Pelangi di Langit Singasari [ 16 ]

365

oleh S.H. Mintardja

[ Seri 16 ]

 

BARULAH DI GARDU pertama kedua prajurit itu dapat meyakinkan diri mereka. Dari pemimpin prajurit yang bertugas di regol, kedua prajurit itu mendapat beberapa penjelasan tentang kedatangan Mahisa Agni. Diberitahukannya pula bahwa Mahisa Agni datang bersama dua orang prajurit yang sudah mereka kenal dan yang mereka ketahui tugas-tugasnya pula.

“Maafkan kami,” berkata kedua prajurit itu, “kami bertugas di dalam halaman istana sehingga kami tidak mengetahui kehadiran tuan. Apabila demikian, marilah tuan kami antarkan ke serambi belakang istana di samping regol itu tadi. Namun terpaksa tuan masih harus menunggu, sampai tuan mendapatkan ijin masuk ke istana. Hal itu adalah diluar wewenang kami.”

Tetapi Mahisa Agni sudah kehilangan kesabaran. Kegelisahan dan kerisauan perasaannya sudah demikian pepatnya. Apalagi Mahisa Agni sendiri tidak yakin apakah ia dapat berhadapan dengan Ken Dedes sebagai seorang kakak? Sehingga ia menjadi semakin jemu untuk menunggu di samping regol, di dekat pintu serambi belakang. Maka jawabnya, “Aku sudah terlalu lama menunggu. Aku datang kemari bukan atas kehendakku, dan sekarang aku harus menunggu terlampau lama. Apabila nanti ada petugas lain yang melihat aku, pasti aku harus menjawab berbagai pertanyaan pula.”

“Mungkin tuan sudah tidak akan terlalu lama menunggu.”

“Aku sudah terlalu lama berdiri di samping regol di dekat serambi itu.”

“Mungkin Akuwu sedang bersantap, sehingga beberapa emban yang melayaninya tidak berani menyampaikan permohonan kedua prajurit itu. Mereka harus menunggu beberapa saat.”

“Aku sama sekali tidak memerlukan mereka,” desis Mahisa Agni perlahan-lahan sehingga kedua prajurit itu tidak mendengarnya dengan jelas. Namun kemudian Agni itu berkata, “Aku akan kembali ke Panawijen. Tolong sampaikan kepada mereka, bahwa aku sudah kembali.”

“Tuan,” berkata salah seorang dari kedua prajurit itu cemas, “kami minta maaf bahwa kami telah mengganggu tuan. Mungkin tuan kecewa atas perbuatan kami. Kami benar-benar tidak tahu siapakah tuan.”

“Tidak,” sahut Agni, “aku tidak menyalahkan kalian. Kalian benar-benar sedang melakukan kewajiban kalian. Tetapi aku sudah jemu untuk menunggu.”

Kedua prajurit itu menjadi bingung. Para penjaga regol pun tidak tahu apa yang harus mereka lakukan terhadap Mahisa Agni. Mereka tidak mempunyai wewenang untuk mencegahnya, sebab mereka tidak tahu, sampai seberapa jauh kepentingan Mahisa Agni hadir di istana Tumapel.

Namun kedua prajurit yang merasa menjadi penyebab langsung dari kejemuan Mahisa Agni itulah yang kini menjadi bertambah gelisah. Sehingga salah seorang dari mereka berkata, “Apakah tuan ingin menunggu di regol ini. Tuan dapat duduk dengan tenang. Biarlah kami berdua saja yang menunggu di samping regol di dekat serambi belakang. Nanti kami akan memanggil tuan apabila ijin itu telah tuan dapatkan.”

Mahisa Agni menggeleng. Jawabnya, “Terima kasih. Aku akan pulang saja ke Panawijen.”

Ternyata prajurit-prajurit itu tidak lagi mampu mencegah, mereka tidak berani menahan Mahisa Agni dengan kekerasan, sebab mereka tidak mempunyai kekuasaan untuk itu. Sehingga mereka kemudian hanya dapat memandangi debu yang mengepul di belakang derap kuda Mahisa Agni. Sesaat kemudian, hilanglah ia di belakang tabir kegelapan malam.

Prajurit-prajurit itu menjadi gelisah. Mereka tidak tahu pasti, apakah mereka tidak bersalah karena melepaskan anak muda itu pulang. Namun apakah mereka dibenarkan seandainya mereka terpaksa menahan Mahisa Agni dengan kekerasan.

Dalam serba ketidak tentuan itu, mereka kemudian melihat tiga bayangan berjalan tergesa-gesa ke regol pertama. Sepintas, para penjaga itu segera dapat mengenal, langkah kedua kawannya yang datang bersama Mahisa Agni sore tadi, beserta seorang emban tua.

Hati para penjaga dan kedua prajurit yang menyalakan lampu di regol tempat Mahisa Agni menunggu, menjadi berdebar-debar. Kedua prajurit itu merasa, seakan-akan merekalah yang menyebabkan Mahisa Agni itu kembali ke Panawijen. Kalau anak muda itu benar-benar diperlukan, maka mereka pasti akan mendapat marah dari Akuwu Tunggul Ametung.

“Sial benar kita kali ini,” desis salah seorang daripada mereka, “kalau saja kita tidak bertugas menyalakan lampu-lampu sambil meronda keliling, kita tidak akan menemui soal yang menggelisahkan ini.”

Kawannya tidak menjawab. Tetapi debar jantungnya tidak kalah cepatnya dengan kawannya yang lain.

Ketika ketiga orang, kedua prajurit dan emban tua telah sampai di regol pertama, maka dengan serta merta terdengar emban tua itu bertanya, “Dimanakah Mahisa Agni? Apakah kalian melihatnya?”

Sesaat para penjaga regol itu saling berpandangan. Kemudian prajurit yang membawa. Agni ke regol ini menjawab, “Aku melihat tuan Mahisa Agni itu. Kini ia telah kembali ke Panawijen.”

“He,” suara itu meledak bersama-sama dari ketiga orang yang baru datang, “kenapa tidak kalian cegah?”

“Kami telah mencobanya,” sahut pemimpin penjaga, “tetapi ia tetap pada pendiriannya. Menurut pesannya anak muda itu telah jemu menunggu.”

“Oh,” desis emban tua itu sambil menekan dadanya. Nafasnya tiba-tiba menjadi semakin cepat mengalir, “Agni. Agni. Bukan main. Hati yang telah lapuk ini masih juga kau lukai. Oh, alangkah besar dosa yang aku tanggungkan,” perempuan itu mengeluh. Namun keluhan di hatinya jauh lebih pedih dari yang diucapkannya, seolah-olah Agni sengaja menyakiti hatinya, “Hem,” perempuan tua itu menarik nafas panjang, “Salahku,” keluhnya di dalam hati, “anak itu tidak pernah merasakan betapa kasih sayang seorang ibu mengusap keningnya. Bagaimana ia kini harus mencintai ibunya? Apalagi mematuhi permintaannya? Bukan salah Mahisa Agni. Permintaanku terlalu berat, sedang aku belum pernah memberinya sesuatu.”

Sesaat regol itu menjadi sepi. Masing-masing tenggelam dalam angan-angannya. Namun wajah-wajah mereka kini benar-benar membayangkan kegelisahan hati.

Sejenak kemudian emban tua itu berkata kepada kedua prajurit yang mengantarnya ke Panawijen, “Bagaimana?”

“Terserah kepada bibi,” sahut keduanya.

Sekali lagi emban tua itu mengeluh, katanya, “Apakah yang harus aku katakan kepada Tuanku Akuwu?”

Semuanya masih terbungkam. Dan semuanya masih juga berdebar-debar. Sementara itu terdengar emban itu berkata, “Akuwu sendiri telah menyambutnya di ruang dalam. Dengan tergesa-gesa beliau berkemas sehabis makan malam. Tetapi anak itu telah pergi.”

Yang mendengar keterangan itu menjadi semakin berdebar-debar. Demikian pentingnyakah anak muda itu sehingga Akuwu sendiri akan menyambutnya di ruang dalam?”

Karena itu maka salah seorang dari mereka berkata, “Bibi emban, apakah sebaiknya kami, salah seorang atau dua orang pergi menyusulnya?”

Emban itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menggeleng sambil berkata, “Jangan.”

“Kenapa? Bukankah kami akan dapat membawanya kemari, menghadap Akuwu Tunggul Ametung.”

“Anak itu keras hati. Mungkin ia tidak akan bersedia kembali.”

“Kalau memang perlu sekali, kami akan mencoba memaksanya.”

Sekali lagi emban itu menggeleng. Emban yang sudah mengenal Mahisa Agni itu dengan baik berkata di dalam hatinya, “Jangankan satu atau dua orang. Empat orang penjaga bersama empat orang prajurit yang lain itu pun tak akan dapat memaksanya dengan kekerasan. Bahkan apabila kemudian Mahisa Agni menjadi marah dan menjadi gelap hati, maka ia akan dapat membuat cedera beberapa diantara para prajurit itu. Dengan demikian maka anak itu akan terjerumus ke dalam kesulitan yang lebih dalam.”

Namun yang terloncat dari mulutnya adalah, “Akulah yang bersalah. Aku memang membiarkan anak muda itu terlampau lama menunggu.”

“Lalu apakah yang akan bibi kerjakan?”

Emban itu terdiam sesaat. Namun sesaat itu telah ditemukannya sikap atas peristiwa kembalinya Mahisa Agni ke Panawijen.

“Biarlah aku mempertanggung jawabkannya,” katanya di dalam hati. Ternyata perempuan tua itu telah menimpakan semua kesalahan pada dirinya sendiri. Karena itu ia telah bertekad untuk melindungi anaknya. Satu-satunya anaknya. Lebih baik semua kesalahan dibebankan kepadanya dari pada harus menyentuh anaknya itu.

“Kita menghadap Akuwu,” berkata emban itu kemudian.

“Tanpa Mahisa Agni?” bertanya kedua prajurit yang mengantarkannya ke Panawijen.

Perempuan itu menggeleng, “Mahisa Agni telah pergi.”

Kedua prajurit itu tidak menjawab. Mereka kemudian berjalan di belakang perempuan itu sambil menundukkan wajahnya. Mereka sudah membayangkan apa yang akan terjadi di ruang dalam. Akuwu adalah seorang yang aneh. Seorang yang dapat bertindak menurut kehendaknya sendiri. Hampir dalam sekejap Akuwu dapat berbuat hal-hal diluar dugaan. Karena itu, semakin berdebar-debar.

Sementara itu Akuwu ternyata telah memanggil Ken Dedes pula untuk datang ke ruang dalam. Akuwu itu menjadi sangat gembira ketika ia mendengar Mahisa Agni telah bersedia datang. Selain ia akan dapat bertemu dengan salah seorang keluarga Ken Dedes, sehingga jalan yang ditempuhnya tidak akan terasa terlampau kasar dan melanggar adat, juga Akuwu menganggap bahwa apabila Mahisa Agni bersedia, maka ia akan dapat memperkuat kesatuan pengawal istana di samping Witantra, setelah ia melihat sendiri, betapa anak muda itu mampu bertempur melawan Ken Arok dengan baik.

Sebagai seorang Akuwu maka kepentingannya dengan Mahisa Agni langsung tersangkut dengan kepentingan kedudukannya. Telah terbayangkan olehnya, bahwa di samping Witantra, pasukan pengawal istana akan diperkuat dengan Ken Arok yang akan dipindahkannya dari seorang pelayan dalam langsung ke dalam lingkungan keprajuritan, dan Mahisa Agni.

Dalam kesempatan inilah Akuwu akan memanfaatkan pertemuannya dengan Mahisa Agni. Yang pertama, dengan resmi minta supaya keluarga Ken Dedes tidak merasa tersinggung dengan caranya mengambil Ken Dedes, dalam hal ini akan dicobanya untuk menjelaskan, bahwa sebenarnya Akuwu Tunggul Ametung pada waktu itu terseret oleh ketamakan Kuda Sempana, dan yang kedua akan ditawarkan kepada Mahisa Agni sebuah kedudukan yang cukup baik di bawah pimpinan Witantra bersama-sama dengan Ken Arok, setelah Akuwu menerima Kebo Ijo masuk pula ke dalam lingkungau itu.

Sesaat kemudian Akuwu Tunggul Ametung lah yang menjadi gelisah menunggu di serambi di muka biliknya. Belum ada seorang pun yang datang kepadanya dan memberitahukan, bahwa Mahisa Agni telah menunggunya di ruang dalam, sekali Akuwu Tunggul Ametung itu berdiri, dan sesaat kemudian ia pun terhenyak duduk di atas sebuah tempat duduk yang rendah. Sekali-sekali dipandanginya pintu ke ruang di sebelah, namun belum juga seorang emban pun yang datang kepadanya.

“Gila,” gumannya, “apakah aku dibiarkan jemu menunggu disini?”

Tetapi ketika teringat olehnya, gadis bakal permaisurinya, maka ia mencoba menekan perasaannya. Kembali ia duduk sambil membelai kumisnya, namun ia menjadi gelisah kembali, seperti nyala pelita minyak yang tergantung pada dinding papan tertiup angin yang silir.

“Heh,” Akuwu itu mengeluh, “terlalu lama.”

Akhirnya Akuwu itu tidak sabar lagi. Hampir saja ia berteriak memanggil pelayannya yang duduk di atas tangga serambi, namun niatnya itu diurungkannya ketika ia mendengar beberapa langkah mendekatinya.

“Ha,” Akuwu itu tersenyum, “agaknya anak muda itu telah datang dan menunggu aku di ruang dalam.”

Tunggul Ametung kemudian berdiri. Sekali lagi ia membelai kumisnya, lalu berjalan perlahan-lahan mendekati pintu. Tetapi ia menjadi terkejut ketika ia melihat, yang datang kepadanya, di serambi sebelah adalah emban tua, dua orang prajurit, dan yang lebih mengejutkan lagi, Ken Dedes beserta dengan mereka pula.

“He,” teriak Akuwu kepada seorang pelayan yang mengantar mereka, “kenapa kalian datang kemari?”

Pelayan itu menjadi bingung.

“Kenapa,” bentak Akuwu pula.

“Bibi dan tuanku puteri minta aku membawa kemari.”

Akuwu mengerutkan keningnya, kemudian katanya, “Masuk ke ruang dalam. Di sana aku akan menemui kalian.”

Dada emban tua itu menjadi semakin cepat bergetar. Namun Kembali ia membulatkan niatnya untuk memikul semua kesalahan di atas pundaknya. Karena itu maka segera, setelah mereka itu bersimpuh duduk di lantai diluar pintu menyembah sambil berkata, “Ampun tuanku. Hamba ingin memberitahukan sesuatu ke bawah duli tuanku.”

Tunggul Ametung mengerinyitkan alisnya, “Apa?” ia bertanya.

“Tentang anak muda yang bernama Mahisa Agni.”

“Ke ruang dalam,” berkata Akuwu lantang. Seandainya tidak ada Ken Dedes pada saat itu, pasti ia sudah berteriak keras sekali.

“Hamba tuanku, tetapi apa yang hamba katakan semula ternyata keliru.”

“He,” kini Tanggul Ametung benar-benar berteriak sambil membelalakkan matanya, “apa yang keliru?”

Bagaimanapun juga maka hati emban tua itu pun berdebar-debar pula. Ketika ia mencoba memandang wajah Akuwu, maka segera ia menundukkan kepalanya. Dari sepasang matanya, seakan-akan memancar api yang menyala dari dadanya.

Karena emban tua itu tidak segera menjawab, maka sekali lagi Akuwu itu membentak keras-keras, “Apa yang keliru he, apa?”

“Ampun tuanku,” emban tua itu menyembah. Dicobanya mengatur hatinya supaya ia mampu mengatakannya dengan jelas, “hamba bertiga telah benar-benar datang bersama Mahisa Agni ke istana ini.”

“Sudah kau katakan, sudah kau katakan,” potong Akuwu Tunggul Ametung, “aku tidak menyangkal. Lalu kau katakan bahwa apa yang kau katakan itu keliru.”

Debar di dada emban tua itu menjadi semakin keras. Wajahnya yang tunduk menjadi semakin tunduk. Dengan nafas yang terengah-engah ia berkata, “Ampun tuanku. Sebenarnyalah demikian. Aku telah terlampau lama membiarkan anak itu menunggu diluar regol. Aku tidak berpesan supaya ia tetap menunggu hamba meskipun lama, sehingga anak itu kini telah kembali ke Panawijen.”

Wajah Akuwu Tunggul Ametung benar-benar telah membara. Dadanya seolah-olah pecah mendengar keterangan itu. Namun justru karena itu, maka Akuwu itu seperti terbungkam. Yang terdengar hanyalah gemeretak giginya beradu.

Sesaat ruangan itu menjadi sunyi. Mereka saling berdiam diri dalam keadaan yang berbeda-beda. Akuwu terdiam justru karena kemarahan menghentak-hentak dadanya, sedang orang-orang yang lain menundukkan wajahnya karena ketakutan.

Tetapi emban tua itu, setelah kata-kata yang seakan-akan menyumbat kerongkongannya itu terloncat keluar, maka hatinya kini justru menjadi bertambah tenang, sehingga karena itu, sehingga ia dapat mempergunakan pikirannya kembali. Bagaimana ia dapat melepaskan Mahisa Agni dari kesalahan.

Maka dengan penuh kesungguhan untuk kepentingan anaknya, emban tua itu berkata, “Namun tuanku, bukan salah anak muda itu. Akulah yang salah berpesan kepadanya. Aku minta ia menunggu di regol, tetapi kalau aku terlalu lama tidak kembali, berarti ia tidak mendapat ijin untuk menghadap. Karena itu ia dapat pulang kembali ke Panawijen untuk lain kali menghadap kembali.”

Akuwu memandangi wajah emban tua yang tunduk itu dengan mata yang menyala-nyala. Betapa kemarahan menghentak-hentak dadanya sehingga seakan-akan dadanya itu akan meledak. Dengan gemetar Akuwu Tunggul Ametung berkata terpatah-patah justru karena kemarahannya, “Jadi Mahisa Agni itu telah kembali?”

“Hamba tuanku?”

“Hanya karena terlalu lama menunggu?”

“Hamba tuanku.”

“Dan kesalahan itu terletak padamu, karena kau sengaja berpesan kepadanya supaya ia pulang saja kalau terlampau lama menunggu diluar.”

“Hamba tuanku.”

“Gila,” teriak Akuwu, “kau sudah gila dan Mahisa Agni sudah gila pula. Kenapa ia tidak mau menunggu hanya selama aku makan? Akulah Akuwu Tumapel. Semua orang harus menuggu perintahku. Jangankan selama aku makan, sehari ia harus menunggu, seminggu, sebulan, bahkan aku dapat memaksanya menunggu bertahun-tahun dan selama hidupnya.”

Desir di dada emban tua itu menjadi semakin tajam. Tetapi tekadnya benar-benar telah bulat. Agni tidak bersalah.

“Kenapa anak itu tidak mau menunggu aku selesai makan, kenapa? Apakah disangkanya bahwa ia berhak memutuskan waktuku, apa saja yang sedang aku kerjakan? Itu adalah perbuatan gila. Aku tidak dapat memaafkannya lagi. Beberapa waktu yang lampau aku telah dihinakannya dengan menolak perintahku menghadap ke istana. Sekarang ia menghina aku lagi dengan cara lain.”

“Bukan salahnya tuanku,” potong emban tua itu, “bukan salah Mahisa Agni. Hambalah yang salah. Pesan hambalah yang keliru. Hamba sangka Tuanku belum pasti dapat mengijinkan anak itu, sehingga hamba berpesan demikian.”

“Itu adalah sangkamu saja bukan?” teriak Akuwu semakin keras, “tetapi ketika telingamu sudah mendengar, bahwa aku sedang bersantap, bukankah mulutmu dapat mengatakannya kepada anak muda itu supaya ia menunggu?”

“Hamba tuanku. Itulah kesalahan hamba.”

“Tutup mulutmu,” teriak Akuwu itu pula, sehingga seolah-olah dinding-dinding ruangan itu turut bergetar. “sekali kau membuka mulutmu, aku sumbat mulutmu dengan tumitku.”

Emban tua itu terdiam. Ia tidak berani berkata sepatah kata pun lagi. Meskipun demikian ia masih tetap dalam tekadnya, melindungi anaknya dan mengambil segala kesalahan di pundaknya.

Kedua prajurit yang ikut menghadap saat itu, sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya. Wajah yang keras karena pekerjaan berat, terik matahari di siang hari dan tetesan embun dimalam hari, kini terhujam dalam-dalam. Debar dada mereka terasa menjadi semakin cepat dan keras, serasa jantung mereka akan pecah menahan arus darah mereka yang seolah-olah semakin kencang. Namun meskipun demikian, kedua prajurit itu tidak habisnya menjadi heran. Kenapa emban itu meletakkan kesalahan pada dirinya. Kedua prajurit itu melihat dan mendengar apa yang dipesankan oleh emban tua itu kepada Mahisa Agni. Kedua prajurit itu mendengar dengan telinganya bahwa Mahisa Agni memang telah mengancam sebelumnya, bahwa ia akan kembali ke Panawijen apabila ia harus terlalu lama menunggu diluar regol. Ternyata anak muda itu benar-benar kembali. Tetapi tiba-tiba emban itu membebankan kesalahan itu kepada dirinya.

Dalam pada itu terdengar kata-kata lantang dari Akuwu yang sedang marah itu, kali ini tidak terpatah-patah lagi, tetapi mengalir seperti banjir, “He, emban tua. Kalau bukan karena kesanggupanmu membawa anak itu kemari, maka aku pasti sudah memerintahkan menangkapnya dan membawa kemari dengan paksa. Aku dapat berbuat apa saja di Tumapel ini tanpa persetujuannya. Apalagi Ken Dedes telah menyatakan perasaan. Sebagai seorang gadis yang telah dewasa, ia bukan lagi sebuah golek kayu yang hanya dapat mendengarkan pendapat orang lain. Bahkan seandainya keluarganya tidak dapat membenarkan, aku dapat juga mempergunakan cara seperti yang dilakukan Kuda Sempana, melarikannya. Bahkan aku dapat mempergunakan kekuasaanku sebagai seorang Akuwu.”

“Tetapi aku mencoba mencari jalan lain. Jalan yang sebaik-baiknya. Jalan yang lumrah, yang dapat ditempuh tanpa menimbulkan geseran perasaan. Tetapi kemauanku yang baik itu telah dihinakannya. Dianggapnya aku terlampau lemah dan tidak sanggup berbuat lebih baik dari apa yang aku kerjakan.”

“Dan sekarang aku tidak dapat memaafkannya lagi. Aku juga tidak dapat memaafkanmu. Kau juga telah menghinaku. Bahkan Kaulah sumber dari kesalahan itu setelah kau mencoba memperbaiki kesalahan Mahisa Agni.”

Emban tua itu tidak menjawab. Kepalanya menjadi semakin tunduk. Namun emban tua itu sama sekali sudah tidak gelisah lagi. Justru ia menjadi tenang. Ia bergembira karena sebagian terbesar kesalahan itu telah dituduhkan kepadanya, ialah sumber kesalahan itu. Setiap hukuman yang aku terima, adalah cara sebaiknya untuk mengurangi tali yang membelenggu diriku selama ini. Dengan demikian barulah aku seorang ibu bagi anakku itu. Seorang ibu yang dapat memberinya sesuatu,” katanya di dalam hati, “bukankah selama ini aku belum pernah berbuat sesuatu atas anakku itu,” kata-kata itu selalu berulang-ulang bergema di dalam dadanya. Kenangan masa lampaunya setiap saat tumbuh dan berkembang di dalam angan-angannya. Dan emban tua itu dengan demikian selalu dikejar oleh perasaan bersalah.

Akuwu yang marah itu seolah-olah menjadi kian marah Kata-katanya masih membanjir terus, “Kini, aku harus segera mengambil sikap. Baik kepadamu, he emban yang bodoh, mau pun kepada Mahisa Agni. Tetapi kaulah yang harus menerima hukuman yang terberat. Mahisa Agni telah bersedia datang, tetapi karena kebodohanmu maka anak itu pergi. Aku sudah tidak dapat memberimu kesempatan lagi.”

Tiba-tiba emban tua itu mengangkat wajahnya. Wajah yang sayu dipenuhi oleh berbagai derita hidup yang pernah dialaminya. Dengan tenang dipandanginya wajah Akuwu Tunggul Ametung yang bagaikan bara yang sedang menyala itu.

Tetapi sesaat kemudian Akuwu Tunggul Ametung itu justru berpaling. Dengan serta merta ia berdiri dan melangkah beberapa langkah menjauhi orang-orang yang menghadapnya. Dengan gemetar Akuwu Tunggul Ametung berdiri membelakangi mereka.

Seandainya pada saat itu tidak ada Ken Dedes diantara mereka, maka tingkah laku Akuwu Tunggul Ametung pasti sudah tidak terkekang lagi. Mungkin ia berteriak-teriak memanggil beberapa orang prajurit dan memerintahkannya agar emban itu disekap dalam tahanan, atau mendapat hukuman-hukuman lain yang berat.

Tetapi demikian besar pengaruh kehadiran Ken Dedes itu sehingga Akuwu Tunggul Ametung masih mencoba untuk menekan perasaannya meskipun dadanya serasa akan meledak.

Tiba-tiba sambil membelakangi mereka, Akuwu itu berkata dengan suara bergetar, “Aku tidak akan memerintahkan menangkap Mahisa Agni dan memaksanya membawa kemari. Aku sudah tidak memerlukannya lagi. Kalian berdua akan dibuang dari telatah Tumapel ke dalam hutan. Itu adalah hukuman yang paling ringan yang dapat aku berikan kepada kalian.”

Emban tua itu menyembah meskipun Akuwu Tunggul Ametung tidak melihatnya. Dengan tenang ia menjawab, “Hamba menyatakan terima kasih hamba tiada taranya atas kemurahan tuanku. Namun sebenarnyalah Mahisa Agni tidak bersalah. Biarlah hamba menerima hukuman hamba dua lipat ganda, asal tuanku sudi mempertimbangkan hukuman yang tuanku berikan kepada Mahisa Agni.”

“Tutup mulutmu,” kembali Tunggul Ametung itu berteriak sambil memutar tubuhnya. Hampir saja ia meloncat dan menampar mulut perempuan yang berani menjawab kata-katanya, “akulah Akuwu Tumapel. Bukan kau. Akulah yang menentukan hukuman itu. Bukan kau. Kau dengar He?”

Emban tua itu tidak menjawab. Kini kembali wajahnya menghunjam ke tanah. Tetapi ia masih tetap dalam ketenangan.

Akuwu yang marah menjadi kian marah. Tubuhnya bergetar seperti orang yang menggigil kedinginan. Wajah merah membara dan kakinya menghentak-hentak lantai.

“Besuk sebelum ayam jantan berkokok untuk yang terakhir kalinya, kalian harus sudah tidak berada di dalam wilayahku. Kalau aku masih melihat kalian di daerah ini, maka kalian akan mendapat hukuman mati. Kau dengar?”

Emban tua itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan demikian berarti malam ini ia harus meninggalkan Tumapel menuju ke Panawijen dan membawa Mahisa Agni meninggalkan Panawijen, sebab Panawijen pun masih termasuk daerah Tumapel.

Dada emban tua itu menjadi berdebar-debar. Baginya hukuman itu sama sekali tidak terlalu berat. Ia dapat berada dimana saja. Tetapi anaknya adalah tunas yang menghadap ke hari depan yang panjang. Kecuali untuk dirinya sendiri lalu bagaimanakah dengan bendungan yang akan dibangun itu? Padang Karautan pun termasuk daerah Tumapel pula, sehingga Mahisa Agni pasti tidak akan dapat membangun bendungan di daerah itu.

Dalam pada itu terdengar perintah Akuwu itu kembali kepada kedua orang prajurit yang semula mengantarkan perempuan tua itu menjemput Mahisa Agni, “He kedua prajurit yang bodoh pula. Karena kau tersangkut pula dalam kebodohan ini, maka untuk menyingkirkan kedua orang yang menghina Akuwu Tunggul Ametung dari Tumapel ini adalah kuwajibanmu. Kuwajiban itu harus selesai sebelum ayam jantan berkokok menjelang fajar. Kalian harus sudah melaporkan pelaksanaan perintah ini sebelum tengah hari, kau dengar?”

Kedua prajurit itu menyembah sambil membungkuk dalam-dalam. Mereka sudah tahu benar sifat-sifat Akuwunya, sehingga mereka sama sekali tidak berani mengucapkan sepatah kata pun. Dalam keadaan yang demikian, maka mereka hanya dapat menyembah dan membungkuk dalam-dalam. Melakukan apa yang diperintahkan kepadanya dan melaporkan hasilnya.

Kini mereka mendapat perintah untuk menyingkirkan emban tua itu bersama Mahisa Agni dari wilayah Tumapel. Untuk itu mereka harus menyembah dan siap melakukannya.

Ruangan itu sesaat menjadi sunyi. Tak seorang pun yang berani mengucapkan sepatah katapun. Semuanya menundukkan wajahnya dalam-dalam pula.

Baru sejenak kemudian terdengar Akuwu itu membentak keras-keras, “Ayo pergi. Apa yang kalian tunggu disini? Pergi dari halaman istana dan pergi dari Tumapel. Kalian orang yang tidak pantas tinggal di daerah kekuasaanku. Kalau kalian berada di Tumapel kembali, maka kalian adalah orang buruan.”

Emban yang telah bersedia menghadapi segala bentuk hukuman itu sama sekali tidak menjadi cemas tentang dirinya sendiri, tetapi yang digelisahkan adalah Mahisa Agni beserta rencana yang telah disiapkannya. Namun ia tidak sempat untuk berpikir saat itu. Sekali lagi ia mendengar Akuwu Tumapel membentak, “Pergi, pergi sebelum aku memaksamu pergi.”

Emban tua itu menyembah kembali. Ketika kemudian ia berpaling kepada kedua prajurit yang bertugas menyingkirkannya, ia melihat kedua prajurit itu masih juga ragu-ragu. Meskipun demikian kedua prajurit itu pun menyembah sambil berkata, “Hamba akan menjalankan perintah tuanku.”

Kemudian kepada emban tua, kedua prajurit itu berkata dengan bimbang, “Marilah bibi, aku harus menjalankan perintah tuanku Akuwu.”

Emban tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajahnya sama sekali tidak dibebani oleh perasaan takut, cemas dan pedih. Apa yang harus dilakukan itu dihadapinya dengan penuh ketabahan seorang yang telah, mengendapkan hatinya.

Tetapi ketika emban tua itu bergerak sambil berbisik kepada Ken Dedes, “Sudahlah Nini. Tinggallah disini. Semoga kau bahagia untuk seterusnya.” Maka gadis itu pun tak dapat menahan perasaannya. Emban itu adalah pemomongnya. Pemomongnya sejak ia masih kanak-kanak. Pemomongnya yang seakan-akan telah menggantikan ibunya yang hampir-hampir belum pernah dikenalnya.

Emban itu adalah seorang perempuan tua yang sangat baik baginya. Yang mendukung pada saat ia masih seorang anak-anak, menyuapinya dan membelainya menjelang tidur. Melagukan tembang yang sejuk dan berceritera tentang burung podang yang berdendang di pupus pisang dalam ceritera Kiranya pada masa yang baru saja silam.

Kini ia melihat perempuan itu mendapat bencana karena usahanya untuk melapangkan jalannya menuju ke tempat yang tak pernah diimpikan di saat kanak-kanaknya, bahkan sampai saat terakhir sebelum ia berada di istana in pun, Ken Dedes tidak pernah membayangkan bahwa suatu ketika ia akan menjadi seorang permaisuri Akuwu Tumapel.

Karena itulah maka betapa perasaannya tidak rela melihat embannya harus meninggalkan istana, bahkan meninggalkan Tumapel dalam buangan. Merantau dari satu tempat ke lain tempat. Berjalan terbongkok-bongkok karena umurnya yang telah menjadi semakin tua tanpa tempat untuk hinggap. Siang hari kepalanya akan dibakar oleh terik matahari, sedang di malam hari, kulitnya yang telah berkeriput akan digigit oleh dinginnya embun malam.

Ken Dedes yang dilanda oleh luapan keharuan itu tiba-tiba menangis sambil memeluk emban tua itu. Terdengarlah suaranya terbata-bata, “Bibi, aku ikut kau bibi. Tak ada tempat yang paling baik bagiku daripada kelembutan pelukanmu.”

“Jangan puteri,” jawab emban itu cepat-cepat, “jangan. Kau telah menemukan tempat berpijak yang mantap. Ayahmu adalah seorang yang baik dan tekun dalam pengabdiannya kepada yang Maha Agung serta kepada sesama. Kini kurnia telah melimpah kepadanya, lewat puterinya yang tunggal.”

“Tidak. Tidak bibi. Aku tidak dapat hidup dalam kesepian. Aku tidak dapat terpisah dari orang-orang yang baik kepadaku. Bibi dan kakang Mahisa Agni. Kalau kalian berdua hidup dalam pembuangan, apakah aku dapat hidup tenteram di dalam istana ini.”

“Nini,” potong emban tua itu, “jangan seperti kanak-kanak lagi. Kau sudah dewasa. Pandanglah ke depan. Hari-hari yang mendatang masih panjang.”

“Tidak bibi, tidak,” Ken Dedes itu menangis semakin keras. Pelukannya pun menjadi semakin kuat.

Dalam pada itu Akuwu Tumapel yang sedang marah, berdiri tegak dihadapan mereka seperti patung. Betapa keras hatinya, sekeras batu akik, namun ketika ia melihat Ken Dedes menangis memeluk emban tua yang dianggapnya berdosa itu pun hatinya menjadi luluh. Sepanjang hidupnya, sejak ia menjadi Akuwu Tumapel, ia hanya bergaul dengan para prajurit dan para pimpinan pemerintahan. Berlatih dalam olah keprajuritan, jaya kawijayan dan kanuragan. Berbicara tentang Tumapel dan apabila ia jemu menghadapi suatu keadaan, maka segera ia membawa beberapa orangnya keluar istana, pergi berburu. Itulah sebabnya, maka Akuwu Tunggul Ametung jauh dari pengenalan watak seorang perempuan. Karena itu, ketika ia melihat seorang gadis menangis dihadapannya, maka ia menjadi bingung. Kemarahannya yang telah memuncak, tiba-tiba seperti dihanyutkan oleh arus air mata Ken Dedes.

Terdengar Tunggul Ametung itu menggeram perlahan-lahan. Gadis itu tidak boleh berduka. Gadis yang telah menjerat hatinya, bukan saja karena wajahnya dan tubuhnya, namun juga terasa seakan-akan gadis itu memiliki sesuatu yang dikurniakan oleh Yang Maha Agung. Ketika seakan-akan ia melihat sinar yang memancar dari jantung gadis itu telah terbersit di hatinya, gadis ini adalah gadis pilihan untuk melaksanakan sesuatu maksud dari Yang Maha Agung bagi tanah tempat kelahirannya.

Dalam kebingungan itu, Akuwu masih mendengar emban Ken Dedes itu berkata, “Nini, jangan dihanyutkan oleh perasaan kekanak-kanakan. Kau harus melihat kepentingan yang lebih besar. Kepentingan yang jauh lebih berharga dari perempuan tua ini.”

“Tidak, tidak,” Ken Dedes masih menangis. Ia seakan-akan sudah tidak dapat mendengar apapun lagi. Hatinya meronta melihat peristiwa yang menggores perasaannya itu.

Emban tua itu pun menjadi bingung. Tangis momongannya telah menyentuh perasaan harunya pula. Ternyata gadis itu adalah gadis yang dapat menghargai sikap orang lain kepadanya. Menghargai apa yang pernah dilakukannya. Namun karena itu, maka ia pun terdiam pula. Bahkan terasa sesuatu memanasi kerongkongannya.

Kembali ruangan itu menjadi sepi. Tangis Ken Dedes lah yang seolah-olah memenuhi ruangan. Tangis yang tulus, yang memancar dari dasar hatinya.

“Hem,” sekali lagi terdengar Tunggul Ametung menggeram perlahan-lahan. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia tidak tahu, bagaimana ia harus menghibur Ken Dedes supaya ia tidak menangis lagi. Karena itu, yang dapat dilakukan adalah berjalan mondar mandir sambil berdesah berkali-kali.

Kedua prajurit yang duduk di belakang emban tua itu pun menjadi bingung. Sejak semula mereka telah ragu-ragu untuk melakukan perintah Akuwu. Mereka sama sekali tidak dapat mengerti, kenapa emban tua itu telah menyalahkan dirinya sendiri, dan bahkan dengan tabah dan tenang mendengarkan hukuman yang harus dijalankan. Apalagi kini ia melihat puteri bakal permaisuri Akuwu itu menangis memeluknya dan bahkan seolah-olah hukuman yang diberikan kepada perempuan tua itu harus diberikan kepada dirinya pula.

Orang-orang yang duduk di dalam ruangan itu, benar-benar telah dicengkam oleh kebingungan. Kebingungan menghadapi persoalan masing-masing. Persoalan yang berbeda-beda, namun mempunyai titik singgungan yang sama. Bahkan pelayan yang telah membawa mereka menghadap pun duduk dengan mulut ternganga sehingga ia menjadi kehilangan kesempatan untuk menanggapi peristiwa itu dengan kesadarannya.

Akuwu yang berjalan mondar-mandir masih saja berjalan mondar-mandir dengan gelisahnya. Sekali-sekali ia berhenti, berpaling memandangi Ken Dedes yang masih menangis, namun kemudian kembali ia menundukkan kepalanya sambil menarik nafas dalam-dalam. Persoalan yang dihadapi saat ini baginya terasa jauh lebih berat, dari pada ia harus menghadapi musuh yang datang dengan prajurit segelar sepapan.

Kesepian yang tegang, tangis Ken Dedes dan desah nafas perempuan itu, terasa sangat menyesakkan nafas Akuwu Tunggul Ametung. Bahkan kemudian kepalanya terasa menjadi pening, dan kemudian kehilangan akal untuk mengatasi keadaan.

Tangis Ken Dedes lah yang semakin lama menjadi kian surut. Gadis itu kemudian mencoba menenangkan hatinya, ketika dengan lembut pemomougnya berkata, “Jangan menangis putri. Kau bukan lagi seorang anak kecil yang hanya pandai menangis. Aku sekarang sudah tidak kuat lagi mendukungmu sambil berdendang kidung yang luruh supaya kau tertidur. Aku tidak lagi dapat membelai rambutmu sambil berceritera tentang seekor kancil yang cerdik. Ceritera untukmu kini harus sudah berbeda nini. Ceritera yang baik bagimu adalah ceritera tentang Arjuna dan Sumbadra. Dan aku tidak akan mampu menceriterakan kepadamu. Karena itu, jangan menangis. Angkatlah wajahmu. Pandang hari depan dengan penuh gairah untuk menyongsongnya.”

Tangis Ken Dedes kemudian benar-benar mereda. Gadis itu benar-benar mengangkat wajahnya. Tetapi ia tidak memandang hari depannya dalam lingkungan yang sempit. Peristiwa yang telah terjadi atasnya, benar-benar telah membentuknya menjadi dewasa. Karena itu tiba-tiba timbullah pikiran di dalam hatinya, “Akulah yang akan menemui kakang Mahisa Agni.”

Pikiran itu kemudian membulat di dalam hatinya. Dengan tatag kemudian ia menyembah sambil berkata kepada Akuwu Tunggul Ametung, “Ampun tuanku, apakah hamba diperkenankan untuk menyampaikan perasaan hamba?”

Tunggul Ametung terkejut mendengar suara Ken Dedes. Gadis itu kini sudah tidak menangis lagi, meskipun sekali-sekali tangannya masih sibuk mengusap air matanya.

“Berkatalah,” sahut Tunggul Ametung sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kepalanya itu masih terasa pening. Gadis itu sudah tidak menangis dengan sendirinya, sebelum ia dapat berbuat sesuatu untuk menenangkannya.

“Tuanku, yang pertama-tama hamba mohon maaf bagi bibi emban dan kakang Mahisa Agni.”

Dahi Tunggul Ametung berkerut. Ia harus mempertimbangkan kembali keputusannya. Terasa dadanya bergetar. Untuk pertama kali ia mendapat tekanan dari seseorang dalam pertimbangannya untuk menjatuhkan hukuman. Meskipun pada saat ia mengucapkan hukuman terhadap emban tua serta Mahisa Agni telah memerlukan suatu perjuangan di dalam dadanya, supaya ia sedikit dapat mengendalikan dirinya, namun kini tekanan itu menjadi sangat sulit untuk dihindarkan. Hukuman yang sudah terlampau ringan itu masih harus di pertimbangkannya kembali.

Tetapi permohonan itu dilontarkan lewat mulut Ken Dedes. Apalagi permohonan ampun bagi seorang emban tua dan Mahisa Agni, bahkan apapun yang akan dimintanya, Akuwu itu pasti tidak akan kuasa menolaknya.

Tetapi ia adalah seorang Akuwu Tumapel. Dihadapannya duduk bersimpuh beberapa orang dan dua orang prajurit. Karena itu, maka bagaimanapun juga, namun ia masih harus tetap mempertahankan kewibawaan seorang Akuwu.

Karena itu, maka untuk tidak melepaskan kekuasaan yang ada di tangannya, maka Akuwu itu berkata, “Kenapa kau mohon ampun untuk mereka itu Ken Dedes? Aku telah menjatuhkan hukuman atas mereka, karena mereka telah menghina Akuwu Tunggul Ametung. Apakah pertimbanganmu tentang itu?”

Sikap Ken Dedes pun kemudian benar-benar mengagumkan. Meskipun ia tetap dalam sikap yang sangat hormat, sambil menyembah ia berkata, “Tuanku, kesalahan yang mereka lakukan sama sekali tidak mereka sengaja. Mereka sama sekali tidak ingin menghina Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi keadaan telah mendorong mereka, sehingga mereka mengabaikan perintah dan keinginan Akuwu. Kesalahan yang demikian menurut pendapat hamba, bukanlah kesalahan yang harus mendapat hukuman. Tetapi kesalahan yang demikian, adalah kesalahan yang terjadi bukan atas kehendak mereka sendiri.”

“Tidak,” sahut Akuwu Tunggul Ametung, “mereka tetap bersalah. Mahisa Agni telah menolak mewakili ayahmu dan telah menolak datang ke Tumapel beberapa waktu yang lampau. Bukankah itu suatu sikap yang menentang?”

“Tuanku,” jawab Ken Dedes, “tuanku tidak dapat mengerti hubungan yang ada antara hamba dan kakang Mahisa Agni. Hamba adalah saudara muda, sehingga memang kurang pantaslah apabila hamba memanggil kakang Mahisa Agni. Menurut sopan santun keluarga, hambalah yang harus datang kepadanya.”

“Tetapi kedudukanmu dapat kau pergunakan sebagai alasan untuk memanggilnya. Kau adalah bakal permaisuri Tumapel.”

“Kedudukan itu datang kemudian. Tetapi susunan keluargaku itu sudah ada sejak aku lahir. Karena itu tuanku, hamba mohon ijin sekali untuk menemui kakang Mahisa Agni. Apabila hamba dapat bertemu, maka semuanya akan menjadi baik. Tidak ada sedikit pun geseran perasaan diantara kita. Hamba, kakang Mahisa Agni dan tuanku, sehingga tuanku tidak perlu mempergunakan cara yang lain yang seolah-olah tuanku mempergunakan kekuasaan tuanku untuk kepentingan ini.”

Sekali lagi Tunggul Ametung itu berpikir. Ia tidak dapat menolak permohonan itu, tetapi ia harus bijaksana untuk meluluskannya. Karena itulah maka Akuwu Tunggul Ametung, yang biasanya berbuat apa saja sesuka hatinya, bahkan selalu menuruti perasaannya yang meledak-ledak setiap saat, kini harus mempertimbangkan perbuatannya.

Akhirnya Akuwu itu pun menemukan jawaban pula, katanya, “Ken Dedes. Meskipun kau belum seorang permaisuri, namun kau sudah aku anggap memiliki kesempatan seperti seorang permaisuri. Seorang permaisuri dapat mengajukan beberapa permohonan yang akan dipertimbangkan oleh Akuwu. Kalau saat ini kau mohon aku mengampuni emban tua serta Mahisa Agni, maka aku pun akan melakukannya, namun aku mempunyai syarat untuk itu.”

Sekilas wajah Ken Dedes menjadi cerah mendengar keputusan Akuwu Tunggul Ametung. Kalau benar Akuwu mengampuni mereka, maka emban tua itu tidak akan pergi dari sisinya, dan Mahisa Agni pun tidak akan lenyap dari keluarganya.

Namun sesaat kemudian kening Ken Dedes berkerut kembali. Akuwu memberikan pengampunan, namun Akuwu mempunyai syarat untuk itu.

Tetapi Ken Dedes tidak bertanya, apakah syarat yang di kehendaki oleh Tunggul Ametung. Ia menunggu sampai Akuwu itu mengatakannya.

Ternyata sejenak kemudian Akuwu Tunggul Ametung menyambung kata-katanya, “Ken Dedes. Syarat itu sama sekali tidak berarti. Aku ampuni kesalahan emban tua itu beserta Mahisa Agni, apabila Mahisa Agni bersedia datang menyelesaikan segala persoalan ini dan segera kita dapat memasuki suatu dunia baru tanpa kerikil-kerikil tajam dan batu-batu yang dapat menjadi hambatan-hambatan kecil bagi perasaan kita.”

Mendengar syarat yang diajukan oleh Tunggul Ametung itu Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Ia telah mendengar dari pemomongnya apa yang sebenarnya terjadi. Syarat itu sebenarnya sama sekali tidak terlampau berat. Syarat yang tidak berlebih-lebihan, bahkan hanyalah sekedar pelengkap dari pengampunan yang diberikan oleh Tunggul Ametung karena ia telah terlanjur menjatuhkan putusan untuk menghukum emban tua dan Mahisa Agni.

Tetapi bagi Ken Dedes dan pemomongnya, syarat itu benar-benar telah membebani perasaan mereka. Emban tua itu merasa, bahwa baginya sama sekali sudah tidak ada jalan lagi untuk dapat membawa Mahisa Agni ke Tumapel. Tidak ada gunanya lagi apabila ia datang dan dengan pengaruh seorang ibu, minta Mahisa Agni datang ke Tumapel menyelesaikan persoalan yang masih menyangkut perasaan Akuwu Tunggul Ametung sebelum ia mengambil keputusan untuk mengambil cara lain, cara yang kasar, dan cara yang tidak terpuji.

Tanpa dikehendakinya sendiri emban tua itu menggeleng lemah, sedang Ken Dedes menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Aku minta syarat itu dipenuhi, seperti aku mencoba memenuhi permohonan pengampunan itu.”

Sejenak mereka kemudian terdiam. Mereka mencoba untuk menemukan jawab atas persoalan yang membelit hati masing-masing.

Dalam keheningan itu maka tiba-tiba Ken Dedes mengangkat wajahnya. Dengan takjimnya ia menyembah sambil berkata, “Tuanku. Biarlah hamba mencoba untuk memenuhi syarat yang tuanku berikan. Hamba mohon ijin, untuk pergi ke Panawijen menemui kakang Mahisa Agni.”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Tetap kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Bukan maksudku supaya kau menemui Mahisa Agni. Pembicaraan itu tidak hanya sekedar memuaskan perasaanmu saja, tetapi aku juga ingin mendengar dan mendapat ketenteraman dari pembicaraan itu.”

“Maka hamba tuanku,” sembah Ken Dedes, “hamba ingin mencoba membawa kakang Mahisa Agni kemari.”

Sekali lagi Akuwu itu berpikir sejenak. Sebenarnya ia tidak rela untuk melepaskan Ken Dedes itu pergi. Ken Dedes baginya seakan-akan barang yang paling berharga di muka bumi, sehingga apabila ia kehilangan gadis itu, maka hidupnya pasti akan menjadi terlampau sunyi.

Karena itu Akuwu Tunggul Ametung tidak segera menjawab. Sebenarnya ia sangat berkeberatan untuk mengijinkannya, tetapi sekali lagi ia tidak ingin menyakitkan hati gadis itu. Sehingga dengan demikian, Akuwu itu kembali dihadapkan pada keragu-raguan.

Namun Akuwu itu tidak dapat menduga, bahwa Ken Dedes sebenarnya telah membuat rencana sendiri pula untuk itu. Sejak Mahisa Agni menolak mewakili ayahnya untuk menemui Tunggul Ametung, hatinya telah merasa kecewa Apalagi kejadian-kejadian yang kemudian susul menyusul. Ken Dedes merasa bahwa Mahisa Agni marah kepadanya Tetapi Ken Dedes tidak dapat meraba dengan tepat, alasan yang telah menahan Mahisa Agni untuk memenuhi permintaannya Ken Dedes hanya dapat menyangka, bahwa Mahisa Agni merasa bahwa ia telah melampauinya. Bahwa ia tidak minta pertimbangannya sebelum ia menerima lamaran Akuwu Tunggul Ametung. Ken Dedes kecewa atas sikap itu. Harga diri yang berlebihan. Seakan-akan Mahisa Agni lah yang berhak mengambil keputusan untuk menerima atau menolak lamaran Akuwu Tunggul Ametung sepeninggal ayahnya. Bahkan setelah Mahisa Agni sampai di dalam istana, ia masih juga merajuk. Meninggalkan istana hanya karena merasa terlampau lama menunggu.

Di dalam hati Ken Dedes itu tumbuh juga keinginannya untuk menunjukkan kedewasaannya kepada kakaknya. Ia ingin melepaskan kejengkelannya. Ia ingin menunjukkan bahwa ia memiliki juga sesuatu yang memberinya wewenang untuk mengambil keputusan bagi dirinya sendiri. Bahkan Ken Dedes itu ingin menunjukkan beberapa kelebihan yang dimilikinya kini. Kesempatan yang tak akan datang lagi sepanjang hidupnya. Kalau kakaknya marah kepadanya, karena ia seakan-akan hanya menuruti kehendaknya sendiri, maka ia akan menunjukkan unsur-unsur yang telah memaksanya untuk mengambil sikap.

Bagi Ken Dedes, Mahisa Agni dianggapnya masih saja mengenangkan sahabatnya, Wiraprana. Ken Dedes merasa bahwa ia sama sekali tidak mengkhianati Wiraprana. Ia mencintai Wiraprana sedalam-dalamnya. Bahkan pada saat Wiraprana itu terbunuh, ia rela seandainya ia mati sama sekali. Tetapi ketika saat-saat itu telah berlalu, maka apakah ia masih juga harus selalu dibayangi oleh duka hatinya itu? Seandainya Wiraprana itu kini sedang pergi merantau, maka beberapa puluh tahun lagi ia akan menunggunya dengan setia. Bahkan sampai matinya sekalipun. Tetapi Wiraprana itu sudah tidak akan kembali. Tidak akan, sampai kapan pun. Namun ia harus mempunyai alasan yang cukup untuk memenuhi rencananya itu, dan Ken Dedes telah menemukan alasan itu.

Karena itu selagi Akuwu Tunggul Ametung berbimbang hati untuk mengambil keputusan atas permohonan Ken Dedes itu, tiba-tiba ia mendengar gadis itu berkata, “Tuanku. Meskipun hamba akan mencoba untuk memanggil kakang Mahisa Agni, namun hamba mohon agar tuanku mengijinkan hamba datang ke Panawijen tidak sebagai seorang gadis padesan. Hamba mohon tuanku mengijinkan hamba datang ke Panawijen sebagai seorang calon permaisuri. Ada berbagai pertimbangan yang dapat hamba berikan. Diantaranya hamba takut kalau hamba akan bertemu dengan Kuda Sempana yang melarikan diri itu.”

Tiba-tiba Akuwu Tunggul Ametung berpaling, bahkan kemudian memutar tubuhnya menghadap gadis itu. Sesaat ia termenung, namun kemudian wajah Akuwu yang tegang itu mengendor.

Tunggul Ametung itu bahkan kemudian tersenyum, katanya, “Ken Dedes, apa yang kau minta itu justru telah ada di dalam kepalaku. Aku tidak ingin melepaskan kau sendiri, sedang aku tidak akan dapat mengantarmu ke Panawijen karena aku seorang Akuwu, “Tunggul Ametung itu berhenti sejenak. Di dalam hatinya ia berkata untuk yang pertama kali, “Kalau aku bukan seorang Akuwu.” Namun ketika ia meneruskan berkatalah ia, “Ken Dedes, aku akan memenuhi permintaanmu. Kau akan datang ke Panawijen bukan saja sebagai seorang bakal permaisuri, tetapi kau akan datang sebagai seorang permaisuri. Prajurit pengawal akan mengantarmu di bawah pimpinan Witantra sendiri. Witantra akan membawa pasukannya seperti ia mengawal aku, dalam barisan kebesaran Tumapel.”

Dada Ken Dedes berdesir mendengar jawaban Akuwu itu atas permintaannya. Ternyata Akuwu memberikan lebih banyak dari yang diharapkan. Namun Ken Dedes menjadi berbesar hati karenanya. Ia ingin menebus kejengkelannya atas Mahisa Agni. Ia ingin menunjukkan kepada Mahisa Agni, apa yang dapat dicapainya, apa yang tersedia untuknya, sehingga Mahisa Agni akan menyadari, bahwa kesempatan ini memang tidak boleh dilewatkan. Kesempatan yang datang sepeninggal Wiraprana, bukan kesempatan yang memaksanya untuk berkhianat.”

Karena itu maka Ken Dedes segera menyembah, “Ampun tuanku, apabila berkenan di hati tuanku, hamba mengucapkan beribu terima kasih untuk kemurahan tuanku.”

“Itu adalah hakmu Ken Dedes, hakmu sebagai seorang permaisuri.”

Ken Dedes tidak menjawab. Tetapi kini wajahnya kembali terhunjam ke lantai istana yang mengkilap. Ia menjadi sangat terharu atas kesempatan yang didapatnya kini. Namun karena itulah maka ia kembali terkenang kepada ayahnya. Katanya di dalam hati, “Seandainya ayah masih ada di Panawijen. Ayah akan ikut serta menikmati kurnia yang besar ini. Tetapi ayah itu telah pergi, justru karena aku meninggalkannya, mendaki kesempatan yang diperuntukkan kepadaku ini.”

Tiba-tiba air mata gadis itu berlinang. Ketika air matanya tetes satu-satu, Akuwu Tunggul Ametung terkejut. Kenapa Ken Dedes itu tiba-tiba menangis lagi? Tetapi Akuwu itu sama sekali tidak dapat mengerti perasaan haru yang mencengkam hati Ken Dedes, sehingga karena itu, maka kembali Akuwu itu menjadi gelisah.

Tetapi bukan saja Akuwu Tunggul Ametung yang menjadi gelisah. Meskipun alasannya berbeda, namun emban tua pemomong Ken Dedes itu pun tidak kalah gelisahnya. Kalau benar Ken Dedes akan datang dengan upacara kebesaran seorang permaisuri, alangkah pedihnya hati Mahisa Agni. “Kasian anak itu,” desah ibu Mahisa Agni di dalam hatinya. Tetapi ia tidak mempunyai alasan yang cukup untuk mencegah Ken Dedes yang akan mendapat pengawalan menurut upacara kebesaran. Apalagi alasan Ken Dedes benar-benar dapat diterima oleh Akuwu Tunggul Ametung. Kuda Sempana. Bahkan mungkin Akuwu telah memperhitungkan bahwa mungkin sekali Kuda Sempana telah bergabung dengan orang-orang yang tidak disukai, sehingga merupakan sekelompok kecil bencana yang dapat menghadang di tengah jalan.

Dengan demikian, maka emban tua itu hanya dapat menekan perasaannya. Alangkah mahalnya tebusan bagi pengampunan ini. Kalau ia bukan ibu Mahisa Agni, maka ia akan dengan senang hati mengikuti upacara kebesaran momongannya, dalam iringan yang megah, berjalan ke Panawijen. Tetapi ia tahu benar, bahwa di Panawijen sebuah hati akan terpecah-belah. Hati itu adalah hati anaknya.

Ken Dedes sama sekali tidak tahu, apa yang tersimpan rapat-rapat di dalam hati Mahisa Agni. Menurut keluhan gadis itu yang telah didengarnya, Ken Dedes menganggap bahwa Mahisa Agni terlampau tinggi hati. Hanya karena ia tidak diajak berbincang mengenai lamaran Akuwu, maka Mahisa Agni, sebagai seorang saudara tua, merasa tersinggung.

“Bukan sekedar itu,” teriak emban itu di dalam hatinya, “bukan sekedar karena ia tersinggung. Betapa Mahisa Agni merelakan dirinya sendiri terhempas ke tepi, tetapi ia adalah seorang anak muda. Anak muda, bukan anak yang turun dari langit, sehingga dapat menjadikan dirinya luar biasa dalam ketahanan tubuh dan perasaannya. Ia adalah anak yang dilahirkan oleh seorang ibu. Apalagi seorang ibu yang hina seperti aku ini.”

Namun kembali emban itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak mampu mencegah Ken Dedes menunjukan kesempatan yang telah memaksanya menerima lamaran Tunggul Ametung. Emban itu tahu benar bahwa Ken Dedes bermaksud mengatakan kepada Mahisa Agni, “Kakang, aku bukan orang gila yang dapat melepaskan kesempatan ini. Lihat, aku datang dengan upacara kebesaran. Aku harus menerima ini, dan kau pun harus berbangga atas kesempatan yang diperoleh oleh adikmu ini. Panawijen harus berbangga, karena pilihan Akuwu jatuh kepada gadis dari Padukuhan ini.”

Tetapi emban itu tidak berkata sepatah katapun. Yang kemudian didengarnya adalah kata-kata Ken Dedes parau, “Tuanku, Akuwu. Kalau tuanku telah berkenan, maka biarlah hamba segera akan berangkat untuk mencoba memenuhi keinginan tuanku. Hamba akan mencoba membawa kakang Mahisa Agni. Apabila hamba gagal, maka terserahlah kepada tuanku untuk melakukan apa yang baik untuk tuanku.”

“Kapan kau akan berangkat?” bertanya Tunggul Ametung.

“Secepatnya tuanku.”

“Baik. Besok aku akan mengadakan persiapan. Lusa kau sudah dapat pergi.”

“Terima kasih tuanku. Hamba akan melakukan perintah tuanku untuk seterusnya.”

Akuwu itu pun tersenyum pula. Ia telah melupakan segala persoalan-persoalan lain. Ia telah melupakan hukuman yang diucapkan. Ia telah melupakan Mahisa Agni yang pergi meninggalkan istana hanya karena terlampau lama menunggu. Kini ia hanya berpikir tentang kesempatan yang akan diberikannya kepada Ken Dedes besuk lusa.

Demikianlah maka sejenak kemudian Ken Dedes, emban tua dan para prajurit itu pun bermohon diri dari hadapan Akuwu Tunggul Ametung, setelah tidak ada lagi yang harus mereka bicarakan. Akuwu telah menyanggupi Ken Dedes untuk menyiapkan pengawalan dalam waktu dua atau tiga hari. Namun secepat itu selesai, secepat itu pula Ken Dedes harus berangkat. Besok Akuwu akan memanggil Witantra dan mendengar pendapatnya. Seterusnya persiapan itu akan banyak tergantung pada Witantra itu sendiri.

Ketika ruangan itu telah sepi, Akuwu masih saja berjalan mondar mandir. Ia menjadi riang tanpa disadarinya. Meskipun Mahisa Agni tidak menghadapnya malam ini, tetapi ia senang bahwa Ken Dedes telah memajukan permohonan kepadanya. Permohonan tentang sesuatu yang segera dapat diberikannya. Bagi Akuwu Tunggul Ametung, hal itu telah merupakan suatu kepuasan tersendiri. Memberikan sesuatu kepada seorang gadis yang dicintainya.

“Apalagi permintaan-permintaan kecil itu Ken Dedes,” katanya di dalam hati, “Tumapel ini adalah milikmu. Cahaya yang memancar dari pusat jantungmu adalah pertanda, bahwa kau seorang gadis yang akan mampu memberikan sesuatu kepada tanah ini.”

Tiba-tiba Akuwu itu berteriak memanggil pelayan yang menunggui pintu ruang itu. Dengan tergesa-gesa pelayan itu berjalan tersuruk-suruk, kemudian setelah ia melihat Akuwu di dalam biliknya, pelayan itu pun berjalan jongkok perlahan-lahan. Ketika ia sedang menyembah, ia hampir terloncat karena terkejut.

Didengarnya Akuwu itu membentaknya, “Cepat. Panggil Daksina. Bawa kemari kakawin Baratayuda.”

“Hamba tuanku,” sembah pelayan itu sambil bergeser surut.

“Cepat,” teriak Akuwu itu pula.

Pelayan itu pun cepat-cepat meninggalkan ruangan itu. Dengan berlari-lari kecil ia pergi ke halaman belakang mencari Daksina.

Tetapi anak itu tidak berada di dalam rumahnya. Karena itu maka dengan gelisah pelayan itu bertanya kepada orang di rumahnya, “Dimana Daksina?”

“Kenapa? Ia baru keluar.”

“Malam-malam begini?”

“Ya. Mungkin di gardu-gardu penjaga.”

“Apa kerjanya?”

“Berceritera. Ia terlampau banyak membaca sehingga kepalanya menjadi penuh Karena itu kadang-kadang ia memerlukan tempat penuangan ceritera-ceritera yang tersimpan di kepalanya.”

“Omong kosong,” sahut pelayan itu, “Daksina tahu betul kalau para peronda sering membawa jenang alot atau ketan serundeng. Nah, untuk itu ia melayap ke gardu-gardu.”

“Mungkin. Tetapi apakah ada sesuatu yang penting.”

“Oh. Akuwu memanggilnya.” orang serumah itu pun tiba-tiba menjadi pucat. Setiap kali Akuwu memerlukan anak itu harus ada. Meskipun demikian orang itu bertanya juga, “Malam-malam begini?”

“Ya.”

Orang itu segera menjadi gelisah, “Baiklah, aku akan mencarinya.”

“Aku juga harus mencarinya,” berkata pelayan itu, “sebelum Akuwu menjadi marah.”

Keduanya segera pergi untuk mencari Daksina. Ternyata benar dugaan mereka, Daksina berada di gardu belakang, menunggui para peronda sambil ikut serta menghabiskan bekal mereka. Ketan serundeng. Tetapi para peronda itu senang juga apabila Daksina ada diantara mereka. Banyak sekali ceritera yang dapat disampaikannya kepada para peronda untuk mencegah kantuk.

Ketika ia mendengar bahwa Akuwu memanggilnya, segera ia berlari. Untunglah bahwa rontal kakawin Baratayuda berada di rumahnya sehingga ia tidak perlu mencarinya di bilik perpustakaan. Dengan tergesa-gesa ia membawa rontal itu menghadap ke bilik Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi alangkah kecewanya ketika ia sampai di muka bilik, dilihatnya Akuwu Tunggul Ametung sudah tertidur masih dalam pakaiannya. Bahkan pintunya pun masih juga terbuka.

Daksina menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi bingung. Kalau ia pergi, dan kemudian Akuwu itu terbangun, maka segera Akuwu itu akan teringat bahwa ia telah memerintahkan memanggilnya. Tetapi apakah kemudian ia harus menunggui Akuwu itu tidur? Bagaimana kalau Akuwu itu kemudian tidak terbangun lagi sampai pagi?”

Tetapi kemudian Daksina tidak berani meninggalkan bilik itu. Dengan terkantuk-kantuk ia duduk di muka pintu. Bahkan kemudian anak itu pun tertidur pula sambil memeluk rontalnya.

Di bilik lain, di sentong tengen, Ken Dedes masih duduk berbincang dengan embannya. Ia kini sudah tidak dalam perawatan Nyai Puroni lagi. Perempuan yang banyak menyimpan perasaan iri terhadap gadis yang menurut pendapatnya sedang menyimpan wahyu di dalam tubuhnya.

“Bagaimana bibi, menurut pendapatmu,” bertanya Ken Dedes kepada pemomongnya, “apakah kau tidak keberatan dengan rencanaku? Bukankah kau telah mengenal kakang Agni seperti mengenal aku?”

Orang tua itu mengangguk. Tetapi wajahnya tampak menjadi semakin suram.

“Apakah kau mempunyai pendapat lain?”

Emban itu tidak segera menjawab. Kalau ada cara lain, maka ia akan mengusulkannya. Tetapi ia tidak segera menemukan. Ia tidak dapat minta Ken Dedes pergi sendiri, atau dengan seorang dua orang prajurit. Akuwu pasti tidak akan melepaskannya. Sebab adalah masuk akal apabila Kuda Sempana yang mendendamnya itu dapat berbuat hal-hal diluar perhitungan apabila anak muda itu tahu, bahwa Ken Dedes sedang berada di Panawijen.

Meskipun demikian emban tua itu berkata, “Nini, apakah kau perlu datang dengan segala macam kehormatan dan kebesaran itu?”

“Ya bibi, itu adalah satu kebanggaan bagiku, bagi kakang Mahisa Agni dan bagi Panawijen. Dan kebanggaan ini harus membuka hati kakang Mahisa Agni bahwa ia telah salah sangka selama ini. Ia tidak mendalami maksud Akuwu yang sebenarnya atas aku dan keluargaku.”

Emban tua itu menundukkan wajahnya. Kembali ia menyalahkan diri sendiri, Kalau ia mempunyai pengaruh sebagai seorang ibu atas Mahisa Agni dan membawa Mahisa Agni menghadap Akuwu Tumapel, maka Mahisa Agni pasti tidak akan mengalami kepahitan yang lebih parah lagi.

Tetapi semuanya itu berada diluar kemampuannya. Mahisa Agni telah berhasil dibawanya ke Tumapel, tetapi belum lagi Mahisa Agni menghadap, apalagi menghadap Akuwu, bertemu dengan Ken Dedes saja pun belum.

Dalam pada itu terdengar Ken Dedes berkata, “Bibi, apabila benar Akuwu akan memperkenankan permohonanku, maka kau akan ikut serta. Bukankah kau telah rindu pula kepada padukuhan itu?”

Dada emban tua itu berdesir. Meskipun sebelumnya ia sudah menduga, bahwa ia pasti akan diminta untuk mengantarkan Ken Dedes itu pula. Tetapi gambaran-gambaran tentang anaknya, tentang Mahisa Agni telah sangat mempengaruhinya. Apakah ia harus menyaksikan betapa hati anaknya seperti diiris dengan sembilu. Apakah ia harus menyaksikan Mahisa Agni semakin parah ketika ia melihat Ken Dedes datang kepadanya dengan kebesaran seorang permaisuri? Apabila Mahisa Agni itu benar-benar kakak kandung Ken Dedes, maka kemarahan Mahisa Agni pasti akan sangat terbatas. Mungkin dugaan Ken Dedes benar, bahwa Mahisa Agni marah karena tersinggung perasaannya sebagai seorang saudara tua. Tetapi Mahisa Agni tidak sekedar tersinggung perasaannya. Tidak sekedar karena tidak diajaknya berbincang mengenai lamaran Tunggul Ametung. Tidak.

Ketika emban tua itu tidak segera menjawab, maka Ken Dedes mendesaknya sekali lagi, “Bagaimana bibi, bukankah kau ingin juga melihat kampung halaman itu? Sungainya yang jernih, bendungan yang megung, sawah ladang yang hijau. Alangkah segarnya setelah aku sekian lama terkurung di dalam bilik yang sempit ini.”

Emban tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terdengar ia menjawab perlahan-lahan sambil menggeleng, “Tidak nini.”

“He,” Ken Dedes benar-benar terkejut mendengar jawaban yang sama sekali tak disangka-sangka, “kau tidak ingin ikut ke Panawijen?”

Sekali lagi emban itu menjawab, “Tidak nini. Biarlah aku menunggumu disini.”

“Bibi,” bertanya Ken Dedes dengan herannya, “kenapa bibi tidak ingin turut ke Panawijen?”

Emban tua itu tidak segera menjawab. Wajahnya yang suram tertunduk ke lantai. Alangkah berat hatinya mendengar pertanyaan itu. Sebenarnya ia tidak ingin terpisah dari momongannya. Momongan yang sejak kecil selalu dalam dukungannya. Sebenarnya sepotong hatinya ingin mengajaknya serta dalam satu arak-arakan yang meriah, mengunjungi kampung halaman yang sudah sejak bertahun-tahun didiaminya. Namun belahan hatinya yang lain menahannya. Ia tidak akan sampai hati menyaksikan anaknya, anaknya sendiri, meskipun tidak pernah dibelainya di saat-saat menjelang tidur, mengalami goncangan-goncangan perasaan.

Tetapi emban itu merasa, bahwa ia tidak akan dapat berdiam diri saja. Ia harus menjawab pertanyaan Ken Dedes, sehingga dengan ragu-ragu dijawabnya saja dengan alasan-alasan yang dicari-carinya, “Nini, aku tidak dapat pergi ke Panawijen. Perjalanan itu akan memerlukan waktu. Aku akan terlampau lelah. Mungkin Nini akan mempergunakan tandu dalam perjalanan itu. Tetapi aku akan berjalan kaki. Aku sudah terlampau tua nini.”

“Tidak bibi,” potong Ken Dedes, “apabila disediakan tandu untukku, maka bibi akan berada di dalam tandu itu pula.”

“Ah,” sahut emban itu, “tandu itu akan terlampau berat.”

“Aku akan minta disediakan tandu yang lain.”

Emban itu menggeleng, “Tidak nini. Banyak yang memberati hatiku. Aku adalah seorang perempuan cengeng. Perempuan perasa. Mungkin aku tidak akan tahan lagi melihat padepokan yang sepi itu. Mungkin hatiku akan menjadi pedih.”

“Oh,” Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Aku juga pasti akan mengalami perasaan semacam itu bibi. Tetapi marilah kita melihat kenyataan. Kepahitan hidup adalah sesuatu yang sama sekali tidak kita ingini. Tetapi apabila hal itu datang kepada kita sebagai suatu kenyataan, kita tidak akan dapat memejamkan mata kita. Kita tidak harus lari dari padanya, mencari kepuasan-kepuasan lain yang mungkin akan menjerumuskan kita kepada kesulitan-kesulitan baru. Padepokan yang kosong itu jangan menjadi hantu bagi kita bibi. Marilah kita lihat, apakah kita masih mungkin untuk mengisinya kembali, menyegarkannya seperti masa-masa lampau, setidaknya mendekati masa-masa itu?”

Emban tua itu mengangkat wajahnya Ketika terpandang olehnya wajah gadis momongannya itu, maka emban tua itu tertunduk kembali. Dalam sekilas, teraba oleh orang tua itu, bahwa Ken Dedes sebenarnya tidak sedang menasehatinya. Tetapi gadis itu lebih banyak berbicara kepada dirinya sendiri. Gadis itu sedang mencoba memperteguh perasaannya sebelum ia sendiri melihat Panawijen. Sebelum ia melihat Padepokan ayahnya yang kini telah hampir-hampir menjadi kosong.

Emban itu tidak akan mengecewakan hati Ken Dedes atas nasehatnya yang lebih banyak diperuntukkan bagi diri gadis itu sendiri. Tetapi ia tidak dapat mempercayai dirinya, apakah hatinya yang telah lapuk karena umurnya itu masih akan mampu bertahan melihat hati yang terpecah belah.

Karena itu maka emban tua berkata, “Maafkan aku nini. Aku terpaksa tidak dapat ikut serta ke Panawijen. Mudah-mudahan lain kali aku akan pergi. Baru kemarin aku melihat padukuhan itu. Baru kemarin hatiku menjadi sedih. Apakah besok atau lusa aku akan melukai hati ini kembali? Nini, biarlah aku agak memperpanjang umurku dengan melepaskan diri dari setiap kemungkinan yang dapat mendukakan hati.”

Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Emban tua itu agaknya benar-benar tidak ingin pergi ke Panawijen, sehingga karena itu, maka Ken Dedes tidak dapat memaksanya meskipun ia menjadi kecewa karenanya.

Meskipun demikian Ken Dedes itu tidak habis-habisnya dikejar oleh pertanyaan-pertanyaan yang melingkar di dalam hatinya. Emban itu hampir tidak pernah menolak permintaannya. Tetapi tiba-tiba kini ia menolak ajakannya justru dalam kesempatan yang dapat dibanggakan, “Apakah emban tua ini sependapat dengan kakang Mahisa Agni,” pikir gadis itu. Tetapi ia tidak berani meyakinkan dirinya. Emban itu masih tetap terlampau baik kepadanya selama ini.

“Mungkin emban itu berkata dengan jujur. Hatinya sedih melihat Panawijen yang sepi,” berkata Ken Dedes pula di dalam hatinya. Bahkan kemudian ia sendiri menjadi ragu-ragu, “Jangan-angan aku akan mengalami kesedihan seperti emban itu pula.”

Tetapi akhirnya Ken Dedes menemukan kemantapan, ia harus pergi. Bukan saja untuk meyakinkan Mahisa Agni bahwa sebenarnya maksud Tunggul Ametung cukup baik, tetapi juga untuk membebaskan Mahisa Agni dan emban tua itu dari hukuman Akuwu Tunggul Ametung.

Ternyata kemudian Akuwu Tunggul Ametung memenuhi janjinya. Akuwu Tumapel itu telah memerintahkan kepada Witantra untuk mempersiapkan sebuah pengawalan yang cukup kuat dan megah bagi Ken Dedes yang akan pergi sendiri ke Panawijen untuk berbagai keperluan. Akuwu pun menyadari, bahwa Ken Dedes bukan saja ingin bertemu dengan Mahisa Agni, tetapi juga karena Ken Dedes telah merindukan kampung halamannya.

Dua hari diperlukan oleh Witantra untuk mempersiapkan diri beserta pasukannya. Pasukan khusus pengawal Tunggul Ametung di bawah pimpinan Witantra sendiri. Di samping persiapan para prajurit, telah dipersiapkannya pula sebuah tandu yang megah. Tandu yang akan dipergunakan oleh Ken Dedes.

Pada hari yang ditentukan, maka semua persiapan itu pun telah selesai. Witantra sendiri melihat semuanya dengan cermat. Sejak para pelayan, yang akan memanggul tandu sampai para perwira prajurit yang akan menjadi paruh dari perjalanan ini.

Arak-arakan ini adalah arak-arakan yang terbesar yang pernah diadakan di Tumapel sejak ibunda Akuwu Tunggul Ametung meninggal dunia. Tumapel sejak itu tak pernah dimeriahkan dengan sebuah arakan-akan seperti ini. Sejak itu Akuwu seakan-akan hidup dalam kemurungan. Sekali-sekali Akuwu keluar juga dari istana. Tetapi tidak pernah dalam suatu bentuk arakan. Kalau Akuwu ingin menikmati udara diluar istana, maka Akuwu akan pergi berkuda dengan beberapa orang pengawal berburu ke hutan-hutan. Sekali-sekali Akuwu sering pula melihat-lihat kotanya, Tumapel, namun selalu dalam sikap seorang prajurit.

Kini sejak seorang gadis Panawijen tinggal di dalam istana, maka seakan-akan istana Tumapel menemukan kembali kesegarannya. Meskipun kebesaran Tumapel tidak pernah surut, namun kebesarannya selama ini seolah-olah menjadi kering. Kini, gadis Panawijen itu seperti embun yang menetes dimalam hari dan seperti gerimis yang jatuh di siang hari. Tumapel menjadi segar oleh kemeriahan.

Tiga hari kemudian sejak Akuwu menjanjikan pengawalan itu kepada Ken Dedes, maka arak-arakan itu benar-benar telah terwujud. Di halaman dalam Akuwu Tunggul Ametung sendiri melepas arak-arakan itu.

Ken Dedes yang saat itu telah berada di dalam tandu menganggukkan kepalanya dalam-dalam sambil menyembah, “Hamba akan segera kembali tuanku.”

Akuwu tersenyum. Katanya, “Aku telah memerintahkan kepada Witantra. Mereka harus segera kembali. Dan kau pun akan terbawa kembali pula.”

Sekali lagi Ken Dedes menyembah, “Tentu tuanku.”

Akuwu menganggukkan kepalanya. Ternyata anak Panawijen itu benar-benar telah mempesonanya. Bahkan telah mempesona segenap rakyat Tumapel. Dalam pakaian yang indah, Ken Dedes benar-benar tampak bercahaya, seperti bintang pagi di tenggara.

Tetapi hati Ken Dedes itu berdesir ketika ia melihat emban pemomongnya berdiri di samping tandunya. Dengan serta merta ia bertanya, “Apakah kau benar-benar tidak dapat merubah pendirianmu bibi?”

Emban tua itu menarik nafas. Sambil menggeleng ia menjawab, “Maafkan tuan puteri.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Panggilan itu terasa janggal di telinganya apabila emban tua itulah yang mengucapkannya. Emban tua itu telah mengenalnya sejak kecil sebagai seorang gadis Padesan. Bagaimana mungkin kini ia harus memanggilnya tuan puteri. Tetapi Ken Dedes sendiri tidak berani menegurnya. Akuwu menghendaki panggilan itu bagi semua hamba Tumapel. Namun demikian pertanyaan yang melingkar-lingkar di dalam hati Ken Dedes masih belum dapat disingkirkannya. Apakah sebab yang sebenarnya emban itu tidak mau pergi bersamanya. Apakah ia berkata jujur, atau sekedar samudana.

Bahkan tiba-tiba Ken Dedes teringat kepada dukun tua yang merawatnya saat pertama kali ia masuk ke dalam istana ini. Jelas terbayang dan terungkapkan dalam kata dan perbuatan, dukun tua itu menjadi dengki atas kurnia yang diterimanya. Apakah emban tua itu menjadi dengki pula.

“Tidak. Tidak mungkin,” terdengar suara di dalam dada Ken Dedes demikian tegasnya. Apalagi ketika kemudian ia melihat setitik-setitik air mata menetes dari mata yang cekung itu.

Ken Dedes menjadi terharu pula karenanya. Tetapi ia tidak pula dapat mengerti, apakah arti air mata itu?”

Akhirnya arakan itu pun mulai bergerak. Emban tua, pemomong Ken Dedes, mencium momongannya pada punggung telapak tangannya. Terasa tangan itu menjadi basah.

“Selamat jalan tuan puteri. Hamba menunggu sampai tuanku kembali.”

Ken Dedes mengangguk. Tetapi ia tidak dapat menjawab dengan kata-kata, karena tenggorokannya terasa tersumbat karenanya.

Ketika arak-arakan itu semakin lama menjadi semakin jauh, maka air mata emban tua itu pun mengalir semakin deras. Air mata yang menitikkan berbagai arti. Seperti bunga, maka air mata dapat berarti gembira, namun dapat pula berarti duka. Setitik air mata emban itu diperuntukkan bagi momongannya. Ia, emban tua itu, berbahagia dan berbangga karenanya. Sedang setitik lainnya diperuntukkannya bagi anaknya. Alangkah pedih hati anaknya itu.

Akhirnya, ketika pangkal dari arak-arakan itu telah hilang di balik regol halaman dalam, maka emban tua itu pun segera menyadari keadaannya. Ketika ia berpaling, ternyata Akuwu yang semula berdiri di atas tangga telah masuk pula ke dalam istana. Di sana-sini tinggal beberapa orang saja yang masih membenahi beberapa peralatan yang tinggal. Beberapa orang penjaga dilihatnya hilir mudik di muka regol halaman dalam itu.

Emban itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian perlahan-lahan ia berjalan sambil menundukkan wajahnya, pergi ke biliknya di halaman belakang. Disitulah ia telah mendapatkan sebuah bilik tersendiri, sejak ia mengikuti Ken Dedes di istana Tumapel. Dari muka bilik itu ia mendengar lamat-lamat suara Daksina berdendang. Ketika emban tua itu berpaling ke arah suara Daksina itu, dilihatnya anak itu duduk di bawah sebatang pohon kemuning. Di tangannya tergenggam sepotong kayu watu dan sebilah pisau yang tajam. Anak itu ternyata lagi membuat sebuah patung ukiran.

“Seorang anak muda periang,” desis emban tua itu. Dalam pada itu dikenangnya anaknya yang murung. Mahisa Agni bukan termasuk seorang anak muda periang seperti Daksina, meskipun bukan pula seorang pemurung. Namun tusukan perasaan yang dalam telah menjadikannya semakin kehilangan keriangannya.

“Pengaruh yang membentuknya menjadikannya demikian,” berkata emban itu di dalam hatinya, “Mahisa Agni berada di pengengeran sejak kanak-kanak. Ia harus selalu tekun belajar dan bekerja.”

Suara Daksina masih saja mengumandang di sela-sela gemersik dedaunan di pagi yang bening. Seperti siul burung yang riang menyambar hari yang baru, suara Daksina terdengar semakin lama semakin segar.

Emban tua itu pun kemudian masuk ke dalam biliknya. Betapa ia mencoba menyenangkan hatinya dengan mendengarkan dendang Daksina, namun wajah orang tua itu pun masih juga disaput oleh kesuraman hatinya.

Sementara itu iring-iringan yang membawa Ken Dedes menuju ke Panawijen telah menyelusuri jalan-jalan kota. berbondong-bondong penduduk Tumapel, tua muda keluar dari rumah masing-masing. Mereka telah mendengar bahwa hari itu Ken Dedes, seorang gadis dari padepokan di Panawijen akan keluar dari istana dalam sebuah iring-iringan kebesaran. Gadis yang bakal menjadi permaisuri Tumapel itu akan pergi mengunjungi kampung halamannya, Panawijen.

Setiap mata yang memandang gadis yang berada di atas tandu itu menjadi terpesona. Alangkah cantiknya gadis itu. Sama sekali tidak berkesan pada wajah yang cerah itu, bahkan Ken Dedes adalah seorang gadis padesan. Wajah itu benar-benar membayangkan seorang yang sangat pantas untuk menjadi seorang permaisuri. Demikianlah maka setiap mulut telah bergumam memuji keserasian tubuh gadis yang berada di atas tandu itu. Betapa bahagianya seorang gadis yang memiliki kecantikan yang hampir sempurna itu. Adalah sudah sewajarnya apabila Akuwu Tunggul Ametung telah memilihnya untuk menjadi seorang permaisuri.

Apalagi kini gadis itu berada di dalam sebuah iringan kebesaran yang sudah cukup lama tidak dilihat oleh penduduk Tumapel. Sehingga dengan demikian, maka hampir setiap rumah menjadi kosong karena penghuninya berlari-lari ke pinggir jalan untuk melihat wajah bakal permaisuri Akuwunya.

Ken Dedes sendiri sama sekali tidak menyangka, bahwa ia akan mendapat sambutan yang sedemikian riuhnya dari penduduk Tumapel. Karena itu untuk beberapa saat ia menjadi bingung. Ketika para penduduk ingin memandangi wajahnya yang cerah itu, maka Ken Dedes malahan berusaha bersembunyi di balik tirai-tirai tandunya. Beberapa orang menjadi kecewa, namun beberapa orang lain yang sempat memandang wajah itu, memujinya tak kunjung habis.

Di muka sekali, di ujung iring-iringan itu, seorang yang tegap mendahului di atas punggung kuda bersama beberapa orang prajurit. Orang itu adalah pemimpin pasukan pengawal. Witantra. Di sampingnya adalah dua orang perwira bawahannya. Sedang di belakangnya berkuda seorang anak muda, namun ia tidak mengenakan pakaian keprajuritan meskipun di lambungnya tergantung sebilah pedang. Anak muda itu adalah Mahendra. Ia telah dibawa oleh kakak seperguruannya. Tanpa sepengetahuan Akuwu dan Ken Dedes, Witantra telah mempunyai perhitungan tersendiri. Ia mengenal beberapa sifat Mahisa Agni yang keras. Karena itu ia mempunyai perhitungan, bahwa apabila Mahisa Agni tidak dapat diketemukan di Panawijen, ia pasti telah berada dipadang Karautan. Karena itu maka dibawanya Mahendra yang akan dapat menjadi penunjuk jalan menemui Mahisa Agni, dengan tidak usah mencari-cari.

Di belakang Mahendra, berkuda seorang prajurit muda. Wajahnya riang namun garis-garis mulutnya menunjukksn kepicikan perhitungannya. Prajurit itu adalah Kebo Ijo. Ia mendapat tugas pula dari Witantra, kakak seperguruannya untuk mengawal panji-panji Tumapel yang berada di muka tandu Ken Dedes dibawa oleh seorang prajurit pula.

Ketika iring-iringan itu telah sampai ke batas kota, maka Kebo Ijo mempercepat jalan kudanya, mendekati Mahendra.

Ketika ia telah berada di sampingnya, terdengar ia berbisik, “Berapa lama kita berada di Panawijen?”

Mahendra menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak tahu.”

“Tiga hari atau sepasar?”

Sekali lagi Mahendra menggeleng, “Aku tidak tahu.”

“Dalam sepuluh hari ini aku harus berada di rumah,” gumam Kebo Ijo.

“Kenapa?”

Kebo Ijo itu tertawa. Namun ketika Witantra berpaling kepadanya segera ia menundukkan wajahnya. Perlahan-lahan ia berkata kepada Mahendra, “Aku akan kawin kakang.”

“Oh,” Mahendra terkejut. Tetapi ia pun tertawa pula. Sahutnya. “Kau berkata sebenarnya?”

Kebo Ijo mengangguk, “Ya. Sebenarnya aku akan kawin tengah bulan ini.”

Mahendra menganggukkan kepalanya. Meskipun demikian agaknya ia masih meragukan kata-kata adik seperguruannya itu, sehingga Kebo Ijo merasa perlu untuk menegaskan, “Kakang Mahendra. Sebenarnya aku pun masih belum ingin untuk kawin. Tetapi beberapa orang keluargaku selalu saja mendesakku.”

Mahendra tertawa berkepanjangan. Dilihatnya wajah Kebo Ijo yang tersipu-sipu, “Kenapa kau akhirnya bersedia pula?” bertanya Mahendra.

“Ah,” Kebo Ijo tersenyum, tetapi ia tidak menjawab.

“Gadis manakah yang akan kau ambil?” bertanya kakak seperguruannya.

“Tetangga sendiri. Masih ada sangkut paut kekeluargaan.”

“Siapa namanya?”

“Bukan Ken Dedes,” jawab Kebo Ijo.

Keduanya tertawa, sehingga sekali lagi Witantra berpaling. Tetapi perwira itu tidak banyak menaruh perhatian atas percakapan kedua adik seperguruannya itu.

Iring-iringan itu masih berjalan dengan tenangnya. Kini mereka telah meninggalkan kota Tumapel. Meskipun demikian, orang-orang yang tinggal di desa-desa di tepi jalan pun berjejal-jejal untuk menyaksikan arak-arakan yang megah itu. Bahkan dari desa-desa yang jauh sekalipun, apabila orang-orangnya mendengar berita tentang perjalanan bakal permaisuri itu, berbondong-bondong mereka pergi ke tepi-tepi jalan yang akan dilampaui oleh arak-arakan itu.

Matahari yang tergantung di langit, semakin lama merayap semakin tinggi pula. Sinarnya yang cerah berserakan di atas dataran sawah-sawah dan memantul di permukaan air. Namun terasa bagi para prajurit yang sedang berjalan dalam arak-arakan itu seperti serangga yang merayap di seluruh permukaan kulit punggungnya. Gatal.

Ken Dedes yang duduk di dalam tandu, memandangi sawah, ladang dan padesan dengan wajah yang segar. Pemandangan yang telah lama tidak dilihatnya Warna hijau segar yang memancarkan harapan pada hari-hari mendatang. Apabila padi yang menghijau di sawah itu telah bunting, maka berkembanglah hati para petani. Sebentar kemudian, maka hutan yang menghijau akan berganti warna seperti lembaran emas yang terbentang dari ujung ke ujung bumi. Apabila padi telah menguning, maka berdendanglah setiap hati, disertai dengan doa semoga mereka diperkenankan memetik buah dari jerih payah mereka.

Perjalanan itu terasa bagi Ken Dedes, alangkah lambatnya. Langkah-langkah kaki para prajurit yang berderap di atas tanah berdebu, seolah-olah langkah seorang anak-anak yang malas lagi belajar berjalan. Terlampau lambat. Tetapi Ken Dedes yang duduk di atas tandu tidak dapat mempercepat perjalanan itu. Ia hanya dapat mengikuti kecepatan para pemanggulnya. Namun ketika Ken Dedes sempat memandangi orang-orang yang mengangkat tandunya itu, timbullah rasa ibanya. Peluh telah membasahi segenap tubuh mereka. Sebentar-sebentar orang-orang yang memanggul tandu itu saling berganti. Namun meskipun demikian, tampak juga, bahwa mereka menjadi sangat letih karenanya.

Demikianlah maka perjalanan itu pun merambat setapak demi setapak. Di tengah hari mereka memerlukan beristirahat di pinggir-pinggir belukar. Para prajurit dan para pelayan bahkan semua orang di dalam iring-iringan itu memerlukan makan dan minum. Mereka masih harus berjalan dalam jarak yang cukup jauh.

Namun untuk seterusnya Witantra telah mengambil kebijaksanaan bahwa mereka tidak akan melintas padang Karautan. Mereka lebih baik berjalan lewat hutan Karautan. Di tengah-tengah padang itu nanti, panas matahari pasti akan membakar mereka. Apalagi padang itu terlampau panjang, sehingga mungkin mereka akan kehabisan air di tengah-tengah jalan. Tetapi apabila mereka menyusuri hutan, maka mereka akan menjadi sejuk. Apalagi hutan Karautan bukanlah hutan rimba belantara yang pepat padat. Hutan Karautan termasuk hutan yang agak jarang, sehingga merupakan hutan perburuan yang cukup baik.

Tetapi mereka tidak akan dapat sampai di Panawijen hari itu juga. Mereka pasti akan bermalam di perjalanan apabila mereka ingin tetap segar sampai di Panawijen besok. Sebab apabila mereka berjalan terus, maka mereka pasti akan kemalaman dan kelelahan. Apalagi mereka yang memanggul tandu meskipun bergantian.

Ken Dedes sama sekali tidak berkeberatan atas kebijaksanaan itu. Ia dapat mengerti, bahwa padang Karautan pasti akan sepanas bara di siang hari. Karena itu, maka perjalanan seterusnya, iring-iringan itu akan masuk menyusur jalan di dalam hutan Karautan.

Demikianlah ketika iring-iringan itu berjalan kembali, maka tidak beberapa lama, mulailah ujungnya menusuk masuk ke dalam hutan. Seperti seekor naga yang masuk ke dalam liangnya, maka semakin lama iring-iringan itu menjadi semakin dalam, sehingga kemudian ekornya pun lenyap ditelan rimbunnya dedaunan.

Betapa lambatnya perjalanan itu, namun mereka pun semakin lama menjadi semakin dekat pula dengan Panawijen. Ketika matahari kemudian hinggap di punggung bukit di ujung Barat, maka mulailah para prajurit mencari tempat yang sebaik-baiknya untuk berkemah. Di tengah-tengah hutan yang tidak terlampau pepat, diantara batang-batang kayu yang besar, iring-iringan itu bermalam.

Apabila kemudian gelap malam mencengkam hutan itu, dibuatnya oleh para prajurit, beberapa onggok api yang menyala-nyala seperti obor-obor raksasa, menerangi tempat mereka bermalam.

Witantra yang bertanggung jawab atas keselamatan Ken Dedes dan segenap iring-iringan itu, sekali-sekali berjalan pula mengitari perkemahan dengan Mahendra dan Kebo Ijo. Sekali-sekali mereka berkelakar untuk menghilangkan kejemuan mereka. Witantra yang mendengar bahwa Kebo Ijo akan segera ka win, tertawa pula berkepanjangan Anak itu masih terlampau muda, dan baru saja ia bekerja di istana.

Tetapi tiba-tiba suara tertawa Witantra itu terhenti. Hampir bersamaan mereka bertiga mendengar desir dedaunan di sekitar mereka. Ketika mereka memandangi perkemahan, maka agaknya para prajurit masih tetap berada di tempat masing-masing.

Sesaat mereka saling berpandangan. Tetapi Witantra tidak ingin membuat keributan diantara para prajuritnya, apalagi membuat Ken Dedes menjadi cemas. Karena itu maka katanya kepada Kebo Ijo, “Kebo Ijo, kembalilah ke lingkungan para prajurit yang lain. Hati-hatilah. Tetapi jangan mengatakan sesuatu kepada mereka. Apabila terjadi sesuatu, beritahukan para perwira supaya mereka dapat mengambil tindakan. Aku akan melihat suara apakah yang terdengar itu bersama Mahendra.

Kebo Ijo mengerutkan keningnya, jawabnya, “Biarlah aku ikut kakang Witantra. Sebaiknya kakang Mahendra saja yang kembali ke perkemahan.”

“Mahendra bukan seorang prajurit,” sahut Witantra, “tetapi kau adalah salah seorang dari mereka, sehingga hubunganmu dengan mereka lebih baik daripada Mahendra.”

Kebo Ijo tidak menjawab. Ia dapat mengerti kata-kata itu, apalagi ketika Witantra berkata, “Apalagi kau sedang menjelang hari perkawinanmu Kebo Ijo, jadi lebih baik kau tidak berbuat hal-hal yang berbahaya.”

Kebo Ijo tersenyum. Jawabnya, “Baiklah kalau itu perintah kakang.”

Witantra berkata pula, “Nah cepat kembalilah.”

Tetapi kembali mereka bertiga terkejut ketika terdengar suara di belakang mereka. Suara itu perlahan-lahan saja namun jelas, “He, apakah angger Kebo Ijo akan kawin?”

Telinga Witantra menjadi merah seperti tersentuh bara. Ia benar-benar merasa mendapat tantangan langsung dari suara itu. Demikian dekatnya suara itu daripadanya, sehingga semua pembicaraannya dapat didengar, tetapi ia sendiri bertiga tidak mengetahui kehadiran orang itu. Karena itu sekali lagi ia berkata kepada Kebo Ijo, “Cepat kembali. Langsung sampaikan kepada Sidatta apa yang terjadi disini. Tetapi ingat, jangan menimbulkan kegelisahan. Hanya Sidatta yang boleh mengetahuinya. Ia harus mengambil alih pimpinan selama aku tidak ada.”

“Baik kakang,” sahut Kebo Ijo.

Namun kembali Kebo Ijo itu tertegun. Kembali mereka mendengar suara tertawa dekat di belakang mereka. Betapa marahnya mereka bertiga, apalagi Kebo Ijo. Hampir saja ia meloncat ke arah suara itu, namun terdengar Witantra berkata, “Cepat.”

Kebo Ijo menggeram. Tetapi ia segera pergi meninggalkan tempat itu karena perintah kakak seperguruannya sekaligus pimpinannya.

Kini Witantra dan Mahendra berdiri berdua. Sejenak mereka saling berdiam diri memperhatikan setiap keadaan di sekitarnya. Perlahan-lahan Witantra memutar tubuhnya sambil bertanya lirih, “Siapa kau?”

Yang terdengar adalah gemerisik dedaunan di dalam gerumbul di sampingnya.

“Siapa kau?” ulang Witantra.

Yang terdengar adalah suara tertawa. Juga perlahan-lahan.

Ternyata Mahendra menjadi tidak bersabar karenanya. Tetapi ketika ia meloncat maju, terasa tangan kakaknya mencegahnya. “Jangan,” bisik Witantra. Witantra adalah seorang yang telah jauh lebih banyak berpengalaman dari pada Mahendra. Karena itu maka segera ia mengetahui, bahwa orang yang tertawa itu bukan orang kebanyakan. Bahkan bukan pula orang yang sekedar memiliki keberanian.

Mahendra pun sebenarnya menyadari pula, dengan siapa ia berhadapan. Tetapi darah mudanya ternyata masih terlampau cepat terbakar. Karena itu kadang-kadang ia kehilangan kewaspadaannya.

Suara tertawa itu masih saja terdengar. Bahkan kini suara itu berkata, “Hem, kau benar-benar anak yang berani Mahendra.”

“Kau mengenal aku?” desis Mahendra.

“Aku mengenal kalian bertiga. Witantra, Mahendra dan Kebo Ijo. Bukankah begitu?”

Mahendra menggeram. Tetapi Witantra tertawa.

Mahendra menjadi heran melihat kakak seperguruannya itu tertawa. Tetapi ia tidak bertanya. Yang terdengar kemudian adalah kata-kata Witantra, “Tidak aneh apabila kau mengenal kami. Bukankah kau telah bersembunyi dan mengikuti kami sejak tadi? Dari percakapan kami kau tahu, siapa aku, siapa kedua adikku ini. Apakah itu termasuk kelebihan bagimu?”

“Hem, kau cerdik Witantra,” sahut suara itu.

“Tidak. Itu persoalan yang terlampau sederhana.”

“Ternyata kau melampaui dugaanku,” berkata suara itu, “kalau begitu biarlah aku pergi.”

“Tunggu,” cegah Witantra, “aku ingin tahu, siapakah kau ini.”

“Tak ada gunanya.” Dan sesaat kemudian Witantra dan Mahendra mendengar suara daun tersibak. Cepat mereka maju. Namun suara itu pun menjadi semakin cepat menjauh pula.

“Jangan lari,” desis Witantra.

Tetapi tak ada yang menyahut. Yang terdengar hanyalah suara ranting-ranting patah dan gemerisik dedaunan.

Mahendra yang hatinya sudah meluap-luap segera berlari. Tetapi kembali Witantra menahannya, “Jangan tergesa-gesa Mahendra.”

Mahendra menjadi kecewa, katanya, “Orang itu sudah semakin jauh.”

“Hati-hatilah.”

Mahendra mengangguk. Tetapi hampir-hampir ia tidak mampu menahan dirinya. Kini ia terpaksa maju bersama kakaknya. Tidak terlampau cepat, karena Witantra menyadari siapakah yang sedang dikejarnya itu. Orang itu adalah pasti orang yang cukup berilmu.

“Biarlah aku mencoba menangkapnya kakang.” minta Mahendra.

Witantra menggeleng, jawabnya, “Kau belum tahu siapa orang itu. Hutan ini terlampau gelap. Sadarilah, bahwa orang itu hanya sekedar memancing kita menjauhi para prajurit yang sedang berjaga-jaga.”

Mahendra menarik nafas. Ia sadar akan ketergesa-gesaannya. Ternyata apa yang dikatakan kakak seperguruannya itu benar-benar masuk diakalnya.

Karena itu pun kini Mahendra menjadi semakin berhati-hati pula. Setiap tapak ia maju, ia tidak kehilangan kewaspadaan. Orang yang dicarinya itu dapat saja tiba-tiba berada di sisinya atau bahkan di belakangnya.

Namun setiap kali Mahendra mendengar desir dedaunan di depannya, maka dadanya pun berdesir pula.

Akhirnya Witantra menggamit Mahendra sekali lagi sambil berkata, “Kita sampai disini saja Mahendra. Ternyata orang itu tidak ingin menemui kita.”

Mahendra berpaling. Sambil mengerutkan keningnya ia berkata, “Tetapi pasti ada suatu maksud yang dikandungnya.”

“Ya. Dan maksud yang sesungguhnya aku tidak tahu. Karena itu, jangan pedulikan lagi orang itu.”

Ketika Mahendra akan menjawab, Witantra memberi isyarat dengan menggelengkan kepalanya. Mahendra menjadi ragu-ragu sejenak. Namun ia pun berdiam diri.

Perlahan-lahan kemudian mereka mendengar orang di dalam gerumbul itu berkata, “Kau benar-benar cerdik Witantra. Kau dapat mengetahui bahwa ada terkandung maksud di dalam hatiku.”

“Ah,” Witantra kemudian tertawa kecil, “aku bukan anak-anak yang menari-nari karena sanjungan-sanjungan kecil. Aku tidak sebodoh yang kau sangka Ki Sanak. Kalau aku mengatakan bahwa kau pasti mempunyai maksud tertentu maka sama sekali tidak diperlukan suatu kecakapan khusus untuk itu. Setiap orang, bahkan anak-anak pun akan dapat mengatakan, kalau kau pasti mempunyai suatu maksud dengan mengintai rombonganku dan bahkan memancing kami berdua supaya kau dapat memisahkan kami dari rombonganku. Juga anak-anak akan dapat membuat perhitungan dengan itu. Dengan memisahkan aku dari rombonganku, maka ada dua kemungkinan yang kau kehendaki. Aku dan Mahendra, atau segenap rombongan yang lain. Atau kau sudah mempersiapkan dua gerombolan pula untuk menghadapi kami berdua dan rombongan yang lain.”

Terdengar orang yang bersembunyi itu tertawa, “Hebat. Hebat.”

“Tidak hebat. Bukan hal yang sulit ditebak. Yang sulit diketahui adalah maksudmu yang sebenarnya. Apakah maksud itu baik atau jahat. Itulah yang tidak kami ketahui.”

“Apakah kau tidak dapat merabanya Witantra.”

“Tentu tidak.”

“O,” terdengar nada kecewa dari orang yang bersembunyi itu, “ternyata benar yang kau katakan. Otakmu tidak secerdas yang aku sangka.”

Mahendra sama sekali tidak telaten mendengar percakapan yang seakan tidak berpangkal tidak berujung itu. Dengan serta merta ia berteriak, “Aku tahu maksudmu yang sebenarnya. Kalau kau bermaksud baik, maka kau tidak akan melakukannya dengan bersembunyi. Ayo, tampakkan dirimu.”

Witantra mengerutkan keningnya. Adiknya masih terlampau muda sehingga amat sulit baginya untuk mengendalikan perasaannya. Yang dihadapinya kini bukan saja seorang yang berilmu, tetapi juga seorang yang licik. Namun ia tidak mencegah adiknya kali ini Asal adiknya itu tidak meloncat menyerang orang yang masih saja bersembunyi itu.

“Ternyata adikmu lebih cerdas dari padamu Witantra,” terdengar suara itu pula.

“Ya,” sahut Witantra, “sebenarnya demikian.”

“Baik. Kalau demikian aku tidak akan bertemu kau lagi. Kau terlampau bodoh untuk diajak berbincang mengenai masalah-masalah yang terlampau penting.”

“Jangan banyak bicara,” potong Mahendra, “tunjukkanlah dirimu.”

“Tidak perlu. Aku akan pergi.”

“Kau tidak akan dapat melepaskan diri,” sahut Mahendra. Tetapi Mahendra menjadi heran ketika kakaknya, “Biarlah Mahendra. Biarlah orang itu pergi. Ia menganggap bahwa kita kurang mampu untuk diajaknya berbincang. ternyata orang itu mempunyai suatu keperluan khusus yang memerlukan kecerdasan otak. Sedang syarat itu tidak kita penuhi.”

“Apakah kita biarkan orang itu pergi?”

“Ya. Biar saja orang itu pergi.”

Tiba-tiba Mahendra dan Witantra mendengar orang yang bersembunyi itu menggeram. Katanya, “Ternyata dugaanku benar pula kali ini. Witantra, pemimpin pengawal istana dan Akuwu Tumapel bukan saja orang yang tumpul otaknya, tetapi juga seorang penakut.”

“Gila kau,” teriak Mahendra. Sekali lagi Mahendra siap untuk meloncat. Dan sekali lagi Witantra menahannya.

Bahkan Witantra itu berkata, “Maafkan aku Ki Sanak. Aku barangkali tidak dapat memenuhi harapanmu. Aku memang berotak tumpul dan seorang penakut pula. Karena itu aku tidak berani mengejarmu. Namun betapa aku seorang penakut, tetapi aku tidak bersembunyi seperti kau Ki Sanak.”

Sekali lagi terdengar orang itu menggeram, “Ayo, tangkap aku,” katanya.

Mahendra menggeretakkan giginya. Tetapi Witantra masih tersenyum. Katanya, “Aku tidak akan menangkapmu. Betapa otakku tumpul, namun aku masih mampu membuat perhitungan. Kau ingin memisahkan dan memecah kekuatan rombonganku dengan memisahkan kami berdua dari padanya. dalam jarak ini, aku masih dapat memanggil setiap orang yang aku perlukan. Sebaliknya aku masih akan dapat mendengar apa yang terjadi di dalam rombonganku.

Mendengar kata-kata itu Mahendra menggigit bibinya. Sekali lagi ia menyadari, bahwa ternyata ia kurang mempertimbangkan berbagai masalah yang dihadapinya. Untunglah bahwa kakaknya dapat berpikir setenang itu.

“Witantra,” tiba-tiba terdengar suara di balik gerumbul itu, “sebenarnya bagiku tidak terlampau banyak bedanya. Apakah kau berada di situ, atau kau berada di tempat lain yang lebih jauh. Dengan sekali sentuh, kalian berdua pasti sudah tidak akan dapat berteriak memanggil siapapun. Jarak ini telah cukup memenuhi harapanku. Karena itu, bersiaplah untuk mati.”

Bagaimanapun juga keberanian kedua saudara seperguruan itu, namun hati mereka berdesir pula mendengar ancaman itu. Ancaman yang seakan-akan terlampau meyakinkan. karena itu, maka keduanya segera bersiap menghadapi setiap kemungkinan.

Sesaat kemudian mereka mendengar gemerisik di samping mereka. Serentak mereka berdua memutar diri menghadapi orang yang datang itu.

Dalam keremangan malam, mereka melihat sesosok tubuh muncul dari balik dedaunan. Yang mula mereka lihat adalah kepalanya, baru kemudian segenap tubuhnya.

“Aku sekarang sudah berdiri disini,” desis orang itu, “nah, apakah kalian akan melawan?”

Dada Mahendra berdesir mendengar suaranya yang semakin jelas, melihat sikapnya dan bentuk tubuhnya. Dan yang meyakinkannya adalah bahwa orang itu membawa tongkat hampir sepanjang tubuhnya. Karena itu dengan serta merta ia bergumam, “Empu Sada.”

Witantra terkejut pula mendengar nama itu. Ia pernah mendengar nama itu dari Mahendra. Dan ia tahu apa yang pernah dilakukan pula oleh orang itu. Karena itu, maka hatinya menjadi berdebar-debar.

Orang yang baru datang itu menganggukkan kepalanya. Katanya, “Kau masih mengenal aku Mahendra?”

Mahendra tidak menjawab. Tetapi tanpa dikehendakinya tangannya meraba hulu pedangnya.

“Kau memang anak muda yang berani dan keras kepala,” katanya kepada Mahendra, “dan kakakmu itu adalah seorang perwira yang sabar, cerdas dan bertindak atas dasar perhitungan yang masak.”

“Jangan memuji Empu,” potong Witantra yang sudah bersiap-siap pula. Ia tidak dapat berbuat lain daripada mempersiapkan diri menghadapi setiap kemungkinan. Banyak kemungkinan yang dapat terjadi. Empu Sada itu datang seorang diri, atau bersama-sama dengan kedua muridnya, Kuda Sempana dan orang yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo, atau malahan telah datang pula bersama dengan Empu Sada itu orang-orang yang disebutnya bernama Wong Sarimpat dan Kebo Sindet. Tetapi siapa pun yang datang, Witantra harus menghadapinya. Ia membawa beberapa orang prajurit pilihan. Mungkin mereka harus bertempur mati-matian menghadapi hantu-hantu itu.

Meskipun demikian kecemasan merambat pula di dalam hati Witantra. Bagaimana kalau lawan yang dihadapinya berada diluar kemampuan orang-orangnya. Witantra tidak mencemaskan dirinya sendiri. Bahkan dalam tugas ini, nyawanya menjadi taruhan. Tetapi bagaimana dengan Ken Dedes, bakal permaisuri Tunggul Ametung? Witantra tahu benar bahwa Empu Sada adalah guru Kuda Sempana. Witantra dapat menyangka bahwa Empu Sada telah berbuat karena tangis muridnya.

Dalam pada itu terdengar Empu Sada berkata, “Witantra, apakah kau masih akan memanggil satu dua orang lain untuk bersama-sama melawan aku? Kesempatan masih ada. Berteriaklah memanggil adikmu Kebo Ijo, atau perwira yang kau sebut namanya Sidatta, atau ada orang lain yang lebih sakti lagi? Atau barangkali kau akan berteriak memanggil segenap pasukanmu?”

Kejantanan kedua anak muda itu benar-benar tersinggung. Namun mereka harus memperhitungkan pula keadaan. Kini mereka tidak sekedar mempertahankan harga diri, tetapi mereka harus mempertanggung jawabkan bakal permaisuri raja itu. Karena itu maka mereka harus membuat pertimbangan-pertimbangan. Mungkin mereka harus mengorbankan harga diri mereka untuk kepentingan yang lebih besar. Harga diri dalam pengertian yang terlampau luas. Sebab di dalam pertempuran yang bukan perang tanding, maka tidak ada keharusan untuk melawan musuh seorang-seorang, meskipun untuk kepentingan apa yang disebut harga diri itu.

Namun Witantra masih harus juga mempunyai pertimbangan lain. Kalau ia memanggil beberapa orang yang cukup tangguh bersama dengan Kebo Ijo apakah itu tidak berarti memberi peluang kepada orang lain untuk mengambil Ken Dedes? Kuda Sempana bersama saudara-saudara seperguruannya misalnya? Karena itu sesaat Witantra menjadi ragu-ragu.

Dalam keragu-raguan itulah ia mendengar Empu Sada berkata, “Jangan mematung. Ambil sikap secepatnya sebelum aku menyobek lehermu dengan tongkatku ini.”

Witantra tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba ia menarik pedangnya. Mahendra yang berdiri di sampingnya, segera menarik pedangnya pula. Kini sepasang kakak beradik seperguruan itu telah bersiap menghadapi segenap kemungkinan.

Empu Sada yang masih tegak di depan gerumbul itu tertawa. Katanya, “Kalian memang anak muda yang gagah berani. Aku iri melihat ketangkasan, keberanian dan keteguhan hati kalian. Mungkin murid-muridku masih harus mendapat didikan khusus mengenai keteguhan hati. Aku menyesal bahwa aku memelihara muridku dengan acuh tak acuh sampai kini, asal mereka mencukupi keperluanku, kebutuhanku, bagiku sudah cukup. Sebagai imbangan aku memberi mereka beberapa jenis ilmu. Ternyata sekarang aku menyesal. Aku harus membentuk muridku seperti kalian ini.”

Witantra dan Mahendra masih tegak di tempatnya. Witantra sendiri yang sedang sibuk dengan berbagai pertimbangan, hampir-hampir tak mendengar kata-kata Empu Sada itu. Ia masih tetap ragu-ragu, apakah ia harus memanggil kawan-kawannya atau membiarkan mereka menjaga Ken Dedes dengan kekuatan sepenuhnya.

Dalam pada itu Witantra dan Mahendra melihat Empu Sada itu melangkah maju sambil berkata, “Kalian tidak memanggil seorang pun diantara anak buah Witantra. Baik, mari kita lihat, sampai dimana selisih kemampuanmu dengan murid-muridku.”

Sebelum Witantra menyahut, dilihatnya Empu Sada menjulurkan tongkatnya. Ujung tongkat itu bergetar dengan cepatnya. Di dalam gelap malam, maka mereka harus benar-benar memusatkan segenap kemampuan mereka untuk melawan tongkat Empu Sada itu.

Witantra dan Mahendra adalah dua bersaudara dari satu perguruan. Karena itu, mereka segera dapat menyesuaikan dirinya. Ketika ternyata Empu Sada telah mulai, maka mereka pun berloncatan ke arah yang berlawanan. Pedang-pedang mereka segera bergerak dalam gerak ilmu pedang yang mereka terima dari guru mereka.

Sepasang anak-anak muda itu tidak membiarkan dirinya diserang, sehingga merekalah yang melancarkan serangan beruntun berganti-ganti. Tetapi lawannya adalah seorang guru yang namanya cukup dikenal, meskipun kurang sedap. Sehingga karena itu, maka serangan-serangan mereka berdua, seolah-olah tidak lebih dari suatu permainan yang menjemukan bagi Empu Sada.

Tetapi kedua anak muda itu pun tidak terlampau mengecewakan. Sekali-sekali serangan mereka berbahaya juga, sehingga kadang-kadang Empu Sada pun terpaksa berloncatan ke samping.

Demikianlah, maka Witantra dan Mahendra bertempur berpasangan dengan serasi. Mereka dapat isi mengisi dan benar-benar menggabungkan kekuatan mereka dalam suatu kesatuan seolah-olah Empu Sada kini berhadapan dengan seorang lawan yang memiliki kemampuan dua kali lipat dari apabila harus dilawannya seorang demi seorang.

Namun Empu Sada itu masih juga sempat tertawa sambil berkata, “Huh, aku benar-benar iri melihat cara kalian bertempur. Serasi benar seperti otak kalian dihubungkan dengan satu perintah, sehingga gerak dari yang seorang merupakan rangkaian gerak dari yang lain.

Witantra dan Mahendra sama sekali tidak menjawab. Tetapi mereka merasa bahwa Empu Sada belum benar-benar hendak menjatuhkan mereka. Mereka sadar, bahwa kini Empu Sada sedang mencoba menjajagi, sampai dimana kemampuan mereka berdua dibandingkan dengan murid-muridnya sendiri.

Sementara itu terdengar Empu Sada berkata pula, “Dimanakah saudara seperguruanmu yang satu lagi? Apabila kalian bertempur bertiga alangkah dahsyatnya. Mungkin kalian bertiga akan merupakan pasangan yang paling serasi yang pernah aku lihat.”

Witantra dan Mahendra masih tetap berdiam diri. Namun di dalam dada Witantra bergolaklah kebimbangan hatinya. Apakah ia harus memanggil beberapa orang untuk menemaninya bertempur, atau ia harus menghadapi setan itu berdua. Masing-masing mempunyai bahayanya sendiri-sendiri.

Dalam pada itu, Kebo Ijo telah menyampaikan pesan Witantra kepada perwira bawahannya, Sidatta. Perwira itu mengerutkan keningnya sambil bertanya perlahan-lahan, “Dimana kakang Witantra sekarang?”

“Masih di tempatnya. Mungkin kakang Witantra ingin menangkap orang itu.”

“Bukankah itu cukup berbahaya? Orang itu mungkin sengaja memancing kakang Witantra untuk menjauhkannya dari rombongan ini.”

“Mungkin.”

“Kalau demikian, apakah kita perlu datang menolongnya?”

Kebo Ijo terdiam sejenak, otaknya pun tidak terlalu tumpul betapapun bengalnya anak itu. Karena itu maka ia pun bertanya kembali, “Apakah kita akan meninggalkan Ken Dedes itu bersama-sama?”

Sidatta terdiam. Tentu ia tidak dapat melepaskan prajurit ini tanpa pimpinan. Namun diantara mereka masih ada seorang lagi yang dapat diserahinya. Tetapi Sidatta kini menjadi ragu-ragu. Ketika ia menengadahkan wajahnya dan memandang berkeliling, dilihatnya hutan di sekitarnya terlampau sepi. Dilihatnya beberapa orang prajurit berbaring di tempat yang berserakan. Sedang beberapa orang yang lain, masih berjaga-jaga di tempat yang sudah ditentukan. Adalah lebih baik demikian daripada mereka berkumpul menjadi satu. Dalam keadaan yang demikian, maka apabila mereka harus menghadapi bahaya, maka kesempatan akan menjadi lebih banyak.

Sementara itu Kebo Ijo pun menjadi gelisah pula. Witantra dan Mahendra tidak segera kembali membawa atau tidak membawa orang yang akan ditangkapnya itu.

Karena itu maka tiba-tiba ia berkata kepada Sidatta, “Aku akan melihat kakang Witantra dan Mahendra. Kenapa ia terlampau lama tidak juga kembali.”

“Lalu bagaimana menurut pertimbanganmu?” bertanya Sidatta, “apakah aku ikut serta pula?”

Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah perwira itu. Sebenarnya perwira itulah yang harus mengambil keputusan. Tetapi karena Kebo Ijo yang dianggapnya lebih mengetahui persoalannya, maka Sidatta merasa perlu mendengar pertimbangannya.

Sejenak kemudian Kebo Ijo itu menjawab, “Aku akan pergi sendiri lebih dahulu. Ken Dedes masih perlu mendapat pengawalan yang kuat.”

“Baiklah sahut Sidatta, tetapi hati-hatilah.”

Kebo Ijo pun kemudian melangkah pergi. Tidak tergesa-gesa, seakan-akan tidak ada suatu keperluan apapun, sehingga langkahnya tidak menimbulkan kesan apa-apa bagi para prajurit yang lain dan bagi Ken Dedes yang duduk di samping tandunya.

Ketika Kebo Ijo telah menghilang di balik dedaunan, maka Sidatta pun berdiri pula dan berjalan mendekati perwira yang lain. Mereka bercakap-cakap sebentar. Kemudian kembali Sidatta meninggalkan kawannya. Tetapi Sidatta tidak kembali ke tempatnya, namun ia pergi menemui Ken Dedes. Katanya, “Tuan Puteri, apakah tuan Puteri tidak ingin beristirahat? Mungkin tuan Puteri dapat berbaring melepaskan lelah, meskipun barangkali tempat ini sama sekali tidak menyenangkan bagi tuan Puteri.”

Ken Dedes mengangguk, katanya, “Aku belum mengantuk kakang Sidatta.”

Sidatta mengangguk kepalanya, kemudian katanya, “Sebaiknya tuan puteri beristirahat sebaik-baiknya, supaya besok tidak terlampau lelah. Perjalanan ke Panawijen sebenarnya sudah tidak begitu jauh lagi. Sebelum matahari sepenggalah, kita besok pasti sudah sampai. Meskipun begitu, perjalanan yang sehari ini barangkali terlampau melelahkan.”

“Terima kasih,” sahut Ken Dedes.

Tetapi Ken Dedes tidak segera berbaring atau bersandarkan diri pada tandunya. Ia masih saja duduk bersimpuh memandangi nyala perapian dihadapannya.

Sidatta tidak mempersilahkannya lagi. Namun ia segera bergeser dan duduk tidak terlampau jauh dari gadis itu.

Di sisi yang lain tanpa setahu Ken Dedes, dan bahkan hampir tidak mendapat perhatian dari siapapun juga, perwira yang seorang lagi bergeser pula mendekati Ken Dedes. mereka berdua harus selalu berhati-hati menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Titik puncak dari pertanggungan-jawab mereka kali ini adalah bakal permaisuri Akuwu Tunggul Ametung itu.

Kebo Ijo yang telah hilang di balik dedaunan, segera meloncat dengan tangkasnya mencari kedua kakak seperguruannya. Dengan hati-hati dicarinya kembali jalan yang dilampauinya ketika ia meninggalkan kedua kakak seperguruannya. Tetapi ketika ia sampai ke tempat yang dicarinya, Witantra dan Mahendra telah tidak ada di tempat itu.

Kebo Ijo menjadi ragu-ragu sejenak. Dipasangnya telinganya baik-baik, barangkali ia mendengar sesuatu. Dan ternyata ia memang mendengar sesuatu. Tidak terlampau jauh, karena itu segera ia meloncat ke arah suara itu.

Suara itu adalah suara batang-batang perdu yang terinjak kaki-kaki mereka yang sedang bertempur. Ranting-ranting yang patah dan kadang-kadang diselingi dentang senjata beradu. Pedang Witantra dan Mahendra, berbenturan dengan tongkat Empu Sada. Tongkat itu tampaknya terlampau kecil dan panjang, namun ternyata tongkat itu pun mempunyai kekuatan yang mengagumkan.

Ketika Kebo Ijo muncul di dekat perkelahian itu, terdengar suara Empu Sada tertawa. Katanya, “Nah, ternyata adikmu datang pula Witantra. Ayo, jadilah pasangan yang manis.”

Kebo Ijo menggeram. Sekali ia meloncat maju langsung menerkam Empu Sada dengan pedangnya.

Kini Witantra bertempur bertiga dengan adik-adik seperguruannya. Kekuatan mereka pun bertambah pula dengan Kebo Ijo. Namun mereka bertiga hampir-hampir tidak berdaya menghadapi Empu Sada yang jauh terlampau sakti daripada mereka. Empu Sada adalah seorang guru yang setingkat dengan guru mereka sendiri.

Yang tertua dari mereka adalah Witantra kecuali tertua dalam perguruannya, umurnya pun tertua pula diantara mereka bertiga. Pengalamannya pun yang terbanyak pula. Sehingga otak daripada ketiga bersaudara seperguruan itu terletak padanya. Ialah yang mengambil sikap dari pasangan mereka bertiga, dan ialah yang mengatur serangan dan perlawanan mereka terhadap Empu Sada yang sakti itu. Dengan berbagai tanda Witantra berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya, memberikan perintah-perintah kepada kedua adik seperguruannya.

Empu Sada heran melihat kerapihan kerjasama diantara mereka. Ketiganya benar-benar murid yang sangat baik. Murid yang mempunyai ikatan yang cukup dalam berbagai segi. Bahkan saja dan segi ilmu mereka, Tetapi juga ikatan ketaatan yang muda terhadap yang lebih tua. Sehingga dengan demikian, maka mereka bertiga benar merupakan satu gabungan kekuatan yang dahsyat.

Meskipun demikian Empu Sada masih juga sempat tertawa sambil berkata, “Bukan main. Aku sudah menyangka, bahwa kalian bertiga akan merupakan kekuatan yang tangguh. Aku juga akan membuat murid-muridku menjadi sebaik kalian. Aku juga ingin melihat murid-muridku dapat bertempur berpasangan dengan rapi seperti murid Panji Bojong Santi ini. Alangkah baik cara Panji kurus itu mengajari muridnya.”

Witantra dan kedua adiknya sama sekali tidak menyahut. Mereka berusaha untuk memperketat serangan mereka terhadap lawannya. Namun usaha mereka itu seakan-akan sia-sia saja. Empu Sada setiap kali mampu melepaskan diri dari kepungan mereka. Setiap kali orang tua itu sudah berada di belakang mereka, menyerang dengan tongkatnya yang panjang.

Demikianlah pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Tetapi Empu Sada agaknya masih belum ingin mengakhiri pertempuran itu. Bahkan ia masih berkata, “Witantra, kalau kau memanggil bawahanmu yang bernama Sidatta dan barangkali ada beberapa kawan lain yang cukup bernilai untuk bertempur, kau masih mempunyai kesempatan untuk melarikan dirimu, untuk menyelamatkan nyawamu. Nah, apakah kau tidak akan mencoba memanggilnya?”

Witantra menggeretakkan giginya. Kini semakin jelas baginya, bahwa Empu Sada berusaha untuk melepaskan Ken Dedes dari pengawasan yang baik. Mungkin Empu Sada saat itu datang bersama dengan Kuda Sempana dan murid-muridnya yang lain, namun mereka masih tetap bersembunyi. Apabila pengawasan atas Ken Dedes telah menjadi kian lemah, baru mereka akan berbuat sesuatu. Menculik gadis itu.

Karena itu Witantra pun segera menjawab, “Aku tidak akan mengumpankan orang lain untuk keselamatanku. Empu, jangan mencoba mengelabui kami. Aku tidak akan memanggil seorang pun lagi dari rombonganku meskipun nyawaku terancam. Bukankah dengan demikian muridmu akan mendapat kesempatan menculik gadis itu.”

Empu Sada tertawa. Jawabnya, “Ternyata otakmu tidak setumpul otak udang. Tetapi meskipun kau tidak memanggil orang-orangmu, maka akhir daripada ceritera ini akan sama saja. Kalian bertiga akan mati aku bunuh. Aku dan murid-muridku kemudian akan mengambil gadis itu. Bukankah sama saja? Karena itu lebih baik bagimu untuk mencoba menyelamatkan dirimu.”

Witantra sekali lagi menggeram. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan serangannya menjadi bertambah garang. Kini Witantra itu menyadari benar-benar, apakah yang sedang dihadapi. Karena itu, semuanya akan tergantung kepadanya, kepada kemampuannya melawan Empu Sada itu.

Dengan demikian maka seakan-akan Witantra menjadi semakin tangguh. Kini ia semakin didorong oleh tekadnya. Tekad memeluk tugasnya dengan penuh tanggung jawab.

Melihat tandang Witantra, Empu Sada mengumpat di dalam hati. Perwira prajurit pengawal Akuwu itu benar-benar memiliki kemampuan jasmaniah yang luar biasa. Bukan saja Witantra, tetapi kedua saudaranya yang lain pun segera mengerahkan segenap kemampuan mereka. Mereka harus mencoba bertahan sejauh-jauh mungkin. Mereka tidak ingin gagal dalam tugasnya. Ken Dedes itu benar-benar telah dipercayakan kepada mereka oleh Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi kalau mereka tidak mampu melawan Empu Sada, maka berarti mereka gagal menjalankan tugas mereka. Karena itu, maka hanya mautlah yang dapat menghentikan perjuangan. mereka, melakukan tugas mereka dengan penuh tanggung jawab.

Witantra bertiga dengan kedua saudara seperguruannya itu pun kemudian menyerang Empu Sada seperti angin pusaran. Mereka berputaran dalam satu lingkaran mengelilingi orang tua itu. Setiap kali mereka melontarkan serangan berganti-ganti.

Namun berkata-kata mereka menjadi kecewa. Apabila mereka menekan orang tua itu dengan segenap kemampuan mereka, tiba-tiba Empu Sada itu melenting, dan sesaat kemudian orang itu telah berada diluar lingkaran mereka. Bahkan kemudian Empu Sada lah yang mengambil sikap, menyerang ketiganya dalam gerak yang beruntun.

Tetapi betapa tekanan Empu Sada atas mereka bertiga, namun Witantra sama sekali tidak berhasrat memanggil seorang atau dua orang bawahannya Ia yakin, bahwa di dalam semak-semak itu masih bersembunyi beberapa orang yang siap untuk bertindak. Bahkan Witantra yakin, bahwa Kuda Sempana ada diantara mereka. Apabila para pengawal lengah, Kuda Sempana sendiri akan mengambil Ken Dedes. Sikap itu adalah sikap yang dapat memberinya kepuasan, seakan-akan ia sendirilah yang berhasil menyergap rombongan bakal permaisuri itu. Sedang apabila ada satu dua orang yang berhasil menyampaikan kejadian ini kepada Akuwu, maka Kuda Sempana sendirilah yang harus bertanggung jawab. Bagi Kuda Sempana yang telah melarikan diri dari istana itu, maka baginya hampir tak ada bedanya. Memberontak seperti keadaannya sekarang, atau memberontak karena melarikan Ken Dedes. Ia pasti telah mempunyai perhitungannya sendiri. Kemana ia harus bersembunyi.

Ternyata perhitungan Witantra itu sebagian besar adalah benar, Empu Sada sengaja memperlambat serangan-serangannya, supaya Witantra berusaha untuk memanggil orang-orangnya, atau orang-orangnyalah yang akan bertebaran mencarinya. Tetapi agaknya Kebo Ijo telah menyampaikan pesan Witantra dan para perwira berhasil membuat perhitungan pula, sehingga mereka sama sekali tidak berusaha mencari Witantra dan kedua saudara seperguruannya. Karena itu, maka segera Empu Sada membuat cara lain untuk memancing orang-orang Witantra yang hampir tidak tahu sama sekali apa yang telah terjadi selain kedua perwiranya. Empu Sada akan berusaha menekan Witantra dan kedua saudaranya justru mendekati perkemahan rombongannya.

Demikianlah maka sesaat kemudian gerak Empu Sada itu pun menjadi semakin lincah. Dengan tongkat panjangnya ia menyerang ketiga bersaudara seperguruan itu semakin sengit.

Tongkat panjangnya berputar dari satu arah, seolah-olah ia sedang menggembalakan itik dan. membawanya ke dalam air yang tergenang.

Apabila orang-orang di dalam rombongan itu melihat pemimpinnya bertempur, maka mau tidak mau, mereka pasti akan tergerak dengan sendirinya. Pada saat itulah Kuda Sempana dan kawan-kawannya harus bertindak. Setelah mereka berhasil membawa Ken Dedes, maka rombongan prajurit itu harus segera ditinggalkan. Apabila mungkin jangan ada korban satu pun yang jatuh. Dengan demikian, maka peristiwa itu pasti akan menggemparkan Tumapel. Peristiwa itu bagi Empu Sada dan murid-muridnya akan merupakan suatu permainan yang sangat menggembirakan. Sebab yang akan terjadi kemudian adalah, Witantra, Mahendra, Kebo Ijo dan kawan-kawannya pasti dinyatakan bersalah, dan kemungkinan yang terbesar adalah, dihukum gantung di alun-alun. Hukuman itu pasti lebih baik daripada apabila Witantra dan kawan-kawannya mati di dalam pertempuran ini. Sebab dengan demikian, maka Witantra masih akan mendapat kehormatan, sebagai seorang yang gugur dalam melakukan tugasnya.

Tetapi Witantra yang cukup berpengalaman itu dapat menebak maksud Empu Sada, sehingga dengan demikian, ia berusaha sekuat-kuatnya, untuk menghindari tekanan Empu Sada itu. Apabila mungkin Witantra berusaha untuk mengelak dan meloncat ke arah yang lain. Tidak ke arah rombongannya.

Namun Empu Sada ternyata benar-benar sakti. Dengan berbagai macam unsur gerak dan serangan-serangan, tanpa dikehendakinya, bahkan tanpa disadarinya, Witantra semakin lama menjadi semakin dekat dengan perkemahan Ken Dedes. Bahkan Witantra itu pun terkejut bukan buatan, ketika di ujung pepohonan, sekali-sekali ia melihat sinar api yang menyentuh dedaunan. Dengan demikian, Witantra segera mengerti bahwa ia telah berada semakin dekat dengan rombongannya.

Dengan marahnya Witantra menggeram. Tetapi yang terdengar adalah suara Empu Sada, “Nah, aku sekarang mempunyai rencana yang lain. Aku tidak memancingmu menjauhi rombonganmu, supaya kawan-kawanmu mencarimu, tetapi justru aku mendekatkan kalian kepada rombongan kalian. Apabila ada diantara mereka yang mendengar suara pertempuran pasti mereka akan menjadi ribut dan mau tidak mau mereka pasti akan mencoba membantumu.

Witantra tidak menjawab. Namun ia masih berusaha menjauhi rombongannya sebelum seorang pun dari mereka mengetahui. Tetapi alangkah marahnya perwira prajurit itu. Ternyata Empu Sada benar-benar licik. Dengan lantangnya ia berkata, “Ha, Witantra, apakah kau masih mengharap untuk dapat hidup?”

Suara Empu Sada itu menggema seakan-akan memenuhi seluruh hutan. Sehingga dengan demikian, maka suara itu telah mengejutkan para prajurit yang berada di perkemahan. beberapa diantara mereka segera berloncatan bangun dengan menggenggam senjata mereka, sedang beberapa orang yang lain, masih mencoba mendengarkan darimana arah suara itu.

Sidatta yang telah mendengar pesan Witantra lewat Kebo Ijo, terkejut pula mendengar suara itu. Suara itu sama sekali bukan suara Witantra. Karena itu, maka ia pun berdiri pula sambil memperhatikan perkembangan keadaan dengan saksama. Demikian pula perwira yang seorang lagi. Segera ia pun berdiri pula, dan tanpa sesadarnya tangannya telah hinggap di hulu-hulu pedangnya.

Ken Dedes mendengar pula suara Empu Sada itu. Terasa dadanya bergetar. Namun kemudian dilihatnya para pengawalnya yang telah bersiap menghadapi kemungkinan. Karena itu hatinya menjadi agak tenteram.

Witantra yang tahu benar maksud Empu Sada mengumpat di dalam hatinya. Apabila pancingan itu berhasil maka akan lemahlah pengawalan atas Ken Dedes, sehingga akan memberi kesempatan kepada Kuda Sempana untuk menculiknya.

Dalam pada itu sekali lagi terdengar Empu Sada berkata sambil tertawa, “Jangan lari Witantra. Disinilah gelanggang untuk mengadu tenaga. Bukan di situ.”

“Setan,” Witantra tidak dapat lagi menahan hati. Untuk mencegah anak buahnya berlarian ke pertempuran itu segera ia pun berteriak, “Tetap di tempatmu Sidatta. Aku hanya menangkap kelinci tua. Aku tidak perlu orang-orang lain.”

Empu Sada tertawa terkekeh-kekeh. Namun tongkatnya masih saja berputar, bahkan melanda ketiga saudara seperguruan itu seperti badai. Tekanan Empu Sada benar-benar terasa sangat ketatnya, sehingga pertempuran itu pun setapak demi setapak beringsut ke tempat yang tidak dikehendaki oleh Witantra.

Betapa marahnya hati perwira tertinggi pasukan pengawal istana itu. Tetapi betapa ia telah mencurahkan segenap kemampuannya bersama kedua adik seperguruannya, namun ia sama sekali tidak berhasil mendorong Empu Sada masuk ke dalam hutan yang lebih dalam. Bahkan Empu Sada itu pun menjadi semakin cepat bergerak, seperti sebuah bayangan yang meloncat-loncat mengitari ketiga bersaudara itu.

Tetapi Witantra dan kedua saudaranya tidak berputus asa. Mereka masih tetap dalam perlawanan yang rapi. Betapa saktinya Empu Sada, tetapi melawan ketiga anak-anak muda itu, diperlukan pula hampir segenap kemampuannya.

Para prajurit di perkemahan menjadi gelisah. Apalagi ketika mereka menunggu beberapa saat, Witantra masih belum muncul diantara mereka. Berbagai pertimbangan melingkar di dalam kepala Sidatta.

Apalagi ketika terdengar kembali suara tertawa Empu Sada semakin dekat. “Lihat Witantra. Betapa buruk perangaimu. Tak, seorang pun diantara anak buahmu, yang bukan seperguruan denganmu, bersedia membantumu. Betapa luka hampir memenuhi tubuhmu, namun mereka akan bergembira, apabila kau mati di hutan ini. Sidatta akan segera mendapat pengangkatan, menggantikan kedudukanmu, sedang yang lain pun akan desak mendesak setingkat keatas.

“Jangan berputus asa,” tiba-tiba terdengar Witantra memotong, “Bertempur lah dengan senjata, jangan dengan kata. Mungkin kau kecewa setelah kau melihat cara Witantra mempertahankan dirinya. Kau semula pasti menyangka bahwa pasukan pengawal Akuwu adalah semacam pasukan kehormatan, yang hanya mampu memanggul panji-panji dan tunggul. Tetapi sekarang kau menghadapi salah seorang dari padanya dalam suatu perkelahian.”

Empu Sada menggeram. Kemarahannya semakin lama semakin menyala membakar ubun-ubunnya, “Kau jangan gila Witantra,” katanya, “kalau aku menjadi benar-benar marah, maka kau benar-benar akan aku bunuh bertiga.”

Kini Witantra lah yang tertawa, “Kalau kau mampu membunuh kami, maka pasti sudah kau lakukan.”

Tetapi suara Witantra itu terputus, ketika tongkat Empu Sada menyambar keningnya. Untunglah bahwa ia masih sempat menghindar meskipun tergesa-gesa. Dalam keadaan itu, hampir-hampir saja ia kehilangan keseimbangannya.

Empu Sada yang sudah menjadi semakin marah, melihat kesempatan terbuka baginya. Kalau ia ingin membunuh Witantra, itulah saat yang sebaik-baiknya. Ia dapat menusuk dada Witantra dengan ujung tongkatnya yang meskipun tidak terlampau runcing. Namun kekuatannya cukup untuk melubangi dada panglima pasukan pengawal itu. Tetapi sesaat Empu Sada ragu-ragu. Ia ingin Witantra mati di tiang gantungan sebagai seorang pengkhianat yang tidak mampu melakukan tugasnya dengan baik, tidak di medan peperangan. Namun kalau kesempatan ini tidak dipergunakan, apakah akan datang kesempatan yang sama, dan apakah benar Witantra dianggap bersalah nanti oleh Akuwu.

Tiba-tiba Empu Sada menggeram. Ternyata kemarahannya telah menggelapkan perhitungannya. Witantra, apakah perlu akan dibunuhnya saat itu juga.

Tetapi waktu yang sekejap itu ternyata telah menyelamatkan Witantra. Ketika Empu Sada sedang diragukan oleh perasaannya sendiri. Witantra sudah sempat memperbaiki keadaannya. Apalagi demikian Empu Sada mengambil sikap, Mahendra dan Kebo Ijo datang bersama-sama dalam sebuah serangan berpasangan yang berbahaya. Sehingga Empu Sada terpaksa meloncat menghindar. Namun demikian kakinya menjejak tanah, demikian ia melenting sambil mengayunkan tongkatnya. Sekali lagi pelipis Witantra hampir disambar oleh tongkat itu. Sekali lagi Witantra meloncat surut beberapa langkah untuk menghindari tongkat itu. Namun Empu Sada pun kemudian menyerangnya seperti banjir bandang.

Witantra menjadi kesulitan pula menghindari serangan-serangan itu. Serangan yang semakin cepat dan berbahaya. Tetapi kembali Mahendra dan Kebo Ijo mencoba memotong setiap serangan Empu Sada dengan serangan-serangan yang cukup berbahaya pula. Kedua anak muda itu bertempur seperti sepasang alap-alap di udara. Sedang Witantra itu pun kemudian memimpin kembali perlawanan atas Empu Sada sebagai seekor rajawali.

Namun yang tidak dikehendaki oleh Witantra adalah, mereka menjadi semakin dekat dengan perkemahannya. ketika sekali lagi ia terdorong surut bersama Mahendra, maka mereka ternyata telah meloncat ke dalam daerah cahaya perapian dari kawan-kawan mereka.

Para prajurit Tumapel terkejut melihat perkelahian itu. Apalagi mereka melihat Witantra dan Mahendra berada dalam bahaya. Namun mereka segera melihat, Kebo Ijo melontarkan diri seperti tatit menyambar di langit, menusuk langsung lambung Empu Sada. Meskipun serangan Kebo Ijo itu dapat dielakkan, namun saat yang pendek itu telah memberi kesempatan kepada Witantra dan Mahendra untuk memperbaiki kedudukannya.

Dalam pada itu terdengar Empu Sada tertawa kembali dengan lantangnya ia berkata, “He para prajurit Tumapel yang perkasa. Inilah pemimpin yang sedang menangkap kelinci tua itu. Lihatlah, apakah ia mampu melawan Empu Sada yang sudah tua ini. Tidak hanya seorang diri, tetapi bertiga dengan kedua saudara seperguruannya.”

Semua mata melihat perkelahian itu. Semua hati menjadi berdebar-debar pula karenanya.

Ken Dedes pun kemudian dengan serta merta berdiri. dengan penuh kekhawatiran ia melihat perkelahian yang kemudian berkobar kembali dengan sengitnya.

Sidatta masih berdiri terpaku di tempatnya. Sesaat ia dicengkam oleh keragu-raguan. Ingin ia meloncat membantu Witantra melawan Empu Sada, Tetapi segera teringat olehnya, Ken Dedes yang berdiri gemetar. Gadis itu harus mendapat pengawalan yang baik menurut pesan Witantra.

Namun sekian lama ia menjadi semakin cemas melihat perkelahian yang berlangsung. Ia membiarkan beberapa orang prajurit mencoba membantu, Witantra. Namun Witantra sendiri berkata, “Jangan mempersulit pekerjaan kami. Minggir, jangan dekati orang tua gila ini.”

Empu Sada tertawa, katanya, “Mari, marilah beramai-ramai menangkap kelinci.

Witantra menggeram, namun Empu Sada mendesaknya terus.

Akhirnya Sidatta tidak tahan lagi melihat pertempuran itu. Dengan lantang ia berkata kepada perwira yang seorang lagi, “Bawa beberapa orang prajurit pilihan kemari. Pagari tuan puteri dengan pedang dan tombak. Aku akan ikut serta dalam perkelahian itu.”

Perwira yang satu itu pun segera mengatur beberapa orang prajurit, berdiri rapat melingkari Ken Dedes dengan senjata telanjang di tangannya. Mereka telah bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Beberapa orang prajurit yang lain dengan ragu-ragu berlari-lari kian kemari, mencoba membantu Witantra menghadapi Empu Sada. Tetapi apa yang mereka lakukan, hampir tak berarti sama sekali.

Setelah Sidatta melihat persiapan yang dapat dipercaya dalam pengawalan Ken Dedes, barulah ia meloncat mendekati Empu Sada. Dengan garangnya segera ia menerjunkan diri ke dalam pertempuran itu. Dengan tenaganya yang masih segar, Sidatta berusaha untuk berjuang sekuat-kuat tenaganya.

Witantra yang juga melihat cara Sidatta memagari Ken Dedes tidak menolak bantuan Sidatta itu. Bagaimanapun juga ia harus mengakui, betapa mereka bertiga mengalami banyak kesulitan untuk melawan Empu Sada.

Dengan kehadiran Sidatta, maka tekanan-tekanan Empu Sada pun menjadi berkurang. Meskipun Sidatta bukan saudara seperguruan Witantra, namun karena ketrampilannya, segera ia berhasil menyesuaikan dirinya dalam pertempuran bersama itu.

Meskipun beberapa, orang prajurit yang mencoba membantu mereka melawan Empu Sada hampir tak berarti, namun ternyata mereka telah mempengaruhi gerak orang tua itu, sehingga dengan geramnya ia berkata, “Hem, apakah cucurut-cucurut ini juga ingin melawan Empu Sada. Pergilah sebelum ada diantara kalian yang mati terinjak-injak kaki.

Tetapi para prajurit itu tidak meninggalkan perkelahian. mereka tetap berlari berputaran, mencari kesempatan. Namun kesempatan itu seakan-akan tidak pernah datang kepada mereka. Bahkan ada diantara mereka yang saling berbenturan dan saling berdesak-desakkan. Apabila salah seorang dari mereka mencoba menghindari ayunan tongkat Empu Sada maka tanpa disengaja ia telah mendorong kawannya sehingga mereka berdua jatuh berguling-guling.

Sekali Empu Sada melihat juga seluruh daerah perkemahan itu. Dilihatnya beberapa orang prajurit siap rapat mengelilingi Ken Dedes hanya di bawah pimpinan seorang perwira. Sedang yang lain, yang tidak ikut dalam perkelahian ini, mencoba menjaga setiap sudut perkemahan itu.

Tiba-tiba Empu Sada itu tersenyum. Perwira yang menjaga Ken Dedes adalah perwira bawahan Sidatta, sehingga setinggi-tinggi ilmunya, masih belum melampaui Kuda Sempana atau murid-muridnya yang lain. Karena itu Empu Sada itu menganggap bahwa waktunya telah cukup masak untuk memanggil Kuda Sempana dan kawan-kawannya, untuk bertindak. Mereka akan datang dari jurusan yang berbeda. Beberapa orang murid dari murid-muridnya, diantaranya murid-murid orang yang menamakan Bahu Reksa Kali Elo, dan murid-murid dari seorang saudara seperguruannya yang lain, Sungsang.

Murid-murid itu tidak perlu bertempur mati-matian untuk membinasakan prajurit-prajurit Tumapel itu. Mereka hanya berkewajiban untuk memancing perhatian para prajurit. Apabila mereka telah terlibat dalam satu pertempuran, maka adalah kuwajiban Kuda Sempana, Cundaka dan Sungsang untuk mengambil Ken Dedes.

“Semuanya akan berjalan dengan lancar,” berkata Empu Sada di dalam hatinya, “perhitunganku tidak terlampau jauh dari keadaan kini. Tiga orang muridku telah cukup. Aku tidak perlu memanggil mereka yang bertempat tinggal terlampau jauh. Dan murid-muridku itu telah membawa murid-muridnya cukup banyak untuk keperluan ini. Empu Sada itu tersenyum. Kuda Sempana akan mendapatkan Ken Dedes, sedang muridnya yang lain akan mendapatkan perhiasan gadis itu yang tidak ternilai harganya. Perhiasan yang dikenakan oleh seorang bakal permaisuri.

Dalam pada itu terdengar Empu Sada itu berteriak nyaring melontarkan aba-aba untuk segera melakukan rencana mereka.

Beberapa orang terkejut mendengar teriakan itu, tetapi setiap orang segera menyadari, bahwa bahaya yang lebih besar lagi segera akan menimpa rombongan itu.

Perwira yang satu, yang bertugas mengamankan Ken Dedes menangkap pula isyarat itu sebagai suatu perintah kepadanya, untuk menyiapkan diri menghadapi setiap kemungkinan. karena itu, maka segera ia meloncat semakin dekat di samping tandu Ken Dedes sambil berbisik, “Tuan puteri, jangan cemas. Namun tuan puteri pun sebaiknya bersiap-siap di samping tandu. Mungkin tuan puteri harus segera naik dan melakukan perjalanan yang tergesa-gesa dimalam hari ini.”

Wajah Ken Dedes pun segera menjadi pucat. Peringatan itu baginya justru suatu berita, bahwa bahaya yang sebenarnya adalah cukup besar. Namun gadis itu tidak menjawab. Setapak ia beringsut mendekati tandunya, sedang para pengusung pun segera bersiap pula di sampingnya. Setiap saat para pengusung itu harus memanggul tandu Ken Dedes, mungkin dengan berlari-lari, bahkan mungkin mereka harus memegangi tandu dengan sebelah tangan, sedang tangan yang lain harus menggenggam senjata mereka.

Apa yang mereka tunggu-tunggu itu pun segera datang. Dari dalam semak-semak di sekitar mereka, segera berloncatan beberapa orang dengan pedang di tangan. Mereka berteriak-teriak dengan riuhnya seperti kanak-kanak sedang mengejar tupai.

Sidatta yang sedang bertempur bersama-sama dengan Witantra dan kedua saudara seperguruannya menjadi bimbang. Apakah ia harus meninggalkan perkelahian itu, atau ia harus tetap berkelahi bersama dengan Witantra. kedua-duanya baginya sama beratnya.

Tetapi segera ia mengambil keputusan di dalam hatinya, “Aku akan melihat apa yang terjadi. Apabila prajurit Tumapel tidak berdaya menghadapi orang-orang itu, maka aku harus segera membantu mereka.

Dalam pada itu, para pengawal segera berloncatan pula menyongsong penyerangnya. Beberapa orang benar-benar telah bersiap di sudut-sudut perkemahan, sedang yang lain masih tetap dalam lingkaran di sekitar Ken Dedes bersama seorang perwiranya.

Wajah Ken Dedes menjadi bertambah pucat melihat orang-orang yang ganas dan kasar itu menyerang para pengawalnya sambil berteriak mengerikan. Dengan pedang yang terayun-ayun di atas kepalanya, mereka benar-benar telah menggemparkan hati para prajurit Tumapel. Untunglah bahwa sebagian dari para prajurit itu pun telah cukup berpengalaman, sehingga sesaat kemudian mereka telah menemukan keseimbangan mereka kembali. Dengan demikian maka mereka kemudian dapat bertempur dalam sikap yang wajar.

Segera terjadi hiruk pikuk di perkemahan itu. Hampir di segala sudut terjadi perkelahian-perkelahian yang ribut. Orang yang menyerang perkemahan itu benar bertempur menurut kehendak, mereka sendiri. Dimana pun dan dalam sikap yang bagaimana pun juga.

Tetapi ketika perkelahian telah berlangsung beberapa lama segera Witantra melihat, bahwa orang-orang itu sengaja memancing perkelahian menjauhi gadis bakal permaisuri Akuwu Tumapel itu.

Witantra menjadi semakin cemas menghadapi gerombolan yang tampaknya benar-benar liar. Tetapi Witantra menyadari, bahwa sebenarnya orang-orang yang menyerang rombongannya bukanlah orang-orang yang terlampau liar, namun sengaja mereka membuat kesan, bahwa mereka adalah orang-orang yang berbuat sekehendak hati mereka tanpa ada orang lain yang dapat mencegahnya. Liar, kasar dan ganas.

Ternyata bukan saja Witantra yang menjadi cemas, tetapi juga Mahendra dan Sidatta, bahkan Kebo Ijo yang hampir tidak menaruh perhatian apa pun terhadap Ken Dedes, bahkan kadang-kadang ia menghina di dalam hatinya, namun kali ini hatinya dicengkam oleh kecemasan juga. Cemas bahwa Akuwu pasti akan menimpakan kesalahan kepada Witantra, dan cemas bahwa nilainya sebagai seorang laki-laki dan prajurit, apalagi dalam satu rombongan, benar-benar dibinasakan oleh sebuah gerombolan dari orang-orang yang tidak mempunyai kedudukan dan nama.

Perwira yang masih tetap berdiri di samping Ken Dedes menyadari pula atas apa yang sedang terjadi. Karena itu, ia sama sekali tidak bergeser dari tempatnya. Di tangan kanannya tergenggam sebuah pedang yang mengkilap, sedang di tangan kirinya sebuah pisau belati panjang. Sesuatu pasangan senjata yang selama ini diandalkannya di medan-medan perang.

Beberapa orang yang berdiri memagari Ken Dedes pun diperintahkannya untuk tetap berada di tempatnya. Selama keadaan mereka yang bertempur tidak terlampau jelek, maka setiap orang yang berjaga-jaga di sekitar Ken Dedes masih harus tetap di tempatnya.

Dalam pada itu pertempuran di sekitar tempat itu semakin lama menjadi semakin ribut. Orang-orang Empu Sada bertempur tanpa mengingat nilai-nilai yang biasanya menjadi pegangan bagi setiap orang yang merasa dirinya cukup jantan. Mereka bertempur sambil berlari-lari, berteriak-teriak dan kadang-kadang mempergunakan senjata-senjata yang kotor. Batu dan pasir.

Witantra mengumpat di dalam hatinya. Tetapi ia sama sekali tidak dapat melepaskan Empu Sada. Orang itu bertempur semakin lama justru menjadi semakin dahsyat, meskipun kini ia harus berhadapan melawan empat orang terbaik dari rombongan pengawal Ken Dedes.

Bahkan orang tua itu masih sempat tertawa dan berkata, “Nah. Apakah yang dapat kalian lakukan untuk melawan orang-orangku?”

“Orang-orang seliar Serigala,” bentak Witantra, “mereka tidak menghormati sama sekali nilai-nilai perseorangan.”

“Apa pedulimu,” sahut Empu Sada, “tetapi sadarilah, bahwa apabila kau tidak memerintahkan menghentikan perlawanan, maka semua orang-orangmu akan tertumpas habis.”

“Persetan,” teriak Witantra.

Empu Sada itu pun masih saja tertawa. Tiba-tiba sekali lagi ia berteriak, “Jangan terlampau lama bersembunyi. Nah, kini sudah waktunya bagi kalian untuk memetik bunga itu. Di sampingnya hanya ada seorang yang perlu kalian perhatikan, yang lain adalah semudah mematahkan ranting-ranting kering.

Kata-kata Empu Sada itu terdengar benar-benar seperti petir menyambar di atas kepala Witantra, Mahendra, Kebo Ijo, Sidatta dan para prajurit Tumapel yang lain. Dengan demikian, segera mereka menyadari bahwa lawan mereka segera akan bertambah. Dan yang akan datang pasti bukan sekedar gerombolan liar yang hanya mampu berlari-lari dan berteriak-teriak, tetapi pasti orang-orang terpilih dari antara orang-orang Empu Sada itu.

Perwira yang berdiri di samping Ken Dedes pun menyadarinya, sehingga karena itu segera pula keluar perintahnya, “Hadapi setiap kemungkinan tanpa ada kesempatan meninggalkan tempat ini bagi kalian dan kami semuanya.”

Perintah itu tegas dan jelas bagi setiap prajurit Tumapel. Perintah itu sama bunyinya dengan, “Bertempur sampai mati.”

Setiap prajurit Tumapel mengatupkan mulutnya rapat-rapat, namun gigi mereka bergemeretak. Mereka menyadari sepenuhnya apa yang harus mereka lakukan demi tugas mereka, Ken Dedes bagi mereka hampir sama nilainya dengan Akuwu sendiri, sebab gadis itu kini dalam sikap kebesaran seorang permaisuri.

Orang-orang Empu Sada yang lain, yang mendengar perintah itu, segera bersorak semakin riuh. Mereka berteriak-teriak seperti serigala kelaparan. Namun dalam pada itu, serangan-serangan mereka pun meningkat semakin garang pula.

Dari dalam semak-semak segera muncul beberapa orang berloncatan menerjunkan diri ke dalam pertempuran itu. Seperti orang-orang yang terdahulu, segera mereka pun berteriak-teriak dan memutar senjata-senjata mereka. Namun belum seorang pun dari mereka yang menyerang para prajurit Tumapel yang berdiri melingkari Ken Dedes.”

Witantra dan para prajurit Tumapel yang melihat datangnya orang-orang baru itu menjadi heran. Tidak ada tanda-tanda bahwa mereka adalah orang-orang yang terpilih. Gerak, tandang serta cara mereka bertempur tak ubahnya dengan cara-cara yang dipergunakan oleh kawan-kawan mereka sebelumnya. Namun karena itu, maka Witantra dan para prajurit yang lain itu masih harus menunggu, bahwa akan datang saatnya, lawan-lawan yang lebih berat akan berdatangan.

Tetapi pertempuran itu sudah berjalan beberapa saat. Sedang keadaan medan masih belum berubah. Empu Sada masih harus menghadapi keempat lawannya yang tidak dapat dianggap seperti sedang bermain kucing-kucingan, sedang orang-orang lain masih bertempur dengan riuhnya. Namun prajurit yang bertugas khusus di sekitar Ken Dedes beserta pimpinannya, sama sekali belum tersentuh oleh lawan. Mereka masih tetap berdiri kaku tegang. Bahkan mereka hampir tidak tahan lagi menunggu terlampau lama, siapakah yang harus menjadi lawan-lawan mereka.

Dalam kegelisahan Witantra sempat memperhatikan sikap Empu Sada yang gelisah pula. Sekali-sekali orang tua itu memerlukan waktu untuk menjauhi lawannya, dan menebarkan matanya berkeliling. Kesimpulan Witantra adalah, Empu Sada masih menunggu orang-orangnya yang lain.

Sebenarnyalah bahwa Empu Sada menjadi gelisah. Seharusnya orang-orangnya yang terpenting dalam rencana ini, sudah mulai berbuat sesuatu. Mungkin mereka segera akan berhasil.

Tetapi orang yang ditunggunya itu sama sekali belum menampakkan dirinya.

“Apakah perubahan kecil ini telah mempengaruhi mereka pertanyaan itu menyentuh dinding hati Empu. Sada. Tetapi kemudian dijawabnya sendiri, “perubahan itu tidak terlalu sulit. Orang-orang lain, bahkan orang-orang yang lebih bodoh dari mereka, dapat mengerti keadaan yang tidak tepat mengerti keadaan yang tidak tepat seperti rencana semula ini, dan mereka dapat segera menyesuaikan dirinya pula. Orang-orang ini dapat mengerti, bahwa aku tidak jadi membawa Witantra dan orang-orang penting lainnya meninggalkan perkemahan, justru aku membawa mereka masuk kedalamnya namun mengikat, mereka dalam suatu pertempuran. Mustahil, mustahil kalau perubahan kecil ini menjadikan mereka kebingungan.

[divider line_type=”Full Width Line” custom_height=””]

Source : www.agusharis.net

~ Article view : [222]