Pelangi di Langit Singasari [ 20 ]

352

oleh S.H. Mintardja

[ Seri 20 ]

 

NAFAS Kuda Sempana tiba-tiba menjadi sendat. Upah itu terlampau mahal baginya. Bagaimanapun juga, Cundaka adalah saudara seperguruannya. Apakah ia sampai hati untuk berbuat dengan demikian, bahkan seandainya gurunya mengizinkannya pula. Sejenak Kuda Sempana pun seakan-akan menjadi beku. Dan suasana tercengkam oleh kesenyapan yang tegang. Tiba-tiba di kejauhan terdengar sebuah auman yang keras, disusul oleh jerit yang melengking. Jerit seekor anjing hutan yang karena kurang hati-hati telah diterkam oleh seekor harimau kumbang. Itulah kehidupan di dalam rimba. Siapa yang kuat, maka ialah yang menguasai segenap keadaan tanpa memperhitungkan keadilan dan kebenaran.

Dan di bukit gundul itu pun agaknya akan berlaku pula keadaan yang serupa.

Ketika Kuda Sempana tidak segera menjawab, maka terdengar Wong Sarimpat mendesak “Bagaimana Kuda Sempana?”

Dada Kuda Sempana terasa menjadi pepat. Ia dihadapkan pada keadaan yang sangat sulit. Dendamnya kepada Mahisa Agni dan Ken Dedes terasa terlampau sakit menghimpit hatinya, tetapi untuk melepaskan himpitan itu ia harus mengorbankan saudara seperguruannya Alangkah mahalnya.

Dalam pada itu, Empu Sada pun menjadi bimbang. Tetapi akhirnya ia tidak dapat memilih, kecuali mencoba melindungi muridnya. Meskipun hatinya mengumpat-umpat atas ketelanjuran Cundaka itu, tetapi adalah gila juga apabila dibiarkannya seorang muridnya kehilangan sebelah matanya di hadapannya. Namun sekali lagi ia kecewa atas muridnya itu, kecewa kepada diri sendiri. Bahwa ia tidak dapat menempatkan muridnya dalam satu ikatan yang kokoh seperti murid-murid Bojong Santi.

Kuda Sempana pun tidak kurang mengumpat-umpat di dalam hati. “Cundaka memang gila. Ia tidak tahu perasaanku, sehingga ia malahan seolah-olah menghalang-halangiku. Kini akulah yang dihadapkan pada suatu kesulitan. Kalau ia tidak berbuat gila, maka aku pun tidak akan berdiri di persimpangan jalan yang sulit ini.”

Mereka yang berdiri di atas bukit gundul itu kini benar dilanda oleh ketegangan yang semakin memuncak. Kuda Sempana tegak seperti patung. Namun nafasnya menjadi terengah-engah. Sekali-kali dipandangnya wajah gurunya. Ia ingin mendapat nasihat daripadanya, tetapi gurunya masih juga tetap berdiam diri.

Cundaka sendiri sejenak kehilangan kemampuan menimbang dan memperhitungkan keadaan yang dihadapinya. Tetapi kemudian ia berhasil menenangkan dirinya. Kini ia telah pasti bahwa ketelanjurannya akan mendatangkan bencana kepadanya. Namun tiba-tiba ia menjadi tabah menghadapi bencana yang betapapun juga. Kalau ia sudah mampu menghindarkan dirinya, maka ia harus berani menanggung segala akibat dari perbuatannya. Di dalam hati ia berkata “Terserah kepadamu Kuda Sempana. Tetapi namaku hanya dapat lepas bersama nyawaku.”

Ketika Kuda Sempana tidak segera berbuat sesuatu, maka kembali terdengar Wong Sarimpat berkata “He Kuda Sempana, apakah kau juga menjadi bisu? Ayo, jawablah!”

Kuda Sempana benar-benar menjadi bingung. Kembali ia memandangi wajah gurunya mencari jawab atas pertanyaan Wong Sarimpat itu.

Empu Sada melihat kebingungan di hati Kuda Sempana. Ia menjadi sedikit bersenang hati, bahwa Kuda Sempana masih memerlukan untuk berpikir ketika ia harus melakukan sesuatu yang dapat lebih menyakitkan hatinya, yaitu berkelahi sesama muridnya. Karena itu, maka Empu Sadalah yang menjawab “Wong Sarimpat. Permintaanmu memang tidak masuk akal. Nah, kalau demikian maka biarlah aku memberikan tawaran. Beberapa potong emas itu saja. Mungkin Kuda Sempana mempunyai mata yang bagus, tetapi bukan mata orang. Mungkin ia mempunyai mata cincin batu akik yang berharga. Akik mata kucing barangkali atau akik Wukir Gading yang kekuningan. Kalau kau tidak senang mata batu akik, mungkin kau senang permata intan atau berlian.”

Suara Empu Sada patah ketika kembali terdengar suara tertawa Wong Sarimpat. Katanya “Harga Mahisa Agni yang aku berikan tidak dapat ditawar-tawar. Ayo, kau tinggal sanggup atau tidak.”

Tiba-tiba Wong Sarimpat terkejut sehingga suara tertawanya terputus. Bukan saja Wong Sarimpat, tetapi juga Kuda Sempana. Dengan tegas Empu Sada menjawab singkat “Tidak. Aku tidak mau. Kita batalkan pembicaraan kita.”

“Guru,” dengan serta-merta Kuda Sempana memotong “Bagaimana mungkin, Guru. Aku sudah memutuskan, Mahisa Agni harus tertangkap. Hidup atau mati. Aku lebih senang kalau ia dapat tertangkap hidup-hidup.”

“Tetapi harga itu terlampau mahal. Kalau kau masih keras hati untuk membunuh Mahisa Agni, maka berarti kau telah membunuh dua orang sekaligus. Mahisa Agni dan saudara seperguruanmu sendiri. Nah. Pertimbangkan. Kecuali Wong Sarimpat memberikan penawaran lain.”

Kembali Kuda Sempana terbungkam. Terasa sesuatu bergolak di dalam dadanya Dan kembali ia mengumpat-umpat di dalam hati.

Kejengkelannya terhadap Cundaka semakin meningkat dan bahkan kemudian ia menjadi muak melihat orang itu. Orang yang selama ini telah memperlemah tekadnya membalas dendam. Adalah omong kosong kalau Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu kelak akan mampu melepaskan dendamnya terhadap Mahisa Agni dengan tangannya sendiri.

“Kenapa orang itu tidak mati saja diterkam macan?” desisnya di dalam hati. Namun dengan demikian tiba-tiba jantungnya serasa akan meledak ketika tumbuh pikiran di dalam benaknya, kenapa orang itu tidak dibiarkannya mati saja? Kenapa gurunya menganggap Cundaka sebagai tebusan yang terlampau mahal? Cundaka itu pun kini tidak berguna lagi baginya, sehingga seandainya anak itu mati. maka ia tidak akan merasa kehilangan. Tetapi ia tidak berani mengatakannya kepada gurunya.

Yang terdengar kemudian adalah suara Wong Sarimpat.

“Kakang Kebo Sindet, bagaimana sebaiknya? Permintaan Kakang terlampau murah. Sebelah mata. Aku sekarang ingin menaikkan harga itu. Tidak hanya sebelah tetapi sepasang mata anak setan ini. Apakah Kakang setuju?”

Wajah yang beku itu tetap membeku, seolah-olah Kebo Sindet tidak mendengar suara adiknya. Namun Wong Sarimpat itu berkata “Nah, ternyata Kakang Kebo Sindet telah menyetujui. Sepasang mata.”

Kemudian kepada Kuda Sempana, “Kau dengar kenaikan harga itu? Karena kau terlampau lama berpikir, maka kami terpaksa menaikkan harga. Kalau kemudian kau tidak segera memutuskan maka harga itu akan naik lagi. Kau tinggal menyetujui atau tidak. Kalau ternyata kau tidak mampu, maka biarlah harga itu kami ambil sendiri.”

Kata-kata itu benar-benar menggetarkan hati. Dan udara di gunung gandul itu pun tergetar ketika Empu Sada menjawab tegas

“Tidak. Muridku adalah milikku. Aku tidak akan menjerahkannya. Aku belum gila segila kalian berdua.”

Kembali mereka terdiam. Wong Sarimpat memandang wajah Empu Sada dengan mata yang menyala-nyala. Kemudian sekali ia berpaling kepada kakaknya sambil berkata “Apa pula yang kita tunggu, Kakang?”

Tiba-tiba terdengar suara Kebo Sindet datar, “Empu Sada. Kenapa kau tidak dapat melakukan pekerjaan ini sendiri? Kenapa kau tidak dapat menangkap Mahisa Agni? Apakah orang-orang yang pernah kau sebutkan itu selalu mengawaninya? Empu Purwa, Empu Gandring dan Panji Bojong Santi?”

Empu Sada tidak segera menjawab, tetapi yang menjawab adalah Kuda Sempana, “Salah seorang dari mereka pasti ada di sekitar Mahisa Agni atau Ken Dedes. Dan Guru hanyalah seorang diri.”

“Tidak,” potong Empu Sada, “ada sebab-sebab lain. Sebab-sebab yang tidak dapat aku katakan di sini.”

Tiba-tiba wajah Kebo Sindet yang beku itu bergerak. Matanya tiba-tiba menjadi redup. Dan sejenak kemudian terdengar ia berkata “Kami berdua cukup kuat untuk melakukannya Empu, kau tidak kami perlukan lagi.”

Kata-kata Kebo Sindet itu bagaikan petir yang meledak di dalam dada Kuda Sempana. ia tidak tahu pasti maksud orang berwajah beku itu, namun terasa bahwa ada sesuatu yang kurang wajar akan terjadi.

Bukan saja Kuda Sempana, namun juga Cundaka terkejut sekali mendengarnya. Meskipun ia juga kurang menyadari arti kata-kata itu seperti Kuda Sempana, namun ia menjadi semakin muak melihat kedua orang liar itu.

Empu Sada sendiri mengerutkan keningnya. Ia terkejut juga mendengarnya, namun ia telah merabanya lebih dahulu, bahwa ia akan berhadapan dengan kemungkinan itu. Kemungkinan yang timbul karena kebodohan Kuda Sempana. Kuda Sempana telah mengatakan banyak sekali, bahkan terlampau banyak tentang Mahisa Agni, sehingga kedua orang itu telah mendapat gambaran yang hampir sempurna tentang anak muda itu.

Cepat Empu Sada dapat mengikuti jalan pikiran Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Mereka pasti akan berbuat untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka mengetahui dari Kuda Sempana bahwa Mahisa Agni selalu mondar-mandir antara padang rumput Karautan dan padukuhan Panawijen untuk setiap persoalan. Mahisa Agni adalah satu-satunya anak muda yang berani melakukannya. Dari Kuda Sempana pun, Kebo Sindet dan Wong Sarimpat mendengar hubungan yang terlampau rapat, terlampau rukun antara kedua saudara itu, Mahisa Agni dan Ken Dedes, meskipun Kuda Sempana tahu bahwa keduanya adalah bukan saudara kandung. Kedua orang itu mendengar pula betapa Akuwu Tunggul Ametung sangat bernafsu untuk memperistri Ken Dedes, bahkan mengambilnya sebagai permaisuri.

“Hem,” Empu Sada menarik nafas dalam. Kemudian terdengar ia bertanya “Kebo Sindet, apakah maksudmu sebenarnya?”

“Cukup jelas bagi seorang seperti kau Empu.”

“Tidak!” sahut Empu Sada, “Kurang jelas bagiku, sebab aku tidak biasa berpikir seperti kalian.”

Kini wajah Kebo Sindet telah membeku kembali. Dengan nada datar ia berkata, “Cukup jelas. Aku tidak memerlukan kau. Tetapi aku juga tidak mau kau ganggu.”

“Kau keliru. Kau tak akan bisa menyelesaikan pekerjaan ini tanpa aku.”

“Kau berusaha menyelamatkan dirimu?”

“Kenapa aku menyelamatkan diri? Apakah ada bahaya yang mengancam aku?”

“Jangan pura-pura tidak tahu. Aku tidak memerlukan kau dan aku tidak mau kau mengganggu untuk seterusnya. Jelas?”

Tiba-tiba Empu Sada tersenyum. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “Kau akan membunuh aku?”

Kebo Sindet tidak segera menjawab. Ditatapnya mata Empu Sada dengan tatapan mata semakin lama menjadi semakin tajam. Hanya tatapan mata itulah yang dapat dibaca oleh Empu Sada, bahwa Kebo Sindet benar-benar berusaha akan melakukannya.

Percakapan itu benar-benar telah mengguncangkan dada Kuda Sempana. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa akhirnya ia akan menghadapi keadaan yang sama sekali tidak disangkanya. Ia tidak dapat mengerti kenapa Kebo Sindet tiba-tiba ingin menyingkirkan gurunya. Seandainya persoalan itu dapat dilakukan oleh mereka sendiri, kenapa gurunya mesti harus disingkirkan? Dengan demikian maka bergolaklah dada Kuda Sempana itu, seperti bergolaknya perut gunung berapi.

Yang terdengar kemudian adalah suara Wong Sarimpat menyambar telinga mereka seperti guruh di langit, “He, Empu Sada! Kami telah cukup mengerti apa yang harus kami lakukan. Karena itu kau bagi kami pasti hanya akan menjadi perintang yang memuakkan. Mungkin kau akan berkhianat dan bahkan mungkin kau sempat membunuh kami. Karena itu, maka kaulah yang harus kami singkirkan dahulu.”

“Kenapa?” bertanya Empu Sada. Orang tua itu masih tetap saja berdiri dengan tenang “bukankah aku yang memerlukan kalian untuk pekerjaan ini? Kenapa akulah yang mungkin mengkhianatinya?”

“Kami bukan orang yang kau sangka berotak batu,” sahut Wong Sarimpat “aku tahu rencanamu. Kami akan kau jerumuskan dalam persoalan yang tak tanggung-tanggung. Berhadapan dengan Akuwu Tunggul Ametung. Kemudian kalau rencana itu berhasil, menangkap Mahisa Agni, maka kau akan menghadap Akuwu dan menunjukkan siapakah yang telah melakukan perbuatan itu. Dengan demikian maka kau akan bersih dari segenap tuduhan, karena sebelumnya kaulah yang telah membuat persoalan dengan Mahisa Agni karena muridmu, dan keuntungan yang lain, kalau kami kemudian tertangkap maka kau tidak perlu melepaskan sepotong emas pun untuk kami.”

Sekali lagi Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Sekarang disadarinya bahwa apa yang dikatakan Empu Gandring dan Panji Bojong Santi itu bukanlah suatu usaha untuk menakut-nakutinya saja. Meskipun di antara mereka, Empu Sada sendirilah yang paling mengenal kedua orang itu karena ia pernah berhubungan sebelumnya. Tetapi kini, ia tidak berhasil mempergunakan kedua orang itu.

Empu Sada itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan tenang ia menjawab “Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Jangan kau sangka bahwa aku pun tidak tahu apa yang kalian rencanakan. Bukankah kalian telah merasa cukup mengetahui persoalan Mahisa Agni? itu adalah kesalahan Kuda Sempana. Dan bukankah kalian berdua ingin menangkap Mahisa Agni untuk tujuan pemerasan? Mungkin kalian menyangka bahwa dengan menyembunyikan Mahisa Agni, maka akulah yang akan menjadi sasaran tuduhan itu. Sementara itu kau akan menjual jasa, mengembalikan Mahisa Agni dan mengatakan bahwa kau telah membunuh Empu Sada. Kau mengharap Ken Dedes akan memberi kalian segerobak emas dan berlian, karena ia seorang permaisuri?” Empu Sada itu berhenti sejenak. Tiba-tiba ia tertawa sambil berkata, “Cobalah. Kau kelak pasti akan digantung di alun-alun. Mahisa Agni tidak pernah terpisah dari orang-orang yang tak akan dapat kau kalahkan.”

Tetapi kata-kata Empu Sada itu disambut oleh suara tertawa pula. Suara Wong Sarimpat. Jauh lebih keras dari suara tertawa Empu Sada. Di antara suara tertawanya yang menggelegar itu terdengar ia berkata “Oh, apakah kau mengharap kami menjadi ketakutan dan mengurungkan niat kami? Kau salah Empu. Tekad kami telah bulat. Empu Sada harus disingkirkan. Mungkin dugaanmu mengenai rencana kami benar.”

Empu Sada masih mencoba menguasai perasaannya. Katanya “Kau akui bahwa kau telah merencanakan membunuh aku dan mencoba melakukan pemerasan?”

Sebelum Wong Sarimpat menjawab, terdengar suara Kebo Sindet, “Otakmu memang cemerlang Empu. Namun karena itu maka kau harus kami tiadakan.”

Empu Sada kini sudah tidak melihat kemungkinan lain. Meskipun ia masih kelihatan tenang-tenang saja, namun hatinya benar-benar menjadi gelisah. Murid-muridnyalah yang paling terancam jiwanya. Apa lagi Cundaka. Agaknya kedua orang itu sama sekali tidak senang kepada muridnya yang seorang ini, seperti juga muridnya itu sama sekali tidak senang kepada kedua orang-orang liar itu.

Kini suasana Tiba-tiba menjadi tegang. Empu Sada mencoba untuk memusatkan segenap daya pikirannya untuk menemukan jalan keluar dari kesulitan ini. Tetapi jalan itu tidak dilihatnya. Satu-satunya jalan adalah bertempur.

Tanpa disengajanya orang tua itu berpaling memandangi kedua muridnya berganti-ganti. Kemudian menarik nafas dalam-dalam. Lebih-lebih lagi. Ketika ia melihat Cundaka yang berdiri tegak dengan tegangnya.

“Hem,” katanya di dalam hati, “Kasihan anak ini. Meskipun ia anak yang bengal, tetapi aku telah menyeretnya ke dalam kesulitan yang tak mungkin padat dihindarinya.”

Tetapi ketika kemudian ia melihat sinar mata muridnya yang menyala itu, hatinya menjadi bangga. Katanya pula di dalam hati “Kalau kau mati anakku, matilah dengan wajah tengadah.”

Empu Sada itu pun kemudian terkejut ketika terdengar suara Kebo Sindet, “Empu Sada. Kita sudah cukup lama berkenalan. Kita sudah pernah bekerja bersama dan berhasil dengan baik. Karena itu marilah kita saling berbaik hati. Janganlah kita menyusahkan satu sama lain. Aku harap kau pun mengenal terima kasih kepadaku atas pertolonganmu dahulu, dan sekarang kau bersikap baik terhadap kami. Karena itu, maka sebaiknya kau tidak perlu mempersulit usaha kami membunuhmu dan mengambil sepasang mata muridmu itu.”

Darah di dalam tubuh Empu Sada terasa menggelegak. Di kejauhan terdengar suara anjing liar menyalak bersahut-sahutan.

Tetapi rupa-rupa h kita saling berbaik hati. Ja nya perasaan Cundakalah yang lebih dahulu meluap, sehingga tanpa dikehendakinya kembali ia menggeram.

Wong Sarimpat yang mendengar geram itu, berkata kasar, “Jangan tergesa-gesa. Waktu masih cukup. Apakah terlampau terburu oleh keinginan untuk mencoba hidup tanpa mata?”

Alangkah sakit hati orang yang menamakan diri Bahu Reksa Kali Elo itu. Namun setelah beberapa kali gurunya selalu menggamitnya, maka kali ini pun ia menahan mulutnya sekuat-kuatnya. Apalagi setelah ia mendengar pembicaraan gurunya dengan kedua orang liar itu, maka kebenciannya menjadi semakin memuncak. Meskipun demikian ia menjadi berdebar-debar pula. Agaknya ia tidak akan dapat keluar dari bencana yang sudah membayang di depan matanya.

Dalam pada itu kembali terdengar suara Kebo Sindet, “Bagaimana dengan permintaanku, Empu?”

Empu Sada tidak menjawab. Ia tahu benar, bahwa ia tidak dapat mencari jalan untuk melepaskan dirinya. Ia tahu benar, bahwa yang seorang dari kakak beradik itu akan melawannya, dan yang seorang dengan mudahnya akan membunuh kedua muridnya. Sesudah itu, maka kedua orang itu ber-sama-sama akan membunuhnya pula.

“Licik!” geramnya di dalam hati. Tetapi Tiba-tiba di dalam hati Empu Sada itu pun timbul pula tekadnya untuk melawan kedua orang itu dengan cara seperti yang ditempuh oleh mereka. Karena itu maka, meskipun Empu Sada itu masih saja berdiri sambil menundukkan kepalanya, namun kepalanya itu bergelora dengan dahsyatnya.

“Kebo Sindet,” berkata Empu Sada, “apakah tidak ada tawaran lain? Bagaimana kalau kau sebut saja misalnya kami harus membayar lebih dahulu supaya kami tidak menipumu?”

Wong Sarimpat tertawa. Jawabnya, “Berapakah besar kemampuan mau membayar kami, Empu Sada. Ken Dedes adalah seorang permaisuri Akuwu yang kaya raya. Beberapa potong emas bagi mereka pasti tidak akan berarti apa-apa. Bahkan setelah kami berhasil merebut Mahisa Agni dan membunuh Empu Sada yang telah menculik Mahisa Agni itu, kami akan mendapat kedudukan yang baik. Kami akan mendapat hadiah tanah perdikan dan kami akan dapat hidup dengan tenteram untuk seterusnya. Tidak seperti hidup kami saat ini.”

Empu Sada menganggukkan kepalanya, “Jadi kau ingin kedudukan dan harta itu dengan beralaskan kepalaku?”

Wong Sarimpat tertawa terus. “Ya,” jawabnya.

Kepala Empu Sada menjadi semakin tunduk. Kakinya tiba-tiba menjadi gemetar seperti suaranya yang gemetar pula.

“Aku masih ingin hidup Wong Sarimpat. Apakah kau tidak kasihan melihat umurku yang sudah menjadi semakin tua. Kau biarkanlah aku beberapa tahun lagi, pasti akan mati sendiri.”

Suara tertawa Wong Sarimpat menjadi semakin keras.

“He, Empu Sada yang garang. Kenapa kau tiba-tiba menjadi ketakutan he? Di mana namamu yang besar selama ini, yang mempunyai puluhan murid tersebar di segenap penjuru Tumapel, bahkan di setiap sudut Kerajaan Kediri?”

Empu Sada melihat kegembiraan itu Wong Sarimpat agaknya menjadi sangat bersenang hati, seperti melihat permainan yang baru pertama kali dimilikinya. Namun Tiba-tiba suara tertawa itu terhenti. Terdengar sebuah keluhan pendek terloncat dari mulutnya. Wong Sarimpat yang bertubuh besar kekar meskipun tidak terlalu tinggi itu terdorong ke belakang dan terlempar jatuh.

Betapa terkejutnya semua orang yang berdiri di atas gunung gundul itu. Peristiwa itu sama sekali tidak mereka sangka. Kebo Sindet, orang yang berwajah mayat itu pun terkejut bukan buatan, sehingga justru karena itu sejenak ia terpaku diam. Ia melihat Empu Sada dengan kecepatan yang hampir tidak kasatmata, meloncat, menghantam dada Wong Sarimpat yang sedang tertawa terbahak-bahak. Ternyata Empu Sada telah melanggar kehormatan diri sebagai seorang sakti yang disegani. Ia telah mulai menyerang sebelum musuhnya bersiap.

Dalam pada itu, Wong Sarimpat yang sama sekali tidak menyangka bahwa Empu Sada akan berbuat demikian, tidak sempat untuk mengelakkan diri atau menangkis serangan itu. Selagi ia terlena oleh kegembiraan hatinya yang seakan-akan membakar segenap dadanya ketika ia melihat Empu Sada ketakutan. Namun tiba-tiba terasa seakan-akan Gunung Kawi runtuh menimpa dadanya.

Kalau yang melakukan serangan itu Kuda Sempana atau Cundaka, bahkan keduanya sekaligus, maka Wong Sarimpat tidak akan dapat digeser setapak pun dari tempatnya. Bahkan ia akan tertawa semakin keras. Tetapi yang menyerang dengan tiba-tiba sebelum ia bersiap itu adalah Empu Sada. Orang yang setingkat dengan Wong Sarimpat itu sendiri.

Dengan demikian maka Wong Sarimpat tidak dapat mencegah ketika dirinya sendiri terbanting jatuh. Bahkan kemudian serasa dadanya menjadi pecah. Sekali ia menggeliat dan mencoba untuk segera bangkit, namun ia memerlukan waktu untuk melakukannya.

Tetapi Empu Sada yang telah merendahkan dirinya dengan licik itu tidak berhenti dengan serangan itu. Selagi Kebo Sindet masih tercengkam oleh perasaan terkejut, maka tongkatnya telah terayun deras sekali. Hampir tidak ada senggang waktu dengan serangannya atas Wong Sarimpat.

Kebo Sindet yang terkejut itu pun tidak sempat menghindar. Tetapi ia mampu bergerak cepat pula. Dengan tangannya ia menahan serangan Empu Sada yang menyambarnya secepat tatit. Tetapi ternyata tongkat Empu Sada masih lebih keras dari tubuh Kebo Sindet yang hampir sekeras batu padas. Tongkat itu adalah tongkat Empu Sada. Tongkat seorang yang pilih tanding, sehingga tongkat itu bukan sekedar tongkat untuk mencari jalan di malam yang gelap.

Terasa perasaan sakit yang sangat telah menyengat tangan Kebo Sindet. Seperti Wong Sarimpat ia mengeluh pendek. Tetapi yang terasa sakit pada Kebo Sindet hanyalah sebelah tangannya, tangan kirinya, bukan dadanya seperti Wong Sarimpat yang bahkan nafasnya menjadi semakin sesak.

Dengan demikian, maka perkelahian di antara mereka telah dimulai. Dimulai oleh sebuah serangan yang licik, sehingga Kebo Sindet yang kemudian menyadari keadaan berteriak marah sekali, “He Empu yang gila. Kau ternyata tidak lagi merasa dirimu berharga untuk menjaga kehormatanmu. Kau mulai dengan sebuah serangan yang licik dan hina. Apakah kau tidak mengenal tata kehormatan dalam setiap perselisihan?”

Empu Sada kembali memutar tongkatnya, dan meluncurlah sebuah serangan yang dahsyat mengarah ke dada Kebo Sindet. Kebo Sindet yang belum dapat menyesuaikan diri sepenuhnya itu segera meloncat mundur, namun tongkat Empu Sada mengejarnya. Sekali lagi Kebo Sindet terpaksa menangkis serangan itu dengan tangannya, dan sekali lagi terasa tongkat itu seperti menggigit tulangnya.

“Gila kau, Empu Sada!”

“Tidak ada tata kehormatan yang mengikat aku seperti tidak ada kebiasaan dan adat yang dapat mengikat kalian!” teriak Empu Sada tidak kalah kerasnya. Suaranya bergetar dalam nada yang tinggi. Ternyata Empu Sada itu pun telah dibakar oleh kemarahan yang akhirnya meledak, “Mungkin aku berbuat curang dan licik. Tetapi maaf, aku terpaksa melakukannya. Aku tidak mau menjadi bangkai makanan anjing-anjing liar.”

Dalam pada itu Wong Sarimpat telah berdiri di atas kedua kakinya. Tetapi dadanya serasa akan pecah dan nafasnya seakan-akan telah menyumbat lubang-lubang hidungnya. Sekali ia terhuyung-huyung, namun kemudian ia dapat menguasai keseimbangannya dengan mantap.

Cundaka yang terkejut pun kini telah menyadari apa yang terjadi. Ternyata gurunya telah mulai. Sudah tentu ia tidak akan dapat berpangku tangan. Meskipun ia bukan lawan yang berarti bagi Wong Sarimpat itu telah terluka di dalam. Wong Sarimpat itu seolah-olah telah menjadi sangat lemah dan tidak lagi mampu berbuat sesuatu. Karena maka nafsunya untuk melawan Wong Sarimpat yang kasar itu segera berkembang di dalam dadanya.

Dengan serta-merta ia menarik pedangnya dan siap menghadapi setiap kemungkinan.

Ia terkejut ketika ia mendengar Empu Sada berteriak, “Cundaka dan Kuda Sempana. Tinggalkan tempat ini! Cepat! Kau hanya memenangkan perlombaan lari dengan Wong Sarimpat. Jangan mencoba melawan!”

Tetapi Cundaka menjadi ragu-ragu. Ia melihat Wong Sarimpat telah hampir mati. Apakah ia tidak akan dapat membunuhnya dengan pedangnya itu. Ia tinggal menghunjamkan pedang itu ke dada orang yang berdiri pun hampir tidak mampu itu berdiri kaku di tempatnya. Sejenak ia benar-benar kehilangan akal. Apakah yang harus dilakukannya?

“Jangan gila!” kembali Empu Sada terdengar berteriak.

Tetapi Cundaka tidak segera pergi. Sekali ia memandang Kuda Sempana dengan sudut matanya. Namun Kuda Sempana masih berdiri kaku di tempatnya. Sejenak ia benar-benar kehilangan akal. Apakah yang harus dilakukannya?

Dalam pada itu terdengar Kebo Sindet yang sedang berkelahi dengan Empu Sada berkata, “Wong Sarimpat, jangan kau bunuh Kuda Sempana. Ia adalah arak muda yang baik hati, jujur dan mengerti apa sebabnya dilakukan. Sayang jika jatuh ke tangan Empu Sada yang licik. Yang lain itu terserahlah kepadamu. Aku hanya memerlukan sepasang matanya saja.”

Empu Sada tidak tahu pasti maksud Kebo Sindet dengan kata-katanya itu. Mungkin ia benar-benar ingin menangkap Kuda Sempana hidup-hidup sebagai orang yang dianggapnya cukup mengerti tentang Mahisa Agni dan Ken Dedes. Apalagi Kuda Sempana dan Empu Sada tidak sempat berbicara terlampau banyak, telah mengaku bahwa ia adalah pelayan dalam istana Tumapel, yang banyak mengetahui seluk beluk istana itu. Tetapi mungkin juga dengan demikian Kebo Sindet hanya ingin mencegah Kuda Sempana supaya tidak melawan adiknya yang terluka itu bersama-sama dengan Cundaka dengan cara yang licik pula. Kebo Sindet berpura-pura membiarkan Kuda Sempana akan tetap hidup, namun apabila lawan yang lain telah binasa, maka akan datang giliran pada anak muda itu. Karena itu maka Empu Sada itu pun segera berteriak pula, “Kuda Sempana, jangan terpengaruh. Kebo Sindet hanya ingin mencegah kalian bertempur berpasangan melawan Wong Sarimpat yang hampir mampus itu. Kalau kau ingin melawan lawanlah bersama-sama. Kalau sempat, lebih baik tinggalkan tempat ini. Semakin cepat semakin baik.”

Kini Kebo Sindet telah benar-benar berada dalam keadaan yang mantap untuk melawannya. Namun tangan kirinya telah terluka. Terasa setiap kali tulang-tulangnya seperti menjadi retak karena pukulan tongkat Empu Sada.

Kebo Sindet itu pun kemudian tidak membiarkan dirinya hancur dan tulang-tulangnya patah oleh tongkat empu tua itu. Maka dengan tangkasnya ia menarik goloknya yang besar dari rangkanya yang tergantung di pinggang.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian kedua orang itu telah terlihat dalam perkelahian yang sengit. Masing-masing adalah orang-orang sakti yang sukar dicari keseimbangannya.

Dalam pada itu Kuda Sempana masih berdiri dengan ragu-ragu. Tiba-tiba ia teringat pada saat-saat ia harus berkelahi melawan Mahisa Agni di bendungan, kemudian di Panawijen. Namun keduanya ia terusir karena kekalahan yang dialaminya. Kemudian ia berhasil membunuh Wiraprana dan membawa Ken Dedes, tetapi ia harus berhadapan dengan Witantra. Sekali lagi ia gagal. Dan ia kemudian terlempar dengan hinanya ke atas tangga serambi istana atas permintaan Ken Dedes yang ingin melepaskan sakit hatinya. Dengan demikian maka ia adalah seorang buruan.

Kuda Sempana itu berdiri membeku di tempatnya. Ia melihat Cundaka telah siap dengan pedangnya. Namun sekali lagi ia mendengar kembali suara hatinya pada saat ia berkelahi melawan Witantra, “Ken Dedes bagiku adalah lambang keteguhan tekadku. Kalau aku tidak mampu mempertahankannya maka dalam persoalan-persoalan yang lain aku pun akan selalu gagal.”

Kuda Sempana menjadi semakin ragu-ragu. Apakah ia akan tetap dalam pendiriannya itu meskipun dengan perubahan? Kini ia telah bertekad, kalau ia gagal maka lambang keteguhan tekadnya itu akan dihancurkannya sama sekali lewat kehancuran yang akan dialami oleh Mahisa Agni. Orang yang paling dibencinya.

Kuda Sempana tersadar ketika ia melihat gurunya dan Kebo Sindet tiba-tiba meloncat dekat di mukanya. Dengan serta-merta ia meloncat mundur. Namun ketika ia telah tegak kembali di atas kedua kakinya, maka ia masih saja dicengkam oleh kebimbangan. Kalau ia membiarkan perkelahian itu, maka berarti ia telah mengkhianati gurunya. Tetapi kalau ia memihak gurunya dan bersama-sama dengan Cundaka mencoba membunuh Wong Sarimpat, maka kembali ia akan mengalami kegagalan menghadapi Mahisa Agni.

Dadanya berdesir ketika sekali lagi ia mendengar gurunya berteriak, “Cundaka. Jangan gila! Tinggalkan orang itu, atau berdua melawan ber-sama-sama. Jangan berbuat sendiri!”

Cundaka pun menjadi ragu-ragu. Ia melihat Wong Sarimpat berjalan terhuyung-huyung ke arahnya. Sekali-kali orang itu meraba dadanya yang serasa pecah. Namun matanya masih memancarkan kemarahan yang membara. Dengan ujung jari tangan kirinya ia menunjuk wajah Cundaka sambil berkata serak tersendat-sendat, “Jangan lari tikus kecil aku masih mampu membunuhmu.”

Cundaka mundur selangkah. Tetapi pedangnya kini telah terjulur lurus mengarah ke dada Wong Sarimpat. Dada yang telah berhasil dilukai oleh Empu Sada.

Namun ketika Wong Sarimpat maju selangkah lagi, Cundaka itu pun surut pula selangkah sambil berpaling memandangi saudara seperguruannya, Kuda Sempana.

Tetapi Kuda Sempana itu pun masih juga berangan-angan.

“Apakah kematian Cundaka dan guru sendiri, akan merupakan korban yang harus aku relakan untuk melakukan rencanaku?”

Sekali lagi Kuda Sempana mendengar gurunya berteriak, “Kau sudah terpengaruh oleh suara iblis ini Kuda Sempana. Jangan kau sangka bahwa kau akan mendapatkan apa yang telah mereka janjikan.”

Kebo Sindet yang tangan kirinya telah terluka itu sempat juga berkata, “Kasihan kau Kuda Sempana. Mungkin kau tidak mengerti kenapa kami ingin membunuh gurumu. Sebelum gurumu ini aku singkirkan, maka kau tidak akan dapat mengingkari rencana itu, sebab di belakang semua perbuatannya, tersembunyi pamrih yang tidak kau ketahui. Aku akan mengatakannya kelak, apabila gurumu telah menjadi bangkai.”

Kata-kata Kebo Sindet terputus oleh serangan Empu Sada yang semakin dahsyat. Tongkatnya sekali-kali berhasil menyusup ke dalam lingkaran gerakan pedang Kebo Sindet. Bahkan sekali-kali tongkat itu berhasil pula menyentuh tangannya yang sakit, sehingga tulang-tulangnya semakin lama terasa seolah-olah menjadi semakin remuk.

“Gila!” katanya di dalam hati “Empu tua itu tahu benar, bahwa tanganku hampir patah.”

Namun betapapun juga, akhirnya Kuda Sempana menyadari, bahwa ia tidak dapat membiarkan guru dan saudara seperguruannya. Betapapun ia menjadi ragu-ragu tetapi terdengar kata-kata hatinya melonjak-lonjak.

“Itu adalah gurumu.”

Dengan mata yang tidak berkedip Kuda Sempana melihat gurunya bertempur. Hilanglah segala kesan ketuaan Empu Sada. Kini Empu Sada itu seolah-olah menjadi seekor burung sriti yang sedang menari-nari di udara,

Namun Kebo Sindet melawannya dengan tangkas. Goloknya berputar dan terayun-ayun dengan dahsyatnya. Kekuatan orang itu benar-benar mengagumkan. Golok yang besar itu di tangannya, seolah-olah tidak lebih dari sebatang gelagah alang-alang

Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin seru, seperti pertempuran di dalam dada Kuda Sempana. Dalam ke-ragu-raguan ia mendengar gurunya berteriak dengan penuh kecemasan, “Cundaka! He, Cundaka! Apa kau sudah benar-benar gila. Lari! Lari cepat!”

Tetapi Cundaka melihat Wong Sarimpat sudah hampir mati, Dengan sebuah sentuhan yang tidak berarti orang itu pasti sudah akan jatuh telentang. Dan ia segera akan menghunjamkan pedangnya di dada orang liar itu. Betapa gurunya berteriak-teriak namun perasaan sombong di dalam dadanya telah memaksanya untuk tetap berada di tempatnya, bahkan ia sesumbar di dalam hatinya, “He Wong Sarimpat. Betapa nistanya Cundaka yang bergelar Bahu Reksa Kali Elo, namun aku adalah laki-laki juga seperti kau. Sekarang, kenapa aku harus menghindarkan diri sedang kau sudah hampir menjadi bangkai?”

Wong Sarimpat menjadi semakin dekat. Dan Cundaka masih mendengar gurunya berteriak. Tetapi ia ingin, ya, ia ingin, bahwa ia berhasil membunuh Wong Sarimpat itu. Karena itu, tiba-tiba Cundaka itu pun memekik tinggi. Dengan satu loncatan yang garang ia menyerang Wong Sarimpat dengan pedangnya mengarah dada.

“Oh,” terdengar Empu Sada mengeluh, kemudian katanya, “Nasibmu memang terlampau jelek Cundaka.”

Tetapi Cundaka tidak mendengar. Ia sedang dimabukkan oleh keinginannya membunuh Wong Sarimpat yang di sangkanya hampir mati karena luka di dadanya.

Kuda Sempana melihat serangan itu. Ia mendengar gurunya memerintahkan kepadanya untuk bersama-sama dengan Cundaka menghadapi Wong Sarimpat. Betapa ia masih dikuasai oleh kebimbangan, namun tangannya telah menarik pedangnya pula. Sekali ia melangkah maju, namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Matanya seakan-akan meloncat dari pelupuknya. Dengan mulut ternganga ia meneriakkan sesuatu, tetapi kata-katanya tidak lagi dapat dimengerti.

“Sudah nasibmu Cundaka,” geram Empu Sada sambil bertempur.

Yang terdengar adalah suara parau Wong Sarimpat. Betapa luka menghentak-hentak dadanya, namun ia tertawa terbahak-bahak. Ternyata Cundaka yang mencoba menusuk dada Wong Sarimpat telah mengalami nasib malang. Dengan kecepatan yang tidak disangka-sangka oleh Cundaka, Wong Sarimpat berhasil menghindarkan dirinya. Cundaka yang memastikan bahwa pedangnya akan menyentuh lawannya yang disangkanya sudah tidak mampu bergerak itu, terdorong oleh tenaganya sendiri. Tiba-tiba terasa sebuah tangan yang kuat menangkap lehernya. Demikian kuatnya, sehingga terasa lehernya hampir terputus karenanya. Ketika sekali ia mencoba meronta, maka terasa jari-jari tangan itu seolah-olah menghunjam ke dalam kulitnya dan berangsur-angsur tenaganya menjadi kian lemah.

Dengan sisa tenaganya Cundaka segera menggerakkan pedang yang masih berada di tangannya. Ia melihat sepasang kaki yang renggang di sampingnya. Tetapi demikian pedangnya terayun, terasa kaki Wong Sarimpat mengenai pergelangannya sehingga pedangnya pun terlepas dan jatuh di tanah.

“Kuda Sempana, cepat berbuatlah sesuatu!” teriak Empu Sada.

Kuda Sempana maju pula selangkah. Kini ia telah mencabut pedangnya. Ketika ia melihat Cundaka tidak berdaya maka timbullah perabaan iba di dalam hatinya. Cundaka itu telah pernah berusaha membantunya pula. Namun tiba-tiba kembali Kuda Sempana tertegun. Ia melihat Cundaka yang tidak berhasil melepaskan tangan Wong Sarimpat itu mencoba menghimpun kekuatan lahir dan batinnya. Dalam keadaannya itu ia masih mencoba membangunkan kekuatan aji Kala Bama. Demikian ia merasa siap dengan kekuatannya itu, maka sambil membungkuk karena tekanan tangan Wong Sarimpat, pada lehernya Cundaka mengayunkan tangannya memukul lambung Wong Sarimpat. Namun Wong Sarimpat menyadari apa yang akan terjadi. Dengan kekuatan yang ada padanya, maka terkaman jarinya itu pun diperketat. Suatu kekuatan yang tiada taranya telah menjalar di jarinya, sehingga Cundaka itu pun tiba-tiba menjadi lemah seperti dilepasi seluruh tulang belulangnya.

Empu Sada yang melihat muridnya mencoba membangun kekuatan terakhir itu pun berdesah “Tak ada gunanya.”

Dan sebenarnyalah, ketika Wong Sarimpat melepaskan tangannya, maka Cundaka itu pun jatuh dengan lemahnya di tanah. Kekuatan yang telah mulai tumbuh dan menjalari tangannya, tiba-tiba seperti dihisap oleh kekuatan yang tak dimengertinya. Bahkan segenap kekuatan yang ada padanya.

Kini Cundaka tidak lebih dari sehelai daun yang laju. Terasa betapa sakit segenap tubuhnya, dan betapa nafasnya menjadi sesak. Sekejap ia menyesal bahwa ia tidak menuruti nasihat gurunya, namun sekejap kemudian ia telah menemukan kekuatan batinnya kembali. Adalah wajar, bahwa dalam setiap perkelahian itu, salah satu pihak akan mengalami kekalahan. Mati adalah akibat yang telah dimengertinya sejak pertama-tama ia menggantungkan pedang di lambungnya. Dan mati itu kini menghampirinya. Karena itu, dalam kelemahan, Cundaka bahkan menjadi tenang. Meskipun tenaganya telah habis, namun ia masih sempat melihat gurunya bertempur dan melihat Kuda Sempana berdiri termangu-mangu dengan pedang di tangan.

“Mudah-mudahan guru dapat membalaskan dendamku,” desisnya. Suaranya perlahan-lahan dalam nada yang sangat rendah. Tetapi Empu Sada mendengar kata-kata itu. Hati orang tua itu pun menjadi sangat terharu ketika ia melihat muridnya pasrah kepada maut yang telah siap untuk memeluknya

Kuda Sempana yang berdiri dalam kebingungan tiba-tiba tersadar bahwa ia sedang menghadapi bahaya yang sama besarnya dengan bahaya yang telah menelan Cundaka. Karena itu, maka segera ia mencoba memusatkan perhatiannya ke pada ujung pedangnya dan kepada Wong Sarimpat. Ditindasnya setiap perasaan ragu-ragu dan disingkirkannya setiap harapan akan membalas dendam terhadap Mahisa Agni dengan alat kedua orang liar itu. Meskipun harapan itu selalu saja menyentuh-nyentuh hatinya.

Kuda Sempana itu pun kemudian menggeretakkan giginya. Ia masih melihat saudaranya seperguruannya menggeliat. Dan sekali lagi Cundaka itu mencoba berkata, “Aku sudah tidak dapat membantu guru lagi.”

Sekali lagi dada Empu Sada tersentuh. Murid itu diambilnya, karena Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo itu dapat memenuhi permintaannya. Dapat memberinya berbagai macam barang dan uang. Bukan karena suatu keyakinan bahwa muridnya itu akan dapat meneruskan cabang perguruannya. Namun ketika ia melihat anak itu hampir sampai pada ajalnya, maka hatinya melonjak. Kemarahannya pun menjadi semakin menyala di dalam dadanya. Tiba-tiba hati orang tua itu berkata “Ya, aku akan mencoba membalaskan dendammu, Anakku.”

Tiba-tiba Empu Sada itu pun melenting meninggalkan lawannya. Gerak yang tiba-tiba dan hampir secepat tatit meloncat di udara itu, tidak segera dapat diikuti oleh Kebo Sindet. Namun sebagai seorang yang telah dipenuhi oleh pengalaman maka segera Kebo Sindet dapat menangkap maksud Empu Sada. Dengan loncatan yang panjang Kebo Sindet mengejarnya. Tetapi Kebo Sindet terlambat sekejap. Tongkat Empu Sada telah terjulur lurus ke dada Wong Sarimpat. Alangkah terkejutnya Wong Sarimpat yang sedang menikmati kemenangannya itu. Ketika ia melihat Empu Sada meloncat ke arahnya, dan ketika ia melihat tongkat orang tua itu terjulur lurus ke dadanya, maka ia menjadi gugup. Kalau dadanya tidak sedang terluka maka serangan itu sama sekali tidak akan membingungkannya. Ia mampu bergerak secepat Empu Sada. Tetapi kini betapa sakit tulang-tulang iganya. Setiap geraknya pasti menumbuhkan rasa pedih pada isi dadanya itu. Namun ia tidak mau mati karena serangan itu. Betapapun sakitnya, tetapi ia harus mengerahkan segenap kemampuannya. Karena ia tidak mendapat kesempatan untuk meloncat, maka satu-satunya cara yang dapat menolongnya adalah menjatuhkan diri. Sementara itu ia mengharap kakaknya akan datang menolongnya.

Demikianlah dengan serta-merta Wong Sarimpat mencoba menjatuhkan dirinya mendahului tongkat Empu Sada. Meskipun dadanya terluka, namun ia masih juga mampu bergerak cepat, sehingga dadanya terlepas dari dorongan tongkat orang tua itu. Tetapi Empu Sada tidak membiarkannya bebas sama sekali dari serangannya, dengan satu putaran ia menghantamkan tongkatnya pada punggung lawannya. Sekali lagi Wong Sarimpat terpaksa mencoba menghindarkan diri dengan berguling di tanah. Namun kali ini Wong Sarimpat yang sudah tidak mampu mempergunakan segenap kekuatannya itu tidak berhasil membebaskan dirinya sama sekali. Sekali lagi ia terpaksa mengalami cedera. Kali ini lengannya telah terkena tongkat Empu Sada yang sedang menjadi sangat marah itu.

Terdengar Wong Sarimpat mengumpat pendek. Perasaan nyeri telah menusuk tulangnya, serasa tulangnya telah menjadi retak pula karenanya.

Namun dengan demikian, karena nafsu Empu Sada untuk membunuh Wong Sarimpat terlampau menguasai perasaannya, maka sejenak ia menjadi lengah, bahwa Kebo Sindet sedang mengejarnya. Empu tua itu mendengar Kuda Sempana berteriak pendek dan terasa sebuah getaran menyentuh punggungnya. Cepat ia meloncat ke samping sambil merendahkan dirinya. Kali ini ia berhasil menghindari sambaran golok Kebo Sindet, tetapi ketika golok itu terayun melampaui tubuhnya yang sedang merendah, terasa telinganya seakan-akan menjadi pecah. Ternyata kaki Kebo Sindet berhasil menyambar kepalanya, menyentuh telinga kanannya. Untunglah bahwa Kebo Sindet tidak berhasil mempergunakan sepenuh kekuatannya karena tarikan goloknya sendiri. Meskipun demikian Empu Sada itu pun terdorong selangkah dan jatuh terguling di tanah. Namun seperti singgat, orang tua itu segera melenting berdiri. Tongkatnya masih tergenggam erat di tangannya. Tetapi kini kepalanya menjadi pening. Bahkan serasa dunia ini berputar di sekelilingnya.

“Gila!” orang itu mengumpat di dalam hati. Ketika ia melihat Kebo Sindet menyerangnya kembali, maka sementara orang tua itu hanya berhati menghindar sambil mencoba menenangkan dadanya.

Sementara itu Wong Sarimpat pun telah duduk kembali. Tepat di samping Cundaka yang terbaring lemah. Betapa kemarahan Wong Sarimpat itu menghunjam jantungnya. Maka ketika tiba-tiba dilihatnya Cundaka di sampingnya, dengan serta-merta ia merangkak dan menangkap leher orang yang sudah tidak berdaya itu. Dengan gigi gemeretak ia menekankan sepuluh jari-jari tangannya ke leher Cundaka yang tidak dapat melawannya sama sekali.

Kuda Sempana yang meloncat dengan pedang di tangan ternyata terlambat. Cundaka sudah benar-benar mati dicekik oleh Wong Sarimpat.

Ketika Kuda Sempana kemudian siap menyerang orang yang masih terduduk itu terdengar Empu Sada memperingatkannya, “Jangan kau ulangi kesalahan saudaramu. Orang yang hampir mati itu masih cukup berbahaya bagimu.”

Tetapi suara itu disusul oleh suara Kebo Sindet, “Wong Sarimpat, jangan kau bunuh Kuda Sempana. Aku bahkan ingin menolongnya, menangkap Mahisa Agni.”

“Setan!” geram Empu Sada. Kini kepalanya sudah tidak terlampau pening lagi. Namun telinganyalah yang terata sakit bukan buatan. Bahkan hatinya pun menjadi sangat pedih. Satu muridnya meninggal di hadapan hidungnya. Tetapi muridnya itu telah menjadi korban kesombongan sendiri. Ia tidak mau mendengarkan nasihatnya.

Seruan gurunya, serta suara Kebo Sindet, kembali telah mengganggu perasaan Kuda Sempana. Ia kini kembali berdiri tegak seperti patung. Ia melihat Cundaka terbunuh karena tidak mau mendengar nasihat gurunya. Dan kini gurunya itu melarangnya pula untuk melawan Wong Sarimpat yang tampaknya sudah terlampau lemah. Tetapi dalam pada itu ia mendengar Kebo Sindet mencegah adiknya untuk tidak membunuhnya.

Kuda Sempana menjadi bingung. Tetapi bahwa Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak berlaku jujur kini mulai terbayang di dalam benaknya, Karena itu maka Kuda Sempana pun kini mulai menyadari betapa bodohnya dirinya sendiri. Dan ia ingin mencoba menebus kebodohannya. Ia ingin memanfaatkan sikap Kebo Sindet atas adiknya Wong Sarimpat. Apabila ia menyerang Wong Sarimpat, maka Wong Sarimpat pasti tidak akan berani membunuhnya karena kakaknya tidak menghendakinya. Tidak seperti saudara seperguruannya itu. Kedua orang liar itu agaknya benar-benar membencinya meskipun mereka belum mengenalnya dengan baik. Apalagi kini Wong Sarimpat telah menjadi semakin parah.

Karena itu maka Kuda Sempana tidak segera meninggalkan tempat itu. Dari cahaya obor yang masih menyala meskipun kini tergolek di atas batu-batu padas, ia melihat betapa wajah Wong Sarimpat yang tegang. Agaknya orang itu berusaha untuk menahan perasaan sakitnya.

Ketika api obor itu menyala semakin besar, maka Kuda Sempana melihat, betapa wajah itu menjadi sangat mengerikan. Wong Sarimpat itu menatap seperti ingin menelannya hidup-hidup.

Tekad Kuda Sempana telah bulat di dalam dadanya. Ia mempunyai kedudukan yang berbeda dengan saudara seperguruannya di mata kedua orang-orang liar itu. Betapa Wong Sarimpat marah kepadanya, namun Kebo Sindet agaknya masih memerlukannya.

Namun kembali ia mendengar gurunya berteriak, “Apakah kau juga akan membunuh dirimu Kuda Sempana?”

Kuda Sempana menggeram. Terasa dadanya bergolak. Apakah sudah sepantasnya ia melarikan dirinya selagi gurunya bertempur matian dan sesudah saudara seperguruannya itu mati?

Dalam keragu-raguan itu ia melihat Wong Sarimpat berusaha untuk berdiri. Beberapa kali ia berusaha, namun setiap kali ia berhenti, mengatur pernafasannya dan mengusap dadanya. Agaknya dadanya masih terasa sangat parah, di samping lengannya yang serasa menjadi retak.

“Setan licik!” geramnya. Kemudian ditatapnya wajah Kuda Sempana sambil mengumpat “Kau setan pula. Ternyata kakakku berbaik hati kepadamu. Kalau tidak, maka nyawamu akan meloncat dari ubun-ubunmu seperti demit kecil ini.”

Namun terdengar suara Kebo Sindet, “Jangan kau takut-takuti anak itu, Wong Sarimpat. Ia tidak bersalah. Gurunyalah yang gila dan saudara seperguruannya itu pula.”

Dada Kuda Sempana berdesir. Namun ia sependapat dengan gurunya ketika ia mendengar gurunya berkata, “Apakah kau dapat mempercayainya Kuda Sempana?”

Kuda Sempana tidak menjawab, tetapi kepalanya mengangguk lemah-

Sementara itu Wong Sarimpat telah berhasil berdiri tegak. Ditelekankan kedua tangannya di dadanya, dan dihisapnya nafas dalam-dalam beberapa kali. Sejenak ia memusatkan segenap sisa-sisa kekuatannya. Dan kemudian terdengarlah ia berdesis.

Kebo Sindet dan Empu Sada masih juga bertempur dengan sengitnya. Keduanya adalah orang-orang yang jarang tandingannya. Masing-masing mempunyai kekhususannya sendiri- sendiri. Namun terasa bahwa tangan Kebo Sindet yang terluka agak mengganggunya. Meskipun demikian goloknya masih dapat berputar seperti baling-baling.

Empu Sada tidak kalah lincahnya pula. Meskipun telinganya menjadi sakit, namun kekuatannya seolah-olah sama sekali tidak terpengaruh olehnya. Tongkatnya masih menyambar-nyambar dan sekali-kali mematuk ke titik-titik berbahaya pada tubuh Kebo Sindet.

Kuda Sempana kemudian melihat Wong Sarimpat mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi sambil menghisap udara sebanyak-banyaknya. Seakan-akan seluruh udara di atas bukit gundul itu akan dihisapnya. Ber-kali-kali dan kemudian terdengar ia berdesah lirih, “Hem. Setan tua itu harus binasa.”

Dengan penenangan itu ternyata Wong Sarimpat berhasil mengurangi perasaan sakitnya meskipun hanya sedikit. Namun karena kemarahan yang membara di dadanya, maka ia tidak dapat membiarkan melihat kakaknya bertempur sendiri melawan Empu Sada. Bagi Wong Sarimpat Kuda Sempana sama sekali sudah tidak berarti lagi. Karena itu dibiarkannya saja ia berdiri tegak dengan pedang di tangan.

Tetapi Kebo Sindet tidak ingin membiarkan Kuda Sempana itu. Ia tidak menghendaki anak itu dilepaskan. Ia tidak akan membiarkan anak itu lari. Tetapi ia tidak dapat memberitahukannya kepada adiknya, sebab dengan demikian, maka Empu Sada pasti segera mengetahui maksudnya pula.

Karena itu, maka Kebo Sindet itu pun menjadi gelisah. Tetapi ketika ia melihat Wong Sarimpat telah siap untuk ikut serta dalam perkelahian itu, maka tumbuhlah harapannya untuk dapat menangkap Kuda Sempana hidup-hidup. Ia mengharap anak muda itu bukan seorang pengecut yang licik. Ia mengharap setidak-tidaknya Kuda Sempana mempunyai keberanian seperti saudara seperguruannya.

Maka Tiba-tiba berkatalah Kebo Sindet, “He, apa yang akan kau lakukan Wong Sarimpat?”

Wong Sarimpat menggeram. Ia tidak mengerti kenapa kakaknya itu bertanya. Namun dijawabnya pula pertanyaan itu, “Aku ingin memecahkan dada Empu tua itu seperti ia melukai dadaku. Tetapi aku bukan pengecut seperti orang itu.”

Empu Sada tidak merasa perlu untuk menjawab. Bahkan serangannyalah yang menjadi semakin garang. Ia sama sekali tidak menjadi cemas melawan keduanya telah dilukainya sehingga mereka tidak dapat mempergunakan teraga mereka sepenuh-penuhnya.

Meskipun demikian Empu Sada tidak dapat memperingan lawannya. Apalagi Kebo Sindet. Meskipun sebelah tangannya telah terluka namun tandangnya hampir tidak berbeda. Tetapi Empu Sada yang telah mengetahui luka di tangan itu, selalu berusaha untuk menyentuhnya dengan tongkatnya. Empu tua itu tahu betul, sentuhan yang kecil telah cukup untuk membangkitkan perasaan sakit yang membakar seluruh tubuh Kebo Sindet itu.

Karena itu ketika Wong Sarimpat berjalan tertatih-tatih mendekatinya, maka Empu Sada itu menjadi semakin berhati-hati.

Kuda Sempana yang masih tegak seperti tonggak, melihat Wong Sarimpat semakin lama menjadi semakin dekat dengan kedua orang yang sedang bertempur itu. Meskipun tataran ilmu gurunya serta Kebo Sindet di atas ilmunya, namun Kuda Sempana dapat melihat bahwa Kebo Sindet yang terluka tangannya itu selalu terdesak oleh gurunya. Betapa besar golok orang itu, dan betapa kuatnya ia menggerakkannya, namun setiap kali ia melihat orang itu menyeringai menahan sakit dan sekali dua kali meloncat surut untuk menghindari serangan Empu Sada yang selalu berusaha menyarang titik kelemahan lawannya.

Sesaat kemudian Kuda Sempana itu pun melihat Wong Sarimpat meloncat menerjunkan diri ke dalam perkelahian itu. Alangkah terkejutnya ketika ia melihat orang yang di sangkanya sudah hampir mati itu mampu meloncat dengan kecepatan yang luar biasa. Serangannya datang seperti kilat menyambar di langit. Tetapi ketika lawannya mampu menghindari serangan itu, maka kembali Wong Sarimpat berdiri terbungkuk-bungkuk. Kedua tangannya menekan dadanya dan nafasnya seakan-akan hampir putus.

Ternyata orang itu telah mengerahkan sisa-sisa tenaganya untuk tetap dapat mengimbangi lawannya. Meskipun kemudian luka di dalam dadanya terasa sakit kembali, namun pada saat tertentu, karena nafsu dan kemarahan yang meluap-luap, Wong Sarimpat telah berhasil meluapkannya. Sehingga serangan yang demikian itu tidak hanya satu kali dilakukan oleh Wong Sarimpat. Setiap kali ia menyerang dan setiap kali pula ia menyingkir dari titik perkelahian untuk menenangkan dirinya.

Meskipun demikian, namun serangan-serangan Wong Sarimpat itu cukup mengganggu Empu Sada. Setiap kali ia harus membagi perhatiannya. Bahkan serangan-serangan orang tampaknya telah hampir lumpuh itu pun masih cukup berbahaya.

Akhirnya Empu Sada pun menyadari, bahwa tidak ada gunanya lagi ia bertempur seterusnya. Kini ia tinggal mencoba bertahan dan memberikan kesempatan Kuda Sempana untuk menyingkir sebelum ia sendiri meninggalkan bukit gundul itu. Tetapi alangkah jengkelnya Empu tua itu ketika ia masih melihat Kuda Sempana berdiri saja seperti patung,

“Kuda Sempana, pergilah!” berkata Empu Sada.

Tetapi yang menyahut adalah Kebo Sindet, “Wong Sarimpat. Jangan putus asa karena luka-lukamu. Marilah kita bunuh Empu tua yang gila ini. Ia telah banyak berbuat kesalahan tidak saja atas kita. Namun lihatlah. Apakah ia telah membentuk muridnya itu dengan baik? Menurut pendapatku Kuda Sempana adalah seorang anak muda yang cukup berani. Tetapi gurunyalah yang mengajarinya menjadi pengecut. Bagi laki-laki, lari dari arena perkelahian adalah sifat yang sehina-hinanya. Lebih hina dari serangan yang licik yang dilakukan oleh Empu Sada itu sendiri.”

“Jangan hiraukan!” teriak Empu Sada sambil bertempur, “Jangan hiraukan. Lari tinggalkan tempat ini!”

“Kalau kau yang lari, Wong Sarimpat, meskipun kau sudah akan mati, maka kau akan aku bunuh sendiri,” geram Kebo Sindet.

Tiba-tiba Wong Sarimpat yang terluka di dadanya itu melepaskan diri dari perkelahian. Terdengar ia mencoba tertawa keras-keras. Tetapi suara itu pun patah karena perasaan sakit yang menekan dadanya. Namun ia masih sempat berkata “Empu Sada telah mendidiknya berbuat demikian. Ternyata murid yang gila, yang kau kehendaki sepasang matanya itu lebih berani daripada Kuda Sempana.”

Baik Empu Sada maupun Kuda Sempana menyadari maksud kata-kata itu. Mereka tidak menghendaki Kuda Sempana meninggalkan perkelahian. Namun meskipun demikian, harga diri Kuda Sempana tersinggung juga. Itulah sebabnya ia masih juga berdiri termangu-mangu meskipun beberapa kali gurunya berteriak-teriak mengusirnya.

Dalam perkelahian yang kemudian menjadi semakin sengit, Kebo Sindet sempat berkata kepada Wong Sarimpat perlahan-lahan, “Tangkap anak itu. Jangan sampai ia lari. Kau tidak akan dapat mengejarnya karena lukamu.”

Betapa Kebo Sindet mencoba berbisik perlahan-lahan sekali, tetapi telinga Empu Sada yang tajam dapat mendengarnya. Karena itu sekali lagi ia berteriak “Lari Kuda Sempana lari. Kau akan ditangkap hidup-hidup untuk permainan mereka ini. Permainan orang-orang liar.”

Karena perhatian yang terpecah-pecah itulah maka Kebo Sindet dan Wong Sarimpat berhasil menekan Empu Sada mendekati Kuda Sempana. Wong Sarimpat yang terluka itu kadang-kadang sama sekali tidak mampu meloncat menyerang karena perasaan sakitnya, namun kadang-kadang apabila ia berhasil mengatasi perasaan sakit dan berhasil menghimpun tenaganya maka luka di dadanya itu seakan-akan sudah tidak berbekas.

Ketika titik perkelahian itu menjadi semakin mendekatinya, maka Kuda Sempana pun menjadi semakin menyadari apa yang akan dihadapinya. Ia benar-benar tidak dapat ikut dalam perkelahian itu, tetapi untuk meninggalkan gurunya, hatinya masih ragu-ragu. Meskipun demikian, akhirnya ia mengambil suatu kesimpulan, “Lebih baik aku menyingkir. Aku harap Guru berhasil melarikan dirinya pula kemudian.”

Ternyata gurunya yang benar-benar menginginkan Kuda Sempana pergi telah mencoba merendahkan dirinya agar muridnya tidak terlampau terikat pada harga diri pula, katanya “Kuda Sempana, larilah selagi aku mampu menahan kedua orang liar itu, sesudah itu aku pun akan melarikan diri pala. Tak ada gunanya lagi berurusan dengan orang-orang liar ini.”

Tak ada pilihan lain bagi Kuda Sempana selain meninggalkan pertempuran itu. Ia harus segera pergi, tidak tahu ke mana, asal saja menjauhi kedua orang-orang yang aneh itu.

Tetapi betapa terkejut Kuda Sempana ketika ia seolah-olah melihat kilat yang menyambar di hadapannya. Demikian cepatnya sehingga ia tidak mendapat kesempatan berbuat sesuatu. Ketika ia telah mengambil keputusan untuk lari, maka ia telah terlambat. Wong Sarimpat yang terluka itu tiba-tiba telah berdiri di hadapannya. Sebelum ia dapat berbuat sesuatu, terasa tangannya yang memegang pedang bergetar, dan pedangnya pun terpelanting jatuh di tanah.

Kuda Sempana benar-benar tidak mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu. Yang terasa olehnya adalah sebuah tekanan yang keras pada lengan kanannya. Ketika ia terputar, maka Wong Sarimpat telah menangkap tengkuknya. Sebuah tekanan yang keras di tengkuknya serasa sebagai daya yang kuat, yang telah menghisap seluruh tenaganya. Seperti Cundaka, maka Tiba-tiba Kuda Sempana itu menjadi lemah. Semakin lama semakin lemah.

“Gila!” terdengar Empu Sada berteriak. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Kebo Sindet yang telah bersiap untuk menghadapi tindakan adiknya itu dengan garangnya mencoba melibat Empu Sada, sehingga orang itu tidak mendapat kesempatan berbuat sesuatu.

Betapa jantung orang tua itu dicengkam oleh kemarahan yang memuncak. Betapa dadanya serasa akan pecah. Tetapi semuanya itu sudah terjadi. Ia menyesal tak habisnya atas kedua muridnya yang sama sekali tidak mau mendengarkan nasihatnya. Cundaka telah hangus dibakar kesombongannya sendiri, sedang Kuda Sempana telah dibelit oleh keragu-raguannya. Namun kedua-duanya kini tidak dapat diharapkannya lagi.

Empu Sada itu masih melihat Kuda Sempana jatuh dengan lemahnya. Sedang Wong Sarimpat, yang terpaksa mengerahkan sisa-sisa tenaganya yang telah lemah pula, berdiri sambil menekan dadanya Sekali ia batuk sambil terbungkuk-bungkuk, namun kemudian orang itu pun jatuh terduduk di tanah.

“Kau akan mati pula!” geram Empu Sada.

Tetapi Kebo Sindet menjawab, “Tidak. Kami menyimpan obat-obatan yang dapat menyembuhkannya dalam waktu singkat. Sayang obat-obatan itu tidak kami bawa. Tetapi ia tidak akan mati. Besok ia telah sanggup bertempur melawanmu seorang diri seandainya kau masih hidup. Tetapi sayang pula, bahwa kau akan mati malam ini seperti muridmu yang sombong. Sedang muridmu yang baik itu, biarlah aku mencoba merawatnya. Menjadikannya seorang jantan yang tidak akan dapat kau kalahkan seandainya kau sempat bertemu lagi.”

Empu Sada tidak menjawab. Ia melihat kesempatan untuk mencoba menjatuhkan Kebo Sindet, selagi Wong Sarimpat sedang dicengkam oleh perasaan sakit. Dengan mengerahkan segenap kemampuannya ia menyerang seperti seekor burung elang di udara. Menyambar dengan tongkatnya, tangannya dan kakinya. Namun Kebo Sindet masih mampu untuk menghindarkan dirinya dari setiap serangan yang betapapun berbahayanya.

Perlahan-lahan Wong Sarimpat mulai dapat mengatasi perasaan sakitnya kembali. Perlahan-lahan pula ia mencoba berdiri. Dengan mata yang menyala ia memandangi Empu Sada yang sedang bertempur dengan kakaknya. Kemudian terdengar ia menggeram, “Tinggal kau sekarang Empu tua. Ayo, menyerahlah supaya kemarahan kami tidak menyebabkan kami membunuhmu dengan cara yang tidak menyenangkan.”

Empu Sada masih berdiam diri. Bahkan serangannya menjadi semakin kuat. Namun ia bergumam di dalam hatinya, “Setan manakah yang telah bersembunyi di dalam tubuh Wong Sarimpat itu? Meskipun ia sudah hampir mampus, namun ia masih juga kuat untuk berdiri dan bahkan bertempur meskipun ia telah memeras tenaganya melampaui kemampuannya yang sewajarnya.”

Dan Empu Sada itu menjadi semakin geram, ketika ia melihat Wong Sarimpat berjalan tertatih-tatih ke arah mereka yang sedang bertempur mati-matian itu. Kini goloknya, yang mirip dengan golok kakaknya telah digenggamnya pula. Meskipun nafasnya tersendat-sendat namun nampaknya orang itu masih garang juga.

Sekali lagi Empu Sada membuat perhitungan. Ia juga tidak akan mampu mengalahkan keduanya dalam keadaan serupa itu. Ternyata kekuatan tubuh Wong Sarimpat benar-benar berada di luar dugaannya. Dalam keadaan serupa itu, ia masih juga mampu mengganggu perkelahiannya dengan Kebo Sindet. Karena itu, maka tidak ada jalan lain baginya daripada menghindarkan diri dari perkelahian itu. Kalau ia berhasil maka ia masih mempunyai kemungkinan untuk berusaha membebaskan Kuda Sempana. Menurut perhitungan Empu Sada kemudian, Kuda Sempana memang tidak akan dibunuh, sebab kedua orang itu masih memerlukannya. Mereka mengharap Kuda Sempana memberinya beberapa petunjuk tentang Mahisa Agni, Ken Dedes dan Tunggul Ametung.

Tetapi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat pun telah dapat menebak pula maksud Empu Sada itu. Karena itu maka terdengar Kebo Sindet menggeram “Jangan mimpi kau berhasil melepaskan diri Empu. Meskipun Wong Sarimpat telah kau lukai dengan curang, tetapi ia masih mampu berbuat sesuatu. Mungkin kau dapat mengalahkan kami satu-satu karena kecuranganmu. Tetapi mengalahkan kami berdua, atau mencoba melepaskan diri dari kami berdua adalah sangat mustahil.”

Empu Sada sama sekali tidak menjawab. Tetapi ia memang melihat kesulitan itu. Wong Sarimpat yang lemah itu masih juga dapat berbuat banyak untuk mencegahnya meninggalkan perkelahian. Namun bagaimanapun juga Empu Sada berusaha untuk melakukannya. Sedikit demi sedikit ia menarik perkelahian itu ke sisi dataran gunung gundul yang tidak terlampau lebar. Namun setiap kali kedua laki-laki liar kakak beradik itu, selalu berusaha mendesaknya kembali ke tengah.

Semakin dalam malam memeluk permukaan bukit gundul itu, perkelahian mereka menjadi semakin sengit. Wong Sarimpat yang dibakar oleh kemarahannya, ternyata mampu melupakan lukanya pada saat-saat tertentu, meskipun sekali-sekali ia terpaksa menyingkir untuk sesaat, memperbaiki keadaannya dan mengatur pernafasannya.

Tetapi keadaan Empu Sadalah yang semakin lama menjadi semakin sulit. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat berusaha dengan sekuat tenaga untuk membinasakan Empu tua itu. Orang itu akan dapat mengganggu usahanya. Rencananya tentang Mahisa Agni telah matang di dalam kepala Kebo Sindet, seperti yang ditebak oleh Empu Sada. Karena itu maka Empu Sada harus tidak ada lagi, supaya rencananya dapat berlangsung. Tetapi sudah tentu bahwa Empu Sada tidak akan menjerahkan kepadanya, sehingga bagaimanapun juga, dengan segenap kekuatan dan kemampuan yang ada orang tua itu berjuang untuk mempertahankan hidupnya.

Namun jumlah kekuatan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang luka itu, ternyata masih lebih besar dari kekuatan Empu Sada, sehingga sekali terasa serangan-serangan kedua orang itu hampir-hampir dapat mencapai maksudnya. Bahkan sekali-sekali terasa pada pakaian Empu Sada, sentuhan-sentuhan ujung-ujung golok Kebo Sindet atau Wong Sarimpat.

“Setan belang!” orang tua itu mengumpat di dalam hati. Ia kini benar-benar sedang berusaha untuk melepaskan dirinya.

Namun ternyata bahwa serangan-serangan kedua lawannya semakin lama menjadi semakin garang. Batu-batu padas di bukit gundul itu benar-benar tidak menyenangkan bagi kaki Empu Sada. Bahkan terasa beberapa kali kakinya terantuk oleh ujung-ujung padas yang menjorok. Tetapi bagi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tanah itu merupakan tanah tempat mereka bermain setiap hari sehingga ujung-ujung batu yang runcing tajam sama sekali tidak mempengaruhinya.

Ketika Empu Sada sekali lagi mencoba meloncat surut, maka tanpa disangka-sangkanya kakinya tergores oleh sebuah ujung batu padas sehingga sesaat ia terhuyung-huyung. Namun dengan tangkasnya ia meloncat dan memperbaiki keseimbangannya. Tetapi yang sesaat itu benar-benar dapat dipergunakan oleh Kebo Sindet. Dengan garangnya ia meloncat menjulurkan senjatanya lurus-lurus ke dada lawannya Tetapi sekali ini Empu Sada masih mampu menghindarinya. Dengan lincahnya ia mengelak ke samping sambil merendahkan diri. Namun sayang, bahwa Wong Sarimpat dengan mengerahkan segenap sisa-sisa tenaganya masih mampu menyusulnya. Sebuah ayunan yang keras mengarah ke lambung Empu Sada.

Orang tua itu terkejut. Tak ada jalan lain daripada menjatuhkan dirinya. Dengan demikian maka dengan serta-merta ia menjatuhkan diri dan berguling beberapa kali. Terasa ujung-ujung batu padas telah melukai kulitnya. Namun sama sekali tidak dihiraukannya. Yang mengejutkannya pula adalah, ketika ia melenting berdiri, Kebo Sindet telah siap menyerangnya dengan sebuah tebasan langsung ke lehernya.

Empu Sada tidak dapat menghindarkan dirinya. Yang dapat dilakukan adalah melawan serangan itu dengan tongkatnya. Tetapi ia tidak dapat menangkis tajam golok lawannya dengan tongkatnya. Untunglah bahwa tongkat orang tua itu cukup panjang, sehingga dengan serta-merta dijulurkannya tongkatnya mengarah ke pergelangan tangan Kebo Sindet.

Terjadilah sebuah benturan yang dahsyat. Benturan yang tidak langsung di antara kedua senjata mereka. Ujung tongkat Empu Sada ternyata berhasil mengenai pergelangan tangan Kebo Sindet yang sedang terayun dengan derasnya. Terdengar Kebo Sindet berteriak pendek. Tulang pergelangannya terdengar gemeretak seakan-akan terpatahkan. Goloknya yang terayun itu pun terlepas dari genggamannya. Namun karena itu, karena golok yang terlepas itu, maka Empu Sada pun tidak dapat menghindarkan dirinya lagi. Golok itu dengan cepat menyambarnya. Untunglah bahwa sambaran golok itu tidak tepat mengenai lehernya. Tetapi terasa sebuah goresan yang pedih menyilang dadanya, sehingga orang tua itu pun terdorong beberapa langkah surut dan kemudian jatuh terguling di tanah.

Tetapi Kebo Sindet tidak dapat segera mengejarnya. Tangannya yang terkena tongkat Empu Sada itu benar-benar telah melumpuhkan segenap kemampuannya. Sambil berdesis menahan sakit ia berjongkok dan mencoba menahan sakit itu dengan tangannya yang lain. Tetapi lengannya yang lain pun telah terluka.

“Gila!” geramnya. Hampir-hampir ia berteriak kepada Wong Sarimpat supaya ia berbuat sesuatu atas Empu Sada. Tetapi dilihatnya kemudian, Wong Sarimpat itu sedang terbatuk-batuk sambil menekan dadanya. Ternyata setelah ia memeras tenaganya pada saat-saat terakhir, menyerang Empu Sada dengan sisa-sisa kemampuannya yang berlebih-lebihan, terasa dadanya seakan-akan meledak. Betapa sakitnya.

Kebo Sindet yang sudah bertekad untuk membunuh Empu Sada itu tidak dapat berdiam diri. Betapa perasaan nyeri membakar segenap tubuhnya, namun dengan kemampuan yang menyala-nyala ia berusaha untuk melupakan perasaan sakitnya. Dengan gigi terkatup rapat-rapat ia berdiri. Tangan kirinya yang terluka pada lengannya, masih memegangi pergelangan tangan kanannya yang retak. Tetapi Empu Sada pun telah terluka. Dengan geramnya Kebo Sindet berkata, “Aku masih mempunyai sepasang kaki yang utuh. Aku akan membunuhmu dengan kakiku.”

Namun Empu Sada itu pun tidak pingsan. Ia masih tetap sadar betapapun pedih luka di dadanya. Ia masih juga melihat samar-samar di dalam cahaya obor yang hampir padam, Kebo Sindet datang mendekatinya.

Tetapi untuk melawan, agaknya Empu Sada sudah tidak mungkin lagi. Karena itu, maka satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri adalah pergi meninggalkan kedua lawannya.

Meskipun tulang-tulang tua di dalam tubuh Empu Sada itu serasa telah habis dilolosi, namun ia masih mampu merangkak agak cepat menjauhi bayangan Kebo Sindet yang samar-samar maju setapak demi setapak.

“He, kau akan lari Empu tua?” geram Kebo Sindet.

Empu Sada tidak menjawab. Ter-tatih-tatih ia mencoba berdiri, untuk melarikan diri. Tetapi tubuhnya serasa seratus kali lebih berat dari tubuhnya yang biasa. Karena itu kembali Empu Sada itu merangkak secepat ia dapat menghindarkan diri dari tangan Kebo Sindet yang telah dilukainya.

Kebo Sindet menggeram sambil menggeretakkan giginya. Kini ia benar-benar menahan segenap rasa sakitnya. Ia harus dapat menangkap Empu Sada. Keadaan telah terlanjur menjadi sangat buruk, sehingga apabila orang itu terlepas dari tangannya, maka rencananya pasti akan terancam, meskipun belum tentu Empu Sada segera berani menghubungi Mahisa Agni apalagi Tunggul Ametung karena pertentangan mereka di saat-saat yang lampau. Belum pasti pula Mahisa Agni atau Tunggul Ametung mempercayainya, seandainya Empu tua itu mencoba mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi. Namun meskipun demikian, maka sudah tentu Mahisa Agni akan menjadi lebih ber-hati-hati. Orang-orang yang dapat menjadi pelindungnya pun akan semakin ketat mengawasinya.

Tetapi seperti juga Kebo Sindet, Empu Sada telah mencoba memeras segenap sisa-sisa kekuatannya untuk hidup. Apabila ia tetap hidup, maka ia akan dapat membuat perhitungan di saat-saat yang akan datang dengan kedua orang itu. Tetapi kalau ia gagal mempertahankan hidupnya, maka ia akan menjadi kerangka di bukit gundul ini. Dagingnya pasti akan habis dikoyak-koyak oleh anjing-anjing liar.

Karena itu, betapapun ia tetap berusaha untuk merang kak pergi. Sekali-kali ia mencoba berdiri bersandar pada tongkatnya dan berjalan tertatih-tatih. Namun kembali ia harus merangkak karena luka di dadanya. Luka karena goresan pedang pada kulit dan daging dadanya. Luka yang berbeda dengan luka yang diderita oleh Wong Sarimpat. Meskipun akibatnya hampir bersamaan. Namun dari luka Empu Sada itu darah mengalir tak henti-hentinya. Meskipun orang tua itu mencoba sekali-kali menahannya dengan kainnya. Ditambah pula rasa sakit pada telinganya.

Ketika sekali ia berpaling, dilihatnya Kebo Sindet telah menjadi semakin dekat. Dan bahkan ia mendengar orang liar itu berdesis dalam nada yang berat parau “He, ke manakah kau akan lari Empu tua? Jangan membuang tenaga di saat-saat menjelang mati. Tenangkan hatimu, supaya nyawamu tidak tersendat-sendat di ujung ubun-ubunmu.”

Kebo Sindet itu sudah semakin dekat. Beberapa langkah lagi orang itu akan dapat mencapainya. Tetapi seperti Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, Empu Sada bukan orang yang mudah menyerah pada keadaan. Ketika ia melihat Kebo Sindet menggeram dan meloncat menerkamnya, maka Empu Sada itu pun seakan-akan telah dapat melupakan perasaan sakitnya. Dengan serta-merta orang tua yang terluka itu tegak berdiri. Disambutnya serangan Kebo Sindet dengan ayunan tongkatnya. Kebo Sindet tidak menyangka bahwa Empu Sada mampu berbuat demikian. Karena itu, selagi ia meluncur dengan derasnya, menyerang Empu yang terluka itu dengan kakinya, ia tidak dapat lagi menghindari tongkat itu. Sekali lagi terjadi benturan di antara mereka. Kaki Kebo Sindet benar-benar telah mengenai sasarannya, menghantam lambung Empu Sada. Tetapi Kebo Sindet pun kemudian terpelanting jatuh, karena tongkat Empu Sada telah menghantam pelipisnya. Namun untunglah bahwa kekuatan Empu Sada tidaklah sepenuh kekuatannya, sehingga pelipis Kebo Sindet tidak menjadi retak karenanya.

Tetapi Empu Sada yang lemah itu ternyata terdorong tidak saja satu dua langkah. Beberapa langkah ia terlempar surut dan bahkan kemudian jatuh terguling.

Empu Sada yang terluka itu sama sekali tidak mampu menahan dirinya ketika tiba-tiba terasa, seakan-akan tanah tempat ia terguling itu runtuh. Terasa olehnya seakan-akan ia terlempar ke tempat yang tidak diketahuinya. Betapa derasnya ia meluncur. Barulah kemudian ia menyadari bahwa ia telah terguling ke dalam jurang. Barulah kemudian ia merasa, bahwa ia telah tergores-gores oleh batu-batu padat di lereng bukit gundul itu. Namun beberapa saat kemudian, terasa tubuh itu tersentuh dedaunan dan kemudian ranting-ranting perdu. Dengan demikian maka laju tubuh orang tua itu menjadi berkurang. Di lereng bagian bawah dari bukit gundul itu terdapat berbagai tumbuh-tumbuhan yang dapat menahan tubuh itu sehingga tidak terbanting pada batu-batu padas yang menjorok tajam.

Empu Sada itu masih tetap menyadari keadaannya. Tongkatnya masih belum terpisah dari tangannya, sedang tangannya yang lain berusaha untuk mencapai apa saja yang dapat memperlambat tubuhnya. Namun meskipun demikian, ketika terasa seakan-akan tubuhnya itu membentur sesuatu, pandangan mata orang tua itu menjadi berkunang-kunang. Sekejap ia kehilangan kesadaran. Yang dilihatnya seolah-olah seluruh bintang gemintang di langit meluncur menimpa dadanya. Kemudian gelap pekat.

Di atas bukit gundul itu Wong Sarimpat berjalan terbungkuk-bungkuk ke arah sesosok tubuh yang terbaring diam. Ternyata Kebo Sindet yang tertimpa tongkat pada pelipisnya itu pun menjadi pingsan. Betapa perasaan sakit telah melenyapkan segenap kesadarannya. Perasaan sakit pada pelipisnya itu dan perasaan sakit pada kedua belah tangannya yang tertimpa tubuhnya sendiri ketika ia terpelanting jatuh.

“Empu gila!” Wong Sarimpat mengumpat-umpat. Sambil terbatuk-batuk ia meraba-raba tubuh kakaknya. Ia tahu bahwa kakaknya hanya sekedar pingsan. Karena itu kemudian dibiarkannya saja tubuh itu terbaring diam. Wong Sarimpat itu yakin, bahwa kakaknya itu pasti akan sadar dengan sendirinya.

Tetapi bagaimana dengan Empu Sada yang terlempar ke dalam jurang itu?

“Orang itu sudah terluka. Ia pasti akan mampus terbanting di atas batu-batu padas,” gumamnya seorang diri.

Ketika ia melihat Kuda Sempana maka sekali lagi ia menggeram, “Hem, buat apa Kakang Kebo Sindet memelihara tikus pengecut itu?”

“He,” teriaknya kemudian “Kuda Sempana, apakah kau sudah mampus pula?”

Kuda Sempana mendengar suara itu. Tetapi tubuhnya yang lemah masih saja belum dapat diajaknya berdiri, meskipun kini telah mulai terasa dijalari oleh beberapa bagian dari kekuatannya kembali.

Namun Kuda Sempana itu menjadi heran pula. Kenapa ia tidak saja dibunuh seperti Cundaka atau seperti gurunya. Kenapa ia masih saja dibiarkan hidup?

Wong Sarimpat yang. masih ingin melepaskan kemarahannya itu pun berteriak-teriak “He, Kuda Sempana. Kenapa kau tidak mampus saja sama sekali? Sayang Kakang Kebo Sindet masih membiarkan kau hidup. Meskipun aku tidak tahu apa gunanya lagi kau hidup, tetapi aku tidak berani melanggar keinginan Kakang Kebo Sindet, dan kau boleh bersenang hati karenanya.”

Kuda Sempana masih belum menjawab teriakan-teriakan itu. Badannya masih sangat lemah, dan ia sama sekali tidak bernafsu berteriak seperti Wong Sarimpat.

Ketika Wong Sarimpat itu merasa dadanya seperti tertusuk jarum karena ia berteriak-teriak maka ia pun berhenti. Kini ditekuninya kakaknya yang masih terbaring diam. Perlahan-lahan ia mencoba menggoyangkan tubuh itu. Mengangkat tangannya dan menggerakkannya dengan hati-hati.

Lambat laun Kebo Sindet pun mulai menggerakkan tubuhnya. Perlahan-lahan ia menarik nafas, kemudian menggerakkan ujung-ujung kakinya.

“Kakang,” panggil Wong Sarimpat.

Lamat-lamat Kebo Sindet mendengar panggilan itu. Perlahan-lahan ingatannya pun bangkit kembali merayapi otaknya. Diingatnya peristiwa demi peristiwa yang terjadi. Yang terakhir dari peristiwa itu adalah pukulan tongkat yang mengenai pelipisnya, sementara kakinya menghantam tubuh orang tua itu.

Tiba-tiba Kebo Sindet itu pun menggeram. Dengan serta-merta ia mencoba bangkit. Tetapi terasa betapa kepalanya masih sangat pening dan gunung gundul itu serasa berputar. Tubuhnya serasa berada pada poros pusaran itu.

Kebo Sindet memegangi kepalanya yang pening dan sakit. Tetapi ia telah memiliki segenap kesadarannya kembali. Karena itu maka kemudian ia berkata parau “He, di mana Empu Sada?”

Wong Sarimpat mencoba menolong kakaknya. Tetapi dadanya sendiri terasa sakit bukan buatan. Dengan tegasnya ia menjawab, “Empu itu terlempar ke dalam jurang.”

“He? Orang itu terlempar ke dalam jurang?” ulang Kebo Sindet.

“Ya.”

“Orang itu harus kita cari. Kita harus yakin bahwa ia telah mati.”

“Kenapa Kakang masih ragu-ragu. Dadanya terluka karena goresan golok Kakang. Tubuhnya terlempar karena tendangan Kakang yang keras, kemudian terbanting ke atas batu-batu padas. Apakah masih mungkin seseorang dapat hidup mengalami hal itu semuanya? Meskipun seandainya Empu Sada itu empu yang turun dari langit sekalipun, namun ia pasti hancur.”

“Aku ingin melihat mayat dengan mata kepalaku sendiri.”

“Kakang terluka. Sepasang tangan Kakang dan agaknya pelipis Kakang telah menyebabkan Kakang tidak sadar lagi.”

“Persetan! Aku sudah baik,” sambil menggeretakkan giginya Kebo Sindet berusaha untuk berdiri. Alangkah besar tekad yang membakar jantungnya, sehingga betapapun juga ia masih mampu berdiri tegak.

Kebo Sindet menengadahkan wajahnya yang beku. Dan wajah yang beku itu kini tampak menjadi semakin mengerikan. Lewat matanya memancarlah perasaannya yang meluap-luap. Kebencian, kemarahan dan nafsu untuk membinasakan Empu Sada itu. Apalagi kini, ia sudah terlanjur memulainya.

“Kita akan turun dan mencari orang itu,” desis Kebo Sindet.

Wong Sarimpat kenal betul tabiat kakaknya. Karena itu ia tidak menyahut. Ia tahu betul bahwa ia akan turut serta turun lereng gunung gundul itu untuk mencari Empu Sada. Betapa sakit dadanya, tetapi ia harus berbuat seperti kakaknya.

“Bagaimana dengan Kuda Sempana?” bertanya Kebo Sindet.

“Itu,” jawab adiknya sambil menunjuk ke arah Kuda Sempana, “aku beri tekanan pada urat lehernya, sehingga ia kehilangan kekuatannya. Tetapi agaknya ia telah mulai di jalari oleh kekuatannya kembali.”

“Jangan biarkan ia pergi. Biarlah ia beristirahat di sini sebentar. Kita akan pergi. Mudah-mudahan cahaya obor itu akan membantunya, menjauhkan dari anjing-anjing liar.”

“Baik Kakang,” sahut Wong Sarimpat.

Perlahan-lahan ia berjalan terbungkuk-bungkuk mendekati Kuda Sempana. Dengan kakinya ia melemparkan obor yang satu ke arah yang lain, sehingga kedua obor yang telah mulai redup itu menjadi agak besar kembali, setelah bergabung menjadi satu.

Kemudian setapak demi setapak ia mendekati Kuda Sempana. Terdengar orang itu menggeram mengerikan, “Kuda Sempana. Kakang Kebo Sindet menghendaki kau tetap di sini. Karena itu aku akan menolongmu supaya kau dapat beristirahat dan tidak pergi meninggalkan tempat ini.”

Sebelum Kuda Sempana menyahut, terasa telapak tangan orang itu pada lehernya. Betapapun ia berusaha melawan, namun ia tidak mampu menahan ketika terasa jari-jari orang itu sekali lagi menekan tengkuk.

Kuda Sempana berdesis pendek. Kekuatannya yang telah mulai terasa merambat di urat-urat nadinya, kembali kini seolah-olah terhisap habis. Kembali ia menjadi lemah dan terbaring diam di atas bukit gundul itu.

“Gila!” ia mengumpat dalam hati. Terasa tubuhnya seperti tidak bertulang. Ia hanya mampu menggerakkan tangan dan kakinya dengan mengerahkan segenap sisa-sisa yang ada bergerak sekedar bergerak. Namun tangan dan kakinya sudah tidak mampu lagi berbuat sesuai dengan tugas anggota-anggota badan itu.

“Sudah Kakang,” berkata Wong Sarimpat kemudian.

“Bagus, marilah kita cari orang tua itu. Biarlah ia mampus, dan aku ingin melihat bangkainya dan melemparkannya kepada anjing-anjing liar.”

Wong Sarimpat berjalan kembali mendekati kakaknya. Kemudian mereka berjalan perlahan-lahan mencari jalan yang dapat dilaluinya untuk menuruni lereng bukit gundul itu. Tetapi Kebo Sindet selalu mengumpat-umpat. Agak lama mereka berjalan menyusuri pinggiran bukit, tetapi mereka tidak segera menemukan tempat yang memungkinkan mereka merayap turun.

“Gila!” Kebo Sindet menggeram “Bagaimana kita turun Wong Sarimpat?”

Wong Sarimpat tidak segera menjawab. Dicobanya untuk memandang ke arah yang agak jauh. Tetapi malam menjadi semakin pekat dan cahaya obor mereka di dekat Kuda Sempana terbaring tidak dapat mencapai tempat-tempat yang dicarinya.

“Seandainya Empu yang gila itu tidak berbuat curang,” gerutu Wong Sarimpat.

“Kenapa? ” bertanya kakaknya.

“Kalau kita tidak terluka, maka kita akan dapat terjun di setiap tempat. Di sini pun dapat kita lakukan.”

“Jangan mengigau. Keadaan ini telah kita alami. Sekarang bagaimana kita mengatasinya.”

Wong Sarimpat tidak menjawab. Tetapi matanya masih dengan nanar mencoba mencari lereng yang agak landai.

“Apabila terpaksa kita melingkar, lewat jalan pendakian yang biasa,” gumam Kebo Sindet,

“Terlampau jauh.”

“Habis, apa yang dapat kita lakukan?”

Kembali Wong Sarimpat terdiam. Tetapi hatinya masih saja mengumpat-umpat. Seandainya mereka tidak terluka, maka mereka tidak perlu bingung tentang jalan turun. Tetapi seperti kata kakaknya. Luka itu kini sudah mereka derita, sehingga mereka tidak dapat melangkah surut.

Kedua orang itu berjalan kembali tertatih-tatih di atas bukit-bukit gundul itu. Kebo Sindet tidak dapat mundur. Ia harus turun dan menemukan Empu Sada. Hidup atau mati. Kalau orang tua itu masih hidup, maka hidup itu harus segera diakhiri.

Dalam pada itu, di bawah bukit gundul itu telentang seorang tua yang sudah menjadi sangat lemah. Empu Sada yang pingsan itu terperosok ke dalam semak-semak yang rimbun.

Ketika angin malam yang sejuk perlahan-lahan mengusap wajahnya, maka terasa udara yang segar menjalar di segenap urat-uratnya.

Perlahan-lahan orang tua itu menjadi sadar kembali. Yang pertama-tama dirasakannya adalah nyeri yang menyengat-nyengat dadanya.

“Hem,” orang tua itu mengeluh. Tetapi segera ia menyadari keadaannya. Karena itu, maka segera dipusatkannya segenap kekuatan lahir dan batinnya.

Namun darah telah terlampau banyak mengalir, sehingga tubuh yang tua itu terasa menjadi betapa lemahnya.

Tetapi Empu Sada adalah seorang yang telah banyak menelan pengalaman yang pahit dan yang manis. Itulah sebabnya maka dalam perjalanannya kali ini orang tua itu sudah membawa bekal yang cukup. Sejak ia berangkat dari rumahnya mencegat perjalanan Ken Dedes, ia telah memperhitungkan apa saja yang dapat terjadi atas dirinya. Di antaranya luka seperti yang dialaminya saat itu. Karena itu, maka Empu Sada itu pun telah membawa reramuan obat di dalam kantong ikat pinggangnya yang lebar dan terbuat dari kulit kerbau.

Dengan tangan yang lemah orang tua itu mencoba mengambil reramuan obatnya. Dan dengan tangan sendiri yang lemah itu, maka ditaburkannya obat itu pada luka dadanya.

Obat itu pun adalah obat yang dibuatnya sendiri berdasarkan pengalamannya yang masak, sehingga obat itu pun dapat dipercayanya, setidak-tidaknya menahan arus darah yang masih saja mengalir.

Ternyata taburan obat itu menolongnya. Perlahan-lahan darah di lukanya itu mengental, dan menyumbat alirannya. Namun tubuh Empu Sada sudah terlampau lemah.

Orang tua itu menggeram. Tubuhnya sendiri terluka. Dan ia kehilangan kedua muridnya. Ia tidak pernah menduga, bahwa hatinya menjadi pedih juga atas hilangnya kedua muridnya itu. Ia mencoba mengembalikan pikirannya kepada masa lampaunya. Bagaimana ia menerima kedua anak-anak muda itu menjadi muridnya.

“Ah, bukankah aku akan dapat mencari yang lain dengan mudah. Bukankah kedua orang itu pada saat-saat terakhir juga tidak memberi aku upah seperti masa-masa lalu? Persetan dengan keduanya. Mereka bukan sanak bukan kadang. Aku menemukan mereka dalam pengembaraan hidupku. Dan kini biarlah mereka meninggalkan aku di tengah jalan.”

Tetapi ia tidak berhasil mengusir kata-kata hatinya sendiri. Bahkan kemudian ia bergumam “Kasihan anak-anak itu.”

Ketika di kejauhan terdengar anjing-anjing liar menyalak tak henti-hentinya, maka hati orang tua itu pun menjadi berdebar-debar. Ia tidak dapat berbaring terus di semak-semak itu. Ada bermacam-macam bahaya yang dapat mengancamnya. Anjing-anjing liar itu dan orang-orang yang seliar anjing itu pula.

“Aku harus membuat sesuatu kalau aku ingin hidup terus,” gumamnya.

Empu Sada pun menarik nafas. Dicobanya untuk menenangkan debar jantungnya. Ketika sekali lagi ia mendengar anjing-anjing menyalak di kejauhan, maka dicobanya pula untuk bangkit dengan perlahan-lahan.

Orang tua itu menyeringai menahan sakit. Tetapi betapa lemah tubuhnya, namun kemauannya yang menjala di dalam dadanya telah menghangatkan darahnya. Perlahan-lahan orang tua itu berdiri bersandar pada tongkatnya. Sambil memusatkan segenap kekuatannya, serta menyesuaikan jalan pernafasannya, maka Empu Sada itu pun mendapatkan sebagian kecil dari kekuatannya kembali. Namun dengan kekuatan yang kecil dibantu oleh tongkatnya, Empu yang tua itu berhasil menggerakkan kakinya.

Empu Sada tidak tahu benar, apakah yang telah terjadi dengan Kebo Sindet. Ia merasa, bahwa tongkatnya berhasil mengenai orang itu. Tetapi akibat daripadanya, Empu Sada tidak dapat mengetahuinya. Karena itu maka sekarang ia harus memperhitungkan setiap kemungkinan. Kalau Kebo Sindet tidak mengalami cedera, maka ia bersama adiknya yang meskipun telah terluka, pasti akan mencarinya. Dalam keadaannya, mustahillah ia dapat menyelamatkan diri dari kejaran kedua orang-orang liar itu.

Dengan demikian, berdasarkan atas perhitungannya, Empu Sada segera meninggalkan tempat itu. Ia berjalan saja ke arah yang tidak diketahuinya, namun segera menjauhi bukit gundul itu.

Tertatih-tatih orang tua itu berjalan. Sekali-kali ia masih harus beristirahat mengatur pernafasannya. Kadang-kadang matanya terasa seakan-akan menjadi gelap dan pandangannya menjadi kekuning-kuningan. Namun ia tidak mau mati. Ia harus berjuang untuk menyelamatkan dirinya. Kemauan yang kuat itulah yang telah membawanya meninggalkan tempat yang celaka itu.

Di kejauhan masih terdengar anjing-anjing liar menggonggong dan menyalak bersahut-sahutan. Anjing-anjing itu akan sama berbahayanya dengan kedua orang-orang liar yang memuakkan itu.

Tetapi alangkah terkejutnya Empu Sada ketika agak jauh di sisinya ia mendengar tiba-tiba saja suara menyentak, “Aku menandainya Kakang. Di samping batu padas yang menjorok itulah ia terpelanting jatuh. Pasti ia berada di sekitar tempat di bawah batu itu pula. Ia pasti terbaring di sana, apakah ia mati atau pingsan. Bahkan seandainya ia masih hidup pun ia akan mati pula karena darahnya yang mengalir dari lukanya.”

“Tetapi aku harus melihat bangkainya. Harus. Aku tidak puas dengan dugaan-dugaan serupa itu.”

Dada Empu Sada menjadi berdebar-debar. Seolah-olah luka di dadanya menjadi bertambah pedih.

“Setan itu masih mampu berjalan begitu cepatnya,” desahnya dalam hati. Meskipun suara itu masih belum terlampau dekat, namun ia harus memperhitungkan keadaan. Ia tahu, bahwa Kebo Sindet dan Wong Sarimpat masih berada di tempat yang agak jauh. Di malam hari, di lereng bukit pula, maka suara itu kedengarannya menjadi semakin jelas.

“Aku harus segera menjauhinya,” katanya di dalam hati pula.

Empu Sada mencoba mempercepat langkahnya. Tetapi nafasnya dan sakit di dada dan telinganya benar-benar telah mengganggunya, bahkan hampir-hampir ia tidak mampu lagi untuk bergerak. Meskipun darah tidak lagi mengalir dari luka di dadanya karena reramuan obat-obatnya namun sakitnya masih juga menusuk-nusuk sampai ke pusat jantung.

Di kejauhan ia mendengar suara pula, “Mudah-mudahan bau darahnya memanggil anjing-anjing liar kemari. Seandainya ia masih hidup, maka ia akan menjadi hidangan malam ini.”

“Bagaimana kalau ia lari?”

“Tidak mungkin Kakang. Tidak mungkin. Seandainya ia masih mampu berjalan, maka ia pasti hanya dapat melangkahkan beberapa langkah. Kemudian ia akan jatuh terbaring. Mati atau hanya menunggu saat untuk mati. Mati lemas karena kehabisan darah, atau mati karena anjing-anjing liar.”

“Mungkin. Mungkin. Tetapi aku harus melihatnya, harus.”

“Baik. Lihatlah bayangan batu padas yang mencorong itu. Kita lihat di bawahnya.”

Suara itu semakin lama menjadi semakin dekat. Dada Empu Sada pun menjadi semakin berdebar-debar. Dicoba mengamati daerah sekitarnya. Gerumbul-gerumbul kecil dan ilalang liar yang bertebaran hampir di sepanjang lereng itu.

“Aku tidak dapat bersembunyi di dalam gerumbul-gerumbul kecil,” katanya di dalam hati, “dan tidak pula melalui ilalang liar itu. Dengan demikian, maka jejakku akan segera dapat mereka ikuti.”

Empu Sada menjadi bingung sejenak. Kali ini ia masih terlindung dari beberapa gerumbul semak-semak dan ilalang liar. Tetapi kalau Kebo Sindet dapat menemukan bekas tempat ia terjatuh, maka mereka pasti akan dapat menemukan jejaknya di alang-alang. Tetapi kalau ia keluar dari daerah alang-alang, maka ia akan berada di tempat terbuka. Kemungkinan akan menjadi besar pula, kedua orang itu melihatnya, meskipun di dalam gelap malam.

Dalam keragu-raguan, tiba-tiba Empu Sada melihat dataran yang berkilat di sebelah gerumbul-gerumbul liar beberapa puluh langkah daripadanya memantulkan cahaya bintang yang bergayutan di langit. Dan tiba-tiba pula mulutnya berdesis, “Air. Air. itu adalah sebuah sendang yang agak luar. Tetapi bagaimana aku dapat menyeberangi sendang itu? Kalau sendang itu cukup dalam, maka aku pasti akan tenggelam. Keadaanku tidak memungkinkan aku untuk berenang sampai ke sisi yang lain.”

Kembali Empu Sada menjadi termangu-mangu. Seakan-akan tidak ada jalan yang dapat ditempuhnya untuk menyingkirkan diri. Ilalang akan memberi jejak kepada kedua orang yang mengejarnya. Gerumbul-gerumbul yang bertebaran terlampau kecil untuk tempatnya bersembunyi. Di tempat terbuka sama sekali tidak menguntungkannya. Dan salah satu arah yang lain adalah air sendang yang luas. Sendang yang tidak akan mampu direnanginya karena keadaan tubuhnya. Bahkan sendang itu justru menjadi dinding yang mengungkungnya dalam satu lingkaran yang serasa terlampau sempat menempatkan tubuhnya yang kecil itu.

Kembali Empu Sada mendengar suara semakin dekat, “Batu padas itu yang kau maksud?”

“Ya, Kakang.”

“Kita hampir sampai. Kita akan segera melihat tubuhnya yang terbaring. Aku mengharap ia masih hidup. Aku ingin melihat ia menjadi sangat kecewa menghadapi akhir hayatnya. Aku ingin melihat ia menyesali perbuatannya, tetapi aku ingin melihat orang itu tidak melihat jalan yang dapat membebaskannya meskipun penyesalan itu merobek-robek dadanya.

Terdengar Wong Sarimpat tertawa. Tetapi segera suara itu terputus. Yang terdengar adalah suaranya terbatuk-batuk.

Empu Sada merasa bahwa ia tidak dapat terlalu lama berdiri termangu-mangu. Ia harus menentukan sikap. Melarikan diri atau melawan sama sekali, yang keduanya sulit dilakukan.

Tiba-tiba orang tua itu bergumam kepada diri sendiri, “Marilah. Marilah orang tua yang celaka. Marilah kita terjun ke dalam air. Lebih baik ditempuh jalan itu daripada jatuh ke tangan kedua setan-setan liar itu. Kalau aku mampu keluar dari sendang itu, maka aku akan hidup. Tetapi apabila sendang itu sendang lendut, atau kalau aku tidak lagi mampu berenang maka aku akan mati di dalamnya. Mati tenggelam adalah jauh lebih baik daripada mati di tangan orang-orang liar yang mengerikan itu.”

Empu Sada pun kemudian menjadi bulat bertekad untuk terjun ke dalam sendang. Ia tidak tahu apakah kira-kira yang akan terjadi. Mungkin ia akan tenggelam karena tubuhnya telah lemah. Mungkin pula ia akan terbenam ke dalam lumpur dan tidak berdaya untuk melepaskan diri, sehingga ia pun akan mati berkubur di bawah lumpur sendang itu.

“Tetapi itu lebih baik. Itu lebih baik. Aku gagal setelah berusaha, sehingga aku tidak menyerahkan kepalaku begitu saja kepada Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.”

Empu Sada itu pun kemudian berjalan tertatih-tatih meninggalkan persembunyiannya, batang-batang ilalang di lereng gunung gundul. Meskipun ia harus berjalan beberapa langkah di tempat terbuka, tetapi ia mengharap, bahwa ia masih tetap terlindung dari arah pandangan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat oleh batang-batang ilalang yang rimbun di belakangnya.

Tetapi ketika ia sampai ke ujung rimbunnya batang-batang ilalang, tiba-tiba ia melihat beberapa batang gelagah ilalang mencuat dari ujung batangnya. Ujung gelagah yang berumbai itu bergerak-gerak ditiup angin malam, seperti rambut yang jarang-jarang dan telah memutih pula. Seperti rambut Empu Sada sendiri.

Empu Sada itu termenung sejenak. Ia sangat tertarik pada gelagah ilalang itu. Dengan serta-merta ia meraih dan mengambilnya sebatang. Dipotongnya umbai pada ujungnya, dan ketika ia meniup gelagah ilalang itu, maka ia bersorak di dalam hati. Gelagah ilalang itu berlubang di tengah seperti sebatang sumpit yang panjang.

“Hem,” gumamnya, “mudah-mudahan aku berhasil.”

Dijinjingnya kemudian tiga batang gelagah ilalang di tangan kanannya, sedang tangan kirinya menggenggam tongkatnya erat-erat. Ia kini berusaha tidak lagi berjalan bersandar pada tongkatnya, supaya ujung tongkatnya tidak melukiskan jejak di tanah yang semakin gembur.

Ketika Empu Sada hampir mencapai tepi sendang itu, ia masih mendengar suara Wong Sarimpat, “Di sini, Kakang. Orang itu pasti berada di sini. Lihatlah batu padas yang menjorok itu. Di sebelah batu itu ia jatuh terpelanting. Kepalanya mungkin telah pecah menimpa batu-batu yang keras dan runcing ini.”

Kebo Sindet menjawab keras, “Kau selalu puas dengan angan-anganmu. Mungkin orang itu mati. Mungkin kepalanya pecah. Mungkin dimakan anjing. Tetapi mungkin pula ia masih hidup. Mengintai kita, dan dengan curang pula ia menyerang kita dengan tongkatnya.”

“Uh,” bantah adiknya, “tidak mungkin Kakang. Tidak mungkin ia masih tetap hidup. Apabila ia tidak sedang terluka, memang hal itu mungkin terjadi.”

“Kau lihat berbagai semak-semak di lereng bukit gundul itu?” bertanya kakaknya.

“Ya, kenapa?”

“Semak-semak itu dapat menolongnya. Menahan atau memperlambat.”

“Mungkin. Tetapi kemungkinan itu terjadi satu dari seratus kejadian.”

“Kalau Empu Sada termasuk yang satu itu?”

Wong Sarimpat terdiam. Dan yang terdengar adalah suara Kebo Sindet, “Cari. Kita cari sampai ketemu. Aku mengharap ia masih tetap hidup. Membunuhnya dengan tangan sendiri pasti lebih menyenangkan.”

Wong Sarimpat tidak menyahut. Kini keduanya terdiam untuk sejenak. Mereka melangkah lebih mendekat lereng bukit gundul itu. Meskipun hampir dapat dipastikan bahwa orang yang jatuh terpelanting dari atas bukit gundul itu akan mati, namun ternyata keduanya cukup berhati-hati. Seperti dugaan Kebo Sindet, demikian pula tumbuh, meskipun sangat tipis, keragu-raguan di dalam hati Wong Sarimpat. Jangan-jangan Empu Sada kini sedang mengintai mereka, dan akan menerkam mereka dengan curang seperti serangannya yang pertama.

Tetapi mereka tidak segera menemukan Empu Sada. Betapa pun mereka mencari, namun mereka tidak melihat sesosok tubuh yang terbaring diam di bawah rimbunnya gerumbul-gerumbul kecil atau di antara batang-batang ilalang liar.

Mula-mula mereka menyangka, bahwa mungkin Empu Sada terpelanting agak jauh dari tempatnya terguling. Mungkin tubuhnya terantuk sebuah batu yang menjorok dan melemparkannya beberapa langkah. Tetapi setelah mereka berputar-putar beberapa langkah dari tempat itu, tubuh Empu Sada tidak mereka temukan.

“Apakah orang tua itu anak demit?” geram Kebo Sindet, yang kemudian berkata kepada Wong Sarimpat, “He, Sarimpat. Apa katamu sekarang?”

Keringat dingin mulai mengaliri punggung orang itu. Bahkan kemudian dadanya yang sakit terasa menjadi semakin pedih.

“Ia tidak akan dapat meninggalkan tempat ini Kakang,” katanya. Tetapi ia sudah tidak yakin lagi akan kata-katanya sendiri, “Mungkin ia berhasil merangkak beberapa langkah. Tetapi tidak akan terlampau jauh.”

“Orang itu harus kita temukan,” teriak Kebo Sindet yang benar-benar dibakar oleh kemarahannya.

Namun tiba-tiba terdengar orang itu hampir memekik, “Lihat. Bukankah ini jejak setan itu?”

Tertatih-tatih Wong Sarimpat mendatangi kakaknya. Hatinya menjadi semakin berdebar-debar, Apakah Empu Sada benar-benar mampu melarikan diri dari tangan mereka?”

Demikian ia berdiri di samping kakaknya, segera ia melihat apa yang dikatakan oleh Kebo Sindet. Di antara batang-batang ilalang mereka melibat seolah-olah sebuah jaluran yang memanjang. Ilalang yang terinjak-injak kaki Empu Sada menjadi roboh dan seakan-akan membelah kedua sisinya. Dengan demikian, maka jejaknya akan terlampau mudah diikuti. Apabila Empu Sada yang terluka, yang berjalan terhuyung-huyung bersandar pada tongkatnya.

Wong Sarimpat mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Inilah jejak orang sekarat itu. Kita pasti akan menemukannya Kakang. Orang itu pasti belum terlampau jauh.”

Kebo Sindet tidak segera menjawab. Ternyata ia terpaksa berpikir menghadapi orang aneh itu. Orang yang ternyata memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa.

“Mari Kakang,” ajak Wong Sarimpat tidak sabar.

“Mari,” sahut Kebo Sindet sambil melangkah maju. Tetapi dalam pada itu Kebo Sindet terpaksa memperhitungkan keadaan dirinya. Kedua tangannya yang telah terluka. Pelipisnya yang serasa telah menjadi retak. Ia tinggal mempercayakan dirinya pada ketangkasan dan kekuatan kakinya. Sedang adiknya pun telah hampir mati pula karena luka di dada.

“Hem,” katanya di dalam hati, “Apakah Empu Sada masih mampu bertempur?”

Tetapi kembali nafsunya mencengkam dadanya. Empu Sada harus ditangkapnya. Kini ia yakin bahwa orang itu masih hidup, dan ia akan dapat membunuh dengan caranya. Mungkin dengan cara yang belum pernah dilakukannya.

Karena itu maka Kebo Sindet pun segera berjalan tergesa-gesa. Meskipun kedua tangannya dan pelipisnya serasa pecah, tetapi kedua kakinya masih cukup mampu untuk berjalan agak cepat. Tetapi Wong Sarimpat tidak mampu berjalan secepat kakaknya. Sambil terbungkuk-bungkuk ia melangkah maju semakin lama semakin jauh dari Kebo Sindet.

Dengan seksama Kebo Sindet mengikuti jejak Empu Sada di antara batang-batang ilalang. Namun ia sama sekali tidak meninggalkan kewaspadaan. Setiap kali ia mendengar gemeresik di sekitarnya, segera ia berhenti dan mempersiapkan diri. Tetapi ternyata suara itu adalah suara kelinci-kelinci liar yang berlari karena ketakutan.

“Bekas ini cukup panjang,” desisnya.

Tetapi Kebo Sindet tidak mendengar jawaban. Ketika ia berpaling, maka dilihatnya adiknya samar-samar agak jauh di belakangnya.

Tetapi Kebo Sindet tidak memedulikan. Ia tidak mau kehilangan buruannya, sehingga justru ia mempercepat langkahnya. Namun ia tidak dapat terlampau cepat. Ia harus mengamati setiap langkah supaya ia tidak kehilangan jejak.

Ternyata jejak yang harus ditelusur oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat cukup panjang. Kadang-kadang ia kehilangan jejak untuk sesaat. Seolah-olah jalur yang menjelujur itu menghilang ke dalam semak-semak. Apabila demikian, maka Kebo Sindet harus menjadi sangat berhati-hati. Orang itu menyangka bahwa Empu Sada bersembunyi ke dalam semak-semak itu. Tetapi kemudian ternyata, bahwa di sebelah semak-semak itu, ditemukan kembali jejak Empu Sada yang memanjang. Dan kembali Kebo Sindet berjalan menyusurinya.

Tetapi jejak itu cukup panjang. Bahkan terlalu panjang. Apa lagi Wong Sarimpat yang berjalan agak jauh di belakang Kebo Sindet. Orang itu mengumpat tak habis-habisnya. Namun di samping kemarahan yang semakin dalam, ia pun menjadi heran. Apakah orang yang sudah terluka dan terpelanting ke dalam jurang itu masih mampu berjalan sedemikian, ia tetap yakin, bahwa suatu ketika ia akan menjumpai tubuh itu terbaring di t as ah dengan lemahnya.

Wong Sarimpat itu terkejut ketika ia mendengar kakaknya berteriak menggigilnya, “He Sarimpat. Lihat ini. Di sini jejak itu lenyap.”

Dada Wong Sarimpat berdesir. Segera ia berusaha mempercepat langkahnya. Kata-kata kakaknya benar-benar telah membuatnya menjadi sangat cemas.

Ketika ia sampai ke dekat Kebo Sindet ia melihat batang-batang ilalang menjadi sangat tipis, bahkan kemudian hampir lenyap. Yang terbentang kemudian adalah sebuah lapangan rumput yang sempit dengan gerumbul-gerumbul liar di sana-sini. Kemudian di hadapan padang rumput itu mereka melihat sebuah sendang yang agak luas.

Wong Sarimpat dan Kebo Sindet telah mengenal tempat itu baik-baik. Mereka telah mengetahui bahwa sandang itu cukup luas. Bahkan di tengah-tengah sendang itu tumbuh semacam tumbuhan air yang berbahaya. Ganggeng. Yang menurut cerita ganggeng itu sering menelan binatang atau manusia sebagai makanannya. Tetapi Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak meyakininya. Yang mereka ketahui adalah, bahwa ganggeng itu berakar banyak dan panjang, sehingga apabila seseorang berenang melampaui sekelompok tumbuh-tumbuhan ganggeng, maka tubuhnya pasti akan terbelit. Apabila seseorang menjadi bingung dan kehilangan akal, maka mustahil ia dapat melepaskan diri dari belitan akar ganggeng yang sangat banyak dan panjang-panjang.

“Ia meninggalkan gerumbul alang-alang ini, Kakang. Ia pergi ke tempat terbuka.”

Kebo Sindet meng-angguk-anggukkan kepalanya. Ia tahu benar bahwa lapangan rumput itu terlampau sempit. Di ujung, lereng bukit gundul itu bertemu dengan sisi sendang, sehingga tak seorang pun yang akan mampu melampauinya. Yang dapat dilakukan adalah, terjun ke dalam sendang atau mendaki tebing yang curam, yang keduanya sangat sulit. Tak seorang pun yang dapat mendaki tebing yang sangat curam itu dan tak seorang pun yang akan dapat melampaui tebaran tumbuhan ganggeng di tengah-tengah sendang itu. Apabila seseorang masuk ke dalam sendang, maka satu-satunya kemungkinan untuk hidup adalah kembali sisi ini.

Apabila seseorang tidak mendaki tebing dan tidak terjun ke dalam sendang, maka satu-satunya jalan adalah kembali meninggalkan tempat yang terbuka, masuk ke dalam semak-semak batang-batang ilalang bertebaran memenuhi sisi bukit gundul itu.

Karena itu maka Kebo Sindet itu menggeram “Tidak ada kemungkinan lain.”

Wong Sarimpat yang mengenal tempat itu sebaik kakaknya, tahu benar maksud kata-kata itu, sehingga dengan serta-merta ia menjawab “Ya, tidak ada kemungkinan lain. Marilah kita lihat batang-batang ilalang di sekitar tempat ini. Kalau tidak ada bekas kakinya meninggalkan tempat ini, maka orang itu pasti mencoba melarikan diri menyeberang sendang itu.”

Kebo Sindet tidak menjawab. Segera ia berjalan menyusur pinggiran semak-semak ilalang yang memagari tempat terbuka itu. Dicobanya untuk menemukan jejak apabila Empu Sada mencoba meninggalkan tempat itu. Wong Sarimpat pun kemudian berbuat serupa. Dengan seksama ia meneliti setiap langkah. Diamatinya dengan penuh kewaspadaan. Bukan saja jejak kaki, tetapi apabila tiba-tiba dari balik semak-semak dan batang-batang ilalang itu mematuk sebatang tongkat panjang. Tongkat Empu Sada.

Tetapi sampai ke ujung, sampai semak-semak ilalang itu bertaut dengan sisi sendang di sebelah yang lain, mereka sama sekali tidak menemukan jejak itu. Tak ada tanda-tanda pada semak-semak ilalang itu seperti yang pernah mereka lihat. Tak ada batang-batang ilalang yang roboh karena terinjak kaki.

Kebo Sindet itu menggeram. Dadanya seakan-akan menjadi pepat karena kemarahannya.

“Setan itu telah lenyap,” umpatnya “bagaimana mungkin ia bisa lari?”

“Tidak mungkin!” sahut Wong Sarimpat, “Tidak mungkin! Orang itu aku kira telah terjun ke dalam Sendang. Ia tidak tahu sama sekali bahaya yang telah menunggunya. Selain tubuhnya yang lemah, maka ganggang itu pasti akan menelannya.”

“Aku belum yakin,” sahut kakaknya, “ia adalah orang yang sangat cerdik. Otaknya tajam tidak seperti otakmu. Mungkin ia masuk ke dalam sendang di sepanjang tepi semak-semak ini sekedar menghilangkan jejak. Kemudian ia masuk kembali di antara batang ilalang beberapa langkah dari tempat ini.”

Wong Sarimpat mengangguk-anggukkan kepalanya. Hal itu pun memang mungkin terjadi. Tetapi Empu Sada tidak akan dapat terlampau jauh menyusur tepi sendang ini, sebab di sebelah yang agak dalam, tepi sendang ini menjadi curam. Karena itu maka ia sependapat ketika kakaknya berkata, “Kita telusuri tepi sendang ini. Apabila kita sampai di tempat yang curam itu, kita belum menemukan jejaknya, maka baru kita yakin bahwa orang tua itu terjun ke dalam sendang.”

Keduanya pun kemudian dengan hati-hati masuk ke dalam pinggiran sendang yang landai dan tidak terlampau dalam. Perlahan-lahan mereka berjalan sambil mengamati semak-semak ilalang di pinggir sendang itu. Setiap ada tanda-tanda yang mencurigakan maka segera mereka berdua mengamatinya dengan seksama.

Tetapi kembali mereka menjadi kecewa. Mereka sama sekali tidak menemukan jejak apapun sehingga mereka sampai ke sisi sendang yang curam.

Kemarahan Kebo Sindet menjadi semakin memuncak. Dadanya serasa akan meledak karena kemarahannya itu. Wong Sarimpat pun mengumpat tidak habis-habisnya sehingga kakaknya membentaknya “He, tutup mulutmu! Sekarang terbukti bahwa kau masih saja selalu menuruti angan-anganmu yang bodoh. Coba katakan sekarang, di mana Empu Sada itu.”

Wong Sarimpat tidak menjawab. Tetapi terdengar ia menggeram.

“Ayo, sekarang kita menyusuri tepi sendang ini. Mungkin Empu Sada hanya sekedar masuk ke dalam air merendamkan tubuhnya, untuk nanti menepi kembali.”

“Marilah,” sahut adiknya.

Kembali keduanya berjalan menyusuri tepi sendang itu. Sekali-kali mereka berhenti agak lama dan memperhatikan permukaan sendang itu, seandainya mereka melihat sesuatu. Tetapi permukaan air yang datar itu, sama sekali tidak dinodai oleh sesuatu apapun. Mereka sama sekali tidak melihat wajah air beriak, atau sebuah kepala yang muncul ke permukaan air.

“Tak ada orang yang mampu merendam diri sekian lama bersama seluruh tubuhnya. Sekali-kali ia harus muncul ke atas permukaan air untuk mengambil nafas,” geram Kebo Sindet.

“Mungkin ia telah berenang agak ke tengah dan lenyap ditelan ganggeng.”

“Kau masih juga berangan-angan. Mungkin dan mungkin lagi.”

Wong Sarimpat terdiam. Tetapi hatinya bergumam, “Lalu apakah orang itu dapat lenyap menjadi asap?”

Beberapa lama mereka menunggui sendang itu. Bahkan kemudian Kebo Sindet melihat sesuatu di tepi sendang itu. Sepotong kain kecil berwarna ungu.

“Kacu, kau lihat?” teriak Kebo Sindet.

“Ya, kacu,” sahut Wong Sarimpat dengan serta-merta

“Pasti seseorang telah datang kemari. Lihat, apakah yang dibendeli dalam kacu itu.”

Wong Sarimpat segera memungut sepotong kain berwarna ungu, yang ternyata di dalamnya ada sesuatu benda yang terbalut. Ketika Kebo Sindet membuka sepotong kain berwarna ungu itu, maka tiba-tiba ia berkata, “Ini pasti milik Empu Sada.”

“Pasti. Kau lihat bumbung kecil ini? Isinya adalah sebuah reramuan obat-obatan. Mungkin obat-obatan ini pulalah yang telah membuatnya menjadi kuat dan dapat menempuh jarak ini.”

Wong Sarimpat mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia mengumpat tak habis-habisnya. Sambil membanting potongan kain itu di tanah ia berkata lantang, “Ia pasti terjun ke dalam sendang ini. Pasti. Tetapi dengan demikian ia pasti menemui ajalnya pula, berkubur di dalam perut pelus yang menunggui sendang ini.”

Kebo Sindet yang berwajah beku itu berdiri mematung di tepi sendang. Tetapi matanyalah yang memancarkan gejolak di dalam dadanya. Apabila Empu Sada itu lepas dari tangannya, maka orang itu akan menjadi orang yang paling berbahaya baginya. Orang itu pasti mendendamnya pula. Tetapi untuk sementara, Empu Sada pasti masih harus menyembuhkan luka-lukanya yang pasti lebih berat dari lukanya sendiri. Empu Sada itu pun pasti tidak akan segera dapat berhubungan dengan Mahisa Agni atau Tunggul Ametung. Dengan demikian masih akan timbul salah paham di antara mereka karena hubungan mereka yang terlampau jelek di masa-masa yang lampau.

Dalam pada itu Wong Sarimpat masih juga berteriak, “He Empu yang gila. Jangan bersembunyi di dalam air. Kau akan mampus ditelan ganggeng. Ayo keluarlah!”

Namun suaranya yang melontar itu hanya disahut oleh gemanya sendiri. Gema yang memantul dari lereng-lereng bukit gundul.

“Tak ada orang yang dapat hidup di dalam air,” berkata Kebo Sindet kemudian. Kita tunggu di sini untuk sejenak. Kalau kita sudah yakin, bahwa Empu Sada tidak sekedar merendam diri, maka kita akan mendapat kesimpulan, bahwa orang itu telah mencoba melarikan diri, menyeberangi sendang ini.”

“Dan ia akan mampus di antara ganggeng-ganggeng itu.”

Kebo Sindet tidak menjawab. Tetapi ia berdiri dengan gelisah. Dengan dada yang menghentak-hentak ia berjalan mondar-mandir. Ia mengharap melihat sebuah kepala tersembul di permukaan air. Tetapi ia tidak melihatnya, meskipun cukup lama ia berada di pinggir sendang itu. Ia tidak melihat sebuah kepala yang muncul di permukaan air.

“Kalau orang tua itu berada di dalam air, maka sekali-sekali ia akan muncul dan akan segera dapat kita lihat.”

“Ya,” sahut Wong Sarimpat keras-keras, “tetapi orang itu sangat bodoh. Dan ia mencoba berenang menyeberang.”

Kebo Sindet tidak menyahut. Dibiarkannya adiknya berteriak memanggil nama Empu Sada dan sekali-kali ia terbatuk-batuk karena dadanya serasa menjadi pepat. Namun demikian ia berhasil mengatur pernafasannya, maka dipuaskannya hatinya dengan berteriak-teriak untuk mengurangi himpitan kekecewaannya atas hilangnya Empu Sada.

Akhirnya Kebo Sindet menjadi tidak sabar lagi. Menurut perhitungannya, ia telah terlalu lama berdiri, dan kemudian duduk, untuk sejenak lagi berdiri, di tepi sendang itu. Kalau benar Empu Sada masuk ke dalam sendang itu, maka ia pasti sudah mati lemas, atau mati dibelit ganggang. Sedang kemungkinan yang lain tidak ada.

“Aku harap orang itu sudah mampus,” desis Kebo Sindet.

“Pasti. Pasti sudah mampus,” teriak Wong Sarimpat. Kemudian keras-keras ia berkata “Kalau belum ia pasti akan muncul di permukaan air.”

“Mari kita kembali. Kita lihat Kuda Sempana, apakah ia masih utuh atau tinggal Kerangkanya saja dirobek-robek anjing liar,” berkata Kebo Sindet.

“Apakah keberatan kita Kakang?” sahut Wong Sarimpat “biar sajalah Kuda Sempana itu mampus pula.”

“Aku masih memerlukan anak itu. Mungkin masih ada keterangan-keterangan yang bisa diperas daripadanya. Bersikaplah baik terhadap anak itu.”

Wong Sarimpat menggeram. Kepada Kuda Sempana ia mempunyai tanggapan yang serupa seperti kepada gurunya dan kepada Cundaka yang telah dibunuhnya. Tetapi karena kakaknya menghendaki, maka betapa berat perasaannya, ia harus memenuhinya.

Keduanya pun kemudian meninggalkan sendang itu. Kebo Sindet pun kini telah yakin, bahwa Empu Sada pasti akan mati di tengah-tengah sendang itu. Tak ada orang yang dapat menahan nafasnya sekian lama, sepanjang mereka berdua berada di tepi sendang itu. Dan tak ada orang yang akan dapat menyeberangi sendang itu dengan selamat. Orang itu pasti akan tenggelam dibelit oleh ganggeng yang tumbuh lebat hampir di segenap sudut sendang itu. Sedangkan apabila Empu Sada tetap tinggal di tepi, maka setiap kali ia mengambil nafas maka pasti akan dilihatnya.

Ketika keduanya mulai melangkahkan kakinya, maka tiba-tiba Wong Sarimpat membungkukkan badannya. Diraihnya beberapa buah batu dan dilempar-lemparkannya ke dalam sendang itu sambil berteriak, “Mampuslah kau! Mampuslah!”

Tetapi batu-batu itu tidak terlampau besar, dan wajah sendang itu terlampau luas. Tetapi Wong Sarimpat berbuat asal sekedar berbuat saja. Ia hanya ingin melepaskan kekecewaan, kemarahan dan dendam karena luka di dadanya.

Suara Wong Sarimpat yang mengumpat-umpat semakin lama terdengar semakin jauh dari sendang itu. Ketika dadanya menjadi sakit, barulah ia terdiam dan terbatuk-batuk. Seterusnya orang itu tidak lagi berteriak dan mengumpat-umpat.

Dengan tertatih-tatih keduanya berjalan menerobos semak-semak ilalang di sekitar bukit gundul itu. Bahkan Kebo Sindet pun kemudian menjadi agak tergesa-gesa. Ia takut Kuda Sempana yang ditinggalkannya akan dikerumuni oleh anjing-anjing hutan, menjadi makanan mereka yang menyenangkan.

Ia masih merasa perlu atas Kuda Sempana. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh anak itu. Meskipun apa yang akan dilakukan kelak atasnya, mungkin sama sekali tidak menyenangkan bagi Kuda Sempana, tetapi Kebo Sindet masih merasa perlu untuk bersikap baik terhadapnya. Kebo Sindet pun memperhitungkan, bahwa Kuda Sempana bukanlah seorang pengecut yang berlebihan. Mungkin ia akan mempertahankan harga dirinya, dan membiarkan dirinya mati apabila ia dicoba untuk diperas dengan kasar. Tetapi dengan cara lain, mungkin anak muda yang kehilangan gurunya itu akan menjadi lunak. Meskipun apabila terpaksa, maka segala cara akan ditempuh oleh kedua hantu lereng bukit gundul itu.

Demikianlah maka kedua orang itu pun kemudian menganggap bahwa Empu Sada telah berusaha melarikan dirinya dengan menyeberangi sendang. Dengan demikian maka mereka pun menganggap bahwa orang itu pasti sudah binasa di tengah-tengah sendang itu dibelit ganggeng.

“Tidak mungkin Empu Sada dapat melenyapkan diri seperti asap,” berkata Kebo Sindet di dalam hatinya, “dan tidak mungkin seseorang mampu menyeberangi sendang itu dengan selamat.”

Meskipun demikian, Kebo Sindet itu berkata, “Besok kita kembali ke tempat ini untuk meyakinkan kematian Empu Sada.”

“Baik,” sahut adiknya.

Kembali mereka berdiam diri sambil melangkah di antara batang ilalang menuju ke lereng pendakian bukit gundul itu.

Sementara itu Empu Sada masih mencoba bersembunyi di dalam air. Baginya cara itu adalah satu-satunya jalan. Ia belum mengenal daerah itu dengan baik, sehingga ia tidak tahu, ke mana ia akan lari. Sedangkan pada saat itu, suara kedua orang liar itu sudah semakin dekat. Untunglah bahwa ia merasa terlampau lemah untuk mencoba melarikan diri dengan merenangi sendang yang tidak dilihatnya tepi di ujung lain karena malam yang pekat.

Maka tak ada pilihan lain baginya daripada terjun ke dalam air. Dengan menahan dingin dan pedih pada luka di dadanya, ia merendam dirinya. Hanya kepalanya sajalah yang semula masih berapa di atas air. Tetapi ketika didengarnya suara Kebo Sindet dan Wong Sarimpat semakin dekat, dan ketika samar-samar telah dilihatnya kedua orang itu mendekati tepi sendang maka segera dibenamkannya segenap tubuhnya.

Orang tua itu mempergunakan gelagah ilalang untuk menahan supaya ia tetap dapat bernafas meskipun dengan mulutnya. Satu ujung gelagah itu dimasukkannya ke dalam mulutnya, sedang ujungnya yang lain dicuatkannya ke atas permukaan air. Dengan demikian ia masih mampu melakukan pernafasan meskipun dengan mulutnya.

Namun usaha itu ternyata telah menyelamatkannya. Ternyata Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak memperhitungkan sedemikian jauh, sehingga ketika mereka berada di tepi sendang itu cukup lama, dan tidak dilihatnya sebuah kepala yang kadang-kadang tersembul ke atas air untuk menarik nafas, maka mereka menganggap bahwa Empu Sada tidak berada di tempat itu. Tidak berada di tepian sendang yang dangkal.

Meskipun Empu Sada merendam seluruh tubuhnya, termasuk kepalanya di dalam air, namun samar-samar ia mendengar suara Wong Sarimpat mengumpat-umpat. Memanggil-manggilinya dan berteriak-teriak menentu

Ketika Wong Sarimpat melemparkan batu ke dalam sendang itu, maka hampir saja batu itu mengenainya, bahkan hampir saja mengenai kepalanya. Tetapi untunglah, bahwa kepalanya nyaris terkena lemparan itu.

Akhirnya suara ribut Wong Sarimpat itu pun lenyaplah. Tidak ada lagi umpatan-umpatan yang didengarnya. Tidak ada lemparan-lemparan batu yang dirasakannya.

Meskipun demikian Empu Sada tidak segera berani muncul ke permukaan air. Ia masih takut apabila kedua orang itu masih menunggui di tepi sendang. Dengan demikian, maka usahanya merendam diri semakin lama, sehingga ia menggigil kedinginan dan kesakitan yang sangat pada dadanya itu akan sia-sia.

Tetapi akhirnya Empu Sada itu pun yakin bahwa kedua orang itu telah pergi. Perlahan-lahan ia mencoba menjengukkan matanya ke permukaan air. Dan kini tidak dilihatnya lagi seseorang di pinggir sendang itu. Dengan teliti diamatinya setiap bayangan yang betapapun samar-samarnya. Mungkin bayangan itu adalah kedua orang liar yang memuakkan itu. Namun akhirnya ia mendapat kesimpulan bahwa kedua orang itu memang telah pergi.

Perlahan-lahan Empu Sada bangkit berdiri. Air tempatnya bersembunyi sebenarnya tidak terlampau dalam. Masih belum melampaui perut. Namun karena Empu Sada berhasil merendamkan seluruh tubuhnya, dan cahaya bintang-bintang di langit yang sama sekali tidak membantu memecahkan gelap malam, maka kedua orang liar itu tidak melihatnya.

Empu Sada yang kedinginan itu kemudian melangkah menepi. Lututnya gemetar dan darahnya serasa hampir membeku.

“Gila!” gumamnya, “pengalaman ini adalah pengalaman yang paling menarik sepanjang hidupku. Sepanjang petualangan yang pernah aku lakukan. Telah berpuluh kali aku berkelahi, berpuluh kali terluka dan berpuluh kali membunuh lawan. Namun belum pernah aku merendam diri selama ini, hanya sekedar ingin menghindari kedua setan bukit gundul ini.”

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia meraba-raba ikat pinggangnya, diketahuinya bahwa kacu sepotong yang dipakainya untuk membalut obat-obatnya terjatuh.

“Hem, pasti ketika aku membenahi diri sebelum aku terjun kemari.”

Empu Sada pun kemudian mencari sepotong kain ungunya. Ketika kemudian kain sepotong itu ditemukan, maka gumamnya, “Kedua orang itu pasti melihat potongan kain ini. Kalau demikian, maka mereka pasti sudah tahu bahwa aku masuk ke dalam sendang ini.”

Empu Sada kini menyadari keadaan diri sepenuhnya. Kedua orang yang mencarinya pasti menyangka, bahwa ia telah mencoba melarikan diri merenangi sendang itu. Namun Empu Sada kemudian tidak dapat mengambil kesimpulan, bagaimanakah anggapan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat atas dirinya. Empu Sada tidak dapat segera mengetahui, bahwa Wong Sarimpat dan Kebo Sindet telah menganggapnya mati ditelan ganggeng di tengah-tengah sendang itu.

Karena itu, maka Empu Sada itu pun kemudian bergumam, “Mungkin mereka masih berusaha untuk segera menemukan aku. Karena itu aku harus segera pergi.”

Empu Sada segera melangkahkan kakinya. Beberapa langkah kemudian ia masih menemukan bumbungnya yang berisi reramuan obat-obatan. Tetapi sebagian dari obat-obatnya telah berserak-serak di atas rerumputan dan tak mungkin lagi dikumpulkannya. Tetapi sebagian kecil yang masih berada di dalam bumbungnya itu pun masih dapat menghiburnya.

Malam semakin lama menjadi semakin dalam. Angin yang dingin berhembus menyusur bukit. Alangkah dinginnya.

Empu Sada yang tua itu menggigil kedinginan. Pakaian dan tubuhnya basah kuyup oleh air sendang tempatnya berdiam diri. Tetapi ia tidak mempunyai ganti, sehingga meskipun perasaan dingin menggigit sampai ke tulang, maka terpaksa pakaian yang basah itu pun tetap dipakainya.

Kini ia dihadapkan pada persoalan, bagaimana ia dapat keluar dari tempat ini. Ia harus mampu menghilangkan segala macam kesan, bahwa ia masih berada di tempat itu. Ia harus memelihara anggapan bahwa Empu Sada lenyap ke dalam sendang. Lari menyeberangi sendang itu, supaya Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak berusaha mengejarnya dengan mencari jejaknya. Sebab ia merasa bahwa ia masih belum mampu untuk meninggalkan tempat itu dengan cepat.

Ketika Empu Sada sampai ke semak-semak ilalang, maka ia memperhitungkan keadaan. Ia harus berjalan tanpa meninggalkan jejak. Karena itu, maka dicarinya jejak Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Dengan hati-hati Empu Sada berjalan di sepanjang jejak mereka, di atas batang-batang ilalang yang telah roboh terinjak-injak kaki-kaki mereka. Namun di suatu tempat ia harus memisahkan diri dari jejak itu dan mencari kesempatan yang baik tanpa menimbulkan kecurigaan.

Demikianlah dengan hati-hati Empu Sada berjalan tertatih-tatih. Tubuhnya yang kedinginan, dan dadanya yang pedih merupakan penghambat yang mengganggunya. Tetapi ia menyadari keadaan sepenuhnya. Ia harus pergi sejauh-jauhnya.

Akhirnya jejak kaki yang diikutinya itu pun keluar dari semak ilalang. Tetapi kedua orang liar itu pasti menuju ke sisi bukit gundul yang landai, tempat mereka mendaki naik ke tempat mereka berkelahi semula. Sendang Empu Sada pun kemudian memilih arah yang lain. Kalau masih kuat ia harus berjalan sampai pagi. Semakin jauh semakin baik. Ia masih belum berpikir ke mana ia harus pergi.

Tetapi tanpa disengaja, Empu Sada telah memilih jalan kembali. Jalan yang berlawanan dengan jalan yang ditempuhnya pada saat ia datang ke bukit gundul ini.

Sementara itu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang menganggap bahwa Empu Sada telah mati, bahkan hampir dapat mereka pastikan, dengan tergesa-gesa menurut kemampuan yang masih mereka miliki, telah mendaki bukit gundul itu kembali. Wong Sarimpat yang selalu diganggu oleh perasaan nyeri di dadanya. berkali-kali terpaksa berhenti terbatuk-batuk, sehingga kakaknya berjalan semakin jauh di depan.

Ketika mereka sampai ke atas bukit gundul itu, mereka melihat Kuda Sempana telah berhasil berdiri tegak. Bahkan dengan pedang di tangan ia menggeram, “Ayo, kalau kalian telah berhasil membunuh guruku serta saudara seperguruanku, kenapa kalian tidak sanggup membunuh aku sama sekali?”

Tetapi Kuda Sempana menjadi heran ketika ia melihat wajah hantu yang membeku itu Tiba-tiba tersenyum. Betapapun malam diwarnai oleh kegelapan serta obor di dekatnya telah padam, namun Kuda Sempana dapat melihat senyum itu. Senyum pada wajah yang beku, sehingga karena itu, maka hatinya menjadi ngeri. Seolah-olah ia melihat sesosok mayat yang tersenyum kepadanya.

Ketika Kebo Sindet melangkah selangkah lagi mendekatinya, tiba-tiba Kuda Sempana yang hatinya keras sekeras batu hitam itu melangkah surut sambil berteriak, “Jangan, jangan dekati aku!”

Tetapi wajah itu masih tersenyum. Senyum yang benar-benar telah menggetarkan dada Kuda Sempana. Bukan karena Kebo Sindet adalah seorang sakti yang setingkat dengan gurunya.

Ia sebenarnya telah bersedia untuk mati sekalipun. Tetapi ketika ia melihat seakan-akan sesosok mayat tersenyum kepadanya, hatinya bergolak dahsyat sekali.

Tanpa dikehendakinya kembali ia berteriak, “Pergi, pergi, atau pedangku akan memenggal lehermu itu.”

Namun Kuda Sempana terkejut pula ketika ia mendengar Kebo Sindet itu berkata dengan tenang “Kuda Sempana. Sadarilah keadaanmu, dan apakah kau mau mendengar keteranganku?”

Suara itu sangat berbeda dengan wajah yang ditatapnya. Wajah itu benar-benar mengerikan, tetapi suara itu terasa tenang dan bersungguh-sungguh.

“Aku ingin berkata sesuatu kepadamu. Aku harap kau dapat mendengarnya dengan tenang. Menimbang dengan bijaksana. Sebenarnya aku tidak mempunyai maksud yang jelek terhadapmu.”

Kini Kuda Sempana terdiam seperti patung. Ia sama sekali tidak melihat sikap pemusuhan dari Kebo Sindet yang mengerikan itu. Bahkan terasa sikapnya sejak semula tidak berubah, meskipun telah terjadi perkelahian antara orang itu dengan gurunya.

Sejenak kemudian Wong Sarimpat pun telah berdiri di sampingnya pula. Sikap orang ini memang agak berbeda dengan sikap kakaknya. Tetapi meskipun demikian, ia pun telah berusaha berbuat sebaik-baiknya. Ia ingin mencoba berbuat seperti kakaknya, menenangkan hati Kuda Sempana. Katanya “Apakah kau masih merasa tubuhmu terlampau lemah Kuda Sempana? Kalau demikian, aku akan berusaha menyembuhkanmu.”

Kuda Sempana memandangi orang kasar itu dengan penuh kecurigaan. Tetapi ia tidak menemukan kesan apapun pada wajah Wong Sarimpat. Namun ia terkejut ketika tiba-tiba ia mendengar Wong Sarimpat tertawa terbahak-bahak, “Matamu masih memancarkan kecurigaan.”

Kuda Sempana tidak segera menyahut, namun terdengar giginya gemeretak.

Tetapi Wong Sarimpat masih saja tertawa berkepanjangan, sehingga akhirnya ia berhenti dengan sendirinya karena dadanya menjadi sakit. Sambil terbungkuk-bungkuk ia batuk-batuk. Kedua tangannya menekan dadanya yang sakit itu.

Yang berkata kemudian adalah Kebo Sindet, “Jangan bimbang lagi Kuda Sempana. Aku masih tetap pada pendirianku. Aku ingin menolongmu menangkap Mahisa Agni. Menjerahkannya kepadamu.”

Kuda Sempana masih tetap berdiam diri. Ia masih belum menemukan sikap yang sebaik-baiknya harus dilakukan. Dalam pada itu Kebo Sindet itu berkata “Jangan hiraukan lagi gurumu. Aku terpaksa membunuhnya. Sekian lama aku menunggu kesempatan ini. Dendam yang tersimpan di dalam dada ini seakan-akan tidak tertahankan lagi. Mungkin kau belum mengetahuinya, persoalan yang selama ini seolah-olah ingin dilupakan oleh gurumu. Tetapi bagiku, sebelum gurumu berkubur di bukit gundul ini, hatiku masih belum puas. Tetapi meskipun kau adalah muridnya, namun kau tidak ikut campur dalam persoalan ini. Kau sama sekali tidak mengetahui ujung dan pangkalnya, sehingga kau kami bebaskan dari setiap tindakan apapun.”

Kuda Sempana masih menggenggam pedang di tangannya. Ia masih juga belum dapat menentukan, sikap apakah yang sebaiknya dilakukan. Tetapi akhirnya Kuda Sempana itu mencoba untuk memilih kemungkinan yang paling panjang. Kalau ia melawan, maka ia pasti akan mati. Tetapi kalau ia membiarkan dirinya menurut perintah kedua orang itu, maka ia akan tetap hidup. Selagi ia masih hidup, maka kemungkinan-kemungkinan yang lain masih dapat terjadi. Berbeda sekali dengan apabila ia terbunuh malam ini.

Meskipun demikian Kuda Sempana masih juga berdiam diri. Tanpa dikehendakinya, sekali ia berpaling memandangi mayat saudara seperguruannya yang masih terbaring di atas batu-batu padas di atas bukit gundul itu.

“Jangan hiraukan jahanam itu!” teriak Wong Sarimpat sehingga Kuda Sempana terkejut karenanya. Orang itu telah mendapat upahnya sendiri. Kalau ia tidak terlampau sombong, maka ia tidak akan menemui nasib begitu jelek.

Kuda Sempana masih belum menjawab.

“Kuda Sempana,” berkata Kebo Sindet “mari ikutlah kami. Kau akan tinggal bersama kami sampai kau dapat berbuat sesuatu atas Mahisa Agni. Aku berjanji akan menangkapnya hidup-hidup untukmu. Aku dapat menangkapnya pada sebuah tonggak yang kuat. Dan kau akan dapat berbuat sesuka hatimu. Mungkin kau akan membunuhnya, atau mungkin kau akan membiarkannya tersiksa atau cacat untuk seumur hidupnya.”

Kuda Sempana tidak dapat segera mengetahui perasaannya sendiri. Apakah ia menjadi bergembira mendengar tawaran itu, atau tiba-tiba ia telah kehilangan nafsu untuk berbuat demikian. Guncangan-guncangan perasaannya masih saja mengganggunya. Kematian saudara seperguruannya dan mungkin gurunya sendiri, benar-benar telah mempengaruhi cara dan kejernihannya berpikir.

Namun ketika sekali lagi Kebo Sindet mengajaknya, maka sekali lagi Kuda Sempana menjatuhkan pilihannya pada kemungkinan yang paling jauh, yaitu, ia ingin tetap hidup, sebelum ditemukannya jalan yang sebaik-baiknya dilakukan.

“Mari ikut aku,” ajak Kebo Sindet pula. Kuda Sempana tidak menjawab, tetapi ia mengangguk.

“Bagus!” berkata Kebo Sindet. Kembali wajah yang beku itu tersenyum. Dan kembali Kuda Sempana menjadi ngeri melihat senyum itu. Terbayang di wajahnya, sesosok mayat yang bangkit dari kuburnya dan tersenyum kepadanya.

Tetapi Kebo Sindet sama sekali tidak memperhatikannya lagi. Segera ia berjalan kembali ke gubuknya.

Kuda Sempana yang masih saja ragu-ragu merasa punggungnya disentuh. Ketika ia berpaling Wong Sarimpat telah berdiri di belakangnya. Terdengar kemudian suara tertawanya memekakkan telinga. Di antara suara tertawanya itu ia berkata, “Marilah Kuda Sempana. Kau akan menemukan tempat tinggal yang baru di antara kami. Kau akan segera mengenal cara hidup orang-orang Kemundungan. Orang Kemundungan ternyata terlampau baik terhadap kami. Mereka merasa bahwa kami telah melindungi mereka dari setiap kejahatan yang dapat terjadi. Kini baik penjahat-penjahat yang berkeliaran di padukuhan-padukuhan. Sejak Baginda di Kediri bertindak lebih keras terhadap kejahatan dan agaknya diikuti pula oleh setiap akuwu termasuk Akuwu Tunggul Ametung, maka penjahat-penjahat lari bertebaran di padukuhan-padukuhan terpencil. Tetapi ternyata sampai saat ini Kemundungan masih tetap lepas dari pengaruh kejahatan itu.”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya, tetapi ia tidak menjawab. Ketika sekali lagi ia merasa tangan Wong Sarimpat menyentuhnya, maka kakinya pun terayun melangkah mengikuti Kebo Sindet yang telah beberapa langkah di muka. Ketika sekali lagi ia berpaling ke arah tubuh Cundaka yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo, terdengar Wong Sarimpat berkata, “Sebelum matahari bertengger di atas punggung bukit di ujung timur itu, maka yang tinggal di sini adalah kerangkanya saja. Anjing-anjing liar segera akan menerkamnya dan merobek-robeknya.”

Terasa bulu-bulu tengkuk Kuda Sempana meremang. Bagaimanapun juga orang itu adalah saudara seperguruannya yang telah lama bergaul dan bahkan orang itu telah berusaha membantunya pula untuk mencapai maksudnya, meskipun ia tahu, bahwa Cundaka itu pun mempunyai pamrih juga. Namun ketika ia melihat tubuh itu terbaring di atas batu-batu padas, maka hatinya berdesir pula.

Tetapi Kuda Sempana tidak mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu. Setiap kali ia tertegun, maka terasa Wong Sarimpat menyentuhnya. Sentuhan yang semakin lama terasa menjadi semakin kasar, meskipun orang itu masih juga tertawa-tawa.

Akhirnya Kuda Sempana berjalan menurut irama langkah Kebo Sindet meninggalkan bukit gundul itu. Meninggalkan tempat yang tidak akan pernah dilupakannya.

Ketika kemudian mereka menuruni bukit gundul itu, terasa dada Kuda Sempana menjadi bergelora. Kemarin ia menuruni bukit ini pula bersama guru dan seorang saudara seperguruannya. Kini ia menuruni bukit itu bersama dua orang yang belum pernah dikenal sebelumnya.

Berbagai perasaan bergumul di dalam hatinya. Kadang-kadang ia ingin melepaskan diri dari kedua orang itu, tetapi kadang-kadang apabila dilihatnya punggung Kebo Sindet, ingin ia menghunjamkan pedangnya ke punggung itu. Tetapi tiba-tiba disadarinya, bahwa di belakangnya berjalan tertatih-tatih Wong Sarimpat. Meskipun orang itu tampaknya telah hampir mati, tetapi ia masih cukup berbahaya. Apalagi baginya, yang kini tidak memiliki kekuatan sepenuhnya.

Kuda Sempana terkejut ketika tiba-tiba ia melihat Kebo Sindet berhenti dan berpaling. Dari sela-sela bibirnya yang beku terdengar orang itu berkata, “He, Kuda Sempana, apakah kau masih menggenggam pedang di tangan? Sarungkanlah. Sebentar lagi jalan akan menjadi semakin sulit. Pedang itu akan berbahaya bagimu. Apabila kau terpeleset jatuh, maka mungkin sekali tajam pedang itu akan menyobek kulitmu sendiri.”

Kuda Sempana memandangi wajah Kebo Sindet dengan tajamnya. Namun kemudian tanpa dikehendakinya sendiri, tangannya tergerak menyarungkan pedang itu pada wrangka dilambungnya.

“Bagus! Hati-hatilah berjalan,” berkata Kebo Sindet itu pula “Baru apabila kita bertemu dengan gerombolan anjing liar, mungkin kau perlukan pedangmu itu untuk menghalaunya.”

Kuda Sempana masih saja berdiam diri. Ketika Kebo Sindet berjalan kembali, maka Kuda Sempana pun berjalan pula lewat jalan setapak yang kemarin pernah dilaluinya pula. Berbelit-belit di antara batu-batu padas yang menjorok tajam dan kadang-kadang seakan-akan menghadang di tengah jalan.

Di tempat inilah ia kemarin melihat Wong Sarimpat di bawah jalan ini, kemudian di atas punggung kuda berlari mendaki lereng yang curam ini. Kemarin ia masih mengagumi orang yang kasar yang disangkanya terlampau jujur itu. Tetapi ternyata orang itu telah membunuh guru dan saudara seperguruannya.

Kebo Sindet ternyata sengaja berjalan perlahan-lahan supaya Kuda Sempana dan Wong Sarimpat yang terluka itu tidak tertinggal terlampau jauh. Namun demikian, mereka semakin lama menjadi semakin dekat pula dengan gubuk di lereng bukit gundul itu. Gubuk yang berada di mulut gua.

Bulu kuduk Kuda Sempana meremang ketika teringat kata-kata Kebo Sindet, bahwa di dalam gua itu terdapat banyak kerangka manusia. Siapa yang masuk ke dalam gua itu, tidak akan dapat keluar kembali.

“Apakah aku akan dimasukkan ke dalam gua itu pula?” berkata Kuda Sempana di dalam hatinya. Tetapi kemudian ditenangkannya hatinya sendiri. Apapun yang akan terjadi akan dihadapinya, walau mati sekalipun.

“Ini adalah akibat yang mungkin sekali terjadi,” katanya di dalam hati pula, “Kalau aku berhasil, sempurnalah hasilnya, kalau gagal, tebusannya maut.”

Akhirnya mereka berhenti juga di muka gubuk Kebo Sindet. Dalam kegelapan Kuda Sempana masih dapat mengenali gubuk itu. Mulut gubuk itu masih saja menganga seperti pada saat Kuda Sempana meninggalkannya. Dan ruangan di dalam gubuk itu pun masih saja gelap pekat.

“Wong Sarimpat,” berkata Kebo Sindet “buatlah api! Nyalakan pelita! Apakah kau masih mempunyai minyak?”

“Masih Kakang,” sahut Wong Sarimpat yang kemudian berjalan memasuki gubuknya.

Kuda Sempana merasa perbedaan penerimaan atas dirinya. Ketika ia datang bersama gurunya, maka seolah-olah kedua orang itu acuh tak acuh saja. Tetapi kini terasa keduanya menjadi terlampau baik terhadapnya.

Anak muda itu bukanlah anak muda yang terlampau dungu. Betapapun juga ia dapat mengerti dan merasakan, bahwa ada sesuatu kepentingan atasnya dari kedua orang itu. Samar-samar ia melihat kepada persoalan yang akan dihadapinya Kebo Sindet dan Wong Sarimpat akan memperalatnya.

Tetapi Kuda Sempana sudah tidak akan dapat melepaskan diri lagi. Ia sekarang dan seterusnya pasti hanya akan menjadi alat mati. Alat yang tidak dapat menentukan sikapnya sendiri. Namun ia tidak akan menerima nasib itu tanpa perlawanan. Ia harus mempergunakan otaknya, bukan tenaganya. Sebab ia pasti tidak akan mampu melawan keduanya. Bahkan satu pun tidak, meskipun sudah terluka.

Ketika lampu telah menjala, maka Kebo Sindet segera mempersilakan Kuda Sempana itu masuk ke dalam. Ketika mereka sudah duduk di atas amben yang kemarin mereka pakai pula, terdengar Kebo Sindet berkata, “Kuda Sempana. Lupakanlah gurumu dan saudara seperguruanmu. Tinggallah di sini seperti di rumah sendiri. Aku dan Wong Sarimpat segera akan berusaha menyembuhkan luka-luka kami. Dalam waktu yang singkat kami akan memenuhi permintaanmu. Menangkap Mahisa Agni hidup-hidup bagi kami sama sekali bukan pekerjaan yang sulit. Kami heran, kenapa gurumu tidak mampu melakukannya apabila ia benar-benar bermaksud menangkapnya. Karena itu, bagi kami gurumu merupakan penghalang terbesar. Bahkan aku mempunyai perhitungan bahwa gurumu sengaja akan menjebak kami. Selain itu kami memang mempunyai persoalan yang lama terpendam dengan gurumu. Lambat laun kau pasti akan mengetahuinya juga.”

Tiba-tiba Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan kemudian ia bertanya, “Apakah paman berkata sebenarnya?”

Kebo Sindet memandang Kuda Sempana dengan wajahnya yang beku. Tetapi sorot matanya memancarkan perasaan yang aneh. Kenapa Kuda Sempana menjadi lunak hatinya dengan tiba-tiba. Perubahan itu berlangsung terlampau cepat. Namun Kebo Sindet tidak segera dapat menarik ke simpulan. Bahkan kemudian ia menjawab, “Tentu. Aku berkata sebenarnya.”

Kuda Sempana terdiam sesaat. Ia ingin segera berpura-pura bergembira mendengar jawaban itu, tetapi ia tidak dapat. Beruntunglah ia bahwa ia tidak mampu berbuat demikian karena kejutan perasaan yang baru saja dialami.

Kebo Sindet adalah seorang yang licin. Ia akan mampu melihat perubahan yang tidak wajar apabila Kuda Sempana dengan tiba-tiba menyatakan sikapnya yang berlawanan dengan sikapnya sebelumnya. Namun karena Kuda Sempana masih dicengkam oleh perasaannya, maka justru sikapnya itu telah menghilangkan kecurigaan Kebo Sindet.

Sejak saat itu Kuda Sempana terpaksa tinggal di dalam gubuk itu pula. Gubuk Kebo Sindet. Betapa hatinya ingin melepaskan diri dari lingkungan yang sama sekali tidak di kehendaki itu, tetapi ia tidak pernah mendapat kesempatan. Setiap kali ia selalu berada di antara kedua orang liar itu atau salah seorang daripadanya.

Namun setelah beberapa hari Kuda Sempana berada di tempat itu, sikap Kebo Sindet dan Wong Sarimpat sama sekali tidak berubah. Mereka masih bersikap baik dan ramah. Bahkan mereka agaknya sangat memperhatikan kebutuhannya.

Dalam beberapa hari itu Kuda”Sempana dapat mengetahui cara hidup Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Kedua mendapat makanan mereka dari orang-orang Kemundungan. Meskipun orang-orang Kemundungan sendiri adalah orang-orang miskin, namun Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak akan pernah merasa kekurangan. Mereka mendapat makanan mereka dalam dua bentuk. Makanan masak, yang tinggal menyuapkan saja ke dalam mulut, dan bahan-bahan mentah yang dikehendaki. Buah-buahan, pala kependam dan pala gumantung. Kedua orang itu seolah-olah menjadi raja kecil dalam padukuhan yang terpencil itu.

Di dalam gubuk Kebo Sindet memang terdapat mulut gua. Tetapi Kuda Sempana sama sekali tidak berani memasuki gua itu. Setiap kali ia mendengar Kebo Sindet atau Wong Sarimpat berkata kepadanya. Setiap orang yang mencoba masuk ke dalamnya, maka orang itu tidak akan pernah keluar lagi. Bahkan selama itu, Kuda Sempana belum pernah melihat Kebo Sindet atau Wong Sarimpat sendiri masuk ke dalamnya.

Yang diketahui oleh Kuda Sempana dengan pasti, selama ini Kebo Sindet dan Wong Sarimpat selalu mengobati diri mereka masing-masing. Ternyata luka-luka yang mereka derita bukanlah luka-luka yang ringan. Hanya karena daya tahan tubuh-tubuh mereka yang luar biasa sajalah, maka mereka tidak hancur karenanya. Mereka bahkan masih tampak tetap segar.

 

[divider line_type=”Full Width Line” custom_height=””]

Source : www.agusharis.net

~ Article view : [230]