Panduan rinkas mebanten [ bab 6]

2151

Bab 6

TATTWA PADA CANANG DAN SEGEHAN

Leluhur kita di Bali dan Nusantara memiliki pengetahuan spiritual yang sangat tinggi dan luhur. Diajarkan dan dikembangkan selama lebih dari seribu tahun oleh para orang-orang suci seperti Maharsi Markandeya, Mpu Sangkulputih, Mpu Jiwaya, dsb-nya. Kita yang mewarisi wajib untuk memahami dan melanjutkannya dengan baik.

Sebagaimana yang termuat dalam Lontar Yadnya Parakerti, canang dan segehan adalah sebentuk segel niskala yang berfungsi sebagai saluran penghubung dengan kekuatan suci para Ista Dewata, kekuatan alam semesta atau kekuatan lainnya. Canang dan segehan adalah sebuah tehnologi spiritual, yang menampilkan segel-segel suci yang diwujudkan dalam tata letak perpaduan warna, bunga-bunga dan unsur-unsur lainnya dalam persembahan.

Terkait menghaturkan persembahan, tentunya para pembaca saudara se-dharma memiliki bentuk tradisi dan tattwa yang beragam di tempat masing-masing. Juga terdapat berbagai jenis persembahan. Seperti misalnya contoh pada saat rahina kajeng kliwon, selain menghaturkan canang pada setiap palinggih kita juga menghaturkan persembahan banten tipat dampulan di Sanggah Kemulan, Palinggih Taksu dan di Penunggun Karang.

Dalam buku ini akan sedikit dijelaskan mengenai tattwa pada persembahan, yaitu canang dan 3 [tiga] jenis segehan saja. Sebagai bentuk persembahan yang paling mendasar atau inti, dalam upaya kita untuk mengembalikan keseimbangan dan keharmonisan getaran energi yang ada di sekitar kita.

Ini adalah sekilas pengetahuan tambahan untuk memperkaya saja. Para pembaca saudara se-dharma hendaknya menjalankan mebanten sesuai tradisi dan tattwa di tempat masing-masing, sesuai dengan desa, kala, patra. Tapi dengan harapan agar dilaksanakan dengan tetap berlandaskan pengetahuan tentang tattwa.

1. CANANG SEBAGAI SEGEL NISKALA MENGUNDANG KEKUATAN SUCI PARA ISTA DEWATA

Fungsi paling utama dari canang yang kita persembahkan adalah untuk mengundang kekuatan suci para Ista Dewata. Dimana karunia kekuatan suci para Ista Dewata tersebut akan memberikan kebaikan bagi alam sekitar dan semua mahluk.

Canang dalam persembahan Hindu Bali adalah kuantitas terkecil namun inti [artinya memiliki tattwa yang lengkap]. Berikut ini adalah tattwa yang terdapat dalam canang, yaitu :

1. Alas canang berupa ceper, berbentuk segi empat, sebagai segel kekuatan mandala dari persembahan.

2. Ceper berisi porosan [daun sirih dan pamor yang dicampur gambir dan buah pinang, dimasukkan dalam lipatan janur], sebagai segel tiga kekuatan [pikiran, perkataan dan perbuatan] silih asih, tiga kekuatan belas kasih dan kebaikan.

3. Ceper berisi irisan tebu, irisan pisang dan beras [bija], sebagai segel kekuatan aksara suci Ongkara [Omkara].

4. Diatasnya terdapat sampian uras, yang terbuat dari rangkaian janur yang ditata berbentuk bundar yang pada ujung-ujungnya terdiri dari delapan ruas atau helai seperti anak panah. Sampian uras merupakan segel kekuatan pikiran yang melingkar sempurna atau hening, jernih dan tenang-seimbang, ke segala arah.

5. Peletakan posisi bunga pada canang disusun berdasarkan pengider- ideran Panca Dewata, yaitu sebagai berikut ini :

  • –  Bunga berwarna putih diletakkan pada posisi arah timur, sebagai segel mengundang kehadiran Sanghyang Iswara untuk melimpahkan karunia tirtha sanjiwani yang memberikan kesucian sekala dan niskala.
  • –  Bunga berwarna merah diletakkan pada posisi arah selatan, sebagai segel mengundang kehadiran Sanghyang Brahma untuk melimpahkan karunia tirtha kamandalu yang memberikan kekuatan kebijaksanaan dan taksu.
  • –  Bunga berwarna kuning diletakkan pada posisi arah barat, sebagai segel mengundang kehadiran Sanghyang Mahadewa untuk melimpahkan karunia tirtha kundalini yang memberikan kekuatan intuisi dan kemajuan spiritual.
  • –  Bunga berwarna hitam [atau ungu tua] diletakkan pada posisi arah utara, sebagai segel mengundang kehadiran Sanghyang Wishnu untuk melimpahkan karunia tirtha pawitra yang melebur segala bentuk keletehan atau kekotoran sekala dan niskala.
  • –  Kembang rampe [irisan pandan-arum] diletakkan pada posisi di tengah-tengah, sebagai segel mengundang kehadiran Sanghyang Shiwa untuk melimpahkan karunia tirtha maha-amertha yang memberikan kekuatan moksha [pembebasan].
    Sebuah catatan penting untuk diperhatikan, yaitu nanti ketika kita menghaturkan canang sangat penting untuk meletakkan warna-warni bunga pada posisi arah mata angin yang tepat. Supaya sesuai dengan arah mata angin pengider-ideran Panca Dewata. Jangan diletakkan secara sembarangan agar canang sebagai segel suci niskala ini nantinya dapat bekerja secara maksimal.
    Kemudian segel suci niskala ini dihidupkan serta digerakkan dengan kekuatan mantra-mantra suci, tirtha [air suci], dupa dan kekuatan sredaning manah [kemurnian pikiran]. Sehingga turunlah karunia kekuatan suci Ista Dewata, yang memberikan kebaikan bagi alam sekitar dan semua mahluk.

2. SEGEHAN SEBAGAI SEGEL NISKALA MEMBEBASKAN PARA BHUTA DARI KESENGSARAAN
Terdapat berbagai ragam rupa, jenis dan bentuk segehan sesuai dengan arah tujuan upacara dan pembuatannya. Tapi tujuan utamanya tidaklah berbeda, yaitu membahagiakan sarwa bhuta [para mahluk-mahluk alam bawah] dari kesengsaraan yang membebani mereka.

Di dalam buku ini penulis hanya membuat sebuah tattwa panduan dasar mengenai segehan yang paling dasar atau ringkas [inti] saja, yaitu 3 [tiga] jenis segehan. Segehan manca-warna, segehan putih-kuning dan segehan putih-hitam [poleng]. Berikut ini adalah tattwa yang terdapat dalam bentuk-bentuk segehan tersebut, yaitu :

1. Alas segehan berupa ituk-ituk, berbentuk segitiga, sebagai segel kekuatan mandala dari persembahan. Dalam bentuk tradisi dan tattwa lainnya, ada juga menggunakan alas berupa janur, daun pisang, daun dadap, ataupun daun pohon lainnya sebagai alas tatakan. Ini juga sama sebagai segel penanda bahwa persembahan ini adalah berupa suguhan makanan yang ditujukan ke mahluk alam-alam bawah.

2. Ituk-ituk berisi porosan [daun sirih dan pamor yang dicampur gambir dan buah pinang, dimasukkan dalam lipatan janur], sebagai segel tiga kekuatan [pikiran, perkataan dan perbuatan] silih asih, tiga kekuatan belas kasih dan kebaikan.

3. Pada waktu menghaturkan segehan hendaknya didampingi dengan menghaturkan canang. Canang ini berfungsi sebagai segel naungan kekuatan para Ista Dewata. Tapi jika saat menghaturkan segehan tidak didampingi dengan menghaturkan canang, maka selayaknya pada ituk-ituk berisi sedikit bunga. Bunga ini sama berfungsi sebagai segel naungan kekuatan para Ista Dewata.

4. Ituk-ituk berisi garam [sebagai segel kekuatan sattwam], irisan bawang [sebagai segel kekuatan rajas] dan irisan jahe [sebagai segel kekuatan tamas]. Ketiga unsur ini adalah segel penyatuan kekuatan tri guna, sehingga menghasilkan kekuatan suci pembebasan yang melampaui tri guna.

5. Peletakan posisi nasi pada segehan manca-warna disusun berdasarkan pengider-ideran Panca Dewata, yaitu sebagai berikut ini :

– Nasi berwarna putih diletakkan pada posisi arah timur, sebagai segel mengundang kehadiran sarwa bhuta [mahluk-mahluk alam bawah] yang datangnya dari arah timur. Kita berikan mereka hidangan nasi dengan lauk garam, bawang dan jahe, sehingga kesengsaraan yang membebani mereka di-somya-kan, kemudian menghantarkan mereka

kembali ke arah timur dengan suatu upaya mendapatkan naungan dari Sanghyang Iswara.

  • –  Nasi berwarna merah diletakkan pada posisi arah selatan, sebagai segel mengundang kehadiran sarwa bhuta yang datangnya dari arah selatan. Kita berikan mereka hidangan nasi dengan lauk garam, bawang dan jahe, sehingga kesengsaraan yang membebani mereka di-somya-kan, kemudian menghantarkan mereka kembali ke arah selatan dengan suatu upaya mendapatkan naungan dari Sanghyang Brahma.
  • –  Nasi berwarna kuning diletakkan pada posisi arah barat, sebagai segel mengundang kehadiran sarwa bhuta yang datangnya dari arah barat. Kita berikan mereka hidangan nasi dengan lauk garam, bawang dan jahe, sehingga kesengsaraan yang membebani mereka di-somya-kan, kemudian menghantarkan mereka kembali ke arah barat dengan suatu upaya mendapatkan naungan dari Sanghyang Mahadewa.
  • –  Nasi berwarna hitam diletakkan pada posisi arah utara, sebagai segel mengundang kehadiran sarwa bhuta yang datangnya dari arah utara. Kita berikan mereka hidangan nasi dengan lauk garam, bawang dan jahe, sehingga kesengsaraan yang membebani mereka di-somya-kan, kemudian menghantarkan mereka kembali ke arah utara dengan suatu upaya mendapatkan naungan dari Sanghyang Wishnu.
  • –  Nasi berwarna campuran warna putih, merah, kuning dan hitam [brumbun] diletakkan pada posisi arah tengah-tengah, sebagai segel mengundang kehadiran sarwa bhuta yang datangnya dari arah tengah- tengah. Kita berikan mereka hidangan nasi dengan lauk garam, bawang dan jahe, sehingga kesengsaraan yang membebani mereka di- somya-kan, kemudian menghantarkan mereka kembali ke arah tengah- tengah dengan suatu upaya mendapatkan naungan dari Sanghyang Shiwa.
  • mengundang kehadiran para atma [roh-roh] yang masih belum [atau sedang berusaha] mendapatkan jalan naik ke alam-alam suci. Kita berikan mereka hidangan untuk membahagiakan mereka dan kemudian memohonkan naungan sarwa dewata [para Ista Dewata] untuk mereka.

 

6. Peletakan posisi nasi pada segehan putih-kuning disusun berdasarkan pengider-ideran Purusha-Prakerti, yaitu sebagai berikut ini :
Nasi berwarna putih diletakkan pada posisi arah timur dan nasi berwarna kuning diletakkan pada posisi arah barat. Sebagai segel

7. Peletakan posisi nasi pada segehan putih-hitam [poleng] disusun berdasarkan pengider-ideran Rwa Bhinneda, yaitu sebagai berikut ini :

Nasi berwarna putih diletakkan pada posisi arah timur dan nasi berwarna hitam diletakkan pada posisi arah barat. Sebagai segel mengundang kehadiran para atma [roh-roh] pengikut dari Ida Btara Sedahan Karang sebagai pecalang niskala penjaga rumah, agar ikut menjaga keamanan rumah kita. Kita berikan mereka hidangan untuk membahagiakan mereka dan kemudian memohonkan naungan sarwa dewata [para Ista Dewata] untuk mereka.

Sebuah catatan penting untuk diperhatikan, yaitu nanti ketika kita menghaturkan segehan sangat penting untuk meletakkan nasi warna-warni pada posisi arah mata angin yang tepat. Jangan diletakkan secara sembarangan agar segehan sebagai segel niskala ini nantinya dapat bekerja secara maksimal.

Kemudian segel niskala ini dihidupkan serta digerakkan dengan kekuatan mantra-mantra suci, tirtha [air suci], dupa dan kekuatan sredaning manah [kemurnian pikiran]. Sehingga ter-somyakan-lah kesengsaraan sarwa bhuta, yang memberikan kebaikan bagi alam sekitar dan semua mahluk.

3. CANANG DAN SEGEHAN SEBAGAI SEGEL NISKALA UNTUK MENGEMBALIKAN KEHARMONISAN GETARAN ENERGI

Fungsi lain dari canang dan segehan yang kita persembahkan adalah untuk mengembalikan keseimbangan dan keharmonisan getaran energi yang ada di sekitar titik lokasi dimana canang dan segehan tersebut dipersembahkan.

Sebagaimana kita ketahui, kehidupan manusia tentunya penuh dengan dinamika. Pasti ada riak-riak perjalanan kehidupan yang menimbulkan kemarahan, kesedihan, kekecewaan, kebencian, keserakahan, ketidak-puasan, konflik, stress, dsb-nya. Ini semuanya akan menghasilkan dan menyebarkan getaran energi seperti apa yang dipikirkan dan dirasakan manusia. Semakin besar hiruk-pikuk atau pertikaian manusia di suatu tempat, maka semakin besarlah getaran energi yang dihasilkan dan disebarkan. Semakin padat jumlah penduduk di suatu tempat, maka semakin besarlah getaran energi yang dihasilkan dan disebarkan. Ini semua tentu saja menimbulkan kekacauan pola energi di tempat tersebut.

Canang dan segehan menggunakan warna-warni sebagai segel energi, untuk mengembalikan keseimbangan dan keharmonisan getaran energi ke posisi semulanya di titik lokasi tersebut. Ketika kita melakukan persembahan, getaran energi yang muncul dari persembahan akan mengatur dan memposisikan ulang [mengembalikan keharmonisan] getaran energi yang ada di alam.

Pengider-ideran Panca Dewata pada canang dan segehan, bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan dan keharmonisan getaran energi sebagai berikut ini :

Warna putih berfungsi sebagai segel mengembalikan semua getaran energi yang memancarkan warna putih atau getaran energi yang mendekati warna putih, ke posisi semulanya di arah timur.

Warna merah berfungsi sebagai segel mengembalikan semua getaran energi yang memancarkan warna merah atau getaran energi yang mendekati warna merah, ke posisi semulanya di arah selatan.

Warna kuning berfungsi sebagai segel mengembalikan semua getaran energi yang memancarkan warna kuning atau getaran energi yang mendekati warna kuning, ke posisi semulanya di arah barat.

Warna hitam [atau kalau pada canang bisa dipakai warna bunga ungu tua] berfungsi sebagai segel mengembalikan semua getaran energi yang memancarkan warna gelap atau getaran energi yang mendekati warna gelap, ke posisi semulanya di arah utara.

Campuran warna putih, merah, kuning dan hitam [brumbun] berfungsi sebagai segel mempersatukan dan menegakkan kondisi getaran energi yang telah kembali ke posisi semulanya.

Pengider-ideran Purusha-Prakerti pada segehan, bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan dan keharmonisan getaran energi sebagai berikut ini :

Warna putih berfungsi sebagai segel mengembalikan semua getaran energi yang memancarkan energi kesucian, ketenangan dan keheningan di lingkungan rumah kembali seimbang dan harmonis. Sedangkan warna kuning berfungsi sebagai segel mengembalikan semua getaran energi yang memancarkan energi belas kasih dan kebaikan [yang secara karma mendatangkan kemakmuran] di lingkungan rumah kembali seimbang dan harmonis.

Pengider-ideran Rwa Bhinneda pada segehan, bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan dan keharmonisan getaran energi sebagai berikut ini :

Warna putih merupakan simbolik keamanan atau ketenangan, sedangkan warna hitam merupakan simbolik bahaya atau kekacauan. Pengider-ideranRwa Bhinneda ini berfungsi sebagai segel untuk menjembatani antara energi positif dan energi negatif tersebut, sehingga dari penyatuan keduanya muncul energi dinamis yang memancarkan keselarasan dan keharmonisan.

4. CANANG DAN SEGEHAN SEBAGAI RASA HORMAT, SERTA BELAS KASIH DAN KEBAIKAN

Dengan menghaturkan persembahan canang dan segehan, berarti kita sudah melaksanakan jagadhita dharma yang berguna bagi semua mahluk. Ini adalah bentuk rasa hormat kepada semua mahluk, serta belas kasih dan kebaikan. Kita melaksanakan jagadhita dharma yang membangun harmoni kosmik alam semesta di sekeliling kita, yang berguna bagi semua mahluk.

Selain itu, segehan adalah bentuk persembahan kepadasaudara- saudara kita yang berada di bhur loka atau alam bawah. Dalam siklus

samsara, jiwa-jiwa yang berada di alam bawah adalah jiwa-jiwa yang akumulasi karma buruknya banyak. Pahami mereka sebagai mahluk-mahluk menderita dan bukan mahluk jahat. Mereka sangat memerlukan belas kasih dan kebaikan kita. Dan siapa tahu yang kita sebut sarwa bhuta itu, beberapa kelahiran sebelumnya pernah menjadi orang tua kita. Tapi kebetulan karena karena karma buruknya banyak, mereka mengalami kejatuhan dalam siklus samsara.

Berbeda dengan agama-agama tingkat pemula dimana para mahluk- mahluk alam bawah dibenci, diusir-usir dan dimusuhi. Dalam Hindu berbeda, dengan penuh belas kasih kita memberikan mereka persembahan dan mendoakan mereka agar mereka bisa segera terbebaskan.

Brahmaivedam visvam idam varistham
[Sesungguhnya keseluruhan alam semesta manunggal adalah Brahman itu sendiri]

Om Bhur Bwah Swah, alam bawah, alam tengah dan alam atas semuanya adalah Om atau Brahman. Para mahluk-mahluk alam-alam bawah juga adalah bagian dari Brahman. Tapi mereka hanya kurang beruntung, terjerumus ke alam sengsara dan belum menemukan jalan dharma yang membimbing menuju kesadaran sempurna. Sehingga dengan penuh rasa belas kasih kita membantu mereka, memberikan mereka persembahan dan mendoakan mereka agar mereka bisa segera terbebaskan.

Rasa hormat, rasa belas kasih dan kebaikan ke alam semesta beserta seluruh penghuninya [Om Bhur Bwah Swah] sangat utama dan mendasar sebagai ajaran religius terpenting dan praktek religius terpenting. Karena tanpa rasa hormat, rasa belas kasih dan kebaikan kepada semua, semua jalan religius menjadi berbahaya. Dan tanpa rasa hormat, rasa belas kasih dan kebaikan kepada semua, apapun bentuk praktek religius pasti akan menemui kegagalan.

Semua mahluk ingin bahagia dan tidak mau menderita, sehingga dalam kehidupan ini selayaknya kita banyak-banyak menyayangi dan berhenti menyakiti. Menghaturkan segehan diawali dengan niat sebagai bhakti [melayani] kepada semua mahluk dan dijalankan dengan mantra guna mengurangi penderitaan semua mahluk. Pancarkan rasa belas kasih dan

rasa damai akibat persembahan kita ke semua arah. Dan sekaligus kita sedang belajar terhubung secara kosmik dengan semuanya.

Selalu ingatlah, bahwa kepada saudara-saudara kita di alam bawah, kitalah yang harus memberi.Karena kalau kita minta sesuatu kepada saudara-saudara kita di alam bawah, itu analogi-nya seperti kita jadi orang tua yang meminta-minta uang kepada anak kita yang masih SD. Sehingga dalam hal ini hendaknya jangan meminta sesuatu apapun kepada mereka. Termasuk jangan minta agar kita tidak diganggu. Tidak boleh sama sekali.

Ajaran dharma selalu menegaskan bahwa kepada saudara-saudara kita di alam bawah yang benar adalah kita yang memberi. Dasarnya adalah belas kasih dan kebaikan. Sambil menghaturkan segehan, dengan pikiran penuh belas kasih kita doakan para mahluk-mahluk alam bawah itu agar mereka damai dan bahagia, serta agar mereka bisa lahir di alam dewa. Begitu mereka menjadi dewa, dengan kualitas ke-dewa-an tidak mungkin mereka akan mengganggu kita.

5. CANANG DAN SEGEHAN SEBAGAI UNGKAPAN RASA SYUKUR DAN TERIMAKASIH

Segala apa yang kita dapatkan dalam hidup ini, kita kembalikan dalam bentuk persembahan suci. Aktifitas ini bukan tidak ada efeknya. Bagi orang- orang yang mata spiritual-nya sudah terbuka, akan dapat melihat getaran energi kosmik kesucian dan kedamaian di Pulau Bali sungguh luar biasa.

Di Pulau Bali, selama ribuan tahun setiap harinya jutaan persembahan yang dihaturkan. Setiap kali kita mendapatkan sesuatu yang baik, seperti misalnya habis panen di sawah, sembuh dari sakit, naik gaji, anak tamat sekolah, dsb-nya, yang pertama kali dipikirkan adalah berterimakasih dengan menghaturkan persembahan kepada Sanghyang Acintya, para Ista Dewata, para leluhur dan keseluruhan alam semesta. Demikian juga dalam setiap putaran waktu yang sakral [rahinan] kita menghaturkan persembahan.

Keterikatan kepada materi seringkali menghalangi ketulusan kita untuk bersyukur dan berterimakasih kepada alam semesta dan kehidupan. Padahal dengan rasa syukur dan terimakasih, penerimaan kita pada kehidupan mudah sekali muncul. Dengan hati yang bersyukur dan berterimakasih

semuanya menjadi karunia, semuanya menjadi indah. Kehidupan akan berputar tanpa keinginan berlebihan. Sehingga lebih mungkin pikiran kita menjadi hening. Dan kesadaran kita akan mengundang datangnya kesadaran yang terang, baik ke dalam pikiran kita sendiri maupun bagi getaran energi kosmik tempat dimana kita berada.

Semakin dalam rasa syukur dan rasa terimakasih seseorang, semakin indah hidupnya, semakin bercahaya keluarganya, semakin mendamaikan getaran energi yang disebarkan kepada alam semesta dan kehidupan.

semuanya menjadi karunia, semuanya menjadi indah. Kehidupan akan berputar tanpa keinginan berlebihan. Sehingga lebih mungkin pikiran kita menjadi hening. Dan kesadaran kita akan mengundang datangnya kesadaran yang terang, baik ke dalam pikiran kita sendiri maupun bagi getaran energi kosmik tempat dimana kita berada.

Semakin dalam rasa syukur dan rasa terimakasih seseorang, semakin indah hidupnya, semakin bercahaya keluarganya, semakin mendamaikan getaran energi yang disebarkan kepada alam semesta dan kehidupan.

6. CANANG DAN SEGEHAN SEBAGAI AJARAN SUCI YANG TERSEMBUNYI

Di jaman dahulu sarana komunikasi tidaklah semudah sekarang. Tidak ada percetakan yang dalam sekejap bisa mencetak ribuan buku, tidak ada internet, dsb-nya. Apalagi jaman dahulu banyak sekali orang yang buta huruf. Sehingga oleh para leluhur kita yang bijaksana, ajaran suci dharma disembunyikan di dalam banten.

Banten adalah ajaran suci dharma dalam bentuk simbol-simbol yang mona [diam]. Karena simbol-simbol sesungguhnya merupakan ajaran rahasia yang disembunyikan. Tapi seandainya kita cukup memahami sasahaning tukang banten, lalu disaat kita mejejaitan, maka banten itu dengan sendirinya akan banyak menuturkan berbagai ajaran dharma.

Dalam keadaan banyak sekali hambatan untuk meneruskan ajaran suci dharma secara tertulis di jaman dahulu, para leluhur kita yang bijak mengharapkan ajaran dapat ditanamkan ke dalam lubuk hati masyarakat secara motorik atau gerak, yaitu dengan membaca simbol-simbol ajaran suci dharma ketika kita melakukan pembuatan banten.

Selain itu, mebanten juga bertujuan untuk selalu mengingatkan kita

agar memiliki tingkat pengendalian diri yang lebih baik dari biasanya, menumbuhkan rasa belas kasih dan kebaikan, penuh rasa syukur dan

terimakasih, serta selalu terhubung dengan naungan alam-alam suci.

~ Article view : [1466]