Kisah Ramayana

1269

Versi Wayang Jawa

 

Alap-alapan Sukesi

Lakon ini oleh sebagian dalang disebut Sastrajendra. Prabu Sumali mengumumkan sayembara, bahwa siapa yang dapat menjabarkan ilmu Sastra Jendra Pangruwating Diyu, akan dapat menjadi suami putrinya, yaitu Dewi Sukesi.

Ilmu yang disayembarakan ini adalah ilmu rahasia, yang hanya diketahui para dewa. Karenanya, tidak ada seorang pun yang mencoba mengikuti sayembara itu.

Di Kerajaan Lopakapala, Prabu Danaraja meminta ayahnya, yaitu Begawan Wisrawa, untuk melamarkan Dewi Sukesi baginya. Karena itu, Begawan Wisrawa lalu berangkat ke Alengka untuk mengikuti sayembara.

Karena ilmu yang akan dijabarkan adalah ilmu rahasia, maka Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi harus berada di ruang tertutup.

Pada saat Begawan Wisrawa memulai ajarannya, kahyangan geger, karena pengaruh ilmu itu. Untuk mencegah penyebarluasan ilmu itu Batara Guru dan Dewi Uma turun ke dunia. Batara Guru menyusup ke raga Wisrawa, sedangkan Dewi Uma ke raga Dewi Sukesi. Akibatnya hubungan antara guru dan murid merubah menjadi hubungan antara pria dan wanita yang dimabuk asmara.

Karena peristiwa ini akhirnya Begawan Wisrawa dikawinkan dengan Dewi Sukesi. Berita perkawinan ini membuat Prabu Danaraja murka. Ia lalu mengerahkan bala tentara Lokapala untuk menyerbu Alengka guna menghukum ayahnya, yang dianggapnya telah mengkhianatinya.

Sewaktu Begawan Wisrawa dan Prabu Danaraja berperang tanding, Batara Narada datang melerai. Dikatakan oleh Narada, bahwa Dewi Sukesi memang merupakan jodoh bagi Wisrawa

Anggada Duta

Menjelang pecah perang antara bala tentara kera yang memihak Ramawijaya dengan tentara raksasa dari Kerajaan Alengka, Ramawijaya mengutus Anggada untuk memberi ultimatum kepada Prabu Dasamuka.

Waktu Anggada bertemu Prabu Dasamuka, raja Alengka itu menghasutnya dengan mengatakan bahwa Anggada sebenarnya adalah keponakannya, dan kematian Resi Subali — ayah Anggada, adalah akibat perbuatan Rama. Termakan oleh hasutan itu Anggada kembali dan langsung menyerang Rama. Untunglah Gunawan Wibisana dan Anoman berhasil menyadarkan Anggada.

Anggada lalu kembali ke Alengka dan memberi laporan palsu bahwa Rama dan Laksmana sudah tewas. Ketika Prabu Dasamuka sedang bersuka ria mendengar berita baik itu, Anggada menyerangnya, dan berhasil merampas serta melarikan mahkota raja Alengka itu, dan kemudian melarikan diri. Usaha prajurit Alengka untuk menangkapnya sia-sia saja.

Mahkota Alengka itu dipersembahkan pada Ramawijaya, tetapi Rama kemudian menyerahkannya pada Prabu Sugriwa.

Anoman Duta

Prabu Dasamuka menyerahkan Dewi Sinta yang diculiknya, di bawah pengawasan Dewi Trijata di Taman Argasoka, kemenakannya.

Sementara Regawa alias Rama terus mencari istrinya yang hilang. Ia sudah mendapat petunjuk dari Jatayu bahwa Sinta diculik raja Alengka bernama Prabu Dasamuka. Perjalan Rama ke Alengka disertai Laksamana, adiknya, dan Prabu Sugriwa serta seluruh bala tentara Kerajaan Guwakiskenda.

Setelah membangun perkemahan di daerah Mangliawan, Ramawijaya mengutus Anoman untuk menjadi duta, menemui Dewi Sinta di Keraton Alengka.

Hal ini membuat iri Anggada, sehingga terjadi perkelahian dengan Anoman. Rama kemudian menyadarkan Anggada, bahwa nanti akan ada tugas penting lainnya bagi Anggada.

Perjalanan Anoman ke Alengka ternyata penuh hambatan. Mulanya ia berjumpa dengan Dewi Sayempraba, salah seorang istri Prabu Dasamuka. Anoman dirayu, dan diberi hidangan buah-buahan beracun. Akibatnya Anoman menjadi buta. Untunglah ia ditolong oleh Sempati, burung raksasa yang pernah dianiaya oleh Dasamuka. Berkat pertolongan Sempati, kebutaan Anoman dapat disembuhkan. Ia juga ditolong oleh Begawan Maenaka, saudara tunggal bayu-nya, sehingga dapat sampai ke negeri Alengka.

Sesampainya di Alengka, Senggana pergi ke Taman Argasoka bertemu dengan Dewi Sinta dengan membawa cincin pemberian Rama. Dalam pertemuan itu Dewi Sinta menyerahkan tusuk kondenya, dengan pesan agar disampaikan kepada Ramawijaya, dengan pesan bahwa Sinta masih tetap setia pada suaminya.

Setelah menyelesaikan misinya sebagai duta, Anoman sengaja membuat dirinya ditangkap. Peristiwa penyusupan itu membuat Dasamuka marah, maka ia memerintahkan membakar hidup-hidup Senggana.

Setelah bulunya terbakar, Anoman melepaskan diri dari ikatan, dan berlompatan kesana-kemari membakar Keraton Alengka. Setelah menimbulkan banyak kerusakan, ia pulang menghadap Ramawijaya

Anoman Lahir

Dewi Anjani yang bersedih hati karena wajahnya yang cantik berubah ujud menjadi wajah kera.

Atas nasihat ayahnya, Begawan Gotama, ia bertapa nyantoka, serupa katak berendam di Telaga Madirda (ada versi yang menjebut Telaga Nirmala), hanya kepala saja yang muncul di permukaan air. Selama berbulan-bulan, Dewi Anjani hanya makan benda-benda yang hanyut dipermukaan air dan lewat di depan mulutnya.

Pada suatu hari Batara Guru sedang melanglang buana, memeriksa keadaan dunia. Ketika ia terbang melintasi Telaga Mandirda, dilihatnya tubuh seorang wanita berendam di telaga yang bening itu. Seketika gairahnya bergejolak, sehingga jatuhlah kama benih (mani) nya, menimpa sehelai daun asam muda. Daun asam muda itu melayang jatuh ke permukaan telaga, tepat di depan mulut Dewi Anjani. Segera saja Anjani memakan daun asam muda itu (di masyarakat Jawa daun asam muda disebut sinom).

Begitu daun asam muda itu ditelan, Dewi Anjani merasa dirinya mengandung. Segara ia mencari-cari siapa yang menjadi penyebabnya. Ketika ia melihat Batara Guru melayang-layang di atasnya, segera ia menuntut tanggung jawab atas janin yang dikandungnya. Batara Guru tidak mengelak tangung jawab itu.

Ketika saatnya melahirkan, Batara Guru mengirim beberapa orang bidadari untuk menolong kelahiran bayi yang berujud kera putih mulus itu. Selanjutnya Dewi Anjani diruwat sehingga menjadi cantik kembali dan hidup di kahyangan.

Bayi yang lahir itu diberi nama Anoman.
Di kahyangan, ketika Batara Guru sedang memangku bayi Anoman, Batara Narada menertawakannya. Segera Batara Guru menghampirinya, dan menempelkan sehelai daun nila di punggung Narada, dan seketika itu juga di punggung Batara Narada menggelendot seekor bayi kera berwarna biru nila. Bayi kera itu diberi nama Anila. Para dewa yang hadir tertawa semua.

Karena merasa ditertawakan, Batara Guru lalu memerintahkan para dewa untuk menciptakan seekor kera bagi anak mereka masing-masing.

Arjunasasra Gugur

Prabu Garbamurti dari Jonggarba akan membalas dendam kepada Arjuna Sasrabahu atas kematian ayahnya. Rama Bargawa bersedia membantunya.
Prabu Garbamurti mendatangi tempat Dewi Citrawati yang sedang berpesta dengan delapan ratus putri raja,

dengan cepat Garbamurti menculik salah satu putri raja, tetapi patih Kartanadi dapat menggagalkan dan Garbamurti dibunuh. Sekarang Rama Bargawa datang menantang Arjunasasra untuk merentangkan busur sakti Bargawastra. Arjunasasra dapat merentangkan busur itu tetapi tiba-tiba membalik dan sekaligus membunuh Arjunasasra. Namun terdengar suara bahwa Bargawa akan terbunuh oleh pemuda tampan yang bernama Regawa atau Ramawijaya.

Arjunasasra Lahir

Prabu Kartawirya alias Partawirya mengundang Bambang Suwandageni, saudara sepupunya, untuk hadir pada upaca siraman, karena permaisurinya, Dewi Danuwati telah mengandung tujuh bulan.
Sesaat setelah upacara itu selesai, datanglah utusan dari Kerajaan Lokapala, bernama Gohmuka, yang menyampaikan pesan agar Dewi Danuwati boleh dibawa ke Lokapala untuk dijadikan permaisuri Prabu Wisrawana alias Danaraja.

Mendengar permintaan itu Suwandageni marah dan menghajar Gohmuka, yang lalu lari pulang ke negaranya. Setelah melaporkan kegagalan tugasnya, Prabu Danaraja lalu menyiapkan bala tentaranya untuk menyerbu Maespati. Ia juga minta bantuan seorang brahmana sakti yang berujud raksasa, bernama Begawan Wisnungkara.

Sementara itu di kahyangan, Batara Wisnu diperintahkan oleh Batara Guru untuk turun ke dunia guna memelihara ketentraman. Batara Wisnu dengan senjata Cakra lalu merasuk ke janin bayi yang dikandung oleh Dewi Danuwati.

Beberapa saat kemudian, Dewi Danuwati melahirkan seorang putra, yang oleh Prabu Kartawirya diberi nama Arjunawijaya, alias Arjuna Sasrabahu. Anehnya, bayi itu lahir dengan menggenggam senjata Cakra. Sementara itu balatentara Kerajaan Lokapala yang dipimpin oleh Prabu Danaraja telah sampai di tapal batas Maespati. Prabu Kartawirya bersama Suwandageni berangkat untuk menghadang musuh. Senjata Cakra yang digenggam putranya yang baru lahir dibawa ke medan perang.

Dalam perang tanding antara Begawan Wisnungkara dengan Suwandageni berlangsung seru. Prabu Kartawirya lalu meminjamkan senjata Cakra pada Suwandageni. Dengan senjata itu Begawan Wisnungkara tak bisa berbuat apa-apa. Badannya hancur lebur terkena senjata Cakra.
Prabu Danaraja yang berhadapan dengan Prabu Kartawirya yang bersenjatakan Cakra, seketika luluh semangatnya. Prabu Danaraja sadar bahwa ia berhadapan dengan senjata sakti dari kahyangan. Karena itu ia segera lari pulang ke Lokapala.

Arjunasasra Rabi

Dikisahkan usaha Prabu Dasamuka untuk membunuh dan memenggal kepala 1000 orang pendeta di dunia. Untuk melaksanakannya, ia menugasi raksasa sakti bernama Yaksamuka.

Waktu hendak membunuh Begawan Jumanten dari Pertapaan Giriretno, usaha Yaksamuka dihalangi oleh Bambang Kertanadi, putra sang Begawan. Yaksamuka kalah dan lari, tetapi dikejar Bambang Kartanadi. Dalam pelariannya raksasa Alengka itu bertemu dengan Arjunawijaya, lalu minta perlindungan.

Setelah Bambang Kartanadi dapat menyusul, Arjunawijaya menghalangi niat Bambang Kartanadi membunuh Yaksamuka. Mereka berperang, sehingga Bambang Kartanadi takluk. Yaksamuka dan Bambang Kartanadi lalu bersama-sama mengabdi pada Arjunasasra.

Keduanya juga mengikuti Arjunawijaya pergi ke Tunjungpura, untuk melamar Dewi Citralangeni. Setelah dapat menenuhi segala persyaratan, Arjunawijaya menikah dengan Dewi Citralangeni, lalu membawanya pulang ke Kerajaan Maespati.

Bambang Kartanadi tetap mengikuti Arjunawijaya, tetapi Yaksamuka pulang kembali ke Alengka karena Bambang Kartanadi masih tetap mengancamnya. Ternyata sesampainya di Alengka, Yaksamuka dibunuh

oleh Prabu Dasamuka karena dianggap gagal menunaikan tugas.

Ayodya Bedah

Prabu Banaputra dan permaisuri Dewi Kukilawati di Ayodya sedang merawat putrinya Dewi Raguwati alias Suksalya, karena sakit lumpuh.

Berkat bantuan raja pertapa bernama Begawan Rawatmaja dan raja burung raksasa bernama Sempati, Dewi Raguwati dapat disembuhkan. Setelah sembuh Raguwati diserahkan kepada Rawatmaja dan dibawa ke pertapaannya.
Sementara itu Prabu Rahwana dari Alengka marah, karena merasa keingiannya mempersunting Raguwati mendapat halangan, segera mengejar Rawatmaja.

Ketika Rahwana dan Rawatwaja berperang tanding, Dewi Ragu pergi melarikan diri ke Hutan Dandaka dan bertemu dengan Dasarata serta Begawan Yogisrawa. Dasarata memuja bunga menjadi Dewi Ragu tiruan dan diberikan Rahwana. Dewi Raguwati selamat. Namun, ketika Rahwana tahu bahwa dirinya tertipu, ia marah dan pergi ke Kahyangan Suralaya.

Sesudah Rahwana mengamuk, Batara Endra memberinya tiga orang bidadari cantik sebagai gantinya yakni: Dewi Tari, Dewi Kiswani, dan Dewi Triwati. Dengan memiliki tiga bidadari ini kerinduan terhadap Raguwati dapat terlupakan. Beberapa waktu kemudian Dewi Kiswani diberikan pada Kumbakarna, Dewi Triwati diberikan kepada Gunawan Wibisana, sedangkan Dasamuka hanya memperistri Dewi Tari.

Bedah Lokapala

Termasuk lakon pakem, lakon ini menceritakan keangkaramurkaan Prabu Rahwana raja Alengka, yang membuat prihatin Prabu Danaraja, raja Lokapala. Karena itu Danapati mengutus Gohmuka untuk mengantarkan surat peringatan sekaligus nasehat kepada Rahwana.

Rahwana membaca surat Danapati sangat murka, Gohmuka dibunuhnya; kemudian segera menyusun kekuatan menyerang Lokapala.

Peperangan antara pasukan Alengka dan Lokapala pun terjadi. Rahwana bertanding dengan Danapati, keduanya sama-sama sakti. Namun, peperangan belum selesai, dewa telah menjemput kematian Danapati, untuk dinobatkan sebagai pelengkap caturlokapala (keempat dewa penguasa dunia). Karena itu Rahwana gugat kepada dewa, minta agar Danapati dihidupkan kembali. Batara Guru tidak mengabulkan, sebagai pengganti Rahwana dianugerahi umur panjang.

Ketika Rahwana kembali dari kahyangan, ia bertemu dengan Widawati. Rahwana jatuh cinta, namun ditolak, bahkan Widawati bunuh diri ke dalam api, sehingga Rahwana mabuk asmara.

Brubuh Alengka

Dasamuka marah besar karena telah banyak kehilangan bala tentaranya dalam perang melawan bala tentara Ramawijaya. Di sisi lain barisan Rama semakin kuat dan maju. Karena telah banyak makan korban yang berjatuhan maka Dasamuka sendiri yang akan menghadapinya.

Sebelum berangkat ke medan laga, Prabu Dasamuka menemui Dewi Sinta. Sekali lagi, istri Rama itu dirayunya, tetapi Sinta tetap menolak. Karena birahi Dasamuka telah memuncak, kama benih (mani) raja Alengka itu jatuh, menimpa sehelai daun Nagasari. Ketika tertiup angin, daun yang telah ternoda kama benih itu melayang jatuh di hadapan Dewi Trijata, dan menjelma menjadi seorang bayi raksasa.

Oleh Trijata, bayi itu dinamai Dasawilukrama.

Karena kesal pada Dewi Trijata yang selalu menghalangi niatnya merayu Sinta, Dasamuka mengutuk Trijata kelak akan kawin dengan seekor kera tua yang buruk rupanya.

Adapun di pihak Rama, selain saudaranya yang maju, ia sendiri yang akan menghadapi Dasamuka. Dasamuka menggunakan Aji Pancasona Bumi, sedangkan Rama menggunakan siasat untuk tidak bisa mempertemukan antara kepala dan badan Dasamuka, akhirnya Dasamuka mati terbunuh oleh Rama.

Bukbis

Bukbis, yang berujud makhluk mengerikan, adalah salah seorang anak Prabu Dasamuka, raja Alengka. Ia mempunyai saudara tunggal ibu, yakni Trigangga yang berujud kera. Mereka dilahirkan oleh Dewi Sayempraba dan tinggal di Kadipaten Kutawindu, bersama ibunya.

Ketika sudah dewasa keduanya menghadap ke Istana Alengka, tetapi Dasamuka tidak mengakuinya sebagai anak, kecuali bila dapat membunuh Rama dan Laksmana.

Bukbis dan Trigangga lalu menyusup ke Pesangrahan Suwelagiri, menggunakan Aji Panyirep, dan menculik Rama serta Laksmana, dibawa ke Kutawindu. Anoman mengejar, tetapi dihalangi Trigangga. Terjadi perang tanding. Mereka lalu dilerai oleh Batara Narada, yang kemudian menjelaskan bahwa sesungguhnya Trigangga adalah anak kandung Anoman.

Anak beranak ini lalu bahu membahu melawan Bukbis. Namun ketika Bukbis mengenakan ‘topeng waja’, Anoman dan Trigangga kewalahan, karena dari mata topeng waja itu keluar sinar sakti yang dapat menghanguskan lawannya.

Atas nasihat Gunawan Wibisana, Anoman melawan Bukbis sambil membawa sebuah cermin besar. Dengan cermin itu ia membalikkan sinar sakti Bubis, sehingga makluk itu binasa.
Rama dan Laksamana kemudian dibebaskan, dan Trigangga selanjutnya berjuang di pihak Rama.

Cupu Manik Astagia

Di Pertapaan Grastina, Dewi Indradi, istri Begawan Gotama sedang asyik dengan permainan Cupu Manik Astagina, yang dapat membuatnya dapat menikmati keadaan alam. Tiba-tiba, putri sulungnya, yaitu Dewi Anjani datang memergokinya. Dewi Anjani meminjam alat permainan itu.

Dewi Indradi meminjamkannya, dengan syarat jangan sampai diketahui oleh adik-adiknya. Namun, Dewi Anjani justru memamerkan kepada kedua adiknya, Guwarsa dan Guwarsi. Akibatnya Cupu Manik Astagina itu menjadi rebutan, sehingga terjadi keributan.

Begawan Gotama yang sedang bersamadi menjadi terganggu. Dan, alangkah terkejutnya, ketika ia mengetahui bahwa yang menjadi pangkal keributan adalah Cupu Manik Astagina, yang diketahuinya milik Batara Surya.
Dewi Indradi yang ditanya tentang asal usul Cupu Manik Astagina itu, tidak berani menjawab. Ia hanya membisu saja. Hal ini membuat Resi Gotama amat marah dan mengutuk Dewi Indradi menjadi tugu, lalu membuangnya jauh-jauh, jatuh di dekat perbatasan Kerajaan Alengka.
Setelah itu, Cupu Manik Astagina dibuangnya pula, dan jatuh di Telaga Sumala. Dewi Anjani, Guwarsa, dan Guwarsi, diikuti oleh pamong mereka Endang Suwareh, Jembawan, dan Menda, semuanya berlari mengikuti Cupu Manik Astagina yang dibuang ayah-nya. Gurarsa dan Guwarsi yang lari lebih cepat daripada Dewi Anjadi, lebih dulu sampai ke Telaga Sumala. Keduanya langsung terjun ke telaga itu, dan menyelam mencari cupu itu.
Begitu menyelam, ujud keduanya berubah menjadi kera. Begitu pula Jembawan dan Menda, yang mengikuti kedua anak Begawan Gotama itu.

Dewi Anjani dan Endang Suwareh yang tiba kemudian, tidak terjun, tetapi hanya membasuh muka untuk mengurangi rasa lelahnya. Dan, seketika itu juga wajah mereka berubah pula menjadi wajah kera.

Betapa sedih hati mereka ketika mengetahui bahwa ketampanan dan kecantikan mereka telah hilang dan kini berujud kera.

Dengan penuh penyesalan mereka kembali ke pertapan, dan mohon pada Resi Gotama agar ujud mereka dikembalikan seperti semula. Namun, Resi Gotama mengatakan bahwa perubahan ujud mereka sudah menjadi kehendak dewata. Namun, walaupun ujudnya kera, mereka masih dapat menunaikan darma. Untuk itu, mereka disarankan untuk bertapa.

Dasamuka Bandan/Sumantri Gugur

Diceritakan rencana Prabu Dasamuka dari Alengka menyerbu Kerajaan Maespati dengan tujuan merebut Dewi Citrawati dari tangan Prabu Arjuna Sasrabahu. Dalam perjalanan, di tepi sungai dekat batas kerajaan, Prabu Dasamuka mengistirahatkan dulu pasukan Alengka.

Tiba-tiba air sungai itu meluap sehingga mengenai perkemahan pasukan Alengka. Dasamuka marah dan mencari penyebab banjir mendadak itu. Ternyata penyebab banjir itu adalah tubuh Prabu Arjuna

Sasrabahu, yang melakukan triwikrama melintang sungai sehingga airnya terbendung. Dengan demikian Dewi Citrawati dapat bersenang-senang berenang di sungai itu.

Patih Suwanda mencoba menghalangi niat Dasamuka menyerang Prabu Arjuna Sasrabahu. Sumantri alias Patih Suwanda akhirnya gugur sebab taring Prabu Dasamuka terisi oleh arwah Sukasrana, adiknya yang mati terbunuh karena tidak sengaja.

Kematian Patih Suwanda membuat Arjuna Sasrabahu marah. Dengan panah sakti Kalamanggaseta ia meringkus Dasamuka. Raja Alengka itu dibawa ke Maespati dan dipertontonkan di alun-alun. Karena permohonan Patih Prahasta, akhirnya Prabu Arjuna Sasrabahu membebaskan Dasamuka dengan syarat tidak boleh lagi berlaku sewenang-wenang.

Dasamuka Lahir

Kebahagiaan raja Alengka, Prabu Sumali yang mendapat cucu, dengan kelahiran anak-anak Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi. Kedua pasangan ini melahirkan empat anak. Yang pertama Dasamuka, lalu Kumbakarna, dan ketiga bernama Sarpakenaka. Ketiganya berujud raksasa. Anak bungsu lahir sebagai ksatria tampan, dinamakan Gunawan Wibisana.

Setelah menanjak dewasa, oleh Begawan Wisrawa keempatnya disuruh bertapa di Gunung Gohkarna. Mereka pun lalu berangkat ke Gunung Gohkarno yang terkenal angker. Masing-masing mengambil tempat yang terpisah.

Tapa mereka ternyata menimbulkan goncangan di kahyangan. Batara Guru lalu mengutus Batara Narada untuk menghentikan tapa keempat putra Begawan Wisrawa itu.

Kepada keempat orang itu Batara Narada menanyakan, apa tujuan tapa mereka. Dasamuka menjawab, ia ingin menjadi orang yang sakti, tidak ada orang yang mengalahkannya, dan dapat terujud semua yang diinginkannya. Kumbakarna menjawab, ia ingin selalu dapat makan enak dan kenyang, dan dapat tidur pulas selama ia mau. Sarpakenaka, satu-satunya perempuan dari putra Wisrawa menjawab, ia ingin agar dapat melampiaskan nafsu birahinya; sedangkan Gunawan Wibisana menjawab bahwa ia ingin agar selalu dapat berpihak pada kebenaran, dan berani menyatakan kebenaran.

Batara Narada mengabulkan permohonan mereka, tetapi juga mengingatkan, bahwa segala sesuatu selalu ada batasnya, dan segara sesuatu mesti mengandung resiko, semuanya memerlukan pengorbanan.

Setelah itu keempatnya pulang, dan beberapa waktu kemudian Prabu Sumali mengangkat Dasamuka sebagai raja, karena Begawan Wisrawa menolak menduduki takhta Alengka.

Dasarata Rabi

Di negara Alengka, Prabu Dasamuka memerintahkan Patih Prahasta untuk melamarkan Dewi Kekayi dan Dewi Sumitrawati, putri Prabu Kusumaraja dari Kerajaan Benggala atau Bindarata.

Prabu Kusumaraja mengadakan sayembara, siapa yang dapat mengalahkan Somalawan, keponakan raja, ia berhak mempersunting Dewi Kekayi dan Dewi Sumitrawati. Yang dapat mengalahkan Somalawan ternyata adalah Prabu Dasarata, raja Ayodya. Dengan demikian, Dasarata memperistri kakak beradik putri Benggala itu.

Namun, rupanya, Somalawan juga menginginkan kedua putri itu. Karena itu, setelah kalah dari Prabu Dasarata, Somalawan lari mengadu pada ayahnya Resi Kala dari Pertapaan Taksikenda.

Sang Resi, mengdapat pengaduan itu segera beangkat ke Benggala untuk menghajar Prabu Dasarata. Dalam perjalanan ia berjumpa dengan Patih Prahasta, yang ternyata juga akan melamar Dewi Kekayi dan Dewi Sumitrawati. Keduanya lalu berperang tanding. Prahasta kalah dan lari pulang ke Alengka.

Prabu Dasamuka yang mendapat laporan Prahasta, langsung berangkat ke Benggala. Ia mengamuk, menghancurkan negeri itu dan membunuh Prabu Kusumaraja, Resi Kala, dan Somalawan.

Setelah itu ia memburu Prabu Dasarata, tetapi setelah bertemu, Dasarata dapat menipunya. Raja Ayodya itu mengatakan bahwa Dewi Kekayi dan Dewi Sumitrawati kini berada di Pertapaan Kutarungu untuk menambah ilmu. Prabu Dasamuka puas dengan keterangan itu dan pulang ke Alengka, sedangkan Dasarata pulang ke Ayodya.

Indrajid Lena

Di Negara Alengka Prabu dasamuka merasa gusar karena senapati Alengka sudah banyak yang mati. Senapati terakhir adalah Kumba-kumba dan Aswani Kumba, keduanya putra Kumbakarna, telah gugur karena kepala mereka diadubenturkan oleh Anoman.

Kini tinggal Megananda yang masih hidup dan yang menjadi harapannya, disamping Narataka. Keduanya harus berhadapan dengan Jaya Anggada.
Indrajit maju ke medan laga didampingi kedua adaknya, Begasura dan Kuntalabahu.

Panah Nagapasa semula bisa membunuh Laksmana, tetapi adik Ramawijaya itu bisa hidup lagi berkat kesaktian Rama. Akhirnya Narataka, anak Dasamuka yang tersisa, dibunuh oleh Jaya Anggada dan panah pusaka Guwawijaya milik Rama bisa menghancurkan Megananda.

Begitu terkena panah, badan Indrajit musnah menjadi mega yang melayang di antara awan

Kembang Dewaretna

Prabu Dasamuka, raja Alengka, berpikir keras untuk memenangkan perang melawan bala tentara kera anak buah Ramawijaya.

Untuk memenangkan perang, Dasamuka merebut Kembang Dewaretna dari tangan Batara Danaraja alias Batara Kuwera. Sang Dewa berusaha mempertahankan, tetapi gagal. Ia kemudian mencipta seekor kera berbulu kuning dari seekor kumbang yang selama ini selalu bersama dengan Kembang Dewaretna. Kera jadi-jadian itu dinamakan Kapi Pramuja, dan diperintahkan mengabdi pada Sri Rama.

Setelah Kapi Pramuja menghadap Rama, ia diperintahkan mengambil kembali Kembang Dewaretna yang dirampas Dasamuka.

Sebelum berangkat ke Alengka, Kapi Pramuja lebih dulu menghadap Batara Surya dan mohon agar dewa itu menciptakan seribu matahari.

Sewaktu orang Alengka, termasuk Prabu Dasamuka, sedang mengagumi sinar matahari di langit, Kapi Pramuja menyusup ke Keraton Alengka. Dengan penciumannya yang amat tajam, Kapi Pramuja berhasil menemukan Kembang Dewaretna dan membawanya kabur dari Alengka.

Dasamuka marah besar pada Patih Prahasta karena hilangnya Kembang Dewaretna, karena Prahastalah yang diserahi tanggung jawab. Raja Alengka itu mengingatkan bahwa Prahasta masih punya tanggung jawab lain, yaitu menjaga pedang pusaka Kyai Mentawa. Prahasta harus mempertaruhkan jiwanya untuk menjaga pedang itu.

Dalam pada itu, setelah menerima Kembang Dewandaru, Rama yakin bahwa prajurit keranya akan menang karena bunga sakti itu berkhasiat melindung keselamatan para kera.

Agar lebih yakin akan datangnya kemenangan, Rama memerintahkan Patih Anila untuk merampas pedang Kyai Mentawa dari Alengka. Anila berangkat ke Alengka, dan untuk merampas pedang itu terpaksa berperang tanding dengan Patih Prahasta.

Anila kewalahan, dan melarikan diri, tetapi tetap dikejar Prahasta. Sesampainya di perbatasan Alengka dan Hutan Dandaka, Anila melihat sebuah tugu batu. Segera dicabutnya tugu itu, dan digunakan untuk memukul kepala Prahasta.

Seketika itu juga Prahasta roboh, dan gugur. Tugu yang digunakan sebagai gada lenyap, dan muncullah bidadari Dewi Indradi.

Tugu itu ternyata penjelmaan Dewi Indradi yang dikutuk. Setelah berubah ujud menjadi bidadari, ia segera kembali ke Kahyangan.

Kumbakarna Gugur

Gunawan Wibisana dan Kumbakarna menyadarkan abangnya, Prabu Dasamuka, bahwa menculik Dewi Sinta adalah salah. Keduanya minta agar Prabu Dasamuka mau mengembalikan Sinta secara baik-baik kepada Ramawijaya.

Usul itu bukan diterima baik, tetapi malahan membuat Dasamuka marah. Gunawan Wibisana diusir, sedangkan Kumbakarna karena kesal segera pulang dan tidur.

Waktu bala tentara Alengka kewalahan menghadapi musuh, Prabu Dasamuka mengutus Indrajit agar membangunkan Kumbakarna. Setelah bangun dan menghadap, Dasamuka memaki-maki adiknya sebagai orang tidak tahu diri dan kerjanya hanya makan dan tidur. Karena tersinggung, Kumbakarna memuntahkan seluruh makanan yang pernah disantapnya dalam keadaan utuh dan segar. Sesudah itu ia mengenakan pakaian serba putih dan berangkat ke medan laga.

Kumbakarna akhirnya berhadapan dengan Laksmana. Ksatria itu menggunakan panah sakti Naracabala. Mula-mula dibidiknya kedua lengan Kumbakarna, setelah itu kedua kakinya. Sesudah kaki dan tangan Kumbakarna buntung, Anoman memimpin prajurit kera mengeroyok Kumbakarna.

Kumbakarna gugur dengan tubuh terpotong-potong. Ia gugur demi membela negrinya dari serangan musuh.

Rama Gandrung

Regawa alias Ramawijaya akan menjadi raja untuk menggantikan Dasarata, tetapi dari Dewi Kekayi

menuntut agar anaknya yang bernama Baratalah yang dijadikan raja.

Barata menolak naik takhta dan minta agar Regawa tetap berada di Ayodya, tetapi Regawa tetap pada pendiriannya semula, lalu ia pergi dari Ayodya bersama istrinya menjalani masa pembuangan di Hutan Dandaka.

Di tengah hutan Regawa bertanding melawan dengan Karadusana yang menjadi utusannya Sarpakenaka, adik Dasamuka. Karadusana kalah. Setelah itu Regawa melanjutkan perjalanan ke Gunung Argasoka, dan diterima baik oleh Sutignayogi.

Di halaman tersebut terlihatlah seekor kijang kecil.
Karena Sinta menginginkannya maka binatang itu, dipanahnya, tidak lama kemudian berubah menjadi seekor raksasa besar, penjelmaan Kalamarica.
Dewi Sinta yang tanpa dikawal oleh seorangpun lalu diculik oleh Dasamuka. Atas petunjuk Jatayu maka Regawa tidak dapat mengejarnya dan Jatayu hampir mati karena kelelahan. Regawa merasa sedih karena telah kehilangan pengikut yang setia.

Rama Obong

Dewi Trijata adalah abdi setia Dewi Sinta sejak pada waktu berada di Alengka lalu mengikuti Sri Rama sampai di Ayodya. Kapi Jembawan, seorang kera tua, jatuh cinta kepadanya dan merubah ujudnya sebagai Lesmana agar dapat bertemu dengan Trijata. Namun perbuatannya dapat dibongkar oleh Anoman maka berubah ujud semula Jembawan. Peristiwa ini dilaporkan kepada Sang Rama, yang selanjutnya Kapi Jembawan diperintahkan pergi ke Gunung Kutarunggu bersama Dewi Trijata.

Di perjalanan ia bertemu dengan Mayaretna anak Prabu Janaka dari Kerajaan Mantili yang jatuh cinta kepada Dewi Sumekar. Dalam mimpinya ia melihat wanita muda yang cantik dan dikira Dewi Sinta. Atas petunjuk Kapi Jembawan pangeran itu diminta menemui Rama dan bergabung.

Ramawijaya kemudian memutuskan akan masuk ke dalam api pembakaran dan meninggalkan pesan yang terakhir kepada Wibisana agar memerintah negeri Alengka. Ramawijaya juga mengatakan bahwa Anoman akan berumur panjang dan diminta bertempat tinggal di Gunung Kendalisada guna menjaga Gunung Somawana sebagai kuburan Rahwana. Sedangkan Laksmana menjelaskan bahwa kelak ia akan menjelma pada Kakrasana, seorang pangeran dari Madura.

Setelah semuanya siap maka Ramawijaya, Dewi Sinta dan Laksmana masuk ke dalam perapian. Demikian juga Mayaretna bersama Dewi Sumekar juga mengikuti Rama masuk ke perapian. Sedangkan kendaraan Mayaretna yaitu gajah Jaka Maruta serta kuda Balang Anteban masuk ke dalam Hutan Sokarembe.

Rama Tambak

Ramawijaya setelah menerima laporan mengenai kekuatan musuh maka ia memerintahkan untuk segera menyerang Alengka. Namun ada kesulitan karena harus menyeberangi lautan, maka ia memerintahkan kepada Sugriwa dan Anoman membuat bendungan.

Para prajurit kera dikerahkan untuk mengambil batang pohon dan batu yang berada di Pasanggrahan Maliawan, tetapi mereka mendapat gangguan sekelompok kera hitam di bawah pimpinan Endang Suwareh dan Bambang Suweda, anak Suwareh, tapi gangguan itu dapat dikalahkan, bahkan kemudian dipaksa membantu membuat bendungan.

Setelah bendungan menjelang selesai tiba-tiba diterjang gelombang besar sehingga batang-batang pohon itu hanyut. Hal ini membuat Sri Rama marah
maka ia melepaskan anak panah Suwarah Geni ke dalam laut dan seketika itu air surut.

Tak lama kemudian Sang Hyang Baruna menampakan diri serta berjanji akan membantu dalam pembuatan bendungan, asalkan Rama mengembalikan air laut yang surut itu, sehingga makhuk di laut tidak mati. Dalam waktu yang singkat bendungan dapat diselesaikan serta para bala tentara kera mulai
menyeberang menuju ke Alengka.

Diperjalanan tentara Rama dihadang oleh raksasa dari Alengka yakni Agsraba, Rahibaya, Yuyurumpung dan Rahirebata. Mereka menyerang bala tentara kera sehingga menjadi kalang kabut.

Para raksasa dari utusan Rahwana itu akhirnya dapat dibunuh oleh prajurit kera yang bernama Kapi Yasraba, Kapi Rekata dan Kapi Menda. Pada waktu itu keadaan bendungan sangat mengkhawatirkan karena adanya gangguan dari prajurit Alengka. Sementara Anoman sangat khawatir akan keselamatan tentara yang melewati bendungan itu, maka Anoman melakukan triwikrama, tubuhnya menjadi besar dan membawa para prajurit kera ke daratan Alengka dan membangun Pesanggrahan di Swelagiri.

Sementara itu Rahwana membuat tipu muslihat kepada Sinta untuk meyakinkan bahwa Rama dan Laksmanatelah mati, ia memenggal kepala Trikala dan Kalasekti, yaitu dua orang raja taklukannya. Setelah melihat penggalan dua kepala ksatria itu Dewi Sinta sangat sedih. Namun, Dewi Trijata yang setia kepada menaruh curiga dan mengadakan penyelidikan, ia pergi ke Swelagiri dan bertemu dengan Anoman. Trijata mendapat penjelasan bahwa Rama dan Laksmana masih segar bugar. Dengan demikian ia akan dapat menentramkan hati Sinta.

Sarpakenaka juga ikut mencampuri urusan ini, ia mengutus Anggrisana ke Swelagiri dan membaur sebagai kera, dengan tujuan membuat kekacauan serta huru-hara. Tindakannya itu dapat diketahui Anoman maka Anggrisana ditangkap dan telinganya dipotong dan diminta kembali ke Alengka.
Setelah tiba di Alengka, Sarpakenaka sangat marah melihat utusannya terluka, ia pergi melawan Anoman sendiri, tetapi akhirnya ia terbunuh oleh Anoman.

Rama Tundung

Setelah memboyong Dewi Sinta, putri Mantili, sebagai istrinya ke Kerajaan Ayodya, ayah Rama, yaitu Prabu Dasarata berniat mengangkatnya sebagai raja.

Namun niat Dasarata ini dihalangi Dewi Kekayi, istri ketiga sang Prabu. Dasarata diingatkan bahwa raja itu pernah berjanji akan meluluskan dua permintaan Dewi Kekayi.

Adapun permintaan Kekayi adalah agar Dasarata mengangkat Barata, anaknya, sebagai raja. Yang kedua, mengusir Ramawijaya dari Kerajaan Ayodya dan harus hidup sebagai orang buangan di Hutan Dandaka selama 12 tahun. Kepergian Rama dan Sinta diikuti oleh Laksmana, adik tirinya.

Walaupun tidak setuju, Prabu Dasarata terpaksa memenuhi tuntutan itu. Setelah membatalkan pengangkatan Ramawijaya sebagai putra mahkota dan mengusirnya bersama istrinya, raja Ayodya itu sangat menyesal, sehingga meninggal dunia. Ternyata Barata tidak mau naik takhta menggantikan ayahnya, bahkan menyusul Rama dan Laksmana di Hutan Dandaka.

Setelah bertemu, Rama menganjurkan Barata menjadi raja, dengan membekalinya ajaran Hasta Brata.

Sinta Obong

Setelah Ramawijaya dan anak buahnya berhasil mengalahkan pasukan Kerajaan Alengka, dan tewasnya Prabu Dasamuka dan Dewi Sinta dibebaskan, Ramawijaya kembali ke Ayodya.

Beberapa waktu setelah Ramawijaya menjadi raja di Ayodya, ia mendengar desas-desus, bahwa rakyat Ayodya tidak yakin akan kesucian Dewi Sinta, karena istri Rama itu 12 tahun lamanya berada dalam sekapan Prabu Dasamuka.

Keraguan rakyat Ayogya yang mempengaruhi Ramawijaya itu membuat Dewi Sinta merasa perlu untuk membuktikan kesuciannya. Kemudian Dewi Sinta minta agar dirinya dibakar hidup-hidup, dan bilamana tubuhnya tidak termakan api, berarti ia tetap suci, walaupun selama 12 tahun berada di dalam kekuasaan Dasamuka.

Ketika api mulai berkobar, Batara Agni melindungi tubuh dan pakaian Sinta, sehingga tidak hangus dijilat api.

Pada lakon ini juga diceritakan tentang Kapi Jembawan, seekor tua kera yang sedih karena rupanya yang buruk. Sesudah bertapa, Batara Narada datang menemuinya, dan mengatakan bahwa ujud sebagai kera sudah nasibnya. Namun, pada dewa berkenan akan memberikan keturunan yang mulya bagi Kapi Jembawan. Batara Narada lalu mengubah ujud Jembawan menjadi Laksmana tiruan, dan disuruh menjumpai Dewi Trijata di Alengka.

Dewi Trijata menyanbut kedatangan Laksamana tiruan dengan suka cita karena diam-diam ia memang jatuh cinta pada Laksmana. Terjadilah cumbu rayu di antara mereka.

Ketika kejadian ini dilaporkan Sri Rama, segera Laksama asli disuruh menjumpai Laksamana tiruan. Terjadilah perang tanding antara yang asli dengan yang tiruan, dan saat itu yang tiruan menjelma kembali menjadi Jembawan.

Rama kemudian memutuskan Jembawan menjadi suami Dewi Trijata, sebab itu memang sudah jodohnya.

Subali Gugur

Setelah berguru pada Resi Subali, dan memperoleh Aji Pancasonya, Dasamuka mencari akal agar gurunya itu mati, sehingga di dunia ini hanya Dasamuka seorang yang memiliki ilmu sakti itu.

Untuk mencapai tujuannya Prabu Dasamuka mengutus Kala Marica untuk berubah rupa menjadi dayang pengasuh Dewi Tara, dan kemudian menghasut Resi Subali.

Kepada Resi Subali, emban dayang yang sebenarnya adalah Kala Marica itu mengadu, bahwa Dewi Tara kini hidup menderita karena sering disiksa Prabu Sugriwa. Hasutan ini termakan oleh Subali, sehingga resi berujud kera itu segera pergi ke Guwakiskanda untuk menghajar adiknya, Sugriwa. Sugriwa kalah, tubuhnya dijepit di dahan pohon kamal.

Sementara itu, Prabu Dasamuka berhasil menculik Dewi Sinta, dibawa terbang ke Alengka. Dalam perjalanan, seekor burung raksasa melihat peristiwa itu dan mencoba menolong Dewi Sinta. Namun, Dasamuka lebih sakti. Terkena pedang Candrasa, Jatayu luka berat dan jatuh ke bumi.
Rama dan Laksmana yang mencari Dewi Sinta menemukan Jatayu yang sedang sekarat. Sebelum ajal, Jatayu sempat memberitahukan bahwa Dewi Sinta diculik Dasamuka dan dibawa ke Alengka. Rama dan Laksamana kemudian bertemu dengan Sugriwa yang

sedang tersisa dijepit dua buah dahan. Sugriwa ditolong. Sebagai rasa terima kasih Sugriwa menyatakan kesanggupannya membantu Rama dalam usahanya membebaskan Dewi Sinta.

Sugriwa kemudian menantang Subali. Namun, dalam perang tanding itu Sugriwa kalah lagi. Rama lalu menyuruh Sugriwa mengenakan janur kuning di lehernya.

Ketika kakak beradik itu berperang tanding lagi, Rama memanah Subali. Sebelum ajal, Subali bertanya pada Rama, mengapa ia mencampuri urusan orang lain.

Rama menjawab, bahwa ia terpaksa membunuh Subali sebagai hukuman karena Subali mengajarkan ilmu Pancasonya pada Rahwana.

Sugriwa-Subali

Terjadilah keributan keluarga Resi Gotama, di Pertapaan Grastina. Gara-gara anak-anaknya memperebutkan Cupu Manik Astagina, Resi Gotama marah. Cupu Manik Astagina dibuang, dan istrinya, Dewi Indradi dikutuk menjadi tugu batu, dan dibuang jauh sampai jatuh di Hutan Dandaka, di tepi perbatasan negara Alengka.

Ketiga anaknya, Guwarsa, Guwarsi, dan Dewi Anjani, memburu Cupu Manik Astagina yang dibuang ayahnya, sampai ke Telaga Sumala. Guwarsa dan Guwarsi, diikuti cantrik Jembawan yang mencebut ke telaga itu berubah ujud menjadi kera, sedangkan Dewi Anjani yang diikuti emban Sarweah mencuci muka, hanya wajahnya yang berubah menjadi kera.
Setelah menjadi kera, Guwarsa berganti nama menjadi Subali, sedangkan Guwarsi menjadi Sugriwa.

Sementara itu, kahyangan diserbu oleh Patih Lembusura yang meminta bidadari Dewi Supraba dan Dewi Tara untuk dijadikan istri Prabu Maesasura. Karena para dewa tidak sanggup menandingi kesak-tian Patih Lembusura, mereka minta pertolongan Subali dan Sugriwa. Kedua kera itu ternyata sanggup membunuh Lembusura.

Subali dan Sugriwa kemudian pergi ke Kerajaan Guwakiskenda, yang jalan masuknya berupa gua. Subali berbesan, agar setelah ia masuk ke gua itu, Sugriwa segera menutupnya dengan batu Sela Gilang. Jika nanti dari sela batu itu mengalir darah merah, berarti lawannya mati. Dan, Sugriwa harus membuka gua itu agar Subali dapat keluar.

Namun, jika darah yang keluar berwarna putih, pintu itu jangan dibuka, karena itu berarti Sugriwa yang gugur .

Setelah ditunggu, beberapa waktu kemudian, keluar darah berwarna merah muda. Sugriwa mengira, abangnya mati bersama musuhnya. Karena itu, ia tidak membuka mulut gua itu, lalu pergi ke kahyangan untuk melapor.
Karena para dewa menganggap Sugriwa berjasa, maka ia dianugerahi Dewi Tara sebagai istrinya.

Tak lama kemudian datang Subali marah-marah, karena adiknya tidak membukakan pintu. Sugriwa menjelaskan kejadiannya, ia tidak tahu jika darah itu bercampur dengan otak, dan bukan darah putih. Subali mau memahami.

Para dewa pun kemudian memberi anugerah pada Subali, berupa Aji Pancasonya, yang tidak dapat mati, bilamana tubuhnya masih bersentuhan dengan tanah. Kelemahan Aji Pancasonya hanya jika berhadapan dengan panah sakti Guwawijaya, milik Batara Wisnu.

Tambak Undur

Rahwana telah terbunuh oleh Ramawijaya, selanjutnya ia mengutus Wibisana untuk masuk ke Istana Alengka terlebih dahulu untuk menemui Sinta. Ternyata Dewi Sinta walaupun masih tetap setia pada Rama meskipun telah lama tinggal di Alengka bersama Rahwana, Rama masih meragukan. Untuk mendapat kepastian tentang kesuciannya, Rama meminta Dewi Sinta masuk ke dalam api pembakaran yang dinyalakan dan ternyata ia dapat keluar dari api sebagai gadis remaja yang penuh sinar.

Setelah keraguan Rama lenyap, ia memerintahkan anak buahnya segera kembali ke Ayodya. Karena perjalanannya menyeberangi lautan, Batara Baruna dan Batara Amburawa diperintah untuk membantu Rama dan Sinta dengan cara membuat bendungan di atas laut serta pesanggrahan Kuta Giriging.

Perjalanan Rama dan istrinya menuju Ayodya di tengah tambak (bendungan) mendapat serangan Dewi Jarini, putri Sarpakenaka yang dibantu Sekesa anak Prabu Sumali dari Krenda Buntala.

Bala tentara Sekesa menghancurkan bendungan, tetapi berkat kesigapan Anoman para raksasa itu dapat dibunuh. Bahkan Dewi Jarini yang memiliki kekebalan kulit yang berbulu dapat dibinasakan Anoman.

Selanjutnya Rama dan Sita bertemu lagi dengan Branta serta Trugena di Ayodya, mereka sangat gembira selanjutnya pesta bersama.

Trikaya Lena

Pada lakon itu dikisahkan tentang kematian Trikaya alias Atikaya, salah seorang anak Prabu Dasamuka, raja Alengka. Ketika terjadi peperangan untuk membebaskan Dewi Sinta, Trikaya yang amat mahir dan cekatan dalam meluncurkan anak panah, bahu membahu bersama raksasa Mataka berhasil memporakporandakan pasukan kera. Anoman kewalahan menghadapi kedua musuhnya. Baru setelah Kapi Saraba datang membantunya, Anoman dapat membunuh Ditya Mataka.

Sedangkan yang membunuh Trikaya adalah Laksmana. Waktu Trikaya melepaskan anak panah pusaka bernama Pawaksara, Laksmana menghadapinya dengan anak panah pusaka bernama Surawijaya. Pawaksara artinya panah api, sedangkan Surawijaya artinya pahlawan kemenangan.

Wibisana Tundung

Dalam lakon yang termasuk serial Ramayana ini, dua orang adik Prabu Dasamuka, yakni Gunawan Wibisana dan Kumbakarna mencoba mengingatkan bahwa penculikan Dewi Sinta merupakan perbuatan salah. Prabu Dasamuka diminta mengembalikan Sinta pada suaminya, Ramawijaya.
Peringatan itu membuat Dasamuka marah. Setelah dikata-katai, kedua adiknya itu diusir.

Karena pengusiran itu Kumbakarna meninggalkan Keraton Alengka, pergi ke Gunung Gohkarna untuk bertapa tidur, sedangkan Wibisana pergi meninggalkan Alengka, dengan niat hendak mengabdi pada Ramawijaya. Pengabdian Gunawan Wibisana diterima dengan baik oleh Ramawijaya.

Sementara itu, untuk melemahkan semangat Dewi Sinta, Prabu Dasamuka membunuh dan kemudian memenggal kepala Prabu Kalaseti dan Prabu Trikala, kakak beradik taklukan Alengka. Keduanya mirip dengan Rama dan Laksmana. Kepala kedua orang itu diperlihatkan pada Dewi Sinta.
Sinta tidak yakin kalau kepala itu adalah kepala suami dan adik iparnya. Ia menyuruh Dewi Trijata, putri Gunawan Wibisana, untuk pergi ke Pasanggrahan Mangliawan guna membuktikan Rama dan Laksamana masih hidup.

Setelah Trijata menunaikan tugas itu, ternyata Rama dan Laksmana memang masih hidup.

~ Article view : [955]

SHARE
Previous articleKiat Sun Tzu
Next articlePancasila