Dewasa Ayu dalam Veda

2729

Dewasa Ayu
dewasa ayu dapat diartikan sebagai “hari baik“. oleh orang bali, kumpulan berbagai hari baik dalam satu bulan sering disebut “padewasan”, dimana setiap harinya ada yang disebut ala ayuning dewasa, atau lebih tepatnya baik buruknya sebuah hari.
untuk mendapatkan dewasa ayu, hendaknya mempelajari dulu ilmu wariga yang merupakan turunan veda ilmu Jyotisha.
Dewasa Ayu dalam Veda
Dalam Bhagavata Purana dikisahkan saat Parikesit lahir, para rsi dan muni berkumpul untuk menghitung formasi bintang dan benda-benda angkasa guna mengetahui nasib si bayi yang baru lahir itu. Alhasil, konon dengan perhitungan ilmu Jyotisha, sejak kelahirannya Parikesit sudah diramalkan bakalan meninggal akibat dipatuk ular.
Astrologi dan astronomi dalam khasanah Weda dikenal dengan nama Jyotisha.
Jyotisha secara harfiah berarti “Lord of Light” atau “studi tentang cahaya” mencakup terang dari langit maupun dalam “melihat” seseorang.
Ini adalah model dari realitas yang menafsirkan kondisi diamati kosmos pada saat acara – seperti kelahiran – dalam rangka untuk memberikan gambaran ke dalam sifat dan peristiwa pada periode selanjutnya.
Jyotisha berdiri di garis depan sistem ramalan India dan dikenal sebagai “mata dari Veda”.
Veda (pengetahuan) adalah kognisi besar dari Resi kuno (orang bijak) yang merupakan dasar dari budaya India dan filsafat yang menguraikan inti pengetahuan tentang Brahman – roh murni abadi yang mendasari semua makhluk, semua objek dan pengalaman. Jyotisha sendiri adalah Vedanga – salah satu dari enam anggota badan dari Veda yang mendukung dan mempertahankan pengetahuan berharga dan memungkinkan untuk ditekuni terus dari generasi ke generasi.
Jyotisha adalah unik dalam kemampuannya secara umum dan berlaku untuk semua waktu, tempat dan individu. Karena alasan ini bahwa Jyotisha karena itu relevan dalam membimbing setiap orang menuju pemahaman yang lebih luas sehubungan dengan tempat kita di alam semesta, sehingga dapat mengetahui siapa diri kita di bentangan semesta yang maha luas ini. Juga pengetahuan mengenai dari mana kita berasal dan ke mana kita akan pergi.
Jyotisha adalah alat yang ampuh dalam menerangi apa yang sebelumnya mungkin telah menjadi misteri dari rantai sebab dan akibat dan dengan demikian memungkinkan seorang individu untuk memahami dan menemukan keselarasan dengan hidupnya di masa kini.
Seperti semua mata pelajaran klasik India, Jyotisha benar-benar sebuah studi yang indah yang mencakup disiplin ilmu lain dan berkembang pada pengikutnya perpaduan unik dari logika, intuisi, pragmatisme, analisis dan sintesis. Memang, Jyotisha adalah “sadhana”, sebuah jalan spiritual yang dapat mengubah kehidupan seseorang secara permanen.
Ala Ayuning Dewasa
Menurut Jyotisha, setiap waktu dipengarhui oleh konfigurasi benda-benda angkasa dan siapa yang lahir pada masa tertentu, maka bakat, watak dan nasibnya dapat dibaca berdasarkan pengaruh kosmos itu. Adalah Karma Phala yang memungkinkan seseorang terlahir pada waktu tertentu sesuai bobot karma yang telah dibuatnya pada masa sebelumnya. Demikian berpengaruhnya konfigurasi planet-planet angkasa, bagi kehidupan di bumi, maka bila hendak memulai suatu aktifitas baru diusahakan memilih waktu yang tepat. Seseorang berpikir untuk memulai usaha-usaha di bidang kebaikan, entah pembangunan, ritual, perjalanan dan sebagainya, maka diusahakan memperoleh dukungan dari energi makrokosmos yang terbaca lewat ilmu Jyotisha. Dan di Bali ilmu ini lumrah dikenal sebagai uger-uger padewasan atau uger-uger ala ayuning dewasa.
Ala ayuning dewasa di Bali menguraikan tentang perhitungan hari – hari yang sangat baik untuk melaksanakan upacara dan dan kegiatan lainnya, serta ada juga hari yang harus dihindari dalam pelaksanaan suatu kegiatan. dalam penentuan waktu ritual ada banyak pilihan, karena ketentuannya adalah, wewaran alah dening wuku, wuku alah dening panglong, panglong alah dening sasih, sasih alah dening dauh dan dauh alah dening ning.
misalnya penerapan dewasa ayu dalam keseharian:
Dewasa Ayu Berdasarkan Sasih Untuk Upacara Pawiwahan (Pernikahan),
Sasih Kasa buruk untuk melakukan pernikahan karena “kasengsaran” artinya dalam membangun rumah tangga akan menemui kesengsaraan, anak sakit – sakitan.
Sasih Karo juga buruk untuk melakukan pernikahan karena “Punggung Tiwas, Nemu Sungsut” artinya dalam membangun rumah tangga akan menemui kesengsaraan.
Sasih Katiga adalah waktu yang baik untuk melakukan pernikahan karena “Akeh Madue Putra” artinya dalam membangun rumah tangga akan banyak memiliki keturunan.
Sasih Kapat sangat baik untuk melakukan pernikahan karena “Madruwe Artha Brana, Kinasihan Olih Sawitra” artinya dalam membangun rumah tangga akan hidup berlimpah dan dicintai para sahabatnya.
sasih Kalima juga berkategori baik (ayu), untuk melakukan pernikahan karena “Rejeki Akeh” artinya dalam membangun rumah tangga akan berlimpah.
Sasih Kanem hendaknya dihindari untuk melangsungkan pernikahan, karena “Kapunggelan Tresna” artinya cinta kasih yang tidak kesampaian, susah memiliki keturunan.
Sasih Kapitu (Baik),
Sasih Kawulu, tidak baik melakukan pernikahan, karena “Tan Pasangu, Nandang Sengsara” artinya akan menemukan penderitaan.
sasih Kasanga disebut “Kelaran, Kaos Tiwas Liglig” artinya akan sengsara dan miskin selama hidupnya.
Kadasa (Baik)
Sasih Jyestha buruk untuk melakukan pernikahan karena “ngawe uyut” artinya sasih sumber keributan dan kericuhan dalam memulai rumah tangga.
Sasih Sadha dinyatakan buruk untuk melakukan pernikahan karena “ngawe uyut” artinya serba kekurangan dalam memulai rumah tangga.
Sedangkan Dari Perhitungan Ingkel Yang Buruk Untuk Melangsungkan Pernikahan Adalah Ingkel Wong.
Banyak perhitungan jelimet yang harus diperhatikan ketika seorang sulinggih atau pemangku ngelebang dewasa (Memberikan patokan hari baik kepada umat yang hendak menggelar ritual). Selain sasih, wuku, wewaran, ingkel, juga bilamana pada suatu hari memiliki perhitungan baik, seperti, dina jaya, kamajaya, dasamerta, dina kahuripan, panca werdi dan sebagainya.
Caru Pengalang Dina Ala
dalam hal dewasa ayu menikah, Untuk mencegah terjadinya hubungan yang tidak sah atau kumpul kebo, maka lebih baik upacara pernikahannya segera dilakukan meskipun dari segi waktu dianggap kurang cocok untuk menggelar upacara pernikahan
Pengaplikasian ala ayuning dewasa untuk mencari hari baik pelaksanaan sebuah ritual di zaman kini menemui berbagai kendala, terutama tingginya aktifitas masyarakat zaman sekarang, juga tingginya tuntutan mobilitas dari satu tempat ke tempat lain karena berbagai tuntutan.
misalnya: Seorang umat Hindu (Bali) yang berdomisili di Kalimantan, sebut saja namanya Made Wuku ingin pulang ke Bali untuk melangsungkan pernikahannya. Sayangnya ia terkendala waktu. Cuti hanya tiga hari membuatnya sulit untuk memenuhi kreteria ala ayuning dewasa di dalam menggelar hajatan sakral itu.
apalagi calon pengantin kebetulan hanya dapat jatah cuti bertepatan dengan sasih Kaso atau Karo yang umumnya dianggap kurang baik untuk menggelar upacara pawiwahan.
Lantas, apakah gara-gara ketentuan itu yang bersangkutan harus menunda upacara pernikahannya?
Hubungan pria wanita yang tengah pacaran sangat rentan dengan terjadinya hubungan badan pra-nikah. Untuk menghindari hal tersebut, sebaiknya segera dibuatkan upacara pawiwahan-nya agar pasangan tersebut tidak mengalami pegat pasidhikaran. Mengenai ketentuan sasih maupun hari-hari yang dianggap kurang bagus, maka hal itu masih bisa dicarikan solusinya
Pasidhikaran yang dimaksud adalah hubungan persaudaraan. Bilamana sampai terjadi aib akibat hubungan pranikah, terjadinya kehamilan pranikah, maka akan mengundang syak wasangka, karena menyangkut nama baik keluarga besar. Apalagi hal ini juga memuncul risiko tidak bertanggung jawabnya pihak laki-laki yang menodai kesucian sang perempuan. Karena itu hemat Ida Pedanda, jika sudah ada niat untuk mresmikan hubungan pacaran ke jenjang serius menapakai kehidupan berumah tangga, sebaiknya jangan ditunda-tunda hanya karena alasan tidak ada dina ayu
karena itu, Jangan terlalu fanatik dengan hanya mempertimbangkan ketentuan hari, wewaran, sasih dan sebagainya dalam menggelar sebuah upacara keagamaan, tetapi pandang juga subha dan asubha karma dari orang yang hendak beryadnya itu. Apa artinya mencari dewasa ayu bila perilaku orang yang melakukan upacara itu tidak baik.
dewasa ayu jangan ditonjol-tonjolkan secara dominan, fungsi ritual juga jangan dicitrakan sebagai sesuatu yang paling menentukan, tetapi hukum karma-lah yang paling esensial di dalam usaha manusia menapaki kehidupan ini. Dengan berusaha keras untuk melakukan kebaikan-kebaikan selama hidup ini, seorang Hindu harus yakin pada dirinya kalau akan senantiasa dinaungi oleh nasib baik.
Mengenai adanya ketentuan waktu yang dianggap buruk atau tidak tepat melaksanakan upacara agama pada saat tersebut (dewasa ala), sebenarnya hal itu tidak berlaku mutlak.
Ida Pandita pamuput upacara tersebut dapat mencarikan solusi, sehingga keinginan menggelar ritual bisa berjalan lancar demikian juga swadharma-nya sebagai seorang walaka yang dituntut melakukan Karma Yoga tetap dapat berlangsung.
untuk ketentuan dewasa ala itu bisa dineteralisir dengan caru pengalang dewasa dan penyibeh.
Caru pengalang dewasa ditujukan untuk menetralisir hari yang dianggap kurang baik itu, sedangkan penyibeh ditujukan untuk meredam energi negatif yang berpengaruh pada hari dimaksud.
Teknisnya adalah dengan menghaturkan caru ayam putih ke sanggar surya untuk mohon pangesengan dewasa ala, sementara penyibeh yang ditujukan untuk meredam energi negatif disertai dengan mesanggah cucuk di empat penjuru mata angin yang disertai eedan pangider dewata nawa sanga.
ada upakara (bebantenan) yang diperuntukkan untuk pengalang dina ala (tumbal hari buruk), sehingga ‘dewasa ala’ pun masih bisa dilaksanakan yadnya. Untuk pernikahan banten pengalang dina dilakukan upakara di halaman (natar), di bawah tempat tidur (beten rongan) dan di atas tempat tidur. Dan dengan runtutan upakara pengalang dina ala itu, mereka yang melakukan upacara dan ikut terlibat di dalamnya diupayakan pikirannya menjadi ‘ning’.
Solusi seperti ini sudah lumrah dilaksanakan di masyarakat, jadi tidak perlu khawatir bila kepepet waktu, upacara tetap bisa diselenggarakan. Ritual tidak boleh menghambat aktifitas masyarakat yang tiap waktu bergerak semakin dinamis.
“Sebenarnya Yang Utama Dalam Sebuah Perhelatan Yadnya Adalah Manah Ening, Tetapi Bagi Kita Semua Kondisi Itu Sangat Sulit Dicapai, Sehingga Masih Diperlukan Upakara, Perhitungan Hari Baik Dan Sebagainya Guna Membuat Perasaan Nyaman,”
agama Hindu yang dipraktikkan di Bali terkesan rumit, tetapi sesungguhnya semua solusinya sudah disediakan, tinggal bagaimana kita menerima solusi itu sebagai sebuah kewajaran.
Jika untuk melakukan upacara harus menunggu sasih tertentu, sementara yang bersangkutan harus segera berangkat bekerja ke kapal pesiar selama berbulan-bulan,
apakah upacaranya harus ditunda?
niat baik termasuk beryadnya hendaknya jangan ditunda-tunda.
Bilamana waktu yang dianggap baik tidak ada mengingat singkatnya kesempatan libur dan seterusnya, maka selaian ada banten pengalang dewasa ala untuk menetralisir pengaruh buruk hari dimaksud, juga pentingnya memiliki hasrat ketulus-ikhlasan dan kepasrahan di dalam beryadnya. Lebih-lebih yang bersangkutan hendak pergi menunaikan Karma Yoga (bekerja) yang juga sangat utama sebagai seorang grhastin atau yang bersiap melangkah ke jenjang itu.
Ritual bukanlah satu-satunya kewajiban umat Hindu, jalan Karma Yoga sangat utama di zaman ini, karena itu ketentuan lain dari agama Hindu hendaknya mendukung kelancaran Karma Yoga ini, sehingga umat Hindu semakin aktif dan produktif, di mana saja berada dengan tetap berpijak pada sradha keagamaannya yang kuat.
Mengenai Dewasa Ayu Ngaben
Tantangan pelaksanaan ritual di zaman modern ini selain bersangkutan dengan penerapan ala ayuning dewasa, juga berkaitan dengan situasi dan kondisi sosial masyarakat. Sebutlah misalnya, bilamana warga yang meninggal berada di pemukiman yang penduduknya heterogen.
Pada kondisi demikian, mungkinkah menyimpan jenazah di rumah berhari-hari lamanya demi menunggu dewasa ayu pengabenan tiba?
hal tersebut akan semakin mustahil dilakukan di masa-masa mendatang.
Andaikanlah tempat tinggal orang berduka itu ada di komplek perumahan, tentu akan mengundang tentangan dari warga sekitar jika sampai jenazah diinapkan berhari-hari. Belum lagi alasan higienis, terkurasnya tenaga dan pikiran di dalam magebagan (Menunggui jenazah), juga alasan ekonomi. Dengan demikian harus ada terobosan yang dibuat oleh umat Hindu agar kehidupan beragama ke depan dapat berlangsung dengan kendala yang minimum.
Untuk kasus seperti di atas, maka ada tiga solusi.
» Solusi Dewasa Ayu Pertama,
kalau hari baik untuk ngaben dianggap tidak ada dalam waktu dekat, maka sebaiknya jenazah segera dikubur dengan sistem mekingsan. Mayat dikuburkan dengan diserta peloncor (bambu berlubang) yang ditancapkan ke dalam kuburan sebagai saluran memerciki jenazah tirta sampai tiba hari pengebenan.
» Solusi Alternatif Dewasa Ayu Kedua,
yaitu dengan menitipkan jenazah di rumah penitipan jenazah (Rumah duka) atau rumah sakit, sementara yang dibawa ke rumah hanya adegan sawa saja. Dengan cara ini, masalah higienis akan bisa tertangani dengan baik, demikian juga tidak mengganggu kenyamanan psikologis warga sekitar rumah.
» Solusi Dewasa Ayu Pilihan Ketiga
dengan membakar jenazah di krematorium kemudian abunya dititipkan di rumah duka, sehingga tidak terkendala oleh rentang waktu yang panjang dalam menanti dewasa ayu pengabenan.
Pengelolaan demikian tidak saja mengurangi beban keluarga dan masyarakat sekitar, tetapi sekaligus menjadi jalan keluar yang baik bilamana di desa bersangkutan misalnya tengah berlangsung upacara dewa yadnya atau rerainan jagat lainnya.
Kemudian mengingat pelaksanaan ngaben memerlukan pemilihan waktu yang lebih ketat dan ada beberapa tingkatan upacara, seperti ngaben, nyekah, memukur, maligya dan sampai ngeluer, maka sebaiknya upacara semacam ini dilaksanakan secara kebersamaan. Jadi ada baiknya jenazah dikubur saja dulu, kemudian belakangan ngaben dilakukan bersama warga lain yang juga memiliki keluarga yang belum diaben.
Maligya Bagi Masyarakt Umum
Pada zaman dulu masyarakat umum kebanyakan upacara pengabenannya hanya sampai pada tingkatan ngelinggihang Bhatara Hyang di sanggah kamulan. Sedangkan untuk maligya apalagi ngeluer hanya sanggup dilakukan oleh kalangan puri dan geriya, mengingat besarnya anggaran yang dihabiskan.
Lebih-lebih upacara ngeluer yang ketentuannya adalah, perlengkapan upakara yang dipakai harus dikerjakan pada hari itu dan dipakai saat hari itu juga.
Peralatan upakaranya tidak boleh kaungkulin peteng (melewati malam hari). Ini artinya diperlukan tenaga kerja yang sangat banyak untuk mempersiapkan upacara tersebut supaya selesai selama sehari saja.
Jika tidak punya wadua-bala yang banyak untuk mengerjakan semua itu dalam sehari, maka mustahillah orang biasa menggelar upacara tingkatan ini.
Namun, mengingat agama adalah milik semua kalangan, kini semua kalangan bisa melangsungkan upacara tersebut. Hal ini dimungkinkan berkat sistem upacara kebersamaan dan perlengkapan upacara dapat dikerjakan oleh orang-orang profesional di bidangnya, sehingga ketentuan upacara ngeluer itu dapat dilangsungkan.
“Kita sudah bisa melaksanakan upacara maligya secara kebersamaan. Jika umat berkehendak untuk nangun upacara ngeluer, maka pasti kita bisa laksanakan secara bersama-sama dengan tidak menguras biaya maupun tenaga yang banyak”
Dengan demikian pelaksanaan upacara agama Hindu jangan disulit-sulitkan, baik dari ketentuan dewasa ayu maupun biaya.
Dalam agama Hindu sudah ada semua ketentuannya, baik bagi warga yang mampu maupun yang kurang mampu, yang penting niat untuk beryadnya yang tulus ikhlas sudah terpatri dalam sanubari, maka solusi pasti akan ada
berdasarkan paparan diatas, Ritual Hindu di Bali sebenarnya tidak ribet, semua sebenarnya sudah diberikan solusi dari setiap permasalahan didalam melaksanakan ritual atau upacara, biasanya manusianyalah yang mungkin kurang mengerti terhadap solusi-solusi yang ada sehingga seakan-akan tata cara upacara menjadi saklek, harus begini dan begitu. saat ini pencarian dewasa ayu semakin dimudahkan dengan adanya kalender bali. bila ingin mempelajari lebih dalam tentang dewasa ayu, silahkan baca kalender bali serta panduan buku ilmu wariga yang sudah banyak beredar dimasyarakat.

 

Sumber: umaseh.com

~ Article view : [2352]

SHARE
Previous articleKalender Bali
Next articleWariga