Bhuta Yadnya untuk Keharmonisan

By February 6, 2012 Hindu No Comments

Bhuta Yadnya adalah yadnya yang ditujukan kepada Bhuta Kala yang mengganggu ketentraman hidup manusia. Bagi masyarakat Hindu bhuta kala ini diyakini sebagai kekuatan-kekuatan yang bersifat negatif yang sering menimbulkan gangguan serta bencana, tetapi dengan Bhuta Yadnya ini maka kekuatan-kekuatan tersebut akan dapat menolong dan melindungi kehidupan manusia.

Adapun tujuan Upacara Bhuta Yadnya adalah disamping untuk memohon kehadapan Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) agar beliau memberi kekuatan lahir bathin, juga untuk menyucikan dan menetralisir kekuatan-kekuatan yang bersifat negatif yang disebut bhuta kala tersebut sehingga dapat berfungsi dan berguna bagi kehidupan manusia.

Kalau merujuk pada beberapa kitab suci seperti Manawa Dharma Sastra III.69-70 untuk Butha Yadnya adalah upacara Bali (banten), sedangkan dalam kaitannya dengan upacara butha yadnya itu adalah upacara tawur untuk keseimbangan alam. Dalam Agastya Parva disebutkan, bahwa bhuta yadnya ngarania taur muang kapujan ringtuwuh, melaksaanakan butha yadnya menggunakan Bali (banten) sebenarnya adalah simbol atau nyasa. Lontar Yadnya Prakirti menyatakan …. “Sahananing bebantenan pinaka raganta tuwi (seperti simbol tubuh manusia), pinaka warna rupaning bhatara (seperti wujud Bhatara/Dewa), pinaka Anda Buwana (seperti wujud isi alam semesta), Butha yadnya namanya adalah mengembalikan kelestarian alam dengan menyayangi tumbuh-tumbuhan.

Sementara ini pelaksanaan yadnya di Bali selaIu dengan upacara yang seyogyanya dibarengi dengan penguatan sradha dan perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Berapa pun banyaknya upacara yang dilaksanakan apalagi dengan keglamouran atau kemewahan yang ternyata ada kepentingan – kepentingan di balik itu, maka itu tidak akan ada maknanya, tanpa adanya susila yang tidak terpisahkan dari sebuah upacara, dan makna di balik ritual sebagai pemahaman tattwa. Jadi melaksanakan yadnya tidak mesti dengan upacara besar dengan mengabaikan susila dan tattwa.

Begitu pun dengan butha yadnya yang di Bali diterjemahkan dengan korban binatang, Mestikah seekor binatang dikorbankan hanya untuk yadnya keharmonisan alam? Sementara ini keadaan itu dikonstruksi sedemikian rupa, sehingga umat Hindu takut pada Kala. Walaupun daIam Manawa Dharma Sastra V.40 disebutkan, bahwa tumbuh-tumbuban dan binatang yang digunakan sebagai sarana upacara yadnya itu akan meningkat kualitasnya dalam penjelmaan. berikutnya, Oleh karena itu penggunaan binatang sebagai sarana pokok upacara banten caru bertujuan untuk meningkatkan sitat-sifat kebinatangan atau keraksasaan menuju sifat-sifat kemanusiaan akhirnya terus meningkat menuju sifat-sifat kedewaan.

Mitologi dalam butha yadnya inipun tidak terlepas dari apa yang dipahami oleh umat, bahwa

Caru Ekasata dihubungkan dengan Sahadewa,
Caru Panca Sata dengan Panca Kumara,
Caru Panca Sanak dengan anjingnya Yudistira,
Caru Panca Kelud dengan Prabu Angling Dharma.

ButhaYadnya pada hakekatnya menjaga keharmonisan dan merawat lima unsur alam yang disebut “panca maha butha” (tanah, air, api, udara dan ether). Kalau kelima unsur alam itu berfungsi secara alami, maka dari kelima unsur itulah lahir tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan itulah sebagai bahan dasar makanan hewan dan manusia. Kalau keharmonisan kelima unsur alam itu terganggu maka fungsinya pun juga akan terganggu. Tanah, api (matahari), udara dan ether juga berfungsi untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Peredaran kelima unsur alam itu melahirkan iklim serta siang dan malam. Karena itu upacara mecaru itu berfungsi untuk menanamkan nilai-nilai spiritual kepada umat manusia agar memiliki wawasan kesemestaan alam.

Hubungan antara manusia dengan alam haruslah berdasarkan konsep “Cakra Yadnya” sebagaimana ditegaskan dalam “kitab Bhagawadgita III.16”. ini artinya antara alam dan manusia harus menjaga kehidupan yang saling memelihara berdasarkan Yadnya. Keberadaan alam ini karena Yadnya dari Tuhan. Karena itu manusia berutang moral pada Tuhan dan alam secara langsung. Utang moral itulah yang disebut rina dalam “kitab Manawa Dharmasastra”.

Dalam “Yajurveda XXXX.l” disebutkan bahwa Tuhan itu berstana pada alam yang bergerak atau tidak bergerak (Isavasyam Idam Jagat). Ini artinya alam itu adalah badan raga dari Tuhan. Karena itu upacara mecaru itu berarti suatu kewajiban merawat badan raga Tuhan dalam wujud merawat alam. Di dalam “kitab Manawa Dharmasastra V.40” disebutkan, tujuan digunakan tumbuh-tumbuhan dan, hewan tertentu sebagai sarana upacara yadnya adalah sebagai upaya dan doa agar semua makhluk hidup tersebut meningkat kualitas dan kuantitasnya pada kelahiran yang akan datang.

Akan menjadi tidak cantik kalau penggunaan tumbuh-tumbuhan dan hewan tersebut hanya mentok di tingkat upacara semata. Tujuan hakiki dari upacara mecaru itu adalah pelestarian alam dengan eko sistemnya. Dari alam yang lestari itu manusia mendapatkan sumber kehidupan. Jadinya hakekat Butha yadnya itu adalah mecaru untuk membangun kecantikan alam lingkungan sebagai sumber kehidupan semua makhluk ciptaan Tuhan. Dan sudut pandang upacara; caru itu adalah salah satu jenis upacara Butha Yadnya.

Kalau Banten Butha Yadnya itu masih menggunakan nasi dengan lauknya bawang jahe belum menggunakan hewan itu disebut Segehan. Segehan itu pun banyak jenisnya. Ada segehan Nasi Sasah, ada Segehan Nasi Kepel, Segehan Nasi Wong-Wongan, ada Segehan Naga dan sebagainya. Kalau banten Butha Yadnya itu sudah menggunakan ayam, banten itulah yang disebut Caru. Ada Caru Eka Sata, Panca Sata, Panca Sanak, Panca Kelud, Balik Sumpah.

Menurut “Lontar Dang Dang Bang Bungalan”, kalau banten Butha Yadnya itu sudah menggunakan binatang kerbau tidak lagi ia disebut banten Caru. Banten itu sudah bernama Banten Tawur. Misalnya Tawur Agung sudah menggunakan binatang kerbau seekor. Umumnya dipergunakan untuk Tawur Kesanga setiap menyambut tahun baru Saka. Kalau ditambah lagi dengan tiga ekor kerbau disebut Mesapuh Agung, ditambah lagi dengan lima ekor kerbau. Namun pada hakekatnya semuanya itu tujuannya adalah mecaru mewujudkan keharmonisan sistem alam semesta.

Keadaan itu kita warisi sampai sekarang, padahal esensinya butha yadnya jangan hanya diartikan pada persembahan kepada butha kala melainkan mestinya esensi yang substantif adalah memperbaiki sifat-sifat yang berada dalam diri manusia dengan jalan ngeret indria, mulat sarira sebagai sifat butha seyogyanyalah sifat-sifat binatanglah yang dikorbankan.Keharmonisan alam semesta sebagaimana konsepsi Tri Hita Karana wajib dilaksanakan agar tercapai dunia yang jagadhita (sejahtera). ‘Keseimbangan/keharmonisan’ yang dimaksud adalah terwujudnya ‘Tri Hita Karana’ yakni; keseimbangan dan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan), sesama manusia (pawongan), dan dengan alam semesta (palemahan).~ Article view : [444]