Pelangi di Langit Singasari [ 13 ]

402

oleh S.H. Mintardja

[ Seri 13 ]

 

Ki BUYUT PANAWIJEN mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia masih juga bersedih atas bendungan yang pecah itu, tetapi ia berbesar hati pula, bahwa anak-anak muda di padukuhannya kini telah bangkit untuk menyelamatkan padukuhannya.

Maka sejenak kemudian. Orang-orang Panawijen yang berdiri mengitari Mahisa Agni itu pun semakin lama semakin susut.

Satu demi satu mereka meninggalkan tepian dan bendungan yang telah pecah itu. Sekali-sekali mereka berpaling, dan sekali-sekali mereka masih juga tergetar hatinya. Bendungan yang selama ini memberi mereka air sebagai sumber hidup mereka. Kini Panawijen itu benar akan menjadi kering, seperti kutuk yang telah diucapkan oleh Empu Purwa yang dunianya menjadi gelap, karena lekatan kasihnya, putri satu-satunya itu hilang. Putri yang baginya sangat berharga, melampaui segalanya yang ada di dunia ini.

Ketika orang-orang itu kemudian telah habis kembali ke padukuhan, maka kembali Mahisa Agni berdiri seorang diri. perlahan-lahan itu berjalan semakin ke tepi. Sekali lagi diamat-amatinya bendungan yang pecah itu. Air berpancaran dan telah menggugurkan tebingnya. Bahkan dasarnya pun seakan-akan telah menghunjam semakin dalam.

“Memang tak mungkin,” gumamnya, “tak mungkin dibangun bendungan di tempat ini.”

Namun bagaimanapun juga hati Mahisa Agni terpecah pula seperti bendungan itu. Bukan saja karena Panawijen menjadi kering, namun semua harapan dan anyaman perasaannya kini benar-benar telah buntu. Empu Purwa ternyata sama sekali tidak ingin untuk mengambil anaknya dengan cara yang sama. Empu Purwa benar-benar tidak mau melawan Tumapel, sebagai tempat ia bernaung. Orang tua itu tidak mau menimbulkan huru-hara dan menimbulkan kekacauan di antara penduduk Tumapel. Tetapi ia mendendam orang-orang yang melakukan perbuatan terkutuk itu, dengan mengucapkan ipat-ipat.

Dengan demikian, maka harapannya untuk melihat Ken Dedes kembali ke Panawijen kini lenyap seperti lenyapnya harapannya atas bendungan itu. Apalagi gurunya pun kemudian pergi meninggalkannya tanpa singgah dahulu di padepokannya.

Tetapi Mahisa Agni tidak harus menundukkan kepalanya, mengeluh dan berputus asa. Ia baru saja berbicara di hadapan orang-orang Panawijen. Apakah mereka hanya cukup berputus asa? Ternyata kata-katanya itu tidak saja bermanfaat bagi orang-orang Panawijen, tetapi juga bermanfaat bagi dirinya sendiri. Ternyata kata-kata itu pun tertuju pula kepada dirinya sendiri dalam segi-segi yang berbeda.

Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Dadanya terasa berdebat. Tetapi kemudian ia mendapat kekuatan pula dalam dirinya. Kekuatan seperti yang didapatkan oleh orang-orang Panawijen yang lain. Karena itu, maka Mahisa Agni kini tidak lagi memandang bendungan itu dengan kepala tunduk. Pecahnya bendungan itu baginya merupakan tantangan yang harus dijawabnya. Ia tidak boleh menghindarinya, melarikan diri dari kewajiban seperti yang dikatakannya sendiri kepada orang-orang Panawijen.

Dan Mahisa Agni pun kemudian segera menyiapkan dirinya menjawab tantangan itu.

Mahisa Agni itu pun kemudian berjalan pula meninggalkan bendungan yang telah pecah itu. Di kejauhan masih dilihatnya punggung-punggung orang Panawijen yang berjalan perlahan-lahan meninggalkan bendungan itu pula.

“Mereka telah bangun dari tidurnya yang nyenyak, dan aku pun harus bangun pula dari tidurku yang dipenuhi oleh mimpi yang mengerikan,” desis Mahisa Agni.

Demikianlah Mahisa Agni, di keesokan harinya mulai dengan pekerjaannya. Ia telah memilih beberapa anak-anak muda, dan tiga di antaranya akan dibawanya menyusuri sungai memilih tempat yang paling tepat untuk membangunkan bendungan barunya.

Pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang mudah bagi Mahisa Agni. Membuat bendungan, betapapun sederhananya, namun diperlukan pengenalan atas tempat di mana bendungan itu akan dibangun, alat dan bahan-bahan yang dapat dipergunakannya. Meskipun demikian Mahisa Agni telah membulatkan tekadnya, bahwa ia akan mampu membangunkannya bersama-sama dengan anak-anak muda Panawijen.

Hari itu, Mahisa Agni bersama tiga orang kawan-kawannya berjalan menyusuri sungai itu. Pagi-pagi benar mereka berangkat. Mereka mengharap bahwa hari itu juga, mereka akan mendapatkan tempat yang mereka cari.

Bagi Mahisa Agni perjalanan itu sendiri, bukanlah perjalanan yang berarti baginya. Kesulitan yang akan dihadapi adalah memilih tempat yang baik, yang mungkin dibuat bendungan. Tetapi bagi ketiga kawan-kawannya, yang seakan-akan tidak pernah mengenal jalan yang keluar dari padukuhan mereka, merasa bahwa perjalanan itu adalah perjalanan yang sangat berat. Perjalanan yang akan memerlukan keterampilan, kekuatan dan tekad yang menyala-nyala. Namun Mahisa Agni selalu menguatkan hati mereka. Bahwa apa yang akan mereka lakukan adalah sebuah tamasya yang menyenangkan.

“Apakah kita akan menyusur sungai itu sampai ke padang rumput Karautan?” bertanya salah seorang dari mereka.

“Ya. Bahkan padang rumput Karautan merupakan kemungkinan yang pertama-tama. Padang itu apabila mungkin dialiri, maka pasti akan menjadi tanah yang subur,” jawab Agni.

“Tetapi bagaimana dengan hantu Karautan itu?”

“Kau terlambat,” sahut Agni sambil tertawa, “hantu itu telah pergi.”

Ketiga anak muda itu terdiam. Tetapi mereka masih mencemaskan hantu yang menakutkan itu, sehingga Mahisa Agni terpaksa menjelaskan, “Aku mendengar dari hantu itu sendiri, bahwa ia akan segera meninggalkan padang rumput ini.”

Tampaklah ketiga kawan-kawannya itu kurang percaya. Salah seorang daripadanya berkata, “Ah, apakah kau pernah bertemu dengan hantu itu.”

“Ya.”

“Dan kau masih tetap hidup?”

Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Hantu itu tidak sejahat kata orang. Kalau kita tidak mengganggunya, maka hantu itu pun tidak akan marah.”

Kembali tampak wajah-wajah anak muda itu kurang percaya. Berkata salah seorang, “Mungkin hantu itu menipumu Agni. Bukankah hantu sering menipu orang.”

“Tidak, dan bukankah di padang rumput sekarang tidak pernah lagi terdengar berita tentang hantu itu? Bukankah hantu itu menetapi janjinya?”

Tetapi Mahisa Agni itu terkejut ketika terdengar kawannya itu menjawab, “Aku masih mendengar bahwa seseorang bertemu dengan hantu itu lagi Agni.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab, sehingga kawannya itu berkata, “Agni. Mungkin kau terlalu sibuk memikirkan dirimu sendiri, memikirkan lukamu dan mungkin juga hilangnya Adikmu dan terbunuhnya bakal iparmu itu, sehingga kau tidak pernah mendengar bahwa dalam beberapa hari ini hantu Karautan itu telah menampakkan dirinya kembali.”

Mahisa Agni benar-benar heran mendengar keterangan itu. Katanya, “Aku tidak dapat mengerti kata-katamu itu. Hantu itu sudah berjanji kepadaku.”

“Apakah kau dapat mempercayai mulut hantu,” bertanya kawannya yang lain.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar bahwa Ken Arok kini telah berada di istana Tumapel. Tetapi apabila benar-benar hantu Karautan itu timbul lagi, pasti sama sekali bukan Ken Arok. Tetapi siapa?

Meskipun demikian Mahisa Agni itu menjawab, “Ah, mungkin berita itu berita yang belum pasti kebenarannya. Mungkin seseorang yang ketakutan karena bertemu dengan orang lain, disangkanya hantu Karautan itu datang kembali.”

“Tidak Agni. Kabar itu telah aku dengar dari orang yang mendengar langsung cerita seseorang yang mengalami sendiri.”

“Apa katanya?”

“Ketika orang itu menyangka bahwa hantu Karautan benar-benar sudah tidak ada, setelah sekian lama hilang beritanya maka ia memberanikan diri pulang sendiri di malam hari dari Tumapel, setelah ia mengunjungi saudaranya dan menukarkan kerisnya dengan milik saudaranya itu. Tetapi tiba-tiba di padang ia bertemu dengan hantu itu.”

“Apa yang dilakukan oleh hantu itu?”

“Mencegatnya. Dan memukulnya seperti memukuli seorang penjahat.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. “Keris yang dibawanya dari Tumapel itu dirampasnya.”

“Tidak. Hantu itu tidak mengambil apa-apa darinya. Tetapi orang itu dipukuli sampai pingsan. Kemudian ditinggalkannya.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Aneh. Hantu yang dikenalnya dahulu, selalu merampas dan merampok orang-orang yang lewat. Tetapi hantu yang sekarang itu hanya memukuli saja sampai pingsan.

“Aneh,” desisnya tanpa disengajanya.

“Apa yang aneh?” bertanya seorang kawannya.

“Hantu itu,” sahut Mahisa Agni.

“Kenapa aneh? Bukankah hantu dapat saja berbuat apa saja sekehendaknya.”

“Sifat hantu itu berubah. Bukankah kita dahulu selalu mendengar bahwa korban hantu Karautan, sebagian besar pasti mati. Dan semua kekayaan yang dibawanya habis dirampas?”

“Mungkin orang itu disangkanya mati pula.”

Mahisa Agni terdiam. Dicobanya untuk mencari kemungkinan, apakah kira-kira yang telah terjadi di padang Karautan itu. Tetapi dengan kabar itu ia menduga bahwa hantu yang baru ini sama sekali bukan hantu yang sudah dikenalnya. hantu ini seakan-akan hanya ingin melepaskan dendam di hatinya, bukan merampok apalagi membunuh.

Sesaat mereka masih saling berdiam diri. Mereka berjalan perlahan-lahan menyusuri sungai naik ke udik. Tetapi Mahisa Agni tidak dapat segera mempercayainya, bahwa di padang rumput itu kini telah dijumpai hantu yang menakutkan itu kembali.

Tiba-tiba dada Mahisa Agni berdesir. Gurunya telah meninggalkan padepokan dengan luka di hatinya. Tetapi segera Mahisa Agni menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia takut sampai pada kesimpulan itu. Bahkan segera ia mencari alasan untuk menindas perasaannya.

“Guru baru kemarin meninggalkan padukuhan Panawijen. Sedang hantu itu telah dijumpai beberapa hari yang lalu.”

Tetapi tanpa dikehendakinya sendiri, di sudut hatinya terdengar suara, “Mungkin guru sudah tahu, bahwa anaknya hilang beberapa lama. Karena itu ia mendendam. Ketika ia datang menemui aku di bendungan, ia hanya akan memberikan beberapa pesan saja dan kemudian memecahkan bendungan itu. Seterusnya Guru akan kembali ke padang rumput ini.”

“Gila!” desisnya.

Ketiga kawan-kawannya terkejut. Serentak mereka berpaling, dan salah seorang daripadanya bertanya, “Apa Agni?”

Agnilah yang kemudian terkejut. Dengan terbata-bata ia menjawab sekenanya, “Hantu itu.”

“Kenapa?”

Mahisa Agni tidak menjawab. Kini kepalanya tertunduk, dan hatinya menjadi risau. Kembali di dalam dadanya terdengar suaranya sendiri melengking, “Tidak. itu tidak mungkin, betapa guru kehilangan keseimbangan, tetapi ia tidak akan melakukan pekerjaan semacam itu. Dan bukankah guru tampaknya terkejut sekali ketika aku memberitahukan apa yang telah terjadi di Panawijen?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Bahkan kemudian ia menjadi malu akan kecemasannya itu, seakan-akan ia belum mengenal watak dan tabiat gurunya. Sehingga dengan demikian, maka Mahisa Agni itu pun dapat menenteramkan hatinya sendiri. Katanya di dalam hati, “Aku yakin. Pasti bukan Empu Purwa. Kalau hantu itu ternyata guruku, biarlah aku dibunuhnya sekali. Tetapi aku yakin, bahwa orang itu adalah orang lain.”

Mereka berempat itu pun semakin lama menjadi semakin jauh dari padukuhan mereka. Mereka berjalan perlahan-lahan sambil mengamat-amati sungai yang mereka telusuri. Mungkin mereka segera menemukan tempat yang baik untuk membangun bendungan. Semakin dekat dengan padukuhan mereka semakin baik. Tetapi sungai itu semakin lama agaknya menjadi curam. Tebingnya yang terdiri dari batu padas menjorok tinggi. Tumbuh-tumbuhan liar seolah-olah menutup tebingnya dengan daun-daunnya yang rimbun.

“Tebingnya menjadi semakin curam Agni. Semakin tidak mungkin lagi untuk membangun bendungan.”

“Kita berjalan terus. Suatu ketika akan menemukan tempat itu. Tempat yang baik untuk membangun bendungan.”

Mereka berempat pun berjalan terus. Semakin lama semakin jauh. Semakin jauh dari padukuhan mereka, tetapi semakin dekat dengan padang rumput Karautan.

“Kita akan sampai ke padang rumput itu Agni,” berkata salah seorang dari mereka.

“Ya,” sahut Agni, “sudah aku katakan, kita akan memasuki padang rumput itu.”

“Tetapi hantu itu?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Hantu itu berada di bagian lain. Ia mencegat orang-orang yang lewat. Daerah ini sama sekali tidak pernah dilewati orang. Orang mencari ikan pun tak pernah sampai ke tempat ini.”

“Tetapi bukankah hantu itu mengetahui dengan matanya yang tajam apa saja yang ingin dilihatnya? Bukankah hantu itu dapat melihat juga kehadiran kita di padang rumput ini, dan hantu itu dapat terbang dalam waktu sekejap untuk mencegat kita?”

Mahisa Agni terpaksa tersenyum. Tetapi justru karena itu kawan-kawannya menjadi kurang senang, seakan-akan Mahisa Agni itu tidak mempercayainya.

“Jangan cemas. Kalau hantu itu benar-benar kembali ke padang Karautan. Biarlah ia menemui aku. Aku sudah kenal baik dengan hantu itu.”

Ketiga kawan-kawannya terdiam. Mereka merasa bahwa Mahisa Agni tidak mempercayai cerita mereka, atau seandainya anak muda itu percaya, agaknya ia sama sekali tidak takut, sehingga ketiga kawan Agni itu mempunyai tanggapan yang aneh kepadanya. Campur baur antara cemas, curiga dan berbangga.

Sementara itu matahari semakin lama semakin tinggi memanjat langit. Sinarnya yang terik bertebaran di atas pepohonan dan tubuh-tubuh mereka yang sedang melakukan perjalanan menyusuri sungai ke udik. Burung-burung liar tampak beterbangan di udara, dan awan yang putih mengapung dihanyutkan angin ke utara.

Terasa panasnya seakan-akan membakar kulit. Keringat mereka seolah-olah terperas dari tubuh mereka sehingga pakaian-pakaian mereka menjadi basah kuyup.

“Panasnya bukan main.” salah seorang kawan Mahisa Agni mengeluh.

“Ya,” sahut yang lain.

Tetapi Mahisa Agni masih saja berdiam diri. Ia sudah terlalu biasa dengan panas di perjalanan. Meskipun kawan-kawan mereka adalah petani-petani yang biasa berjemur di sawah, namun kali ini mereka dirayapi oleh perasaan takut dan cemas, sehingga seakan-akan sinar matahari itu menjadi jauh lebih panas dari matahari di Panawijen.

“Apalagi ketika kemudian mereka melihat sebuah padang rumput terkapar di hadapan mereka. Di sana-sini mereka melihat gerumbul-gerumbul liar bertebaran. Padang rumput itu adalah padang yang langsung berhubungan dengan padang rumput Karautan.

Ketika mereka mulai menginjakkan kaki-kaki mereka di atas padang itu, Mahisa Agni melihat, betapa kecurigaan mencengkam hati mereka.

“Jangan cemas,” desis Mahisa Agni. “padang ini belum padang Karautan.”

Tetapi kata-kata penenang itu sama sekali tidak menenangkan hati mereka. Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu masih saja diliputi oleh perasaan cemas dan ngeri. Mereka mengharap bahwa sebelum mereka memasuki padang Karautan, mereka telah menemukan tempat itu. Tempat yang baik untuk membuat bendungan.

Mahisa Agni melihat bahwa ketiga orang itu hampir tak sanggup lagi berjalan karena kecemasannya. Pada ketiga kawannya itu tampak sifat-sifat anak-anak muda Panawijen yang sebenarnya. Kadang-kadang Mahisa Agni menjadi geli melihat bagaimana anak-anak itu dengan nafsu yang menyala-nyala berteriak.

Aku sanggup, aku sanggup. Namun apabila di hadapannya membayang kesulitan dan bahaya, maka terasa hatinya berkerut sebesar menir.

Seperti apa yang pernah terjadi atas mereka di hadapan Kuda Sempana. Dan apa yang akan dilakukan terhadapnya sendiri. Kini ketakutan itu berulang kembali menghadapi hantu Karautan yang belum pasti adanya.

Dalam pada itu mereka masih berjalan terus. Sungai itu masih bertebing curam dan dalam. Tetapi Mahisa Agni melihat tanda-tanda bahwa semakin lama tebing itu sudah menjadi semakin rendah.

“Kalian lihat,” berkata Mahisa Agni, “tebing ini sudah menjadi semakin rendah. Kalau kita berjalan terus, maka aku yakin bahwa akan kita temukan tempat yang tepat untuk membuat bendungan.”

Kawan-kawannya mengerutkan keningnya. Tiba-tiba salah seorang berkata, “Mungkin tebing ini akan menjadi rendah dan dasar sungai akan menjadi semakin tinggi. Tetapi belum pasti bahwa di tempat itu akan banyak terdapat bahan-bahan untuk bendungan.”

“Ya. Mungkin begitu. Tetapi kita masih harus melihat dahulu.”

“Ternyata tempat yang paling baik adalah tempat yang lama Agni,” berkata kawannya yang lain.

“Bagaimana mungkin,” jawab Agni, “sungai itu seakan-akan menjadi semakin lebar, dua kali lipat. Semakin dalam dan bahan-bahannya sukar kita cari. Bahan-bahan yang lama, kalau misalnya masih mungkin kita kumpulkan, tidak akan cukup separuh dari kebutuhan.”

“Kita cari bahan-bahannya di tempat lain,” berkata yang lain pula.

“Terlalu sulit. Dan bukankah bendungan itu akan menjadi lambang dari kerja yang kalian hasilkan sendiri. Kerja yang kalian persembahkan kepada anak cucu. Kalian bisa dengan bangga berkata, ‘Bendungan ini kita buat bersama-sama’. Lebih bangga daripada, ‘Bendungan peninggalan Empu Purwa ini kita perbaiki’.

Ketiga kawan-kawannya terdiam. Sebenarnya mereka tidak berkeberatan untuk melakukannya. Bahkan mereka ingin menunjukkan bahwa mereka pun mampu melakukan. Tetapi ketika tiba-tiba mereka melihat padang Karautan, maka hati mereka menjadi ragu-ragu. Bukan karena kesulitan untuk mendapatkan tempat dan bahan-bahan, tetapi mereka ragu-ragu apakah hantu Karautan akan membiarkan mereka membuat bendungan dan mengubah padang rumput kekuasaannya.

Mahisa Agni seakan-akan dapat meraba gejolak hati mereka, sehingga tiba-tiba pula ia berkata, “Jangan takut akan hantu itu. Yakini kata-kataku. Hantu itu tidak terlalu berbahaya. Dan bukankah kita berempat.”

Ketiga kawan Mahisa Agni masih berdiam diri. Mereka berjalan sambil menundukkan wajah-wajah mereka. Hanya sekali-sekali mereka memandang tebing sungai yang curam dan ditumbuhi oleh gerumbul-gerumbul liar.

Sementara itu matahari menjadi semakin lama semakin jauh menuju ke puncak langit. Bahkan sesaat kemudian, matahari itu telah melampaui titik tertinggi, dan perlahan-lahan merayap turun ke barat. Semakin lama semakin rendah menuju ke balik bukit.

Semakin rendah matahari, ketiga kawan-kawan Mahisa Agni menjadi semakin cemas. Bahkan kemudian salah seorang di antara mereka berkata, “Apakah kita berjalan terus Agni?”

“Ya, sampai kita menemukan tempat itu.”

“Bagaimana kalau kita kemalaman di perjalanan?”

“Ah. itu sama sekali bukan soal. Bukankah kita membawa bekal untuk keperluan itu?” Tetapi Mahisa Agni tahu maksud pertanyaan itu sebenarnya. Mereka sama sekali tidak cemas tentang bekal mereka, tetapi mereka cemas apabila mereka bertemu dengan hantu Karautan.

Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu kembali berdiam diri. Hanya sekali-sekali mereka memandang langit yang semakin sejuk. Tetapi hati mereka menjadi semakin berdebar-debar.

“Apakah kita tidak kembali saja dahulu Agni. Besok kita teruskan perjalanan kita di siang hari?”

“He,” mau tidak mau Mahisa Agni harus tertawa, katanya, “bagaimana hal itu mungkin. Kalau kita kembali, dan besok berangkat lagi seperti hari ini, maka kita akan sampai di tempat ini pada saat yang sama seperti sekarang. Dengan demikian kita akan mengulangi perjalanan ini setiap hari.”

Kawannya itu pun tersenyum pula, ketika disadarinya bahwa pendapatnya itu menggelikan.

Kemudian mereka berjalan pula sambil berdiam diri. Mereka telah berjalan jauh menjorok ke dalam padang rumput. Keringat mereka telah terperas membasahi seluruh tubuh mereka, seakan-akan mereka sedang mandi.

“Apakah kalian lelah?” bertanya Mahisa Agni.

Serentak ketiga kawannya mengangguk sambil menjawab, “Ya. Aku lelah sejak tadi.”

“Baiklah kita beristirahat,” ajak Mahisa Agni.

Ketiga kawan-kawannya menjadi ragu-ragu. Kalau mereka beristirahat, maka perjalanan mereka akan menjadi semakin lama. Mungkin mereka benar-benar akan kemalaman di padang rumput itu. Tetapi untuk berjalan terus, mereka telah benar-benar lelah dan lapar.

Mahisa Agni yang melihat keragu-raguan itu segera mengetahui perasaan ketiga kawan-kawannya itu. Maka katanya, “Makanlah dahulu. Apapun yang akan kita jumpai, namun kita sudah kenyang.”

Seorang, kawannya tiba-tiba bertanya, “Manakah batas dari padang rumput Karautan itu?”

“Kita sudah berada di padang rumput Karautan,” jawab Agni.

Jawaban itu benar-benar mengejutkan ketiga kawan-kawannya, terasa dada mereka berdesir. Tanpa mereka sadari mereka telah berada di padang yang mereka takuti.

Dalam pada itu terdengar Mahisa Agni berkata, “Batas antara padang Karautan dan padang rumput Panawijen tidak jelas. Tak ada tanda-tanda yang dapat dipergunakan. Tetapi kita hanya dapat menduga, bahwa setelah kita menempuh jarak tertentu kita berada di padang rumput yang bernama Karautan.”

Kawan-kawannya tidak menjawab, seakan-akan mereka benar-benar menjadi ketakutan menyebut sesuatu yang berhubungan dengan padang itu. Mereka merasa seakan-akan hantu Karautan selalu mengintai mereka, dan menerkam mereka setiap saat. Hanya karena harga diri, mereka tetap berada di sisi Mahisa Agni. Mereka malu untuk menyatakan keinginan mereka, mengajak Agni kembali saja ke Panawijen karena hantu Karautan, sebab ternyata Mahisa Agni agaknya sama sekali tidak memperhitungkan hantu itu, bahkan mengabaikannya.

Mahisa Agni melihat kecemasan yang membayang di wajah kawan-kawannya, tetapi seakan-akan ia sama sekali tidak mengacuhkannya. Dibawanya kawan-kawannya itu duduk di bawah gerumbul dan katanya kemudian, “Marilah kita buka bekal kita. Kita makan dahulu. Nanti kita lanjutkan perjalanan kita.”

Dengan ragu-ragu kawan-kawannya membuka bungkusan bekal mereka. Namun sekali-sekali mereka selalu menebarkan pandangan mereka sekeliling padang itu. Setiap gerak dan setiap suara, yang betapapun lembutnya, benar-benar telah mengejutkan mereka itu. Hanya Mahisa Agnilah yang seolah-olah tidak memedulikan apa saja di sekitarnya. Dengan lahapnya ia menyuapi mulutnya.

“Marilah,” katanya, “apakah kalian tidak lapar seperti aku?”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka pun kemudian makan pula, tetapi mereka benar-benar tidak dihinggapi nafsu. Seakan-akan perut mereka masih saja terasa kenyang.

Sambil makan terdengar Mahisa Agni bergumam, “Sudah pasti kita bermalam di padang ini.”

Wajah ketiga kawan-kawannya menjadi pucat, tetapi mereka belum bertanya.

“Kita akan berjalan sampai matahari terbenam. Dan kita akan bermalam di tempat itu. Besok pagi-pagi kita teruskan perjalanan kita. Mudah-mudahan besok kita menemukan tempat yang kita cari.”

Kawan-kawannya masih berdiam diri. Mereka tidak dapat berbuat lain daripada mengikut saja ke mana Mahisa Agni pergi. Untuk kembali bertiga pun mereka agaknya kurang berani. Dengan demikian maka hidup mereka kini seakan-akan hanya tergantung saja kepada Mahisa Agni.

Tetapi ada juga di antara mereka yang menjadi semakin cemas karena melihat bayangan sendiri. Dihubungkannya perjalanan ini dengan peristiwa di bendungan. Jangan-jangan Mahisa Agni marah kepada mereka, dan sengaja membawa mereka jauh-jauh dari Panawijen untuk menumpahkan kemarahannya itu.

Karena itulah maka hanya Mahisa Agni sajalah yang dapat menelan makannya dengan gairah karena kelelahan dan lapar. Ketiga kawan-kawannya hampir tidak mampu untuk menelan makanan mereka.

Selesai makan, Mahisa Agni masih juga duduk-duduk di bawah gerumbul itu, seolah-olah ia sudah tidak mempunyai rencana yang lain daripada beristirahat.

“Kita tidak tergesa-gesa,” katanya, “sebab bagaimanapun juga kita pasti akan kemalaman dan bermalam di padang ini. Karena itu lebih baik kita bekerja perlahan-lahan tetapi lebih cermat dan hati-hati memilih tempat.”

Ketiga kawan-kawannya benar-benar menjadi seolah-olah bisu. Mereka hanya dapat mengangguk dan menggeleng. Tak ada keinginan mereka untuk mengucapkan satu kata pun, apabila tidak terpaksa. Seakan-akan mereka takut suaranya akan didengar oleh hantu Karautan.

Akhirnya Mahisa Agni jemu melihat sikap-sikap itu. Diusahakannya untuk melupakan kecemasan itu, dengan makan, istirahat seenaknya dan apa saja. Tetapi kecemasan itu masih juga terasa melekat di hati ketiga kawannya itu. Karena itu maka Mahisa Agni pun terpaksa sekali lagi memberi mereka peringatan, katanya, “Kenapa kalian tampaknya selalu cemas? Sudah aku katakan, jangan hiraukan hantu Karautan itu. Dan ia tidak akan mengganggu aku lagi.”

Ketiga kawan Mahisa Agni itu mengangguk-angguk. Namun hatinya sama sekali tidak meyakini kata-kata Mahisa Agni itu. Meskipun demikian mereka sama sekali tidak menjawab.

“Marilah kita teruskan perjalanan kita. Kita akan menerobos padang Karautan. Akan kita telusur sungai ini terus sampai kita menemukan tempat yang baik untuk bendungan itu. Seandainya hantu itu benar-benar kembali, maka ia berada jauh di sebelah timur, di tepi jalan sidatan ke Tumapel. Tidak di pinggir kali ini.”

Mahisa Agni tidak menunggu jawaban ketiga kawannya. Segera ia membenahi bekalnya. Kawan-kawannya yang melihat itu pun segera berbuat serupa. Mereka takut Mahisa Agni akan meninggalkan mereka di tengah-tengah padang yang mengerikan itu.

Kembali mereka berempat berjalan menyusur sungai. Di perjalanan itu Mahisa Agni selalu berusaha untuk melupakan ketakutan dengan menilai setiap lekuk liku sungai itu. Tetapi jawaban yang didengarnya dari kawan-kawannya terlalu pendek.

“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berbicara terus tentang sungai itu.

Semakin jauh mereka berjalan, matahari pun menjadi semakin rendah. Kini mereka pun benar-benar telah berada di padang yang luas dan mengerikan. Di sana-sini yang mereka lihat hanyalah gerumbul-gerumbul liar dan batu-batu padas yang menjorok di antaranya.

Ketika kemudian malam membayang di langit, maka Mahisa Agni pun berhenti. Ia harus mendapatkan tempat yang baik untuk bermalam bersama kawan-kawannya.

Diamat-amatinya tempat di sekitarnya. Gerumbul-gerumbul liar dan rerumputan.

“Kita bermalam di sini,” bertanya Mahisa Agni kepada kawan-kawannya.

Perasaan ngeri dan cemas semakin menghunjam ke dalam jantung ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu. Demikian cemasnya sehingga salah seorang daripada mereka, yang tidak dapat menahan diri lagi, telah kehilangan perasaan malunya, sehingga dengan gemetar ia berkata, “Apakah kita bermalam di padang ini Agni?”

“Ya. Bukankah sebentar lagi hari akan malam?”

“Apakah tidak lebih baik kita berjalan?”

“Tidak. Lebih baik kita berhenti. Kalau kita berjalan di malam hari, maka kita akan tidak dapat melihat sungai itu. Kita akan mengetahui, apakah kita sudah sampai pada tebing yang rendah.”

Kawannya itu terdiam. Tetapi bukan berarti bahwa ia telah kehilangan kecemasannya.

Mahisa Agni itu pun kemudian berkata pula, “Di sinilah. Di atas rumput kering ini kita akan bermalam. Kita harus berganti-gantian bangun, supaya kita tidak kehilangan kewaspadaan. Mungkin ada binatang yang berbahaya.”

Bulu-bulu kuduk ketiga kawan Mahisa Agni meremang. Meskipun mereka membawa senjata, namun senjata itu hampir-hampir tak berarti bagi mereka.

Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mahisa Agni itu kemudian meletakkan dirinya duduk di atas rumput-rumput liar yang kering. Tempat itu adalah tempat yang tidak menjadi rimbun karena batang-batang ilalang, karena tanah di bawahnya adalah tanah yang berbatu padas.

Dengan dada yang berdebar-debar ketiga kawan-kawannya pun duduk pula dekat-dekat di samping Mahisa Agni. Sekali-sekali mereka memandang daerah sekeliling mereka dengan hati yang kecut. Seakan-akan di sekeliling mereka, di belakang gerumbul-gerumbul liar, dibalik batang-batang ilalang, bersembunyi berpuluh-puluh hantu dan binatang-binatang buas yang siap menerkam, dan menyobek kulit daging mereka. Tetapi mereka mengumpat-umpat tak habis-habisnya di dalam hati, apabila mereka melihat, Mahisa Agni hampir acuh tak acuh saja terhadap keadaan di sekelilingnya.

“Marilah kita bentangkan tikar,” berkata Mahisa Agni.

Kawannya yang membawa tikar, tidak menjawab. Tetapi dengan dada dan tangan yang gemetar, ia membuka ikatan sehelai tikar dan dengan hati-hati ia membentangkannya.

Demikian tikar itu terbentang, demikian Mahisa Agni merebahkan dirinya sambil bergumam, “Ah, alangkah enaknya. Setelah seharian berjalan, kita dapat beristirahat di bawah selimut mega yang putih dan langit yang biru bersih.”

Kawan-kawannya sama sekai tidak dapat ikut merasakannya. Mereka sama sekali tidak merasa lelah, apalagi keinginan untuk berbaring seperti Mahisa Agni. Mereka tidak juga melihat helaian awan putih yang beterbangan di langit dan warna yang biru bersih di atas kepala mereka. Yang ada di dalam hati mereka, adalah bayangan-bayangan yang mengerikan.

Tiba-tiba Mahisa Agni yang berbaring itu bangkit. Katanya, “Kita akan membuat api.”

“He,” kawan-kawannya terkejut mendengarnya. Berkata salah seorang dari mereka, “Api akan menunjukkan, bahwa di sini ada seseorang.”

“Apa salahnya?” sahut Mahisa Agni, “kita tidak akan beku kedinginan. Apalagi kalau kita sempat menangkap binatang buruan. Maka malam ini akan menjadi malam yang tidak akan kalian lupakan.”

Mahisa Agni tidak menunggu kawan-kawannya menjawab. Dalam keremangan ujung malam, Agni segera bangkit dan mencari dahan-dahan dari gerumbul-gerumbul perdu di sekitarnya. Kemudian dengan seonggok rumput kering, Agni segera membuat api dengan batu yang dibawanya. Sepotong batu yang digosoknya keras-keras dengan sepotong kecil kepingan baja. Lontaran bunga apinya dapat membakar gelugut aren yang sudah dikeringkan. Dengan api itulah Agni membakar onggokkan rumput kering.

Sesaat kemudian api telah menyala. Lidahnya yang menjulur naik, seakan-akan ingin menjilat langit.

“Hangat,” gumamnya, “biarlah api ini bertahan sampai pagi. Jangan sampai padam. Meskipun hanya baranya.”

Kawan-kawannya tidak menyahut. Namun semakin besar api itu menyala, hatinya menjadi semakin kecut. Namun api itu segera menjadi susut. Dilemparkannya oleh Mahisa Agni beberapa potong kayu, supaya apabila api itu padam, maka akan masih tinggal baranya yang dapat dipakainya untuk memanaskan tubuh.

“Biarlah nyala itu padam,” berkata Agni, “tetapi jagalah supaya masih ada bara yang tertinggal. Supaya apabila malam nanti kita kedinginan, kita dapat melemparkan rumput-rumput kering ke atasnya dan api akan menyala kembali.”

Kawan-kawannya hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi mereka seakan-akan menjadi beku. Mereka melihat Mahisa Agni kemudian menumpuk beberapa potong kayu lagi di atas api dan membiarkan api itu menjadi bertambah kecil, ketika dalam sesaat rumput-rumput yang kering telah habis terbakar.

Sejenak kemudian mereka saling berdiam diri. Mata mereka menghunjam ke pusat api yang sudah tidak lagi menjalar ke udara. Malam pun semakin lama menjadi semakin gelap, dan bintang-bintang di langit menjadi semakin banyak menggantung dengan cerahnya.

“Kita perlu air,” tiba-tiba Agni memecah kesepian.

Kawan-kawannya saling berpandangan. Mereka memang merasa haus, tetapi mereka tidak menjawab.

“Siapa yang akan mengambil air ke sungai?”

Tak ada yang menjawab. Sehingga Agni meneruskannya, “Kalau demikian, aku akan pergi.”

“Lalu, bagaimana dengan kami,” bertanya seorang kawannya.

“Tinggallah kalian di sini sebentar. Hanya sebentar.”

Sejenak ketiga kawan-kawannya itu menjadi saling berpandangan. Mulut-mulut mereka ternganga namun hati mereka berkerut.

Ketika kemudian mereka melihat Mahisa Agni bergerak menyambar bumbung yang sudah kosong, salah seorang dari mereka berkata, “Jangan tinggalkan kami di sini, Agni.”

Mahisa Agni tertegun sejenak. Ditatapnya ketiga kawan-kawannya yang gemetar. Katanya, “Kenapa? Kenapa kalian tidak berani tinggal di sini bertiga?”

Dengan nanar mereka memandang berkeliling. Padang rumput ini adalah padang rumput Karautan. Tetapi mulut-mulut mereka tidak berani mengucapkannya.

“Aku haus,” berkata Mahisa Agni, “karena itu aku perlu air. Kalau ada di antara kalian yang mau mengambilnya untuk kita berempat, aku akan tinggal di sini.”

“Kita mengambil bersama-sama,” minta salah seorang daripadanya.

“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berkata, “Jangan. Tungguilah bekal-bekal kita, kalau-kalau ada anjing liar. Apakah kalian takut kepada anjing-anjing liar itu? Bukankah kalian laki-laki yang di lambung kalian tergantung pedang? Apakah gunanya pedang itu?”

Tanpa mereka sadari, tangan-tangan mereka meraba hulu-hulu pedang yang tergantung di lambung masing-masing. Ada juga ketenteraman yang menjalari di hati mereka. Pedang itu akan dapat membantu mereka melindungi diri mereka. Tetapi mereka bukan seorang yang cakap bermain-main dengan pedang.

Mereka hanya sekedar dapat menggerakkannya dan sedikit memutar dan mengayunkan. Tetapi apabila yang datang benar-benar hanya anjing-anjing liar, maka tiga bilah pedang itu sudah berlebihan.

“Atau, kalian dapat menyalakan api itu kembali supaya binatang-binatang buas menjadi ketakutan dan tidak mendekati kalian.”

Kawan-kawan Mahisa Agni itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Tetapi hati mereka serasa membeku.

“Nah, bagaimana? “ bertanya Mahisa Agni, “aku membawa kalian untuk kawan di perjalanan bukan sebagai momongan.”

Kata-kata itu benar-benar menyentuh hati mereka. Sehingga dengan demikian tumbuh kembali rasa harga diri mereka sebagai laki-laki. Bagaimanapun mereka bercemas hati, namun ketika sekali lagi Mahisa Agni bertanya, terdengar mereka menjawab, “Baiklah Agni, kami bertiga tinggal di sini. Tetapi jangan terlalu lama, dan jangan terlalu jauh, sehingga apabila kami memanggilmu, kau akan dapat mendengarnya.”

“Baiklah,” sahut Agni sambil berdiri. Perlahan-lahan ia berjalan ke arah tebing sungai. Sekali-sekali ia berpaling melihat ketiga kawannya yang duduk hampir berdesak-desakan. Pedang mereka telah tidak lagi tergantung di lambung mereka, tetapi pedang itu telah siap di pangkuan.

Ketika Mahisa Agni melangkah terus, dilihatnya bayangan tubuhnya di bawah kakinya. Memanjang ke barat. Ketika ia berpaling dilihatnya bulan yang telah tidak bulat lagi mengambang di langit yang biru.

Tiba-tiba Mahisa Agni tertegun. Dilihatnya bulan, dataran rumput yang luas, diseling oleh gerumbul dan padas yang menjorok, awan yang putih dan bintang yang berdesakan di langit.

Mahisa Agni menarik nafas. Di wajahnya seakan-akan terbayang seluruh bumi. Keindahan bulan, rumput-rumput liar, hati yang bulat untuk melakukan sesuatu, tetapi diliputi oleh kecemasan dan ketakutan, seperti kawan-kawannya yang duduk melipat diri, kelelawar yang bebas di udara, namun juga kelinci yang hidupnya selalu terancam oleh kekerasan binatang-binatang yang lebih besar dan buas.

Mahisa Agni itu pun kemudian menundukkan kepalanya. Terbayang di mata hatinya, betapa besar kekuasaan Yang Maha Agung yang telah menjadikan semuanya itu.

Selangkah Mahisa Agni berjalan terus. Semakin lama semakin dekat ke tebing sungai yang dalam. Tetapi beruntunglah bahwa bulan telah membantunya menunjukkan jalan yang dapat dilaluinya untuk menuruni tebing.

Meskipun demikian, Mahisa Agni melangkah dengan penuh kewaspadaan. Ia tidak takut kepada hantu Karautan yang akan mencegatnya di tepian, atau harimau yang bersembunyi di dalam rimbunnya belukar menunggu rusa mencari minum, atau binatang-binatang buas yang lain, tetapi yang menjadi perhatian Mahisa Agni adalah ular dan sebangsanya. Meskipun ia masih mempunyai ramuan obat penawar bisa, tetapi baginya lebih baik tidak usah mempergunakannya, daripada ia harus digigit ular. Apalagi ular yang bisanya sangat tajam, maka meskipun ia akan dapat menawarkannya, namun ia pasti akan mengalami demam.

Perlahan-lahan Mahisa Agni merayapi tebing yang curam, turun ke bawah. Telah didengarnya gemercik air sungai yang mengalir di bawahnya. Sekali-sekali ia melihat kilatan pantulan cahaya bulan pada wajah air yang beriak kecil. Di lambung kanannya tergantung bumbung tempat air, dan di lambung kiri tergantung pedangnya. Adalah jarang sekali Mahisa Agni menyandang pedang atau senjata apapun. Tetapi karena perjalanannya yang penting kali ini, maka ia pun bersenjata pula seperti ketiga kawan-kawannya. Mungkin senjata itu berguna tidak saja untuk berkelahi, tetapi untuk menebas pepohonan dan kayu-kayuan apabila diperlukan.

Dalam pada itu ketiga kawannya masih duduk mematung, seakan-akan mereka sama sekali tidak berani bergerak. Hanya sekali-sekali mereka memandang jauh ke tempat Mahisa Agni menghilang. Tetapi sekali-sekali mereka juga sempat melihat bulan yang jernih. Namun tak seorang pun dari mereka yang mulai bercakap-cakap.

Tetapi tiba-tiba salah seorang dari mereka menjadi pucat. Ketika ia memandang bulan yang kekuning-kuningan, tiba-tiba di bawah bayangan cahaya bulan ia melihat sesuatu yang bergerak. Mula-mula ia hanya menyangka, bahwa itu adalah daun-daun yang di sentuh angin. Tetapi gerak itu ternyata terlalu jauh bergeser. Dengan tangan yang gemetar digamitnya kawan-kawannya dan dengan dagunya ia menunjuk ke arah bayangan itu.

Kawan-kawannya yang kemudian berpaling pula, merasa seperti disengat lebah di tengkuknya. Mereka terkejut bukan kepalang. Bayangan itu bergerak cepat sekali seperti hantu yang terbang di atas padang rumput Karautan tanpa menyentuh tanah.

Tubuh mereka itu pun menjadi gemetar. Hampir seluruh sendi-sendi tulang mereka serasa terlepas. Tiba-tiba merayaplah di dalam dada mereka anggapan bahwa sebenarnya hantu itu dapat bergerak cepat sekali tanpa menyentuh tanah.

Pedang-pedang yang berada di pangkuan mereka itu sama sekali sudah tidak mereka ingat lagi. Apalagi untuk berbuat sesuatu. Mereka hanya dapat duduk membeku tanpa berani menggerakkan ujung jarinya sekalipun.

Meskipun demikian, mereka mencoba juga untuk melihat bayangan itu bergerak-gerak. Sekali-sekali cepat, namun kemudian lambat, berkisar dari satu garis ke garis yang lain.

Dalam pada itu yang dapat dilakukan oleh ketiga kawan Mahisa Agni hanyalah berdoa, semoga hantu itu tidak datang kepada mereka. Dengan dada bergetar dan tubuh gemetar, mulut mereka berkomat-kamit.

Tetapi bayangan itu semakin lama menjadi semakin dekat. Namun mereka melihat bayangan itu berada pada garis yang menyilang di hadapan mereka, sehingga mereka mengharap, bahwa bayangan itu tidak berbelok lurus ke arah mereka.

Dengan mata terbelalak mereka menyaksikan gerak bayangan itu. Hati mereka berdesir ketika mereka menyaksikan itu. Hati mereka berdesir ketika mereka menyaksikan bayangan itu berhenti. Tetapi hanya sesaat, kemudian kembali bergerak berputar. Mereka melihat gerak itu menjadi lebih lambat dan yang hampir menjadikan mereka pingsan, bayangan itu berjalan ke arah mereka bertiga, seolah-olah mereka bertiga itu sudah dilihatnya.

Ketakutan yang bergolak di dalam dada mereka itu pun menjadi semakin memuncak. Tiba-tiba terdengar salah seorang berdesis dengan gemetar, “Menuju kemari.”

Kawan-kawannya menyahut, “Ya.”

Mereka itu kemudian melihat bayangan itu sudah semakin dekat. Di belakang bayangan itu mereka melihat selapis asap yang bergulung-gulung. Asap putih yang tipis.

“Hantu itu berasap,” gumam mereka di dalam hati. Karena itulah maka mereka menjadi semakin ketakutan.

Namun telinga mereka kini telah mendengar derap kehadiran bayangan itu. Derap itu seperti derap seekor kuda.

“Suara kuda,” desis salah seorang dari mereka.

“Hantu itu naik kuda sembrani,” sahut yang lain.

Hati mereka semakin lama menjadi semakin kalut, sehingga akhirnya mereka sampai ke puncak kecemasan.

Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Lari!”

“Ke mana?” sahut yang lain.

“Ke mana saja.”

“Tetapi kita tidak dapat berlari secepat kuda sembrani.”

Sesaat mereka terdiam. Mereka memang tidak dapat berlari secepat kuda sembrani. Karena itu mereka menjadi semakin bingung, sedang bayangan itu semakin lama semakin dekat dengan mereka.

“Bersembunyi,” desis yang lain.

Mereka segera mencoba mencari tempat untuk bersembunyi. Yang ada di dekat mereka adalah sebuah gerumbul yang cukup lebat, sehingga dengan serta-merta kedua kawannya menyambut, “Ya, kita bersembunyi.”

Serentak mereka bertiga merangkak cepat-cepat memasuki gerumbul yang ada di samping mereka. Dengan tersuruk-suruk mereka menyibak daun-daun perdu dan menyusup ke dalamnya. Sama sekali tidak mereka rasakan, goresan-goresan duri yang tajam pada tubuh mereka.

Demikian mereka hilang di dalam belukar, maka segera mereka mendengar derap kuda semakin dekat. Dan sesaat kemudian mereka mendengar derap kuda itu berhenti.

Dari celah-celah rimbun dedaunan yang melindungi mereka, mereka dapat melihat seekor kuda yang tegar kuat. Di punggungnya duduk seorang dalam pakaian yang aneh. Pakaian yang tidak teratur dan memakai tutup di wajahnya. Sesobek kain melingkar di bawah mata dan diikat di bagian belakang kepalanya, di bawah gelungnya yang tidak terpelihara.

Melihat kuda dan penunggangnya itu, ketiga kawan-kawan Mahisa Agni benar-benar tidak lagi bergerak. Bernafas pun rasa-rasanya menjadi sangat sulit. Gambarannya tentang hantu itu sama sekali tidak sesuai dengan apa yang dilihatnya kini. Meskipun demikian, ketakutannya menjadi bertambah-tambah. Wajah hantu itu tidak sedahsyat yang disangkanya. Namun tidak juga tampan seperti cerita-cerita yang pernah didengarnya, bahwa hantu Karautan adalah hantu yang tampan, meskipun liar. Tetapi kali ini hantu itu mencoba menutupi wajahnya, sehingga wajah itu sama sekali tidak dapat mereka kenal.

“Apakah mulut hantu itu seperti mulut raksasa dalam cerita-cerita itu,” pikir mereka.

Perasaan ketiga orang itu benar-benar menjadi kacau. Campur baur antara cerita yang pernah mereka dengar tentang hantu yang tampan berambut liar, gambaran-gambaran mereka tentang hantu yang berkepala besar dan bermata merah, dan kenyataan yang dilihatnya kini. Meskipun demikian, mereka masih menduga bahwa sebenarnya hantu itu adalah hantu yang tampan.

Hati mereka benar-benar membeku ketika mereka melihat hantu itu turun dari kudanya. Mereka seakan-akan berusaha mengerutkan tubuh mereka sekecil mungkin, supaya hantu itu tidak dapat melihatnya Meskipun demikian, mereka merasa bahwa mereka telah berada di ujung ubun-ubun.

Satu-satunya harapan mereka adalah, menunggu Mahisa Agni datang. Tetapi kalau hantu itu, melihatnya sebelum Agni datang, maka mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa.

Mereka kemudian melihat hantu itu perlahan-lahan berjalan mendekati perapian dan memperhatikan setiap benda yang ada di sekitar perapian itu.

Dengan kakinya hantu itu menyentuh benda-benda yang berserakan. Sebungkus bekal dan makanan. Beberapa macam alat-alat, bumbung-bumbung kecil dan mangkuk. Dan yang terakhir adalah pedang-pedang kawan-kawan Mahisa Agni itu.

Terdengar hantu itu menggeram. Suaranya mengerikan seperti suara sangkakala Dewa Maut. Perlahan-lahan, namun dalam menusuk pusat jantung.

Ketiga kawan Mahisa Agni benar-benar berkerut seperti tikus di hadapan seekor kucing yang garang. Hanya bibir-bibir mereka sajalah yang bergerak-gerak. Namun seluruh tubuh mereka menggigil seperti orang kedinginan.

Tiba-tiba hantu itu tertawa perlahan-lahan. Diputarnya tubuhnya dan sambil menunjuk ke dalam gerumbul itu terdengar suara bergumam, seakan-akan melingkar-lingkar saja di dalam perutnya.

Dada ketiga kawan Mahisa Agni itu benar-benar hampir meledak karena kecemasan melihat sikap hantu itu. Seakan-akan hantu itu telah menunjuk hidung mereka masing-masing, dan suara tertawanya adalah pertanda, bahwa maut telah siap untuk menerkamnya.

“Siapa bersembunyi di sana?” terdengar suara hantu itu berat.

Pertanyaan itu benar-benar seperti ledakan petir di dalam kepala kawan-kawan Mahisa Agni itu. Tulang-tulang mereka serasa benar-benar telah terlepas dari kulit daging mereka. Dan karena itulah maka mereka dengan lemahnya terkulai di tanah, di dalam gerumbul yang rimbun. Seandainya sebilah pisau menyentuh kulit mereka, maka seakan-akan dari kulit itu tidak akan menetes darah yang merah. Demikian takut dan cemas mereka, sehingga tubuh-tubuh mereka menjadi putih seperti mayat, dan dingin membeku seperti air embun yang menetes di malam hari.

Sejenak hantu itu tegak berdiri dengan garangnya. Di tunggunya jawaban dari pertanyaannya. Tetapi tak ada yang berani mengucapkan sepatah kata pun. Apalagi menjawab pertanyaannya hantu itu.

“He,” teriak hantu itu lebih keras, “siapa bersembunyi dalam gerumbul itu?”

Ketiga kawan Mahisa Agni masih berdiam diri. Bahkan hati mereka menjadi semakin membeku.

“Hem,” hantu itu menggeram lagi, “jangan menghina aku. Jawab siapa kalian?”

Angin malam berhembus dengan lemahnya menggerakkan daun gerumbul itu. Di langit bulan masih tergantung di antara bintang-bintang yang bertaburan. Tetapi betapa kecutnya hati ketiga orang yang bersembunyi di dalam gerumbul itu. Mulut mereka benar-benar serasa terkunci.

Selangkah hantu itu maju mendekati gerumbul itu, ternyata di lambungnya tergantung sebilah pedang yang panjang. Terjuntai hampir menyentuh tanah.

Pedang itu semakin mengguncangkan dada mereka yang sedang bersembunyi. Mula-mula mereka heran melihat pedang itu. Tetapi kemudian terasa dada mereka menjadi pedih, seakan-akan ujung pedang itu telah menghunjam menembus tulang-tulang iganya.

Hantu itu rupa-rupanya menjadi marah ketika pertanyaan-pertanyaannya tidak berjawab. Dengan lantang diulanginya pertanyaan, “He, siapa yang bersembunyi di situ? Aku minta kalian menjawab pertanyaanku!”

Suara itu lepas, selepas angin yang bertiup di padang rumput. Hilang tanpa kesan dan jawaban.

Dengan demikian maka hantu itu menjadi semakin marah. Selangkah lagi ia maju. Dan kali ini ia mengancam, “Aku sudah mengucapkan beberapa kali pertanyaan. Tetapi kalian tidak menjawab. Kalau kalian tidak memedulikan kehadiranku di sini, maka kalian akan mengalami nasib yang malang. Sekarang jawab pertanyaanku, siapakah kalian?”

Ketiga orang yang bersembunyi itu benar-benar menjadi ketakutan. Mereka harus menjawab pertanyaan hantu itu supaya hantu itu tidak menjadi semakin marah. Tetapi tak seorang pun yang mampu mengucapkan jawaban. Karena itu, hantu itu hanya mendengar desah nafas yang berkejar-kejaran.

“He,” geram hantu itu pula. Dan tiba-tiba ia berteriak, “Keluar! Keluar dari gerumbul itu! Kalau tidak, maka gerumbul ini akan aku bakar.”

Mereka yang bersembunyi di dalam gerumbul itu menggigil semakin cepat. Tubuh mereka seakan-akan tidak lagi dapat mereka kuasai. Meskipun mereka mendengar dan melihat, namun seakan-akan mata mereka dan telinga mereka itu tidak lagi ada hubungannya dengan anggota badan mereka yang lain. Meskipun telinga dan mata mereka mempengaruhi kehendak mereka untuk merangkak keluar karena ancaman hantu itu, namun anggota badan mereka seolah-olah telah terlepas satu sama lain, sehingga tidak lagi mampu bergerak.

Hantu itu kemudian berdiri bertolak pinggang. Kakinya merenggang dan dadanya menengadah. Terasa kesabarannya semakin tipis, dan dengan penuh luapan kemarahan ia berteriak, “Keluar! Keluar! Sekali lagi aku peringatan. Kalau tidak, kalian akan mati terbakar di dalam gerumbul ini.”

Ketakutan ketiga orang itu sudah memuncak. Apalagi ketika mereka melihat hantu itu kemudian melangkah ke perapian. Diambilnya seonggok rumput-rumput kering yang sudah mereka kumpulkan. Kemudian rumput-rumput kering itu diletakkannya di sisi gerumbul itu. Agaknya hantu itu benar-benar akan melakukan apa yang dikatakannya.

Karena itu, maka ketiga orang yang bersembunyi itu menjadi bingung. Demikian bingungnya sehingga seolah-olah mereka telah menjadi gila. Meskipun demikian, dengan sisa-sisa kekuatan dan keberanian yang terakhir, mereka masih mencoba menghindarkan diri dari kemungkinan terbakar hangus di dalam gerumbul itu. Seperti orang berjanji, mereka saling berpandangan. Dan dengan tersuruk-suruk mereka merangkak keluar dari gerumbul itu.

Ketiga hantu itu melihat mereka muncul dari gerumbul itu, terdengarlah derai tertawanya, seakan-akan memecahkan telinga.

Suara tertawa itu benar-benar telah mengguncangkan dada ketiga anak-anak muda Panawijen. Mereka merasa seakan-akan dada mereka bergelora. Sehingga tubuh-tubuh mereka itu menjadi semakin gemetar karenanya.

“Hem,” geram hantu itu, “ternyata di dalam gerumbul itu bersembunyi kelinci-kelinci. Nah, bukankah dugaanku benar. Tiga ekor kelinci.”

Ketiga anak muda itu sama sekali tidak berani memandang wajah hantu yang bertutup sesobek kain. Mereka duduk dengan lemahnya, sambil menundukkan kepala mereka dalam-dalam.

“Kemari!” bentak hantu itu.

Ketika anak muda Panawijen itu masih berdiam diri. Mereka seakan-akan tidak mampu lagi untuk bergerak maju.

“Kemari!” teriak hantu padang itu.

Suara itu menggelegar seperti petir menyambar di langit. Kembali mereka tersuruk-suruk merangkak mendekati hantu yang berdiri bertolak pinggang dan kaki renggang.

Ketiga anak muda itu seakan-akan seorang hamba yang sedang menghadap Tuannya. Duduk dengan kepala tunduk dan hati yang bergolak penuh kecemasan, ketakutan dan kengerian.

Rupa-rupanya sikap mereka benar-benar menyenangkan hantu padang itu. Sekali lagi terdengar hantu itu tertawa berderai.

Suaranya bergulung-gulung melontar ke segenap sudut padang Karautan.

Tetapi ketika ketiga anak muda Panawijen itu semakin dekat, maka tiba-tiba suara tertawa itu berhenti. Dengan mata terbelalak hantu itu memandangi anak-anak muda yang duduk di hadapannya. Bahkan kemudian tanpa sesadarnya hantu itu berdesis, “Anak-anak Panawijen. Bukankah kalian anak-anak Panawijen?”

Ketiga anak-anak muda itu menjadi semakin kecut. Wajahnya semakin pucat karena mereka mendengar hantu itu menyebut mereka dengan tepat sebagai anak-anak muda Panawijen.

Namun sesaat kemudian hantu itu sudah tertawa lagi. Dengan nyaring ia berkata, “Hai anak-anak Panawijen. Jangan heran. Aku tahu siapa kalian. Adalah suatu kesenangan yang sukar dicari di kesempatan lain.”

Hantu itu berhenti sejenak. Kemudian dilanjutkannya, “Jangan ingkar! Bukankah kalian anak-anak muda Panawijen?”

Ketiga anak-anak muda itu tidak segera menjawab. Mereka benar-benar telah membeku. Sehingga hantu itu terpaksa membentak keras, “Ayo jawab! Kalau tidak aku cekik kalian sampai mati.”

Ngeri. Dan kengerian itu telah memaksa salah seorang dari ketiga anak muda itu menjawab dengan suara parau gemetar.

“Ya.”

Mereka sama sekali tidak berani mengingkari, sebab menurut dugaan mereka, hantu dapat melihat apa saja dan mengerti apa saja.

“Bagus,” sahut hantu itu. Dan tiba-tiba hantu itu semakin mengejutkan dan menakutkan. Suaranya menjadi semakin kasar. Dengan tajamnya hantu itu berkata, “Aku mempunyai dendam yang dalam terhadap anak-anak muda Panawijen.”

Mendengar kata-kata terakhir dari hantu itu, maka nyawa-nyawa mereka serasa telah bergerak ke ubun-ubun. Dengan satu sentuhan dari hantu itu, maka nyawa-nyawa itu sudah akan terlepas dari tubuh-tubuh mereka. Sehingga sedemikian ketakutan itu mencengkam hati mereka, salah seorang dari mereka, terpaksa mencoba berkata, “Kenapa Tuan mendendam kami?”

Kembali terdengar derai tertawa hantu itu. Jawabnya, “Aku mendendam setiap orang yang berani menginjakkan kakinya di padang ini. Tetapi lebih-lebih lagi anak-anak muda Panawijen, apalagi yang datang dengan membawa senjata. Nah, apakah kalian ingin melawan aku dengan senjatamu itu? Ambillah! Lawan aku oleh kalian bertiga bersama-sama.”

“Tidak. Tidak,” cepat-cepat salah seorang mereka berdesis, “kami tidak berani melawan Tuan. Pedang-pedang kami hanya sekedar untuk menjaga diri kami dari sergapan binatang buas dan untuk menebas pepohonan.”

“Apa? Jadi kalian ingin membunuh binatang-binatang peliharaanku di padang ini, he, Jinan, Patalan dan Sinung Sari?” bentak hantu itu.

Hampir pingsan mereka bertiga, ketika mereka mendengar nama-nama mereka disebutkan. Benar-benar di luar kemampuan berpikir mereka. Dan dengan demikian telah mempertebal kepercayaan mereka, bahwa hantu itu dapat mengetahui apa saja dan dapat mengerti apa saja, sampai nama-nama mereka pun dikenal pula oleh hantu itu.

“Jangan terkejut kalau aku mengenal nama-nama kalian. Aku dapat mengenal setiap nama orang-orang yang lewat di padang ini meskipun baru untuk pertama kali. Aku dapat mengenal tempat mereka dan mengenal orang tua mereka.”

“Ternyata nasibmu memang lagi malang. Jangan menyesal bahwa kalian telah bertemu dengan hantu padang Karautan ini.”

“Tetapi,” berkata salah seorang dari mereka tergagap-gagap, “tetapi aku tidak pernah berbuat sesuatu.”

“Jangan ribut!” teriak hantu itu, “Aku mendendam Panawijen. Semua anak-anak muda Panawijen. Termasuk kalian.”

Tubuh-tubuh itu kini, sudah semakin lemah. Mereka benar-benar telah kehilangan harapan untuk dapat melepaskan diri dari tangan hantu itu. Yang dapat mereka lakukan adalah duduk bertelekan tangan mereka yang lemah dan memohon kemurahan hantu itu.

“Ampun Tuan. Aku minta ampun.”

Hantu itu tertawa berkepanjangan. Jawabnya, “Tidak ada maaf untuk kalian dan untuk semua anak-anak muda yang berani menyentuh padang ini. Apalagi kalian telah berusaha membunuh binatang peliharaanku, tebusannya adalah nyawa-nyawamu.”

Kini ketiga anak muda itu telah terlempar dalam suatu suasana yang tidak dimengertinya. Dada mereka seolah-olah tidak lagi mampu bergerak untuk menarik nafas dan darah mereka serasa telah berhenti mengalir.

Mereka masih dapat melihat hantu itu bertolak pinggang dan kemudian melangkah maju, tetapi mereka sudah tidak mampu berbuat apa saja.

Mereka sama sekali tidak dapat lagi berusaha untuk menghindarkan diri dari bencana yang semakin lama semakin mendekati mereka.

Sejenak kemudian mereka masih mendengar hantu itu berkata, “Jinan, Patalan dan Sinung Sari. Apakah kalian tidak akan mencoba melawan untuk memperpanjang umurmu?”

Ketiga anak-anak muda itu sama sekali benar-benar sudah tidak berdaya. Yang terloncat dari mulut mereka adalah suatu keluhan, “Ampun. Ampunkan kami Tuan. Kami tidak akan mengganggu padang rumput ini lagi.”

“Persetan!” sahut hantu itu, “Aku harus melepaskan dendamku. Karena kalian tidak melawan, maka kalian akan aku bunuh dengan senjata, supaya kalian tidak tersiksa oleh penderitaan sebelum kematian kalian.”

“Ampun, ampun Tuan,” ketiga anak-anak muda itu merangkak-rangkak dan bahkan kemudian mereka bertiarap di bawah kaki hantu itu.

Tetapi yang mereka dengar jawaban hantu itu, “Hanya ada dua kemungkinan bagi kalian. Melawan, namun kalian akan mengalami penderitaan di saat-saat terakhir, atau menurut kehendakku dan kalian akan mengalami saat-saat yang menyenangkan menjelang kematian kalian.”

Ketiga anak muda itu sudah tidak mampu menjawab. Tubuh mereka menggigil ketakutan dan nyawa mereka benar-benar terasa telah terlepas dari tubuh-tubuh mereka.

Hantu itu kini sudah berdiri tepat di hadapan ketiga anak-anak Panawijen yang menggigil. Tampaklah matanya membayangkan dendam dan kepuasan. Hantu itu agaknya senang sekali melihat sikap ketiga anak-anak muda Panawijen yang ketakutan dan hampir pingsan karenanya. Semakin menggigil anak-anak muda itu, semakin senang hati hantu itu. Dan karena itulah maka hantu itu ingin berbuat hal-hal yang aneh-aneh yang dapat menimbulkan kesan-kesan yang mengerikan. Ia ingin menyebarkan berita bahwa sebenarnya hantu Karautan telah timbul kembali. Bahkan semakin menakutkan dan semakin mengerikan dari tabiat hantu itu dahulu sebelum menghilang beberapa lama.

Karena itu maka terdengar hantu itu berkata, “He anak-anak muda Panawijen. Karena belas kasihanku kepada kalian maka aku ingin salah seorang dari kalian yang akan tetap hidup untuk mengabarkan apa yang telah terjadi di sini. Tetapi yang hidup itu akan mengalami cacat sepanjang umurnya. Aku ingin memotong kedua pergelangan tangannya dan melepaskannya pergi. Nah, siapakah yang ingin hidup di antara kalian?”

Hati ketiga anak muda yang sudah terguncang-guncang itu semakin ngeri mendengar pertanyaan itu. Namun mereka benar-benar hampir menjadi pingsan sebelum hantu itu menyentuh tubuh mereka.

“Siapa?” terdengar hantu itu berteriak, “beberapa hari yang lalu aku juga menangkap seorang yang lewat di padang ini. Aku pukuli dia, tetapi aku tidak membunuhnya, sebab aku ingin berita itu tersebar. Tetapi orang itu pun pasti cacat sepanjang umurnya. Karena ia ingin melawan, maka aku patahkan tulang punggungnya. Dengan demikian ia akan mengalami kelumpuhan seumur hidupnya. Nah, sekarang pilihlah di antara kalian, siapakah yang masih ingin hidup dan mengabarkan cerita ini kepada segenap penduduk Panawijen?”

Ketiga anak muda itu sama sekali tidak mampu untuk menentukan pilihan yang mengerikan itu. Mereka kini benar-benar telah berputus asa, dan mereka tinggal menunggu saat-saat yang dahsyat itu tiba.

Sejenak suasana padang rumput itu menjadi hening. Hantu itu masih saja berdiri memandangi ketiga korbannya yang ketakutan. Agaknya ia sedang memilih, siapakah yang akan dihidupinya. Karena itu, dengan kakinya ia meraba-raba ketiga-tiganya pada punggungnya. Namun, sentuhan-sentuhan itu terasa seakan-akan ujung jari Dewa Maut telah meraba-raba mereka.

Tetapi dalam ketakutan, kecemasan dan kengerian itu, mereka tiba-tiba dikejutkan oleh suara tertawa melengking di belakang gerumbul yang tidak sedemikian jauhnya dari mereka. Suara itu melonjak dalam kesepian malam di padang rumput Karautan dalam nada yang parau dan liar.

Bukan saja ketiga anak-anak muda yang berputus asa itu, tetapi hantu itu pun terkejut pula, sehingga dengan serta-merta ia memutar tubuhnya menghadap ke arah suara itu.

Dalam keremangan cahaya bulan, mereka melihat sebuah bayangan muncul dari balik gerumbul itu. Sebuah bayangan yang melonjak-lonjak seperti bayangan seorang gila yang sedang menari-nari. Semakin lama semakin dekat.

Ketika bayangan itu menjadi semakin jelas, maka sekali lagi dada anak-anak muda Panawijen dan bahkan hantu yang berdiri di sampingnya itu berdesir. Bayangan itu adalah bayangan sesosok tubuh yang menakutkan. Ternyata seseorang telah menghampiri mereka dalam pakaian yang liar. Orang itu sama sekali tidak mengenakan sepotong kain pun, kecuali sebuah celana yang dibeliti oleh daun-daun dan sulur-sulur perdu. Orang ini pun mempergunakan secarik kain untuk menutup wajahnya seperti hantu yang telah berdiri di samping ketiga anak muda Panawijen itu, namun orang yang datang itu rambutnya dengan liar terurai sama sekali.

Semakin dekat, tampaklah gerak-gerik orang itu benar-benar menakutkan. Sekali-sekali meloncat-loncat namun kemudian merunduk sambil tertawa seperti orang gila.

Terdengar hantu yang berdiri di samping Sinung Sari dan kawannya itu menggeram, “He, siapakah kau orang gila?”

Yang disebut orang gila itu tertawa terkekeh-kekeh. Kemudian dengan nada suaranya yang melengking menjawab, “He, akulah hantu Karautan. Aku sudah lama menghilang dari padang ini. Tetapi tiba-tiba ada orang yang menamakan diri hantu Karautan. Nah, kini kita bertemu. Dengar, akulah hantu Karautan itu.”

Yang mendengar jawaban itu benar-benar menjadi pening. Apalagi ketiga anak muda Panawijen itu. Dadanya terguncang-guncang tak menentu sehingga hampir-hampir pecah karenanya.

Hantu yang datang pertama-tama di atas punggung kuda itu pun tidak kurang gelisahnya. Ditatapnya hantu yang datang kemudian dengan seksama. Kemarahannya merayap membakar seluruh tubuhnya, sehingga tubuh itu bergetar karenanya.

“Jangan mencoba mengacaukan rencanaku,” bentak hantu yang datang berkuda, “atau kau yang pertama-tama aku bunuh?”

Hantu yang mirip orang gila itu tertawa terkekeh-kekeh. Tubuhnya terguncang dan dengan langkah-langkah kecil ia meloncat-loncat. Sahutnya dalam nada yang tinggi. “Oh, oh. Kau akan membunuh aku. Pernahkah kau mendengar cerita tentang hantu Karautan yang sebenarnya? Bukan hantu seperti tampangmu? Hantu Karautan tidak bisa mati. Hantu Karautan akan tetap hidup untuk seterusnya.”

Api kemarahan yang memancar dari mata hantu yang datang pertama-tama menjadi semakin menyala. Kini ia maju setapak dan suaranya menggelegar, “Kalau benar kau hantu Karautan, kau pasti tahu, siapakah ketiga anak-anak muda yang ketakutan ini?”

“Oh, oh, oh,” teriak hantu gila itu mengerikan, “kenapa kau tanyakan nama-nama mereka?”

“Hantu tahu segala-galanya. Aku tahu namanya, rumahnya dan orang Tuanya. Nah, kalau kau benar-benar hantu Karautan, sebutlah namanya.”

“Baik. Baik Aku akan menyebut namanya. Tetapi aku ingin melihat wajahnya dengan jelas.” hantu yang mirip orang gila itu melangkah kecil-kecil mendekati ketiga anak muda Panawijen yang ketakutan. Satu-satu dirabanya tengkuk anak-anak muda itu. Dan dengan nyaring ia berkata, “Hantu Karautan membunuh korbannya dengan luka di lehernya. Aku suka menghisap darah. Apalagi darah-darah anak muda semuda anak-anak ini. Alangkah segarnya. Dan apabila darah mereka bertiga belum cukup, maka darahmu akan aku hisap pula. Darah orang yang mengaku dirinya hantu Karautan.”

“Diam!” bentak hantu berkuda, “Sebutkan namanya, sebelum kepalamu terpancung.”

“Hantu tidak pernah memancung kepala korbannya,” jawab hantu yang lain, “dan aku belum pernah sekalipun naik kuda. Aku dapat berlari melampaui kecepatan kuda dengan kakiku.”

“Persetan. Tetapi kau tidak mampu menyebut nama anak-anak muda itu.”

“Oh, oh, oh,” suaranya melengking-lengking, “Baik. Baik aku sebut namanya satu-satu.”

Kemudian hantu itu menyentuh ketiga anak muda itu satu demi satu. “Yang ini bernama Jinan. He. Bukankah aku tahu. Yang ini Patalan dan yang satu lagi Sinung Sari.”

Terdengar hantu berkuda itu menggeram. Dengan lantang ia berkata, “Kau mendengar aku menyebut namanya.”

“O, maaf. Aku mendengar dan melihat apa yang kau lakukan. Mengintai di kejauhan. Melihat apa yang menyala di sini. Kemudian kau datang ke arah api itu, begitu? Kau kemudian menakut-nakuti mereka dengan menamakan dirimu hantu Karautan.”

“Cukup!” hantu berkuda itu menjadi marah sekali. Selangkah ia maju mendekati hantu yang mirip orang gila itu.

Dalam luapan kemarahan ia berkata, “Jangan banyak bicara. Sekarang kita tentukan, siapakah yang berhak menguasai padang ini dengan kekuatan.”

“Oh, oh, oh. Bagus, Bagus,” jawab hantu yang mirip orang gila itu, “taruhannya adalah ketiga anak-anak muda itu. Siapa yang menang berhak memilikinya. Jinan, Patalan dan Sinung Sari. Alangkah segar darahnya dan darahmu sekali.”

“Tutup mulutmu! Bersiagalah!” bentak hantu berkuda itu. Dan tiba-tiba saja pedangnya telah ditariknya dari wrangkanya.

“Eh, kau akan bertempur dengan pedang?”

“Cepat, bersiagalah!”

“Baik. Baik. Aku juga akan bertempur dengan pedang. Hantu mampu bertempur dengan apa saja. Bahkan dengan batu dan pasir.” Hantu gila itu kemudian berjalan-jalan tersuruk-suruk memungut pedang Patalan yang terletak di samping perapian. Katanya kepada Patalan, “Aku pinjam pedangmu. Mudah-mudahan aku menang, sehingga kau akan mati dengan nikmat. Aku akan menghisap darahmu perlahan-lahan. Aku tidak sekejam hantu berkuda ini.”

Tetapi hantu berkuda itu sama sekali tidak sabar lagi. Cepat ia meloncat dengan pedang terjulur, langsung mengarah ke dada hantu yang lain. Namun hantu yang lain itu pun cepat menghindar ke samping dan dengan tangkas pula ia menggerakkan pedangnya. Demikianlah mereka berdua terlibat dalam perkelahian dengan pedang. Ternyata masing-masing dapat menggerakkan pedangnya dengan tangkas dan cepat. Kelincahan mereka menunjukkan bahwa mereka benar-benar mampu bertempur dengan pedang di tangan.

Hantu berkuda itu bergerak dengan mantap. Langkahnya tetap dan berat. Ayunan pedangnya mencampakkan angin yang kencang dan menimbulkan bunyi yang nyaring. Sedang hantu yang lain bergerak dengan lincahnya. Langkahnya pendek-pendek dan melonjak-lonjak. Pedangnya pun bergerak dengan ayunan yang kecil-kecil. Sekali mendatar, namun kemudian mematuk-matuk.

Ketiga anak-anak Panawijen melihat perkelahian itu. Mereka masih juga mendengar apa saja yang dipercakapkan oleh hantu-hantu itu, dan apa yang dibicarakannya. Bahkan mereka masih juga mendengar hantu yang datang kemudian itu membuat taruhan atas mereka. Dan mereka juga mendengar betapa hantu yang gila itu mengatakan alangkah segarnya darah mereka.

Tetapi seakan-akan mereka telah mati sejak lama, seakan-akan mereka sudah tidak mampu lagi berbuat apa-apa atas tubuh mereka sendiri. Kehendak yang ada di dalam hati mereka, tidak mampu lagi untuk menggerakkan tubuh mereka. Sebenarnya mereka kini tidak lebih dari seonggok tanah mati. Pertanda bahwa mereka masih hidup adalah matanya yang berkedip-kedip meskipun memancarkan sinar yang aneh. Beku. Serta arus nafas mereka yang tersendat-sendat. Sehingga apapun yang terjadi di hadapan wajah-wajah mereka, namun mereka sudah tidak mampu untuk membuat tanggapan apapun atas semua kejadian itu. Seperti juga mereka kini melihat kedua hantu itu bertempur. Tetapi hati mereka telah beku.

Dengan demikian ketiga anak-anak muda Panawijen sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Duduk bersimpuh dengan nafas yang hampir-hampir terputus. Dalam keremangan cahaya bulan mereka dipaksa melihat perkelahian yang semakin lama semakin dahsyat tanpa dapat berbuat sesuatu dan bahkan apa yang tampak itu seolah-olah bayangan saja di dalam mimpi yang menakutkan. Dan apa yang terjadi atas dirinya seperti juga di dalam mimpi, sama sekali tidak dapat dikendalikannya sendiri.

Perkelahian di antara kedua bayangan yang mengaku diri masing-masing hantu Karautan itu semakin lama menjadi semakin sengit. Masing-masing telah bergerak dalam tata perkelahian yang aneh yang lain daripada tata perkelahian yang biasa. Mereka mengayunkan pedang-pedang mereka diiringi oleh teriakan nyaring dan pekik yang melengking-lengking.

Hantu yang datang berkuda benar-benar mampu bergerak dengan langkah-langkah yang penuh melontarkan tenaga, namun hantu yang lain mampu menyusup dalam setiap gerak lawannya dengan patukan-patukan pedang yang sangat berbahaya.

Semakin lama perkelahian itu menjadi semakin sengit. Seperti dua ekor ayam jantan yang berlaga. Ketika tubuh-tubuh mereka telah dibasahi oleh keringat, maka tenaga mereka pun menjadi semakin dahsyat. Desak mendesak, dorong mendorong dalam kekuatan yang seimbang.

Ketiga anak muda Panawijen sama sekali tidak dapat menilai, bagaimanakah perkelahian itu terjadi. Mereka hanya melihat saja gerak yang liar dan kasar. Lontar melontar dalam sikap yang ganas dan buas, seperti binatang buas yang berlaga berebut mangsa. Keduanya sama sekali tidak pernah mempertimbangkan apa saja yang sedang mereka lakukan untuk mengalahkan lawannya.

Sesaat perkelahian itu menjadi semakin jelas karena tiba-tiba onggokkan kayu di atas bara di perapian menyala dengan sendirinya. Menyalanya tidak begitu besar, namun cukup melontarkan sinar yang kemerah-merahan jatuh di atas tubuh-tubuh mereka yang sedang bertempur, sehingga tubuh-tubuh yang basah oleh keringat itu seolah-olah berlapis tembaga yang merah mengkilap.

Namun sesuatu yang tidak diketahui oleh ketiga anak-anak muda Panawijen itu adalah perkembangan dari perkelahian itu. Perkelahian yang kasar dan liar itu justru semakin lama menjadi semakin teratur. Ketika tenaga mereka telah menjadi semakin susut, maka mulailah mereka dengan sungguh-sungguh berusaha untuk memusnahkan lawan-lawan mereka. Karena itulah maka kemudian mereka lelah didorong dalam suatu keadaan yang memaksa. Mereka tidak dapat lagi bergerak-gerak dengan liar dan asal saja mengayunkan pedang-pedang mereka. Bagaimanapun juga, maka akhirnya, mereka akan sampai pada tata gerak perkelahian yang sebenarnya.

Ketika kedua belah pihak telah merasa jemu dengan segala macam tingkah laku yang gila itu, tanpa mereka sadari, maka mulailah perkelahian itu meningkat dalam perkelahian yang sebenarnya. Hantu yang berkuda benar-benar telah kehilangan kesabarannya melawan hantu gila yang memekik-mekik dan melonjak-lonjak seperti monyet kepanasan, sehingga lambat laun, maka tata geraknya pun berubah pula. Semakin mantap dan semakin tenang. Hantu itu tidak lagi menyambar-nyambar dengan lontaran-lontaran yang panjang dan gerak-gerak yang dahsyat. Justru semakin lama geraknya semakin dibatasi dan semakin mapan.

Ternyata lawannya pun mengimbanginya. Hantu gila itu kini sudah tidak memekik-mekik lagi. Meskipun mula-mula ia masih mencoba melawan hantu berkuda itu dengan cara yang gila, namun lambat laun hantu itu pun dipaksa untuk mengubah tata gerak perkelahiannya. Karena hantu berkuda itu menjadi semakin tenang dan mapan, maka hantu yang gila itu pun menjadi semakin tenang pula. Berbareng dengan itu, maka teriakan-teriakan dan pekik yang melengking-lengking itu pun berkurang pulalah.

Kini mereka bertempur semakin wajar. Hantu berkuda itu dengan tangkasnya memutar senjatanya dalam arah-arah yang berbahaya dan mengerikan. Ujung pedangnya tidak lagi asal menyambar-nyambar dengan dahsyatnya seperti orang menakut-nakuti burung di sawah. Demikian pula hantu yang gila itu. Pedangnya seakan-akan menjadi semakin tenang pula. Meskipun kadang-kadang pedang itu berputar seperti baling-baling dan mematuk dari segenap arah, tetapi semuanya telah diperhitungkan dengan cermat

Hantu-hantu itu sendiri semakin lama semakin menyadari kedudukannya pula. Mereka tidak lagi dapat membuat dirinya berbuat aneh-aneh lagi. Kini mereka telah tenggelam dalam pertempuran antara hidup dan mati dengan ilmu-ilmu mereka yang semakin lama semakin wajar.

Namun sekali-sekali masih terdengar hantu yang datang berkuda itu mengumpat-umpat dalam bahasa yang kasar. Seakan-akan ia sama sekali tidak rela menghadapi lawan yang mampu mengimbanginya. Dan bahkan ternyata semakin lama hantu yang gila itu semakin menggelisahkannya. Ketika pertempuran itu kemudian mencapai puncaknya, maka menggeramlah hantu yang gila itu. Dengan sinar mata yang menyala-nyala ia menyerang lawannya sejadi-jadinya, sehingga beberapa kali hantu yang datang berkuda itu melangkah surut. Namun hantu yang datang berkuda itu pun tidak kurang marahnya. Dicobanya untuk memeras segenap kemampuan yang ada padanya, dan dicobanya untuk segera membinasakan lawannya dengan pedangnya yang berkilat-kilat memantulkan cahaya api kemerah-merahan.

Akhirnya mereka sampai pada saat-saat yang akan menentukan perkelahian itu. Mereka telah memeras tenaga mereka habis-habisan. Kini mereka tidak lagi bertempur dengan kasar dan liar. Tetapi mereka seakan-akan dua panglima perang yang bertemu dalam satu pertempuran atau antara dua orang kesatria yang sedang berkelahi untuk mempertaruhkan kebesaran nama masing-masing.

Dalam pada itu angin malam masih juga berhembus perlahan. Daun-daun perdu di gerumbul-gerumbul di sekitar perkelahian itu bergerak-gerak dalam belaian malam yang lembut. Suaranya gemercik memilukan, seakan-akan mereka sedang merintih melihat perkelahian antara hidup mati dari dua orang yang menamakan diri masing-masing hantu padang Karautan.

Dalam saat-saat terakhir itu, mereka tidak dapat lagi menyembunyikan kedahsyatan ilmu-ilmu mereka masing-masing. Ilmu-ilmu itu tanpa mereka kehendaki, telah melancar dalam kedahsyatan perkelahian, karena keadaan mereka yang semakin lama menjadi semakin sulit. Libatan-libatan serangan lawan telah memaksa mereka masing-masing untuk mempergunakan ilmu puncak yang mereka miliki.

Dengan demikian, maka mereka tidak lagi sekedar bertempur karena mereka masing-masing ingin mempertahankan gelar yang mereka perebutkan. Hantu Karautan. Namun mereka telah benar-benar dibakar oleh nyala dendam di dalam hati mereka masing-masing.

Dalam pada itu, api di perapian semakin lama menjadi semakin besar juga. Onggokkan kayu yang begitu saja ditimbun di atasnya kini telah menyala seluruhnya, sehingga tempat di sekitar perkelahian itu menjadi semakin terang.

Api itu ternyata tidak saja menerangi tempat di sekitarnya, namun nyalanya lepas sampai ke tempat yang jauh. Seperti juga hantu berkuda itu melihat api dari kejauhan dan mendekatinya, maka tiba-tiba orang-orang yang berada di dekat perapian itu sekali lagi terkejut. Kedua hantu yang sedang bertempur itu pun terkejut pula, sedang ketiga anak-anak muda Panawijen hampir tidak tahu apakah yang dirasakannya atas peristiwa-peristiwa yang terjadi kemudian. Dalam keremangan cahaya bulan, dan disela-sela dering senjata beradu, sekali lagi bergemalah suara derap kaki kuda. Mau tidak mau hantu yang sedang bertempur itu berusaha untuk melihat siapakah yang datang mengganggu perkelahian itu.

Sebenarnyalah dari kejauhan mereka melihat seekor kuda berpacu cepat sekali mendatangi mereka. Debu yang putih melontar naik ke udara. Rupa-rupanya api yang menyala itu telah menarik perhatian penunggangnya.

Tanpa dikehendaki sendiri, maka pertempuran itu mengendur sesaat. Mereka bersama-sama ingin melihat siapakah yang baru datang itu. Apakah orang itu juga akan mengaku hantu padang Karautan dan akan turut serta bertempur di antara mereka, atau orang lain yang hanya tertarik oleh nyala api itu saja.

Demikian penunggang kuda itu semakin dekat, maka dada kedua hantu yang bertempur itu menjadi semakin berdebar-debar. Orang berkuda, itu adalah seorang yang berpakaian lengkap sebagai seorang Pelayan Dalam Istana Tumapel. Pelayan dalam itu agaknya terkejut pula melihat perkelahian di padang rumput Karautan. Karena itu, maka segera ia memacu kudanya semakin cepat.

Ketika pelayan dalam istana itu sudah semakin dekat, tiba-tiba terdengar salah seorang hantu itu melengking, “He, apa kerjamu di sini?”

Pelayan dalam itu tidak segera menjawab. Demikian sampai di tempat itu, maka segera ia menarik kekang kudanya dan mengamat-amati daerah di sekitarnya dengan seksama. Ia melihat kemudian tiga anak-anak muda yang duduk membeku. Dilihatnya pula beberapa alat dan perlengkapan yang berserakan di dekat perapian. Dan dilihatnya pula kedua hantu yang berpakaian aneh-aneh.

Kehadiran penunggang kuda itu benar mempengaruhi perasaan kedua hantu yang sedang bertempur itu. Namun hantu gila tiba-tiba berteriak sambil meluncurkan ujung pedangnya. “Jangan hiraukan kehadirannya. Marilah kita selesaikan persoalan kita. Akulah hantu padang Karautan.”

Hantu yang datang berkuda terkejut. Namun segera ia berhasil menguasai dirinya. Dengan cepatnya ia menghindari serangan itu, dan dengan cepatnya pula ia telah melibatkan diri dalam perkelahian yang semakin sengit.

Senjata-senjata mereka berputar dengan dahsyatnya, melontarkan udara maut. Dari mata mereka memancar dendam yang tiada taranya satu sama lain, sehingga seakan-akan hanya mautlah yang dapat menghentikan perkelahian itu.

Penunggang kuda yang berpakaian seorang pelayan dalam itu, melihat perkelahian kedua hantu itu dengan seksama.

Sekali-sekali tampak keningnya berkerut, namun sekali tampak wajah itu menjadi tegang. perlahan-lahan ia meloncat turun dari kudanya dan berjalan mendekati titik perkelahian itu. Sebuah pedang yang besar tergantung di sisi tubuhnya dalam sarungnya yang putih gemerlap.

Hantu yang gila itu tiba-tiba berteriak nyaring, “He, pedang kalian berdua mirip benar bentuk dan sarungnya.”

Hantu berkuda itu menggeram. Tetapi ia tidak menjawab, sedang penunggang kuda yang datang itu mengerutkan keningnya.

Dicobanya untuk menangkap setiap gerak yang terlontar dan setiap ilmu yang memancar dari kedua hantu itu.

Tetapi orang itu belum berbuat sesuatu. Hanya kadang-kadang tampak tangannya meraba-raba hulu pedangnya. Tetapi kembali kedua tangannya tergantung lepas di sisi tubuhnya.

Namun ketika sekali lagi terpandang olehnya ketiga anak-anak muda yang ketakutan itu, maka kembali dahinya berkerut-kerut. perlahan-lahan ia berjalan mendekatinya sambil bertanya, “He, siapakah kalian bertiga?”

Ketiga anak-anak muda itu memandanginya dengan wajah kosong. Tetapi ketika tampak olehnya bahwa orang itu sama sekali bukan sejenis kedua hantu yang bertempur, maka tiba-tiba di sudut hatinya memancar kembali harapan betapapun kecilnya. Karena itu, maka dengan penuh ketakutan salah seorang dari mereka menjawab, “Kami anak-anak Panawijen, Tuan.”

“Kenapa kalian berada di tempat ini?”

Pertanyaan itu telah mengingatkannya kepada tugas yang menyeretnya ke tempat terkutuk itu. Maka dengan terbata-bata Patalan menjawab, “Kami datang bersama Mahisa Agni, Tuan. Kami ingin mencari tempat untuk membuat bendungan.”

Penunggang Kuda yang berpakaian pelayan dalam istana itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya pula, “Di mana Mahisa Agni sekarang?”

“Ke sungai, Tuan. Mencari air,” jawab Sinung Sari.

Pelayan dalam itu mengangguk-angguk, desisnya, “Jangan takut. Aku akan mengatasi keadaan.”

Harapan yang tumbuh di dalam dada anak-anak muda Panawijen itu menjadi semakin berkembang. Sekali lagi dicobanya untuk menatap wajah pelayan dalam yang tegap, tampan dan meyakinkan. Bahkan terdengar Jinan berkata, “Tuan, hantu-hantu itu telah menakutkan kami. Mereka akan membunuh kami.”

Pelayan dalam itu berpaling. Dilihatnya kedua hantu itu masih bertempur dengan sengitnya. Terdengar ia berkata, “Keduanya memiliki tenaga yang luar biasa. Siapakah mereka?”

“Kami tidak tahu, Tuan,” sahut Sinung Sari, “mereka menamakan diri mereka hantu padang rumput Karautan.”

Pelayan Dalam itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia berdiri tegak dengan kaki renggang. Sebagai seorang petugas istana maka ia memiliki keberanian untuk menghadapi setiap kemungkinan. Juga terhadap sepasang hantu yang sedang bertempur itu.

Sinung Sari yang masih gemetar itu tiba-tiba berkata, “Apakah Tuan dapat mengusir mereka berdua?”

Pelayan Dalam itu mengerutkan keningnya. Ia tidak segera menjawab. Tetapi dicobanya untuk melihat pertempuran itu dengan seksama.

“Bagaimana, Tuan,” desak Patalan, “apakah Tuan dapat mengusir hantu-hantu itu?”

“Hantu-hantu itu benar-benar menakutkan,” desisnya, “tetapi jangan takut. Mudah-mudahan ia tidak akan berbahaya bagiku.”

Ketiga anak-anak muda Panawijen itu menjadi agak tenang. Setidak-tidaknya mereka akan mendapat perlindungan dari pelayan dalam ini. Sebagai seorang pejabat istana, maka ia pasti akan berbuat sesuatu. Bukankah ia seorang yang perkasa menilik sikap dan ketenangannya? Sementara itu, ketiga anak-anak muda itu masih mengharap kehadiran Mahisa Agni. Mungkin bersama-sama Mahisa Agni, maka pelayan dalam itu akan dapat mengalahkan kedua hantu itu. Atau salah satu di antaranya sesudah yang lain dikalahkan oleh hantu itu sendiri.

Sekali-sekali ketiga anak muda itu memandangi tebing sungai yang kelam dan ditutupi oleh rimbunnya dedaunan. Di sana tadi Mahisa Agni menghilang. Dan dari sana pula mereka mengharap Mahisa Agni akan muncul.

Tetapi Mahisa Agni itu tidak segera datang kembali. Sungai itu tebingnya terlalu curam. Memang agak terlalu sulit untuk menuruni dan kemudian mendaki tebing itu di malam hari. Namun beruntunglah ketiga anak-anak muda itu, bahwa tiba-tiba hadir di padang rumput ini seorang pejabat dari istana.

Kedua hantu itu masih bertempur dengan dahsyatnya. Bahkan semakin lama semakin sengit. Hantu yang berkuda itu kini tidak lagi melontar-lontarkan dirinya, dan hantu gila itu sudah tidak melonjak-lonjak lagi sambil memekik-mekik. Mereka bertempur dengan serunya, sebagai sepasang burung elang yang berlaga di udara. Sambar menyambar, patuk-mematuk dengan ujung-ujung senjata masing-masing.

Namun semakin lama pelayan dalam itu melihat, bahwa hantu yang datang berkuda, semakin lama menjadi semakin sulit. Ia terpaksa beberapa kali melontar mundur, dan seolah-olah sudah tidak mendapat kesempatan lagi untuk menyerang hantu itu hanya mampu bertahan dan menghindar.

Pelayan dalam itu mengangguk-anggukkan kepalanya, seakan-akan ia sudah dapat menemukan siapakah yang akan memenangkan pertempuran itu. Bahkan ia sedang menilai kesaktian keduanya. Tetapi tiba-tiba pelayan dalam itu tersenyum.

Kedua hantu yang bertempur itu benar-benar telah memeras segenap kemampuan yang ada di dalam diri masing-masing. Namun seperti pengamatan pelayan dalam itu, mereka pun agaknya telah menyadari akhir dari perkelahiannya. Hantu yang datang berkuda itu benar-benar telah terdesak. Beberapa kali ia meloncat surut dan beberapa kali ia mengeluh di dalam hatinya.

Namun tiba-tiba terjadilah sesuatu di luar dugaan. Di luar dugaan pelayan dalam yang menyaksikan perkelahian itu, dan di luar dugaan hantu yang mirip orang gila.

Tiba-tiba saja, hantu yang datang berkuda itu melontar mundur beberapa langkah. Kemudian ujung pedangnya mengungkit tanah berdebu di bawah kakinya di arahkan ke wajah lawannya. Segumpal tanah melontar menghambur ke wajah hantu gila itu. Dengan demikian, maka ia terpaksa berhenti dan berusaha menutup matanya supaya tidak kemasukan debu.

Kesempatan itulah yang ingin didapat oleh hantu berkuda itu. Ketika ia melihat lawannya menutup matanya dan bahkan dengan tangan kirinya mengusapi debu di wajah, cepat-cepat ia berlari dan meloncat ke punggung kudanya. Dengan satu sentakan kuda itu melonjak dan kemudian meloncat berlari meninggalkan perapian, hantu gila dan pelayan dalam yang berdiri keheranan. Namun dengan demikian pelayan dalam itu menyadari keadaan, ia pun siap berlari ke arah kudanya, untuk mengejar hantu berkuda itu. Tetapi alangkah kecewanya. Dengan menggeram ia mengumpat tak habisnya. Hantu berkuda itu sempat menyentuh pantat kuda pelayan dalam itu sehingga kuda itu terkejut dan melonjak melingkar-lingkar.

“Gila!” gerutu pelayan dalam itu sambil berusaha menenangkan kudanya kembali. perlahan-lahan ditepuk-tepuknya leher kudanya dan dengan siulan ia mencoba menguasai kudanya itu. Lambat laun kuda itu dapat ditenangkannya. Namun hantu berkuda yang akan dikejarnya telah menghilang jauh ke tengah-tengah padang rumput. Dalam keremangan cahaya bulan masih tampak lamat-lamat debu yang mengepul. Tetapi untuk mengejarnya, adalah sangat sulit bagi pelayan dalam itu. Jaraknya telah terlampau jauh.

Karena itu maka ia sama sekali tidak berusaha untuk mengejarnya. Kini yang dihadapinya adalah hantu yang gila itu. Hantu yang rambutnya terurai dan sama sekali tidak mempergunakan secarik kain pun kecuali hanya celananya yang disangkuti dedaunan dan sulur-sulur perdu.

Sesaat mereka berdiri dengan tegangnya. Hantu gila itu masih menggenggam pedangnya. Selangkah ia maju, dan sambil tertawa ia berkata melengking, “Kenapa tidak kau kejar orang yang mencoba menamakan diri Hantu Karautan itu?”

Pelayan dalam itu tertawa. Wajahnya kini sudah tidak tegang lagi. ia pun melangkah maju sambil menjawab, “Kenapa kau juga tidak mengejarnya?”

“Aku tidak membawa kuda,” jawab hantu itu.

“Apakah hantu memerlukan kuda?” sahut pelayan dalam.

Hantu itu terdiam sesaat. Diamat-amatinya pelayan dalam yang berdiri tegak dalam pakaian yang lengkap dan pedang di lambungnya.

“Apa kerjamu di sini,” bertanya hantu itu.

“Melihat hantu-hantu berkelahi,” jawabnya.

“Hanya ada satu hantu di padang Karautan. Kau lihat, orang yang menamakan dirinya hantu itu telah pergi.”

“Itulah yang ingin aku ketahui. Siapakah yang sebenarnya hantu Karautan. Kau atau yang terpaksa lari berkuda itu?”

Hantu itu ragu-ragu sejenak. Ditatapnya wajah pelayan dalam itu dengan seksama. Baru kemudian terdengar jawabnya melengking, “Aku. Akulah hantu Karautan.”

Pelayan dalam itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Apa yang akan kau lakukan sekarang sesudah orang yang menamakan hantu itu pergi?”

Kembali hantu itu ragu-ragu sejenak. Kemudian dipalingkannya wajahnya memandangi ketiga anak-anak muda Panawijen yang ketakutan itu. Namun kini hati mereka telah agak tenteram.

Sebab mereka akan dapat mencari perlindungan kepada pelayan dalam yang perkasa dan meyakinkan itu.

Meskipun demikian ketiga anak-anak muda itu terkejut bukan buatan ketika hantu itu menjawab, “Aku kini akan menikmati kemenanganku.”

Pelayan dalam itu mengerutkan keningnya, kemudian terdengar ia bertanya, “Apakah yang kau dapatkan dari kemenangan itu?”

“Ketiga anak-anak muda itu akan menjadi korbanku. Korban hantu Karautan.”

Sekali lagi pelayan dalam itu mengerutkan keningnya, dan sekali lagi hati ketiga anak muda Panawijen menjadi berdesir.

“Apa yang akan kau lakukan?”

Hantu Karautan itu memiringkan kepalanya. Kemudian dengan suara melengking ia menjawab, “Menghisap darahnya.”

“Tuan,” terdengar Sinung Sari memekik kecil, “Tolonglah kami.”

Pelayan dalam itu menarik nafas. Sekali dipandangnya wajah ketiga anak-anak muda yang ketakutan.

Ketiga anak-anak muda itu menggigil ketika ia mendengar pelayan dalam itu berkata, “Nah, hantu itu tinggal satu. Apakah kalian bertiga tidak berani melawannya?”

Jinan yang gemetar berkata tergagap, “Tolonglah kami. Kami tidak pernah berkelahi. Apalagi melawan hantu.”

“Jangan banyak bicara,” teriak hantu gila itu, “sekarang kalian satu demi satu, bersimpuh di hadapanku. Aku akan menghisap darahmu lewat tengkukmu.”

Dan kepada pelayan dalam hantu itu berkata, “Bukankah begitu kebiasaan hantu-hantu. Menghisap darah lewat tengkuk korbannya yang harus bersimpuh sambil menundukkan kepalanya?”

Pelayan dalam itu menarik alisnya tinggi-tinggi. Kemudian sahutnya. “Kenapa kau bertanya kepadaku?”

Terdengar hantu itu menggeram. Kemudian suara tertawanya melonjak tinggi. Berkepanjangan membelah kesepian Padang Karautan.

Tanpa dikehendakinya pelayan dalam itu pun tersenyum. Tetapi segera ia membentak, “He, kenapa kau tertawa?”

Hantu itu menjawab, “Kau pun akan menjadi korban yang seharga. Ayo, apakah kau yang pertama-tama akan duduk bersimpuh di hadapanku sambil menundukkan kepala?”

“Aku datang terakhir. Karena itu, kalau kau kehendaki, aku adalah korban yang terakhir.”

“Bagus. Bagus. Sekarang biarlah ketiga anak-anak muda itu dahulu.”

“Tuan,” Patalan menjerit, “tolonglah kami Tuan. Bukankah Tuan telah sanggup?”

“Kenapa kalian menjadi ketakutan menghadapi hantu yang hanya satu ini,” bertanya pelayan dalam itu, “bukankah kalian bertiga dan bersenjata?”

“Aku tidak. Senjatakulah yang dibawa oleh hantu itu.”

“Oh, kalau demikian, biarlah senjata itu aku minta untukmu. Atau kau ingin memakai senjataku?”

“Tidak Tuan,” minta Jinan, “tuan akan menolong kami.”

“Baik. Aku akan menolong kalian, kalau kalian telah berbuat sesuatu. Karena itu, lawanlah hantu itu, nanti kalau kalian ternyata tidak mampu, biarlah aku melawannya.”

Ketiga anak-anak itu terdiam. Namun tubuhnya menggigil karena ketakutan. Hanya sorot mata merekalah yang berbicara. Mohon belas kasihan pelayan dalam yang perkasa itu.

“Bagaimana?” bertanya pelayan dalam itu.

Mulut ketiga anak-anak muda Panawijen itu seakan-akan telah terbungkam. Mereka sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk berbuat sesuatu. Apalagi melawan hantu itu.

Tetapi tiba-tiba adalah seorang dari mereka teringat, bahwa mereka sedang menunggu Mahisa Agni. Mereka mengharap bahwa Mahisa Agni itu akan segera kembali. Karena itu maka katanya kepada pelayan dalam itu. “Tuan Kami mempunyai seorang kawan lagi. Kalau kawan kami itu segera datang, maka kami mengharap, bahwa ia akan dapat berbuat sesuatu. Karena itu Tuan, kami mengharap Tuan menolong kami sampai kawan itu datang.”

Pelayan Dalam itu mengerutkan keningnya, “Siapakah yang kau maksud?”

“Mahisa Agni, Tuan,” jawab Patalan, “seperti yang sudah kami katakan.”

“Apakah kau pasti bahwa ia akan datang?”

“Pasti, Tuan. Ia akan segera datang.”

Pelayan dalam itu berpaling kepada hantu yang gila itu. Katanya, “Apakah kau sudah bertemu dengan seorang anak muda yang bernama Mahisa Agni di tebing sungai? Atau barang kali darahnya sudah kau hisap pula?”

Sebelum hantu itu menjawab, terdengar Sinung Sari berkata, “Tuan, Mahisa Agni berkata, bahwa ia sudah kenal dengan hantu Karautan.”

Hantu itu sesaat berdiam diri. Hanya matanya sajalah yang tampak berkedip-kedip di atas secarik kain yang menutupi wajahnya.

“Bagaimana,” desak pelayan dalam itu, “bagaimana dengan Mahisa Agni. Apakah sudah kau hisap darahnya, apakah betul kata anak muda itu, bahwa Mahisa Agni telah mengenal hantu Karautan?”

Hantu itu mengangguk-angguk, kemudian terdengar ia menggeram.

“Bagaimana sebaiknya,” katanya kepada pelayan dalam itu, “apakah sebaiknya aku minum darahnya atau tidak?”

“Kenapa kau bertanya kepadaku?” sahut pelayan dalam itu.

“Kau lebih tahu, apa yang harus dilakukan oleh hantu Karautan,” jawab hantu itu.

“Jangan mengigau!” bentak pelayan dalam itu, tetapi kemudian ia tersenyum. Hantu itu pun tertawa melengking.

Ketiga anak-anak muda Panawijen menjadi semakin tidak mengerti. Kenapa pembicaraan keduanya terasa bersimpang siur tak menentu. Bahkan kemudian hantu Karautan itu berkata, “Lalu, bagaimana dengan ketiga anak-anak muda itu?”

Dada ketiga anak-anak muda Panawijen itu menjadi kembali bergetaran. Harapannya untuk mendapat perlindungan pelayan dalam itu semakin tipis. Bahkan kemudian timbullah ketakutan yang lain di dalam hatinya, apakah yang berpakaian pelayan dalam itu hantu pula yang sedang menyamar?

Dalam ketakutan itu ia mendengar pelayan dalam berkata, “Apapun yang akan kau lakukan, perhitungkanlah baik-baik. Apabila Mahisa Agni nanti datang, maka kau harus bertanggung jawab kepadanya.”

Hantu gila itu memiringkan kepalanya, kemudian terdengar ia bertanya kepada anak-anak muda Panawijen, “Apakah betul Mahisa Agni akan datang kemari?”

Tiba-tiba tanpa sesadarnya Patalan menyahut, “Ya. Ia pasti akan datang kemari.”

“Omong kosong!” teriak hantu itu.

“Benar,” sahut Sinung Sari dan Jinan hampir bersamaan, “Ia pasti akan datang.”

Tiba-tiba hantu itu menjadi gelisah. Ditebarkannya pandangan matanya berkeliling. Kemudian katanya, “Kau hanya ingin menakut-nakuti aku.”

“Tidak. Sebenarnya ia akan datang.”

Hantu itu menjadi semakin gelisah. Tiba-tiba ia meloncat berlari meninggalkan tempat itu sambil berteriak nyaring. “Lebih baik aku pergi sebelum Mahisa Agni datang. Meskipun hantu Karautan tidak takut terhadap siapa pun, namun aku tak mau bertengkar dengan Mahisa Agni itu.”

Kemudian kepada pelayan dalam itu ia berkata lantang, “Bukankah begitu? Bukankah hantu padang Karautan tidak takut kepada siapa pun juga. Kepada hantu berkuda yang lari itu, dan kepada Mahisa Agni?”

“Gila!” gumam pelayan dalam itu. Tetapi ia tidak menjawab. Dibiarkannya hantu gila itu berlari melonjak-lonjak dan kemudian menghilang dibalik gerumbul-gerumbul liar yang bertebaran di padang itu.

Ketiga anak-anak muda Panawijen memandangi hantu yang gila itu dengan berdebar-debar. Mudah-mudahan apa yang dikatakan itu benar. Meskipun ia tidak takut kepada Mahisa Agni, namun ia tidak akan mau menemui dan bertengkar dengannya.

Tetapi sepeninggal hantu itu, ketiga anak-anak muda Panawijen menjadi gelisah pula karena pelayan dalam yang aneh itu. Apakah benar di malam hari yang sepi ada seorang pelayan dalam berkeliaran di padang Karautan ini? Apakah pelayan dalam ini bukan sekedar hantu yang lain yang sedang menyamar, bahkan lebih berbahaya dari hantu yang lari itu? Kalau demikian maka pasti ada lebih dari satu hantu di padang ini, seperti hantu yang dikatakan oleh Mahisa Agni tidak akan lagi berada di padang ini, namun ternyata masih ada hantu-hantu yang lain yang berkeliaran.

Dalam kecemasan dan kegelisahan itu, mereka bertiga melihat pelayan dalam itu datang kepada mereka sambil tersenyum-senyum. Meskipun pelayan dalam itu tersenyum, namun senyumnya itu sama sekali tidak memberi ketenangan kepada mereka seperti ketika ia baru datang.

Tiba-tiba pelayan dalam itu bertanya, “Kau belum mengenal hantu padang Karautan?”

Pertanyaan itu menjadi semakin mendebarkan hati mereka. Dengan terbata-bata Patalan menjawab, “Belum Tuan. Baru kali ini aku melihat mereka berdua bertempur.”

Pelayan Dalam itu tertawa. Katanya, “Kenapa kalian menjadi sangat ketakutan?”

“Kami tidak pernah bertemu dengan hantu.”

“Seharusnya kalian tidak takut. Bukankah kalian laki-laki yang tegap dan gagah?”

“Tetapi hantu-hantu adalah makhluk yang sakti.”

“Kau percaya?”

Ketiga anak-anak muda itu mengangguk bersama-sama. Karena itulah maka orang yang berpakaian pelayan dalam itu tertawa terbahak-bahak.

“Terlalu,” katanya, “kalian adalah penakut-nakut yang sama sekali tidak percaya kepada diri sendiri. Seharusnya kalian berusaha untuk melindungi diri kalian dengan ketegapan dan kekekaran tubuh kalian. Aku kira tenaga kalian tidak akan kalah dengan tenaga hantu yang paling dahsyat sekalipun seandainya kalian berusaha.”

Ketiganya tidak menjawab. Namun darah mereka serasa berhenti ketika tiba-tiba mereka mendengar pelayan dalam itu berkata lantang, “Akulah sebenarnya hantu Karautan.”

Orang yang berpakaian lengkap sebagai seorang hamba istana itu bertolak pinggang. Dengan sinar yang tajam menusuk jantung, dipandanginya ketiga anak-anak Panawijen yang hampir menjadi pingsan.

“Nah. Apakah kalian tidak percaya bahwa akulah sebenarnya hantu Karautan? Lihat, kedua orang yang mengaku-ngaku hantu itu semuanya telah melarikan dirinya. Dan bukankah kau dengar hantu yang terakhir itu mengatakan bahwa aku lebih tahu apa yang harus dilakukan oleh hantu Karautan,” berkata orang itu lebih lanjut.

Darah ketiga anak-anak muda Panawijen itu seakan-akan sudah benar-benar membeku, sehingga mereka sudah tidak dapat memberikan tanggapan apapun atas pertanyaan orang itu. Hanya mata mereka sajalah yang berkedip-kedip dan nafas merekalah yang berkejaran semakin cepat.

Tetapi tiba-tiba, dari balik gerumbul di hadapan mereka, sekali lagi mereka melihat sesosok bayangan yang berjalan semakin lama semakin dekat menjinjing bumbung bambu.

Dengan serta-merta hampir bersamaan, ketiga anak muda Panawijen itu berdesis, “Agni. Mahisa Agni telah datang.”

Orang yang berpakaian dalam itu mengerutkan keningnya, “Apa? Kau menyebut-nyebut nama Mahisa Agni?”

“Ya. Mahisa Agni telah datang,” jawab mereka bersamaan. Wajah-wajah mereka tiba-tiba menjadi agak cerah dan harapan timbul kembali di dalam dada mereka.

Sebenarnya orang yang datang itu adalah Mahisa Agni.

Orang yang berpakaian hamba istana dan menamakan diri hantu Karautan pula itu pun berpaling. ia pun segera melihat Mahisa Agni berjalan ke arah mereka. Semakin lama semakin dekat.

“Itukah yang kau sebut Mahisa Agni,” geram pelayan dalam itu.

“Ya.”

Pelayan dalam itu menarik nafas dalam-dalam. Dipandangnya sosok tubuh yang semakin dekat itu.

Mahisa Agni, yang berjalan dengan tenangnya, segera sampai pula di antara anak muda Panawijen yang masih menggigil ketakutan. Dengan heran Mahisa Agni memandang wajah-wajah mereka, sehingga kemudian ia bertanya, “Kenapa kalian menggigil seperti orang kedinginan?”

Sinung Sari menunjuk kepada orang yang berpakaian pelayan Dalam itu sambil berkata gemetar, “Hantu Karautan.”

“He?” Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

Sekali lagi Sinung Sari menunjuk orang itu. Tetapi mulutnya terbungkam.

Mahisa Agni kemudian meletakkan barang-barang yang dijinjingnya. Bumbung-bumbung bambu dan sebilah pedang terhunus. Sedang pedangnya sendiri masih tergantung di lambungnya.

“Benarkah kau hantu padang Karautan,” bertanya Mahisa Agni.

Pelayan dalam itu mengangguk sambil bertolak pinggang, “Ya, Akulah hantu Karautan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian selangkah ia maju. Sambil tersenyum ia berkata, “Bagus. Adalah kebetulan sekali aku dapat bertemu dengan hantu padang Karautan. Duduklah!”

Pelayan dalam yang menamakan dirinya hantu padang Karautan itu tertegun sejenak. Namun Mahisa Agni telah mendahului duduk di samping perapian, di antara barang-barangnya yang berserakan.

“Duduklah!” ia mempersilakan sekali lagi.

Ketiga anak muda Panawijen itu terbelalak ketika mereka melihat, hantu itu pun kemudian duduk di samping Mahisa Agni.

“He, kemarilah!” panggil Mahisa Agni sambil berpaling kepada ketiga kawan-kawannya, “mungkin kau belum mengenal hantu ini. Aku mula-mula agak lupa melihat tampangnya yang gagah. Tetapi akhirnya aku dapat mengenalnya meskipun ia menyamar sebagai pelayan dalam Istana Tumapel.”

Sesaat ketiga kawan-kawannya saling berpandangan Namun kembali terdengarlah Mahisa Agni memanggil, “Kemarilah! Hantu ini sama sekali tidak menakutkan. Ia adalah hantu yang baik hati.”

Ketika mereka melihat Mahisa Agni sama sekali tidak menjadi cemas dan tegang menghadapi hantu itu, maka perlahan-lahan mereka bertiga pun beringsut maju mendekati perapian. Satu demi satu mereka duduk di belakang Mahisa Agni.

“Inilah hantu itu sebenarnya,” berkata Mahisa Agni, “kenapa kalian menjadi sangat ketakutan. Apakah hantu ini sudah menyakiti atau menakut-nakuti kalian.”

Ketiga anak muda itu menggeleng.

“Sudah aku katakan. Hantu Karautan sama sekati tidak menakutkan. Bahkan sekarang kau dapat membuktikan sendiri, bahwa hantu itu benar-benar berwajah tampan setampan Panji Asmara Bangun.”

“Ah,” desis hantu itu sambil tersenyum.

Ketiga anak-anak muda Panawijen sama sekali tidak mengerti, bagaimanakah sebenarnya persoalan yang mereka hadapi. Karena itu, setelah hatinya agak tenang, Sinung Sari berkata, “Agni. Kalau yang satu ini benar-benar hantu pula, maka ada tiga hantu di padang Karautan ini.”

“He,” Mahisa Agni berpaling, “tiga hantu?”

“Ya. ketiga-tiganya baru saja berkumpul di sini. Mengitari perapian itu.”

“Ah,” sahut Agni, “apakah hantu-hantu itu kedinginan?”

Sinung Sari memandang hantu berpakaian pelayan dalam itu dengan sudut matanya. Kemudian katanya, “Bertanyalah kepadanya.”

“Kepada siapa?” bertanya Mahisa Agni.

“Kepada hantu itu,” sahut Sinung Sari.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak segera bertanya tentang hantu-hantu itu. Tetapi kepada kawan-kawannya ia berkata, “Apakah kalian tidak haus. Minumlah. Jalan menuruni tebing itu sangat sulit, sehingga aku harus sangat berhati-hati.”

Kawan-kawan Mahisa Agni itu sama sekali tidak merasa haus, karena perasaan mereka yang masih dicengkam oleh ketakutan atas apa yang sedang dihadapinya. Karena itu mereka sama sekali tidak ada minat untuk menyentuh bumbung Mahisa Agni.

“Apakah kalian tidak haus?” sekali lagi Mahisa Agni bertanya.

Patalan memandangi wajah Agni dengan penuh pertanyaan yang membayang. Sekali-sekali anak muda itu menggigit bibirnya, dan sekali-sekali dicobanya untuk menatap wajah pelayan dalam yang seakan-akan penuh menyimpan rahasia. Rahasia padang rumput Karautan.

Mahisa Agni melihat pertanyaan yang bergelut di dalam dada kawan-kawannya. Namun ia tidak segera menjelaskan siapakah yang menyebut dirinya hantu Karautan yang sedang menyamar sebagai pelayan dalam itu, bahkan ia bertanya, “Jadi menurut kata kalian, di sini tadi ada tiga hantu yang berkumpul bersama-sama?”

Ketiga kawannya serentak mengangguk. Dan terdengar Jinan berkata, “Ya, bertiga. Satu di antaranya adalah yang masih tinggal itu.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apakah yang mereka kerjakan di sini?” bertanya Agni pula.

“Yang dua saling berkelahi. Yang satu itu datang kemudian,” sahut Jinan.

“Lupakanlah hantu yang dua itu. Mereka tidak akan berani mengganggu kalian, selagi hantu yang baik hati ini masih di sini,” gumam Mahisa Agni seolah-olah kepada dirinya sendiri.

Tetapi gumam itu masih belum menjawab pertanyaan yang bergelut di dalam dada anak-anak muda Panawijen itu. Sehingga akhirnya Sinung Sari bertanya perlahan-lahan, “Bagaimana Agni. Apakah kau tidak bertanya kepadanya, tentang kedua hantu yang lain itu?”

Mahisa Agni mengangguk.

“Baik,” jawabnya, “tetapi apakah kalian tidak ingin mendengar nama hantu yang satu ini?”

Anak-anak muda Panawijen itu saling berpandangan, memang hantu-hantu pun biasanya memiliki sebuah nama. Karena itu, maka serentak mereka menyahut, “Ya.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat hantu yang berpakaian lengkap sebagai seorang hamba istana itu tersenyum sambil berdesah, “Ah. Ada-ada kau ini Agni.”

“Bukankah kau hantu padang ini, Hantu yang berhak mendapat segala macam gelar untuknya. Hantu yang tampan. Hantu yang mengerikan, menakutkan dan sekarang hantu yang baik hati? Bukan hantu-hantu yang lain-lain.”

“Sekehendakmulah,” sahut pelayan dalam itu.

“Nah, dengarlah,” berkata Mahisa Agni, “bukankah sudah aku katakan bahwa aku sudah mengenal hantu Karautan yang sebenarnya ini? Kalau ada hantu-hantu yang lain, maka hantu-hantu itu pasti bukan hantu yang sebenarnya. Hantu yang sebenarnya tidak akan membiarkan daerahnya menjadi sumber malapetaka. Karena itu sebagaimana kau lihat, hantu ini hadir pula di sini menyelamatkanmu. Sebab hantu-hantu yang lain itu pun telah pergi.”

Jantung Jinan, Patalan dan Sinung Sari menjadi berdebar-debar. Mereka ingin segera tahu nama hantu yang tampan itu. Tetapi mereka tidak bertanya, seakan-akan mereka takut kalau-kalau pertanyaannya tidak menyenangkan hati hantu itu.

Mahisa Agni pun kemudian meneruskan, “Bukankah kau ingin tahu nama hantu itu? Baiklah. Dengar, namanya Ken Arok.”

Ketiga anak-anak muda Panawijen itu mengerutkan keningnya. Terasa sesuatu berdesir di dalam dada mereka. Ken Arok. Namun namanya itu masih asing bagi mereka.

Mahisa Agni sejenak berdiam diri. Ia ingin melihat getaran apakah yang timbul di dalam dada kawan-kawannya itu setelah mereka mendengar nama hantu itu. Namun Mahisa Agni hanya melihat wajah-wajah itu berkerut. Sesudah itu tidak ada tanggapan apapun lagi.

Ternyata kawannya belum pernah mendengar nama Ken Arok. Nama itu akan sama artinya bagi kawan-kawannya apabila ia menyebut nama yang lain. Witantra misalnya, atau Mahendra atau Kebo Ijo atau siapa pun. Sebab nama-nama itu pun pasti belum pernah mereka dengar. Tetapi apabila Mahisa Agni menyebutkan nama hantu berkuda yang melarikan diri itu, pastilah mereka akan terkejut sekali.

Ken Arok sendiri menarik nafas dalam-dalam ketika sama sekali tidak tampak persoalan-persoalan yang tumbuh karena namanya. Mula-mula ia menjadi bimbang. Mungkin namanya sudah dikenal oleh ketiga anak-anak muda itu dahulu sebagai orang buruan, sebelum ia bersembunyi di padang Karautan. Dan menyebut dirinya dan disebut orang hantu padang Karautan.

“Bukankah sekarang telah kalian saksikan sendiri,” berkata Mahisa Agni, “bahwa hantu Karautan adalah hantu yang baik hati. Dan seandainya ada hantu-hantu yang lain, maka hantu-hantu yang lain dan jahat itu sama sekali bukan hantu Karautan.”

“Siapakah mereka itu?” perlahan-lahan terdengar Sinung Sari bertanya.

“Hantu tiruan,” sahut Agni cepat-cepat, “dan bukankah nyata bahwa tak ada satu pun dari mereka yang berani melawan hantu ini?”

Ketiga anak muda itu mengangguk-angguk.

“Hantu ini pun kini telah menjelma menjadi seorang manusia biasa. Ia sama sekali tidak sedang menyamar sebagai pelayan dalam Istana Tumapel. Tetapi ia benar-benar menjadi pelayan dalam.”

Ketiga anak-anak muda itu menjadi beragu sejenak. Mereka tidak dapat mengerti bagaimana seorang pelayan dalam istana itu sebenarnya adalah hantu.

Mahisa Agni melihat keragu-raguan itu. Karena itu ia menjelaskan, “Jangan ragu-ragu akan keteranganku. Ken Arok bukan hantu. Ia adalah seorang manusia biasa. Hantu Karautan itu sama sekali tidak ada.”

Ketiga kawan Mahisa Agni menjadi bingung. Sekali-sekali mereka saling berpandangan, namun sekali-sekali mata mereka berpindah-pindah dari Mahisa Agni kepada Ken Arok berganti-ganti.

Apalagi ketika Mahisa Agni itu berkata seterusnya, “Yang dua, yang bertempur itu pun sama sekali bukan hantu. Mereka hanya ingin menakut-nakuti kalian dan menamakan diri mereka hantu padang Karautan.”

“Jadi siapakah mereka itu?” sela Patalan.

Mahisa Agni diam sesaat. Ditatapnya wajah ketiga kawan-kawannya berganti-ganti dan sesaat kemudian ditatapnya wajah Ken Arok yang duduk di sampingnya. Dilihatnya wajah ketiga kawannya itu menjadi tegang karena kebingungan yang semakin mendesak di dalam dada mereka.

Baru sesaat kemudian Mahisa Agni berkata, “Apakah kau juga ingin tahu siapakah yang datang berkuda dan menamakan dirinya hantu Karautan itu?”

Ketiga kawan-kawannya mengangguk.

“Orang itulah yang telah membuat bencana selama ini,” desis Mahisa Agni, “Pasti orang itu pula yang telah melakukan pencegatan di padang rumput Karautan beberapa hari yang lalu seperti berita yang kau katakan pada saat kita akan memasuki padang ini.”

Ketiga kawan-kawannya mengangguk.

“Seharusnya kau mengenalnya,” berkata Mahisa Agni pula, “seperti hantu jadi-jadian itu mengenal namamu. Bukankah hantu itu mengenalmu, mengenal namamu satu persatu?”

Jinan, Patalan dan Sinung Sari mengangguk, tetapi mereka menjadi semakin bingung. Bagaimana mungkin mereka dapat mengenal nama hantu itu, meskipun hantu jadi-jadian sekalipun?

Namun mereka hampir menjadi pingsan ketika Mahisa Agni benar-benar menyebut nama hantu itu, katanya, “Nah, ketahuilah, hantu itu bernama Kuda Sempana.”

“Kuda Sempana?” berbareng ketiga anak-anak muda Panawijen itu mengulangi nama itu.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum, “Ya, hantu itulah Kuda Sempana.”

Sesaat ketiga anak muda itu diam mematung. Sesaat mereka tenggelam dalam perasaan yang aneh. Kuda Sempana. Bagaimana mungkin anak itu berada di padang rumput dalam pakaian yang tak teratur dan kusut. Bukankah anak muda itu berada di istana.

Dengan penuh kebimbangan Sinung Sari bertanya, “Mahisa Agni. Apakah mungkin terjadi, Kuda Sempana yang perkasa itu berada di padang ini? Bukankah ia berada di Tumapel?”

“Orang itu sebenarnya Kuda Sempana,” jawab Mahisa Agni, “Tetapi aku tidak tahu, apa sebabnya ia berada di padang ini. Mungkin Ken Arok dapat menjawab pertanyaan itu, dan mungkin Ken Arok pun akan dapat mengatakan, kenapa ia sendiri pun berada di padang ini pula.”

Ken Arok tersenyum. Jawabnya, “Mungkin aku dapat mengatakan kepada kalian, kenapa Kuda Sempana berada di padang rumput ini, meskipun apa yang aku ketahui pun tidak terlalu banyak. Yang paling aku ketahui tentang diriku sendiri, kenapa aku berada di padang rumput ini.”

“Ya. Juga tentang dirimu,” sahut Agni.

“Aku datang kembali ke padang rumput ini karena aku juga mendengar bahwa hantu padang Karautan telah timbul kembali,” berkata Ken Arok, “adalah benar-benar menyinggung perasaanku, bahwa hantu yang telah hilang itu datang kembali di padang ini untuk melakukan pekerjaannya. Karena itulah, maka aku minta izin kepada atasanku untuk berusaha menangkap hantu itu.”

Mahisa Agni tertawa mendengar keterangan Ken Arok, katanya, “Bukankah kau merasa bahwa pekerjaanmu disaingi?”

Ken Arok tersenyum. Jawabnya, “Tentu. Orang masih akan tetap menyangka bahwa hantu yang dahulu itu pulalah yang datang kemudian.”

“Apakah pemimpinmu tahu, bahwa hantu yang dahulu bernama Ken Arok?”

“Tidak seorang pun tahu, selain Empu Purwa bersama muridnya. Dan kini, karena kau, ketiga kawan-kawanmu itu tahu pula.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Kau mendapat izin itu agaknya. Tetapi kau belum berhasil menangkap hantu itu.”

“Ya. Tetapi aku sudah melihat hantu itu dan aku dapat mengenalnya pula, setelah beberapa malam aku berkeliaran di padang ini.”

“Tetapi kenapa kau tertarik ke tempat ini? Bukankah daerah perburuan hantu-hantu itu tidak di sini?”

“Aku melihat api. Barangkali karena api itu pula, maka hantu itu datang kemari.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia berpaling kepada kawan-kawannya. Katanya, “Nah, sekarang kau dengar serba sedikit cerita tentang hantu Karautan. Sekarang kau akan percaya bahwa hantu itu bernama Kuda Sempana?”

Ketiga kawannya pun mengangguk-angguk pula. Tetapi tiba-tiba Patalan bertanya, “Tetapi hantu itu ada dua.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Dua?” ia mengulang.

“Ya. Dua,” sahut Sinung Sari, “yang satu yang kau sebut bernama Kuda Sempana itu. Ia datang berkuda dan menakut-nakuti kami. Hantu itu akan membunuh kami berdua, dan membiarkan salah seorang dari kami tetap hidup, namun tubuhnya akan dijadikan cacat. Kemudian datang hantu yang kedua. Hantu yang aku sangka orang gila. Keduanya bertempur sampai hantu yang ketiga itu datang.”

“Itu bukan hantu,” potong Mahisa Agni, “sudah aku katakan ia memang bekas hantu. Tetapi sekarang tidak.”

Ken Arok tersenyum, dan Sinung Sari membetulkan kata-katanya, “Ya. Maksudku Tuan yang bernama Ken Arok itu datang. Dan Tuan itu pun tahu, bahwa memang ada hantu yang lain selain Kuda Sempana.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya berkali-kali seakan-akan ia mencoba untuk mengetahui dengan pasti kata-kata Sinung Sari itu, bahwa ada hantu lain yang telah datang di tempat ini. hantu yang menurut Sinung Sari adalah hantu yang mirip dengan orang gila.

Tetapi Mahisa Agni tidak menjawab pertanyaan kawannya itu. Bahkan kemudian ditatapnya gerumbul-gerumbul di kejauhan dan kemudian ditatapnya pula bulan yang berwarna kekuning-kuningan, di belakang awan tipis yang mengalir dengan lesu ke tenggara.

Suasana di padang rumput itu sejenak dicengkam oleh kesenyapan. Masing-masing terdiam sambil memandang api di perapian yang telah padam. Hanya bara-bara kayunya sajalah yang masih memancar kemerahan.

Yang terdengar kemudian adalah Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia berdiri mengambil beberapa potong bekal makanannya dan kemudian ditaruhkan di hadapan Ken Arok, katanya. “Apakah kau juga mau makan makanan pedesaan seperti ini?”

Ken Arok tersenyum. Diambilnya sepotong makanan dan langsung dimasukkan ke dalam mulutnya.

Jinan, Patalan dan Sinung Sari memandangi mereka berdua dengan penuh kebimbangan. Seakan-akan ada sesuatu yang tersimpan di dalam diri mereka. Sebuah rahasia yang tidak mereka mengerti. Demikian desakan keinginan mereka untuk mengetahui, maka sekali lagi Sinung Sari bertanya perlahan-lahan, “Agni. Kau belum menjawab pertanyaanku.”

Mahisa Agni berpaling. Tampaklah keningnya berkerut. Jawabnya, “Tak ada yang menarik yang dapat kau ketahui dari hantu-hantuan itu. Yang perlu kau ketahui sudah aku katakan. Yang ada di sini sekarang inilah yang dahulu bernama hantu Karautan, meskipun itu pun hanya hantu jadi-jadian. Ia adalah seorang manusia biasa, seperti aku, seperti kalian. Dan hantu yang datang berkuda itu adalah Kuda Sempana. Juga seorang manusia biasa. Seperti aku, seperti kalian. Itulah yang penting. Yang lain-lain sama sekali tidak ada hubungannya dengan kalian dan kalian pasti tidak akan mengenalnya.”

Patalan mengerutkan dahinya. Mungkin ia belum mengenal hantu yang gila itu. Tetapi ia masih juga berkeinginan untuk mendengar serba sedikit tentang hantu-hantuan itu. Maka katanya, “Tetapi ia datang juga kemari dan menamakan dirinya hantu padang Karautan, bahkan dapat mengalahkan Kuda Sempana. Atau barangkali Tuan sudah mengenalnya?” bertanya Patalan kepada Ken Arok.

“Sudah,” sahut Ken Arok sambil tersenyum, “aku mengenalnya menilik caranya memutar pedang dan melontarkan kakinya.”

“Ah,” desah Mahisa Agni, “terlalu banyak yang ingin kau ketahui Patalan. Jangan menyebut-nyebut tentang dirinya. Mungkin ia akan datang lagi dan mengganggu kalian.”

“Bukankah sekarang kau ada di sini dan Tuan Ken Arok, yang berhak mendapat sebutan hantu Karautan itu ada pula?”

“Sebenarnya aku sama sekali tidak berbangga atas sebutan itu,” sahut Ken Arok.

“Oh, maafkan kami,” potong Patalan cepat-cepat.

“Aku tidak apa-apa. Tetapi mungkin sebutan itu akan sangat menyenangkan bagi hantu-hantuan itu.”

“Tetapi siapakah dia?” desak Sinung Sari pula.

Sekali lagi Ken Arok tersenyum. Senyum yang memancarkan rahasia yang justru menjadikan ketiga anak-anak muda Panawijen semakin ingin tahu.

“Hantu yang satu itu,” berkata Ken Arok, “adalah yang lebih dekat dari kalian. Ia adalah Bahu Reksa Panawijen.”

Ketika anak-anak muda Panawijen itu mengerutkan keningnya. “Bahu Reksa Panawijen. Apakah artinya?”

Ken Arok kini tertawa kecil. Dipandanginya wajah Agni yang berkerut. Bahkan Ken Arok itu berkata pula, “Kau tahu Bahu Reksa Panawijen. Ia lebih dahsyat dari hantu Karautan.”

Sinung Sari mengangguk-angguk. Tetapi ia melihat Ken Arok masih tertawa, sehingga katanya, “Bagaimanakah sebenarnya?”

Ken Arok itu kemudian bertanya kepada Patahan, “He, di mana pedangmu?”

Patalan terkejut mendengar pertanyaan itu. Dengan serta-merta ia menjawab, “Diambil hantu yang mirip dengan orang gila itu.”

Ken Arok mengangguk-angguk. Kemudian ia beringsut beberapa langkah maju. Ketika ia meraih sesuatu di hadapan Mahisa Agni, maka katanya, “Apakah ini pedangmu?”

Patalan menjadi heran. Pedang itu sudah berada di dekat perapian.

“Ya,” katanya.

Ken Arok meneruskan, “Kau lihat siapakah yang membawa pedang ini kembali?”

Patalan menjadi bingung. Tiba-tiba ia teringat bahwa ketika Mahisa Agni datang, ia menjinjing pedang. Bukan pedangnya sendiri, karena pedang itu masih berada di dalam sarungnya.

“Agni,” teriak Patalan, “kau yang membawa pedangku kembali?”

“Ya,” jawab Agni. “aku berjumpa dengan hantu itu. Dan menitipkannya pedang itu kepadaku.”

Ken Arok kini tertawa keras-keras. Hampir-hampir tak dapat ditahannya lagi. Disela-sela derai tertawanya terdengar ia berkata, “Kenapa hantu itu tidak memakai kain dan memakai daun perdu untuk menutupi celananya? He? Untunglah tidak ada yang gatal pada daun-daun itu. Kalau ada kalian akan cepat mengetahui siapakah yang sibuk menggaruk-garuk tubuhnya. Itulah hantu gila itu.”

Ketiga anak-anak Panawijen itu semakin bingung. Tetapi lamat-lamat mereka dapat menangkap maksud Ken Arok itu. Apalagi ketika Ken Arok itu menjelaskan.

“Kalian pasti pernah melihat, siapakah yang pernah mengalahkan Kuda Sempana? Nah itulah. Hantu-hantuan yang datang berkuda itu kembali dikalahkan oleh hantu-hantuan Bahu Reksa Panawijen.”

Sinung Sari beringsut maju sambil berkata, “Agni. Apakah demikian?”

Agni tersenyum.

“Jadi kaukah hantu-hantu jadi-jadian yang aku sangka orang gila itu?”

Agni mengangguk.

“Gila kau Agni!” teriak Jinan, “Kenapa kau menakut-nakuti kami. Kenapa kau tidak saja datang dalam keadaanmu yang sewajarnya?”

Agni kini tertawa, seperti juga Ken Arok tertawa. Maka jawab Mahisa Agni, “Ah. Sebuah permainan yang menyenangkan. Aku ingin tahu, siapakah sebenarnya hantu Karautan yang baru itu. Aku ingin mengetahuinya tanpa ia mengetahui aku, sebab aku yakin bahwa hantu itu pasti bukan hantu yang sebenarnya. Bukan hantu yang lama.”

Wajah ketiga anak-anak muda Panawijen tiba-tiba menjadi merah. Mereka merasa malu sekali pada diri mereka sendiri. Mereka merasa betapa mereka benar-benar seorang penakut.

“Tetapi Agni,” berkata Sinung Sari,” bukankah kau akan dapat mengenalnya juga seandainya kau datang dengan wajar. Bukankah orang berkuda itu lari sebelum membuka tutup mukanya?”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “Mungkin. Tetapi apabila ia telah mengenal aku sebelumnya, mungkin ia akan segera lari sebelum kami sempat bertempur.”

“Apakah yang kau dapat dari pertempuran itu?” bertanya Patalan.

“Dari pertempuran itulah aku dapat mengenalnya.”

“Apanya yang dapat kau kenal?” desak Sinung Sari.

Mahisa Agni dan Ken Arok tersenyum. Jawab Mahisa Agni, “Ken Arok mengenal aku dan Kuda Sempana sesudah ia melihat kami bertempur. Ken Arok mengenal aku sejak aku masih menjadi orang gila itu. Karena itu, ia tidak bersikap melindungi kalian, karena ia tahu benar bahwa hantu itu tidak berbahaya bagi kalian.”

“Tetapi apakah yang dapat menunjukkan bahwa orang itu bernama kuda Sempana dan yang lain Mahisa Agni?”

Mahisa Agni tertawa. Katanya, “Gerak kami. Sifat dan watak-watak dari gerak kami masing-masing.”

Ketiga anak-anak muda Panawijen itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Pengenalan itu berada di luar kemampuannya, karena mereka sama sekali tidak mengenal ilmu gerak. Meskipun demikian Sinung Sari masih saja menggerutu dengan jengkelnya, “Tetapi Agni, setelah Kuda Sempana pergi, kau masih juga menakut-nakuti kami. Apakah maksudmu?”

Mahisa Agni tertawa semakin keras. Jawabnya, “Aneh. Seharusnya kalian tidak takut. Seperti kata Ken Arok itu. Bukankah kalian bertiga dan membawa senjata? Seandainya benar-benar kami bertemu dengan bahaya yang tidak dapat aku atasi seorang diri, apakah kalian akan membiarkan aku sendiri? Nah, sekarang renungi diri kalian sendiri. Manakah yang lebih baik. Mengangkat senjata menghadapi keadaan seperti itu, atau membiarkan diri kalian dihisap darah kalian lewat tengkuk kalian. Ingat, bahwa Kuda Sempana benar-benar akan dapat berbuat demikian atas tanah yang akan kita bangunkan nanti. Kalau kalian tidak dapat melindungi diri kalian dan tanah kalian, maka apa yang akan kalian capai dengan susah payah, akan merupakan tanah sadapan yang menyenangkan bagi orang lain. Orang lain akan dapat menghisap darah dan di jalur-jalur nadi penghidupan kampung halamanmu. Karena itu, tengadahkan wajahmu dalam menghadapi setiap persoalan. Jawablah semua tantangan. Asal kau yakin, bahwa kau sedang mempertahankan hakmu, bukan sedang melanggar hak orang lain.”

Jinan, Patalan dan Sinung Sari menundukkan kepalanya. Kembali wajah-wajah mereka dijalari oleh warna-warna merah karena sindiran-sindiran yang tepat itu. Mau tidak mau mereka harus mengakui kebenaran kata-kata Mahisa Agni, bahwa mereka sama sekali tidak dapat berbuat sesuatu untuk mengatasi kesulitan sendiri.

Kembali untuk sesaat mereka terbenam dalam kesepian. Mahisa Agni sejenak berdiam diri sambil memandangi bulan yang semakin jauh dari cakrawala. Kini bulan itu telah hampir sampai ke ujung langit. Namun malam telah melampaui pusatnya.

Dibiarkannya ketiga kawan-kawannya merenungkan kata-katanya. Mahisa Agni merasa, mungkin kata-katanya akan menjadikan kawan-kawannya malu kepadanya dan kepada diri sendiri. Namun ia mengharap, bahwa dengan demikian, maka akan timbul perubahan di dalam kehidupan anak-anak muda Panawijen yang terlalu lama tenggelam dalam suasana yang terlampau tenang dan diam. Tak ada perubahan, tak ada gerak dan nyala di dalam kehidupan orang-orangnya. Jebolnya bendungan itu pun ternyata dapat dicari manfaatnya di samping bencana yang telah melanda Panawijen. Ternyata dengan jebolnya bendungan itu, anak-anak muda Panawijen mendapat pelajaran untuk mencoba mengatasi kesulitan yang menimpa diri sendui tanpa menggantungkan kepada orang lain.

Namun yang pertama-tama memecah kesepian itu adalah Mahisa Agni pula. Bukan tentang hantu-hantu yang berkeliaran di padang Karautan, tetapi ia benar-benar ingin tahu, kenapa Kuda Sempana telah mencoba hidup di padang yang sepi ini. Apakah anak muda itu merasa bahwa ia memerlukan harta benda menjelang hari-hari di mana ia hidup dalam satu keluarga. Mungkin Kuda Sempana merasa perlu untuk membuat istrinya bahagia dengan menyimpan harta benda yang berlebihan sebagai keseimbangan cara yang ditempuhnya sewaktu mengambil istrinya itu. Atau barangkali Ken Dedes mempunyai permintaan-permintaan sehingga Kuda Sempana terpaksa berbuat demikian merampok dan menyamun?

“Ken Arok,” bertanya Mahisa Agni kemudian, “kenapa Kuda Sempana itu berkeliaran di padang ini? Bukankah kau sekarang menjadi kawan selingkungannya di istana?”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia menjawab, “Aku tidak tahu persoalan seluruhnya. Tetapi sebagian aku akan dapat menceritakan sebabnya.”

“Biarlah yang sebagian itu aku dengar dahulu,” sahut Mahisa Agni.

Sekali lagi Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Nasib anak itu tidak terlalu baik.”

Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Tiba-tiba tanpa sesadarnya ia memotong, “Bagaimanakah dengan Ken Dedes? Bukankah ia sehat walafiat?”

Ken Arok mengangguk. Jawabnya, “Gadis itu sehat-sehat saja.”

“Di manakah gadis itu sekarang?”

“Di Istana Tumapel.”

“He,” Mahisa Agni terkejut, “kenapa di istana. Apakah Kuda Sempana tinggal di istana pula?”

“Itulah sebagian yang aku ketahui. Tentang gadis itu dan tentang Kuda Sempana.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Baginya terdengar aneh, bahwa Ken Dedes berada di istana Tumapel.

“Ah,” desahnya di dalam hati, “ternyata Tunggul Ametung benar-benar berusaha melindungi Kuda Sempana. Disembunyikannya Ken Dedes itu di istana sampai mereka melahirkan anaknya yang pertama, untuk menghindarkan Kuda Sempana dari setiap kemungkinan yang berbahaya. Sesudah itu, maka semuanya akan menjadi baik bagi Kuda Sempana. Tetapi kenapa Kuda Sempana itu berkeliaran di sini dalam keadaan yang kusut?”

Pertanyaan itu ternyata semakin menyentuh hatinya, sehingga sekali lagi ia berkata, “Katakanlah Ken Arok. Katakanlah apa yang kau ketahui itu tentang Kuda Sempana dan Ken Dedes.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Tampak keningnya berkerut-kerut. Terbayanglah di wajahnya perasaannya yang gelisah. Menurut pengetahuannya. Mahisa Agni adalah kakak Ken Dedes, sehingga ia menjadi ragu-ragu sejenak untuk mengatakan apa yang telah terjadi atas adiknya itu. Tetapi karena Mahisa Agni selalu mendesaknya, maka terloncat pulalah cerita tentang Ken Dedes di Tumapel. Cerita sejak Ken Dedes sampai di istana, sejak mereka berdua, Ken Arok dan Witantra dipanggil menghadap Akuwu, tentang Witantra yang harus masuk ke dalam arena atas nama Tunggul Ametung. Namun dengan kecewa Ken Arok itu kemudian berkata, “Tetapi sayang. Ternyata Tunggul Ametung itu mempunyai pamrih sendiri. Adikmu diambilnya.”

Berbagai perasaan bergolak di dalam dada Mahisa Agni. Ia bersyukur bahwa Ken Dedes telah terlepas dari tangan Kuda Sempana. Namun ia tidak tahu, perasaan apa yang berdentang-dentang di dalam dadanya itu, setelah ia mendengar bahwa Ken Dedes kini berada di istana bukan sebagai istri Kuda Sempana, namun karena gadis itu dikehendaki oleh Tunggul Ametung sendiri.

Dalam pada itu, terdengar Ken Arok berkata, “Untunglah bahwa Akuwu mengambilnya sebagai permaisurinya. Bukan sekedar sebagai seorang selir.”

Mahisa Agni terperanjat juga mendengar keterangan itu. Ken Dedes, seorang gadis pedesaan, telah diangkat menjadi permaisuri seorang akuwu yang besar dari Tumapel. Tetapi masih saja bergelora perasaan yang tidak menentu di dalam dirinya. Ia bergembira bahwa Ken Dedes menemukan tempat yang baik, namun ada juga kekecewaan yang dalam menusuk jantungnya. Ia sebenarnya mengharap Ken Dedes kembali ke Panawijen.

“Tetapi ia akan menjumpai kepahitan di Panawijen,” gumamnya di dalam hati, “ayahnya telah pergi, dan orang yang dicintainya telah pergi pula untuk selama-lamanya.”

Mahisa Agni pun kemudian menundukkan wajahnya. Direnunginya tanah yang kering di bawah kakinya yang bersilang.

Dikais-kaisnya tanah itu dengan jari-jarinya seolah-olah ia ingin mengetahui, apakah tanah itu cukup subur untuk daerah pertanian. Namun hatinya bergumul dalam keadaan yang tidak menentu. Kebanggaan, kekecewaan harapan dan putus asa, bergulat menjadi satu.

Mahisa Agni itu mengangkat. wajahnya ketika ia mendengar Ken Arok bertanya kepadanya, “Bagaimana Agni. Apakah kau menjadi berbangga hati bahwa adikmu kini menjadi seorang permaisuri Akuwu Tumapel?”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Adalah anugerah yang tiada taranya bagi seorang gadis dari padepokan Panawijen. Adalah suatu kebanggaan buat keluarganya. Pahit getir yang dialami oleh orang Tuanya, keprihatinan dan ketekunan pengabdiannya kepada sesama dan kebaktiannya yang tulus kepada Yang Maha Agung telah menempatkan putri tunggal itu dalam kedudukan yang baik. Tetapi jauh di sudut hatinya, Mahisa Agni masih mendengar jerit yang pedih dari perasaannya sendiri. Meskipun demikian perlahan-lahan ia menjawab, “Aku berbangga Ken Arok.”

“Ya,” sahut Ken Arok, “adalah wajar bahwa kau dan keluargamu akan berbangga hati.”

Tetapi wajah Mahisa Agni sama sekali tidak membayangkan kebanggaan yang dikatakannya itu. Apalagi ketika diingatnya sumpah kutukan Empu Purwa, maka dadanya pun berdesir. Demikian marahnya orang tua itu, sehingga disumpahnya mereka yang telah ikut serta mengambil anaknya. Disumpahnya mereka bahwa mereka akan terbunuh dengan keris.

Wajah Mahisa Agni menjadi semakin suram. Seandainya Ken Dedes dapat menemukan kebahagiaan sebagai seorang permaisuri, tetapi seandainya sumpah Empu Purwa itu pun akan berlaku, maka akan putus pulalah kebahagiaan itu. Tunggul Ametung adalah salah seorang dari mereka yang turut mengambil Ken Dedes, sehingga akan matilah ia ditusuk dengan keris.

Tetapi kecemasan dan kegelisahan itu disimpannya di dalam hatinya, sehingga hati itu telah dipenuhi oleh berbagai perasaan yang tak dapat dilahirkannya. Perasaan yang mencengkamnya tentang gadis putri gurunya, tentang kekhawatirannya atas nasib gadis itu kemudian, dan atas banyak hal lagi yang tertimbun.

Bahkan yang terucapkan dari mulutnya adalah, “Betapa besar terima kasihku kepada kalian. Kepada Witantra dan kepadamu. Betapa kalian telah berusaha menolong Adikku itu dari lembah penderitaan di sepanjang hidupnya. Penderitaan yang tidak akan ada habis-habisnya.”

“Tetapi kami tidak berhasil mengembalikannya kepadamu,” sahut Ken Arok, “kami telah gagal sebagian dari maksud kami memisahkannya dari Kuda Sempana. Karena Tunggul Ametung sendiri ternyata menghendakinya.”

“Mudah-mudahan nasibnya akan menjadi lebih baik,” gumam Mahisa Agni.

“Mudah-mudahan,” sahut Ken Arok, “menurut pendengaranku, Tunggul Ametung akan datang kepada ayah gadis itu untuk memintanya.”

Mahisa Agni terkejut. Namun tiba-tiba wajahnya menjadi suram. Jauh lebih suram dari wajah itu sebelumnya. Dari antara giginya terdengar ia berdesis, kemudian menggelengkan kepala sambil berkata, “Tak ada gunanya.”

Ken Arok mengerutkan dahinya, Kini ialah yang menjadi terkejut mendengar desis Mahisa Agni itu, sehingga ia bertanya, “Kenapa?”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Sorot matanya jauh menembus ke dalam keremangan malam yang kuning oleh cahaya bulan yang redup.

“Ayah gadis itu tidak ada lagi di padepokannya.”

“Apakah ia belum kembali?” bertanya Ken Arok, “pada saat gadis itu diambil oleh Kuda Sempana, ayahnya memang tidak tampak di rumahnya.”

“Sudah. Orang tua itu sudah kembali,” jawab Mahisa Agni, “tetapi setelah ia mendengar bahwa anaknya itu hilang, anak yang dikasihinya melampaui segala isi dunia ini yang lain, maka orang tua itu mengalami keguncangan perasaan yang tak terkendali.”

“Apakah syarafnya terganggu?”

Mahisa Agni mengangguk.

“Gila?”

“Tidak sejauh itu. Ia adalah seorang pendeta yang taat-taat kepada kewajibannya,” berkata Mahisa Agni dalam nada yang rendah, “Hanya karena ketebalan hatinyalah maka orang tua itu tidak menjadi gila. Ia pasti akan dapat menemukan ketenangannya kembali dalam kebaktiannya kepada Yang Maha Agung. Tetapi kejutan pertama dari berita itu telah mendorongnya untuk meninggalkan padepokannya. Ia ingin melupakan segala-galanya. Kepahitan yang paling pahit dalam hidupnya.”

Ken Arok menganggukkan kepalanya, gumamnya, “Kasihan orang tua itu. Untunglah ia dapat menemukan penghibur dalam dirinya sendiri. Kalau tidak, ia pasti tidak akan hanya sekedar menyingkir dari padepokannya. Bukankah ia sekaligus gurumu?”

Mahisa Agni mengangguk. “Kalau orang tua itu marah, maka ia akan dapat berbuat hal-hal yang mengerikan.”

“Pasti tidak akan dilakukan.”

Ken Arok terdiam sesaat. Kemudian katanya, “Aku mengharap kau akan dapat mewakilinya. Bukankah kau muridnya, tetapi juga putranya?”

Mahisa Agni menggeleng.

“Bukankah gadis itu adikmu? Atau saudara sepupu?”

Sesaat Mahisa Agni menjadi bingung. Ia tidak segera menemukan jawaban atas pertanyaan itu, sehingga Ken Arok mendesaknya.

“Bagaimana? Kau akan dapat mewakili ayahmu. Menerima Akuwu itu sebagai wakil orang tuanya, merestui perkawinan adikmu.”

“Jangan. Jangan,” sahut Mahisa Agni serta-merta. Tetapi kemudian ia terdiam kembali. Terasa luka di hatinya yang perlahan-lahan hampir dapat dilupakan itu, seakan-akan kembali menggores tajam. Terasa hatinya menjadi pedih. Ia harus melihat kenyataan itu. Namun dengan sekuat tenaganya ia mencoba menghilangkan segala macam kesan yang dapat membayangkan perasaannya yang sedang bergolak.

Ken Arok masih memandangi wajah anak muda yang muram itu. Namun ia tidak tahu perasaan apa yang sedang bergolak di dalam dadanya. Ia hanya dapat menyangka betapa sedihnya anak muda yang merasa kehilangan adiknya itu. Meskipun seandainya bukan adik sekandung, tetapi adik sepupu.

Tetapi Mahisa Agni sama sekali, tidak mau menjelaskan hubungan apakah yang ada antara dirinya dan Ken Dedes. Ketika Ken Arok mendesaknya sekali lagi maka jawabnya, “Tidak. Jangan datang kepadaku. Biarlah Ken Dedes menentukan kehendaknya sendiri. Kalau ia bersedia biarlah perkawinan itu berlangsung, tetapi kalau tidak, jangan dipaksa.”

Ken Arok menciutkan keningnya. Katanya, “Ya. Terserahlah kepadamu. Tetapi aku sendiri kecewa melihat sikap Akuwu itu.”

 

[divider line_type=”Full Width Line” custom_height=””]

Source : www.agusharis.net

~ Article view : [242]