Pelangi di Langit Singasari [ 25 ]

374

oleh S.H. Mintardja

[ Seri 25 ]

 

KEDUANYAPUN kemudian meninggalkan halaman belakang. Terkantuk-kantuk prajurit itu membawa Empu Sada keluar. Dilewatinya regol dalam yang bertugas di regol itu ternyata sudah berganti orang. Demikian pula di regol halaman. Kawan-kawannya bertugas telah pulang kerumah masing-masing.

“Darimana?” bertanya penjaga yang baru.

“Aku bertugas di kamar bakal permaisuri.” sahut prajurit yang kantuk itu.

“He?”

“Ya, hanya aku sajalah satu-satunya prajurit yang bertugas di sana dari seluruh Tumapel. Menyenangkan sekali. Makan minum dan apa saja yang kuminta. Tuan Puteri sendirilah yang memberinya”

Prajurit-prajurit yang sedang bertugas itu tertawa. Mereka tahu bahwa prajurit itu sedang lapar dan menunggu seseorang yang diantarnya itu sampai tengah malam.

Ketika mereka telah sampai di luar regol, maka segera prajurit itu berkata, “Kaki Makerti, tugasku sudah selesai. Kaki telah keluar dari halaman istana. Karena itu terserahlah kepada Kaki. Apakah kau akan bermalam di rumahku?”

“Terima kasih Ngger, terima kasih. Aku akan pergi ke tempat saudaraku.”

“Kaki mempunyai saudara di kota ini?”

“Ya, aku akan mencarinya. Rumahnya di dekat pasar.”

“Silahkan,” berkata prajurit itu. Ia sudah merasa sangat lelah dan kantuk. Karena itu maka segera ditinggalkannya laki-laki tua itu seorang diri. Dengan langkah panjang prajurit itu berjalan pulang. Untunglah bahwa rumahnya tidak terlampau jauh dari istana. Tetapi ia harus bersedia jawaban kalau isterinya bertanya kenapa ia pulang lambat.

Isterinya kadang-kadang menjadi cemburu, karena seorang kawannya yang dekat, baru-baru ini telah mengambil seorang isteri muda.

Sepeninggal prajurit itu, hati Empu Sada menjadi semakin gelisah. Terbayang diangan-angannya, Mahisa Agni kini sedang merangkak masuk ke dalam jebakan yang dipasang oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.

Sejenak Empu Sada masih saja berdiri termangu-mangu. Ia sama sekali tidak dapat mencuci tangan terhadap apa yang akan terjadi dengan Mahisa Agni.

Orang tua itu terkejut ketika tiba-tiba seorang prajurit mendekatinya sambil bertanya, “Bagaimana Kaki, apakah Kaki tidak tahu kemana akan pergi?”

“O,” sahut Empu Sada terbata-bata, “tidak, tidak Ngger. Aku sedang melamun. Alangkah senangnya hidup kemenakanku itu. Aku ikut bergembira pula bersamanya.”

Prajurit itu terheran-heran. Kemudian iapun bertanya, “Siapakah kemanakanmu itu?”

Empu Sada memandangi prajurit itu dengan saksama. Barulah ia menyadari, bahwa prajurit-prajurit itu bukanlah prajurit-prajurit yang menerimanya siang kemarin. Tetapi meskipun demikian, prajurit-prajurit yang bertugas mendahuluinya pasti telah memberitahukan kepada mereka, tentang dirinya. Karena itu maka katanya, “Apakah Angger tidak mendapat pemberitahuan bahwa aku baru saja menghadap kemanakanku. Ken Dedes?”

“O.” prajurit itu mengerutkan keningnya, “Ya, ya. Jadi kaukah orang Yang bernama Makerti ? O, Ya, ya. Pradjurit yang mengantarmu itu adalah prajurit yang telah dikatakan oleh pimpinan yang bertugas sebelum kami. Lalu, bagaimana sekarang?”

“Aku akan pergi kerumah saudaraku di samping pasar.” sahut Empu Sada.

“Apakah Kaki memerlukan pengantar?”

“Tidak, tidak Ngger. Terima kasih.”

Empu Sada itu pun segera melangkah pergi meninggalkan regol istana itu. Tertatih-tatih ia berjalan menyusup kedalam gelapnya malam. Sinar obor dari regol yang memancar kemerah-merahan, akhirnya tidak lagi dapat mencapainya.

Angin malam tang silir berhembus perlahan-lahan mengusap tubuh orang tua itu Meskipun embun setitik-setitik turun dari langit, tetapi tubuh Empu Sada telah menjadi basah karena keringatnya. Ketegangan perasaannya tidak lagi dapat disembunyikannya.

“Kasihan,” desisnya seorang diri. “Apakah aku hanya akan berpangku tangan? Mudah-mudahan Empu Gandring dapat menyelamatkannya. Tetapi apakah Empu Gandring mampu menghadapi kedua iblis itu bersama-sama. Kalau Ken Arok, pemimpin pasukan yang berada di Padang Karautan itu pergi pula bersama Mahisa Agni, maka aku mengharap orang itu akan dapat membantunya bersama-sama Mahisa Agni sendiri. Tetapi bagaimanakah dengan kekuatan Ken Arok itu?”

Hati Empu Sada pun menjadi semakin tidak tenang. Ketika ia kemudian berpaling, dan regol istana itu sudah tidak dilihatnya, maka langkahnyapun segera menjadi semakin cepat. Dengan sigapnya ia melontarkan kakinya, meloncat-loncat seperti seekor kijang di padang perburuan.

Ia sendiri tidak tahu, kenapa tiba-tiba ia menjadi bernafsu untuk segera sampai ke rumahnya. Demikian kuat desakan keinginannya, sehingga tanpa dikehendakinya sendiri, orang tua itupun kemudian berlari semakin cepat menuju ke padepokannya.

Empu Sada tidak lagi menghiraukan, apakah ada seseorang yang melihatnya berlari-lari. Bahkan kemudian dikerahkannya segenap kemampuannya. Dan Empu Sada itu pun berlari secepat tatit.

Ketika Empu Sada sampai kepadepokannya, maka dengan serta-merta diketuknya pintu rumahnya sambil memanggil-manggil nama muridnya. “Sumekar, Sumekar.”

Alangkah terkejutnya muridnya itu. Segera ia bangkit dan berlari membukakan pintu. Ia menyangka bahwa gurunya sedang dikejar oleh bahaya.

Ketika pintu telah terbuka, dan dilihatnya Sumekar berdiri di mukanya, Empu Sada tertegun sejenak. Ditatapnya wajah muridnya yang masih belum menyadari sepenuhnya apa yang dilakukan. Sekali-sekali Sumekar masih menggosok-gosok matanya yang merah.

“Tutuplah pintu.” perintah Empu Sada kemudian ketika ia telah meloncat masuk.

Sumekar pun melakukan saja perintah itu. Tetapi Sumekar itupun semakin terkejut ketika gurunya itu berkata, “Sumekar, pergilah ke sumur. Adus kramas. Siapkan dirimu dalam kemampuan tertinggi.”

Sejenak Sumekar berdiri kaku. Dengan sorot mata bertanya-tanya dipandanginya gurunya. Ia tidak segera menangkap maksud kata-katanya itu.

Ketika Empu Sada melihat Sumekar masih saja berdiri termangu-mangu maka diulanginya perintahnya, “Sumekar, pergilah adus kramas. Bersihkan dirimu lahir dan batin. Cepatlah.”

Sumekar tidak membantah lagi. Segera ia pergi ke perigi. Disiapkannya beberapa jambangan air dan diambilnya seberkas merang. Sambil membakar merang itu, hatinya selalu bertanya-tanya, “Apakah sebenarnya maksud guru. Hari masih malam. Kenapa aku harus mandi?”

Tetapi Sumekar Yang patuh itu melakukan perintah itu dengan baik. Dibersihkannya tubuhnya meskipun dingin malam sampai menggigit tulang.

Ternyata gurunya pun mandi pula. Gurunya pun agaknya telah membersihkan dirinya seperti yang dilakukannya.

Ketika Sumekar telah selesai dan kembali ia menghadap gurunya, maka berkatalah Empu Sada, “Sumekar. Kau sudah cukup dewasa, umurmu, persiapan jiwamu dan ilmumu. Karena itu, Sumekar, hari ini adalah hari yang kau nanti-nanti selama ini. Kau berada di padepokanku meskipun bukan semata-mata untuk itu, tetapi ilmu tertinggi pasti menjadi keinginan setiap murid.”

Tiba-tiba dada anak muda itu berdesir. Ia tidak menyangka, bahwa tiba-tiba saja ia dihadapkan pada kesempatan yang memang diharapkannya. Begitu tiba-tiba. Tetapi ia tidak sempat bertanya. Gurunyalah yang kemudian berkata. “Masuklah ke dalam bilik belakang, tempat kau berlatih. Jangan ganggu adik-adik seperguruanmu yang sedang tidur. Biarlah mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan dirimu.”

Sumekar hanya dapat mengikuti perintah itu. Meskipun beberapa pertanyaan terselip di dalam hatinya, kenapa peristiwa itu terjadi tanpa disangka-sangkanya lebih dahulu.

Tetapi Sumekar tidak sempat menanyakannya. Hatinya yang berdebar-debar menjadikannya semakin tegang.

Ketika Sumekar dan Empu Sada telah berada di dalam bilik yang gelap di bagian belakang halaman rumahnya, maka gurunya itupun segera menutup pintu. Sebab slarak kayu nangka telah mengancing pintu itu rapat-rapat.

“Sumekar.” berkata gurunya. Meskipun gelapnya bukan main, namun lambat laun, Sumekar dapat melihat bayangan gurunya, “kau benar-benar telah cukup mempunyai bekal untuk menerima ilmu tertinggi dari perguruanku. Bahkan kau telah memiliki beberapa kelebihan dari kakak-kakak seperguruan mu. Ada beberapa unsur yang aku berikan kepadamu, tetapi tidak aku berikan kepada kakak-kakakmu. Apalagi ketika aku telah meyakini kesalahanku pada masa-masa yang lampau, dan melihat bahwa kau memiliki beberapa kelebihan sifat dari kakak-kakak sebelummu. Maka apa yang kau terima adalah melampaui dari apa yang telah dimiliki oleh Cundaka, Kuda Sempana dan apalagi yang lain-lain. Sehingga menurut perhitunganku, nanti apabila kau dapat memahami Aji Kala Bama dengan baik, maka kau tidak akan lagi berada di bawah kakak-kakak seperguruanmu. Bahkan seandainya kakak-kakak seperguruanmu, mungkin Kuda Sempana, mempunyai beberapa kelebihan waktu daripadamu, dan seandainya ia menerima beberapa petunjuk dan unsur-unsur gerak dari orang lain, maka kau tidak perlu mencemaskan dirimu. Ketekunanmu selama ini memang dapat dibanggakan. Apalagi kau selama ini tidak mempunyai kesibukan lain daripada memperdalam ilmu di perguruanku ini. Berbeda dengan Cundaka, pedagang keliling yang tamak dan Kuda Sempana Pelayan Dalam yang gila itu.”

Sumekar tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepalanya saja memandang jari-jari kakinya yang seolah-olah dipulas oleh warna yang hitam.

“Sumekar.” terdengar suara Empu Sada lunak.

“Ya guru.” sahut muridnya.

“Apakah kau sudah siap.”

“Sudah guru. Aku telah menyiapkan diri menurut ke mampuan yang ada padaku.”

“Bagus. Kau cukup rendah hati dan tidak sombong. Kelebihanmu dari kakak-kakakmu bukan saja pada ilmu dan un sur-unsur gerak, tetapi juga pada sifat dan budimu. Aku tidak pernah menyinggung masalah watak sebelumnya dengan kakak-kakak sebelummu. Apabila mereka memenuhi syarat yang aku berikan, maka mereka dapat segera menerima puncak ilmu itu. Tetapi ketahuilah, sebagai seorang pedagang, meskipun aku memperdagangkan ilmu, maka milikku pasti harus lebih baik dari milik orang lain. Ilmuku pun harus lebih baik dari ilmu orang lain. Karena itu, maka tidak pernah aku mencoba memberikan sebaik-baiknya kepada mereka. Aku memberi seperti orang berjual beli. Sedikit mungkin untuk harga yang semahal mungkin. Aku tidak pernah mempedulikan untuk apa saja ilmu itu kelak. Tetapi kini tidak, Sumekar. Untuk pertama kalinya aku berpesan kepada seorang muridku, bahwa ilmu hanya berguna bagi pengabdian. Ilmu yang dipergunakan untuk hal-hal yang sebaliknya, pasti akan berarti bencana. Bencana bagi manusia dan kemanusiaan.”

Sumekar menjadi semakin tumungkul. Terasa kata-kata gurunya itu seolah-olah menyusup ke dalam jantungnya. Dan tanpa dikehendakinya sendiri, maka kepalanya pun mengangguk-angguk kecil.

“Nah, Sumekar.” berkata gurunya, “kini berdoalah di dalam hati. Mulailah dengan kesiapan tertinggi untuk menerima Aji Kala Bama. Kau sendirilah yang sebenarnya harus menghisap Aji itu sesuai dengan pemusatan nalar dan rasa. Aku hanya akan menuntunmu.”

Sumekar membungkukkan kepalanya dalam-dalam. Kemudian terdengar ia berdesis, “Aku telah siap guru.”

Demikianlah maka keduanya kemudian tenggelam dalam pengerahan segenap kemampuan lahir dan batin. Empu Sada telah bertekad untuk menjadikan muridnya yang seorang ini sebagai pewaris yang paling sempurna dari ilmunya. Penyesalan atas masa lampau telah mendorongnya untuk berbuat sendiri yang seakan-akan ingin dipergunakannya untuk mengurangi kesalahan-kesalahan itu. Ia mengharap bahwa muridnya yang seorang ini dapat menerapkan ilmunya untuk kebajikan, seperti apa yang dilihatnya atas murid-murid Panji Bojong Santi dan apalagi murid Empu Purwa. Meskipun seandainya muridnya tidak akan dapat berbuat seperti mereka, namun setidak-tidaknya muridnya tidak menyalah-gunakan ilmu yang dimilikinya dan betapa kecilnya akan dapat menyerahkan ilmu itu untuk suatu pengabdian.

Malam berjalan terus bintang-bintang di langit bergeser semakin jauh ke barat, seperti permata yang bertaburan pada sebuah permadani yang berputar pada bola langit yang bulat. Angin yang basah mengalir lembut mengisap dedaunan yang nyenyak tertidur berselimutkan embun.

Akhirnya, langit yang kelam itu menjadi semburat merah oleh warna fajar. Perlahan-lahan cahaya yang memancar dari balik cakrawala merayap semakin tinggi. Dan berhamburanlah kokok ayam jantan di antara kicau burung-burung liar di fajar pagi.

Kedua murid Empu Sada pun kemudian terbangun dari tidurnya. Seperti biasa mereka segera melakukan pekerjaan mereka. Menimba air bersama para pelayan. Membersihkan halaman dan isi rumah. Semula mereka tidak memperhatikan bahwa mereka tidak segera menjumpai Sumekar di dalam rumah itu. Tetapi lambat laun terasa sesuatu yang kurang.

“Dimanakah Kakang Sumekar?” desis yang seorang.

Kawannya menggelengkan kepalanya. “Aku belum melihatnya.” jawabnya.

Ketika kemudian mereka bertanya kepada para pelayan, maka tak seorang pun yang melihatnya. Tak seorang pun yang mengerti kemana anak muda itu pergi.

Tetapi, kedua murid Empu Sada itu melihat pintu bilik di halaman belakang tertutup rapat. Karena itu maka berkata salah seorang dari mereka. “Mungkin kakang Sumekar ada di dalamnya.”

Tetapi keduanya tidak yakin akan hal itu. Mereka sama sekali tidak mendengar langkah apapun di dalam bilik itu. Bahkan bilik itu seolah-olah sedang tertidur nyenyak meskipun matahari telah mulai melepaskan sinarnya yang kekuning-kuningan.

“Mungkin kakang Sumekar tidur di dalamnya” berkata salah seorang dari mereka.

“Apakah guru juga pergi?”

Kawannya mengangkat bahu katanya. “Tak seorang pun yang dapat mengatakan tentang guru. Apakah guru ada di rumah ataukah sedang pergi.”

Keduanya pun kemudian terdiam. Mereka meneruskan kerja mereka, membersihkan rumah dan halaman. Para pelayan pun melakukan pekerjaan mereka seperti biasa. Tetapi kali ini Sumekar tidak ada di antara mereka. Biasanya Sumekar lah yang memimpin mereka dan memberi beberapa petunjuk tentang pekerjaan yang harus mereka lakukan hari itu. Namun mereka tidak dapat berpangku tangan, membiarkan padepokan itu terbengkalai karena Sumekar tidak mereka temui.

Kedua murid Empu Sada itu semakin siang menjadi semakin gelisah. Kalau Sumekar tidur di dalam bilik itu, ia pasti sudah terbangun. Meskipun demikian, mereka sama sekali tidak berani mengetuk pintu yang masih saja tertutup itu.

Sehari itu padepokan Empu Sada yang sunyi terasa menjadi semakin sunyi. Kedua muridnya dan para pelayan hampir-hampir tidak berbicara satu sama lain. Mereka lebih banyak merenung dan menebak di dalam hati. Tetapi pintu bilik di halaman belakang itu masih juga tertutup, dan mereka masih juga belum menemukan Sumekar, apalagi guru mereka, Empu Sada.

Baru ketika matahari lingsir ke Barat menjelang senja, maka hati kedua murid Empu Sada itu menjadi berdebar-debar. Mereka melihat pintu bilik itu bergerak-gerak. Sejenak kemudian mereka mendengar pintu itu bergerit.

Kedua murid Empu Sada itu tidak tahu kenapa mereka menjadi berdebar-debar. Meskipun mereka tahu bahwa bilik itu memang bilik yang khusus, tetapi kali ini mereka merasa hati beberapa perbedaan dari hari-hari yang lampau. Mereka seakan-akan melihat, bahwa di belakang pintu yang sedang bergerit itu tersembunyi sebuah rahasia yang besar.

Ketika pintu itu terbuka dada kedua murid itupun berdesir. Hampir tidak sabar mereka menunggu, siapakah yang berada di dalam bilik itu.

Mereka menahan nafas ketika kemudian mereka melihat guru mereka, Empu Sada melangkah keluar pintu dengan wajah yang pucat. Tetapi ketika Empu Sada itu melihat kedua muridnya, maka orang tua itu tersenyum. Perlahan-lahan ia berkata, “Kakakmu ada di dalam bilik itu.”

Kedua muridnya termangu-mangu. Ia tidak tahu maksud gurunya. Apakah mereka harus masuk ke dalam bilik itu?

Tetapi keduanya tidak berani bertanya. Mereka hanya memandang saja ketika gurunya berjalan perlahan-lahan masuk ke dalam rumah.

“Apakah yang sudah terjadi?” bisik salah seorang dari mereka.

“Entahlah” sahut yang lain.

“Marilah kita lihat.” ajak yang pertama.

Kawannya menjadi agak ragu-ragu. Tetapi kemudian mereka melangkah memasuki bilik yang khusus mereka pergunakan untuk berlatih.

Mereka tertegun ketika mereka melihat Sumekar sedang mengemasi beberapa macam senjata. Beberapa macam benda yang tidak mereka mengerti. Mereka melihat beberapa batang besi yang melengkung dan beberapa senjata terpatah-patahkan. Di sudut ruangan mereka melihat sebuah batu yang pecah berserakan.

“Apa Yang telah terjadi.” tiba-tiba terloncat sebuah pertanyaan dari salah seorang dari mereka.

“Tidak apa-apa.” jawab Sumekar tersenyum. Ketika ia tegak berdiri, maka kedua tangannya mengusap peluh yang membasahi wajahnya.

Tiba-tiba salah seorang murid Empu Sada itu mengerutkan keningnja. Batu-batu Yang pecah berserakan, senjata-senjata yang patah dan keringat Sumekar Yang seakan-akan terperas dari dalam tubuhnya ternyata telah memberinya petunjuk. Dengan suara gemetar ia berdesis, “Kala Bama.”

Sumekar berpaling kearah adik seperguruannya itu. Tampaklah wajahnya berkerut. Tetapi kemudian ia berdesis, “Ya. Tetapi jangan membual.”

“Tidak.” jawabnya, “berbahagialah kakang Sumekar yang telah mendapat kesempatan memiliki Aji Kala Bama.”

“Pada saatnya kalian pun akan memilikinya pula.”

Kuda murid Empu Sada itu menggelengkan kepalanya. Dengan wajah Yang suram salah seorang berkata, “Tidak mungkin.”

“Kenapa?”

“Aku tidak akan dapat menyediakan syarat yang diminta oleh guru untuk itu.”

Sumekar mengerutkan keningnya, tetapi kemudian ia tersenyum. “Tidak. Syarat itu tidak akan memberatimu lagi.”

Kedua murid Empu Sada Yang muda itu saling berpandangan. Tetapi mereka tidak tahu maksud kata-kata Sumekar.

“Marilah.” berkata Sumekar, “bantulah aku membersihkan tempat ini.”

Kedua adik seperguruannya itu segera membantu membersihkan tempat itu. Namun hampir-hampir tidak dapat mereka mengerti, bahwa apa yang terjadi itu sama sekali tidak menimbulkan suara sedikit pun. Demikian tajamnya pertanyaan itu membelit hatinya, sehingga salah seorang dari mereka tanpa lesadarnya bertanya, “Kakang, bagaimana mungkin hal ini terjadi tanpa suara?”

“Ah, tentu saja apa yang terjadi ini menimbulkan suara yang amat ribut.”

“Tetapi kami tidak mendengarnya.”

“Kau masih tidur.” sahut Sumekar. “semuanya terjadi sebelum fajar. Sesudah itu aku pun menjadi pingsan hampir sehari penuh.”

Kembali kedua adik seperguruan Sumekar itu saling berpandangan. “Pingsan hampir sepanjang hari.” desis mereka di dalam hati. Dengan demikian mereka dapat membayangkan betapa beratnya saat-saat yang harus dilewati selama seseorang menerima puncak tertinggi ilmu dari perguruan Empu Sada.

Sejenak kemudian Sumekar itu pun berkata, “Belajarlah dengan tekun. Menerima ilmu tertinggi itu benar-benar memerlukan kesiapan yang cukup. Lahir dan batin.”

Kedua adik-adik seperguruan Sumekar itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Sumekar berkata seterusnya, “Perguruan Empu Sada kini telah berubah warnanya. Bukan perguruan yang dahulu. Dari perguruan ini untuk seterusnya harus memancar kebajikan. Ilmu yang kalian terima harus menjadi pelita bagi mereka yang kegelapan, bukan sebaliknya. Dan pelita itu harus bersinar terang. Bukan pelita yang ditutup di bawah belanga. Betapapun terangnya pelita itu, namun sinarnya yang tertutup sama sekali tidak berarti. Tetapi pelita, itu harus menyala, bersinar dan menerangi keadaan di sekitarnya.”

Kedua adik seperguruan Sumekar itu ternganga-nganga mendengar keterangan kakaknya. Mereka belum pernah mendengar hal-hal yang demikian sebelumnya. Mereka hanya sekedar menerima petunjuk mengenai beberapa macam ilmu gerak menirukan dan memahami. Kemudian setiap kali, pada saatnya, mereka harus menyerahkan uang atau benda-benda berharga. Kalau tidak, maka mereka pun harus berhenti. Tak ada lagi tambahan ilmu yang akan mereka terima. Itu saja.

Sementara itu Empu Sada telah berada di dalam biliknya. Terasa betapa sepi dunianya. Namun setelah ia memberikan ilmu tertinggi kepada muridnya, terasa bahwa dadanya menjadi agak lapang. Ia sendiri tidak tahu, kenapa ia seakan-akan didorong dalam suatu keharusan untuk dengan segera mewariskan ilmunya. Bahkan tidak saja seperti yang pernah diberikannya kepada murid-muridnya yang lain, maka Sumekar telah menerima lebih banyak dari mereka. Betapa lelahnya lahir dan batin, maka anak muda itu jatuh pingsan hampir sehari penuh.

Kini dada Empu Sada menjadi lapang. Lapang tetapi sepi, seperti sepinya Padang rumput Karautan Yang luas. Orang tua itu berkali-kali menarik nafas dalam-dalam. Tanpa dikehendakinya, maka direbahkannya dirinya di pembaringannya. Ia pun merasa lelah sekali, setelah dengan penuh kesungguhan diturunkannya ilmu terakhirnya kepada Sumekar.

Tetapi dalam kesepian itu tumbuhlah segenap kenangan masa lampaunya. Seorang demi seorang datang dan pergi dari angan-angannya. Empu Sada menjadi berdebar-debar ketika terbayang kembali betapa ia dikecewakan oleh seorang gadis Yang bernama Jun Rumanti.

“Aku menjadi kehilangan keseimbangan.” desisnya, “dan lahirlah seorang Empu Sada yang telah mengotori jagad.”

Empu Sada menggigit bibirnya. Alangkah cupet budinya. Perbuatannya benar-benar telah tersesat. “Kita bersama-sama telah hancur,” desahnya kemudian, “aku, Jun Rumanti dan suaminya yang meninggal itu.”

“Tetapi.” tiba-tiba Empu Sada bangkit, “Jun Rumanti telah melahirkan seorang anak laki-laki. Anak laki-laki yang baik, yang telah berbuat kebajikan. Lalu apa yang dapat aku lahirkan? Anak tidak, tingkah laku pun tidak. Apalagi pengalaman terhadap manusia dan kemanusiaan.”

Empu Sada itu termenung sejenak. “Aku baru mencoba,” katanya di dalam hati, “mudah-mudahan Sumekar itu dapat berbuat baik seperti Mahisa Agni.”

Angan-angan orang tua itu pun kini seakan-akan terhisap di seputar Mahisa Agni. Kembali terbayang anak muda itu merayap masuk kedalam perangkap Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.

“Anak itu anak Jun Rumanti.” desisnya, “kalau aku tahu sebelumnya.”

“Tetapi mudah-mudahan aku belum terlambat.” tiba-tiba orang tua itupun meloncat dari pembaringannya, “alangkah bodohnya aku. Kenapa aku berbaring saja di pembaringan, sedang bahaya yang sebenarnya telah siap menerkam anak itu?”

Sejenak Empu Sada menjadi ragu-ragu, “Jangan-jangan kehadiranku akan disambut oleh para prajurit Tumapel di Padang Karautan.”

“Tidak, aku akan pergi ke Panawijen. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu dengan Mahisa Agni.”

Empu Sada itu pun kemudian membulatkan hatinya. Disadarinya bahwa sebenarnya kegelisahan telah mencengkamnya sejak ia bermaksud menemui Ken Dedes di istana, apalagi setelah diketahuinya bahwa Mahisa Agni adalah anak Jun Rumanti.

Empu Sada itu pun kemudian membenahi dirinya. Dihirupnya semangkuk air hangat yang disediakan untuknya dan dimakannya beberapa suap nasi. Terasa betapa nikmatnya setelah ia bekerja keras lebih dari sehari penuh. Dikenyamnya makanan itu dengan sepenuh minat. “Alangkah enaknya makanan ini dan alangkah segarnya air padepokanku.”

Sejenak kemudian Empu Sada meraih tongkat panjangnya. Dibelainya tongkat itu seperti membelai kekasih. Perlahan-lahan ia melangkah keluar biliknya.

“Aneh,” desisnya, “berpuluh tahun aku tinggal di padepokan ini, tetapi seakan-akan aku menjadi orang asing di sini.”

Diamatinya setiap bagian rumahnya. Rumah yang didiaminya sejak lama. Tetapi seakan-akan ia belum pernah melihatnya. Ukiran pada pangkal tiang. tlundak dan ajuk-ajuk yang disungging dengan warna-warna yang cerah. Lampu dinding dan lampu gantung.

“O, rumah ini rumah yang cukup baik.” pikirnya. Tiba-tiba Empu Sada ingat pada kekayaannya yang tersimpan di bilik sebelah, di dalam lubang yang hanya diketahuinya sendiri. Peti yang disandingnya sama sekali bukanlah kekayaan yang sebenarnya.

“Aku sudah tidak memerlukannya lagi.” desisnya. “Aku sudah tidak memerlukan kekayaan duniawi. Ternyata benda-benda itu tidak dapat memberi aku apa-apa.”

Karena itu maka dipanggilnya Sumekar. Diajaknya anak muda itu berbicara seorang diri.

“Sumekar.” berkata Empu Sada, “hari ini aku akan pergi.”

Sumekar mengerutkan keningnya. Dengan bimbang ia bertanya, “Kemana guru?”

“Ah, apakah kau pernah mengetahui kemana aku pergi?”

“Kadang-kadang guru.”

“Ya, kadang-kadang aku memberitahu kepadamu kemana aku pergi, tetapi sebagian besar dari pengembaraanku, tak seorang muridku pun yang mengetahuinya.”

Sumekar tidak menjawab. Ditundukkannya kepalanya dalam-dalam.

“Sumekar.” berkala gurunya kemudian, “kau adalah penerus dari padepokan Empu Sada. Kalau aku lambat kembali, atau bahkan tidak kembali sama sekali, maka kau lah yang wajib meneruskan tata kehidupan di padepokan ini. Kau harus mangerti apa yang sebaiknya dilakukan. Kau harus mulai mengenali musim untuk menanami sawah. Kau harus mengenal mangsa dan wataknya. Bukan saja ilmu beladiri dan olah kanuragan. Para pembantumu harus selalu bekerja dengan baik dan rajin.”

Sumekar menjadi heran mendengar pesan gurunya. Tanpa disadarinya sekali lagi ia bertanya, “Kemanakah guru akan pergi?”

Empu Sada memandangi wajah anak muda itu. Ia melihat sorot mata yang tulus. Tetapi ia tidak dapat memberitahukannya. Karena itu maka jawabnya, “Aku akan pergi seperti aku pergi di waktu-waktu yang lalu. Tetapi kali ini aku mempunyai kepentingan yang lain. Aku tidak lagi ingin mendapatkan benda berharga. Ternyata benda-benda berharga, kekayaan dan mas picis itu sama sekali tidak memberi apa-apa kepadaku. Aku masih tetap seorang pengembara, yang hampir setiap hari menanggung lapar dan haus diperjalanan. Aku masih juga tetap seorang yang berpakaian kumal seperti ini. Aku tidak mengenakan timang tretes berlian, tidak menyelipkan keris berwrangka emas dan ditaburi oleh permata. Tidak memakai kampuh yang diwarnai dengan gemerlapnya prada. Tidak. Sehingga karena itu maka apa yang aku cari selama ini ternyata tidak berarti apa-apa bagiku.”

Sumekar menjadi semakin tunduk. Dirasakannya bahwa diantara kata-kata gurunya itu terselip suatu penjesalan yang tiada taranya.

“Sumekar.” berkata gurunya lebih lanjut, “ternyata aku telah keliru mencari bekal dalam hidupku. Aku sangka emas picis raja brana itu akan memberiku ketentraman dan kebahagiaan. Tetapi ternyata bukan. Bukan itu Sumekar. Mungkin kekayaan akan dapat menjadi salah satu syarat untuk menemukan ketentraman dan kebahagiaan, namun apa bila syarat itu berubah menjadi tujuan, maka hidup kitapun akan jatuh kedalam genggamannya. Maka akan celakalah kita karenanya. Aku adalah contoh yang paling dekat Sumekar. Aku hidup dalam perbudakan yang aku jeratkan sendiri keleherku. Aku menjadi liar dan buas untuk mendapatkan harta kekayaan, sedang harta kekayaan itu sama sekali tidak berguna bagiku.”

Empu Sada berhenti sejenak. Ditatapnya wajah muridnya yang tunduk. Sejenak kemudian Empu Sada itu meneruskan, “Bukankah kau lihat Sumekar bahwa kekayaanku tidak memberi aku apa-apa. Jasmaniah apa lagi rokhaniah. Nah, kenanglah apa yang terjadi atasku. Mudah-mudahan akan dapat menjadi petunjuk bagi hidupmu kelak.”

Sekali lagi Empu Sada berhenti. Tatapan matanya kini menjadi kian pudar. Lalu katanya, “Meskipun telah terlambat Sumekar, aku kini ingin mendapat bekal yang lain. Aku sudah terlambat. Aku sudah tua. Aku harus menemukan sesuatu yang berarti dalam hidupku betapapun kecilnya. Ternyata kekayaan yang terbaik di dalam hidup ini adalah hubungan yang erat antara kita dengan Yang Maha Agung. Hubungan yang paling mesra indah ketentraman dan kebahagiaan sejati.”

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Kata-kata gurunya itu meresap langsung ke dalam kalbunya. Sentuhan-sentuhan yang menggeser hatinya telah menumbuhkan pahatan yang dalam. Yang tidak mudah terhapus oleh sentuhan-sentuhan yang lain.

“Karena itu Sumekar.” berkata gurunya lebih lanjut, “aku menganggap bahwa apa yang aku miliki selama ini sama sekali tidak berarti lagi bagiku. Semuanya akan aku serahkan kepadamu. Terserahlah, apa yang akan kau perbuat dengan semuanya itu. Mungkin kau akan dapat membangun sesuatu yang berarti bagi padepokan ini, atau mungkin kau merasa perlu untuk menolong orang-orang miskin di sekitar kita, atau apapun yang kau anggap perlu. Apabila kau mengenal pemiliknya, alangkah senang hatiku kalau kau sempat mengembalikan kepadanya.”

Sumekar mengangkat wajahnya. Ia tidak begitu mengerti maksud kata-kata gurunya itu, sehingga gurunya menjelaskan, “Sumekar, semua kekayaan yang pernah aku dapatkan dengan jalan apapun, kini aku serahkan saja kepadamu untuk keperluan yang kau anggap penting sesuai dengan pendirianmu.”

Dada Sumekar menjadi berdebar-debar. Ia tahu benar, bahwa gurunya menyimpan kekayaan tiada taranya. Sekarang kekayaan itu diserahkannya kepadanya, tetapi dengan pesan yang mengikatnya. Tetapi pesan itu telah membesarkan hatinya. Karena itu maka Sumekar itu berkata dengan tajimnya. “Terima kasih atas kepercayaan itu guru. Mudah-mudahan aku akan dapat melakukan pesan yang guru berikan. Mudah-mudahan akupun tidak akan jatuh ke dalam cengkeramannya. Memperhambakan diri kepada harta benda itu.”

“Aku percaya kepadamu Sumekar, apalagi setelah kau melihat sendiri contoh yang paling baik yang dapat kau saksikan.”

Sumekar mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, “Mudah-mudahan guru. Mudah-mudahan yang Maha Agung selalu memberi sinar terang di dalam hatiku.”

Empu Sada pun kemudian mengajak Sumekar masuk ke dalam biliknya. Ditunjukkan segala rahasia yang selama ini seakan-akan hanya diketahuinya sendiri. Ditunjukkannya celah dan lubang-lubang tempat harta bendanya tersimpan.

Meskipun Sumekar telah menyangkanya, tetapi ketika ia sempat melihat sendiri apa yang disimpan gurunya, darahnya seakan-akan membeku karenanya.

Sesaat ia berdiri seperti patung. Sekali-sekali dipejamkannya matanya seakan-akan ia tidak yakin atas apa yang dilihatnya.

“Jangan heran.” berkata gurunya, “ini adalah ujud dari bencana yang selama ini membelengguku. Kini aku menjadi gembira dan berterima kasih kepada Yang Maha Agung yang telah membebaskan aku dari padanya.”

Sumekar tidak menjawab. Matanya masih melekat pada benda-benda yang berkilauaan itu.

“Sisihkan milik Kuda Sempana. Aku masih mengharap ia kembali kepadaku. Aku akan mencoba membebaskannya dari belenggu yang dijeratkannya sendiri pula. Meskipun bentuknya agak berbeda, tetapi kedua-duanya dikendalikan oleh nafsu duniawi. Kuda Sempana pun telah dicekik oleh nafsunya. Nafsu memiliki seorang gadis cantik yang bernama Ken Dedes. Meskipun ujudnya tidak sama dengan benda-benda yang telah menjeratkan, namun wataknya tidak jauh berbeda. Kedua-duanya digerakkan oleh nafsu duniawi.”

Sumekar masih berdiam diri, tetapi ia mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalau Kuda Sempana kelak menyadari keadaannya, maka barang-barangnya itu akan dapat sedikit menghiburnya.”

Empu Sada berhenti sejenak, lalu katanya, “Apakah kau mengerti maksudku Sumekar.”

“Ya guru,” jawab Sumekar, “aku mengerti.”

“Baik. Manfaatkan harta benda ini untuk kepentingan sesama. Dengan demikian, aku akan dapat pergi dengan dada yang lapang. Aku kini merasa bahwa tanganku telah lepas dari belenggu yang selama ini menjeratku. Aku kini menjadi manusia yang bebas. Dalam sisa-sisa umurku aku akan berusaha untuk menjadikan hidupku berarti, berarti bagi sesama betapapun kecil arti itu.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi tanpa sesadarnya ia bertanya, “Kemanakah guru akan pergi?”

“Pertanyaanmu telah kau ucapkan untuk ketiga kalinya Sumekar. Maaf, aku tidak dapat menjawab, karena aku sendiri belum menentukan sikap. Kemana dan untuk apa aku pergi.”

Sumekar menggigit bibirnya. Ia merasa bahwa pertanyaanya itu agak mengganggu gurunya. Sebelumnya ia sama sekali tidak bernafsu untuk mengetahui kemanakah gurunya akan pergi. Sekali dua kali ia mengucapkan pertanyaan serupa itu. Tetapi pertanyaan itu meluncur saja dari bibirnya tanpa suatu maksud. Pertanyaan itu diucapkannya hanya sekedar untuk memperpantas sikap. Tetapi kini anak muda itu benar-benar ingin tahu, kemanakah gurunya akan pergi. Namun sayang, gurunya tidak memberitahukannya.

“Sumekar.” berkata Empu Sada, “kau kini menjadi wakilku. Wakil dalam segala persoalan. Kau jugalah yang harus menuntun adik-adik seperguruanmu. Tetapi ingat, tuntunlah ia lahir dan batinnya. Bahkan seandainya ada kakak-kakak sepergurumu yang berkepentingan dengan padepokan ini, maka segala persoalannya harus kau terima sebagai wakilku. Kalau aku lambat kembali atau tidak kembali sama sekali, kembangkanlah nama padepokan ini sebaik-baiknya. Kau mengerti?”

Sumekar mengangguk, jawabnya, “Ya guru.”

“Terima kasih,” sahut gurunya, “aku percaya kepadamu.”

“Tetapi,” berkata Sumekar kemudian, “apakah yang dapat aku lakukan terhadap kakak-kakak seperguruanku? Mereka tahu siapa aku dan mereka merasa bahwa mereka lebih berhak untuk berbuat seperti itu.”

“Tetapi aku pun berhak menentukan siapakah yang aku percaya untuk mewakili aku.” sahut gurunya, “Sumekar, meskipun kau masih muda, tetapi kau aku anggap mencukupi syarat untuk berbuat demikian. Seandainya ada yang mencoba memaksakan kehendaknya, maka kau pun dapat bertahan atas sikap itu, bahkan seandainya dengan kekerasan sekalipun. Tak seorang pun yang dapat aku percaya menerima harta benda sebanyak ini tetapi tidak untuk dirinya sendiri, selain kau.”

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Tugas itu bukan tugas Yang ringan. Namun gurunya berkata selanjutnya, “Baiklah. Kalau kau memerlukan bukti kepercayaanku. Tongkatku akan aku tinggalkan untukmu, sebagai pertanda bahwa aku telah menyerahkan segala sesuatunya kepadamu.”

Sekali lagi darah Sumekar terasa berhenti mengalir. Agaknya gurunya benar-benar telah melepaskan padepokan ini. Terasa oleh anak muda itu, seakan-akan pertemuannya dengan gurunya kali ini adalah kali yang terakhir.

Ketika gurunya menyerahkan tongkatnya, maka Sumekar menerimanya dengan tangan gemetar. Tetapi sentuhan tangannya pada tongkat itu merasakan, bahwa tangan gurunya pun gemetar pula.

Ternyata Empu Sada merasakan sebuah goncangan pada perasaannya pada saat tongkat itu lepas dari tangannya. Tongkat itu adalah ciri dirinya dan juga senjatanya. Seorang yang bertongkat panjang adalah seorang yang bernama Empu Sada, seperti Panji Bodjong Santi dengan kasa kulit harimaunya, seperti Empu Gandring dengan keris raksasanya. Dan kini tongkat itu lepas dari tangannya. Namun untuk suatu, kepentingan yang tidak kalah besarnya dari setiap kepentingan yang akan dihadapinya.

“Guru.” desis Sumekar setelah ia menerima tongkat, “aku hanya dapat mengucapkan beribu terima kasih. Tetapi bagaimana dengan guru sendiri? Bukankah tongkat ini ciri kebesaran guru dan merupakan senjata guru pula.”

Empu Sada tersenyum. Tetapi senyumnya membayang seperti bulan disaput awan. Suram.

“Aku tidak memerlukannya lagi Sumekar. Aku tidak ingin lagi mempergunakan akan senjata untuk menimbun harta benda yang tidak berarti apa-apa dalam hidupku. Aku tidak lagi ingin memamerkan namaku yang kotor itu lewat tongkatku. Bahkan aku ingin kalau aku dapat meninggalkankan bahkan melupakan masa-masa lampauku, apabila mungkin.”

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. la merasakan keanehan sikap gurunya. Sikap itu bukan sekedar sikap penjesalan, tetapi sikap itu telah sangat merisaukannya.

Sejenak keduanya saling berdiam diri. Yang terdengar kemudian adalah nafas Sumekar yang terengah-engah.

Di luar bilik Empu Sada terdengar kedua murid Empu Sada yang lain terbatuk-batuk. Mereka sedang menyalakan lampu-lampu di dalam rumah. Tetapi mereka tidak berani masuk kedalam bilik gurunya, seperti setiap hari. Yang berani masuk kedalam bilik itu hanya Sumekar selain gurunya sendiri. Hanya apabila perlu sekali seorang dua orang berani dengan tergesa-gesa.

“Sumekar.” berkata Empu Sada kemudian, “ternyata hari telah terlampau gelap. Ambillah pelita dan terangilah bilik ini. Untuk seterusnya bilik ini adalah bilikmu sambil menjaga semua harta benda itu, sampai suatu ketika harta benda itu habis terbagi dan jatuh ketangan yang benar memerlukannya.”

Kali ini Sumekar tidak dapat lagi menahan pertanyaannya meskipun ia ragu-ragu mengucapkannya. “Guru, kenapa guru merasa bahwa guru akan lambat kembali dan bahkan mungkin tidak kembali sama sekali.”

Sekali lagi Empu Sada tersenyum. Senyum yang suram. Katanya, “Aku tidak tahu. Jangan tanyakan itu lagi. Sekarang, pasanglah pelita, dan seterusnya aku akan pergi meninggalkan padepokan ini.”

“Guru.” potong Sumekar.

“Jangan bertanya lagi. Lakukan perintahku. Ambillah pelita. Bilik ini telah terlampau gelap.”

Sumekar tidak berani bertanya lagi. Betapa hatinya diliputi oleh seribu satu macam pertanyaan, namun ia tidak berani mengucapkannya. Perlahan-lahan ia bangkit dan berjalan keluar. Di luar bilik di ruang dalam telah terpasang lampu dinding. Nyala apinya bergetar karena angin yang menyusup lubang-lubang dinding.

Sumekar pergi kebelakang untuk mengambil pelita yang setiap hari dipasangnya di bilik Empu Sada. Ternyata pelita itu telah menyala. Ketika ia mengambil pelita itu, terdengar adik seperguruannya bertanya, “Kakang, apakah yang kau bicarakan dengan guru? Apakah penting sekali?”

Sumekar menggeleng, “tidak. Tidak ada apa-apa.”

Tetapi wajah adik seperguruannya masih saja dibayangi oleh keinginannya untuk mengetahui serba sedikit apakah yang sedang mereka bicarakan.

“Aku merasa, bahwa ada sesuatu yang tidak wajar,” desah salah seorang adik seperguruannya itu.

“Tidak apa-apa.” sahut Sumekar, “adalah soal biasa saja yang dipesankan guru kepadaku. Rajin bekerja, tekun berlatih dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela.”

Kedua adik ieperguruannya itu mengerutkan keningnya. Pesan itu tidak pernah didengarnya. Tetapi ketika mereka akan bertanya lagi, Sumekar berkata, “Nanti sajalah kita berbicara. Guru menunggu di dalam bilik yang terlampau gelap.”

“Pelita itu telah lama terpasang.” sahut salah seorang adik seperguruannya, “tetapi aku tidak berani membawanya masuk ke dalam bilik guru.”

Sumekar tersenyum, meskipun senyumnya tidak terlampau.

Dengan pelita di tangan Sumekar berjalan masuk kembali ke dalam rumah, kemudian ke dalam bilik gurunya. Tetapi ketika ia sampai kedalam bilik itu, gurunya tidak dijumpainya di dalam. Yang ada di dalam bilik itu hanyalah tongkatnya saja yang telah diserahkannya kepadanya.

“Kemanakah Empu Sada.” desis Sumekar didalam hatinya. Tetapi Sumekar tidak segera mencarinya.

Disangkanya gurunya sedang pergi keluar sebentar. Tetapi ternyata gurunya tidak segera ditemuinya kembali ke dalam biliknya. Sejenak ia menunggu, tetapi gurunya belum juga datang.

Betapa terkejut anak muda itu ketika tiba-tiba ia mendengar kaki kuda berderap. Dengan sigapnya ia meloncat langsung liwat pintu depan. Dan apa yang dilihatnya benar-benar telah menghentikan arus darahnya. Ia melihat gurunya berpacu di atas kudanya.

“Guru.” teriak Sumekar.

Gurunya berpaling. Ditariknya kekang kudanya untuk memperlambat derap kakinya. Masih di atas punggung kuda orang tua itu berkata, “Selamat tinggal Sumekar. Kaulah kini ketua padepokan ini. Kerjakanlah pesanku selama aku pergi, atau bahkan apabila aku tidak kembali lagi.”

“Guru.” banyak yang akan diteriakkannya, tetapi yang terloncat dari mulutnya hanyalah satu kata.

Sumekar masih melihat gurunya tersenyum. Namun sejenak kemudian kuda yang ditumpanginya meloncat keluar regol halaman. Dan hilanglah gurunya dari pandangan matanya.

Sejenak Sumekar berdiri mematung. Berbagai perasaan berkecamuk di dalam hatinya. Ia melihat gurunya pada saat-saat terakhir seperti orang asing yang baru dikenalnya. Perubahan sikap dan perbuatannya benar-benar telah membingungkannya. Hampir-hampir ia tidak percaya, bahwa orang yang sedang melarikan kudanya itu adalah Empu Sada yang sebelumnya pernah menuntunnya dalam ilmu tata beladiri. Seandainya kemudian orang itu memberinya ilmu tertinggi, Kala Bama, maka mungkin ia tidak lagi percaya bahwa orang itu adalah Empu Sada.

Tetapi Empu Sada itu telah pergi.

Apapun yang pernah dilakukan, namun orang itu adalah gurunya. Telah bertahun-tahun ia berada di dalam padepokan itu sebagai seorang murid. Bahkan seandainya Empu Sada itu tidak berubah pada saat-saat terakhir, namun ia tidak dapat mengingkarinya bahwa ia pernah berguru kepadanya. Dan ia tidak tahu, kenapa ia terdampar kedalam perguruan itu meskipun ia tahu sebelumnya, bahwa hidup gurunya diliputi oleh suatu rahasia yang kelam.

Sumekar itu tersadar ketika ia mendengar salah seorang adik seperguruannya bertanya, “Kakang, apakah guru pergi?”

Sumekar berpaling. Dilihatnya dua anak-anak yang masih sangat muda. Ditariknya nafas panjang-panjang. Jawabnya, “Ya. Guru telah pergi.”

Sejenak mereka saling berdiam diri. Pandangan mata mereka masih saja melekat pada regol halaman. Tetapi mereka sudah tidak melihat sesuatu. Hanya pelita yang redup sajalah yang masih tergantung dan bergoyang ditiup angin.

Malam menjadi semakin sepi. Yang terdengar adalah pertanyaan adik seperguruan Sumekar, “Kemanakah guru pergi?”

Sumekar menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak tahu.”

Ketika Sumekar berpaling memandang kedua adik seperguruannya itu dilihatnya bahwa kedua wajah itu menjadi keheran-heranan mendengar jawaban Sumekar, sehingga Sumekar merasa perlu untuk menjelaskan, “Sebenarnyalah aku tidak tahu kemana guru pergi. Bukankah aku baru saja mengambil pelita dari belakang? Ketika aku kembali ke dalam bilik, ternyata guru telah tidak ada di dalam. Aku sangka bahwa guru hanya keluar sebentar. Tetapi yang aku dengar adalah derap seekor kuda.”

Kedua adik seperguruannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun mereka masih juga diliputi oleh keheranan.

Bahkan Sumekar itu tanpa dikehendakinya sendiri bergumam lirih, “Mungkin guru akan sangat lambat kembali atau bahkan tidak sama sekali.”

“He,” kedua adik seperguruannya itu terkerljut. “Apakah guru tidak akan kembali?”

Kini Sumekar lah yang terkejut. Sejenak ia terdiam, namun kemudian terpatah-patah ia menjawab, “Maksudku, guru belum pasti kapan akan kembali.”

“Dari mana kakang tahu?”

Sekali lagi Sumekar tergagap. Namun kemudian jawabnya, “Guru mengatakannya dari atas punggung kuda.”

Kedua adik seperguruannya itupun mengangguk-anggukkan kepadanya. Salah seorang dari mereka berkata, “Ya aku mendengar lamat-lamat. Mungkin guru tidak kembali.”

Wajah kedua anak-anak muda itupun menjadi suram, seperti Sumekar merekapun tahu bahwa gurunya adalah seorang yang diliputi oleh seribu macam rahasia. Bahkan kedua anak-anak itu merasa bahwa mereka tidak akan dapat sampai tangga tertinggi dari perguruan Empu Sada karena syarat-syarat yang harus disediakan tidak akan pernah mencukupi. Tetapi meskipun demikian kepergian gurunya itu mempengaruhi perasaannya juga. Mereka pun merasakan kesedihan pada saat perpisahan yang aneh.

Dalam pada itu, Empu Sada sendiri berpacu di dalam gelap. Dilepaskan segelap himpitan perasaannya dengan berpacu seperti dikejar hantu. Disentuhnya setiap kali perut kudanya yang meloncat semakin lama semakin cepat.

Orang tua itu ingin segera menjauhi padepokannya. Ia takut kalau padepokan yang telah didiaminya berpuluh tahun itu akan menariknya kembali. Dengan sepenuh hati ia berusaha memutuskan hubungan antara dirinya dengan padepokannya. Ia sendiri tidak tahu, kenapa ia berusaha berbuat seperti itu.

Angin malam yang dingin terasa semakin kencang mengusap tubuh Empu tua yang sedang melarikan kudanya itu. Sekali-sekali terdengar orang tua itu berdesah.

Ketika ia berpaling, maka yang dilihatnya hanyalah sebuah dinding hitam kelam yang seakan-akan berlari secepat lari kudanya, mengikutinya dibelakang. Tetapi disawah-sawah di sisi jalan orang tua itu melihat berjuta-juta kunang-kunang yang berkeredipan, seakan-akan bersaing dengan bintang yang bertaburan di wajah langit yang biru pekat.

Empu Sada bahkan semakin mempercepat kudanya. Kini Empu Sada mencoba melupakan padepokannya. Yang dihadapinya adalah sebuah perjalanan ke Panawijen. Ia merasa langkah kaki kudanya itu terlampau lambat.

“Mudah-mudahan aku tidak terlambat.” katanya di dalam hati.

Ketika kudanya telah meninggalkan lingkungan tanah persawahan padepokannya, maka Empu Sada berhasil melepaskan kenangannya atas padepokannya itu.

Dicobanya untuk membayangkan apa yang akan terjadi, dan apa saja yang dapat dikerjakan. Tetapi apabila ia terlambat dan Mahisa Agni mengalami sesuatu, maka ia telah ikut serta menjerumuskan anak Jun Rumanti itu ke dalam bencana.

Karena itu maka Empu Sada itu memacu kudanya lebih cepat. Seakan-akan didengarnya kembali kedua orang prajurit Tumapel yang bertugas di Padang Karautan itu berceritera tentang beberapa lumbung yang terbakar di Panawijen. Peristiwa itu seakan tergambar jelas di dalam angan-angannya. Semakin direnungkannya, maka iapun menjadi semakin yakin bahwa itu hanyalah sekedar akal Kebo Sindet untuk memancing Mahisa Agni.

Sebenarnyalah bahwa apa yang terjadi adalah demikian. Sebelum kedua prajurit Tumapel kembali menghadap Akuwu untuk memberikan beberapa laporan, maka datanglah dua orang tua kePadang Karautan memberitahukan bahwa Panawijen tumbuh kebakaran.

Tetapi kebakaran itu bukanlah kebetulan saja terjadi. Kebakaran yang terjadi dengan tiba-tiba itu ternyata telah digarap oleh tangan yang licik.

Setelah melihat setiap kemungkinan, dan setelah mengenal berapa persoalan lebih banyak lagi atas Mahisa Agni, Panawidjen dan Kuda Sempana sendiri, maka Kebo Sintlet telah menemukan sebuah cara untuk menjebak Mahisa Agni.

Demikian mahalnya Mahisa Agni bagi kedua iblis itu, maka segala cara telah dilakukan untuk menjeratnya. Bagi mereka, Mahisa Agni akan merupakan sebuah barang yang sangat berharga. Ia adalah kakak seorang gadis yang sebentar lagi akan naik jenjang perkawinan. Tidak dengan sembarang orang, tetapi dengan Akuwu Tumapel. Bukankah Mahisa Agni akan dapat menjadi barang taruhan untuk mendapatkan harta benda yang tidak ternilai banyaknya.

Pada saat kedua bersaudara itu menemukan caranya, maka keduanya menjadi sangat bergembira, seakan-akan Mahisa Agni telah berada ditangannya. Keduanya menganggap bahwa Mahisa Agni mempunyai kedudukan yang penting pada saat-saat perkawinan, sebagai kakak gadis bakal permaisuri itu. Meskipun Akuwu dapat mempergunakan kekuasaanya untuk berbuat seperti yang dikehendaki, namun manurut peristiwa yang pernah terjadi, Ken Dedes merasa sangat terikat kepada kakaknya, sehingga apabila mungkin, maka segala usaha pasti akan dilakukan untuk menyelamatkannya.

“Kalau usaha itu gagal,” berkata Wong Sarimpat, “kita masih dapat memaksa Kuda Sempana untuk memberi seluruh kekayaannya kepada kita.”

“Huh, apakah kekayaan kelinci itu cukup banyak.” sahut Kebo Sindet, “pekerjaan kita ini tidak boleh gagal.”

Dengan rencana itu, maka pergilah kedua hantu dari Kemundungan itu ke Panawijen. Mereka telah membawa Kuda Sampana serta. Dangan segala macam akal, mereka telah membujuk Kuda Sempana untuk membatunya.

“Jangan kau bawa-bawa ayahku pula.” katanya.

Mendengar permintaan itu Wong Sarimpat tertawa terbahak-bahak sehingga tubuhnya berguncang-guncang. Katanya, “Apakah salahnya seorang ayah membantu anaknya untuk mencapai cita-citanya. Bukankah wanita sama nilainya dengan pusaka cita-cita.”

“Tetapi aku sudah cukup dewasa. Dan bukankah paman berdua adalah dua orang yang tidak ada tandingnya. Karena itu, jangan ayahku dibawa-bawa. Ia sudah cukup menderita melihat tingkah lakuku selama ini.”

“He,” Kebo Sindet memandangi wajah Kuda Sempana dengan tajamnya. Meskipun wajahnya yang mati itu tidak bergerak, tetapi sorot matanya seakan-akan langsung menembus dada.

“Kuda Sempana.” Berkata Kebo Sindet dengan nada yang berat, “memang aku bermaksud minta kepada ayahmu untuk menolong kita. Tetapi percayalah bahwa ia tidak akan banyak tersangkut. Ia hanya akan berbuat sedikit.”

“Apakah yang harus dilakukan?”

“Memberitahu Mahisa Agni, bahwa di Panawijen timbul kebakaran.”

“He.” Kuda Sempana terkejut, “apakah paman akan membakar Panawijen.”

“Ya.”

Terasa dada Kuda Sempana berdesir. Betapa gelap hatinya, namun ia anak Panawijen sejak lahir. Panawijen Yang kini telah menjadi kering itu akan dibakar. Alangkah mengerikan.

“Bagaimana pertimbanganmu?”

“Mengerikan.” desisnya.

Kembali terdengar Wong Sarimpat tertawa terbahak-bahak. Katanya di sela-sela derai tertawanya, “Kau benar-benar anak cengeng. Kau sudah basah di tengah-tengah banjir. Kau tidak akan dapat kembali, sebab bagimu akibatnya tidak ada bedanya.”

“Tetapi tidak menyeret orang lain untuk hanyut bersamamu.” sahut Kuda Sempana.

Suara tertawa Wong Sarimpat menjadi semakin keras, begitu kerasnya sehingga dada Kuda Sempana serasa akan terpecahkan olehnya.

“Kuda Sempana.” berkata Kebo Sindet. Wajahnya yang membeku itu sama sekali tidak menunjukkan perubahan nama sekali, “sudah aku katakan, bahwa ayahmu hanya akan membantu, memberitahukan kepada Mahisa Agni, bahwa di Panawijen telah terjadi kebakaran.”

“Tidak ada gunanya.”

“Kenapa?”

“Mahisa Agni telah mengenal ayahku. Ia tidak akan percaya.”

Wong Sarimpat tiba-tiba mengerutkan keningnya, sedang Kebo Sindetpun terdiam sejenak. Tetapi sesaat kemudian ia berkata, “Bagus. Ada jalan lain yang lebih baik. Lebih baik bagi kita dan lebih baik bagi ayah Kuda Sempana.”

“Apakah itu.” bertanya adiknya.

“Ayah Kuda Sempana hanya mendorong seseorang atau dua orang untuk menyusul Mahisa Agni ke Padang Karautan.”

“Tak seorangpun yang berani.”

“Ayahmu harus memberi jaminan, bahwa tidak akan ada gangguan apapun di Padang Karautan. Ayahmu harus memilih orang-orang yang dapat dibujuknya. Dalam keadaan seperti sekarang, maka setiap orang Panawijen pasti ingin menjadi pahlawan. Apalagi kalau ayahmu dapat membujuk dan memberi mereka sekedar upah.”

Kuda Sempana tidak menjawab. Tetapi terasa dadanya menjadi pepat. Ia tidak mengerti, apakah sebenarnya yang kini dikehendaki? Mahisa Agni atau apa? Ia sendiri tidak tahu apakah ia akan tetap berada di dalam sarang dua serigala bersaudara itu.

Seperti seorang yang kehilangan akal Kuda Sempana menundukkan kepalanya di atas punggung kudanya. Panawijen semakin lama menjadi semakin dekat. Ketika mereka memasuki daerah persawahan maka terasa dada Kuda Sempana berdebar terlampau cepat. Daun-daun yang kuning berguguran, tanah yang kering dan terpecah-pecah, memberikan kesan yang mengerikan, seperti terpecahnya hati dan perasaannya.

Sekarang ia datang untuk membuat bencana baru. Dalam udara yang kering dan panas itu maka sepercik api akan dapat menjadikan Panawijen itu karang abang.

“Apakah aku harus menyaksikan kampung halamanku ini menjadi neraka?” Kuda Sempana itu menjadi semakin tidak mengerti tentang dirinya sendiri. Sehingga akhirnya ia tidak mampu lagi untuk berpikir. Ia berbuat tanpa dapat diyakininya sendiri, apakah yang dilakukan itu berarti baginya.

Kuda Sempana itu terkejut ketika tiba-tiba Kebo Sindet berkata, “Kita berhenti di sini. Kita sembunyikan kuda-kuda kita. Kita akan masuk ke Panawijen tampa diketahui oleh siapa pun. Kita akan menyalakan api. Beberapa buah lumbung dan rumah harus terbakar.”

Kuda Sempana sudah mendengar sebelumnya, bahwa mereka akan membakar Panawijen, tetapi ketika Kebo Sindet itu mengatakannya sekali lagi, maka dadanya menjadi berdebar-debar.

“Apakah aku akan membiarkan kampung halamanku musnah dimakan api?” desisnya di dalam hati.

Tetapi ia menjadi termangu-mangu ketika Kebo Sindet yang seakan-akan mengerti perasaannya berkata, “Jangan cemas Kuda Sempana. Aku tidak akan membakar seluruh padukuhan Panawijen. Aku hanya akan membakar beberapa buah lumbung dan rumah di sekitarnya.”

“Panawijen kini sedang menderita kekeringan. Kalau lumbung-lumbung terbakar, maka mereka pasti segera akan mati kelaparan.”

“Sudah aku katakan, tidak semua lumbung akan aku bakar.”

“Yang satu atau dua lumbung itu pengaruhnya akan besar sekali bagi Panawijen.”

“Jadikanlah mereka korban dari cita-citamu. Jadikanlah mereka umpan kailmu. Kalau ikan yang akan kita pancing itu ikan yang besar, maka umpannyapun harus cukup besar pula yang akan aku jadikan umpan?”

Dada Kuda Sempana berdesir. Sendirian itu merupakan ancaman baginya. Karena itu maka iapun berdiam diri. Betapa hatinya menukik, tetapi ia berhadapan dengan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Dua iblis kakak beradik yang benar-benar berhati iblis.

Dengan demikian maka Kuda Sempana tidak dapat ber buat apa-apa lagi. Ia harus menurut saja ketika mereka menarik kuda-kuda mereka ke dalam gerumbul yang telah kekuning-kuningan. Kemudian sejenak mereka menunggu hari menjadi gelap.

Ketika lamat-lamat dikejauhan terdengar bunyi burung kedasih, maka berkatalah Kebo Sindet, “Hari telah malam. Marilah kita lakukan pekerjaan kita.”

Kuda Sempana tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Ia harus melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perasaannya. Tetapi ia tidak dapat menolak.

Peristiwa demi peristiwa telah menghantam perasaan Kuda Sempana yang semakin lama menjadi semakin kosong. Semakin tidak dapat dimengertinya sendiri.

Malam itu Kuda Sempana menyaksikan api yang melonjak kendara. Dengan hati yang pedih ia melihat orang-orang Panawijen saling berlari dan berteriak-teriak ngeri. Namun orang-orang itu kemudian menemukan keseimbangan. Mereka tidak lagi berlari-lari, tetapi beberapa orang laki-laki yang tinggal di padukuhan karena beberapa hal, yang pada umumnya adalah orang tua-tua telah berusaha untuk memadamkan api itu. Mereka mencoba merobohkan rumah-rumah dan pepohonan di sekitar api yang sedang menyala-nyala, sehingga mereka dapat membatasi, supaya api itu tidak menjalar semakin luas.

Meskipun demikian, Panawijen telah menjadi geger. Perempuan-perempuan yang berani membantu mencoba memadamkan setidak-tidak membatasi supaya api tidak menjalar.

Dari kejauhan Kebo Sindet, Wong Sarimpat dan Kuda Sempana menyaksikan hiruk pikuk itu dengan tanggapan mereka sendiri-sendiri. Kebo Sindet melihat api itu dengan wajahnya yang membeku, sedang Wong Sarimpat tampak tertawa-tawa kecil. Sekali-sekali tangannya mengusap wajahnya yang gembung. Wajah yang basah dilapisi oleh keringat. Disamping mereka, Kuda Sempana menyaksikan api itu dengan hati yang tersayat-sayat.

“Nah, lihatlah.” berkata Kebo Sindet, “kampung halamanmu sama sekali tidak musnah. Bukankah hanya sebagian kecil dari padukuhan itu yang terbakar. Lihatlah, mereka telah berhasil menguasai api.”

Kuda Sempana tidak menjawab.

“Kita akan segera melakukan tugas berikutnya. Nah, Kuda Sempana, antarkan aku ke rumah ayahmu.”

“Apakah yang akan paman lakukan?”

“Antarkan aku ke rumah ayahmu.”

“Ayah pasti tidak ada di rumah. Ayah pasti sedang bergulat dengan api itu pula.”

“Tidak apa, kita tidak tergesa-gesa. Kita dapat menunggunya sampai nanti lingsir wengi atau bahkan sampai besok pagi sekalipun.”

Kuda Sempana tidak dapat menjawab lagi. Maka mau tidak mau kedua iblis kakak beradik itu harus dibawanya pulang ke rumah orang tuanya.

Betapa liciknya Kebo Sindet dan Wong Sarimpat membujuk ayah Kuda Sempana. Kebo Sindet yang berwajah beku itu sekali-sekali dapat juga tersenyum sambil berkata, “Untuk kepentingan anakmu Kaki.”

Kuda Sempana sama sekali tidak sempat menolak. Ia diam saja seperti patung mendengarkan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat berkata berkepanjangan. Hanya sekali-sekali ia terpaksa mengiakan apabila Kebo Sindet dan Wong Sarimpat bertanya kepadanya.

“Kaki.” berkata Kebo Sindet, “anakmu memang menghendaki aku menangkap Mahisa Agni hidup-hidup.”

Orang tua itu memandangi anaknya dengan sorot mata yang aneh. Tetapi Kebo Sindet segera berkata, “Tetapi persoalannya tidak saja menyangkul anak Kaki. Ada banyak persoalan. Kalau bapak bersedia membantu kami, maka nasib bapak tidak akan sejelek sekarang ini. Kaki tidak akan dapat menggantungkan nasib Kaki kepada Kuda Sempana yang kini sudah bukan seorang Pelayan Dalam yang terhormat lagi. Apakah bapak pernah melihat emas sebesar ini?”

Mata ayah Kuda Sempana itupun terbelalak melihat sekeping emas murni. “Apakah itu benar-benar emas.” ia bertanya.

“Bertanyalah kepada Kuda Sempana.”

Orang tua itu menelan ludahnya. Tetapi ia tidak segera menjawab. Hatinya masih dipenuhi oleh keragu-raguan.

“Pekerjaan Kaki tidak berat. Carilah dua atau tiga orang yang bersedia pergi ke Padang Karautan untuk menyampaikan kabar ini kepada Mahisa Agni. Hanya itu.”

Ayah Kuda Sempana itu masih saja berdiam diri. Tetapi sorot matanya tidak juga lepas dari sekeping emas murni yang masih di tangan Kebo Sindet.

“Nah bagaimana?” bertanya Kebo Sindet. Sekali lagi ayah Kuda Sempana itu menelan ludahnya.

“Kau akan menerima emas ini untuk pekerjaan yang tidak berarti. Membujuk dua atau tiga orang untuk memberitahukan kebakaran ini kepada Mahisa Agni.”

Ayah Kuda Sempana itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali-sekali dipandanginya wajah anaknya yang buram, dan kemudian kembali matanya tersangkut pada emas yang bercahaya-cahaya itu.

“Tak seorang pun yang berani pergi ke Padang Karautan.” gumam ayah Kuda Sempana itu seakan-akan kepada diri sendiri.

“Kau dapat memberi tahukan, bahwa sekarang Padang Karautan telah tidak berbahaya lagi. Hantu Karautan telah dibinasakan oleh Mahisa Agni.”

Ayah Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya lagi. Katanya, “Kalau ada yang berani menyeberangi padang ini, maka hal itu pasti sudah dilakukan tanpa seorang pun yang membujuknya. Tetapi mereka belum tahu, bahwa Padang Karautan kini sudah tidak menakutkan lagi seperti pada masa-masa yang lampau. Kau dapat membujuk mereka supaya mereka menjadi berani, itu saja. Atau kau sendiri yang akan pergi?”

“Seandainya aku tidak bertemu dengan hantu Padang Karautan, maka bagiku Mahisa Agni adalah seorang yang aku takuti lebih dari hantu yang manapun juga. Perbuatan Kuda Sempana selama ini telah cukup menjadi alasan baginya untuk membunuhku.”

Kuda Sempana mengangkat wajahnya, tetapi kemudian wajah itu kembali menunduk. Dengan wajah yang suram anak muda itu menarik nafas dalam-dalam.

“Terserahlah kepadamu Kaki.” berkata Kebo Sindet, “emas ini sangat tergantung kepada perbuatanmu.”

Sekali lagi ayah Kuda Sempana itu menelan ludahnya.

“Pikirkanlah.” gumam Wong Sarimpat pula.

Kuda Sempana tidak dapat berbuat apapun. Ia tahu betapa kasarnya kedua kakak beradik itu. Kalau ia berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendaknya, maka kedua orang itu dapat berbuat sekehendaknya atas dirinya dan bahkan ayahnya itu pula.

“Pekerjaan itu bagiku bukanlah perkerjaan yang mudah.” berkata ayah Kuda Sempana.

“Kaki hanya tinggal membujuk mereka untuk tidak takut berjalan di Padang Karautan. Bukankah Mahisa Agni dapat berbuat banyak untuk kepentingan kampung halamannya?”

“Tetapi Mahisa Agni tidak akan dapat berbuat demikian, sebab bukankah tuan hendak menangkapnya bersama anakku ini.”

Sekali lagi Kuda Sempana mengangkat wajahnya, tetapi yang menjawab adalah Kebo Sindet, “Benar, demikianlah. Mudah-mudahan anakmu mendapat kepuasan karenanya. Dengan demikian maka hidupnya tidak akan selalu diracuni oleh rasa dendam yang tidak dapat dilepaskannya. Kalau Mahisa Agni itu sudah ada ditangannya, maka anak pasti akan menemukan kembali keseimbangan jiwanya.”

Orang tua itu sekali lagi memandangi wajah anaknya yang suram. Tetapi dalam kesuraman itu tidak tampak olehnya nyala matanya yang memancarkan dendam di hatinya.

Kuda Sempana sendiri tiba-tiba menjadi acuh tak acuh saja pada pembicaraan itu. Ia benar-benar telah kehilangan pengertian tentang dirinya sendiri. Ia tidak tahu apakah ia masih juga mendendamnya sampai sekarang.

Dalam pada itu, ayah Kuda Sempana berpikir dengan tegangnya. Sekali-sekali matanya menjadi silau oleh kilatan emas di tangan Kebo Sindet.

“Bagaimana?” terdengar suara Kebo Sindet berat.

Perlahan-lahan Kebo Sindet melihat ayah Kuda Sempana perlahan-lahan mengangguk sambil menjawab, “Baiklah. Akan aku coba. Sebenarnya setiap orang disini berkeinginan untuk memberitahukannya kepada Mahisa Agni apa yang telah terjadi, tetapi mereka masih saja dibayangi oleh ketakutan kecemasan tentang Padang Karautan.”

“Kalau kau dapat meyakinkan tentang Padang itu, maka segala maksud kita akan tercapai, dan kau akan memiliki emas yang sekeping ini untuk menyelamatkan sisa-sisa hari tuamu dari kemiskinan dan sengsara. Apakah kau juga mengharap bahwa kerja Mahisa Agni membuat bendungan itu akan selesai? Omong kosong. Bendungan itu tidak akan pernah selesai. Orang-orang Panawijen tidak boleh menggantungkan harapannya pada bendungan itu. Sebab besok atau lusa Mahisa Agni sudah berada di tanganku. Nah, dengan demikian kalian harus pergi mengembara mencari tempat baru untuk hidup kalian orang Panawijen.”

Ayah Kuda Sempana mengangguk-anggukan kepalanya.

“Lakukanlah.” berkata Kebo Sindet kemudian, “Aku menunggu di sini.”

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun demikian ia masih juga ragu-ragu. Tetapi ketika terpandang olehnya kilatan warna kekuning-kuningan yang memancar dari sekeping emas itu, ia berkata, “Baiklah, akan aku coba mencari dua tiga orang yang paling berani.”

Ayah Kuda Sempana itupun akhirnya meninggalkan mereka. Ditemuinya beberapa orang yang sedang bergerombol membicarakan kebakaran yang baru saja terjadi.

“Sebaiknya Mahisa Agni diberi tahu.” berkala salah seorang dari mereka.

“Ya, tetapi siapakah yang berani melakukannya?”

Mereka kemudian terdiam, beberapa laki-laki tua saling berpandangan.

“Hanya Mahisa Agni lah yang dapat memberi kita cara supaya kita tidak mati kelaparan di sini. Beberapa lumbung kita terbakar. Hampir sepertiga dari persediaan makan kita telah musnah.”

Ayah Kuda Sempana mendengarkan dengan penuh minat pembicaraan itu. Dengan dada yang berdebar-debar ia menangkap perasaan hampir setiap orang Panawijen. Mereka berkeinginan untuk memberitahukan kepada Mahisa Agni.

Ketika orang-orang itu kembali terdiam, maka berkatalah ayah Kuda Sempana, “Tak ada orang lain yang dapat menolong kita, selain Mahisa Agni.”

Beberapa orang berpaling kepadanya. Tetapi ada juga di antara mereka yang membuang mukanya. Ayah Kuda Sempana ternyata kurang disenangi di antara mereka karena sifat dan kelakuan anaknya. Hampir setiap orang Panawijen menganggap, bahwa apa yang terjadi itu adalah akibat dari pertentangan yang berlarut-larut antara Kuda Sempana dan Mahisa Agni karena nafsu Kuda Sempana yang tak terkendalikan.

“Jalan satu-satunya adalah memberitahukan kepada Mahisa Agni apa yang telah terjadi.” gumam ayah Kuda Sempana itu.

Tak seorang pun menanggapnya. Bahkan hampir setiap orang mengumpat di dalam hati, “Kami semua tahu, tetapi siapakah yang akan pergi ke Padang Karautan?”

Karena tak seorang pun yang menyahut, maka ayah Kuda Sempana itu meneruskannya, “Kalau saja aku masih mendapat kepercayaan, maka aku akan pergi ke Padang Karautan.”

Kini sekali lagi beberapa orang berpaling kepadanya. Ternyata kata-katanya yang terakhir telah menarik banyak perhatian.

“Tetapi sayang. Aku takut. Bukan karena Padang Karautan, tetapi aku takut melihat wajah Mahisa Agni. Bahkan mungkin aku akan dicekiknya.”

Diantara beberapa orang itu terdengar salah seorang bertanya, “Kenapa kau takut kepada Mahisa Agni?”

“Aku harus menyadari, betapa besar dosa anakku terhadapnya dan terhadap kampung halaman.”

“Mahisa Agni bukan pendendam. Kalau kau berani menyeberangi Padang Karautan pergilah kepadanya.”

“Padang Karautan sama sekali tidak menakutkan bagiku. Hantu Karautan yang mengerikan itu telah dibinasakan oleh Mahisa Agni. Tetapi yang mengerikan bagiku kini justru Mahisa Agni itu sendiri.”

Mereka sejenak terdiam. Beberapa orang ternyata mulai merenungkan kata-kata ayah Kuda Sempana itu. Bahkan salah seorang daripada mereka bertanya, “Apakah benar Mahisa Agni telah membinasakan hantu Padang Karautan?”

“Itu sudah lama terjadi. Sebelum Mahisa Agni mulai membangun bendungan itu. Apakah kalian tidak mendengar ceritera dari Patalan, Jinan atau Sinung Sari?”

Orang-orang yang mendengar jawaban itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Tetapi untuk sejenak mereka masih saja berdiam diri. Namun demikian, timbullah beberapa masalah baru di dalam kepala mereka, “Kalau benar kata orang itu, maka perjalanan ke Padang Karautan tidak lagi berbahaya seperti waktu-waktu yang lalu.”

“Sayang.” desis ayah Kuda Sempana itu perlahan-lahan.

“Kenapa.” bertanya ialah seorang dari mereka.

“Sayang, Mahisa Agni mempunyai kesan yang tidak baik terhadapku.”

“Itu hanya perasaanmu saja. Mahisa Agni bukan seorang pendendam.”

“Tetapi kesalahan anakku sudah bertimbun setinggi gunung Semeru.”

Kembali mereka terdiam. Dan kembali masalah itu bergolak di dalam dada mereka. Bahkan tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Kalau ada seseorang yang mau menemani aku, maka akupun bersedia pergi ke Padang Karautan.”

Dada ayah Kuda Sempana melonjak mendengar kesanggupan itu. Serasa sekeping emas murni yang berkilat-kilat itu telah berada di tangannya. Namun ia berusaha untuk menghapuskan setiap kesan di wajahnya. Bahkan dengan nada yang parau ia berkata, “adalah suatu jasa yang tiada taranya bagi kita di sini, apabila ada kesediaan salah seorang dari kita untuk berangkat. Sayang, aku bukanlah orang yang dapat melakukannya.”

Akhirnya ayah Kuda Sempana itu mendengar seorang lagi berkata, “Marilah, kita pergi bersama-sama. Aku sudah terlalu tua. Seandainya aku bertemu dengan bahaya di Padang Karautan, dan darahku akan dihisapnya habis, maka aku pun tidak akan menjesal lagi. Sisa umurku pun pasti sudah tidak akan banyak lagi.”

Dada ayah Kuda Sempana menjadi semakin berdebar-debar. Kalau mereka benar-benar berangkat ke Padang Karautan, dan Mahisa Agni berhasil diseretnya ke pedukuhan ini, maka emas yang sekeping itu akan jatuh di tangannya. Emas itu akan dapat memberinya kebahagiaan bagi sisa-sisa hidupnya. Ia akan pergi kedaerah yang jauh, menjual emas itu dan menukarkannya dengan halaman, rumah dan sawah yang sudah siap untuk digarap. Tidak lagi ia akan bekerja keras bersama anak isterinya membuka tanah dan mempersiapkannya menjadi tanah persawahan.

Kegembiraan di hati orang tua itupun akhirnya meluap membakar segenap perasaannya. Hampir-hampir ia tidak dapat mengendalikan dirinya. Hanya dengan sekuat tenaganya ia mampu menahan melontarnya kegembiraan yang berlebih-lebihan itu, ketika ia mendengar keputusan dari keduanya, bahwa mereka benar-benar akan pergi ke Padang Karautan.

“Kita pergi berkuda.” berkata salah seorang dari ke dua laki-laki tua itu.

“Baiklah” jawab yang lain, “kita akan segera sampai. Dan berkuda adalah jalan yang paling aman.”

“Kapan kita berangkat?”

“Besok pagi-pagi. Kita menempuh perjalanan di siang hari supaya kita tidak selalu dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan.”

Beberapa orang lain yang mendengar percakapan itu menangguk-anggukkan kepala mereka dengan lontaran ucapan terima kasih. Kehadiran Mahisa Agni akan memberikan petunjuk yang akan bermanfaat bagi mereka, untuk menghindarkan diri dari bahaya kelaparan.

Ketika matahari melemparkan sinarnya yang pertama di pagi hari berikutnya, maka sebagian besar orang-orang Panawijen berdiri berkerumun di ujung desa. Diantara mereka dua laki-laki tua berdiri memegangi kendali kuda. Sekali-sekali dilayangkannya pandangan mata mereka ke daun-daun yang kekuning-kuningan serta ditebarkannya ke atas sawah dan pategalan yang kering kerontang.

Orang-orang Panawijen itu sedang melepas dua orang yang mereka anggap sebagai orang-orang yang paling berani diantara mereka. Dua laki-laki tua itu akan menghubungkan padukuhan mereka dengan Padang Karautan karena beberapa buah lumbung mereka terbakar. Kalau bendungan itu tidak segera dapat mengangkat air keatas Padang Karautan, maka mereka akan terancam bahaya yang mengerikan. Persediaan makanan mereka akan habis, dan bencana itu pun akan menghentikan usaha pembangunan bendungan itu pula, karena orang-orang yang sedang bekerja itu tidak akan lagi mendapat persediaan makanan.

Karena itu maka Mahisa Agni harus segera tahu. Ia harus segera menentukan sikap, untuk mengatasi meskipun hanya bersifat sementara.

Demikianlah maka orang-orang Panawijen itu kemudian melihat kedua laki-laki tua itu naik ke atas punggung kuda. Melambaikan tangan-tangan mereka dan kemudian melecut kuda-kuda mereka meninggalkan Panawijen seperdi dua orang pahlawan yang berangkat kemedan perang. Beberapa orang yang menyaksikan keberangkatan itu berdiri tertegun. Terasa dada mereka bergetaran.

Ketika debunya yang putih mengepul di belakang kaki-kaki kuda yang berlari meninggalkan kampung halaman mereka, maka beberapa orang perempuan menekan dada mereka sambil bergumam, “Mudah-mudahan mereka selamat sampai ke tujuan.”

Ayah Kuda Sempana berdiri juga di antara orang-orang yang melepas kedua laki-laki tua itu. Wajahnya pun tampak suram sesuram wajah-wajah orang Panawijen yang lain. Tetapi hatinya tertawa cerah secerah matahari pagi yang bersinar di atas Padang dan pegunungan. Didalam dadanya berkumandang gemerincing emas sekeping yang kuning berkilat-kilat.

“Hem.” katanya di dalam hati, “alangkah mudah-mudahnya memiliki emas murni sebesar itu. Kalau aku tahu, maka aku tidak akan menderita selama ini. Minum air yang harus diambilnya langsung dari sungai sejauh itu dan makan terlampau terbatas karena kecemasan bahwa suatu ketika akan kehabisan persediaan. Dengan emas itu, maka Panawijen dan bendungan itu tidak akan berarti lagi bagiku.”

Ketika ayah Kuda Sempana itu mengangkat wajahnya, maka kepulan debu yang putih itu pun sudah menjadi semakin jauh. Beberapa orang telah melangkahkan kakinya meninggalkan ujung desa kembali kerumah masing-masing. Namun di sepanjang jalan pulang, mereka masih saja memperbincangkan kedua laki-laki tua yang sedang melakukan perjalanan yang selama ini seakan-akan tabu mereka lakukan.

Sekali ayah Kuda Sempana itu menarik nafas dalam-dalam. Dibiarkannya orang-orang lain meninggalkannya seorang diri. Tetapi begitu orang yang terakhir hilang masuk ke mulut lorong, maka ayah Kuda Sempana itupun segera meloncati parit yang kering dan berjalan cepat lewat pematang-pematang yang pecah-pecah pulang ke rumahnya.

Di rumahnya, Kebo Sindet, Wong Sarimpat dan Kuda Sempana masih menunggunya. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat selalu saja dibayangi oleh kegelisahan, ia tidak yakin bahwa usaha ayah Kuda Sempana akan berhasil. Meskipun demikian harapan untuk itu masih ada juga pada mereka. Sedang Kuda Sempana sendiri kini benar-benar menjadi acuh tak acuh saja. Ia sendiri tidak tahu, apakah ia mengharapkan usaha ayahnya berhasil atau tidak.

Karena itu ketika ayah Kuda Sempana itu muncul dari balik pintu rumahnya, maka yang perpertama-tama bertanya adalah Wong Sarimpat, “Bagaimana Kaki. Apakah usahamu berhasil?”

“Sebagian.” jawab ayah Kuda Sempana, “kedua orang laki-laki tua itu telah berangkat.”

Kebo Sindet menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya yang beku itu tampak bergerak-gerak. Sebuah senyum yang samar-samar telah menggerakkan bibirnya.

“Mudah-mudahan Mahisa Agni bersedia datang.” desis Kebo Sindet.

“Menilik sifat-sifatnya dan kelakuannya dimasa yang lampau ia pasti akan datang untuk melihat sendiri apa yang telah terjadi di padepokan ini.” sahut ayah Kuda Sempana.

“Mudah-mudahan ia tidak datang dengan sepasukan prajurit dari Tumapel yang kini berada di Padang Karautan.”

“Mudah-mudahan.”

Mereka pun kemudian terdiam sejenak, tenggelam dalam angan-angan masing-masing. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat telah membayangkan, betapa Ken Dedes terpaksa melepaskan bermacam-macam perhiasan dan benda-benda berharga untuk membebaskan kakaknya. Sementara itu ia harus berusaha memberikan kesan bahwa usaha menculik Mahisa Agni ini dilakukan oleh Empu Sada yang disangkanya telah mati.

Sementara itu kedua laki-laki tua dari Panawijen telah menjadi semakin jauh dari pedukuhannya. Kini dihadapan mereka terbentang sebuah Padang rumput yang luas yang seakan-akan tidak bertepi. Cahaya matahari yang sudah semakin tinggi seakan-akan menyala membakar Padang rumput yang kering itu.

“Alangkah panasnya.” gumam salah seorang dari mereka.

Yang seorang untuk sejenak tidak menjawab. Matanya seakan-akan menjadi silau menatap udara yang sedang mendidih dibakar oleh terik matahari.

“Kita akan menjadi kering seperti rerumputan itu.” berkata orang yang pertama.

“Menurut pendengaranku, sebaiknya kita menyusul aliran sungai itu. Setiap saat kita tidak akan kehabisan air. Setiap kali kita haus, kita akan dapat segera minum. Hanya menurut pendengaranku di beberapa bagian tebing sungai ini menjadi sangat curam.”

Kawannya tidak segera menjawab. Tetapi tatapan matanya membayangkan betapa jantungnya menjadi berdebar-debar. Matahari yang memanjat semakin tinggi seakan-akan langsung menghunjamkan sinarnya kekepala mereka.

“Kita berkuda.” desis kawannya yang ternyata memiliki tekad lebih besar, “kita tidak akan sampai sehari penuh berjemur di Padang Karautan.”

Kawannya mengangguk-anggukan kepalanya. Perlahan-lahan ia menjawab, “Ya. Kita berusaha supaya kita cepat sampai.”

“Marilah.”

Keduanya pun kemudian melanjutkan perjalanan mereka menyusur sungi yang membelah Padang Karautan itu. Meskipun mereka tidak berani berpacu terlampau cepat, tetapi perjalanan itu jauh lebih cepat daripada mereka berjalan kaki. Kuda-kuda mereka itupun agaknya dapat mengerti juga, bahwa penumpang-penumpang mereka adalah orang-orang tua yang tidak begitu tangkas memegang kendali. Sehingga langkah kaki-kaki Kuda itupun seolah-olah terayun seenaknya.

Ternyata mereka mendapat banyak keuntungan dengan jalan yang mereka pilih. Ketika bumbung air mereka tuntas, maka mereka dapat mengambilnya langsung ke dalam sungai, sekaligus membiarkan kuda-kuda mereka yang kehausan minum pula.

Dengan bumbung yang penuh berisi air itulah maka mereka meneruskan perjalanan mereka menuju ke tempat Mahisa Agni membangun bendungan.

Meskipun di sepanjang jalan mereka selalu dicemaskan oleh nama yang selama ini menakutkan mereka, ialah hantu Karautan, namun akhirnya merekapun menjadi semakin lama semakin dekat pula dengan lingkaran kerja Mahisa Agni dan orang-orang Panawijen yang dibantu oleh sepasukan prajurit dari Tumapel.

Kedatangan kedua orang tua-tua itu telah mengejutkan Mahisa Agni dan Ki buyut Panawijen. Dipersilahkannya kedua orang itu duduk beristirahat, sementara Mahisa Agni mengakhiri kerja hari itu karena matahari telah hampir lenyap ditelan cakrawala.

Mahisa Agni dan Ki Buyut tidak sempat membersihkan dirinya lebih dahulu. Dengan hati berdebar-debar ditemuinya ke dua orang tua-tua yang baru saja datang dari Panawijen. Kedatangan mereka bagi Mahisa Agni dan Ki Buyut dan bahkan bagi seluruh orang-orang Panawijen yang sedang bekerja di Padang Karautan, merupakan suatu hal yang sangat menarik perhatian. Mereka tahu, bahwa apabila tidak terpaksa sekali, maka tidak akan ada seorang pun yang berani melintasi Padang yang menakutkan bagi mereka.

Kedua laki-laki tua itupun tidak membiarkan Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen terlalu lama digelisahkan oleh teka-teki tentang kedatangan mereka. Segera mereka menceriterakan apa yang telah terjadi di padukuhan mereka. Mereka berbicara ganti berganti dan saling tambah menambahi sehingga ceritera tentang kebakaran di Panawijen itu menjadi sebuah ceritera yang menegangkan hati Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen.

Dengan dada yang berdebar-debar beberapa orang lain mendengar juga ceritera tentang kebakaran itu. Sehingga tiba-tiba salah seorang berkata, “Kita tidak lagi mempunyai persediaan makan. Apakah kita masih juga mampu bekerja untuk membuat bendungan ini?”

Suasana kemudian menjadi sepi. Pertanyaan itu hinggap pula di setiap dada orang-orang Panawijen, bahkan juga Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen.

“Bagaimana mungkin kebakaran itu dapat terjadi?” bertanya Mahisa Agni.

Kedua laki-laki itu menggelengkan kepala mereka. Salah seorang dari mereka menjawab, “Tak seorang pun yang tahu sebabnya. Tetapi udara di Panawijen akhir-akhir ini terasa sangat panas.”

“Apakah demikian panasnya sehingga memungkinkan lumbung-lumbung padi dan jagung itu terbakar dengan sendirinya?”

Sekali lagi kedua laki-laki tua itu menggelengkan kepala mereka, “Kami tidak tahu. Tetapi menurut pengamatan kami, tak ada seorang pun bahkan anak-anak yang bermain-main di dekat lumbung-lumbung itu, apalagi bermain-main dengan api.”

Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen menekurkan kepala mereka. Kini terbayang kembali kesulitan-kesulitan yang bakal mereka alami. Mereka baru saja mendapatkan kejutan yang mendorong orang-orang Panawijen bekerja lebih keras dengan kedatangan Prajurit-prajurit dari Tumapel. Tetapi peristiwa ini pasti akan memperlemah lagi usaha mereka menyelesaikan bendungan itu. Mungkin untuk sementara Mahisa Agni dapat mencoba mengatasi dengan menanam apa saja di sepanjang lereng-lereng sungai dan dataran-dataran serta lembah-lembah yang basah. Tetapi tanah itu tidak seberapa luas. Sedangkan seluruh mulut yang ada di Panawijen harus disuapinya.

Tetapi tiba-tiba ketegangan itu dipecahkan oleh suara tertawa perlahan-lahan. Ketika mereka berpaling, mereka melihat Ken Arok berdiri di belakang orang-orang Panawijen yang mengerumuni kedua laki-laki tua itu. Ketika anak muda itu beradu pandang dengan Mahisa Agni, maka katanya, “Jangan risau Agni. Besok aku akan mengirim dua orang prajurit ke Tumapel. Aku akan memberikan laporan apa yang telah kami kerjakan di sini. Dan aku akan dapat memberikan laporan tentang Panawijen itu pula. Peristiwa itu sama sekali bukan peristiwa yang penting. Bukankah aku pernah berkata, bahwa Tuanku Akuwu menyanggupkan bantuan apa saja yang kau perlukan? Coba katakan, berapakah jumlah lumbung yang terbakar itu? Sepuluh atau dua puluh barak? Berapa pikul padi dan jagung yang telah terbakar?” Ken Arok berhenti sejenak. Dipandangnya setiap wajah yang tiba-tiba kembali bersinar, “jangan kalian cemaskan.”

Mahisa Agni menjadi berdebar-debar mendengar kata-kata Ken Arok itu. Sekali lagi kepalanya jatuh tepekur. Kebaikan bati Tunggul Ametung yang melimpah-limpah itu telah menggetarkan perasaannya. Sekilas dikenangnya puteri gurunya, Ken Dedes. Namun Mahisa Agni itu pun kemudian menggigit bibirnya.

“Terima kasih.” terdengar ia berdesis, “terima kasih atas hadiah yang tiada taranya itu.”

Masih terdengar suara tertawa perlahan yang meluncur di antara bibir Ken Arok. Wajahnya Yang seolah-olah bersinar seperti harapan di dalam hati.

Dengan penuh keyakinan ia berkata, “Agni, Tumapel tidak akan kekurangan beras dan jagung. Bahkan seandainya seluruh Panawijen itu terbakar sekalipun. Jangan risaukan kebakaran itu. Kita selesaikan bendungan kita dan sesudah itu aku masih mempunyai satu tugas lagi, barangkali kalian sudi membantu. Membuat sebuah taman yang akan dihadiahkan oleh Tuanku Akuwu Tunggul Ametung kepada permaisurinya kelak.”

“Tentu.” sahut Mahisa Agni dengan serta merta, “apalagi sekedar membangun sebuah taman. Apapun yang harus kami lakukan, maka kami tidak akan dapat ingkar lagi.”

Wajah Ken Arok menjadi semakin cerah karenanya. Wajah yang bagi Mahisa Agni memiliki beberapa perbedaan dari wajah-wajah yang pernah dikenalnya. Tetapi Mahisa Agni tidak dapat mengatakan, apakah sebabnya maka ia melihat perbedaan itu.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Orang-orang Panawijen kini tidak lagi kehilangan harapan untuk menjelesaikan bendungannya setelah mendengar janji Ken Arok. Tetapi meskipun demikian kebakaran di Panawijen itu menimbulkan teka-teki pula di dalam dada mereka.

Agaknya kebakaran itu bukan saja menumbuhkan teka-teki di dalam dada Mahisa Agni. Ia merasa mempunyai tanggungjawab untuk melihat, apakah sebenarnya yang telah terjadi. Selanjutnya mencegah jangan sampai terulang kembali. Meskipun ia yakin juga seperti Ken Arok, bahwa Akuwu Tunggul Ametung bersedia memberi mereka beras dan jagung berapa saja yang mereka butuhkan, tetapi untuk terlampau menggantungkan diri kepada bantuan itu bagi Mahisa Agni adalah kurang bijaksana. Orang-orang Panawijen harus mecoba sejauh mungkin mencukupi kebutuhan diri sendiri. Hanya apabila keadaan tidak memungkinkan lagi, maka bantuan Akuwu Tunggul Ametung itu akan menjadi sandaran terakhir bagi mereka.

Karena itu, maka sejenak kemudian Mahisa Agni berkata, “Ken Arok, terimakasih kami orang-orang Panawijen tiada tara bandingnya atas segala bantuan yang telah kami terima. Namun jangan berarti bahwa kami harus menyandarkan diri kami kepada bantuan-bantuan itu saja. Biarlah kami mencoba mencapai kedewasaan kami. Karena itu, aku ingin melihat apakah yang sebenarnya terjadi di Panawijen. Aku ingin berusaha agar kebakaran semacam itu tidak terulang kembali.”

“Apakah hal itu perlu sekali kau lakukan Agni?” bertanya Ken Arok.

“Perjalanan berkuda ke Panawijen tidak terlampau jauh. Kalau besok pagi aku berangkat, maka pagi berikutnya aku sudah berada di tempai ini kembali.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Sebagai orang yang telah mengenal Padang Karautan melampaui siapa saja, Ken Arok membenarkan perhitungan Mahisa Agni. Tetapi terasa sesuatu mengganggu perasaannya. Sehingga tanpa sesadarnya ia berkata, “Pekerjaan itu dapat kau lakukan besok lusa, seminggu bahkan sebulan yang akan datang. Sekarang tungguilah pekerjaan ini. Pekerjaan yang memberi harapan bukan saja kepadamu sendiri.”

Mahisa Agni termenung sejenak. Tetapi hatinya telah mendorongnya untuk berkata, “Sehari dua hari tidak akan mengganggu Ken Arok. Aku ingin sekali melihat dan berbuat sesuatu untuk mencegah kebakaran itu terulang. Bahkan mungkin aku dapat menemukan tanda-tanda lain. Mungkin seseorang telah menjadi panas hati melihat hasil kerja orang-orang Panawijen.”

Ken Arok tidak segera menyahut. Dicobanya untuk mengerti perasaannya sendiri. Aneh. Ia tidak mengerti dengan pasti bahaya yang dapat mengancam Mahisa Agni di perjalanan, tetapi seakan-akan sesuatu bakal terjadi. Ia pernah melihat Kuda Sempana berkelahi dengan Mahisa Agni di Padang ini. Ia tahu benar bahwa Kuda Sempana mempunyai seorang guru yang sakti. Empu Sada. Tetapi ia tidak tahu banyak tentang mereka itu.

Kesepian sekali lagi mencengkam suasana. Ken Arok masih juga berdiri di tempatnya sambil mengerutkan keningnya, sedang Mahisa Agni yang duduk di antara kerumunan orang-orang Panawijen bersama dua laki-laki tua yang baru saja datang, menekurkan kepalanya, seakan-akan terbayanglah di rongga matanya nyala api yang menggapai langit menelan beberapa buah lumbung dan rumah-rumah di Panawijen.

Dalam kesenyapan itu hampir semua kepala berpaling ketika mereka mendengar seseorang berkata perlahan-lahan, “Agni. Aku sependapat dengan angger Ken Arok. Padang Karautan bukanlah jalan yang lapang selapang Padang itu sendiri bagimu.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat pamannya Empu Gandring berdiri di luar lingkaran orang-orang Panawijen seperti Ken Arok. Dan terbayang di wajah orang tua itu kekhawatiran dan kecemasan. Berbeda dengan Ken Arok Empu Gandring mempunai perhitungan-perhitungan yang lebih jelas tentang setiap kemungkinan yang dapat terjadi atas kemanakannya itu.

“Kau seharusnya dapat menghubungkan peristiwa-peristiwa yang pernah kau alami Agni.” berkata Empu Gandring itu, “Karena itu, sabarkanlah dirimu. Tunggulah sampai beberapa saat.”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Tetapi dipandanginya dua laki-laki tua yang baru saja datang dari Panawijen itu berganti-ganti.

Tiba-tiba salah seorang laki-laki itu berkata, “Kami mengharap sekali kehadiran Mahisa Agni. Kami ingin mendapatkan kepastian bahwa kami tidak akan mati kelaparan.”

“Aku memberikan jaminan itu.” sahut Ken Arok.

“Tetapi orang-orang Panawijen belum mendengarnya.”

“Bukankah kau dapat mengatakan kepada mereka.”

Sejenak kedua laki-laki itu terdiam. Namun salah seorang dari mereka berkata, “Entahlah, aku tidak tahu apa sebabnya. Tetapi tiba-tiba aku merasa bahwa aku tidak berani kembali berdua dengan kawanku ini, Apalagi setelah aku mendengar bahwa Padang Karautan masih juga menyimpan banyak bahaya.”

Kini semua orang terdiam. Beberapa di antara mereka saling berpandangan. Ada juga yang menjadi gelisah. Rumah-rumah siapakah yang terbakar itu? Jangan-jangan rumah mereka telah menjadi abu. Tetapi tak seorang pun yang bertanya, sebab seandainya mereka mendapat kesempatan, maka mereka pun tidak akan berani melihat ke Panawijen.

Dalam pada itu terdengar Ken Arok bertanya, “Tetapi Kaki berdua telah berani menempuh perjalanan kemari. Ternyata Kaki tidak juga mengalami sesuatu di perjalanan. Kenapa Kaki berdua tidak berani kembali kepadukuhan Kaki?”

Kedua laki-laki itu menggelengkan kepalanya. Salah seorang dari mereka menjawab, “Aku tidak tahu sebabnya Ngger. Aku juga tidak tahu apakah yang telah mendorong aku sehingga aku berani menyeberangi Padang Karautan. Tetapi apabila kini ternyata Padang itu berbahaya, sedangkan Mahisa Agni saja masih juga harus berhati-hati, apalagi kami berdua.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Jalan pikiran orang tua-tua itu dapat dimengertinya.

Yang menyahut kemudian adalah Empu Gandring, “Kalian telah lanjut usia. Mungkin sebaya atau bahkan lebih tua dari padaku. Karena itu maka justru kalian tidak akan terganggu di sepanjang perjalanan. Tak ada seorang pun yang akan mengganggu orang-orang tua. Aku pun berani menyeberangi Padang itu, sebab aku juga sudah tua. Apakah kalian bersedia apabila kami bertiga pergi, melintasi Padang Karautan?”

Kedua laki-laki tua dari Panawijen itu saling berpandangan sesaat. Salah seorang dari mereka kemudian menjawab, “Kalau kami berdua harus pulang ke Panawijen, maka kami mengharap bahwa kami akan mendapat kawan yang sekiranya akan dapat melindungi kami. Kalau kami pergi bersama orang-orang tua sebaya dengan kami, maka aku rasa, kehadiran seorang kawan itu tidak akan banyak memberikan ketenteraman di hati kami.”

Mahisa Agni terkejut mendengar jawaban itu. Ken Arok pun dengan serta merta bergeser setapak. Diamatinya orang tua yang bernama Empu Gandring dengan sudut matanya. Tetapi Empu Gandring sendiri hanya tersenyum. Katanya, “setidak-tidaknya kita mempunyai seorang lagi untuk kawan bercakap-cakap. Dengan demikian kita akan dapat melupakan ketegangan di sepanjang perjalanan. Bukankah kita akan berjalan siang hari?”

“Yang kami perlukan bukan seorang kawan bercakap-cakap.” sahut salah seorang laki-laki tua dari Panawijen itu, “tetapi seseorang yang akan menyelamatkan kami dari setiap bencana yang dapat menerkam kami di sepanjang perjalanan kami. Aku kira tak ada duanya yang dapat aku sebut namanya selain Mahisa Agni. Mahisa Agni akan dapat memberi perlindungan kepada kami di sepanjang perjalanan kami. Sedang orang-orang Panawijen akan mendapatkan ketenangan mendengar janji itu diucapkan oleh Mahisa Agni sendiri.”

Hampir bersamaan, Mahisa Agni, Ken Arok dan Ki Buyut Panawijen berpaling memandangi wajah Empu Gandring. Tetapi orang tua itu masih juga tersenyum.

“Hem.” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam, “orang-orang tua itu tidak tahu siapakah paman Empu Gandring. Mereka menyangka bahwa Empu Gandring adalah seorang tua seperti mereka itu sendiri.”

Tetapi permintaan orang-orang tua itu benar-benar telah membuat kepala Mahisa Agni pening, la sendiri ingin sekali melihat, apakah yang sebenarnya terjadi di Panawijen. Tetapi ia menyadari juga, bahwa setiap kali ia akan dapat ditelan bahaya.

Meskipun demikian Mahisa Agni merasa, bahwa ia berkepentingan sekali datang ke Panawijen. Bahaya itu adalah baru suatu kemungkinan. Ia dapat pergi siang hari, berpacu di Padang yang kering. “Apakah bahaya itu mengintai juga di siang hari? Betapapun kuatnya keinginan seseorang untuk mencelakai aku, tetapi aku sangka mereka tidak akan berjemur di terik panas seperti itu. Mereka pun pasti menyangka bahwa aku selalu memilih waktu di malam hari, di udara yang sejuk. Dan apakah aku sekarang ini sudah menjadi seorang pengecut?”

Perasaan itu selalu berdentangan di dalam dada Mahisa Agni. Karena itu maka tiba-tiba ia berkata, “Ki Buyut, Paman Empu Gandring dan kau Ken Arok. Aku ternyata tidak dapat memilih selain memenuhi permintaan kedua orang-orang tua ini. Meskipun demikian aku harus berhati-hati. Aku akan pergi ke Panawijen di siang hari.”

Ketiga orang itu terdiam sejenak. Tampaklah wajah-wajah itu menjadi tegang. Bahkan orang-orang Panawijen yang berkerumun itu pun menjadi tegang pula.

“Apakah itu sudah menjadi keputusanmu Agni?” bertanya Ken Arok.

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ya.”

“Keputusan yang tergesa-gesa.” desis Empu Gandring.

Kedua orang laki-laki yang datang dari Panawijen itu berpaling kepada Empu Gandring. Mereka menjadi tidak senang mendengar kata-katanya yang seolah-olah selalu berusaha merintangi kepergian Mahisa Agni ke Panawijen. Sehingga karena itu salah seorang berkata, “Kenapa kau mencoba mencegah kepergiannya? Bahkan kau sendiri akan mengantarkan kami?”

Mahisa Agni terperanjat mendengar kata-kata itu. Hampir-hampir ia menyahut, tetapi ternyata Empu Gandring mendahuluinya, “Maafkan aku ki sanak. Mungkin aku terlampau mencemaskan nasib anak muda itu.”

“Ia telah dapat menilai dirinya sendiri.”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya, sahutnya, “Mungkin. Mungkin demikian. Tetapi ia masih terlampau muda. Darahnya masih terlampau cepat mendidih.”

“Itulah anak-anak muda yang berani dan bertanggungjawab. Memang kita orang-orang tua kadang-kadang tidak dapat mengerti tentang anak-anak muda apalagi seperti Mahisa Agni. Itu adalah karena kebodohan kita masing-masing.”

Empu Gandring tidak menjawab lagi. Ia tidak dapat berbincang dengan kedua laki-laki tua dari Panawijen itu.

Tetapi dengan demikian Mahisa Agni lah yang menjadi gelisah. Pamannya adalah seorang yang sukar dicari duanya. Orang tua itu telah memiliki ilmu yang dapat disejajarkan dengan orang-orang yang pilih tanding. Gurunya, Panji Bojong Santi, Empu Sada dan lain-lainnya. Untunglah bahwa Empu Gandring memiliki kesabaran yang cukup sehingga ia dapat dengan wajar menanggapi kata-kata kedua laki-laki tua dari Panawijen yang tidak mengenalnya itu.

Yang kemudian terdengar adalah salah seorang laki-laki tua itu berkata, “Angger Mahisa Agni. Aku harap kau mendengarkan suara hati orang-orang Panawijen. Mereka cukup puas apabila mereka melihat Angger datang ke Panawijen. Memberikan beberapa keterangan dan memberikan ketenteraman kepada mereka. Apalagi janji yang telah diucapkan oleh angger yang agaknya seorang pemimpin dari Tumapel. Dengan demikian maka orang-orang Panawijen tidak selalu dikejar-kejar oleh kegelisahan karena bayangan bahaya kelaparan yang akan menimpa mereka.”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Sejenak ditatapnya wajah pamannya yang suram. Tetapi laki-laki tua dari Panawidjen itu berkata, “Jangan hiraukan orang-orang lain. Apalagi mereka yang bukan orang Panawijen. Mereka tidak dapat merasakan betapa kecemasan telah mencengkeram seluruh padukuhan. Tanah yang kering kerontang, daun-daun yang menjadi kuning dan gugur di tanah. Kini beberapa lumbung desa kami terbakar.”

Detak jantung Mahisa Agni serasa menjadi berdentangan di dalam dadanya. Hampir-hampir ia berkata, “siapakah laki-laki tua yang memang sebenarnya bukan orang Panawijen itu. Tetapi ia adalah seorang yang dapat berbuat banyak di Padang Karautan ini.”

Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat pamannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Terdengar ia berkata perlahan-lahan, “Sebenarnyalah demikian Agni. Segala sesuatu tergantung kepadamu. Dihadapanmu terbentang banyak pekerjaan dan kewajiban yang terlampau sulit.”

Dahi Mahisa Agni menjadi semakin berkerut merut. Tetapi keinginannya untuk pergi ke Panawijen sangat mendesaknya. Ia dapat membayangkan betapa orang-orang yang tinggal di Panawijen menjadi terlampau gelisah dan cemas. Perempuan dan anak-anak pasti tidak akan dapat tidur nyenyak karena hantu kelaparan yang selalu menakut-nakuti mereka.

“Paman.” berkata Mahisa Agni kemudian, “aku terpaksa pergi ke Panawijen. Tetapi kali ini aku akan pergi di siang hari. Mudah-mudahan aku terhindar dari segala macam bahaya.”

Tanpa mereka sengaja, maka Empu Gandring dan Ken Arok saling berpandangan. Dan tanpa berjanji pula mereka berdesis, “Kau jangan pergi seorang diri.”

Mahisa Agni memandangi wajah pamannya dan Ken Arok berganti-ganti, “Aku hanya akan pergi sehari saja.”

“Sehari atau seminggu bahaya itu bagimu sama saja Agni.” berkata pamannya.

Mahisa Agni menyadari kata-kata pamannya itu. Tetapi apakah ia harus mengecewakan orang-orang Panawijen yang sedang dicengkam oleh ketakutan itu? Mahisa Agni tidak dapat melupakan, bahwa kekeringan yang menimpa Panawijen itu adalah akibat dari sikap gurunya yang sedang kehilangan ke seimbangan. Ia tidak dapat melemparkan kesalahan itu ke pada orang lain berturutan, sehingga akhirnya kesalahan itu akan dibebankan kepada Kuda Sempana. Tidak. Ia harus turut bertanggung jawab atas akibat dari kekhilafan gurunya itu.

Apalagi ketika terpandang olehya wajah-wajah laki-laki tua yang datang dari Panawijen dengan sepenuh harapan.

Karena itu maka Mahisa Agni pun kemudian berkata, “Paman, aku tidak dapat mengecewakan orang-orang Panawijen. Bukan karena aku selalu dapat mengatasi setiap kesulitan dan memberi apa saja yang mereka butuhkan tetapi mereka memerlukan kawan untuk ikut serta merasakan kecemasan dan kegelisahan. Adalah hanya karena pertolongan Yang Maha Agung lah kemudian apabila dapat kita temukan jalan keluar dari kesulitan-kesulitan itu. Kali ini, dalam hal kekurangan persediaan bahan makanan, Tuanku Akuwu Tunggul Ametung telah menjadi lantaran untuk meringankan beban kita.”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan kemudian terloncat dari bibirnya, “Baiklah Agni. Kalau kau tidak dapat lagi merubah keputusanmu.”

Sebelum Empu Gandring menyelesaikan kalimatnya, salah seorang laki-laki tua dari Panawijen itu memotong, “Keputusan itu adalah keputusan yang paling bijaksana.”

Empu Gandring sama sekali tidak menanggapinya. Ia masih berkata kepada Mahisa Agni, “Berangkatlah besok pagi. Aku pergi bersamamu.”

Kedua laki-laki tua dari Panawijen itu mengangkat wajahnya. Sambil memandangi Empu Gandring salah seorang dari mereka bertanya, “Buat apa kau ikut dengan Mabisa Agni?”

Mahisa Agni tidak lagi dapat menahan dirinya. Terasa sesuatu mendesak di dalam dadanya. Dan tanpa sesadarnya ia membentak, “Kaki. Aku sudah memenuhi permintaanmu. Tetapi jangan terlampau banyak mempersoalkan orang lain yang sama sekali tidak kau ketahui keadaannya.”

Kedua laki-laki itu benar-benar terkejut mendengar Mahisa Agni membentak, sehingga keduanya menjadi terbungkam. Wajah merekapun menjadi pucat dan bibir mereka menjadi gemetar. Mereka tidak tahu kenapa tiba-tiba Mahisa Agni menjadi marah kepada mereka.

Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Dengan sareh ia berkata, “Biarkan mereka menyatakan pikirannya Agni.”

Dada Mahisa Agni seakan-akan menjadi sesak. Perlahan-lahan ia berdesis, “Maafkan aku Kaki. Bukan maksudku menyakiti hatimu.”

Sejenak kemudian mereka terdampar ke dalam suasana yang sepi. Kedua laki-laki tua dari Panawijen itu masih gemetar. Mereka benar-benar tidak menyadari apa yang sedang mereka lakukan. Tanpa mereka kehendaki, mereka telah ikut serta menjerumuskan Mahisa Agni ke dalam bahaya.

Yang mereka angan-angankan adalah, bahwa apabila mereka berhasil membawa Mahisa Agni datang ke Panawdjen, maka mereka akan menjadi pahlawan. Mereka dapat melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Mereka sama sekali tidak mengerti keadaan Mahisa Agni sebenarnya, dan mereka tidak merasa, bahwa merekapun ternyata telah terjebak dalam suatu akal yang licik dari Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.

Dalam pada itu terayata bukan saja Empu Ganring yang menjadi cemas atas nasib Mahisa Agni. Ken Arokpun merasakan sesuatu yang tidak dapat dimengertinya sendiri. Karena itu maka kemudian ia berkata, “Mahisa Agni. Aku akan menyiapkan tujuh orang yang terpilih, untuk mengawanimu pergi ke Panawijen.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia tidak menyangka akan mendapat tawaran itu. Tetapi sayang, bahwa hati kecilnya meronta. Ia sama sekali bukan seorang pemimpin, tetapi juga bukan seorang penakut. Karena itu, maka pangawalan tujuh orang prajurit akan membuatnya menjadi canggung. Karena itu maka jawabnya, “Terima kasih Ken Arok. Terima kasih atas kebaikanmu itu. Tetapi maaf aku tidak dapat menerimanya. Pengawalan prajurit sama sekali bukanlah hakku, dan sama sekali tidak sepantasnya terjadi. Aku hanya seorang anak padesan yang tidak berarti.”

“Jangan terlampau merendahkan dirimu Agni.” sahut Ken Arok, “aku sama sekali tidak memandang siapakah kau. Tetapi aku merasakan suatu ketidak wajaran. Sedang kau sekarang sedang dibebani oleh tugas yang cukup berat.”

Mahisa Agni menggeleng lemah, “Terima kasih Ken Arok. Tetapi maaf, aku kira aku tidak akan dapat menerimanya.”

“Apakah kau tersinggung karenanya?” bertanya Ken Arok, “aku sama sekali tidak ingin menganggapmu seperti kanak-anak yang masih selalu memerlukan dayang dan pengasuh. Tidak. Tetapi Padang Karautan memang menyimpan seribu macam rahasia.”

“Rahasia itu sekarang telah berada di tanganmu.”

“Satu di antaranya.” jawab Ken Arok, “tetapi aku pernah melihat tiga hantu Karautan berkumpul di sini, kemudian hadir seorang sakti yang bernama Empu Sada. Setelah itu ternyata di Padang ini telah singgah pula seorang yang barnama Empu Gandring. Akhir-akhir ini di Padang ini pula berkeliaran penunggang kuda tanpa pelana, hantu dari Kemundungan yang bernama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Sebelumnya di hutan menjelang Padang ini terdengar pula seorang berkasa kulit harimau, guru kakang Witantra, Panji Bojong Santi. Nah, Agni. Apakah tujuh orang prajurit itu masih kau anggap berlebih-lebihan.”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Kata-kata yang diucapkan oleh Ken Arok itu sama sekali tak dapat disangkalnya. Ia mengakui bahwa semuanya itu benar-benar membuat Padang ini semakin banyak menyimpan rahasia. Tetapi bagaimanapun juga, Mahisa Agni merasa canggung apabila ia harus mendapat pengawalan tujuh orang prajurit Tumapel.

Karena itu dengan berat hati ia berkata, “Terima kasih Ken Arok. Aku dapat menerima kemurahan Akuwu Tunggul Ametung atas bendungan yang sedang kita bangun. Aku tidak akan menolak seandainya nanti Akuwu Tunggul Ametung memberikan hadiah bahan makanan kepada kami, orang-orang Panawijen yang kelaparan. Tetapi aku tidak dapat menerima kebaikan hatimu, justru untukku sendiri. Aku tidak dapat berjalan seperti seorang Senapati yang dikawal oleh prajurit-prajuritnya.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Mahisa Agni bukanlah sanak dan bukan kadangnya. Tetapi ia merasa sesuatu telah memaksanya untuk mencoba melindunginya.

Sejenak mereka saling berdiam diri. Dua laki-laki tua dari Panawijen itu duduk membeku. Nama-nama yang disebut oleh Ken Arok sebagian besar belum pernah mereka dengar. Tetapi suasana pembicaraan itu membayangkan kepada mereka bahwa di Padang Karautan itu memang tersimpan berbagai macam persoalan.

Tetapi kedua laki-laki itu sama sekali tidak dapat mengerti kenapa Mahisa Agni menolak ketujuh orang prajurit yang diberikan oleh Ken Arok kepadanya. Bukankah dengan demikian perjalanan mereka akan menjadi bertambah aman? Mereka sama sekali tidak merasakan kejanggalan dan keseganan itu. Bahkan mereka sama sekali tidak berpikir tentang keadaan diri sendiri dalam hubungannya dengan para prajurit itu.

Keheningan itu kemudian dipecahkan oleh suara Ken Arok, “Agni, kalau demikian, maka aku akan ikut besertamu.”

Mahisa Agni terkejut mendengar kata-kata itu, sehingga duduknya berkisar setapak. Dengan serta merta ia menjawab, “Ken Arok, jangan hiraukan aku. Lakukanlah kewajiban yang dibebankan kepadamu oleh Akuwu Tunggul Ametung. Memimpin para prajurit dan Pelayan Dalam istana untuk membantu membuat bendungan ini. Tetapi jangan mempersulit dirimu dan menghiraukan hal-hal yang kecil yang bukan kewajibanmu, tetapi justru dapat mendatangkan bencana bagimu.”

Ken Arok menggelengkan kepalanya, katanya, “Aku dapat bersikap sebagai seorang pemimpin dari para prajurit ini, tetapi aku juga dapat bersikap sebagai Ken Arok pribadi, Ken Arok yang untuk pertama kalinya bertemu dengan Mahisa Agni di Padang Karautan ini. Karena itu, maka biarlah aku melepaskan pakaian kepemimpinanku sejenak dan menyerahkan kepada orang lain. Aku, Ken Arok akan pergi bersamamu menyeberangi Padang ini. Aku ingin mengenangkan kembali segarnya udara terbuka, hijaunya daun-daun perdu dan panasnya terik matahari. Jangan menolak Agni. Sebab menolak atau tidak, aku mempunyai kebebasan untuk melakukannya. Pergi ke Panawijen atau tinggal di sini.”

Sejenak Mahisa Agni terbungkam. Sama sekali ia tidak dapat mengucapkan sepatah katapun. Karena itu maka sekali lagi suasana menjadi sepi. Kadang-kadang terdengar beberapa orang yang duduk di sekitar Mahisa Agni itu saling berbisik. Kadang-kadang mereka mengangguk-anggukkan kepala mereka, namun kadang-kadang wajah-wajah itu menjadi sangat tegang.

Mahisa Agni sendiri sejenak tidak dapat mengucapkan sepatah katapun. Ia tidak menyangka bahwa begitu besar perhatian orang-orang di sekitarnya terhadap dirinya. Terbersitlah rasa terima kasih yang menyentuh hatinya, tetapi ia pun menjadi canggung pula karenanya. Ia biasa hidup sebagai seorang anak padepokan yang bertanggung jawab. Yang biasa meletakkan kewajiban pada usaha sendiri. Tetapi kini ia harus menghadap suatu kenyataan yang lain meskipun persoalannya dapat dimengertinya.

Meskipun demikian Mahisa Agni masih mencoba menjawab, “Ken Arok, aku sekali lagi mengucapkan terima kasih kepadamu. Aku memang tidak akan dapat menolak apalagi melarang, seandainya kau dengan kehendakmu sendiri ingin menjelajahi Padang Karautan ini. Tetapi apakah dengan demikian kau tidak justru meninggalkan kewajiban yang dibebankan oleh Akuwu Tunggul Ametung kepadamu?”

“Itu adalah tanggung jawabku Agni. Seandainya aku akan dianggap mengabaikan kewajibanku sekalipun, maka akulah yang akan menerima akibatnya.”

Mahisa Agni tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Ia tabu benar, bahwa sama sekali bukan maksud Ken Arok untuk memaksa kehendaknya atasnya, tetapi apa yang dilakukannya itu terdorong oleh perasaan cemas dan gelisah.

Akhirnya Mahisa Agni berkata, “Baiklah. Kalau kau ingin juga pergi menyeberangi Padang Karautan ini. Aku tahu bahwa itu bukan semata-mata karena kau telah merindukan udara Padang yang luas ini, bukan karena kau ingin mendengar angin yang gemerisik membelai dedaunan yang mulai kering menguning. Tidak pula karena kau ingin melihat angin pusaran yang menaburkan debu dan rerumputan kering. Tetapi karena kau melihat sesuatu yang mencemaskan hatimu. Tentang aku.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya perlahan-lahan, “Terserah kepadamu Agni. Apakah yang akan kau katakan tentang aku.”

Keduanya pun kemudian terdiam. Angin senya bertiup semakin lama semakin kencang. Tiba-tiba mereka melihat kilat memancar.

Dada Mahisa Agni berdesir. Tanpa disadarinya Ditatapnya langit di luar gubugnya. Tetapi langit itu tampak bersih. Satu dua bintang telah mulai menampakkan dirinya, berkeredipan seperti batu permata.

“Hem, apakah sudah akan sampai waktunya musim basah tiba.” pertanyaan itu tumbuh di dalam hatinya, “Bendungan itu masih belum siap seluruhnya. Tetapi menilik mangsa, hujan baru akan datang dua bulan lagi, dan banjir yang pertama menurut kebiasaan akan datang kira-kira tiga bulan lagi.”

Mahisa Agni terkejut ketika pamannya berkata, “Apakah kita sudah menjatuhkan putusan? Besok kau pergi bersama aku dan angger Ken Arok?”

Mahisa Agni mengangguk sambil menjawab, “Demikianlah paman.”

“Baiklah.” sahut pamannya, “sekarang aku akan beristirahat. Besok kita berangkat pagi-pagi.”

“Silahkan paman.” jawab Mahisa Agni.

“Aku juga akan mempersiapkan diri.” berkata Ken Arok, “aku akan menyerahkan pimpinan kepada seseorang dan memerintahkan dua orang untuk pergi ke Tumapel. Ke dua prajurit akan melaporkan keadaan di Padang ini dan akan menyampaikan berita kebakaran di Panawijen. Aku yakin kalau Tuanku Akuwu Tunggul Ametung akan menyangupi memberi bantuan kepada orang-orang Panawijen. Setidak-tidaknya bagi orang-orang Panawijen yang berada di Padang Karautan ini, sehingga mereka tidak perlu mengurangi persediaan makan dari lumbung-lumbung yang masih ada di Panawijen.”

“Terima kasih Ken Arok.” desis Mahisa Agni sambil menundukkan kepalanya. Getar dadanya serasa semakin cepat mengalir. Bantuan-bantuan yang datang itu telah mengharukan perasaannya.

Akhirnya perasaan terima kasih yang tidak terhingga dipanjatkannya kepada Yang Maha Agung. Hanya karena tangan-Nya lah maka semua itu dapat terjadi.

Sejenak kemudian Ken Arok telah meninggalkan Mahisa Agni yang masih duduk tepekur. Beberapa orang lainpun satu-satu beranjak pula dari tempat duduk mereka, kembali kegubug-gubug masing-masing. Mereka menjadi gelisah setelah mereka mendengar berita kebakaran di Panawijen. Tetapi mereka pun menjadi gelisah pula mendengar pembicaraan orang-orang penting di sekitar mereka. Mereka ingin Mahisa Agni melihat bekas-bekas kebakaran itu untuk memastikan sebab-sebabnya, tetapi mereka juga mengharap di dalam hatinya, agar Mahisa Agni tidak usah pergi ke Panawijen, sebab menurut pendengaran mereka, Padang Karautan benar-benar merupakan Padang yang dipenuhi oleh seribu macam rahasia.

Tetapi mereka tidak dapat mengatakan kepada Mahisa Agni, kepada Ken Arok atau kepada paman Mahisa Agni. Mereka juga tidak dapat mengatakan kepada kedua laki-laki tua yang baru datang dari kampung halaman mereka, bahwa sebaiknya Mahisa Agni tidak usah mereka ajak kembali ke Panawijen. Namun satu dua orang berpendapat bahwa sebaiknya Mahisa Agni pergi saja ke Panawijen, supaya apabila ia kembali ke Padang ini, ia dapat mengatakan apa yang telah terjadi. Sehingga dengan demikian mereka tidak selalu dihantui oleh bayangan yang mungkin sangat ber lebih-lebihan.

Ketika tempat itu menjadi semakin sepi, maka Mahisa Agni terkejut mendengar suara Ki Buyut Panawijen dekat di sampingnya, “Angger, aku juga ingin turut ke Panawijen.”

“Oh.” Mahisa Agni mengangkat wajahnya dan dengan serta merta ia berkata, “Jangan Ki Buyut. Aku sudah meninggalkan pekerjaan ini. Sebaiknya Ki Buyut lah yang kini menunggui mereka supaya mereka tidak menjadi kehilangan gairah.”

“Tetapi aku juga ingin melihat apa yang terjadi itu ngger.”

“Lain kali Ki Buyut. Biarlah Ki Buyut tetap bersama mereka yang sedang bekerja. Aku, paman Empu Gandring dan Ken Arok telah meninggalkan Padang ini. Para prajurit Tumapel itu pun diserahkannya kepada orang lain. Karena itu sebaiknya Ki Buyut tetap berada di sini.”

Ki Buyut Panawijen menatap wajah Mahisa Agni dengan pancaran kekecewaan hatinya. Tetapi ia tidak berkata sesuatu. Dicobanya untuk mengerti kata-kata Mahisa Agni itu.

“Ki Buyut.” Mahisa Agni meneruskan, “kerja yang besar ini tidak akan dapat kita tinggalkan bersama-sama. Aku telah melihat sekali-sekali kilat memancar di langit. Sebentar lagi kita akan sampai pada musim basah. Sebelum banjir yang pertama mengaliri sungai ini, maka bendungan kita harus sudah meyakinkan, bahwa ia tidak akan hanyut karenanya.”

Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih saja berdiam diri.

“Karena itu.” Mahisa Agni meneruskan, “kita harus bekerjya keras untuk menyelesaikannya. Untunglah bahwa kita mendapat bantuan para prajurit dari Tumapel itu.”

Ki Buyut Panawijen masih mengangguk-angguk kecil. Kemudian katanya perlahan-lahan, “Baiklah ngger. Biarlah aku tinggal di sini menunggui mereka yang sedang bekerja.”

“Terima kasih Ki Buyut.” sahut Mahisa Agni, “mudah-mudahan semuanya dapat kita selesaikan bersama-sama.”

Ki Buyut kemudian meninggalkan Mahisa Agni kembali kegubugnya. Udara masih juga terasa agak panas, meskipun angin telah bertiup agak kencang. Gelap malam pun semakin lama menjadi semakin pekat. Ketika Mahisa Agni menengadahkan wajahnya, dilihatnya dari celah tutup keyong gubugnya, bintang-bintang sudah berpijaran di langit yang biru hitam.

Kedua laki-laki tua yang datang dari Panawijen masih berada di dalam gubug itu. Ketika suasana menjadi semakin sepi, dan tidak ada orang lain di dalam gubugnya, maka salah seorang daripadanya bertanya, “Agni, siapakah orang tua itu?”

“He.” Mahisa Agni mengerutkan keningnya, “bukankah itu Ki Buyut. Apakah kalian telah melupakannya?”

“Bukan. Bukan Ki Buyut. Apakah aku sudah gila sehingga aku tidak mengenalnya lagi.” sahut orang itu, “maksudku orang tua yang selalu mencoba menghalangi kau pergi ke Panawijen.”

Dahi Mahisa Agni menjadi berkerut merut. Terasa detak jantungnya menjadi semakin cepat. Tetapi ia tidak akan dapat mengatakan lain daripada keadaan sesungguhnya. Dengan demikian maka untuk selanjutnya kedua orang itu akan bersikap lebih hati-hati. Namun hal itu pasti akan mengejutkan mereka. Tetapi menurut pendapat Mahisa Agni demikianlah sebaiknya-baiknya.

Maka jawabnya, “Kaki, laki-laki tua itu adalah salah seorang dari mereka yang disebut-sebut sebagai orang aneh di Tumapel. Ia seorang pembuat keris. Kerisnya hampir tak ada duanya di dunia ini. Tetapi membuat keris baginya tidak seperti pembuat-pembuat keris yang lain. Belum pasti setahun sekali ia menghasilnya sebuah keris. Bahkan mungkin dua tahun. Tetapi apabila sebuah keris disiapkannya, maka keris itu pilih tanding.”

Kedua laki-laki itu memandangi wajah Mahisa Agni dengan tegangnya. Tetapi mereka tidak segera tahu, siapakah orang itu. Karena itu maka salah seorang dari mereka bertanya, “Siapakah orang itu?”

“Orang itu telah pula disebut-sebut namanya oleh Ken Arok.”

“Ya, siapakah namanya?”

“Empu Gandring.”

“O.” kedua orang itu terbungkam. Mereka mendengar nama itu tadi disebut pula seorang anak muda pemimpin prajurit dari Tumapel dalam deretan nama-nama yang asing bagi mereka, tetapi kesan yang mereka tangkap adalah terlampau dahsyat. Justru karena itu maka mereka tidak lagi mengucapkan sepatah katapun. Dada mereka seakan-akan tersumbat oleh penyesalan.

Yang berbicara kemudian adalah Mahisa Agni, katanya, “Nah, sekarang beristirahatlah. Besok kita berangkat pagi-pagi supaya kita sampai di Panawijen sebelum sore hari.”

“Begitu cepat?”

“Tidak terlampau cepat. Perjalanan yang sedang.”

Kedua orang itu tidak menjawab lagi. Mahisa Agni telah menyediakan untuk mereka sehelai tikar pandan yang dibentangkan di atas setumpuk rumput-rumput kering.

Malam pun kemudian menjadi semakin dalam. Setapak demi setapak bintangi berkisar kebarat menuju kecakrawala. Angin malam yang sejuk berhembus dari Selatan. Dan embun pun kemudian setetes-setetes menitik dan hinggap di dedaunan yang menguning.

Ketika fajar menyingkap kehitaman langit di ujung Timur, maka Mahisa Agni dan Kawan-kawannya pun telah bersiap. Kedua laki-laki tua dari Panawijen, Empu Gandring dengan sebilah keris raksasa di punggungnya, Ken Arok dengan pedang di lambung dan Mahisa Agni sendiri. Seperti Ken Arok Mahisa Agnipun membawa pedang pula tergantung pada ikat pinggang kulit yang lebar.

Terasa oleh orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel, bahwa orang-orang yang berangkat melintasi Padang Karautan itu benar-benar telah bersiap untuk menghadapi setiap kemungkinan.

Ketika langit menjadi semakin terang, maka mereka pun segera berangkat, dilepas oleh Ki Buyut Panawijen dan orang lain yang sebentar lagi akan mulai pula bekerja menyelesaikan bendungan itu.

Sejenak kemudian maka kuda-kuda itu pun segera berpacu. Tetapi mereka tidak dapat berjalan seperti yang mereka kehendaki, karena kedua laki-laki tua dari Panawijen itu tidak berani menunggang kuda terlampau kencang. Karena itu maka perjalanan itu pun merupakan perjalanan yang terlampau lambat bagi Mahisa Agni, Empu Gandring, apalagi Ken Arok.

Meskipun demikian, namun mereka pun menjadi semakin lama semakin mendekati pedukuhan Panawijen. Pedukuhan yang semakin lama menjadi semakin kering. Namun dengan demikian, bagi Mahisa Agni semakin lama semakin didekatinya bahaya yang bersembunyi di dalam pedukuhan itu.

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat telah menunggunya dengan sepenuh harapan tentang berbagai keuntungan yang akan mereka dapatkan dari pemerasan yang akan mereka lakukan.

Betapapun lambatnya perjalanan itu, tetapi akhirnya Panawijen telah berada di hadapan hidung mereka, setelah beberapa kali mereka berhenti melepaskan lelah dan haus, karena kedua laki-laki tua dari Panawijen itu. Mereka tidak memiliki ketahanan seperti Mahisa Agni, Empu Gandring yang meskipun sudah tua pula dan apalagi Ken Arok, seorang yang paling mengenal Padang Karautan melampaui yang lain-lain.

Sejenak kemudian mereka pun telah memasuki padukuhan itu. Mereka berlima disambut dengan penuh gairah oleh orang-orang Panawijen. Apalagi setelah mereka melihat Mahisa Agni, maka mereka pun menjadi seakan-akan anak-anak yang sudah lama tidak melihat ayahnya pergi merantau, dan kini ayah itu kembali pulang.

Belum lagi Mahisa Agni sempat beristirahat, maka beberapa orang-orang telah menemuinya dan masing-masing berceritera dalam nada yang berbeda-beda tentang kebakaran yang terjadi dipadukuhan mereka. Tentang beberapa buah lumbung dan rumah-rumah yang lain.

“Nanti aku akan melihat.” berkata Mahisa Agni, “sekarang apakah kalian tidak ingin memberi kesempatan kami untuk beristirahat sebentar.”

“Oh.” orang-orang Panawijen itu saling berpandangan sejenak. Kemudian merekapun menjawab hampir bersamaan, “Silahkan. Silahkan anakmas beristirahat di rumah Ki Buyut.”

“Terima kasih.” sahut Mahisa Agni, “aku akan beristirahat di padepokanku.”

Mahisa Agni pun kemudian pergi kepadepokannya, padepokan yang pernah didiaminya sejak kanak-kanak.

Dalam pada itu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat menunggu dengan berdebar-debar di rumah Kuda Sempana. Ketika ayah Kuda Sempana datang, maka dengan tergesa-gesa Wong Sarimpat bertanya, “He, apakah kau melihat Mahisa Agni. Bukankah orang-orang ribut menyambut kedatangannya. Anak-anak itu akan menjadi terlampau congkak. Seakan-akan ia sudah menjadi seorang Akuwu di Panawijen.”

“Aku melihatnya.” sahut ayah Kuda Sempana, “anak muda itu datang berlima.”

“Berlima?” Wong Sarimpat mengerutkan alisnya, sedang wajah Kebo Sindet yang beku masih juga membeku, “siapa saja mereka?”

Ayah Kuda Sempana menggeleng, “Aku tidak tahu. Yang seorang sudah agak tua, membawa sebuah keris yang besar di punggungnya.”

“Empu Gandring.” gumam Wong Sarimpat.

“Yang seorang lagi agaknya prajurit atau Pelayan Dalam seperti Kuda Sempana dahulu. Wajahnya tampan dan bermata terang.”

“Siapakah anak itu Kuda Sempana?” bertanya Wong Sarimpat.

Kuda Sempana menggeleng. Jawabnya kosong, “Aku tidak tahu.”

“Kau pasti tahu.” sahut Wong Sarimpat, “kau pernah menjadi seorang prajurit atau seorang Pelayan Dalam.”

“Tetapi aku tidak melihat siapa orang itu.”

Wong Sarimpat mengangguk-anggukkan kepalanya. Gumamnya, “Ya, kau memang tidak melihat tetapi seharusnya kau dapat mengira-ngirakan siapakah orang itu.”

“Ada beratus-ratus Pelayan Dalam dan prajurit pengawal di dalam istana. Aku tidak dapat mengenal seluruhnya.”

“Tetapi siapakah yang berwajah tampan dan bermata terang.” tiba-tiba Wong Sarimpat membentak.

“Jangan terlampau keras berteriak.” Kebo Sindet memperingatkannya, “kita tidak berada di Kemundungan. Kita berada di dalam sebuah pedukuhan. Di Kemundungan, suaramu yang keras dan serak itu hanya akan didengar oleh dinding-dinding padas lereng bukit. Di sini suaramu akan dapat membuat bayi-bayi menjadi pingsan.”

“Oh.” Wong Sarimpat mengusap mulutnya seakan-akan ia akan menghapus suaranya yang telah terlanjur terlontar. Tetapi kembali ia bertanya merkipun agak perlahan-lahan, “Siapa?”

“Banyak di antara mereka yang tampan dan bermata, terang.” sahut Kuda Sempana seakan-akan acuh tak acuh, “Witantra, Sura, Kukma, Mitra…”

“Cukup.” sekali lagi Wong Sarimpat berteriak dan sekali lagi Kebo Sindet memperingatkannya, “Wong Sarimpat. Apakah kau tidak mempunyai otak?”

Wong Sarimpat terdiam. Tetapi mulutnya masih saja kumat-kamit, dan ia mengumpat tak habis-habisnya di dalam hati.

“Mungkin kau tidak mengenal anak itu Kuda Sempana.” berkata Kebo Sindet dengan wajah yang beku, “tetapi siapakah yang dua lagi?”

Ayah Kuda Sempana menjawab, “Yang dua adalah laki-laki tua dari Panawijen yang menjemput mereka.”

Kebo Sindet mengangguk-anggukkan kepalanya. Kepada Wong Sarimpat ia berkata, “Kita sudah pasti. Siapa pun prajurit muda itu, tetapi ia bukan orang-orang yang wajib kita perhitungkan. Kau dapat menahan Empu Gandring, dan aku akan melarikan Mahisa Agni.”

Wong Sarimpat mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kemudian kau lebih baik meninggalkan Empu Gandring. Ia tidak akan dapat menyusulmu. Kudamu pasti lebih baik dari pada kudanya.”

Wong Sarimpat masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kalau anak muda yang seorang itu mampu membuat perlawanan, maka sementara Kuda Sempana harus mengikat Mahisa Agni dalam perkelahian. Hanya sebentar. Aku akan membunuh prajurit muda yang tampan itu. Aku tidak tahu siapa ia, tetapi kalau ia mencoba menghalang-halangi aku, maka terpaksa aku akan membunuhnya.”

“Baik.” geram Wong Sarimpat, “aku akan membunuh Empu Gandring, tidak hanya sekedar menyingkirkannya dari Mahisa Agni.”

“Kau tidak perlu membual Wong Sarimpat.” berkata Kebo Sindet. Kemudian kepada Kuda Sempana ia berkata, “Dan kau Kuda Sempana, kau akan dapat melepaskan dendam hatimu. Sekendakmulah, apa yang akan kau lakukan atas anak muda itu kelak di Kemundungan. Sedang aku mempunyai kepentingan sendiri dengan Mahisa Agni itu. Tetapi aku tidak akan mengecewakanmu.”

Sementara itu, setelah Mahisa Agni dan kedua orang lainnya, Empu Gandring dan Ken Arok, beristirahat sejenak, minum air legen yang manis langsung dari bumbung yang di turunkan dari deresan pohon nyiur, dan sedikit makan beberapa jenis makanan, mereka pun segera pergi ketempat ke bakaran.

Mereka melihat beberapa lumbung dan rumah terbakar hampir musna. Abu yang lembut masih saja berhamburan disentuh angin yang agak kencang. Di sana sini masih teronggok reruntuhan yang tersisa.

Mahisa Agni, Empu Gandring dan Ken Arok melihat sisa-sisa kebakaran itu dengan saksama, sementara beberapa orang mengerumuninya dari kejauhan.

Tiba-tiba Empu Gandring yang tua itu mengerutkan keningnya. Ia melihat beberapa hal yang kurang wajar menurut penilaiannya. Karena itu maka digamitnya Ken Arok dan di panggilnya Mahisa Agni mendekat.

“Kau lihat onggokan abu di sini?” bertanya Empu Gandring.

Kedua anak muda itu menggangguk.

“Dan kau lihat rumah sebelah yang belum terbakar habis?”

Sekali lagi keduanya mengangguk.

“Aku akan menyebutkan suatu kemungkinan, tetapi aku tidak dapat memastikan kebenarannya. Kalau menurut dugaanku, maka lumbung ini pasti lebih dahulu terbakar dari rumah itu. Bukankah di sisi sebelah ini kebakaran agaknya lebih sempurna dari sisi yang lain.”

“Ya.” sahut Mahisa Agni.

“Tetapi rumah itu terbakar disisi yang berlawanan dari lumbung ini. Kalau rumah itu terbakar oleh api yang menjalar dari lumbung ini, maka sebelah yang terdekat dengan lumbung inilah yang akan terbakar lebih dahulu. Tetapi bukankah yang terjadi sebaliknya? justru yang di sisi ini rumah itu masih tersisa meskipun tinggal seonggok kayu.”

Kedua anak-anak muda itu masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka segera dapat mengambil kesimpulan, bahwa api yang membakar rumah itu bukanlah yang menjalar dari lumbung ini. Kenyataan yang kecil itu telah cukup membuat mereka bercuriga. Apakah mungkin karena panasnya udara timbul api dari dua tempat yang berbeda? Yang hampir bersamaan telah membakar dua macam bangunan itu?

Dalam pada itu terdengar Ken Arok berdesis, “Ada tangan yang menyalakannya.”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya, sedang mata Mahisa Agni kini menjadi menyala seperti api yang membara. Terdengar giginya gemeretak. Dengan dada yang berdentangan ia menggeram, “Aku sependapat. Ada orang yang mencoba mengacaukan kerja kita.”

“Jangan kau tanggapi dengan hati yang gelap Agni. Adalah sudah, menjadi kebiasaan, bahwa setiap kerja yang baik dan bermanfaat, apalagi kerja yang besar, pasti akan ditemuinya berbagai macam rintangan dan gangguan. Kini kau juga menjumpai rintangan dan gangguan itu.”

“Jadi apakah kita akan membiarkan saja mereka itu paman?”

“Tentu tidak Agni. Tetapi hati kita harus tetap jernih supaya kita tetap dapat melihat dengan terang. Kita harus pasti siapakah yang kita hadapi.” Empu Gandring berhenti sejenak. Dipandanginya orang-orang yang berkerumun di kejauhan. Kemudian katanya, “Kau jangan membuat orang-orang itu menjadi semakin bingung dan cemas. Buatlah mereka tenang.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam seakan-akan ingin mengendapkan isi dadanya yang sedang bergolak.

“Berilah mereka ketenangan, supaya mereka tidak akan menambah bebanmu yang telah menjadi semakin berat itu.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan iapun dapat mengerti ketika pamannya berkata, “Kau harus berkata kepada mereka, bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi. Kebakaran ini adalah kebakaran yang wajar karena suatu kecelakaan saja. Dan kau harus menyampaikan kepada mereka kesanggupan Angger Ken Arok. Adalah lebih baik apabila angger Ken Arok menyampaikannya sendiri.”

Mahisa Agni pun kemudian memandangi wajah-wajah yang memancarkan kecemasan dan ketidak tentuan. Namun kepala anak muda itu masih saja mengangguk-angguk. “Baiklah” gumamnya. Sambil berpaling kepada Ken Arok, Mahisa Agni berkata, “Apakah kau tidak berkeberatan?”

“Aku mendahului keputusan Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi aku yakin bahwa demikianlah yang akan terjadi?”

“Jadi bagaimana?”

“Baiklah.”

Ketiganya, bersama dua laki-laki yang menjemput mereka ke Padang Karautan dan beberapa orang tua yang menunggu mereka agak jauh di samping bekas-bekas kebakaran itu pun segera menemui orang-orang Panawijen. Mahisa Agni mencoba untuk menenangkan hati mereka dengan beberapa keterangan. Dan akhirnya dipersilahkannya Ken Arok sendiri memberi penjelasan kepada orang-orang Panawijen itu.

Agaknya kesanggupan Ken Arok telah dapat memberi mereka ketenteraman. Mereka tidak lagi digelisahkan oleh masa depan yang mengerikan. Bahaya kelaparan yang selalu menghantui mereka beberapa hari terakhir.

“Aku telah mengirimkan dua orang prajurit ke Tumapel.” berkata Ken Arok, “mudah-mudahan mereka segera datang. Sebelum padi yang terakhir kalian masukkan kedalam lesung, maka pasti telah datang padi dan jagung dari Tumapel. Kalian tidak akan dibiarkan kelaparan sampai tanah yang kalian garap menghasilkan. Sampai bendungan di Padang Karautan itu dapat mengangkat air, mengairi sawah-sawah kalian yang pasti akan lebih subur dari sawah-sawah kalian di Panawijen ini.”

Alangkah lapang hati mereka. Meskipun daun-daun di padukuhan mereka menjadi semakin kuning dan berguguran, namun hati mereka menjadi tenteram.

Tetapi tidak demikian dengan Mahisa Agni sendiri. Hatinya selalu diganggu oleh kemarahan dan kegelisahan, meskipun ia tidak tahu, bahwa Kebo Sindet dan Wong Sarimpat saat itu berada di pedukuhan itu pula.

Sebenarnya bukan seja Mahisa Agni Yang menjadi gelisah. Tetapi juga Empu Gandring dan Ken Arok. Dugaan mereka atas timbulnya kebakaran karena kesengajaan telah menumbuhkan berbagai persoalan di dalam dada mereka. Itulah sebabnya, maka setelah mereka kembali kepadepokan dan beristirahat di serambi samping, maka senjata-senjata mereka tidak juga terpisah daripada tubuh mereka.

Empu Gandring yang melihat kekuatan-kekuatan yang seimbang dengan dirinya yang menurut dugaannya adalah Empu Sada, Kebo Sindet dan Wong Sarimpat membiarkan kerisnya melekat di punggung, meskipun ia sedang duduk menikmati beberapa macam makanan padepokan Panawijen. Sedang Ken Arok meletakkan pedangnya di pangkuannya. Mahisa Agni sendiripun tidak juga melepas pedangnya tersangkut di lambungnya.

Beberapa orang cantrik yang masih tinggal di padepokan itu sibuk menjediakan makan dan minuman mereka. Salah seorang dari mereka bertanya kepada Mahisa Agni, “Apakah aku dapat menyimpan senjata-senjata kalian?”

Mahisa Agni menggeleng, “Jangan.”

Cantrik itu terdiam, tetapi wajahnya menjadi kecut. Terbayanglah suatu pertanyaan di dalam wajah itu, “Kenapa senjata-senjata itu tidak juga ditempatkan.” Namun cantrik itu tidak mengucapkannya.

Sementara itu cahaya di langit pun menjadi semakin lama semakin merah. Mega yang berarak-arak dan awan yang seolah-olah tersangkut di langit memantulkan cahaya matahari yang hampir tenggelam, dan memancarlah layung di langit. Warna yang tajam menusuk ke dalam serambi samping padepokan Panawijen.

Warna itu seolah-olah menambah kegelisahan yang tersimpan di dalam dada Mahisa Agni, Empu Gandring dan Ken Arok. Warna itu seperti tajamnya ujung senjata yang berputar di langit, disoroti oleh cahaya senja.

Tiba-tiba Mahisa Agni berdiri dari tempatnya. Perlahan-lahan ia melangkah sambil berkata, “Aku akan ke sanggar sebentar paman.”

“Apa yang akan kau perbuat?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin melihat sanggar guruku yang telah lama tidak dipergunakan.”

Empu Gandring merasa heran. Padepokan ini adalah padepokan guru Mahisa Agni. Tetapi untuk melepas Mahisa Agni pergi dari sisi sebelah Timur ke sisi sebelah Barat, terasa begitu berat. Seakan-akan Empu Gandring sedang melepas seorang anak kecil bermain-main ditepi sumur.

“Aku terlampau dibayangi oleh perasaanku sendiri.” berkata orang tua itu di dalam hatinya. Karena itu maka di cobanya untuk mempergunakan pikiran jernihnya. Anak muda itu hanya akan pergi ke sanggar. Tidak lebih dari tigapuluh langkah dari tempat itu.

“Pergilah.” jawabnya kemudian, “tetapi hati-hatilah. Rumah ini sudah lama tidak kau kenal.”

“Baiklah paman.”

Mahisa Agnipun segera meninggalkan pamannya. Pesan itu adalah pesan yang aneh baginya, tetapi ia merasa bahwa pesan itu sudah wajar diucapkannya. Seakan-akan anak muda itu sendiri merasa bahwa ia berada di suatu medan yang berbahaya.

Dengan pedang di lambung Mahisa Agni pun segera pergi ke sanggar gurunya. Perlahan-lahan dibukanya pintu sanggar itu. Terdengar suara berderit, dan seberkas sinar senja yang temaram melontar masuk.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Terasa udara agak panas mengalir dari dalam. Remang-remang dilihatnya tiang-tiang kayu nangka yang kekuning-kuningan.

Perlahan-lahan Mahisa Agni melangkah naik anak tangga dan memasuki sanggar. Ketika kakinya menyentuh lantai, debu yang tipis menggelepar di bawah kakinya.

Mahisa Agni pun kemudian melangkah terus masuk ke dalam sanggar. Ia tidak menutup pintunya, terlampau rapat karena dengan demikian sanggar itu akan menjadi gelap sekali. Dengan sisa-sisa sinar senja ia mencoba mengamati isi sanggar gurunya itu.

“Pusaka itu masih berada di sini.” desisnya, “tak seorang pun yang tahu tempatnya selain aku.”

Dengan ragu-ragu Mahisa Agni mencoba membuka sepotong papan lantai dan meraba-raba kedalamnya. Ketika tangannya menyentuh sebuah peti kecil, maka ia menarik nafas dalam-dalam.

“Peti ini masih di sini.” desisnya.

Mahisa Agni itu pun segera duduk menghadap pintu sanggar yang masih sedikit menganga. Sambil melihat keluar, kalau-kalau ada orang yang melihatnya, ia membuka peti kecil itu. Hati-hati ia meraba ke dalamnya, dan kini tangannya menyentuh sebuah benda yang dingin.

“Inilah pusaka itu.” katanya di dalam hati.

Dengan dada yang berdebar-debar diangkatnya benda kecil dari dalam peti itu. Mata Mahisa Agni menjadi bersinar-sinar ketika ia melihat sebuah pusaka kecil berkilat-kilat di tangannya. Trisula.

Seperti didorong oleh tenaga yang aneh, cepat-cepat ia memasukkan trisulanya kembali. Segera menutup peti itu, dan menempatkan kembali sepotong papan lantai itu pada tempatnya, dan mengembalikan semuanya seperti sediakala. Tak ada bekas apapun yang ditinggalkannya. Tak seorang pun tahu, bahwa ada sepotong kayu lantai yang dapat diangkat, dan di dalamnya tersimpan pusaka itu.

Sejenak Mahisa Agni duduk tepekur. Di luar senja menjadi semakin beringsut menjelang malam. Langit yang kemerah-merahan menjadi semakin kelam. Dan sanggar itu pun manjadi semakin gelap.

Empu Gandring dan Ken Arok masih duduk di serambi samping. Mereka hampir tidak bercakap-cakap sama sekali. Kepala mereka tampak tepekur. Ketika seseorang memasang sebuah lampu dinding di samping mereka, mereka hanya menganggukkan kepala sambil bergumam, “Terima kasih.” Namun sesudah itu mereka terdiam kembali.

Yang kemudian bertanya adalah Ken Arok, “Paman, kenapa Mahisa Agni terlampau lama berada di dalam sanggar itu?”

Empu Gandring tidak segera menjawab. Meskipun sebenarnya hatinya sendiri selalu diliputi oleh kegelisahan. Dipandanginya warna-warna yang kelam di halaman. Tetapi agaknya tak satupun yang dilihatnya.

Agaknya Ken Arok tidak dapat menahan kegelisabannya, sehingga iapun kemudian berdiri. Perlahan-lahan ia berdesis, “Aku ingin melihat kesanggar sebentar paman. Apakah Agni sedang bersemadi?”

“Aku kira tidak Ngger. Tetapi baiklah kalau kau ingin melihatnya. Tetapi kau pun harus ber-hati-hati pula.”

“Baik paman.”

Ken Arok pun kemudian melangkah meninggalkan serambi samping pergi ke sanggar di sisi yang lain dari halaman rumah itu. Dengan hati-hati Ken Arok melihat setiap gerak dan mendengarkan setiap bunyi di halaman. Di sana-sini beberapa orang cantrik telah menyalakan pelita-pelita di sudut-sudut rumah.

Ken Arok berhenti beberapa langkah dari sanggar. Ia tidak ingin mengganggu Mahisa Agni. Dari tempatnya berdiri, Ken Arok melihat remang-remang pintu sanggar itu tidak tertutup rapat.

Tetapi malam pun menjadi semakin malam. Dan Mahisa Agni masih juga belum keluar dari sanggar. Meskipun demikian Ken Arok masih juga belum beranjak dari tempatnya.

Tiba-tiba dadanya berdesir ketika ia melihat sesosok bayangan mendekati sanggar itu. Bayangan yang hanya dilihatnya lamat-lamat itu berhenti sejenak di muka pintu. Tetapi bayangan itu kemudian tidak segera-segera pergi.

“Siapakah ia?” desis Ken Arok di dalam hatinya, “Agaknya ia menunggu Mahisa Agni keluar.”

Tetapi Ken Arok tidak begitu mencemaskannya. Agaknya bayangan itu tidak sengaja menyembunyikan diri. Ia berdiri saja di samping pintu sanggar.

“Mungkin seorang cantrik.” berkata Ken Arok di dalam hatinya.

Sejenak kemudian ia melihat pintu sanggar itu bergerak. Bayangan yang menunggu di samping pintu itu surut selangkah. Sementara itu, mata Ken Arok yang tajam melihat Mahisa Agni tersembul ke luar dari dalamnya.

Tiba-tiba Mahisa Agni itu terloncat kesamping anak tangga sanggarnya. Agaknya ia terkejut ketika ia melihat seseorang menunggunya dimuka pintu sanggar. Tetapi orang yang menunggunya itu pun terkejut pula, sehingga iapun terloncat mundur.

“Siapa?” terdengar Mahisa Agni bertanya.

“Aku Agni.”

“O.” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam, “kau membuat aku terkejut cantrik. Apa kerjamu di sini?”

“Aku ingin bertanya kepadamu Agni, apakah kau memerlukan lampu. Tetapi aku tidak berani mengganggumu, masuk ke dalam sanggar.”

Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam, dan beberapa langkah daripadanya, di dalam kegelapan, Ken Arok pun menarik nafas dalam-dalam pula. “Benar dugaanku.” katanya di dalam hati, “ia seorang cantrik.”

[divider line_type=”Full Width Line” custom_height=””]

Source : www.agusharis.net

~ Article view : [210]