Pelangi di Langit Singasari [ 18 ]

346

oleh S.H. Mintardja

[ Seri 18 ]

 

Mahisa Agni menundukkan wajahnya. Terasa dadanya berdesir. Ia lebih senang mendengar bahwa Ken Dedes itu mengumpat-umpat dan mengutuknya. Ia akan menghadapi dengan dada tengadah seandainya Ken Dedes itu mengirimkan beberapa orang untuk menangkap dan menghukumnya. Tetapi Ken Dedes itu menangis.

Mahendra melihat wajah Mahisa Agni tertunduk. Sekilas ia memandang wajah Sidatta yang tegang. Di dalam hati perwira itu berkata, “Anak muda yang keras hati. Tetapi hatinya adalah hati malam. Hatinya mudah sekali menjadi luluh karena haru, bukan karena cemas dan takut.

Tetapi kini Mahendra lah yang menjadi cemas. Ia telah mengatakan sikap Ken Dedes yang belum pasti benar terjadi. Kalau kemudian kedatangan Mahisa Agni disambut dengan wajah yang merah tegang karena marah, kalau kedatangan Mahisa Agni kemudian disambut oleh sikap yang sama sekali berlawanan dengan apa yang dikatakan, maka Mahisa Agni pasti akan merasa ditipunya.

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia harus dapat mengajak Mahisa Agni ke Panawijen.

Kini sejenak mereka saling berdiam diri. Mahisa Agni sekali-sekali terdengar menarik nafas dalam-dalam. Mahendra masih saja menghadapi sisa-sisa makanannya dan sekali-sekali tangannya masih menyentuh sambal kacang. Tetapi debar di hatinya terasa menjadi semakin cepat. Dalam pada itu Sidatta merenungi perapian tidak jauh dari padanya. Apinya menjilat-jilat seperti sedang menari-nari. Dikejauhan dilihatnya beberapa anak muda terbaring diatas alas rerumputan kering. Dingin padang mulai merayap tubuhnya.

Mahisa Agni yang tertunduk itu masih juga tertunduk. Kalau benar kata Mahendra, maka anak itu akan mengalami siksaan batin meskipun ia akan menjadi seorang permaisuri. Dalam pada itu tiba-tiba diingatnya kata-kata ibunya. Kata-kata emban pemomong Ken Dedes yang sudah semakin tua. Sebenarnya hatinya sedang dibakar oleh sebuah perasaan yang mementingkan dirinya sendiri. Bukan sekedar perasaannya tersinggung karena keputusan Ken Dedes diluar persetujuannya. Tetapi jauh lebih dalam dari pada itu.

Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Seolah-olah udara padang rumput itu menjadi sedemikian tipisnya.

Mahendra memperhatikan perubahan-bahan yang terjadi pada Mahisa Agni dengan saksama. Tetapi ia masih belum mendapat kesimpulan apakah Mahisa Agni akan bersedia datang memenuhi undangan adiknya.

Sejenak mereka masih berdiam diri. Sidatta berusaha untuk menahan diri, dan memberi kesempatan kepada Mahendra untuk membujuk Mahisa Agni.

Dalam pada itu Mahendra pun kemudian berkata, “Bagaimana Agni. Apakah kau besok pagi-pagi benar bersedia datang ke Panawijen?”

Mahendra menjadi kecewa ketika Mahisa Agni menggeleng, “Tidak Mahendra. Aku tidak sempat meninggalkan pekerjaan ini. Aku harus selalu berada diantara kawan-kawanku yang sedang membangun bendungan ini.”

Tanpa dikehendakinya sendiri Mahendra menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak tahu lagi, apa yang harus dikatakan untuk melunakkan hati Mahisa Agni.

Namun dalam pada itu terdengar Sidatta berkata, “Sebaiknya kau datang adi Mahisa Agni.”

Mahisa Agni memandangi wajah perwira itu. Wajahnya tenang dan dalam. Perwira itu adalah seorang perwira yang bermata cekung. Bibirnya banyak membayangkan senyum, tetapi wajah itu berkesan sebuah tekanan yang pernah membebani hidupnya. Tetapi Mahisa Agni tidak ingin menilai perwira itu, dan perwira itu pun tidak ingin berceritera tentang dirinya, tentang penderitaan hidup yang pernah dialaminya, sehingga meskipun ia masih muda, tetapi perasaannya telah cukup mengendap.

Bahkan Mahisa Agni menjadi bertanya-tanya di dalam hati. “Apakah perwira ini yang sebenarnya bertugas untuk menangkapnya?”

Mahendra pun menjadi berdebar-debar pula. Ia tidak mengharapkan bahwa karena kejengkelan, kekecewaan dan ketidak sabaran Sidatta, maka perwira itu akan dapat menimbulkan salah faham.

Tetapi Sidatta itu berkata sekali lagi, “Tuan Puteri sangat mengharap kedatanganmu.”

Dada Mahisa Agni berdesir. Sebutan untuk Ken Dedes itu benar-benar telah menggelitik telinganya. Tetapi ia tidak segera menjawab. keragu-raguan dan kebimbangan yang sangat telah mengganggu perasaannya. Ada keinginannya untuk memenuhi permintaan Ken Dedes oleh dorongan berbagai perasaan. Ingatan tentang ibunya, tentang pergaulan masa kanak-kanaknya dan tentang berbagai macam kenangan masa silam. Tetapi apabila tiba-tiba ia terantuk pada dirinya sendiri, hatinya meronta, “Persetan dengan anak itu.”

“Maaf kakang Sidatta,” sahut Mahisa Agni, “aku tidak dapat datang.”

Sidatta mengangguk-anggukkan kepalanya. Mahendra memandanginya dengan cemas. Sudah tentu ia tidak dapat melarang Sidatta mengucapkan perasaannya. Dengan demikian ia akan menyinggung perasaan perwira.

Tetapi yang diucapkan oleh Sidatta kemudian adalah, “Sayang sekali,” Kemudian kepada Mahendra Sidatta itu berkata, “Adi Mahendra, kalau adi Mahisa Agni tidak bersedia menemui adiknya, tuan puteri Ken Dedes, maka adalah salah kami semua para pengawal.”

Sekarang Mahendra lah yang tidak tahu maksud Sidatta mengucapkan kata-kata itu Mereka memang tidak mengadakan persetujuan apa yang harus mereka katakan, sehingga mereka telah membuat cara masing-masing untuk memancing kesediaan Mahisa Agni. Tetapi Mahendra menyadari, agaknya Sidatta pun sedang mencoba melunakkan hati Mahisa Agni.

Dengan ragu-ragu Mahendra menjawab, “Ya kakang, kamilah yang bersalah.”

Mahendra sama sekali tidak mengerti, kesalahan apa yang telah dilakukannya, namun ia merasa wajib untuk mengiakan, supaya cara Sidatta tidak terganggu.

Tetapi Sidatta benar-benar menjadi kecewa. Ia ingin Mahendra bertanya, kenapa kesalahan itu diletakkan kepadanya dan kawan-kawannya supaya ia mendapat jalan untuk menjelaskan. Sebuah persoalan yang telah dikarangnya. Karena itu dengan menggigit bibirnya Sidatta menarik nafas dalam-dalam.

Melihat wajah Sidatta yang berkerut-kerut Mahendra menjadi heran. Kemudian timbullah kekhawatirannya, bahwa ia telah membuat tanggapan yang salah.

Tetapi tidak dengan sengaja, Mahisa Agni itu bertanya, “Kenapa kalian yang bersalah?”

Sekali lagi Sidatta menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Semula tuan puteri telah menyangka bahwa adi Mahisa Agni berada dipadang ini. Tuan puteri telah memerintahkan kepada kami untuk langsung datang kemari karena betapa rindunya tuan puteri kepada satu-satunya kadang yang masih ada. Tetapi kamilah yang menasehatkannya. Supaya tuan puteri datang lebih dahulu ke Panawijen. Mungkin adi masih berada di padepokan, dan kemungkinan yang lain adalah, tuan puteri akan tidak tahan panas matahari yang terik. Tetapi ketika kami sampai di padepokan adi, ternyata padepokan itu kosong. Yang ada hanyalah para cantrik dan endang. Betapa kecewa hati tuan puteri. Yang dilakukan pertama-tama adalah menangis. Memanggil kami dan betapa tuan puteri marah kepada kami. Sebelum kami sempat duduk, aku dan adi Mahendra harus berangkat lagi menebus kesalahan kami. Tetapi kalau adi Mahisa Agni tidak bersedia datang, makan apabila kesalahan ini didengar oleh Akuwu Tunggul Ametung, maka kedudukan kami akan terancam. Lebih dari pada itu, tuan puteri akan menjadi sangat bersedih. Adalah pasti tuan puteri akan menjadi berangkat kemari betapapun alam menghalang-halanginya dengan terik matahari, haus dan mungkin gangguan-gangguan yang lain.”

Kata-kata itu serasa menusuk-nusuk ulu hati Mahisa Agni. Kalimat demi kalimat menghunjam ke dalam dadanya seperti pisau yang senyari demi senyari menembus semakin dalam. Tiba-tiba dalam kepedihan itu Mahisa Agni memotong dengan kasarnya, “Cukup, cukup.”

Sidatta terdiam mendengar Mahisa Agni tiba-tiba membentak-bentak. Tetapi perwira itu tidak menunjukkan sikap apapun. Ia masih tetap duduk dengan tenangnya sambil memandangi nyala api yang sedang menjilat udara.

Dalam pada itu, Mahendra lah yang menjadi semakin cemas. Tetapi ia menjadi agak tenang ketika ia melihat Sidatta tetap dalam sikapnya.

Sidatta yang meskipun umurnya tidak terlampau jauh terpaut dari umur Mahendra dan Mahisa Agni, namun karena pengalaman hidupnya yang luas, segera dapat merasakan, bahwa di dalam hati Mahisa Agni kini terjadi suatu pergolakan. Ia mengharap mudah-mudahan pergolakan di dalam dada Mahisa Agni itu akan mendorong Agni untuk dapat memenuhi maksud kedatangan mereka.

Kembali suasana menjadi kian sepi. Beberapa anak-anak muda Panawijen telah tertidur nyenyak. Namun beberapa yang lain mendengar lamat-lamat Mahisa Agni memotong kata-kata tamunya dengan keras. Terasa dada mereka berdesir. Tetapi mereka tidak melihat sikap-sikap yang menegangkan hati. Karena itu, maka kembali mereka menikmati masa-masa istirahat mereka.

Sidatta kini membiarkan Mahisa Agni berbicara dengan diri sendiri. Dilihatnya anak muda itu menundukkan kepalanya, namun sekali-sekali tangannya tampak memegangi keningnya yang menjadi berat dan pening.

Tiba-tiba kesepian suasana itu dipecahkan oleh kata-kata Agni. “Kau membingungkan aku kakang Sidatta.”

Sidatta berpura-pura terkejut. Dengan serta merta ia bertanya, “Kenapa?”

Kembali Mahisa Agni terdiam. Kembali wajahnya menunduk dan terdengar sekali-sekali ia berdesah. Namun kembali dengan tiba-tiba Mahisa Agni berkata sambil meremas tangannya, “Tidak. Aku tidak akan pergi. Biar anak itu marah, mengumpat-umpat atau mengutukku sekali. Aku tidak ada sangkut paut lagi dengan Ken Dedes. Hidupku lebih penting bagi rakyat Panawijen dari pada untuknya. Seandainya ia akan datang kemari biarlah ia datang. Biarlah ia dibakar terik matahari, biar ia kalap ditelan hantu sekalipun.”

Sidatta menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak adi. Tuan puteri tidak akan mengumpat-umpat, memaki atau mengutuk seandainya adi Mahisa Agni tidak mau datang ke Panawijen. Tetapi tuan puteri itu pasti hanya akan dapat menangis dan merasa dirinya tidak berharga di mata saudara tuanya. Ia tidak akan memerintahkan menangkap tuan, tetapi ia akan meratap dan merasa dirinya dikejar-kejar oleh dosa karena telah melukai hati kakaknya.”

“Oh,” terdengar Mahisa Agni berdesah. Kini kedua tangannya memegang kepalanya erat-erat seperti ia takut kepala itu akan terlepas dari lehernya.

Kembali Sidatta membiarkan Mahisa Agni bertengkar dengan perasaan sendiri. Ia dihadapkan pada dua kemungkinan yang saling bertentangan. Dalam keraguan itu kembali terdengar suara ibunya terngiang di telinganya. Suara yang seakan-akan telah mendorong untuk pergi ke Tumapel beberapa hari yang lampau. Kini ia dihadapkan lagi pada keadaan yang serupa. Ragu-ragu.

Malam yang kelam menjadi semakin kelam. Di kejahuan terdengar burung malam melagukan lagu yang sayu.

Tiba-tiba dalam keheningan itu Mahisa Agni berkata lemah, “Baiklah aku besok akan pergi bersama kalian.”

Mahendra terkejut mendengar kesediaan yang terasa terlampau tiba-tiba itu, sehingga ia bergeser maju sambil mengulangi kata-kata Agni, “Kau bersedia?”

Mahisa Agni mengangguk.

Sidatta tersenyum. Katanya, “Tuan puteri akan sangat bergembira karena kesediaan adi Mahisa Agni.”

Mahisa Agni tidak menyahut, tetapi kembali wajahnya terhunjam ke tanah. Sedang Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia merasa bersyukur karena kesediaan Mahisa Agni itu, tetapi ia menjadi iba pula. Bahkan ia kini menjadi cemas. Mereka berdua, Mahendra dan Sidatta ternyata telah mempergunakan kelemahan hati Mahisa Agni untuk memaksanya pergi ke Panawijen. Tetapi apabila kedatangan besok disambut oleh adiknya dengan sikap yang bertentangan dengan yang dikatakannya, maka dapat dibayangkan, betapa terpecah-belah hati anak muda itu.

Tetapi Mahendra tidak dapat berbuat lain, seperti juga Sidatta tidak mempunyai cara lain untuk memaksa Agni datang ke Panawijen, meskipun seperti Mahendra, Sidatta pun menjadi cemas.

Dalam pada itu terdengar Mahisa Agni berkata, “Kalian telah menyulitkan perasaanku. Tetapi biarlah aku sekali ini menuruti kehendak Ken Dedes. Mungkin pertemuan ini adalah pertemuan yang terakhir. Mungkin ia akan memberikan pesan atau mungkin ia akan memaki-maki aku. Mudah-mudahan perasaanku sendiri tidak menjadi tersiksa karenanya setelah aku, melihat anak itu. Anak yang tidak tahu diri.”

Sidatta dan Mahendra tidak menyahut. Terbayang di dalam kepalanya, betapa hati Mahisa Agni telah benar-benar terluka. Luka karena tersinggung perasaan. Namun dugaan itu kurang tepat seperti apa yang sesungguhnya terjadi. Tak seorang pun selain ibu Mahisa Agni sendiri yang tahu, apakah yang sebenarnya bergolak di dalam dada Mahisa Agni.

Malam yang menjadi semakin malam telah menelan perkemahan itu. Hampir semua orang telah tertidur. Mahisa Agni pun kemudian mempersilahkan kedua tamunya beristirahat diatas sehelai tikar pandan. Ketika kemudian ia kembali ke tengah-tengah perkemahan itu dilihatnya Ki Buyut Panawijen pun telah tertidur. Tetapi ia melihat pamannya duduk memeluk lututnya, masih seperti ketika ditinggalkannya seolah-olah orang itu sama sekali tidak bergerak.

“Siapakah mereka Agni?” bertanya gurunya.

“Mereka adalah orang-orang Ken Dedes yang datang untuk memanggil aku ke Panawijen besok,” sahut Mahisa Agni.

Pamannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pernah mendengar persoalan antara Agni dan anak gurunya itu. Namun belum seluruhnya. Empu Gandring belum mengetahui sedalam-dalamnya persoalan yang seolah-olah selalu menghantui perasaan kemenakannya itu. Karena itu maka dengan hati-hati ia bertanya, “Apakah kau besok akan pergi juga ke Panawijen.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Jawabnya lirih, “Ya paman. Aku telah mengatakan kepada mereka bahwa aku akan datang memenuhi panggilan itu. Apakah paman tidak setuju?”

“Kenapa aku tidak setuju, Agni? Aku mengharap segala sesuatu menjadi baik. Kalau kau tidak bertemu dengan adikmu, maka kau tidak akan mendengar keterangan yang langsung diucapkan. Mungkin dengan demikian kalau telah salah paham, akan segera dapat diakhiri. Yang tidak dapat kau mengerti dapat langsung kau tanyakan kepadanya, yang tidak kau setujui kau langsung dapat menyampaikannya. Hanya persoalan menjadi baik dengan pembicaraan yang baik. Tetapi kalau salah faham itu kau simpan saja di hatimu, maka untuk seterusnya tidak akan ditemukan pengertian diantara kalian.”

Mahisa Agni menganggukkan, kepalanya. Desisnya, “Mudah-mudahan paman. Sebenarnya aku sudah jemu mengurus soal Ken Dedes yang akan kawin dengan Tunggul Ametung. ketika mereka mulai dengan persoalan itu, mereka sama sekali tidak membawa aku dalam pembicaraan, tetapi kemudian persoalan itu selalu mengganggu aku kemana aku pergi.”

“Karena itu,” sahut pamannya, “segera kau selesaikan soal itu. Apakah keberatannya? Untuk seterusnya kau tidak akan terganggu lagi.”

Mahisa Agni terdiam. Namun debar jantungnya menjadi semakin cepat.

“Beristirahatlah Agni,” desis pamannya kemudian.

Mahisa Agni mengangguk sambil menjawab, “Ya paman.”

Perlahan-lahan anak muda itu bangkit dan berjalan ke sebuah gubug dengan atap anyaman daun kelapa. perlahan-lahan pula ia membaringkan dirinya pada sehelai tikar. Namun untuk seterusnya Mahisa Agni tidak segera dapat memejamkan matanya. Bahkan seolah-olah semua peristiwa yang pernah dialami, kembali membelit angan-angannya. Seruling, amben bambu teritisan. Kemudian tangis Ken Dedes, dan ibunya yang mencoba menghibur gadis itu, kemudian betapa dadanya serasa pecah, ketika ia mendengar Ken Dedes menyebut nama Wiraprana.

Mahisa Agni memejamkan matanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mencoba mengusir kenangan yang pahit itu. Tetapi kenangan itu selalu datang mengganggunya.

Betapa tubuhnya sehari-harian diperas oleh kerja membuat bendungan, namun Mahisa Agni sama sekali tidak dapat tidur sekejapun.

Ia terkejut ketika tanpa disengaja, ia memandang langit di Timur telah dilapisi oleh warna semburat merah.

Bahkan sejenak kemudian beberapa orang kawannya telah bangun dan satu dua diantaranya telah pergi ke sungai untuk mengambil air.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ketika kemudian ia bangkit dan pergi ke tempat Sidatta dan Mahendra beristirahat, ternyata mereka pun telah bangun pula.

Pagi itu, Mahisa Agni terpaksa meninggalkan kawan-kawan mereka. Meskipun hatinya masih saja dikejar oleh keragu-raguan, namun ia tidak membatalkan niatnya untuk pergi ke Panawijen. Setelah minta diri kepada Ki Buyut dan pamannya Empu Gandring beserta kawannya, maka Mahisa Agni pun kemudian pergi ke Panawijen bersama dengan Sidatta dan Mahendra.

Di sepanjang jalan, Mahendra menceriterakannya serba sedikit apa yang dilihat dan dialaminya di perjalanan. Diceriterakannya pula, bahwa Empu Sada telah mencoba membantu muridnya merampas Ken Dedes. Untunglah bahwa gurunya, Panji Bojong Santi, dalam saat yang tepat telah menolong mereka.

“Seandainya guru tidak ada, maka Empu Sada pun tidak akan berhasil membawa tuan puteri,” berkata Mahendra.

Mahisa Agni yang mendengarkan ceritera itu dengan getar di dadanya, menarik nafas dalam-dalam. Betapa bencinya kepada Kuda Sempana yang masih saja ingin mendapatkan gadis itu tanpa menghiraukan keadaan dan kenyataan. Tetapi Mahisa Agni tertarik pada ceritera terakhir Mahendra, sehingga ia bertanya, “Kenapa Empu Sada tidak juga akan berhasil apabila Panji Bojong Santi tidak menolong kalian.”

“Ada orang lain yang telah siap menolong pula.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya, “Siapa?” ia bertanya.

“Empu Purwa.”

“He,” Mahisa Agni terkejut, tetapi kemudian katanya, “apakah kau sedang bergurau?”

Mahendra menggeleng, “Tidak. Aku tidak sedang bergurau. Empu Purwa benar-benar hadir menurut guruku.”

Mahisa Agni memandang wajah Mahendra dengan tajamnya. Namun kemudian kembali wajahnya merenungi padang yang luas terbentang dihadapannya. Kembali angan-angannya melambung pada masa-masa yang silam dan pada masa-masa yang tak pernah dialaminya. Terasa suatu dunia yang aneh melingkar-lingkar di dalam benaknya. Dunia kenyataan yang tak dapat diingkarinya, bercampur baur dengan dunia angan-angannya yang berbenturan dengan segala macam kekecewaan dan penyesalan. Tetapi Mahisa Agni tidak menumpahkannya kepada siapapun. Dunia itu tetap menjadi rahasia bagi dirinya sendiri.

Sementara itu di Panawijen, Ken Dedes menunggu Mahendra dan Sidatta dengan gelisah. Menurut perhitungan Witantra, lewat tengah hari secepat-cepatnya Mahendra baru akan datang. Dengan atau tidak dengan Mahisa Agni. Namun Ken Dedes yang hampir tidak sabar menunggu itu pun telah memerintahkan kepada Witantra untuk mengatur para prajuritan, supaya Mahisa Agni melihat, bahwa yang hadir di Panawijen kini adalah seorang bakal permaisuri. Seorang yang mempunyai kesempatan dan kemungkinan yang gemilang di hari depan.

Hampir semalam penuh Ken Dedes mereka-reka, bagaimana ia harus bersikap nanti apabila Mahisa Agni datang. Kadang-kadang kekecewaannya kepada kakak angkatnya itu sedemikian menyembul dari permukaan pertimbangannya, sehingga kadang-kadang timbullah keinginannya untuk memperlihatkan kebesarannya. Namun kadang-kadang timbul pula perasaannya yang lain. Perasaan seorang gadis yang memerlukan perlindungan dari saudara laki-lakinya.

Tetapi bagaimana pun juga, ia harus menunjukkan kepada Mahisa Agni, bahwa ia bukan seorang gadis kecil lagi. Bukan seorang gadis yang dapat merengek seperti pada saat-saat ia masih tinggal di padepokan ini. Bukan lagi Ken Dedes yang hanya pantas melayani Mahisa Agni makan di dapur, menuangkan sayur dan menyediakan gendi untuk minum. Bukan lagi anak-anak yang berlari-lari mencari Mahisa Agni, apabila dilihatnya sesuatu yang mencemaskan hatinya, berteriak-teriak hanya karena seekor kambing yang lepas dari ikatannya masuk dan mengunyah dedaunan dalam petamanannya.

“Tidak,” katanya di dalam hati, “aku sudah dewasa. Kakang Mahisa Agni pun harus bersikap dewasa dalam persoalanku. Aku harus dapat menunjukkan kepadanya, bahwa dalam keadaan ini aku mempunyai pertimbangan yang benar. Bukan sekedar karena berputus asa. Kebesaranku akan melimpah kepada kakang Mahisa Agni dan seluruh padukuhan Panawijen.”

Ken Dedes itu pun kemudian hatinya menjadi tetap. Ia akan menyambut Mahisa Agni dalam sikap kedewasaan. Berbicara dengan sikap yang dewasa.

Karena itu, ketika kemudian matahari mencapai puncak langit, maka Ken Dedes pun telah bersedia duduk di pendapa padepokannya. Ia telah memerintahkan kepada Witantra untuk menjaga regol halamannya dan beberapa petugas lain di sudut-sudut pendapa. Witantra sendiri duduk bersila di pendapa itu bersama-sama Kebo Ijo. Namun betapa Kebo Ijo mengumpat-umpat di dalam hatinya. Katanya, “Gadis Panawijen ini terlalu banyak bertingkah. Apa pula perlunya tata cara resmi yang tidak dilakukan di istana ini. Bukankah ia belum seorang permaisuri? Hem, apalagi nanti, apabila Ken Dedes itu telah resmi menjadi seorang permaisuri. Kami setiap hari masih harus mencium telapak kakinya.”

Tetapi ketika ia melihat kakak seperguruannya duduk tepekur dengan khidmatnya, maka ia pun menundukkan kepalanya.

Ken Dedes sendiri, duduk di tengah-tengah pendapa, di depan pintu masuk ke ruang dalam. Diatas sehelai tikar yang putih.

Di belakangnya duduk beberapa endang yang berumur sebayanya. Para endang itu sendiri tidak tahu, kenapa ia harus duduk pula di belakang Ken Dedes. Tetapi ketika mereka melihat para prajurit yang dengan sikapnya yang garang berada di sekitar halaman dan di sekeliling pendapa, bahkan panji-panji dan umbul-umbul pun dipasang pula, mereka sama sekali tidak berani menanyakannya. Terasa pula, bahwa Ken Dedes kini bukan lagi Ken Dedes yang dahulu. Apalagi setelah mereka mendengar bahwa Ken Dedes adalah seorang gadis yang bakal menjadi permaisuri Akuwu Tunggul Ametung. Meskipun mereka tidak dapat mengerti hubungan peristiwa yang telah terjadi atas Ken Dedes itu, namun mereka kini melihat suatu kenyataan, bahwa Ken Dedes mendapat kesempatan yang tidak pernah diimpikan.

Kalau semula mereka meratap dan menangisi gadis yang dilarikan oleh Kuda Sempana, namun kini mereka melihat kebesaran gadis itu. Dan mereka pun menjadi ikut berbangga pula karenanya.

Ken Dedes yang duduk di tengah-tengah pendapa itu merasa, betapa ia sudah terlampau lama menunggu namun Mahendra masih belum juga datang. Dengan gelisahnya ia berkali-kali mengingsar tubuhnya. Sekali ke sisi kemudian kembali ke tempat semula. Pandangan matanya seolah-olah tersangkut di regol halaman. Dari sana nanti Mahendra akan datang bersama Mahendra dan Mahisa Agni.

“Bagaimana kalau kakang Mahisa Agni tidak mau datang?” desahnya di dalam hati.

Kekecewaan Ken Dedes menjadi semakin bertambah-tambah. Mahisa Agni benar-benar seorang yang tinggi hati. Seorang yang tidak mau melihat kepentingan orang lain. Seorang yang hanya dapat berpikir menurut kepentingan dan keinginan diri sendiri. Seorang yang diperbudak oleh ledakan-ledakan perasaan tanpa disertai dengan nalar dan pikiran. Semua peristiwa selalu ditanggapinya dengan hati yang gelap.

“Alangkah menjemukan,” geramnya di dalam hatinya, “kakang Mahisa Agni benar-benar menjemukan. Sekali-sekali ia harus mendapat pelajaran bahwa sikapnya sama sekali bukan sikap yang baik. Bukan sikap yang dapat dibanggakan. Baiklah dirinya sendiri, maupun oleh keluarga di sekitarnya. Aku kira, ayah tidak pernah mengajarinya demikian.” Kemudian perasaannya pun meledak-ledak pula. Katanya di dalam hatinya, “Ia harus datang. Ia harus datang. Ia harus bersedia pergi ke Tumapel, menemui Akuwu Tunggul Ametung. Biarlah seandainya ia tidak mau merestui perkawinanku. Tetapi ia harus belajar menghormati orang lain. Menghormati mereka yang seharusnya mendapat kehormatan yang sepantasnya. Apabila ia datang, ia harus melihat kebesaran Akuwu Tumapel. Maksud baik yang terkandung didalamnya dan kewajibannya sebagai seorang saudara tua terhadap adiknya.”

Dengan demikian sikap Ken Dedes pun menjadi semakin garang. Dipaksanya dirinya untuk dapat menunjukkan kebesaran yang diwakilinya dari istana Tumapel. Ia ingin membuat Mahisa Agni tunduk karena wibawa kebesaran Akuwu Tunggul Ametung. Baru kemudian, anak muda itu akan mudah menerima keterangannya setelah ia dicengkam oleh kewibawaan itu.

Tetapi Mahisa Agni tidak juga segera datang.

Dalam pada itu, Mahendra, Sidatta dan Mahisa Agni masih berada di perjalanan. Perjalanan yang seolah-olah menyusur sepanjang tepi neraka. Betapa panasnya udara dan betapa panasnya terik matahari. Berkali-kali mereka terpaksa berhenti. Mengambil air ke sungai dan membiarkan kuda-kuda mereka minum dan sekedar beristirahat. Sejenak kemudian barulah mereka berjalan kembali.

“Alangkah beratnya pekerjaanmu Agni, “gumam Mahendra, “membuat bendungan di bawah terik matahari yang seakan-akan membakar punggung.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Pekerjaannya memang pekerjaan yang cukup berat. Apalagi bagi penduduk Panawijen yang selama ini seolah-olah dimanjakan oleh keadaan alam di sekelilingnya. Rakyat Panawijen merasa bahwa apa pun yang diletakkan di tanah, pasti akan tumbuh dan memberikan hasil bagi mereka. Makan mereka seolah-olah begitu saja meloncat dari dalam bumi tanpa banyak kesulitan. Air yang melimpah dan jenis tanah yang subur.

Tetapi kini mereka harus bekerja keras. Tidak ada pilihan lain dari pada bekerja keras. Kerja yang mula-mula terasa betapa beratnya. Namun kemudian meresap ke dalam setiap diri rakyat Panawijen, bahwa adalah menjadi kuwajiban mereka untuk mengerjakan pekerjaan itu apabila mereka tidak ingin menjadi kelaparan. Apabila mereka tidak ingin dikutuk oleh anak cucu mereka karena mereka telah menyia-nyiakan saat-saat hidup mereka yang berharga.

Karena itu apabila bendungan itu kemudian dapat berwujud, maka bendungan itu akan menjadi kebanggaan rakyat Panawijen pada masanya. Akan menjadi kenangan bagi anak cucu, bahwa pada masanya, rakyat Panawijen telah bekerja keras membuat peninggalan yang berharga bagi mereka.

“Adalah suatu kebanggaan bagimu Agni, bahwa kau mampu menggerakkan seluruh isi padukuhan Panawijen untuk melakukan pekerjaan yang pasti akan sangat bermanfaat itu,” berkaca Mahendra pula.

“Kerja itu didorong oleh suatu kesadaran, bahwa kami bersama-sama memerlukannya. Mahendra. Akan berbeda apabila pekerjaan itu hanya akan bermanfaat bagiku saja. Apabila aku dapat menggerakkan seluruh rakyat Panawijen untuk kepentinganku sendiri, barulah aku merasa bangga. Aku akan merasa, bahwa aku mempunyai pengaruh yang kuat atas mereka. Kecuali apabila aku menipu mereka. Menipu rakyat. Seolah-olah aku membawa mereka dalam satu kerja yang besar untuk kepentingan bersama, tetapi sebenarnya kerja itu hanya untuk kepentinganku atau beberapa orang yang dekat dengan aku.”

“Untunglah bahwa yang kini terjadi tidak demikian. Tidak kedua-duanya. Tidak untuk aku sendiri karena kekuasaan atau pengaruhku atas mereka, juga bukan suatu penipuan atas rakyat itu. Mudah-mudahan aku dan para pamong padukuhan Panawijen serta Ki Buyut akan selalu mendapat tuntunan dari Yang Maha Agung, bahwa kerja ini adalah kerja kita untuk kita. Bendungan itu kami bangun untuk kepentingan kami. Bukan kami yang dikorbankan untuk bendungan itu.”

Mahendra mengangguk-anggukkan kepalanya. Disampingnya Sidatta mendengar kata-kata Mahisa Agni itu dengan saksama.

Sama sekali tak disangkanya, Bahwa di Panawijen, seorang anak padesan akan dapat berkata demikian. Alangkah bahagianya Panawijen memiliki sepasang kakak beradik Mahisa Agni dan Ken Dedes. Mahisa Agni adalah seorang anak muda yang bertekad keras, memandang setiap kesulitan sebagai tantangan yang harus diatasinya. Sedang adiknya, adalah seorang gadis yang cantik. Yang tanpa disangka-sangka, setelah mengalami kepahitan perasaan yang mencengkam jantungnya, maka ia telah dituntun memasuki bilik kanan istana Tumapel.

Demikianlah perjalanan itu menjadi semakin dekat dengan pedukuhan Panawijen. Matahari di langit kini telah melampaui puncak ketinggian. Panas yang dilontarkannya seolah-olah menghunjam di ubun-ubun.

Namun semakin dekat perjalanan itu, hati Mahendra dan Sidatta menjadi semakin berdebar-debar. Apakah benar Ken Dedes akan bersikap demikian mengharukan. Bagaimanakah sakit hati Mahisa Agni, apabila sikap yang ditemui akan berbeda. Bagaimanakah kalau benar Ken Dedes itu akan menyambut dengan wajah yang merah karena marah, dengan kata-kata yang keras yang melontarkan kekecewaan hatinya.

Tetapi kedua orang itu sama sekali tidak berbuat lain. Meskipun mereka tidak saling berjanji, tetapi apa yang bergolak di dalam hati mereka adalah serupa.

Agni sendiri kemudian menjadi risau pula. Tiba-tiba jantungnya segera menjadi semakin cepat berdetak. Sekali-sekali ia menarik nafas panjang untuk mencoba menenangkan gelora di dalam dadanya. Apabila dipandangnya wajah Mahendra, ia menjadi iri. Anak muda itu justru lebih dahulu dari padanya, dapat menguasai diri dan melihat kenyataan, meskipun Mahendra ini dahulu pernah menjadi hampir gila dan hampir saja membunuh Wiraprana. Pada saat itu, ia berdiri di pihak, bahkan menjadikan dirinya Wiraprana itu untuk melawan Mahendra. Tetapi di hati Mahendra itu kini seolah-olah sama sekali tidak berbekas lagi. Ia dapat melihat, mengantarkan, bahwa menerima perintah-perintah Ken Dedes dengan hati yang sama sekali tidak membayangkan apa yang pernah terjadi.

“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas, kemudian di dalam hatinya ia berkata, “aku berkumpul dengan gadis itu sejak kanak-kanak. Gambaran-gambaran tentang dirinya, jauh lebih dalam terpahat di dinding hatiku dari pada Mahendra.”

Tetapi tiba-tiba Mahisa Agni itu mengumpat-umpat sendiri di dalam hati. Katanya, “Persetan. Aku tidak peduli lagi dengan gadis itu. Aku tidak mempunyai kepentingan sama sekali. Kalau aku kini datang kepadanya, adalah karena aku menjadi iba kepadanya. Ini adalah suatu sikap yang baik.” Tetapi Mahisa Agni menjadi kecewa sendiri kepada angan-angannya. Seolah-olah ia adalah seorang yang sangat baik hati. Yang mementingkan kepentingan orang lain jauh lebih dahulu dari kepentingannya. Apalagi anggapan itu tumbuh di dalam angan-angannya sendiri.

Untuk seterusnya, mereka bertiga seolah-olah telah kehilangan kesempatan untuk saling berbicara. Mereka masing-masing dicengkam oleh kegelisahan mereka sendiri-sendiri. Apalagi ketika kemudian tampak dikejauhan, padukuhan Panawijen yang masih cukup hijau, seperti segerombol gerumbul yang tumbuh diantara padang yang kering kerontang.

Yang terdengar kemudian adalah derap kuda-kuda mereka. Tanpa mereka kehendaki, maka kuda-kuda itu pun berjalan semakin cepat, seakan-akan terasa oleh binatang-binatang itu, bahwa perjalanan yang panas itu hampir berakhir.

Ladang dan sawah-sawah telah mereka lalui. Hampir tak ada bedanya dengan padang rumput Karautan. Panas.

Namun sejenak lagi mereka telah sampai ke ujung lorong yang memasuki padukuhan Panawijen. Terasa angin yang sejuk tiba-tiba menampar wajah-wajah mereka, sehingga dengan serta merta mereka menarik nafas dalam-dalam. Lindungan dedaunan dan silirnya angin di padukuhan telah membuat kuda-kuda mereka bertambah tegar.

Tetapi hati merekalah yang kini tidak menjadi semakin sejuk. Bahkan terasa dada mereka bertambah panas oleh kegelisahan masing-masing. Sidatta dan Mahendra berdoa, mudah-mudahan Ken Dedes itu tidak terlampau mengecewakan kakaknya. Apabila demikian, maka hati Mahisa Agni yang keras itu pun akan menjadi semakin membatu.

Beberapa gadis-gadis muda dari Panawijen ketika melihat Mahisa Agni dan kedua orang kawan seperjalanan memasuki padukuhan, dengan serta merta berteriak hampir bersamaan, “Agni, adikmu telah kembali.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Ia tersenyum sambil menyahut, “Ya. Aku kembali karena Ken Dedes.” Namun jawabannya itu tidak melontar dari dasar hatinya yang tulus. Ia telah mencoba memulas perasaannya.

Mendengar jawaban itu gadis-gadis Panawijen itu pun menyahut, “Berbahagialah adikmu Agni. Aku dengar, kau akan beripar dengan Sang Akuwu Tunggul Ametung.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Ia mencoba tersenyum pula sambil menjawab, “Adalah karunia bagi keluarga kami.”

Gadis-gadis itu tidak lagi berteriak-teriak ketika Mahisa Agni dan kawan-kawannya menjadi semakin jauh. Yang tinggal adalah kepulan debu yang putih.

Sidatta mencoba memandang wajah Mahisa Agni. Tetapi terasa olehnya, bahwa apa yang diucapkan bukanlah yang dirasakannya. Ia tersenyum, meskipun hatinya pedih. Tetapi untuk mencoba menghilangkan kejemuannya Sidatta berkata, “Adi Mahendra, ternyata gadis-gadis Panawijen cantik-cantik. Apakah adi Mahendra tidak ingin meniru Akuwu Tunggul Ametung, mengambil satu dari mereka.”

Dada Mahendra berdesir. Tetapi segera ia menjawab, “Tentu kakang. Aku akan melamar salah seorang dari mereka. Biarlah Mahisa Agni memilih untukku. Bukan begitu Agni.”

Mahisa Agni mengangguk kaku. Ia tahu bahwa Mahendra tersentuh pula perasaannya. Namun sekali ia mengagumi kebenaran hati anak muda itu, sehingga sama sekali tak berkesan pada wajah dan sikapnya.

“Sayang, anak laki-lakiku masih terlampau kecil. Kalau aku kelak akan memilih menantu, maka aku akan selalu ingat pada gadis-gadis Panawijen,” berkata Sidatta kemudian.

Mahendra tersenyum. Tetapi ia tidak menyahut, sehingga kembali mereka terlempar dalam kediaman.

Kuda-kuda mereka kini telah menyelusur jalan Pedukuhan Panawijen. Derap kaki-kaki kuda mereka diatas tanah berbatu-batu terdengar seperti derap jantung mereka sendiri. Semakin ia mendengar semakin keras. Bahkan ketika mereka telah menjadi demikian dekatnya, derap kuda mereka telah tidak mereka dengar lagi. Mereka disibukkan oleh suara yang riuh di dalam hati masing-masing.

Ketika itu, maka para penjaga regol di halaman rumah Ken Dedes telah melihat kedatangan mereka bertiga. karena itu, maka salah seorang dari padanya segera masuk ke halaman dan melaporkannya kepada Witantra.

“Benarkah adi Sidatta?” bertanya Witantra.

“Menurut penilikan kami, sebenarnyalah demikian. Berapa ekor kuda yang kau lihat? Tiga.”

Witantra menganggukkan kepalanya. Kemudian kepada Ken Dedes ia berkata, “Tuan puteri, agaknya adi Mahisa Agni bersedia datang. Ternyata yang datang adalah tiga ekor kuda.”

Dada Ken Dedes berdesir. Bahkan kemudian menjadi berdebar-debar semakin lama semakin cepat.

Dicobanya kemudian menenangkan hatinya dan bersikap seperti yang telah direncanakan. Kalau Mahisa Agni nanti datang, maka ia akan menyambutnya dengan sikap seorang yang cukup dewasa. Ia akan memandangi Mahisa Agni itu sesaat. Tidak perlu dengan tersenyum atau tertawa. Kemudian mempersilahkan Mahisa Agni itu duduk. Ditanyakannya bagaimana keadaannya selama ini, apakah ia selalu sehat-sehat saja. Pertanyaan-pertanyaan itu harus pendek-pendek dan hanya beberapa masalah yang paling penting. Seterusnya ia harus bertanya kenapa bendungan itu pecah, bagaimana mereka sekarang membuat bendungan yang baru. Yang terakhir ia harus mengajak Mahisa Agni pergi ke Tumapel. Jangan ditanyakan kesediaannya, tetapi lebih condong pada suatu perintah yang harus ditaati. Perintah dari seorang Akuwu yang berkuasa di Tumapel dan sekitarnya.

Ketika Ken Dedes itu kemudian mendengar derap kuda-kuda itu, maka terasa jantungnya mengembang. Bukan oleh kebanggaan, tetapi oleh suatu perasaan yang aneh. Tiba-tiba darahnya mendidih dibakar oleh kegelisahan.

Namun darah itu kemudian serasa membeku ketika ia melihat para penjaga regol menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Tentu mereka memberikan hormat kepada perwiranya Sidatta.

Dan benarlah. Sesaat kemudian dilihatnya seekor kuda muncul dari regol itu, kemudian disusul yang lain, kuda Mahendra. Yang terakhir dengan penuh keragu-raguan adalah kuda Mahisa Agni. Mahisa Agni sendiri telah turun dari punggung kudanya. Dituntunnya kuda itu memasuki halaman. Halaman rumah yang didiaminya sejak kanak-kanak. Tetapi ketika ia melihat beberapa orang prajurit, umbul-umbul dan panji-panji, maka terasa bahwa ia telah terdampar ke suatu daerah yang asing.

Sejenak Mahisa Agni tegak seperti patung. Ketika matanya beredar di sekeliling halaman itu, maka hatinya berguncang. Rumah yang didiaminya sejak kanak-kanak, padepokan gurunya itu, seolah-olah kini telah diduduki oleh orang asing yang tak dikenalnya.

Hampir saja perasaannya meledak melihat keadaan itu, seandainya matanya tidak segera terbentur pada seorang gadis yang duduk di tengah-tengah pendapa, dihadap oleh Witantra dan Kebo Ijo.

Hati Mahisa Agni berdesir. Gadis itu adalah puteri Empu Purwa. Puteri satu-satunya dari pemilik padepokan ini, sehingga bagaimanapun juga, Mahisa Agni harus merasa, bahwa Ken Dedes lebih berhak atas padepokan ini dari pada dirinya.

Tetapi lebih daripada itu dadanya pun bergoncang pula. Dilihatnya Ken Dedes seolah-olah bintang yang bercahaya cemerlang di tengah-tengah langit yang gelap pekat. Seorang gadis dalam pakaian kebesaran diantara para endang yang sederhana, pendapa padepokan yang sederhana pula, di tengah-tengah halaman yang hampir menjadi kering.

Dalam goncangan-goncangan perasaan itu, Mahisa Agni berdiri tegak seperti patung. Kakinya serasa menjadi beku dan seluruh aliran darahnya seolah-olah berhenti. Ia tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa ia akan dihadapkan pada suatu kelompok orang-orang yang berada dalam sikap-sikap resmi. Ia tidak menyangka, bahwa di padepokan itu seolah-olah telah terjadi suatu sidang pasewakan.

Mahendra dan Sidatta melihat perubahan yang terjadi pada wajah Mahisa Agni. Wajah yang mula-mula menjadi tegang, namun kemudian wajah itu telah berubah menjadi beku. Namun mereka berdua pun selalu diliputi oleh kecemasan akan sikap Ken Dedes terhadap kakaknya. Apakah sikap itu akan menyayat hati Mahisa Agni, atau akan meluluhkannya? Kalau Ken Dedes bersikap keras maka Mahendra dan Sidatta yakin, bahwa Mahisa Agni tidak akan dapat ditundukkan. Tetapi kalau Ken Dedes bersikap seperti yang telah dibayangkan kepada Mahisa Agni, maka hati anak muda itu pun akan cair.

Dalam pada itu, Ken Dedes yang duduk di pendapa pun tidak kalah tegangnya ketika ia melihat Mahisa Agni berdiri mematung. Dengan sekuat tenaganya Ken Dedes mencoba mempertahankan perasaannya supaya ia dapat bersikap seperti yang dikehendakinya.

Tetapi yang dilihat adalah Mahisa Agni yang telah berubah dari Mahisa Agni yang dulu Mahisa Agni itu, setelah tidak bertemu beberapa lama, menjadi demikian kurus, dan wajahnya menjadi merah kehitam-hitaman terbakar sinar matahari. Matanya menjadi cekung terlindung di bawah alisnya yang tebal.

Melihat kenyataan itu dada Ken Dedes seperti tertimpa reruntuhan Gunung Kawi. Alangkah mengharukan. Mahisa Agni yang kekar itu tiba-tiba menjadi sangat berubah. Apakah sebenarnya yang telah terjadi padanya? Mungkin Panawijen yang kering ini, mungkin kerja yang dilakukannya tanpa mengenal istirahat untuk membangun bendungan.

Dada Ken Dedes itu serasa menjadi terguncang-guncang. Sejenak ia masih mencoba untuk tetap dalam sikapnya, “Biarlah ia tahu,” katanya di dalam hati, “bahwa ia harus melihat kenyataan. Kenyataan yang ada padaku dan kenyataan bagi dirinya sendiri. Bahwa ia tidak akan dapat mengingkari kawajibannya. Kawajiban untuk memenuhi panggilan Akuwu Tunggul Ametung sebagai penguasa tertinggi di Tumapel dan kuwajiban sebagai saudara tua.

Tetapi dalam pada itu, tiba-tiba Ken Dedes itu merasa dirinya menjadi terlampau kecil ketika ia melihat sinar mata Mahisa Agni yang menyorotkan kebesaran pribadinya. Wibawa yang justru menyengsara dirinya. Bukan Mahisa Agni yang jatuh ke dalam pengaruh wibawa yang diangan-angankan. Sorot mata yang cekung itu adalah sorot mata Mahisa Agni yang dahulu juga, meskipun tubuhnya kini menjadi kurus, dan wajahnya telah menjadi hitam kemerah-merahan dibakar oleh terik matahari.

Ken Dedes itu seolah-olah melihat, betapa dirinya sendiri sedang berusaha untuk meluruskan jalan mendaki ke tingkat tertinggi bagi seorang gadis Tumapel. Permaisuri adalah kesempatan yang tidak akan ditemui oleh gadis yang lain. Tetapi apa yang dilakukannya itu adalah untuk dirinya sendiri. Tidak untuk orang lain. Sedang Mahisa Agni yang telah menjemur dirinya sendiri di padang Karautan adalah bekerja keras untuk kepentingan bersama. Kepentingan rakyat Panawijen yang mengalami kekeringan. Terasa betapa rakyat Panawijen telah memeras keringat mereka untuk mengatasi kesulitan yang telah merasa melanda padukuhan itu. Seolah-olah terbayang betapa mereka bekerja, memecah batu, menggulung berunjung-berunjung dan kemudian bersama-sama seperti semut mengangkat berunjung-berunjung raksasa dan menjatuhkannya ke dalam air. Dalam pada itu terik matahari dengan panasnya menyengat punggung-punggung mereka yang telanjang. Sebagian yang lain telah bekerja membuat parit-parit induk, mencangkul tanah terbungkuk-bungkuk sambil bermandikan keringat.

Tiba-tiba Ken Dedes itu tersentak. Ia kini benar-benar telah dicengkam oleh suatu perasaan yang tidak dimengertinya. Ketika sekali lagi terpandang olehnya sorot mata Mahisa Agni, maka dadanya serasa telah meledak. Mahisa Agni yang kurus, yang wajahnya terbakar oleh sinar matahari namun yang sorot matanya masih setajam sorot mata yang dahulu, bahkan sorot mata itu kini menjadi semakin bercahaya, seperti cahaya yang memancar dari tekadnya yang bulat menghadapi kerja.

Ken Dedes kini telah kehilangan segala macam pertimbangan. Ken Dedes sendiri tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja ia telah berdiri dan dengan serta-merta berlari turun ke halaman. Terdengar suaranya serak terloncat dari tenggorokannya, “Kakang. Kakang Mahisa Agni.”

Mahisa Agni masih berdiri seperti patung. Tetapi kemudian kedua tangannya pun bergerak, ketika terasa gadis itu mendekapnya sambil menangis sejadi-jadinya.

“Kakang,” suara Ken Dedes tenggelam dalam tangisnya.

Halaman padepokan itu kini benar-benar dicengkam oleh kesepian. Justru karena itu, maka suara tangis Ken Dedes pun terdengar semakin keras. Tangis yang seolah-olah sebuah ledakan yang dahsyat dari segenap pergolakan yang terjadi di dalam dadanya.

Mahisa Agni, yang berdiri tegak, seakan-akan terpukau oleh sebuah peristiwa yang tak dapat dimengertinya sendiri. Namun didengarnya suara tangis Ken Dedes, dan dirasakannya kehangatan air matanya menetes di tangannya.

Tiba-tiba mulut Mahisa Agni itu pun bergerak, dan meluncurlah kata-katanya, “Sudahlah Ken Dedes, jangan menangis.”

Kata-kata itu benar-benar telah memberi kesejukan pada hati Ken Dedes. Seperti kata-kata yang dahulu selalu didengarnya pada masa kanak-kanak. Kalau Ken Dedes menangis karena bermacam-macam sebab, mungkin karena kakinya terantuk batu, mungkin karena gadis itu terjatuh, mungkin karena ayahnya telah memberinya sekedar peringatan atas kenakalannya, maka selalu didengarnya apabila ia menangis kata-kata Mahisa Agni

“Sudahlah Ken Dedes, jangan menangis.” Kini kata-kata itu didengarnya lagi.

Ken Dedes masih juga mendekap tubuh Mahisa Agni seolah-olah tidak akan dilepaskannya lagi. Bagi Ken Dedes, Mahisa Agni adalah satu-satunya keluarganya. Mahisa Agni kini bukan saja kakaknya, tetapi Mahisa Agni adalah ayahnya, bahkan Mahisa Agni adalah ibunya. Karena itu, maka kini Ken Dedes seakan-akan mendapat naungan dari terik panas yang membakar tubuhnya.

Sekali lagi Ken Dedes mendengar Mahisa Agni berkata, “Jangan menangis Ken Dedes.”

Tangis Ken Dedes itu pun kemudian mereda, perlahan-lahan tangannya terlepas, dan diusapnya air matanya. Tetapi semua rencana yang telah disusunnya telah lenyap dari kepalanya. Urut-urutan pertanyaan yang sudah dianyamnya dengan penuh pertimbangan hampir semalam suntuk, kini telah tidak diingatnya lagi. Ken Dedes sama sekali tidak mampu untuk menanyakan keselamatan Agni, kemudian keadaan padukuhan ini dan bendungan yang dibangunnya. Ken Dedes sudah tidak dapat lagi mengucapkannya, berurutan seperti yang dikehendakinya. Apalagi minta supaya Mahisa Agni pergi ke Tumapel bukan sebagai suatu permintaan, tetapi harus dinyatakannya sebagai suatu perintah.

Yang pertama-tama diucapkan oleh Ken Dedes adalah, “Kakang, kenapa kau menjadi kurus dan kulitmu menjadi merah kehitam-hitaman dibakar oleh terik matahari.”

“Aku tidak apa-apa Ken Dedes. Aku sehat.”

“Tetapi kau menjadi kurus.”

“Mungkin,” sahut Mahisa Agni kemudian, “tetapi bukan karena suatu kesulitan. Tetapi karena kerja yang menyenangkan dipadang Karautan.”

Ken Dedes terdiam sesaat. Dipandanginya tubuh Mahisa Agni yang semakin lama tampak semakin hitam. Namun sorot matanya masih juga menyala seperti sorot mata Agni dahulu.

Para prajurit yang berdiri di sekitar halaman itu terpaku diam. Mereka menyaksikan pertemuan yang mengharukan dari dua orang kakak beradik. Perpisahan yang terjadi sebenarnya belum terlampau lama. Namun selama ini mereka telah dirisaukan oleh perasaan masing-masing, sehingga ketika mereka mendapat kesempatan untuk bertemu maka meledaklah segala yang tersimpan di dalam hati.

Sidatta dan Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ternyata apa yang mereka katakan tentang gadis itu benar-benar terjadi. Karena itu maka Sidatta dan Mahendra mengharap, bahwa hati Mahisa Agni akan dapat dicairkan.

Sejenak kemudian Mahisa Agni telah mendapatkan kesadarannya sepenuhnya kembali. Disadarinya bahwa berpasang-pasang mata memandanginya. Karena itu maka katanya kepada Ken Dedes, “Ken Dedes, kembalilah ke pendapa.”

Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Tetapi para prajurit yang berdiri di sekitar pendapa, Witantra dan Kebo Ijo yang duduk di pendapa serta segala macam umbul-umbul dan panji-panji, kini telah tidak menarik lagi baginya. Ia telah kehilangan segala macam rencananya yang telah direka-rekanya tidak saja semalam suntuk, tetapi sejak ia masih berada di istana Tumapel.

Mahisa Agni pun kemudian membawa Ken Dedes naik ke pendapa. Dipersilahkannya Ken Dedes duduk di tempatnya semula, diantara para endang yang duduk dengan wajah yang aneh. Mereka menjadi bingung apa yang mesti mereka lakukan. Ketika mereka melihat Ken Dedes menangis maka apabila mereka berada dalam keadaan seperti biasa, seperti yang pernah dialaminya dahulu, maka mereka pasti sudah berlari-lari mendatangi. Menghibur dan menggandengnya masuk ke dalam biliknya. Tetapi mereka kini berada dalam keadaan yang tak mereka kenal, sehingga mereka tidak berani beranjak dari tempatnya.

Ketika Ken Dedes telah duduk kembali, maka setiap prajurit di halaman itu menarik nafas dalam-dalam. Witantra dan Kebo Ijo pun menganggukkan kepala mereka, seakan-akan mereka telah terlepas dari cengkaman keadaan yang menegangkan urat syaraf mereka.

Namun dalam pada itu, Ken Dedes menjadi seolah-olah membisu. Ditundukannya kepalanya dan sekali-sekali jari-jari tangannya mengusap air matanya yang masih menetes satu-satu. Sehingga kembali pendapa itu menjadi sunyi. Beberapa orang duduk dengan kaku, seperti tiang-tiang pendapa itu sendiri.

Witantra lah yang kemudian memecah kesunyian itu. Perlahan-lahan ia bertanya kepada Mahisa Agni, “Mahisa Agni. Bukankah kau selamat selama ini?”

Mahisa Agni berpaling. Seakan-akan ia baru bangun dari tidurnya. Tergagap ia menjawab, “Ya Witantra. Aku selamat.”

Witantra menarik nafas, katanya, “Syukurlah. Mudah-mudahan padukuhanmu tidak mengalami sesuatu.”

“Kita berharap demikian. Tetapi kau telah melihat sendiri apa yang terjadi.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya ia memang ingin tahu, apa yang telah terjadi di Panawijen dan dipadang Karautan.

Meskipun sebagian dari pada apa yang terjadi di Panawijen dan dipadang Karautan telah diketahuinya, namun Witantra itu bertanya pula, “Mahisa Agni. Aku hampir tidak dapat mengenal lagi daerah ini. Panawijen dengan cepatnya telah berubah.”

“Ya,” sahut Agni dengan nada datar, “Panawijen telah berubah. Segalanya berubah.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kembali ia bertanya, “Panawijen agaknya telah mengalami masa kering yang dahsyat, sehingga tumbuh-tumbuhan cepat kehilangan kesegarannya.”

Kembali Mahisa Agni menyahut dengan nada datar, “Ya. Panawijen telah menjadi kering sejak bendungan itu pecah.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ketika mulutnya bergerak untuk mengucapkan pertanyaan-pertanyaan berikutnya, tiba-tiba ia terkejut. Ken Dedes dengan serta-merta memotongnya, “Cukup, cukup kakang Witantra.”

Sejenak Witantra terpaku, namun kemudian ditundukkannya kepalanya dalam-dalam sambil berkata, “Ampun tuan puteri, kalau pertanyaan-pertanyaan hamba tidak berkenan di hati.”

“Aku tidak mau mendengar, kakang,” jawab Ken Dedes. Tetapi ia tidak dapat meneruskan kata-katanya. Terasa kerongkongannya seolah-olah tersumbat.

Kembali pendapa itu terdampar dalam suatu kesenyapan. Sekali-sekali para prajurit saling berpandangan. Namun kembali mereka menundukkan kepala-kepala mereka. Mereka dihadapan pada suatu keadaan yang sama sekali asing bagi mereka. Bagi para prajurit itu, ujung pedang dan tombak tidak akan menggelisahkan mereka seperti saat itu. Mereka dihadapkan pada suatu keadaan yang tidak dapat dimengerti.

Tetapi Witantra, Sidatta dan Mahendra mempunyai perasaan yang lebih tajam dari para prajurit itu. Mereka mengerti, bahwa Ken Dedes tiba-tiba dilanda oleh suatu ketakutan mendengar jawaban-jawaban Mahisa Agni. Mahisa Agni pada saatnya pasti akan mengatakan bahwa bendungan itu telah pecah. Dan Mahisa Agni pasti akan mengatakan, seperti berita yang telah mereka dengar, dan yang Ken Dedes telah pula mendengarnya, bahwa ayah Ken Dedes, Empu Purwa lah yang memecahkan bendungan itu, sebagai suatu kutukan atas padukuhan Panawijen. Panawijen akan menjadi kering, karena penduduknya tidak melindungi anak gadisnya yang dilarikan orang.

Kebo Ijo pun dapat merasakan ketakutan itu pula. Tetapi tanggapannya agak berbeda dengan kedua saudara seperguruannya. Bahkan seluruh isi pendapa itu terkejut ketika tiba-tiba terdengar Kebo Ijo itu tertawa tertahan-tahan, sehingga suaranya mirip dengan ringkik kuda.

“Kebo Ijo,” bentak Witantra sambil memandangi wajah anak muda itu dengan tajamnya, “kenapa kau tertawa?”

Dengan susah payah Kebo Ijo menahan tawanya. Jawabnya, “Menurut kata orang-orang tua, kakang. Kalau pembicaraan tiba-tiba terhenti, maka pada saat itu di sekitar tempat pembicaraan itu ada setan yang sedang lewat.”

Witantra menggeram. Hampir saja tangannya bergerak menampar kening Kebo Ijo seandainya tidak segera disadarinya, bahwa dihadapannya duduk seorang gadis yang pasti akan menjadi ngeri melihat perbuatannya. Tetapi karena itu, maka terdengar Witantra itu membentak betapapun ia mencoba menahan-nahan, “Kebo Ijo. Pergi ke halaman belakang. Kawani perwira dan prajurit yang berjaga-jaga di sana.”

Kebo Ijo pun kemudian menundukkan wajahnya. Ia menjadi takut juga kepada kakak seperguruannya. perlahan-lahan ia beringsut mundur. Akhirnya ia pun turun dari pendapa dan berjalan ke halaman belakang. Tetapi Mahisa Agni yang memandangi wajah anak muda itu masih melihat bibir Kebo Ijo tertarik ke sisi. Betapa hati Mahisa Agni menjadi panas melihatnya. Namun ia tidak berbuat sesuatu. Bahkan kembali Mahisa Agni mengagumi, betapa Witantra selalu berbuat dengan tepat, meskipun terhadap adik seperguruannya sendiri.

Ken Dedes pun menjadi tidak senang melihat tingkah laku Kebo Ijo. Namun gadis itu pun tidak mengatakan sesuatu. Bahkan kemudian kembali dadanya dilanda oleh perasaan takut dan cemas. Ia memang tidak mau mendengar lagi ceritera tentang pecahnya bendungan Panawijen. Ceritera itu merupakan sebuah ceritera yang akan dapat selalu menghantuinya. Bagaimana ayahnya menderita, sehingga kehilangan keseimbangan berpikir karena kehilangan dirinya. Namun tiba-tiba ia telah menyerahkan diri kepada orang yang melindungi melarikannya pada saat itu.

“Apakah aku telah mengkhianati ayahku pula?” tiba-tiba terdengar sebuah pertanyaan mengguntur di dalam dadanya.

“Dan apakah karena hal-hal yang demikian ini pula, maka Kakang Mahisa Agni telah melepaskan aku?”

Tiba-tiba dada Ken Dedes menjadi sesak. Ia menjadi semakin ketakutan apabila tiba-tiba saja Mahisa Agni dengan kehendak sendiri, bahkan mungkin dengan sengaja akan menceriterakan segala macam peristiwa yang pernah dialami dihadapan para perwira dan prajurit Tumapel.

Karena itu, karena kegelisahan, kecemasan dan perasaan yang lain yang mendesaknya, maka Ken Dedes merasa seolah-olah dikejar-kejar oleh bayangan tentang masa-masa lampau itu, sehingga dengan serta-merta ia berkata lantang, “Kakang Mahisa Agni. Kedatanganku ke Panawijen didorong oleh keinginanku bertemu dengan kakang Mahisa Agni. Karena itu, biarlah aku berbicara dengan kakang tanpa orang-orang lain yang mendengarkannya.”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Ia sendiri tidak tahu, apa yang sebaiknya dilakukan dalam keadaan serupa itu. Tetapi dengan tiba-tiba ia menjadi sangat iba kepada gadis itu. Sama sekali bukan karena pengaruh kewibawaannya, tetapi karena air mata yang telah membasahi wajah Ken Dedes. Dengan demikian maka tidak ada pilihan lain baginya dari pada memenuhi permintaan itu, seperti pada masa kanak-kanak mereka. Mahisa Agni tidak pernah menolak permintaan Ken Dedes apabila ia mampu melakukannya.

Ken Dedes tidak menunggu jawaban Mahisa Agni. Segera ia bangkit sambil berkata, “Marilah kakang.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Tetapi sebelum ia menjawab, Ken Dedes sudah mendahuluinya berjalan memasuki ruang dalam rumahnya.

Mahisa Agni pun kemudian bangkit pula. Kepada Witantra, Mahendra dan Sidatta ia berkata, “Baiklah aku mengikutinya. Mungkin ada persoalan-persoalan penting yang akan dikatakannya.”

“Silahkan,” jawab mereka hampir serentak.

Mahisa Agni pun kemudian berjalan dengan langkah yang berat mengikuti Ken Dedes menghilang di balik pintu, masuk ke ruang dalam rumah gurunya. Rumah yang sudah didiaminya sejak masa kanak-kanaknya.

Sepeninggal Ken Dedes para emban pun menjadi gelisah. Mereka belum pernah melakukan upacara seperti itu. Karena itu mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka sama sekali tidak berani beranjak dari tempatnya. Meskipun mereka menjadi penat dan jemu, namun mereka masih saja duduk di tempatnya. Apalagi mereka ketahui bahwa Witantra, Sidatta, Mahendra dan para prajurit yang lain pun sama sekali tidak berajak dari tempat mereka.

Ketika Mahisa Agni menutup pintu dinding yang memisahkan ruang dalam dan pendapa rumah itu, dadanya kembali bergelora. Ia tidak segera melihat Ken Dedes di ruang itu. Karena itu maka Mahisa Agni pun melangkah lagi, semakin dalam. Telah beratus, bahkan beribu kali ia menginjak lantai yang kini diinjaknya, telah beratus bahkan beribu kali ia lewat ruangan itu, dan berapa ribu kali pula ia melangkahi tlundak dinding penyekat ruang dalam, namun terasa kini semuanya itu asing baginya. Ia tidak segera menemukan Ken Dedes di dalam ruangan-ruangan itu. Kini Mahisa Agni berjalan lagi ke ruang belakang. Ruang itu pun kosong sama sekali.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ketika terpandang olehnya selintru yang menutup bilik Ken Dedes, Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Apakah gadis itu berada di dalam biliknya. Bilik yang telah lama ditinggalkannya. Namun Ken Dedes harus menemuinya. Mungkin gadis itu ingin mengatakan sesuatu yang penting kepadanya.

Perlahan-lahan Mahisa Agni melangkah ke pintu bilik itu, perlahan-lahan tangannya berpegangan pada uger-uger pintu. Namun kembali ia menjadi ragu-ragu. Perasaan yang dahulu tidak pernah dimilikinya apabila ia ingin memasuki ruangan itu, meskipun seandainya Ken Dedes baru tidur sekalipun.

Tetapi sesuatu mendesak dadanya. Ia harus menemui gadis itu. Dengan penuh kebimbangan Mahisa Agni beringsut maju. perlahan-lahan ia menjengukkan kepalanya lewat pintu bilik yang menganga lebar. Tetapi kembali ia menarik nafas dalam-dalam. Bilik itu pun ternyata kosong.

“Dimanakah gadis itu?” desisnya.

Mahisa Agni pun melangkahkan kakinya kembali. Sekarang ia menuju ke serambi belakang. Ruang satu-satunya yang tinggal dari rumah induk itu selain tiga sentongan yang hampir tak pernah dipergunakan. Kalau di serambi itu Ken Dedes tidak ada, maka ia pasti berada di dapur atau di bilik di belakang serambi itu. Bilik itu adalah biliknya.

Sekali lagi Mahisa Agni melompati tlundak pintu samping. Lewat serambi gandok Mahisa Agni berjalan kebelakang. Tiba-tiba langkahnya tertegun ketika ia melihat bahwa Ken Dedes memang berada di serambi itu. Serambi yang terbuka ke arah belakang.

“Kakang,” desisnya ketika ia melihat Mahisa Agni.

Mahisa Agni tidak menyahut, tetapi ia berjalan mendekati gadis itu. Ketika ia duduk di tikar di depan Ken Dedes, hatinya berdesir. Di balik dinding inilah, terletak bale-bale bambu. Kalau bulan terang, maka kadang-kadang ia berbaring-baring di tempat itu sambil meniup serulingnya dahulu. Tetapi sekarang seruling itu hampir tak pernah disentuhnya.

“Kakang,” ulang Ken Dedes ketika Mahisa Agni telah duduk, “banyak sekali yang sebenarnya ingin aku katakan, tetapi tiba-tiba semuanya itu lenyap dari kepalaku. Meskipun demikian kakang, aku mengharap kakang sudah dapat mengetahui maksud kedatanganku. Sebab sebelum aku telah datang pula bibi emban pemomongku yang bahkan telah datang bersamamu ke Tumapel. Tetapi kau tidak sempat menemui siapa pun sampai kau kembali ke Panawijen.”

Terasa kata-kata itu meluncur seperti tanpa dapat dikendalikan. Simpang siur, karena Ken Dedes telah kehilangan ketenangannya, apalagi rencana yang telah disusunnya semalam suntuk.

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ditunggunya Ken Dedes berkata terus, “Kakang, apakah kakang dapat memenuhi permintaan itu?”

Pertanyaan yang terlalu langsung itu sama sekali tidak disangkanya. Mahisa Agni menduga bahwa Ken Dedes akan mengucapkan berbagai alasan-alasan, baru kemudian minta kepadanya untuk pergi ke Tumapel, sehingga dugaan itu sama sekali bertentangan dengan rencana Ken Dedes sendiri. Untunglah bahwa Ken Dedes menjadi gelisah dan kehilangan ketenangannya, sehingga semua rencana itu tidak dapat dilakukan. Sebab dengan demikian, maka akibatnya pasti akan berlawanan dari yang dikehendakinya. Mahisa Agni sama sekali tidak akan dapat disilaukan oleh sikap dan keadaan Ken Dedes karena goresan-goresan yang telah membekas terlampau dalam pada dinding hatinya.

Tetapi kini Ken Dedes itu berkata terbata-bata tanpa dapat menyusun urutan yang teratur sehingga justru karena itu Mahisa Agni tidak menjadi semakin tersinggung karenanya.

Meskipun demikian, permintaan itu sendiri bukanlah permintaan yang menyenangkan bagi Mahisa Agni. Permintaan itu adalah permintaan yang menjemukan.

Sesaat kemudian mereka saling berdiam diri. Serambi itu seakan-akan dicengkam oleh suasana yang terlampau sepi. Betapa degup jantung Ken Dedes menunggu Mahisa Agni mengucapkan jawaban atas permintaannya itu.

Tetapi Mahisa Agni tidak segera menjawab. Bahkan kemudian anak muda itu seolah-olah membeku. Sorot matanya jauh hinggap pada dedaunan diluar yang bergerak-gerak disentuh angin. Tetapi dedaunan itu sudah tidak sesegar dahulu.

Dan daun-daun yang kekuning-kuningan itu telah mengingatkan Mahisa Agni kepada gurunya, kepada bendungan yang pecah dan kepada kerja yang sedang dilakukan.

Ia berpaling ketika ia mendengar Ken Dedes bertanya mendesak, “Bagaimana kakang?”

Tetapi Ken Dedes telah menjadi semakin kehilangan ketenangannya. Sekali lagi ia mendesak, “Bagaimana kakang, bukankah kau akan pergi ke Tumapel?”

Mahisa Agni merasakan kegelisahan yang melonjak-lonjak di dada Ken Dedes. Tetapi ia merasakan gejolak di dalam dadanya sendiri pula. Dalam benturan-benturan perasaan yang terjadi di dalam dirinya. Mahisa Agni menarik nafas berulang kali. Ia mencoba menenangkan hatinya dan mencoba mendapatkan kesimpulan yang sebaik-baiknya.

Akhirnya Mahisa Agni itu berkata, “Ken Dedes. Apakah sebenarnya keperluanku pergi ke Tumapel? Bukankah kita telah bertemu disini? Tak ada persoalan lagi dengan saat-saat kawinmu nanti. Kalau aku dapat kau anggap sebagai ganti ayahmu, maka aku telah merestuimu,” Mahisa Agni berhenti sesaat. Terasa nafasnya menjadi semakin cepat mengalir seperti katanya yang mengalir semakin cepat pula, seakan-akan sengaja dikatakannya terlampau cepat agar dirinya sendiri tidak mendengarnya. Lalu dilanjutkannya, “Yang penting bagimu, bahwa kau telah mendapat restu itu. Dengan demikian kau tidak meninggalkan adat yang lajim berlaku.”

“Tidak, tidak, kakang,” potong Ken Dedes, “itu tidak cukup. Adat kita mengatakan, bahwa perkawinan ditentukan oleh orang-orang tua. Apalagi bagi gadis-gadis. Karena itu, biarlah kakang menghadap Akuwu Tunggul Ametung untuk menunjukkan bahwa tak ada persoalan apa-apa di dalam keluargaku. Satu-satunya orang yang ada sekarang adalah kau kakang. Kepadamu aku menangis. Tidak kepada orang lain.”

Mahisa Agni kini menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tidak tahu perasaan apakah sebenarnya yang bergetar di dalam dirinya. Tetapi terasa keringat dinginnya mengalir di seluruh wajah kulitnya.

“Kau harus pergi kakang. Kau harus pergi.”

Ternyata Ken Dedes tidak dapat bersikap lain daripada sikapnya itu. Sikap seperti sikapnya pada masa kanak-kanak apabila ia menginginkan sesuatu dan Mahisa Agni mencoba mencegahnya. Namun apabila demikian, maka biasanya Mahisa Agni tidak akan dapat menolak lagi, meskipun seandainya ia harus memanjat sebatang pohon jambe yang tinggi sekali hanya sekedar mengambil sebutir buahnya yang berwarna jambu.

Tetapi yang dihadapinya kini bukan sekedar sebutir buah jambe yang berwarna jambu. Bukan sekedar seuntai bunga manggar yang sedang mekar diatas pelepah kelapa.

Yang kini harus dipetiknya untuk gadis itu adalah jantungnya sendiri.

Tetapi kembali hati Mahisa Agni luluh apabila ia melihat Ken Dedes menangis. Ia ingin memenuhi permintaan itu, tetapi ia tidak mempunyai keberanian untuk melakukannya. Sehingga dengan demikian, hati Mahisa Agni itu pun terasa seperti diremas-remas oleh suara tangis Ken Dedes.

“Ken Dedes,” berkata Mahisa Agni kemudian, “bukankah sudah aku katakan. Kalau kau menganggap aku wakil dari bapa guru, Empu Purwa, maka aku sudah merestuimu. Apakah keuntungannya kalau aku datang ke Tumapel. Bukankah restuku akan sama saja nilainya? Kalau persoalannya adalah persoalan adat yang harus ditempuh, kenapa Akuwu Tunggul Ametung tidak memerintahkan dua atau tiga orang tua-tua untuk datang melamarmu kemari?”

Ken Dedes tersentak mendengar jawab itu, sehingga tangisnya terhenti. Dalam kata-kata itu benar-benar terasa olehnya, menurut tangkapannya, bahwa Mahisa Agni merasa dirinya terlampaui. Harga diri kakaknya itu agaknya telah melampaui segala macam pertimbangan tentang kedudukan Akuwu Tunggul Ametung, tentang kekuasaan yang ada di tangannya.

“Kakang,” berkata Ken Dedes masih dalam isak tangisnya yang terputus, “apakah kau menyadari kata-katamu itu?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk ia menjawab, “Ya. Aku menyadari kata-kataku.”

“Apakah kakang menyadari kedudukan dan kekuasaan Akuwu Tunggul Ametung?”

“Ya, aku menyadari,” sahut Agni pula.

“Kenapa kakang masih menganggap bahwa Akuwu Tunggul Ametung lah yang harus datang melamar kemari? Ke padepokan terpencil yang justru berada di dalam wilayah kekuasaan Akuwu Tunggul Ametung?”

Kini dada Mahisa Agni lah yang berdesir. Ternyata maksudnya untuk membuat alasan supaya ia tidak harus datang ke Tumapel telah menimbulkan salah paham. Namun ia masih mencoba untuk memperbaikinya, “Bukan maksudku demikian Ken Dedes. Aku hanya memperbandingkan adat yang kau sebut-sebut. Kalau disadari atas kekuasaan, kedudukan dan wewenang Akuwu Tunggul Ametung, maka aku kira aku sudah tidak diperlukan lagi. Semua keputusan dapat diambil oleh Akuwu Tunggul Ametung tanpa pertimbangan orang lain. Tanpa pertimbanganku dan bahkan seandainya kau menolak sekalipun, Akuwu akan dapat berbuat di dalam lindungan kekuasaannya. Tetapi maksudku ingin mengatakan, bahwa aku tidak sempat pergi ke Tumapel karena pekerjaanku yang terlampau banyak di padukuhan ini.”

Tetapi Mahisa Agni menjadi kecewa karena Ken Dedes justru menangkap kata-katanya semakin jauh dari maksudnya. Ken Dedes yang sejak dari Tumapel sudah dibekali dengan kekecewaan atas sikap Mahisa Agni, kini seakan-akan dengan tiba-tiba mendapatkan saluran untuk meledak.

Sesaat Ken Dedes menatap wajah Mahisa Agni dengan tajam, dan sesaat kemudian terdengar ia berkata, “Pekerjaan apakah yang telah mengikat kakang disini?”

“Bendungan itu Ken Dedes?”

“Apakah kakang tidak dapat meninggalkannya sepekan atau dua pekan?”

“Aku bertanggung jawab atas pembuatan bendungan itu di samping Ki Buyut Panawijen sendiri.”

“Jadi kau memberatkan bendungan itu?”

Mahisa Agni terdiam sejenak, seolah-olah memberi kesempatan kepada Ken Dedes untuk menumpahkan segala macam kekecewaan hatinya. Mengalir seperti saat bendungan Panawijen yang pecah karena tangan Empu Purwa, “Kakang, jadi apakah kakang lebih menaruh perhatian atas bendungan itu dari pada perintah Akuwu Tunggul Ametung? Juga lebih mementingkan bendungan itu dari pada memenuhi panggilannya? Kakang, bendungan adalah barang mati yang tidak akan dapat menuntut apa pun kepadamu, apalagi seandainya pekerjaan itu hanya tertunda seminggu atau dua minggu. Tetapi Akuwu Tunggul Ametung adalah seorang Akuwu. Seorang yang memiliki berbagai macam perasaan. Ia dapat menjadi kecewa, marah dan bahkan dapat menentukan sikap apa pun yang dikehendakinya di seluruh daerah Tumapel. Karena itu, kakang, perhitungkanlah sebaik-baiknya. Bendungan itu, atau Akuwu Tunggul Ametung atas permintaanku.”

Mahisa Agni benar-benar tersinggung mendengar kata-kata Ken Dedes yang seperti banjir melanda dinding jantungnya. Tetapi ia masih berusaha untuk berkata setenang-tenangnya, “Ken Dedes, ternyata kau salah mengerti tentang bendungan itu. Memang bendungan adalah benda mati, yang terdiri tidak lebih dari batu-batu, kayu dan tali-tali ijuk serta berunjung-berunjung bambu. Tetapi di balik benda-benda yang mati itu bernaung kehidupan yang besar. Kehidupan yang meliputi seluruh segi kehidupan di Panawijen. Ken Dedes, benda-benda mati itu adalah perlambang dari hidup matinya penduduk Padukuhan kita ini. Karena bersumber pada benda-benda mati itu kita akan membuat suatu kehidupan baru. Padukuhan baru. Sepekan bagi kami adalah sangat penting artinya. Kalau kami terlambat sepekan, maka keadaan kami akan menjadi terlampau parah. Juga bukan maksudmu mengabaikan Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi aku mengharap Akuwu Tunggul Ametung dapat mengerti keadaanku.”

“Kakang,” potong Ken Dedes, “Akuwu Tunggul Ametung adalah orang yang paling berkuasa di Tumapel. Kenapa Akuwu yang harus menunggumu? Tidak kakang, kau harus mendengarkan perintah ini. Akuwu Tunggul Ametung akan dapat berbuat hal-hal diluar dugaanmu. Meskipun bendungan itu telah jadi, tetapi Akuwu akan dapat memerintahkan untuk memecahnya kembali apabila ia menjadi marah.”

“Jangankah memecah bendungan itu Ken Dedes,” sahut Mahisa Agni yang menjadi semakin kecewa pula kepada adik angkatnya itu, “Akuwu Tumapel dapat memerintahkan membunuh kita sekalian sekaligus tanpa menunggu kita semua disini mati kelaparan. Adalah lebih baik lagi kami Ken Dedes, sebab kami tidak perlu menderita terlampau lama.”

“Kakang,” wajah Ken Dedes menjadi merah. Kini ia tidak saja dibakar oleh kekecewaan hatinya yang memuncak, tetapi Ken Dedes itu telah dijalari oleh perasaan marah, “Kau jangan berkata demikian kakang. Kau menghina Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi ketahuilah, bahwa Akuwu Tunggul Ametung pasti akan tahu, bahwa bendungan itu hanyalah sekedar alasanmu yang tak berarti. Apa kau sangka bahwa kau adalah seorang pahlawan besar di Panawijen yang tak ada duanya? Mungkin kau seorang yang paling pandai berkelahi di Panawijen kakang, tetapi bukan seorang yang paling mengetahui tentang bendungan. Apa kau sangka bahwa tanpa kau bendungan itu tidak akan jadi? Apakah kau sangka bahwa Ki Buyut Panawijen dan orang-orang tua disini adalah sedemikian bodohnya, sehingga hanya Mahisa Agni lah yang mampu membuat bendungan itu?”

“Ken Dedes,” potong Mahisa Agni. Tetapi Ken Dedes berkata terus, “Jangan ingkar. Semua itu telah diketahui.”

“Tetapi aku bertanggung jawab atas pekerjaan itu. Aku harus mengawasi dan memberikan beberapa petunjuk. Mungkin aku bukan seorang yang paling cakap untuk pekerjaan ini, dan aku memang tidak ingin menjadi seorang pahlawan bagi penduduk Panawijen, Ken Dedes. Tetapi aku tidak dapat melepaskan kepercayaan yang diberikan kepadaku. Itu bukan maksudku sendiri. Bukan kehendakku. Aku tidak pernah berteriak-teriak di perapatan dan mengatakan bahwa akulah satu-satunya orang yang pantas memimpin mereka membuat bendung itu. Tidak. Tetapi mereka percaya kepadaku. Mereka mengharap aku bertanggung jawab. Apakah aku dapat melepaskan kepercayaan ini?”

“Itu pun hanya perasaanmu sendiri kakang,” sahut Ken Dedes, “kalau seseorang telah melakukan pekerjaan, betapapun orang lain tidak menyukainya, maka adalah segan bagi mereka untuk mengatakan langsung kepada yang berkepentingan. Itu adalah watak dari tetangga-tetangga kita disini. Kalau kau telah menjajakan tenagamu, maka tak seorang pun yang akan sampai hati mengatakan bahwa sebenarnya kau tidak diperlukan.”

“Ken Dedes,” Mahisa Agni pun kemudian kehilangan kesabarannya. Kata-kata Ken Dedes ternyata terlampau tajam baginya, yang seolah-olah langsung menghunjam ke pusat jantungnya. Bahkan kemudian dadanya menjadi gemetar. Dan dengan suara yang gemetar pula ia berkata, “Memang Ken Dedes. Aku telah menjajakan tenagaku. Diterima atau tidak diterima oleh penduduk Panawijen. Aku ingin menebus kesalahan yang telah terjadi, benar atau tidak benar langkah ini. Tetapi hatiku telah didesak oleh suatu keinginan untuk menebus kesalahan yang dilakukan oleh keluarga padepokan ini. Ketahuilah, bahwa yang memecah bendungan itu adalah ayahmu. Guruku. Mungkin ini telah kau dengar. Nah, apa kata rakyat Panawijen tentang Empu Purwa. Tentang penghuni padepokan yang selama ini berlindung di dalam wilayah padukuhan Panawijen? Itulah alasannya kenapa aku menjajakan tenagaku, diterima atau tidak diterima, karena kesetiaanku kepada guru dan keinginanku membersihkan sekurang-kurangnya memperkecil kesalahan guruku itu.”

Jawaban Mahisa Agni itu terdengar seperti petir yang meledak di dalam dada Ken Dedes. Betapa dahsyatnya, serasa dada itu akan menjadi pecah. Jawaban itu adalah jawaban yang telah menghempaskan Ken Dedes ke dalam suatu suasana yang menakutkan. Ia takut mendengar keterangan itu. Namun karena kemarahan yang telah mendidihkan darahnya, maka ia berusaha untuk lari dari ketakutan itu. Ia berusaha untuk tetap bertahan pada pendiriannya.

Karena itu katanya, “Aku tidak peduli siapa yang memecahkan bendungan itu. Meskipun hantu-hantu dari padang Karautan sekalipun. Tetapi kau tidak perlu merasa dirimu pemimpin yang tak dapat beranjak dari tempatmu seolah-olah kau adalah seorang yang sangat penting. Seolah-olah bendungan itu tidak akan jadi kalau tidak ada Mahisa Agni. Kakang Mahisa Agni. Jangan kau sangka bahwa aku tidak tahu, apakah alasan sebenarnya yang mencegah kau pergi ke Tumapel.”

Kini dada Mahisa Agni lah yang bergelora. Apakah benar Ken Dedes mengetahui dorongan yang paling kuat yang tersimpan di dalam dadanya, kenapa ia menjadi berkeras hati untuk selalu menghindari permintaan Akuwu Tunggul Ametung itu? Sejenak Mahisa Agni tidak menjawab. Bahkan terasa di dalam hatinya, goresan-goresan yang tajam menyentuh-nyentuhnya. “Ya, kenapa aku tidak mau pergi ke Tumapel?” pertanyaan itu berkejaran di dalam dirinya, “Kalau aku memenuhi permintaan ini sejak saat itu, maka aku tidak akan dikejar-kejar lagi oleh persoalan yang menjemukan ini.”

Mahisa Agni terkejut ketika ia mendengar suara Ken Dedes kembali, “Kakang, bagaimana? Kenapa kau berdiam diri? Jangan kau sangka bahwa aku tidak mengetahui alasanmu. Alasanmu yang sebenarnya kenapa kau tidak mau pergi ke Tumapel.”

Kini Mahisa Agni lah yang terdorong dalam suatu suasana yang ditakutinya. Kalau Ken Dedes itu benar mengetahui perasaannya maka alangkah malunya. Alangkah kecilnya nilai hati Mahisa Agni.

Ketika terdengar suara Ken Dedes sekali lagi berkata, “Kau ingin mendengar alasan itu kakang?”

Maka Mahisa Agni dengan serta merta memotongnya, “Tidak. Tidak. Jangan kau katakan Ken Dedes.”

“Kenapa?” desak Ken Dedes, “kenapa kau takut mendengarnya? Bukankah kau sendiri yang telah menumbuhkan alasan itu di dalam dirimu. Alasan yang sebenarnya terlampau dibuat-buat.”

“Jangan, jangan,” potong Mahisa Agni pula. Wajahnya yang tenang kini telah dilumuri oleh peluh dingin yang mengalir dari kening. Wajah Ken Dedes yang cantik dalam pakaian yang cemerlang itu, seolah-olah telah berubah menjadi wajah hantu yang mengerikan dari hantu padang Karautan yang pernah dikenalnya.

“Aku akan mengatakannya,” berkata Ken Dedes tegas, “aku akan mengatakannya alasan yang telah menahanmu untuk tidak pergi ke Tumapel.”

Sebelum Mahisa Agni sempat memotongnya, maka Ken Dedes pun telah berkata pula, “Kakang, ternyata kau memang menilai dirimu terlampau berlebih-lebihan. Mungkin karena kau satu-satunya anak muda di Panawijen yang mampu mengalahkan Kuda Sempana.”

“Ken Dedes,” potong Mahisa Agni.

Tetapi Ken Dedes sama sekali tidak mempedulikan. Dengan lantangnya ia berkata keras, “Dengan demikian kau merasa bahwa dirimu terlampau berharga. Mungkin kau memang sangat berharga dan dikagumi oleh anak-anak muda Panawijen, tetapi jangan menilai Tumapel yang luas ini sepicik kau menilai Panawijen kakang. Sehingga terhadap Akuwu Tumapel pun kau masih juga menganggap dirimu terlampau berharga. Aku tahu alasanmu, kepada kau tidak mau datang ke Tumapel,” Ken Dedes berhenti sesaat dan peluh yang menetes dari dahi Mahisa Agni menjadi semakin deras. Namun kini justru mulutnya serasa terkunci dan dibiarkannya Ken Dedes berkata terus, “Alasan itu adalah, bahkan kau merasa tersinggung karena aku tidak minta pertimbanganmu pada saat aku menerima lamaran Akuwu Tunggul Ametung. Kau merasa bahwa sepeninggal ayah, kau berhak menentukan jalan hidupku. Kau merasa bahwa kaulah yang harus mengatakan, apakah aku dapat menerima lamaran itu atau tidak. Bahkan mungkin kau berpikir, bahwa kau boleh dan berhak menerima atau menolak lamaran itu. Nah, apa katamu kakang? Bukankah dengan demikian kau menganggap dirimu terlampau penting, tidak saja dalam persoalan bendungan itu, tetapi juga dalam persoalanku. Ayahku dahulu memberi kesempatan kepadaku untuk memilih. Sekarang ayahku tidak ada, dan kau menjadi wakilnya. Apakah kau dapat berbuat lebih keras dari ayahku terhadap aku?”

Tiba-tiba Mahisa Agni itu menarik nafas dalam-dalam. Ia kini telah mendengar apa yang dikatakan Ken Dedes alasan yang tersimpan di dalam dirinya.

Dada Mahisa Agni itu bahkan kini serasa menjadi lapang. Sangat lapang setelah ia mendengar sendiri betapa Ken Dedes menilai dirinya. “Syukurlah,” desisnya di dalam hati. “Kalau hanya itu yang ditimpakan kepadaku,” tiba-tiba hati Mahisa Agni pun menjadi dingin. Ia tidak lagi dicengkam oleh kemarahan dan kecemasan. Kini yang dilihatnya duduk dihadapannya bukan lagi wajah hantu betina yang mengerikan, tetapi yang duduk dihadapannya adalah seorang gadis cantik yang sedang dicemaskan oleh keadaan dirinya sendiri, bahkan hampir dibayangi oleh perasaan putus asa.

Selanjutnya Mahisa Agni kini dapat mendengarkan kata-kata Ken Dedes dengan tenang.

“Kakang,” berkata Ken Dedes yang masih saja membanjir, “karena kekecewaanmu itu, maka kini kau menolak meneruskan persoalan yang kau anggap dirimu tidak perlu mencampuri karena sejak semula kau tidak dibawa berbincang. Karena persoalan harga dirimu yang berlebih-lebihan itu, kau telah menolak perintah Akuwu Tunggul Ametung. Kakang, apakah yang kau lakukan itu bukan suatu pemberontakan terhadap pimpinan pemerintahan, seperti yang dilakukan oleh Kuda Sempana?”

Betapapun Mahisa Agni telah berhasil menguasai perasaannya, namun ia terkejut juga mendengar tuduhan itu. Sehingga dengan serta merta ia bertanya, “Ken Dedes, kenapa kau menuduh aku sedemikian jauhnya, sehingga kau telah menganggap aku memberontak terhadap Akuwu Tunggul Ametung?”

“Bukankah yang terjadi demikian kakang?” berkata Ken Dedes dengan lantangnya, “Kau menolak mematuhi perintahnya. Perintah seorang Akuwu. Apakah itu sebenarnya, bukan suatu pemberontakan? Seperti Kuda Sempana telah menolak mematuhi perintah Akuwu Tunggul Ametung,” Ken Dedes berhenti sejenak. Seakan-akan ia memberi kesempatan kepada Mahisa Agni untuk mencernakan kata-katanya. Sejenak kemudian ia meneruskan, “Tetapi kakang, aku masih kecil dapat menghormati Kuda Sempana lebih dari padamu. Kuda Sempana memberontak karena ia kehilangan cita-cita. Kehilangan sesuatu yang telah diperjuangkannya dengan gigih. Tiba-tiba yang seakan-akan telah dicapainya itu telah direnggutkan oleh Akuwu Tunggul Ametung dari tangannya. Tegasnya, Kuda Sempana tidak dapat mencapai maksudnya karena Akuwu Tunggul Ametung. Maka ia pun telah meninggalkan istana dan melakukan perlawanan. Tetapi kau, apakah yang kau lakukan? Sama sekali bukan karena suatu cita-cita. Bukan karena kau kehilangan yang telah pernah kau miliki karena dirampas oleh Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi kau memberontak hanya karena kau merasa tersinggung. Tersinggung karena kau mempunyai harga diri yang berlebih-lebihan. Nah apa katamu kakang?”

Mahisa Agni menundukkan wajahnya. Alangkah sakitnya tuduhan itu menggores dinding jantungnya, seperti tergores sembilu. Namun Mahisa Agni benar-benar telah berhasil menguasai dirinya sejak ia mendengar tuduhan Ken Dedes atas alasan yang dianggapnya bermukim di dalam dadanya. Ia menjadi tenang, ketika ia merasa bahwa Ken Dedes tidak melihat apa yang sebenarnya tersimpan rapat di dalam relung hatinya yang paling dalam.

“Kang,” terdengar suara Ken Dedes, “katakan, katakan bahwa kau tidak memberontak hanya karena alasan yang tidak masuk akal itu?”

Mahisa Agni perlahan-lahan mengangkat wajahnya yang suram. Betapa suram wajah itu. Ia merasa bahwa Ken Dedes kini telah menganggap dirinya sama sekali tidak berharga. Jauh lebih tidak berharga dari Kuda Sempana yang dianggapnya berjuang untuk suatu cita-cita.

Namun Mahisa Agni itu pun menjawab dengan hati-hati, “Ken Dedes. Kenapa kau menganggap bahwa aku telah memberontak? Aku tidak sebodoh itu Ken Dedes. Bahkan betapa bodohnya aku, anak padesan, namun aku masih mempunyai kesadaran bahwa tanah ini adalah tanah yang memberi aku makan dan minum. Tanah ini adalah tanah dimana aku dilahirkan dan dibesarkan. Dimana aku bermain-main dan mengalami masa-masa lampauku. Dan tanah ini adalah tanah Tumapel. ”

“Ken Dedes. Kau tahu apa yang telah dilakukan oleh ayahmu? Betapa orang tua itu menjadi kecewa dan marah karena kehilangan puteri satu-satunya. Puteri itu adalah kau Ken Dedes. Tetapi apa yang dilakukan oleh ayahmu? Ayahmu tahu benar, bahwa diantara mereka yang datang ke padepokan ini adalah Akuwu Tunggul Ametung. Ayahmu tahu benar bahwa benar-benar Tunggul Ametung telah melindungi Kuda Sempana mengambil anak satu-satunya. Anak itu adalah miliknya yang paling berharga di dunia ini.”

“Tetapi Ken Dedes, ayahmu itu tidak memberontak. Memberontak dalam pengertian yang sebenarnya. Memang ayahmu untuk sejenak kehilangan keseimbangan dengan memecah bendungan itu. Tetapi setelah itu ayahmu tidak berbuat apa-apalagi. Ia lebih baik membuang dirinya dengan hati yang pedih. Kalau ia mau Ken Dedes, kalau ia ingin merebut kau kembali dengan kekerasan, maka tidak mustahil bahwa itu akan dapat dilakukan. Empu Purwa adalah seorang yang baik hati. Kawan-kawannya tersebar di seluruh Tumapel. Kawan-kawan sebayanya. Kawan-kawannya yang mampu memecah bendungan dengan tangan seperti yang dilakukan oleh ayahmu.”

“Tetapi Empu Purwa tidak berbuat demikian. Empu Purwa tidak memberontak, karena ia menyadari keadaannya. Menyadari akibat yang dapat terjadi. Pertumpahan darah dan penderitaan. Mungkin Empu Purwa berhasil mendapatkan anaknya kembali, tetapi ia akan mendapatkannya diatas tumpukan mayat sesama. Bukan itu saja. Kalau terjadi peperangan di Tumapel, perang saudara, maka akan hancurlah peradaban. Akan terinjak-injaklah segala macam ketentuan dan peraturan oleh kekerasan dan kekuatan.”

“Karena itu Empu Purwa tidak merebutmu dengan kekerasan meskipun mungkin ia mampu. Tetapi ia tidak sebodoh itu. Orang tua itu pun merasa bahwa tanah ini adalah tanah yang memberinya makan dan minun. Tanah tempat ia bernaung di bawah rimbun tetumbuhananya. Tanah tempat ia hidup dalam lingkungan yang serasi. Tanah ini adalah tanah tumpah darah yang tidak sepantasnya dihancurkannya sendiri, hanya karena kepentingan pribadi, kepentingan seorang saja dari seluruh Tumapel ini,” Mahisa Agni berhenti sejenak untuk menelan ludahnya. Seolah-olah mulutnya telah menjadi kering. Tetapi matanya yang suram masih juga memandangi wajah Ken Dedes yang kini tunduk. Sesaat kemudian Mahisa Agni meneruskan, “Ken Dedes. Empu Purwa adalah guruku. Guruku tidak mau melihat pertentangan terjadi diantara kita di Tumapel. Apa yang sebaiknya dilakukan oleh muridnya?”

“Ken Dedes. Aku bukan seorang pengkhianat yang sampai hati berkhianat terhadap tanah ini. Dan aku pun telah mencoba tidak melenyapkan diri seperti Empu Purwa yang benar-benar telah kehilangan segala-galanya, karena kau hilang. Tetapi aku mencoba berbuat lain. Aku tidak akan berbuat sesuatu karena kau. Baik karena harga diriku maupun karena sebab-sebab lain. Tetapi lebih baik bagiku untuk berbuat sesuatu yang dapat memberikan manfaat bagi rakyat Panawijen, sebagian dari tanah Tumapel. Karena itu, aku bekerja keras membuat bendungan. Tidak ada gunanya bagiku untuk berbuat sebodoh Kuda Sempana, berkhianat karena kepentingan pribadi, dan aku juga tidak ingin menghilang tanpa tujuan, sebab dengan demikian hidupku tidak akan berarti lagi meskipun umurku masih cukup muda. Tidak. Aku membuat jalan sendiri. Bekerja untuk kepentingan sesama, untuk kepentingan tanah ini. Panawijen sebagian dari Tumapel yang besar.”

Setiap kata yang diucapkan oleh Mahisa Agni serasa menyusup langsung ke pusat jantung Ken Dedes. Las-lasan. Tak ada satu pun yang terlampaui. Kata-kata yang memberinya kesadaran tentang dirinya, tentang orang yang dihadapinya dan tentang semua peristiwa yang telah terjadi.

Hati Ken Dedes itu pun kemudian bergolak. Belum lagi. Sepemakan sirih hatinya digetarkan oleh kenyataan yang tampak pada diri Mahisa Agni. Meskipun Ken Dedes telah merencanakan segala sesuatu untuk menyambut kakak angkatnya, namun ketika ia melihat tubuh Mahisa Agni yang kurus dan kulitnya yang terbakar oleh terik matahari, maka air matanya telah runtuh. Saat itu ia telah menemukan nilai yang wajar atas kerja yang dilakukan oleh Mahisa Agni itu. Tetapi karena kemudian hatinya sendiri dibakar oleh perasaannya yang meluap-luap tentang hubungannya dengan Mahisa Agni, maka seolah-olah penilaiannya yang wajar atas Mahisa Agni itu telah dilupakan.

Kini kembali ia menemukan penilaian itu. Kini kembali ia melihat apa yang dilakukan oleh Mahisa Agni, dan apa yang telah dilakukannya. Bahwa kerja Mahisa Agni mencakup suatu kebutuhan yang luas, yang akan memberi sumber bagi kehidupan rakyat Panawijen di hari kemudian, bahkan sampai pada anak cucu. Sedang yang terjadi pada dirinya adalah, perjuangan untuk diri sendiri.

Tiba-tiba wajah Ken Dedes yang tunduk menjadi semakin dalam menghunjam lantai. Dan tiba-tiba pula Mahisa Agni melihat butiran-butiran air menetes satu-satu. Karena itu Mahisa Agni berhenti berbicara. Tetesan air-mata itu telah menyentuh hatinya, dan ia menjadi iba karenanya.

“Maafkan aku kakang,” terdengar suara Ken Dedes sangat perlahan, hampir tidak kedengaran.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.

“Kau mengerti Ken Dedes,” bertanya Mahisa Agni.

Ken Dedes mengangguk perlahan-lahan ia menyahut, “Ya aku mengerti.”

“Nah, kalau begitu, bagaimana seterusnya?” bertanya Mahisa Agni.

“Kau benar kakang. Kau telah berbuat untuk orang banyak. Kau telah berjuang untuk sesama. Dalam pada itu aku sedang bekerja keras untuk diriku sendiri, untuk kepentinganku seorang,” Ken Dedes berhenti sejenak. Kemudian kata-katanya telah mengejutkan Mahisa Agni, “Kakang, aku akan berbuat seperti kau. Tak ada gunanya aku kembali ke Tumapel. Aku akan duduk diatas singgasana permaisuri Tumapel, namun kakiku akan beralaskan kebahagiaan ayah, kau dan rakyat Panawijen.”

“Ken Dedes,” potong Mahisa Agni. Tiba-tiba dadanya menjadi berdebar-debar.

“Aku akan kembali ke padukuhan ini. Bekerja seperti orang lain bekerja. Menderita seperti orang lain menderita.”

Mahisa Agni terbungkam untuk sesaat. Terasa dadanya menjadi bergelora. Ia tidak tahu pasti, perasaan apakah yang sedang melanda jantungnya.

Sekilas terbayang gadis itu datang kembali ke padepokan ini. Seperti bunga yang layu, maka padepokan ini akan menemukan kesegarannya kembali karena hujan yang turun semalam. Hati yang kering akan kembali bersemi. Gadis itu akan dapat menumbuhkan gairah yang dahsyat menghadapi kerja. Dan hidupnya sendiri tidak akan menjadi gersang seperti sawah yang terentang di sekitar padukuhan ini. Kehadiran Ken Dedes pasti akan menjadi sumber tenaga yang tak akan kering-keringnya, seperti bendungan yang sedang dibangunnya itu.

Tetapi ketika Mahisa Agni melihat gadis itu, Ken Dedes dalam pakaian yang cemerlang, namun tetesan-tetesan air mata masih juga berjatuhan, hatinya memekik tinggi.

“Tidak,” teriak hatinya, “tidak. Itu juga semacam kebutuhan pribadi. Aku ternyata juga mementingkan diriku sendiri dari kepentingannya.”

Mahisa Agni itu menggelengkan kepalanya. Ia tidak sampai hati membiarkan Ken Dedes melepaskan pakaian kebesaran yang telah pernah dikenakannya, hanya karena kerakusannya.

Terdengar Mahisa Agni berdesah. Namun kemudian ia berkata, “Tidak Ken Dedes. Kau jangan terlampau banyak mengorbankan dirimu, salah seorang dari kita, dari keluarga ini telah cukup. Aku telah menebus semua hutang yang telah dibuat oleh keluarga kita. Pergunakanlah kesempatanmu baik-baik. Mudah-mudahan kau tidak akan mengalami kepahitan lagi seperti masa-masa lampaumu.”

Ken Dedes mengangkat wajahnya. Matanya yang basah berkaca-kaca memandangi wajah Mahisa Agni yang merah kehitam-hitaman oleh terik matahari. Namun dari mata yang cekung itu masih terasa sinar mata yang dahulu, meskipun mata itu kini menjadi suram.

“Kakang, aku adalah sebagian dari padepokan ini.”

“Ya,” sahut Agni, “tetapi kau berhak menentukan hari depanmu seperti ayahmu pernah mengatakan. Bukankah Empu Purwa pernah membuat sebuah permainan yang disebutnya sayembara pilih meskipun para pengikut sayembara itu tidak hadir?”

Ken Dedes menundukkan wajahnya kembali. Tetapi ia tidak dapat melupakan permintaan Akuwu Tunggul Ametung untuk bertemu dengan Mahisa Agni.

Tiba-tiba Mahisa Agni menangkap kebimbangan di dalam diri Ken Dedes. Kebimbangan yang telah memeras air matanya semakin banyak mengalir.

Kini kembali terjadi pergolakan d:dalam dada Mahisa Agni. Ia tidak dapat melihat kepedihan itu. Seperti pada masa kanak-kanak mereka, Mahisa Agni tidak dapat melihat dan membiarkan Ken Dedes menangis. Karena itu tiba-tiba ia berkata, “Ken Dedes, biarlah aku besok mengantarmu ke Tumapel. Biarlah aku mematuhi perintah Akuwu Tunggul Ametung untuk kepentinganmu. Mudah-mudahan kau akan dapat menemukan kebahagiaan.”

Hati Ken Dedes tergetar mendengar kesedian Mahisa Agni itu. Tetapi tidak seperti pada saat-saat Mahisa Agni bersedia memetik sebuah jambe yang berwarna merah jambu, kali ini Ken Dedes tidak memekik kegirangan. Gadis itu tidak melonjak dan menari-nari. Bahkan Ken Dedes itu masih saja menundukkan wajahnya. Terasa betapa Mahisa Agni mencoba untuk membuatnya berbesar hati, namun terasa pula bahwa Mahisa Agni memenuhi permintaannya dengan hati yang berat.

Ken Dedes kini menganggap bahwa Mahisa Agni telah bersedia melepaskan perasaan harga dirinya, karena perasaan iba dan belas kasihan.

Dalam pada itu terdengar Mahisa Agni berkata, “Sudahlah Ken Dedes. Jangan risaukan lagi semua peristiwa yang terjadi. Yang pernah terjadi biarlah terjadi. Jadikanlah semuanya sebagai pangilon dimana setiap kali kita dapat bercermin. Kemudian marilah kita memandang masa depan kita. Kau dengan masa depanmu yang cemerlang, seperti kecemerlangan pakaianmu itu, dan Panawijen akan menjadi segar dan hijau kembali, meskipun kami terpaksa bergeser beberapa tonggak dari tempat ini.”

Perlahan-lahan Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Tetapi gadis itu belum mampu mengucapkan sepatah katapun.

Yang berkata kemudian adalah Mahisa Agni pula, “Ken Dedes, kembalilah ke pendapa. Bukankah kau tidak datang sendiri ke padepokan ini? Para prajurit pasti sudah menunggumu. Mereka pasti bertanya-tanya apa saja yang dipercakapkan oleh Ken Dedes dan Mahisa Agni selama ini.”

Ken Dedes mengusap air matanya dengan ujung kainnya Kemudian gadis itu mengangguk kecil sambil berkata, “Ya kakang.”

“Kau sekarang bukan Ken Dedes yang dahulu. Bukan lagi puteri Empu Purwa, seorang pendeta yang tinggal di padepokan kecil di Panawijen. Tetapi kau sekarang adalah seorang calon permaisuri. Kau harus bersikap lain dan bertingkah laku lain. Sebab ternyata meskipun kau telah berpakaian seindah itu, dikawal oleh sejumlah prajurit, namun kau masih saja suka menangis.”

“Ah,” desah Ken Dedes.

Tetapi Mahisa Agni berkata terus untuk memecahkan ketegangan yang selama ini menghimpit hatinya, “Kau tidak dapat bersikap demikian terhadap Akuwu Tunggul Ametung nanti. Kau dapat menangis, merengek terhadap kakakmu, tetapi tidak terhadap suamimu. Suamimu akan bersedih melihat kau menangis. Kalau ia sedang dirisaukan oleh pekerjaannya sebagai seorang Akuwu maka mungkin sekali akalnya akan buntu. Tetapi hatinya akan segar apabila ia selalu melihat kau tertawa. Wajah yang cerah bagi seorang suami jauh lebih berharga dari apapun juga.”

“Ah,” sekali lagi Ken Dedes berdesah.

“Sekarang kembalilah ke pendapa. Aku akan segera menyusul.”

“Apakah kau akan lari lagi kakang?” bertanya Ken Dedes tiba-tiba.

Kali ini Mahisa Agni tersenyum. Ia mencoba untuk melenyapkan segala macam perasaan yang sebenarnya masih bersilang tindih di hatinya. Katanya, “Jangan takut Ken Dedes, aku tidak akan lari kali ini. Aku hanya akan mempersiapkan hidangan yang pantas untuk tamu-tamu kita.”

“Para endang telah melakukannya dengan baik kakang.”

“Oh, baiklah,” sahut Mahisa Agni, “tetapi pergilah dahulu ke pendapa.”

Ken Dedes tidak membantah. perlahan-lahan ia bangkit dan membenahi pakaiannya yang agak kusut. Kemudian ia pun pergi meninggalkan Mahisa Agni ke pendapa.

Mahisa Agni pun kemudian berdiri pula. Sepeninggal Ken Dedes, kembali wajahnya menjadi suram. Tetapi kali ini ia tidak lagi berniat ingkar, “Aku akan segera menyelesaikan saja persoalan ini, supaya aku tidak selalu terganggu. Pekerjaanku masih banyak dan memerlukan waktu yang cukup panjang.”

Ketika Mahisa Agni kemudian pergi ke halaman belakang untuk mencuci mukanya yang serasa menjadi panas, tiba-tiba ia mendengar suara tertawa di sudut halamannya. Ketika ia berpaling dilihatnya Kebo Ijo duduk diatas rumput-rumput kering bersama seorang perwira lainnya.

Mahisa Agni menarik nafas panjang. Ternyata kemudian ia melihat beberapa orang prajurit yang lain berdiri berjaga-jaga di sudut-sudut yang lain.

“Hem,” desahnya, “rumah ini seperti istana seorang bangsawan yang memerlukan penjagaan demikian kuatnya,” Tetapi kemudian disadarinya, bahwa yang kini berada di dalam rumah itu, justru orang kedua sesudah Akuwu Tunggul Ametung sendiri. Seorang gadis yang bakal menjadi permaisurinya.

Sekali lagi Mahisa Agni berpaling ke arah Kebo Ijo ketika ia masih saja mendengar anak muda itu tertawa. Bahkan kemudian ia bertanya kepada Mahisa Agni, “He Mahisa Agni. Rupa-rupanya nasibmu memang terlampau baik. Untunglah bakal iparmu yang bernama Wiraprana itu mati, sehingga kau akan mendapat ipar seorang Akuwu yang bernama Tunggul Ametung.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia melihat perwira yang seorang lagi itu pun memandangi wajah Kebo Ijo dengan herannya.

“Bukankah begitu Mahisa Agni?”

Betapa perasaan Mahisa Agni bergetar, namun ia menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ya Kebo Ijo.”

Kebo Ijo menjadi kecewa mendengar jawaban itu. Ternyata Mahisa Agni menurut tangkapannya tidak menjadi jengkel. Karena itu maka justru ia terdiam. Apalagi ketika Mahisa Agni kemudian berkata, “Kalau tidak terjadi demikian, maka kau tidak akan sudi berkunjung kemari, meskipun kali ini kau datang bukan atas kehendakmu sendiri.”

Kebo Ijo menggigit bibinya. Tetapi ia tidak menjawab. Ditatapnya saja Mahisa Agni yang pergi ke pakiwan dengan mata yang merah.

Ketika Mahisa Agni sudah tidak tampak lagi, maka Kebo Ijo itu bergumam, “Anak itu akan menjadi semakin sombong dan besar kepala apabila nanti adiknya menjadi seorang permaisuri.”

Perwira yang duduk di samping Kebo Ijo tidak menjawab. Tetapi menurut kesannya, Mahisa Agni sama sekali bukan anak muda yang sombong.

Dalam pada itu, para endang di pendapa telah hampir menjadi pingsan. Mereka duduk kaku tanpa berani menggerakkan ujung jarinya sekalipun. Mereka duduk dalam kebingungan. Hanya sekali hitam matanya saja yang bergerak-gerak.

Ketika mereka melihat Ken Dedes keluar dari pendapa, maka hampir berbareng menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kembali mereka menjadi tegang ketika mereka melihat Witantra, Sidatta dan Mahendra membungkukkan kepalanya dalam-dalam.

Ken Dedes kemudian duduk kembali di tempatnya. Meskipun ia tersenyum, namun setiap orang yang melihatnya, dapat mengetahuinya, bahwa ia baru saja menangis.

“Kakang,” berkata Ken Dedes, “kakang kini dapat beristirahat. Besok kita akan kembali ke Tumapel.”

Witantra mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, “Hamba tuan puteri. Tetapi apakah kakanda tuan puteri akan beserta kita?”

“Ya.”

Sekali lagi Witantra mengangguk. Kemudian katanya, “Kami mohon diri untuk beristirahat tuan puteri.”

“Silahkan kakang.”

Witantra, Sidatta dan Mahendra pun kemudian turun dari pendapa. Mereka berjalan perlahan-lahan ke gandok kanan, tempat yang telah disediakan untuk mereka. Sedang para prajurit yang bertugas, masih juga berdiri dengan senjata di tangan.

Kini para endang pun saling berpandangan. Para perwira itu tampaknya sama sekali tidak menjadi lelah, pening atau pun gelisah selama mereka duduk diam di pendapa. Para endang itu tidak dapat membayangkan, bahwa dalam pasewakan-pasewakan yang sebenarnya di istana Tumapel, maka para prajurit, para pimpinan pemerintahan harus duduk lebih lama lagi untuk memperbincangkan berbagai masalah yang penting.

Tetapi bagi para endang itu, yang tidak pernah mengalami peristiwa-peristiwa semacam itu, merasa seolah-olah duduk diatas bara api. Kini satu-satunya harapan mereka di dalam hati adalah, meninggalkan pendapa itu secepatnya.

Ketika Ken Dedes tidak juga bangkit, maka salah seorang endang yang tidak lagi dapat menahan diri bertanya terbata-bata, “Ken Dedes, sampai kapan kita akan duduk disini? Bukankah para prajurit itu telah pergi, dan kau dapat meninggalkan tempatmu pula?”

Ken Dedes berpaling. Tiba-tiba ia tersenyum melihat wajah para endang yang tegang, “Kenapa kalian menjadi seolah-olah kebingungan?”

“Kami hampir pingsan Ken Dedes,” sahut endang yang lain.

Ken Dedes tidak dapat menahan tawanya. Katanya, “Biasakan dirimu duduk tenang. Mungkin akan berguna bagi saat-saat mendatang.”

“Apakah kalau kau menjadi seorang permaisuri kami harus duduk sedemikian lamanya?”

“Kalau kalian berada di istana, maka kalian harus duduk bersimpuh lebih lama lagi dari pada kali ini.”

“Lebih baik aku tinggal di padepokan. Aku tidak akan terikat berbagai peraturan yang mengurangi kebebasanku,” gerutu seorang endang yang masih sangat muda.

Ken Dedes tersenyum. Tetapi terasa sesuatu berdesir di dalam dadanya. Endang itu lebih senang tinggal di padepokan. Istana baginya adalah perlambang dari suatu lingkungan yang akan mengikatnya dengan berbagai aturan yang menjemukan.

“Marilah, kita meninggalkan pula tempat ini. Di istana, para prajurit dan para pemimpin pemerintah baru dapat meninggalkan pendapa apabila Akuwu telah masuk ke dalam istana. Tetapi aku tidak perlu berbuat demikian di istana terhadap para prajurit.”

Para endang itu pun kemudian berdiri dengan serta-merta. Mereka tidak menunggu Ken Dedes berdiri lebih dahulu. Bahkan ada diantara mereka yang dengan tanpa segan-segan berdiri dihadapan Ken Dedes sambil mengibas-ngibaskan kakinya yang semutan. Namun Ken Dedes menyadari, bahwa mereka belum mengenal tata-cara istana yang sebenarnya harus dilakukan.

Hari itu bagi Ken Dedes terasa terlampau lama. Dengan tegangnya ia menunggu matahari terbenam. Namun malam yang kemudian turun dengan malasnya terasa bertambah-tambah panjang pula. Ketika ia terbangun, maka yang terdengar adalah bunyi kentongan dara-muluk.

“Aku merasa telah terlampau lama tidur, tetapi ternyata baru tengah malam,” desisnya. Gadis itu seolah-olah tidak sabar lagi menunggu esok. “Jangan-angan kakang Mahisa Agni malam ini mengambil keputusan lain dan pergi meninggalkan padepokan.”

Tetapi akhirnya fajar pecah di timur. Para prajurit pun segera berkemas-kemas. Pagi itu mereka akan meninggalkan Panawijen kembali ke Tumapel bersama Mahisa Agni.

Orang-orang Panawijen yang meskipun hanya sejenak telah sempat bertemu dengan Ken Dedes, pagi itu berdiri di sepanjang jalan melihat iring-iringan yang mengantarkan Ken Dedes kembali ke Tumapel. Seperti pada saat datang, Ken Dedes kali ini pun mengenakan pakaian kebesarannya. Pakaian dalam warna-warna yang cemerlang, sehingga perempuan-perempuan, gadis-gadis kawannya bermain-main, memandanginya dengan mulut ternganga.

“Gadis itu benar-benar cantik,” gumam seorang perempuan tua.

Tetapi seorang gadis yang menjadi iri berkata, “Yang cantik adalah pakaiannya, bukan orangnya.”

Iring-iringan itu pun kemudian berjalan perlahan-lahan meninggalkan Panawijen, diantar lambaian tangan orang-orang Panawijen yang menyaksikannya.

Tetapi ketika iring-iringan itu telah sampai di bulak yang kering, maka tanpa mereka sadari, beberapa pasang mata yang tajam, setajam mata burung hantu mengawasi dengan penuh dendam dan benci.

Tetapi orang-orang yang sambil bersembunyi-sembunyi mengintai iring-iringan itu tidak dapat berada di tempat yang terlampau dekat, sehingga mereka tidak dapat melihat dengan jelas, siapa-apa saja yang berada di dalam iring-iringan itu.

Mereka itu adalah Empu Sada dan kedua muridnya yang terdekat, Kuda Sempana yang pernah menjadi seorang hamba istana dan orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo, yang menurut pengakuannya adalah seorang pedagang keliling.

“Kita tidak dapat mengulangi kesalahan kita,” gumam Empu Sada.

Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Panji yang kurus itu pasti masih selalu mengawasi mereka, “sambungnya.

Kembali kedua muridnya menganggukkan kepalanya.

Kini untuk sejenak mereka berdiam diri. Mereka mencoba untuk mengenal orang-orang di dalam iring-iringan itu. Tetapi jarak mereka terlampau jauh. Karena itu maka mereka tidak melihat bahwa Mahisa Agni berada di dalam barisan itu.

“Guru,” berkata Kuda Sempana kemudian, “apakah guru benar-benar ingin berhubungan dengan paman Kebo Sindet dan paman Wong Sarimpat?”

Empu Sada tidak segera menjawab. Sebenarnya ia sendiri sampai saat itu masih diliputi oleh keragu-raguan. Ia tahu benar bahwa Kebo Sindet dan Wong Sarimpat adalah orang-orang yang tidak mengenal tata tertib pergaulan. Mereka ingin berbuat apa saja yang dikehendakinya, sehingga mereka sampai saat ini menjadi orang-orang yang sama sekali tidak disukai, baik oleh rakyat Tumapel maupun oleh pimpinan pemerintahan.

“Bagaimana guru,” desak Kuda Sempana.

Empu Sada masih memandangi iring-iringan yang meninggalkan debu yang putih mengepul ke udara.

“Kuda Sempana,” terdengar suara Empu Sada tiba-tiba menjadi berat, “apakah kau masih inginkan gadis itu?”

Pertanyaan itu benar-benar menggetarkan dada Kuda Sempana. Terasa nada pertanyaan gurunya seolah-olah tidak lagi mengandung gairah perjuangan. Bahkan seolah-olah nada pertanyaan itu melemahkan semangatnya.

Karena itu, maka Kuda Sempana ingin menunjukkan bahwa tekad di dalam dadanya telah bulat. Katanya, “Tentu guru. Kalau aku tidak berhasil, maka sudah aku katakan, bahwa aku akan menghancurkannya. Semua orang yang menghalang-halangi kehendakku ini akan aku anggap telah berbuat salah dan harus dihancur-lumatkan.”

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Kemudian desahnya, “Kau terlalu berkeras hati. Bukankah kau telah melihat, bahwa di sekitar Ken Dedes berdiri para prajurit pengawal istana.”

“Apakah guru dapat digetarkan hanya oleh Witantra.”

“Tak ada orang yang dapat menggetarkan hatiku Kuda Sempana,” sahut gurunya, “tetapi marilah kita perhitungkan kekuatan yang ada. Witantra tidak berdiri sendiri. Bukankah kau telah mengenal gurunya, Panji Bojong Santi? Sedang Mahisa Agni pun kini mendapat kawan baru yang katanya adalah pamannya, Empu Gandring, tukang keris itu.”

“Karena itu guru dapat berhubungan dengan Wong Sarimpat dan Kebo Sindet,” sahut Kuda Sempana pula.

Gurunya kembali terdiam. Ia melihat kekerasan hati muridnya. Tetapi sebagai seorang yang telah berumur lanjut, maka hatinya jauh lebih mengendap dari Kuda Sempana, sehingga Empu Sada itu mampu melihat kemungkinan-kemungkinan yang dihadapinya. Katanya, “Kuda Sempana, pekerjaan ini terlampau berat.”

“Guru, aku tidak akan menyentuh apa saja yang dimiliki oleh Ken Dedes. Perhiasan, pakaian dan kekayaannya. Aku hanya memerlukan orangnya.”

Orang yang menamakan dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu menelan ludahnya. Kekayaan itu pasti berlimpah-limpah. Tetapi di dalam dirinya tersembunyi pula pengertian bahwa merebut Ken Dedes akan sama sulitnya dengan merebut tahta Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu, maka ia sama sekali tidak mengemukakan lagi pendapatnya.

“Kuda Sempana,” berkata Empu Sada, “kau tahu bahwa merebut Ken Dedes kini tidak semudah pada saat ia masih berada di Panawijen. Ia kini berada dalam istana yang mempunyai prajurit yang tidak saja cukup banyak, dan mereka adalah prajurit-prajurit yang tangguh.”

Kuda Sempana telah mengenal pula keadaan istana Tumapel dengan baik. Ia tahu benar, bahwa ia tidak akan mendapat kemungkinan untuk merebut Ken Dedes dalam keadaannya kini. Karena itu, maka sekali lagi ia berkata, “Guru, sekali lagi aku ingin bertanya bagaimana dengan paman Kebo Sindet dan Wong Sarimpat?”

“Kau belum mengenal mereka sebaik aku mengenal Kuda Sempana. Mereka adalah orang-orang yang dapat disebut orang-orang liar. Orang-orang yang berada diluar lingkungan masyarakat yang beradab. Mereka adalah orang-orang buruan.”

Empu Sada terkejut ketika ia mendengar jawaban Kuda Sempana yang tidak disangka-sangkanya, “Kita pun orang-orang buruan guru.”

“He?”

“Kita sudah mulai. Apalagi aku. Guru pun telah melakukan perlawanan atas Witantra yang membawa kekuasaan Tunggul Ametung di hutan didekat padang Karautan.”

Wajah Empu Sada menjadi berkerut-kerut. Kata-kata Kuda Sempana itu benar. Ia telah terdorong pula ke dalam suatu keadaan yang sulit. Apabila Witantra nanti sampai di Tumapel, dan Akuwu mendengar laporannya tentang dirinya, maka Empu Sada dan murid-muridnya adalah orang-orang buruan seperti Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.

Sejenak Empu Sada berdiam diri. Direnungkannya dirinya dan apa saja yang telah dilakukannya. Tetapi bagaimanapun juga ia masih melihat perbedaan yang tajam antara dirinya dan kedua orang-orang liar itu. Bahkan apabila ia dapat menarik dirinya kembali, ia masih belum terjerumus terlampau jauh.

Tetapi muridnya yang bernama Kuda Sempana itu agaknya benar-benar telah berkeras hati. Ketika ia melihat gurunya ragu-ragu maka katanya, “Guru. Kita sudah terjun ke tengah-tengah sungai. Terus atau kembali, kita sudah terlanjur basah kuyup.”

Sekali lagi Empu Sada menarik nafas. Katanya masih dalam nada yang rendah, “Kuda Sempana, kau pernah menjadi seorang hamba Tunggul Ametung. Apa kau sangka kita meskipun bersama dengan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, mampu mengalahkannya?”

“Aku sama sekali tidak ingin merebut kedudukan Tunggul Ametung, guru.”

“Menginginkan seorang permaisuri akan sama artinya dengan menginginkan kedudukannya.”

“Tidak. Kalau aku sudah mendapatkan Ken Dedes, aku akan pergi jauh sekali keluar Tumapel, bahkan mungkin keluar Kediri.”

“Alangkah bodohnya kau,” gurunya menggerutu, “kau sendiri pernah menjadi pelayan dalam. Kau sangka bahwa merebut Ken Dedes tidak berarti perang melawan Tunggul Ametung. Meskipun kau tidak menginginkan kedudukannya, tetapi perang itu sudah terjadi.”

Kuda Sempana terdiam. Hatinya gelap telah menutup segenap kemauannya untuk berpikir. Tetapi kali ini ia mendengar kata-kata gurunya. Dan kata-kata itu mampu menyelusup ke dalam hatinya yang gelap.

Tetapi meskipun demikian ia menjawab, “Guru, bukan maksudku untuk berbuat demikian. Bagaimana kalau gadis itu diculik?”

“Pekerjaan itu pun bukan pekerjaan yang mudah Kuda Sempana.”

Kembali Kuda Sempana terdiam. Namun gejolak di dalam dadanya sama sekali tidak mereda. Ketika ia mengangkat wajahnya, ia melihat ekor dari iring-iringan itu sudah menjadi semakin jauh, dan hampir lenyap ditikungan. Yang tampak kemudian hanyalah tanaman-tanaman yang kering kekuning-kuningan.

“Persetan dengan bencana yang menimpa Panawijen,” tiba-tiba Kuda Sempana menggeram. Dendamnya kepada Panawijen manjadi semakin memuncak. Panawijen tempat ia dilahirkan, tempat ia dibesarkan dan tempat orang tuanya bergelut dengan hidup keluarganya, sama sekali tidak menarik perhatiannya. Bahkan baginya Panawijen adalah mereka yang telah membakarnya selama ini. Apalagi anak muda yang bernama Mahisa Agni, benar-benar telah menyalakan segala macam kebencian di dalam dadanya.

Dalam pada itu, tiba-tiba Kuda Sempana itu bergumam, “Guru, bagaimanapun juga, sebaiknya kita coba. Berhasil atau tidak berhasil, sebaiknya guru menghubungi Wong Sarimpat dan Kebo Sindet. Kalau aku tidak berhasil mendapatkan Ken Dedes, maka aku akan membuat pembalasan dengan caraku. Menghancurkan bendungan yang sedang dibangun, menangkap dan membunuh Mahisa Agni sehingga akibatnya pasti akan menyiksa perasaan Ken Dedes. Biarlah hatinya tersiksa seperti hatiku.”

Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Kalau hanya itu yang dikehendaki dan dapat memberinya kepuasan, maka kiranya tidak terlalu sulit untuk dilakukannya. Karena itu maka jawabnya, “Kuda Sempana, mungkin kita akan dapat berbuat demikian. Memecah rencana yang tengah dibuat oleh Mahisa Agni itu, bahkan membinasakan. Tetapi seterusnya, untuk mendapatkan Ken Dedes adalah terlampau sulit bagimu kini.”

“Mahisa Agni adalah sumber dari kegagalan itu guru.”

Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sejenak kemudian ia menjadi berbimbang hati. Kalau ia melakukan perbuatan itu, apakah keuntungan yang didapatkannya, selain diburu dan di kejar-kejar oleh Akuwu Tunggul Ametung? Tetapi dalam pada itu kini menyelusup perasaan lain pula di dalam dadanya, Empu Sada itu sendiri tidak mengetahuinya, kenapa tiba-tiba ia ingin membela muridnya dengan kemauan yang berbeda dari saat-saat lampaunya. Pada masa-masa yang lampau, setiap perbuatannya pasti diperhitungkannya, upah apakah yang akan diterima dari muridnya yang dibantunya. Tetapi setelah ia melihat beberapa perguruan lain, melihat, bagaimana sikap Panji Bojong Santi terhadap muridnya, maka pendirian itu tanpa dikehendakinya sendiri telah bergeser pula karena harga dirinya yang tampil ke depan. Empu Sada tidak mau perguruannya menjadi bahan ejekan dari perguruan-perguruan lain karena setiap usaha dan kemauan murid-muridnya selalu tidak pernah terpenuhi.

Tetapi Empu Sada itu terkejut ketika tiba-tiba muridnya berkata, “Kalau demikian, mengapa tidak malam ini saja kita menghancurkan rencana Mahisa Agni dan menangkapnya?”

“Sudah aku katakan,” sahut gurunya, “di samping Mahisa Agni kini ada pamannya Empu Gandring. karena itu kita tidak boleh terlampau tergesa-gesa.”

Namun terasa Kuda Sempana tidak bersabar lagi. Tetapi ketika ia ingin menyatakan perasaannya itu, terdengar orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo berkata, “Aku mempunyai cara yang baik untuk menyiksa perasaan Mahisa Agni.”

Kuda Sempana dan Empu Sada itu pun berpaling kepadanya. Hampir bersamaan mereka berkata, “Apakah cara itu?”

“Kita biarkan Mahisa Agni membuat bendungan itu sampai saat hampir selesai. Nah, ketika mereka merasa bahwa mereka pasti akan menikmati hasil usahanya itu, maka bendungan itu kita pecahkan. Kita hanyutkan Mahisa Agni di dalam arusnya yang keras.”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Terlampau lama. Berapa bulan lagi hal itu terjadi?”

“Tetapi peristiwa itu akan menyenangkan sekali. Bukan saja Mahisa Agni, alangkah kecewanya orang-orang Panawijen yang lain. Kalau bendungan itu kau rusakkan sekarang, maka kerugian mereka tidak seberapa banyaknya. Dalam pada itu, guru masih mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan paman Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.”

Kuda Sempana terdiam sesaat. Tetapi katanya kemudian, “Aku sependapat, tetapi kita tidak perlu menunggu bendungan itu selesai. Aku tidak ingin pembalasan ini datang terlampau lama.”

Empu Sada pun mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Pendapat muridnya yang seorang itu memang menyenangkan sekali. Sebagai suatu cara untuk melepaskan sakit hati, maka cara itu pasti akan mencapai maksudnya. Bahkan Empu Sada itu menyambung, “Pendapat itu baik sekali. Kalau Mahisa Agni dapat ditangkap, maka jangan tergesa-gesa dimasukkan ke dalam arus air. Berilah kesempatan kepadanya melihat bendungan yang telah dikerjakannya itu pecah. Beri kesempatan ia menjadi kecewa. Sangat kecewa. Biarlah ia melihat parit-parit yang sudah digalinya menjadi kering kembali.

Dengan demikian ia dapat membayangkan, penduduk Panawijen segera akan ditimpa bencana. Bahkan seandainya Mahisa Agni tidak dibunuh sekalipun, maka siksaan yang akan dialaminya akan jauh lebih sakit dari pada sakit hatimu Kuda Sempana.

“Tidak guru,” sahut Kuda Sempana tiba, “tidak ada sakit hati yang melampaui sakit hatiku.”

“Ya, ya,” jawab Empu Sada cepat-cepat, “aku tahu. Maksudku, pembalasan itu akan cukup memadai dengan perbuatannya.”

Kuda Sempana terdiam sejenak. Kini mereka sudah tidak melihat lagi iringan yang mengantarkan Ken Dedes kembali ke Tumapel.

“Sekarang bagaimana?” bertanya orang yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo.

“Sudah tentu kita tidak akan dapat pulang ke rumah, ke padepokanku. Kalau sakit hati Witantra belum sembuh benar, ia pasti akan datang mencoba menangkapku,” berkata Empu Sada, “tetapi aku kira anak itu tidak akan membuat sesuatu kerusakan. Biar sajalah para cantrik menerima kedatangannya. Kini kita akan pergi ke Kemundungan, memberitihukan kepada setiap murid-murid yang ada, supaya mereka menghindari benturan-benturan dengan orang-orang Witantra. Lebih baik mereka menyingkir untuk sementara.”

Orang yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa orang itu memang harus disingkirkan pula. Tetapi dengan demikian, mereka harus membuat tempat penampungan bagi mereka. Namun saudara-saudara seperguruan yang lain pasti akan bersedia membantu mereka.

“Setelah itu,” berkata Empu Sada seterusnya, “kita mencari Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Mungkin kita akan dapat menemaninya di Sempadan. Setidak-tidaknya salah seorang dari mereka.”

“Apakah kita tidak melihat bendungan itu guru? Supaya kita dapat menentukan kapan kita akan datang kembali?” bertanya Kuda Sempana.

“Kau terlalu bernafsu Kuda Sempana,” sahut gurunya, “kita harus berlomba dengan Witantra. Kita harus lebih dahulu sampai di Kemundungan. Biarlah mereka yang membuat bendungan itu sekarang tidak terganggu, supaya mereka tidak menyiapkan dirinya menghadapi kehadiran kita kelak. Tidak sampai sebulan kita akan kembali membawa orang-orang yang cukup banyak untuk menghancurkan bendungan dan apabila perlu, serta mereka yang mengadakan perlawanan. Adalah lebih baik kalau Empu Gandring sudah meninggalkan tempat itu dan Empu Purwa tidak lagi berkeliaran. Apalagi Panji yang kurus itu.”

Kuda Sempana kali ini terpaksa menurut kehendak gurunya. Mereka kemudian meninggalkan telatah Panawijen tanpa berbuat sesuatu untuk dengan tergesa-gesa pergi ke Kemundungan. Namun di sepanjang jalan, kepala Kuda Sempana selalu dipenuhi oleh gambaran-gambaran tentang pembalasan sakit hati yang akan dilakukan. Namun bagaimanapun juga, gambaran tentang Ken Dedes tidak juga dapat lenyap dari kepalanya.

Sementara itu iringan yang membawa Ken Dedes semakin lama menjadi semakin jauh meninggalkan Panawijen. Terasa matahari di langit semakin panas menyengat kulit mereka. Seperti pada saat mereka berangkat, maka mereka memilih jalan di sepanjang hutan daripada menyeberang padang rumput Karautan untuk menghindari panas yang tak tertahankan dipadang itu. Lebih-lebih bagi seorang gadis seperti Ken Dedes.

Apabila mereka berkuda cepat-cepat, maka masih juga terasa silirnya angin karena kecepatan perjalanannya. Tetapi berjalan kaki dipadang itu, adalah pekerjaan yang tidak menyenangkan.

Berdasarkan pengalaman mereka, pada saat mereka berangkat, maka dalam perjalanan kembali itu mereka selalu diliputi oleh kewaspadaan yang setinggi-tingginya. Bahaya setiap saat dapat mengancam, bahkan mungkin menjadi lebih berat daripada saat mereka berangkat.

Tetapi seandainya mereka tahu, bahwa dalam saat yang bersamaan Kuda Sempana dan gurunya sedang berjalan menuju ke Kemundungan, maka mereka pasti tidak akan setegang itu. Bahkan mungkin mereka sempat berkelakar di sepanjang jalan. Namun kali ini perjalanan itu seolah-olah diselubungi oleh kecemasan dan kekhawatiran sehingga hampir tidak terdengar suara mereka bercakap-cakap. Kecuali sekali dua kali terdengar suara tawa Kebo Ijo yang berjalan agak di muka tandu.

Tidak seperti pada saat mereka berangkat, maka dalam perjalanan kembali ini, mereka tidak memerlukan bermalam di perjalanan. Seakan-akan mereka demikian ingin melihat kota Tumapel kembali. Meskipun hari telah malam, namun mereka meneruskan perjalanan. Mereka tidak takut kalau mereka akan jatuh terjerumus karena kaki-kaki mereka terantuk batang-batang yang roboh atau tersangkut sulur-sulur pepohonan, sebab ketika itu, mereka telah meninggalkan hutan di sepanjang tepi padang Karautan yang panas.

Kehadiran mereka di kota, hampir di tengah malam buta, mengejutkan para peronda. Tetapi Witantra yang berjalan di muka, selalu mencoba mencegah mereka membuat keributan.

“Jangan ribut. Biarlah mereka yang tidur tidak terganggu. Mereka tidak perlu melihat iring-iringan ini, sebab mereka telah melihat pada saat kami berangkat,” berkata Witantra kepada para peronda.

Meskipun demikian, ada juga diantara mereka yang sempat membangunkan anak isterinya, dan membawa mereka ke tepi jalan raya untuk menyambut iringkan bakal permaisuri. Bahkan iring-iringan itu tampak lebih megah lagi dibawah cahaya beberapa buah obor yang menyala berkobar-kobar.

Tetapi para prajurit Tumapel yang lelah itu sama sekali tidak lagi sempat memperhatikan orang-orang yang berdiri di pinggir jalan. terkantuk-kantuk mereka berjalan dengan langkah yang panjang-panjang supaya mereka segera dapat beristirahat. Di dalam tandu, Ken Dedes sekali-sekali tersandar dengan mata terpejam. Kadang-kadang ia kehilangan kesadaran karena kantuknya yang mencengkam. Tetapi apabila tandunya tergoyang karena para pemanggulnya bergantian, Ken Dedes itu kembali mencoba membelalakkan matanya. Terasa pula bahwa badannya menjadi semakin penat.

“Hem,” desahnya di dalam hati, “apalagi mereka yang berjalan kaki. Lebih-lebih yang harus memanggul tandu ini.

Di belakang ada pula prajurit yang berjalan tersuruk-suruk. Hampir tidak lagi ia kuat menarik kakinya. Tombaknya terayun-ayun bukan karena lawan berdiri dihadapannya. Tetapi tangannya telah terlampau letih memegang senjata itu. keringat di telapak tangannya telah membuat landean tombaknya menjadi licin.

Ternyata bahwa rasa kantuk mereka jauh lebih mengganggu dari perasaan lelah, meskipun keduanya saling mempengaruhi. Mereka menjadi sangat kantuk karena lelah.

Ketika iring-iringan itu kemudian memasuki alun-alun, dan kemudian terpaksa berhenti di muka regol untuk menanti sejenak para penjaga membuka palang pintu yang besar, maka beberapa orang diantara mereka dengan serta menjatuhkan dirinya duduk bersandar pada dinding halaman istana.

“He,” terdengar suara Kebo Ijo perlahan-lahan, “apakah kalian tidak lagi mampu berdiri?”

Seorang prajurit yang bertubuh tinggi, berdada bidang dan berkumis tebal menjawab, “Lebih baik aku pergi bertempur malam ini, daripada disiksa oleh perasaan lelah dan kantuk.”

Kebo Ijo tertawa. Katanya, “Kalau kau bertempur saat ini, maka perutmu pasti akan segera berlubang karena kau tidak lagi dapat melihat ujung senjata lawanmu.”

Prajurit yang berkumis itu tidak menjawab. Bahkan dipejamkannya matanya sambil menguap. Katanya, “Hem, alangkah segarnya duduk sambil terkantuk-kantuk dibawah pohon beringin setelah hampir sehari penuh berjalan menyusur daerah yang kering kerontang.”

“Apakah kau mimpi?” bertanya Kebo Ijo, “bukankah kita baru saja meninggalkan daerah yang hijau segar. Bukankah Panawijen daerah yang paling subur dari pada daerah Tumapel?”

“Hu,” prajurit itu mencibirkan bibirnya. Tetapi matanya masih terpejam, “daerah itu adalah daerah mati. Aku heran, kenapa di daerah itu masih juga ada penghuninya?”

Mahisa Agni yang mendengar percakapan itu mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling dilihatnya Kebo Ijo memandanginya pula sambil tersenyum. Bahkan kemudian ia berkata kepada prajurit yang terkantuk-kantuk itu, “Kini baru dibuat sebuah bendungan untuk mengairi padukuhan itu supaya menjadi bertambah subur.”

“Alangkah bodohnya,” sahut prajurit itu antara sadar dan tiada, “lebih baik menjadi pekatik di kota dari pada membuat bendungan.”

Terdengar Kebo Ijo tertawa terbahak-bahak sambil memandangi wajah Mahisa Agni yang berkerut-kerut, sehingga beberapa orang berpaling ke arahnya. Witantra yang berdiri di muka regol. untuk menunggu para penjaga membuka palang pintu pun berpaling pula.

Namun tiba-tiba suara tertawa Kebo Ijo itu terputus. Semula memang ada maksud Mahisa Agni untuk menjawab kata-kata itu, sebab ia merasa benar bahwa kelakar itu sengaja dilontarkan oleh Kebo Ijo untuk menyindirnya. Tetapi ia menjadi ragu-ragu. Karena itu, maka Mahisa Agni itu pun menggigit bibirnya, seolah-olah ia ingin menahan agar mulutnya tidak melontarkan kata-kata.

Tetapi yang terdengar kemudian adalah suara halus dari dalam tandu, “Kau benar Kebo Ijo. Karena itu aku pun mengungsi ke kota.”

Bukan saja Kebo Ijo. Bahkan prajurit yang terkantuk-kantuk itu pun tersentak seperti disengat lebah. Sejenak ia mencoba menyadari apa yang terjadi. Tetapi ketika ia yakin bahwa kata-katanya telah terdorong terlampau jauh, dan bahwa yang didengarnya adalah suara puteri calon permaisuri itu, maka dengan serta merta ia meloncat. Tandu itu memang tidak terlampau jauh daripadanya. Dengan tubuh gemetar ia duduk bersimpuh di tanah sambil berkata, “Ampun tuan puteri. Bukan maksud hamba mengatakan demikian, tetapi hamba seakan-akan terbius oleh pertanyaan-pertanyaan Kebo Ijo, sehingga jawaban hamba pun tidak lagi dapat hamba kendalikan.”

Ken Dedes tidak menjawab. Bahkan memandang wajah prajurit itu pun tidak. Dengan jarinya ia menunjuk gerbang yang telah terbuka sambil berkata kepada para pengusung tandunya, “gerbang telah terbuka. Marilah.”

Tandu itu pun kemudian bergerak. Beberapa orang prajurit yang semula sama sekali tidak memperhatikan percakapan itu, percakapan antara Kebo Ijo dan prajurit berkumis itu pun terpaksa bertanya-tanya, apakah yang sudah dikatakannya. Tetapi para pengusung dan satu dua orang prajurit yang mendengarnya berkata di dalam hatinya, “Salahmu, mulutmu terlampau lancang.”

Tetapi Ken Dedes tidak meletakkan kesalahan pada prajurit itu. Prajurit itu hanya sekedar ingin melepaskan perasaannya yang diganggu oleh lelah dan kantuk. Tetapi kejengkelannya ditumpahkannya kepada Kebo Ijo. Sejak di Panawijen sikap anak muda itu tidak menyenangkan hatinya. Tetapi ia tahu bahwa Kebo Ijo adalah orang terdekat dari Witantra di samping Mahendra yang sampai saat ini tidak juga mau menjadi seorang prajurit.

Ketika tandu itu kemudian berjalan, Witantra, Mahendra dan para perwira berdiri tegak di sisi pintu gerbang itu. Ketika tandu itu telah melampauinya, maka barulah mereka melangkah memasuki halaman. Namun sekali-sekali Witantra memalingkan wajahnya mencari Kebo Ijo. Ia ingin tahu, apa saja yang dipercakapkannya dengan prajurit yang duduk bersimpuh di samping tandu Ken Dedes.

Kesan Ken Dedes dan Mahisa Agni atas Kebo Ijo menjadi semakin kurang sedap. Anak itu benar-benar anak yang bengal dan bahkan kurang dapat mengendalikan dan mengetrapkan diri dalam suatu keadaan tertentu.

Tunggul Ametung yang telah tidur nyenyak di dalam biliknya terkejut ketika ia mendengar suara ribut diluar. Ia mendengar beberapa orang berjalan hilir mudik. Ia mendengar langkah mendekati pintu biliknya, tetapi kemudian berhenti dan kembali langkah itu menjauh.

“Bagaimana?” terdengar seseorang berbisik.

“Aku kira Akuwu tidak perlu dibangunkan,” sahut yang lain.

“Apa begitu?” berkata suara yang pertama.

“Bukankah tidak ada soal yang perlu diselesaikan malam ini,” terdengar suara kedua. “sebenarnya aku takut membangunkan Akuwu.”

Suara-suara itu pun kemudian terdiam. Namun kedua orang itu seakan-akan terlonjak ketika tiba-tiba saja mereka melihat Akuwu Tunggul Ametung sudah berdiri di muka pintu biliknya.

“Apakah yang kalian lakukan disini?” bertanya Akuwu Tunggul Ametung itu.

Kedua prajurit itu dengan serta-merta menjatuhkan dirinya dan seorang pelayan istana hampir terperosok di tangga ketika dengan tergesa-gesa ia bersimpuh.

“Ampun tuanku,” sahut pelayan juru panebah itu, “hamba takut membangunkan tuanku ketika kedua prajurit ini memintanya.”

Dipandanginya wajah kedua prajurit yang tunduk itu. Yang seorang dari mereka adalah Sidatta.

“Apa perlunya kau menghadap malam-malam Sidatta?”

“Ampun tuanku,” sahut Sidatta sambil membungkuk dalam-dalam, “hamba ingin menyampaikan berita kehadiran kembali tuan puteri Ken Dedes setelah tuan puteri mengunjungi Panawijen.”

“He,” wajah Tunggul Ametung yang gelap itu tiba-tiba menjadi cerah, “Ken Dedes datang kembali?”

“Hamba tuanku.”

“Bagus,” berkata Tunggul Ametung itu, “suruh ia menghadap.”

“Baik tuanku,” jawab Sidatta, “tetapi tuan puteri lelah sekali. Sekarang tuan puteri sedang membersihkan diri di pakiwan dilayani oleh beberapa emban.”

Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya kemudian, “Baik, baik. Biarlah ia beristirahat. Besok pagi-pagi kalian harus menghadap bersama-sama. Apakah kalian datang bersama Mahisa Agni?”

“Hamba tuanku,” jawab Sidatta.

“Baik. Baik,” Tunggul Ametung itu mengangguk-angguk pula, “sekarang kalian boleh beristirahat. Ken Dedes boleh beristirahat pula. Besok pagi-pagi kalian harus datang menghadap. Tempatkan Mahisa Agni sebaik-baiknya. Biarkanlah tempat yang pantas. Ia adalah kakang Ken Dedes itu.”

“Hamba tuanku,” sahut Sidatta.

Setelah mengangguk dalam-dalam, Sidatta itu pun kemudian mengundurkan dirinya membawa pesan Akuwu Tunggul Ametung kepada Ken Dedes, Mahisa Agni dan para prajurit. Mereka diperkenankan beristirahat, sedang para perwira besok pagi-pagi harus menghadap Akuwu Tunggul Ametung bersama dengan Ken Dedes.

Sepeninggal Sidatta kembali Tunggul Ametung membaringkan dirinya. Tetapi kini matanya sudah tidak dapat dipejamkannya lagi. Terasa malam terlampau lamban baginya seakan-akan waktu berhenti beredar.

Namun akhirnya Akuwu Tunggul Ametung itu pun mendengar ayam jantan berkokok untuk ketiga kalinya. Perlahan-lahan ia bangkit dari pembaringannya, menggeliat dan kemudian melangkah keluar dari biliknya. Ia masih melihat pelita yang menyala di segala penjuru istananya. Ia masih melihat seorang pelayan duduk terkantuk-kantuk di tangga serambi belakang.

“He, siapa yang duduk di situ?” panggil Akuwu Tunggul Ametung.

Pelayan itu berjingkat. Dan dengan tergesa-gesa ia menyuruk merangkak-rangkak mendekati Akuwu Tunggul Ametung.

“Aku akan mandi,” berkata Tunggul Ametung itu.

Pelayan itu heran. Hari masih terlampau pagi. Tetapi ia tidak berani bertanya. Terdengar jawabnya, “Hamba tuanku. Akan hamba sediakan untuk keperluan itu.”

Ketika kembali pelayan itu berjalan jongkok meninggalkan Akuwu Tunggul Ametung, terdengar Tunggul Ametung membentaknya, “Cepat, jangan bekerja seperti siput sakit-sakitan.”

Orang itu pun kemudian mempercepat geraknya, kemudian meloncat turun ke halaman dan berlari-lari kebelakang mengambil air hangat. Tetapi air itu baru saja diletakkan diatas api.

Ketika matahari muncul dari balik punggung-punggung bukit, maka para perwira telah siap di paseban dalam. Sebentar kemudian Ken Dedes pun telah hadir pula. Mereka menundukkan kepala-kepala mereka ketika Akuwu memasuki ruangan itu.

Ternyata Akuwu Tunggul Ametung hampir tidak sabar untuk berbicara tentang dirinya sendiri ketika dilihatnya Mahisa Agni pun berada di dalam ruangan itu. Hampir tak ada yang dipersoalkannya dengan para perwira. Akuwu hanya bertanya tentang keselamatan mereka, perjalanan mereka dan sekedar berterima kasih. Kemudian katanya, “Kalian pasti sangat lelah. Karena itu kalian tidak perlu terlampau lama duduk disini. Kalian aku perbolehkan segera meninggalkan tempat ini untuk beristirahat.”

Witantra menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Sambil tersenyum ia berkata, “Terima kasih tuanku. Lain kali hamba akan menyampaikan ceritera tentang perjalanan ini lebih banyak lagi.”

“Baik. Baik,” berkata Tunggul Ametung, “sampaikan lain kali.”

Witantra yang melihat kegembiraan yang membayang di wajah Akuwu Tunggul Ametung tidak sampai hati untuk mengganggunya dengan laporan-laporan yang dapat menggelisahkannya tentang Empu Sada dan Kuda Sempana. Karena itu disimpannya laporan itu untuk disampaikannya pada kesempatan yang lain.

Sepeninggal mereka, maka kini Akuwu tinggal duduk bersama Ken Dedes, Mahisa Agni dan beberapa emban. Diantaranya adalah emban tua pemomong Ken Dedes yang dibawanya dari Panawijen.

Namun, menghadapi persoalan yang selama ini tersimpan di dalam dirinya, Akuwu Tunggul Ametung merasa canggung. Ia tidak tahu bagaimana ia harus memulainya.

Sejenak mereka yang berada di dalam ruangan itu saling berdiam diri, sehingga ruangan itu menjadi sepi. Hanya tarikan nafas merekalah yang terdengar berkejar-kejaran. Sekali-sekali Akuwu mengedarkan pandangan matanya berkeliling. Dilihatnya Ken Dedes duduk bersimpuh sambil menekurkan kepalanya, emban tua di belakang dan kemudian Mahisa Agni dengan Wajah temungkul.

Tunggul Ametung itu menarik nafas dalam-dalam. Semua kemarahan kejengkelan dan hukuman yang pernah diberikannya kepada Mahisa Agni kini telah dilupakannya sama sekali. Yang berjejal-jejal di dalam dadanya kini adalah persoalannya sendiri.

Akuwu Tunggul Ametung itu ingin mendapat kesan, setidak-tidaknya untuk meringankan perasaan sendiri, bahwa ia telah mengambil Ken Dedes menurut adat yang seharusnya. Meminang kepada keluarganya untuk mengambil anak gadisnya. Dan mendengar keluarganya atau salah seorang daripadanya dengan ikhlas memberikannya.

Tetapi bukan saja Akuwu Tunggul Ametung yang menjadi gelisah. Ken Dedes pun sebenarnya sejak menghadap selalu diliputi oleh kegelisahan pula. Ia ragu-ragu akan kakaknya. Apakah nanti yang akan dikatakan oleh Mahisa Agni? Apakah kakak angkatnya itu akan menjawab pertanyaan dan pernyataan Akuwu Tunggul Ametung seperti yang diharapkannya.

Sekali-sekali Ken Dedes mencoba memandang wajah Mahisa Agni dengan sudut matanya. Namun ia sama sekali tidak mendapat kesan apapun dari wajah yang tertunduk itu.

Dalam pada itu Tunggul Ametung yang perkasa, Raja wali dalam setiap peperangan, yang selama ini selalu menuruti perasaan sendiri yang kadang-kadang meledak-ledak, tiba-tiba merasa bahwa seolah-olah mulutnya menjadi terbungkam.

Namun setelah berjuang beberapa lama, setelah tubuhnya basah oleh keringat dingin yang mengalir dari segenap lubang kulitnya, barulah Akuwu yang perkasa itu berkata, “Mahisa Agni. Apakah kau sudah tahu, apakah sebabnya aku memanggilmu?”

Jantung Mahisa Agni berdesir. Apakah yang harus dikatakannya? Kalau Akuwu itu akan melamar Ken Dedes, maka ialah yang harus datang kepadanya, bukan memanggilnya. Tetapi ketika ia sudah berhadapan dengan Tunggul Ametung di muka Ken Dedes itu sendiri, ia tidak sampai hati untuk mengatakannya. Ia tahu, hati Ken Dedes pasti akan hancur. Karena itu maka ia menjawab, “Hamba tuanku. Hamba dapat mengira-ngirakan, apakah sebabnya maka tuanku memanggil hamba menghadap.”

“Bagus,” sahut Tunggul Ametung, “nah, sekarang katakan, apakah keperluan itu?”

Kening Mahisa Agni menjadi berkerut-kerut. Ken Dedes pun terkejut mendengar kata-kata Tunggul Ametung itu. Bahkan kegelisahannya pun menjadi semakin mencengkam hatinya.

Ketika sesaat Mahisa Agni belum menjawab, maka Akuwu itu pun berkata pula, “Bukankah kau sudah tahu, apa sebabnya aku memanggilmu?”

Kini Mahisa Agni lah yang menarik nafas. Sambil membungkukkan kepalanya dalam-dalam ia menjawab, “Ampun tuanku. Hamba hanya dapat mengira-ngirakan. Tetapi kepastian dari persoalan ini ada pada tuanku. Karena itu, maka hamba tiada berani mendahului titah tuanku.”

Ken Dedes pun menarik nafas pula mendengar jawaban Mahisa Agni. Ternyata sampai sekian Mahisa Agni telah menunjukkan sikap dan kata-kata yang baik. Meskipun demikian, kegelisahan gadis itu masih saja mencengkamnya.

Sejenak kembali mereka berdiam diri. Ken Dedes sekali masih berusaha untuk mendapat kesan dari wajah kakaknya, namun Mahisa Agni kini menjadi semakin tertunduk.

Pertanyaan Akuwu Tunggul Ametung itu benar-benar tidak menyenangkan Mahisa Agni. Ia merasa bahwa dalam hubungan ini ia sama sekali berada dalam keadaan yang sulit. Sulit karena perasaan sendiri yang bergolak, sulit karena kedudukan yang tidak seimbang dari pihak-pihak keduanya, sulit karena sikap Akuwu itu. Bahkan seandainya Ken Dedes itu adiknya sendiri, yang tanpa membekali persoalan-persoalan di dalam hatinya pun, ia merasa kecewa mendengar pertanyaan Tunggul Ametung itu. Seolah-olah menurut tanggapan Mahisa Agni, ia harus datang menawarkan gadis itu kepada Akuwu Tunggul Ametung.

Namun ketika kemudian sekilas Mahisa Agni melihat Tunggul Ametung itu mengusap keringat di wajahnya, serta duduknya yang tidak tenang, timbullah dugaannya yang lain. Mungkin Akuwu Tunggul Ametung menyimpan sesuatu di dalam hatinya sebelum ia dengan berterus terang ingin menyampaikan maksudnya.

Tetapi Akuwu itu tidak segera berkata apapun. Ketika ia mendengar jawaban Mahisa Agni, maka keringatnya menjadi semakin deras mengucur. Sebenarnya Akuwu Tunggul Ametung itu tidak menyimpan apapun di dalam dadanya. Bahkan ia ingin segera sampai kepada persoalan dirinya sendiri. Tetapi ia kurang mampu untuk mengatakannya. Ia mengharap Mahisa Agni dapat membuka jalan dari pembicaraan itu. Tetapi ketika Mahisa mengembalikan persoalannya kepadanya, maka ia menjadi semakin gelisah.

Karena kesenyapan dan kegelisahan yang menyelubungi ruangan itu, maka suasana pun menjadi tegang. Akuwu Tunggul Ametung masih belum menemukan cara untuk menyatakan maksudnya, sedang Mahisa Agni menjadi jemu untuk duduk menunggu dalam ketegangan. Baginya apapun yang akan dihadapinya, lebih baik segera didengarnya. Apakah Akuwu lebih dahulu akan memarahinya karena sikapnya di saat-saat lampau, atau bahkan akan menghukumnya. Namun baginya, duduk berdiam diri sambil menundukkan wajahnya terlampau lama adalah menjemukan sekali. Lebih baik baginya duduk diterik panas matahari yang membakar punggungnya dipadang Karautan.

Ken Dedes dan emban pemomongnya yang duduk di belakang, merasakan pula ketegangan itu. Mereka melihat dengan hati yang berdebar-debar kegelisahan yang semakin mencemaskan pada Akuwu Tunggul Ametung dan pada Mahisa Agni. kegelisahan itu telah menambah-nambah pula kecemasan dan kegelisahan Ken Dedes sendiri. Serasa tangannya ingin mendorong Akuwu untuk segera mengatakan maksudnya sebelum ketegangan itu meledak tanpa terkendali.

[divider line_type=”Full Width Line” custom_height=””]

Source : www.agusharis.net

~ Article view : [215]