Bab 18 – Kata Terakhir [ page 6 ]
69. Juga tak ada di antara manusia yang lebih tinggi dedikasinya kepadaKu selain ia. Juga tak akan ada orang lain yang lebih Kukasihi di bumi ini selain ia.
Seseorang yang dengan bakti dan dedikasi yang tulus mengajarkan Bhagavat Gita kepada yang lain-lainnya adalah seorang manusia yang amat dikasihi oleh Sang Kreshna, oleh Yang Maha Esa, demikian sabda Sang Kreshna disloka-sloka di atas, karena orang ini membantu orang lain untuk menyeberangi kehidupan (sansara) ini ke Tujuan Nan Abadi, Tempat Tinggal Kita Yang Selama-lamanya. Om Tat Sat.
70. Dan seseorang yang mempelajari dialog Kita yang suci ini, maka ia akan memujaKu dengan mengorbankan (mempersembahkan) ilmu pengetahuan. Begitulah ketetapanKu.
Mempelajari atau melakukan suatu studi akan Bhagavat Gita secara tulus adalah suatu bentuk pemujaan akan Yang Maha Esa. Barangsiapa mempelajari Bhagavat Gita berarti mempersembahkan suatu persembahan yang tak ternilai harganya bagi Yang Maha Esa. Ini sudah menjadi ketetapan Sang Kreshna, Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Om Tat Sat.- Post view : (48)
Bab 18 – Kata Terakhir [ page 5 ]
51. Penuh dengan pengertian yang bersih, secara tegar mengendalikan dirinya, menjauhi suara dan obyek-obyek sensual (indra-indra dan obyek-obyeknya), melepaskan rasa senang dan rasa benci akan sesuatu.
52. Tinggal di tempat yang sepi dan tenang, memakan secukupnya (sedikit yang diperlukan saja), mengendalikan kata-kata, raga dan pikirannya, selalu terserap di dalam yoga meditasi, berlindung (kepadaNya) tanpa sesuatu keinginan duniawi.
53. Menjauhkan “rasa-kepunyaanku,” kekerasan, kepentingan pribadi, keinginan (dan nafsu), harta-benda; merasa dirinya bukan apa-apa dan bersifat damai — orang semacam ini pantas untuk bersatu dengan Sang Brahman.
Seorang pemuja, untuk mencapai Sang Brahman, harus berjuang melalui berbagai tahap-tahap yang jauh dari sifat-sifat duniawi. Yang pertama adalah sadar akan pengetahuan yang sejati dan pengetahuan ini dicapai melalui karma (tindakan atau perbuatan yang tidak mementingkan diri pribadi. Yang kedua, lain menyusul dedikasi dalam pemujaannya kepada Yang Maha Esa.- Post view : (49)
Bab 18 – Kata Terakhir [ page 4 ]
37. Yang terasa bagaikan racun pada awalnya tetapi serasa air-surgawi pada akhirnya, dan yang terpancar dari pengertian yang murni dari Sang Atman -kebahagiaan tersebut dikatakan bersifat sattvik (bersih).
Kebahagiaan sattvik yang sejati timbul dari kesadaran diri atau dari penampilan/wahyu atau wangsit dari Sang Atman pada diri kita. Tetapi kebahagiaan ini tidak mudah didapat karena harus dipelajari dan dipraktekkan untuk jangka waktu yang lama yang tidak dapat ditentukan oleh seseorang, dan harus diikuti oleh kepasrahan total kepada Yang Maha Esa. Ada tiga ciri khas sattvik-sukha (kebahagiaan sattvik) ini:
1. Dicapai dengan abhyasa (praktek dan usaha spiritual seperti pemujaan dan meditasi pada Yang Maha Esa secara berkesinambungan).
2. Sangat sukar dan pahit rasanya pada permulaan ini dilakukan, tetapi terasa nikmat dan manis pada akhirnya.
3. Tidak didapatkan dari suatu unsur luar raga kita, tetapi terpancar keluar dari diri sendiri yang sudah bersih dari awan-awan gelap dan kebodohan, terpancar keluar dari lubuk jiwa kita yang paling dalam. Sang Atman, Sang Jati Diri kita Yang Sejati akan memancarkan kenikmatan Ilahi ini secara langsung pada waktunya.
Sattvik-sukha ini bersifat ananda, yaitu bersifat amat menenangkan jiwa, suatu kebijaksanaan atau kesadaran yang amat menentramkan dan membahagiakan jiwa kita.- Post view : (43)
Bab 18 – Kata Terakhir [ page 3 ]
18. Pengetahuan, obyek pengetahuan (hal-hal yang diketahui), subyek yang mengetahui (yang mengetahui), adalah tiga unsur stimulus ke arah setiap tindakan. Sang alat, tindakan, dan sang jiwa adalah tiga unsur gabungan dari setiap tindakan.
Setiap tindakan ada dua penyebabnya: subyektif dan obyektif. Yang subyektif ini dimaksudkan dengan rangsangan-rangsangan awal dari setiap tindakan, yaitu suatu kondisi sebelum suatu tindakan diambil, yaitu konsep yang tergambar dahulu dalam benak pikiran, yang lalu ditransformasikan dalam bentuk tindakan ragawi. Keadaan ini disebut karmachodana, dan hal ini terdiri dari tiga unsur, yaitu pengetahuan, yang diketahui dan yang mengetahui.
Sedangkan yang obyektif disebut karmasangraha. Sewaktu sesuatu tindakan dilakukan, maka ada tiga faktor yang menyertainya: karana, yaitu alat, instrumen atau indra-indra kita; kemudian subyek tindakan/aksi, yaitu karta, Sang Jiwa; dan akhirnya, obyek tindakan/aksi, yaitu karma itu sendiri, yaitu akhir atau tujuan yang ingin dicapai oleh tindakan yang dimaksud. Dengan kata lain, karmachodana ini adalah perencanaan secara mental dan karmasangraha adalah perbuatan atau tindakan hasil dari perencanaan secara aktual.
- Post view : (40)
Read MoreBab 18 – Kata Terakhir [ page 2 ]
7. Sebenarnya mengesampingkan pekerjaan-pekerjaan yang sudah seharusnya itu, adalah tidak benar. Memasrahkan dengan cara tersebut karena kebodohan, disebut bersifat tamasik (gelap).
Pekerjaan atau perbuatan yang sudah seharusnya menjadi kewajiban seseorang dan merupakan keharusan sehari-hari (tertera jelas dalam pustaka-pustaka Hindu), tidak boleh dikesampingkan dengan alasan apapun juga. Berbuat demikian menandakan kebodohan yang amat dalam dari si pelaku tersebut. Begitupun tindakan seperti dana, tapa dan yagna, berulang-ulang ditekankan agar tidak diabaikan, karena merupakan penyucian dari jiwa dan raga kita.
Tyaga sendiri terbagi dalam tiga sifat, yaitu tamasik, rajasik dan sattvik. Tyaga yang sejati adalah yang bersifat sattvik di mana lepas sudah bahkan itikad akan hasil atau buah dari tyaga itu sendiri. Sedangkan dalam sifat tyaga yang tamasik terlihat jelas dominasi dari keterikatan (moha), ilusi, kebodohan, kegelapan dan hasrat untuk mendapatkan imbalan-imbalan tertentu baik secara spiritual maupun duniawi. Tyaga semacam ini disebut gelap sifatnya. Misalnya: seorang pria meninggalkan semua pekerjaannya atau kewajiban rumah-tangganya demi seorang wanita atau demi menuntut suatu kesaktian tertentu untuk tujuan duniawi, ini disebut cinta-duniawi yang menyesatkan dan bukan tyaga pemasrahan total.
- Post view : (44)
Read MoreBab 18 – Kata Terakhir [ page 1 ]
Berkatalah Arjuna:
1. Aku berhasrat, oh Kreshna, mengetahui kebenaran tentang sanyasa dan tentang tyaga.
Arjuna sebenarnya bertanya dan ingin mengetahui apakah perbedaan antara sanyasa dan tyaga. Sanyasa adalah meninggalkan setiap tindakan, perbuatan dan aksi (kamya-karma), yaitu tindakan dan perbuatan yang diikuti oleh keinginan-keinginan tertentu. Tetapi dalam hidup ini ada saja perbuatan atau tindakan-tindakan tertentu yang tidak bermotif egois seperti makan, tidur, mandi, jalan dan lain sebagainya yang tak dapat ditinggalkan atau diserahkan kepada Yang Maha Esa dalam arti harfiah, baik oleh seorang yang teramat suci sekalipun. Sedangkan kalau seseorang sama sekali tak bekerja atau berbuat sesuatu, maka orang semacam ini pun tentunya tak dapat disebut seorang sanyasin.
Sedangkan tyaga berarti penyerahan total hasil dari setiap tindakan, perbuatan dan aksi kita ini. Setiap buah atau hasil dari berbagai perbuatan kita dipasrahkan atau dikembalikan kepadaNya lagi. Semua pekerjaan orang semacam ini (sanyasin) adalah kewajibannya kepada Yang Maha Esa tanpa pamrih atau mengharapkan sesuatu. Pekerjaan dan perbuatannya penuh dengan dedikasi semata; dedikasi inilah sebenarnya motor penggerak dari individu-individu semacam ini, dedikasi yang tanpa pamrih dan demi Ia semata.- Post view : (34)
Read More

































