Pelangi di Langit Singasari [ 15 ]

501

oleh S.H. Mintardja

[ Seri 15 ]

 

TERNYATA SENTUHAN batu kecil itu benar-benar tidak diduganya. Tenaga dorongnya telah mampu menggetarkan tongkatnya. Karena itu, maka dengan demikian segera Empu Sada mengetahui bahwa kekuatan orang yang melemparkan batu itu benar-benar kekuatan yang tidak dapat dianggap ringan.

Kini ia telah dapat meyakini, bahwa sebenarnya memang bukan salah seorang anak-anak Panawijen itulah yang melemparkan batu itu. Ketika ia sedang menghadap kepada ketiga anak itu dan memandangi mereka, maka dilihatnya batu itu melontar dari gerumbul di belakang anak-anak yang membeku itu. Dengan demikian maka segera Empu Sada mengetahuinya, bahwa seorang telah bersembunyi di balik gerumbul itu.

Empu Sada itu pun kini tidak mau melangkah maju lagi. Seseorang yang melampaui kekuatan kebanyakan orang sedang menunggunya. Mungkin suatu ketika orang yang bersembunyi itu tidak melemparnya dengan batu, tetapi suatu kali dapat terjadi orang itu melempar dengan sebilah pisau, atau dengan jarum-jarum baja yang runcing sebangsa paser yang kecil.

Yang dapat dilakukan oleh orang tua itu kemudian adalah berteriak-teriak lantang, “He, pengecut yang bersembunyi di balik gerumbul. Ayo keluarlah. Jangan menyerang sambil bersembunyi.”

Namun suaranya itu lepas saja tanpa ada yang menyahut. Gemanya mengelentang memukul tebing-tebing perbukitan dan menyelusur dinding sungai, mengatasi desir air terjun di bawah jeram-jeram.

Sesaat Empu Sada itu terdiam. Dipandanginya gerumbul itu dengan tajamnya, seakan-akan sorot matanya ingin menembus rimbunnya daun-daun perdu di dalam alam yang semakin gelap. Tetapi ia tidak melihat sesuatu. Empu Sada sama sekali tidak dapat menangkap tanda-tanda yang menunjukkan kepadanya, siapa dan berapa orang yang bersembunyi di belakang gerumbul itu. Namun dengan demikian, menilik cara orang itu mengatur pernafasannya, cara orang itu sampai ke sana dan bersembunyi di sana tanpa diketahuinya, maka pasti orang itu bukan orang kebanyakan.

Agak di belakang Empu Sada sebelah menyebelah, berdiri keempat anak-anak muda dengan tegangnya. Mahisa Agni, Mahendra, Kuda Sempana dan Cundaka. Mereka terpaku di tempatnya seperti sebatang tonggak yang kokoh. Namun perhatian mereka pun sama sekali terampas oleh peristiwa yang mendebarkan itu. Lebih-lebih Kuda Sempana dan Cundaka. Mereka menyangka, bahkan hampir pasti, bahwa orang yang bersembunyi itu, akan berdiri di pihak Mahisa Agni dan Mahendra. Ternyata ia telah mencoba menghalangi Cundaka dan Empu Sada sendiri.

Meskipun demikian, kedua orang itu terlampau percaya kepada gurunya. Gurunya adalah seorang sakti yang pilih tanding. Seorang yang disegani oleh orang-orang sakti yang lain, sehingga tidak banyak diantara mereka yang sanggup bergaul, bersaing dan bertemu dalam ilmu dengan gurunya.

Sesaat padang rumput itu terbenam dalam suasana yang sunyi. Angin malam yang lembut mengalir mengusap tubuh-tubuh yang kaku tegang, menggetarkan dedaunan dan membuat suara yang sayu. Sekali-sekali suara jeram-jeram yang dihanyutkan oleh silirnya angin terdengar gemerasak beruntun susul menyusul. Namun kemudian semakin lama menjadi seolah-olah semakin jauh.

Empu Sada masih berdiri dengan tegangnya. Tongkatnya siap untuk menghadapi setiap kemungkinan, ia menyangka bahwa orang yang bersembunyi adalah seorang yang sakti.

Namun tidak berani beradu dada dengannya, sehingga orang itu hanya dapat melawannya dari tempat yang tersembunyi.

Kemarahan Empu Sada semakin lama menjadi semakin memuncak pula. Ia tidak sabar lagi menunggu keadaan berkembang semakin jelas. Karena itu, maka tiba-tiba ia berteriak, “He, Kuda Sempana dan Cundaka. Jangan hiraukan kelinci yang bersembunyi di dalam semak-semak itu. Ayo, selesaikan pekerjaanmu, mengikat Mahisa Agni di belakang punggung kudamu. Biarlah orang ini berada di tempat persembunyiannya sampai kita meninggalkan tempat ini.”

Kuda Sempana dan orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu seolah-olah tersadar. Sekali mereka menghentakkan dirinya, maka kini mereka siap menghadapi lawannya. Mahisa Agni.

Tetapi kembali mereka tertegun, karena tiba-tiba Mahendra berkata, “Nah, Agni. Marilah kita melawan keduanya. Pilihlah olehmu, manakah yang lebih menarik perhatianmu satu diantara mereka.

Mahisa Agni berpaling ke arah Mahendra sesaat. Cepat ia dapat menangkap maksudnya. Ia menganggukkan kepalanya dan berdesis di dalam hatinya, “Mahendra cukup cerdik menanggapi keadaan.”

Namun dalam pada itu Empu Sada menggeretakkan giginya sambil berteriak, “He, Mahendra. Jangan turut campur. Biarlah mereka menyelesaikan persengketaan mereka sendiri.

Sebelum Mahendra menjawab terdengar suara Mahisa Agni parau. “Dan kau biarkan Mahendra terlalu lama menunggu kau membunuhnya. Ia tidak cukup sabar. Biarlah salah seorang muridmu mewakilmu.

“Tidak,” teriak Empu Sada, “aku sendiri akan membunuh Mahendra.”

“Silahkan,” sahut Mahisa Agni pula, “tetapi agaknya kau lebih tertarik pada permainan baru itu.”

Sekali lagi Empu Sada menggeretakkan giginya. Kedua anak itu ternyata mampu mempergunakan kesempatan. Meskipun tak seorang pun diantara mereka yang mengetahui, siapakah yang berada di dalam semak-semak itu, tetapi mereka merasa bahwa orang yang berada di dalam semak-semak ini, tidak ingin melihat Mahisa Agni dan Mahendra mengalami nasib yang sangat buruk. Setidak-tidaknya orang itu ingin melihat persoalan ini berakhir dengan jujur. Tanpa ikut campurnya orang-orang luar seperti Empu Sada.

Meskipun demikian, Mahisa Agni dan Mahendra sendiri pun diliputi oleh kebimbangan dan keragu-raguan. Ia tidak tahu pasti, apa yang dikehendaki oleh orang yang bersembunyi itu. Yang dapat dilakukan kini hanyalah kemungkinan yang dapat menguntungkan saja dalam keadaan yang sangat berbahaya itu.

Sesaat Empu Sada berdiri termangu-mangu. Ingin ia segera meloncat mencekik Mahendra, namun sebagian perhatiannya terikat pada orang yang bersembunyi di dalam gerumbul itu. Kalau ia lengah, mungkin sebuah pisau dapat menembus lambungnya. Karena itu, yang terdengar kemudian orang tua itu mengutuk habis-habisan, “Setan pengecut. Ayo keluarlah. Kalau tidak, maka aku segera akan membunuh Mahendra. Mungkin kau saudaranya atau gurunya sekali atau apa?”

Masih tak ada jawaban. Namun pertanyaan Empu Sada itu bahkan mengungkat dugaan Mahendra atas orang yang bersembunyi itu. Gurunya memang berada di Tumapel saat ini. Gurunya melihat kakak seperguruannya menyuruhnya pergi ke Padang Karautan. Gurunya mendengar pula, apa yang diceriterakan oleh Ken Arok kepada Witantra.

Tetapi kembali Mahendra menghapus dugaannya itu. Gurunya tidak berkepentingan apa-apa dengan padang Karautan, dengan Mahisa Agni, Ken Dedes maupun Tunggul Ametung.

“Aku tidak peduli siapa yang bersembunyi itu,” katanya di dalam hati, “tetapi aku akan mengucapkan terima kasih kepadanya seandainya aku masih tetap hidup dan dapat keluar dari padang ini, karena ia telah menyelamatkan aku dan Mahisa Agni.”

Namun kesenyapan padang itu kembali tersayat oleh suara Empu Sada, “Bagus. Kalau kau tidak menampakkan dirimu. Aku sudah kehabisan waktu. Tunggulah, aku akan memutar leher Mahendra sehingga ia tidak mampu lagi berbuat apa-apa. Aku ingin melihat tubuhnya terkelupas di belakang kudaku yang berlari kencang.

Empu Sada itu pun dengan hati-hati melangkah surut. Ia ingin menjauhi gerumbul itu untuk kemudian meloncat mencekik Mahendra. Namun kembali ia mengumpat. Dengan sigapnya ia terpaksa menggerakkan tongkatnya memukul sebutir batu yang terbang ke arah dadanya.

“Gila. Gila.” teriaknya, “ayo pengecut, jangan bersembunyi saja. Kalau kau tidak berani berhadapan muka dengan Empu Sada, jangan mengganggu. Pulang saja ke rumah. Ambil periuk, dan lebih baik menanak nasi daripada berada di medan.”

Empu Sada menunggu sesaat. Ia menjadi semakin gelisah ketika ia melihat Mahisa Agni ternyata telah mempersiapkan dirinya. Ia kini cukup yakin bahwa orang di gerumbul itu memang berusaha untuk mengikat Empu Sada, sehingga orang itu sama sekali tidak sempat mengganggu perkelahian anak-anak muda itu. Mahendra yang melihat Mahisa Agni bersiap, segera menyiapkan dirinya pula. Ia pun telah mendapat keyakinan seperti Mahisa Agni, sehingga dengan tenang, akan dihadapinya lawannya. Salah satu dari kedua murid Empu Sada itu.

Tetapi keduanya segera terganggu. Ternyata orang yang bersembunyi di dalam gerumbul itu tidak ingin bersembunyi terus. Sejenak kemudian terdengar suara tertawa lirih, dalam nada yang rendah. “Hm,” terdengar suara dari dalam gerumbul itu, “ternyata nyamuknya bukan main banyaknya, sehingga aku tidak betah tinggal di dalam gerumbul ini terlampau lama.”

Kembali terdengar gemeretak gigi Empu Sada. Ternyata orang itu sengaja menghinanya. Bukan karena dirinya, tetapi justru hanya karena digigit nyamuk, maka orang itu keluar dari persembunyiannya. Namun Empu Sada masih berdiam diri. Betapapun kemarahannya menyala di dalam dadanya, tetapi orang itu, yang bersembunyi di belakang gerumbul masih belum menampakkan diri, selain baru suaranya.

Bahkan kembali suara itu terdengar, “Bukan hanya nyamuk, tetapi semutnya pun banyak sekali. He Empu Sada, apakah kau membawa param untuk menghampiri gigitan semut ngangrang.”

“Gila, setan betina. Ayo jangan banyak bicara,” bentak Empu Sada yang tidak dapat menahan kemarahannya, “ayo keluarlah dan marilah kita berhadapan sebagai orang-orang jantan.”

Kembali terdengar suara tertawa dalam nada yang rendah, “Jangan marah.” terdengar jawaban, “baiklah aku keluar dari persembunyian ini.”

Sesaat kemudian Empu Sada membelalakkan matanya. Ia melihat daun-daun yang bergerak. Ternyata orang yang bersembunyi itu benar-benar akan meloncat keluar.

Mahisa Agni, Mahendra, Kuda Sempana dan orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo, tertegun kaku. Pandangan mata mereka pun melekat pada daun-daun yang bergerak-gerak itu. Dengan hati yang berdebar-debar mereka menunggu, siapakah yang akan muncul dari dalamnya.

Tiba-tiba mereka melihat bayangan itu. Tidak meloncat dengan atau sigap melangkah dengan gagahnya. Tetapi bayangan itu perlahan-lahan menyibak dedaunan dan dengan langkah satu-satu maju menyusup diantara daun-daun dan ranting-ranting kecil.

Empu Sada benar-benar tidak sabar melihat orang itu. Dengan nada yang tinggi ia berteriak, “Cepat he siput tua. Aku tidak sabar menunggu kau merayap.”

“Jangan tergesa-gesa,” sahut orang itu, “aku sudah tua, dan malam gelapnya bukan main.”

“Jangan mengada-ada. Kau mampu melemparkan batu sekeras itu. Kenapa kau tidak meloncat dan menepuk dada, inilah aku.”

“Tidak-tidak. Kalau aku menepuk dadaku sendiri aku akan terbatuk-batuk.”

“Kau benar-benar setan. Kau ingin mempengaruhi tanggapanku atasmu, supaya aku menjadi lengah. Pengecut,” geram Empu Sada.

“Ia pun tidak. Bersiagalah, supaya kau tidak mati melawan aku. Tetapi jangan membentak-bentak. Biarlah aku berbuat sesuka hatiku.”

Dada Empu Sada serasa benar-benar telah menyala. Kini ia melihat bayangan itu telah melangkahkan kakinya, menerobos lembaran daun terakhir. Demikian orang itu tampak diluar gerumbul demikian terdengar Empu Sada berkata lantang, “setan. Benar-benar Setan. Jadi kau yang telah mengganggu pekerjaanku. Kenapa tiba-tiba saja berada di tempat ini?”

Bukan saja Empu Sada yang terkejut melihat kehadiran orang itu, tetapi juga Mahisa Agni, Mahendra, Kuda Sempana dan Cundaka.

Meskipun sebab dari kejutan itu berbeda-beda, namun sesaat mereka justru terpaku di tempatnya.

Empu Sada terkejut karena tiba-tiba saja ia melihat orang yang sama sekali tak di sangkanya akan hadir di tempat itu. Sedang Mahisa Agni, Mahendra, Kuda Sempana dan Cundaka terkejut karena sama sekali belum pernah mengenal orang itu. Demikian orang itu ada diantara mereka, demikian orang itu telah memilih pihak.”

Orang itu sendiri berdiri sambil mengkibaskan pakaiannya. Sekali-sekali ia tersenyum dan kemudian katanya, Hm. Bukan main gatalnya. Nyamuk, semut dan segala macam serangga.”

“He Ki Sanak,” potong Empu Sada kemudian, “kenapa kau tiba-tiba saja berada di tempat ini?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Kebetulan saja aku berada di tempat ini. berhari-hari aku membayangi anak yang bernama Mahisa Agni. Aku mencarinya dan kini aku telah menemukannya.”

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar jawaban itu. “Orang itu juga mencarinya. Siapa dan kenapa?”

Namun dalam pada itu terdengar Empu Sada berkata. “Untuk apa kau cari anak itu?”

“Seperti kau. Seperti apa yang akan kau lakukan atasnya.”

“He, apakah kau mempunyai kepentingan yang sedemikian penting dan menyangkut persoalan yang langsung menyinggung dirimu, sehingga kau berusaha merebutnya dari tangan muridku?”

“Ya,” sahut orang itu, “lepaskan Mahisa Agni. Akulah yang akan menyelesaikannya.”

Mereka berdua sesaat berdiam diri. Empu Sada mengawasi orang itu dengan tajamnya. Namun sekali-sekali ia berpaling juga kepada Mahisa Agni dan kedua muridnya.

Tetapi sesaat kemudian Empu Sada itu tertawa. Suaranya melengking tinggi menyakitkan telinga. Diantara suara tertawanya itu terdengar kata-katanya, “Ha, Mahisa Agni. Nasibmu memang terlampau jelek. Agaknya kau sudah menyangka bahwa seseorang telah datang menolongmu. Tetapi keledai tua ini ternyata sedang mencarimu pula, karena kau telah berbuat dosa atasnya. Hem. Anak semuda kau ini telah mempunyai musuh di segala penjuru angin. Hanya orang-orang yang berwatak jail, suka mencampuri urusan orang lain seperti kau inilah, maka kau mempunyai musuh dimana-mana.”

“Nah, aku minta tinggalkan Mahisa Agni,” berkata orang itu.

“Namun sekali lagi terdengar Empu Sada tertawa, “Jangan mengigau. Aku tahu bahwa kau akan dapat melakukan apa saja yang kau kehendaki atasnya. Tetapi aku ingin memberi sekedar permintaan kepada kedua muridku. Mungkin kau ingin melihat permainan itu pula.”

“Permainan apa?”

“Apakah kau belum mendengar? Sejak tadi aku telah menyebut-nyebutnya.”

“Menariknya di belakang seekor kuda?”

“Ya.”

Orang itu terdiam sesaat. Namun tiba-tiba ia menjawab, “Aku dapat juga melakukannya.”

Jawaban itu benar-benar menggetarkan dada Mahisa Agni. Ia belum pernah berbuat sesuatu atas orang itu. Ia belum pernah mempunyai persoalan apapun. Namun tiba-tiba orang itu datang membawa dendam kepada dirinya.”

Dada Mahisa Agni benar-benar digoncangkan oleh berbagai perasaan. Bingung, cemas dan beribu pertanyaan melingkar-lingkar. Ia sama sekali tidak mencemaska nasibnya kini. Ia sama sekali tidak gentar menghadapi apapun, apalagi setelah ia mendapat kesimpulan bahwa ia kini sedang menjelang harinya yang terakhir, namun ia merasa bingung dan cemas, bahwa ternyata ia telah menyalahi dan menumbuhkan dendam kepada orang lain atas dirinya tanpa disadarinya. Kalau demikian, maka alangkah rendah budinya. Alangkah bodohnya. Ia sama sekali tidak ingin membuat orang lain menjadi sakit hati, apalagi mendendamnya. Kini tiba-tiba ia berhadapan dengan orang semacam itu. Sakit hati dan mendendam.

Namun Mahisa Agni masih saja berdiam diri. Ia ingin mendengar apa saja yang akan dipercakapkan oleh Empu Sada. Mungkin dalam percakapan itu ia akan dapat menangkap, siapa dan apa saja yang menumbuhkan dendam itu kepadanya.

Kini yang terdengar adalah suara Empu Sada, “Aku ragu-ragu akan kata-katamu.”

“Kenapa?” sahut orang itu, “apakah kau ragu-ragu bahwa aku akan dapat menangkapnya hidup-hidup dan mengikatnya di belakang seekor kuda. Namun kini aku tidak sedang membawa kuda. Meskipun demikian kau tentu akan memberi kesempatan aku meminjam kudamu.”

“Tidak,” sahut Empu Sada, “aku tidak ragu-ragu. Aku kenal kesaktianmu. Tetapi adalah bukan kebiasaanmu berbuat demikian. Selama ini kau selalu menentang tindakan-tindakan yang menyenangkan itu. Kau selalu menganggapnya sebagai suatu kebiadaban dan keganasan, sehingga kau menganggap orang-orang yang harus dijauhkan dari pergaulan. Nah, sekarang kau datang dan akan melakukan perbuatan yang serupa.”

“Khusus untuk anak itu,” sahut orang itu.

Empu Sada tertawa terbahak-bahak, sehingga tongkatnya terguncang-guncang. Katanya, “Huh, ternyata sifatmu yang selama ini kau bangga-banggakan adalah hanya sekedar pulasan. Ternyata apabila kau sendiri langsung tersentuh perasaanmu, maka sifat-sifatmu yang asli itu terungkapkan. Kalau demikian, maka akulah yang lebih jujur dari padamu. Aku tidak pernah menyembunyikan segala macam sifat watak dan kesenanganku seperti kau. Dan lihat, muridku pun bukan hanya sekedar anak-anak Padesan. Kuda Sempana adalah seorang pelayan Dalam istana.”

“Jangan ribut,” potong orang itu, “serahkan Mahisa Agni kepadaku.”

Empu Sada tidak segera menjawab. Sesaat ia masih dicengkam keraguan. Dikenalnya orang yang datang itu sebagai seorang yang selama ini menentang hampir segala perbuatannya. Meskipun mereka berdua berkawan sejak kecil, namun setelah mereka menempuh jalan hidup masing-masing, maka seakan-akan mereka berdua selalu bermusuhan meskipun tidak berterus terang.

Hampir setiap usaha Empu Sada bertentangan dengan selera orang itu. Sehingga setiap kali mereka pasti berselisih pendapat. Akhirnya mereka berdua dipisahkan oleh keadaan. Masing-masing menuruti jalannya sendiri-sendiri. Hanya kadang-kadang mereka masih bertemu dalam pertentangan pendirian. Semakin lama semakin tajam. Sehingga setelah mereka kemudian tumbuh menjadi orang-orang sakti menurut saluran ilmunya masing-masing yang diterima dari guru yang berbeda-beda, maka mereka hampir tidak ingin berjumpa kembali yang satu dengan yang lain. Mereka masih menghormati persahabatan masa kanak-kanak mereka, namun mereka saling membenci karena pandangan hidup mereka yang jauh berbeda, bahkan berlawanan.

Tetapi pada suatu saat mereka harus berjumpa kembali. Dipadang rumput Karautan yang sepi.

Apabila Empu Sada mengenang segala peristiwa yang pernah terjadi dalam hubungannya dengan orang itu, maka ia yakin, bahwa orang itu datang untuk meneruskan usahanya, menghalang-halangi semua perbuatannya, yang dianggap oleh orang itu bertentangan dengan sendi-sendi kemanusiaan. Karena itu, akhirnya Empu Sada pun mampu menarik kesimpulan atas segala macam kata-kata orang yang baru datang itu.

Tiba-tiba padang rumput Karautan yang sepi itu tersayat oleh suara tertawa Empu Sada yang tinggi melengking. Semua orang yang mendengar suara itu terkejut. Hanya orang yang masih berdiri di muka gerumbul itu sajalah yang seakan-akan sama sekali tidak mendengar suara Empu Sada itu.

Lebih-lebih Mahisa Agni sendiri. Hatinya selama ini selalu terguncang-guncang oleh berbagai persoalan. Kini tiba-tiba ia menghadapi persoalan baru yang sama sekali tak dikenal ujung dan pangkalnya. Orang yang sama sekali belum dikenalnya, tiba-tiba merasa menyimpan dendam di dalam hatinya.

Mahisa Agni yang merasakan keanehan itu masih juga berusaha memandangi wajah orang baru itu. Namun agaknya kepekatan malam telah mengaburkan pandangan matanya ia tidak berhasil mengenal wajah itu. Apalagi ia berdiri tidak begitu dekat. Namun betapapun ia mencoba mengingat-ingat bentuk tubuhnya, suaranya dan apa saja yang memungkinkan ia mengenalnya, tetapi usaha itu sia-sia. Malam gelap dan hati Mahisa Agni pun gelap. Dan kini suara tertawa Empu Sada itu benar-benar telah menyakitkan telinganya dan mengguncang-guncang isi dadanya.

Tetapi tiba-tiba suara tertawa itu surut dengan cepatnya ketika terdengar orang yang baru datang itu mendehem beberapa kali. Bahkan tiba-tiba orang itu menguap sambil berkata, “Aku mengantuk sekali. Apakah malam ini telah terlampau dalam?”

Empu Sada mengerutkan keningnya. Suara tertawanya kini telah berhenti. Ditatapnya wajah orang yang baru datang itu dengan tajam. Lalu katanya, “Hem, kau sangka aku termasuk anak-anak yang dapat kau kelabui. Apa hubunganmu dengan Mahisa Agni sehingga kau akan melepaskan dendammu kepadanya? Aku tahu apa yang akan kau lakukan atasnya. Sekali lagi kau akan menghalang-halangi maksudku.”

“He,” orang itu seperti acuh tak acuh saja berkata, “apa begitu?”

“Gila,” Empu Sada mengumpat, “kau masih saja gila sejak dahulu. Setelah umurmu melampaui pertengahan abad, kau masih saja berbicara tanpa ujung pangkal. Ayo, katakan yang sebenarnya.”

“Kau telah menyebutnya Empu.”

“Hmm, jadi benar dugaanku. Kau akan mencegah murid-muridku membuat permainan yang dapat menyenangkan hati mereka.”

Pembicaraan itu telah membuat Mahisa Agni menjadi pening karenanya. Ia sama sekali tidak mampu membuat tanggapan yang sebenarnya dari pembicaraan itu. Dan sampai sejauh itu, baik Empu Sada maupun orang yang baru datang itu sendiri belum pernah menyebut namanya. Karena itu, dalam kepepatan perasaan tiba-tiba terdengar Mahisa Agni berteriak, “Kalian membicarakan tentang nasibku. Tetapi aku belum mengenal siapakah kau orang yang baru datang?”

Orang itu berpaling. Dipandanginya Mahisa Agni dari ujung kaki sampai ke ujung kepalanya. Kemudian terdengar ia berkata, “Mahisa Agni, apakah kau ingin mengenal aku?”

“Tentu. Meskipun aku tidak tahu maksudmu sebenarnya, apakah kau akan membunuh aku apakah kau akan berbuat apa saja, namun aku ingin tahu siapakah kau ini.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian kembali ia berpaling kepada Empu Sada sambil berkata, “Anak itu belum mengenal aku Empu.”

“Hem,” geram Empu Sada, “apakah aku harus memperkenalkan Ki Sanak kepada anak itu?”

“Silahkan,” sahut orang itu.

“Sebutlah namamu sendiri. Kau yang datang mencampuri urusanku. Mustahil kalau kau belum mengenalnya Atau kalau demikian, aku menjadi semakin pasti, bahwa kau pasti hanya ingin menggagalkan maksudku. Lain tidak.”

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya kepada Mahisa Agni, “Agni, aku kenal kepada gurumu meskipun tidak begitu rapat. Aku kenal guru anak yang bernama Mahendra itu, juga meskipun tidak begitu rapat. Tetapi hubunganku dengan kau Agni, jauh lebih rapat dari hubunganku dengan gurumu atau guru angger Mahendra.”

Mahisa Agni mendengarkan kata orang itu dengan terheran-heran. Hubungan apakah yang ada antara dirinya dan orang itu. Namun Mahisa Agni tidak bertanya. Dibiarkannya orang itu berkata terus.

“Sejak beberapa hari aku sengaja membayangimu Agni. Aku sudah mendengar kabar tentang gurumu yang beberapa hari yang lalu pergi meninggalkan Panawijen. Karena itu, aku harus menemuimu.”

Agni masih saja berdiri seperti patung. Dan ketika orang itu akan berkata terus terdengar Empu Sada memotong, “He, apakah yang sedang kau katakan itu? Rupa-rupanya kau sedang mengarang sebuah ceritera supaya kau mempunyai alasan untuk berbuat sesuatu.”

Orang itu tertawa, “Kau terlalu curiga kepadaku Empu.”

“Tentu aku mempunyai alasan untuk bercuriga. Selama ini kau selalu berusaha mencampuri urusan orang lain.”

“Tetapi kali ini bukan urusan orang lain, Mahisa Agni bagiku sama sekali bukan orang lain.”

“Omong kosong.”

Orang itu tertawa kembali. Suara lunak dalam nada yang rendah. Katanya kemudian, “Aku melihat kau malam kemarin bertempur melawan angger kuda Sempana yang menamakan dirinya hantu Karautan dan menyembunyikan wajahnya di belakang secarik kain. Sejak itu aku merasa bangga kepadamu Agni. Kau benar-benar mewarisi ketangkasan ayahmu dahulu.”

Dada Mahisa Agni berdesir. Orang itu menyebut-nyebut ayahnya yang telah meninggal. Dan didengarnya orang itu berkata, “Aku sangka bahwa aku tidak akan dapat bertemu dengan kau lagi Agni. Tetapi beberapa waktu yang lampau aku mendengar dari seseorang yang datang kepadaku atas suruhan ibumu, bahwa kau masih ada, dan kau berada di dalam asuhan Empu Purwa. Dan ternyata kau mencerminkan perguruan Panawijen dengan baiknya.”

“Jangan ngelantur,” bentak Empu Sada yang kehilangan kesabaran, “perkenalkan dirimu. Lalu kau mau apa? Kalau kau mau berbuat sesuatu untuk anak itu, melindunginya misalnya. maka aku tidak mempunyai cara lain dari menyingkirkan kau Ki Sanak.”

“Aku minta waktu sesaat lagi,” jawab orang itu. Kemudian kepada Mahisa Agni ia berkata, “Agni, kau mempunyai sebilah keris peninggalan ayahmu?”

Tanpa sesadarnya Mahisa Agni mengangguk. Keris peninggalan ayahnya buatan pamannya itu hampir tak pernah terpisah daripadanya apabila ia sedang melakukan tugas-tugas yang penting dan mungkin berbahaya. Meskipun ia membawa pedang, namun ia lebih tenang apabila kerisnya itu dibawanya pula. Keris yang baginya bukan sebagai senjata biasa. karena itulah maka keris itu justru jarang sekali atau bahkan tidak pernah dipergunakannya. Sebab ia tahu benar betapa tajam kekuatan yang tersimpan padanya. Setiap goresan, meskipun hanya seujung rambut akan dapat berarti maut.

Dalam pada itu terdengar orang itu berkata, “Apakah kau pernah mendengar baik dari ibumu atau dari orang lain bahwa keris peninggalan ayahmu itu dibuat oleh seseorang.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya.

“Siapakah yang membuatnya?”

“Paman,” jawab Agni, “paman Empu Gandring.”

“Apakah kau pernah mengenal pamanmu itu?”

“Pernah,” sahut Agni demikian saja meluncur dari bibirnya.

“Kapan?”

Mahisa Agni terdiam sesaat. Ia pernah mengenal pamannya dahulu. Dahulu, pada waktu ia masih kecil. Pamannya adalah seorang yang bertubuh gemuk, kekar dan berwajah bulat. Pamannya adalah seorang Empu yang riang. Namun itu sudah berlalu jauh di belakang, belasan tahun yang lampau.

Orang yang berdiri di dekat gerumbul itu tersenyum. Orang itu bertubuh kecil meskipun tidak pendek. Yang dengan mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Nah Agni. Akulah yang membuat keris itu.”

Dada Mahisa Agni tersentak mendengar pengakuan itu. Orang itu sama sekali tidak gemuk seperti pamannya. Karena itu maka dengan serta merta Agni berkata, “Paman Empu Gandring bertubuh gemuk.”

Kini orang itu tertawa, “Umurku telah memanjat dari tahun ke tahun. Banyak pekerjaan yang harus aku lakukan. Banyak persoalan yang harus aku selesaikan. Ternyata aku semakin tua menjadi semakin kurus.”

Mata Mahisa Agni masih memancarkan keragu-raguan. Namun terdengar Empu Sada kemudian memutus pembicaraan mereka, “He, Ki Sanak. Apakah monyet ini kemanakanmu?”

“Ya,” sahut orang yang menyebut dirinya Empu Gandring itu, “ia adalah kemanakanku.”

“Setan,” umpat Empu Sada, “kau bohong. Kau hanya mencari sebab untuk mencegah perbuatanku.”

“Kali ini tidak,” sahut Empu Gandring, “meskipun aku akan mencegah perbuatanmu, tetapi bukan sekedar mencampuri persoalan orang lain. Tetapi Mahisa Agni adalah kemanakanku.”

Padang rumput Karautan itu sesaat tenggelam dalam keheningan yang tegang. Mahisa Agni berdiri tegak seperti patung memandangi orang yang berdiri di dekat gerumbul itu. Tiba-tiba terangkatlah kembali kenangannya yang lamat-lamat tentang pamannya. Ciri itu masih dirasakannya. Pamannya adalah seorang yang suka bergurau. Karena itu tiba-tiba ia berkata, “Apakah paman ini paman Empu Gandring yang sebenarnya?”

Orang itu tertawa, “Apakah ada Empu Gandring yang lain?”

Mahisa Agni terdiam. Ditatapnya wajah orang itu dengan saksama, dan melonjaklah keharuan di dalam dadanya seakan-akan ia menemukan sesuatu yang hilang yang tak pernah disangkanya akan ditemukannya lagi. Beberapa saat yang lampau, hampir ia lari mencari pamannya ini untuk membantunya mendapatkan anak Gurunya. Tetapi maksud itu tak pernah dilakukannya.

Dan kini tiba-tiba pamannya itu telah berdiri dihadapannya tanpa dicarinya. Karena itu terasa dada Mahisa Agni berguncang-guncang. Meskipun ia masih berdiri tegak seperti sebuah patung batu. keragu-raguan yang dahsyat telah melanda hatinya.

“Kau ragu-ragu,” terdengar Empu Gandring itu bertanya, “baiklah. Kau sudah bertahun-tahun tidak melihat aku lagi. Adalah wajar kalau kau menjadi ragu-ragu. Tetapi itu tidak penting. Yang penting sekarang bagaimana caranya supaya kau tetap melakukan pekerjaan yang dipercayakan kepadamu oleh orang-orang Panawijen itu.”

“Jangan mengigau,” potong Empu Sada, “aku sudah menyangka sejak aku melihat tampangmu, bahwa kau masih saja selalu menghalang-halangi aku. Jangan kau ganggu muridku yang sedang menemukan permainan yang baik sekali bagi mereka.”

“Tidak,” sahut Empu Gandring, “aku tidak akan mengganggu mereka.”

“Kalau begitu pergilah sebelum aku marah.”

“Baik,” sahut orang itu pula, “marilah kita pergi. Sudah lama aku tidak bertemu dengan kau Empu. Aku sudah rindu. Rindu pada masa kanak-kanak yang tak akan kembali lagi di masa mendatang. Tetapi marilah kita pulang bersama-sama, sehingga dengan demikian kita akan dapat mengenang sebagian masa itu. Masa kanak-kanak yang manis.”

“Jangan mimpi. Aku bukan pemimpi seperti kau. Aku adalah seseorang yang melihat masa kini dan masa depan.”

“Tetapi masa lampau adalah kenangan yang menyenangkan. Apakah kau dapat menghapuskan masa-masa itu? Apakah kau dapat menghapus peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di masa-masa lampau? Bukankah masa-masa lampau itu yang menentukan keadaanmu sekarang?”

“Aku tidak peduli masa lampau. Sekarang pergi dari tempat ini. Tinggalkan kami. Tinggalkan anak muda yang kau katakan kemanakanmu itu.”

Orang tua itu menggeleng. Bahkan setapak ia maju sambil berkata, “Empu Sada. Aku pun bukan seorang pemimpi melulu. Aku juga ingin melihat masa depan yang baik bagiku dan bagi orang-orang yang bersangkut paut dengan darah keturunanku. Mahisa Agni adalah kemanakanku. Apakah aku harus membiarkannya kehilangan masa depannya. Empu Sada, aku sendiri mempunyai anak-anak di rumah. Aku pernah merasakan betapa cemasnya orang-orang tua yang anak-anaknya mengalami bahaya. Nah, bagaimana aku akan dapat membiarkan kau berbuat curang. Biarlah anak-anak muda menyelesaikan persoalan mereka sendiri.”

Empu Sada menggeram. Ia tidak menjawab perkataan-perkataan itu, tetapi ia pun melangkah maju.

Kedua orang tua itu kini berdiri saling berhadapan. Empu Gandring kini sudah tidak tertawa-tawa lagi. Wajahnya kemudian menjadi bersungguh-sungguh.

“Jadi kau tetap pada pendirianmu?” bentak Empu Sada.

“Seperti apa yang akan kau lakukan. Kalau kau tetap dalam usahamu menciderai anak kemanakanku itu, maka aku tetap dalam usahaku menyelamatkannya.”

Wajah Empu Sada menjadi merah padam. Tetapi ketika ia berpaling memandang ke arah kedua muridnya, maka hatinya berdesir. Ia melihat kedua muridnya berhadapan dengan kedua anak-anak muda yang sudah siap untuk melawan mereka. Mahisa Agni dan Mahendra Karena itu hatinya menjadi berguncang. Sesaat ia menjadi ragu-ragu. Apakah kedua muridnya mampu melawan kedua anak muda itu?”

Dalam keragu-raguan itu terdengar Empu Gandring berkata, “Nah, apakah katamu Empu?”

Sejenak Empu Sada tidak menyahut. Timbullah kini pergolakan di dalam hatinya. Betapapun juga ia masih sempat memperhitungkan, apa yang sedang dihadapinya. Empu Gandring adalah seorang yang cukup sakti untuk mengimbanginya. Sedang Mahisa Agni sudah pasti dapat mengalahkan kuda Sempana. Apabila Mahendra dapat mengimbangi Cundaka maka keadaannya akan menjadi sulit. Mungkin salah seorang muridnya atau kedua-duanya akan terbunuh. Karena itu tiba-tiba Empu Sada itu tersenyum. Sambil menganggukkan kepalanya ia berkata, “Hem. Sayang kau datang. Aku tidak sampai hati merusak kenanganmu yang manis itu. Aku tidak sampai hati mematahkan mimpimu yang menyenangkan. Seandainya bukan kau yang datang sambil merajuk tentang masa-masa lampau, maka hatiku sudah tidak akan dapat dilunakkan. Tetapi terhadapmu aku masih belum dapat melenyapkan perasaan belas kasihan. Sejak anak-anak kau seorang pemimpi dan perajuk. Karena itu, baiklah aku penuhi permintaanmu kali ini. Ingat hanya kali ini.”

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Sebelum ia menjawab terdengar Empu Sada berkata, “Kuda Sempana, ternyata Mahisa Agni adalah kemanakan sahabatku. Karena itu, maafkanlah anak muda itu kali ini. Tetapi hanya kali ini.”

Kuda Sempana berdiri membeku di tempatnya Tiba-tiba dari matanya memancar beribu-ribu pertanyaan yang bergolak di dalam dadanya. Namun akhirnya ia mengetahui pula maksud gurunya. Bahwa orang yang datang itu adalah orang yang cukup sakti pula, sehingga gurunya menganggap perlu untuk menunda maksudnya sampai di saat-saat yang lain.

Namun Mahisa Agni sama sekali tidak dapat mengertinya. Karena itu tiba-tiba ia berkata, “Apakah Kuda Sempana kali ini masih akan dilepaskan lagi?”

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Ia pernah mendengar persoalan yang terjadi antara Mahisa Agni, Kuda Sempana, Ken Dedes dan bahkan sampai orang-orang lain dalam persoalan ini menurut ceritera seseorang. Tetapi ia tidak tahu dengan pasti, sebab Empu Gandring sendiri jarang-jarang meninggalkan kampung halamannya, Lulumbang, karena pekerjaannya yang terlampau banyak, membuat keris. Hanya karena dorongan keadaan yang sangat penting, untuk menemukan kemanakannya, kini ia meninggalkan rumah dan tugasnya. Sehingga karena itu, maka ia menjawab pertanyaan Mahisa Agni, “Biarkan Kuda Sempana dibawa gurunya. Biarlah gurunya mengajarnya untuk berlaku sopan dan baik.”

Empu Sada menggeram mendengar sindiran Empu Gandring, namun Mahisa Agni tidak kalah kecewanya. Kuda Sempana baginya adalah penyebab dari segala macam bencana yang menimpa keluarga gurunya dan bahkan seluruh penduduk Panawijen. Mungkin orang yang menyebut dirinya Empu Gandring itu tidak merasakan, betapa ia menderita lahir dan batin karena anak muda yang bernama Kuda Sempana itu.

Tetapi Mahisa Agni pun masih mampu berpikir. Bahwa guru Kuda Sempana baginya adalah lawan yang tidak seimbang. Sedangkan Mahisa Agni merasa pula, bahwa ia tidak akan dapat memaksa Empu Gandring itu untuk bertempur apabila memang tak dikehendakinya. Karena itu, yang terdengar kemudian adalah gemeretak gigi Mahisa Agni. Terasa perasaannya melonjak-lonjak, seakan-akan ingin ia menerkam anak muda yang bernama Kuda Sempana itu. Namun nalarnya telah mencegahnya.

Ternyata bukan saja Mahisa Agni yang dicengkam oleh kekecewaan. Bahkan Mahendra pun menjadi sangat kecewa pula. Namun seperti Mahisa Agni, ia menyadari kedudukannya. Menyadari kemampuannya.

“Hem,” desahnya di dalam hati, “kalau saja guruku ada di tempat ini. Mungkin Kuda Sempana dan orang yang bernama Cundaka itu pasti sudah dapat kami lumpuhkan.”

Tetapi Empu Gandring ternyata berpendirian lain. Empu Gandring ingin melepaskan mereka, dan mengharap Empu Sada dapat memberi tuntunan kepada murid-muridnya untuk berlaku lebih baik.

“Sia-sia. Seperti guru dahulu berpendirian begitu,” pikir Mahisa Agni. Tetapi sekali lagi ia hanya dapat menggeretakkan giginya. Ia tidak akan dapat memaksa Empu Gandring bertempur tanpa dikehendakinya sendiri.

Dalam pada itu terdengar Empu Sada berkata, “Jangan terlalu sombong. Murid-muridku sama sekali tidak perlu lagi mendapat ajaran tentang kesopanan dan kebaikan budi. Mereka adalah orang baik-baik. Mereka adalah seorang hamba istana Tumapel, dan seorang lagi adalah seorang pedagang keliling yang terhormat. Kaulah yang harus mengajari kemanakanmu itu untuk melihat dirinya. Ia tidak lebih dari anak padesan. Anak Panawijen.”

Empu Gandring tidak menjawab kata-kata itu, bahkan kemudian ia berkata, “Selamat malam Empu. Selamat beristirahat. Kalau Empu ingin meninggalkan tempat ini, segera kami persilahkan. Namun untuk seterusnya, ajarilah murid-murid Empu untuk tidak mengganggu Mahisa Agni.”

“Jangan gurui aku. Sudah aku katakan, lain kali kami tidak dapat memaafkan kalian lagi. Apabila Mahisa Agni masih kembali ke Padang Karautan, maka saat itu pula, akan kami ikat tubuhnya di belakang kuda-kuda kami.”

“Ah. Jangan berbicara seperti kepada anak-anak Empu. Aku sudah tahu, seperti kau tahu pula. Siapa Empu Sada, siapa Empu Gandring, siapa Empu Purwa dan siapa Panji Bojong Santi, guru angger Mahendra itu. Nah, apa katamu sekarang?”

Wajah Empu Sada menjadi merah padam mendengar Empu Gandring menyebut-nyebut nama beberapa orang sakti. Tiba-tiba orang tua itu menggeram keras sekali sambil menghentakkan tongkatnya di tanah. Katanya, “Kau mengancam?”

Empu Gandring menggelengkan kepalanya, “Tidak. Aku sama sekali tidak mengancam. Aku hanya menyebutkan beberapa nama yang dapat terlibat dalam persoalan seterusnya, apabila kau tetap berbuat gila.”

Empu Sada tidak segera menjawab. Terasa darahnya seakan-akan mendidih di dalam jantungnya.

Sementara itu, dada Mahendra berdesir mendengar Empu Gandring menyebut nama gurunya. Dengan serta merta ia bertanya, “Apakah Empu mengenal guruku?”

Empu Gandring berpaling. Jawabnya, “Mustahil seseorang tidak mengenal Panji Bojong Santi. Apalagi orang tua sebaya aku dan Empu Sada.”

Mahendra menganggukkan kepalanya. Katanya, “Jadi Empu Gandring termasuk salah seorang sahabat guru?”

“Aku belum mengenal terlampau rapat. Tetapi sekali-sekali dua kali kami pernah bertemu. Seperti aku pernah bertemu dengan Empu Purwa meskipun baru satu kali. Namun meskipun belum, namanya pasti sudah dikenal oleh setiap orang-orang setua aku. Dan dari namanya itu pun aku akan dapat mengetahui, siapa-apa mereka itu.”

Mahendra kembali mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi gembira ketika diketahuinya bahwa Empu Gandring pernah mengenal gurunya. Ia masih ingin mengatakan beberapa hal lagi, namun terdengar suara Empu Sada memecah ketegangan yang mencengkam hatinya sendiri, “Baik. Baik. Kau telah menyebut beberapa nama. Kau sangka aku akan gentar menghadapi mereka semua. Kau, Empu Purwa dan Bojong Santi yang kurus kering itu Empu Gandring, kau pun pasti sudah mengenal nama-nama lain dari mereka. Kebo Sindet, Wong Sarimpat. Nah, apa katamu?”

Empu Gandring tersenyum. Katanya, “Ah. Apakah kau akan memaklumkan perang bersama orang-orang dengki itu? Sayang Empu. Meskipun kadang-kadang kau juga berbuat hal-hal yang aneh-aneh misalnya muridmu kau biarkan membuat permainan yang mengerikan, menarik seseorang di belakang seekor kuda, namun namamu masih jauh lebih terhormat daripada Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.”

Terdengar kemudian Empu Sada tertawa. Suaranya melengking menyakitkan hati. Kemudian katanya, “Jangan gemetar mendengar nama-nama itu. Mereka adalah orang-orang bodoh yang dapat saja aku peralat. Meskipun mereka mempunyai kesaktian-kesaktian yang mengerikan, namun otak mereka adalah otak yang sangat tumpul. Kau tahu maksudku.”

Empu Gandring menganggukkan kepalanya, “Terserahlah kepadamu.”

“Bagus. Kalau kau berani menghadapinya, biarlah aku sekarang meninggalkan tempat ini.”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Pergilah. Tetapi pikirkan sekali lagi kalau kau akan mempergunakan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Mereka tidak sebodoh yang kau sangka.”

Mendengar kata-kata Empu Gandring itu, Empu Sada tertawa. Jawabnya, “Hem. Kau belum mengenal kedua orang itu baik-baik. Mungkin kau tidak dapat mempergunakannya seperti apa yang kau inginkan. Tetapi terhadapku, mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa.”

“Terserahlah kepadamu,” sahut Empu Gandring, “tetapi bagaimana pun juga, aku tidak senang melihat kau mengganggu kemenakanku.”

Empu Sada tidak menjawab. Ia berpaling kepada kedua muridnya dan berkata, “Kali ini sahabatku, Empu Gandring, minta kau memaafkan kemanakannya. Nah, maafkanlah. Biarlah ia menikmati hari-hari yang akan datang, memandang matahari terbit dan terbenam. Tetapi apabila kesombongannya tidak juga berkurang, maka kesempatan itu tidak akan berlangsung lama.”

Mahisa Agni menggeram. Hampir saja ia berteriak, tetapi Empu Gandring mendahuluinya, “Biarkan Agni. Jangan kau dengarkan kata-katanya. Adalah wajar, apabila seseorang yang merasa ada kekurangan dalam dirinya, berusaha untuk menyembunyikannya, menutupinya dengan berbagai perbuatan dan perkataan yang justru berlebih-lebihan dan mentertawakan.”

Empu Sada berpaling. Wajahnya masih menyala. Tetapi yang terdengar hanyalah gemeretak giginya.

Kuda Sempana bukanlah seorang penakut. Ia kadang-kadang tidak dapat melihat dan mendengar pertimbangan-pertimbangan, apabila maksudnya telah memanjat sampai kekepalanya. Tetapi kali ini gurunya telah memperingatkannya. Dan ia dapat mengerti sepenuhnya. Karena itu, betapa sakit hatinya mendengar sindiran-sindiran Empu Gandring yang tepat menusuk jantungnya, namun ia tidak membantah maksud gurunya.

Demikian pula orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo, yang disebut oleh gurunya sebagai seorang pedagang keliling. Namun ternyata ia lebih licik dari Kuda Sempana. Karena itu, demikian ia melihat gurunya berputar, cepat-cepat ia melangkah menjauhi Mahendra yang memandanginya seakan-akan hendak menelannya bulat-bulat.

Empu Gandring, Mahisa Agni dan Mahendra berdiri saja tegak di tempatnya ketika mereka melihat Empu Sada membawa kedua muridnya pergi. Mereka berjalan tergesa-gesa menghilang digelapnya malam. Namun sebelum mereka terlampau jauh terdengar Empu Sada berkata, “Empu Gandring, kau pasti akan menyesal kelak, bahwa kau telah mencampuri urusan aku kami murid-muridku yang tersebar di banyak tempat akan membantu aku di samping Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Kalau kelak kau dengar rencanaku, maka kau akan jatuh pingsan karenanya.”

Empu Gandring tidak menjawab. Orang tua itu hanya sekedar tersenyum. Namun yang terdengar adalah suara Mahisa Agni, “Paman. Kalau benar paman Empu Gandring, mungkin paman belum mengenal Kuda Sempana sebaik-baiknya.”

Empu Gandring masih tersenyum. Jawabnya, “Biarkan saja Agni. Orang itu tidak akan berbuat apa-apa.”

“Telah terlampau banyak yang dilakukan Paman.”

Empu Gandring mengerutkan keningnya, “Apa saja? Tetapi percayalah itu semua hanyalah ungkapan kekecewaannya, bahwa ia gagal mendapat gadis yang dikehendaki. Apabila kemudian hatinya telah menjadi tenang, maka ia akan menemukan keseimbangan kembali, seperti angger Mahendra. Bukankah begitu?”

Mahendra menundukkan kepalanya. Terasa seperti api menyala di dadanya. Namun kemudian padam kembali. Ia telah bertekad untuk melupakan Ken Dedes, yang kini telah hampir menjadi seorang permaisuri.

Tetapi Mahisa Agni Kemudian menjawab, “Kuda Sempana terlalu berkeras kepala.”

“Darahnya memang panas. Namun akan datang saatnya darah itu menjadi sejuk. Apalagi apabila ia menyadari keadaannya dan kenyataan.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tetapi ia ragu-ragu mendengar kata-kata itu. Apalagi apabila diingatnya kata-kata Empu Sada, sehingga kemudian ia bertanya kembali, “Paman, apakah Empu Sada tidak akan benar membawa orang-orang yang bernama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat? Dan siapakah mereka berdua itu?”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. perlahan-lahan ia berjalan mendekati Mahisa Agni dan Mahendra, kemudian berpaling kepada ketiga kawan Mahisa Agni yang duduk lemah seperti tak bertulang.

“Hem. Kenapa kalian menjadi ketakutan?” Empu Gandring itu bertanya kepada mereka. Tetapi Jinan, Patalan dan Sinung Sari masih dikuasai oleh kebingungan yang sangat, sehingga mereka tidak segera dapat menjawab.

“Nah, tenangkan dahulu hatimu. Dua malam dipadang Karautan ini akan menjadi kenangan seumur hidupmu. Tetapi mudah-mudahan kalian dapat mempergunakannya sebagai pelajaran, bahwa menghadapi orang-orang seperti Empu Sada dan murid-muridnya apalagi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, kita tidak boleh mengharap belas kasihannya. Juga terhadap murid-murid mereka. Kita harus berbelas kasihan kepada diri sendiri dan melindunginya.”

Ketiga anak-anak muda itu masih belum dapat menjawab. Tetapi mereka mencoba mengangguk.

Empu Gandring itu pun kemudian duduk pula diatasi rumput-rumput kering, “Duduklah,” katanya mempersilahkan Mahisa Agni dan Mahendra.

Mahisa Agni dan Mahendra pun kemudian duduk pula. Terasa suasana yang aneh meliputi dada Mahisa Agni. Pamannya itu telah bertahun-tahun tak ditemuinya, dan kini ketika mereka bertemu, suasananya terasa tidak terlalu akrab, karena persoalan-persoalan yang melingkar-lingkar di dalam hati masing-masing. Meskipun demikian, hati Mahisa Agni merasa berkembang pula. Apabila kelak gurunya tak dapat dicarinya, maka ia menemukan tempat lain untuk mengadu apabila orang-orang yang berhati dengki seperti Empu Sada dan kawan-kawannya datang mengganggunya, mengganggu rencananya membangun bendungan, saluran-saluran air, dan tanah persawahan.

“Agni,” terdengar Empu Gandring itu bertanya, “apakah ibumu sekarang berada di Tumapel?”

Mahisa Agni ragu-ragu untuk menjawab. Ibunya sedang berusaha untuk selalu menunggui Ken Dedes. Karena itu, sekali ia memandang Mahendra dengan sudut matanya, dan kemudian menundukkan kepalanya.

Tetapi Mahendra sama sekali tidak mempedulikan pertanyaan itu. Yang sedang berkecamuk di dalam otaknya adalah orang-orang semacam Empu Sada, dan orang-orang lain yang disebut-sebut namanya Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.

“Aku akan mengatakannya kepada guru,” berkata Mahendra di dalam hatinya, “mungkin guru telah mengenal mereka itu.”

Dalam pada itu Empu Gandring agaknya dapat menangkap perasaan Mahisa Agni. Agaknya anak muda itu belum bersedia diajak berbicara mengenai ibunya. Karena itu maka segera pembicaraannya dialihkannya katanya, “Agni, apakah kau benar-benar akan membangun sebuah bendungan?”

“Ya paman,” jawab Agni.

“Di tempat ini?”

“Ya paman.”

“Bagus. Tempat ini adalah tempat yang baik untuk membangun sebuah bendungan. Tebing sungai disini tidak begitu dalam.”

“Ya paman.”

“Kapan akan kau mulai rencanamu itu.”

“Secepatnya paman.”

“Bagus.” Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Terasa jawaban Mahisa Agni terlampau pendek-pendek. Dan terasa bahwa masih ada sesuatu yang tersangkut di dalam perasaan anak muda. itu. Karena itu maka Empu Gandring untuk sesaat berdiam diri. Dibiarkannya Mahisa Agni mendapat kesempatan mengatakan perasaannya.

Ketika Empu Gandring kemudian berdiam diri sambil mengangguk-angguk maka bertanyalah Mahisa Agni, “Paman. Apakah paman mengenal orang-orang yang bernama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.”

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Terdengar ia berdesis, dan kemudian berkata, “Jangan hiraukan mereka.”

“Tetapi orang-orang itu akan dapat berbahaya bagi rencanaku membangun bendungan ini.”

“Jangan hiraukan yang lain-lain. Sekarang bagaimana dengan rencanamu? Apakah kau sudah membayangkan, dimana saluran air akan kau buat. Agni tanah ini akan dapat menjadi tanah yang subur apabila cukup mendapat air. Kalau kau berhasil menaikkan air dari sungai itu, maka daerah ini akan segera menjadi daerah yang sangat ramai.”

“Ya paman.”

Empu Gandring tersenyum. Kembali ia mendengar jawaban itu. Dan kembali Empu Gandring mendengar pertanyaan yang serupa, “Paman. Mereka pasti tidak akan membiarkan bendungan ini terwujud. Bukan karena mereka berkepentingan atas sungai dan padang Karautan, tetapi mereka hanya sekedar ingin menggagalkan usaha ini.”

“Mungkin,” sahut Empu Gandring sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Pikiran kemanakannya itu memang bukan suatu gambaran yang dibuat-buat. Karena itu, ia kini tidak dapat menghindar lagi. Semula ia sama sekali tidak ingin berbicara tentang orang-orang yang mengerikan itu. Empu Gandring tidak ingin mempengaruhi rencana kemanakannya terganggu karena gambaran-gambaran yang mencemaskan yang belum pasti akan datang. Tetapi kemudian disadarinya bahwa kemanakannya bukanlah seorang penakut. Tetapi ia hanya ingin membuat perhitungan-perhitungan yang cermat dan melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Karena itu maka jawabnya kemudian, “Kedua orang itu memang orang yang aneh. Tetapi jangan terlampau kau pikirkan. Mereka adalah orang-orang yang selalu menuruti keinginan sendiri. Mungkin Empu Sada dapat mempergunakan mereka. Tetapi mungkin tidak. Namun seandainya mungkin sekalipun, maka kedua orang itu bukan orang yang perlu terlampau dikagumi. Mereka masih belum melampaui Empu Sada sendiri. Belum dapat menyamai guru angger Mahendra Panji Bojong Santi dan belum dapat menyamai gurumu Empu Purwa.”

“Tetapi guru tidak ada disini paman.”

Empu Gandring tersenyum. Jawabnya, “Ia tidak pergi terlampau jauh. Bukankah gurumu mengetahui bahwa kau akan membuat bendungan disini?”

“Bukankah gurumu tahu bahwa kau berselisih dengan Kuda Sempana?”

“Ya.”

“Gurumu tahu, tahu dengan pasti, siapakah guru Kuda Sempana meskipun tidak pernah mengatakannya. Gurumu pasti telah memperhitungkan apa yang dapat terjadi dipadang Karautan ini. Bahkan aku menduga bahwa gurumu kali ini pun tidak melepaskan kau sendiri. Seandainya aku dapat menahan diri sekejap lagi di belakang gerumbul itu, mungkin gurumulah yang akan mencegah perbuatan Empu Sada.”

Dada Mahisa Agni berdebar-debar mendengar kata-kata pamannya. Tiba-tiba tanpa dikehendakinya sendiri, ia memandang berkeliling. Namun yang dilihatnya adalah takbir yang hitam mengelilinginya di atas padang rumput yang luas. Beberapa onggok gerumbul tampak tersembul dalam keremangan malam. Selebihnya adalah hitam pekat.

Empu Gandring tersenyum. Katanya, “Nah beristirahatlah. Sementara aku akan bersamamu Agni. Aku ingin melihat apa yang akan kau lakukan atas sungai dan padang ini.”

Sekali lagi dada Mahisa Agni mengembang. Ternyata tanpa dimintanya, pamannya bersedia tinggal beberapa lama diantara orang-orang Panawijen yang akan membuat bendungan untuk merubah padang Karautan menjadi tanah persawahan.

Namun sebelum ia menjawab, pamannya tiba-tiba telah menjatuhkan dirinya, begitu saja tanpa alas, berbaring di atas rerumputan yang telah dibasahi oleh embun. Tetapi Mahisa Agni tidak mengusiknya. Dibiarkannya pamannya berbaring dan bahkan kemudian ia berkata kepada Mahendra, “Berisirahatlah Mahendra.”

Mahendra mengangguk, jawabnya, “Aku ingin beristirahat. Tetapi besok aku harus sudah menghadap kakang Witantra kembali membawa jawabanmu Agni.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tiba-tiba angannya tentang bendungan itu tersentak bergeser kepada puteri gurunya, Ken Dedes yang kini berada di istana Tumapel.

Tetapi Mahisa Agni tidak segera menjawab. Terasa jantungnya berdegupan. Matanya jauh terlempar ke dalam kelamnya malam, seakan-akan ingin menembus sampai ke ujung padang Karautan.

Mahendra pun untuk sesaat berdiam diri. Tanpa sesadarnya pandangan matanya pun mengikuti arah pandangan Mahisa Agni. Jauh, menghunjam ke dalam kelam.

Mahisa Agni berpaling ketika ia mendengar Jinan dan Patalan berdesah dan Sinung Sari terbatuk-batuk kecil.

“Tidurlah,” berkata Mahisa Agni kepada mereka.

Mereka menganggukkan kepala mereka. Tetapi mereka tetap duduk membeku saling berdesak-desakan seperti orang yang kedinginan.

Sejenak kemudian kembali padang itu menjadi sepi. Kembali terdengar angin yang silir mengusap dedaunan, mendendangkan kidung yang ngelangut.

“Mahendra,” berkata Mahisa Agni kemudian, “sebaiknya kau sampaikan jawabku itu kepada Witantra. Aku mohon maaf kepada Akuwu, bahwa sebenarnya Akuwu tidak perlu datang menemui aku. Biarlah Ken Dedes membuat keputusannya sendiri.”

Mahendra menggigit bibirnya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian ia berkata, “Apakah keputusanmu sudah bulat?”

“Ya.”

“Apakah kau sakit hati Agni? Apakah kau tidak dapat melupakan peristiwa yang menyakiti hatimu itu.”

Mahisa Agni terdiam. Dan Mahendra pun terdiam pula. Tetapi dalam pada itu Mahendra telah menemukan kesimpulan, bahwa Mahisa Agni tidak akan bersedia merubah keputusannya.

“Baiklah kalau demikian,” berkata Mahendra di dalam hatinya, “besok akan aku sampaikan jawaban itu.”

Malam pun kemudian menjadi bertambah malam. Bahkan kemudian menjelang keakhirannya. Mahisa Agni dan Mahendra masih duduk sambil memeluk lutut mereka. Tetapi mereka tidak berbicara lagi. Mereka mencoba memejamkan mata mereka sambil meletakkan dahi mereka di atas lutut.

Ketiga kawan-kawan Mahisa Agni pun kemudian mencoba membaringkan diri mereka masing-masing. Tetapi sekejap pun mereka tidak segera berhasil memejamkan mata mereka. Apabila mereka mencoba juga memejamkan mata mereka, tiba-tiba datanglah berbagai gambaran yang mengerikan mengganggu otak mereka. Seolah-olah berduyun-duyun hantu berdatangan dari segenap penjuru padang rumput Karautan.

Ketika Mahisa Agni mengangkat wajahnya ditatapnya bintang cemerlang di Tenggara, Panjer esuk. Bintang yang seakan-akan memberinya pertanda bahwa sebentar lagi, fajar akan memerah di ujung Timur.

Dan fajar itu datang terlampau lambat. Seakan-akan Mahisa Agni tidak dapat menyabarkan diri lagi. Berbagai kejemuan telah melanda dinding jantungnya. Padang yang sepi. Bendungan dan saluran-saluran air yang terbayang di pelupuk matanya semuanya itu seakan-akan telah terbentang dihadapannya. Sawah yang hijau dan air gemericik di parit-parit, melingkari setiap pematang kotak demi kotak.

Tetapi Mahisa Agni itu seakan-akan direnggut dari dunia yang penuh dengan harapan dan terdorong ke dalam lembah yang bernafaskan kecemasan dan kegelisahan.

“Persetan dengan Ken Dedes,” ia mencoba menghentakkan dirinya di dalam hati, “betapa aku mencoba melindunginya, apabila ia telah bersetuju menjadi isteri Tunggul Ametung yang telah membantu melarikannya itu. Tak ada lagi hakku untuk turut mencampuri persoalannya. Ia bukan adikku, bukan sanak bukan kadang.”

Mahisa Agni itu terkejut ketika ia kemudian melihat Mahendra bangkit perlahan-lahan ia melangkah mencari kudanya sambil berkata, “Aku akan melepas pelana kudaku dan memandikannya. Sebentar lagi aku harus sudah kembali ke Tumapel.”

Mahisa Agni tidak menyahut. Dengan matanya ia mengikuti langkah anak muda itu berjalan kebelakang gerumbul. Kemudian terdengar ia bersiul memanggil kudanya, dan sesaat kemudian Mahendra telah menuntun kudanya menuju ke tepian sungai.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ketika kemudian fajar yang ditunggunya membayang di langit dengan hamparan warna merah, anak muda itu menggeliat. Ketika ia berdiri ia melihat Mahendra telah datang kembali.

“Aku akan segera kembali ke Tumapel Agni,” berkata Mahendra.

“Aku juga,” sahut Agni, “pagi ini aku kembali ke Panawijen. Beberapa hari lagi aku harus sudah mulai dengan bendungan ini.”

“Mudah-mudahan kau berhasil,” Mahendra bergumam seakan-akan diperuntukkannya kepada diri sendiri.”

“Terima kasih.”

Ketika kemudian matahari melepaskan sinarnya menghampar di atas padang rumput itu, maka Mahendra segera minta diri kepada Mahisa Agni, kepada Empu Gandring yang sudah duduk bersila, kepada ketiga kawan-kawan Mahisa Agni yang sudah terbangun pula. Dengan sigapnya ia meloncat ke atas punggung kudanya, dan dengan sigapnya pula kudanya meloncat. Seperti anak panah kuda itu berlari. Kepulan debu yang putih berterbangan di belakang kuda itu.

Bukan saja Mahendra, namun Mahisa Agni pun segera berkemas-kemas pula. Dengan berbagai gambaran di dalam dadanya.

Mahisa Agni kemudian membawa ketiga kawan-kawannya itu kembali ke Panawijen bersama pamannya Empu Gandring.

Tak ada yang penting bagi Mahisa Agni beserta kawan-kawannya itu dalam perjalanan pulang. Mereka harus menginap satu malam lagi dipadang rumput itu. Tetapi bersama Empu Gandring dan Mahisa Agni ketiga kawan-kawannya tidak begitu ketakutan lagi. Hanya kadang-kadang mereka mengeluh karena terik matahari dan haus yang menyengat-nyengat leher mereka.

Seperti yang telah mereka rencanakan, mereka memasuki Panawijen di malam hari, supaya tak seorang pun yang melihat, bagaimana pakaian mereka menjadi compang camping.

Namun pada pagi harinya, Panawijen seolah-olah telah menerima seseorang yang membawa harapan bagi mereka, bagi anak cucu mereka. Itulah sebabnya dengan penuh gairah mereka menyambut Mahisa Agni beserta kawan-kawannya di halaman rumah Ki Buyut Panawijen.

Rakyat Panawijen menunggu keterangan Mahisa Agni tentang hasil perjalanannya. Mereka tidak dapat menunggu terlalu lama. Sawah-sawah mereka telah mulai mengering dan isi lumbung-lumbung mereka telah mulai menipis. Mereka harus segera menemukan tempat untuk meletakkan diri menghadapi masa-masa yang masih terlampau panjang. Anak cucu dan keturunan mereka. Alangkah besar dosa mereka, apabila mereka tidak sempat memberikan peninggalan bagi keturunan mereka di masa-masa datang.

Mungkin mereka masih dapat mengharap hasil sawah di musim-musim basah. Namun di musim kemarau, apabila mereka itu tidak mendapat air dari saluran-saluran, maka sawah-sawah mereka akan menjadi padang yang kering dan mati.

Pagi itu Mahisa Agni sudah bersedia memberikan beberapa keterangan menjadi perjalanannya kepada para tertua Panawijen. Dan bahkan para tetua Panawijen yang tidak sabar lagi, telah siap pula untuk melakukan apa saja yang menurut Mahisa Agni dianggap baik.

Namun diluar pendapa rumah Ki Buyut Panawijen, di mana Mahisa Agni duduk diantara beberapa orang-orang tua, anak-anak muda sibuk mengerumuni Jinan, Patalan dan Sinung Sari.

Seperti air banjir mereka bertiga berceritera berganti-ganti. Yang satu tidak mau kalah dahsyatnya dari yang lain.

“Sayang waktu itu pedangku tidak di tanganku,” berkata Patalan kepada kawan-kawannya, “sehingga aku tidak dapat sempat membantu Mahisa Agni melawan hantu Karautan.”

Kawan-kawannya memandangi dengan penuh kekaguman. kemudian disusulnya oleh Jinan, “Sayang. Keduanya berkelahi terlampau kasar, sehingga aku tidak mendapat kesempatan untuk mengayunkan pedangku. Mereka saling berdesakan, saling dorong mendorong dengan senjata masing-masing dan berputaran seperti baling-baling. Aku takut apabila pedangku justru akan mengenai Agni sendiri.”

Anak-anak muda Panawijen menjadi semakin asyik mendengarkannya. Apalagi ketika Sinung Sari berkata, “Hem. Aku sengaja berdiam diri. Aku ingin melihat, apakah Mahisa Agni mampu melawan hantu Karautan. Hantu yang namanya ditakuti oleh semua orang di sekitarnya padang rumput ini. Tetapi ternyata hantu itu sama sekali tidak menakutkan. Aku biarkan Mahisa Agni bertempur sendiri sebab aku sudah dapat memperhitungkan, bahwa hantu itu tidak akan dapat mengalahkannya. Meskipun demikian, apabila keadaan memaksa aku pasti tidak akan sampai hati membiarkan Agni mengalami cidera.”

“Bukan main,” desah anak-anak itu. Kemudian salah seorang dari mereka bertanya, “He, siapakah yang datang bersama kalian. Itu orang tua yang duduk di samping Mahisa Agni?”

“O, pamannya,” jawab Sinung Sari, “orang itu adalah paman Mahisa Agni yang berjumpa saja di perjalanan. Orang itu sengaja akan meninjau kemanakannya disini.”

Anak-anak muda itu kembali mengangguk-angguk kepalanya. Mereka benar-benar terpesona oleh ceritera Jinan, Patalan dan Sinung Sari yang dengan penuh gairah menceriterakan pengalamannya. Bahkan kadang-kadang dengan dan kaki berselendangan, menirukan beberapa macam gerak yang dilihatnya.

“Sayang,” berkata Sinung Sari, “Agni kurang lincah sedikit, sehingga sekali-sekali ia dapat dikenai lawannya. Ia telah berbuat beberapa kesalahan kecil yang dapat memperlambat penyelesaian perkelahian itu sehingga orang Tumapel itu datang.”

“Ah, hampir aku salah sangka,” berkata Jinan, “untunglah aku belum mulai. Kalau orang Tumapel itu tidak segera memperkenalkan dirinya sebagai orang istana, mungkin kami pun sudah bertempur pula.”

Kawan-kawannya yang mengangguk-anggukkan kepalanya itu menjadi semakin kagum. Perjalanan itu ternyata merupakan perjalanan yang dahsyat. Ada diantaranya yang menjadi ngeri, namun ada yang kemudian berangan-angan, “Ah, seandainya aku mendapat kesempatan turut dalam perjalanan itu. Aku akan melihat berbagai kejadian-kejadian yang dahsyat dan mengasyikkan.”

“Huh,” potong Patalan, “kau akan mati ketakutan.”

Kawan-kawannya yang lain serentak tertawa. Dan anak muda yang berangan-angan itu tersenyum tersipu-sipu.

“Tetapi betapapun sulit perjalanan kami, namun kami telah berhasil menemukan tempat itu. Tempat yang tepat sekali untuk membangun sebuah bendungan, menaikkan air dan membuat saluran-saluran di tanah yang tidak terlampau keras. Tanah yang datar dan ditumbuhi rumput yang lebat. Tanah itu akan merupakan tanah yang subur. Kalian dapat mengambil tanah sekuat-kuat kalian dapat mengerjakannya. Dan bendungan itu segera akan kita bangun,” berkata Sinung Sari dengan bersungguh-sungguh.

Kembali anak-anak muda Panawijen itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka telah berjanji berbuat apa saja untuk kepentingan rakyat Panawijen.

Tetapi di pendapa pembicaraan antara Mahisa Agni, Empu Gandring dan orang-orang tua Panawijen berjalan lebih bersungguh-sungguh! Orang-orang tua itu mendengarkan penjelasan Mahisa Agni dengan penuh minat. Justru hanya tentang jeram-jeram, air terjun dan bendungan itu sendiri. Sama sekali tidak disentuh-sentuhnya mengenai hantu Karautan, Empu Sada yang akan dapat mengganggu kerja mereka dan orang-orang lain lagi. Bagi Mahisa Agni hal itu dianggap belum waktunya untuk menguraikannya. Sebab dengan demikian, hal-hal tersebut hanya akan dapat memperkecil hati orang-orang Panawijen yang pada dasarnya sudah tidak begitu tatag.

“Jadi kita buat bendungan itu di sana?” bertanya seseorang.

“Ya kaki,” sahut Mahisa Agni, “tempat itu adalah satu-satunya yang aku ketemukan.”

“Kita harus mulai lagi,” desahnya. “Kalau Empu Purwa tidak menjadi waringuten dan kehabisan akal, maka kita tidak akan bersusah payah membangun sebuah bendungan.”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Tetapi ia dapat mengerti bahwa orang-orang tua itu seharusnya sudah tinggal menikmati hari-hari tuanya saja.

Karena itu Mahisa Agni tidak menjawab. Dibiarkannya orang tua itu menyesali gurunya. Betapapun hatinya merasa tersinggung namun ia mencoba menyimpan perasaan itu dalam-dalam di dalam dadanya.

“Sekarang kita harus mulai dari permulaan lagi,” berkata orang tua itu.

Tetapi seseorang yang duduk di belakang Ki Buyut Panawijen menjawab, “Sudahlah, biarlah yang sudah terjadi itu. Orang tua itu sudah-merasa bersalah. Dan ia sudah berusaha untuk menebus kesalahannya.”

“Huh,” desah orang yang pertama, “itu hanya sekedar untuk memperkecil kesalahan.”

“Sama sekali tidak,” berkata orang yang duduk di belakang Ki Buyut. “Orang itu sama sekali tidak mengingkari kesalahannya Tetapi kita harus merasa bersalah pula. Empu Purwa telah memberi kita bendungan, saluran-saluran air dan apa saja. Tetapi ketika anaknya mengalami bencana, kita tidak dapat menolongnya. Bahkan seakan-akan kita mencuci tangan kita, hanya karena kita takut menjadi sasaran kemarahan Kuda Sempana dan Akuwu waktu itu. Kemudian karena kekecewaan yang menghentakkan keseimbangannya, maka ia telah berbuat kesalahan itu. Mengambil bendungan itu kembali. Bendungan yang sudah diserahkan kepada kita.”

“Kenapa hal itu dilakukannya? Bukankah disadarinya bahwa dengan memecahkan bendungan itu, meskipun bendungan itu dibuatnya sendiri, akibatnya akan menimpa seluruh Rakyat Panawijen?”

“Ia adalah seorang manusia biasa. Manusia yang mempunyai sifat khilaf dan salah. Dan Empu Purwa tidak mengingkari kesalahannya. Tetapi terkutuklah Kuda Sempana, sumber dari segala bencana ini.”

“Sudahlah,” potong Ki Buyut Panawijen, “jangan mengada-ada. Kita jangan selalu dicengkam oleh peristiwa-peristiwa yang telah lampau. Dengan demikian kita tidak akan dapat menghadapi hari depan kita. Kini, yang penting bagi kita adalah bendungan itu. Bendungan dan saluran-saluran air. Semua tenaga di padukuhan ini kita perlukan. Kalau kita masih saja menyalankan, maka kita tidak akan dapat mulai. Nah. Siapa yang tidak ingin melihat bendungan itu kita bangun?”

Semuanya terdiam. Semuanya menundukkan kepalanya.

Pendapa itu sesaat menjadi sepi. Mahisa Agni mencoba memandangi setiap wajah yang ada di sekitarnya. Namun wajah-wajah itu tunduk menusuk lantai. Betapa hatinya sendiri menjadi pedih mendengar seseorang tidak habis-habisnya mengumpati gurunya, namun ia masih dapat menahan diri. Yang penting bagi Mahisa Agni adalah, bagaimana bendungan itu harus terwujud. Bagaimana ia dapat mewujudkan sesuatu yang telah hilang karena gurunya yang sedang kehilangan keseimbangan berpikir. Bagaimana Mahisa Agni dapat melakukan petunjuk-petunjuk dari gurunya itu. Membangun bendungan dan saluran-saluran air.

Karena tidak seorang pun yang menjawab, maka Ki Buyut Panawijen itu berkata, “Nah, Kalau demikian, maka kita semuanya sependapat. Kita kerahkan semua tenaga, kekuatan dan apa saja yang kita miliki untuk membangun bendungan itu. Bendungan itu harus segera selesai sebelum kita akan mengalami paceklik yang panjang.”

Pendapa itu kembali menjadi sepi. Tetapi Mahisa Agni mendengar nafas yang memburu dari setiap dada mereka yang duduk melingkar di pendapa itu. Bahkan kemudian Mahisa Agni pun melihat beberapa orang diantara mereka mengangkat wajahnya. Dari wajah-wajah itu menyalalah tekad mereka membangun bendungan, saluran-saluran air dan pesawahan baru. Arti daripada kerja itu bukan sekedar menyambung hidup mereka sendiri. Tetapi arti dari kerja itu adalah menentukan masa depan anak cucu mereka.

Pada hari itu pula, Panawijen mulai dihangatkan oleh rencana pembangunan yang akan menelan segenap tenaga, pikiran, tekad dan kemauan dari segenap penduduk Panawijen. Dari kakek-kakek sampai kepada anak-anak, seakan-akan serentak mengucapkan rencana itu di segenap kesempatan. Bahkan anak-anak gembala yang menunggui domba dan kambing di pangonan, telah menyusun lagu menurut irama mereka sendiri. Sebuah tembang, tentang bendungan dan parit-parit. Sawah yang hijau segar serta pedukuhan yang subur dan makmur. Rakyat yang sejahtera dan makmur. Rakyat sejahtera merata. Gemah-ripah kerta-raharja.

Mulailah segala persiapan diadakan. Alat, bahan-bahan, dan apa saja yang akan diperlukan nanti dalam pembangunan bendungan itu.

Tetapi meskipun demikian ada juga diantara mereka yang menanggapinya dengan acuh tak acuh. Mereka yang masih saja merasa bahwa mereka tidak seharusnya bekerja berat untuk itu. Mereka ingin bahwa bendungan itu akan jadi dengan sendirinya. Sawah-sawah akan tercetak dipadang rumput Karautan tanpa dikerjakan oleh tangan. Mereka ingin kampung halaman mereka menjadi hijau subur tanpa meneteskan keringat. Dan mereka itu masih saja bermimpi pada saat guntur di langit bersabung dan gunung-gunung menggelegar menggetarkan bumi.

Berhari-hari persiapan dilakukan, berhari-hari Mahisa Agni memeras keringat bersama kawan-kawannya mempersiapkan segala perlengkapan yang dianggapnya perlu. Namun ia masih sempat tersenyum apabila ia mendengar Jinan, Patalan dan Sinung Sari berkata sambil menepuk dada, “Kalau tidak ada aku, maka Panawijen akan menjadi kering kerontang. Akulah yang telah menemukan jeram-jeram itu bersama beberapa kawan yang mengikuti aku di belakang. Tetapi segera mereka mengerutkan leher mereka, apabila mereka melihat Mahisa Agni lewat sambil tertawa dihadapan mereka. Namun Jinan sempat juga berbisik kepada Agni, “Agni, jangan kau katakan kepada mereka, bahwa aku hampir mati ketakutan dipadang Karautan. Dan menanggapi bisikan itu Mahisa Agni hanya dapat tersenyum kecil.

Pada saat-saat yang demikian itu, pada saat-saat Panawijen tenggelam dalam kesibukan, maka jalan-jalan di padesan itu telah dikejutkan oleh derap kaki-kaki kuda. Beberapa orang-orang penunggang kuda, berdatangan ke padukuhan itu.

Kepada seseorang, salah seorang penunggang kuda itu bertanya, “Dimana rumah puteri Ken Dedes?”

Orang itu mengerutkan keningnya. “Puteri Ken Dedes,” desisnya di dalam hati.

Orang yang ditanya itu menjadi heran. Ken Dedes, anak Empu Purwa itukah yang dimaksud dengan Puteri Ken Dedes. Karena itu untuk mendapat kepastian orang itu bertanya, “Apakah yang tuan maksud itu, Ken Dedes puteri Empu Purwa?”

Penunggang kuda itu mengerutkan keningnya. Sesaat mereka saling berpandangan, dan kemudian terdengar salah seorang dari mereka menyahut, “Puteri Ken Dedes, adik dari anak muda yang bernama Mahisa Agni.”

“O,” orang Panawijen itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia tidak akan salah lagi. Ken Dedes yang dimaksud adalah anak Empu Purwa. Meskipun demikian ia menyahut, “Tetapi Ken Dedes kini tidak ada di rumahnya.”

“Ya, kami sudah tahu,” sahut penunggang kuda itu, “justru kami adalah utusan dari tuan puteri itu.”

“O,” orang Panawijen itu menjadi semakin tidak mengerti. Tetapi ia tidak berani bertanya terlampau banyak.

“Dimanakah rumah itu?” desak penunggang kuda itu, “dan apakah kakaknya berada di rumah?”

“Ya. Ya,” sahut orang Panawijen itu tergagap, “tuan dapat menyusur jalan ini. Kemudian tuan akan menembus desa Panawijen. Di ujung yang lain dari jalan ini tuan akan menemukan sebuah padepokan. Itulah rumah Empu Purwa, ayah gadis itu.”

“Terima kasih,” sahut orang-orang berkuda itu, yang sesaat kemudian telah memacu kudanya kembali menuju ke padepokan Empu Purwa.

Ketika kuda-kuda itu berderap di depan regol padepokan, beberapa orang cantrik yang dengan setia menunggui padepokan Empu Purwa menjadi sangat terkejut. Berkali-kali mereka dikejutkan, bahkan mengalami banyak peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan apabila mereka mendengar derap kuda berhenti di halaman. Kali ini pun derap kuda itu mengejutkau mereka. Karena itu segera mereka berlarian mengambil senjata, apa saja yang dapat dipegangnya. Mereka tidak mau menjadi barang-barang mati yang hanya dapat melihat peristiwa demi peristiwa berlangsung tanpa berbuat sesuatu. Mereka tidak mau berdiri saja dengan mulut ternganga seperti masa-masa yang lalu, yang ternyata telah membawa malapetaka bagi padepokan itu, bahkan bagi segenap padukuhan Panawijen.

Mahisa Agni yang sedang berada di belakang rumah pun mendengar derap kuda itu. Tidak hanya seekor, tetapi empat atau lima.

Mahisa Agni itu pun kemudian tegak berdiri dengan wajah tengadah. Seperti para cantrik, maka ia pun bercuriga. Peristiwa demi peristiwa telah mengajarnya untuk setiap kali berhati-hati.

Ketika ia melihat seorang cantrik dengan tergesa-gesa mengambil sebatang besi pengupas sahut kelapa, ia berkata, “Siapakah yang berkuda itu?”

“Kami belum tahu.”

“Kenapa kau mengambil potongan besi itu?”

“Kami akan menghadapi segala kemungkinan dengan senjata. Tidak seperti masa-masa yang lampau.” Sahut cantrik itu.

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar jawaban itu. Tetapi ia tahu benar, bahwa para cantrik itu sama sekali tidak mendapat didikan untuk berkelahi. Sehingga mereka hampir dapat dianggap tidak berarti, apabila mereka ingin membuat perlawanan, apalagi bagi mereka yang sudah masak dengan berbagai pengalaman.

Namun, hati Mahisa Agni sendiri pun terpengaruh juga melihat para cantrik yang mencoba mendapatkan senjata. Ia sadar bahwa apabila ada bahaya, maka tak akan ada orang lain yang dapat membantunya, selain dirinya sendiri dan apabila dikehendaki, pamannya Empu Gandring yang berada di dalam rumah itu pula. Tetapi Mahisa Agni tidak ingin mengusik pamannya. Ia tidak ingin membuat kesan yang tidak menyenangkan baginya. Karena itu, maka Mahisa Agni berhasrat untuk menjumpai para penunggang kuda itu sendiri.

Meskipun demikian, tanpa disengaja Mahisa Agni itu berjalan lewat biliknya sendiri. Diraihnya sebilah keris di dalam glodok pakaiannya dan diselipkannya di punggungnya, Keris itu adalah keris buatan pamannya. Sebab sedapat mungkin, terjadi bahaya yang tidak diinginkannya.

Dengan penuh kewaspadaan Mahisa Agni itu pun kemudian berjalan ke rumah depan. Dari pendapa ia sudah melihat beberapa orang berkuda diluar halaman. Namun menilik kesan yang ada pada mereka, mereka sama sekali bukan orang-orang yang pantas dicurigai.

Kepada seorang cantrik Mahisa Agni menyuruhnya, mempersilahkan para penunggang kuda itu masuk ke halaman.

Sekali lagi Mahisa Agni mendapat kesan yang baik dari para penunggang kuda itu. Mereka tidak memasuki halaman di atas punggung kuda, tetapi segera mereka berloncatan turun, dan sambil menuntun kuda mereka, mereka berjalan ke pendapa.

Menilik pakaian yang mereka kenakan, segera Mahisa Agni dapat mengenal, bahwa mereka adalah pasukan pengawal istana Tumapel. Anak buah dari Witantra. Apalagi ketika diantara mereka itu, dilihatnya seorang anak muda yang telah dikenalnya Kebo Ijo.

“Selamat bertemu kembali kakang Mahisa Agni,” sapa Kebo Ijo sambil tertawa.

Mahisa Agni menganggukan kepalanya. Sambil tersenyum ia menyahut, “selamat adi. Marilah, naiklah ke pendapa.”

Dengan penuh hormat Mahisa Agni menerima mereka. Dipersilahkannya tamunya duduk di atas sehelai tikar pandan yang putih. Disapanya tamunya dengan segala tata cara.

Namun dalam pembicaraan itu, Mahisa Agni menjadi sangat heran dan tidak mengerti, kenapa para prajurit itu menjadi sangat hormat kepadanya, kecuali Kebo Ijo. Bahkan agaknya terlampau berlebih-lebihan. Meskipun demikian Mahisa Agni segan untuk bertanya sebab-sebab itu.

Ketika Mahisa Agni selesai dengan pertanyaan-pertanyaan tata cara, maka sampailah para tamunya itu kepada persoalan yang dibawanya. Persoalan yang harus disampaikannya sebagai utusan Tuan Puteri Ken Dedes. Bakal Permaisuri Akuwu Tumapel.

Dan Mahisa Agni masih saja terheran-heran melihat sikap para prajurit itu, selain Kebo Ijo yang tersenyum-tersenyum saja. Seorang yang paling tua diantara mereka berkata dengan takjimnya, “Tuan muda Mahisa Agni. Kami adalah utusan dari Tuan Puteri Ken Dedes untuk menyampaikan pesan kepada tuan.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Dengan kaku ia menjawab, “Tuan, apakah pesan yang tuan bawa itu?”

“Tuan puteri telah mendengar laporan kakang Witantra kepada Tuanku Akuwu Tunggul Ametung, bahwa tuan tidak ingin menerima Akuwu Tunggul Ametung sebagai wakil ayahanda.”

“Ya,” sahut Mahisa Agni.

“Tuan Puteri menjadi sangat berduka atas keputusan tuan itu.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kata-kata itu langsung menyentuh hatinya, sehingga terasa sesuatu berdesir di dadanya. Tiba-tiba terbayanglah wajah gadis yang murung itu. Seperti pada saat ia melihat gadis itu menangis di sampingnya, di atas bale-bale bambu pada saat bulan sedang mengambang di langit. Pada saat-saat ia sedang dirisaukan pula oleh gadis itu. Terbayang di mata Mahisa Agni, betapa Ken Dedes menyampaikan perasaannya kepada seorang emban tua, pemomongnya. Betapa suara gadis itu seperti petir yang menyambar kepalanya, pada saat ia mendengar bahwa yang diharapkan olehnya adalah sebuah nama yang lain dari namanya. Nama itu adalah Wiraprana.

Kini Wiraprana itu telah terbunuh. Betapa mungkin ia akan mengalami peristiwa yang serupa untuk kedua kalinya. Bagaimana dapat menahan dirinya menerima Akuwu Tunggul Ametung yang datang untuk melamar adiknya itu. Adik yang telah pernah melukai hatinya. Dan luka itu kini seakan-akan menjadi kambuh kembali.

Karena Mahisa Agni masih berdiam diri, maka prajurit itu berkata, “Tuan, apakah tuan tidak menjadi iba dan belas mendengar bahwa Tuan Puteri itu menjadi berduka?”

Mahisa Agni masih terdiam. kepalanya ditundukkannya dalam-dalam.

Dan prajurit itu berkata pula, “Apakah tuan tidak dapat merubah keputusan itu?”

Terasa dada Mahisa Agni seakan-akan bergolak. Kata-kata itu benar-benar telah menggerakkan hatinya. Tetapi apabila kemudian bayangan-bayangan yang aneh hilir mudik di kepalanya, maka kembali hatinya menjadi pedih. Dan sambil menggelengkan kepalanya ia berkata, “Tidak tuan. Aku tidak akan merobah pendirianku. Ken Dedes kini telah cukup dewasa untuk menentukan pilihannya sendiri.”

“Tuan benar,” sahut prajurit tertua itu, “tuan benar. Tuan Puteri telah menjatuhkan pilihan. Tuan Puteri memang telah menerima lamaran Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi Tuan Puteri tidak mau meninggalkan adat tata cara. Tuan adalah satu-satunya wakil bagi ayahanda yang menurut berita yang sampai di istana telah meninggalkan Padepokan.”

“Ya,” sahut Mahisa Agni, “Empu Purwa telah meninggalkan padepokan justru karena ia kehilangan gadisnya. Justru ia kehilangan Ken Dedes itu.”

“Kalau Empu Purwa itu dapat diketemukan, ia akan mendapatkan puterinya itu kembali. Justru setelah Puterinya menerima anugerah.”

“Orang tua itu telah kehilangan segenap harapan. Empu Purwa menjadi sakit hati. karena gadisnya dilarikan orang. Bagaimana mungkin ia dapat menerima Akuwu itu menghadap seandainya ia masih berada di padepokan sekalipun?”

“Tetapi bukankah yang membawa Tuan Puteri pada saat itu adalah adi Kuda Sempana?”

“Bukankah Kuda Sempana mendapat perlindungan dari Akuwu Tunggul Ametung.”

“Akuwu kini telah menyesal.”

“Tetapi ia tidak mengembalikan gadis itu. Malahan gadis itu diambilnya sendiri.”

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Terbayanglah keheranan yang memancar pada sepasang matanya. Ia tidak dapat mengerti kenapa Mahisa Agni menjadi kecewa, justru adiknya akan diangkat menjadi seorang permaisuri. Bahkan bukan itu saja. Telah tersebar desas-desus yang luas, bahwa Akuwu Tunggul Ametung telah berjanji untuk menyerahkan kekuasaan atas Tumapel kepada gadis Panawijen itu.

Namun untuk sesaat prajurit itu berdiam diri. Ia menjadi bingung dan tidak mengerti apa yang harus dikatakannya lagi.

Tiba-tiba mereka yang sedang duduk termenung dalam angan-angan masing-masing itu dikejutkan oleh suara tertawa yang meledak diantara mereka. Ketika semuanya berpaling, mereka segera melihat, bahwa yang tertawa itu adalah Kebo Ijo.

“Mahisa Agni,” katanya, “apakah kau masih tetap bersakit hati? Sayang, adikmu telah bermimpi untuk menjadi seorang permaisuri.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Prajurit yang tertua dan bahkan semuanya yang ada di pendapa itu pun menjadi heran, kenapa Kebo Ijo tiba-tiba saja tertawa.

Mahisa Agni tidak segera menyahut. Ditatapnya wajah Kebo Ijo itu dengan saksama. Namun anak muda itu masih saja tertawa sambil berkata, “Apakah sebenarnya yang kau kehendaki Agni. Adikmu telah diangkat menjadi permaisuri. Kau harus berterima kasih karenanya. Dan kau harus berterima kasih pula kepada Kuda Sempana. Kalau Kuda Sempana tidak menjadi gila, mata Akuwu Tunggul Ametung tidak akan pernah melihat adikmu itu.”

Wajah Mahisa Agni tiba-tiba menjadi merah. Terasa nafasnya menjadi semakin cepat mengalir. Namun ia masih berdiam diri.

Prajurit yang tertua itulah kemudian yang berkata, “Sudahlah adi Kebo Ijo. Jangan berkata yang aneh-aneh. Sekarang baiklah aku menyampaikan pesan Tuan Puteri itu. Apabila tuan Mahisa Agni masih tetap pada pendiriannya itu, maka Tuan Puteri minta Tuan menghadap adik tuan itu ke istana.”

Tetapi warna merah di wajah Mahisa Agni masih saja membara. Kata-kata Kebo Ijo benar-benar telah menusuk jantungnya. Meskipun demikian, Mahisa Agni masih berusaha untuk menahan dirinya.

Dan prajurit yang tertua diantara mereka itu masih berkata terus, “Tuan. Sebaiknya tuan menaruh belas akan Tuan Puteri itu. Apabila tuan sudi datang, maka tuan Puteri akan merasa bahwa tuan telah merestuinya.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya yang gelisah. Perkataan prajurit itu memang dapat menyentuh perasaannya. Alangkah sedihnya Ken Dedes apabila ia menolak semua permintaannya itu. Namun kemudian penyakitnya kambuh kembali, sebuah goresan yang pedih di dalam dadanya, akibat segala macam peristiwa yang terjadi, sejak ia mendengar nama Wiraprana disebut, kemudian Kuda Sempana yang telah memeras segala tenaganya untuk mempertahankan gadis itu, bahkan hampir saja nyawanya sendiri melayang. Dan yang kemudian sekali gurunya telah meninggalkannya pula. Namun akhirnya gadis itu tanpa setahunya telah menerima lamaran Akuwu Tunggul Ametung. Dada Mahisa Agni menjadi pedih, sehingga terloncatlah jawabnya, “Sayang tuan. aku tidak dapat datang menghadap gadis itu. Kalau ia memerlukan aku, biarlah ia datang kepadaku. Bukan aku yang harus menghadapnya.”

Dada prajurit itu berdesir. Tetapi ia berpaling ketika ia mendengar Kebo Ijo tertawa, “Adi Kebo Ijo,” katanya, “akulah yang diserahi pertanggungan jawab atas kalian, dan seluruh tugas ini.”

Dengan senyum yang menyakitkan hati Kebo Ijo menahan suara tertawanya. Kemudian ia berusaha untuk melepaskan perhatiannya atas pembicaraan itu. Dengan nanar ia memandang berkeliling. Kepada pepohonan, bunga-bunga dan rumput yang bertebaran di halaman. Namun daun-daun dan mahkota bunga tampak olehnya tidak begitu segar.

Prajurit itulah kemudian yang berkata kepada Mahisa Agni, “Tuan. Mungkin aku salah mengatakannya kepada tuan. Maksudku, Tuan Putri mengutus kami untuk menyampaikan kepada tuan, bahwa Tuan Puteri ingin bertemu dengan tuan. Ingin berbincang mengenai beberapa hal dan mungkin Tuan Puteri akan minta ijin kepada tuan, untuk menerima lamaran Akuwu Tunggul Ametung. Karena Tuan Puteri tidak dapat meninggalkan istana, maka apakah tuan sudi datang mengunjunginya.”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Sayang. Aku tidak dapat pergi ke Tumapel. Padukuhan ini. tidak dapat aku tinggalkan. Aku sekarang sedang terikat oleh suatu pekerjaan yang besar. Besar bagi padukuhan kami, meskipun hanya membuat sebuah bendungan. Sebab bendungan kami telah pecah beberapa waktu yang lampau.”

Prajurit itu menggigit bibirnya. Agaknya Mahisa Agni akan tetap pada pendiriannya. Karena itu ia menjadi ragu-ragu untuk berbuat sesuatu. Ia tidak mendapat kekuasaan untuk melakukan tugasnya dengan segala cara, menghadapkan Mahisa Agni ke Tumapel. Ia hanya mendapat tugas untuk menyampaikan pesan itu. Dan ternyata pesan itu telah ditolaknya.

Namun prajurit itu masih mencoba untuk meyakinkan Mahisa Agni, bahwa sebaiknya ia datang, katanya, “Tuan Kasihanilah adik tuan itu. Mungkin adik tuan ingin datang mengunjungi tuan, tetapi adik tuan sama sekali tidak mendapat kesempatan. Bukan karena adik tuan itu tidak ingin, apalagi tidak sudi, tetapi sebagai seorang puteri istana ia terikat pada beberapa ketentuan yang tidak dapat dilanggarnya.”

“Anak itu adalah anak Panawijen,” sahut Mahisa Agni, “gadis padepokan yang berada di istana karena dilarikan orang. Ia sama sekali bukan seorang puteri yang wajar menerima berbagai tata-cara kebesaran sebelum ia benar-benar menjadi seorang permaisuri.”

Sekali lagi prajurit itu mengangguk-angguk sambil menggigit bibirnya. Kini seakan-akan semua jalan yang dapat ditempuhnya telah buntu. Ia benar-benar tidak dapat mengatasi kekerasan hati Mahisa Agni dengan kata-kata.

Namun kembali mereka terkejut ketika tiba-tiba mereka melihat Kebo Ijo dengan serta merta meloncat berdiri dan berjalan turun dari pendapa. Dengan nada yang tinggi ia berkata, “Kakang, aku tidak telaten. Jangan kau bujuk dengan rayuan cengeng anak manja itu. Kakang hanya tinggal menyampaikan pesan gadis Panawijen itu, kemudian apakah kakaknya akan memenuhi atau tidak, bukanlah urusan kita. Kita bukan budak-budak yang harus merendahkan diri, merajuk seperti jejaka yang sedang jatuh cinta.”

“Kebo Ijo.”

Teriakan itu benar-benar mengejutkan. Hampir bersamaan Mahisa Agni dan prajurit itu memotong kata-katanya. Hampir bersamaan pula mereka berdua serentak berdiri. Bahkan Mahisa Agni dan prajurit itu pun terkejut pula melihat sikap masing-masing menghadapi Kebo Ijo.

Namun Kebo Ijo itu masih berdiri di bawah tangga pendapa dengan dada tengadah. Bahkan kemudian ia berkata, “Tak ada gunanya membujuk Mahisa Agni yang keras kepala.”

Mahisa Agni kemudian tidak dapat menahan dirinya lagi. Tiba-tiba ia meloncat turun pula dari pendapa. Namun prajurit yang tertua itu meloncat pula secepat Mahisa Agni meloncat. Dengan penuh hormat, seperti pada saat ia datang dan berbicara, ia berkata kepada Mahisa Agni, “Tuan. Aku adalah tetua rombongan kecil ini. Aku minta maaf atas perbuatan adi Kebo Ijo. Mudah-mudahan aku akan dapat mencegahnya lain kali.”

Tetapi belum lagi kata-kata itu berakhir, telah terdengar suara tertawa Kebo Ijo itu kembali.

Betapa wajah prajurit tertua itu menjadi merah padam. Seakan-akan ia menerima tamparan langsung di wajahnya. Meskipun demikian ia menyadari, bahwa Kebo Ijo adalah adik seperguruan Witantra. Itu pulalah agaknya, yang menyebabkan anak muda itu menjadi keras kepala. Ia merasa bahwa di belakangnya berdiri seorang yang disegani. Baik oleh Mahisa Agni maupun oleh tetua rombongan prajurit itu.

Prajurit yang tertua itu pun kemudian menyadari, bahwa lebih baik baginya untuk segera meninggalkan halaman itu sebelum terjadi sesuatu. Ia telah mengenal sikap dan sifat Kebo Ijo meskipun belum begitu banyak, dan ia telah mendengar beberapa macam ceritera tentang anak muda kakak Ken Dedes itu. Prajurit itu telah mendengar pula ceritera tentang Mahisa Agni, ketika ia terpaksa berkelahi melawan Mahendra di Tumapel beberapa waktu yang lalu.

Namun sebelum prajurit itu berkata sesuatu dilihatnya Kebo Ijo berjalan dengan senyum-senyum yang menyakitkan hati ke arah kudanya. Dengan satu loncatan yang cepat, anak muda itu telah berada di punggung kuda.

“Selamat tinggal sampai bertemu kembali Agni. Mudah-mudahan kau tidak terlalu murung menghayati kenyataan seharusnya kau menjadi gembira mendengar kabar tentang adikmu. Tetapi tiba-tiba kau malahan menjadi bersedih.”

“Cukup,” bentak prajurit yang memimpin rombongan itu, “jangan mengigau terus adi Kebo Ijo.”

Kebo Ijo tertawa. Digerakkannya kendali kudanya, dan perlahan-lahan kudanya bergerak meninggalkan halaman rumah itu. Namun suara tertawanya masih saja terdengar menggeletar di halaman.

“Maaf, sekali lagi aku minta maaf atas segala tingkah lakunya,” minta prajurit itu.

Mahisa Agni berdesis. Seandainya prajurit itu tidak bersikap manis, maka Mahisa Agni sudah tidak dapat lagi menahan dirinya. Namun ketika sekali lagi prajurit itu minta maaf kepadanya, maka sadarlah Mahisa Agni, bahwa ia berhadapan dengan Kebo Ijo. Seharusnya ia telah mengenal sifat anak yang bengal itu. Maka dengan mengangguk-anggukkan kepalanya Agni menjawab, “Baiklah tuan. Seharusnya aku tahu, bahwa demikian itulah sifat Kebo Ijo. Sejak aku mengalami singgungan perasaan yang kadang-kadang hampir tak tertahankan.”

“Ya,” sahut prajurit itu, “mudah-mudahan setelah ia berada dalam lingkungan yang lebih luas, dalam lingkungan keprajuritan, sifat-sifatnya akan berkurang.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya, meskipun terasa degup jantungnya masih belum tenang kembali.

“Kini, kami akan mohon diri tuan,” berkata prajurit itu, “aku akan menyampaikan segala jawaban tuan atas permintaan Tuan Puteri.”

“Baik,” sahut Agni, “sampaikan kepadanya Aku sedang terlampau sibuk.”

Prajurit itu membungkuk hormat. Beberapa orang kawannya pun berbuat serupa, “Kami segera akan kembali.”

Ketika kuda-kuda para tamu itu berderap, dada Mahisa Agni pun serasa berderap sekeras derap kuda itu. Hampir ia berteriak memanggil mereka, dan menyatakan kesediaannya untuk pergi bersama mereka ke Tumapel menemui Ken Dedes. Namun tiba-tiba terdengar giginya gemeretak. Terdengar suaranya parau perlahan-lahan, “Tidak. Aku tidak akan datang menemuinya. Aku tidak akan dapat merestui perkawinan itu. Guru sendiri telah berkata dalam kutuknya, bahwa matilah mereka dengan keris, yang ikut serta melarikan anaknya. Bukankah Tunggul Ametung termasuk pula diantaranya?” Namun Mahisa Agni segera memejamkan matanya ketika timbul pertanyaan dalam hatinya, “Apakah itu alasanmu satu-satunya?”

Mahisa Agni itu pun kemudian terkejut ketika terasa pundaknya tersentuh tangan. Ketika ia berpaling dilihatnya pamannya berdiri di belakangnya sambil tersenyum.

Dada Mahisa Agni berdesir. Kemudian tatapan wajahnya tertunduk menghunjam disela-sela jari kakinya.

“Kenapa kau tidak pergi bersama mereka. Bukankah gadis itu puteri gurumu?” bertanya pamannya.

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Kepalanya masih tunduk dalam-dalam dan hatinya bergolak semakin cepat.

Empu Gandring yang bijaksana melihat kerusuhan hati kemanakannya. Karena itu ia tidak mendesaknya. Bahkan kemudian ia berkata, “Sudahlah Agni. Kalau kau sudah berketetapan hati tidak akan pergi baiklah. Tetapi perasaanmu jangan terbenam dalam keragu-raguan. Nah, sekarang bagaimana dengan bendunganmu?”

Seperti orang yang terbangun dari tidurnya, Mahisa Agni menengadahkan wajahnya. Tiba-tiba ia tersenyum dan menjawab, “Semua persiapan telah selesai paman.”

“Bagus,” sahut pamannya, “lalu apa yang akan dikerjakan hari ini?”

“Brunjung harus mulai dibawa ke jeram-jeram itu,” jawab Agni

“Bagus,” sahut pamannya, “apakah sudah kau sediakan gerobag-gerobag yang akan membawanya?”

“Sudah paman.”

“Mari, biarlah aku mempunyai pekerjaan disini, daripada hanya duduk termenung setiap hari. Apakah aku dapat turut membawa berunjung-berunjung itu?”

“Ah,” Mahisa Agni berdesah, “sebaiknya paman tidak usah terlalu bersusah payah.”

“Jangan beranggapan bahwa aku seorang yang hanya pantas diberi makan dan minum saja Agni. Biarlah aku pergi bersama-sama membawa brunjung itu ke jeram-jeram dipadang Karautan.”

“Apabila paman kehendaki, aku akan mempersilahkan.”

“Dari mana berunjung-berunjung itu dibawa?”

“Dari rumah Ki Buyut, paman. Di sana semuanya telah siap, Ki Buyut sendiri akan membawa berunjung-berunjung itu ke sana. Tinggal menanti aku yang masih harus mempersiapkan beberapa pekerjaan disini.”

Empu Gandring mengerutkan keningnya, “Baik. Kalau kau belum sempat pergi, biarlah aku bersama mereka. Mungkin aku dapat membantu mereka.”

Mahisa Agni pun kemudian menyadari kata-kata itu. Ki Buyut belum menyadari bahaya yang akan dapat mengancam mereka, karena Mahisa Agni belum mengatakannya. Sedang apa yang didengar oleh Ki Buyut dari Jinan, Patalan dan Sinung Sari hanya dianggapnya sebagai sebuah lelucon yang dahsyat. Dan kini pamannya bersedia pergi bersama mereka.

Karena itu Mahisa Agni merasa bahwa pamannya bersedia untuk melakukan sebagian dari pekerjaannya. Terutama melindungi orang yang sedang mengantarkan peralatan bagi bendungan yang akan mereka bangun.

Maka jawab Mahisa Agni, “Terima kasih paman. Apabila paman bersedia berangkat bersama dengan Ki Buyut, maka pekerjaan akan terbagi. Brunjung itu akan sampai di jeram-jeram itu, sementara aku sempat menyelesaikan beberapa pekerjaan disini. Dengan demikian kita tidak kehilangan waktu hanya untuk menunggu aku.”

Empu Gandring tersenyum, “Bukankah lebih baik begitu?”

Demikianlah maka pada hari itu juga Mahisa Agni segera mempersiapkan, berunjung-berunjung untuk dibawa ke Padang Karautan. Hampir semua gerobag yang ada di padukuhan itu dipakai oleh Ki Buyut Panawijen untuk mengangkut brunjung-brunjung dan berbagai macam peralatan yang lain.

Kepada mereka Mahisa Agni berpesan, bahwa mereka harus menaruh banyak perhatian terhadap air, supaya mereka tidak kehausan di jalan.

Maka pada pagi harinya, berangkatlah iring-iringan gerobag dan sebagian orang-orang Panawijen, berjalan menuju ke padang rumput Karautan. Diantara mereka terdapat Ki Buyut Panawijen, Empu Gandring dan sebagai penunjuk jalan adalah Jinan, Patalan dan Sinung Sari. Hampir segenap penduduk Panawijen melepas iring-iringan itu dengan doa dan harapan, semoga mereka menemukan kembali kesuburan dan kesejahteraan seperti yang pernah dialami.

Sementara itu Mahisa Agni dan beberapa anak-anak muda yang lain masih sibuk menyiapkan patok-patok dan tali temali dari ijuk untuk bendungan itu pula. Mereka mengharap, bahwa apabila pekerjaan mereka itu telah siap, maka segera mereka akan dapat pergi menyusul gerobag-gerobag yang berjalan jauh lebih lambat dari berjalan kaki biasa. Apalagi Mahisa Agni dan kawan-kawannya kelak akan dapat menyusul mereka berkuda. Patok-patok bambu dan tali temali itu akan dapat dimasukkan ke dalam kreneng-kreneng yang besar dan digantungkan pada sisi-sisi kuda sebelah menyebelah.

Dengan demikian maka pekerjaan itu berjalan menurut tugas masing-masing. Dengan penuh kesungguhan dan harapan, rakyat Panawijen bekerja keras untuk kesejahteraan mereka dan anak cucu mereka.

Kalau kemudian malam tiba, maka Mahisa Agni dengan kelelahan beristirahat di padepokan. Sebelum ia ingin tidur, maka ia selalu berbaring-baring di pendapa atau duduk di teritisan. Betapa sepinya padepokan itu kini. Sekali-sekali Mahisa Agni masih juga sempat mengenangkan masa-masa lampaunya. Ketika ia masih menghayati padepokan ini dengan segenap penghuninya. Penghuni yang masing-masing mempunyai tempat tersendiri di dalam hatinya. Empu Purwa, gurunya yang telah menuntunnya dalam olah kanuragan dan olah kebatinan. Yang menuntunnya menanggapi kehadirannya di dunia namun juga menanggapi cinta kasih Penciptanya. Kemudian Ken Dedes, gadis yang aneh baginya. Dan seorang emban tua, ibunya.

Malam itu Mahisa Agni setelah membersihkan dirinya, berjalan-jalan di pekarangan rumahnya. Dicobanya untuk mengenal kembali setiap tanaman yang ada dipetamanan-petamanan. Bunga-bunga yang pernah ditanamnya dan rerumputan yang pernah dipeliharanya. Meskipun kini terkadang ia sama sekali tidak lagi tertuju kepada tanam-tanaman itu, namun para cantrik agaknya telah meneruskan pemeliharaan atas tanaman-tanaman itu, sehingga meskipun telah sekian lama tidak disentuhnya, namun tanaman-tanaman itu masih tetap terpelihara rapi.

Ketika ia melangkah terus, tiba-tiba ia tertegun. Dilihatnya sebuah bale-bale bambu di teritisan. Bale-bale yang dulu itu juga. Terasa dada Mahisa Agni berdesir. Bukan saja bale-bale bambu itu, tetapi dilihatnya pula sebatang seruling terselip pada dinding rumah.

“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas. Tanpa sesadarnya ia melangkah dan menjatuhkan dirinya dialas bale-bale itu. Terdengar suaranya berderak dan terdengar pula nafas Mahisa Agni terputus sesaat.

Namun kemudian anak muda itu menjulurkan tangannya, meraih serulingnya yang telah lama terselip di situ.

Dengan hati yang tersentuh-sentuh oleh kepahitan perasaan, Mahisa Agni membersihkan serulingnya. Perlahan-lahan diangkatnya seruling itu dan dilekatkan ke mulutnya.

Sesaat kemudian melontarkan sebuah lagu menelusur sepi malam. Menjerit tinggi diantara desir dedaunan yang digerakkan oleh angin malam yang lembut, seakan-akan ikut pula berlagu, mendendangkan sebuah kidung yang sedih.

Para cantrik yang masih duduk-duduk di belakang rumah terkejut mendengar suara seruling itu. Serentak mereka mengangkat wajah-wajah mereka, namun segera wajah-wajah itu tertunduk kembali. Lagu itu adalah lagu yang murung. Dan wajah-wajah para cantrik itu pun menjadi murung pula.

Sedang di ruang samping, para endang yang sedang bergurau pun tiba-tiba berhenti. Seperti dikejutkan oleh suara hantu, mereka memasang telinga mereka tajam-tajam. Dan mereka pun mendengar suara seruling itu.

“Hem,” desis seorang endang.

“Kenapa,” bertanya yang lain.

“Lagu itu.”

“Kenapa?”

Endang itu tidak menjawab. Tetapi matanya menjadi sayu. Ia adalah endang yang selalu melayani Ken Dedes pada saat gadis itu masih berada di padepokan. Dan suara seruling itu telah menuntunnya ke dalam suatu kenangan atas gadis padepokan yang bernama Ken Dedes itu.

Tetapi kawan-kawannya tidak sempat bertanya kenapa ia menjadi sedih. Bahkan kawan-kawannya pun segera menundukkan wajah-wajah mereka. Terasa sebuah kenangan yang pahit telah menyentuh-nyentuh hati mereka pula.

Tetapi tiba-tiba suara seruling itu menyentak berhenti, sehingga baik para cantrik maupun para endang menjadi bertanya-tanya di dalam hati. Namun mereka tidak tahu, bahwa Mahisa Agni yang sedang meniup seruling itu telah dikejutkan oleh suara langkah tergesa-gesa mendekatinya.

Langkah itu masih belum terlalu dekat. Tetapi telinga Mahisa Agni yang tajam telah dapat mendengarnya. Langkah itu adalah langkah seseorang yang berjalan ke arahnya.

Namun demikian suara serulingnya berhenti, suara langkah itu pun berhenti pula. Betapapun Mahisa Agni memasang pendengarannya baik-baik, tetapi ia kini sudah tidak mendengar suara itu lagi.

Hati anak muda itu pun menjadi berdebar-debar. Berbagai pertanyaan hinggap di dalam hatinya. Namun Mahisa Agni yang cukup terlatih itu merasakan bahwa langkah itu bukanlah langkah seseorang yang cukup mempunyai kecakapan untuk menyembunyikan suara langkahnya. Dengan demikian Mahisa Agni menjadi agak tenang. Mungkin langkah itu adalah langkah seorang cantrik atau seorang endang yang ingin mengintipnya dan bersembunyi di balik sudut rumah itu.

Tetapi ketika Mahisa Agni itu berdiri dan berjalan menyusuri jalan-jalan dipetamanan, kembali ia terkejut. Didengarnya suara memanggilnya perlahan-lahan, “Mahisa Agni.”

Agni berpaling. Dilihatnya sebuah bayangan di dalam gelap berjalan perlahan-lahan ke arahnya. Terasa dada Mahisa Agni berdesir melihat bayangan itu. Dan sekali lagi terdengar bayangan itu memanggilnya, “Agni.”

“Ibu,” desis Mahisa Agni sambil melangkah tergesa-gesa ke arah bayangan yang ternyata adalah ibunya.

“Ya,” sahut ibunya, “aku ibumu.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Terasa hatinya menjadi berdebar-debar. Ibunya memerlukan datang kepadanya. Pasti ada sesuatu yang penting.

“Marilah ibu,” Agni mempersalahkan ibunya masuk ke dalam rumah. Tetapi ibunya menjawab, “Aku adalah seorang emban tua disini Agni.”

“Oh,” desah Mahisa Agni, “lalu?”

“Bawalah aku ke pendapa. Aku datang bersama dengan dua orang prajurit Tumapel.”

“Kenapa ibu membawa prajurit-prajurit itu?”

“Aku tidak membawanya, tetapi kedua orang itu mendapat perintah untuk mengantarku.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kalau begitu marilah,” ia mempersilahkan.

“Tidak sekarang Agni.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu maksud ibunya sehingga karena itu ia bertanya, “Kenapa ?”

Ibunya memandang wajah Mahisa Agni dengan lembut. Terasa sinar keibuan memancar dari sepasang mata yang redup diantara kerut kemerut wajah yang telah dijaluri oleh garis-garis umur.

“Marilah, duduklah disini sebentar Agni,” minta ibunya.

Sebelum Mahisa Agni menjawab, terasa tangan ibunya menarik lengannya, dan dituntunnya ke bale-bale di teritisan.

“Duduklah Agni.”

Seperti anak yang baru pandai berjalan di dalam bimbingan ibunya, Mahisa Agni sama sekali tidak mengelak.

Ketika kemudian Mahisa Agni terhenyak di atas bale-bale itu, maka ibunya pun segera duduk pula di sampingnya.

Sejenak mereka masih saling berdiam diri. Ibunya sedang mencoba mengatur pernafasannya yang terengah-engah. Baru saja ia menempuh perjalanan yang terlalu jauh bagi seorang perempuan tua, meskipun di atas punggung kuda. Namun karena ia bukan seorang penunggang kuda yang baik, maka terasa seluruh badannya menjadi penat dan sakit. Jarak yang sama antara Tumapel dan Panawijen telah ditempuh dalam waktu dua kali bahkan tiga kali lipat, dari pada waktu yang diperlukan oleh mereka yang pandai berkuda dengan kecepatan yang sedang saja. Karena itulah maka perempuan tua itu datang terlampau malam di Panawijen.

Sedangkan Mahisa Agni, kini dirisaukan oleh berbagai dugaan atas kedatangan ibunya. Namun segera ia menghubungkan kedatangan ibunya itu dengan kedatangan serombongan prajurit beberapa hari yang lalu. Karena itu, maka hatinya menjadi berdebar-debar.

Baru sesaat kemudian terdengar ibunya berkata, “Agni. Aku sangat penat. Tetapi aku ingin segera mendengar beberapa persoalan dari mulutmu sendiri. Karena itu, biarlah kita bicarakan dahulu beberapa persoalan tanpa didengar oleh para prajurit yang mengantarkan aku itu, kemudian barulah aku dan prajurit-prajurit itu kau jamu sekedarnya. untuk menghilangkan haus dan lapar.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya, seperti sudah seharusnya saja ia berbuat demikian.

“Agni,” berkata ibunya, “apakah beberapa hari yang lalu datang beberapa orang prajurit kemari?”

Kembali Mahisa Agni mengangguk. Debar di dadanya terasa semakin keras.

“Apakah mereka minta kepadamu supaya kau pergi ke Tumapel?”

Sekali lagi Mahisa Agni mengangguk.

“Dan kau menolak.”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Pertanyaan itu sudah diduganya. Namun terasa bahwa pertanyaan itu menyulitkannya.

“Agni. Kenapa kau menolak? Dua persoalan telah diberikan kepadamu. Yang pertama, Akuwu Tunggul Ametung, seorang Akuwu telah bersedia datang kepadamu untuk mewakili gurumu, menerima lamarannya atas Ken Dedes, karena kau dianggap sebagai kakaknya, meskipun bukan kakak kandungnya. Bukankah Ken Dedes sudah tidak mempunyai keluarga seorang pun selain ayahnya itu? Yang kedua, karena kau menolak, maka Ken Dedes ingin menemuimu. Dan kau menolak pula. Apakah sebabnya Agni?”

Kini dada Mahisa Agni tidak lagi sekedar berdebar-debar. Tetapi terasa dada itu kini bergelora. Sebenarnya ia telah jemu mendengar pertanyaan-pertanyaan serupa itu. Sejak ia bertemu dengan Ken Arok dipadang Karautan, kemudian Mahendra yang menemuinya atas perintah Witantra, seterusnya beberapa orang prajurit datang lagi kepadanya atas perintah Ken Dedes. Dan kini, yang datang itu adalah ibunya. Karena itu maka terasa dada Mahisa Agni menjadi sesak karenanya. Sesak oleh berbagai persoalan yang diberati pula oleh persoalan yang serupa, namun kini ibunyalah yang membebankannya.

Justru karena itu, karena pertanyaan-pertanyaan yang terakhir itu meluncur dari mulut ibunya, maka terasa bahwa sentuhan-sentuhan pada dinding hatinya terasa menjadi semakin tajam.

Mahisa Agni yang menundukkan kepalanya, tidak segera dapat menjawab. Nafasnya seakan-akan menjadi semakin cepat mengalir, namun jantungnya serasa akan berhenti berdetak.

“Agni,” desak ibunya, “kenapa kau tidak bersedia pergi ke Tumapel untuk menemui Ken Dedes? Gadis itu perlu kedatanganmu. Ia sampai kini, merasa bahwa hidupnya terlalu jauh terpencil dari keluarganya. Ketika ia mendengar bahwa ayahnya pergi dari Panawijen, ia menjadi pingsan. Satu-satunya harapan yang akan dapat menenteramkan hatinya adalah kau Agni. Kalau kau juga menolak, maka gadis itu akan berputus asa. Ia akan merasa hidupnya terlalu sepi. Sendiri dalam kesibukan hidup sehari-hari.”

Mahisa Agni masih menundukkan kepalanya. Kata-kata itu seperti mengetuk-ngetuk otaknya. Bahkan menusuk-nusuk seakan-akan sedang mengorek dinding otaknya untuk membuat sebuah lubang yang dalam. Alangkah sakitnya.

“Kau dengar Agni?”

Suara itu bagaikan derak gunung yang meledak, menggelegar di atas kepalanya.

Mahisa Agni menjadi pening, perlahan-lahan ia mengangkat kepalanya. Tetapi ia tidak memandang wajah ibunya. Dilontarkannya pandangan matanya jauh-jauh menembus kelamnya malam, hinggap pada sinar-sinar delupak yang mengintip dari lubang-lubang dinding dapur.

“Bagaimana Agni?”

“Tidak,” tiba-tiba suara Agni menyentak, sehingga ibunya terkejut.

“Jangan membentak,” sahut ibunya.

“Aku tidak akan pergi. Ia tidak akan menjadi kesepian. Gadis itu akan menjadi seorang permaisuri. Hidupnya akan dikelilingi oleh dayang-dayang dan emban. Semua kata-katanya akan terjadi, dan semua keinginannya akan terpenuhi. Apa gunanya aku lagi. Apa?”

“Agni,” potong ibunya, “tetapi kau tidak memandang ke dalam hatinya. Kau hanya melihat tata lahiriahnya Agni.”

“Kalau hatinya merasa kesepian, kalau hatinya tidak tertimbuni oleh keinginan-keinginan lahiriah, maka apakah ia akan menerima lamaran Akuwu sebelum ia berbicara dengan siapa pun? Sebelum ia berbicara dengan ayahnya, atau dengan aku yang dianggap dapat mewakili ayahnya?”

“Agni,” potong ibunya semakin keras. Sehingga suara Agni itu pun terputus pula.

“Kau tidak dapat mengerti perasaan hati seorang perempuan. Ken Dedes sudah cukup mengalami derita batin yang hampir tak tertanggungkannya. Matinya Wiraprana, hilangnya Empu Purwa dan kini kau masih akan menyiksanya dengan berbagai tuntutan yang tak masuk akal. Apa yang dihadapi Ken Dedes saat itu bukanlah keadaan yang wajar. Tetapi ia tersekap dalam satu ruang yang sempit dengan himpitan perasaan yang tajam. Tiba-tiba ia melihat uluran tangan dari seorang laki-laki yang dianggapnya sangat baik kepadanya. Laki-laki yang telah membebaskannya dari Kuda Sempana yang sangat dibencinya. Laki-laki yang dapat memberinya harapan bagi masa-masa depannya sepeninggal Wiraprana. Laki-laki yang berusaha menghiburnya pada waktu hatinya sedang pedih. Apalagi Agni, Apalagi? Tetapi laki-laki itu tidak akan berbuat sekehendak hatinya dan liar. Ia masih ingat tata cara yang meskipun tidak sepenuhnya, tetapi sejauh-jauh yang dapat dilakukan. Ia bersedia datang kepadamu. Dan laki-laki itu adalah seorang Akuwu. Nah, apa katamu?”

“Sejak semula aku tidak mencampuri urusannya dengan Akuwu itu. Akuwu yang telah melarikannya, melindungi Kuda Sempana, merampas anak orang. Aku telah mencoba mempertahankannya, bahkan nyawaku hampir diambilnya. Kini, peristiwa itu sudah dilupakan. Kini mereka menemukan jalan sendiri yang akan membahagiakan, sedang luka di punggungku masih berbekas. Bahkan ayahnya sendiri, Empu Purwa telah mengutuknya. Betapa kecewa hati orang tua itu? Betapa? Betapa kecewa pula hatiku? Orang memandang setiap persoalan dari kepentingan sendiri.”

“Agni?” potong ibunya.

Tetapi Mahisa Agni masih berkata terus, “Apa yang aku peroleh dari setiap usahaku mempertahankannya dari Kuda Sempana? Apakah yang aku lakukan tidak senilai apa yang dilakukan oleh Akuwu itu. Justru Akuwu yang melindungi perbuatan hina itu pula?”

“Agni, Apakah kau sedang menimbang jasa? He?”

Kini suara Agni benar-benar terpotong. Dan ibunya berkata terus, “Jadi kau ingin mendapatkan imbalan dari jasamu itu? Agni. Aku adalah seorang tua. Aku tahu apa yang tersimpan di dadamu. Ternyata kau sama sekali tidak ikhlas melepaskan Ken Dedes. Nah, katakanlah kepadaku Agni. Apakah kau masih menghendakinya. Apakah kau masih menyimpan keinginan dalam dadamu, bahwa suatu ketika kau sendiri akan mengawininya. Kalau benar-benar demikian, aku, ibumu akan sanggup memenuhi keinginan itu. Aku berkewajiban Agni. Kalau demikian, besok aku akan kembali ke Tumapel. Aku akan membunuh Tunggul Ametung. Kau tidak percaya? Aku yakin bahwa aku akan dapat melakukannya. Aku dapat meracuninya. Kalau Akuwu itu sudah terbunuh, kemana larinya gadis itu? Ia akan kembali ke padepokan ini, meskipun aku akan digantung karena pembunuhan itu. Nah, setelah ia berada di padepokan ini seorang diri, kau dapat berbuat apa saja atasnya. Kau dapat berbuat apa saja sekehendak hatimu. Tanpa memikirkan perasaan gadis itu. Tanpa menimbang apakah itu dapat membahagiakannya atau menghancurkannya.”

“Cukup. Cukup,” suara Agni menggelepar menggetarkan udara malam yang sepi. Beberapa orang cantrik dan emban mendengar suara itu. Namun mereka tidak berani berbuat sesuatu. Mereka tidak tahu apa yang terjadi. Bahkan mereka menyangka bahwa Agni sedang marah kepada pembantu-pembantunya yang sedang menyiapkan bendungan.

Suara ibunya terputus karenanya. Sesaat malam dicengkam oleh kesepian yang menggelisahkan. Sepi, namun dada Mahisa Agni sedang dibelit oleh kegelisahan yang dahsyat.

Yang terdengar kemudian adalah suara angin yang berdesir menyentuh dedaunan. Kelopak dan mahkota-mahkota bunga bergerak-gerak seperti sedang menggelengkan kepalanya melihat betapa Mahisa Agni menahan gelora di dadanya.

Dengan serta merta anak muda itu berdiri. Tatapan matanya masih menyangkut dikejauhan, menembus gelapnya malam.

“Agni,” bisik ibunya.

Tetapi Mahisa Agni tidak berpaling. Tetapi ia menjawab, “Ibu telah mengorek luka di hatiku.”

“Jadi apakah maksudmu sebenarnya?”

“Aku sudah tidak mempunyai sangkut paut lagi dengan Ken Dedes. Aku kini sedang sibuk dengan kewajibanku sendiri. Menyelesaikan bendungan itu atas perintah Empu Purwa untuk mengganti bendungan yang pecah. Aku tidak ada waktu untuk mengurusinya. Bagiku, rakyat Panawijen jauh lebih penting daripada Ken Dedes itu seorang diri.”

“Jangan mengada-ada Agni. Bendungan itu adalah pekerjaan yang memerlukan waktu. Sedang Ken Dedes hanya memerlukan kau tidak lebih dari sehari saja. Pagi-pagi kau dapat berangkat berkuda ke Tumapel untuk menemuinya, maka dimalam harinya kau sudah berada di Panawijen kembali.”

“Tak ada waktu.”

“Jangan menunggu Akuwu marah. Akuwu masih dapat menahan dirinya ketika ia mendengar bahwa utusan Ken Dedes kau tolak, karena Ken Dedes masih akan berusaha memanggilmu. Dan aku telah menyanggupkan diriku, karena aku adalah ibumu. Aku menyangka bahwa betapapun kecilnya, aku masih mempunyai pengaruh atas anakku. Tetapi ternyata aku keliru. Aku sama sekali sudah tidak memiliki apapun lagi. Dan itu adalah salahku, karena aku memisahkan kau sejak kanak-kanak. Adalah wajar kalau kau sekarang merasa, bahwa ibumu tidak berarti lagi bagimu.”

Kembali terasa dada Mahisa Agni itu bergelora. Betapa sakitnya ia mendengar kata-kata ibunya. Betapa pedihnya. Hampir-hampir ia berteriak untuk melepaskan perasaan yang menghimpit jantungnya.

Tetapi Mahisa Agni itu terkejut ketika ia mendengar suara isak di belakangnya. Ketika ia berpaling, dilihatnya ibunya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dengan ujung kainnya, orang tua itu menyeka matanya yang basah.

Dada Mahisa Agni berdesir. Tanpa dikehendakinya sendiri, tiba-tiba ia terkenang kepada seorang perempuan tua yang menangisi anaknya yang hampir mati dibunuhnya. Perempuan tua itu adalah ibu Pasik. Meskipun perempuan itu pernah mengalami perlakuan yang kasar dari anaknya, namun ketika anaknya terluka, maka anak itu ditangisinya. “Alangkah jauh bedanya. Kasih seorang ibu dibandingkan dengan kasih seorang anak,” katanya di dalam hati. Dan kini ia melihat ibunya itu menangis. Menangis karena sikapnya yang kasar. Menangis karena ia menolak nasehatnya.

Sesaat Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Dikenangnya kembali apa saja yang diucapkan oleh ibunya. Dikatakannya bahwa ia tidak dapat mengerti perasaan seorang perempuan.

“Hem,” Mahisa Agni berdesah di dalam hati, “kenapa hanya laki-laki saja yang harus mengerti perasaan perempuan. Kenapa tidak sebaliknya pula? Aku harus mencoba mengerti betapa hati Ken Dedes akan menjadi pedih apabila aku tidak memenuhi permintaannya. Tetapi kenapa Ken Dedes tidak mau mengerti, betapa hatiku lebih-lebih akan menjadi parah. Kalau aku datang lagi kepadanya.”

Tetapi ketika sekali lagi ia memandangi wajah ibunya yang tunduk, maka hatinya menjadi luluh. Tiba-tiba Mahisa Agni itu pun kembali menghenyakkan dirinya di samping ibunya. Dengan suara yang terpatah-patah ia berkata, “Jangan menangis ibu.”

Ibunya menggelengkan kepalanya, “Tidak Agni. Aku mencoba untuk tidak menangis. Aku akan mencoba mengerti apa yang baru saja terjadi. Aku tidak menyalahkanmu.”

Sekali lagi dada Mahisa Agni berdesir. Kini ia tidak dapat lagi melawan perasaan seorang anak yang ingin mencoba berbakti kepada ibunya. Karena itu katanya, “Ibu, aku akan memenuhi permintaan ibu.”

Ibunya terkejut mendengar kata-kata itu. Tiba-tiba ia menengadahkan kepalanya sambil bertanya, “Bagaimana?”

“Aku akan pergi ke Tumapel, semata-mata karena permintaan ibu.”

“Agni. Jadi kau bersedia?”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya

“Oh,” ibunya berdesah. Sekali lagi ia menundukkan dan terdengar ia berguman, “Aku tahu betapa hatimu seperti tergores sembilu. Namun Agni, pengorbanan akan bermanfaat bagi gadis yang malang itu.”

Mahisa Agni tidak menjawab.

Kembali untuk sesaat keduanya saling berdiam diri. Kembali terdengar di telinga mereka suara angin yang berdesir menyentuh dedaunan.

Baru sejenak kemudian terdengar ibu Mahisa Agni itu berkata, “Agni, di pendapa ada tamu. Prajurit-prajurit dari Tumapel yang mengantarkan aku. Apakah kau akan menemui mereka?”

Keduanya pun kemudian melangkah ke Pendapa untuk menemui pengantar emban tua itu. Ketika Mahisa Agni telah sampai di pendapa dan bercakap-cakap dengan kedua prajurit itu, maka emban tua itu segera pergi kebelakang. Alangkah terperanjatnya para endang dan cantrik melihat kehadirannya. Beberapa endang memeluknya sambil menangis, dan yang lain lagi bertanya tidak ada henti-hentinya.

“Sekarang,” berkata emban tua itu, “di pendapa ada tamu. Apakah kalian masih bersedia merebus air dan menanak nasi?”

“Tentu. Tentu,” sahut para endang. Dan segera mereka pun menyalakan api di dapur. Merebus air dan menanak nasi. Sementara itu, para endang dan cantrik masih saja sibuk dengan berbagai pertanyaan. Mereka ingin mendengar ceritera tentang Ken Dedes. Namun sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, ibu Mahisa Agni itu selalu saja dibayangi oleh perasaan sendiri, “Alangkah kejamnya aku sebagai seorang ibu terhadap anak laki-lakiku. Aku telah menyiksa perasaannya dan aku telah menyakiti hatinya.”

Tetapi ibu Mahisa Agni itu pun tidak sampai hati melihat Ken Dedes merasa hidupnya menjadi terlampau pedih. Orang tua itu merasa sangat kasihan kepada Ken Dedes, yang telah kehilangan laki-laki tempat ia menggantungkan kasihnya, kemudian ayahnya telah meninggalkannya pula.

Malam itu, emban tua pemomong Ken Dedes beserta dua orang prajurit pengantarnya bermalam di padepokan. Kedua prajurit itu merasa sangat heran, kenapa tiba-tiba saja Mahisa Agni bersedia pergi ke Tumapel. Prajurit itu telah mendengar ceritera kawan-kawannya, bahkan Kebo Ijo telah menyebarkan berita, bahwa Mahisa Agni sedang bermanja-manja, menolak permintaan Ken Dedes untuk menemuinya.

Tetapi kedua prajurit itu tidak mau berpening kepala memikirkan persoalan yang tak diketahuinya. Mereka hanya menyimpan keheranannya itu di dalam hatinya. Kemudian karena lelah mereka segera jatuh tertidur setelah mendapat jamuan makan dan minum.

Pagi-pagi benar Mahisa Agni telah bangun. Ketika ayam jantan berkokok untuk yang terakhir kalinya, dengan tergesa-gesa Mahisa Agni menemui beberapa orang kawan-kawannya, ia minta ijin untuk dua hari meninggalkan Panawijen.

“Kau akan pergi kemana Agni?” bertanya salah seorangnya kawannya.

“Aku harus pergi ke Tumapel,” jawab Agni.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Aku mempunyai keperluan keluarga yang cukup penting.”

“Tetapi kau akan segera kembali?”

“Tentu. Hanya dua hari satu malam.”

Kawan-kawannya tidak dapat mencegahnya. Dan pagi itu pula Mahisa Agni pergi ke Tumapel bersama ibunya dan kedua orang prajurit pengantarnya.

Alangkah pepat hati Mahisa Agni di sepanjang jalan. Ketika terik matahari menyengat tubuhnya, terasa betapa panasnya. Tetapi panas matahari itu masih belum sepanas hati di dadanya.

Ibunya yang dapat mengerti sepenuhnya, betapa pedihnya hati anak laki-lakinya itu, hampir tidak berkata sepatah kata pun di sepanjang perjalanan. Kedua prajurit itu pun hampir berdiam diri pula. Hanya sekali-sekali ibu Mahisa Agni itu menawarkan minum atau makanan yang mereka bawa sebagai bekal di perjalanan. Namun setiap kali Mahisa Agni hanya menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Terima kasih bibi.”

Tetapi berbeda dengan kedua prajurit yang mengantarkan itu. Dengan serta merta mereka memungut jenang alot yang disodorkan kepada mereka. Dua tiga potong sekaligus.

“Alangkah enaknya,” gumam mereka.

“Jenang itu dibuat oleh para endang di padepokan,” berkata emban tua itu.

“Kami tidak melihat para endang itu bibi,” berkata salah seorang dari kedua prajurit itu.

“Mereka bersembunyi di belakang. Mereka malu menampakkan dirinya dihadapan para prajurit-prajurit muda yang tampan seperti kalian.”

Kedua prajurit itu tertawa. Namun mulut mereka masih saja bergerak-gerak mengunyah jenang alot dari Panawijen. Emban tua itu tersenyum pula, meskipun hanya bibirnya bukan hatinya. Sebab ketika ia memandang wajah Mahisa Agni dengan sudut matanya, dilihatnya wajah anak muda itu masih juga tegang. Sendau gurau itu sama sekali tidak dapat mempengaruhi kepahitan perasaannya. Karena itu emban tua itu tidak bergurau lagi. Kini bahkan ia ikut merasakan sedalamnya betapa risaunya hati anaknya.

Perjalanan itu terasa terlampau lambat bagi Mahisa Agni. Kalau ia pergi seorang diri, maka jarak yang telah ditempuhnya akan berlipat tiga empat kali dari jarak yang dilampauinya kini. Tetapi ia tidak dapat memacu kudanya. Ibunya bukanlah seorang penunggang kuda yang baik.

Meskipun perjalanan itu terasa terlampau lambat, namun setapak demi setapak mereka maju juga. Tumapel menjadi semakin lama semakin dekat.

Dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar ketika kuda-kuda itu mulai menginjakkan kaki-kakinya di atas jalan-jalan kota. Gemeretakan kakinya di atas batu terasa seperti gemeretak jantung di dalam dada Mahisa Agni menghentak-hentak tiada hentinya. Betapa ramainya jalan-jalan kota itu, namun terasa di hati Mahisa Agni, alangkah sunyi hidupnya. Sekali-sekali ia berpaling ke arah perempuan tua yang duduk di atas punggung kuda berpegangan erat pada kendali. Sekali-sekali ia mencoba untuk memandangi rumah-rumah yang berserakan di pinggir jalan. Namun semuanya hampir tak menyentuh perasaannya yang kosong.

Ketika Mahisa Agni menengadahkan wajahnya, dilihatnya langit sudah menjadi suram. Matahari telah terlampau rendah untuk dapat menyentuh ujung pepohonan dengan sinarnya, meskipun tepi-tepi mega di langit masih juga diwarnai oleh cahayanya yang kemerah-merahan.

Dada Mahisa Agni berdentang semakin keras ketika di hadapannya kemudian terbentang tanah lapang yang luas. Alun-alun Tumapel. Di sisi Alun-alun itulah berdiri dengan megahnya istana Tumapel. Istana Tunggul Ametung. Dan di dalam istana itulah ia harus menjumpai Ken Dedes.

Debar hati Mahisa Agni hampir tak dapat dikuasainya ketika mereka berhenti di samping regol alun-alun. Satu-satu mereka berloncatan turun untuk kemudian menuntun kuda mereka, memasuki regol halaman belakang istana Tumapel.

Seorang penjaga segera menyapa mereka, tetapi ketika mereka melihat kedua orang kawannya, maka mereka berempat pun segera dipersilahkan masuk.

Mereka kemudian berhenti di regol dalam, halaman belakang istana. Prajurit itu pun kemudian berkata kepada Mahisa Agni, “Tuan tunggu disini. Kami, beserta bibi emban, akan masuk untuk berusaha menghadap Akuwu, mohon ijin untuk tuan, sebelum tuan menemui Tuan puteri.”

Wajah Mahisa Agni segera menjadi merah. Tiba-tiba ia menyahut dengan tegangnya, “Aku datang bukan atas kehendakku sendiri. Kenapa aku harus menunggu ijin untuk itu?”

Kedua prajurit itu terkejut mendengar kata-kata itu sehingga mereka menjadi saling berpandangan. Namun emban tua itulah yang kemudian menjawab, “Adalah menjadi adat disini, Agni. Adat istana, bahwa setiap orang pasti mendapat ijin dahulu untuk bertemu dengan keluarga Akuwu.”

“Aku tidak hendak bertemu dengan keluarga Akuwu. Tetapi Ken Dedes lah yang memanggil aku untuk menemuinya.”

“Ya. Demikianlah,” sahut emban tua itu, “maksudku, untuk menemui orang-orang yang dianggap penting, kita memerlukan ijin lebih dahulu sesuai dengan tingkat orang yang ingin kita temui. Kadang-kadang ijin para penjaga sudah cukup kuat bagi kita, apabila kita ingin menemui keluarga kita yang tinggal di dalam istana apabila keluarga kita itu seorang pelayan atau seorang juru masak. Tetapi kita memerlukan ijin seorang pimpinan peronda dari pengawal istana apabila kita ingin menemui seorang pejabat kepujanggaan atau yang setingkat dengan itu. Kini meskipun atas panggilannya, namun kau ingin menemui seorang bakal permaisuri Akuwu, sehingga kau memerlukan ijin dari orang yang paling berkuasa di dalam istana ini. Orang itu adalah Akuwu Tunggul Ametung.”

“Bagaimana kalau aku tidak diijinkan masuk? Apakah dengan demikian aku masih tetap seorang yang tidak tahu perasaan perempuan? Apakah aku masih orang yang tidak mempunyai belas kasihan dan masih seorang yang dibakar oleh nafsunya sendiri?”

“Tidak, tidak Agni,” jawab ibunya tergesa-gesa, “jangan berpikir terlampau jauh. Ijin bagimu seakan hanyalah suatu sikap resmi dari Akuwu, supaya kau tidak melanggar adat dan tata cara utama. Kedatanganmu sebenarnya memang sudah lama ditunggu.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Terasa sesuatu menekan perasaannya. Ia datang bukan atas kehendaknya, bahkan ia datang dengan perasaan yang sangat berat. Kini ia masih harus menunggu diluar regol dalam untuk menunggu ijin baginya. Alangkah kecil dirinya. Seolah-olah ia tidak lebih dari segumpal tanah liat yang tidak dapat menolak untuk dibentuk menjadi apapun juga. Ia harus datang, kemudian dengan rendah hati ia harus menunggu ijin masuk. Ia baru dapat masuk kalau ijin itu telah diberikan kepadanya dari orang yang turut berkepentingan atas kehadirannya.

“Mungkin Akuwu akan mempunyai banyak syarat untuk mengijinkan aku masuk,” katanya di dalam hati, “mungkin aku harus melepaskan beberapa kepentingan rakyat Panawijen, atau mungkin banyak hal-hal yang tidak dapat aku penuhi,” Mahisa Agni menggeretakkan giginya, kemudian suara di hatinya itu berkata lagi, “Kalau demikian, kalau banyak kesulitan yang aku hadapi, lebih baik aku kembali ke Panawijen.”

Mahisa Agni itu terkejut ketika ibunya, emban tua itu berkata, “Nah, Agni. Tunggulah disini. Jangan terlalu dipengaruhi oleh berbagai prasangka. Aku akan segera kembali.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya sambil menjawab singkat, “Silahkan. Aku akan menunggu. Tetapi tidak terlalu lama. Kalau aku nanti menjadi jemu menunggu, maka aku akan kembali ke Panawijen.”

Ibu Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak membantahnya, namun ia berkata, “Aku akan berusaha secepatnya kembali.”

Kemudian bersama kedua prajurit itu Ibu Mahisa Agni berjalan memasuki halaman, langsung ke serambi belakang. Meskipun tidak terucapkan, namun kedua orang prajurit kawan seperjalanan ibu Mahisa Agni itu, menjadi heran melihat sikap Mahisa Agni. Bagaimanakah sebenarnya yang terjadi atasnya? Tetapi kedua prajurit itu saling berdiam diri.

Di depan regol Mahisa Agni menunggu kedua orang prajurit beserta ibunya dengan gelisah. Sekali ia berdiri dan berjalan mondar mandir, namun kemudian ia menghenyakkan dirinya, duduk dialas batu kerikil yang berserak-serak di halaman.

Ia berusaha untuk menenangkan hatinya. Namun justru semakin lama ia menunggu, maka debar jantungnya seakan-akan menjadi semakin cepat. Berkali-kali ia berdiri, dan mencoba melihat ke arah ibunya menghilang. Namun emban tua itu masih belum juga menampakkan dirinya. Bahkan semakin lama malam menjadi semakin gelap, sehingga karena itulah maka Mahisa Agni menjadi semakin gelisah karenanya.

“Terlalu,” gumamnya kepada diri sendiri, “aku seakan-akan dijadikan barang mainan yang menyenangkan. Dipanggilnya aku ke Tumapel, kemudian dibiarkan aku disini menjadi makanan nyamuk. Hem.”

Di sana-sini Mahisa Agni kemudian melihat beberapa lampu telah dinyalakan. Di pinggir-pinggir halaman dan di regol. Sehingga karena itulah maka Mahisa Agni itu seakan-akan menjadi tidak dapat bersabar lagi. Tenaganya akan lebih bermanfaat apabila ia berada di Panawijen, membantu membuat tambang-tambang ijuk dan patok-patok bambu yang akan sangat berguna bagi bendungannya, daripada duduk sambil menggaruk-garuk punggungnya di depan regol istana Tumapel.

Tiba-tiba kejemuan Mahisa Agni memuncak. Dengan serta merta ia meloncat berdiri dan berdesis, “Lebih baik aku kembali ke Panawijen.”

Namun sebelum Mahisa Agni melangkah meninggalkan regol itu, tiba-tiba ia tertegun. Dilihatnya dua orang prajurit datang kepadanya.

“Hem,” geram Mahisa Agni, “baru sekarang mereka datang sesudah membiarkan aku duduk disini hampir satu senja.”

Tetapi Mahisa Agni itu menjadi sangat kecewa. Ternyata bayangan dua orang prajurit yang mendekat itu, setelah menjadi semakin dekat, sama sekali bukan kedua prajurit kawan ibunya. Sehingga dengan demikian kejemuan Mahisa Agni kembali merayapi kepalanya.

Ternyata kedua prajurit itu pun terkejut pula melihat Mahisa Agni berdiri di samping regol. Salah seorang daripadanya segera bertanya, “Siapa kau?”

Mahisa Agni memandangi keduanya dengan saksama. “Hem,” geramnya di dalam hati. Namun ia menjawab sambil mengangguk hormat, “Aku Mahisa Agni dari Panawijen.”

Kedua prajurit itu berhenti beberapa langkah dari Mahisa Agni. Dicobanya untuk mengenalnya di dalam keremangan malam.

“Nyalakan lampu itu,” berkata salah seorang dari padanya.

Yang lain pun kemudian melangkah mendekati lampu yang tersangkut di regol. Agaknya mereka memang sedang bertugas menyalakan lampu-lampu. Dengan batu titikan dan dimik belerang, maka prajurit itu membuat api. Ketika lampu itu telah menyala, maka cahayanya yang kemerah-merahan langsung memancar dan jatuh di atas wajah-wajah ketiga laki-laki yang berdiri di depan regol itu.

“Hem,” geram salah seorang dari kedua prajurit itu, “aku belum pernah mengenalmu.”

Mahisa Agni yang sedang dibakar oleh kejengkelannya terhadap kedua prajurit dan ibunya, menjawab, “Aku juga belum mengenalmu.”

Kedua prajurit itu saling berpandangan. Jawaban itu memang aneh bagi mereka, sehingga kemudian salah seorang dari kedua prajurit itu berkata, “Kenapa kau berada disini?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Pertanyaan itu memang sudah diduganya. Maka jawabnya, “Aku menunggu disini, menunggu ijin untuk menemui Ken Dedes.”

“Ken Dedes, siapa?”

“Ken Dedes yang menurut pendengaranku akan di angkat menjadi Permaisuri Tunggul Ametung.”

“Tuanku Akuwu Tunggul Ametung maksudmu?”

“Ya. Akuwu Tunggul Ametung.”

Kembali kedua prajurit itu saling berpandangan. Mereka memang pernah mendengar dari para pemimpin mereka bahwa Akuwu akan mengambil seorang permaisuri. Dan permaisuri itu kini telah berada di dalam istana. Bahkan banyaklah yang mereka dengar desas-desus tentang puteri bakal permaisuri itu. Namun demikian, mereka tidak dapat mengerti bahwa seorang yang akan menemuinya datang seorang diri dan berdiri saja di muka regol halaman dalam. Kenapa ia menunggu di tempat itu?”

Karena itu maka kedua prajurit itu pun bertanya pula. “Apakah keperluanmu bertemu dengan puteri.”

“Aku tidak tahu. Bukan aku yang berkepentingan, tetapi Ken Dedes.”

Jawaban Mahisa Agni itu pun terdengar terlampau aneh bagi kedua prajurit itu. Apalagi Mahisa Agni yang sedang berhati pepat itu, tampaknya menjawab pertanyaan mereka dengan jawaban-jawaban yang tidak mereka mengerti, bahkan hampir seperti acuh tak acuh saja.

“Apakah kau salah seorang dari keluarganya?”

Mahisa Agni menjadi semakin jengkel mendengar pertanyaan-pertanyaan itu. Ia datang karena Ken Dedes memerlukannya. Kini ia terpaksa menunggu dan mendapat pertanyaan-pertanyaan yang sama sekali tak menyenangkannya. Dalam keadaan itu, Mahisa Agni benar-benar kehilangan kesabarannya. Ia dapat berlapang dada menghadapi lawan dalam perkelahian, namun menghadapi keadaan ini, dimana hatinya sendiri seakan-akan tersayat-sayat, maka sikapnya pun menjadi jauh berbeda dengan sikapnya sehari-hari.

“Apakah kau keluarganya?” terdengar prajurit itu mendesak.

Mahisa Agni mengangguk, jawabnya, “Ya.”

“Apakah hubungan keluarga itu? Paman, kakak atau apa?”

“Kakak. Aku adalah kakaknya,” sahut Mahisa Agni. Kedua prajurit itu mengerutkan keningnya. Mungkin anak ini memang kakaknya, sebab menurut pendengarannya Ken Dedes itu pun datang dari Panawijen. Tetapi mungkin juga bukan. Mungkin orang yang mengaku kakak calon permaisuri ini, sekedar orang yang ingin mendapat keuntungan saja dari padanya. Maka kembali terdengar pertanyaan prajurit itu, “Apakah kau kakak kandungnya?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia ragu-ragu untuk menjawab.

Kalau pertanyaan itu diiakan, maka jangan-jangan Ken Dedes telah mengatakan, bahwa ia adalah anak tunggal Empu Purwa. Tetapi Mahisa Agni yang sedang dirisaukan oleh berbagai persoalan itu tidak mau berpening-pening kepala memikirkannya, maka jawabnya, “Bukan, aku bukan kakak kandungnya. Aku adalah kakak angkatnya.”

Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi di dalam kepala mereka, merayaplah kecurigaan atas anak muda yang mengaku kakak bakal Permaisuri itu. Karena itu, maka salah seorang dari mereka berkata, “Sebaiknya kau tidak menunggu disini. Mari, ikutlah kami ke gardu regol pertama.”

Mahisa Agni menjadi makin tidak senang. Katanya, “Aku telah melewati regol pertama itu.”

“Kenapa kau dapat masuk sebelum kau mendapatkan ijin? Kenapa baru disini kau menunggu ijin itu?”

“Aku tidak tahu. Aku datang berempat, dua orang prajurit, seorang emban tua dan aku.”

“Siapakah nama prajurit-prajurit itu?”

Kembali Mahisa Agni tidak dapat menjawab. Kemarin ia mendengar juga nama itu di sebut-sebut oleh sesama mereka. Tetapi sejak pertama, Agni sudah diliputi oleh kegelapan pikiran, maka ia sama sekali tak memperhatikan nama kedua prajurit itu.

“Siapa?” desak mereka.

Mahisa Agni menggeleng, “Aku tak tahu nama-nama mereka.”

“Hem,” prajurit itu menarik nafas. Kemudian mereka berkata pula. “Marilah ikut aku ke gardu pertama.”

“Aku sudah melampauinya. Kuda-kuda kami berada di dalam regol di samping gardu itu.”

“Ikut kami,” berkata prajurit itu pula, “nanti kami akan menyelesaikan ijin itu.”

“Bukan salahku aku berada disini. Kedua prajurit yang membawa aku seharusnya tahu, bahwa aku harus menunggu di regol pertama, tetapi kenapa mereka membawa aku kemari?”

Kedua prajurit itu menjadi ragu-ragu. Meskipun mereka bercuriga namun jawaban Mahisa Agni yang jujur itu hampir meyakinkan mereka. Namun kedua prajurit itu menjadi kurang senang atas sikap yang seolah-olah acuh tak acuh. Sebab mereka sama sekali tidak tahu, bahwa perasaan Mahisa Agni benar-benar dirisaukan oleh keadaan dirinya sendiri.

Tetapi kedua prajurit yang sedang bertugas itu tidak dapat berbuat dalam kebimbangan. Bagi mereka lebih baik ditempuh jalan yang paling dapat dipertanggung jawabkan. Karena itu maka berkata salah seorang dari mereka, “Aku terpaksa membawamu ke gardu pertama Ki Sanak. Aku sama sekali tidak berkeberatan atas kehadiranmu. Tetapi sebaiknya kau tidak membuat kami ragu-ragu.”

Barulah kini Mahisa Agni menyadari, bahwa ia berhadapan dengan dua orang yang sedang bertugas. Ia tidak dapat menyalahkan mereka, sebab apa yang dapat dikatakannya tentang dirinya sama sekali kurang meyakinkan kedua prajurit yang sedang bertugas itu. Apabila kemudian kejengkelan Mahisa Agni itu memuncak, maka kejengkelannya itu ditujukannya kepada kedua prajurit kawan seperjalanan ibunya. Seharusnya mereka tahu apa yang harus dilakukannya. Namun Mahisa Agni yang sedang sibuk dengan perasaannya sendiri itu tidak mau membuat persoalan-persoalan baru. Baginya lebih baik menghindarkan diri dari segala persoalan yang dapat menambah kesulitan-kesulitannya. Karena itulah maka kemudian Mahisa Agni berkata, “Baik. Aku akan ikut dengan kalian. Tetapi aku tidak akan menunggu di gardu pertama. Aku sudah terlalu lama menunggu disini.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Lebih baik bagiku kembali ke Panawijen.”

“Bukan maksud kami mengusir kau Ki Sanak. Tetapi kami ingin meyakinkan diri kami sendiri, bahwa kau benar-benar berhak untuk masuk ke istana.”

“Terima kasih,” jawab Agni, bahkan kemudian di tambahkannya, “aku terpaksa kembali ke Panawijen. Tolong sampaikan nanti kepada kedua prajurit dan emban tua yang datang bersama mereka itu, bahwa aku tidak sabar menunggu.”

Kedua prajurit itu saling berpandangan. Kemudian berkata salah seorang dari mereka, “Marilah ke gardu pertama.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Ia berjalan saja di samping kedua prajurit yang sedang bertugas itu.

 

[divider line_type=”Full Width Line” custom_height=””]

Source : www.agusharis.net

~ Article view : [285]