Pelangi di Langit Singasari [ 21 ]

392

oleh S.H. Mintardja

[ Seri 21 ]

DARI hari-kehari, maka kedua orang itu menjadi semakin sembuh. Tubuh-tubuh mereka kembali menjadi sehat dan kuat seperti pada saat Kuda Sempana pertama kali melihatnya. Setiap kali Kuda Sempana melihat keduanya menguji tubuh masing-masing.

Sehingga, pada suatu hari Kebo Sindet berkata kepada Kuda Sempana,, “Kami telah memiliki keadaan tubuh kami seperti semula. Kami telah sehat kembali, seperti pada saat gurumu belum melukai kami dengan curang. Sebentar lagi kami akan menjadi siap melakukan pekerjaan yang kau percayakan kepada kami”.

Kuda Sempana masih saja diliputi oleh kebimbangan dan bahkan kebingungan. Sesudah sekian hari ia berada di dalam gubug itu, namun ia masih belum menemukan jalan yang sebaik-baiknya ditempuh.

Kuda Sempana itu terkejut ketika Kebo Sindet kemudian berkata,, “Aku tahu, bahwa kau masih tetap berprasangka kepada kami. Perasaan itu tidak akan lenyap dari kepalamu selagi kami belum dapat membuktikan perkataan kami. Tetapi, percayalah bahwa kami akan melakukannya untuk beberapa keping emas murni”.

Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba terloncat dari bibirnya,, “Paman, apabila aku masih tetap berada di sini, aku tidak akan berhasil mendapatkan emas murni itu”.

“Bukankah kau sudah menyediakannya?”

“Belum berupa emas murni” sahut Kuda Sempana, “aku masih harus berusaha mendapatkannya. Yang aku punya adalah timang emas bertetes berlian. Pendok emas bermata intan dan perhiasan-perhiasan yang lain. Tetapi bukan emas murni”.

Wajah Kebo Sindet yang beku masih tetap membeku. Namun, tanpa diketahui oleh seorangpun, ia tersenyum di dalam hati. Yang diucapkan kemudian adalah, “Barang-barang itu cukup berharga bagi kami, kau tidak perlu bersusah payah menukarkannya dengan emas murni”.

Kuda Sempana terdiam. Tetapi hatinya bergolak. Barang-barang itu telah dikumpulkannya bertahun-tahun, sejak ia mengabdikan dirinya di istana, bahkan menjadi kepercayaan Akuwu dalam beberapa persoalan. Apakah barang-barang yang telah dikumpulkannya bertahun-tahun itu akan dilepaskannya?

Kembali ia menyesali kebodohannya., “kenapa aku mengatakannya?”

Tetapi, penyesalan itu sama sekali sudah tidak berarti. Ia tidak dapat menyesali kematian gurunya karena kebodohannya pula. Karena nafsunya untuk membalas dendam, sehingga ia telah kehilangan segenap pertimbangan yang bening.

“Tetapi, kenapa guru selama ini membiarkan aku terdorong semakin jauh?” Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam, “Guru juga ingin mendapatkan beberapa keping emas murni, atau timang tretes berlian atau pendok emas bermata intan atau apapun yang disenanginya”.

Kembali Kuda Sempana terkejut ketika Kebo Sindet berkata, “Memang kepuasan amat mahal harganya. Tetapi, jangan takut. Aku tidak serakus gurumu. Aku hanya akan menerima sebagian menurut keikhlasanmu. Aku tidak akan menyebut, berapa banyak yang aku kehendaki”.

Kuda Sempana menarik alisnya. Tetapi, ia tidak percaya akan kata-kata itu. Namun, demikian ia menyawab, “Terima kasih paman. Kapan paman memberi kesempatan kepadaku untuk mengambil barang-barang itu?”

“Tidak terlampau tergesa-gesa” sahut Kebo Sindet, “Aku akan menerimanya setelah pekerjaanku selesai”.

Kembali Kuda Sempana terdiam. Dan kembali ia harus memutar otaknya untuk memecahkan jalan keluar dari tempat yang menyesakkan nafas ini.

Tetapi dari hari-kehari, keadaan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat menjadi semakin baik. Dengan demikian maka kemungkinan Kuda Sempana untuk melepaskan diri dari tangan kedua orang itu menjadi semakin sempit.

Namun, bukan saja kesempatan Kuda Sempana menjadi semakin sempit, tetapi karena nafsu Kuda Sempana untuk pergi meninggalkan gubug itu pun menjadi kecil pula.

Setelah beberapa hari ia berada di gubug itu, dirasakannya bahwa sikap Kebo Sindet dan Wong Sarimpat menjadi semakin baik terhadapnya. Apalagi Kebo Sindet. Bahkan, setelah orang itu menjadi sembuh sama sekali, Kuda Sempana sering dibawanya berburu di lereng bukit gundul itu, di dalam hutan-hutan yang tidak begitu lebat dan di padang-padang ilalang.

Kuda Sempana pun selalu berusaha untuk tidak menumbuhkan kecurigaan kepada kedua orang itu. Semula anak muda itu berhasil berpura-pura menerima tawaran Kebo Sindet dan Wong Sarimpat itu. Namun, kemudian batinya benar-benar terpengaruh oleh keadaan yang dialaminya.

Bahkan, kemudian Kebo Sindet dan Wong Sarimpat itu pun bersedia memberinya sedikit ilmu. Ilmu yang dimiliki oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Ilmu yang agak berbeda dengan ilmu yang diterimanya dari gurunya Empu Sada. Namun, dengan pertolongan kedua orang itu Kuda Sempana berhasil mencoba mencernakannya. Menyusun jenis-jenis ilmu yang berbeda itu dalam tata gerak yang serasi, yang dengan sendiri dapat menambah sedikit kemampuannya bertempur.

Hal inilah yang semula sama sekali tidak diduganya. Ternyata kedua orang itu bersikap baik kepadanya, bahkan terlalu baik. Lambat laun, maka Kuda Sempana itu hampir melupakan gurunya sendiri dalam beberapa hari. Seakan-akan ia telah menemukan guru yang baru.

Ketika kemudian, Kebo Sindet dan Wong Sarimpat telah benar-benar sembuh, dan telah memiliki kekuatannya kembali seperti sedia kala, maka berkatalah Kebo Sindet kepada Kuda Sempana, “Kuda Sempana. Kami, aku dan pamanmu Wong Sarimpat telah berhasil menyembuhkan luka-luka di dalam tubuh kami. Sebaiknya kami segera melakukan penangkapan itu. Menangkap Mahisa Agni”.

Dada Kuda Sempana terasa berdesir mendengar rencana itu. Setelah sekian lama ia tinggal di dalam gubug itu, maka nafsunya untuk melakukan pembalasan telah menjadi semakin berkurang. Tetapi, ia tidak dapat menolaknya. Kehadirannya kemari adalah karena dendam itu. Dan ia mencoba membakar kembali dadanya dengan dendam yang hampir padam. Karena itu, maka dijawabnya, “Baik paman. Aku bergembira bahwa paman akan melakukannya”.

“Semakin cepat semakin baik. Pamanmu Wong Sarimpat telah beberapa kali melihat kerja Mahisa Agni bersama kawan-kawannya di Padang Karautan. Dan kesempatan untuk mengambil Mahisa Agni terlampau luas. Kalau gurumu mempunyai otak yang sedikit cerah, maka ia tidak perlu terlampau bersusah payah. Anak itu selalu mondar-mandir dari Padang Rumput Karautan ke Panawijen. Kesempatan itu akan dapat dipergunakan sebaik-baiknya”.

Kuda Sempana terkejut mendengarnya. Sehingga dengan serta-merta terloncat pertanyaannya, “Apakah paman Wong Sarimpat pernah datang ke Padang Karautan?”

“Tidak hanya satu dua kali” sahut Kebo Sindet, “pamanmu selalu datang melihat-lihat, meskipun dari jarak yang cukup jauh”.

“Kapan paman Wong Sarimpat pergi ke Padang Karautan?”

“Lusa, sepekan yang lalu dan sepuluh hari yang lalu dan hari ini pula. Pamanmu adalah seorang penunggang kuda yang baik. Kudanya pun baik pula, sehingga waktu yang diperlukan tidak terlampau banyak. Senja ia berangkat, maka sebelum fajar di malam berikutnya ia telah berada di tempat ini kembali. Hampir sehari ia mempunyai waktu untuk melihat-lihat tempat itu. Pamanmu untuk menempuh perjalanan tanpa memincingkan matanya sama sekali selama sepekan terus-menerus. Apalagi hanya dua tiga malam”.

Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam, “Bukan main” desisnya di dalam hati,, “dan apakah guru mampu berbuat demikian pula?”

“Tetapi” berkata Kebo Sindet pula, “kami tidak akan pergi berdua saja. Sebaiknya kau ikut pula. Mungkin kami masih memerlukan beberapa keterangan dari padamu”.

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Ia mencoba berpikir, apakah sebabnya ia harus pergi pula bersama-sama dengan mereka berdua. Tetapi, jawaban yang diketemukan adalah seperti yang dengan terus terang telah dikatakan oleh Kebo Sindet, bahwa mungkin kedua orang itu masih memerlukan beberapa keterangan dari padanya. Karena itu maka jawabnya, “Baiklah paman. Apabila paman masih memerlukan aku”.

Wajah Kebo Sindet yang beku itu masih saja tetap membeku. Namun, kepalanya itu mengangguk-angguk. Dan terdengar,, “Bagus, dengan bantuanmu, maka pekerjaan ini akan menjadi semakin cepat. Aku tidak memerlukan waktu lebih dari sepekan untuk menangkapnya. Sebab hampir setiap sepekan sekali Mahisa Agni pergi ke Panawijen untuk mengambil beberapa keperluan bagi orang-orangnya bersama beberapa kawan-kawannya. Kesempatan itu adalah kesempatan yang sebaik-baiknya bagiku untuk mengambilnya. Mahisa Agni akan hilang dari antara mereka. Bendungan itu akan gagal sebab orang-orang Panawijen pasti akan kehilangan nafsu dan gairah untuk melanjutkannya. Bahkan mereka pasti akan teringat kembali kepada bendungan yang lama, dan mereka pasti akan mengutuk kenapa bendungan itu pecah. Orang-orang Panawijen akan menjadi putus asa dan pergi berpencaran mencari hidup mereka masing-masing. Nah, keadaan itulah yang harus dilihat oleh Mahisa Agni. Karena itu ia harus tertangkap hidup. Orang itu harus disimpan di tempat ini beberapa lama untuk merasakan kepahitan hidupnya. Mungkin ia tidak memikirkan nasibnya sendiri, tetapi kegagalannya pasti akan menyiksanya”.

“Menyiksa perasaannya, sedang kau akan mendapat kesempatan untuk menyiksa tubuhnya. Bukankah kepahitan hidup yang kau alami sekarang ini bersumber pada perbuatan Mahisa Agni itu menurut katamu sendiri?”

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Kata-kata Kebo Sindet itu memang dapat mengungkat kembali dendamnya yang sudah menjadi hambar. Apalagi ia sendiri memang berusaha untuk menyalakan dendam itu.

Bahkan kemudian seakan-akan terbayang kembali apa yang pernah terjadi atas dirinya sejak ia menemui Ken Dedes di bawah bendungan, ketika gadis itu sedang mencuci pakaian. Kegagalannya yang pertama itu telah mendorongnya ke dalam kegagalan-kegagalan yang terus menerus. Dan semuanya itu adalah karena Mahisa Agni.

Tiba-tiba Kuda Sempana itu menggeretakkan giginya. Di dalam hati ia menggeram,, “Aku tidak peduli apa yang kelak akan terjadi. Atas diriku atau atas Mahisa Agni apabila ia telah ditangkap oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang gila ini. Tetapi, aku harus sempat melepaskan dendamku. Seandainya aku pun akan dibunuh oleh kedua orang ini dan dimasukkan ke dalam goa itu, maka aku akan mati dengan tenang, karena dendamku telah terlepaskan. Apalagi kalau benar kata mereka, bahwa mereka hanya memerlukan beberapa macam perhiasan dari padaku”.

Kuda Sempana itu pun kemudian tersenyum di dalam hati. Ia tidak mau lagi mempersulit otaknya sendiri. Dijalani hidup ini disaat ini. Apa yang akan terjadi besok adalah persoalan besok. Kini ia harus menyiapkan diri bersama-sama menangkap Mahisa Agni. Dan ia ingin melakukannya sebaik-baiknya, sehingga anak muda itu dapat ditangkapnya. Disakiti tubuh dan perasaannya. Kemudian, ia tidak akan mempedulikan lagi, apakah Mahisa Agni itu akan dibunuh dan dilemparkan kebendungan yang sedang dibuatnya, atau seperti kata gurunya, bahwa kedua orang itu akan mempergunakan Mahisa Agni untuk tujuan tertentu, dan bahkan seandainya dirinya sendiri akan diperlakukan serupa itu pula.

Anak muda itu terseadar ketika ia mendengar Kebo Sindet berkata, “Bagaimana Kuda Sempana, apakah kau sudah siap apabila kita setiap saat berangkat?”

“Sudah paman. Sekarang pun aku sudah siap”.

“Bagus. Tetapi kita masih menunggu pamanmu Wong Sarimpat”.

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Gumamnya, “Kapan pun aku sudah siap”.

Dalam pada itu, di Padang Karautan Mahisa Agni berada diantara kawan-kawannya dan hampir semua laki-laki Panawijen, bekerja memeras tenaga membuat bendungan yang akan dapat memberi harapan bagi kelangsungan hidup mereka dan anak cucu mereka dalam satu lingkungan. Apabila bendungan itu, siap maka mereka tidak harus bercerai-berai mencari hidup masing-masing. Mereka masih akan tetap berada dalam satu lingkungan yang telah berpuluh tahun mereka jalani, sehingga mereka merasa bahwa setiap orang Panawijen adalah keluarga mereka sendiri. Tidak ubahnya keluarga sesaluran darah.

Tetapi, kerja itu adalah kerja yang terlampau berat. Bendungan dan saluran-saluran air. Apa yang mereka kerjakan selama ini barulah sebagian kecil dari kerja mereka keseluruhan. Mereka belum dapat membayangkan, kapankah kerja mereka itu akan dapat selesai. Sebulan lagi, dua bulan, tiga bulan atau satu tahun? Sementara itu sawah di Panawijen menjadi semakin kering dan kering. Hampir tak ada jenis tanaman yang dapat ditanamnya lagi. Ubi kayu menjadi semakin kurus dan jagung tidak dapat tumbuh melampaui tinggi anak-anak yang baru dapat berdiri. Sedangkan setiap orang harus memeras keringat di panas terik Padang Karautan. Mereka mulai bckerja sejak matahari terbit dan mereka baru meletakkan ala-alat mereka apabila matahari jauh turun di kaki langit. Namun, kerja itu seolah-olah hampir tidak bertambah-tambah. Setiap hari mereka harus memecah batu-batu, memasukkan ke dalam brunjung-brunjung bambu dan menimbunnya di dasar sungai. Tetapi, brunjung-brunjung bambu yang berisi batu-batu itu seolah-seolah lenyap saja ditelan pasir di dasar sungai itu.

Apalagi saluran-saluran yang mereka rencanakan. Mereka sempat menanam patok-patok bambu dan tali-tali yang harus mereka pancangkan untuk membuat garis-garis parit yang akan mereka gali. Tetapi, selebihnya belum. Belum ada seratus langkah tanah yang sudah sempat mereka cangkul. Tenaga mereka hampir seluruhnya dikerahkan untuk memecah dan memasukkan batu-batu ke dalam brunjung dan melemparkannya ke dasar sungai.

Beberapa orang telah menjadi cemas akan persediaan lumbung-lumbung mereka. Lumbung-lumbung itu telah menjadi semakin tipis. Tanaman palawijen agaknya terlampau sedikit. Sawah-sawah mereka hanya dapat tertolong sementara ada hujan turun. Sesudah itu akan kering kembali. Tetapi, hujan tidak juga kunjung-kunjung datang.

Namun, mereka pun tidak dapat mengharap hujan segera datang. Dengan demikian air sungai akan bertambah besar dan bendungan yang belum siap itu pun akan terancam bahaya.

Orang-orang tua mulai mencemaskan keadaan itu. Baiklah, satu dua di antara mereka telah saling berbicara sesamanya. Apabila malam yang kelam menyelubungi padang rumput yang luas itu, maka mulailah terdengar satu dua orang mengeluh. Mengeluh karena lelah, dan mengeluh karena harapan yang mereka pancangkan bersama patok-patok bambu itu agaknya masih terlampau jauh.

Dari hari-kehari maka keluhan itu pun menyalar semakin luas. Dari mulut orang-orang tua yang merasa bahwa umurnya tidak akan lebih panyang dari kerja membuka tanah itu, merayap kepada mereka yang lebih muda. Kepada mereka yang sudah setengah umur. Kemudian merembet lagi kepada yang lebih muda pula. Kepada bapak-bapak yang baru beranak satu dua orang. Akhirnya keluh kesah itu sampai pula kepada anak-anak mudanya.

Tetapi, mereka masih juga bekerja disiang hari. Mereka masih juga mulai sejak matahari terbit dan selesai menjelang matahari bertengger di punggung bukit. Tetapi, dimalam hari mereka tidak lagi berdendang dan bersenandung. Tidak lagi terdengar suara seruling dan gelak tertawa. Dimalam hari mereka saling berbisik diantara mereka. Punggung yang sakit, pundak yang luka dan kaki yang bengkak.

Keluh kesah itu akhirnya terdengar oleh Ki Buyut Panawijen. Orang tua itu menjadi berdebar-debar. Kalau orang-orangnya nanti menjadi jemu sebelum bendungan itu siap, maka pekerjaan yang mengandung harapan itu akan terbengkalai seperti harapan mereka yang akan terbengkalai juga. Ki Buyutlah orang yang akan menjadi paling bersedih hati, di samping Mahisa Agni, apabila mereka terpaksa berpisah bercerai berai mengungsikan hidup masing-masing ke pedukuhan-pedukuhan yang masih dapat menerima mereka.

“Angger Mahisa Agni harus segera msngetahuinya pula” berkata orang tua itu di dalam hatinya, “tetapi aku harus berhati-hati mengatakan persoalan ini. Jangan sampai anak yang baik itu tersinggung hatinya. Ia telah bekerja melampaui orang lain. Dan karena itu, maka ia akan dapat menjadi sangat kecewa mendengar keluh kesah ini”.

Tetapi, keluhan itu menyalar semakin lama menjadi semakin luas. Dan Ki Buyut Panawijen menjadi semakin cemas. Lebih baik ia sendiri menyampaikannya kepada Mahisa Agni dari pada anak itu pada suatu ketika mendengar langsung dari orang-orangnya, sehingga akan menimbulkan bekas yang dalam hatinya.

Maka ketika matahari telah terbenam, dan ketika orang-orang Panawijen sudah beristirahat sambil memijat-mijat kaki-kaki mereka yang lelah, maka Ki Buyut Panawijen berjalan di antara mereka mencari Mahisa Agni.

“Apakah kau sudah tidur Ngger?” sapa Ki Buyut itu di depan gubug ilalang yang dipergunakan Mahisa Agni untuk berteduh dari embun di malam hari.

Mahisa Agni yang masih duduk-duduk di dalam gubugnya itu terkejut. Dengan tergopoh-gopoh ia bangkit sambil mempersilahkan orang tua itu, “Mari Ki Buyut. Marilah duduk di sini”.

“Ya, ya Ngger” sahut Ki Buyut.

Kemudian mereka pun duduk di atas sehelai tikar yang dibentangkan di atas setumpuk rumput-rumput kering. Ki Buyut Panawijen, Mahisa Agni dan paman Mahisa Agni yang masih saja berada di Padang Karautan, Empu Gandring.

Setelah percakapan mereka melingkar-lingkar dari satu soal ke soal lain, maka dengan dada berdebar-debar Ki Buyut ingin menyampaikan keperluannya kepada Mahisa Agni. Tetapi, ketika ia melihat wajah anak muda itu, maka hatinya menjadi ragu. Wajah itu memancar penuh harapan bahwa suatu saat mereka akan dapat berdiri di sisi sungai itu sambil memandangi bendungan mereka yang telah dapat menaikkan air ke parit-parit yang memanjang membelah padang yang kering. Mahisa Agni agaknya terlampau yakin bahwa kerjanya akan berhasil.

Tetapi, kalau ia tidak menyampaikan pendengarannya tentang keluh kesah yang semakin merata itu, maka apabila Mahisa Agni mendengarnya kelak, apabila kejemuan itu benar-benar telah mencengkam segenap orang-orang yang mengerjakan bendungan ini, alangkah parahnya hati anak muda itu. Alangkah kecewanya. Seolah-olah rakyat Panawijen sama sekali tidak mengenal terima kasih atas segala jerih payahnya.

Setelah dipertimbangkannya masak-masak, dan setelah dipikirkannya berulang kali, maka dengan ragu-ragu akhirnya Ki Buyut itu pun berkata, “Angger bagaimanakah dengan bendungan kita?”

Mahisa Agni memandangi wajah Ki Buyut Panawijen dengan sorot mata yang aneh. Pertanyaan Ki Buyut itu telah mengherankan Mahisa Agni. Sehingga anak muda itu ganti bertanya, “Bagaimana maksud Ki Buyut?”

“Ah” Ki Buyut menjadi semakin bimbang, “maksudku, apakah tidak ada kesulitan apa-apa?”

Mahisa Agni menjadi semakin heran, jawabnya, “Seperti yang Ki Buyut saksikan, bukankah pembuatan bendungan itu berjalan lancar? Bukankah orang-orang Panawijen telah berjuang dengan sekuat-kuat tenaga mereka, tanpa menghiraukan panas, lelah dan jemu?”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Jalan yang sudah mulai dibukanya itu seolah-olah kini telah tertutup rapat kembali. Apakah ia akan sampai hati mengatakan kepada Mahisa Agni, bahwa orang-orang Panawijen itu kini telah mulai berkeluh-kesah. Berkeluh-kesah tentang panas terik yang membakar punggung mereka, tentang lelah yang menyalar kesegenap otot baju dan tentang kejemuan yang mulai mcncengkam perasaan? Ki Buyut itu pun menjadi termangu-mangu. Sehingga karena itu maka ia pun terdiam. Ia telah kehilangan cara yang sebaik-baiknya dapat ditempuh.

Bahkan orang tua itu menjadi bingung ketika Mahisa Agni kemudian berkata, “Ki Buyut, aku mengharap bahwa kita akan dapat bekerja lebih keras lagi. Kita harus menyelesaikan bendungan itu sebelum hujan turun di musim basah yang akan datang. Apabila kemudian air naik, dan ternyata bendungan kita belum sempurna, sehingga masih berbahaya apabila banjir sekali-kali datang, maka kita masih harus bekerja lagi, menyempurnakan bendungan itu. Namun, setelah itu, kita akan menikmati hasilnya. Padang itu akan menjadi tanah persawahan yang subur dan seluas-luas kita kehendaki. Sawah kita akan tidak terbatas, sebesar tenaga dapat kita berikan, seluas itu tanah yang kita garap”.

“Ya, ya” orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sejenak kemudian mereka berdiam diri, Empu Gandring duduk terkantuk-kantuk di sudut gubug itu sambil memeluk lututnya. Seakan-akan ia sama sekali tidak mendengarkan percakapan kemanakannya dengan Ki Buyut itu. Namun, sebenarnya ia mendengar semuanya. Ia menangkap perasaan yang tidak wajar yang melontar dari percakapan itu. Dari setiap kata-kata Ki Buyut Panawijen. Namun, Empu Gandring itu tidak tahu, apakah yang sebenarnya ingin dikatakan oleh Ki Buyut kepada kemanakannya.

Ketika angin malam berhembus semakin keras, terasa dingin semakin dalam menghunyam ke dalam kulit. Beberapa orang telah membuat perapian dan tidur melingkarinya sambil berselimut kain panjang. Di kejauhan terdengar suara burung hantu mengeluh seperti orang yang kelelahan.

Ki Buyut Panawijen masih saja duduk tepekur.

Ia masih mengharap bahwa ia akan menemukan cara untuk menyampaikan maksudnya.

Tidak jauh dari gubug itu, tampak api perapian menyala seperti melonyak-lonyak. Beberapa orang yang bertiduran dis ekitarnya telah benar-benar menjadi lelap. Yang terdengar kemudian adalah dengkur yang bersahut-sahutan.

Ki Buyut Panawijen masih saja berdiam diri. Mahisa Agni pun seolah-olah terbungkam. Dan di kejauhan burung hantu masih saja mengeluh terputus-putus.

“Alangkah sulitnya” desah Ki Buyut di dalam hatinya, “bagaimana aku dapat mulai?”

Namun, tiba-tiba perhatian mereka terlempar ke arah dua orang yang berjalan perlahan-lahan ke gubug itu. Agaknya yang seorang memapah yang lain.

Ki Buyut Panawijen, Mahisa Agni dan bahkan Empu Gandring yang terkantuk-kantuk itu pun terkejut. Dengan serta-merta mereka berdiri dan menyongsong kedua orang itu.

“Siapa?” bertanya Ki Buyut Panawijen.

“Aku, Ki Buyut”.

“Kenapa? Dan siapa kawanmu itu?”

“Bitung”.

“Kenapa dengan Bitung?”

“Tubuhnya tiba-tiba menjadi panas, tetapi ia menggigil seperti orang kedinginan”.

“Bawalah kemari” minta Mahisa Agni yang menjadi cemas.

Kedua orang itu pun kemudian memasuki gubug Mahisa Agni. Bitung pun kemudian duduk bersandar kawannya. Namun, ia masih juga menggigil seperti orang yang kedinginan. Ketika Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen meraba tubuhnya ternyata tubuh itu terasa panas.

“Aneh” gumam Mahisa Agni.

“Ya aneh” sahut Ki Buyut Panawijen.

Tetapi, Empu Gandring yang lebih banyak menyimpan pengalaman dari mereka berkata, “Tidak. Sama sekali tidak aneh. Memang ada sejenis penyakit yang demikian”.

“Apakah sakit Bitung ini bukan karena hantu-hantu?” bertanya kawannya.

Ki Buyut Panawijen tidak dapat menyawab, namun yang menyawab adalah Empu Gandring, “Tidak. Sama sekali tidak. Aku telah sering melihat orang yang terserang penyakit yang demikian”.

Kawan Bitung itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku menjadi bingung ketika ia mulai menggigil. Karena itu maka ia aku bawa kemari. Apakah sakit yang demikian ini dapat diobati?”

“Tentu” Empu Gandring lah yang menyahut, “besok usahakan daun kates grandel yang masih muda. Tumbuklah beserta kulit batangnya, buahnya yang masih muda pula, bunganya dan akarnya. Mudah-mudahan ia dapat sembuh. Taruhlah garam sedikit”.

“Tetapi, bagaimana dengan malam ini?”

“Biarlah ia tidur dan beristirahat”.

Kawan Bitung itu memandangi wajah Ki Buyut dengan pandangan yang sayu. Bibirnya tampak bergerak-gerak seakan-akan ia ingin mengucapkan sesuatu. Tetapi, tak sepatah kata pun yang terloncat dari bibirnya. Namun, Ki Buyut Panawijen seakan-akan dapat membaca kata hatinya. Seakan-akan Ki Buyut Panawijen mendengar kawan Bitung itu berkata, “Siapakah yang bertanggung jawab, sandainya yang terjadi sesuatu dengan kawanku ini? Apakah harus ada orang lain yang mengalami penyakit serupa?”

Tetapi, Ki Buyut pun berdiam diri. Ia kemudian mendengar orang itu berkata, “Baiklah. Besok aku mengharap Bitung dapat diobati. Dan aku mengharap mudah-mudahan obat itu dapat menyembuhkannya”.

“Batang Kates Grandel banyak terdapat di Panawijen” gumam Mahisa Agni.

“ya. Tetapi Bitung kini tidak berada di Panawijen” jawab kawannya.

“Tetapi, bukankah kita dapat mengambilnya?”

“Aku mengharap besok Bitung dapat diobati” berkata kawannya itu seolah-olah tidak mendengar kata-kata Mahisa Agni, “aku menunggu dan Bitung pun menunggu”.

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar jawaban itu. Ia tahu benar maksud kata-kata itu. Obat itu harus tersedia. Jadi bukankah dengan demikian berarti bahwa ia harus mengambil obat itu ke Panawijen besok.

Meskipun demikian, Mahisa Agni itu berkata, “Ya. Mudah-mudahan ada seseorang yang akan dapat mengambilnya”.

“Mudah-mudahan” sahut orang itu.

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Ia merasakan keanehan sikap dari orang itu. Sikap yang belum pernah dialaminya selama ini. Tetapi, ketika Mahisa Agni menyalakan perasaannya, terasa pamannya menggamitnya.

Mahisa Agni berpaling, Empu Gandring menggeleng lemah. Meskipun Mahisa Agni tidak tahu maksudnya, namun ia terdiam.

“Aku akan kembali ke gubugku” berkata kawan Bitung.

“Biarlah Bitung di sini” sahut Mahisa Agni.

“Tidak. Ia bersamaku. Apapun yang akan terjadi atas dirinya”.

Kembali Mahisa Agni menarik nafas. Tetapi, ia tidak mencegahnya lagi ketika Bitung kembali dipapah oleh kawannya meninggalkan gubug itu. Bitung masih juga menggigil meskipun tubuhnya panas.

Sepeninggal mereka, Ki Buyut Panawijen menjadi semakin cemas. Ia tahu benar apa yang bergolak di dalam hati Bitung dan kawannya. Mereka pasti menimpakan segala kesalahan kepada Mahisa Agni dan kemudian kepada dirinya, Buyut Panawijen.

“Hem” tiba-tiba Mahisa Agni menggeram, “apakah aku juga yang harus pergi ke Panawijen untuk mengambil obat itu?”

“Tak ada seorang pun yang berani melakukan Agni” sahut pamannya.

“Terlalu” desah Mahisa Agni, “semuanya harus aku lakukan”.

Apakah hal-hal semacam itu tidak mengganggu pekerjaan yang besar ini?

“Besok aku harus meletakkan brunjung-brunjung dasar di sisi seberang sebelum sisi yang sebelah ini selesai supaya ada keseimbangan. Kalau aku pergi, bagaimana dengan rencana itu?”

Ki Buyut Panawijen dapat memahami perasaan Mahisa Agni yang sepenuhnya diikat oleh persoalan bendungan yang sedang dikerjakannya. Segala tenaga dan pikiranya kini sedang dicurahkannya untuk kepentingan kerja yang besar dan berat itu, sehingga hampir tak ada waktu baginya untuk berbuat hal-hal yang lain. Tetapi, Ki Buyut itu merasakan pula kepincangan yang terdiri pada orang-orangnya. Mahisa Agni yang sudah bekerja melampaui setiap orang itu, masih harus mengurus persoalan-persoalan yang sebenarnya dapat dilakukan oleh orang lain. Namun, sebenarnya seperti kata Empu Gandring bahwa tak ada seorang pun yang berani pergi ke Panawijen tanpa Mahisa Agni. Kalau ada juga yang harus pergi, maka mereka pasti akan membawa kawan dalam jumlah yang cukup banyak.

Karena itu justru Ki Buyut Panawijen tak dapat berkata sepatah pun juga untuk menanggapi keluhan Mahisa Agni, Orang tua itu pun bahkan menekurkan kepalanya sambil mengangguk-angguk kecil.

“Paman” bertanya Mahisa Agni itu pula kepada pamannya, “apakah penyakit yang demikian itu berbahaya? Maksudku, apabila obat itu tertunda satu hari saja, apakah akibatnya akan membahayakan sekali bagi Bitung? Apabila tidak, maka aku ingin tetap melakukan rencanaku besok, baru lusa aku akan pergi ke Panawijen setelah dasar bendungan di sisi seberang dapat mapan. Dengan demikian, maka pekerjaan yang barus dilakukan tinggal menambah dasar itu dengan menimbuni brunjung-brunjung. Apabila tidak demikan, maka air akan mengalir di satu sisi, sehingga sisi itu bahkan akan menjadi semakin dalam”.

Empu Gandring pun menjadi ragu-ragu untuk menyawab pertanyaan itu. Seperti Ki Buyut Panawijen, ia dapat memahami setiap perasaan yang bergolak di dalam dada anak muda itu. Tetapi, Empu Gandring itu tahu pula, bahwa penyakit yang berbahaya. Meskipun penyakit itu tidak segera membunuh korbannya, tetapi apabila terlambat pengobatannya, maka meskipun perlahan-lahan, pasti penyakit itu akan menjadi semakin padam.

Selagi Empu Gandring itu menimbang-nimbang, terdengar Mahisa Agni bertanya, “Bagaimana paman? Apakah aku dapat pergi lusa?”

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya kemudian dengan menganggukkkan kepalanya, “Agni. Mungkin tidak terlambat, tetapi sebaiknya penyakit yang demikian segera mendapat pengobatan”.

Wajah Mahisa Agni menjadi tegang. Dilemparkannya pandangan matanya ke padang yang luas di luar gubug itu. Gelap, meskipun bintang-bintang gemerlapan di langit. Sudah tentu ia tidak akan sampai hati membiarkan salah seorang kawannya menjadi korban. Perasaannya tidak membenarkannya, apabila Bitung kelak menemui bencana oleh penyakitnya karena kelambatannya. Tetapi, kalau ia menunda rencananya besok meletakkan dasar bendungan di sisi seberang, maka pasir di dasar sungai itu pasti akan menjadi semakin larut dibawa air yang seolah-olah menepi di sisi itu. Dasar itu pasti akan menjadi semakin dalam. Apalagi apabila besok karena rencana itu tidak diteruskan, maka orang-orang Panawijen akan menimbuni sisi yang lain dengan brunjung-brunjung baru. Dengan demikan maka ia akan menjadi semakin terdorong ke sisi seberang, dan sisi itu pasti akan menjadi bertambah-tambah dalam.

Ki Buyut Panawijen masih saja duduk tepekur. Ia menjadi cemas memikirkan apa saja akan dapat terjadi. Ia tahu benar keberatan Mahisa Agni meninggalkan bendungannya. Tetapi, apabila Bitung menjadi semakin patah, maka akan sangat sulitlah bagi Mahisa Agni dan dirinya untuk mengendalikan perasaan anak-anak muda Panawijen yang sudah mulai menjadi jemu itu.

Namun, mulutnya tidak dapat mengucapkan dengan kata-kata. Ia tidak sampai hati melihat Mahisa Agni menjadi murung.

Tetapi, baik Ki Buyut Panawijen, maupun Empu Gandring terkejut ketika tiba-tiba Mahisa Agni berkata, “Aku akan pergi sekarang ke Panawijen”.

“Agni” potong pamannya dan Ki Buyut pun dengan serta merta berkata, “Tidak Ngger. Tidak harus demikian”.

“Tidak paman, aku harus menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan ini tanpa merugikan satu dan yang lain. Aku tidak boleh meninggalkan bendungan itu besok dan aku juga tidak boleh membiarkan Bitung dimakan oleh penyakitnya”.

“Tetapi, jangan sekarang Agni. Bukankah kau besok dapat memberi beberapa orang pesan, supaya mereka melakukan rencana itu? Baru setelah pekerjaan itu dimulai dan sesuai dengan kehendakmu kau dapat meninggalkannya”.

“Tidak paman, aku harus ada di sini selama kita meletakkan dasar bendungan itu”.

“Tetapi, jangan sekarang Ngger” tanpa disengajanya Ki Buyut Panawijen memandang padang rumput yang terhampar luas dihadapannya. Tetapi, pandangan matanya tidak mampu untuk menembus gelap malam yang pekat.

Mahisa Agni pun memandangi gelap malam itu pula. Tetapi, tiba-tiba bahkan ia berdiri sambil berkata, “Aku akan pergi”.
“Agni” potong pamannya, “kau pernah berceritera kepadaku tentang banyak hal yang dapat membahayakan dirimu. Kau pernah mengatakan kepadaku bahwa ada orang yang masih saja menyimpan dendam di dalam diri mereka. Apakah kau melupakannya? Bahkan aku telah melihat sendiri, apa yang terjadi di padang ini sebelum kau mulai dengan pekerjaanmu ini”.

“Bahaya itu bagiku sama saja paman, siang atau malam”.

“Lain Agni. Kau berjalan di padang yang luas. Di siang hari kau akan dapat melihat bahaya itu jauh sebelum menyergapmu. Kudamu adalah kuda yang baik. Dengan kuda itu kau akan dapat menghindarinya. Bahkan seandainya orang yang mengancammu itu berkuda pula, maka jarak yang ada pasti akan mampu menyelamatkanmu. Apalagi kalau kau pergi berdua atau bertiga. Salah seorang dari mereka akan dapat memberitahukan kepadaku, apa yang terjadi diperjalanan itu”.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Namun, ia berdesis, “Aku akan berangkat. Bagi Bitung, semakin cepat, semakin baik. Mudah-mudahan aku tidak bertemu dengan bahaya yang paman katakan itu”.

Tetapi, Mahisa Agni tidak meyakini kata-katanya sendiri. Mungkin Empu Sada dan Kuda Sempana telah siap menunggunya diluar perkemahan itu. Namun, demikian, adalah tanggung jawabnya untuk melakukan pekerjaan itu. Kedua-duanya. Memasang brunjung-brunjung di kali dan mengambil obat ke Panawijen. Tak ada orang yang dapat dan berani melakukannya. Karena itu, maka ia sendiri harus berangkat. Seperti Empu Gandring, Mahisa Agni percaya kepada kudanya. Apabila ia bertemu dengan bahaya, seandainya bahaya itu sudah pasti tidak dapat diatasinya, misalnya Empu Sada, maka ia akan dapat menyauhkan dirinya. Mudah-mudahan kudanya dapat membantunya. Apabila ia gagal, maka itu adalah akibat dari tanggung jawab yang telah dipikulnya.

Namun, Ki Buyut Panawijen dan Empu Gandring berpendapat lain. Dengan terbata-bata Ki Buyut Panawijen berkata, “Jangan Ngger. Aku turut juga prihatin atas Bitung, tetapi kepergianmu akan sangat menggelisahkan kami malam ini. Biarlah kau pergi besok siang setelah kau memberikan beberapa pesan mengenai pemasangan brunjung-brunjung itu seperti kata pamanmu?”

“Kalau aku sudah mulai Ki Buyut, maka aku kira aku tidak akan dapat meninggalkannya satu sampai dua hari. Karena itu, biarlah aku pergi sekarang. Padang rumput itu cukup luas untuk berpacu seandainya aku bertemu dengan Empu Sada misalnya”.

“Agni” berkata Empu Gandring kemudian, “jangan bermain-main dengan bahaya. Empu Sada bukan seorang yang dapat diajak bercanda. Dendam Kuda Sempana kepadamu agaknya sudah terlampau dalam. Bukankah menurut anggapannya, segala kegagalan yang dialaminya kini, bukan saja kegagalannya untuk mcmperisteri adikmu itu, tetapi juga kegagalan dalam bidang yang lain, bersumber darimu? Tak ada cara baginya untuk melepaskan dendam itu selain meniadakanmu. Membunuhmu. Kalau kau temui bencana itu, bagaimana dengan pekerjaanmu di sini? Bendungan ini akan terbengkelai dan Panawijen benar-benar akan lenyap. Juga semua yang pernah terjadi akan dilupakan orang”.

Mahisa Agni terdiam sejenak. Tetapi ia tidak mempunyai cara yang lain. Ia tidak mempunyai waktu lagi. Kedua-duanya tak dapat ditunda-tunda. Kalau saja ada orang lain yang besok berani pergi ke Panawijen, maka kepalanya tidak akan menjadi pening seperti sekarang. Sandainya ada juga yang mau berangkat, maka berbondong-bondong mereka pergi bersama-sama, sehingga pekerjaan di padang ini akan terganggu juga. Karena itu, maka kemauannya telah bulat, sehingga katanya, “Aku akan pergi paman. Empu Sada tidak akan berada di padang ini siang dan malam hanya untuk menunggu aku meninggalkan perkemahan ini pergi ke Panawijen. Kalau ia benar memerlukan aku, maka ia akan datang kemari dan menyerang pcrkcmahan ini bersama dengan murid-murid orang yang menyebut dirinya Bahu Reksa Kali Elo dan saudara saudara seperguruannya yang lain seperti yang dilakukan atas rombongan Ken Dedes”.

Empu Gandring menggelengkan kepalanya, jawabnya, “mereka ragu-ragu untuk berbuat demikian. Apakah laki-laki Panawijen yang sekian banyaknya tidak berbuat sesuatu, sedang Empu Sada tahu benar bahwa aku berada di sini”.

Kembali Mahisa Agni terdiam. Namun, ia tidak dapat menemukan jalan lain dari pada jalan yang akan ditempuhnya. Bitung dan bendungan. Terngiang kembali kata-kata kawan Bitung yang seakan-akan menyerahkan segala persoalan kepadanya. Obat itu ada atau tidak ada adalah tanggung jawabnya. Anak muda itu sama sekali tidak mau berpikir apalagi berusaha untuk mendapatkannya.

“Hem” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kembali persoalan itu melingkar-lingkar dikepalanya. Sehingga kembali ia sampai pada suatu tekad untuk pergi malam ini juga, sehingga besok pagi-pagi, selambat-lambatnya matahari sepenggalah, ia akan sampai di tempat ini kembali. Dan ia akan segera dapat mulai dengan rencananya, sebelum air mengorek dasar sungai itu lebih dalam lagi.

Tetapi, dalam penglihatan Ki Buyut Panawijen dan Empu Gandring, keberangkatan Mahisa Agni itu tidak saja didorong oleh kemauan dan tanggung jawabnya, namun juga oleh kekecewaan dan kejengkelan. Karena itu maka Empu Gandring berkata, “Agni, jangan pergi menurutkan perasaanmu. Cobalah kau sedikit mempergunakan pikiranmu”.

Namun, Empu Gaudring dan Ki Buyut Panawijen tidak dapat mencegahnya lagi. Mereka hanya dapat memandangi anak muda itu berkemas-kemas. Menggantungkan pedang di lambungnya, kemudian berjalan keluar dari gubug itu.

“Aku pergi paman, sudahlah Ki Buyut, mudah-mudahan aku selamat dan berhasil membawa obat itu pula. Bukankah obat itu hanya bagian-bagian dari Kates Grandel?”

Setelah Empu Gandring tidak berhasil menahannya, maka ia pun menyawab, “Ya. Semua bagian dari pohon Kates Grandel. Kalau kau sempat, bawalah daun munggur dan biji-bijinya yang kering. Itu pun akan menjadi obat yang baik pula. Jangan membawa terlampau sedikit supaya kau tidak selalu mondar maudir ke Panawijen”.

“Baik paman” sahut Mahisa Agni.

Sejenak kemudian anak muda itu telah melepaskan kudanya. Dikenakannya pakaian kuda itu, dan kemudian Mahisa Agni pun segera meloncat ke punggungnya.

Bitung dan kawannya mcndergar derap kuda berlari. Ketika mereka mengangkat wajah mereka, maka terdengar Ki Buyut yang telah berdiri dibelakang berkata, “Mahisa Agni telah pergi ke Panawijen untuk mencari obat itu”.

Kawan Bitung terkejut. Dengan serta-merta ia bertanya.

“Kenapa malam ini?”

“Kau meletakkan semua tanggung jawab kepadanya. Kau tidak membantunya memecahkan kesulitan karena Bitung menderita sakit. Kau hanya berkata bahwa obat itu harus datang sendiri kepadamu dan kau tidak mau tahu kesulitan apakah yang dapat terjadi diperjalanan itu”.

“Tidak Ki Buyut” sahut kawan Bitung tergagap, “bukan maksudku demikian”.

“Tetapi, Mahisa menangkap kata-katamu demikian dan aku pun menangkap kata-kata itu seperti itu pula” sahut Ki Bayut
.
Dada kawan Bitung menjadi berdebar-debar. Ia tidak menyangka bahwa Mahisa Agni akan melakukan pekerjaan itu sekarang. Malam ini. Ia tidak dapat mengingkari kata Ki Buyut Panawijen. Memang semula ia berpendirian serupa itu. Bahkan beberapa orang kawan-kawannya pun menganggapnya, bahwa tanggung jawab tentang sakitnya Bitung, seluruhnya terletak di pundak Mahisa Agni. Anak muda itu bersama-sama dengan Ki Buyut Panawijenlah yang memimpin pekerjaan yang terlampau berat di padang yang panas terik disiang hari, dan dingin membeku di malam hari ini. Tetapi, tidak terlintas di dalam kepala anak-anak muda itu, bahwa segera satelah itu Mahisa Agni telah pergi meninggalkan mereka.

“Kau tidak tahu, bahaya yang mengancam anak muda itu setiap saat” berkata Ki Buyut Panawijen pula, “di antaranya adalah Kuda Sempana. Beberapa di antara kalian telah melihat sendiri, bagaimana Mahisa Agni terpaksa berkelahi di padang ini melawan Kuda Sempara bahkan kemudian guru Kuda Sempana itu pula. Kalau Mahisa Agni dalam perjalanannya ke Panawijen kali ini bertemu dengan Kuda Sempana dan gurunya, maka habislah ceritera tentang dirinya. Habis pulalah tugasnya di padang ini, dan habis pulalah harapan kita untuk mendapatkan tanah yang subur hijau seperti yang pernah kita miliki dahulu”.

Kawan Bitung itu menjadi semakin berdebar-debar. Bahkan terasa keringatnya mengalir membasahi seluruh tubuhnya, meskipun dingin malam sampai menggigit tulang.

Dengan nafas tersengal-sengal ia berkata, “Apakah kepergiannya itu tidak dapat dicegah Ki Buyut?”

“Bukankah kau melibat sendiri bahwa ia telah pergi? Bagaimana harus mencegahnya kini? Nah, kalau kau ingin menyelamatkannya, pergilah, susul anak muda itu”.

Kawan Bitung itu terdiam. Beberapa anak muda yang lain mendengar pula percakapan itu, dan mereka pun menjadi berdebar-debar pula seperti Bitung.

“Bagaimana? Apakah kau mau menyusulnya dan memintanya agar ia mengurungkan niatnya, atau kau sendirilah yang pergi ke Panawijen? Sebab Mahisa Agni tahu benar, bahwa obat itu tidak akan dapat meloncat dengan sendirinya kemari dari Panawijen. Obat itu harus dibawa dengan tangan. Dan mulutmu hanya dapat berkata mudah-mudahan, dan dapat menunggu obat itu datang”.

Kawan Bitung itu menekurkan kepalanya. Ia tahu benar bahwa Ki Buyut Panawijen yang sabar itu kini sedang marah kepadanya. Apalagi ketika Ki Buyut kemudian berkata, “Bukan saja masalah sakit Bitung, tetapi masalah bendungan itu pun kalian ternyata bersikap serupa. Kalian telah mulai jemu mengerjakannya. Jangan ingkar. Aku pernah mendengarnya. Kalian mengeluh karena panas di siang hari membakar punggung dan di malam hari dingin menusuk sampai kesungsum. Kalian mengeluh luka-luka di tangan dan kaki serta menjadi bengkak pula. Apalagi ada di antara kalian yang menjadi sakit. Apakah dengan demikian kalian mengharap bahwa bendungan itu akan siap dengan sendirinya, seperti kalian mengharap obat itu akan jatuh dari langit. Apakah kalian ingin melihat Mahisa Agni mengerjakannya sendiri, dan kalian menunggu saja sambil berbaring sehingga bendungan itu terwujud?”

Kawan Bitung itu menundukkan kepalanya semakin dalam. Anak-anak muda yang lain, yang mendengar kata-kata itu pun menundukkan kepala masing-masing. Bahkan mereka yang telah berbaring dan bahkan telah tertidur pun menjadi terbangun dan duduk sambil tepekur. Tak seorang pun dari mereka yang berani menyawab. Bukan saja anak-anak muda, tetapi orang-orang yang sudah setengah umur pun menjadi cemas pula. Ki Buyut adalah orang yang hampir tidak pernah marah. Kini mereka merasa betapa dalamnya penyesalan yang menghentak-hentak hati orang tua itu.

“Kalau aku berani, dan kalau aku masih mampu menunggang kuda secepat Angger Mahisa Agni, aku pasti akan menyusulnya” gumam Ki Buyut.

Kata-kata itu menyentuh setiap hati yang mendengarnya. Kata-kata itu seakan-akan telah menggerakkan hati mereka untuk segera berlari ketambatan kuda. Tetapi, tak seorang pun yang berani berbuat demikian. Apalagi di malam hari. Di siang hari pun mereka tidak berani pergi seorang diri, meskipun mereka telah mendengar bahwa Hantu Karautan telah tidak ada lagi di padang itu. Tetapi, mereka masih juga membayangkan bahaya yang berserak-serak di sepanjang perjalanan ke Panawijen.

Ki Buyut itu pun kemudian pergi meninggalkan mereka. Hatinya menjadi sangat gelisah. Bukan saja mengenangkan kepergian Mahisa Agni, tetapi juga oleh ketakutan yang mencengkam hampir setiap laki-laki di perkemahan itu. Apabila ketakutan mereka terhadap keadaan di sekelilingnya masih selalu membayang-bayangi, maka apakah kelak, apabila padang itu berhasil menjadi tanah yang subur, mereka pun tidak akan berani berbuat sesuatu? Apakah mereka akan tetap bersembunyi di padukuhan yang baru itu tanpa membuat hubungan dengan padukuhan-padukuhan yang lain karena takut?

Namun, ketika terpandang oleh Ki Buyut, malam yang pekat terbentang seakan-akan tidak berpangkal dan berujung itu pun ia bergumam, “Padukuhan ini akan menjadi padukuhan yang sangat terpencil”. Tetapi, kemudian ia beikata pula, “Meskipun demikian, apakah bedanya jarak yang memisahkan padukuhan ini kelak dengan padukuhan-padukuhan yang lain dengan bulak-bulak yang panyang dan luas meskipun terdiri dari tanah-tanah persawahan dan pategalan? Kalau ada hantu atau penjahat sekalipun, maka kejahatan itu akan dapat juga dilakukan dibulak-bulak persawahan dan pategalan. Ketakutan kami adalah bersumber pada kepercayaan kami, bahwa di padang rumput ini pernah tinggal hantu yang menakutkan setiap orang”.

Dalam pada itu, Mahisa Agni telah berpacu dengan kudanya menembus gelapnya malam. Dingin angin malam mengusap kulitnya dan seolah-olah menusuk kesetiap lubang kulit. Tetapi, Mahisa Agni tidak sempat merasakannya. Hatinya dicengkam oleh perasaan yang sangat aneh. Ia sendiri kurang menyadari, kenapa ia merasa perlu untuk pergi malam ini. Tidak besok atau lusa setelah ia berhasil meletakkan brunjung-brunjung di sisi seberang.

Sekali-kali Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Ia mencoba menatap kedalam gelap, sejauh-jauh matannya dapat mencapai. Tetapi, malam terlampau kelam.

Betapapun beraninya hati anak muda itu, tetapi ia tidak dapat melenyapkan setiap perasaan was-wasnya, bahwa ia akan bertemu dengan Empu Sada. Kalau yang berada diperjalanannya itu adalah Kuda Sempana, maka ia akan dengan senang hati melayaninya. Tetapi, apabila yang dijumpainya Empu Sada, maka ia pasti harus mencoba berpacu kuda mengelilingi padang ini.

“Benar juga kata Empu Gandring” desisnya seorang diri, “di siang hari, aku dapat melihat seseorang dalam jarak yang masih agak jauh. Tetapi, di malam hari, orang itu baru dapat aku lihat setelah beberapa puluh langkah di muka hidungku”.

Tetapi, Mahisa Agni sama sekali tidak ingin kembali. Ia harus berjalan terus. Bahaya itu baru ada di dalam angan-angannya., “Apakah aku sekarang telah berubah meujadi seorang pengecut?” katanya di dalam hati.

Tiba-tiba hati Mahisa Agni itu pun berdesir. Ia mendengar derap kuda di belakangnya. Ketika ia menoleh, remang-remang ia melihat bayangan seorang penunggang kuda yang mengejarnya, bahkan telah terlampau dekat.

“Siapa yang menyusulku?” pertanyaan itu tumbuh di dalam hatinya, “mungkin seseorang yang ingin mencegah kepergianku malam ini. Ah, tidak. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku malam ini”.

Mahisa Agni pun kemudian menyentuh perut kudanya dengan tumitnya. Kuda itu memang kuda yang tegar. Loncatannya menjadi kian panyang dan cepat. Dan kuda dibelakangnya itu pun menjadi semakin lama semakin jauh. Ia tidak mau diganggu. Mungkin orang itu Ki Buyut Panawijen mungkin pamannya Empu Gandring yang masih akan mencoba membawanya kembali ke perkemahan.

Kuda Mahisa Agni berlari kencang seperti angin. Ditembusnya gelap malam seperti anak panah yang menghunyam ke dalam kelam. Semakin lama semakin cepat. Meskipun demikian, Mahisa Agni merasa, bahwa perjalanannya itu terlampau lambat.

Malam ini aku harus mendapatkan batang Kates Grandel itu. Besok, sebelum matahari terlampau tinggi aku harus sudah berada di bendungan itu kembali. Aku harus mulai dengan kerja yang sudah aku rencanakan.

Derap kuda dibelakangnya telah tidak didengarnya lagi. Mungkin kuda itu telah kembali ke perkemahan atau sudah tertinggal terlampau jauh. Ia tidak peduli, siapakah yang naik di atas punggung kuda itu. Ia ingin pekerjaannya selesai tanpa seorang pun yang mencampurinya. Besok pagi-pagi ia akan datang kepada Bitung dan memberikannya apa yang diperlukan. Kalau sakit Bitung berkurang, bergembiralah ia dan semua orang di perkemahan itu. Tetapi, apabila penyakit itu mengeras, maka ia sudah cukup berusaha. Tak seorang pun yang akan dapat menyalahkannya lagi.

Dengan demikian maka hatinya pun menjadi semakin mantap. Ia mencoba mempercepat lari kudanya, tetapi sayang, bahwa tenaga kudanya pun terbatas, sehingga kuda itu tidak dapat berpacu lebih cepat lagi.

Ketika Mahisa Agni melewati sebuah gerumbul yang agak lebat, terasa hatinya berdesir. Ia tidak tahu, kenapa ia tiba-tiba saja menjadi berdebar-debar. Dan ia tidak tahu, apakah yang telah memaksanya untuk berpaling.

Kini hatinya tidak saja terkejut, tetapi hampir ia tidak percaya. Tiba-tiba saja beberapa puluh langkah di belakangnya berpacu seekor kuda dengan penunggangnya. Cepat seperti angin. Mahisa Agni tidak dapat mempercepat derap kudanya. Kudanya yang tegar itu telah mencapai kecepatan tertinggi. Namun, kuda di belakangnya itu agaknya dapat melampaui kecepatan kudanya. Kalau semula kuda itu semakin lama menjadi semakin jauh, dan bahkan telah hilang di kegelapan, maka tiba-tiba kuda itu kini telah menjadi semakin dekat.

“Kuda itu muncul lagi” pikirnya, “ia mengikuti aku sejak aku keluar dari perkemahan. Mungkin Ki Buyut mungkin paman Empu Gandring. Mungkin seseorang yang disuruh oleh keduanya untuk menyusul aku. Tetapi, tak ada seekor kuda pun di Panawijen yang dapat menyamai kudaku, sedang kuda ini agaknya bahkan melampaui”.

Mahisa Agni mencoba mengingat-ingat, apakah ada seseorang yang memiliki kemampuan berkuda menyamainya.

“Satu-satunya adalah paman Empu Gandring” desisnya, “apakah paman akan memaksa aku kembali?”

Tiba-tiba Mahisa Agni tersenyum, gumamnya, “Alangkah bodohnya aku. Biarlah paman mengejarku. Aku akan biarkan paman mengikuti aku sampai ke Panawijen. Bukankah dengan demikian aku akan mendapat kawan di perjalanan. Bahkan seandainya aku akan bertemu dengan Empu Sada sekalipun, aku tidak perlu gentar”.

Tetapi, kuda dibelakang Mahisa Agni itu menjadi semakin lama semakin dekat. Betapapun Mahisa Agni mencoba mempercepat laju kudanya.

“Hem” desisnya, “kalau paman dapat mencapai aku sebelum aku melampaui separo jalan, maka aku pasti akan dipaksanya kembali. Kecuali kalau aku dapat membujuknya supaya paman sudi mengantarkanku. Tetapi, mungkin juga paman menyusul untuk mengawani aku ke Panawijen”.

Dugaan yang terakhir itu justru telah mengendorkan hasrat Mahisa Agni berpacu terus. Sebab ia menyadari bahwa ia tidak akan mampu lebih lama lagi mendahuluinya. Sebab kuda yang di belakangnya itu terlampau cepat, dan agaknya penunggangnya terlampau tangkas.

“Biarlah aku” katanya. Mahisa Agni itu pun kemudian malahan memperlambat kudanya. Sekali-kali ia berpaling untuk mencoba mengenal orang yang mengejarnya itu. Tetapi, karena malam terlampau gelap, maka yang tampak hanyalah sebuah bayangan yang hitam.

Tetapi, semakin dekat kuda itu, hati Mahisa Agni menjadi semakin curiga. Bentuk orang di atas punggung kuda itu sama sekali bukan bentuk tubuh pamannya.

Kembali dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Namun, ia masih belum mendapat kepastian, apakah orang yang duduk di atas punggung kuda itu pamannya atau bukan.

Tetapi, debar di dadanya menjadi semakin cepat ketika ia melihat kuda itu seolah-olah tidak berpelana.

“Gila” desisnya, “apakah ada orang yang dapat menunggang kuda secepat itu tanpa pelana?”

Darah Mahisa Agni serasa berhenti mengalir ketika tiba-tiba ia mendengar suara tertawa. Suara tertawa yang mendirikan bulu-bulu kuduknya.

Namun, dengan demikian Mahisa Agni kini menjadi pasti bahwa orang itu sama sekali bukan pamannya, bukan Ki Buyut Panawejen. tetapi juga pasti bukan Empu Sada.

Mahisa Agni pun kemudian tidak mau berteka-teki lebih lama lagi. Ketika ia yakin bahwa orang itu bukan Empu Sada, serta tak ada kemungkinan baginya untuk menghindar karena kuda orang itu lebih cepat dari kudanya, maka tiba-tiba ia menekan kendali kudanya itu. Dengan serta merta kudanya mencoba-coba untuk berhenti. Demikian tiba-tiba sehingga kudanya itu meringkik dan berdiri di atas kedua kaki belakangnya.

“Bagus” terdengar suara orang yang mengejarnya, “Kau pandai juga bermain-main dengan kuda”.

Mahisa Agni menahan nafasnya. Diamatinya orang yang duduk di atas kuda tanpa pelana itu. Apalagi ketika orang itu pun segera menghentikan kudanya beberapa langkah saja di sampinpingnya.

Sekali lagi orang itu tertawa. Suaranya meninggi membelah Padang Rumput Karautan.

“Kaukah itu?” berkata orang itu disela-sela suara tertawanya.

“Siapa kau?” bertanya Mahisa Agni.

“Hem, kaukah yang bernama Mahisa Agni, begitu?”

Mahisa Agni tidak segera menyawab. Diamati wajah orang yang belum pernah dilihatnya. Wajahnya keras seperti batu-batu padas dan suara tertawanya pun sekeras suara guntur di langit.

Sekali lagi bulu-bulu Mahisa Agni meremang. Anak muda itu bukan seorang penakut, namun wajah itu benar-benar mengerikan. Mahisa Agni pernah bertemu dengan Hantu Padang Karautan, pada masa hantu itu masih sering menakut-nakuti orang yang lewat padang ini. Tetapi, meskipun hantu itu tampak kusut dan liar, namun wajahnya tidak mengerikan seperti wajah orang ini.

“Siapakah kau?” sekali lagi Mahisa Agni bertanya.

“Aku penunggu padang ini” sahut orang itu.

“Bohong” tiba-tiba Mahisa Agni pun berteriak, “aku kenal Hantu Karautan”.

Kembali orang itu tertawa terkekeh-kekeh. Katanya, “Oh, hantu kerdil yang sering merampok orang lewat itu? Hem, orang-orang di sekitar Padang Karautan benar-benar pengecut. Kenapa mereka takut akan hantu gila yang sering dikatakan orang? Sudah lama aku ingin menemuinya, tetapi aku tidak pernah mendapat kesempatan, dan memang aku tidak pernah ingin merendahkan diri bertemu dengan hantu cengeng itu”.

“Kalau kau penunggu padang rumput ini, apakah kau tidak pernah bertemu dengan hantu yang selalu berkeliaran di padang ini pula” bertanya Mahisa Agni.

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun, suara tertawanya meledak kembali mengguntur berkepanjangan.

“Cukup” bentak Mahisa Agni, “jawab pertanyaanku”

“Baik. Baik” katanya, “kau benar. Aku memang bukan penunggu padang ini. Aku mencoba berbohong, tetapi kau cukup cerdik”.

Kini Mahisa Agni lah yang tertegun mendengar jawaban itu. Jawaban yang berterus-terang. Pengakuan yang demikian tiba-tiba itu semula sama sekali tidak diduganya. Namun, kemudian ia bertanya kembali, “Jadi siapakah kau?”

Orang itu tidak segera menyawab. Diamatinya Mahisa Agni dari ujung ubun-ubun sampai keujung kakinya. Dan sekali lagi orang itu bertanya, “Hem. Kaukah Mahisa Agni?”

“Apa kepentinganmu dengan orang yang bernama Mahisa Agni?” sahut Mahisa Agni curiga.

“Aku kagum akan keberaniannya. Tak seorang pun dari anak-anak muda Panawijen yang berani berjalan seorang diri dari Padang Karautan ke Panawijen, selain Mahisa Agni”.

“Kau salah. Hampir setiap anak muda Panawijen berani melakukannya” sahut Mahisa Agni.

Tetapi, kemarahan Mahisa Agni pun terungkat ketika orang itu tertawa kembali.

“Kenapa kau tertawa?” bertanya Mahisa Agni keras, untuk mengatasi suara tertawa itu.

“Tak ada orang yang berani berbuat demikian selain Mahisa Agni”.

“Omong kosong” teriak Mahisa Agni semakin keras. Suaranya melontar memenuhi padang itu, menembus gelap pekat yang seolah-olah menelungkupi Padang Karautan.

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Sekarang aku yakin. Hanya ada dua orang yang dapat dibanggakan diseluruh Panawijen. Yang pertama adalah Kuda Sempana, seorang pelayan dalam yang berani, dan yang kedua adalah Mahisa Agni”.

“Katakan siapakah kau dan apa keperluanmu?” Mahisa Agni kehilangan kesabaran.

“Menangkap Mahisa Agni” jawab orang itu.

Sekali lagi Mahisa terkejut. Orang itu berkata langsung tentang dirinya. Karena itu, maka jantung Mahisa Agni pun serasa menyala. Ia belum pernah mengenal orang itu. yang dicemaskannya adalah Empu Sada, namun tiba-tiba ia bertemu dengan orang berwajah keras sekeras batu karang yang akan menangkapnya juga. Maka sekali ia bertanya dengan penuh kemarahan, “Siapa kau, siapa?”

“Apa pedulimu tentang aku. Aku akan menangkap kau dan membawanya pulang ke rumah. Kau akan dapat menjadi permainan yang mengasyikkan”.

Kata-kata orang yang berwajah keras sekeras batu padas tu serasa api yang menyentuh telinga Mahisa Agni. Alangkah panasnya. Namun, karena itulah maka sejenak Mahisa Agni tidak dapat mengatakan sesuatu karena kemarahannya serasa menyumbat kerongkongannya. yang terdengar adalah gemeretak giginya beradu.

Tetapi, orang itu masih saja tertawa seperti melihat lelucon yang mengasyikkan, “Apakah kau marah?”

Mahisa Agni masih berdiam diri. Dicobanya untuk menenangkan perasaannya, supaya ia tidak tenggelam dalam ke marahannya sehingga tidak mampu lagi untuk melihat setiap keadaan dengan sewajarnya. Berkali-kali Mahisa Agni menarik nafas panyang. Udara dingin di malam yang kelam itu telah mengusap jalan pernafasannya. Namun, terasa darahnya masih terlampau panas.

Dengan suara gemetar sekali lagi ia bertanya, “Siapakah kau?”

“Apakah kau perlu mengenal namaku?” bertanya orang itu.

“Sebutlah namamu, atau gelarmu?”

“Aku tidak punya gelar. Aku hanya punya satu nama”.

“Ya, sebutlah satu nama itu”.

“Wong Sarimpat”.

Tanpa sesadarnya kembali bulu-bulu Mahisa Agni meremang. Nama itu pernah didengarnya dari pamannya dan dari mulut Empu Sada sendiri. Wong Sarimpat dan yang seorang lagi bernama Kebo Sindet.

Sekali lagi Mahisa Agni menggeretakkan giginya. Kini ia sadar bahwa ia benar-benar berhadapan dengan bahaya. Meskipun ia tidak bertemu dengan Empu Sada, namun orang ini adalah sama berbahayanya dengan Empu Sada. Tidak mustahil bahwa Empu Sada telah benar-benar minta kedua orang itu untuk membantunya.

Sehingga dengan serta merta Mahisa Agni menggeram, “Hem. Apakah kau diminta oleh Empu Sada berbuat demikian?”

“Ya” sahut penunggang kuda yang ternyata Wong Sarimpat itu, “Empu Sada minta bantuanku dan kakang Kebo Sindet. Mereka datang ke rumahku bersama Kuda Sempana dan seorang saudara seperguruannya bernama Cundaka”.

Jantung Mahisa Agni serasa berdentang semakin keras. Orang itu selalu berkata terus terang, tanpa banyak pertimbangan. Namun, dengan demikian, maka Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Ia dapat meraba perasaan orang itu, yang merasa tidak perlu berbohong atau menyembunyikan sesuatu, karena sebentar lagi Mahisa Agni telah ditangkapnya.

Bahkan orang itu meneruskan, “Kalau aku berhasil membawamu pulang, maka kau akan bertemu dengan Kuda Sempana. Ia ingin aku menangkapmu hidup-hidup. Mungkin ia menyimpan dendam dihatinya. Adalah salahmu, bahwa kau tidak cukup berhati-hati, sehingga kau melukai hatinya. Sekarang kau terpaksa membayar sakit bati itu dengan tebusan yang cukup mahal. Kau harus membayar sakit hati itu dengan sakit di hati dan tubuhmu. KudaSempana ingin melihat kau diikat pada sebatang pohon yang kuat. Kuda Sempana akan dapat berbuat sekehendak hatinya atasmu. Mungkin mencambuk, mungkin menyentuhmu dengan api atau pisau, atau apa pun yang akan dilakukan untuk menyakiti tubuhmu. Sedang untuk menyakiti hatimu Kuda Sempana akan memecah bendungan yang sedang kau kerjakan. Kalau kau hilang dari antara orang-orang Panawijen itu, maka mereka pasti akan kehilangan gairah. Mereka akan menjadi jemu dan mungkin berputus-asa. Dan kau akan melihat, bahwa Padang Rumput Karautan itu akan menjadi sepi kembali. Sepi seperti sedia kala. Tidak ada orang yang mengotori kehijauan rumput yang luas seakan-akan tidak bertepi ini”.

Wong Sarimpat berhenti sejenak. Ketika dipandanginya wajah Mahisa Agni, maka wajah itu menjadi sangat tegang. Beberapa titik keringat telah membasahi keningnya, meskipun malam sangat dinginnya.

“Jangan menyesal, bahwa kau bertemu dengan aku malam ini” berkata Wong Sarimpat kemudian sambil tertawa, “sebenarnya tugasku tidak menangkap kau. Aku hanya sekedar harus mengetahui dengan pasti jalan yang sering kau pergunakan hilir mudik ke Panawijen. Sebenarnya malam ini aku harus sudah kembali kerumahku. Tetapi, tiba-tiba aku melihat seseorang berpacu dengan kudanya. Aku pernah melihat kau lewat jalan ini ke Panawijen beberapa hari sebelumnya, sehingga aku yakin bahwa jalan inilah yang selalu kau tempuh apabila kau kembali ke Panawijen. Ternyata aku kini mengambil keputusan lain. Aku akan kembali dengan membawamu sama sekali”.

Perasaan Mahisa Agni kini tak dapat dikuasainya lagi. Tiba-tiba dengan sebuah gerakan kilat, ia menarik pedangnya sambil berdesis, “Jangan membual. Aku bukan benda mati yang dapat kau perlakukan sekehendak hatimu. Mungkin kau akan mampu membunuhku, sebab kesaktianmu pernah aku dengar menyamai orang-orang yang aku kagumi. Tetapi, itu adalah lebih baik bagiku dari pada kau akan berusaha menangkap aku hidup-hidup”.

Suara tertawa Wong Sarimpat meledak seperti ledakan gunung yang pecah. Demikian kerasnya sehingga tubuhnya berguncangan di atas punggung kudanya. Katanya kemudian disela-sela suara tertawanya, “jangan banyak tingkah. Kalau kau akan mencoba melawan aku, maka setiap batang rumput dan ilalang akan mentertawakan kau. Setiap helai daun dan setiap tangkai bunga perdu pernah mendengar siapa Wong Sarimpat. Adalah mustahil kalau kau belum pernah mendengar namaku. Mungkin kau pernah mengenal Empu Sada. Apakah kau mampu melawan orang itu pula? Orang yang diakui memiliki ilmu setingkat dengan gurumu? Aku dengar bahwa Mahisa Agni adalah murid Padepokan Panawijen Murid Empu Purwa yang oleh penduduk di sekitarnya di kenal sebagai seorang tua pendiam yang hanya mampu berdoa dan bertani”.

Sejenak Mahisa Agni terdiam. Kata-kata itu memang mengandung kebenaran, ia pasti tidak akan mampu melawan Wong Sarimpat. Tetapi, ia tidak ingin menyerahkan kepalanya dengan suka rela. Karena itu, baginya, lebih baik mati di Padang Karautan sebagai tanah harapan yang sedang diolahnya, dari pada ditangkap hidup-hidup dan dibunuh oleh Kuda Sempana sebagai suatu permainan yang bengis.

Dengan demikian maka hati Mahisa Agni pun menjadi semakin bulat. Ia bertekad untuk melawannya, meskipun perlawanannya itu tidak akan berarti.

Ketika ia mendengar Wong Sarimpat itu tertawa lagi, maka tiba-tiba Mahisa Agni menggerakkan kudanya menyambar orang yang berwajah keras seperti batu padas itu. Pedangnya terayun deras sekali langsung mengarah ke lehernya.

Suara tertawa itu pun terputus. Namun, Mahisa Agni harus melihat kenyataan, bahwa orang itu memang terlampau lincah. Pedangnya yang diayunkannya secepat-cepat kemampuaanya itu sama sekali tidak. berarti bagi lawannya. Babkan betapa terkejut anak muda Panawijen itu ketika terasa pergelangannya seolah-olah digigit oleh perasaan nyeri yang dahsyat. Ketika ia menyadari keadaan, maka pedangnya telah terlempar dauh dari padanya.

Kembali suara tertawa itu mengumandang. Demikian kerasnya. Dan diantara suara tertawa itu terdengar kata-katanya, “Kau memang anak muda yang luar biasa. Tenagamu memang melampaui tenaga Kuda Sempana. Dan sebenarnya kau pasti dapat mengalahkan anak muda itu seperti yang dikatakannya. Tetapi, dengan demikian kau jangan menjadi terlampau sombong. Yang kau hadapi kini sama sekali bukan Kuda Sempana”

Dada Mahisa Agni berdesir. Malam terlampau gelap, sehingga ketika ia mencoba mencari pedangnya dengan pandangan matanya, ia tidak segera menemukanya.

“Kau mencari pedangmu?” desis Wong Sarimpat

Mahisa Agni tidak menjawab.

“Ambillah” teriak Wong Sarimpat, “aku memberimu kesempatan”

Sekali lagi, dada Mahisa Agni berdesir. Tetapi, ia masih saja duduk mematung dfi atas punggung kudanya yang masih bergerak-gerak.

“Ambillah” teriak Wong Sarimpat pula. Suara itu terlampau keras, sehingga Mahisa Agni terkejut. Dan suara itu agaknya telah memaksa Mahisa Agni bergerak tanpa sesadarnya ke arah pedang terlempar.

“Cari di kegelapan itu. Mungkin disela-sela batang ilalang atau terlempar ke dalam gerumbul”

Darah Mahisa Agni benar-benar mendidik. Betapa orang itu telah menghinanya. Dibiarkannya ia menjauh, masuk ke dalam kegelapan tanpa diikutinya. Bahkan dengan nada tinggi, Wong Sarimpat berteriak, “Aku tunggu kau di sini. Jangan mencoba lari, tidak ada gunanya. Dalam sepuluh hitungan kalau kau belum menemukan pedangmu, adalah salahmu sendiri. Kau harus datang kembali dan bertempur dengan tanganmu. Kalau tidak, aku akan menjemputmu. Tetapi dengan demikian kau pasti akan menyesal”

Mahisa Agni tidak menjawab. Kudanya dibawanya berjalan ke arah pedangnya terlempar. Tetapi, karena malam terlampau gelap, maka ia tidak segera dapat menemukannya. Di belakangnya, Wong sarimpat yang gila itu mulai menghitung sambil tertawa-tawa, “satu, dua…. tetapi jarak di antara setiap hitungan cukup lama, seolah-olah ia sengaja memberi weaktu kepada Mahisa Agni untuk menemukan pedangnya.

Betapa panasnya hati Mahisa Agni. Setiap hitungan yang didengarnya serasa sebuah tusukan langsung di lambungnya. Karena itu, maka tiba-tiba ia menggeram. Namun, pedangnya masih belum diketemukan.

Sekilas, timbullah keinginannya untuk melarikan diri menjauhi orang yang berwajah keras sekeras batu padas itu. Namun, ia kemudian merasa bahwa itupun tidak akan ada gunanya. Orang itu pasti akan mendengar kudanya berderap dan segera mengejarnya. Ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa kuda orang itu mampu berlari lebih cepat dari kudanya. Untuk bersembunyipun rasa-rasanya tidak akan mungkin. Gerumbul-gerumbul yang jarang-jarang itu akan segera dapat disasak olehnya. Dan ia akan hancur terinjak-injak kaki kuda yang liar seliar penunggangnya itu.

Dalam kebimbangan itu, Mahisa Agni membiarkan kudanya berjalan semakin jauh. Bahkan, kini ia tidak lagi bernafsu untuk menemukan pedangnya. Ia merasa bahwa usaha itupun tidak akan berhasil. Yangkemudian bulat di dalam kepalanya adalah ia akan berkelahi dengan kekuatannya yang terakhir, dengan puncak ilmu yang dimilikinya. Gundala Sasra. Ilmu itu pasti akan lebih tajam daripada pedangnya. Mungkin Wong Sarimpat tidak dapat dibunuhnya dengan ilmu itu, namun apapun yang akan terjadi adalah lenih baik daripada ia harus ditangkap hidup-hidup.

Suara Wong Sarimpat terdengar semakin lama semakin jauh. Kini ia mendengar orang-orang itu menyebut bilangan kelima.

“Hem,” Mahisa Agni menggeram, “ia tidak telaten mendengar betapa lambannya Wong Sarimpat menghitung. Ia ingin segera terjadi apa yang akan terjadi. Kalau ia akan mati, biarlah segera terjadi pula.

Ketika ia berpaling, malam yang gelap seakan-akan telah memisahkannya dari orang itu. Sekali lagi Mahisa Agni mengumpat di dalam hatinya. Adalah suatu penghinaan baginya, dengan membiarkannya pergi menjauhi lawannya. Mungkin Wong Sarimpat ingin mempermainkannya. Dibiarkannya ia lari, kemudian orang itu akan menyusulnya. Mungkin orang itu akan memberinya kesempatan pula untuk kedua, ketiga dan seterusnya. Apabila kemudian nafasnya telah hampir putus, maka segera ia ditangkapnya dan dibawanya ke rumahnya.

“Hem,” sekali lagi Mahisa Agni menggeram. Tiba-tiba ia memutar kudanya sambil bergumam di dalam hatinya, “Aku tidak mau menjadi permainan. Seperti seekor tikus menghadapi kucing. Biarlah aku mati dengan jantan. Aku akan kembali kepadanya dan menyerangnya.

Mahisa Agni sama sekali tidak dapat melihat Wong Sarimpat lagi karena gelap malam. Tetapi, ia masih mendengar suaranya. Karena itu, segera dihadapkannya kudanya ke arah suara itu. Ia akan berpacu dan mempersiapkan kekuatan puncaknya. Apabila kudanya telah menghampiri orang itu, maka segera ia akan membenturkan ajinya. Kalau orang itu memiliki kekuatan seperti baja yang berlapis-lapis, biarlah dadanya sendiri hancur karena kekuatannya, tetapi kalau tidak maka pasti akan mengurangi kekuatan lawannya.

Kini Mahisa Agni mulai memusatkan segenap kekuatannya. Ia mendengar Wong Sarimpat telah sampai kehitungan yang ketujuh. Sekali lagi Mahisa Agni menggeram. Hitungan itu terdengar sangat memuakkan. Tetapi, ia tidak akan menunggu sampai hitungan yang kesepuluh.

Tetapi, tiba-tiba kembali Mahisa Agni itu terkejut sehingga seakan-akan darahnya membeku. Pada saat ia telah siap untuk berpacu dan siap pula melepaskan kekuatan pamungkasnya, maka terasa sebuah genggaman tangan yang kuat pada lengannya. Demikian kuatnya sehingga Mahisa Agni hampir tertarik jatuh dari kudanya meskipun ia telah bersiap dengan puncak kekuatannya. Dengan sekuat tenaga Mahisa Agni mencoba merenggut dirinya, tetapi ia sama sekali tidak berhasil.

Ketika ia kemudian berpaling, maka nafsunya pun terhenti sesaat. Matanya terbalik dan mulutnya ternganga.

“Turunlah” terdengar sebuah perintah.

Perintah itu benar-benar seperti telah memukau dirinya tanpa disadarinya. Segera ia meloncat dari kudanya dan sebelum ia berbuat sesuatu orang yang mencengkam lengannya itu telah meloncat naik.

Ketika Mahisa Agni akan mengucapkan kata-kata, terdengar suara orang itu menggeram, “Aku telah mendengar hitungan ke sembilan”.

Sebelum Mahisa Agni sempat menyahut, maka kudanya telah bergerak membawa orang itu mendekati Wong Sarimpat. Mahisa Agni menjadi bingung, matanya menjadi seolah-seolah melihat hantu berseliweran di padang itu. Kehadiran Wong Sarimpat yang tiba-tiba itu telah menggoncangkan hatinya dan tiba-tiba hadir pula orang lain seperti demikian saja muncul dari padang rumput itu, atau tumbuh dari sela-sela rumput-rumputan dan gerumbul.

Tetapi, kehadiran orang itu telah agak menenteramkam hati Mahisa Agni. Perlahan-lahan ia menjadi tenang kembali, sehingga ia kini dapat mempergunakan otaknya dengan lebih baik.

Ternyata ketika ia meninggalkan perkemahannya, seseorang telah menyusulnya. Namun, kudanya agaknya terlampau jelek, sehingga orang itu tertinggal terlampau jauh. Namun, tanpa disangka-sangkanya, dari sebuah gerumbul muacul pula kuda yang lain. Kuda Wong Sarimpat yang mengejarnya. Tetapi, agaknya Wong Sarimpat tidak menyadari bahwa ada seekor kuda jelek mengejar di belakangnya. Meskipun kuda itu semakin jauh, namun ketika mereka berdua berhenti dan bermain-main dengan pedang, maka kuda yang jelek itu sempat menyusul mereka. Tetapi, kenapa mereka sama sekali tidak mendengar suara derapnya. Kalau ia tidak mendengar mungkin karena hatinya yang kacau. Tetapi, apakah Wong Sarimpat juga tidak mendengarnya? Apakah orang itu telinganya hanya mampu mendengar suara tertawanya sendiri yang mengguntur-guntur.

Mahisa Agni tidak sempat berangan-angan terlampau lama ia ingin melihat apa yang terjadi. Adalah pertolongan dari Yang Maha Agung bahwa pamannya hadir pada saat ia di cengkam oleh bahaya. Dan kini pamannya telah mewakilinya, menemui orang yang berwajah keras sekeras batu padas itu.

Mahisa Agni masih melihat kudanya berjalan perlahan-lahan mendekati arah suara Wong Sarimpat. Dengan hati-hati ia berjalan mengikutinya. Ia ingin melihat apakah yang terjadi di antara mereka, ia percaya bahwa pamannya menyadari siapakah yang dihadapinya, dan ia percaya bahwa pamannya cukup mengerti perbandingan kekuatan antara mereka. Sebab pamannya telah pernah menyebut-nyebut nama itu pula, Wong Sarimpat.

Akhirnya Wong Sarimpat sampai kehilangan yang kesepuluh. Setelah ia mengucapkan bilangan itu, maka ia pun segera berteriak, “Mahisa Agni. Aku sudah sampai kebilangan yang ke sepuluh. Ayo kemarilah, apakah pedangmu telah kau ketemukan?”

Ia melihat pamannya telah semakin dekat, di samping sebuah gerumbul. Beberapa langkah dihadapannya kudanya berhenti dan pamannya agaknya lebih senang menunggu Wong Sarimpat itu berteriak sekali lagi.

“Mahisa Agni, ayo, kemarilah”.

Tanpa dikehendaki, Mahisa Agni berusaha berdiri di balik lindungan sebuah gerumbul perdu. Sementara itu kudanya berjalan maju perlahan-lahan.

“Ayo, kemarilah” teriak Wong Sarimpat pula, “apakah kau sudah menemukan pedangmu? Dan kenapa kau tidak lari saja he?”

Mahisa Agni yang berada di belakang sebuah gerumbul itu pun mengumpat di dalam hatinya. Dugaannya ternyata benar, bahwa Wong Sarimpat ingin mempermain-mainkannya. Wong Sarimpat sengaja memberinya kesempatan untuk lari. Orang itu akan segera mengejarnya, Demikian sehingga nafas Mahisa Agni akan habis dengan sendirinya. Tetapi, rencana itu harus berubah, sebab ada orang lain yang akan turut dalam permainan yang mengerikan itu.

Ketika Wong Sarimpat kemudian melihat kuda yang perlahan mendekatinya, maka terdengar suara tertawanya mengumandang di padang rumput yang luas itu. Perhatiannya sama sekait tidak tertarik kepada gerumbul disampingnya. Matanya terpaku pada kuda dengan penunggangnya itu, sehingga Mahisa Agni sempat merangkak lebih mendekat lagi. Bahkan Mahisa Agni itu pun telah melupakan dirinya sendiri pula. Keinginan untuk melihat apa yang akan terjadi telah mendorongnya untuk mengintip dari balik dedaunan.

“Agni” teriak Wong Sarimpat. Tetapi, kuda itu tidak mendekat lagi.

“Kemari”

“Kemari” teriak Wong Sarimpat lagi. Kuda itu masih tegak ditempatnya.

“Apakah kau takut Agni?” bertanya Wong Sarimpat, “kalau kau menurut maka aku tidak akan menyentuhmu. Mari pulang ke rumah. Urusanmu seharusnya kau selesaikan sendiri dengan Kuda Sempana. Aku hanya sekedar meraba maksudmu”.

Tetapi, tiba-tiba dada Wong Sarimpat itu seperti terhantam guruh ketika ia mendengar penunggang kuda itu menjawab perlahan-lahan, namun dengan suara yang mantap, “Baik Wong Sarimpat, aku akan datang”.

Dan suara itu sama sekali bukan suara yang pernah didengarnya diucapkan oleh Mahisa Agni. Suara itu jauh berbeda. Nadanya dan getarannya.

Karena itu Wong Sarimpat justru seakan-akan terpesona melihat sebuah bayangan hitam duduk di atas punggung seekor kuda. Ketika kuda itu menjauhinya, maka orang yang duduk di atas punggungnya adalah Mahisa Agni. Tetapi, ketika kuda itu datang kembali, maka orang itu sudah berganti bentuk dan suaranya.

Dalam pada itu terdengar kembali bayangan di atas punggung kuda itu berkata, “Wong Sarimpat, apakah kau menanyakan pedangku?”

Wong Sarimpat tidak segera menjawab, dicobanya untuk melihat dengan lebih saksama. Tetapi, jarak itu belum terlampau dekat, dan hitam malam seakan-akan menjadi kian pekat.

“Siapakah kau?” teriak Wong Sarimpat.

“Mahiia Agni” jawab suara itu, “apakah kau kini telah menjadi seorang pelupa, baru saja kau memberi kesempatan kepadaku untuk mengambil pedangku. Bukankah kau menghitung sampai hitungan kesepuluh dan memanggilku untuk kembali”.

Terdengar Wong Sarimpat menggeram. Sejenak ia menjadi bingung. Apakah suara Mahisa Agni segera berubah? Mungkin anak muda itu menjadi ketakutan sehingga nada suaranya berubah menjadi terlampau rendah. Tetapi, suara yang didengarnya itu sama sekali tidak berkesan ketakutan.

Dengan demikian maka dada Wong Sarimpat itu pun di amuk oleh kebimbangan dan kebingungan. Tetapi, meskipun demikian, Wong Sarimpat adalah seorang yang mempunyai kepercayaan yang kuat kepada kemampuan diri sendiri sehingga bagaimanapun juga, maka dihadapinya setiap persoalan dengan dada tengadah.

Sejenak kemudian kembali terdengar suara tertawa orang itu menggelegar memenuhi Padang Karautan. Bahkan Mahisa Agni yang bersembunyi itu pun menjadi terkejut bukan buatan. Ia tidak tahu, mengapa tiba-tiba saja orang itu tertawa. Apakah kini Wong Sarimpat itu telah mengenal bahwa yang duduk di atas punggung kuda itu sama sekali bukan Mahisa Agni?

Tetapi, ketika ia mencoba memperhatikan pamannya, yang telah menggantikannya, maka kembali ia menjadi tenang. Pamannya itu sama sekali tidak terpengaruh oleh suara yang mengguruh itu. Orang tua itu masih saja duduk dengan tenangnya, dan membawa kudanya selangkah demi selangkah maju.

“Kemarilah” teriak orang itu.

“Aku sedang mendekat” sahut pamannya.

“Hem” Wong Sarimpat menggeram, “apakah Mahisa Agni mampu ajur-ajer mancala putra mancala putri? Ajo katakan siapa kau?”

“Siapakah aku menurut anggapanmu? Apakah aku bukan Mahisa Agni?”

Sekali lagi Wong Sarimpat tertawa berkepanjangan. Ketika suara tertawanya menjadi semakin lirih, terdengar ia berkata, “Bagus. Bagus. Suatu permainan yang bagus sekali. Ternyata aku telah tcrjebak oleh permainan sendiri. Aku ingin melihat Mahisa Agni lari terbirit-birit. ternyata kini ia telah datang kembali dengan wajah dan keberanian baru”. Tiba-tiba suara tertawa kembali meninggi-ninggi. Kini Wong Sarimpat tidak sekedar menunggu kehadiran bayangan di atas punggung kuda itu. Perlahanlahan maka didorongnya kudanya untuk mendekat. Semakin dekat suara tertawanya menjadi semakin keras, sehingga kemudian diantara derai tertawanya itu ia berkata, “Oh. kau. Kau”.

“Ya, ternyata kau mengenal aku Wong Sarimpat”.

Wong Sarimpat itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini suara tertawanya telah berhenti. Dengan menunjuk kearah wajah Empu Gandring ia berkata, “Hem, bukankah kau tukang keris yang termasyur itu?”

“Terlalu berlebih-lebihan” jawab Empu Gandring, “tidak banyak orang yang mengenal aku. Masih jauh lebih banyak orang yang mengenal nama Wong Sarimpat”.

Kembali Wong Sarimpat tertawa, katanya, “Kau memaag jenaka. Kau masih saja suka bergurau. Meskipun aku belum mengenalmu terlalu dekat, tetapi aku sudah banyak mendengar tentang kau. Empu Gandring. Pusaka buatanmu adalah pusaka yang tak ternilai harganya”.

“Apakah kau sekarang membawa barang sehelai?”

“Sayang Wong Sarimpat” jawab Empu Gandring, “aku tidak membawanya. Tetapi, kalau kau memerlukannya, aku dapat membuat untukmu sekarang”.

“He” Wong Sarimpat mengerutkan keningnya, “dengan apa kau akan membuat keris disini?”

“Aku dapat membuatnya dari batu. Tanganku dapat menyala untuk meluluhkan batu yang betapapun kerasnya Tanganku pula dapat aku pakai untuk menempa di atas lutut”.

Suara tertawa Wong Sarimpat seakan-akan meledak menecahkan anak telinga. Tubuhnya yang kekar pendek itu terguncang-guncang, bahkan demikian kerasnya sehingga sebelah tangannya menekan perutnya yang bergerak-gerak.

“Bagus, bagus. Kau memang Empu yang terlampau sakti. Tetapi, kau tidak akan dapat menyalakan api disini, sebab aku dadat menghembuskan hujan dari mulutku. Api mu pasti akan padam dan batumu tidak akan dapat luluh”.

“Kalau demikian, maka aku pun mampu mempergunakan batu itu untuk senjataku. Batu ditanganku tidak akan kalah berbahayanya dari sebuah keris yang bagaimanapun saktinya”.

“Ya. Aku percaya” potong Wong Sarimpat, “tetapi sayang. Kau sekarang berhadapan dengan Wong Sarimpat”.

“Apa bedanya, apabila aku berhadapan dengan Kebo Sindet atau Empu Sada?”

“Bagus, bagus Kau tahu benar siapa saja kau hadapi. Kau tahu pula hubungan antara Wong Sarimpat dengan Empu Sada. Ternyata kau sengaja menyebut-nyebut namanya”.

“Kau tidak perlu ingkar”.

“Aku tidak akan ingkar. Bahkan aku kini membenarkaanya, bahwa seorang diri amat sulit untuk menangkap Mahisa Agni, karena kau selalu membayanginya”.

Empu Gandring mengerutkan keningnya, sedang dada Mahisa Agni yang mendengar kata-kata itu pun menjadi berdebar-debar. Ternyata Empu Sada benar-benar berusaha untuk menangkapnya untuk kepentingan Kuda Sempana.

Mahisa Agni menggeram, katanya di dalam hati, “Dendam Kuda Sempana benar-benar telah meracuni hidupnya. Ditinggalkannya istana dan mengembara tak menentu. Anak muda itu benar-benar menjadi korban sikapnya yang terlampau keras”.

Sejenak kemudian terdengar Empu Gandring menjawab, “Nah, sekarang apakah yang akan kau lakukan? Bukankah Empu Sada sendiri mengakui, bahwa ia tidak dapat melakukannya? Apakah kau sekarang datang bersama dengan Empu Sada?”

“Tidak” jawab Wong Sarimpat, “aku datang sendiri. Aku ingin menangkap Mahisa Agni dan membawanya pulang. Aku sangka Mahisa Agni hanya seorang diri, sebab aku tidak melihat orang lain pergi bersama-sama dengan anak itu”.

“Beruntunglah bahwa kuda yang aku pakai adalah kuda yang terlampau jelek, sehingga kuda itu tidak mampu lari mengejar Mahisa Agni. Agaknya kau bertemu dengan anak muda itu tanpa menyadari bahwa aku berpacu di belakangnya”.

Wong Sarimpat mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Aku tidak mendengar derap kudamu mendekat”.

“Telingamu tersumbat oleh suara tertawamu sendiri. Masih jauh aku sudah mendengar suaramu. Lebih keras dari derap kudaku. Kemudian aku terpaksa menghentikan lari kuda itu. Perlahan-lahan kudaku kemudian berjalan mendekat”.

“Setan,” desis Wong Sarimpat, “tetapi sekarang ceritera tentang Empu Gandring pasti akan berbeda. Aku akan memaksamu untuk manyerahkan Mahisa Agni. Ia tidak akan dapat lari. Kudanya sekarang kau pergunakan. Sedang kudamu adalah kuda yang jelek. Kau tahu bahwa kudaku mampu berlari secepat tatit yang meloncat di langit. Dan kudaku ini memang kunamakan Tatit”.

“Mahisa Agni adalah kemanakanku. Jangan mengigau. Kau tahu bahwa aku tidak akan merelakannya. Sekarang, bukankah kau akan mempergunakan kekerasan? Cobalah pergunakan. Aku sudah siap melawan setiap kekerasan dengan kekerasan pula”.

“Setan alasan” sekali lagi Wong Sarimpat mengumpat. Tatapi kata-katanya kemudian seperti tersumbat dikerongkorgan karena kemarahannya Dengan serta merta ia menggerakkan kudanya dan menyerang Empu Gandring.

Tetapi, Empu Gandring telah siap menunggu. Karena itu, maka kendali kudanya pun digerakkan, sehingga kudanya segera maju pula.

Keduanya adalah orang-orang sakti yang pilih tanding. Itulah sebabnya maka keduanya tidak dapat meninggalkan kewaspadaan tertinggi.

Ketika kedua ekor kuda itu berpapasan, maka Wong Sarimpat segera mengayunkan tangannya. Dengan telapak tangannya ia menyerang ke arah Empu Gandring. Tetapi, Empu Gandring segera melawan serangan itu. Empu Gandring sengaja tidak menghindarkan dirinya. Meskipun ia pernah mendengar tentang Wong Sarimpat, tetapi ia belum perrah mengukur langsung, betapa besar kekuatannya. Karena itu, ketika ia melihat tangan Wong Sarimpat terayun kearahnya, maka segera ia pun memukul telapak tangan itu dengan sisi telapak tangannya.

Wong Sarimpat menggeram. Ia melihat cara Empu Gandring menyambut serangannya. Orang tua itu sama sekali tidak mcncoba menghindar. Namun, agaknya Wong Sarimpat pun ingin tahu, sampai dimana kebenaran kata orang, bahwa tangan Empu Gandring itu mampu dipakainya untuk menempa keris. Dengan sengaja Wong Sarimpat tidak menarik serangannya. Bahkan dihentakkannya tangan itu sekuat tenaganya.

Dengan dahsyatnya kedua kekuatan itu berbenturan. Keduanya menyeringai menahan getaran yang menggigit tangan masing-masing. Kedua tangan itu terdorong kebelakang sehingga hampir-hampir mereka terlempar dari kuda masing-masing.

“Bukan main” desis Empu Gandring, “Alangkah besar kekuatannya”.

Namun dalam pada itu, Wong Sarimpat mengumpat keras-keras, “Anak demit. Ternyata bukan cerita melulu, bahwa dengan tanganmu kau mampu menempa keris. Hampir aku hampir terjatuh dari kudaku, dan hampir-hampir pula lenganku kau patahkan. Sekarang aku percaya bahwa kau menyimpan tenaga raksasa di dalam tubuhmu yang kering itu. Tenagamu tidak kalah dengan tenaga Empu Sada. Tetapi, kau tidak curang seperti Empu Sada”.

Empu Gandrirg mengerutkan keningnya. Tiba-tiba tanpa dikehendakija sendiri ia bertanya, “Hei, apa Empu Sada Curang?”

Wong Sarimpat pun terdiam. Agaknya mulutnya telah terlanjur mengatakannya. Tetapi, segera ia tertawa gemuruh memenuhi Padang Karautan. Katanya, “kita selesaikan. Jangau kau hiraukan Empu Sada. Aku telah mewakilinya. Ayo, sekarang kita selesaikan persoalan ini. Aku harus kembali membawa Mahisa Agni. Kalau kita berkelahi dengan tangan, menggunakan segala macam Aji yang ada pada kita, maka kita tidak akan selesai. Mungkin kita tidak akan dapat menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam sepekan. Sekarang kita simpan Aji kita untuk kepentingan lain. Kalau kulitmu tidak kebal, maka tajamnya akan membelah dadamu”.

Wong Sarimpat tidak menunggu jawaban Empu Gandring. Tiba-tiba sebuah golok yang besar telah tergenggam di tangannya. Golok yang dengan serta merta telah telah ditariknya dari sarung di lambungnya.

Sekali lagi lagi Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Golok itu memang terlampau besar. Tetapi, tidak terlampau panjang. Tangkai golok itu terlalu lampau pendek.

“Ambil senjatamu” teriak Wong Sarimpat, “aku tidak mau membunuh orang yang tidak bersenjata”.

“Baik” sahut Empu Gaadring. Tangannya pun segera begerak, meraih tangkai senjatanya lewat di atas pundaknya.

Kerisnya yang khusus melekat di punggungnya. Keris yang sebesar pedang, sedang tangkainya mencuat dibelakang kepalanya.

Wong Sarimpat mengerutkan keningnya melihat senjata Empu Gandring itu. Sejenak ia terdiam, namun sejenk kemudian iapun tertawa pula berkepanjangan. Dengan suara yang menggelegar memenuhi Padang Rumput Karautan ia berkata, “Lihat Empu Gandring. Mentang-mentang kau tukang membuat keris, kau buat keris untuk dirimu sendiri sebesar itu?”

“Apakah kau baru sekali ini melihat keris sebesar ini Worg Sarimpat?” bertanya Empu Gandring.

“Tidak. Tidak. Para bangsawan Kediri juga mempunyai keris yang besar, sebesar kerismu. Apakah kau pula yang membuat keris-keris itu?”

“Bukan hanya seorang Empu keris di seluruh Kediri ini Wong Sarimpat”.

Wong Sarimpat mengangguk-anggukkan. Kemudian katanya, “Kalau keris buatanmu terkenal disegenap penjuru Kediri, maka keris yang kau buat untukmu sendiri, pastilah sebilah keris yang luar biasa. Mungkin kerismu sakti tiada taranya. Tersentuh kerismu berarti binasa. Bahkan mungkin gunung akan runtuh dan lautan akan menjadi kering. Begitu?”

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Tetapi, ia menjawab, “Ya. Gunung akan runtuh dan lautan akan menjadi kering”.

Dan Wong Sarimpat itu menjawab pula, “Tetapi, Wong Sarimpat teguh timbul melampaui gunung dan lautan”.

“Kerisku mampu meruntuhkan gunung dan mengeringkan lautan. Kalau kau teguh timbul melampaui gunung dan lautan, maka kau harus memperhitungkan tenaga ayunan tangan Empu Purwa. Jangan membantah dahulu. Tak ada gunanya. Sebab tenaga kita telah beradu. Aku dapat mengukur kekuatanmu dan kau dapat mengukur kekuatanku”.

“Bagus. Bagus. Kau benar Empu. Kita tak usah membual. Mari kita bertempur, setelah satu dari kita mati, maka bualan kita baru akan terbukti”.

“Aku sudah menunggu” sahut Empu Gandring.

Wong Sarimpat terdiam. Wajahnya tiba-tiba menjadi tegang. Sejenak dipandanginya keris Empu Gandring yang besar, sebesar pedang. Namun, ujungnya yang runcing dan tajam di kedua sisinya, serta luk pitu, memberikan ciri, bahwa yang digenggam di tangan Empu Gandring itu adalah sebilah keris. Bukan pedang dan bukan pula golok seperti senjatanya.

Kini Wong Sarimpat tidak ingin lebih lama lagi menunggu. Disadarinya bahwa malam telah membenam lebih dalam lagi. Karena itu maka terdengar suaranya melengking mengejutkan. Kudanya seolah-olah meloncat menyergap Empu Gandring.

Namun, Empu Gandring telah siap benar menunggu serangan itu. Dengan demikian maka orang itu sama sekali tidak gugup. Digerakkannya kendali kudanya dan dengan sigap pula disongsongnya serangan Wong Sarimpat. Beruntunglah Empu Gandring bahwa kini ia berada di punggung kuda Mahisa Agni, sehingga dengan demikian ia dapat cukup lincah mengimbangi Wong Sarimpat.

Demikianlah maka segera mereka terlibat dalam sebuah perkelahian yang sengit. Wong Sarimpat memiliki keahlian yang mumpuni dalam hal menunggang kuda. Tetapi, Empu Gandring pun cukup cakap mengendalikan kudanya. Apalagi ketrampilannya menggerakkan kerisnya adalah ngedap-edapi. Hampir setiap saat ia bergulat dengan keris. Mungkin ia sedang membuat, dan mungkin sedang berlatih seorang diri untuk menyempurnakan ilmunya. Sehingga dalam keadaan yang memaksanya benar-benar mempergunakan senjata itu, Empu Gandring sama sekali tidak mengecewakan.

Namun, Wong Sarimpat pun adalah seorang yang memiliki ilmu yang hampir sempurna. Goloknya yang besar itu seakan-akan hampir tidak menahan gerak tangannya. Senjata itu berputar dan terayun-ayun seperti sepotong lidi saja.

Dengan demikian, maka kedua orang itu tidak segera dapat melihat, apakah yang akan terjadi dalam perkelahian itu. Kedua ekor kuda yang tegar itu pun menyambar-nyambar seperti Burung Garuda, sedang di punggungnya seolah-olah Wisnu sedang menari-nari dengan gairahnya, menarikan tari maut.

Mahisa Agni melihat pertempuran itu. Anak muda itu pun adalah anak muda yang menyimpan ilmu yang cukup di dalam dirinya. Tetapi, orang-orang yang sedang bertempur itu adalah orang-orang yang mengagumkan. Pamannya dan Wong Sarimpat dapat disejajarkan dengan gurunya, Empu Purwa yang seakan-akan kini telah lenyap dari pergaulan karena duka yang mencengkam hatinya tiada tertanggungkan lagi.

Dengan dada yang bergelora Mahisa Agni mengikuti setiap gerak dari kedua orang yang sedang bertempur itu. Ternyata Wong Sarimpat adalah benar-benar seorang yang kasar. Dengan memekik-mekik dan berteriak-teriak ia menyerang dengan garangnya, goloknya terayun-ayun mengerikan, sekali-kali menyambar kepala namun segera mematuk lambung.

Lawannya Empu Gandring, cukup tenang menghadapi tata gerak yang kasar itu. Tetapi, ErpPu Gandring yang memiliki pengalaman yang cukup segera melihat apa yang dilakukan oleh lawannya itu dengan cermat. Gerak Wong Sarimpat tampaknya kasar dan tidak teratur, namun dalam gerak yang kasar dan tampaknya tidak teratur itu tersembunyi ilmu yangg dahsyat. Ilmu yang memang dalam ungkapannya berbentuk serupa itu, kasar dan mengerikan. Namun, Empu Gandring tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam perasaannya. la tidak mau terseret dalam tingkah laku yang kasar pula. Sebab dengan demikian ia telah menjerumuskan dirinya sendiri kedalam bahaya. Ia tidak dapat mengimbangi kekasaran itu dengan kekasaran pula.

Itulah sebabnya maka kini Empu Gandring tidak lagi ingin melawan setiap serangan dengan serangan. Ia tahu, bahwa kekuatan Wong Sarimpat tidak melampauinya, namun ia akan terseret ke dalam sikap yang tidak dipahaminya.

Maka untuk seterusnya Empu Gandring menghadapi dengan sikap yang tenang. Tetapi, setiap gerak tangannya, benar-benar menimbulkan desir di dada lawannya.

Perkelahian diantara kedua orangg yang sakti itu semakin lama menjadi semakin seru. Masing-masing telah mcncoba mengerahkan segenap kemampuan untuk dapat mengalasi lawannya. Namun, ternyata bahwa mereka berdua benar-benar seperti sepasang Burung Rajawali yang berlaga di udara. Tak ada tanda-tanda bahwa salah seorang dari mereka akan berhasil memenangkan perkelahian itu. Silih-ungkih desak-mendesak.

Debu yang putih pun semakin lama menjadi semakin banyak berhamburan dilontarkan oleh kaki-kaki kuda yang seakan-akan ikut serta berlaga. Kadang-kadang terdengar kuda-kuda itu meringkik dengan kerasnya apabila terasa penunggangnya menarik kendali terlampua keras, dan kadang-kadang kuda itu pun saling berbenturan sementara penunggangnya membenturkan senjata-senjata mereka.

Namun, keduanya adalah orang-orang yang pilih tanding Semakin banyak keringat membasahi tubuh-tubuh mereka, maka mereka menjadi semakin trampil. Wong Sarimpat menjadi semakin garang dan kasar, sedang Empu Gandring menjadi semakin lincah dan cekatan.

Mahisa Agni masih saja duduk di belakang gerumbul. Tetapi, ia sudah kehilangan nafsunya untuk bersembunyi terus. Bahkan semakin lama ia bergeser semakin jauh dari tempat persembunyiannya, dan malahan kadang-kadang ia harus mendekat untuk dapat melihat kuda-kuda itu berlari-larian di Padang Karautan.

Tetapi, perkelahian itu masih berlangsung dalam keadaan yang serupa saja. Mereka masing-masing mencoba menunggu apabila lawan-lawannya membuat kelalaian-kelalaian kecil, sehingga salah seorang dari mereka akan mendapat kesempatan yang baik. Tetapi, kesempatan itu tidak juga kunjung datang. Sehingga dalam kejemuan akhirnya Wong Sarimpat berteriak-teriak keras sekali.

Empu Gandring sama sekali tidak menanggapinya. Ia bertempur dengan cermat. Kerisnya yang besar itu bergetar dan mematuk dari segenap penjuru. Namun, setiap kali senjata itu selalu membentur golok Wong Sarimpat yang besar itu, seakan-akan golok itu pun melebar seluas perisai yang mengelilingi tubuh Wong Sarimpat.

Di langit bintang gemintang beredar dengan terangnya seakan-akan sama sekali tak dihiraukannya pertempuran yang dahsyat yang terjadi di Padang Karautan. Angin yang dingin mengalir lambat mengusap tubuh-tubuh yang berkeringat itu. Tetapi, mereka yang bertempur sama sekali tidak menghiraukannya betapa sejuknya udara di malam yang dingin itu.

Wong Sarimpat akhirnya benar-benar menjadi jemu. Ia ter paksa melilat suatu kenyataan, bahwa Empu Gandring tidak dapat dikalahkannya, betapapun ia berusaha. Apapun yang dilakukannya, maka Empu Gandring pasti mampu menyelamatkan dirinya seperti apa yang terjadi sebaliknya.

Karena itu, tiba-tiba Wong Sarimpat berpendirian lain. Lebih baik ditinggalkannya mereka kali ini. Ia akan menyampaikan semua peristiwa itu kepada kakaknya. Ia memang harus datang berdua sedikit-dikitnya supaya dapat melepaskan Mahisa Agni dari pamannya yang selalu membayanginya itu.

Kini, dalam perkelahian ini, ia sama sekali tidak dapat melihat siapakah yang akan dapat memenangkannya. Ia tidak melihat kemungkinan untuk membawa Mahisa Agni.

Dengan demikian, maka Wong Sarimpat itu pun kemudian mengambil keputusan untuk melepaskan lawannya dan kembali ke Kemundungan. Ia akan segera kembali bersama dengan Kebo Sindet untuk mengambil Mahisa Agni.

Ketika perkelahian itu masih berlangsung dengan sengitnya tiba-tiba Wong Sarimpat menarik kendali kudanya yang kemudian berputar dan berlari menjauh. Yang terdengar kemudian adalah suaranya mengguruh disertai derai tertawanya, “Maaf Empu Gandring, aku terpaksa meninggalkanmu”.

Empu Gandring tertegun melihat lawannya menyingkir. Di dalam remang-remang gelap malam ia melibat Wong Sarimpat itu berhenti beberapa langkah dari padanya sambil berkata terus, “Aku tidak melihat titik akhir dari perkelahian ini, sehingga aku menganggap bahwa apa yang terjadi seterusnya sama sekali tidak akan berarti. Karena itu, aku mohon diri, aku sudah rindu kepada kakakku Kebo Sindet. Mungkin ia ingin menemuimu. Lain kali aku akan membawanya kemari”.

Empu Gandring tidak menjawab. Didorongnya kudanya maju mendekat, tetapi kuda Wong Sarimpat pun berjalan menjauh.

“Jangan mencoba mengejar aku. Kudamu lebih jelek dari kudaku, sehingga kau tidak akan berhasill. Meskipun seandainya kau mempunyai kesaktian berlipat-ganda dari padaku pun kau masih harus tergantung kepada kaki-kaki kudamu. Kalau kau tidak percaya, buktikanlah”.

Wong Sarimpat tidak menunggu Empu Gandring menjawab. Ditariknya kekang kudanya sehingga kudanya berputar setengah lingkaran. Kemudian kuda itu pun seakan-akan meloncat dan terbang meninggalkan Empu Gandring yang memandanginya dengan wajah yang kecut.

“Hem, hantu itu benar-benar berbahaya” gumamnya.

Mahisa Agni pun melihat betapa Wong Sarimpat memacu kudanya meninggalkan Padang Karautan. Tetapi, ia menyadari pula bahwa pamannya pasti tak akan dapat mengejarnya karena kuda Wong Sarimpat yang bernama Tatit itu mampu berlari benar-benar seperti tatit.

“Agni”. Mahisa Agni mendengar pamannya memanggil. Perlahan-lahan ia berdiri dan berjalan mendekati Empu Gandring.

“Bukankah benar kataku bahwa di padang ini tersembunyi seribu macam bahaya?”

Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Sepatah pun ia tidak menjawab.

“Kau melihat sendiri, betapa berbahayanya orang sekasar Wong Sarimpat. Bahkan menurut penilaianku, orang ini jauh lebih berbahaya daripada Empu Sada sendiri. Dan kini mereka agaknya berdiri di pihak yang sama. Aneh. Untuk melawanmu Empu Sada harus bersusah payah mencari teman seliar Wong Sarimpat.

Mahisa Agni masih saja berdiam diri Bahkan kepalanya pun masih juga ditundukkannya. Kalau dikenangkan apa yang baru saja terjadi, maka ia menjadi ngeri sendiri. Meskipun ia sama sekali bukan seorang pengecut, tetapi menghadapi orang yang ganas seperti Wong Sarimpat, adalah suatu pekerjaan yang tidak menyenangkan.

Dalam pada itu terdengar Empu Gandring betkata, “Semula aku juga hanya ingin mengharap bahwa kau tidak bertemu dengan bahaya, tetapi akhirnya aku tidak sampai hati untuk melepaskan kau pergi seorang diri di malam yang terlampau gelap untuk menyeberangi Padang Karautan yang garang ini.. Karena itu aku mencoba menyusulmu. Ketika kudaku menjadi semakin dekat, agaknya kau telah mamacu kudamu. Padahal yang aku dapatkan hanya seekor kuda yang tidak terlampua baik, sehingga jarak diantara kita menjadi semakin lama semakin jauh.

Mahisa Agni masih berdiri mematung. Dan Empu Gandring itu pun akhirnya berkata “Sekarang bagaimana Agni. Kita sudah melampaui separo jalan. Apakah kau akan kembali atau kau ingin meneruskan perjalanan ini”.

Sejenak Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Tetapi, ketika diingatnya bahwa di perkemahan seorang kawannya mengharap kedatangannya dengan membawa obat, maka jawabnya kemudian, “Aku akan meneruskan perjalanan ini paman”.

“Hm” Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Namun, ia berkata, “Baiklah. Perjalanan ini sudah cukup jauh. Marilah aku antarkan kau ke Panawijen. Mudah-mudahan kita akan segera kembali sebelum Wong Sarimpat sempat memanggil kakaknya yang bernama Kebo sindet itu”.

“Apakah rumah mereka tidak terlampau jauh?”

“Aku dengar mereka bersembunyi di Kemundungan. Jarak cukup jauh. Tetapi, apabila kakaknya, Kebo Sindet telah berada di perjalanan kemari, maka mereka akan segera kembali”.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sekali lagi ia menyesalkan Kuda Sempana. Persoalan yang ada sekarang sudah jauh berkisar dari persoalan yang semula. Kuda Sempana kini sudah tidak lagi mempersoalkan Ken Dedes, karena ia menyadari, bahwa ia tidak akan mungkin lagi merebutnya dari Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi, yang ada sekarang adalah dendam yang tiada akan padam menyala di dada anak muda yang merasa dirinya dikecewakan dan disakiti hatinya.

Tetapi, Mahisa Agni tidak dapat terlampau lama berangan-angan. Sekali lagi pamannya berkata, “Kalau akan meneruskan perjalanan, marilah. Kudaku aku tambatkan di belakang semak-semak tempat kau mencari pedangmu”.

Mahisa Agni tidak menjawab. Perlahan-lahan ia melangkah ke dalam gelap, mencari kuda Empu Gandring.

“Apakah kau akan memakai kudamu ini?” bertanya Empu Gandring.

“Tidak paman” sahut Mahisa Agni, “sama saja bagiku. Bukankah kita akan berjalan bersama-sama”.

Empu Gandring tersenyum. Diikutinya Mahisa Agni berjalan mengambil kuda pamannya.

Sejenak kemudian mereka berdua telah berpacu kembali ke Panawijen. Namun, mereka sudah pasti tidak akan dapat berada kembali di bendungan yang sedang mereka kerjakan terlampau pagi. Perjalanan mereka telah terganggu, sehingga waktunya pun menjadi bertambah panjang.

Sementara itu Wong Sarimpat berpacu pula cepat-cepat kembali ke Kemundungan. Ia menyesal bukan kepalang atas kegagalannya, dan tanpa kesadarannya mulutnya telah mengumpat habis-habisan.

“Setan tua itu sepantasnya dipancung kepalanya. Ia harus dibinasakan seperti Empu Sada. Aku ingin membenamkannya pula di dalam sendang tempat Empu Sada membunuh dirinya. Melibatkannya pada akar-akar ganggang dan menggantungi lehernya dengan batu”.

Dan Suara Wong Sarimpat itu pun mengumandang berkeliling padang yang luas dan gelap. Namun, padang itu terlampau sepi. Tak seorang pun mendengarkannya dan tak seorang pun yang melihatnya ia berpacu seperti dikejar hantu.

Ketika orang itu kemudian memasuki sebuah hutan tiba-tiba ia merasa jemu berpacu. Orang yang tidak pernah mengenal lelah itu, tiba-tiba ingin berhenti dan beristirahat. Mungkin kudanya memang memerlukan waktu untuk beristirahat sejenak.

Tetapi, istirahat itu pun terasa menjemukan sekali. Wong Sarimpat mencoba berbaring sejenak. Begitu saja di atas tanah yang lembab. Dicobanya untuk mereka-reka, bagaimana mungkin ia membalas sakit hatinya. Tetapi, ia tidak segera menemukannya.

Ketika perlahan-lahan ia mendengar suara berdesir disisinya, cepat ia meloncat bangkit. Dalam kegelapan malam, ia mendengar suara itu menyelusur menjauhi kakinya.

“Ular gila itu ingin aku cekik sampai mati” teriaknya.

Tetapi, malam di dalam hutan itu cukup kelam, sehingga betapapun tajam penglihaannya, namun ia tidak berani menyerang ular itu, meskipun disiang hari adalah pekerjaan Wong Sarimpat menangkap dan membunuh ular hanya dengan tangannya. Kulitnya sangat digemarinya seperti ia merggemari berbagai macam batu-batuan.

Dalam kejengkelannya Wong Sarimpat itu kembali meloncat ke punggung kudanya, dan kembali ia berpacu menembus jalan-kalan sempit di hutan itu. Jalan yang biasa dilalui oleh para pejalan dan para pencari kayu bakar.

Ketika kudanya meluncur di antara batang-batang yang agak jarang, maka ditengadahkannya. Sekali lagi ia mengumpat keras-keras ketika ia melihat bayangan yang mewarnai langit.

Orang itu sampai di Kemundungan melampaui tengah hari. Langsung ia mencari kakaknya untuk menceriterakan apa yang telah dilihatnya.

Kebo Sindet yang sedang mencoba memberikan beberapa macam ilmu kepada Kuda Sempana tertegun mendengar adiknya berteriak-teriak di depan gubugnya. Sambil bersungut-sungut ia menjawab, “Aku di sini Wong Sarimpat”.

Kuda Sempana pun tertegun pula. Bahkan ia terkejut. Sebelum ia melihat Wong Sarimpat, ia telah mendengar suaranya mengumpat-umpat tak habis-habisnya.

“Kita berhenti sebentar Kuda Sempana” berkata Kebo Sindet.

Kuda Sempana yang memang kurang mempunyai gairah untuk berlatih ilmu yang kasar itu, menjadi gembira didalam hatinya, meskipun setiap kali diminta untuk berlatih, ia tidak berani menolaknya.

Sejenak kemudian Wong Sarimpat telah muncul dari balik sudut gubug yang kotor itu. Dengan nafas terengah-engah ia berjalan mendekati kakaknya. Wajahnya tampak tegang dan mulutnya masih saja mengumpat-umpat.

“Apa yang telah terjadi?” bertanya Kebo Sindet. Tetapi, wajahnya sama sekali tidak bergerak. Beku.

“Hampir aku berhasil meskipun aku hanya seorang diri” berkata Wong Sarimpat dengan bertolak pinggang.

“Apa yang berhasil?” bertanya kakaknya.

“Buruanmu. Seakan-akan telah berada ditelapak tangan. Tetapi, tiba-tiba berhasil lepas kembali”.

“Mahisa Agni maksdumu?” bertanya Kebo Sindet.

“Ya”.

Wajah yang beku itu tiba-tiba bergerak. Tampak beberapa garis kerut merut di dahinya. Namun, hanya sesaat. Sesaat kemudian wajah itu telah beku kembali.

“Aku telah berhasil menangkapnya” berkata Wong Sarimpat pula.

“Dimanakah anak itu sekarang”.

“Sudah aku katakan, anak itu lepas kembali”.

“Kenapa?”.

“Setan tua itu datang mengganggu”.

“Siapa yang kau maksud? Empu Purwa, Bojong Santi, atau Empu Sada sendiri?”

“Kali ini Empu Gandring. Pamannya”.

Terdengar mulut Kebo Sindet menggeram, Tiba-tiba ia berkata tidak terlampau keras, tetapi mengejutkan Wong Sarimpat, “Kaulah yang bodoh”.

Wong Sarimpat mengerutkan dahinya. Katanya, “Kenapa aku yang bodoh?”

“Sudah dikatakan oleh Empu Sada bahwa anak itu tidak dapat ditangkap seorang diri. Kalau kau mampu melakukannya. maka Empu Sada tidak akan ribut kemari memanggil kita”.

Wong Sarimpat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi, ia tidak menyahut. Dan kakaknya berkata pula, “Bukankah Empu Sada pernah mengatakan bahwa ada saja yang selalu membayanginya. Kali ini kau bertemu dengan Empu Gandring, mungkin kalau kau berbuat bodoh untuk kedua kalinya kau akan bertemu dengan Empu Purwa, guru anak itu sendiri. Di lain kali kau akan bertemu dengan Panji Kelantung dari Tumapel atau bahkan apabila masih hidup, Empu Sada sendiri akan menemuimu”.

Wong Sarimpat mengangguk-anggukkan. Tetapi, ia menjawab, “Jangan kau sebut orang yang terakhir itu kakang. Aku pasti bahwa ia telah mampus ditelan ganggang”.

“Mudah-mudahan” sahut kakaknya, “tetapi meskipun Empa Sada telah mati, namun kebodohanmu tidak terhapus karenanya. Kau tahu akibat dari perbuatanmu?”

Mata Wong Sarimpat meredup, seakan-akan ia mcncoha berpikir. Tetapi, akhirnya ia hanya menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Akibatnya adalah kita masih harus menangkapnya”.

“Kau benar-benar bodoh” suara Kebo Sindet datar, tetapi mengandung tekanan sehingga Wong Sarimpat terdiam. Dibiarkannya kakaknya beikata terus, “Akibatnya adalah Mahisa Agni dan Empu Gandring itu menyadari bahaya yang mengintainya. Kini ia tahu pasti siapa yang harus mereka hadapi. Bukan sekedar Empu Sada. Tetapi, Empu Gandring itu sudah melihat tampangmu yang kasar seperti batu asahan.

Wong Sarimpat menggeram. Tetapi, ia tidak menjawab. Ketika dilihatnya Kuda Sempana mengawasinya pula, tiba-tiba matanya terbelalak sehingga cepat-cepat Kuda Sempana melemparkan pandangannya ke titik yang jauh.

“Jangan menyalahkannya” bentak kakaknya, “sudah sewajarnya Kuda Sempana kecewa terhadap sikapmu. Dengan demikian maka usaha ini akan menjadi semakin panjang. Kalau kau tetap pada kuwajiban yang aku bebankan padamu, mengintai saja anak muda itu, maka aku pasti akan segera berangkat ke Panawijen. Aku dapat mengikat Empu Gandring dalam perkelahian dan kau dapat menangkap anak itu dengan mudah. Sekarang, setelah kegagalan yang bodoh itu, apa katamu?”

Mulut Wong Sarimpat bergerak-gerak. Tetapi, tak sepatah kata pun meloncat dari sela-sela bibirnya.

Kemudian Kebo Sindet itu berkata kepada Kuda Sempana, “Kita harus bersabar lagi beberapa lama karena kebodohan pamanmu”.

Kuda Sempana tidak segera menyawab. Sekali lagi mencoba memandangi wajah Wong Sarimpat, tetapi sekali lagi ia melihat Wong Sarimpat membelalakkinya, sehingga Kuda Sempana itu menundukkan kepalanya. Tetapi, ketika Kebo Sindet berpaling, maka Wong Sarimpat pun menundukkan kepalanya pula secepat-cepatnya.

“Kuda Sempana,” berkata Kebo Sindet, “pekerjaanmu kemudian adalah berlatih sebaik-baiknya. Kita masih harus menunggu beberapa hari lagi. Kita mengharap mereka akan menjadi lengah. Tetapi, aku mempunyai harapan yang lain pula. Mudah-mudahan aku segera menjadi semakin sempurna dalam olah kanuragan, sehingga suatu saat kau sendiri akan mampu menghadapi Mahisa Agni. Akan berbanggalah kau kiranya apabila kau datang dan mangajukan tantangan jantan. Perang tanding di hadapan beberapa saksi”.

Kuda Sempana tidak menjawab. Sepercik kebanggaan melonjak di dalam dadanya. Tetapi, kemudian di sudut yang lain kembali memancar perasaan syaknya. Ia tetap berprasangka terhadap orang yang berwajah beku sebeku majat itu.

Tetapi, Kuda Sempana tidak mau membebani kepalanya dengan segala macam kebingungan. Kini ia menghadapi kesempatan. Apa pun yang akan terjadi kemudian akan dihadapinya kemudian. Namun, peningkatan ilmu baginya pasti akan berguna. Untuk apapun. Sehingga Kuda Sempana pun kemudian justru berusaha untuk menambah ilmunya sebaik-baiknya. Dicobanya untuk mengatasi perasaan segan yang hampir setiap kali mengganggunya.

Ketika Wong Sarimpat itu pun kemudian dengan langkah yang tersendat-sendat meninggalkan kakaknya yang memarahinya, kembali Kebo Sindet dan Kuda Sempana meneruskan latihan mereka disamping gubugnya dibawah bukit padas.

Dalam pada itu, Mahisa Agni dan Empu Gandring pun telah berpacu kembali ke Padang Karautan. Sekali-sekali Mahisa Agni menengadahkan wajahnya. Hatinya menjadi gelisah ketika matahari telah merambat semakin tinggi. Rencana hari ini pasti akan tertunda.

“Hanya tertunda satu hari bagi pekerjaan sebesar itu” ia mencoba menghibur dirinya. Tetapi, perasaannya seakan-akan selalu terganggu. Penundaan rencananya kali ini seolah-olah tidak disebabkan oleh alasan yang wajar.

Mahisa Agni berpaling ketika ia mendengar pamannya berkata, “Kau kecewa atas rencanamu yang tertunda itu Agni”.

Mahisa Agni tidak dapat menjawab lain. Pamannya itu seolah-olah dapat melihat isi hatinya seluruhnya. Maka jawabnya, “Ya paman. Sebenarnya aku sudah mantap untuk memulainya hari ini”.

“Pekerjaan itu hanya tertunda satu hari saja Agni. Jangan kau risaukan. Seandainya air itu membawa pasir pada dasar sungai, maka perbedaan dalam hari ini dengan besok tidak akan lebih dari lima cengkang”.

Mahisa Agni tidak menyahut. Tetapi, ia benar-benar dicengkam oleh perasaan kecewa. Meskipun demikian, hatinya terhibur pula ketika tersentuh olehnya bagian-bagian dari batang kates grandel yang dibawanya. Katanya di dalam hati, “Mudah-mudahan usahaku ini tidak sia-sia. Mudah-mudahan penundaan rencanaku itu pun tidak sia-sia. Anak yang sakit itu pun segera menjadi sembuh”.

Karena Mahisa Agni tidak menjawab maka pamannya berkata seterusnya, ” Orang-orang Panawijen termasuk orang-orang yang kurang gairah menghadapi kerja. Tetapi, kau harus mengucap sukur bahwa semakin lama menurut penglihatanku mereka menjadi semakin sadar, bahwa apa yang dikerjakan itu merupakan harapan bagi masa depan mereka sehingga tampaknya merekapun menjadi semakin bernafsu. Tetapi, ingat Agni. Pada dasarnya orang-orang Panawijen sudah terlampau lama menikmati tanah yang subur, air yang berlimpah, sehingga seakan-akan apa pun yang dilemparkan ke tanah, pasti akan tumbuh dan memberi hasil yang baik. Dengan demikian pada dasarnya, mereka tidak menghendaki bekerja terlampau berat seperti yang dilakukan kali ini. Kau harus memperhitungkan setiap keadaan. Jangan kau abaikan pemeliharaan nafsu bekerja dan gairah akan harapkan mereka dimasa dating”.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyadari sepenuhnya kata-kata pamannya itu.

Matahari yang memanjat langit pun menjadi semakin tinggi. Sejenak kemudian maka dicapainya puncak langit untuk seterusnya turun kembali kearah Barat.

Meskipun Mahisa Agni berusaha untuk menenteramkan hatinya, tetapi ia tidak dapat melupakan kekecewaannya hari ini. Bahkan di dalam hatinya ia masih saja bergumam, “Aku terlampau lama di Panawijen. Tetapi, ternyata bahwa pohon kates grandel itu tidak terlampau banyak, sehingga agak sulit juga aku mencari. Kalau saja aku tidak usah menunggu bibi Nyai Buyut menanak nasi, mungkin aku sudah sampai di bendungan sebelum tengah hari. Mungkin aku masih dapat memasukkan satu dua brunjung ke dasar sungai itu. Tetapi, kini tengah hari itu sudah lampau”.

Keduanya kemudian tidak lagi bercakap-cakap. Keringat-keringat mereka bercucuran seperti diperas dari dalam tubuh-tubuh mereka. Panas yang terik terasa membakar kulit. Semak-semak yang jarang-jarang tumbuh disana-sini tidak banyak memberi kesegaran bagi mereka.

Selepas-lepas mata memandang, Mahisa Agni hanya melihat sinar matahari yang menyala di atas padang rumput yang luas itu. Bahkan kadang-kadang seakan-akan dilihatnya padang itu menguap dan mencerminkan wajah air. Tetapi, Mahisa Agni menyadari, bahwa penglihatannya itu adalah karena udara yang terlampau panas membakar.

Mahisa Agni terkejut ketika tiba-tiba saja pamannya berkata, “Agni, setiap hari kalian bekerja dibawah terik matahari seterik hari ini. Setiap hari kulit kalian telah dipanasi seperti padang ini. Alangkah berat pekerjaan itu”.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya pula
.
“Tetapi, kalau kalian berhasil, maka kalian akan dapat menepuk dada dan berkata kepada anak cucu, inilah peninggalan kami. Peninggalan pada masa kami muda”.

Mahisa Agni mengangguk dan menjawab singkat, “Ya paman”.

“Tetapi, bukan saja kebanggaan. Namun, juga kepuasan melihat anak cucu hidup dengan bahagia”.

“Ya paman. Mudah-mudahan mereka menyadari pula”.

“Mereka telah bekerja dengan baik”.

“Ya”.

“Meskipun rencanamu tidak dapat kau lakukan hari ini, tetapi bukankah ada kerja lain yang dapat mereka lakukan?”

“Kerja masih terlampau banyak paman. Aku kira mereka kali ini akan meneruskan menggali induk susukan yang akan membelah pedang ini, yang akan merupakan jalur-alur air induk untuk segenap tanah persawahan yang kita rencanakan. Kita mengharap, bahwa demikian air dapat naik, maka jalur-jalur induk itu pun sudah akan dapat menampungnya. Tetapi, pekerjaan itu terlampaui. Kami sebenarnya mengharap janji Akuwu Tunggul Araetung yang akan memberikan bantuan bukan saja tenaga tetapi juga pedati, lembu dan alat-alat yang lain”.

“Jangan terlampau mengharap bantuan orang lain Agni. Percayalah kepada tanganmu sendiri. Yang Maha Agung akan memberi tuntunan kepadamu”.

Mahisa Agni tidak menyahut. Kepalanya tertunduk memandangi rerumputan yang seperti berlari kearah yang berlawanan. Ia dapat memahami kata-kata pamannya itu, dan ia pun telah berpendirian serupa pula. Namun, sebagai seorang yang wajar, ia memang mengharapkan bantuan itu segera datang. Tetapi, seandainya janji Tunggul Ametung itu tidak juga dipenuhi, maka itu sama sekali bukanlah suatu alasan untuk mengurungkan rencananya atau mengurangi gairah kerjanya.

Dan pamannya pun ternyata berkata, “Kalau bantuan itu datang Agni, mengucaplah terima kasih. Kalau tidak, maka sejak semula kau mulai pekerjaanmu dengan kekuatan tenaga sendiri, tenaga orang-orang Panawijen yang berjuang untuk masa depannya”.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia menjawab, “Ya paman”.

“Mudah-mudahan kau dapat berhasil”.

“Mudah-mudahan paman”.

Keduanya terdiam. Panas yang terik serasa menjadi semakin panas. Keringat mereka telah membasahi segenap wajah kulit. Sekali-kali mereka terpaksa berhenti dan mencari air untuk kuda-kuda mereka yang haus dan untuk mereka sendiri. Karena itu maka mereka berpacu sepanjang tebing sungai.

Akhirnya, dikejauhan, seakan-akan muncul dari dalam padang rumput dan celah-celah, gerumbul-gerumbul yang layu, tampaklah perkemahan mereka. Perkemahan ilalang, tempat mereka berteduh dari panas matahari di siang hari dan tempat mereka menghindari embun di malam hari.

Ketika tampak oleh Mahisa Agni atap-atap ilalang itu, maka dengan serta-merta ia berkata, “Mudah-mudahan mereka tidak berbuat sesuatu atas bendungan itu. Kalau mereka berbuat kesalahan, maka pekerjaan kita akan menjadi semakin sulit”.

“Aku kira tidak terlampau sulit Agni” sahut pamannya, “apakah tidak seorang pun yang mengerti akan rencanamu?”

“Kalau mereka terpaksa melakukannya tanpa menunggu aku, aku harap Ki Buyut dapat memberi mereka petunjuk. Kalau tidak, seandainya mereka meletakkan brunjung-brunjung itu disembarang tempat, maka sisi sungai itu akan melebar dan mungkin dapat mengakibatkan sisi seberang longsor”.

Pamannya tidak menyahut lagi. Kalau terjadi demikian maka Mahisa Agni pasti akan kecewa. Tetapi, seandainya demikian sekalipun, itu bukan berarti suatu kegagalan. Mungkin pekerjaan akan menjadi semakin sulit, tetapi bukan berarti tidak dapat diatasi.

Keduaya pun kembali terdiam. Kuda-kuda mereka yang lelah bcrjalan semakin perlahan. Agni dan Empu Gandring pun menyadari bahwa tidak sepantasnya ia melecut kudanya untuk berpacu. Meskipun dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar oleh keinginannya segera sampai ketempat ia bekcrja membuat bendungan itu.

Betapapun lambatnya, namun mereka semakin lama menjadi semakin dekat. Gubug yang berderet-deret menjadi semkin jelas.

Tetapi, semakin dekat Mahisa Agni dengan perkemahan itu, maka hatinya pun menjadi semakin berdebar-debar. Disebelah gubug-gubug itu adalah susukan yang sedang mereka kerjakan meskipun terlampau lambat karena hanya dikerjakan oleh sebagian dari tenaga yang ada. Sebagian yang lain harus mengisi brunjung-brunjung dengan batu dan sebagian yang lain harus memecah batu-batu itu. Namun, kali ini Mahisa Agni sama sekali tidak melihat sesuatu pada susukan itu. Tak ada selapis debu pun yang mengepul ke udara. Tak ada satu titik pun yang bergerak-gerak disekitarnya.

Karena itu, dengan bimbang ia berkata, “Paman, apakah penglihatanku yang salah? Aku tidak melihat sesuatu di susukan yang sedang dikerjakan itu”.

Empu Gandring mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia menjawab, “Aku pun tidak Agni”.

“Apakah seluruh tenaga dikerahkan oleh Ki Buyut ke bendungan untuk meletakkan brunjung-brunjung di sisi seberang?”

“Satu kemungkinan Agni” desis pamannya.

“Semula aku menduga sebaliknya paman. Aku sangka justru semua tenaga hari ini dikerahkan untuk menggali susukan karena aku tidak ada”.

Empu Gandring berpaling. Dipandanginya wajah kemanakannya itu dengan sorot mata yang ragu pula. Namun, ia berkata, “Kalau ada seseorang yang dapat melakukan Agni, maka kau seharusnya menjadi bergembira, sebab tidak semua pekerjaan dibebankan dipundakmu”.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi, ia tidak tahu kenapa ia tidak menaruh kepercayaan kepada orang lain. Ia tahu benar, bahwa orang-orang Panawijen bukan pekerja-pekerja yang baik. Itulah sebabnya ia ingin menunggui setiap kerja yang dianggapnya penting.

Namun, pamannya berkata lagi, “Agni, kalau tidak kau ajari mereka melakukan sesuatu, maka semuanya pasti akan tergantung kepadamu. Mereka tidak punya keberanian dan kecakapan untuk berbuat. Mereka akan menjadi tenaga yang mati, yang tidak punya gairah yang timbul dari dalam dirinya tentang sesuatu yang baru. Mereka hanya akan menunggu perintahmu”.

Sekali lagi Mahisa Agni menganggnk-anggukkan kepalanya. Memang, alangkah baiknya apabila demikian. Apabila ada seorang atau dua orang yang dapat diluntunnya untuk membantunya. Yang dapat berbuat agak banyak hanya Ki Buyut yang sudah agak lanjut itu. Yang lain, masih perlu dicarinya diantara anak-anak muda Panawijen itu. Namun, Mahisa Agni telah menjadi agak puas bahwa rakjat Panawijen itu telah dapat dibawanya untuk melakukan pekerjaan yang cukup besar.

Tetapi, tiba-tiba dada Mahisa Agni terguncang ketika kemudian ia menjadi semakin dekat dengan perkemahan. Ia tidak melihat seseorang di sekitar ujung susukan yang sedang dikerjakan, tetapi ia melihat orang-orang Panawijen itu berada di sekitar perkemahan. Mereka duduk-duduk saja dan bahkan ada pula yang berbaring-baring dengan malasnya.

Sejenak Mahisa Agni menjadi bingung. Apakah mereka sedang beristirahat? Menurut kebiasaan, maka waktu istirahat ditengah hari telah lampau. Apakah yang terjadi?’

Kemudian perlahan-lahan Mahisa Agni itu pun berdesis, “Mereka sama sekali tidak berbuat sesuatu paman?”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya meskipun ia sendiri tahu bahwa jawaban itu tidak benar, “Mereka sedang beristirahat”.

“Waktu beristirahat telali lampau”.

Empu Gandring terdiam.

Tiba-tiba Mahisa Agni tidak sabar lagi. Dilecutnya kudanya yang lelah supaya ia segera sampai ke perkemahan itu. Betapa pun juga kudanya berlari agak lebih cepat, tetapi nafas kuda itu telah menjadi semakin deras.

Empu Gandring segera mengikuti dibelakangnya. Kudanya pun telah menjadi lelah pula, sehingga dengan malasnya kuda itu berlari tersuruk-suruk.

Ketika orang-orang Panawijen melihat kedatangan Mahisa Agni, tiba-tiba sejenak mereka menjadi ribut. Beberapa orang yang berbaring segera bangkit, namun mereka tidak beranjak dari tempat masing-masing. Sejenak mereka saling berpandangan, namun kemudian mereka menunggu Mahisa Agni itu semakin dekat.

Demikian Mahisa Agni sampai di perkemahan itu, maka sebelum ia meloncat turun dari kudanya, yang terdengar adalah pertanyaannya, “Kenapa kalian tidak bekerja?”

Kembali orang-orang Panawijen itu saling berpandangan. Tampaklah kecemasan di wajah mereka. Tetapi, tidak seorang pun yang segera menjawab, sehingga Mahisa Agni mengulangi lagi, “Kenapa kalian tidak bekerja apa pun hari ini?”

Tiba-tiba terdengar seseorang menyahut agak jauh daripada Mahisa Agni, “Kami ingin beristirahat”.

“Apakah waktu istirahat belum lampau?” bertanya Agni pula.

“Kami ingin beristirahat tidak hanya pada saat tengah hari. Tetapi, kami ingin beristirahat beberapa bari. Kami sudah menjadi sangat lelah dan lemah”.

Terasa darah Mahisa Agni seakan-akan membeku. Jawaban itu benar-benar tidak disangkanya. Karena itu, maka sejenak mulutnya terbungkam oleh gelora di dadanya.

Empu Gandring yang kini telah berada disisinya menggamitnya sambil berbisik, “Turunlah Mahisa Agni”.

Mahisa Agni berpaling. Ketika Empu Gandring melihat wajah anak muda itu membara, maka katanya, “Tenanglah Agni”.

“Tetapi, pekerjaan tidak akan selesai dengan duduk-duduk dan berbaring-baring malas, paman” sahut Mahisa Agni.

“Aku tahu” jawab pamannya, “tetapi tenanglah. Turunkah dari kudamu. Bukankah kau mau mendengar kata-kataku?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Terasa dadanya terguncang oleh keadaan itu. Tetapi, tatapan mata pamannya telah memaksanya turun dari kudanya. Namun, terdengar ia berkata, “Apakah artinya ini paman?”

“Aku tidak tahu Agni, tetapi di sini ada Ki Buyut Panawijen. Sebaiknya kau minta keterangan kepadanya”.

Mahisa Agni tidak menjawab. Cepat-cepat ia melangkah ke gubug tempat Ki Buyut Panawijen sering beristirahat. Di sepanjang langkahnya, hatinya tak habis bertanya, apakah sebabnya hal ini terjadi? Sudah sering kali ia pergi meninggalkan pekerjaan ini untuk beberapa keperluan. Bahkan sampai dua tiga hari, seperti pada saat ia pergi ke Tumapel. Namun, mereka yang ditinggalkannya bekerja dengan penuh gairah seperti biasa. Tetapi, kenapa kali ini mereka ingin beristirahat? Bahkan berapa hari?

Langkah Mahisa Agni demikian tergesa-gesa sehingga ia tidak sempat memperhatikan orang-orang yang memandanginya dengan pandangan yang aneh. Orang-orang Panawijen itu menjadi cemas melihat sikap Mahisa Agni.

Ki Buyut Panawijen yang melihat kehadirannya pun dengan tergesa-gesa menyongsongnya. Sebelum Mahisa Agni mendekat, orang tua itu telah bertanya hampir berteriak, “Kau sudah datang Ngger?”

Tetapi, Mahisa Agni tidak menjawab pertanyaan itu. Dengan keras pula ia bertanya, “Kenapa hari ini kita tidak berbuat sesuatu Ki Buyut?”

Wajah Ki Buyut pun menjadi tegang. Dengan terbata-bata ia menjawab, “Ya, ya Ngger. Tetapi, marilah silahkan duduk dahulu”.

“Aku ingin berbuat sesuatu untuk mempercepat pekerjaan ini Ki Buyut, bukan dengan duduk-duduk dan berbaring”.

“Ya, ya Ngger, aku tahu. Tetapi, marilah duduk dahulu”.

“Terima kasih” sahut Agni, “aku ingin tahu, kenapa kita tidak bekerja hari ini?”

“Itulah yang akan aku katakan”.

Mahisa Agni masih akan berteriak lagi ketika terasa tangan pamannya menggamitnya. Terdengar pamannya itu berkata, “Mendekatlah Agni. Jangan berteriak-teriak. Ki Buyut ingin menjelaskan persoalannya”.

Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kini ia telah berada dekat dimuka gubug Ki Buyut Panawijen.

“Duduklah Ngger”.

Mahisa Agni akan menjawab lain, tetapi terdengar pamannya mendahului, “Baik Ki Buyut. Duduklah Agni”.

Kata-kata pamannya lah yang memaksanya duduk di dalam gubug itu. Demikian mereka diteduhi oleh atap ilalang, maka terasa tubuh-tubuh mereka menjadi segar setelah hampir sehari mereka dibakar oleh terik sinar matahari. Kini mereka dapat merasakan angin yang silir berhembus dari Selatan. Meskipun ketika mereka menatap padang yang terhampar dihadapan gubug itu, mereka masih juga melihat seakan-akan padang itu menguap.

Dengan tidak sabar lagi Agni pun segera bertanya, “Ki Bujut, kenapa kita hari ini tidak berbuat sesuatu? Waktu kita tidak terlampau banyak”.

Ki Buyut tidak segera menjawab. Ia berkisar secangkang maju. Ditatapnya wajah Mahisa Agni dengan sorot mata yang memancarkan kecemasan dan kebimbangan. Apalagi ketika dilihatnya wajah Mahisa Agni yang tegang itu.

Mahisa Agni menjadi semakin tidak sabar lagi. Kembali ia mendesak, “Kenapa Ki Buyut?”

Ki Buyut Panawijen menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar bahwa Mahisa Agni menjadi sangat terkejut melihat mereka duduk-duduk saja dan bahkan ada yang berbaring-baring dengan malasnya.

Dengan hati-hati Ki Buyut itu pun berkata, “Akan aku katakan sebabnya Ngger. Tetapi, apakah angger berdua dengan Empu Gandring tidak terlalu haus dan ingin minum air kendi yang dingin ini?”

“Aku ingin tahu kenapa kita hari ini tidak berbuat sesuatu Ki Buyut, sebab …” Agni tidak dapat meneruskan kata-katanya. Terdengar Empu Gandring memotong sambil beringsut meraih kendi berisi air dingin. Katanya, “Agni. Minumlah. Aku pun haus sekali. Air yang dingin ini akan mendinginkan hati dan kepala. Dengan demikian kau akan dapat mendengar ceritera Ki Buyut dengan tenang. Sebelum hatimu menjadi dingin Agni, maka kau tidak akan dapat berpikir bening. Nah, minumlah. Aku juga akan minum”.

Empu Gandring segera mengangkatnya dan minum lewat paruh gendi itu. Alangkah segarnya. Sambil menarik nafas dalam-dalam diserahkanya kendi itu kepada Mahisa Agni. Katanya, “Minumlah. Dalam keadaan kita sekarang ini, maka adalah kenikmatan yang tiada taranya. Minum air dingin”.

Mahisa Agni tidak dapat menolak uluran tangan pamannya. Kembali ia berbuat diluar kehendaknya. Seperti seorang yang kehilangan kesadaran diri. Diterimanya kendi itu, dan diangkatnya pula kemulutnya. Seperti pamannya ia pun minum air yang dingin segar itu.

Kesegaran air kendi itu seolah-olah telah menjalar kesegenap saluran darah Mahisa Agni. Ketika ia meletakkan kendi itu, terasa seluruh tubuhnya menjadi segar. Dan kepalanya pun tidak lagi dikerumuni oleh gejolak perasaan yang melonjak-lonjak. Meskipun ia tetap berkeinginan untuk segera mengetahui sebab-sebab kenapa orang-orang Panawijen itu tidak bekerja hari ini, namun kini ia dapat menahan dirinya oleh kesegaran yang sejuk.

“Nah” berkata pamannya, “kalau kau sudah tidak haus lagi, sekarang bertanyalah kepada Ki Buyut. Tetapi, kau pun wajib mendengarkan keterangan dan alasannya”.

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Kini ia berkata perlahan-lahan, “Ya Ki Buyut. Aku ingin tahu kenapa hari ini kita tidak meneruskan pekerjaan kita?”

Ki Buyutlah kini yang mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Pertama-tama aku minta maaf kepadamu Ngger. Hal ini pasti membuatmu kecewa Tetapi, aku tidak dapat berbuat lain daripada menuruti kehendak mereka. Beristirahat. Hanya itu. Tidak ada maksud apapun. Meskipun ada pula alasan yang berbeda-beda, namun kesimpulan mereka, mereka ingin menghentikan kerja barang sehari dua hari”.

“Bagaimana mungkin Ki Buyut” bantah Mahisa Agni, “Kita pasti akan kehabisan waktu. Justru kita harus bekerja lebih banyak. Kalau mungkin siang dan malam, supaya pekerjaan ini segera selesai”.

“Agni” potong pamannya, “cobalah kau mendengarkan alas-alasan yang dikatakan oleh Ki Buyut. Alasan yang meskipun berbeda-beda, tetapi kesimpulannya adalah, mereka ingin beristirahat. Cobalah mendengarkan. Kalau kau saja yang berbicara, maka kau tidak akan mengerti”.

Mahisa Agni pun terdiam. Dan Ki Buyut itu berkata, “Alasan mereka bermacam-macam Ngger. Ada yang hanya karena lelah. Lelah dan tidak lagi mampu untuk bekerja terus. Ada yang menjadi sakit pegal dan linu-linu pada punggung mereka. Mereka perlu beristirahat supaya sakitnya menjadi sembuh. Ada pula yang kakinya menjadi bengkak. Sedang yang lain ingin menunggui anak yang sakit itu. Pagi ini ia mengigau tak henti-hentinya. Tubuhnya menjadi sangat panas, dan kemudian ia menggigil kedinginan” Ki Buyut itu berhenti sesaat. Ketika Mahisa Agni akan memotong kata-katanya Empu Gandring menggamitnya sehingga kembali Mahisa Agni terdiam. Sejenak kemudian Ki Buyut itu berkata lagi, “Sebenarnya pagi-pagi tadi, ketika matahari terbit, kami sudah siap untuk bekerja. Tetapi, kami dikejutkan oleh igauan anak yang sakit itu. Beberapa orang segera mengerumuninya. Ketika satu di antara mereka berkata, Aku tidak bekerja hari ini. Aku akan menunggui anak ini, maka tiba-tiba seperti meledak kata-kata itu disahut berturut-turut oleh kebanyakan dari mereka yang mengerumuni anak itu. Aku juga tidak. Kakiku sakit, bengkak-bengkak, yang lain lagi, punggungku akan patah, dan yang lain, kepalaku hampir pecah kepanasan”.

“Itulah Ngger. Aku tidak dapat memaksa mereka” kembali Ki Buyut berhenti sejenak, ia menjadi ragu-ragu, tetapi kemudian terpaksa ia berkata, “Angger Mahisa Agni, sebenarnya telah agak lama aku mendengar keluh kesah ini. Keluh kesah yang kemudian meledak menjadi alasan-alasan yang menyebabkan kami hari ini tidak bekerja. Tetapi, aku harap Angger dapat mengerti”.

Wajah Mahisa Agni kembali menjadi merah membara. Alangkah kecewa hatinya. Ia merasa bahwa apa yang dilakukannya selama ini sama sekali tidak dihargai oleh orang-orang Panawijen itu. Bahkan mereka telah berusaha untuk memperlambat. Karena itu, maka dengan serta-merta ia menyahut, “Jadi apakah kemauan mereka? Apakah kita hentikan saja pekerjaan ini?”

“Agni” berkata pamannya perlahan-lahan. Orang tua itu tahu benar, betapa sakit hati Mahisa Agni mendengar keadaan yang ada diperkemahan ini. Keadan yang sama sekali tidak diduga-duganya. Tetapi, orang tua itu pun dapat mengerti, kenapa orang-orang Panawijen ingin berhenti bekerja barang sehari dua hari. Maka katanya seterusnya, “Berpikirlah dengan kepala dingin. Cobalah kau cernakan dahulu apa yang kau dengar, baru kau membuat tanggapan. Jangan tergesa-gesa mengambil sikap Agni”.

Kini wajah Mahisa Agni yang merah itu menjadi semakin tegang. Terasa dadanya bergelora seperti gunung yang akan meletus. Namun, sorot mata pamannya telah menahannya untuk tidak melepaskan luapan perasaannya. Karena itu maka kepala Mahisa Agni itu justru menjadi pening.

“Agni” berkata pamannya sareh, “kau harus melihat keadaan ini secara keseluruhan. Jangan kau melihat sepotong-sepotong dari padanya. Maka kau akan dapat mengurangi kepahitan yang harus kau hadapi kini”.

Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Tetapi, pamannya mengetahuinya bahwa anak muda itu mengatupkan giginya rapat-rapat. Ia masih berusaha untuk menguasai perasaannya.

, “Kau harus dapat mencoba mengerti apa yang dikatakan oleh Ki Buyut Panawijen” berkata pamannya pula.

“Tetapi paman” betapapun Mahisa Agni mencoba menahan diri namun terloncat pula dari bibirnya, “keadaan ini tidak boleh dibiarkan terus. Memang lebih senang duduk-duduk dan berbaring-baring daripada bekerja dipanas terik matahari. Tetapi, apa yang kita dapatkan dengan duduk memeluk lutut?”

“Kau benar Agni. Kau benar. Tetapi, bagaimana kau menyampaikan hal itulah yang sulit bagimu”.

Tiba-tiba Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Dilihatnya di sekeliling gubug itu banyak orang-orang Panawijen yang berkumpul. Agaknya mereka ingin tahu, apakah yang akan dikatakan oleh Mahisa Agni. Namun, sebagian yang lain malah pergi menjauh. Mereka duduk berkelompok-kelompok di ujung-ujung perkemahan. Di ujung yang paling jauh dari gubug Ki Buyut Panawijen supaya seandainya Mahisa Agni marah, mereka tidak mendapatkan kemarahan itu yang pertama-tama. Sebab bagaimana pun juga, tersembunyi pula rasa takutnya kepada anak muda itu. Sebagian dari setiap laki-laki Panawijen telah mengetahui bahwa Mahisa Agni mampu berbuat di luar kemampuan mereka. Mereka telah mengetahui bahwa Mahisa Agni mampu berkelahi dan memenangkan perkelahian melawan Kuda Sempana.

“Aku akan mengatakan kepada mereka” nada suara Mahisa Agni datar namun penuh tekanan.

“Apa yang akan kau sampaikan” bertanya pamannya.

“Mereka harus bekerja”.

“Lihat Agni. Matahari telah menjadi semakin condong. Kalau kau menyiapkan mereka untuk bekerja, maka kau tidak akan mendapatkan apa-apa. Demikian mereka siap, demikian matahari tenggelam”.

Mahisa Agni terdiam. Tetapi, wajahnya masih tetap tegang.

“Meskipun tidak hari ini” berkata Mahisa Agni kemudian, “besok misalnya, tetapi mereka harus tahu bahwa mereka telah berbuat suatu kesalahan. Kesalahan yang besar sekali. Musim hujan yang akan datang tidak mengenal istirahat. Apapun alasan kita disini, tetapi musim itu akan datang pada waktunya”.

“Apa yang akan dilakukan?”

Sebelum menjawab, Mahisa Agni telah meloncat berdiri. Tetapi, ketika ia mengayunkan kakinya selangkah, terdengar pamannya berkala pula, “Apa yang akan kau lakukan Agni?”

“Aku akan berkata kepada mereka, bahwa apa yang mereka lakukan sama sekali tidak dapat dibenarkan”.

“Tunggulah”.

“Aku akan berkata kepada mereka sekarang”.

“Tunggulah”.

“Apa yang harus aku tunggu paman. Kini adalah saatnya. Mereka harus segera menyadari kemalasan mereka”.

“Duduklah Agni”.

“Tak ada waktu. Aku bukan pemalas yang lebih senang duduk dari pada bekerja”.

“Duduklah Agni. Duduklah”.

Ketika Agni akan menjawab, sekali lagi pamannya memotong, “Duduklah. Kau dengar?”

Mulut Agni terdiam. Meskipun dadanya menjadi sesak, namun iapun melangkah kembali dan duduk di hadapan pamannya. Ki Buyut Panawijen kini seolah-olah menjadi patung. Hatinya menjadi kusut dan bingung. Bahkan terasa pula kecemasan mencengkam jantungnya.

[divider line_type=”Full Width Line” custom_height=””]

Source : www.agusharis.net

~ Article view : [224]