Bab 17 – Tiga Jenis Kepercayaan

Bab 17 – Tiga Jenis Kepercayaan

Bab 17 – Tiga Jenis Kepercayaan [ page 4 ]

Posted by on Aug 23, 2011 in Bab 17 - Tiga Jenis Kepercayaan | 0 comments

17. Ketiga tapa (di atas) ini disebut sattvik, seandainya dilaksanakan dengan iman yang tinggi oleh mereka-mereka yang stabil pikirannya dan tanpa mengharapkan pamrih.
18. Tapa-tapa yang dilakukan demi peragaan atau pertunjukan yang penuh dengan rasa kesombongan agar mendapatkan rasa hormat, kemasyhuran dan agar dipuja orang, disebut sebagai tapa-rajasik, tapa ini tidak stabil dan hanya sementara sifatnya.
19. Tapa-tapa yang mengakibatkan penyiksaan pada diri-sendiri atau pada orang (dan makhluk lainnya), yang dilaksanakan oleh mereka yang pikirannya telah tersesat disebut sebagai tapa tamasik.
Tapa atau disiplin diri secara sattvik adalah kendali-raga, wicara dan pikiran dengan penuh iman dan tanpa keserakahan. Sedangkan tapa yang bersifat rajasik mengarah pada rasa-hormat dan kemasyhuran dan bermotifkan sesuatu, jadi tidak tulus dan selalu mengharapkan imbalan. Tapa tamasik bahkan merusak diri atau orang dan makhluk lain. Disiplin yang amat keras dan fanatik, yang merusak diri sendiri tidak dianjurkan karena sebenarnya secara spiritual malahan tidak spiritual sama sekali dan tidak mengarah kepada pembebasan (mukti) dan Yang Maha Esa. Memang disiplin semacam ini dapat menghasilkan kekuatan-kekuatan gaib tertentu baik secara ragawi maupun secara batin, tetapi semua kekuatan-kekuatan ini sebenarnya adalah hambatan-hambatan yang besar ke arah jalan spiritual yang sejati dan penerangan Ilahi tidak akan turun karenanya. Sebaliknya yang timbul akibat kesaktian-kesaktian ini adalah rasa sombong dan ego yang baru sifatnya. Jadi supaya tidak sia-sia jalan spiritual kita, dianjurkan untuk secara sederhana saja memuja Yang Maha Esa; dan kekuatan gaib yang datang sendiri karena karuniaNya saja yang boleh dipergunakan untuk tujuan-tujuan manusiawi dan demi Yang Maha Esa tanpa pamrih.- Post view : (36)

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Add to favorites
  • BarraPunto
  • BlinkList
  • blogmarks
  • Blogosphere
  • blogtercimlap
  • Diigo
  • DZone
  • Faves
  • Fleck
  • FriendFeed
  • Global Grind
  • Gwar
  • IndianPad
  • LinkaGoGo
  • LinkArena
  • LinkedIn
  • Linkter
  • Live
  • MisterWong.DE
  • MSN Reporter
  • Netvibes
  • Ping.fm
  • Yigg
Read More

Bab 17 – Tiga Jenis Kepercayaan [ page 2 ]

Posted by on Aug 23, 2011 in Bab 17 - Tiga Jenis Kepercayaan | 0 comments

10. Makan yang tak segar, tak berasa, basi, cacat, tidak bersih adalah jenis makanan yang disukai oleh orang-orang yang bersifat tamasik.
Makanan yang dimakan seseorang pun merefleksikan karakter seseorang itu sendiri, yang didasarkan pada iman orang itu sendiri sesungguhnya. Seperti juga iman atau kepercayaan yang terbagi tiga, maka jenis makanan pun dibagi tiga:
a. Makanan sattvik, makanan jenis ini menambah kewibawaan, intelegensia, intelektualitas, kekuatan, kesegaran, kesehatan, kenikmatan lahir dan batin, kegembiraan, dan kebahagiaan hidup. Makanan jenis ini adalah yang mudah dimakan, beraroma, manis, mengandung cairan seperti sari-buah dan buah-buahan; menyehatkan dan sesuai dengan mereka-mereka yang bertemparamen sattvik. Contoh: gandum, beras, kacang-kacangan, mentega, susu, produk dari ternak (bukan daging ternak), buah-buahan dan sayur-sayuran segar dan matang.
b. Makanan rajasik adalah jenis makanan untuk mereka-mereka yang penuh dengan nafsu dan keinginan-keinginan duniawi, yaitu jenis-jenis makanan yang rasanya pahit, asam, bergaram, terlalu pedas, berbau, keras dan menyengat seperti opium, tembakau, tamarin, cabai, gandum yang dibentuk alkohol dan lain sebagainya. Makanan sejenis ini menimbulkan sakit, penderitaan dan kesusahan.
c. Makanan tamasik adalah jenis makanan yang disukai oleh mereka-mereka yang hidup dalam kegelapan dan berpikiran gelap dan iblis. Mereka ini menggemari makanan yang tidak dimasak dengan baik, yang kotor, yang tidak ada rasanya, cacat, basi, tidak dapat digolongkan suci atau bersih. Contoh: daging, ikan, bawang, telur, daging-mentah, buah-buahan dan sayur-sayuran yang diasamkan, alkohol dan sisa-sisa makanan orang lain. Juga makanan hasil korupsi dan kejahatan termasuk golongan ini.- Post view : (34)

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Add to favorites
  • BarraPunto
  • BlinkList
  • blogmarks
  • Blogosphere
  • blogtercimlap
  • Diigo
  • DZone
  • Faves
  • Fleck
  • FriendFeed
  • Global Grind
  • Gwar
  • IndianPad
  • LinkaGoGo
  • LinkArena
  • LinkedIn
  • Linkter
  • Live
  • MisterWong.DE
  • MSN Reporter
  • Netvibes
  • Ping.fm
  • Yigg
Read More

Bab 17 – Tiga Jenis Kepercayaan [ page 1 ]

Posted by on Aug 23, 2011 in Bab 17 - Tiga Jenis Kepercayaan | 0 comments

Berkatalah Arjuna:
1. Mereka yang tidak kenal akan kaidah-kaidah suci ini, tetapi mempersembahkan pengorbanan dengan kepercayaan (iman) –bagaimanakah keadaan mereka ini, oh Kreshna? Apakah (mereka) ini tergolong sattva, raja atau tama?

 

Timbul pertanyaan yang wajar di dalam hati sang Arjuna, apakah perlu kita semua belajar tentang hukum atau kaidah-kaidah yang dikandung oleh skripsi kuno dan buku-buku suci lainnya? Apakah Bhagavat Gita sendiri tidak cukup atau memadai? Dan bagaimana dengan nasib mereka yang beriman tetapi tidak pernah membaca atau mengetahui tentang naskah atau skripsi-skripsi kuno ini? Sebenarnya hukum ini — karena sifatnya yang abadi, spiritual dan alami — secara otomatis akan bekerja sendiri. Tidak penting apakah setiap orang yang beriman itu pernah mendengar atau tidak akan hukum/kaidah ini. Sesuai dengan karuniaNya maka seseorang yang beriman akan belajar sendiri atau dengan kata lain mendapatkan sendiri semua kaidah-kaidah suci ini secara bertahap, dan ia akan memahami itu semua dengan baik. Yang penting, kita ini (setiap individu) harus jujur pada diri sendiri, dan walaupun tak pernah mendengar tentang sastra-sastra ini, seorang yang telah terpanggil ke jalanNya akan secara otomatis mempelajari dan mempraktekkan secara langsung semua kaidah dan hukum-hukum suci ini, sesuai dengan hati nuraninya, karena memang hukum ini sifatnya amat universal dan alami. Arjuna yang khawatir akan nasib seseorang yang beriman tetapi tidak kenal kaidah-kaidah suci ini, sebenarnya tidak perlu khawatir, karena yang penting adalah penghayatan dan pengamalan kaidah-kaidah itu sendiri secara tulus, dan bukan dengan membaca atau mengetahuinya. Kaidah-kaidah itu sendiri secara tulus, dan bukan semua itu datang dari Satu Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Pengasih dan Penyayang. Walau nampaknya kaidah-kaidah ini berlainan dalam berbagai ajaran agama, ajaran moral, kebatinan dan hukum tetapi intisarinya selalu Manunggal, yaitu Satu, dan semua itu selalu berporos dan kembali kepadaNya juga. Om Tat Sat.- Post view : (41)

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Add to favorites
  • BarraPunto
  • BlinkList
  • blogmarks
  • Blogosphere
  • blogtercimlap
  • Diigo
  • DZone
  • Faves
  • Fleck
  • FriendFeed
  • Global Grind
  • Gwar
  • IndianPad
  • LinkaGoGo
  • LinkArena
  • LinkedIn
  • Linkter
  • Live
  • MisterWong.DE
  • MSN Reporter
  • Netvibes
  • Ping.fm
  • Yigg
Read More