Makna Hari Suci Purnama dalam Hindu

857

Kata Purnama berasal dari kata “purna” yang artinya sempurna. Purnama dalam kamus umum Bahasa Indonesia berarti bulan yang bundar atau sempurna (tanggal 14 dan 15 kamariah). Pemujaan dimaksudkan saat purnama ini ditujukan kehadapan Sanghyang Candra, dan Sanghyang Ketu sebagai dewa kecemerlangan untuk memohon kesempurnaan dan cahaya suci dari Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam berbagai wujud Ista Dewata.

Pengertian Hari Suci Purnama

Sesuai dengan namanya pelaksanaan Upacara ini berlangsung saat bulan Purnama, yaitu jatuh pada setiap malam bulan penuh (Sukla Paksa). Rerahinan Purnama jatuh setiap 30 hari atau 29 hari sekali. Pada hari ini seluruh pura – pura di Bali biasanya ramai oleh umat yang melakukan persembahyangan. Pada rerahinan purnama beryogyalah Sang Hyang Candra (bulan) yang merupakan hari penyucian oleh Sang Hyang Rwa Bhineda yaitu Sang Hyang Surya dan Sang Hyang Candra.

Rerahinan purnama merupakan sebuah momentum guna mengintrospeksi diri, bersujud dihadapan Ida Sang Hyang Widhi dan kembali kepada (Rwa Bhineda) sekala dan niskala. Disamping itu pada rerahinan purnama vibrasi suci akan terpancar dari sinar rembulan sehingga sangat baik untuk melaksanakan yoga Samadhi. Pada hari ini umat melakukan persembahyangan di mulai dari Merajan, Merajan Dadia, Pura Kayangan Tiga dan jika memungkinkan sangat baik untuk melakukan Tirta Yatra.

Makna Hari Suci Purnama

Hari raya Purnama bermakana memohon berkah dan karunia dari Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) yang telah menerangi dunia beserta isinya dan kebersihan lahir dan batin dalah satu ujud keimanan, kebersihan secara manusia secara lahir dan batin sangatlah penting, pada badan yang bersih tidak aka nada kotoran yang melekat, dalam jiwa yang bersih akan timbuk pikiran yang bersih, dengan perkataan yang dan perbuatan yang baik dan bersih akan timbul pikiran yang baik/bersih yang akan dapat ganjaran yang baik juga.

Kebersihan hati juga adalah satu hal yang pokok dan sangat penting terutama saat memohon berkah dan anugrah kepada Sang Pencipta (Ida Sang Hyang Widhi Wasa). Pada saat bulan purnama penuh menurut Agama Hindu, Dewa dan Widyadara – widyadari turun mebersihkan dan menyucikan alam semesta beserta isinya.

Kebersihan diri mempunyai peran penting dalam kehidupan untuk mencapai keselarasan, baik itu untuk diri sendiri, orang lain, lingkungan maupun terhadap Tuhan atau Ida Sanh Hyang Widhi. Dengan kebersihan diri, kita akan di berikan kemudahan kebahagian, maka kita sebagai umat hindu seendaknya menjaga dan memelihara terutama kebersihan hati dan pikiran, karena dengan itu semua hidup ini akan terasa lebih bermakana baik di mata dunia maupun di hadapan Tuhan.

Tujuan Hari Suci Purnama

Umat Hindu meyakini Bahwa kelahirannya di dunia ini tidak terlepas dari pengaruh karma masa lalunya. Sisa- sisa karma dimana hidup yang terdahulu disebut dengan karma wasana. Maka pada saat Purnama ini kita juga hendaknya mengadakan pembersihan secara lahir bathin.

Karena itu, disamping bersembahyang mengadakan puja bhakti kehadapan Hyang Widhi untuk memohon anugrahNya, juga kita hendaknya mengadakan pembersihan dengan air (mandi yang bersih). Menurut pandangan Hindu bahwa air merupakan sarana pembersihan yang amat penting di dalam kehidupan manusia. Air disamping merupakan sarana pembersih, juga sebagai pelebur kekotoran.

ADBHIRGATRANI SUDDHYATI, MANAH SATYENA SUDDHYATI VIDYATAPOBHYAM BHUTATMA, BUDDHIR JNANENA SUDDHYATI

(Manavadharmasastra V.109)

Artinya:

Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran, jiwa manusia dengan pengetahuan (pelajaran suci dan tapa brata, kecerdasan dengan kebijaksanaan (pengetahuan) yang benar. 

Kondisi bersih secara lahir bathin di dalam kehidupan ini sangat perlu, karena di dalam tubuh dan jiwa yang bersih akan muncul pemikiran, perkataan dan perbuatan yang bersih pula, sehingga tercapai kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Jadi kebersihan sangat penting artinya untuk bisa tercapai suatu kebahagiaan, lebih-lebih dalam hubungannya dengan pemujaan kepada Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Suci), maka kebersihan (kesucian) secara lahir bathin merupakan syarat mutlak.

sumber: mantrahindu, inputbali

~ Article view : [412]