Kramaning sembah

By February 5, 2012 Hindu No Comments

Kramaning sembah

Tiap-tiap piodalan di Pura orang-orang sembahyang, disamping mempersembahkan banten. Demikian Pula pada rerainan-rerainan lainnya seperti Galungan, Kuningan, Purnama Tilem dan sebagainya. Pada Hari Raya Saraswati hampir semua murid sembahyang disekolah masing-masing. Persembahyanganpun juga dilakukan pada waktu taur, pada waktu pemlaspas tempat-tempat suci dan sebagainya. Ada sembahyang yang dilakukan sendiri-sendiri, ada sembahyang dilaksanakan bersama-sama yang diantar oleh seorang Sulinggih. Agar persembahyangan itu berjalan dengan baik maka perlu adanya pedoman untuk itu. Berikut ini adalah pedoman sembahyang yang telah ditetapkan Mahasabha Parisada Hindu Dharma ke VI.
Persiapan Sembahyang

Persiapan sembahyang meliputi persiapan lahir dan persiapan batin. Persiapan lahir meliputi sikap duduk yang baik, pengaturan nafas dan sikap tangan.

Termasuk dalam persiapan lahir pula ialah sarana penunjang sembahyang seperti pakaian, bunga dan dupa sedangkan persiapan batin ialah ketenanagan dan kesucian pikiran. Langkah-langkah persiapan dan sarana prasarana sembahyang adalah sebagai berikut:
Asuci Laksana.

Pertama-tama orang membersihkan badan dengan mandi. Kebersihan badan dan kesejukan lahir mempengaruhi ketenangan hati.
Pakaian.

Pakaian waktu sembahyang supaya diusahakan pakaian yang bersih serta tidak mengganggu ketenangan pikiran. Pakaian yang ketat atau longgar, warna yang menjolok hendaknya dihindari. Pakaian harus disesuaikan dengan dresta setempat, supaya tidak menarik perhatian orang.
Bunga dan Kuwangen.

Bunga dan Kuwangen adalah lambang kesucian supaya diusahakan bunga yang segar, bersih dan harum. Jika dalam persembahyangan tidak ada kewangen dapat diganti dengan bunga. Ada beberapa bunga yang tidak baik untuk sembahyang.

Menurut Agastyaparwa bunga-bunga tersebut seperti berikut:

“Nihan Ikang kembang yogya pujakena ring bhatara: kembang uleran, kembang ruru tan inunduh, kembang laywan, laywan ngaranya alewas mekar, kembang munggah ring sema, nahan talwir ning kembang tan yogya pujakena de nika sang satwika”.

Artinya: Inilah bunga yang tidak patut dipersembahkan kepada Bhatara, bunga yang berulat, bunga yang gugur tanpa digoncang, bunga-bunga yang berisi semut, bunga yang layu, yaitu bunga yang lewat masa mekarnya, bunga yang tumbuh dikuburan. Itulah jenis-jenis bunga yang tidak patut dipersembahkan oleh orang yang baik-baik.
Dupa.

Apinya dupa adalah simbul Sanghyang Agni, saksi dan pengantar sembah kita kepada Sanghyang Widhi. Setiap yadnya dan pemujaan tidak luput dari penggunaan api. Hendaknya ditaruh sedemikian rupa sehingga tidak membahayakan teman-teman disebelah.
Tempat Duduk.

Tempat duduk hendaknya diusahakan duduk yang tidak mengganggu ketenangan untuk sembahyang. Arah duduk ialah menghadap pelinggih. Setelah persembahyangan selesai usahakan berdiri dengan rapi dan sopan sehingga tidak menganggu orang yang masih duduk sembahyang. Jika mungkin agar menggunakan alas duduk seperti tikar dan sebagainya.
Sikap Duduk.

Sikap duduk dapat dipilih dengan tempat dan keadaan serta tidak mengganggu ketenangan hati. Sikap duduk yang baik pria ialah sikap duduk bersila dan badan tegak lurus, sikap ini disebut Padmasana. Sikap duduk bagi wanita ialah sikap Bajrasana yaitu sikap duduk bersimpuh dengan dua tumit kaki diduduki. Dengan sikap ini badan menjadi tegak lurus. Kedua sikap ini sangat baik untuk menenangkan pikiran.
Sikap Tangan.

Sikap tangan yang baik pada waktu sembahyang ialah “cakuping kara kalih” yaitu kedua telapak tangan dikatupkan di depan ubun-ubun. Bunga atau kuwangen dijepit pada ujung jari.
PERSIAPAN MUSPA
Mantra membersihkan/mencuci muka :

Om cam camani ya namah swaha
Om waktra parisudha ya mam swaha
Mantra berkumur :

Om Ang waktra parisudha ya namah swaha
Mantra membersihkan kaki :

Om Am khan kasodhaya Iswara ya namah swaha
kedua tangan kita bersihkan:

Tangan kanan:
Mantra: Om suddha mam svaha
artinya:Om bersihkanlah hamba

Tangan kiri:
Mantra: Om ati suddha mam svaha
artinya: Om lebih bersihkanlah hamba
Mantra duduk :

Om Padmasana ya namah swaha
Om prasadha stithi sarira siwa suci nimala ya namah swaha
Oh tuhan dalam wujud siwa, yang suci tak ternoda, hormat hamba telah duduk dengan tenang.
Pranayama (mengatur nafas)

Puraka (menarik nafas)
Om ang namah
Oh tuhan maha pencipta, hamba member hormat

kumbaka (menahan nafas)
om ung namah
Oh tuhan maha pemelihara dan pengasih, hamba member hormat

recaka (menghembuskan nafas)
Om mang namah
Oh tuhan maha pelebur, hamba member hormat
Mantra matirta/panglukatan

Om pratama sudha, dwitya sudha, tritya sudha, caturti sudha, pancami sudha, sudha sudha sudha waryastu
Puja untuk Dupa

om ang dupa dipastra ya namah
Oh hyang widhi, hamba persembahkan dupa ini
Menyucikan kembang /bunga

Om puspa danta ya namah
Oh hyang widhi, smoga puspa ini menjadi suci
MANTRA TRISANDYA

Om bhur bhuvah svahtat savitur varenyambhargo devasya dhimahidhiyo yo nah pracodayat
Om Narayana evedwam sarvamyad bhutam yac ca bhavyamniskalanko niranjanonirvikalpo nirakhyatahsuddho deva ekonarayana na dvitiyoasti kascit.
Om tvam siwah tvam mahadevahIswarah paramesvarahbrahma visnusca rudrascapurusah parikirtitah
Om papo’ham papha karmaham, papatma papasambhavah, trahi mam pundarikaksa, sabahya bhyantarah sucih
Om ksamasva mam mahadevasarvaprani hitankaramam moca sarva papebhyahpalayasva sada siva
Om ksantavyah kayiko dosahksantavyo. vaciko mamaksantavyo manaso dosahtat pramadat ksamasva mam
Om Santih, Santih, Santih Om.

artinya:
Om adalah bhur bhuvah svahKita memusatkan pikiran pada kecemerlangan dan kemuliaan Sanghyang Widhi, Semoga Ia berikan semangat pikiran kita
Om Narayana adalah semua ini apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda, bebas dari kotoran, bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah dewa narayana, Ia hanya satu tidak ada yang kedua
Om Engkau dipanggil Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma, Wisnu, Rudra, dan Purusa
Om hamba ini papa, perbuatan hamba papa, diri hamba papa, kelahiran hamba papa, lindungilah hamba Sanghyang Widhi, sucikanlan jiwa dan raga hamba
Om ampunilah hamba Sanghyang Widhi, yang memberikan keselamatan kepada semua makhluk, bebaskanlah hamba dari segala dosa, lindungilah oh Sang Hyang Widhi
Om ampunilah dosa anggota badan hamba, ampunilah dosa perkataan hamba, ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelalaian hamba.
Om. damai. damai, damai, Om.
KRAMANING SEMBAH

Urutan-urutan sembah baik pada waktu sembahyang sendiri ataupun sembahyang bersama yang dipimpin Sulinggih atau seorang Pemangku adalah seperti berikut:
Sembah Puyung/tanpa Bunga

Om atma tatwatma soddha mam svaha
Artinya :
Om atma atmanya kenyataan ini, bersihkanlah hamba.
Menyembah Hyang Widhi sebagai Hyang Aditnya

Sarana : Bunga

Om aditysyaparam jyoti, rakta teja namo’stute, svetapankaja namo’stute, bhaskaraya namo’ stute,
Om pranamya bhaskara dewam sarwa klesa winasanam pranamya ditya siwartham bhukti mukti warapradham
Om rang ring sah pramasiwa raditya ya namah swaha
Artinya:
Om Sinar Surya yang maha hebat, Engkau bersinar merah, hormat pada-Mu, Engkau yang berada ditengah-tengah teratai putih, hormat pada-Mu pembuat sinar.
Menyembah Tuhan sebaga Ista Dewata atau hyang guru (merajan)

Sarana : Kuwangen
Ista Dewata artinya Dewata yang diingini hadirnya pada waktu pemuja memuja-Nya. Ista Dewata adalah perwujudan Tuhan dalam berbagai-bagai wujud-Nya seperti Brahma, Wisnu, Iswara, Saraswati, Gana, dan sebagainya. Karena itu mantramnya bermacam-macam sesuai dengan Dewata yang dipuja pada hari dan tempat itu. Misalnya pada hari Saraswati yang dipuja adalah Dewi Saraswati dengan Saraswati Tattwa. Pada hari lain dipuja Dewata yang lain dengan Stawa-stawa yang lain pula.
Pada Persembahyangan umum seperti pada Hari Purnama dan Tilem, Dewata yang dipuja adalah Hyang Siwa yang berada dimana-mana.
Stawanya sebagai berikut:
om ang geng gnijaya ya namah swaha
om gnijaya jagatpatye namo namah
om ung manikjayas’ca semerus’ca ganas’ca de kuturans’ca adipati beradah ya namo namah
Om dewa-dewa tri devanam, tri murti linggatmanam tri purusa sudha-nityam, sarvajagat jiwatmanam.
Om guru dewa guru rupam, guru madyam guru purvam, guru pantaram devam, guru dewa suddha nityam.
om brahma wisnu iswara dewam, tri purusa suddatmakam, tri dewa tri murti lokam, sarwa roga, papha klesa, sarwa wigna winasanam.
Om guru paduka dipata ya namah
om hrang hring sah parama siwa pratistaya namo namah
Artinya :
Om, kepada yang bersemayam pada tempat yang tinggi, kepada Siwa yang sesungguhnyalah berada dimana-mana, kepada Dewa yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai sebagai satu tempat,
kepada Ardhanaresvari, hamba menghormat.
ya tuhan
Ya tuhan, yang bergelar brahma, wisnu, iswara, yang berkenan turun menjiwai isi triloka, semoga seluruh jagat tersucikan, bersih serta segala dosa terhapus olehmu,
Ya Tuhan, para dewa dari tiga dewa, tri murti tiga perwujudan simbul Siwa, Paramasiwa, Sadasiwa dan Siwa, suci selalu, nyawa dari alam semesta.
Ya Tuhan, gurunya dari Dewa, Gurunya batara-batari, junjungan guru permulaan, guru perantara dewa-dewa, gurunya dewa yang selamanya suci.
ya tuhan selaku bpak alam, hamba memujamu
Menyembah Tuhan sebagai Pemberi Anugrah

Sarana : Kuwangen
Mantram :
Om nama deva adhisthanaya, Sarva vyapi vai sivaya, padmasana ekaprastisthaya, Ardhaneresvaryai namo namah
Om anugraha manohara, devadattanugrahaka,acanam sarva pujanam, namah sarvanugrahakam
om Deva devi mahasiddhi, yajnanga nirmalatmaka, laksmi siddhisca dirgayuh, nirwighna sukha viddhisca
om hrang hring sah sarwa nugraha ya namo namah
Artinya:
Om, Engkau yang menarik hati, pemberi anugrah-anugrah pemberian dewa, pujaan semua pujaan hormat pada-Mu pemberi anugerah.
Kemahasidian Dewa Dewi, berwujud yadnya, pribadi suci, kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur, bebas dari rintangan, kegembiraan dan kemajuan.
Sembah Puyung/tanpa Bunga

Om deva suksma paramacintyaya nama svaha.
Artinya :
“Om, hormat pada Dewa yang tak terpikirkan yang maha tinggi yang maha gaib”

Bila persembahyangan itu dituntun oleh seorang Sulinggih/ Pandita/ Pinandita, maka sebelum sembah puyung terakhir, biasanya tambahan mantramnya adalah seperti dibawah ini. Para peserta persembahyangan (umat) hanya mengikuti dalam hati tanpa ikut mengucapkan mantra.
Om ayur vrddhir yaso vrddhih, vrddhih orajna sukha sriyam, dharma santana vrddhih syat, santu te sapta-vrddhayah.
Om yavan Merau sthito devah, yavad Gangga mahitale, candrarkau gagane yavat, tavad va vijayi bhavet.
Om dirghayur astu tathastu, Om avighnam astu tathastu, Om subham astu tathastu, Om sukham bhavatu, Om purnam bhavatu, Om sreyo bhavatu, Sapta vrddhir astu.
om dewa suksma parama cintya ya namah swaha
Artinya :
Bertambah dalam usia, bertambah dalam kemashuran, bertambah dalam kepandaian, kegembiraan dan kebahagiaan, bertambah dalam dharma dan keturunan, tujuh pertambahan semoga menjadi bagianmu.
Selama Tuhan bersemayam di Gunung Meru, Selama sungai Gangga berada di dataran bumi, Selama matahari dan bulan berada di langit, Selama itu semoga seorang mendapat kejayaan.
Semoga panjang umur, Semoga tiada rintangan, Semoga baik, Semoga bahagia, Semoga sempurna, Semoga rahayu, Semoga tujuh pertambahan terwujud.

Setelah persembahyangan selesai dilanjutkan dengan mohon tirtha dan bija.
DOA MEMASANG BIJA :

menempelkan bija di dahi
Om sriyam bhawantu
Oh tuhan, semoga kebahagiaan selalu hamba peroleh

Menempelkan bija dibawah tenggorokan
Om sukham bhawantu
Oh tuhan, semoga kesenangan selalu hamba peroleh

Menelan bija
Om purnam bhawantu, om kesama sampurnam ya namah swaha
Oh tuhan, semoga kesempurnaan meliputi hamba
Oh tuhan, semoga semuanya menjadi bertambah sempurna~ Article view : [587]