggana dan mengangkatnya menjadi hamba yang sangat dekat padanya.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Seakan-akan ia telah mengulangi apa yang terjadi atas Sultan Hadiwijaya semasa mudanya. Dengan diam-diam Jaka Tingkir telah berhubungan dengan puteri Sultan Trenggana di Demak.

“Tetapi Sultan Trenggana mengusirnya dengan marah,” geram Raden Sutawijaya di dalam hatinya, “kenapa Sultan Hadiwijaya tidak mengusirku? Apalagi gadis itu bukan sekedar anaknya, tetapi justru akan diperisterikannya.”

Raden Sutawijaya menghentakkan tangannya. Dan ia pun berkata di dalam hatinya. “Jaka Tingkir yang juga disebut Mas Karebet itu dapat kembali ke istana karena ia berhasil menunjukkkan kemampuannya. Bukan sekedar karena belas kasihan. Apalagi belas kasihan yang tidak jujur dan sekedar merupakan perangkap.”

Tetapi Sutawijaya menjadi berdebar-debar. Ia mulai ragu-ragu atas prasangkanya sendiri, bahwa yang terjadi adalah perangkap semata-mata.

“Persetan,” Raden Sutawijaya menggeram, “apa pun yang terjadi, tetapi Mataram harus menjadi lanjutan dari gejolak dan gairah hidup yang pernah terpancar pada permulaan masa kekuasaan Sultan Hadiwijaya. Mataram tidak akan membiarkan Pajang berhenti. Seandainya Pajang akan berhenti, maka harus ada usaha agar perjuangannya dapat dilanjutkan, Mataram harus membangun dirinya menjadi negara besar. Lebih besar daripada Pajang tanpa menyerap kekuasaan yang ada di Pajang dengan paksa.”

Terasa jantung Raden Sutawijaya bergetar. Ia tidak lagi ingin dikungkung oleh perasaan kecewa dan gusar karena belas kasihan atau karena perangkap yang telah dipasang oleh Sultan Pajang. Yang penting baginya, seperti yang dikatakan oleh Ki Lurah Branjangan, adalah membangun Mataram di segala segi kehidupannya.

Tanpa sadar Raden Sutawijaya berdiri. Dipandanginya dedaunan hijau di halaman. Bayangan batang pepohonan yang bergerak-gerak disentuh angin.

“Di sinilah aku sudah mulai,” berkata Sutawijaya di dalam hatinya, “dan kerena itu, aku tidak boleh berkisar. Apa pun yang akan terjadi.”

Tekad itulah yang kemudian seakan-akan selalu memanasi darahnya. Darah mudanya yang menggelegak bagaikan mendidih.

“Darah ini tidak boleh membeku seperti darah Ayahanda Sultan Hadiwijaya betapa pun besar usahaku yang akan berhasil nanti. Mataram harus berkembang terus. Mataram harus membangun dirinya tanpa mengenal batas waktu.”

Dalam pada itu, peristiwa yang terjadi di tepi Kali Opak itu pun menjadi bahan pembicaraan di Jati Anom. Setelah Untara kembali bersama prajurit-prajuritnya, dan bahkan dengan beberapa orang korban, maka timbullah berbagai tanggapan atas kejadian itu.

Namun ada di antara mereka yang memang sengaja ingin mengeruhkan keadaan. Orang-orang itulah yang menyebarkan cerita ngayawara. Cerita yang sengaja untuk membakar hati orang-orang Pajang dan terlebih-lebih mereka tidak senang melihat Mataram mulai berkembang. Cerita yang dianyam dan diramu menjadi sebuah cerita yang menarik dalam susunan yang sempurna.

Untara sendiri terkejut ketika pada suatu saat seorang perwira bawahannya datang kepadanya dan bertanya, “Bagaimanakah yang sebenarnya terjadi di Kali Opak itu?”

Untara tidak segera menjawab. Tetapi karena wajah perwira itu nampak bersungguh-sungguh, maka ia pun kemudian menjawab, “Seperti yang pernah aku ceritakan. Bukankah aku pernah mengatakan kepadamu dan kepada kawan-kawan kita semua.”

Perwira itu mengangguk-angguk. Namun ada sesuatu tersembunyi di balik tatapan matanya.

“Apakah ada sesuatu yang kurang mapan?” bertanya Untara.

“Kakang Untara,” berkata perwira itu, “di antara kita telah jatuh korban. Untunglah beberapa korban itu bukan Kakang Untara sendiri, meskipun Kakang Untara hampir menjadi korban pula.”

“Ya,” sahut Untara dengan ragu-ragu.

“Kakang. Bukan maksudku untuk mengaburkan cerita Kakang Untara. Tetapi sementara orang mempunyai cerita lain. Apalagi di Pajang. Bukankah Kakang tahu, bahwa aku baru saja datang dari Pajang.”

“Apa kata orang-orang yang ada di Pajang?”

“Seakan-akan mereka tidak percaya bahwa orang-orang yang berada di Kali Opak itu adalah penjahat yang berusaha membinasakan Ki Gede Pemanahan. Mereka berpendapat, bahwa orang-orang itu sebenarnyalah orang-orang Ki Gede Pemanahan sendiri.”

“Ah,” desis Untara, “tidak. Aku tahu pasti. Mereka adalah orang-orang yang menghendaki kematian Ki Gede Pemanahan.”

“Darimana kau tahu?”

“Aku mendapat perintah langsung untuk menyelamatkan Ki Gede.”

“Apakah itu bukan sekedar pancingan saja agar kau dengan tergesa-gesa datang ke Kali opak.”

“Maksudnya?”

“Kau adalah senapati yang disegani di daerah ini. Kau adalah seorang prajurit yang kini bertanggung jawab atas daerah Selatan. Dan daerah Selatan ini adalah jalur lurus antara Pajang dan Mataram.”

Untara mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menggeram, “Setan. Aku tahu maksudnya. Cerita itu tentu mengatakan bahwa Ki Gede Pemanahan telah menyuruh seseorang memberitahukan kepadaku, seolah-olah perintah langsung dari Kanjeng Sultan Hadiwijaya. Hal itu tidak sulit bagi Ki Gede, karena Ki Gede adalah bekas Panglima tertinggi di Pajang. Kemudian Ki Gede menyiapkan sekelompok orang-orang yang siap menunggu di pinggir Kali Opak. Dengan demikian, kematianku seakan-akan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Ki Gede. Bahkan justru pada saat aku berusaha menyelamatkan Ki Gede.”

“Ya, begitulah kira-kira.”

Series 80

“NAH, JIKA KAU meragukan kebenarannya, kau dapat menemui utusan itu. Ia masih hidup sampai sekarang. Orang itu tentu akan dapat mengatakan bahwa ia ditugaskan langsung oleh Kanjeng Sultan atas dasar laporan petugas sandi. Jika kau masih belum yakin, ajaklah orang itu menghadap Kanjeng Sultan, agar kau tahu pasti bahwa perintah itu datang dari Kanjeng Sultan.”

Perwira itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Jadi apakah maksud cerita yang menyimpang dari peristiwa yang sebenarnya itu, Kakang?”

“Kau tentu tahu, bahwa ada orang-orang yang dengan tajam menentang berdirinya Mataram. Aku tahu, bahwa mereka selalu berusaha untuk membakar permusuhan antara Pajang dan Mataram. Setiap persoalan yang dapat dipergunakan sebagai alasan, tentu akan dipergunakannya. Dan kini, aku pula yang disangkutkannya.” Untara berhenti sejenak, lalu, “Tetapi bantulah aku. Ceritakan yang sebenarnya terjadi. Jika cerita yang tidak benar itu sudah terlampau jauh beredar, biarlah aku sendiri akan memberikan keterangan kepada para perwira dan prajurit, setidak-tidaknya yang ada di bawah kekuasaanku.”

Perwira itu mengangguk. Namun masih juga nampak kebimbangan di sorot matanya. Tetapi agaknya ia dapat mengerti keterangan yang diberikan oleh Untara itu.

“Aku sendiri adalah seorang prajurit,” berkata Untara, “secara pribadi aku tidak mempunyai persoalan dengan berdirinya Mataram. Tetapi jika aku mendapat perintah untuk berbuat sesuatu atas Mataram, maka sebagai prajurit aku akan melaksanakannya.”

Perwira itu mengangguk sekali lagi.

“Nah, lupakan cerita itu. Aku tahu pasti, bahwa hal itu tidak benar. Ki Gede Pemanahan sendiri justru terluka karenanya. Jika kedatangan Raden Sutawijaya dihubungkan dengan rencana itu, maka sudah barang tentu, rencana itu akan dapat dilaksanakan dengan sempurna, karena aku tidak akan dapat melawan mereka meskipun prajurit-prajurit dari Prambanan itu datang. Tetapi aku masih tetap hidup, dan, seperti yang aku ceritakan, justru Ki Gede-lah yang menolong jiwaku di saat yang paling berbahaya.”

“Baiklah, Kakang,” berkata perwira itu, “aku akan berusaha untuk menceritakan yang sebenarnya. Tetapi sikap dan tanggapan yang buruk atas Mataram rasa-rasanya semakin berkembang. Apalagi sejak gadis itu diketahui dengan pasti telah mengandung.”

“Itu adalah persoalan Kanjeng Sultan. Agaknya kedatangan Ki Gede ke Pajang ada pula sangkut pautnya dengan gadis itu. Jika Kanjeng Sultan tidak mengambil tindakan apa pun, bagaimana mungkin justru kita yang akan menjatuhkan hukuman. Meskipun hanya sekedar kebencian?”

Perwira bawahan Untara itu mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti keterangan Untara. Dan sebenarnya ia memang lebih condong mempercayai Untara dari cerita ngayawara tentang usaha Mataram untuk menjebak Untara, tetapi ternyata Untara masih tetap hidup.

Tetapi kebencian orang-orang Pajang terhadap Raden Sutawijaya memang semakin berkembang. Orang-orang mulai ragu-ragu dengan keperwiraan Ki Gede Pemanahan karena tingkah laku anaknya. Gadis yang mengandung itu adalah kemanakan Ratu Kalinyamat sendiri. Gadis itu adalah putera Sunan Prawata suami isteri yang telah mendahului Sunan Hadiri dan Kanjeng Ratu Kalinyamat karena dibunuh pula oleh utusan Arya Penangsang.

“Gadis itu adalah tetesan darah Sultan Demak, orang-orang yang dengan sengaja membakar kebencian terhadap Raden Sutawijaya menyebarkan setiap cerita yang dapat menumbuhkan jarak antara Mataram dari Pajang. Tingkah laku Raden Sutawijaya itu telah mencemarkan nama baik keturunan Demak sendiri.”

Ketika perwira bawahan Untara itu mengemukakannya kepada Untara, maka jawab Untara, “Coba pikirkan, manakah yang lebih baik bagimu. Apakah gadis itu menjadi isteri Raden Sutawijaya, atau menjadi isteri Kanjeng Sultan Hadiwijaya. Ingat, gadis itu adalah kemanakan langsung Permaisuri Pajang sekarang. Bukankah itu berarti bahwa gadis itu kemanakan Sultan pula.”

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun Untara pun berkata, “Sudahlah. Jangan persoalkan lagi. Kau harus dapat membantu menjernihkan keadaan. Aku berpendapat bahwa persoalan gadis itu harus ditutup sampai sekian.” Tetapi suara Untara kemudian menurun, “Sekali lagi aku katakan, aku adalah seorang Senapati. Aku akan melakukan segala perintah Sultan Hadiwijaya. Apakah persoalannya menyangkut gadis itu atau tidak.”

Perwira pembantunya tidak bertanya lagi. Ia menyadari bahwa Untara memang seorang prajurit. Tidak lebih dan tidak kurang. Karena itu ia pun harus bersikap serupa.

“Tetapi ada prajurit di Pajang yang tidak bersikap sebagai prajurit,” berkata perwira itu di dalam hati. Dan ia melihat meskipun samar-samar bahwa prajurit-prajurit Pajang sudah mulai menempatkan dirinya dalam percaturan seluk-beluk pemerintahan yang semakin rumit dalam hubungan antara Mataram dan Pajang, justru mereka ingin mengail di air keruh.

Demikianlah ternyata di Pajang telah terjadi benturan-benturan sikap dari para pemimpinnya menghadapi Mataram. Ada di antara mereka yang acuh tidak acuh. Ada yang bersikap sebagai sikap seorang prajurit sejati, tetapi di antara mereka ada yang dengan sengaja mempertajam kebencian yang ada di antara dua daerah itu.

Sementara itu, Raden Sutawijaya mencoba melemparkan dirinya ke dalam kerja. Meskipun kadang-kadang terasa hatinya masih juga berdesir mengenang semua yang telah terjadi, namun ia berusaha melupakannya.

“Tetapi aku tidak boleh melupakan gadis dan anak di dalam kandungan itu,” berkata Sutawijaya di dalam hatinya.

Dan seperti dikatakan oleh ayahandanya Ki Gede Pemanahan, maka Sultan Hadiwijaya mengharap agar ia bersikap baik dan bertanggung jawab atas gadis itu.

“Aku tidak akan ingkar,” katanya di dalam hati. Namun dalam pada itu, Sutawijaya selalu tenggelam dalam usahanya untuk membuat Mataram menjadi sebuah negeri. Semua persoalan pribadinya dan masalah-masalah yang menyangkut keluarganya seakan-akan tidak pernah dihiraukannya lagi sebelum usahanya itu berhasil. Demikian pula dengan gadis yang sudah mengandung itu.

“Aku akan menjemputnya kelak, jika Mataram telah menjadi sebuah negeri. Aku akan menghadap Ayahanda Sultan Pajang dan akan menyembahnya di paseban sambil mempersembahkan usahaku. Mataram yang telah menjadi sebuah negeri. Selebihnya aku akan mengambil Semangkin dan anak di dalam kandungannya itu.”

Karena itu, tidak ada persoalan apa pun yang dapat menahan Raden Sutawijaya. Ayahandanya pun jarang-jarang dapat menemuinya. Anaknya telah benar-benar tenggelam di dalam kerja.

Namun ternyata Sutawijaja tidak hanya melulu bekerja untuk membangun Mataram menjadi sebuah negeri. Kadang-kadang untuk beberapa hari ia tidak dapat dijumpai. Orang-orangnya di bagian Selatan menyangkanya ada di bagian Utara. Orang-orangnya adbmcadangan.wordpress.com di bagian Utara menyangkanya sedang memimpin pembukaan Hutan di bagian Barat. Sedang orang-orang yang ada di bagian Barat menduga bahwa Sutawijaya sedang ada di bagian Timur. Tetapi orang-orang di bagian Timur tidak melihat Sutawijaya untuk beberapa hari, dan menduga bahwa Sutawijaya sedang beristirahat.

Jika demikian maka Sutawijaya sedang berada di tengah-tengah hutan yang masih belum disentuh tangan. Mesu diri dalam olah kanuragan dan kajiwan. Sebagai seorang laki-laki yang memiliki kemampuan melampaui kebanyakan orang, maka Sutawijaya telah mengembangkan diri tanpa tuntunan seorang guru. Dengan dasar ilmu yang ada padanya, yang diwarisinya dari ayahandanya, ia telah menemukan pancadan untuk bertambah maju.

Namun kadang-kadang Sutawijaya tidak berbuat apa-apa sama sekali di dalam sepinya hutan yang lebat. Dengan duduk di atas cabang sebatang pohon, ia memperhatikan alam di sekelingnya. Alam yang nampaknya diam tetapi penuh dengan ketegangan perjuangan antara hidup dan mati dari penghuni-penghuninya.

Dan Sutawijaya mengambil sari dari kehidupan yang tersembunyi itu bagi bekal hidupnya sendiri. Kehidupan yang semata-mata alami dan dikendalikan oleh naluri itu, sebagai bekal dalam kehidupan akal yang ada di dalam dirinya.

Kadang-kadang Sutawijaya menemukan nilai-nilai yang pantas diserapnya di dalam hidupnya. Kadang-kadang Sutawijaya melihat betapa kejamnya kehidupan alami yang dikuasai oleh naluri semata-mata.

Raden Sutawijaya yang memiliki daya tangkap yang tajam itu berhasil menemukan bekal yang sangat berguna. Bukan saja di dalam kehidupannya, tetapi juga di dalam olah kanuragan. Derap kaki kijang, tangkapan tangan beberapa ekor kera yang bekejaran. Bahkan usaha seekor kancil melepaskan diri dari kuku harimau, sangat menarik perhatiannya dan memberikan kekayaan bagi unsur gerak di dalam olah kanuragan yang sedang disempurnakannya.

Meskipun demikian Raden Sutawijaya tidak melupakan tugasnya sebagai seorang pemimpin dari tanah yang sedang tumbuh dan berkembang. Setiap kali Sutawijaya sendiri memimptn penggalian susukan dan parit-parit yang membelah tanah yang akan dijadikan tanah persawahan. Sutawijaya sendiri memimpin pembuatan jalur-jalur jalan yang menghubungkan padukuhan yang satu dengan padukuhan yang lain.

Dengan demikian, maka beberapa kekecewaan atas kekerasan hati Raden Sutawijaya kadang-kadang dapat dihapus oleh kekerasan hatinya pula di dalam kerja.

Namun dalam pada itu, berbeda dengan Raden Sutawijaya yang menenggelamkan diri di dalam kerja, maka Ki Gede Pemanahan rasa-rasanya menjadi semakin lemah. Luka-lukanya memang menjadi berkurang. Tetapi rasa-rasanya perkembangan keadaannya itu sangat lambat. Bahkan kadang-kadang tanpa sebab apa pun juga, Ki Gede Pemanahan seakan-akan menjadi sangat sulit untuk bernafas. Dadanya menjadi sesak, dan kemudian terbatuk-batuk semalam suntuk.

Ki Gede Pemanahan adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Seorang Panglima yang disegani lawan di peperangan. Namun ia tidak dapat melawan dirinya sendiri yang dicengkam oleh kekecewaan, penyesalan, dan kecemasan.

Sekali-sekali terbayang juga di rongga matanya, wajah seorang gadis yang bersih dan bening. Dua orang gadis di kaki bukit Danaraja. Semangkin dan Prihatin. Keduanya adalah anak Sunan Prawata yang telah terbunuh, dan yang kemudian disusul oleh pamannya Sunan Hadiri.

Di kaki bukit Danaraja kedua gadis yang kemudian diberinya nama Pamikatsih dan Pamilutsih itu, dengan setia menunggui bibinya, Kanjeng Ratu Kalinyamat yang bertapa sebagai pernyataan tuntutan nuraninya atas kematian saudaranya suami isteri dan suaminya sendiri, tanpa mengenakan pakaian selembar pun, selain menutup tubuhnya dengan rambutnya yang terurai.

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Masih pula terbayang, bagaimana Kanjeng Ratu Kalinyamat itu memanggilnya mendekat pada saat ia mengunjungi pertapaan itu.

“Maaf, Kanjeng Ratu. Hamba tidak dapat mendekat Kanjeng Ratu dalam keadaan seperti itu.”

“Kemarilah, Kakang Pemanahan. Aku akan memberikan sesuatu kepadamu.”

Ki Gede masih tetap ragu-ragu. Dan Kanjeng Ratu itu pun berkata pula, “Kakang, kau selama ini tidak pernah menolak permintaanku. Mendekatlah. Sekarang, kau pun tidak akan menolaknya.”

Dengan ragu-ragu Ki Gede pun kemudian berjalan mundur mendekati Kanjeng Ratu Kalinyamat yang sedang bertapa.

Ternyata dari Kanjeng Ratu Kalinyamat, Ki Gede Pemanahan mendapat sebentuk cincin. Cincin, yang memiliki perlambang bahwa siapa yang mengenakannya, akan menurunkan orang-orang besar di Pulau Jawa.

Ki Gede yang sedang berbaring di pembaringannya itu menarik nafas. Kenangan itu rasa-rasanya baru saja kemarin terjadi. Kini ia bersama anaknya sudah membuka daerah baru. Daerah yang diharapkannya akan tumbuh dan berkembang.

“Apakah Sutawijaya akan menjadi orang besar kelak?” Ki Gede bertanya kepada diri sendiri. Yang kemudian diteruskannya, “Mudah-mudahan. Mudah-mudahan Mataram dapat berdiri tegak dan anakku akan melanjutkan usahaku membuat Mataram besar. Dan agaknya ia sudah mulai sejak sekarang.”

Ki Gede mengusap wajahnya yang basah oleh keringat. Terbayang pula Semangkin yang sudah mengandung. Perempuan itu akan melahirkan anak Raden Sutawijaya. Cucunya dan juga cucu Kanjeng Sunan Prawata.

Namun dalam pada itu, hampir setiap saat Ki Gede Pemanahan telah hanyut dalam dunia angan-angannya. Karena itulah maka keadaannya justru menjadi semakin buram.

Ki Lurah Branjangan yang setiap saat merawatnya menjadi gelisah. Sehingga pada suatu saat ia tidak dapat menahan kecemasannya dan memerintahkan seorang pengawal mencari Raden Sutawijaya.

“Carilah di seluruh sudut Tanah Mataram. Katakanlah bahwa aku memohon Raden Sutawijaya kembali barang sehari. Rasa-rasanya ayahandanya memerlukannya meskipun hanya sesaat.”

Pengawal itu pun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan pusat pemerintahan Tanah yang baru tumbuh itu mencari Raden Sutawijaya. Pengawal itu sadar, bahwa kadang-kadang Raden Sutawijaya mudah sekali dijumpai. Tetapi kadang-kadang harus dicarinya barang dua tiga hari.

Dari beberapa orang pengawal ia mendapat petunjuk bahwa Raden Sutawijaya berada di bagian Barat Alas Mentaok yang sedang dibuka itu. Namun ketika pengawal itu memacu kudanya menuju ke arah Barat, maka pengawal yang lain berkata, “Aku baru saja bertemu Raden Sutawijaya di bagian Selatan.”

“Tentu tidak mungkin,” sahut pengawal yang mencarinya, “orang yang memberi petunjuk kepadaku itu pun mengatakan bahwa Raden Sutawijaya berada di bagian Barat. Baru saja ia bertemu.”

Pengawal yang merasa dirinya baru saja bertemu dengan Raden Sutawijaya itu merenung sejenak. Namun kemudian ia bergumam, “Mungkin. Memang mungkin Raden Sutawijaya yang baru aku lihat di bagian Selatan itu telah berpindah kebagian Barat.”

“Ya. Menjelang tengah hari,” sahut yang mencarinya.

“He,” namun tiba-tiba pengawal yang menjumpai Raden Sutawijaya itu mengerutkan keningnya, “tentu tidak menjelang tengah hari. Tentu sesudah tengah hari.”

“Kenapa? Yang menjumpai di sebelah Barat itu bukan kau. Tetapi pengawal itu. Dan ia tentu lebih tahu daripada kau.”

“Nanti dulu,” pengawal itu nampak berpikir dengan sungguh-sungguh. Kemudian katanya, “Aku menjumpai Raden Sutawijaya di bagian Selatan juga menjelang tengah hari.”

“He? Kau tentu sedang bermimpi di tengah hari.”

“Tidak. Aku tidak pernah bermimpi tanpa tidur. Aku yakin bahwa menjelang tengah hari aku bertemu dengan Raden Sutawijaya di atas seekor kuda berwarna hitam. Bahkan kemudian Raden Sutawijaya turun dari kudanya, berjalan menyusuri parit yang sedang digali. Dengan cemeti kecil ia menunjuk beberapa bagian yang harus disempurnakan. Dan dengan cemeti kecil itu pula Raden Sutawijaya menggores tanah membuat garis-garis batas dari parit itu di tikungan.”

Pengawal yang sedang mencari itu menggeleng. Katanya, “Tidak. Pengawal yang baru saja datang dari bagian Barat itu melihat Raden Sutawijaya ikut membuat jalan yang membelah sebuah padukuhan kecil yang sedang berkembang karena beberapa orang penghuni baru telah berdatangan.”

“Tidak,” sahut lawannya berbicara.

Hampir saja keduanya bersitegang. Namun kemudian seorang pengawal yang lebih tua dari mereka datang menengahi sambil tersenyum, “Kalian memang bodoh.”

“Kenapa?” bertanya kedua pengawal itu.

“Kenapa kalian bertengkar tentang Raden Sutawijaya?”

“Aku melihatnya. Dan aku membertahukan kepadanya. Tetapi ia tidak percaya.”

“Tentu. Orang lain mengatakan bahwa ia bertemu dengan Raden Sutawijaya di bagian Barat.”

“Keduanya benar,” sahut pengawal yang lebih tua itu.

“He,” kedua pengawal itu terkejut.

“Ya. Memang Raden Sutawijaya dapat saja berada di bagian Selatan dan di bagian Barat sekaligus.”

“Aku tidak mengerti,” desis pengawal itu.

“Raden Sutawijaya dapat berada di beberapa tempat dalam waktu yang sama.”

“Ah.”

“Itu adalah pertanda bahwa anak muda itu memiliki ilmu yang tinggi. Kau tentu ingat, bahwa Ki Gede Pemanahan pun telah menggemparkan musuh-musuhnya ketika terjadi benturan bersenjata antara Pajang dan Jipang. Sebelum sampai pada saat terakhir sebagai puncak pertempuran di pinggir Bengawan Sore, maka pertentangan di beberapa tempat telah melibatkan adbmcadangan.wordpress.com Ki Gede Pemanahan dalam pertempuran-pertempuran itu. Ia ada di beberapa tempat dalam waktu yang sama, sehingga kadang-kadang prajurit Jipang saling berbantah sendiri, bahwa mereka telah bertempur melawan sekelompok prajurit di bawah pimpinan Ki Gede Pemanahan langsung.”

Para pengawal yang mendengarkan pembicaraan itu berdiri dengan wajah yang tegang. Namun satu dua di antara mereka memang pernah mendengar cerita semacam itu tentang Ki Gede Pemanahan. Dan kini mereka mendengar pula tentang Raden Sutawijaya.

Karena itu maka pengawal yang sedang mencari Raden Sutawijaya itu pun bertanya, “Jadi, jika demikian, kemana aku harus mencarinya. Apakah aku harus pergi ke Barat atau ke Selatan. Jika Raden Sutawijaya memang berada di kedua tempat itu, kepada Raden Sutawijaya yang manakah aku harus berhubungan. Karena tentu hanya ada satu saja di antara mereka yang tetap berpribadi.”

“Ya. Satu di antara merekalah yang tetap berpribadi. Tetapi kepribadian itu pun memancar kepada yang lain.”

“Sumbernya.”

“Itulah yang sulit. Tetapi rasa-rasanya bahwa mereka adalah satu. Kau dapat berhubungan dengan Raden Sutawijaya, yang mana pun juga.”

Pengawal itu menjadi agak bingung. Namun, kemudian katanya, “Aku akan pergi ke Barat.”

“Pergilah, Mudah-mudahan kau akan segera bertemu. Seperti kalian mengetahui, Raden Sutawijaya dapat berada di beberapa tempat pada suatu waktu, tetapi Raden Sjitawijaya pun dapat tidak berada di mana pun dalam suatu waktu.”

Pengawal itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Desisnya, “Aku menjadi bingung. Tetapi biarlah aku mencarinya.”

Sejenak kemudian maka pengawal itu pun telah berpacu pula. Tetapi karena jalan yang dilaluinya kemudian masih terlampau buruk, maka perjalanannya pun menjadi tidak begitu cepat lagi. Beberapa batang kayu masih melintang dijalan. Bahkan kadang-kadang kudanya harus berbelok lewat gerumbul-gerumbul liar disebelah jalan yang belum siap benar itu.

Di sepanjang perjalanannya, pengawal itu selalu dirisaukan oleh cerita kawannya yang lebih tua. Ia tidak dapat mengerti bahwa Raden Sutawijaya dalam suatu waktu dapat berada di beberapa tempat. Tetapi dalam waktu yang lain sama sekali tidak ada di mana pun juga.

“Berbelit-belit,” katanya di dalam hati, “pokoknya aku akan mencarinya. Menyampaikan pesan Ki Lurah Branjangan, mohon agar ia kembali barang sehari dua hari.”

Pengawal itu melanjutkan perjalanan dengan hati yang berdebar-debar. Dipandanginya daerah yang masih sedang dikerjakan di bagian Barat dari Alas Mentaok yang sedang dibuka itu. Beberapa bagian telah menjadi padukuhan yang mulai berpenghuni.

“Tentu di sekitar padukuhan itu,” berkata pengawal itu kepada diri sendiri.

Dalam setiap kesempatan pengawal itu mencoba untuk mempercepat perjalanannya. Kadang-kadang ia dapat berpacu agak cepat. Namun kemudian harus dengan sabar membiarkan kudanya berjalan perlahan-lahan.

“Di musim basah, daerah ini akan menjadi rawa-rawa,” berkata pengawal itu di dalam hatinya. Namun ketika kemudian dilihatnya susunan parit yang mulai teratur, maka ia pun berkata pula kepada dirinya sendiri, “Tetapi agaknya daerah ini sudah dihubungkan dengan daerah-daerah yang lebih rendah dengan parit-parit, untuk membuang air yang tergenang di musim basah. Sedang dimusim kering, air dapat diangkat dari sungai-sungai kecil untuk mengaliri daerah yang sedang dibuka ini.”

Pengawal itu pun langsung menuju ke tempat orang-orang yang sedang bekerja, membuat jalan yang menghubungkan padukuhan yang satu dengan padukuhan yang lain, membedah sebuah padukuhan kecil lainnya di antara kedua padukuhan itu.

Pengawal berkuda itu ternyata telah menarik perhatian para pekerja yang sedang giat membangun daerahnya itu. Salah seorang yang sudah setengah umur kemudian mendekatinya dan bertanya, “Ki Sanak, apakah ada sesuatu yang penting yang harus kau sampaikan kepada kami?”

“Aku mendapat perintah untuk menemui Raden Sutawijaya,” jawab pengawal itu.

“O,” orang setengah umur itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia berpaling. Katanya kepada seorang kawannya, “Pengawal ini ingin bertemu dengan Raden Sutawijaya.”

“Bukankah Raden Sutawijaya baru saja pergi ke daerah Selatan?”

Orang setengah umur itu mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Oh, ya. Hampir aku lupa. Baru saja Raden Sutawijaya pergi ke daerah Selatan.”

Pengawal itu menggigit bibirnya. Lalu katanya, “Orang-orang yang haru saja datang dari daerah Selatan memang mengatakan Raden Sutawijaya ada di sana. Tetapi bukan baru saja. Tetapi sudah sejak tadi.”

“Ah,” orang setengah umur itu berdesah, “mana mungkin. Baru saja Raden Sutawijaya ada di sini. Makan siang di sini, bersama dengan kami. Nasi jagung dengan jangan lembayung yang tadi pagi dipetik dari batang kacang panjang yang merambat di pagar sepanjang beberapa ratus patok mengelilingi daerah ini.”

Pengawal itu mengerutkan keningnya.

Karena pengawal itu tidak segera menjawab, orang setengah umur itu melanjutkan, “Ketika perempuan-perempuan memetik lembayung itu, ternyata mereka mendapatkan tiga bakul penuh.”

Pengawal itu pun kemudian memotong, “Ya. Ya. Tetapi aku harus bertemu dengan Raden Sutawijaya.”

“Pergilah ke daerah Selatan. Mereka di sana sedang membuat sebuah parit induk. Tentu Raden Sutawijaya menunggui pembuatan parit induk itu.”

“Apakah tidak mungkin pergi ke daerah Utara?”

“Raden Sutawijaya tidak mengatakan demikian. Dan barangkali pekerjaan di daerah Utara sudah lebih lancar. Jalan menuju ke padukuhan yang paling ujung sudah dapat dilalui. Dan parit-parit sudah mulai mengalir. Jika Raden Sutawijaya pergi ke Utara, hanyalah tinggal memberikan petunjuk untuk mengembangkan padukuhan-padukuhan itu. Memelihara yang sudah ada, dan hanya jika perlu saja melengkapinya dengan jalan-jalan dan parit yang baru. Tetapi pekerjaan di sana sudah tidak begitu banyak seperti di sini.”

“Tetapi bagaimana dengan perluasan tanah persawahan? Apakah tidak ada pembukaan hutan baru di daerah Utara?”

“Untuk sementara sudah dihentikan. Daerah yang sudah terbuka ini masih harus digarap terus-menerus.”

Pengawal itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah, aku akan mencari Raden Sutawijaya ke Selatan.”

Pengawal itu pun kemudian meloncat kepunggung kudanya dan memacunya meninggalkan daerah yang sedang dikerjakan itu. Tetapi setiap kali derap kaki kudanya terganggu, sehingga kadang-kadang kuda itu harus berjalan perlahan-lahan. Menyimpang dan meloncati batang-batang yang melintang.

“Bodoh sekali,” geram pengawal itu, “seharusnya mereka membersihkan jalan-jalan ini lebih dahulu sebelum membuat perpanjangan dari jalur jalan ini.”

Baru ketika pengawal itu sampai ke jalan yang sudah agak baik, maka kudanya pun berpacu lagi dengan kecepatan yang lebih tinggi.

Namun pengawal itu masih saja dipengaruhi oleh cerita tentang Raden Sutawijaya yang dapat berada di beberapa tempat dalam waktu yang sama, tetapi juga dapat tidak ada di mana pun juga pada suatu waktu.

“Mudah-mudahan aku tidak mendapatkan Raden Sutawijaya sedang tidak ada di mana pun juga sekarang ini,” katanya kepada diri sendiri.

Kudanya pun kemudian dipacu semakin cepat. Ia segera ingin mengetahui, apakah benar Raden Sutawijaya dapat lenyap untuk suatu saat.

Ketika di kejauhan dilihatnya sekelompok orang bekerja di tengah-tengah bulak, ia menjadi berdebar-debar. Orang-orang itu nampaknya masih terlampau kecil. Seperti lebah yang berkerumun di sarangnya.

Dengan demikian pengawal itu justru menjadi semakin bernafsu untuk mengetahui dengan segera, apakah Raden Sutawijaya ada di antara orang-orang itu atau tidak. Karena itulah maka kudanya pun dipacunya semakin cepat.

Beberapa langkah dari orang-orang yang sedang sibuk itu, kudanya dihentikannya. Dengan tergesa-gesa ia meloncat turun, sehingga hampir saja ia jatuh tertelungkup.

Orang-orang yang sedang bekerja itu pun terkejut melihat kehadirannya yang tergesa-gesa itu. Salah seorang dari mereka mendekatinya sambil bertanya, “Apakah ada sesuatu yang penting?”

Dengan berdebar-debar pengawal itu ganti bertanya, “Apakah Raden Sutawijaya ada di sini?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Lalu jawabnya, “Baru saja Raden Sutawijaya meninggalkan tempat ini.”

“O,” sepercik kekecewaan membayang di wajah pengawal itu. Namun kemudian dengan ragu-ragu ia bertanya, “Tetapi, apakah Raden Sutawijaya sudah lama berada di tempat ini?”

Orang itu termangu-mangu. Jawabnya, “Sudah cukup lama Raden Sutawijaya telah cukup lama menunggui kerja kami menyelesaikan parit ini.”

Pengawal itu menggigit bibirnya. Dipandanginya orang itu dengan wajah yang terheran-heran.

“Kenapa?” bertanya orang itu.

Pengawal itu masih bimbang. Lalu jawabnya kemudian, “Raden Sutawijaya baru saja meninggalkan lapangan kerja bagian Barat. Aku baru saja datang dari sana.”

“Tentu bukan baru saja, Raden Sutawijaya sudah agak lama berada di sini.”

Pengawal itu tidak ingin mempersoalkannya lagi. Lalu ia pun kemudian bertanya, “Apakah kau tahu, kemana perginya Raden Sutawijaya?”

Orang itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak tahu. Raden Sutawijaya tidak mengatakan ke mana ia akan pergi.”

“Di bagian Barat Raden Sutawijaya mengatakan, bahwa ia akan pergi ke Selatan.”

“Kami tidak diberitahukannya. Yang kami dengar Raden Sutawijaya tidak akan bermalam di sini.”

“Raden Sutawijaya ingin melihat purnama terbit malam nanti,” tiba-tiba seseorang yang berambut putih memotong pembicaraan itu.

“O,” sahut pengawal yang sedang mencarinya, “di mana?”

“Aku tidak tahu.”

Pengawal itu menjadi bingung. Kemana ia harus mencari Raden Sutawijaya yang akan melihat bulan purnama yang terbit malam nanti.

Karena itu, maka pengawal itu pun kemudian minta diri. Ia harus menyampaikannya kepada Ki Lurah Branjangan, bahwa ia belum berhasil menemukan Raden Sutawijaya. Jika Ki Lurah Branjangan mengetahui kemanakah Raden Sutawijaya pergi untuk melihat purnama terbit, maka ia akan mencarinya menjelang malam.

Dengan demikian maka pengawal itu pun kemudian meninggalkan orang-orang yang sedang bekerja menyelesaikan saluran air itu, dan kembali ke pusat kota untuk menghadap Ki Lurah Branjangan.

“Aku tidak dapat menemukannya Ki Lurah,” berkata pengawal itu.

“Kenapa?”

“Aku sudah datang ke bagian Barat, karena menurut beberapa keterangan Raden Sutawijaya ada di bagian Barat. Ternyata Raden Sutawijaya sudah pergi ke Selatan. Ketika aku pergi ke Selatan, Raden Sutawijaya sudah tidak ada lagi. Menurut keterangan orang-orang di bagian Selatan itu, Raden Sutawijaya ingin melihat purnama terbit malam nanti.”

“Purnama terbit?” Ki Lurah menjadi heran.

“Ya. Purnama terbit.”

Ki Lurah Branjangan termangu-mangu. Ia menjadi heran, bahwa Raden Sutawijaya sempat memikirkan untuk melihat purnama terbit.

“Apakah ada sesuatu yang dirindukannya sehingga anak muda itu tiba-tiba menjadi seorang yang agak cengeng,” desisnya.

“He,” pengawal itu memotong, “kenapa cengeng? Purnama terbit memang memberikan kesan tersendiri. Coba Ki Lurah melihatnya sendiri. Ki Lurah akan menjadi muda kembali.”

“Ah.”

“Di dalam terangnya purnama, gadis-gadis padukuhan memukul lesungnya dalam irama yang ngelangut. Seakan-akan mereka mendendangkan debar kerinduan hati mereka kepada kekasihnya.”

“O,” desah Ki Lurah Branjangan, “kau pun menjadi cengeng.”

“Tidak, Ki Lurah. Memang kadang-kadang kita tergerak untuk melihat bulan terbit. Apalagi saat purnama. Tetapi agaknya Ki Lurah pun betul, Raden Sutawijaya sedang diganggu olen perasaan rindu. Karena itu, maka ia ingin melepaskan kerinduannya dengan melihat purnama terbit malam nanti.”

“Tetapi malam nanti. Kenapa sekarang Raden Sutawijaya telah pergi?”

“Tentu aku tidak tahu.”

“Baiklah. Aku akan mencarinya sendiri. Ia harus segera menengok ayahandanya. Ki Gede Pemanahan menjadi semakin pucat dan lemah. Barangkali Raden Sutawijaya dapat berbuat sesuatu. Raden Sutawijaya mempunyai sahabat seorang dukun yang baik. Yang sekarang berada di Menoreh. Meskipun dukun itu sendiri sedang menyembuhkan luka-lukanya, namun ia tentu tidak akan berkeberatan untuk menolong Ki Gede Pemanahan.”

“Dukun?” bertanya pengawal itu.

“Ya. Dan sekarang, aku akan minta diri kepada Ki Gede untuk mencari puteranya.”

Pengawal itu hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi malam masih cukup jauh. Jika Raden Sutawijaya ingin melihat purnama terbit, maka ia tentu akan menunggu lewat senja.

Sementara itu, Ki Lurah Branjangan pun pergi menghadap Ki Gede Pemanahan di pembaringan. Setelah menanyakan apakah yang diperlukan, maka Ki Lurah pun kemudian berkata, “Ki Gede. Aku ingin minta diri barang semalam untuk mencari Raden Sutawijaya.”

“Kenapa kau harus mencarinya?”

“Ki Gede nampaknya menjadi semakin lemah. Aku menjadi teringat kepada dukun yang sekarang ada di Menoreh. Barangkali ia dapat menyembuhkan, atau setidak-tidaknya mengurangi sakit Ki Gede Pemanahan.”

“Aku tidak sakit, Branjangan,” jawab Ki Gede, “sebagaimana kau lihat, luka-lukaku sudah jauh berkurang. Bahkan sudah hampir sembuh sama sekali.”

“Tetapi Ki Gede nampaknya semakin pucat.”

“Apakah nampaknya demikian?”

“Ya, Ki Gede.”

Ki Gede Pemanahan tersenyum. Katanya kemudian, “Aku tidak merasa apa-apa. Badanku menjadi semakin sehat dan segar. Luka-lukaku pun akan segera sembuh.”

“Tetapi jika dukun itu dapat mempercepat kesembuhan Ki Gede itu tentu akan lebih baik.”

Ki Gede tidak segera menyahut. Tetapi tiba-tiba saja ia didorong oleh suatu keinginan untuk bertemu dengan orang yang menyebut dirinya bernada Kiai Gringsing, dan yang pernah juga disebut Ki Tanu Metir. Ada sesuatu yang menarik pada orang itu.

“Apakah Ki Gede Pemanahan belum mengenal dukun itu?” bertanya Ki Lurah Branjangan.

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Sekilas terkenang olehnya, betapa Kiai Gringsing itu selalu menghindari pertemuan dengannya. Sejak di Sangkal Putung, dan saat-saat kemudian Kiai Gringsing tidak pernah berhasil dijumpainya. Hanya anaknya sajalah yang selalu bertemu dan bahkan bekerja bersamanya.

“Ada sesuatu yang menarik pada dukun itu,” berkata Ki Gede Pemanahan, “karena itu, jika aku mengundangnya, bukan semata-mata karena aku mencemaskan sakitku. Aku memang ingin bertemu dengan orang yang menyebut dirinya Kiai Gringsing. Orang yang memiliki kemampuan menyembuhkan orang sakit dan sekaligus kemampuan bermain-main dengan cambuk.”

Ki Lurah Branjangan merenung sejenak. Lalu katanya, “Jadi apakah Ki Gede sependapat, bahwa aku akan membicarakannya dengan Raden Sutawijaya?”

Ki Gede tidak segera menyahut. Bahkan ia pun kemudian bertanya, “Apakah kau tahu di mana Sutawijaya sekarang?”

Ki Lurah Branjangan termangu-mangu sejenak, namun kemudian katanya, “Seorang pengawal sudah berusaha menjumpainya. Tetapi Raden Sutawijaya tidak ada di beberapa tempat. Terakhir para pekerja yang sedang menyelesaikan sebuah parit di sebelah Selatan mengatakan, bahwa Raden Sutawijaya sedang pergi sebentar untuk melihat bulan purnama terbit.”

“He,” Ki Gede Pemanahan mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tersenyum. Katanya, “Apakah kau akan mencarinya ke tempat purnama itu terbit di cakrawala?”

Ki Lurah Branjangan pun tersenyum. Jawabnya, “Aku memang akan mencarinya, Ki Gede. Tetapi saat purnama terbit masih terlampau lama. Karena itu, biarlah aku mencarinya ke daerah sebelah Timur. Mungkin Raden Sutawijaya ada di ujung bagian Timur, di hadapan daerah terbuka yang menghadap Alas Tambak Baya. Dari sana bulan yang sedang terbit akan nampak bagaikan timbul dari balik cakrawala.”

Ki Gede Pemanahan yang pucat itu tertawa. Katanya, “Pergilah. Aku tidak berkeberatan. Bahkan kau dapat mengatakan kepadanya bahwa aku memang ingin dapat bertemu dengan orang yang menyebut dirinya Kiai Gringsing itu.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk kecil. Katanya, “Baiklah, Ki Gede. Aku minta diri di luar ada seorang pelayan yang dapat melayani Ki Gede jika Ki Gede perlukan.”

“Aku dapat bangkit, berdiri dan berjalan ke mana-mana.”

“Tetapi Ki Gede harus beristirahat cukup banyak, sehingga agaknya lebih baik jika Ki Gede tidak bangkit dan berjalan ke luar lebih dahulu.”

Ki Gede Pemanahan menganggukkan kepalanya. Katanya, “Aku akan menjaga diriku sendiri.”

Demikianlah maka Ki Lurah Branjangan pun meninggalkan Ki Gede Pemanahan, ia segera menyuruh seorang pengawal menyiapkan kudanya. Ia sendiri ingin mencari Raden Sutawijaya sampai ketemu, dan kemudian bersama-sama pergi ke Menoreh untuk minta Kiai Gringsing datang berkunjung ke Mataram.

“Mudah-mudahan orang itu belum meninggalkan Menoreh,” katanya, “jika sudah, maka aku harus mencarinya ke Sangkal Putung.”

Namun demikian terbersit suatu pertanyaan pula di dalam hatinya. Ki Gede Pemanahan menaruh minat atas kehadiran Kiai Gringsing bukan untuk mengobatinya. Namun agaknya ada sesuatu yang memang menarik perhatiannya pada Kiai Gringang itu sendiri.

“Apakah memang ada rahasia yang tersembunyi pada orang tua yang perkasa itu,” bertanya Ki Lurah Branjangan kepada diri sendiri. “Hampir setiap saat Kiai Gringsing berbuat sesuatu untuk menolong Mataram. Sebelumnya Kiai Gringsing sudah banyak berbuat untuk Pajang. Pada saat pergolakan berkisar di Sangkal Putung, Kiai Gringsing sudah mulai ikut mengambil bagian. Dan Untara harus mengakui bahwa dukun tua itu sudah menyelamatkan jiwanya. Bahkan kemudian membentuk adiknya menjadi seorang anak muda yang perkasa.”

Setelah siap, maka Ki Lurah Branjangan pun kemudian dengan dikawal oleh dua orang pengawal pergi mencari Raden Sutawijaya. Salah seorang dari kedua pengawal itu adalah pengawal yang sudah mencari Raden Sutawijaya sebelumnya.

“Kita akan pergi ke Timur,” berkata Ki Lurah Branjangan.

“Ke ujung Alas Mentaok?” bertanya salah seorang pengawal.

“Ya. Mungkin Raden Sutawijaya ada di ujung Alas Mentaok dan menunggu purnama naik. Sebuah tempat terbuka yang memisahkan Alas Mentaok dan Tambak Baya merupakan tempat yang baik untuk menunggu purnama naik.”

“Bagaimana jika Raden Sutawijaya berada di ujung Alas Tambak Baya?”

Ki Lurah Branjangan hanya menarik nafas. Namun sebenarnyalah bahwa Ki Lurah Branjangan sudah mempunyai perhitungan tersendiri dengan kepergian Raden Sutawijaya. Meskipun demikian ia masih belum mengatakan kepada siapa pun karena ia masih belum yakin bahwa perhitungannya itu benar. Namun demikian, ia pun pergi juga ke arah Timur Alas Mentaok.

Ki Lurah Branjangan sama sekali tidak tergesa-gesa. Hari masih terlampau siang untuk menunggu bulan purnama terbit. Meskipun demikian keduanya berjalan juga langsung menuju ke ujung Timur Alas Mentaok.

Ketiganya berkuda menyelusuri daerah yang sudah dibuka. Kadang-kadang mereka melewati padukuhan-padukuhan kecil yang sudah dihuni oleh beberapa orang. Bahkan ada pula sebuah padukuhan yang sudah nampak berkembang dan menjadi ramai.

Ketika Ki Lurah Branjangan sampai di depan sebuah gardu peronda yang kebetulan berisi tiga orang, maka ia pun segera berhenti dan bertanya, “Ki Sanak, apakah kalian melihat seseorang lewat?”

Ketiga orang itu pun kemudian keluar dari gardu dan merenung sejenak. Sementara itu Ki Lurah Branjangan mengulangi pertanyaannya, “Apakah ada seseorang yang lewat?”

Salah seorang dari mereka menjawab, “Ada beberapa orang yang lewat di jalan ini.”

“Yang berkuda?”

Orang-orang itu mengerutkan beningnya. Salah seorang menjawab, “Selama kami ada di gardu ini, kami tidak melihatnya.”

“Apakah kalian bertugas meronda di siang hari begini?”

“Tidak. Kami melepaskan lelah dan duduk-duduk saja di gardu.”

“Sudah lama?”

“Belum begitu lama.”

“Apakah kalian sudah mengenal Raden Sutawijaya?”

“O, tentu.”

“Raden Sutawijaya yang aku maksud lewat melalui jajan ini. Apakah kalian melihatnya?”

Mereka saling berpandangan sejenak. Kemudian hampir bersamaan mereka menggeleng, “Tidak. Kami tidak melihat.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Terima kasih. Aku akan melanjutkan perjalananku.”

“Ki Lurah akan kemana?” bertanya salah seorang dari mereka.

“Mencari Raden Sutawijaya.”

Demikianlah maka Ki Lurah Branjangan dan kedua pengawalnya pun segera meneruskan perjalanan. Mereka percaya kepada keterangan para penjaga gardu itu. Apalagi mereka memang tidak melihat jejak kaki kuda yang masih baru.

Ketika mereka sudah melampaui padukuhan itu, Ki Lurah Branjangan berkata, “Raden Sutawijaya tentu tidak melalui jalan yang sudah terbuka ini.”

“Apakah ada jalan lain?” bertanya pengawal itu.

“Jalan yang sudah terbuka memang tidak ada. Tetapi sejak belum ada jalan sama sekali, Raden Sutawijaya memang sudah hilir-mudik ke Alas Mentaok.”

“Maksud Ki Lurah, hilir-mudik antara Mentaok dan Pajang, begitu?”

Ki Lurah termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia mengangguk sambil menjawab, “Ya. Maksudku memang demikian.”

Ketiganya pun kemudian berdiam diri. Mereka memandang jalur jalan di hadapan mereka. Meskipun jalan itu masih belum baik namun jalan itu sudah cukup banyak memberikan manfaat kepada Mataram dan daerah di sekitarnya. Di beberapa bagian Ki Lurah justru melihat orang-orang yang sedang beramai-ramai bekerja menyempurnakan jalan itu. Sedang adbmcadangan.wordpress.com yang lain masih juga sibuk memperluas tanah garapan mereka dengan menebang hutan. Di beberapa gardu tampak orang-orang yang sedang beristirahat sambil mengunyah makanan, setelah mereka memeras keringat menyempurnakan padukuhan masing-masing.

Tetapi tidak seorang pun yang melihat Raden Sutawijaya lewat.

“Kita harus mempercepat jalan kuda-kuda kita,” berkata Ki Lurah Branjangan.

“Masih terlampau siang,” sahut salah seorang pengawalnya.

“Mungkin kita akan pergi ke Tambak Baya.”

Tidak ada yang menjawab.

“Tetapi Tambak Baya sekarang sudah aman. Jika ada perampok kecil karena orang-orang malas yang kelaparan, akan dapat kita selesaikan.”

Kedua pengawalnya hanya mengangguk-angguk saja. Demikianlah kuda-kuda itu berlari semakin cepat. Mereka melintasi jalan yang sudah agak baik. Namun semakin lama jalan itu menjadi semakin buruk. Dan bahkan pada suatu saat seakan-akan ujung jalan itu menusuk masuk ke dalam hutan yang masih lebat. Ujung sebelah Timur dari Alas Mentaok yang memang belum digarap seluruhnya.

Dengan demikian maka perjalanan mereka pun mulai terganggu. Mereka hanya dapat maju dengan perlahan-lahan. Namun mereka sama sekali tidak tergesa-gesa, karena senja masih cukup jauh.

“Meskipun jalan ini seolah-olah terputus sampai di sini, tetapi jalur ini adalah jalur satu-satunya yang paling baik untuk menuju ke Timur,” berkata Ki Lurah Branjangan.

“Jalan ini adalah jalan raya menuju ke Pajang,” sahut seorang pengawalnya.

Ki Lurah Branjangan tidak menyahut. Jalan itu memang jalan satu-satunya. Di luar Alas Mentaok jalan itu menjadi agak rata. Apalagi setelah melampaui Alas Tambak Baya. Jalan itu benar-benar merupakan jalan raya.

Ketiganya pun kemudian maju sambil berdiam diri. Meskipun tidak begitu cepat, namun mereka pun kemudian sampai juga ke mulut lorong yang bagaikan pintu goa keluar dari Alas Mentaok.

“Raden Sutawijaya tidak ada di sini,” berkata salah seorang pengawalnya.

“Ya. Kita tidak menemukannya. Menurut dugaanku, tidak ada tempat yang lebih baik dari tempat ini untuk menunggu bulan purnama naik. Purnama itu nampaknya tentu seperti lingkaran emas raksasa yang memanjat di atas hitamnya hutan Tambak Baya yang membujur, seperti garis tebal yang tergores di langit,” sahut yang lain.

“Ah, kau sudah berangan-angan,” potong Ki Lurah Branjangan.

Pengawal itu tertawa. Katanya, “Hampir sepanjang hidupku aku tidak pernah memikirkan purnama naik. Dimasa kanak-kanak kadang aku kegirangan jika bulan terang. Aku dapat bermain sampai jauh malam. Kadang-kadang malam menjadi terang seperti siang. Tetapi belum pernah terlintas dikepalaku untuk menunggu dan melihat saat purnama naik di atas cakrawala.”

Kawannya pun tertawa. Ki Lurah Branjangan yang mula-mula mengerutkan keningnya pun tertawa pula.

“Kita akan berjalan terus,” berkata Ki Lurah Branjangan kemudian.

“Kemana?” bertanya pengawal itu dengan herannya.

“Melintasi Alas Tambak Baya. Di ujung Alas Tambak Baya kita tentu akan dapat melihat bulan yang sedang terbit itu tanpa dihalangi oleh seleret garis hitam yang tebal. Kita akan langsung dapat melihat, begitu bulan mulai tersembul di cakrawala.”

Kedua pengawal itu terdiam sejenak. Namun hampir berbareng keduanya tertawa. Salah seorang dari mereka berkata, “Aneh. Tiba-tiba saja kita sudah terlibat dalam persoalan bulan yang akan terbit malam ini.”

Kedua orang yang lain pun tertawa pula berkepanjangan.

Namun demikian Ki Lurah Branjangan berkata, “Marilah. Kita akan tetap berjalan terus.”

Kedua pengawalnya tidak menyahut. Mereka mengikuti saja di belakang Ki Lurah Branjangan yang sudah, mendahului. Dan bahkan berkata, “Kita harus berjalan lebih cepat agar kita tidak kemalaman justru di dalam hutan Tambak Baya.”

Sejenak kemudian kuda-kuda itu pun segera berlari. Jalan di luar Alas Mentaok nampaknya agak lebih baik sehingga kuda mereka dapat berlari agak kencang. Namun ketika mereka mulai memasuki Alas Tambak Baya, maka kuda-kuda itu pun berjalan agak lambat.

“Jalan ini sudah menjadi jauh lebih baik, sejak tidak banyak lagi gangguan,” berkata Ki Lurah Branjangan. “Di waktu-waktu terakhir sudah banyak para pedagang yang hilir-mudik lewat jalan ini. Karena itu, perbaikan jalan di ujung Alas Mentaok itu harus dipercepat, agar arus perdagangan menjadi lebih lancar.”

“Jalan itu sudah jauh lebih baik dari beberapa pekan yang lampau,” berkata seorang pengawalnya.

“Tetapi masih dapat menjadi lebih baik lagi.”

Ketiganya tidak berbicara terlampau banyak lagi. Jalan di hutan Tambak Baya itu pun masih perlu mendapat perhatian. Orang-orang Mataram-lah yang paling berkepentingan untuk membuat jalan itu benar-benar menjadi jalan yang dapat dilalui dengan baik.

“Kita akan terlambat sampai di ujung hutan ini,” berkata salah seorang pengawal tiba-tiba.

“Ya. Kita akan keluar dari hutan ini setelah purnama terbit,” sahut pengawal yang lain.

“Itu tidak penting. Raden Sutawijaya akan tetap berada di sana jika ia memang pergi ke sana.”

“Jika ia sudah kembali?”

“Jalan ini adalah jalan yang akan dilaluinya.”

“Jika Raden Sutawijaya memilih jalan lain? Melintas hutan yang pepat seperti yang sering dilakukan?”

“Kita tidak akan berjumpa di jalan ini.”

Kedua pengawal Ki Lurah Branjangan tidak menjawab. Tetapi ada semacam keseganan di dalam hati mereka untuk manyelusuri jalan itu mencari Raden Sutawijaya. Apalagi dalam ketidak-pastian seperti itu. Seakan-akan mereka sedang melakukan pekerjaan yang tidak berguna sama sekali. Apalagi jalan yang mereka lalui meskipun sudah tenang, namun mereka masih harus berwaspada. Terlebih-lebih lagi, warna kelabu mulai membayang di langit yang kemerah-merahan.

Mereka bertiga menyadari, bahwa mereka akan terlambat keluar dari hutan itu. Namun demikian mereka masih saja berjalan terus menuju ke mulut lorong di hutan Tambat Baya itu.

Perlahan-lahan warna yang kelam mulai turun menyelubungi hutan Tambak Baya. Matahari yang telah merayap semakin dekat dengan cakrawala.

Ketiga orang Mataram itu berjalan terus sambil berdiam diri. Sekali-sekali mereka menengadahkan, wajah ke langit, dan di lihatnya senja menjadi semakin buram.

Ki Lurah Branjangan mencoba mempercepat lari kudanya. Ia berharap bahwa ia masih akan dapat mencapai mulut lorong sebelum gelap menjadi semakin pekat, menjelang purnama yang akan segera terbit. Tetapi cahaya bulan itu tidak akan terlampau banyak menyusup di sela-sela dedaunan hutan yaug lebat seperti Alas Tambak Baya.

Tetapi Ki Lurah Branjangan dengan kedua pengiringnya tidak dapat memaksa kudanya berlari lebih cepat lagi. Sebelum mereka sampai ke batas hutan, maka matahari pun segera tenggelam, dan hutan pun menjadi hitam.

“Jika kita berada di tengah sawah, maka agaknya masih akan nampak cahaya merah di langit dan rasa-rasanya kita masih akan dapat melihat jalan yaug menjelujur di hadapan kita,” berkata salah seorang pengawal itu di dalam hatinya. Namun karena mereka berada di bawah rimbunnya dedaunan, maka senja itu benar-benar telah menjadi gelap.

Tetapi mereka menyadari, bahwa sesaat lagi udara akan segera menjadi cerah. Bulan purnama akan segera terbit dan menerangi langit.

“Namun hutan ini akan tetap gelap,” gumam pengawal itu pula di dalam hati.

Meskipun demikian mereka berjalan terus.

Ternyata mereka tidak terlambat terlampau banyak. Meskipun mereka tidak dapat melihat saat purnama pecah di atas cakrawala, tetapi mereka pun segera keluar dari hutan itu sebelum, bulan memanjat terlampau tinggi.

Tetapi demikian mereka melihat cahaya bulan yang cerah, demikian mereka bertanya-tanya di dalam diri, “Di manakah Raden Sutawijaya.”

Ki Lurah Branjangan yang berkuda di paling depan segera berhenti ketika mereka berada di tempat terbuka. Sejenak ia memandang berkeliling untuk mencari Raden Sutawijaya, jika ia memang berada di pinggir Hutan Tambak Baya itu.

Kedua pengawalnya pun termangu-mangu di belakangnya. Salah seorang yang tidak dapat menahan hati segera bergumam, “Kita tidak menemukannya juga di sini.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas. Katanya, “Kita akan menunggu di sini.”

“Menunggu siapa?” bertanya pengawalnya yang lain

“Raden Sutawijaya.”

“Di sini? Kenapa di sini?”

Ki Lurah Branjangan termangu-mangu sejenak. Tetapi ia hanya menjawab, “Kita menunggu saja di sini.”

Kedua pengawalnya menjadi heran. Apalagi ketika mereka melihat Ki Lurah Branjangan turun dari kudanya. Ditambatkannya kudanya pada sebatang pohon perdu di atas rerumputan yang hijau.

Kedua pengawalnya berpandangan sejenak. Namun keduanya pun berbuat serupa itu juga.

“Kita duduk di sini,” berkata Ki Lurah.

Kedua pengawalnya bagaikan terpukau oleh perintah itu dan mereka pun duduk dengan tidak banyak pertanyaan.

“Kita menunggu Raden Sutawijaya.”

“Aku tidak mengerti,” seorang pengawalnya berdesis.

“Mudah-mudahan kali ini kita akan mendapatkannya.”

Sambil menggelengkan kepalanya pengawal yang sudah mencari Raden Sutawijaya lebih dahulu itu bergumam, “Benar-benar membingungkan. Apakah sekarang ini Raden Sutawijaya sedang tidak berada di mana-mana seperti yang dikatakan orang?”

Ki Lurah Branjangan memandang pengawal itu sejenak, lalu, “Mudah-mudahan ia akan berada di tempat ini. Kita menunggu semalam ini.”

“Semalam suntuk?” bertanya pengawal yang lain.

“Ya. Sampai Raden Sutawijaya datang.”

Pengawal itu mengeluh. Katanya, “Dingin, dan sejak siang tadi aku belum makan.”

Ki Lurah tersenyum. Jawabnya, “Kau adalah seorang pengawal. Dan kau mempunyai kedudukan seperti seorang prajurit. Jangankan sejak siang tadi, bahkan sejak kemarin pun kau tidak boleh mengeluh.”

“Jika aku berada di peperangan, aku tidak akan mengeluh. Tetapi melihat bulan purnama dengan perut lapar, aku mempunyai pertimbangan tersendiri,” jawab pengawal itu.

Ki Lurah tertawa. Katanya, “Sekali ini. Kita akan tetap menunggu.”

Terdengar pengawal itu berdesah. Dan Ki Lurah berkata, “Kita akan berjaga-jaga bergantian. Kita bagi malam ini menjadi tiga bagian. Yang berjaga-jaga yang pertama kali mendapat giliran sampai bulan itu tepat di tengah. Kemudian yang kedua sampai menjelang dini hari. Dan yang ketiga, sampai matahari terbit besok pagi.”

“Siapa yang pertama?” bertanya pengawal yang seorang.

“Terserah.”

“Aku yang pertama.”

Demikianlah mereka telah membagi diri. Meskipun demikian kedua orang yang tidak sedang bertugas pun tidak segera dapat tidur karena malam masih terlampau dangkal. Mereka masih dengan ragu-ragu menunggu kedatangan Raden Sutawijaya dari tempat yang tidak diketahui oleh kedua pengawal itu.

Sekali-sekali ketiganya mengangkat kepalanya, jika mereka mendengar aum harimau di kejauhan.

Apalagi apabila kuda mereka menjadi gelisah dan meringkik.

Tetapi jika kuda-kuda itu menjadi tenang kembali, maka ketiga orang pengawal dari Mataram itu sempat melihat dedaunan yang kekuning-kuningan diwarnai oleh cahaya bulan yang terang mengapung di langit.

Namun demikian sebenarnyalah mereka tidak begitu tertarik kepada cahaya bulan di dedaunan dan kepada bulan itu sendiri. Mereka menjadi benar-benar merasa jemu. Meskipun demikian mereka telah memaksa diri untuk menunggu di tempat itu semalam suntuk seperti yang dikatakan oleh Ki Lurah Branjangan.

Tetapi Ki Lurah Branjangan sendiri tidak yakin, bahwa yang ditunggunya akan datang. Bahkan kemudian ia pun telah dilanda pula oleh kejemuan. Namun Ki Lurah Branjangan tetap berniat untuk menunggu. Meskipun ragu-ragu namun ia masih mengharap bahwa perhitungannya benar.

Ketika bulan merayap semakin tinggi, maka mulailah para pengawal yang duduk di pinggir Alas Tambak Baya itu di ganggu oleh perasaan kantuk. Mereka menyelimuti diri mereka dengan kain panjang untuk melindungi gigitan nyamuk yang tiada henti-hentinya mengganggu mereka. Kemudian dua orang yang tidak sedang bertugas berjaga-jaga segera mencari sandaran. Dan adbmcadangan.wordpress.com sejenak kemudian meka mereka pun segera tertidur meskipun setiap kali mereka terbangun oleh kegelisahan dan gigitan nyamuk Alas Tambak Baya.

Di belahan malam pertama, mereka tidak menjumpai persoalan apa pun juga. Suara harimau terdengar jauh sekali meskipun cukup menggelisahkan kuda-kuda yang tertambat. Tetapi harimau sama sekali tidak mengecutkan hati para pengawal itu, karena mereka bertiga yakin akan dapat melawannya jika seekor harimau datang menyerang.

Ketika bulan sampai di puncak langit, maka para pengawal itu pun berganti tugas. Yang sudah lebih dahulu tidur, segera menggantikan kawannya yang sudah terlalu lelah menahan kantuk.

Tetapi sampat menjelang dini hari, orang itu pun hanya duduk terkantuk-kantuk, tanpa ada peristiwa apa pun juga.

Yang bertugas terakhir adalah justru Ki Lurah Branjangan sendiri, di saat-saat yang paling malas. Di dini hari rasa-rasanya nikmat sekali tidur bersandar sebatang pohon dan berselimut kain panjang sampai ke kepala. Namun pada saat yang demikian Ki Lurah Branjangan harus duduk berjaga-jaga.

Untuk menghilangkan kantuk dan kejemuan, Ki Lurah Branjangan mengambil sebuah batu sebesar kepalan tangan. Dilemparkannya batu itu ke dalam rimbunnya batang alang-alang. Kemudian dicarinya batu itu sampai dapat diketemukan. Dengan demikian maka Ki Lurah Branjangan berhasil menahan kantuknya. Tetapi ia tidak mudah melawan kejemuannya untuk tetap menunggu.

Meskipun demikian, ia harus memaksa diri untuk tetap berada di tempat itu. Selain karena kedua pengawalnya sedang tidur lelap, ia memang masih saja mempunyai harapan betapa pun tipisnya.

Bulan di langit yang merayap semakin ke Barat, semakin lama menjadi semakin rendah. Bahkan kemudian hilang di balik dedaunan pepohonan liar di Alas Tambak Baya, sementara wajah langit di ujung Timur menjadi semburat merah.

“Hampir fajar,” desis Ki Lurah Branjangan kepada diri sendiri, “dan kami dengan sia-sia telah berada di sini semalam suntuk.”

Dengan lesu Ki Lurah kemudian duduk bersandar sebatang pohon di sebelah kawan-kawannya.

Namun dalam, pada itu, tiba-tiba saja telinganya yang tajam mendengar derap seekor kuda. Semakin lama menjadi semakin jelas.

Dengan ragu-ragu Ki Lurah Branjangan berdiri. Ketika ia yakin bahwa ia memang mendengar derap kaki kuda, maka ia pun segera berjalan menyongsongnya.

“Mudah-mudahan bukan orang lain.”

Dalam keremangan Ki Lurah Branjangan melihat penunggang kuda mendekatinya. Namun agaknya penunggang kuda itu pun sudah melihatnya, karena Ki Lurah memang berdiri di tengah-tengah jalan.

Karena itu maka derap kuda itu pun menjadi semakin lambat, sehingga akhirnya berhenti beberapa langkah di hadapan Ki Lurah Branjangan.

“Raden Sutawijaya,” sapa Ki Lurah Branjangan.

Ki Lurah Branjangan yang maju semakin dekat melihat dengan jelas, bahwa penunggang kuda itu memang Raden Sutawijaya.

Raden Sutawijaya yang melihat Ki Lurah Branjangan itu pun dengan tergesa-gesa meloncat turun. Dengan gelisah ia bertanya, “Apa yang telah terjadi, Paman?”

Ki Lurah Branjangan tersenyum. Ia tidak mau mengejutkan Raden Sutawijaya. Katanya, “Tidak ada apa-apa, Raden.”

“Tetapi kenapa Paman ada di sini sendiri?”

“Aku membawa dua orang pengawal,” jawab Ki Lurah sambil berpaling. Ternyata kedua pengawal itu sudah terbangun pula dan menggeliat berdiri.

Raden Sutawijaya termangu-mangu sejenak, lalu, “Tentu ada persoalan yang penting. Bagaimana dengan Ayahanda?”

“Tidak apa-apa. Memang kami sedang mencari Raden Sulawijaya, tetapi tidak oleh persoalan yang terlampau mendesak.”

“Kenapa Paman tidak menunggu saja aku kembali?”

“Raden,” Ki Lurah menyahut dalam nada datar, “aku ingin Raden segera menghadap ayahanda, meskipun tidak dalam keadaan yang mendesak. Seorang pekerja mengatakan bahwa Raden sedang menunggu purnama terbit malam ini. Itulah yang mendorong kami menunggu Raden di sini.”

Raden Sutawijaya menegang sejenak. Dipandanginya Ki Lurah Branjangan dan kedua pengawalnya berganti-ganti. Terasa sesuatu telah menyentuh perasaannya.

“Raden,” Ki Lurah meneruskan, “ketika aku sampai di tempat ini dan ternyata Raden Sutawijaya tidak ada, maka aku pun bertekad untuk menunggu Raden di sini.”

“Persetan dengan pekerja itu,” geram Raden Sutawijaya.

“Tetapi aku kira orang itu tidak berbohong. Ia berkata sebenarnya. Tentu ia tidak akan dapat mengarang sebuah cerita tentang bulan purnama.”

“Sekarang, apakah yang Paman perlukan,” potong Raden Sutawijaya, “apakah aku harus menghadap Ayahanda? Jika demikian, marilah kita segera pulang. Apa pun alasan Paman berada di sini.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Baiklah, Raden. Sehari penuh kemarin kami mencari Raden. Sekarang barulah kami menemukannya.”

“Apakah aku sudah terlambat?”

“Tentu tidak, Raden. Tentu tidak.”

“Kita akan segera pulang.”

Ki Lurah Branjangan menganggukkan kepalanya. Tetapi rasa-rasanya ia masih ingin bertanya sesuatu. Tetapi ternyata Raden Sutawijaya yang seolah-olah mengetahui perasaan yang tersimpan di dalam hatinya mendahuluinya, “Kau tidak usah bertanya tentang apa pun Ki Lurah. Kita kembali. Cepat.”

Ki Lurah Branjangan menelan pertanyaannya yang sudah hampir meloncat dari bibirnya Bahkan kemudian katanya, “Marilah, Raden. Aku akan mengambil kudaku.”

Ki Lurah Branjangan dan kedua pengawalnya pun kemudian mengambil kudanya yang tertambat. Namun dalam pada itu, agaknya Raden Sutawijaya sudah tidak telaten lagi menunggu mereka. Maka Raden Sutawijaya pun kemudian mendahuluinya memasuki hutan Tambak Baya.

Sementara itu langit di Timur menjadi semakin terang. Bulan yang turun di ujung Barat telah tidak nampak lagi di langit.

Ternyata hutan Tambak Baya masih cukup gelap. Untunglah bahwa mereka adalah pengawal-pengawal yang berpengalaman, sehingga meskipun tidak dapat maju dengan cepat, namun mereka dapat berjalan terus.

“Ki Lurah,” salah seorang pengawalnya berbisik, “sebenarnya permainan apakah yang sedang kita lakukan ini?”

“Permainan yang mana maksudmu?”

“Raden Sutawijaya pergi dengan diam-diam, kemudian setelah kita tunggu di sini semalam suntuk, tiba-tiba saja kita ketemukan Raden Sutawijaya agaknya baru kembali dari bepergian. Apakah Ki Lurah mengetahuinya dari manakah kira-kira Raden Sutawijaya itu?”

Ki Lurah Branjangan tersenyum. Sesaat dipandanginya bayangan di dalam keremangan pagi di hadapan mereka. Raden Sutawijaya agaknya tidak menghiraukan lagi, apakah Ki Lurah Branjangan berada dalam jarak yang jauh atau dekat di belakangnya.

“Bagaimana Ki Lurah?” desak pengawal itu. “Raden Sutawijaya tidak akan mendengarnya.”

“Kau memang selalu ingin tahu saja,” gumam Ki Lurah Branjangan,

“Semalam suntuk kita menjadi makanan nyamuk. Sebaiknya Ki Lurah memang mengatakannya,” yang lain mendesak juga.

Ki Lurah Branjangan tertawa perlahan. Katanya, “Bukankah sudah kalian ketahui bahwa Raden Sutawijaya pergi untuk melihat bulan purnama.”

“Ah,” desah pengawal itu, “Ki Lurah berolok-olok.”

“Siapa yang mengatakan bahwa Raden Sutawijaya pergi melihat bulan? Bukankah kau sendiri?”

“Tetapi apa yang dilakukan sebenarnya?”

Sekari lagi Ki Lurah tertawa. Dan kedua pengawalnya menjadi tidak sabar. Katanya, “Ki Lurah jangan berolok-olok saja.”

Ki Lurah masih tertawa. Katanya kemudian, “Sebenarnyalah Raden Sutawijaya sedang melihat bulan. Tetapi bukan bulan yang terapung di langit. Aku sudah menduga, bahwa Raden Sutawijaya sedang didesak oleh kerinduan. Karena itu maka agaknya Raden Sutawijaya telah pergi ke Pajang. Sejak kalian mencarinya, Raden Sutawijaya tentu sudah berangkat.”

“Ah, kenapa ia pergi ke Pajang? Dengan keras hati Raden Sutawijaya menolak ajakan Ki Gede Pemanahan. Tetapi kenapa tiba-tiba saja ia pergi?”

“Sebenarnya Raden Sutawijaya tidak pantang pergi ke Pajang. Tetapi ia sudah terlanjur berkata, bahwa ia tidak akan menginjak lantai Istana Pajang sebelum Mataram menjadi sebuah negeri yang ramai. Jadi hanya Istana Pajang.”

“Dan apakah yang dilakukannya sekarang di Pajang?”

“Kalian memang bodoh. Bukankah perempuan yang sedang mengandung itu berada di Pajang?”

“Semangkin, putera puteri Kangjeng Sunan Prawata yang diangkat anak oleh Kanjeng Ratu Kalinyamat?”

“Ya, yang seharusnya diserahkan kepada Sultan Hadiwijaya itu.”

“O,” keduanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Salah seorang dari mereka berkata, “Kenapa Ki Lurah tidak mengatakannya sejak kemarin. Jika kami mengetahuinya, maka tugas kami semalam suntuk ini tidak akan terasa terlampau berat dan menjemukan. Hampir saja aku tidak tahan lagi dan memaksa untuk kembali.”

“Aku pun belum yakin. Tetapi bagaimana pun juga, kalian tidak akan dapat ingkar atas tugasmu.”

Kedua pengawal itu saling berpandangan sejenak. Namun salah seorang dari mereka pun kemudian berkata, “Ki Lurah benar. Senang atau tidak senang, jemu atau tidak jemu, kami memang harus menjalankan tugas kami dengan baik. Tetapi jika tugas itu terasa ringan, maka sudah barang tentu akan dapat kami lakukan lebih baik lagi.”

“Sudah terlanjur. Apakah aku harus mengulangi sekali lagi?”

“Ah.”

Ketiganya pun terdiam. Ketika mereka menengadahkan wajah mereka ke langit, nampak cahaya pagi mulai membayang. Beberapa langkah di hadapan mereka, Raden Sutawijaya nampaknya menjadi semakin kecil karena jarak yang semakin jauh.

“Cepat. Kita susul Raden Sutawijaya,” berkata Ki Lurah Branjangan.

Kedua pengawalnya tidak menjawab. Tetapi kuda-kuda mereka sajalah yang berlari lebih cepat.

Namun di dalam perjalanan itu, para pengawal tidak henti-hentinya menilai tindakan Raden Sutawijaya. Tetapi mereka mengerti, bahwa Raden Sutawijaya adalah seorang anak muda yang keras hati. Kemudaannyalah yang telah membawanya pergi ke Pajang, mengunjungi puteri Kalinyamat itu. Apalagi gadis itu memang sudah bukan gadis lagi karena ia sudah mengandung.

Dalam pada itu, selagi Ki Gede Pemanahan berbaring sendiri di dalam biliknya, telah datang mengunjunginya seorang yang dikenalnya dengan akrab, bahkan seperti saudara sekandungnya, Ki Juru Martani.

Ki Juru Martani terkejut ketika ia melihat Ki Gede Pemanahan berbaring dengan wajah pucat. Karena itu maka dengan tegang Ki Juru Martani itu pun duduk di pembaringan sambil meraba tubuh Ki Gede yang lemah.

“Kenapa kau, Adi Pemanahan?” bertanya Ki Juru.

Tetapi Ki Gede Pemanahan tetap tersenyum. Katanya, “Aku tidak apa-apa, Kakang. Barangkali aku terlalu letih. Karena itu aku perlu beristirahat.”

“Tetapi luka-luka itu?”

“Luka-luka itu sudah hampir sembuh.”

“Mungkin luka-lukamu sudah hampir sembuh. Tetapi nampaknya ada luka di dalam hatimu. Itulah agaknya yang parah.”

Tetapi Ki Gede Pemanahan tertawa. Katanya, “Kau masih saja senang menebak. Tetapi kali ini kau keliru, Kakang. Aku tidak apa-apa.”

Tetapi Ki Juru beringsut sambil berkata, “Jangan membohongi saudara tua. Nah, katakan, apa yang sedang kau pikirkan. Sekali lagi aku akan menebak. Dan sekali lagi aku tidak akan salah pula. Kau tentu memikirkan anakmu.”

Ki Gede Pemanahan mengerutkan keningnya. Katanya kemudian dalam nada yang datar, “Kau memang pandai menebak, Kakang. Tetapi apakah kau dapat menebak, apakah yang telah dilakukan oleh Sutawijaya?”

Ki Juru tersenyum. Katanya, “Tentu, Adi Pemanahan. Aku tentu dapat menebak dengan tepat pula.”

Wajah Ki Gede berkerut. Namun ia masih mencoba tersenyum dan bertanya, “Nah. apakah Kakang Juru dapat menyebutnya?”

Ki Juru Martani masih tersenyum. Katanya, “Tentu karena anakmu tidak pernah ada di rumah. Tetapi itu suatu pertanda baik. Anakmu tentu keluar masuk hutan dan barangkali goa-goa dan bukit-bukit yang sepi. Di sana anakmu akan mendapatkan kesejukan rohani dan akan lebih menguntungkan bagimu dan bagi Mataram, jika Raden Sutawijaya dengan demikian akan menjadi seorang kesatria yang linuwih.”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Ki Juru Martani berkata selanjutnya, “Adi. Setiap orang sudah mengetahui bahwa puteramu itu gemar mesu diri dan olah kanuragan serta kajiwan. Kau tidak perlu memikirkannya. Apalagi dengan cemas dan ketakutan. Serahkan segalanya kepada Yang Maha Pencipta.”

Namun justru kata-kata Ki Juru Martani itu rasa-rasanya membuat luka di hati Ki Gede menjadi semakin parah. Meskipun ia masih tetap berusaha tersenyum, namun ternyata bahwa senyumnya menjadi hambar.

Betapa pun Ki Gede mencoba menyembunyikannya, tetapi Ki Juru berhasil menangkap kepahitan yang tersirat dari tatapan wajah Ki Gede Pemanahan, sehingga karena itu maka dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah sebenarnya yang telah terjadi, Adi Pemanahan? Berapa bulan aku tidak berkunjung kemari. Agaknya sesuatu memang telah terjadi. Dan bukankah kau belum mengatakan, siapakah yang telah melukaimu?”

Ki Gede termenung sejenak. Namun ia pun kemudian berkata, “Sebenarnyalah bahwa tidak ada rahasia lagi di antara kita, Kakang. Karena itu, apakah buruknya jika aku menceritakan apa yang telah terjadi atas diriku, atas Mataram dan atas Sutawijaya.”

Ki Juru Martani bergeser sejengkal. Katanya, “Agaknya ceritamu akan menjadi sangat menarik.”

“Mungkin, Kakang. Tetapi mungkin juga sangat memuakkan.”

“Ah,” desah Ki Juru, “katakan jika kau memang tidak berkeberatan.”

Ki Gede termangu-mangu sejenak. Namun kemudian diceritakannya apa yang terjadi. Sebagian Ki Juru sudah mengetahui tentang gangguan yang selama itu memperlambat perkembangan Mataram. Kemudian kepergian Sutawijaya ke Menoreh. Dan yang terakhir adalah kepergian Ki Gede Pemanahan sendiri ke Pajang dengan segala kepentingannya.

“Di perjalanan kembali itulah aku terluka,” Ki Gede menutup ceritanya dengan menguraikan kejadian yang dialaminya di pinggir Kali Opak.

Ki Juru Martani mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kesan bahwa Ki Juru Martani terkejut mendengar cerita itu, terutama tentang Raden Sutawijaya yang telah melakukan suatu perbuatan yang tercela.

“Kakang,” desis Ki Gede Pemanahan, “bagaimanakah pendapat Kakang tentang hal itu? Agaknya Kakang acuh tidak acuh saja mendengarnya.”

“Jangan salah mengerti, Adi Pemanahan. Sebenarnyalah bahwa aku sudah mendengar apa yang telah terjadi dengan puteramu itu.”

“O,” wajah Ki Gede Pemanahan menjadi tegang sejenak. Namun ia pun kemudian menjadi lesu dan berdesah, “Jadi Kakang sudah mengetahuinya.”

Ki Juru Martani mengangguk, “Maaf, Adi. Bukan maksudku untuk menambah Adi Pemanahan menjadi semakin berkecil hati. Berita tentang yang telah terjadi itu sudah banyak didengar orang. Apalagi mereka yang tidak senang kepada Jebeng Sutawijaya. Mereka telah menyiarkan berita itu, seakan-akan Sutawijaya telah melakukan perbuatan yang paling terkutuk di muka bumi.”

“Kakang, tetapi apakah tidak sebenarnya memang demikian?”

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Katanya, “Memang demikian, Adi. Tetapi jika hal itu telah terjadi, maka yang perlu dipikirkannya adalah penyelesaiannya.”

“Seperti aku katakan, aku sudah menghadap Sultan Pajang. Tetapi Sutawijaya tidak percaya bahwa Sultan Pajang telah benar-benar mengampuninya. Bahkan timbullah prasangka buruknya atas Untara dan prajurit-prajurit Pajang yang justru telah menolong aku di pinggir Kali Opak itu.”

Tetapi di luar dugaannya, ternyata Ki Juru Martani itu justru tersenyum. Katanya, “Itulah sifat anak-anak muda. Curiga dan kadang-kadang tanpa dipikirkannya masak-masak.”

“Kakang,” berkata Ki Gede Pemanahan kemudian, “apakah Kakang dapat menunggunya barang sehari ini? Ki Lurah Branjangan sedang mencarinya. Mungkin ia akan segera pulang. Jika Kakang percaya bahwa Sultan Pajang berbuat dengan hati tulus, maka Kakang tentu akan bersedia menolong aku memberitahukan hal itu kepada Sutawijaya.”

Ki Juru merenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan menunggu Raden Sutawijaya.”

Demikianlah maka Ki Juru Martani pun tetap tinggal bersama Ki Gede Pemanahan sambil menunggu kedatangan Raden Sutawijaya. Pembicaraan mereka pun kemudian berkisar mengenai perkembangan Tanah Mataram yang nampaknya sangat pesat dan menggembirakan.

Menjelang matahari mencapai ujung pepohonan, Ki Lurah Branjangan mengiringi Raden Sutawijaya memasuki halaman rumahnya. Sutawijaya yang gelisah, segera menyerahkan kudanya kepada seorang pelayan, dan ia sendiri langsung memasuki ruang dalam.

Ketika ia sampai ke pintu bilik ayahandanya, ia pun tertegun. Dilihatnya di dalam bilik itu Ki Juru Martani duduk di pembaringan ayahnya.

“O,” Raden Sutawijaya menundukkan kepalanya, “Pamanda Ki Juru Martani.”

Ki Juru Martani tertawa. Katanya, “Kemarilah, Sutawijaya. Sudah lama uwakmu tidak bertemu. Aku menjadi sangat rindu kepadamu. Ketika aku datang dan aku tidak menemukan kau di dalam rumah ini, aku menjadi kecewa. Tetapi menurut ayahandamu, kau tentu akan segera kembali.”

Raden Sutawijaya tidak menyahut. Ia duduk dengan kepala tunduk di atas sebuah dingklik kayu di sisi pembaringan ayahandanya.

“Ternyata kau telah benar-benar datang,” Ki Juru melanjutkan.

Raden Sutawijaya mencoba tersenyum. Tetapi senyumnya terasa sangat hambar.

Beberapa saat lamanya Ki Juru Martani bertanya-tanya tentang Tanah Mataram yang sedang dibuka. Kemajuan yang telah dicapai, dan rencana yang telah disusun.

Semula Sutawijaya merasa canggung menanggapi pertanyaan-pertanyaan Ki Juru Martani. Ia merasa bahwa akhirnya pembicaraan itu tentu akan sampai kepada persoalannya. Persoalan yang di luar sadarnya telah melihatkan banyak pihak di dalamnya.

Tetapi ternyata Ki Juru Martani sama sekali tidak menyinggung mengenai persoalannya dengan gadis Kalinyamat itu, sehingga lambat laun pembicaraannya menjadi lancar.

Tanpa disadarinya, maka Ki Juru Martani telah membuka hati Raden Sutawijaya. Itulah sebabnya, ketika mereka kemudian duduk berdua setelah mereka makan siang, barulah Sutawijaya menyadari bahwa ia telah terlibat dalam pembicaraan yang bersungguh-sungguh dengan Ki Juru Martani.

Tetapi ternyata bahwa Ki Juru Martani mempunyai sikap yang agak berbeda dengan Ki Gede Pemanahan. Justru karena Ki Juru Martani tidak langsung mengalami persoalan itu pada puteranya sendiri. Karena itulah, maka Ki Juru Martani dapat melihat peristiwa itu dengan lebih jernih.

Namun ternyata pandangan mata hati Ki Juru Martani tidak terhenti pada bentuk wadag antara Raden Sutawijaya dan gadis Kalinyamat itu. Dengan suara yang dalam orang tua itu berkata, “Sutawijaya. Sebenarnya bukannya secara kebetulan aku datang kemari. Aku sudah mendengar semua yang terjadi atasmu, bukan baru saja aku dengar dari ayahandamu. Dan aku sudah mengatakan pula kepada ayahandamu tentang hal itu. Tetapi yang belum aku katakan kepadanya, dan barangkali nanti atau dalam kesempatan lain, bahwa rasa-rasanya ada semacam firasat tentang bayi yang akan lahir itu.”

Sutawijaya termenung sejenak. Tetapi karena Ki Juru Martani tidak semata-mata marah kepadanya tentang peristiwa yang telah terjadi, maka ia memberanikan diri untuk bertanya, “Apakah maksud Paman Juru Martani tentang firasat itu?”

Ki Juru Martani termenung sejenak, lalu, “Aku tidak dapat mengatakan sesuatu kepadamu sekarang, Raden. Tetapi kau harus menyambut kedatangan anak itu sebaik-baiknya. Kau harus menerima kehadirannya dengan wajar, dan kau sama sekali tidak boleh menyia-nyiakan ibunya.”

“Tidak, Paman. Aku tidak akan menyia-nyiakan.”

“Kau baru saja mengunjunginya malam ini?”

Sutawijaya tertunduk. Wajahnya menjadi kemerah-merahan.

“Kau tahu, bagaimana tanggapan ayahandamu Sultan Pajang mengenai peristiwa ini?”

“Aku mendengar dari Ayahanda Ki Gede Pemanahan.”

“Kau harus berterima kasih, bahwa hal ini tidak menjadi alasan ayahandamu untuk marah kepadamu. Ayahandamu Sultan Pajang benar-benar mengampunimu.”

Sutawijaya memandang Ki Juru sekilas. Namun Ki Juru sudah menangkap perasaan yang memercik dari tatapan mata yang hanya sekilas itu.

“Kau tidak percaya?”

Sutawijaya tidak menjawab.

Ki Juru Martani yang mendapat pesan dari Ki Gede Pemanahan untuk mencoba melunakkan hati Sutawijaya itu pun kemudian berkata, “Raden Sutawijaya, kau sebaiknya mencoba mengendapkan persoalan ini di dalam hatimu. Cobalah mengenang sifat ayahandamu Sultan Pajang. Apakah ada sesuatu yang tidak memungkinkan menurut pendapatmu, bahwa ayahandamu itu memaafkan kau?”

Sutawijaya sama sekali tidak menjawab. Sementara Ki Juru Martani mencoba untuk meyakinkannya dengan sikap kebapakan.

Tetapi Ki Juru Martani tidak terlampau panjang berbincang dengan Sutawijaya. Ia tidak ingin membuat anak itu jemu terhadapnya. Karena itu, maka ia pun kemudian mengalihkan pembicaraan pada luka-luka ayahnya yang didapatkannya di tepi Kali Opak.

“Kau kenal dukun dari Dukuh Pakuwon itu?” bertanya Ki Juru Martani.

“Maksud Paman?”

“Kiai Gringsing.”

“O,” Sutawijaya menengadahkan wajahnya. Karena pembicaraan itu agaknya sudah bergeser, maka sikapnya pun segera berubah, “aku mengenalnya dengan baik, Paman,”

“Apakah menurut pendapatmu ia memang seorang dukun dari padukuhan kecil di dekat Jati Anom itu?”

“Maksud Paman?”

“Apakah kau tidak meiihat sesuatu yang dapat menumbuhkan persoalan di dalam hatimu tentang orang tua itu?”

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Aku kurang mengerti maksud Paman. Jika yang dimaksud kemampuan olah kanuragan, sebenarnyalah bahwa Kiai Gringsing memiliki kemampuan yang luar biasa.”

“Itu sudah dapat menumbuhkan persoalan.”

Sutawijaya pun kemudian menceritakan pertempuran yang luar biasa yang telah terjadi antara Kiai Gringsing dan Panembahan Alit. Pertempuran yang jarang sekali terjadi. Pertempuran antara dua orang yang memiliki ilmu melampaui orang kebanyakan.”

Ki Juru Martani mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Bagaimana kalau Kiai Gringsing itu diminta untuk mencoba mengobati ayahandamu?”

“Seperti yang dimaksud Ki Lurah Branjangan?”

“Banyak hal yang akan timbul. Orang tua itu tentu mempunyai pandangan yang jauh mengenai Mataram dan Pajang. Apakah ia pernah menyinggungnya?”

“Sekali-sekali, Paman. Kadang-kadang Kiai Gringsing senang juga berbicara tentang Mataram dan Pajang.”

“Demak?”

Raden Sutawijaya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian, “Memang ada sesuatu yang tersembunyi pada orang itu. Sejak aku menjumpainya di Sangkal Putung, sebenarnya aku telah diganggu oleh beberapa macam pertanyaan tentang dirinya.”

“Sutawijaya,” berkata Ki Juru Martani kemudian, “jika demikian, selagi Mataram menghadapi banyak persoalan sekarang ini, aku sependapat jika kau pergi saja ke Menoreh untuk menjemput Kiai Gringsing. Ia tentu tidak berkeberatan mengobati ayahandamu yang sedang sakit. Sakit ayahandamu bukan sekedar timbul karena ia terluka. Tetapi ada penyakit lain yang harus segera mendapat pengobatan.”

“Maksud Paman?”

Ki Juru Martani tersenyum. Katanya, “Panggil sajalah Kiai Gringsing. Kau tidak usah mengatakan persoalan apa pun juga, selain persoalan luka-luka dan sakit ayahandamu. Kau jangan mencoba mencari-cari sebab penyakit itu sendiri. Katakan apa yang nampak oleh penglihatanmu. Itu saja.”

Sutawijaya mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu karena ia yakin, bahwa Ki Juru Martani tentu tidak akan mengatakan lebih jauh daripada itu.

“Nah, marilah kita kembali ke dalam bilik ayahandamu. Kita akan berbicara tentang Kiai Gringsing. Kapan kau dan Ki Lurah Branjangan atau salah seorang dari kalian akan berangkat ke Menoreh.”

“Tetapi Kiai Gringsing sendiri waktu itu sedang terluka, Paman,” sahut Sutawijaya.

“Tentu saja jika ia sudah sembuh atau oleh kemauannya sendiri ia bersedia berangkat segera.”

Raden Sutawijaya merenung sejenak. Luka-luka Kiai Gringsing agaknya memang parah. Tetapi sebagai seorang dukun yang pandai dalam hal obat-obatan Sutawijaya berharap bahwa keadaan Kiai Gringsing telah menjadi baik dan memungkinkan untuk pergi ke Mataram.

“Mudah-mudahan orang itu belum pergi ke Sangkal Putung,” berkata Sutawijaya kemudian, “karena ia berada di Menoreh sebenarnya sekedar mengantarkan Ki Demang Sangkal Putung melamar anak perempuan Kepala Tanah Perdikan Menoreh.”

“O, begitu jauh? Apakah keduanya masih ada hubungan keluarga sehingga mereka ingin mempererat hubungan itu dengan perkawinan anak-anak mereka?”

“Sepanjang pendengaranku mereka tidak pernah menyebut demikian.”

“Jadi bagaimana mereka dapat menempuh jarak sejauh itu tanpa ada hubungan apa pun?”

“Hubungan itu telah dijalin oleh anak-anak mereka sendiri, sedang orang tua mereka tidak berkeberatan.”

Ki Juru Martani mengangguk-anggukkan kepalanya. Jika memang jodoh itu datang, jarak agaknya tidak menjadi soal. Demikian juga agaknya yang terjadi atas anak Ki Demang Sangkal Putung dan anak perempuan Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu.

Demikianlah maka keduanya pun kemudian memasuki kembali bilik Ki Gede Pemanahan. Mereka duduk di sebelah pembaringan dan mulai lagi berbincang mengenai beberapa hal. Namun mereka kemudian mengambil kesimpulan, bahwa Sutawijaya dan Ki Lurah Branjangan akan pergi ke Menoreh, untuk minta Kiai Gringsing datang ke Mataram.

“Besok pagi-pagi benar aku akan berangkat,” berkata Sutawijaya.

“Hati-hatilah di perjalanan,” pesan Ki Juru Martani, “meskipun menurut perhitunganmu jalan ke Menoreh seakan-akan sudah bersih, seperti juga jalan ke arah Timur setelah Panembahan Agung dapat kalian kalahkan, namun kadang-kadang kita menjumpai persoalan yang sama sekali tidak terduga.”

“Baik, Paman,” jawab Sutawijaya, “aku akan membawa beberapa orang serta bersama kami.”

“Itu lebih baik. Tetapi jangan mengejutkan orang-orang Menoreh dengan sikap dan tingkah laku kalian.”

Malam yang kemudian turun menjelang keberangkatan Sutawijaya, Ki Gede Pemanahan masih memberikan beberapa pesan. Pesan buat Kiai Gringsing dan buat Ki Argapati. Tetapi ia pun berkata, “Jika tidak berkeberatan, persilahkan Ki Demang Sangkal Putung itu singgah pula untuk beberapa hari. Bukankah Mataram ada dilalui jalan mereka jika mereka kembali ke kademangannya?”

“Aku akan menyampaikannya, Ayahanda,” jawab Sutawijaya.

“Selain daripada itu, aku menyampaikan terima kasih yang tidak terhingga. Meskipun mereka nampaknya melakukan pembersihan atas daerah mereka sendiri, tetapi sebenarnya bahwa Ki Argapati telah membantu tegaknya Mataram yang sedang tumbuh dan berkembang ini.”

“Dan juga kepada Ki Waskita, Ayahanda.”

“Tentu. Kepada semuanya yang telah berjuang dengan berani. Kita harus mengakui, bahwa tanpa mereka Mataram tidak akan dapat berbuat apa-apa. Apalagi apabila orang-orang yang tidak mau melihat Mataram tumbuh itu sempat membuat rencana yang masak dengan orang-orang mereka yang kini berada di Pajang. Dan tentu tidak akan salah jika aku menduga bahwa orang-orang penting di Pajang pun sebagian telah terlibat dalam perencanaan itu.”

“Itulah yang masih selalu membuat kalian harus berprihatin,” potong Ki Juru Martani.

Ki Gede Pemanahan hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.

Seperti yang telah direncanakan, maka Raden Sutawijaya pun kemudian berkemas bersama Ki Lurah Branjangan. Mereka besok pada dini hari akan berangkat ke Menoreh bersama dengan beberapa orang pengawal. Mereka mengharap sebelum tengah hari mereka sudah akan berada di induk Tanah Perdikan Menoreh dan bertemu dengan Ki Argapati.

“Mudah-mudahan mereka masih ada di sana.”

Ketika ayam jantan berkokok menjelang fajar, Raden Sutawijaya, Ki Lurah Branjangan, dan empat orang pengawalnya telah siap di halaman rumah. Sutawijaya masih memasuki bilik ayahandanya dan mohon diri. Sedang Ki Juru Martani mengantar kepergian mereka sampai di regol halaman.

“Hati-hatilah,” berkata Ki Juru Martani, “bukan saja di perjalanan. Tetapi juga caramu mengatakannya kepada Kiai Gringsing. Kau jangan menyebut apa saja. Kau tidak boleh menunjukkan prasangka apa pun. Kau undang orang tua itu semata-mata karena ia seorang yang selama ini kau kenal sebagai orang yang pandai mengobati segala macam penyakit. Selebihnya, memang bukan persoalanmu, tetapi persoalan orang tua-tua.”

Sutawijaya pun kemudian berangkat dengan membawa segala macam pesan itu di dalam dadanya. Pesan Ki Juru Martani justru membuatnya semakin bertanya-tanya tentang orang tua itu.

Ketika mereka sudah lewat sebuah alun-alun yang mulai dibangun di hadapan rumah Ki Gede Pemanahan dengan sepasang pohon beringin yang mulai nampak subur. Sutawijaya dan pengawal-pengawalnya mulai berpacu lebih cepat. Langit yang menjadi semakin terang melepaskan warna-warna merah kekuning-kuningan, membayang di dedaunan yang basah oleh embun.

Rasa-rasanya angin yang mulai bertiup telah membangunkan seluruh Mataram. Dedaunan mulai bergerak-gerak dan disetiap halaman terdengar derik sapu lidi.

Raden Sutawijaya menarik nafas panjang. Udara pagi terasa menyegarkan rongga dadanya. Menjelang pagi hari Raden Sutawijaya melihat Mataram yang bangkit dan mulai dengan kerja keras seperti yang dilakukan sehari-hari sebelumnya.

Di sepanjang jalan Sutawijaya ternyata tidak dapat berlalu begitu saja tanpa singgah untuk melihat setiap kelompok pekerja yang sedang mempersiapkan diri dengan tugas masing-masing. Untuk beberapa saat lamanya, Raden Sutawijaya memerlukan berbicara dengan mereka. Bertanya-tanya tentang tugas mereka dan hasil yang pernah mereka capai sampai saat terakhir.

Kedatangan Raden Sutawijaya selalu disambut dengan penuh kegembiraan. Namun kedatangannya tidak pernah mengejutkan, karena sudah terlampau sering dilakukannya.

Yang membuat para pekerja itu heran adalah karena saat itu Raden Sutawijaya pergi bersama Ki Lurah Branjang dengan diiringi oleh beberapa orang pengawal. Pakaian yang dikenakannya pun bukan pakaiannya sehari-hari jika Raden Sutawijaya pergi berkeliling melihat-lihat orang-orang yang sedang giat bekerja tanpa henti-hentinya.

“Apakah Raden akan bepergian?” bertanya seseorang pekerja.

“Ya. Aku akan pergi ke Menoreh bersama Paman Branjangan dan pengawal-pengawalku ini.”

“Apakah masih ada sesuatu yang belum terselesaikan?” bertanya pekerja yang lain.

“Jika yang kau maksud adalah persoalan Panembahan Agung, maka semuanya sudah selesai. Aku sekarang pergi ke Menoreh dalam persoalan lain. Persoalan pengobatan Ayahanda Ki Gede Pemanahan.”

Para pekerja itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka semuanya sudah mendengar bahwa Ki Gede Pemanahan berada dalam keadaan sakit. Bukan saja oleh luka-luka senjata, tetapi sebenarnya ia sedang sakit.

Kepergian Raden Sutawijaya ke Menoreh menumbuhkan harapan bagi para pekerja yang menganggap Ki Gede Pemanahan adalah pemimpin mereka. Bukan saja pemimpin, tetapi seakan-akan telah menjadi orang tua mereka. Para pekerja itu pun sudah pernah mendengar bahwa dukun yang pandai yang bernama Kiai Gringsing itu ada di Menoreh.

Demikiankah maka Raden Sutawijaya pun segera melanjutkan perjalanannya. Di beberapa bagian ia melihat para pekerja sudah mulai dengan kerja mereka. Beberapa orang masih saja berusaha memperluas tanah garapan dengan menebang hutan-hutan yang masih pekat. Para pekerja itu tidak perlu takut lagi mendengar bunyi burung kedasih, derap kaki kuda di malam hari dan tengkorak-tengkorak yang menari-nari di atas punggung kuda yang gemerlapan. Mereka tidak pernah lagi menyebut hantu-hantu Alas Mentaok.

Dengan demikian, maka tugas mereka pun menjadi semakin lancar.

Raden Sutawijaya meninggalkan setiap kelompok pekerja dengan memberikan pesan-pesan. Bagaimanapun juga mereka harus tetap berhati-hati, meskipun sekedar melawan binatang-binatang buas dan ular-ular berbisa yang berkeliaran di beberapa bagian dari hutan itu.

Akhirnya, beberapa lama kemudian, Raden Sutawijaya bersama para pengawalnya sampai pada ujung jalan yang sedang diselesaikan, sehingga mereka pun kemudian harus melintasi jalan setapak di dalam hutan yang masih lebat.

Dengan demikian maka penjalanan mereka pun menjadi agak sendat. Namun kuda-kuda mereka dapat maju betapa pun lambatnya.

Baru setelah mereka melampaui hutan yang lebat dan sampai pada sebuah padang perdu dan ilalang, kuda-kuda mereka pun dapat bergerak lebih leluasa sehingga perjalanan mereka menjadi semakin cepat.

Tetapi ternyata bahwa rencana Raden Sutawijaya untuk mencapai pedukuhan induk Menoreh menjelang tengah hari, sama sekali tidak dapat dilaksanakannya. Rombongan kecil itu terlampau banyak berhenti di setiap kelompok kerja. Berbicara untuk beberapa waktu. Memberikan pesan-pesan den kadang-kadang melihat-lihat hasil pekerjaan mereka.

Karena itulah maka pada saat matahari sampai di puncak langit kuda-kuda mereka pun sedang dituntun naik ke atas rakit untuk menyeberangi Sungai Praga yang arusnya agak besar karena hujan di bagian ujung sungai itu agaknya sudah mulai deras.

Baru ketika mereka sudah ada di seberang Sungai Praga, kuda-kuda itu dapat berlari lebih cepat lagi. Namun Raden Sutawijaya tidak memacu kudanya terlampau cepat, agar tidak menimbulkan kesan yang mengejutkan di tlatah Tanah Perdikan Menoreh.

Namun demikian, ternyata tiga ekor kuda yang tegar telah berpacu mengejar mereka. Kaki-kaki kuda itu berderap sambil melemparkan debu yang putih.

“Siapakah mereka?” bertanya Raden Sutawijaya.

Ki Lurah Branjangan termangu-mangu. Namun bagaimana pun juga yang mengejar itu hanya tiga orang di atas punggung, tiga ekor kuda. Ketiganya tentu bukan orang-orang yang pantas menimbulkan bencana atas mereka. Jika mereka orang-orang Menoreh, maka mereka tentu tidak akan berbuat apa-apa, sebab mereka sudah mengetahui siapakah Raden Sutawijaya. Apalagi para pengawal Tanah Perdikan yang telah ikut memburu orang-orang di padepokan Panembahan Agung. Sedangkan apabila mereka adalah orang-orang jahat, maka jumlah mereka terlampau sedikit untuk dapat berhasil merampas apa pun dari Raden Sutawijaya dan pengawal-pengawalnya.

Meskipun demikian, hati Raden Sutawijaya menjadi berdebar. Semakin dekat tiga orang berkuda itu, jantung Raden Mas Sutawijaya menjadi semakin cepat berdetak. Bukan karena ia takut menghadapi bahaya apa pun juga, tetapi jika timbul salah paham maka ia akan berada dalam kedudukan yang sulit.

“Tetapi jika mereka justru orang-orang berniat jahat, dan sama sekali bukan orang Menoreh, maka aku tidak terlalu banyak harus mengendalikan perasaan. Aku akan segera dapat mengambil sikap yang tegas terhadap mereka,” berkata Raden Sutawijaya di dalam hatinya.

Ketika ketiga orang berkuda itu menjadi semakin dekat, maka Raden Sutawijaya pun kemudian menghentikan kudanya. Dan para pengawalnya pun berbuat serupa.

Sejenak kemudian ketiga orang berkuda itu sudah berhenti beberapa langkah dari mereka. Namun seperti yang di duga oleh Ki Lurah Branjangan, ternyata mereka adalah para pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang sudah mengenal Raden Sutawijaya dengan baik.

“Selamat datang di Tanah Perdikan Menoreh,” salah seorang dari mereka itu pun segera menyapa.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Ia berharap bahwa sikap itu mencerminkan pengertian orang-orang Menoreh atas kedatangannya. Karena itu maka dengan tersenyum ia menjawab, “Terima kasih, Ki Sanak. Kami tiba-tiba saja merasa rindu kepada Tanah Perdikan ini, sehingga kami memerlukan datang untuk menengoknya dan menengok Ki Gede Menoreh beserta keluarganya.”

“Silahkan, Raden. Ki Gede tentu akan menerima dengan senang hati,” jawab salah seorang dari pengawal pengawal itu. “Selebihnya tamu-tamu Ki Gede pun tentu akan senang sekali jika Raden datang mengunjungi mereka pula”

“Siapa?”

“Masih yang dahulu, Raden. Kiai Gringsing dan Ki Demang Sangkal Putung serta kawan-kawannya.”

“Apakah Kiai Gringsing masih belum sembuh? Dan bagaimana dengan Ki Sumangkar?”

“Keduanya sudah baik, Ki Sumangkar sudah hampir sembuh sama sekali, sedang Kiai Gringsing masih harus memulihkan tubuhnya Tetapi luka-lukanya agaknya juga sudah baik.”

“Kebetulan sekali,” desis Raden Sutawijaya hampir di luar sadarnya.

“Kenapa kebetulan?” bertanya pengawal itu.

“O,” Raden Sutawijaya tergagap, “maksudku, aku masih sempat bertemu dengan mereka nanti.”

“Tentu, marilah. Aku akan mengantar Raden beserta Ki Lurah sampai ke padukuhan induk di Tanah Perdikan Menoreh.”

Demikianlah maka iring-iringan itu pun melanjutkan perjalanan mereka langsung menuju ke padukuhan Induk. Di perjalanan para pengawal yang dijumpainya masih selalu ingat kepada anak muda yang berani itu. Sambil tersenyum mereka menunduk hormat. Apalagi mereka mengetahui bahwa Raden Sutawijaya mempunyai pengaruh yang kuat di Mataram dan Pajang. Senang atau tidak senang, orang-orang Pajang harus memperhitungkannya, sehingga ada di antara mereka yang terpaksa bekerja bersama dengan Panembahan Agung untuk membatasi perkembangan Mataram, dan jika mungkin memadamkan sama sekali daerah yang sedang tumbuh itu.

Dan Daksina adalah salah seorang dari mereka yang telah terjerumus ke dalam bencana karena pokal mereka sendiri.

Ketika iring-iringan itu kemudian memasuki padukuhan induk di Tanah Perdikan Menoreh, maka memang terasa kerinduan yang sebenarnya bergejolak di hati Raden Sutawijaya. Rasa-rasanya ia memang ingin bertemu dengan anak-anak muda, murid Kiai Gringsing yang hampir sebaya dengan umurnya. Bahkan rasa-rasanya ia ingin juga bertemu dengan Rudita yang di saat terakhir nampak memiliki kelainan dari saat-saat sebelumnya.

Tetapi Raden Sutawijaya yang tergesa-gesa meninggalkan Menoreh saat itu tidak dapat melihat perkembangan jiwa anak muda itu.

Ketika iring-iringan itu menjadi semakin dekat, maka seorang pengawal dari Menoreh itu pun segera mendahului untuk memberitahukan bahwa akan datang beberapa orang tamu dari Tanah Mataram.

Kedatangan Raden Sutawijaya pun kemudian telah mendapat sambutan yang ramah, namun dibayangi oleh berbagai macam pertanyaan. Meskipun demikian Ki Gede Menoreh menahan diri untuk tidak bertanya sesuatu lebih dahulu sebelum Raden Sutawijaya mengatakannya. Ia hanya sekedar mempersilahkan tamu-tamunya naik ke pendapa, menyapanya dengan adat kebiasaan mereka tentang keadaan dan kesehatan masing-masing.

Sesaat kemudian maka tamu-tamu Ki Gede pun segera ikut duduk melingkar di atas tikar yang terbentang di pendapa. Ki Demang Sangkal Putung, Kiai Gringsing yang sudah berangsur baik dan kedua muridnya, serta Ki Sumangkar. Sementara Prastawa dan Pandan Wangi kemudian sibuk menyiapkan jamuan bagi tamu-tamunya.

Tetapi Raden Sutawijaya tidak melihat Rudita di antara mereka. Juga ayahnya sama sekali tidak menyertai Ki Gede Menoreh menemuinya di pendapa.

Demikian besar keinginannya untuk mengetahui tentang keadaan anak yang manja itu sehingga ia tidak dapat menahan diri untuk bertanya, “Apakah Ki Waskita masih berada di sini?”

Ki Argapati tersenyum. Jawabnya, “Mereka sudah kembali, Raden. Agaknya kedua orang tua Rudita belum sependapat melihat perkembangan jiwa anaknya.”

“Apa yang terjadi?”

“Rudita menjadi bertambah dewasa.”

“Mengagumkan. Ia akan menjadi seorang yang disegani.

“Tidak dalam hal olah kanuragan, Raden,” jawab Ki Argapati. “Ayahnya berniat untuk tidak mewariskan ilmunya kepada anaknya. Menurut pertimbangan Ki Waskita, jiwa Rudita kurang mantap untuk memiliki ilmu yang dahsyat itu. Jika jiwa itu kemudian goyah oleh pengaruh kemanjaan di masa kanak-kanak yang terangkat lagi, maka akibatnya akan menjadi kurang baik.” Ki Argapati berhenti sejenak, “Apalagi perkembangan jiwa Rudita agaknya mengarah kepada kebesaran yang sejati. Kedamaian dan kasih. Ayahnya sedang berusaha memantapkan pilihan itu. Sebenarnyalah menurut Ki Waskita, kedamaian dalam kasih adalah kebesaran jiwa yang sebenarnya. Bagi orang yang berhasil maka olah kanuragan tidak lebih dari kekuasaan yang semu semata-mata, seperti bentuk-bentuk yang dapat diujudkan dalam angan-angan itu.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti maksud Ki Waskita seperti yang dikatakan oleh Ki Argapati itu. Meskipun demikian ia masih berkata, “Tetapi Ki Gede, dalam saat terakhir Ki Waskita masih juga mempergunakan ilmunya. Dapat dibayangkan, apakah yang akan terjadi jika Ki Waskita tetap pada pendiriannya untuk tidak berbuat apa pun dengan kemampuannya yang tinggi itu.”

“Ki Waskita mengetahui betapa dahsyat ilmunya itu, Raden. Sehingga ia pun dapat membayangkan, jika ilmu serupa itu jatuh ke tangan yang sesat seperti Panembahan Agung, apakah akibatnya. Jika ia kemudian terpaksa mempergunakan ilmunya, maka hal itu adalah karena pertimbangan yang tidak dapat dielakkannya lagi. Seperti yang Raden katakan, berapa korban yang akan jatuh karenanya.”

“Jika Ki Waskita tidak memiliki ilmu itu karena pendiriannya, maka akibatnya pun akan seperti itu pula.”

“Tetapi itu masih lebih baik daripada ada dua orang Panembahan Agung.”

“Maksud Ki Gede?”

“Masih lebih baik Ki Waskita tidak memiliki ilmu apa pun daripada jika orang yang memiliki kemampuan seperti Ki Waskita itu namun karena kelemahan jiwanya justru berpihak kepada Panembahan Agung.”

Raden Sutawijaya pun mengangguk-angguk pula. Kini ia mengerti sepenuhnya. Dan ia pun menyadari betapa seseorang selalu dibayangi oleh prasangka-prasangka buruk terhadap sesama, sehingga seseorang merasa perlu membentengi dirinya dengan berbagai macam ilmu.

Namun hal itu tidak terjadi secara tiba-tiba. Adalah merupakan pengalaman, bahwa sepanjang masa yang panjang, ternyata telah dibayangi oleh pertentangan-pertentangan dan sifat kekerasan antara sesama.

Dan hal itu terjadi sejak manusia dijauhkan dari Penciptanya oleh dosa. Dan sejak itu pula manusia hanya dapat merenungi ketenangan dan kedamaian dengan penuh kerinduan. Namun yang selalu mempersiapkan dirinya untuk melakukan kekerasan dan pertengkaran.

Untuk beberapa saat Raden Sutawijaya berdiam diri merenungi kata-kata Ki Gede Menoreh. Bahkan bukan saja Sutawijaya, tetapi juga Agung Sedayu dan Swandaru.

Tetapi mereka tidak memperbincangkannya lagi. Ketika kemudian Pandan Wangi menghidangkan jamuan, maka Ki Argapati pun mempersilahkan tamunya untuk meneguk air panas dan menikmati beberapa potong makanan.

Baru setelah itu, Sutawijaya menyampaikan keinginannya, kenapa ia datang ke Tanah Perdikan Menoreh.

“Ayahanda dalam keadaan sakit,” katanya kemudian, “karena itu, kami sekeluarga, dan bahkan seluruh Tanah Mataram mengharap kesediaan Kiai Gringsing untuk singgah barang sejenak.”

Kiai Gringsing memandang Ki Argapati sekilas. Agaknya Ki Argapati pun sedang memandanginya, seolah-olah berkata, “Silahkan mengambil keputusan Kiai.”

Kiai Gringsing menarik nafas. Kemudian katanya, “Apakah yang dapat diharapkan oleh Ki Gede Pemanahan dan apalagi oleh seluruh Tanah Mataram dari padaku, Raden?”

“Kiai adalah seorang dukun yang baik. Mudah-mudahan Kiai dapat menyembuhkan Ayahanda sehingga Ayahanda dapat memerintah Tanah yang sedang tumbuh ini sebaik-baiknya.”

“Raden,” berkata Kiai Gringsing, “yang aku lakukan adalah sekedar berusaha. Tetapi kesembuhan yang sebenarnya berasal dari Yang Maha Pengasih pula adanya. Karena itu, aku selalu mengingat keterbatasan kemampuan seseorang, sehingga aku tidak akan dapat mengatakan, bahwa aku akan dapat menyembuhkan penyakit Ki Gede Pemanahan itu.”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Katanya, “Kiai benar. Tetapi sampai saat ini Kiai adalah lantaran yang baik bagi kesembuhan itu. Seperti Ki Waskita merupakan lantaran yang baik untuk menyebut isyarat bagi masa mendatang. Dan yang seperti Kiai katakan, juga Ki Waskita pernah mengatakan, itu adalah kurnia. Dan kurnia itu tidak setiap orang menerimanya langsung. Karena itu Kiai, selagi Kiai masih menjadi lantaran kesembuhan, perkenankanlah Ayahanda mengharap Kiai Gringsing bersedia singgah barang sekejap, mungkin dalam perjalanan kembali ke Sangkal Putung, apabila persoalan Kiai di sini sudah selesai.”

Kiai Gringsing kemudian berpaling kepada Ki Demang Sangkal Putung. Katanya, “Aku hanya sekedar mengantarkan Ki Demang. Aku tidak tahu pasti, apakah persoalannya sudah selesai atau belum.”

Ki Demang Sangkal Putung tersenyum. Katanya kemudian sambil berpaling kepada Ki Gede Menoreh, “Sulit untuk menjawab pertanyaan itu. Tetapi agaknya untuk sementara persoalanku memang sudah selesai. Bukankah kita tinggal menunggu kesehatan Kiai Gringsing pulih kembali?”

Kiai Gringsing pun tersenyum pula, desahnya, “Inilah kelemahan seseorang. Jika aku kadang-kadang mengobati orang lain, maka aku tidak dapat memaksa diriku sendiri cepat-cepat menjadi sembuh sama sekali. Tetapi rasa-rasanya, aku sudah pulih kembali. Jika masih ada sedikit goresan luka, sebenarnya sudah tidak berpengaruh lagi.”

“Apalagi Kiai datang ke Mataram tidak untuk bertempur,” sahut Ki Lurah Branjangan, “bukankah begitu, Kiai?”

Yang mendengar kata-kata Ki Lurah itu pun tertawa. Kiai Gringsing yang juga tertawa mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, bukankah Ki Gede sependapat, bahwa sebaiknya Kiai Gringsing akan singgah sejenak di Mataram?” bertanya Sutawijaya kemudian.

“Tetapi bagaimana jika Kiai Gringsing kerasan di sini dan tidak akan kembali ke Sangkal Putung?”

Raden Sutawijaya tertawa. Yang lain pun tertawa pula. Namun dengan demikian Raden Sutawijaya menduga bahwa Kiai Gringsing tentu tidak akan berkeberatan untuk singgah, meskipun selama ini rasa-rasanya Kiai Gringsing selalu menghindarkan diri untuk bertemu dengan Ki Gede Pemanahan.

Tetapi tiba-tiba saja tanpa diduga-duga Kiai Gringsing berta-nya, “Raden Sutawijaya, siapakah sekarang yang menunggui Ayahanda Raden itu?”

“Pamanda Ki Juru Martani, Kiai,” jawab Raden Sutawijaya.

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Kemudian mengulangnya perlahan-lahan, “Ki Juru Martani.”

“Apakah Kiai sudah mengenalnya?”

Kiai Gringsing termangu-mangu. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya, “Aku belum mengenalnya. Aku belum pernah mengenal pemimpin-pemimpin pemerintahan. Baik pada masa Demak, Pajang, mau pun kemudian Mataram selain Raden Sutawijaya dan Ki Lurah Branjangan.”

Raden Sutawijaya memandanginya sejenak. Tetapi ia tidak menyahut.

Yang ternyata tertarik akan kata-kata itu adalah Ki Argapati. Sebagai seorang yang cukup berpengalaman, ia tidak dapat menerima kenyataan Kiai Gringsing sebagai seorang dukun padesan yang tidak memiliki hubungan apa pun dengan pemimpin-pemimpin pemerintahan pada masa mana pun juga. Bagi Ki Argapati, dukun itu tentu bukan seseorang yang benar-benar berasal dari Dukuh Pakuwon yang terletak antara Jati Anom dan Sangkal Putung.

Ki Argapati justru merenung ketika teringat olehnya tanda-tanda sandi yang pernah dilihatnya saat Kiai Gringsing mengobatinya. Tanda-tanda itu mengingatkannya kepada seseorang yang pernah dikagumi. Dan sudah barang tentu bahwa kekagumannya atas Kiai Gringsing akan dapat dihubungkannya dengan tanda-tanda yang pernah dilihatnya itu.

Dalam pada itu, maka tiba-tiba saja Ki Argapati berpendapat, bahwa sebaiknya Kiai Gringsing dapat bertemu dengan Ki Gede Pemanahan. Jika kemudian ternyata bahwa Ki Gede Pemanahan pernah mengenalnya, maka teka-teki yang selama ini gelap baginya, akan dapat diketahuinya.

Namun Ki Argapati kemudian masih meragukannya. Pada masa mudanya, justru Ki Gede Pemanahan-lah yang lebih banyak tinggal di padukuhannya, Sela. Sebelum Pajang, Ki Gede Pemanahan tidak banyak disebut orang.

“Tetapi mungkin dalam petualangan dan dalam mesu diri keduanya memang pernah bertemu.”

Karena itu, maka Ki Argapati pun kemudian berkata Raden Sutawijaya, “Sebenarnyalah bahwa persoalan yang sesungguhnya di Tanah Perdikan Menoreh ini memang sudah selesai. Pembicaraan kami sudah sampai pada keputusan yang mantap. Namun demikian, agaknya Kiai Gringsing masih memerlukan waktu sejenak untuk beristirahat. Setelah itu, maka Kiai Gringsing tentu tidak akan berkeberatan untuk singgah di Mataram barang sehari dua hari.”

Raden Sutawijaya menganggukkan kepalanya. Namun sebelum ia menyahut, tiba-tiba saja Ki Demang Sangkal Putung berkata, “Raden. Sebenarnya aku pun ingin singgah di Mataram dan bertemu dengan Ki Gede Pemanahan yang pernah memerlukan datang ke Sangkal Putung pada saat pasukan Jipang yang tersisa menyerah. Tetapi sebaiknya Raden mengetahui, bahwa adbmcadangan.wordpress.com kepergianku ke Menoreh telah jauh melampaui waktu yang ditentukan. Dengan demikian maka keluarga yang kami tinggalkan di Sangkal Putung tentu sudah menunggu. Benar, Ki Argapati telah mengutus empat orang pengawal untuk menyampaikan berita keselamatan kami ke Sangkal Putung. Tetapi jika kami terlampau lama di perjalanan, maka mereka tentu akan menjadi gelisah.”

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Dipandanginya Ki Demang Sangkal Putung. Kemudian Kiai Gringsing dan Ki Argapati.

Sebenarnya bagi Raden Sutawijaya, yang penting adalah semata-mata Kiai Gringsing, sehingga apabila Ki Demang Sangkal Putung ingin mendahului, agaknya ia tidak berkeberatan setelah singgah barang sejenak di Mataram. Sedangkan apabila perlu Raden Sutawijaya tentu akan dapat menyediakan pengawalan yang cukup karena Kiai Gringsing tidak dapat berjalan seiring.

Tetapi Raden Sutawijaya ragu-ragu untuk mengucapkannya, ia tidak ingin menyinggung perasaan Ki Demang Sangkal Putung.

Karena itu maka katanya, “Ki Demang. Kami hanya mengharap Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Demang singgah sebentar saja. Dalam waktu singkat itu tentu Kiai Gringsing sudah dapat memberikan petunjuk-petunjuk secukupnya. Kemudian terserahlah kepada Kiai Gringsing sekelompok kecil ini termasuk Agung Sedayu dan Swandaru. Apakah akan singgah lebih lama lagi, atau terpaksa meneruskan perjalanan.”

Ki Demang merenung sejenak. Tetapi ia pun kemudian menyerahkan persoalannya kepada Kiai Gringsing sendiri

Kiai Gringsing tidak dapat segera memutuskan. Bukan karena keadaan dirinya yang masih agak lemah. Tetapi ada sesuatu yang rasa-rasanya menghalanginya. Rasa-rasanya ia tidak ingin bertemu dengan Ki Gede Pemanahan. Yang karena itulah maka ia sampai saat terakhir masih berusaha menghindari.

Tetapi Ki Gede Pemanahan itu kini sedang terluka. Menurut keterangan Raden Sutawijaya, luka Ki Gede itu tidak begitu berbahaya. Tetapi nampaknya Ki Gede mengalami persoalan yang mengguncangkan perasaannya, sehingga sakitnya menjadi terpengaruh olehnya. Tentu bukan hanya karena luka itu saja maka Ki Gede masih saja harus berbaring di pembaringan. Yang kadang-kadang badannya menjadi panas, dan kadang-kadang sama sekali tidak mau berbicara dengan siapa pun juga.

Dalam kebimbangan itu, maka Kiai Gringsing pun kemudian berkata, “Raden. Tentu Raden akan bermalam di Menoreh meskipun hanya semalam. Nah, besok aku akan memberikan keputusanku.”

Raden Sutawijaya termangu-mangu sejenak. Sebenarnya ia ingin segera kembali dan menunggui ayahandanya yang sedang sakit. Tetapi karena Kiai Gringsing itu pun diperlukannya untuk kepentingan ayahandanya itu pula, maka akhirnya Raden Sutawijaya itu pun berkata, “Baiklah, Kiai. Aku akan bermalam di Menoreh jika Ki Gede Menoreh tidak berkeberatan.”

“Ah,” desah Ki Gede Menoreh, “kami merasa senang sekali bahwa Raden sudi bermalam di Menoreh dalam keadaan yang tenang seperti ini.”

Wajah Raden Sutawijaya menjadi merah, katanya, “Aku menjadi sangat malu. Biasanya aku bermalam hanya apabila aku memerlukan pertolongan.”

“O,” cepat-cepat Ki Gede Menoreh menyahut, “bukan maksudku. Tetapi dalam keadaan tenang seperti sekarang, kita dapat berbincang tentang apa saja. Kita tidak tergesa-gesa harus pergi dengan senjata telanjang di tangan.”

“Ya, Ki Gede,” Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Demikianlah maka Raden Sutawijaya yang memutuskan untuk bermalam itu pun kemudian ditempatkan di gandok bersama para pengawalnya. Namun sebagian besar waktunya dipergunakannya untuk duduk bersama Agung Sedayu dan Swandaru. Mereka membicarakan berbagai masalah. Dari peperangan yang baru saja mereka lakukan, sampai hari-hari perkawinan Swandaru yang masih harus diperhitungkan.

“Manakah yang lebih baik,” berkata Swandaru, “aku lebih dahulu atau Kakang Agung Sedayu lebih dahulu?

“Tentu kakaknya lebih dahulu,” sahut Raden Sutawijaya, “maksudku, yang tua lebih dahulu.”

“Nah, apa kataku,” desis Swandaru, “tentu Kakang Agung Sedayu lebih dahulu.”

“Bukan itu maksudku,” potong Sutawijaya.

“Jadi?”

“Yang tua lebih dahulu. Bukankah kau kakak kandung Sekar Mirah.”

“Ah,” Swandaru mengerutkan keningnya, “tentu bukan begitu. Aku adalah saudara muda seperguruan Kakang Agung Sedayu. Adalah salahnya sendiri, kenapa aku harus memanggilnya Kakang.”

“Tetapi dalam hubungan keluarga, kaulah yang lebih tua.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba saja ia berkata, “Tetapi Raden-lah yang harus lebih dahulu dari kami. Siapa pun yang dahulu di antara kami.”

Wajah Sutawijaya berkerut. Namun ia pun tersenyum sambil berkata, “Itu sudah meloncat ke luar pematang. Yang kita bicarakan adalah kau dan Agung Sedayu.”

“Aku menambah satu bahan lagi. Raden Sutawijaya.”

Sutawijaya tertawa. Ia sudah mengenal sifat Swandaru. Sehingga tidak tersirat sama sekali niat lain kecuali bergurau semata-mata. Meskipun demikian, sesuatu terasa bergetar di dalam hatinya. Persoalannya dengan gadis Kalinyamat itu setiap kali masih saja membuatnya gelisah.

Pada malam hari, Raden Sutawijaya tidak terlalu lama duduk di pendapa bersama orang-orang tua. Tetapi ia pun kemudian berjalan-jalan dengan Agung Sedayu dan Swandaru melihat-lihat Tanah Perdikan Menoreh di waktu malam hari. Mereka berhenti sejenak di tikungan ketika mereka mendengar tembang yang terlontar dari sebuah rumah beratap ilalang. Dari celah-celah dinding rumah itu sinar pelita memercik keluar.

“Padukuhan ini terasa hidup di malam hari,” berkata Raden Sutawijaya.

“Ya,” sahut Agung Sedayu, “suara tembang itu memberikan kesan tersendiri.”

“Dan itulah, nafas malam hari di Tanah Perdikan ini.”

Ketiganya pun kemudian meneruskan langkah mereka menyusuri gelapnya malam. Kadang-kadang mereka melihat sebuah obor yang dipasang di simpang empat yang gelap. Dan di kejauhan mereka melihat sinar lampu di gardu perondan.

Di malam-malam itu Pandan Wangi hampir tidak pernah keluar dari biliknya. Ia sadar, bahwa perhatian setiap orang di rumahnya setelah persoalan Panembahan Agung selesai, tertuju semata-mata kepadanya. Setiap orang sudah mengetahui bahwa kedatangan adbmcadangan.wordpress.com Ki Demang Sangkal Putung di Menoreh adalah untuk membicarakan hubungannya dengan Swandaru. Karena itu, maka Pandan Wangi telah dikungkung oleh perasaan kegadisannya meskipun pada saat Panembahan Agung masih mengganggu Tanah Perdikan Menoreh dan Tanah Mataram yang sedang tumbuh itu, ia ikut mengenakan sepasang pedang di lambungnya.

Namun dalam pada itu, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar masih juga berbicara di dalam biliknya. Ki Demang yang tidak begitu mengerti persoalan pemerintahan di Pajang maupun sebelumnya, tidak begitu banyak dapat ikut berbicara di antara mereka.

“Kiai,” berkata Ki Sumangkar, “sebenarnya sudah cukup lama Kiai menunggu saat-saat seperti ini.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam.

“Tentu setiap orang yang mengenal Kiai dari dekat, dibebani oleh teka-teki tentang Kiai. Selama ini aku pun selalu meraba-raba.”

“Ah, barangkali kalian dibayangi oleh angan-angan kalian sendiri. Sebenarnya tidak ada yang aneh padaku.”

“Baiklah. Jika demikian, Ki Gede Pemanahan benar-benar memerlukan Kiai. Sebaiknya Kiai memenuhinya dan mencoba mengobatinya. Tentu saja semuanya tergantung kepada belas kasihan Tuhan Yang Maha Pengasih. Namun Kiai dapat berusaha.”

“Dan kau akan ikut?”

“Aku berhutang budi kepada Ki Gede Pemanahan selagi ia masih menjadi panglima. Ia tidak menghukum aku bersama pasukan Jipang yang lain.”

Kiai Gringsing merenung sejenak. Ia pun tahu betapa Ki Gede Pemanahan memberikan pengampunan pada pasukan Jipang yang menyerah. Di antara mereka yang mendapat pengampunan, bahkan sama sekali tidak dikenakan tuntutan apa pun adalah Sumangkar, karena Sumangkar sebenarnya memang tidak banyak terlibat di dalam perlawanan, apalagi setelah Aria Penangsang gugur.

“Kiai,” berkata Sumangkar kemudian, “jika Kiai bertemu dengan Ki Gede Pemanahan, kecuali Kiai dapat memberikan petunjuk-petunjuk yang mungkin dapat memperingan sakitnya, Kiai tentu akan dapat berbicara serba sedikit tentang pertumbuhan Mataram. Suramnya Pajang dan jalur yang kini sedang mekar dari kekuasaan atas tanah ini”

Kiai Gringsing memandang Sumangkar sejenak. Bagaimana pun juga Sumangkar adalah seorang yang pernah tinggal di Kepatihan Jipang, sehingga masalah-masalah yang pernah dibicarakan oleh Patih Mantahun tentu menimbulkan kesan pula baginya.

“Apakah tidak ada orang lain yang dapat mengobati Ki Gede Pemanahan?” tiba-tiba saja Kiai Gringsing berdesis.

“Ada atau tidak ada, tetapi sebaiknya Kiai singgah barang sebentar,” sahut Sumangkar.

Kiai Gringsing memandang Ki Demang Sangkal Putung sejenak. Lalu katanya, “Tetapi tentu Ki Demang Sangkal Putung harus segera kembali. Keluarganya akan menunggunya.”

Ki Demang yang hampir selalu berdiam diri itu pun tiba-tiba menyahut, “Silahkan, Kiai. Aku akan dapat mendahului. Aku kira jalan ke Sangkal Putung sudah aman. Mungkin aku memerlukan beberapa orang kawan. Jika tidak berkeberatan, para pengawal dari Mataram akan bersedia mengawani aku di perjalanan.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya memang tidak ada keberatan apa pun lagi selain perasaannya sendiri. Ia tinggal bertanya kepada dirinya sendiri. Apakah ia sudah bersedia bertemu dengan Ki Gede Pemanahan.

“Tetapi Ki Gede Pemanahan sedang sakit,” katanya di dalam hati. Sebagai seorang dukun, ia tidak akan dapat membiarkan seorang yang sakit yang menunggu pertolongannya dibiarkannya begitu saja.

Karena itu, maka tidak ada pilihan lain. Agaknya besok Kiai Gringsing memang harus pergi ke Mataram.

Demikianlah maka orang-orang tua yang berada di gandok itu pun akhirnya terdiam. Masing-masing membiarkan angan-angannya melambung tinggi menerawang di dunia lain.

Sementara itu, Agung Sedayu dan Swandaru pun telah kembali pula. Raden Sutawijaya langsung pergi ke gandok sebelah bersama-sama para pengawalnya.

Tidak banyak yang dibicarakan oleh orang-orang yang berada di gandok sebelah menyebelah. Sejenak kemudian malam terasa menjadi semakin sepi. Yang terdengar hanyalah desah angin malam yang lembut. Tetapi di gardu perondan, di sebelah regol halaman, kadang-kadang masih terdengar suara tertawa. Tetapi, suara yang semakin lama terdengar semakin dalam karena kantuk yang mencengkam. Namun demikian, para peronda itu tidak mau tidur bersama-sama. Mereka harus bergantian berjaga-jaga sampai matahari membayang di waktu fajar besok.

Ketika ayam jantan kemudian berkokok untuk yang terakhir kalinya, maka hampir seisi rumah sudah terbangun. Agung Sedayu yang sudah bangun pula segera pergi ke belakang. Seperti yang selalu dilakukannya maka ia pun segera membantu mengisi jambangan bersama Swandaru.

Kiai Gringsing yang masih saja disentuh oleh kebimbangan, akhirnya mencoba untuk menentukan sikap, mengatasi gejolak perasaan sendiri.

Dengan demikian, maka ketika para tamu di Menoreh itu, baik yang datang dari Sangkal Putung, mau pun dari Mataram duduk bersama di pendapa, maka tidak banyak lagi yang harus mereka perbincangkan. Kiai Gringsing pun kemudian berkata, “Baiklah, Raden. Aku akan singgah di Mataram. Aku akan melihat luka dan sakit Ki Gede Pemanahan.”

“Nah, jika demikian kita akan pergi bersama-sama.”

Tetapi Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya, katanya, “Sebaiknya Raden pergi saja dahulu. Ayahanda tentu sangat menunggu. Aku akan segera menyusul besok. Hari ini aku akan mencoba memulihkan kekuatanku dan berkemas barangkali ada jenis obat-obatan yang dapat aku bawa.”

“Aku akan menunggu sampai Kiai selesai.”

Tetapi Kiai Gringsing menolaknya. Katanya, “Jangan, Raden. Aku minta Raden pergi saja lebih dahulu. Kami besok akan datang bersama-sama dengan Ki Demang Sangkal Putung dan kedua anak-anak muda itu. Di antara kami akan ikut pula Ki Sumangkar. Karena itu, maka kami harus mengatur segala sesuatunya. Kami sudah beberapa lama tinggal di sini, sehingga kami harus minta diri sebaik-baiknya kepada Ki Gede Menoreh.”

Ki Gede Menoreh hanya tersenyum saja. Namun baginya semakin cepat Ki Demang Sangkal Putung kembali ke kademangannya, agaknya memang semakin baik. Persoalan Pandan Wangi dan Swandaru akan semakin cepat terselesaikan. Bagi Ki Argapati, orang tua dari seorang gadis, tentu berharap bahwa selekasnya masalah anaknya akan diselesaikan.

Namun selain hal itu, ia pun ingin ikut mendengar, apakah ada akibat dari pertemuan Ki Gede Pemanahan dengan Kiai Gringsing.

Agaknya hari itu Raden Sutawijaya tidak dapat memaksa Kiai Gringsing untuk pergi bersamanya. Tetapi ia percaya bahwa di hari berikutnya, orang tua itu akan singgah di Mataram. Tentu Kiai Gringsing tidak akan ingkar janji, kecuali ada perkembangan keadaan dengan tiba-tiba.

Karena itulah, maka Raden Sutawijaya pun kemudian minta diri untuk mendahului kembali ke Tanah Mataram. Ia tidak dapat terlalu lama meninggalkan ayahandanya yang sering sakit meskipun ketika ia pergi, ayahnya tinggal bersama dengan Ki Juru Martani.

“Kami sangat mengharap kedatangan Kiai besok,” berkata Raden Sutawijaya ketika ia sudah berada di regol halaman.

Kiai Gringsing mengangguk, jawabnya, “Baik, Raden. Aku tentu akan datang.”

Sutawijaya tersenyum. Katanya, “Terima kasih, Kiai. Mudah-mudahan kedatangan Kiai dapat mempercepat kesembuhan Ayahanda Pemanahan.”

Kiai Gringsing mengangguk kecil sambil berdesis, “Aku hanya sekedar berusaha, Raden.”

Demikianlah, Raden Sutawijaya pun kemudian sekali lagi minta diri kepada Ki Gede Menoreh dan tamu-tamunya, kepada Pandan Wangi dan Prastawa yang ada di regol pula.

Sepeninggal Raden Sutawijaya, maka Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Demang Sangkal Putung pun mulai berkemas. Demikian pula Agung Sedayu dan Swandaru, Mereka sudah cukup lama berada di Tanah Perdikan Menoreh, sehingga kerinduan mereka terhadap Sangkal Putung, terlebih-lebih Ki Demang, mulai terasa. Bahkan Ki Demang pun mulai cemas, bahwa yang ditinggalkan akan menjadi kebingungan karena ia terlampau lama berada di Menoreh. Tetapi persoalan Panembahan Agung adalah persoalan yang tidak diketahui dan diperhitungkan lebih dahulu sehingga seakan-akan telah mengikat mereka untuk tinggal agak lama di Tanah Perdikan Menoreh.

Di malam hari menjelang keberangkatan Kiai Gringsing, sekali lagi Ki Demang dan Ki Argapati menegaskan pembicaraan mereka. Persoalan satu-satunya yang masih akan dibicarakan meskipun cukup dengan saling mengirimkan utusan, adalah masalah hari. Ki Demang dan Ki Argapati akan membicarakannya dengan orang-orang tua, hari apakah yang paling baik dipergunakan bagi perkawinan Swandaru dan Pandan Wangi.

“Aku akan menghubungi Ki Waskita,” berkata Ki Argapati, “mungkin ia dapat memberikan petunjuk mengenai perkawinan ini. Pada saat ia ada di sini, aku tidak sampai hati mengganggunya. Kecuali perasaannya tentu masih diselubungi oleh kejutan atas hilangnya Rudita, juga agaknya ada perbedaan pendapat antara Ki dan Nyi Waskita menghadapi perkembangan jiwa anaknya yang kemudian diketemukannya setelah mendapat pengalaman baru.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Tentu aku akan sependapat sekali. Ki Waskita adalah orang yang memiliki ketajaman indera. Tetapi barangkali Kiai Gringsing pun akan dapat membantu.”

“Ah,” Kiai Gringsing tertawa, “aku hanya dapat membantu. Jika Ki Waskita telah menemukan hari yang paling baik maka aku akan membantu memilih hari itu.”

“Tetapi Kiai adalah seorang dukun.”

Yang mendengarnya tertawa. Dan Kiai Gringsing menjawab, “Aku memang seorang dukun. Tetapi yang aku ketahui tidak lebih dari dedaunan. Akar ketela grandel dan empon-empon. Serta barangkali sedikit mengenai getah pepohonan, binatang melata dan serangga. Selebihnya yang aku ketahui adalah jodang berisi makanan.”

Semuanya tertawa semakin keras.

Namun dalam pada itu, baik Ki Argapati, Ki Sumangkar, dan Ki Demang mau pun anak-anak muda yang ikut berada di pendapa itu, menganggap bahwa Kiai Gringsing hanya sekedar berkelakar saja. Menilik pertempuran yang terjadi antara Kiai Gringsing dan Panembahan Alit, maka Kiai Gringsing pun tentu bukan sekedar hanya mengenal dedaunan dan getah pepohonan. Ia memiliki ilmu yang agaknya masih harus ditekuni oleh kedua muridnya. Ilmu yang baru dikenal dalam tata gerak dan segala unsur-unsurnya. Tetapi masih belum dikenal kekuatan yang masih tersimpan di balik bentuk-bentuk lahiriahnya. Pada saat Kiai Gringsing menghadapi Panembahan Alit, maka nampaklah bahwa dalam puncak usahanya mempertahankan dirinya, Kiai Gringsing telah mempergunakan yang agaknya selama ini sudah disimpannya, karena ternyata lawannya, Panembahan Alit, memiliki ilmu kebal yang mengagumkan pula.

Setelah tidak ada yang harus dibicarakannya lagi, maka Kiai Gringsing pun kemudian dipersilahkan beristirahat di gandok, karena besok mereka akan menempuh perjalanan, yang meskipun tidak terlampau berat, namun dalam keadaan yang masih belum pulih sama sekali, Kiai Gringsing perlu menyegarkan tubuhnya.

Ketika orang-orang lain sudah berbaring di pembaringan dan bahkan sudah tertidur nyenyak, Swandaru masih digelitik oleh kegelisahan. Ia memang ingin segera kembali ke Sangkal Putung, bertemu dengan ibu dan adiknya. Tetapi rasa-rasanya terlampau berat meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh. Rasa-rasanya ia akan berpisah untuk waktu yang lama dengan Pandan Wangi. Segala sifat, watak, dan tingkah laku gadis itu tidak terlepas dari rongga matanya. Bahkan sudah mulai terbayang-bayang betapa ia akan duduk bersanding, dihadap para tamu di bawah cahaya lampu yang terang benderang. Meskipun tidak akan sebesar perkawinan Untara yang didampingi oleh para senapati, namun masa-masa yang demikian adalah masa-masa yang paling menyenangkan.

Tetapi wajahnya tiba-tiba menjadi suram. Terbayang perselisihan yang nampaknya semakin memuncak antara Pajang dan Mataram. Jika persoalan itu berlarut-larut, maka hari-hari yang ditunggunya itu tentu akan ikut tergeser pula karenanya, karena Sangkal Putung berada di jalur lurus antara Pajang dan Mataram.

Oleh kegelisahan hati, maka rasa-rasanya gandok itu menjadi semakin lama semakin panas. Karena itulah maka Swandaru yang tidak dapat tertidur itu pun kemudian dengan hati-hati bangkit agar tidak mengejutkan orang lain. Perlahan-lahan ia bergeser dan membuka pintu.

Sepercik udara yang segar memercik di wajahnya sehingga Swandaru itu pun justru melangkah keluar dan setelah menutup pintu gandok, ia pun melangkah ke serambi. Sambil mengibaskan bajunya ia berdiri memandangi lampu yang suram di tengah-tengah pendapa yang sepi. Namun ia masih mendengar suara orang-orang yang sedang meronda berbicara perlahan-lahan di regol halaman.

Tetapi Swandaru tidak tertarik untuk pergi ke gardu. Hampir di luar sadarnya ia melangkah menyusuri longkangan dan justru memasuki halaman samping.

Tiba-tiba saja ia terkejut, ketika ia melihat sekilas cahaya lampu yang meloncat keluar. Namun kemudian cahaya itu lenyap lagi.

Baru sejenak kemudian hatinya berdesir. Dilihatnya seseorang berdiri di luar pintu butulan yang sudah tertutup lagi.

“Pandan Wangi,” ia berdesis. Tetapi ia tidak beranjak dari tempatnya.

Seperti Swandaru, Pandan Wangi pun terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Swandaru berada di halaman samping, beberapa langkah saja di depan pintu butulan.

Sejenak keduanya berdiam diri. Namun dari sorot mata mereka yang saling memandang, memancar perasaan yang tersimpan di dalam hati.

Beberapa saat keduanya berdiri mematung. Yang terasa adalah debar yang semakin keras di dalam dada masing-masing.

Namun tiba-tiba saja Pandan Wangi membuka pintu butulan itu kembali dan sekejap kemudian ia telah hilang di balik pintu.

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Ada sesuatu yang rasa-rasanya terlepas. Tetapi ia tidak mendekati pintu butulan itu. Bahkan ia pun kemudian meninggalkan halaman samping dan kembali ke serambi gandok.

Dalam pada itu, Pandan Wangi yang dengan tergesa-gesa masuk kembali, masih berdiri bersandar pintu. Nafasnya tiba-tiba terasa terengah-engah, seolah-olah ia baru saja saling bekejaran dengan lawan yang sangat tangguh.

Sebenarnyalah Pandan Wangi sedang berjuang mengatasi gejolak hatinya sendiri. Ketika ia melihat Swandaru, rasa-rasanya ia ingin lari kepadanya, dan melepaskan perasaannya yang tersimpan. Meskipun untuk beberapa lama Swandaru berada di Tanah Perdikan Menoreh, tetapi ia tidak pernah mendapat kesempatan untuk berbicara berdua, melepaskan angan-angan dan bayangan tentang masa datang.

Hampir saja Pandan Wangi kehilangan pengekangan diri dan berlari kepada Swandaru. Untunglah bahwa ia menyadari dirinya, bahwa di dalam keadaannya, maka ia masih harus membatasi diri sejauh-jauhnya. Setiap kali terngiang kembali cerita ayahnya tentang ibunya yang terperosok ke dalam lumpur kehidupan, sehingga akhirnya telah menimbulkan pertentangan di dalam diri sendiri yang tumbuh dan berkembang menjadi belukar bagi keluarganya dan bahkan bagi Menoreh.

Pandan Wangi tidak mau terjerumus ke dalam keadaan yang sama. Ia sadar, dalam gejolak jiwa kedewasaannya, kadang-kadang nalarnya dapat dikalahkan oleh perasaaan. Jika ia bersama dengan laki-laki yang dicintainya, di dalam gelapnya malam yang sepi, maka kesulitan itu dapat saja terjadi. Dan dengan demikian, apabila saat-saat itu telah lewat, maka laki-laki itu tentu akan mulai menilai dirinya.

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan tangannya bergerak mengangkat selarak pintu.

Ketika ia sudah berada di pembaringannya kembali, maka ia pun menarik nafas lega, seakan-akan ia sudah terlepas dari bahaya. Seperti saat-saat pasukan Mataram terlepas dari timbunan batu-batu di mulut lembah ketika mereka merayap mendekati sarang Panembahan Agung.

“Meskipun tidak selalu terjadi sesuatu, tetapi sukurlah bahwa aku telah berada di dalam bilik ini,” desisnya.

Pandan Wangi yang berbaring di pembaringannya itu pun masih saja berbicara dengan dirinya sendiri, “Mungkin keadaan kini sudah jauh berubah dari masa ibu menjelajahi masa remajanya. Mungkin kungkungan yang ketat justru membuatnya seperti burung yang terlepas dari sangkar di saat-saat tertentu. Sedang kini Ayah mempercayakan semuanya kepadaku. Aku diperkenankan berburu bersama para pengawal. Dan aku adalah seorang gadis. Namun bagaimana pun juga, buah yang paling manis adalah buah yang sudah masak. Dan itulah adbmcadangan.wordpress.com yang harus ditunggu. Semakin lama kita menunggu, maka pada saatnya, terasa betapa indahnya buah yang masak itu, dan betapa manisnya.”

Pandan Wangi merasa telah memenangkannya. Ia merasa bersyukur bahwa ia tidak menyia-nyiakan kepercayaan ayahnya kepadanya, justru setelah ayahnya mendapat pengalaman yang sangat pahit yang telah terjadi atas ibunya.

Ketika terdengar angin malam berdesir lembut, Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Terasa matanya menjadi berat. Meskipun kepergian Swandaru besok memberati hatinya pula, namun ia mengharap bahwa yang akan datang segeralah datang.

Dalam angan-angan yang semakin kabur, Pandan Wangi mulai diselimuti oleh bayangan-bayangan yang indah di masa mendatang, seperti pada umumnya gadis yang menjelang hari-hari yang paling indah. Meskipun Pandan Wangi sering menjelajahi Tanah Perdikan Menoreh di atas punggung kuda dengan sepasang pedang di lambung, namun ia tetap seorang gadis yang dikuasai oleh angan-angan menjelang masa keibuannya.

Tetapi bayangan itu pun akhirnya lenyap di dalam kelelapan tidur. Namun bibir Pandan Wangi nampak tersenyum karena mimpinya terasa indah sekali.

Pagi-pagi benar, sebelum bayangan matahari nampak di langit, Kiai Gririgsing sudah bangun. Dengan hati-hati agar tidak mengejutkan orang lain, ia membuka pintu dan menghirup udara yang sejuk. Namun betapa pun ia berusaha, namun ia tidak dapat meniadakan suara gelak gardu perondan, sehingga Ki Sumangkar pun terbangun pula karenanya.

“Anak-anak muda yang berjaga-jaga di gardu itu agaknya sudah diganggu oleh kantuk yang sangat,” desis Kiai Gringsing ketika ia mengetahui bahwa Ki Sumangkar pun telah terbangun, “sehingga mereka berusaha mengusir kantuknya dengan berkelakar sepagi ini.”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menyahut.

Dalam pada itu Kiai Gringsing pun segera pergi ke perigi. Alangkah segarnya mandi di gelapnya malam menjelang pagi hari. Ternyata semuanya yang ada di gandok itu telah terbangun ketika Kiai Gringsing selesai mandi. Satu-persatu mereka pun segera membersihkan diri dan membenahi barang masing-masing. Jika nanti matahari terbit, mereka akan mulai dengan perjalanan mereka kembali ke Sangkal Putung dan singgah barang sehari di Tanah Mataram.

Demikianlah, maka mereka yang untuk beberapa lamanya berada di Tanah Perdikan Menoreh itu pun segera akan minta diri. Tetapi bukan untuk yang terakhir kalinya mereka berada di Menoreh. Pada suatu saat mereka tentu akan kembali dalam upacara yang lebih besar.

Menjelang matahari terbit, ternyata Pandan Wangi yang hanya dapat tidur sejenak itu telah menyiapkan makan dan minuman panas. Sebelum Kiai Gringsing bersama kelompok kecilnya berangkat, mereka dipersilahkan untuk makan pagi lebih dahulu.

Dalam kesempatan itu, sekali lagi Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, Ki Demang, dan kedua anak-anak muda yang bersama mereka itu minta diri. Sebagai kelengkapannya, maka Ki Demang di Sangkal Putung berkata, “Dalam waktu dekat, aku akan mengirimkan beberapa orang untuk menghadap Ki Gede membicarakan secara khusus mengenai hari perkawinan anak kita.”

Ki Argapati tersenyum. Jawabnya, “Aku akan menerimanya setiap saat.”

Dengan demikian, maka Kiai Gringsing bersama kedua muridnya, Ki Sumangkar dan Ki Demang Sangkal Putung pun dengan hati yang berat, meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh. Sekilas mereka melihat mata Pandan Wangi berkilat oleh setitik air di pelupuk. Namun Pandan Wangi mencoba untuk tersenyum dan mengucapkan selamat jalan kepada tamu-tamunya yang meninggalkan regol halaman rumahnya. Sedang Prastawa melepas mereka dengan pesan jenaka, “Swandaru, kau harus berpuasa sejak sekarang. Jika kau datang kemari sekali lagi, kau harus sudah menjadi agak langsing, agar pakaian pengantinmu kelak tidak terlampau kecil.”

Swandaru tersenyum, sedang Pandan Wangi menjadi tersipu-sipu.

Sejenak kemudian maka kelompok kecil itu pun telah meninggalkan padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Mereka berkuda beriringan melalui bulak yang panjang, yang di sebelah menyebelah terbentang sawah yang luas.

Sepercik air yang bening mengalir di parit yang menyilang jalan, menyusup di bawah jembatan kayu yang kuat, membelah bulak yang panjang

“Seperti bulak-bulak di Sangkal Pulung,” berkata Ki Demang Sangkal Putung, “di sini pun air sudah mendapat perhatian yang baik.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk kecil. Ketika ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya matahari yang ternyata telah memanjat langit semakin tinggi. Cahayanya yang gatal memantul pada daun padi yang basah, berkilat-kilat oleh angin pagi yang lembut.

Berbeda dengan Ki Demang Sangkal Putung yang tertarik pada bulak yang luas, air yang mengalir di parit dan batang-batang padi yang subur, maka Kiai Gringsing mulai dibayangi oleh pertemuan yang bakal terjadi dengan Ki Gede Pemanahan. Memang ada sesuatu yang mengganggu hatinya. Tetapi ia berusaha untuk menyimpan persoalan itu di dalam hati. Ia tidak ingin melibatkan orang lain dalam persoalan dirinya. Persoalan pribadinya.

Sementara itu Ki Sumangkar pun mulai mereka-reka, apakah yang kira-kira bakal terjadi kelak. Pajang dan Mataram agaknya bagaikan dua buah kapal yang berbeda haluan. Semakin lama jaraknya menjadi semakin jauh.

Orang tua itu mengeluh di dalam hati. Ia melihat Demak pernah tegak berdiri dengan megahnya. Ia melihat sepeninggal sultan terakhir di Demak, maka seakan-akan keturunannya berebut tahta. Bahkan Aria Penangsang-lah yang bagaikan api, telah membakar ketenangan. Akhirnya berdirilah Pajang. Seperti yang pernah terjadi, kini rasa-rasanya Pajang pun telah surut.

“Apakah yang akan terjadi kelak?” ia bertanya kepada diri sendiri. Dan hampir di luar sadarnya ia menyebut di dalam hati, “Majapahit yang berpindah ke Demak. Demak telah dipindahkan pula ke Pajang. Dan kini, bagaikan tumbuh dengan suburnya Mataram di sisi Pajang.”

Dengan demikian, maka seolah-olah mereka yang ada di dalam iring-iringan kecil itu telah dicengkam, oleh angan-angan sendiri, sehingga dengan demikian mereka tidak begitu banyak berbicara yang satu dengan yang lain. Apalagi Swandaru yang berkuda di sisi Agung Sedayu.

Meskipun demikian, iring-iringan itu justru semakin lama menjadi semakin cepat. Hampir tanpa disadari oleh setiap orang di dalam iring-iringan itu, bahwa mereka telah melintasi bulak-bulak yang panjang dan di atas jalan yang baik, sehingga kuda-kuda mereka pun rasa-rasanya ingin berjalan lebih cepat.

Tidak banyak yang mereka jumpai di perjalanan. Sekali-sekali mereka bertemu dengan pengawal yang sedang meronda. Mereka harus menganggukkan kepala jika para pengawal itu mengangguk pula dan bahkan mereka selalu bertanya, kapan iring-iringan itu akan kembali lagi ke Menoreh. Terutama Agung Sedayu dan Swandaru yang mereka kenal dengan baik.

“Tentu tidak akan terlalu lama lagi,” Agung Sedayu-lah yang selalu menjawab.

“Dengan upacara yang lain,” desis salah seorang pengawal muda yang mengetahui hubungan antara Swandaru dan Pandan Wangi.

“Ya,” sahut Agung Sedayu, “kalian harus bersiap-siap menyambut.”

Para pengawal itu tertawa. Tetapi Swandaru menjadi tersipu-sipu.

Demikianlah maka perjalanan mereka pun menjadi semakin jauh dari padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Semakin lama mereka menjadi semakin dekat dengan Kali Praga.

Untunglah bahwa Kali Praga yang lebar itu tidak sedang banjir. Karena itu, maka mereka tidak banyak menemui kesulitan. Dengan getek mereka menyeberangi sungai itu bersama-sama dengan kuda-kuda mereka.

Sejenak setelah mereka menyeberangi sungai yang lebar itu, maka mereka pun segera memasuki padang ilalang dan tanah yang berawa-rawa. Namun mereka segera sampai ke tepi hutan perdu yang tidak begitu luas. Dan di seberang hutan perdu itu adalah, sebuah hutan yang meskipun tidak selebat Alas Mentaok, namun cukup mendebarkan.

Tetapi ketika kemudian mereka memasuki hutan itu, perasaan mereka sudah lain sama sekali dengan beberapa waktu yang lampau. Rasa-rasanya hutan itu menjadi sejuk dan tenang. Jalan yang sempit di tengah-tengah hutan itu bagaikan jalan raya yang ramai dan aman. Apalagi menilik jejak yang banyak terdapat pada jalan itu, menunjukkan bahwa jalan sempit itu memang menjadi bertambah ramai.

Semakin lama mereka pun menjadi semakin jauh memasuki hutan. Namun kemudian mereka membelok menyusur jalan itu. Ternyata bahwa mereka akan segera sampai ke ujung jalan hutan dan melintasi padang ilalang yang tidak begitu luas.

Tetapi jalan di hadapan mereka adalah jalan yang nampak sudah dijamah oleh tangan. Jalan itu adalah jalan yang sudah diperlebar dan diperbaiki.

Sekali-sekali iring-iringan itu melintasi padukuhan-padukuhan kecil yang nampaknya sedang berkembang dengan cepat. Padukuhan-padukuhan yang dihuni oleh perintis-perintis yang dengan bekerja keras telah membangun tempat tinggal, daerah persawahan dan membentuk suatu masyarakat yang tumbuh dan hidup.

Dengan demikian maka Alas Mentaok yang mereka lalui kemudian, bukan lagi merupakan hutan yang lebat dan tidak dapat disentuh. Bukan lagi daerah yang menakutkan yang digelari jalma mara jalma mati, sato mara sato mati.

Kini Mentaok telah berubah. Sebagian terbesar telah menjadi daerah yang ramai dan subur.

Namun di sana-sini masih nampak orang-orang yang bekerja dengan keras membuka dan memperluas daerah tempat tinggal dan persawahan. Yang mereka tinggalkan adalah bagian-bagian yang mereka perlukan untuk melindungi tanah yang sangat lunak dan daerah arus sungai-sungai kecil yang kadang-kadang banjir. Namun juga merupakan perisai-perisai terhadap angin yang kadang-kadang bertiup kencang dari lautan Selatan.

Selain daripada itu, hutan-hutan yang tinggal akan tetap menjadi daerah perburuan yang subur.

Dalam pada itu, ternyata Mataram telah siap menyambut kedatangan tamu-tamunya, karena Sutawijaya yakin bahwa Kiai Gringsing tidak akan ingkar janjinya. Jika ia berhalangan maka ia tentu akan menyuruh seorang dua orang memberitahukan hal itu.

Karena itu, maka diperintahkannya Ki Lurah Branjangan sendiri bersama beberapa orang pengawal menjemput Kiai Gringsing di luar regol kota yang sedang mereka bangun, agar tamu-tamu itu tidak perlu lagi mencari-cari dan bertanya-tanya kemana mereka harus pergi untuk menemui Ki Gede Pemanahan.

Dan ternyata seperti yang diperhitungkan oleh Sutawijaya, Kiai Gringsing dan iring-iringannya pun benar-benar telah datang ke Mataram. Di luar regol mereka telah disambut oleh Ki Lurah Branjangan yang kemudian membawa mereka langsung ke rumah Ki Gede Pemanahan.

Terasa debar jantung Kiai Gringsing menjadi semakin cepat. Ia tidak akan menjadi sedemikian gelisah, jika ia berada di peperangan. Bahkan menghadapi Panembahan Agung yang memiliki kemampuan yang aneh itu pun, rasa-rasanya Kiai Gringsing tidak menjadi sedemikian gelisahnya.

Tetapi ia sudah ada di Tanah Mataram. Dan ia tidak akan dapat mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Ki Gede Pemanahan dan bahkan ada di Mataram pula Ki Juru Martani.

“Aku adalah seorang dukun tua dari Dukuh Pakuwon. Seorang yang bernama Ki Tanu Metir yang juga disebut Kiai Gringsing. Tidak lebih dan tidak kurang,” gumamnya di dalam hati.

Demikianlah dengan diantar oleh Ki Lurah Branjangan maka Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, Ki Demang Sangkal Putung, dan kedua anak-anak muda murid Kiai Gringsing itu pun memasuki alun-alun, kemudian pintu gerbang halaman samping rumah Ki Gede Pemanahan.

Meskipun terasa di dada Kiai Gringsing debar jantungnya yang semakin cepat, tetapi ia berjalan terus mengikuti Ki Lurah Branjangan.

“Kiai,” berkata Ki Lurah Branjangan kemudian, “marilah, silahkan masuk. Inilah rumah Ki Gede Pemanahan.”

Kiai Gringsing dan kawan-kawannya termangu-mangu sejenak. Mereka pun kemudian melihat Raden Sutawijaya dengan tergesa-gesa turun dari tangga dan menyongsongnya.

“Marilah, Kiai,” berkata Raden Sutawijaya, “aku yakin, bahwa Kiai tentu akan datang seperti yang Kiai janjikan. Aku sudah mengatakannya kepada Ayahanda dan Pamanda Ki Juru Martani. Nah, silahkanlah Kiai naik.”

Kiai Gringsing termangu-mangu. Dipandanginya pendapa rumah Ki Gede Pemanahan yang besar. Rumah yang rasa-rasanya memang memiliki perbawa yang agung.

Kiai Gringsing dan kawan-kawannya pun kemudian dibawa langsung naik ke pringgitan oleh Raden Sutawijaya dan yang kemudian dipersilahkannya duduk di atas sehelai tikar pandan yang dianyam halus dan diwarnai dengan manisnya dengan garis-garis yang bersilang.

“Silahkanlah semuanya duduk sejenak. Aku akan menyampaikannya kepada Pamanda Ki Juru Martani yang menunggui ayah di dalam biliknya,” berkata Sutawijaya kemudian.

Ketika Sutawijaya masuk, maka yang ada di antara mereka adalah Ki Lurah Branjangan. Agaknya Ki Lurah Branjangan mengerti sikap tamunya yang agak gelisah karena barang-barang yang mereka bawa dari Tanah Perdikan Menoreh masih teronggok di sisi mereka masing-masing.

“Kiai,” berkata Ki Lurah Branjangan, “kami sudah menyediakan bilik bagi Kiai semuanya dan kedua anak-anak muda itu. Karena itu, biarlah barang-barang yang ada dibawa masuk ke dalam bilik itu oleh para pelayan.”

Kiai Gringsing mengangguk sambil tersenyum. Katanya, “Baiklah, Ki Lurah. Tetapi barang-barang kami adalah barang-barang yang tidak berharga sama sekali. Hanya beberapa lembar pakaian tua.”

Dengan demikian, ketika Raden Sutawijaya kemudian keluar lagi dari ruangan dalam, di antara mereka tidak terdapat lagi onggokan barang-barang yang mereka bawa selama perjalanan.

Ternyata bahwa Ki Juru Martani pun menerima kehadiran tamu-tamunya dengan berdebar-debar. Ia mengikuti Sutawijaya yang memberitahukan kepadanya dan kepada Ki Gede Pemanahan bahwa orang yang mereka tunggu telah datang.

Ketika Ki Juru Martani muncul di pintu pringgitan, sejenak ia berdiri tegak. Ia segera mengenal Ki Sumangkar. Tetapi yang lain ia rasa-rasanya masih belum pernah melihat.

Meskipun demikian, ketajaman penglihatannya segera dapat membedakannya. Bahkan yang seorang adalah orang yang dimaksud bernama Kiai Gringsing, sedang yang lain adalah Ki Demang Sangkal Putung. Sedang kedua anak muda itu mempunyai ciri yang jelas dan mudah dapat dibedakan. Yang gemuk itulah yang bernama Swandaru, sedang yang lain adalah adbmcadangan.wordpress.com Agung Sedayu, adik Untara, seorang senapati yang terkenal dan bertanggung jawab atas daerah sebelah Selatan ini, yang justru menguasai jalur lurus antara Pajang dan Mataram.

Kiai Gringsing dan kawan-kawannya yang duduk di atas tikar pandan, ketika melihat seseorang keluar dari dalam mengikuti Raden Sutawijaya segera memberi hormat dalam-dalam. Mereka pun segera mengetahui bahwa orang itu adalah Ki Juru Martani. Apalagi Sumangkar, yang memang sudah mengenal sebelumnya.

Ki Juru Martani pun membalas hormat pula dan kemudian bersama Raden Sutawijaya duduk pula di antara tamu-tamunya.

Sejenak kemudian, Ki Juru Martani pun mulai menyapa tamu-tamunya dan bertanya tentang keselamatan mereka yang dijawab oleh tamu-tamunya dengan hormatnya.

“Akhirnya Kiai bersama-sama, benar-benar telah sudi singgah di rumah ini,” berkata Ki Juru Martani, yang kemudian memperkenalkan dirinya sendiri meskipun mereka sudah dapat saling menduga.

“Sebenarnya Adi Pemanahan sudah lama mengharap kehadiran kalian. Tetapi agaknya kesibukan Kiai Gringsing dan kedua muridnya belum memungkinkannya untuk singgah barang sejenak,” berkata Ki Juru Martani kemudian.

“Maaf, Ki Juru Martani,” sahut Kiai Gringsing, “sebenarnyalah kami ingin sekali memenuhinya dan datang menghadap. Tetapi agaknya memang baru sekarang kami mendapat kesempatan yang sangat baik untuk datang.”

Ki Juru Martani mengangguk-angguk. Ditatapnya tamu-tamunya seorang demi seorang. Lalu katanya, “Aku sudah mendengar acara kepergian Kiai ke Tanah Perdikan Menoreh. Agaknya Ki Demang akan mempunyai kesibukan dengan putera laki-lakinya yang gemuk ini.”

Ki Demang Sangkal Putung tersenyum. Jawabnya, “Ya, Ki Juru Martani, sudah sewajarnyalah jika anak polah, maka ayahnyalah yang harus pradah.”

Ki Juru Martani pun tersenyum. Dipandanginya Swandaru yang kemudian menundukkan kepalanya.

Namun dalam setiap kesempatan, Ki Juru Martani selalu menyambar wajah Kiai Gringsing dengan tatapan mata yang tajam. Seolah-olah ada sesuatu yang dicarinya pada wajah itu. Namun agaknya Kiai Gringsing sama sekali tidak menimbulkan kesan apa pun. Wajah itu nampaknya benar-benar belum pernah dikenalnya.

Meskipun Ki Juru Martani mencoba mengingat-ingat wajah-wajah yang pernah dikenalnya pada masa-masa yang lampau, dan bahkan masa-masa yang panjang sekali, namun ia tidak dapat mengingatnya lagi, bahwa ia pernah mengenal orang yang kemudian menyebut dirinya bernama Kiai Gringsing itu.

Di luar sadarnya maka Ki Juru Martani itu menarik nafas dalam-dalam. Seandainya Kiai Gringsing telah melakukan penyamaran maka penyamaran itu adalah penyamaran yang sempurna.

“Tidak akan dapat dikenal dalam waktu yang pendek,” berkata Ki Juru Martani kepada diri sendiri. “Mungkin setelah ia berada di sini dua atau tiga hari. Mungkin di dalam pembicaraan atau mungkin di dalam ciri-ciri yang tersembunyi.”

Karena itu, Ki Juru Martani yang dikenal sebagai seorang yang memiliki ketajaman mata hati itu tidak memaksa diri untuk segera mengetahui, siapakah Kiai Gringsing itu. Apalagi sikap, tingkah laku dan sorot mata orang tua itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda apa pun juga.

Dengan demikian maka mereka pun kemudian terlibat dalam pembicaraan yang wajar. Tidak ada usaha untuk mengorek keterangan tentang pribadi yang dianggap tersembunyi itu.

Setelah beristirahat sejenak dan setelah minum beberapa teguk dan makan beberapa potong makanan, maka Ki Juru Martani pun kemudian berkata, “Kiai, tentu Kiai sudah mendengar dari Angger Sutawijaya, bahwa Ki Gede Pemanahan kini sedang dalam keadaan sakit. Itulah sebabnya maka kami minta Kiai singgah barang sehari dua hari jika Kiai pergi ke Sangkal Putung.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk, katanya, “Ya, Ki Juru. Menurut Raden Sutawijaya, Ki Gede sekarang sedang menderita sakit. Sejak Ki Gede mengalami cidera dalam pertempuran di pinggir Kali Opak, maka Ki Gede menjadi sakit seolah-olah sekian lamanya tanpa ada tanda-tanda bahwa sakitnya akan sembuh.”

“Demikianlah, Kiai. Karena itu, terserahlah kepada Kiai apakah yang baik bagi Adi Pemanahan. Setelah Kiai hari ini beristirahat, maka Kiai dapat menengoknya.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Nampaknya ada sesuatu yang dipikirkannya. Tetapi ia tidak berbuat lain kecuali mengangguk-angguk kecil.

“Tentu tidak usah tergesa-gesa, Kiai,” berkata Ki Juru lebih lanjut. “Kiai dapat melakukannya sore nanti, atau malam nanti. Bahkan apabila Kiai masih perlu beristirahat, dan Kiai menganggap saatnya baik, besok pun tidak ada keberatan apa-apa.”

Kiai Gringsing tersenyum. Jawabnya, “Ki Juru. Aku akan melakukan secepat-cepatnya. Mungkin malam ini kami dapat bermalam di sini, tetapi tidak lebih dari semalam. Kami masih harus berbuat sesuatu bagi anak yang gemuk ini sesuai dengan pembicaraan Ki Demang Sangkal Putung dengan Ki Argapati dari Tanah Perdikan Menoreh.”

“O,” Ki Juru Martani mengangguk-angguk, “aku mengerti, Kiai. Tetapi yang sehari dua hari tidak akan banyak berpengaruh terhadap persoalan yang sedang dalam pembicaraan itu. Bukankah begitu, Swandaru? Seperti juga hambatan yang timbul karena sebab-sebab lain, sehingga kau harus berada di Tanah Perdikan Menoreh lebih lama lagi.”

Swandaru tidak menyahut. Tetapi kepalanya semakin tunduk.

Yang ternyata kemudian menjawab adalah Kiai Gringsing, “Tentu ada bedanya, Ki Juru. Apalagi bagi Swandaru. Meskipun ia terhambat beberapa bulan di Tanah Perdikan Menoreh, ia tidak akan mengeluh seperti apabila perjalanannya tertunda satu hari di tempat lain.”

Ki Juru pun tersenyum. Katanya, “Ya, Aku mengerti. Itulah agaknya maka Kiai akan menjadi tergesa-gesa.” Ki Juru berhenti sejenak, lalu, “Tetapi bukankah Ki Demang Sangkal Putung dapat mengirimkan utusan terlebih dahulu dengan segala macam pesan ke Sangkal Putung?”

“Tidak, Ki Juru,” berkata Ki Demang. “Jika Kiai Gringsing masih akan berada di sini untuk beberapa hari, maka sebaiknya aku pergi mendahului. Mungkin Swandaru akan pergi bersama aku, tetapi mungkin juga ia akan menunggu gurunya. Tetapi jika aku sudah nampak kembali ke Sangkal Putung, maka keluarga yang sudah aku tinggalkan sekian lamanya itu tidak menjadi gelisah.”

“Dan itulah bedanya,” berkata Ki Juru Martani, “Ki Demang adalah seorang Demang yang tentu jarang sekali meninggalkan kademangan seperti juga Ki Argapati. Tugas-tugasnya menuntut agar ia selalu berada di rumah. Dengan demikian maka perpisahan dengan keluarganya merupakan suatu beban perasaan yang berat.”

Ki Demang mengangguk. Jawabnya, “Agaknya memang demikian Ki Juru. Keluarga dan Kademangan Sangkal Putung rasa-rasanya tidak dapat terpisah dari padaku untuk waktu yang terlaju lama.”

Sekilas Ki Juru memandang Kiai Gringsing. Lalu katanya, “Agak berbeda dengan Kiai Gringsing. Sudah berapa tahun Kiai Gringsing mengembara.” Ki Juru berhenti sejenak, lalu, “Maaf, Kiai, agaknya tidak ada seorang pun yang menunggu kedatangan Kiai dengan tergesa-gesa, karena sudah menjadi kebiasaan Kiai melakukan perjalanan yang panjang. Meskipun demikian, tentu pada suatu saat Kiai berpikir pula untuk kembali ke suatu tempat seperti juga bangau akan hinggap di pelimbahan.”

Sejenak nampak wajah Kiai Gringsing menegang. Namun kemudian bibirnya tersenyum. Senyum seorang tua yang nampaknya sudah meletakkan dirinya pada keadaannya dengan penuh keikhlasan.

“Ki Juru,” berkata Kiai Gringsing, “aku adalah seorang yang hanya sebatang kara. Aku tidak akan pernah berpikir ke mana aku akan kembali sampai pada saat-saat yang paling akhir sekalipun, karena atap rumahku adalah langit yang luas dan alasnya adalah bumi. Itulah sebabnya aku menganggap di mana pun juga di atas dunia ini sama saja bagiku. Jika sampai saatnya, maka di dalam dekapan bumi di mana pun tidak akan ada bedanya.”

Ki Juru Martani menarik nafas dalam-dalam. Tetapi dengan demikian ia merasakan betapa rapatnya Kiai Gringsing menyelebungi dirinya. Bahkan, kadang-kadang ia tidak dapat mengingkari penglihatannya, bahwa Kiai Gringsing adalah Kiai Gringsing seperti yang dilihatnya saat itu.

Namun ketajaman penglihatan Ki Juru agaknya memang menangkap sesuatu. Tetapi ia sendiri masih belum tahu pasti, apakah yang sedang dilihatnya itu.

Karena itulah maka Ki Juru Martani pun kemudian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Katanya, “Kiai benar. Seperti juga Kiai, aku pun seorang perantau yang jarang sekali memikirkan, ke mana aku akan kembali. Karena seperti juga Kiai, dunia adalah hamparan lantai yang luas bagi sebuah rumah yang tanpa batas besarnya.”

“Ah, tentu berbeda bagi Ki Juru,” sahut Kiai Gringsing.

Namun secepat itu pula Ki Juru menjawab, “Demikianlah yang sebenarnya, Kiai. Memang berbeda dengan Adi Pemanahan yang kini sedang sakit.”

Kiai Gringsing tidak menyahut lagi. Tetapi kepalanya terangguk-angguk kecil.

“Nah, barangkali memang sudah sampai pada saatnya,” berkata Ki Juru Martani kemudian, “Kiai mencoba melihat Adi Pemanahan yang sedang sakit. Lihatlah, apakah yang sebenarnya sedang dideritanya.”

~ Article view : [281]