Kisah Daksha: Keangkuhan Seorang Prajapati

563

Daksha adalah salah satu putra Brahma diantara 9 putra Brahma yang diangkat sebagai “prajapati”, yang mencipta dan menjaga kelestarian makhluk. Brahma kawin dengan Prasuti putri dari Swayambhu Manu dan mereka dikaruniai 15 putri. Sati adalah salah satu putrinya yang dikawinkan dengan Mahadewa. Pada suatu saat diadakan upacara Yajna Agung yang diketuai oleh Marici, kakak Daksha. Semua penduduk kahyangan hadir. Dan, pada saat Daksha masuk dia nampak begitu berwibawa seperti matahari yang menyinari ruangan upacara. Semua resi berdiri dan menghormat Daksha kecuali Brahma dan Mahadewa. Daksha kemudian bersujud mengambil debu di kaki Brahma, sang ayahanda dan meletakkannya di kepala. Akan tetapi Daksha tersinggung dan marah kepada Mahadewa yang tidak berdiri menyambutnya seperti resi-resi yang lain, padahal Mahadewa adalah menantunya.

Daksha kemudian mengambil air di dengan telapak tangannya dan mengutuk, “Mahadewa ini adalah yang terburuk di antara semua dewa, dia tidak akan menerima bagian yajna seperti dewa yang lain.” Dan Daksha langsung pulang ke rumahnya. Para pengikut Mahadewa tersinggung dan Nandikeswara berkata, “Daksha ini orang bodoh, ia sangat angkuh dan melupakan Mahadewa. Sesungguhnya ia bernasib sial, ia jauh dari rahmat Tuhan. Ia tidak lebih baik dari binatang yang hidup hanya untuk kepuasan laparnya. Para resi yang setuju dengan kutukan Daksha akan menderita. Mereka akan mengalami siklus kelahiran dan kematian. Mereka akan disibukkan dengan urusan duniawi dan meninggalkan Tuhan. Mereka akan terlibat dalam banyak upacara agama, mereka akan kehilangan cinta mereka terhadap disiplin, tapa. Mereka akan menjadi peka terhadap bujukan pikiran dan juga terhadap ketidaktahuan sehingga mereka terlibat dalam hal-hal duniawi.”

Bhrigu saudara Daksha marah karena ada orang yang mengganggu upacara dan mengutuk, “Aku mengutuk para pengikut Mahadewa, mereka yang memuja dia sebagai yang terbesar disebut Prasandi, orang yang munafik. Mereka akan menentang Weda dan tidak aktif dalam upacara yang ditentukan oleh Weda. Mereka menjadi kotor. Mereka berpakaian seperti Mahadewa, memakai perhiasan yang dibuat dari tulang.” Mahadewa merasa sedih dan segera meninggalkan tempat upacara tersebut.

Waktu terus berjalan dan Daksha telah diangkat oleh Brahma sebagai prajapati yang terkemuka. Daksa semakin angkuh, dan untuk menunjukkan penghinaannya kepada Mahadewa, maka dia mengadakan Yajna dengan nama Brihaspati Sawa. Semua brahmaresi, dewaresi, pitri dan dewa diundang pada upacara tersebut. Rupanya dalam diri Daksha masih ada perasaan dendam terhadap Mahadewa. Daksha tidak sadar bahwa dirinya semakin terikat kepada penghormatan dari orang-orang di sekitarnya. Daksha tidak tahu alasannya mengapa Mahadewa tidak berdiri dan menghormatinya. Daksha gelisah mengapa Mahadewa, sang menantu bertindak demikian. Oleh karena itu dia mengadakan Yajna tanpa mengundang Mahadewa.

Sati mendengar upacara Yajna yang akan diselenggarakan ayahandanya minta ijin suami untuk menghadiri upacara tersebut, “Aku tahu Kau adalah Tuhan yang mendaur ulang alam semesta. Akan tetapi aku adalah seorang perempuan yang ingin datang ke upacara yang diadakan ayahandaku. Aku tahu Kau akan berkata bahwa kita tidak diundang. Akan tetapi bukankah orang baik akan datang walaupun dia tak diundang untuk datang ke rumah seseorang?

Mahadewa tersenyum dan berkata, “Orang selalu berubah, dia memang ayahmu, akan tetapi ayahmu menjadi sangat angkuh. Ia mabuk kekuasaan. Ayahmu memiliki kualitas agung dalam hal pengetahuan, tapa, kekayaan, keindahan badan, usia dan kelahiran mulia. Semua kualitas ini jika terdapat dalam orang yang baik akan menjadi berkah alam semesta. Bagaimana pun ayahmu telah menjadi sombong karena memiliki semua itu. Seseorang yang berkata bahwa aku pandit, terpelajar, aku tapaswi, pertapa, pemikiran seperti ini sudah membuat dia sombong. Dan, ayahmu tidak rela dengan kebesaran-Ku.” “Ayahmu lebih mencintai kau dibanding kepada saudari-saudarimu. Akan tetapi dia membenci diriku. Sehingga dia tidak akan memperlakukanmu dengan penuh kasih sayang seperti yang kau harapkan. Kamu mungkin belum tahu mengapa aku tidak berdiri kala ayahmu masuk ke tempat upacara Yajna. Manakala seseorang berdiri dan melakukan namaskara, kedua tangan ditangkupkan kepada orang lain, maka di dalam hati orang tersebut berkata, Tuhan dalam diriku sedang menyambut Tuhan yang berada dalam dirimu. Dan Tuhan dalam diriku adalah Tuhan yang sama dengan yang ada dalam dirimu. Rasa hormat tidak diberikan kepada manusia, kepada tubuh yang dipakai manusia, tetapi kepada Tuhan yang ada dalam diri setiap orang. Hanyalah ayahmu yang berpendapat bahwa mereka menghormati dirinya. Aku tidak bisa melakukan itu. Manakala manusia baik menemui orang lain yang penuh ego, maka ego tersebut seperti awan yang menutupi Tuhan yang ada dalam dirinya. Itulah sebabnya aku tidak berdiri dan menghormatinya, agar dia menyadari kesalahannya yang dengan angkuh merasa orang menghormatinya dan bukan menghormati Tuhan yang berada dalam dirinya”. “Dulu , manakala ayahmu meremehkan aku dan berbicara tajam menghina aku di hadapan semua orang, dan aku tidak diberi bagianku dalam upacara tersebut, dia memang ayahmu akan tetapi dia saat itu memusuhiku. Demikian pula para pengikutnya. Jika kamu mengabaikan perkataanku dan ingin datang ke upacara tersebut, kamu tidak akan disambut oleh mereka. Kamu bukan lagi anaknya, tetapi kamu adalah istri dari Mahadewa.”

Dalam diri sati terjadi perang batin dan akhirnya Sati memenangkan perasaan kewanitaannya dan mendatangi upacara Yajna yang diadakan oleh ayahandanya. Sati melihat upacara yang agung dan semua kursi kehormatan telah terisi. Sati melihat semua orang dan melihat ke arah ayahnya, akan tetapi ayahnya seolah-olah tidak melihat dirinya. Tak seorang pun yang berani mengingatkan Daksha, dan tak seorang pun yang datang menyambut Sati. Hanya ibu dan sudari-saudarinya yang menyambutnya dengan pelukan. Daksha melakukan Yajna sebagai persembahan kepada Tuhan, akan tetapi dia tak sadar bahwa dia masih mempunyai rasa kemarahan dan keangkuhan terhadap Mahadewa. Rasa kemarahan dan keangkuhan adalah rasa bahwa dirinya besar, padahal melakukan persembahan mestinya dilakukan dengan tulus ikhlas dan menjadikan diri kita seperti seorang kawula di hadapan Majikan Agung.

Sati sadar bahwa Yajna ini ditujukan untuk menghina Mahadewa. Dengan bibir gemetar menahan kemarahannya Sati berkata, “Seorang bodoh seperti ayahanda memusuhi Tuhan yang tak ada bandingnya di alam semesta ini. Hanya orang bodoh yang melakukan hal ini. Makin baik seseorang maka mereka mengabaikan kesalahan dan mempertimbangkan kebaikan orang lain. Perilaku ayahanda tidak mempengaruhi suamiku, akan tetapi aku tidak bisa menerima itu. Suamiku disebut Shiwa, segala sesuatu yang murni, baik dan suci. Ayah membencinya karena ayah adalah ashiwa. Aku malu badanku ini berasal dari ayahanda penghina Shiwa. Aku tidak ingin dikenal sebagai Dakshayani, putri Daksha di alam selanjutnya. Badan ini cukup lama dipakai diriku dan sekarang kulepaskan. Sati duduk dalam posisi yoga dan badannya mulai terbakar api yang dipanggilnya. Sati menjadi abu.

Para pengawal Sati menyerang Daksha, akan tetapi Bhrigu tidak ingin orang merusak upacara dan segera membaca mantra. Dan, dari api persembahan keluar makhluk yang menghalau para pengawal Sati. Resi Narada mendatangi Mahadewa dan menceritakan apa yang terjadi pada Sati. Mahadewa tidak terkejut karena dia telah tahu apa yang akan terjadi. Shiwa kemudian mencabut rambutnya dan melemparkannya ke tanah dan rambut itu berubah wujud menjadi Wirabhadra makhluk tinggi besar yang menyala-nyala. Ia mempunyai seribu lengan dan memakai kalung tengkorak seperti Shiwa. Dia melakukan perintah Shiwa untuk membunuh Daksha dan menghancurkan segalanya di sana. Bhrigu yang mengutuk pengikut Mahadewa dicabut kumisnya oleh Wirabhadra. Pusan yang menertawakan Shiwa giginya semua lepas karena pukulan Wirabhadra. Bhaga yang telah menghasut Daksha untuk mengabaikan Sati matanya dihancurkan. Daksha akan dipancung tetapi tidak bisa dan Wirabhadra sadar bahwa hal tersebut terjadi karena Daksha sedang mengadakan Yajna. Maka kepala Daksha dilepas dengan tangannya dan dilemparkannya ke api sebagai persembahan. Setelah itu Wirabhadra dan pengawal Shiwa kembali ke Kailasha.

Mereka yang selamat menceritakan bencana yang menimpa mereka kepada Brahma. Brahma dan Wisnu tidak hadir dalam acara Yajna karena mereka tidak akan hadir dalam upacara yang tidak dihadiri oleh Mahadewa. Brahma kemudian minta mereka supaya minta ampun kepada Mahadewa. Mahadewa telah diperlakukan secara tidak adil, dan Sati mati karena Daksha. Brahma berkata jika Shiwa tetap marah dunia akan berakhir. Brahma kemudian mendatangi Shiwa di Kailasha. Shiwa berkata, “Aku tidak marah dengan mereka yang mengambil bagian dalam Yajna, aku hanya ingin menghukum Daksha. Ia harus diobati kesombongan dan keangkuhannya. Kata-kata kutukan Nandikeswara tak dapat dibatalkan. Daksha akan hidup lagi dengan kepala yang baru, bukan dengan kepalanya yang sekarang telah hancur hangus terbakar api Yajna. Akhirnya kepala Daksha diganti dengan kepala kambing. Pikiran Daksha akan dibersihkan dan yang terpisah akan utuh kembali.”

Mereka semua bersama Wisnu dan Brahma datang ketempat Yajna. Daksha mau berkata akan tetapi suaranya berhenti di kerongkongan. Air matanya mengalir bukan karena kepalanya sudah berganti dengan kepala kambing, akan tetapi dia ingat akan kematian Sati. Akhirnya Daksha bisa bicara dengan patah-patah, “Aku telah menghina-Mu dan dunia berpikir Engkau sudah menghukum aku untuk itu. Akan tetapi pada kenyataannya Engkau telah membersihkan pikiranku, Engkau sudah memberikan aku kelahiran baru. Aku sudah bisa menggunakan tubuhku dengan lebih baik. Aku mohon ampun kepada-Mu”. Yajna dilanjutkan dan ketiga dewa mengetuai upacara tersebut. Narayana juga berkenan menampakkan diri. Kita bisa melihat secara simbolis bahwa kesalahan Daksha adalah keangkuhan disebabkan pemahaman pikirannya yang salah. Oleh karena itu, Mahadewa menghilangkan sifat keangkuhan Daksha, yang digambarkan dengan mengganti kepala yang angkuh dengan kepala kambing yang patuh.

~ Article view : [131]