Panduan rinkas mebanten [ bab 2 ]

1312

Bab 2 TRI MANGGALANING YADNYA

Persembahan yang baik adalah persembahan yang memiliki kualitas kesucian. Karena dengan kualitas yang suci barulah persembahan bisa menjadi segel suci niskala yang terang cahaya-nya.
Artinya suatu persembahan suci harus memenuhi tiga syarat yang harus suci di dalam pelaksanaannya.

Ketiga syarat itu disebut sebagai kemanunggalan kesucian tri manggalaning yadnya, yaitu :

  1. – Sang Yajamana, yang melaksanakan upacara.
  2. – Sang Widia, yang membuat banten.
  3. – Sang Sadhaka, yang muput upacara.

1. SANG YAJAMANA – sumber bahan harus baik

Sang yajamana artinya yang melaksanakan upacara. Di dalam kegiatan mebanten ini berarti sumber serta bahan canang dan segehan harus baik, agar tujuan luhur persembahan dapat tercapai.
Artinya canang dan segehan harus bersumber dari bahan-bahan atau uang yang tidak melanggar dharma. Bukan hasil dari mencuri, korupsi, pemerasan, pemaksaan, menipu, merampok, berhutang, hasil judi, hasil menjual tanah warisan atau harta warisan, dsb-nya. Karena canang dan segehan yang bersumber dari bahan atau uang yang melanggar dharma, tidak nyambung dan sia-sia.

Getaran energi kesucian-nya sudah tentu tidak ada.

2. SANG WIDIA – proses pembuatan harus baik

Sang widia artinya yang membuat banten. Di dalam kegiatan mebanten ini berarti proses pembuatan canang dan segehan harus suci. Tidak ada pertengkaran, tidak ada gossip-gossip, tidak ada keluhan, dsb-nya.

Ketika membuat canang dan segehan, sebisa mungkin kita harus membuatnya dengan pikiran bersih, disertai ketulusan dan kesabaran. Kalau bisa dengan diam. Atau dengan menyanyi lagu-lagu kidung, kekawin, atau boleh juga sambil mendengar lagu-lagu mantra ala modern. Jangan membuat canang dan segehan sambil bergosip, membicarakan politik, atau omongan aneh-aneh lainnya. Sebab ini akan mempengarungi kualitas getaran energi kesucian-nya.

Kita bisa bandingkan dengan saat banten disiapkan untuk upacara di beberapa parahyangan suci kahyangan jagat. Tempat membuat banten disebut dengan pesucian yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang atau orang yang tidak berkepentingan. Ini erat kaitannya dengan proses pembuatan.

Selain itu dalam pembuatan canang dan segehan hendaknya dengan pemahaman akan tattwa dalam unsur-unsurnya. Janganlah disusun sesuka hati. Mungkin kita terlalu kreatif sehingga sengaja dibuat variasi berlebihan agar kelihatan lebih seni, atau mungkin kita membuatnya ngawur asal-asalan atau dibuat secara berantakan. Kita harus paham bahwa canang dan segehan adalah segel niskala dengan maksud dan tujuan yang sangat jelas, sehingga kita jangan menyimpang dari maksud dan tujuan tersebut.

Juga dalam membuat segehan kita harus selalu mengusahakan pewarnaan nasi dengan pewarna alami. Jangan pernah menggunakan pewarna buatan. Selain itu nasi pada segehan juga harus disusun atau dipadatkan dengan kepalan tangan. Karena kedua hal ini terkait dengan dampak kekuatan kerja dari segehan.

Kalaupun karena padatnya rutinitas kesibukan sehingga canang dan segehan-nya kita hanya bisa membeli yang sudah jadi, di dalam membelinya juga harus dengan pikiran bersih, disertai ketulusan dan kesabaran. Jangan membeli dengan menawar harga. Belilah dengan berapa harga yang dijual. Kalaupun harganya kemahalan kita sebaiknya tetap membeli tanpa menawar harga, karena itu sama dengan kita mengikis karma buruk kita sendiri. Tapi kalau anggaran keuangan kita tidak mencukupi, kita pindah saja beli ke tempat lain yang harganya sesuai dengan anggaran keuangan kita. Tapi jangan mengeluh atau mengomel harganya kemahalan. Ini semuanya bertujuan untuk menjaga kemurnian persembahan kita.

Ketika membuat canang dan segehan, sebisa mungkin kita harus membuatnya dengan pikiran bersih, disertai ketulusan dan kesabaran. Kalau bisa dengan diam. Atau dengan menyanyi lagu-lagu kidung, kekawin, atau boleh juga sambil mendengar lagu-lagu mantra ala modern. Jangan membuat canang dan segehan sambil bergosip, membicarakan politik, atau omongan aneh-aneh lainnya. Sebab ini akan mempengarungi kualitas getaran energi kesucian-nya.

Kita bisa bandingkan dengan saat banten disiapkan untuk upacara di beberapa parahyangan suci kahyangan jagat. Tempat membuat banten disebut dengan pesucian yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang atau orang yang tidak berkepentingan. Ini erat kaitannya dengan proses pembuatan.

Selain itu dalam pembuatan canang dan segehan hendaknya dengan pemahaman akan tattwa dalam unsur-unsurnya. Janganlah disusun sesuka hati. Mungkin kita terlalu kreatif sehingga sengaja dibuat variasi berlebihan agar kelihatan lebih seni, atau mungkin kita membuatnya ngawur asal-asalan atau dibuat secara berantakan. Kita harus paham bahwa canang dan segehan adalah segel niskala dengan maksud dan tujuan yang sangat jelas, sehingga kita jangan menyimpang dari maksud dan tujuan tersebut.

Juga dalam membuat segehan kita harus selalu mengusahakan pewarnaan nasi dengan pewarna alami. Jangan pernah menggunakan pewarna buatan. Selain itu nasi pada segehan juga harus disusun atau dipadatkan dengan kepalan tangan. Karena kedua hal ini terkait dengan dampak kekuatan kerja dari segehan.

Kalaupun karena padatnya rutinitas kesibukan sehingga canang dan segehan-nya kita hanya bisa membeli yang sudah jadi, di dalam membelinya juga harus dengan pikiran bersih, disertai ketulusan dan kesabaran. Jangan membeli dengan menawar harga. Belilah dengan berapa harga yang dijual. Kalaupun harganya kemahalan kita sebaiknya tetap membeli tanpa menawar harga, karena itu sama dengan kita mengikis karma buruk kita sendiri. Tapi kalau anggaran keuangan kita tidak mencukupi, kita pindah saja beli ke tempat lain yang harganya sesuai dengan anggaran keuangan kita. Tapi jangan mengeluh atau mengomel harganya kemahalan. Ini semuanya bertujuan untuk menjaga kemurnian persembahan kita.

Juga setelah membelinya kita jangan mengeluh atau mengomel, misalnya canangnya kurang indah, dsb-nya. Sebab ini juga akan mempengarungi kualitas kemurnian persembahan kita.

3. SANG SADHAKA – proses menghantar harus baik

Sang sadhaka artinya yang muput upacara. Di dalam kegiatan mebanten ini berarti yang menghaturkan canang dan segehan harus dengan sredaning manah [pikiran yang bersih, tulus dan jernih].

Apapun yang terjadi ketika kita menghaturkan persembahan, jangan lupa dilaksanakan dengan hati yang sejuk, teduh dan penuh kesabaran. Jangan marah kalau ada yang tidak mebanten atau terlambat mebanten, pokoknya segala-galanya harus dijalankan dengan hati yang damai. Kalau gara-gara mebanten kita bertengkar atau marah-marah dengan orang di sekitar kita, hal ini sangat mempengaruhi kualitas getaran energi kesucian dari persembahan kita. Sehingga jangan pernah sampai karena mebanten, kita kemudian menjadi menyakiti hati orang lain.
Mebanten harus diawali dengan niat sebagai sebuah bhakti [pelayanan] kepada alam semesta dan semua mahluk dan dijalankan dengan mantra guna mengurangi penderitaan semua mahluk. Pancarkan rasa belas kasih dan dengan niat menyebarkan rasa damai akibat persembahan kita ke semua arah. Sehingga semua mahluk dari bhuta kala, manusia, sampai dewa menerima getaran energi kedamaian kita.

Kemanunggalan kesucian tri manggalaning yadnya inilah yang akan membuat persembahan suci yang kita laksanakan menjadi sempurna.

~ Article view : [1086]