Pelangi di Langit Singasari [ 02 ]

461

oleh S.H. Mintardja

[ Seri 02 ]

 

KARENA MAHISA AGNI masih tegak di pintu, berkatalah Ken Dedes, “Apakah kau akan berdiri saja di situ?”

“Oh,” dan Mahisa Agni pun berjalan memasuki ruangan itu. Dilihatnya beberapa endang sedang sibuk membersihkan piring-piring tanah dan mangkuk.

“Kau terlambat makan Kakang. Ayah, para cantrik dan endang, dan aku sudah makan. Ayah mencarimu tadi. Ternyata kau ditemukannya di bilik belakang,” berkata Ken Dedes sambil mempersiapkan makan Agni.

“Aku lelah sekali,” jawab Agni.

Ken Dedes menundukkan wajahnya. Jawaban Agni itu bagi Ken Dedes terdengar seolah-olah berkata, “Aku sangat lelah Ken Dedes, setelah aku berkelahi mempertahankan kau”.

Dan tiba-tiba terdengar Ken Dedes berdesis, “Terima kasih, Kakang.”

Mahisa Agni terkejut mendengar kata-kata itu. Maka ia pun bertanya, “Kenapa terima kasih?”

Ken Dedes tersadar dari angan-angannya. Karena itu ia pun menjadi tersipu-sipu. Sahutnya, “Terima kasih, bahwa kau masih akan memberi aku pekerjaan dengan bekas-bekas makan itu.”

“Oh,” Mahisa Agni pun tersenyum, “maafkan aku.”

Dan Mahisa Agni pun makanlah. Anak muda itu duduk bersila di atas bale-bale bambu, sedang Ken Dedes duduk pula di sampingnya. Dilayaninya Mahisa Agni dengan cermatnya. Tidak bedanya ia melayani ayahnya.

Bagi Mahisa Agni, hal yang demikian itu sudah sering benar dialami. Ken Dedes yang bersikap sebagai seorang adik itu, tahu benar apa yang harus dilakukan untuk ayah dan saudara tuanya. Namun, kali ini terasa sikap itu agak berbeda. Ken Dedes tidak banyak berbicara seperti biasanya. Bahkan kadang-kadang ia tunduk diam dan sekali-sekali dipandanginya titik-titik yang jauh di dalam kegelapan malam.

Dan tiba-tiba terdengar gadis itu bergumam tanpa melepaskan pandangannya yang menghunjam ke gelap malam, “Kakang, Ayah memanggil aku menghadap setelah Kakang selesai makan malam.”

Jantung Mahisa Agni pun berdesir. Gadis itu pun dipanggil pula oleh ayahnya.

“Kalau demikian,” pikir Mahisa Agni, “masalahnya pasti masalah gadis itu. Mungkin akibat sikap Kuda Sempana siang tadi. Agaknya gurunya pun melihat ketidak ikhlasan anak itu. Tetapi mungkin, meskipun terdorong oleh peristiwa pagi tadi, ada juga persoalan-persoalan lain.”

Mahisa Agni menarik nafas panjang.

“Kenapa kau berdesah?” bertanya Ken Dedes.

Mahisa Agni terkejut. Dicobanya tersenyum. Jawabnya, “Aku lupa bahwa aku sudah terlalu kenyang.”

“Bohong!” bantah Ken Dedes.

Sikap manjanya kadang-kadang masih tampak, meskipun ia mencoba bersikap sungguh-sungguh. Dan tiba-tiba saja Ken Dedes kini telah benar-benar menjadi gadis dewasa di dalam tangkapan Mahisa Agni.

Dan tiba-tiba gadis itu memberengut. Katanya, “Kau tidak mengacuhkan aku.”

“Kenapa?” bertanya Agni, “bukankah aku memperhatikan setiap kata-katamu.”

“Tidak,” sahut gadis itu, “aku berbicara dengan sungguh-sungguh. Tetapi mendengar pun kau tidak.”

“Aku mendengar,” jawab Agni.

“Apa yang aku katakan?” ia bertanya.

“Bapa Pendeta memanggil kau menghadap,” Agni mengulangi kata-kata Ken Dedes.

“Kau mendengarnya?” desis Ken Dedes, “kalau demikian kau benar-benar tidak menaruh perhatian.”

“Aku memperhatikan dengan sungguh-sungguh pula,” Agni mencoba membela diri.

“Kau tidak memberikan tanggapan apa-apa. Kau tidak terkejut dan kau tidak bertanya, kenapa aku dipanggil Ayah. Bahkan kau malahan berdesah karena kau makan terlalu kenyang. Mungkin kau baru merenungkan sesuatu sehingga perut kakang sendiri pun Kakang lupakan. Apakah Kakang Agni sedang merenungkan Witri atau Sita yang manis itu?” tuduh Ken Dedes.

“Ah,” bantah Mahisa Agni, “jangan mengada-ada Ken Dedes. Aku mendengar kata-katamu dan aku merenungkannya. Aku sedang berpikir apakah kira-kira sebabnya.”

“Bohong,” Ken Dedes mencibirkan bibirnya.

Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tersenyum melibat putri gurunya yang manja namun bersungguh-sungguh itu.

“Aku benar-benar terlalu kenyang,” Mahisa Agni bergumam, “justru karena aku merenungkan kata-katamu.”

“Bohong. Bohong,” sekali lagi gadis itu mencibirkan bibirnya.

“Sudahlah Ken Dedes. Nanti Bapa Pendeta terlalu lama menunggu. Disangkanya aku terlalu lama makan,” berkata Agni kemudian.

“Bukankah sebenarnya demikian. Kakang makan terlalu lama meskipun Kakang makan terlalu cepat,” jawab Ken Dedes.

Mahisa Agni diam saya. Dipandangnya Ken Dedes itu, yang kemudian berdiri membenahi piring-piring dan mangkuk-mangkuk. Diambilnya kendi dari glodog dan disodorkannya kepada Mahisa Agni.

“Terima kasih Ken Dedes,” sambut Mahisa Agni.

Ken Dedes yang hampir melangkah pergi berhenti memandangi Mahisa Agni, katanya, “Sejak kapan Kakang berterima kasih kepadaku?”

Agni menundukkan wajahnya. Ia tidak menjawab kata-kata itu. Sehingga Ken Dedes pun melangkah pergi. Dengan sudut matanya Mahisa Agni melihat gadis itu. Tidak terlalu tinggi, bulat dan langsing. Pekerjaannya sehari-hari telah membentuk tubuh gadis itu menjadi serasi. Kuat namun tidak terlalu kasar. Dan tiba-tiba Mahisa Agni bergumam di dalam hatinya, “Hem, benar juga kata anak-anak muda. Putri Bapa Pendeta itu bagaikan Bunga di lereng Gunung Kawi. Dan bunga itu kini mulai kembang.”

Mahisa Agni menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan kembali ia tunduk dalam-dalam ketika Ken Dedes datang kepadanya dan kembali duduk di sampingnya.

“Kakang,” gadis itu berkata pula. Kali ini bersungguh-sungguh, “Ayah memanggil aku.”

Mahisa Agni mengangkat wajahnya, katanya, “Kenapa kau dipanggil?”

Tetapi tiba-tiba gadis itu memberengut kembali. Katanya, “Kakang, kau menggodaku sejak tadi.”

“He,” Agni tidak mengerti, “kenapa?”

“Kau tidak bersungguh-sungguh. Kau bertanya karena aku tadi berkata demikian,” Ken Dedes bersungut.

“Ah,” desah Mahisa Agni, “lalu bagaimanakah aku harus bersikap. Ken Dedes, sebenarnyalah aku ingin mengetahui, apakah sebabnya kau dipanggil oleh Bapa Pendeta. Bukankah hal yang demikian itu bukan menjadi kebiasaan?”

Ken Dedes mengangguk. Dan kembali ia bersungguh-sungguh. Katanya, “Aku tak tahu. Mungkin Ayah marah kepadaku.”

“Aku sangka tidak. Sebab kau tidak bersalah. Namun mungkin pula ada hubungannya dengan peristiwa pagi tadi.”

Mahisa Agni diam sebentar, kemudian ia meneruskan perlahan-lahan, “Aku pun dipanggilnya.”

“Oh,” desis Ken Dedes. Tetapi tak ada sepatah kata pun lagi yang melontar dari sela-sela bibirnya yang tipis itu.

Untuk sesaat mereka berdua berdiam diri. Masing-masing sibuk dengan angan-angannya sendiri. Para endang telah hampir selesai dengan pekerjaan mereka. Sehingga kemudian Agni pun berkata, “Ken Dedes, pergilah kau dahulu. Bapa Pendeta sudah lama menunggu.”

“Mungkin,” sahut Ken Dedes, “Baiklah aku pergi dahulu. Kapankah Kakang akan menghadap Ayah?”

“Sebentar lagi aku datang,” jawab Agni

Ken Dedes pun kemudian berdiri. Ketika ia berjalan keluar. Mahisa Agni mengikutnya dengan pandangan matanya. Tanpa sesadarnya ia mengangguk-angguk. Dan tiba-tiba ia terkejut ketika ia mendengar seorang cantrik batuk-batuk di sudut dapur.

“Apa kerjamu di situ?” pertanyaan itu demikian saja meluncur dari mulut Agni.

“Mengisi jambangan,” jawabnya sambil tersenyum.

“Ah,” Mahisa Agni kemudian tidak memedulikan lagi. Segera ia pun berdiri dan dengan langkah panjang-panjang ia pun pergi meninggalkan ruangan itu

Di pringgitan, Empu Purwa duduk di sudut ruangan, di atas tikar pandan yang putih. Dilipatnya kedua tangannya di dadanya, sambil duduk bersandar dinding. Kadang-kadang dikecupnya mangkuk air sere hangat-hangat sambil menggigit gula kelapa. Sedap.

Dengan sabarnya ia menunggu putrinya dan Mahisa Agni datang kepadanya seperti permintaannya. Hal yang demikian hampir tak pernah dilakukan. Ia berbicara dengan kedua anak itu di mana saja mereka bertemu. Di pendapa, di pertamanan, di tepi kolam atau di perjalanan. Namun agaknya kali ini ada sesuatu yang dianggapnya sedemikian pentingnya sehingga ia harus berbicara bersungguh-sungguh.

Ketika kemudian putrinya muncul dari balik pintu, Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Duduklah Ken Dedes, di mana Mahisa Agni? Hampir aku mengantuk menunggumu di sini.”

Ken Dedes adalah gadis yang manja. Ayahnya itu pun suka pula bergurau. Namun kali ini tampaklah wajahnya bersungguh-sungguh. Hening. Namun sepi.

Karena itu, Ken Dedes pun tidak berani bersikap manja seperti sikapnya sehari-hari. Dengan wajah tunduk ia pun segera duduk di muka ayahnya.

“Di mana Agni?” ayahnya bertanya.

“Di dapur Ayah,” jawab Ken Dedes, “baru saya Kakang Agni selesai makan.”

Empu Purwa mengangguk-angguk. “Biarlah kita tunggu,” katanya.

Ken Dedes menjadi semakin berdebar-debar. Apakah persoalan itu penting sekali? Meskipun demikian ia sudah dapat meraba-raba. Pasti ayahnya akan bertanya kepadanya, hubungan apakah yang pernah dilakukan dengan Kuda Sempana. Dan Ayahnya itu akan menjadikan Mahisa Agni sebagai saksi.

Sesaat kemudian Agni pun datang pula. Langsung ia duduk di atas tikar pandan itu. Seperti Ken Dedes, dada anak muda itu pun berdebar-debar pula.

Setelah keduanya duduk beberapa saat, berkatalah Empu Purwa, “Mahisa Agni dan Ken Dedes. Aku sangka kalian menduga-duga di dalam hati, persoalan yang agak bersungguh-sungguh ini. Namun aku rasa kalian telah menemukan jawabannya”

Mahisa Agni menggeleng. Jawabnya, “Belum Bapa. Sewaktu Bapa minta aku datang sampai pada saat ini, tak ada yang dapat aku kira-kirakan.

Empu Purwa tersenyum. Dipandanginya anak gadisnya. Kemudian katanya, “Benarkah begitu Ken Dedes?”

Ken Dedes mengangguk.

Empu Purwa menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku menyesal bahwa peristiwa pagi tadi harus terjadi. Dengan demikian keluarga kita akan menjadi buah percakapan.”

Ken Dedes pun menjadi semakin tunduk. Perkataan ayahnya itu mengingatkannya kepada berbagai perasaannya yang bercampur baur. Malu, sedih, takut dan segala macam, Karena itu, tiba-tiba terasa air matanya mengambang di pelupuk matanya yang masih bendul.

Ketika Empu Purwa melihat anaknya bersedih, cepat-cepat ia meneruskan, “Tetapi itu bukan salahmu, Anakku. Banyak saksi-saksi yang berkata demikian. Dan aku pun tak menyalahkanmu.”

Justru karena kata-kata itu, air mata Ken Dedes menjadi semakin banyak, dan kemudian setetes demi setetes membasahi pangkuannya,

“Jangan menangis,” sambung ayahnya, “aku belum selesai. Bahkan aku belum sampai kepada persoalannya.”

Ketika Empu Purwa diam sejenak maka pringgitan itu menjadi sepi. Di kejauhan terdengar bunyi jangkrik sahut-menyahut dengan siul angkup nangka dihembus angin. Ngelangut.

Nyala lampu di dapur pun telah padam. Tak terdengar lagi suara cantrik dan endang yang lagi bergurau, Padepokan Empu Purwa telah mulai lelap tertidur.

“Ken Dedes,” suara Empu Purwa lirih, namun dalam malam yang sepi itu terdengar jelas kata demi kata, “kalau kau sekali-sekali becermin di belumbang di samping rumah kita ini, kau akan sempat memperhatikan dirimu. Telah hampir dua puluh tahun kau menikmati sinar matahari, Karena itu, sadari anakku, kau telah menginjak masa dewasa.”

Wajah Ken Dedes yang tunduk itu menjadi semakin tunduk. Sebagai searang gadis remaja Ken Dedes sudah merasakan, betapa sesuatu selalu bergolak di dalam dadanya. Banyaklah keinginan- keinginan yang tak dimengertinya sendiri Kadang-kadang timbullah nafsunya untuk selalu menghias diri. Tiba-tiba gadis itu menjadi malu. Apakah ayahnya sering melihatnya becermin di wajah air kolam yang tenang diam itu?

Bahkan pernah gadis itu melempari angsa dengan batu ketika tiba-tiba saja angsa itu menggoyang-goyang permukaan air selagi ia becermin. Apalagi ketika terasa perubahan-perubahan yang terjadi pada wadagnya, ketika tubuhnya mekar seperti bunga yang sedang kembang. Dan sekarang jawaban atau persoalan-persoalan yang tak dimengertinya itu didengarnya dari ayahnya. Ken Dedes sudah dewasa.

“Karena itu, Anakku,” terdengar ayahnya berkata pula, “banyaklah persoalan-persoalan yang akan timbul karenanya, karena kedewasaanmu itu.”

Kembali Empu Purwa berhenti. Ditatapnya wajah anaknya yang tunduk. Orang tua itu ingin mengetahui. apakah yang terasa di hati anak gadisnya.

Ken Dedes diam seperti patung. Hanya sekali-kali terdengar isaknya. Dan sekali-kali pula ia mengusap hidungnya dengan ujung kainnya.

“Tetapi kau jangan cemas anakku,” sambung ayahnya, “persoalan-persoalan yang timbul karena kedewasaanmu adalah persoalan-persoalan yang wajar, yang pasti akan timbul pula pada orang-orang lain. Sebab setiap orang pada dasarnya akan mengalami persoalan yang sama. Setelah ia menjadi dewasa maka akan dilampauinya suatu masa yang penting dalam hidup ini.”

Mahisa Agni pun masih duduk tepekur. Namun terasa seakan-akan jantungnya berdentang-dentang. Orang tua itu berbicara terlalu lambat baginya. Ia ingin Empu Purwa berkata langsung sampai ke ujungnya, untuk mengurangi ketegangan di hatinya. Tetapi agaknya Empu Purwa ingin berhati-hati sehingga kata-katanya tidak akan menyinggung perasaan anaknya.

“Ken Dedes,” berkata orang tua itu, “setelah kau menyadari keadaanmu, maka apa yang terjadi pagi tadi adalah persoalan yang wajar. Hanya bentuknyalah yang berbeda-beda bagi setiap gadis. Ada yang langsung mengalami masa baik, namun ada pula yang pernah melewati kesulitan-kesulitan yang panjang. Bahkan bagi mereka yang tak beruntung, masa ini dilampauinya dengan melangkah bencana. Karena itu anakku. Selagi bencana yang tak dikehendaki itu datang, aku ingin memberi tahukan kepadamu, bahwa sebenarnyalah hal ini pernah terjadi, namun aku belum pernah menyampaikan kepadamu. Sejak beberapa minggu yang lampau telah datang berturut-turut kepadaku beberapa orang dengan upacara yang tak kau mengerti maknanya. Yang pasti, hanya kau sangka upacara-upacara keagamaan biasa. Namun ketahuilah anakku, mereka adalah utusan-utusan yang datang untuk menanyakan, apakah Ken Dedes telah cukup waktunya untuk meninggalkan masa remajanya.”

Ken Dedes berdesir mendengar kata-kata ayahnya itu. Ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa hal itu pernah terjadi. Dan kini ia mengerti, bahwa beberapa anak muda pernah datang melamarnya.

Karena itu maka terasa jantungnya semakin berdebar-debar. Wajahnya tiba-tiba menjadi merah dan Ken Dedes menahan hatinya dengan menggigit bibirnya.

Mahisa Agni menarik nafas panjang-panjang. Belum pernah ia mendengar dari siapa pun bahwa hal itu pernah terjadi. Dan tiba-tiba saja ia ingin benar mengetahui, siapa sajakah yang pernah datang kepada gurunya untuk melamar gadis itu. Tetapi ia tak sampai hati untuk bertanya. Karena itu Mahisa Agni menjadi gelisah,

“Ken Dedes,” berkata Empu Purwa seterusnya, “aku adalah ayahmu. Karena itu aku wenang untuk menolak atau menerima lamaran itu.”

Mahisa Agni menjadi bertambah gelisah. Dan Ken Dedes pun menjadi gelisah pula, sehingga tak disengajanya ia menggeser duduknya.

Tetapi ayahnya meneruskan, “Anakku. Adalah suatu kesulitan bagiku untuk menentukan pilihan dari sekian lamaran-lamaran yang pernah aku terima. Seandainya, ya, seandainya kau dilahirkan sebagai putri seorang raja atau setidak-tidaknya putri seorang akuwu, maka aku dapat mendirikan sayembara untukmu. Sayembara tanding atau sayembara ketangkasan. Tetapi kau tidak lebih dari seorang anak pendeta yang hidup di pedukuhan yang terpencil. Kau tidak lebih dari anak seorang kecil yang miskin. Karena itu anakku, aku tak akan pantas untuk membuat sayembara apa pun.”

Kembali orang tua itu berhenti. Dan kembali ruangan itu dicengkam kesepian. Hanya detak jantung Mahisa Agni dan Ken Dedeslah yang serasa terdengar berdentingan di dalam dada mereka.

Karena itu ketika Empu Purwa meneruskan kata-katanya maka perhatian kedua anak muda itu tercurah seluruhnya kepada setiap kata yang mereka dengar, “Meskipun demikian, Anakku. Masa depanmu adalah di tanganmu. Karena itu, meskipun aku tidak mengadakan sayembara terbuka, aku mengenal satu bentuk sayembara yang dapat aku selenggarakan. Tetapi sudah pasti, aku tidak akan mengumumkannya kepada siapa pun juga, sebab dengan demikian maka akan berteriaklah segenap tetangga kita dengan tawa mereka yang asam. Empu Purwa tidak berpijak di atas buminya, dan merasa dirinya terlalu besar. Karena itu anakku, akan aku selenggarakan sayembara ini dengan diam-diam”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti kata-kata gurunya. Bagaimana mungkin sayembara dapat diselenggarakan dengan diam-diam. Bukankah sayembara itu diselenggarakan untuk diikuti oleh mereka yang mengetahui dan dengan penuh kesadaran akan tujuan sayembara itu. Karena itu maka Mahisa Agni menjadi semakin berminat kepada setiap kata yang akan didengarnya

“Adapun bentuk sayembara itu, Anakku,” Empu Purwa berkata seterusnya, “adalah sayembara pilih.”

“Sayembara pilih?” Mahisa Agni bergumam.

“Sayembara ini,” kata orang tua itu, “sering terjadi pula untuk putri-putri luhur. Sayembara semacam ini biasanya diselenggarakan di tempat-tempat terbuka. Putri yang diperebutkan itu berada di menara, sedang para pengikut berjalan berturut-turut di bawah menara itu. Siapa yang menerima selendang putri itu, ialah yang terpilih dan memenangkan sayembara.”

Malam yang sepi menjadi semakin sepi. Yang terdengar kini adalah angin malam yang lembut membelai daun-daun pepohonan yang sedang tertidur nyenyak. Gemeresik seperti suara orang berbisik-bisik.

Mahisa Agni menarik nafas panjang-panjang. “Adil,” serunya di dalam hati.

Himpitan ketegangan di hati Ken Dedes pun tiba-tiba serasa berguguran. Sejak semula ia mendengarkan kata-kata ayahnya dengan penuh kecemasan. Mula-mula ia menyangka bahwa ayahnya akan menyebut untuknya sebuah nama dari nama-nama mereka yang datang melamarnya. Apabila demikian, Ken Dedes memejamkan matanya. Ia tak tahu, apakah yang terjadi dengan dirinya. Dan tiba-tiba disadarinya bahwa ia pasti akan keberatan seandainya ayahnya menerima baginya siapa pun dari mereka.

Ken Dedes menjadi malu sendiri. Seakan-akan ayahnya dapat membaca setiap perasaan yang bergolak di dalam dadanya. Apalagi ketika ayahnya meneruskan, “Tetapi Ken Dedes. Aku tidak akan dapat menyelenggarakan sayembara pilih yang demikian itu. Aku tidak akan membuat untukmu sebuah menara, dan di bawah menara itu beberapa orang satria berkuda dengan pakaian yang indah-indah lewat berturut-turut dengan penuh harapan untuk menerima kemurahan hatimu. Tidak, Anakku. Yang akan aku selenggarakan adalah sebuah sayembara pilih yang sederhana sekali. Dengarlah baik-baik Ken Dedes. Apabila diperkenankan oleh Yang Maha Agung, maka menilik tata lahir yang kasatmata, engkau masih akan menempuh suatu masa yang panjang. Karena itu masa-masa itu harus kau lewati dengan gairah dan ketenteraman. Maka adalah menjadi kewajibanmu untuk ikut serta menentukannya sendiri masa depan itu, meskipun aku tak akan melepaskan tanganku.”

Empu Purwa berhenti sejenak. Dan Ken Dedes pun menjadi gelisah kembali. Yang terdengar kemudian adalah kata-kata Empu Purwa pula, “Anakku, supaya tak terulang peristiwa yang tidak aku ingini dan tentu saja kalian juga, maka sudah sampai saatnya kini, kau menentukan pilihan.”

Wajah Ken Dedes yang kemerah-merahan menjadi panas. Terasa seluruh bulu-bulu tubuhnya meremang. Kata-kata itu sudah diduganya. Namun ketika diucapkan juga oleh ayahnya, perasaannya tersentuh pula. Untuk sesaat Ken Dedes menjadi bingung. Tak tahu apa yang akan dilakukan. Hanya tiba-tiba saja, tanpa sesadarnya ia mengerling kepada Mahisa Agni. Namun dilihatnya pemuda itu tunduk kaku. Tetapi wajah itu kemudian menengadah ketika terdengar Empu Purwa berkata, “Nah Ken Dedes, dapatkah kini sayembara pilih yang sederhana ini kita mulai?”

Ken Dedes tidak menjawab. Namun desir di jantungnya serasa semakin tajam menggores. Dan ia menjadi semakin gelisah. Nafasnya menjadi semakin cepat mengalir. Tetapi tak sepatah kata pun dapat diucapkan.

Karena Ken Dedes tidak menjawab, maka berkatalah Empu Purwa, “Biarlah kau berapa dalam keadaanmu, seorang gadis yang harus memilih satu di antara beberapa anak muda. Dan biarlah aku menyebut nama-nama itu. Kalau nama itu berkenan di hatimu, Anakku, maka aku harap kau menganggukkan kepalamu, supaya aku segera dapat menjawab kepada orang-orang tua mereka.”

Ken Dedes menjadi bertambah bingung karenanya. Sekali lagi tanpa disadarinya, gadis menatap wajah Mahisa Agni. Namun Mahisa Agni itu telah menundukkan wajahnya kembali.

“Dengarlah nama itu baik-baik, Ken Dedes,” berkata ayahnya, “kalau pada suatu saat kau menganggukkan kepala mu, biarlah Mahisa Agni menjadi saksi.”

Tetapi mulut Ken Dedes terbungkam. Dan ayahnya pun tidak memaksanya untuk menjawab Gadis itu hanya dimintanya menganggukkan kepalanya, apabila telah jatuh pilihannya.

“Yang pertama,” berkata Empu Purwa. Ken Dedes menjadi bertambah bingung. Bahkan Mahisa Agni pun menjadi sangat gelisah.

“Seorang anak muda yang kaya, putra Buyut Tatrampak, Namanya Jumna. Bukankah anak muda itu pernah kau kenal?”

Wajah Ken Dedes masih terpaku pada anyaman tikar pandan tempat duduknya. Dan ia sama sekali tidak menggerakkan kepalanya. Meskipun anak muda itu tampan dan gagah, namun sama sekali tak terlintas di kepala Ken Dedes, bahwa pada suatu saat ia akan hidup bersamanya.

Empu Purwa menarik nafas. Tampaklah kerut keningnya, “Baiklah. Kau tak menghendakinya,” gumamnya, “Sekarang, dengarlah. Orang kedua. Kau pasti telah mengenalnya. Putra, pamanmu Paniat. Saudagar yang terkenal sampai ke daerah Tumapel. Bukankah anak itu kawan bermain Mahisa Agni? Namanya Pandaya.”

Mahisa Agni mengangguk kosong. Setiap nama yang disebut gurunya, serasa sebuah goresan, di dadanya. Dua luka telah menganga. Jumna dan yang kedua, Pandaya. Dengan tegang, Mahisa Agni menatap wajah Ken Dedes yang tepekur. Sesaat ia menunggu, dan Ken Dedes tetap mematung.

Empu Purwa lah yang kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan kemudian disebutnya anak muda yang ketiga, Mahendra, seorang anak muda dari Tumapel, putra sahabat Empu Purwa. Ken Dedes belum pernah mengenal anak muda itu, sehingga nama itu sama sekali tak menarik perhatiannya.

Nama-nama berikutnya adalah Lembu Santan, Jumerut dan Galung Paran. Namun seperti Mahendra, nama-nama itu baru didengarnya kali ini, sehingga dengan demikian, jangankan mengangguk, bahkan Ken Dedes menjadi jemu dan penat oleh ketegangan yang menekannya. Sedang Mahisa Agni pun tak kalah tegangnya. Setiap kali anak muda itu menarik nafas panjang, dan setiap Empu Purwa menyebut nama yang lain, keningnya tampak berkerut.

Empu Purwa tak dapat melepaskan tangkapan perasaan Mahisa Agni, namun ia masih akan menyebut satu nama lagi, katanya, “Ken Dedes, nama ini, adalah nama yang terakhir. Terserah kepada keputusanmu. Bukankah sudah aku katakan, bahwa kini sedang berlangsung sebuah sayembara? Akulah pengganti dari setiap pemuda yang datang berturut-turut di bawah menaramu. Nah, dengarlah nama ini. Putra sahabatku seorang empu yang bijaksana, ahli membuat senjata. Beberapa kali anak muda itu pernah berkunjung kemari bersama ayahnya. Nama anak itu Wajastra. Bukankah anak itu pernah kau kenali?”

“Wajastra?” nama itu diulang oleh Mahisa Agni di dalam hatinya. Nama yang baik dan anak muda itu pun baik pula kepadanya.

Wajastra adalah seorang pendiam. Seperti ayahnya, anak muda itu berminat benar pada pekerjaan ayahnya. Dengan tekun ia pun ikut pula membantu dan bahkan dengan pesatnya ia maju dalam bidangnya.

Ken Dedes telah mengenal anak muda itu dengan baik, seperti Mahisa Agni mengenalnya.

Mendengar nama itu Mahisa Agni menjadi tegang. Dan tiba-tiba kecemasan menjalar di dadanya. Ia sadar kini, bahwa ia mencemaskan Ken Dedes. Diam-diam ia berdoa, mudah-mudahan Ken Dedes kali ini pun tidak menganggukkan kepalanya.

Sesaat ruangan itu menjadi kaku dan tegang. Mahisa Agni memandang wajah Ken Dedes dengan tajamnya, seakan-akan kedua tangannya akan terjulur dan menahan kepala itu supaya tidak bergerak. Sedang Empu Purwa masih duduk sambil melipat tangannya. Orang tua itu pun memandangi putrinya dengan baik.

Tetapi kali ini pun nama itu tidak dapat menggerakkan hati Ken Dedes. Karena itulah maka kepalanya pun tidak bergerak pula. Meskipun Empu Purwa menunggunya beberapa saat. Namun Ken Dedes itu sama sekali tidak mengangguk.

Empu Purwa menarik nafas dalam-dalam. Dan terdengarlah ia berkata, “Anakku, sayembara pilih itu kini sudah selesai. Namun tak seorang pun yang dapat memenangkan sayembara ini. Karena itu, anakku, masalah ini, masalahmu, masih belum dapat dipecahkan. Aku tidak tahu, apa yang tersimpan di dalam dadamu. Namun demikian, adalah menjadi harapanku, apabila Ken Dedes segera menentukan pilihan. Nah, kalau demikian, biarlah aku menunggu beberapa lama lagi, tetapi tidak terlalu lama. Mudah-mudahan sepanjang waktu itu,aku akan mendengar, bahwa salah seorang anak muda akan dapat menggerakkan hatimu.”

Ken Dedes menundukkan wajahnya dalam-dalam. Ia tahu benar, betapa ayahnya mencemaskan nasibnya. Apabila masalahnya itu akan berkepanjangan, maka orang tuanya pasti akan bersedih. Tetapi, di dalam hatinya Ken Dedes merasa, betapa besar kesempatan yang telah diberikan oleh ayahnya itu kepadanya, sehingga ia diberi kesempatan untuk mengemukakan pendiriannya. Tidak seperti beberapa orang ayah yang lain, yang dengan serta-merta menentukan jodoh anaknya tanpa setahu anak itu sendiri. Karena itu, betapa besar rasa terima kasih itu menggores di hatinya, sehingga tiba-tiba terasa bahwa memang sudah seharusnya ia membantu ayahnya segera. Tetapi sebagai seorang gadis, Ken Dedes tidak dapat berbuat banyak.

Sebenarnyalah, di dalam dada Ken Dedes telah terukir sebuah nama. Nama yang telah dikenalnya baik-baik, yang telah disebutnya beratus, bahkan beribu kali. Tetapi alangkah kecewanya, ketika ayahnya menyebutkan sekian nama yang telah melamarnya, namun nama itu tak tersebutkan. Karena itu,maka tak sebuah nama pun yang menarik minatnya. Ia menunggu nama yang telah tersimpan di hatinya. Namun ia menunggu sampai nama yang terakhir. Dan ia masih harus menunggu lagi.

“Sampai kapan?” desahnya di dalam hati. Ken Dedes pun kemudian menjadi cemas. Kalau anak muda itu tidak segera datang kepada ayahnya, maka jangan-jangan ayahnya akan kehabisan kesabaran. Dan dipaksanya ia memilih satu di antara mereka. Dan di antara mereka itu tak ada nama yang diharapkannya.

Sebagai seorang gadis, adalah tidak mungkin baginya, untuk meminta ayahnya justru datang kepada pemuda itu. Memintanya untuk menjadi menantunya. Dengan demikian tidak saja ayahnya akan mendapat aib, namun dirinya pun demikian.

Ken Dedes masih menundukkan wajahnya, Bahkan kini tubuhnya seakan-akan menjadi kejang. Tak berani ia menggerakkan, meskipun hanya ujung jarinya. Dan gadis itu tidak berani pula mengerling lagi kepada Mahisa Agni.

Mahisa Agni pun kemudian menekurkan kepalanya, Namun terasa kini dadanya telah menjadi lapang kembali. Kini ia tidak akan dapat mengingkari dirinya sendiri. Selama ini ia telah dicengkam oleh ketakutan. Sebagai seorang laki-laki, Agni tidak pernah merasa ngeri menghadapi setiap persoalan. Namun tiba-tiba ia merasa ngeri mendengar beberapa nama disebut oleh gurunya.

Akhirnya Mahisa Agni sampai pada suatu kesimpulan, meskipun selama ini ia telah mencoba untuk menyembunyikannya. Ken Dedes baginya, bukanlah sekedar putri gurunya, atau gadis yang menganggapnya seorang kakak saja. Lebih daripada itu.

Tetapi apakah yang dapat dilakukan? Kini ia sudah tidak berayah dan tidak beribu. Tak ada orang yang dapat dimintanya untuk datang kepada gurunya dengan upacara, sebagai lazimnya. Tak ada orang yang akan menempelkan namanya pada deretan nama-nama yang pada suatu saat akan disebut oleh gurunya, seperti nama-nama anak-anak muda yang lain. Jumna, Pandaya, Mahendra dan sebagainya. Dan tiba-tiba Mahisa Agni mengeluh di dalam hatinya. Tak pernah hal yang demikian itu dipikirkannya dahulu. Sepeninggal ayah dan ibunya, Agni telah mencoba melupakannya dan meletakkan dirinya dengan tawakal dalam asuhan Empu Purwa yang menerimanya sebagai seorang murid. Tetapi kini, tiba-tiba timbullah suatu persoalan. Persoalan yang rumit baginya.

Empu Purwa melihat kedua anak muda yang duduk, di hadapannya itu. Agaknya perasaan mereka selama ini menjadi tegang dan penat. Karena itu katanya, “Nah, Ken Dedes. Keperluanku hari ini telah selesai. Namun persoalannya yang belum selesai. Ingatlah bahwa banyak persoalan yang dapat terjadi. Susul menyusul. Karena itu jangan menunggu sehingga persoalan-persoalan itu menjadi bertambah banyak dan rumit. Sekarang kalian berdua, beristirahatlah.”

Ken Dedes mengangguk. Izin itulah yang ditunggu-tunggunya setelah sekian lama ia harus menahan hati. Perlahan-lahan ia bangkit, dan kemudian ditinggalkannya ruangan yang serasa menyesakkan nafasnya itu.

Mahisa Agni pun kemudian mohon diri. Ingin ia duduk di halaman di belakang untuk melapangkan dadanya.

Empu Purwa melibat anak muda itu berjalan keluar pintu dengan langkah yang pasti dan tenang. Langkah seorang laki-laki yang menyimpan berbagai ilmu di dalam dirinya. Ilmu yang bermanfaat bagi tubuh dan jiwanya.

Sejak hari itu, para cantrik dan endang dari padepokan Empu Purwa melihat beberapa perubahan dalam tata pergaulan di dalam padepokan mereka. Meskipun Empu Purwa sendiri tidak pernah mengubah sikapnya kepada siapa pun juga. Namun Ken Dedes dan Mahisa Agni tidak demikian.

Tak seorang pun dari para cantrik dan endang yang mengetahui, apakah sebabnya. Namun yang mereka lihat, Ken Dedes tiba-tiba saja telah berganti sikap. Meskipun sifat kemanjaannya belum lagi dapat ditinggalkannya, tetapi ia tidak lagi bersifat terlalu kekanak-kanakan. Bahkan gadis itu menjadi lebih banyak tinggal di dalam biliknya dan mengurung diri. Yang aneh bagi para pemomongnya, putri Empu Purwa itu kadang-kadang menjadi bersedih tanpa sebab. Malahan gadis itu kadang-kadang menangis di tengah malam.

Empu Purwa pun melihat perubahan itu. Namun tak pernah ia bertanya. Sebab orang tua itu tahu pasti, mengapa anaknya menjadi demikian.

Sedang Mahisa Agni pun kemudian menjadi perenung. Anak muda yang rajin itu, kini, apabila pekerjaannya telah selesai, lebih senang duduk seorang diri di halaman belakang, atau di tepi kolam. Hanya kadang-kadang saja, Agni masih memerlukan pergi kepada sahabatnya, putra Buyut Panawijen, Wiraprana. Tetapi Wiraprana sendiri tak pernah memperhatikan perubahan itu. Karena itu, setelah tubuhnya kuat kembali, maka diulangnya kebiasaannya dahulu. Hampir setiap hari ia berkunjung ke rumah Empu Purwa. Bermain-main dengan Mahisa Agni. Maka apabila anak itu datang, Mahisa Agni terpaksa menerimanya seperti biasa. Bermain seperti biasa dan bekerja di sawah bersama seperti biasa. Ke bendungan dan mengairi sawah di malam hari. Tetapi apabila anak itu pergi, kembali Mahisa Agni menyepikan dirinya. Namun dengan demikian, anak muda itu menjadi semakin tekun dengan ilmunya. Lahir maupun batin.

Tetapi, akhirnya Agni sadar, bahwa perasaan yang bergelut di dalam dirinya, bahwa keadaan yang dialaminya itu, tak akan dapat selesai dengan sendirinya. Kegelisahan dan keadaan yang tak menentu itu harus segera diakhiri. Namun bagaimana mengakhirinya.

Itulah sebabnya Mahisa Agni semakin bertambah murung. Terasa jarak yang menabiri antara dirinya dan Ken Dedes menjadi bertambah luas. Gadis itu kini jarang benar dapat ditemuinya. Hanya kadang-kadang ia melihat dari mata gadis itu sebuah ucapan yang tak dimengertinya. Namun benar-benar terasa di dalam hatinya, Ken Dedes ingin mengucapkan sesuatu kepadanya. Dan karena itu Mahisa Agni menjadi semakin gelisah.

Di saat-saat yang sepi, selalu datang kembali ingatan tentang ayah bundanya yang hampir tak dapat diingatnya lagi. Meskipun kepergian orang tuanya itu telah diikhlaskannya, namun dalam kesempitan keadaan seperti keadaannya kini, Mahisa Agni berulang kali menyebut namanya. Tetapi anak itu sadar, bahwa ayah dan bundanya itu, sudah tidak akan dapat berbuat sesuatu untuknya.

Ketika langit bersih, dan bulan mengapung di udara, Mahisa Agni mencoba mencari ketenangan di luar biliknya. Seperti biasa anak muda itu duduk di atas batu hitam di sudut pertamanan. Dalam malam yang sepi, di taburan warna cahaya bulan yang kekuning-kuningan, dipandangnya malam yang suram dengan hati yang suram. Bunga-bunga yang beraneka warna. Daun-daun dan batang-batang perdu yang ditanamnya berpetak-petak. Namun semuanya tak menyegarkan hatinya. Yang tampil di hatinya, adalah kegelisahan dan kecemasan.

Tetapi Agni itu tiba-tiba mengangkat wajahnya. Bulan yang kuning itu seakan-akan menjadi cerah seperti hatinya. Perlahan-lahan bibirnya tergerak. Agni tersenyum sendiri. Ia puas dengan penemuannya. Di dalam hatinya yang sepi itu, tiba-tiba saja tampil sebuah nama yang hampir dilupakannya. Pamannya. Bukankah pamannya itu dapat dimintanya untuk mengganti ayah bundanya?”

“Empu Gandring,” desisnya, “kenapa aku melupakan paman itu?”

Sekali lagi Mahisa Agni tersenyum. Seakan-akan jalan yang terbentang di hadapannya adalah sebuah jalan yang lurus dan licin. Direka-rekanya di dalam angan-angannya, besok atau lusa ia akan mohon izin dari gurunya untuk menengok pamannya di Lulumbang. Dan dua hari kemudian ia akan kembali beserta pamannya. Tidak berdua saja, tetapi dengan beberapa orang membawa sebuah upacara. Pamannya akan melamar Ken Dedes untuknya.

Tetapi tiba-tiba pula, kecemasannya tumbuh kembali. Apakah gurunya akan mengizinkannya untuk berbuat demikian. Bukankah Empu Purwa telah menganggapnya sebagai anak sendiri, sebagai saudara tua Ken Dedes.

“Alangkah malangnya nasib ini, apabila terjadi demikian,” gumamnya. Namun ia masih mencoba menghibur diri, “Bukankah aku berhak ikut serta dalam sayembara pilih itu,” bisiknya kepada diri sendiri.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba di matanya, bunga-bunga di pertamanannya itu menjadi bertambah asri. Bunga kaca piring di tengah-tengah pertamanan itu menebarkan bau yang harum tajam. Terasa di bahu Agni yang telanjang, angin menyapu kulitnya perlahan-lahan. Sejuk.

Dalam kesejukan angan-angan yang penuh harapan itu, Mahisa Agni kemudian berdiri dan berjalan perlahan-lahan mengambil serulingnya di amben bambu di teritisan. Dengan tenangnya anak muda itu duduk bersandar dinding dan kedua tangannya melekat pada lubang-lubang serulingnya. Dengan hati yang lapang, Mahisa Agni melekatkan seruling itu di bibirnya. Maka mengalunlah lagu yang sejuk merdu. Lagu yang menggambarkan gairah cinta manusia. Cinta yang luhur dan suci, seperti cinta Ratih dan Kama. Demikianlah nada kasih itu membakar jiwa Agni dan malam itu pun dihangatkannya dengan kesyahduan lagunya.

Beberapa orang cantrik menjadi terbangun karenanya. Mereka seakan-akan mendengar bunyi gamelan lokananta di atas langit yang dibunyikan oleh dewa-dewa. Sedang para endang yang mendengar lagu itu, tersenyum-senyum di antara kesadaran dan mimpinya. Didengarnya lagu yang syahdu itu lewat telinganya, namun dilihatnya di dalam mimpinya Arjuna sedang tersenyum kepadanya. Dan ketika mereka terbangun oleh gigitan nyamuk, maka mereka menjadi kecewa. Namun lagu yang merdu itu masih didengarnya.

“Siapa?” bisik salah seorang dari mereka.

“Mahisa Agni. Siapa lagi?” jawab yang lain. Namun serentak mereka memandang warana yang memagari ruangan itu dengan pintu bilik Ken Dedes.

Endang itu pun kemudian saling berpandangan. Terdengar salah seorang berbisik, “Alangkah bahagianya Ken Dedes mendengar lagu itu.”

Para endang itu pun tertawa lirih.

Dan lagu itu masih menyusup lewat lubang-lubang dinding, membuaikan mereka yang terkantuk-kantuk. Para endang itu pun kemudian kembali menguap dan tertidur dengan senyum di bibir mereka. Dan kembali pula mereka bermimpi indah.

Di belakang pintu bilik di sebelah warana itu Ken Dedes mendengar pula lagu yang hening namun penuh gairah atas masa depan yang gemilang. Gadis itu pun segera mengetahuinya bahwa yang meniup seruling itu adalah Mahisa Agni. Dan karena lagu itu pula hatinya bergetaran.

“Kenapa lagu itu?” desahnya di dalam hati, “apakah Kakang Agni tahu, apa yang tersimpan di dalam dadaku?”

Gadis itu pun kemudian berangan-angan di antara oleh kesyahduan lagu Mahisa Agni. Sebagai seorang gadis, maka Ken Dedes pun merindukan kasih dan kebahagiaan di masa depan. Diangan-angankannya suatu masa yang mesra dalam perjalanan hidupnya.

Namun sebagai seorang gadis yang tahu akan harga dirinya, maka gairah yang membakar dadanya itu pun disimpannya di dalam hati. Tetapi sejak ayahnya memanggilnya bersama Agni, sejak ayahnya menyebut beberapa nama untuknya, maka api yang menyala di dalam dadanya itu menjadi semakin berkobar-kobar. Berbagai perasaan telah bergulat di dalam dirinya. Takut, cemas namun tak dapat ia berbuat banyak. Ingin ia berlari-lari kepada ayahnya, dan dengan manjanya memeluk pinggangnya sambil berkata, “Ayah, aku telah jatuh cinta kepada seorang anak muda. Tolong Ayah katakan kepadanya, supaya ia segera datang melamar.”

“Tidak. Tidak,” desisnya.

Ia dapat berbuat demikian, apabila gadis itu ingin sehelai kain tenun yang baru, atau subang bermata berlian. Dan ayahnya selalu akan berkata, “Jangan ribut Ken Dedes. Besok biarlah ayah belikan.”

Dan kalau ayahnya tidak mampu untuk membelinya ayahnya selalu menghiburnya, “Mintalah yang lain anakku, mintalah yang ayah mampu mengadakannya.”

Tetapi tidak demikian dengan seorang kekasih. Mungkin seorang pemuda dapat berbuat demikian. Tetapi tidak bagi seorang gadis.

Apabila kemudian para endang tertidur dengan nyamannya, maka sebaliknya dengan Ken Dedes. Lagu itu telah menggelitik hatinya, sehingga bahkan ia bertambah gelisah. Ketika di luar biliknya, telah menjadi sepi, maka Ken Dedes justru bangkit dari pembaringannya. Perlahan-lahan ia menjengukkan kepalanya dan memanggil lirih, “Endang.”

Tak ada jawaban. Dicobanya sekali lagi, namun sepi

“Mereka telah tertidur,” desis Ken Dedes.

Gadis yang gelisah itu, dengan hati-hati melangkah di antara para endang yang tertidur nyenyak. Perlahan-lahan sekali supaya mereka tidak terbangun. Ken Dedes sendiri tidak tahu, mengapa ia bangun dan ke mana ia akan pergi. Tetapi ketika telah dilangkahinya tlundak pintu terasa perasaannya makin gelisah.

Ken Dedes berjalan selangkah demi selangkah, menyusuri jalan- jalan sempit di halaman. Angin yang silir, mengalir lembut dan bermain-main dengan rambutnya yang terurai di punggungnya.

Tanpa sesadarnya, Ken Dedes berjalan ke arah suara lagu yang beralun di antara daun-daun perdu pertamanan. Dan tiba-tiba saja gadis itu terkejut ketika suara lagu itu terhenti.

Mahisa Agni melihat Ken Dedes datang ke arahnya. Karena itu pemuda itu menjadi berdebar-debar. Tak disangkanya, bahwa di malam yang telah lama lelap itu, Ken Dedes akan datang menghampirinya. Karena itu, maka anak muda itu menjadi gugup, dan hilanglah nada-nada lagunya dari kepalanya, sehingga akhirnya ia berhenti.

Langkah Ken Dedes pun terhenti pula. Gadis itu pun kemudian melihat Mahisa Agni duduk di teritisan. Sesaat ia menjadi bimbang. Tetapi gadis itu tidak melangkah kembali. Bahkan dihampirinya Mahisa Agni.

Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Perasaan yang belum pernah terjadi padanya. Ken Dedes telah bertahun-tahun tinggal sehalaman dengan anak muda itu. Setiap hari mereka bertemu, bercakap, bergurau. Tak pernah Agni berdebar karenanya. Tetapi kali ini perasaannya menjadi lain.

Mahisa Agni masih berdiam diri ketika Ken Dedes kemudian duduk di sampingnya, di amben bambu itu.

Sesaat mereka saling membisu. Hanya nafas Mahisa Agnilah yang terdengar berkejaran. Sehingga ia tak dapat lagi menyapa putri gurunya.

Ken Dedeslah yang mula-mula berkata. Namun suaranya benar-benar telah mencerminkan kedewasaannya, “Lagumu indah, Kakang,” katanya.

Agni berdesir mendengar pujian itu. Pujian yang jauh lebih merdu dari suara serulingnya. jawabnya terbata-bata, “Tidak Ken Dedes. Aku tidak pandai meniup seruling.”

“Lagumu bercerita tentang kesyahduan cinta,” berkata gadis itu pula.

“Aku tak tahu,” jawab Agni, “demikian saja aku meniup seruling itu. Dan apakah yang terpancar daripadanya?”

“Cinta dan gairah bagi masa depan,” sahut Ken Dedes.

Mahisa Agni tidak menjawab. Dan untuk sesaat Ken Dedes pun berdiam diri. Namun tiba-tiba di dalam dada gadis itu pun tumbuh sebuah persoalan. Persoalan yang lama terpendam di dalam dadanya. Beberapa waktu yang lalu, putri itu pun telah mengambil keputusan untuk mengatakan persoalannya kepada Mahisa Agni. Namun ia menjadi ragu-ragu. Apakah hal itu tidak akan menodai namanya. Tetapi ia tidak akan dapat membiarkan persoalan itu semakin berlarut-larut. Dan selalu terngiang kembali kata-kata ayahnya, ‘Jangan terlalu lama anakku’.

Gadis itu pun kemudian menjadi gelisah. Terdorong oleh keinginannya untuk mengungkapkan perasaan yang menghimpit dadanya. Namun kemudian yang terloncat dari bibirnya, “Kakang, tiuplah serulingmu kembali.”

“Tidak, Ken Dedes,” jawab Mahisa Agni.

“Kenapa?” bertanya gadis itu.

Agni menggeleng. “Tak tahu,” desisnya.

Kembali mereka membisu. Angin yang lembut membelai mahkota dan daun-daun bunga.

“Kakang…,” terdengar kemudian suara Ken Dedes lirih tertahan.

Agni tidak menjawab, tetapi hatinya berdesir.

Ken Dedes tidak segera meneruskan kata-katanya. Matanya yang suram jauh memandang puncak-puncak pepohonan yang bergoyang-goyang disentuh angin. Dan malam pun bertambah malam.

Gelora yang melanda dada Ken Dedes menjadi semakin dahsyat. Akhirnya meledak juga kata-katanya, “Kakang, bukankah kau telah mendegar sendiri, apa yang dikatakan Ayah kepadaku?”

Mahisa Agni mengangguk. Dan terasa tangannya bergetar.

“Bagaimanakah menurut pertimbanganmu, Kakang?” bertanya gadis itu.

Mahisa Agni tidak segera dapat menjawab. Bahkan terasa keringat dinginnya mengalir dari segenap lubang-lubang kulitnya. Sehingga karena anak muda itu diam saja, Ken Dedes mendesaknya, “Apakah pertimbanganmu Kakang?”

Mahisa Agni menjadi gugup. Namun dicobanya juga untuk me-nenangkan detak jantungnya. Bahkan kemudian Agni dapat juga menjawab dengan suara bergetar, “Sebagian terbesar adalah tergantung padamu sendiri Ken Dedes.”

Seandainya jawaban Mahisa Agni itu diucapkan beberapa hari yang lalu, serta dalam persoalan yang berbeda, Ken Dedes pasti akan mencubitnya dan berteriak dengan manjanya, “Buat apa aku bertanya kepadamu, kepada kakakku, apabila persoalannya akan diserahkan kembali kepadaku?”

Tetapi kali ini Ken Dedes bersikap lain. Dengan sayunya gadis itu menundukkan wajahnya.

“Ya,” desisnya, “sebagian terbesar adalah tergantung kepadaku.”

Tetapi gadis itu bergumam pula, “Tetapi tidakkah ada orang lain yang dapat menolongku?”

Mahisa Agni mendengar kata-kata itu. Ingin ia menjawab. Bahkan ingin ia berteriak sambil menepuk dada, “Aku Ken Dedes, aku yang akan menolongmu.”

Namun kata-kata itu terhenti, tersangkut di kerongkongan. Dan yang terdengar oleh Ken Dedes adalah, “Adakah orang lain yang dapat menolongmu?”

Ken Dedes mengangkat wajahnya. Dipandangnya wajah Agni yang gelisah. Jawaban Agni sama sekali tak memberinya keyakinan. Dan sekali lagi wajah Ken Dedes terkulai lemah. Terasa matanya menjadi panas, dan tak disadarinya mata itu pun menjadi basah.

“Kau sama sekali tidak menjawab pertanyaanku Kakang,” desah Ken Dedes perlahan-lahan, “Malahan kau menjadikan aku bertambah bingung.”

Tetapi Mahisa Agnilah yang lebih dahulu bertambah bingung. Dalam kebingungannya itu, ia mencoba memperbaiki kesalahannya. Dan tanpa terkendali ia berkata, “Ya. Ya, Ken Dedes. Aku akan mencoba menolongmu.”

Sekali lagi Ken Dedes memandang wajah Mahisa Agni. Dan tiba-tiba matanya yang redup menjadi sedikit menyala. Katanya, “Benarkah Kakang akan menolong aku?”

Mahisa Agni mengangguk, tetapi dadanya bergetar.

Ken Dedes menarik nafas dalam sekali, Katanya perlahan-lahan sekali, “Aku tidak tahu, apakah Kakang Agni dapat merasakan perbedaan perasaan antara seorang anak muda dan seorang gadis. Namun yang aku rasakan Kakang, alangkah rumitnya perjalanan hidup ini.”

Ken Dedes berhenti sejenak, kemudian meneruskan, “Aku tidak mengeluh

karena aku seorang gadis. Bahkan menurut Ayah aku harus berbangga, bahwa yang Maha Agung mempercayakan kepadaku jenisku untuk menurunkan, membesarkan dan mengasuh angkatan yang bakal datang Tetapi….”

Suara Ken Dedes terputus Dan kembali lehernya terasa tersekat.

Mahisa Agni menjadi semakin bingung. Ketika Ken Dedes kemudian terisak, maka dengan gelisahnya Mahisa Agni berdiri dan berjalan hilir mudik. Ingin ia menghibur gadis itu, namun ia tidak tahu bagaimana melakukannya. Sebab tiba-tiba saja gadis itu seakan-akan menjadi orang asing baginya.

“Kakang,” desah Ken Dedes, “aku takut kalau peristiwa di belumbang itu akan terulang kembali, seperti Ayah pun takut pula. Apalagi kalau pada suatu ketika, tak seorang pun yang melihat peristiwa semacam itu. Apakah akan jadinya. Karena itu Kakang, aku tak akan dapat menghindari permintaan Ayah.”

Mahisa Agni berhenti sesaat dan tegak seperti tonggak di hadapan Ken Dedes. Namun mulutnya masih terkunci.

“Tetapi Kakang,” Ken Dedes masih berkata terus, “di hadapan Ayah, aku tak dapat berbuat sesuatu. Aku hanya dapat mendengarkan Ayah menyebut nama demi nama. Tetapi aku tak dapat mengucapkan sebuah nama pun. Tidak. Aku tidak dapat Kakang….”

Tangis Ken Dedes semakin menjadi-jadi. Dan Mahisa Agni pun menjadi semakin bingung. Sekali-kali ia memandang dengan gelisahnya di antara daun-daun pertamanannya. Ia takut kalau ada seseorang yang melihat mereka.

Akhirnya tangis Ken Dedes itu mereda sendiri. Patah-patah gadis itu meneruskan, “Kakang, sekarang aku mencoba datang kepadamu. Aku menyangka bahwa aku akan dapat mengatakan sesuatu.”

Dada Mahisa Agni pun kemudian menjadi sesak, seperti terhimpit. Dengan sekuat tenaga ia mencoba menguasai perasaannya yang bergolak, sehingga setelah ia berjuang mati-matian, maka dapatlah ia mengucapkan kata-kata, “Berkatalah Ken Dedes.”

Ken Dedeslah yang kemudian menjadi gelisah. Kalimat demi kalimat telah disusunnya. Namun kalimat-kalimat itu seakan-akan tersangkut di dalam dadanya. Sehingga tak sepatah kata pun yang dapat diucapkan.

Malam pun menjadi semakin tetap. Sehelai demi sehelai awan hanyut di wajah bulan yang kuning. Seperti buih di lautan yang biru bersih.

“Tetapi, “terdengar suara Ken Dedes di antara isaknya, “bukankah kau mau menolong aku, Kakang?”

Sekali lagi Ken Dedes ingin meyakinkan.

Dan sekali lagi Mahisa Agni mengangguk dan terloncat jawabannya singkat, “Tentu.”

Tetapi Agni terkejut ketika tangis Ken Dedes kembali meledak. Dengan kedua telapak tangannya gadis itu menutup mulutnya seakan-akan takut apabila kata-katanya akan berloncatan keluar.

Karena itu kembali Mahisa Agni mematung. Tetapi dengan penuh harapan ia menanti. Namun tak sepatah kata pun yang didengarnya. Bahkan Agni menjadi sangat terkejut ketika tiba-tiba saja Ken Dedes berdiri, dan dengan tergesa-gesa ia berlari kembali ke biliknya.

Mahisa Agni masih berdiri tegak di tempatnya Hanya satu kali terdengar ia memanggil, “Ken Dedes.”

Ketika Ken Dedes tidak berhenti, Mahisa Agni tidak meng-ulanginya. Ia takut kalau-kalau ada orang lain yang mendengar panggilannya. Karena itu dengan gelisah dan cemas dipandangnya gadis putri gurunya itu lenyap di sudut rumah.

Ketika Ken Dedes sudah tidak tampak lagi, Mahisa Agni mengusap dadanya. Dilepasnya sebuah tarikan nafas yang panjang sekali. Tetapi ia kecewa. Dari Ken Dedes, ia belum mendengar apapun tentang dirinya.

Sesaat kemudian, setelah gelora di dadanya mereda, Mahisa Agni duduk kembali di amben bambu di teritisan. Bahkan kemudian ia menyesal, kenapa bukan ia sendiri yang mengatakannya kepada gadis itu.

“Kenapa aku harus menunggu?” pikirnya. Mahisa Agni menggeleng. “Mulutku pun terkunci.” desahnya.

Mahisa Agni kemudian menjadi gelisah sendiri. Ia menjadi iri hati, kepada pemuda yang terbuka hatinya. Dalam kesempitan yang demikian pasti tidak perlu lagi berteka-teki. Tetapi Mahisa Agni, bukanlah pemuda yang demikian. Sejak ayahnya meninggal, maka ia lebih banyak menyimpan perasaan daripada menyatakannya. Kepada siapa pun juga. Demikian pula dalam persoalan ini.

Anak muda itu mencoba menghibur hatinya dengan serulingnya. Tetapi ia tidak mampu lagi meniupnya. Karena itu, kembali serulingnya diletakkannya. Dan tanpa dikehendakinya, ia berdiri dan berjalan mondar-mandir di pertamanan itu.

Bulan di langit mengapung dengan tenangnya. Mahisa Agni me-ngerutkan keningnya ketika dilihatnya sebuah lingkaran putih di sekeliling bulan itu.

“Bulan berkalang,” gumamnya. Dan dilihatnya sebuah bintang yang menyala dengan terangnya pada lingkaran itu. Tidak di dalam, tetapi tidak pula di luar. Namun hati Mahisa Agni sama sekali tidak tertarik pada bulan, lingkaran dan bintang yang menyala pada lingkaran itu. Karena itu ia berjalan terus sambil menunduk, menyusuri jalan-jalan kerikil di halaman rumah itu

Di dalam biliknya, Ken Dedes menjatuhkan dirinya di pembaringannya. Ditelungkupkannya wajahnya di antara kedua tangannya yang terlipat. Bagaimanapun juga ia bertahan, namun tangisnya meloncat juga. Ketika ia menahannya, maka terdengar isaknya menjadi semakin keras.

“Nini,” didengarnya suara lirih di depan pintunya.

Cepat-cepat Ken Dedes mengusap matanya. Dan dicobanya menjawab perlahan-lahan, “Tinggalkan aku sendiri.”

“Nini,” terdengar kembali, “bolehkah aku masuk?”

“Pergi,” jawabnya, “aku akan tidur.”

“Tidak,” katanya pula, “kau tidak akan tidur. Kenapa kau menangis?”

Ken Dedes tidak menjawab lagi. Dan dibiarkannya orang itu masuk. Ken Dedes mengenal orang itu seperti ia mengenal dirinya sendiri. Seorang perempuan tua yang mengasuhnya sejak kecil. Apalagi setelah ibunya meninggal .Perempuan itu mengasuhnya melampaui anak sendiri.

“Kenapa kau bersedih, Nini,” terdengar suara perempuan tua itu sambil duduk bersimpuh di samping amben Ken Dedes.

Tangis Ken Dedes menjadi semakin deras betapapun ia me-nahannya. Dan terdengar di antara isaknya, “Tidak apa-apa, Bibi.”

“Jangan berbohong,” sahut orang tua itu, yang seakan-akan turut serta menghayati kepedihan hati gadis itu, “aku mengenalmu sejak kau kanak-kanak. Aku mengenal tabiatmu seperti aku melihat matahari. Karena itu, jangan bersembunyi di balik lidi sehelai. Anakku, aku dapat menduga sebagian besar dari kedudukanmu.”

Sedikit demi sedikit tangis Ken Dedes mereda. Seakan-akan orang tua itu dapat menjadi kawan berbagi duka. Perlahan-lahan diangkatnya wajahnya. Dan di antara isaknya ia berkata, “Kau tahu bibi?”

“Ya,” sahut pengasuhnya itu, “setiap gadis remaja akan mengalaminya. Aku sudah mendengar apa yang dikatakan Empu kepadamu dan Angger Mahisa Agni.”

Ken Dedes terkejut. Dengan serta-merta ia bertanya, “Dari manakah kau mendengarnya?”

“Ayahmu berkata kepadaku, embanmu yang tua ini,” sahut perempuan itu.

“Ayah?” bertanya Ken Dedes.

“Ya. Tetapi Ayahmu pun menjadi gelisah, karena tak seorang pun yang kau kehendaki,” jawab pengasuh itu, “Tetapi jangan kau sangka, bahwa kami orang-orang tua ini tidak dapat meraba hati gadisnya.”

“Oh,” Ken Dedes menarik nafas, “apakah yang diketahuinya?”

Orang tua itu diam untuk sesaat. Ditatapnya gadis itu dengan pandangan lembut. Tangannya yang telah dipenuhi oleh garis-garis umur itu kemudian dengan mesranya membelai rambut momongannya. “Jangan menangis anakku,” bisiknya.

Hati Ken Dedes menjadi berdebar-debar karenanya. Apakah yang diketahui tentang dirinya oleh pengasuh dan ayahnya. Dengan penuh pertanyaan ditatapnya wajah orang tua itu. Namun untuk sesaat mereka masih berdiam diri.

Di luar angin masih bermain-main dengan daun-daun talas dan kelopak-kelopak bunga. Dengan tak disengaja, Mahisa Agni, lewat melintas di samping bilik Ken Dedes. Ketika ia mendengar isak gadis itu, ia berhenti. Dan didengarnya kemudian Ken Dedes bercakap-cakap. Anak muda itu tak kuasa untuk mencegah keinginannya, mendengarkan percakapan dibalik dinding bilik itu Karena itu, dengan hati-hati sekali ia melekatkan kepalanya dan mencoba menangkap setiap kata-kata yang menggetarkan udara malam yang sepi.

“Nini,” terdengar pengasuh tua itu berkata dengan hati-hati, “jangan berahasia kepadaku seperti aku juga tidak berahasia kepadamu. Ketahuilah Nini, bahwa Empu Purwa pernah bertanya kepadaku tentang dirimu. Disangkanya aku mengetahui seluruhnya, apa yang tersimpan di hatimu. Karena itu anakku, untuk kepentinganmu, berkatalah kepadaku.”

Ken Dedes tidak segera menjawab pertanyaan pengasuhnya itu. Hanya isaknya sajalah yang terdengar memecah sepi malam. yang terdengar kemudian adalah suara pemomongnya, “Tak ada orang tua ingin melihat anaknya menderita di hari tuanya. Karena itu, orang tua yang baik, pasti akan mendengarkan tangis anaknya. Nah tangismu pasti akan didengarnya. Empu Purwa tidak akan marah apabila kau minta kepadanya apapun yang ia dapat memberinya. juga kesempatan untuk menentukan hari depanmu. Namun jangan dibiarkan kami, orang-orang tua ini meraba-raba. Berilah kami penjelasan. Apakah yang kau tunggu, dan siapakah anak muda itu?”

Dengan susah payah Mahisa Agni mencoba menguasai pernafasannya yang mendesak. Seperti orang yang tertarik oleh sebuah pesona yang tak dapat disingkiri, anak muda itu menjadi kaku tegang melekat dinding.

“Bibi,” jawab Ken Dedes, “apakah Ayah tidak akan marah kepadaku?”

“Tidak Ngger, tidak,” sahut orang tua itu, “Ayahmu telah mengatakan kepadaku, bahwa kau akan mendapat kesempatan untuk memilih sisihanmu itu. Meskipun kami dapat menduganya, namun kau sendirilah yang harus mengucapkannya. Dan Ayahmu pasti akan menunggu, pada saatnya orang-orang yang dianggapnya dapat mewakili anak muda itu, pasti akan datang kepada Ayahmu.”

“Bibi, anak itu bukanlah anak yang terbuka hatinya. Tetapi sinar matanya serta tutur katanya apabila kami bercakap-cakap telah meyakinkan aku, bahwa pada suatu saat jalan hidup kami akan bertemu.”

Ken Dedes berhenti sesaat, dan nafas Mahisa Agni serasa akan berhenti juga.

“Ya, ya Nini,” sela pengasuhnya itu.

“Aku telah mencoba mengatakannya kepada Kakang Agni, namun mulutku seperti terkunci,” Ken Dedes meneruskan.

Pengasuhnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian menarik nafas dalam-dalam.

“Bibi,” berkata Ken Dedes pula, namun suaranya menjadi serak dan seakan-akan sedemikian pepat dadanya, sehingga kata-katanya itu menjadi terpotong-potong, “aku ingin berkata kepada anak itu, supaya segera dipenuhinya adat dan tata cara.”

Ken Dedes berhenti sesaat untuk menelan ludahnya.

“Ya, Nini,” potong emban tua itu, “namun kau belum menyebut namanya.”

Ken Dedes menatap langsung ke dalam mata orang tua yang bening itu. Dan tiba-tiba ia yakin bahwa orang tua itu benar-benar akan menolongnya. Maka katanya, “Namanya Wiraprana.”

“Oh,” orang tua itu terkejut seperti disengat lebah biru. Tanpa disengaja kedua tangannya menutup mulutnya yang berteriak lirih itu, “Adakah kau menyebut nama Angger Wiraprana?”

Ken Dedes mengangguk. Dan orang tua itu pun kemudian tepekur.

Di luar dinding, Mahisa Agni mendengar percakapan itu. Pada saat Ken Dedes mengucapkan nama itu, terasa seakan-akan di malam yang terang itu, Mahisa Agni mendengar suara petir meledak di kepalanya. Betapa ia terkejut mendegarnya, Wiraprana. Wiraprana.

Tubuh Mahisa Agni menggigil seperti orang kedinginan. Dadanya terbakar oleh suatu perasaan yang aneh. Seperti belanga yang terbanting di atas batu, maka hatinya pecah re muk berkeping-keping. Hampir ia tidak percaya pada pendengarannya. Apakah yang didengarnya benar-benar nama Wiraprana?

Di luar diniding Mahisa Agni mendengar percakapan itu. Pada saat Ken Dedes mengucapkan nama itu, …..

Dari dalam bilik Ken Dedes itu kemudian masih terdengar Ken Dedes menyebut namanya. Namanya sendiri.

“Emban,” berkata Ken Dedes, “tak ada orang lain yang dapat menyampaikannya kepada Kakang Wiraprana selain Kakang Mahisa Agni. Kakang Agni adalah sahabat yang paling dekat daripadanya. Kakang Agni akan dapat mendesaknya untuk segera melangsungkan tata cara adat itu. Sehingga kemudian nama Kakang Wiraprana pasti akan disebut oleh Ayah, apabila pada suatu kali aku dipanggilnya kembali.”

“Oh,” orang tua itu mengeluh. Tetapi ia menahan gejolak perasaannya. Nama itu benar-benar tak disangka-sangkanya.

Mahisa Agni pun menggigit bibirnya sehingga berdarah. Terdengar giginya kemudian gemeretak. Ia mencoba menguasai keseimbangan perasaannya. “Persetan!” umpatnya di dalam hati, “Terkutuk kau, Wiraprana!”

Mahisa Agni itu pun kemudian tidak tahan lagi untuk tetap berdiri di tempatnya. Dengan berjingkat ia berjalan tergesa-gesa ke biliknya sendiri. Dengan serta-merta dibantingnya tubuhnya di atas pembaringannya, sehingga terdengar amben itu berderak-derak. Tetapi Mahisa Agni tidak dapat terbaring tenang. Tubuhnya masih menggigil dan perasaannya menggigil pula. Tak disangkanya bahwa pada suatu saat Wiraprana akan memotong hari depan yang diidamkannya. Apakah ia akan berdiam diri?

“Kenapa aku turut campur pada saat Kuda Sempana sedang bertempur dengan anak itu?” gumamnya. “Biarlah ia mati, supaya tak ada orang yang melintang, di hadapanku,” Ia melanjutkan. Bahkan kemudian timbul pula pikirannya, “Aku adalah Mahisa Agni. Apakah aku tak akan mampu bersaing dengan anak muda itu? Biarlah besok aku datang kepadanya. Kita adalah laki-laki jantan. Aku tantang ia bertempur buat menentukan masa depan.”

“Tidak besok pagi. Sekarang!” geramnya dengan kemarahan yang meluap-luap.

Dan Mahisa Agni itu pun segera meloncat dari pembaringannya. Dengan gerakan yang cepat ia melambung di udara dan kemudian tegak di atas kedua kakinya. Cepat ia membenahi pakaiannya. Ikat pinggangnya dan kainnya ditariknya ke belakang. Mahisa Agni kini siap untuk bertempur. Dengan satu loncatan panjang anak muda itu meraih pusakanya. Bukan sekedar senjata untuk berlatih. Tetapi sebuah keris peninggalan ayahnya, buatan pamannya, seorang Empu yang sakti. Empu Gandring.

Dengan cepat anak muda itu meloncati tlundak pintunya, dan kemudian berlari menghambur di antara batang-batang perdu di pertamanannya.

“Kubunuh Wiraprana dan aku larikan Ken Dedes,” Mahisa Agni menggeram di sepanjang jalan, “Kuda Sempana berani berbuat demikian. Mengapa aku tidak. Aku tak perlu perlindungan dari istana Tumapel. Akan aku bawa Ken Dedes ke Lulumbang. Apakah pamanku itu tidak dapat melindungi aku seandainya Empu Purwa marah. Pamanku adalah empu sakti pula.”

Mahisa Agni berlari semakin kencang Ditelusurinya jalan desanya yang setiap hari selalu dilewatinya. Berpuluh bahkan beratus kali. Setiap kali ia mengunjungi Wiraprana dan pulang dari rumah anak itu, jalan ini pula yang selalu dilaluinya. Tetapi terasa jalan itu, kali ini bertambah panjang.

Mahisa Agni hampir tak sabar dengan langkahnya sendiri. Ia berlari dengan langkah yang panjang-panjang.

Waktu yang diperlukan untuk mencapai rumah Buyut Panawijen itu tidak selalu lama. Hanya beberapa saat ia telah berdiri di muka regol halaman Buyut Panawijen. Dilihatnya regol itu tertutup, meskipun ia tahu pasti bahwa regol itu tidak terkunci. Kalau ia mendorongnya sedikit, regol itu pasti terbuka.

Tetapi halaman itu begitu sepi.

Mahisa Agni ragu sejenak. Meskipun gelora di dadanya serasa tak dapat dihambatnya lagi namun ia masih sempat membuat perhitungan-perhitungan. Kalau ia masuk ke halaman, dan memaksa bertemu dengan Wiraprana, maka Buyut Panawijen itu pun akan terbangun. Dengan demikian, maka akibat yang akan timbul mempunyai banyak kemungkinan. Mungkin ia harus bertempur melawan mereka berdua, Wiraprana dan Buyut Panawijen. Meskipun kedua orang itu sama sekali tak berarti bagi Mahisa Agni, namun peristiwa itu pasti akan menimbulkan keonaran. Kalau Empu Purwa kelak mengetahuinya maka segala rencananya akan gagal. Orang tua itu pasti akan menjaga anaknya baik-baik. Dan apakah ia masih akan diperbolehkan tinggal di padepokan itu?

Dengan susah payah Mahisa Agni menyabarkan dirinya. Gumamnya, “Biarlah aku tunggu sampai besok. Aku ajak anak itu ke bendungan. Di sana dapat kita buat perhitungan.”

Mahisa Agni menggeram penuh kemarahan. Sekali lagi ditatapnya rumah yang senyap itu. Dan sekali lagi ia mengancam, “Awas kau Wiraprana!”

Kemudian tanpa disadarinya Mahisa Agni berkata seperti yang pernah didengarnya dari Kuda Sempana, “Wanita sama harganya dengan curiga. Taruhannya adalah nyawa.”

Kemudian Mahisa Agni itu pun melangkah pergi, dengan menyimpan bara di dalam dadanya. Betapapun juga, dada itu serasa akan meledak. Karena itu, Mahisa Agni berjalan dengan tanpa tujuan. Kakinya yang kokoh itu menyepak apa saja yang dijumpainya. Batu, kayu, bahkan pohon-pohon kayu pun tidak luput dari sasaran kemarahannya. Sekali-sekali diraihnya cabang kayu di tepi jalan. Kemudian dengan tenaganya yang luar biasa, cabang-cabang itu direnggutnya, sehingga patah berderak-derak.

Beberapa orang yang rumahnya dekat di pinggir jalan itu terkejut, namun mereka tak berprasangka apapun. Dan kembali mereka tetap di dalam pelukan malam.

Mahisa Agni masih, berjalan terus Tergesa-gesa seperti ada sesuatu yang mengejarnya. Bulan di langit serasa tersenyum mengejeknya. Dilihatnya sekali lagi lingkaran yang mengelilingi bulan itu, dan dilihatnya sebuah bintang menyala di dalam lingkaran.

“Bintang itu telah berada di dalam lingkaran,” geramnya, “besok pagi satu jiwa akan melayang.”

Dan Mahisa Agni masih berjalan menyusur jalan itu. Terus. Sehingga tak dirasanya, Mahisa Agni telah meninggalkan desa Panawijen dan berjalan di daerah persawahan. Dilihatnya kemudian batang-batang padi yang hijau kekuning-kuningan di dalam limpahan cahaya bulan.

Mahisa Agni adalah seorang pengagum keindahan. Ia dapat duduk seperempat malam menatap gunung- gunung yang berselimut mega, atau menunggui bendungan, mendengarkan gemericik air di antara batu-batu kali. Tetapi kali ini perasaan itu seakan-akan terbunuh mati. Yang tampak adalah malam yang suram sesuram hatinya.

Tiba-tiba Mahisa Agni tersentak ketika ia melihat takbir malam yang terentang di hadapannya. Kalau ia berjalan terus, maka ia akan sampai ke padang rumput Karautan.

“Ha,” tiba-tiba Mahisa Agni berkata sendiri, “apakah demit padang rumput itu masih di sana?”

Mahisa Agni merasa, seakan-akan ia mendapat tempat untuk menumpahkan kemarahannya. Karena itu ia menggeram, “Besok aku baru dapat membunuh Wiraprana pengecut itu. Biarlah sekarang aku cari hantu Karautan. Setan itu pun harus mati. Empu Purwa mencegah aku dahulu. Sekarang biarlah aku ulangi tanpa orang tua itu. Biarlah aku tangkap atau bunuh sekali hantu Karautan yang sering mengganggu orang.”

Dan tiba-tiba sekali lagi Mahisa Agni meloncat berlari. Seperti sedang dikejar hantu ia berlari semakin lama semakin cepat. Diloncatinya batu-batu besar yang berserak-serak di padang rumput itu, dan disasaknya gerumbul-gerumbul kecil yang berada di garis perjalanannya. Kelinci-kelinci dan binatang-binatang kecil lainnya terkejut, dan berloncatan menjauh. Namun Mahisa Agni tak sempat memperhatikannya. Matanya tertancap jauh-jauh ke tengah padang rumput itu. Di sana ia beberapa waktu yang lampau bertemu dengan orang yang ditakutinya, dan bernama Ken Arok. Dalam kemarahannya itu, ia tidak ingat apa-apa lagi, selain membunuh, menghancurkan dan apa saja yang dapat memberinya kepuasan.

Sekali-kali terlintas juga di kepalanya, menurut kata gurunya, ia tak akan mampu mengalahkan hantu itu. “Omong kosong!” geramnya dan diteruskannya kata-kata itu, “Aku dahulu dapat menyentuhnya dengan tanganku. Kalau sekarang tersentuh keris Pamanku, muka umur setan itu tak akan sampai esok pagi.”

Padang rumput Karautan adalah padang rumput yang luas. Karena itu Mahisa Agni memerlukan waktu untuk sampai ke tengah padang itu. Ia langsung menuju ke tempat ia bertemu dengan Ken Arok di perjalanannya pulang bersama gurunya. Ia mengharap Ken Arok masih berada di sana, dan mencegatnya. Hantu itu harus sadar, bahwa di dunia ini ada orang yang tak takut kepadanya, dan tak dapat dikalahkannya.

Mahisa Agni yang berlari-lari itu akhirnya sampai juga ke tengah padang itu. Namun bulan telah jauh di sisi cakrawala. Sebentar lagi bola langit itu segera akan tenggelam dibalik punggung Gunung Kawi. Mahisa Agni kemudian berhenti. Nafasnya terasa berkejaran, secepat ia berlari. Sesaat ia tegak di tengah-tengah padang itu sambil mencoba menenangkan dirinya.

Beberapa kali Mahisa Agni menghisap nafasnya dalam-dalam dan dihirupnya udara padang yang segar. Perlahan-lahan nafasnya pun dapat diaturnya kembali.

Kini Mahisa Agni itu bertolak pinggang dengan kaki renggang. Dipandangnya keadaan di sekelilingnya. Namun sepi. Tak seorang pun dilihatnya. Tiba-tiba ia menjadi semakin marah. Maka seperti orang yang kehilangan kesadarannya ia berteriak, “He, hantu Karautan! Inilah Mahisa Agni! Jangan menunggu orang-orang lemah yang dapat kaujadikan umpan keganasanmu. Keluarlah dari persembunyianmu!”

Suara Mahisa Agni itu seperti membelah langit. Mengumandang dan melingkar-lingkar seluas padang Karautan. Namun setelah gema suaranya itu berhenti, kembali malam menjadi sepi.

Mahisa Agni mengumpat-umpat tak habis-habisnya, “Setan pengecut! Apakah kau sedang bersembunyi karena kau lihat Mahisa Agni lewat?”

“He, hantu Karautan! Inilah Mahisa Agni! Jangan menunggu orang-orang lemah yang dapat kau jadikan umpan keganasan. Keluarlah dari persembunyianmu!”

“He Hantu Karautan, inilah Mahisa Agni. Jangan menunggu orang- orang lemah ….

Sekali lagi suaranya disahut oleh sepinya malam. Dan sekali lagi Mahisa Agni memandang berkeliling dengan nanar.

Tetapi tiba-tiba Mahisa Agni terkejut ketika ia mendengar gemeresik daun-daun perdu di sisinya. Cepat ia memutar tubuhnya dan bersiaga.

“Nah, kaukah itu?” ia berteriak keras-keras, meskipun rumpun perdu itu tak jauh daripadanya.

Apa yang ditunggunya itu ternyata datang. Dari balik daun-daunan yang rimbun itu, muncullah sebuah kepala. Mahisa Agni segera mengenal orang itu. Sambil tertawa berderai ia berkata, “Keluarlah dari persembunyianmu, hei setan yang menakutkan orang seluruh wilayah Tumapel. Tetapi aku, Mahisa Agni, jangan kau sangka takut seperti mereka itu. Marilah sekali lagi kita membuat perhitungan. Dan kali ini biarlah salah satu dari kita membayar taruhan ini dengan nyawa.”

Orang yang muncul dari balik gerumbul itu sebenarnyalah orang yang bernama Ken Arok. Untuk sesaat ditatapnya wajah Mahisa Agni yang menyalakan kemarahan hatinya. Tetapi hantu padang rumput Karautan itu tidak segera menanggapinya. Bahkan perlahan-lahan ia melangkahi ranting-ranting perdu dan dengan tenangnya ia berjalan selangkah demi selangkah maju.

“Ayo, bersiaplah!” tantang Mahisa Agni, “Meskipun kau bernyawa rangkap tujuh, kau tak akan mampu mempertahankan hidupmu apabila kau tersentuh kerisku.”

Ken Arok menggigit bibirnya. Tampaklah wajahnya menjadi tegang, tetapi pandangannya tidak menjadi liar seperti pada saat Mahisa Agni bertemu untuk yang pertama kalinya.

“Apa yang kau tunggu?” bentak Mahisa Agni.

Mahisa Agni menjadi heran ketika dilihatnya hantu Karautan itu mengangguk-angguk. Kemudian terdengar ia berkata tenang, “Mahisa Agni. Adakah kau mendendam?”

Mahisa Agni terkejut mendengar pertanyaan itu. Sesaat ia terpaku diam. Ditatapnya mata Ken Arok. Dan seakan-akan dilihatnya wajah yang lain dari wajahnya dahulu. Meskipun demikian, Agni itu pun berkata, “Jangan mencoba merajuk! Cerita tentang hantu Karautan harus segera tamat.”

“Ya,” sahut Ken Arok, “cerita tentang hantu Karautan memang sudah tamat.”

Kembali Mahisa Agni terkejut. Sekali lagi ditatapnya wajah Ken Arok, dan sekali lagi ia mendapat kesan lain pada wajah itu. Karena itu kemudian Mahisa Agni menjadi bingung.

“Mahisa Agni,” berkata Ken Arok. Suaranya pun lain dari suara yang pernah didengarnya beberapa waktu yang lampau, “Aku memang sedang menunggumu di sini. Berhari-hari. Aku mengharap bahwa aku akan dapat bertemu dengan kau dan orang tua yang lewat bersamamu dahulu.”

“Adakah kau tidak puas dengan pertemuan kita yang pertama itu,” bertanya Mahisa Agni dengan penuh prasangka.

“Ya,” jawab Ken Arok sambil mengangguk.

“Nah, sekarang aku telah datang. Apa maumu? Apakah kau masih ingin mencoba kesaktianmu?” bertanya Mahisa Agni.

Ken Arok menggeleng lemah. Rambutnya yang terurai lepas ke pundaknya itu bergerak-gerak ditiup angin malam. Tetapi rambut itu sudah tidak seliar seperti yang pernah dilihatnya. Perlahan-lahan terasa pada Mahisa Agni, bahwa ia melihat perubahan pada hantu Karautan itu. Apalagi ketika ia mendengar Ken Arok menjawab, “Tidak Mahisa Agni. Sudah kukatakan, cerita tentang hantu Karautan telah tamat.”

“Lalu apa maumu menghadang aku?” bertanya Agni.

“Berhari-hari aku menunggumu. Setiap malam aku tidur di gerumbul ini. Tetapi aku tidak pernah lagi berniat untuk menghentikan orang-orang yang lewat di padang ini. Aku hanya menunggumu dan orang tua itu,” berkata Ken Arok.

“Ya, sudah kau katakan,” potong Mahisa Agni, “tetapi apa maksudmu?”

“Duduklah Agni,” pinta Ken Arok.

Mahisa Agni menggeleng, “Kau akan membuat aku tidak bersiaga?”

Wajah Ken Arok itu menjadi suram. Katanya, “Aku sadar, bahwa kesan perkelahian itu tak akan terhapus di sepanjang umurmu. Tetapi duduklah Agni.”

Agni menjadi semakin heran. Di mata anak muda itu memancar sesuatu yang tak dimengertinya. Dan tiba-tiba saja Mahisa Agni duduk di samping anak muda yang belum begitu dikenalnya.

“Mahisa Agni, apakah orang tua dahulu itu benar gurumu?” bertanya Ken Arok

“Ya,” jawab Agni singkat.

“Aku iri kepadamu,” gumam Ken Arok.

“Kenapa?”

“Agni, kata-kata itu terdengar terlalu dalam. Aku melihat perubahan pada sikapmu. Apakah kau bersikap baik hanya apabila gurumu ada?”

Mahisa Agni menjadi semakin heran mendengar pertanyaan itu. Dan kembali ia bertanya, “Kenapa?”

“Sikapmu dahulu tidak segarang sekarang, meskipun aku melihat kejantananmu sejak saat itu.”

Pertanyaan Ken Arok itu benar menembus dada sehingga langsung menyentuh hatinya. Dicobanya untuk melihat sikapnya sendiri. Kenapa orang yang hidupnya seliar Ken Arok berkata demikian kepadanya. Meskipun demikian Mahisa Agni bertanya, “Apakah yang berubah. Sejak dahulu guruku berkata kepadaku, bahwa setiap kejahatan harus ditumpas. Sekarang aku sedang berusaha menumpas kejahatan yang merajalela di padang rumput ini.”

Ken Arok seakan-akan tidak mendengar jawaban itu. Bahkan ia berkata terus, “Aku melihat, pada waktu kau datang bersama gurumu. Betapa kagumnya aku melihat kejantananmu. Namun sikap itu wajar. Sekarang sikapmu benar-benar lain daripada sikapmu waktu itu. Adakah sesuatu yang terjadi? Atau karena gurumu kini tidak ada?”

“Jangan mengigau!” bentak Mahisa Agni, “Ayo berdirilah, kita bertempur. Aku tetap dalam perjuanganku.”

“Mahisa Agni,” berkata Ken Arok lirih, “Adakah kau sempat mendengar sebuah kisah yang pendek?”

Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi ia terpengaruh oleh permintaan Ken Arok itu. Karena itu ia berdiam diri di tempatnya.

“Mahisa Agni,” Ken Arok mulai dengan kisahnya, “aku telah bertemu dengan seorang Brahmana di tempat perjudian. Brahmana itu bernama Danghyang Lohgawe.”

Tiba-tiba Mahisa Agni memotong, “Apa peduliku dengan Danghyang Lohgawe. Apakah kau sedang menakut-nakuti aku dengan gurumu yang baru itu?”

Ken Arok menggeleng. “Tidak,” jawabnya, “orang itu bukan guruku. Dimintanya aku menjadi anaknya.”

“Nah. Suruhlah bapa angkatmu itu datang kemari!” sahut Agni.

“Hem,” Ken Arok menarik nafas, “kau benar-benar tak seperti yang aku sangka.”

Kembali kata-kata itu langsung menyentuh hatinya. Dan kembali Mahisa Agni berdiam diri. Sehingga Ken Arok sempat meneruskan, “Orang tua itu berkata kepadaku seperti yang pernah dikatakan gurumu kepadaku dahulu.”

“Apa katanya?” bertanya Mahisa Agni tak sesadarnya.

“Bukankah gurumu pernah berkata, bahwa aku akan lebih berbahagia apabila aku dapat menempuh cara hidup yang lain dari cara hidupku yang liar itu?” sahut Ken Arok.

“Adakah sekarang kau sependapat dengan nasihat guru?” bertanya Mahisa Agni pula.

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Aku pernah bertanya kepada Brahmana itu. Apakah seorang yang telah berjalan jauh dan ditempuhnya jalan yang sesat, ia akan dapat menemukan jalan kembali?”

Ken Arok berhenti sejenak, kemudian dilanjutkannya, “Brahmana itu berkata, jalan kembali itu tak akan pernah tertutup selama-lamanya buat siapa pun juga.”

Kembali Ken Arok berhenti sejenak. Kepalanya itu pun tertunduk lesu, dan seterusnya ia berkata, “Menurut Danghyang Lohgawe, jalan itu terbuka pula bagiku.”

Mahisa Agni pun kemudian menundukkan wajahnya. Dan untuk sesaat mereka berdua tenggelam dalam sepi hati mereka berdua.

Sesaat kemudian terdengar kembali Ken Arok berkata, “Brahmana itu pernah berkata pula kepadaku, bahwa jalan yang benar itu terlalu sempit dan jelek, sedang jalan ke arah yang salah itu selalu lapang dan licin, sehingga karena itu maka banyak orang yang tersesat karenanya. Lebih banyak yang memilih jalan yang lapang dan licin daripada yang sempit dari jelek. Namun jalan itu akhirnya akan sampai ke daerah yang gelap, sedang yang jelek itu akan sampai ke daerah ketenteraman abadi.”

Ken Arok menarik nafas sekali, namun dalam sekali. Kemudian ia meneruskan, “Mahisa Agni, aku ingin berkata kepadamu dan gurumu, bahwa aku akan berusaha memilih jalan yang sempit dan jelek. Gerbang di ujung jalan itu selalu terbuka, namun jarang-jarang orang yang memasukinya. Aku sangka kau dari dulu telah berada di jalan yang sempit itu pula. Mudah-mudahan sangkaanku itu benar.”

Kata-kata Ken Arok itu benar-benar menghunjam langsung ke pusat dadanya. Karena itu Mahisa Agni pun menjadi berdebar-debar. Dilihatnya dirinya sendiri yang sedang dibakar oleh perasaan yang tidak menentu. Hantu yang liar itu kini sedang berusaha mencari jalan kembali. Lalu apakah yang akan dilakukan itu?

Mahisa Agni menarik nafas sedalam luka di hatinya. Namun tiba-tiba hantu itu telah menariknya dari kealpaan. Hampir saja ia terjerumus ke jalan yang lapang dan licin, yang disebut-sebut oleh Ken Arok itu. Memang alangkah mudahnya terjun ke daerah yang akan bermuara di dalam kegelapan. Dan hampir saja dirinya terjun ke dalamnya. Kekecewaan yang memukul dadanya, pada saat ia mendengar nama Wiraprana disebut oleh Ken Dedes, telah hampir saja menyeretnya ke dalam daerah yang kelam itu. Dan kini, seakan-akan dilihatnya sebuah cahaya yang menerangi hatinya yang gelap. Justru dikatakan oleh hantu yang menakutkan itu.

Karena itu untuk sesaat Mahisa Agni jadi terbungkam. Tak sepatah kata pun yang dapat dikatakannya. Sedang Ken Arok pun kemudian berdiam diri, sehingga kembali padang rumput Karautan itu menjadi sepi.

Tetapi hati Mahisa Agni kini tidak sesepi padang rumput itu. Terjadilah di dalam dadanya suatu pergulatan yang sengit. Penilaiannya atas perbuatannya sendiri, serta kisah yang diucapkan oleh Ken Arok telah menolongnya, membebaskannya dari suatu tindakan yang kotor. Karena itu, sesaat kemudian terdengar ia berkata parau, “Maafkan aku Ken Arok.”

Ken Arok terkejut, “Apa yang harus aku maafkan?”

“Pada saat kau menemukan jalan kebenaran itu,” sahut Mahisa Agni, “justru bersamaan waktunya dengan keadaan yang sebaliknya yang terjadi padaku. Pada saat-saat aku hampir terjebak oleh kekecewaan dan nafsu.”

“Oh,” desis Ken Arok, “kini terasa pula olehmu, bahwa kau agak berubah.”

“Mudah-mudahan,” sahut Mahisa Agni.

“Kenapa mudah-mudahan?” bertanya Ken Arok.

“Mudah-mudahan tidaklah menjadi watakku sejak semula. Mudah-mudahan apa yang aku lakukan kini benar-benar karena hatiku yang gelap. Dan mudah-mudahan aku dapat meyakini kesalahan itu,” jawab Mahisa Agni.

Ken Arok menatap wajah Mahisa Agni seperti baru sekali itu dilihatnya. Dan wajah itu kini sedang diliputi oleh kabut yang suram. Karena itu maka terdengar Ken Arok bertanya, “Aku yakin bahwa bukan sifatmu sekasar itu. Tetapi apakah yang sudah terjadi?”

Mahisa Agni menggeleng lemah, “Bukan apa-apa. Suatu kesalahan kecil di dalam lingkunganku.”

“Hem,” Ken Arok menarik nafas, “kesalahan kecil yang hampir berakibat besar. Hati-hatilah untuk lain kali. Apabila hal yang sekasar itu dilakukan oleh Ken Arok, maka itu bukanlah sesuatu yang pantas disesalkan. Tetapi kalau itu dilakukan oleh Mahisa Agni, maka kau pasti akan menyesal sepanjang hidupmu.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. “Terima kasih,” gumamnya, “untunglah bahwa kau pun banyak mengalami perubahan. Apabila tidak, akibatnya dapat dibayangkan.”

“Untunglah,” sahut Ken Arok, “aku menyadari sepenuhnya perubahan-perubahan yang terjadi dalam diriku. Tanggapanku kepada dunia, kepada manusia di sekelilingku kini telah berubah. Karena itulah sebenarnya aku ingin bertemu denganmu dan gurumu. Aku minta kepadamu, supaya orang-orang di sekitar padang ini mendengar, bahwa cerita tentang hantu Karautan telah tamat. Selebihnya aku akan mohon diri kepadamu dan gurumu, bahwa aku akan segera pergi ke Tumapel mengikuti Brahmana itu.”

“Apakah kau ingin berjumpa dengan Empu Purwa?” bertanya Mahisa Agni,

“Sayang, waktuku sudah terlalu sempit,” jawab Ken Arok, “kesempatan ini adalah kesempatan yang sebaik-baiknya bagiku untuk mengakhiri cara hidup yang liar ini. Danghyang Lohgawe akan membawaku ke istana Akuwu. Mudah-mudahan aku diterima pengabdianku, meskipun sebagai juru pakatik sekali pun.

“Syukurlah, “gumam Mahisa Agni, “kau akan menempuh suatu kehidupan yang lain dari masa-masa lampaumu.”

Ken Arok itu pun mengangguk lemah.

“Tekunilah kehidupan yang baru itu,” Mahisa Agni meneruskan, “mudah-mudahan kau sabar melampaui masa-masa peralihan itu.”

Kembali Ken Arok mengangguk. “Mudah-mudahan,” desisnya.

“Kapan kau akan berangkat?” bertanya Mahisa Agni.

“Aku belum tahu pasti,” sahut Ken Arok, “tetapi aku harus segera pergi kepada Danghyang Lohgawe.”

Mereka berdua pun kemudian terdiam. Langit di timur telah membayangkan warna fajar. cahaya yang ke merah-merahan memancar di wajah langit yang biru. Bulan yang semalaman berkisar dari satu titik kesatu titik di udara, kini telah tenggelam d balik Gunung.

Sesaat kemudian terdengar Ken Arok berkata, “Aku akan segera pergi.”

“Adakah kau masih takut mendengar ayam jantan berkokok,” bertanya Mahisa Agni,

Ken Arok tersenyum. “Tidak,” jawabnya, “Ada soal lain. Sepeninggalku, tak perlu kau menggantikan hantu di padang ini.”

Mahisa Agni pun tersenyum. Meskipun mereka belum rapat berkenalan, namun pertemuan yang aneh itu, menyebabkan hati mereka menjadi berat menghadapi perpisahan yang bakal terjadi.

Ken Arok dan Mahisa Agni pun kemudian berdiri. Ketika Ken Arok akan meninggalkan padang rumput, yang selama ini menjadi daerah pengembaraannya di malam hari, maka sekali lagi ia berpamitan, katanya, “Mahisa Agni. Baktiku buat gurumu. Ialah orang yang pertama-tama membangunkan sebuah teka-teki di dalam hatiku. Teka-teki tentang Yang Maha Agung. Doakan semoga aku dapat menyesuaikan diri dengan cara hidup yang baru ini.”

“Aku akan berdoa untukmu,” sahut Mahisa Agni.

Ken Arok itu pun segera meninggalkan Mahisa Agni. Dengan cepatnya ia berjalan melintasi padang rumput yang selama ini telah mengikatnya. Ken Arok itu seakan-akan telah menjadi bagian yang hidup dari padang Karautan. Dan kini daerah itu ditinggalkannya.

Namun terngiang di telinga Mahisa Agni, kata-kata Ken Arok, meskipun ia hanya ingin bergurau, “Sepeninggalku, tak perlu kau menggantikan hantu di padang ini.”

“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas panjang, “Untunglah, semuanya belum terjadi. Seandainya ia berhasil membunuh hantu itu dengan kerisnya. dan seandainya pula ia telah terlanjur membunuh Wiraprana. Apakah akan jadinya? Dengan demikian, mungkin aku akan benar-benar menggantikan anak muda itu menjadi hantu di padang ini.”

Mahisa Agni menjadi ngeri sendiri. Dan mengucaplah ia di dalam hatinya puji syukur kepada yang Maha Agung, bahwa ia telah dibebaskan dari bencana itu.

Mahisa Agni pun kemudian melangkah pergi. Tetapi ia tidak berlari lagi seperti pada saat ia datang. Di sepanjang jalan itu, terasa betapa hatinya menjadi pedih. Pedih atas hilangnya harapan bagi masa depan yang manis, pedih karena ia hampir-hampir tenggelam dalam kegelapan.

“Wiraprana itu sama sekali tak bersalah,” gumamnya, “Akulah yang bersalah. Kenapa aku selama ini berdiam diri. Kenapa aku lebih senang menyimpan perasaanku daripada melimpahkannya? Karena itu jangan menyalahkan orang lain.”

Namun betapapun juga, luka di dadanya terasa betapa sakitnya. Tetapi Mahisa Agni kini telah menemukan dirinya kembali. Karena itu tak seorang pun yang didendamnya. Wiraprana tidak dan Ken Dedes pun tidak.

“Ayahnya, Empu Purwa tak bisa memaksanya,” katanya di dalam hati, “Apalagi aku.”

Bahkan tiba-tiba timbullah di dalam hati Mahisa Agni itu, “Biarlah gadis itu menemukan kebahagiaannya. Dan mudah-mudahan dengan demikian aku akan ikut berbahagia karenanya.”

Mahisa Agni itu berjalan perlahan-lahan di dalam sentuhan angin pagi. Tetesan embun yang hinggap di dedaunan, membentuk butiran-butiran, seakan-akan butiran mutiara yang satu-satu lepas dari untaiannya, seperti butiran-butiran mutiara harapan yang pecah dari ikatan hati Mahisa Agni.

Sebagai seorang anak muda yang sedang melambungkan cita-citanya setinggi bintang, maka peristiwa itu tak akan dapat dilupakannya. Namun ia pun dapat mengetahui bahwa tak seorang pun akan mampu mengubah perasaan orang lain dengan paksa dalam tanggapannya atas cinta.

Padang rumput itu adalah padang yang luas. Karena itu maka kini terasa, bahwa perjalanan yang telah ditempuhnya semalam adalah perjalanan yang cukup jauh. Mahisa Agni pun tiba-tiba menjadi cemas, apakah kata orang apabila salah seorang di antara tetangga-tetangganya melihatnya berlari-lari.

Matahari yang semakin tinggi di langit, terasa panasnya semakin tajam menyengat kulit. Namun sinarnya yang bertebaran di segenap wajah padang rumput itu sama sekali tak terasa. Mahisa Agni sedang bergelut dengan angan-angannya, “Apakah yang harus aku lakukan kini?”

Namun di sepanjang perjalanan itu tak ditemuinya jawaban yang memuaskan hatinya. Kadang-kadang timbul keinginannya untuk pergi saja meninggalkan gurunya dan desa Panawijen, namun kadang-kadang ada juga maksudnya untuk melihat betapa Ken Dedes dan Wiraprana berbahagia. Tetapi di dalam sudut hatinya yang lain terdengar pula suara, “Biarlah apa saja yang akan mereka lakukan, jangan mencampurinya dalam segala segi.”

Mahisa Agni menggeleng-geleng lemah. Wiraprana ternyata belum tahu apa yang semestinya harus dilakukan, dan Ken Dedes semalam menemuinya, bukan untuk menyatakan cintanya kepadanya, tetapi gadis itu akan minta kepadanya untuk menyampaikannya kepada Wiraprana. Mahisa Agni menarik nafas dalam sekali. Gumamnya, “Ternyata Wiraprana datang setiap hari ke rumah Empu Purwa tidak semata-mata menemui aku. Ternyata di belakang tirai persahabatannya itu terkandung maksud-maksud yang lain.”

Perjalanan pulang itu terasa betapa menjemukan. Baru kemudian terasa, betapa lelahnya setelah semalam suntuk matanya tak terpejamkan. Bahkan kemudian ia berlari-lari sepanjang hampir setengah malam. Dan kini ia harus menempuh jalan itu kembali.

Ketika matahari telah hampir mencapai puncak langit, maka tampaklah di hadapan Mahisa Agni beberapa buah desa yang membujur di pinggir padang rumput itu. Sekali dilampauinya desa yang pertama, kemudian ia akan segera sampai ke rumah gurunya. Namun desa-desa yang hijau itu kini sama sekali tak memikatnya seperti beberapa waktu yang lampau. Ikatan yang selama ini. terasa menjerat dirinya, tiba-tiba kini telah terurai lepas. Desa itu tak menarik lagi baginya, selain sebagai tempat tinggalnya.

Mahisa Agni memasaki desanya dengan hati yang kosong. Selangkah demi selangkah ia menyusuri jalan yang semalam dilaluinya. Masih dilihatnya beberapa ranting yang patah sebagai tempat untuk menumpahkan kemarahan dan kegelapan hatinya semalam.

Ketika dari kejauhan dilihatnya pagar batu yang melingkari halaman rumah gurunya, hatinya berdesir. Tak ada gairah lagi untuk segera pulang. Tetapi apabila diingatnya, apa yang telah dilakukan oleh gurunya untuknya, dan apa yang telah diberikan oleh orang tua itu kepadanya, maka timbullah sedikit niatnya untuk kembali masuk ke dalamnya.

Tetapi kembali hatinya berdesir ketika ia melihat Wiraprana telah berdiri di muka regol halaman itu. Terungkit kembalilah perasaan yang pedih di dadanya. Sekilas tebersitlah kemarahannya kepada anak muda itu. Namun kemudian perasaan itu ditekannya kuat-kuat.

Wiraprana tersenyum ketika ia melibat Mahisa Agni. Anak muda itu kemudian berjalan menyongsongnya. Tak ada suatu kesan apapun di wajahnya. Bersih.

Mahisa Agni melihat wajah yang jujur itu. Dan kembali ia berkata di dalam hatinya, “Anak itu tidak bersalah.”

“Dari mana kau, Agni?” bertanya anak muda itu.

Mahisa Agni menjadi agak bingung. Terasa betapa canggungnya kali ini berhadapan dengan Wiraprana. Anak muda yang telah bertahun-tahun bergaul dengan rapatnya, tiba-tiba terasa sebuah jurang telah membujur di antaranya.

Karena Mahisa Agni tidak segera menjawab, maka Wiraprana mengulangi pertanyaannya seramah semula, “Dari mana kau Agni?”

Mahisa Agni merasa seperti orang yang baru saja terbangun dari mimpi. Dengan terbata-bata ia menjawab sekenanya, “Aku tidur di bendungan, Prana.”

Wiraprana terperanjat. “He,” sahutnya, “aku juga pergi ke bendungan semalam. Kenapa kita tidak bertemu?”

Mahisa Agni bertambah bingung. “Aku pergi sesudah tengah malam,” jawab Agni sekenanya.

“Oh,” berkata Prana, “tengah malam aku sudah pulang. Kenapa kau tak mengajak aku serta?”

Pertanyaan itu melingkar-lingkar seperti putaran yang sangat membingungkan. Maka jawabnya, “Aku tak bermaksud pergi ke bendungan. Aku hanya berjalan-jalan saja. Tetapi kemudian aku sampai ke sana.”

Wiraprana mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ketika dilihatnya keris terselip di pinggang sahabatnya, Wiraprana mengerutkan keningnya. Mahisa Agni melihat sambaran mata Wiraprana atas kerisnya itu. Karena itu ia menjadi semakin bingung. Apabila anak itu bertanya tentang keris itu, apakah jawabnya. Tetapi untunglah Wiraprana tak bertanya-tanya lagi.

“Ayolah,” ajak Wiraprana, “kau tampak lelah.”

Mahisa Agni tak menjawab. Maka berjalanlah mereka berdua memasuki regol halaman rumah Empu Purwa yang luas. Mahisa Agni melihat tanam-tanamnya yang hijau subur. Bunga-bungaan, rerumputan dan perdu. Dilihatnya pula tanah yang berpetak-petak dan di samping rumah itu sebuah kolam. Tetapi semuanya itu kini terasa hambar. Bunga-bunga yang sedang kembang sama sekali tak menarik perhatiannya. Batang-batang anggrek yang dipeliharanya dengan hati-hati, serta bunga-bunganya yang putih bersih tampak betapa suramnya.

Mereka berdua langsung pergi ke bilik Mahisa Agni. Wiraprana duduk di sebuah bale-bale besar di ruangan dalam, sedang Mahisa Agni langsung masuk ke biliknya. Dilihatnya biliknya itu kotor dan barang-barangnya berhambur-hamburan. Agaknya semalam ia telah dengan tidak sengaja menghambur-hamburkan barang-barangnya itu. Dengan dada yang serasa akan retak, Mahisa Agni menarik keris dari pinggangnya. Ketika ia menatap keris itu, terasa hatinya berdesir. Untunglah bahwa keris itu belum ditariknya dari wrangkanya. Tanpa disengajanya, diciumnya ukiran keris itu sambil berbisik, “Betapapun kau telah diselamatkan dari penggunaan yang sia-sia.”

Mahisa Agni pun kemudian segera membenahi barang-barangnya. Pakaiannya, beberapa alat-alat lain dan lontar-lontar bacaannya. Adalah menjadi kebiasaannya untuk membersihkan biliknya sendiri, sehingga jaranglah orang lain masuk ke dalamnya. Dengan demikian, maka tak seorang pun yang mengetahui, bahwa bilik itu menjadi kotor dan bercerai berai.

Setelah pekerjaan itu selesai, Agni pun tidak segera keluar dari biliknya. Dengan lesunya ia duduk di sudut pembaringannya. Matanya yang sayu. beredar dari satu benda ke benda yang lain di dalam bilik itu. Terasa betapa ia menjadi asing. Dinding-dinding, tiang, dan sebuah gelodog bambu. Dan tiba-tiba tebersit pertanyaan di dalam hatinya, “Apakah aku masih akan dapat tinggal di tempat ini?”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Ia tersadar ketika didengarnya Wiraprana terbatuk-batuk di ruang dalam. Perlahan-lahan Mahisa Agni berdiri, dan dengan lunglai ia berjalan keluar menemui sahabatnya yang telah memadamkan harapannya di masa depan.

Wiraprana tersenyum melihat Agni keluar dari biliknya. Katanya sambil tertawa, “Ah, aku sangka kau tertidur Agni. Aku takut kalau aku harus menunggumu sampai senja.

Kelakar itu pun demikian hambar di hati Mahisa Agni.

Meskipun demikian dipaksanya juga bibirnya untuk tersenyum. Senyum yang pahit. Dan hatinya pun bertambah pahit ketika ia melihat kenyataan bahwa Wiraprana itu sama sekali tak berprasangka apa pun kepadanya. Tak ada perubahan pada tingkah lakunya dan tak ada setitik kecurigaan apa pun dalam sikapnya. Hatinya tidak akan sepedih itu seandainya Wiraprana itu bersikap kasar dan keras. Seperti Kuda Sempana. Seandainya Wiraprana itu berkata kepadanya, “Agni, marilah kita selesaikan persoalan kita dengan bertaruh nyawa.”

Meskipun seandainya ia kalah, bahkan sampai pada ajalnya pun, maka ia akan mati dengan bangga. Tetapi Wiraprana sama sekali tak bersikap demikian. Matanya yang bening memancar seperti mata kanak-kanak yang belum mengenal dosa. Karena itu Mahisa Agni mengeluh di dalam hatinya.

Dengan lesu Mahisa Agni duduk di samping Wiraprana. Dan dengan kaku ia bertanya, “Dari mana kau sepagi ini Prana?”

Wiraprana terperanjat, “He? Apakah kau sedang bermimpi? Lihatlah, bayangan matahari telah tegak di lantai.”

Mahisa Agni menyadari, kesalahannya, dan dipaksanya juga dirinya untuk tertawa, “Ah, agaknya aku benar-benar lelah dan bingung. Maksudku, apakah kau telah datang sejak pagi-pagi?”

Wiraprana memandang wajah Mahisa Agni dengan herannya. Dilihatnya pada wajah itu suatu pancaran yang aneh. Tak pernah ia melihat kerut-kerut di kening sahabatnya itu. Mahisa Agni adalah anak yang selalu gembira. Ah, Mahisa Agni terlalu lelah, katanya di dalam hati, namun yang terlontar dari mulutnya adalah, “Seharusnya akulah yang bertanya Agni, dari mana kau sampai sesiang ini. Apakah kau tidur di bendungan sampai matahari merambat ke puncak langit? Apakah kau kemudian mencuci pakaianmu tanpa membawa rangkapan, dan kau tunggu pakaian itu kering sambil merendam diri?”

Mahisa Agni benar-benar menjadi bingung. Tak tahu bagaimana ia akan menjawab pertanyaan Wiraprana. Karena itu ia hanya dapat tertawa, namun hatinya merintih.

Tetapi tiba-tiba Mahisa Agni teringat kepada Ken Arok yang baru dijumpainya di padang Karautan. Diingatnya pesan anak muda itu kepadanya. Supaya orang-orang di sekitar padang ini mendengar, bahwa cerita tentang hantu Karautan telah tamat. Karena itu, maka Mahisa Agni bermaksud untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Katanya, “Wiraprana, sebenarnya aku tidak tidur di bendungan semalam.”

Sekali lagi Wiraprana terkejut, “Lalu ke manakah kau semalam malaman?”

“Ke padang Karautan,” sahut Mahisa Agni.

“He,” Wiraprana benar-benar terkejut mendengar jawaban itu sehingga ia bergeser maju, “adakah kau pergi ke sana?”

Mahisa Agni mengangguk.

“Siapakah yang memaksamu, sehingga kau pergi ke daerah hantu yang mengerikan itu?’ bertanya Wiraprana pula.

“Tak ada,” jawab Agni, “aku hanya ingin melihat hantu. Karena itu kau lihat aku membawa senjata?”

“Ya, ya, Aku lihat kerismu.”

Mahisa Agni pun kemudian bercerita tentang padang itu. Tentang pertemuannya dengan hantu itu untuk pertama kali dan tentang pertemuannya yang terakhir. Mahisa Agni bercerita sedemikian asyiknya dan kadang-kadang tak sesadarnya, diceritakannya kemampuannya melawan hantu itu. Ia bercerita demikian saja untuk melepaskan himpitan-himpitan yang menekan dadanya. Tidak saja sebagai pelarian untuk menghindarkan pertanyaan Wiraprana, tetapi lambat laun dengan tak diketahuinya sendiri, cerita itu telah berubah sebagai suatu cerita untuk menolong kekerdilan perasaannya. Pilihan Ken Dedes atas Wiraprana, telah menyebabkan Mahisa Agni merasa tak berharga. Dan kini ia sedang menutupi perasaan itu dengan menceritakan kedahsyatannya.

“Alangkah dahsyatnya kau Agni,” Wiraprana menyela dengan penuh kekaguman. Dengan jujur anak muda itu berkata pula, “Sejak kau berkelahi dengan Kuda Sempana, aku telah menjadi kagum dan tidak mengerti. Dari mana kau mendapat ilmu itu. Kini ternyata kau pun sanggup melawan hantu itu. Ah. Alangkah kecilnya aku. Kenapa baru sekarang aku tahu?”

Mendengar pujian yang diucapkan dengan ikhlas itu, Mahisa Agni tersadar dari pelariannya. Karena itu betapa ia menyesal. Namun semuanya terjadi, dan cerita itu tak akan dapat ditelannya kembali. Dengan demikian, maka Agni pun justru terdiam, dan luka di hatinya menjadi semakin parah.

Ketika ia sedang merenungkan dirinya, kesombongannya dan ceritanya, didengarnya langkah kaki lewat di sampingnya. Mahisa Agni mengangkat wajahnya, dilihatnya Ken Dedes berjalan dengan tergesa-gesa. Ketika gadis itu melihatnya, segera ia berhenti dan berkata, “Kakang, ke mana kau semalam? Ayah mencarimu.”

Hati Mahisa Agni berdesir. Apalagi ketika dilihatnya, betapa Ken Dedes menundukkan wajahnya yang kemerah-merahan ketika terpandang olehnya Wiraprana yang duduk di sampingnya.

Mahisa Agni harus berjuang sekuat tenaga untuk menenangkan hatinya yang bergelora seperti angin ribut di lautan. Dengan gemetar ia menjawab, “Adakah guru menanti aku?”

“Tidak sekarang,” sahut Ken Dedes perlahan-lahan, namun wajahnya masih menatap lantai, “Ayah sedang di sanggar pamujan.”

“Oh,” Agni pun terdiam,

Suasana di ruang dalam itu menjadi kaku, seperti garis-garis tiang yang lurus. Ken Dedes sama sekali tak berani mengangkat wajahnya. Kehadiran Wiraprana benar-benar menjadikannya segan. Apakah Kakang Agni telah mengatakannya, pertanyaan itu merayap di hatinya. Kalau pengasuhnya yang tua itu telah menyampaikan perasaannya kepada Mahisa Agni, maka ada kemungkinan Agni telah mengatakannya kepada Wiraprana. Perasaan Ken Dedes sebagai seorang gadis menjadi bergelora. Tiba-tiba ia tak dapat menahannya. Betapa ia malu seandainya Wiraprana tak memenuhi harapannya. Bahwa apa yang dilihatnya di mata anak muda itu, dan apa yang dirasakan di dalam kata-katanya saat-saat bila mereka bercakap-cakap dan bergurau itu keliru.

Wiraprana merasakan kekakuan itu. Suasana itu demikian anehnya pada perasaannya. Karena itu tiba-tiba ia berkata, “Agni, apakah Ken Dedes menunggumu makan?”

Agni sadar, bahwa Wiraprana hanya bergurau. Tetapi akibatnya kata-kata seperti air yang tepercik di lukanya. Pedih. Maka jawabnya terbata-bata, “Tidak Prana.”

Tiba-tiba sekali lagi dada Agni berdesir ketika Ken Dedes berkata lirih dengan sama sekali tak mengangkat wajahnya, “Kakang. Aku mencari Kakang sejak tadi. Bukankah Kakang belum makan?”

“Oh,” Agni mengeluh di hatinya. Pergaulan ini benar-benar menyiksanya.

“Nah,” sahut Wiraprana sambil tertawa, “pantaslah. Ceritamu dan kata-katamu selama ini bersimpang siur tak keruan. Makanlah Agni, supaya hatimu menjadi terang. Dan kau tidak akan gemetar lagi.”

Perasaan Mahisa Agni benar seperti biduk yang kecil di dalam permainan gelombang yang ganas. Tetapi ketika sekali lagi ia menatap wajah sahabatnya itu, sekali lagi ia mengeluh di dalam hatinya. Wajah itu sedemikian bersih dan jujur. Karena itu kembali terdiam. Dan kembali suasana menjadi kaku.

Timbullah suatu harapan di hati Ken Dedes, agar Wiraprana ikut makan bersama Agni seperti kebiasaan mereka. Adalah menjadi kebiasaannya pula mengajak anak muda itu berbuat demikian. Tetapi kali, ini mulutnya serasa terkunci. Dan tak sepatah kata pun dapat diucapkan. Ken Dedes menjadi bingung ketika Wiraprana berkata, “Ken Dedes, kenapa kau tidak minta aku makan bersama Kakang Agni?”

Hati Ken Dedes berdesir mendengar pertanyaan itu, dan hati Mahisa Agni pun berdesir. Pertanyaan itu bukan untuk pertama kali diucapkan. Sepuluh, dua puluh bahkan anak itu sudah sedemikian seringnya datang ke rumah ini, sesering Mahisa Agni datang ke rumahnya. Mahisa Agni pun tidak tahu lagi berapa kali ia pernah dipersilakan makan di rumah Ki Buyut Panawijen. Tetapi senda gurau Wiraprana kali ini benar-benar memusingkan kepalanya.

Ken Dedes tidak dapat mengucapkan sepatah jawaban pun. Bahkan tiba-tiba gadis itu berlari meninggalkan mereka.

Wiraprana menjadi heran. Kenapa sikap gadis itu tidak seperti biasanya. Apakah ia berbuat suatu kesalahan. Wiraprana itu pun kemudian sibuk melihat dirinya, sikapnya dan kata-katanya. Aku tidak berbuat kesalahan, katanya di dalam hati. Namun perubahan sikap Ken Dedes yang manja itu benar-benar mencemaskan.

Betapa jujurnya hati Wiraprana ketika ia mengucapkan sebuah pertanyaan kepada sahabatnya, “Agni, apakah kau bertengkar dengan Ken Dedes?”

Mahisa Agni menjawab dengan gugup, “Tidak Prana. Tidak.”

“Syukurlah,” sahut anak muda itu, “aku melihat sesuatu yang agak lain.”

“Mungkin,” jawab Mahisa Agni sekenanya.

Tetapi ia terkejut sendiri atas jawabannya itu. Apalagi ketika Wiraprana bertanya, “Benarkah dugaan itu?”

Mahisa Agni merenung. Ia tidak tahu bagaimana akan menjawab pertanyaan itu.

Ken Dedes menjadi bingung ketika Wiraprana berkata: “Ken Dedes, kenapa kau tidak minta aku …

Wiraprana menarik nafas. Kini ia tidak bergurau lagi. Tiba-tiba ia mencoba menilai, apakah yang dilihatnya sejak Mahisa Agni datang. Lesu dan berwajah sayu. Anak muda itu seakan-akan menjadi bingung dan menjawab pertanyaan-pertanyaannya sekenanya saja, bahkan kadang-kadang menjadi gugup. Tertawanya yang kosong dan keningnya yang berkerut-kerut.

“Hem,” Wiraprana berdesah. “Alangkah tumpulnya perasaanku,” katanya di dalam hati. Tetapi ia tidak dapat segera berpamitan. Ia takut kalau Mahisa Agni salah mengerti, dan menyangkanya kurang bersenang hati. Karena itu ia masih duduk saja di amben yang besar.

Sesaat mereka saling berdiam diri, Wiraprana menebak-nebak di dalam hati, sedang Mahisa Agni dengan susah payah berusaha menekan perasaannya.

Kemudian terdengar Wiraprana berkata, “Agni, makanlah. Biarlah aku menunggumu di tepi kolam. Adakah guramemu sudah bertambah banyak?”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Dengan demikian setidak-tidaknya ia dapat melepaskan ketegangan perasaannya meskipun hanya sesaat ia makan. Karena itu jawabnya, “Baiklah Prana. Tetapi tidakkah kau ikut makan pula?”

Wiraprana menggeleng. Kemudian ia pun berdiri dan berjalan keluar. Mahisa Agni melihat pemuda itu pada punggungnya. Tinggi, berdada bidang. Rambutnya yang lebat digelungnya di belakang kepalanya. Langkahnya yang tegap tenang. Tiba-tiba terdengar ia bergumam lirih. Lirih sekali, “Berbahagialah kau Wiraprana. Mudah-mudahan aku dapat ikut berbahagia karenanya.”

Dan tiba-tiba saja terloncat dari mulut Mahisa Agni, “Wiraprana, pulanglah. Datanglah kembali nanti senja.”

Wiraprana terkejut , sehingga ia berputar. Ditatapnya wajah Agni. Betapa ia menjadi heran. Tak sahabatnya itu berkata demikian.

Mata Wiraprana yang bening itu pun menjadi suram. Dari dalamnya memancar pertanyaan melingkar-lingkar di dadanya. Kini terasa benar, bahwa ada sesuatu yang terjadi di rumah itu. Namun Wiraprana tidak bertanya lagi. Ketika ia melihat wajah Mahisa Agni yang sayu, maka Wiraprana pun mengangguk sambil menjawab, “Baiklah Agni. Senja nanti aku akan datang kembali.”

Tetapi hati Wiraprana itu pun menjadi gelisah. Di perjalanan pulang, di rumah, di setiap saat ia berteka-teki, “Apakah kira-kira yang akan dilakukan Mahisa Agni senja nanti?”

Sepeninggal Wiraprana, Mahisa Agni pergi ke dapur. Dilihatnya makan baginya telah tersedia di amben. Tetapi ia tidak melihat Ken Dedes. Memang ia tidak mengharap gadis itu menungguinya makan seperti biasanya.

Meskipun demikian, setiap gumpal nasi yang masuk ke mulutnya terasa seakan-akan menyumbat lehernya. Dan Agni pun tidak dapat merasakannya, apakah yang sedang dimakan itu. Asin, manis, masam atau apapun. Mahisa Agni benar-benar tidak mempunyai nafas untuk makan.

Setelah makan, Mahisa Agni langsung masuk ke biliknya. Ken Dedes tidak tahu, apakah yang sedang dilakukannya, dan apakah yang terjadi atasnya, sebab Ken Dedes sendiri itu pun kemudian merendam dirinya di dalam biliknya pula.

Mahisa perlahan-lahan meletakkan tubuhnya di atas pembaringannya. Ia kini tidak membanting diri lagi seperti semalam, sehingga ambennya berderak-derak. Dengan sekuat tenaga ia mencoba mengatur perasaannya. Sehingga kemudian tumbuhlah pikirannya yang hening. Kini ia tinggal menunda sampai senja. Ia mengharap Wiraprana akan datang dan dengan demikian ia akan menyelesaikan pekerjaannya. Ia menyadari, bahwa Ken Dedes benar memerlukan pertolongannya. Betapa pun sakitnya. Ia tidak dapat berbuat lain, daripada berkata dengan hati yang pedih kepada Wiraprana, seperti yang didengarnya dari mulut Ken Dedes semalam. Diminta atau tidak diminta. Biarlah mereka menemukan kebahagiaan, gumamnya.

Mahisa Agni terkejut, ketika ia mendengar seseorang mengetuk pintu biliknya. Kemudian didengarnya sebuah pertanyaan lirih, “Ngger, apakah Angger sedang tidur?”

Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Suara itu adalah suara emban tua, pengasuh Ken Dedes. Orang itu pasti akan datang kepadanya, dan akan mengulangi permintaan Ken Dedes kepadanya.

“Persetan!” teriaknya di dalam hati.

Tetapi sesaat kemudian ia menjadi tenang kembali. Perlahan-lahan ia bangkit, dan membuka pintu biliknya.

“Masuklah, Bibi,” terdengar Mahisa Agni mempersilakan. Namun suaranya bergetar.

Orang tua itu pun masuk ke dalam bilik Agni dan duduk di amben di samping anak muda itu. Wajahnya yang telah berkerut-kerut itu ditundukkan jauh-jauh menghujam ke jantung bumi.

Nafas Mahisa Agni pun serasa tertahan-tahan di hidungnya. Ia menanti kata-kata emban tua itu. Kata-kata yang sudah didengarnya sendiri. Kata-kata yang telah menyobek jantungnya. Tetapi untuk beberapa saat emban tua itu tidak berkata apa pun. Bahkan terdengar betapa ia berkali-kali menarik nafas dalam-dalam.

Bilik itu pun kemudian diliputi oleh suasana sepi. Sepi yang tegang. Namun orang tua itu masih berdiam diri.

Alangkah terkejutnya Mahisa Agni, ketika kemudian ia melihat, air mata orang tua itu satu-satu menetes di pangkuannya. Mahisa Agni menjadi heran. Apakah sebabnya? Seharusnya, seandainya dirinya seorang perempuan, maka ialah yang harus menangis melolong-lolong. Bukankah perempuan itu hanya harus datang kepadanya, mengatakan seperti apa yang dikatakan Ken Dedes kepadanya? Tetapi kenapa ia menangis?

“Kenapa Bibi menangis?” tiba-tiba terdengar Mahisa Agni bertanya.

Orang tua itu mengangkat wajahnya. Ditatapnya wajah Mahisa Agni yang suram. Kemudian orang tua itu berdesah, “Ah. Alangkah anehnya hidup ini.”

“Apa yang aneh, Bibi?” bertanya Mahisa Agni.

“Aku tidak menyangka Ngger, bahwa perjalanan hidupmu dan Ken Dedes, pada suatu saat akan sampai di persimpangan,” jawab orang tua itu.

Melonjaklah hati Mahisa Agni mendengar kata-kata itu. Ia ingin meyakinkan pendengarannya, maka ia pun bertanya, “Kenapa?”

“Aku adalah orang tua Ngger,” sahut orang tua itu, “sudah belasan tahun aku hidup di padepokan ini sebagai emban pemomong putri Empu Purwa itu. Dan sudah belasan tahun pula aku mengenalmu. Betapa aku melihat tingkah laku kalian berdua, hubungan kalian berdua sebagai kakak beradik. Aku, yang hidup di luar ikatan itu, merasa betapa kalian tak akan terpisahkan. Namun tiba-tiba semalam aku mendengar suatu keajaiban. Keajaiban yang tak pernah aku sangka-sangka.”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Ditatapnya kembali wajah orang tua itu. Orang tua yang seakan-akan memancarkan perasaan belas kasihan kepadanya. Karena itu tiba-tiba luka di hati Mahisa Agni seperti diungkit-ungkitnya. Sebagai seorang laki-laki Mahisa Agni tidak akan tenggelam dalam kegagalan itu. Maka justru harga dirinyalah yang tersinggung. Tetapi, jauh di dasar dadanya terdengar hatinya menangis. Tidak, ia mencoba menutupi tangis itu. Karena itu dengan gagahnya ia berkata, “Ada yang bibi tangiskan? Apakah bibi menyangka bahwa aku dan gadis itu akan dapat tetap hidup bersama-sama. Aku adalah laki-laki. Suatu ketika aku akan meninggalkan padepokan ini. Bukankah aku di sini hanya sekedar berguru?”

Orang tua itu tidak menjawab. Tetapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang mulai berkeriput.

“Jangan Bibi berprasangka,” Agni meneruskan, “tak ada hubungan apa pun antara aku dan gadis itu, selain sebagai anak guruku. Apabila kemudian aku dan gadis itu akan sampai di persimpangan jalan, itu adalah wajar. Aku atau gadis itulah yang akan pergi dahulu meninggalkan padepokan ini. Aku akan dapat segera pergi untuk merantau menambah pengalaman hidup dan pengalaman ilmu yang aku miliki, atau gadis itulah yang pergi dahulu mengikuti suaminya di rumah Buyut Panawijen.”

“Oh?” perempuan tua itu terkejut, sehingga ia berkisar maju.

Mahisa Agni pun terkejut, ketika ia melihat emban tua itu sedemikian terkejutnya mendengar jawabannya. Barulah kemudian ia sadar, bahwa kata-kata yang terloncat dari mulutnya agaknya telah mendahului kabar yang akan dibawa perempuan itu kepadanya. Ternyata pula kemudian orang tua itu bertanya, “Adakah Ken Dedes telah mengatakannya kepadamu?”

Mahisa menjadi bingung. Ia tidak tahu bagaimana akan menjawab pertanyaan itu, sehingga kemudian wajahnya pun tunduk lesu. Dan mulutnya serasa terbungkam. Hanya tubuhnyalah yang kemudian bergetar.

Emban tua itu menjadi sedemikian heran, sehingga ia mengulangi pertanyaannya, “Angger, dari manakah Angger tahu, bahwa Ken Dedes pada suatu ketika akan meninggalkan padepokan ini dan mengikuti suaminya ke rumah Buyut Panawijen?”

Mahisa Agni akhirnya merasa, bahwa ia harus menjawab pertanyaan itu. Tak mungkin ia mengelak lagi. Maka dengan angkuhnya ia berkata untuk menutupi kekurangan yang mencengkam perasaannya, “Kenapa tidak? Aku telah mengatakan kepadanya, Wiraprana adalah pilihan satu-satunya baginya. Aku, yang telah menganggap Ken Dedes itu sebagai adik kandungku, telah menyetujuinya gadis itu berbuat demikian, daripada ia harus memilih salah satu dari anak-anak yang belum dikenal watak dan tabiatnya.”

“Oh,” desah perempuan itu, namun ia bertanya, “sejak kapan kau mengatakan kepadanya?”

“Sudah lama aku berkata demikian kepadanya,” jawab Agni. Ia sudah terdorong masuk ke lubang yang digalinya. Karena ia tidak dapat meloncat keluar. Bahkan ia akan menjadi semakin dalam terbenam ke dalamnya, sehingga kemudian terdengar perempuan itu bertanya, “Sudah lama? Sehari?”

“Sebulan,” sahut Mahisa Agni.

“Oh,” kembali emban tua itu berdesah. Dan alangkah gelisahnya Mahisa Agni, ketika ia melihat mata orang tua itu, yang seakan-akan menjadi semakin kasihan kepadanya. Sedemikian gelisahnya, sehingga Mahisa Agni itu bertanya, “Kenapa bibi memandang aku sedemikian?”

“Aku kasihan kepadamu, Ngger,” jawabnya jujur.

“He?” Agni hampir berteriak, “kenapa kasihan? Aku laki-laki yang tidak perlu belas kasihan orang lain. Juga belas kasihan darimu, Bibi. Juga tidak dari Ken Dedes.”

Perempuan itu mengerutkan keningnya, “Kenapa Ken Dedes?”

Kembali Agni terbungkam. Dan kembali ia tidak tahu, bagaimana ia akan menjawabnya.

“Angger,” berkata perempuan itu kemudian perlahan-lahan, “jangan membohongi aku. Pasti kau belum mengatakannya kepada Ken Dedes, bahwa sebaiknya gadis itu memilih Wiraprana.”

Orang tua itu berhenti sejenak, lalu lanjutnya, “Baru semalam gadis itu minta kepadaku untuk menyampaikannya kepadamu. Tetapi kau sudah mendengarnya. Adakah semalam kau mendengarkan percakapan kami?”

Mahisa Agni benar-benar terkejut mendengar pertanyaan itu. Sehingga ia menjadi bingung dan gugup. Namun ia tidak mau melihat kekurangan dirinya. Ia tidak mau seseorang menganggapnya bahwa ia tidak dapat memadai Wiraprana, sehingga seorang gadis lebih menyukai Wiraprana daripadanya. Karena itu maka katanya, “Apa salahnya aku mendengar percakapan kalian. Aku sama sekali tidak berkeberatan. Aku sudah berjanji, bahwa aku akan menyampaikannya kepada Wiraprana. Membawanya kepada gadis itu. Kenapa tidak? Aku sama sekali tak berkepentingan dengan keduanya, selain Ken Dedes adalah adikku dan Wiraprana adalah sahabatku.”

Mahisa Agni masih berkata terus, namun orang tua itu memotong kata-katanya, “Adakah sedemikian juga kata hati mu?”

“Jangan mengada-ada, Bibi,” sahut Mahisa Agni sambil berdiri. Kemudian ia melangkah beberapa langkah, dan berdiri di pintu sambil bersandar tiang. Pandangannya jauh menyeberangi ruang dalam seakan-akan menembus dinding-dinding rumah Empu Purwa.

Tetapi Mahisa Agni kemudian memutar tubuhnya, dan sekali lagi ia heran. Perempuan itu menangis. Karena itu sekali lagi Mahisa Agni bertanya, “Kenapa kau menangis?”

Kini emban tua itu menunduk. Dari sela-sela isak tangisnya ia berkata, “Angger, aku ingin melihat kau berbahagia. Aku ingin melihat kau dan Ken Dedes, hidup bersama-sama dalam ikatan keluarga.”

“Tidak,” potong Mahisa Agni, “tidak! Jangan Bibi mencoba mempengaruhi kemurnian anggapanku terhadap gadis itu. Aku tidak lebih dari kakak kandungnya.”

“Agni,” kata perempuan itu, “jangan berbohong kepadaku. Dan jangan berbohong kepada diri sendiri.”

“Cukup!” Mahisa Agni membentak. Tetapi ia menyesal. Karena itu ia berkata lirih sambil mendekati perempuan itu, “Maaf, Bibi. Tetapi Bibi jangan menyebut-nyebut itu lagi.”

Mahisa Agni menjadi gelisah ketika kembali wanita tua itu memandangnya. Sinar matanya itu seakan-akan langsung menghunjam ke jantungnya. Karena itu sekali lagi Mahisa Agni melangkah, bersandar uger-uger pintu.

“Aku menjadi bersedih, Ngger,” bisik emban itu, “ketika aku mendengar Ken Dedes menyebut sebuah nama. Dan nama itu bukan namamu.”

“Jangan pedulikan aku Bibi,” potong Agni.

“Tidak dapat Ngger. Aku menitipkan harapan di hari depanmu.”

Mahisa Agni tersentak. Cepat-cepat ia berpaling dan bertanya, “Kenapa?”

“Kau masih mau mendengar?”

“Tentang harapan itu, bukan tentang seorang gadis.”

Perempuan itu menunduk. Kemudian ia berkata-kata, namun seakan-akan ditujukan kepada diri sendiri, “Kau adalah satu-satunya harapan bagi masa depan yang panjang Agni. Bukankah kau tidak bersaudara? Kalau masa depanmu suram, masa depanku pun menjadi gelap. Lebih gelap daripada masamu itu. Sebab umurku tidak akan melebihi hitungan jari sebelah tangan.”

Mahisa Agni menjadi semakin tidak tahu arah pembicaraan perempuan tua itu. -Apakah hubungannya hari depannya dengan hari depan orang tua itu. Karena itu, maka dengan berbagai pertanyaan di dadanya ia mendengar perempuan itu berkata, “Kalau kalian tidak terpisahkan. Maka aku pun akan selalu bersama kalian. Aku pasti akan ikut Ken Dedes sebagai pemomongnya. Kalau kau terpisah daripadanya, maka aku pun tak akan melihatmu lagi setiap hari.”

“Oh,” Agni menjadi kecewa mendengar alasan itu. Betapa sederhana. Maka jawabnya, “Bibi terlalu mementingkan kepentingan sendiri. Bibi hanya ingin mengikuti Ken Dedes dan melihat aku setiap hari. Itu saja? Baik. Baik. Kelak aku juga akan ikut Ken Dedes dan Wiraprana. Biarlah aku menjadi juru pengangsu atau menjadi pakatik pemelihara kuda.”

Kata-kata Agni terputus ketika orang tua itu menutup kedua wajahnya dengan tangannya yang kisut. Terdengarlah orang tua itu terisak.

Dan Agni pun menjadi semakin tidak sabar. Maka katanya, “Kenapa Bibi menangis saja? Bukankah Ken Dedes minta Bibi menyampaikan kepadaku permintaan supaya aku berkata kepada Wiraprana bahwa Ken Dedes menunggunya. Bahkan Wiraprana harus datang kepada Empu Purwa dengan sebuah upacara lamaran. Dan bahwa lamaran itu pasti akan diterimanya? Bukankah begitu?”

“Ya, ya, Agni,” potong perempuan itu, “demikianlah.”

“Nah. Kenapa Bibi tidak mengatakannya? Malahan Bibi menangis saja?”

“Aku ingin mengatakannya kepadamu. Tetapi bukankah kau sudah mengetahuinya?” sahut emban itu, “karena itu tentu sudah tidak akan menarik lagi bagimu. Tetapi Ngger, keinginanku melihat kalian berdua hidup bersama bukan karena alasan yang terlalu sederhana itu. Bukan itu. Dan aku tidak berkeinginan untuk memaksamu atau mempengaruhi keikhlasanmu, seandainya kau benar-benar melihat kenyataan itu. Bahkan aku ingin melihat kau melampaui kegagalan ini dengan hati jantan.”

“Ah,” Agni berdesah.

“Tetapi,” orang tua itu meneruskan, “aku menjadi gelisah karena aku melihat keadaanmu.”

“Biar, biarlah aku dalam keadaanku,” sahut Agni.

“Angger, kau masih mau mendengar sebuah cerita?”

Agni menoleh. Ditatapnya kembali wajah yang sudah berkeriput oleh garis-garis ketuaannya. Tetapi kembali Mahisa Agni menatap titik di kejauhan. Gumamnya acuh tak acuh, “Cerita tentang harapan di masa depan. Bukan tentang gadis.”

Orang tua itu menggeser duduknya. Kemudian sambil menundukkan kepala ia mulai dengan kisahnya, “Dahulu adalah seorang gadis yang sederhana. Sederhana ujudnya dan sederhana hatinya. Tetapi di luar setahunya dan kemauannya, beberapa orang pemuda telah mencintainya bersama-sama. Sudah tentu bahwa gadis itu tak akan dapat memilih lebih dari satu di antaranya. Karena itu di luar pengetahuan siapa pun, gadis itu telah berjanji untuk hidup bersama-sama dengan salah seorang dari mereka. Seorang laki-laki yang keras hati dan berkemauan teguh. Untuk bekal hidup mereka kelak maka laki-laki itu memutuskan untuk pergi merantau, mencari daerah-daerah baru yang akan dapat memberi mereka tanah untuk garapan, supaya mereka dapat hidup dengan tenang dan tidak kekurangan makan. Gadis itu pun tidak berkeberatan. Dilepasnya laki-laki itu dengan janji, bahwa gadis itu akan menunggunya sampai ia kembali.”

Mahisa Agni mendengar juga cerita itu. Kata demi kata. Tetapi ia sama sekali tidak menaruh minat. Ia mendengarkan hanya karena ia tidak mau menyakitkan hati emban tua itu. Apalagi ternyata cerita itu sama sekali tak menyinggung-nyinggung hubungan antara masa depan perempuan tua itu dengan masa depannya. Dan ia masih mendengar emban itu berkisah terus, “Setahun, dua tahun sehingga akhirnya sampai pada tahun ketiga. Namun laki-laki itu tak kunjung datang. Harapan-harapan yang telah dianyam oleh mereka berdua, sedikit demi sedikit rontok dari hati gadis itu. Apalagi kemudian ayah bundanya, dan keluarga di sekitarnya, telah mendesaknya untuk segera meninggalkan masa-masa mudanya. Akhirnya gadis itu tak dapat berbuat lain daripada memilih satu dari sekian banyak pemuda yang melamarnya. Laki-laki yang pergi itu tak akan dapat diharapnya kembali.”

Perempuan tua itu berhenti sejenak Dipandanginya wajah Mahisa Agni. Tetapi Mahisa Agni tidak berpaling. Anak muda itu masih memandang jauh ke depan, melewati pintu biliknya, menyeberangi ruang dalam dan menembus dinding di sebelah sana.

“Kau mendengar ceritaku?” bertanya emban itu.

“Ya, ya, tentu,” Agni terperanjat.

Perempuan tua itu menarik nafas. Ia tahu bahwa Mahisa Agni tidak berminat atas ceritanya, namun ia bercerita terus. Pada suatu saat anak muda itu pasti akan menaruh perhatian kepada ceritanya itu. Maka ia pun meneruskan, “Maka sampailah masanya gadis itu memanjat ke hari-hari perkawinannya. Laki-laki yang dipilihnya kali ini pun adalah laki-laki yang berhati teguh. Ia mengharap bahwa suaminya akan dapat melindunginya apabila sekali-sekali kesulitan datang. Sebab tidak mustahil, apabila anak-anak muda yang menjadi kecewa kelak akan bermata gelap. Namun meskipun laki-laki itu berhati teguh. dan beradat keras, namun ternyata adalah seorang suami yang baik. Dilihatnya kepentingan sendiri, namun. tak diabaikannya kepentingan istrinya itu Sehingga akhirnya, perkawinan itu menjadi semakin terjalin oleh anaknya yang pertama. Laki-laki.”

Sekali lagi perempuan itu berhenti. Matanya menjadi semakin sayu, dan wajahnya menjadi semakin tunduk. Hampir-hampir ia tidak dapat meneruskan ceritanya, karena lehernya serasa tersekat oleh setiap kata-kata yang akan diucapkannya. Namun ia memaksa bercerita terus. Katanya, “Tetapi pada suatu saat, datanglah badai yang mengguncangkan ketenteraman hidup mereka. Laki-laki yang telah disangkanya hilang itu, akhirnya datang kembali. Dengan bangga ia mencari gadis yang telah berjanji menunggunya. Dengan luka-luka di tubuhnya yang didapatnya dalam setiap persoalan di sepanjang jalan, namun dengan dada menengadah ia berkata, ‘Aku sekarang adalah seorang yang kaya raya’ ”

Tetapi akhirnya Mahisa Agni menjadi jemu mendengar cerita itu. Karena itu ia mendahului, “Aku sudah tahu kelanjutan cerita itu. Kedua laki-laki itu akan bertempur satu sama lain. Laki-laki yang merantau itu akan menang, dan perempuan itu akan kembali kepadanya.”

Emban tua itu menjadi sedih. Katanya, “Sayang Ngger, cerita itu berkesudahan lain.”

“Oh,” sahut Agni, “jadi laki-laki yang pulang dari rantau itulah kalah?”

“Tidak,” jawab perempuan tua itu.

“Juga tidak. Jadi bagaimana?” bertanya Mahisa Agni.

Perempuan itu menarik nafas. Seakan-akan sedang mengatur gelora di dadanya. Kemudian ia meneruskan, “Gadis yang telah menjadi ibu itu pun mendengar bahwa laki-laki yang pernah ditunggunya itu datang. Maka ia pun menjadi bingung. Terkenanglah ia pada masa-masa gadisnya. Janjinya kepada anak muda itu. Dan kembali terkenang masa-masa yang penuh gairah menghadapi masa depan. Sebenarnyalah ia masih belum dapat melenyapkan laki-laki itu dari hatinya. Namun disadarinya, bahwa untuk meninggalkan suaminya tak akan dapat dilakukannya. Pergaulan hidup yang selama ini dialaminya, adalah kehidupan yang manis. Karena itu, perempuan itu tak tahu bagaimana ia harus menyelesaikan persoalannya. Apalagi ketika disadarinya, bahwa kedua-duanya adalah orang-orang sakti yang sukar dicari tandingnya.”

“Maka ketika ia tidak dapat menyembunyikan keadaan itu, akhirnya ia memutuskan untuk berkata berterus terang kepada suaminya, dan ia mengharap daripadanya ia akan mendapat pikiran-pikiran baru untuk menyelesaikan persoalan itu.”

“Ketika laki-laki itu mendengar pengaduan istrinya, perasaan-perasaannya dan pengalaman-pengalamannya dengan jujur, laki-laki itu terkejut. Ditatapnya mata istrinya dengan penuh keganjilan. Tetapi laki-laki itu tidak berkata sepatah kata pun. Dibiarkannya istrinya menangis. Bahkan kemudian laki-laki itu pun meninggalkannya seorang diri. Perempuan itu menjadi cemas, bahwa suaminya akan menemui laki-laki yang seorang lagi. Ia takut kalau terjadi perkelahian di antara mereka. Karena itu, maka ia pun segera berlari ke rumahnya. Tetapi suaminya tak ditemuinya di sana. Bahkan laki-laki yang telah pulang dari rantau itulah yang menemuinya. Namun perempuan itu pun tak dapat berkata apa-apa. Ia hanya dapat menangis. Akhirnya laki-laki itulah yang berkata, ‘Pulanglah. Aku sudah tahu apa yang terjadi. Dan aku akan merantau kembali membawa hatiku yang terbelah. Aku pulang dengan membawa harapan. Tetapi laki-laki itu lebih memerlukan kau daripada aku. Kembalilah kepadanya, dan peliharalah baik-baik’”

“Perempuan itu mengeluh. Diterimanya nasihat itu, namun disadarinya bahwa ia telah merusak sebuah hati. Ia tidak tahu, apakah hati yang dilukainya itu akan dapat sembuh kembali. Dengan sedih perempuan itu pulang ke suaminya. Namun suaminya tak ditemuinya di rumah. Akhirnya di dengarnya bahwa malapetaka telah menimpanya tanpa disangka-sangkanya. Seorang pembantunya yang setia datang kepadanya sambil berkata ‘Suamimu telah pergi. Ditinggalkannya pesan untuk Nyai, hidup berbahagia dengan laki-laki yang telah bertahun-tahun ditunggunya’”

“Perempuan itu hampir pingsan mendengar berita itu, apalagi ketika pembantu setianya itu berkata, ‘Anakmu laki-laki telah dibawa serta oleh suamimu, Nyai’”

Akhirnya, laki-laki itu yang berkata. Pulanglah. Aku sudah tahu apa yang terjadi. Dan aku akan merantau kembali membawa hatiku yang terbelah …..

Emban tua itu berhenti sejenak. Ditatapnya wajah Mahisa Agni yang tiba-tiba menjadi merah. Dengan tiba-tiba pula Mahisa Agni berdiri, dan dengan suara yang bergetar ia berkata lantang, “Bibi, adakah kau sedang menyindir aku. Apakah kau sangka aku laki-laki cengeng seperti kedua laki-laki itu? Tidak. Atau kau sedang menganjurkan kepadaku, supaya aku menjadi seperti kedua laki-laki yang hanya mampu berpura-pura itu?”

“Katakanlah ia berbuat kebajikan. Keluhuran budi, namun kedua-duanya tidak jujur. Bukankah Bibi mengatakan bahwa hati mereka terbelah?”

“Agni..,” potong perempuan tua itu.

Namun Agni berkata terus, “Ataukah kau menghendaki supaya aku bersikap jantan? Menantang laki-laki yang menghalang-halangi aku. Dengan bertaruh nyawa untuk mencapai idaman hati? Tidak. Tidak. Jangan gurui aku. Sebab aku mempunyai pendirian sendiri. Perempuan itulah yang bersalah. Bukankah dengan demikian, ia memecah dua buah hati sekaligus, atau apabila mereka laki-laki yang rakus, bukankah mereka telah bertempur. Apabila salah seorang dari mereka itu mati atau kedua-duanya, siapakah yang bersalah? Pasti perempuan itu. Gadis itu.”

“Agni. Agni,” perempuan tua itu memekik kecil. Sehingga Agni terkejut. Dengan demikian ia menjadi terdiam. Bahkan ia pun kemudian sadar, bahwa ia telah berbicara terlalu keras, sehingga apabila seseorang mendengarnya, pastilah orang itu menyangka bahwa ia sedang bertengkar.

Tetapi Mahisa Agni menjadi lebih terkejut lagi ketika dilihatnya mata perempuan tua itu. Mata itu tiba-tiba menjadi bercahaya, dan mata itu menatapnya dengan tajam. Dan dilihatnya bibir wanita itu bergetar. Perlahan-lahan namun pasti perempuan tua itu berkata, “Kau benar Agni. Perempuan itulah yang bersalah. Ia telah mengecewakan kedua-duanya. Karena itulah maka perempuan itu harus dihukum. Kau benar anak muda. Perempuan itu harus dihukum. Dan perempuan itu pun telah menghukum diri sendiri. Betapa ia membuang diri dari lingkungannya. Dari keluarga dan sanak kadang. Hiduplah ia kemudian sebagai seorang budak yang hina.”

Emban itu berhenti sejenak. Matanya masih menyala. Kemudian ia meneruskan, “Tetapi apakah yang dilakukan oleh kedua laki-laki itu. Meskipun mereka tidak bertempur satu sama lain, namun tak banyaklah artinya daripada itu. Mereka menumpahkan kepahitan hidupnya pada orang-orang lain. Dan kedua laki-laki itu pun tak berumur panjang. Sebelum matinya, laki-laki yang membawa anaknya itu selalu berkata kepada anaknya, bahwa ibunya telah meninggal dunia. Dan akhirnya ayahnya pun meninggal pula.”

Ketika perempuan tua, emban Ken Dedes itu berhenti sejenak Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Masih dilihatnya mata emban itu memandangnya dengan tajam. Dan tiba-tiba saja terasa seakan-akan sinar mata itu menusuk ulu hatinya, sehingga Mahisa Agni pun dengan tergesa-gesa berpaling.

Kemudian terdengar emban itu meneruskan, “Tetapi ke tahuilah Agni. Perempuan itu, ibu anak yang ditinggalkan ayahnya itu, sebenarnya belum mati.”

Dada Mahisa Agni berdesir. Terasa sesuatu bergolak di dalam rongga dadanya. Apalagi ketika ia mendengar emban itu meneruskan dengan suara lembut, namun dalam sekali, “Agni, kau ingin melihat perempuan yang berdosa itu. Yang telah mengecewakan dua orang lelaki sekaligus?”

Agni tidak menjawab. Tetapi ia memandang mata perempuan tua itu. Dan telinganya mendengar emban itu berkata, “Inilah perempuan itu.”

“Oh,” Agni terperanjat. Dan tak sesadarnya ia berkata, “Maafkan aku Bibi.”

“Kau benar Ngger. Tak ada yang harus aku maafkan,” perempuan tua itu menundukkan wajahnya. Dan kembali air matanya menetes satu-satu. Tetapi kini Agni melihat betapa sedih hati perempuan itu. Justru karena ia menyadari, bahwa ia telah menghancurkan harapan dari dua orang laki-laki bersama-sama.

Agni pun menundukkan wajahnya. Ia menyesal akan ketelanjurannya. Ia menyesal bahwa ia telah bersikap terlalu kasar kepada perempuan tua itu. Kini sedikit demi sedikit terguratlah di dinding hatinya, maksud sebenarnya dari perempuan itu. Mungkin perempuan itu akan mengatakan kepadanya, bahwa Ken Dedes pun tak dapat disalahkannya. Meskipun perempuan itu tidak membantah, bahkan mengakui, bahwa dirinya telah berdosa, tetapi tersimpan juga pertanyaan di hatinya ‘Apakah sebenarnya aku bersalah?’.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Mungkin, katanya di dalam hati. Mungkin perempuan itu akan memberi nasihat kepadaku, supaya aku tidak mendendam dan menjalani sisa-sisa hidup dengan pedih dan duka. Tetapi Mahisa Agni tak berkata sepatah pun.

Untuk sesaat ruangan itu menjadi sunyi. Agni pun kemudian menundukkan wajahnya. Dan perempuan tua itu sedang sibuk mengusap air matanya dengan ujung kainnya.

Tetapi sampai saat itu Mahisa Agni masih belum dapat menghubungkan, betapa perempuan itu menyimpan harapan sejalan dengan masa depannya.

Sesaat kemudian terdengar emban itu berkata, “Angger, kini kau tahu dengan siapa kau berhadapan. Bagaimanakah anggapanmu kepada perempuan yang demikian? Masihkah ia berhak menyebut dirinya di antara keluarganya?”

Mendengar pertanyaan itu, Mahisa Agni menjadi bimbang. Apakah perempuan itu bercerita tentang dirinya, ataukah ia sedang menjajaki tanggapannya terhadap Ken Dedes? Tetapi melihat sinar matanya, maka Agni merasa, bahwa perempuan itu berkata dengan jujur. Meskipun demikian Agni tidak segera dapat menjawab pertanyaan itu. Sehingga perempuan itu terpaksa sekali lagi mengulangi.

“Angger, bagaimanakah anggapanmu terhadap perempuan yang demikian? Apakah ia mutlak bersalah dan harus dihukum untuk seumur hidupnya?”

Dengan serta merta Agni menjawab di luar kemauannya, “Tidak. Tidak Bibi.”

Perempuan itu menarik nafas. Kemudian ia bertanya pula, “Bagaimanakah seandainya, perempuan itu termasuk salah seorang keluargamu. Kakakmu misalnya atau adikmu perempuan?”

Kini Agni menjadi semakin bimbang. Hampir ia kecewa terhadap perempuan itu. Apakah aku harus menentukan tanggapanku terhadap Ken Dedes? Sekali lagi tebersit pertanyaan di dalam hati. Namun akhirnya Mahisa Agni tak dapat lagi menyimpan pertanyaan itu, sehingga akhirnya terlontar dari mulutnya, “Adakah Bibi sedang ingin mengetahui, apakah aku mendendam kepada Ken Dedes?”

“Tidak Ngger. Tidak,” jawab perempuan tua itu cepat-cepat, lalu disambungnya, “Aku bertanya kepadamu sejujur hatiku. Kalau perempuan itu datang kepadamu Agni, apakah akan kau usir dia?”

Agni memandang perempuan tua itu dengan tajamnya. Ketika dilihatnya wajah yang sayu, maka ibalah hatinya. Ia tidak mau menambah pedih hati yang luka itu. Karena itu ia menjawab, “Tentu Bibi. Seandainya aku salah seorang dari keluarga bibi, maka akan aku terima Bibi kembali kepadaku.”

“Oh,” perempuan itu akan berkata, namun tiba-tiba kembali ia menangis. Dan Mahisa Agni pun menjadi semakin tidak mengerti. Apakah sebenarnya yang terjadi dengan perempuan itu?

Disela-sela tangisnya Agni mendengar ia berkata, “Agni. Aku tidak tahu, apakah kau berkata sebenarnya, atau kau hanya ingin menyenangkan hatiku. Tetapi ketahuilah, bahwa perempuan itu, aku, benar-benar ingin kembali kepada satu-satunya keluarganya yang diketahuinya. Bahkan satu-satunya orang yang dapat menyebutnya orang tua. Agni. Ketahuilah bahwa perempuan itu ingin datang kepada anak laki-lakinya. Dan anak laki-laki itu kini telah ditemukannya. Bahkan sebenarnya sudah sejak lama. Namun perempuan itu takut melihat bayangannya sendiri.”

Perempuan itu berhenti sejenak. Kata-kata itu benar-benar telah mengguncangkan dada Mahisa Agni. Apalagi ketika perempuan itu berkata seterusnya. Kata demi kata, bagaikan guruh yang menggelegar di tengah-tengah hari yang cerah, “Agni. Anak-anak laki-laki itu kini berada di sini pula. Di ruangan ini.”

“Bibi,” potong Agni terbata-bata, “Apakah yang dimaksudkan dengan anak laki-laki itu aku?”

Perempuan itu mengangguk. Lemah dan ragu-ragu. Namun kemudian ia berkata pasti, “Ya Agni. Kau.”

“Jadi….?” Agni ingin berkata lagi. Namun tiba-tiba terasa mulutnya seperti tersumbat dan jantung serasa beku. Tubuhnya yang kokoh itu pun bergetar dan akhirnya terhuyung-huyung ia melangkah maju, sambil berdesis, “Ibu. Benarkah?”

Perempuan itu mengangguk lemah. Lemah sekali.

Peristiwa itu benar-benar tak akan disangka-sangka sebelumnya. Karena itu Mahisa Agni menjadi bingung. Sesaat ia berdiri mematung, namun kemudian ia meloncat dua langkah maju dan berjongkok di hadapan perempuan tua itu. Katanya, “Jadi benarkah bahwa yang duduk di hadapanku ini ibuku?”

“Ya, Agni,” jawab perempuan itu, “ibu yang melumuri tubuhnya dengan dosa. Tak ada yang pernah aku kerjakan sebagai seorang ibu untuk anaknya. Dan sekarang terserah kepadamu Agni. Apakah kau ingin menerimanya atau kau akan menolaknya.”

Agni tidak menjawab. Tetapi dengan gemetar ia memeluk kaki perempuan tua itu. Dadanya yang bergelora serasa akan meledak. Setetes demi setetes air mata perempuan tua itu menitik di atas kepalanya.

Kembali bilik itu menjadi sepi. Yang terdengar adalah nafas Mahisa Agni yang berdesak-desakan memburu keluar dari lubang-lubang hidungnya. Seperti orang yang kehilangan kesadaran. Agni tenggelam dalam suatu gelora perasaan yang dahsyat. Pertemuan itu benar-benar mengejutkannya. Sebab telah tertanam di dalam hatinya suatu pengertian, bahwa ibunya telah meninggal dunia. Kini perempuan itu berkata, bahwa ia adalah ibunya. Meskipun kata-kata itu tak akan dapat dibuktikannya, namun Agni mempercayainya. Dengan suatu keyakinan, yang tumbuh di dalam hatinya, ia pasti, bahwa perempuan itu adalah ibunya.

[divider line_type=”Full Width Line” custom_height=””]

Source : www.agusharis.net

~ Article view : [297]