Bab 17 – Tiga Jenis Kepercayaan [ page 2 ]

206
bhagavad gita

10. Makan yang tak segar, tak berasa, basi, cacat, tidak bersih adalah jenis makanan yang disukai oleh orang-orang yang bersifat tamasik.
Makanan yang dimakan seseorang pun merefleksikan karakter seseorang itu sendiri, yang didasarkan pada iman orang itu sendiri sesungguhnya. Seperti juga iman atau kepercayaan yang terbagi tiga, maka jenis makanan pun dibagi tiga:
a. Makanan sattvik, makanan jenis ini menambah kewibawaan, intelegensia, intelektualitas, kekuatan, kesegaran, kesehatan, kenikmatan lahir dan batin, kegembiraan, dan kebahagiaan hidup. Makanan jenis ini adalah yang mudah dimakan, beraroma, manis, mengandung cairan seperti sari-buah dan buah-buahan; menyehatkan dan sesuai dengan mereka-mereka yang bertemparamen sattvik. Contoh: gandum, beras, kacang-kacangan, mentega, susu, produk dari ternak (bukan daging ternak), buah-buahan dan sayur-sayuran segar dan matang.
b. Makanan rajasik adalah jenis makanan untuk mereka-mereka yang penuh dengan nafsu dan keinginan-keinginan duniawi, yaitu jenis-jenis makanan yang rasanya pahit, asam, bergaram, terlalu pedas, berbau, keras dan menyengat seperti opium, tembakau, tamarin, cabai, gandum yang dibentuk alkohol dan lain sebagainya. Makanan sejenis ini menimbulkan sakit, penderitaan dan kesusahan.
c. Makanan tamasik adalah jenis makanan yang disukai oleh mereka-mereka yang hidup dalam kegelapan dan berpikiran gelap dan iblis. Mereka ini menggemari makanan yang tidak dimasak dengan baik, yang kotor, yang tidak ada rasanya, cacat, basi, tidak dapat digolongkan suci atau bersih. Contoh: daging, ikan, bawang, telur, daging-mentah, buah-buahan dan sayur-sayuran yang diasamkan, alkohol dan sisa-sisa makanan orang lain. Juga makanan hasil korupsi dan kejahatan termasuk golongan ini.
Makanan yang disantap kita seharusnya adalah makanan yang menyehatkan dan membersihkan diri kita. Hasil kerja kita yang halal adalah sattvik, dan seandainya kita memakan sesuatu dari uang hasil korupsi atau pekerjaan haram lainnya, dan seandainya kita menerima sesuatu pemberian atau makanan dari seseorang yang jelas-jelas kita ketahui uangnya berasal dari uang yang tidak jujur atau tidak halal, maka yang dimakan itu tidak sattvik. Sebuah pepatah Jerman mengatakan, “Seorang manusia adalah apa yang ia makan!” Dan ini memang benar adanya, karena berdasarkan makanan yang kita konsumsikan kemudian timbul berbagai jenis pikiran di dalam benak. Pikiran, jiwa dan hati kita, dan semua pikiran ini, kemudian menghasilkan berbagai aktivitas yang berhubungan dengan kehidupan kita. Jadi berhati-hatilah akan apa yang kita makan atau konsumsikan. Makanlah sesuatu dari orang-orang yang sifat dan rasa magnetismenya suci dan bersih. Seseorang yang pantas dimakan makanannya adalah ibu kita sendiri, istri yang berbakti, putri, saudara perempuan dan guru kita sendiri. Dan secara mental selalu mempersembahkan makanan ini sebagai ahuti (persembahan) kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan cara ini makanan yang dimakan ini akan memberikan kekuatan untuk pekerjaan kita dan juga untuk amal kita bagi semuanya. Dan sewaktu bersantap harap diperhatikan bahwa suasana di sekitar tempat makan ini tenang dan tidak berisik. Makanlah dengan diam-diam tanpa banyak berbicara, jauhkanlah pikiran dan pembicaraan yang tidak perlu. Ini penting sekali baik untuk segi kejiwaan maupun kesehatan badani. Cobalah!
11. Persembahan (atau pengorbanan) yang bersifat sattvik, seandainya dipersembahkan sesuai dengan kaidah-kaidah suci, oleh orang-orang yang tidak menginginkan suatu imbalan, dan yang percaya dengan teguh bahwa persembahan (atau pengorbanan) ini adalah wajib sifatnya.
12. Persembahan (atau pengorbanan) yang dipersembahkan dengan maksud untuk mendapatkan suatu imbalan tertentu atau demi suatu pertunjukkan belaka adalah persembahan (atau pengorbanan) yang bersifat rajasik (penuh nafsu), oh Arjuna.
13. Persembahan (atau pengorbanan) yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah suci, di mana tak ada makanan yang dibagikan, tak ada mantra-mantra yang diucapkan, dan tak ada dana atau hadiah yang diberikan, yang kosong akan iman, adalah bersifat tamasik (gelap).
Pengorbanan atau persembahan pun berhubungan dengan karakter asli dari para pemuja, dan terdapat tiga kualifikasi dari persembahan atau pengorbanan ini:
a.  Persembahan yang bersifat sattvik dilakukan oleh seseorang karena merasakan adanya kewajiban berdasarkan kewajibannya terhadap Yang Maha Esa dan kaidah-kaidah suci. Persembahan atau pengorbanan ini dilakukan tanpa pamrih, tanpa mengharapkan suatu keuntungan tertentu.
b.  Persembahan secara rajasik adalah persembahan atau pengorbanan yang tidak tulus karena dilakukan dengan mengharapkan pamrih atau untuk suatu tujuan tertentu. Persembahan atau pengorbanan ini dilakukan demi mendapatkan kemasyhuran dan ada juga yang demi memamerkan kekayaan dan kekuasaan seseorang.
c.  Persembahan secara tamasik adalah persembahan tanpa iman, yang dilandasi akan maksud-maksud gelap. Persembahan atau pengorbanan ini bertolak belakang dengan ajaran-ajaran suci.
14. Pemujaan kepada para dewa, kepada yang lahir dua kali, kepada para guru, dan kaum bijaksana; kemurnian, kejujuran (yang tidak ditutup-tutupi), disiplin spiritual bagi diri, dan tidak menyakiti siapapun — inilah yang disebut sebagai tapa-tapa bagi raga ini.
15. Kata-kata (wicara) yang tidak menyakiti seseorang, yang jujur, menyenangkan dan menguntungkan, dan mempelajari buku-buku suci secara konstan – inilah yang disebut sebagai tapa-tapa wicara ini.
16. Ketenangan pikiran, kelembutan, diam-diri, kendali-diri, berpikir (dan juga merasa) secara baik dan murni – inilah yang disebut tapa-tapa pikiran ini.
Tapa atau disiplin spiritual bagi seseorang pun dibagi tiga.   Tapa yang benar adalah disiplin diri yang dilakukan pada raga, kata-kata (mulut dan pembicaraan) dan pikiran kita masing-masing sebagai berikut:
a. Tapa atau disiplin pada raga itu adalah dengan menyembah dan memuja kepada Yang Maha Esa secara teratur dan konstan; menyembah dan bekerja untuk para guru dan orang-orang yang bijaksana yang menjadi tempat kita belajar, kepada para pendeta dan Brahmin yang kita hormati dan pada individu-individu yang agung dan suci ajaran-ajarannya. Dalam tapa untuk raga ini tercakup juga disiplin yang kuat dalam membersihkan tubuh kita dari berbagai kekotoran duniawi dan juga benda-benda lainnya yang dapat membuat kita sakit. Juga kendali pada semu; indra-indra sensual kita adalah salah satu dari tapa-raga ini. Menjaga kesehatan raga kita dari berbagai kemungkinan terkena penyakit kotor dan penyakit-penyakit lainnya, berolah-raga secara teratur, berekreasi ke alam bebas, bermeditasi adalah tapa atau disiplin bagi raga kita, yang amat vital dan penting efeknya pada kehidupan spiritual kita.
Juga termasuk dalam tapa-raga ini, ialah kualitas-kualitas atau sifat-sifat seperti keterus-terangan atau kejujuran, tidak menyakiti sesama makhluk dan usaha-usaha bramacharya, yaitu mendisiplinkan diri dan raga kita agar jauh dari nafsu-nafsu badani. Jauhkanlah kemanjaan dalam hidup ini, hiduplah secara sederhana saja dai lebih alami. Jangan berpikir semasih ada pergunakan saja kesempatan dan fasilitas yang telah diberikan Tuhan kepada kita, kemudian dengan landasan pemikiran semacam ini, kita berfoya-foya atau hidup yang mewah dan penuh dengan kenikmatan duniawi. Tetapi berpikirlah selama diberi kesempatan dan fasilitas ini kita malahan menggunakan secara minim dan yang perlu saja, dan ingat Yang Maha Esa tidak pernah menciptakan uang, rumah, AC, mobil dan benda-benda mewah lainnya, yang menciptakan semua ini adalah manusia. Yang diciptakan oleh Yang Maha Kuasa adalah alam, jadi kembalilah ke alam yang tak ada habis-habisnya ini, di alam yang murni ini terletak kebahagiaan dan obat kita untuk mengatasi semua problem kita. Semua yang nampaknya mewah dan praktis ini sebaliknya malahan membuat raga kita sakit karena kurang gerak dan jadilah kita budak dari semua milik kita yang mewah-mewah ini dan timbullah efek dari semua ini yang biasanya membuat kehidupan kita makin tergantung kepadanya, dan bukan sebaliknya. Padahal tubuh dan pikiran kita diciptakan sedemikian rupa agar makin banyak gerak dan semakin alami hidup kita maka semakin sehatlah raga dan pikiran kita akhirnya. Jauhilah dan kurangilah pembantu rumah-tangga yang berlebihan jumlahnya, sebisa mungkin kita bekerja sendiri semua urusan rumah-tangga kita dan bergeraklah semaksimum mungkin sambil bekerja. Inilah salah satu tapa-raga kita yang sehat dan sattvik sifatnya.
b. tapa-wicara atau disiplin pada kata-kata atau pembicaraan kita adalah disiplin diri kita dalam bertutur-kata. Jauhilah bualan-bualan kosong maupun kata-kata yang penuh dengan nada kebanggaan, sombong dan egois. Selalu berkata sejujur mungkin, tulus dan mengutarakan kata-kata yang baik, lembut dan bermakna, yang menyejukkan hati yang mendengarkannya. Sebuah pepatah Jepang mengatakan, “Satu kata yang lembut, menyejukkan tiga bulan musim panas.” Kata-kata yang jauh dari nafsu dan kekotoran adalah kata-kata yang harus selalu melekat pada bibir dan pikiran kita. Gunakanlah selalu kata-kata yang dapat menolong seseorang yang memerlukannya, (nasehat-nasehat) dan Jauhilah argumen-argumen yang menunjukkan rasa egoisme yang pribadi, seperti “ini punyaku, ini aku yang melakukannya, dan lain sebagainya.” Jauhilah kata-kata kasar dan didorong rasa amarah. Dekatilah Ia selalu setiap saat, setiap waktu baik sedang bekerja maupun tidak, dan selalu mengucapkan doa-doa, mantra-mantra suci dan “berdialoglah denganNya baik secara verbal maupun secara mental. Inilah tapa-wicara yang penting dilakukan kita semua, demi tercapainya disiplin spiritual kita yang lebih tinggi, yaitu disiplin kepada dan bagiNya.
c. Tapa-jiwa (atau pikiran) adalah: (1) Selalu membuat pikiran kita gembira dan balans (stabil) dengan menenangkan diri dan mencari ketenangan baik di tengah-tengah kesibukan maupun ketika sedang seorang diri. (2) Kelembutan atau ramah-tamah, tetapi ini tidak berarti kelemahan atau rasa pengecut, tetapi bersikap ramah, baik dan terus-terang, tenang dan welas-asih terhadap semua makhluk, manusia dan benda-benda. (3) Diam-diri atau tenang-diri tidak berarti kita harus bermeditasi sepanjang hari, atau diam seperti patung, atau bagaikan orang-mati dan tidak bergerak sama-sekali, atau juga lari dari pekerjaan dan kewajiban kita sehari-hari, melainkan berarti mengusahakan setiap harinya untuk sejenak meluangkan waktu kira-kira 10 menit atau satu jam, dan duduk bermeditasi atau “berdialog” dengan Yang Maha Esa secara tenang dan tidak terganggu. Ini baik untuk menjauhkan stress dan berbagai problem, tetapi lebih baik secara spiritual karena akan makin mendekatkan kita kepadaNya secara lambat laun tapi pasti. Hal ini dapat dilakukan di kantor, rumah, di toko, atau sambil berolah-raga jalan kaki misalnya, sambil berdiri di suatu tempat secara tenang dan lain sebagainya. Yang Maha Esa dapat dihubungi dengan cara apa saja dan di mana saja karena Ia Maha Hadir di alam semesta ini. Yang penting luangkan waktu sejenak pada waktu-waktu tertentu atau secara bebas, dan berusaha tenang dan menyatu denganNya. (4) Kendali pada pikiran dan (5) membersihkan perasaan kita. Kedua hal terakhir ini berarti janganlah berpikir yang tidak-tidak atau berspekulasi atau mencurigai sesuatu atau seseorang. Tetapi fokuskanlah diri padaNya selalu dan banyak berpikirlah mengenai hal-hal yang positif dan suci, dan yang tidak merusak jiwa dan mental kita. Seperti raga yang harus dibersihkan setiap hari dengan air bersih, maka jiwa dan pikiran kita pun harus dimandikan dan dibersihkan dengan selalu berpikir tentang Yang Maha Esa dan hal-hal yang positif, bersih, murni dan baik untuk semua yang di sekitar kita dan di seluruh alam semesta ini, dengan doa-doa dan mantra-mantra suci bagi semuanya (di alam semesta ini).

~ Article view : [377]