Pelangi di Langit Singasari [ 11 ]

402

oleh S.H. Mintardja

[ Seri 11 ]

 

TERNYATA BUKAN SAJA Tunggul Ametung, yang menjadi gelisah. Beberapa orang perwira menjadi gelisah pula. Namun sebagian dari mereka sama sekali tidak memikirkan nasib gadis Panawijen itu apabila Witantra dikalahkan, sebab mereka hampir tidak tahu menahu persoalan itu. Yang mereka cemaskan, seandainya Witantra dapat dikalahkan oleh Kuda Sempana, maka sebagai prajurit-prajurit Tumapel, mereka akan menjadi malu. Harga diri mereka akan tersinggung karenanya. Mereka menjadi cemas benar-benar karena sama mereka sendiri. Karena kepentingan mereka masing-masing. Meskipun di dalam hati mereka tersimpan juga perasaan heran akan kelincahan Kuda Sempana. Sebagai pelayan dalam yang mempunyai kedudukan setengah prajurit itu, Kuda Sempana benar-benar dapat dibanggakan.

Berbeda dengan beberapa pelayan dalam yang hadir di tepi arena itu. Seperti juga para prajurit, mereka tidak menghiraukan persoalan yang tengah mereka perjuangkan. Mereka kini hanya dapat melihat suatu kebanggaan di dalam lingkungannya. Kuda Sempana ternyata tidak kalah tangkas dan lincahnya, meskipun ia sedang bertempur melawan seorang perwira prajurit pengawal istana. Salah seorang dari mereka tidak dapat mengendalikan perasaannya. Sehingga dengan penuh gelora kebanggaan ia berbisik kepada seorang pelayan dalam lain yang duduk di sampingnya, “Lihat, bukankah di lingkungan kami, ada juga seorang yang tidak kalah tangkasnya dari mereka yang telah disebut prajurit sepenuhnya?”

“Gila kau,” sahut kawannya itu, “itu bukan suatu keistimewaan. Sedang seorang petani, anak padesan mampu mengalahkan Kuda Sempana itu. Bahkan membunuhnya pun ia mampu.”

“Ah. Petani yang mana?”

Kawannya itu mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Aku mendengar dari seorang perempuan tua, keluarga petani itu. Kuda Sempana pernah diampuninya, meskipun seandainya ia mau, maka ia akan dapat memenggal leher Kuda Sempana itu dengan mudahnya.”

Pelayan dalam yang sedang berbangga itu mengerutkan keningnya. Apakah yang dikatakan kawannya itu sebenarnya telah terjadi atau hanya kawannya itu menjadi iri hati atas ketrampilan Kuda Sempana.

Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah kau berkata sebenarnya, atau perempuan tua itu membual?”

“Sebenarnya. Kuda Sempana belum apa-apa. Lihat, kalau Witantra telah dapat menindas keragu-raguannya maka Kuda Sempana akan segera dapat dilemparkan dari arena.

“Gila. Apakah kau tidak berbangga atas kemenangan kawan kita itu?”

“Hm. Tidak. Terkutuklah Kuda Sempana itu. Kau iri hati.”

“Tidak. Aku berani melawannya. Aku pernah bertempur dengan anak padesan yang mampu mengalahkan Kuda Sempana itu. Dan anak muda itu belum mampu mengalahkan aku.”

Pelayan dalam itu berpaling. Ia terkejut ketika dilihat wajah kawannya yang merah membara. Kawannya itu ternyata adalah Ken Arok.

Pelayan dalam, kawan Ken Arok yang tidak banyak mengetahui persoalannya itu menjadi sangat heran. Kenapa Ken Arok seolah-olah menjadi marah melihat perkelahian itu, sehingga tanpa sesadarnya ia bertanya, “Kenapa kau Ken Arok.”

Ken Arok tidak menjawab. Matanya yang bulat masih saja memandang perkelahian itu hampir tanpa berkedip.

“Ken Arok,” berkata kawannya, “bukankah dengan demikian maka orang tidak akan dapat menganggap kami orang-orang banci yang tidak berarti di halaman istana ini selain menjadi pesuruh. Mengantarkan perintah Akuwu akan melihat gedung-gedung perbendaharaan, memelihara pusaka-pusaka dan pekerjaan itu yang semacamnya. Bukankah dengan demikian mata seluruh penduduk Tumapel akan terbuka, bahwa kami pun prajurit-prajurit yang mampu mengerahkan tenaga dan bertempur seperti selayaknya prajurit.

“Tidak perlu,” sahut Ken Arok pendek.

Kawan itu menjadi semakin heran. Dengan dahi berkerut-kerut ia bertanya pula, “Kenapa? Apakah kita tidak memiliki kebanggaan atas kesatuan kita?”

“Kali ini yang penting bukan kesatuan. Bukan seorang pelayan dalam dan seorang prajurit. Kalau kau berpikir demikian, dan para prajurit itu juga berpikir seperti kamu, maka akan segera timbul pertengkaran antara kita.”

“Bukan begitu Ken Arok. Bukan begitu.”

“Sudahlah. Lihat, sekarang Witantra sudah agak maju. Ia sudah hampir berhasil menindas kebimbangannya. Ia terlalu jujur dan baik hati.”

Kawannya masih tetap tidak dapat mengerti, kenapa Ken Arok tidak berpihak kepada Kuda Sempana. Sehingga sekali lagi ia bertanya, “Kenapa kau berpihak pada perwira itu, apakah sebentar lagi akan berpindah ke kesatuannya.”

“Tidak. Tetapi aku melihat persoalannya. Bukan siapakah yang sedang melakukan. Aku tidak peduli apakah Kuda Sempana itu dari kesatuanku apakah ia adikku atau ayahku sekalipun. Ia berada di pihak yang salah.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Sekali ia menarik nafas. Kenapa Kuda Sempana bersalah. Kalau ia bersalah, maka Akuwu pasti akan menangkap dan menghukumnya. Pasti ada sesuatu sebab, kenapa Akuwu memberinya kesempatan. Tetapi ketika ia hampir membuka mulutnya, terdengar ken Arok berdesis tajam, “Jangan bicara lagi. Aku tidak senang mendengarnya. Sebab kau berpihak tanpa mengetahui persoalannya. Sedang aku berpihak pada kebenaran. Nanti kita akan bertengkar sendiri. Besok kalau kau sudah mendengar ceritera yang sebenarnya kau akan sependapat dengan aku.”

Orang itu mengurungkan niatnya. Ketika ia memperhatikan perkelahian di arena, maka kembali keningnya berkerut. Perkelahian itu telah berubah sama sekali. Ia tidak melihat lagi Kuda Sempana mendesak Witantra terus menerus. Kini yang dilihatnya perkelahian itu menjadi agak seimbang. Hanya sekali-kali Kuda Sempana berhasil mendorong Witantra surut dan mencoba memburunya. Namun sesaat kemudian Witantra telah menemukan keseimbangannya kembali, sehingga dengan cepatnya ia mendahului menyerang dan segera ia mendapatkan tempatnya kembali.

Pelayan dalam kawan Ken Arok, mengerutkan keningnya. Ia mulai ragu-ragu dengan penglihatannya. Apakah benar Witantra akan dapat mengalahkan Kuda Sempana? Namun kemungkinan itu masih jauh. Sekali-kali ia masih melihat Kuda Sempana menguasai arena. Karena itu ia menarik nafas dalam-dalam.

Bahkan kembali ia bergumam, “Kedudukan Kuda Sempana masih cukup baik.”

Ken Arok tidak menjawab. Tetapi ia menggigit bibirnya untuk menahan kejengkelannya. Namun kawannya itu agaknya sama sekali tidak puas dengan pendirian Ken Arok, sehingga ia berkata, “Huh, aku sangka, Witantra itu tidak akan bertahan lebih lama. Ia hanya sekedar orang yang berlagak sakti. Lihat itu adik-adik seperguruannya yang nakalnya bukan main. Kebo Ijo. Untung ia tidak jadi kawin dengan adikku. Sekarang bakal isterinya hampir-hampir tak pernah diperhatikannya lagi. Ia sudah akan kawin meskipun masih terlalu muda karena kebengalannya. Masih terpandanglah adiknya yang lain Mahendra.

Ken Arok menjadi semakin jemu mendengar kata-kata itu. Kalau tidak di lingkungan orang banyak maka mulut orang itu pasti sudah disumbatnya. Namun kini ia hanya dapat menggeser untuk beberapa jengkal.

Tetapi orang itu benar-benar menjengkelkan. Ia bergeser pula mengikutinya sambil berkata, “He, Ken Arok. Apakah kau ingin supaya kau yang mengganti Kuda Sempana bertempur melawan Witantra supaya kau mendapat hadiah itu?”

Ken Arok menggeram. Akhirnya ia menjawab. “Aku ingin menggantikan Witantra dan mencekik leher Kuda Sempana.”

Kawannya tertawa perlahan. Desisnya, “Kau benar iri. Kalau tidak kau tidak akan berbuat begitu.”

Ken Arok hampir tak dapat menguasai dirinya. Sesaat ia bingung bagaimana caranya membungkam mulut kawannya itu. Tiba-tiba itu, tangannya yang kuat itu perlahan-lahan menyobek tikar tempat duduknya, dan dari bawah tikar itu diambilnya sebuah batu.

Ketika kawan di sampingnya masih berkata pula, Ken Arok memotongnya, “Kau mau diam atau tidak?”

Orang itu bahkan tertawa meskipun perlahan-lahan. Kemudian jawabnya, “Itu adalah urusanku. Apakah aku mau berkata terus, atau aku mau diam.”

“Tetapi kau mengganggu aku.”

“Salahmu. Kalau kau terasa terganggu.”

“Jangan tunggu sampai aku membungkam mulutmu.”

Orang itu membelalakkan matanya dengan marahnya. Bahkan ia berkata, “Jangan sombong orang baru. Aku bunuh kau nanti.”

Kini Ken Arok benar tidak dapat menahan dirinya. Sehingga dengan geramnya ia menunjukan sebuah batu di tangannya itu sambil berkata, “Lihat, inilah mulutmu itu.”

“Mau apa kau,” tantang kawannya.

Ken Arok tidak menjawab, tetapi tiba-tiba kedua tangannya meremas batu di tangannya sehingga pecah menjadi tiga.

Ternyata karena luapan kemarahannya, Ken Arok telah menghimpun kekuatannya di dalam tangannya itu, sehingga dengan satu gerakan yang luar biasa dahsyatnya, tangannya berhasil memecahkan batu itu tanpa berkisar dari tempat duduknya.

Kawannya pelayan dalam yang duduk di samping, yang dengan bicaranya telah membakar kemarahan Ken Arok itu terkejut bukan alang kepalang. Seperti melihat hantu di bawah terik matahari ia membelalakkan matanya.

“Batu itu pecah,” gumamnya di dalam hati, “ya, pecah. Dan sepasang mata ini telah melihat.”

Tiba-tiba tubuhnya menggigil menahan perasaannya yang bergolak itu. Hampir tidak mungkin terjadi, dan ia tidak akan percaya seandainya orang lain yang mengatakan kepadanya, bahwa sambil duduk tepekur Ken Arok mampu memecahkan batu-batu dengan jari-jarinya. Tetapi itu telah terjadi.

Mulut orang itu bergetar, namun ia tidak dapat mengucapkan sepatah katapun. Ketika Ken Arok meletakkan pecahan batu itu di pangkuannya, orang itu sama sekali tidak mampu untuk menerima dengan tangannya. Apalagi ketika ia mendengar Ken Arok berdesis, “Nah. Lihat batu itu, Kalau kau berkata sepatah kata lagi, apalagi memuji Kuda Sempana atau mengancam membunuh aku, maka mulutmulah yang akan aku remas seperti batu itu. Aku yakin bahwa mulutmu pasti lebih lunak daripada batu. Bagaimana?”

Seperti dikuasai oleh kekuatan yang tak dimengerti maka orang itu menganggukkan kepalanya berkali-kali seakan-akan ia ingin meyakinkan, bahwa ia benar-benar tidak akan berkata sepatah katapun lagi.

“Lihat arena itu,” geram Ken Arok.

Orang itu mengangkat wajahnya, dan dilihatnya apa yang terjadi di arena.

Kembali ia terkejut. Keseimbangan perkelahian itu benar-benar telah berubah. Ternyata, Witantra yang mendapat tekanan terus menerus tanpa terkendali, akhirnya sedikit demi sedikit kesabarannya berguguran seperti batu padas di pinggir lautan. Sedikit demi sedikit gelombang menggamitnya siang dan malam. Sehingga akhirnya, selapis demi selapis, betapapun tipisnya, batu padas itu pun akan rontok.

Demikianlah Witantra kemudian telah hampir kehilangan kesabaranya. Dengan sekuat tenaga ia telah berhasil menindas keragu-raguannya. Namun meskipun demikian, ia sama sekali tidak kehilangan ketenangan dan kesadarannya, bahwa apa yang dilakukan bukanlah suatu nyala dendam di dalam hati, bukan suatu keharusan untuk memusnahkan, tetapi sekedar untuk menundukkan hati Kuda Sempana yang keras sekeras batu hitam.

Demikianlah kemudian ternyata, bahwa prajurit perwira pengawal istana itu dapat menguasai keadaan sebaik-baiknya. Betapapun dahsyatnya tenaga dan kemampuan Kuda Sempana, namun ilmu yang tersimpan di dalam diri Witantra mampu mengimbanginya. Witantra adalah seorang yang memiliki perbendaharaan pengalaman yang sangat luas. Perang tanding, gelar-gelar perang dan bahkan dalam perang-perang berubuh yang kacau. Itulah sebabnya, maka ia mempunyai banyak cara untuk menundukkan musuh-musuhnya.

Kali ini Witantra menempuh cara yang sangat sederhana. Dibiarkannya lawannya bekerja mati-matian. Dilayaninya lawan itu secukupnya, asal dirinya sendiri tidak terjatuhkan karenanya. Dan kemudian dibiarkannya lawan itu menjadi sedemikian bernafsu. Akhirnya lawannya akan berhenti kelelahan.

Demikianlah maka setiap kali Witantra hanya memancing nafsu Kuda Sempana yang sedang meluap-luap. Sekali ia menyerang, menyentuhnya apabila mungkin, atau menekannya seketat-ketatnya. Apabila Kuda Sempana kemudian melepaskan semua kekuatan, kemampuan dan tenaganya, maka dibiarkannya kuda Sempana menghabiskan nafasnya sendiri. Witantra melawannya sekedar untuk membebaskan dirinya dari serangan yang berbahaya.

Beberapa orang melihat cara yang ditempuh Kuda Sempana itu. Akuwu Tumapel pun melihat pula. Dalam kebingungannya Akuwu Tumapel tidak dapat menilai, apakah cara itu adalah cara yang sebaik-baiknya. Sekali-kali ia berpaling, dicarinya orang-orang yang akan dapat diajaknya berbicara untuk mengurangi ketegangan yang menghimpit perasaannya. Tetapi orang-orang yang duduk di belakangnya adalah orang-orang yang sama sekali tidak tahu menahu persoalan itu dengan baik, sehingga Akuwu takut, seandainya ada kata-katanya yang terloncat tanpa disadarinya.

Tetapi agak jauh di belakang, tiba-tiba dilihatnya Ken Arok dengan wajah yang tidak kalah tegangnya dengan wajah Tunggul Ametung sendiri. Karena itu dengan serta merta, Tunggul Ametung melambaikan tangannya, memanggil Ken Arok untuk maju dan duduk di sampingnya.

Ken Arok menjadi ragu-ragu sejenak. Sekali-sekali ditebarkannya pandangan matanya berkeliling. Ia mengerutkan keningnya ketika dirasanya semua mata sejenak melepaskan perkelahian di arena dan memandang kepadanya.

Sekali lagi Tunggul Ametung melambaikan tangannya. Dan Ken Arok tidak dapat menolaknya. Apabila ia tidak segera datang, maka Tunggul Ametung itu pasti akan berteriak-teriak membentaknya. Karena itu, sambil berjongkok ia beringsut maju. Melampaui beberapa pemimpin pelayan dalam dan kemudian beberapa perwira dari berbagai kesatuan. Akhirnya ia duduk di belakang Tunggul Ametung. Namun terasa Tunggul Ametung itu menyambar tangannya dan menariknya dekat di sampingnya.

Alangkah kuatnya tangan itu. Ketika jari-jari Tunggul Ametung menyentuhnya, serasa sebuah himpitan besi melingkari tangannya. Sehingga sebelum ia menyadari keadaannya, ia sudah terpaksa beringsut maju.

Ken Arok menjadi berdebar-debar. Bukan saja karena ia duduk di samping Akuwu, di muka para perwira dan pimpinan pemerintahan, namun demikian, diketahuinya, betapa kuatnya tangan Akuwu Tunggul Ametung. Betapa tenaga yang tersirat dan di dalam tubuhnya.

Baru Sejenak kemudian, tubuh Ken Arok telah dibasahi oleh keringat dinginnya. Sebagai seorang pelayan dalam dari tingkat yang paling rendah, maka tiba-tiba ia harus duduk di samping Akuwu Tunggul Ametung, di muka para perwira dan pimpinan pemerintahan. Betapapun juga hati Ken Arok bergetar semakin cepat. Mungkin Akuwu lebih mengenalnya dari kawan-kawannya, dan itu hanya karena seorang Pendeta langsung menyerahkannya untuk menghamba kepada Tunggul Ametung sendiri. Tetapi untuk kemudian langsung duduk di sampingnya dalam keadaan yang resmi itu benar-benar mendebarkan.

Ternyata beberapa orang pun menjadi heran, kenapa Akuwu memanggil seorang pelayan dalam yang belum lama menghambakan diri di Tumapel. Namun segera mereka kehilangan perhatian atas persoalan itu, sebab mereka semuanya telah mengenal tabiat dari Akuwu Tunggul Ametung.

Di samping kegelisahannya tentang dirinya, Ken Arok tak habis pikirnya, kekuatan apakah yang menyebabkan tangan Akuwu itu serasa sekeras besi. Seorang pelayan dalam, kawannya, hampir mati beku melihat jari-jarinya mampu memecahkan sebutir batu. Apalagi kalau dirasakannya betapa keras dan kuatnya tangan Tunggul Ametung dalam keadaan yang wajar itu. Bagaimanakah kira-kira kekuatan tangan itu apabila dilambari oleh pemusatan kekuatan lahir dan batinnya. Mustahil seorang Akuwu tidak menyimpan ilmu yang kuat di dalam dirinya.

“Kalau Akuwu Tunggul Ametung sendiri yang tampil di arena, maka aku kira Kuda Sempana akan menjadi lumat,” pikir Ken Arok.

Sementara perkelahian masih berlangsung terus. Witantra masih membiarkan lawannya menyerangnya dengan sepenuh nafsu kemarahannya. Witantra masih melayaninya dengan cara yang sama, membiarkan lawannya berhenti kelelahan.

Akuwu Tunggul Ametung menggeram-geram dan demikian katanya kepada Ken Arok perlahan serangan dengan lihat dalam perkelahian itu?”

Ken Arok menjadi bingung. Bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu. Apakah sebenarnya yang dilihatnya? Kuda Sempana bertempur mati-matian dan Witantra berjuang untuk mempertahankan dirinya?”

Sekali lagi Tunggul Ametung mendesaknya, “He apa yang kau lihat? Apakah kau tidur?”

Ken Arok tidak dapat menjawab lain dari pada yang dilihatnya, Karena itu dengan terburu-buru ia berkata, “Hamba melihat kakang Witantra mencoba mengalahkan lawannya dengan memberinya kesempatan berbuat sebanyak-banyaknya sehingga kemudian ia akan menjadi sangat lelah.

“Ya. Kedua-duanya tolol,” geram Tunggul Ametung, “alangkah bodohnya Kuda Sempana. Ia dapat berbuat lain dari pada menghabiskan nafasnya. Dan alangkah bodohnya Witantra. Ia dapat mempersingkat perkelahian itu dan ia akan cepat selesai pula.

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Pendapat Akuwu Tunggul Ametung itu tepat benar menurut penilaian Ken Arok. Sekali ia berpaling memandangi wajah Akuwu yang tegang, namun kemudian kembali matanya terlempar ke arena, kepada Witantra dan Kuda Sempana yang lagi memeras tenaganya.

Tetapi, Witantra dan Kuda Sempana sendiri ternyata berada dalam keadaan yang berbeda. Meskipun di dalam dada Witantra kadang-kadang timbul pula keinginannya untuk segera mengakhiri perkelahian, namun untuk menundukkan Kuda Sempana bukanlah pekerjaan yang terlalu mudah baginya. Sekali-kali ia telah mencoba pula, menyerang seperti badai menghantam gunung meskipun ia masih selalu diganggu oleh kesadarannya bahwa ia tidak harus mencederai lawannya, namun Kuda Sempana mampu saja menyelamatkan dirinya, dan masih saja berhasil bertahan dan menyerangnya … terasa oleh Witantra bahwa agaknya Kuda Sempana masih dapat mengendalikan dirinya sehingga geraknya … kan segenap kemarahan dan sakit hatinya … kemudian dipergunakan oleh Witantra.

Dalam pada itu Kuda Sempana yang sedang berkelahi mati-matian itu, benar-benar kehilangan pengamatan. Bagi mereka yang duduk diluar arena, segera dapat melihat, bahwa Witantra menunggunya sampai tenaganya terperas habis. Tetapi bagi Kuda Sempana sendiri yang berada di arena, yang melihat perkelahian itu tanpa jarak, tidaklah segera ia dapat merasakan siasat Witantra itu. Apalagi Witantra melakukan dengan baik dan cermat. Sekali-kali Witantra ia memancingnya dalam pemerasan tenaga dan nafas, namun kemudian dibiarkannya Kuda Sempana menyerangnya bertubi-tubi.

Ia hanya berusaha menghindari serangan-serangan itu dan mencoba membiarkan Kuda Sempana menjadi semakin garang.

Namun perkelahian itu semakin lama menjadi semakin cepat pula. Kuda Sempana benar-benar telah mengerahkan segenap kemampuan dan kecakapannya. Sehingga beberapa orang yang berada diluar arena menjadi semakin tegang. Apakah Witantra akan tetap pada pendiriannya? Membiarkan Kuda Sempana berhenti dengan sendirinya?”

Tetapi keadaan ternyata segera berubah. Witantra semakin lama semakin kehilangan kesempatan untuk mempertahankan diri. Serangan-serangan Kuda Sempana mengalir seperti banjir bandang. Dilandanya semua yang menghalang-halanginya. Semakin lama semakin dahsyat, dan semakin lama derunya semakin cepat. Sehingga kemudian Witantra pun selalu terdesak.

Akhirnya Witantra tidak dapat bertahan dengan caranya. Meskipun ia akan dapat lebih lama bertahan, namun apabila pada suatu ketika serangan Kuda Sempana benar-benar berhasil mengenainya di tempat-tempat yang berbahaya, maka ia pasti akan kehilangan semua kesempatan. Karena itu, maka tiba-tiba ia merubah caranya. Meskipun ia tidak ingin mencelakakan Kuda Sempana, tetapi melawan seseorang yang bertempur diantara hidup dan mati, maka adalah bukan salahnya apabila ia terpaksa mengerahkan segenap kemampuan yang ada pula.

Itulah sebabnya kemudian Witantra menggeram dan dengan dahsyatnya ia mulai membalas setiap serangan dengan serangan.

Perubahan pada tata gerak Witantra benar-benar menarik perhatian mereka yang berada diluar arena. Mereka melihat bahwa Witantra berusaha untuk menemukan keseimbangan dalam perkelahian itu. Namun dengan demikian, maka dapat terjadi kemungkinan-kemungkinan yang sama sekali tidak dikendaki. Dalam perkelahian yang sama-sama keras dan tegang, maka perkelahian itu akan benar-benar menjadi perang tanding dalam tingkat yang tertinggi. Sampai mati.

Witantra semula sama sekali tidak menghendakinya. namun ia tidak mau menjadi korban karenanya. Ia menghindari pembunuhan, tetapi ia juga tidak mau terbunuh dalam arena itu.

Serangan-serangan Witantra yang kemudian menjadi semakin dahsyat, terasa pula oleh Kuda Sempana. Anak muda yang semula merasa bahwa ia akan berhasil mengusai lawannya, tiba-tiba menjadi cemas dan ragu-ragu. Kenapa tiba-tiba saja Witantra mampu melawan semua serangan-serangannya dan bahkan dengan dahsyatnya segera menyerang kembali? Dalam kecemasan itu, Witantra mendesaknya terus. Bahkan kemudian terdengar Witantra berdesis, “Sampai kapan perkelahian itu akan berlangsung adi?”

Kuda Sempana menggeram. Ia tidak peduli apa saja yang akan terjadi atas dirinya. dan diri lawannya sehingga karena itu ia menjawab, “Sampai setiap orang tahu bahwa memang akulah yang berhak atas gadis itu.”

“Jangan berkeras kepala,” sahut Witantra, “aku akan memperketat serangan seterusnya, apabila kau tidak segera mengakui, bahwa kau akan melepaskan niatmu memiliki Ken Dedes itu.”

“Setan,” hampir saja Kuda Sempana berteriak, namun untunglah bahwa suaranya seolah-olah tersangkut di kerongkongan. Namun dengan demikian kemarahannya menanjak sampai ke puncak ubun-ubunnya. Sehingga tanpa sesadarnya, Kuda Sempana telah benar-benar memeras segenap tenaga yang ada di dalam dirinya.

Tetapi ternyata Kuda Sempana benar-benar tidak mampu melampaui ketangguhan tenaga Witantra yang mempunyai pengalaman yang sangat luas itu. Apalagi ketika Witantra tidak ia lagi sekedar menunggu Kuda Sempana kelelahan, setelah ia menentukan tekad, bahwa apabila terjadi sesuatu di dalam arena itu, ia sama sekali tidak menghendakinya. Namun adalah mungkin sekali bahwa bermain air akan dapat menjadi basah.

Meskipun demikian, Witantra masih saja menyadari keadaan. Ia benar-benar tidak ingin mencelakakan lawannya, apalagi membunuhnya. Ia hanya ingin menjatuhkannya, dan apabila terpaksa melukainya, maka luka itu akan segera dapat disembuhkan.

Tetapi tidak demikian dengan Kuda Sempana. Ia telah kehilangan segala macam ketenangan berpikir. Kini ia merasa bahwa tenaganya semakin lama menjadi semakin surut sebelum ada tanda-tanda bahwa ia akan segera mampu mengalahkan Witantra, bahkan Witantra itu nampaknya semakin lama menjadi semakin garang. Karena itu, setelah ia kehabisan segenap pertimbangannya, setelah ia kehilangan setiap kesempatan untuk memenangkan pertandingan itu, maka sampailah ia pada kesimpulan yang berbahaya. Ia kini sedang melakukan perang tanding, sehingga apapun yang dilakukan, yang bersumber pada dirinya, baginya sama sekali tidak menyalahi ketentuan dan kejantanan. Karena setiap kemampuan yang ada pada dirinya adalah bagian dari dirinya itu, dirinya yang sedang melangsungkan perang tanding di arena.

Maka dengan demikian, Kuda Sempana sampai pada kesimpulan bahwa suatu ketika akan dipergunakannya kemampuannya yang tertinggi.

Tunggul Ametung yang menyaksikan perubahan-bahan di dalam tata gerak Witantra, mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajahnya kini tidak lagi setegang beberapa saat sebelumnya, seakan-akan ia telah menemukan keyakinan, bahwa Witantra akan dapat menguasai keadaan betapapun lambatnya.

Semula Tunggul Ametung benar-benar tidak telaten melihat cara Witantra bertempur. Menunggu, membiarkan lawannya berbuat terlampau banyak. Itu membuang waktu dan waktu baginya adalah sangat penting pada saat-saat itu. Karena tiba-tiba saja ia ingin melihat, apakah gadis yang sedang sakit itu telah menjadi berkurang, atau bahkan menjadi semakin keras.

“Mudah-mudahan dukun tua itu mampu mengurangi penderitaannya,” gumamnya di dalam hati.

Namun dengan demikian, nafsunya untuk segera melihat perkelahian itu berakhir menjadi semakin besar. Ia ingin segera meninggalkan tempat itu dan pergi ke sentong tengen melihat gadis Panawijen yang telah menggemparkan istana Tumapel itu.

Ketika Akuwu Tunggul Ametung itu berpaling, dilihatnya Ken Arok menarik nafas dalam-dalam, Ken Arok itu pun segera menemukan perubahan-bahan yang terjadi dalam perkelahian itu. Karena itu, maka iapun menjadi berlega hati.

“Apa,” desis Tunggul Ametung.

Ken Arok terkejut mendengar pertanyaan itu, sehingga tanpa sesadarnya ia menyembah, “Ampun tuanku. Hamba tidak apa-apa.”

“Ada sesuatu yang kau lihat?”

“Hamba tuanku.”

“Witantra mau mati?”

“Tidak tuanku. Kakang Witantra merubah tata geraknya.”

“Anak yang bodoh itu masih saja membuang-buang waktu. Ia takut Kuda Sempana lecet kulitnya. Apa pedulinya kalau Kuda Sempana sendiri bertempur dengan sepenuh tenaganya, bahkan dengan kasar dan keras.”

Ken Arok tidak menjawab. Ia hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya.

Namun tiba-tiba mata Ken Arok itu pun terbelalak. Bukan saja Ken Arok tetapi hampir semua orang yang berada di tepi arena itu. Apalagi Tunggul Ametung sendiri. Sesaat ia terdiam seperti patung, namun kemudian mulutnya berdesis, “Gila, Kuda Sempana itu.”

Tetapi Kuda Sempana berbuat terus. Ia sudah bertekad untuk membunuh atau dibunuh, sehingga karena itulah maka tidak ada pilihan lain dari pada melepaskan puncak kesaktiannya, aji Kala Bama.

Apa yang dilakukan oleh Kuda Sempana benar-benar mengejutkan para perwira dan kesatria yang berada diluar arena. Segera mereka memaklumi apa yang akan dilakukan oleh Kuda Sempana. Sebagian dari mereka menjadi cemas, heran dan sebagian lagi merasa aneh bahwa Kuda Sempana memiliki kekuatan yang akan disalurkan lewat sebuah ilmu yang pasti dahsyat sekali. Namun mereka masih harus menilai, sampai sejauh mana kekuatan itu dapat menembus kekuatan lawannya.

Bahkan ada diantara mereka yang terpaksa menahan nafasnya. Mereka yang merasa dalam dirinya tidak memiliki rangkapan apapun selain kekuatan-kekuatan tenaganya serta ketrampilan geraknya menjadi ngeri. Apakah Witantra akan mampu melawan Kuda Sempana dalam puncak kekuatannya. Mereka hanya mengharap ketrampilan dan kelincahan Witantra, sehingga ia mampu menghindari setiap sentuhan dari kekuatan yang akan dipancarkan oleh lawannya.

Ketika Kuda Sempana merentangkan tangannya dan kemudian sekali meloncat ke udara sambil menggeram mengerikan, maka semua orang menjadi tegang. Bahkan demikian tegangnya Akuwu Tunggul Ametung, sehingga tanpa sesadarnya, Akuwu itu bangkit berdiri dengan serta merta dan gigi gemeretak. Lamat-lamat terdengar suaranya yang seolah-olah ditelannya kembali, “Kala Bama.”

Sebenarnya Tunggul Ametung adalah seorang sakti yang luas pengetahuan serta pengalamannya, sehingga dengan gerak-gerak pemusatan tenaga, segera ia mengenal bahwa Kuda Sempana telah menyiapkan sebuah ilmu yang mengerikan, Kala Bama.

Dengan cemasnya Tunggul Ametung memandangi Witantra yang betapa terkejutnya melihat lawannya memusatkan segenap kekuatan lahir batinnya dalam sebuah Aji yang dahsyat. Sekilas Witantra melihat Akuwu Tunggul Ametung berdiri dan Ken Arok menegakkan kepalanya dengan mata yang terbelalak. Disadarinya apa yang sedang dihadapinya. Ternyata Kuda Sempana benar-benar telah menempatkan dirinya dalam pertempuran antara hidup dan mati.

“Alangkah mahalnya nilai gadis itu bagi Kuda Sempana,” desis Witantra di dalam hatinya. Namun ia tidak dapat membiarkan dirinya binasa. Tidak dapat membiarkan dirinya lumat digilas oleh nafsu Kuda Sempana yang menyala-nyala. Nafsu untuk menguasai apa saja yang dikehendakinya tanpa mempertimbangkan keperluan, hak dan kepentingan orang lain.

Witantra adalah seorang prajurit yang pilih tanding, Seorang yang hampir seluruh hidupnya diserahkan dalam satu perjuangan dalam lingkungan keprajuritan. Karena itu, maka adalah sudah diketahuinya, sudah diduganya, bahwa suatu ketika ia akan berhadapan dengan bahaya yang mengancam jiwanya. Karena itulah maka Witantra pun telah menyiapkan dirinya menghadapi bahaya-bahaya yang demikian.

Demikianlah, ketika ia melihat Kuda Sempana menyiapkan dirinya dalam puncak ilmunya, maka Witantra pun segera merendahkan dirinya pada kedua lututnya. Digenggamnya kedua tangannya dan disilangkannya kedua lengannya di muka dadanya. Sesaat Witantra terpaku di tempatnya, seolah-olah kedua kakinya menghunjam ke dasar bumi. Wajahnya menegang, dan tubuhnya seperti menjadi kejang. Namun sesaat kemudian terpancarlah dari wajahnya, seakan-akan ungkapan dari kekuatan yang terhimpun di dalam dirinya.

Ketika Tunggul Ametung melihat sikap dan kemudian wajah Witantra yang tegang itu, tiba-tiba ia menarik nafas dalam-dalam. Kengerian yang membayang di matanya kini telah berkurang. Dengan demikian, maka Witantra pun memiliki bekal untuk melawan aji Kala Bama, dan bahkan Tunggul Ametung itu pun berdesis meskipun seolah-olah hanya di dalam mulutnya, “Ayolah Witantra, apapun kekuatanmu itu, lawanlah Kala Bama dengan sekuat tenaga. Bukankah kau tengah menyiapkan Aji Bajra Pati.”

Namun waktu seakan-akan berjalan cepat sekali. Yang mereka lihat, kemudian adalah Kuda Sempana menggeram dahsyat dan dengan sebuah loncatan yang cepat, secepat petir meloncat di langit, tangannya menyambar dada Witantra.

Witantra masih tegak seperti tonggak. Ia sama sekali tidak berkisar dari tempatnya. Namun ketika ia melihat Kuda Sempana seperti terbang memekik dari udara menerkam dirinya, maka kembali tubuhnya seakan-akan menjadi kejang. Kedua tangannya yang bersilang itu digerakkannya beberapa jari ke depan menyongsong tangan Kuda Sempana yang menyambarnya dengan dahsyatnya.

Sesaat kemudian terjadilah benturan antara keduanya. Kala Bama melawan kekuatan yang terpancar dari tubuh Witantra dalam lambaran Aji yang diterima dari gurunya, “Bajra Pati.”

Benturan itu benar-benar menggeletarkan setiap hati mereka yang menyaksikannya. Benturan antara dua kekuatan yang dahsyat, dua kekuatan yang sukar dicari tandingannya. Dan di arena itu, di belakang istana, kedua kekuatan itu telah berbenturan.

Kuda Sempana yang telah menjadi mata gelap dan melontarkan kekuatannya yang terakhir, mengharap bahwa dengan demikian ia akan segera dapat mengakhiri perkelahian yang menjemukan itu. Ia mengharap, meskipun ia terpaksa membunuh Witantra, namun Ken Dedes akan tetap menjadi miliknya. Seandainya Akuwu kemudian mengingkari janjinya dan bahkan menangkapnya, maka namanya akan menjadi buah bibir dan semua orang akan mengaguminya sebagai seorang pahlawan dalam bercinta. Ia telah membuktikan bahwa seorang wanita bagi kesatria sama harganya dengan pusaka dan nyawanya.

Tetapi alangkah terkejutnya ketika tiba-tiba ia melihat sikap Witantra yang meyakinkan. Namun ia masih tidak percaya bahwa ada orang lain kecuali anak Panawijen yang gila, Mahisa Agni, yang mampu melawan aji Kala Bama.

Tetapi ternyata, demikian tangannya menyentuh tangan Witantra, terasa seakan-akan tangannya itu membentur benteng baja. Demikian hatinya berdesir tajam, demikian ia menyadari, bahwa kekuatan Witantra ternyata mampu mengimbanginya, seperti kekuatan Mahisa Agni seakan-akan telah melumpuhkannya beberapa hari yang lampau. Sesaat matanya menjadi gelap kunang-kunang. Meskipun demikian ia masih melihat Witantra terdorong dan terhuyung-huyung ke belakang.

Tetapi Kuda Sempana tidak melihat apa yang terjadi dengan Witantra seterusnya. Tiba-tiba saja dadanya serasa menjadi sesak, dan nafasnya seakan-akan tersumbat.

Kuda Sempana memejamkan matanya ketika langit seolah-olah runtuh menimpa kepalanya. Sekali ia merasa dirinya berputar, kemudian terbanting diatasi tanah. Ketika ia berusaha untuk bangkit kembali, maka Kuda Sempana sama sekali tidak berhasil menggerakkan tubuhnya yang menjadi sangat lemah. Seakan-akan segala otot-ototnya telah terlepas dari kulit dagingnya. Meskipun demikian ia berusaha sekuat-kuat tenaganya, untuk mempertahankan kesadarannya.

Kuda Sempana masih mendengar suara bergemeremang di sekitar arena. Suara yang bersahut-sahutan namun tidak jelas baginya. Ia masih juga merasakan langkah-langkah kaki mendekatinya. Namun ia masih tetap berdiam diri, mengatur semua kekuatan yang tersisa di dalam tubuhnya. Memusatkan segenap pikiran dan perasaan supaya ia tidak menjadi pingsan.

Perlahan-lahan, karena hembusan angin yang lemah, maka terasa tubuh Kuda Sempana menjadi semakin segar, perlahan-lahan terasa darahnya yang seolah-olah membeku mengalir kembali menyelusuri urat nadinya. Sedikit demi sedikit kekuatannya terasa timbul kembali.

Ketika terasa beberapa pasang tangan menyentuhnya dan mencoba mengangkatnya, Kuda Sempana telah dapat menggerakkan tangannya. Didorongnya tangan yang akan membantunya atau mengangkatnya menepi. Dengan sepenuh sisa tenaganya, Kuda Sempana membuka matanya dan berdesis, “Aku tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa.”

Tangan-tangan yang telah menyentuhnya dan mencoba mengangkatnya itu pun kemudian serentak melepaskannya. Beberapa orang yang berdiri di sekitarnya surut selangkah, dan membiarkan Kuda Sempana mencoba bangkit dan duduk bertelekan kedua tangannya.

“Aku tidak apa-apa,” desisnya. Meskipun demikian nafasnya masih mengalir tidak teratur dan matanya serasa masih berkunang-kunang. Namun ia mengharap bahwa keadaannya masih lebih baik dari Witantra.

Tetapi ketika memandang orang-orang yang berdiri di sekitarnya, dadanya bergetar serasa akan pecah. Kembali matanya menjadi gelap dan hatinya berguncangan sedahsyat ombak didorong prahara di tengah lautan.

Kuda Sempana menggeram. Di hadapannya berdiri Witantra tegak di atas kedua kakinya.

“Setan,” geramnya, “kau tidak mampus Witantra?”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Selangkah ia maju, namun ketika ia berjongkok dihadapan Kuda Sempana untuk menjawab pertanyaannya itu tiba-tiba dengan tidak disangka-sangka, Kuda Sempana menendangnya dengan sekuat tenaga yang masih ada padanya. Aneh. Aneh. Kuda Sempana yang lemah itu tiba-tiba dapat melepaskan kekuatan yang cukup besar, sehingga tiba-tiba Witantra terlempar selangkah dan jatuh menimpa beberapa orang yang berdiri di belakangnya.

Sebenarnya tubuh Witantra masih belum cukup kuat setelah ia menerima hantaman yang dahsyat dari kekuatan Aji Kala Bama. Meskipun itu tidak pingsan, dan meskipun ia segera dapat bangkit kembali setelah jatuh terduduk, namun daya tahannya telah menjadi jauh berkurang, seakan-akan terperas habis untuk melawan Aji Kala Bama. Itulah sebabnya, maka ketika tanpa disangka-sangkanya, dadanya terhantam oleh kaki Kuda Sempana betapapun kekuatan Kuda Sempana sendiri tidak lagi sepenuh kekuatan wajarnya, namun karena Witantra sama sekali tidak bersedia, maka serasa dadanya menjadi hancur karenanya. Hantaman itu benar-benar menggoncangkan kesadarannya. Meskipun ia dapat menerima pukulan Aji Kala Bama, namun pada saat ia sudah siap untuk menerimanya, dalam lambaran ajinya pula. Tetapi kini tiba-tiba saja serangan itu menghantam dadanya. Meskipun demikian, meskipun mata Witantra menjadi berkunang-kunang namun Witantra tidak menjadi pingsan. Ia merasa beberapa orang berusaha menyangga tubuhnya dan perlahan-lahan meletakkannya di atas tanah.

Witantra sendiri segera berusaha melawan kegoncangan-kegoncangan yang terjadi pada dirinya. perlahan-lahan namun pasti, bahwa ia akan segera dapat berhasil.

Mereka yang melihat perbuatan Kuda Sempana itu tiba-tiba merasa, alangkah liciknya anak muda itu. Betapapun kemarahnya menguasai kepalanya, namun seharusnya ia tidak berbuat demikian. Akuwu Tunggul Ametung yang melihat perbuatan itu menjadi marah bukan buatan. Namun ia tertegun, ketika ia melihat seorang anak muda meloncat seperti tatit ke tengah-tengah arena, menyelusup diantara beberapa orang yang berdiri mengitari Kuda Sempana. Orang itu adalah Ken Arok yang kehilangan kesabaran. Tetapi segera ia diam mematung ketika dilihatnya, setelah melepaskan segenap kekuatan terakhirnya, justru Kuda Sempana menjadi pingsan.

“Hem,” geram Ken Arok, “untunglah anak itu menjadi pingsan.”

“Kenapa,” bertanya seorang perwira yang berdiri di sampingnya.

Ketika Ken Arok berpaling dan dilihatnya perwira itu bertolak pinggang, segera Ken Arok membungkukkan dadanya sambil berkata, “Tidak apa-apa tuan.”

Namun di dalam hatinya ia berkata, “Kalau saja Kuda Sempana tidak pingsan, mungkin aku sudah membunuhnya. Hem, alangkah jahatnya hati ini. Kenapa aku masih saja mudah menjadi kehilangan penguasaan diri?”

Ternyata apa yang terjadi itu telah menyudutkan Kuda Sempana sendiri dalam keadaan yang sulit. Beberapa orang yang berdiri di sekitar arena, dan yang kemudian mencoba menolong mereka yang seakan-akan hampir pingsan kedua-duanya itu, menjadi tidak senang melihat sikap Kuda Sempana. Mereka mendapat kesan yang sangat buruk terhadap sifat anak muda yang sebenarnya memiliki beberapa kelebihan dari kawan-kawannya, bahkan dari beberapa orang prajurit.

Karena itu, ketika tiba-tiba terdengar Akuwu bertanya kepada mereka siapakah yang menang dalam perang tanding itu, maka jawab mereka mbata rubuh, “Witantra. Witantra telah menang.”

Suara itu bergema terus menerus beberapa lama. Hampir setiap orang mengulang-ulang kalimat itu, “Witantra lah yang menang, Witantra lah yang menang.”

Suara yang bergemuruh itu seakan-akan telah membangunkan Kuda Sempana dari pingsannya. Lamat-lamat ia mendengar suara itu, yang semula disangkanya suara Gunung Kawi yang runtuh menimpanya. Namun ketika kesadarannya telah hampir pulih kembali maka semakin jelaslah apa yang didengarnya itu. Bahkan akhirnya dapat didengarnya dengan pasti kalimat-kalimat yang telah diulang-ulang diucapkan oleh beberapa orang meskipun tinggal satu dua kali, “Witantra lah yang menang.”

Bunyi dan makna kata-kata itu ternyata bagi Kuda Sempana jauh lebih dahsyat dari pada seandainya Gunung Kawi runtuh menimpanya. Karena itu, maka tiba-tiba terasa darahnya mengalir semakin cepat dan semakin panas, sehingga seakan-akan terhimpunlah kembali segenap kekuatan di dalam tubuhnya. Dengan serta merta ia bangkit berdiri sambil berteriak lantang, “Tidak. Witantra belum menang. Kuda Sempana masih hidup.”

Namun kembali ia dihinggapi oleh keadaannya yang wajar. Lemah dan hampir-hampir tak berdaya. Seperti orang yang kehilangan segenap tulang belulangnya, Kuda Sempana terhuyung-huyung. Untunglah beberapa orang lain cepat menangkapnya sehingga Kuda Sempana tidak lagi terbanting jatuh.

Ketika mata Kuda Sempana yang menjadi liar itu menatap berkeliling maka dilihatnya Witantra dengan lemahnya duduk di tanah sambil meraba-raba dadanya. Dan apa yang dilihatnya itu telah membangkitkan kembali harapannya, sehingga Kuda Sempana itu berteriak pula dengan suara gemetar, “Lihat. Lihat Witantra hampir mati. Mungkin dadanya pecah, atau bagian dalam dadanya remuk berkeping-keping.”

Namun kembali mata Kuda Sempana menjadi gelap ketika ia mendengar Akuwu mengulangi pertanyaannya kepada orang-orang yang berdiri di sekitar dan di dalam arena. “Siapakah yang menang?”

Tetapi kali ini tidak semua orang menyahut seperti pertanyaan itu diucapkan untuk yang pertama kali. Hanya beberapa orang yang yakin akan dirinya menjawab, “Witantra lah yang menang.”

Dan diantara suara mereka terdengar suara Ken Arok paling keras, “Witantra lah yang menang.”

Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditatapnya mereka yang kini menundukkan kepalanya tanpa berani menyebut nama Witantra, apalagi menjawab pertanyaannya. Mereka adalah orang-orang yang tidak tahu pasti, apakah dirinya dapat menyamai kesaktian Kuda Sempana. Mereka tidak mau menjawab ketika diketahuinya Kuda Sempana telah sadar akan dirinya dan sadar tentang apa yang dihadapinya. Mereka tidak mau mendapatkan dendam dari anak muda itu. Tetapi mereka heran tidak habis-habisnya, bahwa seorang pelayan dalam yang baru, dengan beraninya menyatakan kemenangan Witantra dihadapan Kuda Sempana. Apakah ia tidak takut seandainya Kuda Sempana mendendamnya. Namun mereka tidak tahu bahwa Ken Arok sama sekali tidak takut kepada Kuda Sempana. Ken Arok sama sekali tidak heran, melihat Kala Bama, dan bahkan sama sekali tidak tercengang melihat tandang Kuda Sempana.

Beberapa orang yang belum mengenal Ken Arok merasa kasihan kepadanya, bahwa apa yang telah dilakukan itu akan dapat membuat Kuda Sempana marah kepadanya. “Mungkin anak itu tidak tahu akan bahaya yang setiap saat dapat menerkamnya,” gumam mereka di dalam hati, “atau mungkin ia sedang berusaha mendapatkan nama dihadapan Akuwu Tunggul Ametung. Dan bukankah anak itu pula yang tadi telah dipanggil untuk duduk di samping Akuwu.”

Dalam pada itu terdengar Akuwu Tunggul Ametung berkata, “Nah, Kuda Sempana semua orang menjadi saksi. Witantra telah memenangkan perang tanding ini.”

Terdengar gigi Kuda Sempana gemeretak. Dengan terbata-bata ia menjawab, “Tidak adil. Siapakah yang telah mengambil keputusan itu? Bukankah tuanku lihat, alangkah lemahnya kakang Witantra kini? Hamba telah mampu untuk berdiri tegak sendiri tanpa bersandar kepada orang lain namun apakah kakang Witantra mampu berbuat demikian.”

“Tetapi kau berbuat curang atasnya,” bantah Tunggul Ametung, “ketika Witantra mencoba mendekatimu, pada saat kau terbanting karena kekuatan Aji Kala Bama itu sendiri, kau telah menyerangnya tanpa disangka-sangka.”

“Itu adalah salahnya sendiri,” sahut Kuda Sempana, “hamba belum dinyatakan kalah. Sehingga perkelahian itu belum berhenti. Apapun yang hamba lakukan masih dapat dianggap syah.”

“Tidak,” potong Akuwu Tunggul Ametung, “semua orang melihat itu sebagai suatu kecurangan.”

“Siapa? Ayo siapa yang berani menjadi saksi bahwa aku telah berbuat curang,” teriak Kuda Sempana tiba-tiba. matanya dengan nanar memandangi setiap orang yang berdiri di sekitarnya. Kini ia telah tidak lagi memerlukan bantuan orang lain. Ia telah dapat berdiri sendiri betapapun lemahnya.

“Ayo siapa. Siapa yang berani menyatakan dirinya menjadi saksi?”

Tak seorang pun yang segera menjawab. Beberapa orang perwira prajurit sekalipun yang menjadi ngeri melihat Aji Kala Bama menjadi ragu-ragu. Namun ada pula diantaranya yang sudah siap untuk menerima akibat apapun dalam menyatakan kesaksiannya dengan jujur. Namun yang mula-mula menjawab adalah Ken Arok, “Aku. Aku adalah salah seorang saksi yang melihat kecuranganmu kakang Kuda Sempana. Kau menyerang bukan pada saatnya. Nah, apa katamu?”

Bukan main marahnya Kuda Sempana mendengar jawaban itu, sehingga tanpa sesadarnya ia melangkah maju. Meskipun langkahnya masih belum tegak benar, namun ia berkata, “berkatalah sekali lagi Ken Arok. Mungkin aku masih mampu menyobek mulutmu itu.”

Beberapa orang tergetar hatinya melihat kemarahan Kuda Sempana kepada Ken Arok. Beberapa orang menyesalkan anak muda yang lancang mulut itu. Sebaiknya ia berdiam diri saja. Biarlah orang lain yang menjawab pertanyaan Akuwu Tumapel. Sebab dengan demikian, maka jawaban itu akan membahayakan dirinya. Dan kini ternyata Kuda Sempana itu menjadi sangat marahnya kepada Ken Arok. Mungkin saat ini Kuda Sempana yang lemah itu tidak akan mampu berbuat apa-apa, tetapi nanti atau besok atau lusa, maka dendam yang tersimpan di dalam dadanya akan dapat meledak setiap saat.

Dengan cemas mereka melihat Kuda Sempana melangkah tertatih-tatih mendekati Ken Arok yang tidak bergerak dari tempatnya. Tetapi ada beberapa orang diantara mereka yang sama sekali tidak menjadi cemas melihat peristiwa itu. Akuwu Tunggul Ametung sendiri, Witantra dan kawan Ken Arok yang melihat anak muda itu memecahkan batu dengan jarinya.

“Ken Arok,” desis Kuda Sempana dengan marahnya, “jangan membuat persoalan dengan Kuda Sempana. Apa kau sudah jemu hidup?”

Ken Arok masih tegak di tempatnya. Ketika Kuda Sempana menjadi semakin dekat, maka orang-orang yang melihatnya menjadi semakin cemas.

Diantara para Perwira terdengar salah seorang berkata, “Kuda Sempana. Anak muda itu berkata sebenarnya. Witantra lah yang menang. Apakah kau tidak mengakui kemenangannya?”

Kuda Sempana berpaling ke arah suara itu. Seorang perwira yang bertubuh tinggi tegap dan berdada bidang. Ia mencoba menarik perhatian Kuda Sempana kepadanya, sebab ia sendiri merasa bahwa betapa saktinya Kuda Sempana, namun ia akan dapat mengimbanginya seandainya Kuda Sempana kelak mendendamnya.

Tetapi terdengar Kuda Sempana berdesis, “Bagus. Ada dua orang yang harus aku ingat di dalam arena ini. Pertama Ken Arok, dan kedua adalah seorang perwira yang perkasa itu.”

Namun semua orang tiba-tiba terkejut mendengar Ken Arok tertawa. Sangat menyakitkan hati. Katanya, “Jangan ribut Kuda Sempana. Kalau kau ingin membuat soal-soal baru, aku tidak akan ingkar. Namun kali ini kau dikalahkan oleh kakang Witantra.”

“Diam,” teriak Kuda Sempana, “diam, atau wajahmu aku hancurkan.”

“Kakang Kuda Sempana,” sahut Ken Arok, “keadaanmu sekarang lemah sekali. Apakah yang dapat kau lakukan dalam keadaan itu. Nah. Biarlah tubuhmu menjadi kuat kembali. Marahlah kepada Ken Arok. Besok atau lusa. Tetapi sekarang sadarilah keadaanmu.”

Tubuh Kuda Sempana bergetar karena kemarahan yang memuncak. Tetapi ia tidak dapat mengingkari keadaannya. Dikenangnya pada saat Ken Arok memukul mati seorang prajurit di perjalanan kembali dari Panawijen dengan satu kali pukulan. Dikenangnya apa yang dapat dilakukan anak muda itu ketika ia bertempur melawan Mahisa Agni. Karena itu, maka Kuda Sempana hanya dapat menggeretakkan giginya. Namun ia tidak berbuat apa-apa atas anak muda itu.

Meskipun demikian banyak diantara mereka yang semakin menyesalkan sikap Ken Arok itu, di samping mereka menjadi semakin muak melihat kesombongan Kuda Sempana. Namun diantara mereka tumbuh juga di dalam hatinya pertanyaan. “Apakah yang dapat dilakukan oleh Ken Arok itu sehingga ia berani menentang Kuda Sempana yang sudah dilihatnya memiliki ilmu yang sedahsyat itu?”

Demikianlah maka ketegangan itu dipecahkan oleh suara Akuwu Tunggul Ametung, “Kuda Sempana. Jangan mengingkari kenyataan. Witantra telah memenangkan perkelahian ini. Apakah kau tidak mengakuinya.”

Alangkah Kuda Sempana mendengar keputusan itu. ketika ia memandang berkeliling, dilihatnya segenap mata memandang kepadanya dengan penuh tekanan, seakan-akan mereka itu telah bersekutu untuk menyatakan kekalahannya. Ketika sinar matanya sampai pada Witantra, maka dilihatnya orang itu telah berdiri tegak dan memandanginya pula dengan tajamnya.

Terasa dada Kuda Sempana berdesir. Diantara sekian banyak orang, ia merasa seorang diri. Semua orang seolah-olah telah memihak kepada Akuwu Tunggul Ametung. Bahkan beberapa orang kawan-kawannya pelayan dalam pun sama sekali tidak menunjukkan kesetia kawanan mereka. Apalagi pelayan dalam yang bernama Ken Arok itu. Karena itu maka hatinya serasa terbakar oleh kemarahan yang meluap-luap. Marah kepada Witantra, kepada Akuwu Tunggul Ametung, kepada semua orang yang berada di sekitarnya. Tetapi ia tidak segera dapat berbuat apa-apa.

Tiba-tiba otak Kuda Sempana yang licik itu mulai berputar. Ia kini mulai berpikir, apakah sebaiknya yang dilakukan. Disadarinya bahwa dalam keadaan yang demikian, ia tidak akan dapat menuruti perasaannya saja. Lambat laun disadarinya, bahwa para perwira yang berdiri di sekitarnya itu pun bukanlah anak-anak yang dapat ditakut-takutinya. Karena itu, maka tiba-tiba Kuda Sempana menganggukkan kepalanya sambil berkata lirih, “Tuanku Akuwu Tunggul Ametung, hamba mengakui kekalahan hamba kali ini.”

Beberapa orang menjadi lega mendengar pengakuan itu. Namun Witantra dan Ken Arok mengerutkan keningnya tinggi-tinggi seakan-akan, tersirat di dalam hati mereka bahwa Kuda Sempana tidak berkata sejujur hatinya. Dan ternyata mereka kemudian mendengar Akuwu Tunggul Ametung bertanya, “Kenapa kali ini? Apakah pada saat yang lain kau merasa bahwa kekalahan ini tidak wajar.”

Kuda Sempana menarik dahinya tinggi-tinggi. Sekali lagi ia mengangguk hormat sambil menjawab, “Ampun tuanku. Hamba merasa kekalahan hamba.”

Tetapi Akuwu Tunggul Ametung itu merasakan pula sesuatu yang tidak wajar pada Kuda Sempana yang hanya dimiliki oleh Akuwu itu sendiri. Jauh lebih tajam dari yang dirasakan oleh Witantra dan Ken Arok. Sehingga karena itu maka Akuwu itu berkata, “Kuda Sempana, kalau suatu ketika kau merasa bahwa kekalahanmu kali ini tidak adil maka biarlah kau mencoba untuk lain kali. Aku sendirilah yang akan turun ke arena.”

Kuda Sempana tidak segera menjawab. Namun dari kedua matanya memancar sinar yang aneh. Sudah tentu ia tidak akan dapat berkata apapun dihadapan Tunggul Ametung saat ini. Tetapi amat banyaklah kata-kata yang tersimpan di hatinya. Amat banyaklah janji yang diucapkan di dalam hati itu. Janji untuk menuntut dendam.

“Biarlah kali ini aku melepaskan keinginanku untuk sesaat,” geramnya di dalam hati, “bagiku hanya ada dua kemungkinan. Memiliki bunga dari lereng Gunung Kawi itu meskipun aku harus melenyapkan Akuwu, atau memunahkannya.”

Tetapi Tunggul Ametung ternyata berprasangka pula atas sinar mata Kuda Sempana itu, sehingga sekali lagi ia berkata, “Kuda Sempana, dendammu kau simpan di dalam hati. Tetapi jangan kau sangka bahwa aku akan memusnahkan dengan kekuasaanku. Tidak. Dalam persoalan ini kita berhadapan sebagai laki-laki. bukan sebagai orang yang berkuasa dan bawahannya. Yakinkanlah ini. Karena itu aku, Tunggul Ametung akan siap menghadapi setiap persoalan yang akan timbul karenanya.”

Kuda Sempana menundukkan kepalanya. Tetapi terdengar giginya gemeretak. Sedang beberapa orang lain menjadi bingung. Bagaimana mungkin orang dapat memisahkan dirinya sendiri apabila akan dihadapinya kesulitan. Bagaimana mungkin Tunggul Ametung melepaskan hak dan kekuasaannya untuk mempertahankan keinginannya. Dan bagaimana mungkin Kuda Sempana sebagai seorang pelayan dalam masih harus berkeras kepala bersaing dengan Akuwunya.”

“Gila,” desah beberapa orang diantara mereka, “Kenapa di istana ini timbul persoalan yang sedemikian anehnya, sehingga membuat beberapa orang pemimpin terpenting di Tumapel menjadi seakan-akan gila. Mereka telah melupakan adat dan tata cara. Mungkin mereka masing-masing ingin mempertahankan harga diri mereka sebagai seorang laki-laki. Atau gadis itu benar-benar memiliki daya yang dapat membuat orang-orang menjadi gila?”

Dalam pada itu Akuwu Tunggul Ametung pun segera bersiap-siap untuk meninggalkan tempat itu. Sesaat ia memandang berkeliling kemudian katanya, “Sayembara tanding ini telah selesai. Witantra memenangkan pertandingan sehingga ia mempunyai wewenang atas kemenangannya. Kemudian kepada Witantra ia berkata, “Kau boleh beristirahat dahulu Witantra, nanti malam datanglah ke istana bersama Ken Arok. Sekarang biarlah Ken Arok mengantarmu pulang.”

Sekali lagi para perwira dan para pemimpin pelayan dalam yang lain, kecuali Kuda Sempana terkejut. Ken Arok sekali lagi mendapat kehormatan untuk menghadap Akuwu. Sehingga mau tidak mau mereka terpaksa mengkaitkan anak muda itu dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di saat-saat terakhir. Mungkin karena Ken Arok pada saat itu ikut serta dalam rombongan Akuwu ke Panawijen sehingga anak muda itu dianggap banyak mengetahui persoalan-persoalan yang telah timbul. Mungkin Akuwu melihat beberapa kelebihan pada anak muda itu. Namun ada juga yang sedang berpikir, “Mungkin Akuwu sedang menyuap Ken Arok, supaya ia tidak mengatakan apa yang diketahuinya tentang gadis Panawijen itu.”

Tetapi orang-orang itu kemudian melepaskan semua kesibukan angan-angan serta pikirannya. Sambil menggelengkan kepala, seakan-akan mengusir persoalan-persoalan yang tak mereka ketahui dengan pasti itu, mereka pergi meninggalkan halaman belakang istana setelah Akuwu pun kemudian berjalan kembali ke istana diantar oleh beberapa orang pelayan dalam dan beberapa orang.

Beberapa orang masih bercakap-cakap mempercakapkan apa yang telah mereka lihat. Namun beberapa orang lagi menganggap persoalan itu telah selesai. Berkata diantara mereka, “Ah, biarlah persoalan itu berlaku. Aku tidak berkepentingan sama sekali. Bukankah dengan perang tanding ini semuanya telah selesai?”

Kawannya yang berjalan-jalan di samping tersenyum sambil menjawab, “Barangkali kau tidak mau dipeningkan oleh soal-soal yang tak berarti. Tetapi kami lupa bahwa Kuda Sempana masih menyimpan dendam di dalam hatinya. Nah, bukankah itu bagaikan api disimpan dalam sekam.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tersenyum sambil berkata, “He, apakah kau telah melihat gadis itu?”

Kawannya menggeleng lemah.

“Kalau sudah, mungkin kau akan turut serta dalam sayembara tanding itu,” berkata kawan itu lagi.

Orang yang berjalan di samping tertawa. Ketika disadarinya beberapa orang berpaling kepadanya, maka dengan serta merta suara tertawanya terputus. “Jangan main-main,” gumamnya, “kalau isteriku mendengarnya, maka ia akan berontak.”

Kedua orang itu tersenyum, tetapi mereka tidak berkata-kata lagi. Mereka melihat kemudian Kuda Sempana berjalan tergesa-gesa melampaui mereka, meskipun masih nampak betapa ia sangat lemah. Beberapa orang menarik nafas dalam melihat anak muda yang keras kepala itu. Namun yang lain memalingkan wajahnya.

Sesaat kemudian karena itu telah menjadi sunyi kembali. Semua orang telah pergi. Yang tinggal hanyalah Witantra dan Ken Arok. Mereka berdiri saja mengawasi punggung-punggung yang membelakangi mereka, semakin lama semakin jauh.

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa Kuda Sempana tidak akan tinggal diam untuk seterusnya. Namun Ken Arok pun mengetahui pula, bahwa Kuda Sempana mendendamnya.

“Anak yang keras kepala,” gumam Witantra.

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya. Sungguh-sungguh keras kepala.”

Sesaat mereka terdiam. Di regol halaman belakang masih dilihat oleh mereka, punggung-punggung yang terakhir meninggalkan halaman itu.

“Marilah adi, kita pulang.”

“Aku mendapat perintah untuk mengantar kakang.”

Witantra tersenyum. Namun ia menjawab, “Marilah antarkan aku.”

Ketika keduanya mulai melangkah meninggalkan tempat itu, tiba-tiba langkah mereka terhenti. Lamat-lamat mereka mendengar suara Daksina. “Hem,” gumam ken Arok, “anak itu sama sekali tidak mempedulikan apa saja.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Suara Daksina memang baik, seperti desir angin yang kadang-kadang lembut, namun kadang-kadang deras menyentak, bahkan kadang-kadang bagaikan prahara yang melanda pepohonan dan menghentak gelombang di lautan. Namun kemudian kembali terdengar suaranya yang lembut, selembut gemersik angin pagi mengusap ujung dedaunan.

“Smaradahana,” gumam Witantra.

Ken Arok hanya mengangguk-angguknya kepalanya. Ia telah banyak pula belajar tentang banyak hal mengenai kitab-kitab dan pengetahuan dari seorang pendeta yang memungutnya dari padang rumput Karautan, tetapi pengetahuan itu masih jauh dari cukup. Meskipun demikian, ternyata jiwanya mampu pula menerima sentuhan yang halus dari suara Daksina.

“Apakah kau pernah membaca kakawin itu?” bertanya Witantra.

Ken Arok mengeleng, “belum.”

“Ceritera tentang Dewa Cinta, Kama dan isterinya Ratih.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia sama sekali belum pernah membaca ceritera itu, meskipun sedikit ia pernah juga mendengar tentang Dewa Kama yang terbakar oleh sinar mata Siwa yang sedang tiwikrama menjadi Rudra.

“Ceritera yang amat menarik,” Witantra meneruskan, “terutama bagi anak-anak muda. Sindiran terhadap Baginda Kameswara dari Kediri beberapa puluh tahun hampir seabad yang lampau.”

Kembali Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Daksina memilih ceritera itu.” Witantra melanjutkan karena ia tahu, bahwa di arena ini menyala persoalan yang langsung menjangkiti cinta anak-anak muda. Meskipun aku yang harus maju ke arena, namun aku hampir tidak berkepentingan selain aku ingin melihat kesewenang-wenangan Kuda Sempana dibatasi.”

Ken Arok masih belum menjawab selain mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia senang pula mendengar suara Daksina yang bening bersih.

“Sebaiknya anak itu berhenti membaca,” tiba-tiba Witantra bergumam.

“Kenapa?” bertanya Ken Arok.

“Apabila Akuwu mendengar, maka ia marah. Ia merasa bahwa anak itu menyindir.”

“Tidak. Bukankah Akuwu bersungguh-sungguh dengan alasannya itu. Bukankah kemudian gadis itu akan dikembalikan ke Panawijen?”

Witantra tersenyum, jawabnya, “Kalau gadis itu bersedia, maka apakah halangannya seandainya Akuwu pun benar-benar menghendakinya, bukankah dengan demikian Ken Dedes akan merasa sedikit terhibur karenanya?”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Gumamnya, “Tidak baik. Sebaiknya Akuwu menyerahkanya kembali kepada ayahnya.”

“Kecuali kalau gadis itu menolak Akuwu. Seharusnya Akuwu menyerahkannya kembali kepada ayahnya. Tetapi kalau gadis itu bersedia, apakah salahnya?”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak menjawab. tetapi hatinya berkata, “Tidak. Seharusnya Akuwu benar-benar bersih dari segenap pamrih mengenai gadis itu. Kalau Akuwu bersedia mengembalikan Ken Dedes kepada ayahnya, maka Akuwu benar seorang yang berhati jantan. Seorang yang bersedia mengakui kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya. Meskipun Witantra tak akan mungkin dihidupkan lagi, tetapi setidak-tidaknya di dalam lingkungan keluarganya Ken Dedes akan mendapatkan hiburan.

Tetapi tiba-tiba terdengar suara yang lain di dalam lubuk hatinya, “Bagaimanakah kalau Ken Dedes merasa terhibur, apabila ia menjadi permaisuri Akuwu.”

Tiba-tiba wajah Ken Arok menjadi tegang, ia tidak tahu apakah sebabnya ia menjadi risau mengenai nasib gadis itu seterusnya. “Persetan,” geramnya di dalam hati.

Ken Arok itu kemudian terkejut ketika Witantra berkata, “Marilah adi, apakah kau akan mengantarkan aku pulang?”

“Oh,” sahut Ken Arok tergagap, “Ya, aku akan mengantarkan kakang pulang. Sebaiknya aku tidak kembali ke barak. Kalau Kuda Sempana datang ke bilikku, dan aku kehilangan kesabaran, maka kami pasti akan bertengkar.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Tinggallah sehari ini di rumahku. Mudah-mudahan besok atau lusa Kuda Sempana telah dapat berpikir bening, sehingga ia akan dapat melupakan segala peristiwa yang telah terjadi atasnya.”

“Mudah-mudahan,” desis Ken Arok. Namun kemudian ia berkata, “Diamlah aku menyuruh Daksina berhenti membaca.”

Witantra tersenyum. Dibiarkannya Ken Arok melangkah ke gubug di sudut di balik dinding halaman belakang istana. Sesaat setelah Ken Arok itu menghilang di balik dinding, maka suara Daksina pun berhenti.

Keduanya itu pun kemudian pergi meninggalkan halaman belakang istana itu pergi ke rumah Witantra. Kuda-kuda mereka masih tertambat di tempatnya. Dan sejenak kemudian terdengarlah kaki-kaki sepasang kuda berlari meninggalkan istana Tumapel.

Dalam pada itu, Akuwu Tunggul Ametung berjalan tergesa-gesa kembali ke istana. Tetapi ia sama sekali tidak langsung menuju ke biliknya. Dengan tergesa-gesa seakan-akan ia akan kehilangan kesempatan, Akuwu itu berjalan masuk ke ruang dalam, dan langsung menuju ke Sentong tengen.

Sejenak Tunggul Ametung berdiri diam di muka bilik itu. ia tidak mendengar sesuatu kecuali nafas yang memburu. Namun sesaat kemudian terdengar langkah seorang keluar dari bilik itu.

Demikian melampaui warana, emban yang ikut merawat Ken Dedes terkejut melihat Akuwu Tunggul Ametung berdiri tegak di muka pintu, sehingga dengan tergesa-gesa ia bersimpuh sambil menyembah, “Ampun tuanku.”

Akuwu Tunggul Ametung menggeleng lemah, jawabnya, “Tidak apa-apa. Aku ingin menengok gadis itu.”

Emban itu masih bersimpuh sambil menundukkan wajahnya. Perlahan-lahan ia berkata, “Gadis itu masih belum tenang benar tuanku.”

Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apakah sekarang gadis itu tertidur?”

Emban itu menggeleng, “Tidak tuanku.”

“Apakah aku boleh masuk?” bertanya Akuwu itu.

Emban itu heran mendengar pertanyaan Tunggul Ametung. Tunggul Ametung adalah Akuwu Tumapel. Tunggul Ametung adalah pemilik istana ini, dan semua orang akan tunduk pada perintahnya. Tetapi tiba-tiba Akuwu itu bertanya kepadanya, apakah ia boleh masuk ke dalam bilik ini. Karena itu, maka emban itu pun menjadi bingung, bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu.

“Bagaimana, apakah boleh masuk?” desak Tunggul Ametung.

“Ya. Ya.” emban itu tergagap, “sekehendak tuankulah.”

Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Sambil menganggukkan kepalanya ia berkata, “Terima kasih. Aku akan masuk ke sentong tengen.”

Emban itu menjadi semakin tidak mengerti. Kenapa Akuwu berterima kasih kepadanya. Namun Akuwu itu tidak berkata apa-apalagi. perlahan-lahan ia melangkah maju. Melampaui tlundak pintu, kemudian melingkari warana memasuki ruang tidur Ken Dedes yang masih saja ditunggui oleh Nyai Puroni.

Tetapi demikian Tunggul Ametung masuk, Akuwu itu terkejut bukan buatan. Tiba-tiba saja, ketika Ken Dedes melihatnya, dengan serta merta gadis itu bangkit dan menunjuk wajahnya. Sambil berkata lantang, “Nah, kaulah Tunggul Ametung. Kaulah sumber dari bencana yang menimpa keluarga. Ayo kembalikan aku ke Panawijen, atau bunuh aku sama sekali.”

Sesaat Akuwu berdiri mematung. Ia adalah Akuwu yang memegang seluruh kekuasaan Tumapel di tangannya. Ia adalah orang yang paling berkuasa di dalam dan diluar istana. Juga di Panawijen. Tiba-tiba gadis itu menudingnya sambil membentaknya tanpa takut.

Yang terdengar kemudian adalah suara Nyai Puroni cemas, “Nini, tenanglah ngger. Tenanglah. Tidurlah, biarlah nanti aku memberitahukan kepadamu, apa yang telah terjadi, Jangan risau anakku dan jangan menjadi bingung Tuanku Tunggul Ametung adalah Akuwu Tumapel.”

“Apa peduliku, apakah Tunggul Ametung menjadi Akuwu, apakah ia menjadi Maharaja sekalipun, namun ia tidak lebih dari seorang perampok yang keji. Ayo, Tunggul Ametung. Bunuhlah aku.”

Tunggul Ametung adalah seorang yang aneh. Seorang yang mudah tersinggung, dan seorang yang mudah pula menjadi sangat cemas apabila tiba-tiba Akuwu itu kehilangan kesabaran. Ia tidak tahu, apakah yang telah terjadi, namun mengumpati Tunggul Ametung adalah berbahaya sekali bagi kesalamatannya.

Tetapi Nyai Puroni itu benar-benar menjadi heran. Ia melihat Akuwu yang garang itu, berdiri kaku di tempatnya. Kepalanya terkulai tunduk dalam-dalam. Sepatah katapun ia tidak menyahut dan bahkan Akuwu itu sama sekali tidak berani menatap wajah gadis yang sedang marah itu.

Sekali-kali Tunggul Ametung mencoba mengangkat wajahnya, namun kembali ia turtunduk. Bahkan kemudian tubuhnya menjadi gemetar dan terasa seakan-akan dadanya bergetaran. “Apakah aku benar-benar sudah gila,” desahnya di dalam hati. Karena ketika ia mencoba memandang gadis itu, ia dikejutkan oleh cahaya yang berkilat cerah. Namun setiap kali ia berusaha memandang cahaya itu tak dapat tertangkap oleh wadagnya.

Sementara itu masih terdengar suara Ken Dedes lantang, “Ayo Tunggul Ametung. Kenapa kau berdiri saja seperti patung. Bukankah kau mempunyai seribu pusaka di istanamu. Ayo, ayo, bukankah di lambungmu itu tergantung senjata sipat kandel Tumapel? Kenapa kau diam saja seperti patung.”

Desir di dada Tunggul Ametung menjadi semakin tajam. Baru kini disadarinya, bahwa pusakanya masih tergantung pada ikat pinggangnya. Pusaka yang tidak setiap orang pernah melihatnya.

Nyai Puroni menjadi semakin cemas. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Usahanya untuk melilihkan hati Ken Dedes selalu sia-sia.

Tetapi kembali Nyai Puroni mendengar sendiri mulut Akuwu Tunggul Ametung itu berdesis, “Maafkan aku Ken Dedes. Aku sama sekali tidak sengaja membuat kau mengalami nasib yang sedemikian jeleknya.”

Mata Ken Dedes itu pun menjadi semakin menyala karenanya. Dan terdengar suaranya lantang, “Jangan bersembunyi Tunggul Ametung. Kau datang membawa bencana di padepokan ayahku. Kau telah membawa bencana bagi keluargaku, bagi hidupku. Kenapa kau tidak saja membunuh aku? Kenapa kau lindungi Kuda Sempana yang biadab itu? Kenapa?”

Akuwu masih menundukkan kepalanya. Suatu hal yang hampir tidak pernah dilakukan. Dihadapan setiap utusan Maharaja di Kediri sekalipun Tunggul Ametung selalu menengadahkan wajahnya. Namun kini, dihadapan seorang gadis padesan Tunggul Ametung itu tunduk tumungkul seperti seorang tawanan.

Dan terdengar kemudian Tunggul Ametung itu menjawab perlahan-lahan, “Ken Dedes. Aku telah mencoba memperbaiki kesalahanku. Kuda Sempana tidak akan dapat mengganggumu lagi.”

Ken Dedes itu terhenyak sejenak. Tampaklah kerut-kerut di wajahnya yang pucat. “Apa katamu?” terdengar ia bertanya untuk meyakinkan.

“Kuda Sempana tidak akan dapat mengganggumu lagi,” sahut Akuwu.

“Kenapa?”

Seperti anak-anak yang mendapat pertanyaan-pertanyaan dari ibunya yang sedang marah, Tunggul Ametung menjawab dengan jujur. “Kuda Sempana telah dikalahkan dalam perang tanding, dengan perjanjian, untuk seterusnya ia harus melepaskan tuntutannya atas dirimu.”

Ken Dedes tidak segera mengerti keterangan Akuwu Tunggul Ametung itu. Apakah yang dimaksud dengan perang tanding yang dapat melepaskan tuntutan Kuda Sempana atas dirinya? Karena itu maka untuk sejenak Ken Dedes terdiam. Tanpa mengenal takut, ditatapnya wajah Tunggul Ametung, yang tunduk. Tetapi Akuwu itu tidak meneruskan kata-katanya sebagai penjelasan.

Karena itu, maka terdengarlah suara Ken Dedes, “Apakah maksudmu Tunggul Ametung.”

Alangkah janggalnya panggilan itu di telinga Nyai Puroni serta emban yang duduk di pintu. Ken Dedes langsung menyebut nama Akuwu Tunggul Ametung tanpa sebutan apapun.

Kalau Akuwu itu kemudian menyadarinya, maka ia pasti akan sangat marah. Bahkan seandainya dirinya sendiri, atau emban yang duduk di pintu itu, bahkan seorang senapati pun, apabila berani mengucapkan nama Akuwu itu tanpa sebutan apapun maka adalah suatu pertanda bahwa hidupnya akan mendapat kesulitan.

Tetapi sekarang, gadis pedesan itu dengan beraninya bahkan dengan menuding wajah Akuwu itu. Aneh. Apakah yang sebenarnya telah terjadi.

Tunggul Ametung. Sendiri tidak segera menjawab pertanyaan Ken Dedes itu. Sekali ia mengangkat wajahnya namun ketika dilihatnya mata gadis itu, kembali ia menunduk. Mata yang memancarkan tuntutan atas kesalahan yang pernah dilakukannya. Mata yang memancarkan jeritan hatinya yang duka. Dan mata yang memancar itu adalah mata seorang gadis yang aneh. Seorang gadis yang seakan-akan memiliki cahaya yang bersinar dari tubuhnya. Cahaya yang membuat Akuwu Tunggul Ametung itu merasa dirinya hampir menjadi gila. Gadis itu bukan gadis kebanyakan,” desis Akuwu Tunggul Ametung di dalam hatinya.

Karena Tunggul Ametung tidak segera menjawab, maka terdengar Ken Dedes mengulangi pertanyaannya, “He Tunggul Ametung, apakah yang kau maksud dengan perang tanding. Dan apakah hubungannya dengan Kuda Sempana?”

Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Bagaimanapun juga ia ingin mencoba menyampaikan beberapa penjelasan mengenai perang tanding itu. Mencoba mengatakan kepada Ken Dedes bahwa dengan kekalahan Kuda Sempana dalam perang tanding itu, maka tuntutannya atas Ken Dedes telah digugurkan. Ia mengambil gadis itu dengan kekerasan, maka dengan kekerasan pula usaha itu telah digagalkan.

“Gila,” teriak Ken Dedes. Napasnya tiba-tiba menjadi sesak dan dengan terbata-bata ia berkata, “Kenapa aku kau perlakukan seperti itu Tunggul Ametung. Kenapa aku kalian perlakukan seperti barang yang dapat kalian perebutkan dengan berkelahi dan saling membunuh sekalipun. Tunggul Ametung, Akuwu yang memiliki kekuasan tertinggi di Tumapel, kenapa kau berbuat demikian? Kenapa kau menganggap bahwa aku tidak lebih daripada barang yang seandainya paling berharga sekalipun, sehingga dipertaruhkan dengan nyawa? Tidak. Aku mempunyai pendirianku sendiri. Aku mempunyai kehendak, akal dan penilaian atas persoalanku. Bukan kalian yang akan menentukan jalan hidupku. Tetapi aku. Aku sendiri.”

Peristiwa itu adalah peristiwa yang benar-benar aneh bagi Nyai Puroni. Aneh, karena semang gadis padesan dengan beraninya menentang Akuwu, membaluti kata-katanya kata dengan kata, kalimat dengan kalimat. Tak pernah dijumpai sepanjang umurnya seorang gadis yang sedemikian beraninya. Setiap perempuan di Tumapel, setiap gadis, pada umumnya selalu menundukkan kepalanya, menerima nasib yang diletakkan oleh orang tuanya, oleh suaminya apalagi seorang Akuwu atasnya. Tetapi gadis ini tidak berbuat demikian.

Namun, Akuwu Tunggul Ametung adalah orang yang benar-benar aneh. Semakin banyak Ken Dedes berbicara, semakin tajam Ken Dedes mengumpat-umpatinya, hatinya menjadi semakin tertarik kepada gadis itu. Gadis itu baginya menjadi seakan-akan sebuah mutiara yang bercahaya dengan sinarnya. yang tajam menusuk langsung ke hulu hatinya.

Gadis yang berani itu pasti memiliki kekhususannya dari gadis-gadis yang lain. bahkan gadis kota sekalipun. Meskipun gadis itu gadis padesan, namun tanda-tanda yang dirasakan oleh Akuwu Tunggul Ametung menjadikannya semakin yakin, bahwa gadis itu adalah gadis yang memiliki kelebihan-kelebihan.

Karena itulah maka sekali lagi Akuwu ingin menjelaskan persoalan yang dikehendakinya dengan perang tanding itu. katanya, “Ken Dedes. Karena aku mempunyai penilaian yang demikian atasmu, bahwa kau memiliki pendirian, penilaian dan lebih-lebih lagi adalah hak atas dirimu sendiri dan jalan hidupmu, maka aku telah melepaskan kau dari Kuda Sempana.”

“Apakah artinya itu?” bertanya Ken Dedes.

“Kau kini dapat menentukan hidupmu sendiri. Tidak ada keharusan bagimu untuk tunduk pada setiap kehendak orang lain kecuali atas kerelaan hatimu.”

“Tetapi apa artinya kedatangan kalian ke Panawijen. Kau tidak mencegah perbuatan Kuda Sempana, dan bahkan kau melindunginya.”

“Aku terdorong dalam kekhilafan, Ken Dedes. Kuda Sempana telah menipuku.”

“Kau dapat menghukumnya, bahkan menghukum mati sekalipun.”

“Ya. Tetapi aku sendiri telah melakukan kesalahan pula. Karena itu aku tidak dapat menghukumnya karena alasan itu, sebab ia berbuat dalam perlindunganku. Satu-satunya cara untuk menebus kesalahanku itu adalah membebaskan kau dari tangannya dengan cara yang sama seperti yang dilakukannya atas keluargamu.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Ia merasakan di dalam hatinya bahwa Akuwu Tunggul Ametung itu berkata dengan jujur. Ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam dadanya, seakan-akan semua kemarahan dan luapan perasaannya perlahan-lahan menjadi tenang.

Meskipun demikian, hati Ken Dedes itu masih juga gelap. Apakah yang akan terjadi atas dirinya selanjutnya. Apabila seseorang telah berhasil melepaskannya dari Kuda Sempana, lalu apakah hak orang itu atas dirinya? Apakah dengan demikian ia hanya akan berpindah tangan kepada orang yang bahkan sama sekali tak dikenalnya? Bagaimana kalau ada orang lain yang berbuat demikian pula atas orang yang kedua itu.”

Tiba-tiba teringatlah Ken Dedes itu kepada Mahisa Agni. Kenapa kakaknya itu membiarkannya dilarikan oleh Kuda Sempana? Apakah Mahisa Agni tidak tahu apa yang terjadi atasnya? Kalau saja Mahisa mengetahui, bahwa dengan perang tanding dirinya akan dapat dibebaskan, ia mengharap, bahwa pada waktu ketika Mahisa Agni datang ke Tumapel dan melepaskannya. Tetapi kapan? Sehari, seminggu atau sebulan. Atau sesudah ia kehilangan harapan untuk dapat kembali ke padepokan?”

Dalam pada itu, maka kembali terdengar Ken Dedes bertanya, “Akuwu Tunggul Ametung. Setelah perang tanding ini berlangsung, dan menurut katamu, setelah aku dapat dibebaskan dari Kuda Sempana, lalu apakah aku akan dapat segera pulang?”

Pertanyaan itu benar-benar mengejutkan Tunggul Ametung. Tiba-tiba ia dihadapkan pula suatu masalah yang sangat berat baginya. Seharusnya, menurut rencananya semula, ia hanya ingin membebaskan Ken Dedes dari tangan Kuda Sempana sebagai tebusan atas kesalahannya. Tetapi tiba-tiba alangkah beratnya untuk melepaskan gadis itu pulang kembali ke Panawijen. Alangkah sulitnya untuk memenuhi rencananya. Setelah ia melihat Ken Dedes dari dekat, setelah ia mendengar Ken Dedes menangis, dan setelah ia sendiri melihat Ken Dedes dengan beraninya mempertahankan kebebasannya untuk menentukan jalan hidupnya, serta setelah ia melihat gadis itu dengan tabahnya mengumpat-umpatinya, maka tiba-tiba Tunggul Ametung benar-benar lelah terpesona. Ken Dedes telah benar-benar menarik hatinya. Karena itu, ketika ia mendengar pertanyaan Ken Dedes itu, hatinya seolah-olah membeku. Tak ada jawaban yang dapat diberikannya.

“Akuwu,” Ken Dedes mengulang,” bagaimana?”

Tunggul Ametung tergagap. Ia harus menjawab. Tetapi ia tidak segera mendapatkan jawaban itu. Sehingga kembali terdengar Ken Dedes mendesaknya, “Akuwu Tunggul Ametung, apakah aku segera dapat kembali pulang.”

Tiba-tiba dalam kebingungan Tunggul Ametung bertanya, “Ken Dedes. Kalau kau ingin segera pulang, apakah yang menarik bagimu di Panawijen?”

Ken Dedes merasa aneh mendengar pertanyaan itu sehingga sahutnya, “Panawijen adalah tempat kelahiranku. Panawijen adalah padepokan ayahku. Panawijen adalah tempat aku bermain bersama kakakku Mahisa Agni, dan Panawijen adalah tempat aku menyongsong masa depanku.”

Tunggul Ametung menjadi semakin bingung. Dan dalam kebingungan itu ia menjawab, “Ya. Ken Dedes. Sebenarnya kau akan segera dapat pulang ke kampung halaman, tetapi aku takut, apabila dengan demikian luka di hatimu akan menjadi semakin parah,”

Mendengar jawaban itu, maka kegelisahan di hati Ken Dedes menjadi menyala kembali. Dengan penuh ketegangan ia memandang Akuwu Tunggul Ametung.”

Terdengarlah kemudian suaranya gemetar, “Kenapa Akuwu?”

Tunggul Ametung .menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi ragu-ragu sesaat. Tetapi ia telah terdorong menyatakan tentang luka di hati gadis itu. Karena itu ia menjawab, “Ken Dedes, Terserahlah kepadamu seandainya kelak kau ingin kembali ke Panawijen. Tetapi jangan segera.”

“Kenapa? Ya, kenapa?”

Tunggul Ametung terdiam sesaat. Dicobanya menatap wajah gadis itu. Namun kembali ia menundukan kepalanya. Di dalam mata Ken Dedes itu seakan-akan tercermin segenap kesalahan, kekhilafan dan ketergesa-gesaan yang pernah dilakukannya. Seakan-akan dilihatnya kembali bagaimana Kuda Sempana datang kepadanya, dan mengusulkan untuk pergi berburu ke arah lain dari pada arah Panawijen. Diingatnya bagaimana Kuda Sempana merajuknya, mengatakan kepadanya bahwa ia ditolak karena seorang pelayan dalam Akuwu Tumapel.

“Gila,” geramnya di dalam hati. Ia menyesal bahwa ia terlalu cepat mengambil keputusan. Namun itu adalah sifatnya-sifatnya yang dibawanya sejak ia dilahirkan. tergesa-gesa, lekas marah dan kadang-kadang kurang pertimbangan.

Sekarang ia mengalami kegoncangan akibat sifat-sifatnya itu. Sifat-sifatnya yang kurang menguntungkannya. Baik sebagai seorang Akuwu, maupun sebagai manusia yang bergaul diantara sesama.

Dan sekarang ia harus menjawab pertanyaan Ken Dedes yang mendesak itu, “Kenapa?”

“Ken Dedes,” jawab Tunggul Ametung, “tinggallah disini beberapa saat. Kemudian kau akan dapat mengambil keputusan menurut kehendakmu. Tetapi jangan tergesa-gesa kembali. Biarlah kelak aku sendiri akan mengantarkanmu.”

“Tetapi aku ingin tahu, kenapa luka hatiku akan menjadi semakin parah?”

Ketika Akuwu tidak segera menjawab, maka angan-angan Ken Dedes sendiri telah beredar, mencoba mencari jawabnya. tiba-tiba dikenangnya, bahwa pada saat Kuda Sempana mengambilnya, Witantra telah dijatuhkannya. apakah yang terjadi atas anak muda itu seterusnya. Dalam kegelisahan, kebingungan dan ketakutan pada saat itu ia melihat Wiraprana terbanting jatuh. Ia masih dapat mengingat kembali, ketika tiba-tiba ia menjatuhkan dirinya. pada anak muda itu. Dikenangnya betapa pucat wajah Wiraprana saat itu. Dan apakah saat itu Wiraprana masih bernafas? Tiba-tiba Ken Dedes yang duduk dengan tegangnya itu memekik kecil. Ditutupinya wajahnya dengan kedua tangannya seakan-akan ingin menghilangkan bayangan-angan yang hilir mudik di dalam rongga mata hatinya.

“Wiraprana,” desisnya, “bagaimana dengan Wiraprana?”

Tunggul Ametung terkejut mendengar Ken Dedes memekik dan kemudian menyebut nama anak muda yang ternyata telah terbunuh itu.

Sentong tengen itu sesaat dicengkam oleh kesepian yang tegang. Ken Dedes mencoba menunggu apakah Akuwu Tunggul Ametung dapat memberinya keterangan tentang Wiraprana. Namun Akuwu Tunggul Ametung itu menjadi terpaku diam, keragu-raguan dan kecemasan merayap-rayap di dalam dadanya. Apakah akibatnya seandainya diberitahukannya tentang nasib Wiraprana itu.

Tetapi Ken Dedes itu kemudian mendesaknya, “Akuwu, bagaimanakah dengan Wiraprana itu?”

Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dicobanya mengingkari, katanya, “Aku tidak tahu apa yang terjadi kemudian Ken Dedes. Aku pergi bersama Kuda Sempana meninggalkan Panawijen. Aku melihat Wiraprana terjatuh, tetapi aku tidak tahu apa yang terjadi kemudian. Bukankah kau juga melihatnya.”

“Ya. Aku melihat. Tetapi aku segera menjadi tak sadar lagi. Nah, apakah yang telah terjadi?”

“Aku tidak tahu.”

“Bohong.”

Sekali lagi Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Ia kini benar-benar menjadi bingung. Nyai Puroni yang melihat percakapan itu dengan penuh keheranan, melihat, seakan-akan yang berdiri dengan gelisah dan cemas itu bukan Akuwu Tunggul Ametung yang dikenalnya sehari-hari. Bukan seorang yang keras hati, yang membentak-bentak dan berteriak-teriak. Bukan seorang yang aneh seperti yang sering dilakukannya atas hamba-hambanya. Sekali waktu dipukulnya seorang pelayan dalam, namun tiba-tiba orang itu dipanggilnya, dan diberinya ia hadiah sepotong kain panjang. Atau pernah seorang emban disiramnya dengan air jahe yang terlalu pedas, tetapi ketika ia melihat emban itu menangis, maka segera diberinya emban itu uang.

Sekarang Tunggul Ametung benar-benar seperti seorang anak yang merasa dirinya berdosa terhadap orang tuanya. Seperti seorang anak yang menghadapi ibunya yang sangat diseganinya. Tunduk dan gelisah.

Yang terdengar kemudian adalah suara Ken Dedes serak, “Akuwu, bagaimanakah nasib Wiraprana itu?”

Tiba-tiba pecahlah ketahanan Tunggul Ametung mendengar pertanyaan itu. Seperti orang yang berbuat tidak atas kehendaknya sediri ia berkata, “Wiraprana terbunuh.”

Alangkah dahsyatnya suara itu terdengar di telinga Ken Dedes, seperti petir yang langsung menyambar dinding-dinding hatinya. Meledak dan seakan-akan memecahkan jantungnya. Sesaat Ken Dedes terpaku seperti patung. Namun tiba-tiba gadis itu menjatuhkan dirinya di pembaringan sambil menelungkupkan wajahnya. Sekali ia memekik, menyebut nama Wiraprana, kemudian ia tenggelam dalam tangisnya yang sedih.

“Hem,” Akuwu Tunggul Ametung berdesah. Ditatapnya gadis yang malang itu. Ketika terdengar olehnya tangis itu semakin keras, maka kembali penyesalan menghentak-hentak dada Akuwu Tunggul Ametung. Dan sejalan dengan itu, maka keinginannya untuk menebus kesalahannya pun menjadi semakin besar.

Tiba-tiba terdengarlah suara Tunggul Ametung itu dalam nada yang rendah, “Maafkan aku Ken Dedes.”

Ken Dedes masih menangis terus, seakan-akan ia tidak mendengar kata-kata itu. Tetapi Akuwu itu kemudian melangkah maju, benar-benar seperti tidak atas kehendak sendiri. Dua langkah dari pembaringan Ken Dedes, Tunggul Ametung berhenti. dari antara bibirnya itu kemudian terloncat kata-kata, “Ken Dedes. aku minta maaf kepadamu. Aku telah berusaha berbuat apa saja untuk mengurangi kesalahanku. Kalau apa yang sudah aku lakukan itu masih belum cukup bagimu Ken Dedes, maka apa saja yang kau ingini seterusnya pasti akan aku penuh i. Aku adalah Akuwu Tumapel. Kekuasaanku atas tanah ini berada di tanganku.

“Tuanku,” potong Nyai Puroni yang menyangka bahwa Tunggul Ametung benar-benar telah kehilangan segala pengamatan diri. Ia ingin memperingatkan kepadanya, supaya setiap kata dan perbuatannya benar-benar dipertimbangkan sebaik-baiknya. Tetapi sebelum ia berkata lebih lanjut, Akuwu Tunggul Ametung telah berkata, “Ken Dedes. Berkatalah. Apakah yang kau kehendaki daripadaku untuk menebus kesalahan itu. Aku serahkan semua yang ada padaku kepadamu. Aku sendiri, tanah ini dan segenap kekuasaan atas Tumapel.”

“Tuanku,” sekali lagi Nyai Puroni memotong.

Namun Tunggul Ametung seakan-akan tidak mendengarnya. Bahkan Akuwu itu berkata, “Ken Dedes. Tak ada yang lebih berharga yang ada padaku dari pada itu. Sehingga dengan sejujur-jujurnya aku berkata, bahwa apa yang ada padaku telah aku sediakan untuk menebus kesalahanku. Karena itu Ken Dedes, jangan kau sedihkan yang telah terlanjur terjadi. Akulah orang yang paling menyesal atas peristiwa yang menyedihkan itu. Tinggallah untuk sementara disini. Tenangkan hatimu, dan barulah kau berpikir apakah yang akan kau lakukan kemudian. Namun ada harapanku yang akan dapat kau pertimbangkan. Menyerahkan istana ini kepadamu dengan segenap isinya.”

Ken Dedes mendengar kata-kata itu dengan jelas. Kalimat demi kalimat. Namun ia tidak memperhatikannya. Kepalanya yang tertelungkup itu masih saja tersentak-sentak oleh isaknya. Sehingga karena itu, ia sama sekali tidak menjawab, apalagi mengangkat wajahnya. Dibiarkannya Akuwu Tunggul Ametung berdiri mematung di samping pembaringannya.

Tunggul Ametung itu terkejut ketika ia merasa Nyai Puroni menggamit ujung kakinya. Ketika ia berpaling dilihatnya wajah Nyai Puroni yang tegang.

Tunggul Ametung segera menyadari apa yang terkandung di dalam hati orang tua itu. Tetapi seakan-akan ia telah terbenam dalam tekad yang bulat. Menebus kesalahannya dengan apa saja yang ada padanya. Tetapi dalam penilaian Nyai Puroni, Tunggul Ametung itu tidak saja menyesal atas kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan dan yang tidak diketahui oleh perempuan tua itu, namun Tunggul Ametung itu benar-benar sedang jatuh cinta. Cinta bagi seorang yang masih semuda Tunggul Ametung adalah bagaikan kekuatan yang tersimpan di dalam perut Gunung Semeru. Setiap saat akan meledak dengan dahsyat, sedahsyat ledakan yang terjadi saat ini. Menyerahkan apa saja yang ada padanya kepada gadis Panawijen itu.

Tetapi Nyai Puroni itu sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa. Ia sudah tidak mungkin lagi mencegah perbuatan Akuwu Tunggul Ametung itu, atau setidak-tidaknya memberinya peringatan. Semuanya sudah dikatakan oleh Akuwu dan perkataan seorang Akuwu adalah janji yang sulit untuk dicabut kembali tanpa alasan-alasan yang terlalu kuat.

Namun di samping itu, dukun tua itu benar-benar merasa kecewa, bahwa Akuwu Tunggul Ametung telah benar-benar tenggelam dalam arus perasaannya. Bukankah dengan demikian berarti bahwa Ken Dedes akan dapat menjadi permaisurinya dan langsung dapat mencampuri tata pemerintahan. Bukankah dengan demikian maka gadis padesan itu dapat membuat putih hitam atas tanah Tumapel?”

Nyai Puroni, yang telah mengabdikan diri sejak bertahun-tahun itu menjadi sangat menyesalkan keadaan itu. Kenapa Akuwu tidak dapat mengendalikan perasaannya?”

Tetapi bukan saja ia menyesalkan sikap Tunggul Ametung, namun tiba-tiba ia menjadi sangat kecewa pula kepada Ken Dedes. Gadis itu seakan-akan telah melanggar segala adat dan kebiasaan istana Tumapel. Gadis itu sama sekali tidak tunduk pada setiap peraturan yang berlaku bahkan ia telah berani menyebut nama Tunggul Ametung begitu saja. Betapapun juga kemarahan seseorang, namun kepada Akuwu ia tidak akan dapat berbuat demikian. Tetapi ken Dedes itu telah melakukannya. Namun dukun tua itu menyimpan kekecewaan itu di dalam dadanya. Ia tidak berani mengatakannya di muka Tunggul Ametung yang sedang jatuh cinta itu.

Sesaat kemudian bilik itu menjadi sepi, yang terdengar adalah suara isak Ken Dedes yang pedih. Nyai Puroni yang telah menjadi kecewa itu, sama sekali tidak bernafsu lagi untuk menghiburnya. Bahkan ia menjadi jemu menunggui gadis itu di sentong tengen. Telah hampir satu hari satu malam ia berada dalam bilik itu, dan hanya keluar sesaat apabila ia pergi ke belakang dan makan, berganti-gantian dengan emban yang sekarang duduk diluar. Namun ternyata bahwa ia menemui kekecewaan. Ketika Akuwu Tunggul Ametung kemarin mengucapkan janjinya, Nyai Puroni telah merasa aneh dan heran. Tetapi ia mengharap bahwa Akuwu akan berubah pendirian selagi janji itu belum didengar oleh orang lain, apalagi Ken Dedes sendiri. Tetapi kini janji itu langsung telah diberikan kepada gadis Panawijen itu. Gadis padesan yang terlalu kecil dibandingkan dengan kebesaran Akuwu Tumapel.

Tetapi Tunggul Ametung sendiri memandang Ken Dedes tidak terlampau kecil. Bahkan Akuwu itu melihat kebesaran yang memancar dari diri gadis itu. Dari sikapnya dan dari balik kewadagannya.

Sejenak kemudian, ketika Ken Dedes masih juga menangis, berkatalah Tunggul Ametung, “Ken Dedes, aku tidak ingin kau mengambil sikap dengan tergesa-gesa. Pikirkanlah semua kata-kataku. Aku sama sekali tidak bermaksud buruk. Semuanya aku katakan dengan jujur. Seperti aku dengan jujur mengakui segenap kesalahanku. Sekarang cobalah tenangkan hatimu. Apa yang sudah terjadi tak akan dapat diulang kembali. Namun pertimbangan apa yang aku katakan, menjelang hari depanmu yang masih panjang.”

Kali in pun Ken Dedes seolah-olah tidak mendengar kata-kata Akuwu Tunggul Ametung. Ia masih saja terbenam dalam isak tangisnya, kekecewaan dan penyesalan yang tiada taranya.

“Baiklah aku pergi dulu Ken Dedes,” berkata Tunggul Ametung itu. Namun kata-kata lenyap tiada jawaban. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Tunggul Ametung melangkah surut, kemudian kepada Nyai Puroni ia berkata, “Nyai, rawatlah gadis ini baik-baik.”

Nyai Puroni menganggukkan kepalanya, tetapi betapa hambar perasaannya. Jawabnya, “Hamba Tuanku.”

Tunggul Ametung kemudian tidak berkata apapun lagi. Segera ia melangkah meninggalkan ruang itu. Di muka pintu dilihatnya seorang emban duduk bersimpuh dan menyembahnya ketika ia lewat.

“Layani gadis itu seperti kau melayani aku,” perintah Tunggul Ametung.

Emban itu menjadi heran. Dipandanginya wajah Akuwu sesaat, namun kemudian jawabnya, “Hamba tuanku.”

Tunggul Ametung itu pun kemudian pergi ke biliknya, kepada seorang pelayan diperintahkannya memanggil Daksina.

“Hamba tuanku,” sahut pelayan itu.

“Cepat. Ia harus datang sekarang membawa kitab yang paling baik yang dikenalnya.”

“Hamba tuanku,” sahut pelayan itu yang kemudian berlari-lari pergi ke rumah Daksina di halaman belakang istana.

Sejenak kemudian Daksina datang sambil membava Kidung yang lagi dibacanya di rumahnya, Smaradahana.

“Ya bacalah,” perintah Akuwu.

Dengan suaranya yang lembut Daksina kemudian membaca rontal Kidung Smaradahana.

Akuwu yang sedang dilanda oleh berbagai perasaan itu merasa betapa hatinya menjadi penat. Suara Daksina itu seolah-olah langsung menyentuh membelai seisi dadanya. perlahan-lahan Akuwu dapat mengendapkan kesibukan perasaannya, sehingga sesaat kemudian Tunggul Ametung itu tertidur.

Ken Dedes yang kemudian ditinggalkan oleh Akuwu Tunggul Ametung, masih saja meratapi nasibnya yang pahit. Ia tidak dapat mengerti kenapa hal itu harus menimpa pada dirinya. Namun sekejap-sekejap terngiang juga kata-kata Akuwu Tunggul Ametung di telinganya. Terasa bahwa Tunggul Ametung telah mencoba berkata setulus hatinya. Terasa bahwa Akuwu itu benar-benar telah menumpahkan segenap perasaan yang tersimpan di dalam dadanya. Bahkan kadang-kadang di telinga Ken Dedes itu masih juga terulang-ulang kata-kata Tunggul Ametung, “Ken Dedes, berkatalah. Apakah yang kau kehendaki dari padaku untuk menebus kesalahan itu. Aku serahkan semua yang ada padaku kepadamu. Aku sendiri, tanah ini dan segenap kekuasaan atas Tumapel.” Kemudian Tunggul Ametung itu berkata pula, “Ken Dedes, tak ada yang lebih berharga yang ada padaku daripada itu. Sehingga dengan sejujur-jujurnya aku berkata, bahwa yang ada padaku telah aku sediakan untuk menebus kesalahanku.”

Ketika Ken Dedes kemudian mengangkat wajahnya, dilihatnya Nyai Puroni duduk tepekur di sisi pembaringannya. Karena tidak ada orang lain, maka kepada Nyai Puroni itulah Ken Dedes ingin menyeriterakan dan menumpahkan segenap tekanan yang menghimpit dadanya selama ini. Ketika dilihatnya Nyai Puroni masih saja menundukkan wajahnya, maka perlahan-lahan terdengar Ken Dedes itu memanggil, “Nyai.”

Nyai Puroni mengangkat wajahnya. Tetapi wajah itu sudah tidak sebening ketika ia pertama-tama memasuki ruangan itu. “Apa ngger,” sahutnya.

“Apakah Nyai mengetahui maksud Akuwu Tunggu Ametung dengan segenap kata-katanya itu?”

Nyai Puroni mengangkat keningnya. Kemudian sambil mencibirkan bibirnya ia berkata, “Perkataan seorang laki-laki biasa.”

“Kenapa Nyai?” bertanya Ken Dedes.

Nyai Puroni tidak segera menjawab. Sekali dipandangnya wajah gadis padesan itu. “Memang cantik,” gumamnya di dalam hati. Tetapi tiba-tiba pula merayap pada dinding jantungnya, perasaan iri hati atas nasib Ken Dedes yang sangat baik itu. Telah berapa tahun ia mengabdikan diri pada Akuwu Tunggul Ametung, namun tidak pernah ia menerima limpahan kebaikan hati sepersepuluh dari yang diterima oleh Ken Dedes. Sebagai seorang dukun, ia masih saja harus melakukan pekerjaannya dengan keadaan yang sama seperti dua tiga tahun yang lampau. Kemenakannya, seorang gadis yang cantiknya menyamai bidadari dan diabdikannya pula di istana ini, sejak ia menginjak gerbang istana dua tahun yang lampau sampai saat ini masih saja tidak lebih dari seorang emban juru makanan. Sekali-kali Akuwu Tunggul Ametung memuji kepandaiannya memasak. Namun besok Akuwu telah melupakannya pula. Sekarang tiba-tiba di istana itu hadir seorang gadis desa, berkain lurik kasar, berkulit kehitam-hitaman dibakar oleh terik matahari, namun langsung ditempatkan oleh Akuwu di sentong tengen. Dan bahkan telinganya sendiri mendengar betapa Tunggul Ametung telah mengucapkan suatu janji yang tak ternilai.

Ketika dukun tua itu tidak segera menjawab, maka kembali Ken Dedes bertanya, “Kenapa Nyai? Kenapa dengan seorang laki-laki biasa?”

Nyai Puroni menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya, “Kau masih terlalu muda ngger. Kau belum tahu apa yang dikatakan oleh seorang laki-laki kepada seorang perempuan. Bukankah kau mendengar bahwa Tunggul Ametung itu akan menyerahkan apa saja yang ada padanya kepadamu? Nah, itulah suatu pertanda bahwa Akuwu Tunggul Ametung itu sedang mencoba merayumu. Tetapi jangan kau harap bahwa kau akan dapat menjadi seorang permaisuri yang benar-benar memiliki kekuasaan di Tumapel melampaui kekuasaan Akuwu Tunggul Ametung.”

Ken Dedes memandang Nyai Puroni dengan heran. Ia mendengar Akuwu berkata demikian kepadanya. Tetapi ia melihat perubahan sikap, nada dan tekanan kata-kata Nyai Puroni.

Dan sebelum Ken Dedes berkata apapun, maka kembali Nyai Puroni itu berkata, “Nah, karena itu jangan terlalu berbangga dengan dirimu ngger. Kau kini berani menyebut nama Akuwu Tunggul Ametung tanpa sebutan apapun. Mungkin kini Akuwu masih dapat menahan kemarahannya karena keinginannya untuk mendapat kesediaanmu. Tetapi nanti, apabila ibarat bunga, madumu telah habis dihisapnya, maka kau akan dilemparkan ke dalam parit.”

“Nyai,” potong Ken Dedes.

Nyai Puroni, dukun tua yang berwajah bening dan lembut itu tiba-tiba tertawa. Suaranya bernada tinggi meskipun perlahan-lahan. Katanya, “Jangan takut. Itu adalah akibat biasa bagi seorang gadis yang diingini oleh Tunggul Ametung. Pembaringan ini dapat menjadi saksi. Berapa banyak gadis seperti angger ini, yang mula-mula berbaring di sentong tengen akhirnya berkeliaran di sepanjang jalan Tumapel. Ada diantara mereka yang menjadi gila dan ada pula yang membunuh dirinya sendiri.”

“Nyai terlalu mengerikan.”

“Ya. Aku berkata sebenarnya.”

“Tetapi, aku sama sekali tidak berkeinginan untuk menjadi apapun disini, apalagi seorang permaisuri.”

Nyai Puroni tersenyum. Senyumnya menjadi semakin menakutkan. Wajahnya kini sama sekali berubah. Sinar matanya yang lembut tiba-tiba kini seakan-akan membakar jantung Ken Dedes. Katanya, “Oh, oh. Jangan mengelabui orang tua ngger. Adakah di dunia ini seseorang yang menolak kebahagiaan itu tanpa mengetahui akibatnya?”

“Nyai,” bantah Ken Dedes, “bukankah Nyai melihat keadaanku pada saat aku datang? Kalau aku benar-benar berkeinginan seperti yang Nyai katakan, maka aku sekarang akan terbakar oleh kegirangan tiada bandingnya.”

“Aku orang tua ngger. Aku memang pernah melihat, seorang gadis tanpa diminta pendapatnya, langsung dibawa oleh Akuwu. Gadis itu menjadi ketakutan seperti angger ini. Tetapi ketika diketahuinya bahwa yang akan didapatnya adalah istana dan kekuasaan atas Tumapel, maka dengan serta merta ia menerimanya. Tetapi akibatnya?”

“Oh,” Ken Dedes menutup wajahnya. Tetapi bagaimanapun juga Ken Dedes bukan seorang yang sangat bodoh. Ia melihat pada saat-saat Akuwu Tunggul Ametung datang bersama Kuda Sempana. Ia melihat, bahu a Akuwu belum mengenal dirinya. Dan ia mengetahui apa yang pernah dilakukan oleh Kuda Sempana atasnya. Karena itu ia menjadi bimbang atas keterangan Nyai Puroni itu. Mungkin Akuwu pernah berbuat demikian, namun kehadiran dirinya di Tumapel bukan atas kehendak Tunggul Ametung, tetapi atas kehendak Kuda Sempana. Meskipun demikian, Ken Dedes tidak membantah lagi. Dibiarkannya Nyai Puroni berkata terus ” Nah ngger. Terserah kepada angger. Apakah angger akan menerima nasib seperti itu? Seperti gadis-gadis yang kemudian membunuh diri atau berkeliaran sepanjang jalan karena terganggu ingatannya.

Ken Dedes menutupi wajahnya semakin rapat. Suara itu benar-benar seperti suara hantu di tengah-tengah tanah pekuburan.

Nyai Puroni yang melihat Ken Dedes ketakutan, menjadi gembira. Ia mengharap gadis itu menolak. Dengan demikian ia tidak harus menyembah seorang gadis desa apabila ia benar diangkat menjadi seorang permaisuri. Mungkin Nyai Puroni dapat mencari gadis-gadis terhormat atau bahkan seorang gadis dari istana Kediri untuk permaisuri Akuwu Tunggul Ametung. Bukan hanya seorang gadis dari Panawijen.

Sebelum Akuwu berhasil mendapatkan seorang permaisuri, dapat saja Tunggul Ametung mengambil satu atau dua orang selir. Kalau berkenan di hati Akuwu, maka kemanakannya yang kini menjadi juru makanan dapat juga diambilnya. Tetapi jangan gadis desa ini. Gadis yang menjadi seorang selir pun kurang pantas meskipun cantik.

Ketika kemudian Nyai Puroni masih saja menakut-nakuti, maka akhirnya hati Ken Dedes menjadi tidak tahan lagi. Sahutnya, “Nyai, bukankah Nyai telah mendengarnya sendiri, bahwa yang membawa aku kemari adalah Kuda Sempana. Sama sekali bukan Akuwu Tunggul Ametung. Apalagi atas persetujuanku.”

Nyai Puroni terdiam sesaat, sejak semula memang ia telah menyangka bahwa semua itu adalah pokal Kuda Sempana. Bahkan semula menaruh belas yang dalam kepada gadis yang malang itu.

Tetapi tiba-tiba perasaan iri dan dengki telah menyala di dalam hatinya, seolah-olah telah membakar hangus segala sifatnya. Sifat seorang dukun yang pengasih dan berhati lembut. Harga dirinya sebagai seorang perempuan istana menghadapi seorang gadis desa, mendorongnya untuk menolak kehadiran Ken Dedes di dalam istana Tumapel.

Setelah berdiam diri sejenak maka Nyai Puroni itu kemudian menjawab, “Apapun sebabnya ngger, namun kau sekarang telah berada di sentong tengen ini. Kalau kau mau mendengar nasehatku, jangan kau penuhi permintaan Akuwu. Meskipun dikatakannya untuk menebus kesalahan dan apa saja. Kau harus dapat membedakan. Seorang laki-laki berkata sungguh-sungguh atau seorang laki-laki sedang merayu. Kalau benar Tunggul Ametung akan menebus kesalahannya, dan segenap permintaanmu akan dipenuhi, cobalah, mintalah kau dikembalikan ke rumahmu. Mintalah tanah yang luas dan mintalah ternak dan iwen untuk bekal hidupmu kelak. Mudah-mudahan kau akan menemukan suami yang baik kelak dan kau akan dapat hidup dengan baik pula ngger.”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Kata-kata Nyai Puroni mempunyai pengaruh yang sangat aneh di dalam dirinya. Ken Dedes, gadis desa yang manja, yang kurang sekali memiliki pengalaman itu, ternyata dapat membedakan nada dan tekanan kata-kata yang diucapkan oleh Tunggul Ametung dan Nyai Puroni. Ia melihat kejujuran membayang di wajah Akuwu yang suram dan dalam. Tetapi di balik kata-kata Nyai Puroni terasa ada yang kurang wajar. Orang tua yang baik dan lembut itu tiba-tiba saja berubah menjadi seorang yang berlidah tajam. Tetapi Ken Dedes sama sekali tidak segera dapat menarik kesimpulan dari semua pembicaraan yang didengarnya.

Tetapi karena itu, maka ia terpaksa berpikir. Dengan demikian maka ia tidak lagi tenggelam dalam arus perasaannya. Perasaan duka dan hampir putus asa. Justru karena itu, maka tiba-tiba ia mulai dengan pertimbangan-pertimbangan yang semakin lama menjadi semakin bening. Ia mulai berpikir dan mempertimbangkan semua peristiwa-peristiwa yang telah terjadi atas dirinya, atas keluarganya dan atas Wiraprana yang malang.

Ketika kemudian terbersit di dalam hatinya. bahwa segala akhir dari peristiwa adalah terletak di tangan Yang Maha Agung, maka Ken Dedes benar-benar dapat mengendapkan hatinya. Adalah wewenang dari setiap orang untuk mempertimbangkan, merencanakan dan mengusahakan jalan dan arah hidupnya. Namun kadang-kadang yang Maha Agung berkehendak lain dari kehendak orang itu sendiri. Namun yang berlaku itulah keadilan yang sebenarnya yang dianugerahkan oleh sumber Hidup manusia kepada manusia. Sedang Yang Maha Agung itu pun pasti akan mendengar setiap permohonan dari mahluk terkasihnya, sepanjang permohonannya itu wajar menurut penilaian tertinggi, bukan penilaian manusia. Itulah sebabnya maka manusia diwajibkan berusaha, sebagai ungkapan kesungguhan atas permohonannya.

Beberapa saat kemudian Nyai Puroni masih saja memberikan beberapa pendapat kepada Ken Dedes. Berbagai-bagai hal dikemukakannya dan diberikannya beberapa contoh yang dapat menambah kecemasan hati gadis Panawijen itu. namun kini Ken Dedes sama sekali tidak menjawab. Satu patah katapun tidak. Sehingga akhirnya Nyai Puroni itu berhenti dengan sendirinya.

Namun dukun tua itu, sama sekali tidak dapat menangkap kesan wajah Ken Dedes. Ia mengharap gadis itu ketakutan, dan nanti apabila Tunggul Ametung datang kembali, maka ia akan minta dikembalikan ke Panawijen, sesuai dengan janji Akuwu, akan memberi apa saja yang dimintanya.

Karena Ken Dedes sama sekali tidak menjawab semua kata-katanya, dan tidak segera dapat memberinya kesan atas semua kata-katanya, maka Nyai Puroni itu menjadi kecewa. Meskipun demikian ia mengharap bahwa gadis desa itu akan menuruti kata-katanya. Untuk memberinya waktu, maka Nyai Puroni itu pun kemudan berkata, “Pikirkan nasehatku ngger. Aku ingin Akuwu tidak membuat korban-korban baru. Aku akan pergi ke belakang sebentar. Biarlah emban diluar itu mengawasimu disini. Tetapi ingat, jangan kau katakan nasehatku kepada siapapun, supaya kau tidak terancam oleh kekerasan. Sebab Akuwu dapat merayumu dengan kata-kata, namun dapat juga memaksamu dengan senjata. Bukankah kau seorang gadis yang lemah? Nah, simpanlah nasehatku dan pertimbangkanlah seorang diri.”

Kali ini Ken Dedes mengangguk sambil berkata, “Baik Nyai.”

Nyai Puroni itu pun kemudian berdiri dan melangkah keluar. Diluar dijumpainya seorang emban duduk sambil mengantuk.

“He,” desis Nyai Puroni sambil menyentuh pundaknya.

Emban itu terkejut. “Ada apa Nyai,” sahutnya tergagap.

“Aku akan pergi sejenak. Tungguilah gadis itu. Jangan kau ganggu dengan ceritera-ceritera yang aneh-aneh. Ia masih saja mengigau. Mungkin ia masih dibayangi oleh ketakutan, sehingga pertanyaannya sangat aneh.”

Emban yang masih menguap sekali dua kali itu mengangguk sambil menjawab, “Baik Nyai. Dan sekarang Nyai akan pergi kemana?”

“Aku akan ke belakang sebentar.”

“Bukankah Nyai tidak pergi terlalu lama? Aku takut menunggui gadis itu seorang diri. Kalau tiba-tiba ia pingsan kembali, maka aku akan menjadi pingsan pula.”

“Tidak, aku tidak terlalu lama. Tetapi ingat. Gadis itu masih dipengaruhi oleh ketakutan. Karena itu, jangan membantah pertanyaannya. Biarkan saja apa yang dikatakan. Kau dengar.”

Meskipun emban itu tidak mengerti maksud Nyai Puroni namun ia menganggukkan kepalanya, “Baik Nyai,” jawabnya.

“Pertanyaannya sangat aneh,” Nyai Puroni meneruskan, “tetapi ingat-ingat, jangan dibantah, sebab ia akan menjadi kecewa dan pingsan kembali. Ia mendendam Akuwu, sehingga ia menganggap Akuwu terlalu jahat. Tetapi ingat, jangan dibantah.”

“Ya, ya,” sahut emban itu.

Nyai Puroni itu pun kemudian melangkah pergi. Menuruni tangga di ruang dalam dan kemudian menyeberang serambi dan sampailah ia ke halaman belakang.

Sepeninggal Nyai Paroni, emban yang ditinggalkan di muka pintu pun segera melangkah masuk. Ditemuinya Ken Dedes berbaring di pembaringan sambil mengusapi air matanya, namun gadis itu sudah tidak menangis lagi.

Ketika dilihatnya seorang emban berjalan masuk ke bilik itu, Ken Dedes bangkit dan menganggukkan kepalanya.

“Silahkan berbaring, puteri … eh … ”

“Jangan panggil aku demikian. Aku adalah seorang gadis desa, gadis Panawijen.”

“Bagaimana aku harus memanggil?”

“Panggil namaku, Ken Dedes. Siapakah namamu?”

“Oh,” emban itu menjadi gelisah. Katanya selanjutnya, “namaku Madri.”

“Madri,” ulang Ken Dedes, “nama yang bagus.”

Emban itu menjadi heran mendengar Ken Dedes memuji namanya. Kesan yang dikatakan oleh Nyai Puroni sama sekali tak ditemuinya pada wajah gadis Panawijen itu. Bahkan gadis itu sempat menanyakan namanya dan memuji nama itu. Meskipun demikian emban itu tidak berkata-kata untuk sejenak. Diletakkannya tubuhnya di samping pembaringan Ken Dedes.

“Duduklah disini Madri,” ajak Ken Dedes.

“Oh. Jangan. Jangan. Aku adalah seorang emban meskipun namaku bagus.”

Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Gadis emban ini menarik perhatiaunya. Agaknya gadis ini gadis yang cukup jujur.

“Apakah emban tidak boleh di pembaringan ini?” bertanya Ken Dedes.

“Tidak. Emban hanya boleh duduk di lantai.”

Kembali Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditatapnya wajah emban yang menunduk itu. Kemudian dipandanginya tubuhnya sendiri. Ternyata emban itu tampak lebih bersih daripadanya. Kulitnya, pakaiannya dan rambutnya. Tetapi kini Ken Dedes tidak mau lagi hanyut dalam arus perasaannya. Ia mencoba untuk menghadapi setiap persoalan dengan akal pikirannya.

Karena itu, meskipun ia melihat kekurangannya, namun ia tidak segera merasa betapa kecil dirinya.

Setelah mereka terdiam sesaat, maka timbullah keinginan Ken Dedes untuk mengetahui kebenaran kata-kata Nyai Puroni. Meskipun semula ia menjadi ragu-ragu, namun kemudian terdengar ia bertanya, “Emban, siapakah yang pernah berbaring di pembaringan ini?”

Emban itu mengangkat wajahnya. Sejenak ia menjadi ragu-ragu. Teringat pula olehnya pesan Nyai Puroni untuk tidak membantah setiap kata-kata gadis itu. Namun pertanyaan ini tidak berkesan apa-apa baginya, bukan pertanyaan seorang yang ketakutan dan akan jatuh pingsan. Karena itu maka dijawabnya. “Belum ada. Belum pernah ada seorang pun yang dibaringkan di pembaringan ini.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Pada pertanyaannya yang pertama ia telah semakin meragukan kebenaran keterangan Nyai Puroni. Karena itu, maka ia bertanya pula, “Madri, sentong apakah ini namanya. Begitu baiknya, penuh dengan ukiran dan perhiasan-perhiasan.”

“Sentong ini adalah sentong yang selama ini selalu kosong. Sentong ini disediakan untuk permaisuri.”

Dada Ken Dedes berdesir mendengar jawaban itu. Kalau demikian apakah maksud Tunggul Ametung sebenarnya? kenapa ia ditempatkan di sentong ini sejak permulaan?”

Kembali Ken Cedes bertanya kepada emban yang muda itu, “Kenapa bukan kau Madri. Kenapa bukan kau yang cantik itu dibaringkan di pembaringan ini?”

“Ah,” desah Madri sambil menggigit ujung kainnya. Tetapi ia tidak menjawab.

“Jadi Akuwu Tunggul Ametung belum pernah mempermaisuri?”

“Belum. Belum,” jawab emban itu.

“Belum berselir?”

“Belum, belum.”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia ingin mencoba bertanya. Kali ini Ken Dedes ingin mengetahui, kenapa Nyai Puroni tidak memberi gadis itu pesan, agar ia berbohong pula kepadanya. Katanya, “Tetapi Madri. Aku pernah mendengar bahwa Akuwu Tunggul Ametung pernah beberapa kali mengambil gadis-gadis dan kemudian segeralah tidak dipakainya lagi, maka gadis-gadis itu dibuangkannya ke tepi-tepi jalan? Begitu?”

Madri terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun kemudian teringatlah ia akan pesan Nyai Puroni supaya ia mengiakan semua pertanyaan gadis yang sedang mendendam itu, supaya gadis itu tidak gusar dan pingsan kembali. Tetapi sebenarnya Madri bukanlah gadis yang terlalu bodoh. Bahkan ia mempunyai otak yang cukup baik, apalagi emban itu adalah emban yang jujur. Meskipun demikian ia tidak berani menolak pesan Nyai Puroni. Seandainya terjadi hal-hal yang tak diinginkan pada gadis itu, maka pasti dirinyalah yang akan dipersalahkan. Namun emban itu masih ingin bertanya kepada Ken Dedes katanya, “Darimanakah berita itu?”

Ken Dedes menggeleng, “Tidak dari seorang pun disini.”

Emban itu mengerutkan keningnya. Sekali ditatapnya wajah Ken Dedes. Namun pada wajah itu sama sekali tidak dilihatnya kesan yang dikatakan oleh Nyai Puroni kepadanya, kesan bahwa gadis itu sedang dalam ketakutan dan mendendam.

“Bagaimana Madri,” bertanya Ken Dedes itu pula.

Madri menjadi ragu-ragu. Ia tidak dapat menduga maksud Nyai Puroni yang sebenarnya. Tetapi kembali ia merasa takut untuk melanggar pesan itu. Karena itu, meskipun sama sekali tidak memancar dari lubuk hatinya ia menjawab ragu-ragu, “Ya. ya tuan …”

“Panggil namaku, Ken Dedes,” sahut Ken Dedes.

“Ya demikianlah.”

“Jadi pendengaranku itu benar?”

Emban itu mengangguk penuh kebimbangan, “Ya. Ya benar.”

Tetapi Ken Dedes menjadi semakin tidak yakin akan jawaban itu. Maka desaknya. “Jadi, adakah seadainya pembaringan ini dapat mendengar, maka ia akan mendengar banyak sekali keluhan gadis-gadis korban Akuwu Tunggul Ametung itu, dan seandainya ia dapat berceritera maka akan banyak sekali ceritera sedih yang dapat diberikan kepada kita, Madri.”

Madri menjadi semakin bimbang. Namun kembali ia mengangguk, tetapi sama sekali tidak meyakinkan, “Ya. Demikianlah.”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Kini ia telah menemukan keyakinan, bahwa Nyai Puroni tidak berkata sebenarnya, dan emban yang jujur itu pun telah mencoba untuk membohonginya.”

Meskipun demikian Ken Dedes tidak menanyakan kepada Madri, manakah yang benar menurut kata-kata emban itu sendiri, bahwa pembaringan ini masih belum pernah dipergunakan, atau pembaringan ini telah menyimpan banyak sekali kisah pahit dari gadis yang kemudian dilemparkan begitu saja di tepi-tepi jalan.

Namun emban itu agaknya telah merasa kejanggalan jawabnya sendiri. berkali-kali ia menelan ludahnya. Ingin ia, memberikan beberapa penjelasan. Tetapi suaranya seakan-akan tersumbat di kerongkongan. Sehingga karena itu, maka tubuhnya menjadi basah oleh keringat dingin yang mengalir dari seluruh lubang-lubang kulitnya. Dadanya terasa seolah-olah bergelora, karena detik jantungnya yang semakin cepat, namun di dalam kepalanya sempat ia membuat perhitungan-perhitungan.

“Tak seorang pun pernah mengatakan seperti berita yang pernah didengar gadis itu,” desisnya di dalam hati, “sanak kadangku yang tinggal di desa-desa dan yang tinggal di dalam kota ini sekalipun, tidak pernah ada yang menyebut-nyebut tentang ceritera semacam itu. Dan tidak pernah pula mendengar dari seorang pun bahwa Akuwu pernah mengambil seorang gadis dan mengorbankan gadis itu dengan amat kejinya. Apalagi melihat. Tidak, Akuwu tidak pernah berbuat demikian, dan tak ada seorang pun yang pernah memfitnahkan demikian.”

Tetapi emban itu tiba-tiba mengerutkan lehernya. Serasa seluruh bulu-bulunya tegak berdiri, ketika ia sampai pada kesimpulan yang ditemui oleh gadis ini pertama-tama adalah Nyai Puroni. Apakah orang tua itulah yang telah membuat ceritera yang mengerikan itu? Emban itu menggelengkan kepalanya, “Tidak. Bukan Nyai Puroni. Orang itu tidak mempunyai kepentingan apa-apapun dengan Ken Dedes maupun Akuwu Tunggul Ametung,” desisnya di dalam hati, “tetapi siapa? Atau benar seperti yang dikatakan oleh Nyai Puroni, bahwa Ken Dedes selalu dikejar-kejar oleh perasaan takut dan dendam, sehingga dikarangnya sendiri ceritera semacam itu atau dibayangkannya, bahwa sebelum dirinya sendiri, banyak gadis-gadis yang mengalami bencana semacam itu? Tetapi wajah gadis itu sedemikian tenangnya.”

Emban itu menjadi bingung sendiri. Tetapi kemudian ia menarik nafas dalam-dalam, “Ah, apa peduliku? dengan berpusing-pusing tentang gadis ini gajiku belum pasti akan mendapat kenaikan. Biarlah aku melakukan pekerjaanku seperti yang diperintahkan.”

Tetapi emban itu terkejut ketika Ken Dedes berkata, “Jadi ceritera itu benar-benar telah terjadi, Madri?”

“Ya,” jawab emban itu singkat.

“Tetapi kenapa kau tidak takut menghambakan dirimu di istana ini? Kau terlalu cantik Madri. Jauh lebih cantik dari setiap gadis yang pernah aku jumpai. Apalagi kau masih muda dan sehat. Apakah senyummu itu tidak sangat berbahaya bagimu?”

Pertanyaan itu sama sekali tidak diduganya. Karena itu maka emban itu pun menundukkan wajahnya yang menjadi kemerah-merahan. Ia menjadi bingung, bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu, namun ia menjadi malu atas pujian yang berlebih-lebihan. karena itu, maka Madri itu pun sama sekali tidak menjawab.

Ken Dedes pun tidak mendesaknya pula. Ia telah menemukan keyakinan. Dan karena ini ia menjadi senang. Gadis Panawijen itu ternyata menjadi heran sendiri atas ketenangan yang menyelimuti jiwanya. Pasrah diri pada sumber hidupnya, dan agaknya peristiwa yang telah menggoncangkan jiwa dan raganya ini, benar-benar telah menggoncangkan segala macam sifat kekanak-kanakan dan kemanjaannya. Dalam beberapa hari, Ken Dedes telah benar-benar berubah menjadi seorang gadis dewasa. kejutan atas perasaannya telah mempercepat dan mematangkan jiwanya. Sehingga karena itu pula, ia mampu kini berpikir dalam alam kedewasaannya.

Karena itulah, maka ia tidak ingin membuat emban itu bertambah bingung. Dikisarkannya pembicaraannya ke segi-segi yang sama sekali jauh menghindar dari persoalan-persoalan dirinya.

“Madri, emban yang manis,” berkata Ken Dedes, “sudah berapa lamakah kau berada di dalam istana ini?”

Mendengar pertanyaan itu dada Madri berdesir. Dijawabnya sambil menundukkan kepalanya, “Hampir dua tahun tuan.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian sambungnya, “Jadi kau sudah melihat hampir segenap sudut istana bukan?”

Madri mengangguk.

“Kau pernah melihat, dimana seisi istana ini harus mandi?”

Madri kini mengangkat wajahnya, “Ya,” sahutnya.

“Madri, sudah dua hari aku tidak menyentuh air.”

Emban itu menarik keningnya. Dua hari terpisah dengan air bagi seorang perempuan adalah cukup lama. Seandainya Ken Dedes dalam dua hari itu tidak sedang dilanda oleh berbagai kegoncangan maka yang dua hari itu pasti benar-benar memusingkan kepalanya untuk menyentuh air.

“Jadi apakah tuan akan mandi?” bertanya emban itu.

“Panggil namaku, Ken Dedes.”

“Ya,” sahut Madri dengan kaku, “apakah tuan akan mandi?”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya kehadirannya di ruangan ini sangat berpengaruh baginya sehingga emban itu tidak berani menyebut namanya. Tetapi Ken Dedes tidak ingin memperbincangkannya lebih banyak. Karena itu jawabnya, “Aku ingin mencuci muka dan tanganku.”

Madri dapat mengerti, bahwa Ken Dedes benar-benar memerlukan air. Tetapi apakah ia dapat mengantarkan gadis itu ke belakang? Apakah dengan demikian ia tidak bersalah, dan bagaimanakah seandainya gadis itu melarikan diri?”

Madri benar-benar menjadi bingung, sehingga untuk sejenak ia tidak dapat menjawab.

“Bagaimana Madri?”

“Ya tuan, tetapi apakah tuan dapat menunggu Nyai Puroni?”

“Kenapa aku harus menunggu?”

Kembali emban itu menjadi bingung. Sekali-kali dijenguknya bilik pintu itu, dan sambil berdesis ia menunggu Nyai Puroni.

“Siapa yang kau tunggu?” bertanya Ken Dedes itu tiba-tiba.

“Nyai Puroni tuan,” sahut Madri.

“Aku tidak perlu menunggunya. Marilah antarkan aku ke belakang.”

“Ya, ya. Tetapi …. ” emban itu tidak meneruskan kata-katanya.

Ken Dedes melihat keragu-raguan itu. Akhirnya iapun dapat memahami kesulitan Madri. Karena itu maka kemudian katanya, “Baiklah aku menunggu Nyai Puroni.”

Madri menganggukkan kepalanya. Tetapi ia menjadi gelisah. Demikian gelisahnya, sehingga ia berkata, “Aku akan keluar sebentar tuan, menjenguk apakah Nyai Puroni ada di emper belakang.”

Ken Dedes mengangguk, “Pergilah. Cepat kembali, aku tidak tahan lagi.”

Emban itu berlari-lari keluar. Ketika ia menjenguk ke serambi belakang, alangkah terkejutnya. Yang mondar-mandir di serambi adalah Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu segera berjongkok sujud menyembah.

“Apa? ” bertanya Akuwu Tunggul Ametung.

Pertanyaan itu benar-benar membingungkan. Sehingga emban itu menjadi tergagap karenanya.

“Mau kemana?” bertanya Akuwu itu pula.

“Ampun tuanku, hamba akan mencari Nyai Puroni.”

Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. “Kemana Nyai Puroni.”

“Ke belakang tuanku.”

“Kau tinggalkan gadis itu Sendiri?”

“Ampun tuanku, gadis itu akan pergi ke belakang. Hamba takut mengantarkannya sebelum hamba minta ijin dahulu kepada Nyai Puroni.”

“Kenapa minta ijin Nyai Puroni?”

Kembali emban itu menjadi bingung. Ia tidak tahu, bagaimana menjawab pertanyaan Akuwu itu, sehingga emban itu pun menundukkan wajahnya yang pucat.

“Nah, antarkan gadis itu sekarang.”

“Hamba tuanku,” sahut emban itu sambil menyembah. Kemudian sambil berjongkok ia beringsut kembali masuk ke dalam bilik kanan di ruang dalam.

Ken Dedes itu pun segera diberitahukannya, bahwa Akuwu sendiri telah mengijinkannya untuk pergi.

“Apakah aku seorang tawanan Madri?” bertanya Ken Dedes.

Pertanyaan itu sama sekali tidak diduga-duga. Sekali lagi ia dibingungkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak dimengerti jawabnya. Kali ini Madri itu menjawab dengan jujur, “Tuan, aku adalah seorang emban, sehingga tidak banyaklah yang aku ketahui tentang diri tuan. Bahkan tentang diriku sendiri di dalam istana ini.”

Ken Dedes tersenyum. Ditepuknya bahu emban itu sambil berkata, “Kau jujur Madri.”

Ken Dedes itu pun kemudian mengikuti Madri berjalan lewat pintu samping, menyeberangi serambi jauh di ujung untuk menghindari Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi tiba-tiba mereka terkejut ketika mereka mendengar tepuk tangan. Ketika mereka berpaling, mereka melihat Akuwu berjalan bergegas-gegas kepada mereka, sehingga dengan serta merta emban itu pun menjatuhkan diri berjongkok sambil menyembah. Ken Dedes yang sudah menemukan ketenangannya pun segera berjongkok pula di belakang Madri.

Tetapi terdengar Tunggul Ametung berkata dari tempat yang masih agak jauh, “Berdirilah. Berdirilah.”

Madri menjadi bingung. Kenapa ia harus berdiri. Ketika ia mencoba memandang Akuwu, dilihatnya tangannya memberi isyarat untuk berdiri.

Dengan ketakutan Madri perlahan-lahan berdiri. Terasa kakinya menjadi gemetar. Tetapi kembali ia membanting dirinya ketika ia mendengar Akuwu berkata lantang, “Bukan kau emban yang bodoh. Bukan kau yang harus berdiri.”

Madri menjadi semakin gemetar. Terasa seolah-olah ubun-ubunnya telah terbuka. Karena itu, segera ia menyembah sambil berkata gemetar, “Ampun tuanku. Ampun. Hamba menjadi sangat bingung.”

Ternyata Akuwu sama sekali tidak mempedulikannya. Sekali lagi ia berkata kepada Ken Dedes, “Berdirilah.”

“Terima kasih tuanku,” sembah Ken Dedes, “hamba tidak dapat melakukannya dihadapan tuanku.”

“Hem,” Tunggul Ametung menggeram. Perubahan sikap Ken Dedes itu menjadikan kepalanya semakin pening, dan wajah Ken Dedes itu baginya semakin mempesona.

Karena itu, maka untuk sesaat Akuwu Tunggul Ametung terpaku diam seperti patung. Sedang Madri masih saja duduk dengan gemetar. Pandangan matanya menghunjam dalam-dalam ke ujung kaki Tunggul Ametung yang kemudian berdiri di mukanya.

Baru sejenak kemudian Akuwu itu berkata, “Nah, antarkanlah Ken Dedes ke pakiwan.”

“Hamba tuanku,” sembah Madri.

Maka setelah menyembah keduanya pun lalu bergeser surut, dan kemudian menuruni tangga serambi istana menuju halaman belakang.

Tiba-tiba mereka terhenti ketika mereka mendengar Akuwu bertanya, “He, mau kemana?”

Madri benar-benar tidak mengerti. Akuwu Tunggul Ametung itu kini benar-benar seperti orang yang tidak punya pekerjaan lain dari pada mengawasi mereka. Apakah Akuwu itu sekarang memang sudah kehilangan semua gairahnya untuk melakukan pekerjaannya yang lain dari pada mengurusi pakiwan?”

Namun Madri menyembah, “Hamba akan mengantarkan gadis ini ke pakiwan.”

“Kenapa ke sana?”

Madri benar-benar menjadi bingung. Hampir dua tahun ia menghambakan diri di istana. Tetapi ia belum pernah mengalami kebingungan seperti ini. Sehingga karena itu ia tidak mampu untuk menjawab.

“Emban,” teriak Tunggul Ametung keras-keras.

Tetapi emban itu sudah terlalu biasa mendengarnya. Meskipun ia masih juga gemetar tetapi ia tidak sedemikian terkejut seperti Ken Dedes.

“Hamba tuanku,” sahut emban itu.

“Apakah kau gila. Bukankah pakiwan dalam ada di ujung serambi ini. Kenapa kau bawa gadis itu ke halaman belakang?”

Sekali ini dada Madri berdesir kembali. Pakiwan dalam adalah bilik mandi khusus untuk Akuwu Tunggul Ametung. Sekarang ia mendapat perintah untuk membawa Ken Dedes ke bilik itu. Dengan demikian maka kepala emban itu seakan-akan benar-benar akan terlepas dari lehernya.

Tetapi ia tidak dapat berbuat lain dari menurut perintah itu.

Setelah ia menyembah sambil membungkuk dalam-dalam, maka berbisiklah emban itu kepada Ken Dedes, “Marilah tuan, tuan diperkenankan mempergunakan bilik mandi di ujung serambi itu.”

Ken Dedes tidak menjawab. Ia tidak tahu bedanya pakiwan yang manapun. Karena itu ia mengikuti Madri di belakangnya menyusur serambi belakang menuju ke pakiwan yang disebut pakiwan dalam. Sekali dua kali Madri ini berpaling ketika tidak dilihatnya lagi Akuwu Tunggul Ametung, maka ia menarik nafas dalam-dalam.

“Kenapa Akuwu marah?” bertanya Ken Dedes.

“Tidak,” sahut Madri, “Akuwu tidak marah. Adalah menjadi kebiasaannya untuk berteriak-teriak dan memaki.”

Ken Dedes menarik nafas pula. Ia sejak saat itu harus membinasakan diri mendengar Akuwu Tunggul Ametung berteriak-teriak dan memaki-maki.

Mereka sekali lagi terhenti ketika mereka mendengar seseorang memanggil, “Madri. Madri.”

Serentak mereka berpaling, dan mereka melihat Nyai Puroni berjalan tergesa-gesa ke arah mereka.

“Akan kemanakah kalian?” bertanya Nyai Puroni itu.

“Aku akan mengantarnya ke pakiwan, Nyai.”

“Kenapa ke sana?”

“Ke pakiwan dalam.”

“He?” Nyai Puroni terkejut sehingga wajahnya menjadi merah, “apakah kau sudah gila emban?”

Emban itu memandangi wajah Nyai Puroni yang kemerah-merahan. Sekali lagi ia dihadapkan pada persoalan yang dapat merontokkan rambutnya. Namun demikian emban itu menjawab, “Nyai, Akuwu sendiri memerintahkan aku mengantarkannya ke sana.”

“Bohong,” sahut Nyai Puroni, yang kemudian berkata kepada Ken Dedes, “jangan berbuat hal-hal yang dapat merugikan dirimu sendiri ngger. Seharusnya kau tidak berbuat demikian. Aku kasihan kepadamu. Betapa kau mengalami goncangan-goncangan yang dahsyat. Mungkin kau sedang ketakutan dan mendendam, atau mungkin kau ingin menunjukkan bahwa kau tidak mau dihinakan, namun jangan melampaui batas-batas kesopanan. Betapapun buruk perangainya, namun Akuwu Tunggul Ametung memiliki kekuasaan yang tiada taranya di Tumapel.”

Ken Dedes pun kemudian menjadi bingung. Ia belum pernah tinggal di dalam istana. Bahkan melihat bagian dalamnya pun baru kali ini. Alangkah sulitnya hidup di istana. Soal pakiwan saja telah membuatnya pening. Dalam kebingungannya Ken Dedes itu bertanya kepada Madri, “Madri, aku sama sekali tidak mengerti apa yang sebaiknya aku lakukan.”

Emban itu menggeleng lemah, “Jangankan tuan. Aku pun rasa-rasanya benar-benar menjadi gila.”

“Kalau kau tidak berbuat aneh-aneh emban, maka kau tidak akan menjumpai persoalan-persoalan yang membuatmu menjadi bingung. Nah, antarkan angger Ken Dedes ini ke belakang, ke halaman belakang.”

“Aku sudah akan membawanya ke sana, Nyai, tetapi Akuwu Tunggul Ametung membuat perintah lain. Aku harus membawanya kemari.”

Nyai Puroni tertawa. Katanya, “Kau benar-benar telah menjadi gila emban. Kau merasakan hal-hal yang tidak pernah dan tidak mungkin terjadi.”

“Ah,” desah Ken Dedes kemudian, “aku hanya ingin mendapatkan air. Kemanapun aku dibawa, bukan soal bagiku. Janganlah terlalu dirisaukan kemana aku dibawa. Aku perlu air.”

Tetapi Ken Dedes itu pun terkejut ketika ia melihat Madri menangis. Betapa ia menahan diri, namun air matanya meleleh juga di pipinya. Desahnya, “Aku tidak tahu apa yang harus aku kerjakan. Aku tidak berani melawan perintah Akuwu. Kepalaku akan dipancungnya nanti.”

Nyai Puroni memandangi wajah Madri dengan kemarahan yang memancar dari kedua matanya. Ketika ia melihat Madri menangis maka katanya, “He emban cengeng, kenapa kau menangis?”

Madri tidak menjawab. Bahkan air matanya semakin banyak meleleh di pipinya.

Namun yang menjawab adalah Ken Dedes, “Nyai, aku pun mendengar pula perintah Akuwu itu. Aku diperintahkannya membawa ke pakiwan dalam.”

“He?” Nyai Puroni menjadi semakin marah, “ngger kau belum seorang permaisuri. Kau masih harus mengikuti adat dan peraturan yang berlaku disini.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Apakah hubungan antara permaisuri dan pakiwan itu?”

“Hem,” geram dukun tua itu. Namun di dalam hatinya ia mengumpat, “pantaslah gadis desa yang bodoh. Kau tidak tahu perbedaan penggunaan bangunan-bangunan di dalam istana ini.”

“Nini,” jawab Nyai Puroni itu kemudian, “pakiwan itu adalah pakiwan khusus untuk Akuwu dan sudah tentu permaisurinya kelak.”

“Oh,” Ken Dedes berdesah, “kalau demikian Madri, bawa aku ke belakang.”

“Akuwu akan murka kepadaku.”

“Biarlah aku menanggung kesalahan itu,” sahut Ken Dedes.

Madri tidak menjawab. Dengan ragu-ragu ia berjalan ke belakang. Ketika mereka berpaling dilihatnya Nyai Puroni berdiri mengawasi mereka sambil tertawa. Suara tertawanya sedemikian anehnya sehingga emban itu hampir-hampir tak mengenal bahwa suara itu adalah suara Nyai Puroni.

Ken Dedes berjalan sambil menundukan kepalanya. Mudah-mudahan Akuwu tidak melihat mereka lagi. Sehingga Madri akan mengalami kesulitan pula.

Dan ternyata kemudian, bahwa Akuwu benar-benar tidak melihat mereka lagi di halaman belakang. Karena Akuwu kemudian masuk ke dalam biliknya.

Yang Kemudian terpancang di dalam hati Ken Dedes, bukanlah tentang pakiwan itu lagi. Meskipun soalnya adalah soal pakiwan, namun gadis itu ternyata mampu mengurangi persoalannya lebih jauh. Apakah keberatan Nyai Puroni tentang kesempatan yang diberikan oleh Akuwu kepadanya? Ken Dedes yang telah didorong ke dalam suatu dunia yang lain dari dunianya, dunia kekanakan, kemanjaan dan lingkungan padepokan yang sepi ke dalam dunia yang penuh dengan kegoncangan, dunia yang memerlukan akal dan pikirannya untuk mengimbangi perasaannya, maka mulailah ia mencoba menghubung-hubungkan. Semua keterangan-keterangan yang didengarnya dari Akuwu Tunggul Ametung dari Nyai Puroni dan dari Madri. perlahan-lahan ia mulai menemukan beberapa kesimpulan yang mantap. Dirasakannya nada penyesalan yang terungkapkan dalam setiap kata Akuwu Tumapel, perubahan sikap dan kekasaran Nyai Puroni dan kejujuran Madri yang selalu diliputi oleh kebingungan, ketakutan dan kecemasan.

Ketika Ken Dedes telah kembali ke biliknya, maka segera ia membaringkan dirinya di pembaringan sentong tengen, seakan-akan pembaringan itu adalah pembaringan yang memang tersedia untuknya. Dengan tenang ia berkata kepada Madri dan Nyai Puroni, “Nyai, aku akan beristirahat.”

Nyai Puroni mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab. Dibiarkannya Ken Dedes berbaring dan dibiarkannya emban yang mengawaninya pergi keluar. Ia sendiri duduk bersimpuh di lantai bersandar dinding.

Dalam pada itu, Ken Dedes masih juga menganyam angan-angannya. Hilir mudik kembali ke dalam rongga kenangannya. Kuda Sempana, Wiraprana yang malang, Mahisa Agni, kemudian Tunggul Ametung, Nyai Puroni, Madri dan seorang emban tua yang merawatnya sejak ia masih kecil dan kini ditinggalkannya di Panawijen.

Tetapi Ken Dedes kini berada di dalam bilik itu seorang diri. Ia tidak dapat minta pertimbangan kepada siapapun setelah ia menyadari, bahwa Nyai Puroni ternyata tidak jujur menghadapinya.

Namun terasa sesuatu merayapi dinding hatinya. Terasa seolah-olah Nyai Puroni telah menghinakannya. Ia hanya seorang gadis desa. Terngiang kembali bentakan orang tua itu dalam nada penghinaan, “ngger, kau belum seorang permaisuri.”

Alangkah sakit hatinya. Ia sendiri tidak pernah bermimpi untuk menjadi permaisuri. Ia sudah puas apabila ia dapat hidup rukun dengan pemuda sedesanya, Wiraprana. Namun Wiraprana itu telah mati. Dan akalnya mengatakan kepadanya, bahwa yang mati itu tak akan hidup kembali.

“Alangkah pahit hidupku ini,” desahnya di dalam hati. Namun terasa sesuatu yang merayap di dinding hatinya itu datang kembali. Lamat-lamat, namun semakin lama semakin kuat. Ken Dedes menggeleng lemah. Ia mencoba membunuh perasaan itu. Tetapi setiap kali ia menyingkirkannya dari dinding hatinya, setiap kali perasaan itu datang kembali. Dan perasaan itu berkata kepadanya, “Ken Dedes, apakah kau menerima hinaan itu? Tidakkah kau ingin membuktikan bahwa kau bukan seorang gadis yang hina dina. Bahwa kau benar-benar mampu menjadi seorang permaisuri. Ken Dedes, kau akan dapat melawan hinaan itu tanpa membantah kata-kata itu, dan kau dapat menunjukkan kepada Kuda Sempana, bahwa anak yang kasar itu tidak cukup bernilai bagimu.”

Ken Dedes memejamkan matanya. Ia ngeri mendengar suara perasaannya sendiri. Kembali ia mencoba memutar nalarnya. Apakah hal itu dapat dilakukannya. Namun ternyata nalarnya memperkuat perasaan itu. Harga diri dan kemarahannya yang tiada taranya kepada Kuda Sempana, sehingga tanpa disadarinya, tumbuhlah dendam di dalam hatinya. Dan dendamnya itu pun merupakan salah satu unsur yang mendorongnya untuk mengambil sikap untuk menempatkan dirinya, tidak lagi sebagai seorang gadis yang malang, yang mengeluh akan nasibnya, yang selalu disaput oleh kepedihan. Ken Dedes itu kemudian menelungkupkan wajahnya ketika ia mendengar lagi hatinya berkata, “Wiraprana telah mati. Karena itu maka aku tidak mengkhianatinya. Sebab yang mati tidak akan hidup kembali.”

Beberapa lama Ken Dedes bergulat dengan perasaan sendiri. Berbagai pertimbangan datang dan pergi. Berbagai masalah hilir mudik di dalam rongga dadanya.

Dada Ken Dedes itu pun seakan-akan hampir meledak karenanya. Ia tidak dapat melupakan Wiraprana. Cintanya kepada pemuda itu adalah cinta yang kudus. Namun ia tahu pasti bahwa Wiraprana itu sudah tidak ada lagi.

Nyai Puroni yang duduk bersandar dinding, memandangi Ken Dedes dengan senyum dibibirnya. Terasa bahwa ia akan berhasil mengurungkan niat Akuwu Tunggul Ametung dengan menakut-nakuti gadis ini. Karena itu maka dibiarkannya Ken Dedes bergulat dengan angan-angannya sendiri. Tetapi sama sekali tidak disangka-sangka bahwa Ken Dedes sama sekali tidak berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan yang pedih bagi dirinya. Ia sudah menemukan keyakinan, bahwa ceritera Nyai Puroni, sama sekali tidak dapat dipercaya. Dan karena itu maka ceritera itu tidak perlu dipikirkannya. Yang menjadi persoalan di dalam diri Ken Dedes kini adalah, bagaimana ia dapat membebaskan dirinya dari himpitan perasaan yang selalu mengejarnya. Sebenarnyalah bahwa hilangnya Wiraprana benar-benar telah menggoncangkan perasaannya. Bahwa cintanya yang tumbuh telah direnggut patah dari dahannya.

Tanpa mereka sadari, maka waktu pun berjalan terus. Lambat-lambat namun pasti, merayap dari saat ke saat. Di langit matahari mengapung dengan lambatnya, seperti seorang perantau yang lesu menghadapi hari-hari mendatang yang kelam. Namun ia berjalan terus. Beredar menurut garis edarnya. Seperti saat-saat yang pernah dilampuinya. Dari Timur ke Barat, dan bergeser dari Utara ke Selatan dan dari Selatan ke Utara dalam lintasan tahun ke tahun.

Ketika ruangan sentong tengen itu kemudian berangsur menjadi gelap, maka seorang emban telah memasang lampu minyak dan menggantungkannya pada sebuah gantungan yang indah. Nyalanya yang kemerahan memancar menerangi seluruh ruangan.

Ketika emban itu pergi, maka Nyai Puroni berkata kepada Ken Dedes yang masih terbaring di pembaringan itu dengan kepala yang semakin pening. “Nini, baiklah aku pergi ke belakang. Tinggallah bersama emban yang bernama Madri itu sebentar. Kalau kau ingin membersihkan dirimu pula Nini, pergilah ke pakiwan belakang. Jangan terlalu bangga bahwa kau telah dibaringkan di sentong ini.”

Ken Dedes mengangkat wajahnya. Sesaat ia memandangi wajah orang tua. Wajah yang telah berubah tidak lagi seperti saat ia pertama-tama melihatnya. Senyumnya kini tidak lagi sesejuk senyumnya kemarin. Tetapi senyumnya kini terasa menusuk sampai ke pusat jantung. Alangkah pedihnya. Meskipun demikian Ken Dedes menjawab, “Baik Nyai. Aku tidak ingin pergi ke pakiwan.”

Nyai Puroni tidak menjawab. Tetapi ia tertawa dengan nada yang tinggi. perlahan-lahan ia berjalan keluar dan sekali lagi ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Madri duduk terkantuk-kantuk di muka pintu. “Madri,” tegurnya tak ada yang pernah kau lakukan selain menguap dan mengantuk.”

[divider line_type=”Full Width Line” custom_height=””]

Source : www.agusharis.net

~ Article view : [224]