Pelangi di Langit Singasari [ 26 ]

340

oleh S.H. Mintardja

[ Seri 26 ]

 

KEN AROK itu pun kemudian mendengar Mahisa Agni menjawab, “Tidak cantrik. Aku sudah lama tinggal di dalam sanggar”.

“Oh, baiklah” sahut cantrik itu.

“Kini aku akan kembali ke serambi samping”.

“Marilah”.

Keduanya pun kemudian berjalan meninggalkan sanggar itu beriringan setelah Mahisa Agni menutup pintu rapat-rapat. Mahisa Agni berjalan di depan dan cantrik itu berjalan di belakang. Dalam keremangan sinar pelita di kejauhan Ken Arok melihat keduanya semakin lama semakin jauh dari padanya.

Tetapi, darah Ken Arok itupun kemudian seakan-akan berhenti mengalir. Kali ini ia melihat sesosok bayangan yang mengendap-endap di belakang Mahisa Agni dan cantrik yang mengikutinya. Bayangan itu meloncat dari sisi sanggar ke tempat terlindung yang lain di belakang cantrik yang berjalan di belakang Mahisa Agni. Sebelum Ken Arok sempat berbuat sesuatu, ia melihat bayangan itu menyambar cantrik yang berjalan di belakang Mahisa Agni tanpa menimbulkan suara apapun.

Ken Arok adalah seorang yang memiliki tanggapan yang cepat menghadapi persoalan yang demikian. Ia adalah seorang pelayan dalam istana Tumapel dan sebelum itu ia adalah seorang hantu yang menakutkan. Karena itu segera ia tahu, bahwa sekejap lagi, maka Mahisa Agni lah yang akan mendapat sergapan dari bayangan itu.

Karena itu dengan serta merta ia berteriak, “Agni. Awas di belakangmu. Aku kira ia bukan seorang cantrik”.

Dengan gerak naluriah, segera Mahisa Agni yang mendengar teriakan Ken Arok meloncat ke samping. Dengan serta pula tangannya menarik hulu pedangnya dan terjulur lurus, tepat ke arah bayangan yang handak menerkamnya.

Dalam pada itu tubuh cantrik yang berjalan di belakang Mahisa Agni telah terbaring di tanah. Terdengar ia merintih, tetapi suara itu pun segera berhenti.

Dada Mahisa Agni yang memang telah di liputi oleh kemarahan dan kegelisahan itu rasa-rasanya meledak melihat kehadiran orang yang sama sekali tak dikehendakinya. Apalagi ketika ia melihat cantrik yang sama sekali tidak tahu menahu tentang segala macam persoalan itu terbaring diam di tanah. Meskipun Mahisa Agni masih mendengar deru nafasnya, namun serangan yang licik itu telah membakar segenap urat darahnya.

Dengan suara bergetar terdengar Mahisa Agni bertanya, “Siapakah kau?”

Orang-orang yang berdiri di hadapannya itu tidak segera menjawab. Dalam keremangan tampaklah wajahnya membeku seperti wajah sesosok mayat. Selangkah orang itu maju, dan selangkah Mahisa Agni surut.

“Siapa kau?”

Orang itu masih juga berdiam diri. Wajahnya masih juga membeku mengerikan.

Ken Arok yang melihat kehadiran orang itu tidak dapat tinggal diam. Namun, ketika ia akan melangkahkan kakinya terdengar desis di belakangnya, “Kau akan kemana anak muda?”

Pertanyaan itu pun telah benar-benar mengejutkan hati Ken Arok. Cepat ia meloncat dan memutar tubuhnya. Kini ia berdiri berhadapan dengan seorang yang bertubuh kekar meskipun tidak cukup tinggi. Wajahnya yang kasar memancarkan sinar kebencian. Tetapi orang itu tertawa. Katanya pula, “jangan terkejut, apakah kau belum pernah mengenal aku?”

Ken Arok tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah itu dengan tajamnya. Ternyata sinar mata Ken Arok tidak dapat ditundukkan oleh orang itu, sehingga orang itu berhenti tertawa. Terdengar suaranya parau, “He, anak muda. Sebut namamu”.

Ken Arok masih tetap tidak menyahut. Kakinya yang merenggang seolah-olah dalam-dalam menghunjam kepusat bumi. Tangannya tanpa sesadarnya telah berada dihulu pedangnya.

“Kau tidak mau menjawab” bentak orang yang berdiri di hadapan Ken Arok itu, “Baik. Kalau kau tidak mau menjawab, akulah yang akan menyebutkan namaku. Wong Sarimpat”.

“Hem” Ken Arok menggeram. Segera ia menyangka bahwa yang berdiri di hadapan Mahisa Agni adalah Kebo Sindet. Karena itu maka hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Kecemasan dan kegelisahan yang dirasakannya sejak mereka berangkat dari padang Karautan kini ternyata terjadi.

Dalam pada itu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tidak segera berbuat sesuatu. Mereka masih saja berdiri di tempatnya. Agaknya mereka masih menunggu.

“Mereka menunggu Empu Sada” pikir Ken Arok. “Hem, apakah Mahisa Agni harus mengalami bencana itu.

Tiba-tiba Ken Arok terkejut ketika Wong Sarimpat sekali lagi membentaknya keras-keras, “Ayo, sebut namamu “.

Ken Arok yang berdiri seperti batu karang itu masih berdiam diri. Ia tidak beranjak dari tempatnya ketika Wong Sarimpat maju selangkah mendekatinya.

Tetapi langkah Wong Sarimpat tiba-tiba terhenti ia mendengar seseorang menegurnya “Wong Sarimpat, tunggu. Jangan hanya berani mengganggu anak-anak”.

Kini Wong Sarimpat lah yang memutar tubuhnya menghadap suara itu. Dari dalam kegelapan ia melihat sesosok tubuh berjalan dengan tenang mendekatinya. Empu Gandring.

“Hem, kau pande keris itu pula”. desis Wong Sarimpat.

“Ya”.

Tiba-tiba mereka mendengar Kebo Sindet berkata, “Nah. Sekarang sudah lengkap. Kami sengaja menunggu Empu Gandring, supaya kami tidak kau sangka hanya berani mengganggu anak-anak”.

“Jadi bagaimana?” sahut Empu Gandring. Dilihatnya beberapa langkah dari padanya, Kebo Sindet berdiri berhadapan dengan Mahisa Agni yang seolah-olah membeku dengan pedang terjulur. Empu Gandring segera dapat menduga, apa yang kira-kira akan terjadi atas kemanakannya. Sekali dipandanginya Pelayan dalam yang bernama Ken Arok itu. Apakah berdua dengan Mahisa Agni mereka mampu setidak-tidaknya menyelamatkan diri mereka?

Tetapi, ia tidak dapat berbuat lain dari menghadapi kenyataan itu. Meskipun Empu Gandring tampaknya masih tenang-tenang saja, namun gejolak di dalam dadanya terasa menyentuh-nyentuh dinding jantungnya. Bahaya yang kini dihadapinya, bukan sekedar bermain-main seperti pada saat ia menghadapi seorang Wong Sarimpat dan seorang Empu Sada. Ia masih sempat mengganggu kedua orang itu sebelum mereka harus bertempur.

Kini, yang dihadapi adalah dua orang sekaligus. Wong Sarimpat dan Kebo Sindet, bahkan mungkin Empu Sada yang segera akan menyusul.

“Empu Gandring” terdengar suara Kebo Sindet dalam nada yang datar, “aku sebenarnya tidak ingin mengganggumu. Aku hanya akan mengambil Mahisa Agni. Kali ini, kau jangan menghalangi aku lagi. Sebab, pasti tidak akan ada gunanya. Dengarlah, jangan menjawab dahulu. Kalau kau melawan, dan kita berkelahi, maka sementara kau melawan Wong Sarimpat, maka aku telah sempat membunuh anak muda dari istana Tumapel itu. Kemudian membuat Mahisa Agni lumpuh. Sesudah itu kami berdua, aku dan Wong Sarimpat akan membunuhmu bersama-sama. Nah bagaimana pertimbanganmu Empu Gandring?”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia menjawab masih dalam ketenangan “Rencana itu kedengarannya baik sekali. Beberapa hari kau perlukan waktu untuk menyusun rencana itu? Aku kira kau telah mengaturnya jauh sebelum hari ini. Sejak lumbung itu terbakar. Kemudian kau membuat orang-orang Panawijen gelisah dan menjemput Mahisa Agni ke Padang Karautan. Akhirnya rencana itu sampai pada puncaknya seperti yang kau katakan itu”.

“Tepat” jawab Kebo Sindet singkat.

“Dan kau merasa bahwa kau mampu melakukannya?”

“Bagaimana penilaianmu Empu?”

Yang menyahut kemudian adalah Ken Arok. Suaranya bergetar seperti guruh yang menggetarkan udara, “Hem. Ternyata kalian berhasil menyelesaikan sebagian dari rencana itu, tetapi bagaimana selanjutnya?”

Kebo Sindet tidak segera menjawab. Terasa di dadanya pengaruh suara Ken Arok yang agak aneh. Anak muda itu ternyata memiliki beberapa kelainan dengan anak-anak muda sebayanya. Dengan Mahisa Agni misalnya, atau Kuda-Sempana.

Tetapi sebelum Kebo Sindet menyahut, terdengar suara tertawa Wong Sarimpat, “O, kau juga berani mengucapkan kata-kata itu? Kau benar-benar anak yang luar biasa”.

Ken Arok tidak menyahut. Ditatapnya wajah Wong Sarimpat yang kasar dan liar itu.

Yang berkata kemudian adalah Kebo Sindet. Suaranya bergulung-gulung seolah-olah melingkar-lingkar saja di dalam perutnya, “Jangan mengungkiri kenyataan. Kalian akan mati hari ini. Kau anak muda, kaupun akan mati pula apabila kau berpihak kepada Mahisa Agni”.

Belum lagi mulut Kebo Sindet terkatup rapat, orang itu menjadi terkejut. Ternyata Ken Arok tidak mau terlampau banyak berbicara. Seperti tatit ia meloncat menyerang, bukan Wong Sarimpat tetapi justru Kebo Sindet yang berdiri agak jauh dari padanya.

Dalam waktu yang pendek itu, Ken Arok berusaha membuat pertimbangan. Baginya lebih baik melepaskan Wong Sarimpat yang sudah berdiri berhadapan dengan Empu Gandring. Ia percaya bahwa Empu Gandring akan mampu menyelesaikannya, setidaknya untuk mengikat demit dari Kemundungan itu. Sedang di pihak lain Mahisa Agni benar-benar berada dalam bahaya. Meskipun dirinya sendiri tidak yakin bahwa ia dapat bertahan melawan Kebo Sindet, namun ia mengharap bahwa berdua dengan Mahisa Agni, ia dapat menggabungkan kekuatan.

Kebo Sindet sendiri terkejut bukan buatan menerima serangan itu. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa anak muda itu mampu membuat gerakan demikian cepatnya. Jauh lebih cepat dari apa yang dapat di lakukan oleh Kuda-Sempana.

Tetapi, Kebo Sindet adalah setan tua yang memiliki pengalaman sedalam lautan. Dengan cekatan pula ia meloncat menghindari serangan Ken Arok. Bahkan dengan menjejakkan kakinya, ia melingkar dan alangkah anehnya gerak Kebo Sindet itu. Sebelum Ken Arok mampu berdiri tegak di atas tanah, maka serangan lawannya itu telah melandanya seperti angin taufan.

Alangkah dahsyatnya serangan itu. Empu Gandring masih sempat melihat apa yang terjadi. Seperti Kebo Sindet, ia heran melihat kemampuan Ken Arok. Tetapi keheranan dan kekagumannya itu dibarengi oleh perasaan cemas yang menghentak dadanya. Ia tahu akibat dari perbuatan anak muda itu. Kebo Sindet pasti akan marah dan setan tua yang berwajah beku itu akan segera memberikan serangan balasan. Tidak tanggung-tanggung. Serangan itu pasti serangan mematikan.

Dan kini ia melihat Kebo Sindet benar-benar berbuat demikian. Ia melihat tangan Kebo Sindet terayun dengan kecepatan yang luar biasa. Sudah pasti di luar kemampuan Ken Arok untuk menghindarinya. Orang tua itu hanya dapat menahan nafasnya. Jarak antara keduanya tidak terlampau dekat, sedang di sampingnya berdiri Wong Sarimpat yang pasti akan mampu menghalanginya apabila ia ingin berbuat sesuatu.

Serasa dada Empu Gandring itulah yang tersentuh tangan Kebo Sindet. Dengan wajah yang tegang ia melihat apa yang akan terjadi atas anak muda dari istana Tumapel itu. Apa lagi ketika ia mendengar ledakan tertawa Wong Sarimpat yang gila.

Tetapi, tiba-tiba suara tertawa Wong Sarimpat terputus. Selangkah ia maju dengan mata yang menyala. Bahkan tanpa sesadarnya Empu Gandring pun meloncat maju mendekati Ken Arok yang terbanting di atas tanah kerena sentuhan tangan Kebo Sindet.

Kedua orang tua yang telah masak itu hampir-hampir tidak percaya melihat apa yang terjadi. Bahkan Kebo Sindet sendiri seolah-olah terpaku di tempatnya. Adalah tidak mungkin sama sekali bahwa ia melihat anak muda yang bernama Ken Arok, yang terbanting dengan kerasnya karena dorongan tangan Kebo Sindet yang sedang marah, setelah terguling beberapa kali, segera berusaha bangun kembali.

Meskipun mula-mula Ken Arok kehilangan keseimbangannya dan terhuyung-huyung hampir terjatuh lagi, tetapi akhirnya ia mampu tegak berdiri dengan garangnya seperti batu karang di tengah-tengah lautan. Dengan tangannya ia mengusap dadanya yang terasa panas bukan buatan seperti terbakar karena sentuhan tangan Kebo Sindet yang sedang marah. Namun, lambat laun ia berhasil menguasai rasa sakit itu.

Ketika Ken Arok itu telah berhasil berdiri tegak kembali, maka tanpa sesadarnya terdengar Kebo Sindet berdesis, “Setan manakah yang manjing ke dalam tubuhmu itu anak muda. Kau berhasil menyelamatkan dirimu meskipun aku dapat menyentuh tubuhmu. Kalau kau tidak bernyawa rangkap, maka hal itu tidak akan mungkin terjadi pada seorang manusia biasa. Bahkan Empu Gandring pun pasti tidak akan mampu bertahan apabila tanganku berhasil mengenai dadanya.”

Ken Arok yang masih berdiri tegak itu menggeram. Kini, kemarahannya pun memuncak sampai ke ubun-ubun. Tubuhnya yang dibakar oleh kemarahan itu menggigil seperti orang kedinginan. Perlahan-lahan mulutnya bergerak dan terdengarlah ia berkata. Mahisa Agni yang seakan-akan membeku di tempatnya melihat peristiwa itu menjadi terkejut. Yang didengarnya itu adalah suara yang pernah didengarnya di Padang Karautan. Suara hantu yang menakutkan.

“Kebo Sindet,” suara itu terdengar parau dan dalam. Lontaran getarannya menghantam dada mereka yang mendengarnya, “jangan menyombongkan diri dengan kekuatan aji-ajimu. Meskipun aku tidak memiliki ilmu macam apapun, tetapi kejahatan yang kau lakukan pasti akan mencelakakanmu. Kalau tidak saat ini, pasti akan datang suatu ketika kau hancur menjadi debu”.

“Ancaman seseorang yang telah berputus asa” jawab Kebo Sindet dalam nada datar. Kata-kata ita seakan-akan bergulung-gulung saja di dalam perutnya, “adalah hanya kebetulan saja bahwa kau terlepas dari bahaya maut. Tetapi kalau aku mengulangnya sekali lagi, maka kau tidak akan lagi dapat menyebut nama ayah bundamu.”

Ken Arok tidak menjawab. Dengan tangan gemetar dijulurkannya pedangnya sambil berkata, “Aku sudah siap”.

Agaknya kemarahan Kebo Sindet sudah tidak tertahankan lagi. Hampir tak tertangkap oleh pandangan mata biasa ia melenting, meloncat ke arah Ken Arok. Demikian cepatnya sehinga kali ini pun Ken Arrok tidak sempat berbuat banyak. Ia hanya mampu menggerakkan ujung pedangnya mengarah kepada lawannya. Tetapi, sekali lagi gerakan Kebo Sindet tak dapat diikutinya. Sekali lagi Kebo Sindet melenting, dan kali ini Ken Arok benar-benar tidak mampu mengikuti kecepatan gerak itu.

Empu Gandring berdesis perlahan. Terasa bulu-bulunya meremang membayangkan kemungkinan yang dapat terjadi atas Ken Arok. Kini ia ingin mencoba mempengaruhi gerak Kebo Sindet, tetapi dengan tiba-tiba Wong Sarimpat menghalangnya dengan sebuah sambaran kaki pada lambung Empu Gandring. Terpaksa Empu Gandring menghindari serangan itu, dan terpaksa ia tidak dapat berbuat sesuatu atas Kebo Sindet. Yang dilihatnya adalah sekali lagi Ken Arok terpelanting jatuh sesudah pedangnya terloncat dari tangannya.

Mahisa Agni masih saja berdiri membeku. Kesadarannya seolah-olah terhisap habis-habis oleh peristiwa itu. Ia hanya mampu menggerakkan biji-biji matanya, mengikuti bayangan Ken Arok terbanting jatuh.

Tetapi, sekali lagi mereka menjadi heran dan kagum bercampur-baur. Mereka melihat Ken Arok itu berguling beberapa kali. Lalu dengan tertatih-tatih ia berdiri di atas kedua lututnya. Bahkan kemudian anak muda itu telah tegak kembali. Tegak seperti tonggak baja yang kokoh kuat.

Orang-orang tua yang melihat peristiwa itu hampir tidak dapat mempercayai penglihatannya. Mereka melihat tata gerak Ken Arok tidak terlampau jauh terpaut dari Mahisa Agni dan anak-anak muda yang memiliki kelebihan yang lain. Tetapi bahwa Ken Arok tidak lumat karena tangan Kebo Sindet adalah benar-benar di luar dugaan.

Kebo Sindet sendiri yang telah dua kali mengenainya, sejenak terpaku seperti patung. Bahkan tanpa sesadarnya ia berdesis, “Luar biasa. Anak itu benar-benar anak setan”.

Yang terdengar kemudian adalah gemeretak gigi Ken Arok. Suaranya menjadi semakin parau dan dalam, sedang nyala matanya menjadi semakin membara. Seperti mengambang di udara terdengar suaranya, “Marilah Agni, marilah kita hadapi jahanam ini. Ternyata hidup dan mati sama sekali tidak berada di dalam kekuasaan tangannya yang telah bernoda itu”.

Mahisa Agni benar-benar seperti terbangun dari mimpi. Dua kali ia melihat Ken Arok terpelanting. Dua kali ia melihat anak itu bangkit. Dan ia sendiri belum berbuat apa-apa. Karena itu, maka dengan dada yang bergelora ia menyahut, “Aku sudah siap Ken Arok”. Kalau saja kulitnya tidak kebal oleh senjatanya.

Belum lagi Kebo Sindet sempat menyahut, maka Ken Arok itu pun telah meloncat menyerang. Kini sikapnya menjadi semakin garang. Ia sama sekali tidak memungut pedangnya yang terjatuh, tetapi di tangannya tergenggam sebilah pisau belati yang kasar.

“Pisau itu” desis Mahisa Agni di dalam hatinya yang berdesir “pisau itu adalah pisau hantu Karautan”.

Kebo Sindet yang memiliki berbagai macam ilmu itu tidak lengah sama sekali dengan cekatan ia menghindarinya. Namun kali ini serangan Ken Arok benar-benar seperti angin ribut. Geraknya semakin lama menjadi semakin bertambah kasar. Meskipun Mahisa Agni tidak lagi melihat gerakan yang mengerikan seperti ketika ia berkelahi melawan anak itu di Padang Karautan, tetapi kini ia melihat gerak-gerak yang serupa, bahkan bersumber pada gerakan-gerakan yang aneh itu, namun dalam tingkatan yang lebih dahsyat.

Meskipun Kebo Sindet adalah seorang yang telah menyimpan perbendaharaan pengalaman hampir tak terhitung jumlahnya, teetapi ia terkejut melihat tandang lawannya. Ia tidak melihat unsur-unsur yang tersusun rapi betapapun kasarnya, tetapi ia merasakan bahaya yang mematuknya. Karena itu maka ia pun berkata di dalam hatinya, “Anak ini benar anak setan atau jin tetekan. Bagaimana mungkin ia bisa berkelahi dengan cara itu”.

Kini, Kebo Sindet tidak hanya merasakan seorang anak muda yang sombong sedang membunuh dirinya. Tetapi ia kini berasa berhadapan dengan anak iblis yang mengerikan. Karena itu, maka orang tua itu segera melayaninya dengan penuh kemarahan.

Sejenak, Mahisa Agni melihat keduanya yang sedang bertempur itu. Ia melihat Ken Arok tidak sebagai seorang prajurit atau seorang pelayan-dalam yang berkelahi sebagai seorang prajurit dengan pedangnya. Tetapi kini Mahisa Agni melihat hantu Karautan hidup kembali, berkelahi dengan sebilah pisau di tangan.

Namun, Mahisa Agni tidak dapat berdiam diri lebih lama lagi. Betapa kecil kemampuannya, ia merasa wajib untuk ikut serta dalam pertempuran yang dahsyat itu. Karena itu, maka dengan hati-hati ia mendekat, menjulurkan pedangnya, dan sejenak kemudian maka pedang itu pun mulai bergetar. Dengan bekal ilmu yang dimilikinya dari gurunya ia ikut bertempur, dipusatkannya segenap kemampuan lahir dan batin, tersalur dalam jalur-jalur urat-nadinya, menggerakkan pedang di dalam genggamannya. Meskipun Mahisa Agni adalah seorang anak kecil saja dibandingkan dengan Kebo Sindet, namun terasa juga serangannya agak mengganggu selagi setan tua dari Kemundungan itu berusaha membinasakan hantu dari Padang Karautan.

Tetapi, setiap kali Kebo Sindet menjadi kecewa. Selanjutnya ia belum berbasil mengenai lawannya tepat seperti yang dikehendakinya. Bahkan tenaga lawannya yang semakin liar itu pun serasa menjadi semakin bertambah.

“Kekuatan apakah yang telah menyelusup ke dalam tubuh setan kecil ini” Kebo Sindet mengumpat-umpat di dalam hatinya. Sekali-kali ia berhasil menyentuh tubuh Ken Arok sehingga anak itu terpental beberapa langkah, tetapi setiap kali anak muda itu langsung meloncatinya kembali dengan ujung pisau di tangan kanannya dan ujung kuku-kuku jari tangan kirinya.

Dengan demikian maka kemarahan Kebo Sindet pun semakin menjadi-jadi. Sekali dua kali ia harus menghindari pedang Mahisa Agni. Tetapi ia tidak menyerangnya. Betapa gelap hatinya namun ia masih berusaha membiarkan saja anak muda itu. Sebab apabila ia membalasnya dengan serangan-serangan ia takut apabila ia tidak berhasil menguasai tenaganya, sehingga Mahisa Agni itu justru yang terbunuh.

Wong Sarimpat dan Empu Gandring untuk beberapa saat masih berdiri keheranan. Bahkan, tanpa dikehendakinya Wong Sarimpat berdesis, “Apakah yang telah menggerakkan anak itu sehingga ia dapat berkelahi dengan cara itu?”

Empu Gandring tanpa sesadarnya menyahut, “Alangkah keras dan kasar unsur-unsur yang dipergunakannya. Bahkan jauh lebih kasar dari Empu Sada. Hampir sekasar kau dan kakakmu Kebo Sindet”.

“Tidak” gumam Wong Sarimpat, “lihat, betapa kasarnya. Tidak kalah kasar dari kakang Kebo Sindet. Tetapi yang gila adalah simpanan tenaga dan kekuatan, sehingga ia mampu bertahan terhadap sentuhan tangan kakang Kebo Sindet”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya dan Wong Sarimpat memandanginya dengan mata yang hampir tidak berkedip. Mereka melihat betapa perkelahian antara Kebo Sindet melawan Ken Arok dan Mahisa Agni menjadi semakin dahsyat. Setelah mapan, maka tandang Mahisa Agni pun menjadi bertambah lincah. Pedangnya menyambar-nyambar dari berbagai arah, sehingga mau tidak mau Kebo Sindet harus memperhitungkannya. Tetapi ia tidak dapat dengan garang menyerang kembali anak muda itu. Kebo Sindet yang sedang berkelahi itu merasa sangat sulit untuk mengukur tenaganya, sehingga Mahisa Agni tidak terbunuh oleh sentuhan tangannya. Seandainya ia tidak sedang berkelahi dengan iblis yang kasar itu, maka ia akan segera dapat menjajagi kekuatan tubuh Mahisa Agni. Ia akan dapat mengendalikan tangannya, menyentuh urat nadi kesadaran Mahisa Agni sehingga anak itu pingsan. Tetapi tidak mati.

Tetapi kini ia berkelahi dengan anak muda yang tidak dapat diduga kekuatannya. Meskipun ia hampir mempergunakan segenap kekuatannya, namun anak muda yang bernama Ken Arok itu tidak hancur lumat. Tulang-tulang iganya tidak menjadi rontok karenanya. Bahkan setiap kali ia berhasil menghindarkan simpul-simpul sarafnya yang berbahaya dari sentuhan tangan Kebo Sindet, sehingga setiap kali ia terbanting jatuh, setiap kali ia dapat bangun kembali. Justru semakin sering ia terpelanting, maka tubuhnya seakan-akan menjadi semakin liat, dan semakin cepatlah ia bangkit kembali meloncat dengan garang dan liar, menyerang membabi buta.

“Tidak” desis. Kebo Sindet di dalam hatinya, “anak itu tidak membabi buta. Tetapi ilmu yang gila ini belum pernah aku kenal. Belum pernah aku temui seorang sakti yang berkelahi dengan cara ini.”

Dengan demikian, maka Mahisa Agni itu bagi Kebo Sindet terasa benar-benar mengganggu usahanya membinasakan Ken Arok. Karena itu maka tiba-tiba ia berteriak nyaring “Kuda-Sempana, jangan bersembunyi saja. Ini, aku sudah berhasil memanggil orang yang selama ini kau cari. Kau tidak usah menunggu gurumu. Selesaikan Mahisa Agni ini lebih dahulu. Tetapi ingat, biarkan ia hidup. Ia akan mengalami masa-masa yang tidak dikehendakinya”.

Panggilan itu benar menggetarkan dada Empu Gandring, Mahisa Agni dan Ken Arok. Mereka merasa bahwa bahaya semakin lama akan menjadi semakin besar. Menurut dugaan mereka, sebentar lagi akan datang Empu Sada, guru Kuda-Sempana untuk membantu mereka menangkap Mahisa Agni.

Belum lagi mereka sempat mempertimbangkan sesuatu, maka dari dalam kegelapan meloncatlah sesosok tubuh yang telah menggenggam pedang di tangan. Orang itu adalah Kuda Sempana. Sejenak ia berdiri dengan penuh kebimbangan. Betapa dendam dan bencinya kepada Mahisa Agni pada saat-saat yang lampau. Betapa ia ingin membunuh dan mencincangnya. Tetapi tiba-tiba kini, setelah ia berhadapan di bawah lindungan kedua iblis dari Kemundungan, nafsunya itu susut hampir kering sama sekali.

Tetapi seperti apa yang selama ini dilakukannya. Berbuat apa saja yang dikatakan oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Demikian pula kali ini. Menurut Kebo Sindet ia harus bertempur melawan Mahisa Agni. Karena itu, maka segera iapun mencoba membulatkan hatinya. Bertempur tanpa sesuatu tujuan.

Mahisa Agni yang melihat kehadiran Kuda Sempana menggeretakkan giginya. Ia tidak dapat melupakan apa yang telah dilakukan oleh anak muda itu, sehingga keadaan menjadi semakin lama semakin jelek. Tidak saja baginya sendiri, tetapi juga bagi seluruh Panawijen. Dan kini, Kuda Sempana itu datang lagi, membuat orang-orang Panawijen ketakutan.

Karena itu, ketika kemudian Kuda Sempana menyerangnya, maka dengan serta-merta ditinggalkannya Kebo Sindet yang masih berkelahi dengan Ken Arok dalam nada yang semakin lama semakin kasar dan liar. Keduanya adalah hantu-hantu yang mengerikan, dan keduanya dapat berbuat di luar bemampuan orang-orang biasa.

Sejenak kemudian Mahisa Agni telah terlibat dalam perkelahian dengan Kuda Sempana. Kuda Sempana yang semula ragu-ragu, kini ia harus menghadapi serangan Mahisa Agni yang membadai. Serangan-serangan yang dilambari oleh berbagai perasaan bercampur baur. Kebencian kemarahan dan kegelisahan. Namun justru karena itu, maka kejernihan hatinya menjadi agak terganggu. Tata geraknya menjadi tergesa-gesa dan dalam beberapa kesempatan, ia membuat kesalahan-kesalahan. Tetapi berhadapan dengan Kuda Sempana Mahisa Agni masih mempunyai kesempatan. Betapa Kuda Sempana dapat menambah ilmunya dengan ilmu yang diberikan oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, namun melawan Mahisa Agni ia masih harus berbuat terlampau banyak. Apalagi pada saat-saat perkelahian itu dimulai. Kuda Sempana bertempur asal saja ia tidak tertusuk oleh ujung pedang lawannya. Namun semakin lama nafsunya perlahan-lahan tumbuh kembali. Bukan sekedar menyelamatkan diri, tetapi dalam lingkaran perkelahian, maka hasratnya untuk membinasakan lawannya terasa seperti api tertiup angin. Semakin lama menjadi semakin menyala di dalam dadanya.

Peristiwa itu telah membuat Ken Arok menjadi semakin marah. Setiap kali ia terlempar jatuh, setiap kali ia merasa bahwa tenaga yang tersimpan di dalam tubuhnya mengalir menyelusuri urat-urat nadinya. Semakin besar nyala kemarahannya, maka tubuhnya terasa semakin ringan dan geraknya pun menjadi semakin cepat. Tetapi yang dihadapinya adalah Kebo Sindet. Betapa besar kemampuan yang tersimpan di dalam dirinya, namun Ken Arok bagi Kebo Sindet seolah-olah tidak lebih dari sebutir kemiri dalam permainan jirak. Sekali terlempar ke samping, sekali terdorong surut dan sekali terbanting jatuh.

Meskipun demikian Ken Arok masih juga mampu bangkit berdiri, melenting dan meloncat menyerang dengan liarnya. Kuku-kukunya mengembang seperti kuku seekor garuda yang buas, sedang ditangan yang lain sebilah pisau seakan-akan melekat pada jari-jari tangannya, sehingga pisau itu tidak dapat terpelanting lepas dari genggamannya.

Apa yang dilakukan Ken Arok itu benar-benar tidak dapat di mengerti nalar orang-orang tua yang mengitarinya. Wong Sarimpat, Empu Gandring dan Kebo Sindet sendiri. Bagaimana mungkin, Ken Arok itu mampu bertahan lama melawan Kebo Sindet.

Menilik tata gerak dan unsur-unsur yang dipergunakan oleh Ken Arok, maka mereka merasakan, betapa sedikit pengertian yang dimilikinya. Menurut perhitungan mereka, ilmu yang dimiliki oleh Ken Arok dalam tata gerak dan tata berkelahi, tidak banyak terpaut dari Mahisa Agni, meskipun dalam bentuk yang berbeda. Tetapi kekuatan tenaga, kecepatan bergerak dan ketahanan tubuhnya, benar-benar mengagumkan. Dan orang-orang tua itu menganggap bahwa semuanya itu lama sekali bukan dilambari oleh sesuatu ilmu apapun, tetapi apa yang dimilikinya itu adalah pembawaan sejak ia dilahirkan.

Dalam keheranan dan kekagumannya, maka Wong Sarimpat dan Empu Gandring masih saja berdiri tegak. Wong Sarimpat tidak lagi menyerang Empu Gandring selagi Empu Gandring tidak berusaha membantu Ken Arok atau Mahisa Agni.

Meskipun demikian, Empu Gandring masih juga selalu di selubungi oleh perasaan cemas dan gelisah. Betapa ketahanan tubuh Ken Arok itu, namun serangan Kebo Sindet yang datang seperti badai, menghantam terus-menerus itu suatu ketika pasti akan dapat melumpuhkan Ken Arok. Bahkan mungkin membunuhnya.

Orang tua itu masih saja melihat Ken Arok terlempar, terbanting dan berguling-guling menghindari serangan lawannya. Sekali ia melenting sambil menerkam lawannya, untuk kemudian terlempar kembali beberapa langkah.

Sekali-kali terdengar ia mengeluh pendek, tetapi lambat laun suara itu terdengar seperti hantu yang sedang marah.

Tiba-tiba Empu Gandring menjadi tegang ketika ia melihat sesuatu. Darahnya serasa berhenti mengalir. Selangkah ia maju sambil menajamkan matanya. Bukan saja mata wadagnya, tetapi juga mata batinnya. Terasa dadanya kemudian bergetar semakin cepat. Tanpa sesadarnya ia berpaling memandangi wajah Wong Sarimpat. Dan wajah itu pun menegang seperti seutas tali yang hampir putus karena tarikan kedua ujungnya.

“He, tukang keris” Wong Sarimpat itu hampir berteriak, “kau lihat itu?”

Empu Gandring tidak segera menyahut. Ternyata Wong Sarimpat betapapun kasarnya, namun ia telah berhasil melihat pula. Agaknya kekuatan yang tersimpan di dalam diri orang itu pun telah mampu menerima getaran yang aneh, yang memancar dari diri Ken Arok.

“Ternyata anak itu benar-benar anak setan”.

“Kau melihatnya?” desis Empu Gandring.

“Ya. Itulah sebabnya maka tubuhnya kuat seperti seekor gajah kerdil”.

Empu Gandring terdiam. Tetapi debar di dalam dadanya menjadi semakin lama semakin cepat. Dan apa yang dilihatnya menjadi semakin jelas. Tidak sekedar dengan mata wadagnya.

Dengan jantung yang bergolak Empu Gandring dan Wong Sarimpat melihat sebuah bayangan warna kemerah-merahan yang seakan-akan memancar dari ubun-ubun Ken Arok. Tidak begitu jelas. Tetapi keduanya yakin bahwa mereka telah melihatnya. Seperti yang pernah dilihat oleh Empu Purwa di Padang Karautan.

Perlahan-lahan Empu Gandring berdesis, “Adalah manusia yang terpilihlah yang memiliki tanda-tanda demikian”.

“Anak iblis “geram Wong Sarimpat.

Empu Gandring tidak menjawab. Namun timbullah sedikit harapan padanya, bahwa Ken Arok memiliki kelebihan yang meyakinkan dari anak-anak muda sebayanya. Tanda itu telah memberitahukan kepadanya, bahwa Ken Arok bukanlah anak-anak muda kebanyakan saja meskipun tandangnya kasar sekasar Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.

Wong Sarimpat pun melihat kelebihan itu, meskipun Dengan mulut yang mengumpat-umpat. Ia tidak tahu pasti, apakah yang telah menimbulkan bayangan kemerahan di atas ubun-ubun anak itu. Tetapi, iapun pernah mendengar dongeng-dongeng tentang anak-anak terpilih. Karena itu, maka ia menjadi sedemikian marahnya, bahwa anak muda yang memiliki kelebihan itu memihak Mahisa Agni.

“He, pande keris” teriaknya “apakah kau sangka warna itu akan dapat menyelamatkannya?”

“Aku tidak tahu” sahut Empu Gandring, “warna itu adalah warna keberanian”.

“Setan, iblis” lagi-lagi orang itu mengumpat-umpat dengan mulutnya yang kotor, “ia akan mati terbunuh oleh kakang Kebo Sindet, dan warna itu akan padam dari kepalanya”.

“Marilah kita lihat”.

“Tidak. Aku tidak hanya ingin sekedar melihat, tetapi aku ingin berkelahi seperti orang lain. Ayo, bersiaplah Empu tua”.

Belum lagi Empu Gandring menjawab, Wong Sarimpat telah melompat menyerangnya sambil berteriak, “Aku akan segera membunuhmu. Kemudian aku ingin turut membuktikan, apakah anak muda itu benar-benar tak dapat dicincang kulit dagingnya”.

Tetapi Empu Gandring pun telah cukup mempersiapkan diri. Karena itu, maka ia pun sempat menghindari serangan Wong Sarimpat. Bahkan dengan cepatnya, tangannya menyambar tengkuk lawannya.

“Kaupun anak setan” teriak Wong Sarimpat ketika terasa sebuah sambaran tangan Empu Gandring hampir menyentuh tengkuknya, Orang itu terpaksa menghindar, sehingga hampir-hampir, ia kehilangan keseimbangan. Tetapi ia tidak meneruskan kata-katanya, sebab ia melihat Empu Gandring tidak membiarkannya. Orang itu pun segera bersiap untuk menghindari serangan-serangan berikutnya, yang datang seperti banjir menghantam tebing.

“Kau pun menjadi gila dan liar” teriak Wong Sarimpat. Tetapi dirinya sendirilah yang menjadi semakin liar dan buas. Tata geraknya segera menjadi kasar, sekasar kakaknya Kebo Sindet. Namun Empu Gandring tidak menjadi bingung. Ia tahu, apa yang harus dilakukan melawan orang-orang liar seperti Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, sehingga betapa liarnya lawannya, namun Empu Gandring masih juga tetap tenang. Sekali-kali ia sempat melihat perkembangan keadaan Ken Arok dan Kebo Sindet yang bertempur semakin ribut.

Kebo Sindet sendiri, yang berkelahi dengan Ken Arok tidak segera melihat warna kemerah-merahan di ubun-ubun lawannya. Dengan penuh kemarahan Kebo Sindet berusaha melumatkan lawannya dengan tangannya. Meskipun berkali-kali ia tidak berhasil memecahkan dada anak muda itu, tetapi ia masih percaya bahwa Ken Arok tak akan dapat dihancurkannya. Itulah sebabnya Kebo Sindet masih saja berkelahi dengan tangannya. Ia tahu benar bahwa ilmu lawannya sama sekali tidak berarti untuk melawannya. Namun ketahanan tubuh anak itu benar-benar memusingkan kepalanya. Bahkan kadang-kadang timbul kecemasan di dalam dirinya, apakah ilmunya telah lebur?”

Demikianlah, maka perkelahian itu menjadi kian seru. Tandang Ken Arok benar-benar menjengkelkan sekali bagi Kebo Sindet yang garang dan buas. Seakan-akan ia sedang berhadapan Dengan Aji Candra Birawa. Ia pernah mendengar, bahwa seseorang mampu membangunkan kekuatan yang tanpa batas. Kadang-kadang dapat berwujud seorang raksasa. Kalau, raksasa itu terbunuh, maka mayatnya akan membelah, dan datanglah kemudian dua orang raksasa. Demikianlah setiap kali dibinasakan, maka kekuatan itu pun menjadi berlipat.

“Apakah anak ini memiliki aji ini?” desisnya di dalam hati, “Setiap kali kekuatannya terhantam, maka seakan-akan tubuhnya menjadi semakin kuat. Kalau ia terbanting jatuh, maka segera ia bangkit dengan kesigapan yang berlipat.

“Tetapi anak setan ini harus mati” geramnya sambil mempertajam serangan-serangannya, sehingga semakin lama menjadi semakin dahsyat.

Namun akhirnya Kebo Sindet itu mampu melihat bayangan kemerah-merahan di atas ubun-ubun Ken Arok. Semula orang itu menyangka, bahwa kemarahannya telah menumbuhkan bayangan-bayangan yang tak dikenalnya. Tetapi ternyata warna merah itu meloncat, melontar dan meluncur bersama-sama dengan kepala lawannya. Warna itu memancar dari ubun-ubun kepala itu.

“Gila” desisnya, “apakah anak ini anak pilihan?”

Kebo Sindet mengumpat-umpat di dalam hatinya. Selama ini ia tidak pernah memikirkan persoalan serupa itu. Ia tidak mengenal kepada kekuatan-kekuatan di luar dirinya dan lingkungannya yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata. Tetapi ia tidak mengenal suatu kekuasaan yang Agung meskipun pernah didengarnya. Tiba-tiba sekarang ia berhadapan dengan warna itu. Menurut dongeng yang pernah didengarnya, warna yang memancar dari ubun-ubun adalah pertanda bahwa orang itu adalah orang pilihan. Orang piniji. Itulah sebabnya maka ia memiliki kekuatan dan ketahanan tubuh melampui manusia biasa.

Sejenak, perasaan Kebo Sindet dilanda oleh kebimbangan. Namun kembali ia menguatkan hatinya. Dengan gigi gemeretak ia menggeram di dalam dadanya “Betapapun juga, ia adalah manusia. Berapa kuat ketahanan tubuhnya, tetapi kulit dagingnya pasti akan dapat menjadi lumat”.

Dengan demikian, maka tandang Kebo Sindet menjadi semakin buas dan liar. Demikian juga Ken Arok. Semakin garang ia berkelahi, nyala di atas ubun-ubunnya seolah-olah menjadi semakin terang.

Disisi lain, Kuda Sempana pun berkelahi dengan nafsu yang semakin menyala. Kini ia tidak lagi sekedar digerakkan oleh perintah Kebo Sindet, tetapi ia benar-benar berusaha membunuh Mahisa Agni. Ia tidak lagi mengingat apakah dendamnya bertimbun setinggi gunung, namun dalam perkelahian ini, ia ingin membunuh secepat-cepatnya.

Tetapi Mahisa Agni pun berkelahi dengan kemarahan yang meluap-luap. Ia ingin menghentikan petualangan anak muda itu. Ia ingin Kuda Sempana tidak lagi dapat melakukan kejahatan. Baik terhadap dirinya sendiri, terhadap Ken Dedes, terhadap, orang-orang Panawijen maupun terhadap bendungan yang sedang dikerjakannya. Karena itu, maka ia harus dapat melumpuhkan lawannya. Menangkap atau kalau terpaksa anak muda itu terbunuh, adalah bukan semata-mata karena kebencian dan dendam, tetapi ia didorong oleh suatu kuwajiban untuk suatu kepentingan yang lebih besar dari kepentingannya sendiri.

Dorongan itulah yang telah memaksa Mahisa Agni bertempur mati-matian. Apalagi kalau diingatnya, bahwa sebentar lagi, tangan-tangan Kebo Sindet atau Wong Sarimpat pasti akan mencekiknya. Itulah sebabnya, ia merasa bahwa ia harus segera menyelesaikan tugasnya sebelum Ken Arok tidak lagi berdaya melawan Kebo Sindet.

Tetapi Kuda Sempana sekarang sudah lain dengan Kuda Sempana yang selalu dikalahkannya. Kuda Sempana kini, adalah Kuda Sempana yang menjadi bertambah kasar, liar tetapi bertambah kuat dan cekatan. Kuda Sempana itu mampu meloncat secepat burung sikatan dan menyambar segarang elang di udara. Merangsangnya seliar serigala dan menerkam sebuas harimau lapar.

Dengan demikian maka Mahisa Agni itu pun harus bertempur sekuat tenaganya, setinggi kemampuannya. Dikerahkannya segenap ilmunya lahir dan batin untuk mengalahkan lawannya. Tetapi pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang mudah, semudah memijat wohing ranti. Tetapi ia harus berjuang memeras segenap kemampuan yang ada padanya. Namun sampai beberapa lama, ia sama sekali belum melihat tanda-tanda bahwa usahanya itu akan segera berhasil. Bahkan setiap kali ia harus meloncat menghindari ujung pedang Kuda Sempana yang mematuk-matuk seperti seribu kepala ular yang menyerangnya bersama-sama dari segala penjuru.

Tetapi, Kuda Sempana pun telah dibasahi oleh keringat yang mengalir dari segenap lubang kulitnya. Betapa ia berusaha membinasakan lawannya, tetapi lawannya bukan dengan suka rela menyerahkan kepalanya, pasrah pati-urip. Karena itu, maka pekerjaannya adalah sesulit menangkap kijang di padang rumput dengan tangannya.

Tidak kalah ributnya adalah Wong Sarimpat. Sekali-kali terdengar orang itu berteriak nyaring, sehingga suaranya membentur dinding-dinding halaman, melingkar-lingkar memenuhi padukuhan yang sepi. Namun sejenak kemudian Panawijen itu telah diterkam oleh ketakutan yang amat sangat. Beberapa orang akhirnya mendengar hiruk pikuk perkelahian dan teriakan-teriakan Wong Sarimpat yang liar itu.

Mereka yang terbangun mula-mula menjadi bingung. Mereka belum tahu, suara apakah yang memecah sepinya malam, melingkar-lingkar di seluruh padepokannya.

Beberapa orang laki-laki tua keluar dari rumah-rumah mereka, membawa golok dan parang pembelah kelapa dan kayu. Mengendap-endap mereka pergi ke arah suara yang hiruk pikuk dan ribut di padepokan Empu Purwa. Tetapi ketika mereka menjadi semakin dekat, maka tubuh mereka menjadi gemetar. Dalam keremangan cahaya pelita di halaman padepokan itu, mereka melihat lingkaran-lingkaran perkelahian. Perkelahian yang belum pernah mereka lihat.

Sejenak, mereka terpaku di balik dinding halaman. Sekali-kali mereka mengintip dari atas dinding sambil berdiri di atas bongkahan batu padas. Namun kemudian mereka pun kembali bersembunyi di balik dinding-dinding itu. Tak sepatah kata yang dapat mereka ucapkan di antara mereka. Sekali-kali mereka saling berpandangan. Namun kemudian mereka menggigil ketakutan.

Dada mereka serasa akan pecah ketika tiba-tiba mereka mendengar teriakan Wong Sarimpat nyaring, “He yang berdiri di balik dinding. Ayo, jangan bersembunyi. Kalau kalian cukup jantan. Inilah Wong Sarimpat dari Kemundungan”.

Tetapi kata-kata itu terhenti ketika serangan Empu Gandring hampir merobek mulutnya. Dengan lincahnya ia meloncat mundur. Golok yang kini telah berada di tangannya berputar seperti baling-baling. Tetapi setiap kali bunga api memercik tinggi apabila golok itu membentur keris Empu Gandring. Keris yang tidak kalah besarnya dari golok itu.

Ketika ketiga orang yang menjemput Mahisa Agni sampai di tempat itu pula, maka mereka menjadi gemetar. Teringatlah apa yang dirisaukan oleh orang tua yang ternyata adalah paman Mahisa Agni dan pemimpin prajurit dari Tumapel. Kini mereka menyadari kebenaran dari kecemasan orang-orang itu. Sehingga karena itu, maka alangkah mereka menyesal. Apabila terjadi sesuatu atas Mahisa Agni, maka mereka menjadi salah satu sebab dari bencana itu.

“Siapakah mereka?” bisik salah seorang dari ketiga orang itu.

Kawannya menggelengkan kepalanya. Tetapi kembali mereka terkejut ketika Wong Sarimpat sempat menjawab sambil bertiak “Kami adalah Wong Sarimpat, Kebo Sindet dan Kuda Sempana dari Kemundungan”.

Ketiga orang itu terbungkam. Tetapi di samping ketakutan dan kecemasannya, terbayanglah wajah ayah Kuda Sempana yang seolah-olah telah mendorong mereka menjemput Mahisa Agni dan kini tiba-tiba mereka mendengar bahwa di antara mereka terdapat Kuda Sempana.

Ketiga orang-orang tua yang menjemput Mahisa Agni ke Padang Karautan itu merasakan sesuatu yang tidak pada tempatnya dengan ayah Kuda Sempana. Apakah ayah Kuda Sempana itu telah menjadi alat anaknya untuk menciderai Mahisa Agni?

Tiba-tiba salah seorang dari mereka menggamit kawannya. Kawannya itupun mengangguk dan mereka bertiga pun meninggalkan tempat itu.

Setelah cukup jauh dari padepokan Empu Purwa, maka salah seorang dari mereka berkata, “Kita ke rumah ayah Kuda Sempana. Ia harus bertanggung jawab atas semua peristiwa ini.”

“Marilah kakang” jawab yang lain, tetapi nada suaranya terasa diselubungi oleh kebimbangan, “tetapi apakah tidak ada orang lain di rumah itu. Kawan-kawan orang yang datang dari Kemundungan itu?”

Yang lain menjadi ragu-ragu pula, katanya, “Ya, apakah di rumah itu tidak ada orang lain lagi yang akan dapat memenggal leher kami”.

Sejenak mereka berdiam diri. Hanya langkah-langkah mereka sajalah yang terdengar gemerisik di atas tanah berbatu. Lamat-lamat mereka masih mendengar suara Wong Sarimpat menjerit-jerit. Dan tiba-tiba Kuda Sempana yang menjadi semakin kasar pun sekali-kali memekik tinggi pula.

Tetapi, orang-orang tua itupun kemudian dijalari oleh perasaan yang aneh. Karena mereka merasa, bahwa mereka telah turut serta menjerumuskan Mahisa Agni, maka mereka pun seakan-akan mendapat suatu keberanian untuk berbuat sesuatu. Mereka yang selama ini tidak pernah menggenggam senjata, kini parang pembelah kayu itu merupakan senjata yang memberi mereka ketabahan. “Ayah Kuda Sempana harus bertanggung jawab” desis mereka di dalam hati.

Dengan hati-hati mereka berjalan menyelusuri jalan-jalan padukuhan menuju ke rumah Kuda Sempana. Karena di dalam perkelahian itu hadir Kuda Sempana, maka mereka mengharap bahwa ayahnya akan dapat mereka temui seorang diri.

Dari kejauhan mereka melibat pelita yang menyala di dalam rumah Kuda Sempana. Beberapa berkas sinarnya melontar menyelusup lubang-lubang dinding jatuh di halaman yang gelap gulita.

Rumah itu tidak terlampau besar, tetapi juga tidak terlampau kecil. Pada saat Kuda Sempana masih seorang pelayan dalam, maka rumah itupun tampak terpelihara baik. Tetapi kini, semak-semak yang liar tumbuh di sekeliling halaman. Bahkan regol dan pintunya kini sama sekali sudah hampir tidak terbentuk lagi.

“Mudah-mudahan orang itu ada di rumahnya” gumam salah seorang.

“Aku kira ia ada di rumah” sahut yang lain.

Perlahan-lahan, mereka mendekati pintu rumah itu. Salah seorang dari mereka mencoba mengintip ke dalamnya lewat lubang dinding yang menganga selebar hitam mata. Tetapi tak sesuatu yang dilihatnya.

“Apakah kita ketuk pintunya?” bertanya salah seorang.

“Ketuklah pintu “sahut yang lain.

Salah seorang dari mereka pun segera mengetuk pintu. Sekali dua kali, tetapi tidak terdengar jawaban.

“Apakah orang itu sudah tidur?”

Yang lain tidak sabar lagi. Diketuknya semakin keras. Namun masih belum ada jawaban.

Akhirnya mereka tidak dapat menahan diri. Sejenak mereka berbincang. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk memecah. pintu itu dengan paksa.

Meskipun dengan agak bersusah payah, akhirnya ketiganya berhasil merusak pintu. Dengan hati-hati mereka masuk ke dalamnya. Senjata-senjata mereka telah berada di dalam genggaman, seperti seorang pahlawan yang sedang mencari lawannya yang bersembunyi.

Tetapi ternyata rumah itu telah menjadi kosong. Mereka sama sekali tidak menemukan seorang pun di dalamnya.

“Kosong” desis salah seorang dari mereka.

“Mungkin bersembunyi” sahut yang lain.
Dengan sangat hati-hati mereka bertiga mencari ayah Kuda Sempana. Beriringan kesegenap sudut. Namun meskipun pelita terpasang hampir di setiap ruang, mereka tidak menemukan seorang pun.

“Gila. Orang itu telah merasa dirinya bersalah. Karena itu maka ia melarikan dirinya”.

“Hem” yang lain menggeram. Tetapi tidak ada sesuatu yang dapat dilakukannya.

Meskipun demikian sekali lagi mereka meneliti setiap sudut. Di bawah kolong-kolong amben, di belakang geledeg dan di sisi-sisi paga. Tetapi mereka tetap tidak menemukan seseorang.

“Lalu” desis salah seorang dari mereka, “apa yang akan kita kerjakan?”

Sejenak mereka bertiga terdiam. Sementara itu angin malam berhembus masuk kedalam rumah itu lewat pintu yang masih menganga. Di luar gelap yang pekat seakan-akan menyumbat setiap lubang dinding rumah.

“Kita kembali” tiba-tiba salah seorang berkata.

“Kembali kemana?” bertanya yang lain.

“Kembali ke tempat perkelahian tadi. Kuda Sempana lah yang harus bertanggung jawab atas semua peristiwa ini. Karena kebodohan kita, maka kita telah menjadi alatnya. Maka kita pun harus menebus kebodohan itu.

“Apa yang akan kita lakukan?”

“Membunuh Kuda Sempana”.

“He?” “seorang yang lain menjadi ngeri mendengar jawaban itu, seakan-akan mereka mampu membunuh Kuda Sempana.

“Ya. Kita membunuh Kuda Sempana bersama angger Mahisa Agni”.

“Anak itu bukan lawan kita”.

“Kita hanya membantu. Membantu angger Mahisa Agni. Betapapun lemah tenaga kita, tetapi kita akan dapat membantu mengurangi kesungguhan perhatian Kuda Sempana atas Mahisa Agni”.

Tetapi bukan sekedar menarik perhatiannya, bahkan mungkin ujung pedangnya.

“Kalau ujung pedangnya menghunjam ke dada kita itu adalah sekedar akibat dari kebodohan kita. Kenapa kita telah memanggil angger Mahisa Agni kepedukuhan ini?”

Kedua kawannya yang lain menjadi tegang. Namun kemudian mereka pun berkata, “Mari. Kita kembali kepadepokan Empu Purwa. Kita lihat, siapakah yang menang dalam perkelahian itu.”

“Kita tidak akan hanya sekedar melihat”.

“Baik. Kita ikut berkelahi”.

“Sampai akibat yang paling parah”.

“Sampai mati”.

Maka bulatlah tekad mereka untuk bertempur membantu Mahisa Agni. Mereka merasa, bahwa mereka telah menyeret Mahisa Agni kedalam bencana.
Dengan tergesa-gesa, mereka meninggalkan rumah Kuda Sempana. Dibiarkannya pintu rumah itu menganga. Dan dibiarkannya lampu-lampu rumah itu menyala sebesar-besarnya.

Sejenak kemudian mereka pun telah sampai kembali di tempat perkelahian antara raksasa-raksasa itu terjadi. Perlahan-lahan mereka mendekati dinding halaman Padepokan Empu Purwa. Beberapa orang masih saja mengerumuni tempat itu dari jauh. Mereka tidak berani mendekat, apalagi melihat. Tetapi mereka pun tidak mau meninggalkannya, karena mereka ingin tahu, apakah yang akan terjadi.

Ketika mereka bertiga, mencongakkan kepala-kepala mereka hampir saja mereka terpelanting jatuh ketika mereka mendengar suara Wong Sarimpat, “Ayo, siapa yang akan membantu, Kemarilah”.

Ketiganya menjadi seakan-akan membeku pada dinding halaman. Kebulatan tekad mereka sama sekali tidak lagi mereka ingat. Apalagi turut berkelahi di pihak Mahisa Agni, sedang melihat kilatan senjata mereka yang sedang berkelahi itu pun mereka seolah-olah telah menjadi mati kaku.

Meskipun demikian, mereka masih sempat melihat perkelahian yang mengerikan itu. Mereka masih melihat betapa Ken Arok berkelahi seperti orang kesurupan. Tanpa menghiraukan apapun anak muda itu mengamuk sejadi-jadinya. Meloncat menerkam, memukul, menerjang dan segala macam gerak yang memusingkan kepala. Kebo Sindet pun menjadi pusing pula karenanya. Hampir-hampir ia kehilangan akal untuk menjatuhkan lawannya yang gila dan liar. Lebih liar dan buas dari dirinya sendiri.

“Anak setan ini benar-benar mengerikan” desis Kebo Sindet di dalam hatinya. Meskipun demikian, ia sama sekali belum mempergunakan senjatanya. Kini keinginannya bukan saja ingin menghancurkan dan membunuh lawannya, namun timbul pula keinginannya untuk melihat, sampai dimana kekuatan dan ketahanan tubuh anak muda yang ubun-ubunnya bercahaya kemerah-merahan. Karena itu, betapapun juga, Kebo Sindet masih saja melawannya dengan anggauta badannya. Sekali-kali dihantamnya dada anak muda itu sehingga terpelanting beberapa langkah. Baru saja anak muda itu melenting berdiri, maka kakinya telah mengenai lambungnya, sehingga Ken Arok terangkat tinggi-tinggi, melayang di udara untuk jatuh seperti sepotong tonggak yang basah. Tetapi sekali lagi ia meloncat bangkit dengan pisaunya ditangan kanan dan kuku-kukunya yang mengembang di tangan kiri.

“Gila. Benar-benar gila” Kebo Sindet menggeram. Ia adalah seorang yang pilih tanding. Seorang yang sudah kenyang mencicipi segala macam bentuk kehidupan. Yang paling lunak sampai yang paling kasar. Tetapi belum pernah dijumpainya sejenis manusia seperti yang kini sedang dilawannya.

Orang yang kini berkelahi melawannya dan bernama Ken Arok itu memiliki ketabahan tubuh yang luar biasa. Namun justru karena itu, maka ia menjadi semakin tertarik kepada anak muda itu. Semakin sulit ia menjatuhkan lawannya, semakin tajam keinginannya untuk mengukur titik akhir dari ketahanan tubuh Ken Arok.

Tetapi, akhirnya Kebo Sindet menyadari, bahwa kunci dari pertempuran itu ada padanya. Adiknya, Wong Sarimpat yang bertempur melawan Empu Gandring. Rasa-rasanya tidak akan segera dapat mengakhiri perkelahian. Bahkan menurut penilaian Kebo Sindet, maka sampai seminggu pun adiknya tidak akan memenangkan pertempuran itu. Menilik ketenangan dan keyakinan setiap geraknya, maka agaknya Empu Gandring masih lebih banyak menyimpan tenaga daripada adiknya. Sehingga apabila perkelahian itu dibiarkannya sampai sehari dua hari, maka adiknya, Wong Sarimpatlah yang akan lebih dahulu susut tenaganya.

Sedang Kuda Sempana pasti tidak akan dapat mengalahkan Mahisa Agni. Kebo Sindet masih sempat melihat sekilas-sekilas perkelahian antara kedua anak muda itu. Dan Kebo Sindet masih melihat beberapa kekurangan Kuda Sempana.

Dengan demikian, maka ia harus segera mengakhiri perkelahian itu. Kalau ia berhasil melumpuhkan lawannya atau membunuhnya sekali, maka ia akan segera dapat membantu kawan-kawannya yang lain.

Tiba-tiba Kebo Sindet itu pun menggeram. Ia kini tidak mau bermain-main lagi. Ia sudah cukup lama merasakan keliatan tubuh lawannya. Dan kini ia benar-benar ingin menghancurkannya. Tetapi tidak dengan senjata tajam. Ken Arok harus lumat dengan tangannya.

Kebo Sindet itu pun segera memusatkan segenap kekuatan lahir dan kekuatan yang tersimpan di dalam dirinya. Kekuatan yang bersumber pada kekuatan sesat. Meskipun dalam ungkapannya, seakan-akan ia memiliki kelebihan dari orang-orang lain, tetapi kelebihannya itu didapatkannya dari dunia yang hitam; yang bertentangan dengan jalan yang seharusnya dilalui oleh manusia, titah Yang Maha Agung.

Demikianlah maka Kebo Sindet telah membangun kekuatannya. Kekuatan yang dinamainya sendiri Aji Bajang. Kekuatan yang tidak kasat mata, tetapi mempunyai akibat yang mengerikan.

Ketika tiba-tiba tubuh Kebo Sindet itu bergetar dan kedua tangannya mengembang, maka berdesirlah dada Empu Gandring. Orang tua itu tahu betapa mengerikan akibat sentuhan kekuatan raksasa yang tersimpan dalam Aji yang justru dinamainya Aji Bajang. Hanya mereka yang menyimpan kekuatan-kekuatan yang seimbang sajalah yang akan menyelamatkan diri dari pada kekuatan itu meskipun tidak akan dapat terlepas dari luka-luka di dalam tubuhnya. Apabila seseorang yang memiliki kekuatan seimbang dan sempat melawan Aji itu dengan kekuatan yang sama, maka benturan yang terjadi itupun akan berakibat pula bagi orang itu. Apalagi mereka yang tidak memiliki daya tahan yang cukup, maka ia akan hancur lumat menjadi ndeg-pangamun-amun.

Karena itu, maka meskipun dirinya sendiri sibuk melayani Wong Sarimpat yang melibatnya seperti angin pusaran, namun sempat pula ia berteriak, “Angger Ken Arok. Hindarilah tangannya. Orang itu siap melontarkan kekuatan terakhirnya”.

Ken Arok yang sedang waringuten itupun mendengar teriakan itu. Terasa dadanya yang sedang bergelora itu pun berdesir. Sejenak ia memandang lawannya yang bergetar seperti orang kedinginan. Tangannya mengembang dan matanya menjadi merah menyala.

Sejenak Ken Arok yang liar itu tertegun diam. Meskipun ia tidak tahu, kekuatan apa yang akan memancar dari tangan Kebo Sindet, namun terasa pula olehnya bahwa kekuatan itu adalah kekuatan yang akan dapat menentukan hidup matinya.

Tetapi, Ken Arok sama sekali tidak ingin menghindarinya. Tekadnya telah bulat untuk melawan Kebo Sindet itu sampai kekuatannya yang terakhir. Sebagai hantu yang pernah hidup di Padang Karautan yang buas, maka Ken Arok telah menjadi seorang yang sama sekali tidak mengenal takut. Hidupnya dimasa lampau yang penuh dengan kekerasan, liar dan buas, kini seakan-akan telah muncul lagi ke atas permukaan sikapnya. Namun demikian ada sesuatu yang lain tersimpan di dalam hatinya. Yang justru dahulu belum pernah dikenalnya, meskipun pernah dirasakannya. Ia pernah terlepas dari kepungan orang-orang yang marah kepadaya, karena ia mencuri di Pamalantenan. Hanya dengan dua helai daun tal ia berhasil menyeberangi sebuah sungai dan lari ke Nagamasa.

Saat itu ia sama sekali tidak tahu, kenapa ia dapat berbuat demikian. Dan ia sama sekali tidak tahu, suara apakah yang didengarnya dan memberinya petunjuk itu.

Tetapi sekarang ia telah mengenalnya. Dari Empu Purwa, guru Mahisa Agni, ia pernah mendapatkan setitik terang yang kemudian menjadi semakin jelas baginya ketika ia bertemu dengan seorang Brahmana yang bernama Lohgawe, yang membawanya ke Istana Tumapel, dan menyerahkannya sebagai seorang abdi dari Akuwu Tunggul Ametung.

Dengan demikian, maka ia sama sekali tidak gentar melihat sikap Kebo Sindet. Ia sama sekali tidak gentar, seandainya ia akan hancur lumat dan mati. Tak pernah ia berbuat seperti saat ini. Pasrah kepada Kekuasaan Tertinggi. Pasrah, sama sekali pasrah. Ken Arok merasa pernah dilepaskan dari maut justru sebelum ia mengenal-Nya. Kalau kini ia harus hancur dan lumat menjadi debu, maka apapun yang dilakukannya, justru lari sekalipun, maka ia pasti tidak akan terhindar dari padanya.

Ken Arok sendiri tidak sadar, apa yang kemudian dilakukannya. Tiba-tiba saja, tanpa dikehendakinya sendiri, ia berdiri tegak pada kedua kakinya. Dengan pasrah diri sepasrah-pasrahnya, ia memusatkan segenap daya rasa dan nalarnya. Tanpa sesadarnya pula ia telah membangunkan segenap kekuatan yang ada padanya dalam pemusatan diri di luar kehendaknya. Itu adalah suatu bentuk pemusatan kekuatan yang justru dilambari oleh kepercayaan yang bulat kepada Yang Maha Agung, tanpa dimengertinya sendiri.

Justru Empu Gandring lah yang menjadi sangat cemas melihat sikap Ken Arok yang sama sekali tidak berusaha untuk menghindar. Bahkan, orang tua itu melihat Ken Arok dengan tenangnya menanti serangan Kebo Sindet. Hilanglah kesan yang liar dan buas dari wajah anak itu, justru pada saat ia menghadapi kekuatan terakhir dari hantu Kemudungan. Wajah itu kini memancarkan keagungan dan kesentausaan tiada taranya.

Wong Sarimpat yang melibat kakaknya telah membangunkan kekuatan terakhir itu menjadi berdebar-debar pula. Apakah anak muda serupa itu benar-benar anak pilihan yang tiada tara bandingnya, sehingga seorang Kebo Sindet perlu mempergunakan Aji Bajangnya? Wong Sarimpat masih melihat cahaya kemerah-merahan di atas kepala Ken Arok, seolah-olah bahkan menjadi semakin terang.

Dalam pada itu, karena kedua-duanya ingin melihat akibat dari benturan Aji Bajang, maka tanpa berjanji perkelahian antara Empu Gandring dan Wong Sarimpat itu pun menjadi semakin kendor, dan bahkan akhirnya berhenti sama sekali.

Hanya Kuda Sempana dan Mahisa Agnilah yang kemudian masih saja bertempur dengan sengitnya desak-mendesak, seperti sepasang Garuda yang berlaga di udara.

Pada saat yang demikian itulah, Kebo Sindet meloncat, mirip dengan seekor burung Alap-alap yang menyambar mangsanya di langit, menukik dan tangannya terayun deras sekali ke dada lawannya yang kini masih saja berdiri mematung.

Empu Gandring dan Wong Sarimpat menahan nafasnya. Sejenak kemudian mereka seakan-akan membeku melihat akibat dari pukulan Aji Bajang. Ketika tangan Kebo Sindet menyentuh dada Ken Arok, maka seakan-akan terjadilah sebuah benturan yang mengerikan. Kebo Sindet, hantu Kemundungan yang mengerikan itu tergetar dan terpaksa meloncat beberapa langkah surut untuk menyalurkan tekanan pada pangkal tangannya.

Sedang dalam pada itu Ken Arok terlempar beberapa langkah dan dengan kerasnya ia terbanting di atas tanah. Bulat-bulat seperti sebuah batu yang besar. Sama sekali tidak terdengar ia mengaduh atau berteriak kesakitan. Tak ada sama sekali terdengar ia mengeluh atau mengumpat.

Empu Gandring yang melihat anak muda itu terbanting jatuh tanpa sesadarnya, segera meloncat memburu. Dengan serta merta ia berjongkok di sampingnya dan memegang tangannya. Perlahan-lahan ia berdesis “Angger?”

Ken Arok tidak menjawab. Wajahnya pucat pasi, seperti mayat. Tetapi Empu Gandring masih saja melihat warna yang kemerah-merahan itu tidak padam. Karena itu, harapannya masih tebal di dalam dadanya, bahwa anak itu masih mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung.

Sejenak kemudian Empu Gandring mendengar Ken Arok menarik nafas perlahan-lahan. Sangat perlahan-lahan. Tetapi sejalan dengan itu, harapan Empu Gandring pun menjadi semakin tebal. Dicobanya menempelkan telinganya pada dada anak itu, dan ia masih mendengar jantungnya berdetak.

“Ia masih hidup” desis Empu Gandring.

Tetapi dengan demikian Empu Gandring menjadi lengah. Ia masih akan mendengar dan sempat membela diri seandainya Kebo Sindet dan Wong Sarimpat menyerangnya bersama-sama. Tetapi tidak demikian yang terjadi. Empu Gandring hanya sejenak mendengar keributan. Terlampau pendek. Dan ketika ia meloncat bangkit, darahnya benar-benar serasa terhenti. Yang dilihatnya adalah Mahisa Agni yang pingsan berada ditangan Kebo Sindet.

“Gila kau” teriak Empu Gandring “lepaskan anak itu. Marilah kita bertempur secara jantan, meskipun seandainya kau berdua akan berkelahi berpasangan”.

Wajah Kebo Sindet sama sekali tidak bergerak. Beku. Tetapi yang terdengar adalah suara tertawa Wong Sarimpat, “Apakah kau sedang mengigau Empu. Sekian lama kita berkelahi, tetapi tak seorang pun yang dapat mengalahkan lawannya. Kini kau menantang kami berdua melawanmu. Apakah kau benar-benar akan membunuh dirimu”.

“Aku tidak peduli apa yang terjadi. Tetapi lepaskan anak itu” suara Empu Gandring terasa bergetar karena kemarahannya. Senjatanya, sebilah keris raksasa tiba-tiba menjadi bergetar pula.

Kebo Sindet yang berwajah beku seperti mayat itu menjawab dengan suara yang bergulung-gulung di dalam perutnya, “Empu Gandring, kami tidak mempunyai kepentingan dengan kau. Karena itu pergilah. Jangan ganggu kami lagi”.

“Aku berkepentingan dengan anak itu. Ia adalah ke manakanku. Kalau kau bergerak selangkah membawanya pergi, maka aku tidak tahu, apakah aku akan berbuat curang pula seperti kalian”.

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat saling berpandangan sejenak. Mereka tidak dapat membayangkan, apa yang dapat dilakukan oleh Empu Gandring, meskipun dirinya sendiri menyebutnya curang. Namun dengan demikian kemarahan Kebo Sindet menjadi semakin menyala di dalam dadanya. Sehingga karena itu maka katanya “Baik. Baik Empu gila. Aku dan adikku akan bersama-sama membunuhmu. Tetapi jangan kau sangka, bahwa aku akan melepaskan kemanakanmu ini” Kebo Sindet diam sejenak. Lalu katanya kepada Kuda Sempana, “Bawa anak ini dengan kudamu mendahului kami ke Kemundungan. Aku akan segera menyusul. Pekerjaan kami tidak lagi begitu berat. Membunuh Empu gila ini berdua”.

Kuda Sempana tidak menjawab sepatah kata pun. Di terimanya tubuh Mahisa Agni yang lepas dari tangan Kebo Sindet.

“Gila. Kau benar-benar setan alasan” teriak Empu Gandring sambil selangkah maju. Tetapi Wong Sarimpat telah berdiri dimukanya dengan golok ditangannya, “Jangan maju lagi Empu”.

“Persetan. Aku penggal lehermu”.

“Lakukanlah”.

Empu Gandring yang marah itu maju setapak lagi. Seakan-akan ia sama sekali tidak menghiraukan Wong Sarimpat. Dengan marahnya ia menggeram, “Aku tidak peduli, apakah aku berbuat curang atau kejam atau liar. Tetapi jagalah, sentuhan seujung rambut dari kerisku yang satu ini telah cukup mencabut nyawamu”. Dan ternyata di tangan kiri orang tua itu telah tergenggam sebilah keris yang kecil.

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat tertegun melihat keris itu. Keris itu agak lebih kecil dari keris biasa, tetapi keris yang kecil itu seakan-akan memancarkan cahaya yang hijau suram.

Kedua hantu dari Kemendungan itu segera tahu pula, bahwa pada keris yang kecil itu tersimpan semacam bisa yang tajamnya melampaui bisa ular. Itulah sebabnya maka sejenak mereka menjadi ragu-ragu.

“Aku tidak pernah bermimpi untuk mempergunakan keris ini” desis Empu Gandring “karena itu maka keris ini tidak pernah terpisah dari padaku, supaya keris ini tidak jatuh ketangan orang lain. Tetapi, mungkin aku sekarang benar-benar telah menjadi gila. Aku terpaksa nganggar keris ini. Meskipun demikian aku masih cukup sadar memberi kalian peringatan”.

Terdengar Kebo Sindet menggeram. Tetapi wajah bekunya masih juga membeku. Namun terdengar ia menjawab “Jangan menakut-nakuti kami seperti menakut-nakuti anak-anak dengan kelabang. Betapa tajamnya racun kerismu itu Empu, namun keris itu tidak akan dapat menyentuh tubuhku”.

“Jangan terlalu sombong” sahut Empu Gandring “kau sudah dapat menduga babwa keris ini mengandung bisa. Memang, aku telah memberi bisa yang setajam-tajamnya pada keris ini, sekedar sebagai suatu percobaan. Tetapi menghadapi setan-setan tidak berjantung seperti kalian, maka aku terpaksa mempergunakannya. Semoga aku tidak terkutuk karenanya”.

Kebo Sindet dan Wong Sarimpat masih ragu-ragu sejenak. Tetapi, ketika mereka menyadari bahwa Kuda Sempana belum beranjak dari tempatnya, maka Kebo Sindet itu pun membentak “Ayo, lekas bawa anak itu pergi supaya bukan kau yang akan menjadi korban pertama dari keris itu”.

Kuda Sempana terkejut. Sejenak ia ragu-ragu, tetapi kemudian ia melangkah pergi.

“Berhenti” teriak Empu Gandring.

“Jangan hiraukan” sahut Kebo Sindet.

Dalam kebimbangan dan keragu-raguan, Kuda Sempana berjalan menuju ke tempat kudanya disembunyikan.

Dalam pada itu Empu Gandring sudah tidak bersabar lagi. Cepat ia meloncat menyerang Kebo Sindet dengan sepasang keris di kedua tangannya. Sebilah keris raksasa di tangan kanan, dan sebilah keris yang berwarna hijau suram di tangan kirinya.

Tetapi lawannya adalah sepasang bantu dari Kemundungan. Hantu yang telah kenyang menghisap darah dan keringat sesama. Itulah sebabnya, maka serangannya yang pertama itu tidak mengenai serangannya. Sedang kedua iblis itu pun segera berloncatan memencar. Ketika kemudian perkelahian pula dengan sengitnya, di tangan Kebo Sindet telah tergenggam sebilah golok.

Empu Gandring yang tua, yang dibakar oleh kemarahan itu pun bertempur dengan sepenuh kemampuan dan ilmunya. Sedang kedua lawannya yang berkelahi berpasangan itu pun terlampau bernafsu pula untuk segera membunuh Empu Gandring.

Dengan demikian maka perkelahian itu pun menjadi semakin dahsyat. Tenaga mereka bagaikan angin taufan yang saling berbenturan di atas lautan, sehingga kemudian timbullah gelombang yang mengerikan, hantam-menghantam, hempas-menghempas tiada henti-hentinya.

Tetapi Empu Gandring bertempur seorang diri. Lawannya, dua iblis dari Kemundungan itu berkelahi berpasangan. Hanya karena senjatanya yang mengerikan itu sajalah maka Empu Gandring masih tetap mampu bertahan. Betapa berani dan gilanya Wong Sarimpat dan Kebo Sindet, namun mereka benar-benar tidak mau tersentuh oleh keris Empu Gandring yang berwarna bijau suram itu. Itu pulalah sebabnya maka Empu Gandring masih mampu bertahan melawan keduanya. Setiap kali kerisnya itu menyambar seperti sikatan, sedang kerisnya yang lain menebas seperti baling-baling.

Namun bagaimanapun juga, ternyata kekuatan kedua orang lawannya, Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang bergabung itu, terlampau sukar ditandinginya. Setelah beberapa saat mereka bertempur, maka terasa, bahwa akhirnya Empu Gandring itu pun terdesak mundur. Dengan demikian maka ia tidak segera berhasil menahan Kuda Sempana, bahkan untuk mempertahankan dirinya sendiri pun, orang tua itu harus bertempur mati-matian.

Dengan hati yang pedih, Empu Gandring terpaksa membiarkan Kuda Sempana menghilang membawa Mahisa Agni yang sedang pingsan. Sejenak kemudian ia mendengar kaki kuda berderap, dan lenyap pulalah semua harapannya untuk menyelamatkan anak muda itu.

Tetapi dengan demikian, kemarahannya menjadi semakin memuncak membakar ubun-ubunnya. Orang tua itu seolah-olah tidak lagi menghiraukan keseimbangan perkelahian itu. Seperti Orang yang kesurupan, Empu Gandring mengamuk sejadi-jadinya. Dan justru karena itulah, maka kedua lawannya terpaksa mengerahkan kemampuan mereka pula. Apalagi menghadapi keris yang satu yang berwarna hijau suram itu.

Perkelahian itupun kemudian menjadi semakin mengerikan. Orang-orang yang menyaksikannya dari kejauhan menggigil ketakutan. Mereka melihat dedaunan berguguran di tanah dan pepohonan menjadi tumbang, seperti padepokan itu sedang dilanda oleh angin taufan yang maha dahsyat.

Tetapi mereka yang bertempur itu tiba-tiba terkejut ketika mereka melihat Ken Arok yang terbaring diam itu mulai bergerak. Perlahan-lahan ia menggeliat, dan tiba-tiba saja ia bangkit berdiri. Sekali lagi anak muda itu mengeliat. Seperti orang yang baru terbangun dari tidurnya ia memandang berkeliling. Ketika tiba-tiba dilihatnya Empu Gandring yang sedang bertempur melawan kedua bantu dari Kemundungan itu, tampak wajahnya menjadi tegang.

Ken Arok yang bangkit dengan serta merta itu benar-benar mengejutkan ketiga orang-orang tua yang sedang berkelahi. Mereka menganggap bahwa hal itu tidak akan mungkin dapat terjadi. Anak muda itu baru saja terbanting jatuh dan pingsan. Bahkan hampir mati. Nafasnya hanya terdengar lemah sekali, dan detak jantungnya hampir berhenti. Tetapi tiba-tiba saja ia bangkit dan seperti bangun saja dari tidur yang nikmat.

Apa yang terjadi atas diri Ken Arok itu, benar-benar telah menggetarkan jantung Kebo Sindet. Dengan kekuatan yang selama ini dibanggakan ia memukul dada Ken Arok tanpa perlawanan yang berarti. Ia melihat anak itu terlempar dan terbanting jatuh. Tetapi tiba-tiba anak itu bangun kembali hanya dalam waktu yang tidak terlalu lama.

“Anak setan” Kebo Sindet mengumpat di dalam hatinya “apakah dadanya berlapis baja?”.

Namun dengan dengan demikian orang yang selama ini hidup di dalam dunia yang kelam, di dalam lingkungan yang liar dan buas, sebuas rimba belantara, hampir setiap hari bermain-main dengan maut, tetapi menghadapi Ken Arok terasa kengerian merayapi hatinya. Bukan karena ia takut melawan Ken Arok, sebab meskipun anak itu mempunyai daya tahan yang tiada taranya, tetapi ia pingsan juga karena pukulan Aji Bajang.

Tetapi kini ia menghadapi dua orang yang mempunyai kelebihanya masing-masing. Empu Gandring dengan kerisnya yang berwarna hijau suram dan Ken Arok yang seakan-akan menyimpan tujuh nyawa rangkap di dalam dirinya

Karena itu, maka Kebo Sindet mengambil keputusan untuk melepaskan saja lawannya. Lebih baik ia pergi meninggalkan setan-setan Panawijen itu. Lebih baik ia masih sempat menikmati kemenangannya. Menyembunyikan Mahisa Agni untuk memeras Ken Dedes dengan segala macam kelicikan.

“Tetapi setan-setan ini menjadi saksi bahwa Empu Sada tidak ada di sini” katanya di dalam hati, “tetapi tidak apa. Muridnya telah mereka lihat. Mudah-mudahan mereka berpendapat bahwa kehadiranku ini adalah karena permintaan Empu Sada. Bukankah Empu Gandring pernah juga bertemu dengan Empu Sada di Padang Karautan.

Akhirnya keputusan Kebo Sindet pun menjadi bulat. Ia mengangap bahwa Kuda Sempana telah cukup jauh mengambil jarak seandainya Empu Gandring akan mengejar mereka.

Tiba-tiba Kebo Sindet itu pun memberi isyarat kepada adiknya. Dengan serta merta mereka berloncatan mundur, meskipun mereka masih tetap berkelahi.

Empu Gandring yang melihat sikap itu menjadi semakin marah. Alangkah licik lawannya. Mereka akan meninggalkan gelanggang meskipun mereka telah berkelahi berpasangan.

Dan apa yang diduga itupun segera terjadilah. Kedua orang itupun segera berloncatan meninggalkan halaman, melangkahi dinding batu. Tetapi sudah tentu Empu Gandring tidak membiarkannya. Segera ia mengejarnya. Namun kedua iblis dari Kemundungan itu tidak banyak menemukan kesukaran. Sambil melawan mereka kemudian sempat mencapai kuda-kuda mereka. Bergantian mereka meloncat ke atas punggung-punggung kuda itu, dan sejenak kemudian terdengar derap kedua kuda itu memecah sepi malam.

“Pengecut” Empu Gandring berteriak mengatasi derap kaki-kaki kuda itu. Tetapi suara itu disahut oleh suara tertawa Wong Sarimpat, berkepanjangan menyusur sepanjang jalan padukuhan Panawijen.

Ken Arok melihat juga kelicikan itu. Kemarahan yang memang sudah menyala di dalam dadanya serasa berkobar semakin besar. Tanpa disadarinya, iapun segera meloncat ingin mengejar mereka. Tetapi segera langkahnya terhenti. Dadanya serasa akan pecah, dan tulang-tulang iganya seolah-olah sudah tidak terpaut lagi di dadanya.

Baru kini terdengar ia mengaduh perlahan-lahan sekali. Ditekankannya kedua telapak tangannya pada dadanya. Perasaan sakit itu seakan-akan dengan tiba-tiba saja menerkamnya. Perasaan itu serasa baru saja melanda dirinya.

Ken Arok berdiri dengan menahan sakitnya. Ia tidak dapat berlari mengejar orang-orang yang melarikan Mahisa Agni. Karena itu betapa ia menyesal.

Dadanya berdentang keras sekali ketika ia melihat Empu Gandring dengan tergesa-gesa kembali. Tetapi ketika orang tua itu melihatnya, maka iapun berhenti.

“Kenapa engkau Ngger?” bertanya Empu Gandring.

Nafas Ken Arok menjadi semakin deras mengalir. Terputus-putus ia menyahut, “dadaku Empu”.

Empu Gandring menjadi cemas melihat keadaan Ken Arok. Karena itu maka anak muda itu pun didekatinya “Bagaimana dengan dadamu?”

Ken Arok menggigit bibirnya. Tetapi ketika disadarinya bahwa Empu Gandring agaknya bermaksud mengejar kedua orang Kemundungan itu, maka jawabnya, “Tidak apa-apa Empu, hanya sedikit terasa nyeri”.

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi bingung. Apakah ia akan meninggalkan Ken Arok yang sedang terluka itu, ataukah ia harus membiarkan Mahisa Agni hilang dibawa oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat?”.

Agaknya Ken Arok melihat kebimbangan di hati orang tua itu, maka katanya, “Empu, tinggalkanlah aku disini. Barangkali Empu Gandring dapat menyusul Kebo Sindet, setidak-tidaknya Empu mengetahui kemana Mahisa Agni itu dibawa. Kalau benar ia dibawa ke Kemundungan, maka besok Kemundungan akan aku kepung dengan prajurit Tumapel segelar sepapan. Meskipun di dalam sarang mereka ada Kebo Sindet, Wong Sarimpat dan Empu Sada sekalipun, namun prajurit-prajurit Tumapel cukup banyak untuk merampok mereka, seperti orang-orang padesan merampok macan.

Empu Gandring masih ragu-ragu sejenak. Dan Ken Arok berkata pula, “Marilah Empu, aku ikut. Tetapi barangkali aku tidak dapat berkuda terlampau cepat. Biarlah Empu pergi lebih dahulu. Aku harap di sepanjang perjalanan sakitku sudah jauh berkurang, sehingga apabila perlu aku masih dapat membantu Empu menghadapi orang-orang itu.

“Jangan Ngger. Sembuhkan dahulu lukamu”.

“Jangan hiraukan aku Empu. Setan-setan itu akan menjadi semakin jauh”.

Empu Gandring termenung sejenak. Anak muda yang bernama Ken Arok ini memang sangat mengherankan baginya. Anak muda itu sama sekali tidak memuntahkan darah dari mulut dan hidungnya. Justru karena itu, maka Empu Gandring merasa tidak berkeberatan untuk meninggalkannya menyusul Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.

Tetapi, meskipun demikian, untuk sejenak Empu Gandring berdiri termangu-mangu. Ditatapnya saja Ken Arok yang masih menekan dadanya dengan kedua telapak tangannya. Namun Ken Aroklah yang mendesaknya, “Silahkan Empu, silahkan Empu mendahului. Aku akan segera menyusul”.

Empu Gandring itu seperti tersedar dari mimpinya. Maka jawabnya sambil meloncat mencari kudanya, “Baiklah Ngger. Aku akan pergi dahulu. Tetapi kalau Angger masih merasa sakit, sebaiknya Angger beristirahat”

Dengan tergesa-gesa Empu Gandring pergi ke tempat kudanya ditambatkan. Sejenak ia masih harus membenahi pelana kuda itu, dan sejenak kemudian terdengar kaki-kaki kuda itu berderap meninggalkan halaman padepokan Empu Purwa.

“Mereka menuju ke arah ini” desis Empu Gandring yang dengan serta merta melecut kudanya yang terasa terlampau lambat berlari.

Ken Arok kini masih tegak seorang diri di halaman padepokan Empu Purwa. Setelah keadaan menjadi agak reda, maka barulah satu dua orang cantrik berani mendekatinya. Salah seorang dari mereka bertanya “Apakah tuan terluka?”

“Ambilkan aku air “desis Ken Arok.

“Air apa?”

“Air. Air dingin”.

Cantrik itupun segera berlari-lari mengambil sebuah gendi yang berisi air. Sementara itu Ken Arok minta kepada seorang cantrik yang lain untuk menyiapkan kudanya.

“Inilah air itu tuan”.

Ken Arok menerima gendi itu. Ia tidak tahu, apakah obat yang paling baik untuk menyembuhkan luka-lukanya. Tetapi ia ingin minum, dan mudah-mudahan air yang dingin itu dapat meringankan sakit dadanya itu.

Perlahan-lahan Ken Arok mengangkat gendi itu. Perlahan-lahan sekali karena gerak tangannya ternyata menyebabkan dadanya semakin sakit. Diangkatnya wajahnya, dan dengan hati-hati dituangkannya air gendi itu ke dalam mulutnya.

“Hem,” desisnya, “alangkah segarnya”.

Tetapi, anak muda itu pun terkejut ketika tiba-tiba rasa sakit di dadanya menjadi agak berkurang oleh segarnya air yang diminumnya. Sekali lagi ia mengangkat gendi itu. Kini gerak langannya telah tidak terasa terlampau sakit, dan diteguknya air itu sehingga habis,

“Heh” ia menarik nafas dalam-dalam. Rasa nyeri pada dada itu sudah sangat berkurang. Diberikannya kendi itu kepada cantrik yang membawanya sambil bertanya “Air apakah ini?”.

“Air. Air dingin biasa tuan”.

“Alangkah segar air dari padepokan Panawijen. Air itu ternyata telah mengurangi rasa sakit pada dadaku. Terima kasih. Kini aku telah mampu berkuda menyusul Empu Gandring”.

“Kemanakah mereka itu tuan?”.

“Aku tidak tahu. Dan aku ingin mengetahuinya”.

Ken Arok itu pun kemudian perlahan-lahan berjalan ke arah kudanya.

“Dadaku sudah agak baik” katanya kepada para cantrik yang mengerumuninya, “aku akan pergi menyusul Empu Gandring. Terima kasih, agaknya air padepokan ini memang mengandung obat. Aku hampir sembuh”.

Ken Arok itu pun kemudian menyentuh perut kudanya. Perlahan-lahan kuda itu berjalan meninggalkan halaman padepokan itu. Semakin lama semakin kencang. Ketika Ken Arok merasa bahwa sakit dadanya tidak menjadi semakin parah karena darap kudanya, maka kuda itu pun kemudian meluncur lebih cepat. Meskipun demikian sekali-kali Ken Arok masih harus meraba dada itu dengan tangannya. Kadang-kadang masih terasa nyeri-nyeri di dalamnya. Tetapi agaknya angin malam yang sejuk telah banyak membantu meringankan rasa sakit itu.

Dalam keheningan malam terdengar hiruk pikuk derap kaki-kaki kuda. Orang-orang yang membenamkan dirinya di bawah selembar kain karena dingin dan ketakutan menjadi semakin menggigil karenanya. Mereka mendengar derap kuda berturutan. Semula mereka mendengar seekor kuda lari seperti di kejar hantu. Kuda itu adalah kuda yang dilarikan oleh Kuda Sempana membawa Mahisa Agni. Kemudian disusul oleh kuda-kuda Wong Sarimpat dan Kebo Sindet. Sejenak kemudian sekali lagi mereka mendengar derap kaki kuda. Agaknya kuda itu adalah kuda Empu Gandring. Dan kini lagi mereka bergetar karena suara kaki-kaki kuda yang berlari kencang.

Sedang dalam pada itu, orang-orang laki-laki yang mencoba melihat apa yang terjadi dan melihat perkelahian di padepokan Empu Purwa dari kejauhan, satu demi satu keluar dari persembunyian mereka. Dengan hati yang cemas mereka memperbincangkan apa yang telah mereka lihat. Tetapi mereka tidak jelas atas apa yang terjadi. Mereka tidak banyak mengerti, bagaimana akhir dari perkelahian itu. Tetapi ketiga orang yang telah menjemput Mahisa Agni yang mengintip lewat dinding batu halaman padepokan itu dapat mengatakan apa yang dilihatnya. Meskipun mereka tidak tahu seluruhnya, tetapi mereka melihat Mahisa Agni menjadi pingsan dan dibawa oleh Kuda Sempana. Setelah itu maka yang terjadi adalah keributan yang tidak dimengertinya. Mereka tahu bahwa Empu Gandring bertempur melawan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, tetapi yang mereka lihat seolah-olah hanyalah sebuah angin pusaran yang dahsyat.

Malam yang dingin menjadi semakin dingin. Di langit bintang-bintang bertaburan merata disegenap penjuru. Sekali-sekali selembar awan putih yang lembut mengucap wajah langit yang biru, membelai gemerlapnya bintang-bintang yang bergayutan.

Tetapi Kuda Sempana sama sekali, tidak menghiraukannya. Seperti orang yang kehilangan akal ia berpacu ke Kemundungan. Mahisa Agni yang pingsan masih juga tersangkut di punggung kuda itu pula. Sejenak kemudian ia telah meninggalkan padukuhan Panawijen. Namun, ia sama sekali tidak menyangka bahwa dari jurusan yang berlawanan sedang berpacu pula seekor kuda menuju kepadukuban Panawijen.

Demikianlah, di dalam malam yang semakin jauh itu, berpacu beberapa ekor kuda saling berkejaran. Mereka sama sekali tidak menghiraukan dinginnya angin malam. Betapa tubuh-tubuh mereka basah oleh keringat dan embun.

Tetapi kuda yang datang dari arah yang berlawanan itu pun berpacu pula seperti angin. Penunggangnya adalah seorang tua yang menjinjing sebuah tongkat panjang. Orang itu adalah Empu Sada. Setiap kali ia melecut kudanya, supaya berlari lebih cepat. Orang itu seakan-akan takut kehilangan waktu walaupun hanya sekejap.

Karena itulah maka jarak antara Empu Sada dan Kuda Sempana menjadi sangat cepat surut. Keduanya berpacu dalam satu jalur jalan, namun pada arah yang berlawanan. Yang satu meninggalkan Panawijen sedang yang lain menuju ke Panawijen.

Akhirnya, ketika jarak itu menjadi semakin dekat, maka Empu Sada menengadahkan wajahnya. Lamat-lamat ia mendengar derap kaki kuda dihadapannya. Semakin lama menjadi semakin dekat.

“Hem” desis orang tua itu, “mudah-mudahan aku berjumpa dengan mereka”.

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Dihirupnya udara malam sepuas-puasnya, seakan-akan untuk yang terakhir kalinya. Diamatinya bintang-bintang dilangit satu demi satu. Tetapi bintang-bintang itu terlampau banyak. Ribuan, jutaan dan bahkan tidak terhitung.

Tiba-tiba dada Empu Sada berdesir. Ia melihat bulan tua yang baru tumbuh mengambang di langit. Kemudian dilihatnya pula sebuah lingkaran yang luas di sekitar bulan yang sudah tua itu.

“Bulan berkalang” desisnya pula, “agak tidak lazim. Biasanya bulan purnama lah yang berkalang. Tetapi kini, bulan yang sudah tipis, setipis alis perawan, berkalang pula”.

Tetapi Empu Sada tidak memperlambat langkah kudanya. Bahkan berkali-kali ia melecut kuda itu. Dan kuda itu menjadi semakin menggila. Ditembusnya keremangan malam dengan derapnya yang hiruk-pikuk.

“Kuda itu semakin dekat. Tetapi tidak lebih dari seekor” gumam Empu Sada kepada diri sendiri.

Tiba-tiba Empu Sada menarik tali kekang kudanya. Dan Kudanya pun mengurangi kecepatan lajunya.

“Lebih baik aku menunggu” gumam Empu Sada itu pula.

Tetapi ternyata penunggang kuda yang datang dari arah yang berlawanan itupun telah mendengar langkah kudanya. Dengan hati yang berdebar-debar Kuda Sempana mencoba meyakinkan pendengarannya. Dan kemudian ia pun pasti, bahwa derap kuda itu adalah derap kuda dihadapannya, bukan kuda yang menyusul di belakang.

“Siapakah yang berkuda itu?” desisnya.

“Persetan” Kuda Sempana menggeretakan giginya. Tanpa sesadarnya tangannya telah meraba hulu pedangnya, “mungkin aku akan bertemu dengan seseorang yang ingin membunuh dirinya”.

Kuda Sempana sama sekali tidak memperlambat langkah kaki kudanya. Bahkan dibiarkannya kudanya berlari semakin kencang seakan-akan berpacu dengan angin malam yang silir. Namun meskipun demikian, terasa debar jantungnya pun menjadi semakin cepat.

Tetapi, Kuda Sumpana itu pun kemudian mengerinyitkan alisnya. Suara derap kuda yang didengarnya tiba-tiba berhenti seperti ditelan hantu.

“Apakah telingaku sudah tidak beres lagi” desis Kuda Sempana, “tetapi mungkin orang yang berkuda itu berhenti setelah mendengar derap kudaku. Atau mungkin bersembunyi”.

Karena angan-angannya itu maka tiba-tiba Kuda Sempana pun memperlambat kudanya. Ia harus berhati-hati, mungkin seseorang yang bersembunyi sedang mengintainya, untuk dengan tiba-tiba menerkam dari balik gerumbul di tepi jalan.

Dengan wajah yang tegang Kuda Sempana mencoba melihat dalam malam yang semakin remang-remang. Bulan yang tersembul di langit telah menolong Kuda Sempana untuk dapat melihat agak lebih terang.

Tiba-tiba darah anak muda itu berdesir. Kini ia melihat sebuah bayangan yang remang-remang berada di tengah jalan. Orang berkuda.

“Itulah dia” desis Kuda Sempana yang darahnya serasa menjadi semakin cepat mengalir. Tanpa dikehendakinya maka dengan gerak yang menyentak ia mempercepat lagi langkah kudanya, dan pedangnya pun telah berada di dalam genggamannya. Dengan garangnya ia mendekati bayangan yang berhenti tepat di tengah-tengah jalan yang akan dilaluinya.

Sebelum Kuda Sempana melihat jelas siapakah yang berada dipunggung kuda itu, maka dengan kerasnya ia berteriak sekasar Wong Sarimpat, “He, siapakah yang berhenti di tengah jalan. Minggir, supaya kepalamu tidak terinjak kaki-kaki kudaku”.

Dada Empu Sada bergetar mendengar suara itu. Ia segera dapat mengenal siapakah yang berteriak menyapanya. Tetapi ia terkejut mendengar nada suara anak muda yang pernah diasuh sebagai murid yang sangat dimanjakannya. Alangkah kasarnya.

Kuda Sempana kini sudah menjadi semakin dekat, tetapi Empu Sada masih belum menjawab.

“Minggir” Empu Sada mendengar Kuda Sempana ber teriak lagi, “cepat sebelum aku kehabisan kesabaran”.

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya tenang, “Berhentilah Kuda Sempana”.

Kini Kuda Sempana lah yang terkejut bukan buatan. Ia pun dapat mengenali suara itu. Suara gurunya. Karena itu, maka dengan sekuat tenaganya ia menarik kekang kudanya sambil berdesis, “Guru. Adakah itu Empu Sada”.

“Ya. Aku adalah gurumu, Kuda Sempana. Apakah kau masih mengenalku?”.

Kuda Kuda Sempana berhenti beberapa langkah dari kuda gurunya. Dengan dada yang berdebar-debar Kuda Sempana berkata terpatah-patah, “Guru. Jadi guru masih hidup?”

“Seperti kau lihat kini Kuda Sempana. Yang duduk di atas punggung kuda ini sama sekali bukan sebuah kerangka yang hidup. Tetapi aku adalah Empu Sada yang masih utuh. Yang terdiri dari kulit daging seperti yang dapat kau lihat, seperti kau, seperti Kebo Sindet dan Wong Sarimpat”.

Darah Kuda Sempana terasa berdeburan di dalam jantungnya. Gurunya yang disangkanya sudah mati itu kini berada beberapa langkah saja dihadapannya. Namun justru karena itu maka seolah-olah membeku di atas punggung kudanya.

Anak muda itu terkejut ketika ia mendengar gurunya bertanya “Apakah yang kau bawa itu Kuda Sempana?”

Tiba-tiba terasa sepercik kebanggaan di dalam hati anak muda itu, dengan dada tengadah ia menjawab, “Guru. Setelah kita berusaha sekian lama dengan sia-sia, akhirnya maksud itu tercapai juga. Ini adalah tubuh Mahisa Agni”.

“He?” sejenak kemudian Empu Sada itu pun terbungkam. Ia melihat tubuh terkulai, tersangkut menelungkup di punggung Kuda Sempana itu pula. Dengan terbata-bata ia kemudian bertanya, “Apakah anak itu sudah mati?”.

“Belum guru. Ia baru pingsan. Paman Kebo Sindet dan paman Wong Sarimpat menghendaki ia tetap hidup”.

Empu Sada menarik nafas dalam-dalam. Serasa urat-uratnya yang menegang itu pun mengendor kembali. Ternyata ia masih sempat bertemu dengan Mahisa Agni yang masih hidup.

“Jadi Mahisa Agni masih hidup?”.

“Ya guru”.

“Kenapa ia tidak dibunuh saja? Olehmu atau oleh kedua iblis dari Kemundungan itu?”

“Paman Kebo Sindet dan paman Wong Sarimpat ingin melihat Mahisa Agni ketakutan. Mati terlampau cepat bagi Mahisa Agni agaknya terlampau menyenangkan”.

“Apa yang akan mereka kerjakan?”

“Aku akan membuat perhitungan dengan anak ini.

“Apa yang akan kau lakukan?” Kau akan melakukan perang tanding di bawah saksi pamanmu Kebo Sindet dan Wong Sarimpat?”

Kuda Sempana terdiam sejenak. Ia menjadi ragu-ragu untuk menjawab. Tetapi gurunya mendesaknya “Begitu?”.

“Tidak guru” sahut Kuda Sempana, “dalam keadaannya, aku akan dapat berbuat apa saja atasnya”.

“Dan kau akan melakukannya juga”.

Kuda Sempana merasakan pertanyaan gurunya itu agak aneh. Ia tidak melihat kegembiraan pada sikap dan kata-kata Empu Sada. Sejak lama mereka berusaha untuk dapat berbuat seperti ini, menangkap Mahisa Agni untuk melepaskan dendam yang membara di hati. Tetapi setelah ia berhasil menangkap anak muda itu, terasa pertanyaan-pertanyaan gurunya agak sumbang.

“Bagaimana Kuda Sempana, kau akan melakukan?”. Tiba-tiba Kuda Sempana menjadi demikian bingung. Karena itu maka jawabnya “Aku tidak tahu, guru”.

“Kuda Sempana” desis Empu Sada, “sebaiknya kau menilai dirimu sendiri. Apakah kau dapat bersikap jantan atau tidak. Kalau kau merasa dirimu laki-laki, jangan kau berbuat seperti itu. Berbuatlah seperti seorang laki-laki”.

Kuda Sempana bertambah bingung mendengar kata-kata gurunya. Ia tidak segera menangkap maksudnya. Bukankah gurunya sendiri pernah berbuat hal-hal yang dapat disebut licik dan sama sekali tidak jantan. Adalah tidak dapat dibanggakan kemenangan Empu Sada atas Mahisa Agni seandainya pada saat itu Empu Gandring tidak hadir dan seandainya saat itu Empu Sada berhasil menangkap atau membunuh anak muda itu. Sekarang gurunya itu bertanya tentang kejantanan dan sikapnya sebagai seorang laki-laki.

Karena Kuda Sempana tidak segera menjawab, maka Empu Sada berkata selanjutnya, “Kuda Sempana, sebaiknya kau hentikan perbuatanmu semacam itu. Seperti kau juga kini menyesal, bahwa aku pernah berbuat gila-gilaan”.

Kuda Sempana tidak segera menjawab, dadanya masih diliputi oleh perasaan yang bersimpang siur, bahkan tidak di kenalnya sama sekali. Itulah sebabnya maka ia masih saja duduk mematung.

Empu Sada seterusnya masih berkata pula, “Kuda Sempana. Apakah kau mengalami berbagai macam peristiwa berurutan itu hatimu masih jaga membeku sekeras batu?”.

Kuda Sempana masih juga membeku dan Empu Sada masih melanjutkan, “Apakah yang telah kau mulai dalam perjalanan hidupmu setelah kau terpisah daripadaku Kuda Sempana?. Di tanganku kau telah aku jadikan seorang yang licik dan pendendam. Kemudian kau bergaul dengan orang-orang Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Apakah kira-kira yang kemudian tergores pada dinding hatimu? Apakah kau kemudian menyadari keadaanmu atau bahkan kau menjadi semakin buas dan garang?”.

Kuda Sempana menundukkan wajahnya. Tidak disengajanya ia memandangi tubuh Mahisa Agni yang masih saja pingsan. Beberapa hari yang lewat ia kehilangan segala macam pertimbangan dan kehendak. Bahkan hatinya benar-benar serasa membeku. Bukan karena ia ingin melakukan apa saja untuk melepaskan dendamnya, tetapi serasa ia telah kehilangan arah dan pedoman hidupnya. Ia berbuat apa saja tanpa dapat mempertimbangkan tujuan dan akibatnya. Ia berbuat seperti alat yang digerakkan oleh tenaga orang lain. Sehingga akhirnya ia berbasil berhadapan kembali dengan Mahisa Agni. Ketika ia berkelahi dengan Mahisa Agni itulah, maka keinginannya untuk membunuh ternyata telah terungkat kembali. Meskipun tidak sedahsyat semula.

“Kuda Sempana” panggil Empu Sada kemudian.

Kuda Sempana mengangkat wajahnya. Dipadanginya mata gurunya yang tajam, seakan-akan langsung menembus pusat jantungnya. Sehingga Kuda Sempana itu pun tiba-tiba menundukkan kepalanya kembali.

“Berikanlah Mahisa Agni itu kepadaku”.

Kuda Sempana terkejut mendengar permintaan gurunya itu. Wajahnya menjadi tegang dan jantungnya berdebaran. Bukan saja karena ia sendiri ingin berbuat sesuatu atas Mahisa Agni, tetapi Mahisa Agni itu kini seakan-akan bukan miliknya. Mahisa Agni itu seakan-akan hanyalah barang titipan.

“Kuda Sempana, berikan Mahisa Agni itu kepadaku” ulang gurunya.

Dalam kesuraman sinar bulan yang tinggal secabik itu Empu Sada melihat wajah Kuda Sempana memancarkan beribu pertanyaan. Wajah yang menjadi kian tegang itu sekali-sekali terangkat dan kemudian kembali menunduk.

“Apakah kau berkeberatan Kuda Sempana?” “bertanya gurunya.

“Guru” sahut Kuda Sempana kemudian dengan penuh kebimbangan, “Aku membawa Mahisa Agni atas perintah paman Kebo Sindet”.

“Hem” Empu Sada mengangguk-anggukkan kepalanya, “karena perintah Kebo Sindet maka kau tidak akan memberikannya kepada siapa pun juga, meskipun kepada gurumu? Adakah lebih baik bagimu melakukan perintah Kebo Sindet atau memenuhi permintaanku?”.

Sekali lagi Kuda Sempana terbungkam. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Bahkan terasa jantungnya menjadi semakin keras berdentang di dalam dadanya dan kepalanya menjadi pening.

“Kuda Sempana” berkata Empu Sada selanjutnya, “aku tidak akan memperhitungkan pendirianmu. Aku tetap pada pendirianku bahwa aku harus mendapatkan Mahisa Agni itu. Kalau perlu dengan segala macam cara”.

“Guru” Kuda Sempana hampir menjerit karena ke bingungan dan sesak yang menyumbat dadanya, “aku tidak tahu apakah yang sebaiknya aku lakukan”.

“Apakah kau tidak dapat mendengar kata-kataku? Berikan Mahisa Agni kepadaku. Itulah yang harus kau lakukan”.

“Bagaimana kalau paman Kebo Sindet marah?”.

“Itu tanggung jawabku”.

“Untuk apakah sebenarnya guru memerlukan Mahisa Agni? Apakah guru ingin membunuhnya?”

“Kau tidak usah bertanya, untuk apakah Mahis Agni itu bagiku. Tetapi aku tidak akan mempergunakannya untuk memeras bakal permaisuri yang kau gilai itu. Kau tahu maksudku”.

Kuda Sempana menggelengkan kepalanya. Jawabnya “Aku tidak tahu guru”.

“Kau pun telah masuk kedalam perangkapnya. Kalau kau masih mau mendengarkan nasehatku, serahkan Mahisa Agni kepadaku dan tinggalkan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat”.

Kuda Sempana terpaku di atas punggung kudanya sejenak. Kata-kata gurunya itu amat asing bagi telinganya dan bagi hatinya. Ia tidak dapat membayangkan, apakah yang akan dilakukan kemudian.

“Bagaimana?” bertanya Empu Sada, “aku tahu, selama ini kau pasti mendapat banyak petunjuk dan ajaran-ajaran dari kedua iblis itu, yang tanpa kau sadari telah ikut berpengaruh membentuk dirimu. Tetapi itu bukan karena salahmu. Itu juga karena salahku. Aku telah membuat kau tanah yang subur bagi ajaran-ajaran Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Tetapi aku sempat melepaskan diri. Aku harap kau pun mau mendengar kata-kataku.

Kuda Sempana duduk membeku di tempatnya. Serasa ia mendengar kata-kata gurunya itu di dalam mimpi yang mengambang. Ia tidak segera menangkap maksud dan maknanya. Tetapi Empu Sada menjelaskannya, “Maksudku Kuda Sempana. Hentikan segala kesesatan. Jalan yang kau tempuh telah terlampau jauh. Sekarang kembalilah. Mari kita mencari jalan bersama-sama. Jalan yang terang, yang tidak digelimangi oleh segalamacam noda”.

Kuda Sempana merasakan sentuhan kata-kata gurunya. Tetapi sentuhan itu agak terlampau lemah. Hatinya selama ini telah menjadi semakin keras, sekeras batu selama ia berada di dalam lingkungan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.

Namun Kuda Sempana itu menjawab, “Guru, meskipun seandainya aku ingin kembali mencari jalan lain, aku kira tak ada dunia yang sanggup menerima aku. Aku telah terdorong dalam duniaku yang sekarang. Dan aku tidak akan dapat kembali”.

Empu Sada mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Kuda-Sempana, kau masih cukup muda. Umurmu, menurut tanggapan lahirilah, masih lebih panjang dari umurku. Tetapi aku merasa, bahwa aku dapat menemukan jalan itu. Kaupun pasti akan menemukannya. Tak ada batas yang dapat menutup kemungkinan itu sampai saat terakhir dari hidup. Selama kita masih sempat merasa diri kita bersalah dan dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh mengakui segala kesalahan untuk bertaubat, maka jalan itu selalu terbuka bagi kita”.

Sekali lagi Kuda Sempana merasakan sentuhan kata-kata itu. Secercah goresan yang tipis telah mewarnai perasaannya. Sejenak anak muda itu termenung.

“Pikirkan Kuda Sempana, sementara itu serahkan Mahisa Agni kepadaku. Aku akan menyelamatkannya. Tidak akan membunuhnya seperti apa yang akan aku lakukan beberapa waktu yang lampau. Ini adalah satu bentuk perbuatan yang bersumber pada penyesalanku itu. Kalau kau sependapat dengan aku maka lakukanlah hal yang serupa. Maka kau akan sampai ke jalan yang kau kehendaki, ke dunia yang kau ragukan apakah masih akan menerima kau kembali”.

Kuda Sempana masih duduk membeku. Wajahnya menjadi semakin lama semakin tegang, seperti pergolakan yang terjadi di dalam dadanya, semakin lama semakin dahsyat.

“Kuda Sempana. Kau tidak usah menjadi cemas, seandainya apa yang kau lakukan itu tidak dapat di mengerti oleh orang lain. Bahkan seandainya orang lain tetap menganggapmu sebagai seorang yang bersalah. Tetapi bukankah bentuk duniawi ini kadang-kadang bertentangan dengan kepentingan hidup yang kekal kelak? Jangan hiraukan sikap orang lain atas keputusanmu untuk meninggalkan duniamu yang sekarang. Kau akan menemukan jalan menuju ke dalam ketenteraman dan kedamaian yang abadi. Seandainya kau tetap dianggap bersalah dan mendapat hukuman badani, tetapi berbahagialah kau dengan hukuman badani itu. Jika kau hayati arti dari pengertian itu, maka kau akan menemukan yang seharusnya kau cari. Yang kekal, bukan yang semu. Akupun sedang mencari yang kekal itu sekarang”.

Dada Kuda Sempana serasa menjadi semakin sesak, bahkan serasa akan meledak. Terdengar suara gurunya itu gemuruh di dalam jantungnya. Tetapi bukan itu saja. Yang terdengar pula adalah suara gemuruh derap kaki-kaki kuda semakin lama menjadi semakin dekat.

Ternyata derap kaki kuda itu telah membuatnya terlampau gugup. Sentuhan kata-kata Empu Sada yang sedikit demi sedikit tergores dihatnya, tiba-tiba menjadi terpecah-belah, bercerai-berai seperti asap di hembus angin.

Yang didengarnya kini hanyalah derap kaki-kaki kuda. Kuda Sempana segera dapat menebak, bahwa deru kaki-kaki kuda itu adalah Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Tetapi Kuda Sempana tidak dapat menduga, bagaimanakah akhir dari perkelahian antara kedua iblis itu dengan kedua lawan-lawannya. Apakah Ken Arok benar-benar dapat dibunuh oleh Kebo Sindet dan kemudian bersama-sama dengan Wong Sarimpat membunuh Empu Gandring, atau kedua hantu itu sekedar menghindari lawan-lawannya.

Empu Sada pun mendengar pula derap kaki-kaki kuda itu. Di tengadahkannya wajahnya dan perlahan-lahan ia berdesis “Aku kira yang aku dengar adalah derap dua ekor kuda”.

Tak ada yang menyahut. Kuda Sempana terbungkam seperti membeku di tempatnya. Hanya desir angin malam yang menyentuh dedaunan liar terdengar gemerisik, seperti suara orang yang berbisik di telinga Empu Sada, “Ya, dua ekor kuda”.

“Kuda Sempana” berkata Empu Sada kemudian, “apakah kau tahu, siapakah yang kira-kira akan datang?”

Seperti tidak sadar Kuda Sempana menyahut “Paman Kebo Sindet dan Wong Sarimpat guru”.

“Hem” Empu Sada mengangguk-anggukan kepalanya. Terasa jantungnya menjadi semakin cepat berdentang. Apakah ia akan mengulangi perkelahian yang pernah dilakukannya melawan kedua orang itu? Kalau sekarang ia harus bertempur melawan keduanya, maka ia yakin, bahwa ia akan mati terbunuh dengan sia-sia. Tetapi apakah ia akan lari menghindar? Lalu apakah gunanya ia berpacu dengan tergesa-gesa dari padepokannya sampai kedaerah Panawijen ini?.

“Kuda Sempana” berkata orang tua itu tiba-tiba, “masih ada kesempatan. Berikan Mahisa Agni kepadaku”.

Sekali lagi terasa dada Kuda Sempana menjadi pepat. Ia tidak dapat segera mengambil keputusan. Sedang Empu Sada mendesaknya. “Cepat, sebelum mereka datang”.

“Aku takut guru” tiba-tiba terdengar suara Kuda Sempana parau.

“Baiklah. Kau takut kepada kedua iblis itu?” geram Empu Sada, “kalau demikian, akulah yang akan membunuhmu. Bagiku kau memang sudah tidak ada gunanya lagi”.

“Guru ” suara Kuda Sempana tersekat di kerongkongan.

“Atau kau berikan Mahisa Agni”.

Kuda Sempana tiba-tiba menjadi gemetar. Seperti seseorang yang sedang berdiri pada tanah yang rapuh di tepi jurang. Sedikit saja ia bergerak, maka ia akan terperosok ke dalamnya. Maju atau. mundur.

Tiba-tiba saja, tanpa diketahuinya sendiri, Kuda Sempana mengharap kuda-kuda yang berderap itu datang semakin cepat. Ia mengharap bahwa Kebo Sindet dan Wong Sarimpat akan melindunginya.

“Ayo Kuda Sempana” suara Empu Sada semakin tajam menusuk jantungnya, “cepat, serahkan Mahisa Agni atau kau aku bunuh sekarang juga”.

Kini Kuda Sempana benar-benar menggigil karena gelora di dalam dadanya yang menjadi semakin dahsyat. Apalagi, ketika ia melihat gurunya mengangkat tongkatnya. Maka darahnya serasa telah membeku.

“Kau benar-benar akan membunuh dirimu Kuda Sempana”.

Kuda Sempana tidak menjawab. Meskipun sekali dua kali tangannya menyentuh hulu pedangnya, tetapi ia tidak dapat berbuat apapun menghadapi gurunya. Seandainya ia ingin melawan, maka perlawannya itu akan tidak berguna sama sekali. Karena itu maka anak muda yang telah kehilangan gairah menghadapi masa-masa depannya itu, kini benar-benar menjadi putus asa. Ia tidak merasa sesuatu kepentingan apapun untuk mempertahankan dirinya. Apalagi terhadap gurunya. Kalau gurunya menginginkan Mahisa Agni, biarlah ia dibunuhnya. Itu lebih baik baginya dari pada ia akan mati dalam kengerian di tangan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat yang pasti menjadi sangat marah.

Dengan demikian, maka Kuda Sempana itu pun menjadi pasrah. Ia tidak ingin lagi berusaha sesuatu untuk menyelamatkan dirinya. Dengan dada yang membeku mati ia menundukkan kepalanya. Ia tidak akan mengelak meskipun ia melihat Empu Sada telah mengangkat tongkatnya.

Derap kedua ekor kuda yang didengar oleh Empu Sada pun menjadi semakin dekat. Ia sudah semakin terdesak waktu. Hatinya yang bergelora telah mendorongnya maju beberapa, langkah. Ia melihat Mahisa Agni yang pingsan, dan ia mengenangkan semua peristiwa yang pernah dialaminya. Kini ia sadar sesadar-sadarnya menghadapi keadaan, ia datang ke Panawijen untuk mengurangi kesalahannya dan berusaha menyelamatkan Mahisa Agni karena itu siapa pun yang menghalangnya harus disingkirkan.

Kini yang berada dihadapannya adalah Kuda Sempana yang telah menundukkan kepalanya. Dengan mudah ia dapat menyentuh kepala anak itu dengan tongkatnya, dan anak itu akan terpelanting jatuh. Bahkan mati.

Namun tiba-tiba dadanya menjadi semakin bergelora. Kuda Sempana itu adalah muridnya. Betapapun juga, maka ia tidak segera dapat melupakan hubungan yang selama ini telah terjalin. Dan tiba-tiba pula ia melihat anak muda yang pasrah itu dengan hati yang jujur. Kesalahan ini tidak seluruhnya dapat ditumpahkan kepada Kuda Sempana. Justru kesalahan terbesar adalah terletak pada dirinya sendiri. Ia adalah orang yang harus bertanggung jawab, kenapa anak muda itu menjadi liar dan buas. Ia adalah seorang yang patut menanggung segala akibat dari kebinalan Kuda Sempana karena Kuda Sempana adalah muridnya.

Empu Sada yang sudah mendekati muridnya itu pun menjadi tertegun. Iapun kemudian membeku seperti Kuda Sempana. Tetapi kemudian hatinya pun menjadi bulat. Ia tidak akan meletakkan tanggung jawab kepada Kuda Sempana, tetapi kepada diri sendiri. Dengan tekad yang menyala didalam dadanya ia bergumam, “Aku akan hadapi kedua iblis itu dengan mempertaruhkan nyawa”.

Kuda Sempana yang telah menundukkan wajahnya dengan pasrah, mendengar gumam yang lirih itu , tiba-tiba dada anak muda itupun terdesir pula. Ia tahu benar arti kata-kata gurunya, sehingga tanpa dikehendakinya sendiri ia berkata, “Guru, mereka adalah orang-orang yang sangat buas”.

Empu Sada mengerutkan keningnya. Dipandanginya muridnya dengan pandangan yang suram. Ternyata betapapun anak itu jauh tersesat, tetapi ia masih mampu membuat perbedaan antara sifat-sifat seseorang. Dengan nada yang detar Empu Sada menjawab, “Terima kasih akan peringatamu itu Kuda Sempana. Agaknya kau masih juga menyayangkan nyawaku. Tetapi aku sudah bertekad untuk berbuat sesuatu. Aku sudah bertekad untuk menyelamatkan Mahisa Agni. Nah kemudian terserah padamu. Kalau aku mati dalam perkelahi ini maka aku akan mati dengan dada yang lapang, sebab aku mati selagi aku berusaha untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan. Sebab menurut perhitunganku keselamatan Mahisa Agni bukanlah sekedar Mahisa Agni seorang, tetapi di belakangnya adalah seluruh penghuni padukuhan Panawijen yang mengalami kekeringan. Sedang apabila aku berhasil keluar dari pertempuran ini dengan selamat, aku sudah memberitahukan kepadamu bahwa aku memerlukan Mahisa Agni itu”.

Kepala Kuda Sempana terasa menjadi semakin pepat. Semua yang akan terjadi sama sekali tidak dikehendakinya. Ia tidak ingin gurunya, Empu Sada itu mati. Tetapi kalau ia hidup, maka Mahisa Agni itu akan dimintanya. Justru untuk menyelamatkannya. Dalam kepepatan itu terdengar Empu Sada berkata, “Menepilah Kuda Sempana. Jadilah saksi perkelahian ini. Kalau aku mati, mungkin kau masih juga bersedia untuk menguburkan mayatku”.

Kuda Sempan tidak menjawab kata-kata gurunya. Tetapi gelora di dalam dadanya menjadi kian gumuruh meledak-ledak.

“Menepilah” lagi terdengar suara Empu Sada, “itulah mereka sudah datang”.

Dengan dada yang hampir meledak Kuda Sempana mendengar derap kuda semakin dekat. Seperti di dorong oleh sebuah pengaruh yang tak dimengertinya ia menggerakkan kudanya menepi. Ketika ia memalingkan kepalanya, maka dilihatnya dua ekor kuda berpacu dalam kesuraman sinar bulan tua yang kekuning-kuningan. Segera Kuda Sempana mengetahui kahwa keduanya itu adalah Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.

Sekali lagi, terdorong oleh parasaan yang tak dikenalnya anak muda itu berdesis “Guru, mereka adalah orang-orang yang sangat buas”.

“Ya, aku sudah mengenal mereka dengan baik” jawab Empu Sada, “sekali lagi, terima kasih akan peringatanmu”.

“Sebaiknya guru meniggalkan mereka”.

Empu Sada menggeleng, “Aku akan menyelamatkan Mahisa Agni. Aku akan berbuat apa saja untuk kepentingan itu. Mungkin aku akan berbuat curang atau berbuat apa saja. Mungkin juga aku akan menjadi sangat licik. Aku tidak peduli lagi akan harga diriku Aku tidak peduli lagi, apakah yang akan dikatakan orang atas diriku. Tetapi aku sudah mempertimbangkan masak-masak untuk menyelamatkan Mahisa Agni, maka Empu Sada yang telah penuh dengan noda-noda di sepanjang hidupnya ini sudah tidak berarti, tetapi Mahisa Agni adalah lambang dari masa-masa mendatang, sedang aku adalah cermin dari kerapuhan di masa-masa lalu.”

Kuda Sempana tidak lagi sempat berbuat apapun juga untuk memperingatkan gurunya. Kedua kuda iblis dari Kemundungan itupun, sudah menjadi semakin dekat.

Kuda Sempana melihat Empu Sada mempersiapkan diri untuk menyongsong keduanya. Dan tiba-tiba orang tua itu menggerakkan kendali kudanya maju beberapa langkah.

Yang terdengar adalah suara Wong Sarimpat berteriak nyaring “He, bukankah kau Kuda Sempana, kenapa kau berhenti, dan siapakah orang itu?”.

Tak ada jawaban. Dan yang terdengar adalah suara Wong Sarimpat itu pula dengan nada yang aneh karena terkejut, “Aku melihat tongkat panjang itu. Apakah kau Empu Sada?”

Kuda-kuda merekapun menjadi semakin dekat. Tetapi Empu Sada tidak mau berteriak menjawab pertanyaan Wong Sarimpat. Dibiarkannya mereka menjadi lebih dekat lagi.

“Setan tua itu agaknya masih hidup” teriak Wong Sarimpat pula. Mereka sudah menjadi semakin dekat “tetapi kali ini kau tidak akan lepas lagi dari tangan kami. He, Empu yang malang. Ternyata betapa jauh kau bersembunyi, namun tiba-tiba kita telah bertemu lagi”.

Keduanya kini sudah demikian dekatnya, dan sejenak kemudian kedua kuda itu pun berhenti.

Empu Sada melihat wajah kedua orang itu di dalam kesamaran sinar bulan. Tanpa disengajanya ia menengadahkan wajahnya, dan dilihatnya bulan itu masih saja berkalang. Bahkan semakin jelas. dada orang tua itu pun tiba-tiba pula berdesir karenanya.

“Hem” terdengar suara Kebo Sindet menggeram di dalam perutnya, “ternyata kau masih hidup Empu”.

“Ya, aku masih hidup” sahut Empu Sada dengan nada yang datar. “Apakah kau heran?”

Wajah Kebo Sindet yang beku itu sama sekali tidak berubah. Hanya matanya sajalah yang seolah-olah membara memandangi Empu Sada yang duduk tenang di atas punggung kudanya.

“Tetapi apakah sekarang kau dengan sengaja menjumpai kami?” bertanya Kebo Sindet.

“Ya, aku sengaja menjumpai kalian. Aku mendengar cara kalian memancing Mahisa Agni. Dan aku agaknya dapat memperhitungkan dengan tepat apa yang akan kalian lakukan atasnya”.

“Sekarang apa maksudmu?”.

“Aku minta Mahisa Agni. Sebenarnya aku dapat merampasnya dari tangan Kuda Sempana. Tetapi aku masih ingin berhadapan langsung dengan kalian, supaya aku mendapat kepuasan melihat hasil usahaku itu”.

Terdengar Keho Sindet menggeram seperti gunung yang akan meledak. Meskipun wajahnya yang beku tetap membeku, tetapi nafsu untuk segera membunuh Empu Sada telah memancar dari kedua biji matanya yang berwarna semakin merah membara.

Namun dalam pada itu terdengar Wong Sarimpat tertawa menyakitkan hati. Dengan nada tinggi ia berkata, “O, alangkah malang nasibmu Empu. Kau masih juga tidak menyadari keadaanmu. Apakah kau akan sekali lagi berkelahi dengan curang? Meskipun demikian kalau tidak ada setan yang menyembunyikan kau waktu itu, maka kau pasti akan menjadi bangkai makanan anjing-anjing liar. Sekarang kau masih juga akan mencobanya lagi. Apalagi kita berhadapan beradu dada. Maka umurmu tidak akan lebih dari sepemakan sirih”.

Empu Sada mengangkat alisnya. Dengan tenang ia menjawab “Apa kita akan berhadapan beradu dada?”.

Wong Sarimpat terdiam sejenak. Tampaklah wajahnya yang kasar menjadi berkerut-merut. Sejenak ditatapnya wajah Kebo Sindet yang membeku, seolah-olah ia ingin bertanya, apakah yang harus dilakukannya. Apakah ia akan melayani tantangan Empu Sada itu yang maknanya diketahuinya dengan baik.

Namun terdengar Kebo Sindet menjawab dengan kata-kata yang seolah-olah bergumul di dalam perutnya, “Apakah artinya kau Empu. Apakah kau sangka bahwa kami menganggap kau cukup bernilai untuk kami layani dengan menjunjung kehormatan kami, dengan perang tanding misalnya? Selamanya kau pasti akan berbuat curang dan licik. Kami sudah mengenal kau dengan baik. Pada saat yang lampau itu dapat menjadi peringatan bagi kami, siapakah Empu Sada itu, dan bagaimana kali caranya melayani lawannya, meskipun lawannya berbuat sejujur-jujurnya. Pada perkelahian kita yang terakhir itu adalah peringatan yang terakhir pula bagi kami, bahwa kami untuk seterusnya tidak akan mempercayai kau lagi, apabila kau masih akan bertemu lagi dengan kami, seperti saat ini”.

Empu Sada tersenyum mendengar kata-kata Kebo Sindet. Jawabnya, “Kau dapat berkata demikian kepada orang lain yang tidak melihat apa yang terjadi sesungguhnya. Kau dapat membual dan memutar balik keadaan terhadap orang lain. Tetapi jangan kepadaku. Dan jangan kepada Kuda Sempana. Sebab kalian dan pasti mengerti bahwa kami, aku dan Kuda Sempana, tahu benar apa yang telah terjadi. Sehingga ceriteramu itu benar-benar seperti ceritera yang kau hisap dari ujung kelingkingmu.

Sekali lagi terdengar Kebo Sindet menggeram. Yang menyahut kemudian adalah Wong Sarimpat “Kakang, kenapa kita membuang waktu untuk mendengarkan kata-katanya yang tidak berujung pangkal itu? Seperti yang diigaukan oleh seseorang yang sedang sekarat. Marilah kita selesaikan saja orang ini. Kita bunuh dan kita cincang sampai lumat”.

Kebo Sindet tidak menjawab. Tetapi sikapnya yang kaku tegang menunjukkan, bahwa ia sependapat dengan pikiran adiknya itu.

Dalam pada itu, maka Empu Sada pun berkata, “Apakah sudah kalian pikirkan masak-masak keputusan kalian itu?”

Terdengar Wong Sarimpat tertawa berkepanjangan. Katanya, “O, ternyata kau sudah mulai ketakutan. Agaknya kau mengharap bahwa kau akan dapat mencoba mengungkat harga diri kami, dan kemudian dengan licik akan kau manfaatkan. Sekarang Empu yang malang, kau tidak akan dapat lepas lagi dari tangan kami. Nyawamu benar-benar sudah berada di ujung ubun-ubun. Sebenarnya bagimu lebih baik kau menyerah saja, dan kau akan mati dengan cepat tanpa merasakan lelah lebih dahulu, dari pada kau harus bertempur mati-matian, namun akibatnya tidak akan berbeda. Sebab kali ini kami sudah tidak akan …” tiba-tiba kata-kata Wong Sarimpat itu terputus. Ternyata Empu Sada melakukan apa yang dikatakannya. Untuk menyelamatkan Mahisa Agni, apapun akan dikorbankannya. Nyawanya, kehormatannya dan apa saja. Kali ini Empu Sada menyadari, betapa ia berlaku licik. Tetapi ia sudah tidak mempertimbangkannya lagi. Dengan serta merta selagi Wong Sarimpat tertawa berkepanjangan sambil berkata dengan sombongnya, tiba-tiba orang tua itu melepaskan sebilah keris kecil, hampir sekecil kelingkingnya. Demikian cepat dan tiba-tiba, serta dilambari tenaga Empu Sada yang sedang diamuk oleh kebencian, dendam, kemarahan dan segala macam perasaan, dan bahkan lebih dari pada itu adalah perasaan bersalah atas tertangkapnya Mahisa Agni, maka tenaga lontarannya pun seakan-akan menjadi berlipat ganda.

Kedua iblis dari Kemundungan itu terkejut bukan kepalang. Sekali lagi mereka didahului oleh kelicikan Empu Sada. Kebo Sindet yang berwajah beku itupun tampak menggerakkan dahinya sambil berteriak, “Sarimpat, hindari senjata itu”.

Wong Sarimpat pun melihat sebilah keris yang kecil itu meluncur ke arahnya. Tetapi demikian tiba-tiba. Hanya karena kelincahan dan pengalaman yang tidak terhitung itulah, maka ia dapat menghindarkan senjata itu menembus dada langsung menghunjam ke jantungnya. Namun meskipun demikian, senjata itu masih juga mengenai pangkal lengan kirinya.

Terdengar orang itu mengaduh pendek, namun kemudian terdengar ia mengumpat dengan kata-kata yang kotor.

Tetapi sekali lagi Wong Sarimpat harus menutup mulutnya ketika dengan dahsyatnya Empu Sada menyerang tanpa mengucapkan kata-kata apapun. Kali ini tongkat panjangnya menyambar dengan cepatnya, seperti lidah api meloncat di udara.

Namun sekali lagi Empu Sada berbuat curang. Ternyata ia lidak menyerang lawannya, tetapi ternyata tongkatnya menyambar kaki kuda Kebo Sindet. Kuda itu terkejut bukan kepalang. Terdengar ia meringkik tinggi, namun sejenak kemudian kuda itupun robohlah ke tanah.

“Setan licik” teriak Wong Sarimpat sambil meraba pangkal lengannya. Terasa cairan yang hangat meleleh dari lukanya Kini ia melihat Kebo Sindet tidak berkuda lagi. Tetapi meskipun demikian, ia merasa mendapat kesempatan untuk mencabut keris yang hampir tenggelam sampai ke hulu itu dari pangkal lengannya.

Kebo Sindet yang terpaksa meloncat dari kudanya menjadi marah bukan buatan. Sekilas ia melihat kudanya begetar, namun sejenak kemudian didengarnya kuda itu meringkik-ringkik. Agaknya kakinya terasa demikian sakitnya, sehingga kuda itu tidak lagi mampu berdiri.

Sambil menggenggam goloknya erat-erat Kebo Sindet itu menggeram, “Kau benar-benar setan yang licik. Pengecut yang tidak punya malu. Apakah kau sangka caramu itu cukup bernilai untuk mendapat pelayanan yang jujur. Sekarang aku pun akan berbuat apa saja untuk membunuhmu”.

Kini Empu Sadalah yang tertawa. Sambil memutar kudanya ia berkata, “Lakukan apa saja yang dapat kau lakukan, aku pun akan berbuat serupa licik, pengecut, curang dan apa saja. Kita adalah orang-orang dari daerah yang hitam. Dari daerah yang penuh dengan noda. Dimana tidak ada lagi ukuran yang dapat memberi penilaian terhadap apa yang kita lakukan. Tak ada lagi ikatan-ikatan dan keharusan, apalagi tata kesopanan. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Kita adalah binatang-binatang liar yang buas yang hidup di tengah-tengah rimba yang lebat. Jangan menyebut-nyebut lagi tentang kelicikan, kecurangan, pengecut dan sebagainya. Itu adalah sandangan kita. Itu adalah sikap dan sifat-sifat yang memang kita miliki sejak lama. Ayo, sekarang, marilah kita berbuat apa saja”.

“Setan alas” Kebo Sindet itu mengumpat “aku terima tantanganmu Empu. Kita akan berbuat apa saja”.

Empu Sada tidak menunggu Kebo Sindet itu mengatupkan mulutnya. Kudanya segera meluncur seperti anak panah menyerang iblis dari Kemundungan itu. Tetapi kali ini Kebo Sindet sudah bersiap menerimanya. Goloknya yang besar segera berputar. Ia ingin berbuat seperti Empu Sada, menjatuhkan kuda lawannya. Tetapi ternyata tongkat Empu Sada lebih panjang dari goloknya, sehingga ia tidak sempat maju lebih dekat lagi pada kuda lawannya itu. Bahkan ia melihat ujung tongkat Empu Sada menyambar kepalanya, sehingga dengan demikian ia harus menangkisnya.

Terjadilah benturan antara keduanya, dan keduanya merasakan betapa kekuatan lawannya terpusat pada Senjata-senjata itu, dilambari oleh kemarahan dan nafsu yang hampir tak terkendali.

Sementara itu Wong Sarimpat sedang sibuk berusaha menarik keris yang menghunjam dipangkal lengannya. Terdengar ia berdesis di atas punggung kuda. Ketika ia melihat kakaknya bertempur dengan gigihnya, maka ia merasa aman untuk melakukannya.

Sambil memejamkan matanya Wong Sarimpat menjepit hulu keris yang hanya mencuat tidak lebih dari senyari itu, dengan kedua ujung jarinya. Perlahan-lahan ditariknya keris itu sambil berdesis menahan sakit. Namun kadang-kadang mulutnya masih juga sempat mengumpat-umpat dengan kotornya.

“Iblis laknat” orang itu berteriak ketika ia berhasil menarik keris itu dari pangkal lengannya. Tetapi sejenak kemudian sekali lagi ia menyeringai kesakitan. Darah yang merah kehitam-hitaman kemudian bergumpal-gumpal meleleh dari luka yang tidak seberapa besar itu.

Wong Sarimpat itu mengangkat wajahnya ketika ia mendengar suara Empu Sada, “Kerisku mengandung warangan yang tajam Sarimpat. Kau lihatlah darahmu dengan saksama”.

“Aku sudah mengira” teriak Wong Sarimpat sambil melihat Empu Sada itu bertempur terus melawan kakaknya. Tetapi Empu Sada yang berada dipunggung kuda itu masih juga mempunyai kesempatan lebih banyak. Kebo Sindet, seakan-akan hanya dapat menunggu serangan-serangan yang datang menyambar-nyambar. Tetapi ia tidak banyak mendapat kesempatan untuk menyerang lawannya, karena setiap kali kuda Empu Sada itu menyambar, lalu dengan cepatnya berlari menjauh untuk kemudian berputar dan sekali lagi menyambarnya dengan dahsyat seperti badai.

“Tetapi warangan yang betapapun tajamnya tidak akan berarti apa-apa bagiku Empu” teriak Wong Sarimpat itu pula.

Empu Sada yang mendengar teriakan itu sempat berpaling. Dalam kesuraman cahaya bulan yang redup ia melihat Wong Sarimpat mengambil sebilah pisau. Dengan pisau itu ia melukai pangkal lengannya sendiri di sekitar lukanya karena keris Empu Sada; sehingga dengan demikian darah yang merah segar menjadi semakin banyak mengalir.

“Tak ada gunanya” berkata Empu Sada, “sentuhan warangan itu dengan setetes darahmu telah cukup membuatmu, beku”.

Tetapi Empu Sada itu pun kemudian melihat Wong Sarimpat menelan segumpal obat reramuan pencegah racun. Sambil menelan orang itu masih juga mengambil raramuan yang lain untuk diusapkan pada lukanya, sehingga luka itu terasa agak menjadi dingin.

“O, iblis itu benar-benar telah mempersiapkan diri untuk menghadapi setiap kemungkinan” geram Empu Sada di dalam hatinya.

Dalam pada itu ia mendengar Wong Sarimpat berteriak, “tak ada racun yang dapat membunuh Wong Sarimpat” katanya, “aku sudah menemukan obat untuk mengobati segala macam warangan dan racun karena gigitan ular sekalipun. Bahkan sengatan lebah biru dari kaki gunung Semeru. Apalagi sejenis warangan mu yang tidak berarti apa-apa itu bagiku”.

Empu Sada tidak menyahut. Ia memang melihat lamat-lamat darah semakin banyak mengalir. Dengan demikian, maka racun itu pun akan dapat dipunahkannya.

Tetapi meskipun demikian, ia telah berhasil melukai Wong Sarimpat. Luka yang kemudian dibuat menjadi besar oleh orang itu sendiri. Mengalirkan darah dari tubuhnya, berarti mengurangi kekuatan tubuh itu dan daya tahannya.

Sejenak kemudian Wong Sarimpat yang merasa, bahwa racun Empu Sada sudah tidak berbahaya lagi bagi tubuhnya, segera melumuri lukanya itu dengan semacam obat yang lain, obat yang dapat menghentikan arus darahnya.

Kemudian terdengar Wong Sarimpat itu tertawa. Digerakkannya kudanya beberapa langkah maju. Katanya di antara suara tertawanya yang menyakitkan hati, “Sekarang aku sudah selesai Empu. Aku akan berkelahi bersama kakang Kebo Sindet, dan kaupun akan segera mati terbunuh. Begitu?”

Empu Sada sama sekali tidak menjawab kata-kata Wong Sarimpat. Ia sedang berusaha untuk menekan Kebo Sindet selagi ia masih mendapat kesempatan. Kudanya masih saja menyambar-nyambar seperti burung elang di udara. Tetapi Kebo Sindet bukanlah seekor anak ayam yang ketakutan melihat elang. Dengan garangnya ia menyambut setiap serangan seperti seekor harimau yang kelaparan.

Demikianlah pertempuran itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Keduanya adalah orang-orang sakti yang sukar di cari bandingnya. Adalah suatu keuntungan bagi Empu Sada, bahwa kelincahan kudanya dapat membantunya mempersulit kedudukan lawannya. Meskipun demikian Empu Sada masih juga belum mendapat kesempatan untuk berbuat banyak.

Wong Sarimpat yang telah selesai mengobati luka-lukanya itu tidak segera masuk kedalam perkelahian. Ia melihat kakaknya masih akan dapat bertahan seorang diri. Dibiarkannya tubuhnya menjadi lebih baik dan kuat setelah beberapa saat ia harus berjuang untuk melawan racun.

Bahkan Wong Sarimpat itu kemudian mendekati Kuda Sempana yang melihat perkelahian itu dengan mata tanpa berkedip, tetapi dengan jantung yang berdegupan dengan gemuruh.

Anak muda itu terkejut ketika Wong Sarimpat menggamitnya “He KudaSempana. Kau lihat perkelahian itu?”

Kuda Sempana mengangguk.

“Katakan, siapakah yang bakal menang?”

Kuda Sempana terbungkam. Ia tidak dapat menjawab pcrtanyaan itu. Ia mengharap gurunya tidak mati, tetapi ia mengharap pula bahwa Kebo Sindet akan melindunginya dari keinginan gurunya untuk menyelamatkan Mahisa Agni. Meskipun ia tidak lagi dapat mempertimbangkan, apa yang sebaiknya dilakukan atas Mahisa Agni, tetapi kini yang dipikirkannya adalah, bahwa Mahisa Agni itu akan selalu merupakan hantu baginya di masa-masa mendatang apabila ia masih akan tetap hidup. Mahisa Agni akan selalu membayanginya dengan penuh dendam dan kebencian. Karena itu, maka baginya kini, lebih baik apabila Mahisa Agni itu lenyap saja sama sekali.

Karena Kuda Sempana tidak menjawab, maka berkatalah Wong Sarimpat, “Mungkin kau tidak cukup mampu menilai perkelahian itu Kuda Sempana. Baiklah aku beritahu bahwa keduanya dalam keadaan seimbang. Kelebihan Empu Sada hanyalah terletak pada kudanya itu. Meskipun demikian kudanya itu pun tidak akan banyak menolong, sebab segala macam geraknya mau tidak mau harus diperhitungkan pula dengan setiap kemungkinan yang dilakukan oleh kudanya, sebab kuda itu mempunyai otaknya sendiri. Kalau kuda itu tidak mempunyai otak dan kemauan sendiri, maka Empu Sada pasti akan segera memenangkan perkelahian itu.

Kuda-Sempana masih saja berdiam diri.

“Tetapi” Wong Sarimpat meneruskan, “aku akan segera terjun ke dalam arena. Nah, kau akan dapat mempertimbangkan, apakah yang kira-kira akan terjadi. Mungkin kau tidak akan sampai hati melihat gurumu mati terbunuh, bahkan untuk meyakinkannya, mungkin aku akan mencincangnya”.

Kuda Sempana sama sekali tidak menjawab.

“Nah” Wong Sarimpat berkata lebih lanjut, “Apakah kau akan menyaksikannya, apakah kau akan pergi lebih dahulu membawa Mahisa Agni itu ke Kemundungan? Atau kau akan mencoba berbuat sesuatu?”.

Kuda Sempana seolah-olah telah benar-benar membeku di atas punggung kudanya. Karena itu ia sama sekali tidak menjawab.

“Jangan takut kepada Mahisa Agni. Urat nadinya terganggu karena sentuhan tangan kakang Kebo Sindet. Ia akan menjadi sadar, apabila kakang Kebo Sindet menghendakinya”.

Kuda Sempana masih tetap mengatupkan mulutnya.

“Hem, kau menjadi bisu agaknya. Baiklah. Duduk sajalah di situ”.

Wong Sarimpat itu pun kemudian memutar kudanya. Kini ia melihat perkelahian antara kakaknya melawan Empu Sada telah bergeser beberapa langkah. Tetapi ia masih melihat bahwa keduanya sama sekali belum banyak mendapat kemajuan. Meskipun demikian, agaknya keadaan Empu Sada masih lebih baik dari kakaknya yang harus berloncatan menghindari derap kuda Empu Sada dan tongkatnya yang terayun-ayun mengerikan. Sedang Kebo Sindet itu sendiri hanya mendapat sedikit saja kesempatan melakukan serangan-serangan atas lawannya,

“Pertempuran itu tidak adil” desis Wong Sarimpat, “aku harus membantunya”. Tetapi orang itu tidak pernah mempertimbangkan, bahwa untuk melawan mereka berdua adalah perbuatan yang tidak adil pula.

Demikianlah, maka Wong Sarimpat itu perlahan-lahan mendekati arena perkelahian. Ia melihat sekali-sekali kakaknya terpaksa meloncat jauh-jauh surut. Sekali-sekali bahkan ia terdorong dengan kerasnya. Namun meskipun demikian, Kebo Sindet masih juga tetap memberikan perlawanan yang sengit.

Wong Sarimpat itupun kemudian berhenti beberapa langkah dari titik pertempuran. Diamatinya keadaan dengan seksama, seperti seorang saksi yang sedang memperhatikan sebuah perang tanding yang seru. Diperhatikannya cara Empu Sada menggerakkan kudanya menyambar lawannya, dan diperhatikannya bagaimana ia menghindar apabila Kebo Sindet membalas menyerangnya.

“Ternyata Empu tua itu ahli pula bermain-main dengan kuda, agak lebih baik dari Empu Gandring” desisnya di dalam hati.

Beberapa langkah lagi ia maju. Hampir pada garis serangan Empu Sada. Sambil menyeringai maka Wong Sarimpat menggerakkan pedangnya berputaran.

Empu Sada melibat bagaimana Wong Sarimpat ingin memotong garis serangannya. Karena itu, maka segera diputarnya kudanya menghindar, dan ditempuhnya sebuah garis serangan yang lain.

“Huh” Wong Sarimpat berdesis, “pengecut. Kau tidak berani menghadapi aku yang sama-sama berada di atas, punggung kuda”.

Tetapi Empu Sada tidak menjawab. Namun segera ia bersiap untuk menghadapi lawannya yang baru.

Ternyata Wong Sarimpat tidak melepaskan waktu terbuang lebih banyak. Segera ia menggerakkan kendali kudanya dan kuda itu pun meluncur dengan cepatnya menyerang Empu Sada. Agaknya kali ini Wong Sarimpat telah memperhitungkan banyak kemungkinan. Ia telah memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan untuk bertempur di atas punggung kudanya. Karena itu, maka kudanya kali ini diberinya berpelana.

Serangan Wong Sarimpat itu pun cukup dahsyat. Meskipun pangkal lengan kirinya telah terluka, namun tenaga tangan kanannya masih cukup menggetarkan tongkat lawannya.

Kini, Empu Sada harus menghadapi dua orang lawan yang masing-masing memiliki kekuatan setingkat dengan dirinya. Ia hanya sempat mengurangi kelincahan Wong Sarimpat dengan melukai tangannya. Meskipun demikian, tetapi Wong Sarimpat masih tetap garang dan buas.

Untuk menghadapi keduanya maka Empu Sada harus benar-benar berkelahi dengan licik. Setiap kali ia melawan Wong Sarimpat sambil berputaran menjauhi Kebo Sindet yang meloncat-loncat mengejarnya. Tetapi ternyata tenaga kuda Empu Sada masih lebih cepat dari tenaga wajar Kebo Sindet, sehingga dengan demikian, maka Kebo Sindet tidak dapat mendekatinya. Setiap kali ia mendekat, maka Empu Sada mendorong kudanya untuk berlari menjauh sambil menyerang Wong Sarimpat atau menghindari serangannya.

“He, Empu Sada” Kebo Sindet akhirnya tidak dapat menahan kemarahannya, “kau benar-benar pengecut. Jauh lebih pengecut lagi dari yang aku sangka. Kau sama sekali tidak berani berhadapan langsung melawan aku. Kau selalu melarikan kudamu menjauh, setiap kali menjauh”.

“Jangan berteriak-teriak Kebo Sindet” jawab Empu Sada, “aku masih sibuk melayani adikmu yang tangannya hampir menjadi patah ini”.

“Tutup mulutmu” teriak Wong Sarimpat, “aku masih mempunyai kemungkinan yang cukup untuk membelah dadamu yang penuh dengan kesombongan, tetapi licik, curang, pengecut, penakut, penipu ..”

Wong Sarimpat tidak sempat meneruskan kata-kata umpatannya. Tiba-tiba saja tongkat Empu Sada mematuk hampir tepat masuk kemulutnya. Dengan tergesa-gesa Wong Sarimpat membungkukkan badannya dan dengan cekatan digerakkan goloknya menangkis serangan yang datangnya dengan tiba-tiba itu. Hanya oleh keahliannya mengendalikan kudanya, maka Wong Sarimpat dapat menghindari serangan Empu Sada berikutnya. Serangan yang hampir membabi buta. Namun Empu Sada masih memiliki kesadaran menghadapi kedua iblis yang mengerikan itu.

Demikianlah perkelahian itu menjadi semakin lama semakin seru. Empu Sada dan Wong Sarimpat bertempur seperti sepasang burung Rajawali yang sedang berebut sarang. Sedang Kebo Sindet dengan dada yang bergelora hampir meledak tidak banyak mendapat kesempatan untuk ikut serta dalam perkelahian berkuda itu. Hanya kadang-kadang saja ia sempat meloncat pada garis perkelahian itu, dan dengan goloknya yang dahsyat menyerang Empu Sada. Namun kuda Empu Sada ternyata dengan lincahnya, selalu menghindarinya. Berlari dan membuat sebuah putaran yang panjang.

“Empu Sada” Kebo Sindet menjadi semakin marah, “Apakah kau menyadari apa yang kau lakukan itu? Sebenarnya lebih baik bagimu, bersembunyi saja di belakang pekiwan dari pada kau datang kemari. Apakah sebenarnya maksudmu menjumpai aku he? Sekarang kau selalu menghindari setiap benturan. Benturan kekuatan, ilmu atau tenaga dan Senjata”.

Empu Sada yang menjadi semakin jauh dari Kebo Sindet masih saja sibuk melayani serangan-serangan Wong Sarimpat. Keduanya adalah orang-orang yang hampir mumpuni bermain-main di atas punggung kuda. Sehingga dengan demikian maka perkelahian itu pun menjadi semakin seru.

Meskipun demikian Empu Sada masih sempat menjawab, “Kebo Sindet, jangan tergesa-gesa. Aku bunuh dahulu adikmu. Kemudian kita akan berhadapan. Dan aku akan segera turun pula dari kudaku”.

“Persetan” teriak Wong Sarimpat, “mulutmu sama sekali tidak berarti lagi bagi kami. Mampuslah kau orang tua yang tidak tahu diri”.

Kuda Sempana yang membeku di atas punggung kudanya melihat perkelahian itu dengan hati yang bergolak dengan dahsyatnya, seperti badai yang mengamuk di dalam dadanya. Gemuruh seolah-olah akan merontokkan tulang-tulang iganya.

Gurunya adalah seorang yang di kenal dan dikaguminya sejak lama. Tongkat panjangnya itu adalah ciri kebesaran dan keperkasaannya. Kuda Sempana tidak pernah melihat gurunya mempergunakan senjata lain daripada tongkat panjang itu. Tongkat panjang yang telah berada bersama-sama dengan gurunya sejak ia bertemu untuk pertama kalinya dengan orang itu. Senjata yang telah mengawaninya melawan seribu macam senjata lawan-lawannya. Dan Kuda Sempana tetap menyangka bahwa tongkat panjang pusaka gurunya itulah yang tetap bersamanya sampai saat ini.

Sedang kedua hantu dari Kemundungan itu adalah orang-orang yang tidak kalah dahsyatnya. Goloknya adalah golok yang luar biasa pula. Kuda Sempana pernah menyaksikan Kebo Sindet memukul sebatang besi gligen dengan goloknya itu. Dan besi itupun terpatahkan, sedang golok itu sama sekali tidak menjadi cacat. Bahkan semenirpun golok itu tidak gempil.

Kini Kuda Sempana melihat kedua macam senjata itu beradu dalam genggaman tangan-tangan yang mengerikan.

Kebo Sindet yang akhirnya kehilangan kesabaran, tidak lagi ingin menunggu lebih lama. Tiba-tiba ia berteriak nyaring sambil menggetarkan tubuhnya. Dipusatkannya segenap kekuatannya yang kasat mata dan yang tidak kasat mata. Dengan kemarahan yang meluap-luap maka disalurkannya kekuatannya yang bersumber pada kekuatan sesat itu pada tangan kanannya yang menggenggam goloknya. Dan dengan penuh nafsu ia melenting seperti seekor bilalang raksasa, melampaui kecepatan loncat seekor kuda menyerang Empu Sada dengan kekuatan Aji Bajang.

Tetapi Empu Sada yang tua itu telah melihatnya. Dengan demikian maka ia tidak membiarkan dirinya lumat. Maka di benturnya Aji Bajang itu dengan kekuatan Ajinya, Kala Bama.

Kedua aji itu adalah kekuatan yang dahsyat, sedahsyat guntur dan petir. Itulah maka sebabnya ketika Kuda Sempana melihat keduanya bersiap dalam kekuatan tertingginya, maka hatinya seakan-akan menjadi meledak pula karenanya. Hampir ia berteriak, tetapi suaranya tidak terdengar oleh siapapun. Bahkan oleh dirinya sendiri.

Sementara itu Wong Sarimpat pun mengerutkan keningnya. Dibiarkannya kakaknya membenturkan Aji Bajang. Ia yakin bahwa kekuatan Aji Bajang sedemikian dahsyatnya, sehingga hampir tak dapat dibayangkau akibatnya. Meskipun Wong Sarimpat tahu pula bahwa Empu Sada pun pasti memiliki simpanan kekuatan, namun setidak-tidaknya Aji Bajang tidak akan dapat dikalahkan.

“Hanya setan dari Tumapel itu yang tidak lumat karena Aji Bajang” desis Wong Sarimpat, “tetapi apabila Aji Bajang itu diulang, maka prajurit Tumapel yang sombong itu pasti akan menjadi debu”.

Dalam pada itu, Kuda Sempana yang benar-benar membeku itu melihat Kebo Sindet meloncat seperti petir menyambar di langit. Namun dalam pada itu ia melihat Empu Sada seperti sebuah gunung karang yang kokoh kuat, yang tak tergetarkan oleh petir yang betapapun dahsyatnya.

Demikianlah maka Empu Sada segera menyongsong Kebo Sindet. Kali ini dihempaskannya segenap kekuatannya pada tongkat panjangnya. Apapun yang akan terjadi. Ia merasa pula bahwa Kala Bama tidak akan berada di bawah kekuatan iblis dari Kemundungan itu.

Sejenak kemudian terjadilah sebuah benturan yang mengerikan. Demikian kerasnya, sehingga bunga api memercik di udara, meloncat dari kedua senjata yang sedang beradu.

Sesaat mereka yang menyaksikan benturan itu dicengkam oleh ketegangan yang memuncak. Seperti mereka pun ikut pula dalam benturan yang dahsyat itu.

Akibat dari benturan itupun dahsyat pula. Kebo Sindet terlempar beberapa langkah surut. Dengan kerasnya ia terbanting jatuh. Beberapa kali ia berguling, kemudian dengan terhuyung-huyung iblis itu mencoba tegak berdiri. Goloknya yang besar masih berkilat-kilat di dalam genggamannya.

Sedang Empu Sadapun kemudian terpelanting dari kudanya. Dengan kerasnya kuda itu meringkik. Terasa pula dorongan kekuatan benturan itu, sehingga kuda itu tegak berdiri. Namun kuda itu tidak berlari meninggalkan penunggangnya yang jatuh berguling-guling di tanah.

Seperti Kebo Sindet, Empu Sada pun segera mencoba berdiri. Ia masih menggenggam tongkatnya, tetapi ketika ia tegak sambil mengamati tongkatnya itu, maka dadanya berdesir.

Ia berpaling ketika ia mendengar Wong Sarimpat tertawa berkepanjangan sambil berteriak-teriak, “He, Empu. Ternyata tongkatmu terpatahkan”.

Kuda Sempana terkejut mendengar teriakan itu. Ketika ia memandangi gurunya yang berdiri dengan nafas terengah-engah, maka dadanya berguncang dengan dahsyat. Iapun kini melihat bahwa tongkat gurunya, yang selama ini selalu menemaninya, melawan segala macam senjata yang ada di dunia ini tanpa dapat dilukai apalagi patah, maka kini dalam benturan dengan golok Kebo Sindet, tongkat itu patah menjadi dua hampir ditengah-tengah.

Apa yang dilihatnya itu benar telah membuat Kuda Sempana hampir kehilangan kesadaran. Ia menjadi bingung dan merasa seakan-akan berada dalam sebuah mimpi, yang dahsyat. Tetapi, ketika ia melihat gurunya menimang tongkatnya yang patah itu, segera ia tersadar, bahwa yang terjadi itu bukanlah sebuah mimpi.

Yang terdengar adalah suara tertawa Wong Sarimpat di samping kata-katanya, “Hayo Empu yang sakti. Apakah sekarang kau masih juga menyombongkan diri sambil menengadahkan dadamu untuk melawan sepasang Garuda dari Kemundungan? Menyerahlah, supaya kau mati dengan tenang”.

Terdengar Empu Sada menggeram. Tetapi segera ia bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Sekali-sekali diamat-amatinya tongkatnya yang patah itu. Tetapi ia tidak terkejut seperti Kuda Sempana. Seharusnya ia telah melihat kemungkinan itu dapat terjadi.

Tetapi Empu Sada tidak sempat merenung terlampau lama. Tiba-tiba ia melihat kuda Wong Sarimpat datang menyerangnya benar-benar seperti seekor Garuda menyambar anak kambing yang kehilangan induknya. Tetapi Empu Sada bukan seekor anak kambing. Betapapun juga ia masih mampu menghindari serangan itu. Dipungutnya potongan tongkatnya yang lain, sehingga dengan demikian kini ia bersenjata sepasang potongan tongkatnya.

Serangan Wong Sarimpat itu pun kemudian datang bergelombang seperti ombak di lautan. Beruntun tak henti-hentinya menghantam tebing, sehingga beberapa kali Empu Sada terdesak semakin jauh.

Sekali lagi dada Empu Sada berdesir ketika ia melibat Kebo Sindet dengan tiba-tiba meloncat ke atas punggung kudanya. Ya, kuda yang telah terlepas dari tanganya karena benturan kekuatan. Terdengarlah orang tua itu menggeram semakin keras.

Tiba-tiba ia mendengar Kuda Sempana berteriak “Guru, pakailah kudaku.”

Empu Sada terkejut mendengar teriakan itu. Kemudian disusul dengan teriakan Kebo Sindet, “Kuda Sempana. Apakah kau sadari perbuatanmu itu?”.

Dengan tiba-tiba Empu Sada melihat Kuda Sempana telah berada di sampingnya. Sekali lagi ia berkata, “pakailah kudaku”.

Empu Sada menjadi ragu-ragu. Di atas punggung kuda itu terdapat Mahisa Agni. Tetapi apakah ia dapat melepaskan diri dari kedua iblis itu? Apakah dengan demikian ia tidak mempercepat kematian Mahisa Agni?”.

Dalam keragu-raguan itu ia mendengar muridnya bertanya lirih “Guru, kenapa tongkat itu terpatahkan?”.

“Jangan heran Kuda Sempana. Tongkat ini bukan tongkat ciri kebesaranku selama ini. Tongkat itu telah aku serahkan kepada adikmu, Sumekar. Tongkat ini adalah tongkat rangkapan, yang biasa kita pakai di padepokan.”

“Oh”, dada Kuda Sempana berdesir, “jadi …”.

“Ya. Aku tidak biasa mempergunakan senjata jenis yang lain. Tetapi tongkat ini tidak sekuat tongkat ciri kebesaran Empu Sada sendiri.”

Terasa jantung Kuda Sempana menghentak-hentak di dalam dadanya. Betapapun ia menjadi sangat cemas melihat gurunya kini hanya bersenjata tongkatnya yang telah patah menjadi dua. Apalagi Empu Sada kini sudah tidak berada di punggung kuda, sedang Kebo Sindet justru telah mendapatkan kudanya. Dengan demikian maka Empu Sada harus berhadapan dengan dua orang lawan yang masing-masing memiliki ilmu setingkat dengan dirinya dan mereka berada di punggung kuda kedua-duanya.

Sementara itu Empu sada sendiri berada dalam keragu-raguan. Ia mendengar tawaran muridnya untuk mempergunakan kudanya. Tetapi ia tidak segera dapat menerimannya. Dengan demikian, maka tindakan Kuda Sempana itu pasti akan menimbulkan kemarahan yang tak terkendali pada Kebo Sindet dan Wong Sarimpat atasnya. Kalau Empu Sada tidak berhasil mempertahankan dirinya, maka Kuda Sempana pun pasti akan menjadi korban. Mungkin Empu Sada dapat mengambil cara yang lain tanpa menghiraukan nasib orang lain. Mungkin ia dapat dengan serta merta melarikan diri sambil membawa tubuh Mahisa Agni yang pingsan itu. Tetapi dengan demikian ia pasti akan mengorbankan Kuda Sempana. Ia berhasil menyelamatkan satu nyawa, tetapi ia akan mengorbankan nyawa seorang yang lain. Meskipun ia dapat membedakan nilai kedua anak muda itu, tetapi ia masih belum sampai hati berbuat demikian, betapapun ia menjadi benci dan muak melihat muridnya itu. Namun pada saat-saat terakhir muridnya masih juga merasa cemas aka keselamatannya. Dan agaknya sikap itulah yang telah melunakkan hati Empu Sada atas Kuda Sempana.

Sejenak Empu Sada berada dalam kebimbangan dan kegelisahan. Dalam pada itu ia mendengar Kebo Sindet berteriak, “Kuda Sempana, apakah kau ingin mengalami nasib seperti bekas gurumu itu nanti? Kalau kau mengurungkan niatmu memberikan kudamu kepada setan tua itu, maka aku akan memaafkan kesalahanmu”.

Kuda Sempana tidak menjawab. Tiba-tiba iapun dilanda oleh kecemasan yang tajam. Terasa dadanya bergelora semakin keras. Dipandanginya gurunya dan kedua hantu Kemundungan itu berganti-ganti. Sementara bulan yang tua beredar dengan malasnya, semakin tinggi menggapai puncak langit.

Tiba-tiba Kuda Sempana itu mendengar gurunya berdesis, “Terima kasih Kuda Sempana. Pikirkanlah nasibmu sendiri. Sokurlah kalau kau mampu melupakan dendammu kepada Mahisa Agni dan mencoba menyelamatkannya”.

Yang di dengar adalah suara Wong Sarimpat, sambil berkata “Apa yang akan kau lakukan Kuda Sempana? Apakah kau akan mencoba lari? Kau harus menyadari bahwa hal itu akan tidak berguna sama sekali bagimu. Salah seorang dari kami akan mengejarmu, menangkap dan menyeret kau di belakang kaki-kaki kuda sampai kulitmu terkelupas seperti pisang yang telanjang. Apakah kau pernah membayangkan betapa pedihnya luka-luka itu apabila di sentuh oleh air asam atau air jeruk dan garam?”.

Bulu-bulu Kuda Sempana meremang mendengar ancaman itu. Baik Kuda Sempana maupun Empu Sada merasa bahwa hal yang demikian itu sebenarnya dapat terjadi atas Kuda Sempana apabila ia melanggar perintah kedua iblis itu. Kebo Sindet dan Wong Sarimpat sebelumnya akan dapat berlaku apa saja atas seseorang yang mengecewakannya. Tak ada lagi perasaan apapun pada kedua orang itu menghadapi kekejaman yang bagaimanapun juga.

Dengan demikian, maka Empu Sada tidak akan sampai hati membiarkan hal itu terjadi atas Kuda Sempana, betapapun sifat dan watak anak muda itu.

Namun, Empu Sada itu pun kemudian menjadi semakin bulat tekatnya menghadapi kedua iblis itu dengan tangannya. Meskipun ia menyadari bahwa keduanya bukanlah anak-anak yang sedang belajar bermain-main di atas punggung kuda dengan golok di tangan, tetapi Empu Sada itu tidak mempunyai pilihan lain.

Sekali lagi ditimang-timangnya kedua potongan senjatanya. Ternyata tongkatnya tidak dapat bertahan terhadap golok Kebo Sindet. Meskipun tongkat itu bukan tongkat kebesaran perguruannya, tetapi Senjata yang patah itu telah menyentuh perasaannya, seperti ketika ia menengadahkan wajahnya ke langit, maka bulan masih juga berkalang.

[divider line_type=”Full Width Line” custom_height=””]

Source : www.agusharis.net

~ Article view : [216]