Pelangi di Langit Singasari [ 08 ]

336

oleh S.H. Mintardja

[ Seri 08 ]

 

 

MAHISA AGNI DAPAT MENGERTI SELURUHNYA. Karena itu, maka ia tidak akan minta lebih banyak lagi dari Witantra. Apa yang dilakukan telah lebih dari cukup. Apalagi kesanggupan Witantra untuk ikut serta memecahkan persoalan itu besok, kalau Akuwu sudah pulang dari berburu.

“Berapa lamakah masa perburuan itu?”

“Pendek. Sehari, dua hari. Bahkan kadang-kadang baru tengah hari Sang Akuwu telah menjadi jemu dan kembali ke istana. Tetapi kadang-kadang sampai tiga empat hari berkemah di dalam hutan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Dari cara-cara itu telah dapat diketahui bahwa Akuwu Tumapel itu selalu berbuat menurut kehendak sendiri, tanpa mempertimbangkan pendapat orang lain. Meskipun demikian, maka Mahisa Agni percaya, apabila Akuwu itu mendengar peristiwa yang sebenarnya telah terjadi atas Ken Dedes, maka Sang Akuwu itu pasti akan membantu mencegah Kuda Sempana melakukan kesalahan serupa untuk ketiga kalinya.

Witantra itu pun kemudian mempersilakan Mahisa Agni untuk beristirahat. Sebab ia sendiri harus mempersiapkan diri untuk menempuh masa perburuan yang tak diketahui ke mana dan berapa lama. Karena itu, maka Witantra itu harus menyiapkan anak panah serta busurnya. Bahkan senjata-senjatanya yang lain. Mungkin akan dipergunakan pula tombak berburunya untuk melawan binatang-binatang buas yang tiba-tiba saja menyerangnya.

Mahisa Agni itu pun kemudian dipersilahkannya untuk beristirahat di gandok kanan. Besok ia dapat tinggal di tempat itu pula sambil menunggu Witantra kembali. Mungkin tidak terlalu lama. Dan selama itu ia tidak perlu mencemaskan Kuda Sempana. Sebab Witantra akan dapat mengawasinya. Sedang apabila Kuda Sempana tidak ikut serta, dan karena itu ia mempunyai kesempatan untuk berbuat sesuatu, maka Witantra itu akan memberitahukannya dan ia harus segera pulang.

Karena itu, Mahisa Agni yang lelah setelah membersihkan diri segera membaringkan dirinya di atas sebuah pembaringan bambu. Dicobanya untuk menenangkan hatinya dan dicobanya untuk memejamkan matanya. Namun kegelisahannya selalu mengganggunya.

Demikianlah di tempat yang lain, Kuda Sempana pun berbaring di pembaringannya. Beberapa orang kawannya serumah, para pelayan dalam Akuwu, melihatnya dengan penuh keheranan. Namun, dibiarkannya Kuda Sempana itu terbaring diam, meskipun matanya tidak terpejamkan. Kuda Sempana itu sedang merenungkan apakah yang baru saja terjadi atasnya. Ia berbesar hati, karena ia mendapat kesempatan melepaskan diri dari Mahisa Agni yang akan menangkapnya, namun ia tidak dapat melupakan kekalahannya. Kekalahan yang pahit. Apalagi kekalahannya itu sama sekali bukan kekalahannya yang pertama. Dua kali ia mengalami kekalahan dari Mahisa Agni. Karena itu, maka dendam di dalam dadanya membara setinggi gunung.

“Kuda Sempana,” terdengar seorang kawannya berkata kepadanya, “Besok Akuwu akan pergi berburu.”

“Persetan!” jawab Kuda Sempana.

Kawannya itu mengerutkan keningnya. “Kenapakah kau? Apakah kau sedang mabuk tuak?”

“Jangan ribut!” bentak Kuda Sempana. Tetapi kawannya itu malahan tertawa. Alangkah menjengkelkannya.

“Akuwu telah memerintahkan, di antara kita, tiga orang harus mengikutinya di samping beberapa orang prajurit.”

“Pergilah. Ajaklah dua orang yang lain.”

“Akuwu menyebut nama di antara kita. Aku, kau dan pelayan yang baru itu. Ken Arok.”

Kuda Sempana menggigit bibirnya. “Menjemukan,” desisnya, “Katakan kepada Akuwu, Kuda Sempana sedang sakit.”

“Jangan membual, Kuda Sempana. Berkatalah sendiri.”

Kuda Sempana diam sesaat. “Kenapa anak itu harus ikut pula?”

“Siapa? Ken Arok maksudmu?”

“Ya.”

“Entahlah. Itu adalah urusan Akuwu.”

Kuda Sempana tidak menjawab. Ia sedang sibuk berpikir tentang dirinya sendiri. Tentang kegagalannya dan tentang kekalahannya. Namun wajah Ken Dedes tidak dapat dilupakannya. Ia akan dapat mati membeku apabila ia melihat gadis itu diperistri oleh Wiraprana kelak.

Kuda Sempana sama sekali tidak tertarik kepada kabar yang disampaikan oleh kawannya itu. Meskipun pada masa-masa yang lampau ia adalah seorang pemburu yang baik, dan berita tentang masa perburuan sangat menarik hatinya.

Kini ia sedang dirisaukan oleh persoalannya sendiri.

Tetapi, tiba-tiba wajah Kuda Sempana itu menjadi terang. Tiba-tiba saja ia bangkit dan berteriak kepada kawannya yang masih duduk dekat pembaringannya, “He, kau bilang Sang Akuwu akan berburu besok?”

Kawannya terkejut melihat perubahan yang tiba-tiba Itu. Sesaat ia memandangi wajah Kuda Sempana, dan kemudian bahkan kawannya itu bertanya,” Apakah kau tertarik kabar itu?”

“Tentu. Tentu,” sahut Kuda Sempana, “bukankah aku selalu mengikuti Akuwu berburu?”

“Tetapi kenapa kau menjadi seperti orang mabuk tuak, sehingga pada waktu aku sampaikan kabar itu, kau sama sekali tidak menaruh perhatian atasnya?”

“Siapa bilang aku tidak menaruh perhatian?”

“Kalau begitu kau benar-benar mabuk.”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Mungkin aku agak mabuk. Tetapi aku sekarang sudah baik. Nah, apakah kau tahu ke mana Akuwu akan berburu?”

Kawannya itu menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak. Akuwu belum mengatakan kepadaku ke mana besok akan berburu. Bukankah biasanya kau dapat membujuknya menurut kehendakmu saja.”

Kuda Sempana tersenyum. Besok pagi-pagi ia harus menghadap. Perburuan kali ini adalah perburuan yang pasti akan mengasyikkan. Mudah-mudahan Sang Akuwu mau mendengarkan ceritanya.

Malam itu Kuda Sempana sama sekali tidak dapat tidur. Dengan gelisahnya ia berbaring di pembaringannya. Sekali ia berputar ke kiri, sekali ke kanan. Di kepalanya sedang tersusun sebuah cerita yang pasti akan sangat menarik. Cerita tentang dirinya, dan cerita tentang kampung halamannya.

“Biarlah Sang Akuwu mendengar dari aku sendiri daripada Akuwu mendengar dari orang lain, dari Mahisa Agni misalnya. Kalau Akuwu mendengar dari aku lebih dahulu, maka aku kira Sang Akuwu akan lebih percaya kepadaku, daripada kepada orang lain yang belum dikenalnya.”

Kembali Kuda Sempana tersenyum. Kemudian seperti orang yang kehilangan kesadaran diri ia tertawa sendiri dan bahkan terdengar ia bergumam lirih, “Hem. Kalau Akuwu mau mendengar ceritaku. maka tak seorang pun akan dapat mencegah maksudku besok. Mahisa Agni tidak, dan seluruh penduduk Panawijen pun tidak. Besok aku akan melewati padukuhan itu, dan besok atas perintah Sang Akuwu gadis itu akan dapat aku bawa serta bersama ke Tumapel. Apakah Mahisa Agni akan dapat mencegahnya, apalagi kalau besok ia masih berada di Tumapel”

Kuda Sempana yang sedang ditelan oleh angan-angannya itu benar-benar seperti orang gila. Sekali ia tersenyum sendiri, kemudian bergumam perlahan-lahan. Sesaat kemudian ia bangkit dan berjalan mondar-mandir di dalam biliknya. Ketika ia melihat kawannya telah tidur nyenyak maka ia berkata, “Hem. Kau tidak tahu, bahwa besok aku akan memetik kembang yang tumbuh di kaki Gunung Kawi itu. Kau besok pasti akan menjadi gila setelah kau melihat wajahnya. Dan aku akan tertawa melihat kegilaanmu melampaui orang yang sedang mabuk tuak.”

Tetapi kawannya itu sudah tidak mendengarnya lagi. Karena itu ia mendengkur terus.

Kuda Sempana pun kemudian berbaring kembali. Sambil tersenyum ia menarik selimutnya menutupi seluruh badannya. Dan sesaat kemudian anak muda itu pun tertidur dipeluk mimpi yang indah.

Pagi-pagi benar Kuda Sempana telah bangun. Setelah membersihkan dirinya, maka dengan tergesa-gesa ia masuk ke istana, mohon menghadap Akuwu yang sedang menggosok busur yang akan dibawanya berburu.

Akuwu Tumapel adalah seorang yang gagah dan berbadan tegap. Alisnya yang tebal dan hampir bertemu kedua pangkalnya, memberinya wibawa yang besar. Umurnya masih belum terlampau banyak. Tidak banyak terpaut dengan Kuda Sempana. Namun pengaruh kehidupan istana, telah membentuknya menjadi seorang yang agak terlampau masak dibandingkan dengan umurnya.

Seorang emban yang terdekat dengan Akuwu segera mempersilakannya dan menyampaikan permohonan itu kepada akuwu.

“Siapa?” bertanya Akuwu Tunggul Ametung.

Emban itu menyembah sambil berkata, “Seorang hamba, pelayan dalam mohon menghadap.”

“Ya, siapa?” bentak Akuwu itu.

Seseorang yang belum pernah mengenalnya pasti segera akan menjadi ketakutan. Tetapi baik emban itu, maupun Kuda Sempana telah mengenal tabiatnya, sehingga mereka sama sekali tidak terkejut mendengar bentakan-bentakan itu.

Meskipun demikian Kuda Sempana menjadi berdebar-debar juga. Apakah Akuwu akan mendengarkan ceritanya dan tidak menjadi marah karenanya?

Yang terdengar kemudian adalah emban itu menjawab. “Yang akan menghadap adalah pelayan dalam Kuda Sempana.”

“Kuda Sempana?” ulang Tunggul Ametung.

“Hamba Sang Akuwu.”

Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Kuda Sempana termasuk salah seorang hambanya yang dekat. Kepandaiannya menyanjung dan meladeni keinginan-keinginan akuwu telah membuatnya seorang yang dipercaya. Karena itu, maka kali ini pun Tunggul Ametung itu berkata, “He, apa maksudnya? Bukankah nanti Kuda Sempana akan aku bawa serta berburu?”

Emban itu menjawab, “Hamba tidak tahu.”

“Panggil anak gila itu!”

Emban itu menyembah, kemudian beringsut keluar untuk memanggil Kuda Sempana yang menunggu di luar pintu.

Sampai di luar pintu emban itu berbisik kepada Kuda Sempana, “Kau dipanggil Akuwu.”

“Aku sudah dengar,” sahut Kuda Sempana pendek.

“Apa yang sudah kau dengar?”

“Akuwu memanggil aku.”

“Heh,” berkata emban itu, “kau meminta-minta aku menyampaikan permohonanmu kepada Akuwu. Sekarang kau tidak berterima kasih kepadaku.”

“Kenapa aku harus berterima kasih? Bukankah itu sudah kewajibanmu?”

Emban itu bersungut-sungut. Tetapi ia tidak menjawab. Dengan tergesa-gesa ia pergi ke belakang, meninggalkan Kuda Sempana yang termangu-mangu di muka pintu.

Sesaat kemudian terdengar suara Tunggul Ametung, “He, Kuda Sempana!”

Dada Kuda Sempana berdesir. Kemudian hampir merangkak ia memasuki pintu dan kemudian duduk bersila di hadapan Akuwu yang masih sibuk membersihkan busurnya, menggosoknya dengan angkup keluwih, sehingga busurnya itu mengkilat seperti cermin.

Tanpa berpaling Akuwu itu bertanya, “Apakah keperluanmu, he?”

Kembali Kuda Sempana ragu, Sesaat itu berdiam diri. Sehingga ia terkejut ketika Tunggul Ametung itu berteriak, “Apa keperluanmu?”

Cepat-cepat Kuda Sempana menyembah sambil menjawab terbata-bata, “Oh, ampunkan hamba, Sang Akuwu.”

Akuwu Tumapel itu tiba-tiba tertawa. Katanya, “Kenapa kau gemetar seperti kera kedinginan?”

“Tidak, tidak Sang Akuwu,” sahut Kuda Sempana, “hamba tidak kedinginan.”

Akuwu Tunggul Ametung itu tertawa terus. Dipandanginya wajah Kuda Sempana yang pucat. Kemudian katanya, “He, Kuda Sempana, ke mana kau pergi kemarin sehari?”

Kuda Sempana menjadi tergagap. Ia tidak menyangka bahwa ia akan menerima pertanyaan yang tiba-tiba itu. Karena itu maka jawabnya, “Ampun Akuwu. Hamba kemarin harus pulang ke kampung memenuhi panggilan orang tua hamba. Bukankah hamba telah minta izin kepada pimpinan hamba, Kakang Trihatma?”

“Ya. Trihatma sudah mengatakannya kepadaku. Apakah kau sudah tahu, bahwa hari ini aku akan berburu?”

“Hamba Tuanku.”

“Kau harus ikut!”

“Hamba Tuanku,” sahut Kuda Sempana dengan suara gemetar, “Ke mana Tuanku akan berburu?”

Tiba-tiba Tunggul Ametung itu memandang wajah Kuda Sempana dengan tajamnya. Sambil menggosok busurnya Akuwu itu berkata, “Sejak kapan kau bertanya ke mana aku akan berburu?”

“Ampun Akuwu. Apakah kali ini hamba diperkenankan bertanya?”

“Aku belum tahu, ke mana aku akan berburu.”

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Akhirnya dengan sedih ia berkata, “Sang Akuwu. Aku adalah seorang hamba yang sangat senang pergi berburu. Apalagi kalau aku mendapat perintah untuk mengikuti Akuwu berburu. Sebenarnya kali ini pun aku menjadi bergembira sekali, tetapi ada sesuatu yang ingin hamba hindari dari daerah perburuan Tuanku.”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya Kemudian katanya, “Aku tidak tahu maksudmu. Katakan, jangan melingkar-lingkar!”

Kuda Sempana menarik nafas panjang. Kemudian katanya, “Hamba mempunyai beberapa pantangan Sang Akuwu.”

Akuwu Tumapel itu menjadi tidak sabar. Keras-keras ia membentak “Jangan berputar-putar. Ayo bicara!”

Kuda Sempana dengan tergesa-gesa membungkukkan badannya sambil menyembah. Jawabnya “Hamba belum tahu ke mana Sang Akuwu akan berburu. Karena itu hamba belum dapat mengadakan kesulitan-kesulitan hamba itu.”

“Ke mana? Ke mana?” Tunggul Ametung berteriak. Kemudian setelah dipandanginya kepala Kuda Sempana maka katanya perlahan-lahan, “Aku belum tahu. Nah, katakan kepadaku Kuda Sempana, ke mana sebaiknya kita berburu?”

Kuda Sempana mengangkat wajahnya. Kemudian sahutnya, “Sang Akuwu, ke manapun bagi hamba tidak ada keberatannya. Hanya satu arah yang hamba pantang pergi. Tetapi …”

“Diam!” bentak Tunggul Ametung pula keras, “Aku bertanya kepadamu, ke mana kau akan pergi. Aku akan ikut bersamamu.”

Kuda Sempana telah biasa sekali dengan sikap Akuwu itu. Maka jawabnya, “Ya. Ya. Baiklah kita pergi ke timur.”

“Kenapa ke timur?”

“Itulah yang akan hamba katakan. Hamba tidak akan dapat pergi berburu ke barat. Apalagi ke daerah hutan di sekitar, Talrampak dan padang rumput Karautan. Lebih-lebih lagi di sekitar tempat asal hamba, Panawijen.”

Akuwu Tumapel menjadi heran, Kemudian sambil mengerutkan keningnya ia bertanya “Kenapa tidak ke daerah itu?”

Kuda Sempana menundukkan wajahnya. Sesaat ia tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Namun kemudian didengarnya akuwu itu berkata “Jangan takut Kuda Sempana. Bukankah selama ini kita tidak pernah pergi berburu ke sana? Kenapa tiba-tiba saja kau berkata bahwa kau tidak dapat ikut ke Panawijen? Kenapa he?”

Kuda Sempana menggelengkan kepalanya, sabutnya, “Itu persoalan hamba sendiri Sang Akuwu. Persoalan terlalu pribadi.”

Tiba-tiba Kuda Sempana terkejut ketika Akuwu Tumapel itu meloncatinya sambil menarik lengannya keras-keras. Terdengar Akuwu itu membentak. “Kuda Sempana. Kau sangka aku tidak berhak mencampuri urusan pribadimu? He? Ayo katakan sebabnya. Kalau tidak aku bunuh kau sekarang.”

Kuda Sempana menjadi gemetar Dengan tergagap ia menjawab “Ya, ya, baiklah Tuanku Baiklah hamba katakan persoalan itu. Persoalan yang sebenarnya sangat memalukan.”

Tunggul Ametung kemudian melepaskan tangan Kuda Sempana sambil bergumam “Ingat, aku adalah Akuwu Tumapel. Aku berhak mengetahui apa saja di daerah Tumapel.”

Kuda Sempana menjadi gemetar karenanya. Matanya menjadi sayu suram. Perlahan-lahan ia berkata, “Sang Akuwu, cerita tentang diri hamba adalah suatu cerita yang memalukan. Karena itu sebenarnya hamba takut menyampaikannya kepada Tuanku.”

“Hem,” desah Tunggul Ametung, “jangan membuat aku marah. Aku dapat menangkap kepalamu dan memutar leher mu sampai patah.”

“Ampun Tuanku,” jawab Kuda Sempana, “bukan karena hamba tidak mau, tetapi semata-mata karena hormat hamba kepada Tuanku. Karena bakti hamba kepada Sang Akuwu, sehingga amatlah memalukan bahwa seorang hamba Akuwu yang besar sebesar Tuanku, harus mengalami perlakuan seperti hamba ini.”

Tunggul Ametung itu mengerutkan bibirnya. Dengan mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata sareh, “Katakan, katakan Kuda Sempana. Katakanlah apa yang menyebabkan kau bersedih?”

Kuda Sempana menundukkan wajahnya dalam-dalam. Sekali ia menyembah ia berkata, “Ampun Tuanku. Janganlah Tuanku murka kepadaku.”

“Tidak. Tidak Kuda Sempana.”

“Tuanku, ampun,” berkata Kuda Sempana terputus-putus, “seperti yang hamba katakan kemarin hamba dipanggil oleh orang tua hamba pulang ke kampung halaman. Sebab menurut orang tua hamba, sudah sepantasnya hamba menjalani masa berumah tangga.”

Tiba-tiba Tunggul Ametung itu tertawa terbahak-bahak, sehingga perutnya terguncang-guncang. Dengan busurnya itu, dipukulnya kepala Kuda Sempana sambil berkata, “Itukah yang memedihkan itu? Itukah sebabnya kau tidak mau berburu ke sekitar kampung halamanmu?”

Kuda Sempana menggigit bibirnya. Namun dibiarkannya Tunggul Ametung itu tertawa sepuas-puasnya. “Kau akan berbahagia Kuda Sempana. Kau akan mendapat seorang istri. Begitu?” tetapi sebelum Kuda Sempana menjawab Tunggul Ametung itu membentaknya, “Hanya itu? He? Hanya karena itu kau merasa malu mengatakannya kepadaku? Atau hanya karena aku sendiri belum kawin, kau menjadi takut untuk kawin?”

Kuda Sempana menyembah. Sahutnya, “Sebagian demikian Tuanku. Tuanku belum bepermaisuri. Apakah hamba akan kawin sebelum Sang Akuwu? Bukankah hamba tidak sepantasnya. Apalagi umur hamba masih lebih muda dari usia Tuanku.”

Sekali lagi akuwu itu tertawa terbahak-bahak. Sekali lagi ia memukul kepala Kuda Sempana dengan busurnya, “Kau anak yang baik. Kau benar-benar tahu bagaimana kau menghormati aku.”

Kemudian dengan bersungguh-sungguh Akuwu itu berkata, “Tetapi itu bukan apa-apa, Kuda Sempana. Kau boleh kawin sesukamu. Sekarang, besok atau kapan saja. Kau akan mendapat hadiah yang berharga dari aku. Dan istrimu akan mendapat perhiasan sepengadeg dariku. Nah, katakan kapan kau akan kawin?”

“Ampun Tuanku. Cerita hamba belum selesai.”

“He? Apalagi? Kau akan merajuk supaya aku memberimu sepasang kuda yang baik?”

Kuda Sempana menyembah sampai dahinya menyentuh tanah. “Tidak Tuanku,” sahutnya cepat-cepat, “tidak.”

“Lalu apa?”

Kuda Sempana berhenti sejenak Dengan sudut matanya ia mencoba menyusuri pandang wajah Sang Akuwu. Tetapi Kuda Sempana itu terkejut ketika Akuwu itu membentaknya “He. Kau ada apa sebenarnya? Mempermainkan aku?”

“Tidak Tuanku, tidak,” sahut Kuda Sempana, “hamba hanya takut saja mengatakan.”

“Jangan takut!” Tunggul Ametung itu berteriak, “kalau kau sekali lagi berkata takut kepadaku, maka aku cekik kau sampai lidahmu keluar.”

“Ya, ya Tuanku,” berkata Kuda Sempana cepat-cepat, “akan hamba katakan persoalanku itu kepada Tuanku.”

Kuda Sempana itu berhenti sekejap untuk menelan ludahnya, namun kemudian ia meneruskan, “Kemarin hamba telah memenuhi permintaan orang tua hamba itu, pulang ke kampung halaman hamba. Di rumah, orang tua hamba memberitahukan kepada hamba, bahwa sebenarnya hamba telah dipertunangkan dengan seorang gadis sepadukuhan dengan hamba.”

“Hem,” terdengar Akuwu Tumapel itu menggeram, “Siapakah nama gadis itu?”

“Ampun Tuanku,” jawab Kuda Sempana, “namanya Ken Dedes.”

Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Kuda Sempana, sudah bertahun-tahun kau hidup di dalam lingkungan istanaku. Apakah kau mau juga kawin dengan gadis desa itu? Apakah ia nanti akan dapat menyesuaikan dirinya dengan cara hidupmu? He? Kenapa kau tidak memilih gadis-gadis kota? Bukankah banyak gadis-gadis yang dapat kau ambil di Tumapel ini, gadis-gadis yang akan dengan mudah menyesuaikan diri dengan cara hidupmu, sebab di antara mereka dapat kau pilih anak-anak gadis dari para hamba-hamba istana yang lain.”

“Ampun Tuanku,” berkata Kuda Sempana, “sebenarnya demikianlah cita-cita hamba. Namun orang tua hamba telah berbuat di luar tahu hamba. Karena bakti hamba kepada orang tua itu, maka hamba tidak dapat menolaknya.”

“Hem,” Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kau memang anak yang baik.”

“Tetapi Sang Akuwu,” berkata Kuda Sempana seterusnya, “hari itu ternyata hari yang celaka bagi hamba. Hamba yang sebenarnya sama sekali tidak menginginkan gadis pedesaan itu, akhirnya hamba justru mendapat malu karenanya.”

“He,” Tunggul Ametung terkejut, “kenapa?”

“Hamba takut mengatakan Tuanku.”

Tiba-tiba Kuda Sempana itu terkejut ketika tangan Tunggul Ametung tanpa disangka-sangkanya telah melekat di lehernya.

“Aku harus mencekikmu sampai lidahmu keluar,” Sempana menjadi gemetar karenanya Tetapi kemudian Akuwu itu berkata, “Tetapi, aku maafkan kali ini. Kalau sekali lagi kau berkata takut pula, maka kau akan mati di sini.”

Kuda Sempana itu menjadi pucat. Tetapi ketika kemudian lehernya dilepaskan, maka ia pun menarik nafas panjang.

“Katakan, Katakan. Cepat! Jangan membuat aku menjadi gila mendengar ceritamu yang berputar-putar!” bentak Tanggul Ametung.

“Baiklah Tuanku,” berkata Kuda Sempana, “biarlah hamba mengadukan nasib hamba kepada Tuanku, sebab tidak ada orang lain yang akan dapat…”

“Cukup!” teriak Akuwu itu keras-keras sehingga seakan-akan dinding istana itu bergetar karenanya.

Kuda Sempana itu segera menyembah hampir mencium tanah. Dengan terbata-bata ia berkata, “Ampun Tuanku. Begini. Beginilah ceritanya. Pada saat itu, kemarin, hamba pulang ke kampung. Hamba dibawa oleh orang tua hamba ke rumah gadis yang sudah dipertunangkan dengan hamba itu. Maksud orang tua hamba, adalah karena hamba telah cukup dewasa, dan sudah mempunyai pegangan hidup pula, mengabdi kepada Sang Akuwu di sini. Tetapi apa kata orang tua gadis itu?”

“Aku tidak tahu,” sahut Tunggul Ametung tiba-tiba, “kenapa kau bertanya kepadaku?”

“Tidak Akuwu,” jawab Kuda Sempana, “Bukan maksud hamba bertanya kepada Sang Akuwu. Tetapi hamba hanya ingin memberikan tekanan kepada kata-kata hamba itu.”

“Oh,” desah Tunggul Ametung.

“Tuanku. Ternyata orang tua gadis itu mengingkarinya. Aku sudah tidak diterima lagi olehnya,” Kuda Sempana itu meneruskan.

Akuwu Tunggul Ametung itu menganggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Hanya itu?”

“Hamba Tuanku.”

Kuda Sempana menjadi sangat kecewa ketika Tunggul Ametung itu berkata, “Jangan bersedih Kuda Sempana. Bukankah kau memang tidak menginginkannya? Bukankah kau mengambil gadis itu karena orang tuamu? Kalau demikian, maka peristiwa itu akan menguntungkan bagimu. Kau akan dapat mengambil seorang gadis lain. Gadis kota yang akan dapat menyesuaikan hidupnya dengan cara hidupmu di sini. Bahkan mungkin akan dapat kau ikutkan dalam pengabdianmu. Menjadi pengatur perabot istana atau apapun.”

“Hamba Tuanku,” sahut Kuda Sempana. Wajahnya menjadi semakin, suram, dan dadanya menjadi semakin berdebar-debar.

“Tetapi Akuwu. Soalnya tidak sedemikian sederhana. Kalau orang itu mengingkari janjinya hanya karena hamba kurang tampan atau karena hamba sudah terlalu tua, bukanlah soal bagi hamba. Tetapi orang tua itu kemudian menolak hamba karena hamba ini hanyalah seorang abdi. Hanya seorang pelayan dalam.”

“Hem,” mata Tunggul Ametung itu pun terbelalak, “karena kau pelayan dalam?”

“Hamba Tuanku.”

Tunggul Ametung menarik nafas. Katanya “Nasibmu memang kurang baik. Tetapi sebenarnya demikian. Kau memang hanya seorang abdi. Ternyata orang tua itu ingin seorang menantu yang bukan seorang pelayan dalam.”

Kuda Sempana menarik alisnya. Dengan sudut matanya ia memandang wajah Tunggul Ametung. Namun hanya sesaat, sebab sesaat kemudian ia telah menundukkan wajahnya kembali.

Dan terdengar Tunggul Ametung itu berkata pula, “Lupakan gadis itu, Kuda Sempana. Supaya kau tidak menjadi sakit karenanya. Lupakan persoalan itu, sebab pada dasarnya bukankah kau memang tidak ingin kawin dengan Ken Dedes?”

Kuda Sempana terdiam sesaat. Tetapi kemudian ia tersenyum. Senyum yang hanya sepintas melintas di bibirnya, tetapi sekejap kemudian kembali wajahnya menjadi suram.

Sambil menyembah ia berkata, “Ampun Tuanku. Hamba tidak akan sakit hati seandainya orang tua Ken Dedes menolak hamba karena hamba hanya seorang abdi, seorang pelayan dalam.”

“Lalu apa? Apa he?” Tunggul Ametung tiba-tiba kembali berteriak, “Kau mau berkata apa saja Kuda Sempana?”

Kuda Sempana menyembah kembali sambil berkata, “Ampun Tuanku. Hamba tidak takut mengatakannya kepada Tuanku, tetapi hamba ragu-ragu.”

“Bagus!” sahut Akuwu itu, “bagus, kau sudah tidak takut lagi. Tetapi jangan ragu-ragu. Kalau kau ragu-ragu, maka kau akan aku cekik juga sampai mati.”

“Tuanku,” Kuda Sempana menggeser duduknya, “Sebenarnyalah bahwa hamba ditolak karena hamba hanya seorang abdi. Tetapi seandainya hamba seorang abdi di Kediri, misalnya, maka hamba tidak akan mengalami nasib yang jelek itu. Hamba tidak menyesal atas gadis itu, tetapi hamba menyesal, bahwa orang tua itu telah merendahkan nama Akuwu Tumapel, Kuda Sempana hanya seorang abdi dari seorang akuwu, bukan seorang maharaja.”

“Apa? He? Apa katamu?” mata Tunggul Ametung tiba-tiba menjadi merah menyala. Dengan gemetar ia meloncat maju dan berjongkok di hadapan Kuda Sempana yang duduk bersedeku, “Katakan, katakan sekali lagi!”

Kuda Sempana pun kemudian beringsut mundur. Sekali lagi ia menyembah, “Ampun Tuan. Hamba telah mengatakannya, bahwa orang tua itu menganggap bahwa abdi seorang akuwu tidak pantas untuk menjadi menantunya.”

“Siapa orang itu? He?” teriak Tunggul Ametung, “Siapa?”

“Orang tua gadis itu Akuwu. Seorang pendeta bernama Empu Purwa.”

“Gila!” katanya lantang. Kemudian Tunggul Ametung itu pun berteriak keras-keras, “Kuda Sempana, aku akan berburu ke Panawijen.”

“Ampun Tuanku. Ampun,” sahut Kuda Sempana, “sebaiknya Tuanku berburu ke timur.”

“Tidak, Aku akan ke Panawijen. Akan aku lihat orang tua itu.”

“Ampun Tuanku, hamba sudah tidak lagi mengharap gadis itu. Biarlah gadis itu kelak berbahagia dengan suaminya.”

“Tidak. Akan aku ambil gadis itu untukmu. Untuk seorang pelayan dalam Akuwu Tunggul Ametung yang perkasa. Kau dengar? Gadis itu akan aku ambil. Akan aku hadiahkan kepadamu Kuda Sempana. Akuwu berhak berbuat apa saja di daerahnya. Kau dengar?”

Kuda Sempana itu menyembah dengan takzimnya. Dengan suara yang parau ia berkata, “Tuanku. Hamba telah mengikhlaskannya seperti nasihat Tuanku. Biarlah gadis itu menemui kebahagiaan. Aku akan merasa bahagia kalau ia kemudian menemukan sisihan yang dapat membahagiakannya.”

“Jangan membantah perintahku! Siapkan para pengikut. Aku akan segera berangkat.”

“Tetapi tidak ke Panawijen Tuanku.”

“Tutup mulutmu! Adalah hakku untuk menentukan, ke mana aku akan pergi.”

Kuda Sempana menjadi semakin tunduk. Tetapi ia tidak berkata sepatah kata pun lagi Bahkan yang terdengar suara akuwu itu lantang, “Kuda Sempana. Aku hargai kebaikan hatimu. Kau adalah seorang yang tidak mau memerkosa perasaan orang lain. Tetapi aku, Akuwu Tumapel, tidak mau dihina orang, meskipun lewat seorang pelayan dalamnya.”

Kuda Sempana masih tunduk dalam-dalam. Maka didengarnya Tunggul Ametung itu berkata pula, “Siapkan kudaku! Bunyikan tanda untuk bersiap bagi para pengikut yang sudah aku tentukan.”

Kuda Sempana tidak dapat berbuat lain kecuali mematuhi perintah itu. Segera ia menyembah dan kemudian beringsut meninggalkan ruangan itu.

Demikian ia keluar pintu, maka wajahnya yang lesu itu tiba-tiba berubah menjadi cerah. Betapa sebuah senyum yang segar terbayang di bibirnya. Dengan suara yang jernih ia berkata lirih, “Inilah aku, Kuda Sempana!”

Kemudian Kuda Sempana itu pun berjalan tergesa-gesa ke luar halaman istana. Hampir-hampir ia lupa kepada perintah akuwu untuk segera membunyikan tanda. Ia baru mabuk atas kemenangan yang dicapainya. Akuwu telah dapat dipaksanya untuk menuruti kehendaknya dengan caranya. Karena itu, maka Kuda Sempana itu kadang-kadang tertawa dengan sendirinya. Kadang-kadang tampak alisnya terangkat dari wajahnya menjadi bersungguh-sungguh, namun kadang-kadang ia menutupi mulutnya dengan tangannya, karena ia tidak dapat menahan kegembiraannya.

“Sekarang, malang-malang putung, rawe-rawe rantas,” gumamnya seorang diri, “mudah-mudahan Mahisa Agni ada di rumah. Akuwu pasti akan membunuhnya.”

Sesaat kemudian terdengarlah bunyi kentongan di menara di sudut dinding luar istana. Bunyinya menggema memancar hampir ke segenap penjuru kota. Para prajurit dan pelayan istana segera mengetahuinya, bahwa Sang Akuwu akan pergi berburu.

Witantra pun kemudian mendengar suara itu. Maka segera ia pun menyiapkan dirinya. Namun kepada Mahisa Agni ia berkata, “Terlalu pagi. Biasanya Akuwu berangkat apabila Matahari telah sepenggalah.”

“Mungkin Sang Akuwu akan memilih daerah perburuan yang agak jauh,” sahut Mahisa Agni.

“Mungkin,” desis Witantra, dan kemudian katanya, “sudahlah Wiraprana, aku akan berangkat. Kentong pertama sudah berbunyi. Kentong kedua kami harus sudah berkumpul, dan kentong ke tiga kami akan berangkat.”

“Silakan Witantra. Aku akan menunggu di sini. Aku mengucapkan terima kasih atas semua kebaikan hatimu.”

“Jangan berterima kasih Wiraprana. Aku hanya berbuat sekedarnya. Mudah-mudahan bermanfaat bagimu.”

Setelah bermohon diri kepada ibu dan istrinya, maka Witantra itu pun kemudian meloncat ke atas punggung kudanya, dan berlari ke istana Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung.

Ketika Witantra sampai di alun- alun, beberapa orang telah berkumpul. Rombongan itu ternyata tidak begitu besar. Di antara lima orang prajurit pilihan yang dipimpin oleh Witantra, terdapat tiga orang pelayan dalam yang ternyata tidak kalah tangguhnya dengan para prajurit itu. Mereka adalah Kuda Sempana, Watangan dan seorang pelayan dalam yang baru, yang diserahkan oleh seorang pendeta kepada akuwu, Ken Arok. Meskipun pengabdiannya belum lama, namun betapa ia dapat menarik hati Tunggul Ametung karena betapa anak itu sangat patuh akan kewajibannya. Di samping beberapa kelebihan yang sering dilakukannya tanpa sesadarnya.

“Ke mana kita akan berburu?” terdengar seorang prajurit bertanya kepada Witantra.

Witantra menggelengkan kepalanya. “Entahlah,” jawabnya, “aku belum mendengar titah Sang Akuwu.”

Kuda Sempana yang sedang diliputi oleh kegembiraan yang meluap-luap di dadanya tiba-tiba menjawab, “Ke barat, ke sekitar daerah padang rumput Karautan dan Padukuhan Panawijen.”

Hati Witantra itu berdesir mendengar jawaban Kuda Sempana. Panawijen. Adalah sangat kebetulan, bahwa semalam ia sedang mendengar persoalan yang terjadi di Panawijen. Jadi apakah ada hubungan antara apa yang didengarnya semalam dengan rencana perburuan ini.

Karena itu, Witantra segera bertanya meskipun ia seakan kau acuh tak acuh, “Karautan adalah sebuah padang rumput. Apakah kita sekarang akan berburu kelinci?”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Di utara Karautan terbentang sebuah hutan yang sangat banyak menyimpan binatang-binatang pemakan rumput yang besar. Kijang, menjangan dan sebagainya.

“Hem,” sahut Witantra, “Apakah Akuwu kali ini ingin berburu kijang? Akuwu adalah seorang yang gemar kepada pengalaman-pengalaman yang dahsyat. Bukankah Akuwu senang berburu harimau atau orang hutan raksasa di hutan Roban Kibar?”

Kuda Sempana mengangkat pundaknya, “Entahlah. Kali ini Akuwu ingin berburu ke sana.”

Witantra itu mengerutkan keningnya. Meskipun demikian ia menjadi gelisah. Tanpa dikehendakinya ia telah terlibat dalam persoalan antara Mahisa Agni dan Kuda Sempana. Karena itu maka setelah berpikir sejenak, ia berkata, “Apakah Akuwu sudah siap untuk berangkat?”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak tahu apakah yang tersimpan di hati Witantra itu. Karena itu maka kemudian ia menjawab, “Sudah. Akuwu sudah siap.”

“Aku akan menghadap,” gumam Witantra.

“Untuk apa?” bertanya Kuda Sempana dengan penuh kecurigaan.

“Aku akan mohon izin kepada Sang Akuwu, adikku ingin turut dalam perburuan ini.”

“Adikmu? Siapa?” Kuda Sempana menjadi semakin curiga.

“Mahendra,” jawab Witantra.

Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam, ia kenal Mahendra, namun belum begitu akrab. Karena itu maka Kuda Sempana belum mendengar apakah yang pernah terjadi atas anak muda yang bernama Mahendra itu. Karena itu katanya, “Cobalah, mohonlah kepada Sang Akuwu.”

Witantra itu pun kemudian masuk ke halaman belakang istana. Setelah permohonannya disampaikan oleh seorang emban, maka Sang Akuwu yang sudah siap untuk berangkat itu memanggilnya, “He Witantra, ada apa? Apakah kau juga akan kawin?”

Witantra mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu maksud Akuwu. Namun ia tidak berani bertanya. Setelah menyembah maka katanya, “Sang Akuwu, perkenankanlah kamba mengajukan sebuah permohonan sebelum Akuwu berangkat berburu?”

“Apa? Kau minta aku berburu ke timur, ke selatan atau ke mana? Aku sudah menentukan arah. Tak seorang pun dapat mengubah. Aku akan berburu ke barat.”

“Ampun Tuanku,” sembah Witantra, “hamba tidak berani berbuat demikian. Hamba hanya memohon izin kepada Tuanku. Apabila Tuanku berkenan di hati, adik hamba akan ikut serta berburu bersama dalam rombongan ini.”

“Siapakah adikmu itu?” bertanya Tunggul Ametung sambil mengerutkan bibirnya.

“Mahendra Tuanku.

Akuwu Tumapel itu berpikir sejenak. Kemudian katanya, “Kenapa ia mau turut?”

“Tuanku. Adikku adalah seorang penakut. Mudah-mudahan dengan pengalaman ini adikku akan dapat menjadi seorang yang berpengalaman. Kalau Tuanku hendak pergi ke barat, maka menurut perhitungan hamba perburuan ini tidak akan sedemikian berat daripada apabila Tuanku pergi ke hutan Roban Kibar. Karena di sekitar padang Karautan hutannya tidak begitu lebat, sehingga tidak banyaklah binatang-binatang buas yang berbahaya.”

“Dari mana kau dengar he?” benak akuwu itu.

“Dari Kuda Sempana.”

“Apa yang dikatakannya?”

“Demikianlah, bahwa Sang Akuwu akan berburu ke barat.”

“Hanya begitu?”

“Hamba Tuanku.”

“Bagus. Bawa adikmu. Kalau ia terampil, maka ia akan mendapat kesempatan bekerja di istana.”

“Terima kasih Tuanku.”

Witantra itu pun kemudian mohon diri untuk memanggil adiknya.

Mahendra sama sebali tidak menyangka bahwa sepagi itu Witantra telah datang ke rumahnya. Mula-mula Mahendra heran, kenapa ia harus ikut serta berburu bersama akuwu. Namun akhirnya ia tahu juga maksudnya. Karena itu, maka dengan senang hati, Mahendra ikut serta bersama Witantra ke alun-alun dengan tergesa-gesa.

“Apakah aku tidak perlu membawa bekal apapun, Kakang?” bertanya Mahendra.

“Tidak usah, bekalku cukup banyak.”

Akhirnya Mahendra pun menyiapkan kudanya pula, dan ikut serta bersama Witantra.

Ketika mereka sampai di alun-alun, maka semuanya telah benar-benar siap. Demikian Witantra dan Mahendra memasuki alun-alun itu, demikian mereka mendengar kentongan dipukul untuk kedua kalinya. Pertanda bahwa rombongan itu sudah siap untuk berangkat.

Sesaat kemudian, mereka melihat Akuwu keluar dari istana dengan sebuah busur yang sangat bagusnya melintang di punggungnya. Seorang pekatik telah siap di ujung tangga dengan seekor kuda berwarna hitam mengkilat. Kuda yang telah siap berangkat berburu. Di sisi kuda itu tergantung sebuah endong berisi sejumlah anak panah dan sebilah pedang panjang yang berwrangka emas.

Sekilas, Akuwu Tumapel itu melayangkan pandangan matanya berkeliling, ke arah beberapa orang yang sudah menunggu. Dilihatnya ketiga orang pelayan dalam istana, di antaranya Kuda Sempana. Lima orang prajurit di bawah pimpinan Witantra dan seorang anak muda yang belum dikenalnya.

“Itukah adikmu Witantra?”

Witantra mengangguk dalam-dalam, kemudian jawabnya, “Hamba Akuwu.”

“Hem adikmu itu gagah juga, segagah kau. Mudah-mudahan ia mampu membunuh kelinci.”

Mahendra menggigit bibirnya. Namun ia tidak berkata apapun juga.

Dengan tangannya Akuwu Tumapel memberi tanda kepada rombongannya untuk berangkat. Maka terdengarlah suara kentongan yang ketiga kalinya. Demikian kentongan itu berbunyi, maka meloncatlah Akuwu Tunggul Ametung ke atas punggung kudanya.

Para pengiringnya itu pun segera meloncat pula ke atas kuda masing-masing. Dan sesaat kemudian mereka mendengar Tunggul Ametung berkata, “Ayo, kita berangkat!”

Iring-iringan itu kemudian mulai bergerak. Di depan sendiri Akuwu Tumapel berkuda dengan gagahnya. Akuwu itu benar-benar seorang yang gagah, apalagi di atas kuda hitam mengkilat. Kuda yang tegar dan besar. Di belakangnya Kuda Sempana mengiringinya sambil tersenyum. Ia merasa bahwa hari ini adalah hari yang paling bahagia baginya. Akuwu Tumapel itu ternyata dapat dikendalikannya untuk membantu mengambil gadis yang telah menyakitkan hatinya itu.

Di belakang Kuda Sempana berkuda berjajar dua orang kawan Kuda Sempana. Salah seorang daripadanya bernama Ken Arok. Seorang anak muda pendiam, namun di balik kediamannya itu tersimpan beberapa keanehan dan kekuatan-kekuatan yang tak dimiliki oleh anak-anak sebayanya.

Baru di belakang mereka, di belakang para pelayan dalam itu, berkuda para prajurit. Lima orang ditambah dengan seorang adik seperguruan Witantra.

Di sepanjang perjalanan itu, Witantra benar menjadi bingung. Apakah yang kira-kira akan dilakukan oleh rombongan ini? Apakah kebetulan saja kalau akuwu memilih arah ke barat, atau ada hubungan yang erat dengan maksud Kuda Sempana? Witantra menjadi ragu-ragu. Ia ingin segera memberitahukan persoalan itu apabila keadaan memaksa. Kalau tidak, maka biarlah ia tidak menggelisahkan Mahisa Agni yang sampai saat terakhir masih disangkanya Wiraprana.

Tetapi, semakin lama hatinya semakin gelisah. Meskipun demikian ia masih ingin tahu ke mana mereka sebenarnya akan pergi.

Penduduk kota Tumapel, melihat kepergian akuwunya dengan berbagai tanggapan. Seorang di antaranya memujinya setinggi langit, katanya, “Tak ada akuwu segagah Akuwu Tumapel. Carilah di seluruh Kediri. Tubuhnya yang kokoh kuat. Masih muda lagi. Kalau ia pergi berburu seperti kali ini, maka benar-benar seperti Dewa Ngejawantah.”

Namun ada orang lain yang mencemoohkannya, “Huh, ia tidak mampu berbuat selain berburu. Apakah kemajuan yang pernah dicapainya selama ia menjadi akuwu. Lihat, meskipun ia sudah setua itu, namun ia masih belum juga berani kawin.”

Seperti apa yang dilakukannya, maka akuwu itu mempunyai beberapa bentuk tanggapan dari rakyat. Ada yang mencintainya sebagal seorang yang paling bermurah hati di dunia ini, namun ada yang mengumpatinya sebagai seorang yang paling kejam di muka bumi. Sebab akuwu itu berbuat apa saja yang ingin dilakukan sesaat-sesaat. Kadang-kadang ia lupa apa yang dikatakannya kemarin dan ia tidak tahu apa yang akan dikatakannya besok.

Tetapi sebagian dari rakyat Tumapel melihat kemegahan Tunggul Ametung pada para pengiringnya. Dilihatnya seorang yang gagah berkuda di belakangnya, kemudian beberapa orang yang bertubuh tegap kekar. Mereka semuanya telah siap dalam kelengkapan seorang pemburu. Namun para prajurit itu tidak saja siap untuk berburu, namun apabila ada bahaya di sepanjang perjalanan mereka maka mereka pun siap untuk bertempur. Meskipun jumlah pengiring itu tidak demikian banyak, namun kekuatan itu telah berlebih-lebihan untuk menjelajahi daerah Tumapel yang aman.

Demikianlah, maka perjalanan itu tampaknya sebagai sebuah rombongan tamasya. Pada pagi yang cerah, ketika matahari pagi melemparkan sinarnya yang segar ke puncak-puncak pepohonan, menyentuh daun-daunan yang bergerak-gerak ditiup angin yang lembut. Di sebelah barat menjulang Gunung Kawi yang perkasa. Puncaknya tampak ke merah-merahan, bermandikan cahaya matahari yang berkilat-kilat.

Tetapi hati Witantra tidaklah secerah pagi itu. Meskipun ia tidak berkepentingan langsung dengan persoalan yang menyangkut Wiraprana, namun hatinya telah terlanjur terlibat ke dalamnya. Karena itu, di sepanjang perjalanan itu. Ia selalu berusaha mengetahui, apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh Akuwu Tunggul Ametung itu. Karena itu, maka kemudian ia mempercepat langkah kudanya dan menyampingi Ken Arok yang berkuda di belakang Kuda Sempana.

Setelah dekat Witantra bertanya kepada Ken Arok. “Adi, ke manakah kita ini sebenarnya akan pergi?”

Ken Arok menjawab dengan jujur. “Entahlah Kakang aku belum tahu pasti. Menurut Kuda Sempana kita akan pergi ke hutan di sekitar padang Karautan.”

Dada Ken Arok berdesir mendengar pertanyaan itu. Namun dicobanya untuk menyembunyikan perasaannya. Dijawabnya, “Ya pernah Kakang, sekali dua kali aku pernah lewat di hutan itu.”

“Aku pernah juga ke sana,” sahut Witantra, “tetapi hutan itu bukan tempat yang baik untuk berburu.”

Ken Arok tidak menjawab. Tetapi debar di jantungnya menjadi semakin cepat. Hutan itu adalah hutan yang dikenalnya baik. Hutan dan padang rumput itu. Ia pernah tinggal di padang rumput itu beberapa lama. Dan ia selalu bersembunyi di hutan itu, apabila beberapa orang mengejarnya. Karena itu ia pun menjadi gelisah. Kalau ia boleh memilih, maka lebih baik baginya untuk tidak ikut di dalam rombongan itu. Sebab baik hutannya maupun padang rumput Karautan membawa kenangan yang pedih di dalam hatinya. Teringatlah ia akan pertemuannya dengan seorang Empu yang bernama Empu Purwa beserta muridnya. Berkata Empu itu kepadanya, bahwa apabila ia dapat menempuh cara hidup yang lain, maka ia akan menjadi lebih berbahagia karenanya. Kini ia telah, menemukan jalan lain itu. Dan ia benar-benar merasa lebih berbahagia. Tetapi ia tidak dapat menolak. Ia harus turut menjelajahi hutan-hutan di sekitar padang rumput Karautan. Daerah yang pernah dipakainya untuk melakukan pembantaian, perkosaan dan perampokan.

Bulu kuduk Ken Arok itu berdiri serentak. Dan ia pun menundukkan wajahnya.

Witantra melihat perubahan wajah itu dengan heran. Tiba-tiba ia menjadi curiga. Apakah ada maksud-maksud yang tersembunyi dalam perburuan kali ini? Tetapi ia tidak dapat mendesaknya. Mungkin ada sesuatu yang dirahasiakan.

Meskipun demikian Witantra tidak segera mengambil ke simpulan. Ia tidak mau membuat keributan apabila persoalannya belum jelas. Karena itu ia kemudian berdiam diri sambil mengikuti Akuwu Tunggul Ametung dengan hati yang gelisah.

Hati Witantra itu kemudian tergetar ketika tiba-tiba Akuwu Tumapel memperlambat kudanya. Kemudian ia berpaling kepada Kuda Sempana sambil berkata, “Apakah aku berjalan ke arah yang benar?”

“Hamba Tuanku,” jawab Kuda Sempana.

“Aku pernah pergi ke Panawijen. Namun sudah terlalu lama. Sesudah itu, aku senang berburu ke timur. Karena itu, maka berjalanlah di depan Kuda Sempana, supaya arahnya tidak salah.”

Hati Witantra berdesir mendengar kata-kata Akuwu Tumapel itu. Perjalanan yang mereka tempuh sudah cukup jauh. Dan tiba-tiba Kuda Sempanalah yang harus menentukan arah. Karena itu maka hatinya menjadi semakin gelisah.

Sekali-sekali Witantra itu berpaling kepada adik seperguruannya yang berada di paling belakang. Di dalam hatinya Witantra berkata, “Hem. Apakah semuanya ini suatu hal yang kebetulan saja, atau Kuda Sempana telah sempat mempengaruhi hati Akuwu?”

Dan hati Witantra itu menjadi semakin gelisah.

Tiba-tiba Witantra itu mempunyai dugaan yang kuat bahwa Kuda Sempana yang memegang peran kali ini. Apapun yang akan dilakukan oleh Sang Akuwu, namun Kuda Sempana akan mungkin untuk memanfaatkan setiap keadaan. Karena itu maka berkata Witantra itu di dalam hatinya, “Kenapa aku tidak memberitahukan saja kepada Wiraprana apa yang akan dilakukan oleh Kuda Sempana. Sebaiknya Wiraprana berusaha untuk mencegah hal-hal yang tidak diharapkan. Sebaiknya Wiraprana itu pulang saja dan menyembunyikan Ken Dedes. Sebab kalau usaha Kuda Sempana mendapat persetujuan akuwu, maka tak ada seorang pun yang akan dapat mencegahnya.”

Meskipun demikian Witantra itu untuk beberapa saat masih ragu-ragu. Namun akhirnya jalan itulah yang dapat ditempuh sebaiknya. Seandainya kemudian akuwu tidak mempunyai kepentingan apa-apa atas gadis itu, maka sebagai usaha penyelamat tak akan ada ruginya.

Karena itu, maka kemudian Witantra itu memperlambat kudanya dan berjalan di samping Mahendra. Sambil berbisik ia berkata, “Mahendra. Kembalilah. Beri tahukanlah kepada Wiraprana bahwa kami sekarang berburu ke barat. Mungkin kami akan melewati Panawijen. Karena itu, usahakanlah selekas mungkin pulang dan sembunyikanlah Ken Dedes. Syukurlah bahwa akuwu tidak akan melihatkan diri atas hasutan Kuda Sempana.

Mahendra menganggukkan kepalanya. “Baik Kakang.”

“Tetapi biarlah aku minta izin dahulu kepada Akuwu. Nanti kami masih mengharap perjalanan kami berhenti di hutan perburuan meskipun hanya sebentar, sehingga Wiraprana akan dapat mendahului perjalanan kami. Tetapi kalau mungkin biarlah Wiraprana mencari jalan lain, selain padang rumput Karautan.”

“Baik Kakang.”

Witantra itu kemudian mempercepat kudanya dan dengan hati-hati ia mencoba berkuda di samping akuwu.

Akuwu Tumapel itu berpaling sesaat. Ia mengerutkan keningnya. Kemudian ketika melihat Witantra menganggukkan kepalanya dalam-dalam maka ia pun bertanya, “Ada apa Witantra?”

Kuda Sempana yang berkuda di depannya berpaling dengan penuh kecurigaan. Dengan hati-hati ia berusaha mendengar percakapan itu.

“Ampun, Tuanku,” jawab Witantra, “adik hamba benar-benar belum berpengalaman. Apalagi ketika kami berangkat, adik hamba terlalu tergesa-gesa. Kini perkenankanlah adik hamba itu pulang untuk mengambil busurnya. Sebab alangkah janggalnya, apabila kami harus berburu tanpa busur.”

Akuwu itu mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Kemudian, ia pun tertawa terbahak-bahak. Katanya, “Adikmu itu gagah, segagah kau Witantra, namun ternyata ia lebih bodoh dari keledai. Apakah yang akan dilakukan kalau anak itu tidak membawa busur?”

“Itulah Tuanku. Anak itu hanya membawa anak panah.”

Kembali akuwu tertawa terbahak-bahak. Katanya “Aku tidak berkeberatan anak itu pulang mengambil busurnya. Tetapi aku tidak senang melihat kecerobohannya.”

Witantra itu mengangguk sekali lagi. Namun sebelum ia surut ke belakang, maka tiba-tiba akuwu itu berkata “Tak ada gunanya adikmu itu mengambil busurnya. Kali ini sama sekali tidak memerlukan busur.”

Kuda Sempana terkejut mendengar kata-kata akuwu itu, sehingga sekali lagi ia berpaling. Witantra pun tidak kalah terkejutnya pula. Bahkan ia bertanya “Kenapa tidak Akuwu?”

Akuwu mengangkat alisnya yang tebal itu tinggi-tinggi. Dilihatnya Kuda Sempana. Kemudian akuwu itu tertawa. Namun tiba-tiba ia membentak, “Apapun yang akan dilakukan oleh adikmu itu aku tidak peduli. Kalau ia mau mengambil busurnya, biarlah ia mengambilnya Kalau ia mau berburu dengan giginya itu pun bukan urusanku.”

Witantra mengangguk dalam-dalam sambil berkata “Hamba Tuanku.”

Kini hati Witantra menjadi semakin gelisah. Maka kemudian katanya kepada Mahendra “Cepat! Pulanglah beri tahukan kepada Wiraprana supaya ia cepat-cepat pulang dan menyelamatkan gadisnya. Mungkin bahaya benar-benar akan mengancam.”

Mahendra tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia memutar kuda dan seperti angin ia berpacu kembali ke Tumapel. Debu yang putih melonjak naik ke udara, dan suara telapak kaki-kaki kuda itu gemeretak memekakkan telinga.

Ketika Sang Akuwu berpaling, dilihatnya kuda Mahendra itu seperti anak panah yang meluncur cepat sekali. Tiba-tiba, akuwu itu melambaikan tangannya memanggil Witantra “Itukah adikmu?”

“Hamba. Akuwu.”

“Ternyata adikmu itu pandai berkuda. Aku senang kepada keterampilannya”

“Terima kasih Tuanku.”

“Tetapi otaknya terlalu tumpul. Kalau ia pergi berperang, dan ia lupa membawa senjatanya, apa yang akan dilakukan?”

“Anak itu masih terlalu muda dan kurang pengalaman.”

Tunggul Ametung tidak menjawab. Kini diangkatnya wajahnya dan dipandanginya jalur-jalur jalan yang menjelujur di hadapannya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Akuwu itu berkata “Sawah-sawah di sini cukup baik.” Kemudian kepada Kuda Sempana ia berkata “Kuda Sempana. Kaulah yang memimpin perburuan kali ini.”

Kembali dada Witantra berdesir. Agaknya kemungkinan-kemungkinan yang kurang baik semakin nyata akan terjadi. Karena itu maka ia menyesal bahwa agak terlambat mengabarkannya kepada Mahisa Agni yang disangkanya Wiraprana. Meskipun demikian, maka Witantra itu akan berusaha untuk memperlambat perjalanan mereka. Katanya, “Akuwu. Hutan-hutan di sekitar Karautan memang banyak menyimpan binatang-binatang yang baik untuk diburu. Kijang, menjangan dan beberapa jenis harimau. Karena itu, maka kami akan mengharap bahwa Akuwu akan menjadi bergembira karenanya. Bukankah Akuwu belum pernah memiliki kijang yang berkulit belang?”

Agaknya Akuwu Tumapel itu tertarik juga kepada kata-kata Witantra. Katanya, “Apakah di Panawijen ada kijang berbulu belang?”

“Tidak di Panawijen Tuanku, tetapi di hutan-hutan di sekitar padang rumput Karautan.”

“He, Kuda Sempana,” berkata Akuwu itu, “kita berburu kijang berbulu belang di padang rumput Karautan.”

Kuda Sempana itu terkejut mendengar perintah Akuwu itu. Karena itu ia bertanya, “Apakah kita pergi berburu dahulu Tuanku?”

Pertanyaan itu benar-benar aneh bagi Witantra. Mereka berangkat untuk berburu. Kenapa pertanyaan Kuda Sempana itu justru tentang perburuan itu sendiri? Karena itu, maka Witantra itu seolah-olah mendapatkan beberapa petunjuk apa sebenarnya yang akan dilakukan oleh Kuda Sempana.

“Hem,” desahnya di dalam hati, “ternyata aku terlalu bodoh sehingga aku terlambat memberitahukannya kepada Wiraprana. Mudah-mudahan Akuwu tertarik kepada kijang berbulu belang.”

Mendengar pertanyaan Kuda Sempana, Akuwu Tumapel itu mengerutkan alisnya. Segera ia teringat kepada cerita Kuda Sempana tentang seorang Empu yang telah merendahkan derajatnya sebagai seorang akuwu, karena itu, maka dengan geramnya ia berkata, “Kita ke Panawijen.”

Witantra kini hampir yakin karenanya, bahwa Kuda Sempana pasti sudah berhasil membujuk akuwu untuk kepentingannya. Karena itu maka penyesalan yang bergolak di dalam dadanya menjadi semakin melonjak-lonjak. “Mudah-mudahan Wiraprana tidak terlambat.”

Meskipun demikian, Witantra itu berkata, “Ampun Akuwu, tidak di Panawijen, tetapi di sebelah padang Karautan.”

“Apa?” bertanya akuwu itu sambil mengangkat wajahnya.

Hati Witantra tergetar karenanya. Namun jawabnya, “Kijang berbulu belang. Tidak saja bulunya Tuanku, tetapi kulitnya. Hamba pernah mendapatkannya dahulu. Kulitnya kini menghias dinding paman hamba di Kediri.”

Akuwu Tumapel itu menyipitkan sebelah matanya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Bagus. Bagus sekali. Kita mencari kijang berbulu belang.”

“Kalau nanti kita mendapatkannya Tuanku, biarlah nanti hamba mengolah kulitnya sebaik-baiknya untuk sebuah permadani di bawah kaki di muka tempat duduk Tuanku di istana, atau di muka bilik tempat peraduan Tuanku.”

“Bagus-bagus. Akan aku dapatkan kijang berbulu belang itu. Kalau tidak, maka aku akan mengulangi perburuan ini sampai aku mendapatkannya.”

Tiba-tiba Kuda Sempana yang kecemasan berkata, “Kijang itu telah lama punah.”

“He,” Akuwu Tumapel terkejut, “Apakah kau berkata benar?”

“Tidak!” sahut Witantra, “belum lama aku telah melihatnya, seorang pemburu membawa kijang serupa itu.”

“Kijang itu tidak terlalu baik. Raja Kediri pernah memesannya. Tetapi Akuwu Tumapel bukan Raja Kediri. Kenapa mesti menirunya? Biarlah suatu ketika Kediri meniru Akuwu Tumapel, meskipun Tumapel berada di dalam lingkungan kerajaan Kediri.”

Tunggul Ametung mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Kuda Sempana itu. Dan sebelum ia menjawab, Kuda Sempana telah berkata pula “Apakah kau sangka dalam menilai keindahan, Akuwu Tumapel iri ada di bawah Baginda Kertajaya. Kalau Baginda Kertajaya itu senang kepada Kijang berbulu belang, maka Akuwu Tumapel akan membuat perhiasan yang lain, yang jauh lebih indah dari Kijang berbulu belang itu.”

“Apakah itu?” tiba-tiba Akuwu Tumapel itu bertanya.

Kuda Sempana menjadi gelisah mendapat pertanyaan itu. Karena itu maka jawabnya, “Kita belum menemukan itu Tuanku. Namun suatu ketika akan kita dapatkan.”

“Ya. Suatu ketika akan kita dapatkan,” gumam Tunggul Ametung.

Witantra kemudian terdiam. Tetapi hatinya menjadi semakin gelisah. Apa lagi ketika Kuda Sempana mempercepat langkah kudanya.

“Setan itu telah berhasil mempengaruhi Akuwu Tumapel,” katanya di dalam hati. Karena itulah maka detak jantungnya terasa semakin cepat. Beberapa persoalan menghentak- hentak dadanya sehingga akhirnya Witantra itu tidak tahan lagi menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang menghimpit perasaannya. Dengan cemas maka diberanikan dirinya bertanya, “Akuwu, apakah kita tidak berburu kali ini?”

“Siapa bilang?” sahut akuwu itu.

“Tuanku, aku hanya menjadi bingung saja. Aku tadi mendengar adi Kuda Sempana bertanya, apakah kita pergi berburu dahulu. Apakah sesudah itu kita mempunyai suatu rencana yang lain?”

Akuwu Tumapel itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Sambil meraba-raba suri kudanya Tunggul Ametung itu berkata, “Kita sedang berburu. Apapun yang kita buru.”

Tunggul Ametung itu berhenti sejenak, kemudian katanya seterusnya, “Apakah kau sudah beristri Witantra?”

Witantra bingung mendengar pertanyaan itu. Meskipun demikian dijawabnya “Sudah Tuanku.”

“Nah. Siapakah di antara kalian yang belum kawin he?” bertanya Akuwu itu kepada para pengiringnya.

Tak seorang pun yang tahu maksud Akuwu itu. Meskipun demikian beberapa orang lantarannya menjawab, “Hamba Tuanku.”

“Nah, nanti akan sempat giliran kalian kawin. Sekarang marilah kita memberi kesempatan pertama kepada Kuda Sempana. Kita sekarang sedang menjemput pengantin perempuan.”

Dada Witantra itu benar-benar hampir meledak mendengar kata Akuwu itu. Sebenarnyalah apa yang telah diduganya. Karena itu, tanpa disadarinya ia berpaling. Dan Mahendra telah hilang jauh di balik pedesaan.

“Gila!” Witantra itu menggeram di dalam hati.

Bukan saja Witantra, namun semua orang menjadi heran karenanya. Apakah yang harus mereka lakukan?”

Tiba-tiba mereka mendengar akuwu itu berkata lantang, “Aku tidak mau dihinakan oleh siapa pun juga. Penghinaan terhadap orang-orangku hanya karena ia hamba akuwu adalah penghinaan bagiku. Karena itu maka sekarang aku sedang menunjukkan kekuasaanku.”

Kini Witantra sudah merasa pasti, apakah yang akan dihadapinya. Mengantarkan Kuda Sempana mengambil Ken Dedes dengan paksa. Dengan kekerasan. Karena itu maka alangkah ia menjadi bersedih hati. Ia tidak tahu, alasan-alasan apakah yang dipakai oleh akuwu itu untuk meluluskan permintaan Kuda Sempana. Kalau semula akuwu ingin berangkat berburu, maka tiba-tiba maksud itu telah disimpangkannya oleh Kuda Sempana.

Rombongan Akuwu Tumapel itu berjalan berderap-derap di atas tanah berbatu-batu. Setiap bunyi telapak kaki kuda-kuda itu seakan-akan suara sangkakala yang meneriakkan kekuasaan di tangan Akuwu Tumapel kekuasaan. Tidak lebih daripada kekuasaan lahiriah. Dan Akuwu Tunggul Ametung itu sedang menunjukkan kekuasaan.

Sebenarnya Tunggul Ametung itu berpikir di dalam hatinya, ” Tak ada orang dapat menentang kehendakku. Kalau ada orang yang mencoba menolak keputusanku, maka aku akan memaksanya dengan kekerasan. Aku mempunyai cukup prajurit, cukup senjata dan cukup apa saja untuk menindas mereka. Apalagi mereka yang telah menghina aku.”

Witantra semakin lama menjadi semakin berdebar-debar. Semakin dekat mereka dengan Panawijen, maka hatinya menjadi semakin sedih, sehingga ketika ia tidak dapat menahan hati lagi, diberanikannya sekali lagi bertanya kepada Akuwu itu, “Tuanku, apakah yang harus hamba lakukan nanti, apabila kita tidak pergi berburu?”

“Gila!” bentak Akuwu itu, “kau adalah seorang prajurit. Kau adalah alatku untuk menunjukkan kekuasaanku. Kalau aku sedang melakukan sesuatu untuk menunjukkan bahwa Akuwu Tumapellah yang berkuasa di Tumapel, maka kau harus melindungi kekuasaan itu.”

“Hamba Tuanku. Sebenarnyalah demikian. Hamba pun akan berbuat demikian. Tetapi untuk kali ini, kekuasaan Tuanku yang manakah yang harus hamba amankan.”

“Apakah kau sudah uli?” teriak Akuwu itu dengan marahnya. Suaranya menggelegar memenuhi dataran di sebelah timur Gunung Kawi itu, “aku akan mengambil seorang gadis bernama Ken Dedes di desa Panawijen. Orang tua itu menolak Kuda Sempana yang telah dipertunangkan sejak kecil, karena Kuda Sempana adalah pelayan dalam Akuwu Tumapel.”

Witantra menarik nafas. Dan di dengarnya Tunggul Ametung itu berkata pula, “Nah, apakah itu bukan suatu penghinaan bagi Akuwu Tumapel?”

Witantra menarik bibirnya. Terasa betapa hatinya menjadi sakit. Ia tahu pasti bahwa Empu Purwa telah memberi keleluasaan kepada Ken Dedes untuk menjatuhkan pilihannya. Bahkan adiknya seperguruannya pun pernah terluka hatinya, sehingga hampir ia kehilangan keseimbangan pula dengan menantang Wiraprana berkelahi. Bahkan baru kemarin rasa-rasanya sekali lagi Mahendra berkelahi dengan Mahisa Agni yang disangkanya Wiraprana. Tetapi ia menentang perbuatan yang nurani dari adiknya itu. Kini ternyata Kuda Sempana lah yang berbuat curang. Karena itu Witantra itu benar-benar menjadi sedih. Sedih atas peristiwa yang akan terjadi Peristiwa yang pasti akan menyinggung rasa keadilan. Sebagai seorang prajurit Witantra menyadari tugasnya. Ia tidak dapat mengingkari perintah yang diberikan oleh atasannya. Oleh Akuwu Tumapel itu. Namun ia tahu pasti, bahwa apa yang dilakukan itu telah berkisar dari kebenaran dan telah melanggar keadilan. Dengan kekuatan dan kekuasaan yang ada padanya, akuwu akan dapat berbuat apa saja. Merampas, membunuh, mengambil istri orang dan apa saja. Kalau ia melakukan perampasan, pemerasan dan sebagainya, maka ia adalah jauh lebih jahat dari perampok yang paling jahat sekalipun. Sebab sebenarnya akuwu lah yang harus melindungi rakyatnya dari ketakutan dan kesewenang-wenangan.

Tetapi Akuwu Tumapel telah mengatakan kepadanya, bahwa kini ia sedang menunjukkan kekuasaan. Dan dirinyalah alat dari kekuasaan itu.

Dirinya sebagai manusia dan pedang yang tergantung di pinggangnya itu.

Kuda Sempana yang berkuda di ujung rombongan itu kemudian mempercepat jalan kudanya. Di hadapannya kini telah terbentang padang rumput Karautan. Agaknya mereka akan menerobos di tengah-tengah padang rumput itu.

Ken Arok tiba-tiba mengerutkan keningnya. Ditatapnya padang yang terbentang luas di hadapannya itu dengan wajah yang sayu. Padang yang telah menggoreskan kenangan yang suram.

“Apakah aku akan dapat melupakan semua yang telah terjadi?” bisiknya di dalam hati.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Timbullah pertanyaan di dalam hatinya. “Apakah yang Maha Agung mau menerima aku menghadap dengan tangan yang dikotori oleh darah? Berpuluh-puluh orang telah menjadi korbanku di padang rumput ini.”

Tetapi Ken Arok tidak mendapat kesempatan untuk berangan-angan. Kini kuda mereka berjalan semakin cepat, dan sebentar lagi mereka akan sampai ke Panawijen. Tempat tinggal seorang gadis yang baru tumbuh dan berkembang. Namun tiba-tiba angin yang kencang telah melandanya. Angin prahara, yang tak akan dapat dibendung oleh siapa pun.

Demikianlah rombongan itu telah mengejutkan seluruh penduduk Panawijen. Ketika mereka melihat sebuah iring-iringan, dan di depan sendiri mereka melihat Kuda Sempana, maka seluruh penduduk Panawijen, apalagi anak-anak mudanya, menjadi ketakutan. Langsung mereka dapat menebak, bahwa Kuda Sempana telah datang kembali dengan kawan-kawannya. Apalagi ketika seorang tua berkata di antara mereka, “He, lihat! Di belakang Kuda Sempana itu adalah Akuwu Tunggul Ametung. Aku pernah melihatnya, ketika aku pergi ke Tumapel dahulu.”

“Akuwu?” bertanya yang lain dengan tubuh gemetar.

“Ya.”

Penduduk Panawijen itu menjadi semakin takut. Dan Witantra pun benar-benar telah berputus asa untuk menyelamatkan gadis itu. Mahendra pasti terlambat, sehingga Mahisa Agni yang disangkanya Wiraprana pasti tak akan sempat menyembunyikan gadis itu.

Sedang dirinya sendiri tidak mungkin untuk melakukannya. Ia adalah prajurit akuwu, sehingga dengan demikian, maka mau tidak mau ia harus berdiri di pihaknya.

Witantra itu tiba-tiba menangis dalam hatinya. Ia tidak pernah menyangka bahwa pada suatu saat ia harus melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan rasa keadilannya. Ia harus melindungi suatu perbuatan yang ia tahu, bahwa perbuatan itu melanggar sendi penghidupan dan kebenaran. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia harus menyaksikan perbuatan yang tercela itu terjadi di hadapan hidungnya tanpa dapat mencegahnya.

Maka terjadilah pergulatan di dalam dirinya. Pergulatan antara kesetiaannya kepada Akuwu Tumapel dan kesetiaannya kepada kebenaran.

Witantra itu menarik nafas dalam-dalam. Diingatnya tiba-tiba istrinya yang masih muda dan ibunya yang sudah tua. “Hem,” ia berdesah di dalam hatinya. Orang-orang itu pun harus menjadi bahan pertimbangannya. Kalau ia menentang perintah Akuwu Tunggul Ametung, maka akibatnya, ia akan kehilangan pangkat dan jabatannya Bahkan mungkin ia akan diusir dari Tumapel. Lalu ke manakah ia akan pergi? Bagaimanakah kemudian dengan istri dan ibunya? Istri Witantra bukanlah seorang gadis yang dapat mengalami kesulitan-kesulitan.

Istrinya adalah seorang perempuan yang manja, yang hanya dapat menikmati kebesaran nama dan jabatannya. Bahkan istrinya itu bersedia dikawininya, karena Witantra adalah salah seorang pemimpin prajurit pengawal akuwu. Kalau kemudian ia kehilangan pangkat dan jabatannya, maka ia pasti akan kehilangan istrinya itu pula.

Kuda-kuda yang ditumpangi oleh rombongan dari Tumapel itu berjalan terus. Derap kakinya mengejutkan setiap penduduk Panawijen. Beberapa orang menjadi gemetar karenanya, dan beberapa orang mengeluh d dalam hatinya, “Kasihan Empu Purwa. Gadisnya benar-benar akan hilang ditelan oleh Kuda Sempana.”

Berita tentang kedatangan akuwu itu pun segera menjalar ke telinga Ki Buyut Panawijen. Dengan debar di dalam dadanya ia bertanya, “Kau melihat Akuwu sendiri datang?”

“Ya,” sahut orang yang memberitahukan kepada Buyut itu.

“Di manakah Wiraprana?”

“Mungkin di rumah Empu Purwa.”

“Jangan melawan. Usahakan saja untuk menyembunyikan gadis itu. Cepat!”

“Tetapi orang-orang dari Tumapel itu berkuda. Aku tak akan dapat mendahuluinya.”

“Cobalah!” berkata Buyut itu, “aku akan segera dalang pula ke sana.”

Orang itu pun berusaha memenuhi permintaan tetua padukuhannya. Dengan penuh belas kasihan orang itu berlari menerobos halaman-halaman rumah tetangga-tetangganya dan memintasi kebun-kebun yang rimbun. Akhirnya ia sampai juga ke rumah Empu Purwa sebelum iring-iringan kuda yang harus berjalan melingkar-lingkar itu datang.

Degan penuh kecemasan, maka segera ia bercerita tentang apa yang diketahuinya.

Wiraprana dan Ken Dedes menjadi terkejut bukan buatan. Wajah gadis itu tiba-tiba menjadi pucat dan tubuh Wiraprana bergetaran.

“Apakah mereka sedang menuju kemari?”

“Ya.”

Wiraprana menjadi bingung Dan tiba-tiba ia bergumam, “Kenapa Agni belum juga pulang. Ternyata ia hanya berbuat menurut kemauannya sendiri. Ia tidak berpikir tentang kami di sini.”

“Jangan hanya menyalahkan Kakang Agni,” potong Ken Dedes, “lalu apa yang harus kita lakukan?”

Wiraprana diam sesaat. Kemudian katanya “Pendapat ayah baik sekali. Mari kita bersembunyi di luar rumah ini.”

Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Kemudian kepada seorang cantrik ia berkata “Katakan bahwa kami tidak ada di rumah. Sejak kemarin kami meninggalkan rumah ini.”

Cantrik itu menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Baik. Baik akan kukatakan kepada mereka.”

“Cepat pergilah!” desak emban tua yang masih sangat lemahnya setelah ia kemarin dicederai oleh Kuda Sempana.

“Tetapi apakah mereka tidak akan mencari kita di seluruh padukuhan ini,” desah Wiraprana.

“Cepat!” tiba-tiba emban tua itu membentak, “Jangan ributkan hal yang lain-lain. Bersembunyi.”

Wiraprana tidak membantah. Ia tidak sempat menjadi heran atas sikap emban yang tiba-tiba menjadi garang itu. Karena itu maka segera ia melangkah turun dari pendapa.

Tetapi keduanya terlambat. Sebelum mereka mencapai regol halaman, maka tiba-tiba mereka mendengar derap kuda mendekati regol itu.

“Cepat kembali!” teriak emban tua itu, “panjatlah dinding belakang.”

Tetapi Wiraprana tidak sempat berbuat demikian. Sebelum sempat memutar tubuhnya, maka muncullah seekor kuda yang tegar dari regol pagar. Seekor, disusul oleh yang lain dan akhirnya halaman itu pun telah hampir penuh dengan kuda-kuda dan penunggangnya. Meskipun demikian, di luar regol itu pun masih ada dua tiga ekor kuda yang di punggungnya duduk prajurit-prajurit yang sudah siap untuk berbuat apa saja.

Tubuh Ken Dedes tiba-tiba menjadi lemah seakan-akan kehilangan segenap tulang belulangnya. Dilihatnya Kuda Sempana tersenyum di atas punggung kuda dan di sampingnya seorang yang gagah dengan pakaian gemerlapan.

Tunggul Ametung sesaat diam terpaku. Inikah gadis yang disebut oleh Kuda Sempana itu? Karena itu, maka terdengar suaranya berat parau, “Kuda Sempana, adakah gadis ini yang kau sebut-sebut bernama Ken Dedes?”

Kuda Sempana menarik keningnya. Sahutnya “Dari mana Tuanku tahu?”

Tunggul Ametung tertawa. “Aku hanya menduga. Gadis ini adalah gadis yang cantik sekali.”

Sekali lagi Kuda Sempana menarik keningnya. Ketika kemudian ia memandangi gadis itu, dilihatnya Ken Dedes menjadi pucat sepucat mayat. Tetapi Kuda Sempana tidak memedulikannya. Dengan lantang ia berkata, “Atas nama Tuanku Akuwu Tumapel, maka aku diperintahkan untuk membawa Ken Dedes ke Tumapel.”

Meskipun hal itu sudah diduganya sejak Kuda Sempana itu memasuki regol halaman, namun kata-kata telah menampar hati Ken Dedes dan Wiraprana seperti gunung yang runtuh menimpa dadanya. Tanpa sesadarnya, Ken Dedes itu berpegangan lengan Wiraprana dengan eratnya seolah-olah tak akan dapat dipisahkan oleh kekuatan apapun. Namun mereka adalah manusia biasa. Manusia yang memiliki kekuatan dan ketahanan yang terbatas. Karena itu, maka mereka tak akan dapat mencegah kekuatan-kekuatan yang berat melanda mereka dan menghanyutkan mereka ke dalam arus yang mengerikan

Kuda Sempana menjadi panas melihat sikap Ken Dedes itu. Karena itu maka ia membentak sekali lagi, “Ken Dedes. Kali ini jangan menentang kehendak Akuwu. Meskipun aku sendiri tidak terlalu bernafsu untuk membawamu serta, sebab kau adalah seorang gadis pedesaan, namun demikianlah kehendak Akuwu.”

Tidak hanya Wiraprana dan Ken Dedes saja yang terkejut mendegar kata-kata Kuda Sempana, namun timbullah berbagai persoalan pula di dalam hati Witantra.

“Kuda Sempana,” tiba-tiba Wiraprana itu berkata dengan suara yang bergetar, “apakah sebenarnya kehendakmu?”

“Jangan banyak cakap!” potong Kuda Sempana, “kau harus melepaskan Ken Dedes dan Ken Dedes harus pergi ke Tumapel.”

“Tidak!” bantah Ken Dedes.

“Sekali lagi, jangan menyangkal!” Kuda Sempana menjadi sangat marah, ia tidak mau mengadakan perdebatan terlalu lama, sebab dengan demikian, maka persoalan yang sebenarnya akan mungkin didengar oleh Tunggul Ametung. Karena itu maka ia berteriak, “Wiraprana. Tinggalkan Ken Dedes, atau aku memaksamu?”

Witantra menjadi bingung mendengar nama itu disebut. Wiraprana sepanjang pengetahuannya berada di rumahnya. Tetapi tiba-tiba di sini ia berhadapan dengan Wiraprana pula. Namun sementara itu ia tidak mau memikirkan keanehan itu yang berputar-putar di dalam kepalanya adalah kekejian Kuda Sempana. Karena itu maka tiba-tiba kembali memberanikan diri bertanya kepada Tunggul Ametung, “Tuanku, apakah peristiwa ini Tuanku lakukan atas permintaan Kuda Sempana itu?”

Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Tiba-tiba akuwu menjawab, “Ya.”

Dada Witantra berdesir karenanya. Juga Kuda Sempana terkejut mendengar jawaban itu. Namun sebelum ia sempat menyahut, Witantra telah bertanya pula, “Apakah Tuanku telah menimbang baik buruknya, Akuwu memenuhi pemintaannya?”

“Aku tidak mau dihinanya!” teriak Akuwu itu, sehingga orang-orang yang belum pernah melihat Tunggul Ametung itu menjadi terkejut sehingga Ken Dedes menjadi gemetar ketakutan.

Witantra itu mendesak terus. Ia sudah terlalu biasa mendengar Tunggul Ametung berteriak-teriak. Apalagi kini dadanya sedang dipenuhi oleh perasaan muak atas perbuatan Kuda Sempana Katanya, “Tuanku, apakah Tuanku yakin, bahwa orang tua gadis itu pernah menghina Tuanku?”

Tunggul Ametung menarik alisnya yang tebal itu tinggi-tinggi. Kemudian ditatapnya wajah Kuda Sempana sambil berkata, “Kuda Sempana mengatakan itu kepadaku.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada Kuda Sempana, “Kau berkata sebenarnya Adi?”

“Kakang,” potong Kuda Sempana, “Jangan ikut campur dalam persoalan ini. Apakah kau akan ikut menghina Akuwu di hadapan orang Panawijen?”

Sebelum Witantra menjawab, tiba-tiba kata-kata Kuda Sempana itu mengena sasarannya, sehingga sekali lagi Akuwu itu berteriak, “He, Witantra, apa kepentinganmu atas persoalan ini? Aku telah memutuskan untuk memberi kesempatan kepada Kuda Sempana mengambil gadis itu. Apa pedulimu?”

Namun Witantra telah tidak dapat menahan lagi sentuhan-sentuhan atas rasa keadilannya. Maka dengan tatagnya ia menjawab, “Akuwu. Hamba adalah seorang prajurit yang selama ini selalu setia akan tugas-tugas hamba. Namun selama ini hamba belum pernah melihat Akuwu Tunggul Ametung berbuat tergesa-gesa seperti kali ini. Tuanku, kali ini, Tuanku berhadapan dengan Kuda Sempana dan orang-orang yang dikatakan telah menghina Tuanku itu. Apakah Tuanku Tunggul Ametung sama sekali tidak berhasrat untuk menanyakan kebenarannya kepada pihak-pihak yang bersangkutan?”

“He,” tiba-tiba Akuwu itu menjadi ragu-ragu. Ketika Kuda Sempana akan menyahut, maka Akuwu itu membentak, “Jangan berteriak Kuda Sempana. Kata-kata Witantra mengandung kebenaran.”

“Tetapi Tuanku,” berkata Kuda Sempana, “orang yang licik itu akan dapat memutar balik kenyataan, Selain itu, maka bukanlah hamba telah mengatakan bahwa hamba telah memutuskan untuk menerima nasib hamba yang malang itu. Namun Tuanku memaksa hamba untuk melakukan perbuatan ini. Sekarang, apakah hamba harus menanggung malu untuk yang kedua kalinya, justru karena perintah Tuanku?”

“He,” kembali Akuwu itu menjadi bimbang. Sesaat kemudian ia berkata, “Ya, ya. Aku telah memerintahkan kepadamu.”

“Tuanku,” potong Witantra, “Tuanku dapat mencabut setiap perintah yang hanya berdasarkan keterangan-keterangan yang tidak benar. Sekarang, apakah perintah Tuanku itu sudah didasari atas keterangan-keterangan yang benar? Kalau Tuanku mencabut perintah itu, sama sekali bukan kesalahan Tuanku, namun yang memberi keterangan itulah yang bersalah.”

Akuwu Tumapel itu menjadi bingung. Namun tiba-tiba sekali lagi dipandangnya wajah gadis yang berdiri ketakutan di halaman rumahnya itu. Wajah seorang gadis yang tulus dan wajar, sewajar gadis pedesaan yang lain. Tanpa pulasan apapun wajah Ken Dedes telah memancar seperti bulan tanggal setengah.

Semua yang berdiri di halaman itu menjadi tegang. Semuanya memandang wajah Akuwu Tumapel. Alisnya yang tebal bergerak-gerak tak hentinya.

Tiba-tiba Akuwu itu mengangkat dadanya dan berteriak nyaring, “Aku lah Akuwu Tumapel. Semua kekuasaan berada di tanganku.” Kemudian kepada Kuda Sempana ia berkata, “Kuda Sempana, ambil gadis itu!”

“Tuanku,” potong Witantra.

Namun Tunggul Ametung berteriak lebih keras untuk menutup segala kemungkinan yang membisiki relung hatinya, “Cepat! Sebelum aku berubah pendirian.”

Kuda Sempana tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia meloncat dari kudanya dan berjalan menuju ke arah Ken Dedes yang gemetar ketakutan.

“Jangan melawan,” bisik emban tua yang cukup makan pahit asamnya kehidupan, “Ikutlah, sementara kita dapat merencanakan pertolongan.”

Namun Wiraprana tidak mau mendengarkan nasihat itu. Bahkan ia bergumam, “Kenapa Agni tidak juga kembali?”

“Jangan ributkan Agni!”

Sementara itu Kuda Sempana menjadi semakin dekat. Di sekitarnya beberapa orang berkuda memandangnya dengan tegang. Semuanya seakan-akan menahan nifasnya.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Apa yang dilihatnya itu, tak ubahnya seperti apa yang pernah dilakukannya di rimba-rimba dan di padang-padang. Ia pernah mencegat seorang anak petani yang sedang pergi mengantarkan makanan buat ayahnya yang bekerja di sawah. Ia pernah berbuat hal-hal yang serupa dengan apa yang disaksikannya, meskipun caranya berbeda. Cara yang pernah dilakukannya adalah cara seorang hantu yang hidup di padang-padang rumput dan hutan-hutan. Namun kini ia melihat cara yang lain, cara seorang yang sedang memiliki kekuasaan dan pedang. Ken Arok itu tiba-tiba menundukkan wajahnya. Ia pernah melihat gadis-gadis menjadi ketakutan seperti Ken Dedes pada saat itu. Dan ia menyesal karenanya. Tetapi ternyata orang-orang yang dianggapnya terhormat itu pun melakukannya pula.

Tetapi kali ini ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia sedang mencoba mengubah nasibnya. Dan ia belum sempat melihat perkembangan nasib itu. Karena itu, ia tidak mau berbuat sesuatu yang dapat melemparkannya kembali ke di padang-padang rumput dan hutan-hutan.

Kini Kuda Sempana telah berdiri berhadapan dengan Wiraprana. Dan Wiraprana itu berkata di dalam hatinya, “Kali ini untuk ketiga kalinya.”

Tunggul Ametung menjadi sangat marah hatinya ketika ia melihat seorang anak muda yang mencoba menghalangi Kuda Sempana. Karena itu maka ia pun berteriak, “He. Siapakah anak itu?”

“Wiraprana,” sahut Kuda Sempana.

“Pergi jangan halangi Kuda Sempana mengambil gadis itu. Itu adalah perintah Akuwu Tumapel!”

Tetapi Wiraprana tidak beranjak dari tempatnya, Sehingga Akuwu Tumapel itu berteriak pula “Witantra Kau adalah alat kekuasaan Akuwu Tumapel. Singkirkan anak itu!”

Witantra menggigit bibirnya. Sekali lagi terjadi pertempuran yang sengit di dalam dadanya. Apakah ia harus ikut serta dalam perbuatan itu?

Karena kebimbangan itu maka ia mendengar sekali lagi Tunggul Ametung berkata lantang “Witantra apakah kau tuli, he?”

Namun alangkah terkejutnya Tunggul Ametung ketika ia mendengar Witantra itu menjawab “Tuanku. Aku tidak ikut dalam perkosaan ini.”

Tunggul Ametung itu tiba-tiba menjadi gemetar karena marahnya. Belum pernah ia mendengar jawaban yang sedemikian dari bawahannya. Namun kini Witantra itu menolak melakukan perintahnya. Karena tiba-tiba ia memutar kudanya menghadap ke arah prajurit-prajuritnya. Dengan suara yang gemetar ia berkata “Tangkap Witantra!”

Namun suara Tunggul Ametung itu benar-benar seperti burung hantu di padang pasir. Hilang tak berkesan. Tak seorang pun dari para prajuritnya yang bergerak. Merela menjadi ragu-ragu. Witantra adalah seorang pemimpin yang mereka segani dan mereka senangi. Meskipun kadang-kadang Witantra itu sering berbuat terlalu keras, namun ia dapat tegak pada kewajibannya. Itulah sebabnya maka para prajurit itu menjadi ragu-ragu.

Sekali lagi dada Tunggul Ametung seperti akan pecah. Namun ia tidak dapat berbuat apa-apa. Di sini, di tempat yang cukup jauh, dan ia sendiri berada di antara para prajuritnya itu, muka ia tidak berani berbuat lebih daripada mengumpat-umpat. Namun ia masih berbesar hati, bahwa Witantra itu tidak berbuat apa-apa yang dapat mencegah maksudnya.

Dalam pada itu, Akuwu Tumapel itu masih mendengar Witantra berkata “Aku akan pergi dari halaman ini. Aku tetap setia kepada tugasku sebagai seorang prajurit. Namun tidak untuk memerkosa hak dan peradaban.”

Witantra tidak menunggu Akuwu itu menjawab kata-katanya. Dengan segera ia memutar kudanya dan pergi keluar halaman. Beberapa orang tiba-tiba mengikutinya pula. Ke luar halaman.

“Witantra, apakah kau sadari perbuatanmu itu?” teriak Tunggul Ametung dengan marahnya, “besok aku dapat memerintahkan menggantung kau di alun-alun. Kau sangka bahwa prajurit Tumapel hanya terdiri dari pengawalnya saja?”

Witantra menoleh pun tidak. Dan segera ia hilang di balik regol beserta beberapa orang prajurit. Namun ada di antara mereka yang menjadi ragu-ragu. Namun ada pula seorang yang berkumis tebal menjadi gembira melihat perselisihan itu. Dengan membungkuk-bungkuk ia menyembah, “Akuwu, biarlah Witantra menolak perintah Akuwu. Biarlah aku saja yang akan melaksanakan perintah Akuwu.”

“Bagus. Kau akan mendapat pangkat yang baik,” teriak Tunggul Ametung.

Tetapi terdengar kemudian Kuda Sempana berkata, “Tak perlu bantuan orang lain. Biarlah anak ini aku selesaikan sendiri.”

Namun ternyata perselisihan di antara mereka telah membesarkan hati Wiraprana. Mula-mula ia mengharap seseorang di antara mereka memberinya bantuan. Tetapi ia menjadi kecewa ketika Witantra itu tidak berbuat sesuatu selain pergi ke luar halaman. Meskipun demikian, Wiraprana masih mengharap perkembangan keadaan.

Tetapi kini Kuda Sempana itu telah melangkah maju. Karena itu maka segera ia melangkah pula maju sambil berkata, “Kuda Sempana. Apakah kau masih belum juga menyadari keadaanmu?”

Kuda Sempana tidak menjawab, tetapi langsung ia menampar mulut Wiraprana. Wiraprana terkejut bukan buatan. Namun mulutnya telah menjadi panas Dan darah yang merah meleleh dari sela-sela bibirnya. Perbuatan Kuda Sempana benar-benar telah membangkitkan kemarahannya. Meskipun baru kemarin ia dilumpuhkan oleh Kuda Sempana itu. Kini Wiraprana ingin mendahuluinya. Ia ingin mencoba mengurangi kekuatan Kuda Sempana. Karena itu tiba-tiba saja Wiraprana itu melompat menyerang dengan garangnya. Tetapi yang diserangnya adalah Kuda Sempana. Karena itu dengan lincahnya maka serangan itu dihindarinya.

Dan malanglah nasib Wiraprana. Kuda Sempana benar-benar ingin menunjukkan kepada Akuwu Tumapel, bahwa Kuda Sempana bukanlah pelayan dalam yang hanya mampu melayani keperluan akuwu itu sehari-hari. Tetapi ia pun tidak kalah tangkasnya dengan para prajurit yang beberapa orang di antaranya sedang menontonnya. Karena itu, maka Wiraprana itu pun telah dijadikannya alat untuk menunjukkan keterampilannya.

Maka kembali mereka berdua berkelahi dengan serunya.

Namun kembali Wiraprana mengalami peristiwa yang mengerikan. Dengan geramnya Kuda Sempana menyerang anak muda yang tinggi besar itu dengan tanpa ampun. Hampir segenap wajah Wiraprana menjadi merah biru.

Sebuah pukulan yang dahsyat telah tepat mengenai dagu Wiraprana, sehingga wajah itu terangkat, namun Kuda Sempana telah menyusulnya dengan sebuah pukulan di perutnya. Wiraprana itu pun menjadi terhuyung-huyung. Tetapi Kuda Sempana tidak puas. Sekali lagi ia menghantam pipi Wiraprana.

Ketika Wiraprana terdorong ke samping, maka sampailah Kuda Sempana pada puncak permainannya. Ia tidak mau diganggu oleh anak mula itu lagi. Sehingga dengan demikian ia benar-benar berhasrat untuk meniadakan anak muda itu. Demikianlah dengan garangnya Kuda Sempana meloncat dan memukul tengkuk Wiraprana dengan sisi telapak tangannya.

Terdengar Wiraprana mengaduh pendek disusul oleh jerit Ken Dedes. Tetapi suara itu lenyap dalam derai tawa Akuwu Tunggul Ametung. Dengan bangga Akuwu itu berkata, “He, Kuda Sempana. Kau tak ubahnya seorang prajurit yang tangguh. Nah. Aku benar-benar tidak lagi memerlukan Witantra yang gila itu.”

Tetapi kata-kata Akuwu itu tiba-tiba terputus ketika ia melihat Ken Dedes menjatuhkan diri sambil menangis di atas tubuh Wiraprana yang diam terbaring di halaman itu.

Akuwu itu kemudian mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Dilihatnya Kuda Sempana berdiri tegak dengan kaki renggang dan dada tengadah. Namun kemudian dilihatnya pula Ken Dedes mengangkat wajahnya, menatap kepadanya, kepada Akuwu Tumapel yang mempunyai kekuasaan tidak terbatas itu, sambil menunjuk mukanya gadis itu berteriak “Biadab. Biadab. Apakah kau tidak dapat berbuat sesuatu untuk mencegah perbuatan gila ini?”

Akuwu itu menarik bibirnya ke samping. Matanya yang sebelah seakan-akan menjadi bertambah sipit. Ia adalah Akuwu yang dapat berbuat apa saja. Namun gadis itu tidak takut kepadanya, bahkan mengumpat-umpatinya. Kenapa?

Dan suara gadis itu masih terdengar, “Akuwu Tumapel, apakah kau tidak melihat kebenaran diinjak-injak di hadapan hidungmu? Atau kau ikut dalam kebiadaban ini?”

“Hem,” Akuwu itu menjadi semakin heran. Namun tiba-tiba Akuwu itu pun berteriak tak kalah kerasnya, “Kuda Sempana. Bawa gadis itu ke Tumapel!”

Kuda Sempana tak menunggu perintah itu diulangi. Dengan tangkasnya ia meloncat menangkap Ken Dedes. Namun gadis itu sama sekali tidak membiarkannya. Karena itu ia berusaha melawan. Namun ia sama sekali tidak berdaya.

Matahari di langit memancar dengan teriknya. Selembar awan yang Putih hanyut dalam arus angin yang lembut. Ketika Witantra mengangkat wajahnya, dilihatnya dalam lembaran langit yang biru, burung beterbangan dengan lincahnya. Bebas lepas di udara. Namun tiba-tiba dilihatnya seekor elang yang berputar-putar untuk mencari mangsanya.

Witantra menarik nafas dalam . Terjadilah suatu pergolakan di dalam dadanya. Pergolakan yang hampir meledak. Namun ia tidak akan dapat mencegah perbuatan yang terkutuk itu. Ia harus puas dengan menyingkirkan dirinya, mencuci tangannya.

“Aku tidak turut melakukannya,” desahnya.

Ia terkejut ketiga ia melihat beberapa ekor kuda berlari keluar halaman. Kencang sekali seperti angin. Sekali lagi Witantra menarik nada. Dibiarkannya kuda itu berlari. Ketika ia berpaling ia masih melihat beberapa orang prajurit berada di sekitarnya. Bahkan ia melihat seorang prajurit yang hampir seluruh wajahnya ditumbuhi rambut yang lebat bertubuh tegap kekar dengan sebatang tombak di tangannya sedang menundukkan wajahnya. Ketika Witantra melihat wajah prajurit itu, ia terharu juga. Prajurit yang dikenal sebagai alap-alap dalam medan peperangan itu menitikkan air mata.

“Kenapa kau?” bertanya Witantra

“Aku juga punya seorang anak gadis.”

Witantra menarik nafas. Ia hanya dapat melakukan itu, menarik nafas dan mengeluh. Prajurit itu pun tersinggung rasa keadilannya seperti dirinya. Namun seperti dirinya, prajurit itu tidak dapat berbuat apa.

Witantra tidak dapat untuk membiarkan kudanya berdiri saja di situ, sehingga kemudian dengan hati yang kosong ia menarik kekang kudanya dan jalan searah dengan kuda-kuda yang terdahulu,

Tetapi tiba-tiba Witantra itu terhenti. Seorang perempuan tua memegangi kakinya dengan eratnya.

“Kenapa?” bertanya Witantra dengan nada kosong.

“Apakah tuan tidak dapat membantu kami?” tangis perempuan tua itu.

“Apa yang harus aku lakukan?”

“Membebaskan Ken Dedes.”

Witantra itu pun tergetar hatinya Namun yang dihadapinya adalah Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu mata dengan berat hati ia menggeleng, “Sayang aku tidak akan dapat berbuat sesuatu.”

“Tuan, bukanlah tuan bersenjata seperti orang-orang yang telah merampas gadis itu?”

“Tetapi orang-orang itu di antaranya adalah Akuwu Tumapel.”

“Jadi apakah seorang akuwu boleh berbuat sewenang-wenang?”

Witantra terdiam. Ia benar-benar tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Tetapi, ia juga tidak dapat berbuat apa-apa. Karena itu sekali lagi ia menggeleng, “Sayang. Aku tidak dapat menolongmu.”

Perempuan tua itu menjadi putus asa. Dilepaskannya kaki Witantra. Namun terdengar ia bergumam, “Tuan, aku, perempuan tua ini, akan menjadi saksi, bahwa di sini telah terjadi perkosaan atas kemanusiaan oleh kekuasaan. Di sini telah terjadi noda-noda yang hitam yang mengotori kekuasaan Akuwu Tumapel.”

Witantra itu pun menundukkan wajahnya. Bahkan ia bergumam di dalam hatinya, “Kau benar Bibi tua. Di sini telah terjadi perkosaan atas sendi-sendi peradaban dan kemanusiaan oleh kekuasaan yang berada di tangan Akuwu Tunggui Ametung”

Witantra itu pun kemudian tidak tahan lagi ketika ia melihat perempuan itu menangis. Karena itu, maka kemudian ia menggerakkan kudanya dan berlari menjauhi tempat yang telah menggoreskan suatu kenangan di dalam hatinya. Kenangan yang suram dari sejarah Tumapel.

Jauh di hadapan Witantra itu, beberapa ekor kuda berlari kencang sekali seperti angin. Mereka adalah Kuda Sempana, Tunggul Ametung dan beberapa orang pengiring. Mereka adalah orang-orang yang telah kehilangan kesadaran diri mereka, sehingga bersama mereka itu, mereka bawa Ken Dedes yang sedang pingsan.

Debu yang putih mengepul tinggi. Debu yang dilemparkan oleh berpasang kaki kuda itu. Di paling depan, Kuda Sempana berpacu sambil membawa seorang gadis yang telah dirampasnya. Sedang di belakangnya Akuwu Tunggul Ametung memegangi kendali kudanya dengan eratnya. Namun wajahnya kini tiba-tiba menjadi suram. Setelah dilihatnya gadis yang bernama Ken Dedes itu, tiba-tiba timbullah sesuatu di dalam benaknya. Gadis itu hanya seorang gadis yang hidup di dalam sebuah padukuhan kecil. Namun terasa di dalam tatapan matanya, sesuatu yang tidak ada pada gadis kebanyakan. Akuwu itu sama sekali tidak tahu. Apakah yang lain pada gadis itu. Bahwa gadis itu adalah seorang gadis yang cantik sekali, akuwu itu tidak dapat memungkirinya. Sejak ia memandang wajah itu untuk pertama kali hatinya telah terguncang dan berkata, “Ken Dedes adalah gadis yang cantik sekali.”

Tetapi, bukan kecantikannya itu sajalah yang telah menggerakkan Akuwu Tunggal Ametung. Ada yang lain. Namun ia tidak tahu, apakah yang lain itu.

Demikianlah, maka terjadi pula sesuatu yang seakan-akan mendidih di dalam hati Tunggul Ametung. Sesuatu yang tidak diketahui ujung pangkalnya. Sebagai seorang akuwu, ia mempunyai kesempatan yang jauh lebih besar dari orang-orang lain sebayanya. Tetapi Tunggul Ametung itu sama sekali belum berhasrat untuk kawin. Tiba-tiba kini ia melihat sesuatu yang dapat mengguncangkan hatinya. Ken Dedes. Kecantikannya dan sesuatu yang tak dapat dimengertinya yang seakan-akan memancar dari wajahnya.

Ketika Akuwu Tumapel itu mengangkat wajahnya, dilihatnya Kuda Sempana berpacu di hadapannya. Tiba-tiba terasa ia menjadi muak melihat keangkuhan sikap Kuda Sempana. Baru beberapa saat ia berusaha memenuhi permintaan pelayannya itu, namun kini terasa bahwa ia menyesal karenanya. Tetapi ia tidak dapat menemukan apakah sebenarnya yang bergolak di dalam dirinya itu.

Awan di langit selembar-selembar mengalir ke utara. Seperti belasan daun-daun raksasa yang terapung hanyut di wajah lautan yang biru bersih. Matahari yang cerah memancarkan sinarnya membakar kulit, sehingga peluh yang hangat membasahi seluruh tubuh. Debu-debu yang dilemparkan dari kaki-kaki kuda itu pun satu-satu melekat pada kulit-kulit mereka yang telah basah itu.

Tunggul Ametung mengusap wajahnya dengan tangannya. Ketika ia mengangkat wajahnya, tiba ia terkejut. Di hadapannya dilihatnya segumpal debu yang meloncat ke udara.

Dada Akuwu itu pun menjadi berdebar-debar pula karenanya. Tetapi kemudian ia menarik nafas. “Itu pasti anak gila adik Witantra,” katanya di dalam hati.

Namun belum lagi ia berkata apapun juga kepada pengiringnya maka Akuwu itu pun terkejut ketika Kuda Sempana memperlambat kudanya.

“Kenapa he?” teriak Tunggul Ametung.

“Kuda itu,” sahut Kuda Sempana.

Kini Akuwu itu pun melihat, bahwa kuda itu sama sekali bukan Kuda Mahendra. Dan anak muda yang duduk di punggung kuda itu pun sama sekali bukan Mahendra.

“Kenapa dengan kuda itu?” kembali Tunggul Ametung bertanya.

Kuda Sempana diam sesaat. Kemudian jawabnya, “Anak muda itu adalah kakak Ken Dedes.”

“He,” Tunggul Ametung itu berteriak. Namun kemudian ia berkata “Apakah ia akan membuat persoalan?”

“Tentu. Anak itu anak gila,” jawab Kuda Sempana.

Akuwu itu pun kemudian berpaling. Dilihatnya prajurit yang berkumis tebal tersenyum sambil mengangguk. Meskipun akuwu itu belum berkata apapun juga, namun prajurit itu pun menyembah, “Ampun Tuanku. Jangan cemas. Biarlah hamba selesaikan anak itu.”

Tunggul Ametung tertawa. “Bagus. Percepat kudamu singkirkan anak itu.”

Prajurit yang berkumis tebal itu mengangguk sambil tertawa kemudian ia mendului Tunggul Ametung dan Kuda Sempana. Ia berpaling ketika ia mendengar Kuda Sempana berkata, “Hati-hatilah dengan anak muda itu.”

Prajurit itu tertawa semakin keras dan menjawab, “Apakah anak Panawijen itu berbahaya?”

“Ya,” jawab Kuda Sempana.

Prajurit itu tertawa terbahak-bahak . Anak pedesaan itu pasti hanya mampu memanggul cangkul dan bertanam ubi. Karena itu maka segera ia memacu kudanya menyongsong Mahisa Agni.

Tetapi Mahisa Agni telah benar-benar seperti anak yang kerasukan setan. Dari kejauhan ia melihat debu yang mengapung tinggi dan beberapa orang berkuda berlari kencang. Kemudian di lihatnya seseorang yang berkuda paling depan membawa gadis bersamanya. Cepat Mahisa Agni mengetahui, bahwa pasti itulah Kuda Sempana. Namun jumlah pengiringnya tidak sebanyak yang dikatakan Mahendra kepadanya.

Namun apa yang dilihatnya itu benar-benar telah membakar jantungnya, sehingga ia sudah tidak dapat lagi mempertimbangkan, siapakah yang akan dihadapinya. Apakah ia akuwu yang berkuasa di Tumapel, atau bahkan seandainya Maharaja dari Kediri sekali pun.

Karena itu, ketika ia melihat seorang berkuda mendahului rombongan Kuda Sempana itu, hatinya semakin menyala. Pasti orang inilah yang akan mencoba melawannya. Karena itu, maka segera ia pun memacu kudanya pula.

Jarak mereka berdua, Mahisa Agni dan prajurit berkumis tebal itu semakin lama menjadi semakin dekat. Bahkan kemudian Mahisa Agni dapat melihat, bahwa Prajurit itu tertawa- tawa, seakan-akan seorang anak sedang menyongsong permainan yang lucu, oleh-oleh bapanya dari rantau. Dengan demikian, Mahisa Agni menjadi semakin marah. Tidak ada kemungkinan lain padanya, daripada melumpuhkan prajurit itu.

Akhirnya Mahisa Agni itu pun menjadi semakin dekat. Prajurit berkumis tebal itu menghentikan kudanya sambit berteriak, “He, berhenti!”

Mahisa Agni sama sekali tidak mau berhenti, bahkan ia berteriak, “Minggir! Kalau tidak, aku injak kepalamu.”

Prajurit itu benar-benar terkejut mendengar jawaban Mahisa Agni. Ia sama Sekali tidak menyangka bahwa ia akan mendapat jawaban yang sangat mewakilkan hati. Maka katanya di dalam hati, “Apakah anak itu benar-benar gila?”

Tetapi ia tidak sempat bertanya-tanya lagi. Mahisa Agni sudah sedemikian dekatnya. Karena itu, maka segera ia menyilangkan kudanya untuk menahan Mahisa Agni.

Kuda Mahisa Agni terkejut melihat kuda yang tiba-tiba saja menyilang jalan. Mahisa Agni pun segera menarik kekangnya, sehingga kuda itu tegak pada kedua kali belakangnya. Untunglah bahwa Mahisa Agni tidak terlempar karenanya. Namun hal itu telah menjadikannya semakin marah. Mahisa Agni sama sekali tidak berkata apapun lagi. Segera ia memutar kudanya dan menyerang prajurit berkumis tebal itu. Tetapi Prajurit itu pun telah mempersiapkan diri, karena itu maka segera ia mengelakkan serangan Mahisa Agni itu.

Namun prajurit itu benar-benar tidak menyangka, bahwa anak Panawijen itu mampu bergerak sedemikian cepatnya, sehingga hampir-hampir ia terlambat. Meskipun demikian, masih juga terasa tangan Mahisa Agni itu menyentuh rambutnya, sehingga terasa dadanya bergetar karenanya.

“Gila!” prajurit itu mengumpat. Tetapi ia tidak dapat mengumpat terus. Mahisa Agni telah mengulangi serangannya, bahkan lebih keras dari serangannya yang pertama.

Prajurit itu terpaksa menarik diri sambil memutar kudanya. Dengan demikian sekali lagi ia dapat membebaskan diri dari serangan Mahisa Agni. Namun Mahisa Agni yang marah itu sama sekali tidak memberinya kesempatan. Berkali-kali ia menyambar dari atas kudanya seperti seekor burung rajawali yang bertempur di udara. Sehingga sesaat kemudian segera tampak bahwa prajurit itu hampir tidak berdaya menghadapinya.

Tunggul Ametung dan Kuda Sempana berhenti beberapa puluh langkah dari perkelahian itu. Wajah akuwu itu pun kemudian menjadi cemas. Ternyata Akuwu Tumapel segera dapat mengetahui, bahwa prajuritnya yang sombong itu, sama sekali tidak berdaya menghadapi lawannya.

Sekali Tunggul Ametung itu berpaling. Dadanya berdesir ketika Witantra tidak nampak mengiringkannya. Ia percaya betul akan kekuatan Witantra itu, namun kini anak madu itu tidak mau ikut serta bersamanya. Karena itu, maka ia sesaat menjadi bimbang. Meskipun Tunggul Ametung sendiri tidak akan takut menghadapi siapa pun. Namun harga dirinya masih mencegahnya. Seorang akuwu yang berkuasa, apakah harus menangani sendiri seorang lawan yang tidak lebih dari anak pedesaan? Sedang ia tidak akan dapat memerintahkan Kuda Sempana untuk melawan anak gila itu, sebab Kuda Sempana sedang memegangi Ken Dedes yang pingsan. Ketika sekali lagi Tunggul Ametung berpaling dilihatnya di belakangnya beberapa orang diam kaku di atas kuda mereka.

“Tiga orang kecuali Kuda Sempana, aku sendiri dan prajurit yang bertempur itu,” desisnya di dalam hati.

Tiba-tiba Kuda Sempana itu tersenyum ketika dilihatnya Ken Arok memandangi perkelahian itu dengan tegang. Dan tiba-tiba pula Tunggul Ametung itu memanggilnya, “He, kau, kemari!”

Ken Arok terkejut. Namun ia mendekat juga.

“Aku melihat beberapa keanehan dalam dirimu. Tetapi aku belum pernah melihat kau berkelahi. Apakah kau dapat juga berkelahi?”

Jantung Ken Arok benar-benar terguncang. Anak muda itu adalah Mahisa Agni yang dikenalnya dengan baik. Namun kini, apakah ia harus berkelahi dengan Mahisa Agni itu. Dahulu ia pernah juga berkelahi melawannya, namun selagi otaknya masih gelap. Kini ia telah berusaha untuk berbuat menurut nasihat-nasihat yang baik. Tetapi kenapa tiba-tiba ia masih harus mengulangi perbuatannya itu. Berkelahi. Apalagi melawan Mahisa Agni.

Karena itu maka untuk sesaat Ken Arok itu menjadi bimbang, dan dengan demikian ia tidak segera menjawab. Akuwu Tumapel itu pun mengerutkan keningnya, dan kemudian membentaknya “He, Ken Arok. Apakah kau tuli atau bisu?”

“Ampun Tuanku,” jawab Ken Arok tergagap.

Sementara itu Tunggul Ametung melihat prajurit yang berkumis tebal itu telah terlempar dari kudanya, jatuh terbanting di atas tanah, tampaklah betapa wajahnya menjadi pucat, dan mulutnya menyeringai menahan sakit. Meskipun demikian ia masih mencoba berdiri. Namun Mahisa Agni yang marah datang menyerangnya dengan garang. Sebuah pukulan bersarang di wajahnya, dan prajurit yang berkumis tebal itu sekali lagi terlempar dan jatuh berguling ke dalam parit. Oleh karena itu, maka jiwanya telah tertolong karenanya. Sebab Mahisa Agni yang benar telah kehilangan segala pertimbangannya itu ingin melanda prajurit itu dengan kudanya dan menginjaknya. Tetapi karena ia terbaring di dalam parit, maka kuda Mahisa Agni tidak dapat mencapainya dengan mudah.

Dalam pada itu terdengar Tunggul Ametung berteriak, “Ken Arok. Lawanlah anak gila itu!”

Ken Arok benar-benar tidak dapat berbuat lain daripada menaati perintah itu. Tetapi sebenarnya hatinya menjadi sangat kecewa. Benar-benar kecewa. Dengan demikian maka kehidupan di dalam rimba yang pernah dialaminya, kini terpaksa terulang kembali. Perampasan dan perkelahian. Ken Arok pernah melihat seekor harimau merampas anak seekor kijang yang lemah. Dan kijang itu tidak dapat berbuat apa-apa selain melarikan diri. Ia sendiri pernah mencegat dan merampas milik orang di padang Karautan. Dan orang-orang itu tidak berdaya untuk mempertahankannya. Kini setelah ia berada di lingkungan orang-orang yang terhormat dan berkuasa, maka pekerjaan itu harus diulangnya. Merampas dan berkelahi.

Dengan hati yang berat, Ken Arok itu mendorong kudanya maju beberapa langkah. Dengan hati yang berdebar-debar ia mendekati Mahisa Agni yang sedang marah bukan buatan.

Ketika Mahisa Agni itu melihat Ken Arok, maka ia pun terkejut bukan kepalang. Bahkan dengan serta-merta ia berteriak, “Kau Ken Arok. Kau turut dalam perampokan ini pula?”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Hatinya terguncang mendengar pertanyaan itu, sehingga ia tidak segera dapat menjawabnya.

Mahisa Agni pun bergeser maju mendekati Ken Arok itu. Betapa marahnya hati anak muda itu. Dan tiba-tiba ia berhadapan dengan seorang yang pernah dikenalnya. Karena Ken Arok tidak segera menjawab, maka Mahisa Agni itu berkata pula, “He, Ken Arok. Apakah kau termasuk dalam gerombolan itu pula?”

“Agni,” jawab Ken Arok perlahan, “jangan menuduh aku demikian. Kau harus tahu, siapakah aku dan siapakah yang melakukan perampasan itu. Aku tidak mempunyai pilihan lain, sebab aku adalah seorang hamba.”

“Ha,” sahut Agni, “Apakah arti kata-katamu dahulu? Apakah kau kini berdiri di jalan yang sempit yang akan sampai ke gerbang kedamaian abadi? Apakah kau telah menghindarkan dirimu dari jalan yang lebar dan halus, namun akan sampai pada pusar kehancuran?”

Ken Arok tiba-tiba menundukkan wajahnya. Namun ia terkejut ketika ia mendengar Akuwu Tumapel berteriak, “Ken Arok. Pecahkan kepalanya. Atau kau aku gantung di alun-alun.”

Ken Arok itu mengangkat wajahnya. Desahnya, “Agni aku tidak dapat berbuat lain.”

“Bagus,” sahut Agni lantang, “aku sudah menyangka, betapapun kau mencoba membersihkan dirimu, tetapi kau sebenarnya adalah seorang pembunuh. Di manapun kau berada, dalam kesempatan apapun, maka kau akan kembali ke jalan yang kotor itu. Kalau kau telah pernah mencoba mencuci tanganmu yang kau kotori dengan darah korbanmu di sepanjang hutan Karautan, maka sekarang kotori tanganmu dengan darahku, dengan darah adikku itu, Ken Dedes.”

“Agni,” Ken Arok itu berteriak keras-keras, “Cukup! Cukup!”

“Tidak!” sahut Agni tidak kalah kerasnya, “kau harus becermin. Kau harus melihat wajahmu itu. Wajah yang dipenuhi oleh kotoran duniawi. Huh. Apakah seorang pendeta yang kau katakan bernama Lohgawe itu mendidikmu untuk membunuh, merampok dan memerkosa dengan cara yang terhormat ini.”

“Cukup! Cukup!” Wajah Ken Arok itu tiba menyala, dan digesernya kudanya beberapa langkah maju. Tetapi Mahisa Agni pun benar-benar sudah siap. Ia kini bukan Mahisa Agni yang bertempur di padang rumput Karautan itu. Namun sebenarnya Ken Arok itu pun bukan Ken Arok yang berada di padang itu pula. Dengan bekal kekuatan yang tersimpan di dalam tubuhnya sejak ia dilahirkan, ia telah menerima beberapa tuntunan dalam tata perkelahian. Dan karena tuntunan yang sedikit itu saja, Ken Arok benar-benar menjadi seorang anak muda yang luar biasa.

Tetapi ketika ia telah benar-benar berhadapan dengan pandangan mata Mahisa Agni yang tajam, tiba-tiba disadarinya akan dirinya. Bahkan dikenangnya, waktu Mahisa Agni menjadi seperti orang gila berteriak di padang rumput menantangnya. Kenapa waktu itu ia tidak menjadi marah, dan bahkan ia dapat meredakan kemarahan anak muda itu?

Kini kembali ia mendengar Mahisa Agni berkata, “Ken Arok. Kalau kini kita bertempur, maka bertanyalah kepada hati nuranimu. Siapakah yang berpijak pada kebenaran seperti yang pernah kau impikan.”

Tiba-tiba Ken Arok itu menggeleng. Wajahnya menjadi suram. Dan ia pun berbisik, “Agni. Kalau kau akan membinasakan aku, binasakanlah. Aku harus melawanmu. Tetapi percayalah, aku tidak akan bertempur sungguh-sungguh. Aku harus menghalangimu, meskipun tidak demikian kata hatiku. Kau berada di atas kebenaran, sedang aku berada dalam kesulitan-kesulitan karena kedudukanku. Nah. Terserahlah kepadamu.

“Jangan banyak ribut, aku sudah siap.”

“Jangan berteriak-teriak. Aku sudah menyerah, meskipun aku harus bertempur.”

Mahisa Agni yang marah itu tidak sabar lagi. Apapun yang akan dilakukan oleh Ken Arok, namun ia harus menyingkirkan semua orang yang mencoba menculik Ken Dedes itu.

Ketika sekali Mahisa Agni itu mengerling ke arah Kuda Sempana, maka nyala di dalam hatinya seakan-akan tersiram minyak, sehingga melonjaklah api yang memanasi dadanya.

Dengan serta-merta Mahisa Agni itu meluncur dengan dahsyatnya, langsung menghantam pelipis Ken Arok. Namun dengan gerak naluriah Ken Arok menghindarkan dirinya, sehingga Mahisa Agni itu seakan-akan terbang di sampingnya. Cepat Ken Arok mengangkat tangannya dan sebuah ayunan yang keras mengarah ke tengkuk Agni. Namun tiba-tiba tangan itu seakan-akan tersentak, sehingga ketika tangan itu benar-benar menyentuh tubuh Agni yang terdorong oleh kekuatan tangannya dan kemarahan yang meluap-luap, serta kecepatan bergerak Ken Arok yang seperti tatit, maka sentuhan itu benar-benar tidak berarti. Ken Arok menahan sekuat-kuatnya, untuk tidak melukai lawannya. Namun Mahisa Agni merasakan sentuhan itu seperti pernah dirasakannya. Sentuhan hantu padang rumput Karautan. Namun kini, gerak Ken Arok benar-benar mencerminkan kematangan gerak dalam unsur yang teratur. Karena itu, maka dada Mahisa Agni berdesir karenanya. Hantu itu tidak lagi berbuat sekasar pada saat ia pertama kali bertemu. Sehingga dengan demikian, kekuatan- kekuatan yang ada di dalam tubuh Ken Arok sejak ia dilahirkan, dilambari dengan kecepatan gerak yang mengagumkan, maka Ken Arok benar-benar seorang yang memiliki kemampuan yang luar biasa.

Mahisa Agni yang marah itu benar-benar tidak dapat melihat kemungkinan-kemungkinan lain daripada bertempur mati-matian. Bahkan dengan penuh kemarahan ia berteriak “Ayo, kenapa kalian tidak maju bersama-sama.”

Ken Arok menarik nafas. Ia bersiap kembali ketika kuda Mahisa Agni berputar, dan kembali sebuah serangan melandanya. Namun kali ini, Ken Arok benar-benar menjadi terkejut. Mahisa Agni itu sama sekali tidak menyerang tubuhnya, namun tiba-tiba anak muda itu langsung meloncat dari kudanya, dan menghantamkan tubuhnya kepadanya. Sehingga dengan demikian maka Ken Arok pun kehilangan keseimbangannya, dan keduanya jatuh berguling dari atas kuda mereka. Namun sesaat kemudian mereka telah bangkit kembali. Bahkan masing-masing telah bersiap dalam sikap yang meyakinkan-

Tunggul Ametung yang melihat perkelahian itu mengerutkan keningnya. Perkelahian itu benar-benar menarik perhatiannya, sehingga untuk sesaat dilupakannya Kuda Sempana yang duduk di atas kudanya dengan tegang. Berbagai perasaan timbul di dalam benak Kuda Sempana itu. Ia ingin perjalanannya tidak terganggu. Namun anak muda itu menjadi iri melihat kelincahan Ken Arok. Sebab apabila Akuwu Tumapel itu benar-benar tertarik melihat keterampilan anak muda itu, maka kedudukan pelayan baru itu akan menjadi semakin baik di sampingnya. Bahkan Kuda Sempana itu takut bahwa perhatian Tunggul Ametung akan seluruhnya tercurah kepada Ken Arok itu. Namun apabila Ken Arok itu tidak dapat memenangkan perkelahian itu, maka ia sendiri harus berhadapan dengan Mahisa Agni. Dan ia menyadari, bahwa ia tidak akan dapat mengalahkannya.

Dalam pada itu, perkelahian antara Mahisa Agni .dan Ken Arok itu pun menjadi semakin sengit. Mahisa Agni benar-benar telan mengerahkan segenap kemampuannya. Ditumpahkannya semua kecakapan yang dimilikinya. Namun lawannya pun memiliki kelincahan yang luar biasa. Apalagi, kembali pengalamannya berulang. Tubuh Ken Arok itu benar-benar seperti menjadi kebal. Betapapun juga, ia berhasil mengenainya dengan segenap kekuatan, dan bahkan sekali ia berhasil melemparkan anak muda itu, namun kembali Ken Arok meloncat bangkit dan bertempur selincah burung sriti yang menyambar di udara. Tetapi karena kemarahan yang telah memuncak sampai ke ubun-ubunnya, Mahisa Agni sama sekali tidak melihat, bahwa Ken Arok telah melewatkan berpuluh puluh kesempatan yang akan dapat melumpuhkan Mahisa Agni itu. Setiap kali serangannya akan berhasil, maka dengan tanpa disadarinya Ken Arok itu menjadi bingung, sehingga serangannya itu menjadi urung. Dan bahkan kadang-kadang dengan serta-merta tangannya yang tepat mendarat ke tengkuk lawannya itu, digesernya beberapa jari, sehingga hanya menyentuh pundaknya.

Namun Mahisa Agni kemudian menjadi tidak sabar lagi. Ketika mereka telah bertempur beberapa saat, dan Mahisa Agni merasa bahwa ia tidak akan berhasil melumpuhkan lawannya, maka tidak ada alasan yang dapat menahan dirinya, mempergunakan ilmunya yang tertinggi Gundala Sasra. Ilmu simpanan yang seharusnya tidak dipancarkan apabila keadaan tidak memaksa. Tetapi kini ia berhadapan dengan kekuatan di luar kemampuannya untuk melawan dengan tenaganya yang wajar. Karena itu, maka tidak ada cara lain untuk menyelamatkan Ken Dedes, selain ilmunya itu.

Karena itu, maka dengan cepatnya Mahisa Agni meloncat surut. Dengan serta-merta disilangkannya tangannya di muka dadanya dan dipusatkannya segenap kekuatan lahir dan batin, untuk menyalurkan getaran di dalam dadanya dalam ilmunya Aji Gundala Sasra.

Ken Arok melihat sikap Mahisa Agni itu. Terasa sesuatu berdesir di dalam dadanya. Segera ia pun mengerti, bahwa Mahisa Agni sedang memusatkan segenap kekuatannya. Karena itu, maka Ken Arok itu pun sadar, bahwa ia harus menghadapi kekuatan yang pasti bukan main dahsyatnya.

Sesaat Ken Arok itu tegak mematung. Namun kemudian tampak ia memiringkan tubuhnya. Ia sudah berjanji di dalam dirinya, bahwa ia sama sekati tidak berhasrat memenangkan perkelahian itu. Ia sudah bertempur dan ia sudah melakukan kewajibannya. Kalau kemudian ia dikalahkan oleh lawannya adalah kemungkinan yang wajar, sewajar kalau ia memenangkan pertempuran itu, atau sewajar kalau perkelahian itu berakhir dengan luluhnya kedua belah pihak. Sebab memang hanya ada kemungkinan itu yang dapat terjadi. Kalah, menang atau bersama-sama menjadi lumpuh.

Dengan demikian, maka Ken Arok itu pun segera mempersiapkan diri untuk menerima kedahsyatan ilmu lawannya. Dibangkitkannya segenap daya tahan di dalam tubuhnya menurut petunjuk yang pernah diterimanya. Namun tenaga yang tersimpan itu terlalu banyak, sehingga tubuh Ken Arok itu tiba-tiba seakan-akan telah berubah menjadi sebuah patung baja. Namun sama sekali tak terlintas di dalam otaknya untuk mencederai Mahisa Agni. Ia berbuat demikian hanya sekedar untuk tidak mati meskipun seandainya ia terluka.

Namun sebenarnyalah bahwa Ken Arok itu mempunyai beberapa keanehan yang tidak dimiliki orang lain, dan bahkan tidak disadarinya sendiri.

Tetapi kemudian terjadilah hal yang tidak disangka-sangka. Selagi Mahisa Agni sedang membangunkan kekuatan yang berada di dalam tubuhnya, dan selagi kekuatan itu masih belum sempurna, tiba-tiba Mahisa Agni itu mengeluh pendek. Selangkah ia terdorong ke depan, dan kemudian terhuyung-huyung ia memutar tubuhnya. Terdengarlah suaranya menggeram, “Curang!”

Bukan saja Mahisa Agni menjadi sangat terkejut, namun Ken Arok pun menjadi terkejut bukan buatan. Ketika ia memandang punggung Mahisa Agni, maka dilihatnya darah mengalir dari sebuah luka. Dan pada luka itu masih menancap sebatang anak panah.

Darah Ken Arok itu pun tiba-tiba menggelegak melihat peristiwa itu. Hilanglah segala suba sita, dan hilanglah segala akal dari kepalanya. Ia melihat suatu yang sama sekali tidak adil. Karena itu dengan serta-merta Ken Arok itu meloncat ke arah prajurit yang berdiri di tepi parit. Ternyata prajurit itu telah berhasil menguasai dirinya kembali, dan dengan panah berburunya ia telah melukai punggung Mahisa Agni.

Namun ia menjadi sangat terkejut ketika Ken Arok itu tiba-tiba meloncat ke arahnya dengan wajah yang menyala-nyala.

Pada saat itu pun Ken Arok sedang membangunkan kekuatan yang ada pada dirinya. Meskipun cara-cara yang dipakainya berbeda dengan cara-cara yang lazim, namun ternyata anak muda itu telah berhasil pula. Karena itu, maka kekuatannya seakan-akan menjadi berlipat-lipat. Daya loncatnya pun menjadi jauh lebih panjang dibandingkan dengan saat-saat yang wajar. Karena itu segera ia mencapai prajurit yang curang itu.

Semua orang menjadi terkejut bukan kepalang. Bahkan jantung mereka seakan-akan membeku, ketika mereka melihat apa yang kemudian terjadi. Akuwu Tunggul Ametung, Kuda Sempana dan bahkan Mahisa Agni sendiri. Dengan serta-merta, Ken Arok itu menghantam dada orang berkumis tebal itu sambil menggeram, “Setan yang licik.”

Tetapi prajurit itu sama sekali tidak sempat berbuat apa-apa. Ia memang mencoba menahan pukulan Ken Arok itu dengan kedua belah tangannya. Namun ternyata akibatnya nggerisi. Terdengar prajurit berkumis tebal itu berteriak, dan disusul dengan derak tulang-tulang patah. Tulang tangannya dan beberapa tulang iganya. Tangan Ken Arok yang marah itu seakan-akan berubah menjadi segumpal besi yang menghantam dada prajurit berkumis tebal itu, sehingga prajurit yang malang itu kemudian terlempar beberapa langkah, terbanting di tanah, dan mati seketika itu juga.

Kuda Sempana yang melihat peristiwa itu, menjadi sangat cemas. Ia menjadi tidak mengerti sama sekali, apakah sebenarnya yang sedang dilakukan oleh Ken Arok itu. Apakah ia sedang membela kepentingannya melawan Mahisa Agni, atau apa? Ternyata anak muda itu menjadi sangat marah ketika ada orang lain yang membantunya. Apakah hanya sekedar karena harga dirinya dilanggar dengan memberikan bantuan itu”

Ternyata bukan saja Kuda Sempana yang menjadi bingung Akuwu Tumapel itu pun melihat semua peristiwa itu dengan wajah yang tegang. Bahkan akhirnya ia menjadi curiga, apakah Ken Arok sebenarnya tidak berpihak kepada Mahisa Agni. Sebagai seorang yang cukup memiliki ilmu yang tinggi, Akuwu Tunggul Ametung telah menyimpan beberapa keraguan ketika ia melihat cara Ken Arok bertempur. Apalagi kini ia melihat apa yang dilakukan oleh Ken Arok itu. Karena itu, tiba-tiba tangannya meraba pelana kudanya dan disentuhnya tangkai pusakanya. Sebuah tongkat penggada yang terbuat dari besi yang berwarna kuning menyala. Pusaka yang luar biasa, yang tak pernah terpisah daripadanya. Ketika terasa pada jari-jarinya sentuhan tangkai pusakanya itu, maka Tunggul Ametung itu pun menjadi tenang. Ia percaya betul bahwa tak ada manusia di dunia yang mampu mempertahankan dirinya melawan pusaka itu.

Namun Tunggul Ametung itu masih tetap tidak berbuat sesuatu. Bahkan ia sependapat ketika Kuda Sempana berkata, “Tuanku, marilah kita mendahului mereka kembali ke Tumapel.”

Tunggul Ametung tidak menjawab. Tetapi segera kudanya dikejutkannya. Dan dengan satu loncatan panjang, maka kuda itu pun mulai berpacu diikuti oleh Kuda Sempana.

Mahisa Agni terkejut melihat kuda-kuda yang berlari itu. Dengan suara yang serak parau ia berteriak, “Kuda Sempana. Berbuatlah sebagai jantan sejati!”

Tetapi Kuda Sempana tidak mau mendengarnya. Kudanya berlari semakin kencang. Mahisa Agni yang terluka itu menjadi bingung. Ketika ia mencoba untuk berlari ke kudanya, maka tubuhnya serasa menjadi semakin lemah. Bahkan kemudian ia pun jatuh tertelungkup ketika ujung kakinya menyentuh seonggok batu di tepi jalan.

Ken Arok yang melihat Mahisa Agni itu jatuh, segera berlari kepadanya. Dicobanya untuk menolongnya, namun terdengar Mahisa Agni itu membentaknya, “Ken Arok. Apakah kita akan bertempur terus sampai salah seorang di antara kita mati?”

Ken Arok menundukkan wajahnya. Desisnya, “Mahisa Agni. Aku tidak tahu, apakah sebenarnya yang sedang bergolak di dalam kepalaku. Aku menjadi sedemikian bingungnya menghadapi keadaan ini. Keadaanku sebagai hamba akuwu dan keadaan perasaanku sendiri.”

Mahisa Agni menyeringai sesaat. Terasa punggungnya menjadi pedih. Namun ia masih belum melepaskan kekuatan yang telah dibangkitkan dalam ilmunya Gundala Sasra. Tetapi betapa tubuh manusia itu mempunyai kemampuan yang sangat terbatas. Betapa seseorang merasa dirinya pilih tanding, kuat tanpa lawan, namun akhirnya harus mengakui, bahwa dirinya hanya seorang makhluk yang kecil. Yang hanya dapat berkehendak, bertekad dan berikhtiar. Tetapi akhirnya harus diakuinya, bahwa kekuatan dan kekuasaan yang ada di dalam dirinya adalah sedemikian kecilnya. Dan kini Mahisa Agni yang memiliki ilmu yang pilih tanding. Gundala Sasra itu pun harus menderita karena luka di punggungnya. Meskipun ilmu itu telah menolongnya, memperkecil kemungkinan yang dapat ditimbulkan karena anak panah itu.

Untunglah bahwa pada saat anak panah prajurit yang berkumis tebal itu mengenai punggungnya, maka Mahisa Agni telah siap dengan ilmunya Gundala Sasra, sehingga demikian kulitnya tersentuh ujung panah itu, maka segera kekuatan-kekuatan yang berada di dalam tubuhnya melawannya. Tetapi Mahisa Agni bukanlah seorang yang kebal, sehingga karena itulah maka kulitnya ternyata tembus juga oleh tajamnya anak panah. Namun anak panah itu tidak menghunjam terlalu dalam. Meskipun demikian, cukup untuk melumpuhkannya, meskipun tidak dapat membunuhnya.

Ken Arok yang melihat Mahisa Agni terbaring itu pun menjadi bersedih. Tetapi Mahisa Agni tidak mau ditolongnya. Dengan susah payah anak muda itu berusaha bangkit dan duduk bertelekan kedua tangannya. Wajahnya menjadi pucat dan bibirnya menjadi gemetar.

“Mahisa Agni,” berkata Ken Arok, “kau terluka. Kau harus segera mendapat pertolongan.”

“Jangan mengigau Ken Arok!” sahut Mahisa Agni, “Kau ingin membunuh aku dengan tanganmu. Karena itu kau tidak mau melihat prajurit itu melukai aku. Nah, sekarang terserah kepadamu. Apakah kau akan membunuh aku atau kau akan menunggu sehingga aku sembuh dan kita dapat berhadapan sebagai laki-laki.”

“Tidak Agni,” jawab Keri Arok, “aku tidak ingin berbuat demikian. Aku benar-benar berada dalam kebingungan.”

“Itu telah mencerminkan kegoyahan pendirianmu. Kegoyahan sikapmu. Kalau kau benar melihat bahwa kebenaran telah dilanggar oleh Akuwu Tunggul Ametung, kenapa kau tidak berani menghalanginya? Meskipun berakibat mati?”

“Ya,” Ken Arok itu menundukkan wajah, “Aku sadari keadaan itu. Aku menjadi bimbang dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Namun aku sebenarnya telah berusaha untuk setidak-tidaknya tidak membantu perbuatan itu. Aku tidak melawanmu dengan segenap kekuatanku.”

“Kau terlalu sombong!” bentak Mahisa Agni keras. Namun kemudian ia menjadi semakin lemah, “Kenapa kau tidak berkelahi dengan sekuat tenagamu? Apakah kau ingin mengatakan, bahwa tidak dengan sekuat kemampuanmu kau telah dapat mengimbangi kekuatanku.”

“Tidak. Tidak,” potong Kera Arok cepat-cepat, “maksudku aku tidak hendak melawan ilmumu yang terakhir, yang akan kau lepaskan dengan ilmu yang tersimpan rapat-rapat di dalam diriku. Aku hanya ingin melindungi diriku supaya aku tidak mati. Sesudah itu, biarlah seandainya aku kau kalahkan.”

Mahisa Agni tidak dapat membantah kata-kata itu. Sebenarnya secara jujur ia pun merasakannya, bahwa Ken Arok telah melepaskan beberapa kesempatan yang sebenarnya dapat dipergunakan, sekurang-kurangnya untuk memperlemah serangannya. Namun kesempatan-kesempatan itu dibiarkannya atau dipergunakannya dengan ragu-ragu. Apalagi, ketika kemudian Mahisa Agni menatap wajah Ken Arok yang tunduk. Tampaklah bahwa kejujuran memancar dari wajah itu. Wajah yang suram, seakan-akan penuh penyesalan. Karena itu, maka hati Mahisa Agni pun menjadi agak mereda. Kemarahannya tidak lagi menyala di dalam dadanya. Itulah sebabnya, maka kini pedih dan nyeri pada punggungnya itu mulai terasa semakin menyengat-nyengatinya.

Sekali lagi Mahisa Agni berdesis. Perlahan-lahan ia bergerak maju.

“Kau terluka?” terdengar Ken Arok itu berdesis.

“Ya,” jawab Agni.

Ken Arok mengangkat wajahnya. Dipandangnya wajah Mahisa Agni yang pucat pasi. Tetapi di wajah itu tidak lagi terbayang kemarahan yang meluap-luap. Karena itu, maka Ken Arok bertanya pula, “Apakah aku dapat menolongmu?”

“Apakah yang dapat kau lakukan?”

Ken Arok menjadi bingung. Ia bukan seorang yang tahu benar akan cara-cara untuk memberi pertolongan kepada orang-orang yang terluka seperti itu. Karena itu, maka sesaat ia terdiam.

Tiba-tiba mereka berdua dikejutkan oleh suara derap kuda mendekat. Ketika mereka mengangkat wajah mereka, maka mereka melihat beberapa ekor kuda muncul dari tikungan, dan berlari ke arah mereka.

“Witantra,” tiba-tiba Ken Arok berdesis.

Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Ia mendengar peristiwa yang terjadi ini dari Mahendra menurut petunjuk Witantra.

Ketika Witantra itu kemudian melihat Mahisa Agni dan Ken Arok, maka segera ia mempercepat kudanya. Demikian ia sampai di hadapan Mahisa Agni yang terluka itu, maka segera Witantra meloncat dari kudanya. Dengan tajamnya Witantra memandang kepada Ken Arok sambil menggeram –

“Kaukah yang melukainya.

Ken Arok mengerutkan keningnya. Ia tidak senang melihat sikap itu. Ia telah mengenal siapakah Witantra, dan ia menghormati keberaniannya untuk tidak menuruti saja perintah akuwu seperti dirinya. Namun ia bukan seorang yang wajar untuk mendapat perlakuan demikian. Karena itu, maka Ken Arok itu pun berdiri sambil menjawab “Bertanyalah kepada Mahisa Agni.”

Witantra menaikkan alisnya. Ia mengenal orang itu dengan nama Wiraprana. Namun Ken Arok itu menyebutnya Mahisa Agni. Tetapi hal itu belum merupakan persoalan bagi Witantra. Dan jawaban pelayan dalam itu tidak diharapkannya. Karena itu maka sekali lagi Witantra berkata lebih tajam, “Aku berkata kepadamu.”

Ken Arok menjadi semakin tidak senang. Tetapi sebelum ia menyahut, segera Mahisa Agni berkata, “Bukan, Witantra. Bukan olehnya. Tetapi oleh prajurit yang terbaring mati di pinggir parit itu. Dan prajurit itu telah dibunuh oleh Ken Arok.”

Witantra memalingkan wajahnya. Dilihatnya tubuh prajurit yang mati itu. Tiba-tiba dada Witantra berdesir. Prajurit itu adalah prajuritnya. Dan dilihatnya bahwa orang itu tidak terluka oleh senjata. Sehingga dengan serta-merta sesadarnya ia berdesis, “Dibunuh dengan tangannya?”

“Ya,” sahut Mahisa Agni.

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan kemudian ia berkata, “Maafkan Adi. Aku terlalu berprasangka. Memang kita kini saling berprasangka. Aku tidak tahu apakah sebenarnya yang sedang terjadi di sini.”

Ken Arok menarik nafas dalam . Sebenarnyalah bahwa mereka kini sedang saling berprasangka. Apa yang tersimpan di dalam dada masing-masing adalah kecurigaan di antara sesama mereka. Seperti Kuda Sempana, Tunggul Ametung, Mahisa Agni, Ken Arok, Witantra dan para pengikut yang lain. Mereka tidak tahu pasti, apakah yang sebenarnya dilakukan oleh kawan-kawan mereka, atau yang sedang diangan-angankannya. Mereka berbuat dalam kebimbangan dan ketidakpastian. Bahkan mereka telah berbuat di luar rasa keadilan mereka sendiri.

Witantra itu pun kemudian turun dari kudanya dan mendekati Mahisa Agni. Tiba-tiba ia menjadi terkejut, ketika dilihatnya di punggung Mahisa Agni masih terhunjam sebuah anak panah.

“Kau dilukai dengan cara ini?” bertanya Witantra. Mahisa Agni mengangguk. Sekali lagi ia bergumam, “Prajuritmu itulah yang melukai aku.”

Witantra menganggukkan kepalanya. Kemudian katanya pula, “Anak panah itu harus dicabut segera.”

“Cabutlah,” minta Mahisa Agni.

Witantra berpaling sesaat kepada semua orang yang berada di tempat itu. Dan tanpa ditanya, mereka telah mengerti, bahwa Witantra memerlukan bantuan mereka.

Beberapa orang kemudian memegangi pundak Mahisa Agni, sedang Witantra kemudian dengan perlahan-lahan mencabut anak panah itu. Mahisa Agni berdesis menahan nyeri yang menghentak-hentak punggungnya. Bahkan hampir-hampir saja ia mengeluh untuk mengurangi rasa sakit. Namun untunglah, bahwa daya tahan tubuh Mahisa Agni benar-benar mengagumkan. Sehingga ia tetap dalam kesadarannya ketika anak panah itu tercabut dari punggungnya. Tetapi demikian anak panah itu lepas, maka darahnya menjadi semakin banyak mengalir dari luka itu.

“Kau memerlukan pertolongan secepatnya.”

Mahisa Agni mengangguk.

“Adi,” berkata Witantra kepada Ken Arok, “marilah kita bawa Wiraprana ke Panawijen. Mungkin di rumahnya akan kita dapatkan obat-obatan yang dapat mengurangi arus darahnya.”

Kini Ken Aroklah yang menjadi heran. Tetapi ia tidak menjawab. Ia tahu benar bahwa yang dimaksud adalah Mahisa Agni. Karena itu, maka Mahisa Agni itu segera dibangkitkannya dan ditolongnya naik ke atas punggung kuda.

“Kita naiki kuda ini berdua,” bisik Ken Arok.

Mahisa Agni tidak menjawab, sementara Ken Arok telah meloncat duduk di belakangnya. Dengan sobekan kain Mahisa Agni maka Ken Arok mencoba untuk menahan atau setidak-tidaknya mengurangi darah yang mengalir dari luka itu.

Demikianlah maka segera mereka berpacu ke Panawijen kembali. Mereka mengharap bahwa luka Mahisa Agni tidak menjadi bertambah parah karena darah yang terlalu banyak mengalir. Meskipun demikian, Mahisa Agni itu pun menjadi bertambah-tambah lemahnya.

Ketika mereka memasuki padukuhan Panawijen, maka kembali mereka mengejutkan penduduknya. Beberapa orang yang mendengar derap kuda, menjadi ketakutan dan berlari-larian untuk menyembunyikan dirinya.

Kuda-kuda itu pun kemudian berlari menuju ke rumah Empu Purwa. Derap kakinya menghentak-hentak tanah yang keras, dan menimbulkan bunyi yang benar-benar mengerikan bagi penduduk Panawijen.

Ketika mereka mendekati rumah Empu Purwa itu, maka orang-orang yang berada di halaman segera mendengarnya. Mereka pun menjadi ketakutan, dan dengan serta-merta mereka berlari-larian pula. Tetapi ketika kuda-kuda itu memasuki halaman, maka di halaman itu masih berdiri Ki Buyut Panawijen, seorang emban tua, beberapa orang cantrik yang sedang menunggu sesosok tubuh yang terbaring diam.

Mereka menjadi terkejut sekali ketika mereka melihat Mahisa Agni duduk dengan lemahnya di hadapan Ken Arok. Segera mereka menjadi cemas. Mula-mula mereka menyangka bahwa Mahisa Agni terluka, dan anak muda itu menjadi seorang tawanan.

Tetapi mereka menjadi heran, ketika mereka melihat, demikian kuda-kuda itu berhenti, demikian Ken Arok meloncat turun dan menolong Mahisa Agni turun pula dari kudanya.

Halaman itu menjadi sedemikian tegangnya. Semua orang melihat Mahisa Agni yang luka itu. Dan tiba-tiba saja ketegangan halaman itu dipecahkan oleh jerit emban tua sambil berlari memeluk Mahisa Agni, “Agni, apakah yang terjadi?”

Mahisa Agni menelan ludahnya. Lehernya terasa seakan-akan menjadi kering. Karena itu ia berdesis, “Air.”

Perempuan tua itu segera berteriak kepada salah seorang cantrik, “Air, ambilkan air!”

Sementara itu Mahisa Agni itu pun kemudian dipapah naik ke pendapa. Dibaringkannya anak muda itu pada selembar tikar. Emban tua itu menjadi sedemikian cemasnya, sehingga tubuhnya bergetaran serta wajah menjadi sangat pucat, sepucat Mahisa Agni sendiri.

“Kenapa kau Agni,” bertanya emban tua itu.

Mahisa Agni mencoba tersenyum, jawabnya, “Aku tidak apa-apa, Bibi.”

“Kau terluka.”

“Tidak berbahaya,” sahut Mahisa Agni. Untuk meyakinkan emban tua itu Mahisa Agni berkata kepada Ken Arok, “Ken Arok, bukankah lukaku tidak berbahaya?”

Ken Arok mengangguk kaku. “Tidak,” desisnya.

Namun kecemasan masih membayang di wajahnya. Nafasnya menjadi semakin cepat mengalir dan bibirnya bergerak-gerak tetapi tidak sepatah kata pun yang meloncat dari mulutnya.

Ketika seorang cantrik kemudian membawa air kepadanya, dan dituangkannya kepada mulutnya, maka tubuh Mahisa Agni itu serasa menjadi semakin segar.

“Bibi, apakah bibi mengenal obat untuk luka ini,” desis Ken Arok kemudian.

Perempuan tua itu memandang Ken Arok dengan tajamnya. Ia melihat orang itu pergi bersama-sama dengan Akuwu Tumapel. Dan kini orang itu datang kembali membawa Mahisa Agni. Apalagi ketika ia melihat Witantra yang berdiri mematung di pendapa itu, masa perempuan itu menjadi bertambah tidak mengerti, apa yang telah terjadi.

Witantra itu pun kemudian berjongkok pula di samping Ken Arok. Ia melihat keheranan yang memancar dari mata perempuan tua yang menangisi Mahisa. Agni Karena itu ia berkata, “Bibi, semuanya nanti akan dapat Bibi ketahui. Sekarang, apakah Bibi mempunyai reramuan obat-obatan untuk luka itu?”

Emban tua itu tersadar dari keheranannya. Maka dengan serta-merta ia berdiri dan berlari ke dalam biliknya. Ia bukanlah seorang yang dapat memberikan obat kepada beberapa jenis penyakit, namun reramuan obat untuk luka-luka ia ada menyimpannya. Obat itu adalah pemberian Empu Purwa, seandainya ada para cantrik dan para endang menjadi terluka karena sesuatu sebab.

Ketika emban itu datang kembali, maka reramuan itu pun kemudian dicairkannya ke dalam beberapa tetes air. Dan dengan obat itulah kemudian luka Mahisa Agni diobati. Ternyata obat itu pun bermanfaat pula baginya. Darah yang mengalir dari luka itu pun kemudian berangsur terhenti.

Tetapi demikian luka itu menjadi bertambah pampat, maka segera perhatian mereka tertarik kepala beberapa orang, yang masih saja berdiri di halaman. Mahisa Agni yang lemah itu pun mencoba mengangkat kepalanya. Ketika terpandang olehnya wajah Buyut Panawijen yang suram, terdengarlah anak muda itu bertanya, “Bibi, apakah yang telah terjadi di rumah ini?”

Perempuan tua itu menelan ludahnya, seakan-akan ludah itu telah menyumbat kerongkongannya sehingga ia tidak dapat berkata apapun. Baru sesaat kemudian ia berkata, “Kau terlambat datang Agni. Bahkan kau datang dengan luka di punggungmu? Apakah kau bertemu dengan Kuda Sempana?”

“Ya, Bibi,” sahut Mahisa Agni.

“Dengan sekalian yang berada di sini sekarang?”

Mahisa Agni mengangguk.

“Lalu apakah yang terjadi atasmu?”

Mahisa Agni tidak menjawab. Tanpa disengajanya ia memandang kepada Ken Arok. Sehingga Ken Aroklah yang menjawab, “Agni terluka karena ia ingin mempertahankan gadis yang dibawa oleh Kuda Sempana itu.”

“Siapakah yang telah melukainya? Tuan?”

Ken Arok menggeleng. Tetapi wajahnya terbanting di lantai. Meskipun ia tidak melukai Mahisa Agni, namun ia bertempur pula melawan anak muda itu. Sehingga dengan demikian maka mau tidak mau, perasaannya pun tersentuh pula.

Yang menjawab kemudian adalah Witantra. Katanya, “Seorang prajurit yang licik telah melukainya.”

Perempuan tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terdengar ia bergumam “Mereka telah melakukan pembunuhan dan perampasan.”

Mahisa Agni terkejut mendengar kata-kata itu. Sehingga dengan serta-merta ia bertanya “Apakah telah terjadi pembunuhan? Bibi, aku belum mati. Adakah yang telah terbunuh?”

Emban tua itu tidak segera menjawab. Namun kemudian ia berpaling ke halaman. Ditatapnya beberapa orang yang tegak di bawah tangga, dan dilihatnya Ki Buyut Panawijen yang berjongkok.

“Bibi,” desak Mahisa Agni, “siapakah yang terbunuh? Seorang cantrik atau . . .?”

Tiba-tiba kata Mahisa Agni terputus. Ia melihat seseorang terbaring ketika ia memasuki halaman. Namun lukanya itu telah merampas segenap perhatiannya sehingga ia tidak sempat untuk memperhatikannya, selain berdesis menahan sakit yang menghentak-hentak. Sekali lagi Mahisa Agni mencoba mengangkat wajahnya. Dan sekali lagi dilihatnya beberapa orang berada di halaman itu.

“Siapa yang terbaring itu?” tiba Mahisa Agni berteriak,

Dilibatnya Buyut Panawijen itu berpaling. Kemudian tampaklah ia berdiri dan berjalan perlahan-lahan naik ke pendapa. Wajahnya yang sayu memandangi beberapa orang yang berjongkok di sekitar Mahisa Agni.

“Ki Buyut,” bertanya Mahisa Agni tidak sabar, “siapakah yang terbaring di halaman itu? Kenapa ia tidak dibawa naik?”

“Tidak perlu, Ngger Mahisa Agni. Biarlah ia terbaring di halaman. Ia akan segera aku bawa kembali.”

“Siapa? Siapa?”

“Wiraprana.”

“Wiraprana?” ulang Mahisa Agni. Alangkah terkejutnya anak muda itu. Meskipun perasaan itu telah menyentuh hatinya sejak ia mendengar bahwa seseorang telah terbunuh.

[divider line_type=”Full Width Line” custom_height=””]

Source : www.agusharis.net

~ Article view : [235]