Karna

Karna adalah salah satu tokoh penting dalam Mahabharata. Ia adalah putra tertua Kunti, sehingga merupakan saudara seibu Pandava dan merupakan yang tertua dari keenam saudara tersebut. Walaupun Duryodhana menunjuknya sebagai raja Anga, perannya dalam kisah Mahabharata jauh melebihi peran seorang raja. Karna bertarung di pihak Kaurava dalam perang di Kurukshetra.

Semasa mudanya, Kunti merawat resi Durvasa selama satu tahun. Sang resi sangat senang dengan pengabdian yang diberikan olehnya sehingga memberikan anugerah untuk memanggil salah satu dari para dewa dan dewa yang dipilihnya tersebut akan memberiknya seorang putra yang mempunyai sifat baik menyamai dewa tersebut. […]~ Article view : [357]

Read More

 0

Anantareja

Raden Hanantareja yang dalam pedalangan cukup dipanggil Anantareja, mempunyai nama lain Wasianantareja, Anantarareja. Ia adalah putra raden Werkudara dengan Dewi nagagini, putri Batara Antaboga, di kahyangan Saptapretala. Antareja kawin dengan Dewi GAnggi, putri Prabu Ganggapranawa raja ular di kerajaan Tawingnarmada. Dari perkawinan ini lahirlah Arya Danurwenda yang kemudian diangkat menjadi patih luar (patih njaba) negara Yawastina pada masa pemerintahan Prabu parikesit.

Antareja berkedudukan di kasatriyan Randuwatang atau juga disebut jangkarbumi. Bersamaan dengan lahirnya Antareja, raja negara jangkarbumi Prabu Nagabaginda menyerang kagyangan Suralaya. Ia meminta Dewi Supreti istri Sanghyang Antaboga untuk dijadikan permaisurinya, namun raja Tribuwana tidak berkenan, namun para dewa tak mampu melawan kesaktian prabu nagabaginda. Akhirnya Batara Antaboga yang ditunjuk supaya mmusnahkan Prabu nagabaginda tadi, Antareja yang masih bayi akhirnya dibawa kakeknya menuju ke medan tempur dan dipertemukan dengan raja Jangkarbumi. Sebelum diadu, bayi Antareja dilumuri air liur Antaboga sehingga menjadi kebal senjata. Bayi Antareja tidak mati melainkan bertambah dewasa. Akhirnya Prabu nagabaginda dapat dibinasakan oleh Antareja, negara Jangkarbumi lalu diserahkan kepada putra Bima tersebut. Prabu Nagabaginda yang tewas itu kemudian menjilma ke tubuh Antareja. […]~ Article view : [300]

Read More

 0

Aswatama Anak Inseminasi Manusia Bidadari

Aswatama anak Resi Dorna yang lahir dari seekor kuda penjelmaan bidadari Wilutama yang sedang menjalani hukuman Dewata. hasil hubungan inseminasi itu membuahkan anak yang urakan, nakal dan tak mengenal mana yang benar mana yang salah. Versi lain mengatakan ia anak Dorna dan Dewi Kerpini putri raja Purung Aji negeri Tempuru.

Sebagai anak Resi kesaktian dan kegagahannya tak mudah dikalahkan lawan. Bersama ayahnya ia bergabung dengan Kurawa hingga tatkala pecah perang Barata ia membantu Kurawa melawan Pandawa.

Suatu waktu terjadi insiden dimana antara dia dengan Prabu Salya raja Mandaraka. Aswatama menuduh Salya telah bekhianat ketika menjadi kusir kereta perang Adipati Karna ketika perang dengan Arjuna. Setiap Karna melepas senjata, Salya selalu mencambuk kudanya hingga kereta bergoyang dan arah panah pun berbelok tidak mengenai sasaran. Tuduhan itu membuat Salya murka dan hampir terjadi baku hantam. Duryudana melerai dan menyalahkan Aswatama hingga si anak resi itu pun ditundung dan angkat kaki tak pernah muncul kembali. Ia baru muncul setelah mengetahui Kurawa telah hampir ludas dan Duryudana sedang sekarat menghadapi ajal. Lebih-lebih setelah mengetahui bahwa ayahnya telah ajal di tangan Drestajumena. Timbul niatnya ingin membalas. Tapi untuk secara terang-terangan berhadapan dengan pandawa ia merasa tak mampu. Jalan satu-satunya mengadakan gerakan di bawah tanah membuat terowongan yang arahnya menuju ke Pesanggrahan Pandawa dan harus dikerjakan di malam hari untuk tidak diketahui pihak Pandawa. Tapi waktu itu bulan sedang gelap. […]~ Article view : [277]

Read More

 0

Sakuni Inspirator Pemecah Belah Kurawa-Pandawa

Nama Sakuni cukup dikenal sebagai seorang pejabat kerajaan Astina. Ia beperan penting membentuk watak dan prilaku kaum Kurawa. Tetapi sifatnya tidak mencerminkan seorang pendidik yang baik. Hatinya buruk, dengki tapi pengecut dan licik, Ia selalu melakukan manuver politik memburuk-burukan nama baik kaum Pandawa dengan tujuan tahta kerajaan tidak jatuh ke tangan Yudhistira melainkan kepada Duryudana keponakannya.

Setelah Prabu pandu wafat, atas keputusan Dewan sesepuh tahta kerajaan Astina untuk sementara dipercayakan kepada Destarata dan harus diserahkan apabila yudhistira telah dewasa. Tetapi di saat itu pula usaha Sakuni semakin meningkat. Berbagai cara di lakukan untuk merubah karakter kaum Kurawa memutar balikan fakta sejarah, bahwa sesungguhnya Kurawalah yang paling berhak atas tahta kerajaan Astina, usahanya berhasil menanamkan perasaan benci terhadap Pandawa. Sejak itu sering terjadi konflik fisik antara kedua golongan yang masih bersaudara itu. […]~ Article view : [240]

Read More

 0

Baladewa

Negara Non Blok tidak hanya terdapat dalam dunia nyata, pewayangan pun memiliki negara semacam itu. Mandura, demikian namanya, dipimpin Prabu Baladewa , putra Basudewa. Istrinya bernama Irawati, putri Salya, berputra Wisata.

Ia profil manusia bangsawan tapi berpola pikir sederhana. Hitam akan dikatakan hitam, putih dikatakan putih tanpa rekayasa. Berpendirian netral, tak mau campur urusan dalam negeri orang lain, tapi juga menolak campur tangan asing atas negerinya. Hidup berdampingan secara damai dan saling menguntungkan.

Sifat temperamental tapi tak berlangsung lama karena hatinya baik. Kelemahannya kurang wiwaha, tak panjang pikiran, hingga mudah dipengaruhi, tapi mudah pula dibawa kejalan yang benar. Artinya, jika telah diketahui bahwa persoalan yang dihadapi akan berakibat buruk, ia segera mundur tak mau ikut campur. […]~ Article view : [290]

Read More

 0

Kresna Dibalik Keadilan Yang Kontraversi

Perang besar Baratayudha telah berlangsung dengan serunya. Tidak sedikit prajurit dari kedua belah pihak yang gugur membela masing-masing pihaknya. Peraturan yang adil tetapi ketat diterapkan berdasarkan persetujuan kedua belah pihak. bertindak sebagai pengatur laku sekaligus hakim perang adalah Kresna yang tidak segan-segan memberi peringatan kepada pelanggar tanpa pilih bulu siapun orangnya dan dari golongan mana.

Dalam perang itu Kresna bertindak seblaku penasehat perang Pandawa setelah melalui referendum. Sebelumnya ia diminta kaum Kurawa untuk menjadu penasehat di pihaknya tetapi sebenarnya akan dimanfaatkan kesaktiannya untuk memukul hancur kaum Pandawa. Tetapi niat licik itu telah terbaca dan Kresna tetapi pada pendiriannya hanya bersedia menjadi penasehat tanpa terilbat secara fisik dalam perang, hinggu akhirnya Kurawa menarik kembali permintaanya. Sebalikany Pandawa lebih tanggap bahwa justru petunjuk itu yang lebih berharga, karena Kresna adalah seorang ahli strategi dan mampu mengantisipasi situasi kritis yang dihadapi sedangkan Kurawa mendapat pakar-pakar perang seperti Bisma, Dorna, diperkuat Prabu Salya yang dapat mendatangkan ribuan bala tentara dengan Aji Chandra Birwayanya. […]~ Article view : [318]

Read More

 0

Kresna Titisan Dewa Wisnu

 

Apabila dalam dunia politik internasional dikenal sebutan “DIPLOMAT”, di dunia pewayangan predikat itu layak disandang oleh seorang tokoh ayng keahliannya setaraf dengan profesi tersebut. Dia adalah Kresna awatara (titisan) Dewa Wisnu pemelihara perdamaian pengendali keadilan dan kesejahteraan umat di Jagat Raya.

Anak Raja Basudewa dari Dewi Mairah itu mempunya keahlian berbicara fasih, taktis, diplomatis, disegani kawan maupun lawan. Kadang-kadang ia menggunakan bahasa sindir yang tajam tapi tidak terasa menusuk hingga orang yang kena sindir tidak menaruh dendam atau marah selain mengakui kebenarannya.

Sebagai diplomat ia berpandangan luas mengenai hubungan dan kepentingan masalah mancanegara, terutama konflik antara Kurawa dan Pandawa mengenai hak pemikikan atas tahta kerajaan Astina yang dituntut kaum Pandawa. Keahlian lain ialah, mengatur taktik strategi perang merusak konsentrasi lawan dan mengantisipasi situasi kritis yang dihadapi. […]~ Article view : [284]

Read More

 0

Luka Hati Seorang Dorna Terbalaskan

Pada umumnya seorang beranggapan dia berwatak buruk perusak perdamaian dan tukang fitnah, tetapi dia seorang resi bergelar Danghyang Dwija Wirpa. Artinya saking lihung derajatnya hampir setingkat dewa. Sikapnya bijaksana, cerdas tetapi rendah diri walau berilmu tinggi. Ia puns eorang sarjana ilmu perang memiliki Sir Weda Danur Weda, yakni kitab ilmu bercinta dan ilmu menggunakan senjata dan strategi perang.

Tubuhnya yang cacat berawal ketika mengunjungi bekas sahabat karibnya Sucitra yang ketika itu telah menjadi raja negara Pancala bernama Drupada. Dahulu ketika keduanya masih menjadi siswa Resi Baratwadya mereka sangat bersahabat, berperibahasa makan sepiring bersama minum semangkuk bersama. Bahkan ketika Sucitra kempali ke negeranya berjanji akan memberikan sebagian tanah negara kepada Dorna. Karena itu harapannya bila nanti bertemu dengan Sucitra, ia pasti akan disambut dengan penuh keramah tamahan sehingga akan merupakan pertemuan nostalgia yang sangat indah mengenang masa lalu. […]~ Article view : [245]

Read More

 0

Dorna yang Sakti Terpancing Provokasi

 

Kekuatan fisik dan keahlian bertanding ditopang dengan kesaktian yang tinggi, belum menjamin sebagai suatu kekuatan yang prima tanpa ditunjang aspek kejiwaan seperti ketenangan, ketahanan mental dan kewaspadaan atin. Maha resi Dorna seorang pakar straegi perang dan ahli menggunakan senjata masih terpancing oleh berita provokasi hingga terpecah konsetrasinya melemah daya juangnya. Ini terjadi dalam perang barata ketika bertarung dengan Pandawa bekas muridnya.

Sebenarnya guru besar ilmu perang itu menaruh simpati yang dalam kepada Pandawa yang selama menjadi mahasiswanya, dinilai baik tingkah lakunya, penurut dan sungguh-sungguh dalam mengamalkan pelajaran yang diberikan. Sebaliknya kaum Kurawa selain tingkah lakunya ugal-ugalan, juga rendah akhlaknya dan kurang memperhatikan pelajaran sehingga dalams egala hal Pandawa di nilai lebih unggul. Keberadaannya di pihak Kurawa adalah rekayasa politik Sakuni untuk memperkuat barisan Kurawa jika timbul perang dengan Pandawa. […]~ Article view : [257]

Read More

 0

Bisma Rela Berkorban Demi Sang Ayah

Ayah mengawinkan anak hal yang biasa. Tetapi anak mengawinkan ayah adalah hal yang aneh, unik dan tak biasa meskipun dapat saja terjadi. Tetapi Bisma mengawinkan ayahnya Santanu kepada Durgandini bukan saja aneh tetapi juga berlatar belakang politis. Masalahnya mas kawin yang diminta oleh Durgandini bukan saja aneh tetapi juga berlatar belakang politis. Masalahnya mas kawin yang diminta oleh Durgandini ada dalam “lubukhati: sang Bisma berupa “Pengorbanan yang tulus dan ikhlas” mau menarik diri sebagai calon raja dan menyerahkan kepada calon keturunan ayahnya dari hasil perkawinan Durgandini. Suatu perhitungan politis yang matang demi tercapainya ambisi kedudukan terhormat yang di rencanakan.

Keikhlasan untuk berkorban itu ditambah lagi dengan pernyataan yang mengejutkan bahwa Bisma tidak akan menikah untuk selama-lamanya. Suatu keputusan yang nekad, sesudah haknya menjadi raja direlakan untuk orang lain, hak hidup yang paling pribadi pun tak ingin diwujudkan. […]~ Article view : [239]

Read More

 0

Salya Membuka Rahasia Kematiannya

 

Waktu muda bernama Narasoma. Ia anak Prabu mandrapati raja Mandaraka. mempunyai adik perempuan bernama Madrim menikah dengan Pandu berputra kembar, Nakula Sadewa. Istrinya bernama Pujawati (Satyawati) putri Begawan raseksa Pinandita di padepokan Arga Belah.

Menjelang berakhirnya Baratayuda raja Salya diangkat menjadi panglima perang Astina. Pengangkatan itu telah menarik perhatian Pandawa mengingat kesaktian raja Mandaraka itu tidak ada tandingannya. ia memiliki aji Candra airawa yang dapat menciptakan ribuan raseksa ganas pemangsa manusia. Konon apabila darahnya menciprat benda, maka benda itu akan menjadi raseksa. Dapat dibayangkan apabila banyak darah bercipratan, akan bermunculan pula raseksa-raseksa lain dan arena peperangan lainnya akan dipenuhi oleh makhluk-makhluk pemangsa itu. […]~ Article view : [241]

Read More

 0

Arimbi, Raseksi yang berubah Menjadi Putri

 

Cinta adalah urusan hati. karena itu tidak mengenal kelas tinggi rendahnya derajat, kaya miskin, suku bahkan yang berlainan bangsa. Bila cinta telah bersemi dalam dua hati sulit untuk dipisahkan. Walaupun demikian bukan berarti tidak ada batas kewajaran ketentuan yang hak dan non hak, baik menurut ketentuan adat istiadat maupun azas peradaban manusia.

Tetapi yang namanya cinta terkadang melanggar peradaban hak azasi seperti makhluk raksesa jatuh cinta kepada bangsa manusia. Tentu saja itu hanya terjadi dalam cerita seperti cerita pewayangan raksesi Arimbi jatuh cinta kepada Bima sebagai simbol manusia. Tetapi itu pun hanya merupakan lambang semata. […]~ Article view : [240]

Read More

 0

Bagaspati Raseksa Pinandita

Baik buruknya kualitas suatu benda umumnya di nilai dari perbedaan buruk. Baik bentuknya baik pula kualitasnya. Buruk bentuknya buruk pula mutunya. Tetapi hukum perbedaan dua unsur itu tidak selalu stabil nilai kualitasnya, ada yang baik bentuknya ternyata buruk kualitasnya, Buruk bentuknya justru baik kualitasnya.

Demikian pula dengan manusia, yang tampan dan cantik parasnya, ‘hati’nya tidak selalu setampan atau secantik parasnya. Baik buruknya kelakuan manusia akan tergantung dari manusianya itu sendiri, tidak selalu tergantung pada wujud lahiriahnya. Kadang-kadang kita sering disilaukan oleh wujud lahiriahnya, padahal belum tentu wujud yang kemilau itu isinya baik. Sifat yang kontroversial selalu menjadi ciri yang alami dalam kehidupan. Peribahasa mengatakan: tempurung berbulu berisi madu. Artinya di luarnya buruk isinya semanis madu. Lahir dan batin tidak selalu memiliki nilai yang seimbang. peribahasa ini cocok bagi Begawan Bagaspati penghuni padepokan Arga Belah. Ia berwujud dan berwajah raseksa tetapi hatinya mulia, baik tutur bahasanya, lemah lembut ramah tamah, sering menolong orang yang sedang kesusahan, memberi obor kepada yang sedang kegelapan, sehingga ia dihormati dan disukai masyarakat di sekitar padepokan itu. […]~ Article view : [268]

Read More

 0

Durgandini

 

Orang-orang memanggilku Durgandini, perempuan berbau amis. Sebutan yang amat merendahkan dan melecehkan sekali. Tapi itulah kenyataan yang terjadi pada diriku. Sejak lahir aku sudah menanggung aib ini.

Meski sebenarnya aku anak seorang raja. Bahkan ayahandaku, Prabu Basuparisara, tak mau menerimaku tinggal di istana. Karena bau amis yang menguar dari tubuhku mengganggu orang-orang sekitar. Kupikir, ini hanya alasan yang dicari-cari. Ayahku tak senang memiliki anak perempuan. Dia lebih senang menerima kehadiran Matsyapati, saudara kembarku, yang kemudian diangkat menjadi raja di kerajaan Wirata.

Sementara aku dikembalikan kepada Dasabala, seorang nelayan miskin yang memeliharaku sejak bayi. Dengan senang hati Dasabala menerimaku dengan penuh kasih sayang. “Sabarlah, anakku yang cantik. Kamu tak perlu bersedih. Nasibmu tak seburuk itu. Percayalah, kelak kamu akan menjadi perempuan yang paling mulia.

Dari rahimmu akan lahir para raja besar!” Aku tahu, bapa Dasabala hanya ingin menghiburku. Bagaimana mungkin perempuan sepertiku bisa menjadi perempuan mulia? Raja mana yang bersedia menikahiku. Para pemuda di kampung saja menjauh bila bertemu denganku. Mereka muntah-muntah bila mencium bau tubuhku yang teramat amis. […]~ Article view : [238]

Read More

 0