Pelangi di Langit Singasari [ 04 ]

431

oleh S.H. Mintardja

[ Seri 04 ]

 

Mahisa Agni yang berlutut di muka ibunya itu meneium pada tangan ibunya yang dingin. Katanya, “Ibu, doakan aku, semoga Yang Maha Agung memberkahi.”

“Tentu anakku, yang Maha Agung memberkahi perjalananmu.”

Mahisa Agni itu pun kemudian berdiri. Diambilnya sebuah bungkusan dari pembaringannya. Bungkusan bekal di perjalanannya. Beberapa potong pakaian, bahan-bahan makanan dan sebuah keris peninggalan ayahnya, buatan pamannya Empu Gandring. Dihiburnya dirinya sendiri dengan pusaka ayahnya itu, karena Trisulanya harus ditinggalkannya di padepokan.

Setelah sekali lagi Agni mencium tangan ibunya, maka melangkahlah ia meninggalkan biliknya.

Di muka pintu bilik itu Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya air mata ibunya semakin deras mengalir di pipinya yang berkeriput. Namun perempuan itu tersenyum kepadanya. Dianggukkannya kepalanya sambil bergumam, “Selamat jalan anakku.”

Terasa sesuatu merambat di tenggorokkan Mahisa Agni. Matanya pun menjadi panas sehingga ditengadahkannya wajahnya memandang langit-langit rumah Empu Purwa itu. Baru kemudian ia menjawab, “Terima kasih ibu.”

Di pendapa Agni melihat gurunya dan Ken Dedes berdiri memandang cahaya matahari pagi. Ketika mereka melihat Agni dengan sebuah bungkusan kecil yang diikatnya di ujung tongkat kayu, gurunya menggigit bibirnya.

Kemudian katanya, “Perjalanan yang berat, Agni. Mudah-mudahan kau berhasil.”

Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Juga tangan gurunya itu diciumnya. “Mudah-mudahan aku berhasil memenuhi harapan guru,” berkata Mahisa Agni. Suaranya seakan-akan tertahan di dadanya.

“Aku selalu berdoa untukmu Agni.”

“Terima kasih, Guru.”

Ken Dedes yang berdiri seperti patung, tiba-tiba mengusap matanya yang basah. Dengan terbata-bata ia bertanya, “Apakah perjalananmu akan memerlukan waktu yang panjang Kakang?”

Mahisa Agni memandang wajah gurunya, seakan-akan ia akan bertanya kepadanya. Namun gurunya berdiam diri sambil menyilangkan tangannya di dadanya.

Karena itu, maka Mahisa Agni menjawabnya, “Mudah-mudahan tidak terlalu lama, Ken Dedes.”

Ken Dedes menganggukkan kepalanya, namun tangannya masih saja sibuk mengusap matanya.

“Nah, Agni,” berkata gurunya, “mumpung hari masih pagi. Selamat jalan.”

“Terima kasih, Guru,” sahut Agni, yang kemudian dengan hati yang berat dilangkahinya satu persatu tangga pendapa yang sudah bertahun-tahun didiaminya.

Ketika sekali lagi ia berpaling, hatinya berdesir. Ia hanya sempat melihat gurunya berjalan tergesa-gesa meninggalkan pendapa langsung masuk ke sanggarnya. Yang berdiri di pendapa itu kini tinggal Ken Dedes dan di belakangnya embannya, perempuan tua yang memandang Agni dengan mata berkaca-kaca.

—–
Ken Dedes yang berdiri seperti patung, tiba-tiba mengusap matanya yang basah. Dengan terbata-bata ia bertanya, “Apakah perjalananmu memerlukan waktu yang panjang, Kakang?”
—–

Ketika Agni sudah sampai di halaman, didengarnya Ken Dedes berteriak, “Lekaslah kembali Kakang, supaya padepokan ini tidak menjadi sepi.”

Mahisa Agni berpaling sekali lagi. Perlahan-lahan ia mengangguk. Jawabnya, “Tentu. Tentu aku akan segera kembali.”

Agni menarik nafas panjang. Gadis itu benar-benar telah menumbuhkan seribu macam persoalan pada dirinya. Mahisa Agni terkejut ketika ia mendengar sebuah tangis yang meledak. Ketika ia menoleh, dilihatnya Ken Dedes menangis di pelukan embannya yang tua. Tetapi Mahisa Agni tidak berhenti. Dengan tetap ia melangkah meninggalkan rumah itu, betapa pun berat hatinya. Di rumah itu tinggal gurunya yang telah menempanya siang malam pada tingkat yang mula-mula sekali, kemudian berturut-turut membuatnya menjadi seorang yang teguh lahir dan batin. Juga di rumah itu tinggal seorang gadis yang hampir-hampir saja menghancurkan masa depannya. Apalagi kemudian diketahuinya, bahwa ibunya berada di rumah itu pula. Ibunya yang telah melahirkannya.

“Aku pergi untuk kembali,” gumamnya seorang diri.

Akhirnya dilangkahinya regol halaman, dan dengan tergesa-gesa ia membelok menurut jalan desanya hampir melekat pagar. Dengan demikian maka ia akan segera lenyap dari pandangan mata orang-orang yang mengikutinya dari halaman dan pendapa rumahnya.

Tetapi kembali hatinya berdebar-debar. Dilihatnya dari kejauhan dengan tergesa-gesa Wiraprana datang kepadanya. Anak muda itu sudah beberapa lama tidak pernah datang ke rumah itu, justru karena hubungannya dengan Ken Dedes.

“Agni,” katanya hampir berteriak, “benarkah kau berangkat pagi ini?”

Mahisa Agni mengangguk.

“Aku mendengar dari seorang cantrik di sudut desa. Kenapa kau tak memberitahukan kepadaku?”

“Aku bermaksud singgah sebentar di rumahmu Prana,” sahut Mahisa Agni.

“Oh. Marilah,” ajak Wiraprana.

“Kita sudah bertemu di sini.

“Lalu?”

“Aku tak usah singgah ke sana.”

“Oh,” Wiraprana menjadi kecewa.

“Sampaikan baktiku kepada Bapa Buyut Panawijen. Aku mohon diri untuk beberapa lama.”

Wiraprana mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baik. Baik,” katanya, “Tetapi apakah kau tidak singgah meskipun hanya sebentar?”

“Terima kasih Prana, terima kasih,” jawab Agni.

Wiraprana benar-benar menjadi kecewa. Ditatapnya wajah sahabatnya. Kemudian katanya,”Selamat jalan Agni.”

Mahisa Agni tersenyum. Senyum yang memancar dari berbagai perasaan di dalam dirinya. Terdengar anak muda itu berkata perlahan-lahan, “Prana, meskipun kau belum menjadi suami Ken Dedes, tetapi jagalah dia dari jarak yang ada sekarang. Kalau kau mengalami kesulitan-kesulitan apa pun, terutama apabila terjadi kekerasan karena persoalan gadis itu, sampaikanlah secepatnya kepada ayahnya.”

Wiraprana mengerutkan keningnya. Timbullah pengakuan di dadanya atas kekurangannya, sehingga orang lain harus menolongnya dalam persoalan yang seharusnya ditanggungkannya. Karena itu maka katanya, “Kepergianmu sangat mengecewakan aku, Agni. Keinginanku untuk mendapatkan kemampuan setidak-tidaknya untuk menjaga diriku tertunda karenanya. Namun aku tak dapat mementingkan diriku sendiri. Aku menghormati kepentinganmu pula. Karena itu mudah-mudahan kau lekas kembali.”

Akhirnya Wiraprana dan Mahisa Agni pun berpisah pula. Diantarkannya Agni sampai ke sudut desa, kemudian dilepasnya sahabatnya itu dengan hati yang berat.

“Aku hanya pergi untuk beberapa lama,” berkata Mahisa Agni, “Jangan risaukan aku. Sampaikan kepada Ken Dedes apabila kau sempat bertemu, juga kepada pemomongnya, perempuan tua itu. Aku tidak sedang berangkat perang. Tetapi hanyalah sebuah perjalanan biasa. Mungkin akan merupakan sebuah tamasya yang menyenangkan. Melihat lembah dan ngarai yang belum pernah aku lihat.”

Wiraprana tersenyum. Senyum yang masam. Jawabnya, “Apakah bedanya perjalananmu dengan sepasukan prajurit yang sedang berangkat ke medan perang? Mungkin daerah pertempuran yang kau jumpai jauh lebih luas dari daerah peperangan. Mungkin musuh yang kau jumpai pun jauh lebih banyak dari musuh setiap prajurit dolan peperangan.”

Mahisa Agni pun tersenyum pula. Kemudian katanya, “Nah, Selamat tinggal Wiraprana, selamat tinggal sahabat-sahabat yang lain. Sampaikan salamku kepada mereka.”

Wiraprana mengangguk, dan Mahisa Agni pun kemudian memutar tubuhnya, dan berjalan dengan hati yang tetap meninggalkan padukuhan yang telah bertahun-tahun didiaminya.

Ketika Mahisa Agni menengadahkan wajahnya, memandang langit yang biru bersih, dilihatnya burung-burung manyar beterbangan. Awan yang putih sehelai-sehelai hanyut dalam arus angin yang lembut.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dilihatnya di sekitarnya, alam yang maha luas. Pepohonan, burung-burung di udara, air dan binatang-binatang di dalamnya, rumput dan perdu. Terasalah betapa tangan yang Maha Agung telah memelihara semuanya itu. Dan karena itulah maka Mahisa Agni menjadi semakin berbesar hati. Ternyata di segala sudut bumi, di antara hutan-hutan belukar, di antara lembah dan ngarai, di segala tempat, bahkan di manapun yang diangan-angankannya, hadirlah Yang Maha Agung itu. Dan pada-Nya Mahisa Agni memperoleh ketenteraman.

Mahisa Agni berjalan terus dengan cepat. Tujuannya adalah ukup jauh, sehingga setiap saat harus dimanfaatkannya. Ketika ia berpaling, lamat-lamat dilihatnya padukuhan Panawijen. Anak muda itu menarik nafas dalam. Padukuhan itu seakan-akan melambai kepadanya. Tanpa sesadarnya Mahisa Agni mengangguk-angguk. “Aku akan segera kembali padamu Panawijen.

Tetapi tiba-tiba terasa sesuatu berdesir di dada Mahisa Agni. Mahisa Agni sendiri terkejut karenanya. Ketika ia memandang berkeliling tak dilihatnya apa pun, selain dataran, sawah yang sudah semakin tipis, pepohonan dan di kejauhan gunung yang biru.

Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Tetapi kemudian dihiburnya hatinya sendiri. “Ah, alangkah cengengnya aku ini. Aku adalah seorang laki-laki yang dewasa. Sudah sepantasnya aku melakukan perjalanan-perjalanan yang berbahaya.”

Namun terdengar suara di hatinya, “Aku tidak mencemaskan perjalanan ini, tetapi justru mencemaskan nasib Panawijen, nasib Ken Dedes.”

Apalagi ketika tiba-tiba saja Mahisa Agni teringat pada mimpinya beberapa waktu yang lalu. Mimpinya tentang Ken Dedes yang meloncat ke dalam sebuah perahu. Namun akhirnya, baik Ken Dedes sendiri mau pun perahunya tenggelam ditelan oleh ombak yang ganas.

Mahisa Agni tiba-tiba menggeram. Namun kemudian diingatnya pula gurunya berkata, “Mimpimu adalah mimpi seseorang yang terlalu banyak tidur, Agni.”

“Mudah-mudahan,” gumamnya, “mudah-mudahan mimpiku hanyalah mimpi seseorang yang terlalu banyak tidur.”

Meskipun demikian ia masih menjadi gelisah karenanya. Bahkan tiba-tiba timbullah keinginannya untuk kembali ke Panawijen.

“Hambatan yang pertama,” katanya menggeram, “memang hambatan yang paling sulit di atasi, adalah hambatan- hambatan yang timbul dari diri sendiri.”

Karena itu, segera Agni berusaha untuk membulatkan tekadnya kembali. Digelengkan kepalanya seperti akan melepaskan setiap kenangan yang akan dapat menghambatnya. Dan kembali Mahisa Agni berjalan cepat-cepat menjauhi Panawijen.

Matahari pun semakin lama menjadi semakin tinggi, dan Mahisa Agni pun semakin lama menjadi semakin jauh dari desanya. Kini telah dilampauinya daerah-daerah persawahan yang paling jauh sekali pun. Di hadapannya terbentang sebuah padang rumput yang diselingi oleh gerumbul-gerumbul perdu.

Mahisa Agni pun masih berjalan terus. Ia dapat menempuh jalan yang berbeda-beda. Yang mana pun tak ada bedanya. Namun arahnyalah yang harus dijaganya supaya ia tidak tersesat. Gunung Semeru. Dan ia harus melingkari Gunung itu dan mencapai kakinya dari arah timur. Ia tidak tahu berapa hari perjalanannya itu berlangsung.

Dan tiba-tiba saja Mahisa Agni ingin berjalan lewat padang rumput Karautan. Ia tidak tahu, kenapa padang rumput itu menariknya. Sebenarnya ia dapat menempuh jalan lain, lewat Talrampak atau Kaligeneng. Meskipun telah diketahuinya bahwa kini hantu yang bernama Ken Arok itu telah tidak ada di sana, namun sebuah kenangan yang aneh telah menariknya.

Sebelum Mahisa Agni menyadari, ia telah berjalan menurut jalan ke padang rumput Karautan. Meskipun betapa panasnya. Ditaruhnya bungkusan bekalnya di atas kepalanya, untuk mengurangi panas yang seakan-akan membakar rambutnya.

Tetapi padang rumput itu tampaknya masih sepi. Jalan yang menjelujur di antaranya masih belum tampak banyak dilewati orang, bahkan masih ditumbuhi oleh rumput-rumput liar. Hanya rombongan- rombongan yang besarlah yang berani lewat di padang rumput itu.

“Jalan ini sebenarnya sudah aman,” gumamnya, “tetapi belum juga banyak orang yang berani lewat di sini. Ah, mungkin para pedagang masih meragukan kebenaran berita, bahwa hantu Karautan telah berpindah tempat.” Agni tersenyum sendiri. Alangkah lucunya seandainya ia sendiri menggantikannya di sini. “Kalau saat itu aku bunuh Ken Arok, mungkin sekali aku menjadi penghuni di padang rumput ini.”

Tetapi kini padang rumput itu telah tidak menakutkan lagi. Meskipun masih terlalu sepi. Mahisa Agni berjalan dengan langkah yang cepat dan tetap. Matahari yang terik semakin lama telah semakin condong ke barat.

Sebuah kenangan yang aneh telah menyentuh perasaan Mahisa Agni ketika ia berjalan di antara gerumbul-gerumbul di mana hantu Karautan sering bersembunyi. Di antara gerumbul-gerumbul itu pulalah ia mendengar Ken Arok berkata kepadanya, bahwa jalan yang benar itu terlalu sempit dan jelek, sedang jalan ke arah yang salah itu selalu licin dan lapang.

“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas. Kata-kata itu disimpannya di dalam hatinya.

Akhirnya, ketika senja turun, Mahisa Agni telah melampaui padang rumput yang sepi itu. Dilewatinya beberapa buah padukuhan kecil dan akhirnya ia sampai ke tepi sebuah hutan yang rindang. Hutan yang setiap hari dikunjungi orang yang sedang mencari kayu. Di situlah Mahisa Agni berhasrat untuk beristirahat. Hutan itu telah sering dilewatinya dengan gurunya. Dengan setiap kali ia pergi ke daerah-daerah yang agak jauh bersama gurunya, maka diajarinya ia mencari tempat-tempat untuk bermalam.

Demikianlah Mahisa Agni telah melampaui perjalanannya untuk satu hari. Namun apa yang dicapainya barulah sebuah permulaan yang pendek. Di hadapannya masih terbentang perjalanan yang berlipat-lipat jauhnya.

Malam itu Mahisa Agni tidur dengan nyenyaknya. Perjalanan itu seakan-akan betapa lancarnya. Di pagi harinya, dengan sebuah bandil Agni berusaha untuk berburu binatang. Dan ternyata Agni adalah seorang anak muda yang tangkas. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, ia telah mendapatkan buruannya untuk makan paginya.

Demikianlah, Agni melampauinya hari demi hari. Perjalanannya semakin lama menjadi semakin berat. Hutan yang kadang- kadang sedemikian rapatnya ditumbuhi oleh segala jenis tumbuh- tumbuhan. Sungai-sungai yang deras dan apa pun yang melintang di hadapannya.

Tetapi di samping itu perjalanan Agni pun tidak sepi dari persoalan-persoalan yang sudah diduganya sejak semula. Binatang buas, dan orang-orang jahat yang dijumpainya. Namun karena ketabahan hatinya, satu demi satu semuanya berhasil diatasinya.

Akhirnya, sampailah pada suatu ketika, Mahisa Agni mencapai kaki Gunung Semeru. Kaki gunung yang tak terkirakan tingginya. Hutan-hutan yang padat tumbuh melingkarinya.

Ketika dilihatnya pohon-pohon raksasa yang tumbuh di hutan-hutan itu, serta daun-daunnya yang menjulang ke langit, Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Telah banyak kesulitan-kesulitan yang dihadapinya di perjalanan. Telah banyak penderitaan yang dialami. Namun kini keadaan yang terakhir terbentang di hadapannya. Apakah ia akan berhasil menempuh ujiannya?

Mahisa Agni berhenti sejenak. Ditatapnya gunung yang tegak di hadapannya. Pohon-pohonan yang seakan-akan mendaki tebingnya. Perlahan-lahan namun pasti, akhirnya sampai juga menutupi lambung bukit itu.

Tetapi perjalanannya masih belum akan berhenti. Meskipun gunung itu seakan-akan telah tegak di hadapannya, namun perjalanan yang harus ditempuhnya masih jauh. Apalagi ia harus menemukan sebuah rawa-rawa di lereng sebelah timur gunung itu. Sehingga dengan demikian ia masih harus berjalan melingkar.

Kembali Mahisa Agni melangkahkan kakinya. Kini ia tidak berjalan terlalu cepat. Perlahan-lahan, sedang berbagai persoalan membelit hatinya. Ia merasa, betapa kecil dirinya di antara pohon-pohon raksasa, batu-batu besar dan gunung yang menjulang itu. Dan betapa kecil pula dirinya, lebih-lebih lagi dihadapkan kepada yang telah menciptakan alam ini.

Namun, betapa pun juga, Mahisa Agni merasa bersyukur bahwa sebagian perjalanannya telah dilampauinya. Jarak yang ditempuhnya telah melampaui jarak yang akan dilaluinya.

Kini Mahisa Agni mencoba untuk menghindari hutan-hutan yang lebat itu, meskipun jaraknya menjadi agak jauh. Diselusupnya daerah-daerah yang tidak begitu padat, yang tidak terlalu sulit dilaluinya. Meskipun jaraknya makin jauh, namun dengan demikian ia mengharap, perjalanannya menjadi semakin cepat.

Di daerah- daerah yang demikian, Mahisa Agni tidak melupakan pesan gurunya. Setiap saat ia akan dapat digigil ular-ular kecil yang berkeliaran di tanah, dan serangga- serangga yang berbisa. Karena itu, tubuhnya dilumurinya dengan param pemberian Empu Purwa. Sekali ia merasakan pula, sentuhan-sentuhan pada tubuhnya oleh binatang-binatang kecil. Namun binatang-binatang itu segera meloncat menghindar. Mungkin di dalam ramuan param itu, terdapat berbagai ramuan yang tak disukai oleh jenis-jenis serangga berbisa.

Setelah Mahisa Agni bermalam satu malam lagi, sampailah ia di daerah sebelah timur Gunung Semeru. Dilewatinya padang- padang rumput dan perdu, kemudian Mahisa Agni menarik nafas, ketika ia sampai pada suatu daerah yang berpenghuni. Dilihatnya ladang- ladang hijau ditumbuhi oleh berbagai tanaman. Meskipun sama sekali kurang teratur, namun Agni yakin, bahwa tanaman-tanaman itu ditanam orang.

Dugaannya ternyata benar. Tidak sedemikian jauh lagi, dilihatnya sebuah padukuhan kecil. Padukuhan yang dipagari oleh pagar batu setinggi orang. Rumah-rumah kecil dan batang-batang semboja di halaman. Tempat-tempat sesajen dan kandang-kandang sederhana.

Ketika Mahisa Agni menghampiri padukuhan itu, dilihatnya beberapa orang laki-laki dan perempuan lagi sibuk bekerja di halaman masing-masing, di ladang-ladang dan di sawah-sawah.

“Penduduk yang rajin,” katanya di dalam hati.

Ketika mereka melihat kedatangan Mahisa Agni, tampaklah keheranan membayang di wajah mereka. Mereka satu dengan yang lain saling berpandangan, seakan-akan mereka ingin bertanya, “Siapakah orang asing yang datang ini?”

Dengan demikian Mahisa Agni mengetahuinya, bahwa daerah ini adalah daerah yang jarang-jarang didatangi orang lain.

Meskipun demikian, Mahisa Agni pun telah memaksa dirinya untuk mendekati salah seorang di antaranya. Ia ingin menanyakan apakah di sekitar daerah itu terdapat sebuah rawa-rawa seperti yang pernah dilihatnya dahulu.

Tetapi, sudah barang tentu Mahisa Agni tidak dapat bertanya berterus terang. Sebab selalu diingatnya pula gurunya berkata, bahwa jangan seorang pun yang tahu akan kedatangannya ke gua di lereng gundul Gunung Semeru itu.

Orang yang di dekati oleh Mahisa Agni adalah seorang tua, berambut putih dan berjenggot putih. Dengan sinar mata yang keheran-heranan ia memandang Mahisa Agni dari ujung kepalanya sampai ke ujung kakinya. Serta ketika Mahisa Agni mengangguk hormat padanya, maka dengan tergopoh-gopoh orang itu pun menganggukkan kepalanya pula.

“Bapak,” berkata Mahisa Agni kemudian, “apakah aku dapat bertanya kepada Bapak?”

Orang tua itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab dengan serta-merta, “Tentu,tentu Ngger, tentu.”

Mahisa Agni menarik nafas. Melihat sikap orang tua ini, maka segera Mahisa Agni menduga, bahwa penduduk padukuhan ini, atau setidak-tidaknya orang tua itu adalah seorang yang ramah. Karena itu maka ia bertanya, “Apakah aku boleh mengetahui Bapak, apakah nama padukuhan ini?”

“Tentu Ngger,” jawab orang itu pula, kemudian katanya meneruskan, “nama padukuhan ini adalah Padukuhan Kajar.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Dicobanya untuk mengingat-ingat, apakah beberapa tahun yang lampau, dilaluinya juga Padukuhan Kajar ini? Tetapi nama itu belum pernah didengarnya, dan agaknya daerah ini pun belum pernah dilihatnya.

Sebelum Mahisa Agni bertanya lagi, terdengarlah orang tua itu berkata, “Siapakah Angger ini? Dari mana atau ke manakah tujuan Angger?”

“Namaku Mahisa Agni, Bapak,” jawab Agni, “aku datang dari daerah yang jauh. Dari kaki Gunung Kawi.”

“Oh,” orang tua itu terkejut, “alangkah jauhnya.” Tetapi kemudian orang itu tersenyum, “Ah, tidak begitu jauh. Seseorang pernah lewat di padukuhan ini. Ketika kami tanyakan kepadanya, dari mana ia datang, katanya ia datang dari kaki Gunung Merapi.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Gunung Merapi terletak jauh sebelah barat dari Gunung Kawi. Tiba-tiba ia tertarik pada keterangan itu, sehingga ia bertanya, “Siapakah orang itu Bapak?”

Orang itu mencoba mengingat-ingat, namun beberapa saat ia belum juga menjawab. Akhirnya ia berkata, “Aku telah tidak ingat lagi namanya.”

“Apakah keperluannya?” bertanya Mahisa Agni.

Orang tua itu menggeleng-gelengkan kepalanya, katanya, “Tak seorang pun yang mengetahuinya. Ia hanya lewat dan lenyap lagi dari antara kita.”

“Kapankah itu terjadi?” bertanya Mahisa Agni pula.

“Belum lama. Tiga hari yang lampau?”

Dada Mahisa Agni tiba-tiba menjadi berdebar-debar. Tiga hari yang lampau. “Apakah tak ditanyakan sesuatu kepada Bapak atau kepada seseorang?”

Orang tua itu menggeleng. “Tidak,” katanya.

Mahisa Agni tiba-tiba mencoba menghubungkan kedatangan orang itu dengan akar wregu di dalam gua seperti yang ditunjukkan gurunya. Tetapi ia tidak dapat menanyakannya kepada orang tua itu. yang ditanyakan kemudian adalah, “Ke manakah orang itu pergi Bapak?”

“Ke selatan,” jawabnya.

“Sampai ke manakah jalan yang ke selatan ini?” bertanya Mahisa Agni.

“Jalan itu buntu, Ngger,” jawab orang itu.

“Lalu ke manakah orang dari kaki Gunung Merapi itu pergi?”

Orang tua itu menggeleng. Katanya, “Entahlah. Yang kami ketahui jalan ke selatan ini akan menuju ke rawa-rawa.”

“Ke rawa-rawa?” Mahisa Agni mengulang.

Orang itu mengangguk-angguk. Ia pun kemudian menjadi heran. Mahisa Agni ternyata menaruh minat pada keterangannya.

“Apakah rawa-rawa itu masih jauh?”

“Tidak terlalu jauh,” jawabnya, “tidak sampai sehari Angger akan sampai ke rawa-rawa itu.”

Dahi Mahisa Agni pun kemudian tampak berkerut-kerut. Orang dari Gunung Merapi itu benar-benar menarik perhatiannya. “Ah, mudah-mudahan orang itu mempunyai keperluan yang lain,” katanya di dalam hati.

Kemudian terdengar Mahisa Agni bertanya pula, “Bapak, apakah masih ada padukuhan lain di sekitar padukuhan ini?”

“Ada Ngger. Di sebelah utara,” jawab orang itu.

“Yang lebih dekat di bawah kaki Gunung Semeru?”

Orang itu menggeleng. Jawabnya, “Hutan itu masih terlampau padat. Tak seorang pun yang ingin menebangnya. Di daerah-daerah lain, tanah masih berlimpah-limpah.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Baiklah Bapak. Aku hanya ingin lewat di padukuhan ini. Lima enam hari lagi, mungkin aku akan kembali lewat jalan ini pula.”

Orang tua itu pun menjadi bertambah heran. Katanya, “Apakah Angger juga akan pergi ke selatan?”

Mahisa Agni mengangguk.

“Ke rawa-rawa itu?”

Mahisa Agni ragu-ragu sebentar. Namun kemudian ia mengangguk pula sambil menjawab, “Aku hanya ingin melihat rawa itu.”

Tampaklah sinar mata yang aneh memancar dari wajah orang tua itu. Gumamnya, “Aneh. Rawa itu sangat berbahaya. Banyak binatang-binatang berbisa di sekitarnya. Dan tak ada sesuatu yang menarik untuk dilihat.”

“Apakah Bapak pernah mengunjungi rawa itu?”

“Tentu. Setiap laki-laki di daerah ini harus mengenal daerah-daerah di sekitarnya. Aku pernah juga mendaki kaki gunung itu meskipun begitu tinggi. Tetapi seperti yang aku katakan, bagi Angger, tak ada yang dapat menarik perhatian.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Terima kasih, Bapak. Mungkin tak ada yang akan menarik perhatian setelah aku melihatnya. Namun aku ingin membuktikannya.”

Orang tua itu pun menjadi bertambah heran. Katanya pula, “Angger hanya akan membuang-buang waktu saja. Atau apakah Angger mengenal orang dari Gunung Merapi itu?”

Mahisa Agni menggeleng. “Tidak,” jawabnya, “Aku sama sekali tidak mempunyai kepentingan dengan orang itu, juga dengan rawa-rawa di sebelah selatan. Aku adalah seorang perantau. Aku hanya ingin melihat apa saja.”

“Aneh,” gumam orang tua itu, “Tetapi terserahlah kepada Angger. Namun kami, penduduk Kajar, ingin mempersilakan Angger untuk mampir di padukuhan kami.”

Mahisa Agni mengangguk. Katanya, “Terima kasih Bapak. Nanti apabila aku kembali.”

Orang tua itu tidak berhasil mempersilakan Agni untuk singgah di kampungnya. Mahisa Agni tiba-tiba menjadi tergesa-gesa. Orang yang lewat tiga hari yang lalu sangat mempengaruhi perasaannya. “Adakah orang lain yang pernah mendengar pula tentang akar wregu yang berwarna putih itu?” katanya di dalam hati.

Karena itu dengan tergesa-gesa Mahisa Agni meneruskan perjalanannya lurus ke selatan.

Tiba-tiba setelah ia berjalan beberapa lama, segera ia tertegun. Dilihatnya sebuah sungai yang curam menjalar di tepi jalan setapak yang semakin lama menjadi semakin sempit. Dilihatnya pula sebatang pohon mahoni raksasa di tepi lereng sungai yang curam itu. Dan tiba-tiba saja tumbuh kembali dalam ingatannya. Daerah ini pernah dilihatnya. Dengan serta-merta ia meloncat ke bawah pohon Mahoni raksasa itu. Beberapa tahun lampau ia pernah menggoreskan pedang pada batang mahoni itu. Dan Mahisa Agni tersenyum. Dilihatnya goresan bersilang itu masih ada, meskipun tidak begitu jelas lagi. Namun ia masih melihat dan mengingatnya. Goresan bersilang itu telah dibuatnya dengan pedangnya.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditepuk-tepuknya batang mahoni raksasa itu seakan-akan menepuk pundak seorang sahabat yang telah bertahun-tahun tak berjumpa. Pohon mahoni itu ternyata telah mengungkap segenap ingatannya kembali. Ketika ia memandang berkeliling, dilihatnya batang-batang pohon raksasa yang pernah dilihatnya dahulu.

“Ah,” gumamnya seorang diri, “aku telah mengambil jalan yang lain. Dahulu aku sampai ke tempat ini dari jurusan yang berbeda.”

Dan suaranya itu disaut oleh gemeresik daun-daun kering yang berjatuhan dihembus angin yang semakin lama menjadi semakin keras. Sejalan dengan kegembiraan itu, maka Mahisa Agni pun mengucap syukur di dalam hatinya kepada Yang Maha Agung. Jalan yang akan ditempuhnya sudah tidak begitu sulit lagi dicarinya.

Kemudian Mahisa Agni pun segera berjalan kembali. Satu-satu masih dapat dikenalnya. Batu-batu besar, pohon-pohon raksasa. Lereng-lereng yang curam dan beberapa macam benda yang lain.

“Belum banyak perubahan yang terjadi,” katanya kepada diri sendiri, “Mudah-mudahan rawa-rawa dan batu karang itu masih ada di tempatnya pula.”

Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar ketika akhirnya terasa tanah di bawah kakinya semakin lama menjadi semakin basah. Dilihatnya beberapa jenis tumbuh-tumbuhan air telah banyak bertebaran di antara rumput-rumput dan pohon-pohon perdu yang tumbuh di antara batang-batang raksasa. Dan hutan pun menjadi semakin lama semakin padat.

Tetapi kalau ia berjalan ke arah yang benar, maka ia akan sampai ke daerah rawa-rawa. Daerah yang menampung arus sungai di lereng timur Gunung Semeru.

Perjalanan Mahisa Agni pun semakin dipercepat. Meskipun tumbuh-tumbuhan menjadi semakin padat, namun dengan tekad yang menyala, semuanya itu sama sekali tidak memperlambat perjalanannya. Sehingga ketika matahari telah hampir tenggelam, maka sampailah Mahisa Agni di tempat yang dapat dipergunakannya sebagai ancar-ancar untuk menemukan titik tujuannya.

Mahisa Agni menjadi semakin gembira, ketika dalam keremangan senja dilihatnya sebuah bayangan yang kehitam-hitaman. Kini Mahisa Agni menjadi semakin tidak sabar lagi. Meskipun matahari telah lenyap di balik gunung, namun Mahisa Agni sama sekali tidak menghiraukannya. Bahkan ia kemudian berlari-lari kecil, melompati pohon-pohon perdu dan menyusup batang-batang menjalar yang tersangkut, di pepohonan. Semakin dekat, menjadi semakin jelaslah, bahwa bayangan raksasa yang kehitam-hitaman di tengah rawa-rawa itu adalah sebuah batu padas yang menjulang ke atas, seakan-akan batu karang yang kokoh di tengah-tengah lautan.

Mahisa Agni menarik nafas. Sekali lagi ia bersyukur di dalam hatinya. Kini jalan yang harus ditempuhnya tidak begitu jauh lagi. Ia harus menyusur tepi-tepi rawa ke arah barat. Dan nanti akan ditemuinya sebuah lereng yang gundul, seakan-akan sebuah dinding raksasa yang membatasi dua dunia yang berlainan.

Tetapi tiba-tiba diingatnya kembali pesan gurunya. Seterusnya ia harus berjalan malam hari. Banyak alasan yang menyebabkan gurunya berpekan demikian kepadanya. Dan ia pun percaya sepenuhnya, bahwa apabila tak ada sesuatu yang sedemikian pentingnya, maka tak akan gurunya berpesan demikian kepadanya.

Ketika Mahisa Agni menebarkan pandangannya, dilihatnya daerah sekitarnya pun menjadi semakin kelam. Bahkan kemudian warna-warna yang hitam seakan-akan turun dari langit menyelimuti seluruh permukaan bumi.

Namun Mahisa Agni masih ingin beristirahat. Duduklah ia di atas sebuah batu yang cukup besar. Diurainya bungkusan bekalnya. Masih ditemukannya beberapa jenis buah-buahan yang didapatnya di perjalanannya.

“Sebentar lagi aku harus berjalan kembali,” katanya di dalam hati, “kalau aku beristirahat malam ini, maka ini berarti bahwa malam besok aku baru dapat berjalan kembali. Dengan demikian aku akan banyak kehilangan waktu.”

Dan kembali hatinya berdesir ketika diingatnya kata-kata orang tua di Kajar, bahwa seseorang telah berjalan ke rawa-rawa ini tiga hari yang lalu. “Apakah orang itu juga akan mengambil akar wregu di gua itu?” Pertanyaan itu melingkar-lingkar di dalam dadanya. Dan karena itu maka tiba-tiba Agni berdiri. Katanya, “Ah aku harus berangkat sekarang.”

Sekali lagi Mahisa Agni menebarkan pandangannya berkeliling. Gelap dan yang dilihatnya hanyalah warna-warna hitam, seakan-akan dunianya telah dibatasi oleh dinding hitam kelam.

Mahisa Agni itu pun kemudian membenahi bungkusan-bungkusannya kembali. Kini bungkusan itu tidak disangkutkannya lagi di tongkatnya. Dipergunakannya tongkatnya untuk meraba-raba jalan yang akan dilaluinya.

“Ah,” desahnya, “aku rasa jalan sudah tidak terlampau jauh. Namun gelapnya bukan main. Mudah-mudahan sebelum pagi aku telah mencapai dinding gundul itu.”

Mahisa Agni pun kemudian mulai melangkahkan kakinya kembali. Perasaan penatnya tiba-tiba tersapu oleh kegelisahannya. Gelisah karena seseorang pun telah pergi ke daerah rawa-rawa ini.

“Kalau orang itu pergi juga ke gua itu, maka pasti ia belum kembali. Aku sangka, ia pun akan kembali lewat jalan ini, sebagaimana ia datang,” katanya di dalam hati untuk menghibur kegelisahannya sendiri.

Sementara itu, setapak demi setapak Mahisa Agni itu maju juga. Alangkah sulitnya berjalan di malam hari di daerah-daerah yang hampir tak dikenalnya. Untunglah bahwa gurunya telah membekalinya dengan sejenis param yang dapat menghalau binatang berbisa dari tubuhnya.

Malam itu kelamnya bukan main. Seleret ia melihat bayangan bintang-bintang dan sinar dari kutub yang dipantulkan oleh wajah air rawa yang kotor. Selebihnya hitam.

Namun Mahisa Agni mencoba untuk tidak tersesat. Ia berusaha berjalan sepanjang pinggir rawa-rawa yang tidak begitu dapat ditumbuhi pepohonan. Bahkan kemudian sampailah ia di satu dataran yang luas, yang hanya ditumbuhi oleh rumput liar dan beberapa jenis perdu.

“Tetapi,” katanya kemudian, “daerah seberang padang rumput ini adalah daerah yang terjal. Aku harus sangat berhati-hati, supaya aku tidak terguling masuk ke dalam rawa.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. “Suasana ujian yang berat,” gumamnya. Namun hatinya yang bulat itu sama sekali tak tergerak oleh kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. Sebab sadar, bahwa taruhannya pun sangat berharga.

Kemudian katanya kepada diri sendiri, “Apakah aku akan dapat mencapai lereng gundul itu sebelum pagi?”

Kemudian dijawabnya sendiri, “Aku tidak perlu tergesa-gesa. Besok atau lusa tak ada bedanya.”

“Tetapi orang yang lewat tiga hari yang lalu itu?” terdengar sebuah pertanyaan di sudut hatinya. Karena itu, maka kegelisahan di hati Mahisa Agni menjadi semakin melonjak-lonjak. Dan karena itu, ia berusaha untuk mempercepat langkahnya.

“Kalau orang itu pergi juga ke sana,” katanya di dalam hati, “semoga aku sempat menyusulnya.”

Dan Mahisa Agni pun berusaha untuk berjalan lebih cepat. Dilihat bintang- bintang di langit supaya ia tetap pada arahnya. Bintang Gubug Penceng yang menolongnya menentukan arah perjalanannya.

Tetapi tiba-tiba langkah Mahisa Agni terhenti. Perlahan-lahan ia mendengar gemeresik daun di dalam gerumbul perdu. Mahisa Agni mencoba untuk mempertajam pendengarannya. Dan gemeresik itu didengarnya kembali.

Ketika ia memandang daun-daun di sekitarnya, ternyata angin tidak cukup kencang untuk menimbulkan bunyi itu, sehingga segera diketahuinya bahwa pasti ada sesuatu di dalam gerumbul itu. Binatang atau manusia.

Karena itu, maka Mahisa Agni pun segera bersiaga untuk menghadapi setiap kemungkinan yang dapat datang. Kalau yang bersembunyi itu binatang, maka akan sangat menggelikan sekali. Namun ingatannya sealu saja tersangkut kepada orang yang lewat tiga hari yang lalu di daerah ini.

Tetapi Mahisa Agni terkejut ketika tiba-tiba didengarnya sebuah suara yang aneh. Namun kemudian ia pasti, suara itu adalah suara seseorang yang sedang mengerang. Maka, dengan gerak naluriah Mahisa Agni segera meletakkan bungkusannya dan bersiaga untuk menghadapi setiap kemungkinan.

Sesaat kemudian meledaklah suara tertawa dari dalam gerumbul itu. Semakin lama semakin jelas. Nadanya tinggi melengking memekakkan telinga. Semakin lama suara itu menjadi semakin keras. Bahkan kemudian terasa seperti menghentak-hentak pada Mahisa Agni. Dengan demikian Mahisa Agni pun harus memusatkan segenap daya tahannya. Lahir dan batin untuk melawan suara tertawa itu. Suara yang pengaruhnya seakan-akan dapat mengguncangkan kesadarannya.

Dengan mendengar suara itu Mahisa Agni segera dapat meraba-raba betapa berbahayanya orang yang bersembunyi itu. Suara tertawanya sudah mampu mengguncangkan dadanya tanpa menyentuhnya. Apalagi tangannya. Namun Mahisa Agni telah dibekali dengan berbagai ilmu oleh gurunya, sehingga dengan demikian, maka betapa pun ia masih mampu untuk mempertahankan kesadaran dan keseimbangan perasaannya. Bahkan kemudian terdengar Mahisa Agni itu berkata lantang, “Ah tuan ternyata menunggu aku di sini.”

Suara tertawa itu tiba-tiba berhenti. Dan meloncatlah dari dalam gerumbul itu sebuah bayangan hitam yang tidak begitu jelas di dalam malam yang kelam. Namun Mahisa Agni masih juga dapat melihat ujud dan bentuk rubuh itu. Tidak terlalu tinggi, namun tampaknya dadanya lebar dan perutnya besar. Tetapi ia tidak dapat melihat tubuh itu dengan jelas. Yang terdengar kemudian orang itu berkata dengan suaranya yang parau, “He, akhirnya kau lewat juga di sini setelah berbulan-bulan aku menunggumu.”

Mahisa Agni terkejut mendengar kata-kata orang itu. Berbulan-bulan ia menunggu. Dengan demikian maka orang ini sama sekali bukan orang yang digelisahkannya, yang tiga hari yang lampau berjalan mendahuluinya. Meskipun demikian Mahisa Agni masih harus mencoba mengetahui, siapakah yang sedang dihadapinya itu.

Orang itu, yang baru saja meloncat dari dalam gerumbul itu, kemudian berjalan perlahan-lahan mendekatinya. Dalam malam yang gelap itu, jelas dapat dilihat oleh Mahisa Agni bahwa orang itu berjalan agak timpang. Meskipun demikian nampaknya orang timpang, itu cukup tangkas dan lincah.

Beberapa langkah di hadapan Mahisa Agni, orang timpang itu berhenti. Ditatapnya wajah Agni dan kemudian dengan suaranya yang parau ia bertanya, “Nah, anak muda. Akhirnya kau datang juga.”

Mahisa Agni menjadi berdebar-debar mendengar sapa itu. Jawabnya, “Apakah kau sedang menunggu seseorang di sini?”

“Ah, jangan berpura-pura. Aku sudah menunggumu sejak berbulan-bulan yang lalu. Hampir aku menjadi putus asa. Namun akhirnya kau datang juga,” sahut orang timpang itu.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Kemudian tiba-tiba ia berkata menyentak, “Jangan bohong! Kau baru tiga hari datang di tempat ini. Bukankah kau baru datang dari Gunung Merapi?”

Orang timpang itu terkejut. Sesaat ia berdiam diri. Namun tiba-tiba terdengar kemudian tawanya berderai. Jawabnya, “Jangan mengada-ada. Apakah kau sedang bermimpi?”

Mahisa Agni pun tertawa. Ia tidak mau tenggelam dalam pembicaraan yang melingkar-lingkar, yang seakan-akan ingin menyeretnya dalam persoalan yang tak dimengertinya. “Orang ini sedang menjebak aku,” katanya di dalam hati. Karena itu ia menjawab, “Apakah kau melihat aku sedang tidur?”

Orang timpang itu mengerutkan keningnya. Sekali lagi ia menatap wajah Mahisa Agni dengan seksama. Gumamnya, “Sayang, malam begini gelap. Namun aku dapat menduga bahwa kau adalah seorang anak muda yang tampan. Siapakah namamu?”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ia menjadi ragu-ragu sejenak. Apakah orang itu perlu mengetahui namanya? Maka sebelum persoalannya menjadi jelas, maka ia tidak ingin menyebut namanya. Karena itu ia tidak menjawab pertanyaan orang timpang itu, bahkan terdengar ia bertanya, “Siapakah kau?”

Orang itu menjadi heran mendengar pertanyaan Agni. Katanya, “He, anak muda. Kau benar-benar tidak mengenal sopan santun pergaulan. Meskipun telah berbulan-bulan aku menyingkir dari pergaulan, namun aku masih menerapkannya. Apakah kau sangka meskipun di dalam rimba yang sepi ini, di antara kita, manusia-manusia ini, sudah tidak perlu lagi tata kesopanan?”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil tertawa pendek ia menjawab, “Apakah kau memperkenalkan dirimu dengan sopan kepadaku? Apakah suara tertawamu itu pun menunjukkan tata pergaulan orang-orang beradab? Ki Sanak, aku telah mencoba menyesuaikan diriku dengan caramu menyambut kedatanganku.”

Terdengar orang timpang itu menggeram. Suaranya yang parau menjadi semakin parau. Dalam keremangan malam itu, semakin lama Mahisa Agni menjadi semakin jelas melihat wajah orang timpang itu. Wajahnya pun agaknya telah berkerut-kerut dan beberapa bagian tampaknya telah menjadi cacat.

“Hem,” sahut orang timpang itu, “jangan terlalu sombong.”

“Tidak,” jawab Agni, “pertemuan kita adalah pertemuan yang aneh. Apakah dalam pertemuan yang demikian kau perlu mengenal namaku? Kalau kau merasa, bahwa kedatangan seseorang yang telah kau tunggu-tunggu, maka aku sangka kau telah mengenal aku.”

“Kau memang pandai berbicara anak muda,” berkata orang timpang itu, “tetapi kepandaianmu berbicara belum mencerminkan kejantananmu, meskipun aku yakin, bahwa kau pasti bukan orang kebanyakan. Ternyata kau telah berani penempuh perjalanan ini.”

“Nah, sekarang katakan, apa perlumu?” bertanya Agni tiba-tiba.

Kembali orang itu terkejut. Sesaat ia berdiam diri, namun kemudian ia menjawab, “Kau belum menjawab, siapa namamu.”

“Pertanyaanmu tak akan kujawab. Kau pun menyembunyikan beberapa persoalan. Kau sama sekali belum lama berada di daerah ini. Kenapa kau katakan telah berbulan-bulan.”

“Aku memang telah berbulan-bulan berada di tempat ini. Ketahuilah, orang yang kau katakan, yang datang tiga hari yang lampau ke daerah ini, dan datang dari Gunung Merapi itu, selamanya tidak akan kembali lagi.”

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar jawaban itu. Matanya tiba-tiba menjadi semakin tajam memandang wajah orang timpang yang menyeramkan ini. Dan tiba-tiba saja, Mahisa Agni telah bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Yang terdengar kemudian ia bertanya, “Ke mana orang itu?”

“Orang itu pun terlalu sombong seperti kau. Ia tidak mau menyebut namanya, selain asalnya itu, dari Gunung Merapi. Nah, sekarang tak seorang pun yang tahu, mayat siapakah yang telah terapung-apung di rawa-rawa itu.”

“Orang itu kau bunuh?”

“Ya. Ia menjengkelkan sekali seperti kau.”

“Hanya karena itu sudah cukup alasan bagimu untuk membunuh?”

“Tentu. Orang itu tidak mau menjawab pertanyaanku. Karena itu, aku menyangka bahwa orang itulah yang aku tunggu-tunggu selama ini. Namun akhirnya setelah orang itu mati, ternyata yang aku cari tak ada padanya.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Orang ini agaknya benar-benar orang yang telah menjadi buas. Namun ia masih bertanya, “Apakah sebenarnya yang kau cari?”

“Baik, aku akan memberitahukan kepadamu. Tetapi kalau bersikap seperti orang Gunung Merapi itu kau pun akan mengalami nasib yang sama,” orang itu berhenti sejenak. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Kau datang dari mana?”

Mahisa Agni berpikir sejenak. Kemudian jawabnya,Aku datang dari kaki Gunung Kawi.”

“Hem,” gumam orang itu, “orang-orang dari berbagai gunung datang ke kaki Gunung Semeru. Nah, sekarang katakan kepadaku, apakah kau akan mengambil akar di dalam gua di lereng itu?”

Pertanyaan itu benar-benar mengejutkan Mahisa Agni. Ternyata bahwa selain gurunya ada orang lain yang mengetahui akar wregu putih di dalam gua tersebut. Namun Mahisa Agni bukan menjadi bingung karenanya. Jawabnya, “Apakah orang yang kau bunuh itu juga mencari benda yang kausebutkan itu?”

—–
“Orang itu kau bunuh?”
“Ya, ya menjengkelkan sekali seperti kau.”
“Hanya karena itu sudah cukup alasan bagimu untuk membunuh?”
—–

“Jangan membuat aku marah!” bentak orang itu, “Kau tidak pernah menjawab pertanyaanku. Kau selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lain. Sekarang jawab pertanyaanku, apakah kau juga sedang mencari akar wregu putih itu?”

“Kau juga jangan membuat aku marah,” jawab Agni dengan berani. Perjalanan telah ditempuh sekian lamanya. Kini gua itu sudah di depan hidungnya. Karena itu, apa pun yang akan dihadapinya ia tidak akan gentar.

Mendengar jawaban Mahisa Agni, orang timpang itu menjadi bertambah heran. Terdengar ia menggeram, “Alangkah beraninya kau anak muda. Apakah kau belum pernah mendengar sebuah nama yang cukup terkenal di sekitar daerah Gunung Semeru ini. Akulah yang bernama Empu Pedek.”

Dada Mahisa Agni bergetar mendengar nama itu. Meskipun nama itu belum pernah didengarnya, namun terasa sesuatu yang telah menggetarkan dadanya. Meskipun demikian ia tetap pada sikapnya. Siap menghadapi segala kemungkinan. Bahkan jawabnya, “Hem. Baru sekarang kau mau menyebut namamu. Tetapi kau belum menyebut apakah yang sebenarnya sedang kau cari, sehingga kau bunuh orang dari kaki Gunung Merapi itu.”

Orang timpang itu memandang Mahisa Agni seperti hendak membelah dadanya dengan sinar matanya. Kepalanya dimiringkannya ke kanan, dan kemudian terdengar suaranya parau, “Ternyata kau pun akan mengalami nasib yang sama. Orang dari Gunung Merapi itu pun akan mengambil akar wregu putih itu. Tetapi ia benar-benar orang gila. Akar itu sendiri tak akan bermanfaat bagi seseorang. Sekarang katakan kepadaku hai anak muda, supaya nyawamu aku biarkan tinggal di dalam tubuhmu. Manakah trisula itu?”

Dada Mahisa Agni seakan-akan tertimpa guruh yang langsung menyambar dirinya. Pertanyaan itu benar-benar mengejutkannya. Ternyata orang yang menamakan diri Empu Pedek itu, tidak saja mengetahui akar wregu putih di dalam gua yang sedang ditujunya, namun ia tahu juga tentang trisula, rangkapan akar wregu itu. Karena itu, kini Mahisa Agni pun menjadi semakin pasti, bahwa ia tidak akan dapat meninggalkan tempat itu tanpa beradu kesaktian. Karena itu, maka segera diaturnya perasaannya. Disiapkannya segala ilmu yang telah dimilikinya, untuk menghadapi setiap kemungkinan. Tidak mustahil, bahwa Empu Pedek ini adalah seorang yang sakti. Dan ia sama sekali tidak dapat menduga, apakah ia akan mampu untuk menahan kemarahan orang timpang itu..

Namun betapa pun juga, Mahisa Agni pantang surut. Telah banyak bahaya yang diatasinya di sepanjang perjalanan. Namun ia sadar bahwa bahaya kali ini, jauh lebih berarti dari segenap rintangan yang pernah ditemuinya.

Karena Mahisa Agni tidak segera menjawab, maka kembali terdengar suara parau Empu Pedek, “He anak muda. Manakah trisula itu?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Dengan lantang ia menjawab, “Ternyata bukan aku yang sedang bermimpi, tetapi kau.”

“Setan!” sahut orang itu. Suaranya yang parau itu bergetar. Mahisa Agni merasakan, betapa orang timpang itu mengendalikan kemarahannya. Katanya, “Anak muda. Bagimu akan berakibat sama. Kau pasti akan kehilangan trisula itu. Hidup atau mati.”

“Trisula apakah yang sedang kau katakan itu?”

“Jangan bohong seperti orang Gunung Merapi itu. Kau pasti memiliki sebuah trisula kecil yang bernama kekuning-kuningan. Kalau tidak, tak akan kau cari akar wregu itu.”

“Apakah orang dari Gunung Merapi itu juga berbohong?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Kemudian sambil membentak ia berkata, “Apa pedulimu? Orang itu telah mati.”

“Dan trisula itu tak ada padanya,” potong Agni.

“Karena itu pasti ada padamu.”

“Kau akan membuat kesalahan untuk kedua kalinya. Aku tidak membawa Trisula itu,” jawab Agni.

Mata orang timpang itu tiba-tiba menjadi liar. Sekali-kali ia memandang wajah langit yang biru gelap, kemudian merayap ke segenap penjuru. Namun akhirnya kembali hinggap di wajah Mahisa Agni.

“Aku tidak peduli. Akan aku bunuh semua orang yang lewat di sini. Akan aku cari pada mayatnya, trisula itu.”

Betapa pun kata-kata itu membuat bulu-bulu Mahisa Agni meremang. Bukan karena ia menjadi ketakutan, namun betapa orang yang dihadapinya itu benar-benar telah menjadi buas. Karena itu maka hatinya justru menjadi semakin teguh. Dan bahkan tiba-tiba ia berkata, “Empu Pedek. Sebenarnya di antara kita tidak ada persoalan. Aku minta kepadamu supaya kau batalkan niatmu.”

Terdengar Empu Pedek itu tertawa nyaring. Sedemikian nyaringnya sehingga seakan-akan daun-daun pepohonan menjadi bergoyang karenanya. Bahkan semakin lama menjadi semakin keras dan memuakkan. Perlahan-lahan terasa di dada Mahisa Agni getaran-getaran aneh yang merayap-rayap seakan-akan melibat jantungnya. Tetapi Mahisa Agni tidak membiarkan jantungnya menjadi beku. Ia sadar, bahwa orang timpang itu telah mulai menyerangnya. Karena itu ia harus mengadakan perlawanan. Namun karena orang timpang itu belum menyerang dengan tubuhnya, Mahisa Agni pun masih ingin bertahan dengan kekuatan batinnya Dalam keadaan yang demikian, betapa Agni berterima kasih kepada gurunya. Ilmu diberikan kepadanya ternyata telah cukup banyak, sehingga ia telah berhasil mengatasi sebagian dari rintangan-rintangan di dalam perjalanannya. Bukan saja perjalanan kali ini, namun perjalanan seluruh hidupnya, yang pasti akan ditemuinya rintangan-rintangan yang tak kalah beratnya. Juga Mahisa Agni kini menyadari kebenaran perhitungan gurunya, supaya trisulanya tidak dibawanya serta. Ternyata setidak-tidaknya Empu Pedek ini pun telah mengetahuinya, kedahsyatan pusaka rangkap itu.

(hilang beberapa paragraph)

….. bersiaga penuh. Dengan tangkasnya ia menghindari serangan itu, dan setangkas itu pula Mahisa Agni membalas serangan itu dengan sebuah pukulan pada tengkuknya selagi ia masih ditarik oleh tenaga serangannya. Namun orang itu pun cekatan pula. Dengan cepat ia merendahkan tubuhnya, meskipun kemudian ia harus berguling sekali. Tetapi dengan lincahnya ia melenting berdiri tegak. Bahkan sudah siap pula dengan serangan-serangannya. Sekali lagi Mahisa Agni melihat jari-jari tangan orang itu mengembang seperti hendak mencengkeram. Dan sekali lagi Mahisa Agni melihat orang itu dengan kasarnya menyerangnya dengan satu terkaman. Kali ini pun Mahisa Agni sempat menghindarkan diri dan bahkan membalasnya dengan serangan kaki yang mendatar, namun dengan menggeliat orang timpang itu pun berhasil lepas dari garis serangannya.

Demikianlah mereka akhirnya terlibat dalam perkelahian yang sengit. Meskipun kaki Empu Pedek itu timpang namun tandangnya bukan main. Keras dan kasar. Serangan-serangannya datang beruntun seperti ombak yang menghentak-hentak pantai. Tak henti-hentinya memukul-mukul dengan dahsyatnya. Namun Mahisa Agni pun mampu mengimbanginya dengan kelincahan dan ketangkasan yang mengagumkan. Seperti seekor burung yang bermain-main di atas ombak lautan. Sekali menukik menyentuh gelombang lautan dengan sayap-sayapnya, namun kemudian dengan tangkasnya menghindarkan diri apabila gelombang yang deras melandanya.

Mahisa Agni pernah bertempur melawan hantu padang rumput Karautan yang dengan kasar menyerangnya. Namun kekuatan mereka berbeda. Hantu padang Karautan itu sama sekali bukan seorang yang tangkas dan mampu menghindari serangan-serangan lawannya, namun tubuhnyalah yang seakan-akan menjadi kebal. Tetapi hantu kaki Gunung Semeru ini benar-benar memiliki ketangkasan dan kecepatan bergerak. Namun kekuatannya tidak sebesar hantu Karautan. Sekali-sekali apabila kekuatan mereka berbenturan, maka Empu Pedek itu pun terdorong surut meskipun Mahisa Agni pun tergetar pula. Tetapi sekali-kali Mahisa Agni mendengar orang timpang itu berdesis menahan sakit seperti dirinya yang kadang-kadang harus menyeringai oleh sengatan-sengatan tangan orang timpang itu.

Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Dalam malam yang kelam itu, keduanya seolah-olah telah menjelma menjadi bayangan-bayangan kabut yang berputar-putar karena angin pusaran. Masing-masing melihat lawannya dari arah yang membingungkan, meskipun mereka berdua kadang-kadang terpelanting pula, terbanting di atas tanah yang lembab itu.

Meskipun mereka masing-masing telah berkelahi dengan segenap tenaga, namun tak seorang pun di antara mereka yang mengalahkan lawannya. Orang timpang itu ternyata bertenaga sekuat tenaga seekor harimau belang, namun Mahisa Agni pun mampu bertempur setangguh banteng jantan.

Namun betapa pun mereka berdua memiliki tenaga yang melampaui tenaga orang kebanyakan, serta betapa mereka mampu mengungkit tenaga-tenaga cadangan yang tak dapat dilakukan oleh orang lain, namun karena mereka telah memeras diri dalam perkelahian itu, maka tenaga mereka pun semakin lama menjadi semakin susut. Tidak saja karena mereka kehilangan banyak tenaga, namun tubuh mereka pun telah menjadi merah biru dan perasaan nyeri hampir membakar segenap tulang daging mereka.

Demikianlah, maka perkelahian yang dahsyat, yang seolah-olah benturan dari dua angin pusaran yang berlawanan arah itu, semakin lama menjadi surut. Dengan sisa-sisa tenaga mereka yang terakhir mereka mencoba untuk menenangkan perkelahian itu.

“Gila!” terdengar Empu Pedek mengumpat, “kau mampu bertahan melampaui orang dari Gunung Merapi itu?”

Mahisa Agni tidak menjawab. Namun ia pun menggeram, “Bukan main. Tetapi jangan coba halangi aku.”

“Kembalilah sebelum tulang-tulangmu remuk.”

“Tulangku tak selunak lempung,” sahut Mahisa Agni.

Orang itu menggeram pula. Sekali-kali ia masih menyerang dengan gerak yang berbahaya. Namun kecepatan telah jauh berkurang, sehingga meskipun Mahisa Agni pun telah kelelahan, namun ia masih mampu untuk setiap kali menghindarinya. Bahkan Agni pun masih juga sempat membalasnya dengan serangan-serangan yang tidak kalah berbahayanya. Malahan kemudian dengan sisa-sisa tenaganya yang terakhir, Mahisa Agni masih mampu untuk mengenainya beberapa kali. Dengan sebuah sambaran kaki mendatar, Mahisa Agni berhasil menghantam lambung orang timpang itu. Empu Pedek tidak menyangka bahwa hal demikian masih bisa terjadi. Karena itu, tiba-tiba ia terdorong beberapa langkah surut.

Mahisa Agni tidak melepaskan kesempatan itu. Betapa pun kakinya terasa berat, namun dipaksanya juga ia meloncat dua loncatan, kemudian tangan kanannya terayun deras sekali mengenai dagu Empu Pedek. Terdengarlah sebuah rintihan yang patah, dan wajah itu pun terangkat dan sekali lagi sebuah sentakan tangan Agni mengenai perutnya. Kini Empu Pedek sekali lagi terdorong surut, dan kepalanya tertarik ke depan. Namun orang timpang itu tidak mau mukanya jadi hancur sama sekali. Ketika ia melihat tangan Mahisa Agni menyambar sekali lagi, orang itu sempat memiringkan kepalanya, sehingga tangan itu meluncur di samping telinganya. Demikian kerasnya Agni mengayunkan tangannya dengan sisa-sisa tenaganya maka kini ia terhuyung-huyung oleh tarikan tenaganya sendiri. Empu Pedek pun tak membiarkannya memperbaiki keseimbangannya. Sebuah pukulan menyentuh tengkuk Mahisa Agni. Tidak terlalu keras, karena tenaga orang timpang itu telah hampir habis pula, namun sentuhan itu telah cukup mendorongnya, sehingga Mahisa Agni jatuh terjerembab. Mahisa Agni yang telah kehilangan sebagian besar dari tenaganya itu, tidak mampu lagi untuk segera melenting berdiri, sehingga karena itu, maka segera ia berguling dan melihat apa yang akan dilakukan oleh Empu Pedek itu.

Empu Pedek yang melihat Agni terjerembab, dan kemudian berguling menengadah, tiba-tiba menyeringai mengerikan sambil tertawa liar. Katanya hampir berteriak, “Akhirnya aku pun berhasil membunuhmu.”

Mahisa Agni masih menyadari keadaannya sepenuhnya. Ia mendengar orang timpang itu berkata demikian. Karena itu, maka segera Agni pun mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, dan menanti apakah yang akan dilakukan oleh Empu Pedek itu.

Ternyata Empu Pedek itu segera bersikap, kedua tangannya terjulur ke depan dengan jari-jari mengembang. Dengan dahsyatnya ia berteriak. Kemudian dengan satu loncatan panjang ia menerka m Mahisa Agni. Tetapi loncatannya telah tidak sedemikian garang. Namun Agni pun tidak setangkas semula, sehingga ia tidak mampu menghindari terkaman itu. Dengan jari-jari tangannya Empu Pedek berusaha untuk mencekik leher Mahisa Agni. Namun Mahisa Agni tidak membiarkannya kuku-kuku orang timpang itu menembus kulit lehernya. Dengan secepat yang dapat d lakukan, Agni memasukkan kedua tangannya di antara tangan-tangan Empu Pedek. Dengan satu gerak yang menyentak ia mengembangkan tangannya.

“Setan!” teriak Empu Pedek. Dengan serta-merta tangannya itu pun terlepas, sehingga hampir saja wajahnya terjerembab menghantam wajah Mahisa Agni.

Meskipun demikian, Empu Pedek tak mau melepaskan Mahisa Agni. Dengan serta-merta pula, orang timpang itu melingkarkan tangannya ke leher Agni, sehingga dengan sebuah tekanan yang kuat, leher anak muda itu terjepit di antara kedua bagian tangan lawannya. Dengan kedua tangannya Agni mencoba melepaskan jepitan itu. Namun sia-sia Bahkan terasa tangannya seakan-akan telah lenyap.

Karena itu, maka kemudian Agni pun berbuat serupa. Dilingkarkannya tangannya ke leher Empu Pedek, dan dengan sisa-sisa tenaganya, ia pun menjepit leher itu dengan kedua bagian tangannya.

Kini mereka berdua ber-guling-guling di tanah yang lembab becek itu. Tangan mereka masing-masing seakan-akan telah terkunci di leher lawan. Dengan segenap tenaga-tenaga yang dikenal sehari-hari, tenaga ungkapan dari ilmu-ilmu mereka, serta tenaga-tenaga cadangan telah mereka kerahkan. Seandainya peristiwa itu terjadi pada saat-saat mereka baru mulai, mungkin kedua-duanya tak akan mampu untuk meneruskan perkelahian itu, sebab nafas-nafas mereka akan terputus karenanya. Tetapi kini mereka telah kelelahan, sehingga tenaga mereka pun telah jauh berkurang.

Dalam keadaan yang demikian itu, dalam keadaan yang seakan-akan tak berakhir itu, Agni sempat menyentakkan tangannya. Terdengar lawannya berdesah, namun tiba-tiba lawannya itu memekik keras, dan dengan sebuah sentakan ia menggeliat, dan melepaskan diri dari jepitan tangan Agni setelah tangannya sendiri dilepaskannya.

Mahisa Agni terkejut. Ia berusaha menangkap kembali orang timpang itu, namun Empu Pedek segera berguling-guling. Mahisa Agni pun segera menggulingkan dirinya pula. Tetapi ia terlambat beberapa saat. Dengan terhuyung-huyung Empu Pedek berdiri dan dengan serta-merta ia berlari tertatih-tatih masuk ke dalam semak-semak yang rimbun.

Mahisa Agni pun segera berdiri pula. Tetapi kakinya serasa seberat timpah. Beberapa langkah ia maju mengejar Empu Pedek, tetapi ketika kakinya terperosok sebuah lekukan tanah yang kecil, ia kehilangan keseimbangan dan hampir saja ia jatuh kembali.

Namun ia masih mendengar Empu Pedek itu berkata dari balik rimbunnya daun-daun belukar, “Sekarang kau memenangkan perkelahian ini anak muda. Namun jangan mengharap kau dapat kembali. Aku akan menunggumu sampai kau turun dari gua itu.”

“Kenapa kau licik?” teriak Agni yang marah, “marilah kita selesaikan persoalan kita sekarang. Jangan besok atau lusa atau kapan pun.”

Tetapi Empu Pedek tidak menyahut. Yang terdengar kemudian adalah nafas Mahisa Agni sendiri. Terengah-engah dan serasa hampir putus di dadanya. Bahkan kembali terasa Mahisa Agni kehilangan keseimbangan. Kepalanya menjadi pening dan dunia ini seakan-akan berputar. Ternyata anak muda itu telah memeras habis segenap tenaganya, sehingga ia hampir-hampir menjadi pingsan karenanya.

Mahisa Agni menyadari keadaannya. Segera ia duduk di atas tanah yang becek di samping bungkusannya. Dipejamkannya matanya, dan dipusatkannya kekuatan batinnya untuk menemukan kembali setiap tenaga yang ada di dalam tubuhnya. Perlahan-lahan Mahisa Agni mencoba mengatur pernafasannya. Ditenangkannya getaran-getaran di dalam dadanya yang bergelora

Akhirnya, meskipun lambat sekali, namun Mahisa Agni berhasil menguasai kesadarannya sepenuhnya. Nafasnya perlahan-lahan menjadi teratur kembali dan getaran-getaran di dadanya pun menjadi berkurang. Darahnya kini telah tersalur sewajarnya. Namun betapa lemahnya ia setelah dengan matian-matian ia mengerahkan segenap kemampuannya.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia bersyukur atas karunia Yang Maha Agung. Ternyata ia telah dapat membebaskan dirinya dari orang yang menamakan dirinya Empu Pedek itu. Seandainya, ya seandainya Empu Pedek mampu bertahan untuk sesaat saja, maka keadaannya pasti akan sangat berbeda. Sesaat lagi, apabila ia masih harus memeras tenaganya, mungkin ia akan menjadi benar-benar pingsan. Apabila demikian, betapa pun lemahnya Empu Pedek, tetapi ia akan dapat membunuhnya tanpa perlawanan. Namun agaknya orang timpang itu pun telah kehabisan tenaga seperti dirinya. Karena itu, nasibnya menjadi lebih baik dari nasib orang dari Gunung Merapi yang datang tiga hari sebelumnya.

Ketika getar di dadanya telah benar-benar menjadi tenang, Mahisa Agni menggeliat. Digerak-gerakkannya tangan dan kakinya perlahan-lahan untuk menyalurkan darahnya secara wajar. Dengan hati-hati ia berjongkok, kemudian dijulurkannya kaki-kakinya berganti-ganti.

Apabila tubuhnya terasa sudah wajar kembali, meskipun kekuatannya sama sekali belum pulih, maka kembali Mahisa Agni duduk di samping bungkusannya. Di dalam bungkusan itu masih ditemukannya beberapa buah-buahan segar. Dengan buah-buahan itu Mahisa Agni berusaha untuk menyegarkan tubuhnya kembali. Tubuhnya yang seakan-akan telah dilolosi segala tulang belulangnya.

“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas. Buah-buahan itu terasa betapa segarnya dan tubuhnya pun terasa semakin segar pula. Namun demikian keringatnya masih saja mengalir tanpa henti-hentinya. Dari dahi dan keningnya, menitik di pangkuannya. Dari punggungnya, dari seluruh wajah kulitnya. Belum pernah Mahisa Agni bertempur seperti apa yang baru saja dilakukannya. Bahkan ia menjadi heran atas tenaganya sendiri. Dengan tekad yang menyala-nyala, serta taruhan yang sangat berharga, ia telah berjuang seakan-akan melampaui kemampuan yang wajar. Seakan-akan dorongan tekadnya telah menambah kemampuannya bahkan berlipat-lipat. Kini Mahisa Agni sempat mengenangkan orang timpang itu kembali sambil beristirahat. Orang itu bertempur kasar dengannya. Untunglah ia mampu bertahan, meskipun ia tidak dapat mengalahkan lawannya dengan mudah. Dan kini lawannya itu sempat melarikan dirinya.

“Ke manakah larinya?” ia bertanya kepada diri sendiri. Ia menyesal bahwa orang itu tidak dikejarnya. Namun ketika disadarinya keadaannya, maka hal itu tak akan mungkin dilakukannya. Apalagi mengejarnya, bahkan berdiri pun ia hampir tidak mampu lagi.

Tetapi kemudian timbullah beberapa pertanyaan lain di dalam benaknya. Orang timpang itu mungkin pergi mendahuluinya ke gua tempat penyimpanan akar wregu putih itu.

“Orang itu adalah orang ketiga setelah gurunya dan aku sendiri yang mengetahui persoalan akar wregu putih itu. Mungkin orang dari Gunung Merapi itu pun mengetahuinya pula, namun orang itu kini telah tidak ada lagi,” gumamnya seorang diri. Tetapi tiba-tiba ia menjadi cemas.

“Apakah akar wregu itu benar-benar masih berada di dalam gua itu? Mungkin orang yang bernama Empu Pedek itu telah mengambil lebih dahulu.”

“Hem,” Mahisa Agni menggeram. Kalau demikian maka perjalanannya yang panjang, serta segala macam kesulitan-kesulitan yang pernah dilampauinya itu akan menjadi tanpa arti.

“Aku harus membuktikannya dahulu,” gumamnya, “apabila di dalam gua itu telah tidak dapat aku temukan akar wregu putih itu, maka pekerjaanku akan berganti. Aku harus menemukan orang timpang yang bernama Empu Pedek itu. Dan bernama Empu Pedek itu. Dan akan kembali ke Panawijen tanpa akar wregu putih itu. Biar pun puluhan tahun, bahkan sepanjang umurku sekali pun.”

Tiba-tiba saja dada Mahisa Agni bergelora kembali. Meskipun tubuhnya masih lemah sekali, serta persendian tulang-tulangnya masih terasa sakit, dan bahkan pedih-pedih di hampir segenap tubuhnya, namun dengan susah payah ia berdiri. Diikatkannya bungkusan kecilnya pada pundaknya, serta dengan tongkat di tangannya. Mahisa Agni melangkah meneruskan perjalanannya. Tertatih-tatih, bertelekan tongkat dalam malam yang gelap.

Namun Mahisa Agni sama sekali tidak menyesal, bahwa ia telah menempuh perjalanannya yang berat itu. Apapun yang akan terjadi adalah satu akibat yang wajar dari perjuangannya. Karena itu, maka betapa pun beratnya, betapa perasaan sakit dan nyeri menjalar hampir di seluruh tubuhnya, betapa penat dan lelahnya, bahkan betapa jiwanya dipertaruhkan, namun hatinya telah bulat. Akar wregu putih itu harus ditemukan.

Kini ia berjalan setapak demi setapak maju. Dalam kelamnya daun-daunan hutan. Dengan tongkatnya Mahisa Agni meraba-raba jalan, dan dengan pandangan matanya yang tajam ia mencari arah. Untunglah, meskipun belum sempurna, namun Mahisa Agni telah cukup terlatih, sehingga ia dapat membedakan, tanah yang gembur berlumpur, tanah yang rapuh dan tanah yang cukup keras.

Dalam perjalanannya yang sangat lambat itu, Mahisa Agni selalu mencoba untuk menduga-duga, apakah akar wregu putih itu masih berada di tempatnya, atau telah hilang diambil oleh orang timpang yang menamakan dirinya Empu Pedek itu.

Demikianlah, setiap kegelisahannya melonjak di dadanya, maka kakinya pun seakan-akan ingin meloncat berlari. Namun Agni tak dapat melakukannya. Kakinya masih lemah, selemah tangkai bunga yang kehabisan air. Lesu. Sedang jalan yang terbentang di hadapannya sangat gelapnya. Batang-batang pohon liar. Perdu berduri den segala macam tumbuh-tumbuhan yang buahnya dapat dimakan, sampai tumbuh-tumbuhan beracun dan buah-buahan makanan ular.

Tetapi Mahisa Agni pantang mundur. Ia berjalan terus dalam gelapnya malam. Di selatan ia masih melihat bintang Gubug Penceng yang dapat menuntunnya mencari arah. Ia harus berjalan lurus ke barat apabila ia tidak ingin tersesat. Apa pun yang ada di jalan yang akan dilampauinya. Binatang buas, orang-orang jahat atau apa pun, meskipun seandainya hantu-hantu yang menghadangnya, maka ia pun tak akan dapat digentarkan.

Jalan itu pun semakin lama menjadi semakin sulit. Setelah lapangan yang sempit. Mahisa Agni sampai ke daerah yang berlereng curam. Dengan demikian ia harus lebih berhati-hati. Kadang-kadang Mahisa Agni merangkak, kadang-kadang bahkan berjalan sambil berjongkok. Dan bahkan kadang-kadang ia terduduk dengan nafas terengah-engah.

Di kejauhan masih terdengar auman harimau berebut mangsa, dan sekali-kali salak anjing-anjing hutan menyobek sepi malam. Dan setiap suara yang terdengar, rasa-rasanya menyentuh sampai ke ulu hati. Tetapi semuanya itu sama sekali tidak menarik perhatian Mahisa Agni. Pikirannya bulat-bulat ditelan oleh gua, akar wregu putih dan orang timpang.

Meskipun sangat lambat namun Mahisa Agni semakin lama menjadi semakin dekat pula dengan lereng gundul yang ditujunya. Ketika embun malam menitik setetes di tubuhnya, terasa betapa segarnya.

Ketika Mahisa Agni menengadahkan wajahnya, dilihatnya cahaya semburat merah membayang di timur. Bintang Gubug Penceng kini telah berguling ke barat dan hampir hilang dibalik cakrawala.

“Hampir fajar,” desis Mahisa Agni. Namun kemudian ia menjadi ragu-ragu. Apakah ia dapat meneruskan perjalanannya di siang hari? Gurunya berpesan mewanti-wanti kepadanya, supaya ia berjalan di malam hari sejak batu padas di tengah rawa-rawa itu. Baru setelah sampai di lereng gundul ia boleh mendakinya di siang hari. Karena itu, sebelum hari menjadi terang, Mahisa Agni berusaha mempercepat langkahnya. Tetapi kecepatan yang dapat dicapainya sangat terbatas. Dengan demikian Mahisa Agni menjadi cemas, seakan-akan takut dikejar oleh matahari yang segera akan timbul di timur. Tetapi Mahisa Agni tidak dapat mencegah matahari itu. Bahkan ternyata bahwa matahari itu datang terlampau cepat dari yang diharapkan.

Ketika cahayanya yang pertama terlempar di atas daun-daun pepohonan dan menyangkut di atas ujung-ujung batang-batang raksasa, Mahisa Agni menarik nafas. Sekali ia menggeliat dan kemudian ia menguap. Lelah dan sakit-sakit di punggungnya masih terasa. Namun kesegaran fajar telah menyegarkannya pula.

Ketika ia memandang ke selatan, ia masih melihat di antara pepohonan yang tidak begitu pekat dan dari atas ujung-ujung pepohonan yang tumbuh di lereng-lereng, jurang-jurang yang dalam. Kemudian tampaklah sebuah dataran hutan yang lebat.

Mahisa Agni menarik nafas. Alam di sekitarnya adalah alam yang dipenuhi oleh warna-warna hijau segar. Daun yang hijau, rumput-rumput yang hijau dan batang-batang perdu yang hijau. Tetapi ketika kemudian ia berpaling ke barat, ke arah yang akan ditujunya, Mahisa Agni terkejut bukan kepalang. Dari balik kabut pagi, Mahisa Agni melihat seakan-akan muncul di hadapannya sebuah dinding raksasa yang berwarna kemerah-merahan. Dinding batu padas dan tanah liat yang terbentang sedemikian luas. Mahisa Agni tegak seperti tonggak. Dilihatnya dinding itu dengan dada yang bergelora. Ternyata dinding yang dicarinya itu seolah-olah tiba-tiba saja muncul tidak jauh lagi di hadapannya.

Karena itulah, maka tiba-tiba Mahisa Agni menjadi sangat gembira. Ia tidak usah menunggu sampai besok. Tidak usah menunggu malam datang. Apakah jarak yang sudah tinggal beberapa langkah lagi itu harus ditempuhnya malam nanti dan membiarkannya hari ini lewat? Tidak. Jarak yang pendek itu akan segera dicapainya.

Mahisa Agni pun kemudian melangkah pula. Semakin cepat yang dapat dilakukan. Kini ia dapat melihat jalur-jalur yang dapat dilewatinya, sehingga dengan demikian perjalanannya pun benar-benar menjadi semakin cepat. Kakinya yang luka-luka oleh ber-macam-macam duri dan batu-batu yang runcing sama sekali tak terasa. Yang ada di dalam hatinya adalah gua itu. Selebihnya tak dihiraukannya. Karena itu maka apapun yang terjadi padi tubuhnya seakan-akan tak terjadi padanya.

Ketika matahari telah menjadi semakin tinggi, dan ketika hari menjadi semakin terang, Mahisa Agni kini dapat melihat, sebuah lubang yang hitam pada dinding raksasa itu.

Kini dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Gua di lereng yang gundul itulah yang harus didaki.

Mahisa Agni itu pun berhenti sejenak. Sekali lagi ditatapnya seluruh permukaan dinding raksasa itu. Alangkah besar kekuasaan yang mampu membangunkannya. Ketika kemudian Mahisa Agni memandang kepada dirinya sendiri, maka ia tidak lebih dari sebuah anak-anakan yang sangat kecil dibanding dengan kebesaran alam yang dihadapinya. Apalagi dengan Maha Penciptanya.

Tetapi tiba-tiba disadarinya pula, bahwa dirinya adalah sebagian dari alam itu, justru merupakan ciptaan yang paling berharga di antara segenap isi alam ini. Ia adalah manusia. Dan Maha Pencipta telah menciptakan manusia untuk memelihara dan memanfaatkan alam yang diciptakannya pula. Bahkan sebagai wadah dan sekaligus dikuasainya. Maka sebenarnyalah Maha Pencipta menciptakan alam dan manusia di dalamnya dengan sifat Maha Cintanya seolah-olah menempatkan seorang juru taman dalam pertamanan yang indah. Namun bukan pertamanan sendiri. Apa yang dilakukan seharusnya berdasarkan atas kehendak pemilik taman itu, bukan atas kehendak juru taman itu sendiri, meskipun juru taman itu wenang melakukan apa pun atas pertamanan yang diserahkan kepadanya. Ia dapat melakukan pekerjaan yang bermanfaat, namun ia dapat juga mengkhianati dan merusak taman yang diserahkan kepadanya. Ia dapat mempergunakan hasil taman itu untuk melakukan hal-hal yang menggembirakan pemiliknya, namun ia dapat juga berbuat sebaliknya. Akibatnya, pemilik taman itu dapat berterima kasih dan bersenang hati kepadanya, atau sebaliknya pula.

Dan kini Mahisa Agni tegak di hadapan dinding raksasa itu seperti seorang juru taman tegak di antara tanaman-tanaman yang maha luas. Ialah yang wenang melakukan apa pun atas tanaman-tanaman itu, bukan sebaliknya. Dan kini Mahisa Agni pun merasakan dirinya sebagai manusia yang berhadapan dengan alam. Alam itu harus ditundukkannya.

Demikianlah, maka kini Mahisa Agni memandang lereng yang curam gundul dan berbatu-batu itu sebagai suatu tantangan yang harus diatasinya. Betapa pun sulitnya, ia tidak boleh menyerah melawan kesulitan-kesulitan, namun kesulitan itu harus ditundukkannya.

Tiba-tiba terasa sesuatu bergetar di dada Mahisa Agni. Tekadnya yang bulat kini menjadi semakin mantap. Dengan dada tengadah ia berdoa di dalam hatinya, semoga Yang Maha Agung memberkahinya.

Karena itu, maka seakan-akan menjalarlah suatu kekuatan baru di dalam tubuhnya. Kekuatan yang mengalir dari pusat kehendaknya. Dari pusat kehendaknya, dari pusat tekad yang menyala di dalam dadanya. Sehingga dengan demikian segera Mahisa Agni melangkahkan kakinya kembali. Kini lebih mantap dan lebih cepat. Apa pun yang akan dihadapinya kelak, Empu Pedek, atau apa saja. Meskipun seandainya Empu Pedek itu datang bersama seorang kawannya, dua orang, sepuluh atau berapa pun.

Mahisa Agni kini seolah-olah berlari-lari mengejar tantangan yang dihadapinya. Lereng yang terjal itu akan didakinya. Sekarang.

Mahisa Agni tidak memerlukan waktu terlalu lama untuk mencapai lereng yang curam itu. Sebelum matahari sampai ke pusat langit, Mahisa Agni telah sampai di bawah tebing gundul itu. Sekali lagi ia mengagumi dinding raksasa itu. Ditengadahkannya wajahnya, memandang jauh ke atas. Tinggi, tinggi sekali. Demikian tingginya seakan-akan dinding itu akan roboh menimpanya.

Ketika tangan Mahisa Agni meraba dinding itu, terasa di tangannya betapa dinding itu sekeras batu. Tetapi beberapa ujung yang runcing menjorok seperti tonggak kayu yang aus.

Sekali-kali Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa tahun lampau ia pernah mengagumi dinding itu pula. Bahkan saat itu ia lebih kagum lagi. Kini ia sudah semakin dewasa. Dan kini ia telah berkeyakinan, bahwa betapapun curam dan terjalnya, namun dinding harus ditaklukkannya.

Sekali lagi Mahisa Agni meraba-raba lereng yang gundul itu. Kemudian dilepasnya bungkusan yang tersangkut di pundaknya. Disangkutkannya pada batang-batang perdu beserta tongkat kayunya.

Mahisa Agni kemudian tegak seperti seseorang yang siap menunggu seorang lawan yang akan menerkamnya. Kedua kakinya merenggang dan tangannya tergantung lurus di samping tubuhnya. berpegangan pada pahanya, seakan-akan takut kakinya akan terlepas. Ditatapnya batu-batu padas, batu-batu yang hitam kemerah-merahan serta sebuah lubang yang hitam hampir di tengah-tengahnya. Kemudian dipandangnya matahari yang kini telah tegak di atas kepalanya.

“Hem,” bergumam Agni seorang diri, “aku akan menjadi silau karenanya. Biarlah aku menunggu sampai matahari itu lewat di balik dinding ini.”

Namun Mahisa Agni masih tegak di tempatnya. Ia menunggu matahari condong sedikit, sehingga matanya tidak menjadi silau pada saat ia mendakinya.

Tetapi tiba-tiba saja Mahisa Agni itu terloncat seperti didorong hantu. Langsung ia berjongkok di bawah tebing yang curam dan tinggi itu. Dengan mata terbelalak ia mengamati sesuatu yang sangat menggetarkan hatinya. Telapak kaki manusia.

“Apakah artinya ini?” geramnya. Dan sekali lagi ia mengamati telapak kaki itu. Satu, dua dan beberapa lagi dapat ditemukannya di sekitar tempat itu. Apalagi akhirnya Mahisa Agni melihat, telapak kaki itu hilang timbul di kaki lereng gundul itu. Pada tanah yang agak liat ia melihat telapak itu condong ke atas. Dan sekali lagi Mahisa Agni menggeram. Dari sini seseorang pasti pernah naik ke gua ini.

“Pasti bukan telapak guru beberapa tahun yang lalu,” katanya di dalam hati.

“Pasti,” ulangnya. Dan Mahisa Agni pun memang pasti seperti apa yang sebenarnya, telapak itu masih agak baru.

Dada Mahisa Agni menjadi semakin berguncang karenanya. Kini ia pasti bahwa seseorang telah naik ke gua itu. Dugaannya yang pertama adalah Empu Pedek.

“Kalau orang itu memanjat setelah kami bertempur, maka orang itu pasti masih berada di dalam gua ini,” pikirnya, “karena itu aku harus mendaki sekarang juga.”

Mahisa Agni kini tidak mau menunggu apapun lagi. Kegelisahannya telah mendorongnya untuk segera mendaki tebing itu. Dengan tergesa-gesa ia meloncat meraih bungkusannya. Diambilnya keris pusaka peninggalan ayahnya, yang kemudian diselipkannya di pinggangnya. Dengan keris itu ia sudah siap menghadapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi. Mungkin ia harus membunuh, meskipun karena terpaksa apabila ia tidak mau dibunuh. Mungkin ia harus berbuat hal-hal yang belum pernah dilakukannya. Dan kemungkinan yang paling pahit, ia tidak akan keluar lagi dari gua itu.

Bungkusan dan tongkat kayu Mahisa Agni itu pun ditinggalkannya. Selain keris dan tubuhnya, tidak ada lagi yang perlu dalam perjalanannya yang berbahaya itu.

Ketika tubuh dan jiwanya telah siap benar-benar, maka mulailah Mahisa Agni dengan pendakian itu. Kini ia telah sampai pada taraf terakhir dari ujiannya. Mendaki tebing, menghadapi orang yang telapak kakinya telah ditemukannya. Namun mungkin belum yang sebenarnya terakhir. Di perjalanan pulang pun masih mungkin pula ditemuinya berbagai kesulitan-kesulitan.

Kini Mahisa Agni telah mulai dengan pendakian itu. Seperti seekor semut ia merayap-rayap berpegangan dari satu batu yang menjorong ke batu yang lain. Dengan hati-hati kakinya setiap kali mencari pancadan yang kuat. Setapak demi setapak. Untunglah bahwa matahari segera melampaui titik tertinggi di pusat langit, sehingga kini Mahisa Agni telah tidak sedemikian silaunya. Dengan pemusatan tenaga lahir batin, Mahisa Agni merambat terus di tebing yang hampir tegak itu. Beberapa kali kakinya telah menganjak batu yang salah, sehingga batu-batu itu berguguran jatuh ke bawah. Namun Mahisa Agni cukup ber-hati-hati, sehingga ia sendiri selalu dapat menghindarkan kakinya sebelum terlambat.

Tetapi batu-batu itu ada yang terlalu runcing dan tajam, sehingga kaki-kaki Mahisa Agni pun kemudian menjadi sakit dan pedih Tangannya telah luka di beberapa tempat. Meskipun demikian Mahisa Agni masih tetap mendaki terus. Ia harus mencapai mulut gua itu sebelum malam menjadi terlalu kelam.

Mahisa Agni yang muda itu ternyata memiliki kekuatan melampaui manusia kebanyakan. Meskipun tenaganya hampir terperas habis setelah ia bertempur melawan orang timpang yang menamakan dirinya Empu Pedek, namun dengan waktu istirahat yang pendek itu, ia telah mampu membawa dirinya pada suatu pendakian yang berbahaya. Bahkan di sana sini batu-batu padas yang menjorok itu menjadi basah oleh tetesan-tetesan mata-mata air yang kecil di dinding terjal itu. Dengan demikian maka pekerjaan Mahisa Agni menjadi semakin berbahaya.

Sekali-kali Mahisa Agni pun melihat pula, batu-batu padas yang patah di atas kepalanya. Dengan melihat bekas-bekasnya, Mahisa Agni mengetahui, bahwa bekas-bekas itu masih sangat baru. Dengan demikian maka ia menjadi semakin pasti, bahwa seseorang telah mendaki tebing ini sampai ke gua di atas itu.

Mahisa Agni menjadi semakin gelisah karenanya. Tetapi kegelisahannya itu mendorongnya untuk merayap semakin cepat. Tetapi Mahisa Agni tidak membiarkan dirinya kehilangan pengamatan atas alam yang sedang dihadapinya.

Tubuh Mahisa Agni itu pun semakin lama menjadi semakin tinggi melekat padat tebing yang curam itu. Apabila ia sekali-kali menengok ke bawah, dilihatnya pohon-pohon sudah berada di bawah kakinya. Sekali-kali ia terpaksa berhenti merapatkan tubuhnya pada lereng yang terjal itu untuk sekedar beristirahat. Betapapun besar hasratnya untuk segera sampai ke mulut gua itu, namun tenaganya pun terbatas. Dan Mahisa Agni tidak bisa mengingkarinya apabila ia ingin selamat sampai ke mulut gua itu.

Demikianlah perjalanan Mahisa Agni itu menjadi lambat, tetapi ia tetap maju menuju sasaran.

Matahari di langit semakin lama menjadi semakin condong juga. Sinarnya yang putih tampak berkilat-kilat menampar wajah mega-mega yang putih pula. Di kejauhan tampak berbagai warna bertebaran di permukaan bumi. Warna-warna hijau segar, padang rumput yang kekuning-kuningan dan hutan belantara yang menyeramkan. Beberapa batang sungai tampak seperti ular-ular raksasa yang menjalar ke pegunungan.

Mahisa Agni masih merambat terus. Perlahan-lahan namun pasti. Betapa lelahnya dan betapa sulit perjalanan itu. Seluruh tubuhnya telah basah oleh keringat. Dan tangan dan kakinya pun berkeringat pula. Sekali-kali ia merasakan pula kaki dan tangannya menjadi pedih. Namun hanya sesaat, kemudian apabila teringat olehnya akar wregu putih dan telapak- telapak kaki di bawah lereng ini serta beberapa bekas batu-batu yang berguguran, maka perasaan pedih dan lelahnya itu seperti lenyap disapu angin dari selatan yang bertiup perlahan-lahan.

Semakin dekat Mahisa Agni dengan mulut gua itu, hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Kalau orang itu masih di dalam gua, dan menunggunya di mulut gua itu, maka keadaan itu akan sangat berbahaya baginya. Apalagi kalau orang itu, orang timpang yang baru saja bertempur melawannya. Dengan satu sentuhan kecil, maka ia sudah akan terpelanting jatuh ke bawah yang tingginya beberapa puluh depa itu.

Dengan demikian, dengan kemungkinan-kemungkinan yang tak menyenangkan itu, maka Mahisa Agni tidak langsung menuju ke mulut gua itu. Ia menuju beberapa depa di sampingnya,untuk kemudian mendekati gua itu dari arah samping. Dengan demikian ia dapat menghindari atau setidak-tidaknya mengurangi kemungkinan yang dapat sangat menyulitkannya.

Sebelum Mahisa Agni mendekati gua itu, ia berhenti pula untuk beristirahat. Ketika didapatinya bongkahan batu yang baik, maka ia pun berdiri di atas batu itu untuk beberapa saat sambil bersandar lereng itu. Dicobanya untuk mengumpulkan kembali sisa-sisa tenaganya. Mungkin masih akan dihadapinya bahaya yang lebih besar lagi justru di mulut gua itu. Mungkin seseorang menunggunya dan menyentuhnya, supaya ia terlempar jatuh.

Kini Mahisa Agni tidak perlu tergesa-gesa lagi. Ia telah berdiri beberapa langkah di samping mulut gua itu. Baru ketika kekuatannya terasa telah tumbuh kembali meskipun lambat, ia merayap pula semakin dekat semakin dekat.

Mahisa Agni itu pun kemudian telah berdiri dekat di samping mulut gua itu. Sekali lagi ia berhenti. Dicobanya untuk menangkap setiap suara yang ada di dalam gua. Namun yang didengarnya hanyalah siul angin yang bertiup semakin kencang.

Dengan sangat hati-hati Mahisa Agni berusaha untuk melihat gua itu. Alangkah gelapnya. Namun mulut gua itu tidak terlalu gelap. Cahaya yang tidak langsung betapa lemahnya, yang bertebaran di mulut gua itu telah cukup untuk meneranginya. Dan Mahisa Agni tidak melihat apa pun. Apalagi seseorang.

Kembali dada Mahisa Agni berdebar-debar. Dan kembali ia memusatkan segenap panca inderanya. Namun ia tetap tidak menangkap sesuatu yang mencurigakan. Gua itu tetap sepi.

Maka Mahisa Agni itu pun segera bersiap. Diaturnya segenap geraknya untuk menghadapi setiap kemungkinan. Dengan gerak yang cepat Mahisa Agni menggeser dirinya, sehingga tiba-tiba ia telah berada di dalam gua itu bersandar dinding tepinya, dengan penuh kesiagaan untuk menghadapi setiap kemungkinan.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ternyata tak seorang pun yang berada di mulut gua itu. Dengan demikian ia bergeser semakin dalam. Tetapi ia belum berani untuk langsung masuk ke dalam gelapnya gua itu. Sebab firasatnya mengatakan kepadanya bahwa sesuatu pasti akan dihadapinya. Dan firasat itu telah diperkuat oleh telapak- telapak kaki yang ditemukan di bawah tebing ini.

Kini Mahisa Agni duduk tepekur. Dicobanya untuk memulihkan tenaganya lebih dahulu. Sebab kemungkinan yang dihadapinya adalah sama gelapnya dengan gua itu sendiri. Mungkin ia harus bertempur mati-matian, dan mungkin pula, ia harus berkubur di dalam gua ini.

Ketika nafasnya telah teratur kembali dan tenaganya telah sebagian besar dimilikinya, maka Mahisa Agni pun bersiap pula. Sekali lagi ia berdoa kepada yang Maha Agung, semoga perjalanannya kali ini akan berhasil.

Mahisa Agni itu pun kemudian perlahan-lahan berdiri. Sekali-kali dirabanya keris dilambungnya. Kemudian perlahan-lahan pula ia melangkah memasuki gua yang semakin pekat. Namun lambat laun, matanya menjadi biasa pula dalam kegelapan, sehingga semakin lama, meskipun hanya remang-remang ia dapat juga melihat beberapa bagian dari gua itu. Apalagi mata Mahisa Agni yang cukup terlatih itu. Dilihatnya pula dinding-dinding gua yang seolah-olah bergerigi tajam. Beberapa ujung yang runcing menjorok mengerikan.

Kaki Mahisa Agni semakin pedih juga. Luka-luka yang ditimbulkan oleh ujung-ujung batu dan karang telah melukai kakinya, tetapi luka-luka itu kemudian tak terasa lagi, ketika segenap perhatiannya terpusat pada pusat gua yang gelapnya bukan kepalang.

Ternyata gua itu cukup dalam. Namun terasa oleh Mahisa Agni bahwa jalur-jalur di dalam gua itu semakin lama semakin menanjak. Ternyata gua itu bertambah naik. Bahkan kadang-kadang terasa Mahisa Agni seakan-akan naik di atas tingkatan tangga yang dibuat oleh tangan manusia.

“Hem,” desahnya, “ternyata guruku bukan satu-satunya orang yang pernah mengunjungi gua ini.”

Tetapi kemudian anak muda itu bergumam pula, “Atau mungkin guru pula yang membuat anak tangga ini?”

Tetapi kemudian segenap perhatian Mahisa Agni pun tenggelam dalam keasyikannya mendaki tangga-tangga yang lebih sulit lagi. Semakin lama semakin tinggi. Dan jalur-jalur gua itu masih menghunjam terus seakan-akan menembus ke pusat Gunung Semeru.

Mahisa Agni tidak tahu, sudah berapa dalam ia masuk ke dalam lubang tanah yang menganga seperti mulut seekor ular raksasa itu. Ia berjalan terus dan bahkan kadang-kadang harus merangkak dengan susah payah. Bahkan kemudian Mahisa Agni masih terpaksa beristirahat untuk beberapa saat lamanya.

Ketika kemudian Mahisa Agni berjalan kembali, ia terkejut melihat cahaya di hadapannya. Gua itu pun semakin lama menjadi semakin terang.

“Aneh,” katanya di dalam hati, “apakah aku sudah akan sampai ke ujung yang lain?”

Namun pertanyaan itu segera terjawab. Ternyata gua itu telah jauh menanjak, sehingga kemudian tampaklah oleh Mahisa Agni sebuah lubang yang tegak lurus ke atas. Dari lubang itulah sinar yang tak langsung menusuk ke dalam gua itu. Meskipun demikian, setelah sekian lama Mahisa Agni tersekap di dalam kegelapan, maka sinar yang lemah itu terasa betapa nyamannya. Terasa seakan-akan ia baru saja terlepas dari satu kungkungan yang menjemukan. Dari lubang itu Mahisa Agni dapat memandang langit yang biru. Meskipun lubang itu tidak begitu besar, bahkan karena panjangnya, maka ujung lubang itu seakan-akan terkatup, namun daripadanya, Mahisa Agni segera dapat mengetahuinya bahwa hari sudah menjelang senja. Dilihatnya sepintas awan yang bergerak di langit, diwarnai oleh sinar yang kemerah-merahan.

Tetapi karena itu Mahisa Agni menjadi berdebar-debar karenanya. Kalau sebentar kemudian malam tiba, maka gua itu akan menjadi semakin gelap.

Karena itu, maka kemudian Mahisa Agni itu pun berusaha mempercepat langkahnya. Secepat yang dapat dilakukannya. Dengan berpegangan dinding gua ia berjalan setapak demi setapak. Seperti yang sudah dilakukannya, kadang-kadang ia harus merangkak, sebab gua itu masih cenderung naik.

Lubang yang tegak menembus lambung Gunung Semeru itu ternyata tidak hanya sebuah. Di mukanya, kembali Mahisa Agni melihat cahaya yang kemerah-merahan. Ia pasti, bahwa cahaya itu pun jatuh dari lubang yang serupa dengan lubang yang pernah dilihatnya.

Tetapi langkah Mahisa Agni itu pun segera terhenti. Dalam cahaya yang kemerah-merahan itu, dilihatnya sesuatu yang bergerak-gerak. Sebuah desir yang tajam menggores dada anak muda itu. Benda yang bergerak-gerak itu tampak remang-remang di seberang cahaya yang kemerah-merahan sehingga Mahisa Agni tidak dapat segera melihatnya dengan seksama. Namun kemudian anak muda itu melonjak. Dan terdengar nyaring di dalam hati, “Seseorang telah mendahului aku.”

Mahisa Agni itu pun menggeram, Kini ternyata dugaannya benar. Tapak kaki yang dilihatnya serta bekas-bekas guguran batu-batu padas itu bukanlah sekedar karena angan-angannya saja. Kini orang itu telah berada beberapa langkah di hadapannya.

Namun agaknya orang itu belum melihat kehadiran iya. Karena itu Mahisa Agni pun berhenti di tempatnya. Bahkan ia kemudian duduk di lantai gua yang lembab itu.

“Syukurlah, aku yang lebih dahulu melihatnya,” pikir Mahisa Agni.

Kini ia benar-benar menenangkan dirinya. Ia hanya tinggal mengawasi orang itu. Sementara itu ia sempat untuk memulihkan kembali segenap tenaganya setelah ia bertempur melawan Empu Pedek, dan setelah ia memeras sisa tenaganya untuk mendaki lereng gundul di kaki Gunung Semeru itu.

Mahisa Agni telah bertekad untuk tidak menyapanya lebih dahulu. Ia masih memerlukan waktu untuk memulihkan tenaganya kembali. Mungkin orang itu telah beristirahat pula sehingga orang telah memiliki kesegaran tenaganya kembali. Bahkan mungkin telah dua tiga hari ia berada di tempat itu, atau bahkan mungkin ia telah berhasil mengambil akar wregu putih itu.

Bahkan kemudian timbul pula pertanyaan di dalam dirinya, apakah orang itu Empu Pedek yang timpang? Kalau demikian, maka ia harus mengulangi pertempuran sekali lagi seperti yang pernah terjadi. Namun kali ini ia tidak akan menanggung akibat dari kekalahannya melawan orang timpang itu. Karena itu tiba-tiba ia meraba hulu kerisnya. Meskipun keris itu tidak sesakti trisula kecil pemberian gurunya, namun kerisnya adalah pusaka yang berbentuk senjata, yang benar-benar dapat dipergunakannya untuk bertempur dan menyobek dada lawannya. “Kalau aku harus bertempur sekali lagi, maka aku terpaksa mempergunakannya,” katanya di dalam hati, “sebab akar wregu itu pun sebuah pusaka rangkapan yang tak ternilai harganya.”

Di samping itu timbul pula berbagai pertanyaan di dalam dadanya. Menurut gurunya, akar wregu putih itu adalah rangkapan sebuah pusaka lain yang berbentuk trisula, seperti yang dikatakan oleh Empu Pedek pula. Namun ternyata yang mencari akar wregu itu terdapat seorang yang datang dari Kaki Gunung Merapi pula. Apakah di samping sebagai pusaka rangkapan trisula, akar wregu putih itu mempunyai nilai yang lain pula?”

Tetapi Mahisa Agni tidak mau diganggu oleh berbagai pertanyaan itu. Apa pun yang akan dihadapinya, namun ia telah bertekad untuk mendapatkan benda itu. Ia sudah siap menghadapi kemungkinan yang paling pahit. Berkubur di dalam gua ini.

—–
Namun kali ini ia tidak akan menanggung akibat dari kekalahannya melawan orang timpang itu. Karena itu tiba-tiba ia meraba hulu kerisnya.
—–

Cahaya yang kemerahan itu pun semakin lama semakin pudar. Gua itu pun semakin lama menjadi semakin kelam. Dengan demikian Mahisa Agni tidak akan dapat menyelesaikan pekerjaannya kini, kecuali apabila terpaksa. Karena itu, maka kemudian ia hanya dapat menggeser dirinya, duduk tepat di tengah-tengah gua itu. Apapun yang dilakukan oleh orang yang dilihatnya itu, namun apabila orang itu akan meninggalkan gua, maka pasti ia melampauinya. Dalam kesempatan itu ia akan dapat mencegahnya.

Demikianlah malam yang kelam turun menyelimuti Gunung Semeru itu. Yang terdengar kemudian adalah siulan angin pada lubang-lubang di lereng-lereng gunung raksasa itu.

Mahisa Agni masih saja duduk tepekur di tempatnya. Ia mencoba untuk menunggu sampai besok. Meskipun gua itu hampir tak ada bedanya antara siang dan malam, namun di siang hari, masih juga betapa pun lemahnya, samar-samar yang dapat membantunya. Di siang hari, mata Mahisa Agni yang tajam itu, masih dapat melihat walaupun sama sekali tidak jelas, setiap bayangan yang ada di dalam gua itu. Apalagi, ternyata bahwa di dalam gua itu terdapat lubang-lubang yang dapat menampung sinar-sinar matahari yang jatuh menghambur di lambung Gunung Semeru itu.

Tetapi terasa betapa panjangnya waktu. Mahisa Agni merasa bahwa seakan-akan malam itu tidak akan berujung. Akhirnya ia menjadi jemu. Menunggu baginya adalah pekerjaan yang paling tidak menyenangkan.

Karena itu timbul dalam pikirannya, untuk mendekati orang yang dilihatnya siang tadi. Mungkin ia dapat menangkap desah nafasnya atau bunyi apa pun yang ditimbulkannya. Karena Mahisa Agni telah melihatnya lebih dahulu, maka ia akan dapat lebih hati-hati daripada orang itu. Ia akan dapat mengatur gerak dan pernafasannya sehingga tidak menimbulkan bunyi.

Demikianlah akhirnya Mahisa Agni tidak dapat menunda keinginannya itu. Perlahan-lahan sekali ia menggeser dirinya mendekati bayangan seseorang yang dilihatnya tadi. Semakin lama semakin dekat. Namun kadang-kadang timbul pula keragu-raguan di hati Mahisa Agni. Apakah orang itu masih berada di tempatnya?

Tetapi kemudian dada Mahisa Agni itu pun menjadi berdebar-debar. Akhirnya didengarnya juga desah nafas orang yang dicarinya itu. Perlahan-lahan sekali dan betapa nafas itu sangat teratur.

“Orang itu tertidur,” bisik Agni di dalam hatinya.

Tiba-tiba timbullah keinginan di dalam hati Mahisa Agni untuk mendahului orang itu. Namun ia menjadi ragu-ragu. Kalau orang itu Empu Pedek, maka betapa pun untuk tidak menimbulkan suara, namun pasti pendengaran orang itu cukup baik, sehingga maksudnya tak akan dapat dilakukannya.

“Aku dapat membinasakannya selagi ia masih tertidur,” terdengar suara di sudut hatinya, namun terdengar suara yang lain, “Pengecut!”

Dalam keragu-raguan itu, Mahisa Agni terduduk kembali. Ia menjadi bingung apa yang akan dilakukannya.

Tetapi ia terkejut ketika ternyata suara nafas yang didengarnya itu semakin lama semakin jauh. Ternyata orang itu sama sekali tidak tertidur. Bahkan orang itu ternyata sedang berjalan semakin dalam masuk ke dalam gua ini.

Hati Mahisa Agni berdesir karenanya. Dan tiba-tiba pula ia pun berdiri. Ia tidak mau kehilangan kesempatan untuk mendapatkan akar wregu putih itu. Karena itu ia pun berjalan pula dengan hati-hati menelusuri tepi gua mengikuti suara nafas orang yang telah berjalan mendahuluinya.

Kini hati Mahisa Agni tidak tenggelam lagi dalam kejemuan, namun kini hati itu menjadi tegang. Dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan ia mengikuti suara nafas orang di hadapannya, namun karena malam demikian kelam, apalagi di dalam relung gua itu, maka Mahisa Agni belum berhasil melihat orangnya. Tetapi karena pendengaran Mahisa Agni yang tajam, maka ia dapat mengira-ngira apa yang sedang dilakukan oleh orang itu.

Mahisa Agni berjalan cepat apabila engah nafas itu pun berjalan cepat pula, dan ia terpaksa berhenti apabila orang itu pun berhenti.

Dalam pada itu Mahisa Agni pun mencoba untuk menduga-duga, apakah orang yang berjalan itu telah mengetahui kehadirannya pula

Dalam ketegangan itu, Mahisa Agni telah lupa akan peredaran waktu. Ia tidak tahu lagi saat dan waktu. Apakah ia telah berada di pertengahan malam, sebelumnya atau sesudahnya. Tetapi ia merasa bahwa kakinya telah menjadi penat pula dan pedih-pedih di telapak kaki dan tangannya menjadi semakin pedih. Namun ia tidak akan berhenti sebelum akar wregu putih itu dikuasainya.

Ternyata bahwa ketegangan yang mencengkeram dada Mahisa Agni itu telah merampas segenap perhatiannya atas apa saja. Ternyata kemudian Mahisa Agni terkejut bukan kepalang, ketika tiba-tiba saja dilihatnya di kejauhan bayangan yang meremang. Cahaya yang suram yang jatuh ke dalam gua itu

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Katanya di dalam hati, “Ternyata hari telah pagi.” Dan sejalan dengan itu, tubuhnya pun terasa semakin lemah.

Tetapi desah nafas orang itu masih saja didengarnya semakin dalam masuk ke pusat gua. Dan karena itu, berapa pun penatnya, Mahisa Agni tidak juga mau berhenti. Bahkan akhirnya Mahisa Agni siap untuk mengambil keputusan, menentukan nasibnya di antara mereka berdua. Mahisa Agni tidak akan membiarkan tenaganya menjadi terperas habis, baru kemudian menghadapi orang itu. Kini selagi masih cukup tenaga padanya, apa pun yang akan terjadi akan segera dihadapinya.

Karena itu, maka Mahisa Agni segera mempercepat langkahnya. Semakin lama semakin mendekati orang itu. Desah nafas orang itu pun semakin terdengar nyata. Namun tidak teratur seperti yang didengarnya sebelumnya. Maka katanya di dalam hati, “Orang itu pun kelelahan.”

Mahisa Agni kemudian membiarkan orang itu sampai di bawah sinar keremangan pagi yang menembus dari lubang-lubang dalam gua itu. Namun karena cahaya itu masih demikian lemahnya, maka yang dilihatnya hanyalah sebuah bayangan yang kelam.

Tetapi bayangan itu sudah cukup mengejutkan dada Mahisa Agni. Ternyata bayangan itu bukanlah seorang yang timpang dan berperawakan mirip dengan Empu Pedek. Orang itu ternyata seorang yang bongkok meskipun tidak timpang. Ia berjalan tersuruk-suruk berpegangan pada dinding gua. Bahkan nafasnya pun terdengar semakin terengah-engah.

Tetapi Mahisa Agni hanya dapat melihatnya untuk sesaat. Sebab sesaat kemudian orang itu pun telah lenyap kembali dalam kelamnya relung gua.

Sesaat Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Kini datanglah gilirannya untuk menyeberangi daerah yang remang-remang itu. Namun ia telah bertekad untuk menghadapi setiap kemungkinan, dan bahkan ia ingin mempercepat penyelesaian yang mendebarkan itu. Karena itu, tiba-tiba terdengarlah Mahisa Agni itu berkata nyaring, dan suaranya menggelegar memukul-mukul dinding gua, seolah-olah melingkar-lingkar di dalamnya.

“He, Ki Sanak,” katanya, “berhentilah!”

Mahisa Agni tidak melihat orang itu. Namun tiba-tiba ia melihat bayangan itu muncul kembali dalam keremangan cahaya pagi yang jatuh ke dalam gua itu.

“Siapakah kau?” terdengar orang itu bertanya dengan suara yang lemah.

“Aku!” jawab Mahisa Agni. Dan kemudian ia bertanya pula, “Dan siapa kau ini?”

Orang itu tidak segera menjawab. Ia masih mencoba memandang ke arah Mahisa Agni. Namun agaknya orang itu masih belum melihat Mahisa Agni.

Mahisa Agni menjadi heran, ketika ia melihat orang bongkok itu berjalan tersuruk-suruk, maju mendekatinya tanpa prasangka apapun. Bahkan kemudian terdengar ia berkata, “Di manakah kau?”

Mahisa Agni justru mundur beberapa langkah. Ia melihat bayangan itu menjadi semakin dekat. Mahisa Agni berdiri di tempat yang lebih baik, namun ia harus cukup waspada. Dari tempatnya berdiri ia yakin bahwa orang itu belum melihatnya.

Meskipun demikian Mahisa Agni berkata pula, “Berhenti di tempatmu!”

“He?” ternyata orang itu terkejut ketika tiba-tiba itu mendengar suara Agni telah begitu dekat di mukanya. Karena itu ia pun segera berhenti pula. Katanya, “Siapakah kau?”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Dengan cermatnya ia mencoba melihat keseluruhan dari orang itu. Namun ia masih terlalu lemah.

Sesaat gua itu menjadi sepi. yang terdengar hanyalah desah nafas orang bongkok itu terengah-engah. Tangannya pun tampak berpegangan pada dinding gua untuk menahan berat badannya. Dan sekali lagi tanpa prasangka apa pun ia maju selangkah. Namun langkahnya tampak betapa beratnya. Dan terdengar ia bertanya pula, “Siapakah kau?”

Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Namun ia masih belum merasa perlu menyatakan dirinya. Bahkan kemudian terdengar ia pun bertanya, “Siapakah kau?”

Orang bongkok itu mengangguk-angguk. Nafasnya masih terengah-engah dan bahkan kemudian ia bergumam, “Aku lelah sekali. Biarlah aku duduk di sini.”

Kembali Mahisa Agni menjadi keheranan. Orang itu sekali tidak berprasangka. Orang itu sama sekali tidak dalam keadaan bersiap untuk menghadapi setiap kemungkinan. Bahkan dengan tenangnya ia duduk bersandar dinding.

Terdengarlah orang itu menarik nafas dalam-dalam sambil bergumam, “Ah. Betapa lelahnya.”

Namun Mahisa Agni tidak mau terjerat oleh keadaan yang belum diketahuinya benar. Mungkin orang itu adalah seorang yang sakti, yang merasa dirinya tak terkalahkan, sehingga ia tidak perlu berkecil hati, siapa pun yang akan dihadapinya. Mungkin pula orang itu sedang memancingnya untuk menghilangkan kewaspadaannya untuk kemudian dengan serta-merta menyerangnya dan sekaligus membinasakannya. Karena itu, Mahisa Agni masih tetap berdiri tegak dalam kesiagaan penuh.

Ketika kemudian Mahisa Agni melihat orang itu masih saja duduk seakan-akan tak ada sesuatu yang dipikirkannya, maka terdengarlah ia sekali lagi bertanya, “He, Ki Sanak. Siapakah kau ini?”

Orang itu tersentak. Kemudian terdengar ia menjawab, “Oh. Hampir aku lupa akan kehadiranmu Ki Sanak. Aku adalah Buyut Ing Wangon.”

“Buyut dari Wangon?” ulang Mahisa Agni.

“Ya,” sahut orang itu. Kemudian ia menggeser duduknya menghadap ke arah suara Mahisa Agni, “Siapakah kau Ki Sanak. Marilah, duduklah di sini. Kenapa kau berada di dalam gelap?”

Sekali lagi Mahisa Agni menjadi heran. Kata-kata orang itu pun seperti sikapnya pula. Tanpa prasangka. Namun Mahisa Agni pun yang masih tetap berprasangka. Karena itu maka ia tidak segera menjawab pertanyaan orang itu. Bahkan kemudian terdengar ia bertanya pula, “Apakah maksud Ki Buyut Wangon datang kemari?”

Orang itu mengangkat alisnya. Tampaklah dalam keremangan pagi yang semakin terang, orang bongkok itu menggerakkan kepalanya. Kemudian katanya, “Kemarilah Ki Sanak. Duduklah, biarlah kita dapat bercakap-cakap dengan baik. Aku sama sekali belum melihat bayanganmu. Di sini, meskipun tidak jelas, aku akan dapat melihat di mana kau sedang duduk.”

Tetapi Mahisa Agni masih tetap berada di tempatnya. Sejengkal pun ia tidak bergeser. Bahkan ia terkejut ketika ia mendengar orang yang menyebut dirinya Buyut Ing Wangon itu tiba-tiba mengeluh, “Bagus. Bagus jangan dekati aku. Kau akan dapat kejangkitan penyakit terkutuk ini pula. Oh, alangkah malangnya apabila aku tak berhasil pulang kembali dengan obat itu.”

Dada Mahisa Agni menjadi ber-debar-debar karenanya. Dari kata-kata itu Mahisa Agni dapat mengetahuinya, bahwa orang bongkok itu sedang mencari obat untuk penyakitnya. Penyakit menular. Namun meskipun demikian Mahisa Agni tidak segera dapat mengambil kesimpulan. Dan terdengarlah ia bertanya, “Ki Buyut. Apakah sakit Ki Buyut itu. Dan apakah obat yang sedang Ki Buyut cari di dalam gua ini?”

Sekali lagi Mahisa Agni melihat, Buyut Wangon itu mencoba menatapnya di dalam gelap. Tetapi agaknya orang bongkok itu masih belum berhasil melihatnya.

“Ki Sanak,” katanya kemudian, “kenapa Ki Sanak bersembunyi?”

“Aku tidak bersembunyi,” jawab Mahisa Agni.

“Oh,” orang itu menarik nafas. Kemudian terdengar ia bertanya, “Siapakah kau sebenarnya?”

Tiba-tiba Mahisa Agni menjadi semakin curiga. Apakah orang ini sedang memancingnya untuk mengetahui siapakah sebenarnya dirinya, dengan perhitungan-perhitungan yang tertentu? Mungkin orang itu ingin mengetahui nama dan tempat tinggalnya. Baru kemudian ia berusaha untuk mencari trisulanya. Kalau kemudian dirinya dapat dikalahkan, dan trisula itu tidak ada padanya, maka orang itu akan dapat mencarinya ke tempat kediamannya. Bahkan Mahisa Agni kemudian menyangka, bahwa tidak mustahil orang itu salah seorang kawan Empu Pedek. Karena itu tiba-tiba saja Mahisa Agni menjawab, “Aku adalah Empu Pedek.”

Mahisa Agni menjadi heran. Dan pertanyaan di dalam dadanya semakin menghunjam ke pusat jantungnya. Ternyata orang itu sama sekali tidak terkejut mendengar jawabannya.

Dengan mengangguk-anggukkan kepalanya terdengar orang itu bergumam, “Empu Pedek. Dari manakah Ki Sanak datang?”

Kalau demikian maka Mahisa Agni merasa dugaannya ternyata meleset. Dan tiba-tiba saja angan-angannya segera bergeser kepada orang yang datang dari Gunung Merapi. Apakah orang ini pun datang dari kaki Gunung Merapi itu? Untuk meyakinkan dugaannya itu maka Mahisa Agni menjawab, “Aku datang dari Gunung Merapi.”

Orang itu kini terkejut. “Gunung Merapi?” ulangnya.

“Ya,” sahut Mahisa Agni.

Namun kemudian Mahisa Agni pun menjadi kecewa. Sebab orang itu tidak terkejut karena sesuatu hubungan dengan dirinya sendiri. Bahkan orang itu kemudian bertanya, “Alangkah jauhnya. Apakah yang telah memukau Ki Senak terpaksa menempuh jarak yang sedemikian panjang?”

Kembali Mahisa Agni tidak dapat segera menjawab pertanyaan itu. Kembali ia menjadi bimbang. Sesaat Mahisa Agni diam mematung. Dan karena itu, maka suasana di dalam gua itu pun menjadi sepi. yang terdengar hanyalah desah nafas orang yang menamakan diri Buyut dari Wangon itu.

Kesepian itu kemudian dipecahkan oleh pertanyaan Mahisa Agni yang tiba-tiba, “Ki Sanak, apakah yang sebenarnya kau cari di dalam gua ini? Kalau Ki Sanak sedang menderita sakit, apakah penyakit itu dan obat apakah yang harus kau temukan?”

Sekali lagi orang bongkok itu menatap gelapnya gua. Namun tak dilihatnya seorang pun. Meskipun demikian terdengar ia menjawab dengan jujur, “Ki Sanak, kami, hampir semua orang dalam padukuhan kami di Wangon terserang penyakit yang aneh. Mereka menjadi lemah dan kemudian meninggal dunia. Tidak saja orang-orang dari Wangon, namun orang-orang padukuhan di sekitarnya pun demikian pula. Akhirnya, kami mendapat petunjuk dari seorang wiku sakti, bahwa penyakit itu akan dapat dilenyapkan dengan obat yang terdapat di dalam gua ini. Akar wregu yang berwarna putih.”

Meskipun Mahisa telah menduganya, namun ketika ia mendengar orang bongkok itu mengucapkan nama akar wregu putih, hatinya berdesir pula. Ternyata orang itu pun mempunyai kepentingan yang sama meskipun alasannya berbeda-beda. Dan ternyata pula, akar wregu putih itu mempunyai nilai yang ganda pula. Tidak saja sebagai rangkapan trisulanya sehingga kedua pusaka itu akan menjadi satu kesatuan yang sakti tiada taranya, namun orang dari Wangon itu memerlukannya untuk obat penyakitnya.

Karena itu, maka Mahisa Agni tidak dapat berbuat lain daripada berjuang kembali untuk mendapatkan pusaka itu. Buyut dari Wangon yang telah berhasil memasuki gua ini pun pasti seorang yang telah dibekali oleh ilmu yang cukup. Bahkan, Mahisa Agni menjadi heran, apakah orang ini tidak berjumpa dengan Empu Pedek sebelum memasuki gua ini? Atau Buyut dari Wangon ini telah berhasil mengalahkan orang timpang itu? Namun apa pun yang telah terjadi, maka kini Buyut Ing Wangon itu harus berhadapan dahulu dengan Mahisa Agni, murid dari padepokan Panawijen.

“Ki Sanak,” kemudian terdengar suara Mahisa Agni “tidak adakah obat lain yang dapat menyembuhkan penyakit-penyakit itu selain dari akar wregu putih dari dalam gua ini?”

Buyut Ing Wangon itu menjadi heran. Katanya, “Kalau ada obat yang lain, maka obat itu pasti sudah kami pergunakan. Beribu-ribu macam obat telah kami coba, namun tak ada yang bermanfaat bagi kami. Bahkan dari hari ke hari, korban dari penyakit itu semakin bertambah-tambah. Mula-mula hampir setiap lima enam hari sekali, ada korban yang meninggal dunia. Kemudian dua tiga hari seorang meninggal, jarak itu menjadi semakin dekat semakin dekat. Akhirnya kini setiap hari padukuhan kami selalu diramaikan oleh jerit tangis anak yang kehilangan orang tua mereka, atau orang-orang tua yang kehilangan anak-anak mereka. Tidak saja seorang sehari, bahkan kadang-kadang saling berpapasan di perjalanan usungan-usungan mayat yang akan dikubur. Bahkan kadang-kadang kami membakarnya lebih dahulu belum sempat menguburkannya.”

“Akhirnya turunlah seorang wiku sakti, petapa di dekat kepundan Gunung Bromo. Wiku itu telah mendengar wisik dari Hyang Widi, bahwa penyakit yang sedang melanda padukuhan Wangon itu dapat disembuhkan dengan akar wregu putih yang terdapat di dalam gua, di lereng gundul Gunung Semeru. Nah, karena itulah aku datang kemari. Namun ternyata sebelum aku berangkat, penyakit itu telah melekat pula dalam tubuhku, sehingga kini aku merasa, tenagaku semakin lama menjadi semakin lemah. Tidak saja karena aku kelelahan, namun penyakit itu telah menghisap sebagian dari kekuatanku.”

Dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar pula. Akar wregu putih itu sangat berarti baginya. Ia telah menempuh jarak yang demikian panjang, dari kaki Gunung Kawi. Telah dilampauinya bermacam-macam bahaya. Binatang buas, orang-orang jahat di perjalanan. Alam dan kesulitan-kesulitan yang lain. Yang terakhir adalah seorang timpang yang bernama Empu Pedek, yang hampir saja merampas nyawanya. Kemudian lereng gundul itu sendiri. Apakah kemudian, ia tidak akan berhak memiliki akar wregu putih itu?

“Apakah yang akan aku hadapi, akar wregu itu harus aku bawa pulang dan aku serahkan kepada guruku, meskipun akan diberikan kepadaku,” katanya di dalam hati. Karena itu tiba-tiba Mahisa Agni menggeram, selangkah ia maju dan dengan lantang ia berkata, “Ki Sanak, Buyut dari Wangon. Sayang, bahwa kau tidak akan dapat memiliki akar wregu putih itu.”

Ki Buyut dari Wangon itu terkejut bukan buatan. Dengan terbata-bata ia berkata, “Kenapa? Kenapa Ki Sanak?”

Terdengar pula jawaban Mahisa Agni lantang, “Akar wregu putih itu adalah milikku!”

Ki Buyut Wangon itu terdiam sejenak. Ia masih mencoba melihat bayangan Agni dalam kegelapan. Namun tak satu pun yang dapat ditangkap oleh matanya. Sejenak kemudian ia berkata, “Jadi adalah akar wregu putih itu milik seseorang?”

“Ya,” sahut Agni pendek.

Orang itu menggeleng. Cahaya keremangan di belakang orang itu menjadi semakin terang. Namun wajah orang itu pun masih belum dapat dilihat dengan jelas oleh Mahisa Agni.

“Aneh,” gumamnya, “Wiku yang sakti itu berkata, bahwa akar wregu putih itu telah berada di tempat ini sejak tujuh ratus empat puluh tiga tahun yang lampau. Seandainya akar itu milik seseorang, apakah orang itu masih hidup sampai saat ini?”

“Aku adalah ahli warisnya,” sahut Mahisa Agni cepat-cepat.

“Oh,” gumam orang itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Tujuh ratus tahun adalah waktu yang panjang. Keturunan ke berapakah Ki Sanak ini?

Mahisa Agni terdiam untuk sesaat. Pertanyaan itu sulit dijawabnya. Meskipun demikian Mahisa Agni itu meneruskan jawaban pula, “Aku tidak tahu Ki Buyut, namun kami mendengar turun temurun dari nenek-nenek kami, bahwa kami adalah ahli waris dari akar wregu di dalam gua di lereng gundul Gunung Semeru.”

Orang itu diam pula sejenak. Sambil mengangguk-anggukkan kepala ia kemudian berkata, “Hem. Bagaimanakah kalau aku juga berkata demikian. Aku juga mendapat hak dari pewarisnya. Wiku sakti itu adalah ahli waris yang sah dari akar wregu itu.”

“Bohong!” potong Mahisa Agni, “Bukankah Wiku itu mendengar dari wisik Sang Hyang Widi?”

“Aku belum mengatakan bagaimana bunyi wisik itu,” sahut Buyut Wangon.

“Tidak perlu!” kembali Agni memotong, “kau akan membuat suatu cerita tentang bunyi wisik itu.”

“Ki Sanak,” berkata Buyut dari Wangon itu. Kemudian kata-katanya terdengar lemah dan perlahan-lahan, “Baiklah. Seandainya ada ahli waris dari pemilik akar wregu itu sekali pun. Namun kita berdua datang pada waktu yang berbeda. Aku ternyata lebih dahulu dari Ki Sanak. Kita telah datang pada saat yang hampir bersamaan. Dan kita masing-masing tak dapat menunjukkan kebenaran tentang ahli waris itu. Karena itu biarlah aku yang datang lebih dahulu dapat memilikinya.”

Dan Mahisa Agni berdesir mendengar perkataan Buyut Wangon itu. Dengan demikian, semakin yakinlah ia, bahwa ia harus merebut akar itu dengan suatu perjuangan pula. Karena itu maka jawabnya, “Ki Buyut, Kita tidak sedang berlomba berebut dahulu. Terapi kita sekarang memperebutkan akar wregu putih itu.”

Buyut Wangon itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian terdengar ia berkata, “Ki Sanak bersikeras untuk mendapatkan akar itu, apakah sebenarnya keperluan Ki Sanak dengan akar itu? Apakah di daerah Ki Sanak juga terdapat wabah penyakit seperti daerah Wangon?”

“Apapun yang akan aku lakukan atas akar itu, bukanlah kepentinganmu,” sabut Mahisa Agni.

Kembali Ki Buyut itu terdiam. Dengan lemahnya ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun agaknya orang itu tidak berputus asa. Katanya, “Ki Sanak. Aku minta dengan sangat, biarlah aku membawa akar ini, demi keselamatan beratus-ratus bahkan lebih dari seribu orang di berbagai daerah sekitar Wangon.”

“Tidak!” jawab Agni tegas.

Tiba-tiba orang bongkok itu berdiri. Dengan berpegangan pada dinding gua ia berkata, “Aku akan mengambil akar wregu itu. Aku tidak dapat membiarkan seluruh penduduk Wangon dan sekitarnya menjadi tumpas karena penyakit terkutuk itu Dan tentu saja aku ingin menyelamatkan nyawaku sendiri pula.”

Sebelum Mahisa Agni menjawab orang itu sudah melangkahkan kakinya. Namun tiba-tiba ia terhenti pula ketika Mahisa Agni membentak, “Berhenti! Jangan maju lagi meskipun hanya selangkah!”

Orang itu berpaling. Namun belum juga dilihatnya Mahisa Agni. Katanya, “Apakah Ki Sanak tidak juga dapat mengerti? Apakah tidak ada rasa perikemanusiaan sama sekali di dalam dada Ki Sanak?”

Namun akar wregu putih itu, bagi Mahisa Agni adalah benda yang sangat berharga. Karena itu jawabnya lantang, “Ki Buyut dari Wangon. Kita bersama-sama menganggap benda itu sangat penting bagi diri kita masing-masing. Kita masing-masing sudah menempuh jarak yang tak terkirakan jauh dan bahayanya. Kini kita berhadapan di dalam gua ini. Karena itu, biarlah kita selesaikan persoalan kita, seperti persoalan-persoalan lain yang timbul di perjalanan. Kita tentukan siapakah di antara kita yang berhak memiliki akar wregu putih itu.”

Orang bongkok itu masih berdiri di tempatnya sambil berpegangan dinding gua. Ketika ia mendengar kata-kata Mahisa Agni itu pun ia menjadi terkejut. Maka katanya, “Apakah maksud Ki Sanak itu? Bagaimanakah kita akan menentukan, siapakah di antara kita yang berhak memiliki wregu itu?”

“Kita adalah laki-laki,” sahut Mahisa Agni, “Kita telah berani menempuh perjalanan ini. Karena itu nyawa kita pertaruhkan. Nah, bersiaplah. Kita akan bertempur sampai ada di antara kita yang mencabut keinginan kita untuk memiliki benda itu. Hidup atau mati!”

“Oh,” ternyata Buyut Wangon itu terkejut bukan buatan. Dan terlontarlah pertanyaan dari mulutnya, “Jadi haruskah kita berkelahi?”

“Ya!” jawab Mahisa Agni pendek.

“Oh,” orang itu tiba-tiba mengelus dadanya, dan tampaklah tiba-tiba pula ia menjadi gemetar. Katanya, “Ki Sanak, aku datang kemari dari jarak yang jauh itu untuk menghindarkan kematian dari orang-orang di Wangon. Kenapa tiba-tiba aku di sini dihadapkan pada kemungkinan untuk mati dengan cara yang demikian? Ki Sanak, aku tak pernah membayangkan, bahwa seseorang dapat berbuat seperti Ki Sanak itu. Aku tidak pernah dapat mengerti, kenapa seseorang harus berkelahi?”

“Sekarang kau akan mengerti Ki Buyut,” sanggah Mahisa Agni, “dalam keadaan seperti keadaan kita sekarang. Tak ada cara penyelesaian yang lain!”

“Aku kira Ki Sanak bisa mengerti, demi perasaan ke perikemanusiaan yang ada di dalam dadamu, meskipun hanya sepercik kecil.”

Mahisa Agni terdiam sesaat. Namun benda itu sudah diusahakannya dengan melintasi bahaya. Karena itu kembali tekad yang bulat mencengkam dadanya. Maka jawabnya,” Aku akan mengambil akar itu.”

“Jangan Ki Sanak!” pinta Buyut Wangon itu sambil gemetar, “Aku tidak pernah membayangkan untuk berkelahi dengan siapa pun, namun ribuan orang di sekitar daerah Wangon menanti kedatanganku dengan obat itu.”

“Aku tidak peduli!” jawab Agni singkat.

Orang itu masih memegangi dadanya seakan-akan takut akan pecah. Dan terdengarlah ia berkata lirih, “Ki Sanak. Katakanlah, apakah gunanya akar itu bagi Ki Sanak? Apakah Ki Sanak akan mempergunakannya sebagai obat seperti aku akan mempergunakannya? Apabila demikian Ki Sanak, biarlah aku mengalah. Sebab kegunaan akar wregu itu akan sama saja, di tempat Ki Sanak atau di Wangon. Kedua-duanya memungkinkan tertolongnya ribuan jiwa, termasuk perempuan dan kanak-kanak. Atau apabila Ki Sanak rela, aku hanya ingin mendapat sepotong daripadanya. Mudah-mudahan akan mampu menolong jiwa orang-orang di sekitar tempat Ki Sanak dan orang-orang di Wangon sekaligus.”

Kembali terasa sesuatu berdesir di dalam dada Mahisa Agni. Ribuan orang akan diselamatkan oleh akar wregu putih itu. Tetapi ketika kembali diingatnya, bahwa akar itu adalah rangkapan pusakanya, yang dapat menjadikannya sakti tiada taranya, maka kembali ia berkata, “Jangan ributkan kegunaannya! Minggir! Aku akan mengambil akar wregu itu.”

Kini Mahisa Agni tidak menunggu jawaban lagi. Ia maju beberapa langkah sambil berkata, “Kalau kau ingin menentukan siapa di antara kita yang berhak memiliki akar wregu itu, bersiaplah. Kalau tidak, minggirlah!”

Orang itu tidak menjawab pertanyaan Agni. Bahkan dengan serta-merta ia memutar tabuhnya, dan dengan sekuat ia dapat, maka orang bongkok itu mencoba berlari tersuruk-suruk masuk ke pusat gua itu.

Sesaat Mahisa Agni tertegun. Ia menjadi sedemikian heran. Orang bongkok itu sama sekali tidak bersiap untuk melawannya, tetapi orang itu telah mencoba untuk berlari mendahuluinya.

Ketika Mahisa Agni tersadar akan keadaan itu, maka ia pun tidak mau terlambat. Karena itu segera ia berteriak nyaring, “He, Buyut Ing Wangon. Berhentilah!”

Tetapi orang bongkok itu berlari terus. Terhuyung-huyung dan kadang-kadang tubuhnya terbanting-banting di sisi gua. Namun ia berlari terus.

Mahisa Agni kemudian menjadi marah karenanya. Dan terdengarlah sekali lagi ia berteriak, “He, bongkok! Berhenti atau aku terpaksa menghentikanmu!”

Kali ini pun Buyut Ing Wangon itu seolah-olah tidak mendengarnya. Ia masih berlari terus, namun larinya tidak lebih dari kecepatan anak-anak yang sedang belajar berjalan.

Mahisa Agni itu kini benar telah menjadi marah. Ia merasa seakan-akan Buyut Ing Wangon itu sama sekali tak menghiraukan kehadirannya. Karena itu tiba-tiba Mahisa Agni itu pun meloncat menyusulnya. Tidak lebih dari sepuluh langkah Mahisa Agni telah mencapai buyut bongkok itu. Dengan satu sentuhan yang menyentak orang bongkok itu telah terpelanting membentur mulut gua, dan kemudian jatuh terjerembab di lantai yang lembab.

Mahisa Agni kemudian berdiri di sisinya sambil menggeram. Dengan tajam ia memandangi Buyut Wangon itu sambil berkata, “Jangan mencoba melawan kehendakku!”

Terdengar Buyut Ing Wangon itu mengeluh. Sesaat terdengar pula ia merintih. Katanya, “Ki Sanak, kenapa Ki Sanak menyakiti aku?”

“Kau tidak mau mendengar kata-kataku. Kalau kau ingin mendapat akar wregu putih itu, marilah kita bertempur. Kalau tidak jangan mencoba menghalangi aku,” sahut Mahisa Agni.

Dengan susah payah Buyut Ing Wangon itu mencoba duduk. Mulutnya masih saja berdesis menahan hati. Dan terdengarlah ia berkata terbata-bata, “Ki Sanak. Apakah hal yang demikian itu wajar?”

“Lalu?” bertanya Agni, “Apakah kau mempunyai cara lain?”

“Sudah aku katakan Ki Sanak. Aku datang lebih dahulu diri Ki Sanak,” jawab Buyut Wangon itu. Sesaat ia berhenti menelan ludahnya. Kemudian katanya, “Kalau hal itu Ki Sanak menganggap tak sepantasnya, maka katakanlah, apakah keperluanmu dengan akar wregu itu. Marilah kita bicarakan manakah yang paling penting penggunaannya. Ki Sanak atau aku. Kalau ternyata keperluan Ki Sanak jauh lebih penting dari keperluanku, biarlah aku mengalah Aku tak akan kembali lagi ke Wangon, sebab aku sendiri pasti sudah akan mati karena penyakitku itu di sini.”

Sekali lagi terasa sesuatu berdesir di dalam dada Mahisa Agni. Namun sekali lagi ia membulatkan tekadnya. Pusaka itu akan ditebusnya dengan apa saja. Dengan tenaganya, dengan darahnya dan dengan mengorbankan perasaannya.

Karena itu Mahisa Agni itu pun menjawab, “Jangan bertanya lagi kegunaan akar wregu itu bagiku.”

Buyut Ing Wangon itu menarik nafas dalam-dalam. Terdengar ia mengeluh kemudian katanya lemah, “Lalu bagaimanakah kita bisa menentukan, siapakah yang lebih penting di antara kita?”

“Jangan ributkan kepentingan kita masing-masing,” bantah Agni.

“Oh, alangkah malangnya dunia ini,” desah Buyut Wangon, “apabila setiap persoalan hanya dapat ditentukan dengan kekerasan. Akan lenyaplah martabat kita sebagai manusia yang berakal budi.”

Kata-kata Buyut Wangon itu langsung menghunjam ke jantung Mahisa Agni. Sesaat ia terbungkam, dan terasa getaran-getaran di dadanya. Namun demikian dicobanya sekuat tenaga untuk menekan perasaan itu, “Aku bukan perempuan yang cengeng, yang dapat terpengaruh oleh persoalan-persoalan yang tak berarti.”

Dan tiba-tiba saja meledaklah jawabnya, “Buyut dari Wangon. Jangan menjual belas kasihanku di sini. Kalau aku berbuat seperti berbuat seperti perbuatanku kini, pastilah sudah aku pertimbangkan baik buruknya. Kau hanya mampu berpikir pada masalah-masalah sekitar daerahmu saja. Daerah Wangon dan sekitarnya. Namun aku telah menjelajahi berbagai daerah, berbagai persoalan dan berbagai masalah. Karena itu akar itu jauh bermanfaat bagiku daripada bagimu.”

Buyut Wangon itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tetapi beribu-ribu jiwa di Wangon menanti penyembuhannya. Kalau tidak, maka mereka akan menjadi seperti babatan paying. Malang melintang, mati tak terurus. Sebab semua orang akan mati pula karenanya.”

Mahisa Agni menggeleng-gelengkan kepalanya, seakan-akan melemparkan getaran kata-kata Buyut Wangon yang menyentuh telinganya.

“Tidak! Tidak!” tiba-tiba ia berteriak, “Aku tidak peduli urusanmu!”

Mahisa Agni tidak menunggu orang bongkok itu berkata-kata pula. Seakan-akan ia menjadi takut terhadap setiap persoalan yang dikatakan oleh orang bongkok itu. Dengan serta-merta, Mahisa Agni itu pun segera memutar tubuhnya, dan bersiap untuk segera memasuki gua itu lebih dalam lagi.

Tetapi ia terkejut, ketika tiba-tiba terasa Buyut Ing Wangon itu memeluk kakinya sambil memeganginya kuat-kuat. Kemudian terdengarlah ia berkata, “Jangan Ki Sanak, jangan kau ambil akar wregu itu. Beribu-ribu jiwa hidupnya tergantung dari perjalananku sekarang.”

—–
“Jangan Ki Sanak, jangan kau ambil akar wregu itu. Beribu-ribu jiwa hidupnya tergantung dari perjalananku sekarang.”
—–

Mahisa Agni menghentak-hentakkan kakinya. Terdengar ia pun berteriak, “Lepaskan! Lepaskan!”

Namun Buyut Wangon tidak mau melepaskannya. Bahkan orang bongkok itu mencoba untuk memegangnya lebih erat lagi. Sehingga dengan demikian Mahisa Agni menjadi marah kembali. Dengan satu hentakkan yang keras, Buyut Wangon itu terlempar beberapa langkah dan terbanting di lantai gua itu. Terdengar ia berteriak kesakitan. Namun ia masih juga berkata di antara desisnya, “Jangan Ki Sanak. Jangan.”

Tetapi Mahisa Agni tidak mau mendengarnya lagi. Cepat-cepat ia berlari. Berlari. Sedang kedua tangannya dengan kerasnya menyumbat kedua telinganya.

Mahisa Agni berusaha secepat-cepatnya untuk menjauhi Buyut Ing Wangon – yang masih terkapar sambil merintih-rintih – seakan-akan takut dikejarnya. Namun sebenarnya Mahisa Agni tidak merasa takut sedikit pun seandainya Buyut Wangon itu mengejarnya dan berusaha melawannya. Sejak semula ia sudah siap untuk bertempur. Tetapi ia takut terhadap perasaannya sendiri. Keluhan orang bongkok itu ternyata selalu menimbulkan getaran-getaran di dalam dadanya. Dan ia tidak mau perasaannya menjadi runtuh karenanya.

Sekali-kali kaki Mahisa Agni terperosok pada lubang-lubang di lantai gua. Bahkan beberapa kali Mahisa Agni itu jatuh terjerembab, namun kemudian ia bangkit lagi dan berlari kembali sambil meraba-raba dinding. Meskipun ia tidak dapat lari secepat-cepatnya, namun semakin lama ia menjadi semakin jauh dari Buyut Wangon. Dan ketika ia sudah tidak mendengar suara rintihan orang bongkok itu, Mahisa Agni pun berhenti Perlahan-lahan Mahisa Agni berpaling. Namun yang dilihatnya adalah sebuah takbir yang kelam di belakangnya. Kini barulah ia sadar, bahwa dirinya berada di dalam cengkaman dinding-dinding gua yang hitam pekat.

Nafas Mahisa Agni itu pun terdengar berkejar-kejaran dari lubang hidungnya. Terasa betapa cepatnya. Dengan susah payah Agni mencoba menenangkan dirinya.

Buyut dari Wangon itu ternyata mempunyai kesan yang aneh di dalam hati Mahisa Agni. Setelah ia menempuh perjalanan yang berat, dan mengalami banyak rintangan-rintangan, orang-orang jahat dan orang-orang yang mencoba mencegahnya tanpa menimbulkan kecemasan di dalam dirinya, namun kini tiba-tiba ditemui seorang yang lemah, sakit, bahkan hampir mati. Namun orang itu benar-benar mengganggu perasaannya

“Persetan dengan orang itu!” tiba-tiba Mahisa Agni menggeram. Ia ingin mencoba menekan perasaannya. Akar wregu putih itu baginya adalah benda yang akan menjadi sangat berharga.

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Sekali lagi ia berjuang untuk tidak terpengaruh oleh setiap perasaan yang mengganggu pekerjaannya. Tiba-tiba Mahisa Agni itu pun melangkahkan kakinya. Ia harus segera menemukan akar wregu putih itu.

Ternyata Mahisa Agni sudah tidak begitu jauh lagi dari pusat gua. Ketika sekali lagi menemui lubang udara, maka segera ia pun mengetahui, bahwa matahari telah tinggi di langit yang biru. Dari lubang itu Mahisa Agni melihat betapa cerahnya udara, dan cerahnya sinar matahari. Namun ia masih harus berada di dalam gua yang hitam kelam itu.

Mahisa Agni berjalan kembali beberapa langkah, kemudian terasa kakinya menyentuh tangga-tangga yang membawanya mendaki. Namun tangga-tangga itu tidak begitu tinggi, sehingga, segera ia sampai di ujungnya. Sekali ia membelok ke kiri, kemudian sekali lagi Mahisa Agni melihat seberkas sinar jatuh di lantai gua.

Mahisa Agni masih melangkah maju. Bahkan ia masih tetap berjalan dengan penuh kewaspadaan. Ternyata beberapa orang telah ditemuinya. Dan di antara mereka telah mengetahui pula adanya akar wregu putih itu sehingga tidak mustahil bahwa ada orang-orang lain lagi yang telah mengetahuinya pula, selain Buyut dari Wangon, Empu Pedek, orang dari Gunung Merapi yang tak diketahui namanya, dan gurunya.

Dada Mahisa Agni itu pun menjadi semakin berdebar-debar pula. Tiba-tiba ia cemas. Tidak pula mustahil, bahwa akar itu telah diambil pula oleh seseorang yang datang lebih dahulu daripadanya beberapa hari atau beberapa bulan dan bahkan beberapa tahun yang lalu, setelah gurunya mengunjungi gua ini.

“Hem,” gumamnya, “kenapa guru tidak mengambilnya saja pada waktu itu?”

Namun Mahisa Agni menyadarinya kembali, bahwa pasti ada alasan-alasan tertentu, sehingga gurunya berbuat demikian. Alasan-alasan yang tak diketahuinya dan tak diberitahukannya kepadanya.

Tiba-tiba debar jantung Mahisa Agni itu pun menjadi semakin cepat. Terasa sesuatu menyentuh perasaannya. Firasatnya mengatakan kepadanya, bahwa perjalanannya hampir sampai ke tujuannya.

Ketika sekali lagi Mahisa Agni menikung ke kanan, dilihatnya kembali semakin terang. Dan ternyata lubang ini agak lebih besar daripada yang pernah ditemuinya.

Perlahan-lahan Mahisa Agni melangkah maju. Dengan penuh kewaspadaan dipandangnya setiap sudut gua yang terbentang di hadapannya. Tiba-tiba langkah Mahisa Agni itu pun terhenti. Di bawah berkas sinar yang jatuh itu dilihatnya dinding gua itu terputus. Ia tidak melihat lagi sebuah lubang pun pada dinding-dinding itu, sehingga tiba-tiba ia bergumam, “Apakah aku sudah sampai ke ujung gua ini?”

Debar dada Mahisa Agni menjadi kian cepat. Dan darahnya terasa seakan-akan membeku ketika matanya terbentur pada sebuah lubang kecil di dinding gua. Di dalam lubang itu dilihatnya, apa yang dicarinya selama ini. Kain yang berwarna merah, namun karena tuanya, maka warna itu telah hampir lenyap dan bertapikan kain putih yang sudah kekuning-kuningan.

Tiba-tiba tubuh Mahisa Agni menjadi gemetar karenanya. Terasa sesuatu melonjak di dalam ruang dadanya. Sesaat ia diam mematung, seolah-olah ia menjadi kehilangan kesadaran

Namun sesaat kemudian dengan serta-merta ia meloncat untuk meraih benda yang akan dapat ikut serta menentukan perjalanan hidupnya. Tetapi karena ia sedemikian tergesa-gesa sehingga Agni itu pun terpeleset dan jatuh terbanting di lantai gua yang berbatu-batu padas. Terdengar ia mengeluh pendek. Namun perasaan sakit di lututnya sama sekali tak dihiraukannya. Sekali lagi ia bangkit, dan sekali lagi ia meloncat. Kali ini ia berhasil. Digenggamnya benda itu erat-erat, dan kemudian dengan tangan yang gemetar diurainya kain pembalutnya. Sekali lagi dadanya berdesir. Kini digenggamnya sepotong akar wregu yang panjangnya kira-kira dua cengkang. Dengan tangan yang gemetar diciumnya akar wregu itu sambil bergumam dengan suara parau, “Terpujilah Namamu, Yang Maha Agung.”

Betapa besar hati Mahisa Agni setelah ia memegang benda yang selama ini dicarinya dengan banyak pengorbanan. Benda yang akan menjadikan manusia jantan yang pilih tanding. Benda yang dapat menjadikannya manusia yang sukar dicari bandingnya. Karena itu untuk sesaat Mahisa Agni seakan-akan tenggelam dalam sebuah mimpi yang indah. Mimpi tentang masa depannya yang cerah. Terngianglah di sudut hatinya kata-katanya sendiri, “Ayo, siapakah yang akan berani melawan kehendak Mahisa Agni? Apapun yang akan aku lakukan tak seorang pun yang dapat mencegahnya. Dengan benda ini dan trisula yang sakti itu, akan dapat aku gulung dunia ini.”

Tiba-tiba Mahisa Agni itu pun tertawa sendiri. Dan tiba-tiba ia berdiri bertolak pinggang sambil berkata lantang, “Inilah Mahisa Agni. Manusia tersakti di muka bumi.”

Dan seperti orang yang kehilangan ingatan, sekali lagi akar wregu putih itu diciuminya.

Namun semakin lama, Mahisa Agni itu pun menjadi semakin tenang. Seolah-olah anak muda itu tersadar dari tidurnya yang ditandu dengan mimpi yang mengagumkan. Perlahan-lahan segenap ingatan yang terang kembali merayapi hati Mahisa Agni kemudian berhasil kembali menguasai dirinya, menguasai luapan perasaannya. Bahkan tiba-tiba ia menjadi malu sendiri, setelah disadarinya, Apa yang baru saja dilakukannya

Maka Mahisa Agni itu kemudian dengan langkah satu-satu berjalan menepi. Kemudian perlahan-lahan pula ia meletakkan dirinya duduk bersandar dinding gua. Diambilnya sebuah tarikan nafas yang panjang sekali. Dan baru kemudian ia mengamat-amati akar wregu di tangannya.

Akar wregu itu adalah akar wregu seperti yang pernah dilihatnya. Tidak ada kekhususannya, selain warnanya yang memang agak keputih-putihan. Bahkan warna putih itu pun tidak memberikan kesan apa pun pada penglihatan Mahisa Agni. Namun bagaimana pun juga, gurunya telah berkata kepadanya bahwa benda itu akan dapat menjadi rangkapan pusakanya, sehingga kedua pusaka itu akan merupakan sepasang pusaka yang tak ada bandingnya.

Sekali-kali terasa juga keragu-raguan di dalam dada Mahisa Agni itu. Apakah tidak mustahil bahwa seseorang telah datang mendahuluinya dan menukar akar wregu ini dengan akar wregu yang lain? Ketika sekali lagi Mahisa Agni memandang akar wregu dalam cahaya yang jatuh lewat lubang-lubang di atas gua itu, sekali lagi tergores suatu pertanyaan di dalam dadanya. Apakah benar akar yang dicarinya itu, adalah yang kini digenggamnya?

“Ah, tentu,” gumamnya tiba-tiba. Ia telah berjalan sampai ke ujung gua ini. Dan benda inilah satu-satunya yang ditemukannya. Apabila seseorang telah datang lebih dahulu daripadanya, apakah perlunya orang itu menukarnya? Kenapa tidak saja benda itu pun diambilnya?

Dalam pada itu, Mahisa Agni pun segera teringat kepada orang timpang di kaki lereng gundul ini. Empu Pedek. Beberapa keanehan telah mengganggu otaknya. Kenapa Empu Pedek itu tidak mendahuluinya mengambili pusaka ini. Seandainya demikian, bukankah akibatnya akan sama saja baginya. Ia masih akan tetap pada keadaannya, dan kemungkinan untuk mengetahui orang-orang lain yang akan mengambil akar itu, dengan harapan untuk menemukan trisulanya. Sebab sebelum seseorang memiliki kedua-duanya, maka ia belum seorang yang sakti tanpa tanding. Sehingga betapapun saktinya Empu Pendek, namun tak semua orang di bawah kolong langit ini dapat dikalahkannya. Juga belum pasti orang yang memiliki trisula itu pun dapat dikalahkannya pula.

Dalam pada itu timbul pula dugaannya, bahwa sebenarnya seseorang telah mengambil akar wregu yang sebenarnya. Namun telah ditukarkannya dengan benda yang lain, sehingga dengan demikian, tak ada orang yang akan mengejarnya. Orang yang menemukan akar itu kemudian akan menyangka bahwa akar itu adalah akar yang sebenarnya, dan tidak dicarinya pula akar wregu putih itu, sehingga sampai pada saatnya, ditemukannya rangkapannya. Trisula.

Berbagai-bagai persoalan datang hilir mudik di kepala Mahisa Agni. Namun akhirnya ia mengambil suatu kesimpulan, “Biarlah apa yang ada ini aku bawa kembali. Guru telah pernah melihatnya dahulu, sehingga Empu Purwa itu pasti akan dapat mengetahuinya, apakah akar wregu inilah yang sebenarnya harus aku cari. Apabila ternyata keliru, maka betapapun beratnya, aku harus berjalan kembali untuk menemukan akar yang sebenarnya itu. Yang pertama-tama harus ditemukan adalah orang timpang yang menamakan diri Empu Pedek itu.”

Kini Mahisa Agni telah benar-benar menjadi tenang. Bahkan kini terasa olehnya, betapa tubuhnya menjadi penat. Telah sehari semalam, bahkan lebih, ia berada dalam ketegangan lahir batin. Apalagi setelah ia berjuang memeras tenaga melawan rintangan-rintangan yang dihadapinya. Karena itu, maka baru kini terasa, persendiannya sakit-sakit dan pedih-pedih menjalari di seluruh telapak tangan dan kakinya. Bahkan dilihatnya pula beberapa goresan merah pada lutut dan lengannya.

“Aku harus beristirahat,” gumamnya. Sebab Mahisa Agni itu pun sadar bahwa perjalanan pulang ke Panawijen itu pun akan mempunyai persoalan-persoalannya sendiri. Tidak terlalu jauh. Di bawah lereng ini, Empu Pedek masih menunggunya. Orang itu pasti belum akan melepaskan niatnya untuk memiliki trisulanya dan sekaligus akar wregu putih ini.

“Sayang,” desah Agni tiba-tiba, “Kalau trisula itu aku bawa serta maka aku akan keluar dari gua ini dengan pasti, bahwa tak seorang pun akan dapat mengalahkan aku.”

Tetapi tiba-tiba pikiran itu terdorong pula oleh sebuah pikiran yang lain, “Bagaimana kalau aku binasa sebelum sampai ke gua ini, atau akar ini bukanlah akar wregu putih yang sebenarnya?”

Tiba-tiba Mahisa Agni itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia tidak mau berpikir lagi. Ia hanya ingin beristirahat, untuk kemudian keluar dari gua ini dengan tenaga yang cukup untuk menghadapi setiap kemungkinan.

Demikianlah kemudian Mahisa Agni itu duduk sambil menjulurkan kedua kakinya lurus-lurus sambil bersandar ke dinding. Dicobanya untuk benar-benar dapat beristirahat dan mengumpulkan segenap kekuatannya kembali.

Meskipun perlahan-lahan namun pasti, Mahisa Agni telah menemukan kesegaran tenaganya kembali, sekali-kali dipijitnya kakinya dan direntangkannya tangannya.

Sesaat kemudian Mahisa Agni itu berdiri. Ketika kantuknya tiba-tiba menyerang, dicobanya pula untuk melawannya. Ia tidak mau tertidur dan ia tidak mau seseorang datang kepadanya, membunuhnya selagi ia tidur dan mengambil akar wregu yang sudah di tangannya itu.

Setelah beberapa kali menggeliat, serta telah digerak-gerakkannya tangan serta kakinya, maka Mahisa Agni merasa, bahwa sebagian besar tenaganya telah pulih kembali. Meskipun hampir dua hari ia tidak makan apapun, namun Mahisa Agni telah menjadi biasa dengan keadaan itu. Di padepokannya pun ia sering melakukannya. Tidak makan dan tidak minum sebagai laku prihatinnya. Dan kini, ternyata apa yang sejak lama telah dilakukannya itu sangat bermanfaat baginya. Apalagi pada saat-saat ia mempertaruhkan benda yang dianggapnya sangat berharga itu, maka Mahisa Agni itu pun sama sekali tidak merasakan lapar.

Kini Mahisa Agni telah bersiap untuk keluar kembali dari gua. Diaturnya perasaannya serta diaturnya tenaganya. Se….. (hilang beberapa paragraph)

[divider line_type=”Full Width Line” custom_height=””]

Source : www.agusharis.net

~ Article view : [278]