Pelangi di Langit Singasari [ 14 ]

347

oleh S.H. Mintardja
[ Seri 14 ]

 

MAHISA AGNI memandangi wajah Ken Arok tajam-tajam. Tetapi ia tidak melihat kesan apapun dari wajah itu. Ken Arok itu ternyata berkata demikian saja tanpa ungkapan yang mendalam, sehingga Mahisa Agni pun tidak dapat menangkap perasaan lain daripada kekecewaan itu.

“Kenapa kau kecewa,” bertanya Mahisa Agni.

“Aku ingin mengembalikan kepadamu untuk menebus kebodohanku. Aku sama sekali tidak mencoba menghalangi perbuatan Tunggul Ametung dan Kuda Sempana, pada saat mereka mengambil gadis itu. Ternyata sikap Witantra jauh lebih baik dariku. Tetapi kini ternyata Witantra menyetujui sikap Tunggul Ametung, meskipun alasannya dapat aku mengerti. Maksudnya adalah, untuk mengurangi penderitaan yang menimpa perasaan gadis itu.”

Mahisa Agni kembali memandang ke kejauhan, menembus keremangan malam yang kuning oleh cahaya bulan yang redup.

Tetapi tiba-tiba ia bertanya, “Kenapa Kuda Sempana itu tiba-tiba berkeliaran di sini?”

“Mungkin ia menjadi kecewa,” sahut Ken Arok.

“Aku sudah menyangka, tetapi sampai sejauh itu? Bukankah dengan demikian ia telah melakukan pemberontakan terhadap Akuwu Tunggul Ametung?”

Ken Arok mengangguk. Jawabnya, “Ya. Anak itu benar-benar telah memberontak. Tetapi kemungkinan itu memang akan terjadi. Hukuman atasnya memang terlalu berat baginya.”

“Hukuman atas kesalahannya mengambil Ken Dedes?”

Ken Arok mengangguk.

“Aneh. Bukankah Akuwu sendiri ikut serta?”

“Itulah keanehan yang dapat saja terjadi. Akuwu sendiri turut melakukan kesalahan itu. Tetapi ternyata ia ingin memperbaiki kesalahannya dengan mengorbankan Kuda Sempana. Kau tahu, apakah hukuman itu?”

“Bagaimana aku bisa tahu,” sahut Agni.

“Hukuman itu benar-benar aneh. Hukuman itu semula sama sekali bukan atas kehendak Tunggul Ametung sendiri. Tetapi atas kehendak gadis yang dilarikannya itu,” berkata Ken Arok seterusnya.

Mendengar kata itu Mahisa Agni terperanjat. Tanpa disengaja ditatapnya wajah ketiga kawannya yang mendengarkan pembicaraannya dengan keheran-heranan.

Ken Arok melihat keheranan yang membayang di wajah Mahisa Agni. Maka katanya, “Ya. Demikianlah. Hukuman itu sebenarnya datang dari adikmu itu.”

“Bagaimana hal itu dapat terjadi?”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Sekali ia melihat kudanya yang makan dengan asyiknya, dan sekali ditatapnya wajah ketiga kawan Mahisa Agni.

Baru sesaat kemudian katanya, “Ternyata adikmu menerima lamaran Tunggul Ametung.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sudah menyangka dan bahkan ia berdoa mudah-mudahan dengan demikian Ken Dedes, merasa terhibur atas hilangnya dua orang yang dicintainya sekaligus. Ayahnya dan Wiraprana. Namun di dalam sudut hatinya yang paling dalam luka hatinya serasa seolah-olah meneteskan darah.

Meskipun demikian ia bertanya, “Bagaimana mungkin gadis itu menerima lamaran Tunggul Ametung. Ia mencintai Wiraprana lebih dari semua orang selain ayahnya. Apakah gadis itu sudah mendengar kabar tentang bakal suaminya.”

Ken Arok mengangguk. Katanya, “Emban tua, pemomongnya telah menyampaikan kabar itu. Sebelumnya kami pun telah mengatakannya, tetapi ia lebih percaya kepada embannya.”

Mahisa Agni berdesir mendengar Ken Arok menyebut pemomong Ken Dedes. Tak seorang pun tahu bahwa orang itu adalah ibunya. Ken Dedes juga tidak.

“Tetapi bagaimana Ken Dedes dapat menghukum Kuda Sempana itu?” bertanya Mahisa Agni kemudian.

“Mudah sekali baginya,” sahut Ken Arok, “Tunggul Ametung itu akhirnya tergila-gila kepadanya. Apa yang diucapkannya akan terjadi.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Desir di dadanya menjadi semakin tajam. Ada semacam pergolakan yang terjadi dalam dirinya. Meskipun ia merasa bahwa Ken Dedes akan menemukan sekedar penghibur atas segala dukanya, tetapi apakah ia dapat mendengar bahwa seseorang tergila-gila kepadanya?

Tetapi Mahisa Agni tidak berkata sepatah kata pun. Dan Ken Aroklah yang berkata pula, “Dan salah satu dari permintaan Ken Dedes ternyata adalah pelepasan dendamnya kepada Kuda Sempana itu.”

Mahisa Agni masih diam mematung. Ia mendengar Ken Arok meneruskan, “Nah, apa yang diminta oleh Ken Dedes itu atas Kuda Sempana? Aneh sekali. Adikmu itu minta Kuda Sempana mendapat hukuman atas kesalahannya apabila Akuwu benar-benar menghendakinya. Hukuman itu adalah, Kuda Sempana harus menjadi pelayan yang paling rendah baginya. Membersihkan lantai, mencuci pakaian dan waktu selebihnya, duduk di bawah tangga di serambi di belakang biliknya.”

Mahisa Agni terperanjat mendengarnya. Benar-benar terperanjat. Apalagi ketika Ken Arok meneruskan, “Agaknya Ken Dedes itu ingin membalas sakit hatinya dengan penghinaan atas Kuda Sempana. Hina yang sehina-hinanya.”

“Ken Arok,” potong Mahisa Agni, “apakah benar Ken Dedes menghendakinya?”

Ken Arok mengangguk, “Ya, sebenarnyalah bahwa Ken Dedes menghendakinya. Dan Ken Dedes mempunyai cukup pengaruh atas Tunggul Ametung. Ketahuilah, bahwa Tunggul Ametung yang garang itu seakan-akan benar-benar telah bersimpuh di bawah kaki adikmu.”

Darah Mahisa Agni tersirap. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Ken Dedes dapat berlaku sekasar itu. Dendam yang betapapun dalamnya, namun penghinaan itu telah terlampau jauh.

Dan didengarnya kemudian Ken Arok meneruskan, “Itulah keadaan adikmu dan Kuda Sempana yang aku dengar. Itu pulalah sebabnya, kenapa Kuda Sempana kemudian melarikan diri dari istana yang menjadi tempat yang sehinanya baginya. Sebagai seseorang yang masih mempunyai harga diri, maka sudah tentu ia tidak menelan penghinaan itu begitu saja.”

Mahisa Agni mengangguk perlahan-lahan. Terdengar ia berdesis. Dadanya semakin terasa menghentak-hentak. Ia sama sekali tidak dapat mengerti, perubahan-perubahan yang tajam telah terjadi atas Ken Dedes itu. Ledakan-ledakan di dalam jantung gadis itu telah menyeretnya dalam suatu keadaan yang sama sekali tidak disangka-sangka oleh Mahisa Agni.

“Ken Arok,” terdengar suara Mahisa Agni dengan nada yang rendah, “apakah aku dapat minta tolong kepadamu?”

Ken Arok menarik nafasnya. Katanya bertanya, “Apakah yang harus aku lakukan?”

“Sampaikan pesanku kepada gadis itu,” berkata Mahisa Agni, “yang pertama kali adalah kabar keselamatan.”

Mahisa Agni tertegun ketika ia melihat Ken Arok menggeleng, “Aku kini jarang sekali masuk ke istana selain di tempat-tempat tugasku. Hampir aku tak pernah melihat adikmu itu setelah aku ikut Akuwu mengambilnya dari Panawijen. Sampai kini aku belum begitu mengenal wajahnya. Apalagi kini Ken Dedes telah benar-benar sebagai seorang permaisuri meskipun ketetapannya dan upacaranya masih akan menyusul, sehingga aku tak akan sempat menemuinya.”

Kembali Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya terbayang di dalam kepalanya, Ken Dedes kini telah menjadi seorang permaisuri. Menjadi seorang yang berada dalam lingkungan kebesaran dan kebahagiaan. Namun ia masih tetap tidak dapat mengerti, bahwa di dalam diri gadis itu timbul perubahan sikap dan watak yang terlampau tajam.

“Mungkin keparahan hati yang tak tertanggungkan telah mendorongnya ke dalam suatu sikap yang berlebih-lebihan sebagai keseimbangan,” gumamnya di dalam hati.

“Kalau begitu,” sambung Mahisa Agni kemudian, “apakah kau pernah bertemu dengan emban pemomongnya itu?”

Ken Arok menganggukkan kepalanya, jawabnya, “Ya. Aku sering bertemu pemomong Ken Dedes itu tinggal di rumah Witantra beberapa hari sebelum diizinkan menemui momongannya.”

“Apakah orang tua itu sekarang masih berada di rumah Witantra?”

“Tidak,” jawab Ken Arok, “perempuan tua itu kini telah berada di istana atas permintaan Ken Dedes.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Kalau demikian, aku minta tolong kepadamu. Sampaikanlah kepada perempuan tua itu.”

“Pesan?”

“Ya. Pesan untuknya dan untuk Ken Dedes.”

“Akan aku coba.”

“Terima kasih,” Mahisa Agni berhenti sejenak. Ia menjadi ragu-ragu untuk mengatakan pesannya kepada Ken Arok. Ia belum tahu pasti, bagaimanakah sikap Ken Dedes kini terhadapnya. Meskipun demikian akhirnya ia berkata, “Ken Arok. Kalau kau bertemu dengan perempuan tua, pemomong Ken Dedes itu, sampaikan baktiku kepadanya.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Perempuan itu adalah seorang pemomong, namun agaknya Mahisa Agni memang suka merendahkan dirinya, sehingga ia menyampaikan bakti kepada seorang emban. Tetapi Ken Arok tidak berkeberatan apapun terhadap sikap itu, sehingga sahutnya, “Baik. Aku sampaikan baktimu apabila aku bertemu nanti di istana.”

“Terima kasih,” Mahisa Agni meneruskan, “kemudian kalau emban itu dapat menyampaikan kepada Ken Dedes, yang sekarang sudah berada di istana itu, kecuali kabar keselamatan adalah pesan, supaya gadis itu tidak melupakan dirinya, asalnya dan segenap keadaan masa lampaunya sebagai keseimbangan berpikir untuk menentukan hari-hari mendatangnya.”

Ken Arok mengerutkan keningnya, katanya, “Kenapa pesanmu berbunyi demikian?”

“Tidak apa-apa,” sahut Agni, “aku hanya ingin memperingatkannya, supaya ia tidak tenggelam dalam dunia yang asing baginya, sehingga ia kehilangan dasar tempat berpijak. Ia adalah seorang gadis pedesaan yang biasa hidup di pedesaan. Ia adalah seorang putri dari seorang pendeta yang hidup bersahaja dan penuh ketekunan dalam kebaktiannya kepada Yang Maha Agung. Ia kemudian adalah seorang gadis yang mengalami kepahitan yang menghunjam terlalu dalam di hatinya. Nah, semua peristiwa-peristiwa itu akan dapat mengguncangkan keseimbangan antara perasaan dan pikirannya. Yang kini dapat kita lihat adalah sikapnya terhadap Kuda Sempana. Bagaimanapun juga dendam tersimpan di dadanya, namun dengan penghinaan yang berlebih-lebihan itu, Ken Dedes telah melakukan kesalahan menurut penilaianku.”

Ken Arok menganggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti pesan itu. Dan ia dapat membenarkannya. Betapa bencinya kepada Kuda Sempana, namun Ken Arok heran juga melihat hukuman yang dijatuhkan atas anak muda itu. Lebih baik Kuda Sempana digantung di alun-alun, atau dirajam dengan panah daripada dihinakan sedemikian rendah. Karena itu, adalah sudah sewajarnya apabila anak muda itu meninggalkan istana.

Tetapi Tunggul Ametung tidak dapat mempertimbangkannya lagi. Ia sedang dilanda oleh perasaan yang meluap-luap. Apapun yang dikehendaki oleh Ken Dedes, selagi Tunggul Ametung dapat memberikannya, pasti akan dipenuhinya. Apalagi hanya seorang Kuda Sempana, bahkan Tumapel sekalipun sudah diserahkannya.

Dada Ken Arok berdesir. Dan tiba-tiba saja ia berkata kepada Mahisa Agni, “Agni keberuntungan adikmu tidak saja sejauh itu. Tetapi lebih daripada itu. Menurut pendengaranku, di istana telah menjalar kabar, bahwa bukan saja Kuda Sempana telah dikorbankan, tetapi kepada gadis itu telah diserahkan hak atas pemerintahan Tumapel.”

Alangkah terkejutnya Mahisa Agni mendengar kabar itu, sehingga ia beringsut maju. Dengan wajah tegang ia bertanya, “Benarkah kabar yang kau dengar itu?”

“Aku benar-benar mendengar kabar itu,” sahut Ken Arok, “tetapi kebenaran atas kabar itulah yang aku tidak tahu.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam, kalau kabar itu benar-benar terjadi, maka alangkah besar karunia atas gadis itu. Karunia yang diterimanya lewat kepahitan dan kedukaan.

“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun luka di hatinya serasa menjadi semakin dalam.

Dalam nada yang rendah ia berkata, “Berbahagialah anak itu. Mudah-mudahan ia menemukan masa depan yang baik. Kalau benar kabar yang kau dengar Ken Arok, bukankah berarti bahwa Ken Dedes akan mendapat kesempatan menurunkan akuwu-akuwu berikutnya?”

Ken Arok mengangguk, “Ya. Itulah adalah suatu karunia yang tiada taranya.”

Keduanya kemudian terdiam untuk sesaat. Kembali bergelut di dalam dada Mahisa Agni berbagai perasaan. Bangga, gembira, sedih, dan kecewa. Ia bersyukur kepada Yang Maha Agung atas karunia itu, namun ia menjadi cemas, apakah kebahagiaan itu akan dapat kekal sepanjang umur Ken Dedes, di samping perasaannya sendiri yang masih saja menyentuh-nyentuh hati. Perasaan seorang lelaki terhadap seorang perempuan.

Namun baik Mahisa Agni maupun Ken Arok tidak mengetahui, apakah yang telah mendorong Tunggul Ametung terbenam dalam keadaannya itu. Tunggul Ametung telah disilaukan oleh cahaya yang seakan-akan memancar dari tubuh gadis Padepokan Panawijen itu. Cahaya yang hanya dapat dilihatnya sendiri.

Akuwu itu kemudian ternyata dengan diam-diam menemui seorang ahli nujum yang meramalkan, bahwa seorang gadis yang bercahaya dari dalam tubuhnya itu, kelak akan dapat menurunkan bukan saja akuwu-akuwu seperti Tunggul Ametung, tetapi gadis itu akan dapat menurunkan raja-raja yang akan berkuasa melampaui kekuasaan akuwu, dan bahkan akan melampaui kekuasaan raja di Kediri.

Ramalan itulah yang mendorong Tunggul Ametung untuk berbuat seperti orang yang kehilangan kesadaran. Setiap patah kata yang diucapkan oleh Ken Dedes pasti akan berlaku baginya, melampaui semua undang-undang dan peraturan yang telah ada.

Kembali untuk sejenak mereka terbenam dalam kediaman. Angin malam yang lembut mengalir mengusap tubuh mereka yang basah karena keringat. Daun-daun perdu berdesir seperti sedang melagukan lagu yang rawan.

Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Di dalam dadanya bergetar berbagai persoalan yang saling membelit. Namun kemudian ia tidak sampai hati untuk berpesan kepada Ken Arok, bahwa Empu Purwa telah menghilang dari Panawijen. Ada banyak pertimbangan yang mengurungkan niatnya untuk mengucapkan pesan itu. Ia tidak sampai hati untuk membuat luka di hati Ken Dedes menjadi semakin parah, dan ia tidak sampai hati pula untuk mengganggu ketenteraman dan kebahagiaan yang sedang berada di ambang pintu hati gadis itu.

Tiba-tiba Mahisa Agni terkejut ketiga Ken Arok itu berdiri. Katanya, “Aku tidak akan terlalu lama tinggal di sini.”

“Apakah kau akan kembali ke Tumapel?”

Ken Arok mengangguk.

“Ya,” jawabnya, “pekerjaanku sebagian sudah selesai. Aku sudah tahu, siapakah yang menamakan dirinya hantu Karautan itu kini.”

“Hanya cukup mengetahui saja.”

Ken Arok tersenyum.

“Tentu tidak,” katanya, “bukankah kau juga tidak akan membiarkannya.”

Mahisa Agni pun tersenyum pula ia pun kemudian berdiri dan berkata, “Tetapi Akuwu Tumapel tidak akan membiarkan pemberontakan ini meluas. Hantu Karautan itu ternyata bukan saja seorang hantu, tetapi ia adalah seorang pemberontak.”

“Salahnya sendiri. Nafsunya terhadap gadis itu terlampau berlebih-lebihan. Sehingga akhirnya ia sendiri terjerumus dalam kesulitan karenanya.”

“Tetapi akibatnya tidak hanya melihat diri Kuda Sempana. Tetapi padang ini akan menjadi daerah yang menakutkan kembali.”

“Mudah-mudahan tidak berlangsung terlalu lama. Aku akan mengadakan perondaan di daerah ini apabila akuwu mengizinkan beberapa orang prajurit. Mungkin Witantra akan menaruh perhatian pula atas hantu Karautan ini.”

“Mudah-mudahan,” desis Mahisa Agni. Namun angan-angannya telah menjorok jauh meliputi rencana pembuatan bendungan ini. Kuda Sempana adalah seorang yang perkasa. Ia tidak akan dapat menjadi sedemikian kuatnya dengan tiba-tiba. Ia pasti mempunyai seorang guru, dan bahkan saudara seperguruan yang telah pernah dikenalnya dalam perjalanannya dari Lereng Gunung Semeru. Apakah mereka akan membiarkan Kuda Sempana hidup dalam keadaannya itu, meskipun gurunya adalah seorang guru upahan? Apakah Kuda Sempana tidak dapat menjanjikan sesuatu kepada guru serta saudara-saudara seperguruannya untuk bantuan mereka kepadanya. Yang pertama-tama akan mengalami kesulitan adalah dirinya dan rencana bendungannya. Kemudian apabila Kuda Sempana berhasil mengumpulkan murid-murid dari saudara-saudara seperguruannya, yang memakai cara yang sama dengan gurunya sendiri dalam mendapatkan ilmunya, maka Kuda Sempana tidak dapat diabaikan dalam-dalam tata pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung.

Mahisa Agni itu pun kemudian mengangkat wajahnya ketika ia mendengar Ken Arok berkata, “Agni, aku akan kembali ke Tumapel. Sudah tentu aku akan menyampaikan apa yang kau ketahui tentang hantu Karautan ini kepada Akuwu Tunggul Ametung. Aku kemudian akan menjalankan perintahnya. Apakah aku akan mendapat perintah untuk menangkapnya, atau aku hanya sekedar menjadi penunjuk jalan bagi prajuritnya yang akan menangkap Kuda Sempana itu.”

“Bukankah kau berkepentingan langsung Ken Arok? Sebab nama hantu Karautan itu pasti akan menyangkut namamu.”

“Tak seorang pun yang tahu bahwa hantu Karautan itu pernah berganti.”

Mahisa Agni tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, meskipun senyumnya muram.

“Sudahlah,” berkata Ken Arok, “pergilah ke Tumapel kalau kau ingin bertemu dengan adikmu. Mungkin Akuwu tidak akan berkeberatan.”

“Terima kasih,” sahut Mahisa Agni. Namun hatinya berkata, “Tak akan ada artinya. Pertemuan yang demikian itu hanya akan menambah parah perasaanku.”

Ken Arok itu pun kemudian meloncat ke atas punggung kudanya, dan sambil menyentuh perut kudanya dengan tumitnya ia berkata, “Sampai bertemu Agni.”

Kepada ketiga kawan Mahisa Agni Ken Arok berkata sambil tertawa, “Jangan takut terhadap hantu Karautan. Hantu itu sekarang sudah jinak.”

Ketiga kawan Mahisa Agni pun menganggukkan kepalanya. Terdengar Sinung Sari berkata, “Selamat jalan. Mudah-mudahan kita dapat bertemu lagi.”

Ken Arok tertawa. Sementara itu kudanya sudah mulai bergerak maju menusuk keremangan malam. Mahisa Agni masih melihat anak muda yang gagah itu melambaikan tangannya, kemudian kudanya meluncur semakin cepat. Debu yang putih menghambur di belakang derap kaki kuda itu bergulung-gulung semakin lama semakin jauh.

Mahisa Agni masih berdiri di tempatnya. Baru ketika kuda itu telah semakin kecil dan semakin kabur, ia berpaling kepada ketiga kawan-kawannya. Katanya, “Itulah hantu Karautan yang sebenarnya. Tetapi ia tidak senang apabila hal itu diketahui oleh orang lain. Karena kalian telah terlanjur mengetahuinya, maka aku minta apa yang kalian ketahui itu harus kalian rahasiakan.”

Ketiga kawan Mahisa Agni itu mengangguk. Yang terdengar adalah desis Patalan, “Kalau demikian, benar kata orang, bahwa hantu Karautan sebenarnya adalah hantu yang tampan.”

“Tidak saja tampan, tetapi hantu itu sangat sakti pula. Namun kini hantu itu sudah tidak ada lagi. Apakah kau percaya kepadaku? Hantu itu kini benar-benar sudah menjadi seorang pelayan dalam di Istana Tumapel.”

Ketiga kawan-kawannya itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi bagi mereka, siapa pun yang menjadi hantu, namun hati mereka tidak akan dapat tenteram. Meskipun hantu itu bernama Kuda Sempana.

Betapa sempitnya pengetahuan mereka, namun mereka tahu pula, bahwa Kuda Sempana menyimpan dendam kepada Mahisa Agni, kepada Ken Dedes dan dendam itu akan dapat melimpah kepada seluruh penduduk Panawijen. Kuda Sempana itu kelak akan dapat merupakan bahaya bagi mereka, bagi orang-orang Panawijen yang sedang membuat bendungan.

Kalau Kuda Sempana itu datang seorang diri maka soalnya tidak akan terlalu sulit. Ternyata sampai saat ini Mahisa Agni masih dapat mengatasinya. Tetapi bagaimana kalau Kuda Sempana itu kemudian mendapat kawan dalam penumpahan dendamnya? Dalam keadaannya maka Kuda Sempana tidak akan memilih kawan. Mungkin para penjahat, para perompak dan para penyamun. Mungkin orang-orang jahat yang sedang menjadi buruan. Dan hati mereka, kawan-kawan Mahisa Agni itu, pasti akan menjadi semakin kecut apabila mereka mengetahui, apa yang sedang diperhitungkan oleh Mahisa Agni, yaitu kawan-kawan seperguruan Kuda Sempana beserta murid-muridnya dan bahkan gurunya pula.

Tetapi Mahisa Agni tidak mengatakannya kepada ketiga kawan-kawannya itu. Ia menyadari akibatnya apabila kawan-kawannya mengetahui tentang Kuda Sempana beserta perguruannya.

Bahkan kemudian ia berkata, “Nah. Sekarang kalian telah melihat sendiri, bahwa yang menamakan diri hantu Karautan itu tidak lebih dari Kuda Sempana. Karena itu jangan takut. Mudah-mudahan aku akan dapat mencegahnya apabila ia mencoba mengganggu pekerjaan kita.”

Ketiga kawan-kawannya mengangguk. Tetapi tampaklah wajahnya tidak meyakinkan. Sehingga Mahisa Agni bertanya, “Bagaimana? Apakah masih ada yang kalian cemaskan?”

Kawan-kawannya menjadi ragu-ragu. Baru sejenak kemudian Sinung Sari berkata, “Bagaimana dengan Kuda Sempana itu?”

“Ia tidak berbahaya,” sahut Agni.

“Kalau ia seorang diri,” sambung Sinung Sari.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun ia menjawab, “Aku juga tidak seorang diri. Bukankah aku akan melakukan pekerjaan yang berat itu bersama-sama seluruh rakyat Panawijen? Seandainya Kuda Sempana akan datang kembali bersama kawannya, maka aku pun akan siap menyambutnya bersama-sama kawan-kawanku. Anak-anak muda Panawijen yang lain, di antaranya kalian bertiga.”

Ketiga kawan Mahisa Agni itu terdiam. Mereka sebenarnya masih ingin menjelaskan bahwa mungkin Kuda Sempana mendapat kawan-kawan yang berbahaya. Sedang anak-anak muda Panawijen bukanlah orang-orang yang siap bertempur seperti Mahisa Agni. Tetapi mereka malu kepada diri mereka sendiri. Mereka malu, bahwa mereka sama sekali tidak mampu berbuat apapun dalam keadaan yang sangat berbahaya.

Dalam pada itu, maka merayaplah perasaan yang lain di dalam diri ketiga anak-anak muda itu. Tumbuhlah pertanyaan di dalam diri mereka sendiri, kenapa mereka sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk berbuat sesuatu? Apakah mereka masih juga akan tetap berdiam diri seandainya kelak datang Kuda Sempana bersama para penyamun, penjahat dan perampok mencelakai Mahisa Agni? Apakah merela akan tetap berdiam diri sebagai penonton yang tidak mempunyai sangkut paut sama sekali?”

Mereka berempat kini duduk berdiam diri. Masing-masing terbenam dalam angan-angan yang berbeda-beda. Mahisa Agni dengan gambaran-gambaran tentang bendungan, Kuda Sempana, saudara-saudara seperguruannya, sedang ketiga kawannya sedang mencoba melihat ke diri mereka masing-masing. Namun terasa bahwa mereka kini menjadi sangat malu kepada diri mereka sendiri, kepada Mahisa Agni dan kepada Ken Arok. Juga kepada Kuda Sempana.

Tiba-tiba menyalalah di dalam hati mereka, suatu tekad yang belum pernah dimilikinya sejak. mereka menyadari diri mereka, sejak mereka masih kanak-kanak. “Kita harus berbuat sesuatu apabila bahaya datang menimpa kita kembali. Kita tidak boleh menyerahkan diri kita kepada orang lain, kepada pertolongan yang belum pasti akan datang pada waktunya. Kita tidak boleh menggantungkan diri kepada kekuatan di luar diri kita sendiri. Diri pribadi kita, dan diri kita dalam satu kesatuan. Rakyat Panawijen!”

Angin malam masih berembus mengusap tubuh mereka. Semakin lama semakin terasa, dingin malam menyentuh-nyentuh. Embun yang sejuk turun perlahan, hinggap di dedaunan dan pada batang-batang rumput kering. Di kejauhan terdengar suara burung kedasih melas asih, seperti ratapan biyung yang kehilangan anaknya.

Bulu kuduk kawan-kawan Mahisa Agni meremang. Bunyi burung kedasih mempunyai kesan yang khusus. Terasa malam menjadi semakin muram.

Ketika mereka menyadari diri kembali, dan mereka melihat Mahisa Agni duduk merenungi bara api yang sudah semakin muram pula, sekali lagi perasaan malu hinggap di sudut hati mereka. Bunyi burung kedasih adalah bunyi yang dikenalnya sejak kecil. Dan burung itu tidak akan dapat mengucapkan bunyi yang lain daripada bunyi itu. Bahkan jantung mereka pasti akan berhenti berdegup apabila mereka mengetahui, bahwa seekor burung kedasih bersiul dengan nada suara burung kutilang.

Tetapi mereka terkejut ketika tiba-tiba saja mereka mendengar suara membelah sepi malam, “Aku sudah mengantuk.”

Ketiga kawannya menarik nafas.

“Hem,” Patalan mengeluh, “kau mengejutkan kami, Mahisa Agni.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya, kemudian sambil tersenyum ia menjawab, “Ah, kalian membuat bayangan-bayangan yang aneh di dalam hati kalian, sehingga kalian menjadi sangat mudah terkejut.”

Kawan-kawannya tidak menjawab. Mahisa Agni telah menebak dengan tepat.

“Nah, sekarang marilah kita tidur.”

“Bersama-sama?” bertanya Jinan.

“Ya. Kenapa?”

“Bagaimana kalau ada bahaya yang mendatang selagi kita tidur?”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Bagus, marilah kita bergantian. Aku dan dua di antara kalian akan tidur dahulu. Siapa yang pertama bangun?”

“Berdua-dua,” sahut Sinung Sari, “supaya ada kawan bercakap-cakap.”

“Baik,” jawab Agni, “siapa yang tidur kemudian atau dahulu bersama aku.”

“Aku,” jawab ketiganya hampir bersamaan.

Mahisa Agni menarik nafas panjang sekali. Ternyata mereka masih saja dikuasai oleh kecemasan. Karena itu maka katanya, “Jadi apakah kalian bertiga berjaga bersama aku dahulu, kemudian kalian bertiga berjaga lagi sesudah itu bersama aku pula? Sehingga dengan demikian kita semuanya tidak jadi beristirahat bergantian?”

Ketiga kawan Mahisa Agni menundukkan kepalanya, mereka masing-masing ingin mendapat giliran bersama Mahisa Agni. Namun mereka tertawa juga di dalam hati mendengar kata-kata Mahisa Agni itu.

Tetapi tiba-tiba mereka mendengar Mahisa Agni itu berkata, “Tidak perlu berjaga-jaga bergantian.”

“Kenapa?” bertanya Sinung Sari.

“Lihat, fajar telah membayang di langit. Sebentar lagi kita akan melihat matahari terbit.”

Ketiga kawan Mahisa Agni menarik nafas dalam. Ketika mereka hampir bersamaan mengangkat wajah mereka dan melihat warna semburat merah membayang di ujung timur, hati mereka tiba pula menjadi sejuk, seakan-akan mereka terbangun dari sebuah mimpi yang menakutkan.

“Hem,” desah Patalan, “kita telah dibebaskan dari malam yang mengerikan.”

Mahisa Agni tidak menjawab meskipun ia menjadi sedih melihat kenyataan itu. Kenyataan tentang kawan-kawannya dan anak-anak Panawijen pada umumnya. Namun yang dikatakannya adalah, “Ya, kita telah melampaui malam yang akan sangat berkesan ini. Tetapi pekerjaan kita belum selesai. Kita masih harus berjalan menyusur sungai ini.”

Dada ketiga kawan Mahisa Agni berdesir.

“Kita meneruskan perjalanan?” bertanya Sinung Sari.

“Apakah kita akan kembali tanpa hasil apapun,” bertanya Mahisa Agni kembali.

Sinung Sari terdiam. Mereka memang pergi untuk mencari kemungkinan membuat bendungan. Bukan sekedar bertamasya di padang Karautan. Namun hatinya masih juga dibayangi oleh peristiwa semalam, meskipun kini di sudut hatinya telah tumbuh keinginan untuk tidak sekedar menonton saja, apabila peristiwa itu terulang kembali atas Mahisa Agni. Namun mereka masih belum memiliki keberanian untuk itu.

Karena Sinung Sari tidak menjawab, maka Mahisa Agni meneruskan, “Kita adalah duta dari rakyat Panawijen. Duta yang harus dapat menyelesaikan pekerjaan kita. Bukan duta yang harus melamar gadis-gadis cantik, bukan duta untuk menyampaikan bulu bekti dan persembahan, tetapi kita adalah duta-duta yang akan menentukan hidup dan mati rakyat kita. Duta yang akan menjadi tempat bergantung bagi masa depan. Kalau kita yang muda-muda ini gagal melakukan tugas kita, maka kita semuanya akan tenggelam dalam kegelapan.”

Ketiga kawan-kawannya menundukkan kepalanya. Mereka dapat mengerti kata-kata itu. Mereka sependapat dengan Mahisa Agni, tetapi keadaan mereka sebelumnya telah terlampau banyak mempengaruhi sifat-sifat mereka, sehingga mereka tidak mendapatkan keseimbangan antara tekad mereka dan keberanian mereka.

Sementara itu langit menjadi semakin lama semakin terang. Cahaya yang kemerah-merahan di timur, semakin lama menjadi sesaat semakin jelas, dan kemudian matahari yang cerah mulai menampakkan dirinya di punggung bukit.

“Kalian lihat matahari,” bertanya Mahisa Agni. Kembali ketiga kawannya menengadahkan wajahnya. Cahaya yang masih kemerah-merahan tercurah ke wajah-wajah mereka.

“Sebentar lagi kita akan berjalan kembali. Kalau kalian masih ingin beristirahat, beristirahatlah sebentar. Mungkin kalian ingin makan atau minum lebih dahulu.”

Ketiga kawannya mengangguk. Kini tiba-tiba terasa perut mereka menjadi sangat lapar. Jinan segera mencoba mencari sisa-sisa bara yang masih ada di perapian, dihembus-hembusnya bara itu dan ditaruhkannya beberapa genggam rumput kering ke atasnya. Ketika kemudian api menyala kembali meskipun kecil, mereka meletakkan makanan yang mereka bawa ke atas api itu.

Sesudah mereka selesai dengan makan, maka segera Mahisa Agni bersiap kembali untuk berangkat. Kawannya telah mengumpulkan alat-alat yang mereka bawa sebagai bekal di perjalanan. Bumbung-bumbung kecil, bahan-bahan makanan dan beberapa macam barang yang lain.

Ketika matahari kemudian merayap semakin tinggi, maka keempat orang itu kembali menempuh perjalanannya, dengan segan ketiga kawan Mahisa Agni menyeret kaki-kaki mereka sambil mengeluh di dalam hati. Tetapi apabila mereka teringat kepada harapan yang disertakan kepada mereka oleh rakyat Panawijen, maka hati mereka menjadi besar kembali.

Kini mereka berjalan menyusur sungai. Batu-batu padas menjorok di sana sini, sehingga sekali-sekali mereka harus berloncatan dari batu ke batu. Pohon-pohon perdu yang rimbun kadang-kadang menghalangi mereka dan dengan pedang-pedang mereka, mereka terpaksa menebasi ranting-ranting kecil dan bahan-bahan yang melintang bujur di hadapan mereka, dibeliti oleh tumbuh-tumbuhan yang merambat dan bahkan berduri.

“Tebing ini semakin tinggi,” gumam Mahisa Agni.

“Ya,” sahut kawannya, “perjalanan kita akan sia-sia”

“Belum tentu,” jawab Agni, “mungkin di sebelah kita akan menemukan dasar sungai itu naik pula.”

Kawannya tidak menjawab. Mereka kini tinggal berjalan saja di belakang Mahisa Agni. Bahkan Jinan hampir-hampir telah menjadi berputus asa dan kehabisan tenaga untuk berjalan terus.

Tetapi Mahisa Agni seakan-akan sama sekali tidak memperhatikan mereka itu. Ia berjalan terus, dan perhatiannya bulat-bulat tertuju kepada kemungkinan mendapat tempat untuk membuat bendungan.

Matahari semakin lama semakin tinggi. Panasnya seolah-olah menembus sampai ke tulang. Keringat keempat orang yang berjalan di bawah terik panas itu seakan-akan diperas dari dalam tubuhnya. Namun sama sekali tidak tampak kelesuan di wajah Mahisa Agni.

Dengan tekad yang menyala sepanas api, Mahisa Agni berjalan terus. Meskipun dahinya kadang-kadang tampak berkerut-kerut apabila dilihatnya jarak antara bibir tebing dan dasar sungai menjadi semakin jauh. Tetapi ia masih memiliki harapan seakan-akan tak akan kunjung padam, meskipun kadang-kadang dirayapi keragu-raguan.

Mereka berjalan terus di bawah panas cahaya matahari. Jinan yang berjalan di ujung paling belakang sekali terdengar mengeluh. Patalan dan Sinung Sari masih juga berjalan dengan hati yang kosong dekat-dekat di belakang Mahisa Agni.

Sekali-sekali Mahisa Agni berhenti, menjenguk sungai di sampingnya. Dari sela-sela rumput-rumput liar, batang-batang perdu dan ilalang, Mahisa Agni melihat air yang bening gemericik mengalir di antara batu-batu yang berserakan.

Tiba-tiba ia terhenti. Dengan serta-merta ia berkata kepada kawannya, “Kau lihat, di sini batu berserakan melimpah-limpah.

Tetapi dengan muramnya Sinung Sari menjawab, “Tebing di sini terlampau tinggi. Apakah kita dapat menaiki air setinggi ini?”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang pekerjaan itu hampir tidak mungkin dilakukan. Tetapi di sini batu terlampau banyak, dan cukup besar-besar. Ada yang sebesar kerbau, ada yang sebesar kambing. Dan ada juga yang jauh lebih besar, namun hampir memenuhi dasar sungai itu, batu-batu sebesar kepala kucing.

“Tetapi tebing terlampau tinggi,” gumam Mahisa Agni.

Sinung Sari menganggukkan kepalanya, “Ya. Terlampau tinggi dan curam.”

“Marilah kita berjalan terus. Mudah-mudahan batu-batu itu akan terdapat di sepanjang sungai ini.”

“Apakah kita akan berjalan lagi,” sela Jinan.

“Ya,” Mahisa Agni mengangguk.

Jinan mengeluh. Katanya, “Kita harus bermalam semalam lagi di padang ini.”

“Tidak,” jawab Agni, “kalau tempat itu sudah kita temukan, kita segera kembali.”

“Tetapi jarak kembali itu akan kita tempuh lebih dari satu hari seperti kita datang.”

“Kita dapat berjalan terus. Kalau kita pulang, kita tidak perlu lagi melihat sungai itu. Meskipun betapa gelapnya, kita akan tetap dapat meneruskan perjalanan.”

“Kakiku akan patah,” sahut Jinan.

“Ya,” sambung Patalan dan Sinung Sari hampir bersamaan, “kita akan lelah sekali.”

Mahisa Agni terdiam. Ia tidak dapat berkata apapun lagi. Meskipun perjalanan ini sama sekal, tak berarti dibandingkan dengan perjalanan yang pernah dilakukan, baik bersama gurunya, maupun seorang diri, dan yang terakhir adalah perjalanannya ke sisi seberang Gunung Semeru, maka apa yang dilakukannya kali ini adalah sebuah tamasya yang tak berarti bagi sepasang kakinya, namun ia tidak dapat menyangkal, bahwa ketiga kawan-kawannya benar-benar telah kelelahan.

Meskipun demikian sejenak kemudian ia berkata, “Kita mencoba sedikit lagi. Kita berjalan beberapa saat, mungkin dekat di atas ini sungai menjadi semakin tinggi.”

Ketiga kawannya saling berpandangan. Tetapi tidak seorang pun yang membantah.

“Apakah kita akan beristirahat dulu?”

Ketiga kawan-kawannya masih diam. Mereka dihadapkan pada kebimbangan, kecemasan dan hampir keputusasaan. Kalau mereka kini beristirahat, maka waktu yang akan dipergunakannya akan bertambah panjang. Dengan demikian, mereka mungkin akan bermalam dua malam lagi di padang rumput ini sebelum mereka sampai ke Panawijen. Tetapi kalau mereka berjalan terus, kaki mereka seolah-olah benar-benar telah akan patah.

Dalam kebimbangan itu terdengar Mahisa Agni berkata, “Biarlah kita berjalan sebentar lagi. Kalau kita masih juga belum menemukan tempat itu, kita akan beristirahat.”

Kata-kata itu sama sekali bukanlah yang diharapkan oleh ketiga kawan-kawannya. Beristirahat sekarang atau nanti, bagi mereka akan berakibat sama. Memperpanjang perjalanan.

“Agni,” berkata Sinung Sari, “apakah kita masih akan membuang-buang waktu, menyusuri sungai yang menjadi semakin dalam ini?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Tak ada pilihan lain Sinung Sari. Kita harus berjalan terus sampai kita menemukan tempat itu.”

“Kita tidak akan berhasil,” potong Patalan, “bukankah tempat ini menjadi semakin sulit bagi pembangunan sebuah bendungan. Mungkin bekas bendungan yang lama itu lebih baik daripada tempat ini.”

“Tidak,” bantah Agni, “seandainya kita tidak menemukan tempat lain, maka tempat ini lebih baik dari bekas bendungan itu. Di sini kita dapatkan batu berlimpah ruah. Kita tinggal membuat brunjung-brunjung bambu sebanyak yang dapat kita buat. Kita isi brujung itu dengan batu, dan kita susun bertimbun-timbun. Tetapi apa yang dapat kita lakukan di bekas bendungan itu? Kita harus membuat brujung, kita isi dengan sampah dan dedaunan di antara batu-batu yang tidak terlampau banyak. Setiap kali kita masih harus menimbuni dengan tanah yang akan selalu hanyut dibawa air. Berapa banyak dedaunan dan tanah yang kita perlukan. Pepohonan seluruh padukuhan itu kita tebang semuanya, agaknya masih belum akan mencukupi. Setiap kali daun-daun itu membusuk, setiap kali itu pula kita harus menambahnya.”

Ketiga kawan Mahisa Agni terdiam. Memang pekerjaan itu pun tak mungkin dilakukannya. Tetapi untuk berjalan terus, mereka benar-benar telah kehilangan gairah.

“Atau kita kembali dan tidak lagi berpikir tentang bendungan?” bertanya Mahisa Agni, “kita biarkan Panawijen menjadi kering, dan sawah-sawah kita menjadi kering pula tanpa membuat tanah persawahan yang baru?”

Ketiga kawan Mahisa Agni itu pun masih terbungkam. Pertanyaan Mahisa Agni itu benar-benar tidak dapat dijawabnya. Bahkan betapapun kecilnya, namun pertanyaan itu telah mempengaruhi mereka pula. Bendungan itu adalah harapan bagi seluruh rakyat Panawijen. Karena mereka tidak menjawab, maka Mahisa Agni kemudian berkata, “Aku tahu bahwa kalian telah menjadi sangat lelah. Aku pun menjadi sangat lelah pula. Tetapi aku merasa bahwa seluruh rakyat Panawijen menitipkan harapan pada perjalanan kita ini. Karena itu aku akan berjalan terus. Apabila kalian merasa, bahwa kalian sudah tidak mungkin lagi meneruskan usaha ini, maka aku persilakan kalian berjalan kembali. Aku tidak akan berjalan kembali. Aku akan berjalan terus.”

Kawan-kawan Mahisa Agni itu terkejut mendengar kata-kata itu. Dengan serta-merta Patalan menjawab, “Tidak Agni. Kami tidak akan kembali.”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Ia melihat kecemasan membayang di wajah ketiga kawan-kawannya itu, “Mereka tidak akan memilih,” gumam Mahisa Agni di dalam hatinya. Ia tahu benar bahwa ketiga kawan-kawannya itu tidak akan berani menempuh perjalanan kembali tanpa dirinya.

Meskipun demikian ia masih bertanya, “Kenapa kalian tidak akan kembali? Bukankah kalian telah hampir tidak percaya lagi bahwa usaha ini akan berhasil?”

“Tidak. Bukan begitu. Kami masih mempunyai harapan yang besar untuk menemukan tempat yang kita cari,” sahut Jinan dengan wajah yang pucat.

Mahisa Agni diam sesaat. Namun tiba-tiba ia berkata, “Kalian tidak berjalan terus karena keyakinan kalian bahwa usaha ini akan berhasil, tetapi kalian berjalan terus kalian tidak berani berjalan kembali.”

Serentak ketiga kawan Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Mereka pandangi wajah Mahisa Agni dengan tajamnya. Namun sesaat kemudian wajah-wajah itu tertunduk lesu. Tebakan itu tepat seperti sebuah cermin yang dihadapkan di muka wajah hati masing-masing. Wajah-wajah yang pucat dan ketakutan.

Mahisa Agni melihat ketiga kawannya itu tertunduk. Wajah mereka yang pucat menjadi semakin pucat dan suram. Tiba-tiba timbullah iba di hatinya. Katanya, “Sudahlah. Aku hanya ingin bergurau. Sekarang marilah kita beristirahat sejenak. Mudah-mudahan kita akan mendapatkan kesegaran kembali.”

Mereka, kawan-kawan Mahisa Agni tidak membantah. Ketika kemudian Mahisa Agni menjatuhkan dirinya di bawah pohon-pohon perdu di tepi tebing sungai, maka mereka pun duduk pula di sampingnya.

Dengan tanpa gairah, mereka kemudian mencoba mengisi perut mereka dengan makanan yang mereka bawa dari padukuhan. Namun ketika mereka minum beberapa teguk, maka bumbung-bumbung mereka telah menjadi kering kembali

“Kita perlu air,” desis Mahisa Agni.

Ketiga kawannya mengangguk serentak.

“Ya,” sahut Sinung Sari, “aku haus sekali.”

Tetapi mereka menjadi sangat kecewa ketika mereka memperhatikan tebing sungai yang curam. Tebing yang mengeras karena batu padas yang basah.

“Tebing ini sangat curam dan licin,” gumam Mahisa Agni.

Ketiga kawannya hanya dapat menganggukkan kepala mereka tanpa dapat memberikan pertimbangan apapun. Namun dalam keadaan yang demikian wajah-wajah mereka menjadi semakin putih. Seakan-akan darah mereka terhenti di leher mereka sebelum merayap ke wajah-wajah itu.

Mahisa Agni pun kemudian berdiri. Dipandanginya tebing yang curam dengan beberapa jenis perdu yang tumbuh hampir rapat. Tetapi Mahisa Agni tidak yakin, bahwa akar-akar perdu itu cukup kuat apabila ia mencoba menuruni tebing sambil berpegangan pada batangnya. Apabila ternyata akar perdu itu terlepas, maka ia pasti akan terlempar jatuh di atas batu-batu padas yang menjorok runcing-runcing di pinggir sungai itu. Tetapi apabila terpandang olehnya pantulan sinar matahari di atas air yang jernih itu, lehernya serasa terbakar karena kehausan.

“Hem,” desahnya. Dan tiba-tiba ia berkata, “Marilah kita berjalan kembali. Mudah-mudahan kita segera mendapatkan tebing yang dapat aku turuni. Aku pun haus sekali.”

Mereka bertiga segera berdiri dan berjalan kembali tersuruk-suruk di belakang Mahisa Agni. Kini mereka bersama-sama, kehausan di bawah terik sinar matahari. Namun tekad Mahisa Agni yang membaja telah menyeretnya untuk berjalan terus.

Sekali-sekali Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya ketiga kawannya menjadi semakin lelah dan lemah. Jinan seolah-olah sudah tidak mampu untuk berjalan. Kakinya yang lemah itu diseretnya sambil mengeluh di dalam hati, “Apakah aku akan mati di padang rumput ini?”

Patalan dan Sinung Sari masih agak baik keadaannya daripada Jinan. Tetapi matahari serasa membakar tubuhnya. Perasaan haus yang sangat telah menyerangnya, sehingga seakan-akan ludahnya menjadi kering dan lehernya menjadi lekat.

Berkali-kali mereka menjilat-jilat bibir-bibir mereka. Tetapi bibir itu pun telah menjadi kering pula. Sedang di bawah kaki-kaki mereka, terdengar gemericik air yang bening.

“Agni,” desis Patalan yang tidak dapat menahan diri, “aku haus sekali.”

Langkah Mahisa Agni terhenti. Sekali lagi ia memandangi bumbung kecil yang tersangkut diikat pinggangnya. Bumbung itu telah kosong, bahkan telah kering sampai ke dasarnya.

Sekali ia menarik nafas. Kini disadarinya bahwa ia tidak akan dapat berjalan terus. Karena itu, sekali lagi dipandanginya tebing yang curam itu, apabila ia menemukan kemungkinan untuk merayap turun.

Tetapi Mahisa Agni menjadi kecewa. Tebing itu ternyata terlalu curam, seakan-akan sama sekali tidak memberi kesempatan kepadanya untuk mendapatkan pancadan. Tetapi untuk berjalan tanpa air, agaknya benar-benar tidak mungkin bagi ketiga kawan-kawannya.

Sesaat Mahisa Agni berdiri mematung. Sementara itu ia masih saja mendengar kawan-kawannya berdesah. Ketika ia berpaling memandangi wajah-wajah itu, Mahisa Agni melihat, bahwa ketiga kawannya itu benar-benar telah kehausan. Karena itu ia menjadi bingung.

“Bagaimana Agni,” terdengar suara Sinung Sari serak, “apakah kau dapat mengambil air untuk kita?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.

“Tebing itu terlalu curam,” desahnya.

“Lalu bagaimana?” desak Jinan. Anak itu kini telah duduk dengan lesunya di atas rerumputan kering.

“Berteduhlah di bawah perdu itu,” berkata Mahisa Agni kepada kawan-kawannya.

“Kami tidak kepanasan,” jawab Patalan, “tetapi kami kehausan.”

“Dengan berteduh, maka badan kita akan merasa segar. Mungkin rasa haus itu pun akan berkurang.”

“Tidak. Kami perlu air.”

Mahisa Agni menjadi bertambah cemas. Ketiga anak-anak muda itu kini benar-benar menjadi seperti anak kecil yang sedang merengek minta minum kepada ayahnya. Mereka sama sekali bukan kawan yang baik untuk menghadapi kesulitan dan mencoba mengatasinya. Namun Mahisa Agni tidak sampai hati untuk mengatakannya kepada mereka. Sebab Mahisa Agni mengetahui sebab dan pengaruh yang telah membentuk anak-anak muda Panawijen tidak mampu mengatasi kesulitan.

Kini Mahisa Agni tidak boleh hanya sekedar mencari kesalahan dan alasan-alasan untuk menghindarkan diri dari kewajibannya menyelamatkan kawan-kawannya itu. Kembali ia berpikir dan kembali ia merenungi tebing. Beberapa pepohonan tampak tumbuh melekat pada batu-batu padas namun ia tidak yakin, bahwa akar-akarnya mampu untuk menahan berat tubuhnya.

Tiba-tiba Mahisa Agni mengangkat dadanya. Setelah berdiam diri sejenak, maka katanya lantang, “Kalian mau menolong aku turun?”

“Tentu,” sahut mereka tanpa berpikir.

“Lepaslah kain panjangmu.”

Ketiga kawan-kawannya saling berpandangan. Tetapi mereka sudah sangat haus, sehingga mereka menjawab serentak, “Baik, adalah dengan demikian kau mendapatkan air. Apakah kami harus menukar air itu dengan kain kami?”

Dahi Mahisa Agni berkerut. Apalagi ketika ia mendengar Sinung Sari berkata, “Agni. Di rumah kami masih mempunyai kain yang lebih baik dari ini. Nanti aku akan menukarnya dengan yang baik itu.”

“Terima kasih,” sahut Agni. Betapa ia menjadi jengkel mendengar jawaban-jawaban itu. Tetapi sekali lagi disadarinya bahwa pikiran ketiga kawannya itu agaknya telah benar-benar terganggu oleh perasaan haus yang mencengkam mereka.

“Aku memang memerlukan kain-kain itu,” berkata Mahisa Agni. “Tetapi aku tidak akan menukarnya dengan air. Aku minta kalian menyambung-nyambung kain itu. Empat kain dengan yang aku pakai, aku kira akan dapat menolong aku turun ke bawah di samping akar-akar perdu di sepanjang tebing itu. Tetapi jangan sayang kalau kain itu masih harus dibelah supaya panjangnya mencapai dasar.

Sekali lagi ketiga kawan-kawannya saling berpandangan. Dan terdengar Mahisa Agni berkata pula, “Kalau kalian sayang akan kain itu, maka kalian tidak akan mendapatkan air, sebab aku tidak mempunyai cara lain untuk turun. Nanti apabila kita kembali ke padukuhan, biarlah kita memasuki rumah kita masing-masing di malam hari supaya tidak terlihat oleh siapa pun bahwa kain kita sudah terbelah.”

Ketiga kawan Mahisa Agni itu pun segera menyetujui. Mereka sudah tidak tahan lagi menderita haus yang amat sangat. Sedang matahari di langit masih saja memancarkan panasnya, seakan-akan ingin membakar seluruh bola bumi.

Segera mereka berempat melepaskan kain-kain panjang mereka. Kain itu pun kemudian disobek di tengah-tengah membujur, dan kemudian satu sama lain diikat dalam satu jalur yang panjang.

“Mudah-mudahan aku dapat sampai ke dasar sungai dan memanjat naik kembali lewat sambungan kain itu. Pegang ujungnya kuat-kuat. Kalau kalian bertiga gagal menahan berat badanku, dan aku terpelanting jatuh, maka kalian pun akan kehausan di sini. Mungkin kalian akan mati pula seperti aku. Karena itu kalian bertiga harus mampu menahan berat badanku apabila kalian benar-benar ingin minum.”

Kata-kata itu merupakan ancaman yang sangat mereka takuti. Apabila mereka gagal menahan tubuh Mahisa Agni, mereka pasti akan mati kehausan, bukan mati terpelanting ke dalam jurang.

Karena itu, maka mereka berjanji kepada diri sendiri bahwa mereka akan berbuat sebaik-baiknya, sehingga dengan demikian akan merupakan dorongan bagi mereka untuk mengerahkan sisa-sisa kekuatan mereka. Demikian besar nafsu mereka untuk mendapatkan air. Maka tenaga mereka pun seakan-akan menjadi bertambah-tambah kuatnya.

Mereka bertiga dengan hati-hati memegangi ujung dari kain yang bersambungan itu, sedang Mahisa Agni perlahan-lahan merayap turun. Kaki-kakinya yang kuat, mencoba mencari pancadan yang dapat memperingan berat tubuhnya di atas batu-batu yang menjorok dan pada pokok batang-batang perdu. Ternyata di antara batang-batang perdu itu ada juga yang cukup kuat untuk menahan berat badannya.

Dengan sangat hati-hati akhirnya Mahisa Agni dengan selamat dapat mencapai dasar sungai itu. Dasar yang keras. Di antara batu-batu yang berserakan hampir memenuhi dasar sungai, maka di tepian, batu-batu padas yang runcing menjorok di sana sini.

Mahisa Agni menarik nafas panjang-panjang. Sekali ia menengadahkan kepalanya. Dilihatnya ketiga kawannya menelungkup di atas tebing melihatnya dengan penuh harapan.

Ketiga kawan Mahisa Agni itu sama sekali tidak membantunya dalam kesulitan, bahkan seakan-akan mereka adalah momongan-momongan yang hanya dapat mengganggu saja.

Tetapi mereka bertiga telah terlanjur dibawanya sampai ke tempat ini. Apabila terjadi sesuatu atas mereka, maka orang-orang Panawijen akan menjadi mudah berprasangka terhadapnya. Karena itu, maka ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan ketiga kawan-kawannya itu.

Kini Mahisa Agni berpaling memandangi arus sungai yang bening jernih. Suaranya gemericik di antara batu-batu yang berserakan besar kecil.

Ketika Mahisa Agni memandang lurus ke depan, dilihatnya sebuah jalur jurang yang menganga panjang. Seolah-olah sebuah jalur perak yang putih di antara sepasang dinding baja yang tegak sebelah menyebelah.

Ketika ia memandang jauh ke depan, tiba-tiba Mahisa Agni itu tertegun. Wajahnya menegang dan darahnya menjadi seolah-olah beku. Jauh di hadapannya, di ujung jalur sungai yang keputihan, dilihatnya sebuah dinding yang putih mengkilap.

Dengan sigapnya Mahisa Agni meloncat semakin menepi sungai itu. Bahkan kemudian ia menceburkan diri, dan berjalan ke tengah. Ia sama sekali tidak memperhatikan lagi celananya menjadi basah kuyup oleh arus air hampir setinggi perutnya.

Ketiga kawannya yang melihat Mahisa Agni berjalan ke tengah sungai menjadi heran. Apakah yang dilakukannya di sana? Bahkan Patalan yang kehausan berteriak tidak sabar, “Agni. Apakah kau menunggu aku mati?”

Mahisa Agni masih berdiri dengan tegangnya. Bahkan setelah ia bersentuhan dengan air ia menjadi lupa akan perasaan hausnya. Semula ia hanya ingin menahan diri untuk tidak tergesa-gesa meneguk air, supaya perutnya tidak menjadi sakit dan gembung. Namun kini bahkan ia tidak lagi mengingat perasaan hausnya itu.

“Agni!” teriak Sinung Sari dan Jinan hampir bersama.

Mahisa Agni terkejut mendengar teriakan itu, seolah-olah ia sedang terbangun dari sebuah mimpi.

“Agni, cepat sebelum aku mati.”

Kini Agni berpaling kepada ketiga kawan-kawannya. Tetapi ia tidak segera mengisi bumbungnya. Dengan lincahnya ia meloncat ke tepian sambil berteriak, “Naik, naiklah menurut arus air.”

“He,” sahut Patalan.

“Naiklah. Lihatlah beberapa ratus langkah di atas kita sepanjang sungai ini.”

“Apa,” teriak Jinan, “maksudmu supaya aku berlari-lari dan mati karena leherku tersekat kering.”

“Tidak, cepat berlari beberapa ratus langkah.”

“Apakah kau gila Agni. Ada apa di atas jalur sungai itu?”

“Apakah kalian tidak melihat,” sahut Agni seperti orang yang dilanda oleh kegelisahan, “pergilah cepat.”

Kawan-kawannya pun menjadi gelisah dan heran. Bahkan mereka menjadi bingung.

“He,” teriak Agni, “apakah kalian tidak melihat?”

“Kami tidak melihat apa-apa selain sungai itu,” jawab kawan-kawannya.

“Dan tidak mendengar?”

“Tidak.”

Mahisa Agni terdiam sesaat. Dimiringkannya kepalanya dalam keasyikan mendengarkan sesuatu, “Aku mendengarnya meskipun lamat-lamat.”

“Kau mendengar apa?” bertanya Sinung Sari.

“Pergilah menyusur sungai ini. Aku akan lewat di bawah.”

“Ya, tapi ke mana dan kenapa?”

“Jeram. Apakah, kau tidak mendengar suara air itu terjun? He. Di atas kita ada jeram yang cukup tinggi. Tebing sungai di sebelah jeram itu pasti tidak akan terlalu tinggi. Marilah kita lihat apakah kita dapat membuat bendungan di atasnya.”

Kawan-kawannya yang kehausan itu pun tiba-tiba terpengaruh. Jeram? Kalau benar kata Mahisa Agni, maka mereka akan menemukan dasar sungai yang cukup dangkal, sehingga mereka akan dapat langsung terjun ke dalam air dan minum sepuas-puasnya. Karena itu, maka tiba-tiba kekuatan mereka serasa tumbuh kembali. Harapan untuk mendapatkan air sebanyak yang diinginkan, akan terpenuhi.

Tiba-tiba seperti disentakkan oleh tenaga ajaib mereka serentak berdiri dan berlari ke hulu. Kain panjang yang bersambung-sambung itu mereka tarik saja seperti ekor yang panjang sekali, yang kadang-kadang tersangkut pada batang perdu. Karena itu, maka kain-kain mereka menjadi tercabik-cabik oleh duri dan ranting-ranting. Bahkan sekali-sekali mereka tersentak dan hampir-hampir jatuh menelentang karena kain itu tertahan oleh sebuah sangkutan yang agak kuat. Namun betapapun juga mereka masih cukup sadar, bahwa kain itu harus tetap mereka seret bersama mereka.

Kini panas yang terik seolah-olah tidak terasa lagi. Mereka sedang digerakkan oleh tenaga ajaib yang demikian saja tumbuh dari desakan harapan yang kuat. Seakan-akan mereka telah digerakkan bukan oleh diri mereka sendiri. Namun mereka sama sekali tidak menyadarinya, bahwa kekuatan-kekuatan yang demikian itulah, yang lazim disebut kekuatan-kekuatan cadangan. Kekuatan-kekuatan yang bagi mereka yang terlatih dapat dimanfaatkan setiap saat dengan penuh kesadaran. Tetapi bagi mereka yang tidak memeliharanya dan bahkan tidak menyadarinya, kekuatan itu hanya akan timbul dalam saat-saat tertentu justru di luar kehendak wajar dan kesadaran.

Demikian mereka bertiga berlari seperti sedang berpacu, berkejar-kejaran. Sedang jauh dibawa dinding tebing sungai itu Mahisa Agni pun berlari jauh lebih kencang dari mereka bertiga, sehingga Mahisa Agni yang pertama-tama sampai ke bawah jeram-jeram itu. Namun Mahisa Agni sama sekali tidak puas melihat jeram-jeram itu dari bawah. Tidak puas mendapat siraman air sejuk dingin yang gemercik jatuh di atas batu-batu. Yang telah memantulkan sinar matahari dalam tujuh warna seperti, warna pelangi. Ingatlah Mahisa Agni saat itu sedang terpancang pada bendungan. Karena itu, maka segera ia berusaha mencari kemungkinan untuk memanjat tebing yang kini tidak securam tebing-tebing di sepanjang yang pernah dilaluinya.

Meskipun demikian untuk memanjat tebing itu sama sekali bukan pekerjaan yang mudah. Mahisa Agni harus mendapat pancadan pada batu-batu padas yang menjorok tidak lebih dari tebal telapak kakinya. Sedangkan tangannya harus berpegangan pada batu-batu yang serupa atau pada akar-akar perdu.

Dengan hati-hati Mahisa Agni merayap naik. Tubuhnya menjadi kotor oleh lumpur dan tanah yang hitam kemerah-merahan.

Tetapi Mahisa Agni pernah merayap lereng gunung semeru. Merayap masuk ke dalam gua di lereng gunung itu. Meskipun apa yang dilakukan kali ini tidak lebih mudah dari memanjat dinding Gunung Semeru, namun tebing yang dihadapinya kali ini jauh lebih rendah dari lereng gua di kaki gunung itu. Karena itu, meskipun tenaga Mahisa Agni yang lelah itu menurut ukuran kawan-kawannya, namun ia dapat melakukannya dengan baik dan cepat. Ketika ia sampai ke atas jeram-jeram itu, maka yang pertama dilihatnya adalah sebuah sungai yang mengalirkan air yang jernih. Tepian sungai itu, yang terdiri dari tanah-tanah padas, menanjak pada sebuah tebing sungai itu pula, di sisi Padukuhan Panawijen. Karena itu, maka yang pertama-tama meledak dari bibir Mahisa Agni adalah, “Terpujilah Yang Maha Agung. Di sini kita akan membangun bendungan itu.”

Sejenak terasa debar jantung Mahisa Agni seolah-olah berhenti. Betapa ia merasakan karunia tiada taranya, karena ia telah dituntun untuk menemukan jeram itu. Dengan demikian, maka sungai di atas jeram itu, merupakan tempat yang tepat untuk membangun bendungan seperti yang diimpikannya.

“Hem,” gumam Mahisa Agni kemudian, “ternyata apa yang dikatakan Empu Purwa itu tepat benar. Di padang ini kita akan dapat membangun sebuah bendungan, sebuah saluran yang baik dan tanah persawahan menurut perencanaan yang baik pula. Apakah sebelumnya guru telah melihat daerah ini pula?”

Mahisa Agni terkejut ketika tiba-tiba ia mendengar suara parau di belakangnya, “Air. Air. Kita mendapatkan air.”

Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya ketika kawannya berlari tertatih-tatih. Sinung Sari masih menyeret kain panjang mereka yang sudah tercabik-cabik oleh duri dan ranting-ranting perdu. Namun ketika dilihatnya air sungai yang jernih itu, tiba-tiba kain itu dilepaskannya. Dengan penuh gairah dan nafsu ia meluncur bersama Jinan dan Patalan. Mata mereka seolah-olah menjadi liar dan lidah mereka menjilat-jilat bibir.

Mahisa Agni menjadi cemas melihat mereka itu. Seandainya mereka dibiarkannya, maka mereka pasti akan langsung menyurukkan kepala mereka ke dalam air karena perasaan harus yang menyekat leher. Dengan demikian, maka mungkin mereka akan mendapat bahaya karenanya. Air yang tiba-tiba saja mengalir lewat kerongkongan mereka tanpa diperhitungkan akan dapat mengganggu pernafasan mereka, dan kemudian adalah mungkin sekali mereka akan minum terlalu banyak.

Karena itu ketika Mahisa Agni melihat mereka semakin dekat maka segera ia berteriak, “Berhenti. Berhentilah sebentar.”

Ketiga anak-anak muda itu berpaling sesaat, namun segera mereka berlari semakin kencang.

“Berhenti,” teriak Mahisa Agni sambil berlari di samping mereka.

Tetapi mereka tidak mendengar suara itu. Mereka berlari terus dan dengan mata yang liar memandangi aliran air yang gemericik. Bahkan jarak yang sudah semakin dekat itu seakan-akan tidak pernah dapat dicapainya.

“Berhenti,” teriak Mahisa Agni sekali lagi.

Namun kali ini pun mereka seolah-olah sama sekali tak mendengarnya. Mahisa Agni menjadi semakin cemas. Beberapa langkah, ia berlari mendahului. Kini mereka telah sampai ke tebing sungai. Beberapa saat lagi mereka berloncatan turun ke tepian. Tetapi karena tubuh-tubuh mereka yang lemah, maka mereka bertiga jatuh berguling bersama-sama. Tetapi usaha mereka untuk segera mendapat air sama sekali tidak terpengaruh. Meskipun mereka kini telentang di tepian, namun dengan penuh nafsu mereka merayap-rayap seperti ular menuju ke pinggir sungai. Luka-luka yang timbul pada tubuh mereka, sama sekali tak terasa.

“Jangan minum dengan menyurukkan kepala kalian ke dalam air,” minta Mahisa Agni, “duduklah, dan ambillah air dengan tangan.”

Seruan itu sama sekali tidak mendapatkan perhatian mereka. Beberapa langkah lagi mereka akan dapat memasukkan mulut mereka langsung ke dalam air.

Tiba-tiba Mahisa Agni meloncat maju di hadapan mereka, tepat di pinggir sungai. Kakinya membenam setinggi mata kaki di dalam air. Dengan serta-merta dicabutnya pedangnya dan diacungkannya kepada ketiga kawan-kawannya yang hampir saja membenamkan wajah-wajah mereka.

Ketiga kawan-kawannya itu terkejut. Betapapun juga ketika mata mereka menatap tajam pedang Mahisa Agni, hati mereka berdebar-debar dan karena itu tanpa mereka sengaja, maka mereka pun berhenti tepat ketika setapak lagi mereka telah menyentuh air. Tetapi tajam pedang Agni itu pun hanya sejengkal saja di hadapan hidung mereka.

“Duduk!” terdengar perintah Mahisa Agni.

Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu telah hampir kehilangan perasaan mereka. Namun dengan ujung pedang Mahisa Agni berhasil memaksa mereka untuk duduk.

“Nah, minumlah dengan cara yang baik supaya kalian tidak mati justru ketika kalian menemukan air.” minta Agni, “ambillah air dengan kedua telapak tanganmu, dan minumlah air itu sedikit demi sedikit.”

Mahisa Agni kemudian melihat mereka bertiga dengan tergesa-gesa mengambil air di atas. telapak tangan masing-masing dan langsung dihisapnya. Sekali dua kali, namun mereka seakan-akan tidak menjadi puas. Tetapi ketika mereka mengerling, mereka masih melihat pedang Agni seolah-olah telah melekat di ujung hidung mereka.

“Cukup!” bentak Agni sesaat kemudian.

Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu mendengar pula bentakan itu, tetapi leher mereka serasa masih saja kering. Karena itu maka mereka sama sekali tidak menghiraukannya seandainya Mahisa Agni tidak menggerakkan pedangnya sambil mengulangi, “Cukup!”

Ketiganya terpaksa berhenti minum. Ditatapnya wajah Mahisa Agni dengan wajah yang memancarkan kekecewaan hati mereka. Bahkan dengan terbata-bata Sinung Sari bertanya, “Apakah artinya ini Agni. Apakah kau benar-benar ingin melihat kami kehausan?”

“Bukankah kalian telah minum?” bertanya Agni.

“Hanya seteguk.”

“Tidak. Coba sekarang kalian tenangkan hati kalian. Cobalah menyadari keadaan. Apakah kalian masih terlalu haus?”

“Ya. Kami masih terlalu haus,” sahut Patalan.

“Tetapi kalian telah minum dan telah membasahi kerongkongan kalian. Sekarang datang giliranku untuk minum.”

“Agni, air sungai ini tidak akan habis kita minum bersama-sama. Minumlah dan biarlah kami minum.”

“Tidak, sekarang akulah yang akan minum. Kalau kalian masih juga akan minum, maka aku bunuh kalian di sini.”

Ketiga kawan Mahisa Agni menjadi kecewa. Sangat kecewa. Tiba-tiba timbullah berbagai pertanyaan di dalam hati mereka yang masih belum terlampau jernih. Apakah memang Mahisa Agni ingin membunuh mereka?

Kini mereka melihat bagaimana Mahisa Agni itu minum. Ia berlutut di pinggir sungai itu. Dengan tangannya ia mengambil air sungai yang melimpah-limpah itu, dan dihirupnya seteguk-seteguk. Tidak lebih dari tiga kali. Kemudian ia pun berhenti minum, dan berpaling kepada kawan-kawannya.

Jinan. Patalan dan Sinung Sari melihat cara Mahisa Agni itu minum perlahan-lahan dan tidak terlampau banyak meskipun tak ada yang mencegahnya. Tidak lebih dari yang mereka minum itu pula. Sehingga dengan demikian, timbullah berbagai pertanyaan dalam hati mereka.

“Apakah kalian masih haus?” bertanya Agni tiba-tiba. Ketiga kawan-kawannya mengangguk.

“Tunggulah sesaat. Nanti kalian akan dapat minum lagi sepuas-puasnya. Air ini tidak akan habis.”

“Kenapa nanti?”

“Supaya kalian tidak mati.”

Ketiga kawan-kawan Agni itu menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan disadarinya ketergesa-gesaannya. Kalau Mahisa Agni tidak mencegahnya, mungkin perut mereka kini telah menjadi gembung. Atau mungkin air yang diteguknya akan mengalir tidak lewat jalan yang sewajarnya di dalam kerongkongan mereka karena masih belum siap untuk dialiri air sebanyak-banyaknya setelah hampir melekat karena kekeringan.

Kini mereka baru mengerti, apakah maksud Mahisa Agni sebenarnya. Dan karena itu maka terasa pula, kerongkongan mereka tidak lagi terlalu kering. Ketika mereka kemudian menjadi tenang, barulah mereka berkata, “Terima kasih Agni. Kau telah mencegah kami, sehingga kami tidak mendapat bencana karena perasaan haus yang tak tertahankan.”

Mahisa Agni tersenyum. Terbayang di wajahnya sinar matanya yang cerah. Sambil mengangguk ia berkata, “Kalian telah kehilangan ketenangan dan kejernihan otak kalian karena perasaan haus itu. Tetapi kini kalian telah menyadarinya.”

“Ya,” jawab mereka serentak.

“Kini, kalian harus mengingat kepentingan kalian datang ke tempat ini. Bukan sekedar mencari minum. Tetapi ada yang lebih penting. Ternyata yang pertama-tama kalian ingat waktu kalian sampai ke tempat ini adalah air untuk minum. Bukan bentuk sungai ini.”

“He,” ketiga kawan-kawannya tersentak mendengar keterangan itu. Tiba-tiba mereka dengan nanar memandang keadaan di sekelilingnya. Tebing sungai ini tidak terlampau dalam, bahkan cukup rendah. Karena itu maka terloncatlah dari mulut mereka. “Tebing ini cukup rendah. Kita akan dapat menaikkan airnya dengan mudah. Agni, di sini kita dapat membuat bendungan itu.”

Mahisa Agni tersenyum kembali. Dengan puas ia berkata, “Nah, kenalilah tempat ini baik-baik. Bukan sekedar tempat untuk mendapatkan minum. Tebing ini memang cukup rendah, sehingga kalian yang meloncat terjun sama sekali tidak mengalami cedera, selain lecet-lecet di beberapa tempat pada tubuh kalian.”

Ketiga kawannya tersenyum pula. Serentak mereka berdiri. Memang kini mereka merasa bahwa tubuh-tubuh mereka menjadi pedih, namun kegembiraan mereka ternyata telah melonjak, sehingga mereka sama sekali tidak merasakannya.

“Agni,” berkata Sinung Sari, “bukankah tempat ini amat baiknya?”

“Ya,” jawab Agni, “tebingnya rendah, dan di sekitar tempat ini cukup banyak bahan yang dapat kita pergunakan. Batu dan dedaunan, ranting-ranting kecil dan sebagainya. Kita akan dapat segera membangun bendungan itu di sini.”

Penemuan itu ternyata telah melenyapkan segala perasaan sakit dan lelah. Mereka merasa bahwa tugas mereka berhasil. Menemukan tempat yang baik untuk membangun bendungan. Karena itu maka kini mereka dapat beristirahat dengan tenang, tanpa takut lagi akan kehausan. Sebab di hadapan mereka, air yang jernih mengalir melimpah-limpah.

Namun dalam pada itu, timbul pulalah gangguan yang lain bagi ketiga kawan-kawan Mahisa Agni. Matahari ternyata semakin condong ke barat, dan bahkan menjadi terlalu rendah.

“Agni. Bagaimanakah dengan kita kini. Apakah kita akan segera kembali?” bertanya Jinan.

“Apakah kalian tidak lelah?” bertanya Agni.

Jinan terdiam. Ia memang lelah sekali. Tetapi perasaan cemas dan takut kembali merayap di hatinya.

“Kita bermalam di sini,” berkata Agni, “jangan takut. Bukankah hantu Karautan telah tidak ada lagi. Bukankah Kuda Sempana pun telah terusir?”

Ketiga kawan Mahisa Agni itu mengangguk-anggukkan kepala mereka, tetapi tampaklah bahwa wajah-wajah mereka sama sekali tidak meyakinkan kebenaran kata-kata Mahisa Agni.

Mahisa Agni pun menyadarinya. Tetapi ia tidak berkata-kata lagi. Dengan tenangnya ia membaringkan dirinya pada sisa-sisa sinar matahari yang telah menjadi semakin rendah untuk mengeringkan celananya yang basah kuyup dan kotor karena lumpur. Namun pada bibirnya membayang kepuasan hatinya bahwa usahanya selama dua hari ini, kini telah berhasil. Meskipun dengan susah payah dan berbagai kesulitan, tetapi apabila kemudian di tempat ini benar-benar dapat dibangun sebuah bendungan, maka manfaat dari jerih payahnya adalah berlipat-lipat.

Mahisa Agni yang lelah tetapi mendapat kepuasan hati itu pun bahkan kemudian tertidur tetap. Meskipun celananya masih basah dan tubuhnya dikotori dengan butiran-butiran batu padas dan lumpur.

Ketiga kawan-kawannya bahkan menjadi sangat gelisah. Tetapi mereka tidak berani membangunkan Mahisa Agni. Selama matahari masih bersinar, mereka masih dapat menahan kecemasan mereka. Tetapi ketika cahaya kemerahan di ujung barat semakin lama menjadi semakin kelam, dan burung-burung liar telah beterbangan pulang ke sarang, maka mereka tidak dapat lagi menahan kegelisahan mereka. Meskipun tidak langsung, namun mereka pun mencoba membuat suara-suara yang akan dapat membangunkan Mahisa Agni.

Ternyata usaha mereka itu pun berhasil. Mereka merasa tenteram ketika mereka melihat Mahisa Agni menggeliat dan kemudian bangkit duduk di samping mereka.

“Senja,” desisnya.

“Ya. Senja hampir lampau,” jawab Sinung Sari.

“Alangkah segarnya tubuhku kini. Apakah kalian tidak ingin tidur?”

“Sebenarnya. Tetapi kami menjadi gelisah. Kami tidak akan dapat tidur bersama-sama.”

“Kalau demikian, apabila kalian inginkan, tidurlah. Aku akan berjaga-jaga setelah aku mendahului tidur nyenyak.”

Ketiganya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ketika mereka melihat Mahisa Agni berdiri, terentak mereka bertanya, “Ke mana Agni?”

“Mencari rumput-rumput kering dan ranting?”

“Untuk apa?”

“Perapian.”

“Jangan,” teriak mereka bersama-sama, “tempat kita akan segera diketahui orang. Mungkin Kuda Sempana yang datang membawa kawan-kawannya.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sependapat dengan mereka, meskipun hanya disimpannya di dalam hati, supaya kawannya itu tidak menjadi semakin cemas. Bahkan katanya, “Hem. Kalian masih saja dibayangi oleh ketakutan.”

Ketiga kawan-kawannya tidak menjawab. Namun mereka merasa agak tenteram ketika mereka melihat Mahisa Agni seakan-akan tidak menjadi gelisah sama sekali meskipun senja menjadi semakin gelap.

Mahisa Agni pun kemudian duduk kembali. Tetapi ketika angin senja menyentuh tubuhnya terata alangkah dinginnya. Dan tiba-tiba diingatnya kain panjangnya yang masih bersambung sambungan dengan kain kawan-kawannya. Karena itu, maka segera kembali ia berdiri.

“Ke mana Agni,” serentak kawan-kawannya pun bertanya kembali.

“Kain panjang kita,” sahut Agni.

Ketiga kawan-kawannya tidak bertanya lagi. Mahisa Agni kemudian berjalan memungut kain panjangnya yang terbelah dan terikat satu sama lain. Dicobanya untuk mengurai ikatan itu. Tetapi ternyata kemudian bahwa kain itu telah hampir menjadi compang-camping. Meskipun demikian, dipakainya juga kain yang telah berlubang-lubang dan kotor itu untuk menutup badannya menahan dingin. Ketiga kawan-kawannya pun berbuat serupa. Hanya karena itu, maka badan mereka menjadi gatal-gatal.

Meskipun kemudian Mahisa Agni tetap duduk berjaga-jaga, namun ketiga kawan-kawannya tidak segera dapat tertidur. Betapa perasaan lelah merayapi segenap tulangnya, namun perasaan cemas dan gelisah ternyata telah menindasnya. Sekali-sekali terasa angin yang sejuk menghanyutkan mereka sekejap-sekejap, tetapi segera mereka tergagap bangun. Seakan-akan sesuatu telah siap untuk menerkam mereka satu demi satu. Namun ketika terpandang oleh mereka dalam keremangan malam Mahisa Agni masih duduk memeluk kedua lututnya, maka mereka pun menarik nafas dalam-dalam.

Ujung malam itu semakin lama menjadi semakin dalam. Langit yang biru gelap terbentang di atas padang rumput yang luas bertaburkan bintang-bintang yang semakin lama seolah-olah menjadi semakin banyak. Sehelai-sehelai awan yang putih dihanyutkan oleh angin perlahan-lahan mengalir ke utara.

Hati kawan-kawan Mahisa Agni itu benar-benar tidak dapat tenteram. Di kejauhan kembali terdengar suara burung kedasih sayup-sayup melas asih. Seperti suara tangis biyung yang kehilangan anaknya tersayang. Sayup-sayup menyusup di hati di antara desir angin yang lembut.

Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni itu mengeluh di dalam hati. Mereka belum pernah mengalami pekerjaan seberat ini. Bukan saja tenaga mereka yang terperas habis, tetapi juga perasaan mereka yang gelisah, cemas, takut dan segala macam perasaan yang mengerikan.

Sekali-sekali mereka mencoba juga menghibur diri mereka. Di samping mereka masih ada Mahisa Agni. Tetapi agaknya kecemasan dan ketakutan mereka benar-benar telah memenuhi segenap rongga dada mereka.

Padang itu semakin lama menjadi semakin sunyi. Sehingga suara burung kedasih itu pun menjadi semakin jelas bergema memenuhi padang Karautan. Kadang-kadang perlahan-lahan, namun kadang-kadang menjadi semakin jelas.

Tetapi tiba-tiba di antara keluh burung kedasih itu, terdengar suara yang lain. Lamat-lamat dalam irama yang seakan-akan teratur. Semakin lama semakin jelas.

Ketika suara itu telah mereka yakini, maka serentak terdengar ketiga kawan Agni itu berkata parau, “Kuda. Derap kuda.”

Mahisa Agni pun kemudian mengangkat kepalanya. Sebenarnya telah didengarnya pula suara derap kuda itu. Namun ia masih saja berdiam diri untuk tidak mencemaskan hati kawan-kawannya. Tetapi kini kawan-kawannya itu telah mendengar sendiri. Bahkan mereka telah dapat menyebutnya, bahwa suara itu adalah suara derap kaki kuda. Karena itu, maka Mahisa Agni pun menjawab, “Ya. Derap kaki kuda.”

“Oh,” desah Patalan, “pasti Kuda Sempana datang bersama kawan-kawannya.”

Mahisa Agni mempertajam pendengarnya. Sesaat kemudian ia menjawab, “Pasti bukan. Suara itu hanya suara derap kaki seekor kuda.”

“Kenapa hanya seekor?” bertanya Sinung Sari.

Mahisa Agni heran mendengar pertanyaan itu.

“Kenapa?” ulangnya, “ya kenapa?”

“Maksudku, apakah kau tahu benar bahwa suara itu suara derap kaki seekor kuda?” Sinung Sari menjelaskan.

“Ah,” sahut Agni, “bukankah kalian dapat juga membedakan.”

Sinung Sari kemudian terdiam. Kawan-kawannya pun terdiam. Namun gelora di dalam dada mereka mulai bergolak kembali.

“Kali ini jangan memperbodoh diri,” berkata Mahisa Agni kemudian, “seandainya yang datang itu orang yang akan membawa bencana, jangan kau serahkan kepalamu untuk dipenggalnya. Kalau tidak ada jalan lain, maka kalian harus memilih, dipenggal atau memenggal kepala orang itu. Bukankah kalian membawa pedang? Selama aku masih dapat melindungi kalian, aku akan mencobanya. Tetapi kalau tidak, bukan salahku kalau kalian mati di padang rumput ini. Ayo. Tengadahkan wajahmu. Sambutlah setiap tantangan untuk di atasi. Jangan menyerah.”

Terasa kebenaran kata-kata Mahisa Agni itu. Sebuah getaran menyusup ke dalam hati mereka. Mereka pun sebenarnya ingin pula berbuat demikian. Tetapi mereka sama sekali belum pernah bertempur melawan apapun. Ada juga di antara mereka di masa kanak-kanaknya berkelahi satu sama lain. Bahkan kadang-kadang mereka pun sering melakukan permainan yang menyerupai perkelahian, binten, bantingan dan sebagainya. Tetapi sama sekali tidak berbahaya bagi keselamatan mereka.

Mahisa Agni melihat keragu-raguan itu, sehingga katanya, “Seterusnya terserah kepada kalian. Apakah kalian ingin mati, apakah kalian akan mencoba menghindarinya dengan sebuah usaha.”

Sekali lagi sebuah getaran menyusup ke dalam hati mereka.

Mereka dihadapkan pada dua buah pilihan, Mati atau berusaha menyelamatkan diri.

Derap kuda itu semakin lama menjadi semakin dekat. Namun Mahisa Agni yang jauh lebih berpengalaman dari ketiga kawan-kawannya segera dapat mengetahuinya, bahwa kuda itu tidak berjalan terlalu cepat. Derap kakinya yang memukul batu-batu padas pun tidak terdengar terlalu keras meskipun kuda itu sudah menjadi semakin dekat.

“Kita bersembunyi,” bisik Mahisa Agni kepada kawan-kawannya, “Tetapi itu bukan berarti bahwa kita adalah pengecut. Namun kita harus mengetahui lebih dahulu siapakah yang datang itu. Kalau tidak ada persoalan yang memaksa, kita akan dapat menghindari setiap persoalan yang tidak kita kehendaki.”

Sebelum Mahisa Agni berbuat sesuatu, ketiga kawan-kawannya telah mendahuluinya, menyurukkan diri mereka sendiri ke dalam semak-semak. Mereka mengumpat-umpat di dalam hati mereka, apabila pedang-pedang mereka ternyata malahan mengganggu, karena tangkai-tangkainya, dan kadang-kadang sarungnya menyangkut ranting-ranting kecil

Mahisa Agni menarik nafas. Tetapi ia tidak berkata sepatah kata pun. Yang terakhir, ia sendiri berusaha menyembunyikan diri pula dibalik-balik gerumbul kecil sambil berusaha mengawasi penunggang kuda yang sudah menjadi semakin dekat.

Sesaat kemudian, seakan-akan muncul dari keremangan malam, sesosok tubuh duduk di atas seekor kuda yang besar. Semakin lama semakin dekat. Dan mata Mahisa Agni yang tajam, segera dapat melihat sebilah pedang tergantung di lambung penunggangnya.

Sebenarnya kuda itu tidak berjalan terlalu cepat. Bahkan sekali-sekali berhenti dan seakan-akan memang ada yang dicarinya.

Dada Mahisa Agni berdesir ketika baru saja disadarinya, beberapa macam barang-barang milik kawannya tertinggal di tempat mereka beristirahat. Bumbung-bumbung kecil dan sebuah bungkusan bekal makanan.

“Hem,” Mahisa Agni berdesah di dalam dadanya. Sebenarnya ia ingin menghindari setiap persoalan dengan menyembunyikan dirinya. Tetapi kalau penunggang kuda itu melihat beberapa macam benda-benda yang berserakan itu, maka pasti orang itu menyangka bahwa setidak-tidaknya tempat ini merupakan tempat yang harus mendapat perhatian. Meskipun Mahisa Agni sama sekali tidak takut seandainya ia harus berhadapan dengan siapa pun yang mengganggu usahanya tetapi baginya, kemungkinan-kemungkinan yang demikian akan dihindarinya sejauh mungkin.

Mahisa Agni menggigit bibirnya ketika ia melihat kuda itu menjadi bertambah dekat. Dan apa yang dicemaskannya itu ternyata benar-benar terjadi. Ketika penunggang kuda itu melihat beberapa benda yang terserak-serak, maka segera ia menghentikan langkah kudanya. Dengan lincahnya ia meloncat turun, dan kemudian dengan seksama ia memperhatikan benda-benda yang berserakan itu.

Kini Mahisa Agni seakan-akan menahan nafasnya. Ia berada dibalik sebuah gerumbul yang tidak terlalu dekat dengan orang yang baru datang itu. Apalagi daun-daun perdu di gerumbul itu selalu saja mengganggunya, apabila ia mencoba untuk melihat orang yang baru saja datang itu. Namun lamat-lamat disela-sela dedaunan, meskipun tidak jelas ia melihat orang itu membongkokkan badannya, memungut beberapa macam benda-benda yang terserak-serak itu.

Tetapi orang itu masih berdiam diri. Ketika kemudian ia berdiri tegak terdengar tarikan nafasnya. Sambil berjalan beberapa langkah, orang itu bergumam, “Pasti di sini. Di sekitar tempat ini.”

Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Kata-kata itu hanya didengarnya lamat-lamat. Namun tiba-tiba terasa olehnya, bahwa ia pernah mengenal orang yang baru datang itu.

Mahisa Agni kemudian melihat orang itu memperhatikan keadaan di sekitarnya. Sesaat orang itu berdiam diri. Dan kemudian terdengar ia tertawa. Dari dalam sebuah gerumbul ia mendengar dengus nafas berdesah semakin cepat.

“Ha,” katanya, “di situ kalian bersembunyi.”

Jinan, Patalan dan Sinung Sari mendengar kata-kata itu. Darah mereka seakan-akan berhenti mengalir. Tetapi sesaat kemudian teringatlah mereka akan kata-kata Mahisa Agni, bahwa mereka jangan menyerahkan kepala mereka tanpa perlawanan. Namun, sangatlah berat tangan mereka untuk bergerak menarik pedang mereka itu.

“Kenapa kalian bersembunyi?” terdengar orang itu bertanya sambil berjalan beberapa langkah maju. Sedang nafas di dalam gerumbul itu menjadi semakin cepat memburu lewat lubang-lubang hidung mereka.

Namun tiba-tiba orang itu terkejut. Selangkah ia turut, dan dengan tangkai ia memutar tubuhnya ketika ia mendengar suara di belakangnya, “Di sini aku. Bukan di situ.”

Suara itu adalah suara Mahisa Agni. Ketika ternyata orang itu mengetahui tempat persembunyian kawannya, ia tidak dapat langsung bersembunyi sambil berdiam diri. Mahisa Agni terpaksa menampilkan dirinya untuk melindungi ketiga kawannya.

Tetapi Mahisa Agnilah yang kemudian terkejut mendengar orang itu menyebut namanya, “Mahisa Agni.”

“Ya.”

Orang itu berjalan mendekatinya. Semakin lama semakin dekat.

“Kau telah mengenal namaku,” bertanya Mahisa Agni.

“Ken Arok berkata kepadaku, bahwa kau berada di padang ini bersama ketiga kawan-kawanmu. Salah seorang yang berani menyatakan dirinya, pastilah hanya Mahisa Agni.”

Mahisa Agni mengawasi orang itu dengan seksama. Ketika orang itu menjadi semakin dekat, tiba-tiba terdengar Mahisa Agni berkata, “Oh, kau Mahendra. Kau mengejutkan kami di sini.”

Mahendra tersenyum. Jawabnya, “Aku tidak sengaja. Tetapi Ken Arok telah bercerita kepadaku, bahwa kau berada di padang Karautan bersama tiga orang yang aneh.”

“Di situlah mereka,” sahut Mahisa Agni sambil menunjuk ke gerumbul tempat kawan-kawannya bersembunyi.

“Ya. Aku telah mendengar tarikan nafas mereka.”

“He, Jinan, Patalan dan Sinung Sari,” panggil Mahisa Agni, “Kemarilah. Yang datang adalah kawan kita sendiri.”

Kembali ketiga kawan Mahisa Agni itu tersuruk-suruk keluar dari tempat persembunyian mereka. Dengan agak malu-malu mereka berjalan mendekati.

“Inilah mereka,” berkata Mahisa Agni memperkenalkan kawan-kawannya.

“Kenapa kalian bersembunyi?” bertanya Mahendra.

Ketiganya tunduk tersipu-sipu. Namun kemudian Sinung Sari menjawab, “Mahisa Agni menyuruh kami bersembunyi.”

“Oh,” desis Mahendra sambil tersenyum, “benar begitu?”

Mahisa Agni pun tersenyum pula. Jawabnya, “Ya. Akulah yang menyuruh mereka bersembunyi, meskipun sama sekali tidak mereka kehendaki, sebab aku ingin menghindari persoalan yang dapat timbul kemudian, seandainya yang datang bukan kawan sendiri. Persoalan yang mungkin tidak ada gunanya, selain hanya untuk memenuhi kesenangan mereka bertiga. Bukan begitu Sinung Sari?”

Seandainya terlihat oleh mereka, maka wajah Sinung Sari menjadi kemerah-merahan. Ia sama sekali tidak menjawab pertanyaan Mahisa Agni itu, dan bahkan kepalanya menjadi semakin tunduk dalam-dalam.

Mahisa Agni dan Mahendra tidak dapat menahan senyum mereka. Dari Ken Arok, Mahendra telah mendengar cerita tentang ketiga kawan Mahisa Agni itu. Karena itu serba sedikit ia dapat mengetahui sifat-sifat mereka.

Ketika Sinung Sari sama sekali tidak menjawab, dan bahkan dengan perasaan malu ia berkisar ke samping, maka berkatalah Mahisa Agni, “Mari, Mahendra, duduklah.”

Mereka itu pun kemudian duduk melingkar di atas tanah yang berdebu. Di sana-sini rumput liar tumbuh dengan lebatnya.

Sesaat malam menjadi hening, sehening padang yang tidak berpenghuni. Sayup-sayup di kejauhan masih terdengar suara burung kedasih menggetarkan sepi malam.

“Mahendra,” terdengar suara Mahisa Agni kemudian, “apakah kau juga ingin menjadi hantu padang Karautan?”

Mahendra mengangkat wajahnya. Sekilas tampak senyumnya. menggerakkan bibirnya.

“Sebetulnya,” sahutnya, “tetapi aku tidak tahan dingin, karena itu maksud itu aku urungkan.”

“Lalu apakah keperluanmu berada di padang ini?” bertanya Mahisa Agni.

“Kakang Witantra menyuruhku datang kemari, setelah pagi-pagi tadi kami bertemu dengan Ken Arok.”

“Apa katanya?”

“Ken Arok melihat hantu padang Karautan saling berkelahi.”

Keduanya tertawa pendek. Lalu Mahendra meneruskan, “Tetapi Kakang Witantra tidak tertarik kepada hantu-hantu itu. Ia lebih tertarik pada cerita Ken Arok yang lain”

“Cerita yang manakah itu?”

“Mahisa Agni,” berkata Mahendra dengan nada yang lain. Tampaknya kini ia mulai bersungguh-sungguh, “Apakah benar Ken Arok telah mengatakan kepadamu tentang adikmu itu?”

Mahisa Agni mengangguk.

“Bahwa Akuwu Tunggul Ametung menghendakinya?”

“Tetapi kenapa kau tidak mau menerimanya seandainya Akuwu itu akan datang kepadamu untuk mewakili ayah gadis itu.”

Mahisa Agni kini menggelengkan kepalanya. Perlahan-lahan ia menjawab, “Tidak, tidak perlu. Gadis itu dibawa dengan cara yang kasar. Biarlah cara itu dilakukan untuk seterusnya.”

“Tetapi yang melakukan itu adalah Kuda Sempana.”

“Bukankah Akuwu Tunggul Ametung bersamanya pada waktu itu?”

Mahendra terdiam sesaat. Jawaban Mahisa Agni itu dapat dimengertinya. Luka hatinya pada saat ia kehilangan adiknya ternyata terlampau parah, sehingga setiap sentuhan padanya, masih juga akan terasa betapa sakitnya.

Mahisa Agni sendiri kemudian menundukkan kepalanya.

Sakit di hatinya itu jauh lebih parah dari yang disangka oleh Mahendra. Meskipun demikian, sama sekali tidak terucapkan kepada siapa pun juga. Yang dapat mengetahui, apa sebenarnya yang mencengkam jantungnya, hanyalah emban tua, pemomong Ken Dedes, yang tidak lain adalah ibunya sendiri dan gurunya yang tua, ayah Ken Dedes.

Sesaat mereka duduk berdiam diri. Gelap malam semakin lama menjadi semakin dekat dan bintang-gemintang di langit yang biru bertebaran dari ujung ke ujung. Terasa udara menjadi semakin dingin sampai menggigit tulang.

Dalam keheningan itu, kemudian terdengar Mahendra berkata, “Agni. Aku tahu betapa hatimu tersinggung karena sikap Kuda Sempana yang pada saat itu datang dalam lindungan Akuwu Tumapel. Tetapi menurut Kakang Witantra, Akuwu Tunggul Ametung menjadi kecewa sedalam-dalamnya terhadap perbuatannya, dan bahkan atas nama Akuwu, Kakang Witantra telah berhasil memisahkan Ken Dedes dari Kuda Sempana. Bahkan kemudian, setelah Akuwu Tunggul Ametung mendengar bahwa Wiraprana telah terbunuh, jatuhlah perasaan ibanya yang tulus kepada Ken Dedes.”

Mahendra berhenti sesaat seolah-olah ia menunggu katanya itu menghunjam ke pusat jantung Mahisa Agni. Namun masih saja dilihatnya Mahisa Agni menunduk.

Maka berkatalah ia seterusnya, “Agni. Secara jujur aku katakan, bahwa aku pun kecewa melihat Ken Dedes akan menjadi seorang permaisuri, sebab bagiku belum ada seorang gadis yang lain yang mampu menyentuh hatiku. Namun adalah lebih baik baginya, bagi gadis itu sendiri, apabila ia akan dapat menemukan ketenteraman dan kebahagiaan sebagai permaisuri Akuwu Tunggul Ametung.”

“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali, sedalam luka yang menusuk ke dalam jantungnya. Tetapi ia belum menjawab. Dibiarkannya Mahendra berkata terus, “Agni, Akuwu telah menetapkan hari perkawinannya. Karena itu, atas namanya, Kakang Witantra mengharap kau akan dapat menerimanya, mewakili ayahmu menyerahkan Ken Dedes kepada Akuwu Tunggul Ametung.”

Mahendra menatap wajah Mahisa Agni dalam-dalam. Sesaat ia menunggu, apakah yang akan dikatakan oleh Mahisa Agni itu. Tetapi dadanya berdesir ketika ia melihat Mahisa Agni menggelengkan kepalanya, “Tak ada gunanya Mahendra. Akuwu telah mengambil keputusan. Mungkin Ken Dedes telah menerima lamarannya pula. Karena itu, biarlah mereka memutuskan kehendak mereka sendiri. Mereka telah cukup dewasa.”

“Tetapi itu tidak lazim, Agni.”

“Sejak permulaan peristiwa itu sudah berjalan tidak sewajarnya.”

Kini Mahendralah yang menarik nafas dalam-dalam. Agaknya pendirian Mahisa Agni telah tidak mungkin dapat diubahnya. Meskipun demikian ia masih mencobanya, “Agni. Witantra minta dengan sangat kau mengubah pendirianmu. Sebab dengan demikian, Ken Dedes akan merasa kau lepaskan seorang diri. Mungkin ia merasa bahwa kau tidak merestuinya.”

Mahendra menjadi semakin kecewa ketika ia melihat Mahisa Agni menggeleng sekali lagi.

“Kau tetap pada pendirianmu Agni?”

“Maaf Mahendra. Aku tidak dapat menerima Tunggal Ametung. Pembicaraan telah berlangsung tanpa aku. Biarlah persoalan itu selesai tanpa aku pula.”

“Agni. Kau terlalu perasa.”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Perkataan Mahendra itu tepat menyentuh hatinya. Tetapi ia tidak kuasa untuk mengatasi perasaannya. Sehingga dengan demikian kembali ia berdiam diri sambil menundukkan kepalanya.

Tetapi Mahendra dengan itu telah dapat mengetahui, bahwa Mahisa Agni benar-benar tidak dapat memaafkan Kuda Sempana dan Akuwu Tunggul Ametung. Bahkan demikian sakit hatinya, sehingga ia sama sekali tidak mengingat lagi kepentingan gadis yang disangka adiknya.

“Agni,” berkata Mahendra kemudian, “Perkawinan itu akan berlangsung segera. Aku mengharap kau sempat mempertimbangkan keputusanmu, supaya adikmu tidak seolah-olah sehelai daun kering yang diterbangkan angin. Ia tidak dapat menolak keinginan Akuwu, tetapi ia merasa diasingkan dari keluarganya.”

Mahisa Agni terdiam. Kepalanya masih ditundukkannya. Namun ia masih tidak mampu mengatasi perasaan sendiri.

Kembali mereka terlempar ke dalam suasana sunyi. Masing-masing terbenam dalam pikiran sendiri. Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni pun mendengar percakapan itu dengan pertanyaan yang membelit hati. Kenapa Mahisa Agni menolak bertemu dengan Akuwu? Bukankah suatu karunia tiada taranya, gadis sedesanya dapat menjadi seorang permaisuri, dan gadis itu adalah saudara Mahisa Agni, meskipun kawan-kawannya tahu bahwa gadis itu adalah saudara angkatnya, karena Agni menjadi murid Empu Purwa. Tetapi mereka sama sekali tidak mau mencampuri persoalan yang tidak diketahui benar ujung pangkalnya. Mereka takut kalau-kalau dengan demikian mereka berbuat kesalahan.

Dalam kesenyapan itu tiba-tiba Mahisa Agni berkata, “Ah, lupakanlah semua itu Mahendra. Marilah kita berbicara tentang hal yang lain.”

Mahisa Agni itu berhenti sejenak. Tiba-tiba ia berdiri sambil berkata lantang, “Lihat, di sini aku akan membuat bendungan. Bendungan itu akan mengaliri tanah padang rumput ini, sehingga padang ini akan menjadi tanah persawahan.”

Mahendra pun memandang ke arah sungai yang ditunjuk oleh Mahisa Agni. Namun ia tidak dapat melepaskah persoalannya dengan tiba-tiba. Ia masih dicengkam oleh perasaan yang aneh tentang sikap Mahisa Agni terhadap Akuwu Tunggul Ametung.

Karena itu meskipun ia memandangi arus air yang gemercik di sampingnya, namun ia tidak segera menjawab kata-kata Mahisa Agni. Yang terdengar kemudian adalah suara Mahisa Agni, “Mahendra, apabila kami telah berhasil mengangkat air, dan menyalurkannya ke dalam parit-parit yang akan kita buat pula, maka tanah ini akan menjadi tanah subur. Tidak kalah suburnya dengan tanah-tanah persawahan di Panawijen yang sekarang menjadi kering. Bahkan apabila air nanti cukup banyak, kami akan menyalurkannya pula ke tanah-tanah yang sekarang menjadi kering di Panawijen,”

Mahisa Agni berhenti sebentar, kemudian katanya melanjutkan, “Tetapi jarak untuk itu terlalu jauh.”

Ketika Mahisa Agni kemudian berpaling memandangi wajah Mahendra, maka Mahendra itu mengangguk kosong. Katanya, “Ya. Mudah-mudahan.”

Mahisa Agni pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berkata lagi. Kini ia berjalan perlahan-lahan mendekati air yang mengalir tanpa ada henti-hentinya. Berpuluh-puluh tahun bahkan mungkin telah beratus-ratus tahun.

Tetapi Mahisa Agni itu terkejut ketika Mahendra berkata kepadanya, “Mahisa Agni. Jadi bagaimana jawabmu yang harus aku sampaikan kepada Kakang Witantra?”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Tetapi ia masih berdiri di pinggiran sungai. Bahkan ujung kakinya telah menyentuh air yang gemercik di bawah kakinya, mencerminkan bayangan bintang-bintang di langit. Berkilat-kilat dan bergetar karena arusnya.

“Maaf. Aku minta maaf kepada kakak seperguruanmu itu. Aku minta maaf kepada Akuwu Tunggul Ametung. Akuwu itu tidak perlu datang kepadaku. Katakanlah kepada Witantra agar disampaikannya kepada Akuwu, bahwa segala sesuatu tergantung kepada Ken Dedes sendiri. Kalau ia menghendakinya, maka biarlah dilakukannya apa yang baik untuknya.”

“Hem,” Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia bertanya, “Tetapi bagaimana sikapmu secara jujur? Apakah kau berkenan di hati atau sebaliknya?”

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar pertanyaan itu. Kemudian jawabnya, “Aku tidak dapat memandang persoalan ini dengan sejujur hatiku. Persoalan ini sudah terlanjur masuk ke dalam keadaan yang tidak aku kehendaki.”

“Mungkin ada soal-soal yang dapat dibicarakan, dicari kemungkinan yang dapat memberimu kepuasan.”

Mahisa Agni itu tiba-tiba menggelengkan kepalanya. Tetapi kemudian terdengar giginya gemeretak. Tiba-tiba sekali lagi ia berkata lantang, “Mahendra. Jangan kau risaukan lagi persoalan itu. Lihat. Lihat arus sungai ini. Cukup besar dan cukup kuat untuk mengaliri padang ini. Bagaimana pendapatmu? Apakah kau melihat pula kemungkinan itu?”

Tiba-tiba suaranya menurun, “Maaf jangan kau singgung lagi tentang adikku itu. Biarlah ia menentukan jalannya sendiri. Aku akan selalu merestuinya. Tetapi bagaimana dengan rencanaku membuat bendungan di sini?”

Sekali lagi Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Mahisa Agni itu benar-benar sudah tidak mau lagi diajaknya untuk membicarakan masalah adiknya dan Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu maka ia tidak mau bertanya lagi, sebab dengan demikian akan dapat menyinggung perasaan anak muda perasa itu.

Bahkan Mahendra itu pun kemudian berdiri dan melangkah maju mendekati Mahisa Agni. diamat-amatinya sungai yang mengalir dalam gelap malam itu.

Mahendra itu terkejut ketika tanpa disangka-sangkanya Mahisa Agni menepuk punggungnya sambil berkata, “He, bagaimana? Bukankah tempat ini akan menjadi tempat yang sangat baik untuk membangun bendungan?”

Dengan serta-merta, di luar sadarnya Mahendra menjawab, “Ya. Baik. Tempat ini baik sekali untuk membuat bendungan.”

Mahisa Agni tertawa masam. Ia sadar bahwa jawaban Mahendra itu demikian saja meluncur dari bibirnya. Tetapi Mahisa Agni tidak mendesaknya lagi.

Ketika kemudian mereka terdiam sesaat, terdengar suara gemercik air itu menjadi semakin keras. Di bawah mereka, sayup-sayup terdengar gemerajak air jeram. Bahkan apabila angin mengalir semakin keras, maka suara jeram-jeram itu pun terbawa pula ke telinga Mahisa Agni, Mahendra, dan ketiga kawan-kawannya, semakin keras pula. Namun dalam pada itu, ternyata di dalam dada Mahisa Agni terdengar suara yang jauh lebih riuh lagi dari suara arus sungai itu dan bahkan lebih gemuruh dari suara gerojogan jeram-jeram di sebelah.

Untuk menindas kegelisahannya tiba-tiba Mahisa Agni berkata. “He, Mahendra, dari mana kau tahu bahwa aku berada di tempat ini?”

Mahendra mengerutkan keningnya. Dengan segan ia menjawab pendek, “Dari Ken Arok.”

“Aku bertemu dengan Ken Arok tidak di sini.”

“Kau menelusur sungai ini,” sahut Mahendra, “aku pun berbuat demikian menurut petunjuk Ken Arok.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi suara di dalam dadanya masih saja berdesingan. Sehingga kembali ia mencoba melepaskan tekanan perasaan itu, “Kenapa kau berjalan sendiri? Di mana saudara seperguruanmu yang nakal itu, Kebo Ijo?”

“Ia kini bekerja di istana.”

“He, apakah yang dikerjakannya?”

“Seperti Kakang Witantra. Baru beberapa hari atas ajakan Kakang Witantra, supaya ia tidak berkeliaran saja sepanjang jalan sambil mengganggu gadis-gadis.”

“Bagus. Itu lebih baik baginya,” sahut Mahisa Agni.

Tetapi Mahendra tidak berkata apa-apa lagi, sehingga kembali suasana menjadi kaku dan sepi. Kembali suara air gemericik itu menyentuh-nyentuh sepinya malam.

Namun tiba-tiba Mahisa Agni dan Mahendra mendengar suara yang lain-lain. Bukan suara gemercik air, dan bukan pula suara jeram-jeram di sebelah. Suara itu semakin lama menjadi semakin jelas, semakin jelas.

Sesaat Mahendra dan Mahisa Agni saling berpandangan. Hampir bersamaan pula mereka berpaling memandangi ketiga kawan Mahisa Agni yang duduk membeku memeluk lutut-lutut mereka.

Bersamaan pula mereka segera mendapat kesimpulan, bahwa bukan mereka bertiga itulah yang sedang berbisik-bisik. Tetapi pasti orang lain. Karena itu, maka dengan matanya Mahisa Agni memberi isyarat kepada Mahendra, dan Mahendra pun segera menangkap maksudnya.

Tanpa berkata sepatah kata pun mereka kemudian berjalan kembali ke samping kawannya. Namun mereka tidak segera duduk bersama mereka, bahkan kemudian Mahisa Agni dan Mahendra itu pun berdiri berhadapan, sehingga mereka masing-masing dapat melihat, apa yang ada di belakang mereka sebelah menyebelah.

Sejenak mereka tidak lagi mendengar apapun. Suara berbisik itu seakan-akan lenyap. Dengan demikian mereka mendapat kesimpulan, bahwa suara itu berada lebih dekat pada tempat mereka berdiri semula, atau orang-orang yang sedang berbisik-bisik itu kini telah berdiam diri.

Tetapi Mahisa Agni dan Mahendra tidak kehilangan kewaspadaan. Segera mereka mempertajam pendengaran mereka, untuk mencoba menangkap setiap suara yang betapapun lemahnya, menyentuh telinga mereka.

Dan sejenak kemudian kembali mereka mendengar suara itu perlahan-lahan. Namun tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara tertawa yang menggetarkan udara malam.

Mahisa Agni dan Mahendra segera menyadari bahaya yang datang. Apalagi ketiga kawan-kawan Mahisa Agni. Tubuh mereka tiba-tiba menggigil seperti orang kedinginan. Namun mereka sama sekali tidak berani beranjak dari tempat mereka masing-masing, sebab mereka tidak melihat siapakah yang sedang tertawa menyakitkan telinga itu.

“Orang itukah yang bernama Mahisa Agni,” terdengar suara dari balik-balik gerumbul di pinggir sungai.

“Ya,” jawab suara yang lain.

“Bagus. Aku ingin melihatnya dari dekat,” berkata suara yang pertama.

Mahisa Agni segera memutar tubuhnya menghadap ke arah suara itu. Mahendra pun kemudian melangkah maju, dan tanpa sesadarnya tangannya telah meraba hulu pedangnya.

Sejenak kemudian mereka melihat tiga orang yang muncul dari balik gerumbul. Seorang tua bertongkat hampir sepanjang tubuhnya. Seorang lagi anak muda yang berpakaian seperti pakaian pelayan dalam namun dalam keadaan yang kusut, yang segera mereka kenal, Kuda Sempana. Sedang di sampingnya masih ada lagi seorang yang lain.

Dada Mahisa Agni berdesir. Dugaannya ternyata terjadi. Seperti yang dicemaskan oleh ketiga kawan-kawannya itu, Kuda Sempana datang dengan kawan-kawannya.

Dalam pada itu terdengar Mahendra berbisik, “Kuda Sempana. Aku mendengar pula dari Ken Arok. apa yang telah dilakukan di padang ini.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Hatinya yang sedang risau itu tiba-tiba seperti terbakar melihat kedatangan Kuda Sempana kembali. Anak muda itu adalah sumber dari segala bencana yang menimpa gurunya, Ken Dedes dan dirinya sendiri. Bahkan akibatnya telah menimpa Panawijen pula, sehingga malam ini ia terpaksa berada di padang Karautan. Karena itu, maka Mahisa Agni itu tiba-tiba menggeretakkan giginya.

Tiga orang yang datang itu pun semakin lama menjadi semakin dekat. Orang yang bertongkat hampir sepanjang tubuhnya itu ternyata seorang yang telah lanjut usia. Janggutnya tidak seberapa panjang, namun dalam kelam malam, Mahisa Agni dapat membedakannya, bahwa janggut itu telah mulai memutih. Tetapi Mahisa Agni lebih terkejut lagi ketika kemudian dilihatnya kawan Kuda Sempana yang seorang lagi. Ternyata orang itu pernah dikenalnya.

Orang itu adalah saudara seperguruan Kuda Sempana yang pernah bertempur dengannya di sebuah padukuhan di kaki Gunung Semeru. Padukuhan Kajar. Dan orang itulah yang dahulu pernah dikenalnya dengan nama Bahu Reksa Kali Elo. Kini orang yang menyimpan dendam di hatinya itu datang kembali kepadanya. Dahulu orang itu pernah berkata kepadanya, bahwa ia pada suatu saat akan menebus kekalahannya. Kini ternyata orang itu benar-benar datang. Bukan seorang diri, namun bersama-sama dengan orang lain yang menyimpan dendam pula kepadanya, sebagaimana ia mendendamnya, Kuda Sempana.

Tanpa disadarinya Mahisa Agni berpaling. Dipandanginya wajah Mahendra yang tegang. Tangannya masih melekat di hulu pedangnya. Namun Mahisa Agni tidak dapat menangkap kata hati anak muda itu. Apakah yang kira-kira akan dilakukannya, seandainya ia terlibat dalam perkelahian yang seru dan bahkan ia harus melawan orang-orang yang datang itu sekaligus. Apalagi ketika kemudian Mahisa Agni mencoba menduga siapakah orang tua yang berjanggut putih jarang-jarang itu? Apakah orang itu guru mereka? Guru Kuda Sempana dan Bahu Reksa Kali Elo itu?

Ketiga orang itu pun kemudian berhenti beberapa langkah di hadapan Mahisa Agni dan Mahendra. Mereka memandangi Mahisa Agni seperti memandangi hantu. Namun kemudian terdengar orang tua itu bertanya, “Bukankah yang ini yang bernama Mahisa Agni itu?”

Kuda Sempana mengangguk. Jawabnya, “Ya. Itulah.”

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali-sekali dipandanginya pula Mahendra, namun ia tidak berkata apapun, tentang anak muda itu.

Yang kemudian berkata adalah Bahu Reksa Kali Elo. Suaranya terdengar parau di antara suara tertawanya yang menyakitkan hati, “He, Mahisa Agni. Apakah kau masih ingat kepadaku?”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah itu tajam-tajam. Tiba-tiba ia menjadi muak melihat mukanya, karena itu maka sama sekali ia tidak bernafsu untuk menjawab pertanyaannya.

Karena Mahisa Agni masih saja berdiam diri, maka berkatalah orang itu pula, “Agni, jangan berpura-pura tidak mengenal aku lagi. Apakah kau takut aku membalas sakit hatiku saat itu?”

Warna merah menjalar di wajah Mahisa Agni mendengar kata-kata orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu. Alangkah memuakkan. Apalagi ketika kemudian ia mendengar orang itu tertawa, “Ha. Kau sekarang menjadi pucat melihat kehadiranku di sini? Tetapi sayang, semuanya sudah terlambat. Aku tidak dapat menarik diri lagi, sebab aku sudah bertekad untuk melepaskan dendamku.”

Gigi Mahisa Agni menjadi gemeretak karena kemarahan yang membakar dadanya. Namun justru karena itu, terasa mulutnya seakan-akan terbungkam. berjejal-jejal kata-kata yang akan diucapkan, namun tak sepatah kata pun yang dapat meloncat keluar selain suara gemeretak giginya.

Yang menjawab kata-kata itu justru Mahendra. Anak itu menjadi muak juga melihat tampang orang yang berkata seenaknya seolah-olah ia sendiri orang laki-laki di kulit bumi ini. “Jangan membual. Siapa kau?”

Orang itu berpaling. Ditatapnya wajah Mahendra. Kemudian masih sambil tertawa ia bertanya, “Siapa kau?”

Mahendra menggeram. Ia menjadi semakin tidak senang mendengar orang itu tidak menjawab pertanyaannya, malahan ia bertanya seperti kepada pelayannya. Karena itu maka Mahendra membentak, “Jangan membadut. Jawab pertanyaanku, siapa kau?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Sekali-sekali ia mengusap wajahnya yang kasar.

“Kau ingin tahu namaku?” katanya.

Mahendra tidak menjawab. Ditatapnya wajah itu tajam-tajam seakan-akan dari matanya memancar api yang langsung akan menjilat wajah itu.

Orang itu berpaling kepada Kuda Sempana. Dengan kata-kata yang sangat menyakitkan hati ia berkata, “Inikah cucurut yang bernama Ken Arok itu?”

Kuda Sempana menggeleng, “Bukan. Itu bukan Ken Arok.”

“Oh,” orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu menganggukkan kepalanya. Bahkan orang tua yang bertongkat hampir sepanjang tubuhnya menganggukkan kepalanya pula.

“Siapa orang ini? Apakah kau mengenalnya juga?”

“Namanya Mahendra,” jawab Kuda Sempana.

“Nama yang bagus,” sahut orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo. Kemudian kepada Mahendra ia bertanya, “Apakah kau saudara seperguruan Mahisa Agni?”

Mahendra itu pun kemudian menjadi sedemikian muaknya, sehingga ia tidak mau lagi menjawab pertanyaannya.

“He, apakah kau tidak mendengar?”

Mahendra masih berdiam diri.

“Kedua-duanya menjadi bisu,” teriak orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo.

Namun baik Mahendra maupun Mahisa Agni sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Akhirnya orang yang bertongkat dan berjanggut putih, maju selangkah. Diamat-amatinya kedua anak muda itu dengan seksama. Kemudian katanya, “Agaknya kalian telah saling mengenal. Kalian berdua dengan kedua anak ini. Tetapi baiklah aku memperkenalkan diriku, dan barangkali ada di antara kalian berdua yang belum mengenal salah seorang anak ini. Yang pertama adalah Kuda Sempana, agaknya kalian sudah mengenal. Sedang yang lain yang lebih tua ini bernama Cundaka. Tetapi ia lebih senang disebut Ki Bahu Reksa Kali Elo,” orang tua itu berhenti sesaat. Sedang Mahisa Agni dan Mahendra masih berdiri dengan tegangnya.

Tanpa mereka sangka-sangka orang tua itu menunjuk kepada ketiga kawan Mahisa Agni yang benar-benar telah membeku, “Kuda Sempana, itukah ketiga kawanmu yang kau katakan?”

“Ya,” sahut Kuda Sempana.

Orang tua itu tertawa. Suaranya yang benar-benar menyakitkan telinga dan hati. “Pantas. Orang-orang yang demikian itulah yang malahan akan mati lebih dahulu. Orang-orang yang sangat memuakkan.”

Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni mendengar pula kata-kata itu. Dan sebelum sesuatu menyentuh tubuhnya, mereka sudah merasa, seakan-akan mereka telah benar-benar mati.

“Sekarang,” berkata orang tua itu kepada Mahisa Agni dan Mahendra, “kalian pasti ingin mengenal aku bukan? Nah, sebut saja aku dengan nama Empu Sada. Ya, itulah namaku.”

Dada Mahisa Agni dan Mahendra menjadi berdebar-debar. Orang ini agaknya mempunyai kelebihan dari Kuda Sempana dan Cundaka yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo. Mungkin Kuda Sempana sengaja membawanya untuk melepaskan dendamnya kepada Mahisa Agni. Bahkan mungkin pula orang ini adalah gurunya.

Dalam derap jantungnya yang semakin cepat, Mahisa Agni dan Mahendra mendengar orang itu berkata lebih lanjut, “Ketahuilah, akulah guru kedua anak-anak ini.”

Darah Mahisa Agni dan Mahendra serasa berhenti mengalir mendengar penjelasan itu, meskipun mereka telah menyangka pula. Guru Kuda Sempana pasti bukan orang yang dapat disejajarkan dengan diri mereka. Karena itu, maka segera kecemasan merayap ke dalam jantung mereka. Apakah yang dapat mereka lakukan terhadap guru Kuda Sempana itu?”

Namun Mahisa Agni dan Mahendra bukanlah laki-laki pengecut. Apapun yang akan dihadapinya, namun mereka tidak akan berlutut dan mohon belas kasihannya.

Kemudian terdengar orang itu berkata, “Nah Mahisa Agni, Kepadamulah kami berkepentingan. Anak ini, yang bernama Mahendra sama sekali tidak kami kenal. Namun karena ia hadir juga di sini, maka ia akan mendapat bagian juga, meskipun tidak sebanyak Mahisa Agni.”

Kembali dada Mahisa Agni dan Mahendra berdesir. Namun kata-kata itu ternyata telah membulatkan tekad mereka, untuk menghadapi setiap kemungkinan dengan sikap jantan. Karena itu, justru pada saat-saat yang tegang Mahisa Agni menggeram, “Hem. Ternyata Kuda Sempana dan setan itu sama sekali tidak berani menyelesaikan persoalan mereka sendiri.”

Telinga Kuda Sempana dan Cundaka yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu seperti disengat api mendengar kata-kata Mahisa Agni. Karena itu, maka sambil mengumpat Cundaka menjawab, “Demit busuk! Ayo, sekarang kau masih juga mencoba menyombongkan dirimu? Hari ini adalah hari terakhirmu. Celakalah kau bertemu aku di padang Karautan.”

“Jangan banyak bicara,” potong Mahisa Agni, “apa maumu?”

Cundaka itu mengerutkan keningnya. Ia merasa bahwa ia pernah dikalahkan oleh Mahisa Agni. Sedang apa yang dicapainya selama ini, setelah ia berjanji untuk lain kesempatan bertemu kembali, hampir tidak ada sama sekali. Ia lebih senang berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain mencari apa saja yang dapat dimilikinya. Bahkan ia telah pula kembali ke Kajar mencari Pasik. Tetapi Pasik telah menghilang. Karena itulah maka dendamnya kepada Mahisa Agni menjadi semakin bertambah-tambah. Seandainya Pasik masih ada padanya, maka ia akan dapat dipergunakannya untuk memungut bulu bekti di daerah kaki Gunung Semeru yang jauh itu. Sedang apabila ia sendiri harus pergi ke sana setiap kali, maka rasanya ia tidak akan sanggup.

Untuk sesaat Cundaka itu berdiam diri. Ditatapnya wajah Mahisa Agni dan Mahendra berganti-ganti. Kemudian ia berpaling kepada Kuda Sempana seolah-olah ia ingin mendapat pertimbangannya.

Kuda Sempana itu pun mengumpat di dalam hatinya. Ia membawa saudara seperguruannya untuk melepaskan sakit hatinya atas Mahisa Agni itu, seperti juga Cundaka ingin melepaskan sakit hatinya. Namun tiba-tiba di tempat itu hadir pula Mahendra. Karena itu maka ia pun menjadi ragu-ragu.

Namun di antara mereka, hadir pula guru mereka. Empu Sada. Apakah gurunya itu akan membiarkan mereka dalam kebimbangan?

Ternyata Empu Sada itu pun tersinggung pula mendengar kata-kata Mahisa Agni. Meskipun ia tidak menganggap murid-muridnya sebagai saluran cita-citanya, bahkan murid-muridnya baginya tidak lebih dari sapi perahan untuk mendapatkan kekayaan, namun ketika ia langsung melihat di hadapannya, muridnya seakan-akan menjadi kecut, mau tidak mau harga diri perguruan Empu Sada pun tidak dapat membiarkannya.

Sejenak kemudian ketika kedua muridnya seakan-akan terdiam membeku, maka terdengar ia berkata, “Kuda Sempana dan Cundaka. Bagaimana dengan rencana kalian. Bukankah kalian berdua ingin mengikat Mahisa Agni dan menarik di belakang kuda kalian ke arah yang berlawanan?”

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar pertanyaan itu. “Gila!” geramnya di dalam dadanya. Bahkan Mahendra pun terdengar menggeretakkan giginya.

“Ya, Guru,” jawab Kuda Sempana, tetapi jawaban itu sama sekali kurang meyakinkan.

“Kenapa kau sekarang menjadi ragu-ragu,” bertanya gurunya, “apakah kau menjadi iba setelah kau melihat wajahnya yang pucat seperti mayat itu.”

“Tidak!” sahut Cundaka lantang, “Aku akan melakukan rencanaku. Bukan begitu Kuda Sempana?”

Kuda Sempana mengangguk. Tetapi ia cukup mengenal Mahendra. Dan apakah Mahendra akan tetap berdiam diri?

“Nah, apakah yang kalian tunggu?” bertanya gurunya.

Kuda Sempana menggeram. Ditatapnya wajah Mahendra yang tegang setegang wajahnya sendiri.

Tiba-tiba terdengar Mahendra itu berkata, “Kuda Sempana. Dendammu itulah yang kelak pasti akan menghancurkan dirimu sendiri. Agaknya kau tidak mau melihat kenyataan.”

“Tutup mulutmu Mahendra! Kau tidak bersangkut paut dengan urusanku.”

“Kau pasti telah pernah mendengar pula apa yang terjadi atasku. Aku hampir gila seperti kau pula ketika aku tidak berhasil mendapat gadis Panawijen itu. Tetapi kemudian aku menyadari keadaan. Aku melihat kenyataan. Karena itu aku tidak menjadi gila seperti kau.”

“Persetan dengan bicaramu! Kalau kau ingin selamat tinggalkan tempat ini.”

“Jangan mengancam! Tak ada gunanya. Aku sudah dapat mengukur sampai di mana kemampuanmu Kuda Sempana. Kau tidak mampu mengalahkan Witantra. Meskipun aku adik seperguruannya, namun aku pasti akan mampu pula melawan ajimu Kala Bama yang tidak berarti itu.”

Wajah Kuda Sempana menjadi merah padam mendengar tantangan Mahendra itu. Namun bukan saja Mahendra tetapi juga Cundaka merasa tersinggung karena anggapan yang menyakitkan hati atas Kala Bama, ilmu yang dibanggakan. Apalagi guru Kuda Sempana itu. Betapapun juga, ia adalah sumber dari ilmu itu. Ia adalah guru yang telah menurunkan ilmu itu, sehingga kata-kata Mahendra itu benar-benar menyinggung perasaannya.

Karena itu maka orang yang bertongkat hampir sepanjang tubuhnya itu maju selangkah. Ditatapnya wajah Mahendra baik-baik. Kemudian katanya sambil memiringkan kepalanya, “He, anak muda. Apakah kau sadari kata-katamu? Kau menghina perguruanku.”

“Sebaiknya kau tidak usah mencampuri urusan ini,” sahut Mahendra dengan beraninya. Sebab ia merasa bahwa ia sudah terjerumus dalam pertentangan yang mendalam dengan perguruan Empu Sada, karena ia telah terlanjur menghinakan ilmunya. Tetapi sebagai laki-laki Mahendra tidak juga beranjak surut.

Tiba-tiba guru Kuda Sempana yang bernama Empu Sada itu tertawa. Suara tertawanya benar-benar menyakitkan telinga. Katanya, “He, Kuda Sempana dan Cundaka. Biarlah aku turut dalam permainan ini. Semula aku hanya ingin melihat anak muda yang bernama Mahisa Agni itu, tetapi tiba-tiba aku ingin menangkap kelinci di padang ini. Kini, teruskan rencanamu. Kau berdua harus dapat menangkap Mahisa Agni. Ikat ia dengan kedua kuda kalian dan paculah ke arah yang berbeda. Aku akan mengikat anak ini pada kudaku, nanti aku akan melihatnya terkelupas seperti pisang.”

Kembali terdengar suara tertawa menyakitkan hati berkepanjangan memenuhi padang Karautan itu.

Terasa dada Mahisa Agni dan Mahendra bergetar mendengar kata-kata itu. Menurut pernilaian Mahisa Agni dan Mahendra, maka Empu Sada itu pasti tidak sekedar bergurau dan mengancam. Menilik sikap dan nada tertawanya, ia pasti akan dapat melakukannya seperti yang dikatakannya.

Mahisa Agni itu pun kemudian menduga, bahwa mereka pasti telah menyembunyikan kuda mereka, atau sengaja mereka menuntun kuda-kuda mereka, sebelum mereka menemukan tempatnya. Tetapi ia tidak sempat berpikir tentang kuda. Ia kini harus bersikap menghadapi hantu-hantu yang melampaui kebiadaban hantu Karautan yang pernah menggemparkan seluruh Tumapel.

Yang terdengar kemudian adalah sisa-sisa nada tertawa Empu Sada. Kemudian katanya pula, “Sebenarnya aku harus mengucapkan terima kasih kepadamu Mahendra, bahwa dengan mengikutimu, ternyata kau telah menunjukkan kepada kami, di mana Mahisa Agni bersembunyi. Nah, karena kau telah menghina perguruanku, maka sekarang aku terpaksa berbuat sesuatu atasmu. Karena itu, supaya aku tidak mengubah rencanaku dengan rencana lain yang lebih dahsyat, marilah ikuti aku ke tempat kudaku aku tambatkan, sebelum aku mengikutimu dengan berjalan kaki. Sebab menurut perhitunganku, Agni yang mimpi membuat bendungan itu pasti akan tertarik perhatiannya pada jeram-jeram ini. Ternyata perhitunganku benar, sehingga aku tidak menyimpan kuda itu terlampau jauh.”

Sekali lagi Mahendra menggeram. Kata-kata itu benar-benar merupakan penghinaan baginya. Karena itu jawabnya lantang, “Jangan banyak bicara tikus tua. Kalau kau mau membunuh Mahendra, bunuhlah dengan cara yang kau sukai. Tetapi jangan mencoba menakut-nakuti aku dengan segala macam kata-kata yang bagiku tak akan berarti.”

Empu Sada mengerutkan keningnya. Tampaklah alisnya yang tebal bergerak-gerak. Sekali-sekali ia mengerling kepada Mahisa Agni, namun kemudian kembali ditatapnya wajah Mahendra, “Huh, kau terlampau kasar. Seharusnya kau mati dengan cara lain.”

Empu Sada itu kini sudah tidak tertawa lagi. Bahkan kemudian katanya kasar kepada kedua muridnya, “Ayo, apa yang kalian tunggu. Tangkap Mahisa Agni. Biarlah anak ini aku selesaikan.”

Kedua murid Empu Sada itu terkejut, dan dada Mahisa Agni pun berdesir. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Ia harus melawan dengan segenap kekuatan yang ada padanya.

Untuk menghadapi kedua lawannya Mahisa Agni tidak boleh kehilangan waktu. Sebab kecuali mereka hadir pula guru mereka, Empu Sada yang pasti memiliki banyak kelebihan dari kedua muridnya. Sudah tentu ia tidak akan dapat membiarkan Mahendra mengalami bencana pula. Karena itu, maka tidak ada pertimbangan lain, daripada segera membinasakan lawan-lawannya.

Demikianlah maka diam-diam Mahisa Agni memusatkan segenap kekuatan lahir dan batinnya. Tanpa bersikap disusunnya getaran-getaran di dalam dadanya. Dialirkannya segenap kekuatannya ke dalam telapak tangannya.

Sementara itu ia mendengar Cundaka tertawa. Meskipun tidak setajam suara gurunya namun suara itu pun benar-benar telah menyakitkan hati Mahisa Agni.

“Kuda Sempana,” berkata orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu, “kali ini jangan lepas lagi. Kita akan dapat melepaskan dendam kita sekehendak hati. Kalau anak itu telah kami ikat kaki dan tangannya, maka kita akan mendapatkan permainan yang mengasyikkan.”

Kuda Sempana menganggukkan kepalanya. Tetapi mulut pada wajahnya yang selalu gelap itu sama sekali tidak tertawa. Tersenyum pun tidak. Namun ialah yang mendekat lebih dahulu sambil bergeremang, “Agni. Beberapa kali kau menggagalkan rencanaku untuk dapat memiliki Ken Dedes. Kalau bukan kau yang selalu menghalangi, maka aku tidak akan mengalami nasib sejelek sekarang ini. Aku tidak perlu menyangkutkan kepentinganku dengan Akuwu yang ternyata curang. Ternyata Akuwu sendiri mempunyai pamrih atas gadis itu. Nah, jangan menyesal sekarang. Sudah jauh terlambat. Terimalah nasibmu yang jelek sebagaimana nasibku sendiri.”

Mahisa Agni sama sekali tidak menjawab. Ketika dengan sudut matanya, ia memandangi wajah Mahendra, dilihatnya wajah anak muda itu menjadi tegang. Ternyata Mahendra sama sekali tidak memperhatikan dirinya sendiri dan Empu Sada. Perhatiannya sama sekali tercurah pada Mahisa Agni.

Sekali lagi terdengar gigi Mahisa Agni gemeretak. Ketika ia melihat Kuda Sempana bergerak, maka dituntaskannya segenap getaran di dalam dadanya. Kini ia tinggal memerlukan dorongan untuk melepaskan puncak kekuatan yang tersimpan di dalam dirinya, sebab ia sudah tidak melihat kemungkinan lain. Dengan demikian ia mengharap segera dapat mengurangi satu lawannya untuk kemudian menghadapi lawan yang jauh lebih kuat daripadanya.

Meskipun sesaat Mahisa Agni menjadi bimbang untuk dengan tiba-tiba saja mempergunakan puncak ilmu pada gerak yang pertama, namun diamatinya perjuangannya yang akan menjadi jauh lebih berat dari setiap perjuangan yang pernah dilakukan. Melawan Empu Sada.

Kuda Sempana dan Cundaka pun kemudian berjalan semakin dekat. Kedua wajah itu bagaikan bumi dan langit. Kuda Sempana memandang Mahisa Agni dengan penuh dendam dan gejolak kemarahan, sedang orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu masih saja tertawa penuh hinaan. Namun keduanya bagaikan wajah-wajah hantu yang haus melihat maut.

Tetapi tiba-tiba Kuda Sempana dan Cundaka tertegun. Sesaat mereka justru diam mematung. Baru kemudian disadarinya, bahwa bahaya maut justru telah mengancam mereka.

Dalam gerak yang cepat secepat tatit, mereka melihat Mahisa Agni menyilangkan kedua tangannya di muka dadanya. Hanya sesaat sebagai unsur daya penggerak dan pelontar kekuatannya.

Sesaat kemudian, anak muda itu telah meloncat dengan dahsyatnya sambil mengayunkan tangannya dalam gerak pelepasan kekuatan puncaknya, Aji Gundala Sasra, mengarah kepala Kuda Sempana.

Bukan main terkejut Kuda Sempana dan Cundaka. Loncatan itu sedemikian cepatnya, sehingga sama sekali tak memberi mereka waktu untuk berbuat sesuatu. Apalagi Kuda Sempana. Ia melihat Mahisa Agni seolah-olah anak panah yang meluncur seperti tatit menyambarnya. Ia tidak dapat berbuat sesuatu untuk menyelamatkan dirinya. Tak ada waktu baginya untuk membangunkan kekuatan aji Kala Bama untuk mengimbangi kekuatan aji lawannya. Meskipun seandainya kekuatan kedua aji itu kurang seimbang, namun ia pasti tidak akan dapat dilumatkan oleh lawannya. Tetapi ia tidak mempunyai kesempatan itu. Satu-satunya usaha yang dapat dilakukan adalah mengelak dan meloncat jauh-jauh. Namun Mahisa Agni pasti akan memburunya, dan kemudian memukul tengkuknya sehingga tulang lehernya akan terpatahkan.

Meskipun demikian, Kuda Sempana masih juga berusaha. Dengan kecepatan yang mungkin dilakukan ia melontar ke samping, untuk mencoba menghindarkan diri dari sambaran maut di tangan Mahisa Agni.

Mahisa Agni melihat gerak lawannya. Cepat ia menggeliatkan dan sekali lagi menyentuh tanah dengan kakinya, sehingga geraknya pun berubah arah. Ia benar-benar ingin membinasakan Kuda Sempana untuk segera dapat melakukan perlawanannya atas lawan-lawannya yang tinggal dan yang jauh lebih kuat dari dirinya sendiri meskipun berdua dengan Mahendra.

Kuda Sempana terkejut melihat perubahan sikap Mahisa Agni. Sekali lagi ia melihat maut menyambarnya. Karena itu, maka sekali lagi ia terpaksa menghindar. Kuda Sempana itu kemudian menjatuhkan dirinya dan berguling beberapa kali menjauhi Mahisa Agni.

Namun yang sama sekali tidak mereka sangka-sangka. Ketika sekali lagi Mahisa Agni menjejakkan kakinya di tanah dan melontarkan diri mengejar Kuda Sempana, ia melihat sebuah bayangan yang melontar cepat sekali di hadapannya. Demikian cepatnya sehingga Mahisa Agni tidak sempat menghentikan dirinya sendiri. Dalam keadaan yang demikian itulah, maka Mahisa Agni dengan menghentakkan giginya, menyambar bayangan itu dengan telapak tangannya. Telapak tangan yang telah dipenuhinya dengan kekuatan yang disebutnya Gundala Sasra.

Terjadilah suatu benturan yang dahsyat. Bayangan itu tergetar. Namun tetap tegak di tempatnya. Sedang Mahisa Agni sendiri terpental surut beberapa langkah. Terdengar tubuhnya terbanting jatuh di tanah. Dan terdengar pula ia mengeluh tertahan.

Ternyata ayunan tangan Mahisa Agni itu telah membentur tubuh Empu Sada. Guru Kuda Sempana. Betapapun juga ia tidak dapat melihat muridnya dihancur lumatkan di hadapan hidungnya. Meskipun ia sekedar seorang guru upahan, yang mengajar muridnya bukan karena keyakinannya, namun hubungan yang telah terjalin sedemikian lamanya, antara dirinya dan muridnya itu, telah mendorongnya untuk mencoba menyelamatkannya.

Ketika ia melihat Mahisa Agni berdiri saja seperti patung melihat wajahnya yang tegang, melihat cahaya matanya yang bergetar dan dadanya yang menggelombang, maka Empu Sada yang sudah kenyang melihat hitam putihnya berbagai macam ilmu, segera menyadari bahaya yang sedang disusun oleh anak muda itu. Karena itu maka ia tidak melepaskan kesiagaan seandainya muridnya menjadi lengah. Dan ternyata hal itu terjadi. Muridnya hampir saja dapat dibinasakan oleh anak muda yang akan ditangkapnya, karena itu, maka ia tidak dapat membiarkannya. Segera ia meloncat memotong gerakan Mahisa Agni yang sedang mengejar Kuda Sempana yang mencoba menghindari lawannya sambil berguling-guling di tanah.

Benturan yang terjadi itulah yang kemudian telah melemparkan Mahisa Agni. Betapa dahsyat ilmunya, namun ia masih belum mampu melawan keteguhan ilmu Empu Sada. Meskipun Empu Sada tidak menyerangnya, namun benturan itu telah menghentakkan kekuatan Mahisa Agni sendiri, sehingga ia tidak mampu untuk menjaga keseimbangannya. Bahkan dadanya seakan-akan diketuk oleh suatu kekuatan yang dahsyat, sehingga terasa sesaat nafasnya menjadi sesak.

Mahendra melihat apa yang terjadi itu dengan getaran yang dahsyat di dadanya. Sesaat ia hanya dapat mengikuti peristiwa yang terjadi sedemikian cepatnya itu dengan matanya. Tubuhnya sendiri seolah-olah terpaku sehingga untuk sesaat ia tetap berdiri saja mematung.

Baru kemudian setelah ia melihat Mahisa Agni berguling di tanah disadarinya apa yang terjadi. Ia melihat bahaya tidak saja mengancam Mahisa Agni, tetapi akan mengancam dirinya sendiri. Karena itu, maka segera ia bersiap menghadapi segala kemungkinan. Ia ingin berbuat seperti Mahisa Agni. Langsung menyiapkan ilmu puncak di tangannya, sehingga setiap waktu ia akan dapat mempergunakannya. Meskipun ilmu itu belum dikuasai sesempurnanya, namun ia sudah mampu mempergunakan untuk menjaga dirinya.

Tetapi apa yang dilihatnya telah menggetarkan dadanya. Ketika ia sedang mencoba menyusun ilmunya, tiba-tiba ia mendengar Empu Sada tertawa dengan nada yang tinggi menyakitkan hati. Namun yang lebih mencemaskannya, adalah, tiba-tiba saja orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo, yang melihat Mahisa Agni terbanting di tanah dan belum mampu bangkit berdiri, segera ingin mempergunakan kesempatan itu. Dengan cepatnya ia meloncat menyerang Mahisa Agni yang masih terbaring di tanah.

Mahendra tidak dapat membiarkannya terjadi, cepat ia mengambil sikap. Ia mengurungkan niatnya, untuk membangkitkan ilmunya, tetapi segera ia pun meloncat secepat Cundaka meloncat. Langsung dengan kakinya ia melontarkan serangan ke arah lambung Bahu Reksa Kali Elo.

Cundaka terkejut melihat kesiagaan Mahendra. Karena itu, segera ia menggeliat, dan mencoba menghindari serangan itu. Dengan sebuah hentakan di tanah. Cundaka berhasil melontarkan ke samping menghindari serangan Mahendra yang meluncur secepat kilat di sampingnya.

Demikian kaki Mahendra berjejak di atas tanah, cepat-cepat ia memutar tubuhnya siap untuk menghadapi setiap kemungkinan. Tetapi ternyata Cundaka belum menyusulnya dengan sebuah serangan balasan. Meskipun Mahendra melihat sikap orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu sebagai suatu sikap yang berbahaya, namun ia masih berada di tempatnya.

Ternyata gurunya, Empu Sadalah yang telah mencegahnya. Kini yang terdengar adalah suara tertawanya yang melengking menyakitkan telinga. Di antara suara tertawanya terdengar ia berkata, “Hem, anak-anak muda yang perkasa. Meskipun kalian tidak berasal dari satu perguruan, namun kalian ternyata memiliki kemampuan yang cukup untuk saling bekerja bersama-sama.”

Mahendra tidak menjawab. Ia menarik nafas ketika ia melihat Mahisa Agni telah berdiri. Sekali-sekali dikibaskannya tangannya dan diaturnya pernafasannya. Agaknya Mahisa Agni telah berhasil mengurangi perasaan sakitnya dan perlahan-lahan kekuatan yang ada di dalam tubuhnya telah mampu untuk bangkit kembali.

Empu Sada itu masih tertawa, meskipun semakin lama semakin perlahan-lahan. Kemudian katanya pula, “Anak-anak muda, aku telah mengenal berbagai macam ilmu dari berbagai macam perguruan. Meskipun aku tidak bergaul dengan orang-orang sakti itu, namun sedikit-sedikit aku dapat mengenal nama mereka. Ternyata kalian adalah murid dari orang-orang sakti yang disegani. Namun nasib kalian agaknya memang kurang baik. Kalian telah melakukan pekerjaan yang berbahaya di tempat yang berbahaya. Karena itu untuk menghilangkan setiap usaha pembalasan dendam, maka kalian harus binasa. Kalau kalian masih hidup, maka kalian akan menyampaikan peristiwa ini kepada guru-guru kalian sehingga mereka pasti tidak akan tinggal diam. Nah, mudah-mudahan guru-guru kalian tidak bermimpi buruk di rumah malam ini.”

Kemudian kepada ketiga anak-anak muda kawan Mahisa Agni yang seakan-akan membeku orang tua bertongkat hampir sepanjang tubuhnya itu berkata, “Sayang. Kalian pun harus mati untuk melenyapkan saksi-saksi yang akan mungkin menyebar luaskan berita tentang peristiwa ini. Tetapi jangan takut, kalian akan mati dengan cara yang baik. Kalian akan ditusuk langsung di arah jantung, sehingga kalian tidak akan mengalami derita. Kematian yang demikian itulah yang dicari oleh hampir setiap orang. Mati tanpa menderita. Tetapi tidak demikian dengan Mahisa Agni dan Mahendra. Mereka akan mati dengan cara yang lain sebab mereka telah berani melawan Empu Sada dan murid-muridnya.”

Suasana segera meningkat semakin tegang. Kini Mahisa Agni telah hampir menguasai segenap kekuatannya kembali. Dengan gigi gemeretak ia berdiri tegak di atas kedua kakinya yang renggang. Beberapa langkah daripadanya, Mahendra pun telah siap untuk menghadapi segenap kemungkinan.

“Nah, Kuda Sempana dan Cundaka. Jangan kau dekati Mahisa Agni dalam kewajaran. Siapkan aji Kala Bama. Hantamkan kepadanya bersama-sama apabila seorang-seorang daripada kalian belum dapat memadainya. Ia akan jatuh sekali lagi. Tetapi ia cukup tahan untuk tidak mati. Nah, kemudian kalian akan dapat menangkapnya dan menariknya di belakang kuda-kuda kalian selagi ia masih hidup. Sedang yang satu ini serahkan kepadaku. Bukankah kalian tidak berurusan dengan anak muda yang bersama Mahendra ini?”

Tak seorang pun yang menyahut kata-kata itu. Tetapi mereka kemudian segera memusatkan kekuatan lahir dan batin. tanpa berjanji, keempat anak muda itu telah membangunkan kekuatan puncaknya. Kuda Sempana dan Cundaka telah menyusun aji Kala Bama, Mahendra dengan aji Bajra Pati seperti yang dimiliki oleh Witantra dan Mahisa Agni telah memperbaharui kekuatannya dalam ilmunya, aji Gundala Sasra.

Dalam ketegangan yang memuncak itu kembali terdengar suara tertawa Empu Sada sambil berkata, “Lucu. Aku melihat kelucuan di sini. Kalian, keempat anak-anak muda, sedang membangkitkan ilmu kepercayaan masing-masing. Sebentar lagi kekuatan-kekuatan itu telah siap berbenturan. Namun apakah gunanya kau melawan Mahisa Agni? Dan apa pula gunanya kau mempersiapkan permainan yang buruk itu. Mahendra? Melihat sikapnya, aku menyangka bahwa kau sedang mempersiapkan kekuatan yang dinamai oleh penyusunnya, aji Bajra Pati. Kau sudah melihat Gundala Sasra tak berarti apa-apa bagiku. Karena itu, lebih baik kalian menyerah. Kalian akan segera diikat dan ditarik di belakang kuda. Bukankah semakin cepat semakin baik?”

“Tutup mulutmu!” bentak Mahendra tanpa mengenal takut, justru setelah ia menyadari, bahwa ia tidak akan dapat menghindar lagi dari bahaya maut, “Ayo, jangan banyak bicara. Kalau aku tak mampu membunuhmu, biarlah aku mati di padang Karautan.”

Orang tua itu menarik nafas. Pandangan matanya kini menjadi semakin buas, seperti burung elang yang melihat anak ayam di pelataran.

“Hem,” desahnya, “kau memang berani. Tetapi kau sedang membuat dirimu sendiri sengsara.”

“Kau hanya mampu berbicara,” potong Mahendra. “tetapi kau tidak mampu berbuat apa-apa.”

Orang tua itu agaknya menjadi marah sekali. Sebelum Mahendra dapat berbuat sesuatu, tiba-tiba ia merasa sebuah tamparan di pipinya. Tamparan tangan orang tua bertongkat itu. Gerak itu sedemikian cepatnya sehingga Mahendra seakan-akan tidak lebih dari sebuah patung. Terasa pipi Mahendra disengat oleh perasaan pedih. Ia terhuyung-huyung beberapa langkah ke samping. Dengan sekuat tenaga ia mencoba menguasai keseimbangannya.

“Anak gila!” terdengar suara Empu Sada berat parau, “Nah, kau lihat apa yang dapat aku lakukan. Meskipun kau tengah membangun aji yang kau bangga-banggakan namun kau tidak berdaya melawan sebuah pukulan yang sangat sederhana. Apa katamu sekarang?”

Mahendra menggeram. Namun ia masih menjawab, “Persetan! Kau mulai dengan curang sebelum aku bersiap.”

Dada Empu Sada benar-benar terbakar oleh jawaban itu. karena itu maka katanya, “Aku memang tidak mempunyai banyak waktu.”

Dalam pada itu, Mahisa Agni yang telah bersiap dengan aji Gundala Sasra itu pun tidak dapat tinggal diam. Sekali lagi ia mengerling ke arah Kuda Sempana yang sedang dengan asyiknya melihat gurunya yang sedang marah itu.

Mahisa Agni masih tetap dalam pendiriannya, bahwa ia harus segera dapat mengurangi jumlah lawan-lawannya. Tetapi anak muda itu mengumpat di dalam hatinya ketika ia mendengar Empu Sada memperingatkan muridnya, “Kuda Sempana jangan tidur. Sekali lagi kau akan diserang oleh Gundala Sasra. Jangan kau lawan seorang diri. Lawanlah bersama-sama. Kalian akan mendapatkan Mahisa Agni itu seperti seonggok sampah. Nah, kau akan dapat berbuat apa saja atasnya.”

Kini tidak ada jalan lain bagi Mahisa Agni daripada melawan kedua orang itu bersama-sama. Karena itu, maka segera Mahisa Agni mengambil sikap. Ia harus berusaha mendapatkan arah, yang memungkinkan ia melawan kedua lawannya itu satu demi satu. Karena itu, maka ia harus menjadi semakin berhati-hati.

Dalam pada itu Empu Sada pun telah melangkah maju mendekati Mahendra. Perlahan-lahan sekali, seperti seekor kucing sedang menakut-nakuti seekor tikus yang kecil. Namun dalam pada itu ia masih berkata kepada murid-muridnya, “Hati-hatilah! Meskipun musuhmu itu hanya seorang, tetapi ia cerdik seperti demit.”

Mahisa Agni menggeram. Kedua lawannya selalu mendapat peringatan dari gurunya. Namun ia tidak dapat mengeluh saja di dalam hatinya. Ia harus menghadapi bahaya itu, dan ia harus melawan sekuat tenaga yang ada di dalam dirinya. Ia sama sekali tidak akan dapat minta bantuan kepada ketiga kawan-kawannya, yang sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu. Dan Mahisa Agni pun sama sekali tidak menyesali mereka. Sebab apapun yang mereka lakukan sama sekali akan tak berarti.

Ketika Kuda Sempana dan orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu melangkah semakin dekat, serta keduanya kemudian mengambil jarak yang cukup untuk memecah perhatian Mahisa Agni, maka terdengar suara Cundaka menggeram, “Mampus kau kerbau gila. Sebut nama ayah bundamu. Tataplah langit untuk yang terakhir kalinya sebelum kau memeluk bumi. Supaya kau tidak menyesal di dalam alam lain kelak.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Ia benar-benar telah bersiap menghadapi sepasang kekuatan aji Kala Bama.

Tetapi ketika kedua lawannya itu melangkah semakin dekat, terjadilah sesuatu yang sama sekali di luar perhitungan mereka. Tiba-tiba meluncurlah sebuah batu dari arah ketiga kawan-kawan Mahisa Agni yang duduk membeku. Demikian kerasnya dan langsung mengenai dada Cundaka sehingga terdengar orang itu mengaduh pendek.

“Gila!” ia mengumpat keras-keras, “He, kelinci betina. Apakah kau akan ikut campur dalam persoalan ini sehingga kau akan ikut aku ikat di belakang kudaku?”

Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni benar-benar telah membeku sehingga mereka sama sekali tidak dapat menjawab. Bahkan tubuh mereka menjadi semakin gemetar dan tulang-tulang mereka seperti dilolosi.

“Kalau sekali lagi kalian berbuat gila, maka kalianlah yang akan mengalami nasib yang paling mengerikan.”

Tak ada jawaban sama sekali. Ketiganya masih saja duduk seperti patung batu. Diam kaku.

Empu Sada pun melihat sesuatu terbang dari arah ketiga anak-anak muda itu. Ia mengetahui pula, bahwa salah seorang muridnya telah terkena lemparan batu. Namun ia tidak melihat salah seorang dari ketiga anak-anak muda yang ketakutan itu bergerak. Karena itu, timbullah kecurigaannya, sehingga ia berkata, “He, Cundaka, apakah kau dapat dikenainya?”

“Ya, Guru, batu sebesar telur merpati. Tepat mengenai dadaku. Alangkah sakitnya.”

“Batu sebesar telur merpati dapat membuat kau kesakitan selagi kau mateg aji Kala Bama?”

“Ya, Guru.”

“Setan!” geram Empu Sada. Kemudian kepada ketiga anak muda itu ia berteriak, “He, apabila ada di antara kalian seorang yang sakti, yang mampu melempar tanpa menggerakkan tangan, bahkan mampu menyakiti muridku, kenapa kalian atau salah satu dari kalian berpura-pura takut? Sungguh tidak jujur. Ayo, kalau salah satu dari kalian ternyata mampu berbuat demikian, sebutlah namamu dan tampillah ke dalam arena.”

Ketiga anak-anak muda kawan Mahisa Agni itu mendengar kata-kata Empu Sada. Namun mereka sama sekali tidak mengerti maksudnya, sehingga justru dada mereka seolah-olah telah tersobek-sobek oleh pedang di lambung Kuda Sempana, atau berlubang ditusuk tongkat orang tua itu.

Tetapi Empu Sada masih saja berkata kepada mereka. “Ayo, jangan curang. Jangan menyerang sambil bersembunyi dalam selubung ketakutan. Kalau salah seorang dari kalian tidak ada yang mengaku, maka kalian bertigalah yang akan aku binasakan dengan cara yang tidak pernah dapat kalian bayangkan. Sebab aku akan dapat memotong setiap anggota badanmu perlahan-lahan, dari yang paling tidak berbahaya dan yang terakhir adalah lehermu. Ayo cepat katakan.”

Tubuh-tubuh itu kini benar-benar telah menjadi lemas. Demikian takutnya, sehingga dengan tangan gemetar mereka menutupi wajah-wajah mereka sendiri. Bahkan Jinan sudah menangis seperti kanak-kanak yang ditinggalkan ibunya seorang diri di gelapnya malam.

“Ha,” berkata Empu Sada lantang, “kau pura-pura menangis? Mungkin kaulah yang telah melakukan keajaiban itu. Melempar sedemikian kerasnya tanpa menggerakkan tanganmu. Kini kau pura-pura menangis melolong-lolong. Apakah kau akan menyerang muridku dengan aji yang dapat kau lontarkan lewat lolonganmu?”

Jinan menjadi semakin ketakutan. Karena itu maka tangisnya menjadi semakin pedih. Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak berbuat apa-apa, tetapi suaranya tersekat di kerongkongannya karena ketakutan yang mencengkam dadanya.

Empu Sada yang marah bukan buatan itu tidak sabar lagi. Selangkah ia mendekati ketiga anak-anak muda itu. Namun kini, bukan Cundaka yang akan terkena lemparan batu, tetapi batu itu mengarah kepada dirinya. Namun ia adalah seorang yang cukup sakti, sehingga ketika butiran batu itu menyambarnya, ia masih mampu memukulnya dengan tongkatnya.

Namun ketika tongkatnya membentur batu kecil itu, Empu Sada terkejut dan mengumpat, “He. Demit buruk! Siapa kau?”

[divider line_type=”Full Width Line” custom_height=””]
Source : www.agusharis.net

~ Article view : [208]