Bab 14 – Penguasaan Atas Ketiga Sifat [ page 3 ]

327
bhagavad gita

Berkatalah Arjuna:
21.  Apakah ciri-ciri dari seseorang yang telah melampaui ketiga guna ini? Bagaimana cara hidupnya? Dan bagaimana caranya ia melampaui ketiga guna ini?

Bersabdalah Yang Maha Pengasih:
22.  Seseorang yang tidak menghindar (atau menolak) cahaya (pengetahuan) atau aktivitas atau kebodohan di kala faktor-faktor ini timbul, dan tidak mengharapkan faktor-faktor ini di kala tidak hadir.

23.  Seseorang yang duduk tanpa khawatir tak terusik oleh guna, terpisah, tanpa goyah, dan mengetahui bahwa hanya guna-guna ini yang bertindak.

24.  Seseorang yang merasakan kenikmatan dan penderitaan adalah serupa, yang terpusat pada Sang Atman, dan baginya tanah liat atau batu ataupun emas adalah satu, yang sama kepada yang dicintainya dan yang tidak dicintainya, yang jalan pikirannya tak goyah, yang bersikap sama di kala terhina dan dalam kemasyuran.

25.  Yang memandang sama rata akan rasa dihormati dan tidak dihormati, dan yang bersikap sama terhadap sahabat dan musuhnya, yang telah melepaskan semua ambisi—orang ini disebut telah melewati semua guna-guna ini.
Seseorang yang telah melewati, melampaui atau mengatsi ketiga guna (sifat-sifat Prakriti) akan berubah cara hidup dan cara berpikirnya. Ia akan menjadi ibarat seorang tuan atau majikan yang sudah dapat menguasai atau memperalat sifat-sifat alam ini, dan tanda-tanda atau ciri-ciri orang ini adalah:
a. Ia bersikap sama saja kepada ketiga sifat-sifat atau kualitas Prakriti ini di kala sifat-sifat ini hadir dan sedang beraksi baik dalam dirinya maupun dalam diri orang lain, karena ia sadar bahwa setiap sifat ini mempunyai evolusi atau naik turunnya sendiri.
b. Ia tak terganggu atau terusik oleh efek atau hasil atau karma dari setiap tindakan, apakah itu tindakan baik maupun tindakan buruk. Ia sadar bahwa setiap perbuatan atau aktivitas adalah milik guna-guna ini, milik dan merupakan alat permainan sang Prakriti. Baginya alam dan sifat-sifatnya selalu sedang bekerja dan ia sendiri sedang duduk di tengah-tengahnya, merasa tak asing tetapi juga tak khawatir. Tak dapat ia digoyahkan dari jalan pikirannya ini oleh sifat-sifat Prakriti. ”Hanya sifat-sifat ini saja bergerak” katanya, dan ”semua objek adalah benda-benda mainan yang dipermainkan oleh guna-guna ini”. Ia merasakan dirinya sebagai musafir yang sedang melakukan perjalanan atau pekerjaannya saja di dunia ini, ibarat mimpi yang tak dapat mengganggu mereka yang tidak tidur, maka guna atau sifat-sifat inipun tidak dapat mengganggu sang musafir ini, yang tenang dengan tugas atau perjalanannya kearah Yang Maha Esa.
c. Baginya setiap benda, makhluk dan kejadian adalah hal yang sama atau satu sifatnya. Ia Bersikap selalu sama rata terhadap hal-hal, kejadian-kejadian dan pengalaman-pengalaman yang berlawanan seperti suka-duka, panas-dingin, teman-musuh, penghormatan penghinaan, cinta-benci dan lain sebagainya. Emas atau tanah liat baginya sama saja nilainya, sama-sama ciptaan Yang Maha Esa yang tak ada bedanya dan mempunyai fungsi masing-masing di dunia ini, tidak lebih tinggi dan tidak lebih rendah.
d. Ia tidak berambisi lagi dengan tujuan-tujuan tertentu dalam melakukan pekerjaannya. Baginya setiap aksi, perbuatan, tindakan dan pekerjaan adalah dharma baktinya kepada Yang Maha Esa, yang tidak diiringi oleh pamrih sama sekali. Baginya pekerjaan apapun sama saja kadar atau sifatnya, tidak ada yang lebih agung dan tidak ada yang lebih hina, apapun jenis pekerjaan itu harus didedikasikan secara tulus dan tanpa pamrih kepada Yang Maha Esa semata.

26.  Seseorang yang mengabdi kepadaKu dengan dedikasi yang tanpa pamrih, melampaui semua sifat-sifat alami ini dan bersatu dengan Sang Brahman.
Apakah caranya agar seseorang dapat melampaui ketiga guna ini dan bersatu dengan Yang Maha Esa, Yang Maha Abadi. Caranya: (a) pengabdian yang terus-menerus tanpa henti dan tanpa pamrih, dan (b) mengabdi kepadaNya dengan cinta kasih yang tulus. Dalam cinta kasih terhadapNya yang tulus ini dan tanpa henti ini maka secara lambat laun ia akan menyatu dengan yang dikasihiNya, dan ia sendiri berubah menjadi nol untuk dirinya sendiri, tetapi menjadi Satu dengan Yang Maha Esa. Ini disebut Atma-Svarupa, yaitu menyatu dengan Sang Kreshna dan bersatu dengan Yang Maha Esa. Om Tat Sat.

27.  Karena Akulah tempat bersemayam Sang Brahman, Air Kehidupan Abadi yang tak ada habis-habisnya. Akulah fondasi dari kebenaran yang abadi dan sumber dari keberkahan yang tak ada akhirnya.
Mengasihi atau mencintai Sang Kreshna adalah upaya untuk menyatu dengan Sang Brahman, karena Sang Kreshna dan Sang Brahman adalah Satu. Kreshna itu Brahman, dan Brahman itu Kreshna. Sang Kreshna adalah sumber dari (a) keabadian dan (b) Hukum Dharma (Hukum Kebenaran) yang abadi dan (c) berkah yang tak ada duanya dan tak kunjung berakhir—keberkahan yang absolut. Sekali lagi Sang Kreshna menegaskan bahwa Ia lah Sang Brahman yang menitis menjadi Kreshna (manusia utama) karena kasihNya kepada para pemujaNya. Sang Kreshna adalah manifestasi dari Sang Brahman, Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Agung dan Suci. Om Tat Sat.

Dalam Upanishad Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahuan Yang Abadi, karya sastra yoga, dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna, bab ini adalah yang keempat-belas dan disebut:
Guna Traya Vibhaga Yoga atau
Yoga mengenai Perbedaan Ketiga Sifat Alam.

~ Article view : [537]