Mengenal Masyarakat Tengger [ page 2 ]

422

Oleh : Prof. Dr. Simanhadi Widyaprakosa (Sambungan WHD No. 472)

(2) Siklus Hidup
Ada 3 (tiga) tahap penting siklus kehidupan menurut pandangan masyarakat Tengger, yakni:

1. umur 0 sampal 21 (wanita) atau 27 (pria), dengan lambang bramacari yaitu masa yang tepat
untuk pendidikan;
2. usia 21 (wanita) atau 27 (pria) sampai 60 tahun lambing griasta, masa yang tepat untuk
membangun rumah dan mandiri;
3. 60 tahun ke atas, dengan lambang biksuka, membangun diri sebagai manusia usia lanjut
untuk lebih mementingkan masa akhir hidupnya.

Pada masa griasta ada ungkapan yang berbunyi kalau masih mentah sama adil, kalau sudah masak tidak ada harga, yang bermaksud hendaklah manusia itu pada waktu mudanya bersikap adil dan masa dewasa menyiapkan dirinya untuk masa tuanya dan hari akhirnya.

4) Pertunangan dan Perkawinan
Pada umumnya masyarakat Tengger mempunyai pendirian yang cukup bermoral atas perkawinan. Poligami dan perceraian boleh dikatakan tidak pernah terjadi. Perkawinan di bawah umur juga jarang terjadi. Dalam pertunangan (pacangan), lamaran dilakukan oleh orangtua pria. Sebelumnya didahului dengan pertemuan antara kedua calon, atas dasar rasa senang kedua belah pihak. Apabila kedua belah pihak telah sepakat, maka orangtua pihak wanita (sebagai calon) berkunjung ke orangtua pihak pria untuk menanyakan persetujuannya atau notok. Selanjutnya apabila orangtua pihak pria telah menyetujui, diteruskan dengan kunjungan dari pihak orangtua pria untuk menyampaikan ikatan (peningset) dan menentukan hari perkawinan yang disetujui oleh kedua belah pihak. Sesudah itu barulah upacara perkawinan dilakukan.

Sebelum acara perkawinan biasanya telah dimintakan nasihat kepada dukun mengenai kapan sebaiknya hari perkawinan itu dilaksanakan. Dukun akan memberikan saran (menetapkan) hari yang baik dan tepat, ‘papan’ tempat pelaksanaan perkawinan, dan sebagainya. Setelah hari untuk upacara perkawinan ditentukan, maka diawali selamatan kecil (dengan sajian bubur merah dan bubur putih).

Sebagai kelengkapan upacara perkawinan, maka pasangan pengantin diarak (upacara ngarak) keliling, diikuti oleh empat gadis dan empat jejaka dengan diiringi gamelan. Pada upacara perkawinan pengantin wanita memberikan hadiah bokor tembaga berisi sirih lengkap dengan tembakau, rokok dan lain, sedangkan pengantin pria memberikan hadiah berupa sebuah keranjang berisi buah-buahan, beras dan mas kawin.

Pada upacara asrah pengantin, masing-masing pihak diwakili oleh seorang utusan. Para wakil mengadakan pembicaraan mengenai kewajiban dalam perkawinan dengan disaksikan oleh seoran dukun. Pada upacara pernikahan dibuatkan petra (petara: boneka sebagai tempat roh nenek moyang) supaya roh nenek moyangnya bisa hadir menyaksikan.

5) Hak Waris
Pada dasarnya masyarakat Tengger mempertahankan hak waris tanah untuk anak keturunan mereka saja. Apabila ada keluarga yang terpaksa menjual hak tanah, diusahakan untuk dibeli oleh keluarga yang terdekat. Pewarisan kepada anak-turunannya ditentukan oleh kerelaan pihak orang tua, bukan atas dasar aturan ketat yang dibakukan.

5. Kesenian dan Tata Rumah
1) Kesenian
Kesenian merupakan bagian dari kebudayaan manusia. Hasil kesenian daerah, sebagai unsur dari kebudayaan dan adat istiadat masyarakat Tengger, dapat dikelompokkan menjadi tiga, yakni seni panggung, seni musik dan seni tari. Di samping itu dapat pula dikelompokkan menjadi kesenian tradisional dan modern. Kesenian tradisional dapat dikelompokkan menjadi keseniän tradisional yang berasal dari masyarakat Tengger sendiri dan yang berasal dari luar daerah Tengger.

Seni tari yang tradisional dan yang bersifat ash hanya ada dua, yaitu tari ujung dan tari sodoran. Kedua jenis tarian ini dilaksanakan pada upacara adat, yaitu pada waktu pembuatan jimat klonthong dan bertepatan dengan upacara Karo. Khusus untuk Desa Wonokitri dan Desa Sedhaeng, sebelum tari Ujung digelarkan, terlebih dahulu dilaksanakan dandosan berupa sesajen sedekah pangonan.

Yang pertama, tari sodoran merupakan kesenian tradisional Tengger yang mengandung nilai keagamaan. Penarinya empat orang dan saling berhadapan, dimulai dengan jarak berjauhan dan terus bergerak mendekati lawannya. Mereka menari dengan diiringi bunyi gamelan. Penari menunjukkan jarinya dalam gaya tariannya. Penunjukan telunjuk itu sebagai lambang purusan dan pradazza, yang bermakna sebab pertama dan alam semesta yang bersifat abadi.
Yang kedua, tari ujung merupakan suatu kçsenian yang merakyat Kesenian ini sening dinamakan kesenian tiban. Biasanya tarian ml dimainkan setiap hari raya Karo, setelah
– nyadran dan sebelum mulihe ping pitu ‘ dalam rangkaian upacara Karo. Tari ujung menunjukkan makna lambang persahabatan, yaitu rasa bersatu dan merasakan suka-duka bersama. Pada tarian ini penari saling memukul bergantian dengan rotan berukuran kurang lebih satu meter.

Seni tari lain yang sekarang banyakjuga disenangi oleh masyarakat Tengger antara lain adalah ludruk, kethoprak dan lain-lain yang berasal dan luar masyarakat Tengger. Kesenian ini sewaktu-waktu dapat dipanggungkan apabila diperlukan.
Seni musik yang masih bersifat tradisional dan berasal dan masyarakat engger sendiri adalah seni karawitan. Namun sekarang masyarakat ini juga menyenangi antara lain seni terbang gelipung, dan seni hadrah, sedangkan seni modern yang telah masuk adalah keroncong, band, dan orkes melayu.

Seni tari atau jenis kesenian yang memusatkan kepada gerakan, yang berasal dan luar masyarakat Tengger namun saat ini mulai digemari, antara lain adalah pencak silat dan akrobatik. Jenis kesenian ini banyak peminatnya danbisa diterima dengan baik. (Sebagai catatan, seni wayang kulit untuk daerah Tosari hanya dimainkan untuk ruwatan, sedangkari di Desa Ngadisari sama sekali tidak diperkenankan untuk dimainkan).

2) Tata Rumah
Rmah penduduk Tengger dibangun di atas tanah, yang sedapat mungkin dipilih pada daerah datar, dekat air, atau kalau terpaksa dipilih tanah yang dapat dibuat teras, dan jauh dan gangguan angiñ. Runah-rumah letaknya berdekatan atau menggerombol pada suatu tempat yang dapat dimasuki dan berbagaf jurusany yang dihubungkan dengan jalan sempit atau gak lebar antara satu desa dengan desa lain. Desa induk yang disebut Jcrajan biasa-nya terletak di tengah dengan jaringan jalan-jalan yang menghubungkan dengan desa lain.
Pembangunan sebuah rumah selalu diawali dengan selamatan, demikiah pula apabila bangunan telah selesai (rampung) diadakan selamatan lagi. Pada setiap bangunan yang sedang dikejakan selalu terdapat sesajen, yang digantungkan pada tiang-tiang, berupa makanan, ketupat, lepet, pisang raja dan lain-lain. Bangunan rumah orang Tengger biasanya luas sebab pada umumnya dihuni oleh beberapa keluarga bersama-sama, Ada kebiasaan bahwa seorang pria yang baru saja kawin akan tinggal bersama mertuanya.
Tiang dan dinding rumahnya terbuat dan kayu dan atapnya terbuat dan bambu yang dibelah. Setelah bahan itu sulit diperoleh, dewasa ini masyarakat telah mengubah kebiasaan itu dengan menggunakan atap dan seng, papan atau genteng.

Alat rumah tangga tradisional yang hingga sekarang pada umumnya masih tetap ada adalah baiai-balai, semacam dipanyang ditaruh di depan rumah. Di dalam ruangan rumah itu disediakan pula tungku perapian (pra pen) yang terbuat dan batu atau semen. Perapian ini kurang lebih panjangnya 1/4 dari panjang ruangan yang ada. Di dekat perapian terdapat ruang duduk yang meliputi kurang lebih separuh dan seluruh ruangan. Apabila seorang tamu drtenima dan dipersilakan duduk di tempat ini menunjukkan bahwa tamu tersebut diterima dengan hormat.

Selain digunakan untuk penghangat tubuh bagi penghuni rumah, perapian juga dimanfaatkan untuk mengeringkan jagung, atau bahan makan lainnya yang memerlukan pengawetan dan ditaruh di atas paga. Dekat tempat perapian itu terdapat pula alat-alat dapur, lesung, dan tangga. Halaman rumah mereka pada umumnya sempit (kecil) dan tidak ditanami pohon-pohonan. Di halaman itu pula terdapat sigiran, tempat untuk menggantungkan jagung yang belum dikupas. Selain itu, sigiran dimanfaatkan untuk menyimpan jagung, sehingga juga berfungsi sebagai lumbung untuk menyimpan sampai panen mendatang.

6. Tengger sebagai Daerah Penyangga Taman Nasional Bromo-Tengger Semeru
Lokasi Taman Nasional Bromo terletak di pertemuan empat kabupaten, yaitu Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang. Daerah tersebut dihuni oleh masyarakat Tengger yang memiliki tradisi dan budaya khas, sebagai peninggalan nenek moyang sejak zaman Majapahit. Gunung Bromo merupakan gunung berapi, yang terus-menerus mengepulkan asap pada bagian tengah kalderanya. Gunung tersebut dikelilingi olëh laut pasir (segara wedhi), serta dikelilingi oleh pegunungan dengan jurang-jurang yang terjal.

Ketinggian Gunung Bromo adalah 2392 m, Di sebelah selatannya berdiri gunung vulkanik Semeru yang masih aktif, dengan ketinggian 3676 m. Secara legendaris kedua gunung tersebut mempunyai kaitan, seperti telah dilukiskan dalam legenda pada uraian terdahulu. Di sekitar Gunung Biomo dan sebagian wilayah Gunung Semeru inilah masyarakat Tengger bermukim.

Ditinjau secara sosial-budaya, masyarakat Tengger memiliki sifat khas tradisi dan budaya, yang secara historis merupakan peninggalan nenek moyang dan zaman Majapahit, dan sampai saat ini mampu bertahan. Sejak ditetapkan pada tahun 1982 sebagai daerah penyangga Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, Tengger selalu dikunjungi oleh banyak wisatawan dan dalam dan luar negeri. Di samping itu sejak tahun 1973 dengan ditetapkannya masyarakat Tengger sebagai pemeluk agama Hindu, maka mulai diadakan pembinaan intensif tentang keagamaan, namun masyarakat Tengger tampaknya belumbanyak terpengaruh oleh nilainilai budaya yang lain.

Beberapa gejala yang tampak antara lain adalah, dengan adanya sentuhan langsung pembangunan yang terprogram dan datangnya para wisatawan yang berkunjung ke daerah Tengger in mereka mulai memanfaatkan kesempatan itu, antara lain dengan menyewakan rumah mereka untuk penginapan, menyewakan kuda-yang semua sebagai alat angkut hasil
pertanian-untuk alat transportasi para wisatawan yang memerlukan. Meskipun telah banyak bergaul dengan para pendatang, namun sikap keaslian mereka masih tampak jelas dalam memperlakukan para wisatawan, yaitu sikap ramah, jujur dan gotong royong.

Tengger sebagai Daerah Penyangga Taman Nasional
Pengembangan suatu masyarakat berarti akan mengubah menjadi sesuatu yang lain, atau tetap mempertahankan keberadaannya dengan mengembangkan kemampuan dan kondisi masyarakat untuk mampu mandiri serta menjadi lebih bermanfaat dan lebih sempurna. Penetapan BromoTengger-Semeru menjadi taman nasional bermakna bahwa kondisi yang telah ada akan dilindungi dan dikembangkan agar lebih semarak dan menarik. Tengger sebagai daerah penyangga juga bermakna bahwa budaya masyarakat Tengger perlu dilestarikan dan dikembangkan menjadi lebih sempurna, terutama adat istiadat dan nilai-nilai budayanya yang relevan dengan kemajuan zaman, dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai filsafat bangsa dan negara. Dengan masuknya para wisatawan ke daerah Tengger, tidak mustahil akan terjadi pergeseran nilainilai instrumental, namun apabila terus diadakan pembinaan sikap mental dengan tetap berpegang kepada nilai tradisional yang relevan, maka pergeseran nilai-nilai instrumental itu akan tetap dapat dicegah dan sekaligus dapat dipertahankan sifat keasliannya.

Hubungan antara masyarakat Tengger dengan taman nasional sangat erat karena daerah Bromo-Tengger-Semeru sebagian besar dihuni oleh masyarakat Tengger. Apabila kondisi alamnya akan dikembangkan menjadi taman nasional maka masyarakat sekitarnya pun dituntut urituk mampu menyelamatkan, memelihara dan ikut mengembangkannya. Apabila masyarakat Tengger tidak diberi kesempatan untuk mengambil keuntungan dan taman nasional itu, tidak mustahil akan terjadi sikapmasa bodoh terhadapnya, tidak ikut menjaga ataupun menyelamatkannya. Masyarakat Tengger sebagai penyangga, sudah tentu berperan besar untuk menjaga kelestarian taman nasional. Demi kelestarian taman nasional itu, masyarakat Tengger diharapkan merasa ikut memiliki (handarbeni), membina (hamengkoni) dan sekaligus dapat memanfaatkannya.

Di sekeliling taman nasional itu akan dikembangkan berbagai macam tumbuhan penyangga sebagai daerah buffer zone untuk melestarikan alam dan keindahannya, yang kondisinya perlu dijaga oleh masyarakat lingkungannya. Hal itu akan berhasil apabila lingkungan alamnya:

1) mampu menyediakan berbagai kebutuhan dasar masyarakat sekitarnya, baik untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun memberikan kepuasan dan kesenangan yang
lain;
2) dapat terselamatkan dari berbagai gangguan yang berasal dari manusia, binatang, ataupun
gangguan lainnya;
3) mampu mengembangkan sikap masyarakat untuk mencintai alam dan taman nasional;
4) mampu melindungi manusia dan daerah pertanian sekitarnya dari gangguan binatang yang
datang dari daerah penyangga itu sendiri.
5) mampu meningkatkan kondisi sosial-ekonomi masyarakat sekitarnya, termasuk masyarakat
Tengger, dan kesadaran akan pentingnya taman nasional itu;
6) mampu menumbuhkan dan mengembangkan organisasi swadaya masyarakat dalam
kaitannya dengan usaha-usaha pelestarian sumber daya alam dan lingkungannya;
7) mampu membina eksistensi adat dan budaya masyarakat Tengger yang dapat memberikan
konsumsi penyemarakan wisatawan yang datang untuk menikmati keindahan taman
nasional itu.

Untuk mengembangkan buffer zone ini, ada suatu masaah yang perlu dipecahkan dengan penuh kebijaksanaan. Misalnya desa Ngadas yang terletak di daerah buffer zone. Masalahnya antara lain adalah apakah desa ini harus dipindahkan, atau dibiarkan tetap berada di daerah buffer zone. Apabila masyarakat itu dipindahkan akan terjadi kesulitan di mana akan ditempatkan, dan apabila tetap berada di daerah buffer sone, bagaimana pengelolaannya? Untuk memecahkan masalah ini diperlukan penelitian dan pertimbangan untung ruginya.

2. Sejarah Masyarakat Tengger
Masyarakat Tengger pada umumnya beranggapan bahwa mereka adalah pewaris adat istiadat tradisional Majapahit. Pernyataan ini dibenarnya oleh Prof. Nancy, sesuai dengan hasil penelitiannya tentang Masyarakat Tengger dalam Sejarah Nasional indonesia (1985), yang secara kronologis menerangkan asal kejadi an masyarakat Tengger itu. (Hal ini secara khusus sudah dibahas dalam Bab 2).

Kajian sejarah menunjukkan bahwa adat masyarakat Tengger tidak menganut adanya perbedaan kasta karena memang tidak terdapat pemimpin agama yang kuat. Sebelum adanya pembinaan agama Hindu, dalam masyarakat Tengger tidak terdapat pedanda atau pendeta dan resi. Pada waktu itu hanya terdapat ketua adat (dukun) yang berpengaruh. Hal ini pula yang mungkin menyebabkan hilangnya identitas masyarakat dan kondisi terancamnya kehidupan spiritual serta pelaksanaan upacara adat pada akhir abad ke-19, seperti diungkapkan oleh Nancy. Baru setelah tahun 1945, masyarakat Tengger berkesempatan mengggali sejarah spiritual mereka secara mendalam.

Berdasarkan kenyataan sejarah tersebut, maka pembinaan cara hidup dengan nilai spiritual yang mereka miliki dan dianut dewasa ini adalah sebagai dasar pembinaannya. Nilai-nilai spiritual zaman. Majapahit perlu digali sebagai dasar pembinaan dalam bidang keagamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa aspek positif yang dapat dipertahankan dan dikembangkan, antara lain sikap toleransi yang kuat untuk hidup berdampingan dengan masyarakat yang berlainan agama. Sikap gotong royong dan rukun yang telah dimiliki digunakan sebagai dasar pembinaan sikap berbangsa yang besar dan bersatu berdasarkan Pancasila sebagai dasar pembinaan kesadaran nasional. Masih banyak lagi nilai dan sikap hidup positif yang sekarang ini dimiliki oleh masyarakat Tengger yang perlu dibina dan dikembangkan sesuai dengan perkembangan zaman modern.

3. Sosial-Budaya Masyarakat Tengger
Dewasa ini Ditinjau dan sudut alam lingkungan masyarakat Tengger yang terdiri dan daerah perbukitan yang terjal, puncak-puncak pegunungan yang cukup tinggi, dan secara fisik masih menunjukkan kesuburan tanahnya, masyarakat Tengger semestmnya terdiri atas kaum petani. Namun sesuai dengan catatan, bahwa penduduk yang dikategorikan sebagai petani penggarap hanya 37,93% dan buruh tani 8,16%, maka sekitar 54% penduduk tengger bukan tergolong petani. Oleh karena itu, perlu ada pemikiran yang bersungguh-sungguh untuk membangun masyarakat Tengger sebagai masyarakat penyangga taman nasional. Untuk pengembangannya diperlukan penyediaan lapangan kerja, dengan mencari berbagai alternatif yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masyarakat, sehingga tidak akan mengganggu kelangsungan hidup taman nasional itu sendiri.

Sebagian besar tanah daerah Tengger yang berbukit dan berjurang terjal saat ini telah dijamah dan dihuni oleh kaum petani untuk usaha pertanian. Hal ini menunjukkan bahwa apabila pertumbuhan penduduk tidak bisa dikendalikan dalam waktu yang relatif singkat, seluruh tanah yang tersedia akan dimanfaatkan untuk pertanian, apabila tidak ada usaha lain yang lebih menguntungkan.

Suatu alternatif telah ditetapkan, yaitu Tengger sebagai daerah penyangga taman nasional, maka perlu dipikirkan kondisi yang bagaimanakah yang tepat bagi masyarakat Tengger, sehingga mampu menciptakan kondisi yang menguntungkan? Jawabannya perlu digali dan kemampuan dan kondisi yang dalam masyarakat Tengger sendiri.

1) Bidang Keagamaan
Hasil penelitian rnenunjukkan bahwa sebelurn tahun 1973, masyarakat Tengger masih menganut kepercayaart yang bersifat tradisional dengan melakukan berbagai upacara, antara lain Kusada, Karo, Entas-entas, Unan-unan, perkawinan, kematian, pendirian rumah, dan sebagainya. Berbagai upacara itu pada hakikatnya adalah untuk memohon keselamatan dunia dan akhirat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keselamatan di dunia termasuk kelangsungan hidup dalam rumah tangga dan perkawinan, bertetangga, menempati rumah, keberhasilan dalam bertani, pembersihan dari dosa, dan sebagainya. Sedangkan keselamatan akhirat berkaitan dengan terbebasnya dari kesengsaraan negara untuk dapat masuk surga atau moksa.

Isi mantra yang diucapkan dalam berbagai upacara adat menunjukkan bahwa pada dasarnya masyarakat Tengger masih kuat dalam melaksanakan ibadah berdasarkan agama Hindu, meskipun pada waktu itu tidak ada pendeta, pedanda resi, ataupun biksu. Upacara-upacara adat dipimpin oleh pada dukun sebagai kepala adat. Meskipun mantra yang diucapkan diawali dengan kata Hong, namun sangat jelas isinya cenderung bersifat agama Hindu. Terlebih-lebih dengan digunakannya Gunung Bromo sebagai arah beribadah, seperti telah diuraikan dalam legenda bahwa Bromo identik dengan pengertian Dewa Brahma yang merupakan manifestasi dari sifat Tuhan sesuai dengan ajaran agama Hindu.

Anggapan bahwa masyarakat Tengger sebelum dibina dan dinyatakan sebagai pemeluk agama Hindu adalah pemeluk Agama buda tidak sepenuhnya salah. Hal ini dikuatkan oleh hasil penelitian Nancy atas mantra yang sering digunakan dalam upacara-upacara. Namun dari hasil penelitian itu pun ditegaskan bahwa pengertian buda bukanlah Budha sebagai agama, melainkan istilah yang biasanya dipakai oleh masyarakat Jawa untuk menyebut agama sebelum Islam. Pada zaman kekuasaan Majapahit diakui adanya dua agama, yaitu Budha dan Hindu. Pada abad ke-14, setelah masuknya Islam, istilah buda digunakan untuk menyebut mereka yang belum menganut agama Islam. Sebagai perbandingan, para pujangga Yogyakarta pada abad yang sama juga menggunakan istilah buda bagi mereka yang masih menganut tradisi lama (Majapahit).

Pada tahun 1973 setelah diadakan pembinaan agama oleh pemerintah, dengan ditetapkannya agama Hindu sebagai dasar pembinaan masyarakat Tengger, maka rakyat Tengger telah terbiasa melaksanakan ibadah agama Hindu Dharma seperti yang dikembangkan di Bali. Sampai saat ini telah dibangun beberapa pura di Kecamatan Tosari dan Kecamatan Sinduro, sedangkan daerah lain masih menggunakan sanggar sebagai tempat beribadah.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa toleransi masyarakat Tengger terhadap pemeluk agama lain cukup tinggi. Mereka tetap mampu mempertahankan tradisi lamanya dalam melaksanakan ibadah, meskipun masyarakat sekitarnya telah memeluk agama lain dan mengubah tradisinya. Sikap hidup berdampingan dengan penganut agama lain dapat dikaji dari sesantinya: geblag lor dan geblag kidul, sebagai pernyataan bahwa masyarakat bagian utara Tengger telah memeluk agama islam, sedangkan sebelum tahun 1973 masyarakat Tengger tetap dengan tradisinya. Atas dasar kenyataan ini, maka pengungkapan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi itu perlu terus dilakukan serta hasilnya dikembangkan sesuai dengan alam modern.

2) Upacara Adat
Upacara adat yang bersifat umum dan besar adalah Kasada, Karo dan Unan-unan. Upacara Kasada dan Karo dilaksanakan setahun sekali, yaitu pada bulan ke-12 dan ke-2 menurut penanggalan Tengger, sedangkan upacara Unan-unan dilaksanakan setiap lima tahun sekali, satu windu tahun wuku.

(1) Upacara Kasada dilakukan di kaki Gunung Bromo di lembah lautan pasir pada bulan ke-12. Setelah berdoa tengah malam, upacara ini diakhiri dengan menyajikan korban ke kawah Gunung Bromo sebagaimana dipesankan oleh leluhurnya, Raden Kusumaputra Rara Anteng dan Jaka Seger. Korban itu berupa buah-buahan dan hasil bumi lainnya demi keselamatan masyarakat dan anak-cucu masyarakat Tengger.

Upacara Kasada, selain untuk persembahan dan penyajian korban di Gunung Bromo, juga digunakan untuk penyumpahan dan pelantikan dukun baru. Di samping itu bisa juga diadakan pelantikan para pejabat pemerintahan atau orang terhormat lainnya yang diangkat oleh masyarakat Tengger sebagai pinisepuh.

Upacara Kasada dianggap sebagai saat yang tepat untuk memamerkan objek wisata Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, karena dapat menarik perhatian orang dari berbagai daerah dan mancanegara untuk berkunjung menyaksikan upacara adat di Tengger. Dengan demikian, sekaligus dapat menunjukkan keindahan Bromo dan alam sekitarnya kepada para pengunjung.

(2) Upacara Karo dilaksanakan di rumah atau juga secara terpusat di kepala Desa/adat. Pada bulan ke-2 atau Karo. Pada upacara ini diutamakan para rakyat saling berkunjung, dan kepala adat perlu mengunjungi setiap rumah tangga para warganya. Pada upacara yang bersifat umum, dimulai dengan tari ujung dan tari sebagai rangkaian upacara, di samping itu dikeluarkan juga jimat klonthong sebagai penyempurnaan upacara
Upacara karo itu dapat pula dimanfaatkan untuk menarik para wisatawan yang ingin mengetahui sifat khas adat Tengger karena upacara ini tidak ditemukan di lain tempat, juga di Bali sebagai pusat agama Hindu Dharma di Indonesia.

(3) Upacara Unan-unan juga bersifat khas. Tujuan utama upacara ini untuk bersih desa dalam arti luas. Pengertian bersih bukan semata-mata bersifat fisik, melainkan lebih bersifat ritual spiritual yaitu suatu permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa, akan keselamatan dan kesejahteraan masyarakat pada umumnya di Tengger. Oleh karena upacara ini juga bersifat masal, maka dapat pula dimanfaatkan untuk memberikan daya tarik di bidang pariwisata. (Catatan secara empirik upacara ini belum diteliti dengan
lengkap).

(4) Upacara-upacara lain bersifat individual, sehingga sedikit kemungkinan untuk dijadikan
objek kepariwisataan. Di samping itu terdapat pula upacara Galungan, yang ada karena
masuknya agama Hindu Dharma Bali.

(3) Mantra
Beberapa mantra yang dibaca setiap upacara tradisional sudah dicatat oleh salah seorang dukun, yaitu Dukun Sujai, dan ditulis dengan huruf Jawa., Namun hingga sekarang masih ada dua mantra besar yang penting masih belum terdokumentasikan, yaitu mantra purwa bhumi dan mandhalagiri. Sebenarnya di Tengger masih terdapat 21 lontar yang disimpan dan dikeramatkan oleh penduduk, yang salah satu di antaranya berisi mantra purwa bhumi. Apakah isinya sama dengan mantra purwa bhumi yang dihafal oleh pewaris, masih belum diketahui.

Di masyarakat Tengger terdapat pewaris mantra yang sampai saat ini masih hafal isi dan ucapan mantra purwa bhumi dan mandhalagiri, yang perlu dilestarikan, apabila daerah Tengger akan digunakan sebagai daerah penyangga taman nasional dan sekaligus sebagai daerah wisata adat atau budaya tradisional.
Dengan mempelajari isi berbagai mantra yang terdapat di daerah Tengger, dapat diketahui isi kejiwaan dan pandangan hidup masyarakat Tengger. Dengan cara demikian akan lebih memudahkan membina can mengem bangka masyarakat Tengger, sehingga mampu hidup di tengah perkembangan dunia yang cepat berubah di alam globalsiasi.

(4) Makna Simbolik Beberapa Alat Upacara
Setiap pelaksanaan upacara disertai dengan berbagai sesajen dan peralatannya. Apabila dikaji lebih mendalam, berbagai sesajen dan peralatan itu secara simbolik mempunyai makna tertentu. Makna simbolik ini akan sangat berguna sebagai alat pendidikan dan pewarisan nilai-nilai kepada masyarakat dan generasi. Sebagai contoh, pada sesajen sering terdapat empat atau lima macam warna makanan, antara lain juadah putih diartikan sebagai Sang Hyang Iswara yang berkedudukan di timur, melambangkan kelahiran ataupun sifat kesucian waktu manusia dilahirkan. Juga diartikan sebagai penglihatan (paninggal). Timur diartikan sebagai ‘permulaan’ atau wiwitan atau wetan (Jw); juadah merah sebagai lambang Sang Hyang Bromo yang berkedudukan di selatan, yang diartikan pula sebagai pendengaran. Demikian pula jenis-jenis makanan dan warna lainnya, semuanya diberi makna simbolik.

Dengan demikian, berlangsungnya setiap upacara adat merupakan kesempatan baik untuk menyampaikan makna yang terkandung dalam setiap alat upacara ataupun sesajen. Apabila arti lambang tersebut sungguh-sungguh dipahami dan dihayati akan berguna bagi manusia untuk membentuk dirinya sendiri.

4. Konsep Tentang Manusia
Seperti halnya masyarakat tradisional lainnya, masyarakat Tengger mempercayai adanya dualisme hubungan antara jiwa dan raga, antara sukma dan badan. Sukma atau roh manusia bersifat langgeng, berasal dan alam baka datang ke dunia fana, dan akan kembali ke alam baka lagi. Di samping itu dipercayai pula bahwa hubungan antara roh dan badan adalah terpisah, seperti hubungan antara burung dengan sangkarnya.

Konsep tentang manusia bagi masyarakat tengger dapat dipelajari dan berbagai sumber antara lain dan mantra kata-kata sesanti, legenda dan tafsir mereka terhadap lambang-lambang tertentu. Beberapa mantra memang hanya dikuasai oleh para dukun atau orang yang dituakan oleh masyarakat Tengger, misalnya mantra purwa bhumi dan mandhalagiri, mantra ini dihafal juga oleh para dukun yang berkedudukan sebagai kepala adat dan jumlahnya sangat terbatas. Mereka adalah orangorang terkemuka yang dipandang berpengaruh dan dapat menerangkan segala sesuatu yang berkenaan dengan konsep hidup. Jadi, mereka berpengaruh atas lingkungannya, sebagai panutan atau sebagai sumber pengetahuan tentang hidup.

Mantra purwa bhumi berisi kejadian alam, termasuk kejadian manusia, yang mengandung ajaran bahwa manusia (Tengger) diwajibkan melaksanakan pemujaan melalui berbagai upacara, antara lain Galungan, Penawangan, Kasada, dan Kepitu, bulan purnama, dan bulan tilem. Apabila pemujaan itu dilakukan, maka manusia akan dibebaskan dan dosa-dosanya. Demikian pula dan beberapa mantra lain dapat dipelajari mengenai ajaran hidup dan konsep tentang manusia.

Dan legenda dengan cerita Aji Saka, dapat dipelajari konsep tentang manusia, terutama dengan penafsirannya terhadap aksara jawaha-na-ca-ra-ka, yang menggambarkan bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Manusia memiliki cipta, rasa dan karsa sebagai alat kejiwaan, sehingga mampu mengembangkan din sebagai pribadi manudiri, yang wajib melaksanakan lima tugas hidup untuk tumbuh menjadi manusia sempurna.
Kelima tugas hidup itu belum begitu jelas, namun bisa dikaitkan dengan panca sradha maupun panca setya, yaitu kepercayaan akan adanya lima hakikat keimanan dan lima kesetiaan dalam melaksanakan hidup di dunia ini.

Di samping penafsiran tersebut, secara harfiah pun aksara Jawa mengandung arti ada (dua orang) utusan, yang saling bertengkar (dan berkelahi), keduanya sama ampuhnya, dan akhirnya mati bersama. Dalam legenda kedua utusan itu dinamakan dora dan sem1da, yang berarti dusta dan konsekuen. Dan rangkaian katakatanya dapat diartikan bahwa pada dasarnya dalam din manusia ada dua sifat yang saling bertentangan, namun keduanya sama pentingnya. Atau dapat pula diartikan adanya dua utusan Tuhan, yang masing-mäsing membawa kebenaran sesuai dengan kondisi atau zamannya. Dalam hal ini masyarakat Tengger dapat memahami adanya agama lain (Islam) yang dipeluk oleh masyarakat tetangganya (dengan istilah geblag lor dan geblog kidul).

Tafsiran terhadap makna ha-naca-ra-ka dapat diartikan sebagai pertentangan kedua utusan yang saling mempertahankan kebenanari masingmasing, atau bahwa keduanya tidak dapat dipisahkan, sama teguhnya dalam memegang perinah, dan sama jayanya dalam memperjuangkan kebenaran, namun hal itu ternyata mengakibatkan kehancuran. Jadi, dalam mempertahankan kebenaran yang penting adalah marmane gun tya binuka thukul ngakasa, yang artinya saling terbuka tumbuh bebas, atau menyempurna.
Sesanti (kata-kata mutiara) yang mereka gunakan juga sangat berperan sebagai acuan sikap hidup. Kenyataan itu adalah tercermin pada lima kawruh buda, yaitu prasaja, prayogya, pranata, prasetya, prayitna, yang bermakna :jujur, bijaksana, patuh pada pimpinan, setia, dan waspada. Di samping itu tercermin pula pada panca setia, yaitu setya budaya, setya wacana, setya semaya, setya laksana, dan setya mitra. Ungkapan itu bermakna orang hidup hendaklah bersikap taat, tekun, mandiri setia pada ucapan (janji), patuh, dan setia kawan. Ajaran tersebut tampak masih melekat pada sikap dan perilaku masyarakat Tengger dalam kehidupan sehari-hari.

Dan konsep tentang manusia dan konsep hidup tersebut, dapatlah diambil hikmahnya untuk pengembangan masyarakat Tengger, antara lain tentang:

(1) penghormatan terhadap orang tua dan nenek moyang; kelanggengan roh manusia yang meskipun telah berada didalam baka, namun tetap harus diusahakan kesucian dan kesempurnaannya; roh-roh nenek moyang dimohonkan ampunan kepada Tuhan Yang Maha Esa, hal ini mengandung nilai penghormatan kepada nenek moyang.
(2) membentuk identitas kepribadian yang utuh dan baik; dalam hidup di dunia ini hendaklah jujur, tidak dibuat-buat, dan ada adariya; bijaksana dalam setiap tindakan; patuh kepada negara dalam arti berkesadaran nasional yang tinggi; loyal dan waspada.
(3) memiliki sikap sosialitas yang tinggi; dalam hubungan sosialnya hendaklah sadar akan kemampuan pribadi, taat dan tekun bekerja; konsekuen dan menepati janji, patuh dan setia kawan.

Di samping berbagai sikap pribadi dan sikap sosial yang pada dasarnya masih dimiliki oleh masyarakat Tengger, masih tampak jelas pula sikap toleransi yang tinggi, gotong royong masyarakat, tekun dan kerja keras, ramah terhadap para pendatang. Berbagai sikap tersebut perlu dioertahankan dan dikembangkan sesuai dengan kemajuan zaman.

5. Kesenian dan Tata Rumah Tangga
Kesenian asli yang berupa seni tan dan seni suara sangat erat dengan pelaksanaan upacara adat. Ada dua macam seni tan yaitu tan ujung dan tan sodoran, yang keduanya diiringi dengan seni karawitan. Kedua seni tan tersebut sangat erat dengan pelaksanaan upacara adat, terutama upacara perayaan Karo. Sebagai contoh, tan sodoran menggambarkan kejaian manusia yang berasal dan purusa dan pradama. Upacara Karo sendiri merupakan perayaan untuk memperingati kejadian manusia dan diharapkan manusia kembali kepada kemurnian dan kesuciannya, yaitu pada zaman satya Yoga, suatu zaman di mana kejujuran’ atau ke-satya-an manusia dijunjung tinggi.

Demikian pula tan ujung dilakukan pada waktu upacara Karo sebagai hiburan, sesudah nyadran dan sebelum mulihe ping pitu. Tari sodoran dilakukan pada pembukaan rangkaian upacara, sedangkan tari ujung dilakukan menjelang akhir rangkaian upacara. Rangkaian upacara diakhiri dengan tarian hiburan yang menunjukkan bahwa persahabatan itu selalu bersatu, suka-duka dirasakan bersama. Dalam tarian itu ditunjukkan teijadinya rasa sakit karena pukulan pada bagian badan tertentu yang boleh dipukul.
Kedua tarian diiringi dengan gamelan karawitan. Irama lagu yang digunakan untuk mengiringi telah ditentukan, yang semuanya mengandung arti simbolik. Jenis alat tabuh (gamelan) mempunyai arti tersendiri, demikian pula irama lagu yang dikumandangkan juga melambangkan sesuatu maksud.

6. Perubahan Nilai
Perubahan nilai tidak terlepas dari pemahaman terhadap arti nilai itu sendiri. Nilai sangat erat hubungannya dengan pandangan manusia terhadap segala sesuatu sebagai objek pengenalnya, serta kaitannya dengan arti dan makna bagi manusia sebagai subjek yang menghendaki objek pengenalan tersebut. Objek yang dikenal oleh subjek adalah sebagai pengetahuan dan subjek terhadap objek tersebut. Pengetahuan tersebut akan bernilai bagi subjek, baik sebagai nilai yang dikehendaki ataupun yang tidak dikehendaki. Secara teoritis arti dan makna pengetahuan dan nilai itu dapat dibedakan, akan tetapi kenyataannya nilai melekat pada diri pengetahuan. Jadi dalam arti luas, pengetahuan itu sebagai nilai, dan nilai itu melekat pada diri pengetahuan.

Pengetahuan datangnya dan objek yang dikenal oleh subjek melalui proses pengenalan, yang merupakan gambaran tentang objek yang dikenalnya. Jadi pengetahuan pada dasarnya bersifat objektif. Pengetahuan akan benar apabila cocok atau sesuai dengan objeknya. Kriteria pengetahuan adalah tentang kebenarannya.

Sebaliknya, nilai adalah harta tentang sesuatu jika dihubungkan dengan kepentingan dan kebutuhan manusia. Jadi nilai itu lebih bersifat subjektif karena keberadaannya bergantung pada pandangan manusia terhadap sesuatu bagi kepentingan dan kebutuhan manusia. Sesuatu adalah bernilai apabila berharga bagi manusia sebagai subjek. Sebagai ukuran tentang nilai adalah baik-buruk, atau dalam arti luas adalah kebaikan. Sesuatu akan dikatakan bernilai positif apabila dikehendaki dan memberikan manfaat dalam arti memberi kebaikan bagi subjek.

Hubungan antara pengetahuan dengan nilai adalah bahwa pengetahuan yang dimiliki subjek merupakan nilai-nilai, baik yang dikehendaki ataupun yang ditolaknya. Diterima atau ditolaknya sesuatu sebagai yang bernilai bagi seseorang sangat bergantung pada pengetahuan dan penilaiannya terhadap sesuatu itu. Atas dasar kenyataan itu, maka jelaslah bahwa antara pengetahuan dan nilai terkait erat, yang secara teoritis dapat dipisahkan dalam memahaminya, akan tetapi secara praktis nilai terletak pada pengetahuan itu sendiri. Hubungan antara keduanya adalah sangat erat dan timbal balik. Pengetahuan timbul karena adanya kemampuan subjek (manusia) untuk mengenal objek, dan nilai itu terjadi karena adanya pengetahuan yang dinilai untuk dimilikinya. Dengan pengetahuan itu subjek dapat mengembangkan diri menjadi seperti sesuatu yang dikehendakinya.

Nilai-nilai ada yang bersifat universal, ada pula yang bersifat partikular. Nilai universal bersifat abstrak umum, sedangkan yang partikular bersifat konkret instrumental. Nilai-nilai instrumental inilah yang dapat berubah sesuai dengan waktu dan kondisi, sedangkan yang abstrak-umum-universal adalah tetap tak berubah. Sebagai contoh nilai keadilan bersifat abstrak-umum-universal, sedangkan bentuk konkretnya yang bersifat instrumental dapat berubah, umpamanya adil diartikan sama rata dan sama rasa. Dalam kenyataan apakah mereka yang bekerja Lebih intensif akan mendapatkan bagian yang sama dengan mereka yang bekerjanya kurang intensif, meskipun dalam kurun waktu yang sama? Apabila keduanya disamakan, apakah itu adil? Permasalahan seperti inilah yang sering menjadi perbedaan pendapat. Dengan kata lain, apabila telah memasuki nilai-nilai instrumental sering terjadi berbagai perbedaan pendapat karena kurang jelasnya kriteria yang digunakan. WHD No. 477 Oktober 2006.

~ Article view : [293]