Bab 18 – Kata Terakhir [ page 4 ]

291

37. Yang terasa bagaikan racun pada awalnya tetapi serasa air-surgawi pada akhirnya, dan yang terpancar dari pengertian yang murni dari Sang Atman -kebahagiaan tersebut dikatakan bersifat sattvik (bersih).
Kebahagiaan sattvik yang sejati timbul dari kesadaran diri atau dari penampilan/wahyu atau wangsit dari Sang Atman pada diri kita. Tetapi kebahagiaan ini tidak mudah didapat karena harus dipelajari dan dipraktekkan untuk jangka waktu yang lama yang tidak dapat ditentukan oleh seseorang, dan harus diikuti oleh kepasrahan total kepada Yang Maha Esa. Ada tiga ciri khas sattvik-sukha (kebahagiaan sattvik) ini:
1. Dicapai dengan abhyasa (praktek dan usaha spiritual seperti pemujaan dan meditasi pada Yang Maha Esa secara berkesinambungan).
2. Sangat sukar dan pahit rasanya pada permulaan ini dilakukan, tetapi terasa nikmat dan manis pada akhirnya.
3. Tidak didapatkan dari suatu unsur luar raga kita, tetapi terpancar keluar dari diri sendiri yang sudah bersih dari awan-awan gelap dan kebodohan, terpancar keluar dari lubuk jiwa kita yang paling dalam. Sang Atman, Sang Jati Diri kita Yang Sejati akan memancarkan kenikmatan Ilahi ini secara langsung pada waktunya.
Sattvik-sukha ini bersifat ananda, yaitu bersifat amat menenangkan jiwa, suatu kebijaksanaan atau kesadaran yang amat menentramkan dan membahagiakan jiwa kita.
38. Sesuatu yang terjadi karena kontak-kontak indra dan obyek-obyeknya (vishaya), yang pada mulanya, terasa sebagai air-surgawi, tetapi pada akhirnya terasa sebagai racun – kebahagiaan atau sukha ini dikatakan sebagai rajasik.
Kenikmatan atau kebahagiaan rajasik itu terasa manis seperti amrita (air-surgawi) pada mulanya, karena memang bersifat duniawi dan tercipta akibat hubungan antara obyek-obyek sensual dan indra-indra kita. Tetapi sesudah itu berakibat penderitaan yang amat menyakitkan. Semua kenikmatan duniawi baik itu secara seksual, maupun melalui pesta-pora dan hidup mewah terasa nikmat pada mulanya tetapi selalu terasa pahit pada akhirnya, karena tidak disertai oleh nilai-nilai moral yang sejati, yaitu demi dan untuk Yang Maha Esa semata, tetapi demi kesenangan dan kenikmatan pribadi, dan ini disebut kebahagiaan rajasik, yaitu bersifat sementara saja.
39. Kenikmatan yang pada mulanya dan kemudian selanjutnya menyesatkan sang jiwa, dan yang timbul dari tidur, kemalasan dan kekurangan perhatian –kenikmatan tersebut dikatakan tamasik (gelap).
Kenikmatan tamasik sudah menyesatkan dan menderitakan seseorang dari awal-mula dan selanjutnya pada akhirnya tetap mendatangkan penderitaan. Seseorang yang terbius secara tamasik ini tenggelam dalam kenikmatan yang diakibatkan oleh kebodohan, kekurang-pengetahuan, dan kekacauan jiwa-raganya.
40. Tak ada satu makhluk pun, baik di bumi atau juga di antara para disvarga-loka, yang bebas dari ketiga guna (sifat-sifat Prakriti) ini, yang lahir dari Prakriti (alam).
41. Mengenai para Brahmin, Kshatrya, Vaishya dan para Sudra, oh Arjuna, aktivitas-aktivitas mereka ini telah dijelaskan, sesuai dengan guna-guna yang lahir dan sifat sejati mereka.
Svabhava, atau sifat seseorang, adalah pembawaan karma seseorang atau sesuatu makhluk dari kehidupan masa lampaunya. Keempat varna (sistim kasta) manusia pun terpengaruh oleh sifat atau guna-guna ini, dan semua itu mempengaruhi cara kerja atau sifat perbuatannya. Svabhava dengan begitu menentukan suatu kewajiban atau perbuatan seseorang berdasarkan guna-guna yang dominan dalam orang tersebut. Kewajiban setiap varna dengan kata lain datang dari Prakriti itu sendiri.
Sattva dominan dalam seseorang yang ditakdirkan menjadi Brahmin sejati, raja dominan dalam seorang Kshatriya, dan kemudian setelah sifat raja ini menyusul dua sifat, yaitu sattva dan tama dalam Kshatriya. Dalam Vaishya yang dominan adalah unsur atau sifat raja plus tama, unsur sattva menyusul kemudian.
Dalam Shudra, unsur yang dominan adalah tama, kemudian menyusul raja dan terakhir sattva. Tetapi ingat dalam naungan Sang Atman, setiap makhluk dan manusia adalah sama, yaitu hanya satu unsur, yaitu Sang Atman Sendiri. Dalam IntiNya yang sejati dan secara spiritual kita semua adalah berasal dari satu unsur yang tunggal. Satu dalam perjalanan, tujuan dan takdir kita. Tetapi di dalam olahan sang Prakriti kita berbeda-beda, dan ingat sistim varna atau kasta adalah produk dari sang Prakriti ini!
Semua bentuk kasta-kasta ini adalah ibarat alat-alat atau anak-anak dari Yang Maha Esa. Kepandaian, ilmu pengetahuan, dan kekayaan dunia lahir dan batin, dibagikan secara sama rata kepada masing-masing kasta ini sesuai dengan kewajiban-kewajibannya di dunia ini untuk mencapai Yang Maha Esa kembali. Tetapi tidak ada perlombaan kekuasaan atau kedudukan atau diskriminasi yang dianjurkan di antara mereka-mereka ini. Yang ada hanya sifat-sifat dominan pada seseorang, dan sifat-sifat inilah yang menentukan kewajibannya dan kastanya. Jadi kasta itu ditentukan oleh jenis sifat, pekerjaan dan perbuatan seseorang sehari-hari dan bukan karena status kelahiran seseorang. Seseorang dalam perjalanan hidupnya di dunia ini bisa raja berubah dari seorang yang lahir secara (atau tidak) Vaishya menjadi seorang brahmana sesuai dengan panggilan atau ketentuan Ilahi, menurut takdirnya masing-masing, dan begitupun sebaliknya. Mukti atau pembebasan spiritual terbuka untuk siapa saja tanpa pandang bulu, yang penting seseorang itu mau bertindak tanpa pamrih, dan penuh dengan dedikasi yang luhur terhadap Yang Maha Esa.
Sekali lagi ditegaskan di sini, Svabhava adalah sanskara (penderitaan duniawi) yang diakibatkan oleh perbuatan dari kelahiran yang silam. Sesuai dengan sanskara ini, maka dalam hidup ini terciptalah pada seseorang unsur-unsur sattva, raja dan tama. Dan sesuai atau berdasarkan guna ini timbullah keempat sistim varna (kasta) atau jenis-jenis profesi dan perbuatan masing-masing orang, bukan diskriminasi atau perbedaan kekayaan/kedudukan/status seseorang. Status seseorang, makhluk dan benda di mata Yang Maha Esa adalah sama saja, yaitu satu: sebagai alatNya belaka, tidak lebih dan benda tidak kurang. Om Tat Sat.
42. Ketenangan, pengendalian diri, disiplin spiritual, kebersihan lahir-batin, kesabaran, menjunjung tinggi kebenaran, kebijaksanaan, pengetahuan dan iman — adalah kewajiban seorang Brahmin, lahir dari sifatnya yang pribadi.
Keempat sistim varna ini sebenarnya kalau ditinjau dengan kaca-mata yang benar, maka melambangkan suatu fungsi sehat dari suatu tata-negara dalam satu negara yang baik dan bijaksana pemerintahannya. Negara yang sehat dan kuat, aman dan makmur adalah suatu negara di mana kaum brahmana, kshatriya, vaishya dan sudra bersatu, bergabung, bahu-membahu bekerja demi kesejahteraan yang lainnya, dan bukan saling mendepak, menjatuhkan atau merendahkan lainnya.
Tetapi inti dari sistim varna atau kasta ini sebenarnya adalah kaum Brahmin. Bukan harta-benda atau jumlah tentara yang melimpah-ruah, bukan perencanaan ekonomi yang fantastis, atau pidato-pidato kosong yang muluk-muluk para politisi, tetapi kehidupan orang-orang awam yang berdedikasi, bermoral tinggi dan beragama secara saleh, yang sebenarnya menjadi dasar atau sendi utama dari varna atau kasta-kasta lainnya. Dan orang-orang yang sederhana tetapi bermoral tinggi inilah yang sebenarnya yang disebut brahmin-brahmin dalam arti yang sebenarnya, yang orientasinya selalu dalam menegakkan dharma dan bhaktinya. tanpa pamrih demi Yang Maha Esa dan masyarakat banyak. Dan kalau masyarakat banyak bermoral baik, maka negara itu akan baik, sehat dan kuat. Tetapi seandainya masyarakat itu sakit, maka negara itupun akan sakit dan lemah. Semakin banyak yang bersifat brahmin dalam suatu masyarakat atau negara makin jayalah negara itu, karena akan selalu jauh dari unsur-unsur yang merugikan. Seorang brahmin sejati adalah seorang guru bagi sesamanya.
43. Keberanian, semangat, ketegaran, pandai berunding, tidak bersifat pengecut (tidak lari dari suatu peperangan), bermurah-hati dan berwibawa sebagai pemimpin (sifat asli seorang pemimpin) – semua ini adalah kewajiban seorang kshatriya yang lahir dari sifat-sifat pembawaannya.
Brahmin yang sejati adalah guru, dan kshatriya yang sejati adalah pengayom masyarakat yang bersedia mati setiap saat ia dibutuhkan demi tegaknya kebenaran, kedamaian dan kemajuan atau kemakmuran suatu negara dan masyarakat. Orang-orang yang berjiwa kshatriya tidak mengenal takut, selalu bersemangat baja, dan tak mudah dipengaruhi oleh uang dan harta-benda. Harapan bangsa terletak di pundak mereka, dan itulah dharma-bhakti mereka pada Yang Maha Esa dan masyarakat. Salah satu contoh adalah Sang Bhishma, suatu waktu Yudhishthira pernah memohon kepada Sang Kreshna agar ia dijadikan muridnya. Oleh Sang Kreshna ia diminta berguru ke Bhisma, dan salah satu ajaran Sang Bhishma pada Yudhishthira adalah, “Di mana Sang Kreshna bekerja, di situ terdapat dharma (kebenaran), di mana dharma berfungsi, di situ terdapat kemenangan.” Seorang kshatriya sejati adalah yang bekerja berdasarkan dharma, dan tak merasa takut akan apapun juga selain Yang Maha Esa. Biasanya seorang pemimpin semacam itu sudah lahir dengan wibawa dan kharisma semacam itu. Maka dikatakan, seorang kshatriya adalah seorang pemimpin bangsa, sedangkan seorang brahmin adalah guru dari masyarakat (semuanya).
44. Berladang, menjaga ternak dan berdagang adalah kewajiban seorang vaishya, lahir dari sifat pribadinya. Tindakan atau perbuatan yang bersifat jasa atau pelayanan (masyarakat) adalah kewajiban seorang shudra, yang lahir dari sifat pribadinya.
Seorang yang berkarakter atau hidup sebagai seorang vaishya berciri khas seperti (1) petani dan yang berhubungan dengan pertanian, (2) beternak dan menjaga agar ternak-ternak dipelihara dengan baik karena sapi, kerbau dan sejenisnya dianggap suci dan amat bermanfaat dalam agama Hindu, (3) berdagang atau berwira swasta dalam berbagai bidang ekonomi adalah sifat-sifat dominan seorang vaishya. Sedangkan yang digolongkan sebagai shudra adalah orang-orang yang berkerja di bidang jasa atau pelayanan secara umum, juga sebagai buruh, karyawan, dan petugas dalam segala bidang pekerjaan milik pemerintah maupun non-pemerintah.
Dengan demikian jelaslah sudah bahwa sistim varna atau kasta ini sebenarnya adalah pembagian golongan kerja, dan bukan pembagian hak hidup seseorang yang dapat diatur semena-mena. Tidak boleh ada orang yang merasa dilahirkan dalam kasta ini atau kasta itu. Yang benar adalah sewaktu seseorang tersebut dewasa dan ingin menentukan pekerjaan dan jalan-hidupnya sendiri maka terserah olehnya pekerjaan apa yang akan dipilihnya. Jadi sistim kasta yang berlaku sekarang ini yang membeda-bedakan, hak, status, nama dan sebutan, dan pekerjaan adalah salah besar. Yang benar itu, kasta ini hanyalah sekedar pembagian golongan, yang dalam abad modern ini bisa disebut sebagai berikut: para rohaniwan untuk sebutan modem para brahmana (tercakup di dalamnya para guru dan ilmuwan dan lain sebagainya yang berhubungan), kemudian para ekonom adalah sebutan modern atau masa kini untuk para pedagang, bankir dan lain sebagainya yang berhubungan dengan bidang ekonomi, para petani dan nelayan termasuk juga dalam golongan ini. Para politisi, pejabat negara, tentara dan  pamong-praja dan lain sebagainya adalah istilah modern para kshatriya; dan para buruh, pekerja, petugas dan lain sebagainya yang berstatus bekerja pada seseorang, negara, dan lainnya disebut shudra. Keempat golongan ini menjadi tiang-tiang utama dari sebuah negara, dan saling menunjang karena setiap tiang ini sama kekuatan dan kedudukannya. Satu tiang patah maka patahlah juga tiang-tiang lainnya, karena tidak akan mampu menyanggah negara yang ibarat sebuah gedung besar bertiang empat.
Seandainya sesuatu bangsa dan negara tidak melakukan suatu diskriminasi dengan, golongan-golongan yang ada di dalamnya, dan menghargai setiap golongan ini, maka aman-sejahtera dan sentosalah negara ini. Berbeda-beda tetapi eka, berbagai aspirasi tetapi satu tujuan, yaitu kesejahteraan bagi sesama dan semuanya adalah misi yang dikandung di sloka-sloka di atas ini, dan ingat bukan perbedaan kasta yang diskriminatif. Sebuah bangsa dan negara yang besar, maju dan sejahtera adalah yang masyarakatnya harmonis, dan duduk sama penting di antara sesamanya.

45. Seseorang mencapai kesempurnaan apabila ia berdedikasi kepada kewajibanya sendiri. Dengarkanlah olehmu bagaimana kesempurnaan ini didapatkan oleh seseorang yang setia kepada kewajibannya sendiri.
Yang dimaksudkan dengan kesempurnaan ini adalah penyadaran akan Ilahi. Seseorang dapat mencapainya dengan bekerja secara setia dan penuh dedikasi kepada kewajibannya sendiri, yaitu bekerja sesuai dengan sifat sejati yang dimilikinya.  Sewaktu seseorang menyerahkan semua pekerjaan dan perbuatannya kepada Yang Maha Esa tanpa pamrih sedikitpun, maka secara bertahap ia akan mencapai kesempurnaan ini atas karuniaNya. Tidak menjadi masalah kalau pekerjaan itu secara duniawi sifatnya amat sederhana atau kecil. Sekali perbuatan atau pekerjaan ini diserahkan secara total kepadaNya maka terbukalah jalan ke arah Yang Maha Esa.
Bekerjalah demi Yang Maha Esa sesuai dengan sifat-sifat kita yang sejati, janganlah iri atau berganti-ganti profesi karena harta duniawi, padahal belum tentu kita menghayati pekerjaan baru kita karena tidak berbakat ke arah itu. Pekerjaan, profesi atau perbuatan seharusnya dilakukan karena dedikasi kita kepada Yang Maha Esa, bukan karena nafsu atau keinginan duniawi. Maka sebaiknya setiap orang mengerjakan pekerjaan yang disenanginya, dihayatinya dan sesuai kodratnya, walaupun profesi tersebut tidak menghasilkan sesuatu harta duniawi. Harta sesungguhnya di dunia ini adalah Yang Maha Esa sendiri dengan segala karunia-karuniaNya, jadi seyogyanyalah kita selalu bekerja demi Yang Maha Esa semata, tanpa pamrih dan tulus jiwa-raga. Om Tat Sat.
46. la dari siapa semua makhluk dan benda ini datang dan oleh siapa seluruh ciptaan ini dijaga — dengan memujaNya melalui kewajibannya masing-masing, maka seseorang akan mencapai kesempurnaan.
Suatu pekerjaan yang menjadi kewajiban seseorang dapat menjadi pemujaan kepada Yang Maha Esa seandainya semua itu dipersembahkannya kepada Yang Maha Esa secara mental dan ragawi, untukNya, demi Ia semata tanpa pamrih. Tetapi pekerjaan ini harus selaras dengan kewajiban orang tersebut, yang juga senada dengan kewajibannya terhadap sesamanya secara tulus, bukan pekerjaan atau perbuatan orang lain yang ditiru atau dipaksakan olehnya.
Yang Maha Esa adalah sumber segala ciptaanNya di alam semesta, dan Ia juga yang menjaga semua itu, maka dengan bekerja demi Yang Maha Esa sesuai kewajiban kita masing-masing sebenarnya seseorang ikut melestarikan dan menjaga alam semesta ini. Dan Yang Maha Esa pun lalu tentu dengan senang hati akan membuka jalan ke arah kesempurnaan bagi sang pemuja yang penuh dengan bakti yang tulus ini.
47. Lebih utama dharma seseorang itu sendiri, walaupun ada kekurangan-kekurangannya, daripada melakukan dharma orang lain walaupun dikerjakan dengan baik. Seseorang yang melakukan dharmanya sendiri, yang didasarkan pada sifatnya pribadi (svabhava), tidaklah berdosa.
Jangan sekali-kali mengabaikan kewajiban anda, untuk sesuatu perbuatan atau pekerjaan orang lain, walaupun perbuatan atau pekerjaan tersebut nampak dan terasa lebih baik dan menghasilkan laba yang lebih besar, atau nampaknya lebih bermanfaat daripada pekerjaan seseorang itu sendiri. Contoh: seorang yang bersifat dan berpembawaan sejati sebagai brahmana janganlah melakukan pekerjaan seorang politisi, akibatnya bisa kacau nanti semua hasil akibatnya lahir dan batin. Pekerjaan atau kewajiban kita yang asli adalah di mana svabhava (sifat pembawaan) kita menemukan ekspresi keluarnya yang sejati tanpa berdasarkan suatu rasa iri-hati, dengki dan cemburu. Biarkanlah alam bekerja melalui diri kita masing-masing secara alami, dan itu akan lebih utama bagi kita, daripada menentang kodrat dan kemauan alam yang ada dan hadir setiap saat dalam diri kita. Seorang tukang pembuat sepatu sebaiknya bekerja sebagai tukang sepatu, ia boleh bercita-cita setinggi langit, itu haknya, tetapi ia lebih baik mengembangkan usaha yang dihayatinya daripada ia merasa iri-hati terhadap salah satu saudaranya yang diangkat menjadi kepala desa oleh masyarakat setempat. Begitu iri-hatinya sang tukang sepatu sehingga ia mengorbankan segala-galanya untuk mendapatkan posisi tersebut, padahal ia sama sekali tidak menghayati peranan seorang kepala desa yang harus bekerja untuk seluruh masyarakat di sekitarnya tanpa pamrih. Hal semacam ini tidak akan diterima oleh Yang Maha Esa, dan semua usahanya sia-sia saja secara spiritual. Ia, Yang Maha Esa, lebih mengutamakan kewajiban seorang yang sejati walaupun sifat pekerjaan itu sederhana saja, karena pekerjaan yang sederhana ini kalau dikerjakan penuh dengan dedikasi kepadaNya semata akan mengantar orang ini ke moksha. Seorang penjaga toko atau seorang kusir kereta yang sederhana mungkin lebih dekat dengan kehidupan yang benar dan sejati dibandingkan seorang raja atau presiden yang hidupnya bergelimang kemewahan tetapi lupa akan kewajibannya yang sejati akan rakyat yang menjadi tujuannya mengabdi.
48. Yang sudah menjadi kewajiban seseorang walaupun cacat, tidak boleh dilepaskan. Karena semua perbuatan itu terselubung oleh kecacatan ibarat api yang terselubung oleh asap.
Jangan sekali-kali melepaskan kewajiban yang sudah menjadi panggilan nurani kita yang tulus dan sebenarnya. Walaupun kewajiban tersebut terasa kurang sempurna dalam pelaksanaannya. Karena sebenarnya tidak ada sesuatu pekerjaan pun, atau aksi dan perbuatan yang sempurna. Semuanya selalu ada saja cacat atau kurungnya, yang sempurna adalah Yang Maha Esa dan segala kehendak-kehendakNya, yang scring sekali tidak dapat dimengerti oleh manusia. Secacat-cacatnya suatu pekerjaan pada mulanya, pasti akan lebih sempurna pada tahap-tahap selanjutnya. Bekerjalah sesuai dengan kewajiban kita semata, dengan segala ketulusan dan kesucian hati kita, dan secara bertahap akan makin dekatlah kita kepadaNya.
49. Seseorang yang buddhinya (pengertian) tidak terikat di mana pun juga, yang telah mengendalikan dirinya, yang keinginannya telah lari jauh – dengan pemasrahan segala hasil pekerjaannya secara total, orang ini menuju ke Kesempurnaan Yang Agung yang disebut naishkarmya (kebebasan dari perbuatan atau tindakan).
Inilah salah satu petunjuk penting dalam Bhagavat Gita, yaitu melalui suatu perbuatan atau tindakan, seseorang dapat mencapai suatu bentuk kesempurnaan dalam non-tindakan atau non-aksi (perbuatan). Kesempurnaan ini adalah suatu kebebasan dari karma, kesempurnaan ini adalah suatu penyadaran akan Yang Maha Esa secara sejati. Ada tiga tahap dalam jalan ke arah kesempurnaan ini: a. Pada tahap pertama seseorang melepaskan rasa ego, rasa “ke-aku’an” nya, rasa memiliki, rasa superior atas dirinya sendiri, atas setiap tindakan dan perbuatannya. b. Pada tahap kedua ia melepaskan semua hasil atau buah dari perbuatan, aksi dan tindakannya, termasuk hasil dari semua pekerjaannya. c. Pada tahap ketiga ia melepaskan semua pemikiran atau ide-ide mengenai kewajibannya, ia melepaskan semua karma-karmanya. la menjadi tuan atau majikan bagi dirinya sendiri, yaitu yang dalam agama Hindu disebut mencapai suatu kekuatan dari non-perbuatan (non-aksi yang sempurna). Ia dengan kata lain mencapai penyatuan dengan Sang Brahman, Yang Maha Agung, yang jauh dari semua tindakan-tindakan di dunia ini. la sadar sesungguh-sungguhnya bahwa bukan ia yang bekerja, tetapi Ia yang bekerja dan berbuat, sesuatu non-aksi dalam setiap aksi.
Dalam sloka di atas, sanyasa yang berarti penyerahan total dari setiap hasil perbuatan disamakan dengan tyaga yang berarti penyerahan atau pelepasan nafsu dan keinginan. Naishkarmya di sloka di atas bukan berarti akarma, melainkan berarti tidak berbuat aksi atau tindakan yang dapat menimbulkan keterikatan duniawi.
50. Pelajarilah dariKu secara singkat, oh Arjuna, bagaimana sesudah mencapai kesempurnaan, orang itu mencapai Sang Brahman — Yang Maha Memiliki Kebijaksanaan.
Pada sloka-sloka berikutnya, Sang Kreshna mulai mengajarkan kepada Arjuna bagaimana seseorang yang telah berhasil melakukan usaha-usaha non-tindakan, non-aksi dan non-perbuatan ini dapat mencapai Sang Brahman, yang menjadi tujuan kesadaran dari Sang Atman dalam diri kita. Berbagai tahap-tahap dalam pencapaian kesadaran diri ini diterangkan di sloka-sloka berikut ini.

~ Article view : [433]