Pelangi di Langit Singasari [ 12 ]

373

oleh S.H. Mintardja

[ Seri 12 ]

 

EMBAN ITU TERKEJUT. Tersentak ia mengangkat wajahnya dan dilihatnya Nyai Puroni berdiri di sampingnya.

“Aku akan ke belakang sebentar emban,” berkata Nyai Puroni, “tunggulah kau di dalam, mengawani Angger Ken Dedes. Tetapi ingat semua pesan-pesanku.”

“Baik Nyai,” sahut Madri yang kemudian melangkah memasuki sentong tengen mengawani Ken Dedes.

Dalam pada itu, di ruang yang lain Akuwu Tunggul Ametung sudah siap menerima Witantra dan Ken Arok. Ketika kemudian seorang pelayan menyampaikan kepada Tunggul Ametung bahwa kedua orang itu telah berada di halaman belakang, maka segera mereka berdua dipanggilnya menghadap.

Setelah ditanyakan oleh Akuwu Tunggul Ametung berbagai hal mengenai keselamatan mereka sebagai adat kebiasaan, maka kemudian bertanyalah Tunggul Ametung kepada Witantra, “Witantra bagaimanakah keadaanmu? Apakah kau tidak mendapat cedera apapun mengalami benturan kekuatan aji Kuda Sempana?”

“Tidak Akuwu. Hamba tidak mengalami sesuatu, Meskipun hamba kemudian menjadi lemah. Apalagi ketika Adi Kuda Sempana menghantam dada hamba dengan sebuah tendangan yang keras, di mana hamba sama sekali tidak menyangka.”

Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Kemudian sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Aji Kala Bama adalah aji yang dahsyat. Tetapi kau berhasil memunahkannya.”

Witantra mengerutkan keningnya. Ternyata aji yang dipergunakan oleh Kuda Sempana itulah aji Kala Bama yang pernah didengar namanya. Untunglah bahwa ia telah memiliki perisai untuk melawannya. Aji Bajra Pati.

Yang terdengar kemudian Akuwu Tunggul Ametung meneruskan, “Aku sangat berterima kasih kepadamu Witantra. Kau tentu akan menerima hadiah yang pantas untuk segenap jasa-jasa itu.”

Witantra menundukkan wajahnya, jawabnya perlahan, “Tuanku. Adalah jauh dari pamrih tentang hadiah atau kesempatan apapun yang akan Tuanku limpahkan kepada hamba. Tetapi hamba hanya sekedar melakukan tugas hamba.”

“Kau telah berbuat melampaui tugas keprajuritanmu Witantra.”

“Mungkin Tuanku, tetapi belum memadai tugas kemanusiaanku.”

Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Ia menjadi bertambah kagumnya kepada perwiranya yang satu ini. Dan kepada orang yang demikianlah kemudian Tunggul Ametung telah melimpahkan kepercayaan untuk memperbincangkan masalah-masalah yang akan menentukan jalan hidupnya kemudian.

Maka berkata Akuwu Tunggul Ametung itu, “Witantra, aku telah melihat kesetiaanmu yang tiada taranya. Kesetiaanmu kepadaku, namun lebih tinggi lagi adalah kesetiaanmu kepada kemanusiaan, sehingga kau berani menolak perintahku di Panawijen. Karena itu, maka biarlah kepadamu berdua aku ingin menyatakan perasaanku untuk mendapatkan pertimbangan-pertimbangan.”

Witantra dan Ken Arok sama sekali tidak menjawab. Mereka menundukkan wajah mereka sambil menunggu, apakah yang akan diberitahukan oleh akuwu itu kepada mereka.

“Witantra dan Ken Arok. Dengarlah. Demikian mendalam kesan yang menusuk hatiku atas kesalahan yang telah aku lakukan itu, maka aku ingin menebus kesalahan itu dengan kemungkinan yang paling bernilai yang ada padaku. Witantra, bagaimanakah pertimbanganmu seandainya gadis itu tidak usah dikembalikan ke Panawijen?”

Witantra mengangkat wajahnya. Sedang Ken Arok tergeser beberapa jari. Dengan dada yang berdebar-debar mereka menunggu akuwu memberi penjelasan lebih jauh.

Maka berkatalah Tunggul Ametung, “Aku ingin gadis itu tetap berada di istana seandainya itu dapat menyenangkannya. Tetapi sudah tentu bahwa apabila ia menolak, aku tidak akan memaksanya.”

Witantra menarik keningnya. Kemudian ia kembali menundukkan wajahnya. Namun membayang di antara bibirnya sebuah senyum tertahan.

Tetapi berbeda benar dengan perasaan Ken Arok pada saat itu. Kata-kata Akuwu Tunggul Ametung benar-benar memukul jantungnya. Sekali ia mengangkat wajahnya, memandang wajah akuwu yang tampak suram, namun bersungguh-sungguh. Tetapi kemudian wajah itu kembali terbanting di atas anyaman tikar pandan di muka lipatan kakinya. Ken Arok hampir tidak percaya mendengar kata-kata akuwu itu meskipun ia sudah menduga sebelumnya. Ia mengharap bahwa dugaannya salah sehingga ia masih tetap pada anggapannya atas Akuwu Tunggul Ametung itu. Tetapi kini, tiba-tiba kebanggaannya terhadap Akuwu Tunggul Ametung langsung surut seribu kali. Meskipun beberapa saat yang lalu, ia merasa kecewa pula terhadap Tunggul Ametung, tetapi kekecewaannya kali ini terasa semakin memuncak.

Terdengar hatinya berteriak lantang, “O, jadi apa yang Tuanku katakan itu semata-mata hanya rangkaian kalimat penghias bibir. Ternyata Tuanku sendiri mempunyai pamrih atas gadis Panawijen itu. Kalau Kakang Witantra, Tuanku dorong terjun ke arena, bukan semata-mata sekedar untuk membebaskannya dari Kuda Sempana, namun sekaligus untuk membuka kesempatan kepada akuwu sendiri. Hem. Alangkah kisruhnya perasaanku sekarang ini.”

Namun demikian tak sepatah kata pun yang dapat diucapkannya di hadapan Akuwu Tunggul Ametung yang memiliki kekuasaan tertinggi di Tumapel.

“Witantra,” terdengar Akuwu Tunggul Ametung itu berkata lirih, “Bagaimana pertimbanganmu?”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Hamba adalah seorang yang sama sekali tidak mempunyai wewenang untuk memberikan pertimbangan tentang hal yang sangat penting dalam perjalanan hidup Akuwu pribadi. Mungkin Tuanku dapat memanggil beberapa orang tua-tua untuk mendapat pertimbangan daripada mereka itu.”

Tunggul Ametung menggelengkan kepalanya. “Tidak,” katanya, “mereka tidak berkepentingan apa-apa bagi masa depanku.”

“Tetapi mereka memiliki pandangan yang luas, dan pengalaman serta pengetahuan yang cukup. Mereka memiliki pertimbangan-pertimbangan dan nasihat-nasihat yang pasti akan sangat berguna bagi Tuanku. Mungkin Tuanku dapat memanggil beberapa orang pendeta, atau orang-orang tua yang lain.”

“Tidak perlu Witantra,” sahut Akuwu Tunggul Ametung, “aku akan menemukan jalan hidupku sendiri.”

Witantra terdiam sejenak. Ia tidak dapat memberikan pertimbangan apapun karena keseganannya. Namun sekali ia berpaling kepada Ken Arok, tetapi dilihatnya Ken Arok itu duduk diam sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam.

“Kau tidak memberikan pendapatmu Witantra,” desak Akuwu Tunggul Ametung.

Witantra menjawab sambil membungkukkan badannya dalam-dalam, “Ampun Tuanku. Hamba sama sekali tidak cukup pengetahuan untuk menjawab pertanyaan Tuanku.”

Tunggul Ametung mengerutkan keningnya, perlahan-lahan ia berkata, “Tetapi kau tidak akan menolak bukan Witantra?”

“Apakah hakku untuk menolak Tuanku?”

“Aku tidak berbicara tentang apakah kau berhak atau tidak, tetapi aku ingin tahu, bagaimana perasaanmu terhadap maksud ini. Perasaanmu. Berhak atau tidak berhak.”

Witantra tidak dapat mengelak lagi. Sebenarnya sejak semula, ia tidak berkeberatan atas maksud akuwu itu untuk memberi tempat yang agak baik bagi Ken Dedes. Karena itu maka jawabnya, “Ampun Akuwu. Perasaan hamba sama sekali tidak menentang maksud Akuwu itu.”

“Terima kasih Witantra. Kaulah sebenarnya yang telah membebaskan gadis itu. Menurut perjanjian, yang menang dapat berbuat atas dasar kemenangannya.”

“Tetapi Tuanku,” sela Witantra tambahnya, “bukanlah benda mati, sehingga yang berkepentinganlah yang paling berhak untuk menentukan sikapnya.”

“Tentu, tentu Witantra. Aku tidak akan berbuat kesalahan untuk kedua kalinya.”

Witantra pun kemudian berdiam diri untuk sejenak. Sekali-sekali ia berpaling kepada Ken Arok yang masih saja menundukkan wajahnya dalam-dalam. Terasa sesuatu yang kurang wajar pada anak muda itu. Dan Witantra telah dapat menduganya. Seperti yang dikatakannya siang tadi, anak muda kecewa atas maksud Tunggul Ametung itu. Namun apabila hal itu dikehendaki oleh yang berkepentingan, maka apakah salahnya?

Ternyata akuwu itu tidak juga membiarkan Ken Arok tanpa mendapat kesempatan menyalakan perasaannya. Karena itu, maka Akuwu Tunggul Ametung itu pun bertanya pula kepadanya, “Ken Arok bagaimana pertimbanganmu? Jangan berkata bahwa kau tidak berhak menjawab pertanyaan ini. Tetapi bagaimanakah kata hatimu?”

Bukan main terkejut Ken Arok mendengar pertanyaan itu. Ia tidak menyangka bahwa ia akan mendapat pertanyaan pula. Ia menyangka bahwa ia hadir di tempat itu hanya sebagai pelengkap saja. Karena itu tiba-tiba terasa keringat dinginnya mengalir ke segenap kulit tubuhnya. Sejenak Ken Arok itu terbungkam. Dengan wajah yang tegang ia sekali-sekali berpaling memandangi wajah Witantra. Namun ia tidak mendapatkan kesan apa-apa pada wajah perwira pengawal itu.

“Bagaimana Ken Arok,” desak Akuwu Tunggul Ametung.

Ken Arok benar-benar menjadi gelisah. Betapa hatinya meronta mendengar keputusan Tunggul Ametung untuk mencoba memiliki sendiri gadis itu. Tetapi apakah ia dapat mengatakannya di hadapan akuwu itu sendiri?

Setelah sejenak Ken Arok berjuang di dalam dirinya sendiri maka jawabnya sambil menyembah, “Ampun Tuanku. Hamba hanyalah seorang pelayan dalam.”

“Jangan menjawab demikian. Sudah aku katakan. Siapa pun kau, namun kau mempunyai pertimbangan di dalam dirimu. Nah, jawablah dengan jujur.”

Sekali lagi Ken Arok terdesak dalam kebimbangan yang dahsyat. Ia tidak dapat menutup perasaannya, namun apakah ia dapat pula membukanya?

Ketika ia sedang sibuk dalam pertentangan itu, maka sekali lagi ia mendengar Tunggul Ametung berkata, “Apa pertimbanganmu?”

Ken Arok harus segera menjawab. Namun Ia masih mencoba mencari kemungkinan-kemungkinan yang paling baik. Ia tidak harus menyembunyikan perasaannya, tetapi sejauh mungkin jangan menjadikan Tunggul Ametung marah. Karena itu maka akhirnya ia menjawab, “Tuanku. Menurut perasaan hamba, maka alangkah mulianya apabila Akuwu mengambil keputusan untuk mengembalikan gadis itu ke Panawijen. tetapi meskipun demikian, segala sesuatu adalah dalam kebijaksanaan Tuanku. Apalagi kalau gadis itu sendiri tidak berkeberatan untuk tinggal di dalam istana.”

Warna merah memancar sekilas pada wajah Tunggul Ametung. Terdengarlah giginya gemeretak. Namun kemudian Tunggul Ametung itu menarik nafas dalam-dalam. Sekali, dua kali, dan wajahnya yang merah itu pun berangsur tenang kembali.

Sedang Witantra pun terkejut mendengar jawaban Ken Arok itu. Ia tidak menyangka bahwa di hadapan Tunggul Ametung sendiri, Ken Arok akan berkata terus terang menurut kata hatinya.

Tetapi kembali Witantra terkejut, ketika terdengar suara Akuwu gemetar, “Kau jujur Ken Arok. Aku senang mendengar pertimbanganmu. Kau benar-benar telah mengatakan perasaanmu seperti Witantra mengatakan apa yang tersembunyi di dalam hatinya. Adalah mungkin sekali bahwa pertimbanganmu dan pertimbangan Witantra berbeda.”

Sekali Ken Arok mengangkat wajahnya. Ia pun terkejut mendengar tanggapan akuwu atas pendapatannya. Sehingga karena itu maka terasalah dadanya bergetar.

Dalam pada itu terdengar Tunggul Ametung berkata, “Aku telah mendengar pertimbangan kalian berdua. Dengan demikian maka hatiku kini telah menjadi lapang. Apapun yang kau katakan kepadaku, adalah pertimbangan-pertimbangan yang bernilai bagiku. Aku melihat bahwa kalian telah berkata sejujur-jujurnya. Aku lebih senang mendengar pertimbangan dan pendapat kalian. Aku sama sekali tidak ingin mendengar pendapat penasihat-penasihatku yang tua-tua. Mereka adalah orang yang hanya ingin menyenangkan hatiku tanpa mempertimbangkan akibat dari pertimbangannya. Mereka ingin mendapat kesempatan yang sebaik-baiknya di dalam lingkunganku. Karena itu maka mereka adalah penjilat-penjilat yang memuakkan. Mereka bukanlah orang-orang yang jujur menghadapi setiap persoalan seperti kalian. Bahkan Witantra dengan jujur, sesuai dengan panggilan kemanusiaannya telah berani menentang perintahku. Ken Arok pun di hadapan mataku telah berani membunuh seorang prajurit yang bertindak tidak Adil. Dan kini kau berani memberi pertimbangan yang jujur pula. Terima kasih. Kalian ternyata lebih bernilai bagiku daripada penjilat-penjilat itu. Daripada orang yang ingin mendapat hadiah-hadiah dan kedudukan-kedudukan dengan memuji-muji dan menyanjung aku.”

Witantra menundukkan wajahnya semakin dalam. Ternyata Tunggul Ametung adalah seorang yang jujur pula menilai dirinya. Meskipun seakan-akan orang itu adalah orang yang selalu dihanyutkan oleh perasaannya yang meledak-ledak, marah, berteriak-teriak dan memaki-maki, namun dalam pertimbangan yang penting ia adalah seorang yang jujur. Mungkin sikapnya itu disebabkan karena guncangan yang dahsyat setelah ia berbuat suatu kesalahan yang sangat besar, karena hasutan Kuda Sempana. Namun bagaimanapun juga, kesadaran akan dirinya, akan orang-orang yang berada di sekitarnya itu telah melibatkan Akuwu Tunggul Ametung pada tempat yang semakin kuat.

Di samping Witantra, Ken Arok duduk dengan dada yang bergelora. Betapa kekecewaannya atas Akuwu Tunggul Ametung itu kian memuncak, namun tumbuh pula di sisinya kekaguman yang semakin memuncak pula. Tunggul Ametung itu bagi Ken Arok benar-benar merupakan seorang yang aneh. Seorang yang dikagumi atas segala sifat kejantanan, kejujuran dan tanggapannya atasi sikapnya, sikap Witantra dan sikap para penasihatnya yang berusaha menyenangkan akuwu itu untuk menerima hadiah dan kedudukan yang baik, namun akuwu telah mengecewakannya pula karena sikapnya terhadap gadis Panawijen. Pamrihnya atas gadis itu setelah ia menyingkirkan Kuda Sempana. Apakah itu sikap yang jujur seperti penilaian terhadap sikap para penasihatnya? Ken Arok menjadi semakin pening. Akuwu itu hatinya seperti dewa yang bersih dari nodai duniawi, namun jaga seperti iblis yang mengotori dirinya dengan segala macam pamrih dan nafsu.

Ruangan itu sejenak dicengkam oleh kesunyian. Tunggul Ametung, Witantra dan Ken Arok, masing-masing telah terbenam di dalam angan-angan mereka sendiri. Berbagai persoalan yang berbeda-beda telah melanda hati masing-masing.

Baru sejenak kemudian terdengar Akuwu Tunggul Ametung berkata, “Ternyata ada suatu kesimpulan yang bersamaan. Kalian berdua menyerahkan keputusan terakhir pada gadis itu. Baiklah. Aku hanya akan menawarkan keinginanku. Terserah kepadanya, apakah ia akan menerima atau ia akan menolaknya.”

Witantra mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, “Demikianlah Tuanku.”

Ken Arok masih tetap berdiam diri. Baginya, kesediaan Ken Dedes atau seandainya gadis itu menolaknya sama sekali tidak penting. Tetapi hasrat yang sudah tumbuh di dalam hati Akuwu Tunggul Ametung itu benar-benar telah mengecewakannya. Apakah hasrat itu akan terpenuhi atau tidak.

Yang terdengar kembali adalah suara Akuwu Tunggul Ametung. “Kalau demikian, maka kehadiranmu kali ini sudah cukup. Besok aku akan mengadakan pertemuan dengan para penjabat pemerintahan dan para perwira, apabila aku sudah menemukan kepastian. Aku hanya ingin memberitahukan kepada mereka. Supaya mereka tidak terlalu banyak mencampuri urusan pribadiku. Hubungan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan. Adalah hakku untuk menentukan pilihan, dan adalah hak gadis itu untuk menerima atau menolak.”

Witantra tidak menjawab. Akuwu Tunggul Ametung ternyata telah memilih jalan yang terdekat yang dapat ditempuhnya. Ia tidak ingin terlalu banyak orang mempersoalkan kepentingan pribadinya.

Namun Witantra masih juga menyampaikan kata-katanya kepada akuwu, “Tuanku, apakah hamba masih diperkenankan menyampaikan sesuatu kepada Tuanku?”

Akuwu Tunggul Ametung mengernyitkan alisnya. Kemudian ia bertanya, “Apakah itu?”

“Tuanku,” sambung Witantra, “di rumah hamba kini telah menunggu seorang tua pemomong gadis Panawijen itu. Ia ingin menemui momongannya, Ken Dedes. Apakah Tuanku memperkenankannya?”

Akuwu Tunggul Ametung terdiam sejenak. Tampaklah ia berpikir. Di dalam hatinya timbullah beberapa pertimbangan mengenai kehadiran orang baru itu di dalam istananya. Berbagai masalah menjadikannya bimbang. Sehingga akhirnya ia berkata, “Tentu Witantra. Aku pasti akan mengizinkannya. Tetapi tidak sekarang. Aku ingin mendengar pendapat gadis itu sendiri, sebelum ia mendapat pengaruh dan nasihat dari orang-orang lain. Aku ingin mendengar kata hatinya. Kalau ia menolak, sebenarnyalah ia menolak. Kalau ia menerima, sebenarnyalah ia menerima.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedang Ken Arok nampak mengerutkan keningnya. Pertimbangan itu dapat dimengertinya. Tetapi, apakah salahnya kalau emban tua itu menungguinya? Apakah emban itu mempunyai pengaruh yang kuat atas gadis Panawijen itu. Namun meskipun demikian, ia tidak mengemukakannya. Persoalan itu baginya bukanlah persoalan yang penting. Bahkan ia sependapat dengan Akuwu Tunggul Ametung, bahwa sebaiknya gadis itu menyatakan pendapatnya sendiri. Meskipun baginya pendapat itu hampir tidak berpengaruh atas rasa kecewanya terhadap Tunggul Ametung.

Witantra pun kemudian tidak lagi mempunyai persoalan apapun. Karena itu, maka sejenak kemudian mereka berdua, Witantra dan Ken Arok segera mohon diri meninggalkan ruangan itu.

Di halaman depan, setelah mereka mengambil kuda-kuda mereka dari tambatan, maka berkatalah Witantra, “Adi, apakah kau akan bermalam di rumahku lagi?”

Ken Arok menggeleng, jawabnya, “Tidak Kakang. Aku akan kembali ke barak. Persoalanku dengan Kakang Kuda Sempana sudah jelas. Sebenarnya aku sama sekali tidak bersangkut paut dengan usahanya yang gagal itu. Namun kalau ia akan membuat persoalan, maka kini aku tidak akan menghindar lagi.”

Witantra mengangguk, jawabnya, “Kau benar. Namun apabila mungkin jauhilah setiap hubungan yang tidak baik.”

“Mudah-mudahan Kakang. Aku tidak akan membuat persoalan. Kecuali kalau aku tersudut pada sebuah persoalan.”

Witantra tersenyum, katanya, “Sikapmu terpuji.”

Ken Arok pun tersenyum, jawabnya “ Jangan memuji Kakang. Seperti Akuwu pun tidak senang mendapat pujian yang berlebih-lebihan.”

“Tetapi aku tidak memujimu karena pamrih apapun,” sahut Witantra, “aku tidak ingin kau tingkatkan pangkatku atau aku tidak ingin mendapat hadiah apapun darimu.”

Ken Arok kini tertawa. Bukan saja karena kata-kata Witantra yang jenaka, namun ia tertawa untuk melepaskan berbagai perasaan yang menggelitik hatinya. Tetapi ia masih menjawab kata-kata Witantra untuk tidak menimbulkan kesan yang kurang baik, “Seandainya aku Akuwu Tumapel Kakang, maka hadiahku akan segera melimpah.”

Witantra pun tertawa pula. Tetapi sama sekali tidak disadarinya, bahwa di belakang dinding hati Ken Arok, telah tergores perasaan kecewa yang dalam atas akuwunya.

“Adi,” berkata Witantra pula, “kalau demikian kita berpisah di sini. Aku akan pulang dan Adi akan kembali ke barak. Mudah-mudahan kita tidak akan menemui persoalan-persoalan lagi.”

“Mudah-mudahan Kakang,” sahut Ken Arok.

Keduanya pun kemudian menuntun kuda-kuda mereka sampai di luar regol halaman, kemudian dengan satu loncatan mereka telah berada di punggung kuda masing-masing. Tetapi arah merekalah yang kemudian berbeda-beda.

Di sepanjang jalan kembali, Ken Arok masih saja dipengaruhi oleh perasaannya tentang Akuwu Tunggul Ametung itu. Tetapi akhirnya ia mencoba untuk menenangkan hatinya, “Biarlah apa saja yang akan dilakukan oleh Akuwu Tunggul Ametung. itu sama sekali tidak menyangkut persoalan pribadiku.”

Berbeda dengan Ken Arok, maka hati Witantra kini telah menjadi lapang. Ia seakan-akan telah terlepas dari sebuah himpitan dosa yang selalu mengganggunya. Ia merasa betapa rendah budinya pada saat ia membiarkan kelaliman berlaku di hadapan hidungnya hanya karena ia takut kehilangan kedudukan dan segala macam yang telah dimilikinya. Pangkat, berbagai macam kesenangan dan kekayaan. Tetapi kini seolah ia telah membetulkan kesalahan itu. Ia telah membebaskan Ken Dedes dari tangan Kuda Sempana, yang telah memerkosa masa depan gadis itu.

“Mudah-mudahan gadis itu dapat menyadari keadaannya. Mudah-mudahan ia dapat melihat, bahwa yang lampau itu tak akan datang kembali. Dengan demikian, maka aku akan terlepas sama sekali dari dosa itu,” gumamnya sepanjang jalan kembali.

Tetapi Witantra itu mengerutkan keningnya ketika dikenangnya kata-kata Akuwu Tunggul Ametung tentang perempuan tua yang berada di rumahnya. “Tetapi tidak sekarang. Aku ingin mendengar kata hatinya. Kalau ia menolak, sebenarnyalah ia menolak. Kalau ia menerima sebenarnyalah ia menerima.”

“Biarlah perempuan tua itu menunggu di rumahku,” desisnya kepada diri sendiri.

Dan sesaat kemudian tanpa disadarinya, tangannya telah menggerakkan kekang kudanya, mempercepat perjalanannya.

Di istana, Akuwu Tunggul Ametung, sepeninggal Witantra dan Ken Arok tidak langsung pergi ke biliknya. Sekali lagi ia pergi ke sentong tengen. Hatinya pun kini menjadi semakin mantap. Setelah ia mendengar pendapat Witantra, yang seolah-olah merupakan orang yang berhak ikut menentukan nasib Ken Dedes karena kemenangannya, maka hatinya menjadi semakin bulat.

Ketika ia memasuki sentong tengen, maka yang berada di dalamnya hanyalah Ken Dedes dan seorang emban, Madri. Apabila mereka berdua melihat kedatangan akuwu, maka segera mereka menundukkan wajah-wajah mereka sambil menyembah. Ken Dedes pun segera turun dari pembaringan dan duduk di sisi Madri.

“Tetaplah di tempatmu Ken Dedes,” berkata Tunggul Ametung.

Tetapi Ken Dedes segera menyahut, “Bukan sepantasnya hamba berbuat demikian Tuanku.”

Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Ken Dedes seakan-akan menjadi semakin cantik di bawah cahaya lampu yang terbuai oleh angin malam yang lembut.

Selelah Tunggul Ametung itu sempat mengatur getar di dadanya, maka barulah ia dapat mengucapkan kata-kata. Namun kata-kata itu pun meloncat seperti berebut dahulu, sehingga maksudnya menjadi sukar dimengerti. Meskipun demikian, lambat laun, Ken Dedes dapat pula mendengar dan mengertinya dengan jelas. Seperti yang pernah didengarnya. Akuwu menyerahkan segala-galanya kepadanya.

Hati Madri pun melonjak-lonjak mendengar segala macam janji yang diucapkan oleh akuwunya. Janji yang disangkanya tak mungkin akan pernah terucapkan. Tetapi janji itu kini benar-benar telah didengarnya.

“Alangkah bahagianya gadis ini,” pikirnya.

Tetapi ia terkejut bukan buatan ketika ia mendengar gadis yang seakan-akan tertimpa bulan itu menjawab, “Tuanku. Perkenankanlah hamba berpikir dahulu. Supaya jawab hamba tidak hanya sekedar ledakan perasaan hamba yang tidak berakar di hati hamba. Karena itu Tuanku, berilah hamba waktu.”

Gelora hati Tunggul Ametung seakan-akan tidak dapat ditahannya lagi ketika ia melihat gadis itu berbicara dalam bahasa yang utuh sebagaimana ia harus berbicara kepada seorang akuwu. Gadis itu tidak lagi memanggilnya tanpa sebutan karena luapan kemarahan dan tidak menuding-nuding wajahnya lagi dengan mata yang menyala.

Namun Tunggul Ametung tidak dapat memaksanya untuk menjawab seketika. Dengan hati yang berat, maka akuwu itu berkata, “Baiklah Ken Dedes. Aku beri kau waktu, tetapi waktu itu jangan terlalu lama.”

Dengan takzimnya Ken Dedes menyembah, “Hamba Tuanku. Hamba sama sekali tidak mempertimbangkan, apakah hamba berwenang untuk menentukan sikap, namun hamba sedang menimbang-nimbang apakah sudah sepantasnya hamba menerima kemuliaan itu.”

Tunggul Ametung menganggukkan kepalanya. Sekali lagi ia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku menunggu keputusanmu, Ken Dedes.”

“Hamba, Tuanku,” sahut gadis itu tenang. Dan ketenangan gadis itu telah merupakan persoalan tersendiri bagi Akuwu Tunggul Ametung.

Namun demikian Akuwu Tunggul Ametung meninggalkan bilik itu, maka meledaklah tangis Ken Dedes tanpa dapat ditahannya. Berbagai perasaan telah melanda dinding hatinya. Berbagai kenangan tentang dirinya, tentang kampung halaman dan tentang masa depannya seakan-akan bercampur baur di dalam rongga matanya. Kacau dan membingungkannya.

Madri pun menjadi bingung pula. Ia tidak tahu, bagaimana ia akan menghibur hati Ken Dedes itu. Karena itu maka ia hanya dapat sekali-sekali menggamit lengan Ken Dedes, dan sekali-sekali berkata, “Jangan menangis Tuan. Jangan menangis.”

Tetapi Madri sendiri bahkan kemudian ikut menangis. Katanya di antara isaknya, “Kalau demikian, akan aku panggil Nyai Puroni.”

“Jangan!” tiba-tiba Ken Dedes menyahut, “Jangan kau panggil Nyai Puroni. Aku takut.”

“Tetapi Tuan menangis,” berkata Madri pula, tetapi ia menjadi heran kenapa Ken Dedes menjadi takut.

“Tidak. Aku sudah tidak menangis lagi,” potong Ken Dedes sambil berusaha untuk menahan air matanya yang mengalir dengan derasnya.

“Kalau Tuan tidak menangis, aku tidak akan memanggil Nyai Puroni,” berkata Madri.

“Baik Madri. Aku tidak menangis lagi. Aku lebih senang tinggal bersamamu di sini daripada Nyai Puroni.”

Madri mengerutkan keningnya. Meskipun air matanya sendiri masih membasahi matanya, namun perkataan Ken Dedes itu benar-benar telah mempengaruhi perasaannya.

Madri itu menjadi semakin heran. Kenapa Ken Dedes menjadi takut kepada Nyai Puroni? Menurut Nyai Puroni, seharusnya Ken Dedes menjadi takut dan mendendam kepada Akuwu Tunggul Ametung. Mungkin karena gadis itu telah dilarikan oleh akuwu. Tetapi sama sekali tanda-tanda itu tak dilihatnya, bahkan kemudian ternyata bahwa Ken Dedes takut kepada Nyai Puroni.

Tetapi kini Ken Dedes itu benar-benar telah tidak menangis lagi. Ia telah dapat mencoba mempergunakan pikirannya kembali. Kini yang menyala di dalam hatinya adalah kemarahannya yang memuncak kepada Kuda Sempana, sumber dari segala malapetaka. Kekecewaan atas hinaan yang diterimanya dari Nyai Puroni. Seakan-akan derajatnya sedemikian rendahnya sehingga orang tua itu selalu menyindir-nyindirnya, bahwa ia bukan permaisuri.

Namun persoalan itulah yang sebenarnya telah mendorong Ken Dedes ke dalam suatu pilihan yang tak pernah diimpikan sebelumnya. Ia ingin membuktikan, baik kepada Kuda Sempana maupun kepada Nyai Puroni, bahwa ia bukan seorang gadis yang dikodratkan menjadi seorang gadis yang hina-dina. Apalagi setelah ia sempat mengurai maksud Nyai Puroni dengan cerita-ceritanya yang mengerikan tentang gadis-gadis yang pernah menjadi korban Akuwu Tunggul Ametung, maka prasangkanya tentang ketidakjujuran Nyai Puroni menjadi semakin dalam.

Karena itulah, maka dalam keheningan malam itu, perlahan-lahan Ken Dedes terdorong ke dalam satu pilihan yang sebenarnya hanya merupakan tindak keseimbangan dari kepedihan dan kepahitan yang menimpanya selama ini. Ia hanya ingin menyatakan kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain, bahwa Ken Dedes bukanlah gadis yang semalang-malangnya di dunia.

Ketika malam kemudian menjadi semakin malam, maka Ken Dedes itu pun kemudian terlena ke dalam alam mimpi. Mimpi yang menggelisahkan namun kadang-kadang mengasyikkan. Simpang siur dan kusut. Tetapi menjelang fajar, mimpi Ken Dedes menjadi sangat mengesankannya, seolah-olah gadis itu duduk di atas punggung seekor gajah yang besar. Di mukanya berjalan dengan gagahnya Akuwu Tunggul Ametung, sedang di belakangnya berjalan tertatih-tatih Kuda Sempana dan Nyai Puroni. Namun tiba-tiba jauh di belakang sebuah gerumbul yang lebat ia melihat seorang anak muda. Anak muda yang ada di dalam rombongan Akuwu Tunggul Ametung pada saat mengambilnya, mengintai dengan sepasang matanya yang menyala. Tetapi Ken Dedes sama sekali tidak takut melihat api yang menyala itu, bahkan wajahnya pun sama sekali tidak mengerikan.

Di hari-hari yang mendatang, maka Ken Dedes selalu dipengaruhi oleh mimpinya. Sehingga akan datang masanya, Tunggul Ametung datang kepadanya untuk menanyakan keputusannya.

Dalam pada itu di Panawijen, Mahisa Agni terbaring di dalam biliknya. Meskipun lukanya sudah berangsur-angsur sembuh, namun terasa bahwa hatinyalah kini yang seakan-akan menjadi bertambah pedih. Peristiwa-peristiwa yang datang beruntun, malapetaka dan bencana, seakan-akan benar-benar telah menghancurkan segenap kemungkinan dibasa depan. Hilangnya Ken Dedes, terbunuhnya Wiraprana, benar-benar menusuk jantungnya. Ia tidak tahu perasaan apakah yang telah mencengkamnya kini. Tetapi setiap saat ia merasa dadanya berdesir tajam. Kadang-kadang ia menjadi bingung, seakan-akan ada sesuatu yang belum terselesaikan.

Panawijen kini terasa menjadi kian hari kian bertambah sepi. Ibunya pun telah pergi pula ke Tumapel. Dan gurunya masih juga belum datang kembali.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. perlahan-lahan ia bangkit dan berjalan keluar. Di halaman dilihatnya beberapa orang cantrik membersihkan halaman.

Dengan langkah yang lemah, Mahisa Agni datang kepada mereka. Namun kembali ia menemukan wajah-wajah yang suram sesuram wajahnya sendiri. Agaknya para cantrik itu pun menjadi pedih seperti hatinya. Karena itu maka Mahisa Agni sama sekali tidak menegurnya. Perlahan-lahan ia berjalan terus menyusuri jalan-jalan sempit di halaman, di antara kebun-kebun bunga yang menjadi pudar. Di teritisan Mahisa Agni menemukan serulingnya. Seruling yang terselip pada dinding rumahnya.

“Hem,” desahnya. Sudah lama seruling itu tak disentuhnya. Sejak malam itu. Sejak malam hatinya terbanting hancur. Sejak malam ia mendengar pengakuan Ken Dedes bahwa hatinya terikat pada seorang anak muda yang bernama Wiraprana. Tetapi semuanya itu benar-benar seperti mimpi. Mimpi yang mengerikan. Dan tiba-tiba Mahisa Agni itu benar-benar teringat pula pada mimpinya. Tentang biduk yang ditumpangi oleh Ken Dedes. Biduk yang kemudian hancur dilanda oleh ombak yang dahsyat.

“Hem,” sekali lagi Mahisa Agni berdesah. Perlahan-lahan dihentakkannya dirinya pada sebuah amben bambu di teritisan itu. Dilayangkannya pandangan matanya yang redup ke halaman, kebun dan dinding halaman rumah gurunya. Sepi. Sepi dan diam. Ia melihat juga seorang cantrik yang berjalan membawa air dengan sepotong bumbung. Tetapi cantrik itu pun berdiam diri.

“Kalau demikian,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “mimpiku itu bukan sekedar mimpi karena aku terlampau banyak tidur.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Padepokan ini seakan-akan sama sekali tidak dapat mengikatnya lagi. Ken Dedes, Ibunya, gurunya tak ada di padepokan ini. Seandainya pada saat itu Empu Purwa telah kembali, maka ia tidak perlu menunggunya dalam kesepian.

“Apakah aku harus mencari guru,” gumamnya tiba-tiba.

Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Angannya itu seakan-akan telah mendorong untuk melakukan sesuatu. Tetapi kemudian wajahnya tertunduk kembali. “Ke mana, dan jangan-jangan nanti kita berselisih jalan. Aku pergi dan guru kembali. Apa katanya kalau ditemuinya padukuhan ini kosong. Kosong bagi hati guru yang tua itu?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat meninggalkan padepokan itu. Ia harus menunggu gurunya kembali. Memberitahukan apa yang telah terjadi, dan mengharap gurunya mempunyai jalan untuk mengambil anak satu-satunya itu.

Mahisa Agni itu pun kemudian melangkahkan kakinya kembali. Ia tidak tahu ke mana ia akan pergi. Tetapi dibiarkannya kakinya melangkah. Dan Mahisa Agni itu menuju ke regol depan halaman rumahnya.

Di regol halaman Mahisa Agni berhenti. Ia melihat beberapa orang berjalan membawa cangkul dan seorang gadis lewat menjinjing bakul cucian. Agaknya gadis itu datang dari bendungan. Ketika gadis itu tersenyum kepadanya, Mahisa Agni sama sekali tidak mempunyai gairah untuk menegurnya. Karena itu ia pun tersenyum hambar sambil mengangguk.

Ketika gadis itu kemudian hilang di kelokan, timbullah keinginan Mahisa Agni untuk berjalan-jalan ke bendungan. Ia tidak tahu, apa yang telah menariknya ke sana, namun perlahan-lahan ia melangkahkan kakinya, berjalan menyusuri tepi jalan padukuhan Panawijen.

Seorang laki-laki tua yang berpapasan dengan Agni, memandangnya dengan iba. Sambil membungkukkan badannya dalam-dalam ia menegurnya. “Ke mana Ngger?”

Dengan segan Mahisa Agni menjawab, “Ke sungai, Ki.”

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Agaknya air telah mulai naik Ngger. Mungkin telah jatuh hujan di udik, sehingga air sungai itu menjadi semakin deras.”

Mahisa Agni tertarik akan cerita itu, sehingga ia bertanya, “Tetapi bukankah bendungan itu tidak apa-apa?”

“Oh, tentu tidak Ngger. Bendungan itu adalah bendungan yang sangat kuat. Anyamanbrujung dan batu-batu sebesar perut kerbau. Ah. Bendungan itu telah lebih tua dari umurmu Ngger. Setiap tahun sungai itu melimpah. Namun bendungan itu tetap di tempatnya. Hanya kerusakan-kerusakan kecil yang setiap kali harus kita perbaiki.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang sejak ia datang ke padukuhan ini ia telah melihat bendungan itu.

“Bendungan itu adalah sumber hidup kami Ngger. Karena bendungan itulah maka sawah-sawah kami dapat kita airi.”

Mahisa Agni masih mengangguk-angguk.

Orang tua itu pun kemudian melangkah kembali sambil berkata, “Silakan Ngger. Silakan pergi ke bendungan.”

“Baik, Ki,” sahut Mahisa Agni. Dan Mahisa Agni pun kemudian berjalan pula perlahan-lahan. Diamatinya setiap pohon yang tumbuh di tepi-tepi jalan, seolah-olah baru kali ini dilihatnya atau seolah-olah diamatinya untuk yang terakhir kalinya.

Mahisa Agni itu pun kemudian berhenti sejenak ketika dari kejauhan dilihatnya sebuah tanggul yang membujur, menyusuri jelujur sungai. Hatinya tiba-tiba menjadi berdebar-debar. Tanggul itu adalah tempatnya bermain dengan kawan-kawannya, tempatnya bergurau dan kadang-kadang beristirahat setelah mengairi sawah semalam suntuk di tanggul bendungan itu. Dan ternyata bendungan itu telah mengingatkannya kepada Wiraprana dan Ken Dedes.

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Hampir ia tidak mampu meneruskan langkahnya. Namun tanpa dikehendakinya sendiri, ia telah memaksa dirinya untuk berjalan terus ke bendungan.

Bendungan itu tampaknya demikian sepinya. Tak seorang pun yang dilihatnya di sana. Tak ada anak-anak muda yang membersihkan alat-alat pertaniannya dan tak ada gadis-gadis yang sedang mencuci pakaiannya. Namun Mahisa Agni itu berjalan terus. Ketika ia telah berdiri dekat samping bendungan, maka dijatuhkannya dirinya di atas pasir yang kering.

Angin yang lembut mengalir membelai wajahnya yang muram. Ketika ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya daun turi yang rimbun telah melindunginya dari sinar matahari. Betapa daun-daun yang kecil itu terayun disentuh angin. Sehelai demi sehelai daun yang kuning terlempar dari tangkainya dan terbang hinggap di atas pasir yang putih. Ada di antaranya yang terlempar jatuh ke dalam air yang memang sudah menjadi semakin tinggi.

“Benar juga kata orang tua itu,” gumam Mahisa Agni, “air sudah semakin tinggi.”

Ketika terasa angin yang silir menyapu tubuhnya, maka terasa alangkah sejuknya. Tiba-tiba Mahisa Agni merebahkan dirinya di atas pasir yang lembut. Ditatapnya mega putih yang berarak-arak di langit dari sela-sela rimbunnya daun turi. Sehelai demi sehelai hanyut ke utara, seperti iringan armada di laut biru, menyerbu ke pantai lawan.

Mahisa Agni mengangkat alisnya ketika lamat-lamat didengarnya suara seruling. Alangkah halus suaranya terselip di antara suara gemericik air gerojogan di bawah bendungan. Seolah-olah sengaja disusun dalam perpaduan yang serasi. Suara seruling yang menanjak tinggi seperti burung elang yang terbang di angkasa dalam hembusan angin yang semakin kencang. Tetapi suara gerojogan itu seperti hilang-hilang datang. Justru pada saat-saat suara seruling dari kejauhan itu melengking tinggi menggapai mega-mega di langit.

“Seruling anak-anak yang sedang menggembala kambing,” desah Mahisa Agni. Mahisa Agni sendiri senang meniup seruling, bahkan ia termasuk salah seorang yang pandai. Bahkan mungkin lebih pandai dari anak gembala yang kini sedang meniup serulingnya di kejauhan itu.

Tetapi perpaduan antara lagu, angin dan gemericik air, telah menyebabkan Mahisa Agni itu mengantuk. Hatinya yang lelah seakan-akan mendapat kesempatan untuk beristirahat. Sehingga tanpa dikehendakinya sendiri, anak muda itu pun jatuh tertidur di bendungan, di atas pasir yang lembut, di bawah rimbunnya daun turi yang hijau.

Mahisa Agni itu kemudian sama sekali tidak menyadari, bahwa di kejauhan berjalan seorang tua dengan sebuah tongkat di tangannya menuju ke bendungan itu.

Orang tua berjubah putih itu mengusap keningnya. Keringatnya mengalir membasahi hampir seluruh tubuhnya. Sebuah bungkusan kecil di ujung tongkatnya, seakan-akan merupakan pertanda bahwa orang tua itu adalah seorang perantau.

Tetapi betapa wajah orang tua itu terbakar oleh terik matahari, namun ketika di kejauhan dilihatnya jelujur tanggul sungai, maka ia tersenyum. Desisnya, “Hem, aku telah cukup lama meninggalkan kampung halaman. Mudah-mudahan aku menjumpai keadaan yang jauh lebih baik daripada saat aku tinggalkan.”

Orang tua itu berjalan terus dengan langkah yang tetap. Semakin dekat ia dengan bendungan, hatinya menjadi semakin rindu kepada padepokannya dan kepada para penghuninya.

Meskipun sejak mudanya, orang tua itu adalah seorang pejalan dari satu tempat ke tempat yang lain, namun setelah ia menetap di Panawijen dan ditinggalkan di padepokan itu seorang putri dewasa, maka perjalanannya kali ini seakan-akan telah ditempuhnya bertahun-tahun. Ia selalu tergesa-gesa meninggalkan tempat-tempat yang harus dikunjunginya menurut rencana perjalanannya. Saudara-saudaranya, kawan-kawannya yang telah lama tak dijumpainya.

Orang tua itu, Empu Purwa, menarik nafas dalam-dalam ketika kakinya menginjak tanggul sungai. Dilayangkannya pandangan matanya menyusuri getaran-getaran air, hinggap di tepian yang lain.

Empu Purwa mengerutkan keningnya ketika ia melihat di bawah sebatang pohon turi di seberang, sesosok tubuh terbaring diam. Alangkah nyamannya tidur di bawah daun yang hijau rimbun.

“Mahisa Agni,” desisnya. “hem, agaknya ia terlalu lelah.”

Ketika dilihatnya Agni tidur di tepian itu, maka hati Empu Purwa menjadi lapang. Seakan-akan Mahisa Agni itu sama sekali tidak sedang diganggu oleh kerisauan apapun juga. Namun sebagai seorang pendeta tua yang telah kenyang mengalami berbagai soal kehidupan, maka tiba-tiba hatinya berdesir. Tanpa setahunya, maka firasatnya mengatakan kepadanya, bahwa sesuatu telah terjadi di Panawijen.

Empu Purwa itu melayangkan pandangan matanya ke sekeliling bendungan. Sepi. Mahisa Agni itu beristirahat sendiri. Tidak dengan Wiraprana.

“Bukankah itu mungkin sekali terjadi?” desis orang tua itu kepada dirinya sendiri, “Apakah Mahisa Agni dan Wiraprana sama sekali tidak boleh terpisah?”

Empu Purwa tersenyum sendiri.

Perlahan-lahan orang tua itu melangkah maju. Mencelupkan kakinya ke dalam air yang tergenang semakin tinggi.

“Oh, alangkah segarnya. Setelah beberapa lama aku tidak menyentuh air di padepokanku sendiri.”

Orang tua itu pun kemudian berjalan melingkar, lewat di atas bendungan menyeberangi sungai. “Air telah mulai naik,” gumamnya.

Ketika Empu Purwa telah sampai di seberang, maka perlahan-lahan orang tua itu mendekati Mahisa Agni. Selangkah demi selangkah ia maju. Ia tidak mau mengejutkan anak muda yang sedang tidur dengan nyenyaknya itu.

Ketika Empu Purwa telah berdiri di sampingnya, maka orang tua itu tersenyum.

“Nyenyak sekali,” desisnya. Dan karena itulah maka Empu Purwa berkata di dalam hatinya, “Ah, biarlah ia tidur sepuas-puasnya. Biarlah aku pulang dahulu. Kalau Mahisa Agni nanti kembali, maka ia pasti akan terkejut melihat aku sudah berada di padepokan.”

Tiba-tiba orang tua itu ingin mengganggu Mahisa Agni. Perlahan-lahan ia membungkukkan badannya sambil berkata pula di dalam hatinya, “Biarlah aku letakkan tongkatku ini pada tubuhnya. Kalau ia bangun ia pasti akan terkejut. Bukankah Agni merasa tidak membawa tongkat ini?”

Tetapi ketika Empu Purwa membungkuk semakin dalam, tiba-tiba dahinya yang sudah berkeriput itu semakin berkeriput. Dilihatnya pada tubuh anak muda itu lumuran obat luka, meskipun telah tidak demikian jelas.

“Luka,” desisnya, “Mahisa Agni terluka. Apakah yang terjadi atasnya?”

Sejenak Empu Purwa menjadi ragu-ragu. Tongkatnya tidak jadi diletakkannya. Bahkan kemudian ia tegak kembali sambil mengangguk-anggukkan kepalanya pasti ada sesuatu yang terjadi.

Tetapi Empu Purwa tidak segera dapat melihat luka Mahisa Agni. Karena itu maka orang tua itu kembali bergumam, “Luka itu mungkin berada di punggungnya. Kenapa?”

Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Ingin ia segera memiringkan tubuh Mahisa Agni untuk melihat luka yang sebenarnya di punggungnya. Apakah luka itu disebabkan karena kecelakaan atau karena apa? Tetapi Empu Purwa hampir pasti, bahwa Mahisa Agni benar-benar telah terluka. Ia dapat mengenal dengan pasti, bekas-bekas obat yang masih tampak bekas-bekasnya di sisi lambungnya.

Dalam kebimbangan itu, Empu Purwa melihat Mahisa Agni bergerak-gerak perlahan-lahan. Bahkan kemudian anak muda itu menggeliat, namun kembali Mahisa Agni itu tertidur. Tetapi kali itu Mahisa Agni telah memiringkan tubuhnya sambil meletakkan kepalanya di atas tangannya.

Dengan hati-hati Empu Purwa berjongkok. Kini ia dapat melihat punggung Mahisa Agni. Sekali lagi dahi Empu Purwa berkerut. Ia melihat jelas, punggung anak muda itu masih bertapal obat lukanya. Meskipun punggung itu dikotori oleh pasir, namun Empu Purwa dapat melihatnya. Luka, ya punggung Mahisa Agni telah terluka, perlahan-lahan Empu Purwa membersihkan butiran-butiran pasir yang melekat di punggung itu. Perlahan-lahan pula Empu Purwa meraba-raba punggung Mahisa Agni. Namun ternyata, bahwa rabaan tangan Empu Purwa itu telah mengejutkan Mahisa Agni. Sekali anak muda itu berguling menjauh, dan dengan tangkasnya Mahisa Agni bangkit. Dengan segera ia mencoba menguasai kesadarannya untuk melihat siapakah orang yang telah mengganggunya itu.

Mahisa Agni adalah seorang anak muda yang terlatih baik. Itulah sebabnya maka segera ia berhasil menguasai dirinya, menguasai kesadarannya. Segera ia mengenalnya, siapakah orang tua yang berjongkok di hadapannya.

Dada Mahisa Agni berdesir cepat sekali. Sesaat ia terpaku di tempatnya, seperti seonggok batu yang mati. Namun tiba-tiba ia meloncat maju, bersujud di hadapan gurunya sambil berdesis, “Guru!”

Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Dibelainya kepala muridnya seperti membelai anak sendiri. Memang Mahisa Agni bagi Empu Purwa bukanlah sekedar seorang murid yang akan meneruskan ciri-ciri dan cita-cita perguruannya, namun Mahisa Agni baginya adalah seorang anak laki-laki yang baik. Anak laki-laki yang dapat menjadi penggantinya di rumah apabila ia sedang pergi. Dan bahkan kelak seandainya ia harus menghadap kembali kepada Yang Maha Agung.

Dada Mahisa Agni yang bergelora itu penuh dengan cerita yang seakan-akan saling berdesakan dahulu mendahului untuk meloncat keluar. Namun justru karena itu, tak sepatah kata pun yang dapat diucapkan.

Yang terdengar kemudian adalah suara gurunya lirih, “Agni. Apakah kalian selamat di padepokan?”

Pertanyaan itu benar-benar menghantam dada Mahisa Agni sehingga ia menjadi semakin terbungkam.

“Agni,” berkata Empu Purwa pula, “apakah tidak ada sesuatu yang terjadi? Aku harap demikian, dan bahkan aku harap semuanya menjadi semakin baik.”

Gelora di dada Mahisa Agni menjadi semakin dahsyat. Perlahan ia mengangkat wajahnya, dan sekilas dilihatnya wajah gurunya.

Mahisa Agni terkejut melihat wajah itu. Terbayang pada sinar mata gurunya, bayangan kecemasan hati orang tua itu.

“Apakah Guru telah mendengar apa yang terjadi di padepokan ini?” keluh Mahisa Agni di dalam hatinya.

Empu Purwa menarik nafas dalam-dalam. Hatinya menjadi semakin cemas. Sekali lagi terasa ada firasat yang kurang baik berbisik di dalam dadanya. Apalagi setelah orang tua itu melihat wajah Mahisa Agni. Muram, dan di punggungnya terdapat sebuah luka.

Karena itu, muka orang tua itu berkata, “Agni, bagaimana dengan dirimu sendiri?”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Kemudian ia mencoba menjawab pertanyaan gurunya. Perlahan-lahan hampir tak terdengar, “Aku selamat guru.”

Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun terasa hatinya semakin berdebar-debar.

“Bagaimana dengan yang lain?”

“Baik guru,” sahut Mahisa Agni. Tetapi suaranya sama sekali tidak meyakinkan.

Empu Purwa adalah orang tua yang memiliki banyak sekali pengalaman dan pengetahuan. Karena itu, kini terasa benar, bahwa sesuatu telah terjadi di padepokannya. Meskipun demikian ia tidak tergesa-gesa menanyakannya kepada Mahisa Agni.

Ia tidak ingin hatinya sendiri terbentur kepada kenyataan akan adanya peristiwa yang mungkin dapat mengecewakannya. Orang tua itu ingin mengetahui dengan perlahan-lahan, sehingga ia sempat mengatur perasaannya sendiri.

Karena itu maka yang mula-mula ditanyakannya adalah keadaan Mahisa Agni sendiri, katanya, “Agni, kenapa kau tertidur di bendungan.”

“Aku lelah sekali guru,” jawab Mahisa Agni.

Empu Purwa mengangguk-angguk. Ia ingin segera mengetahui, apakah sebabnya punggung Mahisa Agni terluka, namun yang terloncat dari mulutnya adalah, “Kenapa kau seorang diri? Apakah tidak ada kawan-kawanmu bersamamu di sini?”

Dada Mahisa Agni berdesir. Pertanyaan itu mendekati persoalan yang selama ini menggetarkan dadanya. Namun jawabnya, “Ya guru. Aku sendiri.”

Empu Purwa mengangguk-angguk pula. Kemudian kembali ia mengajukan pertanyaan yang disangkanya tidak langsung menusuk ke persoalannya. Katanya, “Tidak dengan Wiraprana?”

Namun ternyata Empu Purwa salah sangka. Pertanyaan itu telah benar-benar menyebabkan Mahisa Agni tergetar. Hatinya yang terpecah seakan-akan menjadi semakin berkeping.

Sesaat ia terbungkam. Dari keningnya mengalir keringat dingin membasahi sisi wajahnya.

Empu Purwa melihat ketegangan wajah Mahisa Agni itu. Hatinya menjadi semakin berdebar pula. Apakah yang sebenarnya telah terjadi?

Tiba-tiba kecemasan di hati Empu Purwa itu memuncak. Mahisa Agni dan Wiraprana pada saat ditinggalkannya memiliki persoalan yang tajam. Meskipun pada saat itu tampaknya Mahisa Agni mampu mengendalikan dirinya, bahkan menguasai perasaan sepenuhnya, namun ia adalah seorang anak muda yang sedang tumbuh. Seorang anak muda yang sedang mengalami masa hiruk-pikuk di dalam dirinya. Suatu waktu mungkin Mahisa Agni benar-benar dapat mengendalikan perasaannya seperti yang pernah dilihatnya, bahkan Wiraprana pernah pula mendapat perlindungannya. Namun apabila hatinya sedang dibakar oleh masa remajanya, maka bahaya akan dapat meledak setiap saat. Apalagi kini Empu Purwa melihat luka di punggung Mahisa Agni. Apakah telah terjadi pula perselisihan antara mereka? Tetapi kenapa luka itu berada di punggung? Apakah seseorang telah menyerang Mahisa Agni dari belakang?

“Tidak mungkin Wiraprana,” desis Empu Purwa di dalam hatinya, “betapapun juga, mereka bukan merupakan tanding yang seimbang. Meskipun seandainya Wiraprana menyerang dari belakang pun, Agni tidak akan dapat dilukainya. Karena itu, penyerangnya pasti orang yang memiliki kemampuan yang cukup, sehingga Mahisa Agni terlambat menghindarinya.”

Justru karena itulah maka keinginan Empu Purwa untuk mengetahui keadaan padepokannya menjadi semakin mendesak. Ia kini tidak dapat lagi menahan pertanyaan yang telah berdesakan di dalam hatinya.

Karena itu maka wajah orang tua itu pun menjadi semakin berkerut-kerut. Ditatapnya Mahisa Agni semakin tajam dan tiba-tiba dari sela-sela bibirnya Empu Purwa bertanya, “Mahisa Agni. Apakah punggungmu terluka?”

Keringat Mahisa Agni semakin banyak mengalir. Sekali-sekali dilayangkan pandangan matanya berkeliling. Kalau-kalau dilihatnya seseorang yang akan dapat membantunya mengatakan apa yang telah terjadi di padepokan orang tua itu. Tetapi bendungan itu terlalu sepi. Tak seorang pun yang tampak di sekitarnya. Bahkan suara seruling di kejauhan yang didengarnya sebelum Mahisa Agni tertidur, kini sudah tidak lagi menggetarkan udara.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia ingin mendapatkan seorang teman untuk mengatakan kepada Empu Purwa apakah yang telah terjadi. Karena itu maka katanya, “Guru, marilah kita kembali ke padepokan. Di sana akan banyak peristiwa-peristiwa yang dapat aku ceritakan.”

Orang tua itu mengangkat alisnya. Keinginannya untuk mengetahui sebab luka di punggung Mahisa Agni itu semakin mendesak, sehingga jawabnya sambil tersenyum, meskipun senyumnya itu terasa hambar, “Bagiku sama saja Agni. Di padepokan atau di sini. Aku hanya ingin tahu, apakah sebabnya punggungmu terluka.”

Kembali Mahisa Agni tergagap. Kembali ia menebarkan pandangan matanya berkeliling. Namun kembali ia kecewa karena tak seorang pun yang dilihatnya.

Tetapi ia tidak dapat berdiam diri atas pertanyaan gurunya itu. Meskipun hatinya menjadi berdebar-debar namun ia terpaksa menjawab juga, katanya, “Guru, lukaku ini hampir tak berarti bagiku. Apalagi kini sudah hampir sembuh.”

Empu Purwa tersenyum kembali. Juga senyumnya kali ini terasa hambar, diulanginya pertanyaannya, “Agni. Aku ingin tahu kenapa punggungmu terluka? Apakah kau terjatuh dari bendungan, dan punggungmu tepat menimpa sebuah patok? Atau kebetulan kau tertidur di bawah bendungan dan sepotong batu karang menimpa punggungmu? Tetapi luka itu bukanlah sebuah luka karena sebab-sebab yang aku katakan. Luka itu terlalu kecil namun menilik bekasnya kau pernah menderita karena luka itu.”

Dada Mahisa Agni bergetar semakin cepat. Disadarinya, bahwa gurunya adalah seorang yang memiliki pengamatan yang baik atas segala jenis luka. Karena itu, apakah ia dapat berbohong? Akhirnya Mahisa Agni tidak dapat berbuat lain. Meskipun hatinya terguncang-guncang, namun ia menjawab, “Ya. Guru. Luka di punggungku adalah luka karena senjata.”

Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku sudah menduga,” katanya, “tetapi aku sedang berpikir, senjata apakah yang meninggalkan bekas luka seperti luka di punggungmu. Cis atau apa? Kalau kau bertempur dalam lingkaran pertempuran, maka mungkin sebuah anak panah mengenaimu. Tetapi aku meragukannya.”

Dada Mahisa Agni menjadi semakin riuh. Gurunya dapat meraba dengan tepat. Namun kemungkinan itu sebenarnya memang sangat kecil sehingga gurunya meragukan. Tetapi ternyata bahwa sebenarnya memang telah terjadi. Punggungnya terluka karena anak panah. Sehingga Mahisa Agni untuk seterusnya tidak berani lagi berkata lain daripada yang sebenarnya.

“Sebenarnyalah Guru, punggung terluka karena anak panah.”

Empu Purwa mengerutkan keningnya. Ia memang sudah menyangka bahwa luka itu adalah luka karena anak panah. Tetapi bagaimana mungkin Mahisa Agni terkena anak panah? Apakah anak itu sama sekali tidak dapat mengelakkan dirinya? Penyerangnya pasti seorang yang mampu menyembunyikan diri dengan baiknya, sehingga geraknya sama sekali tak didengar oleh Mahisa Agni. Atau barangkali Mahisa Agni sedang tidur?

Tetapi Empu Purwa tidak mau berteka-teki lebih jauh. Segera ia bertanya, “Anak panah siapa, Agni?”

Sambil menundukkan kepalanya Mahisa Agni menjawab, “Seorang prajurit Tumapel, Guru.”

Jawaban ini benar-benar mengejutkan. Segera Empu Purwa menghubungkan peristiwa ini dengan Kuda Sempana, sehingga terloncat dari mulutnya, “Kuda Sempana?”

“Bukan Kuda Sempana sendiri,” sahut Mahisa Agni.

“Tentu. Tentu bukan Kuda Sempana sendiri. Tetapi bagaimana peristiwa itu terjadi?”

Kembali dada Mahisa Agni bergetaran. Ia masih tetap dalam keinginannya mendapat seorang kawan untuk menceritakan peristiwa yang telah terjadi. Karena itu sekali lagi ia mencoba berkata, “Marilah kita kembali ke padepokan guru.”

“Tidak!” jawab Empu Purwa tegas-tegas, “Aku ingin segera mendengarnya.”

Kini Mahisa Agni tidak dapat mengelak lagi. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam, dan kemudian terbata-bata ia berkata, “Cerita itu panjang, Guru.”

“Sampai seminggu aku akan mendengarkannya.”

Mahisa Agni terkejut mendengar jawaban itu. Dicobanya untuk menatap wajah gurunya. Dan wajah itu pun tampaknya tegang sekali.

“Seseorang telah melukai muridku di punggungnya. Itu bukan perbuatan jantan,” desis Empu Purwa.

“Oh,” keluh Agni di dalam hatinya, “bukan saja muridnya terluka. Tetapi gadis satu-satunya telah hilang dari Panawijen. Hem. Bagaimana aku akan mengatakannya?”

Tetapi Agni itu terkejut ketika Empu Purwa berkata, “Ceritakanlah Agni. Seandainya kau terbunuh sekalipun, namun secara jantan aku akan menangisimu. Tetapi aku tidak mendendam. Mungkin aku akan menuntut balas hanya dalam batas-batas kebenaranmu. Tetapi luka di punggung adalah hasil perbuatan yang licik, kecuali kalau kau sengaja bertempur sambil membelakangi musuhmu.”

Mahisa Agni kini tidak melihat jalan lain untuk menghindarkan dirinya. Karena itu, maka dengan suara tertahan-tahan dan nafas yang terengah-engah, diceritakannya apa yang telah terjadi di padepokan Panawijen. Hati-hati, namun berurutan, lengkap semuanya yang diketahuinya dan dialaminya.

Gurunya, Empu Purwa mendengarkan setiap kata Mahisa Agni dengan seksama. Sekali-sekali ia mengerutkan keningnya, namun kemudian wajah itu menjadi tegang.

“Kau berhasil mengusir Kuda Sempana?” bertanya gurunya.

“Ya Guru, di hari pertama.”

“Kenapa di hari pertama?”

“Aku mencoba mengejarnya ke Tumapel. Mungkin aku akan mendapat penyelesaian yang baik. Mungkin akan dapat minta pertolongan Witantra.”

“Witantra kakak seperguruan Mahendra?”

“Ya, Guru.”

Orang tua itu menganggukkan kepalanya. Gumamnya, “Aku sangka orang-orang itu menyadari keadaannya. Mahendra masih mengganggumu di Tumapel dan Kuda Sempana masih juga berusaha mengambil gadisku.”

Dada Mahisa Agni menjadi semakin bergelora, ia ingin berhenti sampai sekian dan melanjutkan di padepokan. Namun gurunya tiba-tiba bertanya, “Tapi kau belum mengatakan apakah sebabnya punggungmu terluka?”

Mahisa Agni ragu-ragu sejenak. Jawabannya sama sekali tidak ada hubungannya dengan pertanyaan gurunya. “Tetapi Mahendra telah menyadari keadaannya. Ia banyak memberi aku pertolongan bersama kakak seperguruannya Witantra.”

Empu Purwa mengangguk-angguk pula. Tetapi ia mendesak, “Syukurlah. Tetapi siapakah yang melukai punggungmu?”

Mahisa Agni menjadi semakin terdesak ke sudut. Sehingga dengan penuh keragu-raguan ia menjawab, “Luka ini terjadi di hari berikutnya guru.”

“Hari berikutnya? Apa yang terjadi di hari itu?”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Tetapi ia terpaksa berkata, “Kuda Sempana mengulangi niatnya.”

“Oh. Kasihan anak itu,” keluh Empu Purwa, “apakah anak muda itu membawa kawan-kawannya?”

“Ya, Guru.”

“Hem, lalu bagaimana?”

Kembali Mahisa Agni terpaksa menceritakan kelanjutan peristiwa yang menyakitkan hati itu. Meskipun ia tidak melihat sendiri apa yang terjadi di Panawijen, saat Kuda Sempana mengambil Ken Dedes, namun ia telah mendengarnya dari para cantrik, sehingga karena itu, maka Mahisa Agni pun dapat mengulangnya dengan baik. Meskipun ia mencoba mengatakannya sangat berhati-hati. Namun betapapun juga ia merasa bahwa tampak perubahan yang nyata pada wajah gurunya.

“Akuwu Tunggul Ametung sendiri datang?”

“Ya, Guru.”

“Dan merela memasuki padepokan kita?”

“Ya, Guru.”

“Apa yang mereka lakukan?”

Mulut Mahisa Agni benar-benar seakan-akan tersumbat. Dengan dada yang gemetar ia menatap wajah gurunya yang tegang.

“Apa yang mereka lakukan Agni?”

“Ampun guru,” desah Mahisa Agni. Namun ia terdiam kembali.

Empu Purwa segera dapat menangkap peristiwa itu. Ia dapat membayangkan bahwa sesuatu yang pahit telah terjadi. Karena itu maka katanya, “Mereka mengambil anakku itu?”

“Ampun Guru. Peristiwa itu terjadi di luar pengamatanku. Aku pada saat itu masih berada di Tumapel.”

“Benarkah seperti apa yang aku katakan? Mereka membawa anakku?”

“Ya, Guru,” suara Mahisa Agni hampir tidak terdengar. Namun meskipun demikian, suara yang lirih itu cukup menggemparkan dada Empu Purwa. Dada itu serasa meledak. Anak itu adalah anak satu-satunya. Anak yang dikasihinya melampaui seluruh isi dunia ini. Dan anak itu ternyata telah hilang.

Empu Purwa yang tua itu, tiba-tiba menegangkan tubuhnya. Hampir ia kehilangan penguasaan diri. Meskipun ia seorang pendeta yang tekun. Namun ia adalah seorang manusia pula. Manusia yang terdiri dari kulit daging. Manusia yang wadagnya masih memerlukan air untuk minum dan nasi untuk makan. Manusia yang berjiwa kerdil betapapun ia melampaui yang lain. Manusia yang lemah dan berakal sempit, betapapun ia menguasai segala macam ilmu.

Dengan suara yang gemetar Empu Purwa bertanya pula kepada Mahisa Agni, “Agni. Apakah di padepokan itu tidak ada seorang manusia pun pada saat itu?”

“Ada garu.”

Empu Purwa menggeram. Dari sepasang matanya memencar api kemarahan tiada berhingga. Belum pernah Mahisa Agni melihat mata gurunya menyala sedemikian dahsyatnya, seakan-akan seluruh bumi ini akan dibakarnya.

Mahisa Agni kemudian menundukkan wajahnya. Ia tidak berani lagi menatap gurunya itu.

Tiba-tiba Mahisa Agni terkejut ketika gurunya bertanya kepadanya.

“Agni kau tahu, kapan bendungan itu dibuat?”

Agni tidak tahu maksud pertanyaan gurunya. Sekali lagi ia mengangkat wajahnya, namun kembali wajahnya tertunduk. Meskipun demikian ia merasa aneh akan gurunya itu. Wajahnya merah menyala, tetapi pertanyaannya itu diucapkannya perlahan-lahan. Namun dibalik ucapannya yang tampaknya tenang itu, terasa bahwa di bawahnya tergenang air yang berputar sedahsyat pusaran.

“Agni,” terasa suaranya menjadi semakin keras. Dan Agni terkejut pula karenanya.

“Ya, Guru,” jawabnya.

“Kau tahu, kapan bendungan itu dibuat?”

“Tidak, Guru,” jawab Agni tergagap,

“Bendungan itu umurnya lebih dari umurmu. Akulah yang membuat bendungan itu pada masa aku masih berguru. Sekali aku dibawa oleh guruku merantau, dan sampailah aku ke daerah ini. Oh, alangkah keringnya daerah ini dahulu,” desis orang tua itu.

Mahisa Agni menjadi semakin tidak tahu ke mana arah pembicaraan gurunya. Tetapi kembali dadanya berdesir ketika ia mendengar gigi gurunya itu gemeretak.

“Alangkah marahnya Empu Purwa,” desah Mahisa Agni di dalam hatinya. Tetapi ia tidak berani memandang wajah gurunya itu.

Kembali Mahisa Agni terkejut ketika terasa gurunya menarik lengannya. Oh, alangkah dahsyat tenaga itu. Hampir ia jatuh terjerembab. Dan dirasanya tangan gurunya gemetar.

“Agni,” berkata gurunya. Suaranya bergetar. Kini Mahisa Agni tahu, bahwa gurunya mencoba menahan perasaannya.

“Ketika kami, aku dan guruku, melihat daerah ini sedemikian keringnya, padahal dataran ini merupakan dataran yang baik sekali untuk tanah-tanah persawahan, maka guruku memerintahkan kepadaku, katanya, ‘Kalau kau benar-benar setia pada perguruanmu, jadikanlah bendungan di sungai yang membelah dataran ini. Dengan demikian kau tidak saja berjasa dalam perjuangan melawan kekerasan dan kejahatan dengan ilmu tata berkelahi dan bela diri, namun kau pun akan berjasa bagi kemanusiaan dengan memberi lapangan hidup yang baru. Memberi tanah pertanian yang subur’.”

“Demikianlah aku mulai dengan pekerjaanku. Bersama beberapa orang cantrik dan seorang saudara seperguruanku. Nah, akhirnya aku dapat memenuhi perintah guruku itu.”

“Dua tahun, aku ulangi Agni, dua tahun kami mengumpulkan bahan-bahan untuk bendungan ini, dan hampir satu tahun kami meletakkannya dan menyusunnya menjadi sebuah bendungan sehingga dapat menaikkan air ke sawah-sawah. Bendungan itu pada dasarnya tidak pernah rusak. Hanya perbaikan-perbaikan kecil memang harus selalu dilakukan.”

“Sesudah itu Agni. Sesudah bendungan itu berhasil menaikkan air, maka mulailah daerah ini menjadi daerah yang semakin lama semakin ramai. Banyak orang mulai membuka tanah pertanian di sini.”

“Oh, Agni. Aku tidak akan memperagakan jasa-jasa itu kepadamu. Setiap orang-orang tua di Panawijen tahu, akulah yang membuat bendungan itu.” Empu Purwa berhenti sejenak. Namun nafasnya menjadi semakin deras mengalir, dan terdengar giginya masih saja gemeretak. Dan tiba-tiba suara orang itu mengeras, “Agni. Bukankah anakku itu hilang?”

Mahisa Agni benar-benar terkejut dan berdebar-debar mendengar pertanyaan itu. Sesaat ia terbungkam, sehingga Empu Purwa mengulanginya dengan nyala kemarahan yang memancar dari sepasang matanya, “Agni. Bukankah begitu?”

“Ya, Guru,” sahut Agni ketakutan.

“Dan lukamu itu?”

“Aku berpapasan dengan Kuda Sempana dan Akuwu Tunggul Ametung. Aku mencoba mencegah mereka. Dan sekali lagi aku harus bertempur dengan Ken Arok.”

“He? Siapa? Hantu Karautan itu yang kau maksud?”

“Ya, Guru.”

“Lalu kau dilukainya dari belakang?”

“Tidak, Guru. Bukan hantu Karautan itu yang melukaiku. Tetapi seorang Prajurit Tumapel memanahku pada saat aku sedang bertempur dengan Ken Arok.”

“Dan anakku dibawanya ke Tumapel?”

Mahisa Agni mengangguk penuh kebimbangan.

“Oh, kasihan Ken Dedes itu. Kasihan anakku itu.” suaranya Empu Purwa merendah. Terasa sesuatu menyumbat kerongkongannya. Anak itu adalah anak satu-satunya. Dibayangkannya bagaimana gadisnya itu menjadi ketakutan. Dibayangkannya betapa kasar Kuda Sempana itu menarik tangan anaknya, kemudian dengan nafsu yang menyala-nyala membawa anaknya itu ke Tumapel dalam perlindungan Akuwu Tunggul Ametung.

Tiba-tiba orang tua itu kehilangan keseimbangan nalarnya. Betapapun mumpuninya Empu Purwa dalam olah ilmu lahir dan batin, namun ia adalah seorang manusia biasa. Sehingga karena itulah maka apabila kelemahannya sebagai manusia telah menguasai perasaannya, hilanglah segala macam ilmu dan kelebihannya dari manusia lain. Empu Purwa itu pun kemudian kehilangan segala macam kelebihan-kelebihannya, kesabaran, kelapangan dada dan kelunakan hati.

Sehingga tiba-tiba terdengarlah dari sela bibir orang tua itu kata-kata yang nyaring membelah kesepian. “Agni, semoga suaraku ini didengar oleh Yang Maha Agung. Semoga suaraku ini akan terjadi kelak. Terkutuklah! Terkutuklah mereka itu yang telah bersepakat untuk melarikan anakku! Hai, orang yang melarikan anakku, semoga tidak langsung mengenyam kenikmatan, matilah ia dibunuh dengan keris.”

“Guru!” teriak Mahisa Agni memotong kata-kata gurunya. Anak muda itu dapat merasakan getar suara gurunya yang benar-benar telah menjatuhkan kutuk yang dahsyat. Namun Empu Purwa sama sekali tidak mendengarkannya. Bahkan kemudian orang tua itu berpaling memandangi bendungan yang selama ini merupakan sumber kesuburan Panawijen. Sekali lagi Mahisa Agni mendengar gurunya itu berkata dengan suara gemetar terbakar oleh kemarahan yang meluap-luap, “Bendungan itu menjadi saksi apa yang telah aku lakukan untuk Panawijen. Tetapi orang-orang Panawijen sama sekali tidak mengimbanginya. Dibiarkannya anakku dilarikan orang tanpa perlindungan. Apakah orang sepadukuhan ini sama sekali tidak berdaya untuk mencegahnya. Oh, semoga terjadi pula kata-kataku ini atas Panawijen. Semoga keringlah tempat mereka mengambil air, semoga keringlah semua kolam-kolamnya, karena mereka berdosa membiarkan anakku dilarikan orang dengan paksa.”

“Guru!” sekali lagi terdengar suara Mahisa Agni melengking. Namun sekali lagi Empu Purwa tidak mendengar suara Mahisa Agni itu. Bahkan dengan serta-merta orang itu meloncat dengan cepatnya. Seakan-akan lebih cepat dari kilat yang menyambar di udara. Mahisa Agni tidak mampu berbuat apa-apa. Ia hanya mampu berdiri tegak sambil ternganga melihat gurunya dengan kecepatan yang mengagumkan berlari ke arah bendungan.

Mahisa Agni sama sekali tidak dapat meraba maksud gurunya itu. Karena itu maka ia sama sekali tidak mencoba untuk berbuat sesuatu.

Namun dada Mahisa Agni itu kemudian berdesir tajam ketika ia melihat Empu Purwa meloncat dan meluncur ke bawah bendungan itu, sehingga orang tua itu hilang dari pengamatannya.

Mahisa Agni yang ingin mengetahui, apakah yang akan dilakukan oleh gurunya, tanpa dikehendakinya sendiri, ia pun melompat berlari meloncati tanggul di sisi bendungan itu. dari sana ia melihat gurunya yang berdiri tegak di bawah air yang melontar dari atas bendungan.

Semula Mahisa Agni tidak segera dapat mengetahui apa yang akan dilakukan oleh gurunya. Namun tiba-tiba terasa sesuatu menampar dadanya. Terasa seakan-akan darahnya membeku dan tubuhnya menjadi lemas. Dengan mata terbelalak ia melihat gurunya itu berdiri tegak seperti tertanam jauh ke pusat bumi. Namun tiba-tiba ia melihat gurunya menarik satu kakinya ke belakang dan menyilangkan kedua tangannya di muka dadanya.

Apa yang dilihat oleh Mahisa Agni itu benar-benar telah menghantam jantungnya, seakan-akan jantung di dalam dadanya itu akan pecah. Dalam puncak kecemasan anak muda itu berteriak nyaring, “Jangan Guru! Jangan!”

Tetapi suara Mahisa Agni itu seperti desau angin yang meluncur tanpa bekas. Empu Purwa itu benar-benar telah memusatkan segenap kekuatan lahir dan batinnya.

Tiba-tiba sekali lagi Mahisa Agni berteriak. Tinggi dan melengking, memancarkan kekhawatiran, namun juga keputusasaan, “Guru, Guru, Jangan!”

Tetapi Mahisa Agni itu sama sekali tidak dapat mempengaruhi perasaan gurunya yang sedang gelap pepat. Perasaan seorang ayah yang kehilangan gadis satu-satunya.

Mahisa Agni itu kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Namun ia ingin juga melihat apa yang terjadi, sehingga tanpa dikehendakinya anak muda itu telah mengintip dari sela-sela jari tangannya sendiri.

Mahisa Agni itu melihat Empu Purwa meloncat tinggi seolah-olah melenting seperti seekor belalang. Sedemikian kuat daya loncatnya sehingga orang tua itu hampir-hampir dapat mencapai bibir bendungan itu. Tetapi apa yang dilakukan adalah mengerikan sekali. Dengan penuh luapan kemarahan, Empu Purwa telah melepaskan kekuatannya, lewat ajinya yang dahsyat, Gundala Sasra, menghantam bibir bendungan itu.

Mahisa Agni mendengar suara gemuruh pada bendungan itu. Dilihatnya permukaan air berguncang. Berguncang seperti guncangan-guncangan di dalam dada Mahisa Agni sendiri.

Apalagi ketika ia melihat gurunya itu sekali lagi melenting, sekali lagi mengayunkan ke bibir bendungan itu.

Seakan-akan dadanya sendirilah yang terhantam oleh kekuatan yang dahsyat. Kekuatan aji Gundala Sasra.

Mahisa Agni sekali lagi mendengar suara gemuruh di bendungan itu. Sekali lagi ia melihat dari sela-sela jari-jarinya air terguncang dengan kerasnya. Namun kali ini ia melihat juga batu yang meloncat berhamburan. Bibir bendungan itu kini benar-benar telah pecah. Pecah berserakan. Berunjung-berunjung batu berguguran seperti dihantam oleh ledakan gunung Semeru.

Mahisa Agni benar-benar menjadi ngeri. Terdengar ia menjerit tinggi. Melengking di antara suara reruntuhan batu-batu dan kemudian disusul oleh luapan air yang meluncur dengan cepatnya, lewat celah-celah bendungan yang runtuh itu.

Sekejap Mahisa Agni masih melihat gurunya meloncat menghindari air yang meluap. Dan sekejap Mahisa Agni melihat betapa air yang meluap itu telah menambah luka bendungan itu menjadi semakin parah. Batu demi batu hanyut meluncur di antara air yang mengalir sangat derasnya. Sejengkal demi sejengkal luka bendungan itu menjadi semakin lebar. Sehingga kemudian Mahisa Agni tidak tahan lagi melihatnya.

Sekali lagi terdengar ia berteriak, “Hancur! Bendungan itu hancur!”

Mahisa Agni itu pun kemudian memutar tubuhnya membelakangi bendungan yang semakin lama semakin parah. Di tutupnya kedua lubang telinganya. Ia tidak mau mendengar suara yang gemuruh itu. Suara yang ditimbulkan oleh guguran-guguran batu bendungan yang semakin lama semakin keras. Seperti guguran-guguran di hatinya. Terbayang sudah apa yang akan terjadi atas padukuhan ini. Panawijen benar-benar akan menjadi kering. Akan keringlah tempat mengambil air dan akan kering pulalah seluruh kolam-kolamnya. Sawah-sawah akan tidak lagi dapat diairi, sebab selokan-selokan pun akan menjadi kering pula karenanya.

Terbayang kini, apa yang selama ini pernah dilakukannya di Panawijen. Hampir separuh dari waktunya sehari-hari dihabiskannya di sawah-sawah dan di bendungan ini. Bendungan yang menjadi lambang kesuburan padukuhan Panawijen dan padepokan gurunya. Bendungan yang dapat menjadi tempat yang menenangkan bagi anak-anak muda. Pasir yang putih dan air yang tergenang. Wajah air yang tenang, di mana kawan-kawannya dan dirinya sendiri sering bermain-main di dalamnya. Berenang, berkejaran di dalam air dan bahkan beradu ketangkasan.

Tetapi kini bendungan itu runtuh. Runtuh dan runtuhnya bendungan ini akan menjadi pertanda pula keruntuhan padukuhan Panawijen.

Mahisa Agni menjadi semakin ngeri. Tangannya masih saja menyumbat kedua telinganya. Ia masih tidak mau mendengar dan melihat gemuruhnya bendungan itu hancur.

Namun dengan demikian, ia sama sekali tidak merasa bahwa tanah yang dipijaknya itu pun sedikit demi sedikit menjadi goyah. Air yang deras itu telah menggugurkan tebing sungai itu pula, sehingga sisi tanggul itu pun sedikit demi sedikit runtuh pula dibawa arus.

Mahisa Agni baru menyadari keadaannya ketika ia merasa dirinya terguncang. Betapa ia terkejut, ketika tanah yang dipijaknya seolah-olah meluncur turun. Mula-mula perlahan-lahan sekali, namun semakin lama semakin cepat.

Mahisa Agni segera dapat menduga apa yang telah terjadi. Dengan gerak naluriah ia meloncat, untuk menghindarkan diri dari bencana yang menyeretnya. Tetapi, tanah yang meluncur itu sama sekali tidak dapat dipakainya sebagai tempat berjejak.

Dalam kesibukannya berusaha untuk menyelamatkan diri, tiba-tiba Mahisa Agni merasa, sepasang tangan menyambar lengannya, kemudian dengan satu kekuatan yang besar, ia terlempar ke samping dan kemudian jatuh berguling di atas pasir. tetapi ia tidak ikut runtuh bersama tanggul sungai itu. Dalam keadaannya itu Mahisa Agni masih sempat melihat, seseorang yang menariknya itu meloncat dan jatuh pula di sampingnya.

Cepat-cepat Mahisa Agni bangkit. Dilihatnya orang yang menolongnya itu bangkit pula. Ternyata bahwa orang itu adalah gurunya, Empu Purwa.

Sebuah getaran yang dahsyat telah melanda dada anak muda itu. Sedemikian dahsyatnya sehingga ia tidak mampu lagi untuk menahannya. Karena itu maka dengan serta-merta Mahisa Ani meloncat berjongkok di hadapan gurunya. Bahkan kemudian sambil memeluk kaki orang tua itu Mahisa Agni berdesis, “Guru, Guru, kenapa semua ini harus terjadi? Panawijen sedang berkabung. Dan kini Panawijen menjadi semakin hancur.”

Sejenak orang tua itu berdiam diri. Matanya kini tidak lagi menyalakan kemarahan hatinya yang meluap-luap. Bahkan mata itu kini menjadi redup, bagaikan pelita yang kehabisan minyak.

“Agni,” berkata Empu Purwa perlahan-lahan, “aku tidak dapat menahan perasaanku. Kenapa orang-orang Panawijen sama sekali tidak memiliki rasa kesetiakawanan. Kenapa dibiarkan anakku satu-satunya itu dibawa orang.”

“Tidak Empu,” bantah Agni, “Panawijen tidak berdiam diri. Dan Panawijen bahkan telah mengorbankan seorang anak mudanya.”

“Agni,” Empu Purwa terkejut mendengar keterangan itu, “apakah yang kau maksudkan?”

“Guru. Dalam mempertahankan Ken Dedes, Wiraprana terbunuh.”

“He,” sebuah bentakan telah mengguncangkan dada Empu Purwa. Baru kini ia mendengar bahwa telah terjadi perjuangan untuk mempertahankan anaknya. Bahkan anak Buyut Panawijen itu terbunuh.

Kembali Empu Purwa terdiam. Terasa hatinya terpecah-pecah. Ketika ia berpaling, dan dilihatnya air yang cokelat bergulung-gulung mengalir menurut jalur-jalur sungai, Empu Purwa menarik nafas dalam-dalam. Apalagi ketika kemudian ia mendengar Mahisa Agni berkata, “Guru. Akuwu Tunggul Ametung datang dengan para prajuritnya. Mereka membawa tombak, panah dan perlengkapan perang yang cukup. Lalu apakah yang dapat dilakukan oleh penduduk Panawijen itu. Apakah mereka dapat menghadapi ujung tombak, pedang dan bedor-bedor panah?”

Kepala Empu Purwa tertunduk mendengarkan kata-kata Mahisa Agni itu. Tumbuhlah penyesalan di dalam dirinya. Penyesalan atas kelemahannya, kelemahan jiwanya.

Namun Ken Dedes itu adalah satu-satunya. Tempat ia meletakkan harapan untuk memperpanjang namanya. Kalau anak itu menemui kesulitan, maka hari yang akan datang bagi orang tua itu, adalah hari yang gelap. Lenyaplah urutan saluran darahnya.

Tetapi ternyata, kecintaannya kepada satu-satunya anaknya itu telah menggelapkan hatinya. Menggelapkan perasaannya, sehingga ia tidak menyadari apakah yang telah dilakukannya.

Dan benarlah kata-kata Mahisa Agni. Panawijen sedang berkabung, dan kini Panawijen menjadi hancur.

Empu Purwa itu pun kemudian duduk di samping Mahisa Agni. Disuruhnya muridnya duduk pula. Dengan mata yang sayu keduanya memandangi air yang masih saja meluap-luap menghanyutkan batu-batu bendungan. Dan luka pada bendungan itu pun menjadi semakin lama selebar.

“Agni,” desis gurunya, “ternyata aku telah khilaf.”

Agni menundukkan kepalanya. Sebenarnyalah bahwa bendungan itu telah hancur.

“Agni,” berkata orang tua itu pula, “tak ada kata-kata yang dapat aku pakai untuk menjelaskan, apa sebabnya aku telah menjadi mata gelap. Tetapi aku mengharap kau dapat merasakannya.”

Mahisa Agni mengangguk. Perasan seseorang memang kadang-kadang serupa dengan seekor kuda. Betapa kuda itu dapat dijinakkan, namun suatu ketika, dalam keadaan yang tidak dapat dimengerti kuda itu dapat menjadi liar dan tanpa dapat dikuasainya. Seperti yang pernah terjadi pada dirinya sendiri. Apabila pada saat itu Wiraprana dapat ditemukan, pada saat ia merasa kehilangan kesempatan untuk mendapatkan Ken Dedes, mungkin ia sendirilah yang telah membunuh anak muda itu.

Tetapi Empu Purwa adalah seorang pendeta. Bukan lagi seorang anak muda yang binal seperti dirinya sendiri. Empu Purwa selama ini selalu berbuat baik. Sabar dan seolah-olah tidak lagi mempunyai kepentingan dengan masalah-masalah duniawi. Banyak nasihat-nasihatnya yang dapat mengendapkan perasaannya. Namun tiba-tiba orang tua itu sendiri telah berbuat sesuatu yang tanpa pengendalian diri. Tetapi Mahisa Agni tidak berani bertanya. Ia hanya dapat memandangi wajah orang tua itu. Wajah yang sayu suram. Dan dengan tiba-tiba Empu Purwa itu telah menjadi jauh semakin tua.

“Agni,” berkata orang tua itu, “jadikanlah peristiwa ini peringatan bagimu. Mungkin kau menganggap aku seorang guru yang baik. Seorang guru yang tanpa cacat tanpa cela. Tetapi kau kini menyaksikan sendiri, bahwa aku adalah manusia biasa. Manusia yang bagaimanapun juga, adalah manusia yang dikuasai oleh segala macam masalah duniawi. Dan aku telah tergelincir pula ke dalamnya. Masalah yang sangat mementingkan diriku sendiri. Agni. Jadikanlah peristiwa ini suatu peringatan. Bahwa manusia itu selalu dilumuri oleh kekerdilan jiwa, nafsu dan kepentingan diri sendiri.”

Ketika Mahisa Agni mencoba memandang wajah orang tua itu, hati Mahisa Agni pun berdesir. Dilihatnya sepasang mata orang tua itu menjadi semakin muram. Dan dilihatnya pula selapis air yang tergenang.

“Agni,” katanya lirih, “aku menyesal. menyesal sekali. Tetapi semuanya telah terlanjur. Aku tidak menyangka sama sekali bahwa Wiraprana telah terbunuh. Dan kini aku menjadikan Panawijen semakin berkabung.”

Kata-kata itu terhenti, seakan-akan sesuatu menyumbat kerongkongan Empu Purwa. Sekali orang tua itu berpaling. Tetapi ketika dilihatnya bendungan itu semakin hancur dilanda air, maka segera ia melemparkan pandangan matanya ke kejauhan. Ke puncak Gunung Kawi yang megah.

Angin yang lembut masih saja mengalir mengusap tubuh mereka yang duduk lemah di atas pasir tepian. Awan yang hanyut ke utara. Di ujung barat, awan berarak-arak menggamit tubuh Gunung Kawi yang seolah-olah acuh tak acuh saja.

“Mahisa Agni,” kembali terdengar gurunya berkata, “betapa besar kesalahan yang telah aku lakukan, namun aku ingin kau muridku, jangan membuat kesalahan yang sama berhati-hatilah anakku. Namun jangan pernah merasa dirimu lepas dari segala kemungkinan yang jahat. Karena itu, apabila kau melihat kesalahan, jangan kau maki yang melakukan kesalahan itu. Jangan kau hinakan, dan jangan kau campakkan dari pergaulanmu. Tetapi ingatlah bahwa kau pun akan dapat jatuh ke dalam kesalahan. Kepada mereka, usahakanlah, luruskan jalannya, supaya kesalahanmu diluruskan pula. Adalah keluhuran bagimu di hadapan Yang Maha Agung, apabila kau dapat meluruskan yang bengkok menyadarkan yang bersalah, daripada membinasakannya. Sebab bagi Yang Maha Agung, setiap kesalahan yang disesali sepenuh hati, pastilah akan dimaafkannya. Yang Maha Agung pasti akan memaafkan kesalahanmu pula Agni, apabila kau memaafkan kesalahan orang lain. Tetapi aku tidak tahu, apakah orang-orang Panawijen akan memaafkan aku.”

Mahisa Agni menunduk dalam-dalam. Dalam keadaan yang sepahit-pahitnya gurunya masih sempat mengambil contoh yang terdekat, contoh dari dirinya sendiri. Namun apa yang dikatakannya itu, langsung menghunjam ke dalam hatinya.

Tetapi Mahisa Agni itu kemudian terkejut ketika gurunya berkata, “Agni. Meskipun orang-orang Panawijen akan memaafkan kesalahanku, tetapi aku tidak akan dapat hidup lagi di padepokanku itu. Padepokan itu akan selalu mengingatkan aku kepada anakku yang tunggal itu. Karena itu Agni, aku akan pergi. Aku akan menghabiskan sisa umurku ini untuk melakukan pendekatan diri. Pendekatan diri untuk menghadap Yang Maha Agung, supaya aku dibebaskan dari kemungkinan mengalami sengsara pada masa yang langgeng.

Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Dari sela-sela bibirnya terdengar ia berdesah, “Guru, apakah guru akan meninggalkan Panawijen?”

“Ya.”

“Ke mana?”

“Aku tidak tahu Agni. Aku akan pergi menurut langkah kakiku. Tetapi hatiku akan menuntunku untuk mendekatkan diri pada Sumber Hidupku.”

“Jangan guru,” Mahisa Agni mencoba mencegahnya, “biarlah guru tetap di Panawijen. Aku akan berbuat untuk kepentingan guru. Akulah yang akan mempertanggung jawabkan apabila orang-orang Panawijen menjadi marah karena bendungan pecah. Bukankah aku akan dapat juga mencoba memperbaikinya?”

“Apa yang akan kau lakukan terhadap orang-orang Panawijen?”

“Aku akan memintakan maaf kepada mereka.”

“Kalau mereka tidak memaafkan?”

“Mustahil.”

“Bukan mustahil Agni. Mereka pun sedang diamuk oleh gelora perasaannya seperti aku.”

Mahisa Agni diam sejenak. Tiba-tiba ia berkata lantang, “Guru. Aku adalah seseorang yang pernah mendapatkan limpahan kemurahan Empu. Apakah aku tidak dapat berbuat sesuatu untuk Empu di sini? Seandainya orang-orang Panawijen itu marah dan tidak mendengarkan permintaanku. Baiklah, apakah yang akan mereka kehendaki. Kasar, halus, aku tidak akan gentar.”

Wajah Empu Purwa itu pun menjadi semakin muram. Ditepuknya punggung Mahisa Agni sambil berkata, “Terima kasih Agni. Aku mengucapkan terima kasih akan kesetiaanmu itu. Tetapi apakah kau sudah berbuat dengan tepat, apabila benar-benar terjadi demikian? Mungkin aku dapat juga berbuat seperti apa yang akan kau lakukan itu Agni, namun akibatnya adalah benturan-benturan perasaan yang meluap-luap tanpa terkendali. Korban akan berjatuhan, dan akan terkutuk pulalah namaku dan namamu di hadapan orang-orang Panawijen. Bukan sekadar di hadapan orang-orang Panawijen Agni, namun akan terkutuklah namaku dan namamu di hadapan Yang Maha Agung. Karena aku dan kau telah memperlihatkan kemenangan-kemenangan jasmaniah untuk melindungi kesalahan yang telah aku lakukan.”

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar jawaban gurunya itu. ia pun kemudian menundukkan kepalanya. Wajahnya menjadi merah karena malu. Ternyata bahwa perasaannya benar-benar seperti kuda liar yang tidak tunduk pada kendalinya.

“Alangkah bodohnya aku,” gumamnya di dalam hati, “seandainya demikian apakah aku lebih sakti daripada guruku itu? Seandainya harus bertahan dengan kekerasan. Oh, alangkah bodohnya aku.”

Namun terdengar gurunya berkata, “Sudahlah Agni. Kembalilah ke Panawijen. Mintalah maaf kepada orang-orang Panawijen atas namaku. Aku akan pergi sebelum aku menyentuh halaman padepokanku dengan ujung kakiku.”

“Tentang bendungan ini Agni, ingat-ingatlah. Jangan kau bangun kembali di bekasnya yang hancur itu. Kau tidak akan berhasil. Di sekitar tempat ini kau tidak mendapat cukup bahan untuk membangunkannya. Batu-batu yang tidak begitu banyak telah habis aku kumpulkan beberapa puluh tahun yang lalu.”

“Tetapi aku dan anak-anak muda Panawijen akan mampu mengumpulkannya,” jawab Mahisa Agni.

Empu Purwa memandang wajah Mahisa Agni yang bersungguh-sungguh. Terpancar dari kedua belah matanya, tekadnya yang menyala untuk membangun bendungan itu kembali.

Namun gurunya itu berkata, “Tidak Agni. Di daerah ini tidak cukup bahan untuk keperluan itu. Beberapa puluh tahun yang lalu aku dan beberapa orang cantrik memerlukan waktu dua tahun untuk mengumpulkan bahan-bahannya. Dan bahan-bahan itu kini sudah tidak ada lagi di sekitar tempat ini. Karena itu, Agni. Kalau kau mau mendengarkan kata-kataku, berjalanlah menyusur sungai ini ke hulu. Bawalah orang-orang Panawijen untuk membangun bendungan di daerah Padang Karautan. Padang rumput itu akan menjadi tanah persawahan yang subur.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Memang di daerah itu banyak terdapat batu-batu besar kecil. Tetapi daerah itu bukanlah daerah yang telah siap untuk dikerjakan. Di daerah itu masih harus dibangun parit-parit dan jalur-jalur air ke tengah padang rumput itu.

Empu Purwa melihat keraguan di wajah muridnya. Katanya, “Agni. Kalau kau bangun bendungan yang jebol itu, maka kau akan menemui banyak kesulitan. Selain daripada itu Agni. Bendungan itu akan selalu membangunkan kenangan pahit bagiku. Seandainya suatu ketika aku berkesempatan lewat di daerah ini, maka hatiku pasti akan terluka kembali karena kenangan yang pedih itu. Karena itu, cobalah. Biarlah rakyat Panawijen bangun dari tidurnya. Rakyat Panawijen yang selama ini seakan-akan tinggal memetik buah dari pepohonan yang ditanam oleh orang lain itu, biarlah mencoba untuk menilai kekuatan mereka sendiri. Sebab selama ini ternyata Panawijen telah menjadi suatu daerah yang sangat lemah. Daerah yang diliputi oleh suasana yang terlalu sepi dan diam. Cobalah Agni, Cobalah membangunkannya, supaya mereka mengenal arti kerja yang sebenarnya. Usaha mengadakan yang belum ada. Bukan sekedar puas apa yang telah dimilikinya.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi ia tidak dapat membantah perintah gurunya. Alasan-alasannya memang dapat dimengerti seluruhnya. Bahan-bahan yang terlalu kurang, alasan-alasan perasaan gurunya yang pahit dan kerja untuk membangunkan Panawijen yang selama ini telah tertidur nyenyak.

Mahisa Agni itu kemudian terperanjat ketika gurunya berkata sekali lagi kepadanya, “Agni. Biarlah sekarang aku pergi membawa sisa hidupku. Aku dahulu pernah menjadi seorang perantau. Sekarang aku akan mengulangi cara hidupku itu.”

“Tetapi Guru,” bantah Agni terbata-bata, “Guru sekarang sudah semakin tua. Dahulu Guru mungkin masih semuda aku.”

“Sekarang hatiku sudah semakin mengendap Agni. Aku tidak akan mengulangi cara-cara hidupku pada masa-masa itu. Sisa hidupku adalah kesempatan terakhir untuk menilai diriku di hadapan Yang Maha Agung.”

“Jangan Guru. Tinggallah sementara di Panawijen, Guru dapat mengawasi pekerjaan kami, membangun bendungan di tengah padang rumput itu.”

Empu Purwa menggeleng, “Tidak Agni.”

“Kenapa?” desak Agni.

“Kau adalah muridku. Umurmu sudah cukup dewasa. Aku tidak perlu lagi menganggapmu anak-anak yang harus aku tunggui siang malam dalam tugasmu. Cobalah. Kalau kau muridku, maka kau akan mampu melakukannya, seperti aku dahulu melakukan. Aku membangun bendungan ini, dan sekarang kau pun harus berbuat seperti aku. Melihat kemampuan diri.”

Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Ia tidak dapat menjawab lagi. Karena itu, maka yang terasa kemudian adalah debar yang semakin keras di dalam hatinya.

Ketika ia kemudian melihat gurunya berdiri, dengan serta-merta ia pun meloncat berdiri sambil berdesis, “Guru. Ke manakah aku harus pergi, seandainya suatu ketika aku ingin bertemu dengan Guru.”

“Bukan kau yang akan mencari aku Agni. Tetapi akulah yang akan datang kepadamu apabila aku masih mendapat kesempatan.”

“Mungkin suatu ketika aku harus menghadap guru, apabila aku melihat perkembangan yang terjadi atas Ken Dedes di Tumapel.”

Tiba-tiba Empu Purwa itu mengerutkan keningnya. Terasa bahwa sesuatu bergetar di dalam hatinya.

“Guru,” berkata Agni kemudian, “aku minta izin guru, untuk suatu ketika mengambil Ken Dedes dari Kuda Sempana.”

Empu Purwa menggeleng, “Agni. Apabila Kuda Sempana sudah mendapat perlindungan Akuwu Tunggul Ametung, maka persoalannya sudah menjadi semakin sulit. Kalau kau tentang perbuatan itu dengan kekerasan, maka apakah kau dan bahkan mungkin aku, akan dapat melawan seluruh Tumapel? Agni, jangan melawan Akuwu Tunggul Ametung dalam kedudukannya. Dengan demikian berarti kau melawan kekuasaannya. Karena itu Agni, aku menyesal, bahwa aku telah menghancurkan bendungan itu, mengeringkan sumber air bagi Panawijen, tetapi aku benar-benar tidak menyesal seandainya Yang Maha Agung benar-benar berkenan membebaskan anakku dari mereka yang telah melarikannya dengan paksa.”

Sekali lagi Mahisa Agni tertunduk. Dipandanginya pasir yang memutih di bawah kakinya.

Dan kembali ia mendengar gurunya berkata, “Agni. Aku akan pergi. Aku akan berdoa, semoga Yang Maha Agung mendengarkan aku pula kali ini. Semoga anakku akan selamat dan mendapat kebahagiaan yang besar.”

Demikian Empu Purwa selesai mengucapkan kata-katanya, maka segera ia melangkah meninggalkan Mahisa Agni. Tetapi Mahisa Agni itu berjalan pula di belakangnya sambil berkata, “Guru, Guru. Jangan pergi.”

Empu Purwa berpaling. Jawabnya, “Agni. Kau bukan anak-anak lagi. Berbuatlah seperti seorang yang telah dewasa. Aku akan pergi. Jangan kau ikuti aku. Bawalah rakyat Panawijen ke dalam suatu suasana kerja. Mengadakan yang belum ada. Memperbaharui yang telah rusak.”

Tetapi Mahisa Agni masih saja berjalan mengikuti gurunya sambil berkata, “Jangan Empu. Kami masih memerlukan tuntunan Guru.”

Empu Purwa berhenti. Ditatapnya mata Mahisa Agni tajam-tajam. Kemudian katanya, “Agni. Kau adalah muridku. Jangan mengecewakan gurumu. Seorang anak muda yang seumurmu itu seharusnya sudah mampu berdiri sendiri. Nah. Kembalilah ke Panawijen. Di sanggarku akan kau temui Trisula kecil itu. Simpanlah benda itu baik-baik. Sebagaimana aku telah menyimpannya. Kalau kemudian kau mempercayai seseorang kelak Agni, kau dapat memberikannya kepada orang itu. Seperti aku menyerahkan kepadamu.”

Mahisa Agni tertegun diam. Ketika gurunya menyebut Trisula kecil itu hatinya bergetar. Apalagi ketika gurunya berkata, “Agni, dengan Trisula itu, maka kau telah mewakili aku di padepokanku. Kalau kau kelak bertekun diri, maka ilmumu yang telah lengkap itu akan menjadi semakin masak. Tanpa aku kau akan dapat menjadi seorang yang kuat. Namun ingat Agni, ingat bahwa tak ada kekuatan, kecakapan dan kemampuan yang sempurna. Yang satu akan mengalahkan yang lain, dan yang lain lagi akan mengatasinya. Karena itu jangan sombong dengan ilmu dan pusaka yang telah kau miliki.”

Perlahan-lahan sekali terdengar Mahisa Agni bergumam, “Ya, Guru.”

“Nah, baiklah. Aku akan berjalan terus. Sekali-sekali aku akan mengunjungimu.”

Mahisa Agni masih berdiri mematung. Ketika dilihatnya gurunya melangkah kembali maka dari mulutnya meluncur kata-katanya, “Selamat jalan, Guru.”

“Terima kasih Agni,” sahut gurunya.

Mahisa Agni kemudian hanya dapat melihat gurunya berjalan. Langkahnya adalah langkah seorang tua yang kelelahan. Perlahan-lahan dan bahkan tampak betapa sukar ia mengayunkan kakinya. Sebuah tongkat tergenggam di tangannya.

“Hem,” Mahisa Agni berdesah. Alangkah jauh bedanya dengan Empu Purwa ketika meloncat dan memecahkan bendungan itu. Alangkah jauh bedanya dengan orang yang pernah ditemuinya di kaki Gunung Semeru dan menamakan dirinya Empu Pedek. Meskipun orang itu berbuat seolah-olah timpang, namun geraknya tangkas dan lincah. Sekarang dilihatnya Empu Purwa itu berjalan tertatih-tatih.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya langkah gurunya sampai jauh menyusur pinggir sungai. Tiba-tiba di kejauhan Mahisa Agni melihat gurunya itu menuruni tebing, dan dengan hati-hati berjalan menyeberangi sungai. Sungai di atas bendungan itu ternyata telah menjadi semakin dangkal.

Anak muda itu diam mematung sampai Empu Purwa hilang dibalik tanggul di seberang sungai. Lamat-lamat ia melihat orang tua itu seperti hilang ditelan bumi.

Tetapi alangkah terkejut Mahisa Agni kemudian ketika ia mendengar suara hiruk-pikuk. Ketika Mahisa Agni berpaling, dilihatnya empat anak-anak muda berlari-lari menuju ke bendungan itu. Dari jauh telah terdengar mereka berteriak, “Agni. Apakah yang telah terjadi, kenapa sungai ini banjir, sedang hujan tidak turun? Apakah bendungan itu rusak?”

Mahisa Agni tidak menyahut. Tetapi terasa hatinya berdesir. Bagaimana ia harus menjawab pertanyaan anak-anak muda itu apabila mereka bertanya, kenapa bendungan itu pecah?

Dengan gelisah Mahisa Agni melihat keempat anak-anak muda itu menjadi semakin dekat.

Demikian mereka sampai ke pinggir sungai, maka segera mereka meloncat ke dekat bendungan yang pecah itu. Dengan terbata-bata mereka serentak berdesah, “Oh. Bendungan ini pecah?”

Keempatnya memandangi arus air yang masih saja mengalir dengan derasnya itu seperti memandang bencana yang sudah terbayang di depan matanya.

“Pecah! Pecah!” mereka mengulangi.

Kemudian salah seorang dari mereka berpaling kepada Mahisa Agni sambil bertanya, “Agni. Kenapa bendungan itu pecah?”

Agni tidak segera menjawab. Ia masih dikuasai oleh kebimbangan hatinya. Sekali-sekali dipandanginya keempat anak-anak muda itu. Betapa wajah mereka menjadi pucat seperti mayat. Bibir mereka bergetar seperti orang kedinginan. Namun kemudian dilayangkannya matanya ke bendungan yang pecah itu.

“Kenapa Agni?” desak mereka.

Agni menggeleng lemah. Katanya tanpa menjawab pertanyaan itu, pertanyaan tentang bendungan, katanya, “Dari manakah kalian?”

“Aku sedang berada di sawah Agni,” jawab salah seorang dari mereka, “Ketika aku mendengar suara riuh di dalam sungai segera aku menengok. Ternyata sungai itu tiba-tiba banjir, sedangkan udara sangat cerah. Di hulu pun sama sekali tidak tampak awan atau mendung. Karena itu aku menjadi cemas. Mencemaskan bendungan ini, ternyata bendungan ini benar-benar pecah.”

“Kenapa bendungan ini pecah Agni? Bukankah kau berada di tempat ini? Mungkin kau melihat sebabnya,” bertanya yang lain.

Mahisa Agni masih belum menjawab pertanyaan mereka. Katanya, “Apakah Ki Buyut Panawijen telah diberi tahu?”

“Belum,” sahut salah seorang dari mereka. Dan tiba-tiba ia berkata pula, “Aku akan memberitahukan kepada Ki Buyut.”

Anak itu tidak menunggu jawaban. Segera ia meloncat berlari sekencang-kencangnya menuju ke padukuhan mereka.

Ketiga kawannya dan Mahisa Agni masih merenungi bendungan yang pecah itu. Kini bendungan itu telah benar-benar runtuh. Batu-batunya telah hanyut berserakan. Bahkan arus airnya yang meluap-luap telah menggugurkan tebing-tebing sungai itu, sehingga sungai itu seakan-akan menjadi semakin lebar.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Di kepalanya masih terngiang suara gurunya, “Jangan kau bangun kembali di bekasnya yang hancur itu. Kau tidak akan berhasil.”

Dan ternyata kini ia melihat di bekas bendungan sungai itu seakan-akan menjadi semakin lebar dan curam. Ternyata air tidak saja menggugurkan tebing, tetapi juga menggali dasar sungai itu menjadi semakin dalam.

Tak seorang pun yang mulai berbicara. Mereka masing-masing sedang merenungi angan-angan masing-masing. Ketiga anak-anak muda itu tenggelam dalam kecemasan yang sangat. Pecahnya bendungan itu berarti sawah-sawah mereka akan menjadi kering. Kolam-kolam ikan, dan dengan demikian Panawijen akan menjadi kering pula. Mereka sama sekali tidak dapat mengerti, kenapa bendungan itu tiba-tiba menjadi pecah.

Sesaat kemudian, sekali lagi terdengar hiruk-pikuk mendekati tebing itu. Ketika anak-anak muda itu berpaling, mereka melihat berbondong-bondong orang berlari-larian. Bukan saja Ki Buyut Panawijen, tetapi juga orang-orang lain, laki-laki, perempuan tua muda. Mereka ingin menyaksikan sumber hidup mereka yang rusak. Seakan-akan berita itu sama sekali tidak pernah akan terjadi.

Ketika mereka sampai di pinggir kali itu, maka serentak tertegun diam. Mereka hampir tidak percaya akan mata mereka sendiri. Bendungan itu telah jebol. Hancur. Dan air yang tergenang naik ke parit-parit kini telah semakin susut. Sebentar lagi air itu akan semakin berkurang, sehingga bendungan itu nanti akan menjadi sedangkal mata kaki.

Ki Buyut Panawijen berdiri dengan wajah yang pucat. Sekali ia memandang rakyatnya yang tidak kalah cemasnya dari dirinya sendiri.

Kemudian kepada anak muda yang memberitahukannya kepadanya, Ki Buyut bertanya, “Bagaimana mungkin bendungan ini pecah?”

Anak muda itu menggeleng, “Aku tidak tahu Ki Buyut.”

“Tidak adakah yang melihat sebab dari pecahnya bendungan ini,” kembali terdengar suara Ki Buyut parau.

Anak muda itu menggeleng. Namun tiba-tiba salah seorang dari ketiga anak muda yang ditinggal di tepi sungai itu berkata, “Ketika kami sampai di bendungan ini, Agni telah berdiri di sini.”

Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia berpaling ke arah Mahisa Agni. Katanya, “Agni. Apakah kau melihat sebab dari pecahnya bendungan ini?”

Semua orang kini berdiam diri. Mereka menunggu jawaban Mahisa Agni. Karena itu maka tepi sungai itu pun kemudian menjadi sunyi. Yang terdengar hanya gemuruh arus air yang meluap lewat pecahan bendungan yang sudah semakin menganga lebar. Bahkan hampir musnah sama sekali.

Mahisa Agni berdiri dengan tegangnya. Ia menjadi bingung, bagaimana ia harus menjawab pertanyaan Ki Buyut Panawijen itu.

Ketika Mahisa Agni tidak segera menjawab, maka kembali terdengar Ki Buyut bertanya, “Bagaimana Agni?”

Kembali suasana menjadi hening. Dan kembali yang terdengar adalah gemuruh air.

Ketika Mahisa Agni memandang berkeliling, maka dilihatnya semua mata tertuju kepadanya, seakan-akan mereka sudah tahu apa yang terjadi, dan seakan-akan mereka telah menyalahkannya. Karena itu maka dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar.

Ketika kemudian matanya tertumbuk pada sorot mata Ki Buyut Panawijen, maka dadanya terasa berdesir, dan tanpa sesadarnya Mahisa Agni mengangguk.

“Oh,” desah Ki Buyut. Dan hampir setiap orang yang melihat Mahisa Agni itu mengangguk, berdesis pula. Debar di dada mereka menjadi semakin cepat, seakan-akan mereka tidak sabar lagi menunggu apakah sebabnya maka bendungan itu pecah.

“Kenapa Ngger,” bertanya Ki Buyut, “kenapa?”

Kembali Mahisa Agni diamuk oleh kebingungan di hatinya. Apakah ia harus berkata berterus terang?

Sekali lagi orang-orang yang berdiri di sekitarnya berdesis, mereka segera ingin tahu kenapa bendungannya itu pecah. Dan sekali lagi Ki Buyut Panawijen mendesak, “Kenapa Ngger?”

Mahisa Agni tidak mempunyai cara lagi untuk mengelakkan diri dari pertanyaan itu. Karena itu maka ditenangkannya hatinya. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam, dan baru kemudian ia berkata, “Ki Buyut. Aku memang melihat saat bendungan ini pecah. Dan aku memang ingin mengatakannya kepada Ki Buyut Panawijen beserta rakyatnya. Namun sebelumnya baiklah aku menyampaikan permohonan maaf dari guruku Empu Purwa.”

Ki Buyut Panawijen itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah gurumu telah kembali?”

“Sudah Ki Buyut. Tetapi Empu Purwa tidak sampai hati untuk menjenguk padepokannya, karena anaknya yang hilang itu.”

“Gurumu sekarang di mana?”

“Empu Purwa itu kemudian pergi meninggalkan padepokannya untuk waktu yang tidak terbatas. Ia mencoba menghindarkan diri dari kepahitan hidupnya, meskipun ia tahu, bahwa kepahitan hatinya itu akan selalu ikut ke mana ia pergi. Namun dengan kepergiannya kali ini ia mengharap bahwa dengan mendekatkan diri kepada Yang Maha Agung, maka Empu Purwa akan mendapat damai di hatinya.”

“Kasihan orang tua itu,” gumam Ki Buyut. Tetapi kemudian ia bertanya, “Tetapi bagaimana dengan bendungan ini?”

“Aku juga sedang mencoba mengatakan kenapa bendungan ini pecah,” sahut Agni.

“Tetapi kau bercerita tentang gurumu?”

“Ya. Guru yang sedang dilanda oleh duka yang hampir tak tertanggungkan karena kehilangan anak tunggalnya.”

“Apakah hubungannya dengan bendungan yang pecah ini?” desak beberapa orang yang kehabisan kesabaran.

Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk menenangkan debar jantungnya. Baru kemudian ia menjawab dengan sangat hati-hati, “Ki Buyut. Pagi tadi aku tertidur di tepi bendungan itu. Aku terbangun karena tiba-tiba terasa seseorang menyentuh tubuhku. Ternyata orang itu adalah guruku yang telah agak lama meninggalkan padepokan ini. Pada saat itu, ternyata aku tidak dapat menghindarkan diri, untuk mengatakan apa yang telah terjadi di Panawijen. Demikian berat pukulan yang menimpa perasaan Empu Purwa atas hilangnya anak satu-satunya itu, maka tiba-tiba Empu Purwa itu kehilangan kesabarannya,” Agni berhenti sejenak. Ia mencoba melihat perasaan apakah yang bergolak di setiap dada orang yang mendengarnya.

Orang-orang Panawijen mendengarkan kata-kata Mahisa Agni dengan sepenuh perhatian. Namun sampai sedemikian jauh mereka masih belum tahu, ke mana arah cerita Mahisa Agni itu.

Sehingga dengan demikian, mereka masih saja berdiri mematung dengan tegangnya, menunggu Mahisa Agni meneruskan ceritanya itu.

Baru sejenak kemudian Mahisa Agni berkata pula, “Pada saat Empu Purwa kehilangan keseimbangan diri itulah segalanya terjadi.”

“Ya. Pada saat itu bendungan itu pecah. Tetapi apa sebabnya,” desak salah seorang dari mereka yang mengerumuni Mahisa Agni.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ternyata orang-orang itu sama sekali belum mampu menghubungkan ceritanya dengan pecahnya bendungan itu. Maka jawabnya, “Bendungan itu pecah karena Empu Purwa merasa bahwa ia kehilangan miliknya yang paling berharga dalam hidupnya. Yaitu anak satu-satunya.”

“Agni,” sahut Ki Buyut Panawijen, “kenapa jawabmu sama sekali tidak dapat kami mengerti. Angger, cobalah. Katakanlah, apa yang kau lihat? Apakah karena Empu Purwa merasa bahwa ia menjadi sangat menderita tekanan atas hilangnya putrinya itu, lalu bendungan itu meledak?”

“Oh,” keringat dingin mengalir di seluruh tubuh Mahisa Agni. Ia sadar, bahwa tak seorang pun dari penduduk Panawijen yang mampu melihat betapa besar kekuatan ilmu yang tersimpan di dalam tubuh gurunya yang tua itu. Namun untuk mengatakannya, sangatlah terasa berat.

Tetapi ia tidak dapat terus menerus menghindar dari pertanyaan itu. Disadarinya bahwa pada suatu ketika ia harus mengatakan apa yang diketahuinya, atau ia harus membuat suatu cerita bohong yang dapat menipu rakyat Panawijen.

Namun cerita semacam itu sama sekali tak akan menguntungkannya. Seterusnya ia harus mempertahankan kebohongan itu. Kalau kemudian timbul pertanyaan-pertanyaan yang sukar dijawabnya mengenai cerita bohongnya, maka ia harus berbohong pula. Semakin lama semakin jauh dan jauh. Karena itulah maka Mahisa kemudian mengambil keputusan untuk segera mengatakannya, apa yang sebenarnya terjadi. Karena itu maka katanya, “Ki Buyut. Bahwa Empu Purwa merasa kehilangan segala miliknya itulah permulaan dari bencana itu. Empu Purwa merasa bahwa rakyat Panawijen sama sekali tidak mempunyai belas kasihan terhadap anaknya. Terhadap Ken Dedes, anaknya yang tunggal. Karena itu maka betapa marahnya. Dan kemarahannya itu ternyata tersalur lewat kekuatannya yang dahsyat. Dan sebenarnyalah, aku tidak dapat menutup kenyataan yang telah terjadi itu. Empu Purwalah yang telah memecah bendungan itu.”

Semua dada terasa berdesir mendengar penjelasan Mahisa Agni. Sesaat orang-orang di sekitarnya itu terbungkam karena jantungnya serasa terhenti. Namun sesaat kemudian warna-warna merah telah merayap nada wajah-wajah mereka. Timbullah kemudian di dalam dada mereka nyala kemarahan atas perbuatan Empu Purwa itu. Bendungan itu adalah sumber hidup mereka, adalah jantung dari padukuhan Panawijen. Dan sumber hidup itu dihancurkan orang.

Terdengarlah kemudian di antara mereka suara bergumam.

Beberapa orang menjadi sangat marah dan tanpa sesadarnya mereka telah melangkah semakin maju.

Ki Buyut Panawijen sendiri, sesaat tidak dapat berkata sepatah kata pun. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Empu Purwalah yang telah memecahkan bendungan itu. Baru ketika ia telah berhasil mengatur perasaannya kembali maka berkatalah Ki Buyut itu dengan suara bergetar, “Agni. Apakah kau berkata sebenarnya?”

Agni mengangguk ragu. Namun terdengar mulutnya berkata, “Ya, Ki Buyut. Aku berkata seperti apa yang terjadi sebenarnya.”

Sekali lagi Ki Buyut terdiam. Tetapi seorang anak muda berkata lantang, “Agni, kenapa Empu Purwa memecah bendungan itu. Bendungan yang menjadi sumber hidup kita sekalian di Panawijen ini?”

“Sudah aku katakan,” jawab Agni, “Empu Purwa merasa sangat menyesal bahwa putrinya itu hilang.”

“Itu bukan salah kami,” teriak anak muda yang lain.

“Ya. Bukan salah kalian. Tetapi Empu Purwa merasa bahwa kalian tidak melindunginya.”

“Itu pun bukan salah kami. Apakah kami harus mati seperti putra Ki Buyut Panawijen seluruhnya? Sehingga rakyat Panawijen menjadi tumpas?”

Mahisa Agni tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Keringatnya semakin banyak mengalir membasahi tubuhnya.

“Agni,” berkata Ki Buyut Panawijen, “aku menyesal bahwa hal itu telah terjadi. Empu Purwa benar-benar telah menghancurkan hidupku. Anakku mati karena gadis yang hilang itu. Sekarang Empu Purwa telah menghancurkan bendungan ini.”

“Ya,” teriak seorang anak muda pula, “kami menghormati pendeta tua itu. Tetapi ia merusak kehidupan kami di sini.”

Mahisa Agni menjadi semakin bingung. Ia semakin tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Maka untuk mencoba menenangkan mereka, ia berkata, “Guruku menyesal bahwa bendungan itu dipecahkannya. Guruku minta maaf karena kesalahan itu.”

“Apa?” teriak seorang yang bertubuh tinggi besar dan berbulu di dadanya, “apakah permintaan maaf itu sudah cukup bernilai untuk menebus kesalahannya.”

Mahisa Agni menundukkan kepalanya.

“Agni,” berkata yang lain, “kau adalah murid pendeta itu. Sekarang, bawalah gurumu itu kemari.”

“Guru telah pergi. Aku tidak tahu ke mana perginya,” jawab Mahisa Agni.

“Bohong! Ia sedang bersembunyi. Dan kau pasti tahu di mana ia bersembunyi. Jangan menunggu kami memaksamu Agni,” terdengar beberapa orang berteriak hampir bersamaan.

Mahisa Agni terkejut bukan kepalang mendengar teriakan itu. Rakyat Panawijen selama ini dikenalnya sebagai rakyat yang diam. Hampir tak pernah didengarnya atau dilihatnya, salah seorang atau beberapa orang di antaranya menunjukkan sifat-sifat yang keras, apalagi kasar. Mereka hampir acuh tak acuh terhadap apa saja yang terjadi. Mereka hanya mengenal pekerjaan mereka sehari-hari. Ke sawah, ke ladang, nderes kelapa, ke bendungan, ke kolam untuk memelihara ikan. itu saja. Setiap hari diulanginya. Mereka telah menjadi puas apabila mereka dapat memetik tanaman mereka, menangkap ikan-ikan peliharaan mencetak gula kelapa dengan tempurung. Itu saja.

Kini tiba Mahisa Agni melihat wajah-wajah itu menjadi merah membara. Tiba-tiba Mahisa Agni mendengar mereka berteriak dengan keras dan kasarnya.

“Hem,” Mahisa Agni menggeram di dalam hatinya, “ternyata betapapun lemahnya rakyat Panawijen, namun apabila tersentuh kepentingan hidupnya yang paling dalam, maka hati mereka itu pun tergetar pula. Mereka yang berdiri membatu ketika mereka melihat Kuda Sempana berusaha menangkap Ken Dedes, kini aku lihat mereka menggeretakkan giginya.”

Tetapi angan-angan Mahisa Agni terputus ketika didengarnya suara di sekitarnya menjadi semakin riuh, “Mahisa Agni. Di manakah pendeta tua itu? Ayo Tunjukkan kepada kami Biarlah kami menghakiminya.”

Mahisa Agni memandang berkeliling. Satu-satu ditatapnya pandangan-pandangan mata yang menyala. Beberapa anak muda yang tidak lagi dapat menahan diri telah mengacungkan tinjunya. Terdengar suara di antara mereka, “Agni, kami telah menerima gurumu di antara kami. Bertahun-tahun ia hidup seperti keluarga sendiri. Tetapi tiba-tiba ia mengkhianati kami dengan merusak bendungan itu hanya karena anaknya hilang. Satu orang itu apakah sudah cukup berharga untuk menghancurkah kehidupan kami di sini?”

“Ayo Agni.” sahut yang lain, “jangan termenung seperti kera kedinginan.”

“Hem,” kali ini Mahisa Agni benar-benar menggeram. Kata-kata yang didengarnya agaknya telah terlalu tajam baginya. Meskipun demikian ia masih berusaha menahan hatinya. Bahkan ia masih mencoba berkata kepada Ki Buyut Panawijen, “Ki Buyut. Apakah Ki Buyut memperkenankan aku berkata seorang diri di hadapan Ki Buyut sehingga Ki Buyut akan dapat mengetahui persoalan yang sebenarnya?”

Buyut Panawijen pun ternyata benar-benar telah marah. Ia merasa bahwa daerahnya telah dikorbankan oleh Empu Purwa. Karena itu maka jawabnya lantang, “Angger. Aku adalah salah satu dari rakyat Panawijen ini. Tak ada persoalan yang dapat kau sampaikan kepadaku tanpa didengar oleh seluruh rakyat. Jangan mencoba membujuk aku!”

“Tidak Ki Buyut,” potong Agni cepat-cepat, “tetapi aku mengharap bahwa Ki Buyut akan mampu berpikir lebih tenang daripada orang lain.”

“He, kau sudah mulai menghina pula,” jawab Ki Buyut sama sekali di luar dugaan Mahisa Agni, “kau sangka orang-orang Panawijen ini tidak mampu berpikir?”

Terdengar suara yang ribut di sekitar Mahisa Agni. Beberapa anak muda berkata, “Jangan menghina kami Agni. Ayo di mana gurumu. Kesabaran kami telah sampai ke ubun-ubun.”

“Bukan begitu Ki Buyut,” sahut Agni cepat-cepat, “maksudku, di dalam suasana ini, maka sulitlah dikemukakan pendapat yang jernih. Dalam suasana yang tenang, maka akan tampaklah persoalannya, seperti sebutir batu di dasar air. Kalau airnya bergolak, maka bentuk batu itu tidak akan kita lihat sewajarnya. Tetapi kalau air itu tenang, maka apa yang kita lihat akan mendekati bentuk yang sebenarnya.”

“Jangan mempersulit diri, Ngger,” jawab Ki Buyut, “Aku sependapat dengan orang-orang lain, bawalah gurumu kemari. Kau akan terlepas dari segala tuntutan. Dan bukankah gurumu itu lebih mengetahui persoalannya daripada kau Agni? Kalau gurumu nanti dapat memberi kami penjelasan sebaik-baiknya, dan penjelasan itu dapat kami mengerti, maka selesailah sudah persoalannya.”

Kembali Mahisa Agni terdiam. Hampir setiap kata yang diucapkan terasa salah. Ia hampir tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk mengatakan seluruh persoalan. Di hadapan suasana yang panas itu, maka hampir dapat dipastikan bahwa kata-katanya akan mengalir seperti angin yang menggoyangkan daun-daun turi yang kini telah condong, karena tanahnya tempat berpegangan sedikit demi sedikit telah dihanyutkan air.

Mahisa Agni itu terkejut ketika terdengar Ki Buyut yang semakin marah itu membentak, “Agni, di manakah gurumu?”

Agni kini tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Kepalanya menjadi pening. Pikirannya yang jernih pun berangsur-angsur menjadi keruh. Dilihatnya orang-orang yang berdiri di sekitarnya itu sebagai hantu-hantu yang akan menghisap darahnya. Karena itu tiba-tiba dadanya bergolak. Kini Agni tidak lagi menundukkan wajahnya, tetapi menjalarlah darah kemudaannya. Betapapun gurunya mencoba berpesan kepadanya untuk berlaku sareh, namun ia adalah seorang anak muda. Ketika sekali lagi ia mendengar Ki Buyut Panawijen membentaknya, maka tiba-tiba ia merasa hatinya menjadi sangat pedih. Gurunya, yang mengasuhnya sejak kanak-kanak, sama sekali tidak pernah membentaknya. Apabila gurunya marah kepadanya, maka kemarahannya itu selalu dapat diterimanya dengan hati terbuka. Tetapi kini, orang-orang itu membentak-bentaknya seperti membentak-bentak orang buronan. Maka di luar dugaan sekian banyak orang, Agni menjawab lantang. “Jangan cari guruku! Jangan cari Empu Purwa yang tua itu. Di sini berdiri muridnya. Mahisa Agni! Segala kesalahan yang dilakukannya, segala permintaan maaf yang tulus yang telah dipesankannya kepadaku, apabila itu sama sekali tidak dapat kalian mengerti, maka adalah tanggung jawabku untuk menyelesaikannya. Kini yang ada adalah Mahisa Agni. Mahisa Agni, kalian dengar?”

Sesaat orang-orang yang berdiri di sekitar Mahisa Agni itu terbungkam. Mereka memandang Mahisa Agni yang berdiri tegak seperti patung.

Tetapi orang-orang Panawijen itu sudah benar-benar dikuasai oleh kemarahannya, sehingga mereka sudah tidak dapat berpikir tenang. Mereka telah kehilangan segala macam pertimbangan-pertimbangan. Ketika mereka melihat Mahisa Agni keras hati tidak mau menunjukkan Empu Purwa, yang disangkanya bersembunyi maka terdengar beberapa orang berkata, “Agni. Tunjukkan gurumu, atau kau akan mengalami nasib yang jelek seperti bendungan itu.”

Wajah Mahisa Agni tiba-tiba menyala seperti wajah-wajah orang Panawijen yang berdiri di sekitarnya. Kini ia tegak di atas kedua kakinya. Bahkan semakin kokoh. Dipandangnya sekali lagi wajah-wajah orang-orang yang berdiri mengitarinya. Hampir semuanya telah dikenalnya baik-baik. Anak-anak muda, orang-orang setengah umur, orang-orang tua dan di antara mereka berdiri Ki Buyut Panawijen yang pernah mengaku anak terhadapnya. Tetapi sahabatnya itu, dalam keadaan yang langsung menyentuh sumber hidup mereka, maka mereka seakan-akan telah melupakannya. Mereka tidak lagi dapat diajak berbicara. Dan sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan persoalannya dengan tenang. Mereka keras menuduh gurunya bersembunyi.

Ketika sejenak Mahisa Agni tidak menjawab, maka terdengar kembali suara di antara mereka, “Ayo. Jangan mematung. Cepat sebelum kami kehilangan kesabaran.”

Kata-kata benar-benar tidak menyenangkan hati Mahisa Agni. Tanpa sesadarnya ia berpaling, mencari siapakah yang berkata itu. Dengan matanya ia menatap seorang anak muda yang tegap kekar dan berwajah keras.

Tiba-tiba sekali lagi jawaban Mahisa Agni mengejutkan mereka. Benar-benar tidak mereka sangka. Katanya, “Hai anak-anak muda Panawijen. Aku kenal kalian dengan baik, seperti kalian mengenal aku. Kalau kau sekarang keras menuduh aku menyembunyikan guruku, dan kalian menganggap itu suatu kesalahan. Nah, kalian mau apa?”

Pertanyaan Mahisa Agni benar-benar langsung menusuk setiap dada anak-anak muda yang sedang marah itu. Hampir bersamaan mereka menjawab, “Agni. Jangan terlalu sombong. Hal ini agaknya merupakan hari yang jelek bagimu.”

Mahisa Agni melihat anak-anak muda itu bergerak selangkah maju. Tetapi Mahisa Agni masih tetap di tempatnya. Ia benar-benar tidak takut mengalami perlakuan yang bagaimanapun juga. Ia sudah siap untuk berkelahi sekalipun melawan semua orang yang berdiri di sekitarnya. Namun dalam pada itu tiba-tiba kembali terngiang suara gurunya. Suaranya yang sejuk damai.

Mahisa Agni menggeretakkan giginya. Apakah ia harus menyerahkan kepalanya dalam keadaan seperti itu. Apalah ia harus berbaring dan dibiarkannya anak-anak muda Panawijen itu berganti-ganti melemparinya dengan batu sehingga ia tertimbun mati. Sesaat Mahisa kembali menjadi bimbang. Tetapi anak-anak muda itu maju lagi beberapa langkah sambil mengumpat-umpatinya.

Mahisa Agni yang kemudian menjadi bimbang kembali itu berkata parau, “Ki Buyut apakah Ki Buyut tidak dapat menahan mereka.”

Ki Buyut itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Agni ternyata kau benar-benar keras kepala. Kau tidak mau menunjukkan di mana Empu Purwa itu berada. Dengan demikian maka aku tidak punya keinginan untuk menolongmu. Selagi kau tidak mau menolong kami pula menemukan gurumu. Gurumu yang telah benar-benar merusak hidup padukuhan ini, dan hidupku. Anakku mati karena anaknya dan padukuhanku akan mati juga karena perbuatannya.”

Kini Mahisa Agni tidak mempunyai kesempatan lain. Namun tiba-tiba timbullah akalnya. Tak apalah seandainya ia terpaksa sedikit menyombongkan dirinya, namun dalam pada itu ia masih berusaha untuk yang terakhir kalinya menghindarkan perkelahian atau bentrokan-bentrokan yang bisa saja tiba-tiba terjadi. Karena itu, maka tiba-tiba Mahisa Agni menengadahkan dadanya. Sepasang tangannya bertolak pinggang. Dengan lantangnya ia berkata kepada Ki Buyut Panawijen, “Ki Buyut. Kalau Ki Buyut masih menggugat kematian anakmu itu, maka menyesallah aku bahwa aku telah pernah menyelamatkannya. Di sini, di bawah bendungan ini Wiraprana itu hampir mati pula dibunuh oleh Kuda Sempana. Pada saat itu, Wiraprana mencoba bersombong diri, mencoba melawan Kuda Sempana meskipun maksudnya baik. Tetapi seandainya aku tidak menolongnya, maka umur Wiraprana telah putus pada saat itu pula. Pada saat belum tampak hubungan yang rapat antara putramu itu dengan putri guruku. Untuk kedua kalinya aku menyelamatkan nyawa putramu itu ketika ia menerima tantangan seorang anak muda dari Tumapel. Apakah Wiraprana tidak pernah mengatakannya? Anak muda itu bernama Mahendra. Akulah yang pada saat itu menamakan diriku Wiraprana dan bertempur melawannya. Kalau kemudian Wiraprana itu akhirnya terbunuh juga oleh Kuda Sempana, itu pun bukan sekedar salah putri guruku. Ki Buyut sendiri tidak pernah mencoba menjatuhkan hukuman apapun kepada Kuda Sempana. Dua kali aku dapat mengalahkannya di Panawijen, disaksikan oleh Ki Buyut sendiri. Di mana anak-anak muda Panawijen tak seorang pun yang berani berbuat apa-apa terhadap Kuda Sempana itu. Di mana anak-anak Panawijen sama sekali tidak berani marah kepada anak muda yang telah berusaha menodai padukuhan ini.” Mahisa Agni berhenti sejenak. Ditatapnya setiap wajah yang berdiri mengitarinya. Ki Buyut, anak-anak muda dan kemudian orang-orang tua laki-laki perempuan. Kemudian katanya kepada anak-anak muda Panawijen, “Nah. Apa yang telah kalian lakukan untuk melindungi gadis itu. Tidak hanya pada saat terakhir, pada saat Kuda Sempana datang bersama akuwu. Tetapi sebelum itu. Sehari sebelum itu? Kalian lebih senang bersembunyi. Kalian sama sekali tidak berani berbuat apa-apa melawan Kuda Sempana. Sekarang ternyata kalian dapat menjadi marah. Marah karena kepentingan kalian langsung yang kalian persoalkan. Karena kebutuhan kalian sendiri.”

Sekali lagi Mahisa Agni berhenti, sekali lagi ia memandang berkeliling.

Kata-kata itu kata-kata pameleh yang diucapkan oleh Mahisa Agni itu, terasa menghunjam ke dalam dada setiap anak muda di Panawijen. Mereka merasa kebenaran kata-kata itu, bahwa mereka sama sekali tidak berani berbuat apa-apa atas Kuda Sempana. Ketika Ken Dedes minta perlindungan mereka maka mereka hanya berjejal-jejal tanpa berbuat sesuatu. Bahkan, ketika Kuda Sempana maju selangkah, mereka berloncatan tercerai berai, meskipun kemudian ada juga keinginan mereka membela Ken Dedes, namun ketakutan merekalah yang selalu mencegah mereka.

Meskipun demikian sudah tentu, anak-anak Panawijen yang merasa kehilangan sumber hidupnya, dan sedang dibakar oleh kemarahan itu tidak mau menerima ucapan itu begitu saja. Dalam nyala kemarahan, mereka merasa Mahisa Agni telah mengungkit-ungkit hal-hal yang memilukan bagi mereka.

Maka jawab anak muda yang tinggi besar, berdada bidang dan berwajah keras, “Agni, ternyata kau mencoba menggugat lagi. Apapun yang kami lakukan sama sekali bukan suatu kesalahan. Kami benar-benar tidak berani melawan Kuda Sempana. Apa salah kami? Apakah ada seorang yang dapat memaksa kami untuk melakukan perbuatan yang kami tidak berani melakukan? Apalagi gadis itu bukanlah langsung berhubungan dengan kepentingan kami. Nah, bendungan adalah sumber hidup kami. Bendungan bagi kami jauh lebih berharga dari seorang gadis, meskipun gadis itu bernama Ken Dedes putri Empu Purwa. Biarlah orang mengatakan bahwa kami terlalu mementingkan diri kami. Tetapi bukan diriku sendiri. Diri kami adalah seluruh penduduk Panawijen.”

Mahisa Agni menggeletakkan giginya. Dengan lantang ia menjawab, “Bagus. Kalau kau sekarang menjadi seorang pemberani karena kepentinganmu. Kepentingan kamu sekalian. Nah, ayo lakukan kehendakmu atasku. Aku adalah Mahisa Agni, murid Empu Purwa yang telah mampu mengalahkan Kuda Sempana yang kau takuti. Kalau kalian tidak berani melawan Kuda Sempana, dan Kuda Sempana itu dapat aku kalahkan, bahkan kalau aku mau aku dapat membunuhnya, maka apa arti kalian itu bagiku. Setiap langkah yang kalian buat, tebusan adalah nyawa kalian. Tanganku akan mampu membunuh seseorang dengan satu pukulan. Nah, marilah. Marilah, siapa yang ingin mati lebih dahulu. Barangkali kalian berpikir, lebih baik mati karena tanganku daripada mati kelaparan. Mungkin kemudian aku akan mati pula karena lawan terlalu banyak. Tetapi aku berkata sesungguhnya, bahwa lebih dari separuh dari kalian akan mati juga bersama aku.”

Kata-kata itu bergetar seperti getaran guruh yang menggelegar di langit. Kata-kata yang diucapkan oleh Mahisa Agni yang dengan sepenuh tenaga mencoba menahan perasaannya. Disusunnya kalimat-kalimat itu dengan cermatnya. Dicobanya menyombongkan dirinya untuk menakut-nakuti anak-anak muda Panawijen. Ia mengharap anak-anak muda itu menjadi ngeri, dan mengurungkan niatnya, memaksanya untuk mempertahankan diri.

Sesaat Mahisa Agni menunggu apa yang akan mereka lakukan.

Mahisa sadar, apabila anak-anak Panawijen benar-benar menjadi pemberani, maka kata-katanya akan mempercepat peristiwa yang sama sekali tidak dikehendaki oleh gurunya.

Namun beberapa saat anak-anak muda Panawijen itu masih berdiam diri. Ketika Mahisa Agni sekali lagi memandangi mereka maka tampaklah perubahan pada wajah-wajah mereka.

Sebenarnyalah kata-kata Mahisa Agni itu telah berhasil mempengaruhi perasaan anak-anak Panawijen. Mereka sama sekali bukanlah pemberani, sebab mereka bisa hidup dalam suasana yang tenteram damai. Itulah sebabnya ketika Mahisa Agni mengatakan, bahwa ia mampu membunuh separuh dari mereka, maka tiba-tiba mereka menjadi ngeri. Seperti mereka menghadapi Kuda Sempana, maka mereka hanya berani berdiri saja melingkarinya. Dan ternyata Mahisa Agni dapat mengalahkan Kuda Sempana itu.

Apa yang dikatakan Mahisa Agni telah mengingatkan mereka, bahwa sebenarnya mereka telah melihat sendiri, Mahisa Agni benar-benar dapat mengalahkan Kuda Sempana. Benar-benar apabila anak muda itu mau, Kuda Sempana dapat dibunuhnya. Tetapi Mahisa Agni tidak melakukannya. Sekarang, Mahisa Agni itu pun berdiri teguh seperti Kuda Sempana. Bahkan karena kata-katanya, seakan-akan Mahisa Agni menjadi bertambah garang.

Mahisa Agni melihat perubahan itu. Segera ia mencoba menekan mereka lebih dalam lagi, katanya, “Ayo. Kenapa kalian berdiam diri? Aku akan mengatakan sekali lagi kepastian tekadku. Jangan mencari guruku! Aku akan mewakilinya!”

Wajah-wajah di sekitarnya tampak menjadi semakin buram. Warna-warna merah yang merayapi wajah itu menjadi semakin padam. Dan terdengar Mahisa Agni meneruskan, “Nah. Ingat, apa yang dapat aku lakukan atas Kuda Sempana itu. Aku seorang murid Empu Purwa. Lalu apakah yang dapat dilakukan oleh guruku itu? Kalau kalian benar-benar ingin menemuinya dan akan menghukumnya, dengarlah lebih dahulu. Empu Purwa telah memecahkan bendungan ini karena luapan perasaannya. Bendungan yang tak dapat digoyahkan oleh banjir yang setiap tahun, setiap musim hujan itu, ternyata pecah oleh tangannya. Kalian dengar? Pecah karena tangannya. Bagaimana kalau tangan itu menyentuh kepala kalian?”

Yang mendengar kata-kata itu segera mengerutkan lehernya. Alangkah mengerikan. Tangan itu dapat memecahkan bendungan. Ya, bagaimana kalau tangan itu menyentuh kepala mereka?

Mahisa Agni tidak melepaskan kemungkinan yang semakin baik itu. Dengan suara gemuruh ia meneruskan, “Nah, anak-anak muda Panawijen. Apakah yang akan kalian lakukan sekarang? Kalau kalian merasa bahwa kalian telah berbuat untuk kepentingan kalian, maka Empu Purwa pun berbuat untuk kepuasannya. Hai, orang-orang tua di Panawijen. Katakanlah kepada anak cucumu yang sedang dibakar oleh kemarahannya. Siapakah yang telah membuat bendungan itu. Siapa? Apakah kalian pada saat kalian membuka tanah pertanian di Panawijen ini telah membuat bendungan itu? Ayo, katakanlah dengan jujur, siapa yang telah membuat bendungan itu untuk kalian, dan apakah yang telah kalian buat untuknya?”

Ketika Mahisa Agni diam sesaat, maka suasana benar-benar menjadi sepi dan tegang. Gemuruh air di bendungan semakin lama telah menjadi semakin berkurang. Hanya kadang-kadang masih terdengar guguran-guguran tanah tebing sungai yang menjadi semakin aus dibawa arus air yang seakan-akan mengamuk.

Mereka terkejut ketika mereka mendengar gemuruh tanah di samping mereka. Ketika Mahisa Agni berpaling, dilihatnya pohon turi yang telah miring itu dengan cepatnya jadi semakin condong dan akhirnya meluncur ke dalam arus air, Namun arus air sudah tidak begitu deras lagi, sehingga sisa-sisa akar-akarnya masih juga dapat menahannya. Pohon turi itu kini seperti seorang yang sangat malang, terbaring di permukaan air, berpegangan pada beberapa lembar akarnya yang sudah lemah.

Sebenarnya Mahisa Agni sendiri, hatinya terasa tersayat melihat keruntuhan tebing sungai di sekitar bendungan itu. Seperti juga anak-anak muda yang lain, bendungan itu mempunyai arti yang sangat banyak baginya, bagi Panawijen dan bagi kehidupan di padukuhan itu.

Meskipun demikian, ketika suasana sepi itu menjadi semakin sepi, terdengar suaranya memecah, “Ayo, siapakah di antara kalian yang berani berkata dengan jujur, siapakah yang telah membuat bendungan itu? Siapa?”

Belum seorang pun yang menjawab pertanyaan itu, sehingga Mahisa Agni bertanya kepada Ki Buyut Panawijen, “Ki Buyut. Ki Buyut tentu mengetahui, siapakah yang telah merencanakan dan membuat bendungan itu dengan susah payah dan diserahkannya kepada Panawijen?”

Dada Buyut Panawijen itu berdesir mendengar pertanyaan Mahisa Agni. Pertanyaan itu benar-benar tidak disangkanya akan diberikan kepadanya. Karena itu sesaat ia berdiam diri. Dicobanya untuk mengatasi debar jantungnya. Sehingga kini Mahisa Agnilah yang mendesaknya, “Siapa? Siapa Ki Buyut. Biarlah anak-anak muda yang sedang marah itu mendengarnya, siapakah yang telah menyediakan sumber hidup mereka. Supaya mereka menyadari apa arti kata-kata mereka, bahwa bendungan itu bagi mereka jauh lebih berharga dari seorang gadis meskipun gadis itu bernama Ken Dedes, putri Empu Purwa.”

Ki Buyut Panawijen menjadi semakin bingung. Anak-anak muda Panawijen pun menjadi semakin bingung pula. Mereka masih diliputi oleh suasana kecemasan, karena Mahisa Agni benar-benar akan bertahan, yang pasti akan melampaui kekuatan Kuda Sempana. Kini mereka melihat betapa Buyut Panawijen menjadi kebingungan.

Akhirnya, anak-anak muda Panawijen itu terkejut bukan kepalang ketika mereka mendengar Ki Buyut itu menjawab lirih dan penuh keragu-raguan, “Empu Purwa Ngger. Yang membuat bendungan itu adalah Empu Purwa.”

Betapa wajah-wajah di sekitar Mahisa Agni menjadi sangat gelisah. Sesaat mereka tidak dapat mengerti jawaban itu, bahkan mereka hampir tidak dapat mempercayainya. Namun terdengar Mahisa berkata, “Nah, anak-anak muda Panawijen. Kalian dengar? Yang membangun bendungan itu adalah Empu Purwa. Tiga tahun ia bekerja untuk itu. Tiga tahun ia membanting tulang untuk menyediakan sumber hidup kalian, yang kalian katakan jauh lebih bernilai dari seorang gadis, yang meskipun gadis itu anak Empu Purwa.”

Tak seorang pun kini yang berani menatap wajah Mahisa Agni. Betapa wajah itu membayangkan getaran perasaannya yang bergelora. Meskipun Mahisa Agni tidak mengatakannya, namun terasa betapa tuntutan keadilan memancar dari jiwanya.

Kembali suasana menjadi senyap. Namun kini terasa betapa anak-anak muda Panawijen menjadi bimbang dan bingung. Ternyata tidak banyak di antara mereka yang mengerti, siapakah yang telah membuat bendungan itu untuknya, seperti dirinya sendiri yang baru saja mendengar dari gurunya.

Tetapi tiba-tiba suara Mahisa Agni memecah kesepian, “Empu Purwa tidak melakukannya, karena ia merasa berhak berbuat apa saja atas bendungan yang dibuatnya sendiri. Empu Purwa melakukannya karena ia sedang kehilangan keseimbangan perasaan, seperti kalian pernah juga mengalaminya dan bahkan baru saja mengalaminya. Meskipun Empu Purwa seorang pendeta yang baik, namun ia adalah manusia biasa seperti yang dikatakannya sendiri. Manusia yang kerdil dan penuh dengan kesalahan-kesalahan dan dosa. Manusia yang khilaf dan tidak melihat kesalahan sendiri. Manusia yang hanya tahu kepentingan sendiri lebih dari apapun. Nah, Empu Purwa pun mempunyai sifat-sifat itu. Namun sifat itu diakuinya. Disadarinya kesalahannya, dan ia telah berpesan untuk minta maaf kepada kalian.”

Yang menundukkan kepalanya menjadi semakin tunduk. Bahkan kemudian Mahisa Agni melihat wajah itu menjadi semakin suram. Akhirnya terasa nafas keputusasaan telah melanda mereka. Bendungan itu telah pecah, dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa.

“Nah, apa kata kalian kini?” bertanya Mahisa.

Tak seorang pun dapat menjawab, sehingga Mahisa Agni mendesaknya, “Apa? Apa yang akan kalian lakukan?”

Ki Buyut Panawijen menggelengkan kepalanya. Desahnya, “Hancur. Semuanya sudah hancur. Kami tidak dapat lagi menuntut Empu Purwa seperti jalan pikiranmu Ngger. Kau benar, Empu Purwa telah berbuat atas barang yang dibuatnya sendiri. Tetapi kami akan mengalami bencana karenanya. Bencana, yang tidak dapat kami hindari. Sawah-sawah kami akan kering dan sumber hidup kami pun akan kering pula.”

“Apakah cukup demikian?” bertanya Mahisa Agni.

Ki Buyut terkejut mendengar pertanyaan itu. Sehingga terloncat pertanyaannya, “Apakah maksudmu Agni. Apakah yang cukup begitu?”

Mahisa Agni memandang wajah Ki Buyut yang putus asa itu. Dan hampir setiap wajah memancar perasaan yang Serupa. Putus asa.

“Apakah cukup dengan berputus asa,” desis Mahisa Agni.

Tak seorang pun yang tahu akan maksud Mahisa Agni. Karena itu mereka masih saja berdiam diri. Bahkan ada di antara para pemuda yang menjadi sedemikian sedihnya, sedih tentang bendungan yang pecah, sedih tentang Panawijen dan sedih tentang dirinya sendiri, sehingga wajahnya menjadi pucat dan matanya berkaca-kaca.

Mahisa Agni melihat wajah yang pucat dan berkaca-kaca itu. Karena itu tiba-tiba katanya lantang, “Kenapa kalian hanya bersedih dan berputus asa saja?”

Ki Buyut Panawijen mengangkat wajahnya, kemudian ia bertanya, “Lalu apakah yang harus kami kerjakan Agni? Sumber hidup kami telah hancur. Kami tidak akan dapat bersawah tanpa air.”

Mahisa Agni kini merasa kebenaran kata-kata gurunya. Ia harus membangunkan rakyat Panawijen yang sedang tertidur itu. Maka katanya kemudian, “Nah, kalau demikian marilah kita bersama-sama memandang ke hari depan. Jangan kita kini saling salah menyalahkan dan menganggap diri kita masing-masing dalam kebenaran. Karena di lain persoalan yang kita tanggapi, mungkin tanggapan kita berbeda-beda. Dengan demikian kita seakan-akan menganggap kebenaran ada pada diri kita masing-masing. Kini marilah kita lupakan. Marilah kita melihat sumber kesalahan yang paling dalam. Semuanya ini adalah karena nafsu Kuda Sempana yang berlebih-lebihan. Nafsunya yang tidak terkendali. Namun kita semua pun telah berbuat kesalahan pula. Kenapa kita tidak berbuat sesuatu atas Kuda Sempana itu dahulu? Aku telah mengalahkannya, tetapi aku tidak membinasakannya sama sekali, sebab aku sangka ia akan menyadari kesalahannya. Tetapi ternyata akibatnya menjadi semakin panjang. Wiraprana terbunuh, Empu Purwa kehilangan keseimbangan meskipun untuk sesaat, tetapi yang sesaat itu telah menentukan kehidupan Panawijen di kemudian hari. Kalian pun hampir-hampir terjerumus pula dalam persoalan yang tidak ada gunanya seperti aku juga.” Mahisa Agni berhenti sesaat untuk menelan ludahnya. Ia tidak melihat perubahan sikap dari wajah orang-orang Panawijen. Namun ia meneruskan, “Karena itu marilah. Jangan tangisi bendungan yang telah pecah itu. Kita adalah laki-laki seperti Empu Purwa pula. Kalau beberapa puluh tahun Empu Purwa mampu membuat bendungan, kenapa kita tidak?”

Tiba-tiba Mahisa Agni melihat beberapa orang mengangkat wajah mereka. Mula-mula mereka heran melihat sikap Mahisa Agni yang meyakinkan. Namun tiba-tiba wajah mereka pun menjadi semakin terang. Apalagi ketika sekali lagi Mahisa Agni berkata. “Dahulu Empu Purwa melakukannya berdua dengan beberapa orang cantrik selama tiga tahun. Nah, berapakah jumlah kita? Ayo, siapa yang cinta akan kampung halaman ini, kita bertekad untuk membangun kembali bendungan ini. Tetapi tidak di sini. Lihat tebing sungai ini telah terlalu parah. Sungai ini seolah-olah menjadi jauh lebih lebar dari sebelumnya. Marilah kita lihat. Kita susuri sungai ini kemudian kita bangun bendungan baru. Kalau kita berhasil, maka kita akan dapat membangun daerah persawahan baru. Kita akan dapat bangkit kembali dari kehancuran akibat kelemahan perasaan guru atas hilangnya anak tunggalnya, seperti diakuinya sendiri.”

“Sekarang, ayo, siapakah yang mau bersama-sama dengan aku melakukannya? Membangun bendungan baru dengan cucuran keringat kita sendiri untuk kepentingan kita sendiri. Bukan sekedar hadiah dari orang lain.”

Anak-anak muda Panawijen itu tergetar hatinya mendengar kata-kata Mahisa Agni. Mereka benar-benar seakan-akan tergugah dari dunia mimpinya yang indah. Mimpi yang tenteram sejuk seperti langit senja hari. Namun tiba-tiba mendung dan petir menggelegar di langit yang berwarna cerah itu. Dalam kecemasan dan ketakutan terasa Mahisa Agni telah membangunkannya.

Kini dihadapinya kenyataan itu. Mereka benar-benar harus berbuat sesuatu. Dan terdengar sekali lagi Mahisa Agni berkata, “Marilah kita bekerja. Kita tandai penderitaan rakyat kita dengan kerja. Kalau kerja itu berhasil, maka air yang akan kita teguk dan makanan yang akan kita telan, terasa akan semakin nikmat daripada air dan makan yang kita terima dari orang lain. Meskipun mula-mula kita harus makan apa saja yang dapat kita makan. Mungkin mula-mula kita akan menjadi kurus karenanya, tetapi kita tidak mengorbankan anak cucu kita karena kemalasan kita.”

Anak-anak muda Panawijen itu kini sudah tidak menundukkan wajah mereka masing-masing lagi. Bahkan tampak wajah Ki Buyut yang tua itu pun menjadi cerah. Dalam keheningan suasana yang mencengkam kemudian, terdengar suara Ki Buyut parau, “Kau benar-benar jantan Agni. Tanpa kau maka Panawijen sudah akan hancur. Dan kita terpaksa mengungsi bercerai berai mencari sesuap nasi. Kini timbul kembali harapan di dada kami, meskipun kami tidak akan dapat membangun tanah persawahan di daerah ini, tetapi di daerah lain, kita masih akan tetap bersama-sama dalam satu perjuangan untuk hidup kami dan anak cucu kami tanpa menggantungkan diri kami kepada belas kasihan orang lain.”

“Sekarang siapakah yang bersedia bekerja bersama aku,” teriak Mahisa Agni tiba-tiba.

Sesaat suaranya itu bergetar saja di udara, seakan-akan tak seorang pun yang mendengarnya. Tetapi Mahisa Agni menyadari, bahwa suaranya itu sedang bergolak di dalam dada anak-anak muda Panawijen. Semakin lama semakin dahsyat, sehingga akhirnya meledaklah sambutan atas ajakan itu. Anak-anak muda itu berteriak-teriak seperti orang mabuk tuak, kata mereka, “Aku! Aku Agni! Aku akan turut membangun bendungan itu bersamamu!”

Mahisa Agni melihat tangan-tangan yang terangkat tinggi-tinggi untuk menyambung tubuh-tubuh mereka supaya dapat dilihat oleh Mahisa Agni. Dan teriakan-teriakan itu masih terus beruntun sahut menyahut. Bahkan, kemudian bukan saja anak-anak muda, tetapi orang-orang tua dan perempuan pun berteriak nyaring, “Aku, aku, aku, Agni. Aku ikut serta dalam pekerjaan itu!”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Terasa sesuatu berdesir di dalam dadanya. Tetapi ia tersenyum karenanya.

Anak-anak muda Panawijen itu masih saja berteriak-teriak tak habis-habisnya. Mereka sudah melupakan kemarahan mereka terhadap Mahisa Agni. Mereka telah melupakan kemarahan mereka terhadap Empu Purwa. Kini yang ada di kepala mereka, adalah sebuah bendungan baru.

“Kalau kalian bersedia,” berkata Mahisa Agni kemudian, “marilah pekerjaan itu segera kita mulai. Jangan menunggu padi di dalam lumbung-lumbung kita habis. Jangan menunggu air semakin deras karena hujan menjadi sering. Kalau kita bekerja keras dan penuh kemauan, maka pekerjaan itu akan segera selesai. Tidak perlu menunggu tiga tahun, seperti yang dilakukan oleh Empu Purwa yang hanya beberapa orang itu, tetapi karena kita bekerja dengan tenaga yang berlipat dua puluh kali, maka kita harus dapat menyelesaikannya dalam tiga bulan. Apakah kalian sanggup?”

“Sanggup Agni! Sanggup!” teriak mereka.

Mahisa Agni kini menjadi semakin puas. Ia telah berhasil membangunkan rakyat yang selama ini seakan-akan tertidur dibuai oleh kesuburan tanahnya, sehingga seakan-akan makan dan minum mereka dapat datang sendiri tanpa mereka berbuat sesuatu. Namun kini mereka harus bekerja keras. Bekerja dengan tenaga sendiri untuk kepentingan sendiri dan anak cucu. Supaya di masa-masa mendatang anak cucu mereka tidak mengutuk mereka, sebagai orang-orang malas yang hanya mampu makan apabila disuapi oleh orang lain.

“Kalau demikian,” berkata Mahisa Agni kemudian, “sekarang marilah kita pulang. Pulang ke rumah masing-masing. Kita lihat apakah cukup alat pada kita untuk membangun bendungan baru. Besok, aku dan beberapa anak-anak muda ingin berjalan menyusur sungai itu ke udik untuk mencari tempat yang sebaik-baiknya, di manakah bendungan baru itu harus kita bangun. Tempat itu harus memenuhi beberapa syarat. Tidak terlalu dalam dan tidak terlalu lebar, supaya air segera dapat naik. Tetapi juga tempat yang cukup sarana untuk membangun bendungan itu. Batu dan kayu.”

“Aku ikut dengan kau Agni,” terdengar suara bersahut-sahutan di antara mereka.

“Terima kasih, tetapi sementara ini aku hanya memerlukan dua tiga orang saja di antara kalian. Sekarang pulanglah. Nanti aku akan menghubungi kalian yang akan pergi bersama aku besok.”

 

[divider line_type=”Full Width Line” custom_height=””]

Source : www.agusharis.net

~ Article view : [248]